Cerita Cinta Sedih Patah Hati : PG 4

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Sedih Patah Hati : PG 4
 Cerita Cinta Sedih Patah Hati : PG 4


Berpikir sampai disini tanpa terasa Giam Wan mencaci maki Oh-ciok lagi: “Tosu busuk, Tosu
bangsat, kau menyombongkan diri sebagai ksatria yang tahu harga diri, tapi nyatanya kau adalah
pengkhianat yang menjual negara. Hm, kau jauh lebih rendah dan kotor daripada kaum bandit yang
paling jahat sekalipun.”
“Siocia, hatiku sendiri juga merasa kesal, hendaklah kau jangan memaki lagi,” kata Oh-ciok. Tapi
Giam Wan ternyata masih memaki, akhirnya Oh-ciok menambahkan: “Siocia yang baik, jangan kau
memaki lagi. Eh, apakah kau ingin kutinggalkan disini agar dimakan anjing hutan?”
Giam Wan menjadi melengak oleh ucapan Oh-ciok yang sungguh2 itu, ia pikir apa barangkali Tosu
ini memang berlainan dengan Toh-cecu dari Hui-liong-san itu? Tapi mengapa dia menangkap diriku
sesuai dengan kehendak Toh-cecu itu pula?
Karena merasa sangsi, pula kuatir benar2 ditinggalkan didalam hutan yang sunyi itu ,sedangkan
dirinya dalam keadaan lemas lunglai. Tampaknya Tosu itu tidak terlalu jahat, daripada jatuh
ditangan orang Hui-liong-san, maka Giam Wan tidak memaki lagi, sedikitnya kau mesti tahu betapa
rendah jiwa seorang yang menjual negara dan bangsa.
Diam2 Oh-ciok merasa malu hati mendengar ucapan Giam Wan itu. Meski dia tiada hubungan baik
dengan kalangan pendekar dan pahlawan, tapi pandangan kenegaraan dan kebangsaan toh masih
ada didalam jiwanya, ia merasa perbuatan khianat memang harus dikutuk. Tapi dilain pihak iapun
pernah hutang budi kepada Toh An-peng dan telah berjanji akan melakukan apapun yang
dikehendaki Toh An-peng asalkan disuruh.
Begitulah roda kereta terus menggelinding kedepan, hati Oh-ciok Tojin juga terus berputar engikuti
putaran roda. Sementara itu Hui-liong-san sudah makin dekat. Apa tetap menuju kesana? Demikian
timbul keraguan Oh-ciok Tojin.
Setelah berpikir beberapa kali, akhirnya Oh-ciok Tojin mengambil keputusan tidak melanjutkan
keretanya ke Hui-liong-san. Ia telah ambil ketekadan akan membujuk Toh An-peng agar menyadari
kesalahannya, andaikan Toh An-peng takmau menerima nasehatnya, Oh-ciok rela mati sebagai
balas budi kepada Toh An-peng, sedangkan nona Giam tidak boleh ikut menjadi korban.
Segera ia menyingkap tirai kereta dan berkata: “Nona Giam, ini obat penawar. Didalam botol situ
ada air minum, silahkan minum obat penawar ini,” ~ katanya sambil menyodorkan dua biji pil.
“Kau benar2 memberikan obat penawar padaku?” tanya Giam Wan tercengang.
“Jika kau sangsi boleh anggaplah racun saja, aku tidak paksa kau meminumnya,” ujar Oh-ciok.
“Memangnya jiwaku tergenggam ditanganmu, kenapa aku harus takut kepada racun segala?” sahut
Giam Wan. Tanpa pikir lagi ia terus telan kedua butir pil itu.
“Syukurlah kau dapat mempercayai aku, biarlah pedang ini kukembalikan sekalian,” kata Oh-ciok
pula sambil mengangsurkan pedang yang dirampasnya dari sinona.
Setelah minum pil itu, Giam Wan merasa perutnya menjadi hangat, selang sejenak aliran darah teras
lancar, tenaga mulai pulih. Se-konyong2 ia melolos pedang terus menusukkannya kearah Oh-ciok
Tojin.
“Baik, jika kau ingin membalas dendam boleh terserah sesukamu,” seru Oh-ciok. Memangnya dia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sedang merasa kesal karena tidak tahu cara bagaimana harus menghadapi antara budi dan benci
kepada Toh An-peng. Sebab itulah ia tidak menghindari tusukan Giam Wan itu juga tidak berusaha
menangkisnya.
Maka terdengarlah suara “crat”, pohon disebelah Oh-ciok Tojin terkutung sebatang rantingnya.
Kiranya Giam Wan tidak menyerang sungguh2 kepad Oh-ciok melainkan Cuma memcoba
kepandaian sendiri apakah sudah pulih atau belum.
Walaupun Oh-ciok tidak takut mati, tapi ketika pedang Giam Wan se-akan2 menyerempet lewat
dilehernya tadi iapun terkesiap hingga berkeringat dingin.
Selamanya aku belum pernah dihina orang, mestinya aku harus binasakan kau untuk melampiaskan
dendamku, tapi mengingat kau ada pikiran kembali kejalan yang baik, biarlah kuberi kelonggaran,
semoga kau menjadi manusia baik2,” kata Giam Wan kemudian.
“Terima kasih, lekas kau pergi saja,” kata Oh-ciok.
“Dan kau sendiri? Bagaimana nanti setelah kau lepaskan diriku?” tanya Giam Wan.
“Itu urusanku sendiri nanti, tak perlu kau pikirkan,” ujar Oh-ciok dengan hambar.
“Hm. Memangnya siapa mau pikirkan dirimu, hendaklah kau berbuat yang baik saja,” jengek Giam
Wan sambil melangkah pergi.
Melihat arah yang diambil Giam Wan itu justru menuju Hui-liong-san, Oh-ciok Tojin tercengang da
cepat berseru: “Nona Giam kau salah arah, harus menuju kesana!”
“Aku justru ingin kearah sana,” sahut Giam Wan tanpa menoleh. Kiranya dia memang sengaja
hendak menuju ke Hui-liong-san untuk bergabung dengan Beng Siau-kang yang menurut cerita Toh
Bong tadi besok juga akan tiba di Hui-liong-san.
“Aku suka kemana, kesitulah kupergi, kau tidak perlu ikut campur,” sahut Giam Wan dengan ketus.
Mendongkol juga Oh-ciok Tojin, tapi setelah berpikir, ia merasa beralasan juga kalau sinona
bersikap kasar padanya karena perbuatannya menawannya tadi. Cepat ia memburu maju dan
berseru: “Nanti dulu nona Giam, dengarkan kataku.”
Namun Giam Wan hanya mendengus saja dan tetap meneruskan perjalanan kedepan. Tapi lantaran
tenaganya baru pulih, pula ginkangnya juga tidak lebih tinggi daripada Oh-ciok, maka tidak
seberapa lama dia sudah disusul oelh Tosu itu.
Dalam pada itu Kok Ham-hi yang mengikuti jejak roda kereta pada saat itu pula tiba dipinggir hutan
dan sayup2 mendengar suara caci-maki Giam Wan tadi, ia bergirang dan kuatir. Cepat ia melompat
turundari kudanya terus berlari kearah datangnya suara melalui jalanan yang licin.
Waktu Oh-ciok sudah hampir dapat menyusul Giam Wan dan baru hendak membujuknya agar putar
arah, se-konyong2 dilihatnya seorang laki2 bermuka jelek sekali muncul didepan sana.
Sebenarnya Kok Ham-hi adalah seorang pemuda yang tampan, ketika mukanya kena disayat oleh
thio Goan-kiat dulu, walaupun ketika itu darah bercucuran memenuhi mukanya, tapi karena luka
baru wajah aslinya tidak berubah. Sebab itulah dalam ingatan Giam Wan kekasihnya itu masih tetap
seorang pemuda yang ganteng dan cakap, sama sekali tidak menduga bahwa Kok Ham-hi kini telah
berubah rupa sejelek itu.
Keruan Giam Wan terkejut juga ketika mendadak seorang laik2 yang amat buruk rupa muncul
didepannya. “Siapa kau?” bentaknya. Karena jalanan licindan berlumut habis hujan, sedangkan
larinya tadi rada kencang, dalam kejutnya melihat Kok Ham-hi, hampir saja ia jatuh terpeleset.
Cepat Kok Ham-hi memegangi bahu sinona. Hatinya seperti ter-sayat2, pikirnya adik Wan ternyata
tidak kenal padaku lagi, biarlah kubinasakan saja Tosu busuk ini, habis itu lantas kutinggal pergi,
tidak perlu kukatakan siapa diriku.
Giam Wan tambah terkejut oleh pegangan Kok Ham-hi itu, dampratnya: “Kau mau apa?”
Dalam pada itu Oh-ciok sudah memburu tiba, dengan gusar iapun membentak: “Kurang ajar,
biarpun Toh An-peng juga pakai aturan padaku. Kau ini orang apa, tanpa tanya padaku lantas berani
merampas sinona dari tanganku?”
Kiranya Oh-ciok salah sanka bahwa Kok Ham-hi adalah orang suruhan Toh An-peng untuk
menerima penyerahan Giam Wan dari tangannya seperti halnya Toh bong tadi.
Saat itu Giam Wan telah melepaskan diri dari pegangan Kok Ham-hi, ia merasa orang tidak
bermaksud jahat padanya, bahkan orang seperti sudah dikenal, seketika ia menjadi ragu2 dan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
bingung, ia berdiri terkesima dipinggir situ.
Maklumlah,betapapaun mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, meski wajah Kok
Ham-hi telah berubah, tapi kehalusan pandangannya, rasa mesra pada sorot matanya serta sedikit
gerak gerik yang sudah biasa dilakukannya masih tetap dikenal oleh giam Wan.
Pelahan Kok Ham-hi mendorong kepinggir, habis itu mendadak ia mendelik dengan suara yang
dibikin kasar ia membentak: “Aku adalah malaikat pencabut nyawa, Tosu busuk, terimalaha
kematianmu!”
Berbareng itu kedua pihak lantas saling gebrak, yang satu dengan pukulan dahsyat, yang lain golok
menyambar secepat kilat, kedua pihak sama2 gusar dan menyerang berbareng.
Oh-ciok terkenal dengan golok kilat, tapi betapa hebat tenaga pukulan Thian-lui-kang Kok Ham-hi,
sebelum golok lawan mengenai tubuhnya, lebih dulu tenaga pukulannya sudah mendampar tiba
laksana gelombang ombak samudra yang dahsyat. Terdengarlah suara ‘blang’. Oh-ciok Tojin
tergetar mundur beberapa tindak oleh tenaga pukulan itu dan kebetulan bersandar pada sebatang
pohon.
Namun Oh-ciok juga bukan jago empuk, begitu kebentur pohon, seketika tubuhnya terpental maju
pula, kembali goloknya menyambar ke arah Kok Ham-hi. Untung bagi Oh-ciok Tojin, lantaran Kok
Ham-hi terlalu lelah dalam perjalanan selama beberapa hari tanpa mengaso sehingga tenaga Thianlui-
kang jauh berkurang, karena itulah Oh-ciok tidak sampai terluka.
Walaupun begitu Oh-ciok sudah kapok juga merasakan tenaga pukulan lawan, Ia tidak berani
menerima langsung lagi pukulan Kok Ham-hi itu, segera ia main lari kesana kemari, memutar
kekanan dan kekiri, dengan golok secepat kilat ia menyerang dengan gencar. Tujuannya hendak
membikin Kok Ham-hi tidak sempat melancarkan pukulannya yang ampuh.
Diam2 Kok Ham-hi mengakui juga akan ketangkasan Oh-ciok, pantas Giam Wan kena ditawan
olehnya.
Ditengah sambaran sinar golok dan deru angin pukulan, tiba2 terdengar suara ‘brebet’ suara
robeknya kain, kiranya lengan baju Kok Ham-hi terkupas sebagian oleh golok kilat lawan.
Giam Wan menjerit kaget, baru bermaksud maju, tiba2 terlihat Oh-ciok Tojin terdesak mundur berulang2.
Ditangan Kok Ham-hi ternyata sudah bertambah sebatang pedang, kiranya pada
kesempatan hendak melolos pedangnya tadi, lebih dulu Kok Ham-hi mengebaskan lengan bajunya
untuk memaksa mundur lawannya.
Dengan golok Oh-ciok ternyata mampu menabas sebagian lengan bajunya, dengan sendirinya Kok
Ham-hi tidak berani memandang entang lawannya, begitu pedang terhunus segera iapun
melancarkan serangan se-gencar2nya sehingga lebih cepat daripada permainan golok kilat lawan.
Lantaran tidak dapat bertahan, terpaksa Oh-ciok main mundur ber-ulang2. Ditengah jerit kaget
Giam Wan tadi mereka berdua ternyata sudah saling gebrak belasan jurus.
Jeritan Giam Wan itu telah mengunjuk rasa perhatiannya kepada Kok Ham-hi secara terbuka,
keruan jantung Kok Ham-hi berdebar keras, pikirnya: “Apa barangkali adik Wan telah mengenali
diriku. Kiranya dia masih menaruh perhatian penuh padaku.” ~ seketika itu semangatnya terbangkit.
Memangnya Oh-ciok bukan tandingan Kok Ham-hi, kini Kok Ham-hi bertempur terlebih
bersemangat, jurus serangannya bertambah lihai, tentu saja Oh-ciok menjadi kewalahan.
Ketika Giam Wan tenangkan diri, dilihatnya Kok Ham-hi telah mendesak Oh-ciok ketepi sebuah
karang yang curam. “Sret-sret-sret”, ber-turut2 Kok Ham-hi menusuk tiga kali, tampaknya kalau
Oh-ciok Tojin tidak terdesak jatuh kebawah karang tentu tubuhnya akan terkena tusukan pedang.
“Ampuni dia, Kok-toako!” Seru Giam wan sambil melompat maju.
Saat itu ujung pedang Kok Ham-hi sudah mengacung didepan leher Oh-ciok Tojin, mendengar
seruan Giam Wan itu, Kok Ham-hi tercengang, tapi iapun tidak tanya apa sebabnya sinona
mintakan ampun bagi Tosu itu, segera ia putar haluan pedangnya dengan pelahan ujung pedang
menotok pergelangan tangan Oh-ciok, ‘trang’, golok imam itu terlepas dari cekalan.
Sementara itu Giam Wan sudah berlari maju, katanya: “Ternyata memang betul kau adanya, Koktoako!
O, coba kulihat kepadaanmu!”
“Aku sudah berubah menjadi siluman yang buruk, kukira kau sudah tidak kenal padaku lagi,” sahut
Kok Ham-hi dengan senyum getir.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Toako, tak perduli kau tetap cakap atau buruk, pendek kata aku tetap suka padamu,” kata Giam
Wan dengan tegas. “Toako, kau tidak tanya padaku mengapa mintakan ampun bagi Tojin ini?
Soalnya dia boleh dikata tidak terlalu jahat.”
“Adik Wan, aku yakin kau pasti punya alasan sehingga mintaka nampun baginya. Biasanya aku
selalu percaya padamu, buat apa mesti tanya lagi,” ujar Kok Ham-hi.
“O, jadi Toako masih tetap percaya padaku seperti dulu dan tetap suka padaku?” Giam Wan
menegas. Saking girangnya iapun menangis, terus saja ia menubruk kedalam pangkuan Kok Hamhi,
kedua orang saling peluk dengan erat. Dalam pandangan Kok Ham-hi hanya terdapat Giam Wan
seorang dan dalam pandangan GIam Wan juga Cuma ada Kok Ham-hi saja, terhadap segala sesuatu
disekitar mereka hakekatnya tak dihiraukan lagi, mereka sama sekali lupa bahwa disamping mereka
masih berada Oh-ciok Tojin.
Perubahan ini sungguh diluar dugaan Oh-ciok Tojin. Ia menjemput kembali goloknya dengan rasa
serba slah, baru sekarang ia mengetahui bahwa lelaki bermuka jelek ini adalah kekasih giam Wan.
Dengan tersenyum lega segera ia berkata: “Nona Giam, banyak terima kasih atas kelonggaranmu
dan tidak dendam padaku lagi. Kini kau sudah temukan orang sendiri, aku tidak perlu kuatir lagi
bagimu, aku ingin mohon diri saja.”
Baru sekarang Kok Ham-hi sadar bahwa Oh-ciok Tojin masih berada disebelahnya. Ia lantas
tertawa dan berkata: “Tidak berkelahi tidak menjadi kenal, kenapa mestii ter-gesa2 pergi? Tadi aku
telah salah paham dan bergebrak dengan kau, biarlah aku minta maaf padamu.” ~ Karena Giam
Wan mengatakan Oh-ciok bukan orang jahat, makanya Kok Ham-hi bicara demikian.
Wajah Oh-ciok menjadi merah, katanya: “kau tidak bersalah, yang salah adalah aku. Tidak pantas
aku membikin susah nona Giam, aku …… aku sebenarnya pantas mampus.”
“Ya, dia menawan diriku dengan dupa pembius dan bermaksud diserahkan kepada Toh-cecu di Huiliong-
san, tapi sekarang dia merasa menyesal, waktu kau datang tadi dia sedang memberikan obat
penawar padaku dan membebaskan diriku,’ tutur Giam Wan.
Kok Ham-hi tertegun, ia pikir apa yang dikatakan Ciok-losam itu ternyata tidaklah dusta. Segera
iapun tertawa dan berkata pula: “Setiap orang tentu pernah berbuat salah, yan gpenting harus berani
mengakui kesalahan dan berani memperbaiki diri. Persoalan ini biarlah kita habiskan sampai disini.
Kalau Totiang tidak menolak, kita masih dapat menjadi sahabat.”
Melihat kebesaran jiwa Kok Ham-hi, diam2 Oh-ciok merasa kagum. Katanya dengan menghela
napas: “Banyak terima kasih atas penghargaanmu kepadaku tapi aku tak dapat memaafkan diriku
sendiri. Yang harus disesalkan adalah dahulu mestinya aku tidak menerima budi kebaikan dari Toh
An-peng dan sekarang aku terpaksa menjadi alatnya.”
Lalu ia menceritakan seluk-beluk hubungannya dengan Toh An-peng serta cara bagaimana dia
menawan Giam Wan atas permintaan Toh An-peng.
“Apakah sekarang kau masih memikirkan utang budimu kepada Toh An-peng setelah tahu
perbuatan khianatnya?” tanya Kok Ham-hi.
“Kiranya engkau sudah tahu juga perbuatannya,” ujar Oh-ciok dengan serba susah. “Memangnya
sekarang aku sedang bingung dan tidak tahu bagaimana aku harus bertindak.”
“SAeorang laik2 sejati harus dapat membedakan antara benar dan salah, berani membuang yang
jelek dan pilih yang baik, budi dan benci juga harus dibedakan dengan tegas. Orang yang khianat
lebih rendah daripada binatang. Janganlah kita memikirkan sedikit utang budi dan melupakan
persoalan yang lebih penting. Aku Kok Ham-hi selamanya suka bicara blak2an, apa yang ingin
kukatakan kepada Totiang sudah kukatakan. Sekarang aku menjadi ingin pula minta petunjuk
kepada Totiang.
“Banyak terima kasih atas kata2 emas Kok-heng, sungguh aku merasa malu,” ujar Oh-ciok. “Kokheng
ingin tanya apa padaku, asal tahu saja pasti akan kujelaskan.”
“Tadi kau bilang kuatir bagi nona Giam, entah kuatir mengenai urusan apa?” tanya Kok Ham-hi.
“Hahaha, urusan ini sekarang kau tak perlu lagi merasa kuatir,” sahut Oh-ciok dengan bergelak
tertawa. “Bila ada Kok-heng yang mengiringi nona Giam ke Hui-liong-san dengan sendirinya aku
tidak perlu lagi kuatir bukan? Hanya saja tiada jeleknya bilamana kalian tetap berlaku hati2.”
“Di Hui-liong-san terdapat orang2 macam apalagi?” tanya Kok Ham-hi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Konon jago2 bantuan yang diundang Toh An-peng tidaklah sedikit,” tutur Oh-ciok. “Setahuku dua
diantaranya mungkin lebih sulit dihadapi.”
“Kedua orang siapa?” tanya Kok Ham-hi.
“Seorang adalah Yang Kian-pek, putra Yang thian-lui,” tutur Oh-ciok pula. “Orang ini belum
pernah kukenal, tapi Yang Thian-lui terkenal sebagai jago nomor satu di negeri Kim, kepandaian
putranya tentu tidak rendah juga.
“O, kiranya Yang Kian-pek juga sampai di Hui-liong-san?” kata Kok Ham-hi. “Aku malah pernah
bergebrak dengan dia da cukup tahu betapa kepandaiannya. Rasanya aku tidak dapat mengalahkan
dia, tapi juga tidak sampai dikalahkan oleh dia.”
“Dan seorang lagi bernama Pek Ban-hiong,” tutur Oh-ciok lebih lanjut. “Pada 20-an tahun yang lalu
nama Pek ban-hiong sama terkenalnya dengan Tun-ih Ciu dikalangan Hek-to.
“O, bukankah Pek ban-hiong itu mempunyai anak laki2 bernama Pek Jian-seng?” Kok Ham-hi
menegas.
“Benar,” sahut Oh-ciok. “Kiranya Kok-heng juga sudah tahu asal usuk mereka?”
“ketika di Oh-ciok-ceng pernah kubertempur dengan Pek Jian-seng,” sahut Kok Ham-hi. Tentang
diri Pek ban-hiong kudengar dari Ciok-losam, hanya saja tidak sejelas apa yang diceritakan Totiang
sekarang.”
Baru sekarang Oh-ciok menyadari pertemuan dengan Kok Ham-hi sama sekali bukan hal yang
kebetulan.
Lalu Kok Ham-hi berkata pula dengan tertawa: “Diantara Ciok-si-sam-hiong, kiukira Ciok-lotoa
paling jahat, sedang Ciok-losam cukup tulus dan jujur. Dia sangat kagum kepadamu dan memuji
kau sebagai laki2 perkasa di dunia Hek-to. Terus terang kukatakan, mula2 akupun tidak percaya
kata2nya itu. Kini setelah berkenalan dengan Totiang baru tahu jelas bahwa pribadimu memang
sesuai dengan pujian Ciok-losam itu.”
Oh-ciok menjadi malu malah, sahutnya: ‘Ah, Ciok-losam suka me-muji2 diriku ber-lebih2an, mana
aku sesuai disebut sebagai laki2 perkasa segala. Kalau Kok-heng dan nona Giam tidak memberi
petuah2 yang berharga mungkin namaku akan hancur dan badanku lebur lantaran perbuatanku
sendiri.”
Tiba2 Kok Ham-hi mendapat sesuatu pikiran, katanya: “Totiang, jika kau sudah sadar akan
kekeliruanmu, aku menjadi ingin minta pertolongan padamu.”
“Kok-heng inginkan tenagaku, silahkan bicara saja,” kata Oh-ciok.
“Begini, harap kau tetap menggunakan kereta ini mengantar nona Giam ke Hui-liong-san, aku akan
menjadi kusirmu pula,” kata Kok Ham-hi.
Seual Oh-ciok melengak, tapi segera ia tahu apa kehendak Kok Ham-hi itu, katanya kemudian: “O,
jadi Kok-heng bermaksud menyusup ke Hui-liong-san dengan membonceng keretaku ini?”
“Sungguh akal yang bagus!” seru Giam Wan dengan tertawa. “Toh An-peng pasti tidak menyangka
akan hal ini. Oh-ciok Totiang, apakah kau suka membantu kami?”
Pertama Oh-ciok memang sayang kepada nama baik sendiri, apalagi dia telah tertipu oleh Toh Anpeng
secara tak sadar, kesalahannya ini perlu dibersihkan. Kedua, setelah mendengar nasehat2 Kok
Ham-hi tadi, setelah mengalami pertentangan batin, kini ia dapat membedakan antara kepentingan
pribadi dan kepentingan negara bangsa yang harus diutamakan.
Sesudah memikir sejenak, dengan tulus akhirnya Oh-ciok berkata: “Baiklah, betapapun aku tidak
sudi mengekor kepada kaum pengkhianat. Kok-heng,aku akan menurut kepada kehendakmu. Cuma
akupun ingin mohon sesuatu, sebelum kau memberi hukum kepada Toh An-peng, hendaknya lebih
dulu kau membujuknya agar mau kembali ke jalan yang benar, kalau dia tetap bandel, maka
terserah kepada Kok-heng untuk bertindak sebagaimana mestinya.”
Kok Ham-hi tahu perasaan Oh-ciok, tentu karena hubungan persaudaraannya dengan Toh An-peng,
betapapun hal ini menunjukkan jiwa ksatriaannya. Maka iapun mengangguk dan menjawab:
‘Baiklah, akan kulakukan seperti permintaanmu.”
“Tapi aku tadi telah bertemu dengan keponakan Toh An-peng dan tahu jelas aku tidak memakai
kusir kereta, maka Kok-heng boleh menyamar sebagai kenalanku dari kalangan Hek-to yang
kebetulan bertemu disini, lalu ber-sama2 menggabungkan diri ke Hui-liong-san,” kata Oh-ciok
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kemudian.
“Baiklah, menyamar apapun jadi asalkan dapat menyusup kesana,” sahut Kok Ham-hi.
Giam Wan sendiri sangat bergirang, katanya: ‘Kok-toako, tidak terduga hari ini dapat bertemu
dengan kau. Paling lambat besok juga akan dapat berjumpa pula dengan Kuku (paman) Beng Siaukang,
seyang adik Bing-sia tidak diketahui berada dimana sekarang.”
“Aku pernah bertemu dengan dia,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Setibanya di Hui-liong-san
kaupun dapat berjumpa dengan dia.”
“Hah, apakah betul?” seru Giam Wan terkejut campur girang. “Dia juga mendatangi Hui-liong-san?
Mengapa tiada bersama dengan ayahnya?”
“Ada orang lain yang menemani dia,” kata Kok Ham-hi.
“Orang lain? Siapa?” tanya Giam Wan heran.
“Kau jangan lupa bahwa Bing-sia Cuma dua tahun lebih muda darimu, kini iapun seorang nona
yang besar,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Dia sudah punya pacar.”
“Aha, kiranya genduk ini sudah punya pacar, siapakah dia itu?” tanya Giam Wan.
“Namanya Ci In-hong,” tutur Kok Ham-hi dengan tertawa. “Sungguh sangat kebetulan kalau
kuceritakan. Ci In-hong ini tiada lain adalah saudara seperguruanku,” ~ lalu iapun menceritakan
pengalaman pertemuannya dengan Ci In-hong dan Bing-sia tempo hari.
“Adi kBing-sia telah banyak menolong kesukaranku, selama ini akau belum sempat mengucapkan
terima kasih padanya,” ujar Giam Wan dengan tertawa. “Waktu kami berpisah dahulu, aku merasa
tiada hari depan dan tidk ahu apakah dapat bertemu lagi dengan kau. Tidak terduga kini Bing-sia
juga sudah punya pasangan. Semoga dia dan Ci-suhengmu itu dapat terjalin dengan kekal, inilah
doaku baginya,” ~ habis berkata iapun melirik ke arah Kok Ham-hi dengan wajah semu merah.
Kok Ham-hi membalasnya dengan senyum manis penuh arti.
Begitulah kereta Oh-ciok Tojin itu melanjutkan perjalanan pula ke hui-liong-san dengan suasana
penuh manisnya memadu kasih. Pada jalan lain yang juga menuju Hui-liong-san, dengan perasaan
yang penuh bahagia Ci in-hong dan Beng Bing-sia juga sedang melarikan kuda mereka.
Kalau Giam Wan sudah terkenang kepada Bing-sia, maka Bing-sia juga sedang merindukan Giam
Wan. Ketika hampir sampai di Hui-liong-san, pikirannya sangat mantap dan bersemangat, tapi juga
rada kuatir. Katanya kepada Ci In-hong: ‘entah Kok-suhengmu itu dapat bertemu dengan piauciku
tidak. Semoga di Hui-liong-san dapat berjumpa dengan mereka, begini barulah benar2 gembira
semuanya.”
“Ya, semoga semua kekasih di dunia ini dapat terjalin menjadi suami istri,” kata In-hong dengan
tertawa. “Cita2 ini pasti akan terkabul. Pikir saja penderiatan yang telah mereka alami,apakah Thian
masih tega menyiksa mereka pula? Tentunya akan menyempurnakan perjodohan mereka.”
“Ah, macam2 saja kau,” kata Bing-sai. “Eh, aku ingin tanya sesuatu padamu. Coba katakan, cara
bagaimana kita masuk ke Hui-liong-san, menerjang cara paksa atau menyusup kesana di malam
hari?”
“Tidak perlu menerjang secara paksa juga tidak perlu main sembunyi2, masakah kau lupa bahwa
aku adalah Sutit Yang Thian-lui?” sahut In-hong. “Meski aku telah mengkhianati dia, tapi urusan
ini tak diketahui orang luar. Sampai saat ini aku masih pegang tanda kebesaran yang kuterima dari
Yang Thian-lui, kukira tidak susah untuk menipu Toh An-peng.”
“Bukankah Toh An-peng ada hubungan baik dengan Yang Thian-lui?” tanya Bing-sia
“Benar. Tapi Yang Thian-lui takkan menceritakan urusan yang memalukan ini kepada Toh Anpeng.
Apalagi hubungan merekapun tidak langsung, kukira tidak sulit untuk mengelabui dia buat
sementara saja.”
“Ya, betapapun kita harus masuk ke sana, baik cara halus maupun cara kasar,” kata Bing-sia.
“Sebenarnya aku rada kuatirkan diri Nyo Wan. Mungkin kau tidak tahu bahwa kepergian nona Nyo
ini adalah disebabkan kesalahan pahamnya kepadaku.”
“Aku tahu,” ujar In-hong dengan tertawa. “Maksudmu hendak mendamaikan kembali mereka suami
istri dan juga demi untuk ketentraman hatimu.”
“Asal kau tahu saja,” ujar Bing-sia dengan wajah merah. “Coba kau pikir, ayahbunda nona Nyo
sudah meninggal semua, di dunia ini hanya Li Su-lam satu2nya sanak keluarganya. Nasibnya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sungguh harus dikasihani.
“Tapi mungkin dia tidak ke Hui-liong-san sini,” ujar In-hong.
“Biarpun dia salah paham terhadap Li Su-lam, tapi aku yakin dia takkan meninggalkan Su-lam dan
pasti menyusulnya ke Hui –liong-san. Kini yang kukuatirkan adalah dia tertawan malah oleh Toh
An-peng, hal ini tentu akan membikin susah kepada Li Su-lam.”
Terpaksa In-hong menghiburnya: “Orang baik tentu diberkahi bai, kau tidak perlu kuatirkan dia.”
Dugaan Bing-sia dan In-hong ternyata tidak salah, Nyo Wan memang betul datang ke Hui-liongsan,
bahkan ketemu suatu pengalaman yang kebetulann dan kini sudah menyelundup ketengah
markas pegunungan Toh An-peng.
Sesudah Nyo Wan berpisah dengan putri Minghui dan suami-istri Akai, lalu ia melanjutkan
perjalanan ke Hui-liong-san. Lantaran di tengah jalan Bing-sia ketemu urusan Yang Kian-pek
sehingga memakan sedikit waktu, sebab itulah Nyo Wan berbalik mendahului didepannya.
Suatu hari Nyo Wan telah memasuki lembah pegunungan Hui-liong-san, maju belasan li lagi akan
mencapai Sanceh 9benteng gunung buatan dari pagar kayu) Toh An-peng. Di mulut lembah gunung
itu ada sebuah kedai arak yang diusahakan oleh anak buah Toh An-peng, hanya saja Nyo Wan tidak
tahu akan hal ini.
Dalam keadaan menyamar sebagai lelaki kasar dengan wajah ke-hitam2an, wujud Nyo Wan rada
mirip orang kalangan Hek-to. Saat itu Nyo Wan sedang merasa lapar dan haus, ketika melihat kedai
ditepi jalan, tanpa pikir ia lantas berhenti untuk mengaso.
Jilid 12 bagian kedua
Di dalam kedai itu sudah ada tiga orang tamu, semuanya membawa senjata dan berbadan kekar.
Seorang diantaranya agaknya sudah terlalu banyak minum arak, ketika Nyo Wan masuk kedai itu
kebetulan mendengar orang itu sedang berteriak: “Keparat, sudah berada disini masakah kita masih
kuatir? Betapapun panjang tangan Be-lotoa juga takkan mencapai tempat ini. Malahan setelah kita
bertemu Toh-cecu, hmm, justru akan kuberi rasa kepada Be-lotoa kelak.”
Diantara ketiga orang itu, laki2 yang bicara itu sudah rada sinting, seorang lagi juga setengah
mabuk, hanya orang ketiga yang masih sadar, maka orang ketiga ini coba membujuk kawannya agar
jangan minum lebih banyak lagi dan jangan pula mengoceh tak keruan.”
“Hah, takut apa?” teriak orang tadi. “Disini adalah Hui-liong-san dan bukan Hwe-liong-nia, biarpun
Be-lotoa disini juga aku berani bicara secara blak2an. Memangnya Be-lotoa itu apa? Bila kita
memberikan semua keterangan tentang Hwe-liong-nia, masakah Toh-cecu takkan menerima kita?”
“Ya, betapapun juga kita harus bicara dengan hati2, buat apa Goko (engkoh kelima) mesti berteriak2
supaya diketahui orang?” ujar orang pertama yang berpikiran sadar tadi.
“O, jadi kau takut didengar orang? Hm, berani bicara berani bertanggung-jawab, kenapa mesti
takut? Hayolah minum lagi! Pelayan, tambah araknya!” begitulah orang yang sudah sinting itu berteriak2
pula.
Sampai disini jelaslah bagi Nyo Wan. Tempo hari waktu dia menyamar sebagai prajurit biasa di
Long-sia-san, dia dinas jaga bersama seorang Thaubak tua dan sering pula mendengar cerita tentang
kalangan Lok-lim dari orang tua itu. Katanya di Hwe-liong-san ada sebuah sanceh kecil. Cecu
bernama Be Kim-siang, bertubuh pendek kecil, tapi ilmu silatnya tidak lemah, orang memberi
julukan “Sam-jun-ting” (paku tiga dim) padanya.
Be Kim-siang mempunyai tujuh orang Thaubak, tiga diantaranya yang menduduki tempat kelima,
keenam dan ketujuh itu berasal dari kelompok lain yang menggabungkan diri dengan mereka.
Karena merasa tempat kedudukan mereka dipencilkan, maka ketiga Thaubak ini merasa sirik
terhadap empat Thaubak yang lain. Be Kin-siang sendiri juga tidak terlalu mempercayai mereka.
Karena itu ketiga Thaubak ini diam2 pernah menghubungi Long-sia-san, tapi To Hong telah
menolaknya dengan alasan halus demi kebaikan sesama orang Lok-lim.
Sanceh Hui-liong-san dibawah pimpinan Toh An-peng termasuk sebuah sanceh besar yang kuat dan
berpengaruh, akhir2 ini banyak sanceh kecil disekitar Hui-liong-san telah dicaploknya satu persatu,
hanya Hwe-liong-nia, sebuah bukit kecil saja, sebegitu jauh masih belum mau menyerah.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Setelah mengikuti percakapan mereka, diam2 Nyo Wan menduga ketiga rang itu tentu sudah
cekcok dengan Be Kin-siang dan kini hendak menggabungkan diri kepada Hui-liong-san.
Saking asyiknya Nyo Wan mendengarkan sehingga mendadak ia dipelototi sekali oleh orang yang
berpikiran masih sadar tadi. Sedangkan laki2 yang mabuk itu mendadak menggebark menja terus
bangkit, bentaknya terhadap Nyo Wan: “Kau bocah ini siapa? Kau berani mencuri dengar
pembicaraan kami? Ini, kau kalau mau rasakan kepalanku!”
“Jangan sembrono, Goko, kau sendiri yang bicara dengan suara keras, mana boleh menuduh orang
mencuri dengar?” ujar kawannya yang sadar itu.
Tapi orang mabuk itu lantas meninggalkan kawannya dan mendekati Nyo Wan, bentaknya pula:
“Kenapa kau me-lirik2 aku, apanya yang menarik? Rupanya kau benar2 ingin mencicipi
kepalanku!” ~ Berbareng itu ia pegang Nyo Wan terus menjotos.
Sudah tentu Nyo Wan tak bisa terpukul begitu saja, segera ia mengibaskan lengan bajunya sambil
berkata: “Eh, Ong-cecu, selamat bertemu disini! Silahkan duduk dan terima suguhan arak dariku!”
Ujung jari orang itu saja tidak menyentuh Nyo Wan, tahu2 tangannya sudah terbelit oleh lengan
bajunya dan tak bisa berkutik, tanpa kuasa ia terus berduduk di kursi depan Nyo Wan.
Meski mabuk, tapi ditengah mabuk itu timbul juga pikiran jernih ketika mendadak ia terbetot
duduk, dalam keadaan sinting, ia bertanya pula: “Kau siapa? Kenapa kenal aku?” ~ Kini telah
diketahuinya bahwa kepandaian Nyo Wan jauh diatasnya, ia menjadi jeri dan bercampur senang
pula sebab Nyo Wan memanggilnya sebagai cecu, padahal dia Cuma Thaubak nomor lima disuatu
sanceh kecil.
Nyo Wan sembarangan memberikan suatu nama palsu, lalu berkata pula dengan tertawa: “Nama
Ong-goya yang termashur, siapa yang tidak kenal? Cayhe pernah bertemu dengan Ong-goya, tapi
lantaran Cayhe adalah kaum rendahan, dengan sendirinya Ngoya tidak ingat lagi padaku.”
“Dimana dan kapan aku pernah bertemu dengan kau?” tanya Ong Ngo heran.
“Bukankah tahun yang lalu Ngoya pernah datang ke Long-sia-san? Terus terang, cayhe bekerja
sebagai ‘ahli jugil’ (maling) sehingga tidak memenuhi syarat masuk kelompok Long-sia-san. Berkat
lindungan seorang Thaubak she Pang disana, maka cayhe seringkali berkunjung kesana. Tentunya
Ong-ngoya ingat kepada Pang Sin bukan?”
Pang Sin memang betul adalah Thaubak di Long-sia-san, dia yang menceritakan seluk-beluk
gerombolan Hwe-liong-san yang pernah minta bernaung dibawah Long-sia-san, waktu Ong Ngo
datang kesana secara rahasia, Pang Sin yang menerima kedatangannya.
Maka Ong Ngo lantas berkata pula: “Ya, tahu. Kiranya kita adalah teman sendiri. Nyo-heng sendiri
berkepandaian begini tinggi dan ternyata juga tidak mendapatkan tempat di Long-sia-san. Cecu
perempuan disana memang terlalu angkuh, tapi Pang-loyacu itu cukup simpatik sebagai sahabat.”
“Dan tentunya Ong-goya masih ingat kepada diriku waktu kita bertemu di pondok Pang-loyacu
tempo hari?” kata Nyo Wan.
“Ya, ingat, tentu ingat, memang kau inilah orangnya,” seru Ong Ngo. “Eh, Lakte, dan Jite, marilah
berkenalan dengan Nyo-heng ini.”
“Thio-lakya dan Li-jitya juga sudah lama kukagumi nama kalian,” kata Nyo Wan.
“Terima kasih,” sahut Thio Lak, yaitu orang yang masih sadar tadi. “Tentang apa yang kami
katakan tadi harap jangan engkau katakan kepada orang lain.”
“Lakya tidak perlu kuatir,” ujar Nyo Wan. “Terus terang, kedatangan Cayhe inipun hendak
menggabungkan diri dibawah Toh-cecu. Sesungguhnya akupu ingin bicara blak2an dengan kalian,
entah kalian suka atau tidak?”
“Silahkan Nyo-heng bicara,” ujar Thio Lak.
“Setahuku kalian bertiga adalah tulang punggung Hwe-liong-san, tapi orang she Be itu rupanya
tidak menghargai kalian,” demikian kata Nyo Wan. “Setiap orang yang punya pambek tentu tidak
sudi perlakukan seperti kalian. Maka cara kalian memisahkan diri sungguh aku sangat setuju.
Menurut pendapatku, kekuatan Hui-liong-san akhir2 ini sudah jauh melampaui Long-sia-san. Maka
kalau mau, daripada Long-sia-san, ada lebih baik bila menggabungkan diri kepada Hui-liong-san
saja.”
Nyo Wan sengaja mengumpak dan menyatakan simpatik kepada mereka, keruan ketiga orang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
merasa sangat senang.
Segera Ong Ngo berkata pula dengan tertawa: “ Nyo-heng, dengan kepandaianmu seharusnya
kaupun pantas mendapatkan tempat yang layak. Bagaimana kalau kita ber-sama2 pergi ke Huiliong-
san saja,”
“Maksud memang ada,cuma sayang,tidak punya kenalan dan sukar masuk kesana,” ujar Nyo Wan.
“Nyo-heng jangan kuatir, soal kecil ini kiranya aku masih dapat membantu kau boleh pergi kesana
bersama kami, rasanya Toh-cecu takkan menolak kita,” kata Ong Ngo.
Pada saat itu tiba2 pelayan datang membawakan arak. Tapi ditengah nampan pelayanitu ternyata
bukan berisi poci arak, sebaliknya tertaruh empat buah pelat kecil tembaga. Sekilas Ong Ngo
melihat pelat tembaga itu berukiran naga terbang, meski dalam keadaan sinting, terkejut juga Ong
Ngo, katanya dengan ter-sipu2: “Ini …..ini kau …….. “
“Hahaha!” tiba2 dari dalam muncul sipemilik kedai arak itu dengan tertawa. “Ong-ngoya jangan
kaget, maafkan bila aku terlambat menyambut kedatangan kalian.”
“Kau ……….. ?” tanya Ong Ngo tergagap.
“Cayhe adalah seorang bawahan Toh-cecu yang tidak berarti, kedai arak ini kubuka menurut
perintah Toh-cecu pula,” sahut pemilik kedai.
Ong Ngo melengak, tapi segera iapun bergelak tertawa, katanya sambil memberi hormat: “Ah,
kiranya kawan sendiri ketumbuk orang sendiri. Maafkan jika aku tidak mengenali saudara.”
Pemilik kedai menjawab dengan tertawa: “Ah, kedatangan kalian justru kami sambut dengan
gembira. Cuma untuk bisa mencapai markas Toh-cecu, rasanya kalian perlu diberi tanda pengenal,
beberapa pelat tembaga ini kuberikan kepada kalian, bila dipos penjagaan kalian diperiksa tentu
akan dapat melanjutkan dengan leluasa kalau kalian perlihatkan pelat tembaga ini.”
Kiranya kedai arak ini se-akan2 menjadi pos penyaringan bagi Hui-liong-san, setiap orang yang
diketahui hendak pergi kesana harus diselidiki dulu oleh pemilik kedai ini. Kalau pengunjung tidak
tahu peraturan ini dan tidak mendapatkan pelat tembaga berukir naga terbang itu, maka akibatnya
banyak celaka daripada selamatnya.
Secara kebetulan Nyo Wan telah bertemu Ong Ngo bertiga dan kebetulan pula pemilik kedai itu
melihat kepandaiannya yang tidak rendah itu, maka sipemilik kedai merasa tidak keberatan untuk
memberikan pelat tembaga itu.
Benar juga, dengan tanda pengenal itu, Nyo Wan bersama ketiga orang dari Hwe-liong-nia itu
dengan lancar dapat mencapai Hui-liong-san. Yang menyambut mereka adalah Hucecu Lo Cun,
wakilnya Toh An-peng.
Setelah Ong Ngo menyatakan maksud kedatangannya, Lo Cun sangat senang dan menyatakan
menerima maksud baik mereka dengan tangan terbuka, bahkan menjanjikan akan mencaplok Hweliong-
nia dan bilamana berhasil tentu Ong Ngo yang akan ditugaskan memimpin Hwe-liong-nia
untuk menggantikan Be Kim-siang.
Ong Ngo tahu Lo Cun adalah orang kedua di Hui-liong-san, maka urusan seperti mencaplok Hweliong-
nia rasanya Lo Cun masih berhak untuk memutuskannya.
Ketika Nyo Wan juga diperkenalkan oleh Ong Ngo, Lo Cun menjadi melengak dan bertanya: “O,
nYo-heng ini bukan berasal dari Hwe-liong-nia?”
“Nyo-heng ini adalah sobat-baikku,” kata Ong Ngo . “Kepandaiannya tidaklah rendah, maka aku
sengaja mengajaknya kemari.”
Pertama karena Lo Cun sudah yakin Ong Ngo bertiga benar2 ingin menyerah kepada Hui-liong-san,
pula pihak Hui-liong-san sendiri juga sedang memerlukan tenaga, maka iapun tidak bertanya lebih
banyak tentang asal usul Nyo Wan. Katanya kemudian: “Baiklah, kedatangan kalian ini biarlah
kulaporkan kepada Toh-toako nanti, beliau sedang mendampingi tamu agung.”
“Tamu agung? Apakah Lo-heng sudi menerangkan lebih lanjut?” pinta Ong Ngo.
“Karena kuanggap kalian adalah orang sendiri, biarlah kukatakan terus terang,” sahut Lo Cun.
“Tamu agung itu bukan lain adalah putra Yang-koksu dari negeri Kim, Yang Kian-pek namanya.
Yang-koksu Yang Thian-lui adalah sandaran kami yang terkuat. Nanti kalau urusan mereka sudah
selesai dan ada tempo longgar, tentu kalian akan kubawa menemui beliau2 itu.”
Diam Nyo Wan terkejut mendengar Yang Kian-pek sudah berada disini, beberapa hari yang lalu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Nyo Wan baru bertempur dengan Yang Kian-pek meski sekarang ia dalam penyamaran, tapi harus
ber-jaga2 supaya tidak dikenali orang.
Dalam pada itu Ong Ngo menjadi senang karena Lo Cun berjanji akan membawanya menemui Toh
An-peng dan Yang Kian-pek. Selagi dia hendak menyatakan terima kasihnya, tiba2 seorang Liaulo
(anak buah) berlari masuk dengan membawa sebuah kotak kehormatan dan memberi lapor: “Ada
dua tamu mohon bertemu dengan cecu, harap Jicecu memberi keputusan, apakah boleh menyilakan
mereka masuk?”
Lo Cun mengerutkan kening, katanya: “Orang macam apakah mereka itu? Apakah mereka
menyatakan harus bertemu dengan Cecu?” ~ Ia rasa kurang senang, sebab dia adalah orang kedua di
Hui-liong-san, menerima tamu justru aalah tugasnya yang utama.
“Hamba kurang jelas,” sahut liaulo itu. “Ce-thaubak yang membawa mereka keatas sini, menurut
keterangan Ce-thaubak, tampaknya kedua oran itu mempunyai asal usul yang tak dapat dipandang
enteng. Silahkan Jicecu memeriksa isi kotak kehormatan ini dan tentu akan tahu siapakah mereka
itu.”
Segera Lo Cun membuka kotak kecil itu, tertampak isinya selain kartu nama, ada pula sebuah Cikim-
leng-hu (medali emas tanda kebesaran). Lo Cun terkejut, ia coba periksa Leng-hu itu dengan
teliti, habis itu baru mengambil kartu nama dan dibacanya: “Ci In-hong.”
Nyo Wan menjadi terkejut juga, katanya dalam hati: “He, orang she Ci inipun datang kemari.
Sebenarnya dia orang baik atau orang jahat?”
“Kedua orang itu sekarang berada dimana?” tanya Lo Cun kemudian. “Kartu nama ini hanya
tercatat nama seorang saja, seorang lagi siapa namanya?”
“Ce-thaubak mengiringi mereka diruang tunggu,” sahut Liaulo tadi. :Seorang lagi adalah pemuda
she Beng, seperti pengiring orang she Ci itu, makanya tidak memberikan kartu nama.”
Kembali Nyo Wan terkejut dan bergirang pula, ia yakin pemuda she Beng itu pasti samaran Bingsia.
Kalau nona itu mau datang bersama Ci In-hong, maka pribadi orang she Ci itu tidak perlu
disangsikan lagi.
Terdengar Lo Cun memerintahkan Liaulo tadi menyuruh Ce-thaubak melayani dulu tamunya dan
urusan itu akan dilaporkan kepada Toh-cecu. Dengan cepat Liaulo itu mengiakan dan berlari pergi.
“Ci-In-hong? Nama ini seperti sudah terkenal ………. “ gumam Ong Ngo kemudian.
“Memang betul,” ujar Lo Cun. “Ci In-hong ini adalah pembantu terkuat Yang-koksu, konon
kepandaiannya tidak dibawah Yang-kongcu. Dari Ci-kim-leng-hu ini jelas dia memang Ci In-hong
adanya, Cuma anehnya Yang-kongcu saat ini juga berada disini dan mengapa Ci In-hong juga
datang kemari. Karena itu aku perlu lapor kepada Toh-cecu,harap kalian suka menunggu dulu dab
silahkan mengaso saja dikamar tamu.”
Ong Ngo dan lain2 terpaksa mengiakan. Lalu denganter-gesa2 Lo Cun mohon diri.
Diam2 Nyo Wan merasa tidak tentram. Ia pikir Ci In-hong pasti tidak tahu Yang Kian-pek juga
berada di Hui-liong-san, makanya berani berlagak sebagai pembantu Yang Thian-lui. Tapi bila
Yang Kian-pek melihat kartu namanya, dengan segera kepalsuannya itu akan terbongkar.
Dengan gelisah Nyo Wan merasa tiada sesuatu akal yang baik untuk membantu Ci In-hong berdua.
Dalam pada itu Lo Cun sudah datang kembali.
“Apakah benar Ci In-hong dari negeri Kim yang datang itu?” tanya Ong Ngo.
“Benar sih benar,” sahut Lo Cun. “Cuma kedudukannya sekarang sudah berubah. Sebelumnya dia
adalah Sutit dan orang kepercayaan Yang-koksu, tapi sekarang dia sudah khianat dan memusuhi
Koksu. Keluarnya Yang –kongcu dari rumah kali ini justru hendak membekuk orang she Ci ini.
“Hahaha, jika begitu, jadi orang she Ci itu telah masuk jaring sendiri?” ujar Ong Ngo dengan
tertawa. “Sebagai orang baru, entah tenaga kami dapat digunakan?”
“Yang-kongcu pikir sementara ini tidak mengadu kekuatan dengan dia, tapi lebih baik mengadu
akal.” Sahut Lo Cun. “Sebaiknya orang she Ci ini dibekuk tanpa mengeluarkan tenaga. Cuma
apakah rencana Yang-kongcu dapat terlaksana atau tidak belum dapat diramalkan. Sebab itulah kita
beramai harus siap siaga, jika secara halus tidak kena, segera kita gunakan kekerasan. Untuk itu kita
perlu mengatur perangkap dan menyembunyikan beberapa jago pilihan dalam samaran sebagai
pelayan, diwaktu perlu, serentak kita mengerubutnya dan menawannya hidup2. Dengan sendirinya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
jago2 pilihan ini harus orang yan gjarang muncul di kangouw agar tidak dikenal oleh orang she Ci
itu.”
Ong Ngo bertiga merasa kepandaian mereka sesungguhnya masih cetek2 dan belum sesuai untuk
disebut ‘jago pilihan’, maka mereka tidak berani sembarangan mengajukan diri. Kesempatan ini
segera digunakan Nyo Wan untuk berkata: “Aku adalah seorang Be-beng-siau-cut (prajurit tak
terkenal), tugas ini cocok bagiku. Cuma entah kepandaianku memenuhi syarat atau tidak.”
“Betul,” timbrung Ong Ngo. “Kepandaian Nyo-heng tidaklah rendah, kalau Nyo-heng sudi
membantu sungguh suatu kehormatan bagi kami bertiga.”
Ong Ngo sudah merasakan kepandaian Nyo Wan yang lihai, maka sedapat mungkin ia
mendukungnya, sebab kalau Nyo Wan berjasa, sebagai orang yang membawanya kesini tentu akan
ikut gemilang.
“orang yang diusulkan Ong-heng tentunya tidaklah keliru,” kata Lo Cun setelah melirik sekejap
kepada Nyo Wan, tiba2 ia mengangsurkan tangannya kepada Nyo Wan.
Nyo Wan tahu maksud Lo Cun hendak berjabatan tangan untuk menjajal kekuatannya. Tapi ia tidak
ingin tangannya dipegang orang, segera ia memberi hormat dengan merangkap kedua telapak
tangan didepan dada dan berkata: “Banyak terimakasih atas penghargaan Jicecu kepadaku,
sesungguhnya cayhe tidak berani terima.”
Ketika mengangkat tangannya tadi, ujung jarinya seperti tidak sengaja menyentuh telapak tangan
Lo Cun, seketika tubuh Lo Cun terasa kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur dua langkah.
Kiranya “Lau-kiong-hiat” ditelapak tangan Lo Cun telah kena ditusuk oleh ujung jari Nyo Wan.
Untung Nyo Wan tidak berniat menotoknya dengan tenaga berat, kalau tidak, tentu Lo Cun sudah
roboh terguling.
Sebagai wakil Toh An-peng, dengan sendirinya Lo Cun juga tidak lemah, tapi hanya tersentuh jari
saja lantas kecundang,keruan ia terkejut. Tapi segera ia bergerk tertawa, katanya: “Nyo-heng
sungguh hebat, beruntung sekali kami mendapatkan orang pandai sebagai Nyo-heng.”
Kemudian Lo Cun membawa Nyo Wan dan Ong Ngo keruangan besar dan mencampurkan mereka
dengan pembantu lain dengan pesan bila terjadi apa2 supaya mereka dapat turun tangan bantu
membekuk Ci In-hong.
Memang betul waktu itu Ci In-hong telah datang dan diterima oleh Toh An-peng dengan
kehormatan besar. Ia merasa senang dan mengira Toh An-peng dapat dikelabui, maka dengan
senang ia dan Bing-sia memasuki ruangan pendopo, tiba2 dilihatnya diantara barisan Liaulo yang
berjaga disamping ada seorang yang seperti sudah dikenalnya. Keruan ia terkejut, dengan pelahan ia
menyenggol Bing-sia sehingga sinona juga melihat Liaulo penyamaran Nyo Wan itu. Bahkan ketika
beradu pandang , sekilas namapk Liaulo itu mengedipkan mata.
Sungguh kejut dan girang Bing-sia tak terkatakan yakinlah ia bahwa Liaulo itu pasti Nyo Wan
adanya. Ternyata setiba di Hui-liong-san, sebelum Toh An-peng ditemui malahan Nyo Wan yang
hendak dicarinya sudah diketemukan lebih dulu.
Segera mereka berlagak seperti tidak terjadi apa2, mereka ikut Lo Cun memasuki “Ci-gi-tong”,
ruangan pendopo, disitu sudah menunggu dua orang, seorang adalah laki2 kekar, seorang lagi sudah
tua, beralis putih dan berhidung betet.
Laki2 kekar itu lantas berbangkit dan menyambut dengan tertawa: “Banyak terima kasih atas
kunjungan Ci-heng, maafkan bilamana kami tidak menyambut sepantasnya.”
Tahulah Ci In-hong orang itu adalah Toh An-peng, dengan tertawa iapun menjawab: “Ah, sama2
orang sendiri, harap Toh-cecu jangan sungkan.”
“Benar,” ujar Toh An-peng, mengingat hubunganku dengan Supekmu, memang kita adalah orang
sendiri. Silahkan duduk, marilah berkenalan.”
Kemudian Toh An-peng tanya diri Bing-sia, lalu memperkenalkan siorang tua berhidung betet tadi,
kiranya orang tua itu adalah Pek Ban-hiong.
Ci In-hong terkejut, ia pernah mendengar Pek Ban-hiong itu adalah tokoh Hek-to terkemuka,
namanya sama termashurnya dengan Tun-ih Ciu. Konon dulu pernah dikalahkan To Pek-seng, lalu
mengasingkan diri. Diam2 ia prihatin dan waspada dengan hadirnya Pek ban-hiong disitu.
Segera In-Hong mengucapkan kata2 yang menghormat dan kedua pihak sama2 menyatakan sudah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dan saling kagum.
“Sama2 orang sendiri, tidak perlu sungkan2,” ujar Toh An-peng dengan tertawa. “Marilah duduk
dan minum2 dulu.”
Seorang Liaulo lantas membawakan beebrapa cangkir the dan ber-turut2 ditaruh didepan Ci In-hong
, Beng Bing-sia, Toh An-peng, Pek Ban-hiong dan Lo Cun. Melihat caranya yang kelewat hati2 itu
menimbulkan kesan bahwa Liaulo itu terlalu berlebihan.
Kiranya kedua cangkir the yang disuguhkan Ci In-hong dan Beng Bing-sia itu telah diberikan racun
“Soh-kut-san” (bubuk pelepas tulang), Liaulo itu adalah penyamaran orang kepercayaan Toh Anpeng,
sikapnya yang terlalu hati2 bukan takut air the itu tercecer, tapi takut kalau2 keliru taruh
cangkir2 the itu.
Begitulah segera Toh An-peng mendahului mengangkat cangkir dan menyilahkan para tamu
minum. Bing-sia menjadi ragu2, ia pandang Ci In-hong, ternyata In-hong anggap biasa saja dan
segera angkat cangkirnya.
“Ehmm, harum sekali the ini!” kata In-hong sembari menempelkan cangkir kedepan hidung, tapi
tidak lantas diminum.
Bing-sia tergerak hatinya, segera iapun meniru, iapun angkat cangkirnya dan tidak lantas diminum.
“O, the ini adalah tumbuhan istimewa di Hui-liong-san sini, paling enak kalau diminum hangat2,
maka silahkan kalian minum dulu, sebentar kita minum arak lagi,” kata Toh An-peng.
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara orang berbatuk satu kali, suara batuk yang aneh. Kiranya
suara batuk itu datang dari Nyo Wan. Ketika dilihatnya Yang Kian-pek tidak berada disitu, segera
ia menduga Toh An-peng pasti memasang perangkap lain untuk menjebak Ci In-hong. Maka ketika
melihat pula In-hong dan Bing-sia hendak minum the yang disuguhkan, segera ia menduga didalam
air the itu pasti ada sesuatu yang tidak beres, cepat ia berbatuk satu kali sebagai peringatan kepada
Ci In-hong. Lantaran waktu itu perhatian semua orang sedang dicurahkan atas diri Ci In-hong
berdua, maka tidak banyak yang mengetahui siapakah yang mengeluarkan suara deheman keras itu.
Padahal In-hong dan Bing-sia memang juga sudah menaruh curiga, maka ketika mendengar suara
batuk itu, Bing-sia pura2 terkejut sehingga cangkir the yang dipegangnya terjatuh. Dan pada saat
cangkir itu hampir jatuh dilantai, dengan cepat Ci In-hong mengebas lengan bajunya sehingga
cangkir itu kena disambar.
Jadi cangkir itu tidak sampai jatuh pecah, tapi is cangkir lantas muncrat ke atas dan berceceran
terguncang oleh kebasan baju Ci In-hong itu, ceceran air the yang berhamburan itu laksana air hujan
kebetulan jatuh didalam cangkir Toh An-peng dan lain2. Tidak perlu diterangkan lagi, jelas Ci inhong
sengaja mempelihatkan kepandaiannya yang luar biasa itu.
Bing-sia sendiri juga pura2 gugup dan minta maaf kepad tuan rumah, sedang Ci In-hong juga pura2
mengomeli kawannya yang dianggap masih hijau itu.
Toh An-peng tahu tipu muslihatnya telah diketahui lawan, katanya dengan menjengek: “ Hm,
mungkin kalian tidak sudi minum the suguhanku bukan?”
“Ai, bagaimana Toh-cecu bicara demikian, kitakan orang sendiri, kenapa tidak sudi minum segala?
Hayolah silahkan minum, silahkan!” sahut In-hong.
Kalau tadi Toh An-peng yang menyilahkan mereka minum, sebaliknya sekarang malah Ci in-hong
yang menyilahkan tuan rumah minum. Keruan Toh An-peng menjadi serba runyam dan tak dapat
menjawab.
Saat itu Yang Kian-pek sedang mengintip di ruangan dalam, dilihatnya Ci In-hong berdua tak dapat
dijebak dengan racun dalam the, ia pikir terpaksa harus pakai kekerasan. Segera ia melangkah kelar
dan menegur dengan ketus: “Ci In-hong, aku harus puji keberanianmu datang kesini, marilah kita
bicara secara blak2an saja.”
“Benar, benar, kalian adalah saudara seperguruan bicara saja secara baik2 dan semua urusan akan
menjadi beres,” ujar Toh An-peng.
“Kau ingin bicara apa?” sahut In-hong dengan tidak kalah ketusnya.
“Untuk apa kau datang kesini?” tanya Yang Kian-pek.
“Dan kau sendiri untuk apalagi datang kesini?” balas In-hong.
“Ci In-hong, kau tidak perlu berlagak pilon,” kata Kian-pek. “Kini kau sudah jatuh didalam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
cengkeraman kami, jika kau bersedia menggabungkan diri kembali ke pihak kami, maka kita akan
tetap menjadi suheng dan sute.
“Haha, sungguh aku tidak paham maksudmu,” sahut In-hong dengan terbahak. “Coba kau jelaskan
dulu apa kerjamu dengan Toh-cecu disini sehingga merasa perlu menarik kami ke pihakmu?” ~ Ia
tidak bermaksud lantas bertempur, maka sengaja mengulur waktu sebisanya.
Dalam pada itu Toh An-peng telah mengisiki Lo Cun agar menyelidiki suara batuk tadi dikeluarkan
oleh siapa.
Pada waktu kedua pihak sudah mulai tegang dan siap tempur, sedang Lo Cun juga sudah mendekati
Nyo Wan dan lain2, baru saja dia akan mulai tanya, tiba2 terdengar suara kereta berlari tiba dan
berhenti tepat di depan ruangan pendopo itu.
“Oh-ciok Tojin tiba!” segera beberapa penjaga berteriak.
Rupanya Toh bong yang mestinya kembali dulu ke Hui-liong-san, karena dia jatuh terbanting,
tulang pinggulnya keseleo, untuk naik kuda sakitnya tidak tertahan, terpaksa jalan kaki, sebab itulah
Oh-ciok Tojin malahan sampai lebih dulu di tempat tujuan. Dan sebagai saudara angkat Toh Anpeng,
dengan leluasa Oh-ciok menghalau keretanya sampai di depan Cip-gi-tong.
Begitulah dengan girang Toh An-peng dan Lo Cun menyambut kedatangan Oh-ciok, urusan lain
sementara menjadi dikesampingkan.
Oh-ciok lantas menyingkap tirai kereta, dengan berlagak garang ia membentak: ‘Siocia yang manis,
turunlah kemari. Rasanya sudah cukup Toya meladeni kau selama ini.”
Giam Wan pura2 lemah untuk bergerak dan perlahan2 turun dari kereta dengan lagak takut2 dan
gusar pula. Lo Cun bermaksud memajangnya, tapi Giam Wan lantas membentak: ‘jangan
menyentuh aku atau aku lantas mengadu jiwa dengan kau!”
Dari Oh-ciok dapatlah Lo Cun mengetahui nona itu masih lemah karena diberi obat pelemas, maka
iapun tidak perlu sangsi lagi, sebagai tanda menghormati ia benar2 menjauhi Giam Wan dan
membiarkan nona itu berjalan sendiri.
Ketika melihat Kok Ham-hi, Lo Cun terkejut oleh wajahnya yang buruk itu, ia tanya Oh-ciok
tentang diri Kok Ham-hi. Tapi kemudian iapun tidak mengusut lebih lanjut setelah Oh-ciok
menyatakan Ham-hi adalah kawan dan pembantunya. Lalu bersama Oh-ciok dan Giam Wan mereka
masuk ruangan pendopo.
Anak buah Lo Cun yang melayani Kok ham-hi menjadi rada sangsi menhadapi orang yang
berwajah buruk, apalagi sikap Kok Ham-hi sengaja dibikin kaku. Ketika seorang Thaubak hendak
membantunya membawa keretanya ke kandang, mendadak Kok Ham-hi mendelik dan berkata
dengan ketus: “Tidak perlu, akan kujaga sendiri kereta ini.”
Dengan alasan demikian, diam2 Kok Ham-hi mengawasi juga keadaan di dalam Cip-gi-tong. Sudah
tentu beberapa orang kepercayaan Toh An-peng menjadi curiga melihat gerak geriknya yang aneh
itu, diam2 merekapun mengawasi Kok ham-hi, disamping itu beberapa orang lai njuga sedang
mengawasi gerak-gerik Nyo Wan berhubung suara batuknya yang mencurigakan tadi.
Ketika di kelenteng kuno dahulu Nyo Wan pernah melihat wajah asli Kok Ham-hi, kini iapun dapat
mengenalnya, ia menjadi terkejut dan bergirang pula.
Dalam pada itu Oh-ciok telah menggiring Giam Wan ke dalam pendopo dan berseru kepada Toh
An-peng: ‘Toh-toako, inilah anak dara yang kau inginkan, maaf jika aku datang terlambat.”
Dengan girang Toh An-peng mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan saudara angkat itu dan
menyilahkan duduk.
“Nona Giam tak perlu takut, kau sengaja kami undang kesini, asalkan kau suka menurut kata2 kami,
tentu kau takkan dibikin susah,” kata Toh An-peng kemudian.
Saat itu pula Pek Ban-hiong sudah berdiri siap disebelah Ci in-hong, asalkan Ci In-hong sedikit
bergerak saja segera ia akan turun tangan lebih dulu. Disebelah lain yang Kian-pek juga sudah
melolos pedang dan sedang mengawasi dengan tajam.
Melihat pihak sendiri sudah siap siaga semua, Lo Cun merasa yakin Ci In-hong pasti tak dapat
berkutik lagi. Segera ia mengundurkan diri untuk mengusut orang yang mengeluarkan suara batuk
tadi.
Kemudian Toh An-peng berkata kepada Giam Wan dengan tertawa: ‘Nona Giam, mungkin Oh-ciok
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Totiang belum menceritakan maksud undanganku kepadamu, tapi soal ini boleh kita bicarakan
nanti, sekarang boleh silahkan kau mengaso dulu kekamar dalam.”
“Apa maksudmu sebenarnya, aku lebih suka mati daripada terhina,” sahut Giam Wan dengan
mendengus.
“Toh-toako,” Oh-ciok menyela, “Apakah kau ada tempo, aku ingin bicara sebentar dengan kau,” ~
Sembari berkata iapun mengedipkan mata sambil melirik kearah Giam Wan.
Toh An-peng tahu watak Oh-ciok Tojin, dengan tertawa ia menjawab: “Ya, memang urusan ini
harus kubicarakan juga dengan Oh-hiante, marilah kita masuk kedalam, begitu pula nona Giam
boleh silahkan masuk kedalam saja.”
Tampaknya Giam Wan hendak membangkang, tapi Oh-ciok lantas mendorongnya dari belakang
sambil membentak: “Masuklah kesana, memangnya kau ingin diperlakukan dengan kasar?”
Bing-sia menjadi gelisah menyaksikan Giam Wan digusur masuk kedalam. Ia menjadi heran pula
mengapa sang Piauci tidak mengenalnya lagi meski dirinya berada dalam penyamaran, bahkan
melirikpun tidak kearahnya se-akan2 tidak mengetahui sama sekali berada dirinya disitu. Yang
lebih aneh adalah sikap Giam Wan yang penurut itu, padahal biasanya Giam Wan bersifat keras.
Ia tidak tahu bahwa apa yang terjadi itu justru adalah rencana yang telah diatur oelh Oh-ciok dan
Giam Wan. Bila sudah masuk kekamar didalam, mereka berdua segera bertindak dan membekuk
Toh An-peng, lau Oh-ciok akan membujuknya agar Toh An-peng mau insaf dan kembali kejalan
yang benar demi hubungan baik persaudaraan mereka. Kalau Toh An-peng tetap bandel, Giam Wan
yang akan membereskannya.
Yang diketahui Bing-sia hanya Giam wan akan diperalat oelh Toh An-peng untuk memeras
ayahnya, ia menjadi kuatir kalau Giam Wan sudah digiring masuk, tentu urusan akan menjadi
tambah sulit. Dalam kuatirnya ia tidak dapat berpikir panjang lagi, serentak ia melolos pedang terus
menusuk kepunggung Oh-ciok Tojin yang sedang berjalan kedalam itu.
Jurus serangan Bing-sia itu adalah ajaran keluarga Beng yang maha lihai, cepat lagi tepat,
betapapun tinggi kepandaian Oh-ciok sukar baginya untuk menghindar.
Tampaknya tusukan Bing-sia itu sudah pasti akan kena sasarannya, mendadak Giam Wan yang
berada disisi Tojin itu menggeliat kesamping, sebelah tangannya lantas membalik untuk memegang
pergelangan tangan Bing-sia.
Kepandaian mereka berdua memangnya sembabat, soalnya Bing-sia tidak pernah menyangka sang
piauci dapat menyerangnya, apalagi Giam Wan cukup kenal akan ilmu pedang Bing-sia, maka
secara tak terduga duga Bing-sia kena dicengkeram oleh Giam Wan itu.
Keruan Bing-sia terkejut,serunya: “Piauci, akulah adanya!” ~ Belum habis ucapannya, tiba2 angin
tajam menyamber dari belakang dengan cepat pedang yang Kian-pek telah menusuk punggung
Bing-sia.
Rupanya Giam Wan kuatir Bing-sia melukai Oh-ciok Tojin, untuk berseru mencegahnya saat itu
sudah tidak keburu, terpaksa ia turun tangan untuk merintangi serangan Bing-sia itu. Tak terpikir
oelhnya bahwa saat itu musuh2 lihai juga sudah siap disamping dan serentak melancarkan serangan
kepada Bing-sia.
Padahal saat itu tangan Giam Wan baru saja mencengkeram pergelangan tangan Bing-sia, seketika
itu Bing-sia takbisa berkutik, apalagi buat menangkis serangan Yang Kian-pek. Keadaannya itu
jauh lebih berbahaya daripada waktu Oh-ciok hendak diserang olehnya tadi.
Untunglah, pada detik terakhir, se-konyong2 terdengar suara ‘trang’ yang nyaring ditengah
berkelebatnya sinar pedang dan bayangan golok, Yang Kian-pek tergetar mundur sambil memaki:
“Kurangajar! Kiranya kau Tosu busuk ini adalah agen rahasia musuh!”
Rupanya Oh-ciok Tojin yang telah menangkiskan serangan Yang kian-pek itu dengan goloknya
yang secepat kilat. Segera ia balas menjengek: “Hm, Yang Kian-pek, disini bukan istanamu, jika
kau ingin berlagak tuan besar silahkan pulang kerumahmu sendiri. Disini bukan tempat bagimu
untuk main gertak!”
“Hm, orang yang tidak tahu diri, mengapa kau membela orang luar dan mengkhianati Toh-cecu
malah?” damprat Yang Kian-pek.
“Kau tuduh aku mengkhianati Toh-cecu? Hm, yang benar kau hendak menyeret Toh-toako kedlam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
jurang dan membikin dia tercemar demi keuntunganmu, memangnya kau kira kami tidak
mengetahui muslihatmu yang busuk dengan bersekongkol dengan pihak Mongol?” jawab Oh-ciok
dengan ketus.
”Dengarlah,Toh-cecu, bagus benar ucapan saudara angkatmu yang hebat ini,” seru yang Kian-pek
kepada Toh An-peng. Sambil saling caci-maki, berbareng kedua orang telah saling gebrak beberapa
jurus pula.
Sementara itu orang Toh An-peng sudah lantas menyerbu maju dan mengepung Bing-sia dan Giam
Wan. Disebelah lain Pek Ban-hiong yang selalu mengawasi Ci In-hong juga sudah turun tangan.
Tapi Ci In-hong juga sudah siap, segera ia sambut pukulan lawan dengan Thian-lui-kang yang hebat
“blang”, kedua tangan beradu dan mengeluarkan suara dahsyat.
Tenaga pukulan Ci In-hong yang hebat itu ternyata tidak emmpan, rasanya seperti mengenai
segumpal kapas yang empuk. Menyusul mana, dengan cepat luar biasa tangan Pek Ban-hiong yang
lain lantas mencengkeram pula kepundak Ci In-hong ‘bret’, kain baju Ci In-hong terobek, tapi Ci
In-hong keburu lolos dari cengkeraman musuh dan melompat kesamping, segera pedang dilolosnya.
Baru bergebrak saja Ci In-hong sudah kecundang, ia menjadi terkejut dan diam2 mengakui
kehebatan Pek Ban-hiong yang punya nama sejajar dengan Tun-ih Ciu. Tampaknya keadaan
membahayakan jiwa Beng-tayhiap dan Li Su-lam tidak lekas datang. Walaupun begitu ia tidak
menjadi gentar, I masih bertempur sekuat tenaga.
Sebaliknya Pek ban-hiong juga terkesiap, ia telah berlatih selama 20-an tahun dan jarang ketemu
tandingan, ternyata anak muda dihadapannya sekarang tidak dapat dirobohkan olehnya, maka ia
tidak berani memandang enteng lawan lagi, ia keluarkan segenap kemahirannya untuk melayani Ci
In-hong.
Orang yang paling terkejut rasanya adalah Toh An-peng, betapapun ia tidak menyangka Oh-ciok
Tojin bisa bergebrak dengan Yang Kian-pek, bahkan mengeluarkan kata2 seperti tadi. Maka segera
ia tahu bahwa Oh-ciok Tojin telah mengkhianatinya. Tapi ia pura2 tidak paham dan berseru. “Eh,
nanti dulu, Oh-hiante, mengapa kau berkata begitu kepada Yang-kongcu, bukankah nona Giam ini
kau bawa kesini sesuai dengan permintaanku?”
“Toh-toako,” sahut Oh-ciok, “dari Toh Bong sudah kudengar perkara yang sebearnya. Jelek2 kita
terhitung laki2 terhormat dikalangan Lok-lim, mana boleh menggunakan cara licik demikian
dengan menggunakan seorang nona kecil begini sebagai tameng?”
“O, kiranya kau tak setuju kepada tindakanku?” tanya Toh An-peng.
“Benar,” sahut Oh-ciok. “Segala apa boleh kita lakukan, hanya mengekor kepada kaum tartar dan
menjadi begundalnya inilah yang tidak boleh. Toh-toako, sesungguhnya engkau adalah tokoh Loklim
yang paling gilang gemilang, buat apa engkau mesti mengekor kepada orang lain dan terima
dijadikan alat? Harap kau suka berpikir lagi lebih matang?”
“Urusan ini terlalu luas untuk dibicarakan, biarlah kita rundingkan nanti,” ujar Toh-An-peng.
“Sekarang kalian berdua boleh berhenti bergerak dulu.”
Mestinya Yang Kian-pek sangat gusar, tapi iapun cerdik ketika mendapat isyarat dari Toh An-peng,
ia pikir dibalik kata2 Toh An-peng itu tentu ada rencana tertentu, coba saja cara bagaimana Toh Anpeng
akan membereskan Tosu busuk itu. Maka ia lantas pura2 ngambek dan melompat keluar
kalangan pertempuran sambil mengejek: “Bagus, Toh-cecu, jika kau mau percaya kepada saudara
angkatmu, aku orang luar, biarlah aku mohon diri saja.”
Pada saat itu juga Toh An-peng lantas mendekati Oh-ciok Tojin dan berkata: “Marilah kita bicara
lagi didalam,” ~ Berbareng itu mendadak sebelah tangannya terus merangsang keatas pundak Ohciok
dan tepat kena cengkeram tulang pundaknya.
“Liong-jiau-jiu” (cengkeraman cakar naga) adalah salah satu kepandaian Toh An-peng yang
terkenal didunia persilatan. Bicara tentang kepandaian sejati sebenarnya dia masih bukan tandingan
Oh-ciok Tojin. Tapi karena tulang pundak tercengkeram, betapapun tinggi kepandaian Oh-ciok juga
sukar melepaskan diri,seketika tubuh terasa lemas lunglai.
Setelah berhasil mencengkeram Oh-ciok, segera Toh An-peng mencaci maki: “Keparat,percuma
saja aku mengangkat saudara dengan kau, bahkan pernah menolong jiwamu, tapi sekarang malah
membantu orang luar memusuhi aku. Coba katakan apakah kau tidak bersalah kepadaku? Hayolah,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kalau kau ingin selamat, lekas kau minta maaf kepada Yang-kongcu dan berjanji didepan orang
banyak akan tunduk kepada perintahku dengan demikian jiwamu mungkin dapat diampuni kalau
tidak, hm, jangan kau salahkan diriku.”
Tidak kepalang gemas dan menyesalnya Oh-ciok Tojin, baru sekarang ia tahu betapa keji dan
rendah perbuatan Toh An-peng. Terdorong oleh rasa gusarnya, tanpa pikir ia lantas menjawab:
“Aku lebih suka mati dari pada berdosa kepada leluhur sendiri. Kau membunuh aku, silahkan turun
tangan saja!”
“Hm, masakah begitu enak? Kau harus diberi rasa sedikit dulu! Jengek Toh An-peng sembari
perkeras cengkeramannya sehingga tulang pundak Oh-ciokTojin berkeriutan. Lalu ejeknya pula:
“Hm, kau suka anggap golok-kilatmu tiada tandingnya, sekarang kuremas tulang pundakmu hingga
hancur, coba apakah kau masih mampu menggunakan golok?”
Melihat Oh-ciok Tojin telah kena dibekuk oleh Toh An-peng, Yang Kian-pek lantas bergelak
tertawa, serunya: “Bagus, tindakan bagus! Tosu busuk ini telah kau tangkap, sekarang aku ingin
tawan si nona cantik.” ~ Berbareng itu ia lantas mendekati Bing-sia.
Saat itu Bing-sia sedang bertempur melawan empat orang. Segera Yang Kian-pek membentak;
“Mundur semua, biar aku sendiri yang melayani betina ini!”
Lalu iapun menerjang maju, katanya sambil cengar cengir: “Eh, nona Beng, biarpun kau menyamar,
memangnya kau dapat mengelabui mataku?”
Gusar sekali Bing-sia. “Keparat yang tidak tahu malu!” dampratnya, ‘sret’, pedang lantas menusuk
ke In-bun-hiat didada Yang Kian-pek.
“Keji benar ilmu silatmu!” seru Yang Kian-pek. “Ai, tega benar kau padaku, sungguh membikin
hancur hatiku.”
Berbareng itu dengan mudah saja ia dapat mematahkan serangan Bing-sia itu, malahan ia mengejek
pula dengan cengar cengir: “Ah, barangkali kau masih kenal kepada Jay-hoa-cat seperti diriku ini.
Hehe, cuma sayang sekarang kau tidak punya sipelindung yang ganteng lagi.”
Sebenarnya ilmu pedang Bing-sia tidak dibawah Yang Kian-pek, walaupun tenaga kalah kuat, tapi
sedikitnya dapat bertahan hingga beberapa puluh jurus. Namun dia telah terpancing marahnya,
begitu bergebrak lantas bertemu jurus2 berbahaya, karena itu Bing-sia sendiri hampir2 kecundang
malah. Sekarang iapun dapat merasakan kesalahan sendiri, lekas2 ia tenangkan diri dan menghadapi
musuh dengan segenap perhatian. Biarpun begitu ia masih tetap terdesak dibawah angin.
Disebelah sana Giam Wan sendirian dikerubut oleh belasan orang, keadaannya jauh lebih buruk
daripada Bing-sia.
Dalam keadaan diri masing2 sedang kerepotan dengan sendirinya Ci In-hong, Beng Bing-sia dan
Giam Wan tidak sempat memberi bantuan kepad Oh-ciok Tojin. Tulang pundak Oh-ciok diremas
oleh Toh An-peng hingga berkeriutan, sedapat mungkin ia mengertak gigi menahan rasa sakit,
sedikitpun ia tidak mau merintih. Dalam hati ia sangat menyesal dan gemas, ia yahu sekali ini
jiwanya pasti akan melayang dibawah ‘saudara angkat’ sendiri itu.
Selagi ditengah Cip-gi-tong terjadi pertarungan sengit, diluar sana jejak Nyo Wan juga sudah
ketahuan, saat itu iapun sudah mulai bergerak dengan Lo Cun dan begundalnya.
Tadi setelah Lo Cun keluar kembali untuk mengusut siapa yang mengeluarkan suara batuk, dari
beberapa anak buahnya diterima laporan bahwa Nyo Wan yang bersuara itu, maka diam2 ia
mendekati nona dalam penyamaran itu, dengan pura2 penuh kepercayaan ia membisiki: “Didalam
sudah mulai bergebrak, musuh tampaknya cukup lihai, marilah kita masuk kesana untuk
membantu.”
Nyo Wan sudah siap sedia, memangnya ia sedang mencari jalan cara bagaimana masuk kedalam
Cip-gi-tong, maka ucapan Lo Cun itu sangat kebetulan baginya. Segera ia menyatakan baik dan
bersama Lo Cun melangkah ke-ubdak2an. Tapi baru dua tiga langkah, mendadak sebelah tangannya
membalik, tujuannya hendak memegang pergelangan tangan Lo Cun.
Sebenarnya disekitar situ sudah banyak anak buah Toh An-peng, maksud mereka hendak
menyergap Nyo Wan secara mendadak bila sinona sudah memasuki Cip-gi-tong, kini mendadak
Nyo Wan turun tangan lebih dulu, dengan terpaksa orang2 itu pun ikut turun tangan sebelum
waktunya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dan untung juga bagi Nyo Wan, dia mendahului menyerang musuh sehingga terhindar dari
serangan.
Begitulah Lo Cun yang juga cukup waspada itu sempat mengelakkan cengkeraman Nyo Wan itu,
berbareng itu anak buahnya sudah menerjang tiba, beberapa senjata sekaligus menyerang kearah
Nyo Wan.
Lo Cun segera memutar tubuh kembali, sebelah kakinya terus mendepak sambil membentak:
“Keparat, kiranya kau adalah mata2 musuh!” ~ Depakan Lo Cun ini merupakan kepandaian yang
diandalkannya. Dibawah serangan dari berbagai jurusan itu, rasanya sukar bagi Nyo Wan untuk
menghindarkan salah satu serangan itu.
Tampaknya sedikitnya Nyo Wan pasti akan kena depakan Lo Cun jika tidak ingin terluka oleh
senjata tajam, pada saat itulah tiba2 terdengar suara ‘trang-trang’ dua kali, sebilah golok dan
sebatang pedang yang mengancam tubuh Nyo Wan itu tahu2 mencelat semua keatas. Kiranya Kok
Ham-hi telah menyambitkan dua potong batu kecil sehingga senjata kedua musuh itu kena ditimpuk
jatuh.
Karena itu, Nyo Wan sempat mendak tubuh dan menghindarkan depakan Lo Cun tadi, berbareng itu
lengan bajunya lantas mengebas, tanpa ampun lagi Lo Cun kena disengkelit terjungkal kebawah
undak-undakan.
Kebetulan Kok Ham-hi sedang memburu tiba, terus saja ia mencengkeram kuduk Lo Cun yang
roboh kearahnya itu, segera ia angkat tubuh Lo Cun dan digunakan sebagai tameng darurat,
bentaknya lantang: “Yang merintangi aku mati, yang menghindari aku hidup!”
Keruan Lo Cun ketakutan setengah mati, jangan2 senjata kawan sendiri mampir ketubuhnya dan itu
berarti maut baginya. Lekas2 ia berteriak: “Lekas, lekas minggir. Beri jalan kepada ksatria gagah
ini!”
Orang2 itu memang kuatir melukai Lo Cun sendiri, pula jeri melihat wajah Kok Ham-hi yang
mengerikan itu, maka seruan Lo Cun itu sangat kebetulan bagi mereka, cepat2 mereka mundur
kedalam Cip-gi-tong.
“Hahaha! Memangnya orang macam kau ada harganya kubunuh?” jengek Kok Ham-hi sambil
memutar tubuh Lo Cun terus dilemparkan kebawah undak2an.
Habis itu Kok Ham-hi bersama Nyo Wan lantas menerjang kedalam ruangan pendopo. Kok Ham-hi
melihat Oh-ciok Tojin berada dalam cengkeraman Toh An-peng, keadaannya kelihatan paling
gawat, Giam Wan juga terkepung oleh musuh yang berjumlah banyak, tapi untuk sementara
tampaknya masih sanggup bertahan.
Rupanya Toh An-peng juga tahu kedatangan musuh tangguh, baru saja ia hendak meremas lebih
keras untuk menghancurkan tulang pundak Oh-ciok Tojin, mendadak Kok Ham-hi membentak:
‘Lepas tangan!” ~ Belum tiba orangnya pukulannya sudah dilontarkan lebih dulu dari jauh.
Karena guncangan tenaga pukulan itu, badan Toh An-peng tergetar miring, tenaga cengkeramannya
menjadi kendur, kesempatan itu segera digunakan oleh Oh-ciok Tojin untuk memberosot kebawah
sehingga terlepas dari tangan Toh An-peng.
Segera Oh-ciok balas membentak: “Toh An-peng, jiwaku boleh dikata baru lolos dari lubang jarum.
Kau pernah menyelamatkan jiwaku satu kali dan sekarang sama pula kau telah embunuh aku satu
kali, kedudukan kita menjadi satu sama satu, aku tidak utang lagi padamu. Sejak kini kita putus
hubungan.”
Diam2 Toh An-peng menyesal tadi tidak binasakan saja Oh-ciok Tojin, tapi iapun tidak menjadi jeri
karena jumlah pihaknya jauh lebih banyak, segera ia pegang senjatanya, sepasang gaetan baja, lalu
mendengus: “Hm, tosu busuk, kau makan dalam dan bela luar, memangnya kita sudah tidak punya
hubungan apa2 lagi. Apakah kau mengira akan mampu keluar dari sini? Hm, jiwamu masih tetap
berada ditanganku biarpun kau mendapat bala bantuan.”
“Tapi jiwaku sekarang tidaklah gampang kau ancam lagi,” sahut Oh-ciok sambil menangkis kedua
gaetan Toh An-peng.
“Biar aku ampuni kau sekali lagi, apakah kau masih tidak sadar?” bentak Oh-ciok.
Akan tetapi kesempatan itu digunakan oleh Toh An-peng untuk menyerang malah, gaetan kanan
menyampok, gaetan kiri terus menarik sehingga perut Oh-ciok terluka.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sambil menahan rasa sakit, Oh-ciok menghela napas dan berkata: “Nyata matipun kau tidak mau
sadar, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau.”
“Kini kau sudah mirip ikan tanpa air, kau masih ingin mengadu jiwa segala?” jengek Toh An-peng
berbareng kedua gaetannya bekerja cepat sehingga golok Oh-ciok terkurung rapat.
Dengan permainan golok kilat Oh-ciok Tojin membacok dan menabas cepat luar biasa, terdengar
suara ‘trang-tring’ yang nyaring mendering tak ber henti2. Akan tetapi golok Oh-ciok benar2
terkunci sukar terlepas dari rintangan sepasang gaetan lawan, asal ujung golok mencapai lingkaran
senjata musuh tentu sudah terbentur balik.
Ditengah pertarungan sengit itu Oh-ciok mulai merasakan lengan kanan rada kemeng dan kaku,
golok yang dia tabaskan lamban-laun menjadi kurang tenaga, lengan kanan itu seperti tidak mau
tundauk kepada perintahnya lagi.
Kiranya ada sekerat tulang pundak kanan Oh-ciok itu menjadi cedera kena cengkeraman Toh Anpeng
tadi, setelah bertempur sekian lamanya dengan sengit,akhirnya terasa gangguan tulang pundak
yang terluka itu.
Toh An-peng lantas mendesak dengan lebih kencang melihat lawannya mulai kendur permainan
goloknya. Oh-ciok mengertak gigi, ia pindahkan golok ketangan kiri dan tetap bertempur mati2an.
“Hm, apa gunanya kau bertempur mati2an begini jiwamu sebentar lagi juga akan melayang!”
jengek Toh An-peng.
Sudah tentu tangan kiri Oh-ciok tidak leluasa sebagaimana tangan kanan, maka setelah belasan
jurus lagi, keadaannya menjadi tambah payah. Diam2 Oh-ciok menyesal, mestinya tadi Toh Anpeng
dibereskan lebih dulu, tapilantaran hati tidak tega,akibatnya sekarang diri sendiri harus
tertimpa bencana.
Disebelah sana, setelah Kok Ham-hi menyelamatkan Oh-ciok dari cengkeraman Toh An-peng tadi,
ia lihat keadaan Giam Wan juga sudah gawat. Ia pernah bergebrak dengan Oh-ciok, maka tahu
kepandaiannya cukup kuat untuk emlayani Toh An-peng dan tentu tidak gampang kalah dalam
waktu singkat. Maka ia lantas memburu kesana untuk membantu Giam Wan.
Semangat Giam Wan menjadi terbangkit ketika melihat kedatangan Kok Ham-hi. Terdengar Kok
Ham-hi menggertak keras laksana bunyi geledek. Secepat kilat iapun menerjang ke tengah
kalangan, kedua telapak tangannya menghantam,kontan dua orang musuh roboh terguling.
DenganThian-lui-kang yang dahsyat, siapa yang berani menahannya pasti binasa, maka hanya
sekejap saja Kok Ham-hi sudah merobohkan lima-enam orang musuh. Giam Wan sendiri juga
berhasil melukai dua-tiga orang. Sisanya menjadiketakutan dan sama melompat mundur.
“Aku akan membantu Bing-sia, kau boleh membantu Ci-suheng,” seru Giam Wan setelah bebas
dari kerubutan musuh itu.
Waktu memasuki Cip-gi-tong tadi Kok Ham-hi sudah memperhatikan pertarungan antara Ci Inhong
melawan Pek Ban-hiong, ia tahu Pek ban-hiong pasti musuh terkuat di Hui-liong-san ini,
kalau peertempuran berlangsung lamatentu Ci In-hong akan kecundang. Kini setelah ia menengok
kembali kesana, benar juga dilihatnya Ci In-hong sedang terdesak mundur.
“Ci-heng, Lui-tian-kau-hong!” seru Kok Ham-hi kepada In-hong.
“Hm, Lui-tian –kau-hong apa?” jengek Pek Ban-hiong. “Kau siluman bermuka buruk ini apa
bermaksud menggertak aku?”
Belum lenyap suaranya, se-konyong2 terasa suatu arus tenaga maha kuat mendorong tiba, ternyata
Ci In-hong dan Kok Ham-hi ber-sama2 telah menggunakan Thian-lui-kang, dalam keadaan
demikian, biarpun lwekangPek Ban-hiong amat tinggi juga sukar menahan pukulan dahsyat dari
gabungan dua orang itu, seketika dada terasa seperti dipalu, darah bergolak dirongga dadanya, isi
perutnya se-akan2 berjungkir balik.
Setelah In-hong dan Ham-hi memukul bersama dengan jurus “Lui-tian-kau-hong” (Kilat
menyambar dan geledek menggelegar sekaligus), menyusul kedua pedang mereka lantas menusuk
pul berbareng. Saat itu Pek ban-hiong belum lagi tenangkan diri, tahu2 terdengar suara “brat-bret”
beberapa kali, kedua lengan bajunya ber-lubang2 kena tusukan pedang dan kain kecil beterbangan
laksana kupu2.
Melihat lawan masih sanggup meyambut tusukan pedang mereka dengan kebasan lengan baju, mau
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tak mau Kok Ham-hi dan Ci In-hong harus mengakui kelihaian musuh, mereka tidak berani
gegabah lagi.
Pek Ban-hiong tidakmalu sebagai seorang jago tua, ber-turut2 ia mundur delapan langkah,setiap
langkah tentu daya serangan lawan dipatahkan sebagian, sampai langkah kedelapan, kuda2nya
sudah cukup kuat untuk bertahan, segera ia lepaskan ikat pinggang kulit dan digunakan sebagai
ruyung yang lemas, ia putar ikat pinggang itu dengan cepat untuk menahan serangan kedua lawan
muda itu.
Thian-lui-kang terlalu banyak membuang tenaga murni, maka Kok Ham-hi dan Ci In-hong tidak
berani terlalu sering menggunakannya,terutama mengingat lawannya terlalu tangguh bagi mereka.
Hanya terkadang bila Pek ban-hiong tampaknya sudah mulai merangsak lagi, lalu mereka keluarkan
pula jurus “Lui-tian-kau-hong” sekali lagi untuk mematahkan kegarangan musuh. Walaupun
mereka berdua akhirnya menjadi diatas angin, tapi dalam waktusingkat sukar pula mengalahkan
Pek Ban-hiong.
Disebelah sana Giam Wan telah menerjang kepungan musuh dan bergabung dengan Bing-sia.
Semangat Bing-sia lantas bertambah, tiba2 dengan jurus “Tay-bok-koh-yan” (burung walet
melayang ditengah gurun), secepat kilat pedangnya menusuk Yang Kian-pek, Giam Wan juga tidak
tinggal diam, pedangnya berputar cepat sehingga bagian atas Yang kian-pek terkurung rapat. Cara
bertempur Giam Wan ini merupakan kerja sama yan grapat sekali edngan serangan Bing-sia itu.
“Hahaha, kembali seorang nona cantik lagi, wah, benar2 rejekiku tidak kecil,” seru yang kian-pek
dengan tertawa. Belum lenyao suara tertawanya, sekonyong2 iapun menjerit kesakitan, ternyata
pundaknya telah terluka oleh pedang Bing-sia. Untung tulang pundak tidak sampai cidera.
Ternyata ilmu pedang Giam Wan dan Bing-sia dapat bekerja sam dengan rapat sekali walaupun
mereka bukan berasal dari satu perguruan, soalnya mereka sering mengadakan tukar pikiran dan
saling belajar, maka bial dimainkan bersama mereka dapat bekerja sama dengan rapi. Sedang
kepandaian Yang Kian-pek hanya setingkat diatas Bing-sia, kini dia harus melawan Giam Wan
pula, dengan sendirinya ia menjadi kewalahan.
Sementara itu Thaubak pihak Hui-liong-san ber-bondong2 merubung tiba memenuhi Cip-gi-tong.
Saat itu Toh An-peng sendiri sudah berada diatas angin melawan Oh-ciok Tojin, segera ia berseru:
“Jangan kacau, tenang saja! Ting-tongcu,Lau-tongcu, kalian pilih beberapa orang lagi dan tinggal
disini, yang lain2 mundur keluar ketempat semula.”
Ting-congcu dan Lau-congcu adalah dua Thaubak besar yang punya kepandaian cukup tinggi,
ditambah lagi seorang jago silat she Lok dan seorang she Tun, berempat lantas ber-siap2 untuk ikut
maju buat membekuk Oh-ciokTojin.
Tapi Toh An-peng merasa yakin akan kemenangannya, sudah tentu ia tidak sudi dibantu, segera ia
membentak: “Lekas kalian membantu yang-kongcu. Sedang Lok-cianpwe dan Tun-toako silahkan
membantu Pek-locianpwe, bekuk dulu kedua mata2 musuh itu!”
Kepandaian Lok Lam-ciang dan Tun Jit memang tidak lemah, begitu mereka ikut maju, kedudukan
Ci In-hong dan Kok Ham-hi menjadi dua lawan tiga, segera mereka terdesak dibawah angin.
Disebelah lain, kedua ThaubakHui-liong-san tadi yaitu Lau Ban dan Ting Tiau juga sudah
menerjang maju dan melacarkan serangan kepada Giam Wan dan Bing-sia. Meski kedua Thaubak
itu bukan jago silat kelas tinggi, tapi terhitung lumayan juga. Senjata Lau Ban adalah golok besar
dan berat, begitu dia membacok dan ditangkis oleh Bing-sia, “trang” lelatu api menciprat, diam2
Bing-sia terkejut dan mengakui besarnya tenaga lawan.
Dalam pada itu dengan cepat senjata Ting Tiau yakni ruyung beruas tujuh, dengan cepat juga
menyabet kearah Giam Wan. Dengan gesit GiamWan menggeser kesamping, pedangnya juga lantas
berputar terus balas menabas.
Dalam keadaan begitu, ruyung Ting Tiau menjadi mengenai tempat kosong, sebaliknya tabasan
pedang Giam Wan tahu2 sudah menyambar tiba, kalau dia tidak lemparkan ruyungnya berarti
jarinya akan terpapas oleh pedang sinona.
Untung baginya, pada detik berbahaya itu, terdengar angin tajam menyambar, dari samping Yang
Kian-pek telah menusuk, katanya dengan tertawa: “Jangan terlalu garang, nona Giam, jangan lupa
masih ada diriku ini!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kepandaian Yang Kian-pek jauh diatas Ting Tiau, serangan itu sangat tepat dan memaksa lawan
harus menyematkan diri lebih dahulu, maka ketika mendengar angin tajam menyamber dari
belakang, terpaksa Giam Wan tarik kembali pedangnya buat menangkis.
Sedang bing-sia segera menggunakan kelincahannya untuk melawan Lau Ban yang diketahu
bertenaga besar, ber-ulang2 ia memancing serangan lawan untuk kemudian mendadak balas
menyerang dengan jurus yang mematikan. Suatu ketika, dengan gesit a menghindarkan bacokan
golok Lau Ban yang hebat, menyusul ia terus menubruk maju, ujung pedang mengarah tenggorokan
lawan itu.
Tapi kembali Yang Kian-pek dapat menyelamatkan kawannya, dengan cepat ia tinggalkan Giam
Wan dan lagi2 dengan suatu jurus mematikan ia paksa Bing-sia harus menyelamatkan diri lebih
dulu sehingga Lau Ban terhindar dari renggutan maut.
Merasa sudah diatas angin, Yang Kian-pek bergelak tertawa, katanya: ‘Hahaha, kedua nona cantik
telah sudi datang sendiri kesini, masakah aku orang she Yang tega menolak, tentu saja akan
kuterima dengan penuh kasih sayang. Kalian jangan takut, betapapun aku tidak tega mencelakai
perempuan cantik, hanya saja kalian juga mesti tahu diri, turutlah kepadaku, buanglah senjata
kalian, kan sayang jika wajah kalian yang cantik molek ini sampai cedera.”
“Mulut anjing manabisa tumbuh gading! Ini, rasakan pedangku!” seru Bing-sia, segera iapun
melancarkan serangan.
“Benar, terhadap anjing galak hanya ada satu cara, binasakan dia!” SERU Bing-sia, Segera iapun
melancarkan serangan.
Akan tetapi dengan bantuan Lau Ban dan ting tiau, kini Yang Kian-pek sudah diatas angin dia dapat
melayani kedua nona itu dengan leluasa.
Di sebelah sana Nyo Wan juga sedang melabrak usuh, lawan2 yang dihadapinya hanya jago2 kelas
rendahan saja, maka dengan tidak susah2 ia dapat erobohkan mereka, terdengar jeritan disana sini
beberapa orang kontan terguling.
Melihat keadaan Bing-sia berbahaya, betapapun Nyo Wan tak bisa tinggal diam, segera ia
menerjang kesitu.
Dapatkah rombongan Ci In-hong dan kawan2nya menyelamatkan diri dari kepungan musuh?
Bagaimana dengan misi Li Su-lam dan Beng Siau-kang, rintangan apa yang akan mereka hadapi di
Hui-liong-san ini?
Jilid 13 bagian pertama
Hanya dalam beberapa gebrakan saja lau ban sudah terluka oleh pedang Nyo Wan, goloknya
terpental dari cekalan.
“Enci Wan, jangan pikirkan diriku, tangkap penjahat harus tangkap benggolannya!” seru Bing-sia.
Nyo Wan tersadar oleh teriakan itu, ia pikir memang tidak salah ucapan Bing-sia itu, jumlah musuh
jauh lebih banyak, bila bertempur terlalu lama pihak sendiri tentu kecundang kecuali Toh An-peng
ditangkap dulu untuk digunakan sebagai sandera.
Sementara itu pertempuran terbagi menjadi tiga kelompok. Suatu kelompok Kok Ham-hi dan Ci Inhong
bergabung sedang menempur Pek ban-hiong bertiga. Kedua pihak sama2 jago kelas
tinggi,lebih2 Pek Ban-hiong adalah tokoh2 Hek-to terkemuka, untung Ci In-hong dan Kok Ham-hi
berdua memiliki pukulan sakti “Lui-tian-kau-hong”, bila kepepet mereka lantas keluarkan pukulan
dahsyat itu bersama. Namun demikian merakapun sudah terdesak dibawh angin.
Kelompok lain adalah Oh-ciok Tojin melawan Toh An-peng, pertarungan mereka sungguh mati2an.
Oh-ciok Tojin sudah terluka parah dan masih melawan sekuatnya, keadaannya jauh lebih buruk
daripada kelompok yang lain.
Jadi kelompok Bing-sia dan Giam Wan boleh dikata lebih mendingan. Mereka mendapat bantuan
Nyo Wan dan telah melukai pembantu utama Yang kian-pek, yaitu Lau ban, maka posisi mereka
dari terancam kini telah berbalik dipihak unggul.
Melihat Oh-ciok Tojin dalam keadaan payah, walaupun Nyo Wan tidak kenal dia, tapi ia tahu Toh
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
An-peng adalah cecu dari Hui-liong-ce, maka tanpa pikir ia terus menerjang pula kearahnya. Tapi ia
lantas dicegat oleh beberapa anak buah Toh An-peng sebelum dia mencapai tempat tujuan.
Pada saat itu mendadak Toh An-peng membentak, sepasang gaetannya bekerja sekaligus, gaetan
kiri tetap menggantol dipundak Oc-ciok Tojin, sedangkan gaetan kanan terus menusuk keleher
lawan pula.
“Hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati!” mendadak Oh-ciok Tojin berteriak
dengan kalap, berbareng itu sinar golok berkelebat, “krek”, lima jari tangan kiri Toh An-peng
terpapas kutung semua.
Tak kepalang rasa sakit Toh An-peng, ia menjerit ngeri, berbareng sebelah kakinya lantas
mendepak sehingga Oh-ciok Tojin terjungkal.
Pundak Oh-ciok Tojin tertancap oleh gaetan musuh yang tajam itu, ia menggeletak bermandikan
darah, sebelum ia sempat merangkak bangun, tiba2 beberapa anak buah Toh An-peng terus
menubruk kearahnya.
Nyo Wan yang dirintangi beberapa orang tadi menjadi kuatir melihat Oh-ciok bermandi darah itu,
untuk menolongnya sudah tidak keburu lagi, mendadak ia melompat tinggi melayang lewat diatas
kepala beberapa orang itu terus menubruk kearah Toh An-peng yang lebih dekat itu.
Dalam pada itu Oh-ciok Tojin mendadak membentak: “Jiwaku Cuma satu, bunuh satu kembali
pokok, bunuh dua untung satu!” ~ Berbareng itu ia terus melompat bangun, sinar goloknya
berkelebat, sebelum dia berdiri tegak, terdengar suara “krak-krek” ber-ulang2, dalam sekejap saja
tiga buah lengan musuh sudah terkutung oleh golok kilatnya.
Habis itu karena lukanya sangat parah, Oh-ciok menjadi kehabisan tenaga, “bluk” kembali ia jatuh
terguling.
Yang menyerang Oh-ciok Tojin itu ada lima orang, tiga orang terkutung sebelah tangannya, dua
orang yang lain menjadi ketakutan, lekas2 mereka lari menyingkir.
Pada saat Oh-ciok Tojin mengadu jiwa dengan serangan golok-kilat tadi, waktu itu Nyo Wan juga
sedang meloncat keatas, dengan suatu gerakan indah pedangnya terus menusuk kearah kepala Toh
An-peng.
Ternyata Toh An-peng juga sangat ganas, biar jari tangan kanan sudah terkutung, dengan sebuah
gaetan ia gunakan untuk menghadapi serangan Nyo Wan itu. Sementara itu beberapa anak buahnya
sudah memburu tiba, macam2 senjata mereka sekalugus berjatuhan keatas tubuh Nyo Wan.
Pada saat itulah tiba2 ada orang berteriak: “Beng-tayhiap dan Li-bengcu tiba.”
Teriakan itu seketika membikin kawanan bandit yang berkumpul disitu menjadi ketakutan. Menurut
perhitungan mereka, kedatangan Beng Siau-kang dan Li Su-lam adalah besok, tak terduga mereka
dapat tiba sehari lebih cepat dan pada saat yang genting sekarang ini.
Memang utusan yang dikirim Toh An-peng itu telah dipesan agar pulang pada hari yang telah
ditentukan, tak terduga ditengah jalan Beng Siau-kang selalu mendesak agar dipercepat perjalanan
sehingga tiba sehari lebih cepat daripada rencana.
Setiba dipintu gerbang benteng Hui-liong-ce, sayup2 Li Su-lam dan Beng Siau-kang mendengar
suara ramai2 didalam. Lebih mencurigakan lagi ketika seorang Tahubak yang bertugas menyambut
tamu tertampak bersikap gugup dan minta mereka tunggu sebentar digardu pos penjagaan, katanya
sang Cecu sedang repot.
Sudah tentu Li Su-lam dan Beng Siau-kang tidak gampang dikelabui, suara ramai1 didalam itu
kedengaran seperti suara pertempuran. Segera mereka bertindak lebih dulu. Thaubak serta utusan
yang membenawa kedatangan mereka itu terus dibekuk dan dipaksa mengantar mereka kedalam.
Dengan ketakutan terpaksa Thaubak itu menurut. Maka dengan leluasa mereka dapat masuk
kedalam. Setiba didepan pendopo Cip-gi-tong barulah mereka diketahui, maka cepat seorang yang
kenal Beng Siau-kang dan Li Su-lam lantas berteriak tentang kedatangan mereka.
Keruan para pengerubut Nyo Wan tadi menjadi kaget mendengar kedatangan Kanglam-thiap Beng
Siau-kang, mereka tidak berani menyerbu lagi. Sedang Nyo Wan yang menghadapi Toh An-peng
itu lantas menyampuk gaetan Toh An-peng dengan pedangnya, menyusul iapun melompat mundur.
“Berhenti semuanya!” Mendadak Beng Siau-kang mengertak. Suaranya menggelegar memekak
telinga, sampai2 Pek ban-hiong juga tergetar hatinya, mau tak mau iapun harus berhenti bertempur.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Justru pada saat semua orang mengadakan genjatan senjata itulah, sekonyong2 ada seorang
menerjang kearah Nyo Wan, Ialah Yang Kian-pek.
Rupanya Yang Kian-pek tahu gelagat jelek, maka bermaksud menawan Nyo Wan sebagai sandera,
sebab ia tahu kepandaian Nyo Wan jauh lebih rendah dari pada dia, pula nona itu diketahui sebagai
bakal istri Li Su-lam, ia yakin bilamana Nyo Wan tertawan olehnya, tentu Li Su-lam akan mati kutu
dan tidak berani sembarangan bergerak.
Ketika melihat kedatangan Li Su-lam, hati Nyo Wan merasa senang dan kuatir pula, ia menjadi
lengah pula terhadap serangan musuh, ketika tiba2 mendengar angin tajam menyamber dari
belakang dan lekas2 ia berpaling, namun sudah terlambat, tahu2 Yang Kian-pek sudah menubruk
tiba, pedangnya menahan batang pedang Nyo Wan kebawah, berbareng sebelah tangannya terus
mencengkeram pergelangan tangan Nyo Wan yang lain dengan Kim-na-jiu-hoat.
Untunglah pada saat Yang Kian-pek menubruk kearah Nyo Wan, Bing-sia lantas berteriak
memperingatkan sinona. Hal mana segera menimbulkan perhatian Li Su-lam, cepat iapun memburu
kesana, pada saat Yang Kian-pek berhasil memegang tangan Nyo Wan, pada saat itu pula Li Su-lam
lantas menotok hiat-to bagian bahu orang.
Betapapun tinggi kepandaian Yang Kian-pek juga sukar mengelakkan totokan Li Su-lam itu, “Kohcing-
hiat” dibahunya kena totokan dengan tepat sehingga tenaga sukar dikerahkan, hal mana
memberi kesempatan Nyo Wan untuk meronta sehingga tangannya terlepas dari pegangan Yang
Kian-pek, menyusul pedangnya terus menusuk. Yang Kian-pek tidak berani menangkis, cepat ia
melompat mundur dan berputar tubuh untuk melarikan diri.
“Hendak lari kemana?” bentak Li Su-lam. Baru saja ia hendak mengejar, pada saat itu juga Nyo
Wan menoleh kearahnya, kedua orang saling adu pandang, seketika itu juga keduanya sama
terkesima.
Dalam pada itu Bing-sia sedang berseru pula: “Bangsat itu adalah putranya Yang Thian-lui, ayah!”
‘Ya, aku tahu!” sahut Beng Siau-kang. Berbareng itu ia terus melompat kesana, jalan lari Yang
Kian-pek tahu2 kena dirintangi olehnya. “Sret”, segera Yang Kian-pek menusuk dengan pedangnya.
“Hm, erani juga kau bergerak dengan aku!” jengk Beng Siau-kang. Segera ia menjentik dengan
tenaga sakti jarinya, “creng”, tepat sekali batang pedang lawan diselentiknya dan pedang terlepas
dari cekalan serta mencelat keatas.
“Masakah kau dapat lolos dari tanganku? Sebaiknya kau menyerah saja!” Beng Siau-kang
menjengek pula, berbareng itu sebelah tangannya terus menjulur, dengan “Liong-jiau-jiu”
(cengkeraman cakar naga) yanglihai segera Yang Kian-pek hendak dibekuknya. Tak terduga, pada
saat yang sama tiba2 dari belakang ada dua orang menyerangnya berbareng.
Betapa tajam pancaindra Beng Siau-kang, mana bisa dia disergap orang? Hanya saja cara
menyerang kedua penyergap itu teramat keji, tempat yang mereka serang memaksa sasarannya
terpaksa harus membela diri lebih dulu jika tidak mau binasa. Karena itu Beng Siau-kang terpaksa
melepaskan Yang Kian-pek dan perlu melayani serangan dari belakang itu.
Gerakan kedua pihak sama2 cepat luar biasa, ketika mendadak Beng Siau-kang membalik
tangannya kebelakang, tahu2 penyerang belakang yang sebelah kanan mengkatup kedua telapak
tangannya, “plak”, pergelangan tangan Beng Siau-kang terjepit olehnya. Menyusul penyerang
sebelah kiri juga lantas menjotos kemuka Beng Siau-kang.
Menurut pengalaman Beng Siau-kang, belum pernah ia mengalami keadaan yang runyam seperti
sekarang ini, ia terkesiap sebab tak pernah menduga ditempat ini akan diketemukan dua lawan kelas
wahid. Tanpa pikir lagi segera ia keluarkan tenaga sakti, sekuatnya ia lemparkan orang yang
menjepit tangannya itu sehingga menumbuk pada orang yang hendak menjotosnya itu, keruan
kedua orang sama2 roboh tergeletak, tanpa ayal lagi Beng Siau-kang lantas mengcengkeram pada
tulang pundak kedua orang itu sehingga tak bisa berkutik lagi. Akan tetapi kesempatan itu[un
digunakan oleh Yang Kian-pek untuk kabur.
“Siapa kalian?” bentak Beng Siau-kang sambil seret bangun kedua tawanannya. “Tampaknya kalian
tidak lemah, mengapa sudi menjadi budak bangsa Kim?”
Disebelah sana Li Su-lam dan Nyo Wan yang adu pandang tadi dan sama2 terkesima, untuk sekian
lamanya mereka tidak tahu cara bagaimana harus bicara. Selang sejenak barulah Li Su-lam seperti
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tersadar dan menyapa: “Adik Wan, benar2 engkau adanya?”
“Kau ……. Kau dapat mengenali diriku?” sahut Nyo Wan sambil menunduk. Ia dalam penyamaran
sebagai lelaki, pula wajahnya telah diubah sedemikian rupa, tapi Li Su-lam ternyata dapat
mengenalinya, dalam hati ia menjadi girang dan terasa bahagia.
“Kita adalah sepasang merpati dari satu sarang, masakah aku bisa pangling padamu?” jawab Li Sulam.
“Adik Wan, ketika bertemu dengan Ciok Bok barulah aku mengetahui bahwa kau masih hidup
didunia ini, selama ini dengan susah payah aku telah mencari engkau.”
“Kita adalah sepasang merpati dari satu sarang.” Adalah ucapan Li Su-lam untuk mengucapkan isi
hatinya setelah mereka bertunangan secara resmi, tapi waktu itu Nyo Wan menyangsikan
kemurnian cinta Li Su-lam padanya. Kini dari mulut Li Su-lam sendiri kembali Nyo Wan
mendengar ulangan ucapan itu, seketika rasa dongkol dan menyesalnya terhadap pemuda itu
serentak buyar seperti tertiup angin segar.
Dalam pada itu Bing-sia telah menarik In-hong dan mendekati Li Su-lam berdua, katanya dengan
tersenyum penuh arti: “Selamatlah Engkoh Lam dan Enci Wan atas pertemuan kembali kalian
berdua.”
Wajah Li Su-lam menjadi merah, baru dia sadar bahwa didepan umum tidaklah layak bicara urusan
pribadi secara begitu mesra dengan Nyo Wan, terutama mengingat tugasnya sekarang adalah
Bengcu dari pasukan pergerakan.
Dengan tertawa Ci In-hong juga lantas berkata: “Aku minta maaf kepada kalian berdua, Li-bengcu!
Tempo hari aku meninggalkan Long-sia-san tanpa pamit, tentu menimbulkan curiga kalian bukan?
Harap nona Nyo suka memaafkan juga ketika aku terpaksa harus bergebrak dengan kau pada malam
itu.”
“Ya, mengapa In-hong harus berbuat begitu, tentunya sekarang tidak perlu penjelasan lagi bukan?
Bing-sia menambahkan.
Melihat Bing-sia dan In-hong begitu intim, Nyo Wan menjadi geli dan bergirang pula. Pikirnya:
“Mereka adalah sepasang kekasih, aku benar2 bodoh dan salah sangka dia mencintai engkoh Lam.”
Maka Nyo Wan lantas mengucapkan terima kasih juga atas bantuan Ci In-hong pada malam itu
sehingga terhindar dari ancaman To Liong.
“Ayahmu berhasil menawan dua orang, marilah kita memeriksanya,” kata Li Su-lam.
Saat itu Beng Siau-kang sedang menanyai kedua orang yang dibekuknya itu, Tapi kedua
tawanannya tetap berlagak bisu dan tuli saja, sama sekali mereka tidak mau membuka mulut. Ketika
Li Su-lam berempat mendekat kesana, sementara itu Giam Wan juga sudah menemui pamannya,
yaitu Beng Siau-kang.
Beng Siau-kang tidak menduga akan bertemu dengan keponakan perempuan sendiri ditempat
demikian, ia menjadi girang, sebelum sempat menanyai Giam Wan, tiba2 melihat anak perempuan
sendiri dan Ci In-hong datang pula, keruan ia tambah senang. Katanya dengan tertawa: “In-hong
ketika aku mendengar cerita kejadian di Long-sia-san tempo hari segera aku menduga akan dirimu
dan ternyata memang tidak keliru, mengapa kalian berdua bisa berada bersama?”
“Panjang sekali ceritanya, biarlah sebentar akan kujelaskan kepada ayah,” kata Bing-sia.
Setelah mengamat-amati kedua tawanan Beng Siau-kang tadi, tiba2 Li Su-lam membentak:
“Kurang ajar, besar amat nyali kalian, berani kalian menyusup kedaerah Tionggoan sini untuk
bersekongkol dengan sampah dunia persilatan dan mengacau?”
“Kau kenal mereka, Su-lam?” tanya Beng Siau-kang heran.
“Kedua orang ini adalah jago kemah emas kerajaan Mongol, nama mereka aku sudah lupa,” sahut
Li Su-lam. “Tapi pada tubuh mereka tentu terdapat medali emas anugerah Jengis Khan almarhum,
coba geledah mereka, pasti tidak keliru.”
Ketika Beng Siau-kang menggeledah baju kedua tawanannya, benar juga masing2 diketemukan
sebuah medali emas dengan ukiran elang yang pentang sayap. Itu adalah tanda pengenal “Jago
Kemah Emas”, medali emas itu merupakan pemberian Jengis Khan, medali emas itu merupakan
kebanggaan bagi setiap busu yang memperolehnya. Dahulu Jengis Khan pernah bermaksud
mengangkat Li Su-lam sebagai “Jago Kemah Emas”, tapi Li Su-lam menolak pengangkatan itu,
sebab itu pula ia cukup tahu jelas seluk beluk jagoan2 Mongol yang terkenal itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Setelah menggeledah medali2 emas itu, dengan gusar Beng Siau-kang lantas membentak: “Toh Anpeng,
kau tidak Cuma bersekongkol dengan pihak Kim, bahkan berhubungan rahasia pula dengan
pihak Mongol, hukuman apa bagi dosamu ini, coba kau katakan saja sendiri !”
Sementara itu anak buah Hui-liong-san sudah hampir berjubel seluruhnya didepan pendopo Cip-gitong
itu, tapi keder terhadap wibawa Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang, tiada satupun diantara
mereka yang berani sembarangan bergerak.
Sedang Kok Ham-hi lantas memajang bangun Oh-ciok Yojin, dilihatnya wajah imam itu pucat pasi
sebagai mayat, napasnya kembang kempis, keadaannya sangat payah.
Setelah membubuhi obat pada luka Tojin itu, dengan suara tegas Kok Ham-hi lantas berkata: “Toh
An-peng, aku tidak ingin membunuh orang yang terluka, kau boleh bereskan diri sendiri saja!”
Seperti diketahui kelima jari tangan Toh An-peng telah tertabas kutung oleh golok kilat Oh-ciok
Tojin tadi, sebab itulah Kok Ham-hi berkata demikian, “Bereskan diri sendiri !” sama artinya suruh
dia membunuh diri saja.
Melihat kedatangan Beng Siau-kang dan Li Su-lam sudah tentu Toh An-peng menjadi gentar karena
tahu perangkap yang dipasangnya sudah gagal. Akan tetapi dalam keadaan kepepet, sudah tentu ia
tidak mau menyerah, apalagi anak buahnya masih cukup banyak.
Segera iapun menjengek dengan mata mendelik: “Latah benar bocah kemarin sore macam kau,
berani kau menghina Hui-liong-san kami ini? Wahi, saudara2ku, coba dengarkan kalian dengarkan
kelatahan bocah ini, masakah Hui-liong-san kita yang telah dikenal dikalangan Lok-lim selama ini
rela dihina secara demikian? Biarpun hancur tubuhku juga aku orang she Toh akan mengadu jiwa
padamu !”
Seruan Toh An-peng bertujuan membangkitkan tekad anak buahnya agar melawan musuh secara
mati2an. Karena itu beberapa pembantu utamanya segera berdiri dibelakangnya dan siap bertempur
bersama pemimpinnya.
Tanpa terasa Giam Wan juga mendekati Kok Ham-hi dan siap bertempur bahu membahu dengan
pemuda itu.
“Siapakah dia?” tanya Beng Siau-kang.
“Kok-suheng ini adalah murid Kheng-susiok kami,” tutur In-hong.
“O, kiranya dia ini Kok Ham-hi,” kata Siau-kang. Ia memang sudah pernah dengar dari Bing-sia
tentang hubungan Kok Ham-hi dengan Giam Wan.
Dengan suara pelahan Ham-hi berkata kepada Giam Wan: “Adik Wan, harap kau membalut luka
Oh-ciok Totiang, aku akan membalaskan sakit hatinya,” ~ Sret, segera ia melolos pedangnya dan
membentak: “Hayo, siapa yang ingin mampus bersama Toh An-peng silahkan maju, akan kupenuhi
keinginannya !”
“Nanti dulu !” tiba2 Beng Siau-kang berseru: “Kawan2 dari Hui-liong-san, nama baik kalian telah
dicemarkan oleh Toh An-peng, dia biang keladinya dan tiada sangkut pautnya dengan kalian.
Sebagai bukti boleh kalian lihat sendiri, kedua orang ini adalah Busu Mongol, orang yang lari adi
juga putra Yang Thian-lui dari kerajaan Kim, Toh An-peng sengaja bersekongkol dengan kedua
pihak musuh, apakah kalian juga rela mengekor dan membudak kepada bangsa lain !”
Anak buah Hui-liong-san dan jago2 yang diundang Toh An-peng memangnya gentar kepada
wibawa Beng Siau-kang, pula rahasia Toh An-peng yang berhubungan dengan musuh negara sudah
terbongkar, sedikit banyak diantara mereka timbul rasa menyesal dan enggan menjual jiwa lagi bagi
kepentingan Toh An-peng, bahkan mereka menyaksikan Toh An-peng tidak segan2 buat
mencelakai saudara angkat sendiri tadi, maka mereka merasa tiada harganya membantu Toh Anpeng.
Karena itu, secara diam2 satu persatu sama mengeluyur pergi tanpa pamit.
Keruan wajah Toh An-peng menjadi merah padam, dengan suara parau ia berkata kepada Pek Banhiong:
“Pek-loenghiong, urusan sudah begini, rasanya tidak perlu kukatakan lebih banyak. Mati
bagiku bukanlah soal, tapi kalau membiarkan mereka berlagak disini, jangan2 kawan kangouw akan
mentertawakan Pek-loenghiong jeri kepada Beng Siau-kang.”
Sudah tentu Pek Ban-hiong tahu ucapan Toh An-peng yang mengadu domba itu, tujuannya hendak
memperalat dia untuk melawan musuh tangguh, tapi mau tak mau Pek Ban-hiong lantas tampil
kemuka juga.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kiranya Pek Ban-hiong memang adalah sekomplotan dengan Toh An-peng, garis yang dia tempuh
serupa juga, sama2 mengambil haluan kearah Yang Thian Lui yang menjual negara dan bangsa
demi keuntungan pribadi. Maka ucapan Toh An-peng tadi sebenarnya mengandung ancaman agar
Pek Ban-hiong jangan tinggal diam bilamana tidak ingin dibeberkan.
Akan tetapi Pek Ban-hiong juga manusia yang licin, segera iapun berseru: “Beng-tayhiap adalah
pendekar nomor satu dijaman ini, betapapun aku orang she Pek bukan tandingannya. Cuma Tohcecu
sudah berkata begitu, bila aku tidak mohon petunjuk beberapa jurus kepada Beng-tayhiap,
tentu aku akan lebih ditertawai sebagai pengecut. Bagiku kalah dibawah tangan Beng-tayhiap
rasanya cukup gemilang, maka silahkan Beng-tayhiap katakan saja caranya.”
“Pek Ban-hiong,” Beng Siau-kang lantas menanggapi, “sudah kujelaskan persoalannya tadi, jika
kau tetap hendak ikut masuk kubur bersama Toh An-peng dan benar2 ingin bertanding dengan aku,
maka aku pasti akan mengalahkan kau secara jujur supaya kau takluk lahir batin. Tadi kau sudah
bertempur, sekiranya au merasa kekurangan tenaga boleh kau pilih suatu hari kelak untuk
bertanding dengan aku.”
“Tapi hubunganku dengan Toh-cecu boleh dikata sehidup-semati, aku tidak ingin cari selamat
sendiri,” kata Pek Ban-hiong pula. “Jika kau ingin menunda pertandingan ini boleh saja, tapi hari ini
kalian tidak boleh membikin susah lagi kepada Toh-cecu.”
Beng Siau-kang menjadi curiga, mengapa Pek Ban-hiong ngotot membela Toh An-peng, padahal
biasanya diketahui Pek Ban-hiong bukan orang yang punya jiwa setia kawan. Cuma sebelum ada
bukti nyata, sukar untuk memastikan dia juga berkhianat seperti Toh An-peng, maka untuk sejenak
ia menjadi ragu2 apakah harus bergebrak dengan Pek Ban-hiong atau tidak.
Tiba2 Li Su-lam berkata: “Sembilih ayam tidak perlu pakai golok, Beng-tayhiap tidak sudi
bergebrak dengan kau, biarlah aku saja yang melayani kau.”
“Mestinya aku tidak suka bertanding dengan anak muda, tapi kau adalah Lok-lim Bengcu,
bertanding dengan kau rasanya cukup berharga bagiku, tapi entah bagaimana dengan pendapat
Beng-tayhiap ?” ujar Pek Ban-hiong.
Beng Siau-kang cukup kenal kepandaian Li Su-lam, ia yakin pemuda itu takkan sampai kalah,
apalagi Pek Ban-hiong tadi sudah bertempur, tenaganya tentu sudah berkurang.
Sebelum Beng Siau-kang buka bicara, Li Su-lam lantas menambahkan pula: “Aneh, apa maksud
ucapanmu itu?” Memangnya dengan kedudukan Beng-tayhiap masakah beliau akan ikut
mengerubut dirimu?”
“Ya, kalau Li-bengcu mau membereskan kau, sudah tentu aku tidak perlu turun tangan lagi,” kata
Beng Siau-kang kemudian.
Justru ucapan Beng Siau-kang inilah yang dikehendaki Pek Ban-hiong, ia pikir asal Beng Siau-kang
tidak ikut campur, masakah aku tidak sanggup mengalahkan seorang anak muda? “Baik, seorang
laki2 sejati harus dapat pegang janji. Jika aku kalah akan kupasrahkan nasibku kepada kalian. Tapi
bagaimana kalau Li-bengcu kalah?”
“Hm, boleh terserah apa yang kau inginkan, jika aku kalah, tidak nanti aku mungkir janji,” sahut
Su-lam mendengus.
“Bagus, jika kau kalah, maka urusan di Hui-liong-san sini kalian dilarang ikut campurdan harus
lekas2 pergi dari sini,” kata Pek Ban-hiong.
“Baik, asal dalam seratus gebrakan kau mampu mengalahkan aku, segera kami akan pergi dari sini
dan Toh An-peng akan kami ampuni pula,” jawab Su-lam. “Beng-tayhiap, harap engkau menjadi
saksi sekalian.”
Walaupun dalam hati Beng Siau-kang merasa Li Su-lam terlalu pandang enteng musuhnya, tapi
tampaknya Li Su-lam cukup yakin akan dapat mengatasi lawannya, maka iapun mengangguk
menyatakan setuju.
Dengan girang Pek Ban-hiong lantas berkata pula: “Soal kalah menang juga tidak perlu dibatasi
dalam seratus jurus. Nah, silahkan Li-bengcu mulai saja !”
Tiba2 Nyo Wan mendekati Su-lam dan membisikinya: “Engkoh Lam, gunakanlah pedangku ini.” ~
Ia sudah menyaksikan kepandaian Pek Ban-hiong tadi, ia kuatir Li Su-lam sukar mengalahkan
lawannya, maka ingin meminjamkan pedang pusaka pemberian Putri Minghui yang tajam itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tak terduga Li Su-lam telah menolak tawaran itu, bahkan pedang sendiripun dia tanggalkan dan
tidak dipakai. Katanya: “Aku ingin pertandingan secara adil, kalau dia tidak memakai senjata, maka
akupun melayani dia dengan tangan kosong.”
Padahal Pek Ban-hiong meyakinkan ilmu pukulan “Bian-ciang” yang hebat, kekuatan pukulannya
sanggup menghancurkan batu, sekarang Li Su-lam ingin bertanding ilmu pukulan dengan dia,
keruan inilah yang dia harapkan. Maka dengan bergelak tertawa berkatalah Pek Ban-hiong: “Libengcu
benar2 seorang ksatria muda yang terpuji, pantas kawan2 Lok-lim mendukung sebagai
Bengcu. Baiklah silahkan Li-bengcu mulai memberi petunjuk!”
“Yang muda selayaknya mengalah kepada yang tua, silahkan kau mulai lebih dulu,” kata Li Su-lam.
Hal ini lebih2 kebetulan bagi Pek Ban-hiong, segera ia menjawab: “Baik, karena Li-bengcu
sedemikian rendah hati, terpaksa aku yang tua bangka ini menurut saja.” ~ Baru habis ucapannya,
segera ia melangkah maju terus menghantam.
“Bagus!” sambut Li Su-lam sambil mengegos kesamping, berbareng tangannya lantas memutar
balik untuk balas menghantam Koh-cing-hiat dibahu kiri Pek Ban-hiong. Serangan ini cukup ganas
untuk memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu jika tidak ingin tulang lengan patah.
Diam2 Pek Ban-hiong terkejut dan mengakui ketangkasan Li Su-lam, pantas pemuda itu sudah
diangkat sebagai Lok-lim Bengcu, nyatanya memang punya kepandaian sejati. Sudah tentu ia tidak
gentar mengingat kepandaian sendiri, segera iapun mengelak dan balas menyerang pula, kedua
tangan terpentang, menyusul telapak tangan kiri cepat menabok muka Li Su-lam, sedang telapak
tangan kanan menyodok kedada pemuda itu. Serangan ini disebut: “Siang-liong-jut-hay” (Sepasang
naga keluar dari lautan).
Tapi semakin ganas serangan lawan, pertahanan Li Su-lam juga tambah hebat, dalam sekejap saja ia
sudah menghindarkan diri, kedua tangannya merangkap kedepan untuk segera ditangkiskan dengan
gerak tipu “Tui-jong-bong-hoat” (buka jendela tampak rembulan), dengan manis ia patahkan
serangan lawan itu.
Begitulah serangan dibalas dengan serangan, pertarungan kedua orang makin lama makin seru.
Setiap gerak pukulan Pek Ban-hiong selalu membawa samberan angin yang keras sehingga para
penonton terpaksa harus melangkah mundur.
Sebaliknya Li Su-lam juga tidak kalah hebatnya, dia melangah dengan kuda2 yang kuat,
menghantam dengan arah yang tepat, tiba2 pakai kepalan, lain saat berubah menjadi telapak tangan,
serangannya bagus, gerakannya aneh. Pada detik paling sengit, kedua sosok bayangan tampak berputar2
dengan cepat sehingga sukar dibedakan siapa Pek Ban-hiong dan siapa Li Su-lam.
Hati Beng Siau-kang baru merasa lega, diam2 ia mengakui Tat-mo-ciang-hoat ajaran Siau-lim-si
asli memang luar biasa.
Kiranya yang dimainkan Li Su-lam adalah Hok-hou-kun (ilmu pukulan penakluk harimau) dan Lohan-
kun ( ilmu pukulan Lo-han), gabungan dari kedua ilmu pukulan itu merupakan Tat-mo-cianghoat
yang lengkap, yaitu ilmu pukulan ciptaan Tat-mo Cousu, itu cikal-bakal Siau-lim-si.
Cuma sayang, Tat-mo-ciang-hoat yang diyakinkan Li Su-lam belum mencapai tingkatan yang
paling sempurna, tapi ketika dia datang tadi ia telah menyaksikan Pek Ban-hiong menggunakan
ilmu pukulannya melawan Thian-lui-kang dari Ci In-hong dan Kok Ham-hi, tampaknya keadaan
sudah payah, tenaga sudah payah, maka Su-lam yakin bila tenaga dalam sendiri dapat bertahan,
dalam hal ilmu pukulan tentu juga sanggup mengalahkan lawan itu. Sebab itulah tadi ia berani
menyatakan akan mengalahkan Pek Ban-hiong dalam seratus gebrakan.
Benar juga, selewatnya 50 gebrakan, karena serangan2 dahsyat selalu gagal. Lamban laun tenaga
Pek Ban-hiong mulai berkurang, kelemahan ini segera digunakan Li Su-lam untuk melancarkan
serangan yang lebih gencar.
Sebelum penonton mengetahui posisi kedua orang yang bertanding itu, Pek Ban-hiong sendiri
cukup paham bilamana pertarungan berlangsung terus, bukan mustahil dalam seratus gebrakan
dirinya akan benar kecundang ditangan anak muda ini. Karena itu Pek Ban-hiong menjadi bimbang.
Untuk minta damai sudah tentu malu, apalagi untuk ini dia masih harus menhadapi Toh An-peng
yang tidak mungkin membiarkan dia cari selamat sendiri. Maka bila terpaksa Toh An-peng harus
diseret agar mati bersama. Waktu dia melirik, ia melihat Toh An-peng sedang bersorak dengan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tegang untuk menambah semangat padanya.
Ditengah pertandingan sengit itu, mendadak Pek Ban-hiong melancarkan serangan maut, dengan
kepalan kiri ia tonjok dagu lawan, sedang telapak tangan kanan memotong iga pula, serangan maut
ini bila perlu dimaksudkan gugur bersama lawan.
Namun Li Su-lam tidak membiarkan tujuan lawan tercapai, cepat ia menggeser kesamping, pada
detik terakhir ia sempat menghindar dan berbareng balas menyerang pula. Tertampak bayangan
orang berkelebat, “bret”, baju Li Su-lam terobek, sebaliknya Pek Ban-hiong juga kena ditolak
mundur beberapa tindak.
“Sayang, sayang !” seru Toh An-peng.
“Ya, sayang, sungguh sayang !” Li Su-lam juga berseru.
Kini Ci In-hong juga sudah dapat melihat kemenangan pasti berada dipihak Li Su-lam, dengan
tertawa ia sengaja menanggapi: “Li-bengcu, untuk apa kau merasa sayang baginya ?”
“Aku merasa sayang karena tidak mudah dia melatih diri selama beberapa puluh tahun, tapi karena
sedikit salah pikir ia rela menjual jiwa bagi seorang pengkhianat,” kata Su-lam. Nyata ia tidak tahu
bahwa Pek Ban-hiong sebenarnya adalah satu komplotan bersama Toh An-peng, maka ucapannya
itu bermaksud menyadarkan lawannya.
Mendengar itu, mendadak tergerak pikiran Pek Ban-hiong, segera ia mendapat akal. Maka ketika
kedua pihak serang menyerang pula, Pek Ban-hiong berbuat seperti bertarung mati2an dan
menerjang dengan kalap.
Melihat begitu, Toh An-peng sangat senang dan anggap Pek Ban-hiong cukup konsekwen sebagai
kawan. Tak terduga, belum sempat ia berpikir lagi, se-konyong2 Pek Ban-hiong memutar tubuh
terus menubruk kearahnya, tanpa ampun lantas menghantam keatas kepalanya.
Serangan kilat yang datangnya mendadak ini, jangankan Toh An-peng tidak menduga sama sekali,
Li Su-lam juga tercengang, sebab ia sendiri sedang bertahan dan mendadak Pek Ban-hiong
mengalihkan sasaran serangannya, dengan sendirinya Su-lam tidak sempat mengejar.
Pukulan Pek Ban-hiong dahsyatnya dapat menghancurkan batu, maka Toh An-peng jangan harap
bisa hidup terkena pukulannya itu, kontan kepalanya pecah dan jiwa melayang.
Padahal belum lama berselang Pek Ban-hiong baru menyatakan rasa setia kawannya kepada Toh
An-peng dan rela bertempur untuk membelanya, tapi sekarang dia sendiri tak terluka apa2,
sebaliknya Toh An-peng malah dibunuh olehnya sendiri.
“Eh, Pek-losiansing, mengapa kau tidak bicara lagi tentang setia kawan orang kangouw?” jengek Ci
In-hong.
Tapi Pek Ban-hiong tidak menjawabnya, ia terus menghadap kepada Li Su-lam dan memberi
hormat sambil berkata: “Banyak terima kasih atas petua2 Li-Bengcu tadi sungguh aku merasa malu
terhadap perbuatanku sendiri.”
“Syukurlah jika engkau mau sadar dalam waktu singkat,” sahut Su-lam dengan hambar, agaknya
iapun ragu2 terhadap tindakan Pek Ban-hiong itu.
“Huh, sadar apa?” Kok Ham-hi ikut menjengek. “Yang pasti dia merasa tidak mampu menandingi
kau, dia terpaksa berbuat begitu dengan harapan kau dapat mengampuni dia.”
Tapi dengan lagak penasaran Pek Ban-hiong menjawab dengan tegas: “Biarpun sudah tua bangka,
rasanya orang she Pek belum lagi pikun. Bahwasanya Toh An-peng rela membudak kepada musuh,
masakah aku mesti bicara tentang peraturan kangouw dengan dia? Tadi aku mestinya hendak pergi
saja dari sini, tapi tiba2 timbul pikiranku buat belajar kenal dengan kepandaian Bengcu, aku tahu
Beng-tayhiap pasti tidak sudi bergebrak sendiri dengan aku. Terus terang, semula aku rada
meragukan kepandaian Bengcu mengingat usianya yang masih muda, sebenarnya aku penasaran
atas kedudukanmu sebagi Lok-lim Bengcu. Tapi seelah kudesak hingg kepandaian sejati Bengcu
dikeluarkan barulah aku tahu bahwa Li-bengcu memang tidak bernama kosong dan sekarang aku
benar2 menyerahlahir batin.”
Kata2 Pek Ban-hiong itu sebenarnya kurang beralasan, tapi Li Su-lam selalu menghadapi orang
dengan segala kejujuran, ia pikir kalau orang mau kembali kejalan yang benar, apa salahnya kalau
aku memberi kesempatan padanya. Karena itu ia lantas berkata: “syukurlah kalau Pek-loenghiong
sudah menyadari kesalahn ang telah lampau. Sekarang bolehlah kau pergi saja, hendaknya kau
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dapat hidup berguna bagi negara dan bangsa.”
Melihat Pek Ban-hiong dibebaskan begitu saja, Oh-ciok Tojin menjadi penasaran katanya kepada Li
Su-lam: “Li-bengcu, tua bangka ini Cuma manis dimulut, tapi berhati busuk, dia pasti bukan
manusia baik2, mengapa kau melepaskan dia?”
Akan tetapi Li Su-lam lantas menghiburnya, kalau orang tersebut mau kembali kejalan yang benar,
apa salahnya kalau kita memberi kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya, demikian
Su-lam menyatakan pendapatnya.
Sebenarnya Beng Siau-kang juga tidak setuju melepaskan Pek Ban-hiong, tapi ia ingin menghargai
kepemimpinan Li Su-lam, iapun mempunyai perhitungan sendiri, ia yakin sebabnya Pek Ban-hiong
mendadak membinasakan Toh An-peng tentu ada rahasia yang terpendam dan pasti tidak begitu
sederhana sebagai alasan yang dikemukakannya. Maka bila Pek Ban-hiong dilepaskan, kelak masih
dapat diselidiki gerak geriknya dan bukan mustahil akan memperoleh hasil di luar dugaan.
Kemudian Li su-lam lantas berseru kepada anak buah Hui-liong-san agar memilih ingin
membubarkan diri atau bergabung kepada Long-sia-san dan berjuang ber-sama2 bagi negara.
Toh An-peng sudah mati, begitu juga Lo Cun telah binasa oleh bantingan Kok Ham-hi tadi, maka
Sam cengcu Kang Sim lantas tampil ke muka dan menyatakan segenap anak buah Hui-lionh-san
siap menerima perintah dari bengcu yang baru itu.
Dengan girang Li Su-lam menerima penggabungan Kang Sim dan anak buahnya, sungguh tak
diduganya bahwa urusan bisa berjalan dengan begitu lancar.
Sementara Kang Sim lantas perintahkan anak buahnya menyiapkan perjamuan besar, sedang Kok
Ham-hi, Ci In-hong, Giam Wan dan lain2 baru sempat bicara dengan Beng Siau-kang dan Li Sulam.
Waktu itu Nyo Wan juga telah mengembalikan wajah aslinya dari penyamarannya tadi. Melihat Li
Su-lam bersua kembali dedngan bakal istrinya, sedang anak perempuan sendiri tampaknya juga
begitu mesra dengan Ci In-hong, diam2 Beng Siau-kang merasa puas bila dapat memungut anak
menantu ksatria muda sebagai Ci In-hong itu.
Ketika Bing-sia memberitahukan sang ayah tentang hubungan Kok Ham-hi dengan Giam Wan,
dengan tertawa Beng Siau-kang berkata: “Haha, kalian benar2 pasangan yang sangat setimpal, aku
pasti akan menjadi comblang bagi kalian dan bicara dengan orang tuamu, jangan kuatir.”
Kemudian Li Su-lam juga menyruh Kang Sim mengurung kedua Busu bangsa Mongol tadi si suatu
kamar yang baik dan diberi obat serta daharan secukupnya.
“Engkoh Lam, kau tidak bunuh mereka, mengapa malah memberi pelayanan begitu baik kepada
mereka?” ujar Nyo Wan dengan penasaran. “Apakah kau sudah lupa penderitaan kita ketika berada
di daerah Mongol?”
“Karena kita sudah kenyang menerita atas perbuatan mereka, maka aku tidak ingin membalas
dendam terhadap diri mereka,” sahut Li Su-lam dengan tertawa.
“Aneh, mengapa begitu?” tanya Nyo Wan.
“Kau banyak membaca, tentunya kau paham ajaran Khong Hu Cu yang menyatakan ‘apa yang
engkau tidak ingin perbuat orang atas dirimu, janganlah engkau perlakukan terhadap orang lain’.”
“Akan tetapi mereka adalah musuh kita,” ujar Nyo Wan.
“Tawanan yang tidak bersenjata tak dapat dianggap sebagai musuh lagi,” kata Li Su-lam. Tawanan
dan musuh yang berhadapan dengan kita dengan senjata terhunus harus dibedakan bukan? Apalagi
yang membikin kita susah waktu di Mongol ada biang keladinya sendiri. Piutang kita ini tak dapat
kita perhitungkan atas diri mereka ini. Bukan mustahil dengan kelonggaran kita terhadap kaum
tawanan jelak kita akan dapat memetik hasilnya.”
Nyo Wan dapat memahami maksud Li Su-lam itu katanya:”Ya, benar, dari mulut mereka mungkin
kita akan mendapat berita tentang keadaan musuh.”
“Ya, itulah yang kita harapkan,” kata Li Su-lam. “Tapi kalau mereka tetap tutup mulut, kita akan
tetap memperlakukan mereka sebagai tawanan yang layak.”
Mendengar itu, setiap orang sama mengakui budi luhur dan kebijaksanaan Li Su-lam yang tidak
malu sebagai Bengcu mereka itu.
Selesai perjamuan, Li Su-lam sendirian lantas mendatangi kamar tahanan kedua Busu Mongol.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kedua Busu itu sudah diberi obat dan diberi daharan, mereka sangat heran mengapa mereka
diperlakukan begitu baik. Sebagai jagoan bangsa Mongol, mereka sudah digembleng untuk setia
kepada Khan Agung dengan disiplin yang keras. Maka biarpun mereka heran dan merasa berterima
kasih terhadap perlakuan Li Su-lam kepada mereka itu, namun mereka tetap tidak mau tunduk
ketika melihat kedatangan Li Su-lam.
“Apakah kalian sudah baik2 dan dapat berjalan sendiri?” tanya Li Su-lam.
“Li Su-lam, kau tidak perlu main sandiwara,” sahut salah satu Busu itu dengan angkuh. “Setiap
orang Mongol adalah laki2 baja, kami sudah jatuh ditanganmu, mau bunuh boleh bunuh, apa
gunannya banyak bicara. Tapi kalau kau sangka kami gampang dibujuk, huh, jangan kau harap.”
“Selamanya kita tidak punya permusuhan apa-apa, buat apa aku membunuh kalian?” ujar Li Sulam.
“Kau manusia, akupun manusia. Mungkin cara hidup kita berbeda, tapi kita adalah manusia
yang sama tingkat, kenapa aku mesti membikin susah padamu. Apalagi kita kan kawan lama,
bukankah kalian pernah berburu bersama aku dahulu?”
“Hm, bagus juga daya ingatanmu, tapi kami tak berani berkawan dengan orang besar seperti kau,”
sahut kedua Busu itu.
“Tidak, daya ingatanku justru sangat buruk, sampai2 nama kalianpun aku sudah lupa,” ujar Li Sulam.
Karena Li Su-lam bicara kisah lampau, tanpa terasa rasa permusuhan kedua Busu Mongol itu
menjadi banyak berkurang. Mereka kemudian memberitahukan nama masing2, yang satu bernama
Tubukan, dan yang lain bernama Subutai.
Tubukan yang lebih angkuh itu tiba2 merasa aikap Li Su-lam itu tentu ada udang dibalik batu,
segera ia berkata pula:”Sudahlah, singkat saja, apa maksud kedatanganmu ini?”
“Bukankah sudah kukatakan barusan ini, aku datang untuk menjenguk kawan2 lama dan ingin tahu
apakah kalian sudah sehat kembali belum?” sahut Su-lam dengan tertawa.
“Kalau sudah sehat lantas mau apa?” tanya Tubukan pula.
“Jelas bukan? Kalau kalian sudah sehat, bilamana ingin lekas2 pulang, tentu saja aku akan
mengantar keberangkatan kalian, kita kan kawan2 lama bukan?”
“Kau …… kau mau membebaskan kami ?” Subutai menegas, begitu pula mau tak mau Tubukan
juga melongo heran, mereka hampir2 tidak percaya kepada telinganya sendiri.
“Benar,” jawab Li Su-lam. “Jika kalian sudah merindukan rumah, sekarang juga kalian boleh
berangkat.”
“Terus terang saja, apa yang kau kehendaki dari kami ?” tanya Tubukan.
“Tidak ada apa-apa, cukup kalian sampaikan saja salamku kepada kawan2 lama disana,” sahut Li
Su-lam.
“O, jadi kau membebaskan kami tanpa syarat? Betul2 begitu?” Tubukan masih menyangsikan.
“Siapakah orang didunia ini tidak punya ayah-ibu dan tidak punya anak istri? Setiap orang tentu
berharap senantiasa berkumpul dengan keluarga sendiri, mana boleh aku memisahkan kalian
dengan keluarga kalian ditempat jauh itu.”
“Tapi ……. Tapi …….” Tubukan menjadi gelagapan.
“Kukira kalian mengetahui juga urusan diriku dimasa lampau,” kata Li Su-lam. “Terus terang,
ayahku adalah orang yang pernah ditawan bangsa kalian dan hidup merana selama lebih 20 tahun
dinegeri kalian dan akhirnya meninggal disana. Juga lantaran ingin mencari ayahku barulah aku
jauh2 datang kenegeri kalian. Sebagai manusia yang sama2 mempunyai perasaan, masakah
sekarang aku sampai hati berbuat cara demikian juga kepada kalian?”
Tidak kepalang rasa terharu kedua orang itu, Tubukan yang angkuh itupun tak tertahan mengalirkan
air mata.
“Akan tetapi, setelah kami pulang, bukan mustahil kami akan berhadapan lagi dengan kau dimedan
perang,” kata Subutai.
“Sudah tentu kuharap tak terjadi demikian,” sahut Li Su-lam. “Tapi kalian adalah Jago Kemah
Emas, kecuali kalian tidak befrtugas lagi, kalau tidak, tentu hal demikian sukar dihindarkan. Namun
bila terjadi begitu, tentu akupun tidak menyalahkan kalian. Dimedan perang tentu tidak kenal
ampun. Tapi kalau kau tertawan pula olehku tentu akan kubebaskan kau lagi.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Sungguh kami sangat berterima kasih atas keluhuran budimu,” sahut Subutai. “Terus terang,
bilamana kau yang tertawan, hendak membebaskan saja rasanya kamipun tidak berani. Yang harus
disalahkan adalah mengapa kedua negara kita mesti berperang sehingga kita tak dapat menjadi
kawan yang kekal.”
“Tidak, takdapat menyalahkan kedua negara yang berperang, tapi Khan kalian dengan para
bangsawannya yang berdosa, merekalah yang menghendaki peperangan ini. Bangsa Han kami kan
tidak mendatangi negeri kalian untuk berperang ?” Kata Li Su-lam.
Subutai dan Tubukan menjadi bungkam, mereka merasa malu didalam hati dan sama menunduk
kepala.
“Kalian menjual jiwa bagi Khan Agung kalian, bai para Pangran dan bangsawan2nya, lalu apa hasil
yang kalian peroleh?” kata Li Su-lam pula. “Memang, kalian dianugerahi sebagai Jago Kemah
Emas, kedudukan kalian lebih tinggi setingkat dari para Busu biasa, tapi jiwa kalian sebenarnya
senantiasa tncam, darah kalian hany untuk mempertahankan kekayaan dan kedudukan bangsawan2
itu, apakah ini ada harganya bagi kalian? Coba kalian pikir lagi, kalian bertempur dengan mati2an,
kalian membantu Khan kalian mencaplok banyak negeri2 tetangga, lalu apa hasilnya yang diperoleh
rakyat jelata bangsa Mongol kalian? Kalau ada rampasan harta benda dari negeri jajahan rasanya
juga takkan dibagikan kepada rakyat, yang ada cuma kewajiban membayar pajak dan keluar tenaga,
berapa banyak rakyat jelata yang menjadi korban angkara murka kaum penguasa bangsa kalian i?
Dan betapa banyak pula penderitaan rakyat jelata dari negeri2 jajahan yang menjadi korban
keganasan bangsawan kalian?”
Selama hidup Subutai dan Tubukan hanya dididik cara bagaimana menjadi Busu yang baik, belum
pernah ada orang bicara hal begitu kepada mereka. Maka setelah mereka berpikir secara mendalam,
apa yang dikatakan Li Su-lam itu memang tidak salah.
“Li-kongcu,” kata Tubukan kemudian sambil menghela napas. “Banyak terima kasih atas
nasehatmu ini, selanjutnya kami tidak inginkan kedudukan dan pangkat apa segala, setelah pulang,
kami akan menyingkir jauh kepegunungan terpencil bersama keluarga kami untuk kehidupan yang
aman dan tentram saja.”
Sudah tentu Li Su-lamthu urusan tidak semudah sebagaimana pikiran Tubukan itu, tapi untuk
menjelaskan rasanya juga tidak gampang, maka iapun berkata: “Baiklah, semoga selanjutnya kita
bukan musuh lagi dimedan perang. Apakah kalian akan berangkat sekarang juga? Aku akan
mengantar kalian.”
“Terima kasih atas kemurahan hati Li-kongcu,” kata Subutai.
Begitulah Li Su-lam lantas membebaskan kedua Busu Mongol itu. Setiba dikaki gunung dan ketika
hendak berpisah, mendadak Tubukan berkata: “Li-kongcu, ada suatu urusan yang perlu kukatakan
padamu. Urusan ini maha penting, sebenarnya kami sudah bersumpah kepada Khan Agung untuk
tidak membocorkan rahasia ini.”
“Jika begitu, sebaiknya jangan kau katakan saja,” ujar Li Su-lam.
“Tidak, Li-kongcu,” kata Tubukan. “Biarpun kami sudah bersumpah, tapi engkau terlalu baik
kepada kami, jika tidak kami beritahukan padamu berarti kami tidak kenal budi kebaikanmu.”
“O, apakah barangkali urusan yang menyangkut diriku?” tanya Li Su-lam.
“Benar,” jawab Tubukan. “Ai, Li-kongcu benar2 seorang yang terlalu baik hati. Tua bangka Pek
Ban-hiong itu sebenarnya jangan kau lepaskan.”
“Sebab apa?” kata Li Su-lam.
“Ketahuilah bahwa musuh besarmu justru beradaa dirumahnya,” tutur Tubukan.
“Kau maksudkan bangsat Sia It-tiong itu?” Li Su-lam nenegas dengan girang tercampur kejut.
“Li-kongcu,” tutur Tubukan. “Tentang penderitaan ayahmu akibat dianiaya Sia It-tiong itu sedikit
banyak pernah kami dengar. Tuan Putri pernah mohon kepada Pangeran keempat dan Khan Agung
agar Sia It-tiong dihukum mati, Cuma sayang permohonannya tidak dikabulkan, sebaliknya Khan
malah mempercayai dia dan memberi tugas penting padanya.”
Kiranya sesudah Jengis Khan wafat, Putri Minghui pernah menggugat dosa Sia It-tiong itu
dihadapan Dulai yang waktu itu menjabat Mangkubumi, yaitu sebelum Ogotai dipilih menjadi Khan
Agung yang baru. Waktu Minghui menggugat, Tubukan dan Subutai adalah jago2 Kemah Emas,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengan sendirinya mereka berada disitu.
Li Su-lam rada heran mendengar erita itu, katanya segera: “Jika demikian, jadi bangsat Sia It-tiong
itu datang ke Tionggoan ber-sama2 kalian? Bukankah dia menjabat wakil panglima besar sebagai
pembantu pangeran Tin-kok, mengapa Khan memberi tugas lain padanya?”
“Begini,” tutur Subutai, “Khan kami ingin menarik beberapa tokoh2 kangouw atau jago2 Lok-lim
bangsa Han untuk menjadi pembantu disini bilamana pasukan Mongol kami mulai menyerbu kesini.
Untuk tugas mencari orang2 demikian sudah tentu Sia It-tiong adalah pilihan yang paling cocok.”
“Hm, kiranya begitu,” jengek Li Su-lam. “Memangnya Sia It-tiong adalah pengkhianat, pantas
Khan kalian sengaja memperalat dia untuk mencari pengkhianat2 yang lain.”
“Semula Sia It-tiong bermaksud sembunyi dikediaman Yang Thian-lui,” tutur Subutai pula. “Tapi
kuatir diketahui lawan Yang Thian Lui, pula kurang leluasa tinggal dikotaraja Kim itu, kemudian
Pek Ban-hiong yang dia datangi. Pek Ban-hiong memang sudah ada hubungan gelap dengan Yang
Thian-lui sehingga Sia It-tiong juga sudah kenal dia, karena iu segala sesuatu berjalan dengan
lancar. Kami berdua ditugaskan menjadi pembantu Sia It-tiong dengan tiga macam tugas, pertama
kami harus mencari tahu jejak Putri Minghui; kedua, mencari jalan untuk membunuh kau, kalau
engkau dapat ditawan kembali ke Mongol lebih2 diharapkan; Ketiga, kami harus mengawasi gerakgerik
Sia It-tiong. Sudah tentu tugas terakhir kami ini diluar tahu Sia It-tiong sendiri. Orang ini
banyak tipu akalnya, hendaknya Li-kongcu hati2 menghadapi dia.”
Li Su-lam mengucapkan banyak terimakasih atas keterangan kedua orang itu. Lalu bertanya:
“Sekarang kalian akan terus pulang ke Mongol atau kembali kerumah Pek Ban-hiong untuk
bergabung dengan Sia It-tiong?”
Dengan gemas Tubukan menjawab: “Kami tidak ingin menjual jiwa lagi bagi Khan, siapa sudi
mengekor lagi kepada manusia rendah she Sia itu ?”
Tapi Subutai yang lebih cerdik segera timbul suatu gagasan, katanya dengan tertawa: “Arah kita
untuk pulang harus melewati tempat Pek Ban-hiong, kebetulan kita dapat mampir kesana, kalau Sia
It-tiong tidak mampus, kita sendiri yang akan celaka.”
Seketika Tubukan sadar, serunya: “Benar, tentang tertawannya kita disini tentu Pek Ban-hiong akan
memberitahukannya kepada Sia It-tiong, bila dia kembali ke Mongol dan lapor kepada Khan, maka
buntu pula jalan kita untuk pulang kesana. Tapi dia ada dirumah Pek Ban-hiong, untuk
membunuhnya tidaklah susah, tapi cara bagaimana kita harus menghadapi Pek Ban-hiong yang lihai
itu?”
“Kita bukan tandingan Pek Ban-hiong, tapi dia juga bukan tandingan Li-kongcu,” Kata Subutai
dengan tertawa. “Beberapa hari lagi kita tentu akan berjumpa pula dengan Li-kongcu dirumah Pek
Ban-hiong, entah betul tidak terkaanku ini ?”
Dengan tersenyum Su-lam menjawab: “Untuk membalas sakit hati aku tidak berani membikin repot
kalian. Tapi kalau kalian suka membantu dirumah Pek Ban-hiong, tentu saja akan kuterima dengan
baik. Kalian boleh berangkat dulu kesana, tahanlah Sia It-tiong untuk tetap tinggal dirumah Pek
Ban-hiong dan inipun sudah banyak membantu padaku.”
“Urusan kecil ini kalau takdapat kulaksanakan, lalu sahabat macam apakah aku ini ?” seru Tubukan,
habis itu mendadk ia angkat goloknya terus membacok paha sendiri.
Li Su-lam terkejut dan cepat mencegahnya. Walaupun tangan Tubukan keburu dipegang Li SU-lam,
tapi tidak urung mata goloknya sudah melukai pahanya sehingga darah bercucuran.
“Tidak menderita sedikit luka, mana Sia It-tiong mau percaya bahwa kami dapat lolos dari sini
dengan membunuh penjaga,” kata Tubukan.
Barulah Li Su-lam tahu maksud tubukan, ia menjadi terharu, katanya: “Kalian benar2 kawan sejati,
terimalah hormatku ini.”
Akan tetapi Tubukan dan Subutai lekas2 membalas hormat dan saling mengucapkan kata2 rendah
hati, setelah berjanji untuk bertemu dirumah Pek Ban-hiong dalam beberapa hari lagi, lalu
berpisahlah mereka.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Jilid 13 bagian kedua
Setiba kembali didalam benteng Hui-liong-ceh, Su-lam melihat Beng Siau-kang, Nyo Wan dan
lain2 masih berkumpul disitu menantikan dia. Segera Su-lam menceritakan apa yang terjadi serta
memberitahukan pula kabar baik yang diperolehnya dari Subutai berdua tentang Sia It-tiong itu.
“Ternyata dugaanku tidak meleset,” kata Beng Siau-kang sambil menggebrak menja, “Tua bangka
she Pek itu ternyata betul suatu komplotan dengan Toh An-peng, sekarang Sia It-tiong diketahui
bersembunyi di rumahnya, tentu mereka telah merencanakan tipu muslihat apa2.”
“Memang betul,” kata Su-lam. Lalu iapun menceritakan apa yang didengarnya dari Subutai berdua.
“Keji amat bangsat she Sia itu, dia sendiri khianat, sekarang hendak menyeret orang lain masuk
lumpur seperti dia. Betapapun orang ini tak dapat dibiarkan hidup,” kata Beng Siau-kang dengan
gusar.
“ya, betapapun dia tak bisa diampuni, dia adalah pembunuh ayahku, aku ingin menuntut balas
dengan tanganku sendiri,” kata Su-lam.
“Iapun musuh yang membunuh kakak, akupun ingin menuntut balas,” seru Nyo Wan.
“Sudah tentu kau harus berangkat kesana bersama aku, tapi tak berani kubikin repot kawan2 yang
lain, maka tidak perlu ikut serta,” kata Su-lam.
“Namun kau harus meluruk kerumah Pek Ban-hiong, jumlah mereka tentu sangat banyak, meski
Pek Ban-hiong dan Sia It-tiong adalah musuh kalian, tetapi merekapun musuh umum bagi dunia
persilaan, kalau kita beramai2 menumpas habis Pek-kek-ceng (perkampungan keluarga Pek)
bukankah lebih baik?” ujar Bing-sia.
“Kukira kalau kita pergi kesana berramai2 mungkin malah akan membikin urusan menjadi
runyam,” kata Su-lam. “Tubukan dan Subutai sudah berjanji akan membantu kita,kalau kita serang
Pek-keh-ceng secara mendadak dimalam hari kuyakin akan dapat membereskan mereka.”
“Benar juga, kalau terlalu banyak orang mungkin akan diketahui oleh mereka dan keburu kabur,”
kata Siau-kang setelah berpikir sejenak. “Jika engkau sudah yakin akan berhasil, maka bolehlah
kalian berdua saja yang pergi kesana.”
Lalu Li Su-lam menutur pula: “Akupun mendapatkan sedikit berita tentang keadaan pihak Mongol.
Setelah Jengis Khan meninggal, putera2nya berebut pengaruh dan ingin menjadi Khan yang baru.
Akhirnya Ogotai yang terpilih, tapi dasarnya kurang kuat, Ogotai belum sanggup menenteramkan
keamanan didalam negeri sendiri, maka dalam waktu singkat tidak mungkin pihak Mongol
mengganggu negeri kita. Namun kitapun tidak boleh lengah dan harus selalu waspada. Jika Bengtayhiap
tidak keberatan, sudikah engkau kembali ke Long-sia-san untuk sementara menggantikan
aku memegang pimpinan disana?”
“Aku sudah tua , pula sudah biasa hidup bebas, mungkin tidak sanggup memikul tugas berat
sebagai Bengcu,” ujar Beng Siau-kang dengan tertawa.
“Jika Beng-tayhiap tidak suka kesibukan, bolehlah juga minta To Hong menjabat Bengcu untuk
sementara, sudah tentu diharapkan pula bantuan2 Beng-tayhiap, Ci-heng dan Kok-heng,” kata Sulam.
Sudah tentu Beng Siau-kang dan lain2 sama menyanggupi. Habis itu Li Su-lam dan Nyo Wan lantas
berangkat pada hari itu juga.
Setelah mereka berangkat, Bing-sia menyatakan rasa kuatirnya kepada sang ayah. Tapi Beng Siaukang
ternyata sudah ambil keputusan akan membantu Su-lam berdua secara diam2, diluar tahu
mereka Beng Siau-kang akan menyusul ke Pek-keh-ceng, hal ini tentu sangat melegakan hati Bingsia.
Dalam pada itu sepanjang jalan Li Su-lam dan Nyo Wan juga sedang asyik menceritakan
pengalaman mereka masing2 selama berpisah. Setelah berkumpul kembali, maka segala salah
paham diwaktu lampau menjadi lenyap seluruhnya, kini kedua buah hati menjadi melekat lebih erat
lagi.
Ketika Nyo Wan bicara tentang Putri Minghui, ia tanya Su-lam: “Apakah kau terkenang padanya?”
“Hatiku hanya terisi oleh dirimu, masakah sampai sekarang kau masih sangsi?” sahut Su-lam.
“Terus terang,” kata Nyo Wan sambil menatap Su-lam, ketika di Mongol,aku memang menaruh
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
cemburu, tapi sekarang aku berbalik merasa kasihan padanya. Sayang di dunia ini engkau hanya
seorang saja, pula tak dapat dibagi dua, kalau tidak sungguh aku ingin menyerahkan kau kepadanya.
Namun biar sekarang aku tak dapat memberikan dirimu kepadanya, sedikitnya aku berharap engkau
dapat menghibur hatinya yang lara.”
Karena tidak tahu persoalannya, Li Su-lam menjadi rada heran terhadap Nyo Wan yang mendadak
berubah berdada lapang itu.
“Aku bicara dengan sesungguh hati, engkoh Lam,” kata Nyo Wan pula. “Putri Minghui sangat baik
padamu, tapi iapun kawan baikku, malahan aku pernah menjadi pelayannya, tentu kau tak pernah
menduga bukan?” ~ Lalu iapun menceritakan pengalamannya dahulu.
Su-lam menjadi heran dan girang pula, katanya: “Jika demikian, Putri Minghui adalah penolong
kita malah.” ~ Maka iapun menceritakan apa yang didengarnya dari Subutai tentang usaha Minghui
menggugat kejahatan Sia It-tiong terhadap ayah Su-lam itu.
“Ya, akupun sudah tahu hal itu,” kata Nyo Wan. “Tapi apakah engkau tahu apa sebabnya Minghui
lari dari Mongol? Soalnya dia tidak sudi menjadi istri Pangeran Tin-kok, sebab itulah dia melarikan
diri ke Tionggoan sini dengan tujuan mencari engkau.”
“Ah, kau berkelakar lagi kepadaku,” kata Su-lam. Tapi didalam hati sebenarnya ia percaya apa yang
dikatakan Nyo Wan itu memang tidak salah.
“Engkoh Lam,” kata Nyo Wan pula, “setelah mengalami macam2 penderitaan, kini aku sudah yakin
engkau benar2 cinta padaku, sebaliknya hendaklah engkau juga jangan meragukan lagi hatiku
sempit seperti waktu dahulu. Beberapa hari yang lalu kebetulan bertemu dengan putri Minghui,
sebab itu aku mengetahui dia sedang mencari kau, bahkan aku berani tanggung sesudah kita
kembali dari Pek-keh-ceng nanti tentu kau dapat berjumpa dengan dia.”
“Apakah betul?” tanya Su-lam dengan heran. “Dia berada dimana sekarang?”
“Ditempat To Hong, aku yang perkenalkan dia kesana,” sahut Nyo Wan.
Berita ini membikin Su-lam merasa susah malah.
Melihat air muka Su-lam rada berubah, dengan heran Nyo Wan bertanya: “Engkoh Lam, apa yang
kau pikirkan?”
“Kukira caramu menyuruh Minghui ke tempat To Hong kurang baik,” ujar Su-lam.
“Mengapa ?” tanya Nyo Wan.
“Masakah kau sudah lupa kepada kakak To Hong ?” Tempo hari dia bertanding dengan aku dan
terluka, lalu ngambek di rumah tak mau pergi, jika dia mengetahui kedatangan Minghui mungkin
akan terjadi hal2 yang tak terduga.”
“Kau kuatir To Liong membikin susah Minghui?”
“Keparat itu berhati keji dan berjiwa culas, segala apa dapat dibuatnya, maka kita harus menjaga
segala kemungkinan.”
“Bicara tentang To Liong kukira kau sendiri yang salah, waktu itu mengapa kau tidak binasakan dia
saja ?”
“Betapapun aku harus ingat kepada To Hong bukan ?”
“Menurut pandanganmu bagaimana pribadi To Hong itu ? Kalau dibandingkan Bing-sia bagaimana
pendapatmu ?”
“Keduanya sama2 mempunyia sifat yang tulus dan suka terus terang, tapi menghadapi sesuatu
persoalan rasanya To Hong lebih tegas dan tidak pandang bulu. Maka aku lebih suka membiarkan
dia membereskan persoalan kakaknya dari pada kubunuh kakaknya dihadapannya.”
“Benar, jika nyonya To tidak terlalu sayang kepada anak laki2nya itu, tentu To Liong sudag
mampus. Umpama To Hong tidak tega membunuhnya tentu juga akan mengusirnya pergi dari
rumah.”
Su-lam tersenyum, katanya kemudian: “Adik Wan, dahulu agaknya kau tidak begitu baik terhadap
To Hong, tapi pandanganmu sekatang ternyata sama dengan aku bahkan lebih banyak memuji dia
daripada aku.”
“Bukanlah aku tidak suka padanya, hanya saja sifat kami rada berbeda. Dahulu aku tidak cukup
mengenal pribadinya dan merasa dia berprasangka kepadaku dan selalu membela Bing-sia padahal
sebenarnya aku sendiripun berprasangka padanya. Barulah pada waktu pertemuan besar kaum LokKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lim dirumahnya aku mengenal pribadinya yang bijaksana itu, ternyata dia seorang ksatria wanita
yang berani berbuat dan berani bertanggung jawab, sungguh memalukan, mengapa sebelumnya aku
tidak mengetahui kebaikan2nya itu. Ya, kalau dipikir lagi, sebenarnya tidak Cuma terhadap
ToHong saja, terhadap nona Beng dan Minghui juga begitu, pelahan2 aku baru mengenal pribadi
mereka yang baik.”
“Pada umumnya orang memang lebih mudah melihat keburukan orang lain dan tidak gampang
mengenal segi baik orang, engkauharus dipuji bahwa sekarang kau telah paham memperhatikan
segi2 baik orang lain,” kata Su-lam dengan tertawa. “Cuma mengapa dari persoalan Minghui kau
bicara pula mengenai pribadi To Hong, apakah ada sesuatu persoalan lagi didalamnya?”
“Bukankah kau berkuatir To Liong akan membikin susah Minghui? Biarlah kuberitahukan dua hal
padamu. Pertama sekarang To Liong tidak berada di Long-sia-san lagi, menurut dugaanku,
mungkin dia telah diusir oleh adik perempuannya. Kedua, sudah lama To Liong mengetahui siapa
Minghui itu, yang tidak diketahuinya hanya minggatnya Minghui adalah karena menghindari
paksaan kawin dengan orang yang tidak disukainya.”
“Mengapa kau tahu sedemikian jelas?” tanya Su-lam dengan heran.
Maka Nyo Wan menceritakan pula pertemuannya dengan Minghui dan kepergok To Liong dan
begundalnya dikelenteng tua itu. Katanya pula: “Melihat sikap hormatnya kepada Minghui, besar
kemungkinan dia telah diusir oleh To Hong. Andaikan dia berani pulang ke Liong-sia-san, paling2
dia juga berusaha menghamba kepada Minghui.”
“Cis, sungguh tidak nyana seorang pahlawan sebagai To Pe-seng mempunyai anak yang pengecut
dan khianat seperti dia,” ujar Su-lam. “Harap saja segala sesuatu terjadi sebagaimana dugaanmu.”
“Jika kau masih sangsi dan kuatir, bagaimana kalau kita kembali ke Long-sia-san dulu baru
kemudian mencari Sia It-tiong?” kata Nyo Wan.
“Tidak perlu buang2 waktu percuma, paling penting kita harus menuntut balas lebih dulu,
memangnya Sia It-tiong mau menunggu kita ditempat Pek Ban-hiong untuk selamanya?” kata Sulam.
“Benar, Sia It-tiong bukan saja musuh kita, dia juga musuh umum bangsa Han kita, membasmi dia
jauh lebih penting dari urusan lain, marilah kita percepat perjalanan,” sahut Nyo Wan. Sudah tentu
ia tidak menyangka kekejian To Liong jauh diatas perkiraannya. Dia mengira Minghui akan aman
bila mondok ditempat To Hong. Tak tahunya apa yang terjadi justru sama sekali diluar dugaannya.
Minghui bersama Akai dan Kalusi langsung menuju ke Long-sia-san untuk mencari To Hong.
Mereka bertiga menyamar sebagai bangsa Han, tapi wajah Akai tidak memper orang Han, bahasa
Han merekapun tidak lancar, maka menimbulkan curiga Thaubak di Long-sia-san yang menerima
kedatangan mereka itu. Setelah Minghui menyatakan kedatangan mereka atas petunjuk Nyo Wan
serta menyerahkan surat perkenalan yang ditulis Nyo Wan, akhirnya mereka diterima dengan baik
oleh To Hong.
Dalam surat Nyo Wan itu tidak dijelaskan siapa Minghui, hanya disebut mereka bertiga adalah
sobat baik dirinya dan Li Su-lam, maka mohon To Hong suka menerima mereka. Dalam surat Nyo
Wan sekalian minta maaf karena kepergiannya tanpa pamit itu.
To Hong rada heran juga atas kedatangan Minghui bertiga itu, tapi ia yakin mereka pasti ada
hubungan istimewa dengan Nyo Wan, yang aneh adalah pada suasana kacau dn genting oleh badai
perang kedua negara itu, mengapa mereka melarikan diri dari Mongol. Maka setelah mereka diajak
keruangan tamu, kemudian To Hong menanyakan juga asal usul mereka dan cara bagaimana
berkenalan dengan Li Su-lam serta Nyo Wan.
Minghui tidak ingin membeberkan asal usul sendiri, terpaksa mengarang serangkaian cerita bohong
bahwa dirinya adalah nona gembala biasa di Mongol. Akai dan Kalusi dikatakan sebagai suami istri
dari sesama kelompok suku yang tidak suka kepada peperangan, maka sengaja melarikan diri ke
Tionggoan. Lantaran tempat tinggal Nyo Wan di Mongol dulu tidak jauh dari rumah mereka, maka
saling berkenalan dan menjadi sahabat baik.
Sebagai putri Jengis Khan yang sejak kecil sudah disanjung puji, dengan sendirinya sikap Minghui
membawa wibawa dan bersifat agung, meski sekarang telah berdandan sebagai perempuan miskin
bangsa Han tetap tidak bisa menutupi sifat aslinya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Karena itu diam2 To hong menyangsikan asal usul Minghui itu dan menduga apa yang dikatakan
itu pasti dusta. Tapi mengingat Nyo Wan yang menyuruh mereka datang, tetap ia melayani mereka
dengan hormat. Hanya saja diam2 iapun waspada untuk menjaga segala kemungkinan. Kalau bicara
juga rada sungkan2 dan rada kaku. Tempat tinggal mereka juga diberikan pada pintu yang terpisah
oleh sebuah pintu yang terkunci. Sudah tentu sikap dingin To Hong itu dirasakan oleh Minghui, dia
sudah biasa disanjung orang tentu saja tidak suka kepada sikap To Hong itu.
Yang lebih membikin kesal Minghui adalah sikap ibu To Hong, orang tua itu ternyata juga bersikap
dingin padanya. Rupanya To-hujin (nyonya besar To) masih dendam karena suaminya terbunuh di
daerah Mongol, maka bila bicara tentang orang Mongol hatinya menjadi kurang senang.
Hal2 itu sudah tentu makin menambah kemasgulan hati Minghui, terkadang timbul pikirannya
untuk segera meninggalkan Long-sia-san saja.
Pada suatu hari, tiba2 Kalusi datang memberitahu bahwa To Hong menyuruh seorang pelayan
mengundang Minghui agar suka datang ke tempat To-lohujin untuk memilih sendiri beberapa
macam bahan pakaian yang hendak dibuatkan baju bagi Minghui.
Namun Minghui sudah terlanjur ngambek dan menolak undangan itu, bahkan ia menyatakan
pikirannya kepada Kalusi bahwa sebaiknya mereka lekas2 pergi dari situ saja. Kalusi berusaha
membujuk dan menghiburnya agar bersabar menantikan pulangnya Nyo Wan, kelak segala sesuatu
tentu akan berubah menjadi baik. Kalau sekarang juga kita pergi secara diam2, tentu akan dicurigai
dan mungkin akan timbul persoalan yang tidak diahrapkan.
Minghui pikir usul kalusi itu ada betulnya juga, maka tentang undangan To Hong untuk memilih
bahan pakaian itu dia suruh Kalusi saja yang mewakilkannya. Atas perintah itu, Kalusi sendirian
lantas pergi ke tempat To-lohujin. Ia coba memperhatikan sekitarnya, ia merasa tiada diikuti oleh
siapapun. Tapi ketika dia menyusuri serambi sana dan masuk keperkarangan rumah induk, ternyata
pelayan2 yang biasa melayani nyonya tua itupun tidak nampak seorangpun, hal ini membuatnya
rada heran.
Baru saja dia memasuki pekarangan rumah dan hendak berseru minta permisi, tiba2 terdengar suara
seorang laki2 sedang berkata diruangan dalam: “Moaymoay, kau tidak perlu mendustai aku, ketiga
orang itu datang dari Mongol, betul tidak?”
“kalau betul lantas mau apa?” terdengar To Hong menjawab dengan kaku.
“Bukankah kau pernah mencela hubunganku dengan orang Mongol, padahal itu cuma fitnahan Li
Su-lam belaka, kau lebih suka percaya orang luar dari pada percaya kepada kakaknya sendiri. Dan
sekarang kau sendiri mengapa juga berhubungan dengan oranag Mongol?” demikian suara orang
lelaki itu menjengek lagi.
“Orang Mongol ini tidak sama dengan orang2 Mongol yang kau gauli itu,” sahut To Hong.
“Orang Mongol macam apa? Mengapa kau berani mengatakan tidak sama?” tanya lelaki itu.
“Kalau aku bilang tidak sama pasti tidak sama, kau tidak perlu urus,” kata To Hong.
Lalu terdengar suara seorang perempuan tua menyelah: “Ai, kalian kakak beradik selalu bertengakr
saja bila bertemu. Padahal kedua nona Mongol itupun kelihatan cantik dan ramah,akupun merasa
mereka adalah orang2 baik.”
Kalusi menjadi terkejut mendengar suara lelaki itu karena merasa sudah dikenalnya entah dimana.
Ia menjadi curiga, segera ia memutar ke belakang jendela untuk mengintip. Tapi sekali mengintip ia
menjadi lebih2 terkejut. Kiranya lelaki itu tak lain tak bukan adalah To Liong yang pernah
dijumpainya di kelenteng tua tempo hari. Apalagi kini diketahui To Liong ternyata kakak To Hong,
ia menjadi bingung apa yang harus dilakukannya.
Kiranya datang kembalinya To Liong justru hendak mencari tahu rahasianya Putri Minghui.
Tempo hari sesudah ia dilukai Li Su-lam, mestinya lukanya tidak parah, tapi sengaja tetirah lebih
lama dirumah dengan maksud tujuan tertentu, ia pikir kalau Beng Siau-kang, Li Su-lam dan lain2
sudah pergi, bila ada kesempatan ia hendak merampas kembali kedudukan Cecu dari tangan adik
perempuannya.
Akan tetapi setelah beberapa hari ia tinggal dirumah, ia mengetahui Thaubak2 Long-sia-san dari
tingkatan rendah sampai tingkatan atas hampir seluruhnya mendukung adik perempuannya dengan
setia serta memandang hina kepada To Liong sendiri. Meski iapun mempunyai beberapa orang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kepercayaan, tapi jelas tak dapat bergerak apa2. Maka untuk mencapai tujuannya, terpaksa ia harus
minta bala bantuan dari luar. Beberapa hari kemudian iapun meninggalkan rumahnya dengan alasan
kesehatannya sudah pulih. Sudah tentu To Hong tidak perlu menahannya, hanya sang ibu yang
merasa berat berpisah pula dengan anak laki2nya yang jarang tinggal lama dirumah itu.
Sebenarnya To Liong bermaksud minta bantuan kepada Tun-ih Ciu, tapi sejak Tun-ih Ciu
dikalahkan oleh Beng Siau-kang, jiwanya hampir saja melayang, maka ia menjadi kapok dan tidak
berani pulang kerumahnya sendiri, tapi bersama putranya langsung terus menuju ke taytoh, ibukota
kerajaan Kim.
Mencari Tun-ih Ciu tidak ketemu, To Liong lantas ingat kepada seorang tokoh lain, yaitu Pek Banhiong.
Sebenarnya mereka tidak saling kenal, tapi To Liong tahu jelas Pek Ban-hiong juga
mengadakan hubungan rahasia dengn pihak Mongol, maka Pek Ban-hiong tentu juga kenal To
Liong sebagai kawan sehalun. Begitulah dia terus menuju ketempat kediaman Pek Ban-hiong, dan
ditengah jalan itulah diluar dugaan To Liong telah memergoki Putri Minghui dikelenteng tua tempo
hai.
Sesudah To Liong dan kawanan Ho Kiu-kong diusir pergi oleh Minghui, mestinya Ho Kiu-kong
mengajak To Liong kerumahnya untuk menunggu Yang Kian-pek, putra Yang Thian-lui.
Tapi mengingat Yang Thian-lui adalah musuh pembunuh ayahnya, betapapun sekarang mereka
adalah kawan sehluan, mau tak mau To Liong harus menjaga kehormatan dirinya dantidak ingin
bertekuk lutut secara terang2an kepada musuh pembunuh ayahnya itu. Sebab itulah ia menolak
ajakan Ho Kiu-kong, tapi iapun tidak segera pergi mencari Pek Ban-hiong, sebab timbul rasa
curiganya terhadap Minghui.
Maklumlah, To Liong memang orang yang sangat cerdik, meski waktu dikelenteng tua itu ia kena
digertak pergi oleh Minghui, tapi kemudian ia menjadi curiga mengapa sebagai seorang putri raja
perjalanan Minghui itu hanya diikuti seorang pelayan dan seorang pengawal saja, bahkan lari ke
wilayah negeri Kim yang sedang berperang dengan Mongol?
Untuk mencari tahu rahasia Minghui, To Liong lalu bersembunyi disekitar kelenteng tua itu. Ketika
Ho Kiu-kong dan Yang Kian-pek kemudian muncul lagi dan dikalahkan Kok Ham-hi, tidak lama
kemudian Kok Ham-hi juga berlalu, selama itu To Liong tetap sembunyi dan karena itu berhasil
mendengar pembicaraan Minghui dan Nyo Wan.
Keruan To Liong sangat girang setelah mengetahui rahasia Minghui, dasar ia memang seorang yang
banyak tipu akalnya, ia pikir sekarang Minghui melarikan diri dari Mongol unuk menghindarkan
pernikahannya dengan pangeran Tin-kok, kabarnya dia juga pernah menyukai Li Su-lam. Tapi kini
Li Su-lam sudah punya tunangan, hal inipun diketahui Minghui sendiri, jadi jelas putri Mongol itu
tidak mungkin diperistri Li Su-lam.
Dikala seorang perempuan sedang patah hati, saat itulah paling gampang pula ia jatuh kedalam
perangkap kaum lelaki. Maka To Liong pikir dengan pengalamannya dan mengingat Minghui
tinggal dirumahnya, tentu banyak kesempatan untuk merayu Minghui kedalam pelukannya.
Andaikan gagal iapun dapat menjual rahasia jejak Minghui itu kepada Dulai. Pendek kata banyak
keuntungan yang akan diperolehnya.
Begitulah maka ia lantas mengurungkan maksudnya pergi mencari Pek Ban-hiong dan terus pulang
kerumah, hanya saja dia sengaja pulang beberapa hari lebih lambat. Setibanya di Long-sia-san,
benar juga didengarnya ada dua nona Mongol dan seorang Busu berada dalam benteng, dengan rasa
girang To Liong lantas menemui ibunya. Dan disitulah ia berlagak menegur adik perempuannya
sebagai didengar oleh Kalisi.
Keruan Kalisi terkejut, lekas2 ia kembali kepondoknya untuk memberitahukan Minghui.
Tentu saja Minghui juga terkejut, lekas2 mereka memanggil Akai untuk diajak kabur seketika itu
juga. Mereka tidak tahu bahwa pendirian To Hong sama sekali berbeda dengan To Liong, maka
timbul juga ketidak percayaan mereka kepada To Hong.
Mereka bertiga terus kabur kebawah gunung. Para penjaga menjadi curiga dan ingin tanya mereka.
Tapi Akai tidak sabar lagi. Mendadak ia gunakan kepandaian membanting dari ilmu gulat Mongol.
Thaubak penjaga itu dibanting roboh, beberapa prajurit dipukul jatuh pula, lalu ia merampas tiga
ekor kuda terus melarikan diri.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sementara itu To-lohujin sedang me nunggu2 dan sekian lamanya masih belum nampak datangnya
Minghui, segera ia suruhan pelayan mengundangnya lagi. Maka ketahuanlah tentang kaburnya
Minghui bertiga itu. Keruan To Hong menjadi menjadi kaget dan heran mengapa mereka mesti
melarikan diri, kedatangan mereka adalah perantaraan Nyo Wan, tentunya bukan agen rahasia
Mongol.
Mendadak To Liong melonjak bangun dan berseru: “Biar aku membekuk mereka kembali !”
“Kau jangan ikut campur, aku sendiri dapat mengejarnya,” kata To Hong.
“Kau adalah Cecu, mana boleh sembarangan meninggalkan gunung, biar aku saja yang
membereskannya,” sahut To Liong.
Karena tak dapat menghalangi, terpaksa To Hong membiarkan kakaknya berangkat.
“Kalau bukan bangsa sendiri tentu berhati lain, kata2 ini memang tidak salah,” kata To-hujin
berkata dengan gegetun.
Tapi makin dipikir makin dirasakan oleh To Hong ada sesuatu yang tidak beres. “Kukira ada yang
tidak betul ?” katanya.
“Apanya yang tidak betul ?” tanya To-hujin.
“Kepergian mereka itu pasti ada sebabnya. Aku takdapat membiarkan koko membikin susah
mereka,” kata To Hong.
“Ai, kau selalu tak mempercayai kakakmu sendiri, selalu bermusuhan dengan dia,” omel To-hujin.
Karena To Hong tidak ingin membikin marah ibunya, pula ia juga mesti menjaga segala
kemungkinan alaupun ia percaya Minghui pasti bukan orang jahat, tapi sebagai Cecu memang tidak
bebas untuk sembarangan meninggalkan pangkalannya. Segera ia menyuruh Ciok Bok membawa
anak buah untuk menyusul To Liong dengan pesan agar mencegah terjadinya sesuatu yang kurang
baik terhadap putri Minghui. Ciok Bok diberi sebuah Lengci (Panah tanda kuasa) untuk mengatasi
To Liong bila sang kakak berani membangkang.
To Hong cukup kenal watak kakaknya yang bermoral bejat itu, maka ia kuatir kalau2 Minghui
diganggu To Liong. Ia kira dengan Lengci yang dibawakan kepada Ciok Bok itu mungkin To Liong
akan tunduk kepada perintahnya kecuali kalau kakaknya itu sudah tidak mau pulang kerumah lagi
untuk selamanya. Nyata ia tidak tahu bahwa disamping timbul maksud tidak senonoh terhadap
Minghui, bahkan To Liong mempunyai maksud yang lebih kotor lagi daripada pikiran busuk itu.
Sayang meski kepandaian menunggang kuda Akai dan Minghui bertiga sangat mahir, tapi kuda
rampasan mereka itu hanya kuda prajurit biasa saja, maka tidak antara lama mereka sudah dapat
disusul oleh rombongan To Liong.
“To Liong, kau berarti kurang ajar padaku ?” bentak Minghui dengan gusar.
“Jangan salah sangka, justru aku ingin memenuhi kewajiban sebagai tuan rumah, maka ingin
mengundang kau kembali kesana, tentang rahasia dirimu pasti takkan kubocorkan,” kata To Liong
dengan tertawa.
“Aku tidak sudi, lekas kau enyah !” bentak Minghui pula.
“Eh, mengapa kau menolak maksud baikku ?” ujar To Liong dengan cengar-cengir.
Beberapa Thaubak yang ikut datang bersama To liong belum kenal asal-usul Minghui, untuk
mengambil hati tuannya, mereka lantas berseru: “He, tuan muda kami mengundang kau dengan
baik2, mengapa kau bersikap kasar ?” “Apakah kau perlu dipaksa ?”
Akai menjadi gusar, dampratnya: “Keparat, mana ada orang mengundang tamu cara begitu? Ini,
biar kalian tahu rasa !” ~ Berbareng tali panjang yang dipegangnya terus diayun kedepan, seketika
seorang Thaubak yang sedang memburu maju itu terlilit oleh tali itu dan terangkat keatas seperti
anak ayam saja.
“Mengingat kebaikan nona Nyo, jangan bikin susah temannya, lepaskan saja dia !” kata Minghui.
“Sekali Akai menyendal talinya, kontan Thaubak itu terlempar pergi hingga belasan meter jauhnya.
Keruan Thaubak2 yang lain sama terperranjat melihat ketangkasan permainan tali Akai itu.
“Sudahlah, kita pergi saja !” kata Minghui. Ia mengira To Liong pasti tidak berani merintanginya
lagi.
Tak terduga baru saja Akai memutar kudanya, tiba2 To Liong mengejek: “Hm, begitu gampang
kalian mau pergi ? Diberi harus membalas, ini , kaupun rasakan senjataku !” ~ Sekaligus ia terus
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menghamburkan tiga buah Tok-liong-piau.
Mendengar samberan angin dari belakang itu,segera Akai memutar balik sebelah tangan untuk
menangkap senjata rahasia itu. Tak terduga bahwa Tok-liong-piau adalah senjata rahasia yang
berbisa jahat, meski tangannya tidak sampai terluka oleh Tok-liong-piau yang ditangkapnya itu,
namun begitu telapak tangannya tersentuh racun Tok-liong-piau itu, seketika terasa gatel tak
terhingga.
“Keparat, berani kau menggunakan sanjata berbisa kepadaku !” maki Akai dengan murka dan kuatir
pula.
Dalam pada itu, dengan kecepatan yang sama Tok-liong-piau kedua dan ketiga telah menyambar
kearah Minghui dan Kalisi. Tapi yang diincar ternyata kudanya dan bukan orangnya, keruan kontan
saja kedua ekor kuda itu terguling dan mati seketika oleh racun Tok-liong-piau yang jahat itu.
Robohnya kuda mereka mengakibatkan Minghui dan Kalisi ikut terbanting jatuh.
Kalisi tidak mahir ilmu silat, sedangkan Minghui mahir menunggang kuda dan memanah,
kepandaian silatnya lumayan juga, maka cepat ia melolos pedang untuk melindungi Kalisi.
“Jangan berbuat kasar padanya, cukup kepung dia, asalkan tidak sampai lolos saja,” seru To Liong.
Sambil mengiakan beberapa Thaubak itu lantas mengitari Minghui dengan kuda mereka, tapi tidak
menyerangnya. Jika diatas kuda mungkin Minghui dapat membereskan beberapa Thaubak itu, tapi
sekarang ia diatas tanah dan tidak mampu mengeluarkan kemahirannya. Apalagi dia harus
melindungi Kalisi. Maka harapannya sekarang hanya tergantung kepada Akai saja.
Saat itu Akai juga sudah melompat turun dari kudanya dengan maksud hendak menolong Minghui
dan Kalisi yang terjatuh tadi, tapi segera ia dipapak oleh To Liong.
“Keparat, biar kuhancurkan kau !” teriak Akai dengan murka.
“Hm, memangnya kau sangka aku bukan tandinganmu? Ini, biar kaupun rasakan kelihaianku !”
jengek To Liong, berbareng ia terus menusuk dengan pedangnya.
Tangan kanan Akai dirasakan kaku pegal karena menangkap Tok-liong-piau yang berbisa tadi,
maka tangan kiri yang sekarang digunakan untuk mengayun tali untuk menempur To Liong dengan
sengit. Sudah tentu permainan tangan kiri tidak selincah tangan kanan, namun ia tetap bertahan
dengan membalas menyerang dengan tangkas.
Diam2 To Liong terkejut juga melihat ketangkasan Akai, ia merasa bersyukur tangan musuh sudah
terkena racun Tok-liong-pai, kalau tidak mungkin tidak mudah baginya untuk mengalahkan jagi
Mongol itu.
Belasan gebrakan lagi, pelahan2 rasa gatel pegal ditangan kanan Akai mulai menjalar kepangkal
lengan sehingga tenaganya banyak berkurang pula. Cara permainan tali Akai itu adalah ciptaan
sendiri berdasarkan pengalamannya sejak kecil bilamana menangkap binatang buruannya, maka
boleh dikata permainan tali itu adalah kepandaiannya yang khas, Cuma sayang dia tidak
mendapatkan petunjuk guru yang pandai, maka permainannya menjadi tidak selincah dan sebagus
ilmu pedang To Liong. Apalagi tenaganya makin berkurang, lama2 ia menjadi payah dan
kewalahan menghadapi To Liong.
Melihat sudah tiba waktunya, segera To Liong menyerang lebih gencar, ditengah berkelebatnya
sinar pedang, tahu2 tali Akai yang panjang itu terpapas sepotong demi sepotong sehingga akhirnya
tinggal satu meteran saja panjangnya.
Tampaknya Akai sudah tidak dapat melawan To Liong lagi dan segera akan tertawan, pada saat
itulah tiba2 terdengar suara keleningan kuda, kiranya Ciok Bok keburu menyusul tiba.
“Tahan dulu, Toasuko !” seru Ciok Bok.
“Ada apa ?” tanya To Liong dengan kurang senang.
“Ada pesan dari cecu agar jangan membikin susah para tamu, aku ditugaskan mengundang mereka
kembali kesana,” jawab Ciok Bok.
“Kalian tak perlu main sandiwara, pendek kata baik cara kasar maupun cara halus, yang pasti aku
tidak sudi kembali ke sana,” jawab Minghui.
Cepat Ciok Bok melompat turun dari kudanya dan berkata: “Harap nona jangan salah paham, kami
se-kali2 tiada punya maksud jahat. Jika kalian tidak ingin tinggal lagi ditempat kami, maka kamipun
takkan memaksa. Cukup kalian ikut kembali sementara kesana sekadar mohon diri kepada cecu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kami.”
Di sebelah sana ternyata To Liong tidak mau menghentikan serangannya kepada Akai, bahkan ia
mencecar lebih kencang.
“Berhenti dulu Toasuko, inilah perintah Cecu sendiri !” seru Ciok Bok.
“Kau minta aku berhenti, baiklah kuserahkan orang ini kepadamu !” jengek To Liong dan
mendadak ia memutar tubuh dan ganti sasaran, se-konyong2 ia menubruk ke arah Minghui.
Sebenarnya Minghui sudah ambil keputusan nekat akan membunuh diri bila tidak dapat melawan.
Tak terduga gerakan To Liong teramat cepat, baru saja Minghui angkat pedangnya yang pendek
dengan maksud hendak menikam tenggorokan sendiri, tahu2 To Liong sudah mendekat, terasa
pergelangan tangan kesemutan, Hiat-to bersangkutan telah kena ditotok.
To Liong rampas pedang Minghui itu, menyusul nona itu terus dikempitnya.
Akai menjadi kalap. “Keparat, kalian bangsat semua !” teriaknya menjotos ke muka Ciok Bok yang
saat itu berada dihadapannya.
Mestinya Ciok Bok hendak mencegah perlakuan kasar To Liong terhadap Minghui tapi dia
dirintangai Akai, terpaksa ia menggunakan Kim-na-jiu-hoat untuk menangkap pergelangan tangan
Akai yang menjotos itu.
Kepandaian Akai mestinya tidak rendah, bila masih memegang talinya yang panjang itu sukar bagi
Ciok Bok untuk mengalahkannya. Tapi kini dia sudah kehilangan senjata andalannya, pula dalam
hal permainan pukulan dia bukan tandingan Ciok Bok, apalagi tadi ia sudah bertempur dan tenaga
sudah banyak berkurang. Maka Cuma beberapa gebrakan saja, pada suatu kesempatan dia kena
ditelikung oleh Ciok Bok yang sekalian menotok pula hiat-to pinggangnya.
Habis itu Ciok Bok lantas mendekati To Liong dan berseru: “Toasuko, inilah Lengci dari Cecu,
lihatlah dulu !”
Dengan tetap mengempit Minghui, sebelah tangan To Liong lantas menjulur untuk mengambil
Lengci itu, tapi mendadak dipatahkannya menjadi dua, jengeknya: “Hm, Long-sia-san mestinya
milikku, budak Hong berani merebut kekuasaanku mengingat masih adik perempuan sendiri, maka
aku tidak mau bertengkar dengan dia, tapi sekarang dia malah ingin memerintah aku?”
Ciok Bok terkejut dan gusar,katanya pula: “Toasuko, cecu dipilih oleh semua orang, aku hanya
tunduk kepada perintahnya. Jika kau ingin bicara apa2 boleh pulang dulu kesana. Yang penting
sekarang kau harus lepaskan dia !”
“Kurang ajar,kau ini apa, berani juga kau menantang aku?” bentak To Liong, berbareng pedangnya
lantas menusuk.
Terpaksa Ciok Bok melolos pedang untuik menangkis, memangnya kepandaiannya bukan
tandingan To Liong, apalagi kuatir salah melukai Minghui dalam kempitan To Liong itu, maka
hanya beberapa jurus saja ia sudah terdesak dibawah angin.
Setelah mendesak mundur Ciok Bok, segera To Liong mencemplak ke atas kusda sambil tetap
mengempit Minghui dan terus dilarikan menuju ke rumah Pek Ban-hiong.
Rupanya To Liong juga mengetahui tentang datangnya Sia It-tiong dan sembunyi di rumah Pek
Ban-hiong itu, dengan sendirinya hal ini sangat kebetulan baginya. Memangnya dia hendak minta
bantuan Pek Ban-hiong, kini berhasil menawan Minghui dan dapat pula bertemu dengan Sia It-tiong
yang punya kedudukan tinggi dipasukan Mongol, maka ia pikir sekali ini tentu akan berjasa besar.
Sementara itu Ciok Bok tak dapat menyusul To Liong lagi, terpaksa ia membuka hiat-to Akai yang
tertotok itu, lalu minta maaf pula, katanya: “ Sesungguhnya orang yang bertempur dengan kau itu
adalah kakak Cecu kami, tapi pribadi Cecu kami sama sekali berbeda dengan kakaknya. Kini kalian
diharap pulang kembali ke tempat kami. Cecu pasti akan berdaya menemukan kawanmu yang
dilarikan itu.”
Akai adalah seorang laki2 berhati tulus, ia menyaksikan sendiri Ciok Bok bergebrak dengan To
Liong dalam usahanya menolong Minghui dan hampir2 terluka, maka kini ia percaya penuh apa
yang dikatakan Ciok Bok itu dan menyesal atas kecerobohan diri sendiri tadi. Maka mereka suamiistri
lantas ikut Ciok Bok kembali ke Long-sia-san.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kini marilah kita mengikuti perjalanan Li Su-lam dan Nyo Wan yang menuju ke Pek-keh-ceng
untuk mencari Sia It-tiong.
Menurut perhitungan Li Su-lam, malam hari kedua setelah Tubukan dan Subutai kembali sampai di
Pek-keh-ceng, maka ia dan Nyo Wan juga sudah tiba ditempat tujuan.
Sekira tengah malam, Li Su-lam dan Nyo Wan lantas memasuki perkampungan keluarga Pek itu
dengan ginkang mereka yang tinggi.
Pek Ban-hiong adalah seorang hartawan yang berpengaruh di tempatnya itu, perkampungannya
terdiri dari beberapa puluh buah rumah, dengan sendirinya Li Su-lam tidak tahu Sia It-tiong tinggal
dirumah yang mana. Ia bermaksud membekuk seorang pelayan untuk dimintai keterangan, tapi
kuatir mengejutkan musuh pula. Nyo Wan mengusulkan agar mereka memisahkan diri untuk
mengintip dari rumah kerumah,tapi Li Su-lam pikir hal itu tentu akan memakan waktu dan sampai
pagipun mungkin belum berhasil.
Sedang ragu2, tiba2 dilihatnya bayangan tiga orang keluar dari sebuah rumah. Waktu Li Su-lam
mengintip dari tempat sembunyinya, dilihatnya orang yang jalan didepan memegang tenglong
(lampu berkerudung), agaknya pelayan keluarga Pek, dua orang yang mengikut dibelakang itu
ternyata bukan lain daripada Tubukan dan Subutai. Keruan Li Su-lam sangat girang.
Didengarnya saat itu Tubukan sedang berkata: “Tengah malam majikanmu mengundang kami,
entah ada urusan apa?”
“Majikan kini lagi bicara dengan Sia-tayjin, kalau tidak salah Sia-tayjin yang minta kalian diundang
kesana,” tutur pelayan.
Diam2 Subutai dan Tubukan menjadi heran dan ragu2 apakah barangkali ada sesuatu rahasia
mereka yang diketahui oleh Sia It-tiong itu ? Walaupun merasakan alamat tidak baik, terpaksa
mereka tetap ikut kesana.
Kalau Subutai berdua ragu2 dan kuatir,sebaliknya Li Su-lam menjadi kegirangan. Dengan gelisah ia
sedang mencari tempat tinggal Sia It-tiong,kini ternyata ditemukan dengan gampang saja. Segera
Su-lam dan Nyo Wan menguntit di belakang Subutai bertiga dengan sangat hati2 sehingga
sedikitpun tidak mengeluarkan suara.
Tidak lama, pelayan itu membawa Subutai berdua masuk kesatu pekarangan rumah. Su-lam lantas
membisiki Nyo Wan, sebentar aku menghadapi Pek Ban-hiong dan kau yang membekuk Sia Ittiong.”
Pada suatu kamar rumah itu tampak ada cahaya lampu, dengan suatu loncatan enteng Li Su-lam
lantas melayang keatas rumah itu. Sebelum Subutai bertiga memasuki kamar itu lebih dulu Li Sulam
sudah mendekam diatap rumah itu. Nyo Wan juga lantas menyusul, tapi dia mengintip dibawah
jendela.
Dengan dua kaki menggantol emperan rumah, tubuh Li Su-lam lantas menggelantung kebawah, lalu
mengintip kedalam. Dilihatnya didalam kamar ada tiga orang, selain Pek ban-hiong dan Sia It-tiong
terdapat pula seorang pemuda berumur 20 an. Li Su-lampikir pemuda ini tentu putra Pek Ban-hion
yang bernama Pek Jian-seng.
Terdengar Sia It-tiong sedang bicara: “Pek-cengcu, untung pandanganmu cukup tajam, aku hampir2
kena dikelabui oleh kedua orang itu.”
“Aku Cuma menaruh curiga saja dan tidak berani memastikan mereka adalah mata2 musuh,” sahut
Ban-hiong. Sebentar Sia-tayjin boleh diam saja, biar aku yang mencoba mereka.
“Ya, jelek2 mereka adalah jago Kemah emas. Kita tak boleh bertindak secara gegabah,” ujar Sia Ittiong
sambil mengangguk.
“Ssst,” tiba2 Pek ban-hiong mendesis. “Itu dia sudah datang.”
Su-lam menjadi ter-heran2 dan ingin tahu cara bagaimana Pek Ban-hiong akan mencoba Subutai
berdua.
Sejenak kemudian masuklah Tubukan dan Subutai, mereka memberi hormat kepada Sia It-tiong,
lalu bertanya: “Entah ada urusan apakah malam2 Sia-tayjin memanggil kami?”
“O, tiada apa2, aku Cuma kuatirkan luka Tubukan, apakah sudah baik?” sahut Sia It-tiong.
Keruan Tubukan menggerutu didalam hati, hanya soal sepele saja tengah malam buta memanggil
mereka. Segera ia menjawab: “Terima kasih atas perhatianmu,kesehatanku sudah hampir pulih
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kembali.”
“Syukurlah kalau begitu, aku menjadi sedih kalau2 kau takdapat ikut aku pulang,” kata It-tiong.
“Apa, Sia-tayjin hendak …… hendak pulang ke Mongol?” tanya Tubukan dengan terkejut.
“Benar, bila kau sudah sehat, besok juga kupikir kita lantas berangkat saja,” sahut Sia It-tiong
dengan tersenyum.
“Tapi, tapi apakah tidak lebih baik kita tinggal beberapa hari,” kata Tubukan dengan rada bingung
karena tidak tahu alasan apa yang harus digunakan. Syukur Subutai lebih cerdik, mendadak ia
mendapat suatu pikiran dan lantas menambahkan:” Waktu kita berangkat, Khan Agung sendiri
memberi pesan kepada kami agar menemui Yang Thian-lui. Sebab itulah kita harus tunggu
beberapa hari untuk menyelesaikan tugas ini.”
Subutai mengira dengan perintah Khan akan dapat dipakai sebagai tameng, tak tahunya alasannya
itu berbalik meyakinkan Sia It-tiong akan kebohongan mereka. Diam2 Sia It-tiong merasa geli, tapi
lahirnya ia pura2 merasa heran dan menjawab; “O, jadi ada perintah pribadi Khan Agung kepada
kalian? Aku malah tidak tahu sama sekali.”
“Memang begitulah,” kata Subutai. “Mungkin Khan merasa tidak perlu mengulangi pesan beliau ini
kepada Sia-tayjin.”
DIbalik kata2nya itu nyata ia ingin Sia It-tiong maklum bahwa jago kemah emas jauh lebih
dipercaya oleh Khan Agung mereka daripada manusia macam Sia It-tiong.
Diwaktu biasa mungki Sia It-tiong akan bungkam oleh ejekan itu, tapi kini ia sudah tahu apa yang
dikatakan Subutai itu adalah bohong belaka, maka dengan tersenyum iapun membalas menggertak:
“Akan tetapi hari ini aku juga menerima perintah dari Khan Agung agar kita segera pulang ke
Mongol.”
Sudah tentu Subutai berdua menjadi ragu2 karena tidak ahu apa yang dikatakan Sia It-tiong itu
benar2 atau dusta. Yang jelas ia telah berjanji kepada Li Su-lam untuk menahan Sia It-tiong tinggal
lebih lama di Pek-keh-ceng. Maka dalam bingungnya terpaksa Tubukan memakai alasan lukanya
belum sembuh seluruhnya dan minta ditunda sedikit hari lagi.
Tiba2 Pek Ban-hiong menimbrung: “Aku ada obat luka yang sangat mustajab, coba kuperiksa
lukamu, kububuhi obatku ini.”
Baru Tubukan hendak menjawab tidak usah saja, tahu2 Pek Ban-hiong sudah lantas memegang
tangannya dan bermaksud membuka pembalut luka dipahanya.
Kiranya Pek Ban-hiong sudah menaruh curiga terhadap Subutai berdua yang dapat meloloskan diri
itu, maka ia sengaja pakai alasan hendak memberi obat untuk melihat Tubukan benar2 terluka atau
Cuma pura2 saja.
Sudah tentu Tubukan kuatir perbuatannya ketahuan, ia tidak mandah ditawan begitu saja, sebagai
jago Kemah emas, biarpun kepandaiannya tidak setinggi Pek Ban-hiong tentunya juga tidak lemah.
Karena itu tangannya segera memutar terus balas menangkap pergelangan tangan Pek Ban-hiong.
Pek Ban-hiong tidak paham gerakan bantingan dari ilmu gulat Mongol itu, akan tetapi ia mahir
Kim-na-jiu-hoat, cepat ia balas mencengkeram, tangan lain terus menotok pula Koh-cing-hiat di
dada Tubukan.
Cepat Tubukan menarik tubuh dan mundur selangkah, menyusul sebelah kakinya lantas menjegal
dan kedua kepalan menyodok. Biarpun cengkeraman Pek Ban-hiong dapat mencakar kepalan lawan
itu, tapi kakinya tergantol dan hampir2 terguling, terpaksa ia kendurkan cengkeramannya.
Kepalan Tubukan seketika berdarah oleh cakaran jari Pek Ban-hiong, dengan gusar ia membentak:
“Kau berani melukai aku?”
“Semula aku menghormati kau sebagai tamuku, tapi sekarang kau bukan tamuku lagi, melainkan
agen rahasia musuh, masakah aku dapat melepaskan kau?” jengek Pek Ban-hiong.
Pada saat Pek Ban-hiong mulai bergebrak dengan Tubukan, segera Subutai menubruk pula kearah
Sia It-tiong. Rupanya Pek Jian-seng sudah siap sedia sebelumnya, cepat ia melompat maju kedepan
Sia It-tiong sambil melolos pedangnya, menyusul lantas menabas.
“Lepas pedangmu!” bentak Subutai, ia mengelak dan segera hendak merebut senjata Pek Jian-seng
dengan tangan kosong.
Cepat juga Pek Jian-seng bergerak, segera tangan kiri ikut memotong kemuka lawan yang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menubruk maju itu. Namun Subutai sempat mengegos ke samping, sekali sikut ia paksa Pek Jianseng
melompat kesamping. Habis itu Subutai lantas menubruk pula ke arah Sia It-tiong. Ia tahu
Tubukan pasti bukan tandingan Pek Ban-hiong, jalan satu2nya adalah menangkap Sia It-tiong
sebagai jaminan keselamatan mereka sendiri.
“Hm, kiranya kalian inilah agen rahasia musuh!” jengek Sia It-tiong tak gentar. “Kematian kalian
sudah di depan mata masih berani melawan lagi?”
Dalam pada itu Li Su-lam yang mendekam di atas rumah itu lantas berseru kepada Nyo Wan :
“Turun tangan, adik Wan !”
Segera Nyo Wan menghamburkan segenggam Bwe-hoa-ciam melalui jendela, menyusul Li Su-lam
lantas menerobos masuk dan membentak: “ Sia It-tiong,masih kenal padaku tidak?”
Pada saat yang sama se-konyong2 tedengar suara gedebukan yang keras, Subutai roboh terguling,
sedang Bwe-hoa-ciam yang dihamburkan Nyo Wan tadi sebenarnya ditujukan kepada Pek Jianseng,
tapi entah mengapa, tiada sebuah jarum itu yang mengenai baju sasarannya, sebaliknya
jarum2 itu sama2 rontok jatuh kelantai.
Kejadian yang mendadak itu sungguh diluar dugaan Li Su-lam. Padahal ia kenal Subutai sebagai
jago Mongol yang tangguh, sedangkan kepandaian Sia It-tiong boleh dikata sangat rendah, tapi
sekarang Subutai malah kena dirobohkan oleh Sia It-tiong, hal ini sungguh sukar dimengerti. Begiu
pula Bwe-hoa-ciam yang dihamburkan Nyo Wan itu tiada satupun yang menyentuh baju Pek Jianseng.
Inilah membikin Li Su-lam terperanjat. Ia heran apakah mungkin kepandaian Pek Jian-seng
jauh lebih hebat daripada ayahnya, yaitu Pek Ban-hiong?”
Belum lenyap pikirannya, tiba2 suara seorang bergelak tertawa dan berkata: “Apakah kau ini Li Sulam?
Hahaha, sekali ini kau benar2 masuk jaring sendiri !” ~ Suara tertawa itu tajam melengking
menusuk telinga.
Ditengah suara gelak tertawa itu tiba2 Li SU-lam dipapak oleh serangkum angin pukulan yang
dahsyat, keruan tak kepalang kagetnya, sungguh tak terpikir olehnya bahwa di Pek-keh-ceng ini ada
seorang kosen yang berkepandaian jauh diatasnya Pek Ban-hiong.
Begitu hebat angin pukulan orang itu sehingga dada Su-lam terasa panas pedas, ia tahu tenaga
lawan jauh lebih tinggi daripadanya, terpaksa harus menghindarinya untuk sementara waktu, maka
sebelum dia berdiri tegak didalam kamar itu, cepat ia melompat keluar lagi melalui jendela.
Pada saat itulah Subutai baru merangkak bangun dan tepat berhadapan dengan orang itu, ia
berteriak terkejut: “Kau, YangThian Lui !”
“Bukankah kau mengatakan hendak menemui aku? Sekarang terkabul bukan keinginanmu?” kata
Yang ThianLui dengan tertawa. “Bluk”, kembali ia tendang Subutai hingga terjungkal, lalu
mengejar keluar.
Kiranya kedatangan Yang Thian lui ini hendak mengadakan pertemuan gelap dengan Sia It-tiong,
ketika mereka menaruh curiga terhadap Subutai berdua, mereka juga sudah siap siaga kalau2 Li Sulam
akan datang menuntut balas kepada Sia It-tiong.
Sudah tentu Li Su-lam tidak menyangka akan ketemu Yang Thian-lui ditempat Pek Ban-hiong ini,
walaupun sadar bukan tandingan musuh kuat itu, tapi iapun tidak gentar sedikitpun. Melihat musuh
mengejar keluar, kontan ia menusuk pula.
Menghadapi ilmu pedang asli Siau-lim-si yang lihai itu, Yang Thian-lui juga tidak berani pandang
enteng lawannya. Tiba2 ia gunakan tenaga jari dan menyelentik batang pedang Li Su-lam.
Thian-lui-kang adalah pukulan yang maha dahsyat, tenaga yang dikeluarkan melalui jarinya tentu
saja luar biasa kuatnya, “Creng”, tangan Su-lam terasa pegal dan hampir2 tak mampu memegangi
pedangnya, cepat ia melompat mundur beberapa langkah.
Kalau Li Su-lam terkejut oleh kelihaian musuh, sebaliknya Yang Thian-lui juga tidak kurang
kagetnya karena selentikannya itu tidak berhasil menjatuhkan pedang lawan. Baru sekarang ia mau
percaya kepandaian Li Su-lam memang lihai, pantas Kian-pek bukan tandingannya.
Melihat Su-lam tidak sanggup menghadapi lawannya, cepat Nyo Wan maju membantu,
Kalian masih ada berapa orang begundal, keluar saja semua!” jengek Yang Thian-hui, berbareng
tangannya memukul ke kanan dan kekiri sehingga Su-lam dan Nyo Wan dipaksa melompat mundur
pula.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sementara itu Pek Ban-hiong juga sudah berhasil membekuk Tubukan dan menyusul keluar.
Sedang Pek Jian-seng masih tinggal didalam rumah untuk melindungi Sia It-tiong yang hendak
menanyai Subutai berdua.
Sebagai murid Bu-siang Sin-ni dari Gobipay, dengan sendirinya ilmu pedang Nyo Wan juga tidak
lemah. Cuma sayang tenaganya kurang kuat, untuk melawan tenaga pukulan Thian-lui-kang yang
dahsyat memang tidak memadai. Syukur dengan ginkangnya yang gesit dan lincah ia dapat
menghindari damparan tenaga pukulan lawan, sedang Li Su-lam juga menyerang dengan mati2an
sehingga terpaksa Yang Thian-lui harus memusatkan sebagian besar perhatiannya untuk melayani
Li Su-lam. Namun begitu, setelah dua tiga puluh gebrakan lagi, lamban laun napas Su-lam terasa
sesak dan dada terasa sakit, nyata daya tekanan Thian-lui-kang memang luar biasa.
Melihat kemenangan sudah pasti berada dipihak Yang Thian-lui, Pek Ban-hiong merasa kebetulan
baginya untuk menonton saja disamping. Malahan ia lantas mengejek: “Mana kalian mampu
menandingi Yang-koksu yang tiada tandingannya dikolong langit ini, lebih baik kalian lekas
menyerah saja!”
Pada saat itu juga Yang Thian-lui pergencar serangannya, terdengar “Creng” satu kali, tahu2
pedang Nyo Wan kena diselentik mencelat, Yang Thian-lui bergelak tertawa dan baru saja ia
hendak menambahkan sekali pukulannya, mendadak terdengar suara mendesing, suara samberan
senjata rahasia.
“Siapa itu main sembunyi2 dan menyerang secara gelap, kalau berani keluarlah sini!” bentak Yang
Thian-lui.
Tapi senjata rahasia berbentuk batu yang menyamber tiba itu ternyata tidak ditujukan kepadanya,
sebaliknya membentur pedang Nyo Wan yang terpental keudara itu, sebelum pedang itu jatuh
kebawah sudah keburu dibentur oleh batu itu, kontan pedang itu tergetar kembali dan sekali ini
ujung pedang benar2 menyamber kedada Yang Thian-lui.
Keruan tidak kepalang kejut Yang Thian-lui, ia tidak tahu dijaman ini tokoh manakah yang
memiliki tenaga sehebat ini. Melihat betapa hebat samberan pedang itu, biar Thian-lui-kangnya
sangat lihai juga tidak berani menangkap pedang itu secara gegabah, terpaksa ia mengelak
kesamping sehingga pedang itu menyamber lewat diatas kepalanya dan melayang kearah Li Su-lam.
Setelah menyamber lewat diatas kepala Yang Thian-lui, kekuatan pedang yang meluncur itu sudah
rada berkurang, maka Li Su-lam lantas angkat pedangnya untuk menangkisnya terus berputar
sedikit, pedang itu terhenti dan jatuh kebawah, segera Nyo Wan menangkap kembali pedang sendiri
itu.
Waktu Yang Thian-lui menenangkan diri dan memandang kesana, dilihatnya seorang laki2 berjubah
hijau dan berusia antara 50-an sudah berdiri dihadapannya.
“Batu yang kutimpukkan itu bukan diarahkan padamu, masakah dapat dikatakan serangan
menggelap ?” laki2 itu berkata dengan menjengek. Hm, sekarang juga aku sudah berada disini, kau
mau apa ?”
Melihat laki2 ini, Pek Ban-hiong terkejut dan Li Su-lam kegirangan. Kiranya orang ini bukan lain
adalah Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang.
“Beng-tayhiap, keparat inilah pengkhianat Yang Thian Lui !” seru Su-lam.
“Aku tahu,” kata Siau-kang dengan hambar. “Kalau bukan dia tentu akupun takkan datang kesini !”
~ Kemudian ia berpaling dan menjengek terhadap Pek Ban-hiong: “Hm, orang she Pek,apakah kau
sudah lupa kepada ucapanmu di Hui-liong-san ? Sekarang kau ternyata menyembunyikan mata2
musuh. Jika kau tahu diri, serahkan saja pengkhianat Sia It-tiong itu untuk meringankan dosamu,
kalau tidak janganharap jiwamu dapat diampuni!”
“Hm, kiranya kau inilah Beng Siau-kang yang mengaku sebagai jago pedang nomor satu didunia ini
!” tiba2 Yang Thian-lui menyelah. “Jangan kau berlagak, biarlah aku belajar kenal dulu dengan
kepandaianmu!”
“Sungguh kebetulan akupun ingin tahu bagaimana kepandaian Koksu kerajaan Kim yang selalu
didengung2kan orang!” jawab Beng Siau-kang dengan ketus.
“Baik, kita satu lawan satu, orang lain dilarang ikut campur,” kata Yang Thian-lui.
“Memangnya kau kira aku ini biasa main kerubut?” jengek Beng Siau-kang.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Bagus, keluarkanlah pedangmu !” bentak Yang Thian-lui dan mendadak ia terus menghantam
dengan tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat tanpa menunggu lawannya melolos pedang lebih dulu.
Ternyata Beng Siau-kang sengaja tidak mau melolos pedangnya, sebab ia memang ingin mencoba
betapa hebatnya tenaga pukulan Yang Thian-lui. Segera ia sambut pukulan lawan, kedua tangan
beradu, terdengar suara ‘Blang” yang keras, Yang Thian-lui tergeliat, sedangkan Beng Siau-kang
tergetar mundur dua tindak.
Diam2 Beng Siau-kang mengakui kehebatan Yang Thian-lui yang memang tidak bernama kosong,
tanpa senjata mungkin sukar mengalahkannya. Ia tidak tahu bahwa Yang Thian-lui jauh lebih
terkejut daripada dia.
Maklumlah, ilmu silat masing2 mempunyai kekhususannya masing2, Beng Siau-kang tersohor
karena ilmu pedangnya yang sakti dan bukan terkenal dengan ilmu pukulan. Tapi dia sanggup
menyambut tenaga pukulan Yang Thian-lui tadi, tampaknya rada kewalahan, tapi nyatanya tidak
sampai roboh, padahal ilmu pukulan bukan menjadi andalannya. Maka dapat pula dibayangkan
betapa lihai ilmu pedang yang menjadi kemahirannya itu.
“Beng-tayhiap, terhadap musuh tidak perlu sungkan2.” Teriak Su-lam.
Dalam pada itu Yang Thian-lui masih berlagak dan berseru pula: “Beng Siau-kang, kenapa kau
masih tidak melolos pedangmu? Kau berani memandang rendah padaku?”
“Haha, memang tidak salah, aku memang memandang rendah padamu,” sahut Beng Siau-kang.
“Memangnya kau kira dengan Thian-lui-kangmu lantas dapat malang melintang didunia ini? Hehe,
bolehlah kau coba2 ilmu pedangku ini bila memang kau kehendaki!”
Sekali pedangnya berkelebat seketika berjangkitlah angin keras. “Awas!” seru Beng Siau-kang
dambil menusuk.
Yang Thian-lui juga lantas menghantam dari jauh, terdengarlah suara mendengung tak ber-henti2,
kiranya ujung pedang Beng Siau-kang yang menerbitkan suara mendengung itu lantaran tergetar
oleh angin pukulan lawan. Yang satu ilmu pedang sakti, yang lain tenaga pukulan dahsyat, sesudah
bergebrak beberapa jurus, ternyata keduanya sama2 tak dapat menarik keuntungan dari pihak
lawan.
“Adik Wan, lekas kau menuntut balas, biar aku menghadapi bangsat tua she Pek ini,” seru Li Sulam.
“Hm, memangnya kau sangka aku takut padamu Li Su-lam!” jengek Pek Ban-hiong. Karena
melihat Yang Thian-lui sanggup menandingi Beng Siau-kang, maka nyali Pek Ban-hiong menjadi
besar lagi.
“Takut atau tidak, yang pasti hari ini tak dapat kuampuni kau lagi,” bentak Li Su-lam sambil
menusuk dengan pedangnya.
Ditengah bayangan pedang dan berkelebatnya pukulan, terdengar suara ‘bret” sekali, lengan baju
Pek Ban-hiong terobek oleh pedang Li Su-lam, tapi pemuda itu ternyata tidak lantas mendesak
maju, sebaliknya ia malah melompat mundur.
Kiranya yang dimainkan Pek Ban-hiong adalah Hun-kin-co-kut-hoat (ilmu membikin patah tulang
dan keseleo) yang sangat ganas, cara membikin keseleo tulang lawan itu paling baik kalau
digunakan dalam pertempuran dari jarak dekat. Karena kuatir dikerjai musuh, maka begitu gebrak
Li Su-lam lantas melompat mundur untuk memancing musuh.
Akan tetapi begitu Li Su-lam melompat mundur, seketika Pek Ban-hiong juga lantas berhenti
ditempatnya tanpa mengejar selangkahpun.
Kiranya tempo hari sesudah dikalahkan Li Su-lam di hui-liong-san, sepulangnya di rumah Pek Banhiong
merasa sangat penasaran, ia coba merenungkan kelemahan sendiri sehingga kecundang oleh
anak muda itu, padahal bicara keuletan jelas dirinya lebih kuat, kelemahannya hanya karena tidak
tahu cara bagaimana menghadapi ilmu pedang lawan yang banyak ragam perubahannya itu.
Berdasar pengalamannya akhirnya ia berhasil menemukan suatu cara pertempuran, yaitu
menggunakan Hun-kin-co-kut-hoat yang menjadi kemahirannya untuk menyerang lawan dari dekat,
cara demikian pasti akan lebih menguntungkan dan terbukti sekarang siasatnya ternyata tidak
keliru.
Melihat lawan diam saja ditempatnya, terpaksa Li Su-lam melancarkan serangan pula, Pek BanKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
hiong juga lantas menandanginya dengan pertahanan yang rapat.
Li Su-lam juga bukan anak bodoh, iapun tak dapat dipancing mendekat oleh Pek Ban-hiong. Maka
kedua orang ini hanya bergantian saja serang menyerang dan sama2 mengeluarkan kemahiran
masing2.
Pada saat Yang Thian-lui dan Pek Ban-hiong ketemukan tandingnya masing2, yang tertinggal
hanya Pek Jian-seng saja yang masih dapat melindungi Sia It-tiong. Maka Nyo Wan yakin sakit
hatinya pasti akan terbalas, dengan girang ia terus menerjang kedalam rumah sambil membentak:
“Bangsat she Sia, sekali ini kau tak kan bisa lari lagi!”
Sia It-tiong menjadi ketakutan, ia berseru: “Tolong aku,Pek-kongcu, budimu pasti akan kubalas
dengan kedudukan baik didalam pasukan Mongol.”
“Jangan kuatir, Sia-tayjin, akan kubekuk budak itu bagimu,” sahut Pek JIan-seng.
Potongan Nyo Wan memang mirip perempuan yang lemah, maka Pek Jian-seng yakin pasti dapat
mengalahkannya. Tak terduga ilmu pedang Nyo Wan ternyata cukup lihai, hanya bergebrak
beberapa jurus saja Pek Jian-seng sendiri sudah kewalahan.”
Tatkala itu partai Yang Thian-lui melawan Beng Siau-kang juga sudah mulai kelihatan siapa yang
lebih unggul. Yang Thian-lui telah mengeluarkan segenap tenaga Thian-lui-kang yang dahsyat
sehingga menimbulkan angin yang men-deru2, batu pasir beterbangan,pepohonan didalam
pekarangan iktu terguncang dan berderak. Tapi Beng Siau-kang tegak berdiri ditengah damparan
tenaga pukulan lawan yang dahsyat itu, sedikitpun tidak bergeming.
Ditengah pertarungan sengit itu mendadak Beng Siau-kang membentak: “Kiranya kau punya Thianlui-
kang tidak lebih Cuma sekian saja, sudah cukup sekarang!” ~ Sekali ilmu pedangnya
berubah,dari bertahan segera ia balas menyerang,seketika sinar pedang bertaburan menyilaukan
pandangan Yang Thian-lui dan terpaksa harus melangkah mundur beberapa tindak.
Unggul dan asor sudah mulai tertampak, tapi untuk menang dalam waktu singkat juga tidak mudah
bagi Beng Siau-kang. Betapapun Yang Thian-lui juga seorang jago kelas wahid, bicara tentang
keuletan terang tidak dibawah Beng Siau-kang. Maka setelah terdesak mundur, segera iapun balas
menghantam beberapa kali dari jauh, dari terdesak ia masih sanggup bertahan dengan rapat.
Dengan cara bagaimana Beng Siau-kang akan membikin keok Yang Thian-lui?
Dapatkah Nyo Wan membalas sakit hati dengan membinasakan Sia It-tiong?
Bagaimana nasib Putri Minghui dan pengiring2nya?
Jilid 14 bagian pertama
Yang Thian-lui sendiri menyadari bila pertandingan berlangsung terus dirinyapun pasti akan
kecundang. Ia coba melirik kesamping, dilihatnya keadaan Pek Ban-hiong tiada ubahnya seperti
dirinya, keadaannya juga payah dan terdesak.
Keruan Yang Thian-lui mulai keder, sebaliknya Beng Siau-kang putar pedangnya semakin kencang,
makin lama makin bersemangat.
Kalau Pek Ban-hiong dan Yang Thian-lui masih dapat bertahan, sedangkan keadaan Pek Jian-seng
lebih2 konyol, ia harus menghadapi serangan Nyo Wan yang ber-tubi2, setiap jurus serangannya
adalah maut. Keruan Pek Jian-seng mandi keringat dan terdesak hingga mendekati pintu kamar
tempat Sia It-tiong, jika terpaksa tampaknya dia hanya dapat bersembunyi ke dalam kamar itu dan
tiada jalan lolos lain.
Sia It-tiong yang berada didalam kamar menjadi ketakutan, untuk menerjang keluar ia tidak berani.
Mestinya ia sedang menanyai Subutai berdua, tapi kini dia terpaksa berdiam untuk mengikut
keadaan diluar. Terdengar suara “trang-tring” beradunya pedang Nyo Wan melawan Pek Jian-seng
semakin mendekati pintu, setiap kali mendengar suara nyaring beradunya senjata, setiap kali pula
jantung Sia It-tiong ikut berdetak se-akan2 meloncat keluar dari rongga dadanya.
Sementara itu daun pintu sudah ikut bergetar oleh benturn angin senjata, tiba2 terdengar suara
gedebukan keras disertai jeritan Pek Jian-seng, ternyata pemuda itu telah ditendang terguling
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kebawah undak2an rumah. Karena berhasrat membalas sakit hati lebih dulu, Nyo Wan tidak
memburu untuk membinasakan Pek Jian-seng, tapi ia terus mendobrak pintu kamar untuk
membunuh Sia it-tiong.
Selagi Sia It-tiong ketakutan setengah mati, se-konyong2 terdengar suara seorang yang seperti
sudah dikenalnya sedang berseru: “Pek-cengcu, apakah Sia-tayjin berada disini?”
Menyusul itu terdengar pula suara Li Su-lam berseru: “He, bukanlah itu Putri Minghui? ~ Hai To
Liong, berani kau berbuat begitu, lekas lepaskan Putri Minghui!”
Daun pintu sudah mulai menjeplak, tampaknya Nyo Wan setiap saat dapat menerjang ke dalam, tapi
mendadak suasana menjadi sepi. Kiranya perhatian semua orang sekarang terpusat kepada Putri
Minghui yang dibawa ke Pek-keh-ceng ini oleh To Liong.
Rupanya begundal2 Pek Ban-hiong sebagian besar telah melarikan diri ketika melihat majikan
mereka pasti akan mati konyol melawan Beng Siau-kang yang terkenal itu, maka To Liong dengan
leluasa dapat memasuki perkampungan keluarga Pek itu tanpa rintangan, ia menjadi ragu2 karena
tiada seorangpun yang dijumpainya, maka ia terus me-manggil2 “Pek-cengcu”, setiba ditaman
belakang barulah dilihatnya Pek Ban-hiong dan Yang Thian-lui sedang bertempur dengan Beng
Siau-kang dan Li Su-lam, keruan kejutnya tak kepalang tanggung.
Li Su-lam juga terkejut, memangnya ia pernah berkuatir kalau2 Minghui yang menuju ke Long-siasan
itu akan masuk perangkap To Liong, kini kekuatirannya itu ternyata terbukti benar.
Setelah seruan Li Su-lam tadi, rasa kejut To Liong menjadi berkurang malah, timbul pikirannya
bahwa padanya masih ada sandera Putri Mongol itu, kenapa tidak digunakan sebagai pemerasan
terhadap lawan.
Sia It-iong yang licin dan ulung itu juga cepat sekali cara bekerja otaknya, segera iapun mendapat
akal, ia melongok melalui jendela dan berseru: “Li Su-lam, bagaimana kalau sekarang kita
mengadakan suatu perundingan dagang? Aku menjamin kedua pihak pasti takkan rugi, kita
mengadakan tukar menukar syarat, setuju?”
“Jangan gubris ocehannya, Li-kongcu1” seru Minghui.
“Kau jangan salah paham, Tuan Putri, maksudku justru demi Kebaikanmu,” ujar Sia It-tiong dengan
tertawa. “Aku tahu kau tidak sudi menjadi istri pangeran Tin-kok, betul tidak? Bicara sejujurnya,
mukanya yang mirip congor babi itu memang tidak sesuai untukmu!”
“Sia It-tiong,” bentak Li Su-lam. “Kau tidak perlu banyak omong, apa syaratmu, lekas katakan?”
“Li Su-lam, Tuan Putri cantik lagi berbudi, kukira, kaupun merasa berat kalau dia pulang ke Holin
bukan? Nah, syaratnya menjadi mudah sekarang,Tuan Putri akan kami tinggalkan disini untukmu,
tapi kaupun harus melepaskan kami pergi dari sini, sudah terntu kamo termasuk Yang-koksu dan
Pek-cengcu!”
“To Liong,” jengek Beng Siau-kang, “Yang Thian-lui adalah musuh yang membunuh ayahmu,
apakah sekarang kau terima diperalat Sia It-tiong dan berbalik membantu musuhmu sendiri?”
“To-kongcu, asalkan kita dapat pulang ke Holin dengan selamat, aku tanggung selama hidupmu
akan bahagia dan mendapat kedudukan tinggi,” seru Sia It-tiong.
“To Liong,” Li Su-lam juga berseru, “Camkanlah, sekali sudah bersalah jangan mengulangi lagi
kesalahanmu. Kau harus insaf dan kembali kejalan yang benar, akupun menjamin akan
keselamatanmu dan takkan mengganggu guga perbuatanmu yang telah lalu.”
Mendengarkan seruan dari kedua belah pihak itu, To Liong menjadi serba salah, timbul
pertentangan batin yang hebat, pertentangan batin antara yang baik dan yang buruk.
Dasar moral To Liong memang sudah bejat, nyatanya janji muluk2 Sia It-liong tadi lebih “sreg”
mengenai hatinya. Pikirnya: “Li Su-lam sudah pernah ingin membunuh diriku karena aku
bermaksud mengampuni kesalahanku? Andaikan dia dapat, apakah Nyo Wan dapat juga
mengampuni dosaku? Aku telah banyak berbuat kesalahan, apakah aku ada muka sana akupun tetap
dibawah perintah orang, apa artinya hidupku disana?”
“To Liong, inilah kesempatan terakhir bagimu, bagaimana keputusanmu?” bentak Beng Siau-kang.
Karena sudah bertekad mengekor Sia It-tiong, To-liong lantas menjawab: “Berdamai dengan pihak
Mongol adalah tujuan pemerintah, sebagai rakyat kecil aku hanya tunduk kepada pihak pemerintah
saja, maka aku siap menerima pimpinan Sia-tayjin.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Jadi kau tidak ingat kepada kematian ayahmu lagi? Kau binatang atau manusia?” bentak Beng
Siao-kang pula. “Sungguh sial Pek-seng yang termashur kepahlawannanya itu mempunyai anak
durhaka sebagai kau. Mengingat kepada mendiang ayahmu hari ini kuampuni kau, tapi kalau kau
masih tetap tidak insaf, pada satu ketika bila kebentur padaku, maka janganlah kau menyesal.”
“Sudahlah, tak perlu banyak omong lagi,” sela Sia It-tiong. “Pendek kata, kalian seuju tidak dengan
syarat tukar menukar yang kukatakan tadi?”
“Lu-kongcu, jangan urus diriku, bunuh saja bangsat ini!” seru Minghui.
Pikiran Li Su-lam menjadi ragu2 dan kacau. Kematian ayahnya di negeri asing atas perbuatan Sia
It-tiong itu, sakit hati ini mana boleh tak dibalas? Tapi iapun tahu watak Minghui, jika nona itu
sampai dibawa pulang ke Holin dan dipaksa kawin dengan pangeran Tin-kok, maka Minghui pasti
lebih suka membunuh diri. Bahwa Minghui pasti akan dipaksa kawin dengan orang yang tak
disukainya sudahlah jelas, sebab pangeran Tin-kok memegang kekuasaan militer, untuk ini Ogotai
dan Dulai masih memerlukan bantuan tenaganya.
Yang meragukan Li Su-lam adalah dirinya pernah menerima budi pertolongan Minghui, masakah
tidak balas pula budi kebaikan ini.
Rupanya Nyo Wan juga mempunyai pikiran yang sama, dengan suara pelahan ia berkata kepada
Su-lam: “Engkoh Lam, bukan maksudku menjuruh kau menerima syarat bangsat she Sia itu, sebab
kakak sendiri juga mati akibat perbuatan Sia It-tiong itu. Cuma akupun pernah menerima budi
pertolongan Puteri Minghui, sekarang dia dalam kesukaran, masakah kita harus membiarkan dia
dibawa pulang dan menderita untuk selama hidupnya?”
Li Su-lam mengertak gigi, pikirnya pula: “Bila sekarang kulepaskan Sia It-tiong, kelak aku masih
dapat mencari kesempatan untuk menuntut balas. Sebaliknya kalau Minghui dibawa pulang ke
Mongol, maka tiada kesempatan lagi baginya untuk lolos dari kurungan.”
Terpikir demikian, tekadnya segera bulat, teriaknya lantang: “Baik, aku terima syaratmu. Tapi
ingat, bila lain kali kau kebentur lagi padaku, awas jiwa anjingmu!”
“Haha!” Sia It-tiong tertawa. “Urusan sekarang kita selesaikan sekarang, urusan lain hari kita
bicarakan lagi lain hari. Sama saja halnya dengan kau bila kau yang jatuh ditanganku pada
kesempatan lain, rasanya akupun tak dapat mengampuni kau.”
“To-liong, lepaskan Tuan Puteri!” bentak Su-lam.
“Kau bebaskan dulu Sia-tayjin kesini!” jawab To Liong
“Bangsat, memangnya kau anggap aku serendah kau dan suka main licik?” bentak Li Su-lam
dengan murka.
“Tidak perlu ribut,” sela Sia It-tiong. “Aku ada suatu cara yang adil, kita pertukar tawanan di
pekarangan luar sana, kalian boleh tahan diriku dipihakmu, pada saat yang sama kita membebaskan
tawanan masing2 bebarengan.”
“Baik,” jawab Su-lam dengan mendongkol.
“Pek-cengcu, marilah kita berangkat bersama, harap kau siapkan kuda,” kata Yang Thian-lui
kepada Pek Ban-hiong.
“Hm, hari ini terlalu untung bagi kalian berdua bangsat ua ini,” jengek Beng Siau-kang.
“Kukira pihakmu lebih untung, bukankah aku terpaksa menghadiahkan perkampunganku ini kepada
kalian secara cuma2,” jawab Pek Ban-hiong dengan menyeringai. Lalu iapun menyuruh Pek Jianseng
menyiapkan empat ekor kuda.
Melihat persiapan itu, Sia It-tiong merasa lega dan berbesar hari, segera ia keluar dari kamar. Li Sulam
lantas pegang pergelangan tangannya dan diseret keluar.
Setiba di pekarangan luar, kedua pihak berdiri berhadapan dalam jarak tertentu dengan tawanan
masing2. Tapi To-liong lantas mengusulkan lagi agar kedua pihak mundur lagi sejauh ratusan kaki,
menurut perhitungannya, betapapun kuat tenaga lawan, ratusan kaki tentunya sukar mencapai
sasarannya. Dasar manusia rendah, ia mengukur badan orang dengan diri sendiri yang suka berbuat
curang.
Namun untuk menunjuk ketulusan pihaknya, Li Su-lam terima usul itu. Kedua pihak berdiri dalam
jarak ratusan kaki jauhnya. To-liong lantas melepaskan Minghui dan disebelah sana Li Su-lam juga
membebaskan Sia It-tiong. Ketika To Liong menyerukan hitungan tiga kali, tawanan kedua pihak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sama2 berlari kedepan. Lebih2 Sia It-tiong, ia lari ter-birit2 karena jiwany tidak jadi melayang.
Akan tetapi di tengah berlari itu, hatinya yang jahat itu toh masih bekerja memikirkan sesuatu yang
dapat menguntungkan pihaknya.
Ia pikir sedapat mungkin harus berdaya untuk menangkap kembali putri Minghui dan dibawa
pulang ke Mongol, sebab betapapun dia harus bertanggung jawab akan tugasnya ini, terutama
karena berontaknya Subutai berdua, untuk mengurangi kesalahannya dia harus mencari jasa lain
dan jalan paling baik adalah menangkap Minghui.
Sementara itu kedua orang yang sama2 berlari menuju pihak kawan sendiri itu sudah beradu muka
ditengah lapangan. Waktu di Mongol, sudah menjadi kebiasaan bagi Sia It-tiong untuk memberi
hormat bila bertemu dengan Putri Minghui. Kini, demi kedua orang beradu muka, tanpa terasa Sia
It-tiong juga merandek dan menyampaikan salam hormat.
Tiba2 pikiran Minghui tergerak, dengan suara pelahan ia mengucapkan beberapa kata Mongol.
Karena jarak mereka cukup jauh dari orang2 lain, maka selain Sia It-tiong tiada seorangpun yang
mendengar ucapan sang putri, Sia It-tiong menjadi kegirangan seperti mendapat hadiah besar.
Kiranya Minghui pura2 berkata bahwa sesungguhnya dia ingin pulang ke Mongol karena merasa
menyesal minggat dari rumah, Cuma dia tidak sudi menjadi sandera bagi To Liong dan lebih suka
memberikan jasanya kepada Sia It-tiong saja dan boleh menangkapnya.
Dasar Sia It-tiong sudah kacau pikiran, apalagi dia juga ada maksud menangkap kembali Minghui.
Kini mendengar sang Putri sendiri suka pulang ke Holin dan memberikan jasa besar itu kepadanya,
keruan tak kepalang rasa girang Sia It-tiong, ketika kedua orang hampir menyerempet lewat, tanpa
pikir lagi Sia It-tiong terus mencengkeram bahu sang Putri.
Orang licik sebagai Sia It-tiong, kalau saja dia mau berpikir lebih masak tentu takkan gampang
percaya kepada ucapan Minghui tadi, akibatnya sekarang dia ternyata masuk perangkap.
Kiranya Minghui sengaja memancing agar Sia It-tiong turun tangan lebih dahulu kepadanya,
dengan demikian dia akan balas membekuk Sia It-tiong dengan lebih mudah, dengan demikian pula
ia dapat membantu Li Su-lam mengembalikan kedudukannya yang terdesak oleh pihak lawan.
Maklumlah, seorang ksatria sejati harus bisa pegang janji. Li Su-lam sudah menyanggupi
membebaskan Sia It-tiong, maka Minghui harus memancing orang turun tangan lebih dulu sebagai
alasan untuk membekuknya, dengan demikian bukanlah pihak Li Su-lam yang salah, tapi Sia Ittiong
sendiri yang mencari penyakit.
Sia It-tiong ternyata tidak tahu akan tipu muslihat Minghui itu, segera dia bermaksud menangkap,
Minghui yang sudah siap itu segera menangkis dan balas mencengkeram pergelangan tangan Sia Ittiong,
“bluk” kontan dibantingnya pula hingga terguling.
Keruan Sia It-tiong menjerit kaget, akan tetapi Minghui tidak memberi kesempatan padanya untuk
bicara, sebelah kakinya lantas menginjak kedada Sia It-tiong sambil membentak: “Rasakan
bangsat!”
Kepandaian bergulat bagi orang Mongol adalah olah raga yang umum, meski Minghui bukan ahli
gulat, tapi pernah juga ia berlatih dengan baik, dengan sendirinya Sia It-tiong tidak mampu
melawannya, apalagi dibanting secara tak ter-duga2.
Cuma Minghui juga rada meremehkan Sia It-tiong, ketika kakinya menginjak diatas dada Sia Ittiong
yang menggeletak itu, mendadak Sia It-tiong berguling kesamping sembari menarik kaki
Minghui. Namun Minghui sempat mendepak sehingga Sia It-tiong ter-guling2 pula, tapi
kesempatan itupun digunakan oleh Sia It-tiong untuk melompat bangun. Habis itu Sia It-tiong lantas
balas menyerang.
Bahwasanya Sia It-tiong dan Minghui mendadak berkelahi ditengah jalan, hal ini sama sekali diluar
dugaan kedua belah pihak. Baru saja Yang Thian-lui dan To Liong bermaksud memburu maju
dengan kuda mereka yang sudah disiapkan, dipihak sini Beng Siau-kang dan Li Su-lam juga sudah
melompat kedepan.
Sebelum sampai ditempat tujuan lebih dulu Beng Siau-kang menyambitkan batu kecil yang
dijemput sekenanya, begitu keras samberan batu kecil itu sehingga Yang Thian-lui lekas
menggunakan Thian-lui-kang untuk memukulnya, batu kecil itu tertolak kesamping sehingga
mengenai kuda tunggangan To Liong, “plok” tanpa ampun lagi kuda itu roboh terguling.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Bagus, Yang Thian-lui sekarang kita boleh menentukan matii kau atau hidup saja!” bentak Beng
Siau-kang.
Mana Yang Thian-lui berani menghadapi Beng Siau-kang lagi, segera ia membelokkan kudanya
dan kabur secepat terbang.
To Liong benar2 ketakutan sehingga sukma hampir meninggalkan raganya, untung pihaknya sudah
menyiapkan kuda, segera ia cemplak keatas kuda yang lain terus kabur mengikuti jejak Yang
Thian-lui.
“Sia It-tiong, ini namanya kau mencari mampus sendiri,” bentak Li Su-lam sambil melolos pedang
dan mendekati Sia It-tiong.
Maksud Sia It-tiong hendak menangkap Minghui apa daya napsu besar tenaga kurang, Minghui
juga bukan perempuan lemah, ketika dia baru saja hendak mencengkeram, mendadak Minghui balas
menarik terus disengkelit kesamping hingga Sia It-tiong kembali mencium tanah.
“Li Su-lam, kau boleh bunuh saja diriku!” teriak Sia It-tiong putus asa.
“Memangnya kau masih mengharapkan hidup?” jawab Li Su-lam yang sementara itu sudah berada
disamping musuh besar itu. Sekali pedangnya menabas terpenggal seketika kepala Sia It-tiong.
Dengan mendongak ke langit Li Su-lam berdoa: “Ayah, hari ini anak telah membalaskan sakit
hatimu!”
Sementara itu Nyo Wan sedang menanyai Minghui apakah terluka sesuatu serta mengucapkan
terima kasih atas tindakannya yang tegas tadi.
Dengan tersenyum Minghui berkata: “Enci Wan, bukankah aku pernah berjanji untuk bantu
membalaskan sakit hatimu? Ayahku tidak mau membunuh bangsat ini, sekarang cita2ku ternyata
terkabul juga.”
Karena dendam kesumatnya dapat terbalas, dengan sendirinya Li Su-lam juga mengucapkan banyak
terima kasih kepada Minghui, hanya saja sikapnya rada2 kikuk karena Nyo Wan juga hadir disitu,
sebaliknya Nyo Wan dan Minghui tampaknya berbicara dengan lebih mesra.
Terasa pedih dan hampa pula hati Minghui menghadapi Nyo Wan dan Li su-lam, pikirnya sendiri:
“Aku telah membantu mereka membunuh Sia It-tiong, betapapun cita2ku sudah terkabul. Tapi
sekarang aku sendiri menjadi ter-lunta2 dirantau orang, selanjutnya kemana aku harus pergi?
Apakah aku akan ikut mereka untuk selamanya? Meski Nyo Wan tidak jemu padaku, sedikitnya
aku harus tahu diri, ap artinya aku menyelip di tengah2 mereka?”
Walaupun begitu pikirnya, tapi karena dia memang tiada tempat meneduh, pula Akai dan Kalusi
juga masih berada di Long-sia-san, terpaksa Minghui harus ikut Su-lam kembali kesana.
Beberapa hari kemudian mereka telah sampai dipegunungan itu, ketika naik keatas, dari jauh
Minghui melihat ada sebuah bangunan yang mirip biara terletak di tengah semak2 pohon yang
rimbun disebelah sana. Tiba2 tergerak hati Minghui, ia coba tanya Nyo Wan: “Bangunan apakah
itu? Apakah biara tempat nikoh?”
“Biara apa? Kalau kau tidak tanya aku sendiri tidak tahu akan bangunan itu,” sahut Nyo Wan.
“Aku tahu biara itu,” sela Beng Siau-kang. “Tadinya ada Hwesio yang tinggal disitu, tapi sekarang
telah berubah menjadi biara kaum Nikoh. Yang tinggal disitu sekarang adalah nikoh tua yang bukan
orang sembarangan. Hwesio tua yang tinggal di ditu telah meninggal sehingga biara yang bernama
Yok-ong-hio itu terlantar. Kemudian datang seorang Nikoh yang bergelar Liau-yan, diwaktu
mudanya juga seorang pendekar yang terkenal, entah mengapa mencukur rambut dan menjadi
Nikoh. Dia adalah kawan baik To-hujin dan berkunjung ke Long-sia-san, maka To-hujin lantas
minta Liau-yan menetap di situ, biara Hwesio itu akhirnya berubah menjadi biara Nikoh.”
Cerita ini bagi orang lain hanya dianggap biasa saja, hanya Minghui sendiri yang diam2 menaruh
perhatian terhadap biara Yok-ong-bio itu.
Setiba diatas gunung, Akai dan kalusi kegirangan melihat Tuan Putri mereka telah kembali dengan
selamat. Begitu pula melihat Li Su-lam pulang bersama Nyo Wan, maka suasana gembira di atas
Long-sia-san sukarlah dilukiskan. Hanya Minghui saja seperti ada sesuatu ganjelan hati, ditengah
suasana gembira itu Cuma dia saja yang murung.
Pada esok harinya mendadak Minghui sudah memotong rambutnya dan menemui To-hujin, dia
mohon To-hujin suka perkenalkan Liau-yan Suthay dan menerimanya sebagai murid.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tentu saja To0hujin terkejut dan heran, Nyo Wan, To Hng dan lain2 juga tidak sangka2 akan
perbuatan Minghui itu. Mereka coba membujuknya, namun tekad Minghui sudah bulat untuk
menjadi biarawati saja, terpaksa To-hujin memenuhi keinginannya itu dan minta Liau-yan suka
menerimanya sebagai murid.
Hubungan Kalusi dengan Minghui mirip saudara sekandung, meski dia tidak ikut cukur rambut, tapi
iapun ikut pindah ke Yok-ong-bio untuk menemani Minghui disana. Akai tetap tinggal di Long-siasan
untuk menunggu kesempatan pulang ketanah airnya.
Setelah kembali ke Long-sia-san, dengan sendirinya Beng Siau-kang menceritakan pertarungannya
melawan Yang Thian-lui di Pek-keh-ceng itu. Karena menyangkut tugas perguruan mereka, Kok
Ham-hi dan Ci in-hong sangat menaruh perhatian terhadap cerita Beng Siau-kang itu.
“In-hong, bukankah kau bermaksud mengajak Kok-suhengmu pergi menemui gurumu?” tanya
Beng Siau-kang kemudian.
“Ya, untuk itu kami ingin minta naseha Bengcu, apakah kiranya kami boleh meninggalkan
pangkalan kita ini untuk sementara?” kata Ci In-hong.
“Sekarang kita sudah mengetahui berita yang jelas dan dapat dipercaya bahwa pihak Mongol
sedang sibuk menenteramkan keadaan dalam negeri sendiri, dalam tahun ini rasanya mereka takkan
mengganggu negeri kita, maka bolehlah kalian berangkat saja,” kata Li Su-lam.
“Jika demikian biarlah besok juga kami lantas berangkat,” ujar In-hong.
“Mengapa kalian tidak tinggal lagi sehari saja,” kata Beng Siau-kang dengan tertawa.
Tiba2 hati Kok Ham-hi tergerak, katanya: “Apakah barangkali Beng-tayhiap melihat sesuatu
kelemahan pada ilmu silat Yang Yhian-lui itu? Mohon engkau sudi memberi petunjuk2 yang
berharga.
“Memberi petunjuk sih aku tidak berani,” jawab Beng Siau-kang. “Terus terang,Yang Thian-lui
punya Thian-lui-kang itu sesungguhnya lihai luar biasa, aku sendiripun tidak sanggup mematahkan
ilmu pukulannya itu. Cuma kabarnya dalam Thian-lui-kang ada suatu jurus pukulan yang disebut
“Lui-tian-kau-hong” pukulan yang harus dilakukan dua orang sekaligus dengan kekuatan yang
dahsyat, apakah kalian berdua mahir jurus ini?”
“Setelah aku bertemu dengan Kok-suheng, kami pernah mencobanya satu kali dan dapat
mengalahkan Pek Ban-hiong,” sahut Ci In-hong. “Tapi entah bagaimana kalau berhadapan dengan
Yang Thian-lui.”
“Kalian boleh coba2 menyerang padaku, jangan kuatir, seranglah sepenuh tenaga,” kata Beng Siaukang.
Berbareng Ci In-hong dan Kok ham-hi lantas memukul, terdengarlah suara gemuruh yang terbawa
oleh dahsyatnya pukulan mereka. Tapi Beng Siau-kang Cuma tergeliat saja, sebaliknya Ci In-hong
berdua sama2 tergetar mundur dua-tiga tindak.
Li Su-lam pernah menyaksikan pertarungan Beng Siau-kang melawan Yang Thian-lui, maka diam2
dia berkuatir bagi Ci In-hong berdua, sebab dalam beberapa puluh jurus Yang Thian-lui sanggup
melawan Beng Siau-kang dengan sama kuatnya, maka dapat dibayangkan betapa lihai kepandaian
Beng Siau-kang.
Tiba2 Beng Siau-kang bergelak tertawa katanya: “Bagus! Aku tidak dapat mematahkan Thian-luikang,
tapi kalian berdua bergabung pasti dapat mengalahkan dia.”
Ci In-hong merasa sangsi, katanya: “Meski jurus Lui-tian-kau-hong ini dimainkan dua orang
sekaligus dengan daya tekanan yang lebih dahsyat, tapi keuletan Yang Thian-lui yang berlatih
berpuluh tahun itu mungkin jauh lebih kuat daripada kami berdua.”
“Benar,” sahut siau-kang. “Bicara tentang keuletan kalian memang tak dapat menandingi dia, tapi
kalau kalian mahir menggunakan tenaga dalam rasanya masih ada cara baik untuk mengatasi dia.
Tenaga pukulan Yang Thian-lui memang hebat, tapi juga ada kelemahannya, yaitu tidak tahan lama,
tenaga susulannya takdapat menyambung tenaga pukulan yang terdahulu. Jika lawannya paham
akan kelemahannya ini, asalkan sanggup bertahan, belasan gebrakan kemudian pasti ada harapan
akan mengalahkan dia.”
“Cuma kekuatan kami mungkin selisih terlalu jauh dibandingkan dia,” ujar Kok Ham-hi.
“Sedikit banyak sekarang aku sudah dapat memahami inti kekuatan pukulan Lui-tian-kau-hong
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kalian ini,” kata Beng siau-kang. “Jurus yang kalian gunakan bersama ini akan jauh menghemat
tenaga, jika kalian berlatih lagi sementara waktu tentu akan sanggup melawannya. Makanya tadi
aku suruh kalian tinggal lagi satu hari disini agar kalian dapat memperlajari cara mengerahkan
tenaga.”
Ci In-hong dan Kok Ham-hi menjadi girang, segera mereka belajar pengerahan tenaga sebagaimana
dimaksud Beng Siau-kang itu. Dasarnya mereka sudah punya akar yang kuat, maka dengan cepat
mereka dapat menangkap intisari yang diajarkan Beng Siau-kang itu, pada hari kedua merekapun
paham seluruhnya.
Begitulah mereka lantas mohon diri buat berangkat,karena mereka harus pulang untuk menemui
guru masing2 untuk berunding tentang cara mengadakan pembersihan perguruan, maka tidak
leluasa untuk membawa serta Bing-sia dan Giam Wan.
Sudah tentu yang paling berat adalah Giam Wan, sekian tahun dia merindukan Kok Ham-hi, setelah
berkumpul dalam waktu singkat sekarang harus berpisah pula.
Perjalanan kedua saudara perguruan itu tidak terasakan hampa, sepanjang jalan mereka saling
menceritakan pengalaman masing, yang satu berasal dari daerah Kanglam dan yang lain dari daerah
utara, maka bahan cerita mereka cukup banyak.
Suatu hari sampailah mereka di Hu-li-cip, suatu kota yang sedang besarnya, tapi setiba didalam kota
segera mereka melihat banyak laki2 kekar bersenjata, sedang membeli barang di toko, sekali
pandang saja segera dapat diketahui laki2 itu pasti orang2 kangouw.
Ditengah jalan sebenarnya Ci In-hong berdua sudah memergoki beberapa orang kangouw yang
sejenis itu, Cuma tidak banyak sebagaimana mereka lihat di Hu-li-cip ini. Bahwasanya sedemikian
banyak orang2 kangouw berkumpul disuatu kota kecil, segera Ci In-hong berdua merasa dibaliknya
pasti ada sesuatu persoalan.
Sementara itu hari sudah hampir gelap, Kok ham-hi berkata: “Kita tiada punya sangkut paut dengan
mereka, tidak perlu pusingkan urusan orang.”
Mereka lantas mencari hotel untuk bermalam. Diwaktu mencari hotel, Ci In-hong diam2
memperhatikan gerak-gerik orang2 yang keluar dari toko iu, setiap orang tentu membawa sebuah
kotak sumbangan.
Pada hotel yang mereka pondoki juga tinggal beberapa tamu orang kangouw yang sejenis itu.
Ketika melihat Ci In-hong berdua tidak membawa bungkusan sumbangan dan sebagainya, orang2
kangouw itu tampak rada heran, tapi juga tidak menegur sapa.
Habis makan malam, Ci In-hong jalan2 diruangan depan, dilihatnya ada dua tamu sedang minta
tolong kasir hotel agar menuliskan kartu nama mereka.
“Ciok-toako, sumbangan apa yang kau siapkan?” demikian terdengar seorang bertanya kepada
kawannya.
“Ah, barang yang tiada artinya, hanya dua biji Ya-beng-cu (mutiara) saja,” jawab yang ditanya.
“Dan kau sendiri menyumbang apa?”
“O, hanya seekor Giok-say-cu (singa2an dari jade), sudah tentu tidak sebagus barang
sumbanganmu, “ kata yang pertama tadi.
“Su-loenghiong tentu tidak memandang besar kecilnya sumbangan kita, yang prlu sebagai tanda
hormat kita kepada beliau saja dan tentu beliau akan merasa senang,” kata kawannya. “Eh, saudara
kasir, tolong tuliskan kata2 yang indah.”
“Sudah tentu,” jawab kasir hotel. “Tempat kami ini hanya terdapat tokoh Su-loenghiong seorang
yang menjadi kebanggaan warga kota kami seluruhnya.”
Hati Ci In-hong tergerak mendengar kata2 “Su-loenghiong” itu, setelah kedua orang tadi kembali
kekamarnya, lalu Ci In-hong mendekati kasir hotel dan bertanya: “Apakah Su-loenghiong yang kau
maksudkan itu bernama Su Yong-wi ?”
Si kasir memandang sekejap kepada In-hong dengan rasa heran, jawabnya kemudian: “Ya,
bukankah tuan tamu juga datang untuk memberi selamat ulang tahun kepadanya ?”
“O, kiranya Su-loenghiong sedang berulang tahun, kami Cuma kebetulan saja mengetahui hal ini,”
jawab in-hong. “Terus terang, nama Su-loenghiong sudah lama kami kagumi, Cuma sayang tak
pernah bertemu.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Kiranya demikian,” kata si kasir, “Su-loenghiong mendapat julukan sebagai “Say Beng Siang” (si
Beng Siang, seorang hartawan dan dermawan dijaman Ciankok), setiap tahun orang yang
berkunjung dan mohon berkenalan dengan beliau tak terhitung banyaknya. Besok adalah hari ulang
tahun beliau yang ke 60, sungguh suatu kesempatan bagus bagi kalian untuk melihat wajah Suloenghiong.”
“Memang benar kesempatan bagus bagi kami, Cuma sayang kami tidak ada persiapan sumbangan
apa2,” kata Ci In-hong.
‘Jangan kuatir, disini kami ada persediaan,” kata si kair.
“Sungguh kebetulan,” kata Ci In-hong dengan girang. “Harap kau sediakan dua bagian sumbangan.
Ini sekadar balas jasa kami.”
Begitulah Ci In-hong lantas serahkan serenceng uang perak sebagai balas jasa. Keruan si kasir
kegirangan dan berjanji akan menyiapkan kado yang dipesan dengan kartu sumbangan yang tertulis
nama mereka.
Sesudah itu Ci In-hong lantas kembali kekamarnya dan menceritakan apa yang dialaminya itu
kepada Kok Ham-hi.
“Kita ada urusan penting, buat apa ikut2,” ujar Kok Ham-hi.
“Tapi inipun urusan penting,” kata Ci In-hong. “Lahirnya saja Su-loenghiong ini adalah jago silat
yang kaya dan budiman, suka menjadi juru damai dan ada hubungan baik dengan pihak pemerintah,
tapi secara diam2 dia hubungan rahasia pula dengan pihak patriot yang melawan Kim, banyak pula
bantuan2 yang telah dia berikan kepada pasukan pergerakan. Dahulu waktu aku masih berada
ditempat Yang Thian-lui, suatu kali aku pernah memergoki seorang yang tak dikenal asal-usulnya
sedang bicara secara rahasia dengan Yang Thian-lui, secara tidak sengaja aku mendengar sebagian
pembicaraan mereka yang menyangkut namanya Su Yong-wi. Orang itu mengusulkan kepada Yang
Thian-lui agar mengutus seorang kepercayaan dan menyusup ketempat Su Yong-wi sebagai mata2,
sedapat mungkin diusahaka agar diterima Su Yong-wi sebagai murid. Cuma sayang hanya sebagian
kecil pembicaraan mereka yang kudengar, nama orang itupun tak kukenal, malahan dimana tempat
tinggal Su Yong-wi yang mereka sebut waktu itupun aku tidak tahu.”
“Tipu mereka itu sungguh sangat keji, kalau berhasil tidak Cuma Su Yong-wi saja yang akan jatuh
nama baiknya, bahkan banyak patriot yang melawan Kim akan menjadi korban,” kata Kok Ham-hi.
“Selama beberapa bulan sesudah aku melarikan diri dari Taytoh, aku belum sempat mencari Su
Yong-wi sehingga akupun tidak tahu apakah dia menerima murid baru dan masuk perangkap Yang
Thian-lui atau tidak. Baru akhir2 ini aku mendapat kabar bahwa tahun yang lalu Su Yong-wi telah
menambah enam murid baru, dengan sendirinya sukar dketahui siapa agen rahasia musuh yang
sengaja diselundupkan diantara murid2nya yang baru itu. Karena itu kebetulan kita memergoki hari
ulang tahunnya, kebetulan kita dapat membereskan persoalan yang sudah tertunda sekian lamanya
ini.”
“Ya, persoaln agen rahasia musuh memang perlu lekas dibereskan untuk menghindarkan segala
kemungkinan dikemudian ahri,” sahut Ham-hi.
Tempat kediaman Su Yong-wi terletak 50 li disebelah barat Hu-li-cip, esok harinya Ci In-hong
berdua lantas berangkat kesana dengan membawa kado yang disediakan itu, malahan ia sengaja
berangkat bersama kedua orang yang dijumpainya semalam dihotel itu. Stelah saling
memperkenalkan diri, diketahui yang agak tinggi besar bernama Ciang Wi dan yang lebih pendek
bernama Cian Po.
Setelah mengobrol ketimur dan kebarat ditengah perjalanan, hubungan mereka menjadi tambah
akrab, maka Ci In-hong lantas mulai cari lubang, tanyanya: “Kabarnya murid Su-loenghiong sangat
banyak, entah seluruhnya ada berapa orang?”
“Setahuku, kalau tiak keliru seluruhnya ada 12 orang,” kata Ciang Wi. “Murid yang tertua bernama
Thio Tik, usianya hampir setengah abad. Murid yang terkecil kabarnya baru berumur 20an tahun.”
“Ciang-toako,agaknya beritamu tidak cukup cepat,” ujar Cian Po dengan tertawa. “Murid Suloenghiong
sekarang seluruhnya ada 18 orang. Dalam tahun yang lalu beliau sekaligus menerima
enam murid baru.”
“Aneh, mengapa Su-loenghiong begitu suka menerima murid baru?” tanya Ham-hi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Pergaulan Su-loenghiong sangat luas,” tutur Cian Po. “Beliau memang berhati lemah, sukar
menolak permohonan sanak pamili maka bila terima satu murid lantas menyusul murid yang lain
pula, supaya tidak dianggap pilih kasih, terpaksa beliau terima semuanya.”
“keenam murid baru yang diterima beliau tahun yang lalu itu apakah Cian-heng mengetahui siapa2
mereka itu?” tanya In-hong.
“Aku Cuma kenal asal usul tiga diantaranya,” sahut Cian Po. Lalu ia menyebutkan tiga nama,
seluruhnya berasal dari keluarga kangouw yang cukup terkenal. Ci In-hong juga tahu dan yakin
pasti bukan orang yang hendak diselundupkan oleh Yang Thian-lui atas usul orang yang tajk
dikenalnya itu.
“Sedangkan tiga muridnya yang lain kabarnya sudah mahir silat sebelum berguru kepada Suloenghiong,”
sambung Cian Po pula.
Diam2 Ci In-hong yakin agen rahasia musuh itu pasti satu diantara ketiga murid Su Yong-wi yang
disebut belakangan itu.
Begitulah sambil bicara tanpa terasa mereka sudah sampai di Su-keh-ceng, perkampungan keluarga
Su yang megah. Su Yong-wi memang benar2 budiman dan suka bersahabat, begitu kartu nama
disodorkan, segera petugas penyambut tamu mengundang mereka masuk kedalam tanpa banyak
bertanya.
Tamu yang datang sungguh banyak sekali hingga ber-jubel2, sukar bagi Ci In-hong untuk
mendekati Su Yong-wi, sebab tuan rumah saat itu sedang dikerumuni sobat handainya yang
terdekat. Untunglah Su Yong-wi mempunyai 18 orang murid sehingga dapat mewakilkan sang guru
melayani tetamu yang banyak itu.
Ciang Wi dan Cian Po ternyata sangat aktip, dia berseliweran diantara tetamu yang berjubel itu
sambil menegur sana dan menyapa sini. Hanya saja merekapun tahu diri bahwa mereka bukan
tingkatannya buat bicara dengan Su Yong-wi sendiri mereka hanya dapat bergaul saja dengan anak
murid tuan rumah. Ci In-hong berdua terus ikut dibelakangnya tanpa bersuara, diam2 ia
memperhatikan setiap murid Su Yong-wi.
Setelah menyusup kesana kemari, rupanya Cian Po sengaja hendak pamer kepada sobat barunya
untuk membuktikan dia mempunyai kenalan yang banyak, ia berkata kepada Ci In-hong: “Seperti
kukatakan tadi, diantara ke-18 murid Su Yong-wi hanya tiga orang yang tak kukenal,sekarang
akupun sudah tahu siapa2 mereka itu, apakah kaupun ingin ikut aku untuk belajar kenal dengan
mereka?”
Sudah tentu ajakan Cian Po sangat kebetulan bagi Ci In-hong, segera ia ikut Cian Po ber-desak2an
kesana. Tapi sebelum dikenalkan kepada seorang, tiba2 Ci In-hong sudah dipegang oleh orang itu
sambil berkata: “ He, Ci-heng, engkau juga hadir kesini?” ~ Orang itu adalah salah satu diantara
ketiga murid yang dikatakan Cian Po.
Cian Po menjadi kikuk sendiri, katanya: “O, kiranya kalian sebelumnya sudah sealin kenal.”
Sambil mengedipi orang itu, cepat Ci In-hong berkata: “Lau-heng, aku tidak bekerja lagi di Piauhang
(perusahaan pengawalan) dan sengaja datang kesini mencari kau.”
Orang itu cukup cerdik, seketika ia paham maksud Ci In-hong, segera ia mengajak In-hong ketaman
untuk bicara.
Kiranya orang itu bernama Lau tay-wi, seorang perwira pasukan pergerakan yang melawan
kerajaan Kim. Dahulu waktu Ci In-hong masih berada ditempat Yang Thian-lui, secara rahasia dia
harus mengirimkan berita2 penting kepada pihak pemberontak,sudah tentu pekerjaan yang banyak
resikonya itu harus dilakukan secara hati2, orang yang tahu tugas Ci In-hong itu boleh dikata sangat
sedikit. Dan Lau Tay-wi ini termasuk satu diantara orang2 terbatas yang mengetahui tugasnya itu,
Lau Tay-wi juga pernah mengadakan hubungan dengan In-hong.
Begitulah sesudah berhadapan berduaan, In-hong lantas menceritakan apa yang diketahuinya
tentang agen rahasia musuh yang diselundupkan kedalam perguruan Lau Tay-wi.
Akan tetapi Lau Tay-wi menyatakan keheranannya, sebab setahunya diantara saudara2
seperguruannya yang baru itupun dikenal semuanya berasal dari keluarga kaum pendekar yang
punya nama baik.
“aku sendiri mendengar percakapan Yang Thian-lui dengan orang itu, pasti tidak palsu,” kata InKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
hong dengan tegas. “Demi kepentingan perjuangan kita, lebih baik kita percaya ada daripada tidak
percaya.”
“Tidak salah ucapanmu, sedia payung sebelum hujan adalah cara yang lebih baik,” kata Lau Taywi.
“Harap kau bermalam saja disini, akan kucarikan kesempatan bagimu untuk bertemu dengan
guruku.”
Selagi Ci In-hong belum dapat ambil keputusan, tiba2 dilihatnya seorang di-tengah2 berjubelnya
tetamu seperti sudah pernah dikenalnya. Se-konyong2 teringat olehnya bahwa orang ini tak lain tak
bukan adalah orang asing yang berunding secara rahasia dengan Yang Thian-lui yang dipergokinya
dahulu itu. Akan tetapi baru saja dia ingat hal ini, ternyata orang itu sudah menghilang ditengah
tetamu yang banyak itu.
“Ada apa, Ci-heng?” tanya Lau Tay-wi ketika melihat sikap In-hong yang tidak tenteram itu.
“Lau-heng, aku ingin segera bertemu sendirian dengan gurumu,apakah kau dapat
mengusahakannya. Aku baru saja melihat orang itu!” kata In-hong.
“Orang itu ? Siapa yang kau maksud ?” tanya Lau Tay-wi dengan bingung.
“Jika aku tahu siapa dia tentu urusan menjadi gampang,” sahut In-hong. “Aku kuatir bila terlambat
mungkin orang itu keburu kabur.”
“Tapi saat ini guruku sedang sibuk melayani sanak pamilinya, sebagai murid baru tidak enak bagiku
untuk merecoki beliau, apalagi rahasia ini mana dapat kukatakan dihadapan orang banyak ? Ah, aku
ada usul, entah dapat kau terima atau tidak?”
“Usul apa ?” tanya In-hong.
“Bagaimana kalau kau ikut aku mengelilingi ruangan untuk mencari orang itu, coba aku kenal dia
atau tidak. Bila perlu, tanpa melaporkan dulu kepada Suhu boleh kita membekuknya saja,” kata
Tay-wi.
Walaupun bukan usul yang baik, tapi tiada jalan lain, terpaksa In-hong mengangguk setuju. Segera
mereka masuk ruangan tamu untuk mencari.
Tapi baru saja mereka kembali kedalam ruangan tamu, kebetulan bertemu dengan Toasuheng Lau
Tay-wi, yaitu Thio Tik. Tampak sang Toasuheng sangat senang dan secara ter-gesa2 mendekati
gurunya untuk menyerahkan sehelai kartu nama.
Setelah membaca kartu nama itu, seketika Su Yong-wi kelihatan sangat gembira terus berbangkit.
Para sanak pamili yang berada disekitarnya serentak juga ikut gempar.
“Para sute hendaklah ikut Suhu menyambut tamu agung !” seru Thio Tik.
Para tamu sama ter-heran2 oleh sikap tuan rumah itu, tokoh macam apakah yang datang itu hingga
memerlukan Su-loenghiong menyambutnya sendiri, bahkan mengerahkan segenap anak muridnya
pula.
Ketika Ci In-hong berbeicara dengan Lau Tay-wi diluar, Kok Ham-hi sendiri tetap tinggal
diruangan pesta. Kini iapun ikut orang banyak memandang keluar untuk mengetahui siapakah tamu
agung yang dimaksud itu.
Tapi ia menjadi terperanjat luar biasa ketika melihat siapa tamu2 agung yang datang itu. Tamu2
agung itu seluruhnya terdiri dari empat orang, ber-turut2 adalah Kiau Goan-cong, Ki Goan-lun,
Thio Goan-kiat dan Nio Hoan-hian, yaitu empat murid utama dari Bu-tong-pay yang termashur itu.
Sebagai diketahui,Thio Goan-kiat adalah tunangan Giam Wan.
Kisah lampau yang menyedihkan sebenarnya sudah hanyut terbawa sang waktu yang lalu, tapi kini
mendadak terbayang kembali dalam benak Kok Ham-hi bersama datangnya keempat murid Butong-
pay itu. Adegan yang mendebarkan pada malam itu se-akan2 muncul kembali didepannya.
Waktuitu dia sedang mengadakan pertemuan gelap dengan Giam Wan, sedang tenggelam dilautan
asmara dan melupakan segalanya dan ketika mendadak muncul empat murid Bu-tong-pay termasuk
tunangan Giam Wan sendiri, tanpa memberi kesempatan bicara padanya terus menuduh mereka
sedang mengadakan perjinahan.
Gelombang cemburu itu telah berubah menjadi banjir darah, Kok Ham-hi dan Giam Wan terpaksa
harus bertempur melawan keempat murid utama Bu-tong-pay . Kok Ham-hi berhasil melukai Thio
Goan-kiat dan Kiau Goan-cong, tapi Goan-kiat secara keji juga telah menggores mukanya hingga
meninggalkan beberapa bekas luka yang bersilang, pemuda tampan Kok Ham-hi sejak itu telah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
berubah menjadi manusia yang bermuka buruk.
Kemudian datang pula ayah-ibu Giam Wan, sinona ditangkap pulang. Keempat murid Bu-tong-pay
juga pergi dengan rasa dendam, Kok Ham-hi juga terpaksa harus berpisah dengan kekasihnya dan
mengasingkan diri ketempat yang jauh. Tapi Giam Wan ternyata seorang gadis yang berani, dia
minggat dari rumah untuk mencarinya dan setelah berpisah empat tahun akhirnya kedua sejoli
berjumpa kembali. Gemblengan selama empat tahun itu tidak membikin goyah perasaan mereka,
bahkan cinta mereka bertambah kukuh dan melekat.
Kok Ham-hi mengira dengan demikian segala persoalan tentu menjadi beres, habis hujan terbitlah
terang, setelah merasakan pahit tinggallah merasakan manis. Siapa tahu dirumah Su Yong-wi ini
kembali kebentrok lagi dengan tunangan Giam Wan itu.
Waktu Thio Goan-kiat tinggalkan pergi dahulu pernah menyatakan tidak sudi beristrikan Giam Wan
lagi, Cuma pertunangan mereka belum diputuskan secara resmi, jadi secara adat dia masih bakal
suami Giam Wan.
“Aku harus menghindari dia atau tidak?” demikian timbul pertentangan batin Kok Ham-hi. Ia kenal
anak murid Bu-tong-pay itu berjiwa sempit, bila dirinya bersama Ci-suheng sedang mengemban
tugas penting, mana boleh meninggalkan urusan yang lebih penting hanya karena urusan pribadi?”
Selesai ragu2, sementara itu Su Yong-wi sudah membawa Kiau Goan-cong berempat ketengah
pesta dan disilahkan duduk.
Tuan rumah merasa sangat bangga mendapatkan kunjungan tokoh dunia persilatan yang termshur,
tak henti2nya ia mengucapkan terima kasih kepada Kiau Goan-cong berempat.
“Kami sengaja datang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Su-loenghiong.” Kata Goan-cong.
“Tapi sebenarnya kamipun ada sedikit urusan pribadi yang ingin minta bantuan Su-loenghiong.
Kami mencari seorang kenalan Thio-sute, mengingat pergaulan Su-loenghiong yang luas, bukan
mustahil orang inipun sekarang hadir disini.”
Su Yong-wi tanya siapakah nama orang yang dimaksud itu dan bagaimana ciri2nya.
“Orang ini bernama Kok Ham-hi, wajahnya sangat istimewa, terdapat beberapa goresan bekas
luka,” tutur Goan-kiat.
Cian Po yang ikut berjubel diantara tetamu dan berdiri dibelakang anak murid Su Yong-wi itu jadi
terkejut mendengar uraian Thio Goan-kiat, ia pikir orang bermuka codet yang dimaksudkan
bukankah laki2 she Kok yang datang bersamaku itu?
Dalam pada itu Thio Tik mendadak juga ingat, serunya, “Kok Ham-hi, Aha, kalau tidak keliru tadi
ada sebuah kartu nama yang pakai nama demikian, entah dia datang bersama siapa?”
Karena ingin cari muka, Cian Po lantas berteriak: “Kiau-tayhiap, Thio-tayhiap, segera aku
mengundangnya untuk bertemu dengan kalian.”
Sudah tentu Cian Po tidak tahu bahwa Kok Ham-hi adalah musuh Goan-kiat, sebaliknya ia sangat
senang, sebab dengan demikian iapun dapat menanjak menjadi sehabat dari tokoh2 cabang atas.
Dalam pada itu sesudah Ci In-hong melihat orang yang dahulu dipergoki dirumah Yang Thian-lui
itu serta dari pendengarannya sekarang diketahui orang itu she Loh, maka cepat2 ia menarik Kok
Ham-hi kepinggir ruangan, katanya dengansuara pelahan: “Melihat gelagatnya, orang she Loh yang
kucari itu agaknya mempunyai hubungan karib dengan Su Yong-wi. Agar tidak menimbulkan salah
paham, sebaliknya kita turun tangan secara mendadak, bekuk dia lebih dulu baru kemudian
memberi penjelasan kepada Su-loenghiong.”
Jilid 14 bagian kedua
Belum sempat Kok Ham-hi menceritakan permusuhannya dengan anak murid Bu-tong-pay itu,
tiba2 Cian Po sudah mendekati mereka sambil berseru, “Aha, Kok-heng, sobatmu Thio-samhiap
dari Bu-tong-pay sedang mencari engkau. Marilah lekas kesana !”
Mendengar itu, serentak tamu2 yang lain menyiak kesamping untuk memberi jalan kepada mereka,
sedangkan Thio Goan-kiat dan orang she Loh yang sementara itu sedang diperkenalkan kepada
jago2 Bu-tong-pay itu oleh tuan rumah serentak juga berbangkit dari tempat duduknya masing2
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
demi melihat Kok Ham-hi dan Ci In-hong.
Kedua mata Thio Goan-kiat melotot berapi, jengeknya kepada Kok ham-hi yang sementara itu
sudah mendekat: “Hm, Kok ham-hi, tentu kau tidak menyangka akan kepergok lagi disini bukan?
Cara bagaimana harus menjelaskan perhitungan kita, coba katakan saja!”
Hampir pada saat yang sama Ci In-hong juga sedang menjengek kepada orang she Loh yang
dicarinya tadi: “Hm, kau tentu tidak menyangka akan ketemu aku disini bukan?” ~ Habis itu
mendadak ia membentak. “Turun Tangan!”
Kedua pihak sama2 sedang bicara, maksud Ci in-hong menyuruh Kok ham-hi turun tangan bersama
untuk membekuk orang she Loh, tapi Thio Goan-kiat menyangka yang dimaksud adalah dia. Maka
ketika Kok ham-hi menghantam kearah orang she Loh, dengan cepat luar biasa pedang Thio Goankiat
juga menusuknya. Dan sekali Goan-kiat sudah bergerak, dengan sendirinya ketiga saudara
seperguruannya ikut turun tangan.
Dengan “Thian-lui-kang” gabungan Ci In-hong dan Kok ham-hi berdua sebenarnya jauh lebih dari
cukup untuk membekuk orang she Loh itu. Tapi pada saat yang hampir sama keempat jago muda
Bu-tong-pay, empat pedang mereka serentak menusuk kearah Kok Ham-hi dan Ci in-hong dengan
dahsyat.
Cepat Kok Ham-hi mendak kebawah terus menyikut, kontan Goan-kiat dipaksa melangkah mundur,
namun lengannya tergores luka juga oleh ujung pedang lawan, syukurlah tidak parah. Sedangkan
orang she Loh tergetar mundur tiga-empat langkah oleh pukulan Thian-lui-kang tadi.
Daya pukulan Thian-lui-kang sungguh amat dahsyat, terdengar suara ‘brak” yang keras. Kiau Goanlun
dan Nio Goan-hian juga tergetar mundur sebelum ujung pedang mereka mencapai sasarannya,
malah orang she Loh yang tergetar mundur tadi ternyata tetap tidak mampu menguasai diri, “bluk”,
ia jatuh terjengkang.
Sebagi tuan rumah, Su Yong-wi menjadi gusar dan segera mengadang didepan orang she Loh itu
sambil membentak: “Kalian berdua ini siapa? Apa kalian sengaja mengacau kesini? Apapun
urusannya lebih dulu hadapi aku yang sudah tua bangka ini !”
Melihat Su Yong-wi menampilkan diri bagi tetamunya, terpaksa Ci In-hong menahan Thian-luikang
mereka yang sudah siap dilontarkan lagi. Jawab In-hong dengan lantang: “Su-loengsiong
hendaknya jangan slah paham, dengarkan dudlu penjelasan kami!”
“Baik, aku memang ingin tahu duduknya perkara,” kata Su Yong-wi. “Thio-samhiap, orang macam
apakah sobat she kok yang kau cari itu?”
“Terus terang,orang she Kok ini adalah musuh yang merebut bakal istriku, dia adalah musuhku dan
musuh Bu-tong-pay kami,” jawaab Goan-kiat dengan penuh dendam.
“Thio Goan-kiat, persoalan kita boleh kita tundak sebentar,” seru Kok Ham-hi. “Nah, Suloenghiong
sesungguhnya kedatangan kami kesini bukanlah hendak mencari mereka berempat, tapi
yang kami tuju adalah ‘Loh-samya’ ini.”
Diam2 Su Yong-wi terkejut dan ragu2, bahwasanya Kok Ham-hi adalah musuh Bu-tong-pay, hal ini
harus diselesaikan oleh orang2 Bu-tong-pay sendiri. Tapi urusan Loh-samko betapapun aku tak
dapat tinggal diam. Demikian pikirnya didalam hati.
Dalam pada itu orang she Loh tadi juga lantas berseru: “SU-toako, engkau jangan percaya kepada
ocehan mereka yang ngawur!”
Hm, urusan kami belum lagi habis, bagaimana kau tahu kata2 kami hanya ocehan yang ngawur?”
jengek In-hong.
“Baik, apa yang hendak kau katakan,silahkan !” ujar Su Yong-wi.
“Numpang tanya dulu, siapakah ‘Loh-samya’ ini?” kata In-hong.
“Dia adalah saudara angkatku, mau apa?” jawab Su Yong-wi.
“Kalau tidak keliru, bukankah tahun yang lampau dia pernah memasukkan seorang murid baru bagi
Su-loenghiong? Jika tidak keberatan kami ingin berkenalan dengan ksatria muda tersebut.”
“Haha!” orang she Loh itu tertawa. “Kiranya kalian ingin berkenalan dengan Tay-wi. Coba maju,
Tay-wi, tanya mereka ada urusan apa mencari kau?”
Ucapan ini sungguh membikin Ci In-hong sangat terkejut,tidak mungkin bahwa Lau tay-wi adalah
agen rahasia musuh, sebab Lau tay-wi dikenalnya sebagai seorang perwira pasukan pergerakan,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kalau dia agen rahasia musuh, mengapa dia tidak tetap berada didalam pasukannya saja dan buat
apa menyusup ketengah keluarga Su?
Rupanya Lau tay-wi juga tidak kurang terkejutnya, tanpa terasa iapun berseru; “Ci-heng, tidak
betul!” ~ Iapun dapat menduga orang yang hendak dicari itu pastilah orang she Loh yang
dikenalnya ini. Ia pikir Loh-samya mana mungkin menjadi agen rahasia musuh.
“Hahaha! Kiranya kalian sudah saling kenal, urusan menjadi lebih mudah!” kembali orang she Loh
itu bergelak tertawa.
Dengan hati bimbang Ci In-hong berkata: “Adalah teman lain yang masuk perguruan bersama Lauheng
atas perantara Loh-samya ini?”
Lau Tay-wi mengerut kening sambil menggeleng: “Setahuku tiada orang lain,” jawabnya.
Tapi hati Su Yong-wi mendadak tergerak. Kiranya diantara enam murid baru yang diterimanya
tahun yang lalu itu, kecuali Lau Tay-wi memang masih ada seorang lagi yang diterimanya
mengingat ada hubungan dengan Loh-samya ini, Cuma resminya ‘loh-samya’ itu memang bukan
orang perantaranya.
“loh-samya” ini lengkapnya bernama Loh Hiang-ting, adalah saudara angkat Su yong-wi, namanya
cukup terkenal didaerah utara. Loh Hiang-ting sendiri mempunyai seorang sute, namanya Ting
Siau, sute dari murid paman guru,jadi bukan sute dari satu guru yang sama dengan Loh Hiang-ting.
Karena paman guru Loh Hiang-ting cukup banyak sehingga Su Yong-wi tidak jelas murid paman
gurunya yang mana Ting Siau itu.
Ting Siau tidak begitu terkenal didunia persilatan, dia punya keponakan bernama Ting Cin, atas
perantara Loh Hiang-ting itulah Ting Cin diterima Su Yong-wi sebagai murid. Dan Ting Cin inilah
agen rahasia yang diselundupkan kedalam keluarga Su sebagaimana dirundingkan oleh Loh Hiangting
dan Yang Thian-lui ketika dipergoki Ci In-hong itu.
Loh Hiang-ting memang licin, dia aktip dikalangan pendekar dan ada hubungan pula dengan
pimpinan pasukan pergerakan. Ia tahu pihak pergerakan ada maksud mengirim Lau tay-wi sebagai
murid Su Yong-wi, maka dengan suka hati ia mau menjadi perantaranya. Sedangkan masuknya
Ting Cin meski melalui Loh Hiang-ting juga, tapi resminya orang perantaranya adalah Ting Siau,
sebab itulah seluk beluk masuknya Ting Cin kedalam keluarga Su hanya diketahui Su Yong-wi
sendiri.
Tapi lantaran Su Yong-wi mempunyai hubungan persaudaraan selama berpuluh tahun dengan Loh
Hiang-ting, hakekatnya ia tidak pernah membayangkan bahwa saudara angkatnya itu adalah agen
rahasia pihak kim, lebih2 tidak mencurigai masuknya Ting Cin itu sebenarnya ada rencana keji
terhadapnya. Sedangkan Ci In-hong belum dikenalnya, dengan sendirinya dia takkan menerangkan
apa yang diketahuinya itu tentang Ting Cin.
Begitulah dengan angkuh Loh Hiang-ting lantas menjengek kepada Ci In-hong. “Nah, sekarang
segala sesuatu sudah jelas bagimu. Menjadi giliranku untuk menanyai kau. Coba jawab ada urusan
apa kau menyelidiki urusan diriku, terutama pada saat Su-toako sedang mengadakan pesta ulang
tahun ini?”
Ci In-hong pandang lagi orang she Loh itu, ia yakin benar2 memang inilah orang yang pernah
dikenalnya dirumah Yang thian-lui itu. Ia pikir urusan sudah begini, terpaksa aku harus
membongkar kepalsuannya secara terang2an. Maka iapun balas menjengek: “Hm, Loh-samya,
sebenarnya kitapun kenalan lama, masakah kau sudah lupa?”
Lantaran pihaknya sudah menang angin, dengan tenang Loh Hiang-ting lantas menjawab:
“Kenalanku entah betapa banyaknya aku memang tidak ingat lagi padamu. Numpang tanya
dimanakah kita pernah berkenalan?”
“Dikamar rahasia Yang Thian-lui, itu koksu dari kerajaan Kim!” sahut Ci In-hong dengan suara
keras.
Ucapan Ci In-hong ini serentak menimbulkan kegemparan para tetamu, menyusul lantas terdengar
suara caci maki disana sini. Tapi yang dimaki bukanlah Loh Hiang-ting melainkan Ci In-hong
malah.
Sebab tiada seorangpun yang mau percaya atas tuduhannya, bahkan tetamu itu membela Loh
Hiang-ting dan memaki Ci In-hong sebagai pengacau.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
In-hong tidak perduli caci maki orang2 itu , dengan suara lantang kembali ia berkata: “Malahan aku
sendiri mendengar dia berunding secara rahasia dengan Yang Thian-lui, mereka merencanakan
mengirim seorang mata2 ketempat Su-loenghiong ini. Agen rahasia ini adalah satu diantara enam
murid baru yang diterima Su-loenghiong tahun yang lalu!”
Karena In-hong bicara dengan tenaga lwekang yang kuat, maka setiap hadirin disitu dapat
mendengar dengan cukup jelas.
Akan tetapi mendadak terdengar suara gemerincik senjata, serentak ke-18 murid Su Yong-wi,
kecuali Lau-tay-wi saja, semuanya melolos senjata dan mengepung Ci in-hong berdua ditengah.
“Nanti dulu, biar kutanya lebih jelas!” bentak Su yong-wi. Lalu ia tuding In-hong dan berkata pula:
“Kau bilang pernah lihat mereka berunding ditempat Yang Thian-lui, lalu kau sendiri ini siapa?”
Belum lagi Ci In-hong menjawab, Loh Hiang-ting sudah lantas mendahului: “Masakah perlu
ditanya lagi, kalau dia dapat berada di tempat Yang Thian-lui dengan leluasa, dengan sendirinya dia
adalah orang sana. Hm, dari pukulannya yang dia unjuk tadi akupu nsudah tahu asal-usulnya!”
Tiba2 hati Su Yong-wi tergerak, katanya segera: “Yang kau maksudkan Thian-lui-kang bukan?”
“Tepat!” kata Loh Hiang-ting. “Kabarnya Yang thian-lui mempunyai seorng murid keponakan yang
bernama Ci In-hong, tentunya dia inilah orangnya.”
“Seorang laki2 sejati tidak perlu takut dikenal orang, memang betul, aku inilah Ci In-hong adanya,”
seru In-hong dengan gagah berani. “Tapi aku adalah sahabat pihak pasukan pergerakan dan
bukananjing pihak Kim. Anjing alap2 Kim tak lai tak bukan adalah ‘Loh-samya’ yang bagus ini!”
Ting Cin yang berada ditengah orang banyak mendadak berteriak: “Kita jangan percaya kepada
ocehannya dan jangan mau difitnah, marilah kita binasakan orang gila ini!”
“Nanti dulu!” cepat Lau Tay-wi mencegah. “Suhu, apa yang dikatakan Ci-heng ini memang benar.
Diam2 ia bekerja bagi pihak pergerakan walaupun resminya dia murid keponakan Yang Thian-lui
dan membantunya. Tentang Loh-samya, mungkin Ci-heng ini salah paham dan keliru
menuduhnya.”
“Sudah tentu fitnahnya kepada Loh-samya adalah palsu, kalau tidak, bukankah Lau-suheng menjadi
termasuk agen rahasia musuh pula? Seru Ting Cin.
“Apa yang dikatakan Tay-wi juga tidak keliru, Ci In-hong ini memang betul ada hubungan dengan
pihak pasukan pergerakan,” kata Loh Hiang-ting dengan nada mengejek. “Tapi sebenarnya dia
bukan kawan pihak pergerakan. Tay-wi, kalian semuanya telah tertipu olehnya.”
“Habis siapa dia?” tanya Tay-wi dengan terperanjat. Sebab meski di cukup kenal seluk beluk diri Ci
In-hong, tapi terhadap Loh Hiang-ting iapun tidak berani menaruh curiga, sebab itulah ia menjadi
serba bingung.
“Biasanya Loh-samko memang punya sumber berita yang dapat dipercaya, tentunya kau sudah tahu
jelas asal-usulnya?” kata Su Yong-wi.
“Benar,”jawab Loh Hiang-ting. “Tahun yang lalu aku berada di Taytoh aku memang sudah meraba
hingga jelas asal usulnya. Dia menggunakan tipu “Koh-bak-keh (tipu menyiksa diri), ia pura2
mengkhianati YangThian-lui agar dipercaya oleh pihak pergerakan. Padahal dia sampai sekarang
tetap menjadi kaki tangan pihak Kim.”
Dasar Loh Hiang-ting memang licin dan licik, dia berbalik menusuh Ci In-hong sebagi double agen
rahasia, tuduhan ini benar2 membikin sukar bagi Lau tay-wi untuk membelanya.
Sudah tentu apa yang dikatakan Loh Hiang-ting juga punya titik kelemahannya, tapi didalam
suasana panas itu jarang yang menaruh perhatian, bahkan kepungan terhadap Ci In-hong dan Kok
ham-hi semakin rapat dan tinggal menunggu perintah Su Yong-wi saja.
“Siapa yang memberitahukan padamu tentang diriku?” jawab In-hong. “Jika kau sudah tahu akan
tipu muslihatku, mengapa kau tidak lekas2 melaporkan kepada pihak Gi-kun (pasukan
pergerakan)?”
Pertanyaan In-hong itu sebenarnya tepat mengenai sasarannya, Cuma sayang, semua orang sudah
lebih dulu terpengaruh dibawah kata2 Loh Hiang-ting tadi, maka cuara caci maki orang banyak
berbalik menenggelamkan ucapan Ci In-hong itu, hakekatnya tiada yang mau mendengarkan
ucapannya.
Segera Ting Cin berteriak: “Tempat Suhu ini mana boleh diselundupi mata2 musuh sebagai kedua
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
bangsat ini ? Hayolah mampuskan mereka!”
“Baiklah, bekuk saja mereka!” kata Su Yong-wi. Betapapun dia adalah orang yang dapat berpikir,
meski dia tidak mencurigai Loh Hiang-ting, tapi samar2 iapun merasakan persoalannya tidak
sederhana, sebab itulah ia ingin tangkap dulu Ci In-hong berdua untuk diusut lebih lajut perkaranya.
Sekali Su Yong-wi memberikan aba2, serentak ke 17 muridnya lantas bergerak maju. Keempat jago
muda Bu-tong-pay juga lantas melolos pedang untuk mencegat jalan mundur Ci In-hong berdua
agar mereka tidak dapat membobol kepungan dan meloloskan diri.
Sudah tentu Ci In-hong dan Kok ham-hi pantang menyerah, daripada mati konyol, mereka lantas
melawan mati2an. Sementara itu golok Ting Cin yang per-tama2 menyamber kerah Ci In-hong.
Mendadak hati In-hong tergerak, ia heran mengapa orang ini jauh lebih ganas daripada kawan2nya.
Tiba2 ia mendapat akal, sambil berkelit ia terus menyusup maju, secepat kilat ia pegang
pergelangan tangan Ting Cin yang bernapsu menyerangnya itu, berbareng In-hong terus angkat
tubuh Ting Cin yang takdapat berkutik itu.
Menyusul terdengarlah suara menderingnya senjata yang saling beradu, kiranya belasan murid Su
Yong-wi itu tidak sempat menarik kembali serangan mereka, senjata mereka tetap menghujani
sasarannya, karena kuatir mengenai Ting Cin,lekas2 Su Yong-wi dan keempat jago muda Bu-tongpay
terpaksa menangkiskan serangan teman2 sendiri itu sehingga Ci In-hong dan Kok Ham-hi tidak
perlu turun tangan malah.
“Lepaskan muridku!” bentak Su Yong-wi.
“Permintaan Su-loenghiong sudah tentu akan kuturuti,” sahut In-hong. “Tetapi tentang asal-usul
muridmu ini harus diterangkan dulu apakah ada hubungannya dengan Loh-samya ini?”
Tergerak pula hati Su Yong-wi, ia merasa heran dan sangsi pula, sebab masuknya Ting Cin
kedalam perguruannya memang benar adalah melalui perantaraan Loh Hiang-ting. Tapi harga diri
Su Yong-wi tidak dapat menyerah karena digertak, dengan gusar ia menjawab: “Soal muridku
peduli apa dengan kau! Lekas lepaskan dia!”
“Tindakan kami ini hanya terpaksa,” kata In-hong dengan tertawa. “Jika Su-loenghiong tidak mau
menerangkan asal usul muridmu ini terpaksa kami membawanya pergi.”
“Menangkap sute kami yang baru, kalian terhitung orang gagah macam apa pula?” ejek Thio Tik.
“Kalian sendiri main kerubut, terhitung orang gagah macam apa?” jawab Kok Ham Hi dengan
tajam.
Wajah Su Yong-wi menjadi merah padam, bentaknya: “Baik, kalian mundur semua, biar aku sendiri
menghadapi dua ksatria ini. Asalkan salah seorang kalian sanggup mengalahkan golokku ini, segera
aku akan membuka pintu lebar2, kami guru dan murid pasti takkan merintangi kepergian kalian.”
Nyata, dibalik ucapannya yang “Pasti takkan merintangi” itu telah ditambahkan pula “kami guru
dan murid”, jadi tidak termasuk tetamunya andaikan ada diantaranya hendak merintangi kepergian
Ci In-hong berdua.
Maka Kiau Goan-cong lantas berkata: “Sembelih ayam tidak perlu pakai golok jagal, kami
berempat orang Bu-tong-pay ada permusuhan dengan orang she Kok ini, maka kami siap
menggantikan Su-loenghiong untuk menyelesaikan urusan ini.”
“Baik, boleh kau katakan caranya!” seru Kok ham-hi.
“Kami berempat ada saudara seperguruan, begitu pula kalian berdua, maka kebetulan kita boleh
coba2 menentukan pihak siapa yang lebih unggul,” kata Goan-cong.
“O,jadi maksudmu kalian berempat hendak menandingi kami berdua,” jengek Ham-hi. “Bagus,
inipun sangat adil sekali.”
Muka Kiau Goan-cong menjadi merah, katanya pula: “Kau adalah musuh umum Bu-tong-pay kami,
tak dapat kami bicara tentang peraturan kangouw dengan kau.”
“Bagus, orang Bu-tong-pay memang paling mengutamakan keadilan,” jengek Kok Ham-hi. “Tapi
ada sesuatu kami ingin tahu dengan pasti. Umpamanya, jika pertandingan nanti kami yang kalah,
maka kami akan pasrahkan nasib kepada kalian. Tapi sebaliknya kalau beruntung kami yang
menang, lalu bagaimana? Apakah kami harus bertempur lagi melawan Su-loenghiong dan
murid2nya?”
“Hm, janganlah kau terlalu menghina diriku,” kata Su Yong-wi dengan gusar. “Dengan kepandaian
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
apa kalian mampu mengalahkan Bu-tong-si-hiap?” Tapi bila kalian benar2 sanggup lolos dibawah
pedang keempat jago muda Bu-tong-pay, maka aku pasti akan membuka pintu lebar2 dan
mengantar keberangkatan kalian dengan hormat.”
Kiranya Su Yong-wi tadi sudah merasakan betapa lihainya Thian-lui-kang, ia merasa tidak yakin
akan dapat mengalahkan Ci In-hong berdua, sebab itulah Ia lebih suka membiarkan Bu-tong-si-hiap
menanggung urusan ini. Menurut perkiraannya, dengan gabungan kekuatan empat pendekar muda
Bu-tong-pay itu tentu akan dapat menang.”
“Bagus, beginilah persetujuan kita,” kata In-hong. “Tapi disini bukan tempat pertandingan yang
baik.”
“Ya, kitaboleh keluar sana agar tidak merusak ruangan pesta Su-loenghiong,”kata Thio Goan-kiat.
Diam2 Kok Ham-hi heran mengapa lawannya itu begitu garang, padahal Goan-kiat pernah
kecundang ditangannya. Apa barangkali akhir2 ini lawannya itu berhasil meyakinkan sesuatu ilmu
baru?”
Begitulah Su Yong-wi lantas membawa kedua pihak menuju kelapangan berlatih didalam taman
bagian belakang.
Ilmu pedang Bu-tong-pay termashur diseluruh jagat, tapi sekarang keempat jago muda Bu-tong-pay
justru akan bergabung untuk menghadapi dua lawan yang tak terkenal asal usulnya, tentu saja para
tetamu sama heran. Dengan sendirinya mereka pun tidak melewatkan kesempatan bagus ini untuk
menyaksikan pertandingan seru ini, maka ber-bondong2 para tamu lantas ikut ketaman.
Bu-tong-si-hioa ambil posisi mengepung, lalu Kiau Goan-cong berkata: “Hayolah kalian mulai
dulu, memangnya mau tunggu apa lagi?” ~ Dia yakin pihaknya pasti akan menang, maka sengaja
berlagak bermurah hati membiarkan pihak lawan menyerang lebih dulu.
Dalam pada itu CiIn-hong telah mengedipi Kok Ham-hi, lalu Kok Ham-hi mengerut kening, tapi
segera mengangguk tanda setuju.
“Hm, kalian jangan main sandiwara, mulailah lekas!” ejek Goan-cong.
“Sebenarnya maksud Suhengku hendak mengampuni jiwamu, lantaran kau sembarangan mengoceh,
maka kukatakan terus terang padamu,” jawab Kok Ham-hi. “Nah, sekarang terimalah serangan
kami!”
Berbareng Kok Ham-hi berdua lantas melolos pedang, ditengah samberan pedang disertai pula
pukulan, sepasang pedang dan dua tangan serentak menyerang sekaligus. Sinar pedang berkelebat,
angin pukulan menderu, dalam jarak seputar beberapa meter berjangkitlah samberan angin yang
kuat hingga para penonton terpaksa melangkah mundur.
“Hm, Thian-lui-kang kalian bisa berbuat apa terhadapku?” jengek Goan-cong, walaupun demikian
tidak urung pedangnya yang menusuk kearah Kok Ham-hi terguncang menceng juga oleh tenaga
pukulan Ci In-hong berdua.
Kok Ham-hi cukup kenal kelicikan dan kesempitan jiwa Kiau Goan-cong yang sukar diinsyafkan
akan kesalahannya, ia pikir tangkap penjahat harus tangkap kepalanya, asal orang she Kiau ini
tertawan, tentu barisan pedangmereka akan kacau balau sendiri. Tapi tak terpikir olehnya bahwa
sebabnya Kiau Goan-cong berani pimpin ketia sutenya untuk mencari balas padanya, dengan
sendirinya merekapun yakin akan kemenangan dipihaknya.
Begitulah ketika serangan Kiau Goan-cong tadi tidak mengenai sasarannya, segera ia menggeser
kesamping dan menyusul Ki Goan-lun lantas menyerang. Waktu Kok Ham-hi memapak dengan
tangan pukulannya, tiba2 dari belakang terasa ada angin menyamber tiba, kiranya pedang Thio
Goan-kiat dan Nio Goan-hian telah menusuk berbareng kearahnya.
Serangan kedua orang out cukup ganas dan memaksa Kok Ham-hi harus menyelamatkan diri lebih
dulu. Terpaksa memutar tangannya dan balas memotong kebelakang, ia serang lengan Nio Goanhian
sebagai imbangan tusukan pedang lawan, berbareng itu pedang Kok Ham-hi juga lantas
menangkis “trang”, serangan Thio Goan-kiat telah dipatahkan pula. Pada saat yang sama Ki Goanlun
dan Kiau Goan-cong juga mulai melancarkan serangan kepada Ci in-hong.
Maka terdengarlah suara menderingnya senjata yang nyaring memekak telinga, keempat jago Butong-
pay tampak ber-putar2 kian kemari dengan pedang mereka yang bergerak cepat hingga terjalin
sebuah “jaringan pedang”, dalam sekejap saja keempat orang telah sama melancarkan 6 X 6 = 36
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
jurus.
Kiranya sesudah mengalami kekalahan dahulu, Kiau Goan-cong berempat menyadari benar2 bila
mereka harus melawan Kok ham-hi satu persatu betapapun tidak sanggup menandinginya, sebab
itulah sepulangnya mereka ke Bu-tong-san mereka lantas minta belajar lebih mendalam kepada
Suhu dan Susiok mereka, setelah giat berlatih selama empat tahun, mereka berhasil menjalin sebuah
“Kiam-tin” (barisan pedang) yang dimainkan empat orang sekaligus. Permainan barisan pedang
mereka ini teratur dengan sangat rapi, yang satu maju dan yang lain harus mundur, setiap gerakan
didasarkan atas perhitungan Pat-kwa.
Bagi pandangan orang lain, mereka terlihat menggeser kian kemari tak teratur, tapi bagi orang yang
terkepung ditengah barisan pedang mereka boleh dikata sukar meloloskan diri karena laksana
terkepung oleh dinding baja.
Begitulah dalam sekejap itu seluruh lapangan seakan penuh oleh sinar pedang yang bergemerlapan
menyilaukan mata. Pertarungan enam orang itu berlangsung dengan dahsyat sehingga laksana
pertempuran sengit dimedan perang yang dilakukan oleh be-ribu2 prajurit. Para penonton sampai
ternganga menyaksikan pertempuran seru itu dan masing2 sama menahan napas.
“Kok-sute, bertahan dulu baru kemudian menyerang!” seru In-hong dengan suara tertahan kepada
Kok Ham-hi.
Segera kedua orang punggung beradu punggung, pedang mereka berputar secepat angin, terdengar
suara mendering beradunya senjata yang mengilukan. Selang sebentar lagi, se-konyong2 Ci in-hong
berdua membentak keras2, berbareng mereka menghantam ditengah samberan sinar pedang mereka.
“Thian-lui-kang” yang dahsyat telah mereka keluarkan.
Samberan angin pukulan dan sinar pedang yang dahsyat itu memaksa keempat jago muda Bu-tongpay
itu terpaksa melangkah mundur, tapi dengan cepat mereka lantas mendesak maju lagi. “Serang
mereka dengan gerak cepat, jangan memberikan kelonggaran kepada mereka!” seru Kiau Goancong
kepada ketiga sutenya.
Kalau tadi begitu maju Ci In-hong berdua lantas mengeluarkan jurus “Lui-tian-kau-hong” yang
dahsyat dari Thian-lui-kang mereka itu, yaitu sebelum barisan pedang lawan sempat teratur dengan
rapat, maka bagi Nio Goan-hian dan Ki Goan-lun yang lebih lemah itu tentu sukar menghadapi
pukulan Lui-tian-kau-hong yang dahsyat dan mungkin akan terluka, dengan begitu kemenangan
pasti juga akan berada dipuhak Ci In-hong. Tapi lantaran pukulan Lui-tian-kau-hong itu terlalu
dahsyat, In-hong berdua harus memikirkan akibatnya bila anak murid Bu-tong-pay itu terpukul mati
atau terluka parah sehingga permusuhan mereka dengan Bu-tong-pay akan berarti sukar diredakan.
Dan sekarang barisan pedang pihak lawan sudah bekerja, terpaksa Ci In-hong berdua mengeluarkan
Thian-lui-kang untuk melunakkan daya tekanan lawan, tapi sukar untuk membobol barisan pedang
yang rapat itu. Apalagi mereka juga belum berani menggunakan jurus “Lui-tian-kau-hong” yang
dahsyat.
Sebaliknya Kiau Goan-cong sama sekali tidak kenal ampun, begitu mereka berada diatas angin,
segera ia menyerukan sutenya menyerang lebih gencar. Barisan pedang mereka semakin beputar
makin cepat dan lingkaran kepungan merekapun makin menciut. Empat batang pedang mereka
menyamber kian kemari laksana seorang saja yang memainkan ilmu pedan gyang ruwet dan lihai,
segenap penjuru se-akan2 penuh dengan bayangan keempat orang jago Bu-tong itu.
Kok Ham-hi dan Ci in-hong ternyat diserang hingga sukar bernapas, tapi untuk sama sekali
melumpuhkan Kok Ham-hi berdua rasanya juga sulit bagi Kiau Goan-cong berempat.
Melihat pertarungan seru itu, para penonton sampai kesima, banyak diantaranya lantas memberi
komentar dan pujian kepada ilmu pedang Bu-tong-pay yang dikatakan luar biasa itu, bahkan ada
diantaranya menyindir pula kepada Kok Ham-hi berdua yang tampak terdesak itu.
Hanya Su Yong-wi saja yang merasa kuatir malah, dia percaya Ci In-hong dan Kok ham-hi masih
belum mengerahkan seluruh kekuatan Thian-lui-kangnya, meski barisan paedang Bu-tong-pay itu
sangat lihai,tapi kalau kedua lawannya mengeluarkan segenap kekuatan Thian-lui-kang, biarpun
takdapat mematahkan barisan pedang itu sedikitnya kedua pihak akan hancur bersama. Namun Su
Yong-wi merasa tidak sanggup memisah pertarungan sengit itu, maka ia hanya gelisah sendiri tanpa
berdaya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sejenak kemudian, tiba2 terdengar suara “bret” sepotong lengan baju Kok Ham-hi terpapas robek
oelh pedang Thio Goan-kiat. Mestinya Goan-kiat mengira sebelah lengan lawan pasti akan
terkutung, tapi ternyata meleset dan Cuma lengan bajunya saja yang tertabas , diam2 ia merasa
sayang, dengan gemas kembali ia menyerang dengan lebih gencar.
Kok Ham-hi menjadi murka juga, mendadak ia berteriak: “Suheng, Lui-tian-kau-hong!”
Ditengah teriakannya itu pukulan Kok Ham-hi berdua lantas dilontarkan dengan kuat dan membawa
suara menderu. Kebetulan waktu itu Kiau Goan-cong dan Ki Goan-lun sedang menyerang dari
depan, seketika mereka disamber oelh angin pukulan yang dahsyat, dada serasa kena digodam.
Keruan Goan-cong berdua terkejut, lekas2 mereka memutar pedang dan menyerang dengan
mati2an. Sementara itu Goan-kiat dan Goan-hian juga sudah menubrukmaju dari kiri dan kanan,
pedang Goan-kiat mengarah punggung Kok Ham-hi dan pedang Goan-hian mengincar tulang
pundak kanan Ci in-hong.
Dalam keadaan begitu, tampaknya kedua pihak pasti akan sama2 terluka atau bahkan gugur
bersama, keruan Su Yong-wi kelabakan saking kuatirnya, tapi apa daya ia sendiri merasa tidak
sanggup memisah kalau maju begitu saja mungkin jiwa sendiri akan melayang percuma malah.
Pada detik yang berbahaya itulah se-konyong2 ditengah orang banyak melayang maju dua sosok
bayangan secepat terbang, yang seorang hinggap disamping Kiau Goan-cong dan yang lain berdiri
di pihak Kok Ham-hi sana. Yang duluan membantu Goan-cong menahan pukulan Thian-lui-kang,
sedang yang kedua memutar pedangnya untuk membantu Kok Ham-hi mematahkan serangan
Goan-kiat tadi.
Munculnya kedua orang itu terlalu cepat hingga sebelum orang melihat jelas tahu2 Kok Ham-hi
berdua tergetar mundur, begitu pula Kiau Goan-cong dan ki Goan-lun terdesak mundur beberapa
tindak.
Disebelah lain pedang Goan-kiat yang menusuk punggung musuh tadi juga tertangkis dan terpental
balik, untung dia keburu menahan pedangnya sehingga senjata tidak sampai makan tuannya. Begitu
cepat permainan pedang itu, sekali serangan Goan-kiat dipatahkan, segera pedangnya berputar dan
pedang Goan-hian juga tersampauk kesamping.
“Terima kasih atas pertolongan saudara!” kata Goan-cong sesudah berdiri tenang.
Sebaliknya Goan-koiat lantas membentak: “Siapa kau, berani kau memusuhi anak murid Bu-tongpay
kami?”
Sementara itu rasa kejut Su Yong-wi baru lenyap dan dapat melihat jelas siapa kedua orang
pemisah itu, ia berseru heran: “Eh, bukankah kalian ini Liu-tocu dan Cui-tocu? Bilakah kalian
tiba?”
Kedua orang itu lantas menarik kembali pukulannya dan yang lain memasukkan pedang ke
sarungnya. Lalu oran yang berpedang menjawab dengan tertawa: “Harap Tio-samhiap jangan
marah, maksud kami hanya menjadi juru damai saja dan tiada maksud memusuhi anak murid Butong-
pay. Cayhe Liu Tong-thian adanya dan ini adalah suteku, Cui Tin-san.
Agaknya ketika Liu Tong-thian berdua datang keadaan ditengah kalangan pertandingan sedang
berlangsung dengan sengitnya sehingga orang lain tidak memperhatikan mereka. Liu Tong-thian
berdua sudah pernah bergebrak dengan Ci in-hong ketika mereka menghadiri Lok-lim-tay-hwe
(pertemuan besar kaum Lok-lim) di Long-sia-san tempo hari. Waktu itu Cui Tin-san bertanding
ilmu pukulan dengan Ci In-hong dan kalah satu jurus. Sedangkan Liu Tong-thian bertanding pedang
dengan Ci In-hong dan menang satu jurus.
Cui Tin-san dan Liu Tong-thian berdua terhitung ksatria sejati, sekali salah membantu Tun-ih ciu
dan mengetahui persekongkolan Tun-ih Ciu dengan musuh, segera kedua orang merasa menyesal
dan mengundurkan diri. Karena itu sekarang demi melihat Ci In-hong berdua dikerubut oleh anak
murid Bu-tong-pay, mereka berdua lantas tampil kemuka untuk memisahkan pertarungan sengit itu.
Dengan kekuatan mereka berdua, yang satu membantu menahan Thian-lui-kang yang dilancarkan
Ci In-hong dan Kok Ham-hi, sedang seorang lagi membantu Kok Ham-hi mematahkan serangan
Thio goan-kiat. Jadi mereka memisah secara adil tanpa membela salah satu pihak, ini membuktikn
kejujuran mereka sebagai juru damai. Sebab itulah walaupun Thio Goan-kiat merasa gemas, tapi
juga tak dapat berbuat apa2.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Entah sebab apa Bu-tong-si-hiap terjadi salah paham dengan Ci In-hong berdua?” demikian Liu
Tong-thian lantas bertanya.
Sebagai kepala Bu-tong-si-hiap, segera Kiau Goan-cong menjawab: “Tingkah laku orang she Kok
ini tidak pantas, dia telah merebut tunangan Suteku, bahkan pernah menganiaya dua orang Suteku
yang lain. Untuk penghinaan ini masakah anak murid Bu-tong dapat tinggal diam? Maksud baik
kalian berdua sebagai juru damai harus dipuji, tapi persoalan kami ini sebaiknya kalian jangan ikut
campur.”
“Tunangan Thio-samhiap bukankah putri Giam-say-hiap?” tanya Liu Tong-thian.
“Benar,” kata Goan-cong pula sebelum Goan-kiat mengiakan. “Setelah kalian mengetahui
persoalannya, tentu pula kalian mengetahui juga bahwa kesalahan bukan terletak pada pihak kami.”
“Kabarnya Thio-samhiap sudah mengnyatakan membatalkan pertunangan kepada Giam-tayhiap,
entah betul tidak hal ini?” tanya pula Liu Tong-thian.
Sebabnya Goan-kiat tadi tidak mendahului menjawab justru karena alasan yang disebut Liu Tongthian
ini. Maka dengan gusar berkatalah dia: “Memang betul. Setelah kedua binatang itu melakukan
perbuatan yang tidak tahu malu itu, masakah aku masih sudi menikahi perempuan hina dina itu?”
“Thio Goan-kiat,hendaklah mulutmu dicuci bersih dahulu,: damprat Kok Ham-hi dengan gusar.
“Hendaklah saudara2 jangan bertengkar dulu,” sela Liu Tong-thian. “Jadi jelasnya Giam-socia itu
dengan sukarela telah memilih Kok-heng ini. Seorang laki2 sejati kenapa mesti takut tidak
mendapatkan istri? Kalau hati Giam-socia sudah diserahkan kepada orang lain, buat apa Thio-heng
mesti memikirkannya pula?”
“Perempuan hina itu sudah tentu aku tidak sudi tadi, tapi dendamku ini harus kulampiaskan,” kata
Goan-kiat dengan gemas.
“Tapi sekarang kita harus menghadapi musuh bersama, persengketaan pribadi tentunya dapat
dikesampingkan untuk sementara. Harap Bu-tong-si-hiap suka berpikir lebih mendalam dan
pertimbangkan masak2,” ujar Liu Tong-thian.
Cui Tin-san adalah laki2 yang berwatak keras, dengan tak sabar ia lantas menyela: “Jika saudara2
tidak dapat didamaikan, maka boleh kalian bertarung lagi. Cuma menurut penilaianku kedua pihak
kalian sukar untuk mengalahkan pihak yang lain, paling2 akan berakhir dengan hancur bersama.”
Sebagai orang yang telah menahan pukulan Thian-lui-kang bagi Coan-cong tadi, Cui Tin-san tahu
bila dia tidak membantunya mungkin tadi Goan-cong sudah terluka parah andaikan tidak mati.
Kenyataan ini betapapu tak dapat dibantah oleh Kiau Goan-cong, apalagi dia adalah bakal ahli
waris Bu-tong-pay, sudah tentu ia mesti berpikir dua kali sebelum mati konyol secara sia2.
Karena itu terpaksa Kiau Goan-cong mundur teratur, katanya kemudian: “Baiklah, mengingat
maksud baik Liu-tocu berdua, persoalan kami ini untuk sementara dapat kami kesampingkan.
Bagaimana jadinya dikemudian hari biarlah kita tunggu saja.”
“Terima kasih atas penghargaan Kiau-tayhiap kepada kami,” kata Liu Tong-thian.
Karena pertarungan itu takdapat berlangsung lagi, Kiau Goan-cong merasa kehilangan muka, segera
ia mohon diri kepada Su Yong-wi dan pergi bersama ketiga sutenya.
“Habis gelap trbitlah terang, kini urusan sedah beres, sudah waktunya untuk memberikan selamat
kepada ulang tahun Su-loenghiong,” demikian Liu Tong-thian lantas berseru kepada orang banyak.
“Ci-heng dan Kok-heng, marilah berkenalan dengan tuan rumah.”
Liu Tong-thian mengira persoalan dapat diselesaikan begitu saja, tak terduga Su Yong-wi tetap
bersikap dingin saja, tiba2 ia berkata: “Nanti dulu!”
Keruan Liu Tong-thian melengak, tanyanya: “Adakah sesuatu petunjuk Su-loenghiong?”
“Sengketa pribadi, boleh diakhiri, tapi urusan lebih penting bagaimana menyelesaikannya?” kata Su
Yong-wi.
“Urusan penting apa maksud Su-loenghiong?” tanya Liu Tong-thian.
“Ci In-hong adalah murid keponakan Yang Thian-lui, apakah Liu-tocu mengetahui hal ini?” kata
tuan rumah pula.
“Agaknya kalian telah salah paham,” ujar Liu Tong-thian dengan tertawa. “Hendaklah Suloenghiong
mengetahui bahwa sekarang Ci-heng adalah pembantu utama Bengcu baru Li Su-lam,
dia pernah bekerja bagi Yang Thian-lui adalah karena sengaja ditugaskan oleh gurunya, tapi diam2
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dia mengadakan hubungan rahasia dengan pihak pasukan pergerakan. Bahkan saat ini dia sedang
melaksanakan sesuatu tugas penting bagi kita. Cuma belum tiba waktunya sehingga aku takdapat
menerangkan urusan penting yang dimaksud itu.”
Bahwa keterangan Liu Tong-thian ternyata cocok dengan keterangan Lau Tay-wi tadi tentang diri
Ci In-hong, mau tak mau Su Yong-wi menjadi terkejut, ia pikir apakah Loh-samko yang berdusta
padaku dengan maksud memfitnah orang she Ci ini. Bahkan yang lebih mengejutkan para tetamu
adalah keterangan Liu Tong-thian tentang diri Ci In-hong sebagai pembantu utama Li Su-lam.
Segera Su Yong-wi berkata pula : “Maafkan bila aku terlalu rewel, tapi soalnya menyangkut
keselamatan kita bersama. Tentang keterangan Liu-tocu tadi darimana Liu-tocu mendengarnya?”
“Bukan mendengar, tapi aku menyaksikan sendiri,” kata Liu Tong-thian. “Bahkan belum lama ini
aku baru datang dari Long-sia-san, maka aku berani menjamin akan kebenaran keteranganku tadi
atas diri Ci-heng, bilama perlu aku dapat mengemukakan pula seorang tokoh lain sebagai
penjamin.”
“Siapa?” tanya Su Yong-wi.
“Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang!” sehut Liu Tong-thian. “Beng Siau-kang sendiri yang
menceritakan padaku tentang asal usul Ci-heng serta tugas penting yang diembannya.”
Baru sekarang Kok Ham-hi tahu bahwa Liu Tong-thian berdua kiranya baru saja datang dari Longsia-
san, pantas mereka mengetahui urusanku dengan Giam Wan.
Liu Tong-thian sendiri terkenal ilmu pedangnya sudah lama namanya berkumandang didunia
kangouw, sekarang ditambah lagi nama Beng Siau-kang, mau tak mau para tetamu percaya kepada
keterangannya tadi.
Maka berkatalah Su Yong-wi akhirnya: “Jika demikian, mungkin benar aku telah salah paham. Eh,
dimanakah Loh-samya?” ~ Ia bermaksud suruh Loh Hiang-ting memberi kesaksian lebih jauh, tapi
Loh Hiang-ting ternyata sudah mengeluyur pergi, bahkan Ting Cin juga ikut menghilang. Rupanya
begitu munculnya Liu Tong-thian berdua, Loh Hiang-ting merasa gelagat jelek, maka cepat2 ia
kabur bersama Ting Cin.
Lau Tay-wi menjadi kaget juga, katanya dengan ragu2: “Suhu, tampaknya ……. “
Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dan dapat berpikir, diam2 Su Yong-wi merasa malu
diri katanya kemudian: “Kini urusan sudah menjadi jelas, tidak perlu disangsikan lagi bahwa
mereka berdua pasti agen rahasia musuh. Sungguh menyesal aku telah kena dikelabui mereka dan
hampir2 membikin susah orang baik.” ~ Habis itu iapun minta maaf kepada Ci In-hong dan Kok
Ham-hi.
Dengan rendah hati Ci In-hong menjawab: “Ah, memang sukar membedakan orang jahat atau orang
baik, adalah biasa jika terjadi salah paham.”
“Sungguh aku harus berterima kasih padamu, bila kalian tidak keburu tiba dan membongkar kedok
mereka, mungkin akibatnya aku akan hancur lebur terjerumus kedalam perangkap musuh,” kata Su
Yong-wi.
Setelah persoalan Loh Hiang-ting dan Ting Cin menjadi jelas, maka semua orang lantas kembali
keruangan pesta untuk memberikan selamat ulang tahun kepada Su Yong-wi, suasana perjamuan
berlangsung dengan meriah.
Sehabis perjamuan Liu Tong-thian berkata kepada Ci In-hong: “Sungguh tidak terduga akan
bertemu kau disini, ada suatu urusan aku justru ingin berunding dengan kau.”
“Urusan apa?” tanya In-hong.
“Urusan yang menyangkut Yang Thian-lui,” jawab Liu Tong-thian. “Kalian berdua beremaksud
mengadakan pembersihan pintu perguruan sendiri, Beng-tayhiap telah memberitahukan hal ini
kepadaku.”
Ci In-hong merasa girang, segera ia pinjam sebuah kamar rahasia kepada tuanrumah, lalu bersama
KokHam-hi serta Liu Tong-thian dan Cui Tin-san berempat lantas mengadakan perundingan rahasia
dalam kamar itu.
“Sebenarnya urusan ini semula kamipun tidak pernah memikirkannya,” tutur Liu Tong-thian. “Lalu
apa sebabnya coba kau terka? Ternyata keparat Yang Thian-lui itu benar2 telah pepet pikiran dan
menyangka kami berdua juga kemaruk harta dan pangkat seperti dia, maka dia telah “penujui
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kami”.
“Haha, mungkin dia mendapat laporan bahwa kalian pernah membantu Tun-ih Ciu, makanya
mengira kalianpun dapat diperalat olehnya,” kata In-hong dengan tertawa.
“Sebabnya kami membantu Tun-ih Ciu waktu itu sebenarnya karena timbul dari rasa setia kawan
saja, tatkala itu kami sama sekali tidak mengetahui akan persekongkolannya dengan pihak musuh,”
kata Liu Tong-thian.
“Kami paham,Liu-heng tidak perlu memberi penjelasan lagi,” kata In-hong. “Sekarang mohon
engkau menerangkan saja mengapa Yang Thian-lui mencari kalian dan apa maksud tujuannya?”
“Dia mengutus seorang wakil untuk menghubungi kami dengan macam2 janji muluk2 asalkan kami
mau membantunya secara diam2,” tutur Liu Tong-thian.
“Tegasnya dia menghendaki kami menjadi agen rahasianya dan kami tetap bertahan dalam
kedudukan kami didunia kangouw seperti biasa,” Cui Tin-san menambahkan dengan tertawa.
“Lalu cara bagaimana kalian menghadapi bujukannya?” tanya In-hong.
“Waktu itu sebenarnya aku bermaksud membinasakan utusan itu, tapi Liu-suheng tidak setuju,”
tutur Cui Tin-san.
“Ya, sebab kupikir kenapa tidak berbalik mengakali dia dengan cara yang sama,” kata Liu Tongthian.
“Sebab itulah aku tidak memberi reaksi apa2, malahan aku melayani utusan itu dengan sangat
hormat. Aku menyatakan urusannya teramat penting, maka aku perlu brpikir lebih mendalam, aku
mengatakan paling baik kalau Yang-koksu sudi datang ketempat kami untuk bicara secara
langsung.”
“Akal inipun pernah dipakai oleh Toh An-peng dari Hui-liong-san,” kata In-hong.
“Toh An-peng telah bersekongkol dengan Yang Thian-lui dan memancing Li-bengcu ketempatnya.
Peristiwa ini mungkin kalianpun sudah mengetahui.”
“Sesudah kami datang ke Long-sia-san barulah kami mendapat tahu dari Li-bengcu,” sahut Tin-san.
“Dan akal yang mereka sendiri pernah gunakan apakah bangsat tua Yang Thian-lui itu mau masuk
perangkap begitu saja?” ujar In-hong.
“Li-bengcu juga berkata demikian, tapi tiada halangannya dicoba dan lihat saja bagaimana
jawabnya,” kata Liu Tong-thian. “Waktu itu kami telah berjanji kepada utusan itu agar memberi
kabar jawaban dalam waktu tiga bulan. Dan begitu utusan itu berangkat pulang segera kami menuju
Long-sia-san untuk melaporkan kejadian itu kepada Li-bengcu. Dari Li-bengcu kami sudah
mendapat kesanggupan akan mengirim bala bantuan bila tiba waktunya. Soalnya tinggal Yang
Thian-lui mau masuk perangkap atau tidak. Li-bengcu juga menyatakan sayang kalian tidak berada
ditempat sehingga kehilangan kesempatan yang bagus. Tak terduga disini pula kami dapat bertemu
dengan kalian.”
“Ya, kalau Yang Thian-lui mau masuk perangkap, kami dapat bersembunyi di tempat kalian untuk
membereskan dia sehingga akan banyak hemat tenaga dan waktu bagi kami.” Kata In-hong.
“Umpama dia tidak mau masuk perangkap tentu juga akan memberi jawaban,” ujar Kok ham-hi.
“Kita tunggu saja bagaimana jawabannya, lalu mengatur siasat lebih jauh.”
“Benar, biarpun bangsat tua itu banyak tipu muslihatnya, sedikitnya iapun belum tahu pasti akan
haluan kami,” kata Liu Tong-thian.
“Sampai sekarang jarak janji tiga bulan itu masih ada berapa hari lagi?” tanya In-hong.
“Belum ada sebulan lamanya, jadi kami masih ada waktu dua bulan lebih,” sahut Liu Tong-thian.
“bagus, jika demikian cukup bagi kami untuk pulang memberi lapor kepada guruku, habis itu baru
kami datang ketempat Liu-tocu,” kata In-hong.
Tiba2 Liu Tong-thian teringat sesuatu, serunya: “Wah, celaka !”
“Ada apa?” tanya Cui Tin-san.
“Kita menjadi lupa akan kaburnya Loh Hiang-ting dan Ting Cin berdua tadi,” kata Liu Tong-thian.
“Kita telah tampil kemuka untuk membela Ci-heng tadi, hal ini oleh mereka tentu akan dilaporkan
kepada Yang Thian-lui.”
“Rasanya Su-loenghiong pasti takkan melepaskan kedua orang itu,” ujar Cui Tin-san. “Dengan
bantuan para tamu serta ke-17 anak muridnya, kukira kedua bangsat itu takkan lolos begitu saja.”
“Andaikan mereka berhasil lolos dan pulang ke Taytoh, lalu bagaimana kan urusan kita bisa
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
runyam,” ujar Liu Tong-thian.
“aku ada suatu usul,” kata Cui Tin-san. “Sebaiknya Liu-suheng pulang dulu, aku akan memburu ke
Taytoh, pimpinan Kay-pang disana adalah kenalan baikku, aku akan minta bantuannya untuk
mengawasi jejak kedua keparat itu. Bilamana mereka kabur kesana, dengan jaringan Kay-pang yang
luas, itu tentu akan diperoleh kabar yang pasti. Dan bila demikian halnya barulah kita mengatur
siasat lebih lanjut.”
“Ya, memang tiada jalan lain lagi, terpaksa kita coba2 cara ini,” kata Liu Tong-thian.
Setelah mengambil keputusan pasti, mereka berempat lantas keluar dan mohon diri kepada tuan
rumah. Su Yong-wi memberitahukan mereka bahwa telah dikirim 12 muridnya untuk mengejar Loh
Hiang-ting berdua, diantara tetamunya juga banyak yang sukarela ikut pergi memburu agen rahasia
musuh itu.
“Ci-heng, biarlah aku mengantar keberangkatan kalian,” kata Lau tay-wi, ternyata dia tidak ikut
mengejar Loh Hiang-ting, mungkin untuk mengghindarkan salah paham orang.
Setiba dipersimpangan jalan, Lau Tay-wi bertanya pula: “Ci-heng, bukankah gurumu mengasingkan
diri di Pok-bong-san?”
“Benar, darimana engkau mendapat tahu?” sahut In-hong.
“Dari ayahku,” jawab Lau Tay-wi dengan tertawa. “Kiranya ayahku adalah kenalan gurumu, Cuma
sudah lama tidak berjumpa. Tahun lalu ayah pernah menyambangi gurumu di Pok-bong-san, tapi
tidak bertemu. Rumah Siaute berada di Koh-siong-cun dikabupaten Peng-kok-koan, hanya ratusan
li diutara Pak-bong-san, bila Ci-heng ada tempo boleh silahkan mampir ketempatku itu. Dirumahku
hanya tinggal ayah dan adik perempuanku, bila Ci-heng sudi menyampaikan berita selamat tentang
diriku, tentu mereka akan sangat berterima kasih padamu.”
“Tapi tugas kami mendesak, entah ada tempo luang atau tidak untuk mampir,” ujar In-hong.
“Namun bial perlu tentu aku akan minta guruku agar menyampaikan kabar kepada paman.”
Lau tay-wi merasa rada kecewa, katanya: “Baiklah jika begitu, terima kasih.”
Begitulah Ci In-hong dan Kok Ham-hi lantas melanjutkan perjalanan, beberapa hari kemudian
sampailah mereka di Pak-bong-san. In-hong membawa Ham-hi kepondok tempat tinggal gurunya,
dibelakang rumah adalah hutan Tho yang sedang berbunga dengan indah sekali laksana lautan
bunga.
“Tampaknya Suhu sedang berlatih pedang ditengah hutan Tho, janganlah kita mengejutkan beliau,”
kata In-hong.
Dengan pelahan2 mereka lantas menyusuri hutan Tho itu, tidak jauh terlihatlah sinar pedang yang
kemilauan me-nari2 diangkasa laksana ular naga disertai bertaburannya kelopak bunga Tho yang
berserakan memenuhi tanah.
“Kok-sute, apakah kau dapat melihat dimana letak kehebatan ilmu pedang Suhu?” tanya In-hong
kepada Kok Ham-hi.
Kok Ham-hi tidak lantas menjawabnya, ia perhatikan lebih cermat permainan pedang Hoa Thianhong
yang hebat itu, gesit laksana ular, lincah laksana kera. Tiba2 melayang keatas seperti elang,
mendadak menubruk kebawah serupa harimau, sinar pedangnya menyambar cepat diantara daun
lebat pohon Tho kelopak bunga Tho sama rontok beterbaran, namun tangkai bunga sedikitpun tidak
ikut bergetar.
Bahwasanya ilmu pedangnya indah sekali, yang paling hebat adalah merontokkan kelopak bunga
tanpa bikin goyang tangkai bunganya. Betap tinggi dan mujizat ilmu pedang Hoa Thian-hong
sunguh sukar diukur.
Diam2 Kok Ham-hi berpikir: “Meski beng-tayhiap disebut orang sebagai memiliki ilmu pedang
yang tiada tandingannya, tapi kalau bicara soal kelincahan mungkin takdapat menandingi Hoasupek,
apalagi ilmu pedang Lian-goan-toat-beng-kiam-hoat yang dimainkan keempat murid utma
Bu-tong-pay itu lebih2 bukan tandingannya.”
Begitulah saking asyiknya dan kagumnya terhadap ilmu pedang yang bagus itu, tanpa terasa Kok
Ham-hi sampai berseru: “Sungguh hebat!”
Cepat Hoa Thian-hong lantas menarik pedangnya dan berpaling, lalu berkata: “Kau sudah pulang,
In-hong. Dan siapakah dia ini?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Lebih dulu In-hong dan Kok Ham-hi memberi hormat, lalu In-hong menjawab: “Dia adalah murid
Kheng-susiok, namanya Kok Ham-hi.”
Girang sekali Hoa Thian-hong, serunya: “Ha, jadi kau telah menemukan Kheng-susiokmu?”
“Kheng-susiok masih berada di Kanglam,” sahut In-hong. “Kok-sute yang diperintahkan oleh
Kheng-susiok agar mencari kita ,belum lama berselang Tecu baru saja bertemu dengan Kok-sute.”
Segera Hoa Thian-hong menanyakan keadaan guru Kok Ham-hi, lalu menghela napas dan berkata:
“Sudah 20 tahun aku berpisah dengan gurumu. Aku sangat mengharapkan dia dapat datang kesini
untuk memikul kewajiban membersihkan pintu perguruan kita. Sungguh tidak nyana bahwa dia
terluka parah, sukar lagi meyakinkan Thian-lui-kang dengan sempurna.”
“Tapi ilmu pedang Supek yang hebat ini rasanya jauh lebih cukup untuk menghadapi Yang Thianlui,”
ujar Kok Ham-hi.
“Ya, lantaran aku menyadari terbatasnya kemampuanku, biarpun aku berlatih selama hidup juga
Thian-lui-kangku tak dapat menandingi orang she Yang itu, makanya timbul hasratku untuk
meyakinkan ilmu pedang ini,” kata Hoa Thian-hong. “Mendiang kakek guru kalian dulu terkenal
dengan ilmu pedang dan ilmu pukulannya, Thian-lui-kang adalah ilmu andalannya, ilmu pedangnya
juga menjagoi dunia persilatan. Cuma sayang diantara anak muridnya tiada seorangpun yang
menwariskan segenap kepandaiannya itu. Syukur paling akhir ini sisuatu kamar batu dibelakang
gunung kebetulan kutemukan ilmu pedang ini yang dia ukir pada dinding batu, aku sudah berlatih
dua tahun, kuharap dengan ilmu pedang ini dapat mengatasi kekuatan Thian-lui-kang, tapi sampai
sekarang latihanku masih belum sempurna.”
“Ilmu pedang Supek sudah sedemikian hebatnya dan Supek masih merasa belum sempurna?” Kok
Ham-hi menegas dengan melengak.
“Coba kalian periksa lebih teliti,” kata Hoa Thian-hong. “Diantara kelopak bunga yang rontok ini
tercampurkan pula beberapa lembar daun, ini tandanya kurang sempurna. Sebab kalau sudah
mencapai tingkat sempurna, yang rontok hanya melulu kelopak bunga saja. Kekuatan Yang Thianlui
masih jauh diatasku, bila ingin membinasakan dia dengan ilmu pedang, maka diperlukan cara
cepat yang tak ter-duga2, untuk ini sedikitnya aku perlu berlatih tiga tahun lagi. Tapi lantaran
diwaktu muda akupun pernah terluka parah, kini usiaku sudah lanjut, badan sudah loyo, mungkin
setelah tiga tahun tenagaku sudah yakin ketinggalan jauh dibanding Yang Thian-lui.”
“Meski Kheng-susiok tak dapat datang sendiri, tapi beliau sudah menugaskan Kok-sute untuk
mewakilkan beliau mengadakan pembersihan dikalangan perguruan kita,” kata In-hong.
“O, jadi gurumu suruh kau mewakilkan dia?” tanya Hoa Thian-hong kepada Kok Ham-hi. “Jika
demikian Thian-lui-kang yang kau yakinkan tentu sudah sempurna?”
“Bakat Siautit terlalu rendah, untuk mencapai tingkatan sempurna sungguh tidak berani
mengharapkan,” sahut Kok Ham-hi. “Cuma ada suatu jurus serangan “Lui-tian-kau-hong” yang
kugunakan bersama Ci-suheng, sudah kami coba beberapa kali, hasilnya cukup memuaskan. Hanya
entah dapat menandingi Yang Thian-lui atau tidak?”
“Coba kalian perlihatkan padaku,” kata Hoa Thian-hong.
“Mohon Supek memberi petunjuk,” sahut Kok Ham-hi, lalu berdiri sejajar dengan Ci In-hong,
sebelah tangan masing2 sama memutar suatu lingkaran, habis itu lantas dipukulkan berbareng
kedepan. Terdengarlah suara riuh, sebatang pohon kontan roboh berikut akarnya, dalam lingkar
seluas beberapa meter debu pasir berhamburan.
Girang sekali Hoa Thian-hong, katanya: “Jurus Lui-tian-kau-hong kalian ini sudah jauh lebih kuat
daripadaku. In-hong, lwekangmu juga sudah banyak maju, jauh diluar dugaanku.”
“Hal ini adalah berkat petunjuk Beng-tayhiap, beliau telah mengajarkan suatu inti lwekang kepada
kami berdua,” ujar Ci In-hong.
“O, jadi kalian sudah bertemu dengan Beng Siau-kang,” ujar Hoa Thian-hong.
“Beng-tayhiap sekarang berada di Long-sia-san, beliau juga terkenang kepda Suhu, maka tecu
disuruh menyampaikan salam pada Suhu,” tutur In-hong, lalu iapun menceritakan pengalamannya
tempo hari.
“Pantas jurus Lui-tian-kau-hong kalian ini sedemikian hebatnya, kiranya atas petunjuk Bengtayhiap
yang berharga.” Kata Hoa Thian-hong. “Cuma Thian-lui-kang bangsat she Yang itupun lain
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
daripada yang lain, apakah kalian sanggup mengalahkan dia juga sukar dipastikan. Biarlah kalian
tinggal beberapa hari lebih lama disini, akan kuajarkan ilmu pedangku ini kepada kalian, dengan
gabungan ilmu pukulan dan ilmu pedang kalian untuk melawan Yang Thian-lui rasanya akan lebih
memberi harapan untuk menang.”
Ilmu pedang yang diyakinkan Hoa Thian-hong agak luas dan ruwet, untung Ci In-hong dan Kok
Ham-hi sudah mempunyai dasar yang kuat, maka untuk melatihnya tidak menjadi sukar. Setelah
berlatih tujuh hari, dalam hal perubahan2 ilmu pedang itu sudah apal bagi mereka, untuk
selanjutnya mereka boleh berlatih sendiri tanpa petunjuk sang guru.
Karena In-hong dan Ham-hi harus menuju ketempat Liu Tong-thian untuk menunggu kabar, maka
mereka lantas mohon diri kepada Hoa Thian-hong.
Sebelum berpisah tiba2 Hoa Thian-hong ingat sesuatu, katanya kepada In-hong: “Karena sibuk
mengajarkan ilmu pedang padamu, ada sesuatu urusan sampai lupa kukatakan padamu!”
“Mohon Suhu memberi petunjuk,” sahut In-hong.
“Urusan ini menyangkut kehidupanmu, sebab sekarang usiamu sudah waktunya untuk berumah
tangga,” kata Hoa Thian-hong. “Kau tidak punya ayah-ibu lagi, sebagai guru aku mesti memikirkan
dirimu.”
Jantung Ci In-hong berdetak, baru saja ia hendak melaporkan kepada sang guru tentang
hubungannya dengan Beng Bing-sia, ternyata sang guru sudah melanjutkan lagi. “Didunia
persilatan ada seorang tokoh bernama Lau Han-ciang, dahulu terkenal dengan golok emasnya,
sudah lama sekali dia mengasingkan diri, apakah kau pernah mendengar Locianpwe ini ?”
Kembali In-hong terkejut, sahutnya: “Lau Han-ciang Locianpwe? Bukankah beliau mempunyai
seorang putra bernama Lau tay-wi?”
“Benar, tentang perkenalanmu dengan Tay-wi dalam pasukan pergerakan juga sudah kudengar dari
Lau Han-ciang,” sahut Hoa Thian-hong. “Haha, menarik juga kalau kuceritakan, memangnya aku
dan Lau Han-ciang adalah sobat lama, kalau saja dia tidak datang kesini mencari diriku mungkin
sampai saat ini aku tidak tahu bahwa dia tinggal berdekatan dengan tempat kita ini.”
“Ya, dari Lau-toako muridpun mendapat tahu bahwa tiga tahun yang lalu paman Lau pernah datang
kesini untuk mencari suhu,” kata In-hong.
“Jika demikian, jadi antara guru dan murid kita sama2 ada hubungan baik dengan ayah beranak
keluarga Lau, ini menjadi lebih2 bagus pula,” ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa.
“Lebih2 bagus bagaimana?” tanya In-hong, dalam hati ia terkesiap, tapi pura2 tidak paham.
Sembari mengelus jenggotnya yang panjang, pelahan2 Hoa Thian-hong menjawab: “Biar kau
mengetahui saja bahwa Lau Han-ciang mempunyai seorang anak perempuan dan hendak
dijodohkan kepadamu.”
Baru sekarang In-hong paham apa sebabnya Lau Tay-wi pernah minta padanya agar suka mampir
kerumahnya untuk menemui ayahnya, bahkan sengaja menyebut adik perempuannya. Maka cepat2
ia berkata: “Suhu, soal ini ………. “ akan tetapi saking gugupnya ia menjadi gelagapan malah.
Dengan tertawa Hoa Thian-hong berkata pula: “ Kebetulan sekali bahwa kaupun berkawan baik
dengan Lau Tay-wi, segala urusan menjadi lebih bagus lagi. Tentang perjodohan ini aku telah
bertindak sebagai wali bagimu dan menyanggupinya. Eh, memangnya kau merasa tidak suka?” ~
Baru sekarang melihat air muka muridnya itu berubah gugup dan gelisah.
Setelah tenangkan diri barulah In-hong berkata: “Tecu sudah yatim piatu, kalau Suhu menjadi
waliku, mana murid berani membantah. Cuma ……. “
“Ada apa?” tanya Hoa Thian-hong.
“Cuma murid juga sudah ada suatu persoalan yang perlu dilaporkan kepada suhu.”
“Baik, persoalan apa, katakan saja!”
“Tecu dan putri Beng-tayhiap, nona Beng Bing-sia, sudah ….. sudah ……… “
“apa, kau sudah menikah dengan putrinya Beng-tayhiap?” kata Hoa Thian-hong menegas dengan
terkejut.
“Menikah sih belum, tapi sudah saling mengikat janji,” sehut In-hong, terpaksa ia menjawab terus
terang dengan menahan malu. “Tecu tidak dapat mengingkari nona Beng, maka mohon Suhu suka
memaafkan.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Hoa Thian-hong menghela napas, katanya kemudian: “ Sebenarnya akupun bersahabat baik dengan
Beng-tayhiap, malahan aku pernah utang budi padanya, hubungan dengan dia boleh dikata lebih
rapat daripada Lau Han-ciang. Cuma sayang, lau Han-ciang datang lebih dulu kesini dan aku sudah
berjanji padanya. Orang persilatan seperti kita ini harus dapat pegang janji, apa yang telah kita
katakan tidak boleh ditarik lagi, coba, bagaimana aku harus berbuat?”
Namun Ci In-hong sudah mencintai Bing-sia sepenuh hati, sebaliknya iapun tak dapat melupakan
budi sang guru dan tak dapat membikin susah beliau. Setelah berpikir kemudian ia berkata: “Tecu
dan Kok-sute segera akan menempur Yang Thian-lui dengan mati2an, menang kalah sukar diduga,
maka soal perjodohan dengan pihak keluarga Lau ini mohon Suhu suka bicara dengan paman Lau
agar ditunda untuk sementara.”
“Memang tiada jalan lain kecuali usulmu ini, tapi cara inipun cuma untuk mengulur waktu saja.”
Kata Hoa Thian-hong. “Sudah tentu, kuharapkan tugas kalian akan terlaksana dengan lancar dan
sesudah membereskan perguruan kita, rasanya akupun harus tetap pegang janjiku kepada pihak
lain.”
In-hong merasa nada ucapan sang guru sudah rada kendur, paling tidak takkan paksa dia menikah
dengan nona Lau yang belum dikenal itu. Maka katanya kemudian: “Baiklah bila kelak tecu
berhasil melaksanakan tugas dengan selamat barulah kita bicarakan pula soal ini.”
Begitulah Ci In-hong dan Kok Ham-hi lantas mohon diri untuk berangkat dan persoalan itupun
untuk sementara dikesampingkan dulu.
Disebelah selatan Pak-bong-san adalah padang belukar yang tiada penduduknya, mereka harus
berjalan berpuluh li jauhnya baru melihat sebuah desa, tapi apa yang disebut “desa” tidak lebih
hanya beberapa rumah keluarga pemburu saja. Sebaliknya disebelah utara pegunungan itu ada
beberapa buah desa yang berpenduduk lebih padat. Koh-siong-cun tempat tinggal Lau Tay-wi itu
adalah satu diantara desa2 itu. Antara selatan dan utara pegunungan itu dihubungkan dengan sebuah
jalan kecil, untuk melintasi jalan ini tidak perlu mengitari gunung. Cuma jalan kecil ini jarang
dilalui orang sehingga tumbuh lebat semak rumput, kalau belum kenal jalan ini sukar untuk
menemukannya.
Mengenai perjodohannya dengan keluarga Lau meski untuk sementara dapat dikesampingkan, tapi
didalam hati In-hong mau tak mau merasa tertekan, maka sepanjang jalan ia rada kesal.
Tanpa terasa mereka telah sampai dibatas jalan antara utara dan selatan gunung itu. Ci In-hong
kenal jalanan itu, tiba2 terpikir olehnya: “Coba kalau tiada timbul persoalan yang merikuhkan ini,
mestinya tiada halangan bagiku untuk mengunjungi ayah Lau-toako.”
Belum lenyap pikirannya, tiba2 tertampak dua penunggang kuda muncul dari balik tanjakan sana.
Kedua penunggang kuda itu sedang celingukan kesana kemari dipadang belukar itu, ketika melihat
Ci In-hong berdua, segera mereka percepat kuda mereka menuju kesini.
Kedua penunggang kuda itu berdandan sebagai Busu kerajaan Kim, tapi Ci in-hong sudah beberapa
tahun bekerja di tempat Yang Thian-lui, maka ketika kedua orang itu sudah dekat, segera ia dapat
melihat bahwa kedua orang itu adalah orang Mongol yang menyamar sebagai Busu negeri Kim.
Hati In-hong tergerak, diam2 ia berpikir untuk apa kedua Tartar ini berkeliaran dipadang belukar
sini? Jangan2 orang yang mereka cari adalah guruku?”
Sesudah berhadapan dengan mereka, kedua Busu itu lantas menghentikan kudanya, seorang
diantaranya lantas bertanya: “Kami hendak menuju Koh-siong-cun, numpang tanya arah mana yan
gharus kami tempuh?” Bahasa Han yang digunakan terasa kaku, bahkan jelas terdengar logat
Mongolnya.
Keruan In-hong terkejut, katanya didalam hati: “Kiranya mereka bukan mencari guruku. Mereka
hendak menuju Koh-siong-cun, tak perlu ditanya lagi yang dicari pasti paman Lau adanya.”
Dalam pada itu Koh Ham-hi lantas menjawab dengan sikap dingin: “Ada urusan apa kalian pergi ke
Koh-siong-cun?”
Busu tadi mengerut kening, agaknya mendongkol sekali, tapi rupanya ia dapat menahan
perasaannya, lalu berkata pula: “Kalian cukup memberitahukan arah Koh-siong-cun saja, buat apa
kau tanya urusan orang lain?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Untuk tujuan apa kedua Busu Mongol yang menyamar sebagai busu Kim itu datang ke Koh-siongcun
?
Dapatkah Ci In-hong berdua mengenyahkan lawan2nya dan bagaimana kelanjutan tugas mereka
dalam usaha mengalahkan Yang thian-lui di ibukota Kim ?
Jilid 15 bagian pertama
Ci In-hong mengedipi Kok Ham-hi sambil menggeleng. Ia cukup kenal watak sang sute yang
berangasan. Ia kuatir Kok Ham-hi terus labrak kedua orang itu, maka cepat memberi isyarat agar
bersabar. Habis itu In-hong baru bicara: “Bukan maksud kami suka ikut campur urusan orang lain,
soalnya suasana sekarang sedang kacau, kami tidak enak membawa orang asing kedalam kampung.
Sebab itulah kami harus tanya lebih jelas. Apa barangkali kalian punya kenalan di Koh-siong-cun?”
Rupanya Busu yang satu lagi menjadi tidak sabar, tiba2 ia membentak: “Jika kalian tidak mau
memberitahu boleh persetan, buat apa banyak cingcong!”
“Baiklah, silahkan saja kalian pergi,” sahut Ci In-hong.
“Hm, enak saja kau bicara !” mendadak Busu kedua yang berjenggot membentak. Berbareng dari
atas kuda ia terus menghantam batok kepala Ci In-hong. Bahkan Busu yang lain dengan cepat juga
lantas menyabet Kok Ham-hi dengan pecutnya.
Ci In-hong menjadi murka, balasnya membentak: “Sebenarnyas aku tidak mau membunuh kau, tapi
kau sendiri yang cari mampus!” ~ Berbareng telapak tangan kanan memutar suatu lingkaran,
dengan membawa suara menderu yang keras, segera ia lancarkan serangan maut dari Thian-luikang
yang lihai.
Ci In-hong mengira dengan Thian-lui-kang sedikitnya akan membikin Busu Mongol itu terluka
parah andaikata tidak mampus, tak terduga ketika tenaga pukulan kedua orang kebentur, terdengar
suara “blang” yang keras, Busu Mongol itu mencelat dari kudanya, sebaliknya Ci In-hong
sendiripun tergetar mundur dua-tiga tindak. Belum lagi ia berdiri tegak, se-konyong2 ia merasa
didorong pula oleh suatu tenaga yang kuat, tanpa tertahan ia mundur lagi tiga tindak. Dan baru saja
ia terkejut, lagi2 ia terdorong oleh tenaga kuat yang serupa dan kembalai ia mundur tiga tindak,
habis itu baru dapat berdiri dengan baik.
Padahal Busu Mongol itu hanya melontarkan sekali pukulan saja dan Ci In-hong ber-turut2 harus
mundur tiga kali, keruan kejutnya tidak kepalang. Ia tidak tahu bahwa Busu Mongol itupun tidak
kurang kejutnya setelah mencelat dari kudanya dan dada terasa seperti digodam dengan keras.
Kiranya Busu Mongol berjenggot itu bernama Ulitu, dia adalah murid pertama Liong-siang Hoatong,
Koksu negeri Mongol. Ilmu kebanggaan Liong-siang Hoat-ong disebut “Liong-siang-sin-kang
(ilmu sakti naga-gajah), tenaga ilmu pukulan ini sangat hebat dan seluruhnya meliputi sembilan
gelombang tenaga. Sekali memukul, maka tenaga pukulan menjadi laksana gelombang samudra
yang mendampar, damparan gelombang yang satu lebih dahsyat daripada yang lain. Tapi Ulitu baru
mencapai satu pukulan tiga gelombang tenaga saja, sebab itu masih kalah kuat daripada Thian-luikang
Ci In-hong.
Kawan Ulitu itu bernama Abul, terhitung jago kedua daripada ke-18 kemah emas. Kini iapun sudah
bergebrak dengan Kok Ham-hi.
Sekali keluarkan Thian-lui-kangnya, dengan kuat Ham-hi pegang ujung pecut lawan sambil
membentak: “Turun!”
Benar juga, Abul lantas berjumpalitan terberosot dari kudanya. Akan tetap Kok ham-hi ternyata
tidak mendapatkan keuntungan. Kiranya Abul terkenal sebagai jago gulat Mongol nomor satu
meski kedudukannya terhitung nomor dua diantara ke-18 jago kemah emas. Sebelum kakinya
menempel tanah, lebih dulu menggunakan gaya “Ngo-eng-bok-tho” (elang lapar menyambar
kelinci), dari atas ia tubruk kebawah untuk menangkap ubun2 kepala Kok ham-hi.
Sambil mendak kebawah, segera Kok ham-hi menyikut pula sehingga tulang iga abul kena disikut,
tulang iganya kontan patah sebatang, sebaliknya Kok Ham-hi juga kena dibanting terjungkal
dengan cukup keras.
Waktu Ham-hi dapat meloncat bangun lagi, pada saat yang sama Ci In-hong juga telah berdiri
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tegak.
Disebelah sana Ulitu dan Abul telah berdiri sejajar, keduanya membentak berbareng dalam bahasa
Mongol: “Hang-liong-hok-hou (taklukkan naga tundukkan harimau)!”
Tapi dipihak lain Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga memutar sebelah tangan masing2 membentak:
“Lui-tian-kau-hong!”
“Hang-liong-hok-hou” adalah suatu jurus pukulan yang paling dahsyat dalam Liong-siang-sin-kang,
serupa pukulan maut “Lui-tian-kau-hong” dalam Thian-lui-kang.
Begitulah kedua pihak sama2 mengeluarkan kepandaian masing2 yang paling hebat, maka
terdengarlah suar ‘blang’ yang keras, debu pasir bertebaran. Ulitu dan Abul berdua terlempar pergi
beberapa meter jauhnya dan ter-guling2 diatas tanah baru kemudian dapat berdiri kembali.
Sebaliknya Ci In-hong dan Kok Ham-hi juga tergetar mundur sembilan langkah.
Kalau dinilai dengan sendirinya kedua Busu Mongol itu yang kecundang, maka Ulitu menyadari
ketemu lawan tangguh, kalau bertempur lagi tentu lebih banyak celaka daripada selamatnya, cepat
ia memberi isyarat kepada Abul, kedua terus mencemplak keatas kuda dan melarikan diri.
Setelah mengadu pukulan dahsyat dan ternyata kedua orang Mongol itu masih mampu mencemplak
keatas kudanya dan kabur, diam2 Ci In-hong juga terkejut dan tidak berani sembarangan mengejar.
Dalam sekejap saja kedua Busu Mongol itu sudah lenyap dari pandangan.
“Lihai juga kedua orang Mongol itu,” kata Ham-hi. “Suheng, kau tidak apa2 bukan?”
“Ya, setelah mereka menahan pukulan Lui-tian-kau-hong kita, rasanya merekapun sudah kapok,
Cuma saja Han-loenghiong mungkin tak dapat menandingi mereka berdua,” kata Ci In-hong.
Barulah Kok ham-hi ingat bahwa tempat tujuan kedua Busu Mongol itu adalah Koh siong-cun, tak
perlu ditanya lagi tentu kedua Busu Mongol itu mempunyai maksud jahat terhadap Lau Han-ciang.
Maka cepat ia berkata pula: “Benar, marilah kita menyusul ke Koh-siong-cun untuk melabrak
mereka lagi.”
Sudah tentu Ci In-hong juga sudah memikirkan hal ini, Cuma dia merasa ragu2 karena ada
persoalan perjodohan yang dikemukakan gurunya itu. Namun akhirnya ia ambil keputusan
betapapun harus membantu sesama kaum perjuangan, apalagi Lau Han-ciang adalah ayah Lay Taywi
yang menjadi sahabatnya. Segera ia berkata: “Baiklah, mari kita menyusul kesana dengan
memotong jalan melalui jalan kecil.”
“Apakah Suheng tidak kuatir ditahan Lau-loenghiong nanti?” Ham-hi meng-olok2 dengan tertawa.
“Hakekatnya akupun belumpernah bertemu dengan dia,” ujar Ci In-hong. “kupikir untuk sementara
ini kita tak perlu perkenalkan diri kita, setiba disana nanti kita bertindak menurut keadaan saja.”
Setelah sepakat, segera mereka berangkat menuju Koh-siong-cun, setiba disana sudah lewat tengah
malam. Waktu Ci In-hong mendengarkan dengan cermat, sayup2 terdengar diarah barat-laut sana
ada suara beradunya senjata.
“Dugaan Suheng memang tidak salah, tentu kedua orang Mongol itu sudah bergebrak dengan Lau –
loenghiong,” kata Ham-hi. Segera mereka berlari kejurusan datangnya suara itu dengan ginkang
masing2.
Koh-siong-cun memang sesuai dengan namanya, perkampungan itu terletak di-tengah2 hutan Siong
(cemara) yang rimbun, meski malam ini cahaya bulan cukup terang, namun didalam hutan cemara
itu hanya remang2 tampak bayangan rumah disana sini. Diam2 Ci In-hong bergirang, suasana
begini paling cocok bagi orang keluar malam, ia pikir nanti kalau kedua orang Mongol itu dapat
dibereskan, segera tinggalkan perkampungan itu tanpa diketahui oleh Lau Han-ciang.
Rekaan Ci In-hong memang bagus, tapi perubahan keadaan sungguh sama sekali diluar dugaan.
Ketika mereka memasuki hutan cemara itu, keadaan remang2 dan sukar membedakan kawan atau
lawan. Cuma dari suaranya Kok Ham-hi dapat mendengar bahwa yang sedang bertempur itu
agaknya terdiri dari lima orang.
“Mereka menjadi heran mengenai jumlah orang itu, padahal keluarga Lau Cuma terdiri dari ayah
dan anak, sedang Busu Mongol juga Cuma dua orng, lalu siapa lagi yang seorang itu ?”
Dalam pada itu terdengarlah suara orang tua serak sedang membentak: “Siapa kalian, mengapa
tanpa sebab kalian melakukan serangan kepada kami?”
Ci In-hong menduga yang bicara itu tentu Lau Han-ciang adanya. Segera ia percepat langkahnya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
memburu kedapan.
Benar juga, sebelum Ci In-hong berdua sampai ditempat pertempuran, terdengarlah Busu Mongol
yang bernama Ulitu itu sedang berkata: “Baik, akan kujelaskan agar kalian tidak mati penasaran.
Kami diperintahkan oleh Koksu Kerajaan Kim untuk memenggal kepalamu. Nah, Lau Han-ciang,
kau sudah tahu dosamu tidak?”
Karena mengaku jagoan dari kerajaan Kim, dengan sendirinya Ulitu bicara dalam bahasa Nuchen,
yakni suku bangsa negeri Kim. Bahasa Nuchen yang dia ucapkan ternyata jauh lebih fasik daripada
bahasa Han, namun bagi pendengaran Ci In-hong masih dapat dibedakan logt Mongolnya yang
kaku itu.
Akan tetapi Lau Han-ciang tidak tahu bahwa kedua busu negeri Kin ini adalah palsu, disangkanya
apa yang diucapkan tadi memang benr. Maka dengan gusar Lau Han-ciang balas membentak: “Apa
dosaku?” Yang Thian-lui sendiri berkhianat, menjual kawan untuk kejayaan sendiri, menindas
rakyat sebangsanya dan mengekor pada musuh, dia yang benar2 berdosa yang tak dapat diampuni.”
“Bangsat tua, ajalmu sudah didepan mata, masih berani sembarangan omong,” bentak Busu Mongol
lain yang bernama Abul. “Coba jawab pertanyaanku, putramu adalah perwira didalam pasukan
pemberontak bukan?”
“Benar, aku merasa bangga mempunyai seorang putra demikian,” jawab Han-ciang.
“Hm, perbuatan anakmu sudah cukup membikin kau dihukum mati, sekarang kau berani pula
menerima putranya To Pek-seng, apakah kau tidak tahu bahwa segenap keluarga To Pek-seng
adalah buronan kerajaan?” jengek Abul.
Sementara itu Lau Han-ciang berdua sudah berada didekat tempat pertempuran itu, ia menjadi
terkejut mendengar kata itu. Pikirnya: “Yang dimaksudkan bangsat ini apakah bukan To Liong?
Mengapa To Liong bisa tinggal ditempat Lau-loenghiong?”
Dengan memusatkan pandangannya, lapat2 Lau Han-ciang melihat ketiga orang yang bertempur
melawan kedua Busu Mongol itu terdiri dari seorang laki2 tua berjengot panjang, seorang lagi
perempuan muda berkuncir dua dan seorang lain lagi adalah To Liong.
Cepat ia membisiki Ham-hi: “Kejadian ini rada aneh, coba kita ikuti dulu perkembangan
selanjutnya,” ~ Segera mereka panjat keatas sebatang pohon besar dan mengikuti pertempuran
sengit itu dari atas.
Dalam pada itu terdengar To Liong sedang bicara: “Paman Lau tak perlu banyak bicara dengan
mereka, biar siautit membereskan mereka saja.”
“Hm, apa kepandaianmu, berani kau omong besar?” jengek Ulitu.
Keruan Lau Han-ciang berdua tambah heran. Dengan suara pelahan Kok Ham-hi berkata
kepadanya: “Peristiwa ini benar2 aneh. Jelas To Liong adalah agen rahasia pihak Mongol, mengapa
mendadak berubah menjadi sahabat Lau-loenghiong dan menjadi pahlawan disini? Aku benar2
tidak percaya akan perubahan haluan secepat ini?”
“Akupun tidak percaya, coba kita ikuti dan waspada,” saut In-hong. Kedua orang sama2
menyiapkan sebuah Kim-ci-piau (senjata rahasia mata uang) untuik menjaga segala kemungkinan
bila To Liong berbuat licik terhadap Lau han-ciang dan anak perempuannya.
Diluar dugaan, cara To Liong bertempur melawan Busu Mongol itu ternyata tidak kenal ampun dan
mendekati cara mengadu jiwa. Bahkan sering kali To Liong membantu Lau Han-ciang dan anak
perempuannya bilamana mereka terserang oleh kedua musuh itu.
Ci In-hong cukup kenal kepandaian To Liong, ia yakin To Liong pasti sukar melawan gabungan
kedua busu Mongol itu, apalagi hendak mengalahkannya. Maka ia pikir dalam hal ini tentu ada
permainan sandiwara, terang kedua Busu Mongol itu sengaja mengalah.
Segera In-hong mengisiki Ham-hi akan pikirannya itu, Kok Ham-hi dapat menyetujui pendapat Inhong
dapat menyetujui pendapat In-hong itu, tapi mereka menjadi seba sulit, waktu itu To Liong
sedang menempur kedua Busu Mongol, jika mereka melompat turun untuk melabrak To Liong
tentu akan menimbulkan salah paham Lau Han-ciang.
Syukurlah pada waktu itu terdengar Ulitu sedang berseru: “Lihai juga kau bocah ini, biarlah malam
ini kami mengalah padamu, lainkali kami pasti akan memberi hajaran setimpal padamu,” ~ Ia bicara
dengan napas ter-engah2, habis itu bersama Abul lantas putar tubuh dan melarikan diri.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sebagai jago silat pilihan, sudah tentu Ci In-hong dan Kok Ham-hi dapat melihat kelakuan Ulitu
yang pura2 bernapas ter-engah2 itu.
Dalam pada itu terdengar To Liong sedang membentak dengan tertawa bangga: “Hm, kalian baru
kenal kelihaianku sekarang? Mau lari kemana kalian!” ~ Habis itu tampaknya ia hendak mengejar
musuh.
Tapi Lau Han-ciang yang sudah tua dankehabisan tenaga itu keburu mencegahnya: “To-hiantit,
biarkan saja, tak perlu mengejar mereka!”
Saat itu Ulitu sedang berlari lewat dibawah pohon tempat sembunyi Ci In-hong dan Kok Ham-hi.
Segera In-hong memberi tanda kepada Kok Ham-hi, berbareng mereka lantas melompat turun,
sekaligus mereka melancarkan pukulan “Lui-tian-kau-hong” secara mendadak, karena tidak terduga2,
seketika Ulitu dan Abul merasakan membanjirnya arus tenaga yang maha kuat, konta kedua
orang ter-guling2 kebawah lereng laksana bola.
“Siapa itu?” bentak To Liong, berbareng pedangnya lantas menabas. Tapi seketika iapun merasakan
dorongan arus tenaga yang dahsyat, tanpa ampun iapun jatuh terjungkal. Maksud To Liong
sebenarnya hendak menolong Ulitu berdua, tak terduga ia sendiri malah kecundang. Dan setelah
jatuh terguling segera iapun sadar siapakah yang datang ini.
Dalam pada itu Lau Han-ciang dan anak perempuannya menjadi terkejut, lekas2 mereka
membangunkan To Liong, dengan suara lantang Lau Han-ciang lantas menegur: “Kawan dari
kalangan mana yang datang ini? Mengapa tanpa bicara lantas main pukul?”
“Lau-loenghiong, engkau telah tertipu oleh keparat ini, sebenarnya mereka adalah suatu
komplotan,” kata Kok Ham-hi.
“Apa katamu?” bentak Lau Han-ciang dengan gusar dn kejut. Sudah tentu ia tidak percaya apa yang
dikatakan Kok Ham-hi, apalagi sudah jelas To Liong tadi berdiri dipihaknya dan melabrak kedua
musuh.
“Jangan percaya ocehannya, Lau-loenghiong,” seru ToLiong sesudah berdiri kembali.
“ToLiong, apakah perlu kami membongkar guci wasiatmu?” jengek Ci In-hong. “Sebaiknya kau
mengaku terus terang saja kepada Lau-loenghiong bilamana kau tidak ingin merasakan
kelihaianku.”
Keruan To Liong menjadi takut, betapapun ia tidak sanggup melawan Ci In-hong dan kok Ham-hi,
maka tanpa pikir lagi segera ia putar tubuh dan melarikan diri.
“To-toako! To-toako!” seru nona Lau sambil ikut berlari, berlari menyusul To Liong.
Lau Han-ciang menjadi gusar, bentaknya pula: “Kalian mau mebcelakai To-kongcu, lebih dulu
hadapi golokku ini !” ~ Berbareng ia terus membabat dengan goloknya untuk merintangi Ci In-hong
berdua yang bermaksud mengejar To Liong.
Dengan sendirinya Ci In-hong berdua serba susah. Terpaksa In-hong menangkis tabasan golok
orang dengan pedangnya, lalu berseru: “Lau-loenghiong, kau telah tertipu oleh To Liong. Engkau
sudah lama mengasingkan diri dipegunungan sunyi, mungkin kau tidak tahu bagaimana tingkah
laku To Liong yang sesungguhnya?”
Untuk sejenak Lau Han-ciang menjadi ragu2, akhirnya ia berkata: “Bukankah To Liong adalah
putra To-tayhiap, To Pek-seng yang terkenal sebagai pahlawan bangsa. Kalian ini siapa, berani kau
meng-olok2 To-kongcu dihadapanku?”
“Memang betul To-tayhiap adalah pahlawan besar, cuma sayang putranya ternyata pengecut, dia
tidak membalas sakit hati kematian ayahnya yang diketahui dibunuh oleh Yang Thian-lui,
sebaliknya dia malah menjual tenaga kepada musuh,” demikian Ci In-hong berusaha menjelaskan.
“Bahwasanya tadi To Liong membantu Lau-loenghiong, hal ini hanya bermain sandiwara belaka
sebagaimana terbukti dia terus menyerang kami ketika kami hantam roboh kedua Tartar tadi.”
“Terus terang akupun menyangsikan asal usul kalian yang belum kukenal,” jengek Lau Han-ciang.
“Baik, jika Lau-loenghiong tidak percaya kepada omongan kami, tiada gunanya kami banyak bicara
lagi,” ujar Ci In-hong. “Mengenai diri To Liong, untuk mencari keterangan sejelasnya rasanya
engkau boleh tanya kepada putramu sendiri.”
Lau Han-ciang menjadi tercengang, tanyanya kemudian: “Sebenarnya kau siapa? Kau kenal
putraku?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Akan tetapi setelah mengucapkan kata2 tadi Ci In-hong lantas melangkah pergi bersama Kok Hamhi.
Pertanyaan Lau Han-ciang itu didengarnya, namun dia tidak menjawabnya.
Setelah keluar dari hutan cemara itu, dengan tertawa Kok Ham-hi berkata: “Nona Lau itu
tampaknya telah kena terpikat ole To Liong.”
“Sesungguhnya aku justru berharap nona Lau menemukan jodoh yang sesuai, Cuma sayang To
Liong adalah bangsat yang berhati binatang, bila nona Lau mendapatkan dia rasanya kurang
cocok,” kata In-hong.
“Melihat gelagatnya, aku menjadi sangsi jangan2 perbuatan To Liong ini menyerupai apa yang
pernah kulakukan dahulu,” ujar Kok Ham-hi dengan tertawa. “Dahulu aku pernah membantu ayah
Giam Wan mengalahkan Tin-lam-jit-hou, sesungguhnya tujuanku adalah untuk merebut hati ayah
Giam Wan saja agar ia menerima lamaranku. Cuma saja maksud tujuan To Liong sekarang sudah
tentu lain lagi daripadaku, tentu dia ada rencana keji. Cara To Liong memikat wanita memang juga
lihai, kabarnya bakal istri Bengcu kita dahulu juga hampir terpikat olehnya.”
Tiba2 hati Ci In-hong tergerak, serunya: “Wah, celaka !”
“Ada apa ?” tanya Ham-hi.
“Mungkin rencana To Liong ini tidak untuk menjerat anak perempuan Lau Han-ciang saja, akan
tetapi bermaksud mengorek rahasia pasukan pergerakan mengingat putra Lau Han-ciang adalah
perwira dalam pasukan tersebut.”
“Pendapat Suheng cukup beralasan, tapi orang tua itu tidak mau percaya omongan kita, cara
bagaimana kita harus bertindak?”
Ci In-hong merenung sejenak, lalu berkata: “Yang harus dikuatirkan adalah soal pengkhianatan To
Liong belum lagi diketahui oleh Lau Tay-wi, maka jalan satu2nya sekarang marilah kita lekas
berangkat ketempat Liu Tong-thian, dari sana kita dapat minta dia mengirim seorang utusan untuk
memberitahukan hal ini kepada Lau Tay-wi di Su-keh-ceng.”
Sambil bicara tanpa terasa kedua orang telah meninggalkan Pak-bong-san dan berada dijalan besar.
Tiba2 dari depan tampak datang dua penunggang kuda dengan cepat. Waktu Kok Ham-hi
memandang kedepan, ia menjadi terkejut dan lantas membentak: “Kalian berdua bangsat ini mau
berbuat apa datang kesini?” ~ Berbareng itu ia lantas menghantam dengan Thian-lui-kang.
Agaknya kedua penunggang kuda itupun keget demi melihat Kok Ham-hi, cepat mereka putar kuda
mereka dan lari kearah yang tak menentu. Lari kedua kuda itu sangat cepat sehingga pukulan Kok
Ham-hi tadi tidak mencapai sasarannya, hanya dalam sekejap saja kedua orang itu sudah kabur
jauh.
“Siapakah kedua orang itu?” tanya In-hong.
“Kedua orang itu adalah dua diantara Tin-lam-jit-hou, yang satu adalah kepalanya, bernama Toan
Tiam-jong, dan seorang lagi adalah sutenya, Cah-ih-hou Ci Jing-san, si harimau bersayap,” tutur
Kok Ham-hi.
“Aneh, untuk apa jauh2 mereka datang dari Tin-lam keutara sini?” kata Ci In-hong.
“Dapat dipastikan mereka bermaksud jahat, Cuma sayang kita ada tugas penting, tiada waktu
mengejar mereka,” ujar Ham-hi. Dalam hati ia pikir jangan2 Tin-lam-jit-hou juga telah menempuh
jalan sesat sebagaimana arah yang diambil To Liong.
Begitulah mereka melanjutkan perjalanan ketempat Liu Tong-thian tanpa rintangan apa2 lagi.
Setiba disana Liu Tong-thian sendiri menyambut kedatangan mereka.
“Sayang Ci-heng datang rada terlambat, jika datang lebih cepat tiga hari yang lalu dapat berjumpa
dengan nona Beng,” kata Liu Tong-thian.
“Hah, jadi Beng-tayhiap ayah beranak pernah berkunjung kesini?” In-hong menegas dengan girang.
“Ya, bahkan ada pula Li-bengcu beserta nona Nyo,” tutur Liu Tong-thian. “Beberapa hari ini
keadaan disini ramai, sungguh aku sangat mengharapkan kedatangan kalian.”
Sesudah berada didalam dan berduduk, lalu Kok Ham-hi bertanya tentang Yang Thian-lui.
“Keparat she Yang itu sudah memberi jawaban padaku,” tutur Liu Tong-thian. “Dia mengirim
sepucuk surat padaku dan mengundang aku ke Taytoh untuk menemuinya. Padahal Beng-tayhiap
dan Li-bengcu datang kesini dengan maksud menjebak Yang Thian-lui disini, tak tahunya dia malah
menginginkan kita masuk perangkapnya.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Lalu kau akan pergi kesana tidk?” tanya Ci In-hong.
“Kalau tidak masuk sarang harimau, darimana bisa mendapatkan anak harimau,” ujar Liu Tongthian.
“Kau tidak takut kepada perangkap yang dia pasang?” Ham-hi bertanya.
“Aku sudah berunding dengan Li-bengcu,” jawab Liu Tong-thian. “Bahwasanya YangThian-lui
yang licik itu tidak mau datang kesini dengan menempuh bahaya memang sudah kita duga. Tapi dia
mengundang aku menemuinya, apakah ini berarti dia sudah tahu pendirianku dipihak Gi-kun, inilah
yang sukar dipastikan. Besar kemungkinan dia menaruh curiga saja dan ingin mencoba diriku.
Karenannya akupun ikuti saja tipu muslihatnya dan akan pergi kesana menemuinya.”
“Bagaimana pendapat Li-bengcu?” tanya In-hong.
“Semula Li-bengcu juga menguatirkan keselamatanku,” tutur Liu Tong-thian. “Tapi setelah aku
menyatakan takadku untuk menghadapi resiko apapun, akhirnya Li-bengcu dan Beng-tayhiap setuju
juga. Bahkan Li-bengcu siap untuk datang juga ke Taytoh.”
“Beliau adalah pucuk pimpinan kita, mana boleh menempuh bahaya sendiri?” ujar Ci In-hong.
“Akupun berkata begitu, tapi Li-bengcu menyatakan kalau aku berani menyerempet bahaya,
mengapa beliau tidak?” kata Liu Tong-thian. “Kemudian barulah aku mengetahui bahwa kepergian
Li-bengcu ke Taytoh tidak melulu hendak YangThian-lui saja, tapi beliau hendak menemui pula
Liok-pangcu dari Kay-pang utara untuk berunding cara bagaimana mengadakan perlawanan
terhadap pihak Kim. Liok-pangcu saat ini berada dicabang markas Kay-pang di Taytoh.”
“Bengcu kita ini sungguh gagah berani dan banyak pula tipu akalnya,” ujar Ci In-hong. “Lantas
bagaimana dengan Beng-tayhiap?”
“aku tahu kau tentu terkenang kepad nona Beng, kata Tong-thian dengan tertawa. “Mereka ayah
beranak juga akan pergi keTaytoh, hanya saja akan berangkat terlambat sedikit, sebab Beng-tayhiap
masih perlu kembali ke Long-sia-san untuk menyelesaikan sedikit urusan.”
Kemudian mereka berunding lebih jauh tentang cara bagaimana berangkat ke taytoh, kotaraja
negeri Kim. Karena Ci In-hong pernah tinggal dua-tiga tahun disana, supaya tidak dikenal, Liu
Tong-thian telah memberi obat rias muka agar Ci In-hong menyamar, Liu Tong-thian telah
memberikan obat rias yang sama pula kepada Li Su-lam. Adapun wajah Kok Ham-hi memangnya
sudah jelek, tentu tiada orang yang mengenalnya.
Begitulah Ci In-hong lantas merias mukanya menjadi wajah prajurit biasa yang tidak menarik,
waktu ia becermin, ia hampir2 tidak kenal dengan wajah sendiri.
Karena Yang Thian-lui memberi wktu agar menemuinya sebelum pertengahan bulan yang akan
datang, maka mereka cukup waktu untuk pergi ke Taytoh dan dapat mengatur siasat seperlunya
disana. Terutama mereka dapat mencari kabar kepada Kay-pang dan Cui Tin-san tentang Loh
Hiang-ting dan Ting Cin apakah kedua orang itu sudah berada di Taytoh.
“Selain itu, kita masih harus waspada terhadap seorang musuh lain,” ujar In-hong.
“Siapa maksudmu?” tanya Liu Tong-thian.
“To Liong, kakak To Hong,” kata In-hong.
“Akupun sudah tahu bahwa dia adalah agen rahasia musuh,” kata Liu Tong-thian dengan tertawa.
“Bukankah akupun berada di Long-sia-san ketika Li-bengcu membongkar kedoknya waktu itu?
Cuma dia tidak tahu akan seluk beluk diriku karena kehadiranku waktu itu adalah membantu Tun-ih
Ciu.”
“Yang harus kita waspadai adalah suatu muslihat keji yang sedang dilakukannya sekarang ini,” kata
In-hong pula. Lalu iapun menceritakan apa yang dilihatnya di Pak-bong-san serta pendapatnya akan
muslihat keji yang mungkin diatur oleh To Liong itu.
“Sungguh keji bangsat itu,” cacai Liu Tong-thian. “Baiklah, segera kukirim orang untuk
memberitahukan Lau Tay-wi di Su-keh-ceng.”
Setelah ambil keputusan, besok paginya mereka bertiga lantas berangkat bersama ke Taytoh. Pada
saat yang sama ternyata Li Su-lam dan Nyo Wan berdua juga sedang berada dalam perjalanan
menuju ibikota kerajaan Kim itu.
Setelah mengalami banyak suka duka selama berpisah, perjalanan mereka sekarang berlangsung
dengan penuh kasih mesra yang tak terperikan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Suatu hari sampailah mereka diwilayah Bit-it-koan,suatu kota kabupaten terletak ratusan li diselatan
ibukota kerajaan Kim.
Sedang berjalan, tiba2 debu mengepul didepan, suatu pasukan berkuda sedang mendatangi sehingga
orang ditengah jalan sama menyingkir.
Waktu Li Su-lam meng-amat2i lebih teliti, dilihatnya bagian depan dan belakang pasukan itu adalah
prajurit2 berkuda Kim, sedangkan suatu barisan kecil dibagian tengah ternyata berseragam prajurit
Mongol.
Inipun belum aneh, yang aneh adalah beberapa “orang penting” dalam barisan Mongol itu, yang
menunggang kuda tinggi besar di-tengah2 itu ternyata bukan lain daripada Mufali komandan Sinek-
ong (batalyon sayap sakti) yang terkenal dalam pasukan Mongol. Sedang dikanan-kiri Mufali
adalah Ulitu dan Abul, kedua jago kemah emas. Yang rada dibelakang Mufali adalah seorang
hwesio besar dengan wajah merah bercahaya.
Melihat tempat Mufali ditengah barisan Mongol tu pantasnya dia adalah pucuk pimpinan dari
pasukan itu, akan tetapi ada lagi seorang perwira Mongol yang bercampur ditengah pasukan2 yang
mula2 tidak diperhatikan oleh Li Su-lam, tapi kemudian ia menjadi terkejut setelah mengenalinya.
Siapakah perwira yang mengejutkan ini? Kiranya tak lain tak bukan adalah pangeran ke empat
kerajaan Mongol, Dulai adanya.
Mufali adalah panglima Mongol, kedudukannya dengan sendirinya sangat tinggi, tapi kalau
dibandingkan Dulai yang pernah menjabat “Mangkubumi” waktu ayah bagindanya wafat, tentu saja
pangkat kedua orang selisih sangat jauh.
Tapi sekarang Mufali menunggang kuda tinggi besar dan diiring dibagian tengah, sebaliknya Dulai
berseragam perwira rendahan dan mencampurkan diri dibelakang barisan, terang dulai sengaja
menyamar sebagai pengiring Mufali, hal ini sungguh terlalu aneh dan menarik bagi Li Su-lam.
Li Su-lam dan Nyo Wan menyamar sebagai suami-istri petani, mereka mengira Dulai dan Mufali
tentu pangling kepada mereka maka mereka lantas ikut menyingkir ketepi jalan bersama orang
banyak.
Tiba2 terdengar Mufali bersuara heran, lalu menoleh dan entah bicara apa dengan hwesio besar tadi.
Habis itu mendadak si hwesio melontarkan suatu pukulan jauh kearah Li Su-lam. Seketika Li Sulam
merasa didorong oleh suatu tenaga maha dahsyat,tanpa kuasa ia menyelonong kedepan beberap
langkah baru dapat menahan diri lagi.
Kalau Li Su-lam Cuma hampir jatuh saja, tapi orang2 lain dijalanan itu menjadi korban, terdengar
jerit ngeri beberapa kali, beberapa orang dibelakang Li Su-lam telah roboh dengan mulut dan
hidung mengeluarkan darah, tampaknya sudah binasa.
“Sungguh hebat ilmu sakti Hoat-ong, pantas bergelar jago nomor satu didunia ini. Sungguh
mengagumkan!” demikian terdengar seorang perwira Kim memberi pujian.
Mungkin perwira Kim itu mengira pukulan hwesio itu hanya sekedar menghalau orang2 yang
berkerumun ditepi jalan, maka tidak menaruh perhatian terhadap Li Su-lam yang menjadi sasaran
serangan itu, barisan itupun dalam sekejap saja sudah lalu.
Diam2 Li Su-lam mengerahkan tenaga dalam untuk mengatur pernapasan dan menghilangkan rasa
sesak akibat tenaga pukulan si hwesio tadi.
“Kau tidak apa2 bukan? Tanya Nyo Wan.
“Tidak apa2,” sahut Li Su-lam. “Lihai sekali hwesio tadi.”
“Perwira Kim tadi memanggilnya Hoat-ong, mungkin sekali adalah Koksu Mongol Liong-siang
Hoat-ong,” ujar Nyo Wan.
Ketika di Mongol dulu Li Su-lam tiada kesempatan bertemu dengan Liong-siang Hoat-ong, Cuma
ia pernah mencoba kepandaian beberapa murid Hoat-ong yang menjadi jago kemah emas Jengis
Khan, maka ia cukup kenal ilmu silat aliran mereka.
“Mungkin Duai dan Mufali telah mengenali kau, maka sengaja suruh Liong-siang Hoat-ong
menyerang kau,” kata Nyo Wan pula dengan kuatir. “Melihat gelagat, terang merekapun hendak
menuju ke Taytoh.”
“Besar kemungkinan cocok dengan dugaanmu,” sahut Li Su-lam. “Cuma kitapun pantang mundur.
Betapapun kita harus tetap menuju ke taytoh.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dalam pada itu suasana ditepi jalan tadi sedang ribut karena jatuhnya korban akibat pukulan si
hwesio tadi. Ada yang menangis ada yang mencaci maki akan kebuasan orang Mongol yang
dianggap tiada ubahnya seperti orang Kim.
Dari keterangan yang diperoleh Li Su-lam dari beberapa orang yang berkerumun disitu, diketahui
bahwa tersiar berita dikotaraja Kim dan sekitarnya bahwa antara pihak Kim dan Mongol sedang
diadakan perundingan perdamaian, bahkan katanya pihak Kim yang minta berdamai. Karena itu
hari ini penduduk setempat be-ramai2 ingin melihat utusan pihak Mongol yang tiba itu, tak terduga
malah terjadi bencana seperti tadi.
Li Su-lam menceritakan kabar yang diperoleh itu kepada Nyo Wan, lalu kedua orang itu
melanjutkan perjalanan ke taytoh.
Suasana diibukota Kim itu sangat meriah, diberbagai tempat dipajang dengan macam2 gapura dan
pertunjukan untuk menyambut kedatangan utusan Mongol, rakyat yang datang menonton keramaian
itu ber-jubel2, maka Li Su-lam berdua dengan aman dapat memasuki kotaraja itu dengan aman.
Setiba didalam kota, segera Li Su-lam berdua menuju kemarkas cabang Kay-pang .
Dengan girang pimpinan cabang Kay-pang yang bernama Lau Kan-luh menyambut kedatangan Li
Su-lam itu. Cui Tin-san yang sudah berada disitu juga ikut keluar menyambut.
Cui Tin-san sudah kenal Li SU-lam ketika di Long-sia-san dahulu, maka ia merasa pangling kepada
Li Su-lam dalam keadaan menyamar itu. Tapi setelah Su-lam membuka suara barulah Cui Tin-san
yakin berhadapan dengan sang Bengcu yang asli.
“Kabarnya Liok-pangcu kalian sudah tiba di Taytoh sini, tentu beliau berada disini bukan?” tanya
Su-lam kepada Lau Kan-luh.
Pangcu atau ketua Kay-pang yang bernama Liok Kun-lun adalah tokoh persilatan terkenal, apalagi
Kay-pang adalah serikat kaum pengemis, suatu organisasi massa yang terbesar, kedatangan Li Sulam
kekotaraja Kim dengan menyerempet bahaya ini tujuannya juga ingin bertemu dengan Liok
Kun-lun yang sudah lama dikaguminya,terutama ia ingin mengadakan kerja sama dengan pihak
Kay-pang disamping dapat pula membantu Ci In-hong dan Kok Ham-hi membinasakan Yang
Thian-lui.
Lau Kan-luh adalah Sutit (murid keponakan) Liok kun-lun, maka dengan terus terang ia menjawab:
“Susiok memang sudah berada disini, saat ini beliau sedang main catur dengan seorang Hanlocianpwe
ditaman belakang. Marilah kita ketaman dibelakang untuk menjumpai beliau.”
“Han-locianpwe yang kau maksudkan itu apakah Han-tayhiap Han Tay-wi yang tinggal di Lokyang
itu?” tanya Su-lam.
“Benar, Han-locianpwe datang kesini bersama anak perempuannya pula,” sahut Lau Kan-luh.
“Sungguh kebetulan sekali,” ujar Su-lam dengan girang. “Han-locianpwe juga tokoh yang sudah
lama aku kagumi.”
Han Tay-wi adalah tokoh satu angkatan dengan Kok Peng-yang , guru Li Su-lam. Sering Kok Pengyang
membicarakan Han Tay-wi dengan Su-lam. Jago tua she Han ini terkenal kaya diwilayah
Lokyang, tapi kota ini akhirnya jatuh kepihak Mongol, terpaksa Han Tay-wi mengungsi bersama
anak perempuannya dan mondok dicabang Kay-pang di taytoh.
Begitulah Li Su-lam ikut Lau Kan-luh ketaman belakang, dilihatnya seorang tua berbaju hijau
sedang main catur bersama seorang laki2 kekar setengah umur. Cara mereka bermain catur sungguh
aneh sekali, boleh dikata belum pernah dilihat Li Su-lam.
Papan catur yang dipakai bukan ditaruh dimuka kedua pemain, tapi digantung di dinding didepan
sana.
Disamping orang tua berbaju hijau ada pula seorang nona jelita. Li Su-lam menaksir siotang tua
tentu Han Tay-wi adanya dan laki2 kekar yang menjadi lawan caturnya adalah ketau Kay-pang,
Liok Kun-lun.
Dari penjelasan Lau Kan-luh, ternyata dugaan Li Su-lam tidak keliru, Bahkan Lau Kan-luh
menerangkan pula: “Nona yang berdiri disamping Han-locianpwe itu adalah anak perempuannya
bernama Han Pwe-pwe, seorang pendekar jelita yang punya nama juga didunia kangouw.
“Tampaknya permainan catur mereka sedang tegang, sementara jangan kau kejutkan mereka, ujar
Su-lam.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dalam pada itu terdengar Liok Kun-lun sedang berkata: “Han-taosiok, sekarang giliranmu !”
Terdengar Han Tay-wi bergelak tertawa, katanya: “Liok-laute, permainanmu hari ini sungguh
sangat garang, rasanya aku yang sudah tua ini tidak sanggup menangkis.”
Habis berkata, ia comot satu biji catur putih terus disambitkan kepapan catur yang tergantung di
dinding sana. “Plok”, biji catur putih itu tepat hingga dan masuk diantara garis silang catur yang
dituju.
(Perlu diterangkan bahwa catur yang dimaksudkan disini disebut “WI KI” yakni semacam
permainan catur kuno yang biasanya Cuma digemari dinegeri Tiongkok dan Jepang, biji caturnya
serupa bentuknya, terbagi dalam warna hitam putih, masing2 terdiri dari 150 biji. Papan catur
bergaris silang 17 dan kemudian dibaharui menjadi 19 garis silang. Cara bermainnya adalah kepung
mengepung sehingga pihak lawan menghadapi jalan buntu dan tak berdaya yang berarti menyerah).
Menurut posisi permainan kedua orang pada waktu itu, tempat yang dimainkan Han tay-wi tadi
adalah bertujuan merebut posisi pojok.
Li Su-lam terkejut melihat cara permainan catur yang aneh itu, ia pikir cara bercatur demikian
bukan saja bertanding kepandaian catur, bahkan juga bertanding kepandaian menggunakan Amgi
(senjata rahasia).
“Han-toasiok, pojok itu harus kupertahankan,” terdengar Liok Kun-lun berkata. Lalu iapun
mengambil satu biji hitam dan disambitkan kegaris silang yang dimaksudkan, tujuannya hendak
merebut posisi pojok garis lintang. Maka terjadilah serang menyerang antara biji hitam dan putih
itu.
Setelah mengikuti permainan catur itu sejenak, diam2 Li Su-lam membatin: “Kekuatan catur kedua
orang ini tampaknya selisih tidak banyak, kepandaian menggunakan Amgi merekapun sejajar.
Cuma Liok-pangcu melulu memusatkan perhatiannya berebut posisi pojok dengan pihak lawan,
sebaliknya melupakan bagian luar, akhirnya mungkin dia akan kebobolan.
Tiba2 terdengar sinona jelita tadi berkata: “Ayah, babak ini mungkin engkau harus meneyrah
kepada Liok-pangcu !”
“Masak ya ?” ujar Han Tay-wi dengn tersenyum.
Li Su-lam sendiri berpikir bila Han tay-wi mau taruh biji caturnya pada garis silang tengah, maka
tujuh bagian dia pasti akan menangkan lawannya.
Benar juga, segera tertampak Han tay-wi memungut satu biji putih, “plok”, dengan tepat ia
sambitkan biji catur itu ke-tengah2 papan dan tepat menclok pada garis tengah. Sebagai seorang
penggemar catur, melihat langkah yang diambil Han tay-wi itu cocock benar dengan taksirannya,
saking senangnya sampai ia berseru bagus.
Liok Kun-lun bergelak tertawa, katanya: “Pemain memang seringkali lalai, aku memusatkan
perhatian untuk berebut suatu tempat pojok dan lupa kepada bagian tengah. Babak ini sudah pasti
aku kalah,tidak perlu diteruskan lagi.”
Lalau han tay-wi berkata: “Liok Kun-lun, sungguh aku tidak tahu bahwa didalam Kay-pang kalian
masih ada seorang ahli catur. Mengapa tidak katakan padaku sajak tadi?” ~ Nyata yang dia
maksudkan adalah Li Su-lam yang berseru memuji tadi.
Dengan tertawa Lau Kan-luh lantas perkenalkan mereka.
LI Su-lam memberi hormat kepada kedua orang tua itu, lalu berkata: “Dari guruku sudah sering
Wanpwe mendengar nama besar kedua Cianpwe, sungguh beruntung hari ini dapat berjumpa
disini.” ~ Kemudian iapun memberitahukan nama gurunya, yaitu Kok Peng-yang.
“Ah, kiranya kau adalah murid Kok-laute, pantas punya kepandaian begini bagus,” ujar Han tay-wi.
Kemudian Han Tay-wi menceritakan kejadian dimasa lalu, iapernah main catur bersama Kok Pengyang
selama sepuluh hari sehingga lupa makan dan lupa tidur, akhirnya guru Li Su-lam menang
satu babak lebih banyak.
Baru sekarang Li Su-lam paham bahwa yang dipuji oleh Tan Tay-wi tadi kiranya adalah soal
kepandaian main catur.
Sifat Han Tay-wi memang rada aneh, rada eksentrik, terhadap orang yang kurang cocok dengan
seleranya mungkin seharian takkan diajak bicara, tapi kalau cocok dengan hatinya, maka dia akan
mengobrol tak henti2nya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Bahkan ia lantas memberitahukan Li SU-lam bahwa sebenarnya diantara dia dan Kok Peng-yang
malahan boleh dikata sudah terikat menjadi besan. Sebab anak perempuannya yaitu Han Pwe-eng
telah bertunangan dengan putri Kok Yak-hi dari Yangciu.
“Menantu kesayangan Han-loenghiong adalah Kok-siauhiap. Kok Siau-hong yang akhir2 ini
namanya sangat menonjol dikalangan kangouw itu, “ demikian Liok Kun-lun menambahkan.
“O,” hanya sekian saja Li Su-lam mengiakan. Diam2 ia merasa geli akan perbesanan yang
dimaksudkan itu. Padahal antara Kok Peng-yang dan Kok Yak-hi meski sama2 she Kok, tapi
keduanya terlahir dari nenek moyang yang jauh sekali angkatannya. Hanya saja nama baik Kok
Yak-hi didunia kangouw memang cukup terkenal dan tidak dbawah Kok Peng-yang.
Begitulah Han Pwe-eng, anak perempuan Han Tay-wi yang berada disebelahnya itu menjadi tersipu2
katanya: “Aih, ayah ini bagaimana sih, mengapa bicara melantur. Li-toako tentu ada urusan
penting yang hendak dibicarakan dengan Liok-pangcu, mengapa ayah bicara urusan tetek-bengek.”
“Ya, ya, penyakitku kembali kambuh lagi,” ujar Han Tay-wi dengan tertawa. “Baiklah, silahkan
kalian bicara yang lebih penting, sebentar lagi kita boleh mengobrol.”
Walaupun begitu kembali Han Tay-wi menyimpang lagi ketika melihat Nyo Wan, segera ia
bertanya pula tentang diri sinona. Maka Cui Tin-san yang perkenalkan Nyo Wan kepadanya,
ditambahkan bahwa nona Nyo adalah bakal istri Li-bengcu.
Keruan NYo Wan menjadi malu. Dengan girang Han Tay-wi lantas berkata kepada anak
perempuannya: “Pwe-eng, kau harus banyak bergaul dengan nona Nyo ini, kalian sudah terhitung
sesama anggota keluarga.”
“Ai, ayah memang suka omong macam2 saja.” Omel Han Pwe-eng. Lalu iapun berkata kepada Nyo
Wan: “Nyo-cici, marilah kita bicara sendiri disamping sana, jangan dengarkan ocehan ayah.”
Han Tay-wi tertawa ter-bahak2, ditambahkannya: “Haha, anak perempuan memang suka malu2
kucing.”
Setelah mengetahui keadaan diri Han Pwe-eng, bagi Nyo Wan persoalannya menjad lebih mantap.
Maklumlah, asal-usul Han Pwe-eng lebih bersekatan dengan dia, sama3 berasal dari keluarga
berada, maka setelah bicara sejenak, kedua nona merasa sangat cocok sekali.
Dalam pada itu Li Su-lam juga lantas mengalihkan pokok pembicaraannya dengan Liok Kun-lun
dan menceritakan pengalamannya dalam perjalanannya.
Kiranya ditengah jalan kau telah pergoki utusan Mongol,” kata Liok Kun-lun. “Setahu kami,
rombongan orang Mongol itu semuanya tinggal didalam istana Yang Thian-lui.”
Li Su-lam menjadi kuatir, katanya: “Jika Koksu dari Mongol itupun tinggal ditempat yang Thianlui,
maka usaha Ci In-hong dan Kok Ham-hi untuk membereskan orang she Yang itu rasanya akan
mengalami kesulitan.”
“Liong-siang Hoat-ong itu suka membual bahwa dia punya Lion-siang-sin-kang tiada tandingannya
didunia ini, kukira belum tentu demikian halnya.” Ujar Han Tay-wi. “Liok-laute, jikakau bergabung
dengan aku,kukira kita dapat menempur dia dengan sama dahsyatnya.”
“Han-toasiok sudah lama bertirakat dirumah, nyatanya masih punya hasrat bertempur,” sahut Liok
Kun-lun dengan tertawa. “Bilamana ada kesempatan bertemu dengan Liong-siang Hoat-ong dengan
senang hati aku akan mengikuti engkau untuk menmpurnya.”
“Soalnya bukan hasrat segala,” kata Han Tay-wi. “Dalam keadaan perang begini, meski aku tidak
ingin tahu urusandiluar, tapi urusan diluar justru mencari perkara padaku. Tartar Mongol telah
menghancurkan rumahku, apakah sekarang aku harus jeri terhadap Koksu Mongol itu?”
“Bila kedua Locianpwe suka tampil kemuka, sungguh bagus sekali urusannya,” kata Li Su-lam
dengan girang.
“Kamipun sudah mendapat kabar bahwa pihak Kim minta berdamai kepada pihak Mongol,” kata
Liok Kun-lun. “Tapi para panglima perang Mongol kabarnya masih tetap akan mengerahkan
pasukannya,untung Dulai setuju berdamai, makanya diputuskan untuk menerima permintaan damai
pihak Kim. Mungkin sekali lantaran wafatnya Jengis Khan, Dulai ingin menentramkan dalam
negeri sendiri dulu, habis itu baru memeusatkan kekuatan nya untuk menghadap luar.”
“Dulai adalah putra paling pintar diantara keempat putra Jengis Khan,kedatangannya ke taytoh
sekarang ini tentu membawa muslihat tertentu, kita harus waspada,’ ujar Han Tay-wi. “Li-laute,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
apakah kau tidak salah lihat, benar2 Dulai ikut datang?”
“Pasti tidqak salah,” sahut Su-lam. “Waktu itupun aku merasa heran mengapa Dulai perlu
menyamar segala?” Tapi setelah dipikir sekarang, mungkin cocok dengan dugaan Han-locianpwe,
Dulai merencanakan sesuatu muslihat, dalam keadaan menyamar dia akan lebih mudah mengatur
dan bertindak menurut keadaan.”
Tanpa terasa hari sudah magrib, makatempat bermalam Li Su-lam lantas dibicarakan. Menurut Han
Tay-wi, daripada tinggal didalam markas Kay-pang itu, ada lebih baik Li Su-lam tinggal dirumah
Han Tay-wi saja, terutama untuk menghindari pengintaian musuh.
Kiranya Han Tay-wi masih punya sisa harta, maka dia membeli sebuah rumah di ibukota kerajaan
Kim ini, rumah itu terletaj tidak jauh dari tempat Kay-pang.
Li Su-lam pikir kalau Nyo Wan mendapatkan teman sebagai nona Han,hal ini tentu jauh lebih baik
daripada tinggal ditempat Kay-pang. Maka dengan senang hati ia lantas menerima baik ajakan Han
Tay-wi itu.
Ternyata tujuan Han Tay-wi mengundang Li SU-lam tinggal dirumahnya itu masih ada maksud lain
lagi, yaitu bisa main catur dengan Li Su-lam. Memangnya untuk sementara waktu Li Su-lam juga
mesti menunggu berita tentang kedatangan Ci In-hong dan Kokham-hi, daripada keluyuran di
luaran, dengan suk ahati Su-lam mengiringi Han Tay-wi main catur di rumah.
Nyo Wan dan han Pwe-eng juga sangat cocok satu sama lain. Cuma Pwe-eng adalah seorang nona
yang suka bergerak, ia tidak dapat berdiam didalam rumah seperti ayahnya.
Pada suatu hari Pwe-eng mengajak Nyo Wan pesiar keluar, melancong di kotaraja Kim yang ramai
itu.
Memangnya Nyo Wan sudah lama tinggal dipegunungan, sudah tentu ajakan itu sangat menarik
baginya. Cuma iapun kuatir kalau terjadi apa2, maka ia pikir mesti minta izin dulu kepada Li Sulam.
“Mereka sedang asyik main catur, mana mau perhatikan kita,” ujar Pwe-eng. “Kita keluar sebentar
saja secara diam2, sepulang kita nanti mungkin permainan catur mereka belum tentu selesai.”
Nyo Wan pikir dirinya dalam keadaan menyamar, rasanya juga tiada kenalan dikotaraja Kim ini
sehingga tiada halangan buat melancong sebentar selagi Li Su-lam asyik main catur dengan Han
Tay-wi.
Dan memang benar juga, Li Su-lam dan Han Tay-wi waktu itu sedang tenggelam dalam
pertarungna sengit diatas papan catur mereka. Tanpa terasa hari sudah dekat petang, diluar dugaan,
sampai saat itu Han Pwe-eng dan Nyo Wan ternyata belum pulang.
Setelah Li Su-lam dan Han Tay-wi selesai bercatur barulah mereka ingat akan kedua nona yang tak
tampak bayangannya sejak tadi. Waktu dicari dibelakang dan ditanyakan tukang kebun dan tukang
masak, ternyata merekapun tidak tahu kemana perginya nona majikan.
Su-lam menjadi kuatir, tapi Han Tay-wi coba menghiburnya: “Mungkin anak perempuanku
mengajak nona Nyo pesiar keluar, kukira takkan terjadi apa2, sebentar tentu mereka akan pulang.”
~ Walaupun demikian diam2 iapun merasa gelisah karena tidak menjaga Han PWe-eng untuk
keluar sampai hari sudah magrib.
Kemana perginya Han Pwe-eng dan Nyo Wan waktu itu?
Ketika Nyo Wan ikut Han Pwe-eng sampai dipusat kotaraja Kim itu, ia benar2 terpesona oleh
keramaian kota dan bingung oleh lalu-lalangnya manusia yang ber-jubel2. Kaum wanita dinegeri
Kim jauh lebih bebas daripada adat diwilayah Song selatan yang kolot dan dikungkung didalam
rumah. Maka Nyo Wan merasa senang dan lega karena diantara manusia yang lalu lalang itu
ternyata banyak sekali kaum wanitanya.
Dengan penuh semangat Pwe-eng membawa Nyo Wan pesiar kesekeliling benteng keraton untuk
melihat istana yang megah dan genting kacanya yang mengkilap itu. Kemudian diajaknya pula
pesiar kebeberapa tempat tamasya yang terkenal didalam kota.
Sementara itu hari sudah jauh lewat lohor, kuatir dicarai Li Su-lam, Nyo Wan mengusulkan pulang
saja. Namun hasrat Han Pwe-eng ternyata belum mereda, ia mengajaknya pula pesiar kesuatu
tempat yang disebut “Thian-kiau”, suatu tempat yang lazim nya disebut alun2, suatu lapangan yang
luas dengan macam2 tontonan dan orang berjualan, suatu pasar yang serba ada.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Karena tertarik, Nyo Wan tidak menolak ajakan itu. Setiba ditempat itu, benar juga Nyo Wan
menjadi sangat senang melihat ramainya pasar itu. Ia membeli beberapa benda pajangan,
maksudnya akan dibawa pulang buat Li Su-lam.
Tiba2 mereka mendengar suara gembereng yang ditabuh ber-talu2. Kiranya adalah ayah beranak
perempuan sedang mengamen disebelah sana, pengamen ilmu silat. Gembereng itu dibunyikan
untuk menarik penonton.
Dasar Han Pwe-eng suka akan keramaian, setelah ikut berkerumun dan melihat sebentar, ia berkata
kepada Nyo Wan: “Nona cilik itu tampaknya ada sedikit kepandaian, rupawan pula, marilah kita
melihat sebentar lagi.”
Sementara itu penonton sudah banyak berkerumun dan mengitari kalangan pengamen ilmu silat
ayah beranak itu. Selagi Nyo Wan dan Pwe-eng hendak ikut berkerumun lebih dekat, tiba2 Nyo
Wan merasa seorang laki2 menubruknya dari samping, karena tidak ter-sangka2, dengan tepat Nyo
Wan keseruduk.
Dengan gusar Pwe-eng lantas mendamprat. “Hai apakah kau jalan tidak pakai mata?” ~ Berbareng
sebelah tangannya lantas mendorong.
Tak terduga dari samping mendadak menyelonong seorang lagi dan menghadaang didepan Han
Pwe-eng, dorongan Pwe-eng tadi malah tertolak kembali oleh suatu tenaga yang kuat. Keruan Pweeng
terkejut tak terduga olehnya bahwa ditempat yang ramai ini bisa ditemukan seorang jago silat
kelas tinggi.
Pada saat yang bersamaan Nyo Wan juga sempat melihat jelas siapa orang yang menumbuknya
tadi. Sungguh kejut Nyo Wan tak terkatakan demi mengenali orang itu.
Kiranya orang itu bukan lain daripada Dulai, pangeran Mongol yang berkuasa itu. Kini Dulai juga
menyamar sebagai rakyat Kim umumnya.
Dengan cengar cengir Dulai lantas berkata: “Selamat bertemu nona Nyo, sungguh tidak nyana kita
dapat berjumpa pula disini!”
Nyo Wan cukup cerdik juga, sesudah terkejut segera terpikir olehnya bahwa Dulai tentu ada
maksud jahat terhadapnya, agar bisa selamat harus turun tangan lebih dahulu. Karena itu segera ia
menggunakan Kim-na-jiu-hoat, pundak Dulai lantas dicengkeramnya.
Meski ilmu silat Dulai tidak setinggi Nyo Wan, tapi kepandaiannya bergulat tergolong kelas satu
dikalangan jago gulat Mongol. Cepat Ia mendak kebawah, sebelah kaki lantas menjegal dan tangan
lain berbalik hendak menangkap pergelangan tangan Nyo Wan. Dengan sendirinya Nyo Wan juga
tidak gampang menyerah, segera ia memutar tubuh, telapak tangan juga lantas menarik, “bret” baju
Dulai terobek sebagian, namun tulang pundak Dulai juga luput tercengkeram.
“Nona Nyo,” kata Dulai setelah mundur dua tindak, “Caramu terhadap kawan lama bukankah rada
kasar?”
Menyusul Dulai lantas memberi isyarat, seorang laki2 lain lantas menyerang maju tanpa bicara Nyo
Wan terus melancarkan serangan berantai, namun orang itu dapat menangkisnya dengan mudah
saja.
“Cara bagaimana Tuanku ingin bereskan budak liar ini, hamba tunggu perintah!” kata orang itu
kepada Dulai dalam bahasa Mongol.
“Meski nona Nyo kurang simpatik terhadap teman lama, tapi aku ingat hubungan baik dimasa lalu
maka boleh kau tangkap dia saja, tapi jangan melukainya.” Kata Dulai kemudian.
Orang tadi mengiakan, sebelah tangannya lantas bergerak, dengan pelahan ia menolak kedepan,
kontan Nyo Wan merasakan dorongan tenaga yang sangat kuat hampir2 ia tidak sanggup bernapas.
Ingin mengelak, tapi hampir segenap penjuru terkurung oleh tenaga pukulan lawan. Kemahiran Nyo
Wan sebenarnya adalah main senjata, dalam hal ini hanya beberapa jurus saja sudah kewalahan.
Kiranya kedua lelaki teman Dulai ini adalah Ulitu dan Abul, kedua jago Mongol yang pernah
dihajar oleh Ci In-hong dan Kok Ham-hi di Pak-bong-san itu. Lawan Nyo Wan sekarang adalah
Ulitu dan lawan Han Pwe-eng adalah Abul.
Ulitu dan Abul adalah murid Liongsiang Goat-ong. Liong-siang-sin-kang mereka belum sanggup
menandingi “Thian-lui-kang” Ci In-hong dan Kok Ham-hi, tapi kelebihan kalau digunakan
menandingi Nyo Wan dan Pwe-eng. Karena itu tidak seberapa lama Nyo Wan berdua sudah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terdesak.
Para penonton yang mengerumuni pengamen silat tadi mula2 merasa tertarik melihat dua nona
berkelahi dengan dua lelaki kekar, tapi kemudian banyak yang tergetar jatuh oleh pukulan Ulitu dan
Abul yang dahsyat itu, karena itu barulah para penonton itu merasa kapok, sebagian ber-teriak2
sambil lari menyingkir.
Sekilas Han Pwe-eng melihat ayah beranak pengamen silat tadi sedang berbenah alat perabotnya
dan bermaksud menyingkir. Tergerak pikiran Pwe-eng mendadak ia melompat kesana dan tepat
berdiri disebelah nona pengamen tadi.
“Pinjam kedua batang golokmu ini nona cilik,” kata Han Pwe-eng.
Saat itu dua batang golok yang dupakai nona pengamen tadi belum lagi dimasukkan kedalam peti,
mak dengan sebat luar biasa Pwe-eng terus samber kedua senjata itu menyusul golok itu lantas
bekerja dan membacok kearah Abul yang mengejar tiba.
Keluarga Han terkenal dengan ilmu pedang “Keng-sin-kiam-hoat” meski Han Pwe-eng kurang
leluasa menggunakan golok, tapi golok digunakan sebagai pedang masih cukup lihai, karena itu
mau tak mau Abul meski berpikir dua kali sebelum menerjang maju lagi.
Kesempatan itu segera digunakan oleh Pwe-eng untuk berseru: “Enci Wan sambut golok ini!” ~
Berbareng ia terus lemparkan sebilah golok kearah Nyo Wan dan dapat ditangkap oleh Nyo Wan
dengan tepat.
Nyo Wan memang mahir menggunakan golok maupun pedang, dengan senjata ditangan, segera ia
keluarkan ilmu golok keluarga Nyo yang terkenal, sinar golok kemilauan menyelubungi seluruh
tubuhnya, begitu rapat pertahanannya sehingga anginpun tak menembus. Karena itu untuk
sementara Ulitu menjadi tak berdaya.
“Enci Wan, kita pulang saja, tinggalkan mereka!” seru Han Pwe-eng.
Nyo Wan tersadar, ia pikir memang betul seruan Pwe-eng itu, buat apa terlibat lebih lama disitu jika
kalah atau menang toh tetap tidak menguntungkan pihaknya. Maka dengan pura2 membacok dua
kali segera ia bermaksud melarikan diri.
Akan tetapi kepandaian lawan lebih kuat daripadanya, untuk meloloskan diri begitu sja tidaklah
mudah. Terpaksa bertempur sambil lari.
Tiba2 dari depan sana datang pula satu regu tentara Kim, seorang perwira lantas membentak untuk
menghentika keonaran itu. Rupanya regu tentara itu adalah pasukan patroli keamanan kota.
Dulai lantas mendekati perwira Kim itu dan perkenalkan diri sebagai pengiring Mufali. Selagi
perwira Kim itu terkejut, tiba2 datang lagi empat Busu Mongol bersama seorang hwesio gemuk.
Melihat Dulai segera hwesio dan keempat pengiringnya memberi hormat. Nyata hwesio besar itu
adalah Liong-siang Hoat-ong, Koksu negeri Mongol.
Biarpun tidak kenal Dulai, perwira Kim itu ternyata tahu siapa si hwesio besar itu. Maka tanpa
tanya lagi segera ia perintahkan anak buahnya mengube Nyo Wan dan Han Pwe-eng.
“Tidak perlu kalian ikut campur, asalkan kedua budak itu tidak dapat lolos sudahlah cukup, nanti
aku yang membekuk mereka,” kata Dulai.
“Apa susahnya jika hendak menangkap kedua budak itu, kalian mundur semua!” ujar Liong-siang
Hoat-ong.
Ulitu dan Abul tahu sang guru akan menggunakan Liong-siang-kang yang dahsyat, maka cepat
mereka menyingkir kepinggir. Waktu Liong-siang Hoat-ong memukulkan sebelah tangan dari jauh,
dengan tepat tenaga pukulannya dapat mencapai tubuh Han Pwe-eng dan Nyo Wan yang waktu itu
berada belasan meter jauhnya.
Liong-siang-kang yang diyakinkan Liong-siang Hoat-ong sudah mencapai tingkat sempurna, begitu
hebat sehingga dapat dikuasai sesuka hatinya, maka tenaga pukulannya itupun kena pada
sasarannya secara pas saja, Nyo Wan berdua hanya merasa badan kaku kesemutan, lalu jatuh
terkulai tanpa terluka, hanya saja tidak berkutik lagi.
Segera Dulai perintahkan dua Busu agar membawa Nyo Wan dan Pwe-eng pulang keistana Yang
Thian-lui dan supaya diperlakukan dengan sopan.
Setiba ditempat kediaman Yang Thian-lui, dengan cengar cengir Dulai berlagak minta maaf kepada
Nyo Wan, katanya: “Jangan kuatir, nona Nyo, Li Su-lam dan aku adalah saudara angkat, tentu aku
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
akan perlakukan kau dengan baik. Bahkan aku dapat …….” Sampai disini mendadak ia cabut tusuk
kundai yang dipakai Nyo Wan.
Keruan Nyo Wan berteriak terkejut. Namun Dulai sudah lantas menyambung dengan tertawa:
“Jangan kuatir, maksudku jika kau sangsi, biarlah aku mengundang pula saudara Li kesini untuk
menemui kau.”
Jilid 15 bagian kedua
Sekarang kembali kepada Han Tay-wi dan Li Su-lam yang sedang me-nunggu2 pulangnya Han
Pwe-eng dan Nyo Wan. Akan tetapi sampai hari sudah gelap kedua nona itu masih belum nampak
pulang, dengan sendirinya mereka menjadi gelisah dan kuatir.
Segera Han Tay-wi mohon diri untuk mendatangi cabang Kay-pang yang punya hubungan luas itu
agar mencari jejak anak perempuannya bersama Nyo Wan.
Li Su-lam sendirian menunggu dirumah Han Tay-wi. Sampai hari sudah dekat tengah malam,
bukan saja Han Pwe-wng dan Nyo Wan tetap belum pulang, bahkan Han Tay-wi juga belum
kembali. Keruan Su-lam tambah kuatir, pikirannya menjadi kacau, dia pikir Nyo Wan dalam
keadaan menyamar, kepandaian nona Han juga tidak rendah, tentu tidak terjadi sesuatu yang
berbahaya. Bisa saja mereka juga tersesat jalan saja.
Dengan perasaan tidak tenteram, Su-lam mondar mandir didalam kamarnya, tanpa terasa kentongan
yang ditabuh peronda sudah menunjukkan tengah malam. Maikin gelisah hatinya. Kalau Nyo Wan
tetap belum pulang mungkin karena mengalami sesuatu, tapi Han Tay-wi yang pergi kemarkas kaypang
itupun belum pulang, hal inilah yang dirasakan makin janggal, padahal letak markas cabang
Kay-pang itu tidak jauh dari rumah keluaraga Han itu.
Selagi ia merasa ragu2 apakah mesti menyusul ketempat Kay-pang atau tidak, se-konyong2 diluar
jendela ada terkelebatnya bayangan orang.
“Kau sudah pulang Han-locianpwe?” seru Su-lam dengan girang.
Diluar dugaan, “plok” satu potong benda kecil warna hijau tahu2 menancap diatas meja. Waktu Sulam
meng-amat2i, dikenalnya benda itu adalah tusuk kundai milik Nyo Wan. Keruan ia terkejut,
cepat ia membentak: “Siapakah yang datang itu?”
Seorang diluar lantas menjawab: “Kami datang menyampaikan berita tentang nona Nyo, silahkan
keluar saja!”
Cepat Su-lam melolos pedang, ia putar kencang pedangnya untuk menjaga diri, lalu melompat
keluar melalui jendela. Dilihatnya di-semak2 bunga sana berdiri sejajar dua orang laki2 berbaju
hitam. DIbawah sinar bulan yang remang2 wajah mereka kurang jelas, tapi dapat diketahui pasti
orang yang belum dikenal.
Seorang diantaranya lantas buka suara: “Li-bengcu tidak pelu sangsi, marilah ikut bersama kami
saja!”
Li Su-lam tahu apa artinya ajakan mereka itu, tanpa pikir ia masukkan pedang kesarungnya, lalu
bertanya: “Nona Nyo berada dimana ? Terjadi apa atas dirinya?”
“Ikut saja bersama kami, setelah bertemu dia tentu kau akan tahu sendiri,” jawab orang tadi.
“Mengapa kalian tidak mau memberitahukan aku sekarang saja?” tanya Su-lam.
Seorang lagi rupanya berwatak lebih berangasan, tiba2 orang ini mendengus dan berkata: “Hm,
tidak perlu banyak bicara, jika Li-kongcu percaya kepada kami boleh silahkan ikut, kami tiada
tempo buat ngobrol dengan kau!” ~ Habis itu segera ia mendahului berlari keluar taman sana tanpa
pusing lagi kepada Su-lam.
Sebenarnya Li Su-lam adalah orang yang cerdas dan pemberani, jika dalam keadaan biasa tentu ia
tidak mau ikut kepada dua orang yang mencurigakan itu, tapi sekarang dia sedang bingung oleh
hilangnya Nyo Wan, tanpa banyak pikir ia terus ikut kejurusan ke dua orang itu.
Ginkang kedua orang itu ternyata tidak rendah, dengan kencang Li Su-lam mengikut mereka
memutari beberapa jalanan, akhirnya sampai dibelakang taman sebuah gedung besar.
Dibawah sinar bulan yang remang2 Li Su-lam dapat melihat atap gedung itu kemilauan, kiranya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pakai genting kaca semua. Ia tidak tahu bahwa menurut peraturan dikotaraja hanya rumah kediaman
raja dan kerabatnya baru boleh memakai genting kaca sebagai atap rumah. Tapi ia yakin orang yang
menempati gedung semegah itu tentu orang kaya dan berpangkat. Cuma ia tidak paham mengapa
Nyo Wan bisa datang ketempat demikian.
Dalam pada itu kedua orang berbaju hitam tadi lantas mendahului melompat pagar tembok taman
itu. Walaupun merasa sangsi terpaksa Li Su-lam mengikuti kedua orang itu, ia bertekad, “Kalau
tidak masuk sarang harimau, mana bisa mendapatkan anak harimau,” biarpun pihak lawan
bermaksud jahat terpaksa harus dihadapi juga.
Didalam taman ternyata ada sebuah rumah, setelah masuk kedalam rumah dan menyusuri sebuah
serambi yang panjang akhirnya Li Su-lam diajak masuk sebuah kamar.
“Silahkan Li-kongcu tunggu sebentar, segera nona Nyo akan datang,” kata kedua orang berbaju
hitam itu.
Sudah tentu Su-lam setengah percaya setengah tidak. Ia berduduk menunggu, tidak seberapa lama,
tiba2 terdengar suara seorang yang sudah dikenalnya berkata: “Su-lam, Anda (dalam bahasa
Mongol, Anda berarti saudara atau kawan), sudah lama kau menunggu.”
“sungguh kejut Su-lam tak terkatakan, orang yang bersuara itu jelas bukan lain daripada Dulai
adanya. Waktu Su-lam menoleh, benar juga Dulai sudah masuk kamar, dibelakangnya bahkan ikut
pula seorang hwesio gemuk besar, tak perlu dijelaskan lagi tentu Koksu negeri Mongol, Liongsiang
Hoat-ong yang terkenal itu.
Li Su-lam bukan orang bodoh, begitu melihat Dulai segera ia tahu dirinya telah masuk perangkap
yang diatur oleh Dulai. Kalau saja yang berhadapan dengan dirinya Cuma Dulai seorang masih
mudah dilayani, tapi sekarang Li Su-lam tidak berani sembarangan bertindak.
Setelah menutup pintu kamar, lalu Dulai berkata pula dengan tertawa: “Anda Su-lam, tidak nyana
kita dapat berjumpa di taytoh sini. Di Holin dahulu engkau pergi tanpa pamit, selama ini aku benar2
selalu terkenang padamu.”
“Banyak terima kasih atas perhatianmu,” sahut Li Su-lam dengan tak acuh.
“Kabarnya sekarang kau telah menjadi Lok-lim Bengcu didaerah utara sini, sungguh
menggembirakan dan terimalah ucapan selamat” dariku kata Dulai pula.
Li Su-lam tidak sabar lagi segera ia bicara langsung ke persoalan pokok: “Akupun mendapat kabar
bahwa Nyo Wan berada ditempatmu ini entah betul tidak?”
“Anda Su-lam benar2 seorang kekasih yang berburu baru datang sudah lantas ingin lekas bertemu
dengan nona Nyo,” sahut Dulai dengan tertawa. “Hahaha, memang tidak salah, nona Nyo berada
disini, jangan kuatir, pasti kuperlakukan dia dengan baik.”
“Ya, aku memang ingin bertemu dengan dia,” kata Su-lam. “kau memanggil Anda padaku, tentunya
kau takkan melarang aku menemuinya bukan?”
“Tentu, sudah tentu,” sahut Dulai. “Cuma, hendaknya jangan ter-buru2, marilah kita bicara sesuatu
lebih dulu.”
“Bicara apa?” kata Li Su-lam dengan mendongkol. “Nona Nyo adalah bakal istriku, hal ini kau
sendiri sudah tahu, lalu apa maksudmu dengan menangkapnya kesini,” Kalau bakal istriku tidak kau
bebaskan diantara kita dapat bicara apa lagi?”
“Bila aku tidak mengundang nona Nyo kemari, lalu apakah aku dapat mengundang kau pula
kesini?” kata Dulai dengan tertawa.
“Baiklah, sekarang akupun sudah berada disini, lalu apa kehendakmu, bicaralah!”
“Begini Anda Su-lam, maksudku mengundang kau kesini, pertama ingin bicara soal2 hubungan
baik kita dimasa lampau, kedua akupun ada urusan pribadi dan urusan tugas yang ingin
kurundingkan dengan kau. Aku tahu engkau selalu teringat kepada nono Nyo, maka baiklah kita
boleh bicara urusan pribadi lebih dulu. Jika kau ingin kubebaskan nona Nyo, kukira tidak sukar,
hanya saja kaupun harus melepaskan orangku.”
Seketika Li Su-lam tidak paham maksud ucapan Dulai, sahutnya: “Bilakah aku pernah menahan
orangmu?”
“Orangku ini bukan ditangkap olehmu, Cuma orang ini sekarang justru berada ditempat kalian
sana,” kata Dulai.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Siapa yang kau maksud?” tanya Su-lam.
“Adik perempuanku si Minghui,” jawab Dulai. “Bicara terus terang, aku sudah mengetahui
minggatnya Minghui dari Holin adalah ingin mencari kau. Tentunya kalianpun sudah mengetahui
bukan?”
Ketika Yang Thian-lui berada di Pek-Koh-ceng disitulah dia melihat sendiri Putri Minghui ikut Ci
In-hong dan lain2 ke Long-sia-san. Sekarang Dulai tinggal ditempat Yang Thian-lui, dengan
sendirinya urusan diri Minghui tak dapat mengelabuinya.
Karena itu, dengan tegas Su-lam lantas menjawab: “Memang benar, aku sudah bertemu dengan adik
perempuanmu.”
“Akupun cukup paham isi hati adik perempuan ku itu,” kata Dulai pula, “Sebenarnya kalian adalah
pasangan yang setimpal. Cuma sekarang aku sudah memiliki nona Nyo, pertunangan Minghui
dengan Tin-kok juga belum dibatalkan. Demi kebaikan kalian sendiri, kuharap kau suka
memulangkan Minghui saja.”
Diam2 Su-lam mendongkol, jawabnya: “Dulai, jangan kau menyangka aku bermaksud mengincar
putri raja yang agung. Mengenai Minghui,apakah dia mau pulang atau tidak adalah haknya, aku
tidak dapat ikut campur.”
“Bukankah dia berada di Long-sia-san?” ujar Dulai. “Asalkan terima permintaanku dan suka
menulis surat kepada minghui, kuyakin dia pasti akan pulang.”
“Kau ingin aku menulis surat? Cara bagaimana harus kutulis?”
“Dengan sendirinya perlu kau membujuk dia agar suka pulang ke Mongol.”
“Bagaimana aku dapat menjamin bahwa dia akan menurut?”
“Jelaskan saja serba sulitmu, Aku cukup kenal watak adik perempuanku sendiri, dia takkan
membikin sulit padamu.”
“Secara blak2an saja, jadi kau ingin aku menukar Nyo Wan dan Minghui?”
“Benar, sedikitpun tidak salah, memang begitulah adanya!” sahut Dulai manggut2.
Maksud tujuan Dulai minta kembalinya Minghui sebenarnya bukan karena rasa sayang antara kakak
terhadap adiknya, tapi demi kehormatanKhan yang Agung dari kerajaan Mongol yang besar. Putri
suatu kerajaan besar minggat kenegeri musuh, kalau tidak dicari kembali tentu akhirnya akan
diketahui orang luar, hal ini tentu akan memalukan. Sebab lain yang mendorong Dulai untuk
mencari kembali Minghui adalah desakan Pangeran tin-kok. Mengingat Tin-kok masih memegang
kekuasaan miiter mau tak mau Dulai harus memikirkan faktor ini.
Sebaliknya Li Su-lam adalah seorang yang jujur, bahwasanya ia harus mencari kembali Nyo Wan,
tapi kalau untuk itu harus memaksa Minghui pulang kenegeri asalnya, hal inipun tak dapat
dilakukannya.
Kemudian Su-lam mendengus dan berkata: “Urusan pribadi kita tunda dulu, sekarang coba kau
katakan persoalan dinas tugas umum.”
“Baik”, sahut Dulai dengan tertawa. “Anda Su-lam, kau telah diangkat menjadi Lok-lim Bengcu,
sungguh menggembirakan dan harus diberi selamat.”
“Kaupun sudah menjadi panglima besar tentara Mongol,” akupun mengucapkan selamat
kepadamu,” kata Su-lam. “Tapi kau adalah panglima besar sebaliknya aku Cuma kepala bandit, lalu
ada urusan dinas apa yang dapat kita bicarakan.”
“Anda Su-lam, beritamu sungguh cepat sekali,” kata Dulai dengan tertawa. “Hehe justru karena
kedudukan kita berdua sekarang ini, diantara kita menjadi perlu adanya kerja sama yang rapat.”
“O, kau ingin aku bekerja sama dengan kau,” kata Su-lam menegas. “Coba jelaskan.”
Kembali Dulai bergelak tertawa, katanya: “Negeri Mongol kami dan negeri Kim adalah musuh
bebuyutan. Mendiang Khan agung kami pernah bersumpah akan membasmi negeri Kim, kau tentu
tahu akan hal ini. Sekarang kami berunding dengan Kim untuk perdamaian tidak hanya untuk
sementara saja, setiap saat bila ada kesempatan kami tetap akan mengerahkan pasukan ke Tiongkok
sini. Kedatanganku ke Taytoh sekarang adalah unuk mengawasa perundingan perdamaian ini dari
belakang layar, delain itu juga ingin tahu keadaan negeri Kim guna perencanaan pencaplokan
wilayah Tionggoan ini di kemudian hari, Usaha kami ini dapat mengelabuhi orang lain, tapi harus
diakui tak dapat mengelabuhi kau.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Hm, lalu mau apa?´jengek Su-lam pula.
“Aku tahu engkau adalah bangsa Han , seorang laki laki patriot. Maka akan kuberitahu pula bahwa
Mongol kami sudah mengadakan perjanjian rahasia dengan Song selatan, kedua negeri akan
berserikat dan menumpas Kim bersama. Ini berarti pula bahwa negeri Kim adalah musuh bersama
kita.””Hal inipun sudah lama kuketahui,” kata Su-lam acuh tak acuh.
“Bagus sekali jika kau sudah tahu,” ujar Dulai dengan ketawa. “Jika Kim sudah jelas adalah musuh
bersama kita, lalu kerjasama kita tidakkah sangat layak? Kelak bilamana aku mengerahkan pasukan
ke Tionggoan sini kuharap akan akan bantuanmu. Sudah tentu aku takkan melupakan bantuanmu
bila usaha besar kami sudah terlaksana, pasti akan kuangkat kau menjadi raja muda.”
“Banyak terima kasih,” jawab Su-lam dengan menjengek. “Pertama aku tidak gila kuasa dan tidak
ingin menjadi raja. Kedua, wilayah Tionggoan memangnya adalah milik bangsa Han, meski
sekarang dijajah Kim., tapi juga tidak rela dipotong-potong dan dibagi-bagi oleh bangsa Mongol
kalian.”
Dulai melengak, tapi segera iapun tertawa dan berkata: “ Anda Su-lam, engkau tidak kemaruk
kedudukan, sungguh harus dipuji. Tapi tentunya kau juga masih tunduk kepada perintah Song
selatan bukan? Kini Mongol sudah berserikat dengan Song, jika kau membantu aku berarti juga
membantu Kaisar kerajaan Song kalian.”
“Hm, aku hanya kenal kewajiban membantu rakyat bangsan Han kami,” jengek Su-lam pula.
“Kalau begitu, aku Cuma minta kalian tidak membantu pihak manapun bilamana kelak pasukanku
bergerak kesini,” kata Dulai.
“Kami memang tidak sudi membantu baik pihak Kim maupun pihak Mongol kalian,” sahut Su-lam.
“Yang pasti, pihak manapun yang menyerbu tanah air kami tentu akan kami lawan habis2an.”
“Jadi urusan pribadi maupun urusan negara sama sekali kau tidak dapat menerima permintaanku?”
Dulau menegas dengan menyesal.
Hati Su-lam menjadi kacau mengingat Nyo Wan berada dalam cengkeraman musuh, Nona itu sudah
sebatang kara, dahulu engkoh sinona sudah berkorban baginya, apakah sekarang mesti membikin
susah pula kepada sinona?
Dulai seperti dapat meraba perasaan Su-lam yang ragu2 itu, segera ia berkata pula: “Anda Su-lam,
jika kau inginkan kembalinya nona Nyo, adalah pantas kalau aku minta balas jasanya. Sebagai
kesempatan terakhir, sekali lagi kuharap kau pilih antara persoalan pribadi dan negara tadi,
kembalikan Minghui atau tidak memusuhi aku bila kelak aku masuk ke Tionggoan sini.”
“Malahan masih ada suatu soal yang lain yang mesti kau pertimbangkan,” tiba2 Liong-siang Hoatong
menimbrung.
“Soal apa?” tanya Su-lam.
“Jangan kau melupakan bahwa nona Han juga berada ditempat kami sini.” Kata Liong-siang Hoatong.
Baru sekarang Su-lam ingat akan diri Han Pwe-eng. Katanya: “Nona Han tidak berdosa apa2, kalian
harus membebaskan dia.”
“Benar, nona Han memang tidak berdosa,” kata Liong-siang. “Tapi seperti kata pribahasa:
“Tangkap harimau lebih gampang lepaskan harimau. Nona Han bukan harimau, tapi ayahnya adalah
seekor macan yang galak, mana kali boleh sembarangan membebaskan nona Han, kecuali kau
sudah terima syarat Si-ongcu (pangeran keempat), bahkan Han Tay-wi juga harus berjanji akan
pulang ke Lok-yang.”
Maklumlah bila Han Tay-wi sudah pulang ke Lok-yang yang menjadi wilayah kekuasaan Mongol,
mau tak mau jago tua itu harus bekerja bagi kerajaan Mongol.
“Hm, tidak nyana seemikian keji tipu muslihat kalian,” jengek Su-lam. Dalam hati ia yakin Nyo
Wan pasti tidak setuju bila dirinya tunduk terhadap gertakan Dulai, begitu pula Han Tay-wi, setelah
bermain catur beberapa hari telah dikenal wataknya yang pantang menyerah, kalau main catur saja
tidak mau kalah apalagi disuruh menyerah kepada musuh. Berpikir demikian, dengan tegas Su-lam
lantas berkata pula: “Dulai, pendek kata, aku takdapat menerima bujukanmu. Sekarang terserah kau,
apa yang akan kau lakukan terhadapku silahkan saja!”
“Haha, Anda Su-lam, rupanya saat ini kau sedang marah dan tidak dapat berpikir dengan tenang,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kukira kalau kau sudah bertemu dengan nona Nyo dan saling berunding mungkin pikiranmu akan
berubah,” kata Dulai. Habis itu segera ia memanggil Ulitu dan Abul dan memberi perintah: “Bawa
Li-bengcu kebelakang, biarkan dia bicara dengan kedua wanita itu.”
Ulitu berdua mengiakan, segera Li Su-lam digusur kebelakang dan dimasukkan kesebuah kamar
tahanan yang kosong. Su-lam menjadi ragu2 terhadap ucapan Dulai, masakan benar perbolehkan
Nyo Wan bertemu dengan dirinya. Suasana didalam kamar tahanan itu gelap gulita, pikiran Li Sulam
juga tenggelam dalam kegelapan.
Sedang merasa cemas, tiba2 Su-lam mendengar suara orang bicara dikamar sebelah, waktu ia
mendengarkan lebih cermat, bahkan suara seorang lagi jelas sudah dikenalnya dengan baik, yaitu
Nyo Wan, terang yang bicara tadi adalah Han Pwe-eng.
Tanpa pikir Su-lam lantas ketok2 dinding dan bersru dengan girang2 kuatir: “Adik Wan, aku berada
disini, dapatkah kau mendengar suaraku?”
Dulai pernah menyatakan kepada Nyo Wan bahwa Li Su-lam akan diundang kesitu, sudah tentu
Nyo Wan menjadi kuatir, dan kini kekuatiran itu ternyata menjadi kenyataan. Mula2 ia melengak,
tapi cepat ia berseru: “Engkoh Lam, benar2 kau yang berada disebelah? Apakah aku tidak mimpi?”
“Tidak, memang aku benar ada disini,” sahut Su-lam. “Dulai telah memancing aku kesini dedngan
tusuk kundaimu yang dia rampas itu. Dia sengaja mengurung aku disini, katanya supaya dapat
berunding dengan kau.”
“Berunding apa?” ujar Nyo Wan. “Dia pasti tidak punya maksud baik. Jangan kau masuk
perangkapnya!”
Sudah tentu aku tidak mudah masuk perangkapnya,” kata Su-lam. “Tapi keparat itu memang
banyak akal busuk, aku dipaksa memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan negara.”
Setelah Nyo Wan mendengar keterangan kedua syarat yang dikemukakan Dulai, segera ia berkata:
“Engkoh Lam,syukurlah engkau tidak menerima syaratnya itu. Jika aku setuju menukarkan diriku
dengan Putri Minghui, lalu aku ini apakah dapat dianggap manusia lagi?” ~ Ia hanya menyinggung
soal pribadi,sebab ia cukup yakin dalam soal negara Li Su-lam lebih2 teguh tekadnya.
Diam2 Su-lam bersyukur dalam hati dan memuji akan kebijaksanaan Nyo Wan, dengan perasaan
lega segera ia berkata pula: “Adik Wan, ternyata jalan pikiranmu sama dengan aku, yang pasti
hidup atau mati kita tetap bersama, kiranya tak perlu kubanyak bicara lagi. Yang harus kusesalkan
hanya diri nona Han saja, tanpa berdosa dia ikut menderita terkurung disini.”
“Mengapa kau berkata demikian.” Kata Han Pwe-eng dengan kurang senang. “Memangnya kalian
saja boleh menjadi pahlawan dan patriot, sedang aku Cuma boleh menjadi pengecut yang takut
mati?”
“O, tidak, sekali2 bukan begitu maksudku,” kata Su-lam. “Aku Cuma …………..”
“Sudahlah, tak perlu kau mengucapkan kata2 menyesal lagi, kalau diucapkan, maka akulah yang
mesti minta maaf kepada kalian, karena aku yang mengajak enci Wan keluar sehingga terjadi
persoalan ini.”
“Tidak apa, tambah digembleng tambah kekal persahabatan kita,” ujar Nyo Wan dengan tertawa.
“Benar, aku yakin ayah dan Liok-pangcu akan sanggup menolong kita, andaikata tidak dapat,
ditemani oleh cici yang baik hati sebagai kau, biar terkurung selama hidup disini juga aku merasa
kerasan,” sahut Han Pwe-eng.
Harapan Dulai bila Li Su-lam sudah berunding dengan Nyo Wan mungkin dengan air mata sinona
akan dapat melemahkan hati Su-lam, lalu akan menerima syaratnya. Tak terduga Nyo Wan malah
memberi dorongan kepada Li Su-lam sehingga membikin tekadnya semakin teguh.
Han Pwe-eng sendiri yakin kay-pang yang punya sumber berita yang luas itu dalam waktu singkat
pasti akan mengetahui peristiwa tertawannya mereka ini, iapun yakin ayahnya pasti sanggup
berdaya menolongnya keluar.
Dugaannya ternyata tidak meleset, tidak sampai satu jam setelah kejadian mereka diculik pihak
kKay-pang benar telah menerima berita itu. Hanya saja urusannya tidak sederhana, Han Tay-wi dan
Liok-pangcu saat itu masih tidak berdaya untuk menolong mereka.
Begitulah kita coba kembali kepada keadaan dimarkas cabang Kay-pang. Ketika Han Tay-wi
datang mencari Liok Kun-lun, begitu bertemu segera ketua Kay-pang itu menegur: “Kebetulan,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
memangnya aku hendak mengundng kau kesini. Tentunya kau datang kesini berhubungan urusan
anak perempuanmu bukan?”
Keruan Han Tay-wi terkejut, cepat ia bertanya: “Terjadi apakah atas diri anak Eng ? Kalian sudah
mendapat kabar lebih dulu ?”
“Jangan gelisah dulu. Han-toasiok,” kata Liok Kun-lun. “Marilah bicar didalam saja.”
Setiba disuatu kamar rahasia, tertampak Lau Kan-luh menemui seorang kakek dan seorang nona
cilik sedang menunggu.
“Lo-siansing ini adalah ayah nona Han yang kukatakan itu,” demikian Lau Kan-luh berkata kepada
kedua orang itu.
Sikakek dan nona cilik itu lantas berbangkit dan memberi hormat kepada Han Tay-wi. “Mereka ini
…………….. “ kata Han Tay-wi dengan bingung.
“Mereka inilah yang baru saja datangf menyampaikan berita tentang nona Han,” kata Liok Kun-lun.
Kiranya kedua orang itu adalah ayah beranak pengamen silat itu.
Dengan tidak sabar Han Tay-wi lantas berkata: “Tidak perlu banyak adat, silahkan kalian lekas
beritahukan apa yang terjadi ?”
“Kami mengamen dilapangan Thian-kau, waktu terjadi peristiwa itu kebetulan kami
menyaksikannya,” tutur kakek itu.
Sebenarnya sikakek dan anak perempuannya bukan orang Kay-pang, cuma sebagai kaum pengelana
sedikit banyak mereka ada hubungan dengan orang2 Kay-pang, merekapynn kenal Lau Kan-luh.
Sebab itulah setelah kejadian tadi buru2 mereka datang kemarkas Kay-pang untuk melaporkan apa
yang dialaminya.
“Jika begitu, hwesio gemuk yang menawan anak Eng dan nona Nyo itu tentu Liong-siang Hoat-ong,
itu Koksu dari Mongol yang terkenal, kata Han Tay-wi setelah menerima keterangan sikakek tadi.
“Benar,” kata Liok kun-lun. “Tampaknya orang yang mula2 cari perkara kepada nona Nyo itu besar
kemungkinan adalah Dulai, itu pangeran Mongol yang berkuasa sekarang.”
Han Tay-wi menjadi kuatir, katanya pula: “Bila taksiran kita tidak keliru, tentu anak Eng berdua
kini dikurung didalam istana Yang Thian-lui. Lalu bagaimana tindakan kita?”
“Marialh kita berunding dulu dengan Li-bengcu,” ajak Liok Kun-lun.
Tapi diluar dugaan, setiba kembali mereka dirumah Han Tay-wi, malahan Li Su-lam juga sudah
lenyap. Bahkan sampai besok paginya Li Su-lam tetap belum nampak pulang. Keruan Han Tay-wi
tambah cemas, katanya: “Melihat gelagatnya, mungkin sekali Li-bengcu juga mengalami nasib
yang sama seperti anak Eng dan nona Nyo.”
“Aku ada dua mata2 yang bekerja didalam istana Yang Thian-lui, besok akan kusuruh orang
menghubungi mereka untuk mencari keterangan,” kata Liok Kun-lun.
Kedua mata2 Kay-pang yang dimaksud itu terdiri dari seorang yang berkerja sebagai perawat kuda
dan seorang lagi adalah juru masak. Kedudukan mereka sangat rendah sehingga sukar berdekatan
dengan orang2 berkedudukan tinggi didalam istana itu.
Karena itu akhirnya berita yang diperoleh hanya sekelumit saja, bahwa didalam istana Koksu itu
baru saja dikurung dua perempuan dan seorang laki2, ketiganya kabarnya adalah orang penting.
Meski berita itu Cuma sekelumit saja, namun sudah cukuop memastikan bahwa Li Su-lam ikut
tertawan didalam istana Koksu bersama Han Pwe-eng dan Nyo Wan. Yang membikin lega hati
mereka adalah ketiga orang itu semuanya masih hidup selamat. Maka dapat diduga maksud Dulai
menawan mereka ialah ingin mereka menyerah, sebelum tercapainya tujuannya tentu para tawanan
itu takkan dibunuh begitu saja.
“Han-toasiok, aku tahu engkau tentu sangat gelisah,akupun takdapat membiarkan Li-bengcu bertiga
terjeblos dalam sarang musuh, betapapun kita harus berdaya menolong mereka,” kata Liok Kun-lun.
“Cuma saja sekarang belum ada kesempatan yang baik, maka sementara ini kita harus bersabar,
maksudnya jangan ambil tindakan secara gegabah agar tidak mengejutkan musuh.”
“Kabarnya Yang Thian-lui telah berjanji akan bertemu dengan Liu Tong-thian dan Cui Tin-san
pada pertengahan bulan yang akan datang dikediamannya?” tanya Han Tay-wi.
“Benar, yang kumaksudkan kesempatan baik justru inilah,” kata Liok Kun-lun. “Menurut berita
yang dibawa Li-bengcu, katanya ada dua ksatria muda yang berkepandaian tinggi akan ikut Liu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tong-thian berdua keistana Koksu itu dengan menyamar sebagai pengiringnya. Kedua ksatria muda
itu masing2 bernama Ci In-hong dan Kok Ham-hi, kedatangan mereka itu adalah untuk
pembersihan perguruan mereka sendiri. Selain itu kabarnya Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang akan
datang kesini.”
“Bagus,” seru Han Tay-wi dengan girang. “Jika Beng Siau-kang juga datang, maka urusan menjadi
lebih mudah diselesaikan, kalau perlu aku dan dia dapat menerjang ketempat Yang Thian-lui, kami
dapat menyergap Dulai dan menawannya sebagai sandera.”
Begitulah, lima hari kemudian Liu Tong-thian dan Cui Tin-san serta Ci In-hong ternyata sudah
datang ke taytoh. Jaraknya dengan hari pertemuan mereka dengan Yang Thian-lui masih ada
belasan hari. Mereka sengaja datang lebih cepat karena ingin mengatur hal2 yang perlu. Akan tetapi
Beng siau-kang ternyata tidak datang bersama mereka. Ketika mendengar berita tentang ditawannya
Li Su-lam bertiga oleh Dulai, kejut Liu Tong-thian dan Ci In-hong dan lain2 sungguh tak
terperikan.
“Beng-tayhiap ada sedikit urusan harus kembali ke Long-sia-san dahulu, beliau memastikan akan
datang kemari sebelum tanggal 15,’ kata Liu Tong-thian.
“Kedatangan kalian ini apakah telah diketahui oleh orang2nya Yang Thian-lui?” tanya Liok kunlun.
“Waktu kemarin petang kami masuk kota, rasanya tiada dikuntit oleh orang yang mencurigakan,”
tutur Liu Ting-thian.
“Baiklah, jika begitu hndaklah kalian berusaha mengulur waktu beberapa hari,” kata Liok kun-lun.
“Boleh kau mengutus seorang untuk menyampaikan kabar kepada Yang Thian-lui, katakan saja
kalian mungkin akan datang terlambat beberapa hari. Andaikan Beng Tay-hiap dapat tiba tepat pada
waktunya, maka kalianpun boleh menemui Yang Thian-lui sesuai dengan hari yang ditetapkan.
Kalau tidak, biarlah kita mengulur waktu terus sampai Beng-tayhiap datang.”
“Bila Beng-tayhiap mengetahui Li-bengcu tertawan musuh, beliau pasti akan menyusul kesini
secepat mungin,”: ujar Liu Tong-thian. “Oya, apakah Liok-pangcu sudah mengirim berita ke Longsia-
san?”
“Belum, sebab kami mengira Beng-tayhiap akan datang bersama kalian,” sahut Liok Kun-lun.
“Tapi bila perlu aku dapat menyampaikan berita dengan burung merpati kesuatu cabang Kay-pang
kami yang berdekatan dengan Long-sia-san untuk kemudian diteruskan pula kepegunungan itu.
Disamping kita minta Beng-tayhiap lekas kemari, kita juga terus berdaya mencari tahu tempat
dikurungnya Li-bengcu bertiga. Kalau perlu biarlah kita mengerahkan segenap tenaga untuk
menyerbu tempat penjara.”
Jumlah anggota Kay-pang di taytoh ada beberapa ribu orang, memang bukan sesuatu yang sulit
bilamana mereka dikerahkan untuk menyerbu penjara. “Cuma bila terjadi demikian, maka Kaypang
tak dapat menetap lagi di Taytoh. Hal ini menyangkut nasib ribuan orang, sebab itu Liok Kunlun
harus menimbang masak2 sebelum ambil tindakan.
Han Tay-wi juga dapat berpikir panjang, mesti hatinya gelisah, tapi ia mesti juga memikirkan
kepentingan Kay-pang. Katanya sesaat kemudian: “Biarlah kita mencari tahu dulu tempat tahanan
Li-bengcu bertiga, biarpun mati juga aku akan menerjang kesana, sedapat mungkin kita harus
menghindarkan terlibatnya para kawan Kay-pang.”
Padahal istana Koksu sangat luas dengan macam2 pesawat rahasia pula, hal ini cukup diketahui
oleh Ci In-hong yang pernah bekerja disana selama beberapa than. Maka ia lantas tanya Liok Kunlun:
“Liok-pangcu, apakah engkau sudah mendapatkan kabar tentang tempat tahanan Li-bengcu
bertiga?”
“Kami ada dua orang yang bertugas didalam istana Koksu, Cuma kedudukan mereka rendah, sukar
bagi mereka untuk mendapatkan kabar yang berharga,” tutur Liok Kun-lun. “Namun aku sudah
suruh mereka berusaha sebisa mungkin, bila perlu akan kuselundupkan beberapa orang lagi
kesana.”
Jawaban ini sama saja mengatakan bahwa dia tidak tidak yakin akan apa yang dikatakan sendiri itu
atas harapan sangat tipis.
Sebagai orang yang cukup lama berada diistana Yang Thian-lui itu, Ci In-hong cukup apal keadaan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
disana. Sebenarnya timbul pikirannya setelah mendengar ucapan Liok Kun-lun tadi, hanya saja
tidak diutarakannya.
Besoknya Liok kun-lun menyuruh seorang anak buahnya untuk dijadikan sebagai utusan Liu Tongthian
dan mengirim surat kepada Yang thian-lui. Jawaban Yang Thian-lui menyanggupi menunda
pertemuan itu sampai akhir bulan, bila lewat akhir bulan dianggap batal, sebab dia bulan berikutnya
harus bertugas ke Mongol sebagai utusan Kim.
“Dalam waktu singkat Beng-tayhiap tentu akan tiba, asal saja tidak terjadi sesuatu diluar dugaan,”
ujar Ci In-hong. “Dan kalau Beng-tayhiap tak dapat datang tepat pada waktunya, terpaksa kita cari
jalan lain.”
“Tampaknya kau sudah punya rencana tertentu,” kata Kok ham-hi.
“Akupun tidak punya cara yang baik, Cuma boleh coba2 saja, mungkin akan ketemu kenalan,” ujar
In-hong. Sebenrnya dia sudah punya rencanan, Cuma kuatir Liok Kun-lun tidak setuju, maka
sebelum tiba waktunya ia tidak suka mengemukakannya.
Begitulah dengan gelisah semua orang menantikan datangnya Beng Siau-kang, sementara kita
bercerita tentang Putri Minghui.
Minghui telah menjadi murid Liau-yan secara tidak resmi. Semula Minghui hendak cukur rambut
dan menjadi nikoh, tapi Liau-yan Suthay keberatan menerimanya menjadi murid setelah
mengetahui Minghui adalah putri kerajaan Mongol. To Hong dan lain juga menasihatkan Minghui
agar jangan mencukur rambut, akhirnya Minghui hanya diterima sebagai murid tidak resmi oleh
Liau-yan Suthay.
Liau-yan Suthay adalah teman karib mendiang To Pek-seng dan istrinya,diwaktu muda juga
terkenal sebagai pendekar wanita, sudah berpuluh tahun dia hidup menyepi di Yok-ong-bio diatas
Long-sia-san, ilmu silatnya sudah sukar diukur. Meski Minghui adalah murid tidak resmi, tapi
karena Liau-yan tidak punya ahli waris, dengan sendirinya iapun anggap Minghui sebagai muri
kesayangan dan mengajarkan macam2 ilmu silat padanya.
Selama beberapa bulan pagi-sore Minghui belajar membaca kitab, kalau siang belajar sialt sehingga
mendapat manfaat yang tidak sedikit. Kalusi juga sering datang menemani dia sehingga hidupnya
tidak kesepian. Minghui sangat suka kepada kehidupan tentram demikian, ia merasa lebih bahagia
daripada menjadi putri Mongol.
Diluar dugaan, selagi hidup mulai tentram dan lebih suka mengakhiri hidupnya itu didalam
agamanya itu, tiba2 terjadi pula sesuatu yang membikin kacau pikirannya yang tenang itu, yakni
datangnya berita Kay-pang melalui merpati pos.
Hari itu kebetulan To Hong datang ke Yok-ong-bio untuk menyambangi Minghui, selagi kedua
orang asyik bicara, tiba2 seorang Thaubak datang melapor dan minta To Hong segera pulang ke
atas gunung, katanya ada merpati pos yang membawa surat dari Kay-pang mengenai keadaan Libengcu
dan Nona Nyo di Taytoh.
Keruan To Hong terkejut, segera ia mohon diri kepada Minghui. Tak terduga Minghui juga lantas
berbangkit dan minta ikut untuk mengetahui lebih lanjut berita tentang Li Su-lam dan Nyo Wan.
Kaanya: “To-cici, hubunganku dengan nona Nyo laksana kakak beradik, kau tentu tidak
berkeberatan jika aku ikut ke tempatmu untuk mengetahui berita yang lebih jelas.”
To Hong paham, meski betul Minghui juga menguatirkan Nyo Wan, tapi yang lebih membuatnya
kuatir terang Li Su-lam adanya terpaksa To hong tidak dapat menolaknya.
Setibanya di sanceh dan ketemu Ciok Bok. Dengan sendirinya Ciok Bok rada rikuh, katanya
kemudian kepada Minghui: “Tuan Putri harap jangan banyak pikiran, persoalan Li-bengcu ini
mungkin ada sangkut pautnya dengan kakakmu.”
Minghui terkejut, tanyanya cepat: “Mereka kan berada di Taytoh, mengapa urusannya menyangkut
kakakku?”
“Kakakmu yang keempat Dulai, kini juga berada di Taytoh, kabarnya datang kesana untuk
perundingan perdamaian dengan Kim,” tutur Ciok Bok.
Seketika wajah Minghui berubah menjadi pucat, matanya menjadi basah, katanya dengan penuh
menyesal: “sungguh aku, aku sangat malu, tidak nyana aku punya Siko ( kakak keempat ) bisa
bertindak begitu.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tapi To Hong berusaha menghiburnya, katanya: “Kakak adalah kakak, dan adik adalah adik, kami
pasti tidak memusuhi kau lantaran perbuatan kakakmu.”
“Apakah kalian ingin aku memberi sesuatu bantuan?” tanya Minghui dengan menahan air mata.
“Surat Kay-pang ini mendesak Beng-tayhiap lekas berangkat ke taytoh,padahal tiga hari yang lalu
Beng-tayhiap memang sudah berangkat kesana, setiba disana tentu Beng-tayhiap dapat bertindak,
maka kau tidak perlu kuatir,” kata To Hong.
Sudah tentu Minghui tidak mengetahui tentang maksud kakaknya ingin menukar dia dengan Nyo
Wan, tapi dia dapat menduga bahwa salah satu sebab kedatangan Dulai ini tentu ingin mencarinya
untuk dibawa pulang ke Mongol.
Diam2 ia me-nimang2 sendiri kepada kejadian dahulu, Li Su-lam dan Nyo Wan sudah kenyang
menderita ketika hidup merana di Mongol, kalau dibicarakan Minghui merasa ikut berdosa juga.
Kini dua sejoli yang benar2 cinta mencintai itu kembali mengalami kesukaran, aku sendiri pernah
berbuat salah terhadap mereka, sekali ini betapapun tidak boleh Sio membikin susah lagi kepada
mereka. Biasanya Siko sangat baik kepadaku, bila aku yang minta kepadanya mungkin dia akan
meluluskan permintaanku, paling2 aku ikut pulang ke Holin, demi kebahagiaan Li-toako dan nona
Nyo biarlah aku rela hidup menderita untuk selamanya.
Demikianlah Minghui mantapkan pikirannya itu, Cuma tak diutarakannya kepada To Hong.
Sebagai seorang ksatria wanita yang berjiwa patriot, sama sekali To Hong tidak menyangka akan
keruwetan pikiran Minghui itu.
Setiba kembali di Yok-ong-bio, kebetulan Minghui melihat Kalusi datang mencarinya. Segera ia
menyuruhnya pergi memanggil Akai. Habis itu Minghui sendiri lantas menghadap Liau-yan Suthay.
Melihat sang murid datang menghadap diluar jam belajar, apalagi wajahnya tampak rada pucat,
segera Liau-yan Suthay bertanya ada persoalan apa?
Dengan rasa sedih Minghui berkata: “Jiwa murid belum bersih dari keramaian keduniawian, mohon
suhu mengizinkan murid pulang saja.”
“Kau hendak pulang ke Mongol dan datang mohon diri kepadaku?” Liau-yan menegas.
Minghui mengangguk dengan airmata bercucuran, jawabnya: “Tecu tidak berani mohon ampun
pada suhu, sesungguhnya tecu ada sesuatu persoalan yang terpaksa.”
Liau-yan Suthay menghela napas, katanya: “ Memang tidak setiap orang dengan mudah dapat
meninggalkan kehidupan yang jaya dan mewah. Kau sendiri adalah putri raja, pantas juga kalau kau
ingin pulang.”
Tidak kepalang rasa pedih hati Minghui, tapi sukar mengutarakannya, ia hanya menjawab: “Maaf,
suhu tecu telah menyia nyiakan ajaranmu selama ini.”
“Sebenarnya kau cukup berbakat untuk menjadi ahliwarisku, tak terduga kau toh tiada berjodoh
dengan agama kita dan akhirnya kembali pula keduniamu,” kata Liau-yan. “Baiklah, berangkatlah
jau, semoga kau tidak lupa kepada asalmu dan terjerumus kedalam lumpur.”
“Terima kasih atas petua suhu,” kata Minghui. Setelah memberi hormat kepada Liau-yan, lalu ia
pulang kekamar sendiri, tak tertahanlah airmatanya bercucuran.
Sementara itu Akai dan Kalusi baru datang, mereka terkejut ketika nampak Minghui menangis
sedih. Cepat mereka tanya ada urusan apa.
“Tidak apa2,” jawab Minghui sambil mengusap air mata. “Aku ingin lekas2 tinggalkan tempat ini,
apakah kalian suka ikut pulang bersama aku?”
“Pulang, maksud tuan putri?” Akai menegas dengan terkejut. “Apakah kau tidak takut lagi direcoki
pangeran Tin-kok?”
“Soal itu biarlah urusan belakang!” sahut Minghui.
“Tapi nona To sangat baik terhadap kita, pula ……”
“Sudahlah, akupun tahu nona To sangat baik, tapi aku harus pergi dari sini,” sela Minghui sebelum
lanjutkan ucapan Kalusi itu.
“Kami datang bersama tuan Putri, kemana tuan Putri hendak pergi tentu saja kami ikut,” kata Akai
dan kalusi berbareng. “lalu apakah sekarang kita akan pergi pamit kepada nona To?”
“Tidak, tidak usah,” kata Minghui. “Memang, cara kita pergi tanpa pamit ini kurang sopan, tapi aku
telah siapkan sepucuk surat untuk nona To dan menjelaskan kesukaranku yang terpaksa. Kini kalian
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tak perlu tanya, ditengah jalan nanti kuceritakan kepada kalian.”
Begitulah setelah bebenah seperlunya, segera mereka bertiga meninggalkan Long-sia-san. Karena
hampir semua Thaubak dipegunungan itu sudah dikenalnya, maka tanpa rintangan mereka dapat
meninggalkan gunung itu.
Sampai ditengah jalan, dengan tertawa Akai berkata: “Tuan Putri, bicara terus terang, sesungguhnya
sudah lama akupun ingin pulang kepadang rumput untuk berburu dan hidup secara bebas.”
“Akan kupenuhi keinginanmu,” sahut Minghui. “Cuma sekarang masih belum tiba waktunya, kita
belum dapat pulang kerumah.”
“Jadi kita tidak langsung pulang ke Mongol?” Akai menegas dengan heran.
“Tidak, kita menuju ke Taytaoh,” jawab Minghui. Habis itu barulah ia menceritakan sebab musabab
keberangkatannya itu.
“Ai, mengapa Tuan Putri tidak katakan sejak tadi,” ujar Akai. “Aku dan Kalusi masih utang budi
kepada Li-kongcu dan nona Nyo, demi Li-kongcu dan nona Nyo terjun kedalam lautan api juga
kami siap sedia.”
“Kalau Si-ongcu tidak mau terima permohonan tuan Putri untuk membebaskan mereka, lalu
bagaimana?” tanya Kalusi.
“Betapapun harus kucoba dulu,” kata Minghui. “Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan.
Sekarang aku terpaksa mengambil keputusan demikian.”
Tidak saja Minghui yang berpikiran pesimis, bahkan Ci In-hong yang berada di Taytoh juga
mempunyai pikiran yang serupa itu.
Sehari demi sehari telah lalu dan Beng Siau-kang masih belum nampak muncul, jarak waktu
pertemuan dengan Yang Thian-lui kini tinggal sepuluh hari saja.
Ci In-hong pikir segala urusan harus memperhitungkan kemungkinan yang paling buruk, dengan
ilmu silat Beng Siau-kang seharusnya takkan terjadi sesuatu diluar dugaan, tapi kalau sampai terjadi
apa2 dan baru mencari jalan lain, tatkala itu tentu sudah terlambat. Dengan pikiran demikian segera
ia beritahu Kok Ham-hi bahwa dia akan mengunjungi istana Yang Thian-lui diluar tahu Liok Kunlun.
“Apakah tujuanmu hendak menyelidiki tempat tahanan Li-bengcu?” tanya Ham-hi.
“Benar,” sahut In-hong. “Aku masih punya sebuah Kimpay (pening emas) untuk keluar masuk
istana Koksu, kini wajahku sudah terias pula, malam2 aku kesana umpama kepergok juga takkan
dikenal orang disana. Dengan Kimpay ini kukira masih dapat mengelabui penjaga2 disana.”
“Bagaimana kalau kita berdua pergi bersama?” usul Ham-hi.
“Jangan kau kurang paham keadaan istana Yang Thian-lui itu, kalau ikut mungkin malah akan
membikin repot padaku,” ujar In-hong. “Begini saja, kau boleh tunggu disuatu warung minum
didekat istana itu, warung itu selalu buka sampai jauh lewat tengah malam. Bila menjelang fajar aku
tidak kembali barulah kau pulang lapor kepada Liok-pangcu.” Terpaksa Kok Ham-hi menerima
dengan baik, diam2 mereka lantas berangkat.
Malam itu kebetulan rada mendung dan gelap gulita, waktu dekat dengan istana Koksu malahan
hujan gerimis rintik2. Ci In-hong sangat girang, suasana demikian adalah kesempatan paling bagus
bagi orang bergerak diwaktu malam.
Ci In-hong cukup apal penjagaan didalam istana itu, maka dengan mudah saja ia mencari suatu
tempat yang paling sepi dan menyusup kedalam taman belakang. Secara hati2 dan munduk2 ia terus
menyusur kedepan menghindari peronda dan mengitari semak2 pepohonan, dilihatnya pada sebuah
rumah dipojok ada cahaya lampu.
Tergerak hati Ci In-hong, ia membatin: “Entah si Item masih tinggal ditempat dahulu atau tidak?
Aku dapat mempercayai dia, lebih baik kudatangi dia dan berunding dengan dia.”
“Si Item” yang dimaksudkan itu she Gin, lantaran kulitnya hitam, maka orang memanggilnya si
Item, bekerja sebagai tukang kebon disitu.
Hanya sedikit saja orang Han yang diperkerjakan didalam istana Koksu itu, kalau ada juga Cuma
beberapa orang saja yang berkerja sebagai pesuruh atau tukang kebon. Karena sesama bangsa Han,
maka waktu Ci In-hong ikut Yang Thian-lui dahulu, beberapa orang Han itu lebih sering bergaul
dengan dia. Lama2 merekapun menjadi kenal dengan baik dan salah seorang yang paling rapat
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
berkawan dengan Ci In-hong adalah si Item ini.
Begitulah dengan diam2 In-hong menyusup masuk kedalam rumah kecil itu dan berseru dengan
suara tertahan: “Item!”
Waktu itu si Item sedang membetulkan sebuah cangkul, ia merasa suara orang sudah dikenalnya
waku menoleh dilihatnya seorang yang tak terkenal sudah berdiri dihadapannya, ia terkejut dan
menegur: “Toako siapa? Maakan aku sudah lupa.”
“Masakan kau tidak kenal suara lai Item?” ujar In-hong dengan tertawa: “Aku kan Ci In-hong!”
Rupanya wajah penyamaran Ci In-hong membikin si Item menjadi pangling. Cepat Item menutup
pintu dan menarik In-hong kedalam kamarnya, lalu berkata: “Ci-toaya, berani benar kau, masakah
kau tidak tahu Yang Thian-lui telah memberi perintah rahasia untuk menangkap kau?”
“Betapapun kedatanganku ini memang kusengaja,” sahut Ci In-hong. “Apakah kau takut ikut
tersangkut?”
Airmuka si Item berunah menjadi kurang senang, katanya: “Ci-toaya, memangnya kau anggap Item
ini manusia macam apa? Pendek kata, ada urusan apa yang perlu bantuanku boleh silahkan Ci-toaya
bicara saja!”
“kedatanganku ini adalah demi seorang sahabat,” kata Ci In-hong. “Temanku ini bernama Li Sulam,
Bengcu dari perserikatan pergerakan didaerah utara sini. Dia tertawan disini, apakah kau tahu
tempat tahanannya?”
“Kira2 setengah bulan yang lalu memang pernah kudengar ada seorang tokoh Lok-lim yang penting
tertawan disini, tentunya orang inilah Li-bengcu yang kau maksudkan.” Kata si Item. “Tapi urusan
ini sangat dirahasiakan, orang rendah semacam diriku manabisa tahu tempat tahanannya.”
“Baiklah aku tidak mengganggu kau lagi, sampai bertemu kelak,” kata Ci In-hong.
Tapi si Item lantas menarik Ci In-hong dan berkata: “Ci-toaya, bangku saja belum panas kau duduki
dan kau sudah mau pergi lagi. Kutahu bahwa kau kuatir membikin susah padaku, namun kau jangan
kuatir, tempatku ini jarang didatangi orang, sekarang juga sedang hujan gerimis, siapa yang mau
datang tempatku yang jorok ini. Kukira kau dapat bermalam saja disini, akupun sangat ingin tahu
pengalamanmu selama ini.”
“Kurang leluasa kukira, biarlah aku mencari suatu tempat lain saja,” sahut Ci In-hong. “Oya,
kemanakah perginya si Kemala?”
“Kemala,” adalah nama anak perempuan si Item, istri Item sudah lama meninggal dan Cuma
melahirkan satu2nya anak perempuan yang diberi nama A Giok atau si Kemala. Berbeda dengan si
Item yang hitam mulus, sebaliknya si Kemala justru berkulit putih bersih. Waktu Ci In-hong tinggal
ditempat Yang Thian-lui ini si Kemala masih ingusan, tapi sekarang sudah berusia empat atau
limabelas.
“Kalau kuceritakan hal ini agaknya rada mengherankan juga,” tutur si Item. “Dua hari yang lalu
mandor kebun datang kepadaku, dia tidak memberi tugas pekerjaan, sebaliknya suruh si Kemala
pergi melayani seseorang.”
“Melayani sesorang siapakah?” tanya Ci In-hong terkejut. Ia pikir umur si Kemala baru empat
belasan tahun, masakah si mondor sudah mengincarnya.
Si Item tahu Ci In-hong salah paham dengan tertawa ia menjelas: “Sama sekali bukan ada orang
menaksir Kemala, tapi dia disuruh melayani seorang nona, malahan nona bangsa Han.”
“Nona bangsa Han? Siapakah dia?” tanya Ci In-hong heran. Ia pikir masakah begini kebetulan si
Kemala disuruh pergi melayani Nyo Wan?
Maka si Item menjawab:” Akupun tidak tahu, aku Cuma tahu nona itu she Lau.”
In-hong rada kecewa, katanya: “Mengapa didalam istana bisa muncul seorang nona bangsa Han?”
“Makanya kukatakan aneh,” kata si Item. “Bahkan mereka memperingatkan si Kemala agar tidak
bercerita bahwa tempat ini adalah istana Koksu. Coba aneh bukan? Malahan waktu aku menjenguk
si Kemala disana,kulihat orang yang keluar masuk disana seluruhnya juga orang Han. Dari si
Kemala aku mendapat tahu bahwa orang Kim dilarang memasuki rumah itu dan sekitarnya.”
“Nona Lau itu tinggal dimana?” tanya Ci In-hong.
“Di Tau-hiang-cun,” tutur si Item.
Kiranya taman bunga istana Koksu itu sangat luas, Tau-hiang-cun (dusun padi wangi) terletak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dipojok kebun yang dipagari pula oleh tembok, jadi bentuknya seperti sebuah taman kecil didalam
taman besar.
Hati Ci In-hong tergerak setelah mendengar keterangan si Item. Segera ia mohon diri pula. Si Item
kenal watak Ci In-hong, maka iapun tidak menahan lebih lanjut, hanya diberi pesan agar Ci In-hong
suka hati2.
Hujan ternyata masih belum berhenti, keadaan tambah gelap, dlam jarak lima langkah saja hampir2
tidak kelihatan sesuatu apapun. Diam2 Ci In-hong bergirang, ia cukup apal terhadap seluk beluk
keadaan istana Koksu ini, dalam kegelapan ia menyusur mmaju terus kearah Tau-hiang-cun.
Ditengah “dusun” kurung itu hanya ada sebuah rumah besar, dua rumah kecil lain adalah tempat
tinggal kaum hamba, maka Ci In-hong yakin nona Lau yang dikatakan itu pasti tinggal dirumah
induk.
Dengan ginkang yang tinggi Ci In-hong menyusup kepekarangan rumah itu, tiba2 didengarnya ada
suara tindakan orang, cepat ia sembunyi dipojok rumah. Ia coba mengintip, dilihatnya seorang
memasuki rumah itu, dari potongan tubuhnya Ci In-hong merasa seperti kenal orang itu.
“Siapakah dia?” dalam hati Ci In-hong ber-tanya2 sendiri. Maka secara ber-hati2 ia lantas
menguntit dibelakang. Setelah memutar sebuah serambi, tertampak sebuah kamar dengan cahaya
lampu yanhg terang. Dengan ber-jinjit2 Ci In-hong mendekati jendela kamar itu, kebetulan
terdengar suara seorang perempuan sedang berkata: “Sudah jauh malam begini kau masih datang
mencari aku, apakah tidak kuatir dicurigai orang?”
“Curiga apa? Memangnya siapa yang tidak tahu bahwa kita adalah bakal suami-istri? Sehut seorang
laki2.
Begitu mendengar suara laki2 itu, seketika Ci In-hong terperanjat. Ternyata orang yang bersuara itu
tak lain tak bukan daripada To Liong adanya.
Agaknya perempuan itu menjadi malu, omelnya: “Engkoh Liong, janganlah kau sembarangan
omong.”
“Aku omong dengan sungguh. Khing-koh, masakah kau tidak suka?” sahut To Liong.
Sampai disini barulah Ci In-hong paham duduknya perkara. Kiranya perempuan itu adalah putri
Lau Han-ciang, adik perempuan Lau Tay-wi, nona yang hendak dijodohkan kepadanya oleh sang
guru tempo hari, namanya Lau Khing-koh. Agaknya nona Lau ini kena dibawa minggat ke Taytoh
oleh To Liong.
Maka dengan suara pelahan dan menunduk malu Lau Khing-koh menjawab: “Kalau aku tidak suka
tentu takkan minggat bersama kau. Cuma, Cuma …………… “
“Cuma apa? Kau kuatir Ci In-hong mencari perkara kesini?” tanya To Liong. “Asalkan tekadmu
sudah bulat, betapapun dia takkan merampas kau dariku.”
“Aku minggat bersama kau karena terpaksa,” ujar Khing-koh. “Betapapun persoalan kita harus
mendapatkan persetujuan dari ayah.”
“Ayahmu terang takkan setuju. Dia adalah kawan baik guru Ci In-hong, bila kau pulang tentu akan
dipaksa kawin dengan bocah she Ci itu. Padahal apanya yang dipenujui ayahmu, dia pura2
membantu pasukan pergerakan, tapi sebenarnya adalah pengkhianat. Yang penting bagi kita biarlah
selekasnya kita menikah saja agar tidak terjadi sesuatu diluar dugaan.”
“Menurut ayah dan kakak, orang she Ci itu justru sebaliknya daripada anggapanmu tadi,” kata
Khing-koh. “Akan tetapi peduli apakah dia orang baik atau orang busuk, yang pasti hatiku tidak
pernah terisi oleh bayangannya, aku sudah bertekad ikut padamu sebagaimana terbukti sekarang
aku ikut minggat dengan kau. Cuma, Cuma tentang pernikahan kukira kita tunggu lagi sementara
waktu, bukan mustahil nanti ayah akan berubah pikiran dan menyetujui pernikahan kita. Kalau
sekarang kita menikah diluar persetujuan orang tua rasanya tidak pantas.”
“Untuk menunggu perubahan pikiran ayahmu entah mesti menunggu berapa lama lagi,” kata To
Liong dengan menyesal. “Sebenarnya aku ada usul. Bukankah kau masih punya seorang kakak
yang dapat menjadi wali bagimu. Dia sangat sayang padamu, tentu akan meluluskan permintaanmu
dan terhadap ayahmu juga dia dapat bertanggung jawab.
Mendengar sampai disini, diam2 Ci In-hong anggap To Liong ini benar2 berani mati, padahal Lau
Tay-wi sudah lama mengetahui pengkhianatanny, masakah masih berani minta Lau Tay-wi menjadi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
wali bakal istrinya?”
Terdengar Lau Khing-koh sedang menjawab: “Kakakku berada ditengah pasukan pergerakan,
pangkatnya yang pasti juga belum jelas. Andaikan datang kesini rasanya juga kurang leluasa.”
“Jangan kuatir,” rayu To Liong. “Kawan2ku juga sudah lama condong menggabungkan diri dengan
pasukan pemberontak, soalnya belum ada kesempatan yang baik. Tempat ini sangat dirahasiakan,
kedatangan kakakmu kesini tentu takkan menimbulkan kesukaran. Malahan bila sesuatu berjalan
lancar,kia be-ramai2 dapat ikut pula ke Pak-bong-san, pangkalan pasukan pemberontak sekarang.”
Sampai disini pahamlah Ci In-hong, rupanya To Liong sengaja membujuk rayu Lau Khing-koh, tapi
tujuan sebenarnya adalah memancing kedatangan Lau Tay-wi untuk memeras keterangan tentang
pasukan pergerakan, bahkan bisa jadi ada tipu muslihat lai yang akan diperbuat terhadap Lau Taywi.
Pantas To Liong merahasiakan tempat ini agar Lau Khing-koh tidak tahu bahwa dia berada
diistana Koksu.
Ternyata Lau Khing-koh menjadi sangsi dan ragu2, ia kuatir kalau2 terjadi apa2 atas diri kakaknya
bila diminta datang kekotaraja musuh dengan menyerempet bahaya. Padahal sudah berapa hari ia
tinggal disini dan macam apa kawan2 To Liong yang dikatakan itu sama sekali tak diketahuinya.
Tempat tinggalnya ini tampaknya serba mewah, seperti istana saja layaknya,apakah kawan To
Liong adalah orang kaya atau bangsawan? Dan selama ini mengapa To Liong takmau mengajaknya
pesiar keluar? Karena kesangsian ini segera ia mengutarakan perasaannya.
Cepat To Liong menjelaskan dengan tertawa: “Ai, mengapa kau bertanya hal2 yang tidak penting
ini? Tempat ini berada ditengah kotaraja Kim, sudah tentu lain daripada dipegunungan, terutama
untuk mengelabui mata musuh dengan sendirinya kita harus ber-pura2 hidup mewah. PAdahal
segenap kawan2ku sudah lama siap untuk menggabungkan diri dengan pasukan pergerakan. Karena
itu, tentang surat untuk kakakmu haraplah lekas kau menulisnya.”
Tiba2 Khing-koh mendengar suara kentongan yang ditabuh peronda, tersadar mendadak, katanya:
“Malam sudah larut, engkoh Liong silahkan kembali kekamarmu dulu, surat untuk kakak besok
pagi pasti akan kuserahkan padamu.”
Tapi dengan cengar cengir To Liong menjawab: “Khing-koh, aku takkan kembali kekamarku lagi.”
Dengan rada bingung Khing-koh berkata: “Meski kita sudah terikat janji, namun sebelum menikah
resmi kita perlu menghindarkan curiga orang,sebaiknya kau kembali kekamarmu dulu, kan tidak
pantas tinggal dikamarku sini.”
Mendadak To Liong mendekati Khing-koh dan lantas memeluknya, katanya sambil menyengir:
“Adik Khing, malam in aku akan tinggal dikamarmu sini. Kita toh sudah hampir menikah, apa
salahnya kalau kita menjadi suami istri lebih dulu sebelum upacara. Adik Khing, sungguh aku
merasa berat untuk berpisah dengan kau, hendaknya kau kasihan padaku!” ~ habis berkata terus
saja ia memeluk lebih kencang dan hendak mencium.
Dapatkah Lau Khing-koh dibujuk rayu dan dimakan oleh To Liong?
Cara bagaimana Ci In-hong akan bertindak dan cara bagaimana pula dia akan menghadapi Yang
Thian-lui?
Jilid 16 bagian pertama
Selama hidup Lau Khing-koh tidak pernah didekap oleh lelaki, keruan ia menjadi malu dan tersipu2,
mendadak ia meronta sekuatnya hingga To Liong terdorong kesamping. “Kau anggap diriku
ini orang macam apa?” serunya. “Menjadi istrimu juga perlu menikah secara terang2an menuru
adat, kalau kau hendak main paksa, betapapun takbisa jadi.”
Sikap keras Lau Khing-koh ini sungguh diluar dugaan To Liong. Semula ia mengira dengan
setengah halus dan setengah kasar tentu sinona juga akan setengah menolak dan setengah menurut.
Urusan kini sudah ketelanjur, sinona tampaknya mulai curiga, tiada jalan lain kecuali “membikin
beras jadi nasi” barulah sinona dapat dikendalikan, karena itu segera ia hendak main paksa.
Melihat sikap To Liong rada2 beringas, cepat Lau Khing-koh melolos belati dan mengancam: “Jika
kau paksa diriku biarlah aku mati didepanmu saja!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Jangan marah dulu, Khing-koh,” terpaksa To Liong main bujuk lagi. “Masakah aku berani paksa
kau, memangnya kau tidak tahu betapa cintaku padamu, apakah kau tidak suka padaku?”
Dengan alis menegak Lau Khing-koh menjawab: “Jika kau benar2 cinta padaku, maka kau harus
segera pergi dari sini, jangan anggap aku sebagai perempuan hina dina.”
Diam2 Ci In-hong yang mengintip diluar itu memuji keteguhan iman nona Lau itu, Cuma usianya
terlalu muda sehingga kena dikelabui To Liong. Diam2 ia ambil keputusan bila To Liong berani
menggunakan kekerasan terpaksa iapun turun tangan menolongnya sekalipun harus menghadapi
bahaya besar.
Dalam pada itu To Liong menjadi kikuk dan serba salah, apakaha mesti pakai kekerasan atau
mundur teratur saja? Seketika ia menjadi ragu2.
Pada saat itulah tiba2 terdengar suara orang memanggil: “To-kongcu, Lai-siya mengundang kau
untuk bicara sesuatu.” ~ Lai-siya yang dimaksudkan terang Dulai adanya.
Kesempatan ini segera digunakan To Liong untuk mundur teratur. Katanya dengan suara lirih:
“Khing-koh, harap jangan marah, perbuatanku tadi memang kurang pantas, tapi semuanya
terdorong oleh cintaku kepadamu yang sangat. Baiklah, aku akan pergi dan surat itu hendaklah
tulis!”
Dengan segera ia meninggalkan kamar Khing-koh, dalam hati ia tidak mengerti ada urusan apa
malam2 Dulai mencarinya.
Seperginya To Liong hati Khing-koh masih berdetak keras, sampai lama sekali ia tidak dapat
tentramkan pikiran. Biasanya To Liong bersikap sangat sopan, entah mengapa bisa berubah begitu,
apakah memang demikianlah watak aslinya, sopan santun yang sudah2 itu hanya pura2 saja ?”
Nyata Lau Khing-koh hanya merasa perbuatan To Liong tadi tidak pantas, sama sekali tak terpikir
olehnya bahwa jiwa To Liong jauh lebih busuk daripada dugaannya. Hanya saja kejadian tadipun
telah menggugah kewaspadaannya terhadap To Liong.
Selagi pikiran Lau Khing-koh masih gundah, tiba2 dia mendengar daun jendela diketuk orang dan
ada suara orang berkata dengan pelahan: “Maaf, bolehkah aku masuk, ada urusan penting hendak
kubicarakan dengan kau.”
Keruan Khing-koh terkejut, sementara itu seorang laki2 tak dikenal sudah melangkah masuk
kamarnya.
“Siapakah kau?” bentak Khing-koh dengan suara tertahan.
“Ssst nona Lau. Jangan bersuara. Aku Ci In-hong adanya.” In-hong mendesis. “Aku tiada punya
maksud jahat terhadapmu, jangan kuatir.”
Nama “Ci In-hong” seketika membikin Khing-koh melongo tertegun.
“Percakapan kalian tadi sudah kudengar semua,” kata In-hong pula.
“Baiklah, jika kau sudah dengar, maka akupun tidak perlu dusta kepadamu,” kata Khing-koh.
“Biarlah kubicara blak2an padamu, orang yang kusukai adalah To Liong,meski ayah menjodohkan
diriku kepadamu. Bukan maksudku menghina kau, orang menjelekkan kau juga aku tidak percaya.
Soalnya kita selamanya tidak pernah kenal, sedangkan aku sudah kenal lebih dulu dengan To Liong.
Bila engkau dapat memaafkan aku, silahkan kau membunuh aku saja.”
“Jangan salah paham, nona Lau, kedatanganku ini bukan untuk persoalan ini,” kata In-hong.
“Persoalan jodoh aku sendiripun belum pernah berjanji kepada ayahmu, maka boleh kau anggap tak
pernah terjadi dan tidak perlu kau pikirkan.”
“Lalu kedatanganmu ini untuk urusan apa?” tanya Khing-koh heran.
“Urusanku biar kita bicarakan lain kali, aku Cuma ingin tanya kau, apakah kau mengetahui tempat
apakah disini?”
“Bukankah kau sudah dengar percakapan kami tadi, tempat ini adalah rumah kawan To Liong.”
“Tidak, biar kuberitahukan hal yang sebenarnya, tempat ini adalah istana Koksu kerajaan Kim.”
“Ha, apa katamu?” seru Khing-koh terperanjat. “Tempat ini istana Koksu? Jangan kau ngaco !”
“Ssst ,jangan keras2 nona,” kata In-hong. “Apakah kau tidak percaya?”
“Apa kau punya bukti mengenai tempat ini ? Tapi yang kulihat disini semuanya kan oranag Han?”
“Ini memang sengaja diatur mereka. Tentang pembuktian, begini saja, disini bukankah ada seorang
pelayan bernama si Kemala? Coba kau panggil dia kesini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Ya, memang ada pelayan dengan nama demikian, tapi tengah malam untuk apa memanggil
pelayan, apa lagi berada disini?”
“Kalau pelayan itu datang, biar pelayan itu sendiri yang menerangkan padamu!”
Khing-koh menjadi sangsi, katanya kemudian: “Baiklah akan kupanggil.”
Tiba2 In-hong ingat sesuatu, cepat ia berkata: “Nanti dulu. Rumah ini selain pelayan si Kemala,
apakah masih ada budak lain?”
“Ada seorang pesuruh laki2,” sahut Khing-koh.
“Apakah orang yang memanggil To Liong tadi?” In-hong menegas. “aku tahu orang itu bukan
pesuruh, dia adalah jago pengawas bangsa Han, anak buah Yang Thian-lui, Lai-siya yang dia sebut
tadi adalah Dulai, pangeran keempat Mongol.”
Kembali Khing-koh terkesiap,katanya dengan tergagap: “Aku, aku tidak percaya ! Apa yang kau
katakan terlalu ……… terlalu mengerikan.”
“Kau tidak percaya? Baiklah akan kubuktikan semuanya supaya kau mau percaya. Sekarang kau
boleh bersuara, pura2 ketakutan dan memanggil si Kemala untuk memancing kedatangan pesuruh
laki2 yang kau katakan tadi.”
Walaupun masih sangsi, akhirnya Khing-koh menurut juga, segera ia berseri memanggil si Kemala
dengan setengah menjerit, tanpa pura2 suaranya ternyata sudah gemetar.
Benar juga, segera orang itu memburu datang dan bertanya: “Nona Lau,apakah ada sesuatu
keperluan? Si Kemala sudah tidur.”
“Kau, kau masuk saja kesini,” kata Khing-koh.
Ci In-hong sembunyi dibalik pintu, begitu orang itu melangkah masuk, serentak In-hong
membekuknya sambil membentak dengan suara tertahan: “Apakah kau masih kenal aku Ci Inhong?
Jika ingin selamat lekas bicara terus terang.”
Orang itu cukup kenal kelihaian Ci In-hong ketika dahulu mereka kerja bersama dibawah Yang
Thian-lui, keruan ia menjadi ketakutan,tapi sedapat mungkin ia berlagak enang dan menjawab: “Ci
In-hong, biar kau membinasakan diriku, kau sendiri tentu juga sukar lolos dari sini.”
“Kau tidak perlu kuatirkan diriku, yang penting kau harus pikirkan jiwamu sendiri,” ejek In-hong.
“Kau ingin kukatakan apa?” tanya orang itu.
“Coba katakan, bukankah kau ini jago pengawal istana Koksu kerajaan Kim ? Kau sengaja
ditugaskan menjaga disini oleh Yang Thian-lui bukan?” tanya In-hong.
“Aku hanya bekerja menurut perintah saja,” sahut orang itu. Kata2 ini sama saja membenarkan
pertanyaan In-hong.
“Nah, kau sudah dengar sendiri bukan, nona Lau?” kata In-hong. Berbareng ia totok Hiat-to orang
itu, lalu menggerayangi baju orang itu dan didapatkan sebuah Kim-pay (pening emas), ia tunjukkan
Kim-pay itu kepada Khing-koh dan berkata pula: “Liha ini, pening emas ini adalah tanda pengenal
untuk keluar masuk istana koksu disini.”
Dengan melengong Khing-koh menyambuti pening emas itu, diihatnya diatas pelat kecil itu terukir
huruf Nuchen yang tidak dikenalnya. Betapapun kini ia percaya juga kepada apa yang dikatakan Ci
In-hong tadi.
“Kalau orang ini adalah jago pengawal istana Koksu, maka tuduhan Ci In-hong terhadap To Liong
tadi tentunya juga benar,” demikian terpikir pula oleh Lau Khing-koh, hatinya menjadi kusut,
hendak menangis rasanya airmatapun kering. Ber-ulang2 ia hanya menggumam sendiri:
“Bagaimana dengan diriku ini?”
“Sekarang boleh kau panggil si Kemala kesini,” kata In-hong. Lalu ia sembunyi pula di belakang
pintu angin.
Seperti boneka saja Lau Khing-koh mengikuti semua perintah Ci In-hong itu ,sambil bersandar pada
pintu kamar ia berseru: “Kemala ! Si Kemala !”
Sebenarnya si Kemala belum tidur, tadi iapun dengar panggilan Khing-koh. Tapi iapun mendengar
suara tindakan jago pengawal tadi, maka tidak berani keluar. Kini mendengar pula panggilan
Khing-koh dan orang itu tidak bersuara mencegahnya,akhirnya ia tabahkan hatinya untuk keluar.
Sesudah masuk kamar Khing-koh, dilihatnya “pesuruh laki2” itu berbaring dilantai, si Kemala
menjadi kaget dan berseru: “Nona Lau, ada …… ada apakah ini?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Segera In-hong keluar dari tempat sembunyinya dan menegur dengan tertawa: “Si Kemala, apakah
kau masih kenal padaku?” ~ Ia sudah mengesut mukannya hingga tertampak wajahnya yang asli.
Si Kemala tertegun ketika mendadak nampak Ci In-hong muncul dari belakang pintu angin. Sudah
tentu ia masih mengenali Ci In-hong yang dahulu sering menggodanya ketika masih kecil. “He,
kiranya kau, Ci-toako!” serunya girang2 kejut.
“Aku sudah bertemu dengan ayahmu, makanya aku mencari kau kesini,” kata In-hong. “Kemala
cilik, apakah kau suka membantu kami?”
“Ci-toako, untuk kepentinganmu, biarpun mati aku pasti membantu kau, “ kata si Kemala.
“Baiklah, sekarang kau beritahukan lebih dulu noana Lau mengenai duduk perkara sebenarnya,”
kata In-hong.
Setelah mendengar penuturan si Kemala barulah Lau Khing-koh mau percaya, keruan ia termangu2
saking kejutnya. “Ci-toako, untung engkau keburu datang, kalau tidak tentu aku akan
berbuat suatu kesalahan besar,” katanya kemudian. Teringat surat yang diminta oleh To Liong itu,
kalau dirinya jadi menulis surat itu, maka bukan diri sendiri saja berdosa, bahkan kakak sendiri juga
ikut celaka.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Sedih Patah Hati : PG 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments