Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 1

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 1
 Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 1

dunia-kangouw.blogspot.com
Karya : Chung Sin
E-book : dunia-kangouw.blogspot.com
01.01.Huruf-huruf Kuno di Atas Batok Kura-kura
Setelah angin puyuh berlalu, keadaan kembali menjadi tenang. Di tegalan yang luas terlihat kambingkambing
mulai bergerak berpencaran, sebelum itu, mereka berkumpul menjadi satu.
Si gembala kambing, seorang anak yang berumur kurang lebih duabelas tahun, merayap keluar dari goa
tempat sembunyinya. Bajunya sudah tua, banyak tambalannya. Dia seorang bocah miskin. Ia mendongak
melihat langit yang telah menjadi terang kembali, lalu memandang ke sekitarnya, dimana banyak tangkaitangkai
pohon yang sudah tumbang. Mendadak matanya tertarik oleh sesuatu, ia memandang ke arah
segundukan tanah longsoran, ia jalan menghampiri gundukan tanah yang menarik perhatiannya itu.
Pada gundukan tanah longsoran itu terlihat sebuah batu kuburan yang hampir tidak dapat dibaca. Di antara
pecahan batu yang berantakan di situ ada kedapatan barang-barang yang baru dilihat oleh si bocah, seperti
kuda-kudaan yang terbuat dari batu dan patung-patung yang terukir oleh pemahat-pemahat yang pandai.
Barang-barang ini telah bercampur dengan segala macam pecahan piring mangkok dan lain-lain barang
kuno. Tapi begitu banyak barang-barang kuno yang aneh-aneh, si bocah angon hanya tertarik oleh sebuah
pit (alat tulis) besar yang berwarna hitam mengkilap. Pit ini lebih besar dari pit biasa, diangkatnya juga berat.
Dalam girangnya, si bocah mencorat-coretkankan pit itu di atas batu. Kelakuannya si bocah angon telah
menimbulkan suatu keanehan.
Batu yang terkena goresan ujung pit itu sudah lantas terbelah menjadi dua. Melihat kejadian ini, si bocah
merasa heran. Tapi ia tidak percaya, mungkinkah ada pit begitu tajam? Lalu dipilihnya pula sebuah batu
yang keras dan besar, dengan sekuat tenaganya, ditusukkannya ujung pit aneh itu.
Terdengar suara “pruk”, batu tadi telah menjadi hancur berantakan. Ia telah membuktikan, betapa hebatnya
pit itu, dengan tak terasa, ia berlompat-lompat girang. Dengan bersenyum puas, ia mengelus-elus pit wasiat
itu. Pikirnya, dengan pit wasiat ini, ia akan menghajar binatang srigala yang berani memakan kambingnya.
Kini ia sudah tidak usah takut lagi untuk menghadapi srigala-srigala yang sering mengganggunya. Sungguh
tabah hati si bocah angon.
Dengan tidak terasa, ia mengayun-ayunkan pit wasiatnya, seperti sedang menghadapi seekor srigala.
Sekian lama ia memainkan pit wasiatnya ini, sehingga ia menjadi letih sendiri. Sambil menyelipkan pit yang
baru didapat tadi, ia kembali memperhatikan kuburan tua yang berada di depannya.
Kuburan ini tidak seperti kuburan yang biasa dilihat. Biarpun kuburan tersebut telah menjadi pecah tidak
keruan, tapi dari barang-barang yang terlihat, dapat dibayangkan, betapa indah dan megahnya asal usul
dari kuburan kuno ini.
Ia tidak dapat melihat ke dalam kuburan, karena benda itu telah tertimbun oleh tumpukan-tumpukan tanah.
Meskipun begitu, ia masih menemukan beberapa batok kura-kura yang sudah berantakan di tanah.
Setelah diperlihatkannya dengan teliti, ternyata di atas batok kura-kura tadi terdapat ukiran-ukiran kuno.
Ukiran-ukiran ini melukiskan bermacam-macam tingkah laku orang dan binatang-binatang. Di bawahnya
lukisan-lukisan ini terdapat huruf yang tidak dimengerti oleh si bocah, rupanya itu ada penjelasanpenjelasan
dari gambar-gambar tadi.
Barang yang seperti demikian, jika terjatuh di dalam tangan anak-anak lainnya sudah tentu tidak ada yang
akan mengambilnya. Tapi tidak demikian dengan si bocah angon ini yang telah banyak membaca buku,
biarpun ia tidak mengerti huruf-huruf itu, tapi keinginannya untuk mengetahui telah memaksa ia untuk
menyimpannya.
Maka dipungutinya satu persatu, batok kura-kura yang berantakan tadi, dibersihkan dan dimasukkan ke
dalam bajunya yang banyak tambalan itu. Sambil menenteng sekumpulan batok kura-kura, dia menggiring
kambing-kambingnya pulang kampung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie, demikian namanya si bocah angon, sebenarnya bukan asal kampung itu. Ia sebenarnya ada
turunannya seorang bangsawan. Ayahnya almarhum, karena berani menentang kelakuannya pemerintah
setempat yang berlaku sewenang-wenang, maka ia telah dibuang ke perbatasan Tibet, dan si bocah telah
dipelihara oleh Koo Han Lim suami isteri.
Tapi tak lama kemudian, Koo Han Lim suami isteri telah meninggal dunia. Koo San Djie yang telah menjadi
sebatang kara, lalu bekerja sebagai pengembala kambing pada salah satu tuan tanah.
Koo San Djie adatnya keras, biarpun mendapat perlakuan yang kejam dari sang majikan, belum pernah
menangis. Berbeda dengan bocah angon lain-lainnya, disamping kambing-kambing yang diangonnya, ia
tidak pernah lupa dengan buku pelajarannya.
Koo San Djie setelah kembali ke rumah dan berada sendirian, satu persatu huruf-huruf yang tidak
dimengerti tadi ia perhatikan.
Biar bagaimanapun, sudah tentu Koo San Djie tidak dapat mengerti huruf kuno itu, yang memang belum
pernah dipelajarinya, hanya gambar-gambarnya yang setelah diperhatikan betul-betul, ternyata merupakan
gerakan-gerakan yang bersambung.
Malam itu, sebagaimana biasa ia tertidur di atas ranjang papan yang dilapis oleh selembar selimut rombeng.
Sekian lama ia berbaring di tempatnya, pikirannya masih melayang-layang pada batok kura-kura yang
gambarnya berubah-ubah. Ia sudah tidak mau ambil pusing sama huruf-huruf penjelasannya yang telah
membikin ia sakit kepala, hanya pikirannya masih mengingat-ingat gambar-gambarnya yang melukiskan
berbagai macam gerakan yang sangat mudah untuk ditirunya.
Angin dingin yang meniup-niup telah menyebabkan ia tidak dapat tidur, dengan sekali lompat ia telah
meninggalkan tempat tidurnya. Ia coba mengikuti tingkah laku dan gerak gerik sebagaimana yang terlukis di
atas batok kura-kura.
Demikianlah sejak saat itu ia telah mulai meyakinkan pelajaran-pelajaran tersebut yang ia dapati dengan
tidak disangka sama sekali.
Pada suatu hari, sebagaimana biasa, Koo San Djie sudah pergi mengangon kambing-kambingnya.
Gumpalan-gumpalan awan hitam pelahan-lahan mulai menutupi langit, kembang salju yang putih halus
beterbangan seolah-olah menutupi jagat. Di kaki gunung kambing-kambing telah berpencaran di antara
rumput-rumput yang tinggi, mencari rumput-rumput, daun-daun, kulit-kulit pohon dan akar-akar yang telah
menguning untuk dimakannya.
Koo San Djie mengayunkan langkahnya ke sebuah goa untuk menghindari hujan angin. Disana ia duduk
bersila, mengatur jalan pernapasannya, ia sudah tidak merasa hawa udara yang dingin, bahkan di atas
kepalanya masih mengeluarkan uap panas yang putih.
Hanya dalam beberapa bulan saja, ia sudah merasakan hasilnya yang lumayan dari pelajaran-pelajaran
barunya. Kini ia tidak pernah merasa dingin lagi, biarpun air-air dikali telah membeku menjadi es, ia dapat
tidur pulas tanpa memakai selimut lagi.
Waktunya tidak pernah dibuang percuma, ia selalu menggunakan waktu senggangnya untuk mengatur jalan
pernapasannya. Sebelumnya ia tidur, dilatihnya dulu menurut gerakan-gerakan cara yang tertulis di atas
batok kura-kura, begitupun sesudahnya bangun tidur, latihan itu telah menjadi pekerjaan yang pertama.
Pada suatu hari selagi mengangon kambingnya, ia duduk bersemedhi. Tidak lama, ia mendengar suara
derapan kaki kambing yang ramai, begitu berisik, seakan-akan kambing-kambingnya telah lari kepadanya
semua.
Setelah dibuka kedua matanya, kambingnya masih terlihat tenang-tenang saja di antara gerombolan
rumput-rumput yang tinggi. Seekorpun tidak berada disampingnya.
Keadaan ini telah membikin ia menjadi bingung, ia tidak habis mengerti, mengapa kupingnya bisa menjadi
demikian?
“Aneh, entah apa yang menyebabkannya? Sebentar akan kutanyakan pada empe Bun, ia tentu dapat
mengetahuinya,” pikir Koo San Djie.
Ia tidak mengetahui bahwa ia mempelajari tenaga dalam dengan tidak disengaja. Pelajaran ini, jika telah
mencapai tarap tertinggi, pikiran bisa menjadi jernih begitu rupa, sehingga suara yang bagaimana kecil pun
dapat didengarkan dengan jelas sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Mengingat empe Bun, yang dapat menjawab segala macam persoalan yang bagaimana sulitpun hatinya
menjadi tenang. Kedua matanya dirapatkannya kembali untuk meneruskan bersemedhinya.
Empe Bun adalah orang yang paling dihormati oleh Koo San Djie.
Baru saja ia mulai tenang, tiba-tiba kupingnya telah mendengar kembali suara tadi, suara yang sangat aneh.
Dari jauh seperti terdengar ratusan kuda lari mendatang, bercampuran dengan suara lolongan-lolongan
srigala yang melengking tinggi. Suara yang belakangan inilah yang telah membikin ia menjadi lompat
bangun.
Di daerah padang luas, rombongan srigala adalah rombongan yang terhitung paling ganas. Tidak perduli
manusia atau binatang, tidak satupun yang dapat lolos dari geragorannya srigala-srigala ini.
Kini bukannya Koo San Djie saja yang mendengar lolongan srigala itu, beberapa ekor kambing yang seperti
telah mengetahui akan datangnya bahaya, sudah menjadi seperti yang ketakutan.
Tak berapa lama kemudian, beberapa ekor kambing yang lebih berpengalaman telah mulai lari serabutan.
Biarpun mempunyai hati yang sangat tabah pun, sebagai seorang anak yang belum pernah mengalami
bertemu dengan rombongan srigala, Koo San Djie menjadi ketakutan setengah mati.
Menurut penuturan orang-orang tua, untuk lari menyingkir dari rombongan serigala ini sudah tidak mungkin
sama sekali. Serigala-srigala ini masih dapat mengubar dan mengikuti hawa bau kambing yang telah
menempel di badannya.
Lolongan srigala kini sudah terdengar dengan jelas. Semua kambing sudah lari berpencaran, tanpa dapat
diatur lagi. Dengan tangan mengepal kencang-kencang pit wasiatnya Koo San Djie lari sehingga sampai ke
ujung tebing.
Kini sudah dapat dilihatnya dengan jelas, ratusan srigala dengan mulutnya yang rakus berada di antara
rombongan kambing-kambing.
Segera terdengar jeritan-jeritan kambing yang mengerikan. Sebentar saja, kambing-kambing yang
diangonnya sudah habis digerogoti oleh srigala yang lebih besar jumlahnya.
Percuma saja kambing-kambing yang tidak dapat melawan kepada keganasan, mereka berteriak dan
menjerit, satu persatu telah menjadi makanan yang lezat dari rombongan srigala yang rakus itu. Di
tumpukan salju yang putih bersih telah berceceran darah kambing yang berwarna merah segar.
Koo San Djie hanya bisa menyaksikan kambing kesayangannya dalam sekejapan saja telah menjadi ludes
semua, dia sangat sakit hati, kemarahannya telah timbul dengan tiba-tiba. Kedua matanya berwarna merah,
seolah-olah mengeluarkan api, pit wasiatnya diputar-putarnya, dalam keadaan yang setengah kalap, ia
sudah menerjang ke arah rombongan srigala tadi.
Suara kambing sudah tidak terdengar sama sekali, rombongan srigala yang berjumlah ratusan banyaknya
masih belum puas, dengan mulutnya yang masih berlepotan darah mereka masih mencari barang yang bisa
dijadikan mangsanya.
Jeritannya Koo San Djie, berarti mendatangkan perhatiannya dari rombongan srigala liar ini. Tanpa
menunggu sampai ia turun tangan, beberapa ekor srigala yang besar sudah datang menerjang kepadanya.
Dalam keadaan tidak sadar, Koo San Djie masih berani berlaku nekad. Kini melihat beberapa ekor srigala
yang besarnya hampir sama dengan badannya, datang menerjang ke arahnya, baru timbul rasa takutnya.
Srigala yang di depan belum juga sampai untuk menubruk, tetapi rombongan yang di belakang sudah
datang menyerbu. Seakan-akan tanah bergerak mau menelannya.
Mendadak, terdengar satu suara yang melengking memecah keadaan, pit wasiatnya Koo San Djie
mengetuk pecah batok kepalanya srigala yang terdepan, disusul dengan rintihannya dari srigala yang di
sebelah kanannya, perutnya pun terkena tusukannya pit yang lihay di tangan Koo San Djie.
Satu persatu, rombongan srigala yang mendekatinya telah rubuh bergilir. Koo San Djie, dengan pit
wasiatnya telah membunuh puluhan ekor srigala, tapi ia sendiripun telah mandi darah, darah bangkai srigala
tentunya. Setindak demi setindak, kakinya telah mundur ke arah pinggir tebing yang curam.
Dilihatnya rombongan srigala itu menjadi bertambah banyak, seluruh tebing telah penuh dengan srigala.
Percuma saja untuk Koo San Djie membasminya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua ekor srigala pula berbareng melompat ke arahnya, dengan hati yang mulai menjadi keder, ia melompat
ke belakang.
Tapi, kakinya sudah tidak dapat menginjak tanah pula, terasa di kupingnya angin menderu-deru, keadaan di
sekelilingnya menjadi gelap, dengan tidak mengingat apa-apa ia telah terjatuh dari pinggir tebing, menuju
jurang yang sangat dalam sekali……
01.02. Orang Tua Berkaki Lumpuh
Entah berapa lama, sang waktu telah lewat. Ketika layap-layap ia mendusin dari pingsannya dirasakannya
seluruh badannya menjadi sakit semua, tulang-tulangnya seperti telah menjadi patah berantakan.
Perlahan-lahan, dibuka kedua matanya, badannya kedapatan terbaring di dalam sebuah goa yang gelap,
angin dingin meniup membuat badannya menjadi bergidik.
Ia coba bangun, tapi dadanya dirasakan sesak, seluruh badannya sudah tidak dapat bergerak lagi. Ia mulai
merasa heran, ia baru saja terjatuh dari atas tebing jurang yang dalam. Apakah ditolong oleh orang-orang,
sehingga terhindar dari maut?
Ia tidak usah memikir lama, waktu itu dari dalam goa terdengar suara dari seorang tua:
“Anak yang baik, kau telah mendapat luka dalam yang berat, jangan kau coba untuk berdiri, perlahan-lahan
akan kuusahakan……”
Suara ini diucapkan dengan perlahan-lahan, karena ia sedang memikirkan satu soal yang sulit, bukannya
karena kehabisan tenaga.
Lalu terdengar pula suaranya yang seperti berbicara sendiri……
“Empatpuluh tahun bukannya jangka waktu yang pendek, apa dengan begini saja akan ku buang percuma?”
“Aih, waktuku yang hanya beberapa tahun lagi ini, buat apa menyia-nyiakan barang berharga dengan
percuma......? Lebih baik kuberikan kepadanya.”
Kemudian terdengar suara elahan napas yang panjang dari si orang tua.
Biarpun Koo San Djie tidak mengetahui, soal apa yang telah membikin si orang tua mengelah napas tapi
sudah tentu orang inilah yang telah menolongnya.
Maka dengan cepat ia berkata:
“Lope, kau dimana? Terima kasih atas kebaikanmu yang telah menolong San Djie?”
Terdengarlah suara desiran angin yang pelahan, di sebelahnya Koo San Djie telah bertambah seorang tua
yang rambutnya digulung menjadi satu, dengan tangannya yang telah keriput mengelus-elus mukanya.
Dengan suara yang penuh kasih sayang si orang tua berkata:
“Anak baik, kau tentu telah mempelajari ilmu silat, jika tidak, urat darahmu akan menjadi pecah, akibat jatuh
dari tempat yang demikian tingginya.”
Koo San Djie seperti tidak mendengar perkataan si orang tua, ia merasa sangat senang, pipinya dielus-elus
oleh tangannya si orang tua yang besar. Dalam ingatannya, kecuali empe Bun, belum pernah ia merasakan
kasih sayang yang seperti itu.
Si orang tua yang melihat keadaannya Koo San Djie yang terlongong-longong di antara mukanya yang telah
keriput terlihat sekilas senyuman.
“Pernahkah kau mempelajari ilmu pukulan?” ia bertanya
Koo San Djie menggelengkan kepalanya.
“San Djie hanya bisa duduk bersila. Tapi apakah kegunaannya?” jawabnya.
Dalam sekejapan, dimuka si orang tua terlihat keheranan, tapi kemudian menjadi tenang pula. Dengan
sikapnya yang sungguh-sungguh ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sebentar, jika kau sudah menelan KODOK MAS, kau harus lantas mengatur jalan pernapasanmu, agar
hawa KODOK MAS yang murni dan hawa dirimu sendiri dapat bercampur menjadi satu, dengan demikian,
luka dalammu akan segera menjadi sembuh. Sesudah ini baru aku dapat membantumu mengatur jalan
darah.”
Sesudah mengucapkan pesanannya ini, sekali berkelebat, si orang tua sudah lenyap dari pandangan mata.
Koo San Djie betul-betul taat pada perkataannya si orang tua, tidak bergerak ia berbaring di tempatnya,
pikirannya melayang kemana-mana.
Sekejap kemudian, si orang tua telah kembali, mukanya bersikap tegang, kedua tangannya seperti
mengempo bayi, dimana terlihat segumpalan sinar mas yang sebesar kepalan tangan. Gumpalan sinar mas
berbentuk seekor katak yang leloncatan di antara kurungan hawa yang tidak berbentuk.
Begitu sampai, si orang tua sudah lantas berkata dengan perlahan:
“Lekas buka mulutmu!”
Dengan tidak terasa, Koo San Djie telah membuka mulutnya, dan uap mas berbentuk kodok itu sudah
dipaksa masuk ke dalam tenggorokannya.
Koo San Djie segera merasa hawa yang hangat menembusi seluruh tubuhnya. Sejenak kemudian, terasa
badannya menjadi segar kembali.
Sebelum ia dapat berbuat apa-apa, si orang tua sudah menekan badannya, dengan suara perlahan ia
memerintah:
“Lekas lakukan seperti biasa kau duduk bersemedi, mengatur jalan pernapasanmu.”
Sekujur badannya sudah menjadi panas sekali, secara otomatis, ia telah mengatur jalan darahnya untuk
hawa panas yang berlarian
Ke sana sini. Untung sekali, pelajaran tenaga dalamnya yang ia latih menurut lukisan-lukisan di atas batok
kura-kura itu masih teringat baik, sebentar kemudian keadaannya sudah pulih seperti biasa kembali.
Si orang tua yang duduk disampingnya sedang memperhatikan bocah angon yang sangat aneh itu.
Terjatuh dari tebing yang curam, dengan tidak mati sudah menjadi aneh, yang lebih aneh lagi ialah, di
dalam tangannya si bocah angon ada bergenggam pit Tanduk Badak Dewa dari Raja Ie.
Kini, melihat anak itu dapat mengatur jalan darahnya yang telah bercampur dengan hawa KODOK MAS,
dengan demikian cepat, entah bagaimana asal usulnya?
Telah empatpuluh tahun ia menunggu KODOK MAS ini berwujud, obat yang istimewa untuk menambah
tenaga dan menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Begitu melihat Koo San Djie yang berbakat bagus, dalam hatinya telah timbul semacam rasa sayang. Ia
telah bersedia mengorbankan dirinya, dengan jalan memberi makan hawa KODOK MAS, agar dapat
menambah tenaganya si bocah angon.
Dalam dunia persilatan, orang tua ini menduduki tempat tertinggi. Pada masa itu, orang menjulukinya
Pendekar Berbaju Ungu ahli pedang nomor satu dari Rimba Persilatan. Jago tua ini tidak suka dengan
keramaian, seumurnya baru menerima seorang murid yang bernama Lam Keng Liu, karena muridnya inilah
yang menyebabkan ia MASUK API, selagi menjalankan ilmunya sehingga kedua kakinya menjadi lumpuh.
MASUK API adalah istilah silat yang menyatakan seseorang luka karena salah melatih diri.
Pada empatpuluh tahun yang lalu, ia telah menemukan setumpukan buku inti pelajaran ilmu silat tidak
bernama, yang dapat dibagi dalam lima bagian, sayang ia tidak mendapatkan gambar-gambarnya, maka
tidak mudah untuk dipelajarinya. Demikianlah, dengan mengajak muridnya yang bernama Lam Keng Liu,
mereka telah menyingkir dari keramaian.
Lam Keng Liu yang berketurunan bangsawan ada mempunyai paras muka yang cakap, tapi hatinya jahat.
Lama kelamaan, kelakuannya Lam Keng Liu diketahuinya juga oleh si orang tua, maka ia tidak mau
menurunkan semua kepandaiannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Siapa tahu, Lam Keng Liu yang berhati jahat jadi membenci gurunya. Ia telah menggunakan kesempatan di
waktu sang guru duduk bersemedi, menotok jalan darah sang guru. Dangan cara demikian keji ia telah
berhasil merampas dua bagian dari buku ini pelajaran ilmu silat gurunya.
Karena itu, si orang tua mengalami penderitaan MASUK API. Dia lumpuh.
Beruntung si orang tua berkepandaian tinggi, biarpun sudah lumpuh, ia terus menetap di dalam goanya.
Kita balik kepada Koo San Djie yang sedang menggunakan hawa dalamnya memimpin hawa hangat dari
KODOK MAS, mengelilingi seluruh tubuhnya, demikian sehingga beberapa putaran. Lama kelamaan,
karena kekurangan tenaga, ia sudah mulai sukar untuk mengusir hawa hangat ini, pada jidatnya, terlihat
butiran-butiran keringat yang sebesar kacang, dan kepalanya dirasakan mulai menjadi berat, hampir saja ia
menjadi pingsan.
Dalaan keadaan yang kritis ini, mendadak, sebuah tangan yang besar telah menempel di punggungnya,
suatu aliran baru yang hangat, dengan cepat mengalir masuk, memimpin alirannya yang lama tadi ke
semua jurusan, sampai pun bagian yang sukar tercapai pun, berhasil diterobosnya juga.
Baru sekarang si Pendekar Berbaju Ungu mengeluarkan napas panjang, dengan perlahan-lahan tangannya
mulai ditarik kembali. Bersamaan dengan ini, Koo San Djie telah dapat melompat bangun dari tempatnya,
dengan muka yang bersinar dan bercahaya.
Dilihatnya orang yang menolong dirinya ada orang tua berkaki lumpuh, warna bajunya yang tua hampir
berubah menjadi hitam.
Tangannya si orang tua menggapai-gapai kepadanya, dengan tidak menunggu jawaban lagi, badannya
sudah terbang menuju ke goa belakang. Dengan berlompat-lompatan, Koo San Djie juga turut pergi ke
jurusannya.
Keadaan di goa belakang berbeda dengan tempat tadi, meja kursi dan segala perabot yang semuanya
terbikin dari batu serba komplit, tidak terkecuali dengan rak buku yang penuh dengan segala macam bukubukunya.
Sambil menunjuk ke arah sebuah bangku batu yang berada dihadapannya, si orang tua menyuruh si bocah
angon duduk. Tapi Koo San Djie yang masih kekanak-kanakan sudah menarik-narik tangannya si orang tua
sambil berkata:
“Lope, apakah yang kau masukkan ke dalam mulut San Djie tadi? Jika tidak ada kau yang membantu,
hampir saja San Djie jatuh pingsan.”
Setelah menarik napas panjang si orang tua berkata:
“Itulah KODOK MAS, jika orang yang belajar silat memakannya, berarti sama dengan limapuluh tahun
punya latihan. Telah empatpuluh tahun aku menunggu di goa ini..… Aih, memang kau yang mempunyai
peruntungan bagus.”
Koo San Djie merasa tidak enak hati, mendengar ia telah memakan barang yang telah ditunggu empatpuluh
tahun lamanya, oleh si orang tua. Dengan hati merasa menyesal ia berkata:
“Lope, tidak seharusnya San Djie memakan barang yang telah kau tunggu-tunggu begitu lama, entah
dimana masih ada lagi, nanti akan San Djie carikan pula seekor untuk gantinya.”
Si Pendekar Berbaju Ungu tertawa meringis:
“Sudahlah, untuk mendapatkan barang yang seperti ini, tidak mungkin dapat dipaksa, hanya tergantung dari
peruntungan. Menurut pengetahuanku, di danau Pook-yang, terdapat seekor ikan mas yang telah berumur
seribu tahun, nyalinya ikan ini juga mempunyai khasiat yang lebih besar dari khasiat Kodok Mas.”
Koo San Djie melompat bangun girangnya luar biasa.
“Nanti akan San Djie usahakan untuk mengambilnya, buat menggantikan kodok mas lope.”
Si Pendekar Berbaju Ungu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Dengan kepandaian kau yang sekarang ini, jangan harap dapat menangkapnya. Biarpun kau telah
berkepandaian tinggi, juga tidak seharusnya kau melukainya. Bukan soal yang gampang untuk ia dapat
bertahan sampai seribu tahun lamanya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Lalu ditanyainya riwayat hidup dan asal usulnya Koo San Djie.
Dengan tidak disangka sama sekali, Koo San Djie telah berlutut dihadapannya, sambil menangis
sesenggukan. Inilah untuk pertama kalinya ia nangis di hadapan orang lain, ia merasakan kesayangannya
dari si orang tua yang tidak kalah dari kesayangannya empe Bun terhadap dirinya.
Seperti anak yang kolokan bertemu dengan orang tuanya, setelah sekian lama ia menangis, satu persatu
diceritakannya kejadian-kejadian yang telah dialaminya. Lalu dikeluarkannya gambar-gambar yang telah
disalinnya dari batok kura-kura yang diketemui di kuburan kuno.
“Dengan mencontoh gerakan-gerakan ini San Djie mempelajari pukulan-pukulan,” katanya.
Setelah mendengar penuturannya Koo San Djie yang panjang lebar, dengan mata dibuka besar-besar, si
Pendekar Berbaju Ungu memperhatikan gambar-gambar tadi.
Mendadak ia menepuk pahanya sendiri dan berkata:
“Penemuan yang bagus, penemuan yang bagus……”
Melihat tingkah lakunya si orang tua yang aneh ini, Koo San Djie menjadi terheran-heran.
Si orang tua menghampiri tempat buku-buku, dari dalam rak buku-buku itu, ia mengeluarkan lembaran
kertas yang terbungkus rapi, lalu dicocokkannya dengan gambar-gambar tadi. Terdengar ia memberi
penjelasan:
“Gambaran-gambaran ini adalah tiga bagian dari inti pelajaran ilmu silat tentang ilmu tenaga dalam, ilmu
jotosan dan ilmu pedang. Aku telah mempelajarinya puluhan tahun, sehingga sampai hari ini, aku belum
dapat mengerti semua. Kini jelaslah, buku ini adalah buku Im-hoe-keng. Dan yang telah kau temui adalah
keseluruhannya gambar dan penjelasannya dari Im-hoe-keng…… Sayang masih ada dua bagian penting
tentang ilmu ketabiban dan ilmu mengentengi tubuh yang telah dicuri oleh si binatang……”
Setelah mengatakan ini semua, dengan memegang pit hitam dari kuburan tua, ia berkata pula:
“Kau jangan menganggap enteng pit ini, ia terbuat dari Tanduk Badak Dewa, bukan saja mempunyai
kekuatan yang melebihi segala barang, kegunaannya yang terpenting ialah dapat memunahkan segala
macam racun. Kau harus baik-baik menyimpannya.”
Koo San Djie seperti yang mengingat sesuatu, dengan segera ia menjatuhkan dirinya, ia berlutut dan
berkata:
“Lope, dapatkah kau menerima San Djie menjadi muridmu? Setelah berkepandaian tinggi, San Djie akan
membantu anak-anak yang sengsara di dunia ini.”
Si orang tua tidak menjawab dan tidak melarang bocah angon itu berlutut. Setelah Koo San Djie
menjalankan peradatannya empat kali dan berdiri, baru ia berkata:
“Untuk menjadi muridku, tidak ada syarat-syaratnya, hanya kau harus menjalankan satu perintahku.”
Koo San Djie sudah lantas menjawab:
“Asal bukan perbuatan jahat, biarlah sepuluh perintah pun, akan San Djie jalankan.”
Si Pendekar Berbaju Ungu manggut-manggut:
“Sekarang masih terlalu pagi untuk memberitahu kepadamu.”
Demikianlah mulai saat itu, Koo San Djie belajar ilmu silat di dalam lembah ini.
Dibawah pimpinan si Pendekar Berbaju Ungu yang berkepandaian tinggi, dibantu dengan hawa Kodok Mas
dan petunjuk dari Im-hoe-keng, di dalam rimba persilatan telah muncul sebuah bibit yang tidak mudah dicari
dalam seratus tahun.
Dengan cepat, tiga tahun telah dilewatkan. Sebetulnya, waktu terpendek untuk orang belajar silat hanya
dalam waktu tiga tahun, tapi Koo San Djie telah memakan Kodok Mas dan dipimpin oleh seorang guru yang
pandai, tentu saja dapat kemajuan yang sangat cepat sekali.
Pada suatu hari, si Pendekar Berbaju Ungu telah memanggil muridnya dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepandaian yang kupunyai telah kuwariskan semua, kini sudah waktunya untuk kau mencari pengalaman
sendiri di kalangan sungai telaga. Hari ini juga kau boleh turun gunung untuk menambah pengalamanmu.”
Koo San Djie dengan gugup menjawab:
“Tidak! Muridmu akan menunggu beberapa tahun lagi…... apa lagi kedua kaki Suhu belum sembuh betul,
siapa yang melayaninya, jika muridmu pergi?” Dengan tak terasa air matanya, telah turun berlinang-linang.
Sebetulnya, si Pendekar Berbaju Ungu ini juga berat untuk berpisah dengan murid kesayangannya ini. Tapi
ia juga cukup mengetahui, sang murid harus mendapat pengalaman dari pergaulannya. Maka dengan suara
menghibur ia berkata:
“Dalam dunia tidak ada suatu kejadian yang tidak berubah. Gurumu telah dapat menangkap sarinya Im-hoekeng,
tidak usah sampai dua tahun lagi, kakiku akan dapat sembuh sebagai semula. Kau tidak usah
menjadi kuatir!”
Sehabis berkata, sang guru memandang muridnya dengan bangga.
Tapi kemudian ia menghela napas, alisnya dikerutkan. Sebentar tampak matanya beringas, tapi segera
kembali seperti biasa.
“San Djie,” tiba-tiba sang guru berkata pula: “Apa masih ingat, ketika aku terima kau sebagai muridku, kau
harus menjalan suatu perintah?”
"Ya, San Djie masih ingat.”
“Perintahku agar kau mencari si binatang Lam Keng Liu, itu murid celaka, dan kau harus membereskan
jiwanya……”
“San Djie akan menjalankan perintah suhu.”
“Dengan kepandaian yang kau miliki sekarang, kau tak usah gentar menghadapi si binatang itu. Nah,
sekarang kau boleh pergi.”
Koo San Djie berlutut, mengambil selamat dari guru yang dikasihinya itu. Ditinggalkannya lembah yang
memberi kenang-kenangan kepadanya.
Ia langsung menuju ke arah kampung halamannya, ialah Kang-lam yang ramai.
02.03. Bocah Angon Menjadi Nelayan
Di musim semi, di danau Pook-yang yang luas, disana-sini terlihat perahu nelayan yang selalu sibuk dengan
muatannya.
Para nelayan yang mengandalkan penghidupannya dari danau ini sudah ramai-ramai memasang layarnya,
menuju ke tengah sungai, memulai penghidupannya seperti biasa.
Kota Pook-yang yang terletak di pinggir danau, sedari dulu telah menjadi pusat jual beli hasil perikanan.
Maka tidak heran, jika di sana sini terdapat banyak toko-toko dan rumah makan.
Di dekat pelabuhan, seorang nelayan she Ong yang telah berumur lebih dari enampuluh tahun telah
melamun, dia memikirkan nasibnya, dia bersama istrinya telah lama tinggal di situ, hanya mempunyai
seorang anak perempuan yang kini berumur enambelas tahun, suami istri ini memanggilnya Hoe Tjoe yang
mempunyai arti kerang tua bermutiara.
Si nelayan tua sering menghela napas, jika memikirkan nasibnya, biarpun telah berumur tua, masih harus
keluar menangkap ikan sendiri. Ong Hoe Tjoe biarpun sangat pintar dan berbakti, tapi bagaimanapun ia
sebagai seorang anak perempuan, tidak bisa meneruskan usaha ayahnya menangkap ikan. Maka kedua
orang tuanya hanya mengharap-harapkan agar mereka dapat memungut seorang mantu yang dapat
diandalkan.
Hari ini, baru saja si kakek nelayan mau menurunkan perahunya untuk menangkap ikan, mendadak,
matanya telah dapat melihat seorang pemuda yang berumur kurang lebih enambelas tahun sedang
mendatangi. Pemuda ini berparas cakap, alisnya seperti pedang, badannya sehat dan dadanya lebar. Ia
mengaku bernama Koo San Djie yang mengatakan bahwa ia tidak berhasil menemukan familinya dan
bersedia membantu menangkap ikan, tentu saja sambil menumpang meneduh.
dunia-kangouw.blogspot.com
Empe Ong yang melihat pemuda itu, dari kasihan menjadi suka kepadanya dan memang dia sedang
membutuhkan seorang pembantu, maka sudah lantas melulusi permintaannya dan mengajak ke tengah
danau.
Si pemuda yang bertenaga besar dan menguasai perahu, dalam sebentar saja telah memperoleh ikan yang
banyak.
Ini hari pendapatan si ne!ayan tua telah bertambah beberapa kali lipat dari hari biasanya, bukan main
senangnya si kakek nelayan yang dapat pembantu demikian bagusnya. Setelah mereka berdua kembali,
belum pula ia sampai di pintu rumah, si kakek nelayan berteriak-teriak girang:
“Mamanya Hoe Tjoe, lihat aku telah mendapatkan seorang pembantu yang cakap….. ha…... ha……”
Dengan sebelah tangan masih menenteng keranjang ikan. Koo San Djie mengikutinya memasuki ruangan
rumah yang kecil terbuat dari atap, disusul oleh munculnya Ong Hoe Tjoe ibu dan anak.
Si nenek yang melihat Koo San Djie yang gagah dan cakap, tentu saja menjadi suka kepadanya. Dengan
menarik lengan bajunya, ia berkata:
“Kau datang dari mana? Seorang anak yang cakap…..! Masuklah ke dalam! Duduk dulu.”
Terdengar pula si kakek menyelak:
“Apa tidak bisa bicara nanti? Telah seharian penuh kita belum beristirahat sama sekali. Lekas suruh Hoe
Tjoe masak dan jangan lupa membeli arak, kini aku akan meminumnya sampai puas. Ha....... ha.......
ha…...”
Si kakek sampai lupa segala apa, bukan main girangnya hari itu.
Ong Hoe Tjoe yang menyembunyikan diri di belakang baju ibunya telah mengintip gerak geriknya si pemuda
yang baru datang ini, ia lebih memperhatikan dari pada kedua orang tuanya, mukanya yang cakap dadanya
yang lebar, matanya yang terang dan…… segala-galanya, tidak ada satu dari si pemuda yang tidak
disukainya, ia telah memandangnya sedari tadi dengan mata tidak berkesip, ingatannya telah melayanglayang,
jauh, sampai pun perkataan ayahnya, tidak terdengar sama sekali.
Waktu itu, Koo San Djie telah meletakkan keranjangnya, dengan menundukkan kepalanya mulai membuka
gulungan kaki celana yang tadinya digulung ke atas.
Melihat kelakuan dari anak perempuannya di dalam hati sang kakek tertawa, dengan setengah mengusir ia
berkata:
“Lekas, pergi, mengapa kau belum pergi juga?”
Sambil menunjuk ke arahnya Koo San Djie ia berkata pula:
“Ia bernama Koo San Djie, untuk seterusnya ia akan membantu di rumah kita, ia ada lebih kecil dari
padamu, untuk seterusnya kau harus sering-sering memperhatikan adikmu ini.”
Mendengar perkataannya si kakek, Koo San Djie segera maju untuk memberi hormat kepada encinya yang
baru ditemuinya ini.
“Enci ada baik?” sapanya.
Seumur hidup Ong Hoe Tjoe, baru ini ada orang yang memanggil ia enci, suara ini didengarnya sudah
sangat merdu sekali. Tidak terasa, mukanya menjadi merah, tanpa menyahut, ia membalikkan badannya
dan terus lari keluar untuk membeli arak.
“Aku hanya mempunyai seorang anak perempuan nakal yang tidak mengerti aturan, harap kau dapat
memaafkannya,” kata si kakek nelayan sambil tertawa.
Kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Koo San Djie belum pernah menghadapi keadaan yang seperti ini, entah bagaimana ia melayaninya, ia
hanya tersenyum berdiri di tempat semula.
Si nenek setelah menuangkan teh dan mempersilahkan Koo San Djie duduk, lalu dia pun duduk di
sebelahnya, sambil menanyakan ini dan itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Umpama anak laki-laki lain sepantaran Koo San Djie yang menghadap si nenek ini, tentu tidak suka dengan
obrolan-obrolan si nenek yang sangat cerewet. Tapi, tidak demikian dengan Koo San Djie yang belum
pernah marasakan cinta kasihnya seorang ibu, ia menjadi suka dengan si nenek tua yang dianggapnya
sangat ramah tamah.
Malamnya mereka berempat bersantap bersama-sama dengan riangnya, terutama si kakek dan nenek
nelayan yang memang kekurangan seorang anak laki-laki, kini mereka dengan tidak disangka-sangka telah
mendapatkan seorang anak sebagai Koo San Djie yang cakap dan gagah, bagaimana tidak menjadi girang?
Mereka sudah memikirkan untuk memungutnya menjadi mantu. Ong Hoe Tjoe yang dibesarkan di tempat
yang ramai sebagai kota Pook-yang, sudah dapat menebak maksud dari kedua orang tuanya, entah
disengaja atau tidak, ia telah menjadi lebih memperhatikan dirinya Koo San Djie.
Hanya Koo San Djie yang belum mengetahui isi lubang udang dibalik batu, ia belum pernah merasakan
keramaian rumah tangga, ia kemari hanya bermaksud untuk mencari sesuatu barang berharga yang hanya
terdapat dalam cerita.
Pada hari keduanya, Koo San Djie telah meminta tolong kepada si kakek nelayan untuk mencarikannya
sebuah perahu kecil yang laju.
Demikianlah, setiap hari ia membantu si nelayan tua menangkap ikan, pergi pagi pulang malam,
mendayung perahu menangkap ikan. Dan mulai dari sini, di dalam rumahnya si nelayan pun telah
bertambah ramai dengan datangnya sang penghuni baru, karena itu, penghasilannya pun kian hari kian
bertambah.
Lama kelamaan, Koo San Djie telah menjadi penghuni yang tetap dari keluarga Ong ini, Ong Hoe Tjoe
dengan teliti telah melayani segala kebutuhannya sehari-hari untuk adiknya yang baru didapatinya. Kedua
orang tuanya merasa senang, melihat keadaan yang menjadikan mereka muda kembali.
Koo San Djie masih tolol, tidak merasa akan maksud dari kakak itu. Setelah mendapatkan perahu kecilnya,
setiap malam ia pergi mengelilingi danau, satu atau dua putaran, baru dia kembali, dan sebagai biasa Ong
Hoe Tjoe telah menantinya di depan pintu.
Dari kelakuan inilah Koo San Djie merasakan sesuatu yang belum pernah dirasai, kini bayangan Ong Hoe
Tjoe tidak pernah lepas dari pandangannya.
Pernah juga Ong Hoe Tjoe bertanya, mengapa ia setiap malam mengendarai perahu kecilnya? Tapi Koo
San Djie, menjawab dengan senyuman yang menarik dan tertawanya yang riang. Pernah juga dia
menggeleng-gelengkan kepalanya, setelah inipun Ong Hoe Tjoe tidak pernah bertanya lagi.
Pada suatu hari, sepulangnya Koo San Djie dari menjual ikan, ta telah melihat sesuatu yang berbeda dari
hari biasa.
Kota Pook-yang biarpun ramai, tapi bukan terletak di tempat jalan hidup, kecuali, pedagang-pedagang
tukang jual beli, jarang sekali didatangi oleh pelancong-pelancong dari luar daerah, tapi kini mendadak
sontak, dalam waktu seharian saja telah datang demikian banyak orang, di antaranya tidak sedikit orangorang
yang telah ternama dari golongan sungai telaga.
Maka, dengan terburu-buru ia telah kembali ke pelabuhan, dengan alasan sakit kepala, ia telah membiarkan
si kakek berlayar sendiri. Dengan membawa sedikit uang, dia telah kembali pula ke dalam kota.
Ia telah memilih sebuah rumah makan yang terbesar di daerah itu, dibangun di pinggir telaga yang besar,
langsung ia menuju ke atas loteng yang telah penuh sesak dengan segala macam orang.
Jika pada hari biasa, pelayan rumah makan mana mau melayani anak nelayan yang berpakaian rombeng
ini? Tapi tidak demikian dengan hari ini, dari pelayan sampai pemilik rumah makan, semuanya menunjukan
rasa yang sangat khawatir, karena tamu-tamunya yang datang pada hari ini, jika bukannya berbadan besar,
tentu bermuka galak.
Koo San Djie kemari hanya bermaksud untuk menyelami keadaan dan kepandaian
dari orang-orang yang akan memperebutkan ikan mas besar dari danau Pook-yang.
Sebelumnya, belum pernah ia memasuki rumah makan, maka dengan lagak yang dibuat-buat seperti orang
agung, ia mengeluarkan uang yang lantas diberikannya kepada pelayan.
“Berikan aku arak yang bagus beserta makanannya,” terdengar suaranya yang nyaring.
dunia-kangouw.blogspot.com
Baru sekali ini si pelayan mengalami seorang tamu memesan makanan dengan memberi uangnya terlebih
dahulu, tapi biar bagaimanapun, ia harus menahan gelinya, sesudah mengambil uang, si pelayan segera
lantas berlalu.
Kejadian ini telah membuat pemudi yang duduk dihadapan Koo San Djie tertarik, dia menahan gelinya,
dengan menutup mulut dan tertawa, dia berkata:
“Orang desa memang sangat kasihan, makan saja harus membayar uang dahulu.”
Yang duduk semeja dengan si pemudi, seorang nenek yang berambut putih, sambil pelototkan matanya,
segera membentak si pemudi itu, katanya:
“Jangan kau mencari gara-gara!”
Koo San Djie mendengar si pemudi mentertawakan padanya, dia mengangkat kepala, memperhatikan si
pemudi dan si nenek di sebelahnya, tidak ada yang menarik perhatian, makanan pun sudah datang, maka,
dia melahap makanannya, dengan tidak memperdulikan mereka pula.
Si nenek berambut putih itu adalah Thian-mo Lo-lo, kepandaian silatnya sangat tinggi, sifatnya keras dan
berangasan, tidak sembarangan orang berani berurusan dengannya.
Si pemudi adalah murid kesayangan yang bernama Tju Thing Thing.
Sebelumnya, Thian-mo Lo-lo tidak memperhatikan Koo San Djie, setelah matanya kebentrok dengan sinar
matanya si pemuda yang tajam, dia menjadi kaget. Hatinya memikir:
“Dari aliran mana datangnya anak ini? Matanya yang tajam telah menandakan kepandaiannya yang susah
diukur!”
Tju Thing Thing yang nakal menjadi tertarik melihat Koo San Djie yang makan seperti orang kelaparan,
sebentar saja makanan di meja telah bersih disapunya, setelah menaruh kedua sumpit yang kotor, lengan
baju menyeka mulut yang penuh minyak.
Koo San Djie yang melihat Tju Thing Thing memperhatikan gerak gerik dirinya, tentu saja menjadi kikuk.
Meskipun dia bebas pergi, karena belum mendapatkan sesuatu hasil, apa begini saja dia harus
meninggalkan tempat ini?
Dalam keadaan bingung, mendadak terdengar suara ejekan yang tidak enak untuk telinga.
“Tidak perlu kita pergi ke panggung sandiwara, disini pun kita dapat menonton ‘Pemudi Menemui Anak
Nelayan’. Ha, ha, ha…...”
Berbareng terdengar tepuk tangan yang riuh dari kawan-kawannya.
Tidak nyana, suara jengekan ini telah menimbulkan amarah si Kurus Oey Liong dan si Sastrawan Pan Pin,
mereka adalah dua orang tamu dari rumah makan itu juga.
Yang mengeluarkan perkataan tadi adalah salah satu di antara kedua iblis dari Yu-san, si Iblis Pipi Licin.
Yang bersorak bernama Iblis Penyabut Roh, kawan dari Iblis Pipi Licin.
Si Iblis Pipi Licin dan si Iblis Penyabut Roh berdua tidak kenal kepada Thian-mo Lo-lo. Tokoh silat tua
tersebut duduk di hadapan mereka, jika saja tahu bahwa nenek berambut putih ini adalah Thian-mo Lo-lo
yang tidak mudah dihadapi, tidak nanti mereka berani mencari setori disini.
Dengan tidak disengaja, kedua iblis dari Yun-san telah menerbitkan onar yang mereka cari sendiri.
Thian-mo Lo-lo membalikkan mukanya, semua orang disapunya dengan matanya yang tajam, ia
membentak dengan suara yang geram:
“Siapa yang berani kurang ajar dihadapanku?”
Perlahan-lahan Si Iblis Pipi Licin berdiri dari duduknya, dengan suara yang dibikin-bikin ia berkata:
“Kau seorang nenek, jangan suka galak-galak, memangnya kau bisa menelan orang?”
Thian-mo Lo-lo tertawa dingin, seperti seekor burung alap-alap yang akan menerkam mangsanya, ia
melesat ke arah Iblis Pipi Licin.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun orangnya masih di udara, tapi angin telapak tangan Kim-kong dari Thian-mo Lo-lo yang
dibanggakan sudah menderu-deru, datang menyerang……
Mendadak telah menyelak seorang Tojin yang bermuka kurus seperti mayat, dengan lengan bajunya yang
lebar ia mengibaskan ke arahnya Thian-mo Lo-lo.
“Apa kau orang ingin mempertontonkan kepandaian di atas loteng ini?” Terdengar suaranya membentak
keras.
Thian-mo Lo-lo sedang menyerang si Iblis Pipi Licin, karena datangnya angin dingin dari lengan bajunya si
Tojin kurus, serangan tadinya batal.
Baru kini dilihatnya dengan jelas, orang yang menyelak adalah si Tojin kurus Min Min Djie yang dalam
kalangan sungai telaga terkenal dengan Telapak Dingin Tulang Putihnya.
Di sanapun terdengar suaranya si Sastrawan Pan Pin yang berkakakan:
“Yang berada disini terdiri dari tokoh-tokoh silat lihay, apa tidak baik menyimpan tenaga untuk besok?”
Thian-mo Lo-lo tidak dapat menahan hawa amarahnya, dia tidak memperdulikan segala perkataan, dengan
telunjuknya, ia menuju ke arah Iblis Pipi Licin:
“Apa kau berani ikut untuk bertanding?”
Dengan mengajak Tju Thing Thing ia sudah mendahului lompat keluar dari jendela.
Tju Thing Ting menengok ke arahnya Koo San Djie yang masih bengong terlongong-longong, kemudian
iapun menuruti jejak gurunya, melesat keluar.
Berbarengan kedua iblis dari Yun-san pun meninggalkan tempat duduknya.
Si Iblis Pencabut Roh yang sudah menjadi benci kepada Koo San Djie, sewaktu lewat dia menepok bahu si
pemuda.
Semua orang di atas loteng tidak ada satu yang tidak mempunyai kepandaian, semuanya tahu, tepokan ini
yalah tepokan yang terkenal dari si iblis yang bernama Tepokan Peminta Nyawa, dengan tidak terasa,
mereka telah mengeluarkan keringat dingin untuk keselamatan Koo San Djie.
Si Kurus Oey Liong lantas berseru:
“Jangan menurunkan tangan jahat!”
Tidak menunggu sampai habis ucapan itu, tubuhnya sudah melayang terbang, menahan serangan dari si
Iblis Penyabut Roh yang kejam.
Tapi, semua telah terlambat, angin telah sampai di sekitar kepala Koo San Djie.
Sedari tadi, Koo San Djie hanya menonton segala kejadian-kejadian yang berlangsung di atas loteng, mana
ia dapat menyangka ada orang yang datang menyerangnya?
Bersama dengan terasa angin dingin, kepalanya menjadi pusing, kupingnya mendengar seperti ada orang
menjerit. Maka dengan segera ia mengeluarkan tenaga Bu-kiat-sian-kang, dengan sekali tarikan napas
kepalanya telah mengeluarkan asap, menahan datangnya hawa jahat. Sebentar saja, seluruh loteng telah
bersembur bau amis hawa jahat yang di dalam pun telah dapat dibikin bersih oleh Bu-kiat-sian-kang nya
yang lihay.
Dengan tidak bergerak satu tapakpun, Koo San Djie telah memunahkan serangan pembokongan yang
jahat. Hanya si Kurus Oey Liong yang melihatnya telah menjadi kemekmek keheranan.
Sampai disini, Koo San Djie sudah dapat meraba-raba, sampai dimana kepandaiannya orang-orang yang
datang itu. Biarpun mereka sudah mempunyai nama yang terkenal, tapi dalam pandangannya Koo San Djie,
tidak satupun yang dapat menandinginya. Jika tidak ada orang pandai yang datang lagi, ia sendiri sudah
cukup untuk menandingi semua orang yang telah datang ini.
Ia akan menggunakan Bu-kiat-sian-kang untuk menguasai ikan mas, dan dengan Pit Badak Dewa, ia akan
membuka batok kepalanya, sesudah mendapatkan nyali ikan, tidak nanti ada yang dapat merebutnya pula.
Memikir sampai disini diingatnya pula esok adalah harian Ceng-beng, maka ia segera meninggalkan loteng,
pulang kerumah Ong Hoe Tjoe.
dunia-kangouw.blogspot.com
Karena terburu-buru, dengan tidak disengaja, ia telah menggunakan ilmu Awan dan Asap Lewat di Mata.
Semua orang yang masih ada di atas loteng, hanya melihat gumpalan asap, dan kemudian lenyaplah si
anak nelayan yang lihay, tidak satu yang tidak menjadi kaget karenanya.
Koo San Djie tidak menyangka, karena kepandaiannya inilah yang telah menyebabkan terbunuhnya
keluarga si kakek nelayan.
Setelah keluar dari rumah makan, Koo San Djie sudah lantas lari pulang ke rumah.
Sampai di rumah, si kakek nelayan belum pulang, si nenek sedang menambal jala, dan Ong Hoe Tjoe
tengah bersandar di pintu, menunggunya.
Melihat ia kembali, Ong Hoe Tjoe sudah lari menghampirinya, sambil tertawa-tawa si gadis berkata:
“Kemana saja kau setengah harian ini? Sudah lama aku menunggu makan.”
Perlahan-lahan Koo San Djie memegang tangannya Ong Hoe Tjoe yang masih mencoba untuk berontak,
tapi lama kelamaan iapun menyerah, untuk dipegang dalam genggaman Koo San Djie. Dengan
bergandengan tangan, mereka masuk ke dalam rumah.
Ong Hoe Tjoe segera mengeluarkan makanan yang telah lama disediakan.
Koo San Djie berkata:
“Aku sudah makan.”
Ong Hoe Tjoe cemberut dan berkata:
“Biarpun sudah makan, harus makan sedikit, aku belum makan sama sekali.”
Dengan terpaksa Koo San Djie menemaninya makan bersama.
Ong Hoe Tjoe berkata dengan pandangan yang penuh arti:
“Aku tahu......, kau bukan anak sembarangan, tidak lama lagi, tentu kau pergi dari tempat ini......”
Dengan heran Koo San Djie bertanya:
“Mengapa kau mengetahui?”
Dengan menundukkan kepalanya, perlahan-lahan Ong Hoe Tjoe berkata:
“Aku sudah tahu......, dan akupun mengerti, untuk seterusnya kaupun tidak menyukai aku pula......”
Koo San Djie menjadi sibuk, katanya cepat:
“Aku sangat berterima kasih pada kalian yang sangat sayang kepadaku, siapa yang mengatakan aku tidak
suka?”
Ong Hoe Tjoe berkata:
“Mengapa kau tidak berterus terang kepadaku?”
Koo San Djie memandang Ong Hoe Tjoe yang kini ada dalam keadaan sedih. Memang jika besok malam ia
berhasil dapat merebut nyali ikan, ia harus pulang ke tempat gurunya. Tapi, hingga kini, keluarga Ong Hoe
Tjoe masih belum mengetahuinya.
Biarpun ia tinggal di rumah mereka belum berapa lama, tapi masa yang pendek inilah yang mengesankan,
masa yang terindah dalam hidupnya.
Si kakek nelayan suami istri memperlakukannya sebagai anak, selalu memperhatikan segala kebutuhannya,
selalu terbayang didepan matanya. Dalam keluarga ini, semua orang hanya mengharapkan kepadanya.
Umpama betul, ia dapat meninggalkan mereka, entah bagaimana perasaan sedih mereka ini?
Bermacam-macam pikiran telah mengaduk di dalam benak Koo San Djie, sehingga ia telah lupa untuk
menjawab pertanyaan Ong Hoe Tjoe .
Melihat Koo San Djie tidak menjawab pertanyaannya, Ong Hoe Tjoe sudah lantas melanjutkan
perkataannya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Beberapa hari ini aku selalu tidak enak, seperti setengah mengimpi, aku telah mengimpikan kau pergi
meninggalkan rumah ini...... Akupun telah ditangkap, dibawa ke suatu tempat yang sangat menakutkan......
Aku merasa sangat takut...... Aku merasa sampai sangat takut sekali bahwa aku tidak dapat bertemu
denganmu pula.”
Terdengar suaranya Koo San Djie yang memberi hiburan:
„Kau jangan coba memikir hal yang tidak karuan. Mungkin aku meninggalkan tempat ini, tapi aku akan
datang pula untuk melihatmu.”
Semula, Ong Hoe Tjoe hanya sembarangan berkata saja, tidak tahunya kalau Koo San Djie betul-betul akan
meninggalkannya. Ia sudah tidak dapat membendung air matanya yang meluap mengalir. Kedua tangannya
gemetar, badannya sudah terjatuh ke dalam rangkulannya Koo San Djie, dengan suara sesenggukan ia
berkata:
“Apa betul kau hendak pergi......?”
Dengan lesu Koo San Djie membenarkan perkataannya, menjadi bimbang, entah harus...... harus
bagaimana, ia menghadapi keadaan yang seperti hatinya pun berat untuk meninggalkannya.
02.04. Berebut Nyali Ikan Mas di Danau Pook-yang
Telah beberapa tahun, setiap hari Ceng-beng, tentu ada turun hujan. Tapi Ceng-beng pada tahun itu, tidak
ada gumpalan awan hitam yang terlihat.
Bulan purnama mengeluarkan sinarnya yang permai, menyinari permukaan telaga yang tenang, telaga
Pook-yang yang hampir tidak terlihat ujung pangkalnya, membuat siapa melihat menjadi kagum, kagum
kepada keindahan alam di tempat itu.
Waktu telah berlarut malam, di telaga terdapat banyak perahu, kecuali perahu nelayan, perahu pajangan
dan perahu motorpun tidak sedikit.
Biarpun terdapat banyak perahu, tidak ada satupun yang bergerak, tidak terdengar suara orang berbicara,
hanya sepi, sunyi untuk menantikan waktunya.
Waktu dengan tentu lewat perlahan-lahan di dalam perahu, mereka sudah hampir tidak sabar untuk
menantinya.
Mendadak, terlihat sebuah sinar merah menjulang ke atas, dibarengi oleh muncratnya air telaga yang tinggi,
muncullah seekor ikan mas yang panjangnya lebih dari dua depa, dengan badannya yang bersinar merah
dan kepala di atas permukaan air, ikan itu berenang menuju ke jurusannya tepi telaga.
Bagaikan sebuah kapal selam yang akan menuju perang, ia meluncur dengan pesatnya, dari jauh terlihat
goresan yang berwarna merah emas, memecah air telaga yang tadinya tenang.
Segala macam perahu yang sudah lama siap, kini mulai bergerak, tentu saja secara serentak, keadaan
menjadi kalut, terdampar ombak-ombak dayung perahu, semua teriakan-teriakan sudah tidak terdengar lagi,
ditelan oleh suara beradunya perahu tadi.
Dari sebuah perahu nelayan yang terdekat, mendadak terdengar suara yang seperti geledek, dan tiga
batang tombak mas yang hampir sejajar sudah datang mengarah kepalanya sang ikan.
Tombak mas ini adalah senjata yang ternama dari ketiga pendekar Lok-yang.
“Buk, buk, buk......” Ketiga tombak tepat mengenai kepala ikan, tapi sang ikan seperti tidak merasai. Ketiga
tombak tadi terpental ke atas dan jatuh ke dasar telaga.
“Hur”, suatu damparan air telah datang menampar perahu tadi, perahu itu hanya bergoyang sebentar dan
kemudian terbalik, beserta juga penumpang-penumpangnya.
Memang nasibnya sang ikan rupanya sedang sial, bukannya selulup ke dasar telaga, tapi ia berputarputaran
membuat ombak pusaran, seperti yang sengaja mempermainkan orang-orang yang hendak
menangkapnya.
Terdengar suara pula, suara yang nyaring disusul dengan melayangnya sebuah benda yang menghantam
ke arahnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Air bercipratan, tapi sang ikan tetap meluncur dengan lajunya, rupanya ia anggap sepi serangan demikian.
Segala macam senjata beterbangan, bagaikan hujan derasnya. Tapi senjata-senjata ini seperti senjata
keras, sesudah mengenai badannya sang ikan, tidak satupun yang dapat melukainya.
Sebuah siulan yang panjang memecah angkasa, bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, sebuah
perahu tampak laju meluncur dengan pesat. Di atas perahu, berdiri dengan tegak seorang anak berumur
limabelas tahun yang tidak memakai sepatu.
Perahu memapaki datangnya sang ikan, anak tadi telah melemparkan talinya yang panjang, tepat bagaikan
ular, tali tadi telah dua kali mengitari badan sang ikan.
Sang ikan coba berontak, ombak sebesar gunung telah membuat beberapa buah perahu yang terdekat
terguling. Hanya perahu dari si pemuda, yang seperti lengket di atas permukaan air, turun naik menuruti
gelombang yang pergi datang, tidak pernah bergoncang dan juga tidak pernah miring.
Sang ikan berlompatan beberapa lamanya sehingga sampai kehabisan tenaga.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti berontak , sehingga sampailah di salah sebuah tepi.
Semua orangpun telah dapat melihat dengan tegas, si pemuda adalah anak nelayan yang telah mereka
kenal di atas loteng rumah makan kemarin.
Biarpun mereka tidak berhasil untuk menangkapnya, tapi masih ada beberapa orang yang mau coba
merampasnya.
Min Min Djie dan kedua iblis dari Yun-san berserta kawan-kawan mereka telah mendahului lompat ke tepi.
“Huuuuu......” Telapak Dingin Tulang Putih dari Min Min Djie telah datang menyerang, berbareng tangan
yang lainnya telah mencoba merebut tali yang berada ditangan Koo San Djie.
Kedua iblis dari Yun-san telah memisahkan diri, dari kanan dan kiri Koo San Djie, mereka turut menyerang
Koo San Djie.
Semua kejadian itu telah dapat diduga sedari semula, dengan tangan sebelah tetap memegang talinya, Koo
San Djie membalik dan menepok dengan sebelah tangan lainnya.
Sebuah tekanan yang tidak terlihat dari ilmunya Bu-kiat-sian-kang si pemuda telah memaksa Min Min Djie
mundur dengan terhuyung-huyung.
Berbarengan dengan ini, ia telah melompat ke samping, memukul serangan kedua iblis dari Yun-san yang
datangnya dari kanan dan kiri.
Semua kejadian ini hanya terjadi di waktu sekejapan mata saja.
Mukanya Min Min Djie berubah bengis, kedua matanya berapi-api dengan suara yang tidak enak didengar,
ia tertawa. Belum pula ia dapat berpikir, bagaimana ia harus menghadapi anak muda yang tangguh ini, tibatiba
di belakangnya telah datang menyusul beberapa serangan.
Terdengar suara si Kurus Oey Liong yang keras:
“Apa kau tidak malu menghadapi anak kecil saja harus mengerubuti bertiga? Aku paling tidak suka melihat
kejadian yang seperti ini......”
“Bum”. Kedua telapak tangan mereka telah beradu menjadi satu.
Si Sastrawan Pan Pin tertawa berkakakan dengan berisik ia berkata:
“Iblis Penyabut Roh, di dalam rumah makan kau telah membokong dengan tidak ada hasil, apa disini kau
tidak akan memakai peraturan pula? Seorang anak kecil yang tidak berdosa dimusuhi juga. Aku akan ikut
campur dalam urusan ini.”
Biarpun mulutnya nyerocos, tapi tangannya tidak tinggal diam.
Pan Pin telah maju ke medan pertempuran dengan pukulan-pukulannya.
Ketiga pendekar dari Lok-yang pun telah siap sedia untuk membela keadilan, tapi mereka telah didahului
oleh Thian-mo Lo-lo yang bagaikan terbang dari langit, mendadak telah berada dihadapannya si Iblis Pipi
Licin, terus menyerang bertubi-tubi, sehingga memaksa musuhnya mundur beberapa tapak.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dan yang lain-lainnya, ketika melihat yang datang adalah beberapa iblis yang galak-galak lantas mundur
teratur.
Di tepi telaga menjadi ramai dengan pertempuran yang kalut.
Koo San Djie mengeluarkan ilmunya Bu-kiat-sian-kang untuk menangkap dan menguasai sang ikan yang
berontak-rontak, dia harus memukul mundur Min Min Djie bertiga, sudah terasa tenaganya berkurang.
Dilihatnya sang ikan yang sudah tidak segalak tadi, dengan diam ia terapung di air, matanya sudah tidak
bersinar, terbayang beberapa tetes air mata di dalamnya seperti meminta dikasihani.
Hatinya Koo San Djie menjadi lembek.
Kasihan seekor ikan yang bagus itu. Siapa yang tega untuk membunuhnya? Mendadak suara gurunya
berkumandang pula:
“Tidak seharusnya kau melukainya. Bukan soal yang gampang untuk ia dapat bertahan sampai seribu tahun
lamanya.”
Umpama betul ikan ini dapat dibunuh, apa gurunya senang untuk menerima empedu persembahannya?
Setelah berpikir bolak balik, Koo San Djie memutuskan untuk melepaskan sang ikan yang kini telah menjadi
sangat jinak.
Ia tidak mau merampas barang orang lain yang telah ratusan tahun lamanya. Maka dengan mengendorkan
tenaga dalamnya ia telah melepaskan tali pengikat, dan bebaslah ikan besar yang memang belum sampai
pada ajalnya.
Sang ikan yang mengerti budi orang, dengan mengeluarkan air mata bercucuran, dia memanggutkan
kepalanya beberapa kali, inilah pernyataan terima kasih.
Belum pula ikan mas tadi menyelam ke dalam air, mendadak telah menyambar sebuah sinar ungu, yang
telah mengarah kepalanya......
Badannya terlempar ke atas dan kemudian terdengar suara “Bum”, ia telah menyelam ke dalam air. Darah
merah telah muncrat keluar dari lukanya, air disekitarnya pun turut menjadi merah tercampur dengan
darahnya.
“Plung, plung, plung, plung”. Empat orang yang berbadan besar telah terjun ke air, mengurung ikan yang
terluka tadi.
Perobahan yang tidak disangka telah membuat Koo San Djie menjadi kaget, hatinya seperti tertusuk,
melihat sang ikan terluka karenanya.
Maka dengan tidak memikir lagi, ia telah menyerang kepada empat orang berbadan besar tadi.
Dua telah dapat dijatuhkan, dan yang dua terpaksa harus menolong kedua kawannya yang terluka.
Yang menggunakan pedang melukai ikan Hay-sim Kongcu dari Pulau Hay-sim di Tang-hay.
Telah lama Hay-sim Kongcu mendengar, bahwa di telaga Pook-yang terdapat seekor ikan mas dengan
empedunya yang istimewa, maka dengan membawa pedang pusaka dan mengajak empat orangnya yang
pandai di air, mereka datang untuk memperebutkannya.
Sedari melukainya sang ikan dari udara, kedua kaki Hay-sim kongcu telah dapat lompat ke seberang,
dengan sekali menutul, ia telah kembali lagi untuk menubruknya, tapi siapa tahu, ikan mas yang telah
terluka hilang tenggelam ke dasar telaga.
Terdengar suara Koo San Djie yang berteriak kepadanya:
“Sudahlah, ia telah teriuka, untuk apa kau mau membunuhnya?”
Tapi Hay-sim Kongcu tidak memperdulikan, ia hanya pergi menolong kedua orang bawahannya yang
terluka.
Koo San Djie dibiarkan bicara seorang diri, dengan diam-diam ia meninggalkan tempat berdirinya.
Dilihatnya air telaga yang telah bercampuran dengan darah, terasa bukan main pedih hatinya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tidak terasa, ia berkata seorang diri:
“Tidak seharusnya aku menangkapnya, sehingga menyebabkan ia terluka. Entah bagaimana dengan
lukanya......?”
Baru berkata sampai disini, air yang dihadapannya telah timbul pusaran, dan ikan mas besar tadi
mengeluarkan kepalanya, di antara pusaran air ini, ia membuka mulutnya dan menyemburkan sebuah
benda bening yang bersinar.
Sebentar kemudian sang ikan telah selam kembali.
Koo San Djie menanggapi benda tadi, dirasakan sangat lembek, belum sempat ia memperhatikan, tiba-tiba,
di belakangnya telah terdengar suara Hay-sim Kongcu yang dingin:
“Hei, kau bocah dari mana? Mengapa menghalang-halangi kami menangkap ikan?”
Cepat-cepat Koo San Djie memasukan benda lembek tadi.
“Biarpun ia telah hidup seribu tahun, belum pernah ia mengganggu orang, mengapa kau harus
membunuhnya?” jawab Koo San Djie dengan tegas.
“Jika demikian kau akan menjadi penghalang dari kami orang pulau Hay-sim.”
“Bukan demikian soalnya. Aku hanya tidak dapat melihat orang melukainya.”
“Mungkin juga kau mempunyai kepandaian tinggi, aku ingin meminta sedikit pelajaran darimu.”
Sampai disini Koo San Djie mengerutkan kedua alisnya.
“Di antara kita berdua, tidak ada permusuhan kan, untuk apa mengadu jiwa?”
Tapi Hay-sim Kongcu sudah membentak:
“Kau tidak dapat sembarangan mengganggu orang dari pulau Hay-sim.”
Berbareng, ia mengirim jotosannya mengarah dada lawannya.
Koo San Djie hanya menggoyangkan badannya, menggunakan ilmu Awan dan Asap Lewat di Mata, maka
tubuhnya telah berpindah ke samping.
Hay-sim Kongcu menjadi melengak. Dengan cepat-cepat ia menanya:
“Apa kau baru datang dari lembah?”
Koo San Djie memanggutkan kepalanya, ia hanya mengira lembah yang didiami oleh gurunya, tidak tahu
bahwa lembah yang dimaksud olen Hay-sim Kongcu adalah lembah lainnya.
Itulah lembah merpati!
Dengan penuh senyuman, Hay-sim Kongcu menjalankan kehormatannya.
“Aku yang rendah tidak mengetahui bahwa saudara baru datang dari lembah, untuk kelancangan ini, harap
saudara dapat memaafkannya.”
Lalu ia mengangkat kedua tangannya mengajak keempat orang pergi meninggalkan Koo San Djie yang
masih tidak mengerti akan jalannya kejadian.
Lalu dilihatnya Oey Liong dan para penbelanya yang masih seru bertarung dengan pasangannya masingmasing.
Oey Liong dengan lawannya Min Min Djie, Pan Pin dengan lawannya si Iblis Penyabut Roh adalah dua
pasangan yang seimbang. Tapi untuk Thian-mo Lo-lo yang mendapat lawan si Iblis Pipi Licin, seperti kucing
mempermainkan tikus, si Iblis sudah menjadi tidak keruan rupanya, dengan kulit tubuh penuh luka-luka.
Koo San Djie jalan menghampiri medan pertarungan. Dengan geramannya yang keras laksana geraman
seekor singa yang sedang marah, ia telah membuat semua oraug berhenti bertarung.
Dengan mengangkat kedua tangannya ia menjura ke arah Oey Liong dan kawan-kawannya dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Atas bantuan para cianpwe yang telah membela, disini Koo San Djie yang rendah menghaturkan banyak
terima kasih.”
Lalu dengan muka yang keren, dihadapinya pula Min Min Djie sekalian.
“Sebetulnya aku dan kalian belum pernah kenal, di dalam rumah makan, dengan tanpa alasan kalian telah
membokong, dan kini, kalian telah mengurung pula, apakah maksud sebenarnya dari kalian?”
Min Min Djie menyengir:
“Jangan kau menggunakan kekuasaan orang, kau berani sembarangan melepaskan ikan mas tadi, sudah
dikatakan bagus, jika aku tidak membuat perhitungan kepadamu.”
Koo San Djie tertawa berkakakan:
“Begini saja, kalian bertiga boleh menjadi satu, jika kalian sanggup menahan seranganku dalam tiga jurus,
badanku akan kuserahkan kepada kalian. Tapi sebaliknya, jika kalian yang kalah...... kalian sudah biasa
dengan perbuatan yang tidak tahu malu, kalian hanya membuka pakaian dan boleh pulang telanjang.”
Entah mengapa kali ini Koo San Djie berani berbuat nakal.
Perkataan Koo San Djie telah membikin Min Min Djie dan kedua iblis berjingkrak-jingkrak.
Masih ada satu orang, yaitu Tju Thing Thing yang berdiri di sebelahnya Thian-mo Lo-lo, mendengar
perkataan ini, dia menjadi khawatir.
Dengan tidak terasa, ia telah membuka mulutnya:
“Anak tolol, mana boleh sembarangan begitu?”
Koo San Djie memanggutkan kepala, dia berterima kasih atas perhatian dan berkata kepadanya:
“Ciecie, legakan hatimu, tidak nanti ada kejadian apa-apa dengan diriku.”
Tju Thing Thing terlalu memperhatikan orang, setelah mengatakan ucapan tadi baru dia menyesal. Orang
masih belum kenal kepadanya, untuk apa memperhatikan kepadanya? Apa tidak sangat menyolok mata?
Tapi, suaranya Koo San Djie yang membahasakan ciecie ada sangat menyenangkan, panggilan ini
demikian wajar dan mesra, sehingga dengan sendirinya telah merapatkan hubungan di antara mereka,
maka perkataaanya tadipun telah menjadi wajar pula, bagaimana lazimnya seorang yang sedang
memperhatikan keselamatan sang adik.
Kembali kepada Min Min Djie yang mendengar Koo San Djie berani omong besar, adalah suatu penghinaan
bagi mereka yang telah ternama belasan tahun lamanya. Tapi ia pun cukup mengetahui, sampai dimana
kepandaian Koo San Djie, pengalaman di dalam rumah makan meragukan dirinya untuk dapat menahan
tiga gebrakan serangan tangan Koo San Djie.
Maka, dengan menunjuk pada si Iblis Pencabut Roh ia berkata:
“Dengan hanya berdua dengannya pun sudah cukup untuk menerima tiga jurus seranganmu.”
Sebetulnya, ia telah melihat si Iblis Pipi Licin telah menderita luka yang tidak enteng, orang itu sedang
duduk numprah mengatur pernapasan.
Koo San Djie hanya tertawa:
“Silahkan menyerang.”
Inilah untuk pertama kalinya Koo San Djie menggunakan kepandaiannya menghadapi lawan, ia belum
mengetahui, sampai dimana kepandaian yang telah dapat dipelajari, ia mulai memusatkan seluruh
pikirannya, tenaganya dikumpulkan, siap untuk menjaga segala sesuatu yang akan terjadi.
Min Min Djie melirik, memberi tanda kepada kawannya, dengan mengambil posisi di kanan dan di kiri,
mereka berbareng menyerang dari dua jurusan.
Telapak Dingin Tulang Putih dari Min Min Djie mulai berjalan, kedua telapakan tangannya berputar
sebentar, dari dada menuju lurus ke depan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Berbareng, si Iblis Pencabut Roh telah menegakkan telapak tangannya, dengan serangan sebelah tangan
Mencari Roh, ia mulai serangannya yang pertama.
Tiga aliran telapak tangan yang hebat, berpusat ke satu jurusan, hawa dingin yang berbau busuk
bergelombang datang ke arah Koo San Djie.
Koo San Djie memiringkan badannya ke depan, dengan gaya Ombak Menyapu Seribu Kotoran, satu
gerakan dari gurunya Pendekar Berbaju Ungu, dia mencoba kekuatannya.
Terdengar suara gemuruh yang hebat. Si Iblis Pencabut Roh telah terpental jatuh setombak dari tempatnya.
Belum sempat untuk berteriak, ia telah menarik napasnya yang penghabisan.
Bagaikan terbawa oleh arus ombak, Min Min Djie termundur beberapa kali, baru dapat berdiri tetap,
tangannya ditaruh di dada, darah segar tak henti-hentinya keluar dari sela-sela mulutnya.
Tenaga telapak tangan yang hebat ini, sampaipun Koo San Djie sendiri tidak menyangkanya sama sekali.
Dengan sekali robek, Min Min Djie meninggalkan bajunya, ia membalikkan badannya dan lari meninggalkan
tempat itu.
02.05. Petaka Keluarga Nelayan
Thian-mo Lo-lo bisa menyaksikan, bagaimana Koo San Djie menggunakan tipu Ombak Menyapu Seribu
Kotoran, mukanya telah berubah dengan seketika. Serentetan kejadian lama terbayang pula didepan
matanya.......
Rasa sedih dan menyesal telah membuat rupanya yang cantik menjadi lenyap......
Enampuluh tahun yang lalu, ia tidak kalah cantiknya dengan Tju Thing Thing.
Ia sombong, karena menganggap dirinya bagaimana bunga harum yang baru mekar.......
Dan si Dia, penghibur lara, lebih gagah beberapa kali dari pada pemuda yang kini berdiri dihadapannya......
Dengan kegagahannya, dia telah menipu badan Thian-mo Lo-lo. Ia telah terjatuh ke dalam tangannya si
binatang yang berbaju manusia......
Semua kejadian ini terbayang kembali di depan matanya Thian-mo Lo-lo yang kini telah menjadi tua,
dengan menahan segala kepedihan, ia melampiaskan segala kemarahannya kepada Koo San Djie.
“Kau pernah apa dengan Lam Keng Liu?” bentaknya.
Dengan agak kikuk Koo San Djie menjawab:
“Kau menanyai...... si penghianat itu? Akupun sedang mencarinya. Tahukah dimana ia kini berada?”
Koo San Djie tidak tahu menahu tentang Lam Keng Liu, karena itu, dia berbalik menanya kepadanya.
Sebetulnya, ia mau menyebut saudara seperguruan, tapi mengingat perbuatannya Lam Keng Liu yang
sudah menghianati gurunya sendiri, ia sudah tidak ingin mengaku saudara seperguruan. Lagi pula,
gurunyapun telah memesan kepadanya untuk mencari si penghianat dan sekalian membereskannya.
Jawaban Koo San Djie telah membuat Thian-mo Lo-lo menjadi kecewa, ia tidak ingin menunjukkan luka
hatinya, apa lagi dihadapan orang ini, iapun tidak ingin menimbulkan pula impian lama, kepada si pemuda
berdiri dihadapannya.
Dengan keren ia berkata kepada Tju Thing Thing:
“Mari kita meninggalkan tempat ini.”
Selagi bergerak, Thian-mo Lo-lo sudah membalikkan badan, ia menuju ke arah jalan raya yang ramai dan
menghilang di antaranya.
Ia membenci dirinya sendiri yang telah tertipu sampai Koo San Djie yang tidak tahu menahu turut
dibencinya pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ia telah melihat Tju Thing Thing agak tertarik oleh si pemuda yang gagah, ia tidak ingin apa yang terjadi
atas dirinya terulang pada muridnya, maka ia telah memaksa Tju Thing Thing, meninggalkan tempat itu
dengan cepat.
Kejadian yang tidak biasa ini telah membikin Tju Thing Thing tidak habis mengerti apa yang menyebabkan
gurunya menjadi marah sedemikian rupa, yang sebelumnya belum pernah dialaminya.
Terpaksa ia melambaikan tangannya ke arah Koo San Djie, dengan terburu-buru ia mengikuti di belakang
gurunya.
Seperginya Thian-mo Lo-lo, si Kurus Oey dan si Sastrawan Pan Pin baru datang menghampiri Koo San
Djie.
Dari gerakannya Koo San Djie tadi, mereka dapat menduga, dari mana asal usulnya pemuda gagah ini?
Terdengar suara Oey Liong tertawa riang:
“Jika aku yang tua tidak menebak salah, saudara kecil ini adalah cianpwe Pendekar Berbaju Ungu
punya......”
Ia tidak berani sembarangan menyebutnya murid, karena jika ditaksir dari umur si Pendekar Berbaju Ungu,
kini telah lebih dari seratus tahun, mana bisa jadi, kalau muridnya masih demikian muda?
Suatu kejadian yang tidak disangka. Koo San Djie telah membenarkan perkataannya:
“Betul! Aku adalah muridnya. Tapi guruku pernah berkata, agar tidak sembarangan mengatakannya harap
cianpwe berdua jangan mengatakannya pula kepada orang lain.”
Oey Liong dan Pan Pin menjadi heran, dengan berbareng menanya:
“Betul ia si orang tua masih ada?”
Koo San Djie anggukkan kepala.
Lalu dengan sikap yang bersungguh-sungguh, mereka berkata pula:
“Saudara kecil, untuk seterusnya janganlah kau menyebut cianpwe pula, jika dihitung menurut
kedudukanmu, kami wajib memanggilmu sebagai saudara tua.”
“Mana bisa? Itu sudah seharusnya, karena aku lebih kecil dari kalian,” jawab Koo San Djie.
Oey Liong berkata:
“Dalam rimba persilatan, yang diutamakan ialah tingkatan, janganlah kau terlalu merendahkan diri.”
Lalu mereka menanyakan maksud tujuan Koo San Djie.
Koo San Djie berkata:
“Guruku menyuruh aku mencari seorang di daerah Kang-lam.”
Sampai disini Pan Pin juga turut berkata:
“Demikianlah, nanti kita bertemu pula dalam dunia persilatan.”
Berbareng, Oey Liong dan Pan Pin mengambil selamat berpisah.
Suatu kejadian memperebutkan empedu ikan mas, sampai disini telah terachir.
Yang lari telah lari pergi, dan yang pergipun telah tidak terlihat sama sekali.
Angin malam yang bercampur dengan embun pagi telah membuat Koo San Djie teringat akan hawa dingin.
Dengan tidak terasa, ia memegang bajunya yang telah basah kuyup, mendadak, terasa tangannya terbentur
oleh sebuah benda hangat yang lembek, ia telah memegang benda pemberian ikan tadi.
Benda yang lembek ini terasa hangat, bagaimana segumpalan pedut yang berwarna hijau, samar-samar
berpeta seekor capung. Bau harum semerbak membuat siapa yang mendekatinya menjadi segar, dengan
tidak terasa, hidungnya Koo San Djie telah mendekati makhluk jejadian itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ini CAPUNG KUMALA, sebenarnya adalah sebuah hawa gunung yang mujijat, ia tumbuh dalam sebuah goa
di dasar telaga yang telah ditemui oleh sang ikan, karena sangat berterima kasih kepada pemuda kita yang
telah melepaskannya, maka sebagai hadiah, CAPUNG KUMALA ini telah diberikan kepada Koo San Djie.
KODOK MAS dan CAPUNG KUMALA adalah dua barang yang menjadi idam-idaman dari orang-orang
rimba persilatan. Untuk mendapatkan satu di antaranya saja sudah tidak mudah. Tapi kini Koo San Djie
mendapatkan dua-duanya. Memang suatu peruntungan yang bagus dalam nasib manusia. Koo San Djie
lalu menelan benda ajaib itu.
Di antara KODOK MAS dan CAPUNG KUMALA, terdapat suatu daya yang saling tarik menarik, begitu
CAPUNG KUMALA mendekati bibir, hawa hijau berubah mendekati sebuah bianglala kecil, menerobos
masuk ke dalam tenggorokan.
Pada saat itu juga, di dalam badan Koo San Djie bertimbul hawa hangat yang naik ke atas, memapak
datangnya hawa CAPUNG KUMALA yang telah berubah menjadi sebuah aliran hawa adem.
Hawa hangat dari KODOK MAS dan hawa adem dari CAPUNG KUMALA kini telah bercampur menjadi
suatu aliran tenaga yang liar menembusi berbagai jalan darah yang penting dalam tubuh.
Sampai dsini, pikiran Koo San Djie jernih, hati menjadi lapang, dia duduk bersila, mengatur jalan kedua
hawa yang telah bercampur menjadi satu, ke semua jurusan di seluruh badan.
Tak lama kemudian, hawa ini telah tersebar di seluruh tubuhnya.
Tenaganya telah bertambah, badannya menjadi enteng, dan di seluruh tubuhnya kini telah dilapisi oleh
sebuah kabut tipis yang putih.
Dua jam telah berlalu. Koo San Djie sudah tidak merasa menginjak tanah, badannya dirasakan bagaikan
terapung di udara.
Ia mulai membuka kedua matanya, tampak kota Pook-yang yang diperbesar dan diperdekat, bagaikan di
hadapan matanya, kini ia dapat melihat dengan jelas segala sesuatu, pinggir-pinggir pelabuhan yang sepi,
rumah-rumah atap yang banyak kenangan dan lain-lainnya.
Tapi, ia tidak sempat untuk memikir, bagaimana pandangannya dapat berobah menjadi setajam ini.
Cepat ia melompat ke atas perahu, ia ingin lekas pulang menemui Ong Hoe Tjoe, sang enci yang tentu
sedang menunggui di depan pintu.
Mendadak, terdengar suara orang yang berteriak dengan lagunya yang kolokan:
“Oh, malam yang sangat indah. Mengapa kau sudah lantas ingin pulang?”
Dengan segera, Koo San Djie menoleh ke belakang.
Seorang gadis berpakaian keraton dengan langkahnya yang dibikin-bikin, sedang jalan menuju ke arahnya.
Si gadis yang umurnya kurang lebih di antara duapuluh tahunan, membuat Koo San Djie sebal.
Tapi ia tidak mengatakan suatu apa, karena ia tidak mengenal gadis itu.
Si gadis yang melihat ia diam saja sudah tertawa cekikikan.
“Kepandaianmu begitu bagus, mengapa lagamu setolol ini?”
Koo San Djie masih tetap tidak bersuara. Biarpun ia membenci si gadis, tapi ia tidak mengetahui, maksud
apa yang dikandung olehnya.
Si gadis mulai marah atas sikap yang sudah diperlihatkan oleh si anak muda.
“Apa kau telah menjadi gagu, tidak dapat bicara?”
Baru sekarang Koo San Djie membuka mulutnya, dengan malas-malasan dan perasaan enggan, dia bicara:
“Apa yang harus dibicarakan, aku akan segera pulang.”
Si gadis yang melihat Koo San Djie sudah loncat ke atas perahu, tentu saja menjadi sibuk, dengan
menggunakan sebelah kakinya, mencoba menggaet perahu Koo San Djie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Perahu mulai bergoyang, seperti tidak dapat menguasai badannya lagi, entah disengaja atau tidak si gadis
menjerit dan manjatuhkan dirinya ke arah Koo San Djie.
Koo San Djie tidak menyangka sama sekali, tapi semua orang yang mempunyai ilmu sudah tentu
mempunyai reaksi yang lebih cermat dari pada biasa, maka, dengan menggunakan kedua kakinya ia
menghentikan goyangan perahu, kedua tangannya juga menyambar tepat, langsung ke arah pinggangnya
si gadis yang langsing.
Si gadis yang merasa tipunya sudah berhasil, langsung menggunakan kedua tangannya untuk merangkul
dengan lebih kencang lagi, mulutnya tidak hentinya merintih teraduh-aduh.
Bau wangi dari badannya si gadis telah membuat semangat Koo San Djie melayang jauh, hatinya berdebar
keras karena mengalami pengalamannya yang pertama ini.
Si gadis merangkul demikian keras, hampir saja Koo San Djie tidak dapat bernapas.
Mendadak, kedua buah bibir yang merah dari si gadis telah menempel di mulutnya.
Kini ia mulai menjadi sadar, bagaikan disengat kalajengking, ia terkejut, dengan kasar ia telah mendorong
badannya si gadis yang telah menempel sedari tadi.
Tapi, yang membikin ia lebih kaget lagi ialah kedua tangan yang mendorong badannya si gadis telah
membentur kedua benda yang lembek dari si gadis. Sambil menarik tangannya ia berteriak:
“Ciecie........ Lekas lepaskan tanganmu!”
Ia sukar untuk membahasakannya si nona, kecuali panggilan ciecie, panggilan ini yang sering keluar dari
mulutnya.
Bagaikan baru selesai dari pekerjaan beratnya, dengan lemas gadis itu mengendorkan pelukannya, tapi
tidak lantas melepaskan tangannya, dengan perlahan-lahan tangan itu diturunkan, kemudian menyekal
kedua tangannya Koo San Djie.
Sebenarnya, Koo San Djie ingin mengibaskan cekalannya, tapi ia juga tidak ingin berbuat sampai
keterlaluan. Ia tidak mengetahui, apa maksud yang sebenarnya dari si gadis ini.
Karena ingin terburu-buru pulang, maka dengan gugup ia berkata:
“Kau ada urusan apa? Lekaslah katakan, aku harus segera pulang, dia masih menunggu di sana.”
Si gadis berpakaian keraton datang kemari karena mempunyai maksud, maka dengan sengaja ia menanya:
“Dia siapa? Tentu teman perempuanmu, bukan?”
Koo San Djie sudah menjadi marah, dengan tidak sabaran ia berkata:
“Kau jangan sembarang omong, ia adalah Ong Hoe Tjoe. Hayo, aku benar-benar sudah ingin kembali.”
Si gadis kembali tertawa cekikikan.
“Takut mendapat makian, karena ia telah menunggu terlalu lama? Aku hanya ingin mengetahui, siapakah
yang memberi pelajaran ilmu Awan dan Asap Lewat Mata?”
“Guruku.”
“Siapa gurumu itu?”
“Pertanyaan ini tidak dapat kujawab.”
Si gadis dengan seenaknya berkata pula:
“Kau tidak mengatakan? Ya sudah.”
Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata pula:
“Hei, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang indah, di sana terdapat banyak orang-orang yang
berkepandaian tinggi, di sana kau dapat hidup tenteram dan aman........”
Tapi Koo San Djie hanya menggelengkan kepalanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Biarpun tempat yang lebih indah dari itu pun, aku tidak ingin pergi.”
Si gadis berkata, pula:
“Aku adalah........”
Tapi ia tak meneruskan perkataannya, rupanya ia telah keterlepasan bicara. Maka dengan tidak
meneruskan perkataan tadi ia berkata pula:
“Baiklah, akupun akan pergi. Aku bernama Oey Bwee Bwee, aku sangat mengagumi kepandaianmu, dan
dapatkah aku menjadi kawanmu?”
Sebetulnya, ia bukan mengagumi, tapi mencurigai kepandaiannya Koo San Djie.
Tapi Koo San Djie mana mengerti, ia hanya berkata:
“Sudah tentu boleh saja.”
Kakinya menekan perahu, dengan kedua tangannya, ia membuat perahu meluncur, bagaikan anak panah
terlepas dari busurnya, cepat maju ke depan.
Sebentar saja, perahu telah meninggalkan tepi sepuluh tombak lebih.
Si gadis yang mengaku bernama Oey Bwee Bwee masih tegak berdiri di tepi telaga, kedua matanya
memandang jauh, ke arah lenyapnya jejak perahu tadi.
Terlihat mulutnya kemak kemik bicara seorang diri:
“Anak yang aneh. Kepandaiannya yang demikian tinggi. Gerakan-gerakan yang sama...... Apa ia telah
mendapatkan...... Aku harus berusaha mengajaknya ke dalam lembah untuk membuka rahasia ini.”
Telah terbayang suatu pikiran yang dapat untuk memancing Koo San Djie datang ke dalam Lembah
Merpati.
Setelah sekian lama berdiri, iapun meninggalkan tempat itu.
Dilihat dari berkelabat bayangan, cara mengenteng tubuh Koo San Djie mirip dengan ilmu Awan dan Asap
Lewat di Mata, dia juga bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh itu, tapi, yang dapat dipelajari oleh si
gadis tidak sehebat si pemuda.
Koo San Djie menuju pulang.
Langit mulai menjadi terang, tapi pelita di rumah si nelayan masih tetap menyala.
Dengan perlahan, Koo San Djie mengetok daun pintu.
Dengan cepat Ong Hoe Tjoe telah lari ke arah pintu, setelah dibuka, berdirilah Koo San Djie yang tertawa di
depannya, maka iapun turut tertawa juga.
Dengan nada yang penuh perhatian, ia menanya:
“Apa kau sudah lapar? Aku telah menyediakan makanan untukmu.”
Koo San Djie menggeleng-gelengkan kepala, kedua tangannya yang lebar ditaruh di atas pundaknya sang
enci.
Dengan suara perlahan Koo San Djie berkata:
“Mengapa semalam suntuk kau tidak tidur?”
Ong Hoe Tjoe menyandarkan kepalanya di dadanya si pemuda yang lebar, dan berkata dengan perlahanlahan
pula:
“Begitu kau pergi, tidak lama kemudian dari arah atas telaga terlihat sinar merah yang terang seperti api.
Demikian lama kau tidak pulang, mana aku dapat tidur?”
Mendengar penuturannya, Koo San Djie menjadi sangat terharu, dengan tidak terasa, telah memeluk tubuh
Ong Hoe Tjoe dengan erat sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ong Hoe Tjoe seolah-olah seekor anak kambing yang jinak, membiarkan saja badannya berada dalam
pelukan si anak muda.
Biarpun kedua tangannya yang besar dan kasar dari si pemuda telah menggencetnya sampai ia hampir
tidak dapat bernapas, tapi dalam hatinya merasa sangat girang dan puas.
Mereka berdua dengan puas sedang merasai kesenangan dan kemesraan yang pertama kali. Mereka
terdiam beberapa lamanya, masing-masing dapat mendengar debaran jantung dari sang kekasih.
Sepasang merpati yang sedang menikmati cinta pertama, tiba-tiba telah dibikin kaget oleh ocehan dari si
nelayan tua suami isteri, yang waktu itu telah bangun dari tidurnya.
Koo San Djie masih belum merasa puas, dengan mulutnya, dia masih mencoba untuk mencium pipinya
sang kekasih, tapi telah didorong oleh sebelah tangannya Ong Hoe Tjoe, si gadis membalikkan badan dan
lari ke dapur.
Koo San Djie meleletkan lidahnya, tampak senyuman senang.
Sebentar saja Ong Hoe Tjoe telah kembali dari dapur dengan tangan membawa makanan.
Dengan sikapnya yang keren ia berkata:
“Inilah enciemu sendiri yang menyediakan, tidak boleh nakal, makan sampai habis.”
Kemudian, ia tertawa sendiri, sambil menutupi mulut dengan sebelah tangannya. Dilihatnya bagaimana Koo
San Djie yang rakus, menyikat makanannya sampai bersih, barulah ia tertawa puas dan meninggalkannya
kembali ke kamar.
Pada hari kedua, sebagaimana biasa, Ko San Djie bersama si kakek nelayan pergi ke telaga untuk
menangkap ikan. Sampai sore hari, barulah mereka berdua pulang kembali ke rumah.
Tapi tidak disangka, dalam rumah gubuk telah terjadi suatu peristiwa yang sangat menyedihkan.
Ong Hoe Tjoe, ternyata telah lenyap tak berbekas. Si nenek tengkurap di lantai dengan kepala pecah,
darahnya berhamburan di sana-sini.
Si kakek nelayan yang melihat ini sudah menjadi berdiri kesima.
“Oh......” Hanya satu perkataan ini yang dapat keluar dari mulutnya, belum sempat kakek itu meneruskan
perkataannya, orangnya telah jatuh pingsan.
Koo San Djie maju ke depan, menangkap jatuhnya tubuh si kakek.
Tapi alangkah kagetnya Koo San Djie. Sewaktu ia memegang dada si kakek, ternyata si kakek sudah
meninggalkan dunia yang fana, menyusul arwah istrinya. Rupanya tak tahan ia menerima pukulan yang
sehebat itu.
Koo San Djie memeriksa mayat si nenek nelayan. Jika bukan dari bajunya yang memang Koo San Djie
telah kenali, karena kepalanya telah dipukul hancur, hampir saja Koo San Djie tidak dapat mengenalinya.
Si nenek yang telah mati, rupanya telah mengadakan perlawanan yang sengit, dalam genggaman
tangannya terdapat robekan kain kembang yang berwarna merah.
Dari sobekan kain kembang yang berwarna merah inilah, Koo San Djie dapat menebak bahwa kain ini tentu
sobekan kain dari orang yang membawa Ong Hoe Tjoe.
Si kakek nelayan suami istri dalam pandangan Koo San Djie tidak bedanya sebagai ayah dan ibunya
sendiri, kini dalam seharian saja dua-duanya telah mati dalam keadaan penasaran, bagaimana ia tidak
menjadi sedih? Sebenarnya, ia tidak bisa sembarangan mengeluarkan air mata, tapi kali ini air matanya
sudah mengucur keluar seperti hujan yang ditumpahkan dari langit, turun membasahi pakaiannya.
Tangisannya yang sangat memilukan terdengar bagaikan ratapan binatang di tengah malam.
Terdengar suara Koo San Djie meratap sedih:
“Oh, kakek dan nenek yang mati penasaran, San Djie lah yang menyebabkan kematian kalian berdua,
biarpun sampai di ujung langit, akan kucari juga si pembunuh yang kejam itu......”
Setelah sekian lama menangis mendadak ia bangkit, sambil menggebrak meja ia bersumpah:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Koo San Djie tidak akan jadi orang, jika tidak dapat membalas dendam sakit hati ini!”
“Brak!” Patahan kayu-kayu meja terbang ke mana-mana, selembar kertas merah dadu yang di atasnya
terlukis sepasang burung merpati, terbang melayang-layang dan terjatuh di depannya.
Di atas kertas merah dadu tersebut terdapat kata-kata yang berbunyi sebagai berikut:
“Jika ingin Ong Hoe Tjoe kembali, lekaslah datang ke Lembah Merpati.”
Merpati atau burung dara adalah burung yang belum pernah jalan sendirian, tentu mesti berpasangan.
Tapi Koo San Djie tidak mau memperhatikan apa artinya Lembah Merpati, ia hanya sedang mengamatamati
tulisan yang demikian kecilnya, biarpun tulisan ini ditulis dengan terburu-buru, tapi yang sudah dapat
dipastikan ialah, tulisan ini adalah buah tangannya seorang gadis.
Dengan gemas ia berkata seorang diri:
“Lembah Merpati, Lembah Merpati, akan kubikin rata seluruh Lembah Merpati, akan kubikin bersih semua
orang yang berada dalam Lembah Merpati!”
Bagaikan seekor singa yang sedang marah, kedua matanya Koo San Djie menjadi merah, memancarkan
sinar kebencian yang hebat.
Para tetangga nelayan yang berkerumun, hanya berdiri jauh, mereka tidak berani mendekatinya.
Setelah mengubur kedua mayat si kakek nelayan suami istri dengan cara sederhana, dan meminta
bantuannya para tetangga untuk mengurusnya, Koo San Djie telah meninggalkan gubuk yang membawa
banyak kenangan dalam penghidupannya.
03.06. Pencarian Lembah Merpati
Koo San Djie berlarian sekian lamanya, dengan caranya yang membabi buta, perlahan-lahan pikiran
jernihnya telah timbul kembali.
Mulutnya berkemak-kemik, ia bicara seorang diri:
“Lembah Merpati, Lembah Merpati, di manakah letaknya Lembah Merpati?”
Koo San Djie belum lama terjun ke dalam kalangan sungai telaga dan tidak ada satu kenalan yang dapat
ditanyainya, ia hanya menuruti ayunan langkah kedua kakinya yang jalan dengan tidak mempunyai tujuan
tetap.
Rasa pedih dan kemarahan bercampur menjadi satu, sehingga menyebabkan hampir saja ia menjadi gila.
Dengan tidak memilih haluan lagi, Koo San Djie menuju ke arah timur laut.
Beberapa lama ia berjalan dengan menundukkan kepalanya. Dari belakang, mendadak datang beberapa
ekor kuda yang lewat di sebelahnya.
Si penunggang dari salah satu kuda itu, adalah seorang pemuda yang berbaju perlente dan empat
pengiringnya.
Terdengar si pemuda perlente berkata:
“Saudara harap berhenti sebentar.”
Koo San Djie menghentikan langkahnya, dengan nada yang kurang senang ia berkata:
“Kau ingin apa? Aku tidak sempat untuk bertarung.”
Si pemuda perlente yang ternyata adalah Hay-sim Kongcu yang pernah bertemu di pinggir telaga Pookyang
berkata:
“Saudara jangan salah mengerti, aku yang rendah hanya kebetulan lewat di sini.”
Sebetulnya perkataan Hay-sim Kongcu hanya isapan jempol belaka, ia tidak kebetulan lewat di sini, ia
kemari untuk menyelidiki segala gerak geriknya Koo San Djie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie menyingkir ke pinggir dan berkata:
“Silahkan saudara jalan lebih dulu.”
Hay-sim Kongcu lompat turun dari kudanya, dengan tertawa ia berkata:
“Tidak tahu, saudara hendak pergi kemana?”
Sebagai yang sedang memikir sesuatu, Koo San Djie menjawab dengan tegas:
“Lembah...... Mer...... pati!”
Mukanya Hay-sim Kongcu bersinar girang, bercahaya terang, hanya sebentar, tapi kemudian kembali
sebagai asal mulanya. Sambil tertawa ia berkata lagi:
“Aku yang rendahpun ingin pergi mengunjungi Lembah Merpati, bagaimana jika kita pergi bersama-sama?”
Dengan tidak berpikir lagi, Koo San Djie telah memanggutkan kepalanya.
Bukan main senangnya Hay-sim Kongcu, dengan segera ia menyuruh pengikutnya mengosongkan seekor
kuda untuk Koo San Djie.
Koo San Djie menggeleng-gelengkan kepala,
“Naik kuda tidak leluasa, bagaimana jika jalan kaki saja?” ia berkata.
Hay-sim Kongcu sudah meluluskan permintaannya, “baik,” jawabnya.
Kemudian ia berbalik berkata kepada empat pengikutnya:
“Kau orang boleh kembali dulu ke pulau.”
Keempat pengikutnya berbareng memberi hormat kepadanya sambil membalikkan kudanya, mereka telah
menghilang dari hadapan majikan mereka.
Ilmu silat pulau Hay-sim berasal dari gunung es, sedari kecil, Hay-sim Kongcu telah mendapat latihan yang
sempurna, langsung dari ayahnya yang bernama Hu-hay Sin-kun, ia ingin mencoba dasar kepandaiannya
San Djie.
Seperginya keempat orang pengiringnya dengan tertawa ia berkata:
“Saudara Koo, mari kita mulai.”
Tidak perduli Koo San Djie setuju atau tidak, ia telah, lari terlebih dulu, sangat cepat sekali.
Hati Koo San Djie sedang panas, karena tidak mengetahui di mana letaknya Lembah Merpati, dia salah
mengira, menduga Hay-sim Kongcu akan mengunjukkan jalan untuknya, maka iapun menggunakan ilmu
mengentengi tubuh mengintil di belakangnya Hay-sim Kongcu.
Bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, mereka berdua telah menggunakan kepandaiannya
masing-masing, dengan tidak mengenal waktu, telah berlari-lari seharian lamanya, sehingga telah
memasuki daerah pegunungan Hong-giok, di antara perbatasan An-hui dan Cek-kiang!
Hay-sim Kongcu, dengan napas sengal-sengal memberhentikan langkahnya, bajunya telah basah mandi
keringat.
Dengan rasa sedikit bangga, ia berkata seorang diri:
“Dengan cara seperti ini, paling sedikit juga ada tiga atau empatratus lie jauhnya. Tapi setelah ia menengok,
melihat Koo San Djie, bukan main rasa kagetnya.
Koo San Djie masih tenang seperti biasa, bajunya tidak berkeringat, napasnya tidak turun naik, seperti jalan
beberapa langkah saja.
Dalam hatinya Hay-sim Kongcu berkata, “Orang dari Lembah Merpati memang tidak dapat dipandang
enteng.”
Tapi di hadapannya Koo San Djie ia tertawa dan memuji:
“Kepandaian saudara Koo memang hebat, aku yang rendah tidak dapat menyamainya.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie tidak merasa bangga atas pujian ini, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia hanya
memikirkan keselamatannya Ong Hoe Tjoe, ia tidak memperhatikan kepandaian siapa yang rendah dan
siapa yang tinggi, inipun ia belum menggunakan setengah dari kepandaiannya.
Dalam hati Hay-sim Kongcu memaki: “Hm, anak yang sombong. Jika bukan mengharapkan petunjukmu
untuk mencari Lembah Merpati......”
Ia telah lama berkelana di kalangan sungai telaga, mukanya tidak pernah mengutarakan isi hatinya,
mulutnya tidak mau mengatakan kesenangan dan kemarahan.
Dengan sopan ia berkata:
“Saudara Koo, mari kita istirahat untuk makan.”
Koo San Djie hanya memanggutkan kepala, tidak mengatakan suatu apa.
Setelah memilih tempat duduk, ia menjatuhkan dirinya di sana.
Hay-sim Kongcu menyodorkan makanan yang memang telah tersedia dan iapun duduk di sebelahnya Koo
San Djie.
Koo San Djie masih tidak mau membuka mulut, dengan tenang ia makan makanan kering tadi.
Tapi pikirannya Hay-sim Kongcu mana bisa diam, ingin sekali ia mencabut pisau belatinya yang terbuat dari
pada besi dingin, pisau ini berasal dari dasar laut, untuk membereskan anak sombong yang duduk di
sebelahnya.
Dari jarak yang demikian dekat, tidak nanti Koo San Djie dapat lolos dari tajamnya belati besi dingin
tersebut.
Untuk menghadapi orang dari Lembah Merpati, ia tidak usah memakai aturan, dendamnya yang selalu
disimpan di dalam hati, telah beberapa tahun dibawa-bawanya.
Tapi, dengan cara demikian ini, ia akan kehilangan petunjuk jalan ke dalam Lembah Merpati.
Telah berapa tahun ia berkelana di kalangan sungai telaga, belum pernah ia mengutarakan permusuhannya
dengan Lembah Merpati, ia hanya mengharapkan, pada suatu waktu dapat petunjuk dari salah satu
orangnya Lembah Merpati untuk mendapatkan jalan masuk ke dalam tempat itu.
Dari ilmu mengentengi tubuhnya Koo San Djie yang bernama Awan dan Asap Lewat di Mata, ia menyangka
bahwa Koo San Djie adalah pemuda yang datang dari Lembah Merpati.
Koo San Djie juga pernah berkata, ia datang dari lembah, dan kini telah melulusinya untuk mengajaknya
bersama-sama, menuju Lembah Merpati. Inilah suatu kesempatan yang sukar untuk dicari.
Telah beberapa kali, tangannya menyentuh gagang pisau, tapi biar bagaimanapun, ia harus menahan
sabar. Tidak ada gunanya membunuh orang dari Lembah Merpati itu. Yang menjadi pokok terpenting ialah,
mendapat tahu di mana letaknya Lembah Merpati tersebut.
Mukanya Hay-sim Kongcu sebentar-sebentar berubah, tetapi ini tidak ada artinya bagi Koo San Djie yang
sama sekali tidak mempunyai pengalaman.
Koo San Djie yang sedari tadi diam saja seperti melihat sesuatu, mendadak berkata:
“Hei siapa yang datang itu? Bayangan yang cepat, lebih cepat dari pada kita tadi.”
Hay-sim Kongcu bertanya:
“Di mana?”
Tangan Koo San Djie menunjuk ke arah depan dan berkata pula:
“Lihatlah!”
Hay-sim Kongcu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Koo San Djie, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa,
yang terlihat olehnya hanyalah keadaan putih remang-remang.
Setelah lewat sekian lama......
dunia-kangouw.blogspot.com
Tiba-tiba Hay-sim Kongcu dapat juga melihat dua bayangan hitam, sedang lari dengan cepat menuju ke
arah mereka berdiri. Saking cepatnya orang yang sedang mendatangi itu sukar baginya membedakan
pakaian yang sedang dipakainya. Tetapi, hatinya semakin bercekat, mengapa anak yang tolol seperti Koo
San Djie juga mempunyai pandangan mata yang demikian tajam?
Waktu ia menengok, dilihatnya wajah Koo San Djie sudah berubah jadi galak, alisnya kelihatan naik ke atas
dan tangannya mengeluarkan sepotong kain kembang berwarna merah. Badannya juga lantas meluncur ke
depan beberapa tumbak, di tengah udara kakinya ditekuk ke belakang, ia lari memapak kedua bayangan
itu.
Orang-orang yang sedang mendatang itu ternyata adalah sepasang muda mudi, si pemuda berpakaian
warna hijau bergaris-garis, si pemudi berpakaian keraton warna merah kembang.
Begitu melihat Koo San Djie datang menyeruduk, mereka berdua sudah memisahkan diri dengan cepat ke
kanan dan kiri.
Badan Koo San Djie yang masih di tengah udara dimiringkan sedikit dan sudah turun di hadapan si pemudi.
“Enci Hoe Tjoe ku telah kau bawa pergi ke mana?” demikian bentaknya.
Kepandaian mengentengi tubuh Koo San Djie telah membuat mereka terkejut, ditambah lagi dengan
pertanyaan yang diajukannya yang tidak ada juntrungannya itu, membuat si pemudi menjadi semakin tidak
mengerti.
Sambil kerutkan kedua alisnya pemudi itu berkata:
“Apa yang kau maksudkan? Aku tidak mengerti.”
Dengan galak Koo San Djie berkata:
“Sebelum kau keluarkan Encieku, jangan harap kau dapat pergi.”
Si pemuda berbaju hijau sudah datang menanya:
“Adik San, apa yang dikehendaki?”
Dengan marah, si pemudi berkata:
“Entah dari mana munculnya anak gila ini, mendadak mengatakan aku telah menculik encienya.”
Pemuda itu coba mendamaikan sama tengah:
“Saudara kecil, kau telah salah orang.”
Ia tidak ingin menambah perkara di tengah perjalanan yang dapat mengakibatkan terlambatnya urusan
mereka.
Tapi Koo San Djie mana mau mengerti? Dia telah mengeluarkan potongan kain kembang yang berwarna
merah tadi dan selembar kertas bertulisan yang berwarna merah dadu. Dengan mengibas-ngibaskannya ia
berkata:
“Jika bukan kau orang, siapa lagi yang berbuat?”
Pasangan muda mudi tadi menjadi kaget, tapi dengan berpura-pura tidak mengetahui mereka berkata:
“Dalam dunia, banyak sekali orang yang mengenakan baju yang sama, dengan bukti apa kau dapat
sembarangan menuduh?”
“Tidak usah kita perdulikan. Adik San, mari, kita berangkat!” kata si pemuda sambil menarik tangan
kawannya.
Tapi Koo San Djie tidak mengijinkan kepergian mereka, ia lompat melesat dan sudah menghadang di
hadapan pasangan muda mudi itu.
“Satupun jangan harap pergi dari sini, sebelum memberi keterangan yang jelas!” bentaknya keras.
Pemuda berbaju hijau dengan adem berkata:
“Belum tentu.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hay-sim Kongcu maju ke muka, mengangkat kedua tangannya, dengan menjura ia berkata:
“Numpang tanya, saudara berdua murid kesayangan dari golongan mana?”
“Kau tidak berhak mengurusnya!” Pemuda berbaju hijau berkata.
03.07. Pulau Hay-sim yang di Kelilingi oleh Air Lembek
Hay-sim Kongcu adalah anak kesayangan dari Hu-hay Sin-kun, hanya ia menyuruh orang, belum pernah
ada orang berani membantah, perkataan pemuda berbaju hijau tadi telah menyinggung perasaannya.
Dengan mengeluarkan suara di hidung ia berkata:
“Entah golongan mana yang tidak mempunyai muka untuk menemui orang, maka telah melakukan
perbuatan yang serendah itu?”
Pemuda berbaju hijau berteriak marah:
“Jangan kau sembarangan menuduh.”
Sebelah tangannya dimiringkan ke samping, mengeluarkan pukulan, tidak kentara dan tidak bersuara,
hanya bagaikan angin melambai.
Hay-sim Kongcu melengak, inilah kepandaian dari pulau Hay-sim, jurus yang pertama dari Wie-mo-ciang.
Ia telah sangat apal dengan ilmu-ilmu tersebut, dan jelaslah kini, dari mana datangnya dua muda mudi yang
di hadapannya, ia hanya memiringkan sedikit badannya agar dapat mengelak ke samping dengan lebih
leluasa.
Tapi, di sana si pemudi telah menjerit-jerit, karena Koo San Djie telah memulai penyerangan.
Terdengar suara Koo San Djie yang mengandung kemarahan:
“Jika engkau tidak mau mengeluarkan encie Hoe Tjoe, aku akan menahan kau di sini.”
Ia menggunakan sepuluh jari tangannya, menyerang si pemudi.
Si pemudi tidak balas menyerang, ia menggunakan kegesitannya, lompat ke sana dan lompat ke sini, ia
sedang pertontonkan kepandaian mengentengi tubuhnya.
Tapi tidak beruntung, ia telah menemukan seorang ahli, gerakannya Koo San Djie pun sama dengan
gerakannya, lebih cepat dan banyak perobahan.
Beberapa kali dia telah membuat kesalahan, hampir-hampir saja ia terpegang oleh cengkeramannya Koo
San Djie.
Koo San Djie juga telah dapat melihat kepandaian yang digunakan oleh lawannya ada rada mirip dengan
gerakan Awan dan Asap Lewat di Mata, tapi banyak kesalahan dan kurang perobahan. Boleh juga
dikatakan pemudi ini hanya baru belajar sedikit dari kepandaiannya.
Di sinilah pula letak kecurigaan Koo San Djie, mengapa ia dapat menggunakan kepandaian yang sama?
Inilah kepandaian yang tertulis dalam kitab Im-hoe-keng.
Kecuali mempunyai hubungan dengan Lam Keng Liu. Apa hubungannya?
Kecurigaan ini yang telah menyebabkan Koo San Djie mau menangkapnya untuk mengorek keterangan.
Dalam sekali berkelebat, pemudi itu merasakan hawa pusing, di seluruh jurusan terdapat bayangan dari
sang lawan. Kakinya dirasakan berat, sukar untuk ia mencari tempat menaruh kedua kakinya. Ini pulalah
yang membuat ia menjadi menjerit-jerit.
Pemuda berbaju hijau sudah bertarung beberapa jurus dengan Hay-sim Kongcu dan melihat sang kawan
dalam keadaan bahaya, dengan sekuat tenaga yang ada padanya, ia menyerang lawannya.
Hay-sim Kongcu mundur sedikit, menghindarkan pukulan sang lawan.
Dengan menggunakan kesempatan ini, pemuda berbaju hijau lompat dan menolong kawannya. Sebelah
tangan menghantam, mengarah bebokongnya Koo San Djie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie seperti tidak mengetahui sama sekali, maka tidak menyingkir dari serangan lawannya.
Sampai di sini, Hay-sim Kongcu telah mengetahui, siapa dua muda mudi itu?
Kecurigaan terhadap Koo San Djie sekarang telah lenyap sama sekali, malah berbalik padanya. Ia telah
mengenal akan Wie-mo-ciang, bisa menyerang dengan tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Maka ia menguatirkan keselamatan dari sang kawan.
“Saudara Koo, awas serangan!” demikian teriaknya.
Berbarengan dengan itu, badannyapun telah sampai di dekatnya.
Ia hanya memperhatikan serangan si pemuda berbaju hijau, tidak menyangka datangnya serangan Koo San
Djie.
Angin beterbangan, mengulak naik ke atas. Dengan tidak menoleh lagi Koo San Djie menangkis ke arah
belakang dirinya dan menghadapi si pemuda baju hijau.
Si pemuda baju hijau tidak berani melawan serangan yang demikian hebat dari lawannya, ia melompat ke
samping untuk menghindarkannya. Tetapi biarpun demikian tidak urung, belakang tangannya terkena
serangan dari Koo San Djie.
Tetapi, yang celaka adalah Hay-sim Kongcu. Mengimpipun ia tidak akan bisa membayangkan yang Koo
San Djie bisa menyerang ke belakang dengan gerakan yang cepat. Ia tidak sempat lagi menghindarkan
serangan itu. Kedua tangannya diluruskan ke depan menyambuti serangan.
Setelah terdengar suara “Bum”, kepalanya berkunang-kunang, mulutnya menyemburkan darah segar.
Begitu mengetahui di belakang dirinya terjadi perubahan, Koo San Djie sudah lantas menghentikan
serangan selanjutnya, ia dapat melihat Hay-sim Kongcu jatuh terduduk dengan muka pucat. Dengan cepat
ia maju menghampirinya.
Dengan menggunakan kesempatan ini, kedua muda mudi tadi telah menggunakan kelincahan mereka,
melarikan diri ke jurusan gunung.
Koo San Djie, tidak sempat mengejar mereka. Dengan rasa kuatir ia menanya:
“Bagaimana luka saudara?”
Ia sudah datang ke tempat Hay-sim Kongcu, siap untuk mengobatinya, tetapi Hay-sim Kongcu ketawa
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Harap saudara Koo tidak kuatirkan diriku. Luka yang sedikit masih dapat aku menahannya.” Sambil
berkata, tangannya merogoh ke dalam saku, dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisikan obat
bentuk pil yang berwarna merah, yang terus dimasukkan ke dalam mulut, lalu duduk mengatur
pernapasannya. Setelah itu ia berkata kepada Koo San Djie:
“Sepasang muda mudi tadi adalah orang-orangnya dari Lembah Merpati. Lekaslah saudara Koo kejar.
Setelah cukup beristirahat, nanti akan segera pergi menyusul.”
Koo San Djie merasa tidak enak hati, ia sangat menguatirkan kesehatan kawannya.
Hay-sim Kongcu sibuk sendiri melihat kawannya tidak bergerak dan mengejar, maka lantas ia berkata:
“Waktu tidak dapat kembali. Harap saudara lekas mengejar mereka.”
Sampai di sini, barulah Koo San Djie lekas-lekas bertindak, mengejar ke jurusan menuruti arah perginya
muda mudi tadi. Biarpun ia dapat berlari dan bertindak dengan cepat, di daerah pegunungan yang
panjangnya ratusan lie, untuk mengejar kedua muda mudi tadi susahnya sama juga dengan mencari jarum
di dasar laut.
Setelah mengejar seharian penuh dan masih juga tidak dapat menemukan mereka, perutnya pun merasa
lapar, maka segera ia lari ke sebuah kota yang terlihat di depannya. Begitu memasuki kota yang pertama,
tindakannya ialah mencari rumah makan.
Baru saja ia bertindak masuk ke sebuah rumah makan, terdengar suara tertawanya seorang yang amat
nyaring.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Saudara kecil, kenapa kau juga datang kemari? Mari duduk bersama aku.”
Ternyata orang itu yang berbicara adalah Sastrawan Pan Pin, dia sedang mengganyang makanannya
seorang diri.
Dengan tidak malu-malu lagi, Koo San Djie duduk di sebelah orang itu, bersama-sama makan dan minum.
Si Sastrawan Pan Pin sudah memanggil pelayan rumah makan dan minta tambah hidangan. Ia sendiri
dengan memegang gelasnya, tertawa, melihat kawan kecil di sampingnya.
Setelah melihat Koo San Djie sudah kenyang makan, barulah ia berkata:
“Saudara kecil ini datang kemari ada urusan apa?”
Koo San Djie memesut mulutnya yang berlepotan minyak, dan dengan termonyong-monyong ia berkata:
“Aku sedang mencari orang dari Lembah Merpati. Mereka telah menculik enci Hoe Tjoe.”
Mendengar keterangan itu, bukan main kagetnya Pan Pin.
“Apa betul?”
Letak Lembah Merpati sangat dirahasiakan, tetapi di kalangan Kang-ouw, tidak dapat nama jelek. Biarpun
telah terjadi beberapa muda mudi yang masuk ke dalam lembah dengan tidak ada kabar beritanya lagi,
tetapi semuanya mereka pergi itu dengan rela hati, belum pernah terdengar ada orang yang memaksa
memasukinya.
Koo San Djie mengeluarkan potongan kain yang berwarna merah, di mana terdapat tulisan di atas sepotong
kertas berwarna merah dadu yang dilekatkan di atas meja. Sambil memandang Pan Pin ia berkata:
“Lihatlah ini!”
Sambil memperlihatkan kain dan kertas bertulisan itu ia lalu menceritakan semua kejadian yang menimpa
keluarga si kakek nelayan.
Melihat Pan Pin agak tidak percaya, dia berkata pula:
“Di daerah pegunungan Hoay-giok, di perbatasan An-hui dan Cek-kiang aku telah bertemu dengan dua
orang yang katanya datang dari Lembah Merpati. Tetapi, sayang mereka dapat meloloskan diri.”
Si sastrawan yang mendengarkan keterangan itu semua, menjadi kemekmek di tempatnya. Ia lupa bahwa
cawannya masih berada di dalam genggamannya.
Pikiran sedang dipusatkan pada rentetan kejadian-kejadian yang diceritakan oleh kawan ciliknya dan lantas
dihubungkan dengan semua kejadian-kejadian yang berkenaan dengan Lembah Merpati.
Pemimpin dari Lembah Merpati, entah dewa ataukah manusia, mengapa begitu misterius?
Dalam tahun-tahun terakhir ini belum pernah ada seorangpun yang dapat melihat wajah pemimpin itu,
sampai-sampai di mana letaknya Lembah Merpati, juga tidak ada seorangpun yang mengetahui.
Beberapa orang tua dari rimba persilatan, banyak yang menaruh curiga pada beberapa anak muda yang
ingin pergi ke sana, tetapi sampai sekarang pun, masih belum ada seorang pun yang mampu
memecahkannya.
Jika dianggap satu golongan yang tidak juyur, belum pernah ada kabar tentang kejadiannya. Disebut satu
golongan baik-baik, juga tidak dapat, karena setiap pemuda yang masuk ke situ sudah pasti tidak akan
kembali.
Koo San Djie memandang ke arah Pan Pin, tidak terdengar suara komentar, lalu menanyakannya pula:
“Locianpwee, di manakah letaknya Lembah Merpati itu? Apa kau sudah mengetahui?”
Dengan menggeleng-gelengkan kepala, Pan Pin menjawab:
“Jangan kata aku, si Sastrawan Miskin. Semua orang dari rimba persilatan belum tentu ada seorangpun
yang mengetahui di mana letak tempat itu.”
Koo San Djie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Lalu harus bagaimana baiknya?” ia bertanya.
“Terburu-buru pun tidak akan ada guna,” Pan Pin berkata. “Berusahalah dengan sabar.”
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan pula perkataannya:
“Bukan karena aku si Sastrawan miskin memandang rendah padamu. Umpama betul pada suatu waktu, kau
berhasil menemukan Lembah Merpati, tidak boleh kau berbuat gegabah. Menurut pengalamanku, dari
lembah itu, ada tiga macam yang terkenal, yaitu obat-obatan, ilmu pukulan dan ilmu mengentengi tubuh.
Kepandaian anak muda mereka tentu berkepandaian tinggi, apa lagi kepandaian pemimpinnya sukar sekali
dibayangkan.
Biasanya penggunaan obat-obatannya tidak dapat dipisahkan dengan yang beracun. Tidak mudah dijaga
oleh sembarang orang maka kau harus berlaku hati-hati, menjaga segala kemungkinan.”
Tetapi perkataan-perkataan dari si Sastrawan itu tidak masuk dalam telinga Koo San Djie. Ini bukan karena
sifatnya yang sombong. Ia sibuk sendiri, mengingat tidak ada orang yang mengetahui, di mana letaknya
Lembah Merpati.
Sejenak berkenalan dan berpisahan dengan si kakek nelayan yang jenaka, keadaan yang menyedihkan dari
si nenek yang terbunuh, Hoe Tjoe yang sedang marah-marah manja. Satu persatu kejadian-kejadian itu
merupakan kenangan yang tak mudah dilupakan.
Bukan main rasa sedih hatinya. Suatu keluarga yang tenang dan tentram, serta penuh kerukunan, karena
disebabkan adanya dia seorang, mereka telah mengalami kejadian yang menyedihkan. Jika diusut dari asal
mulanya, dialah yang menyebabkan terjadinya kejadian menyedihkan itu.
Mendadak, telinganya seperti menangkap suara tangisan yang sesenggukan seolah-olah suara ratapan:
“Adik San, adik San, mengapa kau tidak menolongku......”
Dia lompat bangun, dia marah, tetapi dia harus duduk kembali dengan lesu. Kegusaran dan kekuatiran tidak
ada faedahnya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui, di mana letaknya Lembah Merpati. Juga tidak ada
seorang pun yang mengetahui, siapa orangnya yang mendiami lembah itu.
Si Sastrawan Pan Pin menatap Koo San Djie sejenak, menghela napas panjang. Ia sudah melewatkan
sebagian besar dari hidupnya dalam kalangan sungai telaga. Terhadap urusan yang bagaimana besar pun,
hanya diganda tertawa saja. Tetapi tidak disangka, hari ini ia telah mendapatkan kesukaran dari sang
saudara kecil yang belum lama berkenalan.
Setelah berpikir sebentar, ia berkata pula:
„Terhadap urusan ini, kiranya aku harus turut campur tangan juga. Mari aku ajak kau ke suatu tempat,
mengadu peruntungan, tetapi tidak sembarang orang dapat sampai ke tempat ini. Salah sedikit saja,
habislah jiwa kita di sana.”
Pada waktu itu, kalau harus menerobos gunung berduri atau melewati minyak mendidih di atas kuali, pasti
akan dilakukan oleh Koo San Djie, apa lagi hanya pergi ke suatu tempat saja. Maka dengan senang, sambil
berlompat-lompatan, ia berkata:
“Kemana? Mari segera kita pergi.”
“Sabar, duduklah dulu!” Pan Pin menggoyang-goyangkan tangan. “Dengarkan dulu penuturanku. Orang
hanya mengetahui pukulan dari Lembah Merpati yang istimewa, tetapi sama sekali tidak mengetahui,
bahwa pukulan itu adalah campuran dari pukulan yang istimewa dari kalangan Kang-ouw (Sungai telaga).
Yang satu adalah Hian-oey-ciang dari perguruanmu dan yang lainnya ialah Wie-mo-ciang dari kepulauan
Hay-sim. Dua macam pukulan keras dan lunak yang digabungkan itu menjadi satu ilmu pukulan yang sudah
tidak ada taranya lagi dalam dunia Kang-ouw. Tetapi mengapa mereka dapat mempelajari kedua macam
ilmu pukukan itu, masih belum ada seorang pun yang mengetahui, maka dari itu, sekarang aku akan
mengajak kau ke pulau Hay-sim untuk menanyakan keterangan dari Hu-hay Sin-kun. Biarpun mempunyai
kepandaian tinggi, tetapi adatnya Hu-hay Sin-kun ini sangat aneh sekali. Pada waktu itu, jika terjadi suatu
apa, kau jangan sembarang membawa adatmu.”
Koo San Djie manggut-manggutkan kepalanya, dia berjanji akan mengikuti petunjuk sastrawan tersebut.
Demikianlah, mereka lalu pergi ke pulau Hay-sim yang dikelilingi oleh air lembek, yang tidak dapat menahan
barang yang bagaimana ringanpun juga. Siapa tahu, karena salah mengerti, hampir saja menyebabkan
kedua jiwa tua dan muda ini hilang lenyap ditelan air itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
04.08. Dua Ilmu Pukulan Tertinggi
Pulau Hay-sim terletak di tengah lautan Ceng-hay, dikelilingi dan dikitari oleh air lembek yang tidak
mempunyai daya tahan sama sekali. Tidak pernah ada kapal atau perahu yang lewat melalui permukaan
laut tersebut.
Hu-hay Sin-kun, setelah berhasil mempelajari ilmunya dan turun dari gunung es, dia telah memilih pulau
yang sepi ini menjadi tempat kediamannya. Bersama dengan adik angkatnya yang bernama Lok-sui Cianliong
mereka membangun pulau tersebut. Usahanya berhasil telah membuat pulau yang sepi menjadi suatu
tempat yang menarik hati.
Si Sastrawan Pan Pin bersama dengan Koo San Djie, setelah berjalan siang hari malam, tidak sampai
setengah bulan kemudian, mereka sudah sampai di pinggir laut. Mereka hanya melihat seperti sungai yang
sepi, tidak ada sebuah perahu pun berlayar di sana.
Di dalam rimba persilatan, Pan Pin pernah bertemu dengan Hu-hay Sin-kun beberapa kali, tetapi belum
pernah datang ke pulau tempat kediamannya, dan tidak mengetahui, dengan cara bagaimana harus
mendaratnya.
Hatinya timbul curiga. Bagaimanakah caranya orang keluar masuk pulau Hay-sim ini.
Mereka berdua mundar mandir di tepi laut sampai beberapa kali. Diambilnya setangkai batang pohon yang
terdapat di pinggir laut itu, lalu dilemparkan ke arah laut.
“Plung”, segera setelah terdengar bunyi itu, lantas terlihat suatu lingkaran di permukaan laut. Seperti sebuah
batu saja agaknya, tangkai pohon tadi lantas tenggelam ke dasar laut.
Si Sastrawan Pan Pin melihat kejadian yang mengherankan itu, dia menggoyang-goyangkan kepalanya.
“Bagaimana?” tanya Koo San Djie yang menjadi tidak sabaran.
Tiba-tiba Pan Pin menggoyang-goyangkan tangannya, berkata pada si pemuda:
“Dengarlah! Ada orang sedang mendatangi.”
Koo San Djie juga sudah mengetahui, beberapa kuda sedang mendatangi ke arah mereka, semakin lama,
derapan kaki kuda semakin dekat saja, dan sebentar kemudian, kuda-kuda sudah sampai di depan mereka.
“Ouw!” Berbareng mereka mengeluarkan seruan kaget.
Ternyata yang mendatangi itu adalah keempat pengiring Hay-sim Kongcu.
Dengan cepat Koo San Djie menghampiri mereka dan menyapa:
“Hei, dapatkah kalian mengajak kami ke pulau Hay-sim?”
Keempat pengiring Hay-sim Kongcu saling pandang, tentu saja dengan perasaan heran, mereka tidak
menjawab pertanyaan Koo San Djie, mereka balik bertanya:
“Kemana Kongcu kami?”
Koo San Djie dengan sembarangan berkata:
“Orang yang demikian besar, masa takut hilang? Mungkin juga telah kembali ke pulau.”
Keempat pengiring itu berkumpul menjadi satu. Setelah berunding sejenak, salah satu dari antaranya maju
ke muka.
Sambil bersenyum ia memberi hormat pada si Sastrawan dan berkata:
“Pulau Hay-sim jarang mendapat kunjungan, dan ada urusan apakah tuan-tuan datang mengunjungi pulau
kami?”
Setelah membalas hormat, Pan Pin lantas berkata:
“Orang memberikan julukan padaku Sastrawan Pan Pin, adalah kenalan lama dari majikanmu, Hu-hay Sinkun.
Dengan mengajak saudara kecil ini, aku masih mempunyai sedikit urusan yang mau dirundingkan
dengan majikan kalian.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang-orangnya Hu-hay Sin-kun setelah berpikir sebentar, lalu berkata:
“Jika kenalan lama dari majikan, silahkan ikut kami.”
Dengan membalikkan badan, mereka sudah membawa Pan Pin berdua ke suatu tempat yang sepi di tepi
laut itu. Secarik kertas yang ditulis lalu diikatkan ke kakinya seekor burung yang dibawa mereka, lalu
dilepaskan.
Sang burung sudah lantas terbang ke udara, menuju pulau Hay-sim.
Mereka duduk, menanti di situ kira-kira satu jam lamanya. Tidak lama kemudian dari jauh terlihat sebuah
perahu yang terbuat dari kulit sapi yang melembung.
Dengan pesat perahu kulit sapi itu datang ke arah mereka.
Koo San Djie tidak dapat menahan keheranannya, maka lantas berkata:
“Bukankah air laut ini tidak mempunyai daya tahan sama sekali? Mengapa perahu dapat berlayar di
atasnya?
Salah seorang dari orang-orangnya Hu-hay Sin-kun dengan tertawa berkata:
“Memang betul air laut di sini tidak mempunyai daya tahan sama sekali, tetapi tidak seluruhnya demikian. Di
beberapa bagian, ada juga yang mempunyai daya tahan yang dapat dilalui oleh perahu, hanya saja tidak
ada orang luar yang mengetahuinya.
Dengan perahu itu, setelah sampai di pulau Hay-sim, di tepinya sudah terlihat beberapa orang yang datang
menyambut mereka.
Hu-hay Sin-kun dan Lok-sui Cian-liong yang berdiri paling depan, setelah mengawasi si Sastrawan Pan Pin,
sambil ketawa berkakakan Hu-hay Sin-kun berkata:
“Angin apa yang dapat membawa seorang dewa datang ke tempat yang sepi?”
Pan Pin juga tertawa berkakakan:
“Jika tidak mempunyai urusan, tidak berani aku sembarangan datang mengganggu kemari. Aku si
Sastrawan miskin datang kemari, ada suatu urusan penting yang mau meminta petunjuk dari Sin-kun.”
“Silahkan masuk. Kita beromong-omong di dalam saja,” kata Hu-hay Sin-kun ketawa.
Mendadak matanya melihat di antara empat orang pengiring Hay-sim Kongcu, tidak terlihat mata hidungnya
sang anak, maka mukanya berubah menjadi pucat. Dengan suara keras dan kasar ia membentak:
“Bagaimana urusan di telaga Pook-yang? Mengapa kongcu tidak datang bersama kalian?”
Hu-hay Sin-kun menginginkan nyali ikan emas untuk melatih semacam kepandaian yang akan digunakan
untuk menghadapi musuh tangguhnya.
Sudah tigapuluh tahun lamanya ia menyembunyikan diri di pulau Hay-sim, dengan maksud menghindarkan
diri dari musuhnya. Itu pula sebabnya, mengapa ia menghendaki nyali ikan emas. Ia sudah cukup
mempunyai pengetahuan, hanya nyali ikan emas ini yang dapat menambah kekuatan tenaganya dan dapat
digunakan untuk melawan musuh tangguh itu.
Keempat pengiring Hay-sim Kongcu melompat ke tepi, segera membungkukkan badan, memberi hormat
dan berbareng mereka berkata:
“Sebenarnya, ikan emas telah dapat dilukai oleh Kongcu. Sewaktu kita semua mengurung untuk
menangkapnya, mendadak datang tuan kecil ini yang menotok Hiat-to......” Sembari berkata demikian,
tangannya menunjuk ke arah Koo San Djie, tetapi tidak berkata apa-apa.
Terdengar pula keempat pengiring Hay-sim Kongcu melanjutkan penuturannya:
“Kemudian Kongcu berkenalan, dan mengikat tali persahabatan...... Pada hari berikutnya, tuan kecil ini
menyatakan maksudnya hendak pergi ke Lembah Merpati dan Kongcu pun telah mengikutinya, tanpa tidak
menunggang kuda, menyuruh kami balik terlebih dahulu. Entah bagaimana, sekarang Kongcu tidak kembali
bersama tuan kecil ini......”
Mukanya Hu-hay Sin-kun menjadi biru, tertawa dingin ia berkata kepada Koo San Djie:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Katakan, sesudah itu, anakku pergi ke mana?”
Koo San Djie mempunyai adat keras, sebenarnya dia sudah menjadi marah, melihat sikap Hu-hay Sin-kun
yang memperlakukan galak terhadap dirinya, tetapi memikir persahabatannya dengan Hay-sim Kongcu,
terpaksa ia mengalah kepada Hu-hay Sin-kun, dia ayahnya Kongcu itu. Dengan membungkukkan badannya
ia menjawab:
“Boanpwe dan anak Cianpwee berkenalan di pegunungan Hoay-giok di daerah perbatasan An-hui dan Cekkiang
pernah bersama-sama lawan dua orang dari Lembah Merpati. Tetapi anak cianpwee terkena
serangan tangan boanpwee, dengan tidak disengaja, sehingga dua orang dari Lembah Merpati tadi dapat
melarikan diri. Setelah anak cianpwe beristirahat di sana sebentar, dan boanpwe mengejar kedua orang
tadi, kemudian tidak bertemu dengan dia lagi.”
Hu-hay Sin-kun tertawa dingin dan berkata:
“Orang pulau Hay-sim hendak mengambil nyali ikan emas, ada hubungan apa dengan kau? Sehingga kau
berani turut campur tangan, menghalang-halanginya dan lagi pula bersama-sama melawan musuh? Siapa
yang bisa percaya, kau kesalahan pukul memukul kawan sendiri?”
Setelah berkata demikian, selangkah demi selangkah Hu-hay Sin-kun mendekati Koo San Djie, kemudian
dengan suara nyaring ia berkata pula:
“Di sini jangan kau harap dapat membohongi orang! Sebenarnya siapa yang menyuruh kau berbuat begitu?
Lekas katakan terus terang padaku!”
Si Sastrawan Pan Pin segera memisahkan kedua orang itu dan berkata:
“Harap Sin-kun jangan salah paham. Urusan dapat menjadi terang perlahan-lahan.”
Tetapi Hu-hay Sin-kun dengan sikapnya dingin bertanya:
“Bagaimana hubunganmu dengan bocah ini? Kenal baru, atau kenal lama?”
“Biarpun belum lama berkenalan,” jawab Pan Pin. “Tetapi, dengan perguruannya aku mempunyai
perhubungan yang sangat erat.”
Hu-hay Sin-kun mengibaskan lengan bajunya.
“Jikalau demikian, harap kau jangan turut campur tangan,” katanya.
Sampai di sini Koo San Djie sudah tidak dapat menahan hawa amarahnya. Dengan suara yang tidak kalah
kerasnya ia berkata:
“Bagaimana kejadian yang sebenarnya, boleh menunggu sampai anakmu pulang, tentu akan menjadi jelas
sendiri. Kau orang tua begini galak, hendak menakuti siapa?”
Hu-hay Sin-kun tertawa terbahak-bahak dan berkata:
“Anak yang bernyali besar!” Kemudian ia mengangkat tangannya, dengan perlahan tangannya itu didorong
ke depan.
Dengan cepat si Sastrawan Pan Pin menyelak:
“Sin-kun, sabar......! Jangan......!” dan badannya pun sudah melesat ke muka, menghalang-halanginya, tapi
Koo San Djie sudah maju menyambuti serangan lawan. Ia mencoba untuk menahan dengan kekerasan.
Dua kekuatan tangan beradu. Jenggot yang panjang dari Hu-hay Sin-kun tertiup ke belakang. Kedua
pundaknyapun bergoyang, tetapi Koo San Djie masih tetap berdiri di tempatnya.
Dengan tidak merasa bulu tengkuk Hu-hay Sin-kun berdiri, warna mukanya berubah. Biarpun ia hanya
menggunakan setengah kekuatan tangannya, tetapi sudah cukup menggetarkan sembarang orang dari
dunia Kang-ouw. Siapa nyana, anak kecil yang berada di hadapannya ini, dengan enak saja dapat menahan
serangannya, bahkan ia merasa dirugikan. Bukankah merupakan suatu kejanggalan?
Dengan tidak memperdulikan si Sastrawan Pan Pin, ia berkata lagi:
“Sastrawan miskin, kau minggir dulu.”
Kedua tangannya dengan cepat sudah melancarkan serangan saling susul, tiga kali ke arah Koo San Djie.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie ingin mencoba, sampai di mana kekuatan Wie-mo-ciang dari pulau Hay-sim yang sudah
terkenal di kalangan sungai telaga.
Iapun telah menggunakan pukulan Hian-oey-ciang, menahan tiga serangan beruntun dari si orang tua.
Tiga serangan yang cepat dan hebat ini telah berhasil memaksa Hu-hay Sin-kun menahan serangannya.
Biarpun mereka dengan cepat telah bergebrak dalam tiga jurus, tetapi masing-masing masih tetap berdiri di
tempat semula, tanpa bergerak sama sekali.
Hu-hay Sin-kun sudah siap akan menyerang lagi, tetapi sudah keburu ditahan oleh badan Pan Pin.
Dengan menunjukkan roman yang marah Pan Pin berkata:
“Hu-hay Sin-kun, apakah ini caranya penghuni pulau Hay-sim menerima tamu?”
Hu-hay Sin-kun menarik kembali serangan dengan menghela napas panjang ia berkata:
“Bukannya aku tidak kenal aturan. Hanya kawan kecil ini sungguh sangat mencurigakan hatiku. Bukan saja
pukulannya sama dengan musuh lamaku......”
Si Sastrawan Pan Pin sudah tertawa berkakakan dan berkata:
“Pukulan Hian-oey-ciang dari si orang tua Berbaju Ungu dan Wie-mo-ciang dari kau, pemilik pulau Hay-sim
disebut dua pukulan yang tertinggi dari dunia Kang-ouw. Sudah tentu tidak sembarangan orang dapat
menirunya. Pukulan Hian-oey-ciang yang dipelajari oleh kawan kecilku ini adalah suatu bukti dari cianpwe
Berbaju Ungu yang memberi pelajarannya. Apa kau masih belum mengenalnya?”
Hu-hay Sin-kun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sukar dikatakan, sukar dikatakan. Mari kita masuk ke dalam untuk memperbincangkannya,” ia mengajak
tetamunya.
Adat dari Hu-hay Sin-kun memang sudah terkenal aneh. Begitu ia berkata, hantam, ia sudah lantas turun
tangan. Begitu ia berkata berhenti juga sudah lantas berhenti. Kelakuannya dapat berubah sewaktu-waktu.”
Dengan sangat hormat, ia mempersilahkan kedua tamunya ini masuk ke dalam sebuah ruangan besar.
Baru ini kali Pan Pin dan Koo San Djie mendapat kesempatan untuk menyaksikan pemandangan dari pulau
Hay-sim yang indah permai, juga sangat menawan hati.
Biarpun pulau ini terletak di tengah laut, tetapi setelah diubah oleh Hu-hay Sin-kun, sudah dapat dibuat
menjadi suatu istana di tengah laut saja kelihatannya. Loteng yang bersusun juga menambah keindahan
tempat itu. Di mana-mana ditanami bermacam-macam pohon bunga beraneka warna yang jarang terlihat,
membuat siapa yang datang seperti memasuki pulau kahayangan saja.
Setelah beberapa orang tadi duduk di tempatnya masing-masing. baru Hu-hay Sin-kun menanyakan akan
maksud kedatangannya dari si Sastrawan Pan Pin.
Terdengar Pan Pin berkata:
“Sebenarnya, kami datang kemari bermaksud untuk menanyakan kepada Sin-kun, tentang keadaan yang
menyangkut dengan Lembah Merpati.”
Koo San Djie pun menceritakan, bagaimana ia perkenalannya dengan Hay-sim Kongcu, bagaimana
bersama-sama melawan orang dari Lembah Merpati, bagaimana ia salah tangan, melukainya dan kemudian
berpisah sampai di situ.
Setelah selesai menceritakan ini semua, tidak lupa ia menceritakan, bagaimana nasib yang telah menimpa
keluarga si kakek nelayan dengan berakhir terculiknya Ong Hoe Tjoe yang dicintai.
04.09. Kekhawatiran Hu-hay Sin-kun
Mendadak Hu-hay Sin-kun seperti mendapat pirasat yang tidak enak, sambil lompat dari tempatnya ia
berkata:
“Jika demikian, kini anakku tentu sedang ada dalam bahaya!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan segera ia memanggil dua orangnya, lalu mengisiki beberapa perkataan.
Dua orang tadi setelah manggut-manggut, menandakan telah mengerti, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Setelah Hu-hay Sin-kun menyelesaikan ini semua, baru ia berpaling kepada si Sastrawan Pan Pin dan
berkata:
“Anakku yang nakal itu, biarpun tidak mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, tapi di kalangan Kangouw
sudah jarang ada orang yang dapat mengalahkannya. Tadi mendengar penuturan dari kawan kecilmu
yang mengatakan bahwa ia telah salah melukainya, hatiku menjadi curiga, maka aku telah mencobanya,
tidak disangka, dengan umurnya yang masih demikian muda, dia telah mempunyai kepandaian yang sangat
tinggi.......”
Setelah berhenti sebentar, terdengar ia meneruskan pembicaraannya:
“Jika bukan saudara yang mengatakannya, ia telah menjadi ahli waris dari Cianpwe Berbaju Ungu, sudah
tentu menyangka kepada orang dari Lembah Merpati......”
Berkata sampai di sini, ia telah menghela napas panjang.
“Aku bersusah payah berusaha untuk mendapatkan nyali ikan mas dan usaha dari anakku dengan orang
Lembah Merpati juga mempunyai maksud yang tertentu......” orang tua itu berkata pula.
Lalu dengan menahan perasaannya ia menceritakan pengalaman sedih yang telah menimpa dirinya.
Demikian ceritanya:
Setelah ia menyelesaikan pelajarannya dan turun dari gunung es, dengan mengandalkan kepandaian yang
telah ia dapatkan dari gurunya, tenaga Siauw-sin-san dan pukulan Wie-mo-ciang, ia berkelana di kalangan
Kang-ouw. Dalam duapuluh tahun, belum pernah ia mendapat tandingan. Dan ilmu pukulan Wie-mo-ciang
pun telah menjadi terkenal karenanya.
Tidak disangka, di daerah Kang-lam, ia telah menemukan seorang pemuda sekolah yang berparas cakap,
berpakaian rapi yang mendapat julukan Phoa An Berhati Ular, yang mengatakan, ingin mencoba ilmu
pukulan Wie-mo-ciang yang tersohor.
Demikianlah mereka berjanji, di suatu tempat pekuburan yang sepi untuk mengadu kekuatan. Setelah
mengadu dua hari dua malam, berakhir dengan keadaan seri. Dan pukulan yang digunakan oleh si pemuda
sekolahan ialah pukulan Hian-oey-ciang yang bersifat keras.
Pada hari ketiga, dua orang itu telah menjadi panas, hampir saja mau mengadu jiwa, dengan tenaga dalam
untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Pada waktu inilah mendadak datang seorang wanita berparas
cantik yang memisahkan mereka berdua.
Yang heran setelah mendengar perkataannya wanita cantik itu, dengan tidak menanya dan memberi tahu
nama lagi, Si Phoa An berhati Ular menjura dan ngeloyor meninggalkan mereka.
Seperginya pemuda sekolah berparas cakap itu, wanita cantik yang mengaku bernama Sui Yun Nio sudah
menjadi demikian jinaknya, dengan Hu-hay Sin-kun berdua mengobrol ke barat dan ke timur.
Sejak jaman dahulu, orang-orang ternama selalu jatuh karena wanita. Demikian juga dengan Hu-hay Sinkun,
biarpun telah mempunyai istri, tidak urung masih jatuh juga dibawah kakinya Sui Yun Nio. Demikianlah,
Sui Yun Nio telah dibawa masuk ke dalam pulau Hay-sim.
Sui Yun Nio bukan saja berparas cantik, juga pandai dan bisa mengambil hatinya Hu-hay Sin-kun. Karena
Hu-hay Sin-kun sering pergi berjalan-jalan di dalam dunia Kang-ouw, demikian pula ibu dari Hay-sim
Kongcu, Sie Toa Nio, tidak mau memperdulikan segala urusan di pulaunya, maka urusan-urusan besar dan
kecil di atas pulau, lama kelamaan telah terjatuh ke dalam tangan Sui Yun Nio.
Hu-hay Sin-kun sedang tergila-gila kepada Sui Yun Nio, biarpun telah mengetahui semua kejadian ini,
masih dianggap beruntung karena telah mendapatkan seorang pembantu yang pandai.
Hu-hay Sin-kun bukan saja mempasrahkan semua urusan-urusan di atas pulau ke dalam tangannya,
sampai pun ilmu simpanannya, pukulan Wie-mo-ciang juga telah diturunkan kepadanya.
Sedari inilah, sifatnya Sui Yun Nio telah menjadi congkak dan sombong. Tidak lama kemudian, beberapa
muridnya pun telah dibawa masuk ke dalam pulau untuk membantunya mengurus segala urusan-urusan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang kepercayaannya Hu-hay Sin-kun satu persatu disingkirkannya. Pada waktu Hu-hay Sin-kun sedang
berpergian keluar, Lok-sui Cian-liong sedang membangun daerah di sebelah barat pulau.
Beberapa orang di atas pulau sudah merasa urusan akan menjadi kalut, maka telah beberapa kali memberi
kisikan kepada Lok-sui Cian-liong yang sedang repot membangun. Tapi Sui Yun Nio dapat bekerja dengan
sebat sebelum Lok-sui Cian-liong dapat berbuat apa-apa, Sui Yun Nio beserta begundalnya sudah
mendahuluinya turun tangan. Hanya dalam waktu semalam, orang-orang kepercayaan dari Hu-hay Sin-kun
telah habis terbunuh semua, begitu juga dengan sang istri, Sie Toa Nio.
Pada waktu itu, Hay-sim kongcu baru berumur tiga tahun dan beruntung dapat dibawa lari ke daerah
sebelah barat pulau.
Di waktu Lok-sui Cian-liong mengetahui, adanya pemberontakan, ia segera datang untak menolongi, tetapi
Sui Yun Nio beserta kawan-kawannya sudah lari, dengan menggondol segala barang-barang yang berharga
dari pulau Hay-sim.
Setelah Hu-hay Sin-kun mengalami perobahan besar ini, keadaannya sudah menjadi berobah. Ia berusaha
akan membunuh Sui Yun Nio, demi membalaskan dendam dari Sie Toa Nio. Tapi dalam tigapuluh tahun ini
ia tidak pernah mendapat kabar tentang jejaknya wanita yang berhati jahat itu.
Kepandaian simpanan dari pulau Hay-sim, ilmu pukulan Wie-mo-ciang tidak luput juga telah terjatuh ke
dalam tangannya Sui Yun Nio.
Salah satu kepandaian yang tersohor dari Lembah Merpati, yaitu ilmu pukulan im-yang-ho-hap-ciang adalah
pukulan Wie-mo-ciang yang digabung menjadi satu dengan pukulan Hian-oey-ciang. Dari bukti inilah, Huhay
Sin-kun dapat memastikan, yang menduduki Lembah Merpati tentu tidak lain adalah Sui Yun Nio.
Karena letak tempatnya dari Lembah Merpati masih dalam keadaan gelap, dan umpama betul ia dapat
menemukan lembah ini, dengan kepandaiannya yang hanya dimilikinya sekarang belum tentu dapat
mengambil suatu tindakan.
Ketua dari Lembah Merpati, tidak perduli laki atau wanita, yang sudah pasti ia berkepandaiannya telah
mendapat sari dari dua ilmu silat ternama.
Dengan kepandaian Hu-hay Sin-kun yang didapat dari gunung es, biarpun telah mencapai tarap yang
tertinggi, masih tidak dapat untuk menandinginya. Cara satu-satunya ialah dengan menambah tenaga
dalamnya. Maka ia telah berdaya untuk mendapatkan nyali ikan mas dari danau Pook-yang. Kini bayangan
dari nyali ikan mas telah menjadi buyar maka habislah keinginannya untuk dapat membalas dendam.
Setelah selesai Hu-hay Sin-kun menceritakan semua kisahnya, tidak henti-hentinya ia menghela napas
panjang.
Tapi, mendadak Koo San Djie berteriak dengan nada kaget:
“Kepandaian Hian-oey-ciang dari guruku, kecuali aku yang telah mempelajari, hanya diturunkan kepada
Lam Keng Liu seorang. Apa bisa jadi ia berada di Lembah Merpati?”
Hu-hay Sin-kun berkata:
“Dengan kepandaian yang telah kau miliki sekarang ini, biarpun sukar untuk mencari tandingannya dari
kalangan Kang-ouw, tapi untuk menandingi Im-yang-ho-hap-ciang yang telah mendapat sari dari dua ilmu
silat ternama, kukira masih menjadi suatu pertanyaan. Urusan ini harus dirundingkan dahulu dengan
perlahan-lahan.”
Biarpun mulut Koo San Djie tidak mengatakan apa-apa, tapi dalam hatinya berkata:
“Kau mana tahu? bahwa aku tidak dapat menandinginya? Masih banyak pelajaran dari kitab Im-hoe-keng
yang belum aku keluarkan.”
Hu-hay Sin-kun dan sastrawan Pan Pin mengetahui, apa yang dipikirkan oleh Koo San Djie.
Pan Pin tertawa dan berkata:
“Saudara kecil, aku mengetahui, kepandaianmu tidak dapat diukur, yang kami lihat baru sebagian saja.
Tapi, dalam peribahasa mengatakan „Bersatu teguh, bercerai runtuh”. Jika dengan kau sendiri saja,
memasuki Lembah Merpati yang masih belum jelas......”
Dengan menghela napas Koo San Djie menjawab:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku mengetahui kebaikan hatimu orang tua. Tapi menolong orang, bagaikan memadamkan api yang tidak
dapat ditunggu-tunggu.”
Bertiga mereka menjadi terdiam di tempat masing-masing.
Setelah sekian lama, baru Hu-hay Sin-kun berkata:
“Dari penyelidikanku dalam beberapa tahun, Lembah Merpati mungkin terletak di daerah......”
Baru berkata sampai di sini, mendadak orang kepercayaannya datang memasuki ruangan dan berbisik-bisik
di kupingnya.
Hu-hay Sin-kun mengibaskan tangannya dan berkata:
“Silahkan mereka masuk.”
Seperginya orang tadi, Hu-hay Sin-kun sudah akan melanjutkan perkataannya yang belum habis itu, tetapi
tiba-tiba masuk pula seorang, dengan menunjukan rasa ketakutannya, sudah lari menghampiri sang
majikan. Dengan napas yang masih sengal-sengal, ia telah memberi laporan.
Mukanya Hu-hay Sin-kun sudah menjadi berobah, ia segera berdiri dan berkata kepada Lok-sui Cian-liong:
“Anak Lui dalam keadaan bahaya, harap kau dapat segera melepas burung memberitahukan kepada
beberapa daerah.”
Lok-sui Cian-liong tidak menunggu sampai habisnya perkataan ini, badannya sudah terbang keluar, untuk
menjalankan tugasnya.
Hu-hay Sin-kun hanya mempunyai seorang anak, itulah Hay-sim Kongcu, tidak heran kalau mendengar
kabar yang mengatakan anaknya dalam keadaan bahaya, bukan main rasa kuatirnya. Kedua tangannya
diremas-remas, mundar-mandir beberapa kali di dalam ruangan tadi. Mendadak ia berhenti di hadapan si
Sastrawan Pan Pin dan berkata:
“Telah beberapa puluh tahun aku menyepi di pulau Hay-sim yang sepi ini, tidak pernah aku menanam bibit
permusuhan. Tidak disangka, masih ada orang yang berani mengganggu anakku. Tidak lain, kecuali
perbuatan orang Lembah Merpati, siapa yang berani mencari urusan dengan aku?”
“Entah di mana dia mendapat bahaya?” Sastrawan Pan Pin berkata.
“Orang bawahanku mengatakan,” jawab Hu-hay Sin-kun, “di daerah pegunungan perbatasan An-hui dan
Cek-kiang, telah dua kali mereka menemukan tanda bahaya dari anakku. Arahnya ialah Barat daya, dan
setelah sampai di daerah Hu-lam hilanglah jejak-jejak ini. Menurut pendapatku, tentu perbuatan dari orang
Lembah Merpati. Dalam beberapa tahun, penyelidikanku pun telah curiga, bahwa letak dari Lembah Merpati
berada di daerah Barat daya.
Sedang bernapsunya ia berkata, dari luar terdengar suara teriakan yang dibarengi masuknya dua orang:
“Sin-kun tentu tidak menyangka akan kedatangannya aku, tamu yang tidak diundang ini......? Ouw, si
Sastrawan miskinpun berada di sini......?”
Yang datang ialah Thian-mo Lo-lo dan Tju Thing Thing.
Dengan cepat Hu-hay Sin-kun memberi hormat dan menyilahkan mereka duduk.
“Lo-lo telah mencapaikan diri datang kemari, tentu akan memberi suatu petunjuk yang berharga,” ia berkata.
Matanya Thian-mo Lo-lo dengan galak menyapu Koo San Djie sebentar, sampai ia lupa mendengar
pertanyaannya Hu-hay Sin-kun.
Dalam hatinya Sastrawan Pan Pin tertawa dan berkata:
“Tentu dia masih mencurigai hubungannya Koo San Djie dengan Lam Keng Liu.”
Maka, ia telah berdiri untuk mengenalkan saudara kecilnya ini dengan Thian-mo Lo-lo dan Tju Thing Thing.
Terdengar ia berkata:
“Saudara kecil ini adalah murid terakhir dari cianpwee Berbaju Ungu bernama Koo San Djie. Ia telah dapat
mewariskan semua kepandaian dari......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Thian-mo Lo-lo hanya memanggutkan kepalanya sedikit, ia tidak mau melihat kepadanya. Hatinya sangat
membenci Lam Keng Liu, sampai semua dari golongan ini turut dibencinya juga.
Tapi Tju Thing Thing bebas berdiri, dia memberi hormatnya, sambil tertawa ia berkata:
“Kami orang telah lama mengenalnya.”
Koo San Djie mempunyai adat yang sedikit sombong, ia tidak suka kepada Thian-mo Lo-lo yang tidak ada
sebab-sebabnya telah membenci kepadanya. Perasaan tidak suka ini telah terlihat dalam tingkah lakunya.
Dengan membuang muka ia telah balik ke tempat duduk dan tidak mengatakan suatu perkataan pula. Biar
bagaimanapun ia masih seorang anak-anak yang tidak dapat menyembunyikan segala perasaannya.
Justru hal ini telah membuat si Sastrawan Pan Pin berdiri, entah bagaimana ia harus menyelesaikan urusan
itu. Untuk menyembunyikan rasa kurang enak yang terbenam di dalam hati.
Hu-hay Sin-kun sedang menguatirkan keselamatan anaknya, mana dapat memperhatikan semua ini? Dia
segera mengulangi pertanyaannya:
“Lo-lo bukannya bersenang-senang di tempat Thian-mo, dari jauh-jauh telah datang ke tempat yang sepi ,
entah mempunyai maksud apa?”
Thian-mo Lo-lo menjawab:
“Kepandaian simpanan dari pulau Hay-sim, ilmu pukulan wie-mo-ciang, kecuali Sin-kun seorang adakah
telah diturunkan kepada orang lain?”
Hu-hay Sin-kun mengeluarkan elahan napas panjang, kemudian berkata:
“Tidak disangka, karena kebodohan pada suatu waktu, maka mengakibatkan jatuhnya nama perguruan.
Yang Lo-lo artikan, apakah si budak hina dari Lembah Merpati?”
Kemudian di hadapan Thian-mo Lo-lo, dia ceritakan kembali riwayatnya yang tadi ia telah ceritakan. Pada
akhir penuturannya, dengan penuh kebencian ia berkata:
“Sebetulnya, aku sedang berusaha, tapi tidak disangka, urusan datang terlalu cepat. Terpaksa aku harus
melayani juga. Pada hari ini, aku akan terjun kembali ke kalangan Kang-ouw, untuk mencari anakku.”
Thian-mo Lo-lo setelah selesai mendengarkan penuturannya Hu-hay Sin-kun, hatinya menjadi sedemikian
panas. Dengan membanting-bantingkan kaki, ia berkata:
“Sedari dulu aku sudah curiga, ketua dari Lembah Merpati mesti ada dua. Yang satu perempuan, yalah Sui
Yun Nio dan yang satu lagi laki sudah tentu si...... bajingan.”
Thian-mo Lo-lo yang berangasan, selalu berkata dengan suara yang nyaring. Tapi sewaktu mengatakan
“bajingan”, suara ini sudah menjadi sangat perlahan, entah kenapa?
Thian-mo Lo-lo sudah menaruh dendam kepada Sui Yun Nio. Biarpun ia sangat membenci kepada si “Phoa
An berhati ular” Lam Keng Liu yang tidak berbudi, tapi sudah menjadi satu sifat wanita, yang selalu
memenangkan kekasih, dan menumpahkan semua kemarahannya kepada sang satru. Tidak terkecuali juga
dengan Thian-mo Lo-lo ini.
Sedari tadi, Sastrawan Pan Pin tidak ada kesempatan untuk berbicara, sampai di sini baru membuka mulut:
“Urusan telah menjadi demikian mendesak, kita orang harus segera bertindak, berpisah menguber jejak
mereka. Yang pertama, harus mencari Hay-sim Kongcu, dan kemudian menolong Ong Hoe Tjoe. Setelah
selesai ini, baru kita sama-sama memasuki Lembah Merpati untuk membikin perhitungan.”
Hu-hay Sin-kun ragu-ragu sebentar kemudian berkata juga:
“Menurut pendapatku, kita harus dipecah menjadi tiga rombongan. Aku beserta Lok-sui Cian-liong sutee
satu rombongan, Lo-lo dan Sastrawan Miskin satu rombongan, dari kedua sisi maju ke depan dan
menempatkan kedua kawan kecil kita di tengah rombongan, agar sewaktu-waktu dapat memberi
pertolongan kepada mereka. Bagaimana pendapat kalian?”
Dia menempatkan Tju Thing Thing dan Koo San Djie pada rombongan ketiga.
Sastrawan Pan Pin sudah lantas menyetujui usul ini:
“Karena urusan sudah mendesak, mari segera berangkat!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun Thian-mo Lo-lo tidak setuju, karena Tju Thing Thing ditaruh menjadi satu dengan Khoo San Djie,
tapi orang bermaksud baik, dengan menempatkan mereka berdua di tengah agar sewaktu-waktu dapat
memberi pertolongan yang dibutuhkan, maka dengan tidak mengatakan apa-apa lagi, ia menyetujuinya.
Demikianlah, mereka meninggalkan pulau menuju ke daerah Barat-daya.
05.10. Pertarungan Dua Tokoh Tua
Koo San Djie beserta Tju Thing Thing, telah meninggalkan pulau Hay-sim, dengan menggunakan ilmu
mengentengi tubuh mereka yang bisa lari pesat. Ini karena menguatirkan keselamatannya Ong Hoe Tjoe,
maka sebentar saja, sudah lewat lebih dari seratus lie. Hanya kasihan Tju Thing Thing telah mandi keringat,
dengan napas yang sengal-sengal, ia berteriak-teriak:
“Dapatkah kau menahan sedikit langkahmu? Apa kau mau membuat orang mati lelah?”
Koo San Djie sudah menahan langkahnya. Dilihatnya Tju Thing Thing sedang mengurut-urut dada, berhenti
dengan napas senen-kemis. Selebar mukanya telah menjadi merah, bagaikan warna apel yang matang.
Keringat ketel-ketel turun dari atas jidat gadis itu.
Koo San Djie baru engah akan kecepatan kakinya. Ia lupa kawan di sebelahnya ini adalah seorang wanita,
dan lagi kepandaiannya tidak setinggi dirinya. Tentu saja orang tidak tahan seperti ia yang lagi dengan tidak
mengenal lelah. Maka dengan sangat menyesal ia berkata:
“Karena ingin cepat-cepat menolong enci Ong Hoe Tjoe, aku menyesal, telah lari begitu cepat sehingga
menyebabkan Ciecie menjadi demikian lelah, harap kau jangan marah......”
Dengan cepat ia sudah mengeluarkan sapu tangan dan maju untuk membantu mengelap keringat
kawannya.
Tapi saputangan ini belum sampai di atas jidat Tju Thing Thing, bau asam lelaki telah menyerang
hidungnya. Maka dengan ketakutan si nona sudah membuang muka.
“Bau asam, aku tidak mau. Kau gunakan sendiri saja,” katanya ketawa.
Sambil mengeringkan keringat dengan tertawa sang nona berkata lagi:
“Ong Hoe Tjoe mu itu dari golong mana? Cantikkah dia itu?”
Koo San Djie tidak bermaksud jelek, ia hanya ingin membantu mengelap keringatnya.
Sebentar ia mencium saputangan sendiri, dalam hatinya berkata:
“Sapu tangan tidak bau dikatakan bau asam?”
Ia mana tahu, perasaan wanita lebih tajam dari padanya. Tju Thing Thing yang sudah menjadi dewasa,
mana mau mengijinkan sembarang lelaki membentur badannya.
Biarpun di muka ia mengatakan tidak suka, dalam hatinya merasa puas juga dengan tindakan pemuda itu.
Lelah dan letih baginya tidak menjadi soal, yang sangat ingin diketahuinya adalah asal usulnya Ong Hoe
Tjoe dan hubungannya dengan anak muda.
Koo San Djie mendengar ia menanyakan pada Ong Hoe Tjoe, maka, wajah si gadis nelayan terbayangbayang
kembali. Bulu matanya yang lentik panjang, sepasang mata bola yang memancarkan sinar
kepintaran, rambut hitam yang dikepang menjadi dua...... dan tidak lupa, tingkah lakunya sangat
memperhatikannya dalam segala soal...... Semua itu telah terbayang di matanya Koo San Djie.
Hanya waktu yang pendek inilah ia menikmati kesenangan rumah tangga, suatu waktu yang bahagia, waktu
yang sukar dilupakan......
Kesenangan ini telah dibikin buyar oleh datangnya tangan yang jahat. Lebih kejam dari sesuatu, lebih sedih
dari rumah tangganya sendiri dirusak.
Lama kelamaan, hatinya yang panas bergolak, api kebencian telah membakar tubuh Koo San Djie, dan
mengepal-ngepal tangannya, penuh kegusaran, sehingga ia lupa menjawab pertanyaannya nona Tju.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tju Thing Thing melihat begitu, ia hanya menanyakan soal kehilangan Ong Hoe Tjoe maka Koo San Djie
lantas seperti yang kehilangan semangat, hatinya tidak senang. Entah bagaimana, hatinya merasa cemburu
dan jelus.
“Hai, apa kau tidur? Mengapa tidak menjawab pertanyaanku?” akhirnya ia menegur.
Bagaikan baru bangun tidur, Koo San Djie menghela napas dan menjawab:
“Ia hanya seorang anak nelayan yang tidak mempunyai kepandaian. Tapi keluarganya sangat baik
kepadaku. Mereka sangat manis budi, mengenal aturan...... Ini kali, akulah yang telah merembet-rembet
mereka, sehingga.......”
Mendengar Ong Hoe Tjoe hanya seorang anak nelayan yang tidak berkepandaian, hati Tju Thing Thing
merasa senang. Mengapa hatinya menjadi demikian? Ia sendiripun tidak dapat menjawabnya. Dalam
hatinya ia memikir:
“Jika demikian, mungkin nelayan yang baik hati terbawa-bawa oleh urusannya, sehingga mengalami nasib
jelek, menyebabkan ia tidak enak hati dan terburu-buru hendak menolong nona itu.”
Maka, dengan setengah menghibur dia berkata:
“Kau jangan sibuk sendiri. Ong Hoe Tjoe yang baik tentu tidak akan mengalami kejadian apa-apa. Hanya
biar bagaimanapun, kita akan berusaha untuk menolongnya.”
Bagaikan orang yang belum pulih ingatan, Koo San Djie memanggut-manggutkan kepalanya . Tapi
mendadak dengan kaget ia berkata:
“Hei, coba dengarkan, di sana ada orang bertarung?”
Tju Thing Thing mendengarkan dengan teliti, tapi apapun tidak terdengar olehnya, lalu bertanya:
“Di mana? Mengapa aku tidak dapat dengar?”
Koo San Djie menggandeng lengannya Tju Thing Thing, katanya:
“Mari kita melihat!”
Mendadak, badannya lompat melesat tinggi pergi ke arah tebing sebuah gunung yang agak menurun
curam.
Tju Thing Thing merasa seperti dibawa terbang ke awan-awan, ia mengikutinya dengan kaki tidak
membentur tanah. Hatinya menjadi kaget dan gembira. Ia kaget, melihat umur kawan itu yang demikian
muda, ia kaget atas kepandaian yang begitu tinggi, sampaipun gurunya sendiri, Thian-mo Lo-lo juga tidak
nempil. Ia gembira, karena telah mendapatkan kawan muda yang berkepandaian sangat tinggi dan
parasnya tampan menawan hati.
Hanya dalam sekejapan saja, berdua sudah mencapai ke atas tebing gunung yang tinggi. Tju Thing Thing
tertawa berseri-seri, baru dia mau mengatakan perkataan memuji, tapi keburu distop oleh Koo San Djie,
dengan menggoyang-goyangkan kedua tangannya, sembari menunjuk ke sebelah bawah mereka, ia
berkata dengan perlahan:
“Di bawah tebing, ada dua orang berkepandaian tinggi sedang mengadu kekuatan. Jangan sampai kita
mengganggu mereka.”
Tju Thing Thing menujukan pandangan matanya ke arah bawah, dan betul, dilihatnya seorang tua berbaju
kuning berkepala botak sedang mengadu kekuatan dengan seorang hweshio beralis panjang. Tapi
pandangannya tak setajam Koo San Djie, maka dengan menggerendeng ia minta datang ke tempat yang
lebih dekat lagi.
Koo San Djie tidak membantah, maka dengan hati-hati mereka sudah turun mendekati, lalu duduk di
sebuah batu besar, dengan tidak menimbulkan suara, menonton pertempuran tadi.
Tidak lama kemudian, Koo San Djie sudah menjadi begitu tertarik oleh kepandaian yang istimewa dari
kedua orang tadi. Inilah untuk pertama kalinya, ia melihat orang yang mempunyai kepandaian tinggi
mengukur tenaga. Dengan tidak terasa, perlahan-lahan ia menggunakan tangannya, mengikuti jalannya
pertarungan. Ia telah memusatkan pikirannya untuk memecahkan serangan-serangan dari kedua orang tadi.
sebentar saja ia merasa dirinya seperti sudah turun ke dalam medan pertarungan, ia mendapat serangan
dunia-kangouw.blogspot.com
dari dua orang dalam beberapa jurusan. Ia coba mengeluarkan semua kepandaian yang belum habis
dipelajari di dalam lembah gurunya.
Ia menjadi demikian tegang. Sebentar saja ia telah menjadi kelabakan. Kepalanya mengeluarkan asap putih
yang halus, mengurung seluruh tubuhnya. Dengan cepat ia mengeluarkan pelajaran-pelajaran yang tertulis
dalam kitab Im-hoe-keng, baru ia dapat mengimbangi keadaan. Inilah karena untuk pertama kalinya, ia
menemui orang yang berkepandaian tinggi.
Setelah satu jam kemudian, barulah hatinya menjadi tenang, kedua matanya tidak hentinya berganti-ganti
mengikuti gerakan-gerakan dua orang yang sedang bertempur itu. Badannya bagaikan patung terpaku di
sana, hanya kedua tangannya yang mengikuti gerak gerik dari kedua orang itu.
Tju Thing Thing yang duduk di sebelahnya, sebentar melihat ke bawah tebing, sebentar pula melihat ke
arahnya. Ia tidak mengerti, melihat Koo San Djie yang tidak bicara dan tidak bergeming. Tapi biar
bagaimanapun ia adalah murid dari Thian-mo Lo-lo yang tersohor, melihat muka si pemuda yang
bersungguh-sungguh, ia tidak berani sembarangan mengganggu.
Maka, dengan segera ia memusatkan pandangan ke arah bawah tebing. Ia telah merasakan kepandaiannya
si kepala botak atau pun si alis panjang, semua berada di atas dari kepandaian gurunya. Umpama kata, ia
yang turun ke gelanggang pertempuran, biarpun lawan tidak menggunakan tenaga dalamnya yang kuat, ia
juga tidak dapat menahan sampai duapuluh jurus. Ia melihat sembari memikir, dengan tidak terasa ia telah
menambah pengalamannya.
Tju Thing Thing mana mengetahui, dalam waktu yang sependek inilah Koo San Djie telah menerima ujian
yang maha berat, ia seperti sedang terkurung oleh serangan-serangan dari dua orang yang berkepandaian
tinggi.
Biarpun Koo San Djie menganggap dalam perumpamaan, tapi tidak beda dengan keadaan yang
sebenarnya.
Sang waktu dengan cepat telah lewat, satu jam, dua jam......
Satu hari, dua hari......
Sehingga sampai hari ketiga, di bawah tebing batu terdengar bentakannya dari si orang tua berbaju kuning
berkepala botak, dan kemudian berhenti menyerang. Dua orang terduduk di tempatnya masing-masing.
Koo San Djie juga mengeluarkan elahan napas lega dengan susah payah, barulah ia dapat menahannya. Ia
mengira dua orang itu sudah bersedia mengadu tenaga dalam, maka ia sudah siap turun tangan untuk
mendamaikannya.
Tapi mendadak si orang tua berbaju kuning berkepala botak berteriak nyaring, dengan termiring-miring ia
telah mengeluarkan sebuah pukulan. Jika dilihat dalam sekelebatan, pukulan ini tidak mempunyai arti apaapa,
tapi setelah mengangkat tangan untuk menangkisnya, baru terasa perobahan-perobahannya yang
sukar ditangkis. Jika sembarangan menangkis, mungkin bisa menjadi terluka.
Mendadak Koo San Djie telah mendapat cara untuk menangkisnya, dan sewaktu ia melihat si hweeshio
beralis panjang yang juga telah mendapatkan cara untuk menangkisnya, mengangkat sebelah tangannya
membuat sebuah lingkaran dan goresan, dengan perlahan-lahan didorongnya ke depan. Jurus ini sama
dengan jurus yang Koo San Djie telah temukan.
Dua orang di bawah tebing belum berhenti, sejurus demi sejurus, segebrak demi segebrak, bertarung
semakin ramai dan semakin aneh. Waktu yang diperlukan untuk memecahkan serangan, semakin lama
juga semakin panjang. Tapi yang mempunyai otak lebih encer, setelah dapat membuka sebuah jalan, jurusjurus
yang selanjutnya dalam waktu yang singkat saja sudah dapat dipecahkan semua, bahkan masih ada
waktu untuk balas menyerang sang lawan.
Pertarungan kepintaran dan kepandaian ini, setelah berjalan setengah harian, mendadak si hweeshio alis
panjang berhenti menyerang dan berkata kepada lawannya:
“Saudara Tiauw, sampai di sini sajalah pertarungan kita ini. Seterusnya untuk menentukan siapa yang
menang, marilah kita mengadu pandangan mata di atas badannya anak itu,” tangannya menuujuk ke arah
Koo San Djie.
Orang tua botak itu menengok ke atas, memandang Koo San Djie sebentar lalu menanya:
“Dengan cara yang bagaimana?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Hweeshio alis panjang menggapaikan tangannya ke jurusan tebing dan berkata:
“Dua saudara kecil, mari turun ke bawah.”
Koo San Djie dan Tju Thing Thing berpandangan sebentar, lalu kedua-duanya telah loncat turun ke bawah.
Yang pertama loncat ialah Tju Thing Thing, dengan menutulkan sedikit ujung kakinya, bagaikan burung saja
ia sudah terbang ke bawah. Turunnya bersikap duduk, kedua tangannya siap menekan ke tanah, badannya
sudah meluncur dengan cepat. Disusul oleh Koo San Djie, setelah merendeng Tju Thing Thing, dia
melempangkan badannya, mereka kedua sama-sama menginjak tanah.
Hweeshio alis panjang menunjuk ke arah Koo San Djie dan berkata kepada si orang tua botak:
“Kita berdua, sama-sama tidak mengetahui, dari mana asal perguruannya saudara kecil ini. Bagaimana jika
kita mengadu pandangan mata, menebak tinggi rendahnya kepandaian dari saudara ini.”
Orang botak itu tertawa berkakak.
“Bagus...... bagus....... Suatu cara yang baru......” jawabnya.
“Silahkan saudara Tiauw menebak terlebih dahulu,” kata hweeshio alis panjang.
Orang tua botak setelah mengawasi Koo San Djie beberapa lama, lalu berkata:
“Anak ini mempunyai bakat tulang yang bagus, dasar tenaga yang dalam yang kuat. Kepandaiannya di atas
dari anak-anak muda lainnya di kalangan Kang-ouw. Duapuluh tahun lagi kita pun bukan tandingannya
pula.”
Setelah menghela napas, hweeshio alis panjang berkata:
“Omitohud. Jangan kata duapuluh tahun, sekarangpun, di antara kita berdua, jangan harap dapat melawan
sampai seratus jurus.”
Orang tua botak dengan tertawa sombong berkata:
“Kau jangan mengangkatnya terlalu tinggi, aku Tiauw tua, jika dalam seratus jurus jatuh di bawah
tangannya, dengan rela, aku jadi budak pengiringnya untuk melayaninya seumur hidup. Tapi jika dia kalah?
Kau akan berbuat bagaimana?”
Hweeshio alis panjang tertawa, sambil menepok-nepok kepalanya ia berkata:
“Kepalaku ini akan kuserahkan kepadamu.”
Mendengar pertaruhan itu, hati Koo San Djie menjadi tergetar. Maka, dengan cepat maju ke muka dan
berkata:
“Boanpwe tidak sanggup menerima pertaruhan ini, harap kedua Cianpwee mencari pertaruhan yang lain
saja.”
Hweeshio alis panjang menggoyang-goyangkan tangannya.
“Legakan hatimu, jika terjadi sesuatu, aku tidak akan menyalahkan padamu,” katanya penuh kepercayaan.
Orang tua botak mengerutkan keningnya.
“Aku Tiauw Tua, sebelumnya telah berkata, tidak mau aku menguntungi diri sendiri. Ini kau sendiri yang
terlalu percaya kepada pandangan matamu. Tapi legakanlah hatimu, jika beruntung aku yang menang,
cukup orang Kang-ouw mengetahui bahwa pandanganku Tiauw Tua lebih tinggi dari pandanganmu
sedikit...... ha......ha.”
Tingkah lakunya ini seperti telah memastikan bahwa kemenangan sudah berada di pihaknya.
Hweeshio alis panjang yang sudah percaya kepada dirinya, hanya tertawa dengan tenang.
“Silahkan mulai!” katanya.
05.11. Termakan Kesombongan Hati
Lalu ia menghadap ke arahnya Koo San Djie dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau lawanlah dengan tenang, semua akibat akan ku tanggung.”
Koo San Djie terpaksa, sambil menjura ia berkata:
“Boanpwe terima perintah.”
Ia cukup mengetahui adat dari orang-orang yang berkepandaian tinggi. Mereka selalu tidak mau menyerang
terlebih dahulu. Maka setelah memberi hormatnya, ia mengangkat sebelah tangannya dan mengeluarkan
sebuah pukulan ke depan.
Si orang tua kepala botak telah terkenal lama di kalangan Kang-ouw, kepandaiannya lebih tinggi setengah
tingkat dari pada Thian-mo Lo-lo dan si Sastrawan Pan Pin, adatnya tidak kalah berangasannya dari pada
Thian-mo Lo-lo. Sedari ia terjun di kalangan kang-ouw, kecuali si Hweeshio alis panjang ini yang masih
dapat menandinginya, yang lain tidak ada yang dipandangnya dengan sebelah mata. Sebetulnya, si
Hweeshio alis panjang tidak mempunyai niatan untuk mengadu kekuatan dengannya, tapi setelah
didesaknya sampai beberapa kali, maka terjadi pertarungan yang seru ini.
Demikianlah, Tiauw Tua yang melihat Koo San Djie telah mulai menyerang, tentu menjadi kaget juga,
melihat serangan si pemuda ternyata istimewa. Meskipun yang berada di hadapannya adalah seorang anak
yang masih belasan tahun usianya, tapi setelah ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, tidak berani
memandang enteng lagi. Ia lompat kekiri mengelakkan serangan, dan mulai balas menyerang.
Kepandaiannya telah diyakinkan selama puluhan tahun, ia lebih banyak pengalaman bertempur. Ilmu
pukulannya Tiauw-liong-ciang dapat menghancurkan batu gunung. Setiap kali ia menyerang, tentu
mengandung tenaga yang dahsyat. Dalam beberapa gebrakan saja, di sekitar tempat mereka bergerak
terlihat bayangan-bayangan telapak tangannya.
Pertama kali Koo San Djie menemui lawan tangguh, dengan menggunakan pukulan Hian-oey-ciang, sejurus
demi sejurus, ia melawan dengan hati-hati. Telah tiga hari ia menonton pertarungan dari atas tebing yang
telah menambah banyak pengalamannya, maka ia dapat bertarung dengan leluasa. Semakin lama,
gerakannyapun telah menjadi semakin lancar, hingga ia dapat melawan si orang tua kepala botak Tiauw
Tua yang telah malang melintang di kalangan Kang-ouw puluhan tahun lamanya.
Gerakan-gerakan badan dari mereka sama cepatnya, serang menyerang dilakukan dengan saling susul.
Sebentar saja, pertandingan sudah lebih dari sembilanpuluh jurus. Biarpun Tiauw Tua tidak menyangka
kepandaian dari anak yang masih bocah ini sedemikian tangguhnya, tapi ia masih dapat menenangkan diri,
ia percaya, dengan kepandaiannya, tentu dapat menahan sepuluh jurus lagi, walau dengan serangan yang
bagaimana hebatpun juga.
Tju Thing Thing yang berdiri menonton pertandingan sudah menjadi gelisah bukan main. Seperti juga ia
ingin membikin sadar kepada Koo San Djie, mulutnya dengan tidak terasa telah nyeletuk:
“Sembilanpuluh empat, sembilanpuluh lima, sembilanpuluh enam......”
Koo San Djie baru tersadar dari tidurnya.
Dalam hatinya berkata:
“Cilaka, karena keenakan bertarung, sampai lupa akan menghitung jurus. Kini hanya tinggal empat jurus
lagi......”
Hatinya sudah menjadi agak bingung. Ia lalu mengeluarkan beberapa jurus terakhir dari ilmu yang tertulis
dalam kitab Im-hoe-keng. Dari samping, dia mengeluarkan jurus tipu yang bernama Langit dan Bumi
Pandang Memandang.
Tiauw Tua yang melihat ini, tentu saja menjadi terbelalak kaget dan mundur beberapa tindak, ia belum
pernah melihat kepandaian yang seperti itu. Belum juga ia hilang kagetnya, tiba-tiba jurus yang kedua
dengan gaya pukulan Hujan dan Angin Menderu-deru, telah datang......
Bagaikan angin topan mengamuk dan gunung meletus, batu-batu pun terbang, mengelilinginya turun untuk
menggencet.......
Tanpa diberi kesempatan untuk berpikir, jurus ketiga telah datang mengarah embun-embun Tiauw Tua.
Tigabelas jurus dari pelajaran kitab Im-hoe-keng yang terakhir diciptakan menurut arah jalan darah
manusia. Jurus pertama begitu keluar, jurus kedua, ketiga....... sudah saling sambung menyambung.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sampai orang yang menggunakan ilmu pukulan yang ampuh itu sukar untuk menahannya. Koo San Djie
tidak tahu akan kelihaian ilmu itu.
Sewaktu jurus kedua dilancarkan, Tiauw Tua sudah sampai di ujung maut. Sampai di sini Koo San Djie
sudah ingin menahan serangannya, tapi bagaikan gendewa yang sudah ditarik penuh, jurus ketiga sudah
tidak dapat, ditahan lagi......
Tiauw Tua sudah memejamkan mata, menunggu akan ajalnya. Tapi dalam keadaan genting itu mendadak
terdengar teriakan yang memekakkan telinga, hweeshio alis panjang sudah lompat terbang ke sebelahnya
Tiauw Tua, dengan cara bersama-sama, mereka berdua menahan serangan yang maha dahsyat dari jago
kita. Dengan cara demikian nyawa Tiauw Tua tidak sampai melayang ke akherat.
Koo San Djie tergetar ke samping, dengan enteng turun menginjak tanah. Sangat beruntung, mereka
bertiga tidak mengalami celaka apa-apa. Tapi Koo San Djie sudah mengeluarkan keringat dingin. Dalam
hatinya berkata:
“Pantas guruku mengatakan, jangan sembarang menggunakan kepandaian ini, tidak disangka ia
mempunyai kekuatan yang demikian hebat!”
Setelah sekian lama, baru Tiauw Tua dapat mengembalikan semangatnya, dengan tidak terasa telah
mengelah napas. Si orang tua yang tadi begitu sombong dan mempunyai penuh kepercayaan atas dirinya
sendiri, telah menjadi demikian lesunya.
Koo San Djie sudah merasa tidak enak hati. Ia lalu maju untuk meminta maaf. Dengan penuh rasa
menyesal ia berkata:
“Locianpwe harap jangan gusar, boanpwee sudah tidak keburu untuk menarik kembali serangan tadi.”
Tiauw Tua menggoyang-goyangkan kepalanya, dengan tertawa pahit ia berkata:
“Kau jangan merendah, jika kau tidak mengenal kasihan, mana aku masih mempunyai nyawa lagi
sekarang? Dengan terus terang kukatakan kepadamu, bahwa aku kalah dengan sejujurnya. Sebelumnya
aku telah mengatakan, jika aku kalah, dengan rela akan menjadi pengiringmu. Silahkan kau memberi
perintah, tidak perlu sungkan-sungkan lagi.”
Koo San Djie terkejut:
“Locianpwe, jangan berkata demikian aku tidak dapat menerimanya.”
“Kongcu jangan sungkan. Aku mana boleh menarik perkataanku. Kalau kau menolak berarti kau tidak
memandang padaku.”
Koo San Djie tidak berdaya terhadapnya, dengan terpaksa ia berkata:
“Bagaimana sajalah, aku membahasakan kau toako, dan kau memanggil adik padaku.
Tiauw Tua masih menggeleng-gelengkan kepalanya.
T’ju Thing Thing yang melihat dua orang membawa kemauannya sendiri-sendiri dan tidak ada habishabisnya,
sudah menyelak berkata kepada Tiauw Tua:
“Kau memaksa adik San menjadi majikanmu, maukah kau mendengar perintahnya?”
“Sudah tentu aku akan menurut segala perintahnya,” Tiauw Tua menjawab dengan sungguh-sungguh. “Aku
tidak akan menarik kembali perkataanku.”
Tju Thing Thing tertawa cekikikan, katanya:
“Ia menyuruhmu membahasakan saudara kecil, mengapa kau tidak menurut?”
Baru sekarang Tiauw Tua tidak berdaya dengan terpaksa ia memanggut-manggutkan kepalanya.
Hweeshio beralis panjang, setelah menunggu sampai urusan mereka ini selesai, baru maju ke muka,
dengan merangkapkan kedua tangannya ia berkata kepada Koo San Djie.
“Kongcu yang sangat mengerti aturan ini, dengan hati yang berbudi mempunyai hari depan yang gilang
gemilang. Aku mempunyai beberapa perkataan, yang mungkin kurang enak untuk didengar, bersediakah
kongcu mendengarnya?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan membongkokkan badannya, Koo San Djie berkata:
“Boanpwe yang rendah bersedia mendengarnya.”
Hweeshio beralis panjang bersabda:
“Omitohud. Sukar untuk menemui orang yang mempunyai pandangan luas saperti kongcu ini...... Kongcu
mempunyai bayangan rontok kembang yang mengandung banyak tali asmara, tapi alis yang berdiri tinggi,
mengandung banyak pembunuhan. Semoga, dengan budi luhur yang tersimpan di dalam hati, harap kongcu
dapat mengatasi ini semua...... Pada saat ini, hawa marah telah mengurung seluruh kepalamu, tapi di atas
jidat, terbayang bintang yang mungkin mengandung marah bahaya. Harap kongcu dapat mengerjakan
sesuatu dengan hati-hati. Biarpun demikian, urusan dapat berjalan dengan lancar, djika tiba pada saatnya,
penolong akan datang tanpa diundang......”
Setelah mengatakan ini semua, hweeshio alis panjang itu sudah membalikkan badannya dan melesat pergi
dari situ. Dari kejauhan, hanya terlihat jubahnya yang berkibaran.
Tapi Tiauw Tua tertawa berkakakan.
“Ha, ha,...... hweeshio tua,” ia berkata, “Obrolanmu ini hanya dapat membohongi orang yang bodoh. Aku
Tiauw Tua tidak percaya sama sekali. Jangan dikata, saudara kecil ini yang mempunyai kepandaian
istimewa, biarpun aku Tiauw Tua, dengan mengandalkan kepandaian seupil inipun tidak pernah mengalami
bahaya suatu apapun......”
Koo San Djie setengah percaya dan setengah tidak, dia telah menyelak:
“Ia memberi pesan untuk kebaikanku. Tidak perduli benar tidaknya, tidak ada salahnya untuk kita berhatihati
menjaga diri.”
Melihat Koo San Djie mengatakan demikian juga, Tiauw Tua tidak membantah lagi, hanya menanyakan
tentang soal selanjutnya.
Sampai di sini, baru Koo San Djie ingat akan urusannya Hay-sim Kongcu. Mulutnya terdengar beberapa kali
berteriak:
“Cilaka! Aku di sini telah tertunda tiga hari. Urusan akan menjadi terlantar oleh karenanya.”
Kemudian, diceritakan kejadian tentang Ong Hoe Tjoe dan Hay-sim Kongcu, tentu saja serba singkat.
Tiauw Tua belum bisa meninggalkan adatnya yang cepat naik darah, dia sudah menjadi marah. Dengan
sangat sengit ia berkata:
“Di kalangan Kang-ouw, orang hanya memuji Lembah Merpati begini dan begitu, menganggap
pemimpinnya sebagai dewa. Tapi aku Tiauw Tua mana percaya? Kini telah terbukti, bagaimana perbuatan
mereka, nyalinya sudah menjadi semakin besar. Urusan tidak dapat ditunda pula, aku akan jalan terlebih
dulu, agar bisa membuka jalan untukmu.”
Ia telah melemparkan badannya, bagaikan asap kuning ia telah melesat terbang melewati tebing.
Tju Thing Thing sudah menjadi kegirangan, dengan bertepok-tepok tangan, ia berkata:
“Tidak disangka, dalam kesalahan telah mendapatkan seorang pengiring yang mempunyai kepandaian
demikian tinggi. Suatu kejadian yang sangat lucu sekali.”
“Dia adalah cianpwe dari rimba persilatan,” Koo San Djie berkata, “Kita tidak dapat menganggapnya
sebagai pesuruh, kita harus menghormatinya.”
Tju Thing Thing sudah menjebikan bibirnya. Terdengar ia berkata:
“Apa kau saja yang mengetahuinya? Apa aku belum kenal? Terus terang kukatakan kepadamu, aku telah
lama mendengar namanya, derajatnya lebih tinggi dari pada guruku. Siapa kata, aku tidak
menghormatinya?”
Sampai di sini, Koo San Djie sudah tidak berani banyak mulut lagi.
“Mari kita melanjutkan perjalanan pula.” Akhirnya ia mengajak si nona pergi.
Mereka berdua membuntuti bayangan Tiauw Tua, dengan cepat menuju ke arah selatan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Kepandaian Tiauw Tua mana dapat dipandang ringan? Ditambah pula, Koo San Djie yang masih harus
memperhatikan Tju Thing Thing, tidak dapat menambah kecepatannya. Maka sebentar saja, bayangannya
sudah lenyap sama sekali. Di depan hanya tertampak gunung-gunung yang bersusun-susun. Haripun telah
mulai menjadi gelap.
Tju Thing Thing sudah mengusulkan mencari tempat untuk mengasoh, Koo San Djie tidak berani tidak
melulusi. Tapi sewaktu memandang ke sekitarnya, ia merasa cemas. Di daerah pegunungan yang sepi ini,
mana ada orang yang berani tinggal? Maka dengan terpaksa mereka berdua melanjutkan perjalanan
malam.
Tiba-tiba di antara lembah gunung, terlihat sinar api berkelebat. Tju Thing Thing sudah berteriak girang:
“Hura! Di tempat sinar terang itu, tentu akan dapat menemui rumah-rumah penduduk.”
Dengan menambah kecepatan larinya, mereka sudah menuju ke arah sinar terang tadi. Tapi baru saja
mereka berada di mulut lembah, suatu pemandangan yang sangat menakutkan telah terbentang di hadapan
mereka. Hampir saja Tju Thing Thing menjadi pingsan. Dengan kedua tangannya yang masih ditaruh di atas
dadanya yang berdebar-debar, ia menjerit sambil mundur beberapa tindak.
“Setan, setan......!”
Koo San Djie dengan cepat telah dapat memeganginya. Perlahan-lahan ia bertanya:
“Apa yang telah kau lihat?”
Dengan muka pucat, Tju Thing Thing menunjuk ke bawah lembah dan berkata:
“Kau lihat, lihat...... Ou, sangat menakutkan sekali.”
Setelah berkata sampai d sini, ia sudah menyelipkan kepalanya di dalam pelukannya Koo San Djie.
Si pemuda mengarahkan pandangannya ke dalam lembah, menurut arah yang ditunjuk, ia telah menjadi
kaget.
Dalam lembah yang demikian luasnya telah penuh dengan tulang kerangka manusia, di tengah-tengah dari
tumpukan tulang-tulang putih itu ada duduk bersila seorang laki-laki dengan rambut panjang yang riapriapan.
Dari lubang telinga, hidung dau mulut, tidak henti-hentinya mengeluarkan gumpalan asap biru,
mengikuti gerakan dari napas makhluk tersebut.
Ternyata orang ini sekarang meyakinkan semacam ilmu jahat yang lihay.
Terlihat ia meremas-remas kedua tangannya bagaikan mau mencengkeram tulang-tulang putih. Dari
tumpukan tulang itu terlihat gumpalan api biru, yang oleh si orang aneh disambut dengan mengangakan
mulutnya, dan masuklah gumpalan api biru tadi ke dalam tenggorokan.
Dengan cara demikian, ia tidak henti-hentinya menyedot gumpalan api biru tadi.
Mereka berdua sedang kememek melihatnya, mendadak Tju Thing Thing sudah berteriak pula:
“Kau lihat, di sanapun terdapat satu lagi!”
Koo San Djie menoleh ke arah yang ditunjuk oleh tangannya si gadis. Betul saja, dari tumpukan tulang putih
itu muncul pula sebuah kepala orang. Yang ini adalah nenek bongkok dengan roman muka yang jahat, dari
telinga, hidung dan mulutnya, juga mengeluarkan asap biru.
05.12. Ilmu Yun-ling-pay-kuk-kang yang Berbisa
Sepasang suami istri ini terkenal sebagai dua siluman dari kalangan Kang-ouw. Setan Gunung dan Kalongwewe
yang telah meyakinkan ilmu Yun-ling-pay-kuk-kang di gunung Fuk-niu, karena telah banyak
membunuh orang, telah dihajar adat oleh si orang tua Berbaju Ungu.
Tidak disangka, mereka ini sudah pindah kemari, bahkan kepandaiannya Yun-ling-pay-kuk-kang sudah
mencapai tingkatan yang kesembilan.
Tju Thing Thing yang sudah berteriak kalang kabut, menyebabkan terganggunya dua siluman ini. Dua
pasang sinar mata yang biru, bagaikan pelita mencorot ke atas tebing, mulutnya mengeluarkan suara citdunia-
kangouw.blogspot.com
citan seperti hantu. Mendadak, tubuh dari kedua jejadian ini terbang melambung ke atas, berdiri di atas
tebing.
Sedari melihat, Tju Thing Thing tidak henti-hentinya menjerit-jerit, Koo San Djie sudah mengetahui, urusan
tidak akan berakhir sampai di sini, ia sudah mengerahkan seluruh Bu-kit-sian-kang nya, siap sedia
menghadapi segala kemungkinan. Dengan keras ia sudah membentak ketika dua orang aneh itu yang kini
sudah berdiri di hadapannya:
“Kau ini manusia apa siluman? Mengapa menggunakan tulang manusia untuk melatih diri, apa memang
kalian tidak mempunyai prikemanusiaan?”
Dengan suaranya yang gerowak gerowek, si Setan Gunung berkata:
“Apa yang dinamakan prikemanusiaan? Aku kebetulan sedang kurang sepasang muda mudi, dengan
adanya kau di sini, seperti mengantarkan diri, memang sangat kebetulan sekali.”
Tsdinya Tju Thing Thing ketakutannya setengah mati kini, setelah melihat si Setan Gunung bisa bicara, ia
sudah tidak menjadi takut lagi. Ia segera menghunus pedang dari sarungnya. Terdengar ia membentak:
“Demi keamanan manusia, aku akan membunuh kau berdua.”
Terlihat sinar pedang berkelebat, ia sudah berada di atas si Setan Gunung dan mengarahkan ujung
pedangnya ke atas kepala orang.
“Berani kau melawan? Kau hanya mengantarkan jiwamu saja!” si Setan Gunung berteriak marah.
Ia telah mengeluarkan cengkraman setannya mengarah batang pedang.
Tju Thing Thing tidak membiarkan pedangnya direbut, ia memutarkan diri, berpindah kaki, pedangnya yang
enteng sudah menyerang lagi......
Koo San Djie takut Tju Thing Thing mendapat rugi, maka dia maju untuk menggantikannya. Tapi, mendadak
dari belakang terasa angin menyerang, dengan segera ia membalikkan badannya, jurus tipu Ombak
Menyapu Tumpukan Sampah, telah keluar dan mendorong balik serangan tadi.
Yang menyerang dari belakang ialah Kalong Wewe, siapa sudah menjadi terpental beberapa tindak
jauhnya. Dengan mengeluarkan suara yang lebih jelek dari suaranya burung hantu, ia berkata:
“Yang datang ialah orang dari setan Baju Ungu......”
Dengan tangannya yang hanya tinggal kulit pembungkus tulang, ia maju kembali. Dari serangan telapak
tangannya terlihat gumpalan api biru, dengan bau bacin yang bisa dibikin mual orang yang menyedotnya.
Dalam sekejapan mata saja, di sana sini terlihat berkeredepannya api biru yang sangat menakutkan.
Tapi dengan Bu-kit-sian-kang, Koo San Djie melindungi tubuhnya, dia tidak takut dengan segala kepandaian
jahat ini. Dengan pukulannya yang istimewa ia sudah menyerang berkali-kali.
Tidak demikian dengan Tju Thing Thing, dia sedang melawan si Setan Gunung. Dalam duapuluh jurus yang
pertama, ia masih dapat balas menyerang, tapi lama kelamaan, ia sudah terkurung oleh api biru si kakek.
Koo San Djie menjadi gelisah, dengan keras ia mendesak mundur si Kalong Wewe, maka dia bebas dan
berbalik membantu si nona, tapi terlambat.
Tju Thing Thing sudah terkena pukulan di pundak. Dengan sekali menjerit ia rubuh di tanah.
Mata Koo San Djie sudah merah seperti memancarkan api, bergantian tangannya melepaskan pukulanpukulan
yang keras, inilah simpanan dari seluruh tenaganya. Bagaikan memecah batu menggetarkan bumi,
angin pukulannya yang menderu-deru, membawa debu dan batu menyerang ke arahnya si Setan Gunung.
Setan Gunung mana berani menyambuti serangan ini, ia sudah melompat ke samping dengan
meninggalkan Tju Thing Thing yang terluka.
Koo San Djie telah menggunakan kesempatan bagus, menyambar tubuh Tju Thing Thing, dengan
menggunakan tipu Awan dan Asap Lewat di Mata, mereka menghilang dari tempat itu.
Dengan mengempit Tju Thing Thing, Koo San Djie berlari lama, demikian sehingga di depannya ada berdiri
sebuah kuil kecil yang telah rusak. Maka dengan cepat dia lari masuk ke dalam kuil tadi.
Mendadak, dari samping telah muncul seorang dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Yang datang apakah saudaraku?”
Inilah suara Tiauw Tua. Seketika itu hati Koo San Djie menjadi lega.
“Toako, Tju Thing Thing telah terIuka......” katanya gugup.
Tiauw Tua menjadi kaget. “Siapa yang telah melukai?” tanyanya.
Bersama-sama, mereka masuk ke dalam pendopo yang telah terang, karena Tiauw Tua tadi telah
menyalahkan api. Dengan meminjam terangnya api, baru mereka dapat melihat keadaannya Tju Thing
Thing.
Muka Tju Thing Thing yang tadinya putih sudah menjadi hitam biru, begitu pula dengan seluruh tubuhnya,
napasnyapun telah menjadi pendek-pendek, lupa orang. Ini membuat mereka menarik napas dan bingung.
Koo San Djie sudah menjadi gelisah, meremas-remas tangannya sendiri dan berkata:
“Toako, bagaimana?”
Dengan tegang Tiauw Tua mendekati Tju Thing Thing, pertama-tama, diperiksanya urat nadi, lalu
menempelkan telinga di atas dada si gadis. Tapi hidungnya yang tajam sudah merasakan bau busuknya
mayat. Maka ia bertanya:
“Inilah ilmu jahat dari Yun-ling-pay-kuk-kang. Di mana kalian telah bertemu dengan siluman itu?”
Koo San Djie menuturkan pengalamannya yang belum lama dialami olehnya.
Tiauw Tua menggeleng-gelengkan kepalanya. Terdengar ia berkata:
“Ini ilmu Yun-ling-pay-kuk-kang ada jahat sekali, siapa yang menerima pukulannya, dalam duabelas jam,
akan menjadi bengkak dan lumer, berubah menjadi segumpalan cairan kuning. Kecuali mendapat obat
pemunah dari si penyerangnya, tidak ada lain jalan.”
Lalu, ia menjelaskan juga tentang Yun-ling-pay-kuk-kang ini.
“Untuk melatih ilmu ini, harus tidak mengenal prikemanusiaan. Dengan menggunakan tigaratus mayat
manusia dan menyedot hawa busuk yang beracun, baru bisa menyelesaikannya. Jika bukan orang yang
sudah hampir hilang ingatan, tidak nanti dapat meyakinkan ilmu ini. Kita harus dengan segera mencari si
Setan Gunung untuk mendapatkan obat pemunahnya.”
Mendengar bahwa Yun-ling-pay-kuk-kang demikian jahatnya, Koo San Djie menjadi marah. Orang yang kini
berbaring di hadapannya, yang tadinya sangat cantik dan lincah, sebentar lagi akan menjadi segumpalan
cairan kuning. Siapa yang menyaksikannya tidak akan menjadi sedih? Ia mempunyai perasaan yang sangat
tajam, hatinyapun cepat tergerak dengan mudah.
Pengalaman yang pahit dari keluarga Ong Hoe Tjoe belum lagi lenyap, sudah ditambah lagi dengan cara
meninggalnya Tju Thing Thing yang penasaran ini. Ia masih merupakan seorang anak yang baru belasan
tahun, mana dapat ia menahannya? Pukulan-pukulan batin yang melampaui batas yang telah dideritanya
telah menyebabkan ia hampir tidak dapat menguasai otaknya. Mendadak ia menjerit-jerit:
“Oh dunia, mengapa kau menciptakan demikian banyaknya orang jahat?”
Dengan sebat, tangannya mengeluarkan sebuah benda hitam mengkilap yang merupakan pit, dalam
keadaan kalap ia berkata:
“Pit wasiat, aku akan mengandalkanmu, membunuh semua orang jahat yang ada dalam dunia. Aku Koo
San Djie, jika lupa akan sumpahku di hari ini, sebagai inilah bagiannya.”
“Plak,” terdengar suara meja somplak yang telah terkena benturan Pit Badak Dewa tadi. Pecahan kayu
meja telah berhamburan di mana-mana.
Keadaan yang kalap itu, telah membuat Tiauw Tua menjadi kuatir tapi ia lebih berpengalaman, mengetahui
percuma saja sampai si pemuda melampiaskan hawa amarahnya. Tapi matanya yang telah membentur
pada Pit Badak Dewa yang hitam mengkilap itu hatinya tiba-tiba menjadi sangat girang. Ia mempunyai
pengetahuan yang luas, dan sudah dapat mengenalinya kepada Pit Badak Dewa yang dapat mempunahkan
segala macam racun yang bagaimana jahat juga. Maka sambil berteriak-teriak girang, ia berkata:
“Sandaraku, tenang, tenang, nona Tju akan tertolong.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie membalikkan badannya dan menanya:
“Dengan cara apa?”
“Kau tunggu sebentar, aku akan menyediakan alat-alat keperluan.”
Lalu, ia membalikkan badan, lari ke dalam ruangan untuk mencari sebuah teko dan mangkok air, kemudian
berkata pada si pemuda:
“Bawa kemari Pit Wasiat Badak Dewamu itu!”
Dengan cepat, Koo San Djie menyodorkan barang yang diminta.
Tiauw Tua menerima pit tadi, lalu dimasukkannya ke dalam mangkok yang telah penuh air, kemudian
diudek-udek sekian lama.
Koo San Djie menjadi agak engah, baru ia ingat gurunya pun pernah mengatakan kepadanya, bahwa pit
wasiatnya dapat memunahkan segala macam racun mengapa ia tidak dapat mengingatnya?
Sebentar saja, air di dalam mangkok sudah menjadi keruh seperti susu, lalu dicekoki ke dalam mulut Tju
Thing Thing.
Masih ada setengah mangkok sisanya, lantas disodorkan untuk dipegang oleh tangan Koo San Djie. Sambil
menyobek sepotong kain dari bajunya Tju Thing Thing terus dicelupkan ke dalam sisa air tadi, Tiauw Tua
berkata:
“Kini telah tiba akan giliranmu. Dengan menggunakan kain yang telah dicelupkan ke dalam air ini, gosokilah
ke seluruh tubuhnya untuk membersihkan racun yang masih menempel di kulit. Aku akan keluar sebentar
untuk melihat keadaan.”
Koo San Djie tidak dapat menolak, sebab tidak ada orang lain yang dapat melakukannya, kain tadi lalu
digosokannya di atas kulit Tju Thing Thing. Dan betul saja, kulit yang kena gosokan kain yang dicelup tadi
sudah kembali kepada asalnya.
Demkianlah ia sudah menggosokkan kain tadi, dari kepala sampai tangan dan kaki. Tapi kini timbullah suatu
kesukaran pula. Bagaimanakah dengan tubuh yang tertutup dengan baju? Setelah mundur maju setengah
harian, dengan memberanikan diri, ia membuka kancing bajunya si nona, lalu menggosok dari atas pundak
dan terus turun ke bawah......
Sewaktu tangannya menyentuh buah dada, deburan jantungnya bertambah cepat, kedua tangannya
bergemetaran, otaknya sudah menjadi kosong sama sekali. Inilah suatu percobaan yang penting. Ia sudah
menjadi kememek, berdiri di tempatnya, lupa akan tugas yang telah jatuh di atas pundaknya.
Tetapi, mendadak badannya Tju Thing Thing yang sudah hampir kaku perlahan-lahan sudah mulai
bergerak. Koo San Djie baru mendusin, dalam hatinya ia memaki sendiri:
“Bagaimanakah aku ini?”
Untungnya dia mempunyai dasar kepandaian yang tinggi, setelah melihat keadaan tidak benar, sudah
lantas dapat menenangkan dirinya. Sebantar saja, pikiran tadi telah lenyap terbang ditiup angin. Dengan
perlahan-lahan berkata:
“Ciecie, Ciecie......”
Pada waktu itu, racun yang berada dalam badannya Tju Thing Thing sudah hampir menjadi bersih sama
sekali. Lalu dibuka kedua matanya, dilihatnya ia tertidur di dalam sebuah kuil yang sangat kotor, dengan
Koo San Djie yang sedang mengawasi berdiri di sampingnya.
Ia mencoba membalikkan badannya untuk berdiri, tapi mendadak badannya seperti merasa dingin. Ia
sangat kaget dan melihat bajunya telah terbuka. Dengan mempelototkan kedua matanya, ia sudah menegur
kepada Koo San Djie.
“Mengapa kau berdiri di sini saja?”
Sebenarnya ia sudah mengetahui orang membuka bajunya dengan kepentingan menolong jiwanya. Koo
San Djie berdiri di sebelahnya adalah untuk menjaga. Tapi sudah menjadi suatu sifat wanita yang selalu
menyalahkan orang lain. Dan yang mendapatkan kesalahan adalah orang yang dicintainya.
Koo San Djie menyodorkan mangkok yang masih berisi air pemunah racun kepadanya dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Masih ada kulit yang hitam, kau gosoklah dengan air ini, tentu sembuh.”
Kedua kakinya bergerak, kemudian lompat keluar.
Tiauw Tua sedang mundar mandir di pekarangan luar, sambil menggendong tangan, dia menunggu
perkembangan, melihat Koo San Djie sudah keluar sudah lantas bertanya:
“Bagaimana keadaannya?”
“Sudah sembuh!” jawab Koo San Djie girang.
Terdengar pula Tiauw Tua berkata:
“Bagus. Di depan telah terlihat pertandaan dari pulau Hay-sim, tentunya mereka sudah menemukan jejak
musuh.”
“Jika demikian, marilah kita pergi melihatnya,” Koo San Djie mengajak.
Pada waktu itu Tju Thing Thing juga sudah lari keluar untuk menghampiri mereka.
Tiauw Tua melihat si nona sudah sembuh kembali, hatinya girang dan memuji Pit Badak Dewa milik Koo
San Djie.
“Sebagaimana biasa, ini kalipun aku yang pergi terlebih dahulu untuk membuka jalan,” berkata Tiauw Tua
seraya ketawa.
Baru saja mereka keluar dari mulut lembah, di beberapa tempat telah terlihat tanda-tanda bahaya dari pulau
Hay-sim. Tanda arah ialah jurusan Barat-daya
06.13. Lembah Merpati, Impian Pendekar Muda
Pada waktu itu telah sampai di akhir musim semi. Daun-daun telah mulai pada rontok. Di daerah
pegunungan yang tandus, sewaktu-waktu masih terdengar berkicaunya burung-burung yang mengharukan.
Demikianlah telah mengingatkan sang waktu yang ramai telah berlalu......
Berlalunya waktu tidak pernah dapat ditawan, dengan cepat dibawanya umur manusia ke tempat pintu akhir
ajal.
Koo San Djie bersama Tju Thing Thing tidak mempunyai perasaan ini. Mereka sedang berusaha,
bagaimana untuk menemukan sastrawan Pan Pin dan Thian-mo Lo-lo sekalian.
Baru saja lewat pada sebuah tikungan di pegunungan, di depan. terlihat pepohonan yang bukan main
lebatnya. Mendadak, di antara sela-sela pepohonan tadi berkelebat dua bayangan dari sepasang muda
mudi.
Koo San Djie mencurigai bayangan dari muda mudi tadi, ia selalu menganggap mereka tentu orang-orang
yang datang dari Lembah Merpati. Maka, dengan cepat ia lalu menarik Tju Thing Thing, menyembunyikan
diri di belakangnya pepohonan yang lebat.
Dua muda mudi tadi, yang laki-laki berpakaian imam, yang perempuan memakai pakaian ringkas berwarna
merah. Setelah sampai di tanjakan, si laki-laki sudah memberhentikan langkahnya, dengan perasaan yang
sangat menyayang ia berkata:
“Adik Shia, mari kita istirahat sebentar. Kau tentu sudah merasa lelah.”
Si gadis setelah membereskan rambutnya yang kusut, dengan rupa yang sangat kolokan menjawab:
“Hee......”
Kemudian dengan pandangan yang penuh arti, ia tertawa dan telah duduk numprah di tanah.
Si laki-laki menghela napas, juga duduk di sebelah kawannya, matanya memandang jauh ke langit. Dengan
penuh rasa ngeri ia berkata:
“Aku juga mengetahui, meninggalkan perguruan berarti berkhianat, tapi dengan umur kita yang beberapa
puluh tahun ini mana dapat dibuang percuma? Kepergian kita ini ke dalam Lembah Merpati, biarpun belum
tentu dapat panjang umur, tapi setidak-tidaknya, kita telah dapat menikmati kehidupan manusia.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Mendengar disebutnya Lembah Merpati Koo San Djie sudah menjadi ketarik dan lebih memperhatikannya.
Dengan malas-malasan, si gadis menyenderkan kepalanya di atas dada si jejaka. Mulutnya seperti sedang
mengoceh, berkata dengan perlahan:
“Ya, beruntung ada mereka yang datang, menjemput kita. Nanti, setelah kita sampai di sana, seperti mereka
juga, kita akan menjadi pasangan yang tidak mengenal susah pula......”
Semakin lama, perkataannya semakin pelan sampai yang terakhir, hanya ia sendiri dapat mendengar.
Si jejaka meraihkan tangan dan memeluk pinggang yang ramping dari kawannya. Dengan bersendersenderan,
mereka telah menikmati impian muluk, impian tentang Lembah Merpati yang dikatakan orang
sebagai sorga dunia.
Perkataan indah yang diberitakan pada pasangan yang tak dikenal namanya telah membuat jejaka dan
gadis ini telah meninggalkan perguruan mereka, cerita-cerita yang telah dilapisi oleh kembang gula telah
menyebabkan dua muda mudi ini berani menempuh bahaya.
Sinar matahari yang mulai mendoyong ke barat menyinari dua bayangan ini. Dalam remang-remang,
mereka seperti telah dapat merasai kesenangan seperti yang telah diceritakan tentang Lembah Merpati.
Lama, lama sekali, baru mereka bermalas-malasan, mencoba berdiri lagi.
Tapi, mendadak di belakang mereka terdengar bentakan nyaring:
“Murid durhaka yang sangat kurang ajar, mengapa tidak lekas kembali?”
Dari sebelah bawah tanjakan melesat datang seorang imam tua yang berkumis panjang.
Dua orang yang melihatnya sudah ketakutan setengah mati, dengan terbirit-birit, mereka lari masuk ke
dalam gerombol pepohonan.
Si imam tua berkumis panjang ketawa dingin, seiring dengan sambaran angin, ia telah mengulurkan kedua
tangannya, menjambret kedua muda mudi tadi. Dalam sekejapan mata saja, jari-jari si imam tua berkumis
panjang sudah mampir di leher baju kedua orang itu......
Mendadak, dari belakang sebuah pohon berkelebat bayangan yang berupa asap saja cepatnya, tangan
bayangan itu dengan perlahan- lahan telah menekan pada bebokong si imam tua.
Koo San Djie dengan segera sudah dapat mengenali, itulah pukulan Wie-mo-ciang.
“Wah, celaka si imam tua!” ia berseru kaget.
Dengan cepat badannya sudah melesat ke arah bayangan tadi.
Tapi, gerakan dari bayangan tadi tidak kalah cepatnya.
Setelah melancarkan pukulan, sudah terus melesat masuk lagi ke dalam pepohonan, gerakan yang
digunakannya pun “Awan dan Asap lewat di mata” juga.
Biar bagaimana, jarak Koo San Djie terlalu jauh. Ia tidak berdaya sama sekali.
Dengan telak, bebokong si imam tua telah terkena pukulan tadi. Dengan mengeluarkan jeritan ngeri,
tubuhnya terpental lebih dari setumbak.
Sebenarnya, si imam tua ini bukan orang sembarangan, tapi karena perhatiannya sedang dicurahkan ke
arah dua muridnya yang murtad, lagian Wie-mo-ciang dapat dilancarkan dengan tidak bersuara sama
sekali, maka ia telah kena dibokong.
Koo San Djie tidak keburu untuk mengubar bayangan tadi yang telah masuk ke dalam pepohonan yang
gelap. Dengan cepat ia menghampiri pada si imam tua yang luka.
Imam tua yang berkumis panjang yang sudah hampir tidak dapat bernapas, setelah di urut sebentar,
membuka kedua matanya yang layu, dengan mengelah napas ia berkata pada Koo San Djie:
„Aku sudah tidak dapat berguna, urat nadiku telah putus.”
Dengan memaksakan diri, ia telah mengeluarkan cap batu giok dari dalam sakunya dan menurunkan pula
pedang dari bebokongnya, kemudian diserahkan kepada Koo San Djie. Dengan terputus-putus, ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Aku adalah Yun Yan Tjie dari Ciong-lam, aku mohon pertolonganmu, agar tanda cap batu giok dan pedang
Hian-ling-kiam ini dapat disampaikan kepada saudara seperguruanku, katakanlah, aku terkena bokongan
dari orang Lembah Merpati dan mati di rimba sepi ini......”
Berkata sampai di sini, mulutnya sudah beberapa kali menyemburkan darah hidup. Kasihan, satu pendekar
dari Ciong-lam telah mati konyol, gara-gara muridnya yang murtad.
Dengan menahan perasaan sedihnya, Koo San Djie menggeleng-gelengkan kepala. Ia menggali lobang
untuk kuburannya si imam tua. Lalu ia memilih setangkai dahan kayu, dengan pedang ia menulis
“Yun Yan Tjie dari Ciong-lam”
yang lalu ditancapkan di makamnya. Kemudian dengan muka yang masih sedih ia berkata kepada Tju
Thing Thing:
“Mari kita berangkat. Pada suatu hari, akan kita perhitungkan hutang-hutang dari orang Lembah Merpati.”
Dengan tidak disengaja, ia telah terima pesanan yang terakhir dari Yun Yan Tjie, yang tidak disangka
bahwa urusan itu bisa menambah kesukaran di belakang hari kepadanya.
Setelah bertahan beberapa lama, Koo San Djie dan Tju Thing Thing melanjutkan pula perjalanan mereka.
Setelah keluar dari mulut gunung, di depan terlihat dataran luas.
Tiba-tiba Koo San Djie berkata:
“Lagi-lagi orang dari Lembah Merpati. Kali ini akan kutangkap mereka untuk petunjuk jalan.”
Dengan tidak berkedip Tju Thing Thing memandang ke depan. Dan betul, dari jauh ada dua titik bayangan
kecil, dengan berliku-liku sedang mendatangi ke arahnya. Ia sudah menjadi takluk betul-betul kepada Koo
San Djie yang mempunyai pandangan tajam. Biarpun dengan jarak yang demikian jauh, telah dapat
membedakan dengan jelas, warna baju dari orang yang datang tadi.
Semakin lama dua bayangan hitam semakin dekat, kini dengan jelas terlihat, mereka mengenakan pakaian
kotak-kotak hitam. Pemuda yang di depan, lari dengan terburu-buru sebagai yang ketakutan, dilihat dari
dalamnya, ternyata ia telah terkena luka yang tidak ringan. Pemuda yang di belakang, mengubar dengan
tidak kalah kencangnya. Mukanya yang bengis menjadi penasaran, karena tidak dapat menyandak orang
yang telah terluka itu.
Karena kelambatan dalam sedetik saja, telah menyebabkan kematiannya si imam tua. Hal ini sudah
menyebabkan Koo San Djie sangat menyesal. Kini yang berada di hadapan matanya, seorang pula yang
sedang menghadapi bahaya, tidak perduli orang ini jahat atau baik, yang pertama ia harus menolong
terlebih dahulu. Tidak ada waktu untuk ia memanggil Tju Thing Thing, badannya sudah melesat ke depan
dengan kecepatan luar biasa.
Tju Thing Thing merasa bagai ada angin topan lewat di sampingnya, lantas sudah kehilangan sang kawan.
Beberapa puluh tombak di depannya, bagaikan gumpalan asap, Koo San Djie sedang menuju datangnya
dua orang tadi.
Tapi, perhitungan dari manusia tidak secepat kejadian alam, hanya tinggal tigapuluh tumbak lagi, pemuda
yang memang sudah sampai akan kematiannya telah tersandung jatuh.
Tangan kematian dari pemuda yang mengubar dari belakang, pada waktu itu, dengan cepat telah
menempel di bebokongnya sang korban. Dan dengan kecepatan tangan yang lebih cepat dari tangannya
seorang tukang copet, ia telah menjemput gulungan kertas dari tangannya sang korban.
Hati Koo San Djie menjadi tercekat. Dengan keras ia berseru:
“Hei jangan berbuat jahat!”
Bagaikan pesawat udara, ia sudah terbang mendatangi ke tempat kejadian tadi.
Orang yang tadi lari menguber dan berhasil telah membunuh mangsanya, telah menjadi kaget, tapi yang
membikin ia lebih kaget lagi yalah, gulungan kertas yang ia dapat bersusah payah mendapatkannya,
mendadak telah disambar, oleh sebuah tangan dari arah belakang. Orang yang belakangan ini datang lebih
cepat dari padanya, sebentar saja sudah pergi meninggalkan puluhan tumbak.
Ia tidak mempunyai kesempatan buat meladeni Koo San Djie, dengan cepat ia sudah lari menguber
bayangan orang yang baru datang tadi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Semua kejadian ini telah terjadi demikian teraturnya, sangat mendadak dan sangat cepat. Jika saja, bukan
Koo San Djie yang mempunyai pandangan tajam, tidak nanti dapat mengetahui akan apa yang terjadi.
Gerakan tubuhnya boleh dikatakan lebih cepat dari kecepatan kilat, tapi masih tak dapat menolongnya juga.
Ia sampai di sana dan dapatkan sang korban dalam keadaan tidak bernyawa. Telah beruntun dua kali
pembunuhan di hadapannya, tapi hanya kurang beberapa detik saja, ia sudah tidak dapat menahannya.
Apa karena ia tidak berguna? Bukan demikian soalnya. Keadaan waktulah yang terlalu mendesak.
Dengan lesu, ia berdiri di situ sampai Tju Thing Thing datang menghampirinya. Memang menjadi sifatnya
perempuan yang lebih teliti Tju Thing Thing yang melihat ke arah mayat tadi sudah berteriak:
“Adik San, kau perhatikan di tanah. Orang ini telah menulis beberapa huruf, sebelum ia menghembuskan
napasnya yang terakhir.”
Koo San Djie meneliti kembali. Betul saja, telunjuk orang ini masih menekan tanah, beberapa huruf yang
ditulisnya yalah:
“Peta masuk ke dalam lembah......”
Tapi huruf ini sedemikian kalutnya, sehingga orang melihatnya hampir saja tidak mengerti sama sekali. Koo
San Djie tidak dapat menjelaskan, apa yang diartikan sama sekali, mulutnya berkemak kemik:
“Peta masuk ke dalam lembah...... Peta masuk ke dalam lembah......? Apa bukannya......”
Tju Thing Thing sudah membuka mulut menyambung:
“Kau mengatakan kedua orang tadi mempunyai gerakan yang sama dengan orang dari Lembah Merpati.
Apa bukannya gambar peta yang menunjukkan caranya masuk ke dalam Lembah Merpati?”
Koo San Djie menepok kepalanya dan berkata:
“Betul! Mungkin orang ini telah mengkhianati Lembah Merpati untuk dibuka di depan umum. Tidak disangka
telah dapat dipergoki, dan telah diuber-uber disepanjang jalan. Berakhirlah sampai kejadian tadi. Tapi
siapakah orangnya yang merebut peta tadi......?”
Ia mulai menduga-duga, ia sedang mengingat-ingat gambaran orang yang merebutnya peta tadi, itulah
seorang tua berkupiah emas, berbaju biru. Biarpun gerakannya sangat cepat, tapi ia tidak lolos dari
pandangannya Koo San Djie.
Mendadak, dari jauh terdengar siulan yang panjang tapi terang. Itulah suara dari Tiauw Tua yang telah
memanggil mereka.
Maka, dengan segera Koo San Djie juga memekik, menyahutinya.
Bersama suara sahutan ini, sebuah bayangan, bagaikan sedang mengejar awan memburu kilat cepatnya,
telah datang ke tempat itu. Dan betul saja, yang datang Tiauw Tua.
Setelah berhadapan, Tiauw Tua sudah berkata seperti mengandung penyesalan:
“Urusan sudah menjadi demikian mendesaknya, mengapa kau orang masih di sini saja?”
Koo San Djie mengelah napas, dan sambil menunjuk ke arah orang mati di hadapan ia berkata:
“Kau lihat!”
Kemudian diceritakannya juga tentang meninggalnya Yun Yan Tjie tadi dan jalannya rebut-rebutan peta di
sini.
Terdengar Tiauw Tua berkata:
“Jika demikian, bukan saja urusan sudah menjadi mendesak bahkan, semakin lama semakin rumit?”
Lalu, diceritakannya juga kabar yang telah dapat didengarnya, tentang ketua dari Lembah Merpati yang
telah hampir selesai meyakinkan semacam ilmu, dan tidak berapa lama lagi, dedengkot misterius itu akan
keluar di kalangan Kang-ouw, tentu dengan maksud untuk mengangkat nama. Maka, semua pengikutpengikutnya,
kini sudah tidak usah mengumpat-ngumpat lagi, tidak usah mereka menggunakan kedoknya
yang palsu belaka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebagaimana biasa, Koo San Djie membawakan sifatnya yang pendiam. Maka, Tiauw Tua sudah
melanjutkan ceritanya:
“Sebelumnya, orang hanya menyangka bahwa Lembah Merpati adalah tempat dari orang-orang yang
mempunyai kepandaian tinggi, dengan tidak mau mencampuri urusan dunia. Tapi, sebetulnya dia sudah
mempunyai perhubungan yang gelap, karena sangat dirahasiakan, maka banyak yang tidak mengetahui
benar tidaknya cerita ini.”
“Toako, orang yang datang dari pulau Hay-sim berada di mana?” tanya Koo San Djie.
Tiauw Tua menjawab:
“Barusan, aku telah menemukan Oey Liong si kurus yang sedang terburu-buru lari lewat di sebelah sini. Ia
mengatakan, di arah barat daya telah mendatangi banyak sekali iblis-iblis dari kalangan hitam, yang
menambah kecurigaannya. Maka ia telah pergi ke sana untuk mencari kabar terlebih jauh.”
Berulang kali Koo San Djie memanggutkan kepalanya. Maka bertiga mereka sudah mulai pula melanjutkan
perjalanan. Setelah berlari-larian sampai matahari terbenam, di depan telah terlihat puluhan lampu yang
berkelak-kelik. Itulah kota Kun-beng, sebuah kota besar dari Tiongkok barat daya.
Perjalanan yang tidak mengenal waktu ini telah membuat Tju Thing Thing tersiksa. Jika tidak ada Koo San
Djie yang sering menentengnya, sudah sedari tadi ia jatuh di jalan. Maka, setelah sampai di kota Kun-beng,
biar matipun, ia tidak mau meneruskan perjalanannya pula, ia telah memaksa menginap di sini. Suatu hal
kebetulan bagi Tiauw Tua. Ia tidak mempunyai kesukaan lain, kecuali arak yang dianggap sebagai nyawa
kedua.
06.14. Jurus Terakhir Kitab Im-hoe-keng
Setelah sampai di dalam kota yang ramai, ia menarik tangannya Koo San Djie dan berkata:
“Mari kita minum dua cawan arak. Telah beberapa hari aku dibuat kehausan olehnya.”
Setelah memasuki rumah makan, dua orang, satu tua dan satu muda ini sudah memilih kesukaannya
masing-masing Yang satu menenggak minuman dengan sepuas-puasnya, yang satu sudah menggasak
makanannya. Hanya Tju Thing Thing melihati mereka dengan tertawa. Ia hanya memilih sedikit dari
makanan dan minuman.
Mendadak, di sebelah mereka, teraling oleh sebuah ruangan, terdengar seorang yang berlogat gunung,
orang itu sedang bicara, katanya:
“Apa kau telah mendengar, di kalangan Kang-ouw telah bertambah seorang anak nelayan yang
berkepandaian tinggi, sampaipun si Iblis Pencabut Roh juga telah terjatuh di bawah tangannya?”
Koo San Djie telah menjadi kaget, maka dengan penuh perhatian, ia memperhatikannya pembicaraan
orang-orang itu.
Terdengar pula seorang lain yang berlogat daerah berkata:
“Orang hanya pernah mendengar, belum pernah melihatnya. Aku tidak percaya, dengan si Iblis Pencabut
Roh, berpengalaman puluhan tahun dapat dikalahkan oleh seorang anak kecil.”
Suara yang berlogat gunung berkata pula:
“Memang sukar dipercaya. Dalam beberapa hari ini, orang-orang dari Lembah Merpati yang kita ketemukan
bukankah berumur muda? Tapi kepandaiannya...... Hm, bukan aku Ciauw Pat merendahkan diri, kita berdua
tidak satu yang dapat menyaingi mereka.”
Tiauw Tua yang mendengar perkataan ini sudah menegak minuman, dengan jari yang dicelup basah ia
menulis beberapa huruf di meja:
“Empat orang aneh dari Kong-lu.”
Koo San Djie memanggutkan kepala, tapi kupingnya masih terus mengikuti pembicaraan itu tadi.
Sayang, pembicaraan di sebelah semakin pelahan, sampai belakangan, hampir menjadi tidak kedengaran.
Dengan lambat-lambat seperti terdengar disebut “Liong-sun-say” beberapa perkataan. Baru saja ia minta
penjelasan dari Tiauw tua pembicaraan di sebelah sudah selesai.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang yang dengan berlogat daerah, dengan suara keras sudah memanggil jongos untuk membikin
perhitungan.
Tiauw Tua dengan araknya sudah menulis pula di atas meja:
“Kuntit!”
Setelah keluar dari rumah makan, baru dapat dilihatnya dengan tegas keadaan dari dua orang tadi. Yang
satu menyoren golok, yang satu lagi membawa senjata yang sangat aneh. Pengawakan badan orang-orang
tinggi besar.
Kepandaian empat orang dari Kong-lu tidak setinggi si Iblis Pencabut Roh dan Iblis Pipi Licin. Tapi mereka
lebih disegani orang, karena mereka berempat telah menjadi satu, dan lagi, mereka mempunyai anak buah
yang banyak yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.
Ini kali, mereka datang ke tempat itu tidak hanya kebetulan, maka Tiauw Tua sudah sangat
memperhatikannya.
Dari jauh, Koo San Djie sudah mengikuti mereka, sampai di pinggir kota, mendadak, satu tanda yang
menyolok mata telah membuat mereka bertiga menjadi kaget.
Pada tengah-tengah sebuah pohon tercetak tanda minta bantuan dari pulau Hay-sim. Dan di bawahnya
masih ditambah dengan tiga buah tanda palang yang berarti sangat mendesak. Maka, dengan melepaskan
penguntitan terhadap dua orang aneh dari Kong-lu, Tiauw Tua sudah berkata:
“Aku akan mendahului pergi ke sana.”
Koo San Djie juga sudah menjadi gelisah, dengan menarik tangannya Tju Thing Thing, ia mengikuti jejaknya
Tiauw Tua.
Sebentar saja, dengan pendengarannya yang tajam Koo San Djie sudah dapat mendengar bentakanbentakan
dan beradunya senjata. Maka, dengan tangan masih menggandeng tangannya Tju Thing Thing, ia
sudah menambah kecepatannya. Biar tangannya masih membawa orang, tapi di kalangan Kang-ouw sudah
jarang ada orang yang melebihi kecepatannya ini.
Sebentar saja San Djie sudah sampai di sebuah tempat di kaki gunung. Di sana telah berkumpul dengan
banyak orang, mereka sedang kalang kabut, saling gempur dan saling serang menyerang. Keadaan ini
menjadi tegang, karena di antara yang bertarung, terdapat banyak sekali orang-orang dari golongan kelas
satu.
Hu-hay Sin-kun, dengan kumis dan berewok yang khas telah berdiri di sana, dia sedang asyik menandingi si
Setan Gunung.
Thian-mo Lo-lo dengan bentakan-bentakannya menyerang ke arahnya si Kalong Wewe.
Sastrawan Pan Pin sedang terdesak oleh seorang tua tinggi besar berjubah merah.
Si Naga Penyelam dari pulau Hay-sim, Lok-sui Cian-liong sedang dikurung oleh dua orang berbaju hitam,
dengan mati-matian dia mempertahankan kedudukannya. Dan di sana telah rebah beberapa tubuh dari para
pengiring pulau Hay-sim.
Sepintas lalu, keadaan Hu-hay Sin-kun sekalian sudah tidak menguntungkan. Di bawah pohon masih berdiri
Min Min Djie dan Si Iblis Pipi Licin berdua, mereka dengan tertawa-tawa.
Begitu badannya Tiauw Tua melesat naik dari kaki gunung, keadaan dari Sastrawan Pan Pin sudah sampai
disaat yang tergenting, ia terdesak oleh si orang tua tinggi besar berjubah merah, sampai mundur-mundur
beberapa tindak. Tapi si orang tua masih tidak mengasih hati, tangannya yang besar sudah menyerang
pula, sebentar lagi Sastrawan Pan Pin akan menderita luka, akan mendapat cedera.
“Semua berhenti!” Tiba-tiba Tiauw Tua membentak nyaring.
Di antara angin ribut dan beterbangannya batu, Tiauw Tua sudah mengeluarkan pukulannya. Suara
bentakannya belum juga lenyap, terdengar dua pukulan yang sama-sama kerasnya, mereka saling bentur.
Karena ia harus membuka suara, tenaganya terbagi, maka ia telah terpukul mundur setindak, tapi si orang
tua berjubah merah juga telah dibikin tergoyang-goyang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Keadaan telah berubah dalam sekejap mata. Semua orang dari medan pertempuran tadi telah dibuat kaget
oleh bentakan ini, maka dengan tidak terasa, semua telah memberhentikan serangan-serangannya. Setelah
dilihatnya siapa datang, semuanya sudah menjadi terkejut.
Nama Tiauw Tua telah tersohor di kalangan Kang-ouw, karena sifatnya yang sangat jujur, maka ia disegani
oleh segala orang, baik dari kalangan hitam atau putih. Demikianlah dengan gagahnya ia berdiri di tengahtengah
mereka. Setelah dipandangnya semua orang, ia berkata:
“Apa kau orang akan membunuh bersih semua orang di dunia?”
Si Setan Gunung dengan suaranya yang serak berkata:
“Tiauw Tua, jangan kau menjual di sini. Jangan menganggap dirimu lebih tua, dapat kau berbuat
sesukamu?”
Tiauw Tua tertawa berkakakan.
“Binatang!” bentaknya. “Dengan tanganmu yang berlepotan darah, tentu akan mempercepat ajalmu. Apa
kau kira aku tidak dapat membereskannya!”
Baru saja ia siap untuk turun tangan, Koo San Djie telah sampai di antara mereka. Min Min Djie yang
melihat anak muda itu, tentu saja sudah merasa terkejut, dengan cepat ia berteriak:
“Hu-sie Tojin, inilah orangnya yang telah membunuh Iblis Pencabut Roh.”
Tosu (imam) berjubah merah, dengan sinar matanya yang bercahaya sudah mengeluarkan suara
tertawanya yang seram:
“Membunuh orang harus mengganti jiwa! Anjing kecil, mari sini aku cabut nyawamu!”
Dia bernama Hu-sie Tojin! Bagaikan gumpalan awan yang menutupi matahari ia sudah menubruk ke
arahnya Koo San Djie.
Terdengar Tiauw Tua membentak:
“Tunggu sebentar, di antara kita berdua tadipun belum selesai.”
Tadi karena urusan telah mendesak, maka ia dapat rugi. Ia mengetahui, jika dibiarkan tosu tua ini bertarung
dengan Koo San Djie, maka tidak ada kesempatan pulalah baginya untuk menebus kerugian.
Tapi Koo San Djie tidak mengerti maksudnya ini. Dengan maju ke depan, setindak demi setindak ia berkata:
“Toako silahkan kau mundur. Jangan sampai dua siluman yang jahat itu dapat lolos.”
Dengan cepat Tiauw Tua telah menyingkirkan diri, sambil membongkokkan badannya ia berkata:
“Silahkan, silahkan!”
Tiauw Tua lantas menghadapi si Setan Gunung.
Inilah suatu kejadian yang aneh. Semua orang dibuat bingung karenanya. Tiauw Tua dengan derajatnya
yang tinggi di kalangan Kang-ouw, di antara mereka, kecuali Hu-sie Tojin yang masih dapat menandingi,
yang lain, untuk menyingkir pun tidak gampang-gampang darinya. Tidak disangka terhadap seorang anak
yang hanya berumur belasan tahun, ia telah berlaku demikian hormat.
Si Sastrawan Pan Pin duduk di pinggir, tentu saja harus menahan rasa sakit yang tidak terhingga, dengan
mulut tidak henti-hentinya menyebut “heran...... heran......,” ia yang mengenal betul tabiatnya Tiauw Tua
yang berangasan. Seumur hidup Tiauw Tua, belum pernah tunduk kepada siapapun juga. Kelakuannya
pada hari ini, yang telah diunjuki demikian takluknya kepada Koo San Djie, siapa yang tidak merasa heran?
Setelah menunggu sampai Tiauw Tua menyingkir, Koo San Djie menjura kepada Hu-sie Tojin, dia berkata:
“Tentang kematian dari adik seperguruan totiang, di sini boanpwee ada beberapa perkataan untuk
menjelaskan......”
Tapi Hu-sie Tojin dengan marah-marah sudah membentak:
“Lekas! Supaya kau tidak mati dengan penasaran.”
dunia-kangouw.blogspot.com
“Di kalangan Kang-ouw, yang penting yalah keberanian!” Koo San Djie berkata dengan nyaring.
“Sebenarnya boanpwee dengan adik seperguruan totiang tidak mempunyai permusuhan. Disalah satu
rumah makan, dengan tiada sebab musababnya dia telah menyerang kepadaku dan demikian juga dengan
terjadinya kejadian di telaga Pook-yang. Terhadap semua ini boanpwee tidak tarik panjang. Pada
pertandingan seterusnya, ia bersama-sama dengan Min Min Djie berdua menjadi satu usaha menahan
seranganku......”
Ia baru berkata sampai di sini, Hu-sie Tojin sudah memotong:
“Katakanlah saja kematiannya, karena pelajarannya kurang sempurna. Ini hari, aku dengan tidak tahu diri
akan meminta pelajaran darimu.”
Sewaktu ia mendengar si Iblis Pencabut Roh dengan Min Min Djie berdua masih tidak dapat menahan
serangannya, dalam hati kecilnya telah timbul rasa keder. Maka, bicaranya juga sudah mulai rada lunak.
Koo San Djie tidak berdaya, gagal membuat si tosu mengerti, maka terpaksa, dengan sabar ia berkata:
“Jika saja Locianpwee memaksa bertanding, silahkanlah menyerang!”
Hu-sie Tojin tidak malu-malu lagi, dia mulai serangannya. Koo San Djie yang merasa tidak enak, karena
telah menyebabkan kematian adik seperguruannya, tidak balas menyerang, hanya memiringkan badannya
menyingkir dari serangan.
Hu-sie Tojin telah mengeluarkan jurus yang pertama, kemudian disusul dengan jurus yang kedua. Tapi Koo
San Djie sudah berkelit pula dengan menggunakan ilmu “Awan dan Asap Lewat di Mata.”
Koo San Djie berbuat begini, karena ia tidak mengingini bertambahnya permusuhan. Tidak dikira, justru
inilah yang dirasakan penghinaan yang besar bagi Hu-sie Tojin yang menganggap dengan derajatnya yang
tinggi ia sudah kehilangan muka karena telah menyerang terlebih dulu, dan kini telah diganda mengeles
saja oleh seorang anak kecil yang baru keluar kemarin. Maka dengan mengeluarkan suara dari hidung ia
membentak:
“Jangan sombong!”
Mendadak, ia telah merobah cara berkelahinya, pukulan-pukulannya dengan saling menyusul telah datang
bertubi-tubi. Tenaganya yang telah mendapat latihan puluhan tahun tidak berada di bawahnya Tiauw Tua,
ditambah dengan keadaan marah, menyebabkan ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Semua orang
yang melihat perobahan ini sudah menjadi tergetar.
Koo San Djie tidak berani memandang rendah kepada lawan tangguhnya ini, tenaganya telah dicurahkan di
kedua belah tangan dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah gencarnya, ia balas menyerang.
Dua orang jago kelas satu yang bertarung kian lama kian seru, pukulan yang hebat, serangan yang aneh,
jurus-jurus yang tajam dan perobahan-perobahan yang tidak disangka-sangka, telah menyebabkan orangorang
yang melihatnya mengelah napas, mereka belum pernah menonton pertarungan yang seramai ini.
Biarpun tangan Koo San Djie menyerang, otaknya telah bekerja. Menghadapi Hu-sie Tojin yang mempunyai
kepandaian tidak di bawah dari Tiauw Tua, untuk dapat menentukan kalah menangnya, paling sedikit juga
sampai limaratus jurus lebih. Dan jika ia sampai gunakan kepandaian yang terakhir dari ilmu yang tertulis
dalam kitab Im-hoe-keng, sang lawan tidak dapat tidak, tentu akan menderita luka. Ia tidak mau
sembarangan melukai orang, sebelum mengetahui betul tentang kejahatan dari orang ini.
Maka, setelah berpikir bolak balik, dapatlah ia suatu akal, dengan mendadak ia berteriak:
“Berhenti!”
Ia segera memutarkan badannya dan telah tujukan pukulannya ke arah tebing batu yang terletak dua
tumbak dari tempat ia berdiri.
Terdengar suara gemuruh yang memekakkan telinga, batu-batu yang sebesar kepala manusia
beterbangan, tebing tadi telah terbongkar hampir seluruhnya. Udara menjadi gelap karena debu-debu yang
mengepul naik.
Inilah jurus yang terakhir dari ilmu yang tertulis dalam kitab Im-hoe-keng yang diberi nama Pukulan dan
Geledek Berubar-ubaran. Kekuatan dari pukulan ini telah membuat Min Min Djie dan kawan-kawannya yang
melihat menjadi meleletkan lidah, bagaikan patung saja mereka terpesona.
dunia-kangouw.blogspot.com
Hu-sie Tojin mendongak ke atas dan menghela napas panjang. Kini telah menjadi jelas baginya. Kekuatan
dari sang lawan masih berada di atas kepandaiannya, dengan mengalihkan serangan berarti sang lawan
masih menyayangi nyawanya agar ia dapat mundur sendiri. Maka ia sudah maju ke depan memberi hormat
dan berkata:
“Saudara kecil mempunyai perasaan yang welas asih, aku tidak nanti dapat melupakannya. Tapi biarpun
demikian, aku tidak dapat melupakan dendam dari adik seperguruanku, maka setelah lima tahun kemudian,
aku akan meminta pelajaranmu pula.”
Setelah ia bicara dengan mengibaskan lengan bajunya yang gedombrangan ia sudah melesat lari turun ke
bawah tanjakan.
Berakhirlah pertarungan yang seru ini. Tapi di sana, suami istri siluman masih seru dengan lawan mereka,
masing-masing Tiauw Tua dan Thian-mo Lo-lo.
Ternyata sewaktu Tiauw Tua menghalang di hadapannya si Setan Gunung, Thian-mo Lo-lo yang
mendengar bahwa murid kesayangannya Tju Thing Thing hampir saja meninggalkan nyawanya, karena
terkena ilmu jahat Yun-ling-pay-kuk-kang, tentu saja sangat marah. Maka, dengan cepat ia sudah
mengeluarkan ilmu Hok-mo-ciang, ilmu pukulan penakluk iblis yang terkenal, dan mengurung si Kalong
Wewe.
Tapi ilmu jahat dari si Setan Gunung dan Kalong wewe suami isteri Yun-ling-pay-kuk-kang tidak dapat
dibuat gegabah. Setelah masing-masing mengeluarkan serangan-serangan sampai seratus jurus lebih,
masih berimbang karena sama kuatnya.
Terhadap dua suami istri siluman yang jahat ini, Koo San Djie sudah menjadi demikian benci. Beberapa kali,
ia sudah maju, ingin menalangi melawan mereka, tapi takut dapat menyinggung perasaan Tiauw Tua dan
Thian-mo Lo-lo, maka ia membatalkan maksud tersebut.
Dalam keadaan ragu-ragu, mendadak, dari atas tebing terdengar suara tertawa dingin, disusul dengan
suara congkak:
“Kawan-kawanku boleh mundur. Lihat dari mereka, siapa yang berani maju pula?”
Dua siluman yang memang sedang keadaan terdesak, mendengar perkataan ini sudah lantas loncat
mundur.
Semua orang yang sedang menonton pertandingan mengarahkan pandangan ke atas tebing. Yang dua
ialah dari empat orang aneh dari Kong-lu ialah yang tertua U-cit dan yang kedua Ciauw-pat.
Sebetulnya, dua orang ini tidak perlu dikuatirkan. Yang dikuatirkan ialah keselamatannya Hay-sim Kongcu
yang berada dikempitannya, bahkan sebelah dari tangannya U-cit ditaruh di atas embun-embunnya Hay-sim
Kongcu.
Hu-hay Sin-kun tertawa dingin, cepat bagaikan monyet, ia sudah merayap naik ke atas tebing. Yang tidak
kalah cepat dengannya ialah Koo San Djie, si pemuda merendengi di sebelahnya.
06.15. Liong-sun-say, Pesanggrahan yang Tidak Dikenal
Tapi, mandadak U-cit sudah membentak keras:
“Jika siapa di antara kau orang ada yang berani naik, dengan menambah sedikit tenaga saya, nyawa orang
ini akan melayang.”
Bentakan ini berhasil bagus. Hu-hay Sin-kun dan Koo San Djie yang telah menjadi ketakutan telah
menjatuhkan dirinya kembali.
Terdengar U-cit membentak pula:
“Jika masih mengingini nyawanya, semua berdiri di tempatnya masing-masing.”
Lalu menggapaikan tangannya ke arah dua jejadian dan kawan-kawannya yang sudah bersama-sama lari
meninggalkan tempat itu.
dunia-kangouw.blogspot.com
Rambut yang putih dari Hu-hay Sin-kun seperti menjadi berdiri, tentu saja dia panas hati, sangat penasaran,
kedua matanya seperti mau memancarkan api, tapi ia tidak berdaya sama sekali. Kedua kakinya bagaikan
ditancapkan di tanah, tidak berani bergerak lagi.
Koo San Djie mengarahkan pandangannya ke tempat Tiauw Tua.
Tapi Tiauw Tua hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Inilah suatu langkah yang sangat lihay, sehingga dapat memaksa demikian banyaknya orang
berkepandaian tinggi menjadi takluk tidak berdaya, karena dalam genggamannya terdapat anak
kesayangan dari Hu-hay Sin-kun. Salah sedikit saja, akan mengakibatkan penyesalan seumur hidup. Siapa
yang berani menempuh bahaya?
Demikianlah, sampai rombongan kawan-kawan iblis tidak terlihat bayangan mata semua orang baru
terdengar elahan napas dari Hu-hay Sin-kun.
Dalam ingatannya, terbayang pula pembunuhan kepada sang istri. Penyiksaan terhadap anaknya, semua
kejadian-kejadian ini telah membuat Hu-hay Sin-kun, yang telah malang melintang puluhan tahun di
kalangan Kang-ouw, menjadi lesu.
Hati Tiauw Tua menjadi tidak tega, dengan menepok pundak sang kawan, ia berkata:
“Kau jangan terlalu banyak makan hati. Di sini tersedia demikian banyaknya orang pandai, masakan takut
mereka akan terbang ke langit? Mari kita berpencaran, membikin pengejaran.”
Hu-hay Sin-kun baru seperti bangun dari tidurnya dan berkata:
“Dengan demikian, hanya akan menyusahkan kalian saja. Entah di mana sarang mereka itu?”
Tju Thing Thing yang berdiri di sebelahnya sudah menyelak:
“Di dalam rumah makan, mereka pernah mengatakan tentang Liong-sun-say, entah di sekitar sini benar
terdapat suatu tempat yang bernama Liong-sun-say?”
“Liong-sun-say......” Hu-hay Sin-kun dengan kaget berkata.
Di kalangan Kang-ouw, nama Liong-sun-say ini tidak kalah ajaibnya dari pada Lembah Merpati. Biarpun
dengan megah ia berdiri di bawah kaki gunung Pit-kie, tapi jarang ada orang yang berani datang.
Ketua dari pesanggrahan Liong-sun-say ini ialah Tong Touw Hio yang mempunyai nama berendeng
terkenalnya dengan si Pendekar Berbaju Ungu. Ia mendirikan pesanggrahan selama lebih dari empatpuluh
tahun. Jarang sekali ia bergerak dalam kalangan Kang-ouw. Ia mempunyai adat yang sangat kukuh.
Kawan-kawannya pun terdiri dari berbagai macam golongan sehingga sukar untuk orang menentukan
pendiriannya. Biarpun demikian, belum pernah terdengar ia ada menanam bibit permusuhan. Karena ilmu
kepandaiannya sangat tinggi, maka orang tidak sembarangan berani membenturnya.
Disebutnya nama Liong-sun-say oleh Tju Thing Thing telah membuat Hu-hay Sin-kun, menjadi mundur
maju. Jika dengan membawa demikian banyak orang pergi menyerbu ke sana dan kemudian terbukti orangorang
tadi tidak berada di sana, bukankah telah menambah satu musuh tangguh pula? Tapi setelah
dipikirnya kembali ada kemungkinan juga mereka berada di sana. Maka ia sudah berdiri menjublek dengan
tidak dapat mengambil keputusan.
Terdengar Tiauw Tua membuka suaranya:
“Menurut pendapatku, kemungkinan besar mereka berada di sana. Lebih baik kita orang berpencar, dengan
cara berterang atau menggelap, menyerap-nyerapi kebenaran dari dugaan ini.”
Thian-mo Lo-lo juga turut berkata:
“Urusan sudah mendesak sampai di depan mata, tidak dapat menunggu-nunggunya pula. Demikianlah kita
berpisah. Aku beserta muridku akan berangkat terlebih dahulu.”
Sembari menarik Tju Thing Thing ia sudah putar tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu. Ia kukuh
dengan pendiriannya yang tidak menyukai Tju Thing Thing bergaul terlalu rapat dengan Koo San Djie.
Inilah, karena ia telah mengalami penderitaan batin yang hebat, sehingga telah menyebabkan ia tidak
menyukai semua pemuda di dunia ini. Dan untuk selanjutnya ia sudah berpikir untuk mengurung Tju Thing
Thing, agar tidak dapat mendekati lelaki lagi.......
dunia-kangouw.blogspot.com
Sudah tentu Tju Thing Thing seratus persen tidak setuju kepada tindakan sang guru. Tapi inilah perintah, ia
tidak berani melanggarnya? Matanya melirik ke arah Koo San Djie, si pemuda sedang duduk di belakang si
sastrawan Pan Pin, membantu mengatur pernapasannya sastrawan yang terluka itu, maka ia tidak berani
mengganggunya. Dengan menahan jatuhnya air mata, terpaksa ia harus mengikuti di belakangnya Thianmo
Lo-lo.
Semua kejadian ini tidak dapat lolos dari matanya Tiauw Tua. Di dalam hatinya ia memaki:
“Ini nyonya tua benar tidak mempunyai perasaan sama sekali.”
Ternyata, setelah para iblis dan para siluman tadi meninggalkan tempat itu. Koo San Djie sudah berjalan ke
hadapannya Pan Pin dan berkata:
“Locianpwe, bagaimana dengan keadaan lukamu?”
Sastrawan Pan Pin dengan mengkerutkan keningnya masih mencoba berkata dan tertawa:
“Tidak menjadi soal. Aku masih dapat menahannya.”
“Kau duduklah sebentar!” berkata Koo San Djie perlahan.
Sastrawan Pan Pin menurut kehendaknya, dengan segera ia berduduk di tanah, kemudian tangannya Koo
San Djie ditempelkan di tempat jalan darah Beng-bun. Terasa oleh Pan Pin, suatu aliran hawa yang panas
memasuki pembuluh Kie-hay, naik ke atas dan bergolak di dada.
Ia telah melatih tenaga dalamnya puluhan tahun, ia sudah segera mengerti keadaan ini maka segera
mengerahkan hawa dalam dirinya, bersama-sama dengan aliran hawa tadi, mengelilingi seluruh tubuhnya.
Dalam sekejapan mata saja, tenaganya telah menjadi pulih kembali. Bukan saja lukanya telah menjadi
sembuh, bahkan tenaganya telah menjadi bertambah kuat pula.
Sebentar kemudian, hawa panas tadi telah dapat ditarik kembali, dengan perlahan-lahan, Koo San Djie
mulai berdiri.
Sastrawan Pan Pin juga telah berdiri, dengan mengibas-ngibaskan debu yang menempel di baju, ia
menghadapi Koo San Djie, dengan kelakuan sangat hormat, ia berkata:
“Terima kasih atas bantuan tenaga dewamu yang telah menyembuhkan luka dalamku.”
Cepat-cepat Koo San Djie membalas hormatnya:
“Urusan yang sekecil ini untuk apa dikatakan pula.”
Semua orang yang berada di situ tidak ada satupun yang tolol, mana mereka tidak mengetahui berapa
besarnya rasa terima kasih dari Sastrawan Pan Pin, hingga berlaku begitu hormat.
Sampai di sini terdengar suara Tiauw Tua:
“Saudara kecil, mari kita segera berangkat.”
Lalu, seperti lupa mengatakan sesuatu, ia menambahkan pula perkataannya:
“Tju Thing Thing beserta gurunya telah berangkat terlebih dahulu.”
Mendengar ini, seperti telah kehilangan apa-apa, hati Koo San Djie menjadi kosong, tidak mempunyai
pegangan. Ini bukannya ia mempunyai perasaan berkelebihan terhadap Tju Thing Thing, tapi lantaran
semasa kecil, ia hanya sebatang kara, ia sangat membutuhkan cinta dari seorang kawan. Dalam beberapa
hari, pergaulannya dengan Tju Thing Thing sudah menjadi semakin rapat, ia hanya menganggap si nona
sebagai kakak yang lebih tua dari padanya.
Mendadak, kini ia harus berpisah dengan tidak mengetahui sama sekali, bagaimana hatinya tidak menjadi
kosong?
Dengan pandangan matanya yang tajam, Tiauw Tua sudah dapat menduga isi hati Koo San Djie. Maka ia
segera menghibur:
“Perpisahan dan pertemuan adalah satu jalan dari hidup manusia. Untuk apa dipikirkan? Kita harus segera
mencari jejak Ong Hoe Tjoe.”
Disebutnya nama Ong Hoe Tjoe, betul membuat Koo San Djie hidup kembali.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Mari kita segera berangkat!” ia mengajak dengan penuh semangat.
Dengan tidak turut sertanya Tju Thing Thing, Koo San Djie sudah menggunakan ilmunya Awan Asap Lewat
Di mata, tentu saja dengan lebih leluasa, bagaikan terbang kakinya, dia melesat dengan cepat.
Tiauw Tua juga tidak mau ketinggalan. Dengan kecepatan yang tidak mau kalah dari Koo San Djie, ia sudah
mengikuti di belakang pemuda itu.
Tidak lama kemudian, puncak gunung Pit-kie yang menjulang ke atas langit sudah tertampak di hadapan
mereka.
Tiauw Tua sudah memanggil Koo San Djie yang berada di depannya:
“Saudara kecil, baik kita beristirahat sebentar.”
Lalu, diajaknya sang perjaka ke sebuah kuil yang terdapat di situ. Sambil makan-makanan kering yang
memang dibawanya, Tiauw Tua berkata lagi:
“Pesangrahan Liong-sun-say dibangun demikian aneh, kau harus hati-hati. Gurumu memiliki aneka macam
kepandaian, seperti Kiu-kiong-pat-kwa dan bermacam-macam rahasia, apa sudah diturunkan kepadamu?”
Koo San Djie, mengangguk-anggukan kepala, dia membenarkan pertanyaan itu.
Tiauw Tua melanjutkan penuturannya:
“Tong Touw Hio dengan kepandaiannya yang tinggi, memang tidak usah dikata lagi, yang harus
diperhatikan ialah senjata-senjata atau pesawat-pesawat rahasia yang sukar diduga. Untuk menghadapi
orang seperti Tong Touw Hio ini, jika tidak sampai terpaksa, janganlah kita menggunakan kekerasan.
Mengenai tingkah laku dari Tong Touw Hio ini, aku sendiripun belum mengetahui betul. Sebelum kita
mengetahui dengan jelas, janganlah sembarang mengganggu.”
Koo San Djie hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Biarpun Tiauw Tua bersedia menjadi budaknya
atas kemauannya sendiri, tapi dalam mata Koo San Djie, orang tua itu tidak bedanya dengan guru saja. Ia
selalu menuruti segala kehendaknya.
Setelah diam sejenak Tiauw Tua berkata pula:
“Jika betul Tong Touw Hio telah bersekongkol dengan orang Lembah Merpati, sudah tentu Ong Hoe Tjoe
berada padanya.”
Koo San Djie tidak mengerti. Maka ia sudah menanya:
“Mengapa?”
Tiauw Tua lantas memberikan penjelasan terperinci:
“Begini soalnya. Setelah mereka dapat menculik Ong Hoe Tjoe, sudah tentu mereka mengetahui, bahwa
kau tentu akan menyusulnya. Jika mereka mempunyai pesanggrahan yang ini, dan agar Lembah Merpati
tetap beraoa dalam keadaan yang tersembunyi, sudah tentu mereka tidak mau pergi ke Lembah Merpati
yang jauh.”
Koo San Djie yang melihat Tiauw Tua dapat mengupas suatu soal sedemikian jelasnya, sudah menjadi
sangat girang. Dengan segera, sudah berkemas untuk berangkat.
Tiauw Tua tertawa, melihat kelakuan Koo San Djie yang seperti itu, dengan sabar ia berkata:
“Jika betul di sini, untuk apa harus tergesa-gesa? Tunggu saja sampai nanti malam jam dua, kita dapat
bergerak dengan leluasa.”
Sebelum berkata, ia sudah memejamkan kedua matanya. Dengan perlahan-lahan ia menjalankan latihan
mengatur pernapasan.
Koo San Djie juga merasa bahwa beberapa hari ini tidak melatih diri. Maka ia juga menutup mulutnya, tidak
berkata-kata. Sebentar saja, mereka berdua telah sampai ke dalam keadaan yang lupa akan segalagalanya.
Mendadak, suara desiran angin dari getaran baju lewat di atas mereka. Koo San Djie kaget, dia terbangun.
Tiauw Tua juga telah membuka kedua matanya, dengan gesit ia melompat ke atas dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kejar!”
Gerakan badan dari dua orang itu boleh dikatakan sudah sangat cepat, tapi begitu keluar dari pintu kuil,
keadaan di sekitarnya ada sangat gelap, mana ada bayangan manusia? Hatinya Tiauw Tua menjadi kaget
juga atas kecepatan dari orang tadi. Maka dengan memberi tanda, tubuhnya sudah melesat menuju ke arah
pesanggrahan Liong-sun-say.
Pesanggrahan Liong-sun-say dibangun dengan megah, seperti benteng, tapi tidak untuk perang, seperti
keraton, tapi tidak ada rajanya. Di sekitarnya gelap, tidak ada penerangannya. Di empat penjuru dikelilingi
oleh tembok yang tinggi, di tengah-tengah atas pintu terdapat huruf besar yang berbunyi
“LIONG-SUN-SAY”
Tiauw Tua memandang Koo San Djie tangannya menunjuk ke kanan.
Koo San Djie membongkokkan badan, kakinya sudah melejit terbang, dia menuju ke atas, tepat setinggi
tembok.
Kepandaian ini telah membuat Tiauw Tua memuji. Maka, ia juga menuju ke sebelah kiri.
Koo San Djie di atas wuwungan rumah, matanya memandang ke bawah rumah yang bersusun, terbenam
dalam kegelapan.
Mendadak, terasa pula desiran angin dari getaran baju yang seperti di atas kuil tadi. Kedua matanya telah
dibuka lebar-lebar, dilihatnya sesosok bayangan yang kecil langsung lenyap dalam kegelapan.
Maka, dengan tangan menekan tembok, badannya terbang melayang ke arah lenyapnya bayangan tadi.
Tapi, kali inipun ia menubruk tempat kosong pula. Ia menjadi kesal juga, dua kali ia telah dibikin kecele.
Sedari ia turun ke dalam kalangan Kang-ouw, inilah suatu kekalahan yang baru pertama kali dialaminya.
Maka, dengan tidak mempedulikannya pula, ia sudah mencari kamar tahanan.
Mulai dari rumah yang pertama, satu per satu ia memeriksanya. Tapi sampai rumah yang terakhirpun tidak
dilihatnya suatu apa.
Biarpun ia mempunyai kepandaian yang tinggi dan gerakan yang cepat, tapi kurang pengalaman. Maka
waktu ia berlompatan dari satu rumah ke lain rumah, telah dapat diketahui oleh orang.
Baru saja ia mau mencoba lompat ke suatu wuwungan rumah yang terang benderang, atau di belakangnya
telah terdengar suara tertawa berkakakan:
“Saudara kecil ini mengapa melatih diri di atas rumah orang?”
Koo San Djie menjadi merandek. Telinganya mendengar pula suara orang tadi:
“Aku adalah Tong Touw Hio, pemilik dari pesanggrahan ini. Jika kau suka memandang mukaku, marilah
turun, dan kita berbicara di bawah.”
Lalu, dengan hormat ia menggunakan tangannya menyilahkan Koo San Djie masuk.
Dalam hatinya San Djie memikir:
“Jika tidak memasuki goa macan, mana dapat mengambil anak macan? Aku akan menuruti kehendaknya.
Apa dia dapat menelan diriku?”
Maka, dengan meluruskan badannya, ia turun dan masuk dalam ruangan pesanggrahan Liong-sun-say
yang aneh itu.
07.16. Jebakan Pemilik Pesanggerahan Liong-sun-say
Koo San Djie dengan kepandaiannya yang tinggi dan nyalinya yang besar sudah mengikuti di belakang
Tong Touw Hio, dengan jalan berliku-liku menuju ke dalam ruangan
Di atas wuwungan rumah Koo San Djie tidak merasai sesuatu apa yang aneh, tapi, setelah masuk ke
dalam, terasalah keanehan dari bangunan ruangan-ruangan itu.
Begitu berjalan melalui jalan yang berliku-liku, dirasakan bagaikan berada di sebuah jaring kawa-kawa yang
besar, ia sudah tidak dapat membedakan arah di mana timur dan di mana barat, pegangan tangan lankan,
dunia-kangouw.blogspot.com
pintu, jendela dan semua yang berada di situ semua berbentuk sama. Jika tidak ada Tong Touw Hio yang
menjadi penunjuk jalan, jangan harap ia dapat mengenali ini semua.
Hati Koo San Djie sudah menjadi keder juga.
Tong Touw Hio seperti telah dapat menebak keadaan isi hatinya, dengan tertawa ia berkata:
“Harap anda dapat melegakan hati. Pesanggrahan Liong-sun-say, biarpun dibuat seperti ini, tapi tidak
mempunyai rahasia yang tersembunyi.”
“Dengan tingkatan derajat locianpwe di kalangan Kang-ouw, mana aku curiga,” jawab Koo San Djie.
Ia mengatakan dengan hati yang sejujurnya. Tapi perkataan ini justru kata-kata yang paling tepat, hingga
membuat hati Tong Touw Hio, memaki:
“Bocah yang mempunyai lidah tajam.”
Setelah masuk ke dalam ruangan besar, kekagetannya Koo San Djie sudah bertambah-tambah, ruangan ini
ada sangat mentereng. Semua barang-barang yang berada di situ, tidak ada satupun yang tidak bernilai,
semua adalah barang-barang antik yang tidak dapat ditaksir dengan harga biasa. Dibandingkan dengan
barang yang berada di dalam istana raja, mungkin tidak akan kalah seberapa.
Biarpun di mulut Koo San Djie tidak berkata, tapi kecurigaan hatinya sudah semakin bertambah. Ia
menganggap semua barang yang berada di sini menimbulkan perasaan aneh. Dan tingkah laku dari Tong
Touw Hio yang demikian hormatnya juga tidak seperti yang sewajarnya. Dari gerak geriknya yang kaku dan
suara tertawanya yang tidak sedap, menunjukkan sifatnya yang licin dan berbahaya.
Dengan muka yang selalu ramai, dengan senyuman di mulut, Tong Touw Hio menyilahkan tetamunya
duduk. Terdengar ia berkata:
“Baru saja saudara terjun ke dalam kalangan Kang-ouw, dan segera mendapat nama yang wangi. Dengan
pukulan tangan kosong, telah membunuh Iblis Pencabut Roh. Dengan kepandaiannya telah dapat memaksa
mundur Hoe-sie Tojin. Dengan seorang diri menaklukkan ikan mas besar dari telaga Pook-yang...... di
dalam dunia, tidak ada orang kedua yang bisa memiliki prestasi-prestasi seperti ini. Tidak sampai berapa
tahun lagi, tentu dapat menaklukkan semua orang rimba persilatan...... Ha, ha, ha,.......”
Koo San Djie yang mendengar orang memuji dengan berlebih-lebihan, bukan saja tidak merasa bangga,
bahkan sudah menjadi lebih mual. Ia masih tetap menutup mulut.
Tong Touw Hio seperti tidak memperhatikan ini semua, ia sudah menyambung pula berkata:
“Aku tidak memiliki barang makanan untuk dihidangkan, marilah kita minum arak sebagai tanda
perkenalan.”
Sebentar saja, datanglah seorang pelayan yang membawakan dua cawan arak di nenampan.
Si pelayan dengan tangan membawa nenampan, perlahan-lahan maju menghampiri Koo San Djie, tapi
karena kurang hati-hati, nenampan itu terbalik dan cawan pun pecah. Bersamaan dengan suara ramainya
pecahan cawan dan jatuhnya nenampan, asap biru mengepul di antara pecahan-pecahan tadi. Dengan
gemetaran si pelayan berdiri di tempat itu.
Tong Touw Hio bangun, meninggaIkan tempatnya, tangannya dengan tenang dikibaskan, mengarah dada si
pelayan.
Terdengar suara jeritan pendek, jiwa pelayan tersebut sudah diantar ke lain dunia.
Tong Touw Hio membunuh orang sendiri di depan sang tamu.
Hampir Koo San Djie tidak percaya, hanya karena memecahkan beberapa cawan saja, sampai mesti
manghilangkan jiwanya si pelayan. Baru saja ia mau mencegah, tapi sudah tidak keburu. Si pelayan tidak
ada waktu untuk menjerit sudah terjatuh di lantai dan jiwanya melayang ke akherat, membikin laporan dan
pengaduan dari kematiannya yang penasaran.
Kelakuan yang kejam dari Tong Touw Hio ini sudah menghilangkan rasa persahabatan, yang baru saja
timbul di dalam hati Koo San Djie. Berapakah harga dari cawan arak? Yang harus diganti dengan jiwa
manusia?
dunia-kangouw.blogspot.com
Tapi Tong Touw Hio yang mempunyai hati curiga, sudah menganggap si pelayan dengan sengaja sudah
memberi peringatan kepada Koo San Djie. Maka dalam keadaan hati panas, sudah mengeluarkan wajah
aslinya.
Dia melihat air muka Koo San Djie yang mengandung rasa ketidak puasan, maka ia sudah berpura-pura
memaki!
“Di hadapan tamu masih berani berbuat kurang ajar. Dia telah mencari mati sendiri....... Mana orang,
mengapa tidak lekas membawa keluar.......?”
Dengan cepat datanglah dua orang berbadan besar, dua orang ini membawa mayat si pelayan yang sial.
Tong Touw Hio seperti tidak pernah mengalami kejadian ini, ia sudah membalikkan badannya ke arah Koo
San Djie, seperti meminta maaf, ia berkata:
“Tentang kesalahan dari pelayanku yang tidak aturan tadi, harap saudara tidak menjadi kecil hati.”
Dengan perasaan tidak enak, Koo San Djie menjawab:
“Kelakuannya tadi tidak dapat dikatakan sengaja. Apa dengan hukuman yang seberat itu tidak menjadikan
penasaran baginya?”
Tong Touw Hio tidak mau keberatan dalam hal ini, dengan tertawa ia berkata:
“Kita tertunda minum, mari kita teruskan!” sambil menuangkan arak ke dalam cawan yang barusan
dibawakan oleh pelayan lain.
Lalu ia mengangkat cawan araknya, dengan sekali teguk ia sudah mendahului mengeringkan isi cawan.
Sebenarnya, Koo San Djie tidak biasa meminum arak, tapi karena tuan rumah sudah mengeringkan terlebih
dahulu, maka iapun tidak dapat untuk tidak minum. Hatinya yang jujur dan polos, mana dapat menyangka
kepada Tong Touw Hio berani berbuat curang?
Koo San Djie meminum arak tadi sampai kering.
Dengan perasaan puas Tong Touw Hio tertawa. Tertawanya sedemikian riang dan girang.
Inilah kelicinannya Tong Touw Hio. Biarpun ia mengetahui Koo San Djie segera menjadi anak kambing yang
tinggal dipotong, tapi dengan masih menghormati ia berkata:
“Hari ini, saudara datang kemari, sebenarnya ada urusan apa?”
Koo San Djie yang tidak dapat membohong dengan terus terang sudah berkata:
“Aku sedang mencari rombongan orang yang telah menculik Ong Hoe Tjoe dan Hay-sim Kongcu.”
Tong Touw Hio dangan masih tertawa haha hihi berkata:
“Mereka betul berada di pesanggrahan ini. Setelah saudara dapat menemui mereka, apa yang akan
diperbuat?”
Koo San Djie yang masih belum mengerti, masih enak dia menjawab:
“Aku hanya meminta mereka dapat mengembalikan Ong Hoe Tjoe dan Hay-sim Kongcu tentu saja dengan
selamat. Tapi, terhadap dua siluman suami istri, aku tidak dapat melepaskan. Mereka telah banyak
membahayakan manusia......”
Tong Touw Hio tertawa berkakakan:
“Suatu omongan yang besar. Tapi...... Hm, hm! Untuk selanjutnya, kau sudah tidak dapat berbuat suatu apa
lagi.”
Koo San Djie yang melihat lagu suaranya mendadak berobah, tentu saja mulai curiga. Maka, dengan
segera, ia mengumpulkan tenaganya. Tapi bukan main rasa kagetnya, semua tenaga telah hilang, entah
kemana? Badannya sudah menjadi begitu lemas, ia sudah tidak mempunyai tenaga sama sekali. Jangan
kata untuk bertarung sama orang, untuk menangkap ayam saja, ia sudah tidak mempunyai itu kemampuan.
Tong Touw Hio masih tertawa di tempat, dengan hanya melihati situasi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Baru kini ia dapat melihat muka yang asli dari Tong Touw Hio. Tidak disangka ia sedemikian tidak tahu
malunya. Tidak disangka, martabat begitu rendah. Ia benci sekali kepadanya. Ingin sekali ia memukulnya
sampai terbelah dua. Tapi semua keinginannya ini sudah menjadi impian belaka. Ia telah menjadi seperti
anak bayi yang baru lahir, yang tidak dapat berbuat suatu apa. Apa lagi untuk melawan jagoan ternama
seperti Tong Touw Hio ini? Dengan badan gemetaran, bahna gusar memaki:
“Tong Touw Hio, apa kau tidak mempunyai rasa malu? Terhadap aku saja, kau sudah menggunakan tipu
daya yang hina.......?”
Tong Touw Hio yang dimaki, bukannya marah, malah menjadi tertawa berkakakan. Dengan memanggil
orang-orangnya, ia sudah berkata kepada mereka:
“Saudara ini sudah terkena malaria, lekas bawa ke kamar tamu untuk istirahat!”
Biarpun Koo San Djie telah berontak-berontak dan memaki-maki kalang kabutan, tapi dua orang yang
berbadan besar tadi, bagaikan menangkap anak ayam saja, telah menentengnya masuk ke dalam sebuah
kamar. Dari jauh masih terdengar suara tertawa Tong Touw Hio yang tidak sedap di telinga.
Dua orang tadi setelah melemparkan Koo San Djie sampai ke dalam kamar, lalu membalikkan badan, dan
mengunci kamar dari luar. Sekarang, mereka sudah tidak takut kepada si pemuda, tidak mungkin terbang
lagi sekarang. Koo San Djie sudah bukan ahli waris dari Tamu Berbaju Ungu yang kemarin bisa malang
melintang di atas wuwungan rumah orang.
Setelah Koo San Djie masuk ke dalam jebakan, di luar datang pula serombongan orang yang terdiri dari Huhay
Sin-kun, Lok-sui Cian-liong, Sastrawan Pan Pin, Thian-mo Lo-lo dan Tju Thing Thing dan kawan-kawan.
Dengan terang-terangan, mereka berkunjung ke pesanggrahan ini.
Tong Touw Hio masih seperti tadi, dengan muka yang lebih manis dari pada gula, menyambut mereka ini.
Tapi rombongan ini tidak dapat disamakan dengan Koo San Djie yang masih mentah dalam pengalaman
Kang-ouw. Dengan hanya satu lirikan saja, mereka sudah mendapat tahu, apa dan bagaimana kwalitet tuan
rumah.
Setelah mereka saling memberi hormat. Hu-hay Sin-kun terus terang sudah mengatakan akan maksud
kedatangan mereka.
Tong Touw Hio mendengar itu, dia menunjukan sikap terkejutnya. Seperti sungguh-sungguh, ia berkata:
“Apa benar ada itu kejadian? Saudara-saudara tidak usah kuatir, jika betul rombongan itu di daerahku,
jangan harap mereka dapat lolos dari orang-orangku. Kalian yang telah datang dari tempat yang jauh, tentu
sudah menjadi lelah. Untuk malam ini, aku harap istirahatlah di pesanggrahanku ini, besok pagi kita
bersama-sama mencari mereka.”
Dengan segera, ia sudah memanggil orang-orang untuk menyediakan makanan.
Dengan hormat, Hu-hay Sin-kun berkata:
“Tidak berani kami membikin repot. Jika betul rombongan mereka tidak berada di sini, kita akan segera
mengejar.”
Tong Touw Hio menjadi sibuk sendiri. Dengan cepat-cepat ia berkata:
„Biarpun akan mengubar mereka pada malam ini juga, tidak usah sedemikian repotnya. Marilah kita makan
sebentar, dengan perut kenyang, ada lebih leluasa untuk mengejar mereka.”
Mendadak, Thian-mo Lo-lo berkata:
“Kau mengepalai di daerah ini, sedikit banyak tentu mengetahui sepak terjang dari orang Lembah Merpati.
Dapatkan kau memberikan keterangan yang berharga?”
Tong Touw Hio sudah menjadi tertawa besar. Setelah sekian lama ia tertawa, dengan tenang ia
memberikan keterangan!
“Jika kukatakan dengan sebenarnya, siapapun tentu tidak akan percaya. Aku mengumpat di pesanggrahan
Liong-sun-say selama empatpuluh tahun, terhadap urusan di kalangan Kang-ouw, aku tidak mengetahuinya
sama sekali.”
Sastrawan Pan Pin dengan tertawa dingin berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Saudara Tong, apa kau tidak membohong diri sendiri? Liong-sun-say selalu memelihara perhubungan
dengan berbagai golongan, biarpun orang tidak keluar tapi segala urusan tidak dapat dibutakan begitu saja.
Dan pula aku tidak percaya, bahwa Min Min Djie tidak berani berkunjung kemari.”
Wajah Tong Touw Hio berubah. Dengan berganti suara ia berkata:
“Apa saudara-saudara tidak percaya?”
Hu-hay Sin-kun takut akan urusan menjadi genting, dan mengakibatkan berhadapan dengan musuh
tangguh, maka ia segera menyelak:
“Saudara Tong mempunyai nama tersohor di kalangan Kang-ouw, mana kami berani tidak percaya.”
Sebentar saja, meja perjamuan telah selesai diatur, Tong Touw Hio berdiri menyilahkan para tamunya pergi
ke ruangan makan.
Semua orang yang berada di situ mempunyai pergaulan yang bebas, setelah berkali-kali tuan rumah
menyilahkan makan, tentu saja menjadi tidak enak hati, sulit menolak lagi. Maka, dengan apa boleh buat,
mereka memilih tempatnya masing-masing.
Tong Touw Hio dengan tingkah lakunya yang menghormat, sudah melayani para tamunya makan dan
minum. Berkali-kali ia mengangkat cawannya dan mengeringkan araknya.
Sebentar saja, mereka sudah menjadi biasa kembali, lupa akan percekcokan tadi bagaikan kawan lama
yang baru bertemu kembali, mereka sudah mulai minum dengan sepuas-puasnya hati.
Di antara bau arak dan lezat makanan, dari belakang tirai terdengar suara tetabuhan yang dibarengi oleh
munculnya penari-penari muda yang cantik. Pada tangan mereka, masing-masing membawa sebuah
pembakaran hio yang terbuat dari batu kumala putih, dengan baju mereka yang beraneka ragam, menarinari
dengan gaya yang sangat luwes.
Asap dari hio wangi mengepul naik dan mengelilingi seluruh ruangan. Di antara bayangan asap, terlihatlah
tari-tariannya yang berganti-ganti. Semua orang yang berada di situ, bagaikan naik sorga, menonton para
dewi yang sedang menari.
Gerakan yang lincah, suara yang merdu dan pakaian tipis berbayang, semua ini mengandung daya penarik
yang telah membuat beberapa orang yang setengah mabok ini melayang-layang jauh di awan.
Siliran angin yang membawa bau wangi semerbak memasuki hidung mereka, membuat mereka menjadi
malas-malasan. Mereka tidak mengetahui bau wangi inilah yang telah menjadikan mereka lupa daratan,
hawa wangi inilah yang telah membuat perubahan pada diri mereka.
Sastrawan Pan Pin dengan tangan masih memegang cawan tertawa berkakakan. Mulutnya tidak hentihentinya
mengoceh:
“Saudara Tong yang bongkok ini mempunyai kesenangan yang luar biasa. Sangat beruntung, kami masih
dapat turut merasai.”
Mendadak, Thian-mo Lo-lo menjerit dengan membentak:
“Maling bongkok, jangan kau bertingkah di hadapan nenekmu.”
Bersamaan dengan ramainya suara meja kursi yang berjumpalitan dan pecahan piring mangkok yang
berterbangan, Thian-mo Lo-lo sudah menyerang ke arahnya Tong Touw Hio.
Hu-hay Sin-kun, Sastrawan Pan Pin dan lain-lain juga telah mulai merasa adanya perobahan. Dengan
segera mereka telah lompat bangun.
Tapi, sudah terlambat. Satu persatu, mereka telah kehilangan semua kepandaiannya. Pukulan Thian-mo
Lo-lo, seperti orang mengebut debu saja menempel perlahan-lahan di atas pundaknya Tong Touw Hio.
Tong Touw Hio tidak memperhatikan ini semua, dengan tertawa berkakakan ia berkata kepada orangnya.
“Para tamu telah menjadi mabok, lekas antar mereka ke belakang.”
Mereka telah terkena racun Siauw-kang-san yang jahat dari Lembah Merpati. Tidak perduli termakan ke
dalam perut atau tercium oleh hidung, jika tidak makan obat pemunahnya, biarpun orang mempunyai
kepandaian yang berapa tinggi pun tentu terkena serangannya, seluruh badan akan menjadi lemas dan
tidak bertenaga sama sekali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Beberapa orang-orang itu hanya dapat mempelototkan matanya dan memaki Tong Touw Hio yang tidak
tahu malu.
Biarpun memaki bagaimanapun, semua orang tidak berdaya. Satu persatu telah dibawa masuk oleh para
penari yang tidak mempunyai kepandaian.
Sesudah Hu-hay Sin-kun dan kawan-kawannya lenyap dari pandangan mata, dari dalam pintu bertindak
keluar dua orang.
Yang pertama ialah seorang pelajar berbaju kuning dengan muka putih dan bibir merah. Di belakangnya
mengikuti seorang wanita muda yang berpakaian keraton berwarna kuning tua.
Setelah Tong Touw Hio melihat dua orang ini masuk ke dalam ruangan, dia membongkokkan badannya dan
memberi hormat.
Si pelajar baju kuning dengan mengeluarkan suara dari hidung sudah berkata:
“Sangat pandai kau mengurus perkara. Baru saja dimulai, segera kau mendatangkan demikian banyaknya
musuh. Untuk selanjutnya, bagaimana kau mempertahankan kedudukanmu sebagai Duta Selatan?”
Dengan hormat Tong Touw Hio menjawab:
“Memang aku tidak mempunyai kepandaian, dan bahkan sering membuat suatu kesalahan. Syukur
beberapa orang ini sudah dapat dibikin roboh, sebentar lagi akan kubereskan mereka.”
Si Wanita Muda Berbaju Keraton dengan dingin berkata:
“Enak saja kau berkata. Apakah kau kenal akan bayangan orang yang telah dapat menolong si gadis
nelayan itu? Tinggi kepandaiannya tidak dapat diukur, jejaknyapun sangat aneh, tidak dapat diduga. Ketua
lembah sudah memerintakan untuk menangkap kepadanya.”
Setelah berhenti sebentar, si wanita muda sudah berkata pula dengan suara keras:
“Kuperingatkan kepadamu, jika sampai kau membocorkan rahasia dari lembah dewa, awas batok
kepalamu!”
Si pelajar baju kuning juga turut berkata:
“Sudah terang kau tidak dapat tinggal lebih lama di sini pula. Cepatlah berkemas untuk mencari tempat lain
lagi.”
Tong Touw Hio masih tetap membongkokkan badannya dan manggut-manggutkan kepalanya sampai
beberapa kali. Tapi dalam hatinya sudah seperti sedang diiris-iris. Ia telah menerima jabatan Duta Selatan.
Ia telah menelan pil apa yang diberi nama Penyambung Nyawa, karena untuk memelihara
pesanggrahannya ini yang telah bersusah payah diusahakannya dalam empatpuluh tahun lamanya.
07.17. Racun Siauw-kang-san dari Lembah Merpati
Loteng yang bersusun, harta benda yang tidak terkira menyebabkan ia menjadi demikian sayang akan jiwa
tuanya. Ia masih tidak lupa akan kesenangan dunia, ia mengimpikan dapat kembali menjadi muda, ia
mengimpikan dapat hidup ratusan tahun lamanya, ia mengimpikan......
Demikianlah ia menyembah kepada ketua Lembah Merpati yang masih berada dalam khayalan, ia menelan
pil Penyambung Nyawa untuk menambah umurnya......
Tapi sekarang, ilmu yang memanjangkan umur masih belum mendapatkannya, kini ia harus
menghancurkan pesanggrahannya yang telah diusahakan puluhan tahun lamanya dan harta kekayaannya
yang telah dikumpulkan sedemikian lama. Ia tidak berani menolak perintah ini, karena ia mengetahui,
kepandaiannya masih tidak dapat untuk menandingi orang-orang dari Lembah Merpati, biarpun orang ini
hanya tergolong kelas dua, yang terpenting baginya, tiga bulan sekali, ia harus meminta pil pemunah racun
dari orang Lembah Merpati. Jika tidak mendapatkan pil pemunah racun ini, tentu racun dari Pil Penyambung
Nyawa, akan menjadi kumat kembali. Di waktu itulah, ia akan menjadi tersiksa dari pada segala macam
siksaan yang berada di dunia.
Si pelajar baju kuning yang melihat ia demikian lama tidak bergerak dari tempatnya sudah kerutkau alisnya
dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Duta Selatan, berani kau tidak mendengar perintahku?”
Tong Touw Hio dengan sedih menjawab:
“Jerih payahku ini telah diusahakan lebih dari empatpuluh tahun, sebetulnya....... dapatkah menunggu
sampai beberapa hari, jika betul-betul keadaan sudah menjadi sangat mendesak, baru kita bertindak?”
Si wanita muda memperlihatkan wajah marah, dari dalam lengan bajunya, dia mengeluarkan cap batu
kumala merah yang terukir sepasang burung Merpati. Dengan mengangkat tinggi-tinggi cap ini, ia sudah
membentak:
“Perintah dari ketua lembah! Duta Selatan Tong Touw Hio harus membakar pesanggrahan Liong-sun-say!
Segera! Pindah ke tempat yang baru! Sekian! Perintah harus di jalankan!”
Tong Touw Hio yang melihat ini, mukanya sudah menjadi berobah sama sekali. Bagaikan seorang terdakwa
saja yang sudah mendengarkan putusan hakim, tentang hukuman matinya, ia bertekuk lutut, dengan muka
yang pucat seperti mayat, dengan suara yang hampir mau menangis ia berkata:
“Siap menerima perintah dari ketua lembah.”
Dengan cepat, ia bangun kembali untuk pergi ke belakang, mencari orang-orangnya, agar dengan cepat
dapat menyelesaikan tugas yang menyakitkan hatinya ini.
Tapi, mendadak, di atas kepalanya terdengar suara bentakan:
“Tong Touw Hio, jangan lari!”
Bagaikan burung garuda yang turun dari awang-awang, lompat turun seorang pemuda cakap, dia adalah
Koo San Djie yang barusan terkena racun Siauw-kang-san!
Dengan tidak terasa, hatinya menjadi kaget bukan main. Dalam hatinya berkata:
“Bocah ini sangat aneh sekali. Racun Siauw-kang-san yang demikian banyaknya, bagaimana dia dapat
memulihkan kembali tenaganya?”
Mana Tong Touw Hio dapat menyangka pada Pit Badak Dewa yang dapat memunahkan segala macam
racun. Pit tersebut masih berada pada Koo San Djie, pit inilah yang menjadi kunci perubahan.
Ternyata, sewaktu badan Koo San Djie dilemparkan ke lantai, baru saja ia bangun, tentu saja deugan
bersusah payah, tiba-tiba terdengar suara benda yang terjatuh dari badannya. Benda yang berwarna hitam
mengkilap ini terjatuh ke lantai dan membuat lantai yang ditiban olehnya pecah.
“Dari Pit Wasiat Badak Dewa ini yang telah memberi ilham kepadanya. Pit ini dapat memunahkan segala
macam racun, entah bagaimana dengan racun arak yang jahat ini?” Maka, dengan segera Koo San Djie
menghampiri teko yang berada di atas meja, dan memasukkan ke dalamnya Pit Badak Dewa tadi. Dikocokkocoknya
beberapa lama, air yang berada di dalam teko tadi membuih, kemudian dengan membuka
mulutnya, ia sudah menuang air yang telah dikocok dengan Pit Badak Dewa itu. Dengan perasaan tenang,
ia duduk di atas papan panjang, menunggu reaksi dari percobaannya.
Tak lama kemudian, perutnya berbunyi keruyukan, setelah melepaskan beberapa kentut yang berbau
busuk, badannya telah terasa menjadi enteng kembali. Ia mempunyai dasar kepandaian yang sempurna.
Setelah menjalankan putaran peredaran darahnya ke seluruh tubuh, sisa racun yang masih berada di dalam
tubuhnya telah dapat diusir keluar.
Dengan tidak terasa, ia mengeluarkan elahan napas lega. Hanya dalam waktu setengah jam saja, ia seperti
dalam keadaan bermimpi. Dari hidup sampai mati, dan kemudian hidup kembali. Batal melapor diri ke
akherat. Beberapa kali dalam hatinya berkata:
“Sungguh berbahaya! Sungguh berbahaya!”
Jika tidak ada Pit Badak Dewa ini, bukannya nasibnya akan menjadi seperti pelayan apes tadi? Ketika ia
hendak menerobos pintu menyerang keluar, mendadak, kupingnya telah mendengar suara elahan napas
yang seperti sangat dikenal. Suara elahan napas biarpun ada sangat perlahan, tapi tidak dapat lolos dari
kuping Koo San Djie. Maka, dengan segera, ia menuju ke arah datangnya suara tadi. Setelah berjalan tidak
beberapa jauh, ia telah sampai ke dalam sebuah ruangan kecil. Di dalam ruangan ini terlihat seorang, orang
sedang meringkuk, dia adalah Hay-sim Kongcu yang sedang dicari-cari!
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tidak disengaja, ia telah dapat menemukannya, maka, dengan segera ia sudah lompat masuk,
dengan perlahan-lahan ia berkata:
“Ternyata kau berada di sini!”
Hay-sim Kangcu sedang kesal memikirkan nasibnya yang melihat datangnya sang kawan, tentu saja dia
menjadi girang, dengan cepat ia lompat berdiri.
Tapi, begitu kakinya menginjak tanah, hatinya sudah menjadi lemas kembali.
Begitu Koo San Djie datang, dia lantas menarik tangannya dan berkata:
“Kau tidak usah kesal memikirkannya. Sudah menjadi lumrah, bila suatu waktu kita kalah dalam
pertempuran.”
Ia salah menyangka, Hay-sim Kongcu kesal memikirkan dirinya yang telah dijadikan tameng oleh orang.
Tapi Hay-sim Kongcu dengan menggeleng-gelengkan kepalanya berkata:
“Bukan ini yang kumaksudkan. Kepandaian dan tenagaku seluruhnya telah lenyap.”
“Ooo, hanya ini yang kau pikirkan. Kau tunggu di sini sebentar.”
Kemudian, dengan tidak memikir kembali, ia sudah balik ke dalam kamar tahanannya tadi, untuk mengambil
teko yang berisi air pemunah racun. Segera dibawanya teko tersebut pada kawannya seraya berkata:
“Minumlah, air dalam teko ini adalah obat pemunah racun.”
Hay-sim Kongcu menurut petunjuk sang kawan, ia telah meminumnya. Benar saja tidak lama kemudian,
kekuatan dan kepandaiannya pun telah menjadi pulih kembali, hingga bukan main girangnya.
Terdengar Koo San Djie sudah bertanya kepadanya:
“Saudara, dengan cara bagaimana mereka dapat membawamu kemari?”
Hay-sim Kongcu menggoyangkan kepalanya. Dengan sengit ia menjawab:
“Tidak kusangka, orang-orang itu begitu tidak mengenal peraturan.”
Lalu diceritakannya tentang pengalaman dan hal-hal yang menyangkut tentang Lembah Merpati yang
tersembunyi.
Ternyata, pada waktu itu, ketika Hay-sim Kongcu duduk mengobati lukanya, dari jauh berlari mendatangi
beberapa orang. Sewaktu ia membuka kedua matanya dan mengenali yang datang itu adalah empat orang
aneh dari Kong-lu. Biarpun hatinya merasa kaget, tapi ia tidak memperlihatkan perubahan itu pada air
mukanya. Sebagai seorang yang lebih muda, ia menjura dan memberi hormat kepada mereka.
Tidak disangkanya, si orang aneh pertama U cit tertawa berkakakan, dengan mulut tidak henti-hentinya
berkata:
“Barang bagus! Barang bagus!”
Hay-sim Kongcu menjadi melengak mendengar kata-kata itu.
Mandadak, di belakangnya ada angin yang menyerang. Ia yang telah mendapat didikan sempurna dari Huhay
Sin-kun, kepandaiannya tidak dapat dipandang ringan, dengan menggerakan badannya ke belakang, ia
sudah dapat mengelakan serangan itu. Setelah menengok ke belakang, dilihatnya yang menyerang adalah
Kiong-sie, si bontot dari orang aneh itu. Maka hatinya menjadi panas juga.
Baru saja ia mau menanyakan tentang sebab musababnya, mendadak, ia telah dikurung oleh mereka
berempat.
Dengan kepandaiannya Hay-sim Kongcu, jika satu lawan satu, tentu bisa memberikan perlawanan. Tapi, ia
dikeroyok oleh empat orang, biarpun ayahnya sendiri, Hu-hay Sin-kun, juga masih tidak dapat menandingi
mereka. Maka sebentar saja, ia sudah tertotok rubuh.
Keempat orang aneh dari Kong-lu tidak berkata apa-apa lagi, mereka mengempit dan membawakannya
pergi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di tengah jalan, mereka takut kalau Hay-sim Kongcu mendapat luka, kerena tertotok terlalu lama, maka
setelah diberi sedikit minum, totokannya juga telah dibuka.
Setelah totokan jalan darahnya terlepas, ia sudah merasa senang juga. Ia hanya tinggal menunggu
kesempatan saja untuk melarikan diri, meninggalkan mereka, tapi tidak disangkanya sama sekali,
kepandaiannya sudah menjadi lenyap dan punah. Setelah ia mengetahui, tidak ada harapan untuk
melarikan diri, maka dengan tenang telah mengikuti mereka dengan sewaktu-waktu mencari kesempatan
untuk memberi tanda minta pertolongan.
Dan sampailah ia terkurung di dalam Liong-sun-say.
Keempat orang aneh dari Kong-lu sudah menganggap ia sebagai burung dalam kurungan, yang tidak bisa
terbang lagi. Mereka bercakap-cakap dengan leluasa, sehingga ia dapat mengetahui banyak sekali tentang
keadaan Lembah Merpati.
Yang terpenting. Pertama, ialah ketua dari Lembah Merpati bukanlah Sui Yun Nio atau Phoa An berhati
ular.
Yang kedua, ialah orang Lembah Merpati dengan ketiga barang penariknya sedang memancing orangorang
dari kalangan Kang-ouw.
Ketiga barang penarik itu ialah: cara memelihara muka, kepandaian dari dalam lembah dan gadis-gadis
cantik yang tersedia.”
Yang ketiga ialah, ketua Lembah Merpati telah memberi empat jabatan Duta di empat penjuru. Tong Tauw
Hio mungkin menjadi salah satu dari duta ini. Dan seperti empat orang aneh dari Kong-lu, dua Siluman
suami istri dan yang lain-lainnya lagi adalah ia yang memanggilnya.
Mendengar penuturan dari Hay-sim Kongcu ini, Koo San Djie sudah menjadi mengerutkan kening. Seperti
berkata sendiri, ia mengoceh:
“Tidak disangka, urusan telah berubah demikian kusut. Tapi, mengapa mereka tidak membunuhku?”
Hay-sim Kongcu dengan menggebrakkan tangannya berkata:
“Orang-orang yang tidak bedanya dengan binatang itu sudah membawaku untuk dijadikan barang antaran.”
Koo San Djie juga telah memikir, mengapa Tong Touw Hio, setelah dapat meracuninya tidak segera
membunuhnya, tapi dibiarkannya saja. Mungkin juga mempunyai maksud yang sama.
Dua orang itu terdiam sebentar, kemudian Koo San Djie berkata:
“Lekaslah kita pergi ke depan, mungkin juga ayahmu telah datang menuju kemari!”
Dengan sekali loncat, ia sudah mendahului pergi ke ruang depan.
Tapi, mendadak di sebelahnya tampak berkelebat bayangan yang tinggi besar. Dengan suaranya yang
perlahan bayangan itu berkata:
“Apa saudara kecilku? Lekas bawa pit mu kemari, benda itu dibutuhkan untuk menolong orang!”
Yang datang adalah Tiauw Tua. Maka, dengan cepat Koo San Djie sudah menyerahkan benda yang
diminta.
Tiauw Tua memandang Hay-sim Kongcu, kemudian ia berkata.:
“Mari ikut aku menolongi ayahmu.”
Dengan cepat, ia sudah membalikkan badan dan pergi ke belakang. Hay-sim Kongcu yang mendengar
ayahnya telah terluka, cepat-cepat mengikutinya di belakang.
Dengan langsung Koo San Djie pergi menuju ke ruangan depan, tepat telah bersampokan dengan Tong
Touw Hio. Begitu dilihatnya orang yang bermuka dua ini, hatinya sudah menjadi panas kembali. Dengan
marah keras ia mencaci:
“Maling tua, kau sedikitnya juga telah mendapat nama di kalangan Kang-ouw, mengapa masih begini tidak
tahu malu? Tidak disangka, perbuatanmu ternyata lebih rendah dari pada kurcaci saja. Jika kau tidak dapat
memberikan penjelasan kepadaku, jangan harap kau dapat lari dari tanganku!”
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebenarnya, Koo San Djie bukannya orang yang pandai menggunakan mulutnya, tapi kali ini karena dalam
keadaan marah dan kesal, ia bisa menggunakan perkataan-perkataan yang tajam ini.
Tong Touw Hio sedang merasa kesal, karena paksaan dari si pelajar baju kuning dan wanita muda tadi,
mendengar makian ini, dia menjadi seperti orang gila, berkakakan di tempatnya, sampai mengeluarkan air
mata. Setelah puas ia tertawa sekian lamanya, baru terdengar suaranya berkata:
“Sebenarnya aku bermaksud baik, hendak mengantarkan kau masuk ke dalam lembah dewa, tidak
disangka, ternyata kau tidak berterima kasih. Baiklah, untuk selanjutnya, jangan kau menyesal, jika aku
bertindak kejam.”
Lembah Merpati dikatakan sebagai lembah Dewa!
Badannya melesat tinggi ke atas, bagaikan burung hantu saja, dia menerkam ke arah Koo San Djie.
Koo San Djie tidak tinggal diam. Ia sudah berputar lompat ke tempat sebelah kiri, mengangkat sebelah
tangan kiri, dia menyerang ke depan.
Tong Touw Hio mendapat nama di dunia Kang-ouw bukan tidak ada sebabnya. Begitu melihat serangan,
dia mengarah ke tempat kosong, bagaikan titiran saja, badannya berputar-putar, mengikuti gerakkan Koo
San Djie, ia juga menyerang dengan sebelah tangannya.
Dua buah pukulan kebentur menjadi satu. Dengan terpaksa, Tong Touw Hio mundur tiga tindak, bersama
dengan suara pecahnya batu bata, barulah ia dapat menegakkan dirinya, dengan meminjam daya tahan
dari beradunya kaki dan lantai.
Tapi, Koo San Djie tidak bergeming setindakpun.
Di hadapannya dua tamu agung dari Lembah Merpati ini, ia dapat kekalahan demikian rupa, bagaimana
Tong Touw Hio menaruh mukanya? Maka, dengan cepat ia sudah maju dua tindak. Pukulannya bagaikan
hujan deras, datang saling susul, menyerang tiga kali. Tiga serangan ini mengandung perobahanperobahan
yang dapat dibanggakan olehnya.
Koo San Djie yang tidak menduga akan kekuatan dari sang lawan yang begitu tangguh, dia sudah dipaksa
mundur beberapa kali. Hati menjadi gelisah.
Begitu hatinya menjadi gelisah, dengan tidak terasa, ia telah mengeluarkan ilmu simpanan. Seranganserangannya
lebih tajam, lebih aneh dari pada yang telah digunakan oleh Tong Touw Hio tadi. Dengan
sebentar saja, Tong Touw Hio sudah terdesak mundur.
Serangan-serangannya bagaikan ada tali saja yang mengikatnya sambung menyambung, sehingga Tong
Touw Hio sampai tidak ada kesempatan untuk balas menyerang.
Mendadak, desiran angin yang membawa hawa harum telah datang menyelak di antara mereka, bayangan
yang tinggi dan langsing berkelebat, mengulurkan sebelah tangannya yang putih bersih menggaet ke arah
tangan Koo San Djie.
Si anak muda dengan cepat sudah membalikkan tangan dan memotong ke arah bayangan tadi. Tapi orang
yang datang tadi dengan gesit sudah menyingkir dan berdiri di sebelahnya.
Si wanita muda dengan mengibaskan tangannya sudah berkata kepada Tong Touw Hio:
“Kau lekas pergi mengurus urusanmu. Di sini ada aku yang melayaninya.”
Tong Touw Hio menggunakan kesempatan ini lari menyingkir ke belakang.
Tapi terdengar bentakkannya Koo San Djie yang keras:
“Maling tua, ingin lari dari sini?”
Koo San Djie hendak menghadang, tiba-tiba si wanita muda dengan tertawa haha hihi berkata:
“Sabar, adik kecil. Bukankah sama saja, aku yang melayani kau, main-main dalam beberapa gebrakan?”
Koo San Djie sudah bertekad untuk menguber Tong Touw Hio, mana ada waktu untuk menonton wajah
yang manis dari si wanita muda.
“Minggir!” bentaknya, seraya menggerakkan tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Biarpun gerakannya perlahan, tapi mengandung kekuatan yang tersembunyi sangat besar sekali.
Si wanita muda agaknya mendongkol. Setelah menyingkir dari serangan Koo San Djie, ia segera
menyerang dengan pukulan yang aneh, cepat luar biasa.
Hati Koo San Djie, tergetar juga. Tidak ia sangka kepandaian wanita muda itu demikian anehnya. Terpaksa,
ia harus menggunakan ilmu yang dipelajarinya dari kitab Im-hoe-keng.
Mereka bertanding sama-sama cepat, dalam sekejap saja, mereka sudah saling menyerang sepuluh jurus,
dalam mana telah diperlihatkan tipu-tipu pukulan yang mengandung banyak perobahan-perobahan.
Masing-masing terkejut oleh kepandaian lawan. Boleh dikatakan lawannya adalah musuh yang tertangguh
yang baru ditemui.
Koo San Djie sambil bergerak tangannya, hatinya memikir:
“Jika wanita muda ini orang dari Lembah Merpati, bagaimana pula tentang kepandaian dari ketua lembah
itu?”
Ia menjadi ragu-ragu akan kepandaiannya sendiri. Ia tadinya menyangka dengan kepandaian yang dimiliki
kini, tentu sudah sanggup menandingi ketua dari Lembah Merpati. Sekarang, baru saja menghadapi salah
satu orang bawahannya, si wanita muda yang agaknya takut akan angin, sudah merasa sukar.......
Karena hatinya tidak mantap, otaknya memikiri yang bukan-bukan, sewaktu ia lengah sedikit, jari yang halus
dari si wanita muda, dengan tepat telah mengarah Kian-kim-hiat di atas pundaknya. Untuk menyingkir dari
serangan ini sudah tidak mungkin, maka, dengan segera ia mengerutkan seluruh tubuhnya. Biarpun
demikian, tidak urung, bajunya masih menjadi korban dari kelengahannya, tertusuk bolong dan robek
sebagian.
◄Y►
Di lain bagian, Tiauw Tua berhasil menolong orang-orang.
Hay-sim Kongcu bersama-sama Tju Thing Thing, dengan dua pedang panjang pendek mengeroyok Iblis
Pipi Licin.
Tiauw Tua membereskan dua lawannya, terlalu cepat. Kini dia sudah tidak mendapat lawan pula, ia lalu
bertindak, mau meninggalkan tempat itu dan mencari Koo San Djie yang masih belum diketahui bagaimana
keadaannya.
Tapi tiba-tiba seiring dengan datangnya suara desiran angin, dari atas udara telah lompat turun dua orang.
Mereka adalah si pelajar tampan berbaju kuning, di belakangnya diikuti oleh Tong Touw Hio yang sedang
dicari-cari oleh mereka semua.
Tong Touw Hio begitu loncat turun sudah membuka suaranya yang tidak enak:
“Siapa?” Bahasanya juga tidak enak: “Kau orang setelah terjatuh ke dalam tangannya Liong-sun-say apa
masih juga ingin melarikan diri?”
Tiauw Tua menyelipkan Pit Badak Dewa ke dalam pinggang bajunya, dia tidak mau kalah bicara:
“Aku Tiauw Tua sudah lama ingin mencoba ilmumu Tong-touw-ciang. Mari, mari, kita menentukan siapa
yang lebih tinggi di antara kita.”
Dua orang itu lantas bertempur tanpa banyak rewel lagi.
Si pelajar baju kuning dengan perlahan-lahan sudah maju ke dalam kalangan pertempuran. Dengan suara
adem ia berkata kepada orang-orangnya
“Pa-sam, Kong-sie, mundur!”
Yang paling senang mendengar teriakan ini ialah Iblis Pipi Licin, dia sedang terdesak oleh Hay-sim Kongcu
dan Tju Thing Thing.
Setelah menyerang keras dua kali, ia sudah lompat mundur dan berdiri di belakang si pelajar baju kuning.
Tangan Thian-mo Lo-lo menunjuk dan membentak kepada si pelajar baju kuning:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa kau ini datang dari Lembah Merpati? Apa si binatang Lam Keng Liu itu masih berada di sana?”
07.18. Kehancuran Pesanggerahan Liong-sun-say
Si pelajar baju kuning merasa tidak senang melihat sikapnya Thian-mo Lo-lo yang galak berlugas, dia
tertawa gelak-gelak, sambil menunjuk-nunjukan beberapa kali. Ia menjawab dengan suara dingin:
“Aku tidak ada waktu untuk mengadu mulut. Jika ingin bertarung, lekaslah maju semua.”
Thian-mo Lo-lo beradat keras, mendengar perkataannya si pelajar baju kuning yang sombong ini, dia
berjingkrak-jingkrak di tempat.
“Manusia sombong!” ia membentak sengit.
Tangannyapun tidak tinggal diam, pukulan yang pertama, seiring dengan perkataannya sudah sampai di
mukanya si pelajar baju kuning.
Pemuda itu tidak bergerak dari tempatnya. Dengan tenang hanya mengangkat sebelah tangannya,
membuat lingkaran dan sebuah goresan, yang telah membawa angin serangan dari Thian-mo Lo-lo
menyingkir lewat dari samping kepalanya. Dengan tertawa ia tersenyum mengejek:
“Pukulanmu masih kurang keras, coba keluarkan lagi!” tantangnya.
Hu-hay Sin-kun dan lain-lain yang menonton di pinggiran, melihat ini sudah menjadi bergidik.
Amarah Thian-mo Lo-lo meluap, ia menjadi kalap. Kedua belah tangannya, saling susul menyerang sampai
tujuh kali. Ilmu pukulannya berada di atas dari Sastrawan Pan Pin dan lain-lain. Kekuatan dari tujuh
serangan ini, yang satu bertambah kuat dari yang lain sampai kepada serangan yang ketujuh, adalah
seluruh kekuatan dari Thian-mo Lo-lo, tentu saja tidak dapat dipandang ringan.
Tapi, pelajar baju kuning masih berada dalam keadaan tenang, ia hanya ganda melompat ke kiri dan
melompat ke kanan dengan gampang, menghindarkan diri dari serangan-serangannya Thian-mo Lo-lo.
Mendadak, si baju kuning berkelebat laksana kilat, segera terdengar jeritan yang seram dari Thian-mo Lo-lo,
badannya diterbangkan, bagaikan layangan putus dari talinya, melayang ke belakang dan terjatuh di tanah,
dengan mulut mengeluarkan darah.
Tju Thing Thing kaget menjerit:
“Suhu......!”
Dan badannya sudah lompat ke arah gurunya.
Tapi Thian-mo Lo-lo hanya menggoyang-goyangkan tangannya dan duduk di sana.
Kekalahannya Thian-mo Lo-lo sudah membangkitkan kemarahannya Hu-hay Sin-kun. Dari jauh ia sudah
mengerahkan ilmunya Wie-mo-ciang dan menyerang ke arahnya si pelajar baju kuning.
Tapi, si pelajar baju kuning hanya tertawa dingin. Kedua tangannya digulung sebentar dan melenyapkan
serangan jago dari pulau itu. Kemudian ia merangsak dan menyerang dengan kecepatan yang luar biasa.
Hu-hay Sin-kun sudah melihat contoh dari dirinya Thian-mo Lo-lo, tidak berani menangkis serangan ini.
Dengan cepat ia menyingkir ke samping.
◄Y►
Kembali kepada jago muda kita. Koo San Djie marah, dia membentak keras, sebelum tangannya
menyerang dengan hebat. Inilah jurus yang terakhir dari ilmu Im-hoe-keng, Ilmu pukulan ini sifatnya keras,
mengarah ke seluruh penjuru, di antara tempat sejauh dua tumbak.
Si wanita muda menjerit kaget, dengan mengikuti arah angin, ia sudah enjot tubuhnya, lompat ke atas
wuwungan, inilah jalan satu-satunya untuk menghindarkan serangan Koo San Djie yang berbahaya.
Koo San Djie menjublek di tempat. Inilah untuk pertama kali, serangannya tidak mengenai sasaran. Ia tidak
mengetahui, wanita muda terluka atau tidak, tapi yang jelas baginya, serangannya telah menubruk tempat
kosong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dipikirnya kembali, jurus-jurus yang digunakan oleh si wanita muda tapi, ia belum pernah melihat atau
mendengar tentang ilmu silat serupa ini. Biarpun ia telah berhasil membuat si nona mundur, tapi kejadian ini
telah menghilangkan separuh kepercayaan atas kepandaiannya sendiri.
Mendadak, ia ingat kepada Tiauw Tua yang pergi menolong orang, mengapa sampai saat ini masih belum
kelihatan mata hidungnya? Mengingat sampai di sini, tergesa-gesa ia memburu ke ruangan belakang.
Dia tiba di sana, terdengar olehnya suara bentakan dari beberapa orang yang sedang bertarung. Ia
memperhatikan siapa-siapa yang sedang bergebrak, hatinya menjadi sangat kaget. Tidak ragu-ragu lagi,
cepat ia sudah melompat ke tengah-tengah medan pertarungan.
◄Y►
Ternyata Tiauw Tua yang pergi ke belakang, setelah mencari-cari beberapa lama, ia telah tidak dapat
menemui orang-orang yang ia lihat tadi di tempat itu. Tiba-tiba ada bayangan langsing berkelebat, seperti
tengah mengendong seorang, lenyap di belakang pohon-pohon.
Cepat ia gerakkan tubuhnya melesat, mengejar bayangan tadi lewat. Ia sangat mencurigai orang itu, maka
ia sudah lari membuntutinya. Sebenarnya, dengan ilmu mengentengi tubuh Tiauw Tua yang sangat mahir,
dan ditambah pula orang tadi harus menggendong seorang yang telah menambah bebannya, tidak mungkin
tidak dapat mengejar.
Tapi kejadian memang sukar diduga, terbukti dengan jarak mereka yang semakin lama semakin jauh, dan
kemudian orang itu lenyap dari pandangan mata.
Jatuhlah nama Tiauw Tua kali ini, dengan lesu ia balik kembali ke dalam pesanggrahan Liong-sun-say.
Sangat kebetulan, baru saja ia memasuki pesanggrahan, kupingnya yang tajam sudah mendengar suara
makian dari Hu-hay Sin-kun beramai yang sedang di tarik ke belakang oleh para penari tadi.
Dilihat dari kelakuan mereka, seperti telah kehilangan semua kepandaiannya.
Sebetulnya, dengan hanya mengangkat sebelah tangan saja Tiauw Tua sudah dapat membunuh semua
penari ini, tapi ia tidak berani berbuat ceroboh. Jika terjadi suatu keributan, sukarlah baginya untuk
memperhatikan demikian banyak orang yang telah kehilangan ilmu.
Mendadak ia teringat pada Pit Badak Dewa milik Koo San Djie. Ia sudah dapat menduga bahwa Hu-hay
Sin-kun dan kawan-kawannya, tentu telah terkena semacam racun yang telah menyebabkan mereka tiada
berdaya.
Setelah dapat bertemu dengan Koo San Djie, dan berhasil meminjam Pit Badak Dewa, bersama-sama
dengan Hay-sim kongcu ia lari ke belakang untuk menolong kawan-kawannya.
Setelah mereka dapat ditolong, yang paling pertama tidak dapat menahan sabar ialah Thian-mo Lo-lo,
dengan mulut memaki kalang kabutan ia sudah mulai mencari orang untuk melampiaskan amarahnya.
Disusul oleh Hu-hay Sin-kun dan Sastrawan Pan Pin.
Tak lama setelah mereka keluar, bertemulah dengan Min Min Djie, empat orang aneh dari Kong-lu dan iblis
Pipi Licin. Hanya bayangan suami istri siluman yang tidak terlihat mata hidungnya.
Ternyata dua siluman itu seperti telah mendapat pirasat tidak baik, sebelumnya telah meninggalkan tempat
itu dan kabur entah kemana.
Yang pertama menyerang ialah Tiauw Tua. Ia berusaha untuk dapat menyelesaikan urusan dengan cepat,
maka begitu menyerang, ia sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaganya.
Sial bagi Min Min Djie yang berada paling depan, belum juga ia hilang dari bingungnya, memikirkan
bagaimana orang-orang ini dapat menjadi segar kembali, satu serangan Tiauw Tua yang hebat telah
sampai dan membuat ia terjungkal jatuh.
Hu-hay Sin-kun dan yang lainnya, bagaikan macan kalap saja sudah menerjang maju semua. Demikian
terjadilah suatu pertempuran yang kalut.
Tiauw Tua yang dalam tangannya menggenggam Pit Badak Dewa telah dapat melukai U Cit. Sedangkan
Hu-hay Sin-kun telah mendapat perlawanan yang sengit dari Ciauw-pat. Dan dua orang lainnya, orang aneh
dari Kong-lu, Pa-sam dan Kiong-sie, telah dikurung oleh Thian-mo Lo-lo, Sastrawan Pan Pin dan Lok-sui
Cian-liong.
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan sangat hati-hati Hu-hay Sin-kun melayani si pelajar baju kuning. Ia mengetahui sesuatu serangan
yang dikeluarkan oleh sang lawan ada sangat cepat, sangat aneh. Sesuatu serangan lawannya telah
memaksa ia harus muudur beberapa tindak. Inilah lawan tangguh baginya. Ia harus menerima serangan,
tidak mampu membalas serangan.
Hay-sim Kongcu yang sangat menguatirkan atas keselamatan ayahnya, sudah menggenggam pedang
pendeknya erat-erat, dia berdiri di samping.
Keringat dingin telah membasahi tangannya. Biarpun demikian, ia tidak berani maju membantu, karena ia
tahu, dengan kepandaian yang dimilikinya hanya akan menambah kekuatiran ayahnya saja.
Mendadak keadaan menjadi guram. Hu-hay Sin-kun dengan berteriak keras telah terpental jauh ke
belakang.
Bagai terkena ketokan Hay-sim Kongcu menjadi kalap! Bersama-sama dengan. Lok-sui Cian-liong, ia sudah
mengurung si pelajar baju kuning yang tangguh.
Si sastrawan Pan Pin pergi membimbing bangun Hu-hay Sin-kun yang terluka. Masih beruntung, ia
mempunyai latihan yang kuat, selama puluhan tahun lamanya, sehingga pukulan maut si pelajar baju
kuning tidak sampai mengambil jiwanya.
Sewaktu Koo San Djie sampai di situ, ialah pada saat Hay-sim Kongcu berdua menyerang ke arah si pelajar
baju kuning tadi. Ia mengetahui, Hay-sim Kongcu bukan tandingan dari pelajar tangguh ini, maka ia sudah
berteriak:
“Saudara Hay-sim, serahkan padaku untuk menghajarnya!”
Seiring dengan kata-katanya, tubuh jago muda kita sudah berada di tengah-tengah kalangan pertempuran.
Si pelajar baju kuning yang pernah menyaksikan pertempuran Koo San Djie dengan Tong Touw Hio, tentu
saja mengetahui, inilah lawan yang tertangguh baginya. Maka dengan cepat ia telah menjatuhkan Lok-sui
Cian-liong dan berbalik menghadapi Koo San Djie.
Dengan tidak banyak bicara lagi, terjadi pertempuran dari kedua jago muda yang tangguh itu. Pertarungan
ini berbeda dari biasa, sewaktu cepat, bisa membuat kabur pandangan mata, sewaktu regang, dapat
membuat orang meleletkan lidah karenanya.
Sepuluh jurus telah lewat, siapapun tidak dapat menjatuhkan lawan masing-masing.
Pertarungan ini telah membuat Sastrawan Pan Pin yang kawakan tidak dapat mengatakan suatu apa. Baru
ini kali dia melihat orang bertarung demikian hebatnya.
Dengan teratur, kedua belah pihak telah mengedorkan serangannya. Dengan mata memandang tajam,
berputaran di suatu tempat, dengan tangan tidak henti-hentinya digerak-gerakan.
Cara ini tidak bisa disamakan dengan pertempuran biasa, masing-masing sudah mengeluarkan
kepandaiannya, mencari tempat kematian dari sang lawan.
Si Pelajar Baju Kuning sudah basah mandi keringat, sastawan Pan Pin juga telah merasa kesakitan, karena
sedari tadi meremas-remas tangannya. Hanya Koo San Djie, biarpun masih dalam keadaan tenang. Ia
masih tetap berada di atas angin.
Mendadak, si Pelajar Baju Kuning membentak keras, dan badannya melayang ke atas. Dua jago telah
menentukan kemenangan di atas udara, bayangan telapak tangan berseliweran, kain baju berkibaran. Si
pelajar baju kuning terdesak ke belakang, setelah mundur beberapa kali, dengan muka yang pucat pasi dan
beringas ia berkata:
“Hari ini kau boleh bangga, tapi setahun kemudian, aku akan mencarimu pula!”
Begitu ia menutup mulutnya, orangnya pun telah melayang pergi. Sebentar saja ia telah lenyap dari
pandangan mata.
Koo San Djie menghela napas mendapat kemenangan yang sukar ini. Kabar dari Hay-sim Kongcu tidak
salah, ketua Lembah Merpati masih merupakan suatu rahasia. Si Wanita muda dan pelajar baju kuning ini
tidak ada satu juruspun menggunakan apa yang dinamakan ilmu Sepasang Merpati, dan gerakannya lebih
sukar dipelajari dari pada Hian-oey-ciang, maupun Wie-mo-ciang.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebelumnya, ia percaya betul kepada dirinya sendiri akan dapat mengalahkan ketua Lembah Merpati.
Ternyata, setelah didengarnya bahwa ketua Lembah Merpati bukanlah Phoa An berhati ular Lam Keng Liu
dan Sui Yun Nio, maka buyarlah sama sekali kepercayaannya. Ketua Lembah Merpati sudah dapat
dipastikan, bukannya dua orang itu, dan sukarlah untuk ia dapat menandingi ketua lembah yang
sebenarnya.
Ia tenggelam dalam lamunannya untuk memikirkan jurus pertempuran tadi, kepandaian yang digunakan
oleh sang lawan sedemikian anehnya dan jika bukan tenaga dalamnya yang berada di atas lawannya,
sukarlah untuk menentukan kemenangan.
Sementara itu pertempuran di antara Tiauw Tua dan Tong Touw Hio sudah sampai pada babak yang
menentukan.
Biar bagaimana, masih Tiauw Tua yang lebih kuat, dengan pukulannya ia sudah memukul mundur Tong
Touw Hio sampai tujuh atau delapan tindak, sehingga pinggangnya telah menempel pada dinding tembok.
Dengan menahan sakit, ia mengusap mukanya yang sudah bonyok dan penuh dengan keringat, badannya
sudah melesat ke dalam sebuah lorong, ngeloyor meninggalkan musuhnya.
Pa-sam dan Kiong-sie membimbing U-cit dan Ciauw-pat, bersama dengan Iblis Pipi Licin, bagaikan jagojago
yang kalah dalam pertarungan, juga turut ngeloyor pergi.
Baru kini Koo San Djie tersadar dari lamunannya dengan cepat menuju ke tempat orang-orang yang terluka
tadi.
Thian-mo Lo-lo dengan perlahan-lahan sudah dapat menenangkan kembali jalan darahnya yang kacau. Huhay
Sin-kun dengan dipimpin oleh Hay-sim Kongcu mencoba untuk berjalan, ia mengawasi mayat Lok-sui
Cian-liong yang telah menjadi korban, membuat beberapa tetes air matanya jatuh menetes ke tanah.
Setelah mengalami malapetaka ini, semua orang sudah semakin memandang tinggi kepada Lembah
Merpati. Kepandaian ilmu silat dari Lembah Merpati ini lebih tinggi daripada taksiran mereka. Biarpun betul
mereka dapat menemukan jalan masuk ke Lembah Merpati, dengan hanya beberapa orang seperti mereka
itu, jangan harap untuk dapat melayani jago-jago dari Lembah Merpati.
Hu-hay Sin-kun merasa berduka. Ia merasa sang waktu telah memakan umurnya, ia telah merasa sudah
tua. Dengan mengandalkan tulang tuanya, setinggi-tingginya ia melatih diri lagi, paling banyak juga hanya
dapat menandingi pelajar baju kuning tadi. Sedangkan orang dalam Lembah Merpati masih banyak yang
lebih tinggi kepandaiannya dari pelajar ini.
Harapannya tumplek kepada anaknya Hay-sim Kongcu, dan ia telah mengingat kepandaian dari gunung es.
Perkumpulan Kuning dari para Lhama yang mempunyai pintu perguruan yang sama dangannya, dengan
kepandaian-kepandaiannya yang tinggi masih ada harapan untuk dapat mewakili dirinya, mendidik anaknya.
Maka ia sudah mengambil keputusan untuk mengirimkan anaknya pergi ke sana.
Thian-mo Lo-lo melihat Tju Thing Thing yang bersandar di samping, dia telah menyaksikan bahwa
sapasang mata muridnya selalu ditujukan kepada Koo San Djie dengan tidak puas-puasnya. Maka terjadilah
pertarungan di dalam hatinya. Ia merasa Koo San Djie dengan kepandaian dan kelakuannya yang tidak
dapat dicela, jika dijodohkan kepada Tju Thing Thing, memang adalah merupakan pasangan yang setimpal.
Ia mengharap agar Koo San Djie dan Tju Thing Thing sama-sama menjelajah dunia Kang-ouw.
Tapi adatnya yang aneh dan kukuh telah memaksa ia tidak berbuat demikian. Ia selalu mengingat bahwa
Koo San Djie adalah adik seperguruan dari Lam Keng Liu. Ia sedemikian bencinya kepada Phoa An berhati
ular Lam Keng Liu itu. Phoa An adalah nama dari seorang laki-laki yang sangat cakap pada jaman Tiongkok
kuno. Dari sini dapat ditaksir bahwa wajah Lam Keng Liu itu tentu demikian cakapnya, sehingga
mengakibatkan luluhnya hati Thian-mo Lo-lo yang keras ini.
Mengingat hubungan dengan Lam Keng Liu, Thian-mo Lo-lo sampai tidak memikirkan kepentingan Tju
Thing Thing lagi. Ia sudah mengambil keputusan untuk membawa Tju Thing Thing ke suatu tempat untuk
melatih diri, guna membalas dendam kepada semua laki-laki. Mewakili ia membalas dendam.
Ia tidak perduli, dengan cara seperti ini, dia memaksa Tju Thing Thing melepaskan kepandaian aslinya dan
mempelajari semacam ilmu gaib. Inilah keputusan yang terakhir untuk dapat mengalahkan Lam Keng Liu.
Kekalahan tadi yang membuatnya menjadi malu dan uring-uringan.
“Lekas ikut aku berangkat!” ia membentak Tju Thing Thing.
Tanpa pamitan dari orang-orang yang berada di situ, ia sudah lompat pergi.
dunia-kangouw.blogspot.com
Tju Thing Thing sebenarnya sudah sejak tadi ingin menghampiri Koo San Djie untuk mengucapkan
beberapa perkataan, tapi melihat keadaan gurunya yang terluka, maka terpaksa ia harus mendampingi
sang guru untuk menjaga sesuatu keperluan yang dimintanya.
Setelah melihat luka sang guru yang sudah hampir sembuh, iapun telah mengangkat langkahnya, hendak
pergi menghampiri Koo San Djie, tapi sudah keburu dipanggil oleh gurunya dan mengajaknya pergi
meninggalkan tempat itu.
Dengan sangat berat dan terpaksa, ia hanya dapat mengulap-ulapkan tangannya dan berkata:
“Adik San, selamat tinggal......”
Tapi, air matanya telah turun dengan deras, dan perkataannya pun telah menjadi sember karenanya.
Koo San Djie baru saja mengalami dua pertempuran yang seru, lagi pula otaknya sudah penuh dengan
pikiran-pikiran yang ruwet, mana ada waktu untuk melayani semua orang.
Waktu ia mendengar suara panggilan Tju Thing Thing yang serak, hatinya menjadi kosong, dia telah
kehilangan sesuatu.
Sebenarnya, Tju Thing Thing telah menduduki suatu tempat di dalam hati Koo San Djie, jika saja tidak ada
Ong Hoe Tjoe yang datang terlebih dahulu mungkin juga Tju Thing Thing dapat mengambil seluruh hatinya.
Dengan mata berkunang-kunang, ia memandang ke arah lenyapnya bayangan si nona, terasa dunia telah
menjadi hampa.
Dari Tju Thing Thing, mendadak ia teringat pada Ong Hoe Tjoe. Dengan tidak terasa, mulutuya telah
berkata dengan kemak-kemik:
“Ciecie Hoe Tjoe, kau berada di mana?”
Mendadak, ia seperti ingat sesuatu, ia membalikkan badannya dan bertanya kepada Tiauw Tua:
“Toako, bagaimana tentang kabar Ong Hoe Tjoe ?”
Tiauw Tua setelah ragu-ragu sebentar lalu menjawab:
“Mungkin ia telah tertolong oleh orang lain.”
“Apa? Siapa yang menolongnya?”
“Aku seperti melihat seorang wanita menggendong seseorang. Yang digendong tentu Ong Hoe Tjoe.
Karena gerakannya yang terlalu cepat sampai aku tidak dapat melihat jelas kepadanya.
Inilah hanya suatu dugaan. Koo San Djie tidak merasa puas dengan jawaban ini. Dengan tidak terasa ia
telah mengeluarkan elahan napas panjang. Kemudian perlahan-lahan berkata:
“Ke ujung langitpun akan kucari juga. Aku telah berhutang budi pada keluarganya!”
08.19. Tanda kenangan dari kekasih.
Di antara cuaca yang remang-remang, di bawah gunung Pit-kie, terlihat api merah yang menjulang tinggi ke
langit. Pesanggrahan Liong-sun-say yang megah sudah menjadi lautan api.
Di antara sinar terang merah itu, Koo San Djie, Sastrawan Pan Pin dan Tiauw Tua bertiga, bagaikan bintang
yang jatuh dari langit, melesat keluar dari pesanggrahan, sebentar saja, mereka sampai di jalan
pegunungan yang sepi.
Koo San Djie yang ingin cepat-cepat menemui jejaknya Ong Hoe Tjoe, menganggap dengan mendapatkan
wanita yang menggendong seseorang adalah suatu jalan untuk menemuinya sang kekasih.
Sastrawan Pan Pin mengusulkan pergi ke daerah Kang-lam, untuk minta bantuannya para ketua dari
berbagai golongan partay. Ia menganggap untuk menghadapi Lembah Merpati harus mendapat bala
bantuan yang kuat.
Tiauw Tua membiarkan sastrawan Pan Pin berkata sampai habis, baru dia meminta diri dan berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Saudara kecil, aku minta diri untuk mengurus sedikit urusanku. Setahun kemudian tentu aku akan
mencarimu pula.”
Koo San Djie dengan cepat menjawab:
“Toako jika ada urusan silahkan membereskannya, aku tidak akan mengekang kebebasanmu!”
Terhadap Tiauw Tua, yang dianggapnya setengah guru dan setengah kawan, dirasanya berat untuk
berpisah. Tapi ia tidak ingin mengganggu urusan orang, hanya karena urusannya sendiri. Dan ia
menganggap urusannya harus dapat dibereskannya sendiri. Mengandalkan bantuan orang lain adalah
bukannya sifat dari seorang laki-laki. Memikir ke sini, ia lalu ambil selamat berpisah dari Pan Pin.
Betul-betul ia mengikuti arah yang ditunjuk oleh Tiauw Tua yang mengatakan tempat lenyapnya bayangan
tadi, ia berlari-larian sambil memperhatikan segala sesuatu. Setelah sampai pada sebuah kota, di dekat
pintu kota terlihat mendatangi seorang hweeshio beralis panjang, memakai baju gedombrongan. Begitu
sampai di hadapan Koo San Djie sudah lantas menyebut:
“Sudah lama kita tidak bertemu.”
Yang datang ternyata adalah hweeshio alis panjang yang tempo hari bertempur tiga hari, tiga malam
dengan Tiauw Tua.
Maka dengan segera San Djie sudah maju memberi hormat dan menyapa:
“Siansu, bagaimana selama ini? Apa baik-baik saja?”
Hweeshio alis panjang dengan penuh senyuman menjawab:
“Dahulu, aku pernah memberi petangan kepadamu, tapi hari ini aku akan memberi barang kenangan
untukmu.”
Lalu, dengan sabar ia mengeluarkan sebuah dompet bersulam sepasang burung Merpati yang sedang
bermain dan sebuah sampul surat. Dengan tertawa ia berkata pula:
“Orang di dunia selalu harus membuat kebajikan, kali ini aku akan menjadi kakek comblang.”
Koo San Djie dengan tidak mengerti, menyambuti dompet dan sampul surat itu. Setelah dibukanya, terlihat
banyak tulisan yang tidak rata. Setelah diperhatikan ternyata surat ini adalah buah tangannya Ong Hoe Tjoe
yang selalu menjadi kenang-kenangan baginya.
Surat ini tidak panjang dan masih ada bebeberapa perkataan yang tidak lancar. Dalam suratnya ini Ong
Hoe Tjoe mengatakan, bagaimana ia telah dapat ditolong oleh orang yang kini telah menjadi gurunya. Dari
pesanggrahan Liong-sun-say, dia mendapat kebebasan, dikatakan juga, Koo San Djie jangan banyak
memikirkan dia dan kini ia sedang giat belajar ilmu silat untuk membalas dendam kepada orang dari
Lembah Merpati......
Lalu tangannya dimasukkannya ke dalam dompet, setelah meraba, ia telah mendapatkan beberapa butir biji
kacang yang berwarna merah. Ia lebih banyak membaca buku dari pada Ong Hoe Tjoe, mana ia tidak dapat
mengerti apa maksudnya ini?
Sulaman sepasang burung Merpati yang sedang memain, bagaikan hidup saja lelompatan di hadapannya.
Biji kacang yang berwarna merah mengeluarkan sinar terang yang mengkilap. Semua ini telah
mendapatkan bagaimana besar rasa cinta dari sang kekasih.
Dia lupa, dia masih berdiri di hadapan orang, dicium sampul surat tadi sampai beberapa kali. Semua tingkah
lakunya menarik perhatian si Hweeshio. Dengan tidak terasa, telah mengeluarkan elahan napas panjang.
Elahan napas ini telah menyadarkan Koo San Djie dari lamunannya. Tidak seharusnya di hadapan orang ia
melakukan perbuatan ini. Maka dengan muka yang merah jengah ia berkata:
“Numpang tanya, di manakah Ciecie Ong Hoe Tjoe kini berada?”
Hweeshio alis panjang dengan tersenyum menjawab:
“Tidak lama lagi, kau tentu dapat bertemu kembali. Buat apa kau gelisah tidak keruan. Dan lagi jika
sekarang kau mencarinya, dia juga tidak dapat menemui kau, bahkan dapat mengganggu pelajarannya.”
Hweeshio itu berhenti sejenak. Kemudian sambil menunjuk beberapa butir kacang berwarna merah di
tangan Koo San Djie, ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Sudah mendapat sebanyak itu apakah tidak cukup juga?”
Muka Koo San Djie sudah menjadi merah.
Sebentar kemudian, hweeshio alis panjang dengan sungguh-sungguh berkata lagi:
“Kau sedang berada dalam masa jaya, sudah seharusnya bangun berdiri, memikirkan tugas yang jatuh di
atas kedua pundakmu. Janganlah hanya karena soal asmara, sehingga melupakan beban yang dipikul.”
Beberapa perkataan ini telah membuat Koo San Djie mengeluarkan keringat dingin. Segera ia
mengucapkan terima kasih:
“Terima kasih atas peringatan Siansu yang berharga. Aku akan selalu mengingat petunjuk ini.”
Hweeshio alis panjang manggut-manggutkan kepalanya. Dengan tersenyum puas ia berkata:
“Kau memang orang luar biasa, dapat segera insaf akan bahaya.”
Setelah berhenti sebentar, kemudian ia melanjutkan perkataannya:
“Aku masih ada beberapa perkataan yang harus dikatakan kepadamu. Harap datang ke mari untuk
mendengarkannya.”
Lalu ia menarik tangan Koo San Djie dan dibawa ke suatu tempat yang sepi, setelah memilih tempat, di
bawah sebatang pohon yang rindang, dia duduk di sana, dengan suara yang seperti berbisik ia berkata:
“Tahukah kau, bahwa di kalangan rimba persilatan telah timbul tanda-tanda akan terjadinya suatu
pembunuhan secara besar-besaran?”
Koo San Djie melihat hweeshio alis panjang mengatakan sedemikian hati-hatinya sudah lantas menerka
kepada orang Lembah Merpati. Ia hanya mengetahui Tong Touw Hio yang menjabat sebagai Duta selatan.
Entah bagaimana dengan orang-orang yang memangku jabatan Duta-duta dari barat, timur dan utara?
Hanya baru empat Duta ini saja sudah membuat orang sakit kepala, apa lagi masih ada ketua mereka yang
sangat rahasia. Tentu saja itu merupakan bahaya besar bagi rimba persilatan. Maka ia segera bertanya
pada hweeshio alis panjang:
“Apa yang Siansu maksudkan tentang Lembah Merpati? Apa yang menjadi ketua dari lembah itu adalah Sui
Yun Nio dan Phoa An berhati ular Lam Keng Liu dua orang?”
Hweeshio alis panjang menjadi tertawa mendengar pertanyaan San Djie.
“Jika hanya kedua orang ini saja,” jawabnya, “Dengan kepandaianmu seorangpun sudah cukup untuk
melayani mereka. Tapi dua orang ini hanya menjadi pengurus lembah saja yang belum termasuk kelas satu.
Mereka hanya berhak memakai baju kuning.”
Setelah merandek sebentar kemudian ia berkata lagi:
“Orang di kalangan Kang-ouw, semua menyangka demikian. Ini merupakan satu penilaian yang terlalu
rendah terhadap Lembah Merpati. Meskipun dua orang ini mempunyai kepandaian yang cukup tinggi untuk
menggetarkan rimba persilatan, tapi jika dibandingkan dengan kepandaian dari ketua Lembah Merpati,
masih terdapat selisih yang sangat jauh.”
Koo San Djie dengan rupa yang ingin tahu, sudah memotong:
“Jika demikian, siapakah sebenarnya yang menjadi ketua Lembah Merpati itu?”
Hweeshio alis panjang menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku sendiripun tidak tahu. Semua ini hanya kudapat dari keterangan guru Ong Hoe Tjoe. Menurut
penjelasannya, orang yang berkepandaian tinggi di dalam lembah, kecuali sang ketua, dapat dibagi dalam
empat golongan, dibedakan dengan warna bajunya masing-masing. Warna merah ialah yang tertinggi,
kemudian kuning dan biru. Tentang pemuda berbaju kotak-kotak dan pemudi berbaju kembang yang sering
dijumpai orang, hanya merupakan para pesuruh mereka saja. Dan kepandaiannya pun bukan kepandaian
yang asli dari dalam lembah.
Koo San Djie baru mengerti, mengapa daerah pegunungan Hoay-giok, dua muda mudi yang ditemuinya dan
pelajar baju kuning yang barusan dapat dikalahkannya mempunyai perbedaan ilmu silat yang sangat jauh
sekali. Menurut pendapatnya, Lam Keng Liu dan Sui Yun Nio hanya sebagai pengurus lembah saja, dan
dunia-kangouw.blogspot.com
mengurus para pesuruh ini, serta memberi pelajaran kepada mereka. Im-yang-ho-hap-ciang adalah
kepandaian curian, sudah tentu tidak dapat disamai dengan kepandaian yang asli dari dalam lembah.
Hweeshio yang melihat Koo San Djie terbenam dalam pikirannya sudah lantas berkata:
“Sekarang, Ong Hoe Tjoe sudah terlepas dari bahaya. Urusan tentang Lembah Merpati dapat diatur dengan
perlahan-lahan, janganlah terburu napsu, ini akan mengakibatkan gagalnya urusan. Biarpun kau
mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, tapi, hanya dengan tenaga seorang diri saja, masih kurang kuat
untuk dapat memecahkan rahasia Lembah Merpati.”
Setelah selesai mengucapkan perkataan ini, dengan sekali mengibaskan lengan bajunya ia sudah
meninggalkan tempat itu.
Koo San Djie setelah mendapat kabar tentang keselamatannya Ong Hoe Tjoe , hatinya sudah menjadi lega.
Sekarang ia telah mempunyai cukup waktu untuk menyerapi kabar tentang Lembah Merpati dengan
perlahan-lahan. Dan juga mencari siapa pembunuhnya orang tua Ong Hoe Tjoe. Demi kepentingan dunia
Kang-ouw dan melaksanakan perintah gurunya ia harus mencari sampai dapat Lembah Merpati.
Ia telah mencoba menduga-duga, di mana letaknya Lembah Merpati itu. Dimisalkan di empat penjuru
terdapat Duta selatan, Duta utara, dan Duta barat, maka letaknya lembah ini sudah tentu berada di
tengah......
Mendadak pikirannya mengingat tulisan di tanah yang ditulis oleh pemuda yang mati di jalan pegunungan:
“Peta memasuki lembah......”
Dengan mengetok kepalanya ia berkata sendiri:
“Tidak salah. Jika aku mendapatkan peta memasuki lembah, tidak sukar untuk mengetahui letaknya lembah
ini.”
Dengan memusatkan seluruh pikirannya, ia sudah mengingat-ingat roman dari orang yang telah merebut
peta itu. Ciri-ciri dari roman orang tua berkupiah kuning emas diingatnya betul-betul dalam hatinya. Orang
ini jika pernah terjun di dunia Kang-ouw, tentu akan ada orang yang mengenalinya. Dan jika dapat mencari
tahu di mana tempat tinggalnya, urusan tidak begitu sukar lagi baginya.
Hatinya sudah melayang kemana-mana, kakinya sudah menuruti langkahnya, berjalan dengan tidak
bertujuan. Dengan tidak terasa ia sudah menuju ke daerah pegunungan yang tidak teratur.
Mendadak, dari kejauhan terlihat seorang tua dengan cepatnya lari mendatangi. Pertama mulai, lari orang
tua ini bagaikan terbang saja, tapi semakin lama sudah menjadi semakin lambat dan kemudian
sempoyongan, terjatuh di jalan.
Koo San Djie menjadi kaget, dengan cepat ia menuju ke arah orang itu.
Tidak disangka, yang datang itu adalah si kurus Oey Liong, dengan badannya penuh luka-luka yang tidak
ringan, ia telah lari dengan sekuat tenaga. Sampai di sini, ia sudah tidak dapat menahannya pula dan
terjatuh di tanah.
Koo San Djie mengurut-urut badan Oey Liong, memanggil-manggil namanya, baru Oey Liong dapat
membuka kedua matanya yang berat. Setelah melihat orang yang berada di sampingnya adalah Koo San
Djie, dengan terputus-putus, ia hanya dapat mengucapkan perkataan:
“Mer...... pati...... di depan......”
Setelah mengucapkan perkataan yang sukar dimengerti ini, ia sudah melempangkan kedua kakinya dan
menarik napasnya yang penghabisan.
Dengan tidak dapat ditahan lagi, Koo San Djie telah mengeluarkan air matanya, sambil masih memanggil
namanya:
“Locianpwe, locianpwe...... siapa yang berbuat jahat kepadamu?”
Sedari ia berhasil meyakinkan ilmunya, dan meninggalkan gurunya, melihat keadaan yang seperti ini sudah
lebih dari empat kali.
dunia-kangouw.blogspot.com
Di telaga Pook-yang, orang tua ini telah membantu dengan tidak meminta balasan. Tapi kini ia telah mati
penasaran, dengan tidak dapat memberikan keterangan suatu apa. Jika tidak, tentunya kematiannya ini
tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Dengan gemas, ia melepaskan tubuh Oey Liong yang telah menjadi mayat, matanya memancarkan sinar
kebencian yang meluap-luap. Mendadak, ia mengingat perkataan yang terakhir dari Oey Liong:
“Apakah Lembah Merpati yang dimaksudkan olehnya?” Pikir Koo San Djie dalam hatinya.
Jika dugaannya tidak salah, maka di depan tentu ada bersembunyi orang jahat. Maka dengan cepat ia
mengubur mayat si penolongnya ini dan maju terus ke depan menyelidiki dengan teliti.
Matahari sore telah mendoyong ke barat, sinarnya telah membuat bayangan orang yang menjadi panjang
tercetak di sela-sela gunung.
Kadang-kadang, masih terdengar suara burung gagak yang mengaok. Dengan hanya seorang diri, ia
berjalan di antara pegunungan yang sepi ini, terasa sekali alam kesunyian yang luas.
Hanya api dendam kebencian yang masih membakar hatinya. Ia telah lupa akan pandangan mata, tidak
perduli tebing yang tinggi mau pun tebing yang curam, dengan tabah ia masih maju ke muka, pantang
mundur setapak pun.
Malam telah tiba. Angin dingin sebentar-sebentar meniup mukanya. Hatinya yang panas mulai normal
kembali. Ia menengadah, memeriksa empat penjuru. Dilihatnya ia telah dikelilingi oleh suara jeritan-jeritan,
di atas gunung yang merupakan bermacam-macam binatang jejadian. Tidak ada rumah tidak ada tempat
untuk berteduh. Di tempat yang sunyi senyap ini tidak ada orang yang mau meninggalinya.
Pandangan matanya dapat menembus awan dan kabut. Tidak lama ia telah dapat menemukan suatu
pandangan yang dapat mendebarkan jantung.
Pada sebuah mulut lembah yang dalam, terdapat bundaran-bundaran putih yang bertumpuk-tumpuk. Api
biru kelap kelip memancarkan sinarnya yang seram sehingga siapa yang melihatnya seperti telah sampai di
pintu neraka.
Dalam pikirannya Koo San Djie dengan cepat telah timbul kenangan lamanya.
“Apa itu sepasang siluman telah pindah ke mari?” pikirnya.
Diingatnya pada malam itu, Tju Thing Thing yang terkena racun dari dua siluman itu. Kini ia menganggap
kematian Oey Liong juga mungkin ada sangkut pautnya dengan dua siluman ini. Inilah dendam lama dan
dendam baru, bertumpuk menjadi satu, yang telah menambah keinginannya untuk membunuh sepasang
siluman itu.
Demi kepentingan sesama manusia, ia tidak dapat membiarkan dua siluman itu terus menerus mengganggu
keamanan. Maka, bagaikan anak panah meluncur dari busurnya, ia telah melesat ke dalam lembah.
Sebentar saja, ia sudah sampai di depan tumpukan tulang-tulang.
Pengalaman telah memberi tahu padanya, bahwa orang yang melatih kepandaian ini tentu barada di
tengah-tengah dari tumpukan tulang dan menghisap racun yang berada di sekitarnya.
Gunung tulang itu begitu tinggi, jika dikira-kirakan, paling sedikit terdapat tiga ratus tengkorak manusia. Di
tengah-tengahnya terdapat lobang, sebagai jendela, gumpalan asap biru mengepul keluar dari sana. Maka,
dengan suara keras Koo San Djie membentak:
“Setan! Lekas keluar untuk menerima kematian!”
“Siuuuuuutt......”
Dari lobang di tengah-tengah tumpukan tengkorak tadi, keluar dua bayangan bianglala yang sudah lantas
berdiri di kedua belah sisi Koo San Djie.
Tentu saja yang datang adalah si Setan Gunung dan si Kalong Wewe yang telah pindah kemari dan telah
melatih ilmunya lebih sempurna lagi. Setelah mereka mengurung Koo San Djie, dengan suaranya yang
seperti setan berkata:
“Kami memang sedang mencarimu, tidak disangka kau telah datang lebih dulu. Hari ini kau boleh
merasakan pukulanku Yun-ling-pay-kut-kang yang lihay.”
dunia-kangouw.blogspot.com
Dua tangannya dikunyal-kunyal sebentar, suatu aliran angin yang dingin dengan dibarengi oleh asap biru
yang berkredepan sudah datang menyerang ke arah Koo San Djie.
Koo San Djie tidak gentar mendapat serangan, dengan hanya mengibaskan sebelah tangannya, ia sudah
memunahkan serangan itu. Ia sudah bersedia untuk menyerang balik, atau mendadak di belakangnya telah
terasa ada hawa dingin yang datang ke arahnya.
Ia sudah kenal akan sepasang jejadian ini, yang kerjanya hanya memainkan tengkorak saja. Untuk menjaga
jangan sampai menambah korban lagi, ia sudah bertekad untuk menyingkirkan sepasang siluman itu dari
dunia. Maka ia sudah malas untuk menoleh lagi, dengan melompat ke samping ia sudah membalikkan
tangannya, menyerang ke belakang.
Si Kalong Wewe yang kerjanya hanya menakut-nakutkan orang saja, mana berani menangkis serangan ini,
begitu menyerang, ia sudah lantas loncat ke tempat lain, maka serangan Koo San Djie telah menubruk
tempat kosong.
Si Setan Gunung yang tidak mengenal gelagat telah menggunakan ketika Koo San Djie menyerang ke
belakang, maju setindak, dan mengulur kedua tangannya menyerang berbareng.
Koo San Djie dengan memekik keras, dengan ilmu Ombak Menyapu Ribuan Sampah, keluar menyerang
dengan tenaga penuh.
Si Setan Gunung yang lebih tepat dikatakan setan sampah juga telah tersapu oleh serangan ini. Dengan
menjerit keras, badannya sudah terlempar balik ke dalam tumpukan tengkorak.
Serentak, api biru berbalik menyerang dirinya sendiri. Tidak ampun lagi, seluruh badannya si Setan Gunung
telah menyala-nyala. Terbakar oleh api sendiri.
Si Kalong Wewe yang melihat suaminya menemui nasib malang, sudah tentu menjadi ketakutan setengah
mati, dengan tidak memilih arah lagi ia telah mengambil langkah seribu, ngiprit pergi!
Koo San Djie tidak memberikan ia kesempatan untuk lolos lagi, tubuhnya lompat mengejar.
Hanya beberapa tindak lagi, Koo San Djie sudah dapat mengejar mangsanya, ia sudah siap dengan
serangannya yang mematikan.
S Kalong Wewe lari dengan membabi buta tidak dapat memilih arah. Ia terus lari sehingga sampai akhirnya
terjatuh ke dalam jurang yang dalam.
Koo San Djie yang menyaksikan sang musuh sudah terjatuh ke dalam jurang, ia berdiri diam. Ia ragu-ragu,
bagaimana harus mengambil tindakan atau mendadak dari dalam bawah jurang terdengar seorang anak
kecil berkata:
“Kau jangan turun, makhluk ini kukembalikan kepadamu......”
Berbareng, dengan lenyapnya suara itu, si Kalong Wewe yang kurus telah terbang kembali, sampai Koo
San Djie tidak dapat mendengar perkataan selanjutnya.
Koo San Djie yang menampak si Kalong Wewe terbang naik kembali sudah memberi satu pukulan maut.
Si Kalong Wewe yang jalan darahnya sudah terkena totokan, dilempar naik oleh orang, ia tidak dapat
menyingkir dari tangan ini. Hanya terdengar suara jeritan yang mengerikan dan tubuhnya kembali terjatuh
ke dalam jurang.
Dari dalam lembah, terdengar pula suara anak kecil tadi:
“Kau ini orang macam apa? Barang sudah dikembalikan padamu, dilempar balik lagi?”
Seiring dengan suara desiran angin, tubuh si Kalong Wewe sudah mumbul kembali.
Ini kali Koo San Djie, dapat mendengar dengan jelas anak kecil tadi, dengan memiringkan badannya,
menyilahkan mayat si Kalong Wewe lewat di atas pundaknya dan terjatuh di sela-sela gunung. Kemudian
dengan tidak sabar, ia bertanya:
“Hei, adik kecil, apa di sini yang dinamakan Lembah Merpati?”
“Betul. Di sini Makam Merpati. Tapi kau jangan turun ke bawah!”
“Kenapa?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tidak terdengar jawaban pula dari dalam lembah.
Koo San Djie yang mendengar di sinilah yang dinamakan Lembah Merpati, hatinya menjadi kaget
bercampur girang. Hatinya memukul keras, ia sedang memikir perlukah ia pergi ke bawah untuk melihat
keadaan dari lembah yang selalu menjadi teka teki ini?”
Koo San Djie salah kuping, Makam Merpati dianggap Lembah Merpati.
Tiba-tiba, suara anak kecil dalam lembah itu berkata pula:
“Ku lihat kau ini adalah orang baik juga, sudah membinasakan dua setan yang selalu mengganggu orang
saja. Tapi, jangan sekali-kali kau coba-coba turun kemari.”
Koo San Djie yang sudah salah mendengar Makam Merpati menjadi Lembah Merpati, biar orang bicara
sampai mulut pecah pun, mana dapat menahan kemauan hatinya? Biarpun ia mengetahui akan bahaya,
tentu diterjangnya juga.
Lalu ia segera mengatur pernapasannya sebentar, lalu mengangkat kedua kakinya, lalu....... terjun ke dalam
lembah yang gelap.......
09.20. Makam Merpati dan Lembah Merpati
Koo San Djie yang sudah lompat turun ke dalam lembah, biarpun ia sudah menahan napas dengan sebisabisanya,
memperlambat jatuhnya badannya, tapi perbuatan ini tetap berupa perbuatan yang sangat
berbahaya.
Badannya masih di udara, matanya sudah memeriksa keadaan bawah, dalam keadaan yang gelap remangremang,
masih terpeta juga segala sesuatu yang berada di situ.
Letaknya tempat ini tidak tinggi. Dengan memusatkan semua tenaganya, bagaikan bulu ayam entengnya, ia
sudah melompat ke sebuah jalanan kecil yang terbuat dari batu putih.
Ternyata, ia berdiri di atas jalan batu kecil itu. Si Kalong Wewe yang sudah diuber-uber, tidak berdaya, telah
menjatuhkan diri kemari untuk meloloskan diri. Siapa tahu jalan darahnya telah ditotok orang dan
dilemparkan ke atas kembali.
Koo San Djie mendongak ke atas, mengawasi tempat ia berdiri tadi. Mendadak, otaknya seperti mengingat
suatu hal, sampai ia menjublek di tempatnya.
Jarak di antara jalan kecil ini dan atas tebing tadi biarpun tidak dianggap tinggi, paling sedikit juga di antara
duapuluh meter lebih. Untuk melemparkan batu biasa saja ke atas sudah tidak mudah, apa lagi berat badan
si Kalong Wewe yang hampir limapuluh kilo beratnya. Tapi anak kecil tadi dengan mudah telah
melemparkannya sampai dua kali. Bukankah sangat janggal baginya. Lagi pula, dengan kepandaian si
Kalong Wewe yang dapat menggetarkan dunia Kang-ouw, mengapa dengan semudah itu dapat ditotok
jalan darahnya?
Dengan adanya bukti-bukti ini, pandangan terhadap kepandaian orang dari Lembah Merpati sudah menjadi
semakin jelas. Karena ia telah menganggap sampai pada Lembah Merpati, maka ia tidak berani
sembarangan menerobos ke dalam. Dengan hati-hati, diperhatikannya ke dalam tempat ini, setelah
mendapat kepastian tidak ada suatu apa yang tersembunyi, baru dengan perlahan-lahan ia mengangkat
langkahnya.
Tapi, mendadak suara anak kecil tadi berkumandang pula:
“Kau ini betul-betul seorang yang tidak mendengar kata. Akhirnya kau turun juga.”
Dengan cepat Koo San Djie membalikkan badan, ternyata yang bicara ialah seorang perempuan yang
berumur kurang lebih di antara tigabelas tahun.
Anak perempuan ini memakai baju yang berwarna dadu, dengan dua buah pita kupu-kupu di atas kepala,
sepasang matanya bersinar terang dengan biji hitamnya yang tidak henti-hentinya memain. Mukanya yang
berbentuk telor sangat menarik, dengan dihiasi oleh panca indranya yang serba tepat, semakin memikat
hati.
Koo San Djie rada tidak percaya pada dirinya sendiri, dengan ragu-ragu ia bertanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa kau yang melemparkan perempuan jahat tadi itu?”
Anak perempuan itu dengan heran menjawab:
“Kenapa? Ini sepasang siluman ada sangat menjemukan, setiap hari kerjanya hanya mengangkat-angkat
tulang manusia saja dan membuat api setan. Bahkan sering main bunuh orang. Jika aku boleh keluar dari
lembah, sudah lama aku usir mereka.”
“Ha, kau mempunyai hubungan apa dengan Lembah Merpati ini?” tanya San Djie kaget.
Kali ini si gadis cilik yang dibuat kaget. Dengan tidak mengerti ia berkata:
“Apa? Lembah Merpati? di sini bukan yang dinamakan Lembah Merpati.”
“Apa nama yang sebenarnya dari tempat ini?”
“Mari kau lihat!”
Setelah berkata begitu, si gadis cilik sudah membalikkan badannya, lenyap di belakang pepohonan.
Membuat Koo San Djie yang melihatnya menjadi berdiri seperti terpaku.
Dari mulut lembah terdengar si gadis cilik meneriakinya:
“Bagaimana sih kau ini? Mengapa tidak mau datang melihat?”
Semacam perasaan yang selalu mau menang sendiri, dari sifat kanak-anak telah membuat Koo San Djie
tidak mau kalah dengannya. Dengan menggunakan ilmu Awan dan Asap lewat di mata, Koo San Djie sudah
menguber gadis cilik tadi.
Jika kepandaian Koo San Djie ini dipertontonkan di kalangan Kang-ouw, barang kali masih dapat membuat
orang meleletkan lidah. Tapi, si gadis cilik yang melihat ini tidak menjadi heran, bahkan masih menganggap
kurang cepat baginya. Setelah menunggu sampai Koo San Djie berada di hadapannya, dengan jari-jari yang
kecil, ia menunjukkan tangannya ke arah sebuah batu nama dan berkata:
“Kau lihat!”
Dengan bantuan sinar bintang, masih terlihat tulisan yang berbunyi:
“Makam Merpati.”
Dan di bawah tulisan ini masih terdapat huruf-huruf kecil yang berbunyi:
“Kematian bagi yang berani bertindak masuk.”
Koo San Djie melihat ini sangat terkejut. Bulu romanya telah menjadi berdiri, badannya menggigil sebentar
dan semangatnya seperti tersedot oleh suatu hawa yang keluar dari batu makam tadi.
Tapi Koo San Djie bukannya seorang anak penakut, ia tidak percaya yang di dalam dunia ini ada terdapat
setan. Matanya memandang ke arah si gadis cilik, dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas pula. Ia tidak
percaya, gadis cilik yang lincah ini setan adanya.
Si gadis cilik melihat Koo San Djie menjublek di tempatnya dengan mata memandang ke arahnya dengan
tidak berkesip, tentu saja dia kurang senang, ia berkata:
“Kau ini mengapa hanya memandang saja? Tidak salah ayah mengatakan semua anak laki di dunia tidak
ada yang baik.”
Koo San Djie merasa heran juga mendengar ucapan gadis itu.
“Baik atau jahatkah ayahmu itu?” ia bertanya.
“Ayahku tentu orang baik. Ia juga sudah tua.”
Koo San Djie masih tidak mau mengerti, tapi keburu didesak oleh si gadis cilik tadi:
“Lekaslah kau meninggalkan tempat ini. Aku tidak jadi membunuhmu.”
Ucapan ini sudah menambah Koo San Djie jadi bingung.
“Di antara kita berdua tokh tidak ada permusuhan apa-apa mengapa kau hendak membunuh?” tanyanya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Si gadis cilik menjadi tertawa lucu, tertawa sangat manis sekali, tidak mengandung kegenitan atau lagak
yang dibuat-buat. Dengan jari telunjuknya ia menunjuk sampai mengenai jidatnya Koo San Djie dan berkata:
“Kau ini memang orang tolol sekali. Di atas batu nama, bukankah telah tertulis dengan terang, siapa yang
berani memasuki lembah ini tentu akan menemui ajalnya, seorang yang segar bugar mana bisa mati
dengan tidak ada sebab-sebabnya? Tentu kami yang membunuh.”
Si gadis cilik mengatakan tentang pembunuhan, seperti perbuatan itu merupakan suatu hal yang biasa saja
baginya. Hal ini telah membuat hati Koo San Djie yang tidak dapat menerima ketidak-adilan menjadi panas.
Dengan mengeluarkan suaranya yang keras ia berkata:
“Meskipun lembah ini telah menjadi milik keluargamu, tidak seharusnya kau berbuat sedemikian kejam, aku
tidak mau pergi dari tempat ini, aku mau lihat ayahmu yang tidak kenal aturan dapat berbuat apa atas
diriku?”
Entah bagaimana, si gadis cilik bergerak, tangannya yang mungil telah menampar pipi Koo San Djie, keras
sekali, hingga si pemuda mengusap-usap pipinya, ia bingung sendirinya.
Si gadis cilik dengan muka cemberut karena marahnya sudah berkata:
“Kau berani memaki ayahku?”
Suaranya seperti orang mau menangis.
Koo San Djie masih mengusap-usap pipinya yang ditampar, ia berdiri membisu. Ia tidak tahu, bagaimana
harus menghadapi persoalan seperti ini. Tamparan tadi tidak membuat Koo San Djie marah, bahkan
menjadi hangat karenanya.
Sebenarnya, Koo San Djie yang penuh dengan ilmu kepandaian tidak mudah dapat terkena pukulan orang.
Tadi, karena ia tidak memperhatikan dan lagi kecepatan tangan si gadis cilik sangat luar biasa, maka ia
telah terkena tamparan. Semenjak kecil, ia sudah mengembala kambing dibawa panasnya matahari dan
dinginnya hujan salju, pulang menerima perlakuan yang kejam dari majikannya. Penghidupan ini telah
melatih dirinya menjadi tabah dan pantang mundur. Ia berani memasang badannya untuk menahan sakit
tapi tidak tega untuk menghadapi si gadis cilik yang manis dan lemah, demikian menurut anggapan dalam
hatinya.
Si gadis cilik telah menggunakan tangannya menampar orang, hatinya yang panas sudah menjadi dingin
kembali. Sambil menarik tangan Koo San Djie ia berkata:
“Kau marah padaku?”
Koo San Djie hanya menggelengkan kepalanya.
Si gadis cilik seperti bicara sendiri, ia mengoceh:
“Akulah yang salah. Tidak seharusnya barusan menggunakan tangan......”
Lalu, ditariknya lagi tangan Koo San Djie, setelah digoyang-goyangkannya beberapa kali ia sudah berkata
pula:
“Kau iui orang baik. Jika tidak khawatir akan ayahku, ingin sekali menahanmu untuk tinggal di sini,
menemani aku bermain.”
Setelah berkata begitu, ia melepaskan tangannya, seraya membalikkan badannya dan berkata seorang diri:
“Hingga saat ini, aku berdiam seorang diri di dalam lembah ini. Ayahku juga telah melarang aku pergi keluar
lembah......”
Keluhan pendek dari si gadis cilik ini telah menambah rasa simpatiknya Koo San Djie, ia sudah menjadi
suka kepada si gadis, dalam hatinya berkata:
“Memang, tidak seharusnya memaksa seorang gadis kecil yang masih memerlukan kegembiraan, tinggal
dalam lembah yang sepi ini. Yang jadi ayah betul-betul amat keterlaluan.”
Biarpun hatinya memikir demikian, tapi mulutnya tidak berani berkata seperti itu. Dengan perlahan-lahan, ia
menghampiri dan mengelus-elus pundak si gadis cilik, seperti seorang yang menghiburi adik kecilnya ia
berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Kau jangan menjadi kesal. Mungkin ayahmu sedang meyakinkan semacam ilmu, setelah selesai dengan
pelajarannya, tentu ia akan mengajakmu keluar dari lembah ini.”
Jika didiamkan saja, barangkali tidak apa, tapi begitu dihiburi, si gadis cilik sudah menjadi menangis
sesegukan. Seperti seorang adik yang kolokan, mendapat pegangan ia sudah menjatuhkan kepalanya di
atas dada Koo San Djie. Dengan masih menangis ia berkata:
“Tidak! Ayah tidak nanti mengizinkan aku keluar lembah. Ia telah memaksa aku bersama-sama menemani
ibuku yang telah meninggal.”
Koo San Djie kewalahan, ia tidak dapat melanjutkau perkataannya. Tidak pantas di depan si gadis,
mengucapkan kata-kata yang membusukan nama ayahnya, dan lagi, ini adalah urusan rumah tangga
orang. Maka, dengan setengah membujuk ia berkata:
“Lekaslah kembali ke rumah. Mungkin ayah sedang mencari-cari.”
Koo San Djie merasa, ia lebih besar dari pada si gadis. Sejak kecil ia sudah biasa untuk merawat dirinya
sendiri. Setelah beberapa bulan ia mendapat pengalaman dalam dunia Kang-ouw, pikirannya telah masak,
meningkat seperti orang dewasa. Ia menganggap, tidak dapat ia tinggal diam di sini terus, ayah si gadis
tentu seorang yang berhati kejam, orang yang tidak mempunyai perasaan. Maka, dengan menepok
bahunya si gadis ia berkata:
“Lekaslah kembali ke rumah. Aku pun akan segera pulang. Sebentar, jika ayahmu melihat keadaan kita,
tentu ia akan menjadi marah.”
Tapi si gadis cilik sudah menarik bajuuya dan berkata:
“Tidak. Kau tidak boleh pergi...... Ayahku tidak menjadi soal. Tidak usah kau takut kepadanya, ia sangat
sayang kepadaku, dan lagi selalu menuruti segala kehendakku.”
Koo San Djie menahan langkahnya. Dengan mengerutkan alis, ia berkata:
“Terus terang kukatakan kepadamu, siapapun tidak ada yang kutakuti. Jika saja ia bukan ayahmu, aku akan
mencarinya untuk minta keterangan.”
Mendadak, dari belakang terdengar satu suara yang dingin:
“Kecil-kecil sudah berani omong besar. Apa kau tahu peraturan dari Makam Merpati ini?”
Seorang pelajar setengah umur dengan muka yang putih bersih, entah sejak kapan datangnya, telah berdiri
di belakang Koo San Djie. Meskipun Koo San Djie memiliki kuping yang lihay, masih tidak dapat mengetahui
datangnya orang ini. Maka dengan cepat ia sudah lompat ke samping, siap menghadapi segala
kemungkinan.
Si gadis cilik yang melihat datangnya orang tadi sudah maju menubruk.
“Ayah, dia datang loncat dari atas tebing, dia tidak dapat melihat batu pemberitahuan itu.”
Orang setengah umur sudah lantas mendorong pergi tubuh anaknya dan berkata:
“Minggirlah! Kau minggir! Aku akan menanyakan sendiri!”
Lalu, ia menghadapi Koo San Djie dan berkata:
“Siapa namamu? Dan mengapa kau datang kemari?”
Meskipun Koo San Djie mendongkol karena mendapat perlakuan demikian, tapi, mengingat ia adalah ayah
dari si gadis cilik yang menarik ini, maka dengan hormatnya ia telah membongkokkan badan dan berkata:
“Boanpwe bernama Koo San Djie, karena mengejar dua orang jahat telah sampai di sini. Harap locianpwe
dapat memaafkannya.”
Si gadis cilik takut ayahnya, tokh, dia tidak puas dengan jawaban ini, segera sudah turut bicara:
“Dia sudah mewakili kita membunuh dua siluman itu.”
Tapi bantuan ini telah membawa hasil yang sebaliknya. Orang tua setengah umur itu tidak senang
mendengar anak perempuannya demikian membela si pemuda. Mukanya sudah menjadi semakin cemberut
saja, seperti dompet tanggung bulan.
dunia-kangouw.blogspot.com
Gadis cilik yang lebih mengenal akan adat ayahnya, melihat keadaan seperti ini, sudah mengetahui inilah
tanda bahwa ayahnya. Segera akan membunuh orang. Saking takutnya, hampir saja ia menangis, tiba-tiba
tangannya dengan cepat sudah menarik-narik lengan baju ayahnya. Dengan setengah meratap ia
memohon kepada ayahnya:
“Dia seorang yang baik, ayah jangan membunuh.”
Wajah orang setengah umur itu yang tadinya mengandung hawa pembunuhan, perlahan-lahan telah
kembali ke asalnya. Dengan perlahan-lahan telah mengibaskan tangan anaknya dan berkata:
“Anak baik, janganlah kau percaya pada ucapannya. Bukankah telah berkali-kali ku katakan padamu,
bahwa laki-laki di dunia ini tidak ada satu yang mempunyai hati yang baik.”
Si gadis cilik yang terlalu banyak membantu Koo San Djie, akibatnya membuat orang setengah umur itu
menjadi iri hati. Pandangan matanya yang tajam telah dapat mengetahui, bahwa Koo San Djie mempunyai
bakat yang sangat bagus untuk belajar ilmu silat. Tapi, keserakahan yang berlebih-lebihan telah membuat
hatinya menjadi kejam, tambahan kuatir akan kehilangan anak tunggalnya yang dianggapnya sebagai
nyawa yang kedua, setelah istrinya meninggal.
09.21. Sepasang Pendekar Merpati
Telah sepuluh tahun lamanya orang setengah umur ini menemani raga istrinya yang telah mati dan
memelihara anak perempuannya yang menjadi wakil jiwanya. Ia telah menganggap ibu dan anak ini menjadi
satu. Wajah dan senyumnya sang istri almarhum telah hidup kembali pada putrinya ini. Ia selalu
menganggap anak perempuannya ini menjadi jiwa raga dari istrinya yang seakan-akan hidup kembali.
Demikianlah ia tidak dapat membiarkan ada orang ketiga yang menyelak mereka.
Demikianlah, orang setengah umur itu telah mengambil keputusan untuk menyingkirkan bibit keonaran.
Setelah melepaskan cekalan anaknya, sebelum sang anak dapat mengatakan sesuatu apa, ia sudah
menubruk ke arah Koo San Djie.
Dari beberapa tanda-tanda, Koo San Djie telah dapat melihat orang setengah umur ini mempunyai sifat
yang kejam, sewaktu-waktu dapat menyerang dengan tidak mengenal kasihan. Maka, ia sudah bersiap
sedia untuk menjaga segala serangan.
Sebelum orang itu menubruk kepadanya, ia sudah membikin pertahanan. Bertempurlah dua jago yang
jarang mendapat tandingan ini
Pertama-tama, Koo San Djie sudah melepaskan serangannya yang lihay, dengan tipu pukulan Langit dan
Bumi Pandang Memandang, disusul dengan Hujan dan Angin Menderu-deru......
Orang setengah umur itu tidak menyangka si pemuda demikian lihaynya, tapi ia masih tidak pandang mata,
dengan kepandaian Koo San Djie, ia mau mencoba, sampai di mana kekuatan dan kepandaian dari lawan
kecilnya ini.
Terlihat dua lengan baju dari orang setengah umur itu yang gedombrongan mengibas beberapa kali,
orangnya pun telah memasuki daerah bayangan telapak tangan. Badannya yang enteng sudah mengikuti
gerakan dari bayangan telapak tangan Koo San Djie, bagaikan menari-nari, sangat indah sekali.
Si gadis cilik tahu benar, sejak ayahnya telah dapat meyakinkan ilmu Sari Pepatah Raja Woo, sudah
bertambah tinggi kepandaiannya, bahkan telah melatih dirinya menjadi kebal akan senjata. Di dalam
kalangan rimba persilatan, tidak dapat mencari orang yang keduanya. Mungkin karena menganggap
pukulan Koo San Djie agak aneh, maka ayahnya membiarkan menyerang terus. Setelah menunggu sampai
mengenal semua ilmu pukulannya saat itulah akan tiba kematiannya. Maka ia telah mendapat suatu akal
yang baik untuk menolong si anak muda dari tangan jahat ayahnya.
Koo San Djie telah menggunakan seluruh kepandaiannya, sampai mengulangi dua kali. Dari jurus yang
pertama sampai jurus yang terakhir, kemudian kembali ke jurus yang pertama pula dan seterusnya.
Inilah saatnya untuk ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Sejurus demi sejurus kepandaiannya
bertambah lancar, pukulannya satu demi satu bertambah keras......
Pengaruh tenaga dari Kodok Mas dan Capung Kumala yang masih sebagian terpendam di dalam tubuhnya,
sedikit demi sedikit telah dapat keluar untuk digunakannya. Dalam waktu yang sangat pendek inilah
kepandaian Koo San Djie telah maju setingkat pula.
dunia-kangouw.blogspot.com
Orang setengah umur yang melihat kejadian itu, semakin lama menjadi semakin heran. Ilmu pukulan yang
aneh dari si anak muda ini sebenarnya sudah jarang terdapat. Mengapa tenaganya semakin lama dapat
bertambah menjadi semakin kuat?
Sebentar saja, ia telah mengerti sebab-sebabnya. Ia mempunyai pengalaman yang luas, kepandaian yang
tinggi dan kepintaran yang berlipat ganda. Ia sudah dapat menduga, anak muda ini tentu telah makan
sesuatu benda yang ajaib dan sampai saat ini baru menunjukkan pengaruhnya.
Dengan umurnya yang sekecil ini telah mempunyai tenaga yang harus dilatih puluhan tahun, bukankah ada
suatu keanehan dunia?
Siapakah yang mendapat bahan bagus tidak akan menyukainya? Demikian pula dengan orang setengah
umur ini, setelah menemukan Koo San Djie mempunyai dasar yang bagus, biarpun kejahatan telah
menutupi hatinya, tapi sifat kesatria yang masih dimilikinya membuat ia tidak tega untuk membunuh Koo
San Djie.
Setelah ragu-ragu sekian lamanya, ia masih tidak dapat mengambil keputusan.
Tiba-tiba, batu berterbangan, debu mangepul, angin menderu-deru membawa segala sesuatu yang
menghadang di hadapannya. Tiga buah pukulan geledeknya Koo San Djie beruntun telah keluar.
Orang itu sedang dalam keadaan memikir. Tidak menyangka Koo San Djie masih mempunyai pukulan
simpanan ini, maka tidak ampun lagi tubuhnya telah terbawa angin puyuh buatan jago muda kita.
Tidak percuma jago ini mempelajari ilmu Sari Pepatah Raja Woo, dengan tubuhnya masih terbawa angin
puyuh terbang di udara, tidak menunggu sampai menginjak tanah, lengan bajunya yang besar sudah
dikibaskan ke belakang, bagaikan kecepatan lelatu api saja, tubuhnya sudah menerjang batu dan debu,
langsung maju ke depan.
Tapi, tidak disangka, pukulan yang kedua dan ketiga dari jago kecil kita telah saling susul datang
menyerangnya pula.
Sebelum orang itu pergi, datang lagi dua arus pukulan, akhirnya pukulan ketiga dari lawannya telah
memaksa ia harus mundur juga ke belakang.
Wajah orang itu berubah, ia mengeluarkan suara di hidung dan tertawa dingin. Kegusarannya telah meluap
dari takaran.
Suara dingin yang keluar dari hidungnya begitu sampai di telinga si gadis cilik, sudah membuat mukanya
yang kecil mungil menjadi pucat seperti kertas, tubuhnya menggigil, seperti terserang penyakit malaria.
Dengan suara menangis ia berteriak:
“Ayah lekas berhenti! Jika kau membunuhnya, maka akupun tidak akan hidup lagi!”
Tangannya yang kecil halus ditaruh di atas kepalanya
Inilah jalan satu-satunya untuk mencegah sang ayah membunuh orang.
Si ayah jadi kewalahan, dengan tidak berdaya ia menjadi menghela napas panjang, mukanya kembali
menjadi sabar. Ia cukup tahu bahwa adat anak perempuannya yang hanya satu-satunya ini sangat kukuh
dan keras, apa yang dikatakan, betul-betul dapat diperbuatnya. Jika ia tidak mengindahkan perkataan sang
anak dan membawa adatnya sendiri, mungkin juga ia akan menyesal dalam seumur hidupnya.
Si anak perempuan juga telah mengetahui adat ayahnya. Setelah melihat perobahan muka dari sang ayah,
dengan seketika, kedukaannya telah lenyap sama sekali, mukanya yang kecil tertawa riang, dengan
berlompatan ia sudah datang menubruk ke dalam pelukan ayahnya. Dengan manja ia berkata:
“Ayah tentu akan melulusi, bukan?”
Sang ayah tidak menjawab, ia hanya mengelus-elus rambut anaknya.
Dalam keadaan bertempur, Koo San Djie tidak dapat memikirkan soal lainnya, yang dipikirkannya hanyalah
dengan cara bagaimana ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah tiga buah pukulan geledeknya meluncur
keluar, dalam hatinya menjadi menyesal juga. Ia tidak berniat melukai lawan, ia sudah pusing juga
menghadapi lawan yang selalu menari dengan mengikuti bayangan telapak tangannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah berhenti bertempur, dilihatnya sang lawan terlempar jauh juga. Ia menyangka tentu lawannya telah
mendapat luka, dalam hatinya menyesal. Maka dengan cepat ia segera datang menghampiri, sambil
memberi hormat ia berkata:
“Di waktu tadi, boanpwe telah terlepasan tangan, harap locianpwee tidak menyimpan di hati.”
Ayah si gadis cilik tertawa adem:
“Jangan kau kuatir,” katanya. “Dengan ilmu kepandaianmu, meskipun dapat dikatakan lumayan, tapi jika
mau menundukkan tanganku kau masih belum waktunya.”
Ini bukan ia berkata terkebur, perkataannya tidak salah sama sekali. Jangan dilihat dari wajahnya yang baru
seperti orang setengah umur, sebenarnya, umurnya telah lebih dari seratus tahun. Dan anak perempuannya
adalah anak satu-satunya yang didapatkannya pada hari tuanya.
Nama dari orang ini ialah Liu Djin Liong, bersama dengan istrinya almarhum Su Tjiat Kin, mereka mendapat
julukan di kalangan Kang-ouw sebagai Sepasang Pendekar Merpati.
Pada suatu hari suami istri ini telah beruntung dapat menemukan sejilid kitab pelajaran silat kelas satu yang
bernama Sari Pepatah Raja Woo. Maka, dengan hanya membawa dua pelayan laki dan perempuan,
mereka pindah dan mengasingkan diri ke dalam lembah ini.
Lembah ini mengambil nama dari julukannya sepasang suami istri ialah Lembah Merpati.
Suami istri ini setelah meyakinkan pelajaran Sari Pepatah Raja Woo, sampai enampuluh tahun lamanya,
dengan beruntung mereka berhasil juga meyakinkanya. Tapi tidak disangka, pada waktu berumur seratus
tahun, Su Tjiat Kin setelah melahirkan Tjeng Tjeng, anak perempuannya ini, dengan tanpa mendapat
sesuatu penyakit telah mati tua.
Liu Djin Liong yang sangat cinta kepada istrinya sudah membuat satu kuburan yang besar, dan
membuatnya pula sebuah peti mati yang terbikin dari gelas. Dia sendiri, setiap malam telah menemani tidur
di dalam peti mati gelas ini. Dalam khayalnya ia ingin menghidupkan kembali sang istri dengan meminjam
hawa panas dirinya yang dicurahkan masuk ke dalam raga sang istri.
Biarpun ini adalah suatu usaha yang mustahil, tapi perbuatannya ini bukan tidak membawa hasil, setelah
istrinya tidak bernafas selama belasan tahun, tapi tubuh raganya masih hangat dan tidak menjadi busuk.
Liu Djin Liong pernah bersumpah ia tidak akan keluar dari dalam lembah ini lagi dan akan membunuh setiap
manusia yang berani memasuki lembahnya.
Nama Lembah Merpati telah digantinya menjadi Makam Merpati. Tidak terkecuali juga dengan anak
perempuannya, Tjeng Tjeng, dan kedua pesuruhnya, mereka tidak diijinkan meninggalkan lembah.
Tjeng Tjeng dengan umurnya yang masih muda tidak merasa akan beratnya larangan ini. Tapi si pelayan
tidak tahan akan penghidupan sepi yang terkekang. Mereka telah mendapat warisan kepandaian dari Liu
Djin Liong, ingin sekali mengembara di kalangan Kang-ouw untuk mendapat nama. Tapi mereka juga
mengetahui sifat dari majikannya yang telah melarang mereka keluar tentu, tidak dapat membiarkan mereka
pergi. Maka, dengan menggunakan kesempatan sewaktu Liu Djin Liong menemani mayat istrinya, mereka
telah lari keluar dari dalam lembah.
Telah beberapa tahun Liu Djin Liong menyimpan urusan ini, ia belum dapat mencari sesuatu daya untuk
membereskannya.
Demikian singkatnya riwayat hidup Liu Djin Liong.
◄Y►
Kini kita balik kepada Tjeng Tjeng yang sedang berada dalam pelukan ayahnya, dengan mendongakkan
kepala, menanti jawaban dari permintaannya. Tapi ayahnya hanya termenung-menung saja, lama...... lama
sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Tangan Tjeng Tjeng yang kecil mendorong tubuh ayahnya dan berkata pula:
“Ayah, mengapa tidak menjawab?”
Baru kali ini Liu Djin Liong tersadar, setelah mengelus-elus rambut anaknya sekian lama baru ia berkata:
“Ayahmu sedang memikirkan suatu urusan......”
dunia-kangouw.blogspot.com
Setelah terdiam sebentar, Liu Djin Liong sudah mengangkat kepalanya dan dengan mata ditujukan kepada
Koo San Djie berkata:
“Peraturan lembah ialah membunuh pada siapa yang berani memasukinya. Jika kau bersedia menjadi
muridku, sudah tentu akan menjadi orang sendiri dan tidak terkena peraturan ini......”
Koo San Djie dengan sungguh-sungguh berkata:
“Dengan kepandaian locianpwee yang telah menjagoi di kolong langit ini, boanpwe juga turut menjagoinya.
Sudah tentu boanpwe sangat beruntung, jika dapat menjadi murid locianpwe, tapi boanpwe telah
mempunyai guru, dan tidak dapat berpindah masuk ke dalam golongan lain. Harap Locianpwe dapat
memaafkannya.”
“Siapakah yang telah menjadi gurumu?” Liu Djin Liong bertanya.
“Pendekar Berbaju Ungu.”
Mendengar disebutnya nama Pendekar Berbaju Ungu, Liu Djin Liong tertawa berkakakan. Kemudian ia
berkata pula pada Koo San Djie:
“Oh, dia? Jika demikian, kau harus memanggil aku Supek.”
Koo San Djie menganggap hal itu tidak ada salahnya. Dia ternyata adalah sahabat kental gurunya, sudah
tentu memanggil susiok atau supek. Maka ia sudah menganggukkan kepalanya menyetujui.
Liu Djin Liong setelah berdiam sejenak kemudian berkata pula:
“Dengan kepandaianmu sekarang ini, hanya memerlukan waktu setahun saja dapat mempelajari semua
ilmu yang akan kuturunkau kepadamu. Aku mengijinkan kau tinggal di sini dalam waktu setahun. Tapi aku
mempunyai dua syarat yang harus kau perhatikan.”
Koo San Djie hanya memanggutkan kepalanya dan mendengarkan terus pembicaraan si orang tua.
Liu Djin Liong berkata lagi:
“Yang pertama, ialah setelah kau keluar dari dalam lembah, harus mewakili mengerjakan sesuatu untukku.
Dan yang kedua, dalam waktu setahun ini kau tidak diperbolehkan mengucapkan suatu perkataan juga
kepada Tjeng Tjeng.”
Koo San Djie berpikir, permintaan ini tidak sukar baginya. Demi kepentingan mengerjakan suatu urusan
besar, ini tidaklah menjadi soal. Tentang tidak dapat bicara dangan Tjeng Tjeng, lebih mudah lagi, ia boleh
anggap saja seperti tidak ada Tjeng Tjeng. Jika Tjeng Tjeng dapat menahannya, mengapa ia tidak dapat
menahan sabar! Lalu, ia meluluskan segala permintaan si orang tua.
Liu Djin Liong juga tidak mengatakan suatu apa-apa lagi. Mereka lalu meninggalkan tempat itu masuk ke
dalam lembah......
◄Y►
Matahari pagi baru mulai memancarkan sinarnya. Di atas daun-daun yang hijau, masih terlihat beberapa
tetes embun pagi yang bening. Beberapa kali siliran angin gunung yang sejuk telah membuat orang merasa
lebih segar lagi.
Tjeng Tjeng bukan main girangnya, ia sangat gembira sekali yang telah berhasil mendapatkan kawan
barunya. Pagi-pagi sekali, ia telah bangun untuk melihat sang tetamu, itulah pemuda Koo San Djie.
Setelah sampai di kamar tamu, ia telah menubruk tempat kosong. Ternyata tamunya telah pergi keluar.
Sambil berlompatan, ia telah lari keluar kamar mencari tamunya. Betul saja, di bawah sebuah pohon yang
besar, ia telah mendapatkan Koo San Djie yang sedang duduk bersemedi.
Tjeng Tjeng tidak berani mengganggunya, dengan sabar ia memperhatikan gerak geriknya. Dengan tangan
memegang tangkai bunga Hay-thang berdiri tidak jauh dari tempat Koo San Djie melatih diri.
Setelah sekian lama, selesailah Koo San Djie melatih, dia sedang menyelesaikan serangkaian ilmu pukulan.
Ia mengangkat kepalanya dan melihat Tjeng Tjeng berdiri di sana. Baru saja ia membuka mulut untuk
memanggil......
dunia-kangouw.blogspot.com
Dengan tertawa manis, Tjeng Tjeng sudah menggerakkan jarinya, dipasang dan dilintangkan ke mulut.
Seluruh badannya tergerak semua karena ia tertawa terpingkal-pingkal.
Kelakuan ini sangat lucu sekali, sehingga membuat Koo San Djie yang melihatnya menjadi kememek,
hampir dia hilang ingatannya. Dalam hatinya memikir:
“Ia sedang menyaingi mekarnya bunga Hay-thang.”
Tjeng Tjeng tertawa, kemudian menurunkan tangannya, kemudian memetik setangkai bunga Hay-thang
lantas diciumnya.
Lalu, berjalan maju menghampiri Koo San Djie, menarik tangan si pemuda dan mengajak pergi ke sebuah
sungai kecil yang terdapat di situ.
Mereka berdua terduduk di sana, dengan berpandangan mereka sama-sama tertawa.
Tjeng Tjeng mengulur tangannya ke tanah dan mengambil sebuah batu, dengan kecepatan yang luar biasa
ia telah menulis di tanah:
“Apa kau masih mempunyai orang tua?”
Koo San Djie juga menulis dengan jari telunjuknya:
“Sudah tidak ada. Aku hanya sebatang kara.”
“Juga tidak mempunyai saudara?”
“Betul.”
“Akupun hanya seorang diri, dan merasa kesepian. Maukah kau menjadi saudaraku?”
“Jika kau tidak memandang rendah, aku akan memanggilmu adik Ceng saja.”
“Tentu! Aku akan senang memanggilmu engko San.”
“Mari kita segera pulang. Ayahmu tentu telah mencari kemana-mana.”
Demikianlah, terjadi percakapan mereka yang pertama, tanpa melanggar peraturan Liu Djin Liong.
Tjeng Tjeng telah membuang perasaan lamanya yang kesepian dan kesal, dengan riangnya ia menarik
tangan Koo San Djie, dan diajaknya menuju ke arah Makam Merpati yang tinggi besar dan megah.
Makam ini dibuat dengan sangat indah, tidak kalah menterengnya dari pada makam raja-raja. Dikelilingi
oleh pohon-pohon Pek yang tinggi, dan di sekeliling pohon Pek ini telah penuh dengan berbagai macam
pohon bunga yang indah-indah.
Air gunung mengalir, membuat sungai-sungai kecil yang membatasi tanaman bunga-bunga. Biarpun tempat
ini tidak sedap untuk didengar sebagai Makam Merpati, tapi yang sebenarnya bagaikan sorga kecil saja.
Peti mati gelas yang besar, di mana terbaring ibu Tjeng Tjeng di tengah-tengahnya, dan di belakang
ruangan peti mati gelas ini terdapat tempat pemandian, dengan airnya yang menyiarkan bau harum.
Obat yang digunakan untuk tempat pemandian ini telah didatangkan dari berbagai tempat. Dengan susah
payah, Liu Djin Liong telah mengumpulkan obat-obatan mujijat yang dapat menahan pembusukan dan
membuat kulit tetap menjadi halus dan sebagainya.
09.22. Ilmu Silat Sari Pepatah Raja Woo
Semua obat-obat ini untuk menjaga keutuhan dari badan raga ibu Tjeng Tjeng.
Roh Su Tjiat Kin, jika dapat merasakan ini, entah bagaimana senangnya, karena dia mendapat jaminan
kelas satu.
Koo San Djie dan Tjeng Tjeng masuk ke dalam makam, terlihat oleh mereka Liu Djin Liong telah
menyelesaikan pelajaran pagi, dan orang tua sedang berdiri di sana, seperti memikirkan sesuatu.
Liu Djin Liong jalan mundar mandir sambil menggendong tangan. Begitu melihat dua orang itu masuk,
sudah lantas menggapaikan tangannya, memanggil mereka.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sesudah mengajak Koo San Djie dan Tjeng Tjeng masuk ke dalam ruangan, lalu ditanyainya tentang
pelajaran ilmu silat mereka masing-masing.
Ditanyanya juga tentang kepandaian yang tertulis dalam kitab Im-hoe-keng. Ia merasa di antara Im-hoekeng
dan Sari Pepatah Raja Woo, terdapat beberapa persamaan. Mungkin karena waktunya yang
mendesak, sehingga Pendekar Berbaju Ungu belum dapat mengupas semua sarinya. Dan yang dapat
dipelajari oleh Koo San Djie hanyalah tigapuluh persen saja.
Umpama Koo San Djie telah dapat memahami semua pelajaran yang tertulis dalam Im-hoe-keng, dalam
pertempuran kemarin malam, belum tentu Liu Djin Liong dapat menahan serangan Koo San Djie.
Maka Liu Djin Liong telah menjelaskan inti sari dari kitab Sari Pepatah Raja Woo agar dapat dipadukan
dengan Im-hoe-keng yang Koo San Djie miliki.
Biarpun Koo San Djie mempunyai muka yang ketolol-tololan, tapi sebenarnya kepintarannya melebihi orang
lain, ingatan dan kupasannya juga cepat, sehingga membuat Liu Djin Liong terheran-heran.
Dengan kepandaian dasar yang Koo San Djie miliki, penjelasan-penjelasan dari Liu Djin Liong hanya
bagaikan petunjuk-petunjuk saja, tidak seperti lain orang, harus menuruti segala sesuatu yang dilakukan
oleh gurunya.
Setiap hari, Koo San Djie hanya memerlukan waktu sampai dua jam untuk meminta petunjuk-petunjuk dari
Liu Djin Liong, juga telah mendapat kemajuan yang tidak sedikit. Maka Koo San Djie masih mempunyai
banyak waktu untuk menemani Tjeng Tjeng bermain.
Hari ini, Koo San Djie setelah mendapat beberapa petunjuk dari Liu Djin Liong, lalu mengikutinya keluar. Liu
Djin Liong seperti yang sedang bergembira, telah mengajak Koo San Djie keluar untuk menguji praktek ilmu
silatnya.
Ia merasa di kalangan rimba persilatan sudah sulit untuk mencari lawan tandingan. Kepandaian Sari
Pepatah Raja Woo yang merajai ilmu silat tidak mendapat kesempatan untuk digunakan. Hanya anak muda
ini yang berada di hadapannya yang masih dapat dipaksa untuk melayani ilmunya.
Memang betul juga, keadaan Koo San Djie pada waktu itu, ia sudah berbeda jauh dengan masa ketika ia
baru datang ke lembah itu. Dengan ilmunya Im-hoe-keng yang ditambah dengan Sari Pepatah Raja Woo,
dengan tenaga yang didapatkan dari khasiatnya Kodok Mas dan Capung Kumala, ia sudah tidak takut
kepada siapa juga.
Dua orang, tanpa ragu-ragu lagi telah mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya masing-masing. Biarpun
mereka sedang memperaktekkan teori yang terdapat dari buku, tapi tidak kalah tegangnya dengan
pertempuran biasa.
Demikianlah Koo San Djie melewati hari-harinya. Suatu hari di kala Koo San Djie dan Liu Djin Liong berlatih
silat, Tjeng Tjeng bagaikan kupu-kupu saja telah terbang mendatangi.
Mulutnya telah mengeluarkan teriakan:
“Bagus kau kini sedang bermain sendiri. Sekarang kau telah lupa kepadaku.”
Setelah sampai di sana, Tjeng Tjeng yang mempunyai dasar kepandaian yang lumayan, telah dapat melihat
ayahnya telah menggunakan lebih dari tujuh bagian kepandaiannya. Inilah suatu hal yang belum pernah
terjadi. Ia merasa heran juga tentang kepandaian Koo San Djie yang demikian pesat sekali.
“Oh, kepandaiannya sudah jauh lebih sempurna lagi.”
Sewaktu ia menyaksikan Koo San Djie yang bagaikan macan galaknya maju menyerang dengan gencar
hatinya telah terbuka. Umpama ia sendiri yang mendapat kemajuan dalam kepandaiannya juga tidak sering
seperti ini.
Koo San Djie dengan mengeluarkan seluruh ilmu kepandaiannya telah dapat melawan lebih dari tigaratus
jurus. Kemudian tiga jurus yang terakhir yaitu ilmu pukulan geledeknya juga telah dikeluarkan.
Tapi kali ini ia menggunakannya dengan kekuatannya seperti lebih berkurang dari sebelumnya. Tapi
sebaliknya, Liu Djin Liong harus menghadapinya dengan muka yang tegang, seperti berat untuk melayani
tiga serangan itu. Setelah cukup berlatih, mereka berdua menarik serangan masing-masing.
Tjeng Tjeng merasa heran, maka dengan tidak mengerti ia bertanya:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Ayah, mengapa tiga jurus ini yang dulunya hebat, kini sudah berubah seperti tidak berguna?”
Liu Djin Liong dengan tertawa menjawab:
“Anak tolol, dulu berpeta suara, itulah menunjukkan keberangasannya. Sekarang ilmunya telah maju, ia
dapat menyembunyikan dengan baik, hingga tidak kelihatan keampuhannya. Sebenarnya, kedahsyatannya
telah berlipat ganda, menjadi lebih dari dua kali.”
Setelah berkata, seperti ia telah puas dengan latihannya. Liu Djin Liong telah pergi masuk ke dalam makam
sang isteri almarhum.
Tjeng Tjeng melemparkan pandangannya ke arah Koo San Djie, tubuhnya yang ramping telah melompat
tinggi dan menclok di atas sebatang tangkai pohon Pek.
Di antara mereka berdua, kini telah terdapat semacam bahasa. Satu gerakan tangan atau satu pandangan
mata telah dapat mengeluarkan isi hatinya. Inilah bahasa yang terdapat pada mereka. Koo San Djie telah
mengerti akan maksudnya, ia ingin mengadu ilmu mengentengi tubuh mereka.
Perasaan wanita selalu mau menang sendiri. Ia mengetahui, dalam hal ilmu pukulan, ia tidak ada harapan
untuk dapat menandinginya. Tapi ilmu mengentengi tubuhnya yang dinamakan Kejaran Bintang Supah
tentu di atas sang kawan.
Koo San Djie juga tahu, apa yang dimaksudkan oleh si gadis, tapi ia tidak mengatakan suatu apapun,
dengan menarik napas, ia menyusul loncat ke tangkai. Sekali jambret, tangannya sudah mengarah dua
cacing rambutnya Tjeng Tjeng.
Tjeng Tjeng dengan tertawa berkikikkan sudah mendahului loncat ke lain pohon.
Koo San Djie tidak ingin merebut kemenangan darinya, ia hanya mengiringi kehendak si gadis cilik saja.
Ujung kakinya menutul sedikit tangkai pohon, bagaikan burung alap-alap mau menerkam mangsanya sudah
menubruk kembali.
Tjeng Tjeng yang sedang mempertontonkan kepandaiannya Kejaran Bintang Supah, badannya yang kecil
jatuh ke bawah, sehingga sampai hampir mengenai tanah. Kemudian, dengan mengibaskan lengan bajunya
yang panjang, mengapurg ke atas lagi. Sebelah kakinya yang kecil menjejak sedikit di badan Koo San Djie,
sambil tertawa nyaring ia sudah jumpalitan pergi.
Dua orang bagaikan halilintar saja, berapa kali mengelilingi tangkai-tangkai pohon dengan kecepatan yang
dapat mengejutkan orang.
Koo San Djie dengan badannya yang sehat, tangannya yang kuat, telah meyakinkan ilmu pukulan dan
perobahannya. Tjeng Tjeng sebagai wanita yang lemah, lebih menitik beratkan pada ilmu mengentengi
tubuhnya.
Biarpun Koo San Djie telah mengeluarkan semaksimumnya Awan dan Asap Lewat di Mata, tapi masih
ketinggalan sedikit.
Setelah mereka berdua bermain cukup. Dua-duanya sudah bersedia loncat turun ke tanah.
Mendadak, di atas tebing, di dekat mulut lembah terlihat sesosok bayangan berkelebat. Matanya Koo San
Djie yang tajam dan badannya masih berada di atas tangkai pohon yang tinggi dengan cepat telah
melihatnya.
“Ada orang datang!” katanya pada Tjeng Tjeng.
Ia membongkokkan badannya. Kedua kakinya dengan keras menendang tangkai pohon, badannya
bagaikan panah saja melesat ke mulut lembah.
Tjeng Tjeng masih bersifat kekanak-kanakan yang masih senang akan keramaian. Begitu mendengar ada
orang datang, badannya juga telah melesat mengikuti di belakang Koo San Djie.
Biarpun kecepatan dari dua anak muda sulit menandingi, tapi setelah sampai di mulut lembah, apapun
mereka tidak dapat melihat.
Koo San Djie masih tidak percaya, dengan sendirinya dicarinya di sekeliling lembah ini, tapi apapun tidak
terlihat juga. Maka dengan tidak memperdulikannya pula sudah menarik tangannya Tjeng Tjeng kembali ke
dalam makam.
dunia-kangouw.blogspot.com
Sebenarnya Koo San Djie tidak melihat salah. Di mana memang telah datang seseorang. Tapi orang ini
sangat licik, ia tahu tidak dapat lolos dari kecepatan kedua anak muda ini, maka ia telah bersembunyi di
antara rerumputan sehingga dua orang yang mencarinya tidak dapat menemuinya.
Karena kelalaian inilah yang telah membawa banyak kesukaran bagi lembah Makam Merpati.
Orang tadi karena tertarik oleh tulang belulang yang ditinggalkan oleh Setan Gunung dan Kalong Wewe,
maka telah salah membayangkan, bahwa orang dalam lembah ini tentunya mempunyai sifat yang kejam.
Dengan hati-hati, ia merayap naik ke atas tebing dan kebetulan dapat melihat dua muda mudi yang sedang
berputar-putaran di atas pohon. Kegesitannya yang tidak ada taranya telah membuat orang ini menjadi
kaget. Dengan sembunyi-sembunyi ia telah memperhatikan keadaan di sekitarnya dan terlihatlah olehnya
sebuah batu, yang samar-samar seperti bertulisan Lembah Merpati dan beberapa perkataan. Baru saja ia
hendak mendekati untuk melihat dengan jelas, atau sudah diketahui lebih dahulu kedatangannya oleh Koo
San Djie.
Setelah menunggu sampai Koo San Djie berdua berlalu meninggalkan tempat itu, dengan tidak berani
menoleh lagi ia telah lari ngiprit pergi dari tempat itu. Ternyata ia telah salah lihat, Makam Merpati menjadi
Lembah Merpati. Anggapannya terhadap Lembah Merpati bagai sorga saja. Dua anak laki-laki yang
sedemikian kecilnya dapat mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, jika bukan orang dari Lembah
Merpati, tentu tidak ada.
Demikianlah di kalangan Kang-ouw ia telah sesumbar pengumuman bahwa ia telah dapat menemukan letak
tempat Lembah Merpati, yang seperti teka-teki itu. Dan mengatakan pula, bagaimana kejamnya orang dari
Lembah Merpati yang suka membunuh orang dan mengumpulkan tulang-tulang.
Liu Djin Liong mengimpipun tidak akan menduga bahwa lembahnya yang tersembunyi dapat diketahui oleh
orang. Koo San Djie lama berdiam di dalam lembah ini, sudah tentu tidak dapat mendengar kabar angin
tersebut. Setiap hari kerjanya kecuali meyakinkan ilmu silat, tentu mengajak Tjeng Tjeng bergurau dan
berjalan-jalan di sekitar makam.
Tjeng Tjeng yang sifatnya binal sudah dapat ditundukkan menjadi seperti seekor burung kecil yang jinak.
Koo San Djie biarpun belum pernah tunduk kepada orang, tapi kali ini ia telah menjadi tunduk akan segala
perkataan Tjeng Tjeng. Inilah suatu kejadian yang aneh baginya. Di hadapan Ong Hoe Tjoe ia merasakan
dirinya sangat kecil sekali, tapi di hadapan Tjeng Tjeng ia merasa dirinya terlalu besar.
Terhadap Ong Hoe Tjoe, rasa hormatnya lebih besar dari pada kasih sayang. Tapi, terhadap Tjeng Tjeng,
kasih sayangnya lebih besar dari pada rasa hormatnya. Di hadapan Ong Hoe Tjoe, ia masih berani berbuat
kolokan, tapi di hadapan Tjeng Tjeng ia selalu melulusi permintaannya.
“Cintanya terhadap Ong Hoe Tjoe masih ada biarpun telah bertambah Tjeng Tjeng di sampingnya. Karena
pada waktu ini ia tahu tidak mungkin dapat menemui Ong Hoe Tjoe, dan lagi semenjak ia bertempur dengan
Pelajar Berbaju Kuning, ia sudah merasai tenaganya masih belum cukup untuk dapat menandingi orang dari
Lembah Merpati, maka yang terpenting baginya ialah meyakinkan lagi ilmu silatnya
Di dalam lembah Makam Merpati inilah dia mendapat kesempatan untuk meyakinkan ilmu yang lebih tinggi.
Pada waktu senggang, sering juga Koo San Djie mengeluarkan dompet yang bersulam sepasang merpati
memain, pemberian sang kekasih. Dan mengeluarkan butiran-butiran biji merah untuk dimain-mainkan.
Suatu hari, ia sedang memainkan beberapa biji kacang merah yang mengkilap itu, mendadak, dari
belakangnya, Tjeng Tjeng sudah mengulurkan tangan untuk merebutnya. Maka dengan sebat Koo San Djie
sudah memasukkannya ke dalam kantongnya kembali.
Tjeng Tjeng memaksa meminta, tapi ia kukuh tidak mau memberikannya. Setelah setengah hari mereka
berdua ribut dengan tanda gerakan tangan mereka seperti orang bisu, Tjeng Tjeng mendadak telah
memonyongkan mulut kecilnya. Setelah melakukan beberapa gerakan tangan, ia lantas membalikkan
badannya dan lari meninggalkan Koo San Djie seorang diri.
Artinya ialah: “Ternyata kau sedang memikirkan perempuan lain, maka sudah lupa kepadaku. Jika kau tidak
memperdulikan permintaanku, maka akupun tidak akan memperdulikan kau pula.”
Ia menyangka Koo San Djie bisa mengejar, sebagaimana biasa, tentu akan datang kepadanya untuk
meminta maaf. Tapi kali ini tidak demikian halnya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Ini bukannya Koo San Djie lupa. Ia memang sengaja berbuat demikian karena ia benci akan Tjeng Tjeng
yang telah mengganggu lamunannya. Dan lagi ia juga sengaja melukai hatinya untuk menguasai pelajaran,
baginya agar jangan terlalu manja sekali.
Tapi, setelah terjadinya kejadian ini, mereka dua-duanya merasa menyesal juga. Tjeng Tjeng ingin meminta
maaf, tapi hati angkuhnya seorang wanita telah memaksanya tidak berbuat demikian.
Dan tentang Koo San Djie bagaimana? Ia yang sifat kerbaunya telah kumat, biarpun bersalah ia juga tidak
mau menundukkan kepalanya kepada orang lain.
Demikianlah mereka berdua benar-benar telah mematuhi peraturan Liu Djin Liong. Masing-masing sudah
tidak memperdulikan yang lainnya.
Pada waktu mereka berdua bergaul rapat, itulah waktunya Liu Djin Liong merasa berkuatir. Ia telah
merasakan Koo San Djie, dengan perlahan-lahan telah merebut cinta kasih anaknya. Hatinya menjadi
bimbang. Ia harus melarang atau melepas? Tapi ia juga tahu, tidak mungkin untuk melarangnya, tapi jika
dibiarkan saja juga dapat mengganggu hatinya.
Ia juga cukup tahu, pada suatu waktu jiwa kesayangannya ini tentu akan terbang juga. Tapi masih tetap
mengharapkan kejadian ini terjadi sesudah ia meninggal dunia.
Demikialah setahun telah berlalu.
Bagi Koo San Djie dan Tjeng Tjeng, waktu setahun itu terlalu cepat. Tapi bagi Liu Djin Liong, rasa setahun
ini lebih lama dari setengah umurnya.
Maka, dengan segera ia sudah memanggil Koo San Djie menghadap dan berkata kepadanya:
“Kau di dalam lembah ini telah cukup setahun. Tapi kemajuan yang didapat olehmu sama dengan sepuluh
tahun bagi orang biasa. Di dalam dunia Kang-ouw, mungkin tidak ada orang kedua yang dapat
menandingimu. Maka tibalah saatnya untuk kau keluar lembah.”
Koo San Djie mengetahui, untuk tinggal terus, di dalam lembah, juga tidak ada gunanya. Dan lagi ia masih
mempunyai banyak urusan yang harus menunggu penyelesaiannya. Tapi biar bagaimana juga terhadap
lembah ini, ia merasa berat juga, tidak terkecuali terhadap Tjeng Tjeng yang lincah dan binal. Dengan berat
ia berkata:
“Supek, silahkan memberi perintah.”
Liu Djin Liong dengan menganggukkan kepala, berkata:
“Yang pertama, kau harus dapat mencari dua pelayan penghianat itu. Umpama mereka berdua di luar
berani berbuat yang tidak senonoh, kaupun dapat mewakili aku membereskannya.”
Setelah berdiam sejenak ia meneruskan pula:
“Dan yang kedua harus kau perhatikan ialah, jika menemui seorang tua berbaju kuning dan berkupiah mas,
inilah musuhku yang memiliki kepandaian tinggi yang tidak boleh dipandang enteng.”
Koo San Djie menganggukkan kepalanya.
“Nah sekarang kau boleh pergi, selesaikanlah pesanku!” kata Liu Djin Liong pula.
Koo San Djie yang mendengar disebutnya si orang tua berkupiah mas, sudah menjadi terkejut hatinya.
Bukankah orang ini yang telah merebut peta Lembah Merpati? Tapi ia tidak berani banyak bertanya.
Setelah meminta diri dari Liu Djin Liong, ia sudah lantas meninggalkan tempat itu.
Setelah sampai di mulut lembah, ia membalikkan kepalanya, memandang untuk yang penghabisan kalinya.
Ingin sekali ia dapat menemukan Tjeng Tjeng, tapi tidak terlihat mata hidungnya.
Maka, dengan mengeraskan hati, Koo San Djie sudah meninggalkan lembah yang tidak mudah ia lupakan
dalam hidupnya.
Baru saja ia sampai di tepi sungai kecil, mendadak, di belakangnya terdengar suara teriakan yang seperti
orang menangis:
“Engko San......”
Tubuh Tjeng Tjeng dengan cepat telah datang menubruk. Sambil menangis ia berkata:
dunia-kangouw.blogspot.com
"Engko San, apa kau masih marah padaku? Mengapa berangkat dengan tidak mengatakan apa-apa
kepadaku? Telah lama aku ingin mencarimu, tapi......”
Koo San Djie telah menahan jatuhnya air mata hatinya. Dengan suara dipaksa ia berkata:
“Aku telah lama tidak marah kepadamu. Sama juga dengan pikiranmu, telah lama aku ingin mencarimu......”
“Apa selanjutnya kau masih mau melihatku lagi?” Tjeng Tjeng dengan cepat memotong.
“Sudah tentu, aku akan kembali kemari,” jawab Koo San Djie, “Jika mendapat waktu yang senggang, sudah
tentu aku akan menyambangi kau di sini.”
Tjeng Tjeng seperti telah mengingat barang sesuatu, dengan menarik-narik tangan Koo San Djie ia berkata:
“Bukankah masih mempunyai seorang kawan wanita? Cantikkah dia itu?”
Koo San Djie menganggukkan kepalanya.
“Aku memang mempunyai satu enci angkat yang bernama Ong Hoe Tjoe, tapi sekarang aku tidak dapat
mengetahui di mana dia kini berada.”
“Dapatkah kau membawanya dia kemari?” tanya Tjeng Tjeng.
Umur Tjeng Tjeng masih terlalu muda, ia masih belum mengerti, apa yang dinamakan cemburu. Ia hanya
mengharapkan dapat mempunyai banyak sekali kawan laki maupun wanita. Dengan cara demikian hatinya
merasa gembira.
Dalam pelukannya Koo San Djie, Tjeng Tjeng entah berapa lama mengoceh ke barat dan ke timur. Tapi ia
tahu, mereka akan segera berpisah, maka ia akan menjadi sendirian lagi dengan tidak mempunyai kawan
pula. Dengan air mata berlinang-linang, Tjeng Tjeng kembali pulang ke dalam makam ibunya.
Koo San Djie untuk sementara juga harus memisahkan pikirannya yang kalut kacau itu, untuk melanjutkan
perjalanannya.
Hanya dalam waktu setahun ini, kepandaiannya telah maju sangat pesat sekali. Tapi dalam setahun ini,
hubungannya dengan dunia Kang-ouw telah terputus.
Dalam rimba persilatan, dari tahun inilah terbayang pembunuhan-pembunuhan besar-besaran.
Berbagai macam golongan dari rimba persilatan sedang mengharap-harapkan munculnya seorang yang
dapat menolong runtuhnya dunia Kang-ouw.
10.23. Anak Itik Terbang Keluar Lembah
Koo San Djie dengan tindakan lebar telah meninggalkan Makam Merpati, menempuh jalan pegunungan
yang penuh lebat alang-alang setinggi manusia.
Di atas pundaknya telah membawa tiga beban berat. Dua tugas gurunya yang harus membersihkan pintu
perguruan dan tugas membalas dendam dari keluarga Ong Hoe Tjoe, kesemuanya beban itu telah jatuh ke
atas pundaknya.
Pemandangan pada musim rontok selalu membawa kemuraman saja. Ditambah dengan hatinya Koo San
Djie yang sedang dalam keadaan pepat, sudah membikin anak muda kita menjadi lusu.
Angin dingin sebentar-sebentar meniup datang, telah membuat daun-daun kering bertambah berisik.
Beberapa burung belibis yang lewat mengeluarkan suaranya yang sedih, menambah kekosongan dari hati
si pengembara.
Dengan tidak terasa, hati Koo San Djie sudah menjadi bimbang pikirannya seperti telah menjadi kosong.
Sementara penderitaan yang tidak terlihat telah datang mengganggunya. Keadaan di sekitarnya yang sepi
membuat ia sedih atau perasaan sedihnya yang telah membuat keadaan menjadi sepi, ia sendiri juga tidak
mengetahuinya.
Ia hanya merasakan, jika berada disamping Ong Hoe Tjoe, Tju Thing Thing atau Liu Ceng, hatinya baru
dapat bergembira. Ia telah merasa perasaan ini telah berubah jauh, bila dibandingkan pada waktu ia masih
menjadi bocah angon, juga keadaan sekarang ini. Pada masa kecilnya ia selalu lebih senang jika
dunia-kangouw.blogspot.com
bersendirian atau dengan binatang-binatang angonnya, ia tidak suka atau lebih baik tidak bertemu dengan
para majikan-majikannya. Tapi, kini jika ia kehilangan kawan, maka sepi dan kosonglah dunia ini baginya.
Ia telah mulai melambatkan langkahnya, agar dapat membayangkan, kejadian-kejadian hidupnya dengan
lebih leluasa.
Tiba-tiba ia mendengar derap langkah yang cepat sekali. Ia mulai sadar dari lamunannya. Siapa gerangan
orang yang lari begitu cepat? Entah urusan penting apakah yang menyebabkan mereka terburu-buru.
Hampir saja ia sukar membedakan, derapan kaki atau burung-burung yang beterbangan.
Dari jauh, sebuah bayangan yang kecil keluar dari tikungan jalan pegunungan yang sempit.
Mendadak, Koo San Djie tergetar, seperti terkena aliran listrik yang mempunyai tekanan tinggi. Sebuah
bayangan sekelebatan telah tercipta di dalam pikirannya.
“Apa bukan dia orangnya?”
Betul saja, yang datang adalah orang yang diduganya. Sesosok bayangan kecil telah lompat turun di
hadapannya dan berkata:
“Engko San......”
Karena terlampau bergembira, sampai ia tidak dapat meneruskan perkataannya. Suaranya pun karena
ketegangan sudah menjadi seperti menangis.
Tidak salah! Yang datang adalah Liu Tjeng.
Bukan main terkejutnya Koo San Djie, sambil menarik sebelah tangannya ia bertanya:
“Kau, mengapa keluar lembah?”
Dengan gaya yang patut dikasihani Tjeng Tjeng menjawab:
“Seperginya kau dari lembah, aku sudah menjadi sangat kesal. Hanya aku seorang diri, dengan tidak
mempunyai kawan, semua keadaan tidak menyenangkan. Jika aku tetap dikurung di dalam lembah, pasti
aku bisa mati kesal......”
Setelah menyusut air matanya yang tidak dapat ditahan lagi, ia meneruskan penuturannya pula:
“Aku telah meminta ijin kepada ayah untuk pergi menjelajah dunia Kang-ouw bersamamu, tapi ayah tidak
mau mengijinkannya. Maka aku pergi dengan meninggalkan sepucuk surat kepadanya.”
Lalu, ia menundukkan kepalanya. Air matanya sudah semakin deras mengucur keluar. Rambutnya yang
hitam sampai mengenai janggutnya Koo San Djie.
Dengan perlahan-lahan, Koo San Djie mengusap-usap rambutnya yang telah penuh dengan debu, satu
persatu dibetulkannya dari kekusutan. Kemudian, dengan setengah menasehatkan ia berkata:
“Adik Tjeng, paling baik kau pulang saja. Dengan mengambil tindakan ini, bukankah akan membuat berduka
hati ayahmu?”
Tjeng Tjeng dengan menggoyang-goyangkan badannya berkata:
“Tidak. Aku tidak akan kembali ke dalam lembah. Ayahku sudah ada ibuku yang menemaninya.”
Dalam hati Koo San Djie berpikir:
“Ibumu yang telah meninggal, mana dapat menemani ayahmu?”
Tapi ia juga tahu sifat Tjeng Tjeng yang keras, percuma saja untuk membujuknya. Maka dengan terpaksa ia
telah mengajak Tjeng Tjeng berjalan bersama-sama.
“Marilah kita berangkat sekarang!” ia mengajak si gadis.
Tjeng Tjeng dengan menjebirkan mulutnya yang kecil mungil, berkata:
“Kita akan pergi kemana?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie memandang wajah ayu Tjeng Tjeng, kini wajah itu telah menjadi terang kembali, masih
terdapat beberapa butiran air mata, merasa sangat kasihan. Dengan perlahan-lahan disusutinya air
matanya, kemudian baru menjawab pertanyaan itu.
“Yang pertama, kita pergi ke Cong-lam, untuk memberitahukan tentang kematian Yun Yan Tjie kepada
ketua partainya dan juga menyerahkan pedang dan cap kumala milik Yun Yan Tjie.
Tjeng Tjeng menganggukkan kepalanya. Mereka lantas meneruskan perjalanannya.
Setelah memasuki daerah kota yang ramai, Tjeng Tjeng selalu tertawa dengan gembira. Ia dibesarkan di
daerah pegunungan yang sepi, kecuali dengan beberapa orang di dekatnya, belum pernah ia mendapat
kesempatan untuk bergaul dengan banyak orang. Tidak disangka, bahwa di antara manusia masih terdapat
keramaian seperti ini, ia senang dengan segala keramaian, ia suka dengan segala barang. Tidak ada satu
yang tidak aneh baginya.
Orang yang telah bosan akan kehidupan sudah menjadi pusing akan keramaian kota, mereka pada ingin
pergi menyendiri di pegunungan untuk dapat hidup tenang, tidak ada gangguan.
Tapi, Tjeng Tjeng telah menjadi terpikat oleh keramaian, di dalam hatinya yang masih putih bersih mana
mengetahui akan kejahatan manusia.
Inilah perbedaan yang nyata dari dua golongan yang hidup terpisah.
Tidak lama kemudian Koo San Djie dan Tjeng Tjeng telah memasuki daerah propinsi, Shan-sie, Gunung
Cong-lam telah terlihat di depan mata mereka.
Mendadak Koo San Djie telah melihat bayangan orang yang ia kenali, lewat dari sela-sela gunung menuju
ke arah barat.
Koo San Djie mengenali, ia adalah wanita berpakaian mewah yang menahan-nahannya di telaga Pook-yang
dan mengaku bernama Oey Bwee Bwee.
Jika sengaja dicari, tidak mudah ketemu, tapi kini, dengan tidak disengaja telah dijumpainya. Dengan tidak
sempat memberitahu kepada Tjeng Tjeng lagi, ia telah melesat mengejar bayangan tadi.
Tidak usah memakan waktu ia telah dapat mengejar dan menghadang di hadapannya, ia membentak:
“Perempuan jahat, bagus sekali perbuatanmu, ya!”
Oey Bwee Bwee yang melihat orang yang menghadang di hadapannya adalah Koo San Djie, jantungnya
telah berdebaran keras. Tapi ia tidak menunjukkan perasaan hatinya, dengan berlagak pilon ia bertanya:
“Ada urusan apa? Mengapa kau begitu galak sehingga telah membuat orang menjadi kaget saja?”
Setelah berkata demikian, kedua tangannya ditaruh di atas dadanya, membuat tingkah seperti orang yang
sedang berada dalam kekagetan.
Koo San Djie tidak mempunyai waktu untuk menyaksikan segala tingkah laku orang itu, dengan marah, ia
telah mengeluarkan potongan kain kembang yang berwarna merah dan surat dadu, lantas dilemparkan di
hadapan wanita itu. Sambil mempelototkan matanya ia berkata:
“Kau, dengan tanpa alasan telah menculik encie Hoe Tjoe, bahkan sudah berani membunuh ibunya yang
tidak berdosa. Jika kau tidak dapat memberikan penjelasan yang tepat, aku akan mengambil jiwamu untuk
gantinya.”
Dalam hati Oey Bwee Bwee sudah bingung setengah mati, ia sedang dalam kesulitan, mengenai nasib
dirinya. Ia telah mendapat batas waktu untuk segera kembali ke dalam lembah setelah melakukan tugasnya
untuk mengejar seorang dan mengambil obat pemunah darinya.
“Kau jangan membuat orang menjadi penasaran. Siapa yang mempunyai nyali besar berani menculik Ciecie
Hoe Tjoe mu?” katanya sambil berjingkrak-jingkrak.
Ia maju mendekati Koo San Djie, dengan lagak yang sangat manja, ia berkata lagi:
“Kau menyangka yang bukan-bukan. Beri tahu kepadaku, siapa yang dapat membuktikan bahwa
tuduhanmu itu beralasan?”
Ia sudah mengulurkan tangannya dan menempel di atas pundak Koo San Djie, dan tidak hentinya digoyanggoyangkannya.
dunia-kangouw.blogspot.com
Koo San Djie kesal, lalu menyingkirkan tangan yang masih menempel dipundak. Hatinya menjadi bingung
juga. Biarpun kejadian itu mungkin sekali orang ini yang melakukannya, tapi sukar sekali untuk ia
mendapatkan bukti yang nyata. Dengan hanya mendapatkan potongan kain dan sampul surat saja tidak
dapat memastikan benar tidaknya tuduhannya itu.
Oey Bwee Bwee yang melihat Koo San Djie telah menjadi bimbang, mana mau mensia-siakan kesempatan
yang sebaik ini. Maka ia sudah bertindak maju dua tindak lagi. Hampir saja muka bertemu muka. Dengan
membuat suaranya menjadi selunak-lunaknya, ia sudah memohon pula:
“Aku mempunyai urusan yang sangat penting sekali untuk mengejar orang, harap kau melepaskanku.”
Pada waktu itu, Tjeng Tjeng telah sampai di antara mereka. Entah bagaimana, ia sudah menjadi tidak suka
kepada wanita itu, lebih tidak suka lagi melihat bagaimana kelakuannya terhadap Koo San Djie. Maka
dengan tidak sabaran ia sudah berkata:
“Koko San, lekas lepaskan dia.”
Oey Bwee Bwee melihat ada orang yang membantunya sudah lantas berkata lagi:
“Adik kecil ini lebih baik dari padamu. Aku akan segera pergi.”
Tjeng Tjeng menjebirkan bibirnya.
“Siapa yang menjadi adik kecilmu?” katanya sebal.
Dalam hatinya Oey Bwee Bwee berkata:
“Ah, anak kecil pun berani kurang ajar di hadapanku. Jika tidak ada dia di sini, kau akan mengenal
kelihayanku.”
Tapi dalam keadaan saat itu, ia tidak berani mengeluarkan perkataan sama sekali. Dengan loncat sedikit, ia
sudah lari pergi jauh.
Koo San Djie tidak pernah takut akan kekerasan, tapi tidak dapat melawan si lemah. Ia tidak mau
mengganggu orang yang telah meratap beberapa kali kepadanya. Belum juga ia dapat mengambil
keputusan, itu waktu Oey Bwee Bwee telah lenyap dari pandangan matanya.
Tjeng Tjeng datang menghampiri kepadanya dan berkata:
“Koko San, orang tadi seperti siluman saja lagaknya. Aku benci sekali mengapa kau masih mau
menahannya?”
Koo San Djie yang masih memikir sudah menjawab:
“Aku curiga, bahwa orang inilah yang menjadi pembunuh ayah bunda Ciecie Hoe Tjoe.”
Tjeng Tjeng menjadi tidak enak hati mendengar perkataan ini.
“Aduh,” katanya, “Aku tidak seharusnya membuat dia terlepas. Dilihat dari mukanya dia bukan orang baikbaik.
Mungkin benar juga dia yang berbuat.”
Koo San Djie tidak berkata apa-apa. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya.
Rumah berhala Bu-hian dari partai Cong-lam, terletak di kaki gunung Cong-lam. Dua orang dengan
kecepatan kakinya yang tidak dapat disamakan dengan orang biasa, sebentar saja telah sampai di sana.
Rumah berhala Bu-hian dengan megahnya nampak berdiri di hadapan mereka. Tjeng Tjeng dengan
berlompatan sudah maju ke muka untuk terus masuk ke dalam rumah berhala itu.
Mendadak, dari belakang pintu telah menghadang dua tosu, dengan mengangkat kedua tangannya
berbareng berkata:
“Kau anak siapa? Mengapa berani-berani sembarangan datang kemari?”
Perobahan yang mendadak ini telah membuat Tjeng Tjeng menjadi kaget.
“Ada urusan apa dengan kau?” Tjeng Tjeng membentak marah.
Ia belum pernah mengadu kekuatan dengan orang. Kecuali ayahnya dan Koo San Djie yang menjadi
tandingannya, ia belum pernah bertemu dengan orang lain. Dan lagi, terhadap ayahnya dan Koo San Djie,
dunia-kangouw.blogspot.com
ia dapat menyerang dengan leluasa dengan tidak perlu menjaga dirinya. Karena ayahnya dan Koo San Djie
hanya main-main saja.
Demikianlah ia telah menyerang dengan tidak memandang enteng beratnya lagi, hanya dengan perlahanlahan
ia menggerakkan tangannya, sehingga menyebabkan terhuyung-huyungnya kedua tosu itu, mereka
jatuh ke belakang.
Koo San Djie yang berdiri di situ menjadi terkejut menyaksikan kejadian itu. Buru-buru ia maju ke muka dan
memberi hormatnya sambil berkata:
“Aku yang rendah bernama Koo San Djie ada sedikit urusan untuk dirundingkan bersama ketua partai Yun
Shia Tojin.”
Dua tosu tadi menengok ke arah orang yang bicara. Dilihat seorang anak yang baru berumur enambelas
tahun. Karena berpakaian gembala, biarpun bermuka terang dan berbadan besar, mereka tidak
memandang mata. Dilihatnya pula Tjeng Tjeng, umurnya lebih muda lagi, paling banyak juga berumur
empatbelas tahun, dengan rambutnya yang dikepang menjadi dua cacing kecil, gadis itu tengah
berlompatan.
Kedua tosu ini sudah menjadi kesal.
“Ketua partai kami? Apa kau kira dapat sembarangan kau temui?” jawabnya adem.
Koo San Djie sudah menurunkan pedang pemberian Yun Yan Tjie dan berkata:
“Urusanku harus dirundingkan dengan ketua partai, harap dua totiang suka memberitahukannya.”
Dua tosu tadi yang terkena pukulan Tjeng Tjeng dan terhuyung-huyung, kini mendadak melihat Koo San
Djie sudah mengeluarkan pedang. Disangkanya orang yang mencari setori, maka mereka sudah
menghunus pedangnya masing-masing dan membentak:
“Di sini bukan tempatmu untuk menjual lagak. Kau tidak dapat menemui ketua partai kami, segala urusan
dapat kau selesaikan kepada kami.”
Tjeng Tjeng marah dan berkata:
“Satu ketua partai apa bagusnya? Biarpun kalian tidak mengijinkan kami masuk. Aku pun akan menerjang
masuk juga.”
Mendadak, dua pedang telah dilintangkan dan menghadang di hadapan Tjeng Tjeng merupakan tanda
tapak jalak.
Tjeng Tjeng yang biasa dimanja, melihat dua tosu ini berani menghalang-halanginya, sudah menjadi naik
darah. Maka ia telah mengulurkan tangannya, jarinya yang kecil mungil mementil dua kali pada dua batang
pedang itu sambil berkata:
“Dua batang pedang rongsokan begini mana dapat menakuti orang?”
Berbareng dengan perkataannya, dua pedang tadi seperti mempunyai sayap telah terbang ke udara.
Dua tosu itu menjadi ketakutan, lalu membalikkan badannya dan lari ke dalam.
Koo San Djie yang melihat kejadian itu telah menyesalkan kawannya:
“Kau tidak seharusnya mementil pedang orang. Kejadian ini mungkin dapat menerbitkan salah paham.”
Tjeng Tjeng dengan memonyongkan mulutnya berkata:
“Habis mereka sangat menghina orang......” katanya.
Mereka terus berjalan masuk. Setelah melewati pekarangan yang luas, di depan telah tertampak undakan
batu yang panjang. Seorang tosu bermuka brewokan dan berangasan rupanya kelihatan berdiri di situ. Di
belakangnya berbaris empat tosu muda.
Melihat Koo San Djie dan Tjeng Tjeng berjalan mendatangi, si tosu brewokan membentak:
“Anak dari golongan mana yang telah berani kurang ajar di kuil Bu-hian?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Tosu ini adalah adik seperguruan ketua partai Cong-lam bernama Yun Mong Tjie. Adatnya paling
berangasan, kepandaiannya hanya berada di bawahnya Yun Yan Tjie. Karena mendapat laporan dari
penjaga pintu, bahwa ada dua anak liar yang telah datang mengacau, maka ia sudah datang melihatnya.
Koo San Djie dengan kelakuan menghormat menjawab:
“Totiang jangan salah mengerti, aku yang rendah benar ada sedikit urusan yang akan dirundingkan dengan
ketua partai di sini. Harap totiang sudi melaporkan tentang kedatangan kami.”
“Kecil-kecil telah berani sedemikian tidak memandang mata!” Yun Mong Tjie membentak. “Ada urusan apa,
katakan saja kepadaku, juga sama saja. Mengapa harus menemui ketua partai?”
Tiba-tiba, matanya melihat pedang yang tersoren di pinggang Koo San Djie, ia menjadi kaget. Cepat ia
sudah loncat menghampiri pemuda itu, dengan maksud untuk ditegasi, kemudian bertanya:
“Dari mana kau mendapatkan pedang ini? Coba berikan kepadaku!”
“Karena pedang inilah yang telah menyebabkan aku datang kemari untuk menemui ketua partaimu,” kata
Koo San Djie.
Yun Mong Tjie yang mendengar telah beberapa kali anak muda ini hanya mau menemui ketua partai saja,
hatinya menjadi marah.
“Berani kau tidak menuruti kehendakku?” demikian ia membentak.
Dengan sebat, tangannya telah diulur untuk merebut pedang.
Tjeng Tjeng sedari tadi sudah tidak sabaran berdiri di sebelahnya Koo San Djie. Ia sebal melihat Yun Mong
Tjie yang sedemikian sombongnya. Hatinya sudah merasa tidak senang, kini melihat si sombong berani
mencoba merebut pedang, dengan perlahan ia sudah mengibaskan lengan bajunya, mulutnya mencaci:
“Manusia goblok! Orang telah menghormati padamu, apa masih kurang puas? Orang dengan baik hati
datang kemari untuk memberi kabar, tapi tidak disangka telah mendapat perlakuan yang sedemikian rupa!”
Yun Mong Tjie yang baru saja mengulurkan tangannya, sudah merasa ada angin yang mengarah
tangannya, maka dengan cepat ia sudah menarik kembali tangan yang menyerang. Dilihatnya yang
menyerang tadi adalah si anak perempuan berkuncir, hatinya menjadi panas. Dengan mempelototkan
matanya ia sudah mengirim sebuah pukulan.
Telah puluhan tahun ia meyakinkan ilmunya, tenaganya tidak boleh dibuat gegabah. Pukulannya telah
mengeluarkan kekuatan yang tidak terlihat, susul menyusul datang menyerang ke arah Tjeng Tjeng.
Si nona cilik dengan memoncongkan mulutnya yang mungil berkata:
“Apa artinya pukulan macam ini?”
Segera ia buka lima jari tangan kanannya, angin dingin yang tajam keluar dari lima jarinya, mengarah dada
lawan.
Yun Mong Tjie terpaksa menarik kembali serangannya tadi. Brewoknya telah berdiri semua sakiug
marahnya. Tapi biarpun bagaimana, ia kaget karena mendapat serangan tadi.
Koo San Djie yang takut Tjeng Tjeng mengumbar hawa napsunya dan dapat menerbitkan keonaran, maka
buru-buru ia maju dan memisah. Ia berkata pada Tjeng Tjeng.
“Adik Tjeng, sabarlah. Biar aku yang menghadapi dia......”
Baru saja ia dapat menahan Tjeng Tjeng, di belakangnya telah terasa ada sebuah barang berat yang
menekan.
10.24. Kepedulian Cong-lam-pay
Kepandaian Koo San Djie pada waktu itu telah mencapai ketaraf yang tertinggi, dengan hanya tenaga ini,
mana dapat melukainya. Dengan menarik sedikit napas Bu-kiat-hian-kang, ia melindungi seluruh tubuhnya.
Dengan cepat ia berbalik dan berkata:
“Totiang tidak dapat diajak berunding, apa tidak menurunkan derajat saja?”
dunia-kangouw.blogspot.com
Yun Mong Tjie telah menggunakan tenaga penuh, menyerang dengan ilmu Cui-sim-ciang yang
dibanggakan, masih tidak dapat melukai lawan, dia menjadi kememek.
Pukulan Cui-sim-ciang adalah kepandaian simpanan dari golongan Cong-lam-pay, tapi lawannya yang
hanya seorang anak kecil saja, sedemikian mudahnya menerima pukulan ini dan masih bisa berbicara.
Mana ia tidak menjadi kaget?
Mendadak, dari belakang terdengar satu suara yang seperti genta:
“Budha yang pemurah. Tuan kecil ini berapa kali menyebut ingin menemui pinto, entah ada urusan penting
apakah?”
Itulah suara ketua partai Yun Shia Tjie sendiri yang berkata, keluar menghampiri Koo San Djie.
Koo San Djie mendongak, melihat Yun Shia Tjie sebentar, dilihatnya orang ini bermuka panjang, dengan
jenggotnya yang melambai-lambai. Pembawaannya agung tapi perkataannya sangat ramah tamah.
Maka dengan segera Koo San Djie mengunjuk hormatnya dan berkata:
“Aku mendapat pesan yang terakhir dari Yun Yan Tjie untuk membawa beberapa barang yang harus
diserahkan kepada totiang.”
Yun Shia Tjie menjadi terkejut, senyumnya hilang dari mukanya. Dengan mengangkat tangannya ia
menyilahkan Koo San Djie masuk.
“Di sini bukan tempat untuk berbicara. Silahkan siaoya berdua masuk ke dalam untuk kita bicara lebih
leluasa.”
Yun Shia Tjie minggir menyilahkan Koo San Djie berdua masuk.
Setelah sampai di dalam ruangan tamu, Koo San Djie sudah menyerahkan pedang dan tanda cap Yun Yan
Tjie kepada ketua partaynya ini, Yun Shia Tjie.
Lalu diceritakan juga tentang kejadian bagaimana Yun Yan Tjie mengejar dua murid durhakanya dan
bagaimana diserang dari belakang oleh seorang pemuda.
Yun Shia Tjie sangat sayang kepada adik-adik seperguruannya, apa lagi terhadap Yun Yan Tjie. Begitu
mendengar kabar tentang kematiannya yang mengenaskan, biarpun ia mempunyai pelajaran Budha yang
dalam, juga tidak tahan untuk tidak mengeluarkan air matanya.
Setelah sekian lama Yun Shia Tjie bersedih, baru ia berkata:
“Terima kasih atas bantuan siaoya yang budiman. Dengan susah payah, jauh-jauh telah datang kemari
untuk memberi kabar kepada kami. Tentang kesalah pahaman yang tadi, harap sioaya jangan taruh di
dalam hati.”
“Ah itu urusan kecil, tidak menjadi apa,” sahut Koo San Djie merendah.
Lalu Yun Shia Tjie menanyakan tentang perguruannya Koo San Djie, dan telah diceritakan oleh Koo San
Djie dengan sejujurnya.
Yun Shia Tjie menghela napas keheranan dan berkata:
“Guru yang ternama telah mendidik murid yang pandai. Tidak heran jika siaoya mempunyai kepandaian
yang menakjubkan.”
“Totiang memuji terlalu tinggi,” jawab Koo San Djie merendah.
Yun Shia Tjie menghela napas, kemudian berkata lagi:
“Dalam beberapa tahun ini, dari berbagai macam partai telah keluar murid-murid durhaka yang berkhianat
terhadap perguruannya. Maka golongan Siauw-lim-pay yang selalu dihormati oleh berbagai macam
golongan, telah mengirim undangan ke berbagai macam partai untuk mengundang ketuanya masingmasing
dan merundingkan tentang kejadian-kejadian ini. Jika siaoya ingin mengetahuinya, boleh juga turut
pergi sekalian ke sana.”
Mendadak, kentongan tanda bahaya telah berbunyi dengan nyaring sekali.
Yun Shia Tjie menjadi kaget:
dunia-kangouw.blogspot.com
“Apa siaoya masih mempunyai kawan lagi?” dia bertanya.
Koo San Djie menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal.
“Mari kita pergi melihat!” mengajak Yun Shia Tjie.
Koo San Djie bersama Tjeng Tjeng mengikuti di belakang Yun Shia Tjie, berjalan keluar.
Dari jauh sudah terlihat ada seorang tauto yang beroman galak, tauto itu sedang berhadapan dengan Yun
Mong Tjie.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Cersil Lembah Merpati 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments