Cerita Romantis Sedih Mengharukan : Dendam Iblis Seribu Wajah 4

AliAfif.Blogspot.ComCerita Romantis Sedih Mengharukan : Dendam Iblis Seribu Wajah 4
baca juga
Cerita Romantis Sedih Mengharukan : Dendam Iblis Seribu Wajah 4

Untuk sesaat hatinya menjadi panik. Diam-diam dia berpikir: ‘Keadaanku sekarang ini
tidak ditutupi selembar benangpun. Malah terbaring di atas rerumputan. Bagaimana aku
bisa mencari sehelai kain atau selembar pakaian guna menutupi tubuh sehingga dapat
berjalan keluar dari taman ini?’
Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dia mendengar tarikan nafas Tan Ki yang
panjang dan matanya pun terbuka. Begitu pandangannya beredar, dia melihat Liang Fu
Yong berbaring di sisinya tanpa mengenakan sehelai benangpun. Tanpa dapat ditahan lagi
dia merasa hatinya tergetar.
“Apa yang telah terjadi?” teriaknya gugup.
Telapak tangannya langsung bertumpu di tanah dan dia duduk dengan tegak. Setelah
menolehkan kepalanya melihat ke arah Liang Fu Yong sekilas, dia merasa sinar mata
perem-puan itu menyiratkan sesuatu yang luar biasa. Tampangnya seperti orang yang
ingin menangis juga seperti orang yang setengah tersenyum. Diantaranya juga terselip
perasaan jengah dan takut. Seperti seekor domba yang menunggu saatnya untuk
disembelih. Begitu kasihan dan membuat hati orang menjadi iba.
Tan Ki tertegun sesaat. Dia mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk batok kepalanya
sendiri. Tampaknya dia sedang berusaha mengingat-ingat kembali. Tiba-tiba matanya
menangkap sisa koyakan pakaian yang berserakan di atas tanah lalu dia juga melihat keadan
dirinya sendiri yang hampir bugil, nyalinya jadi ciut. Serangkum rasa pedih langsung
menyelinap di dalam hatinya.
Dia mulai teringat gerakan dirinya yang hampir kalap barusan. Tubuhnya panas membara.
Sekelumit demi sekelumit peristiwa tadi mulai terpampang di hadapan matanya.
Ketika mengingat sampai bagian dirinya yang tidak dapat dikendalikan kemudian menindih
di atas tubuh Liang Fu Yong. Tiba-tiba dia meraung keras-keras, tubuhnya pun melonjak
bangun dalam waktu yang bersamaan serta dengan kalap dia bermaksud menghantamkan
batok kepalanya ke arah gunung-gunungan yang ada di depannya.
Kejadian yang mendadak dan perubahan yang tidak diduga-duga ini berlangsung dalam
sekejap mata. Siapapun tidak mungkin menyangkanya. Dengan perasaan terkejut Liang Fu
Yong ikut berteriak, tiba-tiba tubuhnya menggelinding di atas tanah, sepasang tangannya
dengan kecepatan kilat mencekal kedua kaki Tan Ki. Dia mengerahkan sekuat tenaga
untuk menariknya ke belakang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam keadaan panik dan takut dia memeluk kedua kaki Tan Ki dengan erat. Kekua-tan
tenaganya dikerahkan semua. Dengan demikian gerakan Tan Ki yang dilakukan dengan
kalap itu langsung tercegah dan tubuhnya pun ikut tertarik ke belakang.
Liang Fu Yong tidak mengingat lagi perasaan malu dan jengahnya. Perlahan-lahan dia
berkata, “Mengapa kau harus mencari jalan kematian? Seorang laki-laki harus gagah
berani, berdiri tegak menantang langit. Apabila berbuat kesalahan harus membusungkan
dada menerima hukuman, tidak bisa menyelesaikan masalah dengan cara pengecut
seperti tadi. Lagi peristiwa yang telah terjadi barusan bukan semuanya merupakan
kesalahanmu…”
Tan Ki menarik nafas panjang. Tampangnya mengenaskan sekali.
“Aih! Meskipun berendam dalam tiga sungai empat samudera, dosa ini tetap tidak
dapat dicuci bersih!”
Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya dan tersenyum. Baru saja dia ingin mengucapkan
beberapa patah kata untuk menghibur hati Tan Ki, bibirnya sudah mulai bergerak. Tibatiba
serangkum perasaan jengah melanda dirinya. Cepat-cepat dia menggelindingkan
tubuhnya ke balik semak-semak yang rimbun dan menyembunyikan tubuhnya yang bugil.
Setelah itu dia baru melongokkan kepalanya keluar dan berkata lagi.
“Tolong ambilkan pakaianku yang sudah koyak itu!”
Tan Ki menarik nafas panjang. Hatinya merasa tertekan, sedih dan dipenuhi
penderitaan yang dalam. Tetapi dia menuruti juga permintaan Liang Fu Yong dengan
mengambilkan pakaian yang sudah tidak karuan itu lalu disodorkannya ke depan.
Tiba-tiba dia melihat wajah Liang Fu Yong berubah serius sekali. Malah di dalamnya
terselip ketegangan yang tidak terkirakan. Dia membolak-balik pakaian yang sudah robek
itu dan mencari-cari sesuatu. Tan Ki memandangnya dengan termangu-mangu. Dia tidak
mengerti apa yang dicari perempuan itu sehingga tampangnya begitu tegang. Namun dari
mi-mik wajahnya itu, Tan Ki dapat menduga bahwa benda yang dicarinya pasti penting
sekali.
Tidak beberapa lama kemudian, terdengar Liang Fu Yong menghela nafas lega. Bibirnya
mengembangkan seulas senyuman, “Terima kasih atas belas kasihan Thian yang kuasa,
untung saja benda ini masih utuh dan tidak terkoyak olehmu.”
Tampak Liang Fu Yong mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna putih dari dalam
saku pakaiannya. Dengan hati-hati dia membukanya dan mengeluarkan sebutir pil
berwarna merah. Kemudian dia menyodorkannya ke arah Tan Ki.
“Telanlah obat ini.” katanya.
Tan Ki jadi tertegun. Untuk sesaat dia tidak berani mengulurkan tangannya menerima
obat itu. Liang Fu Yong tahu hatinya merasa ragu, dia segera memberi penjelasan.
“Beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan Tian Bu Cu Cianpwe dari Bu Tong Pai.
Karena merasa kasihan kepadaku, dia menghadiahkan sebuah kitab berisi ilmu agama
yang mana katanya tidak boleh diberikan kepada orang lain. Di samping itu juga dia
memberikan tiga butir pil ini. Orangtua ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Hatinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mulia serta berjiwa besar. Meskipun jarang berkelana di dunia Kangouw, tetapi selama
enam puluh tahun ini, nama besarnya tidak pernah pudar. Boleh dibilang kebesaran
namanya berendeng dengan si pengemis sakti Cian Cong. Itulah sebabnya orang-orang
Kangouw menyebut mereka dua tokoh tersakti di dunia saat ini. Untuk membuat pil ini,
orangtua itu telah menguras tenaga dan pikiran selama berpuluh tahun. Baik untuk
pemakaian luar atau diminum, khasiatnya besar sekali bagi kesehatan tubuh.”
Dengan rasa enggan Tan Ki mengulurkan tangannya menyambut pil tersebut,
memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya. Dia merasa ada segulung hawa hangat
yang menguap di dalam tubuhnya. Lalu perlahan-lahan merambat sampai seluruh anggota
badannya. Mula-mula menelannya tidak merasakan apapun, lambat laun seluruh tubuhnya
terasa panas membara. Bagai dipanggang di atas tungku api yang berkobar-kobar. Keringatnya
bercucuran bagai air hujan. Seluruh tubuhnya pun menjadi basah kuyup dalam
sekejap mata.
Entah berapa lama telah berlalu, Tan Ki baru merasa dirinya nyaman sekali. Pikirannya
pun menjadi terang. Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong berbaring di
balik gerombolan semak-semak dengan tubuh ditutupi dedaunan. Perempuan itu sedang
tertidur pulas dan masih belum bangun.
Setelah gelombang badai berlalu, dia merasa letih sehingga terus merasa mengantuk.
Meskipun aurat tubuhnya ditutupi oleh dedaunan, tetapi paha dan lengannya yang
tersembul keluar putih berkilauan. Bahkan dia tertidur sambil mengembangkan senyuman.
Suara nafasnya teratur. Tanpa dapat ditahan lagi, ingatannya melayang ke peristiwa yang
barusan berlangsung. Sewaktu memandang keadaan perempuan yang ada di hadapannya
saat ini, dalam hatinya timbul perasaan iba dan kasih. Juga terselip perasaan menyesal
yang tidak dimengertinya. Oleh karena itu tanpa sadar dia mengulurkan tangannya dan
membelai-belai rambut Liang Fu Yong sambil menarik nafas panjang.
Gerakannya yang lemah lembut rupanya menyentakkan Liang Fu Yong dari tidurnya
yang pulas. Tiba-tiba dia membuka matanya lalu melonjak bangun. Sepasang tangannya
terulur untuk memeluk Tan Ki.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya penuh perhatian.
Tan Ki dapat melihat tampang wajahnya yang menyiratkan perasaan kasih serta perhatian
yang besar. Untuk sesaat dia merasa tidak tega melepaskan diri dari pelukan Liang Fu
Yong.
“Tadi aku mencoba menghimpun hawa murni dan kemudian mengedarkannya ke
seluruh tubuh. Tidak disangka-sangka alirannya malah lebih cepat dari pada biasanya.
Mungkin hawa murni di dalam tubuhku sudah mendapat kemajuan yang tidak sedikit.”
Ketika berbicara, matanya mengedar, tiba-tiba dia melihat di balik gunung-gunungan
terdapat setumpuk pakaian yang rapi. Dia merasa terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia
mendorong tubuh Liang Fu Yong dan melesat ke arah sana.
Tampaknya Liang Fu Yong juga merasa terkejut melihat munculnya setumpuk pakaian
di tempat itu. Untuk sesaat dia jadi terma-ngu-mangu dan tidak dapat mengeluarkan
sepatah katapun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Tan Ki memeriksa tumpukan pakaian itu, sekali lagi dia merasa tergetar hatinya.
Rupanya tumpukan pakaian itu tepat hanya dua stel. Yang satu adalah pakaiannya sendiri,
sedangkan yang satunya lagi pakaian wanita. Dan dia segera mengenali bahwa pakaian itu
biasanya dikenakan oleh Cin Ying.
Untuk beberapa saat, dia menggenggam dua stel pakaian itu dan berdiri termangumangu.
Dia merasa segulung perasaan duka menyelimuti hatinya. Dia sendiri tidak tahu
apa yang dirasakannya saat itu.
Karena dia sudah pernah menyetujui bahwa dirinya akan mengambil Cin Ie sebagai
isteri kedua. Tetapi justru di malam pernikahannya dengan Mei Ling, dia melakukan hubungan
dengan perempuan yang lain. Kesalahan yang dilakukannya malam ini, biar
dijelaskan dari manapun, tetap tidak dapat membersihkan dirinya dari dosa. Justru Cin
Ying yang menemukan apa yang mereka lakukan. Apabila gadis ini merasa tidak senang
karena adiknya dihina kemudian menyiarkan peristiwa ini di luaran. Nama baiknya maupun
kedudukannya pasti akan lenyap tersapu bersih. Dan dirinya pasti menjadi bahan tawaan
para pendekar di dunia ini.
Membayangkan hal yang terakhir ini, tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya bergetar
hebat. Keringat dingin langsung membasahi keningnya.
Setelah termangu-mangu beberapa lama, akhirnya dia melangkah perlahan-lahan ke
samping Liang Fu Yong.
“Coba kau kenakan pakaian ini, pas atau tidak?”
Meskipun hatinya merasa pedih dan menderita sekali. Namun dia tetap berusaha tampil
tenang di hadapan Liang Fu Yong. Tampak perempuan itu merenung sejenak. Tiba-tiba
mimik wajahnya menjadi serius. Setelah mengenakan pakaian tersebut, dia juga
menyandang kembali pedang pusakanya.
“Apabila kau bertemu dengan Liu Moay Moay nanti, tolong sampaikan salamku. Sekalian
beritahukan kepadanya tentang kesulitan yang dialaminya saat ini, aku pasti akan berusaha
sekuat tenaga membantunya menyelesaikan masalah ini.”
Selesai berkata, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan beberapa langkah.
Tiba-tiba sepasang alisnya mengerut-ngerut. Bibirnya digigit-gigit sendiri. Dia
mengeluarkan suara aduhan yang-lirih kemudian sepasang tangannya mendekap bagian
perut dengan tubuh setengah membungkuk.
Tan Ki terkejut sekali. Baru saja dia hendak maju ke depan untuk memapahnya, Liang
Fu Yong sudah menggertakkan giginya erat-erat dan menegakkan tubuhnya kembali.
“Kau harus baik-baik kepada Liu Moay Moay. Jangan merindukan diriku, lebih-lebih
jangan merasa tidak tenang atau menyesal dengan kejadian ini. Karena saat itu kesadaranmu
sedang hilang…”
Tan Ki tertawa datar.
“Ke mana tujuanmu sekarang?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perlahan-lahan Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Aku juga tidak tahu. Kecuali mendalami kitab yang diberikan oleh Tian Bu Cu Cianpwe,
aku juga tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tetapi, hatiku sudah bertekad
meninggalkanmu dan tidak akan bertemu lagi untuk selamanya…”
Tan Ki seperti ingin mengatakan sesuatu kepada dirinya, tetapi bibirnya yang sudah
bergerak-gerak mengatup kembali. Sedangkan saat itu, Liang Fu Yong tidak dapat
menahan lagi keperihan hatinya, air matanya mengalir dengan deras. Melihat keadaan itu,
Tan Ki segera menarik nafas panjang. Hatinya merasa tertekan sekali.
Liang Fu Yong mengembangkan sebuah senyuman yang menyayat hati.
“Aku tahu saat ini hatimu sedang berduka, tetapi kau tidak ingin membuat aku lebih
sedih lagi. Tetapi aku sadar bahwa kau bukan sungguh-sungguh mencintai aku, hanya
karena kau merasa kasihan terhadap diriku.”
Tan Ki menarik nafas panjang sekali lagi.
“Dalam seumur hidupku ini, aku selalu merasa berhutang padamu.”
“Kasihan bukanlah cinta, hutangpun bukan sesuatu yang harus dibayar. Kau tidak perlu
menyalahkan dirimu karena hal ini.”
Tan Ki tahu apabila melanjutkan lagi kata-katanya hanya menambah penderitaan dalam
hati saja. Oleh karena itu dia segera menarik tangan Liang Fu Yong.
“Mari! Kita tinggalkan dulu tempat ini baru bicara lagi!”
Selesai berkata dia langsung menarik tangan Liang Fu Yong dan mengajaknya berlari
meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah, dia langsung mendengar suara Mei Ling
yang merdu.
“Tan Koko, Cin Cici meminta aku datang ke mari mencarimu. Ternyata kau benar-benar
ada di sini!”
Tampak bayangan merah berkibar-kibar tertiup angin, kemudian terlihat Mei Ling
menghambur ke arah mereka. Hati Tan Ki masih merasa marah karena menganggap Mei
Ling menipu cinta kasihnya. Mendengar ucapannya, dia langsung mendengus dingin.
Tetapi dia menghentikan juga langkah kakinya.
Ketika melihat Liang Fu Yong yang ada di samping Tan Ki, Mei Ling jadi tertegun
sesaat. Dia juga menghentikan langkah kakinya.
“Ah… Liang Cici, kau juga ada di sini?”
Liang Fu Yong tersenyum lembut. Dia segera menggandeng tangan kiri Mei Ling.
“Mengapa kau tiba-tiba bisa berpikir ke tempat ini dan mencari ke mari?”
Mei Ling menarik nafas panjang. Dia menunjuk ke arah Tan Ki dan berkata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Cici tidak tahu, dia masih belum mengerti kesulitan yang kuhadapi, malah
menganggap dirinya demikian hebat dan pergi dengan keadaan tersinggung. Tadinya aku
juga ingin bersikap keras kepala seperti dirinya. Biar untuk sementara lihat siapa yang
lebih keras dan tidak mau memperdulikan dirinya. Tetapi semakin dipikirkan, aku merasa
semakin tidak benar. Kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, bagaimana? Oleh
karena itu aku segera keluar mencarinya. Maksudku ingin meminta maaf sekalian
menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Tetapi hampir sepanjang malam aku
mencari ke mana-mana. Mana aku tahu kalian ada di sini, justru Cin Cici yang
memberitahukan kepadaku.”
Sejak tadi Tan Ki berdiri di samping dan mendengarkan dengan tenang. Berbagai
kedukaan yang dialaminya membuat perasaannya seakan menjadi kebal. Tampangnya
kaku dan tidak bergerak sedikitpun seperti sebuah patung.
Tiba-tiba Mei Ling melihat penampilan Tan Ki yang lain daripada biasanya. Tanpa sadar
hatinya jadi tercekat. Dia segera melepaskan diri dari pegangan Liang Fu Yong dan
merentangkan sepasang lengannya lalu menghambur ke dalam pelukan anak muda itu.
“Tan Koko, mengapa kau tidak berbicara sedikitpun?”
Di bawah cahaya rembulan yang redup tampak wajahnya yang cantik menyiratkan
perasaan khawatir. Matanya menyorotkan sinar kasih sayang yang dalam. Bibirnya
menyung-gingkan senyuman lembut. Dipadu dengan pakaiannya yang berwarna merah
menyala, sehingga penampilannya semakin anggun dan wajahnya semakin cantik jelita.
Tiba-tiba Tan Ki merasa hatinya berdebar-debar. Tanpa terasa dia menyurut mundur
dua langkah. Tangan kanannya terangkat dan menghempaskan sepasang lengan Mei Ling
yang ingin memeluk dirinya. Dorongannya mengandung tenaga yang cukup besar.
Hatinya sedang, diselimuti perasaan malu dan rendah diri. Tiba-tiba saja dia merasa
dirinya tidak pantas bersanding dengan gadis yang cantiknya seperti bidadari ini. Perasaan
yang kuat ini berkecamuk dalam bathinnya. Gerakannya ini dilakukan dengan refleks.
Tenaga yang digunakan cukup besar. Sedangkan Mei Ling tidak menduganya sama sekali.
Begitu terdorong otomatis tubuhnya berputaran dua kali lalu terjatuh di atas tanah.
Setelah mengulurkan tangannya mendorong Mei Ling, Tan Ki baru merasa bahwa
dirinya tidak pantas memperlakukan Mei Ling sedemikian rupa. Dia langsung maju dua
lang-kah dan mengulurkan tangannya.
Tetapi ketika dia baru mengulurkan tangannya untuk memapah bangun gadis itu, tibatiba
dia menyurutkan tangannya kembali. Tanpa terasa kakinya malah mundur lagi tiga
langkah. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap langit dengan terkesima.
Di dorong mendadak sedemikian rupa oleh Tan Ki, Mei Ling benar-benar merasa di luar
dugaan. Untuk sesaat dia menjadi tertegun. Pukulan bathin yang besar benar-benar membuat
hatinya terluka. Malah di saat kejadian itu baru berlangsung, dia menjadi termangumangu
dan lupa akan sakit hatinya.
Perlahan-lahan dia menggulingkan badannya dan bangun duduk. Dua bulir air mata
secara tanpa sadar membasahi pipinya. Wajahnya tampak mengenaskan. Tetapi ketika dia
melihat Tan Ki mengulurkan tangannya dengan maksud memapah bangun dirinya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bibirnya kembali menyunggingkan seulas senyuman. Otomatis dia juga mengulurkan
tangannya agar dapat diraih oleh suaminya itu.
Siapa nyana, mendadak Tan Ki menyurutkan tangannya kembali. Setelah itu malah
mendongakkan kepalanya menatap langit dan tidak melirik sekilaspun kepadanya. Gerakan
serta tingkah laku Tan Ki ini benar-benar melukai perasaannya sebagai seorang gadis.
Harga dirinya bagai dicampakkan begitu saja. Perubahan yang tidak disangka ini, juga
seperti sebatang jarum yang tanpa berperasaan menusuki hatinya. Kalau dibandingkan
dengan dorongan tadi, tindakannya yang terakhir ini jauh lebih menyakitkan. Mungkin
beribu kali lipat kepedihan yang dirasakannya.
Sepasang matanya yang bulat dan indah menatap Tan Ki lekat-lekat. Dia berharap
bahwa pikiran anak muda itu mendadak berubah kembali dan menghampiri dirinya serta
membangunkannya dari atas tanah. Apabila tidak, mungkin Tan Ki akan mengulurkan
tangan-nya dan membiarkan dia meraihnya sebagai tumpuan agar dia dapat bangkit
kembali…
Kalau Tan Ki benar berbuat demikian saja, hatinya sudah gembira bukan kepalang.
Tetapi dia terpaksa menelan kekecewaan. Tan Ki bukan saja tidak mengulurkan
tangannya atau menghampiri untuk memapahnya bangun, tetapi kepalanya pun tidak
dipaling-kan sama sekali.
Dengan perasaan sedih yang tidak terkatakan Mei Ling menangis tersedu-sedu. Air
matanya bagai air terjun yang deras membasahi sepasang pipinya yang halus. Bahkan
bagian atas pakaiannya ikut jadi basah oleh deraian air mata itu. Suara sedak sedannya
begitu menyayat hati. Terdengar bibirnya mengeluarkan suara ratapan…
“Tan Koko… kesalahan… apa… yang telah… ku… perbuat? Menga… pa kau… tidak
mem-perdulikan… diriku… lagi?”
Setiap patah kata yang diucapkannya bagai ditarik demikian panjang sehingga tidak
selesai-selesai. Bagai irama kematian yang bergema di tengah malam sunyi, di mana para
hantu mengalirkan air mata darah. Setiap patah katanya membuat hati orang tergetar dan
di dalamnya juga terkandung penderitaan yang tidak terkirakan.
Biarpun hati Tan Ki sekeras baja, mau tidak mau pikirannya menjadi tersentuh juga
mendengar nada suaranya yang mengenaskan itu. Dia tidak sanggup lagi mengendalikan
rasa pedih dalam hatinya. Air mata seorang laki-laki yang gagah ikut terurai. Baru saja dia
bermaksud mengulurkan tangannya menghapus air mata Mei Ling, tiba-tiba hatinya
tergerak:
‘Aku telah salah melangkah. Diriku sendiri tidak bersih lagi. Mana boleh aku menerima
cinta kasih Liu Moay Moay dan mencelakakannya seumur hidup? Kalau aku kembali padanya,
kelak dia pasti akan menderita mengetahui perbuatanku. Lebih baik sekarang aku
sengaja bersikap dingin terhadapnya. Biar dia menganggap aku sebagai manusia yang
paling tidak mengenal budi di dunia ini. Dengan demikian, perasaan cinta dalam hatinya
akan berubah menjadi benci. Tentu dia tidak akan mengingat aku lagi.’ pikirnya diamdiam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu mempunyai pikiran seperti itu, dia segera menahan semua penderitaan dalam
hatinya dan sengaja tertawa dingin. Tanpa mem-perdulikan gadis itu sedikitpun dia
membalikkan tubuhnya melangkah pergi.
Tiba-tiba terdengar suara seruan Mei Ling dari belakang punggungnya, “Tan Koko!”
Panggilan itu hanya satu kali, karena mendadak Mei Ling memuntahkan darah segar
dan jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Rupanya melihat sikap Tan Ki yang hanya
menoleh sekilas kepadanya dan kemudian tidak memperdulikan lagi serta melangkah
pergi, hatinya menjadi panik sekali. Tiba-tiba dia merasa ada segulung hawa panas yang
meluap ke atas, tetapi dia tetap melonjak bangun dengan sekuat tenaga. Setelah
memanggil satu kali, tanpa dapat dipertahankan lagi dia memuntahkan darah segar
kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
Suara panggilan yang keras itu langsung berkumandang sampai ke mana-mana. Apalagi
saat itu baru lewat tengah malam, suasana memang sedang sunyi-sunyinya. Otomatis
suara itu bergaung ke mana-mana.
Kalau saja Tan Ki menolehkan kepalanya saat itu, tentu dia tidak sampai hati melihat
Mei Ling terkulai jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah. Tetapi dia justru tidak
memalingkan kepalanya sama sekali. Dengan lambat dia meneruskan langkah kakinya ke
depan.
Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Mei Ling dengan bersuamikan seorang laki-laki
yang kotor seperti dirinya. Oleh karena itu, tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun, dia
menahan rasa pedih di dalam hati dan secara diam-diam mengalirkan air mata
penderitaan. Tiba-tiba terdengar kibaran suara pakaian yang melesat lewat di
sampingnya. Kemudian tampak bayangan berkelebat di depan matanya. Tahu-tahu Liang
Fu Yong sudah menghadang jalan perginya. Perempuan itu tertawa getir.
“Adik, biar bagaimana kau tidak boleh memperlakukan Liu Moay Moay seperti itu.
Hatinya masih suci bersih dan belum mengerti liku-liku serta duri tajam dalam kehidupan
ini. Perasaan cintanya terhadap dirimu juga tulus sekali. Meskipun kau berpikir dengan
cara demikian dia bisa membenci dirimu dan melupakan diri. Tetapi kenyataannya kali ini
kau melakukan kesalahan besar…”
Tan Ki menarik nafas panjang dengan pilu.
“Aku telah kehilangan kontrol atas diriku sendiri sehingga melakukan perbuatan yang
tidak terampunkan. Menghadapi cinta kasihnya yang bersih dan tulus, aku justru merasa
diriku ini rendah sekali. Aku merasa malu berhadapan dengan siapapun. Jalan satusatunya
justru membuat dia membenci aku dan melupakan diriku untuk selama-lamanya
sebelum aku pergi…”
Liang Fu Yong mengembangkan seulas senyuman yang mengenaskan.
“Hal ini kau tidak dapat disalahkan. Aku sendiri yang rela melakukannya. Kau tidak
perlu terus-terusan menyesali dirimu. Lebih-lebih jangan mengulangi kesalahanmu sampai
dua kali dengan melukai hati Liu Moay Moay. Dia adalah seorang gadis yang polos dan
suci, hatinya baik sekali. Tentu tidak kuat menahan pukulan bathin yang demikian hebat…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Justru karena hatinya terlalu baik dan dirinya masih polos, aku semakin tidak tega
mendampinginya dengan tubuh yang kotor ini sehingga nama baiknya jadi tercemar dan
akhirnya menjadi bahan pembicaraan orang-orang.”
Berbicara sampai bagian yang menyedihkan, tanpa dapat ditahan lagi air matanya jatuh
bercucuran. Aliran darah dalam tubuhnya bagai digarang di atas api, panas lalu meluap ke
atas. Tubuhnya bergetaran.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang lirih mendatangi ke arah mereka. Serentak
kedua orang itu menolehkan kepalanya. Tampak Cin Ying menggandeng tangan Cin Ie
menghampiri Tan Ki dan Liang Fu Yong.
Wajah Cin Ying masih secantik biasanya. Namun sepasang matanya menyorotkan sinar
kemarahan. Sepasang alisnya mengerut menandakan kedukaan hatinya. Sulit menguraikan
mimik perasaannya saat itu. Tiba-tiba hati Tan Kijadi pedih, cepat-cepat
diamelengoskan wajahnya ke arah lain dan tidak berani memandang kakak beradik itu
lagi.
Cin Ying dapat melihat bibir Tan Ki sudah bergerak ingin mengatakan sesuatu, tetapi
tiba-tiba dibatalkannya lagi. Dia sadar saat ini hati Tan Ki sedang diliputi penderitaan yang
tidak terkatakan. Beribu-ribu kata-kata yang ada di hatinya, entah harus di mulai dari
mana. Dia teringat apa yang terlihat olehnya belum lama yang lalu. Meskipun setelah
diberitahukan oleh Cin Ie, dia baru menemui hal itu, tetapi dia tetap merasakan adanya
ratusan anak panah yang dibidikkan ke arah jantungnya. Sakitnya tak perlu ditanya lagi.
Rasanya dia ingin mencekal Liang Fu Yong ke hadapannya dan mencincangnya sehingga
menjadi puluhan keping. Kemudian dia akan membawa Cin Ie pulang ke Lam Hay dan
tidak diijinkan menginjak Tionggoan lagi selamanya agar tidak dapat bertemu dengan Tan
Ki.
Tetapi ketika teringat bahwa Mei Ling kesalahan minum teh beracun sehingga pada
malam pengantin tidak dapat melayani suami sebagaimana mestinya. Bahkan Tan Ki yang
kebanyakan minum arak dan tidak dapat mengendalikan diri lagi, jadi kena getahnya
sehingga melakukan perbuatan maksiat.
Pihak pertama salah, pihak kedua salah, tetapi Cin Ie yang paling bersalah kalau dipikirkan
dengan kepala dingin. Apabila dia tidak menotok jalan darah di atas bagian dada
Tan Ki pada saat seperti itu, lalu seandainya Liang Fu Yong tidak bersedia mengorbankan
dirinya sebagai alat pelampiasan, Tan Ki pasti akan mati karena luapan gairah yang tidak
tersalurkan, apalagi dalam keadaan pembuluh darahnya membengkak.
Kalau dipikir sampai bagian yang satu ini, dia merasa kedua-duanya juga tidak
bersalah. Yang salah adalah kebetulan yang diatur oleh Thian yang kuasa. Seandainya
kedudukan Liang Fu Yong diganti oleh adiknya, mungkin urusan justru tidak sampai begini
runyam. Tetapi seandainya kedudukan Liang Fu Yong diganti oleh dirinya sendiri, entah
bencana apa lagi yang bakal dialaminya?
Ketika berpikir sampai dirinya sendiri, terasa ada serangkum hawa dingin yang
menyusup dalam hatinya. Tanpa dapat dipertahankan lagi tubuhnya bergetar. Bulu
kuduknya seakan berdiri semua. Dia tidak berani membayangkan lebih lanjut.
Akhirnya dia menarik nafas perlahan-lahan. Tangannya diangkat ke atas untuk merapikan
rambutnya yang awut-awutan karena tertiup angin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Meskipun kalian telah berbuat kesalahan, tetapi masalah ini juga tidak dapat
menyalahkan kalian sepenuhnya. Semuanya ini telah diatur oleh Thian sebagai permainan
nasib para anak manusia.”
Matanya yang bening dan indah melirik sekilas ke arah Tan Ki. Dia melanjutkan lagi
kata-katanya dengan lirih. “Ketika di ruangan tamu tadi, aku mendengar Cian Locianpwe
mengingatkan bahwa beberapa hari lagi Bulim Tay Hwe akan diselenggarakan. Dan kau
diharuskan mengerahkan segenap kemampuan untuk merebut kedudukan Bulim Bengcu!”
Hati Tan Ki jadi tercekat.
“Bagaimana mungkin? Aku masih muda dan pengetahuanku dangkal sekali. Dalam hal
ilmu silatpun belum dapat menandingi yang lainnya, mana bisa aku menerima tanggung
jawab seberat itu?”
“Tetapi mereka sudah mengambil keputusan demikian, kau tidak bisa menolaknya lagi.”
Tan Ki menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
“Apa yang tidak ingin kulakukan, mana boleh mereka memaksakan kehendaknya. Di
bawah kolong langit sekarang ini, para golongan sesat sedang merencanakan taktik untuk
mengadakan penyerbuan. Orang yang ingin menjabat kedudukan Bulim Bengcu, bukan
saja ilmu silatnya harus tinggi sekali. Akal harus panjang, otak harus cerdas. Lagipula
harus orang yang berjiwa pendekar dan berhati mulia namun tegas mengambil keputusan.
Tanggung jawab ini tidak ringan. Sedangkan aku hanya seorang Bu Beng Siau-cut (prajurit
tanpa nama).”
Tiba-tiba Liang Fu Yong menukas perkataannya, “Adik, kau juga bukan orang yang
tidak mempunyai nama, apabila kau menampilkan wajah aslimu, para sahabat di dunia
Bulim ini siapa yang tidak tahu…”
Wajah Tan Ki langsung berubah hebat.
“Jangan katakan lagi. Dalam keadaan terpaksa tanpa sengaja aku mendapat sedikit nama,
tetapi bukan suatu yang patut dibanggakan. Aku tidak berniat berebut nama besar
dalam keadaan seperti ini. Meskipun ada nama yang lebih hebat lagi, aku juga tidak
berminat menjabat kedudukan Bulim Bengcu itu!” tanpa menunggu jawaban dari yang
lainnya, dia langsung membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Dari belakang punggungnya terdengar tarikan nafas panjang Cin Ying. Seperti keluh-an
seorang isteri yang ditinggal suami. Hatinya yang sunyi dan hampa sampai tergetar
dibuatnya. Namun, dia tetap meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh sekalipun juga.
Perasaan hatinya saat ini sangat tertekan. Dia merasa semua yang ada di hadapannya
hanya samar-samar. Kakinya diganduli beban yang berat sehingga sulit melangkah cepat.
Gerakan tubuhnya bagai orang yang sakit parah. Langkahnya gontai dan berjalan setindak
demi setindak tanpa tujuan sama sekali.
Setelah berjalan beberapa saat, dari arah depan berhembus segulungan angin sehingga
menimbulkan perasaan dingin menggigil. Dia mengangkat kepalanya dan memandang,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bin-tang-bintang bertaburan, memberi cahaya ke seluruh benda-benda yang ada di
permukaan bumi ini.
Mengingat kembali gelombang badai yang dialaminya tadi, dia tahu hal itu pasti akan
mempengaruhi nama baiknya di masa yang akan datang. Dia merasa tidak mempunyai
muka lagi untuk bertemu dengan siapa saja. Tanpa dapat ditahan lagi dia menarik nafas
panjang. Di dalam hatinya terselip perasaan pedih yang tidak dapat dijelaskan dengan
kata-kata.
Tiba-tiba di bagian tembok yang berada di kejauhan, dia melihat sesosok bayangan
meloncat ke atas dan menghilang dalam kegelapan. Hatinya langsung tergetar.
‘Pada saat ini para pendekar sedang berpesta dan minum arak di ruangan depan dan
pasti belum bubar. Entah siapa orang ini, rupanya nyalinya tidak kecil juga berani keluar
masuk gedung keluarga Liu. Mungkinkah sebangsa perampok yang tidak tahu tingginya
langit tebalnya bumi serta bermaksud mengincar intan permata dan harta benda keluarga
Liu?’ pikirnya diam-diam.
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung menghentakkan sepasang kakinya dan
mencelat naik ke atas atap rumah.
Dalam beberapa hari ini, dia sudah mendapat latihan lanjutan dari Cian Cong dan Yibun
Siu San. Mereka membimbingnya dalam ilmu pernafasan serta tenaga dalam. Meskipun
hanya beberapa hari yang singkat, tetapi kemajuan yang dicapainya sudah pesat sekali.
Dia bukan hanya merasa tubuhnya mengalami perubahan besar namun tenaga dalamnya
sudah dapat menembus ratusan urat darah dalam tubuh serta hawa murninya dapat
dialirkan secara merata ke bagian bawah dan atas tubuhnya.
Tidak ada sedikit pun bagian yang tidak tertembus olehnya. Dia tidak mengalami
kesulitan sedikitpun. Oleh karena itu, begitu dia mengempos semangatnya, tubuhnya
langsung melayang ke atas ke bagian atap rumah yang tingginya kurang lebih tiga
depaan. Gerakannya tidak serius malah membawa kesan semaunya saja.
Begitu matanya mengedar, ternyata dia melihat sesosok bayangan di bagian utara dan
sedang berlari dengan kencang. Kalau dilihat dari arah yang diambilnya, tampaknya orang
itu sudah ingin meninggalkan gedung keluarga Liu.
Tan Ki tertawa dingin. Kakinya menutul di atas genteng rumah dan tubuhnya pun
meluncur ke depan bagai sebatang anak panah. Dengan kecepatan yang tidak terkirakan
dia mendarat turun di atas tanah lalu mengerahkan ginkangnya lagi mengejar ke depan.
Dia sudah memperhatikan arahnya dengan seksama. Bahkan jarak antara dirinya
dengan orang itu. Meskipun dia mengejar dari atas. tanah dan pandangan matanya
terhalang tembok-tembok rumah, tetapi dia tetap dapat memperhitungkan arah yang akan
diambil oleh orang itu.
Setelah mengejar beberapa saat, ternyata dia berhasil melihat sesosok bayangan yang
sedang bergerak-gerak di depan. Jaraknya sekarang tinggal satu depa lebih. Dan orang itu
hampir meloncat naik ke atas tembok untuk meninggalkan gedung keluarga Liu.
Tan Ki langsung membentak dengan suara keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Berhenti!”
Kakinya melesat ke depan bagai terbang, dengan dua kali loncatan yang dilakukan
berturut-turut, dia sudah sampai di belakang punggung orang itu.
Mendengar suara bentakan Tan Ki yang datangnya tidak terduga-duga itu, orang itu
tampaknya terkejut sekali. Mendadak dia menghentikan langkah kakinya serta
membalikkan tubuh. Tan Ki memang sedang mengawasinya lekat-lekat. Dia melihat orang
itu mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus, ketika dia membalikkan tubuhnya, Tan Ki sudah
melihat kalau di bagian punggung orang itu menggembol sepasang senjata yang
bentuknya seperti roda yang bergerigi.
Orang ini sama sekali tidak asing lagi bagi Tan Ki, dia adalah sute dari perkumpulan Pek
Kut Kau Kaucu dari wilayah barat, yakni Kim Yu.
Tan Ki agak tertegun melihat siapa adanya orang itu.
“Entah apa maksud Saudara tengah malam menyatroni gedung keluarga Liu?”
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dia mendengar suara kibaran pakaian dari bagian
atas tembok. Begitu matanya memandang, tahu-tahu ada tujuh orang laki-laki bertubuh
tinggi besar yang sedang melayang turun. Masing-masing berpakaian ketat dan membawa
senjata. Wajahnya garang sekali. Tetapi tam-paknya orang-orang ini mempunyai perasaan
tertentu terhadap Kim Yu. Setelah melayang turun semuanya segera mengepalkan
sepasang tinju menjura dalam-dalam kepadanya namun tidak ada sepatah katapun yang
terucapkan. Sikap mereka seakan menaruh hormat yang tinggi kepada Kim Yu.
Tan Ki tertawa dingin.
“Bagus sekali, rupanya kali ini kalian datang beramai-ramai untuk membakar rumah dan
merampok harta benda orang?”
Sepasang alis Kim Yu langsung menj ungkit ke atas. Tampaknya dia merasa gusar
sekali mendengar ucapan Tan Ki tadi. Tetapi dia tidak ingin meluapkan kemarahannya saat
itu juga. Dengan tertawa dingin dia menyahut.
“Harap Engko cilik ini jangan menuduh yang bukan-bukan. Akhirnya malah akan
membawa kesulitan bagi diri sendiri. Kali ini Hengte datang ke Lok Yang, rasanya masih
belum pernah bertemu dengan orang yang sekasar dirimu ini.”
Tan Ki tetap tertawa dingin.
“Kalau begitu, tindakanmu yang keluar masuk seenaknya di rumah orang lain, boleh
dianggap sangat pantas?”
Kata-kata ini diucapkan dengan nada yang tajam menusuk. Sindirannya telak sekali.
Untuk sesaat Kim Yu sampai kehabisan kata-kata yang dapat dijadikan debatan. Akhirnya
dia malah jadi termangu-mangu.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang nyaring, getarannya bagai guntur yang
menggelegar di angkasa. Orang yang mendengarnya seolah akan pekak telinganya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Disusul dengan munculnya seorang laki-laki tinggi besar yang berasal dari rombongan ke
tujuh orang tadi. Dia langsung menerjang maju dan berhenti di depan Tan Ki.
“Apakah kau sudah bosan hidup? Berani-beraninya mengucapkan kata-kata yang tidak
sopan di hadapan Ji-ya (Tuan muda kedua) kami!”
Mata Tan Ki mengerling ke arahnya sekilas. Kemudian berhenti pada orang itu. Dia
memperhatikannya dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
“Siapa Saudara ini?”
Laki-laki tinggi besar itu mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kalau kau sanggup mengalahkan aku, tentu akan kuberitahukan kepadamu siapa
diriku ini!
Tampaknya watak orang ini sangat kasar. Selesai berkata, dia tidak memberi
kesempatan kepada Tan Ki untuk mengatakan sepatah katapun. Tiba-tiba lengannya
terulur ke depan dan langsung dilancarkannya dua buah pukulan. Baik gerakan maupun
kekuatan yang terkandung dalam pukulannya dahsyat bukan main. Bagai gulungan angin
topan yang menerpa datang.
Hati Tan Ki tercekat melihatnya.
‘Tokoh-tokoh dari barat ternyata mempunyai kepandaian yang mengejutkan juga.’ pikirnya
diam-diam.
Kakinya melangkah dua tindak, dengan cepat tiba-tiba dia memutar. Serangkum
kekuatan yang tidak terkirakan hebatnya mengakibatkan lengan bajunya melambai-lambai.
Pergelangan tangannya memutar kemudian menyerang dari atas ke bawah.
Laki-iaki bertubuh tinggi besar itu melihat dia mengelakkan diri dari serangannya, bahkan
sempat membalas sebuah serangan pula. Gerakan maupun kelebatan tubuhnya cepat
dan aneh. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut. Tubuhnya
membungkuk sedikit menghindarkan diri dari serangan Tan Ki. Kemudian hampir dalam
waktu yang bersamaan, telapak tangannya terulur ke depan dan menyusul dikerahkannya
jurus kedua!
BAGIAN XXX
Baru setengah jurus dimainkan, tiba-tiba gerakannya berubah lagi. Sebuah tendangan
dikirimkan ke depan. Jurus yang dikerahkannya ini rupanya sebagian hanya merupakan
tipuan saja. Justru di tengah jalan gerakannya berubah sehingga membahayakan
kedudukan lawannya.
Hal ini membuat orang tidak menduganya sama sekali. Sekaligus juga tidak sempat
mengadakan persiapan. Otomatis Tan Ki juga tidak menyangka bahwa laki-laki itu akan
melakukan serangan tipuan seperti ini. Untuk sesaat dia terkejut setengah mati. Dia
merasa tendangan itu begitu aneh dan cepat bagai kilat. Dengan panik dia
membungkukkan ba-dannya dan berusaha mencelat mundur sejauh mungkin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ilmu silat Tan Ki saat ini sudah termasuk golongan jago kelas satu di dalam dunia
Bulim. Perubahan gerakannya ringan dan cepat. Tetapi siapa sangka, dia terkena sapuan
ten-dangan laki-laki bertubuh tinggi besar itu juga. Dia merasa paha sebelah kirinya agak
sakit, nyaris tubuhnya tidak dapat berdiri dengan tegak, sedikit lagi pasti jatuh berlutut di
atas tanah.
Rupanya Kim Yu mewakili Pek Kut Kau dari wilayah Barat. Ia berjanji bertemu dengan
Kiau Hun di kuil tua dan akhirnya selesai mengadakan perundingan. Kemudian dia
membawa Tujuh Serigala yang merupakan jago kelas tinggi dalam Pek Kut Kau dan lalu
bergegas menyusul ke kota Lok Yang. Mereka ingin mengadakan penyelidikan tentang kekuatan
para pendekar di daerah Tionggoan dan berusaha mencari kelemahan mereka
guna penyerangan di kemudian hari. Setelah itu pihak Pek Kut Kau dan Lam Hay akan
bergabung lalu memilih hari baik untuk menyerbu ke daerah Tionggoan.
Ketujuh laki-laki tinggi besar itu merupakan pelindung hukum dalam perguruan Pek Kut
Kau. Mereka disebut Tujuh Serigala.
Ternyata ilmu orang-orang ini tidak dapat dipandang enteng. Hanya mengandalkan salah
satu dari ke Tujuh Serigala itu saja, dalam dua jurus sudah berhasil menyapu Tan Ki
dengan sebuah tendangan.
Tetapi perbuatannya ini justru menimbulkan hawa amarah dalam hati Tan Ki. Dia
meraung keras dan melancarkan sebuah pukulan ke depan!
Lengan laki-laki itu bergerak menyapu, dengan jurus Mendayung Perahu di Tengah
Sungai, dia mengelak dari serangan Tan Ki. Ter dengar mulutnya mengeluarkan suara
tawa terkekeh-kekeh.
“Kau bukan tandingan Cayhe, lebih baik cepat kembali saja!”
Terdengar suara dengusan berat dari hi dung Tan Ki. Tiba-tiba dia melancarkan tig
pukulan sekaligus. Tiga serangan ini dilancarkan berturut-turut. Kecepatan, kekejian dan
kehebatannya terpadu menjadi satu. Pada saat itu pihak lawan terdesak sampai kalang
kabut, kakinya terus menyurut mundur. Setelah tiga serangan berakhir, tidak kurang tidak
lebih dia terdesak mundur sejauh tiga langkah.
Melihat serangannya membawa sedikit hasil, hati Tan Ki bertambah besar. Dia langsung
melancarkan serangan yang gencar. Pada saat itu, si laki-laki tinggi besar baru menyadari
bahwa dirinya telah salah perhitungan. Rupanya anak muda yang tampan dan gagah ini
bukan tokoh yang mudah dihadapi. Pandangannya yang menganggap ringan lawan hilang
seketika dan menghadapi musuh dengan segenap kekuatan.
Kedua orang itu langsung terlibat pertarungan yang sengit. Tampak bayangan telapak
tangan berkibaran, lengan yang sekokoh besi menimbulkan angin yang kencang. Dalam
waktu yang singkat mereka sudah bergebrak sebanyak puluhan kali.
Kim Yu memperhatikan gerakan bawahannya yang kadang-kadang melakukan
serangan dan kadang-kadang menangkis. Tampaknya untuk sementara masih dapat
mengimbangi lawannya dengan baik. Oleh karena itu hatinya menjadi lega. Dan dia tetap
berdiri di sudut menyaksikan jalannya pertarungan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kembali lima enam jurus telah berlalu, tiba-tiba gerakan Tan Ki berubah. Sasarannya
selalu bagian tubuh yang harus diselamatkan. Setelah melancarkan dua tiga pukulan saja,
laki-laki itu sudah terdesak sehingga kelabakan setengah mati.
Sisa enam orang dari anggota Tujuh Serigala itu tadinya menyaksikan dengan tenang.
Ketika melihat rekannya mulai kewalahan dan kedudukannya mulai membahayakan, tanpa
sadar salah satunya langsung terjun ke tengah arena dengan maksud memberikan
bantuan.
Tan Ki tertawa terbahak-bahak.
“Para jago dari wilayah barat, ternyata hanya sedemikian saja kemampuannya!” Tibatiba
telapak tangannya mengepal, dia melancarkan serangan dengan gencar, tampak
angin yang timbul dari tinjunya mengakibatan lengan bajunya berkibar-kibar. Mulut anak
muda itu mengeluarkan suara suitan marah. Dalam waktu yang sekejap mata, dia suah
mengurung kedua orang itu dengan puluhan bayangan pukulannya. Kim Yu yang
menyaksikan hal itu, menjadi tercekat hatinya. Dia dapat melihat bahaya yaag dihadapi
kedua bawahannya itu. Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia berteriak dengan lantang.
“Hati-hati!”
Baru saja dia meneriakkan dua patah kata, tiba-tiba terdengar pula jeritan yang
menyayat hati. Lalu disusul dengan suara bentakan seseorang. Suara-suara tadi terdengar
dalam waktu yang hampir bersamaan. Di antara bayangan telapak tangan yang berkibarkibar,
tampak seseorang menerjang keluar dengan tubuh terhuyung-huyung kemudian
terkulai jatuh di atas tanah. Rupanya Tan Ki telah mengeluarkan ilmu barunya, yaitu Te Sa
Jit-sut. Jurus yang dimainkannya saat itu adalah Kabut Awan Mengeluarkan Cahaya
Keemasan. Dalam sekali gerak saja dia sudah berhasil menggetarkan dada seorang
lawannya sehingga terluka di dalam.
Ternyata Te Sa Jit-sut mempunyai kehebatan yang tidak terkirakan. Ilmu itu juga
sangat aneh serta sulit diduga. Ketika dia mengerahkan lagi jurus yang keempat, kembali
terdengar suara raungan marah dari pihak lawannya. Rupanya kembali orang yang
satunya terhantam telak di bagian punggung. Saat itu juga tampak orang itu
memuntahkan segumpal darah segar dan kakinya menyurut mundur dengan limbung
sejauh lima langkah sebelum terhempas ke atas tanah.
Dalam waktu yang singkat Tan Ki sudah berhasil melukai dua jago dari wilayah barat.
Yang satu terhantam di bagian dada dan tidak dapat bangkit lagi, sedangkan yang satunya
lagi terpukul telak di bagian belakang punggung sehingga memuntahkan darah segar dan
pingsan seketika.
Gerakan serta kepandaian yang dimilikinya ini, di seluruh dunia Bulim mungkin hanya
terhitung dengan jari orang yang dapat melakukannya. Tanpa dapat ditahan lagi hati Kim
Yu jadi tergetar, untuk sesaat dia malah jadi tertegun melihatnya. Dengan perasaan
heran dia berpikir: ‘Ilmu orang ini sangat aneh. Kadang-kadang tampaknya biasa-biasa
saja, lalu tiba-tiba menjadi demikian hebat sampai sulit dimengerti. Benar-benar membuat
orang bingung sampai di mana sebetulnya kehebatan ilmu silat yang dikuasainya.’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika pikirannya masih tergerak, kembali terlihat beberapa anggota muncul ke depan.
Rupanya mereka segera memapah rekannya yang terluka dan meminumkan obat guna
meringankan luka dalam yang diderita.
Sinar mata Tan Ki dengan datar menyapu Kim Yu sekilas.
“Malam-malam begini kalian menyatroni rumah orang, pasti bukan tanpa sebab. Kalau
dibilang ingin merampok, tangan kalian toh
tidak membawa apa-apa…” sindirnya tajam.
Kim Yu mendengus satu kali.
“Meskipun Hengte menjadi gembel di pinggir jalan, juga tidak akan memalukan nama
besar Pek Kut Kau di wilayah barat.”
“Lalu apa maksud kalian yang sebenarnya?”
Kim Yu dapat mendengar bahwa di balik
Bentakannya yang lantang terselip rasa curiga yang besar. Diam-diam dia mengerahkan
tenaga dalamnya lalu memancarkan ke sepasang telapak tangan seakan siap melancarkan
serangan setiap waktu. Terdengar dia batuk-batuk ringan beberapa kali. Padahal dia
sudah melihat Tan Ki juga sudah bersiap-siap untuk menghadapinya. Namun dari luar dia
berlagak tenang dan seolah tidak ada apapun yang mengkhawatirkan hatinya.
“Kedatangan Hengte kali ini, hanya ingin numpang minum secawan dua cawan arak
pengantin saja…”
Tan Ki tertawa dingin.
“Rasanya alasan Saudara tidak begitu sederhana?”
Kim Yu mengangkat sepasang bahunya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyuman
yang licik.
“Kalau kau tidak percaya, yah apa boleh buat.”
Ketika keduanya sedang terlibat dalam pembicaraan, tiba-tiba tampak dua laki-laki
bertubuh tinggi besar berjalan keluar. Orang yang berada di sebelah kiri mendadak melancarkan
sebuah pukulan ke arah dada Tan Ki, sedangkan orang yang berada di sebelah
kanan menerjang dengan memutar ke belakangnya serta menyerang bagian punggung.
Keadaan Tan Ki memang sedang gusar sekali. Dalam dua kali gerak, dia berhasil
melukai dua orang dari delapan musuhnya. Sekarang masih tersisa enam orang lagi,
apabila dia tidak cepat-cepat menurunkan tangan keji membereskan mereka, tentu dia
akan mene-mui banyak kesulitan nanti. Begitu pikirannya tergerak, hawa pembunuhan
segera merasuki dadanya. Tangan kanannya memutar, lima larinya langsung membentuk
cekalan dan meluncur ke arah urat nadi pergelangan tangan laki-laki tinggi besar itu.
Sedangkan telapak tangan kirinya juga diulurkan dalam waktu yang bersamaan dan
melancarkan sebuah pukulan ke arah laki-laki yang ada di sebelah kiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki yang ada di sebelah kanan segera menggeser satu langkah ke samping dan
menghindarkan diri dari serangan Tan Ki seria menarik kembali tangannya sendiri.
Sedangkan orang yang ada di sebelah kiri justru mengambil posisi tangan menahan di
depan pada lalu mendorong keluar dan menyambut serangan Tan Ki dengan kekerasan.
Begitu kedua pukulan beradu, terdengarlah suara yang menggelegar, tanpa dapat
ditahan lagi Tan Ki tergetar mundur satu langkah.
Orang itu sendiri malah terdorong oleh tenaga Tan Ki yang lebih kuat, kakinya
menyurut m undur sampai lima depa jauhnya.
Diam-diam Tan Ki merasa terkejut juga.
‘Tenaga dalam orang ini cukup hebat. Benar-benar bukan lawan yang dapat dianggap
ringan.’ pikirnya dalam hati.
Segera dia menghimpun tenaga dalamnya lalu bergerak ke depan dengan melancarkan
sebuah serangan.
Dia sudah dapat menduga kalau kedua orang itu akan menyerangnya dengan siasat
Timbul Suara di Barat, Menyerang dari Timur, lalu secara diam-diam membokongnya.
Kalau dia tidak turun tangan keji melukai salah satu dian taranya, kedua lawan ini sungguh
tidak mudah dihadapi. Oleh karena itu, begitu serangannya dilancarkan, dia sudah
mengerahkan tenaga dalam sebanyak sepuluh bagian. Dahsyatnya bukan main. Kekuatan
yang terkandung dalam pukulannya bagai badai yang melanda secara tidak terduga.
Setelah beradu pukulan satu kali dengan Tan Ki, laki-laki tinggi besar yang ada di
selelah kiri segera menyadari bahwa tenaga dalam Tan Ki lebih kuat, daripada dirinya.
Tetapi Ketika anak muda itu melancarkan sebuah serangan lagi dengan gerakan seperti
orang limbung, dia tetap tidak berani menghindar. Telapak tangannya terulur ke depan
dan sekali lagi menyambut pukulan Tan Ki dengan kekerasan.
Begitu kedua pukulan beradu, menang atau kalah segera dapat ditentukan. Tan Ki
hanya merasa pergelangan tangannya seperti kesemutan dan tubuhnya bergetar, namun
laki-laki tinggi besar itu langsung sempoyongan ke belakang. Setelah memuntahkan darah
segai sebanyak tiga kali berturut-turut, tubuhnya pun terkulai di atas tanah.
Laki-laki yang berada di sebelah kanan me nyaksikan dengan mata kepala sendiri
bahwa rekannya terluka parah dalam dua gebrakan saja. Di wajahnya yang garang dan
buas segera tersirat penderitaan yang dalam. Dia meraung dengan keras kemudian
sepasang kepalan tangannya tampak meluncur ke depan.
Saat itu hawa pembunuhan dalam dada Tar Ki sudah timbul, cara turun tangannya juga
keji sekali. Dia berpikir daripada dirinya yang terluka, lebih baik dia yang melukai lawan
terlebih dahulu. Tampak tubuhnya bergerai ke samping perlahan-lahan, tiba-tiba tangan
kanannya membentuk cengkeraman dan m e luncur ke depan secepat kilat. Meskipun lakilaki
bertubuh tinggi besar itu mempunyai niat mengelakkan diri, namun sudah terlambat.
Tahu-tahu lengan kanannya sudah tercekal oleh tangan Tan Ki. Anak muda itu segera
mengerahkan tenaga dalamnya lalu memuntir. Terdengarlah suara berderak yang
menggetarkan hati. Tangan kanan laki-laki tinggi besar itu terputus seketika dari
sambungan sendinya. Begitu sakitnya sehingga keningnya basah oleh keringat dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun tampaknya sikap orang ini sangat keras kepala, meskipun rasa sakit yang dirasakan
sangat hebat, tetapi sedikit rintihan pun tidak terdengar dari mulutnya. Tan Ki yang
melihat keadaan ini langsung memperdengarkan suara tertawa dingin.
“Kau sangat gagah!” pujinya datar.
Tiba-tiba telapak tangannya bergerak. Dengan kecepatan yang sulit ditangkap
pandangan mata, dia menghantam ke depan dan bahu orang itu pun terkena pukulannya
dengan telak. Tidak perlu diragukan lagi, lengan orang yang sudah terlepas dari
persendiannya menjadi hancur seketika.
Kim Yu menyaksikan tiga orang diantara ketujuh bawahannya sudah terluka parah di
tangan Tan Ki. Bahkan yang terakhir lengannya sampai putus dan hancur. Dia maklum
apabila pertarungan ini diteruskan, semua bawahannya masih bukan tandingan Tan Ki dan
malah akan mendapat kekalahan yang konyol. Oleh karena itu dia segera mendengus
dingin dan melangkah maju ke depan.
Di bawah cahaya rembulan, wajahnya menyiratkan kegusaran yang hebat. Sepasang
matanya menyorotkan hawa pembunuhan dan tampangnya sungguh tidak enak dilihat.
Tiba-tiba terdengar suara suitan yang panjang memecahkan keheningan malam. Suara
suitan itu bagai gerungan seekor naga. Begitu nyaringnya sampai telinga orang yang
mendengarnya menjadi pekak.
Kemudian, tampak bayangan berkelebat disusul dengan berkibarnya lengan pakaian
yang menderu-deru tertiup angin. Orang-orang yang ada di tempat itu jadi terkesiap,
serentak mereka memalingkan wajahnya.
Dalam waktu sekejap mata saja, di tempat Kim Yu dan Tan Ki berdiri telah melayang
turun seorang perempuan yang berpakaian kembang-kembang dan bergaun merah serta
seorang pemuda yang tampan. Mereka adalah si bekas budak keluarga Liu, Kiau Hun dan
anak angkat si Raja iblis Oey Ku Kiong.
Di bawah cahaya rembulan, tampaknya kedua orang itu sudah meneguk arak secara
berlebihan. Pipi mereka berona merah dan tubuh mereka agak sempoyongan. Namun hal
itu justru menambah kecantikan Kiau Hun serta ketampanan Oey Ku Kiong.
Melihat adanya Tan Ki di tempat itu, tampaknya Kiau Hun benar-benar merasa di luar
dugaan, untuk sesaat dia sampai tertegun. Matanya yang indah menyorotkan
kebimbangan. Dia memperhatikan Tan Ki dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Diamdiam
hatinya berpikir.
‘Alisnya menyorotkan sinar terang, sudut matanya menandakan gejolak asmara yang
telah reda. Hal ini membuktikan bahwa dia sudah kehilangan keperjakaannya, tetapi
mengapa dia bisa berdiri di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat seperti orang lainnya.
Apakah sebotol racun yang diberikan Oey Ku Kiong kepadaku telah kehilangan
khasiatnya?’
Meskipun hatinya merasa terkejut dan curiga, dari luar dia berlagak tenang. Perlahanlahan
dia melangkahkan kakinya ke depan untuk menghampiri Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Malam ini kau menjadi pengantin laki-laki, seharusnya menemani pengantin wanita
serta bergembira semalam suntuk. Mengapa bukannya berdiam di kamar, malah datang ke
tempat ini?”
Mendengar sindirannya yattg halus, wajah Tan Ki jadi merah padam. Dia tidak ingin
menceritakan masalah Mei Ling yang kesalahan minum teh beracun, tetapi untuk sesaat
dia juga tidak mendapat jawaban yang tepat, Oleh karena itu dia hanya tersenyum simpul
dan tidak memberikan sahutan.
Kiau Hun memalingkan wajahnya menatap Kim Yu sekilas, kemudian dia menoleh
kembali ke arah Tan Ki.
“Apakah kalian baru berkelahi?”
Tan Ki menunjuk ke arah rombongan Kim
“Orang-orang ini menyelinap ke dalam gedung keluarga Liu, gerak-geriknya sungguh
mencurigakan.
Kim Yu tersenyum lembut. Dia segera menukas perkataan Tan Ki, “Hente sekalian
hanya ingin menumpang minum arak barang beberapa cawan. Karena tidak ingin
mengejutkan, maka masuk secara diam-diam. Masa begitu saja salah?”
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Sekarang baru mengucapkan kata-kata yang rendah, apakah tidak merasa sudah agak
terlambat?”
Kiau Hun maju beberapa langkah, dia menarik tangan Tan Ki dan menasehati dengan
suara lembut.
“Sudahlah, biar bagaimana orang toh berniat baik. Tentu tidak boleh menyuruh orang
pulang begitu saja. Lagipula malam ini adalah malam pernikahanmu, seharusnya tidak
boleh berkelahi dan menimbulkan urusan yang mengalirkan darah atau melukai orang. Hal
itu bukan saja dapat merusak suasana yang gembira, malah dapat menimbulkan perasaan
tidak enak di hati orang lain…”
“Orang-orang ini merupakan anggota dari Pek Kut Kau dari wilayah barat, biar
bagaimana mereka tidak dapat dilepaskan begitu saja!”
Sepasang alis Kiau Hun langsung mengerut-ngerut. Tiba-tiba saja terselip hawa pembunuhan
di dalam hatinya.
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya curiga.
Tan Ki mengangkat bahunya dengan santai.
“Pokoknya aku tahu, kau tidak perlu menyelidiki dari mana aku mendapatkan inforl’masi
ini.” sahutnya acuh tak acuh.
Kiau Hun dapat mendengar nada suaranya yang dingin dan kaku. Wajahnya juga
menampilkan ketidakperduliannya. Namun dia hanya tersenyum simpul, tampaknya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seakan tidak mengambil hati atas sikap Tan Ki. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya
dan berjalan ke arah kamar tamu yang ada di sebelah timur.
Oey Ku Kiong segera melangkahkan kakinya mengikuti dari belakang. Angin malam
bertiup semilir, pakaian Kiau Hun sampai berkibar-kibar dibuatnya. Rambutnya yang
panjang beterbangan. Tampak mimik wajahnya sangat aneh, seperti orang yang ingin
tertawa tetapi tidak bisa. Kadang-kadang bibirnya tersenyum sendiri.
Padahal saat itu dia merasa darah panas dalam tubuhnya sedang bergejolak, hatinya
merasa pedih sekali. Dia juga merasakan penderitaan yang tidak terkirakan. Seakan
seluruh manusia di dunia ini berada dalam jarak yang jauh sekali dengan dirinya. Dunia
yang luas ini tidak ada seorang pun yang memaklumi isi hatinya. Sedangkan perasaannya
demikian hampa dan sunyi.
Dia mempunyai perasaan bahwa seluruh manusia di dunia ini mencampakkannya.
Sedangkan perasaan ini semakin berat bagi orang yang merasa pesimis dan rendah diri.
Perlu diketahui bahwa watak gadis ini sangat picik, jiwanya sempit. Dia selalu
menganggap bahwa semua orang yang mengenalnya selalu menghina riwayat hidupnya.
Tentu saja dirinya tidak dapat dibandingkan dengan Mei Ling yang merupakan putri satusatunya
dari Bu Ti Sin-kiam yang terkenal dan kaya raya. Gadis itu selalu mendapat
sambutan yang baik dan dipuja orang di mana-mana. Oleh karena itu, dia rela
mengorbankan kecantikan wajahnya dan keindahan tubuhnya untuk merayu Tocu dari Bu
Sin To di Lam Hay, sehingga dalam beberapa hari yang singkat, dari seorang budak dia
diangkat menjadi selir kesayangan dan bahkan diajarkan berbagai ilmu yang sakti.
Dengan kesuciannya, dia menukar sebuah nama kosong. Walaupun demikian, Kiau Hun
menganggap semua itu dapat mengangkat derajatnya sendiri sehingga tidak dipandang
hina lagi oleh orang-orang yang mengenalnya. Bahkan kalau bisa dia ingin mereka semua
bertekuk lutut di bawah kakinya.
Walaupun pengaruhnya tidak demikian besar, tetapi setidaknya hati Kiau Hun sendiri
sudah agak terhibur-dapat tampil di depan umum dalam keadaan seperti sekarang ini.
Namun begitu melihat sikap Tan Ki yang acuh tak acuh dan sinar matanya yang dingin,
hatinya bagai ditusuk ribuan jarum. Perasaannya begitu sedih dan penderitaannya tak
terkatakan lagi.
Rupanya Tan Ki tetap menganggap dirinya sebagai budak seperti sebelumnya. Itulah
sebabnya dia memperlakukan dirinya dengan dingin dan pembicaraannya pun menusuk.
Tentu saja semua ini hanya anggapan Kiau Hun sendiri karena pengaruh jiwanya yang
sempit dan pikirannya yang picik. Hal ini malah membuat khayalannya yang indah menjadi
kandas. Rasa cintanya berubah menjadi benci. Dia merasa dendam sekali kepada Tan Ki!
Setelah berjalan beberapa saat, tiba-tiba dia tertawa dingin. Langkah kakinya pun
dihentikan lalu menolehkan kepalanya dan berkata dengan lembut, “Ku Kiong…”
Oey Ku Kiong sendiri entah sedang memikirkan apa, mendengar panggilannya yang
tiba-tiba, dia bagai tersentak dari lamunan.
Mulutnya mengeluarkan seruan terkejut dan kemudian bertanya, “Apakah Nona
memanggil aku?”
Kiau Hun tersenyum lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Setelah kita bertemu di Pek Hun Ceng, kau langsungjatuh cinta kepadaku tanpa
memperdulikan keadaanku yang sudah kotor ini. Meskipun kau hanya bertepuk sebelah
tangan dan mencari kesulitan bagi dirimu sendiri, tetapi dalam beberapa hari ini aku juga
telah merenunginya bolak-balik. Antara engkau dan aku, seharusnya tidak boleh begini
terus…”
Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang kemudian melanjutkan kembali. “aku
maklum sekali pendirianmu sebagai seorang laki-laki. Dari luar tampaknya sekeras baja,
namun hatimu lembut seperti kapas. Baik kedudukan maupun ilmu silat tidak kalah
dengan lainnya. Tetapi terhadap urusan cinta, kau malah merasa lebih penting dari hal
lainnya. Meskipun kesulitan apa yang akan kau hadapi, tetapi kau tetap maju terus dan
pantang menyerah…”
Bibir Oey Ku Kiong tampak bergerak-gerak, dia seperti ingin mengatakan sesuatu,
tetapi Kiau Hun sudah lebih dulu maju selangkah dan mengulurkan tangannya yang indah
serta berjari lembut dan menutup mulutnya perlahan-lahan. Kepalanya digeleng-gelengkan
sambil tersenyum.
“Sebetulnya kau adalah seorang pemuda yang bermasa depan cerah, tetapi ternyata
malah mencintai sekuntum bunga yang layu seperti diriku. Meskipun di luarnya aku tidak
berani mengatakan apa-apa, namun dalam hati kecil ini sebetulnya merasa terharu dan
gem-bira, sayangnya…”
Pikirannya seperti mengingat sesuatu yang sedih dan sulit sekali. Belum lagi ucapannya
selesai, air matanya sudah mengalir turun membasahi pipi. Sepasang tangannya terkulai
ke bawah, kepalanya menunduk dalam-dalam. Tampangnya seperti orang yang menderita
sekali.
Oey Ku Kiong melihat tampangnya yang sayu justru sangat menawan. Dia merasa ada
segulung hawa panas yang mengalir dalam darahnya dan jiwa gagahnya pun terbangkit.
Dia menepuk bahu Kiau Hun dengan lembut.
“Seandainya Nona mempunyai kesulitan apa-apa. Jangan ragu, katakan saja. Harap aku
mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masalahmu itu.”
Bibir Kiau Hun menyunggingkan senyuman meskipun pipinya masih dibasahi oleh air
mata.
“Siapa diriku dan bagaimana pribadiku, apakah kau sudah menyelidikinya dengan jelas?”
Hati Oey Ku Kiong tercekat mendengar pertanyaannya. Diam-diam dia berpikir.
‘Aku mengejarnya selama beberapa hari berturut-turut. Terus menerus aku
memperhatikan gerak-geriknya. Walaupun aku tidak berani mengatakan bahwa cara yang
kutempuh sudah termasuk luar biasa, tetapi setidaknya aku sudah berhati-hati sekali.
Namun jejakku tetap ketahuan olehnya. Hal ini membuktikan bahwa perempuan ini sangat
peka perasaannya, akalnya banyak dan ambisius sekali, tampaknya bukan orang yang
dapat dipandang ringan…’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pikirannya masih tergerak, tetapi dia merasa tidak sepantasnya mengelabui perempuan
yang ia cintai, oleh karena itu dia segera menjawab, “Kau adalah selir yang baru diangkat
oleh Tocu Bu Sin To di Lam Hay. Saat ini kau ditugaskan menyelidiki keadaan di
Tionggoan… kasarnya, kau dijadikan mata-mata oleh kelompok pemberontak dari Samudera
luar.”
Kiau Hun tersenyum manis. “Apakah kau tidak menganggap bahwa diriku ini sangat
hina dan rendah karena menjual bangsaku sendiri?” Oey Ku Kiong tertawa gagah.
“Pandangan setiap pendekar maupun orang gagah selalu berlainan. Masing-masing
mempunyai pendapat sendiri dalam menilai sesuatu hal. Meskipun kau tidak
mengorbankan kecantikan wajah serta keindahan tubuhmu, melainkan melakukan hal
lainnya yang lebih mengejutkan, pandanganku terhadap dirimu tetap tinggi dan rasa
hormat dalam hati ini tidak berkurang sedikitpun.”
“Kalau begitu kau pasti menurut apapun yang aku katakan.”
Wajah Oey Ku Kiong berubah menjadi serius.
“Tentu saja!” sahutnya penuh hormat.
Sejak semula dia sudah terjatuh oleh senyuman Kiau Hun yang manis. Begitu
mendengar ucapannya, dia juga tidak berpikir panjang lagi, jawabannya yang diberikan
juga begitu cepat.
Sepasang mata Kiau Hun yang indah mengerling ke sana ke mari. Kemudian dia
mendekati telinga Oey Ku Kiong serta membisikkan beberapa patah kata, kemudian
mulutnya tertawa lebar.
“Kalau urusannya sudah selesai, aku akan menunggumu di taman bunga belakang rumah.”
kata perempuan itu selanjutnya.
Tangannya melambai perlahan, seakan mengucapkan selamat tinggal kepada anak
muda itu. Setelah itu dia membalikkan tubuhnya dan melesat ke depan. Gerakannya bagai
sambaran kilat. Hanya dalam beberapa kali loncatan saja, dia sudah menghilang dalam
kegelapan.
Oey Ku Kiong menunggu sampai bayangan Kiau Hun tidak terlihat lagi, baru
mengerahkan ginkangnya yang tertinggi dan melesat bagai terbang ke arah semula. Tidak
beberapa lama kemudian, telinganya menangkap suara bentakan yang lantang. Begitu
kerasnya sehingga berkumandang ke mana-mana.
Dia melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang merapat ke arah Tan Ki.
Tangannya menggenggam sebuah tabung yang panjangnya kurang lebih dua mistar dan
besarnya seperti pangkal lengan. Ketika dia menerjang sampai ke tempat itu, laki-laki
tinggi besar tersebut sudah mendekat ke samping Tan Ki dalam jarak kurang lebih tiga
depaan. Kemudian orang itu menghentikan langkah kakinya. Tabung emas di tangannya
digerak-gerakkan lalu dengan posisi menahan di depan dada, dia mendorongya ke depan.
Sejak tadi Tan Ki sudah mengerahkan hawa murninya bersiap-siap. Dia sudah melihat
bahwa tabung emas yang ada di tangan lawannya sangat aneh. Oleh karena itu dia tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ingin menempuh bahaya begitu saja, tampak sepasang bahunya bergerak. Dia bergeser ke
samping sejauh lima depa.
Cara mendorong tabung emas yang dilakukan laki-laki tinggi besar itu tidak terlihat
kecepatan yang menakutkan.. Ketika tubuh Tan Ki menggeser dari tempatnya semula,
perlahan-lahan dia juga menarik kembali tabung emasnya. Tampaknya gerakan tadi hanya
tipuan saja.
Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas. Tanpa menunda waktu dia segera mengulurkan
tangannya melancarkan sebuah pukulan. Serangkum angin yang kencang langsung
menerpa ke depan.
Dia sudah pernah melukai beberapa orang sekaligus dalam waktu yang singkat. Hal ini
malah membuat rasa terkejut di hati lawannya jadi berlipat ganda. Tiba-tiba lelaki itu
menggeser langkah kakinya ke kanan dua tindak. Setelah berhasil menghindari, serangan
pukulan Tan Ki, dia langsung bergerak maju merapat lagi ke dekat anak muda itu.
Gerakannya kali ini cepat sekali. Sungguh berbeda dengan gerakan yang sebelumnya.
Tampak tubuh laki-laki tinggi besar itu memutar kemudian melangkah lagi ke kiri dua
tindak. Tabung emasnya diangkat ke atas lalu diulurkan ke depan. Saat itu juga terlihat
gumpalan asap berwarna kehitaman meluncur keluar!
Tan Ki memang sudah mengadakan persiapan, begitu melihat ada yang tidak wajar, dia
langsung mencelat ke udara. Luncuran asap itu tampaknya mempunyai kedahsyatan yang
tidak dapat dipandang ringan. Baru saja tubuh Tan Ki mencelat ke atas, tempat di mana
dia berdiri tadi sudah dihempas oleh gulungan asap berwarna kehitaman itu.
Laki-laki bertubuh tinggi besar itu melihat bahwa asap dari tabung emasnya hanya
melesat lewat di bawah telapak kaki lawannya dan belum berhasil mencapai sasaran.
Cepat-cepat dia menarik kembali tabung emasnya. Tangan kirinya menekan bagian bawah
tabung tersebut dan diarahkan pada tubuh Tan Ki yang sedang melayang di udara.
Sinar rembulan saat itu, merupakan detik-detik paling gelap sebelum fajar menyingsing.
Tetapi Oey Ku Kiong bukan tokoh sembarangan. Dia tidak pernah mendapat kesulitan
untuk melihat benda-benda di tempat yang gelap. Begitu dia menajamkan pandangan
matanya, dia melihat belasan guratan panjang berwarna putih bagai benang-benang yang
halus dengan kecepatan kilat meluncur ke arah Tan Ki. Gerakannya begitu cepat, bahkan
melebihi jenis senjata rahasia lainnya. Lagipula daya capainya yang dapat menjangkau
sampai sejauh itu, juga bukan hal yang dapat dilakukan, jenis senjata rahasia yang lain.
Hati Oey Ku Kiong jadi tercekat melihatnya. Diam-diam dia berpikir.
‘Senjata rahasia itu kecil dan halus. Sudah pasti sejenis jarum beracun. Tetapi kekuatan
maupun jangkauanya malah berlipat ganda dari tenaga yang terpancar dari tangan yang
menyambitkannya sendiri. Ayah angkatku dijuluki sebagai raja senjata rahasia, tetapi tampaknya
kekuatannya masih kalah kalau dibandingkan dengan tabung emas di tangan
orang ini.’
Tan Ki sendiri sudah melihat laki-laki ting-gi besar itu baru menggerakkan sedikit
tabung emasnya langsung ada belasan carik sinar putih yang halus meluncur ke arahnya.
Dalam jarak kurang dari satu depa saja, cahaya itu sudah memencar ke mana-mana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehingga sulit lagi ditangkap pandangan mata. Oleh karena itu, dia segera menghimpun
hawa murninya, dan melesat lebih tinggi lagi kurang lebih satu depa.
Dia tidak bisa menafsir-nafsir apakah jaraknya sekarang sudah cukup atau belum untuk
menghindari luncuran senjata rahasia tersebut. Secepat kilat sepasang lengannya direntangkan
dan langsung berjungkir balik lagi dua kali di udara lalu melayang turun pada
jarak kurang lebih lima depaan dari tempatnya semula.
Gerakan ginkang yang dipamerkannya, yakni sudah mencelat ke udara terus melesat
sekali lagi, bahkan dapat berjungkir balik dua kali di udara tanpa melayang turun terlebih
dahulu di atas tanah, benar-benar pemandangan langka di dunia Kangouw. Orang yang
dapat. melakukannya juga mungkin dapat dihitung oleh jari. Oey Ku Kiong dan Kim Yu
yang meenyaksikannya sampai termangu-ma-ngu, tanpa dapat ditahan lagi hati mereka
merasa terkejut sekaligus kagum. Begitu matanya memandang, dia melihat gumpalan
asap itu hanya meluncur sejauh satu depaan lebih kemudian berhenti menggantung di
udara. Meskipun asap itu tampak membuyar namun reaksinya demikian lambat seperti gas
udara dalam gelembung karet yang bocornya hanya seujung jarum saja serta memerlukan
waktu yang lama sampai habis sama sekali. Bahkan asap yang membuyar itu sedemikian
tipisnya sampai sulit ditangkap pandangan mata. Meskipun Tan Ki berusaha mengawasi
dengan seksama. Tetapi tetap saja tampak bagai kabut yang menggumpal di atas ilalang.
Melihat serangannya yang dua kali berturut-turut mengalami kegagalan, laki-laki
bertubuh tinggi besar itu agak terpana jadinya. Ia malah tidak percaya terhadap
kenyataan yang terpampang di hadapannya. Namun sesaat kemudian tubuhnya mencelat
ke atas dan tangannya menggerakkan tabung emas tersebut dan menerjang ke tempat
Tan Ki berdiri.
Tan Ki tidak ingin memberi kesempatan lagi kepada laki-laki tinggi besar itu untuk
meluncurkan senjata rahasianya. Tenaga dalamnya dikerahkan dan di saat tubuh laki-laki
itu mencelat ke udara, dia juga membentak dengan suara keras kemudian melancarkan
sebuah pukulan.
Serangannya kali ini menggunakan segenap kekuatannya. Angin yang terpancar dari
pukulannya kencang sekali bagai gelombang badai yang menerpa ke depan. Tubuh lakilaki
itu masih mencelat di tengah udara, tak ada lagi kesempatan baginya untuk
menghindarkan diri dari serangan Tan Ki. Tiba-tiba dia merasa dadanya bergetar dan
terdorong oleh tenaga dalam Tan Ki yang besar. Tahu-tahu tubuhnya sudah terpental ke
belakang dan patuh di atas tanah pada jarak kurang lebih tujuh depaan.
Serangan yang dihantamkan ke udara menimbulkan getaran sampai sejauh satu depa
setengah. Orang-orang lainnya yang ada di sekitar tempat itu sampai ikut merasakan
hempasan tenaga dalam tersebut. Tidak satu-pun dari mereka yang hadir ditempat
tersebut tidak menjadi terkejut melihat kehebatan tenaga dalam Tan Ki.
Sepasang alis Kim Yu tampak mengerut. Tiba-tiba dia mengangkat tangannya ke
bagian atas kepala dan melambai sebanyak dua Kali. Gerakan ini merupakan sandi dalam
perkumpulan Pek Kut Kau. Orang luar tentu saja tidak mengerti.
Laki-laki tinggi besar yang baru saja terhantam pukulan Tan Ki langsung memuntah-kan
segumpal darah segar. Tampak dia masih berusaha bangkit tetapi tenaganya sudah
hilang. Setelah mendengus satu kali, tubuhnya terhempas lagi ke atas tanah. Dia
memaksa dirinya mengangkat tabung emas yang terdapat di tangan kanan dan di arah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada Tan Ki. Dua titik bayangan seperti bola kecil yang berwarna biru meluncur ke
depan, sasarannya sudah pasti anak muda tersebut.
Wajah Tan Ki berubah menjadi agak gusar. Dia memperdengarkan suara tawa yang
dingin. Tenaga dalam sebanyak tujuh bagian sudah dikerahkan pada sepasang telapak tangannya
dan sudah siap dihantamkan ke depan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Oey Ku Kiong yang nyaring. “Tan Heng, hati-hati!”
Pergelangan tangannya terulur dan mengibas ke depan. Dua butir bola baja langsung
melayang keluar. Tepat ketika suara teriakannya sirap, bola baja yang disambitkannya
dengan telak menghantam dua titik warna biru yang dikerahkan oleh laki-laki bertubuh
tinggi besar itu.
Oey Ku Kiong adalah putra angkat dari ahli senjata rahasia Oey Kang. Sejak kecil dia
sudah mendapat latihan yang keras, dengan demikian baik penglihatan maupun
pendengarannya peka sekali. Keahliannya dalam bidang ilmu senjata rahasia sudah pasti
lebih tinggi dari orang lain. Dua buah bola baja yang disambitkannya mengandung tenaga
yang kuat serta kecepatan yang sulit ditandingi.
Terdengar suara beradunya kedua senjata rahasia yang disusul dengan deraian seperti
kaca pecah. Dalam waktu sekejapan mata saja, tampak api berkobar-kobar, asap
memenuhi angkasa, bahkan berpengaruh sampai jarak dua depaan.
Meskipun sekeliling tembok ini ditumbuhi rumput-rumput yang lebat, tetapi tampaknya
daya bakar benda berwarna biru yang diluncurkan oleh laki-laki tadi sangat hebat. Begitu
meledak dan terjatuh ke atas tanah, baik batu-batuan maupun rumput semuanya terbakar
dan api pun menyala besar.
Melihat keadaan itu hati Tan Ki tercekat bukan main. Diam-diam dia mengeluh dalam
hati.
‘Kalau aku tadi menghantamnya dengan pukulan, benda berwarna biru itu pasti
meledak dan memercik ke tubuhku. Bukankah aku bisa menjadi daging panggang
dibuatnya?’
Tanpa terasa dia melirik ke arah Oey Ku Kiong dengan pandangan berterima kasih.
Anak muda itu menganggukkan kepalanya sedikit. Bibirnya tersenyum tipis. Hatinya justru
mempunyai pemikiran yang lain…
‘Sejak semula aku sudah menanamkan kesan baik pada dirinya. Kalau aku mengikuti
petunjuk yang diberikan oleh Cen Kouwnio dan membantunya satu dua orang, tentu aku
akan mendapat kepercayaan lebih besar lagi darinya. Beberapa hari lagi akan diadakan
pertemuan besar Bulim Tay Hwe. Pada saat itu dia pasti akan berpihak kepadaku dan
mengatakan hal-hal yang baik tentang diriku. Dengan demikian aku boleh memberanikan
diri maju ke depan ikut merebut kedudukan Bulim Bengcu. Tentu tidak ada orang lagi
yang mencurigai siapa diriku ini…’
Begitu pikirannya tergerak, dia segera mengeluarkan suara raungan yang keras. Kakinya
dengan kecepatan kilat maju dua langkah dan merapat ke salah seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar yang masih berdiri di sudut sejak tadi. Dengan jurus Tiga Sorotan
Matahari Menembus Pintu, ketiga jari tangannya yang tengah langsung menyerang tiga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagian urat darah penting di tubuh laki-laki tersebut. Serangannya belum lagi sampai, tiga
gulung angin yang terbit dari ketiga jari tangannya sudah menerpa datang. Laki-laki itu
segera menggeser langkah kakinya sambil memiringkan tubuhnya sedikit. Tangan kirinya
segera terulur keluar dan mendorong siku Oey Ku Kiong yang terus meluncur ke depan.
Oey Ku Kiong memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Sambutlah sebuah serangan lagi!” bentaknya nyaring.
Sepasang lengannya terjulur ke depan dan dua buah pukulan yang terbagi dari atas
dan bawah langsung dihantamkan ke arah lawannya.
Serangannya yang berturut-turut ini mengandung kecepatan yang sulit diuraikan
dengan kata-kata. Laksana kuda pilihan yang dipecut keras-keras. Saking terdesaknya,
laki-laki tinggi besar itu terpaksa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Kakinya
menggeser ke samping dua langkah lalu menerobos keluar untuk menghindarkan
serangan Oey Ku Kiong.
Melihat serangannya dua kali berturut-turut dapat dihindarkan oleh laki-laki tinggi besar
itu, Oey Ku Kiong menjadi kesal dan marah. Mulutnya sekali lagi mengeluarkan raungan.
Tubuhnya kembali menerjang ke depan, tangannya menjulur keluar serta mengirimkan
sebuah serangan.
Ilmu silatnya sangat tinggi, gerakannya cepat bagai kilat. Meskipun jurus yang
dikerahkan biasa-biasa saja, namun serangannya sangat keji serta menimbulkan suara
suitan angin di udara yang menggetarkan hati orang yang mendengarnya.
Laki-laki tinggi besar itu menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa beberapa
orang rekannya berturut-turut terluka di tangan Tan Ki. Belum lagi tiba gilirannya
bergebrak dengan anak muda itu, hatinya sudah rada ngeri. Ketika Oey Ku Kiong ikut
terjun ke ajang pertarungan, gerakan yang dilakukannya bahkan tidak kalah gesit.
Serangannya juga gencar sekali. Hatinya semakin kalang kabut. Baru saja dia bermaksud
menghindarkan diri, tahu-tahu dia melihat pergelangan tangan Oey Ku Kiong memutar
dan pergelangan tangannya sudah tercekal.
Jurus yang dimainkannya ini bukan saja mengandung perubahan yang tidak terduga,
kecepatannya juga mengejutkan. Pikiran laki-laki itu sedang kacau, sehingga reaksinya
jadi lambat. Gerakan kaki tangannya jadi kaku dan tidak sepeka biasanya. Tiba-tiba
pergelangan tangannya terasa seperti kesemutan dan seluruh tenaga dalamnya pun ikut
lenyap seketika.
Begitu serangannya mendapat hasil, dalam waktu yang bersamaan, Oey Ku Kiong
segera mengirimkan sebuah tendangan ke paha kapan laki-laki itu.
Terdengarlah suara dengusan yang berat. Tendangan berhasil mencapai sasaran.
Secara berturut-turut laki-laki bertubuh tinggi besar itu tersurut mundur sejauh lima
langkah. Dalam hati dia bermaksud mempertahankan diri sebisanya, namun sepasang
bahunya terus bergoyang seperti tidak bersedia mengikuti kemauan hatinya. Tanpa dapat
dipertahankan lagi, tubuhnya terkulai di atas tanah.
Melihat keadaan itu, sepasang alis Kim Yu terus mengerut-ngerut. Diam-diam dia
berpikir: ‘Gerakan orang ini cepat sekali…’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perlahan-lahan dia maju ke depan dua langkah. Tubuhnya membungkuk dan menjura
dalam-dalam kepada Oey Ku Kiong.
“Ilmu Saudara sungguh mengejutkan. Orang she Kim ini tidak tahu diri ingin menjajal
barang dua tiga jurus.”
Dia tidak menunggu jawaban Oey Ku Kiong lagi. Dengan menimbulkan angin yang
kencang, sebuah pukulan sudah dilancarkan ke depan.
Biar bagaimana Kim Yu adalah seorang manusia yang sudah banyak pengalamannya.
Hatinya penuh pertimbangan. Dia langsung dapat melihat bahwa ikut campurnya Oey Ku
Kiong sangat merugikan kedudukannya sekarang ini. Apabila ia membiarkan sisa anggota
Tujuh Serigala terjun ke tengah arena, akibatnya hanya mengorbankan bawahannya
secara sia-sia. Pertarungan yang berlangsung di tempat ini sudah memakan waktu cukup
lama, hal ini tidak menjamin kalau angkatan yang lebih tua tidak bisa muncul secara tibatiba
untuk melihat apa yang telah terjadi. Saat itu, apabila mereka ingin meloloskan diri,
tentu kesempatannya lebih kecil lagi.
Begitu pikirannya tergerak, dia segera mengambil keputusan tentang apa yang harus
diperbuatnya. Mendadak lengannya terulur ke depan dan langsung melancarkan sebuah
serangan ke arah lawannya.
Oey Ku Kiong dapat merasa bahwa serangan yang dilancarkannya mengandung
kekuatan yang dahsyat sekali. Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan
kekerasan. Sepasang bahunya tampak bergerak. Tubuhnya mencelat mundur sejauh tiga
langkah, laksana segumpal awan di angkasa yang bergerak cepat dan sulit ditangkap
penglihatan.
Biar baru bergebrak satu jurus saja, namun dalam hati masing-masing sudah
mempunyai penilaian sendiri terhadap ilmu kepandaian lawannya. Terdengar suara
bentakan nyaring dari mulut Kim Yu, disusul dengan jurus Naga Sakti Muncul dari Dalam
Air, tubuhnya langsung menerjang ke depan.
Telapak kaki Oey Ku Kiong meluncur sedikit ke depan kemudian menggeser ke samping.
Dengan gerakan indah dia menghindarkan diri lalu membalas serangan Kim Yu
dengan jurus Menunjuk Langit, Mengibas Bumi.
Tangan kiri Kim Yu pun mengganti gerakannya dengan jurus Menerobos Awan. Dengan
cara keras melawan keras dia menyambut serangan Oey Ku Kiong yang ganas.
Tampaknya dia ingin menyudahi pertarungan ini secepatnya. Wajahnya mendongak ke
langit dan mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang Tubuhnya mendesak ke depan
dan siap mengadu pukulan dengan Oey Ku Kiong. Tiba-tiba terdengar suara tawa panjang
yang memecahkan keheningan berkumandang dari kejauhan. Begitu menyusup ke dalam
gendang telinga, hati orang yang mendengarnya langsung tergetar.
Saat itu juga, keduanya terkejut bukan main. Dari suara tawanya yang panjang dan
melengking tinggi memecahkan keheningan serta menyusup dari kejauhan, mereka sudah
dapat menduga bahwa orang yang datang ini mempunyai ilmu silat serta tenaga dalam
yang mengejutkan. Tanpa bersepakat lagi, keduanya menarik kembali serangan masingmasing!
lalu mencelat ke samping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Keduanya tidak dapat mengira-ngira apakah orang yang datang ini kawan atau lawan.
Dengan gugup mereka menolehkan kepalanya. Tepat pada saat itu juga, mata keduanya
bagai berkunang-kunang. Dua sosok bayangan bagai kilat cepatnya melayang dari
angkasa. Gerakan mereka begitu cepat namun juga begitu ringan. Ketika melayang turun
di tanah tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Tan Ki langsung tercekat hatinya ketika memandang ke arah yang sama. Dalam waktu
yang singkat, wajahnya telah berubah beberapa kali. Kedua orang ini sama sekali tidak
asing baginya. Siapa lagi kalau bukan Pangcu dari Ti Ciang Pang, Lok Hong beserta
cucunya Lok Ing.
Seluruh ilmu silat Tan Ki, kecuali yang baru-baru ini berhasil diselami, yakni Tian Si
Sam-sut dan Te Sa Jit-sut, adalah hasil curian milik leluhur Ti Ciang Pang. Oleh karena itu,
begitu dia melihat kedua orang ini, perasaan hatinya jadi berubah-ubah. Bagai seorang
maling kecil yang takut perbuatannya diketahui oleh si pemilik barang. Hatinya menjadi
ciut. Bahkan sikapnya yang gagah serta angkuh sebelumnya langsung ikut lenyap entah ke
mana.
Tampak tubuh Lok Ing mencelat ke udara kemudian melayang turun dalam jarak
kurang lebih dua depa dari hadapan Tan Ki. Mulutnya merekah serta menyungging seulas
senyuman.
“Bukankah malam ini kau menjadi pengantin?”
“Kalau benar, memangnya kenapa?”
Lok Ing menarik nafas panjang-panjang. Dia seakan sedang menahan gejolak perasaan
dalam hatinya. Di wajahnya malah sering terlintas senyum yang belum pernah terlihat
sebelumnya, seperti secara tidak langsung menyiratkan perasaan hatinya kepada Tan Ki.
Tetapi senyuman ini hanya terlihat sekejap saja, tiba-tiba wajahnya menjadi cemberut
kembali. Dengan ketus dia bertanya, “Mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku
terlebih dahulu, tahu-tahu sudah mengambil seorang isteri?”
Terhadap pertanyaan yang lucu dan tidak memakai aturan mi, Tan Ki yang
mendengarnya sampai melongo. Dia merasa pertanyaan itu benar-benar di luar dugaan.
“Pernikahan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirimu, mengapa aku harus melapor
dulu kepadamu?”
Lok Ing langsung terpana. Diam-diam dia berpikir dalam hatinya: ‘Benar juga,
memangnya siapa aku ini, mengapa dia harus memberitahukannya lebih dahulu
kepadaku?”
Begitu pikirannya tergerak, otomatis matanya jadi membelalak dan mulutnya terbuka
lebar. Untuk sesaat dia sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. Tetapi pada dasarnya dia
memang seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati. Lagipula wataknya mau menang
sendiri dan tidak pernah memakai tata krama. Meskipun dia tahu dirinya sendiri yang
bersalah tetapi dia tetap merasa tidak puas. Setelah merenung sekian lama, otaknya tetap
saja tidak mau bekerja sama mencetuskan bahan debatan, dari malu akhirnya dia menjadi
marah. Setelah mendengus satu kali, sepasang tangannya langsung terjulur ke depan dan
secara berturut-turut menempeleng pipi Tan Ki sebanyak dua kali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam keadaan marah besar, turun tangannya juga sangat berat. Tubuh Tan Ki sampai
limbung serta berputaran satu kali baru akhirnya berdiri tegak kembali. Kedua belah
pipinya langsung menjadi merah dan membengkak.
Mata Tan Ki meliriknya dengan sorotan marah.
“Mengapa kau sembarang memukul orang?” bentaknya kesal.
“Memangnya kenapa kalau aku ingin memukulmu? Kalau kau masih merasa kurang,
aku bisa menambahnya beberapa kali lagi!”
Tan Ki merasa ada segulung hawa panas meluap ke atas kepala. Tiba-tiba kakinya
melangkah ke depan dan tahu-tahu dia sudah mencekal pergelangan tangan Lok Ing.
Jurus ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Te Sa Jit-sut yang paling mengejutkan.
Bukan saja gerakannya misterius, kecepatannya pun tidak terduga-duga. Hal ini membuat
orang tidak sempat mengadakan persiapan sama sekali. Lok Ing hanya merasa
pergelangan tangannya tiba-tiba seperti dijepit oleh capitan besi, tubuhnya terasa
kesemutan dan tenaganya pun lenyap.
BAGIAN XXXI
Serangan ini dilakukan dengan kecepatan kilat. Lok Hong terkejut setengah mati. Dia
membentak nyaring dan kakinya menerjang ke depan. Dengan jurus Rajawali Sakti
Mengepakkan Sayap dia langsung mengulurkan tangannya mencengkeram.
Ilmu silat orangtua ini sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Begitu tangannya
terulur untuk mencekal, meskipun dilancarkan dalam keadaan mendadak, namun
mengandung kekuatan yang dahsyat. Suara angin yang ditimbulkannya menderu-deru, di
angkasa. Serangannya belum sampai, terpaan anginnya sudah terasa.
Tan Ki menggeser kakinya dan tubuhnya memutar setengah lingkaran. Dia berhasil
menghindarkan diri dari serangan Lok Hong yang ganas. Namun lima jari tangan kirinya
tetap mencekal pergelangan tangan Lok Ing erat-erat.
Bagi Lok Ing yang pergelangan tangannya dicekal erat-erat, sebagian tubuhnya terasa
kesemutan. Dia tidak sanggup lagi mengerahkan tenaga untuk memberontak. Tanpa dapat
ditahan lagi, kakinya terseret, tubuhnya berputar lalu terjatuh ke dalam pelukan Tan Ki.
Ketika tubuhnya berputar untuk menghindari serangan Lok Hong, tangan kanan Tan Ki
sudah diangkat ke atas dan tenaga dalamnya sudah dihimpun. Baru saja dia bermaksud
menghantamkannya ke bawah, tiba-tiba dia melihat Lok Ing membuka matanya dan
menyorotkan sinar seakan menyesalkan. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang tipis.
“Apakah kau ingin membunuh aku?”
Tan Ki jadi tertegun. Dia merasa suara gadis itu bagai genta yang berdentang nyaring
dan menusuk gendang telinganya. Tanpa dapat ditahan lagi jantungnya langsung
berdebar-debar. Diam-diam dia berpikir: ‘Antara aku dan dia tidak ada kaitan dendam
apapun, mengapa aku harus membunuhnya?’
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang berotak cerdas. Begitu pikirannya
tergerak, dia merasa sikapnya sangat tidak pantas. Hawa pembunuhan yang tersirat di
wajahnya lenyap seketika. Perlahan-lahan dia menurunkan tangannya kembali dan membuyarkan
tenaga dalam yang telah dikerahkan sebelumnya.
Siapa kira watak Lok Ing justru angin-anginan. Dia memang senang mencela apapun
yang dilakukan oleh orang lain. Melihat kemarahan Tan Ki telah reda, bahkan menurunkan
kembali tangannya yang sudah diangkat ke atas, dia justru merasa tidak senang. Mulutnya
tertawa dingin dan hidungnya mendengus berat.
“Seorang laki-laki sejati berani berbuat berani bertanggung jawab. Kau menganggap
dirimu sendiri sebagai seorang laki-laki yang gagah, mengapa apa yang kau lakukan justru
ada awal tanpa akhirnya…? Kalau memang ingin membunuhku untuk melampiaskan
kebencianmu, seharusnya langsung memberikan sebuah kepuasan kepadaku. Dengan
demikian baru patut disebut sebagai seorang laki-laki yang gagah. Tidak seperti sikapmu
sekarang ini yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan…”
Tan Ki tertawa dingin. Dia langsung menukas perkataan Lok Ing, “Laki-laki sejati ti-dak
berdebat dengan kaum perempuan. Aku juga malas melayanimu lagi!” pergelangan tangannya
dihentakkan, pergelangan tangan Lok Ing pun terlepas dari cekalannya. Tanpa
memperdulikan gadis itu lagi, dia langsung membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
Lok Ing melihat tampangnya dingin dan angkuh. Bilang tidak ingin melayani dirinya, dia
benar-benar tidak memperdulikan sama sekali. Malah membalikkan tubuh dan pergi begitu
saja. Tiba-tiba dia merasa dadanya seperti ditinju oleh seseorang dengan keras. Tanpa
dapat ditahan lagi, kakinya menyurut mundur dua langkah. Seluruh tubuhnya bergetar
kemudian terkulai ke dalam pelukan Lok Hong.
“Ya… ya… bu… nuhlah dia…” katanya dengan suara lirih.
Suaranya juga gemetar, seakan beberapa patah kata itu diucapkan dengan seluruh kekuatan
yang terkandung dalam dirinya. Selesai bicara, orangnya pun jatuh tidak sadarkan
diri dalam pelukan Lok Hong.
Hati orangtua itu menjadi perih melihat keadaan cucu kesayangannya. Rambutnya yang
sudah memutih sampai berdiri semua. Dia membentak dengan suara keras.
“Berhenti!”
Pada saat itu, entah apa yang sedang dipikirkan oleh Tan Ki. Suara bentakan Lok Hong
yang menggelegar seakan tidak terdengar oleh telinganya. Dia tetap melangkahkan
kakinya ke depan dan tidak menoleh sekalipun.
Biar bagaimana, Lok Hong merupakan
Pangcu Ti Ciang Pang generasi sekarang. Kedudukannya sangat tinggi, namanya sudah
menggemparkan dunia persilatan. Biasanya dia disegani oleh setiap orang.
Kewibawaannya membuat orang merasa sungkan. Mana pernah dia menerima penghinaan
seperti ini. Melihat sikap Tan Ki yang meneruskan langkahnya dengan membisu serta tidak
memperdulikan sama sekali, wajahnya langsung berubah hebat. Hawa amarah dalam
dadanya seperti hendak meledak. Tetapi bagaimanapun perasaan sayangnya kepada cucu
melebihi segalanya. Dia menarik nafas panjang-panjang kemudian berusaha menekan
hawa amarah dalam hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Anak manis, bagaimana keadaanmu?” tangannya segera meraba kening Lok Ing, suaranya
sangat lembut dan wajahnya menampilkan perasaannya yang khawatir dan cemas.
Oey Ku Kiong mengeluarkan sebuah botol berwarna hijau dari dalam saku pakaiannya.
Dia menuangkan dua butir pil berwarna merah putih dan berjalan menghampiri Lok Hong.
Wajahnya serius sekali.
“Cucu Tuan mendapat pukulan bathin yang hebat, hawa murninya memenuhi hati.
Itulah sebabnya dia menjadi tidak sadarkan diri.
Obat Cayhe ini dapat menyegarkan pikiran dan membuyarkan hawa murni yang
mengendap. Setelah diminumkan kepadanya, pasti akan…”
Lok Hong mendengus dingin.
“Minggir! Siapa yang tahu apa yang terpendam dalam hatimu, entah obat asli atau obat
palsu yang kau berikan kepadaku, memangnya baru pingsan atau luka seringan ini saja,
aku tidak bisa mengobati sendiri?” bentaknya ketus.
Oey Ku Kiong kali ini benar-benar kena batunya. Wajahnya langsung berubah hebat.
Tetapi sesaat kemudian, tampangnya sudah normal kembali seperti biasa. Tetapi dia
justru memaki-maki dalam hati.
‘Kalau bukan karena Cen Kouwnio yang memesankan berulang kali agar aku melayani
kalian baik-baik, sehingga rencananya dapat berhasil, mana sudi aku menerima
penghinaan dan bentakan seperti sekarang ini. Setelah urusan ini selesai, aku pasti akan
mengunjungi Ti Ciang Pang kalian dan meminta pelajaran barang beberapa jurus ilmu
kalian yang hebat itu!’
Tetapi di luar bibirnya malah menyunggingkan senyuman dan menyurut mundur
kembali.
Setelah mengundurkan diri, Lok Hong langsung menghimpun hawa murninya dan
sebelah tangannya terjulur ke depan dan menempel di punggung Lok Ing. Dia mendorong
hawa murni dalam tubuhnya dan menyalurkannya ke jantung Lok Ing agar hawa panas
yang mengendap dapat buyar.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, baru terdengar Lok Ing menghembuskan nafas
panjang. Perlahan-lahan dia membuka matanya. Beberapa tetes air mata tiba-tiba
mengalir turun dari bulu matanya sebelah bawah. Pakaian Lok Hong di bagian dadanya
sampai basah oleh tetesan air mata tersebut.
Rambutnya indah beterbangan tertiup angin malam. Tampangnya sungguh menyayat
hati dan mengenaskan. Sepasang matanya mengerling, dia melihat bayangan punggung
Tan Ki yang kekar dan angkuh di kejauhan. Anak muda itu melangkah dengan cepat. Lok
Ing menudingkan jari tangannya, tetapi teng-gorokkannya bagai tercekat berbagai macam
benda sehingga sepatah katapun tidak terucap oleh bibirnya. Tampangnya bagai
memendam gejolak perasaan, mimik wajahnya seperti orang yang menderita sekali.
Lok Hong meletakkan cucu kesayangannya agar berdiri tegak. Dia berkata dengan
suara yang lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Berdirilah di sini diam-diam, Yaya akan membawanya kembali.”
Wajahnya mendongak lalu menarik nafas dalam-dalam. Dari dalam perutnya keluar
suara seperti suitan panjang, kumandangnya bagai menembus awan biru. Sepasang
tangannya merentang, bagai seekor rajawali sakti tubuhnya melesat ke udara. Ilmu
silatnya sudah mencapai tingkat kesempurnaan, hawa murninya tinggi sekali, dia dapat
menggerakkannya sesuai keinginan hati.
Begitu melonjak ke atas, kecepatannya tak perlu ditanyakan lagi. Dia mengerahkan
segenap kemampuannya, udara bagai tertembus. Pakaiannya sampai mengibar-ngibar
sehingga menimbulkan suara angin yang menderu-deru.
Ketika tubuhnya mencelat ke udara lalu melayang turun kembali. Dia mendarat tepat
menghadang di depan Tan Ki. Tangannya terulur dan mendorong ke depan.
“Kembali!” bentaknya lantang.
Serangkum tenaga yang dahsyat terpancar keluar dari dalam lengan bajunya. Kekuatan
itu meluncur ke arah dada Tan Ki yang sedang berlari dengan cepat.
Tan Ki merasa serangannya itu bagai gulungan ombak yang melanda ke arahnya. Tajamnya
bagai belahan kapak, kekuatannya dahsyat mengejutkan. Hatinya tercekat.
Dengan panik, dia mengempos hawa murni ke arah dada dan mendadak mencelat mundur
sejauh lima depa. Lok Hong mendengus dingin. “Gerakan yang bagus sekali!” kaki kirinya
terangkat ke atas lalu melakukan gerakan menyapu. Tubuh Tan Ki baru berhenti dengan
tegak. Melihat serangan itu, dia menarik tubuhnya ke belakang, namun tahu-tahu telapak
tangan Lok Hong sudah meluncur ke depan dan jaraknya hanya tinggal setengah depa
saja.
Gerakannya begitu cepat dan mendesak ke depan, hal ini membuat Tan Ki tidak
mempunyai pilihan lain, kalau tidak ingin dadanya terhantam telak. Dia terpaksa
melancarkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan cara keras
lawan keras. Oleh karena itu, dia segera memutuskan untuk melakukan hal yang terakhir.
Telapak tangannya memutar dan meluncur ke depan menyambut datangnya serangan Lok
Hong.
Dia merasa meskipun serangan itu sangat cepat tetapi tidak mengandung tenaga yang
kuat. Baru saja hatinya merasa heran, tiba-tiba dia merasa ada serangkum kekuatan yang
tidak berwujud tahu-tahu mendesak ke bagian perutnya!
Rupanya Lok Hong tidak mengerahkan tenaga dalamnya benar-benar ke arah telapak
tangan. Ketika kedua kekuatan beradu, barulah dia mengerahkan tenaga dalam
sepenuhnya dan melancarkannya secara diam-diam ke arah lawan. Lok Hong bermaksud
melukai anak muda itu dalam sekali gerak dan meringkusnya hidup-hidup ke hadapan
cucu kesayangannya untuk diberi hukuman yang pantas.
Termakan serangan yang dilancarkan secara diam-diam itu, tubuh Tan Ki langsung
tergetar. Tanpa dapat ditahan lagi kakinya menyurut mundur lima langkah. Tubuhnya
terhuyung-huyung dan kakinya tidak dapat berdiri dengan mantap.
Lok Hong tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sinar kunang-kunang saja berani menentang cahaya matahari, cepat menggelinding
kembali!” sepasang bahunya tampak bergerak, kakinya mendesak ke depan. Tangan
kanannya mengambil posisi menahan di depan dada lalu mendorong keluar.
Tan Ki merasa dirinya bagai dicelupkan ke dalam kolam es. Tubuhnya menggigil.
Hatinya tergetar. Melihat Lok Hong melancarkan sebuah serangan lagi, mulutnya langsung
mengeluarkan suara teriakan lantang, keberaniannya dibangkitkan. Kembali dia
mengulurkan telapak tangannya dan menyambut serangan Lok Hong dengan kekerasan.
Kali ini dia melakukan serangan balasan dengan mengerahkan sepuluh bagian tenaga
dalamnya. Tetapi kekuatan yang dahsyat itu tidak menimbulkan suara sedikitpun. Hal ini
merupakan serangan tingkat tinggi dari seorang yang sudah tergolong jago kelas satu.
Begitu kedua kekuatan beradu, persis seperti selembar daun yang jatuh ke atas tanah.
Tidak sedikitpun suara yang terdengar, namun Lok Hong mengeluarkan suara dengusan
yang berat. Tubuhnya langsung mencelat ke udara, sedangkan Tan Ki tergetar mundur
sampai lima enam langkah baru dapat berdiri kembali dengan tegak.
Tampak sepasang mata Tan Ki mendelik lebar-lebar. Cahaya yang terpancar sangat
dingin.
“Bagaimana kalau kau menyambut satu lagi serangan dari Lohu?” tanyanya dengan
nada membentak. Telapak tangan kanannya dengan tergesa-gesa melancarkan sebuah
pukul-an, dalam waktu yang bersamaan tubuhnya juga mendesak ke depan.
Serangannya ini tidak sama dengan dua gerakannya yang pertama, begitu telapak tangannya
terulur keluar, langsung terasa angin kencang yang menderu-deru bagai badai
dahsyat seketika melanda ke arah Tan Ki.
Mimik wajah Tan Ki berubah menjadi serius sekali. Dia berdiri tegak bagai sebuah
patung, tahu-tahu tangannya menjulur ke depan dan melancarkan sebuah pukulan.
Dari dua gebrakan pertama tadi, Tan Ki sudah tahu bahwa tenaga dalam Lok Hong
sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Tampaknya orangtua ini juga melatih sejenis
Lwekang yang mengandung daya Im sehingga tenaganya mengandung getaran yang
menggi-gilkan dan dapat menggetar putus urat nadi lawannya. Oleh karena itu,
pukulannya kali ini dilancarkan dengan hati-hati sekali.
Ketika kedua kekuatan kembali beradu, terjadilah angin topan yang kencang. Di dalamnya
juga terkandung hawa dingin dan menerobos ke arah pukulan Tan Ki yang
dilancar-kan untuk melindungi diri. Begitu serangan itu melanda datang, tubuhnya
langsung terasa disusupi hawa dingin sehingga pori-porinya jadi menyusut namun bulu
kuduknya merinding semua. Hatinya terkejut sekali. Cepat-cepat dia mencelat ke udara
setinggi kurang lebih lima depa.
Beberapa serangan Lok Hong yang gencar membuat Tan Ki terpaksa menggerakkan
tangan menyambut. Kakinya terdesak mundur dan mundur lagi. Tanpa terasa dia sudah
mun-dur kembali ke tempat semula, namun dia sendiri masih tidak menyadarinya.
Tiba-tiba Lok Hong memperdengarkan suara tawa yang keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hati-hatilah!” bentaknya keras. Tangannya terulur dan dengan perlahan-lahan kembali
dia melancarkan sebuah pukulan. Tangan kanan Tan Ki mengibas, sebuah serangan
dilancarkan dengan jurus Bintang-Bintang Berputaran di Langit, tubuhnya menggeser ke
samping sejauh lima depa. Dengan cara ini dia menghindarkan diri dari serangan Lok
Hong.
Dalam beberapa bulan terakhir ini, secara berturut turut dia sudah bergebrak dengan
berbagai tokoh tingkat tinggi dunia Bulim. Pengalamannya semakin bertambah. Hatinya
maklum, dengan mengandalkan nama besar yang telah dipupuk oleh Lok Hong, serangan
yang tampaknya biasa-biasa saja ini pasti mengandung kekuatan yang mengejutkan.
Bahkan mungkin merupakan suatu jurus yang mematikan. Kalau tujuannya bukan hendak
memancing lawan, pasti di baliknya terdapat keistimewaan yang tidak dapat dianggap
enteng. Oleh karena itu, dia segera menggeser kakinya menghindar dan berjaga-jaga
terhadap serangan yang tidak terduga-duga.
Dalam sekejap mata kedua telapak tangan segera beradu, ternyata di balik serangan
Lok Hong yang tampak sederhana itu mengandung segulungan tenaga yang tidak
berwujud dan membuat Tan Ki tidak dapat mendesak lebih maju. Dalam serangan itu juga
terkandung rangkuman kekuatan yang dapat mendorong tenaga Tan Ki sehingga
memantul kembali kepada dirinya sendiri.
Hatinya merasa panik, tiba-tiba terlihat kaki Lok Hong bergerak. Dengan kecepatan
seperti kilat tubuhnya mendesak ke depan, telapak tangannya mengambil posisi menahan
di depan dada kemudian didorongkan ke depan sekuat tenaga untuk menghantam tubuh
Tan Ki.
Kejadian itu berlangsung dalam waktu sekedipan mata saja. Terdengar suara yang
menggelegar. Serangkum kekuatan yang dahsyat sekali sudah menghantam telak dada
anak muda tersebut.
Tenaga yang terkandung dalam serangannya ini hebat bukan main. Terdengar mulut
Tan Ki mengeluarkan suara keluhan lalu membuka dan memuntahkan segumpal darah
segar. Tubuhnya sempoyongan seperti orang mabuk dan dengan terhuyung-huyung
menyurut mundur ke belakang.
Sepasang bahunya tampak bergerak-gerak. Hatinya bermaksud memantapkan langkah
kakinya dan tidak ingin tubuhnya terjatuh ke atas tanah. Setiap kali melangkah mundur,
dia menjejakkan kakinya kuat-kuat di atas tanah, sampai menimbulkan suara debuman.
Tetapi akhirnya keinginan hati itu tidak terlaksana juga. Setelah menyurut mundur dengan
limbung sejauh tujuh delapan langkah, tubuhnya terkulai juga di atas tanah.
Apabila dua orang ahli silat bergebrak, kejadiannya hanya berlangsung dalam waktu
yang singkat. Jumlah jurus yang dilancarkan kedua orang itu keseluruhannya hanya empat
serangan saja. Dari awal hingga akhir hanya memakan waktu kurang lebih sepenanakan
nasi. Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikannya sampai ikut terkesiap. Mereka
merasa bahwa setiap serangan maupun tangkisan yang dilancarkan kedua orang itu
mengandung keanehan yang jarang terlihat. Meskipun akhirnya Tan Ki terluka di tangan
Lok Hong, namun mereka merasa kekalahannya itu didapatkan dengan gemilang.
Lok Hong tertawa terbahak-bahak. Dia melangkah ke depan dengan cepat. Tampak dia
membungkukkan tubuhnya dan mengangkat Tan Ki yang sedang terluka parah. GerakanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
nya sangat cepat dan luwes sekali. Sekejap mata saja dia sudah kembali lagi ke samping
Lok Ing. Mulutnya merekahkan tertawa yang lebar.
“Orang ini aku serahkan kepadamu. Apapun yang ingin kau lakukan, jangan ragu-ragu
sedikitpun. Mati hidup tergantung dirimu sendiri. Segala akibatnya Yaya akan bertanggung
jawab. Kau tidak perlu khawatirkan hal ini!”
Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi hatinya khawatir Tan Ki pura-pura terduka
parah dan tiba-tiba melancarkan sebuah serangan kepada cucunya. Secara diamdiam
dia mengulurkan jari tangannya untuk menekan sebuah urat darah di bagian
pinggang anak muda itu.
Sepasang mata Kim Yu mengerling ke sana ke mari. Diam-diam dia mempertimbangkan
keadaan di sekitarnya. Hatinya berpikir bahwa perdebatan di antara kedua pihak lawan
masih belum berakhir, tentu mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengurus hal
lainnya. Kalau pertikaian itu memakan sedikit waktu lagi, maka berarti dia mempunyai
kesempatan beberapa menit untuk melarikan diri dari tempat itu. Tetapi dia melihat sudut
bibir Oey Ku Kiong terus menerus mengulumkan seulas senyum yang membuat hatinya
menjadi sebal. Matanya yang menyorotkan sinar dingin tidak henti-hentinya melirik ke
arah dirinya. Lagaknya seperti sengaja juga tidak, seakan secara diam-diam mengawasi
dirinya serta gerak- geriknya, sehingga untuk memberi isyarat kepada rekannya yang lain
saja tidak ada peluang sama sekali. Tanpa dapat ditahan lagi, dia mendengus satu kali
dengan penuh kebencian. Hatinya semakin kesal juga panik memikirkan keadaannya
sendiri.
Pikirannya terus melayang-layang memikirkan cara menyelamatkan diri, tiba-tiba telinganya
menangkap raungan kemarahan. Cepat-cepat dia mendongakkan wajahnya untuk
melihat. Tampak lengan kanan Lok Hong dikibaskan. Orangtua itu berteriak dengan suara
keras.
“Minggir!”
Mata dan telinga Lok Hong peka bukan kepalang, baru saja teriakan itu terucapkan,
indera pendengarannya telah menangkap suara desiran senjata yang menerobos diantara
angin yang bertiup. Sepasang bahunya tampak bergerak dan tubuhnya langsung bergeser
sejauh tiga langkah.
Meskipun saat itu dia sedang membopong Tan Ki, sehingga menambah beban dirinya,
tetapi kelebatan tubuhnya tetap begitu cepat sampai sulit diikuti pandangan mata.
Segurat sinar berwarna putih melesat lewat cahaya rembulan yang suram bagai
luncuran anak panah melayang datang. Lok Hong memiringkan tubuhnya. Senjata rahasia
itu lewat di samping telinganya dan mengeluarkan suara dentangan seakan menghantam
ke tem-bok pekarangan. Terdengar gema suaranya yang lirih kemudian menyatu dengan
keheningan suasana.
Lok Hong masih belum mendongakkan kepalanya, namun mulutnya sudah mengeluarkan
suara bentakan.
“Siapa? Berani-beranian membokong Ld-hu!”
Terdengar suara sahutan berupa tawa dingin yang lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Coba lagi gerakan Man Tian Hua-ho alias Hujan Bunga di seluruh penjuru bumi ini!”
Baru saja ucapannya selesai, sekumpulan sinar berwarna keperakan meluncur datang
dengan berpencaran. Serangan orang itu kali ini aneh sekali. Sasarannya tidak langsung ke
bagian tubuh Lok Hong, tetapi berputaran dan memercik ke mana-mana. Begitu sampai ke
tempat Lok Hong berdiri, sinar itu baru berkumpul menjadi satu lalu meletus bagai bunga
api. Segulungan demi segulung garis putih bagai mempunyai sukma masing-masing
meluncur pesat bagai kilat. Cahayanya memijar bahkan memencar sampai jarak lima depa.
Bahu Lok Hong agak dimiringkan, tubuhnya mendadak melesat ke atas. Tampak
jubahnya yang panjang dan longgar berkibar-kibar bagai sedang menari-nari. Gerakannya
lak-sana segumpal awan yang perlahan-lahan berarak ke atas. Dan meskipun gerakannya
itu lambat, tetapi sinar putih yang meluncur pesat itu tidak dapat mendekatinya lebih jauh
dan satu depa.
Rembulan hampir menyembunyikan seluruh dirinya di balik awan. Suasana gelap sekali,
tetapi sinar putih keperakan itu berkilauan, juga menimbulkan suara angin yang berdesir
lalu melesat lewat di bawah kaki Lok Hong.
Ketika tubuhnya mendarat turun ke atas tanah, tiba-tiba dari balik kegelapan kembali
terdengar suara tawa yang dingin tadi. Sepasang alis Lok Hong terjungkit ke atas,
perasaan tidak senang langsung tercetus keluar.
“Memangnya apa kehebatan Man Tian Hua-ho milikmu itu?” bentaknya marah.
Suara yang lembut namun ketus itu kembali berkumandang sepatah demi sepatah,
“Masih ada lagi Bintang Jatuh Sebesar Jempol Jari!”
Begitu ucapannya selesai, tidak terdengar sedikitpun desiran senjata rahasia. Meskipun
Lok Hong menjaga martabat dirinya dan sampai sekarang belum melakukan serangan
balasan, tetapi cara turun tangan yang lain dari biasanya serta tenang mencekam ini
justru membuat hatinya bergetar. Tanpa dapat menahan rasa penasaran di hatinya, dia
segera mendongakkan kepalanya dan mempertajam indera penglihatannya. Tampak
serenceng sinar berwarna keperakan membawa cahaya yang panjangnya kurang lebih
sedepa sedang meluncur ke arahnya.
Rencengan sinar ini menyatu dan tidak memencar seperti yang sebelumnya.
Gerakannya lamban tidak tergesa-gesa. Jauh berbeda dengan rangkaian titik-titik seperti
hujan yang terlihat sebelumnya. Namun di balik cahaya yang bergerak lurus itu terselip
ketegangan yang tidak terkatakan. Lagipula rencengan senjata rahasia ini bergerak lurus
dan meskipun Kampaknya lamban namun sebetulnya meluncur dengan pesat. Semuanya
berkumpul menjadi sebuah titik garis yang panjang. Meskipun Lok Hong sudah
mempertajam indera penden-garannya, tetap dia tidak dapat menafsir berapa jumlah
senjata rahasia itu sebenarnya. Hatinya terasa terperanjat, tidak menunggu sampai
luncuran senjata rahasia itu mendekat ke arahnya, tubuhnya langsung bergerak dan
melesat ke samping kira-kira lima depaan.
Baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba terdengar suara Ting! Tang! Bintang berwarna
perak yang meluncur pertama-tama mendadak melesat cepat bagai seekor kuda liar yang
terlepas dari tali kendalinya. Gerakannya semakin cepat, luncurannya seperti roh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gentayangan yang terus mengikuti dari belakang. Cara mencapai sasarannya yang aneh
itu sampai sulit diuraikan dengan kata-kata.
Kemudian disusul lagi dengan dua kali suara desiran yang lirih. Tiga titik bintang perak
yang dari lurus luncurannya berubah menjadi beterbangan ke mana-mana. Kemudian
terdengar lagi serentetan: Tang! Ting! Tang! Yang berbunyi terus-terusan. Serenceng
cahaya perak kembali memijarkan cahaya ke sekitar tempat itu. Bagai curahan hujan yang
deras dan semuanya menjadi satu menuju ke tubuh Pangcu dari Ti Ciang Pang tersebut.
Malam yang dingin sebentar lagi akan berlalu. Kumpulan bintang mulai memudar,
waktu ini merupakan detik-detik paling sunyi menjelang fajar. Namun suara dentangan itu
terus saling susul menyusul menimbulkan ke-bisingan. Suara yang menggetarkan itu bagai
lonceng kematian yang menandakan ajal telah tiba. Belum lagi senjata rahasianya sampai,
suaranya sudah menimbulkan kejutan yang mengerikan. Orang yang berdiri menyaksikan
hal tersebut hanya merasa matanya berkunang-kunang.
Sepasang mata Lok Hong membuka lebar-lebar. Sinarnya menusuk bagai sebatang
anak panah yang tajam. Dia memperhatikan titik bintang berwarna perak itu lekat-lekat
juga hujan perak yang memencar di sekitarnya. Tampangnya demikian tenang seakan
tidak ambil perduli sama sekali.
Tubuh Lok Hong mencelat ke udara, sebentar saja dia sudah keluar dari kurungan
hujan senjata rahasia tersebut. Ketika dia menolehkan kepalanya, dia melihat setitik sinar
perak yang mula-mula meluncur tadi sudah mengancam bagian punggungnya dalam
waktu yang singkat.
Tanpa dapat ditahan lagi hatinya terkesiap setengah mati. Justru di saat yang paling
menentukan mati hidupnya ini, tiba-tiba Lok Hong mengulurkan tangannya. Dengan kecepatan
yang tak terkirakan dia menyentil. Terdengar suara dentingan yang lirih, cahaya
perak yang sedang meluncur itu dengan telak kena disentilnya sehingga buyar seketika
dan memercik ke mana-mana.
Setelah mengulurkan jari tangannya menyentil, dengan posisi tidak berubah tubuh Lok
Hong mencelat ke udara. Bagai telah diatur olehnya, percikan cahaya perak tadi terbagi
dua kelompok berderai jatuh di kiri kanan tubuhnya.
Oey Ku Kiong dan Kim Yu yang menyaksikan hal itu tanpa sadar meneriakkan suara
pujian.
“Sentilan yang hebat… gerakan tubuh yang bagus!”
Sinar mata Lok Hong mengerling sejenak, lalu berhenti pada gerombolan semak yang
jaraknya kurang dua depaan. Dia berkata dengan suara lantang.
“Lohu sudah menyambut dua serangan senjata rahasia anda secara berturut-turut,
entah ada ilmu apa lagi yang mengejutkan?”
Dari balik gerombolan semak itu terdengar suara seorang wanita yang lebih mirip ratapan,
“Kau majulah ke depan lima langkah, coba sambut lagi ilmu Tiga Kakak Beradik
Bergandengan Tangan serta Pelangi Membias Sehari Penuh!”
Lok Hong merenung sejenak.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau ingin Lohu menjajal dua macam ilmu itu boleh saja, tetapi kau harus berdiri di
depan agar Lohu dapat melihat siapa adanya anda ini?”
Dari balik kegelapan berjalan keluar seorang wanita setengah-baya dengan dandanan
dan pakaian sederhana. Di bagian punggungnya menggembol sepasang golok bulan sabit.
Dia melangkah dengan perlahan-lahan.
Bagi orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, wanita setengah baya ini tampak
asing sekali. Tanpa terasa Lok Hong jadi termangu-mangu sesaat. Sepasang matanya
dirapatkan perlahan-lahan, dia sedang memeras otaknya. Tetapi biar bagaimanapun dia
tidak mengingat kalau di dunia Bulim ada seorang tokoh wanita seperti nyonya di
hadapannya ini. Dalam pikirannya, dia masih mengira kalau cucu kesayangannya yang
sehari-harinya sangat ugal-ugalan dan tidak memakai peraturan telah berbuat kesalahan
kepada nyonya ini. Oleh karena itu sepasang alisnya langsung mengerut dan tanpa dapat
ditahan lagi dia melirik sekilas kepada Lok Ing. Tetapi mimik wajah gadis itu juga seperti
orang yang kebingungan, tampaknya gadis itu sendiri tidak pernah mengenal wanita
setengah baya ini. Hatinya benar-benar merasa penasaran, perasaannya menjadi bimbang
tidak menentu.
Tiba-tiba dia melihat Tan Ki yang lemas dan terkulai dalam pelukan Lok Ing berubah
hebat wajahnya sejak kemunculan wanita setengah baya ini. Matanya membelalak lebarlebar.
Mukanya mengerut-ngerut seakan menahan perasaan hatinya yang bergejolak,
namun diantaranya juga tersirat perasaan marah. Dua macam perasaan yang berbeda,
yakni marah dan terharu berkecamuk dalam hati anak muda itu. Hal ini membuat mimik
wajahnya menjadi aneh, sehingga menimbulkan kesan seperti orang yang gembira
sekaligus marah. Tampangnya luar biasa aneh dan tidak sedap dipandang.
Wanita setengah baya yang berpakaian sederhana itu menatap sekilas ke arah lengan
pakaian Lok Hong. Dia berkata dengan suara lirih.
“Kalau dilihat dari sulaman telapak berwarna emas yang ada di ujung lengan bajumu,
tampaknya kau ini orang dari Ti Ciang Pang?”
Lok Hong mendengus satu kali.
“Pandangan Nyonya hebat sekali. Lohu memang kepala dari perkumpulan Ti Ciang
Pang tersebut.”
“Tokoh kelas tinggi di kolong langit ini banyaknya seperti awan di langit, tetapi orang
yang dapat menghindar dari serangan Man
Tian Hua-ho dan Ci Bu Liu-sing milikku, mungkin hanya ada beberapa orang saja. Hal
ini membuktikan bahwa ilmu silatmu pasti cukup tinggi, apalagi di ujung lengan bajumu
terdapat sulaman telapak emas. Dengan demikian aku jadi teringat bahwa kau tentunya
berasal dari Ti Ciang Pang di wilayah Sai Pak.”
Lok Hong melihat wanita setengah baya ini berwajah cantik. Pakaiannya sederhana,
penampilannya keibuan dan lemah lembut, namun ilmu senjata rahasianya sangat mengejutkan.
Dapat dipastikan kalau wanita ini bukan tokoh sembarangan. Oleh karena itu dia
memasang wajah serius sambil bertanya, “En-tah siapa nama Saudari yang mulia?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku bernama Ceng Lam Hong…”
Wanita setengah baya itu sambil mengembangkan senyuman yang datar. Hati Lok
Hong jadi tertegun.
“Ternyata memang wanita yang namanya tidak pernah terdengar di dunia Bulim, tidak
heran kalau Lohu tidak mengenalnya.”
Kemudian tampak orangtua itu menarik nafas pancang dan diam-diam mengerahkan
hawa murni dalam tubuhnya.
“Sekarang juga Lohu akan menyambut dua macam ilmu yang anda sebutkan tadi!”
Perasaan hati Tan Ki saat ini bagai aliran sungai yang deras, beribu-ribu kenangan
melintas di kalbunya. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya, maksudnya ingin
mengatur pernafasan dengan ilmu yang baru dikuasainya. Dengan demikian mungkin
gejolak perasaan di dalam hatinya dapat tenang kembali. Tetapi malah kegagalan yang
didapatkan. Dalam keadaan seperti itu, konsentrasinya tidak dapat dipusatkan. Berbagai
bayangan melintas di depan pelupuk matanya, berbagai ingatan juga tidak mau
ketinggalan ikut bersatu dalam benaknya. Dia teringat akan dendamnya yang belum
terbalaskan, persahabatan yang belum tuntas, juga berbagai kegembiraan, kesedihan,
kegetiran yang telah dialaminya sejak menerjunkan diri di dalam dunia Kangouw.
Matanya terpejam rapat-rapat. Rasanya ingin membandingkan suara ibunya sekarang
dengan masa kecil ketika dia ditinggalkan. Dia berharap dari suara yang lebih mirip
ratapan tadi, ingatannya dapat kembali ke masa kecil yang bahagia. Tetapi setelah
memikirkan sejenak, diam-diam dia menertawakan dirinya sendiri. Mengapa perasaan ini
selalu demikian melankolis? Kalau kenyataannya wanita ini sudah mengkhianati ayahnya
dan kabur bersama laki-laki lain, mengapa dia harus mengingat kembali masa lalunya?
Bukankah hal ini cuma menambah penderitaan dan penyesalan dalam hatinya?
Tetapi pandangan yang picik dan sudah berakar dalam sanubarinya malah
bertentangan dengan semacam kerinduan yang tidak dapat dihilangkan secara
keseluruhan di dalam hatinya. Dia merasa tindakan ibunya yang meninggalkan dirinya
tanpa pesan apa-apa dan kabur dengan seorang laki-laki serta berbuat kesalahan besar
sebagai seorang isteri, mem-buat perasaannya yang memang sudah hampa dan menderita
melahirkan lagi segulungan ke-bencian yang tidak terkirakan. Namun begitu bertemu
dengan ibunya, di balik kebencian yang sudah berakar, juga menyelinap perasaan kasih.
Biar bagaimana Ceng Lam Hong adalah ibu kandung yang melahirkannya.
Perasaan hatinya bagai kitiran angin yang dalam waktu singkat telah memutarkan berbagai
bayangan. Dia melihat tampang Lok Hong maupun ibunya demikian kelam. Seakan
sejenak lagi akan terjadi pertarungan yang dapat menentukan mati hidup mereka. Tanpa
dapat ditahan lagi dia berteriak sekeras-kerasnya.
“Kalian jangan berkelahi lagi!”
Geng Lam Hong tersenyum lembut. Pundaknya bergetar, sambil menghambur datang
dia berseru, “Anakku,..!”
Dalam hatinya seakan terdapat ribuan kata-kata yang ingin diutarakan. Tetapi setelah
memanggil satu kali, dalam tenggorokannya seakan tercekat sesuatu benda. Bibirnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gemetar, tetapi tidak ada sepatah katapun yang terucapkan. Seakan sepatah panggilan
tadi tercetus keluar setelah dia mengerahkan segenap kekuatannya. Suaranya bagai
ratapan, nyaring serta melengking tinggi. Dalam suasana menjelang fajar seperti ini
semakin lantang dan gemanya memantul sampai ke seluruh taman bunga itu.
Tiba-tiba dia menarik nafas panjang-panjang. Wajahnya menjadi serius lalu berkata
kepada Lok Ing.
“Turunkan anakku!”
Lok Ing tertawa dingin
“Mengapa aku harus mendengarkan kata-katamu?”
Ceng Lam Hong mendengus satu kali. Dia berjalan menghampiri Lok Ing. Tiba-tiba
terasa kibaran angin melintas di samping. Tubuh Lok Hong bergerak bagai seekor burung
besar berwarna hijau melayang turun di samping cucu kesayangannya, sinar matanya
tajam menusuk. Dia menatap Ceng Lam Hong lekat-lekat, seakan tahu wanita setengah
baya ini mengandung niat yang kurang baik pada cucunya. Dengan kecepatan bagai kilat,
dia melancarkan sebuah pukulan.
Saat itu suasana semakin menegangkan. Tan Ki memperhatikan ibunya sekejap kemudian
menolehkan wajahnya melirik Lok Hong sekilas. Dia melihat hawa pembunuhan telah
tersirat di alis kedua orang itu. Diam-diam hatinya menjadi tercekat.
Tetapi ketika dia mengerling matanya kembali, tiba-tiba dia melihat di atas tembok
pekarangan, entah sejak kapan telah berdiri seseorang yang mengenakan pakaian putih.
Dengan mengandalkan indera penglihatannya yang tajam, setelah memperhatikan
sejenak, dia juga belum dapat melihat orang itu dengan jelas. Kecuali tubuhnya dibalut
pakaian putih, dalam ingatannya tidak tertanam sedikitpun kesan yang lain.
Jantungnya berdebar-debar. Tanpa dapat menahan rasa penasaran dalam hatinya, dia
menatap orang itu sekali lagi. Setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba hatinya bagai
diselimuti perasaan yang menggidikkan.
Tampang orang itu sebetulnya tidak terlalu jelek, tetapi dari keseluruhan dirinya tidak
terdapat setitik pun hawa manusia hidup. Tampak wajahnya bagai diselimuti selaput
berwarna kehijauan sehingga perasaan hatinya tidak dapat diterka. Persis seperti sesosok
mayat di dalam peti mati, mukanya kaku, sehingga melihatnya sekilas saja orang merasa
hatinya tergetar dan merasa seram.
Tan Ki menarik nafas panjang-panjang. Matanya dibelalakkan lebar- lebar. Diam-diam
dia berpikir di dalam hati: ‘Kok di dunia ini ada manusia yang tampangnya begini?’
Ketika pikirannya masih bergerak, tiba-tiba dia melihat tangan kanan orang berpakaian
itu menyusup ke dalam saku pakaian dan mengeluarkan sesuatu. Matanya mengerling ke
sana ke mari, seakan sedang memperhitungkan jarak antara Ceng Lam Hong dan Lok
Hong.
Semakin diperhatikan, hati Tan Ki semakin merasa ada sesuatu yang tidak beres. Tanpa
terasa dia berkata dengan suara lirih, “Lok Kouwnio, cepat suruh kakekmu dan ibuku
menghentikan pertikaian!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lok Ing tertawa lebar. “Kenapa? Apakah kau khawatir kakekku tidak dapat
mengalahkannya?”
Tan Ki segera menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
Mata Lok Ing melirik sekilas. “Kalau begitu kau takut kakekku akan melukainya?”
Kembali Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Kalau mereka sampai bergebrak, kalah dan menang adalah sesuatu yang wajar. Tetapi
aku sama sekali tidak ambil pusing masalah ini…”
Lok Ing menjadi bingung mendengar ucapannya.
“Ini bukan, itu juga bukan. Apa kau kehabisan bahan pembicaraan sehingga mengoceh
sembarangan saja?”
Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas. Dia mendengus satu kali. “Coba kau
palingkan kepalamu dan lihat di atas tembok pekarangan. Setelah itu kau baru mencaci
maki juga masih belum terlambat!” gerutunya kesal.
Lok Ing menuruti perkataannya dan menoleh ke belakang. Saat itu juga dia langsung
tertegun.
“Orang-orang ini manusia atau setan?”
Melihat tampang orang itu, mulutnya tanpa dapat ditahan lagi kelepasan bicara. Tetapi
setelah mempertimbangkan sejenak, dia mengingat dirinya juga mempunyai kedudukan
yang cukup tinggi di dunia Kangouw. Seandainya benar-benar setan, juga tidak perlu
ketakutan seperti itu, oleh karena itu cepat-cepat dia menghentikan kata-katanya.
Mata Tan Ki ikut melirik sekilas. Tanpa dapat ditahan lagi dia juga ikut terpana.
“Aneh sekali! Mengapa dalam sekejap mata saja jumlah mereka bisa bertambah?”
Rupanya di atas tembok pekarangan itu, saat ini sudah berdiri berjajar dua orang
manusia yang bentuk tubuhnya hampir sama dan sama-sama berpakaian putih. Bahan
pakaian mereka terbuat dari bahan belacu yang kasar. Wajah mereka sama-sama dilapisi
selaput berwarna hijau. Biar bagaimana pun tajamnya indera penglihatan seseorang,
dalam waktu yang singkat juga tidak dapat membedakan keduanya.
Tampaknya kehadiran kedua manusia berpakaian putih itu juga mengejutkan Lok Hong.
Tapi bagaimanapun usianya lebih tua dari yang lainnya. Pikirannya juga lebih dalam.
Meskipun dalam hatinya merasa terperanjat, tetapi dari luar dia tetap mempertahankan
ketenangannya. Dia berdiri dengan mulut membungkam. Namun pikirannya terus bekerja,
dia berusaha mengingat-ingat siapa tokoh di dalam dunia Kangouw yang tampangnya
seperti kedua orang ini.
Tetapi setelah berpikir bolak-balik, dia tetap tidak dapat mengingat kalau di dunia
Kangouw ini ada tokoh yang tampangnya seperti mayat hidup ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terdengar Ceng Lam Hong berkata dengan suara rendah, “Aku sudah
mengatakan bahwa kau harus meletakkan anakku, apakah kamu masih tidak
mendengarnya?”
Lok Hong tertawa dingin. Sebelah tangannya mengelus-elus jenggotnya yang panjang.
“Lepaskan bocah itu sih mudah saja, asal kau menangkan dulu sepasang telapak tanganku
ini.”
Sepasang alis Ceng Lam Hong perlahan-lahan terjungkit ke atas.
“Kalau begitu maafkan kalau aku bertindak kasar.”
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba dia menyurutkan langkahnya mundur ke
belakang dua tindak. Telapak tangan kanannya terulur ke depan dan digerak-gerakkan
sedikit, seakan sedang mengukur jarak antara dirinya dengan Lok Hong.
Lok Hong melihat telapak tangan wanita itu perlahan-lahan mengepal. Dia seakan
menggenggam sekumpulan senjata rahasia. Hatinya sadar, kalau sampai disambitkan ke
depan, kecepatannya tentu bagai sambaran kilat, serta menggetarkan hati. Dengan
demikian, dia segera menarik nafas panjang-panjang dan mengerahkan tenaga dalamnya
secara diam-diam. Otomatis dia tidak berani menganggap ringan musuhnya.
Melihat keadaan itu, Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan. Dia berkata dengan suara
lirih.
“Lok Kouwnio, maukah kau membawa aku meninggalkan tempat ini?”
“Apakah kau tidak memperdulikan ibumu lagi?”
“Aku merasa benci kepadanya. Lagipula urat darahku dalam keadaan tertotok. Bergerak
saja tidak bisa. Meskipun ada niat untuk menghentikan pertikaian ini, namun aku
tidak mempunyai kemampuan untuk turut campur.”
Lok Ing memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Aku justru mempunyai akal agar ibumu tidak jadi berkelahi.”
Tan Ki jadi tertegun mendengar ucapannya.
“Bagaimana?”
Lok Ing tidak menjawab pertanyaannya atau memperdulikannya. Tiba- tiba dia ber-kata
dengan suara lantang.
“Kalian jangan berkelahi lagi. Siapa yang menginginkan keselamatan Tan Ki, dengarlah
perkataanku!”
Mendengar ucapannya, wajah Ceng Lam Hong yang cantik segera berubah hebat. Ternyata
seperti apa yang diduga Lok Ing, dia segera membuyarkan tenaga dalam yang telah
dikerahkannya secara diam-diam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Permainan apa yang kau rencanakan?” tanyanya ketus.
Perlahan-lahan Lok Ing meletakkan Tan Ki di atas tanah. Dia merentangkan telapak
tangannya. Di bawah cahaya rembulan yang semakin suram, tampak di atas telapak
tangannya terdapat dua butir pil berwarna merah. Dia memperdengarkan suara tawa yang
dingin.
“Yang kugenggam ini adalah racun. Setelah menelan obat ini, kurang lebih satu
kentungan kemudian, pasti akan…”
Ceng Lam Hong merasa dadanya seakan tiba-tiba ditinju dengan keras oleh seseorang.
Tubuhnya terhuyung-huyung, mendadak dia menyurut mundur setengah langkah.
Tampaknya seperti tidak kuat berdiri tegak. Namun dia mempertahankan diri sebisanya,
tetapi mungkin setiap saat ada kemungkinan terkulai jatuh.
Lok Ing meneruskan ucapannya sepatah demi sepatah.
“Benda ini merupakan racun yang biasa digunakan dalam Ti Ciang Pang kami untuk
menghukum murid yang berkhianat. Kalau kau merasa tidak percaya, boleh coba sendiri!”
“Ternyata… hati… mu be… gitu… ke… ji!” sahut Ceng Lam Hong dengan suara
terputus-putus. Tampaknya saat itu hati wanita setengah baya ini tengah bergolak dengan
hebat. Penderitaan yang dirasakannya sangat luar biasa. Setiap patah kata yang
diucapkannya terdengar bergetar dan tidak sanggup diselesaikan.
Melihat tampangnya yang sangat menderita dan demikian mengenaskan, Lok Ing justru
merasa gembira sekali. Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terkekeh-kekeh.
“Bagaimana? Apakah kau bersedia mencoba kemanjuran racunku ini?”
Kembali tubuh Ceng Lam Hong menggigil seperti orang yang kedinginan.
“Nona, apapun yang kau inginkan agar aku melakukannya, boleh saja. Tetapi jangan
menyiksa anakku di hadapanku. Perbuatan…mu terlalu sadis…” katanya lebih mirip orang
yang sedang meratap.
“Aku tidak ingin kau melakukan apa-apa. Asal kau segera tinggalkan tepat ini dan jangan
mencampuri urusan ini lagi. Kalau bisa pergi sejauh-jauhnya.” kata Lok Ing sambil
menggelengkan kepalanya.
Ceng Lam Hong merenung sejenak. Kemudian tampak dia menghentakkan kakinya ke
atas tanah keras-keras.
“Baik, aku menyetujui permintaanmu. Tetapi kalau ada seujung kuku saja dari tubuh
anakku yang terluka, maka aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan!”
Sinar matanya yang lembut dan penuh kasih melirik Tan Ki sekilas. Tiba-tiba dia
mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara suitan yang pilu. Tubuhnya bergerak
lalu melesat cepat ke arah ruangan depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam waktu yang singkat, bayangannya sudah tidak kelihatan lagi. Yang tertinggal
hanya gema suitannya yang panjang dan memecahkan keheningan. Orang yang
mendengarnya langsung merasa hatinya tergetar dan mengenaskan.
Sepasang alis Lok Hong mengerut-ngerut.
“Ing ji, tidak seharusnya kau mempermainkan orang lain seperti itu, kalau sampai terjadi…”
katanya dengan suara lirih.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang panjang seperti ratapan burung hantu.
Cepat-cepat dia membungkam mulutnya dan kepalanya pun menoleh. Dari balik
gunung-gunungan meloncat keluar dua orang yang mengenakan pakaian hitam dan
bertopi putih. Di bagian pinggangnya terikat seutas tali yang ketat.
Kedua orang itu persis mayat hidup. Ketika bergerak, kedua pahanya tegak lurus dan
hanya meloncat-loncat seperti per yang turun naik. Sepasang lengannya lurus ke depan,
ma-tanya membelalak marah. Dilihat dari sudut manapun tidak ada menampilkan
sedikitpun kesan seperti manusia hidup umumnya.
Lok Ing yang melihatnya sampai merasa menggidik. Dia menghembuskan nafas dingin.
Tetapi biar bagaimanapun dia merupakan seorang gadis yang berhati keras dan selalu
ingin menang sendiri. Setelah menggigil sejenak, dia mendengus satu kali dan menekan
pera-saan takut dalam hatinya. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
“Mengapa orang yang ditemui hari ini, semuanya tidak seperti manusia…? Benar-benar
menyebalkan!”
Ketika gadis itu masih berbicara, dia melihat kedua orang yang meloncat-loncat itu
sudah berhenti dan suara tawa yang menyeramkan itu juga sirap seketika.
Dari balik gunung-gunungan yang tinggi tiba-tiba berjalan keluar lagi seorang manusia
berkepala besar, bermata sipit dan mulutnya monyong ke depan. Dia mengenakan jubah
panjang berwarna hitam. Tingginya kurang dari semeteran lebih.
Biar bagaimana Lok Hong merupakan seorang tokoh aneh di dunia Bulim saat ini,
pengalamannya banyak sekali. Dia merasa bahwa orang yang baru muncul ini memang
tidak enak dipandang, tetapi langkah kakinya yang perlahan menimbulkan kesan
keangkuhan dan tinggi hati. Tampaknya dia merupakan pimpinan dari rombongan
manusia yang tampangnya seperti mayat dan terdiri dari dua kelompok yang masingmasing
dua yang mengenakan pakaian hitam dan dua lagi mengenakan pakaian putih.
Ketika pikirannya masih tergerak, dia melihat orang berkepala besar itu diiringi oleh dua
kelompok manusia berpakaian hitam dan putih menghampiri ke arahnya dengan perlahanlahan.
Ketika Kim Yu melihat kehadiran orang-orang ini, dia bagai menemukan dewa penolong.
Mimik wajahnya yang semula tampak khawatir dan cemas lenyap seketika. Cepatcepat
dia menyambut mereka dan membisikkan beberapa patah kata di samping telinga
manusia berjubah hitam itu. Sikapnya penuh hormat dan sungkan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Manusia berjubah hitam yang matanya sipit itu segera mendengus satu kali. Matanya
melirik sekilas ke arah Tujuh Serigala dan meneruskan langkahnya ke depan.
BAGIAN XXXII
Saat itu Lok Ing seperti teringat akan sesuatu yang penting. Mulutnya mengeluarkan
suara seruan dan berkata, “Cepat telan dulu obat ini!” sembari berbicara, dia
menyodorkan tangannya ke hadapan Tan Ki.
Tan Ki melirik sekilas kepada dua butir pil berwarna merah yang ada dalam
genggamannya, batinya merasa tercekat.
Diam-diam dia berpikir: ‘Ternyata setelah mengusir ibuku, dia tetap tidak bersedia
melepaskan diriku…’
Oleh karena itu, dia segera mendengus dingin.
“Di kolong langit ini, yang paling keji justru hati seorang isteri. Tidak disangka kau yang
masih begini muda, tidak kalah kejinya.”
Lok Ing tersenyum simpul.
“Kalau racun ini sudah tersimpan terlalu lama dan khasiatnya hilang, tentunya kau juga
tidak perlu mati lagi selamanya.”
Wajah Tan Ki perlahan-lahan berubah. Dia merenung sekian lama kemudian tertawa
keras-keras.
“Seorang laki-laki sejati memandang kematian dan kehidupan sebagai nasib yang telah
ditentukan oleh Thian. Meskipun racun ini dapat membuat tulang belulangku hancur lebur
dan rohku hilang untuk selamanya, rasanya juga tidak perlu ditakuti!”
Kata-kata ini diucapkan dengan penuh kegagahan. Tampaknya dia sudah hambar
terhadap perihal kematian atau pun kehidupan. Begitu ucapannya selesai, dia langsung
menyambut kedua butir pil itu dan memasukkannya ke dalam mulut lalu menelannya
sekaligus.
Begitu pil itu masuk ke dalam perutnya, dia merasa ada serangkum hawa panas yang
langsung berkobar di dalam tubuhnya, sengatannya hampir tidak tertahankan. Ususnya
bagai terbakar. Tanpa dapat ditahan lagi perasaannya tercekat.
‘Habislah…!’ pikirnya dalam hati.
Semacam perasaan menjelang ajal, tiba-tiba menyelinap di dalam hatinya. Semuanya
terjadi dalam sekejap mata. Tanpa terasa dia menarik nafas panjang dan memejamkan
sepasang matanya.
Dia mulai merasa bahwa kemenangan atau kekalahan, bahkan kegemilangan ataupun
kesuraman dunia ini, sejak saat itu tidak ada kaitan lagi dengan dirinya. Bagai sekuntum
bunga yang layu atau buah-buahan yang terlalu ranum sehingga terjatuh di atas tanah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kelak dia akan meninggalkan dunia ini dengan perasaan pilu dan berbagai kebimbangan.
Dia akan terlepas dari dunia yang mempunyai aneka variasi ini.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang ramah dan lembut.
“Bagaimana kalau aku membawa kau meninggalkan tempat ini?”
Tan Ki marah sekali kepadanya.
“Aku toh telah kau kuasai. Jalan darahku pun telah tertotok. Apapun yang ingin kau
lakukan, silahkan. Tidak perlu berpura-pura atau bersandiwara dengan berlagak lembut
segala macam!”
Lok Ing tersenyum lembut. Dia mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Tan Ki satu
kali. Totokannya pun terbebas seketika. Terhadap gerakannya ini, Tan Ki benar-benar
merasa di luar dugaan. Untuk sesaat dia jadi tertegun. Dengan perasaan heran dia
bertanya…
“Apa yang kau lakukan?”
Lok Ing mengulurkan jari tangannya menunjuk ke depan. Dia tidak menjawab
pertanyaan Tan Ki.
“Bagaimana kalau kita berjalan ke arah sana?”
Tan Ki merenung sejenak, dia masih berpikir bagaimana harus memberikan jawaban
kepada gadis itu. Tahu-tahu kakinya sudah bergerak melangkah. Rupanya ketika selesai
berbicara, Lok Ing langsung menarik tangan anak muda itu dan tanpa memberikan
kesempatan baginya untuk menjawab, dia langsung menyeret Tan Ki mengikutinya.
Tan Ki membiarkan dirinya ditarik oleh Lok Ing. Tanpa tujuan yang pasti mereka
berjalan beberapa saat, terdengar suara air terjun yang bergemuruh dan aliran air. Suara
itu terpancar dari bagian belakang rumah taman bunga di mana terdapat sebuah kolam
buatan lengkap dengan air terjunnya. Sekitar tempat itu ditanami berbagai, jenis
pepohonan dan bunga bungaan. Pemandangannya indah sekali, Udarapun terasa sejuk.
Oleh karena itu, mereka segera duduk di atas sebuah batu besar dan Tan Ki pun langsung
memejamkan matanya.
Lok Ing melihat sikap anak muda itu demikian angkuh dan dingin. Dia bahkan tidak
melirik sekilaspun ke arah Lok Ing. Hatinya menjadi kesal. Setelah mendengus satu kali,
dia segera memalingkan wajahnya.
Kedua orang itu membisu beberapa saat, Lok Ing mulai tidak sabar menghadapi situasi
demikian. Dialah yang lebih dulu membuka pokok pembicaraan.
“Mengapa kau diam saja sejak tadi?”
Tubuh Tan Ki agak gemetar, dengan nada dingin dia menyahut, “Sudah waktunya kau
pergi, buat apa masih duduk terus di tempat ini?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku mengajak engkau ke mari, tentu saja karena ada ucapan yang ingin kukatakan
kepada dirimu.”
Tan Ki tertawa dingin.
“Sayangnya aku tidak berminat mendengarkan.”
Dalam seumur hidupnya, Lok Ing belum pernah menerima penghinaan sekecil apapun.
Tiba-tiba dia melonjak bangun dan menghu nus pedangnya lalu ditusukkan ke dada anak
muda itu.
Siapa sangka Tan Ki seolah tidak melihat apa-apa. Ketika ujung pedang telah mengoyak
pakaian luarnya, dia masih bersikap tenang. Matanya terpejam dan duduk dengan tegak.
Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Begitu pedangnya mengoyak sedikit pakaian Tan Ki, Lok Ing segera menariknya
kembali. Perasaan marah dalam hatinya dalam sesaat berubah menjadi kekecewaan yang
tidak terkatakan. Air matanya langsung tercurah bagai hujan yang deras.
Padahal dia ingin sekali Tan Ki melonjak bangun dan berkelahi mati-matian dengan
dirinya. Atau paling tidak, memohon kepadanya secara baik-baik agar dia melepaskan
pedang pusakanya dan memaafkan kesalahannya. Atau seumpamanya Tan Ki membuka
mulut mencaci maki dirinya, mungkin perasaannya malah akan terasa lebih enak. Tetapi
anak muda itu justru membungkam seribu bahasa dan seolah memandang kematian
sebagai sesuatu hal yang tidak menakutkan sama sekali. Hal ini benar-benar di luar
dugaan Lok Ing. Padahal dia dapat menikamkan pedangnya ke jantung anak muda itu
agar kekesalannya terlampiaskan. Tetapi biar bagaimana dia tidak sampai hati untuk turun
tangan. Wataknya sangat keras, perasaan dirinya yang merasa gagah dan berjiwa
pahlawan memandang perbuatan itu sebagai sesuatu hal yang sangat memalukan.
Gengsinya bahkan lebih tinggi dari nilai nyawanya sendiri.
Sepasang mata Tan Ki yang tadinya terpejam erat membuka secara perlahan. Dia
melihat di ufuk timur mulai membias segurat cahaya keemasan. Tanpa dapat ditahan lagi
dia menarik nafas panjang.
“Mengapa kau menangis?” tanyanya sambil mengembangkan seulas senyuman.
Dengan sekuat tenaga Lok Ing membanting sebatang pedang yang dikeluarkan dari
pundaknya ke atas tanah. Kemudian dia menghapus sisa air mata dengan ujung lengan
bajunya. Dengan marah dia menyahut.
“Kalau aku suka menangis, apa urusannya dengan dirimu? Cepat pungut pedang itu
dan aku akan memberimu sebuah kesempatan untuk bertarung secara jujur. Kalau belum
sampai tahu dengan pasti siapa yang akan hidup dan siapa yang akan terkapar di atas
tanah bermandikan darah, pokoknya siapapun tidak boleh ada yang berhenti!”
Tan Ki melirik ke arah pedang di atas tanah sekilas.
“Aku memang sudah di ambang kematian, tidak ada niat sedikitpun untuk meraih
kemenangan. Lebih baik ambil kembali pedangmu itu dan pergi dari sini, siapa tahu di
tempat tadi sudah berlangsung pertarungan yang sengit…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lok Ing langsung menukas dengan suara keras.
“Ngaco belo!”
Wajah Tan Ki berubah hebat.
“Kalau kau tetap tidak percaya, apa boleh buat? Pribadi Cayhe paling tidak suka
berdusta.” selesai berkata, dia memejamkan matanya kembali dan menekuk kedua
kakinya dengan sikap bersila.
Lok Ing tertegun sejenak. Perlahan-lahan dia melangkah ke depan. Dia melihat di
kening Tan Ki terdapat guratan berwarna hijau. Hal ini membuktikan bahwa anak muda itu
benar-benar telah keracunan parah. Tiba-tiba dia merasa dadanya bagai ditinju seseorang
dengan sekuat tenaga. Rasa sakitnya tidak terkirakan lagi. Tanpa terasa pedang di
tangannya terjatuh ke atas tanah dan menimbulkan bunyi Trang! Kemudian dia
membungkukkan tubuhnya perlahan-lahan.
“Bagaimana hal ini bisa terjadi?”
Wajah Tan Ki menjadi serius. Tetapi nada suaranya masih tetap dingin.
“Aku sendiri yang rela minum pil beracunmu itu, tetapi aku sama sekali tidak membenci
dirimu…”
Dia merandek sejenak. Wajahnya yang serius lambat laun merekahkan tawa yang
manis. Kemudian dia melanjutkan kata-katanya. “Sekarang aku ingin mencoba melawan
racun yang masuk ke dalam tubuh dengan ilmu yang kukuasai. Cepatlah kau pergi, jangan
membuat pikiranku terganggu…”
Lok Ing semakin panik mendengar perkataannya.
“Obat yang kuberikan kepadamu tadi bukan racun. Aku hanya bergurau denganmu.
Bagaimana kau bisa keracunan? Ya Tuhan… benar-benar membuat aku bingung setengah
mati…”
Tiba-tiba Tan Ki membuka matanya yang terpejam. Dua buah bola matanya yang
menyorotkan sinar tajam memandang gadis itu lekat-lekat. Dia melihat air matanya
mengembang, wajahnya menyiratkan kepanikan hatinya yang tidak terkira.
Gadis yang keras kepala dan terkenal kegarangannya di daerah Sai Pak ini, dalam
waktu yang singkat berubah demikian lemah sehingga membuat orang hampir tidak
percaya. Terdengar suaranya yang bagai ratapan juga mirip keluhan.
“Sejak aku tahu urusan, belum pernah ada seorangpun yang menghina aku. Kedua
orang-tuaku menganggap aku sebagai permata hatinya, kakek menyayangiku melebihi
segala benda di dunia ini. Dalam suasana yang penuh cinta kasih aku dibesarkan…”
Tan Ki mengembangkan seulas senyuman yang pilu.
“Nasibmu sungguh baik.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan ujung lengan baju Lok Ing mengusap air matanya. Tendengar dia menarik
nafas panjang.
“Sejak ilmu silatku sudah cukup tinggi, aku terus berkelana di daerah Sai Pak. Dalam
beberapa tahun ini, jarang aku menemukan tandingan yang sesuai. Tetapi dalam
pertarungan di Pek Hun Ceng, Pek To San, dua kali berturut-turut aku mengalami
kekalahan bahkan sampai terluka. Sejak itu dalam hatiku timbul rasa benci terhadap
dirimu. Secara diam-diam entah berapa kali aku sudah bersumpah untuk membunuhmu
dengan tanganku sendiri…”
“Aih… jiwa anak perempuan memang rada sempit. Hanya dua kali terluka, kau malah
menganggapnya begitu serius bahkan menanam kebencian dalam hati…”
“Oleh karena itu, ketika bertemu kembali denganmu, aku sudah mengambil keputusan
untuk membunuhmu…”
Tan Ki tertawa datar.
“Tentunya sekarang kau merasa gembira sekali, karena akhirnya aku toh mati di
tanganmu juga. Tetapi menjelang ajal, aku tetap tidak membencimu sedikitpun. Perlu kau
ketahui, membunuh seseorang sebenarnya tidak terlalu sulit. Tetapi apabila orang yang
kau bunuh itu tidak menaruh perasaan benci sedikitpun kepadamu, hal itulah yang sulit
ditemukan.”
Lok Ing semakin panik.
“Tetapi aku, aku… sejak semula aku sudah tidak ingin membunuhmu lagi. Entah sejak
kapan mulainya, tiba-tiba aku merasa bahwa sebenarnya aku bukan sungguh-sungguh
membenci dirimu.”
Tan Ki jadi tertegun mendengar perkataannya.
“Secara diam-diam kau sudah bersumpah berulang kali bahwa kau akan membunuh
diriku dengan tanganmu sendiri. Kalau ini bukan benci, lalu apa?”
Lok Ing tersenyum pilu.
“Aku juga tidak mengerti. Pokoknya itu bukan benci yang sesungguhnya. Sedangkan pil
yang kau minum tadi merupakan obat penyembuh luka buatan kakekku sendiri. Bukan
saja tidak akan mencelakai dirimu, malah akan mempercepat proses penyembuhan dalam
tubuhmu. Tetapi… kau kok bisa keracunan?”
Matanya yang bulat dan indah mengejap-ngejap. Dua bulir air mata yang berkilauan
menetes turun membasahi pipinya. Kemudian terdengar tarikan nafasnya yang
mengenaskan. Lalu dia melanjutkan lagi kata-katanya. “Tetapi masalah dirimu yang
keracunan, juga merupakan kenyataan. Rona wajahmu menunjukkan bahwa racun itu
telah menyebar luas di dalam tubuhmu. Apakah… kau… benar-benar tidak bisa hidup lebih
lama lagi?”
Tan Ki tersenyum lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentu saja benar. Tidak ada gunanya aku berdusta, lagipula kau sudah melihat sendiri
kenyataannya. Aku memang tidak mungkin hidup lebih lama lagi di dunia ini.”
Kemudian tampak anak muda itu mendongakkan kepalanya menatap warna langit.
“Hari sudah hampir pagi. Kau boleh pergi sekarang.”
Lok Ing tersenyum pilu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak bisa pergi.” “Mengapa?”
“Kalau kau benar-benar mati, aku akan menemani dirimu. Biarpun bukan diriku
langsung yang meracuni dirimu, tetapi hatiku tetap saja merasa bersalah dan berduka…”
Mendengar ucapannya, Tan Ki jadi termangu-mangu. Tiba-tiba dia seperti teringat akan
sesuatu yang penting. Tubuhnya melonjak ba-ngun dan tertawa terbahak-bahak. Lok Ing
merasa heran melihat sikapnya. “Sampai sekarang kau masih mempunyai minat untuk
bergembira.”
“Aku tahu apa yang kau harapkan dalam patimu. Sayangnya aku sudah menyembah
langit dan bumi dan sudah beristeri. Terpaksa aku menyia-nyiakan perasaan kasih di
dalam patimu…” perlahan-lahan dia melangkahkan Kakinya menuju ke depan.
“Kau hendak ke mana?” tanya Lok Ing. Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan. “Manusia
di dunia ini mengalami kematian dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi aku merasa mati
dengan cara seperti yang akan
kuhadapi ini secara diam-diam tampaknya terlalu membosankan. Oleh karena itu, aku
tidak ingin meninggalkan dunia ini begini saja. Kalau memang tidak dapat meloloskan diri
dari Dewa Kematian, mengapa tidak memilih ke-matian yang gemilang dan gegap
gempita. Dengan demikian orang-orang akan tahu siapa diriku yang sebenarnya…”
Secara berturut-turut, dia mengucapkan kata ‘kematian’, namun baik nada suara
maupun mimik wajahnya tidak menyiratkan perasaan takut sama sekali. Seakan mati
adalah suatu hal yang wajar dan rutin dan bukan hal yang mengerikan. Selesai berkata,
dia malah menggerakkan kakinya dengan cepat dan menghambur ke arah di mana dia
datang tadi.
Bayangan punggungnya menyiratkan kehampaan dan kesunyian hidup seorang
pendekar sejati. Hal ini membuat orang yang memandangnya turut berduka dan merasa
kagum secara diam-diam.
Lok Ing menarik nafas panjang, dia juga menggerakkan kakinya mengejar dari
belakang. Dalam waktu yang singkat, keduanya sudah sampai kembali di selatar tembok
pekarangan.
Terdengar suara deruan angin yang timbul dari serangan dan pukulan. Rupanya di
tempat itu tengah berlangsung pertarungan yang
sengit.
Rupanya tidak lama setelah Tan Ki dan Lok Ing meninggalkan tempat itu, Oey Ku Kiong
langsung mulai bergebrak dengan pihak lawan. Anak muda ini menerima perintah dari
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun untuk merebut hati para pendekar agar dirinya dipercaya penuh. Oleh karena
itu, ketika mulai bergebrak, dia langsung mengerahkan jurus-jurusnya yang lihai.
Serangannya gencar sekali. Tetapi lawan yang dihadapinya kali ini adalah manusia
berpakaian putih yang tampangnya mirip mayat hidup. Meskipun orang-orang ini jarang
berkelana di dunia Bulim, tetapi bukan berarti kepandaiannya dapat dipandang ringan.
Sejak awal hingga sekarang mereka sudah bertarung sebanyak ribuan jurus, namun masih
belum ketahuan siapa yang unggul dan siapa yang akan mengalami kekalahan.
Semakin bertarung hati Oey Ku Kiong semakin panik. Saat ini matahari telah
menyingsing. Kalau lewat beberapa waktu lagi dia tetap belum mendapat kesempatan
yang baik, tentu sulit baginya untuk meraih kemenangan. Karena pada saat itu, dia mulai
merasa letih dan kurang tidur. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Serangannya
tidak segencar sebelumnya lagi.
Tiba-tiba dia meraung dengan suara keras. Secara berturut-turut dia melancarkan tiga
empat jurus serangan. Pihak lawan langsung terdesak sehingga hatipun terasa bergetar.
Tatkala lawannya menyurut mundur, diam-diam dia menarik nafas panjang. Sikapnya
serius. Dengan mengambil posisi menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah
pukulan balasan.
Pukulan ini dilancarkan dengan segenap kekuatannya yang tersisa. Tampaknya dia
benar-benar ingin mengadu jiwa dengan lawannya. Gerakannya keji dan menimbulkan
angin yang menderu-deru. Tenaganya bagai ombak yang bergulung-gulung menerpa ke
arah lawannya.
Manusia berpakaian putih melihat sikapnya serius dan wajahnya kelam. Ketika
melancarkan serangan itu, dia segera tahu bahwa serangan ini tidak dapat disamakan
dengan yang sebelumnya. Dengan panik dia mencelat mundur sejauh setengah langkah.
Tanpa menunda waktu lagi dia juga melancarkan sebuah pukulan ke depan.
Yang satu menghantam ke mari, yang lain memukul ke sana. Dua. kekuatan yang
dahsyat beradu seketika. Tiba-tiba terdengar dengusan yang berat dari hidung manusia
berpakaian putih tadi, langkahnya limbung. Dengan terseret-seret dia tersurat mundur
sejauh tiga langkah.
Oey Ku Kiong tertawa dingin. Secepat kilat dia maju merapat ke depan. Dengan jurus
Menunjuk Langit Mengibas Bumi, lima jari tangannya segera terulur keluar dan meraup
dari atas ke bawah.
Gerakannya ini cepat bukan kepalang, tubuhnya bagai sehembusan angin yang bertiup
lewat dan langsung menerpa. Lawan masin dalam keadaan terhuyung-huyung, kakinya
belum sempat berdiri dengan mantap, tahu-tahu angin yang timbul dari serangan kelima
jarinya sudah menghantam tiba.
Saat itu juga suasana bagai diliputi hawa pembunuhan yang tebal.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dari arah berlawanan di mana matahari baru
terbit, sehingga pandangan mata jadi silau. Oey Ku Kiong hanya merasa ada serangkum
angin yang kencang dari pukulan seseorang menyerangnya dari sebelah kiri!
Manusia berpakaian putih yang satunya lagi sejak tadi hanya menjadi penonton
menyaksikan jalannya pertarungan. Ketika melihat rekannya sebentar lagi akan terluka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
oleh pukulan Oey Ku Kiong, dia segera menerjang ke tengah arena dan tanpa
mengucapkan sepatah katapun, dia langsung melancarkan sebuah serangan.
Apabila pertarungan yang berlangsung terjadi antara tokoh-tokoh yang berilmu tinggi,
kejadiannya hanya memakan waktu sekian detik. Jurus Menunjuk Langit Mengibas Bumi
telah dikuasai Oey Ku Kiong dengan mahir. Hatinya sudah merasa gembira bahwa sejenak
lagi lawannya pasti akan terluka di bawah cengkeraman jari tangannya, tahu-tahu
manusia berpakaian putih yang satunya sudah menerjang datang.
Seandainya dia tidak merubah gerakannya, lawan sudah pasti terluka oleh
cengkeraman jari tangannya, tetapi dia sendiri juga pasti termakan pukulan manusia
berpakaian putih yang satunya lagi. Dalam keadaan seperti ini, memang tidak ada waktu
lagi untuk mempertimbangkan langkah yang harus diambilnya.
Kemudian… tampak dia menggertakkan giginya erat-erat. Cengkeramannya dibuka dan
berubah menjadi pukulan. Tepat pada saat pergelangan tangannya memutar, lawan sudah
semakin dekat. Secepat kilat tangan kanannya menghantam ke dada orang itu, sekaligus
tangan kirinya terulur keluar dan menyambut serangan manusia berpakaian putih yang
satunya lagi.
Peristiwa itu terjadi dalam sekejap mata.
Terdengar suara dengusan yang mengenaskan yang disusul dengan jeritan ngeri.
Manusia berpakaian putih yang terhantam dadanya oleh Oey Ku Kiong langsung
memuntahkan segumpal darah segar, tubuhnyapun langsung terhempas jatuh di atas
tanah.
Dalam waktu yang bersamaan, tubuh Oey Ku Kiong sendiri juga sempoyongan lalu
tersurat mundur sejauh empat lima langkah. Dia bermaksud mempertahankan dirinya.
Sepasang bahunya terus bergoyang, tetapi akhirnya kemauannya tidak terlaksana juga.
Setelah mundur terhuyung-huyung sejauh empat lima, tubuhnya terkulai juga di atas
tanah.
Manusia berpakaian putih yang satunya lagi mempunyai watak yang kejam serta sadis.
Mula-mula ketika melihat rekannya dalam keadaan berbahaya, dia segera menerjang ke
depan dan melancarkan sebuah serangan. Tetapi ketika rekannya itu terhempas di atas
tanah dalam keadaan terluka parah, dia bahkan tidak meliriknya sekilaspun. Tubuhnya
memutar dan kembali dia menerjang ke arah Oey Ku Kiong.
Orang yang mempunyai mata sekali lihat saja sudah dapat mengerti apa yang
terkandung dalam hati orang itu.
Saat itu Lok Hong sedang membelai-belai cucu kesayangannya. Tampaknya bayangan
mengenaskan yang akan terjadi sejenak lagi, tak diperhatikannya sedikitpun.
Tiba-tiba terdengar suara suitan panjang yang lantang dan nyaring timbul dari
sampingnya. Sesosok bayangan persis seperti rajawali yang murka menerjang ke tengah
arena. Ketika kakinya melayang turun kembali, posisinya tepat berada di sisi Oey Ku Kiong
dan berdiri tegak dengan tenang. Tampaknya perubahan yang mendadak ini membuat si
manusia berpakaian putih terkesiap. Dia tidak menyangka Tan Ki akan menghambur ke
depan dan melindungi Oey Ku Kiong. Dengan panik dia menekan hawa murni dalam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tubuhnya agar tidak terus meluncur ke depan. Akhirnya dia berhasil juga menghentikan
gerakan tubuhnya.
Sepasang mata setannya yang berwarna kehijau-hijauan memperhatikan Tan Ki dari
atas kepala ke ujung kaki. Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Siapa kau?”
Tan Ki mendengus berat satu kali.
“Penagih nyawa!” sahutnya angkuh.
Manusia berpakaian putih itu perlahan-lahan menjadi terpana. Tetapi sesaat kemudian
dia seperti tersentak sadar. Kemudian tampak dia mendongakkan wajahnya dan tertawa
marah. Tiba-tiba tubuhnya membungkuk, tenaga dalamnya dikerahkan. Terdengar suara
kretek-kretek seolah tulang belulangnya berderak-derak dan terlepas dari persendian.
Sepasang matanya yang laksana setan menyorotkan sinar tajam berwarna kehijauan. Saat
itu dia sedang membelalak penuh kemarahan. Meskipun waktu baru berubah pagi dan
matahari baru terbit, tetapi wajahnya yang pucat pasi dan bibirnya yang keungu-unguan
membuat orang yang melihatnya bagai bertemu dengan kaum setan gentayangan. Malah
hati bisa jadi kebat-kebit karena munculnya perasaan seram.
Tan Ki melihat orang itu sudah mengerahkan tenaga dalamnya dan siap melancarkan
serangan setiap waktu. Di luarnya dia berlagak tenang seolah tidak ada apa-apa, tetapi
sebetulnya dalam hati dia tidak berani memandang ringan lawannya sama sekali.
Sepasang matanya yang bersinar tajam menatap lawannya lekat-lekat.
Dia sadar bahwa pertarungan kali ini pasti gawat sekali keadaannya. Juga merupakan
pertarungannya yang terakhir sebelum ajalnya tiba. Tidak perduli menang atau kalah, dia
tetap harus meninggalkan dunia yang fana ini.
Sebelumnya, dia memang merasa takut sekali apabila Lok Hong berhasil mengetahui
asal-usul ilmu silatnya, sehingga dia tidak berani memamerkan di hadapan orangtua ini.
Tetapi keadaan sekarang tidak dapat disamakan lagi dengan sebelumnya. Dia sudah tahu
bahwa dirinya telah keracunan cukup parah. Biar bagaimana dia harus memenangkan
pertarungan kali ini, walaupun dia akan mati juga karena terlalu banyak mengerahkan
hawa murni sehingga racun akan lebih cepat menyebar, tetapi setidaknya dia akan mati
dengan nama harum, bukan mati secara diam-diam tanpa diketahui siapapun. Oleh karena
itu, saat ini dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melakukan
pertarungan besar-besaran yang terakhir sebelum maut merenggutnya.
Manusia berpakaian putih yang tampangnya mirip mayat hidup menunggu beberapa
saat. Dia melihat Tan Ki masih belum melakukan gerakan apa-apa. Tampaknya dia mulai
kehabisan sabar, mulutnya terkekeh-kekeh menyeramkan. Dia mengulurkan sepasang
tangannya yang mirip cakar burung itu. Gerakannya lamban sekali. Lebih mirip jurus
pembukaan ilmu Tae Kwon-do. Tidak ada keistimewaannya sama. sekali.
Tan Ki melihat orang itu mengulurkan tangannya yang bagai cakar burung itu,
tampaknya tidak ada sesuatu yang mengejutkan. Tetapi ketika jarinya didorong ke depan,
dia justru merasa ada serangkum hawa dingin yang melanda ke arahnya. Tanpa dapat
ditahan lagi tubuhnya bergetar, kakinya goyah dan akhirnya mau tidak mau dia menyurut
mundur setengah langkah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Manusia berpakaian putih itu tiba-tiba mengeluarkan suara teriakan yang aneh. Kedua
kakinya dihentakkan dan tubuhnya pun meloncat ke atas dengan posisi tegak lurus.
Gerakannya ringan dan cepat, sekali melesat langsung naik ke atas. Orangnya belum
sampai, hawa dingin yang terpancar dari jari tangannya sudah terasa dan bahkan dua kali
lipat lebih menggigilkan dari sebelumnya.
Hati Tan Ki jadi tercekat melihatnya. Diam-diam dia berpikir: ‘Ilmu silat Si Yu semuanya
aneh-aneh, tidak terselip hawa manusia hidup. Bahkan orang semacam ini juga…’
Belum lagi habis pikirannya bekerja, tiba-tiba ia sudah bergerak setengah lingkaran dan
menghindarkan diri dari serangan gencar manusia berpakaian putih itu.
Ternyata gerakan manusia berpakaian putih itu cepatnya bukan kepalang. Meskipun
kakinya tidak melangkah melainkan berjalan dengan cara meloncat-loncat, tetapi
kecepatannya malah bisa melebihi orang biasa. Ketika pikiran Tan Ki masih melayanglayang,
orangnya sudah seperti kuda liar yang lepas dari kendali menerjang datang.
Tampaknya orang ini mempunyai kepandaian menebak sesuatu yang belum terjadi. Dia
seakan sudah tahu kalau serangannya ini tidak akan membawa hasil. Cepat-cepat dia
menarik kembali tangannya lalu hanya dalam perbedaan sekian detik, kembali dia
melancarkan dua jurus yang lain.
Hawa yang dingin menyusup tadi bercampur dengan serangan pukulannya yang
mengandung daya Im. Bagai air sungai yang meluap tiba-tiba melanda ke arah Tan Ki.
Belum apa-apa hembusan anginnya saja sudah menggetarkan hati orang yang melihatnya.
Tubuh Tan Ki tengah keracunan hebat, dia tidak ingin berhadapan langsung dengan
orang itu, apalagi dengan cara keras lawan keras. Cepat-cepat dia miringkan tubuhnya
sedikit lalu bergerak memutar dan meluncur ke samping kurang lebih setengah lingkaran.
Kemudian dengan jurus Lima Gelombang Mengurung Naga yang merupakan andalan para
leluhur Ti Ciang Pang, dia melancarkan sebuah cengkeraman.
Diam-diam hati manusia berpakaian putih menjadi terkesiap. Dia tidak menyangka usia
Tan Ki yang masih demikian muda, tetapi sudah mempunyai kepandaian demikian tinggi.
Hembusan angin yang terbit dari cengkeramannya itu begitu dahsyat. Hal ini juga
membuktikan bahwa tenaga dalam anak muda ini juga kuat sekali. Tampak dia
mendongakkan wajahnya dan mengeluarkan suara pekikan yang menyeramkan. Kedua
kakinya bergerak dan tahu-tahu dia sudah mencelat mundur ke belakang.
Bola mata Tan Ki mengerling ke sana ke mari. Dia melirik sekilas ke arah Oey Ku Kiong
yang tadinya terkulai di atas tanah. Entah sejak kapan, tahu-tahu anak muda itu sudah
merangkak bangun dan saat ini sedang duduk bersila dengan sepasang mata terpejam.
Tampaknya dia sedang mengatur pernafasan untuk menyembuhkan luka dalam yang
dideritanya. Hatinya seakan terlepas dari beban yang berat. Dia langsung meraung keras
dan tubuhnya melesat menerjang ke depan.
Saat itu Tan Ki sudah tidak mempunyai beban tanggung jawab apa-apa lagi yang harus
dipikirkan. Begitu mengerahkan kepandaiannya, serangannya langsung terasa gencar
sekali. Ilmu yang dikerahkannya terdiri dari jurus-jurus yang aneh dan terkandung
serangan yang mampu membunuh lawannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mula-mula manusia berpakaian putih itu menganggap remeh lawannya. Sejak pertama
bergebrak dia sudah memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menempatkan diri pada
posisi yang menguntungkan. Akibatnya dia menjadi kehilangan peluang untuk
menggerakkan serangan balasan. Serangan Tan Ki yang aneh dan gencar ini membuat
sedemikian terdesak sehingga mulutnya terus mengeluarkan suara suitan yang aneh dan
kakinya juga terus meloncat mundur ke belakang.
Tiba-tiba Lok Hong melepaskan pelukan cucu kesayangannya dan maju dengan langkah
lebar.
“Berhenti!” bentaknya keras.
Tanpa dapat ditahan lagi Tan Ki jadi terpana. Justru ketika dia masih terkesima oleh
bentakan Lok Hong, tahu-tahu manusia berpakaian putih itu sudah meloncat datang dan
memutar sedikit tubuhnya untuk mengubah jurus yang lain. Dengan mudah serta tanpa
kesulitan sama sekali, dia berhasil mencekal pergelangan tangan Tan Ki.
Tan Ki hanya merasa bahwa bagian tubuh sebelah kirinya seperti kesemutan, tenaga
dalamnya lenyap seketika. Tanpa dapat ditahan lagi hatinya menjadi terkesiap tidak
kepalang. Wajahnya pun berubah hebat.
Tampak sepasang alis Lok Hong menjung-kit ke atas. Orangtua itu seperti marah sekali.
“Lohu suruh kalian berhenti bergebrak, kau masih berani mencuri kesempatan
membokong orang. Apakah kau benar-benar tidak memandang sebelah mata terhadap diri
Lo-hu?”
Mulutnya berbicara, kakinya ikut m elangkah maju. Lengan bajunya dikibaskan
sehingga timbul angin yang kencang lalu langsung meluncur ke arah manusia berpakaian
putih tersebut!
Siapa nyana manusia berpakaian putih itu licik bukan main. Dengan seenaknya dia
menarik tangan Tan Ki dan tubuh anak muda itu yang sudah setengah kaku itupun
terseret olehnya. Apabila dibiarkan otomatis anak muda itu yang dijadikan perisai untuk
menyambut datangnya kibasan lengan baju Lok Hong yang dahsyat.
Untuk sesaat Lok Hong jadi tertegun. Hawa amarah dalam dadanya meluap seketika.
Tubuh bagian atasnya tidak bergerak satria sekali. Tangannya diulurkan ke depan,
pergelangan tangan Tan Ki langsung tercekal olehnya. Serangkum tenaga yang dahsyat
segera mengalir ke dalam tubuh anak muda itu.
Tan Ki merasa segulung aliran tenaga yang panas menyusup ke dalam tubuhnya lalu
mengalir keluar dengan menerjang ke pergelangan tangan manusia berpakaian putih yang
juga sedang mencekal pergelangan tangan kiri anak muda itu.
Manusia berpakaian putih itu mendengus dingin satu kali. Lengannya bergerak
perlahan-lahan, dia menambah lagi tiga bagian tenaga dalamnya dan didorong ke depan.
Tiba tiba Tan Ki merasa tenaga dalam yang dikerahkan oleh Lok Hong mempunyai daya
tekan yang besar. Sebetulnya dia bisa mengerahkan tenaga dalam untuk menolak.
Dengan demikian gelombang arus yang dahsyat itu jadi tertahan. Dengan membawa
pikiran itu, dia langsung mempraktekkan apa yang terpikir olehnya barusan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya saat itu manusia berpakaian putih tengah mengadu kekuatan dengan Lok
Hong lewat tubuh Tan Ki.
Lok Hong merupakan seorang tokoh tua yang sudah terkenal dengan adatnya yang
aneh. Melihat lawannya sanggup menyambut gelombang arus tenaganya yang dahsyat
bahkan seakan tidak terasa apa-apa, kemarahannya jadi berkobar-kobar. Setelah tertawa
dingin sebanyak satu kali, dia menambahkan lagi kekuatan tenaga dalamnya lalu
didesakkan lewat pergelangan tangan Tan Ki.
Meskipun Tan Ki mengerahkan lwekangnya dengan lambat dan kemudian menambah
lagi kekuatannya, tetapi cara mengadu kekuatan yang luar biasa dan jarang dijumpai ini
justru membuat diri hampir tidak dapat menahan diri. Dia merasa bahwa tenaga dalam
yang tidak berwujud itu bagai air sungai yang meluap-luap dan deras serta mempunyai
daya tekan yang hebat melanda tubuhnya dari dua jurusan. Dirinya bagai benda kecil yang
terjepit di antara dua benda raksasa. Tan Ki seakan memanggul beban yang berat.
Tubuhnya terasa letih dan lemas bahkan nafasnya pun menjadi sesak.
Rupanya kekuatan tenaga dalam manusia berpakaian putih itu masih kalah satu tingkat
bila dibandingkan dengan Lok Hong. Dua arus tenaga dalam yang satu dahsyat dan
lainnya agak lemah malah menggetarkan isi perut Tan Ki. Pernafasannya seperti
tersumbat dan dari kiri kanan mendapat tekanan yang hebat. Tanpa terasa, timbul
semacam niat untuk melawan. Tan Ki sendiri tidak menyadari kalau dia sudah
mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya untuk memberontak. Dan secara aneh hawa
murni serta tenaganya sendiri langsung bergabung dengan kerahan tenaga dalam manusia
berpakaian putih yang lebih lemah, bergabung melawan datangnya arus tenaga Lok Hong
yang dahsyat.
Dalam waktu yang singkat, wajahnya yang tampan sudah dibasahi keringat yang
menetes terus menerus. Manusia berpakaian putih itu tampaknya lebih menderita lagi.
Bibirnya mengatup erat dan matanya membelalak lebar-lebar. Wajahnya mengerut-ngerut
seperti orang yang menahan sakit. Tetapi pada dasarnya watak manusia berpakaian putih
ini sangat keras. Meskipun dia tahu apabila dia melepaskan tangannya lalu mengundurkan
diri, tentu ia akan terlepas dari kesulitan ini. Namun dia tidak berbuat demikian, giginya
digertakkan erat-erat dan terus mengerahkan tenaga yang lebih kuat lagi.
Tan Ki merasa nyali serta empedunya dialiri hawa yang panas yang kemudian meluap
naik ke atas. Arus tenaga yang ada pada bagian kiri tubuhnya seperti bertambah kuat.
Tubuhnya sampai doyong miring dan ketika manusia berpakaian putih itu menambah lagi
kekuatan tenaga dalamnya, tubuhnya baru tegak kembali.
Lok Hong sudah mengerahkan tenaga dalamnya sebanyak enam bagian. Tetapi dia
merasa ketika tenaga lawannya kembali menerobos datang, arus kekuatannya sendiri
bagai didorong dan hampir saja dia tidak dapat berdiri tegak. Cepat-cepat dia menambah
lagi kekuatannya ke arah telapak tangan.
Tan Ki sendiri langsung memejamkan matanya dan mengatur jalannya hawa murni
dalam tubuhnya. Di bawah tekanan kedua tenaga yang berlainan itu, dia sampai
mengerutkan alisnya. Keringatnya mengucur bagai curahan hujan. Tetapi dia tidak berani
ayal, disalurkannya tenaga dalam untuk menolak arus kekuatan yang dikerahkan Lok
Hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu Lok Hong sudah menambah lagi kekuatan tenaga dalamnya menjadi sembilan
bagian. Siapa nyana kedudukannya tetap saja seimbang, tidak tampak salah satu pihak
yang lebih unggul atau lebih asor. Hal ini membuatnya tidak berpeluang lagi untuk meraih
kemenangan.
Di dalam hatinya mulai terselip rasa khawatir. Karena di antara mereka berdua
terhalang oleh Tan Ki. Meskipun mereka hanya mengadu kekuatan tenaga dalam, tetapi
justru keduanya tidak dapat saling menafsir. Mereka tidak dapat menilai, dari mimik wajah
lawannya apakah diri sendiri yang akan unggul atau pihak lawannya yang akan meraih
kemenangan. Dia hanya tahu bahwa kekuatan dirinya sendiri sudah dikerahkan sampai
titik maksimal. Seandainya sisa sebagian yang terakhir dikerahkan juga, maka hilanglah
kemampuan mengadakan perlawanan yang terakhir. Pada saat itu, apabila lawannya
menambah sedikit saja kekuatan tenaga dalamnya, sudah pasti dirinya akan mendapatkan
luka parah walaupun belum tentu sampai mati di tangan lawan.
Padahal manusia berpakaian putih itu juga mempunyai pikiran yang sama. Dia sendiri
juga sedang kelabakan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Keduanya sama-sama
tidak mempunyai keberanian untuk menambah lagi tenaga dalamnya, keduanya samasama
khawatir kalau pihak lawan akan menggunakan kesempatan itu menambah tenaga
dalamnya.
Hal ini bukan berarti bahwa tenaga dalam Lok Hong kurang sempurna sehingga
menjadi peristiwa semacam ini. Tetapi justru karena kekuatan tenaga dalam manusia
berpakaian putih secara tanpa sadar bergabung dengan tenaga tolakan dalam tubuh Tan
Ki yang mendorong dengan kuat seperti memberontak sehingga arus kekuatan Lok Hong
jadi surut sebagian. Tetapi kebimbangan yang terjadi dalam hati kedua orang ini malah
memberi keuntungan pada diri Tan Ki. Perasaan tidak enak di dalam tubuhnya menjadi
lenyap. Dan lambat laun dia dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Tekanan
yang ada pada dirinya perlahan-lahan disalurkan oleh hawa murninya yang terus bergerak.
Meskipun mula-mulanya, ketika kedua orang itu baru menyalurkan tenaga dalam ke
tubuhnya, Tan Ki merasa agak tergetar dan nafasnya sesak, sekarang dia tidak merasakan
apa-apa lagi. Malah dengan adanya dua arus tenaga yang saling berdesakan di dalam
tubuhnya, kemudian dibantu gerakan hawa murninya sendiri, malah membawa
keuntungan yang tidak kecil bagi dirinya. Bagian urat nadi yang sebelumnya sulit
tertembus dengan mengandalkan himpunan hawa murninya sendiri, sekarang malah
tertembus satu persatu.
Setelah kurang lebih sepeminum teh telah berlalu, diantara keduanya masih belum juga
terlihat siapa yang akan meraih keunggulan dalam mengadu kekuatan ini. Tiba-tiba pikiran
Tan Ki tergerak. Diam-diam dia berpikir: ‘Kalau begini terus, sampai kapan baru ada
penyelesaiannya?’
Begitu pikirannya tergerak, mendadak dia menghimpun kembali hawa murni di dalam
tubuhnya lalu mengarahkannya ke lengan kiri. Dia menyalurkan tenaga dalamnya
membantu arus tenaga Lok Hong sehingga bergabung menjadi satu dan mengalir dengan
deras. Terdengar dengusan berat dari hidung manusia berpakaian putih itu dan tangannya
pun terlepas lalu tersurut mundur.
Tampaknya dia tergetar oleh bantuan arus tenaga Tan Ki yang disalurkan secara
mendadak sehingga tubuhnya tidak dapat berdiri tegak kemudian mundur dengan
terhuyung-huyung. Tetapi dasar manusia berwatak keras, dengan susah payah dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mempertahankan diri agar tidak terjatuh ke atas tanah. Setelah tergetar mundur beberapa
langkah, mulutnya langsung membuka dan memuntahkan darah segar beberapa kali
berturut-turut.
Wajah Lok Hong menyiratkan senyuman mengejek. Mulutnya bahkan
memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Kau memang sangat gagah.” sindirnya tajam.
Manusia berpakaian putih sadar bahwa tenaga dalamnya masih kalah jauh dengan
pihak lawan. Oleh karena itu dia tidak memperdulikan sindirian Lok Hong dan segera
memejamkan matanya untuk mengatur pernafasan. Di samping membiarkan tubuhnya
yang letih mendapat waktu istirahat juga berusaha meringankan luka dalamnya.
Sembari mengelus jenggotnya, kembali Lok Hong memperdengarkan suara tertawa
yang dingin. Kemudian dia menoleh kepada Tan Ki.
“Dari mana kau mempelajari ilmu silat?”
Hati Tan Ki langsung berdegup kencang mendapat pertanyaan seperti itu. Dia malah
sengaja memutar balikkan pertanyaan itu dengan pertanyaan pula.
“Apakah Locianpwe sudah mengetahui asal-usul ilmu silatku ini?”
Sepasang alis Lok Hong langsung terjungkit ke atas. Hatinya mulai merasa marah.
“Lohu sedang mengajukan pertanyaan, bukan malah Lohu yang harus memberi
jawaban kepadamu!”
Tan Ki mengangkat sepasang bahunya dengan acuh tak acuh, seolah bersikap pasrah
terserah menghadapi orangtua di hadapannya.
“Ucapan Locianpwe selalu tajam menusuk, hal ini justru membuat aku tidak tahu
bagaimana harus memberikan jawaban.”
“Bagus sekali, kau malah memutar lidah di hadapan Lohu!”
Sambil berkata, Lok Hong melangkah maju menghampiri Tan Ki. Kalau dilihat dari
sikapnya yang serius dan garang, tampaknya kemarahan orangtua ini hampir tidak
terbendung lagi. Rasanya dia sudah bersiap-siap menghukum Tan Ki.
Suasana yang tegang seakan berada pada tingkat yang maksimum saat itu. Pertikaian
yang tadinya berlangsung antara golongan sesat dan lurus sekarang berubah menjadi
perang antara kawan sendiri. Meskipun hal ini tidak diakui oleh keduanya, tetapi secara
tidak langsung Tan Ki telah memberikan bantuan kepada Lok Hong dengan melukai
manusia berpakaian putih barusan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Lok Ing…
“Yaya…!” ujung pakaian berdesir, orangnya pun langsung menghambur datang.
Tampak wajahnya yang sedih menyiratkan ketakutan dan kecemasan yang tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terkirakan. Dia menghambur ke depan Tan Ki lalu membalikkan tubuhnya dan
menghadang jalan kakeknya itu.
Angin pagi yang sejuk menghembus ke arahnya. Gadis itu bagai seekor domba yang
mendapat penganiayaan. Dia berdiri di tengah-tengah kedua orang itu dengan tampang
yang menyayat hati.
Lok Hong benar-benar tidak menyangka kalau cucu kesayangannya yang selama ini
sangat membenci Tan Ki, bisa tiba-tiba berubah dan bersikap melindunginya. Untuk sesaat
dia jadi tertegun.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya kemudian. Nada suaranya seperti sebuah perintah,
tetapi di dalamnya terkandung kelembutan dan kasih sayang yang besar.
BAGIAN XXXIII
Lok Ing tertawa pilu. Dia menggelengkan kepalanya tanpa menyahut. Tawanya ini
bagai mencetuskan beribu kata-kata dalam hatinya. Sekejap kemudian, tampak dua butir
air mata mengalir dengan deras membasahi pipinya yang halus.
Tampangnya yang mengenaskan ini benar-benar membuat Lok Hong terpana. Cucu
perempuannya yang paling keras kepala dan tinggi hati, mengapa secara tiba-tiba bisa
berubah menjadi demikian lemah. Hatinya ingin sekali menanyakan apa yang disusahkan
oleh gadis itu. Tetapi berbagai perasaan berkecamuk di dalam kalbunya sehingga dia
sendiri tidak tahu apa yang harus dikatakannya dan dari mana dia harus memulainya…
Terdengar suara Lok Ing yang lembut dan lirih bagai orang yang sedang berkeluh
kesah.
“Dia sudah hampir mati. Andaikata dia mempunyai kesalahan terhadap Yaya, harap
pandang muka Ing-ji kali ini saja. Jangan tanya segala macam, biarlah dia menghadapi
pertarungan ini dengan tenang, setelah dia mati…”
Lok Hong terkejut sekali. Dengan pandangan tidak mengerti dia mengajukan
pertanyaan kembali.
“Apa… apa yang kau katakan?”
Lok Ing menangis tersedu-sedu.
“Yaya, marilah kita pergi. Entah siapa yang meracuninya, tahu-tahu keadaannya sudah
parah sekali. Kemungkinan malah tidak dapat melewati senja ini dan tidak diragukan lagi
dia pasti akan mati. Yaya harus membangkitkan semangatnya melakukan pertarungan.
Seandainya harus mati, biar bagaimana juga harus membiarkan dia meninggalkan sedikit
nama di dunia ini. Aku tidak ingin melihat tampangnya ketika menghadapi kematian. Aku
akan pergi jauh-jauh, semakin jauh semakin baik…”
Kembali dia mengembangkan seulas senyuman yang pahit kemudian melanjutkan lagi
kata-katanya. “Setelah dia mati, aku akan kembali lagi membereskan jenasahnya
kemudian memilih sebuah pegunungan yang sunyi atau lembah yang tenang dan akan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kubangunkan sebuah makam yang besar dan indah. Biar dia dapat terbaring di sana
dengan tenteram untuk selamanya…”
Sembari berkata, air matanya terus menetes. Nada ucapannya biasa- biasa saja, tidak
terselip gejolak perasaannya yang galau. Tetapi bagi pendengaran Lok Hong, hatinya
bagai diganduli beban yang berat. Dari kata-katanya yang demikian romantis, sudah tidak
usah diragukan lagi kalau cucu kesayangannya ini sudah mengambil keputusan yang tidak
dapat diganggu gugat atas diri pemuda ini.
Baru saja dia ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menghibur hati cucunya,
Lok Ing sudah menarik tangannya dan menyeretnya meninggalkan tempat itu.
Hal yang sama pada diri mereka adalah langkah kaki keduanya yang demikian berat.
Apa yang terkandung dalam kalbu mereka sudah barang tentu jauh berlainan. Tetapi
pokok persoalannya sudah pasti diri Tan Ki juga.
Tan Ki memandangi bayangan kedua orang itu sampai jauh sekali. Beban dalam
hatinya, seakan menjadi ringan. Dia mengerlingkan matanya dan berhenti pada diri
manusia berpakaian putih. itu. Ditatapnya orang itu lekat-lekat sambil mengembangkan
seulas senyuman.
“Urusan kita belum selesai, sekarang juga kita tentukan akhir pertarungan kita. Cepat
ke mari!” sepasang tangannya mengambil posisi menahan di depan dada. Dia langsung
memasang kuda-kuda seakan sudah siap menghadapi serangan lawan.
Sepasang mata manusia berpakaian putih itu membuka lalu melirik ke arah manusia
berjubah hitam longgar yang tampaknya merupakan pimpinan mereka. Dia seperti sedang
menanti perintah dari orang itu.
Manusia berjubah hitam longgar itu mengangkat tangannya ke atas dan menunjuk
sebanyak dua kali. Manusia berpakaian putih itu-pun segera mengangguk-anggukkan
kepalanya. Wajahnya yang pucat pasi tampak berkerut-kerut. Tiba-tiba dia mengeluarkan
suara pekikan yang aneh, tubuhnya menyusul mencelat ke udara lalu menerjang ke
depan.
Boleh dibilang dalam waktu yang bersamaan, Tan Ki juga mendongakkan wajahnya dan
bersuit nyaring. Sepasang kakinya bergerak menghentak di atas tanah dengan keras.
Tubuhnya melesat ke udara menyambut kedatangan manusia berpakaian putih itu.
Kejadiannya itu berlangsung dalam sekejap mata saja. Gerakan tubuh kedua orang itu
saling menerjang dari dua arah. Dalam waktu yang singkat pukulan keduanya beradu di
udara. Terdengarlah suara ledakan yang menggelegar. Dua pasang telapak sama-sama
mengerahkan sebuah jurus di tengah angkasa.
Cara bertarung keras lawan keras seperti ini, meskipun Tan Ki sudah bersiap sedia
menghadapi lawannya dengan melancarkan serangan balasan yang hebat, tetapi karena
lawannya di atas dan dia menyusul kemudian, maka tubuhnya pun tertekan oleh arus
tenaga lawan sehingga anjlok turun lagi ke atas tanah.
Oey Ku Kiong yang masih duduk bersila di atas tanah, tiba-tiba membuka sepasang
matanya. Perlahan-lahan dia melirik Tan Ki sekilas. Dari sinar matanya tersorot
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekhawatiran dan kecemasan hatinya. Seakan takut kalau Tan Ki bukan tandingan
manusia berpakaian putih itu dan baru bergebrak saja sudah mengalami kekalahan.
Tetapi dia melihat wajah Tan Ki serius dan berwibawa. Sikapnya seperti seorang tokoh
yang sudah mencapai taraf kesempurnaan. Hal ini membuat orang yang melihatnya
merasa dalam hatinya timbul perasaan hormat.
Pengetahuannya sangat luas. Melihat tampang Tan Ki yang keren dan angker, dia
segera menyadari bahwa ilmu Tan Ki sudah mendapatkan kemajuan yang pesat. Sikapnya
yang berwibawa itu justru merupakan ciri khas seorang tokoh tingkat tinggi sebelum
memulai pertarungan.
Perlu diketahui bahwa kecerdasan Tan Ki melebihi orang lain. Dalam usia dua puluh
tahun saja, dia sudah menggemparkan dunia persilatan. Nama Cian bin mo-ong
berkumandang ke mana-mana dan menggetarkan hati setiap orang. Di tambah lagi selama
bulan terakhir ini dia sudah memahami berbagai kesulitan yang tadinya menggelayuti
pikirannya. Hal ini membuat ilmu silatnya mengalami kemajuan yang pesat. Meskipun Oey
Ku Kiong sendiri belum berhasil menembus urat penting dalam tubuhnya, tetapi terhadap
perkembangan ilmu silat dan reaksi-reaksi yang diperlihatkan, dia justru paham sekali.
Oleh karena itu, sekali lihat saja dia sudah tahu bahwa kepandaian Tan Ki sekarang sudah
jauh lebih hebat dibandingkan sebelumnya.
Saat ini jarak diantara keduanya kurang lebih empat lima langkah. Mereka seperti saling
menguji kesabaran.
Sinar mata Oey Ku Kiong mengendar. Dia melihat sepasang mata Tan Ki sedang
menatap si manusia berpakaian putih lekat-lekat, seakan dari pukulannya tadi dia dapat
menduga bahwa orang itu bukan lawan yang mudah dihadapi dan tidak boleh dipandang
ringan sama sekali. Sikapnya serius sekali.
Tiba-tiba dari kejauhan berkumandang suara suitan secara berturut-turut. Manusia
berjubah hitam longgar serta bermata sipit itu langsung mengerutkan sepasang alisnya.
Kemudian dia tertawa dingin. Dalam sekejap mata sikapnya kembali angkuh dan sombong.
Tampak Tan Ki mengeluarkan sebatang suling dari balik lengan bajunya dengan gerak
perlahan-lahan. Kemudian dia menggetarkannya. Tiba-tiba muncul guratan sinar yang
berkilauan serta menimbulkan hawa dingin. Pandangan mata menjadi kabur dibuatnya.
Rupanya di dalam seruling itu terdapat sebilah pisau yang panjang kurang lebih tiga
cun. Apabila ditekan, pedang itu baru keluar.
Tetapi kalau dikibaskan dengan keras, pisau itu bisa masuk lagi ke dalam. Jadi seperti
semacam senjata yang tersembunyi.
Manusia berpakaian putih itu melihat Tan Ki mengeluarkan senjatanya. Sepasang
matanya yang sayu seperti mata setan tiba-tiba memancarkan sinar berwarna kehijauan.
Dia berdiri dengan sikap bimbang, seakan senjata yang tersimpan dalam seruling Tan Ki
membuatnya ngeri sebelum bertarung. Sikap Tan Ki yang keren dan berwibawa juga
membuat orang yang melihatnya tidak berani memandangnya sebagai lawan yang enteng.
Ketegangan yang luar biasa heningnya mengiringi waktu yang merayap dengan
perlahan-lahan, suasana yang mencekampun semakin terasa…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dengan gerakan lambat Tan Ki mengangkat serulingnya ke atas. Tiba-tiba tubuhnya
melesat ke depan menerjang masuk. Sinar berwarna putih melintas di udara, tahu-tahu
orangnya sudah kembali pada posisi semula.
Gerakannya yang lambat tiba-tiba menjadi cepat. Hanya tampak sinar pedang
berkilauan sekejap mata, orangnya pun sudah kembali ke tempat semula. Kecepatan ini
sungguh sulit diikuti mata biasa. Boleh dibilang sepesat kilat yang menyambar.
Satu jurus serangan kedua orang itu dilakukan tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Tidak terdengar suara pukulan ataupun gerakan pedang pendek dalam seruling Tan Ki.
Oey Ku Kiong mendongakkan kepalanya dan memperhatikan dengan seksama. Tanpa
dapat ditahan lagi hatinya jadi bergetar. Dia melihat sepasang lengan serta tubuh tegak si
manusia berpakaian putih telah merubah gerakannya, tampaknya dengan mudah dia
dapat menghadapi serangan Tan Ki yang secepat kilat itu. Tetapi di lengan bajunya yang
longgar itu telah terlihat celah sebesar empat lima cun. Secara samar-samar dapat terlihat
bekas darah yang merembes.
Tidak diragukan lagi… serangan seruling yang dilakukan Tan Ki tadi telah berhasil
melukai si manusia berpakaian putih. Namun rupanya luka yang ditimbulkan oleh pedang
pendek yang tersembunyi dalam serulingnya tidak terlalu dalam.
Oey Ku Kiong sampai menarik nafas panjang-panjang.
“Dia sungguh perkasa,” katanya seperti kepada dirinya sendiri.
Semacam emosi yang tidak dipahaminya membuat pandangannya terhadap Tan Ki jadi
berubah. Dia merasa anak muda itu bagai sinar mentari yang baru menyingsing, yang
cahayanya membuat perasaan orang menjadi silau mengejutkan. Sikapnya berwibawa dan
anggun. Dia berdiri tegak di hadapannya dengan wajah serius. Bahkan si manusia
berpakaian putih yang dirinya sendiri mengakui tidak dapat mengalahkan, ternyata dengan
gerakan yang sederhana dan tampaknya mudah sekali, berhasil dilukai Tan Ki. Bila dia
tidak menyaksikan hal ini dengan mata kepalanya sendiri, dia benar-benar tidak percaya
bahwa peristiwa ini merupakan kenyataan.
Tangan kanan Tan Ki terangkat ke atas, pedang pendek yang menyambung dengan
serulingnya memancarkan cahaya yang berkilauan dan perlahan-lahan mengarah ke dada
si manusia berpakaian putih tersebut.
Dengan jurus Pergelangan Tangan Mengibas Awan, telapak tangannya langsung
terentang. Dari bawah tiba-tiba memutar ke atas. Tiba-tiba manusia berpakaian putih itu
menyerang ke arah pergelangan Tan Ki yang menggenggam sebatang” seruling berisi
senjata aneh itu.
Tampang manusia berpakaian putih ini benar-benar mirip sesosok mayat yang diseret
dari liang kubur. Dia menggerakkan tangannya yang kosong tanpa membawa senjata
apapun. Tetapi pada sepuluh jari tangannya justru dipelihara kuku-kuku yang panjangnya
kurang lebih tiga empat cun, menyerupai kaitan yang tajam. Persis seperti sepuluh batang
pisau tajam yang ditancapkan pada jari tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu dia mengerahkan tenaganya melancarkan serangan, angin yang ditimbulkannya
bagai sepuluh batang golok terbang yang melintas di angkasa dan dengan gusar melesat
ke arah lawannya. Kecepatannya benar-benar bagai kilat yang menyambar.
Siapa nyana pedang suling yang didorongkan ke depan oleh Tan Ki tiba-tiba menekan
ke bawah. Gerakannya dari lambat berubah menjadi cepat. Hawa dingin menyebar,
sasarannya pergelangan tangan kanan manusia berpakaian putih itu.
Begitu jurus pedangnya berubah, dari menghindar tahu-tahu melakukan serangan,
semuanya boleh dibilang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Nama Cian bin moong
yang sempat menggetarkan dunia persilatan, ternyata bukan didapatkan dengan
mengandalkan keberuntungan saja!
Sepasang bahu manusia berpakaian putih itu bergerak, sepasang kakinya menutul,
tubuhnya dalam posisi tegak mencelat ke belakang sejauh dua depa.
Meskipun perubahan gerakannya sudah termasuk cepat, tetapi putaran pedang di
tangan Tan Ki laksana ombak yang dihembus angin kencang, yang terlihat hanya guratan
cahaya yang membawa hanya dingin melesat lewat pergelangan tangan si manusia
berpakaian putih. Ketika dia menundukkan kepalanya melihat, tahu-tahu lengan baju
kanannya telah terkoyak sebagian dan darah segar jatuh setetes demi setetes membasahi
tanah.
Dua jurus serangan telah berturut-turut dilancarkan, setiap jurus melukai satu tempat.
Tetapi manusia berpakaian putih itu masih belum meluap kemarahannya karena hal ini.
Malah sebaliknya, Kiam-sut Tan Ki yang hebat ini serta sikapnya yang berwibawa, secara
diam-diam membuat hatinya tergetar. Sepasang matanya menyorotkan sinar gentar.
Melihat Tan Ki menggenggam suling di tangan dan melangkah maju dengan tampang
serius, tanpa terasa kakinya malah meloncat mundur satu langkah.
Manusia berjubah hitam longgar yang tingginya kurang dari lima mistar, tiba-tiba
mengerutkan alisnya.
“Ji-yau, apakah lukamu parah sekali?”
Orang ini sudah pasti wataknya angkuh bukan main, meskipun maksud pertanyaannya
merupakan perhatian dan mengandung kekhawatiran tetapi nadanya justru begitu dingin
seperti sebongkah es batu.
Manusia berpakaian putih itu diam-diam mencoba mengatur pernafasannya, dia merasa
hawa murninya masih dapat disalurkan ke lengan tangan. Hatinya langsung tahu bahwa
tulang maupun uratnya masih belum tersayat putus oleh pedang Tan Ki. Dengan demikian
dia segera menyahut dengan lantang, “Terima kasih atas perhatian Kaucu, hamba masih
dapat meneruskan pertarungan ini!”
Tangannya terangkat, dengan jurus Sungai Es Meluap Naik, sepuluh jari tangannya
yang mirip kaitan tajam menimbulkan berpuluh-puluh bayangan. Dengan lincah dan
gencar menyerang ke arah Tan Ki.
Tan Ki menggetarkan pergelangan tangannya dan mengibas ke depan, pedang
sulingnya segera menyambut serangan lawan. Tetapi sepasang kakinya tidak bergerak
sama sekali, dia tetap berdiri pada posisi semula. Seperti orang yang sudah dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bayangan bahwa dengan cara seperti ini, asal dia mengibaskan tangannya ke depan, tetap
saja dia akan mengenai sasaran dengan telak. Atau paling tidak dapat menangkis
serangan manusia berpakaian putih itu dengan tepat.
Tetapi nyatanya, sikapnya yang demikian tenang dan menampilkan kewibawaan,
membuat manusia berpakaian putih itu tidak berani mendesak maju. Tubuhnya bergerak,
dia malah mencelat ke belakang.
Melihat keadaan itu, tanpa dapat ditahan lagi sepasang alis Kim Yu berjungkit ke atas.
Dengan suara rendah dia berkata kepada manusia berjubah hitam longgar itu.
“Suheng, tampaknya anak muda itu sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali dalam
ilmu pedang. Sekali turun tangan gerakannya seperti bintang jatuh dari langit.
Kemungkinan besar Ji-yau atau Siluman Kedua bukan tandingannya!”
Manusia berpakaian hitam longgar itu mendengus dingin.
“Takutnya dia malah tidak bertahan lebih banyak dari sepuluh jurus lagi.”
“Itu sih belum tentu. Di bawah pimpinan Suheng terdapat dua siluman dan dua setan.
Mereka adalah orang-orang yang wataknya keras bukan main. Semakin gencar melakukan
serangan, mereka semakin tidak takut menghadapi kematian…”
Di saat kedua orang itu sedang berbicara, manusia berpakaian putih itu sudah mencelat
mundur dan berdiri dengan tegak. Tiba-tiba terdengar suara raungan keras dari mulut Tan
Ki. Dalam waktu yang bersamaan pedang suling di tangannya juga bergerak ke depan.
Tampak cahaya yang berkilauan melesat cepat ke arah lawan.
Jurus ini juga termasuk salah satu diantara ilmu pusaka Ti Ciang Pang yang bernama
Matahari Tenggelam Menyorot Indah. Jurus ini memang khusus diciptakan untuk mengejar
lawan dengan serangan yang gencar. Ketika pedang sulingnya bergerak, kecepatannya
bagai sebatang anak panah yang dibidikkan ke depan!
Serangan secepat ini hanya dapat dilakukan oleh jago kelas tinggi di dunia Bulim.
Begitu serangannya datang, lawannya langsung merasa kalang kabut dan tidak tahu
bagaimana harus menghadapinya.
Manusia berpakaian putih itu kehilangan kesempatan yang baik. Dirinya jadi
terperangkap dalam keadaan yang berbahaya. Apalagi senjata di tangan Tan Ki
merupakan sejenis senjata yang jarang terlihat di dunia Kangouw, yakni sebatang suling
yang berisi pisau. Ketajamannya sungguh luar biasa. Ketika bergerak menimbulkan cahaya
yang menyilaukan mata pula. Sekali pandang saja dapat dipastikan bahwa senjata rahasia
itu dapat memotong berbagai logam dengan mudah. Manusia berpakaian putih itu sudah
barang tentu tidak berani menyambutnya dengan tangan kosong, hal ini akan merugikan
kedudukannya. Secara berturut-turut dia meloncat mundur sejauh tiga langkah.
Tetapi biar bagaimana, dia merupakan salah satu pelindung hukum dalam perkumpulan
Pek Kut Kau. Ilmu silatnya merupakan hasil latihan keras. Tentu saja dia juga mempunyai
kelebihannya tersendiri. Sejak serangan Tan Ki membuat dirinya terdesak sehingga surut
mundur beberapa kali, dia tidak berani memandang ringan lawannya lagi. Tanpa
menunggu serangan Tan Ki yang berikutnya, pergelangan tangannya segera memutar dan
melancarkan serangan balasan. Lengannya yang panjang dan kurus bergerak, pukulannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bagai kincir angin yang kencang. Dalam waktu yang singkat dia sudah melancarkan empat
pukulan serta dua totokan.
Kedua totokan dan empat pukulan ini merupakan serangan yang keji sekali dan
mengandung tenaga dalam yang dahsyat. Ketika serangannya dilancarkan, timbul suara
angin yang mirip suitan panjang. Meskipun Tan Ki sering melancarkan jurus-jurus yang
aneh, tetapi biar bagaimana pengalaman dan pengetahuannya masih kalah jauh
dibandingkan lawan. Lengah sedikit saja, dia sudah terdesak oleh manusia berpakaian
putih itu. sampai berada dalam posisi yang berbahaya. Setelah bergebrak belasan kali, dia
malah kehilangan peluang untuk balas menyerang sama sekali.
Sembari mengatur pernafasan serta hawa murninya guna menyembuhkan luka, secara
diam-diam Oey Ku Kiong terus mengikuti perkembangan pertarungan antara Tan Ki
dengan manusia berpakaian putih itu. Melihat keadaan jadi berbalik, Tan Ki yang
kewalahan serta manusia berpakaian putih yang di atas angin, dia menjadi heran sekali.
‘Apa sebetulnya yang telah terjadi?’ pikirnya dalam hati.
Melihat keadan Tan Ki yang demikian terdesak, hatinya panik bukan main. Cepat-cepat
dia mengempos tenaga dalam dan hawa murninya lalu melonjak bangun. Dia bersiap-siap
mencari kesempatan yang baik supaya dapat menerjang ke depan memberi bantuan.
Namun pertarungan di antara kedua orang itu berlangsung dengan gerakan yang cepat
sekali. Sejurus demi sejurus dilancarkan, deruan angin pukulan dan bayangan seruling
terus bergantian. Bagai gulungan ombak di lautan yang terus melanda tiada hentinya.
Setelah memperhatikan sejenak, Oey Ku Kiong masih juga tidak mendapat kesempatan
untuk memberikan bantuan.
Justru ketika dia sedang panik dan kelabakan, tiba-tiba terdengar Tan Ki meraung keras
bagai harimau ngamuk. Seruling di tangannya mendadak melancarkan jurus-jurus yang
aneh. Bayangan seruling yang membawa hawa dingin berkelebatan memenuhi angkasa.
Dengan jurus Kabut Awan Diselimuti Cahaya Keemasan, tubuhnya berputaran bagai kitir
angin menerjang ke depan.
Rupanya dia menggabungkan Te Sa Jit-sut dengan ilmu gerakan seruling sehingga
menimbulkan pengaruh yang hebat.
Sayangnya gabungan ilmu ini baru pertama kali dimainkannya, hal ini membuat
gerakannya masih agak kaku. Manusia berpakaian putih itu melihat Tan Ki tiba-tiba
merubah gerakannya. Sambil menghindarkan diri, anak muda itu membalas sebuah
serangan. Diantara cahaya yang dingin timbul bayangan pedang dalam jumlah yang
banyak. Serangannya langsung mendesak ke arah dada manusia berpakaian putih itu.
Entah mengapa, serangkum hawa dingin yang timbul dari pedang Tan Ki yang jaraknya
tinggal setengah depa dari dada lawannya mendadak berhenti, gerakannya seperti
tertahan sesuatu sehingga tidak dapat diteruskan lagi.
Ternyata di saat yang genting ini, pedang Tan Ki sudah hampir berhasil menikam dada
lawannya, tiba-tiba anak muda ini lupa lanjutan gerakan yang harus dilakukannya.
Mungkin hal ini terjadi karena gerakannya yang masih kaku dan baru pertama kali
menggunakan ilmu tersebut. Dengan demikian, hilanglah kesempatan yang besar untuk
membunuh lawannya karena gerakannya yang berhenti dengan mendadak itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk sesaat manusia berpakaian putih itu menjadi terpana. Kemudian secara tidak
terduga-duga dia mengerahkan jurus Menyebar Bunga Pohon Liu, tubuhnya meloncat ke
samping dan tahu-tahu tangannya meluncur untuk mencekal pergelangan tangan Tan Ki
yang sedang menggenggam seruling.
Saat itu Tan Ki sedang merenungi kelanjutan perubahan gerak ilmu Te Sa Jit-sut,
perhatiannya jadi terpencar karena lengah ia jadi terdesak sedemikian rupa oleh serangan
manusia berpakaian putih yang gencar sehingga mencelat mundur ke belakang.
Perlu diketahui bahwa ilmu pedang merupakan satu diantara sekian banyak jenis ilmu
silat yang paling susah dipahami, apalagi bila hendak mencapai tingkat tertinggi. Apabila
Kiam-sut seseorang sudah mencapai taraf kesempurnaan, asal dia mengempos hawa
murninya saja, pedangnya dapat mengikuti kemauannya menyerang pihak lawan.
Pengaruh kekuatan pedangnya bagai air terjun yang menghempas batu karang, tidak akan
satupun yang meleset dari sasarannya. Bahkan orang yang tenaga dalamnya sudah
mencapai tingkat tinggi dapat membunuh lawannya dari jarak dua depaan.
Tan Ki justru mondar-mandir di antara tepian pantai ilmu pedang yang tertinggi.
Andaikata ada setitik ilham yang mendadak muncul dalam benaknya, maka kelak dirinya
bagai sebuah kotak pusaka yang masih belum diketahui orang banyak. Di saat mencapai
taraf tersebut, maka setiap kesulitan yang pernah dihadapinya dapat dipecahkan satu per
satu bagai bayangan yang melintas di depan pelupuk mata. Hal ini berarti dirinya sudah
mendapatkan hasil yang tidak habis dipakai.
Pikiran Tan Ki sedang bergelut dengan ilmu yang baru dipahaminya. Dia seolah tidak
memperdulikan keadaan sekitar sama sekali. Tetapi memangnya siapa manusia
berpakaian putih itu. Sejak semula dia sudah melihat sinar mata Tan Ki yang menerawang
di kejauhan, hatinya segera sadar bahwa ada sesuatu yang sedang menggelayuti pikiran
anak muda itu. Tentu dia tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Biar bagaimana
manusia berpakaian putih merupakan seorang tokoh yang licik sekali, mana mungkin dia
sudi melepaskan kesempatan yang bagus ini?
Oleh karena itu, tanpa menimbulkan suara sedikitpun dia segera merapatkan dirinya ke
arah anak muda itu. Tiba-tiba pergelangan tangannya mengibas dan tahu-tahu sudah
meluncur ke arah pergelangan tangan Tan Ki yang sedang menggenggam seruling!
Cara melancarkan serangannya itu, menggunakan kecepatan yang tinggi sekali. Oey Ku
Kiong yang melihatnya sampai terkejut setengah mati, tanpa dapat ditahan lagi dia
berteriak sekeras-kerasnya.
“Tan Heng, hati-hati…!”
Mendadak serangkum rasa nyeri menyerang ulu hatinya. Persis seperti dicucuki puluhan
jarum yang tajam, kata-katanya pun tidak dapat dilanjutkan lagi.
Rupanya dalam keadaan panik, dia sampai melupakan dirinya yang sedang terluka.
Baru saja meneriakkan beberapa patah kata, dia tidak sanggup melanjutkan lagi. Tetapi
saat ini Tan Ki bukan lagi pemuda yang ingusan yang baru terjun ke dunia Kangouw,
meskipun dia terkena sedotan tenaga manusia berpakaian putih itu yang kuat. Memang
tubuhnya sampai tidak dapat dipertahankan lagi tertarik ke depan satu langkah, namun
dia juga jadi tersadar seketika. Melihat cakar lawannya yang tajam hanya tinggal kurang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari satu cun dengan dadanya, cepat-cepat dia mengempos hawa murninya dan tubuhnya
pun langsung mencelat mundur ke belakang.
Seraya mencelat ke belakang, Tan Ki juga langsung mengerahkan tenaga dalamnya
dan memperhatikan dengan seksama gerakan lengan lawannya. Tiba-tiba tubuhnya miring
sedikit kemudian meluncur membalas sebuah serangan..
Tampak cahaya dingin berkilauan. Bayangan bintang yang jumlahnya tidak terhitung
berkumpul menjadi satu kemudian meluncur ke depan. Serangannya kali ini, baik
kecepatan maupun tenaga yang terkandung di dalamnya merupakan paduan seluruh
kekuatan pada diri Tan Ki. Terasa ada kilasan cahaya yang menyilaukan mata, dari deruan
suaranya sudah dapat diduga bahwa serangan ini tidak boleh dianggap ringan.
Tampaknya manusia berpakaian putih itu terkesiap sekali melihat serangannya yang
hebat bukan buatan itu. Mau tidak mau dia menarik kembali serangannya sendiri lalu
mencelat ke samping untuk menghindarkan diri.
Tiba-tiba Tan Ki mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
“Kau sudah tertipu, mengapa masih tidak menyerah?”
Pergelangan tangannya memutar kemudian mengibas. Tubuhnya meluncur ke depan
mengejar. Begitu tangannya bergerak, pedang sulingnya langsung menimbulkan bayangan
yang tidak terhitung jumlahnya. Hawa dingin menyebar, cahayanya memijar. Bagai
gumpalan awan yang disinari mentari dan meluncur ke depan bagai kilat.
Jurus ini bukan jurus sembarangan, justru merupakan salah satu jurus yang paling
hebat dari Te Sa Jit-sut, yakni Lautan Selatan Menggelora. Kekuatannya dahsyat sekali
dan sulit dicari tandingannya.
Kemudian terdengar suara siulan yang tajam dan menyayat hati, memecahkan
keheningan suasana yang tegang. Hujan darah memercik ke mana-mana, disusul dengan
sebuah lengan tangan yang dilewati oleh pedang suling Tan Ki lalu terbang melayang
sejauh dua depaan.
Begitu mata memandang, tampak manusia berpakaian putih itu mendekap sebelah
tangannya yang kutung. Ia mundur dengan terhuyung-huyung. Wajahnya yang pucat pasi
menyiratkan penderitaan yang tidak terkirakan. Tetesan-tetesan darah segar bagai air
pancuran mengalir mengiringi gerakan langkahnya yang limbung.
Wajah Tan Ki malah menyiratkan seulas senyuman yang gagah dan berdiri di
tempatnya dengan tenang. Saat itu dia masih mengenakan pakaian pengantinnya serta
tampak berkibar-kibar ditiup angin pagi.
Sikapnya berwibawa dan anggun persis seperti seorang dewa yang turun dari langit.
Tubuhnya berdiri dengan tegak. Dengan berhasilnya serangan yang ia lancarkan tadi,
bahkan lawannya sampai terkutung lengannya, membuktikan bahwa hasil pemikirannya
tadi sudah benar dan dia sudah menembus bagian tersulit dalam ilmu pedang. Hatinya
juga sadar bahwa Te Sa Jit-sut telah berhasil ia kuasai sepenuhnya sehingga dapat
digunakan sesuai keinginan hatinya. Asal diberi waktu beberapa kentungan lagi untuk
merenungkan Tian Si Sam-sut, dia yakin ilmu ini juga dapat dikuasainya dengan
sempurna. Dengan demikian dia mempunyai peluang untuk menyaingi jago-jago kelas
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tinggi di dunia Bulim sehingga namanya akan berkumandang di mana-mana. Sayangnya,
sebentar lagi dia akan mati…
Meskipun Tan Ki adalah seorang pemuda yang bernasib malang dan tidak
memperdulikan mati hidupnya sendiri, tetapi di saat berpikir tentang kemajuan ilmu silat
yang berhasil dicapainya, sehingga ada kemugkinan mendapat kejayaan di masa yang
akan datang, mau tidak mau hatinya menjadi pedih mengingat bahwa usianya hanya
tinggal beberapa saat dan dia sudah harus meninggalkan dunia yang penuh variasi ini.
Manusia berjubah longgar hitam dan merupakan Kaucu dari Pek Kut Kau dari wilayah
barat menggerakkan tubuhnya yang kecil pendek dan melangkah keluar perlahan-lahan.
Tampak sepasang matanya menyorotkan sinar kebimbangan dan kekhawatiran. Dia
berjalan mendekati Tan Ki.
“Ilmu pedang yang kau gunakan tadi, siapa yang mewariskannya kepadamu?” tanyanya
serius.
“Bagaimana kalau aku tidak ingin memberitahukannya kepadamu?”
Kaucu Pek Kut Kau itu memperdengarkan suara tawa yang menyeramkan.
“Kata-kata yang telah aku cetuskan, tidak ada seorangpun yang berani menentangnya.
Kalau kau tidak percaya, boleh coba-coba. Saat itu biarpun kau ingin mengatakannya,
kemungkinan sudah terlambat…”
Pada saat ini, Tan Ki sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi. Dalam pikirannya,
meskipun dia tidak mati dalam pertarungan, toh dia akan mati juga karena serangan racun
dalam tubuhnya. Mendengar kata-kata manusia berjubah hitam itu yang demikian angkuh,
tanpa dapat ditahan lagi dia tertawa terbahak-bahak.
“Paling-paling mati, memangnya apa yang harus ditakuti?”
Wajah Kaucu Pek Kut Kau itu langsung menyiratkan kegusaran, sembari tertawa dia
berkata, “Ingin mati? Takutnya malah tidak begitu mudah!”
Dengan mata menerawang Tan Ki merenung beberapa saat.
“Kepandaian di dunia Kangouw terdiri dari bermacam ragam. Tetapi ilmu menggunakan
racun bukan sembarang orang yang mempelajarinya. Cayhe juga percaya bahwa Saudara
sanggup membuat diri ini terperangkap dalam keadaan mati tidak hiduppun tidak. Tetapi
aku juga mempunyai keyakinan sendiri dan tidak membiarkan Saudara berbuat demikian!”
Kata-katanya ini diucapkan dengan penuh kegagahan. Di balik sikapnya yang lembut
tersirat kekerasan. Oey Ku Kiong yang berdiri di sampingnya sampai menganggukkan
kepala berkali-kali menyetujui pendapatnya ini. Wajahnya bahkan menyunggingkan seulas
senyuman yang menunjukkan rasa kagumnya.
Sepasang alis Kaucu Pek Kut Kau itu langsung menjungkit ke atas. Wajahnya berubah
jadi kelam. Namun mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
“Benarkah?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Saudara dapat melihat jurus seranganku tadi, tentunya sudah dapat menduga pula
asal usulnya. Seandainya Cayhe mengungkapkan siapa orangnya yang mewariskan ilmu
tersebut, harap Saudara juga mengabulkan beberapa permintaanku ini. Urusan pagi ini,
biar bagaimana harus ada penentuan menang kalahnya. Biarpun Saudara tidak
mengajukan pertanyaan ini, pertarungan tetap harus berlangsung. Siapapun tidak dapat
mencegahnya lagi. Harap Saudara pertimbangkan lagi baik-baik. Kata-kata yang
kuucapkan, hanya untuk melihat sampai di mana kegagahan tokoh dari Si Yu, bukan
berarti dapat memaksa diri Cayhe menerima penghinaan dari kalian!”
Kaucu Pek Kut Kau menganggukkan kepalanya.
“Dari tokoh angkatan muda maupun para boanpwe, selamanya tidak ada seorangpun
yang berani berbicara demikian di hadapanku. Sikapmu yang berani membangkang ini,
meskipun sudah patut menerima hukuman mati, tetapi kata-katamu tadi beralasan juga.”
“Kalau begitu, berarti Saudara sudah menyetujui?”
Sinar mata Kaucu Pek Kut Kau itu mengedar sekilas lalu berhenti pada diri Oey Ku
Kiong. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman.
“Kita boleh saling menukar masalah, biarpun didengar oleh orang lain, tidak apa-apa.
Setelah kita selesai bicara, aku dapat membunuhnya.”
Mendengar kata-katanya, Oey Ku Kiong terperanjat sekali. Diam-diam dia berpikir
dalam hatinya.
‘Orang ini secara terang-terangan menyatakan apa yang tersirat dalam hatinya, kalau
dia tidak mempunyai keyakinan besar atas dirinya sendiri, mana mungkin…’
Berpikir sampai di sini, jantungnya berdegup lagi. Dia memaksakan dirinya untuk
menghimpun hawa murni dalam tubuhnya. Secara diam-diam dia melihat ke sekelilingnya
untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.
Tan Ki tersenyum lembut.
“Tentang mati hidup, merupakan urusan yang baru dapat ditentukan setengah
kentungan kemudian. Saudara juga tidak perlu berbicara dengan nada seyakin itu…”
setelah berhenti sejenak, dia baru meneruskan lagi kata-katanya. “Jurus serangan yang
tadi Cayhe kerahkan bernama Lautan Selatan Menggelora. Mungkin Saudara juga sudah
mengetahuinya. Kemungkinan Saudara malah lebih memahaminya daripada diri Cayhe
ini…”
Kaucu Pek Kut Kau tertawa lebar.
“Tidak salah! Jurus Lautan Selatan Menggelora yang kau gunakan tadi, bukan saja
mengandung perubahan yang cepat lagipula memang aku lebih menguasainya daripada
dirimu. Gerakanmu barusan seperti orang yang baru mempraktekkanya pertama kali.
Sehingga sering kehilangan kesempatan yang baik untuk membunuh lawan…”
Mendadak dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian baru melanjutkan kembali.
“Sayangnya, dari kitab ilmu pusaka perkumpulanku itu, yakni Te Sa Jit-sut, aku hanya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memahami dua jurus yang terakhirnya saja. Salah satunya adalah Lautan Selatan
Menggelora yang kau mainkan tadi.”
Hati Tan Ki tercekat mendengar kata-katanya.
“Rupanya Te Sa Jit Sut adalah ilmu dari Pek Kut Kau asalmu itu?”
Kaucu Pek Kut Kau atau Perkumpulan Tengkorak Putih menganggukkan kepalanya
sedikit.
“Dalam dunia Bulim sekarang ini, kecuali aku sendiri, seharusnya tidak ada orang lagi
yang paham ilmu ini. Tetapi secara tidak terduga-duga, di tempat ini juga aku bisa
menemui seseorang yang paham ilmu pusaka perkumpulan kami yang sudah lama
menghilang. Entah dari siapa kau mendapatkan warisan ilmu tersebut?”
Tan Ki tertegun sekian lama. Diam-diam dia berpikir: ‘Seluruh, ilmu silat yang kukuasai
merupakan hasil curian dari goa makam leluhur Ti Ciang Pang, Kemudian baru mendapat
kemajuan seperti sekarang. Bahkan kitab ilmu pernafasan itu termasuk salah satu
diantaranya. Sedangkan hal ini merupakan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang
lain…’
Hatinya bagai kincir angin yang terus berputar. Setelah berpikir beberapa saat, baru
saja dia ingin mencari alasan untuk mengulur waktu agak lama, tiba-tiba dari bagian
ruangan depan secara berturut-turut berlari keluar beberapa orang. Orang yang berada di
paling depan mengenakan jubah hijau yang berkibar-kibar. Wajahnya bersih dan
berwibawa. Dia adalah Sam-siok Tan Ki, Yibun Siu
San. Di belakangnya tampak mengiringi Liu Seng, Kok Hua Hong, serta Ciong San
Suangsiu.
Kemungkinan mereka mendapat kabar tentang peristiwa diri Tan Ki yang keracunan
dari Lok Hong beserta cucunya Lok Ing. Itulah sebabnya mereka bergegas keluar
melihatnya.
Pada saat ini Cian Cong entah kabur kemana, bayangannya tidak kelihatan, bahkan
para anak gadis juga tidak ada satupun yang muncul.
Begitu orang-orang ini sampai, Kok Hua Hong yang pertama-tama berada dekat Oey Ku
Kiong guna memeriksa luka dalam yang diderita anak muda itu.
Oey Ku Kiong memaksakan seulas senyuman di bibirnya.
“Aku tidak apa-apa. Tan Heng di sana justru yang keadaannya lebih berbahaya.
Lawannya adalah Kaucu Pek Kut Kau generasi sekarang. Harap Cuwi memperhatikan
keselamatan diri Tari Heng.” katanya.
Rupanya hati anak muda ini telah menganggap Tan Ki sebagai sahabat abadinya.
Setiap saat dia selalu mengkhawatirkan keselamatan anak muda itu.
Tiba-tiba Tan Ki teringat akan orangtua yang sepuluh tahun lalu pernah memberi
petunjuk kepadanya agar mencari goa rahasia Ti Ciang Pang. Tanpa dapat ditahan lagi,
segulung perasaan getir menyelinap di dalam hatinya. Setelah merenung sejenak, dia
mendongakkan wajahnya dan menghembuskan nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ada seorang kakek tua yang mengenakan pakaian berwarna hitam, aku tidak tahu
siapa namanya…”
“Mengapa kau tidak menanyakan?” tanya Kaucu Pek Kut Kau.
“Saat itu dia sedang terluka parah sekali. Nafasnya tinggal satu-satu. Lagipula aku
masih merupakan seorang bocah berusia kurang lebih sepuluh tahunan.”
“Kalau begitu, seharusnya kau masih mengingat baik raut wajahnya dan bentuk
tubuhnya.”
Perlahan-lahan Tan Ki menarik nafas dalam-dalam. Dengan perasaan terharu dia
berkata, “Dia merupakan orang yang mempunyai budi paling dalam terhadap diriku.
Meskipun kejadiannya sudah lebih dari sepuluh tahun, tetapi setiap waktu setiap saat aku
selalu terkenang akan raut wajahnya dan nada suaranya…”
Tampaknya hati anak muda ini ditekan oleh berbagai peristiwa yang menyedihkan. Saat
ini dia ingin meluapkannya keluar. Setelah berhenti sejenak, perlahan-lahan dia
melanjutkan lagi kata-katanya.
“Orangtua itu tampaknya sangat menderita. Seluruh tubuhnya penuh dengan luka.
Keadaannya saat itu tidak mungkin dapat disembuhkan lagi oleh obat yang bagaimanapun
mujarabnya. Tampangnya kusut dan pucat, bahkan sinar matanya sudah mulai pudar.
Siapapun yang melihatnya, pasti dapat merasa bahwa setiap saat orangtua itu akan
melayang jiwanya. Ilmunya kemungkinan tinggi sekali, pengetahuannya pun luas. Dia
memberitahukan satu hal kepadaku, yakni bahwa sebetulnya dirinya telah berada di tepi
pintu kematian selama puluhan tahun. Apa yang dikatakannya merupakan hal yang sulit
dibayangkan oleh orang lain. Tetapi dia punya keberanian yang besar serta semangat
tinggi untuk meneruskan hidupnya. Pada hal sebagian tubuhnya sudah lumpuh dan setiap
hari dia harus menerima siksaan di maria urat nadinya menjadi keras dan hawa murni
dalam tubuhnya mengalir secara terbalik. Ketika aku bertemu dengannya, tempatnya
adalah sebuah hutan di kaki bukit Tiang Pek San…”
Kaucu Pek Kut Kau memejamkan matanya merenung. Tiba-tiba dia mendongakkan
kepalanya menatap langit. Seperti sengaja dan tidak menghindari pandangan mata Tan’Ki.
“Apakah di wajahnya terdapat guratan luka yang memanjang?”
“Benar. Lagipula bekas luka itu mungkin didapatkan ketika menjalani suatu hukuman.
Begitu panjangnya sampai terlihat jelas menghiasi sebelah wajahnya. Dapat dibayangkan
hukuman yang diterimanya pada waktu dulu pasti berat sekali.”
Mendengar sampai bagian ini, tampaknya Kaucu Pek Kut Kau itu telah berhasil
menyimpulkan suatu bukti yang kuat. Tubuhnya yang pendek tampak gemetar. Bahkan
Yibun Siu San yang sedang memejamkan matanya merenung juga membuka matanya
secara tiba-tiba. Apa yang diceritakan oleh Tan Ki, dalam waktu serentak seolah membuat
kedua orang itu teringat akan suatu peristiwa besar.
Kaucu Pek Kut Kau yang angkuh dan tinggi hati itu tetap mendongakkan wajahnya
menatap langit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Teruskan ceritamu. Selama dua puluh tahun ini, pertama kalinya aku mempunyai
kesabaran mendengar pembicaraan seseorang.”
“Rupanya hari itu dia bermaksud memetik daun obat-obatan di daerah Tiang Pek San.
Siapa sangka di tengah perjalanan, luka dalamnya tiba-tiba kambuh…”
Terdengar suara keluhan dari mulut Kaucu Pek Kut Kau tersebut. Nadanya seperti
orang yang mulai tidak sabar.
“Teruskanlah!”
“Pertemuan yang aneh ini rupanya memang telah diatur oleh Thian. Aku tidak
membantunya menyembuhkan luka yang dideritanya. Tetapi dia malah memberi sebuah
jalan terang untukku. Dia mewariskan berbagai ilmu silat kepadaku. Jurus Lautan Selatan
Menggelora yang kumainkan itu juga ajaran orangtua tersebut. Meskipun aku sudah
merubahnya sedikit di sana sini, tetapi memang dia yang mewariskannya kepadaku.”
“Entah di mana mayatnya sekarang?” tanya Kaucu Pek Kut Kau.
Tan Ki merenung sejenak.
“Harap Saudara sudi memaafkan kalau hal ini tidak kuberitahukan kepadamu. Dia
adalah seorang tokoh yang misterius. Dirinya memiliki kepandaian yang tinggi sekali,
tetapi dunia Bulim justru tidak tahu ada tokoh seperti orang ini. Dia juga memiliki ilmu
pengobatan yang lihai sekali, namun dia justru tidak sanggup menyembuhkan penyakitnya
sendiri yang sudah parah. Di kolong langit jaman ini, mungkin tidak ada orang lagi yang
mengetahui asal-usul orang ini.’”
“Tidak salah. Orang yang mengetahui asal usulnya, di kolong langit ini jaman sekarang,
mungkin hanya tinggal aku seorang saja.”
“Cayhe juga mempunyai pikiran yang sama.”
Kaucu Pek Kut Kau tersebut tertawa dingin.
“Kau cerdas sekali. Kalau aku mengatakan siapa adanya orang ini, kemungkinan ada
beberapa sahabat yang pernah melihat wajahnya atau mengenalinya. Sayangnya usiamu
tinggal sebentar lagi. Meskipun aku tidak membunuhmu, kau juga tidak mungkin bisa
melihat mentari esok pagi lagi.”
Tan Ki mengembangkan senyuman yang datar.
“Soal mati hidup, aku tidak memikirkannya lagi… sekarang, seharusnya aku yang
mengajukan pertanyaan kepadamu.”
“Tanyakanlah!”
Tan Ki mengeraskan suaranya, seakan sengaja membiarkan kata-katanya terdengar
oleh orang-orang gagah yang ada di tempat itu.
“Kali ini urusan gabungan antara pihak Lam Hay dan kelompok Kaucu Pek Kut Kau dari
Si Yu, rasanya sudah selesai dirundingkan bukan?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak salah!”
“Apakah rombongan kalian ini merupakan pasukan pembuka jalan?”
Kaucu Pek Kut Kau mendengus satu kali. Mimik wajahnya menunjukkan perasaannya
yang kurang senang. Tetapi dia tetap menjawab pertanyaan Tan Ki.
“Kalau kau mengajukan pertanyaan, lebih baik hati-hati sedikit. Jangan sampai
menyinggung harga diri Kaucu ini. Tetapi, perkiraanmu memang kuat sekali.”
“Beberapa hari yang lalu, Sute Saudara mengadakan perjanjian dengan seorang
perempuan di sebuah kuil tua dekat luar kota Lok Yang. Apakah masalah yang
dirundingkan adalah tentang pergabungan antara Lam Hay dengan Si Yu?”
Apa yang ditanyakan adalah saat di mana dia melihat Kiau Hun masuk ke kuil tua
bersama Kim Yu.
Mendengar pertanyaannya, Kaucu Pek Kut Kau itu jadi tertegun. Setelah melirik sekilas
ke arah Kim Yu, bibirnya menyunggingkan seulas senyuman yang licik.
“Masalah ini biar kau duga sendiri saja. Tidak perlu aku bersilat lidah menjawab
pertanyaanmu.”
Tiba-tiba dia mengangkat sebelah tangannya dan mengibas. Dua manusia berpakaian
hitam segera mengiakan dan berjalan keluar, mereka menghambur ke depan sejauh tiga
tindak dan berhenti di depan Tan Ki.
Sepasang alis Yibun Siu San langsung menjungkit ke atas. Tubuhnya bergerak memutar
dan berdiri menghadang di depan Tan Ki. Anak muda itu memperdengarkan suara tawa
yang getir sekali.
“Siok Siok, biarlah aku yang menjalani pertarungan ini!” suaranya begitu pilu dan
terdengar jelas dari kata-katanya yang pendek itu.
Yibun Siu San jadi tertegun.
“Kau ingin bertarung sampai mati lalu menganggap semuanya sudah selesai? Kau tidak
berpikir bagaimana menderitanya ibumu yang mengharapkan anaknya menjadi orang
yang berguna? Kau malah ingin mencelakai dirimu sendiri dan menganggap ringan
nyawamu sendiri…!”
Tiba-tiba terlihat manusia berpakaian hitam yang wajahnya jelek sekali serta bertubuh
pendek gemuk dan berdiri di sebelah kiri secara tidak terduga-duga mengangkat sebelah
tangannya dan melancarkan sebuah pukulan.
Tampaknya tenaga dalam orang ini sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Dia sudah
bisa mengerahkan pukulan sesuai dengan keinginan hatinya. Meskipun jurus yang
dikerahkan tampaknya sangat sederhana, tetapi karena dia yang melancarkannya jadi
terasa mengandung pengaruh yang dahsyat sekali. Yibun Siu San meraung dengan keras
dan diapun mengulurkan tangannya menyambut serangan itu dengan cara keras lawan
keras.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba tubuh Tan Ki memutar dan menghadang ke depan Yibun Siu San. Mulutnya
langsung berteriak keras-keras.
“Siok Siok, pertarungan yang terakhir ini, biar bagaimana pun aku ingin berduel matimatian.
Seandainya matipun harus gegap gempita dan meninggalkan sedikit nama di
dunia ini. Tetapi kau harus perhatikan baik-baik, dalam pihak jago-jago kita telah
kesusupan seorang mata-mata…!”
Belum lagi kata-katanya selesai, pedang sulingnya sudah digetarkan lalu menusuk ke
arah manusia berpakaian hitam yang ada di sebelah kanan.
Terdengar kedua manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan suara siulan serentak
kemudian memencarkan diri ke arah yang berlawanan.
Wajah Yibun Siu San berubah hebat. Dia langsung berteriak, “Hati- hatilah sedikit! Bu
Heng Sin-cian atau Pukulan Sakti Tanpa Bayangan dari Si Yu sangat terkenal. Ketika
dilancarkan tidak terdengar suara sama sekali. Dan sasarannya selalu bagian yang tidak
terduga-duga oleh lawan…”
Belum lagi Tan Ki sempat mengulurkan sepatah kata, tiba-tiba dia merasa bagian
dadanya sudah terkena sebuah pukulan. Tanpa dapat dipertahankan lagi kakinya limbung
dan menyurut mundur sejauh lima langkah.
Perubahan yang tidak terduga-duga ini berlangsungnya terlalu cepat. Wajah Yibun Siu
San tampak berubah hebat. Tubuhnya segera bergerak melesat ke depan. Sebuah jurus
Bintang-Bintang Berjatuhan yang jarang terlihat langsung dilancarkannya, sekali gerak
berubah delapan kali, semuanya dikerahkan dalam sekali tarikan nafas saja. Tampak
bayangan telapak tangan dalam jumlah yang tak terhitung berkibar-kibar mengiringi
gerakan tubuhnya. Dalam seketika langsung mendesak ke arah lawan.
Serangannya ini hebat sekali, laksana hujan deras yang tercurah dari langit secara
mendadak, membuat hati orang yang melihatnya menjadi tergetar. Begitu hebat
desakannya sehingga salah satu lawannya terpaksa menyurut mundur terus serta tidak
mempunyai kesempatan sedikitpun untuk menangkis.
Baru saja Yibun Siu San ingin melancarkan sebuah serangan yang lebih keji lagi, tibatiba
terdengar suara dengusan dingin dari hidung Tari Ki. Tubuhnya terhuyung-huyung
lalu terduduk di atas tanah. Tidak diragukan lagi kalau anak muda itu kembali terkena
sebuah pukulan dari manusia berpakaian hitam tadi.
Saat itu juga telinganya menangkap suara teriakan, “Anakku…!” Tan Koko…!” yang
berkumandang dari kejauhan.
Hati Tan Ki terasa tertekan sekali. Perasaannya bagai hancur lebur. Dengan menahan
rasa sakit dia langsung jatuh pingsan, tetesan darah segar terus mengalir dari sudut
bibirnya dan jatuh membasahi rerumputan di mana tubuhnya terbaring.
BAGIAN XXXIV
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tepat di saat itu Tan Ki jatuh tidak sadarkan diri karena terluka parah, tiba-tiba…
bayangan manusia berkelebat, hembusan angin membawa serangkum bau harum. Di
hadapan Tan Ki dalam waktu yang bersamaan muncul tiga orang perempuan. Mereka
adalah Ceng Lam Hong, Liu Mei Ling dan Lok Ing. -
Saat itu Yibun Siu San juga segera, melesat datang dan berhenti di samping Ceng Lam
Hong. Begitu matanya memandang, dia melihat wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi.
Di bagian keningnya bagai ada guratan garis berwarna hijau. Sepasang matanya terpejam
rapat. Nafasnya lemah sekali. Seakan setiap saat setiap detik nafasnya itu bisa berhenti
secara mendadak.
Tetapi telapak tangan kanannya tetap menggenggam pedang sulingnya erat-erat.
Keadaan yang mengenaskan ini membuat ketiga perempuan itu menguraikan air mata
dengan deras. Hanya perasaan hati merekalah yang berbeda-beda.
Ceng Lam Hong mendongakkan wajahnya menatap Yibun Siu San. Air matanya masih
mengalir dengan deras.
“Lukanya parah sekali, bukan?”
Yibun Siu San menarik nafas panjang.
“Bukan hanya parah saja, tetapi di dalam tubuhnya juga mengendap sejenis racun yang
ganas.”
Kata-katanya ini bagai petir yang menyambar di siang bolong. Hati Ceng Lam Hong
sampai tergetar mendengarnya. Tubuhnya langsung sempoyongan lalu terkulai pingsan di
atas tanah!
Di pihak lain, Mei Ling sejak kecil biasa hidup dimanja. Selamanya dia belum pernah
menghadapi kejadian seperti ini. Melihat Ceng Lam Hong tiba-tiba jatuh pingsan, dia
menjadi panik sehingga aliran darahnya seperti bergejolak. Tetapi dia tidak tahu apa yang
harus diperbuatnya. Untuk sesaat dia menjadi kalang kabut dan malah berdiri sambil
menangis kebingungan.
Untung saja gerakan Lok Ing cukup gesit. Tubuhnya segera melesat ke depan serta
mengulurkan tangan merangkul. Dengan sigap dia berhasil menangkap tubuh Ceng Lam
Hong yang hampir terkulai di atas tanah.
Yibun Siu San menarik nafas perlahan-lahan. Dia seperti bergumam terhadap dirinya
sendiri.
“Pertarungan ini telah membuat namanya jadi terkenal.”
Apabila ditilik dari kata-katanya, dia memang mengatakan secara langsung bahwa
pertarungan ini telah menggetarkan dunia Bulim dan menjadi perhatian khalayak ramai
tetapi seakan mengandung makna bahwa di dunia Bulim kembali muncul seorang tunas
muda yang akan menjadi harapan bangsa. Xiu Mei Ling masih menangis tersedu-sedu.
Dia toh sudah hampir mati, apa gunanya mempunyai nama terkenal?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suaranya begitu sendu sehingga lebih mirip ratapan seorang gadis yang ditinggal mati
kekasihnya. Orang yang mendengarnya pasti akan turut merasa sedih.
Yibun Siu San meliriknya sekilas. Kembali dia menarik nafas panjang. Namun dia tidak
mengatakan apa-apa. Dengan perasaan Liu Mei Ling berteriak, “Siok Siok, carilah jalan
keluar untuk menolongnya, sebentar lagi dia akan mati…!”
Yibun Siu San malah menukas kata-katanya dengan gumaman yang tidak jelas, “Benar,
dia sudah hampir mati…”
Dia tidak ingin mengatakan bahwa luka yang dialami Tan Ki sudah sedemikian parah
sehingga mirip lampu yang hampir kehabisan minyak. Meskipun dirinya sendiri mempunyai
pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu pengobatan, tetapi dia juga merasa tidak
punya kesanggupan menyembuhkan keponakannya itu. Akhirnya dia hanya bisa
menggumamkan kata-kata yang tidak berujung pangkal.
Tiba-tiba tampak Lok Ing meletakkan tubuh Ceng Lam Hong di atas tanah, tangannya
terulur ke dalam saku pakaian dan dikeluarkannya sebuah botol kumala berukuran kecil.
Dia membuka tutup botol tersebut kemudian dengan hati-hati menuangkan seluruh isinya
lalu dimasukkannya ke dalam mulut Tan Ki.
Yibun Siu San langsung mengerutkan alisnya melihat tindakan gadis itu.
“Benda apa itu?”
Lok Ing tersenyum simpul.
“Isi botol ini merupakan obat penyembuh luka yang paling manjur dari Ti Ciang Pang
kami. Satu butir saja sudah cukup untuk menyambung kembali tulang yang putus maupun
urat nadi yang tergetar. Bahkan dapat membangkitkan kembali tenaga dalam yang lemah.
Sekarang aku menuangkan isi seluruh obat dalam botol ini, meskipun orang yang
penyakitnya sudah parah sekali, juga pasti bisa bangun kembali dan bergerak dengan
leluasa. Malah lebih sehat dari orang umumnya.”
Sepasang mata Mei Ling langsung bersinar terang.
“Benarkah obatmu demikian manjur?” tanyanya gugup.
Lok Ing tertawa datar.
“Selamanya aku tidak pernah melakukan hal yang diriku tidak merasa yakin. Juga tidak
suka mengucapkan kata-kata yang merupakan bualan saja.”
Dia berhenti sejenak. Matanya menyorotkan sinar yang sendu. Kemudian perlahanlahan
meneruskan kembali kata-katanya. “Tetapi, biar bagaimana dia tetap akan mati
juga.”
“Apa?” teriak Mei Ling tanpa sadar. Tubuhnya langsung bergetar hebat.
Lok Ing tertawa lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Seseorang hidup di dunia ini mempunyai batas tertentu. Lewat dari usia enam puluh,
manusia setiap saat ada kemungkinan dijemput maut. Tetapi aku berhasil mendapat
sedikit pengetahuan dari berbagai kejadian yang pernah kualami. Aku menemukan bahwa
di dalam tubuh seseorang pasti ada semacam tindakan refleksi yang mengandung
kekuatan untuk hidup. Umpamanya, orang yang sudah mati, dalam waktu beberapa hari
kukunya tetap dapat tumbuh menjadi panjang. Seperti inilah rumusnya. Kalau kita kembali
lagi kepadanya, luka yang diderita Tan Ki sudah parah sekali. Hanya tersisa sedikit
denyutan jantung saja. Tetapi karena aku mencekoki obat dalam dosis yang tinggi, hal ini
membuat gerak refleksi dalam dirinya jadi tergugah, emosinya pasti akan meluap seketika.
Biarpun lukanya lebih parah dari sekarang, asal nadinya masih ada denyutan, tentu bisa
menghidupkan dia untuk sementara. Dengan kata lain semangat hidupnya akan kembali
untuk beberapa waktu.”
Mendengar penjelasan Lok Ing yang pan jang lebar, Mei Ling yang pada dasarnya
masih polos dan tidak mempunyai banyak pengetahuan merasa apa yang diuraikannya,
sejak jaman purba sampai sekarang tidak pernah mendengar hal semacam itu. Tanpa
dapat dipertahankan lagi dia malah jadi termangu-mangu.
Sesaat kemudian, dia baru bertanya, “Kalau begitu, mengapa dia tetap akan mati?”
Lok Ing kembali tersenyum simpul.
“Kalau dia sadar kembali nanti, berarti karena dibantu oleh obat yang ditelannya tadi.
Apabila reaksi obat itu sudah habis, maka seperti lampu yang sudah kehabisan minyak,
bagaimana masih bisa menyala? Otomatis kekuatan hidupnya juga padam dan diapun
tidak dapat hidup lebih lama lagi.”
Mendengar ucapannya, Mei Ling seperti merasa dadanya ditinju dengan keras, seluruh
tubuhnya bergetar dan wajahnya pun berubah hebat.
“Kalau begitu, dia… tidak mempunyai harapan lagi walau setitik saja?”
“Tentu saja itu yang kumaksudkan.”
Hati Mei Ling menjadi pedih. Dua baris air mata mengalir dengan deras. Untuk sekian
lama dia berdiri tertegun tanpa mengucapkan apa-apa.
Tampangnya saat itu persis seperti sebuah patung dewi yang suci. Tubuhnya berdiri
tegak, wajahnya anggun dan demikian welas asih. Siapa yang sangka kalau saat ini
hatinya persis seperti sebuah perahu yang karam di hantam ombak. Hancur berderai
menjadi kepingan-kepingan kecil…
Tiba-tiba terdengar suara pukulan dan suitan nyaring. Entah sejak kapan Yibun Siu San
sudah mulai bergebrak dengan kedua manusia berpakaian hitam tadi.
Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin Mei Ling mengurusi persoalan yang lain.
Terdengar suara tangisannya yang terisak-isak.
“Kau… kau… sungguh… keji… sekali…” perasannya yang bergejolak menandakan
kepedihan karena harapan yang kandas. Hal ini membuat ucapannya jadi tersendat-sendat
seakan memerlukan tenaga yang kuat untuk mengatakannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lok Ing tersenyum lembut, “Tadi malam adalah saat di mana kalian (menyembah langit
dan bumi serta mengikatkan diri menjadi suami isteri. Ratusan tamu berdatangan dari
segala penjuru Bulim. Tambur berbunyi terus memeriahkan suasana. Bayangkan
bagaimana hebatnya penampilan kalian saat itu, bahkan membuat perasaan orang
menjadi iri. Sekarang apabila dia masih hidup di dunia ini, biar kapanpun dia tetap
merupakan milikmu. Sedangkan bagi diriku, juga sulit menyatakan bagaimana perasaanku
yang sebenarnya. Kalau aku ingin mendapatkan dia, satu-satunya jalan hanya menunggu
sesudah mati. Oleh karena itu…”
Mei Ling cepat-cepat menukas, “Oleh karena itu kau menggunakan cara ini agar dia
celaka?”
Lok Ing tertawa lebar.
“Aku tidak ingin mencelakai siapapun. Tetapi kalau ditilik dari lukanya yang demikian
parah, dan nafasnya yang tinggal satu-satu, waktunya juga tidak seberapa lama lagi.
Lebih baik bangkitkan sisa kekuatannya dan bantu dia mendapatkan nama besar di dunia
Bulim. Dengan demikian, kemungkinan ia dapat meninggalkan segurat cahaya yang
cemerlang dan bayangkan berapa banyak orang gagah yang akan mengenang dirinya dan
menghormatinya…”
Ketika berbicara sampai bagian yang menyenangkan, tanpa sadar bibirnya tersenyum.
Namun senyum itu begitu menyayat hati.
Tampak wajahnya yang tenang tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Dengan
demikian orang yang melihatnya tidak dapat menebak apakah dia sedang bergembira atau
bersedih. Tetapi sepasang matanya justru menyorotkan sinar tekadnya yang bulat. Hal ini
membuktikan bahwa gadis yang selalu malang melintang di daerah Sai Pak ini tampaknya
sudah mempunyai rencana yang matang setelah kematian Tan Ki. Dia tidak takut anak
muda itu akan mati dan memberikan pukulan bathin yang hebat kepadanya. Juga tidak
takut perasaan hatinya sejak sekarang hanya akan menjadi sebuah harapan yang
menggantung dalam angan-angan.
Tiba-tiba tampak wajah Mei Ling berubah hebat.
“Aku akan mengadu jiwa denganmu!” katanya garang.
Telapak tangannya bergerak, telapak tangan kiri menggunakan kesempatan itu
mendesak ke depan. Dengan jurus Lima Geledek Sekali Sambar, dia melancarkan sebuah
serangan dengan keji.
Suara pukulan yang dahsyat seperti gunting menyobek kain panjang sehingga
membuat telinga menjadi ngilu mendengar.
Tubuh Lok Ing bergeser sedikit lalu mencelat ke samping sejauh lima langkah. Deruan
angin yang keras melintas lewat di ujung pakaiannya. Tampak bibirnya menyunggingkan
seulas senyuman yang manis.
“Diantara kita toh tidak ada dendam apa-apa, mengapa harus mengadu jiwa segala?”
“Kau sudah mencelakai Tan Koko, aku tidak mempunyai gairah untuk hidup sendiri di
dunia ini!” sahut Mei Ling ketus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lok Ing mendengus satu kali dengan nada dingin dan kecut.
“Dari pada mengadu jiwa dengan diriku sampai mati, lebih baik bunuh diri saja, toh
lebih mudah.”
Mei Ling menganggukkan kepalanya sambil menangis pilu.
“Aku akan melakukannya. Aku akan membunuh diriku sendiri dan menemani kematian
Tan Koko. Aku tidak ingin sukmanya kesepian di alam baka. Tetapi sebelum aku menutup
mata, aku harus membalaskan dendam dulu bagi Tan Koko!”
Lok Ing mendongakkan kepalanya menatap awan yang berarak di langit. Perlahanlahan
dia berkata.
“Kau ingin balas dendam atau tidak, dan menggunakan cara yang bagaimanapun, sama
sekali tidak ada hubungannya dengan diriku. Tetapi setelah dia mati, aku akan mencarikan
sebuah tempat yang tenang serta terpencil untuk mengubur dirinya. Lalu akan kubangun
sebuah makam yang besar sekali agar sukmanya dapat terhibur. Kemudian…”
Mei Ling melihat mimik wajahnya yang seperti tersenyum namun mengandung
kesedihan yang dalam. Sehingga menyiratkan keanehan yang tidak dipahaminya. Namun
kata-kata yang diucapkannya demikian tegas. Untuk sesaat dia jadi bingung.
“Kemudian bagaimana?”
“Aku akan mengenakan pakaian berwarna putih dan kerudung kepala berwarna putih
pula. Dari dalam aku akan mengunci pintu makam besar itu, lalu aku akan menemani di
sampingnya, siang dan malam menunggu waktu terus berlalu. Aku akan terus
menjaganya, melihat wajahnya melihat seluruh bagian dari dirinya sampai ajal
menjemputku…”
Tanpa terasa tubuh Mei Ling bergetar. Dia benar-benar terkejut sekali. Meskipun pada,
dasarnya dia adalah seorang gadis polos yang tidak pernah mempunyai pikiran licik, tetapi
dia tetap merasa bahwa apa yang dikatakan Lok Ing terlalu gila-gilaan. Di dunia ini mana
ada orang yang menutup dirinya sendiri di dalam sebuah kuburan raksasa dan menemani
sesosok mayat selama hidupnya?
Rencana yang gila dan luar biasa ini, memang merupakan suatu peristiwa yang hampir
tidak pernah ditemui sejak dulu sampai saat sekarang ini. Namun justru dari rencananya
ini, Mei Ling dapat mengetahui sampai di mana dalamnya perasaan cinta Lok Ing terhadap
suaminya!
Setelah tertegun beberapa saat, akhirnya Mei Ling menarik nafas panjang.
“Cici, aku sungguh kagum kepadamu.”
“Kau tidak merasa marah kepadaku?”
Mei Ling menggelengkan kepalanya, bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang
getir tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tampangnya sungguh mengenaskan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengandung kesenduan yang tidak terkirakan. Sudah pasti, dia merasa sakit dan
menyesal atas nasib Tan Ki yang malang.
Melihat gadis itu berdiam diri sekian lama, akhirnya Lok Ing juga menarik nafas
panjang. Perlahan-lahan dia membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.
Mei Ling segera berteriak.
“Kau mau ke mana?”
“Aku tidak ingin melihat dia bersedih menjelang kematian. Setelah nafasnya putus, aku
akan kembali lagi mengurus mayat membangun makam…” mulutnya menjawab
pertanyaan Mei Ling, namun dia terus melangkah dengan tidak menolehkan kepala
sekalipun.
Mei Ling merenung sejenak. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia langsung mengejar
ke depan.
“Cici…!” panggilnya.
“Ada apa?”
“Ketika kau membangun makam nanti, bisakah kau menyediakan tempat yang agak
besar sedikit saja?”
Lok Ing jadi tertegun mendengar kata-katanya.
“Untuk apa?”
“Aku juga ingin tinggal di dalam makam itu!”
Mendengar ucapannya, Lok Ing langsung mendongak menatap langit dan tertawa
lebar.
“Bagus sekali, berarti tambah satu orang lagi yang menemani Tan Ki!”
Sembari bercakap-cakap, mereka berjalan semakin jauh, akhirnya bayangan merekapun
tidak kelihatan lagi.
Beberapa saat kemudian…
Terdengar suara keluhan dari mulut Tan Ki. Lambat laun matanya membuka, dua bola
matanya yang telah pudar sinarnya langsung mengedar ke sekeliling. Tiba-tiba dia
melonjak bangun.
Dia merasa ada segulung hawa panas yang mengalir dalam perutnya lalu berpencar ke
seluruh urat nadi di tubuhnya. Tanpa dapat ditahan lagi keringat terus menetes saking
panasnya. Dia tidak tahu Lok Ing telah mencekokinya obat dalam jumlah yang banyak
sehingga menimbulkan keadaan demikian. Sekarang ini, dia hanya merasa aneh.
Begitu matanya memandang, dia melihat tiga sosok bayangan saling berkelebat dan
bertarung dengan sengit. Hal ini merupakan pertarungan antara jago-jago kelas tinggi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang jarang terlihat. Sepasang telapak tangan Yibun Siu San yang kosong menghadapi
dua jago kelas satu dari Si Yu. Apabila ingin meraih kemenangan dalam waktu yang
singkat, tentu bukan merupakan hal yang mudah.
Perlahan-lahan Tan Ki mengedarkan kembali pandangan matanya dan menatap ibunya
yang masih dalam keadaan pingsan terkulai di atas tanah. Setelah memperhatikan
sejenak, di dalam hatinya tiba-tiba muncul perasaan kagum yang dalam. Dia merasa
manusia hidup di dunia ini, apabila dapat merasakan kasih sayang seorang ibu, tentu
merupakan peristiwa yang paling membahagiakan. Tetapi setelah dipikirkan kembali,
tanpa terasa dia tertawa getir. Dirinya merupakan calon orang mati, meskipun dapat
merasakan kebahagiaan, tetapi tetap saja tidak dapat menyelamatkan keadaannya yang
sudah di ambang ajal. Kalau kebahagiaan yang sejenak akan meninggalkan penderitaan
yang tidak terkirakan bagi ibunya, untuk apa?
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa sekali lagi dia menarik nafas panjang. Tampangnya
menyiratkan kepedihan hatinya yang dalam.
Tiba-tiba, dia menggertakkan giginya erat-erat. Tubuhnya mencelat ke atas lalu
menerjang ke tengah arena.
Terdengar suara benturan yang memekakkan telinga, bayangan manusia berkelebat
dan berpencaran dalam waktu yang bersamaan.
Rupanya pukulan yang dilancarkan oleh Tan Ki dari udara telah membuat ketiga orang
yang sedang bertarung dengan sengit jadi terpencar. Kekuatan yang dahsyat dari
pukulannya sampai membuat Kaucu Pek Kut Kau itu mengerutkan alisnya. Bibirnya sudah
bergerak-gerak namun dia tidak jadi mengatakan apa-apa.
Tan Ki mengeluarkan suara batuk-batuk kecil. Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke
arah Yibun Siu San.
“Sam-siok, biar aku yang menyelesaikan pertarungan ini!”
“Lukamu parah sekali, bagaimana mungkin kau sanggup melawan jago- jago dari Si Yu
itu?”
“Tidak apa-apa. Aku sudah bersiap untuk duel sampai mati. Ini merupakan
pertarunganku yang terakhir. Biar bagaimana ada awal harus ada akhirnya. Pokoknya aku
akan bertarung sampai titik nafas yang terakhir!”
Yibun Siu San tidak langsung menjawab. Sesaat lamanya dia merenung.
“Mati hidup seseorang sudah ada takdirnya. Biarpun orang gagah dan pendekar besar
juga pasti akan mengalami kematian. Siok-hu tidak perlu berpikir lama-lama lagi. Ibuku
sedang tergeletak pingsan di sana. Harap Siok-hu mengurusnya sebentar. Apabila aku
sudah mati nanti…”
Tiba-tiba dia tertawa pilu dan membungkam seribu bahasa.
Yibun melirik ke arahnya sekilas. Setelah menarik nafas dalam-dalam, akhirnya dia
mengundurkan diri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suasana saat ini masih demikian tenang namun sebetulnya mengandung hawa
pembunuhan yang berat sekali!
Mata orang-orang gagah yang hadir di tempat itu semuanya terpusat pada diri Tan Ki.
Sikap mereka serius sekali!
Mereka semua sudah tahu bahwa luka yang dialami Tan Ki sangat parah. Dan dia tetap
berkeras hati ingin melawan dua jago dari Si Yu itu.
Tiba-tiba… cahaya golok berkelebat, kedua manusia hitam yang berwajah jelek dan
bertubuh gemuk pendek itu serentak mengeluarkan sebuah kaitan yang panjangnya
kurang lebih tujuh cun. Mereka berdiri berdampingan.
Tan Ki tersenyum simpul. Perlahan-lahan dia melangkah maju mendekati mereka.
Gerakan kakinya begitu lambat. Tetapi setiap tindakannya yang berat seakan mengandung
hawa pembunuhan yang berat sehingga sikap mereka menjadi tegang.
Tiba-tiba manusia berpakaian hitam yang berdiri di sebelah kanan menggetarkan kaitan
di tangannya. Timbul secarik cahaya bagai pelangi.
“Berhenti!” teriaknya.
Tan Ki seolah tidak melihat cahaya yang menimbulkan hawa dingin itu. Dia tetap
melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati mereka.
Kedua manusia berpakaian hitam itu merupakan orang-orang yang wataknya keras
sekali, tetapi selamanya belum pernah melihat orang yang demikian tenang seperti Tan Ki.
Untuk sesaat keduanya jadi tertegun kemudian tiba-tiba mengeluarkan suara suitan yang
keras dan membentak, “Kalau kau berani maju satu langkah lagi, jangan salahkan kalau
aku bertindak kejam!”
Wajah Tan Ki yang tampan tetap mengembangkan senyuman. Terang-terangan dia
tahu manusia berpakaian hitam itu akan mengatakan sesuatu, dia malah memalingkan
wajahnya ke arah yang lain. Kakinya terus melangkah, sama sekali tidak tergesa-gesa dan
sikapnya santai sekali seakan bukan sedang berhadapan dengan musuh.
Hawa amarah dalam hati manusia berpakaian hitam itu jadi meluap. Dia menolehkan
kepalanya melirik sekilas ke arah rekannya dan secara diam-diam mengerahkan tenaga
dalam untuk menjaga segala kemungkinan.
Kedua orang ini sudah menjadi rekanan sekian lama, dengan demikian mereka sudah
dapat memahami perasaan hati masing-masing. Begitu melihat lirikan itu, rekannya sudah
mengerti rencana apa yang ada dalam hatinya.
Melihat Tan Ki yang berjalan semakin mendekat ke tempat mereka, tiba-tiba manusia
berpakaian hitam yang melirik kepada rekannya tadi memperdengarkan suara tertawa
yang dingin. Diam-diam dia mengerahkan tenaga sebanyak tujuh bagian dan lengannya
digetarkan sehingga menimbulkan guratan cahaya yang memijar bagai titik-titik hujan lalu
meluncur lurus ke depan menyerang Tan Ki!
Serangan ini keji sekali. Cahaya golok yang beterbangan dan berpercikan menimbulkan
sinar sejauh beberapa mistar. Mata Tan Ki mengerling sekilas, sikapnya tetap tenang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seolah tidak ada apa-apa yang mengejutkan. Telapak tangan kirinya mengibas ke depan,
langsung terasa ada segulungan angin kencang menerpa keluar dan serangan golok
lawannya pun tertahan serta tidak sanggup mendesak lebih jauh lagi.
Manusia berpakaian hitam itu merasa kaitan golok di tangannya bagai ditekan oleh
gelombang yang kuat. Jangan kata dia berhasrat menusukkannya ke depan, bahkan
menggerakkannya sedikit saja tidak bisa. Diam-diam hatinya merasa tercekat dan dengan
panik dia menarik nafas dalam-dalam lalu menggeser langkah kakinya mengegos ke
samping. Telapak tangannya terulur dan dengan posisi menahan di depan dada, dia
menghantamkan sebuah pukulan ke dada Tan Ki.
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Tubuhnya miring ke samping dan
dengan gerakan yang lincah serta gesit dia menerobos keluar.
Pada saat ini dia sudah tidak memperdulikan mati hidupnya lagi. Seluruh ilmu yang
dikuasainya dikerahkan sehebat mungkin. Gerakan tubuhnya barusan ternyata ajaib sekali
dan dalam waktu yang bersamaan dia menghindarkan diri dari serangan pukulan dan
kaitan golok lawannya.
Tampak tubuhnya berputaran sebanyak dua kali dan entah bagaimana tahu-tahu dia
berputar ke bagian punggung manusia berpakaian hitam tersebut.
Orang itu sungguh tidak menyangka kalau gerakan tubuh Tan Ki demikian hebat dan
tidak terduga-duga. Tanpa dapat dipertahankan lagi dia jadi terpana. Tiba-tiba dia merasa
ada segulung angin tajam yang timbul dari pedang seseorang menyerang ke arah
punggungnya.
Rasa terkejutnya kali ini benar-benar di puncaknya. Hatinya berpikir untuk menghindar,
tetapi tidak ada kesempatan lagi. Bayangan kematian segera melintas di benaknya!
Tiba-tiba terdengar rekannya mengeluarkan suara dengusan yang dingin. Kakinya
bergerak ke depan setengah langkah dan pergelangan tangannya mengibas, timbullah
cahaya yang memijar lalu meluncur lurus kepada Tan Ki. Kecepatan gerakannya persis
seperti kilat yang menyambar. Dalam sekejap mata sudah sampai ke depan.
Apabila Tan Ki tidak mengerahkan jurus untuk menangkis dan tetap meneruskan
serangannya membunuh manusia, berpakaian hitam yang pertama, otomatis dia juga
terkena serangan manusia berpakaian hitam yang kedua.
Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus menempuh bahaya untuk
meraih
kemenangan. Dengan cepat dia mengempos hawa murninya, pedang suling
ditangannya dihentakkannya ke atas dan dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula, dia
meluncurkan sebuah totokan dengan ujung pedangnya itu.
Jurus ini merupakan jurus keempat dari Te Sa Jit-sut yang baru dipelajarinya.
Kecepatannya hebat bukan main, meskipun orang itu sudah berhasil menyelamatkan
rekannya dari bahaya dengan melakukan serangan secara tidak terduga-duga, tetapi tetap
bagian bahunya tertotok oleh ujung pedang yang dilancarkan Tan Ki. Tubuhnya terasa
kesemutan dan setelah mengeluarkan suara aduhan, seluruh tenaganya menjadi lenyap
dan orangnya pun terkulai di atas tanah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hampir dalam waktu yang bersamaan, telapak tangan kiri Tan Ki ikut bergerak.
Sementara tangan kanannya yang menggenggam pedang suling menotok ke arah orang
yang membokongnya. Masih dengan jurus Kembali Ke Jalan Semula yang belum selesai
dijalankannya, jari tangan kiri mengirim sebuah totokan kembali.
Manusia berpakaian hitam yang pertama baru mendapat pertolongan dari rekannya
sehingga terlepas dari maut. Tetapi dia sungguh tidak menyangka kalau sejurus serangan
Tan Ki dapat menggempur dua orang sekaligus. Tanpa dapat dipertahankan lagi, dia jadi
terkesima. Belum lagi tubuhnya sempat bergerak, jalan darahnya sudah tertotok.
Terdengar suara dengusan satu kali, tubuhnya pun ikut terkulai di atas tanah.
Begitu turun tangan, ternyata dalam waktu yang singkat Tan Ki berhasil menotok rubuh
dua manusia berpakaian hitam yang sejak tadi sulit dikalahkan oleh Yibun Siu San. Jangan
kata orang lain, dirinya sendiri sampai termangu-mangu karena benar-benar merasa hal
itu di luar dugaannya sama sekali.
Saat ini dia baru menyadari bahwa ilmu Te Sa Jit-sut benar-benar mempunyai
kehebatan yang istimewa. Pengaruh kekuatannya sampai-sampai tidak terduga oleh
dirinya sendiri. Otomatis kepandaiannya yang tinggi telah membuat orang-orang dari
kedua pihak merasa terkejut setengah mati.
Tampak Yibun Siu San menarik nafas dalam-dalam. Dia seperti bergumam kepada
dirinya sendiri, “Dia benar-benar perkasa!”
Dia seperti teringat akan sesuatu hal. Matanya terpejam dan ia mengatur
pernafasannya sejenak. Kemudian dia mendekatkan telapak tangannya ke arah punggung
Ceng Lam Hong dan membantunya agar lebih cepat tersadar kembali.
Tetapi sepasang matanya tetap mengawasi gerak-gerik Tan Ki. Dia melihat anak muda
itu berdiri tegak di tempatnya dengan menggenggam suling pedangnya erat-erat.
Sikapnya seperti jendral-jendral besar yang sering terlihat di lukisan-lukisan orang-orang
terkenal.
Sikap Tan Ki yang anggun dan berwibawa ini justru membuat pihak jago-jago Si Yu
menjadi semakin tidak tenang hatinya.
Kaucu Pek Kut Kau sendiri melihat orang-orang dari pihaknya satu per satu berjatuhan
tanpa bisa bangun kembali. Dari pihak lawan hanya Oey Ku Kiong seorang yang terluka.
Perbandingan yang jauh ini benar-benar membuatnya kehilangan muka. Hawa amarah
dalam dadanya terasa hampir meledak. Oleh karena itu dia segera mendengus dingin dan
membisikkan beberapa patah kata di telinga Kim Yu. Dia sendiri lalu berjalan menghampiri
anak buahnya yang terluka guna memberikan pertolongan.
Tampak bayangan berkelebat dan Kim YU sudah melesat keluar dari tempatnya.
Orang ini merupakan adik seperguruan dari Kaucu Pek Kut Kau. Gerakan dan tindaktanduknya
tentu tidak dapat disamakan dengan yang lainnya. Baru saja terdengar suara
angin yang berdesir, tahu-tahu orangnya sudah berdiri di hadapan Tan Ki.
Suasana semakin tegang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di udara bagai ada serangkum hawa yang pengap menyelimuti suasana yang sudah
mencekam itu. Tekanan hawa itu begitu hebat sehingga dada setiap orang terasa sesak
dan sulit bernafas. Tanganpun mengeluarkan keringat dingin.
“Kau dan aku sudah pernah bergebrak di dekat kuil tua bagian luar kota. Apakah kau
masih mengingatnya?”
“Tidak salah. Buat apa kau menanyakan kembali hal itu?”
Tampak pergelangan tangan Tan Ki memutar. Dia menekan masuk pedangnya ke
dalam suling lalu menyelipkannya di ikat pinggang.
“Bukankah waktu itu kau sedang merundingkan gabungan dua pihak dengan seorang
perempuan?” mungkin Tan Ki memang bermaksud agar kata-katanya didengarkan oleh
orang-orang gagah. Oleh karena itu suara bicaranya makin lama makin keras. Caranya
bertanya juga sangat ketus.
Kim Yu mengangkat sepasang bahunya dan mengembangkan senyuman yang licik.
“Pertanyaanmu aneh sekali. Benar-benar membuat orang bingung bagaimana harus
menjawabnya.” katanya acuh tak acuh.
Tan Ki mendengus satu kali.
“Kalau aku tidak memaksamu dengan ilmu silat, mungkin kau masih belum bersedia
menjawabnya!”
Selesai berkata, tanpa memberi kesempatan sedikitpun kepada Kim Yu, telapak
tangannya langsung bergerak dan diapun melancarkan dua buah pukulan secara berturutturut.
Secara tidak terduga-duga, Tan Ki melancarkan serangan. Gerakannya bagai kilat dan
mengandung kekuatan yang dahsyat serta melanda keluar dengan keji.
Tiba-tiba terasa ada hawa dingin yang menyelimuti sekitar tempat itu. Suaranya bagai
badai yang mengamuk dan serangannya bagai ombak yang bergulung-gulung. Kim Yu
melihat dia melancarkan dua buah
pukulan sekaligus, di sekitarnya timbul bayangan telapak tangan dalam jumlah yang
tidak terhitung sehingga mirip hujan yang deras yang tiba-tiba tercurah dari langit dan
dalam sekejapan mata sudah sampai di hadapannya. Tanpa terasa hatinya jadi tergetar.
Diam-diam hatinya berpikir: ‘Sungguh pukulan yang ajaib dan dahsyat!’
Tampak tubuhnya berputar setengah lingkaran, kemudian dengan mudah menerobos
keluar dari kepungan bayangan telapak tangan itu. Gerakannya ini begitu gesit dan lincah
laksana seekor kelinci. Berkelebatnya bagai kilat. Secara berturut-turut Tan Ki melancarkan
dua buah pukulan, tiba-tiba pandangannya menjadi pudar dan tahu-tahu dia gagal
mencapai sasarannya.
Kali ini giliran hati Tan Ki yang tercekat. Dua jurus yang dikerahkannya tadi merupakan
ilmu pusaka yang dia dapatkan dari goa makam leluhur Ti Ciang Pang. Cara turun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tangannya bukan saja mengandung kecepatan yang hebat sekali, tetapi perubahannya
sangat aneh. Dalam satu jurus saja mengandung tiga perubahan. Bayangkan saja sampai
di mana kedahsyatannya? Sedangkan Kim Yu dapat mengelakkan diri dari serangan itu
dengan demikian mudah. Bagaimana hatinya tidak menjadi tercekat?
Tan Ki tertegun sesaat, kemudian mulutnya memperdengarkan suara tertawa yang
dingin.
“Gerakan tubuh Saudara benar-benar membuat orang kagum. Bagaimana kalau sambut
lagi sebuah seranganku ini!”
“Jangan kata satu buah serangan, biar sepuluh atau seratus kali, juga tidak sanggup
mengapa-apakan diriku!” sahut Kim Yu angkuh.
Mendengar kata-kata, api kemarahan dalam dada Tan Ki jadi berkobar-kobar. Dia
membentak dengan suara keras, telapak tangannya memutar dan secepat kilat
meluncurkan sebuah pukulan.
Tan Ki teringat akan dirinya yang telah keracunan parah sehingga dia sendiri tidak tahu
kapan racun itu akan bereaksi. Oleh karena itu dia bertekad untuk menjalankan
pertarungan kilat. Serangannya kali ini mengandung kekuatan tenaga dalamnya sebanyak
delapan bagian. Serangkum angin yang kencang langsung menghantam ke depan bagai
ombak yang bergulung-gulung.
Dalam waktu yang bersamaan Kim Yu juga meraung keras dan meluncurkan sebuah
pukulan ke depan.
Saat yang hanya sekejapan mata…
Hati orang-orang gagah langsung ikut tertekan!
Terdengar suara benturan dua kekuatan yang menggelegar memecahkan keheningan.
Kim Yu langsung tergetar mundur sejauh tiga langkah. Sedangkan tubuh Tan Ki yang
kekar tidak bergerak sedikitpun. Sekali lihat saja sudah dapat dipastikan bahwa kekuatan
Kim Yu masih kalah setingkat dengan anak muda itu.
Tan Ki sedang terluka parah. Darimana datangnya kekuatan begitu besar sehingga
sanggup membuat Kim Yu tergetar mundur?
Rupanya Lok Ing mencekokinya dengan obat mujarab dalam jumlah yang banyak. Dan
kebetulan semuanya bekerja pada saat yang tepat. ,Tenaga dalam Tan Ki yang mulai
melemah akibat lukanya yang parah seakan dibangkitkan oleh daya kerja obat itu
sehingga tiba-tiba menjadi kuat dan tenaga dalamnya jadi berlipat ganda.
Orang-orang gagah yang hadir di tempat itu tentu saja tidak tahu sebab musababnya.
Hampir serentak mereka merasa terkesiap. Mereka bagai melihat sesuatu yang ajaib tibatiba
muncul di hadapan mereka.
Sementara itu, Kim Yu menggertakkan-giginya erat-erat dan mengerahkan tenaga
dalamnya ke seluruh tubuh.
“Kau juga coba sambut pukulanku ini!” bentaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja kata-katanya selesai, kakinya melangkah maju setengah tindak. Jari
tangannya menekuk bagai kaitan sehingga menimbulkan suara suitan dan tanpa menunda
waktu lagi, lima jari tangannya menyerang dari atas ke bawah!
“Bagus sekali!” bentak Tan Ki.
Pinggangnya meliuk dan secepat kilat dia meloloskan diri dari serangan lawan. Gerakan
tubuhnya yang demikian cepat benar-benar mengejutkan Kim Yu. Gerak langkah maupun
kecepatannya begitu luar biasa, ringan dan ajaib. Orang yang melihatnya sampai merasa
matanya berkunang-kunang.
Kali ini, tentu giliran Kim Yu yang terkesiap. Serangan dan gerak langkah lawannya
begitu hebat sehingga sekali lihat saja ia dapat menduga bahwa anak muda ini bukan
tokoh sembarangan. Apabila ingin mengalahkannya tentu bukan hal yang mudah
dilakukan.
Gebrakan kedua orang ini, meskipun baru beberapa jurus, tetapi dalam hati masingmasing
sudah mempunyai perhitungan sendiri-sendiri. Dalam pertarungan ini keduanya
sudah mengerahkan segenap kepandaiannya dan otomatis juga menggunakan tenaga
dalam sepenuhnya. Mereka sudah mencapai taraf di mana rasanya ingin sekali memukul
mati lawannya dalam satu gebrakan saja. Tetapi mereka sama-sama menyadari satu hal.
Kim Yu sadar dirinya tidak mungkin mengalahkan lawan dalam waktu yang singkat.
Sebaliknya Tan Ki juga kagum sekali terhadap kepandaian lawan. Meskipun dia
mempunyai keyakinan dapat mengalahkan orang ini, tapi waktu yang diperlukannya
mungkin cukup panjang.
Begitu pikiran yang sama memasuki benak kedua orang ini, mereka sama-sama tidak
berani turun tangan dengan sembarangan. Dua pasang mata saling memperhatikan mimik
wajah lawannya. Keduanya tidak mengedipkan matanya sekalipun. Karena pertarungan di
antara jago-jago kelas tinggi, kecepatannya bagai kilat. Dalam sekejap mata hidup atau
mati sudah dapat ditentukan. Andaikata dalam keadaan seperti ini perhatian terpencar dan
teledor sedikit saja, maka segera akan mendapat kerugian besar yang malah mungkin bisa
kehilangan nyawa.
Pandangan mata Oey Ku Kiong perlahan-lahan terangkat ke atas. Dia melihat sikap
tegang diantara kedua orang yang menunggu siapa dulu yang akan bergerak. Tanpa
terasa dia menarik nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Saat ini, setelah mendapat bantuan pengerahan hawa murni dari Kok Hua Hong,
lukanya sudah sembuh sebagian besar. Tetapi hatinya terus memikirkan satu hal.
‘Beberapa hari yang lalu, andaikata dia tidak menyerahkan sebotol racun kepada Kiau
Hun, tentunya dia juga tidak akan keracunan separah ini. Setelah pertarungan ini,
kemungkinan dia akan semakin terkenal sehingga pengaruhnya sampai ke daerah Si Yu…’
Sampai di sini, dia merasa hatinya tertekan. Apabila Tan Ki tidak beruntung sampai
mendapat kematian, kelak, mungkin karena kesalahan besar ini, dia akan menyesal
seumur hidup.
Tetapi, meskipun dia sudah menganggap Tan Ki sebagai sahabat sejati. Biar bagaimana
perasaan cinta kasihnya kepada Kiau Hun lebih dalam lagi. Bahkan gejolak asmaranya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sudah mencapai titik maksimal. Apabila dia harus memilih diantara kedua orang itu, dia
pasti akan berdiri di pihak Kiau Hun dan rela mati demi cinta kasihnya. Kalau tidak, dia
juga tidak mungkin pura-pura berbuat segala macam kebaikan dengan maksud mengambil
hati para orang-orang gagah.
Tiba-tiba tampak wajah Kim Yu yang serius bagai diselimuti hawa kehijauan. Dia berdiri
dengan lengan tegak lurus. Namun dari tulang belulangnya terdengar suara gemerutak,
tubuhnya bagai menyusut.
Meskipun saat itu hari masih cukup pagi, tetapi penampilannya yang luar biasa justru
membawa perasaan seram bagi orang yang melihatnya sehingga merasa seperti berada di
alam setan dan hawa dinginpun terasa menyusup dalam tubuh!
Mungkin karena tidak sabar menunggu lebih lama lagi, Tan Ki segera mengerahkan
tenaga dalamnya. Tiba-tiba dia meraung dengan keras kemudian secara mendadak
melancarkan sebuah pukulan.
Serangkum angin yang kencang bagai gelombang badai yang mengamuk memenuhi
tengah arena. Arus yang kuat itu melanda datang serta mengandung tekanan yang kuat
sehingga membuat orang merasa terdesak.
Kekuatannya kali ini seakan mengandung keseluruhan tenaga dalam yang ada dalam
tubuhnya. Kecepatannya benar-benar di luar akal. Tenaga yang dahsyat itu dengan telak
menghantam dada Kim Yu. Begitu kerasnya pukulan itu sampai seluruh tubuhnya
mencelat ke udara sebanyak dua kali.
Tampak dia mengerlingkan matanya ke sana ke mari. Seakan pikirannya salah besar
terhadap kekuatan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Tan Ki. Gelombang kekuatan yang
dapat menghancurkan tembok itu pasti mengakibatkan luka yang dapat dibayangkan
dalam tubuhnya. Tetapi Kim Yu seperti tidak mengalami apa-apa, Tan Ki jadi tertegun.
Bahkan orang-orang gagah yang ikut menyaksikan jalannya pertarungan juga langsung
mengeluarkan seruan terkejut. Mereka menjadi kebingungan. Meskipun manusia yang
tubuhnya terbuat dari besi, juga belum tentu dapat menahan serangan Tan Ki yang
mengandung tenaga begitu dahsyat. Tetapi mengapa Kim Yu seperti tenang-tenang saja,
tubuhnya hanya mencelat di udara namun tidak terlihat luka sedikitpun. Rasanya hal ini
benar-benar mustahil!
Justru ketika Tan Ki masih terkesima melihat apa yang terjadi, tiba-tiba… mulut Kim Yu
mengeluarkan suara pekikan yang aneh dan pergelangan tangannya memutar lalu
mengibaskan sebuah serangan.
Serangan yang dilancarkan secara tiba-tiba ini persis seperti seekor banteng yang
mengamuk dan dalam sekejap mata sudah hampir mencapai sasarannya!
Hati Tan Ki diam-diam menjadi terkesiap, tubuhnya bergerak setengah memutar lalu
menggeser ke samping satu langkah. Lengan kanannya diangkat dalam waktu yang
bersamaan. Dengan jurus Im Yang Membuka Pintu, dia langsung menerjang ke depan.
Sambil mengelakkan diri, Tan Ki segera melancarkan sebuah serangan. Baik gerakan
maupun jurus yang dikerahkannya benar-benar luar biasa sehingga dapat merebut
kesempatan yang bagus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Siapa nyana tiba-tiba pergelangan tangannya terasa kesemutan. Padahal gerakannya
sudah cukup cepat, ternyata masih kalah sedetik. Begitu dia menundukkan kepalanya
melihat, ternyata pada siku tangannya telah terdapat sebuah guratan panjang berwarna
putih. Tetapi tidak ada bekas darah sama sekali. Oleh karena itu, dia juga tidak mengambil
hati dan meneruskan serangannya.
Terdengarlah suara benturan yang menggelegar. Tahu-tahu dada Kim Yu telah terkena
sebuah pukulannya lagi. Kali ini kekuatannya demikian dahsyat sehingga dia tidak dapat
mempertahankan dirinya lagi. Mulutnya mengeluarkan suara keluhan tertahan, tubuhnya
terhuyung-huyung dan langkahnya agak limbung serta doyong ke samping sejauh dua
langkah. Tiba-tiba dia memuntahkan segumpal darah segar.
Tampaknya dia berusaha untuk menunjukkan kekerasan hatinya. Dua kali berturutturut
dia terkena hantaman Tan Ki yang keras. Tetapi dia tetap menggertakkan giginya
erat-erat dan bagaimanapun tidak membiarkan tubuhnya terkulai jatuh ke atas tanah.
Hal ini disebabkan karena dia mendapat perintah dari suhengnya untuk melenyapkan
Tan Ki. Oleh karena itu, dia terpaksa menempuh bahaya untuk menunjukkan jasanya.
Meskipun hantaman Tan Ki yang pertama sudah menggetarkan isi perutnya, namun dia
mempertahankan diri sekuatnya. Sebab apabila dia tidak sanggup membunuh Tan Ki atau
sampai mengalami kekalahan, setelah kembali nanti, pasti dia akan mendapat hukuman
yang berat sesuai peraturan dalam perkumpulan Pek Kut Kau mereka. Dirinya bagai
terjepit dari kiri kanan oleh kata-kata ‘kematian’. Satu-satunya jalan hanya menempuh
bahaya dan mempertahankan diri menerima serangan Tan Ki.
Terdengar Kaucu Pek Kut Kau mendengus dingin.
“Bagaimana keadaan lukamu?”
Mendengar nada suaranya yang kaku dan dingin, hati Kim Yu seperti diganduli beban
yang berat seketika. Tanpa terasa tubuhnya menggigil dan memaksakan sebuah
senyuman.
“Masih lumayan.”
“Coba kau himpun hawa murni dalam tubuhmu.”
Dengan berlagak gagah Kim Yu menjawab, “Ilmu silat Tionggoan mana mungkin dalam
satu dua jurus bisa meminta nyawaku.”
“Bagus sekali. Hari sudah siang. Kita juga sudah harus kembali!” nada suaranya masih
demikian dingin. Persis seperti uap yang keluar dari danau es. Orang yang mendengarnya
akan merasa bergidik. Sikapnya begitu angkuh seakan tidak memandang sebelah mata
kepada orang lain. Selesai bicara, dia langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah
pergi.
Tiba-tiba Yibun Siu San mengeluarkan suara bentakan, “Berhenti!”
“Apakah kau memanggil aku?” tanya Kaucu Pek Kut Kau.
Yibun Siu San memperdengarkan suara tawa yang dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Saudara mau datang terus datang, mau pergi juga seenaknya saja. Sikapmu benarbenar
tidak menganggap orang lain bukan?”
“Meskipun daerah Tionggoan sangat luas dan mentereng menyilaukan mata. Tetapi di
manapun Kaucu ini menginjakkan kakinya, selamanya tidak pernah ada tempat yang tidak
bisa didatangi. Tentu saja asal Kaucu senang.” sahut Kaucu Pek Kut Kau itu angkuh.
Yibun Siu San mendengus satu kali lagi. Dia menolehkan wajahnya dan melihat Tan Ki
sedang mendongakkan wajahnya menatap langit. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh
anak muda itu. Matanya seakan menerawang dengan pandangan kosong. Wajah Yibun Siu
San segera berubah serius.
“Aku tidak ingin bersilat lidah denganmu, tetapi ada suatu hal yang ingin kuminta
petunjukmu.”
Kaucu Pek Kut Kau itu juga memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
“Aku masih banyak urusan yang penting. Malas membuka mulut. Apabila ingin aku
menjawab pertanyaanmu, maka harus menunggu sampai aku mempunyai kegembiraan
dulu.”
“Urusan ini menyangkut kedua belah pihak. Biar bagaimana harus ada jawabannya!”
dengan sikap tegas Yibun Siu San melanjutkan kembali kata-katanya. “Tetapi, kalau kau
tetap berkeras tidak mau menjawabnya, aku juga tidak akan memaksa!”
Kaucu Pek Kut Kau tertawa terbahak-bahak.
“Kalau ada keuntungan yang bisa diraih, tentu saja harus disempatkan waktu untuk
berunding. Coba kau tanyakan saja, lihat Kaucu bisa menjawabnya atau tidak!”
“Kau pernah mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak Ki. Bahkan berusaha
mengetahui jejak seseorang. Hal itu malah membuat aku teringat akan seseorang pula.
Baik sikap maupun raut wajahnya sama seperti yang diceritakan anak Ki…”
BAGIAN XXXV
“Siapa?”
Yibun Siu San menyahut sepatah demi sepatah…
“Cian Tok Kui Ong alias Raja setan seribu racun!”
Keempat kata-kata ini diucapkan dengan panjang dan lama. Seakan setiap kata itu
diucapkan dengan pengerahan tenaga yang sepenuhnya. Sehingga akhirnya dapat juga
tercetus keluar dari mulutnya. Tetapi orang yang mendengarkan justru bagai diselimuti
ketegangan yang tidak terkirakan.
Tampak tubuh Kaucu Pek Kut Kau itu agak bergetar, tetapi sekejap kemudian sudah
normal kembali seperti biasa. Dia malah tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apa hubungannya dengan diriku?”
“Orang ini merupakan raja iblis di daerah Tionggoan. Baik golongan putih maupun
hitam yang mendengar namanya pasti tergetar hatinya. Siapapun tidak ada yang berani
mencari perkara dengan orang ini, tetapi dia justru berasal dari daerah yang jauh dan ilmu
silat yang dikuasainya juga bukan ilmu silat dari Tionggoan…”
Wajah Kaucu Pek Kut Kau langsung berubah hebat. Tampangnya menyiratkan
kegusaran hatinya.
“Jadi kau bermaksud mengatakan bahwa Cian Tok Kui Ong itu merupakan orang
wilayah Si Yu kami?”
Yibun Siu San tertawa dingin.
“Aku mempunyai jodoh bertemu beberapa kali dengan orang ini. Kalau ditilik dari nada
bicaranya sehari-hari, dia bukan saja berasal dari wilayah Si Yu, malah ada hubungan yang
erat dengan engkau, Kaucu Pek Kut Kau ini.”
Kaucu Pek Kut Kau menghentakkan kakinya ke atas tanah dengan kesal. “Omong
kosong!”
Kembali Yibun Siu San tertawa dingin.
“Kalau menurut pendapatku, Cian Tok Kui Ong itu memang anggota perkumpulan Pek
Kut Kau dan kemungkinan pernah berbuat kesalahan atau ganjalan dengan dirimu
sehingga dia diusir olehmu dan keluar dari Pek Kut Kau. Oleh karena itu, Cian Tok Kui Ong
melarikan diri ke daerah Tionggoan yang jauh dan mencari kesempatan untuk membalas
dendam. Tadinya mungkin dia ingin membandingkan kepandaiannya dengan para jago
dari Tionggoan sehingga mempunyai kesempatan muncul dengan wajah lain untuk
menggemparkan dunia Kangouw. Sayangnya orang-orang yang pernah bergebrak
dengannya merupakan tokoh-tokoh kelas dua dan kelas tiga. Tidak ada satupun yang
sanggup menerima satu jurus serangannya. Atau bisa mengimbangi kekuatan tenaga
dalamnya. Itulah sebabnya Cian Tok Kui Ong kecewa sekali. Dan harapannya seperti
kandas seketika. Kemudian terbersit berita bahwa dia teringat suatu tempat di mana dia
dapat mencuri kitab peninggalan para jago di daerah Tionggoan. Dia-pun lalu berusaha
menggabungkan ilmu kepandaiannya sendiri dengan ilmu hasil curiannya sehingga dengan
demikian ilmunya dapat maju lebih pesat lagi…”
Terdengar suara deheman dari bibir Kaucu Pek Kut Kau tersebut.
“Lalu?”
“Akibatnya, mungkin seperti apa yang diceritakan oleh anak Ki. Akhirnya meskipun dia
berhasil meloloskan diri, namun lukanya sudah terlalu parah sehingga lama-kelamaan dia
tidak dapat bertahan lagi dan menemui ajalnya.”
Mendengar kata-katanya, Kaucu Pek Kut Kau itu seakan telah berhasil membuktikan
kematian Cian Tok Kui Ong. Pikirannya yang ruwet seperti menjadi ringan sebagian. Oleh
karena itu dia menghembuskan nafas lega.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Orangnya toh sudah mati, apakah sukmanya masih bisa berkeliaran sehingga
menyatakan bukti kepada kita semua?”
Yibun Siu San tertawa dingin.
“Cerita takhyul memang selamanya tidak dapat dibuktikan atau diandalkan. Siapa yang
bisa percaya begitu saja? Tetapi ketika dia pergi, dia memang meninggalkan seorang bayi
perempuan. Sayangnya induk semang yang bertugas menjaga bayi itu, justru tanpa
sengaja menjatuhkan bayi perempuan itu ke dalam lautan ketika sedang mengadakan
perjalanan jauh. Sampai saat ini mati hidupnya tidak jelas lagi…”
“Terhadap masalah ini, Kaucu tidak tertarik sama sekali.”
Kemudian tampak dia mengibaskan lengannya dan perlahan-lahan meneruskan langkah
kakinya.
Kim Yu mengajak beberapa rekannya yang terluka dan mengiringi dari belakang.
Pertarungan kali ini, meskipun belum sempat membuat seluruh tokoh dari Si Yu lenyap
dari muka bumi, tetapi sebagian besar dari mereka sudah terluka cukup parah. Hal ini
membuktikan kerugian yang besar di pihak mereka.
Dengan demikian, karena pertarungan ini pula, nama Tan Ki langsung menjulang tinggi.
Di antara jago-jago kelas satu di dunia Bulim, boleh dibilang sudah ada sebuah tempat
bagi dirinya.
Sementara itu, Yibun Siu San menatap bayangan punggung Kaucu Pek Kut Kau yang
semakin lama semakin menjauh. Bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengatakan
sesuatu namun dibatalkannya lagi. Akhirnya dia menahan perasaan hatinya dan menarik
nafas panjang. Dia menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya dan mendekat ke samping Tan Ki. Dengan
suara lirih dia bertanya, “Apa yang kau pikirkan?”
Suara yang rendah serta mengandung kasih sayang yang dalam. Tan Ki pun tersadar
dari lamunannya. Mulutnya mengeluarkan seruan terkejut kemudian menggelenggelengkan
kepalanya.
“Tidak ada apa-apa.”
Yibun Siu San tersenyum lembut.
“Biar kau tidak mengatakannya, aku juga mengerti. Sekarang ini perasaan hatimu
sedang kalut sekali. Dan sekaligus banyak hal yang terpikirkan olehmu, bukankah
demikian?”
Tan Ki tidak memberikan jawaban. Betul, sebetulnya apa lagi yang masih dipikirkannya?
Kehidupannya sudah di ambang pintu ke-matian. Begitu daya kerja obat yang
diminumnya mulai mereda, dia pasti akan mati!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Apabila seseorang dapat mengetahui waktu kematiannya, seharusnya merupakan hal
yang ajaib dan aneh. Biar bagaimana, Tan Ki adalah seorang pemuda yang bersemangat
tinggi. Meskipun saat ini dia sedang bertentangan dengan maut, tetapi dia dapat
menenangkan hatinya untuk menunggu datangnya dewa elmaut. Segala ketegangan yang
melanda hatinya menjadi sirna. Perasaannya malah menjadi lega. Otomatis banyak sekali
pikiran yang melintas di benaknya. Dendam ayahnya, urusan ibunya dan keenam
perempuan yang ada hubungan erat dengan dirinya.
Banyak sekali yang dipikirkannya. Tetapi semakin dipikirkan semuanya menjadi semakin
samar. Hanya satu hal yang diketahuinya dengan jelas, yakni riwayat hidupnya segera
akan berakhir. Segenap dendam kesumat, perasaan cinta kasih akan hilang dari dirinya
untuk selamanya. Dia akan meninggalkan dunia ini dengan membawa sukma yang kosong
melompong dan berikut segala keruwetannya.
Terdengar Yibun Siu San menarik nafas panjang.
“Bulim Tay Hwe akan dimulai sebentar lagi…”
Tan Ki tertawa sumbang.
“Sayang sekali dalam tubuh keponakanmu ini mengendap racun yang dalam. Kasih
sayang dan perhatian yang besar dari Siok Siok dan Cian Locianpwe akhirnya hanya sia-sia
saja.”
Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagai tercekat sebagian di tenggorokan. Ucapannya
tersendat-sendat bagai seorang pendekar yang menemui jalan buntu menghadapi masa
depannya.
“Manusia hidup di dunia ini sudah ditentukan takdirnya. Kau tidak perlu merasa cemas
karena hal ini.”
“Terima kasih atas kata-kata hiburan Siok Siok ini. Kalau keponakan mempunyai umur
panjang dan tidak jadi mati, tentu tidak akan menyia-nyiakan harapan Siok Siok serta
hadirin untuk merebut kedudukan Bulim Beng-cu. Sayangnya… sekali lagi Tan Ki tertawa
sumbang. Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya dan membungkam. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah ruangan besar.
Yibun Siu San segera berteriak: “Anak Ki, kau mau ke mana?”
“Aku tidak ingin Ibu melihat wajahku ketika menjelang kematian. Hal ini pasti akan
membuat hatinya terpukul sehingga jatuh sakit. Lebih baik aku berjalan dulu dan mencari
sebuah tempat yang tenang untuk mengubur diri. Dengan demikian aku akan menghadapi
kematian dengan hati yang tenteram…” meskipun mulutnya menjawab pertanyaan Yibun
Siu San, namun kakinya tidak pernah berhenti sekalipun. Begitu ucapannya selesai, tibatiba
dia mempercepat langkah kakinya dan menghambur pergi.
Dapat dipastikan bahwa dia sedang menahan penderitaan dalam hatinya dan tidak
ingin orang lain melihat wajahnya yang penuh dengan air mata.
Melihat dia memalingkan kepalanya dan pergi begitu saja, Yibun Siu San jadi tertegun.
Kemudian tampak dia tersenyum sendirian, bibirnya bergerak-gerak dan menggumam
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang diri, “Kalau ditilik dari kata-katanya yang memikirkan keadaan ibunya. Hal ini
membuktikan bahwa dia sudah mengalami perubahan.”
Angin pagi bertiup sepoi-sepoi, harum bunga semerbak, tetapi keadaan hati Tan Ki saat
ini sama sekali tidak membayangkan keindahan dunia ini. Pikirannya terpusat pada
keadaan dirinya sendiri yang sebentar lagi akan mati.
Hatinya sangat tertekan. Kakinya bagai diganduli bola besi yang beratnya ribuan kati.
Langkahnya demikian lambat hampir seperti siput yang merayap. Setelah berjalan
beberapa saat, tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.
Diam-diam dia berpikir dalam hati: ‘Kalau sekarang aku meninggalkan gedung keluarga
Liu, dan seandainya di tengah jalan luka atau racun dalam tubuh ini tiba-tiba kambuh,
serta mati di tempat, bukankah seluruh penduduk kota ini akan gempar dan ketakutan?
Lebih baik aku cari tempat yang tenang di sekitar
gedung ini…’
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung berjalan menuju taman bunga di halaman
belakang. Sinar mentari yang terik menyoroti bayangan punggungnya yang tampak
kesepian. Dengan demikian, kentara sekali bahwa hati anak muda ini digelayuti berbagai
pikiran dan penderitaan yang tidak terkirakan.
Berturut-turut dia melewati tiga ruangan dan tiba-tiba hidungnya mencium bau harum
bunga yang menyegarkan. Anginpun terasa sejuk. Tan Ki menghentikan langkah kakinya,
sepasang matanya mengedar. Dia melihat bunga-bunga yang berwarna-warni
bermekaran, ada anggrek, ada seruni. Meskipun saat ini musim semi hampir berlalu, tetapi
rumput-rumput masih menghijau, bunga-bunga tumbuh subur. Apalagi dihiasi dengan
rumpun bambu yang terawat rapi sehingga menimbulkan kesan bahwa taman bunga ini
demikian indah dan membuat perasaan menjadi tenang.
Diam-diam Tan Ki memuji dalam hati: ‘Tempat ini cocok sekali dipilih menjadi tempat
menunggu kematian.’
Dia segera memilih sebuah bangku panjang yang terbuat dari bambu dan menjatuhkan
dirinya duduk di sana.
Dia merasa berbagai macam pikiran menggelayuti dadanya. Tetapi ketika Tan Ki
berusaha menyimak apa yang sedang dipikirkannya, dia malah merasa benaknya kosong
melompong. Dia sendiri tidak tahu apa sebetulnya yang terpikirkan olehnya.
Keadaan yang rumit ini, merupakan hal yang belum pernah ia alami seumur hidup. Dia
sendiri sampai merasa heran. Hatinya bermaksud menggerakkan hawa murni dalam
tubuhnya sesuai dengan ajaran dalam kitab yang ditemukannya. Dia berpikir bahwa
mungkin dengan cara demikian, perasaannya yang gundah bisa menjadi tenang. Oleh
karena itu, dia segera memejamkan matanya dan mengatur pernafasan.
Siapa sangka, begitu dia mengerahkan hawa muminya, tiba-tiba dia merasa lengan
kirinya nyeri bagai digigit ribuan semut. Hawa murni dalam tubuhnya pun tidak dapat
mengalir dengan lancar. Tubuhnya menjadi lemas. Hatinya terkejut setengah mati. Ketika
dia menundukkan kepalanya, dia melihat siku kirinya yang tadi terkena serangan Kim Yu,
entah sejak kapan telah timbul bekas darah berwarna keungu-unguan. Hatinya semakin
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terkesiap. Tapi warna yang menghiasi sikunya itu sangat tipis sehingga kalau tidak
diperhatikan dengan seksama, maka sulit menemukannya.
Luka yang biasa dan tidak ada keistimewaannya ini, kalau bagi orang lain, tentu tidak
akan menganggapnya sama sekali. Tetapi Tan Ki justru menatapnya dengan wajah penuh
ketegangan. Lama kemudian baru dia pulih kembali kemudian tampak dia menarik nafas
panjang. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang pahit.
‘Rupanya ilmu yang dipelajari oleh Kim Yu juga merupakan sejenis ilmu golongan sesat.
Dalam kuku jarinya telah dilumuri racun keji. Sedang tubuhku ini entah diracuni oleh siapa,
cepat atau lambat aku toh akan mati. Serangannya ini paling-paling hanya mempercepat
kematianku saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan…’
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia memejamkan matanya. Kepalanya menggeleng
dan berulang kali dia menarik nafas panjang. Hampir saja air matanya mengalir lagi
mengingat nasibnya yang malang. Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki
yang lirih yang menghampiri ke arahnya.
Saat ini perasaan hati Tan Ki sudah hambar. Malah dia sudah kehilangan
kegembiraannya sama sekali. Meskipun dia tahu bahwa ada seseorang yang sedang
berjalan mendekatinya, tetapi dia merasa malas membuka matanya untuk melihat
sekejappun.
Terdengar suara langkah kaki itu semakin lama semakin mendekat. Sekarang jaraknya
paling-paling empat lima depa dari hadapannya. Kemudian langkah kaki itu berhenti.
Mungkin orang itu sudah melihat Tan Ki maka menghentikan gerakan tubuhnya.
Sekejap kemudian, terdengar lagi suara langkah tadi yang semakin jelas menghampiri
tempatnya berada.
Keadaan ini membuat rasa penasaran Tan Ki bangkit juga. Oleh karena itu, dia
membuka matanya sedikit dan mengintip. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya
mengeluarkan seruan terkejut. Kemudian wajahnya menyiratkan rona merah jambu.
Rupanya orang ini sama sekali tidak asing bagi dirinya. Justru gadis ini yang selalu
membuat perasaannya menjadi jengah setiap kali bertemu, yakni Cin Ying dari Lam Hay.
Sejak hujan badai yang dialaminya tadi malam, di mana dia memperkosa Liang Fu Yong
tanpa sadar. Justru dirinya sial sekali karena kepergok oleh gadis ini. Malah dia pula yang
mengantarkan dua stel pakaian guna menutup diri mereka yang bugil. Teringat kembali
hal yang demikian memalukan, bagaimana wajahnya tidak menjadi merah padam?
Justru ketika merasa tidak tenang karena malu setengah mati, terdengar gadis itu
bertanya dengan suara yang lembut.
“Apakah kau duduk di sini menunggu kedatangan seseorang?” suaranya begitu tenang
sehingga orang tidak dapat menduga apa yang tersirat dalam hatinya. Apakah dia sedang
marah atau gembira.
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Aku sedang menunggu kematian!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ying jadi tertegun mendengar kata-katanya.
“Apa? Menunggu kematian?”
Tan Ki tertawa getir.
“Tidak salah, aku memang sedang menunggu kematian.”
Sepasang mata Cin Ying yang indah membelalak lebar-lebar. Dari dalamnya menyorot
sinar yang tajam, dia memperhatikan Tan Ki dari atas kepala sampai ke bawah kaki
seakan ingin menyelidiki apakah anak muda ini tiba-tiba saja menjadi kurang waras.
Sementara itu, bibirnya tetap berbicara, “Kata-katamu itu tiada ujung tiada pangkalnya.
Orang yang mendengar akan sulit untuk memahami. Bagaimana kalau kau
menceritakannya lebih jelas dan lihat apakah aku sanggup menolongmu…” kata-katanya
terhenti sejenak, kemudian dia menarik nafas panjang. “Hawa racun yang terpancar dari
dirimu tampaknya sudah mencapai taraf yang parah sekali…”
Tan Ki tertawa sumbang, “Meskipun kau bisa melihat bahwa diriku sedang keracunan,
tetapi biar bagaimana kau pasti tidak dapat menghilangkan dua jenis racun yang segera
menunjukkan reaksinya dalam waktu yang bersamaan.”
“Benarkah sudah separah itu?” kalau ditilik Bari nada suaranya, tampaknya gadis itu
masih kurang percaya.
Tan Ki mendongakkan wajahnya dan tersenyum gagah.
“Pertama-tama ada seseorang yang meracuni tubuhku. Begitu hebatnya sampai aku
pendiri tidak tahu bagaimana caranya dan ti-dak menyadarinya sama sekali. Barusan aku
bertarung dengan jago dari Si Yu, akibatnya aku terkena serangan kuku beracun dari adik
seperguruan Kaucu Pek Kut Kau itu. Dua jenis racun berkumpul menjadi satu dan sebentar
lagi akan menunjukkan reaksinya. Meskipun aku memiliki tenaga dalam yang lebih hebat
lagi, dan dapat memperpanjang umurku sampai senja nanti, tetapi tetap saja tidak sempat
melihat mentari esok pagi. Apabila kedua racun ini sudah kambuh, aku pasti akan
menemui ajal.”
Wajah Cin Ying lambat laun menjadi kelam. Segulung perasaan sedih tiba-tiba saja
menyelimuti hatinya. Tumbuh semacam perasaan khawatir yang dalam. Air matanya
mengembang lalu menetes turun membasahi pipinya.
Mendadak tampak tubuh Tan Ki bergetar hebat sekejap. Dia seolah mendadak ditinju
oleh seseorang dengan keras. Sepasang alisnya bertaut dengan erat. Begitu sakitnya
sehingga keringatnya mengucur dengan deras.
Melihat keadaan itu, jantung Cin Ying seakan berdegup dengan kencang. Cepat-cepat ia
membungkukkan tubuhnya dan berjongkok di samping Tan Ki.
“Kenapa kau?”
“Sebentar lagi aku akan mati. Maukah kau mendengar beberapa patah perkataanku?”
kata-kata ini diucapkan dengan gugup, tampaknya dia sedang menahan penderitaan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hebat. Selesai berkata, cepat-cepat dia memejamkan matanya dan mendekap dadanya
sendiri. Nafasnya seakan mendadak menjadi sesak.
Cin Ying mengulurkan tangannya dan menempelkannya di dahi anak muda itu. Begitu
tersentuh olehnya, dia merasa dahi anak muda itu panas membara bagai kobaran api. Dia
bagai menyentuh besi yang dibakar di atas tungku. Hatinya tercekat bukan kepalang. Air
matanya mengalir dengan deras.
“Seandainya Siangkong mempunyai kepentingan yang mendesak, harap katakan saja.
Semoga Cin Ying mempunyai kesanggupan untuk membantu…”
Mendadak Tan Ki membuka sepasang matanya. Sepasang bola matanya mengerling ke
sana ke mari, kemudian perlahan-lahan dia menarik nafas panjang. Meskipun dia sudah
bersiap menunggu datangnya malaikat el-maut, tetapi wajahnya saat ini menyiratkan
kepanikan dan kecemasan yang tidak terkatakan. Perlahan-lahan dia mengulurkan
tangannya dan mencekal pergelangan tangan Cin Ying.
“Aku sudah hidup selama dua puluh tahun lebih. Tetapi aku justru membuat banyak
kericuhan di dunia Kangouw. Aku tidak takut mati, juga tidak ada hal yang perlu
kuberatkan. Satu-satunya masalah yang membuat aku tidak dapat menutup mata dengan
tenang, hanya karena ibuku yang malang itu. Tidak ada orang lagi yang memperhatikan
dan merawat dirinya. Ketika aku berusia belasan tahun, ayahku mati secara mengenaskan.
Sedangkan saat itu dia masih merupakan seorang wanita yang baru menjelang usia
matang…”
Dari kata-katanya ini, Cin Ying sudah dapat menduga sedikit apa yang
dimaksudkannya. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang dan menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
Tan Ki menggenggam tangan Cin Ying erat-erat. Tiba-tiba dia menambah sedikit
kekuatannya dan menggeser tubuhnya merapat kepada gadis itu.
Melihat wajahnya yang basah oleh keringat dingin dan tampangnya yang mengenaskan
itu, Cin Ying tidak tega kalau sampai tubuhnya terjatuh. Dia juga tidak ingin menambah
penderitaan anak muda itu. Akhirnya terpaksa dia merentangkan sepasang lengannya
perlahan-lahan dan memeluk tubuh Tan Ki.
Serangkum bau harum yang menyegarkan memencar ke mana-mana. Tan Ki malah
menarik nafas panjang.
“Aku tahu hatimu pasti merasa serba salah. Tetapi sebentar lagi aku akan mati. Tidak
ada orang yang dapat kutinggalkan pesan. Lagipula baru pertama kali ini aku mengajukan
permohonan kepada seseorang, juga merupakan permohonan yang terakhir kalinya…”
Selama hidupnya, belum pernah Cin Ying menghadapi hal seperti ini. Juga belum
pernah ada orang yang memohonnya dengan suara demikian tulus. Serangkum hawa
panas bergejolak di dalam hatinya seketika. Hatinya merasa tergugah juga sekaligus
diliputi kebimbangan yang tidak terkirakan..
Dia mendongakkan wajahnya menatap awan putih di atas langit. Gerakan awan itu
terasa begitu lambat dalam pandangannya. Dalam hatinya dia justru berpikir: ‘Ini
merupakan peristiwa yang luar biasa dan berat. Kalau aku mengabulkan permintaannya,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
maka untuk seumur hidup aku harus merawat ibunya baik-baik. Aku harus
menganggapnya sebagai ibu kandungku sendiri…’
Kalau didengarkan saja, tampaknya urusan ini sangat sederhana. Tetapi untuk
melaksanakannya justru memerlukan tanggung jawab yang tidak kepalang tanggung
beratnya.
Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan kepalanya. Dia melihat gadis itu sedang menatap
langit dan dengan pandangan menerawang. Dia segera maklum bahwa gadis itu sedang
mempertimbangkan permintaannya matang-matang. Tan Ki mempunyai kecerdasan yang
melebihi orang lain. Malah dia pernah berkelana di dunia Kangouw seorang diri, meskipun
usianya masih cukup muda, tetapi segala macam hal sudah pernah ditemuinya. Dia
mengerti sekali bahwa orang yang tidak mudah mengucapkan janji, justru sekali
mengabulkan akan melaksanakannya sebaik mungkin. Seperti sebuah palang besi yang
dipantekkan dalam hatinya dan untuk selamanya tidak dapat diubah.
Dia berusaha memberontak agar tubuhnya dapat bergeser dan kemudian menyusupkan
kepalanya di atas bahu gadis itu. Dengan demikian perasannya menjadi lebih tenang dan
rasa sakitnya pun agak berkurang.
Justru karena dia mengerti sekali perasaan orang yang tidak mudah mengucapkan janji
ini, maka dia juga tidak ingin Cin Ying mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Hatinya
berpikir, asal kematian belum menjemputku dan aku bisa mendapatkan janjinya, maka
semuanya sudah lebih dari cukup.
Perlahan-lahan pikirannya mulai melayang-layang. Wajahnya yang tampan malah
mengembangkan seulas senyuman yang tenang. Laksana sebatang pohon siong yang
dilanda gelombang badai, kemudian secara tiba-tiba dipindahkan oleh seseorang ke dalam
rumah. Hatinya terasa nyaman, tenang dan tidak menyiratkan ketakutan menjelang ajal
sedikitpun.
Perlahan-lahan dia menggerakkan tangannya yang lemah tidak bertenaga lalu
meletakkannya di atas dadanya sendiri. Matanya terbuka lebar-lebar menatap awan putih
di atas langit. Diam-diam hatinya berpikir…
‘Orang-orang di dunia ini selalu menganggap kematian sebagai suatu hal yang
mengerikan. Orang yang bagaimana gagahnya pun atau pendekar yang namanya
menjulang tinggi, juga tidak dapat menahan ketegangan diri dalam menghadapi kematian
dan hatipun berdebar-debar. Tetapi aku malah tidak merasa takut sama sekali. Hatiku demikian
tenteram dan tenang. Aku akan membawa seulas senyuman dan mati dalam
pelukannya.’
E Tampaknya Cin Ying sudah mengambil sebuah keputusan yang besar. Dia
menghembuskan nafas panjang dan menatap ke arah Tan Ki.
“Aku berjanji bahwa untuk seumur hidupku! Kini aku akan menjaga ibumu baik-baik
dan menganggapnya sebagai ibuku sendiri!”
Tan Ki merasa terhibur sekali mendengar kata-katanya. Bibirnya merekahkan seulas
senyuman yang manis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku tahu, kalau kau sudah berjanji maka hatimu bagai telah dipantek oleh sebuah
palang besi. Meskipun lautan bisa berubah, tetapi kata-kata yang telah kau ucapkan
selamanya tidak akan pernah diingkari.”
Cin Ying tersenyum datar.
“Siangkong terlalu memuji diriku.” dia berhenti sejenak. “Tetapi, sebelum aku
mengabulkannya tadi, hal ini memang membuat hatiku bimbang sekali. Aku telah
memikirkan banyak hal. Seumpamanya, istri yang baru kau nikahi, kau juga pernah
berjanji untuk mengambil adik Cin Ie sebagai selir. Masih ada lagi Liang Fu Yong, Lok
Ing… pokoknya beberapa perempuan ini. Meskipun aku telah berjanji untuk merawat
ibumu, tetapi tidak pernah menunjukkan bahwa aku akan menikah denganmu, tetapi kalau
hal ini sampai terdengar oleh mereka, mungkin bisa timbul gelombang badai yang
dahsyat.”
“Sebelum kematian menjemput, aku dapat mendengar kata-katamu, rasanya aku pasti
dapat memejamkan mata dengan tenang.”
Cin Ying tertawa datar.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?”
“Hampir. Sebentar lagi pasti aku mati.” Cin Ying mendongakkan wajahnya menatap
langit.
“Apakah kau sendiri merasa bahwa jiwamu benar-benar tidak tertolong lagi?” tanyanya
sendu.
“Tidak ada jalan lagi. Saat ini detik ini, biarpun ada orang yang mengantarkan obat
dewa yang dapat menyembuhkan segala macam racun, tetap saja tidak mungkin dapat
menawarkan dua jenis racun sekaligus.”
Terdengar suara keluhan dari mulut Cin Ying. Diam-diam dia berpikir: ‘Kalau begitu, dia
sudah pasti akan mati. Meskipun tidak ada harapan sama sekali untuk menyembuhkannya,
tetapi aku juga harus mengerahkan segenap kemampuan dan mencoba mencari jalan
keluar…’
Tiba-tiba dia merasa sepasang lengan Tan Ki yang sedang memeluk dirinya semakin
mengencang. Dalam waktu yang bersamaan, telinganya menangkap suara anak muda itu
yang lirih dan lembut: ‘Maukah kau memelukku lebih erat lagi, biar aku merasakan agak
tenteram?”
Nada suaranya begitu tulus dan mengandung permohonan yang dalam. Hal ini justru
membuat Cin Ying merasa tidak sampai hati menolaknya. Dia menarik nafas panjang lalu
menuruti permintaan Tan Ki memeluknya lebih erat lagi. Dalam waktu yang bersamaan,
dia memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.
Tiba-tiba Tan Ki merasa di dalam hatinya terdapat gejolak yang melonjak-lonjak.
Keringatnya mengucur dengan deras. Pikirannya berkata bahwa saatnya sudah hampir
tiba. Perlahan-lahan dia memejamkan matanya dan berkata, “Sudah hampir, aku telah
merasakannya, peluklah aku lebih erat lagi!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Diam-diam Cin Ying juga berpikir: ‘Sebentar lagi dia akan mati, bagaimana aku masih
mempersoalkan segala macam peradatan dan batas-batas duniawi sehingga membuat
perasaannya terluka? Kelak apabila adik Cin Ie mengetahui urusan ini, aku yakin dia tidak
akan menyalahkan diriku…’
Dengan membawa pikiran demikian, sepasang lengannya dipererat dan ia memeluk Tan
Ki dengan sepenuh tenaga. Ketika dia menundukkan kepalanya memperhatikan, dia
melihat tampang anak muda itu begitu tenang. Wajahnya yang tampan mengembangkan
senyuman. Tidak tersirat sedikitpun rasa takut menjelang kematian. Bahkan hawa
kehijauan yang terdapat di keningnya, juga entah sejak kapan, tahu-tahu sudah lenyap
tidak terlihat lagi. Bahkan dia juga tidak melihat ada penderitaan yang ditahan oleh Tan Ki.
Diam-diam hatinya merasa kagum sekali.
‘Jarang sekali orang yang memandang ke-matian seperti pulang ke rumah. Dia boleh
dibilang seorang pemuda yang hebat. Banyak orang gagah di dunia ini, tetapi dalam
menghadapi kematian, pasti terhitung jari orang yang dapat demikian pasrah dan tidak
menyiratkan ketakutan sedikitpun!’
Angin musim semi yang berhembus di dalam taman membawa bau harum bungabungaan
yang menyegarkan. Suara gerakan bambu yang berderak-derak terus merasuk
ke dalam gendang telinga, berpadu dengan desah nafas Tan Ki yang berirama serta
membawa serangkum hawa kelaki-lakian yang terus menerpa indera penciuman gadis itu.
Tampak cahaya mentari yang menyoroti bambu-bambu seakan menindak maju satu
liangkah lagi. Diam-diam dia menghitung waktu yang terus berlalu. Rasanya mereka
berdiam diri sudah ada kira-kira sepenanakan nasi lamanya.
Ketika dia mempertajam indera pendengarannya, terasa nafas Tan Ki begitu teratur dan
tidak menunjukkan seperti orang yang sudah hampir mati. Malah seperti orang yang
tertidur pulas dan bermimpi tentang suatu yang indah. Sudut bibirnya tetap
menyunggingkan seulas senyuman.
Semakin diperhatikan, hati Cin Ying semakin curiga. Orang yang mati nafasnya pasti
berhenti. Urat nadi dan jantungpun akan berhenti berdenyut. Sekarang Tan Ki justru
pernafasannya begitu teratur, bibirnya masih bisa tersenyum lagi. Mana mirip dengan
orang yang hampir mati. Oleh karena itu, dia segera mengguncang-guncangkan sepasang
lengannya dan memanggil dengan suara rendah.
“Tan Siangkong, Tan Siangkong…!”
Perlahan-lahan Tan Ki membuka sepasang matanya dan memperhatikan Cin Ying lekatlekat.
Lamat-lamat dia membuka suara, “Apakah aku sudah mati?”
Cin Ying menggelengkan kepalanya.
“Tidak mungkin. Sedikitpun kau tidak mirip dengan orang mati.”
Tiba-tiba Tan Ki menegakkan tubuhnya dan melepaskan diri dari pelukan Cin Ying.
Sepasang matanya persis obor api dan berputar mengawasi sekelilingnya. Dia
mengangkat tangannya dan mengetuk batok kepalanya perlahan-lahan. “Aneh sekali…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan menggigitnya sedikit. Mulutnya
mengeluarkan suara seruan terkejut, “Mungkinkah aku sedang bermimpi di siang bolong
dan belum mati?”
Cin Ying mengeluarkan suara dengusan yang dingin dari hidungnya. Dia segera tertawa
dingin.
“Kau memang belum mati, malah aku dibuat sampai berdebar-debar malah menangis
seperti orang kurang waras.”
Tan Ki menarik nafas panjang.
“Di dalam tubuhku mengendap dua jenis racun yang berlainan, hal ini merupakan
kenyataan. Tetapi mengapa aku tidak mati?”
Hati Cin Ying langsung tergerak. Tiba-tiba dia ingat rumus suatu ilmu pengobatan yang
pernah dibacanya dalam sebuah kitab. Yakni dongan daya Kang (keras) menolak daya Im
(lembut). Ada seperti tidak ada. Dirinya seperti tersentak sadar, mulutnya segera
mengeluarkan seruan terkejut.
“Aku mengerti sekarang!”
Tan Ki menjadi panik.
“Apa yang kau mengerti? Kalau aku memang sengaja mendustaimu, biar aku tidak
mendapatkan kematian yang layak!” tampangnya tegang sekali. Dalam sekejap saja
tampak keringatnya jatuh bercucuran, seperti orang yang merasa gugup sekali.
Cin Ying tertawa lebar.
“Mengapa kau jadi gugup seperti itu, aku toh tidak mengatakan bahwa kau mendustai
aku!”
Tan Ki mengangkat tangannya ke atas dan mengusap keringat yang membasahi kening
serta wajahnya.
“Tetapi aku tetap saja merasa heran. Mengapa aku kok bisa tidak jadi mati?”
“Dua jenis racun saling bertentangan, akhirnya malah menghilangkan daya kerja racun
itu masing-masing. Kalau dalam ilmu pengobatan, hal ini disebut racun lawan racun.
Mungkin begitulah kejadiannya. Pertama-tama tubuhmu diracuni oleh seseorang,
kemudian tergores kuku beracun jago dari Si Yu. Kebetulan kedua jenis racun ini memang
tidak cocok satu dengan lainnya sehingga saling menggempur di dalam tubuhmu dan
menimbulkan keajaiban yakni keduanya menjadi lenyap tidak berbekas…”
“Aku tahu, aku diracuni oleh orang tidak diketahui secara diam-diam dan racun itu
mengandung daya Im sedangkan ilmu yang dipelajari oleh Kim Yu menggunakan racun
yang mengandung daya Kang. Dua jenis racun saling menyerang, Im dan Kang saling
memakan sehingga akhirnya malah musnah kedua-duanya.”
Cin Ying tertawa lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kurang lebih begitulah penjelasannya…”
Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya telah mengabulkan permintaan Tan Ki, tak urung
diam-diam dia menarik nafas panjang dan menghentikan kata-katanya.
Tan Ki jadi tertegun melihat sikapnya.
“Kenapa kau?” tanyanya bingung.
Cin Ying memaksakan sebuah senyuman dan mengalihkan pokok pembicaran.
“Enghiong tayhwe sudah dimulai di wilayah luar kota Para jago yang ada di gedung
keluarga Liu, kemungkinan besar semuanya sudah menuju ke sana. Tadinya aku berpikir
akan meninggalkan adik Ie di sini dan aku akan Kembali seorang diri ke Lam Hay. Tetapi
aku pernah berjanji kepada Tan Siangkong bahwa akan membantumu merebut kedudukan
Bulim Bengcu dan mencarikan jalan yang baik untuk membalas dendam bagi kematian
ayahmu. Oleh karena itu, terpaksa aku membatalkan maksudku dan menunggu sampai
semua urusan ini selesai, barulah aku terbebas dari segala ikatan.”
Tan Ki menarik nafas perlahan-lahan.
“Rasanya aku masih segan memperebutkan segala nama kosong itu…”
Wajah Cin Ying yang cantik langsung berubah mendengar kata-katanya.
“Omong kosong!” dia membentak dengan suara keras.
“Bagaimana kau bisa membalas dendam atas kematian ayahmu, bagaimana kau harus
menunjukkan mukamu di hadapan ibumu dan beberapa gadis yang memujamu itu? Kau
boleh pertimbangkan sendiri baik-baik, aku sendiri tidak perduli apa nama besar atau
bukan, pokoknya untuk perjalanan ini mau tidak mau kau tetap harus pergi!”
Tampak pergelangan tangannya memutar dan secara tiba-tiba terulur ke depan untuk
mencengkeram. Kecepatannya bagai kilat, tahu-tahu tangan Tan Ki telah tercekal olehnya.
Dia tidak memberi kesempatan sedikitpun kepada Tan Ki untuk memprotes, diseretnya
anak muda itu dan diajaknya pergi dari sana.
BAGIAN XXXVI
Tempat ini merupakan sebuah bukit yang arealnya sangat luas. Dari puncaknya dapat
melihat pemandangan bawah yang indah serta pepohonan yang subur.
Saat ini di bagian puncaknya telah didirikan sebuah panggung atau pentas
pertandingan yang tinggi. Dari bawah dapat dilihat kepala manusia bergerak-gerak.
Tampaknya ramai orang yang hilir mudik, jumlahnya tidak kurang dari ratusan orang.
Tentu saja, orang-orang ini merupakan angkatan yang sudah mempunyai nama di dunia
Kangouw dan kedatangan mereka dapat dipastikan untuk ikut meramaikan suasana dalam
merebut kedudukan Bulim Bengcu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cin Ying menarik tangan Tan Ki dan mengajaknya masuk ke dalam tenda besar yang
digunakan untuk tempat duduk para tamu. Dari awal sampai akhir, Tan Ki terus
mengeratkan sepasang alisnya tanpa berkata sepatah katapun, seakan ada urusan maha
besar sedang melanda hatinya saat ini. Dan masalah ini tidak dapat diungkapkannya
keluar sehingga terpendam dalam hati dan membuat perasaannya jadi kurang gembira.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis Sedih Mengharukan : Dendam Iblis Seribu Wajah 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Jumat, 21 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments