Cerita Cinta Asmara Guru dewasa : Si KS 4

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Asmara Guru dewasa : Si KS 4
Cerita Cinta Asmara Guru dewasa : Si KS 4
Pada suatu hari sesampainya di desa Sam-li-tun,
yang terletak beberapa puluh lie jauhnya di sebelah utara
dari kota Hang-ciu, Poan Thian telah dibikin tertarik oleh
orang banyak yang berkumpul di muka sebuah kelenteng
Touw-tee-bio, sambil sebentar-sebentar bertampik sorak
riuh dan berseru: „Ho bugee! Ho bugee! Itulah
sesungguhnya permainan silat yang bagus sekali!”
Mula-mula ia menyangka di situ ada seorang penjual
silat keliling yang sedang mempertunjukkan ilmu
kepandaiannya. Tetapi ketika mendapat keterangan
tentang adanya pertandingan antara dua orang ahli silat
yang penduduk situ belum pernah kenal, Poan Thian jadi
semakin tertarik dan lalu turut menonton dengan jalan
naik ke atas gunung-gunungan tanah yang terdapat di
muka bio tersebut.
Dari situ ketika Poan Thian memandang sekian
lamanya, mendadak ia kenali, bahwa salah seorang ahli
silat yang sedang bertempur itu, ia rasanya pernah kenal
tetapi lupa dimana dahulu ia pernah bertemu dengannya.
310
Pertempuran itu rupanya telah berlangsung agak
lama juga, karena ahli silat yang ia rasa kenal itupun
sudah agak kalut ilmu pukulannya dan mulai terdesak
oleh lawannya, yang usianya jauh lebih muda daripada
dirinya sendiri.
Dalam pada itu, Poan Thian perhatikan dengan teliti
ilmu-ilmu pukulan yang telah diajukan oleh si ahli silat
muda itu, yang telah meluncurkan pukulan-pukulan
dahsyat untuk merobohkan pada lawannya yang lebih
tua itu.
„Itulah ada bagian-bagian dari ilmu silat Lo-han-kun
yang telah dipergunakan oleh si pemuda itu,” kata Poan
Thian pada diri sendiri. „Oleh sebab itu, tidak salah lagi,
bahwa ia inilah salah seorang ahli silat Siauw-lim dari
cabang Ngo-tay-san. Tetapi belum tahu apa sebab
musabab mereka bertempur di tempat yang agak ramai
ini, sedangkan tempat-tempat lain buat bertempur pun
bukan sedikit di sekitar pedusunan ini?”
Belum habis Poan Thian berpikir tentang caranya
mereka mengadu ilmu silat di tempat yang sedemikian
itu, ketika dengan sekonyong-konyong dari sebelah
belakang ia merasai bersiurnya angin yang menandakan
tentang kedatangannya seorang yang hendak
menghampiri kepadanya dengan secara diam-diam. Dan
tatkala ia coba menoleh ke belakang, ia jadi terperanjat
melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri di
belakangnya dengan sorot mata yang menyala-nyala.
Kemudian orang itu mengunjukkan senyuman iblis
sambil bertanya: „Apakah kau masih kenali siapa aku
ini?”
„Itu aku tidak sangsi lagi,” sahut Lie Poan Thian. „Kau
ini adalah Liu Tay Hong, salah seorang kauw-su Tan
311
Chung-cu Tan Tong Goan yang dahulu pernah
kupecundangi. Sekarang, sebab kuyakin, bahwa
pertemuan ini tidak mengandung maksud baik, kukira
tidak perlu lagi aku menanyakan kepadamu: „Apakah
selama ini kau ada baik?” tetapi lebih tepat jikalau aku
menanyakan: „Apakah sekarang kau telah cukup melatih
diri untuk merobohkan kepadaku?” Jikalau kau ternyata
telah bersedia, bolehlah kita melanjutkan pertempuran
kita yang telah tertunda beberapa tahun lamanya itu,
jikalau kau merasa masih belum berlatih cukup matang,
aku nasehatkan supaya kau boleh lekas berlalu dari
hadapanku.
Tunggu kalau nanti kau sesungguhnya telah berlatih
sampai cukup matang, barulah kau mencari pula padaku,
untuk menetapkan siapa salah seorang antara kita
berdua yang ilmu kepandaiannya lebih unggul!”
Orang itu, yang ternyata bukan lain daripada Liu Tay
Hong yang para pembaca tentu masih ing at, sudah tentu
saja jadi amat gusar dan lalu menerjang pada Lie Poan
Thian dengan tidak banyak bicara lagi.
Poan Thian buru-buru berkelit dan berlompat turun
dari atas gunung-gunungan tanah itu, untuk menunda
pauw-hok yang digendong di atas bebokongnya.
Begitulah dengan terjadinya pertempuran antara Lie
Poan Thian dan Liu Tay Hong di bawah gununggunungan
tanah tersebut, maka di halaman kelenteng
Touw-tee-bio itu telah tertampak jadi semakin ramai,
dengan adanya dua rombongan orang-orang yang
bertempur dengan para penonton sama sekali tidak
mengetahui sebab-musabab daripada perkelahian itu.
Tapi kebanyakan orang pada umumnya tidak
mengambil pusing mereka siapa atau sebab apa mereka
312
bertempur, oleh karena itu, orang banyak yang
berkerumun di depan kelenteng itu segera terpecah
menjadi dua rombongan: dengan yang sekelompok
saban-saban bertampik sorak lebih ramai daripada
rombongan yang lainnya. Dan semakin ramai orangorang
yang bertampik sorak, semakin tegas pula
kehebatannya pertempuran-pertempuran yang sedang
berlangsung di saat itu.
Dalam pada itu, Sin-tui Lie Poan Thian yang telah
sekian lamanya tidak bertemu muka dengan Liu Tay
Hong, dengan lantas mengetahui lebih tegas tentang
kemajuan ilmu silat sang lawan itu, hingga jikalau dahulu
ia boleh berlaku sedikit ayal-ayalan dalam
perlawanannya, adalah sekarang tak sempat pula ia
berbuat begitu tanpa menanggung resiko yang bukan
kecil bagi keselamatan dirinya sendiri.
Karena jikalau dahulu Tay Hong hanya merupakan
sebagai seorang kauw-su yang semata-mata mengajar
ilmu silat untuk mencari nafkah, adalah sekarang ia telah
menjadi seorang yang betul-betul ahli dalam hal
mempertunjukkan ilmu Hek-houw-kun yang terkenal lihay
dan disegani orang itu.
Maka Poan Thian yang telah matang dalam
pengalaman di kalangan ilmu silat, sudah tentu saja
lantas atur penjagaan dengan sebaik-baiknya, sehingga
Tay Hong sama sekali tidak mendapat ketika akan
melakukan penyerangan kilat terhadap pada bagianbagian
Poan Thian yang ia anggap lemah.
Begitupun Poan Thian yang mengerti bahwa Liu Tay
Hong tak dapat dirobohkan dengan menggunakan ilmu
pukulan, buru-buru ia maju menerjang lawan itu dengan
ilmu tendangan lihay yang ia memang amat paham.
313
Sementara Liu Tay Hong yang telah kenal bahwa
keunggulan Lie Poan Thian adalah di bagian ini, sudah
tentu saja iapun terpaksa mesti pasang mata dengan
betul, dan ia sudah merasa sangat beruntung jikalau ia
tidak sampai dirobohkan pula seperti apa yang telah
dialaminya pada waktu yang lampau itu.
Maka karena sikap yang sangat hati, daripada kedua
belah pihak lawan itu, tidaklah heran jikalau pertempuran
itu telah berlangsung sampai beberapa lamanya dengan
tidak tertampak pihak mana yang lebih unggul atau lebih
rendah ilmu kepandaiannya.
Meskipun Tay Hong telah beberapa kali mengajukan
ilmu-ilmu pukulan yang sangat berbahaya, tidak urung
pukulan-pukulan itu telah dapat dielakkan dan dibikin
tidak berbahaya oleh kegesitan dan kepandaian Lie Poan
Thian, hingga orang banyak jadi sangat memuji atas
kepandaian pemuda kita yang dikatakan sangat lihay itu.
Pada satu saat karena suatu kesalahan dalam
penyerangan yang telah dilakukan oleh Liu Tay Hong,
maka Poan Thian mendapat kesempatan buat segera
menggunakan ilmu tendangan yang gerakkannya amat
cepat untuk membikin terkesiap hati lawannya itu. Dan
sebegitu lekas Tay Hong hendak berkelit buat
meluputkan diri daripada tendangan tersebut, Poan
Thian lalu barengi mempergunakan ilmu Sauw-tong Lianhwan-
tui yang ternyata belum pernah diketahui
bagaimana kelihayannya oleh Liu Tay Hong, hingga
biarpun tendangan yang satu telah berhasil dapat
dielakkannya, tetapi tendangan yang lain tak berdaya ia
dapat singkirkannya. Maka pada sebelum ia keburu
berpikir dengan jalan apa ia harus menyelamatkan
dirinya, kaki kiri Lie Poan Thian telah menyamber ke ulu
hatinya bagaikan kilat cepatnya. Tay Hong lekas
314
miringkan sedikit badannya, tetapi tidak urung ia telah
kena juga ditendang sehingga terpental dan jatuh di
suatu tempat yang terpisah kira-kira beberapa belas kaki
jauhnya.
Beruntung juga kenanya tendangan itu tidak
seberapa telak, hingga Tay Hong keburu bangun dan
berteriak: „Lekas lari!” Kemudian ia panjangkan
langkahnya dan melarikan diri ke sebelah barat
kelenteng, dengan tidak menoleh lagi ke belakang buat
melihat, apakah Poan Thian masih mengejar atau tidak.
Sementara pemuda yang sedang bertempur dengan
orang setengah tua di muka kelenteng Touw-tee-bio
tersebut, segera berlompat keluar dari kalangan
pertempuran, tatkala mendengar seruan Liu Tay Hong
itu. Ia ini, yang rupanya menjadi juga kawan Liu Tay
Hong, lalu melarikan diri dengan mengambil jurusan yang
dituju oleh sang kawan itu.
Selanjutnya karena melihat musuh itu telah kabur,
maka Poan Thian pun merasa tidak perlu akan
melakukan pengejaran, tetapi segera maju menghampiri
orang setengah tua itu sambil tersenyum dan memberi
hormat. „Suhu,” katanya,” semenjak kita saling
berpisahan, apakah kau ada baik dan sehat wal'afiat?”
Orang itu kelihatan jadi terperanjat dan buat sejurus
lamanya tak dapat berkata-kata barang sepatahpun.
„Apakah kau ini bukan Lie Kok Ciang dari Cee-lam?”
ia menegaskan bagaikan orang yang takut keliru
mengenali orang.
„Benar,” sahut Poan Thian, „apakah Suhu telah lupa
kepadaku?”
315
Orang itu mendadak tertawa bergelak-gelak,
kemudian ia lantas memegang bahu pemuda kita sambil
berkata: „Aku tidak nyana bahwa sehingga sekarang kau
masih tetap mengaku aku sebagai gurumu. Kok Ciang,
nyatalah engkau ini ada seorang yang berbudi.”
Setelah orang banyak yang berkerumun di muka
kelenteng telah pada bubaran, Poan Thian lalu gendong
pula pauw-hoknya dan ajak orang itu yang ternyata
bukan lain daripada An Chun San, yang dahulu pernah
menjadi guru dan pernah dirobohkannya akan mampir ke
sebuah kedai untuk mengaso dan menanyakan: apa
sebab ia bertempur di situ, dan siapakah orang muda
yang menjadi musuhnya itu?
Maka setelah kedai yang dicari itu telah dapat
diketemukan, Poan Thian lalu ajak bekas guru itu akan
mampir dan persilahkan Chun San pilih sendiri, makanan
atau minuman apa yang digemarinya.
Begitulah sambil duduk makan minum bersama-sama
Chun San telah menuturkan riwayat perjalanannya,
semenjak ia mabur dari rumah Poan Thian di Cee-lam
sehingga mereka bertemu di kelenteng Touw-tee-bio
yang telah dipilih oleh kedua pihak sebagai tempat untuk
menentukan, siapa salah seorang antara Chun San dan
musuhnya yang lebih unggul ilmu kepandaiannya.
„Musuh ini sebenarnya aku tidak kenal siapa
namanya yang benar,” memulai bekas guru itu. „Dalam
desa Sam-li-tun ini aku telah berdiam beberapa tahun
lamanya, yaitu semenjak aku berlalu dengan diam- diam
dari rumahmu di Cee-lam. Di dalam desa ini aku
kebetulan ada mempunyai seorang sahabat yang
membuka sebuah toko obat. Oleh karena ia mengetahui
bahwa aku paham juga obat-obatan dan ilmu
pengobatan, maka ia telah ajak aku bersero dengan
316
hanya keluar tenaga, sedangkan segala ongkos-ongkos
dan keperluan semua ditanggung oleh sahabatku itu.
Dalam perseroan ini kita telah peroleh keuntungan yang
lumayan buat melewati hari.
„Semakin lama perusahaan kita ini semakin maju,
sehingga akhirnya rumah obat kita menjadi tersohor dan
dikenal oleh hampir seluruh penduduk tua dan muda
dalam desa Sam-li-tun ini.
„Paling belakang karena banyak terjangkit penyakit
mejen di antara rakyat-rakyat yang miskin dan tidak
mampu, maka kita lantas adakan kampanye untuk
memberikan obat dan pemeriksaan dengan cuma- cuma,
sehingga penyakit itu dapat dibasmi di seluruhnya dari
desa tersebut.
Maka berkat kampanye ini, bukan saja kita mendapat
pujian dari pihak anak negeri, bahkan pihak yang
berwajibpun menyatakan terima kasihnya atas bantuan
kita yang berharga itu terhadap masyarakat di Sam-li-tun
khususnya, sehingga karena itu, nama rumah obat kita
jadi semakin termasyhur di mana- mana. Hanya amat
disayangkan, antara adanya kemasyhuran itu, kita jadi
menghadapi soal lain yang berupa gangguan dari
sahabat-sahabat yang menuntut penghidupan tidak baik
di kalangan Kang- ouw hitam. Mereka berpendapat,
karena kita memperoleh banyak keuntungan dalam
perusahaan kita, maka mereka pun ingin minta juga
beberapa bagian dari keuntungan itu guna dibagibagikan
di antara golongan mereka. Hal mana, sudah
barang tentu, aku sebagai kuasa dan pengurus rumah
obat Tiang-seng-tong itu, tidak suka mengabulkan atas
permintaan yang sangat bo-ceng-li itu.
„Oleh sebab itu juga, pada suatu hari anak muda
yang bertempur dengan aku itu dan mengaku bernama
317
Hok Cie Tee, telah datang berkunjung ke rumah obat kita
buat coba membujuk padaku. Katanya, kalau aku tidak
suka keluarkan „uang jago” sejumlah yang telah diminta
duluan, dikasih separuhnyapun mereka mau terima juga.
„Tetapi aku tetap tidak mau memberinya juga,
sehingga akhirnya terbit percekcokan yang telah
menyebabkan ia menantang berkelahi padaku di muka
kelenteng Touw-tee-bio itu.
„Ilmu kepandaian anak muda itu ternyata tidak bisa
dicela, dan jikalau aku memangnya tidak meyakinkan
ilmu silat pula pada seorang paderi dari kelenteng Siauwlim-
sie sebegitu lekas aku berlalu dari Cee-lam, niscaya
siang-siang aku telah dirobohkan oleh pemuda bajingan
itu.”
„Ketika barusan aku lalu di kelenteng Touw-tee-bio,”
Poan Thian memotong pembicaraan bekas gurunya itu,
„akupun telah bertemu dengan seorang kauw-su yang
aku pernah pecundangi dan dia bersumpah akan
menuntut balas kepadaku di kemudian hari. Dia ini
rupanya menjadi juga komplotan si anak muda yang aku
percaya telah datang bersama-sama, tetapi berpura-pura
tidak kenal satu sama lain. Hanya belum tahu apakah
Suhu ketahui juga hal ini di muka terjadinya pertempuran
itu!”
„Tentang ini aku tidak tahu pasti,” sahut An Chun
San, „tetapi aku percaya, bahwa si pemuda bajingan itu
tidak datang ke situ dengan hanya seorang diri saja.
Apalagi ketika aku melihat kau dan orang itu bertempur
dari kejauhan, hatiku bercekat dan semakin percaya,
bahwa kedatangan kawannya itu dengan secara diamdiam,
adalah telah diatur lebih dahulu buat mengerubuti
atau mencelakai pada diriku dengan secara menggelap.
Hanya aku tidak mengerti, apa sebabnya sehingga kau
318
jadi bertemu dengan orang itu. Barusan, karena aku
sedang sibuk menjaga diriku dari serangan-serangan
musuh itu, maka tidak sempat aku berpikir akan mencari
tahu, sebab-sebab atau alasan-alasannya yang masuk
diakal berhubung dengan terjadinya pertempuran yang
amat sekonyong-konyong itu.”
Maka buat menjelaskan tentang duduknya urusan
yang benar, Poan Thian lalu tuturkan pertemuannya
dengan Liu Tay Hong di rumah Tan Tong Goan, dari
awal sehingga akhirnya ia merobohkan bekas kauw- su
itu. Tetapi tak tahu ia bagaimana Tay Hong bisa jadi
berkawan dengan pemuda bajingan itu.
„Ketika barusan aku melihat Suhu bertempur dengan
penjahat itu,” Poan Thian melanjutkan omongannya,
„sebenarnya aku tidak nyana bakal bertemu dengan
Suhu di tempat ini.”
3.20. Bantuan Murid Bagi Mantan Guru
Tatkala Chun San menanyakan, Poan Thian
sebenarnya hendak pergi kemana, pemuda kita lalu
tuturkan perutusannya, yang ia telah terima dari Beng
Sim Suthay dari kelenteng Giok-hun-am. „Aku diperintah
akan membantu In Cong Sian-su buat menaklukkan atau
menangkap muridnya yang berkhianat dan bernama Wie
Hui itu,” ia akhiri bicaranya.
„Nama itu sudah lama aku dapat dengar,” kata Chun
San, „tetapi sayang bukan di dalam golongan orangorang
yang terhormat. Menurut ceritera beberapa orang
kawanku di kalangan Kang-ouw putih, Wie Hui itu adalah
seorang ahli ilmu Pek-houw-kang yang paling muda di
masa ini, jikalau tidak mau dikatakan paling baik dan
paling pandai dari antara yang lain- lainnya.”
319
„Ya, itupun aku telah ketahui sedikit dari mulut orangorang
yang aku ketemukan dalam perjuanganku,” sahut
Lie Poan Thian.
Sehabisnya bermakan minum dan Poan Thian
membayar semua rekening meski Chun San mencegah
dan hendak membayar sendiri, Chun San lalu ajak Poan
Thian mampir ke tempat kediamannya dan
menganjurkan, agar supaya pemuda itu suka berdiam
beberapa hari lamanya sebagai tanda memperbaharui
serta mempererat perhubungan mereka yang dahulu
telah terputus itu.
Poan Thian menurut untuk memenuhi pengharapan
bekas gurunya itu.
Dua malam telah lewat dengan tiada terjadi hal apaapa
yang penting untuk dituturkan di sini. Tetapi pada
malam ketiga selagi Chun San menjamu Poan Thian
duduk makan minum di halaman belakang tempat
kediamannya, mendadak mereka telah dibikin kaget oleh
sepasang bayangan manusia yang berkelebatan masuk
ke halaman itu.
Oleh karena An Chun San dan Poan Thian baru saja
beberapa hari mengalami pertempuran, karuan saja
mereka lantas menyangka, kalau-kalau kedatangan
kedua orang itu tentu lah tidak bermaksud baik.
Tidak kira ketika melihat tuan rumah dan tetamunya
pada berbangkit dari tempat duduk masing-masing kedua
orang tadi lalu maju menghampiri sambil berkata:
,,Selamat malam, tuan-tuan! Kedatangan kami ini
bukanlah bermaksud jahat, sebagaimana kamu berdua
tentu mengira. Kami berdua adalah kakak dan adik yang
bernama Lauw Thay dan Lauw An, berdua saudara yang
bekerja di bawah perintah Liu Tay Hong dan Hok Cit,
320
yang tempo hari telah mengaku bernama Hok Cie Tee di
hadapan tuan An.
Oleh karena mengingat atas budi kebaikan tuan An
yang telah berlaku dermawan memberikan bantuan yang
berupa obat-obatan, pemeriksaan dengan cuma- cuma
dan uang untuk menghidupkan seluruh rumah tangga
kami, maka kami berdua walaupun bekerja di bawah
perintah mereka, tetapi masih mempunyai liang-sim dan
tidak bersedia akan mentaati tugas busuk yang kami
sekarang telah diperintah untuk melakukannya.”
Tatkala Chun San menanyakan, tugas apakah itu
yang mereka telah diperintah buat lakukan pada malam
itu, Lauw Thay lalu bentangkan telapak tangannya dan
unjukkan itu pada si tuan rumah dan Lie Poan Thian di
bawah penerangan api lampu.
„Api!” kata mereka dengan suara yang hampir
berbareng.
„Kalau dugaanku tidak keliru,” kata An Chun San
kemudian, „kamu berdua telah diperintah akan
membakar rumah tanggaku ini. Apakah bukan begitu,
maksud yang benar dari perkataan „Api” yang dituliskan
dimana telapak tanganmu itu?”
„Ya, benar,” sahut Lauw Thay. „Tetapi disamping itu,
masih ada pula lain macam perintah yang bagi orang lain
berarti amat hebat, tetapi bagi tuan An boleh dianggap
sepi saja. Yaitu..... ini.”
Sambil berkata begitu, Lauw Thay lalu
membentangkan telapak tangan yang lainnya SOE
(mati). Demikianlah tulisan yang tampak pada telapak
tangan itu! „Tetapi ini boleh dikatakan tidak ada artinya
bagi tuan An yang berilmu kepandaian jauh lebih tinggi
daripada kami berdua,” kata Lauw Thay pula, „karena
321
buat membunuh tuan An, aku percaya Hok Cit sendiripun
belum tentu mampu, apalagi kami berdua yang bodoh
dan tidak pernah berguru pada orang- orang pandai.
Dimanalah kami bisa lakukan pekerjaan yang seberat
itu?”
An Chun San dan Lie Poan Thian berdua jadi
„kesima” waktu mendengar omongan itu. „Setelah
sekarang kamu menyampaikan kabar yang tidak baik itu
kepadaku,” kata Chun San akhir-akhirnya, „ada hal
apakah lagi yang kamu hendak katakan selanjutnya?”
„Kami berdua sebetulnya tidak akan kembali pula
kepada mereka,” kata kedua orang itu. „Tetapi oleh
karena kami kuatir akan hidup berkeliaran di luaran
apabila komplotan Liu Tay Hong dan Hok Cit belum
dapat dibasmi, maka kami bermohon, atas kebijaksanaan
dan kedermawanan tuan An di sini, untuk memberikan
kami berdua tempat bersembunyi untuk beberapa waktu
lamanya. Apabila komplotan manusia-manusia busuk itu
telah dibasmi oleh pihak yang berwajib, sudah tentu saja
kami lantas berlalu dengan tidak menyusahkan apa-apa
lagi bagi tuan An. Hanya belum tahu apakah tuan An
sudi meluluskan atas permintaan kami ini?”.
An Chun San mula-mula kelihatan ragu-ragu, karena
biarpun mereka telah mengatakan bahwa mereka pernah
menerima budi kebaikannya, tetapi ia sama sekali tidak
pernah kenal, mereka asal dari mana dan dimana rumah
tangga mereka yang dikatakannya itu. Air yang dalam
bisa diukur, tetapi hati manusia cara bagaimanakah bisa
diukurnya?
„Kalau begitu aku punya suatu jalan yang paling baik
bagi kamu berdua dan bagi aku juga yang berada di sini,”
kata An Chun San setelah berpikir sejurus lamanya.
322
Ketika mereka mendahului menanyakan, cara
bagaimana yang Chun San akan atur buat menolong diri
mereka, si tuan rumah lantas menjawab: „Begini.
Sekarang aku berikan kamu ongkos duaratus tail perak
untuk menyingkir sementara waktu lamanya ke tempat
lain yang kamu kira cukup selamat untuk kamu
berlindung. Dan di sana, apabila kamu mendengar kabar
bahwa komplotan manusia- manusia busuk itu telah
dibasmi oleh pihak yang berwajib, barulah kamu kembali
lagi ke sini, agar supaya dengan begitu, akupun bisa atur
cara lain guna menjamin penghidupanmu berdua. Tetapi
belum tahu apakah kamu setuju dengan caraku ini?”
Lauw Thay kelihatan menghela napas ketika
mendengar omongan itu.
„Cara itu rasanya boleh juga diturut,” kata Lauw An.
“Karena disamping kita bisa menyelamati diri kita,
tuan An di sinipun tidak usah kuatir jadi kerembet dengan
urusan kita. Maka setelah kita tidak melupakan atas budi
kebaikan tuan An terhadap seluruh keluarga kita, kitapun
sebaliknya harus bantu berdaya guna keselamatan tuan
An serumah tangga yang berdiam di desa Sam-li-tun ini.”
„Ya, ya, itulah ada suatu jalan paling baik yang kukira
bisa disetujui oleh kedua pihak,” kata Lie Poan Thian
yang turut campur berbicara.
Maka setelah mereka menyatakan mufakat, An Chun
San lalu pergi mengambil sejumlah uang yang lalu
diberikan pada mereka berdua sambil memesan seperti
berikut: „Uang ini kamu boleh gunakan dengan sehemathematnya.
Apabila nanti ternyata tidak cukup, kamu
boleh suruhan orang datang membawa surat ke sini buat
minta ditambahkan. Aku di sini selalu terbuka buat
menolong sesuatu orang yang patut ditolong, apalagi
323
terhadap pada orang-orang yang memangnya kupernah
berhutang budi. Kalau nanti kamu sudah berada di
tempat lain, jangan lupa akan memberitahukan
alamatmu, agar jikalau nanti keadaan sudah tidak
berbahaya lagi bagi mu berdua, akupun boleh segera
panggil kamu kembali ke Sam-li- tun, buat membantu
pekerjaanku atau mengatur cara lain yang bisa
mendatangkan kebaikan bagi kita kedua pihak.”
„Benar, benar,” menyetujui Lauw An. „Cara lain yang
bisa digunakan dalam keadaan kesusu seperti sekarang,
mungkin juga tidak ada lagi yang sebaik itu.”
Sementara Lie Poan Thian yang lebih banyak
mendengari pembicaraan orang daripada turut campur
berbicara, akhir-akhirnya mendapat suatu pikiran yang
segera diajukannya pada An Chun San seperti berikut:
„Menurut pendapatku yang cupat, kiranya ada baiknya
juga jikalau kedua saudara ini diperbantukan dalam
sebuah piauw-kiok. Karena selain pekerjaan itu
menyocokkan betul bagi bakat mereka, merekapun bisa
juga dipergunakan sebagai petunjuk-petunjuk dalam soal
pengangkutan-pengangkutan yang biasa dilakukan orang
ke tempat-tempat lain.”
An Chun San mufakat. Demikian juga Lauw Thay
berdua saudara, mereka menyatakan setuju dengan usul
itu, asalkan mereka diperbantukan dalam piauwkiokpiauwkiok
yang letaknya jauh dari daerah kekuasaan
komplotan Liu Tay Hong dan Hok Cit, hingga dengan
begitu, ketika buat kejadian berbentrok dengan kedua
penjahat itu jadi bisa diringankan, biarpun itu bukan
berarti akan dapat disingkirkan sama sekali.
„Aku juga makanya menganjurkan begitu,” kata Lie
Poan Thian, „adalah karena aku mempunyai seorang
sahabat yang selama ini berniat akan membuka piauw324
kiok di selatan. Orang ini asal Ho-lam, she Cin bernama
Kong Houw. Kini ia dan isterinya ada dalam perjalanan
pulang ke desa kelahirannya. Jikalau kamu berdua
berlaku cepat, ada kemungkinan kamu ketinggalan pun
tidak berapa jauh.”
Semua orang mufakat benar dengan anjuran pemuda
kita itu.
Maka sesudah merekapun dijamu makan minum,
diberikan uang dan sepucuk surat oleh Poan Thian yang
dialamatkan kepada Cin Kong Houw serta petunjukpetunjuk
lain yang memudahkan untuk mereka mencari
pada orang yang dimaksudkan itu, barulah Lauw Thay
dan Lauw An memohon diri pada Chun San dan Poan
Thian, kemudian pada malam itu juga mereka kembali ke
rumah mereka sendiri, untuk berkemas-kemas dan
berangkat ke selatan di hari esoknya pagi-pagi.
Tatkala mereka telah berlalu lama juga, barulah Poan
Thian ingat suatu hal yang ia sebenarnya kepingin
menanyakan pada kedua saudara itu, tetapi, apa mau, ia
telah lupa utarakan selagi mereka berada di
hadapannya.
„Barusan aku telah lupa menanyakan,” katanya.
„Apakah mereka kenal atau tidak dengan Wie Hui,
murid In Cong Lo-siansu yang berkhianat itu. Karena
kedua saudara itu yang hidup di kalangan Kang-ouw
hitam dalam daerah ini, tidak mustahil mereka tak kenal
nama itu.”
Chun San membenarkan omongan itu, tetapi sudah
tentu saja ia tidak bisa berbuat lain daripada
menganjurkan Poan Thian akan pergi menyelidiki sendiri,
berhubung orang-orang yang bisa dimintakan
keterangannya telah berlalu dari hadapan mereka.
325
Di rumah An Chun San, Poan Thian telah berdiam
sehingga tiga hari lamanya, barulah ia dikabulkan
permintaannya buat melanjutkan perjalanannya ke Po-tosan,
sambil tak lupa dipesan oleh Chun San akan
mampir lagi ke situ, apabila tugas sang bekas murid itu
telah dapat ditunaikan.
Poan Thian berjanji akan berbuat begitu, biarpun ia
belum bisa tentukan kapan ia akan kembali lagi ke situ.
Kemudian ia berpamitan pada Chun San dan terus
menuju ke pantai untuk menumpang perahu yang akan
berangkat ke tempat yang dituju.
Begitulah dengan menumpang sebuah perahu
seorang nelayan yang kebetulan hendak pergi ke Po-tosan,
Poan Thian akhirnya telah sampai ke pegunungan
tersebut, dan sesudah membayar uang sewaan perahu,
lalu ia menuju ke kelenteng Po-to-sie dengan mengikuti
jalan gunung yang semakin lama semakin tinggi, sedang
di kiri kanannya tampak pemandangan alam yang indah
dan seolah-olah tidak dipunyai oleh tempat-tempat dan
pegunungan-pegunungan lain yang terletak di alam
Tiongkok.
Di situ Poan Thian menyaksikan cadas yang curam
dan batu-batu gunung yang sebesar-besar rumah, di
antara mana terdapat jalan-jalan yang menjurus ke sanasini.
Sedangkan jalan yang terbesar sendiri, ialah sebuah
jalan yang menuju ke kelenteng Po-to-sie, yang ramai
oleh orang-orang dari tempat-tempat lain yang sengaja
berkunjung ke situ untuk bersembahyang, membayar
kaul atau menyaksikan pemandangan alam yang
tertampak di situ dan daerah sekitarnya.
Poan Thian yang baru pada kali itu pernah
menginjakkan kakinya di pegunungan yang merupakan
pulau itu, sudah tentu saja masih kelihatan agak kikuk
326
dan tidak tahu jurusan mana yang mesti diambilnya untuk
ia dapat menyampaikan tempat yang ditujunya.
Syukur juga karena banyaknya orang yang mondarmandir
ke kelenteng itu dengan tidak putus-putusnya,
maka gampang ia menanyakan keterangan- keterangan
yang diperlukan, terutama mengenai jalan yang lebih
pendek supaya orang bisa lekas sampai ke kelenteng
tersebut.
Tetapi karena ia memang masih asing bagi tempattempat
di situ, tidak urung ia tersesat juga di jalan, dan
tahu-tahu ia telah sampai di bagian lain daripada
kelenteng yang masyhur itu, dimana karena mendengar
ada beberapa orang yang sedang berlatih ilmu silat di
balik pagar tembok yang terdekat, maka Poan Thian jadi
timbul keinginan buat coba menyaksikan ke sebelah
dalam, dengan jalan melompati pagar tembok yang tak
dapat dikatakan rendah itu.
Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi baru saja ia
menindak akan mendekati pagar tembok tersebut, tibatiba
ia telah dibikin kaget oleh suara seseorang yang
membentak dari balik tembok itu.
„Kau siapa?” tanyanya, „dan perlu apakah kau datang
mengintip kemari?”
Poan Thian bukan main herannya dan terutama
sangat tidak mengerti, cara bagaimanakah orang yang
berada dibalik tembok sana bisa mengetahui bahwa ia
berada di luarnya?
Ia pikir orang itu niscaya tidak bisa berbuat begitu,
apabila bukan seorang yang ilmu pendengarannya telah
sampai pada puncak yang tertinggi.
327
Tetapi ia belum sempat berpikir lebih jauh, ketika
suara itu mengatakan pula: „Apabila kedatanganmu tidak
bermaksud jahat, apakah sebabnya kau tidak berani
datang menghadap kepadaku?”
Poan Thian yang ditanya begitu, keruan saja lantas
insyaf dari kekeliruannya dan segera menjawab „Murid
mendatangi, dan maafkanlah atas perbuatanku yang
kurang sopan ini.”
Kemudian dengan menggunakan siasat Hui-yanchut-
lim ia melayang masuk ke halaman sebelah dalam
dari pagar tembok itu.
Di sana, sambil duduk di atas kursi di hadapan para
pelatih yang sedang meyakinkan ilmu silat, Poan Thian
nampak seorang paderi tua yang misai dan janggutnya
sudah berwarna putih seluruhnya, tetapi semangatnya
masih tetap gagah dan terutama sinar matanya yang
amat tajam bikin orang merasa terkesiap disaban waktu
beradu sorot mat a dengannya.
Maka setelah menyaksikan Poan Thian masuk
dengan menggunakan siasat silat tadi, sang paderi
lantas ketahui, bahwa pemuda itu tentulah bukan orang
sembarangan.
„Kau ini orang dari mana?” tanyanya, ketika melihat
Poan Thian maju memberi hormat kepadanya, „nama
apa, dan dengan maksud apa kau datang ke sini?”
„Murid yang rendah bernama Lie Kok Ciang,” sahut
Poan Thian, „orang dari Cee-lam propinsi Shoa-tang.
Hari ini murid membawa sepucuk surat Beng Sim Suthay
dari kelenteng Giok-hun-am untuk disampaikan kepada
In Cong Lo-siansu. Hanya belum tahu Lo-siansu
sekarang ada dimana? Murid seorang yang seumur
hidup baru pernah kali ini datang kemari, telah tersesat
328
jalan dan akhirnya sampai ke sini. Banyak harap supaya
guru sudi memberikan maaf atas kesemberonoanku ini.”
„Apakah Beng Sim Suthay tidak mengatakan apa-apa
tentang isinya surat itu?” bertanya paderi itu pula sambil
memandang dengan teliti kepada pemuda kita.
Lie Poan Thian lalu tuturkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud kedatangannya itu, tetapi tidak
menceritakan apa-apa tentang hal ia bertempur dalam
perjalanannya ke tempat itu.
„Ya, kalau begitu,” kata sang paderi, „marilah kau
serahkan surat itu kepadaku.”
„Apakah barangkali guru ini bukan In Cong Lo-siansu
yang hendak murid jumpai itu?” tanya Lie Poan Thian
yang mendadak telah mendusin, bahwa apa yang telah
dikatakannya tadi, adalah kurang sopan dan
sesungguhnya terlalu semberono.
Tetapi apa yang telah diperbuat, sudah tentu saja tak
dapat ditarik pulang, hingga selanjutnya ia melainkan
bisa berjanji pada diri sendiri, akan berlaku lebih hati- hati
dalam segala perkara untuk mencegah kekeliruankekeliruan
yang akan datang itu.
Sementara paderi tua itu yang dengan sekonyongkonyong
melihat tingkah laku Poan Thian jadi agak
gugup, dengan tersenyum-senyum lalu berkata: „Anak
muda, aku inilah memang benar In Cong Sian-su yang
hendak kau jumpai itu.”
Poan Thian yang mendengar omongan itu, lalu buruburu-
buru menjatuhkan diri menjura di hadapan paderi itu
sambil berkata: „Lo-siansu, mohon diberi keampunan dan
beribu maaf atas perbuatan murid yang amat tidak sopan
itu!”
329
Tetapi In Cong Sian-su lalu banguni padanya sambil
berkata: „Kita adalah orang-orang dari satu golongan
juga, perlu apakah mesti berlaku begitu sungkan?”
Poan Thian mengucap terima kasih dan lalu
serahkan suratnya Beng Sim Suthay yang lalu dibuka
sampulnya dan dibaca bunyinya oleh paderi tua tersebut.
Sehabis membaca surat itu, In Cong lalu menoleh
pada Lie Poan Thian dengan paras muka yang berseriseri.
„Gurumu dan aku adalah saudara yang berasal dari
satu golongan Siauw-lim juga,” katanya, „demikian juga
dengan Beng Sim yang menyiarkan ilmu silat dari
golongan kita di kelenteng Giok-hun-am. Kepada ia ini
aku pernah meminta bantuannya, untuk mencari
beberapa orang murid-murid dari cabang Siauw-lim yang
ilmu kepandaiannya sudah boleh dianggap sempurna
untuk membantu usahaku akan menaklukkan atau
membasmi muridku Wie Hui yang telah berkhianat itu.”
„Ya, hal itu muridpun telah dapat dengar dari
penuturan Beng Sim Su-kouw,” kata pemuda kita.
„Hanya belum tahu, selama ini ia bersembunyi di
mana? Juga di mana ia kerap kelihatan mengunjukkan
rupanya?”
„Belum berapa lama ia telah mengacau di kota Lengpo,”
sahut In Cong Sian-su. „Di sana ia telah coba
menculik seorang gadis she Ong, tetapi perbuatannya itu
telah gagal, berhubung si gadis yang hendak diculik itu
telah nyebur ke dalam sumur sehingga menemui
kematiannya. Oleh barisan polisi di sana ia telah
dikepung dengan secara hebat sekali, tetapi Wie Hui, si
bajingan ini tidak berhasil dapat dibekuk. Bahkan
semakin ia dicari oleh pihak yang berwajib, semakin
330
kurang ajar pula perbuatan-perbuatannya di luaran,
hingga kawanan polisi di sana yang hampir kewalahan
akan membekuk padanya tanpa mengalami kerusakan
atau kehilangan jiwa, akhirnya mendapat tahu juga
bahwa aku inilah guru si Wie Hui dan lalu hendak
menangkap kepadaku.”
„Beruntung juga pembesar di Leng-po kerap
berkunjung ke sini dan kenal baik kepadaku, oleh karena
itu, penangkapan itupun telah diurungkan atas jaminan
pembesar tersebut. Maka aku sendiri yang merasa telah
dipertanggungkan keselamatanku oleh pembesar itu,
tentu saja aku lantas berjanji, buat selekas mungkin
membekuk Wie Hui sebagai penebusan atas kedosaanku
itu.
„Aku sendiri bukannya tidak mampu membekuk anak
itu, tetapi aku sebagai gurunya tentu tidak baik akan
turun tangan sendiri, berhubung murid-muridku sendiri
bukan sedikit jumlahnya. Tetapi karena aku mengetahui,
bahwa di antara murid-muridku yang terbanyak itu bukan
tandingannya Wie Hui, maka aku merasa perlu meminta
bantuan saudara-saudara dan saudari-saudariku yang
berasal dari satu golongan, untuk mencari murid-murid
mereka yang kiranya sudah dididik cukup sempurna akan
bantu melaksanakan usahaku yang tidak bisa dikata
ringan itu.
„Maka dengan diterimanya surat Beng Sim ini, yang
telah mengajukan kau akan membantu kepadaku, sudah
barang tentu bukan main besarnya terima kasihku
kepadamu, dan aku percaya betul bahwa dengan
bantuanmu ini, Wie Hui pasti akan dapat dikalahkan,
sehingga kejahatan-kejahatannya dapat dicabut bersih
sampai ke akar-akarnya.”
331
Tetapi Poan Thian yang telah banyak merasakan
pahit-getirnya penghidupan di kalangan Kang-ouw, lalu
berjanji akan berdaya dengan sekuat-kuat tenaganya
untuk bantu melaksanakan usaha orang tua itu.
„Hanya berhubung murid tidak kenal pada Wie Hui,”
katanya, „maka sudilah apa kiranya Lo-siansu
memberikan aku seorang kawan yang kenal baik
kepadanya, sehingga dengan begitu, murid jadi mudah
mengenalinya dan tidak sampai kena dibokong olehnya,
yang tentu akan berlaku lebih waspada daripada murid
yang bermaksud hendak membekuk kepadanya.”
In Cong Sian-su memang telah berpikir juga sampai
di situ. Maka setelah Poan Thian mendahului
mengajukan permintaannya, barulah ia panggil seorang
muridnya yang bernama Hwat Yan, buat disuruh pergi
mengikut Poan Thian akan membikin penyelidikan
dimana adanya Wie Hui di hari esoknya.
Begitulah setelah menginap di kelenteng Po-to-sie
pada malam itu, di hari esoknya pagi-pagi ia sudah
bangun menghadap pada In Cong Sian-su, yang ternyata
telah bangun lebih dahulu dan berikan Poan Thian
sebilah pedang yang amat tajam dan dapat memutuskan
logam dengan sama mudahnya seperti juga orang
membacok tanah liat.
Kemudian ia panggil Hwat Yan dan perintah supaya
murid itu ajak Poan Thian sarapan dahulu, setelah itu,
barulah mereka berpamitan pada In Cong dan terus
menyewa perahu yang akan membawa mereka ke
daratan Tin-hay, dari mana mereka menuju ke kota Lengpo
yang terletak di arah barat daya dari kota pelabuhan
tadi.
332
Di kota Leng-po ini ketika Poan Thian dan calon
paderi Hwat Yan menyelidiki tempat sembunyinya Wie
Hui, akhirnya, mereka mendapat keterangan, bahwa
penjahat muda itu sering berkeliaran di rumah-rumah
pelacuran. Salah seorang bunga raya yang menjadi
kecintaannya Wie Hui dan terkenal dengan nama Ban
Tho Hoa atau selaksa sungai Tho, lalu sengaja pura-pura
„ditempel” oleh Poan Thian buat coba mencari
keterangan, pada waktu bagaimana Wie Hui biasa
datang berkunjung ke situ.
Setelah keterangan-keterangan yang diperlukan telah
dapat diperoleh, barulah Poan Thian berembuk dengan
Hwat Yan cara bagaimana mereka harus membikin
penggerebekan selagi Wie Hui belum keburu membikin
persediaan.
Tetapi tidak kira pada sebelum rencana ini dapat
dijalankan, mendadak pada suatu hari ada seorang
kacung yang datang berkunjung ke tempat penginapan
Poan Thian dan Hwat Yan dengan membawa sepucuk
surat. Surat tersebut diterimakan pada kedua orang itu
sambil berkata: „Apabila Ji-wie hendak bertemu dengan
tuan Wie, diharap supaya berhubungan dengan nona
Ban Tho Toa, karena di sana ia sudah titipkan alamatnya
dimana Jie-wie mesti bertemu dengannya.”
Poan Thian dan Hwat Yan jadi tidak habis mengerti,
mengapa mereka dianjurkan akan menanyakan pula
keterangan dari bunga raya itu, sedangkan Wie Hui bisa
tuliskan alamatnya di dalam surat yang dikirimkannya ini.
Maka tempo hal ini ia coba tanyakan pada si kacung
pembawa surat tersebut, orang yang ditanya itu lalu
menggelengkan kepalanya sambil berkata: „Dari hal itu,
aku sesungguhnya tidak tahu-menahu.”
333
„Apakah kau dipesan oleh tuan Wie, supaya surat ini
dijawab olehku?” Poan Thian bertanya sambil membuka
sampul surat itu.
„Hal itu tinggal terserah atas kehendakmu sendiri.
Apabila di situ diminta jawaban tuan dan tuan hendak
menjawabnya aku tunggu, kalau tidak, akupun boleh
lantas pergi.”
„Anak ini sungguh pandai sekali berbicara,” pikir
Poan Thian di dalam hatinya. „Apakah tidak bisa jadi,
bahwa ia ini ada seorang mata-matanya Wie Hui, yang
telah sengaja dikirim ke sini untuk menyelidiki kami
berdua?”
Kemudian ia menoleh pada kacung itu sambil
berkata: „Kalau begitu, boleh tunggu dahulu sehingga
aku selesai membaca bunyinya surat ini.”
Tetapi alangkah herannya hati pemuda kita, tatkala ia
bentangkan surat itu akan dibaca bunyinya, ternyatalah
bahwa surat itu hanya sehelai kertas kosong yang tidak
ada artinya sama sekali, hingga Poan Thian yang
menerima surat kosong itu, sudah tentu saja tidak
mengerti apa maksudnya Wie Hui mengirimkan kertas
kosong tersebut kepadanya! Tetapi buat tidak membikin
kentara rasa herannya di hadapan si kacung itu, maka
Poan Thian lalu berpura- pura menanyakan: „Apakah
selain menyampaikan amanat akan kita menanyakan
alamatnya pada nona Ban Tho Hoa, tuan Wie tidak
mengatakan apa-apa pula kepadamu?”
„Tidak,” sahut kacung itu dengan pendek.
„Kalau begitu kau boleh kasih tahu pada tuan Wie,
bahwa kita akan bertemu di tempat yang diunjuk menurut
alamat yang dititipkannya pada nona Ban Tho Hoa,” kata
pemuda kita.
334
Si kacung menjawab, „baik, baik,” dan terus berlalu
dengan tidak banyak bicara pula.
„Apakah tidak bisa jadi bahwa Wie Hui sekarang
tengah mengatur suatu rencana akan menjebak kita
berdua?” tanya Hwat Yan setelah mendusin, bahwa
kedatangan mereka ke kota Leng-po itu telah diketahui
oleh saudaranya seperguruan yang telah berkhianat itu.
„Ya, hal inipun memang bukan mustahil akan terjadi
atas diri kita,” sahut Poan Thian, „maka selanjutnya kita
harus berlaku sangat hati-hati akan menghindarkan diri
kita daripada akal muslihat musuh yang keji itu.”
Hwat Yan menyatakan mufakat dengan pikiran
pemuda kita itu.
◄Y►
Tatkala mereka menanyakan hal ini pada Ban Tho
Hoa, si nona lalu menunjuk ke atas tiong-cit sambil
berkata: „Alamat yang kamu minta itu, tidak diterimakan
ke dalam tanganku sendiri, hanyalah ditaruh di sana,
digantungkan di atas tiong-cit itu.”
Ketika Poan Thian dan Hwat Yan menengadah ke
arah tiong-cit tersebut, betul saja di sana tertampak
sebuah sampul merah yang digantungkan dengan
sepotong tali. Dan jikalau perbuatan itu bukannya
dilakukan oleh seorang yang ilmu kepandaian silatnya
amat tinggi, niscaya tidak akan mampu melakukan
pekerjaan yang sesukar itu.
Setelah menyaksikan perbuatan Wie Hui itu, Poan
Thian lalu tersenyum sambil menoleh pada Hwat Yan
dan berkata: „Sekarang aku mengerti, apa sebabnya Wie
Hui minta kita datang ke sini buat meminta alamatnya.....”
335
„Itulah melulu buat mempamerkan ilmu kepandaiannya
di hadapan kita berdua,” kata Hwat Yan yang
memotong pembicaraan si pemuda.
3.21. Pengejaran Terhadap Murid Khianat
„Itu benar,” Poan Thian menyetujui. „Tetapi apakah
artinya perbuatan itu bagi kita, yang juga mengerti ilmu
silat dan tidak ada di bawah daripadanya?”
Hwat Yan membenarkan omongan kawan itu.
Tetapi ketika Poan Thian hendak mengambil piauw
akan menyambit sampul merah itu, si calon paderi lalu
mencegah sambil berkata: „Tidak usah Suheng
mencapaikan hati, biarkan saja perkara kecil ini diurus
olehku sendiri.”
„Ya, kalau begitu, aku persilahkan kau mengambil
sampul itu menurut caramu sendiri,” kata Lie Poan Thian
yang lantas urungkan niatnya buat menyambit sampul
yang tergantung di atas tiong-cit itu.
Sementara Hwat Yan yang merasa telah dikasih
ketika akan mengunjukkan kepandaiannya, lalu merogo
sakunya dan keluarkan sebuah pelanting dengan sebutir
peluru besi dengan mana ia telah tembak jatuh sampul
itu, karena talinya putus terlanggar peluru tersebut.
Poan Thian jadi sangat kagum dan memuji atas
kepandaian Hwat Yan dalam mempergunakan alat yang
tergolong pada senjata-senjata rahasia itu.
Dan tatkala sampul itu dibuka, ternyata di dalamnya
terisi beberapa baris tulisan yang berbunyi: Kamu berdua
boleh susul aku ke Giok-hong-kok di pegunungan Jiesian-
san pada hari esok di waktu lohor. Aku tunggu
336
kedatangan kamu berdua dengan segala senang hati.
Jangan salah.
Surat itu tidak dibutuhi tandatangan, tetapi sudah
terang bahwa itulah telah ditulis oleh Wie Hui sendiri.
„Tetapi dimanakah letaknya pegunungan Jie-sian-san
itu?” bertanya Lie Poan Thian yang baru saja pada kali
itu mendengar ada sebuah gunung yang bernama begitu.
Sedangkan Hwat Yan sendiri yang tidak tahu dimana
letaknya pegunungan itu, tentu saja tak dapat berbuat
lain dari pada menggaruk-garuk kepalanya yang tidak
gatal. Kemudian ia berjanji akan menanyakan ini kepada
penduduk-penduduk yang berdiam di luar kota Leng-po.
„Apabila gunung itu betul ada,” katanya, „niscaya
tidak sukar akan kita dapat ketemukan, tidak perduli
berapa jauh letaknya dari kota ini.”
Poan Thian mufakat dengan omongan itu.
Begitulah setelah berpamitan pada nona Ban Tho
Hoa, kedua orang itu lalu menuju keluar kota Leng-po
dan mampir di sebuah kedai makanan dan minuman
yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang mondarmandir
keluar masuk kota.
Di sini, sambil berpura-pura membicarakan soal ini
dan itu dengan orang-orang yang pada berkumpul di
kedai itu, akhirnya Poan Thian mendapat kesempatan
buat menanyakan, dimana letaknya pegunungan Jiesian-
san itu.
„Tuan ini orang dari mana?” bertanya orang itu sambil
mengawaskan pada pemuda kita sesaat lamanya.
„Kami berasal dari utara,” sahut Lie Poan Thian,
„yang sekarang berada dalam perjalanan ke Jie-sian-san
akan mencari seorang sahabatku.”
337
„Tuan,” kata orang itu, setelah bercelingukan ke kirikanan,
„menurut pikiranku, lebih baik kau jangan pergi ke
sana. Pegunungan itu bukan tempat kediaman orang
baik-baik. Itulah sarang kawanan perampok yang di
kepalai oleh seorang kepala kampak muda yang
bernama Wie Hui.”
„Ya, ya, benar, dia itulah yang kami hendak cari,”
kata Lie Poan Thian yang merasa tidak perlu lagi akan
berlaku dengan secara sembunyi.
Karena ia telah yakin dari bukti-bukti yang telah
dialaminya selama itu, biarpun mereka telah mencoba
akan menyelidiki dengan secara diam-diam, tidak urung
perbuatan itu telah ketahuan juga oleh pihak bakal
lawannya itu. Maka dari itu, apakah perlunya ia
selanjutnya berlaku sembunyi-sembunyi pula?
Orang yang ditanyakan keterangan tadi jadi semakin
heran, ketika menyaksikan tingkah-laku dan pembicaraan
Poan Thian yang begitu terbuka dan tidak mengunjuk
sikap yang khawatir barang sedikitpun.
Ia jadi kelihatan ragu-ragu akan bicara lebih jauh.
„Aku percaya bahwa tuan ini tentulah seorang yang
jujur dan berhati tulus,” kata Poan Thian pula pada orang
itu. „Oleh sebab itu, kukira tidak jahatnya akan aku
menerangkan dengan sejujur-jujurnya, tentang maksud
kunjungan kami ke pegunungan Jie-sian-san tersebut.
Kami berdua ini adalah kakak dari satu golongan
perguruan ilmu silat dengan Wie Hui itu. Tetapi oleh
karena perbuatan-perbuatan adik itu sangat
mencemarkan nama baik perguruan silat kami, maka hari
ini kami perlu memperingati supaya ia suka
menghentikan perbuatan-perbuatannya yang tidak baik
itu. Syukur jikalau ia mau mendengar nasehat kami,
338
apabila ia ternyata sudah menjadi sukar akan
diperbaikinya, terpaksa kami harus menggunakan
kekerasan dan membasmi padanya sebagai seorang
perampok biasa. Demikianlah maksud yang benar dari
perkunjungan kami ini. Oleh sebab itu, sudilah apa
kiranya tuan memberikan petunjuk pada kami, berapa
jauh dan dimana letaknya pegunungan Jie- sian-san itu?”
„Pegunungan itu letaknya lebih-kurang tigapuluh lie
jauhnya dari tempat ini,” sahut orang yang ditanya itu.
„Dari sini kamu boleh menuju ke arah tenggara
dengan mengikuti jalan ini.” Sambil berkata ia menunjuk
pada sebuah jalan kecil yang terpecah dari jalan desa
yang lebih besar dan lebar. „Tetapi jalan itu semakin jauh
semakin sempit dan buruk, dan sudah sekian lama tidak
diurus oleh pihak yang berwajib.
Karena kekurangan pengurusan ini, maka kawanan
perampok yang bersarang di daerah itu jadi semakin
enak melakukan pekerjaan mereka. Bahkan menurut
kabar di luaran, Wie Hui sendiri pernah mengakui, bahwa
pegunungan Jie-sian-san itu adalah punyanya sendiri.”
Poan Thian dan Hwat Yan jadi heran mendengar
keterangan begitu.
„Apakah barangkali Wie Hui hendak memberontak
dengan mempergunakan gunung itu sebagai pangkal
operasinya?” tanya pemuda kita.
Tetapi, sudah tentu, saja, pertanyaan-pertanyaan
demikian ada di luar kemampuan orang itu akan
menjawabnya.
„Di atas gunung itu kudengar ada sebuah gedung
atau bangunan yang bernama Giok-hong-kok,” kata
Poan Thian pula, „apakah gedung atau bangunan itu
339
berupa rumah berhala atau hanya suatu nama saja yang
sengaja dikarang untuk menyesatkan orang?”
„Tentang ini aku memang tahu dan bukan suatu
isapan jempol belaka,” sahut orang itu. “Adapun nama
Giok-hong-kok itu, asalnya sebuah rumah berhala dari
kaum Taoist. Umurnya rumah berhala ini memang sudah
amat tua, karena menurut ceritera orang tua- tua, rumah
berhala tersebut telah didirikan di jaman Tong Tiauw, di
masa kaisar Tong Thay Cong (Lie Sie Bin) duduk
bertakhta. Ketambahan di situ pernah bersemayam
seorang pertapaan she Lie yang bergelar Thay Liong
Cin-jin, maka kaisar jadi lebih-lebih mengindahkan dan
lalu perbaiki rumah berhala itu dengan serba-serbinya
dari lantai sehingga ke atas wuwungan dibuat daripada
bahan-bahan tembaga, berhubung kaisar menaruh
kepercayaan, bahwa agama Too Kauw itu telah
diturunkan oleh leluhurnya Lie Jie yang kemudian dikenal
orang sebagai Lo Cu, bapak dari agama Too Kauw tadi.
Tetapi setelah Thay Liong Cin-jin naik menjadi dewa,
mendadak di dalam rumah berhala itu tampak lukisan
Cin-jin di ruangan sembahyang. Oleh karena itu, maka
anak negeri yang menganggap Cin-jin sebagai keramat,
tidak putusnya datang bersembahyang buat meminta ini
atau itu, sehingga kepercayaan itu berlangsung turuntemurun
sampai di jaman ini.
Pada suatu hari lebih kurang 1,5 tahun yang lampau,
tiba-tiba di dalam rumah itu telah muncul seekor ular
amat besar yang telah makan semua orang yang
berdiam di situ, bahkan orang-orang yang datang untuk
bersembahyang, pun tidak sedikit yang jiwanya telah
melayang di makan oleh binatang yang tidak diketahui
dari mana datangnya itu.
340
Karena terjadinya peristiwa-peristiwa yang sangat
menggemparkan itu, sudah tentu saja selanjutnya orang
tak berani berkunjung pula ke rumah berhala itu. Maka
selama berselang beberapa bulan saja, jalan ini yang
menyambung, ke jalan-jalan lain dengan mana orang
bisa sampai ke Giok-hong-kok telah menjadi sunyi dan
kembali pula pada asal mulanya, yalah jalan pegunungan
yang ditumbuhi oleh alang- alang yang semakin hari
kelihatan bertumbuh semakin tinggi karena kurang
dirawat.
Pihak yang berwajib telah mengambil tindakantindakan
yang perlu untuk membasmi binatang itu, tetapi
segala percobaan telah berhasil nihil, berhubung
pemburu-pemburu yang diperintah pergi membinasakan
binatang itu, hanya beberapa orang saja yang bisa lari
pulang dan mati di rumah.
Sedangkan yang lain-lain semua telah hilang dan
tidak ada kabar ceritanya sehingga sekarang ini.”
„Kalau betul di Giok-hong-kok itu ada bersarang
seekor ular besar sebagaimana katamu tadi,” Poan Thian
memotong pembicaraan orang itu. „Cara bagaimanakah
Wie Hui bisa bersarang juga di situ dengan tidak
mengalami gangguan-gangguan dari binatang liar yang
telah mengorbankan sekian jiwa manusia itu?”
„Itulah karena Wie Hui sendiri yang memang telah
membasminya, yang telah membakarnya dengan
mempergunakan bahan-bahan bakar yang terdiri dari
getah cemara yang mudah menyala,” sahut orang itu.
„Maka setelah binatang itu dapat dibinasakan,
barulah kemudian tersiar kabar di luaran, bahwa Wie Hui
dengan mengajak beberapa orang kawannya di kalangan
Kang-ouw hitam telah mendiami Giok-hong- kok yang
341
telah dipergunakannya sebagai markas besar kawanan
perampok dan melakukan pekerjaannya dengan dimulai
dari kecil dahulu.
„Dan tatkala kabar tentang dibinasakan ular yang
berbahaya itu telah tersiar ke mana-mana, barulah orang
mulai berani lagi akan berjalan-jalan ke pegunungan Jiesian-
san, yang mula, tidak pernah diganggu oleh Wie Hui
dan kawan-kawannya yang bersarang di situ.
„Tetapi ketika lalu-lintas di situ menjadi semakin
ramai dan umum juga dilalui oleh pengantar-pengantar
kereta piauw untuk memperpendek perjalanan mereka,
barulah Wie Hui dan kawan-kawannya mulai beraksi
dengan mengadakan peraturan-peraturan cukai jalan
yang sangat menggelisahkan bagi khalayak ramai yang
kerap kali melewat di tempat itu.
„Lebih-lebih terhadap para pengantar piauw yang
dimestikan membayar 10% dari jumlah angkutan mereka,
hingga banyak antara piauwsu-piauwsu yang merasa
kurang puas dengan peraturan itu dan telah menentang
dengan sekeras-kerasnya, telah terbit perselisihan dan
pertempuran yang telah mengakibatkan tidak sedikit
antara piauwsu-piauwsu itu yang mendapat luka atau
binasa di tangan Wie Hui dan kawan-kawannya itu.
„Oleh sebab adanya peristiwa-peristiwa tersebut,
tidaklah heran apabila selanjutnya orang jadi segan akan
melewat di situ, hingga jalan pegunungan yang telah
mulai jadi ramai itu, pun pelahan dengan pelahan telah
kembali pada keadaan seasalnya dahulu, yalah menjadi
sunyi dan tidak tampak pula manusia yang berjalan
mondar-mandir seperti pada beberapa waktu yang lalu
itu.”
342
Demikianlah menurut penuturan orang yang telah
ditanyakan oleh Poan Thian dan Hwat Yan tadi.
„Apabila Wie Hui telah bertindak sekian jauhnya,”
kata Lie Poan Thian, „nyatalah kita tak boleh membiarkan
saja ia berbuat menurut sesuka hatinya. Kita harus
membasmi padanya selekas mungkin, untuk bantu
meringankan penderitaan orang-orang yang tertindas
oleh manusia keji dan kawan- kawannya itu.”
Hwat Yan membenarkan atas omongan saudara
segolongannya itu.
„Kalau begitu,” katanya, „sekarang hari masih siang.
Apakah tidak baik jika kita berangkat ke sana sekarang
juga?”
„Ya, benar,” Poan Thian menyetujui kawannya itu.
Begitulah sesudah membayar harga makanan dan
minuman yang mereka telah pesan tadi, Poan Thian dan
Hwat Yan mengucap banyak terima kasih atas petunjukpetunjuk
orang itu, kemudian mereka menuju ke Jie-siansan
dengan menuruti jalanan yang telah ditunjukkan
orang itu tadi.
Sesampainya di kaki pegunungan yang dituju, Poan
Thian dan Hwat Yan telah berjumpa dengan seorang
pemotong kayu yang lalu menghampiri kepada mereka
sambil bertanya: „Tuan-tuan, apakah kamu berdua bukan
orang-orang yang sedang mencari tuan Wie?”
„Ya, benar,” sahut Poan Thian yang sekarang telah
tidak merasa heran lagi, karena ia telah yakin bahwa
mata-matanya saudara segolongan yang berkhianat itu
telah tersebar dengan luas di segala pelosok.
„Apakah barangkali Tuan Wie ada meninggalkan
pesan apa-apa bagi kami berdua?”
343
„Ya,” kata orang itu sambil mengangguk. „Dalam
daerah dan jalan pegunungan-pegunungan di sini
banyak terdapat perangkap-perangkap yang sehingga
tentara negeri tak berani datang melakukan
penggerebekan untuk kedua kalinya. Oleh sebab kuatir
kamu akan terjerumus ke dalam perangkap- perangkap
itu, maka tuan Wie telah perintah aku buat menjemput
padamu berdua akan naik ke atas gunung. Tuan Wie
mengatakan, bahwa ia tunggu kedatangan tuan-tuan di
sana dengan segala senang hati.”
Poan Thian dan Hwat Yan mengucap terima kasih
dengan suara yang hampir berbareng. Kemudian mereka
mengikut si pemotong kayu itu akan bersama-sama naik
gunung.
Tatkala berjalan beberapa lamanya, akhirnya mereka
menampak di muka perjalanan mereka ada sebuah
gedung mirip kelenteng yang atapnya seolah-olah
mengeluarkan sinar karena menjadi sasaran matahari
yang hampir selam ke barat. Gedung itu tidak berapa
besar bentuknya, tetapi buatannya amat teguh dan
bercokol di atas gunung bagaikan sebuah menara.
„Gedung itu adalah apa yang dinamakan orang Giokhong-
kok,” kata pemotong kayu itu pada Lie Poan Thian
dan kawannya. „Perjalanan dari sini sudah tidak berapa
jauh lagi, maka dari itu, aku percaya tuan-tuan tentu akan
dapat menyampaikan gedung itu tanpa diantar pula
olehku. Akan tetapi, buat mencegah kejadian-kejadian
yang tidak diingini, janganlah sekali-kali kamu masuk ke
Giok-hong-kok dengan melalui pintu besar atau
menginjak halaman lantai yang terbentang di sekitar
tempat itu.”
344
„Kalau begitu,” kata mereka. „dari manakah kami
akan dapat masuk ke situ, apabila di sekitar tempat itu
tidak dapat dilalui orang?”
„Jalan satu-satunya adalah kamu harus mengambil
jalan dari atas wuwungan gedung tersebut,” kata
pemotong kayu itu pula, “kemudian kamu mengikuti
tembok wuwungan menuju ke barat. Dari situ jangan
kamu berjalan terus, tetapi kamu harus melalui
wuwungan emper yang terletak di sebelah kiri dan terus
menuju ke halaman cim-che. Itulah ada jalan yang paling
selamat akan kamu dapat masuk ke Giok-hong-kok.”
Lie Poan Thian yang mendengar begitu dan kelihatan
agak sukar untuk dapat mengikuti petunjuk-petunjuk itu
dengan sebaik-baiknya, sudah tentu saja jadi tertawa
dan berbalik mengejek pada diri Wie Hui sambil berkata:
„Hm, apakah itu ada perbuatan seorang ho-han, yang
berani „mengundang” orang tetapi seolah-olah tidak
berani bertemu muka dengan sengaja mengambil jalan
yang mempersukar orang begitu rupa? Kita sendiri bukan
beranggapan ia takut pada kita. Tetapi apakah orang lain
tidak nanti menganggap demikian, apabila mereka tahu
tentang adanya cara-cara yang sangat tidak masuk
diakal ini?”
Kemudian ia berpura-pura menoleh pada Hwat Yan
sambil menambah: „Saudara, kukira sekarang paling
betul kita kembali saja ke tempat penginapan kita, sebab
Wie Hui yang mau dijumpai itu ternyata tidak berani
bertemu dengan kita. Marilah. Buat apakah kita mesti
dijemur orang di sini sampai berjam-jam dengan tak ada
gunanya sama sekali?”
Lalu kedua orang itu membalikkan badan masingmasing,
seolah-olah benar-benar mereka hendak
membatalkan perjalanan mereka dan berlalu dari situ.
345
Tetapi ketika mereka baru saja berjalan beberapa
tindak jauhnya, mendadak Poan Thian merasakan ada
angin yang berkesiur agak hebat menyamber ke
jurusannya.
Pemuda kita mengerti, bahwa ia hendak „dijajal”
orang, maka ia sengaja berdiri jejak buat mengunjukkan
sedikit kelihayan dalam hal menjaga diri dengan jalan
Thia-hong atau mendengar berkesiurnya suara angin.
„Itulah ada tiga buah hui-piauw yang orang sambitkan
kepadaku,” kata Poan Thian di dalam hatinya.
Dan sebegitu lekas ia mendengar suara-suara itu
telah mendatangi cukup dekat, dengan sebat ia lantas
putarkan badannya sambil menggerakkan kaki
tangannya untuk menghindarkan diri daripada
penyerangan gelap yang orang telah sengaja jujukan
pada dirinya.
„Jangan main kayu!” katanya sambil menyambuti
sebuah piauw dengan tangan kirinya.
Dengan tangan kanannya ia menyambuti sebuah
piauw yang lainnya, sedangkan yang sebuah lagi lalu
disambut olehnya dengan tendangan, sehingga senjata
rahasia itu telah terpental entah kemana perginya!
Semua itu telah dilakukan olehnya dengan kesebatan
yang begitu mengagumkan, sehingga orang hampir tidak
melihat dengan jalan apa ia telah dapat menghindarkan
diri daripada sambitan-sambitan itu.
Hal mana, bukan saja telah menerbitkan rasa
kagumnya Hwat Yan, tetapi si pemotong kayu tadipun
yang telah melakukan perbuatan itu, jadi melongo dan
kemudian buru-buru membungkukkan dirinya memberi
hormat sambil berkata: „Tuan, nyatalah bahwa kau ini
346
ada seorang ahli silat paling pandai yang aku pernah
jumpai seumur hidupku!”
Poan Thian tersenyum sambil menyindir: „Benar. Aku
pun baru pernah pada kali ini saja menjumpai seorang
ahli silat paling curang seumur hidupku!”
Orang itu jadi kebogehan, sehingga tak dapat pula ia
berkata-kata barang sepatahpun.
„Beruntung juga sambitan itu kau telah lakukan atas
diriku,” kata Poan Thian pula, „apabila itu dilakukan atas
diri orang lain, apakah itu tidak nanti membahayakan jiwa
orang itu?”
Orang itu jadi semakin bungkem.
„Pergilah kau sampaikan omonganku pada Wie Hui,”
kata Hwat Yan yang campur bicara. „Jikalau
sesungguhnya ia minta bertemu dengan kita berdua,
bolehlah ia lekas keluar bicara dengan kami di sini,
jikalau ia tidak mau bertemu dengan kita, kitapun boleh
segera berlalu dari sini. Perlu apakah mesti
membicarakan segala urusan tetek-bengek yang tidak
ada gunanya sama sekali?”
Orang itu yang kemudian ternyata ada seorang kakitangannya
Wie Hui yang menyamar sebagai seorang
pemotong kayu, dengan rupa malu segera memberi
hormat dan berjanji akan sampaikan pesan itu kepada
pemimpinnya.
Tetapi pada sebelum ia berlalu dari situ, tiba-tiba dari
kejauhan tampak mendatangi seorang muda yang
perawakan badannya tegap, halisnya hitam jengat,
berpakaian baju pendek dengan menyoren sebilah golok
tan-to di pinggangnya.
347
Hwat Yan jadi mengawasi dengan mata mendelong
dan bertanya pada diri sendiri: „Siapakah adanya orang
muda ini?”
◄Y►
Tetapi Poan Thian kelihatan tidak asing lagi terhadap
pada orang muda yang sedang mendatangi itu.
„Ia itulah bukan lain dari seorang penjahat yang
pernah mengacau di Sam-li-tun,” katanya. „Ia pernah
mengaku bernama Hok Cie Tee, tetapi menurut
keterangan yang pernah kuperoleh, ia ini sebenarnya
bernama Hok Cit. Hanya belum tahu cara bagaimana ia
bisa berada di sini?”
„Suheng rupanya kenal juga pada orang ini?” tanya
Hwat Yan.
„Ya,” sahut Poan Thian dengan pendek.
Penjahat muda itu jadi agak terperanjat ketika melihat
Poan Thian datang bersama-sama seorang lain yang ia
tidak kenal.
„Wie-toako mengundang Ji-wie akan datang ke Giokhong-
kok,” katanya dengan suara ragu.
„Kau jangan omong kosong!” kata Hwat Yan dengan
suara ketus. „Kedatangan kita kemari adalah karena
menerima undangan Wie Hui. Oleh sebab itu, pergilah
kau kasih tahu pada Wie Hui, supaya ia datang
menyambut sendiri pada kita, tetapi bukanlah kita yang
harus pergi „menghadap” kepadanya!”
Orang muda itu kelihatan kurang senang mendengar
omongan Hwat Yan yang seketus itu.
348
Lalu ia menuding pada calon paderi itu dengan mata
mendelik dan membentak „Hei, sahabat! Di sini bukan di
rumah tanggamu sendiri, sehingga dalam segala sesuatu
kau boleh menuruti apa kata hatimu. Inilah ada tanah
daerah kekuasaan kami, dimanakah kau sebagai
seorang tetamu harus tunduk kepada segala peraturan
yang umumnya berlaku di tempat ini!”
„Tak usah kau banyak bicara!” akhir-akhirnya Poan
Thian teturutan membentak. „Pergilah kau panggil
kawanmu Liu Tay Hong buat sekalian bertemu juga
dengan Wie Hui di sini!”
Hok Cit jadi sengit dan lalu dengan tidak banyak
bicara lagi ia menerjang pada Lie Poan Thian dengan
menghunus golok di tangannya.
Begitulah selanjutnya di lereng gunung Jie-sian-san
itu telah terjadi pertempuran yang dahsyat antara Lie
Poan Thian dan Hok Cit, sedangkan Hwat Yan mendapat
lawan si pemotong kayu tetiron tadi, yang kemudian baru
diketahui bernama Sin-to-thay-swee Khu Siu Cun.
Kedua pasang lawan ini mula-mula kelihatan
berimbang dalam hal tenaga kepandaiannya. terutama
mengenai kepandaian Hwat Yan yang bertempur dengan
menggunakan joan-pian dengan Khu Siu Cun yang
bersenjatakan sebilah golok. Tetapi Lie Poan Thian yang
bersenjata pedang pemberian In Cong Sian-su yang
amat tajam dan bergerak dengan amat lincahnya,
pelahan dengan pelahan telah dapat mendesak pada
Hok Cit yang segera merasa, bahwa ia lebih selamat
akan mundur ke atas gunung daripada mendesak pada
musuhnya yang ia belum tentu mampu kalahkan.
Maka setelah dua kali ujung goloknya terkupas oleh
pedangnya Lie Poan Thian, Hok Cit lekas melarikan diri
349
dengan diikuti oleh Siu Cun yang dikejar oleh Hwat Yan
dari sebelah belakang.
„Hei, beburonan hutan! Kemanakah kamu hendak
menyembunyikan diri!” teriak calon paderi itu yang
hendak melanjutkan pengejarannya.
Tetapi Poan Thian lekas mencegah sambil berkata:
„Sutee! Sabar dulu! Paling baik kita tunggu Wie Hui di
sini, daripada mesti membuang tenaga dengan sia-sia
dalam pertempuran dengan kawanan tikus hutan itu!”
Hwat Yan pikir omongan itu memang ada benarnya
juga.
„Pergilah kamu panggil Wie Hui buat bicara dengan
kami di sini!” menyeruhkan calon paderi itu pada dua
orang musuhnya yang lari naik ke atas gunung itu.
Tidak antara lama, betul saja dari atas gunung telah
muncul seorang muda yang Hwat Yan lantas kenali
sebagai saudara seperguruannya yang sedang dicari
dan telah mengundang mereka akan datang ke Jie- siansan.
„Inilah dia yang bernama Wie Hui, dan kita sedang
cari untuk membikin perhitungan guna kebaikannya
nama rumah perguruan kami di Po-to-sie,” berbisik Hwat
Yan pada pemuda kita.
Poan Thian mengangguk.
3.22. Hukuman Bagi Murid Murtad
Sementara Wie Hui yang dari kejauhan telah
mengenali pada Hwat Yan, dengan wajah yang tenang
dan berseri-seri lalu berjalan menghampiri dan memberi
hormat kepada mereka berdua sambil berkata: „Selamat
350
datang, saudara-saudaraku, aku sebenarnya tidak
menyangka yang kamu akan datang dengan cara yang
begitu terkonyong-konyong, sehingga aku telah terlambat
datang menyambut dan bikin kamu berdua kesal
menunggu-nunggu.”
„Engkau tidak perlu berlaku pura-pura untuk
menyembunyikan segala cacad-cacadmu,” kata Hwat
Yan dengan suara kaku. „Engkau telah mencemarkan
nama baik guru dan rumah perguruan sendiri, kau
ketahui ini, tetapi engkau tidak mau merubah kekeliruankekeliruanmu
itu. Bahkan disamping itu, engkau telah
menimbun dari satu kepada kedosaan yang lainnya
dengan sama sekali tidak berikhtiar untuk menghentikan.
Maka oleh sebab itu, apakah bukan berarti bahwa kau
memang sengaja hendak mencari setori dengan orangorang
dari golongan sendiri?”
„Suheng!” kata Wie Hui dengan suara menyindir, „di
waktu aku masih berdiam di Po-to-sie, memang tidak
lebih dari pantas jika aku mesti menuruti segala perintah
guru di sana. Tetapi setelah sekarang aku berada di
luaran dan tidak ada pula sangkut pautnya dengan guru
dan kelenteng Po-to-sie, cara bagaimanakah engkau
masih juga tetap menganggap aku sebagai seorang
kacung yang harus mentaati perintah induk semangnya
dimana saja ia berada?”
„Kalau begitu,” kata Hwat Yan dengan hati
mendongkol, „engkau ini tidak berbeda dengan seekor
babi atau binatang-binatang lain yang tak mengenal budi
kebaikan orang! „Ingatlah olehmu, bagaimana engkau
dari seorang anak jembel yang sebatang kara telah
ditolong oleh guru dan dididik sehingga menjadi seorang
yang agak pantas dilihat orang. Tetapi bukannya engkau
berterima kasih atas susah payah guru yang telah
351
mendidik padamu, sebaliknya kau telah melemparkan
najis ke muka orang yang telah menolongmu.
„Apakah itu suatu perbuatan seorang yang
menamakan dirinya „manusia-manusia? Seekor anjing
masih ingat kebaikan majikannya, tetapi seekor babi
tidak pernah memikirkan kebaikan majikannya barang
sedikitpun! Demikian juga dengan halnya dirimu, hingga
itu patut kukatakan perbuatannya seekor babi!”
Mendengar dirinya dicaci-maki sedemikian hebatnya,
sudah barang tentu ia menjadi sangat gusar, tetapi dilahir
ia tetap kelihatan tenang dan berkata: „Suheng, kukira
tidak perlu kau memberikan aku nasehat- nasehat
sampai begitu, apalagi karena aku sendiripun
memangnya tidak bersedia akan menerimanya.
Sekarang hanya terbuka satu jalan untuk mengakhiri
urusanku dan kamu dari Po-to-sie. Apakah kau sanggup
kalahkan aku, bolehlah aku menyerah kepadamu untuk
dibawa kembali kepada guru di sana, jikalau tidak,
jangan harap akan kamu bisa memaksa kepadaku!”
„Kurang ajar!” teriak Lie Poan Thian yang tidak tahan
mendengar omongan Wie Hui yang sangat brutal itu.
„Aku Lie Poan Thian memang telah sengaja dikirim
ke sini untuk menjajal sampai dimana kekerasan
kepalamu! Apabila dengan tanganku sendiri aku tak
mampu menaklukan kepadamu, aku bersumpah tak akan
hidup lebih lama pula di dalam dunia ini!”
Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu minta supaya
Hwat Yan menyingkir ke suatu pinggiran, kemudian ia
bertindak maju sambil menanyakan pada sang lawan itu,
apakah ia hendak bertempur dengan tangan kosong atau
bersenjata?
352
Wie Hui lalu mengeluarkan suara jengekan dari
lobang hidung sambil dengan cepat mencabut golok
yang disoren di pinggangnya.
Itulah jawabannya atas tantangan Poan Thian tadi.
Maka dengan tidak banyak bicara lagi Poan Thian
pun lalu maju menerjang dengan pedang terhunus dan
berseru: „Aku mendatangi!”
„Persilahkan!” sahut Wie Hui yang juga segera
mainkan goloknya untuk menangkis bacokan pemuda
kita yang dijujukan pada dirinya.
Begitulah dengan terjadinya pertempuran itu, maka
terjadilah pula pertempuran antara Hwat Yan dan
beberapa orangnya Wie Hui, yang kemudian telah turun
ke bawah gunung dengan beramai-ramai dan segera
mengepung calon paderi itu. Tetapi biarpun jumlah lawan
di kedua pihak tidak sama banyaknya, ternyata
pertempuran itu telah berlangsung dengan sama
imbangan dalam kekuatannya.
Dalam pertempuran itu, sebenarnya Wie Hui tidak
mengetahui bahwa pedangnya Poan Thian ada begitu
tajam. Jikalau ia ketahui ini lebih siang, ia tentu lebih
suka berkelahi dengan tangan kosong saja.
Tahu-tahu ketika goloknya terbacok putus oleh
pedangnya Lie Poan Thian, barulah ia jadi terperanjat
dan lekas-lekas berlompat ke samping sambil
melemparkan senjatanya yang telah tinggal separuh itu.
Sementara Poan Thian sendiri yang menyaksikan
lawannya telah tidak bersenjata lagi, buru-buru ia
masukkan pedang itu ke dalam serangkanya.
Demikianlah, pertempuran selanjutnya telah
dilakukan olehnya dengan sama-sama bertangan
353
kosong, yang mana sebenarnya lebih digemari oleh
Poan Thian daripada bertempur dengan memakai
senjata.
Kedua lawan ini yang masih asing dengan
kepandaian musuh masing-masing, kelihatannya agak
ragu-ragu tatkala pertempuran baru saja berjalan
beberapa jurus lamanya. Tetapi setelah kedua pihak
telah menyaksikan dan mengetahui gerakan-gerakan
masing-masing, barulah pertempuran itu menjadi
semakin sengit, semakin hebat, sehingga orang cuma
menampak saja bayangan orang-orang yang sedang
bertempur, tetapi tidak dapat melihat tegas yang mana
Lie Poan Thian atau yang mana Wie Hui! Selagi
pertempuran itu berlangsung dalam saat-saat yang amat
tegang dan seolah-olah tak dapat disudahi apabila belum
ada salah seorang yang mati atau mau menyerah kalah,
tiba-tiba Poan Thian telah dibikin kaget oleh seorang
yang muncul dengan sekonyong- konyong dan
membentak: „Hei, budak she Lie! Setelah beberapa kali
kita bertemu untuk menjajal ilmu kepandaian masingmasing,
sekarang inilah ada hari yang terakhir bagimu
akan melihat dunia ini! Jangan lari! Aku Liu Tay Hong
belum merasa puas apabila belum dapat meminum
darah atau memakan dagingmu!”
Dalam pada itu, Poan Thian yang memang selalu
berlaku waspada memperhatikan serangan-serangan
Wie Hui yang semakin lama menjadi semakin gencar itu,
dengan lantas mengerti, bahwa dia hendak dijebak oleh
pihak musuhnya, terutama Liu Tay Hong ini yang
memang menjadi musuh besarnya dan permusuhan itu
tidak akan bisa berakhir, jikalau salah seorang belum ada
yang mati.
354
Maka pada sebelum Wie Hui keburu memberi tanda
supaya sang kawan itu jangan turut campur dalam
pertempuran yang sedang berlangsung itu, mendadak
Tay Hong telah berlompat maju sambil menghunus
sebilah golok dan menerjang pada Lie Poan Thian
dengan secara mati-matian.
Oleh sebab itu, pemuda kita yang sedang bertempur
dengan Wie Hui dan belum ketahuan bagaimana
kesudahannya, sudah tentu saja jadi agak sibuk untuk
menjaga diri dari serangan-serangan Tay Hong yang
bersenjata dan nekat itu. Maka sambil meladeni Wie Hui
di satu pihak, pemuda kitapun telah tidak mensia-siakan
kesempatan untuk melindungi diri dengan ilmu pukulan
Khong-siu-jip-pek-jim, yang memang khusus diciptakan
oleh para ahli silat angkatan tua dalam perlawanan
tangan kosong terhadap pihak musuh yang
bersenjatakan golok atau barang tajam yang lainnya.
Dalam pertempuran satu melawan dua yang agak
ganjil itu, banyak macam ilmu pukulan telah diajukan
buat merobohkan salah satu pihak, tetapi berkat
ketangkasan dan kepandaian masing-masing, belumlah
tampak pihak mana yang lebih unggul atau asor,
walaupun pertempuran itu telah berlangsung beberapa
puluh jurus lamanya.
Pada satu saat ketika Poan Thian maju menerjang
pada Wie Hui dengan menggunakan ilmu tendangan
Soan-hong-tui yang sudah cukup terkenal tentang
kelihayannya, Liu Tay Hong di lain pihak telah
mengayunkan goloknya dari bagian atas ke arah bawah,
hendak membelah kepalanya pemuda kita dengan
menggunakan tipu Tok-pek-hoa-san. Tetapi Poan Thian
yang bermata celi dan tidak mudah diselomoti oleh pihak
musuhnya, buru-buru miringkan kepalanya sedikit untuk
355
meluputkan diri dari bacokan itu. Dengan cara-cara ini
Poan Thian memang telah berhasil dapat meluputkan
dirinya daripada bacokan tersebut, tetapi berbareng
dengan itu, ia telah luput pula akan merobohkan pada
Wie Hui dengan tendangannya.
Hal itu, sudah barang tentu, telah membikin pemuda
kita jadi amat jengkel dan sengit. Karena dengan
bertambahnya Tay Hong dalam pertempuran segi tiga
itu, bukan saja telah memperlambat pekerjaannya untuk
mengakhiri pertempurannya dengan Wie Hui, tetapi juga
tak dapat ia „mengukur” dengan betul, sampai dimana
kepandaiannya Wie Hui yang benar dalam pertempuran
satu lawan satu.
Maka untuk dapat melaksanakan dan menjajakkan ini
semua, ia pikir paling betul robohkan dahulu Tay Hong
yang menjadi cumi-cumi dalam pertempuran itu,
kemudian baru melangsungkan jalannya pertempuran
untuk menguji sampai dimana kepandaian Wie Hui yang
namanya sangat disohorkan orang sebagai salah
seorang ahli Pek-houw-kang yang termuda di masa itu.
Tetapi, sebagaimana telah kita katakan di muka ini,
ilmu kepandaian Tay Hong sekarang telah beroleh
banyak kemajuan dan berbeda jauh semenjak ia pertama
kali bertempur dengan Lie Poan Thian di rumahnya Tan
Tong Goan, hingga untuk dapat lekas mengakhiri
separuh dari pertempuran segi tiga ini, Poan Thian tak
dapat berbuat lain daripada menggunakan pedangnya
dalam menghadapi Tay Hong yang bersenjata dan
gerakan-gerakannya amat gesit itu.
Maka setelah ia berpikir beberapa saat lamanya,
buru- buru ia berlompat untuk mengasih lewat kakinya
Wie Hui yang ditendangkan ke arah ulu hatinya, sedang
tangan kanannya lekas menghunus pedang yang lalu
356
dipergunakan untuk menahan serangan-serangan Liu
Tay Hong, yang ketika itu telah menerjang maju sambil
menusuk ke arah iganya dengan kecepatan bagaikan
kilat yang menyamber ke muka bumi.
Lie Poan Thian yang sekarang tidak boleh pandang
terlalu ringan pula lawannya itu, dengan cepat telah
putarkan pedangnya dan membacok ujung golok Tay
Hong yang dijujukan ke arah tubuhnya itu. Dan
berbareng dengan terdengarnya suara barang tajam
yang beradu dan muncratnya beberapa banyak lelatu
api, separuh dari golok yang tergenggam oleh Tay Hong
itu telah terkupas dan terpental entah kemana perginya!
Bacokan yang berhasil itu karena dibarengi juga dengan
satu tendangan, telah membikin Tay Hong yang
terperanjat karena goloknya terkupas, jadi semakin
terkesiap hatinya, tatkala melihat menyambernya
tendangan Poan Thian yang secepat kilat itu. Dan
sebelum ia keburu mengegos untuk menghindarkan diri
daripada tendangan itu, kakinya Poan Thian telah
sampai dan bikin ia mengeluarkan satu suara jeritan
ngeri sambil membuang diri ke samping jalan gunung
yang penuh ditumbuhi dengan rumput-rumput. Dan
ketika Tay Hong jatuh ke atas rumput-rumput itu,
mendadak Poan Thian mendengar ia itu berseru:
„Matilah aku sekali ini!” Hal mana, sudah barang tentu,
telah membikin Poan Thian jadi heran dan tidak
mengerti. Karena, pikirnya, cara bagaimana Tay Hong
boleh berteriak begitu, sedangkan ia sama sekali tidak
kena tertendang dan telah keburu membuang dirinya?
„O Mi To Hud!” Begitulah Poan Thian telah
mengucapkan, tatkala menyaksikan di antara tepi jalan
yang ditumbuhi rumput-rumput itu mendadak tampak
merekah sebuah lubang jebakan yang besar dan dalam,
kemana Tay Hong telah jatuh terjerumus dan tak pernah
357
kembali ke dunia fana! Itulah sebabnya mengapa Tay
Hong telah memperdengarkan teriakannya yang
mengandung rasa ketakutan tadi, hingga Poan Thian jadi
bergidik apabila mengetahui jelas duduknya perkara
yang sangat menyeramkan ini! Maka dengan hilangnya
seorang lawan ini, Poan Thian jadi dapat melanjutkan
pertempurannya dengan Wie Hui dengan secara lebih
leluasa dan mencurahkan sepenuhnya perhatiannya ke
suatu jurusan saja.
Begitulah tatkala pertempuran itu telah berlangsung
pula setelah Poan Thian menyimpan kembali bsp;
pedangnya, pemuda kita lalu „ngepiah” dengan ilmu- ilmu
tendangannya yang sangat lihay untuk merobohkan pada
Wie Hui, yang ternyata amat licin dan mengerti, bahwa
jikalau ia berlaku lambat sedikit saja dalam sesuatu
gerakannya, siang-siang ia bisa dapat celaka atau
terbinasa dalam tangan lawannya yang ternyata amat
lihay itu.
Dari itu, ia insyaf, bahwa ia kalah jauh dalam bagian
yang musuhnya amat paham, hingga selanjutnya Wie
Hui tidak memberi kesempatan untuk Poan Thian
menyerang padanya terlalu dekat. Dan jikalau dia tak
dapat menghalaukan serangan-serangan itu, buru- buru
ia berlompat ke sana-sini, ke atas, ke bawah atau ke
jalan-jalan gunung yang lebih tinggi dan sempit
halamannya.
Maka Poan Thian yang kuatir akan kena terjebak
oleh pihak musuhnya, sudah tentu saja berlaku sangat
hati, buat tidak sembarangan menginjak bagian- bagian
jalan gunung atau tepi jalan yang tidak terinjak oleh Wie
Hui.
Pada satu saat dalam pertempuran di antara karangkarang
yang licin dan curam di lereng pegunungan Jie358
sian-san itu, Poan Thian merasa agak kewalahan juga,
karena kalah biasa dengan Wie Hui yang memang telah
lama menjadi penghuni daerah pegunungan yang berada
di bawah kekuasaannya itu.
Dan itulah ada di bagian ini, yang Poan Thian telah
menyaksikan kepandaiannya Wie Hui, yang gerakangerakannya
lincah sekali dalam hal berlari naik-turun di
lamping-lamping gunung yang licin bagaikan lakunya
seekor cicak. Dengan punggung menempel pada batubatu
karang atau dinding-dinding batu yang tinggi, Poan
Thian melihat Wie Hui meloloskan diri dari tendangantendangannya
dengan secara gesit dan tanpa dapat
dituruti olehnya sendiri. Maka biarpun benar bahwa Wie
Hui itu seorang musuhnya, tetapi tidak urung ia harus
memuji juga, atas ilmu kepandaiannya yang amat bagus
dan telah mencapai pada puncaknya yang tertinggi itu.
Demikianlah ilmu Pek-houw-kang yang ia pernah
dengar namanya, tetapi baru saja pada waktu itu dapat
menyaksikan dilakukan orang, hingga selanjutnya belum
pernah ia menjumpai seorang ahli Pek-houw-kang lain
yang dapat mempergunakan ilmu tersebut dengan sama
baik dan lincahnya daripada apa yang pernah diunjukkan
oleh pihak lawan pada kali itu.
Lebih jauh karena Wie Hui selalu menjauhkan diri
dan tidak lagi mau bertempur seperti barusan, maka apa
boleh buat Poan Thian lalu melakukan pengejaran
padanya ke sana sini. Setelah bertempur dan meloloskan
diri dari tendangan-tendangan yang dilakukan Lie Poan
Thian tadi, kembali Wie Hui melompat kian-kemari selaku
orang yang mengejek atau memang jeri melanjutkan
pertempuran itu.
Oleh sebab itu, Poan Thian yang akhirnya menjadi
sangat jengkel, lalu sengaja membikin panas hati sang
359
lawan sambil mengatakan, bahwa dia bukan seorang hohan,
(seorang laki-laki sejati), karena berkelahinya selalu
dengan berlari-lari saja. Dan jikalau ia benar-benar sudah
putus asa untuk mengalahkan padanya, paling baik ia
menyerah saja, agar supaya ia masih mempunyai
kesempatan untuk hidup di dunia, dengan jalan
mengoreksi perbuatan- perbuatannya yang sesat itu.
Tetapi sebaliknya, jikalau ia benar berani dan tidak sudi
dicap sebagai seorang pengecut, perlu apakah ia mesti
mempermainkan orang sampai begitu, sedangkan
kedatangannya ke situ pun adalah karena menerima
„undangannya” yang katanya bersifat „ramah tamah” itu?
Wie Hui yang usianya masih muda dan berdarah
panas, ternyata berhasil juga dibikin panas hatinya dan
lalu berbalik menerjang pemuda kita sambil berseru:
„Orang she Lie, janganlah engkau membuka mulut besar!
Aku Wie Hui bersumpah tak akan mau hidup bersamasama
kau, apabila belum dapat membinasakan
kepadamu!”
„Ayoh! Marilah kau boleh buktikan omonganmu itu!”
membalas Poan Thian sambil menggerakkan kaki
tangannya bagaikan angin taufan yang hendak
menggoncangkan gelombang di lautan.
Dari itu Wie Hui yang merasa dirinya dihinakan, kali
ini telah bertempur bagaikan seekor harimau yang haus
darah. Ia tidak kenal takut atau memikirkan bahaya apaapa
yang bakal menimpah atas dirinya sendiri.
Sementara Lie Poan Thian yang telah menyaksikan
pihak lawannya yang mendadak jadi nekat, dengan sikap
yang tenang dan cepat lalu maju menghujani pukulanpukulan
dan tendangan-tendangan dalam gerakangerakan
paling cepat yang ia pernah unjuk dalam
pertempuran seumur hidupnya. Maka jikalau yang satu
360
tidak ingin mengalah mentah-mentah, adalah yang lain
pun tidak mandah saja akan dicap lawannya sebagai
seorang pengecut.
Mereka bertempur dengan sepenuhnya tenaga dan
ilmu kepandaian yang pernah diyakinkan seumur hidup
mereka.
Beberapa banyak pukulan telah tiba di badannya Lie
Poan Thian, seperti juga tendangan-tendangannya
sendiri yang telah membikin Wie Hui jatuh bangun dan
saban-saban menjerit karena kesakitan.
Dalam pertempuran itu Wie Hui yang kepingin lekas
menghabiskan jiwa lawannya, bukan saja tak pernah
memikirkan tentang keadaan tempat-tempat yang begitu
curam dan berbahaya di kiri kanannya, bahkan akibat
tendangan-tendangan Poan Thian tadipun ia sama sekali
tidak bayangkan bagaimana akan jadinya nanti. Tetapi
lain sekali dengan pandangan Lie Poan Thian yang
ternyata telah matang betul-betul dalam hal
menggunakan siasat-siasat di waktu sangat perlu untuk
dapat menjatuhkan seorang lawan, ia telah melakukan
penyerangan-penyerangannya dengan cara yang tidak
tergesa-gesa.
Maka setelah dengan berturut-turut ia mundur
beberapa kali untuk menghindarkan diri dari seranganserangan
Wie Hui yang senekat itu, dengan tiba-tiba
Poan Thian telah merangsek sambil menghujani pula
pukulan-pukulan dan tendangan- tendangan yang telah
memaksa akan membikin Wie Hui berlompat, berkelit
dan mengegos untuk menghindarkan diri. Dan tatkala ia
berbalik menjadi pihak yang diserang, Wei Hui lalu
sengaja mundur sehingga punggungnya menempel pada
batu-batu karang yang licin dan tinggi itu.
361
Tetapi Poan Thian yang telah mengerti, bahwa dalam
cara itu Wie Hui bisa menggunakan ilmu Pek-houw- kang
buat meloloskan diri, buru-buru ia menggunakan siasat
Thian-ong-tok-tha buat menyolok kedua biji mata Wie Hui
sambil membentak „Murid pengkhianat, ternyatalah
bahwa ilmu kepandaianmu belum cukup untuk dibanggabanggakan
di hadapan orang banyak! Jangan lari!”
„Kurang ajar!” teriak Wie Hui yang karena
perhatiannya dicurahkan pada pihak musuh yang sedang
menghujani serangan-serangan kepadanya, maka ia
tidak sadar, bahwa ia telah sengaja dibikin lebih panas
hatinya untuk tidak kabur pada saat-saat yang terbaik
akan Poan Thian segera dapat mengakhiri pertempuran
itu.
Maka sebegitu lekas Wie Hui memiringkan sedikit
kepalanya untuk menyingkir daripada dua jari tangan
Poan Thian yang dijujukan ke arah biji matanya, ia
segera melompat ke samping jurang dengan kesebatan
melombai seekor kera.
„Lekaslah menyerah!” membentak pemuda kita
sambil maju mendesak.
Dalam pada itu Lie Poan Thian yang telah
menendang dengan sangat bernapsu, mendadak
kakinya telah kena tersandung batu karang sehingga ia
jatuh ngusruk dengan tak dapat dicegah pula.
„Aih!” ia berseru dengan rupa sangat kaget.
Melihat ketika yang terbaik itu untuk turun tangan,
dengan sebat Wie Hui lantas mengayunkan kakinya akan
menendang.
„Celaka!” Poan Thian yang terkenal bisa berlaku
tenang dalam waktu-waktu yang kesusu, pada waktu itu
362
kelihatan terkesiap dan lekas menyampok kaki Wie Hui
yang ditendangkan ke jurusan tubuhnya yang separuh
terbaring di antara batu-batu karang.
Tetapi pada sebelum Wie Hui sempat memikirkan hal
apa yang akan terjadi selanjutnya, Poan Thian telah
keburu melompat bangun dan lalu balas menendang
dengan ilmu Lian-hwan Sauw-tong-tui yang telah
membikin Wie Hui jadi kelabakan dan amat sibuk akan
menghindarkannya.
Satu tendangan yang dijujukan ke ulu hatinya telah
dapat disingkirkan olehnya dengan bagus sekali, tetapi
tendangan lain yang menyambar dari bawah dan
kelihatan agak mustahil akan dapat disingkirkan tanpa
berlompat ke atas, telah membikin Wie Hui lupa, bahwa
di belakangnya terletak jurang yang curam dengan di
bawahnya terbentang batu-batu karang yang tajam dan
tiada seorang pun yang jatuh ke situ akan bisa utuh baik
pun badan maupun jiwanya.
Maka di waktu berlompat ke atas dengan
menggunakan tipu Hui-yan-cwan-thian, Poan Thian
segera mengirim pula satu tendangan sambil menyapu
kaki musuhnya yang tiba di tanah, hingga Wie Hui yang
berlompat terlalu jauh dan kemudian diserang pula
dengan tendangan yang serupa itu, sudah barang tentu
jadi amat gugup dan dengan tidak terasa lagi telah
„menyelonong” ke tempat kosong dan terjerumus ke
dalam jurang, sehingga badannya remuk di antara batubatu
gunung yang tajam dan sangat mengerikan hati itu!
Demikianlah akhirnya pertempuran itu, yang di setiap
waktu ia beromong-omong dengan handai taulannya,
Poan Thian kerap mengakui sebagai salah satu
pertempurannya yang paling dahsyat yang pernah ia
alami seumur hidupnya. Karena selain merasakan sangat
363
lelah sesudah mengalami pertempuran itu, iapun baru
pertama kali ini mengalami dapat luka dari pukulanpukulan
musuhnya, sehingga buat itu ia mesti berobat
sehingga hampir sebulan lamanya dengan berturut-turut,
barulah luka-luka itu sembuh kembali dan ia bisa
bergerak pula dengan leluasa seperti sediakala.
Dan tatkala Poan Thian mengetahui bahwa Wie Hui
tidak akan bisa hidup kembali, barulah ia ingat pada
Hwat Yan yang sedang bertempur dengan Hok Cit tadi.
Buru-buru .ia menengok dan memandang ke sana-sini,
tetapi sang Sutee itu tidak kelihatan bayangbayangannya.
Lebih jauh karena teringat pula pada nasib
Tay Hong yang telah terjerumus ke dalam perangkap
yang dalam dan seolah-olah telah disediakan sebagai
kuburannya, Poan Thian jadi sangat berkuatir dan buruburu
mencari Hwat Yan dengan melalui jalan-jalan yang
kiranya selamat dan tidak terdapat jebakan menurut
petunjuk-petunjuk Sin-to-thay-swee Khu Siu Cun tadi.
Karena jikalau mula-mula ia menganggap bahwa itulah
hanya merupakan omongan-omongan untuk menakutnakuti
saja kepadanya, adalah sekarang ia harus
mengakui, bahwa itulah sesungguhnya bukan mustahil
dan tidak bisa dipandang ringan dengan begitu saja.
Tetapi betapa girangnya hati pemuda kita, tatkala ia
membiluk ke suatu jalan gunung yang sedikit teraling
oleh semak-semak yang agak tinggi, ia melihat Hwat Yan
berjalan mendatangi dalam keadaan sehat wal'afiat,
walaupun pakaiannya compang-camping karena
terlanggar oleh senjata yang dipergunakan dalam
pertempuran oleh musuh-musuhnya tadi.
Kemudian Poan Thian lekas menghampiri dan
menjabat tangan sang Sutee itu sambil menanyakan:
364
„Kemanakah perginya kawanan berandal yang telah
mengepung padamu tadi?”
„Mereka itu telah pada kabur ketika mengetahui Liu
Tay Hong mati dan kau sendiri sedang menguber pada
Wie Hui,” sahut calon paderi itu. „Tetapi bagaimana
dengan halnya Wie Hui si terkutuk itu?”
Poan Thian lalu menjawab: „Dia sekarang sudah
tidak berbahaya. Dia mati terjerumus ke dalam jurang,
tatkala ia bertempur denganku tadi.”
„Syukur,” kata Hwat Yan dengan perasaan puas,
„karena dengan begitu, hilanglah suatu noda besar yang
sangat mencemarkan nama baik kaum kita golongan
Siauw-lim.....”
Begitulah dengan tidak menghiraukan pula apa yang
selanjutnya akan terjadi di pegunungan Jie-sian-san itu,
Poan Thian dan Hwat Yan lalu kembali ke tempat
penignapannya di Leng-po, dari mana mereka segera
kembali ke kelenteng Po-to-sie dan melaporkan usaha
mereka yang telah berhasil itu, hingga In Cong Sian- su
yang mendengar laporan tersebut, girang bukan main
dan berterima kasih atas bantuan pemuda kita yang
sangat berharga itu. Maka setelah sebulan lamanya
Poan Thian berobat di kelenteng itu dari luka-luka yang
telah dialaminya dalam pertempuran dengan Wie Hui,
barulah ia bisa melanjutkan perjalanannya ke Tiong-ciu,
untuk mencari kakaknya yang berniaga garam di sana,
pada siapa ia bermaksud akan mengabarkan tentang
pernikahannya dengan gadis keluarga Na itu.
Tetapi karena kakak itu tidak dapat diketemukannya,
maka apa boleh buat ia kembali kedesa Sam-li-tun
rumah obat Tiang-seng-tong, dimana ia telah disambut
365
oleh An Chun San yang telah tahan ia berdiam di situ
sehingga beberapa bulan lamanya.
◄Y►
Dari desa itu Poan Thian kemudian menuju ke
propinsi Ho-lam, dengan maksud akan menyambangi Cin
Kong dan Bu Liu Sian yang membuka sebuah piauw-kiok
di sana.
Pada hari itu Poan Thian justeru telah sampai ke
Tian- tien, sebuah kota kecil yang terpisah delapanpuluh
lie jauhnya di sebelah barat kota Hang-ciu. Kota kecil ini
walaupun hanya mempunyai lima atau enamribu
penduduk saja banyaknya, tetapi keadaannya boleh
dikatakan ramai juga. Karena selain di situ terdapat
banyak bangunaan-bangunan yang besar, gedunggedung,
toko-toko, rumah-rumah penginapan dan kedaikedai
makanan, kota itupun terhitung „hidup” oleh karena
mempunyai jalan-jalan penting yang dapat
menghubungkan beberapa propinsi yang tersebar di
empat penjuru dengan sekaligus.
Sedangkan pedagang-pedagang keliling, orangorang
perjalanan dan pelindung-pelindung kereta piauw
yang kerap mondar-mandir dari satu propinsi pada yang
lainnya, biasa berkumpul di situ jika kebetulan
kemalaman atau menantikan kawan-kawan mereka
untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota-kota lain
yang letaknya terpisah agak jauh dari kota kecil yang
tersebut.
Demikianlah keadaan kota Tian-tien tersebut.
Pada hari itu sebenarnya Poan Thian tidak
bermaksud akan bermalam di Tian-tien, tetapi karena
366
kehujanan dalam perjalanan, maka terpaksa ia mencari
juga rumah penginapan, agar supaya bisa melanjutkan
perjalanannya ke Ho-lam pada keesokan harinya.
Tatkala itu kota Tian-tien yang telah sekian lamanya
mengalami „kekeringan”, mendadak telah ditimpah hujan
yang bukan main lebatnya, sehingga selain jalan-jalan
raja tergenang air, orangpun sukar sekali berjalan
dengan leluasa, sedangkan rumah-rumah yang penuh
sesak dengan para tamu, membuat Poan Thian
mengalami kesukaran mencari kamar.
Maka setelah keluar-masuk di beberapa banyak
rumah-rumah penginapan dengan selalu mendapat
jawaban: „Sangat menyesal, tuan, kami di sini tidak ada
kamar kosong,” akhirnya Poan Thian telah sampai ke
rumah penginapan Cee Hok, yang ternyata ada rumah
penginapan satu-satunya dimana orang masih bisa dapat
kamar kosong, yang jumlahnyapun hanya tinggal satusatunya
pula.
„Kamar ini sebenarnya telah dipesan oleh
serombongan pelindung kereta piauw yang mestinya
datang ke sini pada hari ini,” menerangkan pemilik rumah
penginapan itu, „tetapi berhubung mereka tidak datang,
maka boleh juga tuan pakai kamar itu, walaupun itu
sebenarnya terlalu besar untuk ditinggali oleh hanya
seorang saja.”
„Soal besar kecilnya kamar,” kata pemuda kita, „itulah
sama sekali aku tidak pikiri. Pendeknya, asal ada saja
sudah merasa puas. Begitupun tentang uang
sewaannya, engkau boleh perhitungkan menurut apa
yang dirasa pantas.”
„Ya, ya, baiklah,” kata pemilik rumah penginapan itu.
367
„Tetapi cara bagaimanakah mesti diaturnya apabila
mereka mendadak datang dan hendak pakai kamar itu?”
„Sudah tentu saja akan kumengalah dan serahkan itu
pada mereka, yang memang berhak untuk mendiami
kamar itu,” sahut Lie Poan Thian.
Si pemilik rumah penginapan itupun menyatakan
mufakat, hingga dengan begitu, Poan Thian boleh
merasa bersyukur, akan tidak kebasahan atau
kedinginan selama hujan turun ke muka bumi bagaikan
dituang-tuang hebatnya.
Akan tetapi, apa mau, selagi baru saja ia tidur layaplayap,
mendadak Poan Thian mendengar pintu kamarnya
diketok orang.
„Siapa?” ia bertanya dengan gugup.
„Aku, pemilik rumah penginapan ini,” sahut satu
suara yang ia kenali sebagai suara pemilik tersebut.
Buru-buru ia turun dari ranjang dan membuka pintu.
Si pemilik rumah penginapan yang telah datang
dengan diikuti oleh tiga orang piauw-su yang berbadan
tegap dan salah seorang antaranya bertubuh tinggi
besar, dengan paras muka yang berseri-seri lalu maju
memberi hormat pada Lie Poan Thian sambil berkata:
„Tuan, inilah adalah tiga orang antara tuan-tuan yang
telah memesan kamar ini.”
Sementara Poan Thian yang melihat kedatangannya
ketiga orang asing yang kamarnya ia diami itu, buru- buru
memberi hormat sambil berkata: „Tuan-tuan, oleh karena
aku kehujanan dan mengira yang kamu tidak datang,
maka dengan secara lancang aku telah diami kamarmu
yang telah kau pesan ini. Banyak harap supaya tuantuan
sudi memaafkan atas kelancanganku itu.”
368
„Oh, itulah sama sekali bukan suatu perbuatan yang
lancang,” kata salah seorang antara ketiga piauw-su itu,
„juga bukan suatu perbuatan yang terlalu salah apabila
kamu telah berbuat begitu.”
Tetapi ketika Poan Thian hendak pindahkan pauwhoknya
keluar kamar, ketiga orang itu lalu mencegah
sambil berkata: „Itu tidak perlu, itu tidak perlu. Kamar ini
masih cukup besar untuk didiami oleh empat atau lima
orang lagi. Oleh karena semua kamar telah penuh,
mengapakah tuan juga tidak turut berdiam di sini?
Kawan-kawan kita sebenarnya ada beberapa belas
orang banyaknya, tetapi banyak antaranya yang
mengawal kereta-kereta piauw dengan terpencar ke
sana-sini, maka orang-orang yang ditugaskan untuk
melindungi kereta-kereta piauw melalui kota ini, adalah
hanya kami bertigaan saja.”
4.23. Kehilangan Bendera Piauw-kiok
Poan Thian mengucapkan terima kasih atas kebaikan
ketiga orang piauw-su itu.
„Kamar ini,” kata piauw-su yang bertubuh tinggi besar
itu kepada pemilik rumah penginapan, „kami akan diami
bersama-sama tuan ini.” Sambil ia menunjuk pada Lie
Poan Thian.
Si pemilik rumah penginapan tersebut menyatakan
turut bersyukur dan berterima kasih atas kebaikan para
tetamunya itu. Kemudian ia berlalu meninggalkan mereka
dengan perasaan hati lega.
Maka setelah ketiga orang itu mengajak Poan Thian
kembali ke dalam kamar, mereka lalu saling
memperkenalkan diri dan duduk mengobrol di muka lima
369
buah pembaringan yang terdapat di dalam kamar yang
berhalaman amat luas itu.
Dari keterangan-keterangan yang ia dengar
disampaikan oleh ketiga orang itu, Poan Thian telah
ketahui, bahwa mereka itu masing-masing bernama Ang
Tek Piu, Sie Hiong dan Teng Kim Sek (yang bertubuh
tinggi besar itu).
Lebih jauh karena nama Lie Poan Thian telah cukup
terkenal di kalangan Kang-ouw pada dewasa itu, sudah
tentu saja merekapun jadi sangat girang akan bisa
berkenalan dan sama sekali tidak nyana bakal berjumpa
dengan Sin-tui Lie Poan Thian yang mereka telah lama
dengar namanya, tetapi baru pada kali itu saja kenal
orangnya di rumah penginapan itu.
Selanjutnya dalam tanya-jawab soal perusahaan
pengangkutan barang-barang yang pada masa itu diurus
oleh berbagai-bagai piauwkiok, Poan Thian telah
menanyakan: apakah mereka kenal juga dengan
seorang piauw-su yang bernama Cin Kong Houw?
Ang Tek Piu dan kedua orang kawannya lalu
menjawab dengan suara yang hampir berbareng: „Kenal,
kenal. Ia itu adalah dari Siang-hap Piauwkiok, yang pada
baru-baru ini telah mengalami kegagalan karena
dipedayakan orang. Hanya belum tahu apa tuan Lie
mempunyai juga hubungan dengan dia itu?”
„Ia itu adalah seorang sahabat karibku,” kata Poan
Thian yang hatinya mendadak tidak enak, tatkala
mendengar kabar jelek tentang diri sahabatnya itu.
„Tetapi belum tahu dengan jalan bagaimana sehingga ia
mengalami kegagalan yang tuan telah katakan itu?”
Ketiga orang itu mula-mula kelihatan ragu-ragu akan
menjelaskan tentang duduknya peristiwa itu, berhubung
370
kuatir nanti ada kata-kata apa-apa yang agak
menyinggung nama baiknya Kong Houw, yang tentunya
akan membikin tidak enak juga hatinya Poan Thian yang
menjadi sahabat karibnya. Akan tetapi setelah mereka
mendapat kepastian bahwa persoalan itu tak akan
menyinggung perasaan hati Poan Thian, walaupun itu,
umpamanya, terpaksa harus dibicarakan juga, maka
Teng Kim Sek yang mengetahui paling jelas duduknya
peristiwa tersebut, lalu mulai berceritera, setelah
mengatakan, bahwa Kong Houw pasti tak mudah
dikalahkan orang, apabila dengan sejujurnya hati orang
meladeninya bertempur.
Demikianlah peristiwa-peristiwa kegagalan Kong
Houw yang dituturkan Kim Sek dalam bagian-bagian
yang sekecil-kecilnya seperti berikut.
Sebagaimana para pembaca tentu belum lupa,
semenjak berpisahan dengan Poan Thian, Kong Houw
dan isterinya telah kembali ke kota Kim-leng, dimana,
buat memenuhi pengharapan pihak penolongnya, yaitu
Lie Poan Thian, ia telah membuka sebuah piauw-kiok
dengan memakai merek Siang-hap Piauwkiok. Oleh
karena nama Kong Houw telah dikenal orang sebagai
seorang bekas guru silat militer yang tinggi ilmu
kepandaiannya, maka sudah tentu saja perusahaan
angkutannya mendapat kepercayaan orang banyak,
hingga dalam tempo beberapa waktu saja lamanya,
namanya Siang-hap Piauwkiok segera jadi terkenal ke
mana-mana.
Ketambahan karena belakangan ia mendapat pula
dua orang pembantu Lauw Thay dan Lauw An yang telah
dikerjakan atas anjurannya Lie Poan Thian, ternyata dua
orang pembantu inipun sampai cukup cakap dalam hal
melakukan segala pekerjaan yang dipercayakannya.
371
Dengan begitu, atas kerja sama antara Kong Houw
suami isteri dan kedua orang pembantunya ini, lambatlaun
kemasyhuran Siang-hap Piauwkiok telah meningkat
begitu rupa, sehingga lambang pengangkutan
perusahaan angkutan itu lebih dikenal orang dari pada
lambang-lambang yang dipergunakan oleh kantor-kantor
perusahaan pengangkutan yang lain-lainnya. Hal mana,
sudah barang tentu, telah menerbitkan rasa mengiri
hatinya pengusaha-pengusaha piauw-kiok lain yang tak
mampu menyaingi perusahaan angkutan yang diurus
oleh Cin Kong Houw itu.
Pada suatu hari sekembalinya dari pesta makanminum
dengan beberapa orang handai taulannya, di
jembatan Hian-bu-kio Kong Houw telah berpapasan
dengan dua orang berkuda yang berjalan mendatangi
dengan berendeng satu sama lain, dan karena jembatan
itu agak sempit, sudah tentu saja ia bisa terdesak ke
samping dan terpijak kuda, jikalau tidak mau mengalah
dengan jalan menyebur ke dalam sungai.
Maka Kong Houw yang menyangka bahwa mereka
telah keenakan mengobrol sehingga tidak
memperhatikan padanya yang mendatangi dengan
berjalan kaki, buru-buru ia memberi tanda supaya salah
seorang antaranya suka minggir sedikit, agar supaya
dengan begitu, ia bisa juga turut melewat di situ dengan
tidak usah mesti terdesak ke sisi jembatan.
Tetapi, entah isyarat itu tidak dapat dilihat atau
memang mereka sengaja tidak hiraukan, kedua orang itu
bukan saja tidak suka minggir, malah sebaliknya lantas
larikan kuda mereka dengan tidak memperdulikan pada
keselamatan diri Kong Houw yang sekarang telah berada
di tengah jembatan. Maka Kong Houw yang menyaksikan
perbuatan kedua orang itu, karuan saja jadi mendongkol
372
dan lalu berdiri tegak akan menantikan mereka berdua.
Dan sebegitu lekas mereka mendatangi cukup dekat,
ia lantas menyerukan: „Tuan-tuan, jembatan ini sangat
sempit dan tak mungkin aku bisa melewat, apabila kamu
berjalan berendeng begitu rupa. Sudikah kiranya kamu
berlaku cukup baik akan berjalan dengan yang seorang
mengikuti pada yang lainnya, sehingga dengan begitu,
kita bisa lewat bersama-sama dengan tidak saling
menyukarkan pada satu dengan yang lainnya?”
„Jembatan ini toh bukan kau yang punya!” kata salah
seorang penunggang kuda itu dengan suara ketus.
„Apabila kau kuatir terpijak kuda, cara bagaimanakah kau
telah berani mendahului pada kita akan melewat di sini,
sedangkan kau yang berjalan kaki seharusnya mesti
menunggu dahulu di tepi jembatan sehingga kita berdua
lewat?”
Kong Houw yang memang agak sinting karena
minum terlalu banyak air kata-kata, sudah tentu saja jadi
gusar dan lantas membentak: „Kurang ajar! Kamu berdua
ternyata ada orang-orang kasar yang berkepala batu dan
tidak mengerti perikesopanan! Maka jikalau omongan
yang baik belum cukup akan membuka keinsyafanmu,
biarlah kepalanku ini nanti membikin kamu insyaf dari
segala perbuatanmu yang amat congkak itu! Jangan lari!”
Sambil memasang kuda-kuda di tengah jembatan,
Kong Houw lalu cekal lesnya salah seekor kuda itu yang
lalu didorong ke belakang, dengan sebelah tangan ia
sanggapi dada binatang itu sambil mengeluarkan suara
bentakan keras, sedangkan dengan sebelah kakinya ia
tolak perut binatang itu. Oleh karena dikejutkan dengan
cara yang amat sekonyong-konyong itu, sudah barang
tentu kuda itu segera berdiri dengan dua kakinya, hal
mana, tidak ampun lagi, telah membikin penunggangnya
373
jadi terlempar dan jatuh ke dalam sungai!
Sementara kawannya penunggang kuda itu yang
telah menyaksikan perbuatan Kong Houw yang tidak sudi
menelan saja segala hinaan orang, dengan lantas pecut
kudanya supaya lari menubruk pada Cin Kong Houw
yang berjalan kaki itu. Tetapi Kong Houw yang bermata
celi dan tidak boleh dipermainkan punya suka, walaupun
dalam keadaan sinting, pikirannya masih tetap jernih. Ia
mengerti apa maksudnya penunggang kuda yang kedua
itu, maka buru-buru ia berbuat seperti apa yang telah
dilakukannya tadi, untuk melemparkan orang itu ke
dalam sungai dengan meminjam tenaga binatang yang
kaget itu, tetapi dugaan itu sekarang meleset dan si
penunggang itu tidak sampai jatuh sebagaimana apa
yang diharapkannya di dalam hatinya.
Orang itu tidak dapat dijatuhkan dari atas kudanya,
karena ia lekas jepitkan kedua kakinya pada punggung
kuda yang berdiri dengan dua kakinya itu. Bahkan lebih
dari itu, ia telah ayunkan cambuknya ke arah mukanya
Kong Houw sambil membentak: „Kau jahanam, apakah
matamu buta, sehingga kau tidak tahu dengan siapa kau
sekarang berhadapan?”
„Aku tidak perduli kau siapa,” sahut Kong Houw,
„apabila kelakuanmu tidak senonoh, apakah orang harus
mandah saja dibikin punya suka dengan tiada ketahuan
apa sebab musababnya?”
„Tutup bacotmu!” membentak penunggang kuda itu
sambil mengayunkan pula cambuknya, yang pada kali ini
disabetkan dengan hebat pada dirinya piauw-su dan
pemimpin dari Siang-hap Piauwkiok itu.
Kong Houw jadi semakin marah dan lalu tangkap
cambuk yang disabetkan kepadanya itu, kemudian,
374
dengan mengeluarkan satu suara bentakan, ia lantas
menarik ujung cambuk itu dengan sepenuh tenaganya,
hingga orang itu yang ternyata kalah tenaganya, hampir
dalam saat itu juga telah jadi terlempar dan terbanting ke
atas jembatan seperti juga sebuah kundur yang
mendadak gugur dari tangkainya!
Tetapi orang itu ternyata ada seorang ahli silat yang
ilmu kepandaiannya tidak boleh dipandang ringan.
Karena sebegitu lekas ia jatuh, sebegitu lekas juga ia
mencelat ke atas dengan menggunakan siasat Lee-hietiauw-
liong-bun, sambil berbalik menerjang pada Cin
Kong Houw. Tetapi Kong Houw yang tak mudah
diselomoti orang dengan begitu saja, buru-buru
menggunakan siasat Sian-jin-toat-yang, untuk
menghindarkan diri dari pada penyerangan sang musuh
itu.
Dalam pada itu si penunggang kuda yang telah jatuh
ke dalam sungai tadi, pun telah naik ke daratan dan terus
membantui kawannya mengerubuti Cin Kong Houw, yang
ternyata selain berhati tabah, juga ilmu silatnya tidak ada
di bawah dari pada mereka berdua.
„Jikalau aku belum melihat kau mampus di tengah
jembatan ini,” teriaknya, „belum puas rasa hatiku!”
„Engkau tidak perlu sesumbar yang tidak ada artinya
sama sekali,” sahut Cin Kong Houw sambil meladeni
mereka berkelahi, „tetapi cobalah buktikan apa katamu,
kalau saja engkau sesungguhnya mampu berbuat
begitu!”
Apa katanya pemilik Siang-hap Piauwkiok,
sesungguhnyalah bukan berarti suatu gertakan belaka.
Karena selain ia telah unjuk sampai berapa jauh ilmu
kepandaiannya, iapun sanggup meladeni kedua orang
375
lawan itu seperti juga orang yang bertempur dengan satu
melawan satu.
Ia tidak kelihatan gugup atau jerih, juga tidak mundur
barang setindakpun, meski ia dikepung sedemikian
hebatnya oleh kedua orang musuhnya itu.
Lama-lama karena salah seorang musuh itu telah
dipukul roboh, maka seorang musuh yang lainnya buruburu,
berlompat keluar dari kalangan pertempuran sambil
berseru: „Tahan dulu! Aku ada omongan yang hendak
disampaikan kepadamu!”
Cin Kong Houw lalu berhentikan gerakannya sambil
menjawab: „Baik! Engkau ada omongan apakah yang
hendak disampaikan kepadaku?”
„Pertempuran ini kita terpaksa mesti tunda,
berhubung kita masih ada urusan sangat penting yang
perlu diurus selekasnya,” kata sang musuh yang belum
keburu dirobohkan itu. „Kami perlu menanyakan she dan
namamu, untuk kemudian kita bertemu pula.”
Cin Kong Houw kelihatan bersenyum tatkala
mendengar omongan itu.
„Aku inilah bernama Cin Kong Houw,” katanya,
„pemilik dari Siang-hap Piauwkiok. Kamu berdua juga
boleh menerangkan she dan namamu untuk kemudian
memudahkan kita akan melanjutkan pertempuran ini!”
„Kami berdua adalah murid-murid dari golongan
Siauw-lim cabang Hong-pay dan berguru pada Khong
Hoat Cwan,” sahut sang musuh itu. „Namaku disebut
Gouw-kong Ho In Kheng, sedang itu kawanku,” (sambil ia
menunjuk pada kawannya yang tadi), „bernama Thiatsian-
ciu Ong Liong.”
Kemudian mereka naikkan kuda masing-masing dan
376
berlalu dengan tidak banyak bicara pula.
Sementara Kong Houw yang mengerti bahwa urusan
ini pasti akan ada „buntutnya” di lain hari, iapun
selanjutnya sangat hati-hati dan tidak pernah keluar pintu
di waktu malam hari, kalau saja tidak sangat perlu. Kalau
ia mesti keluar juga, ia selalu berlaku waspada, agar
jangan sampai kejadian dibokong orang.
Apalagi ketika mendapat keterangan bahwa Khong
Hoat Cwan itu ada seorang guru yang mudah dihasuthasut,
lebih-lebih pula ia berhati-hati akan menjaga
keselamatan dirinya.
Demikian juga kepada Liu Sian, Lauw Thay, Lauw An
dan pengawal-pengawal yang lainnya, ia tidak lupa
memesan akan berlaku hati-hati, jikalau berurusan
dengan orang-orang sebagai Ho In Kheng dan Ong
Liong itu. Dan bersamaan dengan itu, iapun lukiskan
roman dan perawakan kedua orang musuhnya itu.
Satu bulan, dua bulan, dan bulan yang ketiga telah
hampir tiba, semenjak terjadinya peristiwa di jembatan
Hian-bu-kio itu, tetapi selama itu tidak terjadi apa-apa
yang perlu dituturkan di sini.
Sementara Kong Houw yang sibuk mengurus
pekerjaan-pekerjaan angkutan dari satu tempat ke
tempat yang lainnya, lambat-laun telah melupakan juga
peristiwa yang tersebut tadi. Bahkan semua pengawalpengawal
Cin Kong Houw beranggapan, peristiwa itu
telah berakhir sampai di situ saja.
Pada suatu hari karena menerima pesanan dari
sekian langganannya akan melindungi satu party barangbarang
angkutan sehingga sejumlah beberapa puluh
kereta banyaknya, maka Kong Houw lalu pecah
rombongan piauwsu-piauwsunya menjadi beberapa
377
kelompok, dengan ia sendiri terpaksa mesti turun tangan
untuk melindungi kereta-kereta piauw yang perlu dikirim
ke Kie-ciu, yang letaknya agak jauh dan mesti melalui
perjalanan yang „penuh duri gangguan” dari “cabangcabang
atas” di kalangan Rimba Hijau.
Begitulah ketika berjalan kira-kira setengah bulan
lamanya dan hampir sampai di perbatasan kota Kie-ciu,
mendadak ada seorang pegawainya yang datang
melaporkan, bahwa bendera lambang Siang-hap
Piauwkiok telah...... hilang entah kemana perginya!
Kong Houw jadi kaget tercampur masgul, waktu
mendengar keterangan begitu.
Lalu ia kasih perintah pada sekalian pegawainya
akan coba periksa segala barang-barang angkutan
mereka, tetapi setelah diperiksa dengan teliti hingga
beberapa lamanya, ternyata semua tiada terdapat
barang sepotong pun yang kurang karena kehilangan.
Maka Kong Houw yang mendapat laporan itu,
dengan lantas ia menduga, kalau-kalau pencurian
bendera lambang itu adalah perbuatan salah seorang
atau mungkin juga kedua-dua musuhnya yang ia pernah
labrak agak hebat juga di jembatan Hian-bu-kio itu.
Tetapi karena tidak melihat ada bukti-bukti yang
memperkuat tentang pencurian bendera yang berarti
suatu penghinaan itu, Kong Houw jadi bingung juga dan
tidak tahu selanjutnya ia mesti berbuat bagaimana.
Karena selain belum kenal betul kedua orang musuhnya
itu, iapun tidak ketahui dimana tempat kediaman mereka
berdua.
Selanjutnya sesudah berpikir beberapa saat lamanya,
akhirnya Kong Houw teringatlah pada seorang sahabat
yang dahulu pernah melakukan pekerjaan sebagai
378
seorang piauw-su, tetapi sekarang telah mengundurkan
diri dan tidak campur tangan lagi di kalangan itu.
Orang itu bernama Ouw Yong, dan sekarang berdiam
di sebuah rumah yang terletak di jalan Po-ciok-kee di
pintu kota barat.
Oleh karena mengingat bahwa Ouw Yong kenal baik
setiap orang gagah yang berdiam di daerah Kie-ciu,
maka ia percaya bahwa sahabat ini tentu dapat
memberikan keterangan tentang siapa yang mencuri
bendera lambang yang dimilikinya itu, yang jikalau
urusan ini sampai terdengar di luaran, niscaya Kong
Houw bisa hilang muka dan hilang mata pencarian
karena adanya peristiwa pencurian yang sangat
memalukan nama baiknya itu.
Di zaman dahulu di antara pengusaha-pengusaha
piauw-kiok ada suatu pepatah yang mengatakan: Lebih
baik hilang barang angkutan dari pada hilang bendera
lambang kehormatan, dan itulah sebabnya mengapa
Kong Houw jadi jengkel dan akhir-akhirnya telah coba
pergi menjumpai Ouw-Yong untuk mencari keterangan,
kalau-kalau sahabat itu mengetahui, siapa manusianya
yang telah mencuri bendera lambangnya itu.
Ouw Yong kelihatan girang sekali melihat kunjungan
si sahabat itu, hingga dengan wajah yang berseri-seri ia
berkata: „Tidak nyana hari ini mendapat kunjunganmu.
Belum tahu ada angin manakah yang telah meniup
engkau datang ke sini?”
„Seorang yang membutuhkan nasehat sang guru,
memang kerap berkunjung di waktu yang tidak terduga,”
sahut Kong Houw sambil memaksakan diri buat
bersenyum.
„Tetapi belum tahu ada urusan apa sih yang telah
379
membikin engkau kelihatan begitu bersusah hati?”
bertanya Ouw Yong sambil persilahkan si sahabat itu
akan duduk.
Kong Houw lalu tuturkan dengan sejelas-jelasnya,
dari mulai terjadinya peristiwa di jembatan Hian-bu-kio,
sehingga kemudian bendera lambangnya kejadian hilang
dicuri orang. Lebih jauh, karena ia yakin bahwa Ouw
Yong mempunyai banyak kenalan di kalangan Kang-ouw
putih dan hitam, maka Kong Houw telah sengaja
berkunjung untuk meminta nasehat si sahabat itu, kalaukalau
ia bisa mencari keterangan tentang siapa pencuri
bendera lambangnya itu, agar kalau nanti sudah
diketahui, ia boleh pergi parani sendiri untuk minta
dikembalikan dengan secara baik atau menggunakan
kekerasan, apabila tindakan itu dirasa perlu.
Sedang Ouw Yong yang juga mengerti kepentingan
dan artinya bendera lambang itu, sudah tentu saja
berpendapat, bahwa Kong Houw memang perlu
mengambil segala tindakan untuk menjaga kehormatan
dan nama baiknya di kalangan pengusaha-pengusaha
piauwkiok. Karena jikalau dia tak mampu mengambil
pulang atau mencari lambang yang hilang itu sehingga
didapat kembali, ia bisa mengalami hilang muka dan
mata pencarian dengan sekaligus. Oleh sebab itu,
siapakah yang tidak jengkel mengalami kejadian yang
amat tidak enak itu?
Ouw Yong sendiri sebenarnya tidak bisa menduga
pasti siapa yang telah menjadi pencuri bendera lambang
itu. Juga, sebagai seorang yang sudah „mencuci tangan”,
tidak patut akan ia mencampuri diri dalam urusan-urusan
begini. Tetapi karena mengingat perhubungannya yang
begitu baik dengan Cin Kong Houw, maka apa boleh
buat ia telah memberikan petunjuk juga, supaya Kong
380
Houw coba pergi mencari keterangan pada Ca Tiauw Cin
di desa Ca-kee-chung. Tetapi karena orang she Ca ini
bukan tergolong pada orang baik-baik, maka ada baiknya
juga kalau Kong Houw suka berlaku hati-hati, jangan
coba berbantahan atau mencari setori dengan „cabang
atas” ini.
Maka setelah Kong Houw mendapat petunjukpetunjuk
yang perlu dari Ouw Yong, dengan tidak berayal
lagi ia segera menuju ke gedung keluarga Ca di desa Cakee-
chung.
Di sana Kong Houw telah disambut oleh beberapa
orang pengawal yang lantas menanyakan she, nama,
maksud kedatangannya dan dengan siapa ia hendak
bertemu, atas pertanyaan-pertanyaan mana, Kong Houw
lalu menjawab satu-persatu dengan mengasih unjuk
sikap yang seolah-olah tidak bersangkut paut dengan
urusan penting apapun juga.
Dan tatkala kabar ini telah disampaikan pada Ca
Tiauw Cin, ahli silat dari cabang atas itu lalu persilahkan
Kong Houw akan masuk berjumpa.
Kong Houw menurut, setelah terlebih dahulu ia
mengucapkan banyak terima kasih kepada para
pengawal yang telah melayani padanya dengan ramahtamah.
Begitulah tatkala berada di ruangan pertengahan, di
situ Kong-Houw telah berjumpa dengan seorang yang
bertubuh tidak berapa tinggi, tetapi agak gemuk dedakan
badannya. Tidak bermisai atau berjanggut, tetapi
romannya cukup keren oleh karena agak jarang tampak
tersenyum.
Ia berpakaian baju pendek warna coklat yang
ditimpali dengan kopiah yang berwarna coklat pula.
381
Bersepatu tipis, berkaos kaki putih dan tinggal duduk
tegak ketika Kong Houw masuk dan memberi hormat
kepadanya sambil bertanya: „Tuan, apakah tuan ini Ca
Lo-su Ca Tiauw Cin?”
Orang itu lalu berbangkit dari kursinya, balas
memberi hormat dan menjawab: „Ya, itulah memang
namaku yang rendah. Belum tahu tuan ini orang dari
mana? She dan nama apa, dan apa keperluannya tuan
mencari aku?”
Di dalam hatinya, Kong Houw jadi merasa heran
juga. Pikirnya, mengapakah pertanyaan itu telah diulangi
pula, sedangkan hal itu ia telah sampaikan dengan
perantaraan para pegawai tadi? Ia tidak mengerti
maksud apa yang terkandung di dalam pertanyaan itu,
tetapi ia sengaja telah kesampingkan itu buat tidak
mensia-siakan pesannya Ouw Yong, maka dengan sikap
yang mengunjuk sangat mengindahkan kepada tuan
rumah, Kong Houw lalu menerangkan pula siapa dia dan
dengan maksud apa ia berkunjung ke situ.
Mendengar omongan itu, Tiauw Cin buru-buru
membungkukkan diri sambil memberi hormat dan
berkata: „Oh, oh, aku kira tuan ini siapa, tidak tahunya
Cin Kong Houw Piauw-su yang namanya begitu terkenal
di kalangan Kang-ouw, yang begitu lama aku kagumi
tetapi baru hari ini mempunyai kesempatan buat saling
berkenalan. Sit-lee, sit-lee.”
Kong Hauw lekas membalas pemberian hormat itu
dengan sikap merendah.
„Marilah silahkan Cin Piauw-su duduk mengobrol di
ruangan dalam,” mengajak Tiauw Cin pada tetamunya.
Kong Houw tidak menolak atas tawaran itu.
382
Setelah dipersilahkan duduk dan disuguhkan air teh,
Kong Houw lalu menanyakan nasihat Ca Tiauw Cin,
dengan jalan apa si pencuri bendera lambang itu harus
diselidikinya?
Ca Tiauw Cin tersenyum sedikit dan tidak
memberikan penjelasan apa-apa tentang ikhtiar yang
dikandung di dalam hatinya.
„Dari hal bendera lambangmu yang telah hilang dicuri
orang itu,” katanya, ..aku percaya dalam tempo sedikit
waktu saja akan bisa diketemukan serta diambil pulang.
Perlu apakah urusan yang sekecil itu mesti dipikirkan
sampai begitu!”
Kong Houw mengangguk-angguk selaku orang yang
menantikan jawaban yang dibutuhkannya, tetapi
anehnya, bukannya Tiauw Cin membentangkan ikhtiarikhtiar
apa yang harus diambilnya, malah sebaliknya ia
memanggil koki buat minta disediakan satu meja
perjamuan.
„Cin Piauw-su ini yang mengalami banyak kecapaian
dalam perjalanana,” katanya, „tentunya merasa haus dan
lapar serta perlu beristirahat beberapa waktu lamanya.
Pergilah kau sediakan beberapa macam hidangan yang
paling lezat dengan beberapa kati arak yang terbaik.
Juga jangan lupa buat menyediakan cawan-cawan yang
agak besar, karena kita jago-jago minum tidak biasa
memakai cawan-cawan yang terlampau kecil di waktu
mengundang handai taulan atau sahabat-sahabat karib
kita.”
4.24. Gangguan Sin-tui Bie di Kelenteng Tua
Kong Houw mengerti, bahwa perjamuan itu akan
383
diadakan dengan secara istimewa untuk dirinya, maka
barang tentu ia lantas menampik dengan kata-kata yang
manis dan merendah. Sambil mengatakan supaya Tiauw
Cin jangan membikin susah apa-apa. Tetapi Tiauw Cin
yang sebenarnya mengandung maksud lain, dengan
wajah yang berseri-seri lalu berkata „Cin Piauw-su, kita
ini adalah orang-orang dari satu golongan juga, perlu
apakah mesti berlaku begitu sungkan? Kita saling
bertemu pun tidak kejadian setiap hari. Oleh karena itu,
apakah salahnya jikalau aku mengadakan sedikit
perjamuan sebagai tanda berkenalan dan mempererat
persahabatan kita-kita?”
Kong Houw yang kurang bersiasat, tertarik benar
oleh omongan itu, hingga selanjutnya ia tak bisa berbuat
lain dari pada mengucapkan terima kasihnya.
Maka setelah koki balik kembali memberitahukan,
bahwa hidangan telah disediakan. Tiauw Cin lalu
mengundang Kong Houw akan duduk makan minum di
halaman lain dari gedung yang besar dan mentereng itu.
Di sini, dengan dilayani oleh beberapa pelayan
perempuan yang berparas elok, Tiauw Cin lalu perintah
salah seorang antaranya menuangi secawan arak buat
Kong Houw, yang kemudian dipersembahkannya sendiri
sambil berkata „Dengan cawan yang pertama ini, aku
doakan supaya Cin Piauw-su beroleh kemajuan dalam
usahamu yang sekarang ini.”
Kouw Houw lalu sambuti cawan itu sambil
mengucapkan terima kasih. Kemudian ia minum kering
arak yang terisi di dalamnya dengan beberapa tegukan.
Cawan yang kedua lalu menyusul dengan diiringi
oleh kata-kata yang bantu mendoakan, agar supaya
Kong Houw panjang umur sehingga ia sanggup
384
mempertahankan nama baiknya di kalangan perusahaan
pengangkutan di bawah bendera Siang-hap Piauwkiok
itu.
Setelah itu, lalu menyusul cawan yang ketiga.
„Dengan ini,” kata Ca Tiauw Cin yang seakan-akan
orang berpikir untuk mencari perkataan-perkataan yang
tepat buat diucapkannya, „adalah......
Ia merandek, tetapi tangannya yang memegang
cawan itu tetap diangsurkan kehadapannya Kong Houw.
Tidak kira ketika Kong Houw menyambuti cawan itu,
mendadak Ca Tiauw Cin menindak maju, dengan
kecepatan bagaikan kilat, ia menggerakkan telapak
tangannya ke arah Cin Kong Houw.
Plok! — „Ayo!”
Suara kedua lengan Ca Tiauw Cin yang menepuk
embun-embunan Kong Houw, masing-masing telah
mengeluarkan suara yang hampir berbareng waktunya.
Jikalau yang tersebut belakangan tidak keburu
berkelit, mungkin juga batok kepalanya akan remuk
ditepuk oleh kedua telapak tangan Ca Tiauw Cin yang
paham ilmu Thiat-see-ciang itu!
Selagi Kong Houw merasakan kepalanya pusing dan
matanya berkunang-kunang, Tiauw Cin telah
mengeluarkan suara bentakan keras sambil menendang
dengan ilmu tendangan Swan-hong-tui, hingga Kong
Houw yang belum berdiri jejak karena menyingkirkan diri
dari pada pukulan tadi, sudah tentu saja jadi terpental
dan jatuh di sudut ruangan itu dalam keadaan tidak ingat
orang.
Dan tatkala kemudian ia tersedar dari pingsannya,
Kong Houw melihat ada beberapa orang yang berkumpul
385
di situ dengan membekal senjata di tangan masingmasing,
tetapi pada saat itu Tiauw Cin telah tidak
kelihatan pula mata hidungnya.
Lebih jauh di lain sudut dari ruangan itu, ia
menampak sebuah bendera yang ia kenali bukan lain
dari pada bendera lambangnya yang telah hilang dicuri
orang itu!
„Kurang ajar!” Kong Houw memaki.
„Tuan Cin,” kata salah seorang bersenjata yang
berkumpul di situ, „barusan Lo-suhu telah memesan
pada kami, apabila nanti kau sudah tersadar dari
pingsanmu, supaya engkau boleh membawa balik
bendera lambangmu yang hilang itu.”
Tetapi Kong Houw tak mau memungut hendera itu,
karena menganggap bahwa perbuatan itu sangat
menghinakan nama baiknya, dan ia baru mau ambil balik
bendera itu, apabila nanti ia sudah merobohkan Ca
Tiauw Cin yang licin itu.
Maka dari itu, dengan hati sangat penasaran ia lalu
menoleh pada orang-orang itu sambil berkata: „Tuantuan,
bendera ini aku titip dahulu pada kamu sekalian
buat beberapa waktu lamanya. Apabila aku sudah
sembuh dan aku balik kembali untuk menentukan siapa
antara aku dan Ca Tiauw Cin yang lebih unggul ilmu
kepandaiannya, barulah aku mau ambil balik bendera itu.
Ca Tiauw Cin telah berlaku pengecut melukai aku
dengan jalan membokong, hingga buat ini aku tidak mau
sudah jikalau salah satu antara kita belum ada yang mau
menyerah atau mati. Sampaikanlah omonganku ini pada
gurumu yang pengecut itu!”
Begitulah setelah memuntahkan darah di atas lantai
bekas tadi ia jatuh pingsan, dengan gerakan yang susah
386
payah ia kembali ke tempat penginapannya dan
sampaikan berita celaka ini pada kawan-kawannya,
hingga semua orang jadi mendongkol dan lalu dengan
serentak hendak menyatroni serta menggempur orang
she Ca itu. Tetapi Kong Houw lalu mencegah dan
mengatakan, bahwa urusan ini adalah ia sendiri yang
harus tanggung, hingga terhadap yang lain-lain tidak ada
sangkut pautnya. Dari itu, paling betul mereka
menantikan saja apa yang akan terjadi kemudian.
Pendek kata selain ia dan isterinya, Kong Houw
melarang akan orang lain turut campur dalam urusan
permusuhannya ini.
Demikianlah penuturan yang Poan Thian dapat
dengar tentang Cin Kong Houw dari keterangan Teng
Kim Sek, hingga ia jadi begitu gusar sehingga ia
berjingkrak dengan tidak terasa pula.
„Kurang ajar benar si jahanam she Ca itu!” teriak
pemuda kita. „Apabila aku belum hancurkan ilmu Thiatsee-
ciang yang dipunyakannya, belumlah puas rasa
hatiku! Tetapi belum tahu apakah saudara-saudara
bersedia akan menjadi petunjuk-petunjukku, sehingga
dengan begitu aku bisa sampai ke tempat tujuanku dan
menjumpakan orang yang aku niat cari itu!”
Ketiga piauw-su itu yang memang tidak mempunyai
perhubungan baik dengan Ca Tiauw Cin dan berdiri di
pihaknya Cin Kong Houw, sudah tentu saja menyatakan
kesediaannya buat mengantar Poan Thian pergi
menjumpai Ca Tiauw Cin, hingga ia jadi girang dan minta
mereka menetapkan, bilamana ia dapat turut berangkat
kedesa Ca-kee-chung itu.
„Pikirku,” kata Ang Tek Piu setelah berpikir beberapa
saat lamanya, „paling betul kita jangan pergi ke Ca-kee387
chung pada sebelum menjumpai dahulu Cin-toako.
Karena selain kita belum tahu jelas duduknya perkara, di
sanapun kita bisa berembuk lebih jauh sambil melihat
bagaimana kewarasannya Cin-toako dewasa ini.
„Kita bukan takut pada Ca Tiauw Cin dan sekalian
gundal-gundalnya, tetapi rasanya ada baiknya juga
apabila kita bertindak ke dalam urusan ini dengan cara
yang lebih teliti dan jujur, sehingga biarpun kemudian Ca
Tiauw Cin sampai kena dirobohkan, iapun tentu akan
merasa rela hati dan tidak terjadi permusuhan yang tak
ada akhirnya antara kita dan pihak mereka. Tetapi belum
tahu pendapat tuan Lie bagaimana?”
Lie Poan Thian yang tadi telah diliputi oleh
kemarahan dengan secara tiba-tiba, sudah tentu saja
tidak memikirkan sama sekali akibat-akibat dari pada
perbuatannya itu, hingga ketika mendengar nasehat baik
yang telah diajukan oleh Ang Tek Piu, ia jadi insyaf akan
kekeliruannya dan berkata: „Ai, jikalau tuan Ang tidak
mengajukan nasehat yang berharga itu, mungkin juga
aku bisa terlibat dalam urusan permusuhan yang
memang ada kemungkinan akan jadi menjalar ke segala
kalangan di antara kambrat-kambratnya orang she Ca
itu!
Maka setelah sekarang kau telah berhasil dapat
menghalaukan peristiwa yang tidak baik itu, sudikah
kiranya tuan Ang memberikan petunjuk-petunjuk lain
yang berharga mengenai urusan ini? Dan cara
bagaimanakah aku harus berbuat supaya permusuhan
itu tidak sampai merembet pada diri kawan-kawan kita
yang lainnya?”
„Perbuatan orang she Ca itu memang sudah terang
bersifat pengecut dan kita perlu tindas dengan beramairamai,”
kata Sie Hiong, „perlu apakah tuan Lie mesti
388
berkuatir akan hal itu merembet pada kawan-kawan kita
yang lain-lainnya?
„Seorang Tay-tiang-hu (laki-laki sejati) jikalau berani
berbuat. haruslah berani juga menanggung risikonya.
Buat apakah mesti ditanyakan jalan mana yang lebih,
selamat bagi pihak ini atau itu?
„Ingatlah, tuan, bahwa di dalam segala urusan,
pastilah mesti ada risikonya. Tidak perduli berapa kecil
atau berapa besar sifatnya risiko itu. Dan jikalau orang
selalu ragu-ragu memikirkan ini atau itu, paling betul
orang jangan berbuat apa-apa sama sekali, hingga
dengan begitu urusan pun boleh disudahi sampai di situ
saja.”
„Omongan Sie Hian-tee inipun memang tidak
bersalahan!” menyetujui Teng Kim Sek. „Tetapi turut
pikiranku yang cupat, pikiran Ang Toako memang patut
dan lebih selamat buat diturut.”
„Tetapi aku tidak bisa mufakat,” Lie Poan Thian
memotong pembicaraan semua orang, „apabila karena
perbuatan aku seorang, kawan-kawan kita yang lainnya
lantas jadi kerembet ke dalam urusanku itu. Hal ini aku
sesungguhnya merasa amat tidak senang, dan sedapat
mungkin ingin melakukan apa-apa atas risikoku sendiri,
barulah aku anggap bahwa perbuatan itu benar-benar
merupakan perbuatan seorang Tay-tiang-hu!”
„Itu juga benar, itu juga benar,” kata Ang Tek Piu.
„Tetapi bilamana kita dapat menyambangi Cin Lauwhia
dan menanyakan padanya tentang duduknya urusan
Ca Tiauw Cin ini?” Poan Thian bertanya dengan rupa
yang bernapsu.
„Semua angkutan kita telah selesai diserahkan pada
389
tiap-tiap alamat yang harus menerimanya,” kata Ang Tek
Piu, hingga sekarang kita tinggal menantikan kedatangan
rombongan kawan-kawan kita yang kedua. Dan jikalau
merekapun telah dapat menyerahkan barang-barang
angkutan mereka, kitapun sudah boleh berangkat ke kota
Kim-leng dalam waktu seminggu itu.”
„Ah, kalau begitu,” kata Lie Poan Thian, „aku kuatir
waktu itu akan terlalu lama buat aku bisa menahan napsu
amarahku. Maka turut pikiranku, biar saja aku pergi
sendiri ke kota Kim-leng, kemudian kita bertemu lagi
jikalau urusan ini sudah beres. Apakah tuan Ang juga
tidak pikir baik diatur begitu saja?”
„Ya, begitupun boleh,” kata Ang Tek Piu akhirakhirnya.
Begitulah setelah di hari esoknya mereka duduk
dahar bersama-sama, Poan Thian lalu menggendong
pauw-hoknya, berpisahan dengan ketiga piauw-su itu
dan terus melanjutkan perjalanannya ke kota Kim-leng,
untuk pergi menyambangi Cin Kong Houw yang telah
mendapat luka karena muslihat Ca Tiauw Cin yang
curang itu.
Dalam perjalanan itu karena Poan Thian kerap kali
ketimpa hujan, maka apa boleh buat ia mesti sabansaban
berhenti di rumah penginapan, hingga lantaran ini,
sudah tentu saja sangat memperlambat perjalanannya
itu.
Lebih-lebih ketika tiba di suatu daerah pegunungan
yang terpencil dan tidak ada penduduknya, ia jadi
mengeluh karena merasai sukarnya mencari tempat
perlindungan dari serangannya air hujan yang semakin
lama telah turun semakin lebat ke muka bumi.
Lie Poan Thian yang tak berkuasa akan menentang
390
kemarahan alam, mau atau tidak mesti berlindung juga
dari bawah satu ke lain pohon untuk melanjutkan
perjalanannya.
Dan tatkala hari sudah hampir magrib, barulah ia
menemukan sebuah kelenteng yang terletak di lereng
gunung yang sunyi dan dengan tidak mencari tahu lagi
apakah di dalam kelenteng itu ditinggali orang atau tidak,
Poan Thian segera berlari-lari di antara hujan dan terus
masuk ke dalamnya.
„Untunglah masih ada kelenteng ini sebagai
penolongku,” kata pemuda kita sambil menaruh pauwhoknya
di atas jubin yang batunya sudah banyak rusak.
Lebih jauh karena pada pintu kelenteng itu tertampak
sarang laba-laba dan debu yang bertimbun di sana-sini,
maka ia lantas ketahui, bahwa kelenteng itu sudah lama
tidak dirawat atau ditinggali orang.
Maka karena berkeyakinan bahwa ialah seorang diri
yang berada di situ pada saat itu, Poan Thian lalu
mencari suatu pelosok yang lebih bersih untuk dudukduduk
dan beristirahat sehingga hari sudah menjadi
terang tanah di hari esoknya.
Begitulah pada malam itu Poan Thian telah menjemur
pakaiannya yang basah di sekitar meja-meja dan kursikursi
rusak yang masih terdapat reruntuknya di kelenteng
itu. Dan tatkala ini semua telah selesai dilakukan, barulah
ia duduk bersemedi untuk meringankan rasa letih dan
dingin yang telah dialami selama melalui hujan yang
lebat itu.
Di sini perlu diterangkan, bahwa Poan Thian biasa
bersemedi dalam keadaan telanjang bulat. Tidak perduli
di musim dingin atau panas.
391
Dalam pada itu siliran angin dan kilat yang diseling
dengan suara guntur, telah membikin Poan Thian lebih
anteng bersemedinya, sehingga pada waktu ia selesai
tepekur, tahu-tahu pakaiannya telah..... lenyap entah
kemana perginya!
Dan sebagai gantinya dari pada pakaian yang telah
hilang itu, di situ tampak sepotong kertas yang di atasnya
terdapat tulisan yang rupanya telah diperbuat orang
dengan mempergunakan arang. Bunyinya tulisan itu
adalah sebagai berikut:
Lie Poan Thian!
Janganlah kau menganggap bahwa di kolong langit
ini hanyalah kau sendiri saja yang berhak memakai
gelaran SIN-TUI.
Maka jikalau di utara ada satu SIN-TUI, apakah
salahnya jikalau di selatan pun ada yang memakai
juga gelaran begitu?
Aku bukan sirik atau mengiri. Gelaran itu tidak boleh
ada dua-tiga di jagat Tiongkok ini.
Oleh sebab itu, sudilah kiranya kau memberitahukan
di mana kita boleh bertemu akan menetapkan, siapa
salah seorang antara kita yang berhak memakai
gelaran itu?
Tertanda aku.
SIN-TUI-BIE.
Poan Thian yang membaca bunyi surat itu, bukan
saja tidak menjadi gusar atau kecil hati, malah sebaliknya
jadi tertawa bergelak-gelak sambil kemudian berkatakata
seorang diri: „Sungguh edan benar orang itu!
Rupanya dia tidak tahu bahwa gelaran itu bukan dipakai
olehku atas kehendakku sendiri. Dan juga tidak benar
392
jikalau ia beranggapan bahwa aku hendak monopoli
gelaran itu. Apakah artinya segala gelaran kosong?
Tampaknya dia terlalu penasaran, karena aku memakai
gelaran ini. Maka buat mencegah segala kemungkinan
yang akan terjadi karena hasutan-hasutan orang, paling
betul aku jangan ladeni segala urusan tetek bengek
serupa ini.”
Demikianlah, sambil mengakhiri omongannya, Poan
Thian lalu merobek-robek surat itu, kemudian ia buka
pauw-hoknya buat mengambil pakaian keringnya yang
terbungkus dengan bungkusan yang tidak dapat
ditembusi air.
Setelah selesai berpakaian, sang hujan pun sudah
mulai berhenti, tetapi karena memikirkan bahwa
perjalanannya masih jauh dan belum tentu ia
mendapatkan tempat berlindung yang lebih baik dari
pada kelenteng itu, maka ia pikir lebih baik berdiam saja
di situ dahulu, dari pada melanjutkan perjalanannya
dalam suasana musim hujan itu.
Maka setelah membeberkan selembar selimut di atas
jubin Poan Thian lalu merebahkan dirinya, sambil
mendengari...... perutnya yang berkeruyukan menagih
isi......
Lama-lama ia jadi kepulesan juga.
Kira-kira hampir tengah malam, ia telah dibikin kaget
oleh rasa dingin yang telah menyerang pada dirinya
dengan amat tiba-tiba. Buru-buru ia bangun akan
mencari tahu sebab-musabab yang telah membikin ia
tersadar dari tidurnya yang nyenyak itu.
Segala apa tinggal tetap sebagaimana biasa,
kecuali..... selimut yang dibuat hamparan telah hilang
entah kemana perginya!
393
Maka jikalau surat tantangan yang telah diterimanya
tanpa diketahui siapa pengirimnya itu tidak membikin ia
jadi gusar atau kecil hati, adalah pada kali ini ia jadi
terbengong sehingga beberapa saat lamanya, tak dapat
menduga siapa kiranya orang yang telah menggoda
kepadanya itu!
Kemudian ia bangun berdiri sambil menoleh ke kirikanan.
Oleh karena awan-awan yang tebal telah tersapu
oleh angin yang menderu-deru di angkasa, maka sang
rembulan sabit pun segera terlihat sinarnya yang
remang-remang menjoroti muka bumi ini.
Dalam pada itu Lie Poan Thian yang merasa sangat
gegetun dengan peristiwa yang barusan terjadi, lalu coba
berjalan ke sekitar kelenteng itu buat coba memeriksa,
kalau-kalau ia nanti dapat menyelidiki siapa dan dari
mana datangnya orang yang telah menggoda padanya
itu, yang ternyata mempunyai kepandaian yang jauh
lebih tinggi dari pada apa yang diketahui olehnya sendiri.
„Dia mempunyai ilmu kepandaian yang begitu tinggi
dan bagus,” pikir pemuda kita di dalam hatinya, „dari itu,
ada apakah kesukarannya, jikalau dia benar seorang
jahat, akan mengambil kepalaku selagi aku tidur
nyenyak? Aku berkeyakinan bahwa dia itu bukan orang
jahat. Tetapi apakah maksudnya dia menggoda begini
kepadaku? Hal ini aku sesungguhnya tidak bisa mengerti
dan belum mau sudah dengan begitu saja, apabila
perkara gelap ini belum dapat dibikin terang!”
Begitulah sambil berjalan kian-kemari, pemuda kita
telah menyelidiki segala sesuatu ke sekeliling pelosokpelosok
di dalam kelenteng itu, tetapi segala
percobaannya ternyata sia-sia saja. Ia sama sekali tidak
dapat mencari bekas atau apa-apa yang dapat
memudahkan penyelidikannya.
394
Maka setelah merasa bo-hwat buat melanjutkan
penyelidikan itu, Poan Thian lalu kembali ke tempat
mana ia menaruh pauw-hoknya tadi.
Tetapi, dalam kekagetan dan keheranannya, ternyata
pauw-hok itupun telah terbang entah kemana perginya!
Sekarang Poan Thian jadi mendongkol betul-betul
dan lantas sesumbar dengan suara keras, katanya: „Hei,
sahabat! Engkau dan aku tidak pernah terbit permusuhan
apa-apa, tetapi kelihatannya engkau terlalu penasaran
karena aku mempunyai gelaran SIN-TUI. Tetapi,
ketahuilah olehmu, bahwa gelaran ini bukanlah aku yang
ciptakan sendiri, juga bukan aku yang memintanya pada
para sahabat dan handai taulan di kalangan Kang-ouw.
Maka apabila gelaran itu ada begitu mentereng sehingga
itu sedemikian berharganya untuk diperebuti, biarlah aku
serahkan itu kepadamu dengan baik, asalkan engkau
suka mengunjukkan rupamu dan minta itu dengan baik
juga kepadaku. Buat apakah mesti berlaku sembunyi dan
menggoda orang begini rupa?”
Tetapi selanjutnya tidak terdengar pula barang satu
suarapun, yang meladeni panggilan pemuda itu,
selainnya gema yang keluar dari dalam kelenteng yang
rusak dan mengirim suara itu balik kepadanya.
Poan Thian yang merasa bahwa urusan ini tidak
boleh disudahi sampai di situ saja, maka lalu dimulailah
menengadah kian kemari buat coba memperhatikan,
kalau-kalau nanti ia dapat ketemukan orang yang
menggodanya dan bersembunyi di bagian kelenteng itu.
Tetapi ternyata di sanapun tidak tampak tanda apaapa
yang mengunjukkan, bahwa orang itu berada di situ.
Maka setelah merasa kewalahan dan tak berdaya
pula akan mencari orang yang jail itu, pada malam itu
395
juga ia lantas berangkat melanjutkan perjalanannya ke
kota Kim-leng dengan hati yang bukan main gusar dan
jengkelnya. Karena jikalau ia pertama mampir ke
kelenteng itu dengan menggendong pauw-hok, adalah
sekarang ia telah keluar dari situ dengan tangan kosong.
Tidak membawa pakaian, juga tidak mempunyai uang
barang sesen pun disakunya!
Tatkala hari hampir terang tanah, Poan Thian telah
sampai di sebuah desa yang ia tidak tahu apa namanya,
tetapi penduduknya kelihatannya ada banyak juga.
Karena selain ada kedai-kedai yang sudah mulai buka,
juga ada gedung-gedung yang rupanya dimiliki oleh
petani-petani kaya atau orang-orang hartawan kecil yang
berumah tinggal dalam desa tersebut.
Poan Thian yang melihat kedai arak dan makanan
yang baru membuka pintu itu, sudah tentu saja membikin
ia semakin mengiler akan mencicipi arak dan makanan
yang semenjak kemarin tidak melalui tenggorokannya.
Tetapi karena mengingat bahwa ia tidak punya uang,
maka apa boleh buat ia berjalan terus dengan tidak coba
menoleh lama-lama pada kedai itu.
Tidak disangka ada seseorang yang dengan tiba-tiba
memanggil-manggil kepadanya sambil berkata: „Tuan,
apakah engkau ini bukan seorang perjalanan yang telah
kehilangan pauw-hok dan pakaian di kelenteng rusak?”
Mendengar panggilan itu, Poan Thian jadi merandek
sesaat lamanya.
Mula-mula ia bercelingukan ke sana-sini, karena
dikuatirkan ia keliru mendengar orang yang memanggil
pada orang lain. Tetapi ketika melihat seorang yang
berdiri di muka kedai itu melambai-lambaikan tangan ke
jurusannya, ia jadi menghampiri dan memberi hormat
396
sambil menanyakan: „Tuan, apakah itu aku ini yang
engkau teriakan tadi?”
„Ya, benar,” sahut orang itu. „Barusan ada seorang
yang lalu di sini dan memesan pada kami, bahwa jikalau
engkau melewat di sini, supaya tolong terimakan pauwhok
dan pakaian yang dititipkannya di sini.”
Sambil berkata begitu, orang itu yang ternyata bukan
lain dari pada pemilik kedai tersebut, lalu keluarkan
sebuah pauw-hok dan pakaian yang masih agak demak
dan dibungkus dengan menggunakan selimut.
Poan Thian jadi terperanjat, hingga sejenak ia
kemekmek dan tidak tahu mesti bicara bagaimana di saat
itu.
„Apakah barangkali tuan kenal siapa orangnya yang
telah menitipkan pauw-hok ini kepadamu?” akhirakhirnya
Poan Thian bertanya.
Tetapi pemilik kedai itu lantas menjawab: .,Tidak
kenal.” Hingga Poan Thian pun tidak bisa mendesak
lebih jauh, selain meminta sedikit keterangan tentang
roman, usia dan pakaiannya orang itu. Kemudian
kemanakah arah yang ditujunya?
„Orang itu masih muda sekali,” sahut pemilik kedai,
„usianya barangkali belum cukup dua puluh tahun.
Potongan badannya tegap dan kulitnya putih kuning. Ia
berpakaian baju biru dengan banyak kancingnya,
menyoren pedang dan menggendong pauw-hok di atas
punggungnya.”
Dan tatkala pemilik kedai itu mengunjukkan arah
yang ditujunya, Poan Thian jadi bercekat hatinya dan
berkata sendiri: ,,Hei, apakah dia juga hendak menuju ke
kota Kim-leng? Siapakah dia ini......? Ah, orang-orang
397
gagah di dunia ini sesungguhnya juga tidak sedikit
jumlahnya!”
Sehingga pemilik kedai mempersilahkan dia duduk,
barulah Poan Thian „tersadar” dari bengongnya.
Lalu ia mengucap banyak terima kasih dan lantas
duduk, dan tidak antara lama seorang pelayan telah
membawakan air teh yang masih panas.
„Menurut keterangan pemuda tadi,” si pemilik kedai
melanjutkan omongannya, „tuan telah semalaman tidak
makan atau minum karena dirintangi oleh hujan lebat.
Oleh karena itu, barusan ia telah memesan beberapa
rupa barang makanan untuk tuan, yang harganya telah
dibayar tunai olehnya. Maka jikalau tuan sudi menantikan
beberapa saat lamanya, aku percaya hidangan-hidangan
itu tentu sudah selesai di masak dan tersedia untuk tuan
dahar.”
Mendengar omongan begitu, Poan Thian jadi
semakin tidak mengerti, apa maksud pemuda yang tidak
dikenal itu. Tetapi buat tidak menerbitkan kecurigaan si
pemilik kedai, Poan Thian hanya menanyakan: „Apakah
selain ini, pemuda itu tidak memesan apa-apa pula
kepadamu?”
,,Tidak,” sahut pemilik kedai itu.
Pemuda kita tidak melanjutkan pula pertanyaanpertanyaannya,
tetapi di dalam hatinya ia tetap
memikirkan persoalan yang merupakan cangkriman sulit
ini.
„Siapakah dia itu? Ditinjau sambil lalu, surat yang
ditinggalkannya itu seakan-akan orang yang penasaran
dan menantang kepadaku, tetapi buktinya ia berlaku
cukup baik hati kepadaku. Apakah maksudnya ini
398
semua? Apakah barangkali ia hendak mempamerkan
kepandaiannya semata-mata, atau memperingati
kepadaku atas hal apa-apa yang telah diperbuat olehku
dengan secara keliru di luar pengetahuanku?”
4.25. Siapa Sin-tui Bie?!
Poan Thian berkutet buat mengajukan pertanyaan
dan jawaban kepada dirinya sendiri, yang hasilnya,
sudah barang tentu, tinggal tetap begitu-begitu juga.
Maka setelah hidangan telah disajikan berikut
araknya yang sudah dibikin hangat terlebih dahulu, Poan
Thian lalu ke sampingkan segala kesulitan itu dan lalu
mulai duduk dahar „untuk menunaikan” rasa lapar yang
ia telah alami di hari kemarin.
Tetapi, ketika ia melihat hidangan-hidangan yang
disajikan itu, kembali ia menjadi terperanjat, karena
hampir semua hidangan itu terdiri dari sayuran-sayuran
yang olehnya sangat digemari, orang itu bukan asing lagi
bagi dirinya. Maka jikalau ini bukannya dilakukan oleh
seorang yang kenal baik dirinya dan tahu benar tentang
kegemarannya dalam soal makanan, niscaya hal ini tidak
dapat dilakukan dengan cara yang begitu sempurna.
Tetapi ia sungguh tidak bisa mengerti, apakah sebabnya
orang itu tidak mau mengunjukkan rupa kepadanya?
Juga, siapakah sebenarnya dia itu?
„Ia kelihatan lebih senang menggoda dari pada
menjumpai aku,” pikir Lie Poan Thian di dalam hatinya.
„Apakah di dalam hal ini, ada terselip rahasia apa-apa
yang sulit sehingga ia memilih jalan begini untuk
keselamatan kita berdua pihak?”
Begitulah sambil duduk dahar, Poan Thian memikiri
399
hal itu dengan tidak sudah-sudahnya.
Sehabis dahar, barulah ia melanjutkan pula
perjalanannya ke kota Kim-leng.
Pada suatu hari setibanya di kota tersebut, ia coba
menanyakan dimana tempat kediamannya Cin Kong
Houw pada beberapa orang piauw-khek yang kebetulan
berpapasan di jalan raya.
Oleh karena nama Kong Houw memang tidak asing
lagi di kota tersebut, maka Poan Thian tidak sukar akan
mencari sang kawan itu.
Lalu ia mampir ke kantor Siang-hap Piauwkiok,
dimana ia telah disambut oleh Lauw An dengan wajah
yang berseri-seri.
„Tuan Lie,” katanya, „Cin Lo-pan pasti merasa girang
sekali atas kedatanganmu ini. Marilah engkau ikut aku
buat menjumpainya.”
Poan Thian mengangguk sambil tersenyum,
kemudian ia menanyakan tentang keselamatannya sang
kawan itu.
„Ia sekarang sudah hampir sembuh sama sekali dari
luka-lukanya,” kata Lauw An. „Apakah barangkali tuan
Lie juga telah ketahui, tentang peristiwa celaka yang
belum lama telah dialaminya itu?”
„Ya,” sahut Lie Poan Thian, „dan justru urusan itulah
yang telah menyurung aku berkunjung ke sini.”
Dan tatkala Liu Sian kedengaran berkata: „Lie Congsu
datang! Lie Cong-su datang!”
Kong Houw yang sedang tidur nyenyak jadi terkesiap
dan lantas bangun dan bertanya: „Dimana? Ia dimana?”
Ia belum keburu berbangkit dari pembaringan, ketika
400
Poan Thian berjalan masuk dengan diiringi oleh Liu Sian.
Kong Houw rasanya kepingin menangis bahna
kegirangan. Karena selain memang sudah kangen tidak
bertemu sekian lamanya, iapun bisa mendapat juga
bantuannya Lie Poan Thian dalam hal berurusan dengan
Ca Tiauw Cin, walaupun ia sendiri belum suka menyerah
dengan cabang atas Ca-kee-chung yang curang itu.
Maka dengan diapit oleh Liu Sian dan Kong Houw di
kiri kanan, Poan Thian duduk di tepi ranjang, sambil
menjabat tangan kedua orang itu.
„Semenjak kita berpisahan di kelenteng Giok-hunam,”
katanya, „sehingga sekarang telah berselang
beberapa tahun lamanya dengan tidak terasa pula.
Tetapi belum tahu bagaimanakah dengan perusahaan
pengangkutanmu di sini? Apakah itu kiranya
menguntungkan juga?”
„Ya,” kata Kong Houw sambil menghela napas.
„Jikalau mau dikatakan menguntungkan, itulah memang
juga benar demikian. Tetapi disamping keuntungan itu,
orang harus jangan lupa juga dengan rasa mengiri yang
keluar dari pihak sesama pengusaha pengangkutan yang
berhati dengki. Karena jikalau mereka tak mampu
mengganggu dengan secara berterang, mereka lalu
mengganggu pada kita dengan bergelap atau meminjam
tangannya orang lain. Demikian juga telah terjadi dengan
diriku, sehingga aku timbul perasaan segan buat
melanjutkan perusahaan ini. Apakah barangkali kau
belum tahu tentang terjadinya suatu peristiwa celaka
yang belum lama telah menimpa atas diriku?”
„Ya,” sahut Poan Thian, „dan justeru itulah yang telah
menyurung aku datang ke sini. Oleh sebab itu, sudikah
kiranya engkau menuturkan padaku tentang duduknya
401
perkara ini, sehingga dengan begitu, aku ketahui juga
bagaimana aku harus perlakukan si jahanam she Ca
itu?”
„Aku dan orang she Ca itu sebenarnya belum pernah
kenal atau mempunyai perhubungan apa-apa,”
menerangkan Cin Kong Houw. „Yang menjadi sebab
mengapa ia telah mencari setori dengan jalan mencuri
bendera lambangku, adalah karena ia telah disuap oleh
seorang pengusaha angkutan lain yang merasa iri hati
atas kemajuan kita di kalangan ini. Orang itu aku boleh
tidak usah sebutkan namanya, karena aku sendiripun
sudah cukup akan membikin ia tidak berani mengangkat
kepala.
„Mula-mula ia telah sengaja mengirim dua orang
piauw-sunya buat „mencari lantaran” denganku di
jembatan Hian-bu-kio, tetapi keduanya telah kabur pada
sebelum pertempuran itu berakhir. Dan itulah ada dari
anjuran kedua orang ini, yang si pengusaha piauw-kiok
itu telah ,menyuruh” Ca Tiauw Cin buat membikin malu
kepadaku di hadapan umum. Ia telah melakukan
penyerangan gelap dengan menggunakan pukulan Thiatsee-
ciang, yang sebenarnya dijujukan ke arah embunembunanku,
tetapi syukur juga pukulan itu meleset.
Kalau tidak, niscaya siang-siang aku sudah menjadi
mayat karena kecurangan itu.
„Apakah hal itu tidak membikin aku jadi sangat
penasaran dan mendongkol? Dalam pertempuran
memang sudah sejamaknya, jikalau sampai mengalami
luka, tetapi akan mendapat luka dalam cara ini,
sesungguhnya aku tidak bisa terima dan kubelum mau
sudah, jikalau aku belum dapat membalasnya dengan
sama hebatnya!”
„Kalau begitu,” kata Lie Poan Thian, „aku ada suatu
402
akal yang akan membikin ia kapok akan bermusuh
dengan kau, kalau tidak mampu kubikin ia bertobat.”
„Tetapi bagaimanakah Lie Lauw-hia hendak atur akal
itu?” Kong Houw bertanya.
„Nanti hari esok atau lusa aku akan berangkat ke Cakee-
chung buat lantas mengatur akalku ini,” kata Lie
Poan Thian dengan sikap yang sungguh-sungguh.
„Dalam hal ini kamu tidak usah menanyakan dahulu dari
di muka. Kamu di sini boleh dengarkan saja kabar apa
yang nanti tersiar di luaran, karena aku sendiripun dapat
memastikan siapa di antara Ca Tiauw Cin dan aku yang
lebih unggul.”
Kong Houw yang mendengar omongan itu, lalu
berbayanglah suatu khayalan yang seolah-olah
menggambarkan suatu pertempuran mati-matian antara
musuh dan sahabatnya yang tercinta ini, yang jikalau
belum ada salah seorang yang mati atau menyerah, ia
percaya bahwa pertempuran itu akan belum dapat
disudahi dengan begitu saja.
„Kalau begitu,” kata Kong Houw pada akhirnya, „baik
aku saja yang berjalan di muka, sedangkan kau boleh
mengiringi padaku.”
„Itu tidak perlu,” kata pemuda kita, „kau tidak perlu
merintangi buat menggagalkan siasat yang aku telah atur
ini!”
„Lukaku sekarang boleh dikatakan telah sembuh
sama sekali,” kata Cin Kong Houw.
„Ya, itu aku tahu,” Poan Thian memotong
pembicaraan sahabatnya, „tetapi itu belum berarti bahwa
kau sudah cukup kuat untuk memasuki gelanggang
pertempuran. Aku bukan menganggap kau takut pada Ca
403
Tiauw Cin, malahan kemungkinan akan kau menang
dalam pertempuran pun memang bukan mustahil, kalau
saja orang she Ca itu suka bertempur dengan secara
jujur. Dan itulah ada karena kecurangannya ini, yang
telah bikin aku sangat penasaran dan ingin mencoba
sampai dimana kelihayannya.”
Kong Houw dan Liu Sian yang mendengar omongan
itu, mau tak mau harus mengakui juga kebenarannya
omongan sahabat mereka itu.
Kemudian Liu Sian perintah koki buat menyajikan
satu meja perjamuan untuk menjamu pada Lie Poan
Thian.
◄Y►
Selama duduk makan minum dengan ditemani oleh
Cin Kong Houw dan isterinya, mendadak Poan Thian
teringat pula pada peristiwa yang terjadi di kelenteng
rusak itu, dimana ia telah ditantang oleh seorang yang
mengaku bernama Sin-tui Bie, tetapi tidak kenal siapa
dan dimana tempat kediamannya. Maka karena
mengingat bahwa pergaulan Kong Houw di kalangan
Kang-ouw begitu luas, ia jadi percaya, kalau-kalau
sahabat ini tentu kenal dengan nama itu. Tetapi buat
membikin suasana kelihatan tenang. Poan Thian sama
sekali tidak mengatakan apa-apa tentang peristiswaperistiwa
yang dialaminya di kelenteng rusak sehingga ia
mendapat kembali pauw-hoknya yang hilang itu.
Ia hanya menanyakan pada Kong Houw demikian:
„Di daerah Kang-lam ini sudah lama aku mendengar
namanya seorang gagah yang disebut Sin-tui Bie.”
katanya, „tetapi belum tahu apakah Cin Lauw-hia kenal
404
baik dan mempunyai perhubungan apa-apa dengan dia
itu?”
„Nama itu rasanya akupun pernah dengar juga,”
sahut Kong Houw. „Ia itu ada seorang jago tua yang
sekarang telah mengundurkan diri dari kalangan Kangouw
dan menuntut penghidupan sebagai toosu di
kelenteng Ceng-hie-koan di kota ini. Belum tahu dari
mana Lie Lauw-hia mendapat dengar nama orang tua
itu? Juga engkau ada hubungan apakah dengan dia.
itu?”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Asmara Guru dewasa : Si KS 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments