Cerita Roman Picisan Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Roman Picisan Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3
Baca JUga:
Cerita Roman Picisan Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3

“Si pengemis tua sengaja menerjunkan diri ke dunia Kangouw untuk kedua kalinya,
karena mendengar gerak-gerik Cian bin mo-ong yang sudah keterlaluan. Itulah sebabnya,
si pengemis tua tiba-tiba muncul di Lok Yang. Dalam beberapa hari ini, tidak terdengar
berita si iblis seribu wajah itu, malah perasaan si pengemis tua semakin khawatir.
Sekarang karena terdesak oleh keadaan, hati si pengemis tua malah dibebani persoalan
yang lain…”
Diam-diam Tan Ki merasa geli.
‘Cian bin mo-ong justru ada di hadapan kau, si pengemis sakti. Sayangnya
pandanganmu kurang tajam sehingga tidak mengenali…’ katanya dalam hati.
Meskipun hatinya berpikir demikian, tetapi wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan
apapun.
“Apa persoalan yang lainnya itu?” tanyanya tenang.
“Ya, urusan Oey Kang itulah. Orang ini mempunyai berbagai macam kepandaian.
Ilmunya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Bukan si pengemis sakti memujinya,
kalau suruh si pengemis tua bertarung dengannya tiga hari tiga malam juga tidak menjadi
persoalan, tetapi dia mempunyai keahlian dalam senjata rahasia. Itulah yang membuat
kepala si pengemis tua menjadi pusing tujuh keliling. Sekali bergebrak, senjata rahasianya
langsung disambitkan ke mana-mana. Hebatnya, pukulan maupun totokan jarinya tidak
berhenti melancarkan serangan. Hal ini membuat orang yang diserangnya tidak dapat
menduga-duga atau mengadakan persiapan sebelumnya. Walaupun dapat meloloskan diri
dari tiga batang pisaunya, atau sembilan keping uang logam emas, tetap sulit menghindar
dari dua puluh tujuh jarum beracunnya. Malah pernah dengar orang mengatakan, sejak
berhasil melatih ilmu tersebut, dia tidak pernah melancarkan ketiganya sekaligus.”
Tan Ki seperti kurang percaya.
“Benarkah sampai sedemikian hebat ilmunya?”
“Benar atau tidaknya, asal sudah dicobakan bisa ketahuan. Kita juga sudah boleh
berangkat. Kalau sampai terlambat mengikuti pertemuan, mungkin akhirnya bisa menyesal
seumur hidup.”
Orangtua itu segera berdiri kemudian menepis-nepis pantatnya yang kotor.
Tan Ki tertawa lebar.
“Dengan adanya bantuan dari Locianpwe, kekuatan para pendekar menjadi berlipat
ganda.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembari berkata, kedua orang itu segera mengerahkan ilmu ginkangnya. Secepat kilat
mereka berlari. Tampak dua baris pepohonan yang ada di kiri dan kanan seakan bergerak
mundur dengan pesat. Angin terus menimbulkan suara dengungan di telinga.
Pada saat sedang berlari itulah, tiba-tiba terdengar Cian Cong berkata:
“Ulurkan tanganmu ke mari!”
Tan Ki segera mengikuti perkataannya dengan mengulurkan tangan kanan.
Dibiarkannya Cian Cong menggandeng tangannya itu meskipun dia tidak mengerti maksud
si pengemis sakti tersebut. Namun langkah kaki keduanya tidak berhenti, mereka terus
berlari ke depan. Mendadak dia merasa ada segulungan hawa panas mengalir dari telapak
tangan orangtua itu yang mendorong masuk lewat tangannya lalu menyusup ke dalam
dada serta isi perutnya.
Aliran hawa panas ini kuat sekali, setingkat demi setingkat, segulung demi segulung,
terus mendesak ke dalam. Setingkat demi setingkat bertambah panas, segulung demi
segulung bertambah cepat. Seluruh anggota tubuh terasa hangat, ada semacam
kenyamanan yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Tanpa dapat ditahan lagi, keringat
segera membasahi seluruh tubuh Tan Ki. Pikiran seakan menjadi lebih terang, nafaspun
lebih teratur, luka yang dideritanya pun sudah pulih sebagian besar.
Rasa terkejut serta gembira bercampur aduk dalam hatinya. Orangtua ini mempunyai
watak yang aneh. Kalau bicara selalu ceplas-ceplos yang mana sering membuat orang
menjadi jengah dan serba salah. Tapi setiap tindak-tanduknya, tidak ada satupun yang
tidak membuat orang menjadi kagum. Bahkan terhadap seseorang yang tidak ada
hubungannya seperti aku ini, dia juga tidak sayang menyalurkan hawa murninya guna
membantuku menyembuhkan luka dalam. Tindakan yang demikian bijak dan berhati
mulia, di dunia ini masih ada berapa orang yang bersedia melakukannya? Gerakan kakinya
tetap tidak berhenti, sembari berlari dia sanggup menyalurkan hawa murni dengan lancar
menerobos seluruh tubuh. Hal ini membuktikan bahwa ilmu orangtua ini telah mencapai
taraf yang tidak terkira tingginya.
Begitu pikirannya tergerak, dalam hati Tan Ki pun timbul rasa hormat kepada si
pengemis sakti tersebut. Tanpa sadar dia menolehkan kepalanya melirik Cian Cong
beberapa kali. Di wajahnya tersirat perasaan terima kasih serta haru yang tidak
terkatakan.
Cara lari kedua orang itu demikian ringan dan cepat. Tidak berapa lama kemudian,
mereka sudah sampai di sebuah hutan yang lebat sekali. Sampai di tempat ini, mendadak
Cian Cong menghentikan langkah kakinya. Matanya menatap ke arah papan peringatan
yang bertuliskan: ‘Sebelum masuk wilayah ini, urus dulu masalah penguburan.’ Cian Cong
langsung tertawa dingin, dia menolehkan kepalanya dan berkata:
“Kau tunggu di sini, si pengemis tua ingin masuk ke dalam dan meninjau sebetulnya
ada persiapan apa yang mengejutkan orang.”
Tan Ki tahu orangtua itu merasa sayang kepadanya, dia tidak ingin dirinya terjerumus
dalam bahaya, tetapi karena hatinya merasa kagum serta hormat kepada orangtua ini,
tanpa sadar diapun mengkhawatirkan keselamatannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Locianpwe hendak masuk ke sarang harimau, mana boleh Boanpwe ketinggalan. Kalau
memang mau meninjau, biar kita tinjau sama-sama, hidup atau mati kita jalani bersama.
Untung rugi kita bagi rata.”
Mendengar ucapannya yang gagah, Cian Cong langsung tersenyum simpul. Dia segera
menganggukkan kepalanya.
“Boleh juga, kalau si pengemis tua sampai pulang ke rumah kakek moyang, toh jadi
tidak kesepian karena ada yang menemani.”
Selesai berkata, dia langsung mendahului masuk ke dalam hutan tersebut.
Sejak mendapat saluran hawa murni dari si pengemis sakti, luka Tan Ki sudah hampir
pulih. Hanya saja dalam beberapa hari ini dia terus dikecewakan masalah cinta kasih, jadi
tekanan bathinnya yang agak parah itu masih terasa. Melihat Cian Cong sudah mendahului
masuk ke dalam hutan, dia segera menghimpun hawa murninya guna melindungi tubuh.
Kakinya langsung berlari mengejar Cian Cong.
Baru saja sebelah kakinya menginjak ke dalam hutan, tiba-tiba matanya terasa
berkunang-kunang. Keadaan langsung berubah. Tampak di depan belakang kiri maupun
kanannya semua merupakan pepohonan. Dirinya bagai terkepung. Dia mempertajam
penglihatannya memperhatikan, tetapi dirinya malah seperti berada di lautan luas yang
tidak terlihat tepiannya. Dia juga tidak berhasil menemukan arah dari mana dia masuk
tadi.
Saat itu, tengah hari belum lagi tiba. Matahari bersinar cerah. Tetapi diri Tan Ki yang
terperangkap dalam hutan itu malah tidak dapat melihat sinar sedikitpun. Cahaya matahari
yang terik itu seakan diselimuti oleh dedaunan serta pohon-pohon yang lebat sehingga
tidak dapat menerobos sedikitpun. Meskipun biasanya nyali Tan Ki sangat besar,
menghadapi situasi seperti ini, diam-diam hatinya tercekat juga. Perubahan ini memang
terlalu aneh.
‘Ketika berdiri di luar, tampaknya hutan ini tidak ada kelainan apa-apa. Mengapa begitu
masuk ke dalam, semuanya jadi berubah? Kecuali tempat di mana aku berdiri, di manamana
yang terlihat hanya bayangan pepohonan, bahkan sedikit tempat yang kosongpun
tidak terlihat.’ pikirnya dalam hati.
Pada saat pikirannya dilanda kebingungan itulah, tiba-tiba terdengar Cian Cong
mendengus dingin. Tan Ki segera mengalihkan pandangannya. Tampak mimik wajah
orangtua itu kelam sekali. Mulutnya terus bergerak-gerak, seakan sedang menghitung
sesuatu. Oleh karena itu, Tan Ki hanya berdiri di belakangnya tanpa berani menganggu
pikiran si pengemis sakti.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, di wajah Cian Cong yang tadinya kelam
mulai merekah seulas senyuman.
“Si maling tua Oey Kang itu ternyata memang bukan tokoh sembarangan. Dia sanggup
menggabung perubahan Pat Kua dan Kiu
Kong sehingga pengaruhnya lebih kuat. Hampir saja si pengemis tua tertipu olehnya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba dia menghimpun hawa murninya, kaki kiri digerakkan perlahan-lahan seakan
takut ada jebakan yang terpasang di hadapannya. Dengan hati-hati orangtua itu maju
setengah langkah, orangnya pun segera membelok di balik sebatang pohon.
Tan Ki sadar dirinya tidak mengerti unsur langkah seperti Pat Kua maupun Kiu Kong.
Biasanya perubahan unsur-unsur ini memang ajaib sekali. Dia takut kehilangan jejak Cian
Cong, maka dari itu, cepat-cepat dia menyusul dari belakang. Langkah kaki Cian Cong
baru saja berhenti, Tan Ki sudah sampai di belakangnya.
Cian Cong menolehkan kepalanya dan tersenyum. Kemudian dia melangkah ke dalam
sejauh sembilan tindak. Setelah itu menggeser ke kanan sejauh empat tindak. Tan Ki terus
mengikuti dengan ketat, ternyata memang tidak terdapat halangan apapun. Dalam waktu
yang singkat, mereka sudah masuk sejauh lima enam puluh depa, hati Tan Ki diam-diam
menghitung. Dia tahu apabila mereka melangkah beberapa tindak lagi, mereka segera
dapat menerobos keluar dari bayangan pepohonan yang menyeramkan itu. Tanpa terasa
hatinya menjadi gembira. Perasaan hormatnya kepada Cian Cong semakin bertambah.
Pikirannya melayang-layang, tetapi sebetulnya hanya sekejap mata. Tiba-tiba terdengar
suara keluhan dari mulut Cian Cong. Langkah kakinya mendadak terhenti. Wajahnya
menyiratkan rasa terkejut serta penasaran.
Tan Ki jadi tertegun. Baru saja dia ingin bertanya, sudah terdengar Cian Cong menarik
nafas panjang.
“Tadinya pengemis tua mengira bahwa barisan pepohonan ini hanya merupakan
gabungan dari unsur Pat Kua dan Kiu Kong, tidak tahunya masih banyak unsur lainnya
yang terdapat di dalamnya. Malah Im dan Yang dapat diputar balikkan sehingga arahnya
menjadi berubah…”
Tan Ki terkejut sekali.
“Apa? Jadi kita sudah tersesat dan tidak dapat keluar lagi?”
Wajah Cian Cong berubah kelam kembali.
“Walaupun belum sampai tersesat, tetapi babak kali ini, si pengemis tua rela mengaku
kalah. Memang sulit untuk keluar dari barisan pepohonan ini.”
Tan Ki tersenyum simpul.
“Seseorang salah menduga, merupakan hal yang wajar. Kita bisa mundur kembali ke
tempat semula dan mulai lagi dari awal.” katanya menghibur.
Cian Cong tidak berkata apa-apa. Dia hanya menarik tangan Tan Ki dan mengajaknya
kembali ke tempat semula. Setelah berputar ke kiri dan membelok ke kanan beberapa kali,
akhirnya mereka sampai di luar hutan.
Tan Ki melihat mimik wajah Cian Cong jauh berbeda dengan biasanya. Kali ini sungguh
tidak enak dipandang. Hatinya jadi sedih. Dia tetap membungkam seribu bahasa. Perlu di
ketahui, seorang tokoh Bulim, apabila namanya menjulang semakin tinggi, maka ia akan
memandang harga dirinya semakin tinggi juga. Si pengemis tua ini merupakan salah satu
dari dua tokoh sakti di dunia Kangouw. Nama besarnya sudah menggemparkan dunia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
persilatan. Tapi justru dia terkurung di dalam barisan pepohonan ini dalam waktu yang
dibilang lama juga tidak, tapi sebentar juga tidak. Tentu saja dia merasa malu sekali.
Padahal dia orang yang optimis dan selalu berpandangan luas, tetapi kali ini mau tidak
mau menelan seluruh kekesalan hatinya dalam-dalam.
Sementara itu, di sekeliling mereka kembali terkepung pepohonan dalam jumlah yang
tidak terhitung. Angin lembut berhembus. Pikiran yang tegangpun seakan ikut terbang
seiring dengan tiupan angin tersebut. Tetapi wajah Cian Cong masih murung seperti tadi.
Keriangannya di waktu kemarin-kemarin seolah lenyap entah ke mana.
Mata Tan Ki segera beredar, tiba-tiba dari bagian depan terlihat belasan orang sedang
berlari dengan tergesa-gesa ke arah mereka. Gerakan setiap orang itu seperti burung
camar yang terbang melayang. Jarak yang masih empat puluh depaan, dalam sekejap
mata, tahu-tahu sudah ada di hadapan mereka.
Orang yang paling depan, mungkin yang bertindak sebagai pemimpin, merupakan
seorang pemuda berwajah tampan. Alisnya bagus matanya bersinar terang. Tampaknya
dia melihat Cian Cong dan Tan Ki berjalan keluar dari hutan maka merasa di luar dugaan
sehingga terkejut sekali. Langkah kakinya pun otomatis terhenti. Dia memperhatikan
kedua orang itu dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Dari mulutnya terdengar suara
keluhan yang lirih. Kemudian dia merangkapkan sepasang kepalan tangannya menjura
dalam-dalam.
“Yang ini mungkin ’si lengan koyak’ Cian Cong Locianpwe yang namanya sudah menggetarkan
dunia Kangouw?”
Cian Cong mengeluarkan suara dengusan dari hidungnya.
“Baju rombeng milik si pengemis tua ini, lengannya memang sudah koyak sebagian. Ini
merupakan lambang gelar si pengemis tua.”
Anak muda itu tersenyum lembut. Tiba-tiba sepasang alisnya mengerut di atas.
Matanya beralih kepada Tan Ki.
“Kenapa kau kembali lagi?”
Tan Ki yang mendengar nada suaranya serasa tidak asing. Hatinya jadi tergerak. Dia
segera maju dua langkah dan menjura dalam-dalam.
“Apakah Saudara ini yang bersembunyi di dalam hutan dan memberikan obat
penyembuh luka kepadaku?”
Alis anak muda itu bergerak-gerak. Dia seakan ingin mengatakan sesuatu namun
seperti ada suatu ingatan yang melintas di benaknya. Tiba-tiba dia mengibaskan ujung
pakaiannya dan melesat ke tengah udara. Dalam dua kali loncatan saja, tahu-tahu
orangnya sudah berada dalam jarak dua depaan.
Melihat keadaan itu, Tan Ki jadi termangu-mangu. Hatinya sedang berpikir mengapa
anak muda itu tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa, dalam waktu yang bersamaan,
telinganya menangkap suara panggilan ‘Locianpwe…! Locianpwe!’ sebanyak beberapa kali
berturut-turut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kepalanya segera menoleh untuk melihat apa yang telah terjadi. Entah sejak kapan Bu
Ti Sin Kiam Liu Seng, Ciong San Suang-siu, Kok Hua-hong beserta delapan orang lainnya
yang tidak dikenal oleh Tan Ki sedang mengerumuni Cian Cong.
Melihat kehadiran Liu Seng, tanpa dapat ditahan lagi hawa amarah dalam hati Tan Ki
meluap seketika. Tubuhnya sampai gemetar melihat musuh yang membunuh ayahnya ada
di depan mata dan apabila dia mengulurkan tangannya saja, tubuh orang itu dapat
tersentuh. Tetapi terasa begitu jauh dan hanya dapat dipandang saja. Begitu bencinya
perasaan Tan Ki terhadap orang yang satu ini, sampai-sampai matanya mendelik lebarlebar.
Dari dalamnya terpancar sinar yang dingin menusuk serta mengandung hawa
pembunuhan yang tebal. Dia menatap Liu Seng lekat-lekat. Seakan setiap waktu dia sudah
siap melancarkan serangan yang mematikan ke arah orang tersebut.
Tan Ki menggunakan berbagai samaran dengan nama Cian bin mo-ong hampir
setengah tahun lamanya. Tapi begitu pandai pemuda itu merahasiakan identitas dirinya.
Orang yang mengetahui masalah ini hanya Liang Fu Yong serta dua Tosu Bu Tong Pai
yang sempat dibiarkan pergi oleh Tan Ki. Bahkan tokoh sakti seperti Cian Cong dan lainlainnya
tidak ada seorangpun yang tahu. Malah mereka melakukan kesalahan berulang kali
dengan menolong jiwa anak muda itu.
“Sebetulnya urusan apa yang membuat kalian mengejar pemuda tadi?” terdengar Cian
Cong bertanya.
Liu Seng segera maju satu langkah lalu menjura dalam-dalam.
“Pemuda tadi adalah anak angkat Oey Kang, yakni Pek I Tay-hiap (Pendekar Baju
Putih) Oey Ku Kiong.”
Cian Cong langsung tertawa dingin mendengar keterangannya.
“Usia semuda itu, memangnya pantas disebut segala Tayhiap?”
Tiba-tiba si gemuk pendek Cu Mei yang merupakan salah satu dari Ciong San Suang-siu
terdengar menukas…
“Dia sendiri yang mengatakan hal ini kepada kita. Itulah sebabnya kita bisa tahu. Aku
pikir, tadinya mungkin dia hanya ingin membanggakan dirinya sendiri agar pandangan kita
terhadap harga dirinya jadi lebih tinggi.”
Mendengar ucapannya, Cian Cong tampak berdiam diri. Seakan ada sesuatu yang
sedang dipikirkan olehnya. Setelah agak lama’ baru dia berkata:
“Pertama kali melihat wajah tampan serta gagah dari pemuda tadi, pikiranku tiba-tiba
teringat seorang sahabat lama yang sudah berpuluh tahun tidak pernah berjumpa lagi.”
dia menarik nafas panjang-panjang. Kemudian dia mengalihkan pokok pembicaraannya.
“Kalian datang ke Pek Hun Ceng untuk menolong orang. Lebih baik kalian pergi sekarang
juga. Si pengemis tua kali ini dibuat bingung sekian lama, rasanya seluruh kegembiraan
sampai kabur jauh-jauh. Diri si pengemis tua pun jadi enggan menemani lama-lama.”
Tiba-tiba dia mengerahkan ginkangnya, dengan kecepatan tinggi dia melesat
meninggalkan tempat itu. Dalam sekejap mata saja, orangnya sudah menghilang dari
pandangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para hadirin tidak tahu kalau hati tokoh tua ini sedang penasaran. Melihat dia tiba-tiba
pergi begitu saja, mereka menjadi tidak mengerti sama sekali. Oleh karena itu, semuanya
saling pandang sekilas kemudian termangu-mangu untuk beberapa saat.
Justru ketika para hadirin masih termangu-mangu itulah, Tan Ki segera menggunakan
kesempatan itu untuk ngeloyor pergi secara diam-diam. Orang-orang yang disekitarnya
merupakan tokoh kelas tinggi di dunia Bulim. Pendengaran mereka tajam sekali. Ternyata
mereka tidak sadar kapan Tan Ki pergi dari tempat tersebut. Kalaupun ada yang melihat,
juga mengira bahwa anak muda itu hendak menyusul Cian Cong, maka tidak ada yang
mengajukan pertanyaan kepadanya.
Sebetulnya, Tan Ki pergi secara diam-diam, tujuannya sama sekali bukan menyusul
Cian Cong. Justru setelah melihat Liu Seng juga hadir di sana, gejolak kebenciannya
membara di dada. Dia ingin memikirkan cara membalas dendam, itulah sebabnya dia
ngeloyor secara diam-diam.
Penderitaan di masa lalu menghasilkan watak yang luar biasa pada dirinya. Tabah,
angkuh dan dingin. Harapan untuk membalas dendam atas kematian ayahnya juga lebih
dalam dari orang lain. Sejak mendapat petunjuk dari Bu Beng Lojin (Orangtua tanpa
nama) serta berhasil mencuri belajar dari kuburan para ketua Ti Cian Pang, keinginan
dalam hatinya semakin bergejolak. Itulah sebabnya, belum sampai setengah tahun dia
terjun ke dunia Kangouw, secara berturut-turut dia telah membunuh dua puluh tujuh
orang pendekar kenamaan.
Dia selalu beranggapan, pada mayat ayahnya terdapat empat puluh delapan jenis
senjata rahasia, dari sini dapat dibuktikan bahwa musuh yang membunuh ayahnya ada
empat puluh delapan orang. Dalam perhitungannya saat ini, sisa musuh ayahnya tinggal
dua puluh satu orang. Nama Liu Seng sangat terkenal. Lagipula dia juga termasuk seorang
pendekar yang gagah serta menjunjung tinggi keadilan. Meskipun dia sudah menggantung
pedangnya sekian tahun, tapi kebesaran namanya tetap tersohor. Sedangkan Hek Hong
Ciam adalah senjata rahasia andalan keluarganya. Ilmu tersebut hanya diwariskan kepada
anak laki-laki dan tidak diwariskan kepada anak perempuan. Justru senjata rahasia
tersebut termasuk salah satu jenis yang membunuh ayahnya. Hal ini pula yang akhirnya
menimbulkan kegemparan di kota Lok Yang.
Sepanjang perjalanan dia terus berpikir, kakinya tidak pernah berhenti melangkah.
Tidak di sadari oleh Tan Ki bahwa dia malah kembali ke jalan semula.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara tawa yang dingin. Kemudian di
susul dengan bentakan dari mulut seorang gadis.
“Berhenti!”
Mendapat bentakan yang tidak terduga-duga ini, hati Tan Ki terkejut sekali.
Lamunannya jadi tersentak. Untuk sesaat dia tidak dapat mengendalikan diri, kakinya
tetap melangkah maju dua tindak baru kemudian terhenti. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuhnya dan memusatkan perhatiannya memandang. Entah sejak kapan, di
belakang punggungnya sudah berdiri seorang gadis berpakaian hitam dengan sebatang
pedang panjang terikat di punggungnya.
Hati Tan Ki langsung tercekat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah nona memanggil aku?”
Gadis berpakaian hitam itu tertawa dingin.
“Di sekitar ini tidak ada orang lainnya, kalau bukan kau yang dipanggil, habis siapa
lagi?”
Diam-diam Tan Ki mengusap keringat yang membasahi keningnya.
‘Perempuan ini sungguh tidak tahu aturan. Ketusnya bukan main. Bahkan tokoh sakti
seperti Cian Cong Locianpwe saja enggan mencari gara-gara dengannya…’ pikirnya dalam
hati.
Meskipun hatinya berpikir demikian, tetapi tampangnya tetap tenang. Dia segera
merang-kapkan sepasang kepalan tangannya dan menjura kepada gadis tersebut.
“Kalau Nona memang memanggil, bolehkah Cayhe tanya untuk urusan apa gerangan?”
Gadis berpakaian hitam itu segera memalingkan wajahnya. Dia mendengus lirih.
“Rupanya kau memang pandai berpura-pura. Tempo hari kau ikut dengan kakekku
pulang ke pondok kami. Kau justru menggunakan kesempatan di saat aku tidak ada untuk
melarikan diri secara diam-diam. Hari ini ke-pergok olehku…”
Semakin dibicarakan hatinya semakin kesal. Tubuhnya sampai gemetaran, Seakan baru
saja mendapat penghinaan yang tidak kepalang pahitnya. Berbicara sampai di situ, dia
tidak sanggup meneruskan lagi.
“Dengan seorang diri berada di daerah pegunungan seperti ini pasti membahayakan
sekali. Apakah kakekmu tidak ikut bersamamu?”
Gadis berpakaian hitam itu tambah jengkel.
“Tidak perlu kau urus masalah ini. Kalau aku sampai mati, hatimu malah merasa
tentram!”
Jantung Tan Ki sampai berdebar-debar mendengar perkataannya.
‘Mulai lagi, adatnya selalu keras kepala serta tidak tahu aturan kalau bicara.’ pikir Tan Ki
dalam hati.
Tiba-tiba, dia seperti teringat sesuatu hal. Sepasang kakinya berjinjit ke atas dan
diedar-kannya pandangannya ke sekeliling tempat itu. Setelah yakin di sana tidak ada
pihak ketiga, hatinya baru merasa tenang.
Memang ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curian dari kuburan para leluhur Ti Ciang
Pang. Dia menimbulkan huru hara di dunia Kangouw, selama ini boleh dibilang tidak ada
yang ditakutinya. Justru terhadap Pangcu Ti Ciang Pang, Lok Hong, dia merasa pusing
tujuh keliling. Setiap kali bertemu, hatinya pasti ketakutan. Sedangkan gadis ini adalah
cucu kesayangan ketua Ti Ciang Pang tersebut. Mencari perkara dengannya sama saja
mencari gara-gara dengan Lok Hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berpikir sampai di situ, hatinya yang sudah agak tenang menjadi gelisah kembali.
Gadis berpakaian hitam itu melihatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun dalam
jangka waktu sekian lama, tanpa terasa hatinya jadi marah kembali.
“Mengapa tidak bicara? Apakah mulutmu tiba-tiba menjadi bisu atau telingamu yang
mendadak budek?”
“Perkataan Nona setiap kali selalu menyindir orang dengan tajam. Hal ini membuat aku
jadi serba salah. Kalau aku diam saja, Nona malah marah kembali. Kalau aku lancang
mengucapkan kata-kata yang salah, hasilnya sama saja.”
Lok Ing menjadi kesal mendengar jawabannya.
“Aku justru ingin kau bicara!” pinggangnya meliuk ke samping, kemudian secara
mendadak menegak kembali. Tangannya diulurkan ke kiri lalu merentang ke depan. Dalam
waktu yang singkat dia sudah melancarkan empat buah pukulan dan satu buah totokan.
Serangan yang gencar ini, kecepatannya tidak terkirakan. Empat buah pukulan
diarahkan ke tempat yang berlainan. Seiring dengan gerakan tubuhnya, serangan yang
dilancarkan gadis itu pun menyerang datang. Pukulannya belum sampai, angin yang
ditimbulkannya sudah menerpa duluan.
Padahal Tan Ki sudah berusaha untuk tidak berurusan dengannya. Melihat kekasaran
gadis itu, tanpa dapat ditahan lagi hawa amarah dalam dadanya jadi meluap. Dia menarik
nafas dalam-dalam. Tiba-tiba kakinya mundur tiga langkah, menunggu gerakan tubuh Lok
Ing hampir mencapai dirinya, sepasang telapak tangannya segera menghantam ke depan.
Tampak bayangan pukulan berkibar-kibar. Angin yang terpancar keluar menderu-deru.
Dalam sekejap mata, dia sudah melancarkan dua belas pukulan secara berturut-turut.
Lok Ing mencibirkan bibirnya sambil tersenyum mengejek.
“Bagus, kau benar-benar ingin berkelahi?”
Dua jari tangannya terjulur keluar. Dengan kecepatan kilat meluncur ke arah urat darah
di bagian pinggang sebelah kiri Tan Ki.
Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit ke atas.
“Sifat Nona sungguh keras kepala. Kalau tidak mengajar adat padamu sekali-sekali,
tentu kau tidak tahu kemarahan dalam hatiku.”
Kegagahannya sebagai seorang laki-laki seakan terbangkit karena kata-katanya yang
di-ucapkannya sendiri. Untuk sesaat dia tidak berpikir panjang lagi. Lengan kirinya
menghimpun tenaga dalam dan menyambut totokan gadis itu. Dalam waktu yang hampir
bersamaan, telapak tangannya terulur keluar melancarkan sebuah pukulan.
Dalam satu jurus dia melakukan dua gerakan. Secara bergantian dikerahkannya, angin
yang kencang segera terpancar keluar serta menimbulkan suara seperti siulan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara keluhan dari mulut Lok Ing. Tubuhnya sempoyongan dan langkah
kakinya tergetar mundur lima tindak. Bibirnya bergerak-gerak, dia seakan sedang
bergumam kepada dirinya sendiri.
“Jurus Bintang-Bintang Berputaran ini baru diajarkan oleh Yaya beberapa hari yang lalu.
Mengapa dia juga bisa?”
Hati Tan Ki jadi tercekat mendengar gu-mamannya. Keringat dingin segera membasahi
seluruh tubuhnya. Gadis ini merupakan cucu kesayangan ketua Ti Ciang Pang, tentu saja
dia dapat melihat ilmu yang kugunakan ini sama dengan yang dipelajarinya:
Dari kuburan para leluhur Ti Ciang Pang, Tan Ki berhasil mempelajari berbagai ilmu.
Kecuali Bu Beng Lojin yang sudah mati itu, tidak ada orang ketiga lagi yang mengetahui
hal ini. Kalau sampai karena kecerobohan sesaat, gadis itu berhasil membongkar
rahasianya, tentu merupakan hal yang gawat bagi Tan Ki.
Hatinya mempertimbangkan bolak balik. Akhirnya dia mengambil keputusan lebih baik
melarikan diri saja. Tiba-tiba telinganya mendengar suara siulan yang panjang.
Kumandangnya menimbulkan gema yang bergaung-gaung. Lok Ing langsung tertawa
lebar.
“Bagus, kakekku sudah datang. Lihat kau bisa kabur ke mana?”
Hati Tan Ki terkesiap mendengar kata-katanya. Saat itu juga dia merasa sukmanya
seperti terbang entah ke mana. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasa takut
menghadapi apapun. Justru terhadap kakek gadis itu, rasa gentarnya tidak terkirakan.
BAGIAN XVI
Justru dalam waktu yang sekejap mata dari kejauhan, berkelebat tubuh seseorang.
Tampak pakaiannya yang berwarna hijau berkibar-kibar. Tampangnya demikian tenang.
Tidak seperti orang yang sedang berlari kencang.
Begitu pandangan mata Tan Ki berhasil melihat orang yang mendatangi itu, hatinya
langsung tercekat. Perasaannya yang tidak tenang semakin menebal. Seumur hidup
memang dia tidak gentar menghadapi apapun.
Justru orang ini yang paling enggan ditemuinya.
Dalam sekejap mata, sebuah pikiran yang cemerlang segera melintas di otaknya. Tibatiba
dia memutar tubuhnya dan mengambil langkah seribu. Lok Ing segera tertawa dingin.
Dengan nada marah dia membentak…
“Dari tadi aku sudah mengatakan bahwa kakekku sedang menuju ke mari. Pokoknya
kau tidak bisa lari lagi!” kakinya langsung digerakkan untuk mengejar Tan Ki.
Ilmu Tan Ki memang hasil curian dari kuburan leluhur Ti Ciang Pang. Sedangkan Lok
Hong merupakan Pangcu Ti Ciang Pang generasi sekarang. Apabila Tan Ki bertemu
dengannya, ibarat maling kecil yang bertemu dengan pemilik barang. Bagaimana dia tidak
merasa takut?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanpa berpikir panjang lagi, Tan Ki lari terbirit-birit. Dia seperti dikejar setan
gentayangan. Ilmu silat Lok Ing masih kalah satu tingkat dengan Tan Ki, otomatis jarak di
antara mereka semakin lama semakin jauh. Hati gadis itu menjadi panik. Oleh karena itu
dia segera berteriak sekeras-kerasnya.
“Yaya, jangan biarkan dia kabur!”
Lok Hong tertawa terkekeh-kekeh.
“Anak baik, kau tidak perlu khawatir.”
Sambil berkata, dia menghimpun tenaganya. Sepasang lengan bajunya bergerak-gerak.
Orangnya sendiri sudah mencelat ke tengah udara.
Tan Ki sedang dalam keadaan terluka. Lewat pemberian obat si Pendekar Baju Putih
Oey Ku Kiong dan penyaluran hawa murni si pengemis sakti Cian Cong, tampaknya sudah
hampir pulih seperti sedia kala. Saat ini dia ingin meloloskan diri dari kesulitan. Oleh
karena itu, gerakan kakinya pun berlari secepat kilat. Tubuhnya bagai melayang di udara.
Siapa nyana, baru berlari kurang lebih dua belas depaan, tiba-tiba dia merasa kerah
lehernya mengetat. Tahu-tahu tubuhnya telah ditarik oleh Lok Hong. Kakinya menggapai
di atas tanah. Dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
Tampak lengan Lok Hong bergerak. Mulutnya mengeluarkan suara bentakan.
“Pergilah!” dilemparkannya tubuh Tan Ki jauh-jauh.
Anak muda itu terkejut sekali. Dia tidak berani menggunakan ilmu silatnya untuk
berjungkir balik di udara. Begitu dilempar oleh Lok Hong, tubuhnya bagai sebutir bola
yang melayang di angkasa. Terdengar suara Blukk! Yang memekakan telinga, tubuh Tan
Ki terhempas di atas tanah. Kaki tangannya terasa ngilu. Sepasang matanya terasa
berkunang-kunang.
Lok Ing tersenyum senang melihat keadaan itu. Dia berjalan lambat-lambat
menghampiri. “Bagaimana? Begitu kakekku datang, meskipun di punggungmu tiba-tiba
tumbuh sayap, kau juga tidak bisa lari ke mana-mana. Kata-kataku ini bukan sekedar
omong besar bukan?” sindirnya tajam.
Tulang belulang dalam tubuh Tan Ki seperti berpatahan. Tetapi dia memaksakan dirinya
untuk bangun.
“Mengandalkan kehebatan orang lain, apa yang patut dibanggakan?” teriaknya marah.
Mula-mula Lok Ing tertegun. Setelah sadar maksud ucapan Tan Ki, wajahnya segera
berubah hebat. Biar bagaimanapun, dia memang Seorang gadis yang angkuh, mana
mungkin dia sudi menerima caci maki orang lain. Kakinya sampai dihentak-hentakkan di
atas tanah.
“Kau bilang aku mengandalkan nama besar kakekku untuk menghina dirimu. Baiklah,
kita boleh mengulangi perkelahian kita. Lihat siapa diantara kita yang lebih unggul!”
sepasang tangannya segera digerakkan. Dengan kalap dia melancarkan serangan. Yang
digunakannya justru Bintang-Bintang Bertaburan yang dikerahkan Tan Ki tadi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tadinya dia mengira ilmu silat Tan Ki hampir seimbang dengan dirinya. Serangan yang
dilancarkannya kali ini sangat keji, tetapi dia tidak menyangka dapat melukai lawannya.
Matanya melihat Tan Ki tidak mengelak maupun menangkis, seakan memandang ringan
serangannya itu. Diam-diam hatinya jadi tergetar.
‘Mungkinkah dia sudah berhasil melatih semacam ilmu yang istimewa dan dapat
memba-likkan tenaga seranganku?” tanyanya kepada diri sendiri.
Begitu ingatan itu melintas dalam benaknya, otomatis dia menarik kembali tenaga
dalam yang terhimpun di telapak tangannya sebanyak sembilan bagian, tetapi gerakannya
tidak berhenti. Dengan gencar serangannya terus meluncur.
Kejadiannya berlangsung dengan cepat. Terdengar suara Plak! Yang keras. Dengan
telak pukulan Lok Ing mendarat di dada lawannya. Tubuh Tan Ki langsung terhuyunghuyung.
Kemudian tergetar mundur sejauh dua langkah. Mulutnya terbuka diapun
memuntahkan segumpal darah segar. Tampak sepasang alisnya bertaut ketat. Seolah
sedang menahan rasa sakit yang tidak terkirakan. Tetapi dia tetap menggertakkan giginya
serta memaksakan dirinya untuk berdiri tegak.
Lok Ing jadi termangu-mangu seketika.
“Mengapa kau tidak menghindar?” tanyanya penasaran.
“Siapa yang sudi dikasihani olehmu!” teriak Tan Ki sambil membalikkan tubuhnya.
Tanpa menoleh sekalipun dia langsung melesat meninggalkan tempat tersebut.
Lok Ing memandangi bayangan punggungnya yang semakin lama semakin menjauh.
Dia hanya merasa ada serangkum rasa pedih yang memenuhi hatinya. Tapi dia tidak,
dapat menjelaskan bagaimana rasanya. Dan dia pun tidak turun tangan menghalangi
kepergian Tan Ki.
Perlahan-lahan Lok Hong mendekatinya. Dia menepuk-nepuk pundak gadis itu. Bibirnya
tersenyum.
“Apa yang kau pikirkan? Mengapa sampai tertegun seperti itu?” nada suaranya
mengandung kasih sayang yang dalam.
Tanpa bergerak sedikitpun, Lok Ing berdiri termangu-mangu.
Ditanya sedemikian rupa oleh Lok Hong, tanpa sadar dia menyahut, “Aku sedang
memikirkan dia…”
Lok Hong tersenyum simpul.
“Apakah dia jahat sekali?”
Lok Ing menganggukkan kepalanya seperti burung pelatuk. Kata-kata yang tercetus
dari mulutnya seperti sedang bergumam seorang diri, tetapi seperti juga sedang
memberikan jawaban atas pertanyaan kakeknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Betul, dia memang jahat… jahat sekali. Menyebalkan… tetapi, aku kok tidak tahu di
mana letak kejahatannya?” di dasar hatinya yang paling dalam, Long Ing seakan sedang
menimbun segudang rahasia. Kata-kata ini diucapkan dengan terputus-putus. Nada
suaranya juga tidak menentu. Kadang tinggi, kadang pula rendah. Meskipun ilmu silat Lok
Hong tinggi sekali, tetap saja ada beberapa patah yang kurang jelas tertangkap oleh
telinganya.
Tetapi, biar bagaimanapun dia merupakan seorang pangcu dari sebuah perkumpulan
yang sudah terkenal sekali. Pengetahuan maupun pengalamannya sangat luas. Gerakgerik
Lok Ing yang seperti orang kehilangan kesadaran serta terlena dalam lamunan,
sekali lihat saja dia sudah mengerti bahwa di dalam lubuk hati gadis itu pasti ada masalah.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Pada dasarnya orangtua ini memang
bukan orang yang bodoh. Tampak dia menarik nafas panjang kemudian mengalihkan
pokok pembicaraan.
“Mari kita berangkat. Pek Hun San Ceng merupakan tempat yang berbahaya. Boleh
dibilang sebuah sarang harimau. Kepergian kita kali ini mungkin akan menghadapi ajang
pembunuhan yang menyeramkan. Sebaiknya kau lebih berhati-hati dan jangan bertindak
gegabah.”
“Aku sudah tahu. Yaya, aku tidak akan menurunkan derajat perkumpulan kita.”
Pada saat berbicara itu, keduanya sudah mengerahkan ilmu ginkangnya dan melesat
secepat bidikan anak panah. Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, mereka sudah
keluar dari daerah pegunungan. Begitu memandang dari kejauhan, tampak sebuah
bangunan yang besar sekali. Sekelilingnya ditumbuhi pepohonan yang merambat dan
lebat sehingga temboknya hampir tertutup.
Justru ketika sedang berlari pesat melesat ke depan. Dari balik sebatang pohon yang
baru saja mereka lalui, muncul seorang pemuda berwajah tampan. Dia tidak lain dari Cian
bin mo-ong Tan Ki.
Tadinya dia berpikir, setelah meninggalkan rombongan Liu Seng, dia akan merias
dirinya menjadi orang lain. Dengan demikian, apabila dia ingin menolong orang atau pun
membalas dendam, dia dapat bergerak dengan leluasa. Siapa tahu Lok Hong dan cucunya
juga datang ke Pek Hun Ceng. Meskipun dia mempunyai nyali sebesar apapun, tetap saja
ia tidak berani bertemu lagi dengan Lok Hong. Dia bermaksud menghindarkan diri dari
orang ini sejauh-jauhnya. Dengan demikian, hatinya bisa menjadi tenang. Mana sudi dia
pergi ke Pek Hun Ceng saat ini?
Tetapi mengingat musuh besar yang membunuh ayahnya juga ada di dalam, kebencian
di dalam hatinya semakin menjadi-jadi. Rasanya sulit untuk memadamkan kobaran api
kemarahan dalam dadanya.
Pikirannya melayang-layang. Otaknya terus berputar. Untuk sesaat dia merasa mundur
salah, maju juga salah. Hatinya gelisah luar biasa. Kakinya melangkah ke depan, tetapi
tidak membedakan utara selatan timur maupun barat. Pokoknya dia hanya melangkah
terus.
Matahari bersinar terik, angin hangat bertiup sepoi-sepoi. Keadaan ini membuat
perasaan orang jadi terlena. Hati Tan Ki sedang gundah. Dengan termenung-menung dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
terus melangkah. Telinga maupun matanya seperti kehilangan kepekaannya. Entah sejak
kapan, dari belakangnya terlihat mengikuti seorang gadis. Wajahnya cantik jelita.
Penampilannya agung, langkahnya lemah gemulai. Seperti hembusan angin yang lembut
bergerak-gerak. Diantara ketegarannya terselip kelembutan.
Gadis ini seperti selir Ong Sun Ping di masa lampau. Di atas kepalanya terdapat sebuah
mahkota yang bertahtakan batu permata. Cahayanya berkilauan. Dandanan maupun
pakaiannya mewah sekali. Sekali lihat saja, sudah dapat dipastikan bahwa dia bukan dari
golongan orang biasa.
Tampaknya dia mempunyai maksud tertentu dengan mengikuti Tan Ki dari belakang.
Gerak-geriknya juga berani sekali. Dia tidak menyembunyikan diri atau berjalan dengan
mengendap-endap. Jaraknya juga segitu-segi-tu saja. Dia berjalan perlahan-lahan dalam
batas lima langkah dengan Tan Ki. Sudah cukup lama juga mereka berjalan.
Tiba-tiba, kedua orang itu melintasi sebuah padang rumput. Pek Hun Ceng sudah mulai
tampak di depan mata. Dari belakang tubuh kedua orang itu mendadak berhembus
segulungan angin.
Lamunan Tan Ki seperti tersentak. Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya.
Kepalanya didongakkan dan hidungnya pun mengendus-endus. Perempuan itu terkejut
sekali. Dia menundukkan kepalanya serta mencium-cium tubuhnya sendiri. Kemudian dia
mendengus dingin.
“Tidak perlu mencari lagi. Aku ada di sini!” Tan Ki membalikkan tubuhnya dengan
gerakan terperanjat. Begitu matanya memandang, tanpa dapat di tahan lagi dia terkejut
sekali karena merasa hal itu di luar dugaannya. “Kau, Kiau Hun?” Kiau Hun tertawa dingin.
“Aku kira kau sudah lama melupakan namaku…”
Ketika pertama kali berkenalan dengan Tan Ki, dia langsung tertarik dengan
ketampanan serta kegagahan anak muda itu. Malah tanpa memperdulikan keselamatan
nyawanya sendiri, dia menolong pemuda itu sebanyak dua kali. Akhirnya dia malah
dikeluarkan dari perguruan oleh Ciu Cang Po yang merasa marah sekali akan tindakannya
yang kurang ajar. Kemudian mereka berjanji untuk bertemu kembali di sebelah barat kota
Lok Yang. Tidak disangka, bintang jodoh Tan Ki sedang bersinar terang, sekaligus sedang
gelap. Dia bertemu dengan kakek Lok Hong serta cucunya Lok Ing. Waktu itu dia berhasil
diringkus oleh mereka. Kemudian dia berhasil ditolong Liang Fu Yong, keduanya terlibat
berbagai masalah yang bersangkutan dengan hubungan antara pemuda-pemudi. Bersamasama
mereka menuju ke Cui Sian Lau yang mana menyebabkan salah paham di pihak Kiau
Hun. Gadis itu meninggalkan dirinya dengan hati yang marah.
Gadis ini mempunyai perasaan hati yang romantis namun selalu sirik dan cemburunya
besar sekali. Malah melebihi orang lain. Begitu mengucapkan kata-kata tadi, tampangnya
dingin dan datar sekali, namun di dalamnya terselip kepedihan yang disembunyikan.
Tan Ki tersenyum simpul.
“Cen Kouwnio, urusan hari itu sebetulnya hanya sebuah salah paham…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun tidak menunggu sampai dia menyelesaikan kata-katanya. Dia segera
menukas.
“Kalau memang hanya kesalahpahaman, mengapa kau melamarnya?” kembali tertawa
dingin, namun hatinya pilu tidak terkira. “Kau hanya manis di bibir dan menganggap aku
tidak tahu apa-apa.”
Hati Tan Ki tergetar mendengar ucapannya.
“Tidak ada kejadian seperti itu. Aku menerima budi pertolongan Nona sebanyak dua
kali, belum lagi aku sempat membalasnya. Mana mungkin aku mempunyai pikiran jahat?
Meskipun Cayhe hanya seorang Bu Beng Siau-cut (Prajurit Tidak Ternama), tetapi tahu
mengingat budi. Mendongak tidak memalukan langit, menunduk tidak meludah di atas
tanah.”
Mulut Kiau Hun bergerak-gerak. Tadinya dia bermaksud mencaci maki anak muda itu
sehingga kekesalan hatinya dapat terlampiaskan. Ucapan sudah sampai di ujung bibir,
bergerak-gerak, namun tiba-tiba membungkam seribu bahasa. Ada segulungan kesedihan
yang rumit terlihat pada sepasang alisnya yang berkerut.
Tan Ki maklum sekali perasaan gadis ini. Asmaranya bagai kobaran api, keberaniannya
tidak perlu diragukan lagi, kalau bukan mengalami urusan yang besar sekali, tampangnya
pasti tidak akan demikian sedih dan tidak bersedia mengucapkan sepatah katapun.
Di pihak lain dia juga sadar bahwa kesalahpahaman di antara mereka bukan hal yang
dapat dijelaskan dengan satu dua kalimat. Tanpa terasa dia menundukkan kepalanya
merenung. Dia berusaha mencari jalan keluar yang baik agar semuanya dapat diselesaikan
dengan tuntas.
Di hati mereka masing-masing terdapat berbagai masalah. Untuk sesaat lamanya
mereka tidak membuka suara. Meskipun mereka berdiri berhadapan, tetapi suasananya
seakan ruwet sekali. Angin yang hangat berhembus, jubah panjang Tan Ki serta gaun Kiau
Hun berkibar-kibar.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, Kiau Hun seperti teringat akan sesuatu hal.
Mulutnya mengeluarkan suara keluhan. Dia segera mendongakkan kepalanya menatap
langit.
“Hari sudah siang, aku akan pergi sekarang juga…” dia merandek sejenak. Di wajahnya
tersirat kepedihan menjelang perpisahan. Dengan lambat dia melanjutkan kata-katanya,
“Mengenai urusan kita, aku… tidak berani berharap lagi.” tenggorokannya seperti tercekat.
Kata-kata yang belum selesai diucapkan tidak sanggup diteruskannya lagi. Perlahan-lahan
dia berjalan ke depan.
Tan Ki menjadi panik.
“Kau hendak ke mana?”
Mendengar pertanyaannya, tanpa sadar Kiau Hun menghentikan langkah kakinya.
Hatinya ingin sekali kembali dan bercakap-cakap dengan Tan Ki. Tetapi rasanya sulit
memuntahkan penderitaannya menjadi kata-kata. Apabila dapat melihat wajah Tan Ki
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
untuk terakhir kalinya, hati Kiau Hun sudah merasa puas. Tetapi gadis ini mempunyai
perasaan rendah diri yang dalam sekali. Meskipun dia ingin berjalan kembali, tetapi
hatinya terasa kesal. Dia memaksakan dirinya menahan gejolak asmara dalam hati,
perlahanlahan dia meneruskan langkah kakinya.
Perasaan hatinya saat ini sangat gundah. Dia dibimbangkan dua pilihan antara kembali
atau tidak. Langkah kakinya pun semakin berat. Jalannya bagai siput merayap.
Tan Ki berdiri membelakangi punggung gadis itu. Dia tidak tahu dalam waktu yang
singkat wajah gadis itu sudah berubah berapa kali. Melihat dia berjalan pergi, hatinya
menjadi panik.
“Cen Kouwnio, biarkan aku mengucapkan beberapa patah dahulu. Pada saat itu kalau
kau tetap ingin pergi, juga belum terlambat. Kalau kesalahpahaman ini tidak dibikin
terang, kau malah akan salah tanggap terhadap pribadiku sebagai seorang laki-laki.
Dengan demikian, apakah kelak aku masih mempunyai muka untuk bertemu denganmu?”
teriaknya gugup.
Kiau Hun tidak menyahut sepatah katapun. Langkahnya terus dipercepat dan tubuhnya
pun melesat ke depan. Dia seakan takut mendengarkan penjelasan dari mulut Tan Ki.
Gerakannya seperti kilat. Dalam sekejap mata, dia sudah melesat sejauh empat puluh depaan.
Tiba-tiba terasa kibaran pakaian melesat ke depan. Tan Ki merentangkan kedua
tangannya dengan kalap. Dia menghadang di depan Kiau Hun. Tubuh gadis itu sedang
menerjang secepat kilat, tahu-tahu sudah teringkus olehnya.
Diam-diam Tan Ki merasa terkejut setengah mati.
‘Melihat gerakannya yang ringan dan mantap, rasanya tidak dipaksakan sedikitpun.
Meskipun sedang berlari begitu cepat, dia dapat menghentikan gerakannya pada tepat
waktunya… mungkinkah ilmu silatnya sudah mendapat kemajuan yang pesat…? Kalau
dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu, tampaknya lebih hebat sepuluh kali lipat.’
pikirnya dalam hati.
Meskipun hatinya berpikir demikian, bibirnya tetap tersenyum simpul.
“Apakah kau benar-benar masih merasa marah terhadapku?”
Kiau Hun menghembuskan nafas panjang-panjang.
“Aku juga tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Tetapi saat ini aku sedang
tidak tenang, malas berbicara dengan siapapun.”
“Kalau memang tidak tahu, mengapa kau tidak memperdulikan aku, malah
memalingkan kepala dan pergi begitu saja?” tanya Tan Ki kembali.
Mendengar pertanyaannya, Kiau Hun jadi termangu-mangu. Dia merasa di balik ucapan
Tan Ki terselip semacam maksud yang aneh. Pada dasarnya, dia memang seorang gadis
yang mudah curiga. Begitu pikirannya melintas, wajahnya jadi merah padam. Setelah
beberapa lama berlalu, dia tetap tidak dapat memberikan jawaban.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki menunggu beberapa saat, tetapi Kiau Hun tetap diam saja. Hatinya menjadi
panik. “Mengapa kau tidak berbicara?” Kiau Hun menarik nafas dalam-dalam. “Apa yang
harus aku katakan?”
“Apa saja boleh, asal kau yang berbicara, soal apapun aku akan senang
mendengarkannya.” Kiau Hun menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sayangnya aku tidak
mempunyai kegembiraan seperti itu. Maaf, aku tidak dapat menemani lebih lama lagi.”
perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya dan lewat di samping Tan Ki.
Dari jawabannya yang dingin dan kaku, Tan Ki sadar salah paham yang terjadi di
antara mereka sulit sekali diselesaikan. Dia melihat Kiau Hun sama sekali tidak
menolehkan kepalanya dan berjalan terus ke depan.
Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.
‘Pengalaman yang berlangsung beberapa hari ini, tampaknya semua menyangkut jodoh
yang tidak berkelanjutan dengan kaum perempuan. Setiap orangnya mempunyai watak
yang berlainan dan sulit dimengerti. Keketusan Lok Ing membuat kepala menjadi pusing
dan takut. Kepedihan serta rasa tertekan dalam hati Liang Fu Yong ketika meninggalkan
diriku…’
Berpikir sampai di sini, pengalaman yang berbeda-beda selama beberapa hari ini
melintas satu per satu di benaknya. Tanpa terasa, kakinya terus melangkah ke depan,
diam-diam dia mengikuti di belakang Kiau Hun.
Angin bertiup sepoi-sepoi. Perhiasan di seluruh tubuh maupun pakaiannya
menimbulkan suara gemerincing yang tiada berhenti. Telinga Tan Ki seakan tidak
mendengar suara apapun. Dengan termangu-mangu dia terus mengikuti di belakang gadis
itu. Langkah kakinya bagai mayat hidup, tampang wajahnya tidak menunjukkan perasaan
apapun. Dia benar-benar seperti orang yang telah kehilangan kesadarannya.
Kiau Hun tahu Tan Ki mengikuti di belakangnya. Tetapi dia tidak pernah menolehkan
kepalanya sedikitpun. Perasaan hatinya yang gundah, membuat sepasang alisnya
mengerut. Bibirnya sering digigit sendiri. Hal ini membuktikan bahwa masalah yang
memenuhi hatinya pasti besar sekali.
Begitu mata memandang, kurang lebih sepuluh depaan di depan sana, terdapat sebuah
bangunan yang luas sekali. Pintu gerbangnya sangat tinggi, juga lebar. Cukup untuk tiga
buah kereta yang keluar masuk sekaligus. Di dalam halaman gedung itu terlihat kamarkamar
yang berderetan. Sebaris demi sebaris dari depan hingga belakang. Ruangannya
besar-besar dan dekorasinya indah. Entah berapa luas tanah yang mencakup seluruh
bangunan ini. Tetapi kalau diperhatikan dari luar, dapat diketahui bahwa bangunannya
sendiri begitu luas sehingga mengejutkan.
Kiau Hun menghentikan langkah kakinya dan menatap, sejenak. Dari hidungnya
terdengar suara dengusan yang dingin. Dia membalikkan tubuhnya. Tanpa dapat ditahan
lagi, seseorang yang sedang berjalan dengan termangu-mangu di belakangnya langsung
berbenturan dengan dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan keduanya. Meskipun otaknya
cerdas dan nyalinya besar sekali, tetapi dari mulutnya terdengar suara aduhan yang keras.
Secara refleks dia mengulurkan tangannya dan memeluk orang itu.
Rupanya, meskipun Tan Ki berjalan dengan mata terbuka lebar, tetapi pikirannya
melayang-layang. Dia terus melangkah tanpa memperhatikan apa yang ada di
hadapannya. Dengan tidak terduga-duga Kiau Hun menghentikan langkah kakinya lalu
membalikkan tubuh, dia masih belum menyadari. Dengan termangu-mangu dia terus
melangkah. Sampai Kiau Hun memeluk dirinya, lamunannya baru tersentak, dia langsung
mengeluarkan suara aduhan, wajahnya yang tampan menjadi merah padam seketika.
Malunya bukan main. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepa-lanya dalam-dalam.
Saking kesalnya, Kiau Hun sampai menghentakkan kakinya di atas tanah beberapa kali.
“Bagaimana sih kau ini? Tempat begini luas tidak memilih jalan yang lain malah
menabrak badan orang!” bentaknya dengan nada jengkel.
Tan Ki tersenyum cengar-cengir.
“Aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya merasa pemandangan di depan mata seakan
samar-samar. Apapun tidak dapat terlihat dengan jelas. Mungkin karena masalah yang
kupikirkan sudah terlampau banyak sehingga…” tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya
menatap ke sekeliling. Mulutnya langsung mengeluarkan seruan heran. Jari tangannya
menunjuk ke arah bangunan yang besar itu.
“Aneh, mengapa aku bisa kembali lagi ke Pek Hun San Ceng?”
“Benar-benar lucu! Kau sendiri yang mengikuti di belakangku. Setelah menempuh
perjalanan sedemikian jauh, apakah kau masih tidak merasa?”
Tan Ki langsung menepuk batok kepalanya sendiri.
“Apakah tujuanmu memang bangunan ini?”
“Tidak salah!” sahut Kiau Hun dingin.
“Untuk apa?”
“Bukan urusanmu!”
“Aku menanyakanmu tentang hal ini hanya karena bermaksud baik. Sama sekali tidak
ter-kandung niat lainnya. Mengapa kau selalu bicara dengan ketus dan nada dingin
kepadaku? Pemilik bangunan ini merupakan raja iblis yang paling ditakuti di zaman ini. Di
dalam bangunan ini, setiap langkah telah dipasang perangkap. Di mana-mana terdapat
bahaya mengintai. Begitu masuk ke dalam, ibarat terjerat jaring maut, hidup tidak
mungkin, mati sudah pasti. Meskipun kau sudah mendapat didikan ilmu silat dari Ciu Cang
Po, namun tetap saja tidak boleh ceroboh. Dengan tidak berpikir panjang lagi langsung ini
masuk ke dalam.” kata Tan Ki menasehati.
Ucapan ini dicetuskan dengan lancar. Maknanya sangat dalam dan keluar dari lubuk
hati yang paling dalam. Nadanya mengandung perasaan khawatir dan penuh perhatian.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun yang mendengarnya sampai terharu. Hatinya terasa pilu, air matanya pun
mengalir dengan deras. Tetapi dia masih merasa kesal.
“Kau toh sudah mempunyai perempuan jahat itu, mengapa masih berpura-pura seakan
penuh perhatian terhadap diriku?”
Tan Ki menarik nafas panjang.
“Aku sudah mengatakan bahwa semua itu hanya salah paham, kau masih juga tidak
percaya. Apalagi yang dapat kulakukan?”
Di saat bicara itulah, tiba-tiba terdengar suara suitan yang panjang. Dibawa oleh
hembusan angin bagai kilat yang menyambar sebelum hari hujan. Kumandangnya
memecahkan keheningan. Kedua orang itu merasa hatinya tercekat. Jantungpun laksana
diganduli beban yang berat. Dalam waktu yang bersamaan, mereka memalingkan
wajahnya, tampak sesosok bayangan sedang melesat keluar bagai terbang. Kedua kakinya
terus bergerak. Kecepatannya bagai anak panah yang meluncur. Dalam sekejap mata, dia
sudah berdiri di atas jembatan yang terdapat di depan bangunan.
Kekuatan sinar mata kedua orang itu tajam sekali. Meskipun jarak mereka masih kirakira
empat puluh lima depaan, tetapi mereka dapat melihat dengan jelas, pakaian, raut
wajah maupun senjata yang digunakan orang itu.
Orang itu adalah seorang nenek yang jelek dan sudah tua sekali. Tubuhnya yang kurus
berdiri di atas jembatan, seakan-akan bisa terbang melayang bila dihempas oleh angin
yang agak kencang. Tangannya menggenggam sebatang tongkat berbentuk aneh yang
digunakan sebagai tumpuan.
Hati Tan Ki langsung tergetar.
“Suhumu sudah datang.” katanya dengan suara lirih.
Sepasang alis Kiau Hun terjungkit ke atas satu kali. Matanya memancarkan hawa pembunuhan
yang tebal. Dia tertawa dingin.
“Nenek itu sudah mengusir aku dari perguruannya. Hubungan di masa lalu sudah hilang
tanpa tersisa sedikitpun. Kalau dia berani menghalangi apapun yang akan kuperbuat,
maka aku akan menyuruh dia mencoba barang dua jurus ilmu pukulanku ini.” sahutnya
ketus.
Baru saja kata-katanya yang terakhir diucapkan, tiba-tiba dia mengerahkan tenaga
dalamnya dan melesat ke depan. Tan Ki mengikuti di belakangnya dengan ketat.
Kecepatan mereka hampir seimbang. Tetapi anak muda itu merasa gerakannya ringan dan
cepat sekali. Gaunnya yang berkibar-kibaran menentang angin menimbulkan suara yang
berdesir-desir. Di udara bagai ada serangkum kekuatan yang bergerak-gerak mengiringi
berkelebat-nya tubuh Tan Ki dan mendesaknya dari dua arah.
Hati Tan Ki terkejut sekali.
‘Baru beberapa hari tidak berjumpa, ternyata ilmu silatnya sudah maju sedemikian
pesat,’ katanya kepada diri sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tepat pada saat pikirannya tergerak keduanya sudah melesat ke atas jembatan lalu
menghentikan langkah kakinya. Tampaknya untuk sesaat Kiau Hun agak bimbang. Dia
merasa serba salah. Masuk atau jangan. Tetapi tiba-tiba dia menggertakkan giginya eraterat.
Dengan wajah mendongak dan dada dibusungkan dia melangkah maju.
Dia membungkam seribu bahasa. Langkah kakinya merapat ke arah Ciu Cang Po.
Meng-hadapi bekas gurunya, ini, perasaan Kiau Hun agak tenang. Tampaknya dia juga
tidak berani memandang ringan.
Cuaca yang cerah, udara yang lembut, tiba-tiba diselimuti dengan ketegangan yang
luar biasa. Tan Ki melihat kedua bekas guru dan murid itu sebentar lagi akan bergebrak,
tanpa terasa seluruh tubuhnya dibasahi keringat dingin. Hatinya bermaksud mendamaikan
mereka, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan panik dia berdiri di
samping sambil meremas kedua tangannya serta menghentakkan kakinya berulang kali.
Tetapi dia tidak berani maju ke depan.
Tiba-tiba terlihat Ciu Cang Po mengangkat lengannya ke atas. Tongkatnya yang aneh
di-rentangkan ke depan menghadang Kiau Hun. Nenek itu sudah dicekoki obat Li Hun Tan
(Pil Pelenyap Sukma) oleh Oey Kang. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan apapun. Tapi
membawa kesan yang angker. Meskipun berdiri di bawah sorotan terik matahari, namun
ada semacam perasaan yang menyeramkan yang membuat seluruh tubuh gemetar dan
hati menggidik.
Sepasang alis Kiau Hun terjungkit ke atas.
“Apakah kau bermaksud menghadangku?” bentaknya marah. Hawa murninya di
himpun. Tiba-tiba, dengan cepat dia maju dua langkah. Dirinya menyongsong ke arah
tongkat aneh di tangan Ciu Cang Po.
Ciu Cang Po telah dicekoki pil pelenyap sukma oleh Oey Kang. Pikirannya hilang, tetapi
ilmu silatnya tetap seperti biasa. Melihat Kiau Hun menerjang ke arahnya, tiba-tiba
mulutnya mengeluarkan suara raungan yang keras, lengannya disurutkan, tongkatnya pun
tertarik ke belakang, pergelangan tangannya memutar, timbul beratus-ratus bayangan
tongkatnya. Dengan gencar dia menyerang ke arah dada Kiau Hun.
Nenek tua ini pernah bergebrak dengan Cian Cong sebanyak ratusan jurus. Meskipun
akhirnya dia dikalahkan oleh jurus Hui Siu-jut lin, tetapi dia menggunakan detik-detik yang
membahayakan itu untuk menendang Cian Cong sehingga terluka. Hal ini membuktikan
bahwa ilmu silat nenek kurus ini tidak dapat dipandang ringan.
Kali ini, serangan tongkatnya ini mengandung kekuatan yang luar biasa. Angin yang
terpancar sangat keras, seiring dengan gerakan tangannya menimbulkan suara seperti
siulan. Pengaruh suara itu hebatnya bukan main.
Kiau Hun tertawa ringan, dihimpunnya hawa murni ke bagian dada, tiba-tiba dia
melesat mundur kurang lebih tiga mistar. Dengan tubuh agak membungkuk, tongkat di
tangan Ciu Cang Po terus meluncur ke depan. Ketika pergelangan tangannya bergerak,
selalu membawa suara seperti siulan, tongkat ini mengincar salah satu urat darah Kiau
Hun yang mematikan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gadis itu seperti sengaja mengalah. Dia tidak pernah membalas menyerang, dengan
gerak tubuh yang lemah gemulai, orangnya sudah sampai di ujung jembatan.
Tadinya dia menganggap Ciu Cang Po adalah manusia yang angkuh. Tiga jurus
dilancarkan, Kiau Hun seakan terdesak mundur, dia pasti menggunakan kesempatan itu
untuk mendesak terus. Tetapi dugaannya ternyata salah. Ketika dirinya terus mencelat
mundur dan sudah sampai di ujung jembatan, ternyata nenek itu tidak menyerang lagi.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mengundurkan diri ke tempat semula.
Wajahnya yang datar dan tidak menunjukkan perasaan apa-apa masih terlihat. Dia berdiri
tegak dengan mencekal tongkat di tangannya erat-erat.
Kiau Hun jadi tertegun. Tiba-tiba dia berteriak dan tubuhnya bergerak menerjang ke
depan, dengan jurus Ci Yang Tian Bun (Terus Menerjang Menuju Pintu Langit), tangannya
mengambil posisi menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan.
Ciu Cang Po tetap membungkam. Tongkatnya segera terulur ke depan. Dengan jurus
‘Menahan Gulungan Angin’ dikerahkannya tenaga dalam sebanyak sepuluh bagian seakan
hendak mengadu kekerasan dengan Kiau Hun.
Gadis itu memperdengarkan suara tertawa yang dingin, pukulan di tangan kirinya terus
menyerang tanpa perubahan apa-apa, pukulan di tangan kanannya segera menyusul di
belakang. Tahu-tahu dia mengganti jurus serangannya. Yang dikerahkan sekarang adalah
‘Daun-daun berguguruan di musim semi’.
Ciu Cang Po mendapat tugas menjaga jembatan. Dia tidak boleh membiarkan siapapun
masuk ke dalam. Jurus serangan Kiau Hun ini tampaknya merupakan ilmu yang biasabiasa
saja. Tetapi dalam satu jurus dia menggabungkan dua macam gerakan, begitu
dilancarkan dapat meraih manfaat yang besar. Tanpa diduga hal itu menambah kekuatan
pengaruhnya. Angin pukulan serta bayangan lengan memenuhi atas jembatan tersebut.
Sepasang kaki Ciu Cang Po berdiri tanpa bergerak, bagian atas tubuhnya bergeser
sedikit untuk menghindari serangan Kiau Hun. Tiba-tiba dia membentak dengan suara
keras, lengan kanannya menambah kekuatan dan datangnya serangan begitu mendadak
serta cepat tidak kepalang tanggung.
Terdengar suara beradunya pukulan yang menggelegar memecahkan keheningan.
Ternyata mereka memang mengadu kekerasan, hasilnya kedua orang itu tergetar mundur
satu langkah.
Melihat keadaan itu, hati Tan Ki terkesiap.
‘Dengan tangan kosong, Kiau Hun mengadu kekerasan melawan tongkat Ciu Cang Po.
Nyatanya dia hanya tergetar mundur satu langkah. Entah ilmu perguruan mana yang
digunakan olehnya?’ pikirnya diam-diam.
Justru ketika otaknya sedang mereka-reka, dengan keberanian yang luar biasa, Kiau
Hun yang baru mundur sudah maju kembali. Sepasang telapak tangannya dirangkapkan.
Dengari jurus Dua Gulung Angin Berhembus Di Telinga, dia menerjang ke depan. Pada
saat yang hampir bersamaan, kaki kirinya terangkat ke atas serta mengirimkan sebuah
tendangan ke arah perut lawan. Begitu bergerak maju, dia langsung melancarkan dua
buah serangan yang keji sekaligus.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun Ciu Cang Po sudah kehilangan kesadarannya karena dicekoki pil pelenyap
sukma oleh Oey Kang, namun reaksi refleks yang terdapat di benaknya belum hilang
secara keseluruhan. Melihat Kiau Hun begitu berani, justru setelah mereka mengadu
kekerasan dan bahkan tidak mengatur pernafasannya lagi, kembali menyerang dengan
demikian keji. Hati kecilnya agak tergetar, dia bermaksud menghindarkan diri, tiada
kesempatan lagi baginya. Terpaksa dia mengulurkan lengan kanannya, dalam posisi
menahan di depan dada, dia melancarkan sebuah pukulan, dan sekali lagi mengadu
kekerasan dengan hantaman Kiau Hun.
Paha kanannya juga mengerahkan sebuah tendangan menyambut tendangan kiri gadis
itu. Terdengar lagi suara benturan yang keras, tiga pukulan dan dua tendangan bertemu
dalam saat yang hampir bersamaan.
Kembali hati Tan Ki tercekat.
‘Cara bertarung yang tidak perduli mati hidup ini, benar-benar merupakan hal yang
belum pernah kudengar apalagi menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Apabila salah
satu pihak tenaga dalamnya lebih tinggi sedikit saja, lawannya pasti akan terpukul mati…’
pikirnya diam-diam.
Terdengar suara tertawa yang dingin dan dengusan hidung yang terpancar dalam
waktu bersamaan, kedua orang itu sama-sama tergetar mundur tiga langkah. Mengadu
kekerasan secara berturut-turut sebanyak dua kali, membuat hawa murni di dalam mereka
agak bergejolak, mereka sama-sama merasakan aliran darah seakan membalik dan
membuat sesak nafas.
Begitu kakinya berdiri dengan mantap, Ciu Cang Po segera memejamkan matanya
mengatur pernafasan. Sedangkan Kiau Hun seakan sudah bertekad untuk menyelesaikan
pertarungan tersebut. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, dia kembali menerjang ke
depan. Pergelangan tangannya terulur, jari tangannya membentuk totokan dan langsung
dilancarkan ke dada lawan.
Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya dia menerjang kembali, benar-benar di luar
dugaan orang. Dalam perasaan Ciu Cang Po, pukulan yang dikerahkan oleh Kiau Hun tidak
lebih kuat dari dirinya sendiri. Tetapi setelah mengadu kekerasan sebanyak dua kali, hati
kecilnya merasa dirinya tidak kuat bertarung lagi. Oleh karena itu, berdasarkan
anggapannya, dia mengira pihak lawannya juga pasti tidak kuat lagi meneruskan
pertarungan. Itulah sebabnya dia berani memejamkan mata mengatur pernafasan. Siapa
sangka kenyataannya benar-benar lain dari dugaannya. Ketika dia tersadar, telapak
tangan Kiau Hun sudah menghantam telak dadanya.
Nenek itu sedang dalam keadaan kehabisan tenaga, ditambah lagi kesadaran
pikirannya yang hilang. Tentu saja kegesitan ataupun kecepatan daya tangkapnya tidak
dapat dibandingkan dengan biasanya. Yang mana dia mempunyai akal untuk menentukan
apa yang harus dilakukannya. Saat ini sepasang matanya baru saja terbuka kembali, tahutahu
dadanya sudah terkena pukulan Kiau Hun yang dahsyat. Pada saat itu juga, dia
seakan merasa dadanya terhimpit oleh beban yang berat. Isi perutnya seperti menjungkir
balik di dalam. Sepasang kakinya tidak dapat dipertahankan lagi, mulutnya membuka dan
diapun memuntahkan segumpal darah segar, tubuhnya sendiri langsung melayang sejauh
tujuh delapan mistar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara dentangan yang keras, tongkatnya yang aneh terjatuh ke samping
jembatan. Sedangkan nenek itu terhempas jatuh dalam posisi duduk di atas tanah.
Tan Ki melihat permukaan jembatan penuh dengan bercak darah. Tiba-tiba hatinya
menjadi khawatir, cepat-cepat dia menghambur maju ke tempat itu.
“Cen Kouwnio, meskipun suhumu tempo hari pernah berbuat hal yang menyakitkan
hatimu, tetapi diantara kalian pernah terjalin hubungan yang dekat. Tidak seharusnya kau
turunkan tangan sekeji ini dan membuatnya terluka sedemikian rupa. Kalau sampai urusan
ini tersebar di luaran kelak, orang pasti akan menyalahkan dirimu. Aih! Sayangnya
gerakanmu terlalu cepat, membuat orang yang berniat menolongpun tidak mempunyai
kesempatan sama sekali. Seandainya aku keburu…”
Kiau Hun tertawa dingin.
“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa di antara kami tidak ada hubungan apaapa
lagi. Dia sudah mengusir aku dari pintu perguruan, di dalam hatiku juga tidak
menganggapnya sebagai guru lagi. Aku tidak membunuhnya saja, dia sudah harus
berterima kasih.”
Sembari berkata, orangnya sendiri sudah berjalan sampai hadapan Ciu Cang Po. Tanpa
melirik sedikitpun, dia terus melangkah ke dalam bangunan tersebut. Tampangnya
demikian dingin serta angkuh.
Tan Ki menatap Ciu Cang Po sekilas. Tampak wajahnya yang pucat pasi masih juga
kaku dan datar. Tidak menunjukkan perasaan apapun. Angin terus bertiup sepoi-sepoi,
bahkan menerpa diri nenek itu, tetapi dia seperti tidak merasakannya. Sepasang matanya
yang membelalak seperti orang yang termangu-mangu. Dia tidak bergerak ataupun
mengeluarkan suara. Dengan terduduk di atas jembatan, dibandingkan dengan orang
mati, dia hanya kelebihan satu hal, yakni nafasnya yang tersengal-sengal. Kalau dipikir,
biar bagaimanapun dia adalah seorang tokoh Bulim yang lihai sekali. Namanya sudah
terkenal. Ilmu silatnya tinggi, tenaga dalamnya hebat, bahkan tidak jauh berbeda dengan
si pengemis sakti Cian Cong. Sekarang justru terjatuh dalam keadaan yang demikian
mengenaskan. Hati Tan Ki jadi iba. Diam-diam dia menarik nafas panjang. Kepalanya
digeleng-gelengkan, kemudian meneruskan langkah kakinya menyusul Kiau Hun.
Begitu mata memandang, jalan setapak yang ditata rapi ternyata sunyi senyap. Tetapi
keheningan yang berlebihan itu malah menambah ketegangan yang tidak berwujud.
Jantungnya semakin berdebar-debar. Dari luar tampangnya masih tenang seakan tidak
merasakan apa-apa. Tetapi sepasang alisnya terus mengerut menandakan hatinya yang
tidak tenang.
Setelah meninggalkan rombongan Bu Ti Sin Kiam Liu Seng, tadinya dia hendak
merubah dirinya sebagai Cian bin mo-ong kembali. Dengan merias wajahnya dia akan
masuk ke dalam Pek Hun Ceng seorang diri. Tidak disangka-sangka dia malah bertemu
lagi dengan Kiau Hun. Terpaksa dia membatalkan rencananya semula. Dia sudah pernah
menghadapi barisan Jendral Langit yang dididik langsung oleh Oey Kang. Kalau bukan
karena otaknya segera mendapat ide pada saat dirinya terancam bahaya, yang mana
kebetulan dia berhasil memecahkan sedikit perubahan Te Sa Jit-sut hampir saja dia tidak
dapat menyelamatkan dirinya. Meskipun demikian, hatinya sudah merasa ngeri
terperangkap lagi dalam jebakan yang sama. Dia takut tiba-tiba ketiga puluh enam orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang membentuk barisan menyerang.
Jendral Langit itu muncul dengan tidak terduga di depan matanya. Tanpa sadar dia mengedarkan
pandangannya ke sekeliling tempat itu. Dia meningkatkan kewaspadaan
dirinya.
Begitu kepalanya menoleh, dia melihat di wajah Kiau Hun tersirat mimik yang aneh.
Bibirnya tersenyum, namun seperti bukan niatnya sendiri untuk mengembangkan
senyuman. Dia melangkahkan kakinya dengan mantap. Seakan mempunyai keyakinan
tersendiri dalam menghadapi orang-orang di dalam Pek Hun San-ceng. Hati Tan Ki jadi
tergerak, tanpa dapat menahan rasa ingin tahu di dalam bathinnya, dia segera bertanya…
“Cen Kouwnio, aku mempunyai suatu masalah yang tidak dimengerti. Bolehkah aku
mohon tanya?”
Langkah kaki Kiau Hun tidak berhenti. Dengan gerakan yang sama dia terus berjalan ke
depan. Bibirnya tersenyum licik.
“Yang ingin kau tanyakan, bukankah mengenai ilmu silatku yang tiba-tiba maju pesat
dari sebelumnya?”
Tan Ki tertawa lebar.
“Cen Kouwnio memang cerdas sekali. Urusan sekecil ini mana mungkin dapat
mengelabui dirimu? Tetapi aku memang tidak habis pikir, mengapa ilmu seseorang bisa
berlainan? Padahal menurut apa yang kuketahui, biasanya ilmu seseorang itu dipelajari
sedikit demi sedikit. Semakin lama latihannya, gerakannya pun semakin lancar, otomatis
makin hebat. Meskipun mempunyai bakat yang tinggi, tetap tidak bisa berhasil dalam
waktu tiga atau lima hari. Apalagi ilmu silat Cen Kouwnio merupakan hasil didikan Ciu
Cang Po. Seandainya kau bisa mengalahkan dia, tetap bukan hal yang akan terwujud
dalam tiga atau lima hari. Tetapi dalam tiga gebrakan tadi, kau sudah sanggup melukai Ciu
Cang Po. Kalau aku tidak menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, aku benar-benar
tidak percaya bahwa hal ini merupakan kenyataan.”
Kiau Hun tersenyum simpul.
“Seseorang yang menyimpan harapan, tentu tidak dapat terkabul dalam satu hari.
Tetapi aku rasa kau sudah dapat menduga, aku memang bertemu dengan jodoh yang
langka.”
“Aku juga berpikir demikian. Tetapi entah bagaimana kejadian yang sesungguhnya,
hatiku benar-benar penasaran.”
Kiau Hun tersenyum lembut.
“Sebetulnya aku juga ingin menceritakannya. Tetapi keadaan di depan mata tidak memungkinkan
untuk berbicara panjang lebar. Kelak apabila ada kesempatan, aku akan menceritakannya
perlahan-lahan.”
Kedua orang itu berjalan berdampingan. Tampaknya kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya
sudah agak berkurang. Kiau Hun juga tidak sedingin dan seketus sebelumnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampangnya mulai memperlihatkan perasaannya yang romantis. Bibirnya sedikit-sedikit
tersenyum. Seakan banyak ucapan yang ingin disampaikannya kepada Tan Ki, tetapi
kesempatan itu memang belum ada.
Ilmu silat kedua orang ini, boleh dibilang sudah termasuk jago kelas satu di dunia
Kangouw. Gerakan tubuh mereka melesat bagai sambaran kilat. Dalam waktu yang
singkat mereka sudah sampai di bawah sebuah gedung yang bertingkat. Belum lagi Tan Ki
sempat memperhatikan keadaan di sekitarnya, telinganya sudah mendengar suara tawa
Kiau Hun yang merdu.
“Di sinilah tempatnya.”
Tiba-tiba dia menghentikan langkah kakinya dan berdiri tegak.
Tan Ki termangu-mangu. Otomatis gerakan kakinya juga terhenti.
“Tempat apa ini?” tanyanya heran.
“Gedung tinggi di depan itu merupakan tempat si raja iblis menyambut tamunya.”
BAGIAN XVII
Sepasang alis Tan Ki mengerut beberapa kali. Tiba-tiba hatinya tergerak, dia merasa
curiga sekali. Begitu Kiau Hun selesai berbicara, dia langsung mengajukan pertanyaan
yang mengganjal di hatinya.
“Tampaknya kau jelas sekali mengenai seluk-beluk tempat ini? Malah tidak pernah
tersesat sekalipun.”
Dari sinar mata Kiau Hun terpancar kasih yang berkobar-kobar. Dia melirik Tan Ki
sekilas dan tersenyum penuh rahasia. Tetapi dia belum memberikan jawaban. Perlahanlahan
dia melangkahkan kakinya dan dengan nyali yang besar masuk ke dalam gedung
besar tersebut.
Hati Tan Ki sedang diliputi kecurigaan. Saat ini dia malah tidak mengikuti Kiau Hun,
tetapi berdiri di depan dengan termangu-mangu. Dia terus merasa senyuman gadis itu tadi
mengandung kemisteriusan yang tidak terkatakan. Mungkin juga menyimpan rencana
yang keji. Kalau Kiau Hun memang murid Ciu Cang Po, mengapa dalam beberapa hari
yang singkat saja ilmunya sudah melampui nenek tua itu? Hal ini benar-benar perlu
direnungkan baik-baik. Selain itu pengetahuannya tentang seluk beluk Pek Hun Ceng juga
jelas sekali. Memangnya siapa Oey Kang itu, mana mungkin dia membiarkan orang luar
keluar masuk seenaknya menyelidiki tempat tinggalnya itu. Kalau dipikirkan kembali,
seandainya dia mengkhawatirkan keselamatan bekas suhunya yang disandera orang,
maka dia menyusul ke mari, dalam waktu yang demikian singkat, dia juga tidak mungkin
berhasil menyelediki sampai sedemikian mendetail. Apalagi bukti sudah menyatakan
bahwa dia sampai hati melukai Ciu Cang Po, berarti kedatangannya bukan karena nenek
itu. Namun suatu masalah yang perlu dicari jawabannya…
Otaknya terus tidak habis pikir, semakin direnungkan, kemungkinannya semakin
banyak. Hatinya juga makin curiga. Setelah berdiri dengan diam-diam sekian lama, dia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mendongakkan wajahnya memandang, tampak gedung itu dibangun dengan bentuk pat
kua. Ibarat pagoda yang bersusun tinggi. Setingkat lebih mewah dari tingkat lainnya.
Jendelanya terbuat dari kaca. Namun semuanya tertutup rapat. Bagian yang paling dasar
dikelilingi oleh rotan yang dijadikan sebagai pagar. Di balik rotan tersebut terdapat
berbagai pot bunga yang ditanami tumbuhan yang indah. Se-juk dan segar rasanya. Di
tengah-tengahnya terdapat lantai yang didasari batu kumala putih.
Hati Tan Ki terasa nyaman. Seakan-akan kegagahannya terbangkit karena mencium
harum bunga tersebut. Oleh karena itu, dia menarik nafas dalam-dalam. Kakinya pun
melangkah lebar-lebar dan berjalan terus ke dalam gedung. Diam-diam dia menghimpun
tenaganya dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.
Saat itu, matahari bersinar dengan terik. Tetapi rupanya cara pembuatan bangunan ini
sangat istimewa. Baru saja dia melangkahkan kakinya ke bawah atap gedung dan berjalan
masuk, dari dalam sudah terpancar hawa yang sejuk bahkan agak lembab sehingga tanpa
sadar bulu kudukpun jadi merinding.
Begitu Tan Ki memusatkan perhatiannya, Kiau Hun sedang menempelkan telinganya ke
dinding. Tangannya berulang kali mengetuk-ketuk. Setelah mendengarkan beberapa saat,
dia berjalan maju beberapa langkah kemudian melakukan hal yang sama. Entah apa yang
sedang dicarinya.
Tan Ki jadi tertegun. Perlahan-lahan dia berjalan menghampiri dan baru saja
bermaksud mengajukan pertanyaan, tiba-tiba dia melihat wajah Kiau Hun kelam sekali.
“Coba kau perhatikan, di mana letak kejanggalan tempat ini?” tanyanya dengan suara
lirih.
Sepasang mata Tan Ki segera mengedar memperhatikan dengan seksama. Dia hanya
merasa bahwa ruangan itu tidak terlalu besar namun ukurannya juga tidak kecil. Hampir
tidak berbeda dengan kamar di rumah-rumah lainnya. Tetapi di dalamnya justru kosong
melompong. Hatinya sedang merasa heran, tiba-tiba dia mendengar suara ketukan Kiau
Hun pada dinding agak berat dan dalam, tanpa dapat tertahan lagi, Tan Ki terkesiap.
“Jangan-jangan dinding ini dilapisi logam sejenis besi?”
Kiau Hun tersenyum simpul.
“Kalau dibayangkan, si raja iblis Oey Kang itu, mana mungkin mempunyai tempat
tinggal yang biasa seperti orang lainnya. Tembok di sekeliling ini bukan terlapis bahan
besi, tetapi mempunyai jalan rahasia yang menembus ke tempat lain.”
Hati Tan Ki langsung tergetar.
“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa Pek Hun San-ceng ini penuh dengan
jebakan dan di mana-mana terdapat alat rahasia…
Kiau Hun tampaknya tidak puas dengan ucapan ini. Wajahnya segera dipalingkan dan
tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sebuah gedung yang begini kecil, paling-paling hanya dipasangi beberapa permainan
anak kecil. Apanya yang perlu diherankan?” tangannya terulur dan menekan pada celah
dinding. Dengan kecepatan kilat dia langsung mencelat ke belakang.
Tampaknya gadis itu sendiri takut kalau dugaannya salah. Oleh karena itu dia menekan
dinding itu lalu mencelat mundur. Tampaknya dia berjaga-jaga terhadap segala
kemungkinan. Meskipun perbuatannya merupakan hal yang biasa dilakukan oleh para
tokoh Bulim, tetapi mengingat gadis itu tadinya hanya seorang pelayan yang tidak pernah
menginjak dunia ramai dan tidak berpengalaman sama sekali, tetap saja terlihat janggal.
Kecuali dia mendapat petunjuk dari seorang tokoh sakti, tidak mungkin dalam waktu tiga
atau lima hari, pengetahuannya bisa bertambah luas dengan sendirinya.
Tiba-tiba terdengar suara berderak-derak yang memekakkan telinga. Sumbernya
berasal dari bawah tanah. Dan dinding yang berlapis besi itu pun memperlihatkan sebuah
lubang besar. Suara derakannya begitu keras. Seluruh gedung sampai bergetar dibuatnya.
Seakan setiap waktu bisa ambruk ke bawah..
Kira-kira sepeminum teh kemudian, suara yang membuat jantung berdebar-debar itu
pun mulai mereda. Lubang itupun sudah terbuka seluruhnya. Ukurannya cukup untuk
tubuh seseorang menyelinap ke dalam.
Tan Ki melihat dinding itu memperlihatkan sebuah celah, tetapi tidak ada
perkembangan apa-apa, hatinya yang tertekan jadi agak mengendur dan diapun
menghembuskan nafas panjang. Tetapi celah yang terlihat di dalamnya gelap gulita. Entah
seberapa dalam dan jauhnya. Dia mempertajam penglihatannya serta mengawasi dengan
seksama. Namun yang dapat tertangkap oleh pandangannya hanya beberapa undakan
batu yang menurun ke bawah. Tampaknya seperti sebuah tangga rahasia yang menuju ke
bawah dan dapat menembus ke tempat lain.
Tanpa terasa mulutnya mengeluarkan suara keluhan.
“Tadi ketika hendak masuk ke mari, aku sudah memperhatikan pagoda bersegi delapan
ini. Keseluruhannya bertingkat delapan. Tetapi cara membuat bangunan ini tampaknya
sangat istimewa. Dekorasinya juga janggal. Pertama, tidak ada sebuahpun lukisan atau
gambar yang tergantung pada dindingnya. Kedua, tidak ada perabotan satupun. Bahkan
jendelapun tidak ada. Kecuali pintu masuk, yang lainnya merupakan dinding kokoh. Begitu
rapatnya seolah angin pun tidak dapat menembusnya, juga tidak ada tangga yang dapat
naik ke atas maupun turun ke bawah, kecuali ruang rahasia ini. Tapi kalau dibilang
sarananya terletak di sini, undakan batu yang terlihat hanya menuju ke bawah. Bagaimana
orang bisa naik ke atas?”
Seperti bergumam seorang diri, dia mengoceh panjang lebar. Tetapi sebetulnya dia
sedang memperingatkan Kiau Hun, bahwa tempat ini penuh dengan perangkap, alat
rahasia dan dia tidak boleh bertindak ceroboh.
Pada dasarnya Kiau Hun juga seorang gadis yang cerdas, memangnya dia tidak
mengerti isi hati yang terkandung dalam ucapan Tan Ki. Matanya menatap pemuda itu
dengan perasaan sayang. Bibirnya tersenyum lembut.
“Aku juga tahu kalau bangunan ini telah dipasang berbagai perangkap dan tidak boleh
dianggap ringan. Tetapi sebelum aku datang ke mari, aku telah mendapat beberapa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
petunjuk dari seorang Cianpwe. Meskipun penuh bahaya, tetapi aku sudah mempunyai
pegangan untuk meloloskan diri di saat genting.”
“Apakah ada seseorang yang melindungimu secara diam-diam?” tanya Tan Ki.
Tampaknya Kiau Hun tidak bersedia mengemukakan identitas orang itu. Bibirnya hanya
tersenyum sedikit dan sengaja mengalihkan pokok pembicaraan.
“Yang penting, kau harus mengikuti di belakangku dan tidak boleh sembarangan
berkeliaran. Biar menghadapi urusan yang bagaimana gawatnya, kau harus tenang. Aku
jamin tidak akan terjadi apa-apa.”
Meskipun ucapannya dicetuskan dengan santai, tetapi di dalamnya terkandung rasa
percaya diri dan keangkuhan yang dalam. Seperti menunjukkan, bahwa meskipun dunia ini
luas sekali, tetapi hanya ada aku seorang yang paling hebat.
Tepat pada saat itu, keadaan di depan pintu masuk menjadi remang- remang seperti
tertutup bayangan seseorang. Hati Kiau Hun terkejut sekali. Dia sadar telah kedatangan
seorang musuh. Oleh karena itu dia segera memperdengarkan suara tawa yang dingin.
Lengannya bergerak dan tiga macam senjata rahasia dilontarkan sekaligus.
Ilmu silat Kiau Hun sudah mencapai tahap di mana mendengar suara angin saja dia
sudah dapat menentukan arah. Meskipun dia tidak menolehkan kepalanya, namun senjata
rahasia yang dilontarkan mempunyai daya lempar yang tepat. Kelebatannya membawa
kilasan cahaya yang dingin, kecepatannya bagai kilat, bahkan timbul segulungan suara
suitan yang lirih.
Tan Ki melihat lengan Kiau Hun bergerak dan melemparkan senjata rahasia. Kecepatan
gerakannya hanya berlangsung dalam sekedi-pan mata. Diam-diam dia membayangkan,
serangan yang mendadak ini apabila ditujukan kepadanya, mungkin dia tidak sempat lagi
menghindar.
Ketika masih merenungkan kepandaian gadis itu, tiba-tiba telinganya menangkap suara
tawa yang panjang. Ketiga senjata rahasia tadi seakan tenggelam ke dasar lautan, tidak
terdengar suara sedikitpun.
Kiau Hun menjungkitkan sepasang alisnya ke atas. Mulutnya tertawa dingin.
“Gerakan saudara yang menggunakan jurus Po Hong Cut-hun (Menambal Angin
Menangkal Bayangan) ternyata boleh juga!”
Orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Terima kasih, terima kasih. Sambitan ketiga jarum perak ini juga kuat sekali!”
Kata-kata yang diucapkannya sebagai sindiran membuat hati Kiau Hun jengkel
setengah mati. Wajahnya yang cantik sampai memutih. Begitu mata memandang, dia
melihat usia lawannya paling banter dua puluh tahunan. Dia mengenakan jubah berwarna
putih, alisnya bagus, hidungnya mancung. Penampilannya gagah. Ketampanan maupun
gayanya tidak kalah dengan Tan Ki. Tanpa dapat ditahan lagi, dia jadi memandangnya
dengan termangu-mangu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Meskipun dia tidak mengenal orang ini, tetapi Tan Ki sendiri sudah mengenalinya. Anak
muda itu tidak lain adalah putra angkat Oey Kang yang menyebut dirinya sendiri Pendekar
Baju Putih Oey Ku Kiong. Dia segera maju dua langkah dan bermaksud mengucapkan
terima kasih atas pemberian obatnya, tiba-tiba anak muda itu telah mendahuluinya.
“Ayah menunggu di ruangan pendopo, harap mendapat kunjungan dari Saudara
berdua.”
“Bagaimana kau bisa tahu bahwa kami telah masuk ke dalam bangunan ini?” tanya Tan
Ki.
“Kalau menilik dari ucapanmu, tampaknya kau menganggap Pek Hun Ceng sebagai
tempat umum yang orang-orang bisa keluar masuk seenak perutnya sendiri.” sahut
pemuda itu.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tersebut, dia langsung membalikkan
tubuhnya dan berjalan keluar.
Tan Ki memandangi bayangan tubuh orang itu yang kekar dan menyiratkan
keangkuhan.
‘Tampaknya orang ini mempunyai watak yang terbuka, tetapi kemarahan dan
kegembiraan cepat sekali berubah-ubah. Benar-benar membuat orang sulit
mendekatinya…’
Oey Ku Kiong seakan sengaja ingin menjajal kedua orang itu. Begitu mereka menyusul
di belakangnya, setelah jarak diantara mereka kurang lebih empat lima mistar, tiba-tiba
dia menghimpun hawa murninya dan melesat ke depan.
‘Bagus, rupanya kau hendak menjajal ilmu ginkang kami!’ maki Kiau Hun dalam hati.
Gadis itu segera menarik nafas dalam-dalam dan menambah kecepatannya. Tubuhnya
berkelebat bagai kilat yang menyambar. Dia terus mengejar di belakang pemuda tersebut.
Angin yang berhembus membuat perhiasan di seluruh tubuhnya memperdengarkan suara
gemirincingan yang tidak putus-putus.
Di bawah sorotan cahaya matahari, tampak tiga sosok bayangan yang membentuk titik
hitam seakan melayang di udara. Kecepatannya bagai hembusan angin yang meniup
kumpulan asap. Baru terlihat sudah membuyar. Diiringi dengan suara kerincingan yang
timbul dari perhiasan di tubuh Kiau Hun, bak irama di pulau dewata.
Setelah melintasi tiga buah halaman, Oey Ku Kiong juga tidak dapat menarik dirinya
lebih jauh. Sedangkan Kiau Hun dan Tan Ki juga tidak sanggup lebih mendekat.
Tampaknya ilmu ginkang ketiga orang itu memang hampir seimbang.
Tiba-tiba terdengar Oey Ku Kiong mengeluarkan suara siulan yang panjang. Lengannya
merentang, tubuhnya mencelat dan tahu-tahu sudah berada di tengah udara. Dengan
gerakan yang indah dia mencelat ke atas tembok pekarangan kemudian menghilang dari
pandangan.
Tampaknya tanpa berpikir panjang lagi Kiau Hun juga ikut mencelat ke atas tembok.
Kemudian terlihat dia menggapaikan tangannya ke arah Tan Ki lalu meloncat ke bawah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki takut di balik tembok itu terdapat perangkap. Dia menghimpun hawa murninya
kemudian mencelat ke atas tembok, dia mengedarkan pandangannya sejenak, baru
kemudian meloncat turun. Dia mendarat tepat di samping Kiau Hun. Begitu mata
memandang, Oey Ku Kiong sendiri lenyap entah ke mana. Halaman berhias rumput
kosong melompong. Di sana hanya terdapat mereka berdua.
Mata Kiau Hun yang indah mengedar ke sekeliling. Dia memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Kemudian terlihat jari telunjuknya menuding.
“Coba lihat, apa itu?”
Tan Ki mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Kiau Hun. Dia melihat
rumpun bambu yang tersusun rapi membentuk pagar sebuah pondok. Hatinya jadi
tergerak.
“Pemuda tadi membawa kita ke tempat ini. Mungkin itulah pendopo yang dimaksud
oleh-nya.”
Tepat pada saat itu, kebetulan angin berhembus dari arah Kiau Hun ke tempat dirinya
berdiri. Jarak diantara mereka sangat dekat. Ketika Tan Ki sedang berbicara, hidungnya
dapat mengendus segulungan bau harum yang terpancar dari tubuh seorang gadis. Bau
harum itu samar sekali, namun sanggup membuat perasaan Tan Ki menjadi aneh. Dia
bagai terlena untuk beberapa saat. Seakan sedang menikmati suasana itu.
Justru ketika dia sedang terbuai, tidak terdengar olehnya sahutan Kiau Hun. Rupanya
gadis itu telah melangkah maju setindak demi setindak.
Tan Ki melihat dia berjalan menuju pondok tersebut, dia juga tidak enak berkata apaapa
lagi. Kakinya bergerak, tidak cepat dan tidak lambat, namun dengan tenang dan jarak
yang tetap, dia mengikutinya dari belakang.
Tampak wajah Kiau Hun memperlihatkan mimik yang aneh. Seperti ada suatu masalah
rumit di dalam hatinya. Sepasang alisnya berkerut-kerut. Jalannya seperti merayap. Jarak
dari tempat mereka ke pondokan itu hanya sekitar dua belas depaan. Dia malah
memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencapainya.
Di dalam hati Kiau Hun ada persoalan, dia sendiri malah tidak merasa bagaimana.
Justru Tan Ki melihat tampangnya yang termangu-mangu, tiba-tiba merasa tidak tenang.
Diam-diam dia menghimpun tenaga dalamnya dan berjaga-jaga terhadap segala
kemungkinan. Matanya segera beralih, dia melihat pintu rumah pondok itu tertutup rapat.
Tidak dapat diketahui keadaan di dalamnya. Delapan orang gadis yang cantik jelita dengan
pinggang masing-masing terselip sebilah pedang pendek. Mereka terbagi menjadi dua
kelompok yang menjaga di kiri kanan pintu pendopo tersebut. Penampilan mereka keren,
mereka tidak bergerak sedikitpun. Mungkin mereka bertugas sebagai penyambut tamu
Oey Kang.
Ketika kedua orang itu sudah dekat, kedelapan orang gadis itu segera membungkukkan
tubuhnya dengan penuh hormat. Tangannya direntangkan sebagai tanda mempersilahkan.
Gerakannya kompak tidak ada yang salah sedikitpun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu, Tan Ki baru sempat melihat, meskipun usia gadis-gadis itu baru sekitar
dua puluh tiga atau dua puluh empat tahunan, tetapi mata mereka masing-masing
menyorotkan sinar yang tajam menusuk.
‘Sinar mata mereka begitu tajam. Tampaknya tenaga dalam perempuan-perempuan ini
tidak lemah juga. Apabila kita sudah terlanjur masuk ke dalam dan mereka menutupi
depan pintu, pada saat itu, apabila ingin meloloskan diri juga sulitnya bukan main. Lebih
baik tingkatkan kewaspadaan.’ pikirnya dalam hati.
Dengan membawa pikiran seperti itu, cepat-cepat dia menjawil ujung lengan Kiau Hun.
Tiba-tiba terdengar gadis itu tertawa lepas.
“Aku kira biasanya dia menerima tamu di bagian paling bawah pagoda bertingkat
delapan itu. Mengapa waktu kita pergi, bayangan hantupun tidak kelihatan. Rupanya
tempat itu kurang sesuai. Di sini lebih leluasa untuk merencanakan berbagai jebakan.”
Mendengar Kiau Hun seperti berguman seorang diri, diam-diam hati Tan Ki jadi
tergetar. Tadinya dia curiga, Kiau Hun sudah diterima sebagai murid oleh Oey Kang dalam
beberapa hari ini, kemudian dia berpura-pura memainkan sandiwara dan memancing
dirinya dengan berbagai cara. Maksudnya ingin menyelidiki gerak-gerik yang akan
dilakukan oleh golongan putih dalam menghadapi Oey Kang. Tetapi mendengar nada
suaranya yang mengandung rasa permusuhan. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri yang
terlalu banyak curiga. Perlahan-lahan dia menepuk batok kepalanya sendiri. Rasa curiga
dalam hatipun lenyap dalam seketika.
Dalam waktu yang singkat itu, keduanya memikirkan persoalan masing-masing. Siapa
pun tidak menyadari bahwa mimik wajah rekannya agak janggal. Sekejap mata kemudian,
keduanya sudah sampai di depan pintu pendopo tersebut.
Pintu pendopo ini juga digerakkan dengan alat mereka. Ada orang yang menekannya
secara diam-diam. Ketika mereka baru menginjak di depannya, otomatis kedua belah pintu
pun bergeser kedua arah.
Di depan mata mereka tiba-tiba terlihat cahaya yang menyilaukan mata. Cahaya api
berkibar-kibar. Rupanya ruangan di dalam itu agak gelap. Meskipun belum mencapai
tengah hari namun di dalamnya terpasang lilin-lilin dalam jumlah yang banyak. Puluhan
meja tersusun rapi. Semuanya hampir dipenuhi tokoh-tokoh Bulim. Meskipun jumlah
orangnya cukup banyak, tetapi di wajah setiap orang tersirat hawa pembunuhan yang
tebal. Semuanya membungkam seribu bahasa. Begitu mencekamnya suasana di dalam,
mungkin sebatang jarum yang terjatuh di atas lantaipun dapat terdengar dengan jelas.
Tan Ki dan Kiau Hun saling pandang sejenak, kemudian bibir mereka mengembangkan
seulas senyuman, perlahan-lahan mereka melangkah masuk. Tetapi senyuman yang
terlihat di bibir Tan Ki seakan dipaksakan. Seakan membalas senyuman yang
dikembangkan oleh Kiau Hun.
Usia mereka hampir sebaya. Langkah kaki mereka tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Yang satu tampan dan gagah, wajahnya tenang. Sedangkan yang satunya lagi, cantik
namun mengandung kesan agak binal. Tanpa terasa, kehadiran kedua orang itu
membangkitkan perhatian para hadirin. Puluhan pasang mata terpusat pada diri kedua
orang itu. Wajah mereka memperlihatkan rasa terkejut. Seakan kehadiran mereka yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tiba-tiba itu benar-benar di luar dugaan mereka semua. Mereka juga merasa kagum
melihat gerakan keduanya yang begitu ringan.
Dalam beberapa hari yang singkat, Kiau Hun dari seorang pelayan tiba-tiba menjadi
tokoh kelas tinggi dunia Bulim. Pengetahuannya pun menjadi luas. Di dalam hal ini,
meskipun disebabkan oleh penemuan yang langka seperti yang diakuinya sendiri, namun
tidak ada seorangpun yang tahu sampai di mana sebetulnya ketinggian ilmu silat gadis itu
sekarang. Jangan cuma dilihat bibirnya terus mengembangkan senyuman, dan lagaknya
lemah gemulai, tapi sebetulnya dia juga sedang memperhatikan orang-orang yang ada di
dalam ruangan tersebut.
Matanya tajam sekali, satu per satu orang yang hadir di dalam ruangan diperhatikannya
dengan seksama. Dia sudah melihat bahwa sebuah meja yang terdapat di tengah-tengah
ruangan duduk seorang laki-laki setengah baya. Usianya kurang lebih empat puluhan ke
atas. Wajahnya putih bersih. Tidak memelihara kumis maupun jenggot. Kepalanya diikat
dengan sebuah pita. Pada meja sampingnya, duduk Liu Seng, Kok Hua-hong, Yi Siu dan
Cu Mei. Dia segera menunjukkan senyum yang lebar. Setelah mengitari tiga buah meja,
dia sampai di belakang Liu Seng. Dengan santai dia mengulurkan tangannya dan
menyentuh pundak orang itu.
“Loya Cu, apakah kau masih mengenali aku?” tanyanya sambil mengembangkan seulas
senyuman.
Mata Liu Seng langsung mendelik lebar-lebar.
“Lepaskan tanganmu. Di hadapan orang banyak, tidak boleh berlaku kurang ajar.”
Kiau Hun tampaknya memang sengaja ingin mencari gara-gara. Dia memalingkan
wajahnya sambil tertawa dingin.
“Aku bukan lagi budak keluarga Lu. Loya Cu juga tidak perlu menasehati aku.”
perlahan-lahan dia mengangkat tangannya ke atas dan mengambil sesuatu dari mahkota
di kepalanya. Setelah itu dia melanjutkan lagi kata-katanya yang terhenti. “Tusuk konde ini
terbuat dari emas murni. Meskipun harganya tidak seberapa, tapi rasanya cukup untuk
menebus kebebasanku.”
Dia meletakkan tusuk konde berbentuk burung hong itu di atas meja, kemudian
terdengar suara tawanya yang terkekeh-kekeh. Tanpa menunggu jawaban dari Liu Seng,
dia segera menarik tangan Tan Ki dan mengajaknya ke tempat Oey Kang duduk.
Karena putrinya diculik orang, hati Liu Seng sedang gelisah bukan main. Meskipun dia
berhasil menemui Oey Kang untuk membahas masalah ini, tetapi rasanya sulit diselesaikan
tanpa gerakan ujung pedang. Suasana dalam ruangan itu seakan dipenuhi bahan peledak.
Hal ini membuat perasaan mereka menjadi tidak tenang. Siapa sangka malah muncul
seorang Kiau Hun yang seakan sengaja mengolok-oloknya di hadapan orang banyak.
Untuk sesaat dia merasa hawa amarah dalam dadanya meluap-luap. Tapi bagaimana pun
Liu Seng adalah tokoh angkatan tua yang namanya sudah menggetarkan dunia persilatan.
Dia merasa malu berdebat dengan seorang gadis. Oleh karena itu, terpaksa dia menelan
dalam-dalam kejengkelan hatinya dan hanya mendengus dingin satu kali.
Kiau Hun berjalan menghampiri Oey Kang, tampaknya di sini dia juga bermaksud
mencari perkara. Dia tidak menyapanya sama sekali. Dengan tenang dia duduk di bagian
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bawah Oey Kang. Dia menghentakkan tangannya dan menarik Tan Ki dengan setengah
memaksa untuk duduk di sampingnya.
Perlu diketahui, peradatan di zaman itu sangat kolot. Diantara laki-laki dan perempuan
mempunyai batas yang tidak boleh dilanggar. Kedudukan kaum pria selalu dianggap lebih
tinggi, tidak seperti zaman emansipasi sekarang ini. Kiau Hun adalah seorang gadis yang
sudah dewasa. Sebetulnya Oey Kang bisa menurunkan perintah secepatnya dan
mempersilahkan dia duduk di tempat yang lain. Apalagi di sana masih ada beberapa
tempat duduk yang kosong.
Tetapi Kiau Hun sudah menghampiri dengan gaya bebas dan duduk di dekatnya. Sama
sekali tidak memperdulikan peradatan yang kukuh di zaman itu. Seperti perbuatannya tadi
yang menepuk pundak bekas majikannya. Itu saja sudah kelewatan. Sekarang di depan
umum dia menarik seorang pemuda dengan terang-terangan dan mengajaknya duduk
bersama. Hal ini bukan saja menimbulkan perhatian yang besar dari para hadirin.
Perasaan mereka pun terkejut sekali melihat keberaniannya.
Mendapat perhatian dari para hadirin, entah mengapa di dalam hati Tan Ki timbul
semacam perasaan yang tidak enak. Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya melirik
sekilas ke arah Kiau Hun. Mata gadis itu memandang ke arah lain. Seakan tidak perduli
pandangan orang-orang terhadap dirinya. Sinar matanya berbinar-binar, sebentarsebentar
dia mengerling ke arah makanan serta hidangan yang tersedia di atas meja.
Seakan dia berselera sekali. Tangannya segera menyambar sepasang sumpit. Dengan
santai dia mencomot sepotong ayam panggang dan di-endus-endusnya di depan hidung.
“Harum sekali, harum sekali!”
Gerak-geriknya maupun tingkah lakunya terlalu dibuat-buat. Sehingga ada beberapa
orang yang mengeluarkan suara tawa yang mengandung ejekan. Meskipun Oey Kang
bertindak sebagai tuan rumah, namun dia menatap dengan pandangan datar. Wajahnya
tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Dia berusaha setenang mungkin.
Terdengar suara dengusan dari hidung Kiau Hun. Sepasang alisnya berkerut. Ujung
bibirnya tertawa dingin.
“Meskipun daging ini memang harum sekali, tetapi takutnya mengandung racun. Kalau
karena kerakusan sesaat, malah diracuni orang sampai mati, maka kejadian ini merupakan
kejadian yang paling mengenaskan yang pernah kutemui.” tenaga dalamnya segera
disalurkan. Sembari berbicara, tangannya yang menggenggam sepasang sumpit bergerak
perlahan. Potongan ayam panggang tadipun mencelat ke tengah udara kemudian melesat
keluar sampai sejarak tujuh langkah dan menancap di tubuh sebatang pohon.
Terdengar suara desiran yang lirih. Batang pohon itu pasti sangat keras, tetapi
potongan ayam panggang yang lembut itu dapat menancap ke dalamnya sehingga
amblas!
Kekuatan tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Hal ini membuat
para hadirin yang melihatnya menjadi terpana. Wajah mereka berubah hebat. Sampai Oey
Kang sendiri juga terkejut bukan kepalang. Dua gurat alis yang menjuntai ke bawah
tampak bergerak-gerak. Wajahnya agak berubah, namun dalam sekejap mata sudah pulih
seperti sedia kala.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bibirnya malah menyunggingkan seulas senyuman.
“Entah dari pegunungan terkenal yang mana Nona ini berasal? Harap maafkan
pandangan orang she Oey yang dangkal sehingga tidak mengenali dalam sesaat.” sapanya
ramah.
Kiau Hun tertawa lebar.
“Aku datang dari asalku.” sahut gadis itu seenaknya.
Oey Kang tersenyum lembut.
“Nona ini sungguh lucu. Orang she Oey ini meskipun tidak becus, juga tidak berani
berlaku kurang ajar pada kelima partai besar apalagi dengan menyebarkan racun.” orang
ini memang tidak malu disebut sebagai raja iblis nomor satu di zaman ini. Hatinya licik,
pengalamannya luas. Meskipun kebencian dalam dadanya berkobar-kobar, tetapi
penampilannya masih tenang, cara bicaranya pun santai dan wajar.
Kiau Hun mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek. Baru saja dia ingin
mengucapkan sesuatu, tampak Liu Seng bangkit dari tempat duduknya dan menjura
dalam-dalam.
“Tadi Oey Cengcu telah mengabulkan untuk melepaskan putriku. Entah bagaimana kelanjutannya
sekarang?” tanya orang itu dengan suara lantang.
Oey Kang merenung sejenak.
“Tanpa memperdulikan perjalanan yang jauh, Liu heng datang untuk menolong
putrimu. Kasih sayang yang besar ini sungguh membuat orang kagum. Kalau orang she
Oey tidak menuruti permintaan yang kau ajukan, tampaknya seperti orang yang tidak
punya rasa kemanusiaan sama sekali. Kalian hampir tidak pernah mengunjungi rumahku
yang jelek ini, tetapi sekali datang sampai berbondong-bondong, benar-benar merupakan
kebanggaan orang she Oey. Pepatah kuno me-ngatakan: ‘Penghormatan harus dibalas
dengan baik! Sebelum berpisah, sebagai tuan rumah yang baik, orang she Oey harus
memberikan kenangan yang manis untuk kalian semua.” selesai berkata, dia segera berdiri
dan menjura tiga kali berturut-turut.
Meskipun kata-katanya sangat masuk di akal dan seakan mengandung ketulusan yang
dalam, namun para tokoh yang datang hari ini merupakan orang yang rata-rata sudah
mempunyai nama besar di dunia Kangouw. Pengalaman mereka sangat luas. Mana
mungkin mereka tidak mengerti kalau ucapan Oey Kang tadi mengandung makna yang
dalam. Setelah mendengar kata-katanya, wajah mereka satu per satu menjadi berubah.
Tanpa dapat ditahan lagi, mereka segera menegakkan badannya. Wajah masing-masing
menunjukkan semacam ketegangan yang tidak teruraikan dengan kata-kata.
Kiau Hun malah memalingkan wajahnya dan mengerling Tan Ki berulang kali. Bibirnya
terus mengembangkan senyuman. Sebelum masuk ke dalam Pek Hun Ceng ini dia sudah
merencanakan apa yang akan dilakukannya. Tampaknya dia mempunyai keyakinan diri
yang dalam. Biar menghadapi bahaya yang bagaimanapun, dia masih bisa meloloskan diri.
Oleh karena itu, menghadapi suasana yang tegang seperti saat itu, dia tidak ambil perduli
sama sekali. Wajahnya tidak menyiratkan perasaan gentar sedikitpun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebaliknya, hati Tan Ki semakin lama semakin tidak tenang. Dia bagai duduk di atas
puluhan jarum. Ingin rasanya cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut dan semakin
jauh semakin baik.
Dia takut Oey Kang akan membongkar rahasia dirinya. Apabila orang-orang yang hadir
dalam ruangan ini tahu bahwa dialah Cian bin mo-ong yang telah menggemparkan dunia
Kangouw selama setengah tahun ini, bagaimana akibatnya, dia sendiri tidak berani
membayangkan.
Untuk sesaat berbagai macam pikiran melintas di benaknya. Semakin dipikir semakin
menakutkan. Dia benar-benar tidak berani berpikir lebih jauh, tetapi situasi yang
dihadapinya saat ini, membuat Tan Ki mau tidak mau memikirkan dari segi buruknya dulu.
Justru ketika hatinya semakin tidak tenang, tiba-tiba telinganya mendengar suara irama
musik yang mengalun-alun. Hatinya jadi tergetar. Perasaannya menjadi tegang. Mendadak
dia merasa irama musik itu seperti mengiringi jantungnya yang berdegup kencang. Seakan
hari cerah sebelum badai topan melanda.
Pendengarannya dipertajam, dia merasa irama musik itu lembut sekali. Seperti jauh
tetapi dekat. Membuat orang bingung menentukan dari mana asal alunan irama tersebut.
Dalam waktu yang singkat, udara seperti terasa pengap. Suasana di dalam ruangan bagai
diselimuti ketegangan yang tidak terkirakan.
Ketika irama musik itu baru terdengar, wajah para hadirin bagai diselimuti keangkeran
serta keseriusan yang aneh. Mata mereka serentak beralih ke arah musuh tangguh yang
ada di hadapan mereka. Mereka memandang dengan mata terbelalak dan mulut
membungkam.
Irama musik itu terus mengalun. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dua pintu
sebelah dalam perlahan-lahan terbuka. Seorang gadis yang cantik jelita berjalan keluar.
Begitu dia melangkah masuk, serentak pandangan mata para hadirin langsung beralih.
Dalam waktu yang bersamaan, mata mereka terbelalak, hati mereka berdebar-debar.
Mereka melihat wajah gadis itu begitu rupawan. ‘Alisnya berbentuk indah. Di balik
kecantikannya terselip kesucian dan keanggunan yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
Seakan seluruh syair indah yang terdapat dalam dunia ini tergabung dalam dirinya. Tetapi
yang lebih mengejutkan, adalah tubuhnya yang tidak di-tutupi oleh selembar benangpun.
Hanya tangannya yang mengibarkan sehelai selendang yang tipis dan pada dasarnya tidak
berarti sama sekali.
Benar-benar merupakan sebuah pemandangan erotis yang di luar dugaan semua orang.
Pemandangan ini juga membawa daya pikat serta rangsangan yang sulit diuraikan dengan
kata-kata. Meskipun orang-orang yang hadir dalam ruangan itu rata sudah berusia
setengah baya, namun tanpa dapat ditahan lagi, mereka juga memandang dengan
terpana dan hati tegang.
Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengan tatapan gadis yang telanjang itu. Selembar
wajahnya yang tampan jadi merah padam seketika. Cepat-cepat dia memalingkan
wajahnya dan tidak berani melihat lagi.
Rupanya gadis ini bukan orang lain. Dia adalah gadis yang selama ini dirindukan oleh
Tan Ki. Liu Mei Ling. Juga merupakan putri kesayangan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebagian besar dari orang-orang yang hadir juga mengenalnya. Sampai Kiau Hun juga
me-ngeluarkan suara seruan terkejut. Kemudian terlihat bibirnya bergerak-gerak seakan
sedang bergumam seorang diri.
“Kenapa Siocia bisa berubah menjadi seperti ini? Aneh!” hubungannya dengan Mei Ling
sudah seperti saudara sendiri. Tetapi karena selama ini dia sudah terbiasa memanggilnya
dengan sebutan ‘Siocia’, meskipun sekarang dia bukan lagi pelayan dalam keluarga Liu,
namun kebiasaan itu sudah sulit dirubah.
Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, wajahnya sendiri jadi merah jengah. Dia
menarik nafas panjang-panjang kemudian menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba terdengar suara gebrakan meja yang keras. Sesosok tubuh berkelebat dan
meraung marah…
Rupanya Liu Seng baru melihat bahwa anak gadis yang sedang menari dengan tubuh
telanjang, dia segera sadar bahwa di balik semua ini pasti ada sesuatu yang tidak wajar.
Tetapi hawa amarah dalam dadanya sudah terlanjur meluap. Tanpa berpikir panjang lagi,
dia menggebrak meja sekeras-kerasnya sambil meraung murka dan menerjang ke depan.
Justru dalam waktu yang bersamaan, tiba-tiba terdengar suara kliningan yang tidak
putus-putus disusul dengan serangkum bau harum yang tebal menerpa hidung. Dua belas
orang gadis yang juga tidak memakai selembar benangpun masuk ke dalam ruangan
untuk menyanyi sambil menari.
Tangan dan kaki mereka semuanya dipasangi kliningan yang bunyinya terus terdengar.
Tampaknya kedua belas gadis itu sudah mendapat latihan yang profesional. Gerakannya
amat teratur, barisan mereka terlihat rapi. Dalam sekejap mata mereka sudah mengelilingi
Mei Ling, bagai dayang-dayang yang mengelilingi putri raja. Tubuh Mei Ling diangkat
beramai-ramai, namun dendang lagu maupun tarian tidak terhenti sama sekali. Gerakan
mereka semakin erotis.
Tadinya Liu Seng ingin maju dan menghibur hati putrinya. Tetapi kemunculan gadisgadis
lainnya terlalu mendadak. Dalam sekejap mata tahu-tahu mereka sudah di depan
mata. Dengan panik dia mengempos nafasnya serta menahan dirinya yang sedang
menerjang ke depan. Begitu perhatiannya dipusatkan, dia melihat gadis-gadis bugil itu
sudah mengerumuninya dari kiri kanan. Tetapi dia tidak dapat melihat dengan jelas wajah
mereka. Hatinya jadi terkejut sekali.
Tarian mereka cepat sekali, pikirnya diam-diam.
Rupanya, baru saja langkah kaki Liu Seng berhenti, tahu-tahu dirinya telah dikelilingi
dua belas orang gadis. Tepat pada saat itu juga, dia mencium aroma harum yang agak
aneh. Bau itu membuat orang terlena sedemikian rupa, seolah-olah tubuh gadis itu
memancarkan bau harum yang berbeda-beda yang terpancar seiring dengan gerakan
tubuh mereka sewaktu menari-nari.
Orang yang menciumnya seperti terlena bahkan terselip sedikit rasa iba di hati.
Pikiranpun tidak dapat dipusatkan dengan baik, seluruh hawa amarah yang tadinya
berkobar-kobar di dada lenyap entah ke mana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi, biar bagaimanapun Liu Seng adalah seorang tokoh tua yang sudah banyak
pengalaman. Melihat gadis-gadis bugil yang mengelilinginya dari depan belakang bahkan
kiri kanan, dia segera menyadari bahwa keadaan tersebut tidak wajar. Bau harum yang
terpancar dari tubuh para gadis ini begitu tajam menusuk, sanggup membuat perasaan
orang menjadi lengah dan sulit menggunakan akal sehat. Dengan demikian, rasa
permusuhan di dalam hati pun jadi hilang. Apabila mereka menggunakan kesempatan ini
untuk…
Pikiran itu bagai sambaran kilat yang melintas di benaknya. Tanpa terasa hawa
amarahnya jadi meluap-luap. Dia mendongakkan wajahnya serta menarik nafas dalamdalam.
Mulutnya mengeluarkan raungan sekeras-kerasnya. Dia mengangkat tangannya ke
atas dan tiba-tiba dia mencengkeram ke arah gadis yang terdekat dengannya.
Serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar. Tenaga yang terpancar demikian kuat
sampai menimbulkan suara seperti suitan panjang. Siapa sangka, menghadapi
serangannya yang begitu hebat, gadis itu seakan tidak memandang sebelah mata. Dia
masih terus mendendangkan lagu serta menari-nari. Tampaknya dia tidak perduli sama
sekali.
Cengkeraman Liu Seng begitu tajam bagai sebilah pedang. Sejenak lagi dada gadis itu
pasti tercengkeram olehnya. Melihat gadis itu tetap tidak perduli, hati Liu Seng jadi tidak
tega.
Aku dengan dia tidak ada permusuhan apapun, mengapa aku harus membunuhnya?
Kata laki-laki itu dalam hati.
Biar bagaimanapun Liu Seng adalah seorang pendekar yang mulia. Begitu pikirannya
tergerak, tanpa sadar dia menarik kembali tenaga dalamnya beberapa bagian. Tepat pada
saat itu juga, tiba-tiba langkah gadis itu bergeser, dengan perlahan-lahan tubuhnya
berputar. Dengan demikian, cengkeraman tangan Liu Seng pun luput dari sasarannya.
Liu Seng jadi tertegun. Cengkeramannya mengandung kecepatan dan gerakan yang
aneh. Meskipun di tengah jalan dia sempat menarik kembali beberapa bagian tenaga
dalamnya, namun jurus yang dilancarkan tetap hebat. Tubuh gadis itu berputar seakan
merupakan gerakan dari tariannya, tahu-tahu dia sudah berhasil menghindarkan diri dari
cengkeraman tokoh tersebut.
Hati Liu Seng hampir tidak percaya dengan penglihatannya. Cengkeramannya segera
ber-ubah menjadi tepukan dan diarahkannya kepada gadis yang ada di sebelah kiri.
Tampak tubuh yang putih mulus itu berkelebat, bau harum kembali menerpa hidung Liu
Seng. Entah bagaimana, tahu-tahu serangannya yang kali ini luput pula. Akhirnya hawa
amarah dalam dada laki-laki itu jadi meluap. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang
keras. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dan dia langsung melancarkan dua buah
pukulan.
Angin yang timbul dari pukulannya terpancar keluar, terdengar suara yang menderuderu.
Kehebatannya tak perlu dikatakan lagi. Tetapi kedua rangkum tenaga yang
terpancar dari pukulannya bagai tenggelam ke dasar lautan. Yang dihantamnya justru
tempat kosong. Tenaga dalam yang hebat itu tidak sempat menyentuh apapun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya gerak lagu dan tarian yang dilakukan para gadis itu merupakan semacam ilmu
silat yang aneh. Di dalamnya terkandung kehebatan yang luar biasa. Dalam tiap
gerakannya terselip perubahan yang tidak terduga-duga. Sekalipun Liu Seng sudah
berusaha menyerang dengan gencar, justru sembari bernyanyi dan menari, tahu-tahu
semua serangannya dapat dihindarkan dengan mudah.
Liu Seng sudah terjun ke dalam dunia Kangouw sejak tiga puluhan tahun yang lalu.
Baik barisan besar maupun keroyokan musuh atau keadaan yang bagaimana bahayapun
sudah pernah ditemuinya. Tetapi dia justru belum pernah mengalami kejadian yang begitu
aneh seperti sekarang ini. Untuk sesaat, hatinya menjadi terkejut juga takut. Di mimik
wajahnya tersirat perasaannya yang penasaran. Tanpa sadar dia memandang para gadis
itu dengan termangu-mangu.
Tampak para gadis itu bergerak dengan lemah gemulai, mereka menerobos ke mari
palu menyelinap ke sebelah sana. Kadang-kadang kaki mereka terangkat ke atas, kadangkadang
tubuh mereka membungkuk ke permukaan lantai. Gayanya sungguh indah namun
erotis sekali. Suasana di dalam ruangan itu ibarat ajang pembangkit birahi. Orang-orang
yang hadir ada beberapa yang mema-lingkan wajahnya tidak berani melihat. Sedangkan
sebagian diantara mereka masih tetap memandang, namun wajah mereka sudah berubah
merah padam dan hati mereka terasa berdebar-debar. Cepat- cepat mereka mengerahkan
tenaga dalam dan mempertahankan diri sekuat kemampuan.
Suasana semakin tegang. Di balik nyanyian dan tarian tersebut terselip bahaya yang
mengintai. Setiap waktu dan setiap saat dapat terjadi bencana yang mengerikan.
Tiba-tiba terdengar Kiau Hun mendengus dingin.
“Sungguh barisan pemikat sukma yang hebat!” sejak awal hingga akhir, matanya tidak
dialihkan dari wajah Mei Ling. Mula-mula dia juga memandang dengan terkesima,
sehingga wajahnya merah padam dan hatinya berdegup dengan keras. Tetapi dia masih
sanggup mem-pertahankan ketenangannya sehingga tidak seberapa terpengaruh.
Setelah memperhatikan sejenak, tiba-tiba dia merasa bahwa arena yang dijadikan
ajang nyanyian dan tarian para gadis itu sebetulnya cukup luas. Setelah Liu Seng
terperangkap dalam barisan tersebut, gerakan kaki mereka menjadi agak kacau. Tetapi
apabila laki-laki itu ingin bergerak satu langkah saja, rasanya tidak ada tempat lagi untuk
berpijak. Setelah berhasil melihat keadaan itu, tanpa sadar dia mengeluarkan seruan
terkejut, tetapi mimik wajahnya masih tetap tenang seperti sebelumnya.
Oey Kang tertawa datar.
“Mata Nona sungguh tajam. Ternyata keampuhan barisan ini sanggup terlihat olehmu.
Benar-benar membuat orang jadi kagum!”
“Kepandaian tidak berarti, yang diperlukan hanya keawasan mata saja.” sahut Kiau
Hun. Dengan gaya santai dia mengambil sumpit giok yang ada di atas meja.
Dikerahkannya tenaga dalam secara diam-diam dipatahkannya sumpit yang keras itu
menjadi dua bagian. Dia menggenggamnya dalam telapak tangan kemudian mengedarkan
matanya. Dia melihat Mei Ling sudah diturunkan kembali oleh kedua belas gadis yang
sedang menari-nari tadi. Posisinya terkurung di tengah-tengah. Dia berdiri tegak seperti
sebuah patung yang indah. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Kiau Hun tersenyum
simpul. Lengannya digerakkan, tampak dua titik sinar putih yang halus sekali melesat ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
depan bagai kilat. Rupanya dia menggunakan patahan sumpit itu sebagai pengganti
senjata rahasia. Sasarannya dua urat nadi yang berbahaya di bagian dada dan
tenggorokan Mei Ling.
Hati Tan Ki tercekat sekali melihatnya.
“Apa yang kau lakukan?” bentaknya marah.
Meskipun demikian, tidak ada peluang lagi baginya untuk mencegah. Hatinya panik
sekali. Dia tidak perduli atau menyempatkan diri untuk bertanya kepada Kiau Hun.
Kepalanya dipalingkan, mungkin Kiau Hun memang berniat membunuh gadis itu.
Serangannya ini menggunakan tenaga yang sepenuhnya. Melesatnya pun demikian cepat.
Dalam keadaan yang hanya sekejap mata saja, dua patahan sumpit tadi sudah sampai di
hadapan Mei Ling.
Kalau diceritakan memang rasanya panjang, kejadiannya sendiri hanya beberapa detik
saja. Justru pada saat yang bahaya dan menegangkan itu, tiba-tiba terlihat salah seorang
gadis yang sedang menari itu menggeser kakinya beberapa langkah. Dia menghadang di
depan Mei Ling. Gerakannya seperti tidak sengaja, seakan memang termasuk gerakan dari
tariannya itu. Lengan kirinya bergerak dua kali berturut-turut. Ternyata dia berhasil
mementalkan kembali dua batang patahan sumpit yang melesat dengan kekuatan dahsyat
itu. Kemudian tampak pinggangnya melenggok-lenggok mengikuti irama lagu, langkahnya
kembali ke tempat semula. Wajahnya tidak menunjukkan perasaan apa-apa. Seakan tidak
pernah terjadi sesuatupun.
Gayanya yang luwes dan indah serta gerakan yang tidak terduga-duga, mana pernah
Tan Ki melihatnya. Tanpa dapat ditahan lagi dia jadi termangu-mangu. Matanya tanpa
sadar beralih pada diri gadis yang satu itu.
Setelah memperhatikan sejenak, dia merasa gerakan tari yang dilakukan gadis itu tidak
terselip perasaan malu sedikitpun. Malah ketika sepasang buah dadanya berayun-ayun,
dalam gerakannya terselip rangsangan serta sanggup mempesona siapapun yang
melihatnya. Tiba-tiba jantungnya jadi berdebar-debar. Dadanya seakan dipenuhi udara
sehingga terasa sesak. Kalau dihembuskan, rasanya mengganjal di hati. Wajahnya jadi
merah padam. Perasaannya sendiri sulit dijelaskan. Pikirannya terasa buntu.
Tan Ki adalah seorang pemuda yang luar biasa cerdasnya. Begitu merasa keadaan
dirinya tidak wajar, dia segera sadar bahwa dirinya telah terpengaruh tarian bugil gadis
itu. Gairah birahi di dalam hatinya jadi berkobar-kobar. Dia terperanjat sekali. Tetapi dia
belum pernah mempelajari ilmu Lwekang. Apalagi pikirannya agak terganggu. Untuk
sesaat dia tidak bisa mengerahkan hawa murninya untuk menolak pengaruh tersebut.
Tangannya menekan di depan dada, matanya cepat-cepat dipejamkan rapat-rapat dan
tidak berani melihat lebih lama.
Tiba-tiba terdengar suara yang keras, seakan ada suatu benda berat yang terjatuh dari
atas. Tadinya dia tidak ingin melihat, tetapi dia tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
Diam-diam dia mengintip, wajahnya langsung berubah hebat. Entah apa sebabnya,
tahu-tahu Liu Seng sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Perubahan yang mendadak ini, seakan memang sudah dalam dugaan para pendekar.
Begitu dia terjatuh, terdengar beberapa orang menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu, irama musik maupun bunyi gendang yang berkumandang dari luar masih tidak
putus-putusnya berbunyi. Orang-orang yang hadir saling melirik pada waktu yang
bersamaan, bibir mereka menyunggingkan tawa yang sumbang. Perasaan mereka sedang
berada di puncak ketegangan. Hati mereka mengerti, irama musik itu merupakan sumber
perintah para gadis yang sedang menari-nari itu. Kalau irama itu tidak berhenti dan tetap
diteruskan, orang-orang itupun terus diancam bahaya.
Orang-orang yang hadir dalam ruangan itu, kalau bukan pendekar setempat, pasti
tokoh-tokoh yang sudah punya nama. Pengalaman mereka banyak sekali. Pengetahuan
merekapun sangat luas. Setelah menyadari adanya bahaya yang mengancam, tanpa
diperintah mereka segera menundukkan kepala merenung. Bagaimana caranya
menghadapi situasi seperti ini? Bahkan ada beberapa orang yang memejamkan matanya
rapat-rapat agar pikirannya dapat terpusat penuh. Tiba-tiba…
Terdengar lagi suara Trang! Trang! Sebanyak beberapa kali. Setelah didengarkan
dengan seksama, rupanya suara tadi merupakan bunyi genta yang ditabuh sebanyak tiga
kali.
Tabuhan yang berjumlah tiga kali itu seakan merupakan isyarat untuk kedua belas
gadis yang sedang menari dengan tubuh bugil itu. Gerakan mereka mendadak berubah
serentak. Perlahan-lahan mendekat ke arah tempat duduk para pendekar.
BAGIAN XVIII
Alis Kiau Hun perlahan-lahan terjungkit ke atas, dia meningkatkan kewaspadaannya.
Tangan kanannya secara diam-diam mengeluarkan tiga batang jarum Bwe Hua Ciam, siap
dilancarkan setiap saat.
Sambil menyanyi dan menari, kedua belas gadis itu semakin merapat ke arah para
pendekar yang hadir dalam ruangan tersebut. Suasana yang memang sudah tegang
semakin menjadi-jadi.
Tan Ki melihat para gadis itu mulai meninggalkan Mei Ling yang masih berdiri
termangu-mangu. Dia menganggap inilah kesempatan yang paling baik. Tangannya
bertumpu di atas meja, sekali sentak tubuhnya melesat ke tengah udara kemudian dengan
kecepatan yang bagai kilat dia meluncur ke depan. Ketika kakinya mendarat lagi di atas
tanah, posisinya tepat di samping Mei Ling.
Hampir tepat pada waktu yang sama, diantara para pendekar yang sedang duduk
sudah ada beberapa orang yang bangkit berdiri. Wajah mereka yang serius menyiratkan
ketegangan yang tidak terkatakan. Tampaknya mereka sudah siap menghadapi musuh
tangguh di depan mata. Tetapi kedua belas gadis yang bugil itu sudah semakin mendekat,
hidung mereka mengendus bau harum yang memikat. Bau harum itu semakin lama
semakin menebal. Hati mereka terkesiap, wajah mereka pun mulai terasa panas.
Rupanya bau harum yang terpancar dari tubuh-tubuh para gadis ini bukan sejenis
minyak pengharum yang sering digunakan oleh para wanita penghibur, tetapi semacam
obat dari golongan sesat yang dianggap sebagai benda pusaka. Obat ini diramu dari jenis
rumput-rumputan yang hanya tumbuh di wilayah bercuaca dingin. Khasiatnya dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membius perasaan maupun pikiran orang. Juga merupakan obat yang keras. Entah
bagaimana, ternyata Oey Kang dapat memilikinya, kemudian dia menaburkannya pada
tubuh-tubuh para gadis itu sehingga mengacaukan pikiran para pendekar. Dalam golongan
sesat juga menggunakan obat ini sebagai ramuan perangsang.
Terdengar suara raungan yang keras dari tengah ruangan. Seorang laki-laki bertubuh
tinggi besar tidak dapat menahan gairah yang berkobar-kobar dalam dadanya. Dia
menerjang ke depan secara tiba-tiba.
Pikiran atau akal sehat orang ini sudah lenyap. Dalam sekejap mata dia sudah sampai
di hadapan seorang gadis. Tampak matanya menyorotkan sinar yang menyeramkan.
Sepasang lengannya terbuka lebar-lebar dan dengan tampang garang dia menubruk ke
arah gadis itu dengan kalap.
Tampaknya gadis itu masih belum melihat laki-laki bertubuh tinggi besar itu sedang
menerjang ke arahnya. Tangannya masih bergerak dengan lemah gemulai, pinggangnya
melenggok-lenggok. Perlahan-lahan dia mengayunkan langkahnya.
Saat itu juga, mata para pendekar lainnya sudah terbelalak lebar- lebar. Mereka bahkan
tidak berkedip sedikitpun. Rasanya mereka ingin melihat bagaimana caranya gadis itu
melepaskan diri dari rangkulan laki-laki bertubuh besar itu nanti. Dalam pikiran mereka,
meskipun terjangan laki-laki itu tidak bagaikan kilat, tetapi kecepatannya sudah termasuk
luar biasa. Kalau ia cuma salah seorang Bu Beng Siau-cut di dunia Kangouw, jangan harap
bisa berhasil.
Waktu yang demikian singkat justru merupakan saat-saat yang paling menegangkan
bagi para pendekar. Tampak sepasang lengan laki-laki itu begitu kokoh dan kekar.
Lilitannya pun pasti kuat sekali seperti belitan ular. Sejenak lagi pinggang gadis tersebut
pasti terangkul olehnya. Tiba-tiba, tampaknya gadis itu seperti tersentak, mulutnya
mengeluarkan seruan terkejut. Dengan gerakan yang aneh tubuhnya berputar. Selendang
di tangannya otomatis ikut berputar dan melambai-lambai di udara. Gayanya itu seakan
refleksi dari rasa terkejutnya, namun dengan telak selendangnya menerpa wajah laki-laki
bertubuh tinggi besar itu.
Terdengar suara dengusan yang lirih. Disusul dengan suara berdebum yang keras. Dua
hal terjadi dalam waktu yang bersamaan. Begitu mengeluarkan suara dengusan yang lirih,
laki-laki bertubuh tinggi besar itu tahu-tahu sudah terkulai di atas tanah, jatuh tidak
sadarkan diri. Sementara itu, Tan Ki tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia segera
memeluk tubuh Mei Ling kemudian membopongnya lari ke depan pintu. Tangannya segera
terangkat dan dihantamkan ke arah pintu tersebut. Suara berdebum keras yang terdengar
tadi justru hasil dobrakan yang menyebabkan pintu kayu itu hancur seketika. Diantara
hamburan kepingan kayu-kayu tersebut, tubuh Tan Ki pun menerjang keluar.
Dia takut Oey Kang menyuruh orang mengejarnya. Kalau benar, dia tentu akan
mendapat tidak sedikit kesulitan. Oleh karena itu, begitu menerjang keluar, dia segera
mengerahkan tenaga sepenuhnya dan lari terbirit-birit. Ingin rasanya dia mempunyai
sepasang sayap di punggung agar dapat terbang sejauh mungkin. Dalam pikirannya dia
membayangkan, seandainya bisa lebih cepat meninggalkan tempat tersebut, justru
semakin baik.
Dengan jelas Kiau Hun melihat orang yang dicintainya malah menolong gadis
saingannya meninggalkan tempat tersebut. Dia merasa ada serangkum kebencian yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
memenuhi hatinya. Hidungnya terasa tersumbat. Perasaannya menjadi pilu. Apabila saat
itu dia langsung mengerahkan tenaga mengejar keluar, meskipun ilmu ginkang Tan Ki
lebih hebat dari sekarang, dia juga tidak dapat melepaskan diri dari kejaran Kiau Hun.
Tetapi Kiau Hun mempunyai rencana yang besar sekali. Bahkan lebih penting daripada
urusan asmara. Oleh karena itu, dia mendengus dingin dan menahan kebencian yang
menyelinap dalam hatinya. Dipaksakannya dirinya untuk duduk tenang.
Pada saat itu, keadaan di dalam ruangan itu sudah berubah menjadi kacau balau. Para
pen-dekar yang melihat rekannya yang bertubuh tinggi besar itu dengan mudah
dilumpuhkan oleh pihak lawan, tidak ada satupun yang tidak terperanjat. Dalam pikiran
mereka, dari pada duduk menunggu diserang, mengapa tidak mengambil tindakan terlebih
dahulu. Kalau bisa bunuh beberapa orang dari gadis itu untuk melampiaskan kemarahan.
Oleh karena itu, dengan perasaan gusar, beramai-ramai mereka menerjang keluar.
Terdengar suara dentangan yang bising. Meja kursi pecah berantakan, mangkok maupun
cawan-cawan pecah berhamburan.
Para pendekar itu menyerang serentak. Hati mereka tergerak seketika, suara bentakan
mereka penuh kegusaran, bagai burung berapi yang sudah lama padam tiba-tiba bergolak
kembali dan bisa meletus setiap saat. Suaranya menggetarkan hati siapapun yang
mendengarnya.
Siapa nyana, tampaknya para gadis itu sudah menduga para pendekar akan mengambil
tindakan demikian. Ketika mereka membalikkan kursi meja dan bangkit berdiri, tubuh para
gadis itu juga bergerak serentak. Masing-masing mengeluarkan suara teriakan dan
menyambut terjangan para pendekar itu.
Terdengar suara tertawa cekikikan dan jerit menyeramkan. Keadaan semakin kalut.
Suara itu bagai saling susul menyusul. Dalam sekejap mata sudah tiga orang pendekar
terkapar di atas tanah dengan jiwa melayang.
Ternyata para gadis yang menari-nari itu mendekati para pendekar, mereka tidak melancarkan
pukulan maupun menyerang dengan senjata rahasia. Tetapi justru di saat para
pendekar mengendus bau harum yang terpancar dari tubuh mereka, untuk sesaat mereka
jadi termangu-mangu. Pikiran maupun akal sehat bagai terpengaruh. Dalam waktu yang
bersamaan, tangan para gadis itu melambaikan selendangnya dengan lemah lembut yang
mereka kibaskan ke arah para pendekar tersebut. Meskipun tampaknya lemah gemulai
namun kecepatannya hebat tidak terkira.
Kalau dikatakan memang aneh. Wajah para pendekar terkibas oleh selendang yang tipis
itu, mereka segera mengeluarkan suara jeritan yang menyayat hati. Tubuh mereka
terhuyung-huyung dan akhirnya terkulai jatuh.
Perubahan yang mendadak ini, juga merupakan kejadian yang belum pernah didengar
atau ditemui oleh para pendekar. Tanpa dapat ditahan lagi, mereka menghembuskan
nafas panjang. Hati mereka terkejut sekali. Semacam kengerian di ambang kematian bagai
menyelimuti benak mereka.
Diantara para pendekar, ilmu Liu Seng yang paling tinggi. Tetapi saat ini dia sudah
jatuh tidak sadarkan diri di atas tanah dan tidak tahu apa-apa lagi. Sisanya seperti Cu Mei,
Yi Siu, Kok Hua-hong malah seperti naga yang kehilangan kepalanya. Usaha besarpun sulit
diharapkan untuk berhasil. Meskipun mereka sudah mengetahui bahwa selendang yang
tipis itu merupakan faktor terpenting yang menyebabkan kekalahan para pendekar, tetapi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam situasi yang kalang kabut seperti ini, mau tidak mau mereka memikirkan
keselamatan dirinya masing-masing terlebih dahulu. Akibatnya tidak ada satu orangpun
yang menyambut para gadis itu. Malah begitu melihat mereka semakin mendekat, para
pendekar pun meninggalkan tempat duduk masing-masing dan menyingkir sejauhjauhnya.
Di tempat duduk para hadirin, hanya Kiau Hun seorang yang masih duduk di tempat
semula dengan tenang menyaksikan apa yang berlangsung di hadapannya. Tubuhnya pun
tidak bergerak sama sekali. Kalau dibandingkan dengan tampang para pendekar yang
ketakutan, justru ketenangannya makin tersirat nyata. Bahkan pertahanan dirinya sangat
mengagumkan dan menandakan nyalinya yang besar.
Pada saat ini di tengah arena telah terjadi lagi perubahan yang besar. Para pendekar
dikepung oleh gadis-gadis yang berjumlah dua belas orang itu sampai terdesak mundur
terus. Akhirnya mereka tidak ada jalan mundur lagi. Bagian belakang mereka merupakan
dinding ruangan. Terpaksa mereka melawan sebisanya, tetapi mimik wajah mereka
menyiratkan perasaan khawatir dan tidak tenang.
Udara kematian semakin memadat seakan memenuhi seluruh ruangan tersebut. Kalau
para gadis itu maju lagi satu langkah, maka para pendekar terpaksa mengadu nyawa matimatian.
Tapi kalau ditilik dari keadaan yang berlangsung sejak tadi, tampaknya mereka
juga bukan tandingan para gadis tersebut.
Yi Siu dari Ciong San Suang-siu biasanya banyak akal dan lebih berani daripada yang
lain. Tetapi menghadapi keadaan seperti ini, dia juga menjadi kalang kabut. Matanya
melihat rekan-rekannya didesak oleh pihak lawan sampai mengeluarkan suara raungan
sekeras-kerasnya. Kipas di tangan kanannya direntangkan. Kakinya melangkah ke depan
dengan menerjang, jurus Ceng Tian Tiong-ho (Sungai Panjang Di Hari Yang Cerah)
langsung dikerahkan, sasarannya seorang gadis yang ada di hadapannya.
Jurus ini dilancarkan dalam keadaan marah dan hampir putus asa, angin yang
terpancar dari serangannya begitu kuat bagai himpitan gunung atau ombak yang
bergulung-gulung. Pengaruhnya sungguh mengejutkan.
Gadis itu seakan tidak bersiap sedia, begitu terkena serangannya, dia langsung
berteriak terkejut. Kepalanya menunduk dan menerjang ke samping kira-kira dua mistar.
Entah kebetulan atau bukan, pokoknya dia berhasil menghindarkan diri dari serangan
kipas Yi Siu.
Ketika melihat serangannya gagal, hati Yi Siu langsung tercekat. Tanpa menunggu
kipasnya ditarik kembali, lengan kirinya langsung diulurkan. Segera dilancarkannya sebuah
pukulan ke depan. Dalam keadaan gusar, rupanya dia mengerahkan sejenis ilmu yang
hebat bukan main. Tidak perduli orang akan mengatakan yang tua menghina yang muda,
atau mengejeknya karena menyerang seorang gadis yang tidak terkenal.
Biar bagaimana, Yi Siu merupakan seorang tokoh yang sudah malang melintang di
dunia Bulim selama puluhan tahun. Nama besarnya bukan didapatkan dengan begitu saja.
Tetapi karena ilmu silatnya memang hebat. Begitu serangannya dilancarkan, pukulannya
saling susul menyusul, kecepatannyapun tidak terkirakan. Meskipun gadis itu berusaha
untuk menghindarkan diri, tetapi tampaknya sudah agak terlambat. Tentu saja hati Yi Siu
diam-diam menjadi senang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kali ini hendak kulihat ke mana kau akan mengelak, pikirnya dalam hati.
Dia segera mengempos hawa murninya dan menambah tenaga serangannya sebanyak
dua bagian. Tiba-tiba dia merasa ada serangkum bau harum yang tajam menghembus ke
arahnya…
Telinga dan matanya sangat tajam, Yi Siu segera sadar bahwa ada seseorang yang
nyerang dari sebelah kirinya, dia mendengus satu kali. Baru saja dia bermaksud
mengibaskan kipasnya untuk menyambut, tiba-tiba dia merasa dadanya sesak. Seluruh
tenaga dalam tubuhnya lenyap. Hampir saja dia terkulai jatuh. Hatinya terkejut bukan
kepalang. Dengan panik dia menutup pernafasannya dan tidak berani lagi mengendus bau
harum yang dapat membuat dirinya seperti terbius itu.
Justru ketika Yi Siu masih sibuk mengendalikan dirinya, ada seorang gadis yang menggunakan
kesempatan itu untuk mendekatinya. Pergelangan tangan gadis itu bergerak
serta mengibaskan selendang ke arahnya.
Beberapa gerakan ini, terjadinya dalam waktu yang hampir bersamaan. Saking
cepatnya, mata Yi Siu sampai berkunang-kunang dan tidak dapat melihat dengan jelas.
Mimpi pun dia tidak pernah membayangkan pihak lawan akan menyerangnya dengan
kecepatan yang membuatnya terperanjat setengah mati. Ketika dia menyadarinya, sudah
sulit baginya untuk menghindarkan diri. Diam-diam dia menarik nafas panjang. Hatinya
berniat memejamkan mata saja untuk menunggu kematian. Tiba-tiba dia melihat tiga titik
sinar putih berkilauan yang melayang datang bagai kilat. Dalam waktu yang hampir
bersamaan, telinganya menangkap suara jeritan yang menyeramkan. Suara jeritan itu
hanya satu kali kemudian sirap. Menyusul gadis yang barusan menyerangnya pun terkulai
jatuh.
Yi Siu berhasil terlolos dari kematian. Untuk sesaat dia sampai termangu-mangu.
Namun sesaat kemudian dia sudah tersentak sadar, matanya beralih ke arah datangnya
senjata rahasia tadi. Dia langsung tahu siapa yang memberi pertolongan kepadanya. Oleh
karena itu dia segera menganggukkan kepalanya kepada Kiau Hun. Setelah itu mulutnya
mengeluarkan suara raungan yang keras, telapak tangan kiri dan kipas di tangan kanan
menyerang dengan berturut-turut. Para gadis itu terkejut sampai mundur beberapa
langkah.
Oey Kang melirik Kiau Hun sekilas.
“Cara menimpukkan Bwe Hua-ciam Nona sungguh bagus!” katanya dengan suara datar.
Isi hati orang ini benar-benar sulit diraba, dia sanggup memendam perasaannya dalamdalam.
Meskipun dia kesal melihat Kiau Hun melancarkan bokongan sehingga salah satu
gadis tadi terluka, namun tampangnya masih tenang dan tidak menyiratkan kemarahan
sedikitpun.
Kiau Hun tersenyum simpul.
“Kepandaian tidak berarti, hanya menjadi bahan tertawaanmu saja.”
Jarak diantara kedua orang itu sangat dekat, asal mengulurkan tanganpun mereka
dapat bersentuhan sebaliknya mereka justru berbicara dengan tersenyum-senyum, seperti
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dua orang sahabat lama yang sudah lama tidak berjumpa. Penampilan merekapun sangat
wajar.
Oey Kang mendengus satu kali, namun sedikit banyaknya dia merasa kagum juga
terhadap Kiau Hun.
“Keberanian maupun kepandaian Nona, benar-benar di luar bayangan orang she Oey.
Apabila barisan gadis pemikat ini dikepalai oleh Nona, paling tidak kekuatannya akan
bertambah menjadi dua kali lipat. Aku pikir…”
Tiba-tiba terdengar suara benturan logam yang berkumandang memenuhi seluruh
ruangan, sehingga kata-kata Oey Kang jadi terputus. Rupanya para pendekar yang melihat
Yi Siu mulai menerjang, beramai-ramai merekapun ikut menyerbu.
Tampak cahaya golok dan pedang berkilauan, cemeti menimbulkan bayangan yang
melambai-lambai ke sana ke mari. Berpuluh macam senjata tajam maupun tidak berlainan
jenis berkelebat kian ke mari. Seluruh ruangan dipenuhi suara bising benturan senjata
tersebut.
Kedua belas gadis tadi sudah berhenti menari, mereka mulai melakukan gerakan
menghadapi musuh tangguh. Orang-orang ini sudah mendapat didikan langsung dari Oey
Kang. Ilmu mereka sangat tinggi. Meskipun belum terhitung jago kelas tinggi di dunia
Bulim, tetapi kalau dibandingkan dengan sekumpulan busu (guru silat) yang umum saja
masih terpaut jauh.
Tampak mereka melangkahkan kakinya sambil melancarkan pukulan, kecepatannya
bagai luncuran ular berbisa, dalam sekejap mata mereka dapat melancarkan tiga empat
buah serangan.
Sejenak saja, kedua belah pihak sudah terlibat pertarungan yang sengit. Tenaga dalam
para pendekar rata-rata sangat kuat, jurus serangannya juga termasuk ilmu kelas tinggi.
Angin yang timbul dari pukulan mereka menderu-deru. Serangan dapat dilancarkan sesuka
hati. Namun gerakan yang dilakukan oleh para gadis itu sangat aneh, mereka
mempertahankan diri dalam jarak dekat, dari jauh mereka malah menyerang. Sungguh
ilmu yang hebat. Biar bagaimana caranya para pendekar itu melakukan penyerangan,
tetapi sedikitpun mereka tidak dapat menarik keuntungan.
Selagi pertarungan berlangsung dengan sengit, terdengar beberapa kali suara
dengusan yang berat, kemudian menyusul empat orang terkulai jatuh. Rupanya selendang
yang digunakan oleh para gadis itu mengandung taburan sejenis obat yang lebih lihai dari
Bong Hun-yok (Obat Penggetar Sukma) yang biasa digunakan oleh kaum sesat. Begitu
tercium, mereka langsung jatuh tidak sadarkan diri. Lagipula reaksinya begitu cepat
sehingga orang tidak sempat berjaga-jaga.
Sisa para pendekar yang masih ada melihat rekan-rekan mereka kembali tumbang
empat orang. Wajah mereka segera berubah hebat. Hati mereka terguncang melihat
kenyataan ini. Semangat berjuang yang tadinya meluap-luap otomatis terpengaruh.
Sementara pihak lawan dengan licik menggunakan kesempatan yang baik ini. Mereka
menyerang dengan gerakan yang aneh. Saat itu juga keadaan menjadi kacau balau,
kedudukan para pendekar semakin kritis. Tiba-tiba…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sayup-sayup terdengar suara siulan panjang yang menyusup ke dalam gendang
telinga. Suaranya tinggi melengking, seakan orang yang mengeluarkan suara siulan itu
berada di tempat sejauh setengah li, tetapi juga seperti berada dalam jarak yang sangat
dekat. Suara itu sendiri bagai raungan naga yang marah, namun suara irama yang
mengiringi tarian para gadis itu jadi tertekan. Mungkin karena gangguan suara siulan tadi,
para gadis itu mendadak menghentikan serangannya.
Para pendekarpun mendapat kesempatan untuk mengatur nafasnya sejenak, dengan
cepat mereka memperbaiki posisi masing-masing, merubah kedudukan pada posisi yang
menguntungkan. Setiap dua orang membentuk satu kelompok, dengan bahu saling
menempel dan wajah menghadap ke depan sehingga dapat bekerja sama melawan
musuh.
Sejak awal hingga akhir, Oey Kang memperhatikan keadaan yang berlangsung dengan
tenang. Tetapi sejak berkumandangnya suara siulan barusan, wajahnya berubah menjadi
serius. Kepalanya menoleh ke arah pintu depan. Dari suara siulan itu saja, dia sudah dapat
menerka bahwa ilmu pihak lawan sangat tinggi. Kemungkinan tidak di bawah dirinya
sendiri.
Suara siulan yang sayup-sayup itu terus berkumandang. Begitu suara itu berhenti,
irama musik kembali mengalun. Para gadis itu kembali bergerak melancarkan serangan.
Namun saat ini posisi para pendekar sudah berubah. Dengan punggung saling menempel,
mereka tidak khawatir akan dibokong oleh musuh dari belakang. Kalau ditilik dari
keadaannya sekarang, rasanya untuk sementara mereka masih dapat mempertahankan
diri.
Tiba-tiba tampak bayangan menghalang di depan pintu. Seseorang melangkah masuk
dengan tenang. Terlihat wajahnya ditutup oleh sehelai cadar yang tipis. Dia mengenakan
jubah panjang. Dengan langkah setindak-setin-dak dia melangkah masuk. Penampilannya
santai sekali.
Gerakannya sangat lambat, bagai orang penyakitan yang tidak kuat berjalan cepatcepat.
Kakinya seolah diganduli benda yang berat. Tetapi sebetulnya gerakan langkah kaki
orang itu sangat cepat. Dalam sekejap mata dia sudah sampai di depan meja Oey Kang.
Wajah si raja iblis Oey Kang menjadi kelam seketika. Perlahan-lahan dia bangkit dari
tempat duduknya.
“Saudara ini…”
Manusia bercadar ini tidak menyahut, tiba-tiba tubuhnya berputar. Lengan bajunya dikibaskan
dan segulungan tenaga tidak berwujud segera terpancar keluar. Dua batang lilin
yang jaraknya kurang lebih dua depa langsung padam seiring dengan gerakan tangannya.
Begitu memandang lagi ke arahnya, orang itu sudah berdiri dengan santai sambil berpeluk
tangan. Seakan tidak pernah terjadi apapun.
Melihat gerakannya yang hebat itu, rasa terkejut Oey Kang semakin menjadi-jadi.
Tetapi dia berusaha mempertahankan ketenangannya. Mulutnya mengeluarkan suara
tertawa dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kehadiran Saudara ke rumah kami yang jelek ini, rupanya hanya ingin memamerkan
kekuatan, meskipun orang she Oey ini tidak becus, tetapi masih ada dua bagian
kepercayaan diri untuk menemani barang beberapa jurus!”
Manusia berkerudung itu mendongakkan wajahnya sambil tertawa terbahak-bahak. Tangannya
sekali lagi diangkat kemudian dikibaskan, kembali tiga batang lilin padam
sekaligus.
Dalam waktu sekejapan mata saja dia sudah memadamkan lima batang lilin secara
berturut-turut. Pada saat ini, matahari sedang bersinar dengan terik di atas kepala.
Padamnya lima batang lilin tadi tidak berpengaruh banyak bagi penerangan di dalam
ruangan. Tetapi suatu hal yang aneh langsung terlihat seiring dengan perbuatannya tadi.
Sisa sebelas orang gadis yang masih terus bergerak dengan lemah gemulai mengikuti
alunan musik, kadang-kadang menyerang dengan mendadak ke arah para pendekar.
Tetapi pada saat kelima batang lilin dipadamkan si manusia berkerudung, gerakan mereka
yang cepat bukan kepalang lambat laun berubah jadi perlahan. Langkah kaki mereka
seakan tiba-tiba jadi berat. Jauh berbeda dengan kelincahan yang mereka perlihatkan tadi.
Ada kalanya mereka melancarkan sebuah serangan, padahal lawannya terang-terangan
menghindar ke arah kiri dengan cepat, namun mereka masih menerjang terus dengan
membabi buta, mereka terus melancarkan serangan ke tempat yang kosong atau
menendangkan kakinya asal-asalan. Gerakan mereka persis seperti orang buta yang tidak
tahu ke mana lawannya mengelak.
Perubahan yang benar-benar di luar dugaan ini, juga merupakan kejadian bagi para
pendekar. Tentu saja mereka jadi termangu-mangu dibuatnya.
Begitu diperhatikan, tampak biji mata gadis-gadis bugil tadi masih normal seperti biasa
dan tetap mengerling ke sana ke mari, tetapi sinar kehidupan seakan telah pudar dan
seolah tidak bisa melihat lagi. Mereka menyerang dengan kalap. Gerakan kaki pun tidak
sekompak sebelumnya lagi.
Kiau Hun adalah seorang gadis yang luar biasa cerdasnya. Sekali pandang saja, dia
sudah berhasil mengetahui rahasianya. Rupanya lilin-lilin yang tertebar di sekeliling
ruangan merupakan titik pengendali gerakan para gadis tersebut. Juga merupakan pusat
penglihatan mereka. Begitu lilin itu padam, mata mereka pun kehilangan daya gunanya.
Tanpa dapat ditahan lagi, hatinya merasa menyesal sekali.
Ketika aku masuk tadi, mengapa aku tidak merasa heran, pada siang bolong seperti ini
banyak lilin yang dinyalakan? Bukankah ini merupakan hal yang aneh? Seandainya sejak
semula aku menyadari hal ini, dengan sekali gerak aku dapat memadamkan lilin tersebut,
tentu gadis-gadis itu dapat dikendalikan sejak awal. Tentunya aku bisa menimbulkan
kesan yang baik di hati para pendekar, juga kepercayaan. Setelah itu tinggal mencari akal
yang baik agar mereka tergugah untuk mengadakan rapat memilih Bulim Beng-cu dan
mencari pemecahan untuk menghadapi Oey Kang. Setelah itu tambah sedikit rencana
yang lain untuk merebut jabatan Beng-cu. Pada saat itu, apabila Toa Suheng menyertai
Suhu bergerak dari Selatan dan menguasai Tionggoan, aku akan menjadi mata-mata yang
baik. Apabila semuanya sudah terlaksana, tidak usah takut lagi urusan besar akan gagal.
Sayang sekali, manusia bertopeng ini justru yang berhasil mendahului, sehingga rencana
ini jadi rusak… keluhnya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun terus menyalahkan dirinya sendiri dalam hati, tetapi sepasang matanya terus
mengedar ke sana kemari memperhatikan keadaan yang berubah-ubah. Sejenak kemudian
dia mengeluarkan empat batang Bwe Hua-ciam dari dalam kantung kulit rusa. Pergelangan
tangannya bergerak, empat batang Bwe Hua-ciam tadi disambitkannya ke arah empat
batang lilin yang masih menyala.
Dia sudah melihat bahwa jumlah para pendekar lebih banyak dari pihak lawan.
Meskipun kedudukan mereka sekarang masih di bawah angin, tetapi tidak diragukan lagi
manusia berkerudung itu berdiri di pihak mereka. Hal ini memberi dorongan semangat
yang tidak kecil bagi para pendekar tersebut. Walaupun Oey Kang mempunyai kepandaian
setinggi langit, dia juga tidak dapat mengalahkan orang banyak. Hal ini membuat perasaan
menyesal dalam hati Kiau Hun agak berkurang, malah saking gembiranya dia hampir
melonjak bangun dan bertepuk tangan. Tapi dia ti-dak melakukan hal itu, karena pada
dasarnya dia memang seorang gadis yang cerdas sekali. Dia hanya mengiringi kesempatan
yang ada.
Tampak sepasang alis Oey Kang menjungkit ke atas. Wajahnya menyiratkan kegusaran.
Lengan kirinya mengibas. Dengan jurus telapak sakti seratus langkah dia menggetar
kembali Bwe Hua-ciam yang disambitkan oleh Kiau Hun sehingga terpental jatuh. Telapak
tangan kanannya bagai seorang tukang kayu yang mengayunkan kapaknya. Tenaga yang
terkandung di dalamnya sangat dahsyat, dia melancarkan sebuah tebasan ke arah kepala
gadis itu.
Kiau Hun tertawa terkekeh-kekeh. Tangannya menekan pegangan kursi. Dengan gaya
yang mengagumkan, tubuhnya melayang dalam keadaan posisi duduk di atas kursi dan
melesat mundur sejauh dua mistar. Tangan kirinya kemudian terangkat, kembali beberapa
titik sinar berwarna keputihan meluncur ke depan.
Terdengar suara yang memecahkan keheningan. Sret! Sret! Cahaya lilin berkibar-kibar,
akhirnya padam. Rupanya secara berturut-turut, dia berhasil mematahkan tiga batang lilin
dengan sambitan Bwe Hua-ciam dari tangannya.
Dengan menggunakan kesempatan yang baik itu, para pendekar malah berbalik
menyerang. Berbagai jurus segera dilancarkan. Dalam waktu yang singkat, dari pihak yang
kewalahan, mereka berhasil meraih posisi yang lebih baik.
Oey Kang melihat bahwa seluruh rencananya yang sudah dipersiapkan dengan
sempurna jadi rusak akibat kehadiran manusia berkerudung itu. Kemungkinan besar malah
pihaknya yang akan mengalami kekalahan. Pada dasarnya dia seorang manusia yang
pandai menyembunyikan perasaan senang ataupun gusarnya, serta isi hatinya sangat licik.
Namun demi melihat kenyataan yang terpampang di depan mata, tanpa dapat ditahan
lagi, hawa amarah di dalam dadanya jadi berkobar-kobar. Terdengar mulutnya
mengeluarkan suara tawa yang dingin. Nadanya begitu tajam menusuk, bagai serangkum
angin yang berhembus di daerah bersalju. Panjang serta menyeramkan. Sepasang
matanya mendelik lebar-lebar, di dalamnya terpancar sinar kemarahan. Dia menatap
manusia berkerudung itu lekat-lekat.
“Siapa kau sebenarnya? Kalau kau masih tidak bersedia melaporkan nama besarmu,
jangan salahkan kalau aku bertindak kasar!” bentaknya kesal.
Manusia berkerudung itu menyahut dengan nada suara yang tidak kalah dinginnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Meskipun kau tidak dapat melihat dengan jelas raut wajahku, tetapi apakah bentuk
tubuh Hengte maupun suara Hengte sudah kau lupakan?”
Begitu mendengar ucapannya, Oey Kang terkejut setengah mati. Cukup lama dia
berdiam diri merenungkan. Setelah mengingat-ingat hampir seluruh tokoh Bulim yang
pernah dikenal ataupun bertemu dengannya, dia tetap tidak dapat menebak siapa
manusia berkerudung yang ada di hadapannya.
Biar bagaimanapun, Oey Kang merupakan seorang iblis yang sudah terkenal.
Kedudukannya dalam dunia Kangouw juga cukup tinggi. Paling tidak dia merupakan
seorang tokoh angkatan tua dari golongan hitam. Di hadapan begitu banyak musuh yang
hadir di dalam ruangan itu, ternyata dia tidak sanggup mengetahui asal-usul manusia
berkerudung hitam tersebut. Hal ini membuat dirinya malu sekali. Namun dia memang
merupakan seorang manusia yang pandai serta berpengetahuan luas. Sebelum jelas siapa
adanya manusia berkerudung hitam itu, dia sendiri masih berusaha untuk bersikap tenang.
Setelah merenung sekian lama, akhirnya dia berkata dengan suara perlahan-lahan.
“Manusia she Oey sudah lama malang melintang di dunia Kangouw. Julukan Sam Jiu
San Tian-sin pasti pernah didengar setiap orang. Kalau bukan sahabat yang mempunyai
kepala serta wajah, seumur hidup memang belum pernah ditemui, tetapi paling tidak
namanya sudah pernah kudengar. Tetapi kalau angkatan yang tidak mempunyai nama
sedikitpun, orang she Oey mengingatnya pun enggan. Hanya membuang-buang waktu
saja!”
Manusia berkerudung segera mendengarkan suara tertawa yang dingin. Meskipun dia
sadar Oey Kang menggunakan akal memanaskan hati agar identitas dirinya terbuka,
namun dia juga pura-pura marah sekali.
“Ketika Hengte masih malang melintang di dunia Kangouw, julukan kecil seperti Coan
Lam Taihiap juga sempat menggetarkan sampai daerah Tibet. Apakah kau belum pernah
mendengarnya atau kau memang sudah melupakannya?” tanyanya marah.
Mendengar ucapannya, seluruh tubuh Oey Kang sampai bergetar. Tampaknya rasa
terkejut orang itu tidak dibuat-buat.
“Apa? Kau adalah Coan Lam Taihiap Yibun Siu San?” setelah merandek sejenak, dia
menundukkan kepalanya untuk merenung. Kemudian tampak dia menggelengkan
kepalanya beberapa kali. Tanpa menunggu bantahan dari pihak lawannya, dia melanjutkan
lagi dengan nada curiga. “Hal ini benar-benar membuat orang sulit untuk percaya, Yibun
Siu San yang kukenal sepuluh tahun lalu, merupakan seorang manusia sederhana yang
mencintai keterbukaan. Dia tidak seperti Saudara yang main rahasia-rahasiaan, pakai
kerudung penutup muka segala macam!”
Belum lagi kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara manusia berkerudung yang
tinggi melengking…
Dari Pak Hay aku pindah ke Lam Hay, mengirimkan kabar dengan perantara burung
elang tentu tidak mungkin, di musim semi memetik buah tho sambil menikmati secawan
arak, malam-malam berhujan selama sepuluh tahun lentera menerangi dunia Kangouw.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berdiam di rumah yang terlihat hanya empat tembok mengelilingi, mengobati penyakit
dengan tiga macam cara yang berlainan, pikiranpun…!”
Baru membaca syair tersebut setengah jalan, tahu-tahu telah terdengar suara bentakan
dari mulut Oey Kang.
“Tutup mulutmu!”
Tampangnya terlihat tegang sekali. Tidak henti-hentinya dia mengusap keringat yang
membasahi keningnya dengan ujung lengan baju, seakan bentakannya yang keras tadi
telah menghambur tenaga yang banyak dan menguras seluruh kekuatannya.
“Apakah kau sudah percaya dengan keterangan Hengte?” tanya si manusia
berkerudung.
Oey Kang tertawa dingin satu kali. Dari bawah mejanya dia mengeluarkan sepasang
cakar harimau, jenis senjata yang terbuat dari baja dan berbentuk cakar harimau.
“Saudara dapat membaca syair tadi sebagai identitas diri, rasanya memang sahabat
lama orang she Oey. Tetapi aku justru mempunyai pikiran, nama mungkin dapat
dipalsukan, yang pasti ilmu silat tidak. Mungkin ada baiknya kita tunjukkan sedikit
kejelekan agar asli atau palsunya dapat dibuktikan segera!”
Sambil berbicara, sepasang lengannya direntangkan, kaitan berbentuk cakar
harimaunya bagai naga sakti yang menimbulkan dua carik cahaya dingin. Dari kanan dan
kiri dia melancarkan sebuah serangan.
Ilmu silat orang ini sudah mencapai taraf yang tertinggi. Senjata yang panjang maupun
pendek dapat digunakannya dengan sempurna. Sejak semula dia memang sudah
mempersiapkan beberapa macam senjata di bawah meja yang mana dapat digunakannya
dalam keadaan terdesak. Para pendekar yang berkumpul di dalam ruangan itu merupakan
tokoh-tokoh yang sudah luas pengalamannya, namun mereka tidak menyangka Oey Kang
selicik itu.
Manusia aneh yang mengenakan kerudung dan mengaku bernama Yibun Siu San
menarik nafas dalam-dalam. Dengan mendadak kakinya mencelat mundur tiga langkah.
Tidak disangka di belakangnya justru terdapat sebuah meja yang justru menghalangi
jalannya. Andai kata Oey Kang terus mendesak maju, maka tidak ada tempat lagi baginya
untuk mengundurkan diri.
Yibun Siu San paham sekali watak Oey Kang yang licik serta keji. Dengan adanya
kesempatan baik seperti ini, mana mungkin dia membiarkannya? Begitu pikirannya
tergerak, dia segera memusatkan perhatiannya. Matanya beredar. Dia melihat Kiau Hun
sudah mulai bergerak. Tubuhnya melayang bagai seekor camar yang melintasi lautan
meninggalkan kursinya dan mencelat ke tengah arena untuk memberikan bantuan kepada
para pendekar yang sedang sibuk meringkus para gadis yang mulai kehilangan kendali
itu…
Tiba-tiba dia melihat sebatang golok tergeletak di samping bawah, kakinya segera
dihen-takkan. Dalam sekali gerak saja, golok itu sudah tergenggam dalam tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tepat pada saat itu, Oey Kang sudah menerjang ke arahnya. Kecepatannya bagai
luncuran sebatang anak panah. Orangnya belum sampai, kaitan cakar harimaunya sudah
berada di depan mata. Dengan jurus Ular berbisa keluar dari goa, dia melancarkan
serangan ke dada Yibun Siu San.
Coan Lam Taihiap Yibun Siu San segera membalas dengan jurus Burung Hong
menembus awan. Dia berhasil menghindarkan diri dari serangan kaitan cakar harimau
sekaligus mengembalikan serangan tersebut. Tampaknya cahaya golok berkilauan dan
menyapu ke depan.
Oey Kang tertawa terbahak-bahak. “Begini baru seru!”
Tubuhnya tiba-tiba bergerak, kaki yang baru saja menginjak tanah dengan mendadak
mencelat ke belakang sejauh empat lima mistar. Dia mengelakkan diri dari serangan golok
Yibun Siu San, dan pada saat itu juga, perge-langan tangannya bergerak dan melancarkan
sebuah serangan kembali.
Begitu berhadapan, keduanya langsung terlibat dalam pertarungan yang sengit. Dalam
sekejap mata, tampak cahaya golok bagai salju. Bayangan kaitan bergerak-gerak. Untuk
sesaat keduanya bersaing untuk saling menyerang terlebih dahulu.
Setelah bergebrak belasan kali, terdengar Yibun Siu San mengeluarkan suara siulan
yang panjang. Tiba-tiba gerakan goloknya berubah, dia segera membuka serangan dan
mengerahkan jurus golok Cap Pek Lohan dari Siau Lim Pai. Begitu jurus itu dilancarkan,
ternyata tidak terlihat adanya cahaya golok yang berkilauan juga tidak tampak adanya
perubahan gerak yang mengejutkan. Tetapi setiap serangan goloknya selalu mengandung
tenaga yang dahsyat serta gencar sekali dan tidak dapat dipecahkan dengan mudah oleh
lawannya.
Keadaan di dalam ruangan perlahan-lahan mulai berubah. Sejak nyala lilin yang
memenuhi seluruh ruangan padam, kesebelas gadis bugil itu kehilangan gaya tempurnya.
Apalagi di pihak para pendekar telah bertambah seorang Kiau Hun. Gerakan gadis itu
bagai kilat. Ilmu silatnya tinggi sekali, jurus-jurus yang dikerahkannya sangat aneh. Dalam
waktu yang sekejap saja, keadaan telah berubah dengan drastis. Para gadis itu berhasil
ditekan sedemikian rupa oleh para pendekar. Beberapa orang pendekar sibuk membopong
rekan mereka yang jatuh tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat yang tersebar di
selendang para gadis itu tadi. Kemudian mereka lalu berdiri dari kejauhan dan
menyaksikan jalannya pertarungan.
Tiba-tiba terlihat tangan Oey Kang bergerak-gerak, tubuhnya sendiri mencelat ke
belakang, tampaknya dia bermaksud membingungkan pandangan lawan kemudian dengan
mendadak mengibaskan pergelangan tangannya. Timbul segulungan angin tajam yang
langsung menerpa ke depan. Cara turun tangan orang ini selalu mengandung kelicikan
yang tidak terduga-duga. Kaitan harimau di tangannya bukan diserang ke arah lawan,
malah diputar sehingga terbit cahaya yang menyilaukan mata. Setelah mengiringi sinar
golok yang berpijar-pijar, dengan tiba-tiba Oey Kang meluncurkan kaitan cakar harimau
tersebut menerobos ke dalamnya.
Yibun Siu San merupakan seorang tokoh yang sudah lama mengasingkan diri. Ilmu
silatnya sangat tinggi. Pengetahuannya juga sangat luas. Tetapi dia juga sempat terpana
melihat cara menyerang yang baru kali itu dijumpainya. Cepat-cepat dia menarik nafas
dalam-dalam dan mencelat mundur sejauh tiga langkah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terdengar suara siulan yang membuat telinga berdengung-dengung. Kaitan cakar
harimau di tangan Oey Kang menimbulkan kuntuman bunga-bunga yang setajam golok.
Dengan berderai-derai meluncur ke arah beberapa urat darah Yibun Siu San yang
berbahaya.
Terdengar Yibun Siu San mengeluarkan suara bentakan, “Sungguh jurus Pohon Besi
Bunga Perak yang hebat!”
Tangan kanannya segera mengerahkan jurus Bintang-Bintang Melintasi Sungai.
Gulungan tenaga dalam yang dahsyat bagai disatukan ke ujung telapak tangannya dan
bagai ombak yang pasang surut melanda ke arah kaitan cakar harimau Oey Kang.
Cara menghimpun hawa murni dan tenaga dalam yang disatukan dan tersalur ke
tempat tertentu, kalau bukan tokoh kelas tinggi yang sudah menguasai tenaga dalamnya
sesuka hati, tentu tidak dapat melakukannya.
Melihat serangan Yibun Siu San ini, wajah Oey Kang segera berubah hebat. Hatinya terperanjat
sekali, dengan cepat dia mengempos tenaga dalamnya dan menarik kembali
luncuran serangan kaitan cakar harimaunya. Kemudian diapun mencelat mundur sejauh
lima langkah.
Terdengar suara meja dan kursi yang terbalik kemudian pecah berantakan. Rupanya
tubuh Oey Kang yang bergerak mundur secara tidak sengaja membentur meja kursi yang
ada di belakangnya.
Melihat serangannya berhasil, Yibun Siu San segera memperbaiki posisinya dan kembali
melancarkan sebuah serangan yang lain. Tangan kirinya segera bergerak ke depan dan dia
mengerahkan jurus Angin Gelap Menggoyangkan Pohon Liu. Ketika pergelangan
tangannya memutar, secara mendadak diluncurkan ke depan dan secara keras meluncur
menerobos ke dalam kaitan cakar harimau di tangan Oey Kang.
Serangannya ini sungguh aneh. Memang merupakan gerakan yang hanya dapat
dilakukan oleh tokoh kelas tinggi. Orang-orang yang menyaksikan jalannya pertarungan
merasa terpana. Diam-diam hati mereka kagum bukan main.
Meskipun Oey Kang sendiri terkejut sekali, namun dia tidak menjadi kalang kabut.
Secara diam-diam dia menambah tenaga yang ada dalam pergelangan tangannya, tibatiba
kaitan cakar harimau berganti arah dan meluncur ke arah pundak Yibun Siu San.
Hati Yibun Siu San tercekat bukan kepalang.
Sepuluh tahun tidak bertemu, ternyata ilmu silat Jiko sudah maju sedemikian pesat.
Tidak heran dia sampai mendapat julukan Raja iblis nomor satu di dunia Kangouw,
pikirnya diam-diam.
Begitu pikirannya tergerak, tangan kirinya bergerak ke samping menghindar dari
serangan kaitan cakar harimau Oey Kang. Tubuhnya pun melesat dengan cepat dan
menerjang ke depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berhasil menghindarkan diri dari bahaya dengan kaitan cakar harimaunya,
tubuh orang itu membungkuk sedikit, tangan kiri yang menggenggam kaitan cakar
harimau segera terulur dan perlahan-lahan dia mengerahkan jurus Elang Sakti
Mengibaskan Sayap. Kehebatan jurus ini tak perlu dikatakan lagi.
Serangannya ini benar-benar di luar dugaan Yibun Siu San. Kalau tidak cepat-cepat
menarik kembali serangannya, pasti dirinya akan terluka oleh kaitan cakar harimau lawan.
Kebetulan tempatnya berdiri penuh dengan meja serta kursi yang terbalik, jadi jalannya
menjadi terhalang. Hatinya terkejut setengah mati. Mulutnya mengeluarkan suara raungan
yang keras, tangan kirinya segera dirubah menjadi totokan. Dengan kecepatan kilat dan
totokan bagai pisau tajamnya, dia menyambut datangnya kaitan cakar harimau yang
dilancarkan oleh Oey Kang.
Beberapa jurus serangan yang berlangsung terus menerus ini, tidak ada satupun yang
tidak mengandung kekejian. Serangan Oey Kang hebat bukan main, sedangkan perubahan
gerakan yang dilakukan oleh Yibun Siu San sangat serasi dan indah. Apabila sampai terjadi
kesalahan sedikit saja, pasti nyawa keduanya terancam bahaya.
Ketika menggerakkan pergelangan tangannya untuk menarik kembali jurus serangan
yang sudah dilancarkan, tiba-tiba dia melempar kaitan cakar harimaunya. Tangan kirinya
secepat kilat meluncur dan menjepit ujung golok Yibun Siu San. Wajahnya tampak serius,
diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya lewat ujung golok
tersebut.
Cara menyalurkan tenaga dalam ke ujung senjata lawan dengan maksud menggetarkan
pergelangan tangan lawan sehingga terluka, merupakan ilmu tingkat tinggi. Kalau bukan
orang yang memiliki tenaga dalam sampai mencapai taraf tertinggi, tentu sulit
melakukannya.
Diam-diam hati Yibun Siu San jadi tergetar. Keadaan yang mendesak membuat dia
tidak sempat berpikir lama-lama. Dia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghimpun
tenaga dalamnya untuk mendorong tekanan tenaga yang tersalur lewat goloknya itu.
Dua rangkum tenaga yang sanggup melukai lawannya segera bertemu, tanpa dapat
ditahan lagi. Hati Yibun Siu San berdebar-debar, namun Oey Kang justru terdorong oleh
pantulan tenaganya sehingga sempoyongan kemudian langkah kakinya pun terpaksa
mundur ke belakang.
Sifat orang ini memang jahat sekali. Meskipun dirinya tergetar mundur, namun
kekejiannya belum padam. Mulutnya mengeluarkan suara dengusan, tangan kirinya yang
menjepit ujung pedang bergetar. Dia menambah beberapa bagian tenaga dalam. Sebilah
golok yang terbuat dari baja ternyata patah menjadi dua bagian karena getaran tenaga
dalamnya.
Meskipun wajah Yibun Siu San ditutupi cadar hitam, tetapi matanya tetap tajam sekali.
Dia melihat Oey Kang tidak memperdulikan pantulan tenaga dalamnya yang dapat
menimbulkan bahaya, dan dengan nekat mengerahkan tenaga yang lebih besar agar
goloknya terpatah menjadi dua bagian. Orang ini benar-benar menempuh jalan apa saja
asal dirinya terlepas dari kesulitan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Para pendekar yang melihat dari samping malah dikelabui oleh gerakan yang indah.
Mereka mengira orang itu tergetar mundur karena golok yang menjadi perantara diantara
mereka tergetar putus, bukan karena tenaga dalamnya yang kalah kuat.
Setelah tergetar mundur, hati Oey Kang diliputi kebencian yang dalam. Namun dia
sengaja memperlihatkan kewajaran, malah mendongakkan wajahnya sambil tertawa
terbahak-bahak. Potongan golok di tangannya dilemparkan ke atas tanah.
“Saudara yang ada di hadapanku ini, tidak diragukan lagi pasti Samte. Sepuluh tahun
lamanya tidak dengar kabar berita sama sekali, benar-benar membuat Giheng rindu
setengah mati.” katanya tenang.
Dengan nada sedingin es Yibun Siu San menyahut…
“Tutup mulut! Siapa yang sudi menjadi Samte-mu, kalau kau dapat membuat Toako
hidup kembali, tali persaudaraan kita yang sudah terjalin sekian lama tentu akan
tersambung kembali. Sayangnya Toako sudah mati selama sepuluh tahun. Dalam waktu
yang sedemikian panjang, Toaso setiap hari bermuram durja. Dengan tekun dia melatih
ilmu silat, tetapi tidak ada satu haripun yang tidak dilaluinya dengan berurai air mata.
Hidupnya penuh dengan penderitaan…”
Berkata sampai di sini, hatinya seakan dilanda keharuan yang dalam. Tetapi dia
melanjutkan juga kata-katanya. “Kalau bukan Toaso memesankan sampai berulang kali,
bahwa bagaimanapun harus menunggu sampai anaknya kembali untuk membalas dendam
dengan tangannya sendiri, hari ini aku pasti akan membuatmu sulit melepaskan diri dari
keadilan!”
Oey Kang merasa ada serangkum perasaan pilu yang memenuhi hatinya. Tubuhnya
bergetar dengan hebat.
“Maksudmu Cen Lam Hong tinggal di tempatmu?” tanyanya marah.
“Sepuluh tahun lamanya, aku terus mengikuti Toaso. Aku tidak meninggalkannya
selangkahpun. Apalagi lusa merupakan peringatan kematian Toako, Toaso sudah
mempersiapkan…”
Tiba-tiba dia merasa mulutnya telah kelepasan bicara. Sepasang mulutnya
membungkam rapat-rapat dan dia tidak melanjutkan kata-katanya lagi.
Sepasang mata Oey Kang mengedar ke kiri dan kanan. Kemudian dia mendengus
dingin.
“Toaso sudah terhitung seorang janda. Sedangkan kau adalah seorang bujang lapuk.
Seorang laki-laki yang kesepian dengan seorang wanita yang ditinggal mati, hidup dalam
satu atap. Pasti akan terjadi hal-hal yang melanggar tata susial!” kata-katanya ini
merupakan sindiran yang tajam sekali.
Yibun Siu San menjadi gusar bukan kepalang.
“Siapa diri Toaso, kau dan aku sama-sama mengerti! Kalau kau ingin mengucapkan
kata-kata seperti ini, mengapa tidak dinyatakan di depan Toaso sendiri? Membusukkan
nama baik orang di belakang punggungnya, mana pantas disebut sebagai laki-laki sejati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hari ini aku enggan bersilat lidah denganmu. Aku hanya ingin membawa pergi orangorang
ini. Apakah aku keberatan?” wajahnya tertutup oleh sehelai cadar, hal ini membuat
orang tidak dapat melihat mimik wajahnya, apakah sedang bergembira atau bersedih.
Namun dari nada suaranya dapat diketahui bahwa tokoh ini sedang gusar sekali.
“Kata-kata yang bagus. Bagaimana caranya mengurusi orang-orang ini, giheng tidak
mem-punyai gagasan sama sekali. Tetapi tolong sampaikan kepada Toaso bahwa dua hari
lagi giheng pasti akan hadir di depan perabuan Toako dan memasang hio sebagai tanda
duka cita.”
Yibun Siu San mendengus dingin. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Kok
Hua-hong.
“Tinggalkan tempat ini!” katanya.
Tanpa menunggu jawaban dari para pendekar, dia menyingsingkan lengan bajunya dan
dengan perlahan-lahan berjalan keluar.
Para pendekar saling lirik sekilas, lambat laun merekapun menggerakkan kakinya dan
berbondong-bondong meninggalkan ruangan tersebut. Meskipun pertarungan yang
sempat menentukan mati hidup sudah berlalu, namun di wajah mereka masing-masing
masih tersisa ketegangan dan rasa takut yang tidak terkatakan.
Setelah para pendekar meninggalkan pen-dopo tersebut, dari belakang berkumandang
suara tawa yang panjang yang melengking. Suara itu begitu menusuk pendengaran dan di
dalamnya terkandung rasa gembira serta semangat yang meluap-luap. Seakan ada
sesuatu hal yang membuat perasaan Oey Kang demikian senang. Si gemuk pendek Cu Mei
membopong Liu Seng yang tidak sadarkan diri. Langkah kakinya dipercepat dan mengejar
sampai belakang Yi Siu.
“Lotoa, kalau menurut pandanganmu, ilmu Coan Lam Taihiap ini lebih tinggi atau si raja
iblis itu yang lebih unggul?” tanyanya dengan nada lirih.
Yi Siu terpekur sejenak.
“Hal ini… sulit dipastikan…”
Cu Mei tertawa kecil.
“Untung saja orang yang muncul ini merupakan pendekar yang menjunjung tinggi
keadilan. Apabila dia satu komplotan dengan Oey Kang, rasanya kau dan aku sulit keluar
lagi dari pintu gerbang Pek Hun Ceng, kita pasti mati…” mengingat hal itu hatinya jadi
tergetar cepat-cepat dia menutup mulutnya dan tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Suara pembicaraan kedua orang itu begitu lirihnya sampai tidak bisa dikecilkan lagi,
entah bagaimana Yibun Siu San seakan dapat mendengarnya. Tiba-tiba dia membalikkan
tubuhnya dan melirik sekilas kepada kedua orang itu, kemudian seakan tidak ada apa-apa,
dia meneruskan langkah kakinya.
Rombongan itu berjumlah sepuluh orang, setelah memutari taman bunga dan melewati
dua.halaman terbuka, akhirnya mereka sudah bisa melihat pintu gerbang Pek Hun Sanceng.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba Yibun Siu San menghentikan langkah kakinya, dia menjura kepada para
pendekar:
“Cayhe masih ada urusan lainnya sehingga hanya bisa menemani sampai di sini.
Apabila Cuwi sudah melewati pintu gerbang tersebut, tentu tidak akan terjadi apa-apa lagi.
Tapi harap Cuwi ingat baik-baik, lain kali kalau melakukan apapun harus ukur dulu
kekuatan sendiri, jangan bertindak mengikuti kata hati saja.”
Kok Hua-hong segera membalas penghormatan Yibun Siu San.
“Apa yang Tuan katakan memang tepat sekali. Nasehat yang baik ibarat emas
beratnya, kami tentu akan perhatikan baik-baik.”
Yibun Siu San seperti mempunyai ganjalan dalam hati. Tampak dia menarik nafas
panjang.
“Menurut pertimbanganku setelah meninjau selama beberapa hari ada kemungkinan,
komplotan kaum sesat dari luar samudera, iblis-iblis dari daerah barat akan melakukan
gerakan. Sejak sekarang dunia Bulim tidak dapat tenang lagi, bisa jadi gelombang badai
yang akan melanda kali ini besar sekali… aih! Aku tidak akan mengatakan lebih lanjut,
harap Cuwi jaga diri baik-baik!”
Sembari berkata, dia menghentakkan kakinya. Tiba-tiba sudah melesat di udara dengan
ketinggian kurang lebih satu depa. Gerakannya ringan dan lemah gemulai. Begitu kakinya
mendarat lagi di atas tanah, tahu-tahu orangnya sudah mencelat sampai sejauh dua
depaan jauhnya. Bukan main hebatnya ginkang orang ini.
****
Kembali kepada Tan Ki yang membopong Mei Ling. Menerjang keluar dari pendopo
dengan mendobrak pintu, dia berlari terbirit-birit. Kecepatannya bagai sambaran kilat.
Telinganya sampai mendengar jelas desiran angin. Benda-benda maupun pepohonan yang
ada di kedua sisinya seperti berjalan mundur dengan cepat.
Setelah berlari kurang lebih setengah kentungan, tenyata tidak terjadi hal apapun yang
di luar dugaan, hati Tan Ki menjadi agak lega. Kembali berlari sejauh beberapa depa, baru
dia menghentikan langkah kakinya. Dia melepaskan jubah luarnya dan menggunakannya
untuk menutupi tubuh Mei Ling yang bugil. Dia takut dirinya sendiri tidak tahan untuk
terus melihat, sehingga pikirannya melayang ke hal yang bukan-bukan.
Matahari bersinar dengan terik, pepohonan berdiri tegar dengan daunnya yang
melambai-lambai. Angin berhembus dengan lembut, tetapi di dalam hatinya ada bara api
yang sedang berkobar-kobar. Dia merasa gugup. Ingin rasanya ada sepasang sayap yang
tumbuh di punggungnya agar dapat meninggalkan Pek Hun San-ceng secepat mungkin.
Setelah itu dia akan mencari seorang tabib sakti supaya gadis yang dicintainya dapat
disembuhkan seperti sedia kala.
Tiba-tiba dia melihat seorang pemuda berpakaian putih memutar keluar dari balik
sebatang pohon. Orang itu menghadang di tengah jalan. Dia adalah si pendekar baju putih
Oey Ku Kiong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki diam-diam jadi tertegun. Terdengar pemuda itu tertawa bebas.
“Aku mendapat perintah dari Ayah untuk menunggu di sini dan menghadang setiap
orang yang akan keluar dari Pek Hun Ceng ini.” selesai berkata, orangnya maju perlahanlahan
menghampiri Tan Ki. Pakaiannya berkibar-kibar, langkah kakinya tidak menimbulkan
suara sedikitpun.
Mendengar ucapannya, diam-diam Tan Ki menjadi terperanjat.
Pantas saja sepanjang perjalanan aku berlari keluar, tidak menjumpai seorangpun,
rupanya Oey Kang sudah mengutus anak angkatnya menunggu di sini, pikirnya dalam
hati.
Diam-diam dia mengerahkan tenaga dalamnya ke bagian telapak tangan dan bersiapsiap
menjaga segala kemungkinan.
Tiba-tiba terdengar Oey Ku Kiong menarik nafas satu kali. Dia menghentikan
langkahnya tidak jauh dari Tan Ki.
“Gadis yang ada dalam gendonganmu itu, mengapa bukan gadis she Cen yang datang
bersama-sama denganmu ke Pek Hun Ceng ini?”
Tan Ki tertegun sejenak.
“Buat apa Saudara menanyakan hal ini?” Oey Ku Kiong agak marah mendengar
ucapannya.
“Aku suruh kau menjawab bukan malah bertanya…” dalam hatinya bagai ada ribuan
kata-kata yang tercekat di tenggorokan dan tidak dapat tercetus keluar. Dia berhenti
sejenak seolah sedang mempertimbangkan sesuatu, kemudian dengan cepat dia
melanjutkan lagi. “Aku menyukainya. Sejak pertama kali melihatnya, di dalam hatiku telah
timbul kesan yang dalam terhadapnya.”
Tan Ki melihat tampang wajahnya seperti orang yang terharu. Diam- diam dia berpikir
di dalam hati: Apakah di dunia ini benar-benar ada kejadian jatuh cinta pada pandangan
pertama?
Tiba-tiba dia teringat ketika dirinya pertama kali bertemu dengan Mei Ling, bukankah
dia juga mempunyai perasaan yang sama? Berpikir sampai di sini, tanpa dapat ditahan
lagi, dia jadi tersenyum simpul.
Begitu matanya memandang, tiba-tiba dia melihat jari kelingking sebelah kiri Oey Ku
Kiong tampak berkilauan. Rupanya dia melengkungkan tiga jarum Bwe Hua-ciam milik
Kiau Hun dan memakainya sebagai cincin. Benda ini memang halus sekali, tetapi bagi
pemuda itu tentu mengandung makna yang besar. Seandainya sulit bertemu dengan
orangnya sendiri, apa salahnya menumpahkan kerinduan di hati dengan memandangi
benda yang ditinggalkannya. Hal ini membuk-tikan sampai di mana dalamnya cinta kasih
pemuda itu terhadap Kiau Hun. Juga merupakan hal yang mengibakan hati.
“Tan Heng, tentunya kau mengenal baik Cen Kouwnio itu bukan? Di sini aku
mempunyai sebuah akal yang menguntungkan kedua pihak, harap kau sudi
mengabulkannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Coba kau uraikan saja, biar aku mempertimbangkannya baik-baik.”
“Gadis yang ada dalam gendongan Tan Heng itu telah dicekoki obat Li Hun Tan alias pil
pelenyap sukma oleh Ayah. Kesadarannya sudah hilang, Tan Heng dapat
menggendongnya secara terang-terangan, tentu kau sudah menganggapnya sebagai
orang yang dekat sekali hubungannya. Mungkin kau juga berharap agar gadis itu dapat
segera pulih kembali seperti sedia kala?”
“Hal ini tidak perlu dikatakan lagi.”
Oey Ku Kiong tersenyum simpul.
“Aku bisa mencuri obat penawarnya untukmu. Tetapi kau harus melakukan suatu tugas
untukku sebagai imbalannya.”
“Urusan apa?” tanya Tan Ki.
“Kau harus katakan kepada Cen Kouwnio bahwa aku akan menikahinya. Tidak perduli
syarat apapun yang dia ajukan, aku pasti akan menerimanya. Kau hanya perlu mengatur
pertemuan di antara kami dan bertindak sebagai mak comblang.”
Mendengar ucapannya, Tan Ki jadi terpana.
BAGIAN XIX
Untuk sesaat, mata Tan Ki jadi terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Dia sama sekali
tak mengira permintaan Oey Kang merupakan hal yang sedimikian rupa…
Cukup lama dia tidak sanggup memberikan jawaban. Dengan identitas Cian bin mo-ong
Tan Ki muncul di dunia Kangouw, dalam setengah tahun dia sudah menimbulkan
kegemparan yang hebat. Entah sudah berapa banyak marabahaya yang dihadapinya,
belum lagi memecahkan berbagai kesulitan yang pelik. Tetapi, urusan di depan matanya
sekarang, merupakan persoalan yang paling rumit dalam seumur hidupnya!
Mungkin, dia tidak sanggup menyelesaikan masalah pelik kali ini…
Karena kalau menurut makna kata-kata Oey Ku Kiong, dia memang sudah jatuh cinta
kepada Kiau Hun. Sekarang Tan Ki diminta menjadi perantara dan mengenalkan gadis itu
kepadanya?
Tidak mungkin, tidak mungkin…
Hatinya terus berpikir keras, kepalanya pun terus menggeleng. Matanya beralih
memandang ke arah Mei Ling yang ada dalam bopongannya. Tanpa dapat
mempertahankan diri lagi, bibirnya tertawa sumbang.
Kalau dia tidak mengabulkan permintaan Oey Ku Kiong, tentu dia juga tidak bisa mendapatkan
obat penawarnya. Kesadaran Mei Ling juga sulit dipulihkan untuk selamanya…
Bukankah hal ini merupakan kejadian yang mengenaskan serta menakutkan?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Berpikir sampai di sini, tanpa sadar tubuhnya bergetar. Seluruh bulu kuduk dirinya
meremang. Hatinya kalut bukan main, hal ini malah membuat keringatnya terus menetes
membasahi keningnya!
Oey Ku Kiong sudah menunggu sekian lama, namun dia masih belum memperoleh
jawaban dari Tan Ki. Anak muda itu malah berdiri termangu-mangu dan mata
menerawang. Hatinya mulai kehabisan sabar, dia mengembangkan seulas senyuman yang
licik.
“Urusan ini ada dalam genggaman Tan Heng sendiri. Kau hanya perlu menyampaikan
beberapa patah kata, bukan urusan yang sulit sekali. Tetapi kalau, Tan Heng tidak
bersedia, aku juga tidak berani memaksa.”
“Ini…” Tan Ki tampaknya masih bimbang, suaranya tersendat-sendat seakan tidak tahu
apa yang harus diucapkannya.
Oey Ku Kiong tertawa dingin.
“Dalam hal ini Tan Heng tidak mempunyai pilihan lain. Oleh karena itu tidak perlu
mengulur waktu. Bersedia atau tidak tergantung dirimu sendiri. Kau hanya perlu
menganggukkan kepala atau menggeleng saja.”
“Urusan ini menyangkut diri Cen Kouwnio secara langsung, bukan aku yang dapat
menen-tukan. Kau suruh aku harus bagaimana?”
“Jadi kau sudah setuju?” suara Oey Ku Kiong seakan mengandung kegembiraan yang
besar sekali.
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Kata-kata yang aku ucapkan tadi hanya ungkapan kesulitan dalam hati. Mana pernah
aku mengatakan setuju?”
Begitu kata-katanya itu terucapkan, tampang Oey Ku Kiong benar-benar di luar dugaan.
Wajahnya yang tampan dan kurus langsung berubah hebat.
“Kalau begitu, Tan Heng benar-benar tidak sudi membantu sama sekali?” bentaknya
marah.
Tan Ki tersenyum simpul.
“Oey Heng salah paham terhadap maksud Cayhe, hal ini sulit dilaksanakan meskipun
niat untuk membantu ada. Aku lihat…”
Tiba-tiba mulut Oey Ku Kiong mengeluarkan suara raungan yang keras. Tangannya
mencengkeram, saat itu juga timbul bayangan jari yang banyak dan mengancam dada Tan
Ki. Kecepatan gerakannya seakan tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk mengatur
nafas sedetik pun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Serangan yang tidak terduga ini, benar-benar tidak boleh dianggap ringan. Hati Tan Ki
langsung tercekat. Dia menarik nafas panjang- panjang kemudian mencelat ke belakang
sejauh tiga langkah.
Tan Ki sedang menggendong Mei Ling. Dengan demikian beban tubuhnya menjadi
semakin berat, tetapi ketika dia mencelat ke belakang, gerakannya demikian ringan dan
cepat.
Terdengar Oey Ku Kiong mendengus dingin.
“Sambut lagi sejurus seranganku ini!”
Dua buah pukulan yang mengeluarkan suara menderu-deru secara berturut-turut
dilancarkan. Angin yang ditimbulkannya sangat dahsyat, bahkan debu dan pasir yang
terhampar di atas tanah jadi beterbangan sehingga menimbulkan kumpulan yang
menyamarkan pandangan mata. Meskipun sebutir pasir yang halus, namun terhempas
angin pukulannya dapat menjadi benda tajam yang beterbangan. Setiap butirnya bagaikan
anak panah yang menyakitkan apabila terkena pada kulit.
Tan Ki menduga usia lawannya hampir sebaya dengan dirinya sendiri, namun tenaga
dalamnya sudah begitu hebat. Tanpa sadar hatinya jadi tercekat.
“Bagus!” teriaknya memuji.
Pundaknya dimiringkan sedikit dan kakinya melancarkan sebuah tendangan, kemudian
secara mendadak dia mencelat ke belakang sejauh tujuh delapan langkah. Rangkuman
tenaga pukulan yang dahsyat menggetarkan pakaiannya sampai berkibar-kibar.
Dua orang ahli silat apabila bergebrak, kecepatannya bagai kilat yang menyambar.
Kedua orang itu sudah bertarung dalam dua jurus, gerakan mereka selalu maju kemudian
mundur kembali. Dalam waktu sekejap saja mereka sudah sadar bahwa kali ini mereka
telah bertemu dengan lawan yang seimbang.
Wajah Oey Ku Kiong tampak kelam. Dia menunggu sampai kaki lawannya baru
menginjak tanah, tiba-tiba dia maju ke depan dan merapat ke arah lawannya. Dengan
jurus Jubah Indah Menutupi Daya Im, dia melancarkan sebuah pukulan yang mengancam
arah pinggang lawannya.
Tenaga dalamnya sangat kuat, dengan berturut-turut dia melancarkan tiga jurus.
Gerakannya semakin lama semakin cepat. Jurusnya belum dikerahkan sampai selesai,
angin yang timbul dari pukulannya sudah menghempas dengan kuat ke arah wajah Tan Ki
sampai terasa agak perih.
Tan Ki sedang membopong Mei Ling, tentu saja dia tidak bisa melepaskan serangan
balasan. Terpaksa tubuhnya melesat lagi ke samping untuk menghindarkan diri. Kedua
orang itu terus bergebrak, yang satu menyerang, yang lain menghindar. Lambat laun
dapat dipastikan bahwa Tan Ki yang akan berada di pihak pecundang.
Tiba-tiba… terdengar suara tawa panjang yang memecahkan keheningan dan
berkumandang menggetarkan gendang telinga kedua orang itu. Tanpa dapat ditahan lagi,
keduanya jadi tertegun. Pada waktu yang bersamaan, keduanya memalingkan wajahnya
serentak…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Masih lumayan kalau tidak melihat, sekali pandang wajah Tan Ki yang tampan segera
berubah hebat. Hatinya menjadi gentar, keringat dingin pun langsung mengucur
membasahi keningnya. Tanpa terasa dia berseru…
“Celaka! Kali ini belum tentu aku dapat meloloskan diri!”
Rupanya Tan Ki melihat orang yang paling ditakutinya. Dalam jarak berapa depa di depannya,
berdiri seorang tua yang mengenakan jubah hijau. Di sampingnya berdiri seorang
gadis berpakaian hitam dengan bahu menyandang pedang. Siapa lagi kalau bukan kakek
serta cucunya, Lok Hong dan Lok Ing.
Tampaknya dari kejauhan mereka sudah melihat Tan Ki. Sepasang alis Lok Ing
perlahan-lahan terjungkit ke atas. Lambat laun dia melangkah mendekati Tan Ki. Dia
berhenti kurang lebih setengah depa di hadapan anak muda itu.
“Siapa yang kau gendong itu?” tanyanya dengan suara membentak.
“Seorang teman.” tampaknya Tan Ki juga tidak berani membohongi gadis itu.
Jawabannya wajar sekali.
Lok Ing langsung tertawa dingin.
“Masa cuma teman biasa?”
Mendengar sindirannya, Tan Ki jadi tertegun. Kalau ditilik dari ucapannya, tampaknya
ada sedikit nada cemburu di dalamnya, jangan-jangan gadis ini juga…
Begitu pikirannya tergerak, saking terkejutnya seluruh tubuh Tan Ki sampai
mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdebar-debar!
Tiba-tiba terlihat Lok Ing mengulurkan tangannya dan dengan cepat meluncur ke
arahnya. Dalam waktu yang bersamaan terdengar mulutnya berkata, “Biar aku lihat siapa
gadis itu, berani-beraninya…”
Kata-kata berikutnya seolah sulit diteruskan, Dia merasa jengah. Baru mengucapkan
setengahnya saja, mulutnya langsung membungkam. Gerakan tangannya justru
bertambah cepat.
Tan Ki paham sekali watak gadis ini yang ugal-ugalan dan tidak pernah pakai aturan.
Melihat gerakannya yang begitu hebat, dia jadi terkejut setengah mati. Kedua pundaknya
segera dimiringkan dan kakinya mencelat mundur sejauh tiga langkah.
Melihat niatnya tidak tercapai, hawa amarah dalam dada Lok Ing meluap seketika. Wajahnya
sungguh tidak enak dilihat.
“Kau berani menghindar?” bentaknya keras.
Pergelangan tangannya memutar. Kakinya mendesak ke depan dua langkah. Sekali lagi
dia menyerang lagi ke arah dada Tan Ki. Tenaganya sangat dahsyat, timbul gulungan
angin yang mengeluarkan suara menderu-deru!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perlahan-lahan Tan Ki menggeser tubuhnya dan melesat ke samping. Meskipun dia
seorang manusia yang angkuh dan tinggi hati. Tetapi karena hatinya ada ganjalan, dia
tidak berani membalas menyerang setengah jurus pun. Menghadapi sikap Lok Ing yang
ugal-ugalan, tampaknya dia kehabisan akal dan terpaksa menahan kekesalan yang
berkecamuk dalam hatinya.
Bahkan Oey Ku Kiong yang berdiri di samping menyaksikan kejadian yang berlangsung
di depan matanya, meskipun ia sendiri barusan berhadapan dengan Tan Ki sebagai
musuh, juga benci dengan tindakannya yang semena-mena. Diam-diam dia mengerahkan
tenaga dalamnya dan bersiap memberikan bantuan kepada Tan Ki.
Oey Ku Kiong bukan bermaksud mencari gara-gara dengan gadis itu. Namun sikap Lok
Ing yang bertindak seenak perutnya sendiri, membuat anak muda itu menjadi tidak
senang melihatnya.
Tepat pada saat itu, terdengar lagi suara bentakan Lok Ing…
“Coba kalau kau masih berani menghindar!”
Dia langsung melancarkan sebuah pukulan yang hebatnya bukan main!
Berkali-kali Tan Ki didesak sedemikian rupa. Sepasang alisnya langsung terjungkit ke
atas. Hawa amarahnya mulai meluap. Begitu matanya memandang, pandangannya
menangkap diri Lok Hong yang berdiri di sudut dengan tertawa terkekeh-kekeh. Terpaksa
dia menelan kembali kemarahannya yang sudah mulai berkobar. Malah hatinya jadi
bergidik. Secepat kilat tubuhnya menggeser ke samping dan dengan mudah dia dapat
menghindarkan diri dari serangan Lok Ing yang untuk ketiga kalinya itu.
Secara tiga kali berturut-turut, serangan Lok Ing mengalami kegagalan. Dia merasa
dadanya menjadi sesak seakan baru saja mendapat hinaan yang hebat. Tangannya
menuding ke arah Tan Ki. Saking kesalnya dia sampai tidak sanggup mengucapkan
sepatah kata-pun. Kemudian tampak dia menghentakkan kakinya di atas tanah berkalikali.
Air matanya pun mengalir dengan deras.
Lok Hong cepat-cepat menghampirinya. Bibirnya tersenyum lembut.
“Cucu yang baik, dari tadi kau terus mengoceh ingin bertemu dengannya. Mengapa
setelah bertemu malah mengajaknya berkelahi? Bahkan pakai menangis segala… aih, aku
benar-benar kewalahan menghadapi sifatmu.”
Orangtua ini merupakan seorang pangcu dari sebuah perkumpulan besar. Tetapi
menghadapi cucunya yang satu ini, dia menyayanginya bagai permata hati. Melihat gadis
itu demikian kesal dan sakit hati bahkan sampai mengalirkan air mata, terpaksa dia
mendekatinya dan menghiburnya dengan kata-kata yang lembut.
Siapa nyana, masih mending kalau Lok Hong tidak menasehatinya. Begitu
mengucapkan kata-kata yang menghibur hati, tingkah laku Lok Ing semakin menjadi-jadi..
Dia langsung menubruk ke dalam pelukan Lok Hong dan menangis dengan suara
meraung-raung.
Lok Hong jadi kelabakan, dia terus membelai rambut gadis itu dan menghiburnya
dengan kata-kata yang lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Jangan menangis, jangan menangis, Cucuku yang tersayang, anak manis.”
Setelah menangis sesaat, Lok Ing seakan merasa tangisan itu tiada artinya. Dia mendongakkan
wajahnya, tangannya menuding
Tan Ki.
“Dia… dia menghina aku. Yaya, kau tempeleng mukanya tiga kali, agar kekesalan
hatiku agak surut!”
Lok Hong tersenyum simpul.
“Hal ini mudah sekali.”
Tidak tampak bagaimana dia menggerakkan tubuhnya, hanya terlihat bayangan
berkelebat, tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan Tan Ki.
Gerakan yang aneh dan cepat, benar-benar membuat orang yang melihat jadi
terkesiap!
Bahkan Oey Ku Kiong juga terkejut sekali melihat hal yang di luar dugaannya itu. Dia
tidak menyangka orangtua yang tampangnya tidak istimewa sama sekali, ternyata memiliki
ilmu yang demikian tinggi!
Terdengar suara Plak! Plak! Plak! Sebanyak tiga kali. Tampak telapak tangan Tan Ki
meraba pipinya sembari mencelat mundur. Sebetulnya, apabila dia berniat menghindar,
tentu saja bukan hal yang sulit. Tetapi mengingat seluruh ilmu silatnya merupakan hasil
curian dari kuburan para leluhur orangtua yang ada di hadapannya ini, tentu saja dia tidak
berani memamerkan kepandaiannya sedikitpun juga. Dirinya bagai seorang maling kecil
yang berhadapan dengan si pemilik barang. Kalau dia berani mengelak, berarti dirinya
sendiri yang mencari bencana. Oleh karena itu, melihat ta-ngan Lok Hong bergerak
menampar pipinya secara bergantian sebanyak tiga kali, dia bahkan tidak berani
menggeser sedikit juga. Setelah hukuman itu selesai dijalankan, Tan Ki baru berani
mencelat mundur ke belakang. Dia menahan hawa amarah dalam dadanya dalam-dalam.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin dari mulut Lok Ing.
“Bagus! Rupanya kau hanya takut kepada Yaya. Terhadap diriku kau malah
menganggap berhadapan dengan seorang bocah berusia tiga tahun.”
“Bukan begitu persoalannya!” bentak Tan Ki marah. Biar bagaimana, dia merupakan
seorang pemuda yang tinggi hati namun jujur. Mendapat caci maki dari Lok Ing, tanpa
sadar dia kelepasan bicara. Tetapi setelah mencetuskan ucapannya, dia malah merasa
menyesal secara diam-diam.
Lok Hong tersenyum simpul.
“Beberapa kali bertemu muka, Laote selalu menghindar saja dan tidak membalas
sedikitpun. Kalau hatimu merasa tidak puas, mengapa tidak main-main saja dengan Lohu
beberapa jurus?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Ini…” Tan Ki tidak berani langsung menyetujui.
“Tidak usah begini, begitu… ayolah!” sembari berkata, Lok Hong maju beberapa
langkah kemudian berhenti di hadapannya. Bibir orangtua itu tersenyum simpul. Wajahnya
tidak menunjukkan kegarangan sama sekali. Tidak seperti orang yang akan berhadapan
dengan musuhnya.
Menghadapi keadaan seperti ini, Tan Ki jadi serba salah. Saat ini dia sedang
membopong Mei Ling, mana mungkin dia tega melepaskannya dan melawan Lok Hong?
Lagi pula, ilmu silat yang dimilikinya merupakan…
Untuk sesaat, dia menjadi bimbang tak menentu. Dalam waktu yang cukup lama dia
hanya berdiri dengan termangu-mangu dan tidak berani maju selangkah pun.
Tiba-tiba…
Serangkum angin terasa menerpa, sesosok bayangan berkelebat, tahu-tahu Oey Ku
Kiong sudah berdiri di antara kedua orang itu. Kemunculannya begitu cepat dan tidak
terduga-duga. Hal itu benar-benar di luar perkiraan Lok Hong. Melihat dia muncul dengan
tiba-tiba, orangtua itu terkejut sekali. Namun untuk sesaat, penampilannya pulih kembali.
“Apa yang kau inginkan?” bentaknya dengan suara keras.
Oey Ku Kiong tertawa dingin. “Seorang perempuan yang sama sekali tidak tahu aturan,
didampingi orangtua yang tidak tahu diri. Benar-benar pasangan yang serasi. Beraniberaninya
datang ke Pek Hun Ceng untuk menghina orang, hal ini sungguh membuat
pandangan orang she Oey jadi tidak enak. Sekarang aku berharap dapat menjajal barang
beberapa jurus.”
Lok Hong mendengus berat. “Orang lain boleh menganggap Pek Hun Ceng seperti
tempat bersemayamnya seekor naga sakti atau gua harimau. Tetapi dalam pandangan
Pangcu ini, malah hanya seperti liang kelinci atau sangkar burung. Tidak ada hal yang
istimewa sama sekali.”
“Jangan sangka karena kau bisa masuk dengan seenaknya, maka kau seakan
melangkah ke tempat yang kosong. Kau kira kau bisa datang dan pergi seenaknya.
Sebentar kalau kau bertemu dengan ketiga puluh enam Jendral Langit, baru kau tahu
rasa!”
Lok Hong mendongakkan wajahnya tertawa terbahak-bahak. Suaranya bagai geraman
seekor naga yang berkumandang sampai kejauhan serta menggetarkan hati orang yang
mendengarnya.
“Omong kosong saja buat apa, aku justru ingin mencoba sampai di mana kehebatan
Pek Hun Ceng yang dapat membuat hati para pendekar di dunia Kangouw kebat-kebit.”
Oey Ku Kiong mendengus satu kali. Ujung lengan bajunya disingkapkan, telapak tangan
kanannya diulurkan. Terdengar suara yang menderu-deru, dalam keadaan marah dia
melancarkan sebuah pukulan.
Lok Hong menganggap dirinya sebagai angkatan tua dalam dunia Kangouw, mana mau
dia mengambil keuntungan dari anak muda itu? Dia menarik nafas dalam-dalam,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kemudian mencelat mundur sejauh tiga empat langkah. Tadinya dia bermaksud mengalah
tiga empat jurus kepada Oey Ku Kiong.
Tetapi siapa memangnya Oey Ku Kiong itu, mana boleh disamakan dengan pemuda
sembarangan. Ketika Lok Hong mencelat mundur, otomatis dia sudah kehilangan
kesempatan menyerang terlebih dahulu. Tiba-tiba mulut Oey Ku Kiong mengeluarkan
suara bentakan, kakinya melangkah maju. Dia mendesak ke depan kemudian dalam waktu
yang bersamaan, dia mengerahkan delapan jurus secara berturut-turut, kakinya pun
mengirimkan dua buah tendangan.
Tampak bayangan telapak tangan diiringi deru angin yang keras. Suaranya mendesingdesing,
seperti setan-setan gentayangan yang tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan
menyerang serentak. Suara ratapannya menggetarkan hati.
Lok Hong merasa hatinya tercekat, dia tidak menyangka seorang pemuda yang masih
ingusan dapat memiliki tenaga dalam sehebat itu. Bahkan kecepatannya juga
mengagumkan. Begitu terperanjatnya sampai-sampai wajah orangtua ini langsung
berubah. Hampir saja dia terkena tendangan Oey Ku Kiong. Secepat kilat tubuhnya
menghentak serta melayang ke belakang.
Kali ini, Lok Hong benar-benar tidak berani memandang ringan musuhnya lagi. Dia
segera memusatkan perhatiannya untuk menghadapi anak muda itu dengan sungguhsungguh.
Lok Hong merupakan Pangcu dari Ti Ciang Pang. Meskipun dia j arang berkelana di
dunia Kangouw dan namanya tidak termasyhur seperti si pengemis sakti Cian Cong. Tapi,
ilmu silatnya tidak kalah dibandingkan tokoh-tokoh tua yang lainnya. Begitu perhatiannya
dipusatkan, biar bagaimana pun gencar dan kejinya serangan Oey Ku Kiong, tetap saja
dapat dielakkan maupun dipecahkan dengan mudah oleh Lok Hong.
Dalam waktu yang singkat, dia telah diserang sebanyak belasan jurus, tetapi semuanya
hanya saling bergebrak kemudian mundur kembali. Kejadiannya berlangsung cepat dan
keji. Bahkan Tan Ki dan Lok Ing yang melihatnya sampai merasa mata mereka berkunangkunang.
Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar, seluruh permukaan tanah langsung
bergetar, tampak sosok tubuh Oey Ku Kiong terhuyung-huyung kemudian terdesak
mundur sejauh tujuh delapan langkah.
Rupanya tiba-tiba Lok Hong merasa dirinya sebagai Pangcu Ti Ciang Pang yang besar.
Apabila untuk meringkus seorang bocah ingusan saja dia tidak sanggup tentu akan
menjadi bahan tertawaan para sahabat di dunia Kangouw kalau sampai berita ini tersebar
keluar. Pada saat itu, ke mana kegagahannya yang dibanggakan dan di mana wajahnya
harus diletakkan?
Begitu pikirannya tergerak, hawa pembunuhan pun langsung memenuhi hatinya.
Sepasang telapak tangannya telah terhimpun seluruh kekuatannya, dengan posisi
menahan di depan dada dia menghantamkan sebuah serangan.
Serangannya ini telah diperhitungkan matang-matang. Dia sudah dapat mengira
dengan tepat arah mundur Oey Ku Kiong, sehingga mau tidak mau dia harus menyambut
pukulan Lok Hong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu kekuatan keduanya telah beradu, Oey Ku Kiong merasa aliran darahnya seakan
membalik, langkah kakinya menjadi goyah dan tanpa dapat dipertahankan lagi dia tergetar
mundur beberapa langkah.
Biar bagaimanapun, tenaga dalam Lok Hong memang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan anak muda itu. Cara beradu pukulan dengan kekerasan juga sangat berbahaya.
Lagipula sulit dihindarkan. Meskipun silat Oey Ku Kiong mengandung berbagai macam
jurus yang aneh, tetapi karena dalam bidang tenaga dalam mengalami kekalahan,
akhirnya dialah yang menjadi pecundang.
Dengan mengandalkan kelebihan dirinya, Lok Hong memaksa Oey Ku Kiong
menyambut pukulannya dengan kekerasan. Setelah itu dia tidak memberi kesempatan
sama sekali kepada anak muda itu untuk mengatur pernafasannya. Mulutnya
mengeluarkan suara bentakan, lengannya yang kokoh bagai besi langsung terulur kembali.
Serangkum angin yang kuatnya bukan main langsung menerpa datang. Ketegangan,
kematian seakan mendesak ke arah Oey Ku Kiong!
Kalau Lok Hong benar-benar melancarkan pukulannya, Oey Ku Kiong pasti tidak sempat
lagi mengerahkan tenaganya untuk menyambut.
Tiba-tiba…
Terdengar suara siulan yang panjang memecahkan keheningan. Sesosok bayangan
berkelebat ke arah mereka dengan cepat!
Hati Lok Hong terkesiap, rangkuman tenaga pukulannya yang kuat ternyata berhasil
didorong oleh pukulan orang itu dengan cara kekerasan. Tubuhnya lalu melesat lewat di
samping Oey Ku Kiong.
Begitu matanya memandang, ternyata orang yang turun tangan itu adalah Tan Ki yang
selalu mengalah dan dipukul berkali-kali tanpa pernah membalas. Tentu saja dia jadi
tertegun seketika.
Rupanya, meskipun Tan Ki adalah seorang
pemuda yang tinggi hati namun dia juga orang j yang mengenal budi. Melihat Oey Ku
Kiong terjerumus dalam keadaan yang membahayakan jiwanya hanya karena persoalan
dirinya, rasa kegagahannya pun terbangkit. Rasa takutnya terhadap Lok Hong seolah
tersingkirkan. Oleh karena itu, dia meletakkan Mei Ling perlahan-lahan di atas tanah,
kemudian tubuhnya bergerak serta melayang di udara. Dengan tepat dia menyambut
serangan Lok Hong yang keji ke arah Oey Ku Kiong.
Pada saat itu juga, dia tidak mempertimbangkan akibat apapun. Begitu mengeluarkan
suara siulan yang panjang, dia sudah mengambil keputusan untuk melancarkan sebuah
pukulan dan dengan keras menyambut serangan Lok Hong. Dirinya sendiri terdorong oleh
rangkuman tenaga yang dahsyat sehingga tergetar mundur dua langkah.
Tepat pada saat itu juga, suasana yang tegang seakan menjadi dua kali lipat. Oey Ku
Kiong sudah agak tenang dari rasa terkejutnya. Di wajahnya tersirat perasaan kemalumaluan.
Dia menjura dalam-dalam kepada Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Terima kasih atas budi pertolongan Tan Heng. Teman sepertimu ini sudah pasti kujalin.
Tentang Cen Kouwnio, kelak kita bicarakan kembali…” matanya beralih kepada
Lok Hong. Dia mengalihkan pokok pembicaraan. “Kalian berdua berani menyusup ke
dalam Pek Hun Ceng, setidaknya pasti mempunyai keyakinan beberapa bagian. Aku orang
she Oey mengaku kalah, tetapi tempat tinggal kami ini memang dibangun sedemikian rupa
untuk menyambut kedatangan tamu-tamu. Apakah kalian mempunyai nyali yang cukup
besar untuk mengikuti aku mengelilinginya?”
Lok Hong tertawa terbahak-bahak.
“Aku justru ingin melihat sampai di mana kehebatan Tiga puluh enam Jendral Langit
itu…!”
Lok Ing langsung mencibirkan bibirnya dengan kesal.
“Yaya, apakah kau tidak sudi menyelesaikan urusanku lagi?” tanyanya gugup. Rupanya
dia masih juga belum puas mempermainkan Tan Ki. Atau mungkin dia merasa berat
berpisah dengannya?
Lok Hong melirik Tan Ki sekilas. Dia tertawa datar.
“Sudah tahu bentuknya seperti ini, biar sudah jadi abupun masih bisa dikenali.
Memangnya dia bisa lari ke mana?” tangannya direntangkan dengan gaya
mempersilahkan. “Harap kau menunjukkan jalan. Biar Lohu belajar kenal sebentar apa
perbedaan Barisan Tiga Puluh Jendral Langitmu dengan Cap-pat Lo-han dari Siau Lim
Pai?”
Oey Ku Kiong mendengus satu kali. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tubuhnya
langsung melesat ke depan.
Lok Hong dan Lok Ing segera mengerahkan ginkangnya dan mengikuti dari belakang.
Da-lam sekejap mata mereka sudah menghilang di balik rumpunan pohon bambu.
Sebelum me-ninggalkan tempat itu Lok Ing sempat menatap Tan Ki sekilas. Pandangan itu
demikian aneh, bukan kebencian ataupun penyesalan, tetapi semacam sinar yang sulit
dijelaskan dengan kata-kata.
Tan Ki berdiri tertegun beberapa saat. Setelah Lok Hong dan yang lainnya pergi dari
sana, baru dia membopong Mei Ling kembali. Direnungkannya apa yang berlangsung
barusan. Semuanya bagai khayalan dan impian, tetapi justru merupakan peristiwa yang
menegangkan. Kematian dan kehidupan hanya terpaut demikian tipis.
Perlahan-lahan dia berjalan, langkah kakinya seakan berat sekali…
Entah sejak kapan, tahu-tahu dia sudah meninggalkan Pek Hun-ceng. Telapak kakinya
mulai berpijak di atas rerumputan. Rupanya dia sudah sampai di sebuah padang rumput.
Tetapi ia sendiri masih belum menyadarinya.
Hatinya kalut sekali. Pikirannya ruwet. Benaknya seakan digelayuti berbagai masalah.
Namun masalah yang paling dirisaukannya justru bagaimana caranya menolong Mei Ling
agar kesadarannya pulih kembali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Masih mending kalau tidak berpikir. Begitu dipikirkan, rasanya harapan semakin tipis. Li
Hun Tan merupakan ramuan khas Oey Kang sendiri. Di mana dia bisa menemukan tabib
sakti yang sanggup menyembuhkan penyakit ini? Kalau dia tidak berhasil menemukan
orang yang sanggup menyembuhkannya, untuk seumur hidupnya Mei Ling akan menjadi
manusia yang seolah kehilangan sukma. Untuk selamanya Tan Ki tidak dapat melihat lagi
senyumnya yang polos…
Hatinya diganduli perasaan yang pilu. Dia melangkah terus tanpa menyadari apapun.
Perlahan-lahan dia mendaki sebuah bukit. Dari arah depan terasa angin berhembus,
sejuknya bukan main. Rambut Mei Ling sampai berkibaran, pakaian atau tepatnya jubah
yang dikenakan gadis itu juga melambai-lambai.
Tan Ki menghentikan langkah kakinya. Dengan termangu-mangu dia berdiri tegak. Di
hadapannya terlihat gunung menjulang tinggi. Pemandangannya indah sekali. Tetapi Tan
Ki seolah tidak melihat. Dia terus membopong Mei Ling seperti orang yang terpana.
Dengan berdiam diri, tubuhnya tampak tidak bergerak sedikitpun…
Saat yang sekejap itu, sepertinya lebih panjang dari biasa. Hening mencekam. Di
benaknya terdapat banyak bayangan para gadis, tetapi sekarang semuanya sudah lenyap,
yang teringat olehnya hanya Mei Ling seorang.
Angin masih berhembus, pegunungan tetap sunyi, semuanya tetap sama, tidak ada
satu-pun yang berubah. Hanya perasaan Tan Ki yang makin tenggelam dalam kekalutan
dan kesedihan. Keringatnya mengalir dengan deras, giginya digertakkan erat-erat.
Tubuhnya bergetar karena hatinya dirisaukan oleh berbagai penderitaan. Pikirannya sama
sekali tidak tenang. Kejadian itu berlangsung lama sekali.
Tiba-tiba dia menarik nafas panjang. Perlahan-lahan dia menurunkan Mei Ling dari bopongannya.
Dibiarkannya gadis itu berdiri tegak. Penyesalan di dalam hatinya masih belum
sirna juga.
Kalau tadi aku mengabulkan permintaan Oey Ku Kiong, dengan memperkenalkan Kiau
Hun kepadanya, aku akan memperoleh obat penawarnya serta dapat menyembuhkan Mei
Ling segera. Urusan lainnya biar lihat perkembangannya saja. Kelak, apakah Kiau Hun juga
cinta atau tidak kepada pemuda itu, bukan urusanku lagi. Biar bagaimanapun, Kiau Hun
sendiri yang berhak menentukannya, sedangkan aku tidak mungkin mengambil keputusan
apa-apa. Pada saat itu aku sudah mendapatkan obat penawar, meskipun belakang hari
Oey Ku Kiong marah kepadaku. Aih… mengapa aku demikian bodoh, dalam segala hal
selalu mendahulukan kepercayaan dan tata krama, akhirnya Liu Moay Moay menjadi
menderita seumur hidup. Dia kehilangan kebahagiaan untuk selamanya! Keluhnya dalam
hati.
Berpikir sampai di sini, dia semakin menyesal. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya
kemudian menampar pipinya sendiri berulang kali. Dalam waktu yang bersamaan,
mulutnya pun terus memaki dirinya sendiri…
“Bodoh, tolol, mampus saja kau…!”
Sambil memukul dia terus memaki, tanpa terasa air matanya mengalir dengan deras
membasahi pipinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki menangis. Baru pertama kalinya dia menguraikan air mata demi gadis yang
dikasi-hinya. Dia merasa hal itu cukup berharga baginya untuk ditangisi.
Airmata terus mengalir, mengiringi ucapannya yang lirih sekali yang tercetus dari hati
kecilnya…
“Liu Moay, sebetulnya aku sudah mendapat kesempatan untuk menolongmu, tetapi
dengan mudah aku mengabaikannya. Dua kali aku mendapat uluran tanganmu sehingga
aku terlepas dari kesulitan. Malah sekarang aku membiarkanmu sedemikian rupa.
Walaupun aku dihukum seribu bacokan, dosa ini tetap tidak tertebus. Liu Moay, apakah
kau mendengarkan ucapanku? Aku harap kau bersedia memaafkan…”
Tenggorokannya bagai tercekat, untuk sesaat dia tidak sanggup melanjutkan katakatanya.
Dua baris air mata mengalir semakin deras. Bahkan kerah bajunya sudah basah
karena rembesan air matanya. “Aku mencintaimu…”
Nada suaranya begitu tulus, di dalamnya terkandung kepiluan dan cinta kasih yang
murni. Tampaknya setelah bergumam beberapa saat, dia masih belum juga mencetuskan
seluruh perasaannya. Itulah sebabnya kemudian dia mengucapkan juga kata-kata yang
terakhir itu.
Mei Ling berdiri termangu-mangu dengan bibir tersenyum. Wajahnya tidak menyiratkan
perasaan apapun. Gadis itu telah dicekoki Li Hun Tan oleh Oey Kang. Kesadarannya telah
hilang. Meskipun kata-kata Tan Ki begitu romantis dan mengungkapkan perasaan yang
sedalam-dalamnya, tetap saja dia tidak mengerti.
Suasana semakin mencekam, di dalamnya juga terselip semacam kesunyian yang
menge-naskan…
Tiba-tiba, pundak Tan Ki disentuh oleh sebuah tangan. Telinganya mendengar suara
yang parau namun mengandung kelembutan…
“Mengapa Abang kecil ini begitu sedih? Bolehkah Yibun Siu San mendengar apa yang
telah terjadi, biar kita dapat berbagi sedikit suka dan duka.”
Kedatangan orang ini tidak menimbulkan suara sedikitpun. Seperti setan gentayangan
yang kakinya tidak berpijak pada tanah. Meskipun Tan Ki dalam keadaan sedih, ternyata
dia tidak tahu sejak kapan orang itu berdiri di belakangnya. Setelah orang itu menegurnya,
otomatis dia terkejut setengah mati. Cepat-cepat dia memalingkan kepalanya untuk
melihat.
Ketika Tan Ki menolong Mei Ling dan membawanya lari keluar dari pendopo
pertemuan, barulah Yibun Siu San muncul. Sampai Coan Lam Taihiap itu melepaskan para
pendekar dari mara bahaya, Tan Ki tidak sempat melihatnya. Oleh karena itu, dia tidak
kenal siapa orang ini.
Apa yang dilihatnya sekarang, hanya seorang manusia yang wajahnya tertutup cadar
dan sedang berdiri di belakangnya. Tentu saja Tan Ki jadi tertegun.
Sejak kecil Tan Ki hidup seorang diri dalam pegunungan yang sunyi. Yang membuat semangatnya
tidak patah hanya keinginan membalas dendam yang berkobar-kobar dalam
hatinya- Dia mempelajari ilmu silat dengan tekun. Diam-diam dia menghabiskan waktu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
selama sepuluh tahun tanpa teman seorangpun. Dia juga tidak pernah bertemu dengan
siapa-siapa. Hal ini menyebabkan wataknya yang suka menyendiri, angkuh dan keras
kepala. Tetapi sebetulnya dia mempunyai hati yang hangat, semacam perasaan yang aneh
terus menyelimuti hatinya, meskipun dia tidak mempunyai tempat untuk mengadu dan
selalu memendam perasaan hatinya dalam-dalam. Semakin lama dia semakin merasa
kesepian. Meskipun hatinya pernah diusik oleh kecentilan Liang Fu Yong, keromantisan
Kiau Hun, bahkan Lok Ing yang tidak tahu aturan. Hanya Mei Ling yang lugu yang baru
benar-benar merupakan gadis pujaan hatinya, terutama sejak mengacau di rumah
keluarga Liu dan berhasil ditolong oleh gadis itu. Begitu pertama kali melihatnya, dia
langsung jatuh hati. Bayangannya terus menggelayuti benak Tan Ki. Setiap saat dia selalu
merindukan gadis itu.
Oleh karena itu, begitu mendengar ucapan Yibun Siu San, apalagi melihat keadaan Mei
Ling yang termangu-mangu seperti orang bodoh serta sulit disembuhkan, hatinya semakin
hancur. Air matanya pun mengalir dengan deras. Meskipun untuk sesaat dia sempat
tertegun melihat orang di hadapannya, tetapi penderitaan di dalam hatinya semakin
menjadi-jadi. Tanpa sadar dia mencetuskan perasaannya, tangannya menunjuk ke arah
Mei Ling.
“Dia kehilangan kesadarannya dan berubah menjadi manusia yang tidak tahu apa-apa.
Semua ini merupakan kesalahanku…” kesedihan di dalam hatinya sedang meluap-luap. Di
tambah lagi tenggorokannya yang kering. Kata-kata yang diucapkannya jadi terputusputus.
Kalimatnya tidak jelas. Persis seperti anak kecil yang berhadapan dengan
saudaranya serta mencetuskan kekesalan hatinya dengan ratapan. Orang yang
mendengarnya ikut merasa pilu. Apalagi dia tidak membedakan antara kawan lawan dan
tidak mempunyai persiapan sama sekali.
Yibun Siu San memperhatikan Mei Ling sekilas. Bibirnya mengeluarkan suara tawa yang
ringan.
“Nona ini cantik bak bidadari, wajahnya juga menampilkan keanggunan. Tidak heran
kau begitu khawatir bahkan menyalahkan diri sendiri. Lalu, sekarang apa yang kau
rencanakan?”
“Tadinya aku bermaksud mencari seorang tabib sakti yang dapat mengobatinya. Dunia
ini memang luas sekali, namun rasanya tidak ada seorangpun yang sanggup
menyembuhkan atau menawarkan racun Li Hun Tan milik si iblis Oey Kang.”
Yibun Siu San terkejut sekali.
“Apa? Dia menelan racun Li Hun Tan?”
“Tidak salah.”
Tampak Yibun Siu San merenung sejenak.
“Kalau begitu, urusannya jadi rada sulit. Li Hun Tan merupakan ramuan dari berbagai
jenis rumput-rumputan langka. Oey Kang menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk
mendapatkan hasil yang sempurna. Di bawah kolong langit ini, meskipun banyak kejadian
yang kebetulan, tetapi untuk menawarkan racun jenis yang satu ini, sulitnya bukan
kepalang!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajahnya ditutupi dengan sehelai cadar, hal ini membuat orang sulit menebak
bagaimana perasaannya saat itu. Tetapi dari nada suaranya yang tegas serta yakin,
tampaknya dia sendiri tidak dapat melakukan apa-apa.
Hati Tan Ki semakin panik. Dia menarik nafas panjang-panjang.
“Lalu bagaimana baiknya?” tanyanya dengan nada putus asa.
“Apakah kau benar-benar ingin menolongnya?”
“Asal dapat menyembuhkannya, meskipun harus mati seribu kali, aku rela!”
“Baik, mari kau ikut denganku.”
Selesai berkata, orang itu tidak menunggu lagi jawaban dari Tan Ki, dia langsung
membalikkan tubuhnya dan menghambur pergi.
Untuk sesaat, Tan Ki seolah tidak mempunyai pertimbangan apa-apa. Dia langsung
membopong tubuh Mei Ling dan mengikuti dari belakang.
Matahari bersinar dengan terik, tampak dua sosok bayangan berkelebat secepat kilat.
Bagai dua gumpal awan, tubuh mereka melesat jauh. Liku-liku pegunungan telah dilalui,
akhirnya mereka sampai di bukit yang sunyi.
Tiba-tiba Yibun Siu San menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri di bawah celah batu
yang menonjol.
“Di puncak bukit ini, merupakan gubuk tempat tinggalku. Sayangnya sekarang ini tidak
sempat mengajak abang kecil ini meninjau-ninjau.”
“Mengapa?”
“Memangnya racun yang diderita nona cilik ini tidak mau disebuhkan lagi?”
Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki tertegun. Setelah merenung sejenak, dia
seperti tersentak dari lamunan. Wajahnya langsung berseri-seri.
“Harap Cianpwe bersedia mengulurkan tangan membantunya.” selesai berkata, dia
segera menjura dalam-dalam.
Yibun Siu San tertawa lepas. Dia segera membalikkan tubuhnya dan berjalan melalui
tepi sungai di puncak bukit. Setelah melewati hutan bambu yang tidak seberapa luas,
begitu mata memandang, di depan terdapat sebuah rumah peristirahatan. Ukurannya
sedang-sedang saja. Dinding sebelah dalamnya terbatas pada batu bukit.
Yibun Siu San merentangkan tangannya dengan tanda mempersilahkan.
“Masuklah. Aku ada beberapa pertanyaan yang ingin diajukan di dalam nanti.”
Tan Ki tersenyum terharu. Dia mendahului melangkah ke dalam. Pada saat ini hatinya
panik sekali. Rasanya ingin ia menyuruh orang ini langsung turun tangan menyembuhkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
penyakit yang diderita Mei Ling agar kesadarannya dapat dipulihkan seperti sedia kala.
Bahkan dia tidak sedikitpun melirik dekorasi rumah itu.
Setelah mempersilahkan tamunya duduk, Yibun Siu San sendiri menarik sebuah bangku
dan dibimbingnya Mei Ling duduk di sana. Dengan ramah dia bertanya, “Mohon tanya
nama dan she Abang kecil yang mulia, serta di mana rumah tinggalnya?”
“Aku bernama Tan Ki. Tinggal di tepi telaga Hoan Yang.”
“Ayahmu?”
“Ayah bernama Tan Ciok San. Orang-orang menjulukinya Miau Jiu Su- seng (Pelajar
ber-tangan sakti).
Mulut Yibun Siu San mengeluarkan suara ‘Oh…’ kemudian tersenyum simpul sambil
menganggukkan kepalanya.
“Rupanya ayahmu juga merupakan seorang tokoh yang cukup terkenal. Kalau begitu
ibumu kemungkinan besar juga merupakan sahabat dari dunia Kangouw.”
Wajah Tan Ki langsung berubah hebat.
“Bukan!” sahutnya dengan nada enggan.
“Tampaknya kau kurang menyukai ibumu?”
“Bukan hanya kurang menyukai saja, malah bencinya setengah mati… aih, sekarang ini
aku segan membicarakan urusan ini. Harap Locianpwe segera turun tangan saja.”
Yibun Siu San tersenyum simpul. Tiba-tiba wajahnya menjadi serius, segera tersirat
kewibawaan yang dalam.
“Terus terang aku katakan kepadamu, ayahmu merupakan sahabat lamaku.”
Tan Ki terkejut sekali mendengar keterangannya. Dia langsung berdiri tegak dan
bermaksud mengucapkan sesuatu. Tampak Yibun
Siu San menarik nafas panjang, seakan dia sedang merenungi masa lalu. Perlahanlahan
dia memejamkan matanya.
“Selama berkelana di dunia Kangouw, apakah Abang kecil ini pernah mendengar nama
Lu Wi Sam-kiat alias tiga jago dari Lu Wi?”
“Sejak berkelana di dunia Kangouw sampai sekarang, Boanpwe rasa baru kurang lebih
setengah tahun. Pengalaman maupun pengetahuan masih cetek. Jadi belum pernah
mendengar nama tersebut.”
BAGIAN XX
Yibun Siu San berdehem lirih satu kali. Sinar matanya mengandung perasaan yang pilu.
Dia menarik nafas dalam-dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hal ini tentu tidak dapat disalahkan. Ketika Lu Wi Sam-kiat menggetarkan dunia
Kangouw, kau masih dalam gendongan ibumu. Teringat kami bertiga mengangkat tali
persaudaraan, hubungan kami demikian dekat…”
Sepasang alis Tan Ki mengkerut-kerut. Tiba-tiba dia memotong pembicaraan Yibun Siu
San, “Apakah ayahku merupakan salah satu anggota dari Lu Wi Sam-kiat?”
“Betul. Kami mengambil urutan berdasarkan usia masing-masing. Ayahmu adalah
Lotoa, sedangkan aku berada pada deretan nomor tiga.”
“Lalu siapa yang menduduki urutan kedua?”
“Orang ini pasti sudah kau kenal, dialah pemilik Pek Hun-ceng, si raja iblis nomor satu
Oey Kang.”
Seluruh tubuh Tan Ki langsung bergetar mendengarnya, dia merasa terkejut sekali.
“Apa? Jadi dialah Ji-siokhu Boanpwe?” (Ji-siokhu artinya paman kedua).
“Hal ini merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak. Kalau kau tidak percaya,
setelah bertemu dengan ibumu, kau boleh menanyakannya lebih jelas.”
Mendengar ucapannya, Tan Ki segera menutupi kedua belah telinganya dengan tangan.
Dia menghentak-hentakkan kakinya dengan penuh kebencian.
“Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar! Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak
mau berbicara tentang ibuku, Locianpwe malah sengaja membuat hatiku menjadi kacau,
sebetulnya apa maksudmu?”
Yibun Siu San tertawa dingin.
“Tampaknya kesanmu terhadap ibumu sendiri bukan hanya buruk tapi jahat!”
Tampaknya orang ini menaruh rasa hormat yang dalam kepada ibu Tan Ki. Mendengar
anak muda itu terus-terusan mengatakan bahwa dia membenci ibunya, tanpa dapat
ditahan lagi hawa amarah dalam dadanya jadi meluap-luap. Ketika ucapannya selesai,
tiba-tiba tubuhnya berdiri dan dengan kecepatan kilat ia menghambur mendekati. Tangan
kanannya terangkat dan terdengar suara Plak! Satu kali. Dengan kecepatan yang sulit
ditangkap pandangan mata, tahu-tahu pipi Tan Ki sudah kena ditempeleng oleh orang itu.
Gerakannya demikian cepat, sehingga laksana anak panah yang meluncur. Tan Ki tidak
sempat lagi menghindar. Dia hanya merasa wajahnya panas sekali. Juga terselip rasa
perih yang tidak terkatakan. Tanpa sadar dia meraba pipinya dan mundur sejauh dua
langkah.
“Mengapa kau memukul orang seenaknya?”
Rupanya tamparan Yibun Siu San ini keras sekali. Tampak orang itu mengeluarkan
suara tawa yang dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Masih keenakan kalau memukul saja. Aku ingin bertanya padamu, sebagai seorang
anak, apa yang terutama harus dilakukan?”
“Bakti!”
“Lalu, mengapa kau demikian tidak becus? Bahkan berani-beraninya merasa benci
kepada ibu yang melahirkan dirimu dengan susah payah? Hm, baru mendengar orang
mengungkitnya sudah sedemikian rupa, apabila suatu hari nanti kalian ibu dan akan dapat
bertemu lagi, entah peristiwa tragis apa yang akan terjadi pada saat itu!”
Tan Ki mendengar suara bentakannya semakin lama semakin keras. Tangannya
menuding dan kakinya dihentakkan. Tampangnya seakan kesal sekali. Hatinya diam-diam
timbul kecurigaan: ‘Tampaknya dia mengenal Ibu dengan baik…’
Pikirannya tergerak, dengan luapan amarah dia menyahut, “Kalau dia pantas menjadi
orangtua bagi seorang anak, aku juga tidak akan demikian kurang ajar!”
Tubuh Yibun Siu San bergetar hebat.
“Mengapa?” desaknya.
Dengan mata menyorotkan kebencian Tan Ki melanjutkan kata-katanya…
“Justru ketika Ayah mati secara mengenaskan malam itu, dia malah lari bersama
kekasih gelapnya.
“Mengapa kau bisa yakin begitu kejadiannya? Apakah saat itu kau melihat dengan mata
kepalamu sendiri?”
“Meskipun aku tidak melihatnya sendiri, tetapi di dalam kamar Ayah aku menemukan
sehelai sapu tangan seorang laki-laki. Di atasnya tersulam sepasang burung camar yang
sedang terbang melayang di atas lautan. Juga terdapat sebaris syair yang menyatakan
perasaan cinta. Hatiku tahu, bahwa benda itu bukan milik ayahku. Sedangkan di atas syair
itu, tertulis nama ibuku semasa gadis. Apakah bukti-bukti ini masih belum cukup?”
Tampaknya dalam sesaat Yibun Siu San teringat akan sesuatu hal. Dia langsung
membentak, “Jangan sembarangan bicara, sapu tangan itu…” dia merandek sejenak.
Kemudian tampak dia membungkam seribu bahasa.
Rupanya dalam hati dia merasa panik sekali, hampir saja dia kelepasan bicara. Tadinya
dia ingin mengatakan: ‘Sapu tangan itu adalah milikku…’ tetapi dia tersadar bahwa hal itu
malah bisa semakin memperdalam kesalahpahaman dalam hati Tan Ki. Oleh karena itu,
cepat-cepat dia menutup mulutnya.
Tetapi Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas. Mendengar nada suaranya yang
seakan menyimpan suatu rahasia, mana mungkin dia sudi membiarkan begitu saja. Dia
segera mencekal kesempatan itu baik-baik. “Milik siapa?”
Nada suara dalam pertanyaan itu sangat tajam. Tampaknya kalau tidak dijelaskan, Tan
Ki pun tidak mau menyudahi begitu saja. Bahkan apakah Yibun Siu San benar-benar Samsioknya
atau bukan, dia tidak perduli lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yibun Siu San merenung sejenak.
“Ini…” tampaknya dia mempunyai ganjalan dalam hati. Untuk sesaat dia merasa
bimbang tak menentu. Kata-kata yang hanya sepatah itu ditariknya sampai panjang sekali,
bahkan dia masih tidak sanggup meneruskannya.
Tan Ki hampir kehabisan kesabarannya.
“Katakanlah!” teriaknya gugup. -
Akhirnya tampak Yibun Siu San menarik nafas panjang.
“Benar tidaknya dugaanmu, suatu hari pasti akan terungkap sampai jelas. Mengapa kau
begitu panik dan mendesak terus…?”
Kata-katanya belum selesai, tiba-tiba jari tangannya meluncur ke arah tenggorokan Mei
Ling…
Tindakan yang mendadak ini, benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Lagipula totokan yang
dilancarkan juga demikian cepat!
Melihat hal itu, Tan Ki terkejut setengah mati. Dia segera membentak dengan gusar,
“Apa yang kau lakukan?” terdengar suara angin menderu, dia langsung melancarkan
sebuah pukulan!
Meskipun serangannya dilancarkan secara mendadak bahkan dalam keadaan marah
dan tanpa persiapan sama sekali, tetapi kecepatannya tidak terkirakan. Tenaga dalamnya
pun sangat kuat.
Yibun sengaja melakukan hal ini karena hendak menghindari desakan pertanyaan Tan
Ki. Setelah totokannya yang ringan mengenai tenggorokan Mei Ling, luncuran pukulan Tan
Ki yang dahsyat pun menerjang tiba. Dia merasa ada serangkum angin yang kuat menerpa
dari samping tubuhnya. Tiba-tiba terlihat Yibun Siu San memutar, dengan gerakan yang
indah dan jurus yang ajaib, tahu-tahu dia sudah berada di belakang Mei Ling. Gerakannya
itu bukan saja berhasil menghindarkan diri dari serangan Tan Ki, sekaligus dia masih
sempat mengulurkan tangannya menotok tujuh delapan tempat urat darah di belakang
punggung Mei Ling.
Tubuh Mei Ling yang kecil langsing terkena tujuh totokan Yibun Siu San secara
berturut-turut. Setelah mendengus satu kali, tubuhnya pun terkulai di atas tanah.
Hampir dalam waktu yang bersamaan, dengan kemarahan yang meluap-luap, mulut
Tan Ki mengeluarkan suara raungan yang keras. Dia menerjang dengan kalap. Jurus Api
Membara Di Hari Yang Cerah langsung mengarah ke dada Yibun Siu San.
Sebetulnya Yibun Siu San hanya menghindarkan diri dari pertanyaan Tan Ki yang
bertubi-tubi. Dia sama sekali tidak berniat berkelahi dengan anak muda itu. Pundaknya
digerakkan ke kiri dan kakinya pun mencelat mundur setengah langkah. Dia segera
mengibaskan tangannya berkali-kali.
“Tunggu dulu, dengarlah perkataanku!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Air mata Tan Ki terus mengalir. Wajahnya menyiratkan kepedihan yang dalam.
“Kau sudah mencelakakan kekasihku sampai mati. Apalagi yang harus kita bicarakan?”
bentaknya marah.
Lengannya yang kokoh seperti besi terus bergerak. Ternyata dia tidak sudi mendengar
penjelasan Yibun Siu San. Dengan jurus Burung Melayang Dengan Gusar, dia menebas
dari atas ke bawah. Sasarannya kali ini ubunubun kepala Yibun Siu San. Sungguh
merupakan serangan yang keji!
Belum lagi kakinya yang tiba-tiba melangkah ke depan sampai tangan satunya lagi
langsung melancarkan sebuah pukulan ke dada Yibun Siu San. Hatinya pedih sekali karena
mengira keka-sihnya telah mati. Dalam satu jurus dia melancarkan dua buah serangan.
Kecepatannya hampir pada waktu yang bersamaan. Rangkuman tenaga yang dahsyat
belum mencapai sasaran, anginnya sudah menerpa wajah sehingga menimbulkan rasa
dingin.
Langkah kiri Yibun Siu San bergeser sedikit. Dia menghindarkan diri dari tebasan
tangan Tan Ki. Lengan kanannya terulur secepat kilat. Gerakannya meluncur ke depan.
Tetapi karena dia memang tidak berniat melukai Tan Ki, biarpun kecepatannya bagai kilat
yang menyambar, tetapi tenaga yang terkandung di dalamnya demikian ringan sehingga
tidak menimbulkan angin sedikitpun. Dengan demikian kekuatannya tidak cukup untuk
melukai orang.
Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat, kakinya melangkah mundur setengah mistar,
Sekaligus dia menggerakkan lengan kanannya, dari tebasan diubah menjadi hantaman
tenaga dalam yang sudah dipersiapkan di telapak tangan seketika dikerahkan.
Jurus ini dilancarkan dengan keras lawan keras. Jadi tidak main-main, bahkan
bermimpipun Yibun Siu San tidak mengira Tan Ki demikian setia. Hanya karena melihat
Mei Ling terkulai di atas tanah, dia langsung berubah kalap. Serangan yang dilancarkannya
seperti mengadu jiwa saja. Tentu saja Yibun Siu San jadi tertegun.
Justru ketika dia masih terpana, tanpa terasa dua arus tenaga dalam sudah saling
membentur. Terdengar suara menggelegar yang keras sekali. Rumah peristirahatan itu
sampai bergetar bagai dilanda gempa bumi. Dalam keadaan tidak siap sama sekali,Yibun
Siu San malah terdorong oleh rangkuman tenaga dalam Tan Ki yang dahsyat sehingga
terdesak mundur sejauh tiga langkah.
Yibun Siu San merasa wajahnya menjadi panas. Dalam hatinya timbul perasaan malu.
Apabila aku sampai dikalahkan oleh keponakan kesayangan ini, benar-benar
keterlaluan, pikirnya dalam hati.
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung memperdengarkan suara tawa yang gagah.
Kakinya melangkah maju dan menerjang ke depan. Dalam waktu yang singkat, terlihat dia
menghantam, kakinya menendang, secara berturut-turut dia melancarkan serangan
sebanyak tujuh delapan jurus.
Tampak totokannya menimbulkan angin kencang, bayangan telapak tangannya
berkibar-kibar. Semuanya berkumpul di kiri dan kanan, dengan bergulung-gulung melanda
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
datang. Bahkan tubuh Yibun Siu San sendiri hampir tidak kelihatan karena tertutup
bayangan totokan dan telapak tangannya.
Hati Tan Ki jadi terkesiap bukan kepalang. Dia merasa serangan lawan yang gencar mengandung
kekuatan yang dahsyat. Seumur hidupnya hal ini justru merupakan peristiwa
yang paling menggetarkan yang pernah dijumpainya. Untuk sesaat mana berani dia
menyongsong ke depan serta menyambut serangan itu. Terpaksa tubuhnya mencelat
mundur ke belakang setelah menarik nafas dalam-dalam.
Apabila tokoh kelas tinggi bergebrak, kejadiannya hanya sekejapan mata saja. Tubuh
mereka bergerak maju dan tahu-tahu sudah mundur kembali. Yibun Siu San tidak menyianyiakan
kesempatan untuk mendesak terus. Tangan kiri melancarkan jurus Memetik
Teratai Emas, tangan kanan dalam waktu yang bersamaan mendorong ke depan,
sasarannya langsung ke dada Tan Ki. Baik gerakan jurus maupun tenaga dalamnya
mengandung kehebatan yang tidak terkirakan.
Satu jurus dua gerakan, dilancarkan hampir bersamaan waktunya, malah dalam saat
yang sama menggunakan dua arus tenaga dalam yang berlainan bobotnya. Tangan kiri
mengambil gaya memetik, tangan kanan menghantam sekuat tenaga. Gerakan kelas tinggi
yang jarang terlihat ini, membuat mata Tan Ki sampai berkunang-kunang kebingungan.
Terpaksa dia mencelat mundur kembali.
Semacam pikiran yang buruk segera terlintas di benaknya di saat kakinya mencelat
mundur ke belakang. Dia sudah tahu, orang yang mengaku sebagai paman ketiganya
memiliki ilmu silat yang jauh lebih tinggi daripada dirinya sendiri. Niat untuk membalaskan
dendam bagi kekasihnya, mungkin hanya impian kosong saja.
Tanpa dapat ditahan lagi, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa sumbang. Suara
tawanya melengking tinggi dan mengandung kepiluan yang tidak terkatakan. Dapat
dibayangkan penderitaan yang dialaminya saat itu.
Seseorang bila sudah mencapai rasa putus asanya, pasti akan membayangkan banyak
hal. Oleh karena itu, berbagai pikiran berkecamuk dalam hati Tan Ki saat itu. Setiap
kenangan bagai ombak yang bergulung menerpa benaknya yang mulai rapuh.
Di dalam kitab yang kutemukan terdapat ilmu Te Sa Jit-sut yang hebat sekali. Meskipun
di dalam Pek Hun Ceng, ketika bertempur melawan tiga puluh enam jendral langit, aku
sempat mengingatnya di saat terdesak. Tetapi sekarang aku malah melupakannya
kembali. Kalau tidak, meskipun Yibun Siu San ini mempunyai ilmu yang lebih hebat dan
keji, kemungkinan aku masih sanggup mengadu nyawa dengannya!
Dengan membawa pikiran seperti itu, penyesalan di dalam hatinya semakin bertambah.
Dia juga terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri yang dianggapnya bodoh.
Tiba-tiba… terdengar suara tawa yang memekakkan telinga, bayangan manusia
berkelebat dan tahu-tahu di depan Tan Ki sudah bertambah satu orang.
Ilmu silat orang ini hebatnya bukan main. Kedatangannya begitu cepat. Benar-benar di
luar dugaan sehingga Tan Ki terkejut setengah mati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu matanya memandang, dia melihat orang itu mengenakan pakaian yang penuh
tambalan. Kakinya beralas sepatu rumput, dia adalah salah satu dari dua tokoh sakti di
dunia Kangouw saat itu yakni Po Siu Cu Cian Cong atau disebut juga si pengemis sakti.
Sesudah terkejut, Tan Ki malah jadi termangu-mangu. Dia tidak mengerti mengapa
Cian Cong bisa muncul di saat yang demikian tepat?
Terdengar orangtua itu tertawa terbahak-bahak.
“Yibun Loji, harap berhenti sebentar. Bagaimana kalau menjual sedikit muka kepada si
pengemis tua?” lengan kanannya terulur dan langsung menyambut ke atas. Dalam waktu
yang bersamaan dengan kata-kata yang diucapkannya, jurus serangan Yibun Siu San
sudah berhasil dipecahkannya dengan mudah.
Yibun Siu San paling suka kebersihan. Tampaknya dia tidak mau menyentuh tubuh Cian
Cong yang hitam dan dekil. Baru saja kakinya menginjak tanah, dia cepat-cepat mencelat
mundur ke belakang. Bibirnya tersenyum.
“Untuk apa kau datang ke mari?”
“Si pengemis tua belum juga mengajukan pertanyaan, kau malah yang bertanya
duluan. Lihat saja dirimu, sudah hidup sampai setua ini, masih mencari urusan dengan
bocah cilik seperti ini. Malah main tinju dan tendangan segala macam.”
Yibun Siu San melirik Tan Ki sekilas.
“Kau kenal dengannya?”
“Pernah bertemu beberapa kali.”
Sembari berkata, mata Cian Cong menatap Tan Ki. Sinarnya memancarkan kasih
sayang.
Yibun Siu San merenung sejenak. Di dalam hatinya seolah terdapat ganjalan. Setelah
be-berapa saat, dia mendekati telinga si pengemis sakti dan membisikkan beberapa patah
kata. Tampak Cian Cong berdehem dua kali sambil menganggukkan kepalanya, seakan
menyetujui apa yang dikatakan Yibun Siu San.
Melihat keadaan itu, Tan Ki semakin terpana. Diam-diam dia berpikir: Rupanya mereka
sahabat karib…
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, Cian Cong membalikkan tubuhnya dan berkata
kepada Tan Ki.
“Ikut si pengemis tua keluar, kita bicara di sana!”
Tanpa memberi kesempatan bagi Tan Ki untuk menolak, dia segera mengulurkan
tangannya dan menarik tangan kanan Tan Ki lalu mengajaknya berlari keluar.
Tan Ki tampak gugup sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Locianpwe, tunggu sebentar. Orang ini sudah mencelakai Liu Kouwnio, mana boleh
kita lepaskan dia begitu saja, aku…!” kata-kata selanjutnya belum lagi sempat diteruskan.
Cian Cong malah menambah tenaga tarikannya sehingga langkah kaki Tan Ki terseret.
Biarpun dia berusaha melepaskan diri, ternyata tidak bergeming sedikitpun.
Kedua orang itu meninggalkan rumah peristirahatan Yibun Siu San. Langkah kaki
mereka tidak berhenti, terus menerjang ke arah barat. Dalam waktu yang singkat mereka
sudah berlari kurang lebih tiga li.
Dari depan terasa angin berhembus, suara desirannya mendengung-dengung di telinga.
Setelah berlari beberapa saat, kobaran api di dalam dada Tan Ki hampir surut
setengahnya. Tetapi dia tetap membisu, dibiarkannya Cian Cong menarik tangannya
sambil berlari.
Kurang lebih sepeminum teh lagi, tiba-tiba Cian Cong menghentikan langkah kakinya.
Cara berlari seperti orang yang dikejar setan tadipun terhenti sampai di situ. Dia
membalikkan tubuhnya sambil tertawa.
“Tidak usah lari lagi. Kita bicara di tempat ini saja.”
“Apa yang akan kita bicarakan?”
Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Masalah yang akan dibicarakan, rasanya tidak kalah dengan bintang-bintang yang bertaburan
di langit. Dalam sehari semalam saja belum tentu dapat selesai…” dia merandek
sejenak.
Dengan sengaja dia merenung beberapa saat, kemudian baru melanjutkan kembali. “Si
pengemis tua berdiam cukup lama di dalam hutan Pek Hun Ceng. Dengan kesal akhirnya
aku pergi, tetapi aku tahu Liu Seng membawa beberapa rekannya datang dari ribuan li
untuk menolong putrinya. Tentu saja mereka bukan tandingan si iblis tua itu. Itulah
sebabnya si pengemis tua cepat-cepat datang ke sini dan mengundang sahabat baik Yibun
Loji ini agar menuju Pek Hun Ceng membantu para pendekar meloloskan diri dari maut…”
Tan Ki terkejut mendengarnya, dia segera menukas.
“Orang yang dapat menjadi sahabat baik Locianpwe pasti seorang pendekar yang
gagah serta tidak mengejar nama besar. Kalau Yibun Siu San merupakan sahabat lama
Locianpwe, mengapa dia bisa membunuh seorang gadis yang tidak berdosa?” selesai
berkata, tampaknya hati anak muda itu masih mendongkol, dia segera mengeluarkan
suara dengusan dingin dari hidungnya.
“Tidak mungkin. Yibun Loji seorang manusia yang berbudi luhur. Dia tidak akan melukai
orang sembarangan. Perbuatannya ini pasti mengandung maksud tertentu. Apa alasannya,
setelah senja nanti, pasti akan diketahui. Buat apa kau panik tidak karuan?” Tan Ki malah
semakin panik. “Locianpwe jangan sampai dikelabui olehnya. Cara turun tangan maupun
jurus yang dilancarkan Yibun Siu San selalu mengandung kekejian. Kalau Boanpwe tidak
menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, tentu tidak percaya dia dapat dalam
melakukan hal itu. Lagipula dia sudah menotok tujuh jalan darah Liu Kouwnio yang
mematikan, mana mungkin dia mengandung maksud lainnya?” Cian Cong tersenyum
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
simpul. “Si pengemis tua sudah mengatakan bahwa dia tidak berniat mencelakakan orang,
kalau kau masih tidak percaya juga, apa boleh buat?” tiba-tiba sepasang alisnya berjungkit
ke atas. Dia segera mengalihkan pokok pembicaraannya. “Ada orang yang datang.”
sepasang lengannya terentang, tubuhnya bagai burung yang terbang melesat ke dalam
hutan. Kemu-dian dia mencelat ke atas dan bersembunyi di balik dedaunan pohon Siong
yang rimbun.
Kemudian, terlihat sesosok bayangan berkelebat. Tahu-tahu Tan Ki sudah sampai di
sam-pingnya, Cian Cong melihat gerakannya yang mencelat ke atas dan melayang turun di
sampingnya dilakukannya dengan indah, tanpa dapat ditahan lagi bibirnya tersenyum
simpul.
“Meskipun ilmu ginkangmu cukup baik, tetapi tampaknya kau tidak pernah mempelajari
ilmu lwekang. Tenaga dalammu belum dapat dikendalikan. Dengan demikian, ilmumu
belum cukup tinggi untuk malang melintang di dunia Kangouw. Apalagi mencapai
kedudukan…”
Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba berkelabat dalam benaknya. Dia segera
menghentikan kata-katanya di tengah jalan.
Tan Ki menyibakkan dedaunan yang menghalangi pemandangan. Kepalanya melongok
ke depan. Dia melihat rombongan orang berjumlah kurang lebih belasan melangkah
dengan cepat. Ketika Cian Cong menghentikan kata-katanya, mereka sudah sampai di
bawah pohon di mana Cian Cong dan Tan Ki bersembunyi.
Diam-diam hatinya jadi terperanjat. Dia tidak mengerti Kiau Hun memimpin Liu Seng,
Kok Hua-hong, Yi Siu, Cu Mei beserta yang lainnya ke tempat ini dengan tujuan apa. Yang
aneh, Ciu Cang Po juga termasuk di antara rombongan itu. Tampaknya kesadaran nenek
itu belum pulih. Wajahnya masih kaku dan datar. Sepasang matanya menerawang, bahkan
dengan dibimbing oleh dua orang di kiri kanannya, dia baru dapat melangkah.
Rupanya Yibun Siu San telah berhasil menolong para pendekar dan membantu mereka
keluar dari Pek Hun Ceng. Sesampai di jembatan perbatasan, mereka melihat Ciu Cang Po
yang terduduk di atas papan jembatan dan segera memberi pertolongan kepadanya. Saat
itu kesadaran Ciu Cang Po memang sudah hilang, apalagi dia dalam keadaan terluka
akibat serangan Kiau Hun. Begitu ada orang yang mengajaknya pergi, dia pun tidak
menolak.
Kalau tidak karena kebetulan muncul Lok Hong yang lalu berselisihan dengan Oey Ku
Kiong, sampai anak muda itu kalah dan akhirnya mereka pergi bersama. Dengan adanya
anak muda itu, kemungkinan para pendekar akan mendapat kesulitan lagi sebelum
meninggalkan Pek Hun Ceng. Paling tidak akan terjadi pertarungan sengit yang memakan
waktu cukup panjang.
Tak berapa jauh mereka meninggalkan Pek
Hun Ceng, orang yang pingsan mulai sadar. Yang terluka pun sudah mulai bisa jalan
sendiri. Hanya tinggal Ciu Cang Po yang lukanya agak parah dan kesadarannya masih
hilang sampai memerlukan bimbingan orang lain.
Tampaknya Kiau Hun memang berniat mengambil hati para pendekar dan mencari
muka. Dia segera mengeluarkan berbagai macam obat yang mujarab dan membagikannya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kepada para pendekar. Tetapi terhadap luka yang dialami oleh Ciu Cang Po, dia tidak
melirik sekilaspun. Karena dulu ia diusir dari pintu perguruan, rasa bencinya kepada nenek
itu masih meluap-luap. Meskipun ada di antara para pendekar yang mengetahui urusan
ini, mereka hanya berpikir bahwa itu merupakan masalah pribadi mereka antara guru dan
murid. Lebih baik jangan turut campur. Oleh karena itu tidak ada seorangpun yang banyak
bertanya.
Setelah mengalami pertarungan yang hampir menentukan hidup mati, baru berjalan
sampai di sini, mereka sudah kelelahan setengah mati. Ada yang menyandarkan diri pada
batang pohon, ada yang langsung duduk di atas rerumputan, sebagian besar
memejamkan matanya untuk beristirahat.
Namun di wajah mereka masih tersirat sisa kecekaman dan ketakutan akan peristiwa
hebat yang baru mereka lalui. Entah orang yang mana, tiba-tiba menarik nafas panjang
dan berkata, “Kali ini kepergian kita ke Pek Hun Ceng untuk menolong orang. Tidak
tahunya nyawa sendiri hampir melayang dan untung saja masih sempat keluar dalam
keadaan hidup.”
“Si raja iblis Oey Kang itu ternyata benar-benar lihai…” tukas yang lainnya.
Kiau Hun tertawa datar.
“Biar bagaimana hebatnya, tetap saja tidak dapat mengalahkan orang banyak.
Meskipun Oey Kang sangat lihai, tetapi bagaimanapun ia tidak dapat mengalahkan kita
yang jumlahnya lebih banyak.” katanya.
Mendengar ucapannya, sebagian pendekar itu tidak mengerti apa yang dimaksudkan,
merekapun jadi termangu-mangu. Terdengar salah satu dari Ciong San Suang-siu, yakni si
tinggi Yi Siu berdehem satu kali.
“Apa maksud ucapan Kouwnio ini?”
Meskipun dia tahu Kiau Hun tadinya hanya seorang pelayan dalam keluarga Liu, tetapi
karena ilmu silatnya tinggi, apalagi ia sudah menanam budi kepada para pendekar, maka
panggilannya pun jadi menaruh rasa hormat.
Kiau Hun mengangkat lengannya dan perlahan-lahan merapikan rambutnya yang acakacakan.
Gayanya sungguh memikat. Sebagian pendekar langsung memalingkan wajahnya.
Hati mereka agak tergetar. Hanya telinga mereka yang mendengar suara gadis itu yang
merdu sekali.
“Meskipun ilmu silat serta tenaga dalam si raja iblis Oey Kang sudah mencapai taraf tertinggi,
mampukah dia mengalahkan para pendekar di seluruh Bulim yang menggabungkan
diri menghadapinya?”
Yi Siu mengeluarkan suara terkejut. Pikirannya jadi tersentak.
“Maksud Kouwnio, para pendekar di seluruh Bulim harus bergabung di bawah pimpinan
seorang dan mencari jalan untuk menghadapi Oey Kang?”
“Tidak salah.” sahut Kiau Hun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yi Siu merenung sejenak.
“Kata-kata ini memang beralasan, tetapi…” dia merasa mengumpulkan para pendekar
di seluruh Bulim dan memilih seorang Bengcu memang mudah mengatakannya, tetapi
pelaksanaannya justru sulit sekali. Oleh karena itu, dia langsung menundukkan kepala
merenung, kata-katanya tidak dapat diteruskan lagi.
Tiba-tiba terdengar Liu Seng tertawa panjang sambil bangkit berdiri.
“Urusan ini serahkan saja kepada Hengte. Dalam waktu setengah bulan, para sahabat
yang tersebar di sekitar sungai telaga utara maupun selatan, pasti sudah berkumpul untuk
menghadapi si raja iblis Oey Kang.”
Mendengar kata-katanya, tubuh Yi Siu malah jadi gemetar!
Dia tahu, sejak putrinya diculik, Liu Seng sudah mengumpulkan beberapa sahabat
untuk menempuh bahaya menyelinap ke dalam Pek Hun Ceng. Kebenciannya terhadap
Oey Kang sudah merasuk ke dalam tulang sumsum. Maka dari itu, tanpa berpikir panjang
lagi dia langsung menawarkan diri menjalankan tugas yang berat ini.
Tetapi, hati Yi Siu menjadi semakin khawatir. Mungkinkah pemilihan Bengcu kali ini
merupakan permulaan munculnya badai di dunia Kangouw seperti yang dikatakan oleh
Yibun Siu San?
Kembali hatinya tergetar. Berbagai macam pikiran yang menggelayut di dadanya
membuat perasaan orang ini bertambah kalut. Sebetulnya, orang lain yang ada di sana
juga mempunyai tekanan dalam hati mereka masing-masing. Memilih Bengcu harus orang
yang sudah mempunyai nama serta kewibawaan yang besar. Memangnya hal itu semudah
diucapkan? Tetapi, tampaknya untuk menghadapi Oey Kang, memang hanya ini satusatunya
jalan yang dapat dipilih.
Tambah lagi di hadapan mereka sekarang masih ada lagi seorang Cian bin mo-ong
yang mengacaukan dunia Bulim dengan serentetan pembunuhan? Kalau dunia Kangouw
ingin menikmati kembali hari-hari yang tenang, memang ini juga jalan satu-satunya yang
ada.
Dalam waktu yang bersamaan, para pendekar mempunyai pemikiran yang tidak
berbeda. Hati mereka bagai terhimpit beban yang berat. Tidak ada satupun yang
bersemangat untuk membuka mulut. Masing-masing memikirkan persoalan yang
menggelayuti hati mereka.
Untuk sesaat, suasana terasa semakin mencekam. Keheningan semakin merayap!
Tidak lama kemudian, entah siapa yang mengajak terlebih dahulu. Satu persatu mulai
menggerakkan langkahnya dan berlari ke arah gedung keluarga Liu.
Angin bertiup sepoi-sepoi, seolah menarik nafas panjang demi gejolak yang akan
melanda dunia Kangouw dalam waktu yang dekat…
Tiba-tiba terdengar suara kibaran baju, tahu-tahu di tempat Kiau Hun berdiri sudah
melayang turun dua sosok manusia. Mereka tentu saja Tan Ki serta si pengemis sakti Cian
Cong. Tampak wajah orangtua itu berubah menjadi kelam. Seakan ada persoalan berat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang memenuhi pikirannya. Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Matanya dengan
termangu-mangu menerawang di kejauhan.
Melihat tampangnya, Tan Ki sampai tertegun. Kemudian dia bertanya dengan suara
lirih.
“Apa yang Locianpwe pikirkan?”
“Apakah kau sudah mendengar dengan jelas kata-kata yang mereka ucapkan tadi?”
Tan Ki menganggukkan kepalanya.
“Memangnya ada hubungan apa dengan diri Locianpwe sehingga kau orangtua jadi
kebi-ngungan serta gelisah seperti ini. Dalam dunia Bulim, keadilan dikesampingkan dan
muncul yang sesat sehingga terjadi badai gelombang adalah hal yang sering didengar
maupun ditemui…”
Cian Cong menarik nafas panjang.
“Betul. Bila perbuatan seseorang sudah keterlaluan, tentu mendapat hambatan dari
para pendekar di seluruh Bulim. Hal ini sama sekali tidak aneh. Tetapi apabila
mengumpulkan seluruh sahabat yang tersebar di seluruh dunia, ini bukan hal yang mainmain
lagi. Perlu diketahui, seorang yang selalu memandang diri sendiri sangat terkenal,
pasti merasa harga dirinya tinggi sekali. Dalam pandangannya tidak ada orang lain,
sementara itu orang yang ilmu silatnya masih tanggung-tanggung, jumlahnya bagai pasir
di dalam sungai. Dihitung pun susah. Coba bayangkan. Dalam sebuah pertemuan besar
berkumpul begitu banyak orang dari segala penjuru, mungkinkah dapat dipastikan bahwa
mereka semua akan mendengar perintah Liu Seng?”
Hati Tan Ki jadi tercekat. Diam-diam dia mulai sadar gawatnya masalah yang
dibicarakan tadi.
“Benar juga. Kalau diantara mereka ada satu dua orang saja yang merasa dirinya paling
hebat, tentu dia tak akan sudi menerima perintah orang lain. Pada saat itu keadaan pasti
jadi kacau, malah kemungkinan bisa terjadi pertumpahan darah. Bukannya pertemuan,
malah mengundang kesulitan yang tidak kecil.”
Cian Cong menghembuskan nafas yang panjang agar beban hatinya agak berkurang.
“Si pengemis tua lihat, untuk urusan ini pasti akan dipilih seorang Bulim Bengcu yang
dapat memimpin gerakan ini. Tetapi belum terpilih Bulim Bengcunya, mungkin sudah
banyak orang yang jatuh jadi korban.”
“Bukan hal yang tidak mungkin. Apabila jatuh korban beberapa orang tetapi bisa menghentikan
kekacauan yang terjadi diantara para pendekar, boleh dihitung suatu
keberuntungan juga.” sahut Tan Ki dengan penuh perhatian.
Perlahan-lahan Cian Cong mendongakkan wajahnya. Dipandangnya langit biru lekatlekat.
“Kalau menurut pandanganmu, siapa kiranya yang cocok untuk menjadi Bulim Bengcu
yang bakal memimpin seluruh pendekar ini?” hatinya saat ini sedang memikirkan masalah
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang besar sekali. Berbagai pikiran terus melintas di benaknya. Meskipun sedang
berbicara, tetapi dia tidak, melirik Tan Ki sekilaspun. Matanya yang bersinar tajam bagai
mata harimau kadangkala menyiratkan cahaya kebimbangan.
Tan Ki maklum sekali bahwa orangtua ini mempunyai jiwa yang terbuka. Orangnya
ramah dan sering tersenyum. Hatinya juga mulia sekali. Apabila bukan urusan yang maha
besar yang tidak dapat dipecahkannya, dia tidak akan memperlihatkan mimik wajah
seperti itu. Oleh karena itu dia berdiri di samping dan tidak berani mengeluarkan suara
sedikit-pun yang dapat menganggu pikiran orangtua itu.
Tiba-tiba terlihat Cian Cong menundukkan kepalanya sambil menarik nafas. Sepasang
ta-ngannya terlipat ke belakang kemudian berjalan mengelilingi tempat itu. Tan Ki melihat
orangtua itu memejamkan sepasang matanya.
Tetapi cara jalannya semakin lama semakin cepat. Dia mengitari padang rumput yang
kosong itu sebanyak dua lingkaran. Mendadak langkah kakinya terhenti. Matanya terbuka
dan ia tersenyum simpul. “Sudah ketemu.”
“Apanya yang sudah ketemu?” tanya Tan Ki tanpa dapat menahan rasa ingin tahu
dalam hatinya.
Karena berhasil memecahkan sebuah masalah yang besar, Cian Cong tampaknya girang
sekali. Tangannya terulur dan dilepaskannya hiolo yang terikat di pinggang, kemudian dia
meminum araknya beberapa tegukan. Wajahnya berseri-seri.
“Bocah cilik, ayo ikut aku!” dia segera membalikkan tubuhnya dan berlari ke arah jalan
semula.
Hati Tan Ki terus menduga-duga, tetapi dia merasa tidak enak hati banyak bertanya.
Dengan menahan rasa ingin tahunya, dia langsung berlari di belakang orangtua tersebut.
Kedatangan maupun kepergian kedua orang itu selalu dilakukan dengan kecepatan
tinggi. Namun waktu yang diperlukan juga kurang lebih satu kentungan perjalanan.
Matahari sudah mulai bergeser. Tengah hari sudah berlalu.
Cian Cong menghentikan langkah kakinya. Tetapi dia tidak langsung masuk ke dalam
rumah. Dengan berdiri di luar dia berteriak dengan suara keras, “Tua bangka, sudah
selesai belum?”
Baru suaranya sirap, dari dalam rumah berjalan keluar Yibun Siu San sambil mendorong
pintu yang terbuat dari kayu. Langkahnya tergesa-gesa. Wajahnya masih ditutupi
kerudung hitam, sehingga tidak dapat terlihat bagaimana mimik perasaannya.
“Bagaimana?” tanya Cian Cong sekali lagi.
“Lumayan, kalau beristirahat beberapa hari lagi pasti akan pulih seperti sediakala.”
sahut Yibun Siu San sambil memperdengarkan suara tawa yang ringan.
“Sekarang kita tinggalkan kedua bocah ingusan ini biar membuka isi hati. Kau dan aku
sama-sama bujang lapuk, kita tidak perlu ikut campur urusan ini. Mari kita naik lagi ke
puncak bukit.” tangannya langsung mencekal pergelangan Yibun Siu San, mulutnya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kembali berkata, “Tua bangka, tadi kami menemui sua-tu masalah yang besar sekali. Nanti
kita rundingkan bagaimana menanggulanginya. Cepat jalan!”
Yibun Siu San tertawa terkekeh-kekeh.
“Kau sebagai kepala kaum pengemis, berjiwa gagah dan berhati mulia. Bumi dan
langitpun kau tidak takut. Kalau mampu membuat kepalamu pusing tujuh keliling, pasti
urusannya besar bukan kepalang. Buat apa kau cari aku untuk berunding?”
Sembari bercakap-cakap, kedua orang itu segera mengerahkan ginkangnya dan berlari
ke puncak bukit. Dalam waktu sekejapan mata saja, keduanya sudah menghilang di
kejauhan.
Mendengar nada pembicaraan kedua orang itu, tampaknya mereka ingin merundingkan
masalah pemilihan Bulim Bengcu. Dia juga mendengar bahwa Mei Ling bukan saja tidak
mati, malah penyakitnya sudah disembuhkan oleh Yibun Siu San. Hatinya menjadi terkejut
sekaligus gembira.
Untuk sesaat, saking girangnya, dia jadi berdiri termangu-mangu. Kemudian seperti
orang yang baru tersentak dari lamunan dia menghambur ke dalam rumah peristirahatan.
Begitu matanya memandang, sekali lagi dia jadi terpana!
Dia melihat meja dan kursi serta tempat tidur masih tetap seperti semula ketika dia
meninggalkannya, tetapi di dalam ruangan itu tidak terdapat seorangpun. Ke mana
perginya Mei Ling?
Setelah tertegun beberapa saat, hatinya menjadi tercekat. Di benaknya melintas
berbagai bayangan buruk. Diam-diam tubuhnya menggigil dan bulu kuduknya jadi
meremang!
Tanpa dapat ditahan lagi, dia berteriak sekeras-kerasnya. ..
“Mei Ling! Mei Ling! Di mana engkau? Mei Ling!!!”
Setelah memanggil beberapa saat, tetap saja tidak terdengar jawaban. Hatinya semakin
terkejut juga takut. Pada saat itu juga, keringat dingin mengucur membasahi keningnya.
Hidungnya terasa…
Dia menjadi kalap, tubuhnya membalik dan menerjang keluar rumah. Perubahan yang
benar-benar di luar dugaan, membuat Tan Ki kehilangan akal sehat. Pikirannya tidak dapat
bekerja secara rasional. Dalam keadaan beban penderitaan yang mengganduli hati, dia
menerjang keluar seperti orang yang tiba-tiba tidak waras. Suara teriakannya sampai
berkumandang ke mana-mana…
“Mei Ling!!! Mei Ling!!!”
Tetap saja tidak ada jawaban dari seorangpun. Angin bertiup semilir, rerumputan
maupun dedaunan melambai-lambai. Seakan mewakili keresahan dalam hati anak muda
itu. Dia jadi bingung. Hatinya terasa hancur lebur. Dia merasa ada segulungan rasa pedih
yang meluap dalam dadanya. Tanpa dapat ditahan lagi dua baris air mata mengalir
dengan deras membasahi pipinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam beberapa hari ini, ada beberapa perempuan yang mengisi kehidupannya, seperti
Liang Fu Yong, Kiau Hun, Lok Ing, tetapi yang dapat membuatnya gelisah serta rindu
bukan kepalang hanya Mei Ling seorang.
Dia menggertakkan giginya erat-erat. Dia mulai mencaci maki Yang Kuasa karena mempermainkan
nasib manusia. Siapa yang menculik kekasihnya?
Siapa?
Dia merasa kepedihan dalam hatinya tidak terkirakan lagi. Seakan ada sekumpulan bom
yang siap meledak setiap saat. Kalau tidak dilampiaskan, pikirannya pasti bisa jadi gila.
Oleh karena itu dia meraung sekeras-kerasnya
dan sepasang tangannya pun meluncur seketika.
Pukulan ini dilancarkan dalam keadaan gusar. Tenaga yang terkandung di dalamnya
hebat bukan main. Boleh dibilang dia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Timbul
suara menderu yang memecahkan keheningan. Malah lebih kuat satu kali lipat daripada di
saat dia bergebrak melawan musuh yang tangguh.
Terdengar suara yang memekakkan telinga. Dua batang pohon besar yang jaraknya
kurang lebih satu depaan tumbang dalam waktu yang hampir bersamaan, tanah yang
tenang tampak debu-debu beterbangan karena hempasan tenaga yang kuat itu.
Pandangan matapun menjadi samar-samar.
****
BAGIAN XXI
Agak lama kemudian, debu yang mengepul memenuhi udara mulai sirna sedikit demi
sedikit. Begitu mata Tan Ki mengedar, dia menjadi terbelalak dan terperanjat bukan
kepalang!
Tampak tubuh Mei Ling yang langsing berdiri tegak di samping pohon yang rubuh tadi.
Angin yang bertiup sepoi-sepoi mengibarkan pakaiannya. Debu masih beterbangan, tampangnya
memang masih agak lemah, tetapi tidak mengurangi kecantikannya yang
gemilang. Sepasang matanya yang sayu menyorotkan sinar terharu dan kesucian seorang
gadis.
Begitu Tan Ki melihat dengan jelas, dia menjadi terperanjat sekaligus gembira. Keju-tan
yang tidak terduga-duga ini malah membuatnya jadi tertegun beberapa saat. Kemudian
dia tersadar kembali. “Mei Ling! Mei Ling!” teriaknya keras-keras.
Tiba-tiba, dia menghentikan langkah kakinya. Jaraknya dengan Mei Ling kurang lebih
dua mistar. Dia merasa ada ribuan kata-kata yang memenuhi hatinya dan ingin
dicetuskannya segera. Tetapi dia malah seperti orang terpana, tidak sepatah katapun
terucapkan olehnya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana. Untuk sesaat, dia hanya berdiri
memandangi Mei Ling dengan termangu-mangu. Wajahnya menyiratkan mimik seperti
orang yang serba salah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mei Ling sendiri sebenarnya sudah mempersiapkan berbagai ucapan yang romantis
yang ingin dibicarakannya bersama Tan Ki. Tetapi melihat tampang anak muda itu yang
termangu-mangu memandanginya, dia benar-benar merasa di luar dugaan. Pada dasarnya
dia memang seorang gadis yang pemalu, tentu saja dia tidak berani membuka
pembicaraan terlebih dahulu. Dia takut harga dirinya sebagai seorang gadis malah jadi
jatuh akibatnya”.
Suasana menjadi hening seketika. Tetapi malah membuat orang menjadi tidak sabar
menghadapinya. Tidak ada yang membuka suara. Kedua muda mudi itu hanya berdiri
saling memandang untuk sekian lama. Dua pasang mata saling menatap, di dalamnya
terkandung isi hati masing-masing.
Kurang lebih sepenanakan nasi kemudian, tiba-tiba…
Tan Ki mengangkat tangannya dan menepuk batok kepalanya sendiri. Mulutnya
mengeluarkan suara terkejut. “Mei Ling, apakah kedua pukulanku tadi sempat
melukaimu?”
Coba kalau pertanyaan ini diajukan lebih awal, di dalamnya pasti tersirat cinta kasih
serta perhatian yang dalam. Setelah lewat beberapa saat baru dicetuskan, bukannya tidak
bermanfaat, setidaknya dapat memecahkan keheningan yang mencekam.
Mei Ling menggigit-gigit bibirnya sendiri. Kemudian terdengarlah suaranya yang merdu
dan polos.
“Tidak. Tadinya aku memang berdiri di belakang pohon itu, tapi karena tumbangnya ke
samping, akupun tidak mendapat luka apa-apa.”
Tan Ki menghembuskan nafas lega. kekhawatirannya menjadi hilang. Rupanya setelah
Yibun Siu San pergi, dia memutar dari belakang ke arah depan. Malah Tan Ki mencarinya
sampai kalang kabut.
Anak muda itu tersenyum lembut, dengan penuh perhatian dia bertanya, “Apakah
penyakitmu sudah sembuh?”
“Penyakit apa?” mendengar pertanyaannya, Mei Ling jadi bingung. Untuk sesaat dia
lupa keadaannya sendiri selama beberapa hari ini.
“Setelah kau diculik oleh Oey Kang, dia mencekokimu dengan semacam racun, yakni Li
Hun Tan. Kesadaranmu jadi hilang. Apakah kau sendiri tidak mengetahuinya?”
Mulut Mei Ling mengeluarkan seruan terkejut.
“Rupanya begitu kejadiannya. Setelah aku disuruh meminum sejenis ramuan oleh si
raja iblis Oey Kang, rasanya aku langsung tertidur dan tidak tahu apa-apa lagi. Tetapi
seperti juga orang yang sedang bermimpi, semuanya menjadi samar-samar dan hanya
berbentuk bayangan. Aku tidak tahu bagaimana aku melewati hari. Pokoknya ada orang
yang memerintahkan aku berbuat begini, begitu, aku hanya menurut saja. Meskipun ada
terselip keinginan untuk menolak, tetapi tidak sedikit pun aku memiliki kesanggupan.
Kalau bukan Yibun Lopek yang menceritakan apa yang kualami, aku sendiri tidak tahu
kalau kesadaranku sudah hilang, bahkan tidak dapat mengenali orangtua maupun sanak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kenalan sendiri…” berkata sampai bagian yang sedih, tanpa dapat ditahan lagi airmatanya
mengalir dengan deras.
“Jangan bersedih hati. Pokoknya sekarang penyakit jahat itu sudah hilang, kau
seharusnya merasa gembira.” hibur Tan Ki.
Perlahan-lahan Mei Ling mengusap air matanya.
“Aku tahu kau sangat memperhatikan aku, malah kau yang menolong aku keluar dari
Pek Hun Ceng…”
“Jangan ungkit lagi masalah itu. Aku telah menerima budi pertolongan Nona sebanyak
dua kali. Sampai sekarang aku masih belum membalas semuanya. Kalau Nona masih
mengatakan terus, malah membuat aku merasa malu.”
“Dalam hal ini bukan masalah budi pertolongan saja, tetapi masih terselip sesuatu hal
lainnya.”
“Hal apa?”
“Cinta!”
Begitu kata-kata ini terucapkan, Mei Ling seolah telah menggunakan segenap
keberanian hatinya. Setelah tercetus keluar, dia malah merasa pipinya menjadi panas.
Hatinya malu sekali. Cepat-cepat dia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap
Tan Ki.
Mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut bukan kepalang. Dia merasa di luar dugaan
bahwa gadis itu berani mengucapkan kata-kata seperti itu. Setelah tertegun beberapa saat
ke-sadarannya baru pulih kembali.
“Mengapa kau bisa berkata demikian?” tanyanya lirih.
“Yibun Lopek yang mengatakan kepadaku, kau sangat mencintai aku bukan?”
Tentu saja Tan Ki tidak berani menjawab sepatah katapun. Pada saat itu juga, dia
mendadak merasa Mei Ling seperti berubah menjadi orang lain. Sikapnya yang terlalu
kolot, serta sifat kekanak-kanakannya sudah lenyap. Dia malah berubah menjadi dewasa
dan terbuka. Setiap kata-kata yang diucapkannya, tampaknya wajar dan tidak dibuat-buat.
Karena tidak mendapat jawaban, hati Mei Ling malah menjadi panik.
“Katakanlah, pertama-tama ketika kau bertemu dengan Yibun Lopek, bukankah kau
sedang menangisi aku? Malah kau mengucapkan ‘Aku cinta padamu…”, bukankah benar?”
Di desak sedemikian rupa, hati Tan Ki menjadi kelabakan. Tetapi karena pada dasarnya
dia memang mencintai Mei Ling, terpaksa dia mengaku terus terang. Setelah
mengumpulkan keberaniannya, akhirnya dia menyahut dengan tersendat-sendat.
“Kata-kata…! Itu… me… mang aku mengucapkan… nya.”
Dengan perasaan puas Mei Ling mengembangkan seulas senyuman yang manis.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sebetulnya, ketika Yibun Lopek menceritakan hal ini kepadaku, aku masih tidak
percaya. Ketika kau datang bersama Cian Locianpwe, aku bermaksud menguji dirimu.
Ternyata memang tidak salah dugaan Yibun Lopek, apabila kau tidak berhasil menemukan
diriku, kau pasti akan menerjang keluar dengan kalap. Malah dua batang pohon yang tidak
bersalah apa-apa jadi sasaran kekesalan hatimu.”
Tan Ki terperanjat mendengarnya.
“Rupanya kau sengaja menyembunyikan diri. Apakah Yibun Locianpwe juga yang
menyuruhmu berbuat demikian?”
Mei Ling menganggukkan kepalanya, “Betul, dia malah mengatakan… malah
mengatakan…”
Tiba-tiba dia merasa kata-kata yang diba-wahnya tidak pantas diutarakan. Karena
membuat dirinya menjadi malu. Oleh karena itu, setelah bimbang sekian lama, dia masih
belum sanggup melanjutkan kata-katanya.
Tan Ki menjadi panik.
“Apa yang dikatakan lagi oleh Yibun Locianpwe?”
“Dia mengatakan…”
“Cepatlah katakan. Aih… aku jadi bingung setengah mati.”
Wajah Mei Ling jadi merah padam. Dengan terpaksa dan tersipu-sipu akhirnya dia
mengatakan juga…
“Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi comblang kita.”
Mendengar keterangannya, hati Tan Ki langsung terlonjak. Dia terkejut juga gembira.
Semacam gerakan refleksi yang tidak di duga-duga membuatnya langsung menubruk ke
arah gadis itu dan memeluknya erat-erat.
“Benar?”
Dengan tersipu-sipu, Mei Ling memejamkan matanya. Dia membiarkan Tan Ki memeluknya.
Dia membiarkan sepasang lengan Tan Ki yang kokoh merangkul pinggangnya yang
kecil…
Tiba-tiba, di dalam hatinya ada semacam rahasia besar yang tidak berani diutarakannya!
Dia merasa takut!
Seandainya dia berterus terang kepada Tan Ki, dia khawatir anak muda itu akan
memalingkan wajahnya segera dan pergi meninggalkan dirinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebetulnya, Mei Ling sendiri tidak berharap untuk jatuh cinta kepada laki-laki manapun,
karena dirinya mempunyai suatu penyakit. Apabila dia menikah dengan laki-laki manapun,
dia tidak sanggup memberi kebahagiaan kepada lawan jenisnya.
Dia tidak takut Tan Ki membencinya. Sebaliknya, apabila Tan Ki tidak mencintainya, dia
malah lebih senang. Dia takut Tan Ki akan mencintainya semakin dalam sehingga tidak
dapat melepaskan diri darinya lagi. Tentu dia akan membuat hidup anak muda itu menjadi
sengsara selamanya…
Tetapi meskipun dia sudah berusaha mengendalikan perasaannya sendiri, malah dia
menjadi terharu melihat kesetiaan Tan Ki. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, begitu
tidak menemukannya, anak muda itu menjadi kalap seperti orang gila. Bahkan dia
melancar-kan pukulan untuk melampiaskan hawa amarah dalam dadanya dengan
menumbangkan dua batang pohon. Apalagi Tan Ki merupakan pemuda pertama yang
pernah ditemuinya seumur hidup. Sedangkan Tan Ki demikian tampan, baik hati serta
penuh perhatian. Bagaimana dia tidak tertarik dengan pemuda seperti ini?
Oleh karena itu, dia juga tidak sampai hati menolak pelukan Tan Ki. Malah dirinya
sendiri ikut terbuai oleh kesetiaan anak muda itu. Tubuh kedua orang itu saling
berangkulan. Otomatis kulitpun saling bersentuhan. Di dalam tubuh mereka bagai ada
aliran listrik yang sedang mengalir. Kira-kira sepeminum teh kemudian, perlahan-lahan Mei
Ling membuka matanya. Wajahnya masih tersipu-sipu.
“Ki Koko, urusan kita, meskipun keputusan kita pribadi, tetapi bagaimanapun harus
melewati ijin orangtua, baru terhitung sah. Sebelum Yibun Lopek menyatakan lamaran
kepada ayahku, aku tidak mengijinkan kau menyatakan perasaanmu secara menyolok di
depan umum. Kalau kau merasa rindu kepadaku, boleh mengajak aku keluar ketika tidak
ada siapa-siapa.”
Tan Ki tertawa getir. Dengan gaya pasrah sepasang bahunya terangkat ke atas.
“Kalau pandanganmu masih demikian kolot, aku juga tidak berani mengatakan apa-apa
lagi.”
“Aku hanya terharu karena cintamu yang tulus. Kalau kau tidak bersedia mengabulkan
permintaanku,sudahlah.”
Tan Ki jadi terkejut setengah mati.
“Tidak, tidak. Aku tidak mempunyai maksud demikian. Tetapi kalau kau yang merasa
rindu padaku, bagaimana?”
“Aku sendiri bisa mengendalikan perasaan dalam hatiku.” Mei Ling tersenyum simpul.
Dia melanjutkan lagi kata-katanya. “Kalian para lelaki lebih banyak diatur oleh emosi.
Sedikit-sedikit tidak bisa menahan diri dan…”
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya, wajahnya jadi berubah merah padam.
Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya. Cepat-cepat dia membalikkan tubuhnya
dan berlari ke dalam rumah peristirahatan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki memandangi bayangan punggungnya yang indah, diam-diam dia menarik nafas
panjang, bibirnya tersenyum simpul. Akhirnya, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan,
asal Yibun Siu San bersedia mewakilinya melamar gadis itu, urusan kan pasti beres.
Justru tidak lama setelah Mei Ling baru memasuki rumah peristirahatan, dia merasa di
belakang punggungnya ada angin yang berhembus, disusul dengan suara kibaran lengan
baju. Hatinya tercekat seketika, tangannya mendorong ke belakang dan tubuhnya pun
segera melesat ke depan kira-kira dua depa, setelah itu dia baru berani memalingkan
kepalanya.
Begitu mata memandang, dia melihat Yibun Siu San dan Cian Cong berdiri berdampingan
sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Tampaknya ketika naik ke atas puncak bukit, mereka sudah merundingkan banyak hal.
Malah ada bagian yang menyangkut diri Tan Ki. Itulah sebabnya mereka tergesa-gesa
kembali lagi ke bawah.
Kedua orang itu saling lirik sekilas, mula-mula Cian Cong si pengemis sakti yang
membuka suara.
“Kami sudah merundingkan suatu hal, yang mana kau yang harus melaksanakannya.”
Tan Ki menarik nafas panjang.
“Boanpwe sudah berkali-kali menerima budi pertolongan dari Locianpwe. Masalah sebesar
apapun, asal ada kesanggupan, pasti Boanpwe akan memberi balasan yang
memuaskan hati Locianpwe.”
“Bagus sekali kalau begitu. Kami berdua telah meneliti cukup lama. Akhirnya kami
mengambil keputusan bahwa pertemuan besar para enghiong kali ini, hanya kau seorang
yang pantas memanggul beban seberat ini. Apalagi kau merupakah keponakan tunggal
Yibun Loji, dia bersedia membantumu melenyapkan segala kesulitan dan mengangkat
namamu menjadi terkenal.”
Mendengar keterangan yang tidak diduga-duga ini, Tan Ki terkejut setengah mati. Dia
tidak pernah membayangkan bahwa hasil rundingan kedua orang itu adalah memilih
dirinya menjadi Bulim Bengcu, Setelah rasa terkejutnya agak reda, dia segera
menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
“Tidak mungkin, ilmu silat Boanpwe masih belum cukup tinggi. Lagipula seorang Bulim
Bengcu harus berhati mulia dan memikirkan kepentingan umum daripada kepentingan
pribadi. Dan bukan atas kehendak Locianpwe berdua saja. Kedudukan Bulim Bengcu selalu
melalui pertandingan ilmu silat dan penilaian orang banyak. Kemampuan Boanpwe masih
jauh dari cukup. Tidak mungkin menerima perintah ini.”
Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Urusan yang telah dipertimbangkan matang-matang oleh si pengemis tua, selamanya
tidak pernah salah. Tetapi juga paling tidak suka memaksakan kehendaknya kepada orang
lain. Kalau kau tidak menerimanya juga tidak apa-apa. Marilah, tua bangka.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia langsung menarik lengan Yibun Siu San serta membalikkan tubuhnya pergi dari
tempat itu.
Dengan perasaan menyayangkan, Yibun Siu San menatap Tan Ki sekilas. Seperti sengaja
tapi juga tidak, dia menarik nafas panjang.
“Kau tidak menerima urusan ini, masalah pernikahan dengan Liu Kouwnio juga tidak
usah diungkit lagi. Si Bu Ti Sin-kiam Liu Seng itu merupakan seorang tokoh yang sudah
pu-nya nama besar di dunia Kangouw, pergaulannya luas sekali. Sedangkan kau hanya
seorang bocah tanpa nama, siapa yang sudi menyerahkan anak gadis kesayangannya
begitu mudah kepadamu? Kalau kau tidak mencari sedikit nama di luaran, pasti sulit
mendapat…”
Kata-katanya belum selesai, kedua orang itu sudah berlari belasan depa. Sedikit lagi
mereka akan sampai di ujung bukit dan menghilang di sana.
Hati Tan Ki menjadi panik. Dia merasa kata-kata paman ketiganya itu sama sekali tidak
salah. Setelah tersentak, dia segera berteriak sekeras-kerasnya, “Liongwi tunggu dulu
sebentar, Boanpwe menerima…”
Baru mengucapkan beberapa patah kata, tiba-tiba dia merasa serangkum angin menerpa
ke arahnya. Tahu-tahu Cian Cong dan Yibun Siu San sudah berdiri lagi dengan berdampingan
sambil tersenyum simpul tanpa mengucapkan apa-apa.
Rupanya mulut mereka memang mengatakan akan terus pergi, tetapi langkah kakinya
seperti berat sekali karena memang sengaja mengulur waktu. Ketika Tan Ki membuka
mulut menyatakan kesediaannya, dengan gerakan secepat kilat mereka kembali lagi. Pergi
dan datang hanya menghabiskan waktu sekejap saja.
Tan Ki langsung mengetuk kepalanya sendiri.
“Rupanya kalian memang memaksa aku menerima urusan ini!”
Cian Gong tertawa terbahak-bahak.
“Kalau jurus ini masih tidak mempan, si pengemis tua terpaksa memutar otak mencari
akal yang lain. Tetapi si pengemis tua yakin, demi pernikahan dengan Liu Kouwnio,
meskipun urusan yang lebih sulit lagi, kau tetap akan menerimanya.”
Dia menolehkan kepalanya dan mengedipkan mata kepada Yibun Siu San. Kedua orang
itu pun langsung tertawa terbahak-bahak.
“Ilmu silat Boanpwe masih cetek. Belum tentu bisa merebut kedudukan Bulim Bengcu.
Apakah Locianpwe berdua mempunyai keyakinan?”
Cian Cong mengidapkan tangannya. Bibirnya tersenyum simpul.
“Liu Loji menyatakan akan mengumpulkan para jago dari seluruh dunia dalam setengah
bulan ini. Dengan mempergunakan waktu yang ada, si pengemis tua dan Yibun Loji ini
secara bergantian akan memberikan pengarahan kepadamu tentang pelajaran
menyalurkan hawa murni serta jalan pernafasan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sembari berbicara, mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah peristirahatan…
****
Waktu satu hari berlalu dengan cepat.
Yibun Siu San dan Cian Cong berdua mulai mengajarkan ilmu lwekang golongan putih.
Pada dasarnya otak Tan Ki memang cerdas, lagipula dia mempunyai bakat yang tinggi
dalam mempelajari ilmu silat. Sedangkan tokoh-tokoh yang mengajarinya, satunya
merupakan salah seorang dari Lu Wi Sam-kiat yang namanya pernah menggetarkan dunia
Kangouw belasan tahun yang lalu, sedangkan yang satunya lagi merupakan salah satu
dari tokoh sakti yang ada di dunia saat ini. Keduanya bekerja sama memusatkan segenap
perhatian memberikan pelajaran kepada Tan Ki. Hanya dalam jangka waktu satu hari saja,
anak muda itu sudah mendapat pengarahan yang tidak sedikit. Hawa murninya sekarang
dapat dialirkan dengan lancar ke seluruh tubuh.
Dalam waktu satu hari itu pula, perasaan cinta di dalam hati Tan Ki dan Mei Ling semakin
bertambah.
Setelah hari kedua…
Ilmu lwekang Tan Ki berkembang semakin pesat. Hubungannya dengan Mei Ling
seperti alat perekat. Keduanya tidak terpisahkan sedetikpun. Meskipun mereka selalu
bersembunyi-sembunyi dan menghindari pandangan mata Cian Cong maupun Yibun Siu
San, tetapi malah membuat perasaan rindu mereka semakin menggebu-gebu. Cinta kasih
mereka semakin mendalam. Bahkan Mei Ling sudah bersumpah dalam hati, kalau tidak
dengan Tan Ki, dia tidak mau menikah dengan siapapun.
Hari ketiga.
Suasana malam ini lain dari biasanya. Bahkan Cian Cong yang terkenal ugal-ugalan
serta tidak bisa diam, juga acap kali mengerutkan sepasang alisnya. Dia berdiri di depan
jendela dan melongokkan kepalanya keluar sambil memandang ke sekeliling.
Pasti hatinya sedang diganduli masalah yang berat dan tampaknya dia juga sedang
menantikan kedatangan seseorang. Diam-diam Tan Ki bertanya-tanya dalam hati. Dia
menjadi khawatir. Namun dia melihat Yibun Siu San juga duduk di atas tempat tidur
dengan memejamkan matanya sambil mengatur pernafasan. Tentu saja dia tidak berani
mengganggu kedua orang itu dengan berbagai pertanyaan. Terpaksa dia memendam rasa
ingin tahu dalam hatinya dan menemani Mei Ling duduk di samping meja sambil berdiam
diri.
Saat demikian seakan lewat dengan merayap. Bahkan setiap detik maupun menitnya
dapat terhitung. Sebuah lampu minyak yang terdapat di atas meja menyorotkan sinar
yang remang-remang. Cahaya apinya berkibar-kibar terhembus angin yang bertiup dari
arah jendela.
Suasana terasa mencekam, hal ini membuat perasaan mereka menjadi sumpek dan
iseng.
Tiba-tiba…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suara siulan yang panjang sayup-sayup berkumandang ke dalam gendang telinga. Tan
Ki segera merasa bahwa orang yang mengeluarkan suara siulan itu memiliki tenaga
yang kuat sekali, bahkan jauh lebih hebat daripada dirinya sendiri. Tanpa dapat ditahan
lagi, wajahnya langsung berubah hebat. Secara refleks dia berdiri dari tempat duduknya.
Cian Cong tertawa lebar.
“Ternyata tidak salah, si iblis tua sudah datang.” dia mendorong jendela di depannya
agar terentang lebih lebar dan menyelinap keluar.
Yibun Siu San mendengus dingin. Dia juga langsung bangkit dari tempat tidur.
Sepasang kakinya menutul dan tubuhnya pun melesat keluar. Secara berturut-turut
mereka menghambur keluar dari rumah peristirahatan tersebut. Kecepatan gerakan
mereka benar-benar mengejutkan!
Hampir bersamaan waktu dengan melayang turunnya kedua orang itu, terasa angin
menerpa, tepat pada saat itu juga melayang turun seseorang yang mengenakan jubah
hijau.
Laki-laki setengah baya ini sama sekali tidak asing bagi Tan Ki. Dialah Pek Hun Cengcu,
si raja iblis nomor satu saat ini, Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.
Begitu melihat Oey Kang, apalagi setelah menatap wajahnya yang menyiratkan kelicikan,
dia segera membayangkan pengalaman, Liang Fu Yong ketika diperkosa oleh orang
ini. Suara ratapan gadis itu yang menyayat hati seakan berkumandang lagi di telinganya.
Hatinya jadi benci bukan kepalang. Kalau Yibun Siu San tidak memerintahkan agar dia
menjaga Mei Ling yang tubuhnya belum sehat kembali, rasanya dia ingin menerjang keluar
dan menguji sampai di mana kemajuan ilmu silatnya setelah mendapat pengarahan
selama tiga hari oleh Cian Cong dan Yibun Siu San.
Tanpa sadar, dia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Di bawah sorotan cahaya
rembulan yang kekuningan, dia melihat jelas bayangan ketiga orang itu. Keadaan di
bawah sana tampaknya sangat menegangkan.
Tiba-tiba hidungnya mengendus bau harum yang samar-samar, entah sejak kapan Mei
Ling sudah mendekati dirinya. Lengannya yang lembut melingkar di tangan kirinya. Seakan
dia takut sekali mengetahui kehadiran si iblis Oey Kang.
Suara tawa yang panjang tiba-tiba memecahkan keheningan malam. Yibun Siu San
berkata dengan suara lantang.
“Kentungan pertama baru berlalu, rembulan malam ini hanya remang- remang, mengapa
Jiko juga datang ke tempat yang sunyi seperti ini?”
Oey Kang tersenyum lembut.
“Tanpa memperdulikan perjalanan yang panjang, Giheng sengaja datang ke sini untuk
mengunjungi Toaso, harap Samte bersedia mengijinkannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Orang ini benar-benar mempunyai watak yang licik. Sudah terang keadaan di
hadapannya amat berbahaya, menegangkan, bahkan pertarungan antara mati hidup dapat
terjadi kapan saja, tetapi dia masih bisa pura-pura seakan tidak ada sesuatupun. Mimik
wajah-nya tampak wajar sekali. Bahkan dirinya terus mengembangkan senyuman.
Yibun Siu San seakan teringat sesuatu yang mengerikan, tubuhnya sampai bergetar.
Tetapi sesaat kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Memangnya siapa Toaso itu, mana sudi dia bertemu dengan orang yang mengkhianati
toakonya! Pergilah, jangan menimbulkan hawa amarah dalam hatiku!”
Tan Ki dapat mendengar bahwa dalam suara tawa Yibun Siu San terkandung penderitaan
yang tidak terkirakan. Malah suara tawanya ini timbul dari perasaan hatinya yang
terlalu pilu.
Tanpa dapat ditahan lagi, hati Tan Ki jadi tergetar. ‘Rupanya antara Sam Siok dan Oey
Kang juga ada dendam yang belum diselesaikan,’ pikirnya diam-diam.
Belum lagi pikirannya selesai, terdengar lagi suara tertawa dingin dari mulut Oey Kang.
“Kalau kau mengijinkan juga tidak apa-apa. Biar Giheng naik sendiri ke atas.” perlahanlahan
dia melangkahkan kakinya, ternyata dia benar-benar menuju ke atas bukit.
Terdengar Yibun Siu San membentak dengan suara keras.
“Berhenti!”
Mendengar bentakannya, Oey Kang pun menghentikan langkah kakinya. Kepalanya
menoleh ke belakang.
“Apakah kau memanggil aku?” tanyanya tenang.
“Tentu saja memanggil engkau. Apakah di sini ada orang lain lagi?” dengan kesal dia
melanjutkan kata-katanya. “Aku tahu selama beberapa hari ini kau terus menyelidiki
sekitar tempat ini, Aku yakin, Toaso tinggal di puncak bukit juga sudah kau ketahui
sebelumnya.”
Oey Kang tertawa lebar.
“Terima kasih atas pujianmu.” sambil berbicara dia mengeluarkan sebatang kipas dari
balik sakunya. Dia membuka kipas itu dan mengibas-kibaskannya dengan gaya angkuh.
Dengan penuh kebencian, Yibun Siu San mendengus keras-keras.
“Toaso pernah berpesan kepada Siaute, siapapun yang bermaksud mendaki ke atas
bukit, Siaute harus menghalanginya. Mau bunuh atau hanya melukai, tergantung Siaute
sen-diri.”
“Kalau begitu, kau ingin menghalangiku dengan kepandaianmu?”
“Rasanya terpaksa demikian.” suara sahutan Yibun Siu San datar sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampaknya Oey Kang tidak merasa takut sama sekali. Tiba-tiba dia tertawa terbahakbahak.
“Coba saja…!” suaranya belum sirna, tiba-tiba lengannya terentang, tubuhnya bagai sebatang
anak panah yang dibidikkan dari busurnya dan dengan kecepatan tinggi melesat ke
depan.
Gerakannya ini menggunakan kecepatan yang tidak teruraikan dengan kata-kata dan
dilakukan secara tidak terduga-duga. Hal ini di luar perkiraan Yibun Siu San. Dia terkejut
setengah mati. Tetapi sekejap kemudian dia sudah pulih kembali seperti biasa. Setelah
mengempos semangat sambil berteriak keras, dia menghambur ke depan mengejar si raja
iblis itu.
Ilmu silat kedua orang ini, merupakan jago kelas satu di dunia Bulim saat ini. Yang satu
lari, yang lain mengejar. Sama-sama menggunakan kecepatan tinggi. Tubuh mereka bagai
segulungan angin yang menghempas ke depan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah
berada dalam jarak dua belas depaan.
Tiba-tiba…
Lengan Oey Kang mengibas ke belakang. Terpancarlah segumpal kabut atau asap yang
memenuhi udara. Hanya terlihat tebaran bayangan berwarna keputihan tertiup ke
belakang.
Rupanya Oey Kang sudah mempersiapkan segumpal debu dari hancuran batu dan
menggunakannya sebagai senjata rahasia. Benda seperti itu sangat ringan dan halus.
Tetapi jangan lupa bahwa orang ini mempunyai julukan Dewa Kilat Bertangan Tiga,
keahliannya menggunakan senjata rahasia sudah tersohor di dunia Kangouw. Belum
pernah ada saingannya. Bahkan debu yang disebarkannya dapat menusuk mata lawan.
Dengan kerahan tenaga dalamnya, butiran debu itu bagai biji perak yang kecil-kecil
berjumlah ratusan me-luncur datang. Terdengar suara yang berde-sing-desing
memecahkan kesunyian.
Perubahan yang mendadak itu benar-benar mengejutkan!
Yibun Siu San terperanjat setengah mati. Cepat-cepat dia mencelat mundur dan dalam
waktu yang bersamaan dia mengibaskan lengan bajunya ke depan, matanya pun segera
dipejamkan.
Bahkan si pengemis sakti Cian Cong yang berdiri di belakangnya juga tidak berani
memandang ringan debu beracun itu. Mulutnya mengeluarkan suara siulan. Dengan posisi
me-nahan di depan dada, dia menghantamkan sepasang telapak tangannya. Tenaga
dorongannya yang kuat membuyarkan debu-debu itu seketika.
Tepat pada saat itu juga, udara dipenuhi dengan debu berwarna putih. Tersebar ke mana-
mana. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, debu itu perlahan-lahan membuyar.
Sinar rembulan memancarkan cahayanya, lambat laun pemandangan pun menjadi jelas
kembali.
Begitu mata memandang, tanpa dapat ditahan lagi, Yibun Siu San dan Cian Cong berseru
serentak. Wajah mereka langsung berubah hebat. Dalam waktu yang singkat, Oey
Kang sudah sampai di pertengahan bukit. Apabila naik lagi kurang lebih seratusan depa,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia akan mencapai rumah peristirahatan Yibun Siu San, bagaimana mereka tidak menjadi
tercekat?
Hampir dalam waktu yang bersamaan, mereka mengempos semangatnya serta mengerahkan
ginkang untuk mengejar. Hanya dalam beberapa detik saja, mereka sudah
menghilang. Hatinya pun menjadi agak lega. Pikirannya juga tidak begitu tertekan lagi.
Tiba-tiba serangkum suara tawa yang dingin seperti es berkumandang dari belakang
punggungnya. Datangnya suara tawa ini begitu mendadak. Dalam waktu yang bersamaan,
Tan Ki serta Mei Ling terkejut bukan kepalang. Tanpa dapat ditahan lagi, keduanya segera
menolehkan kepala.
Entah sejak kapan, kurang lebih tiga mistar di belakang mereka tahu-tahu sudah berdiri
sepasang laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bertubuh tinggi besar, wajahnya penuh
dengan benjolan-benjolan daging. Dia mengenakan pakaian tosu dan tangannya
menggenggam serenceng tasbih.
Orang satunya adalah seorang wanita setengah baya yang jeleknya jangan dikatakan
lagi. Pakaian atasnya berlengan pendek dengan warna hijau pupus, bagian bawahnya
merupakan gaun lebar dengan warna yang sama. Pada bagian pinggangnya tersampir pita
ikatan berwarna merah menyala. Tubuhnya pendek dan gemuk. Hidungnya seperti singa,
matanya seperti babi. Dua buah gigi depannya besar dan tonggos. Warnanya kuning pula.
Benar-benar tidak ada bagian yang enak untuk dilihat. Entah dosa apa yang dipikul
orangtua-nya sehingga melahirkan anak seperti itu.
Hati Tan Ki sampai sebal melihatnya. Sepasang alisnya langsung terjungkit ke atas.
“Siapa kalian? Aturan mana yang membolehkan kalian sembarang memasuki rumah
orang lain?” bentaknya marah.
Pinggang wanita yang jelek itu melenggok-lenggok, dia malah sengaja mengeluarkan
gaya yang memuakkan.
“Kami memang sengaja datang mencarimu!”
Wajah Tan Ki jadi merah padam.
“Ngaco belo! Kalau kalian masih tidak mau menjelaskan maksud kedatangan kalian ini,
jangan salahkan kalau aku bertindak kurang sopan!” kakinya segera memasang kudakuda,
tampaknya dia sudah siap menghadapi lawan. Sedangkan sepasang matanya
memancarkan sinar yang dingin menusuk. Seakan setiap saat dia dapat melancarkan
serangan yang hebat.
Wanita yang jelek itu malah tertawa terkekeh-kekeh.
“Buat apa kau begitu serius? Seperti orang yang baru keluar dari goa saja. Aku Lu Sam
Nio tidak akan menyantap dirimu.”
Pada dasarnya perempuan ini sudah jelek setengah mati. Sekarang dia sengaja
memperlihatkan gaya seperti seorang gadis remaja yang sedang dalam masa puber. Tentu
saja kelakuannya makin menyebalkan orang yang melihatnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya. Dengan nyali yang cukup besar dia me-rapat
ke arah Tan Ki. Sepasang alis anak muda itu mengerut ketat. Hawa pembunuhan mulai
timbul dalam dadanya. Tangan kanannya direntangkan untuk melindungi Mei Ling.
“Wanita jalang, kau benar-benar cari mati!”
Terdengar deruan angin, telapak kirinya langsung mengirimkan sebuah pukulan ke depan.
Tenaga pukulannya hebat bukan main. Hawa dalam ruangan itu menjadi sesak. Serangannya
bagai gunung berapi yang siap meletus menerjang ke arah perempuan jelek itu.
Tampaknya wanita gemuk pendek lagi jelek itu tidak takut menghadapi serangannya.
Mulutnya pura-pura mengeluarkan seruan terkejut. Kakinya terhuyung-huyung seperti
orang yang ketakutan, dengan gerakan gemulai dia bergeser ke samping tiga langkah.
Tidak lebih jauh ataupun lebih dekat, tetapi dengan tepat ia dapat menghindarkan diri dari
serangan pukulan Tan Ki.
Gerakannya itu seperti dibuat-buat, tetapi kecepatannya sungguh mengagumkan. Tan
Ki yang melihatnya jadi termangu-mangu. Padahal hatinya terperanjat sekali. Rupanya
ilmu silat wanita yang jelek ini tidak berada di bawah dirinya sendiri.
Pikirannya tergetar, mulutnya segera mengeluarkan suara raungan yang keras. Telapak
tangan kiri dan kanannya serentak dihantamkan ke depan.
Baru saja dua pukulan dilancarkan keluar, terdengar Tosu yang berdiri di sampingnya
tertawa seram.
“Sam Nio, jangan main-main lagi. Toa Ie (bibi) mengirimkan surat lewat merpati pos,
isinya demikian mendesak. Kalau sampai karena sedikit kecerobohan akhirnya gagal, tentu
wajah engkau dan aku tidak enak dilihat lagi.” sembari berbicara, tahu-tahu orangnya
menerjang datang sambil membentak…
“Biar aku yang menghadapi bocah ini. Kau cepat bawa ‘barang permintaan’
meninggalkan tempat ini!” pergelangan tangannya memutar, tampak bulu kuduk di
tangannya meremang semua. Setelah mengibas dua kali berturut-turut, dengan mudah
dia sudah berhasil melepaskan diri dari serangan kedua pukulan Tan Ki.
Tampaknya ilmu silat orang ini bahkan lebih tinggi setingkat daripada Lu Sam Nio. Baru
saja melepaskan diri dari serangan Tan Ki, tiba-tiba tubuhnya merapat ke depan dan tahutahu
dia sudah melancarkan tujuh delapan jurus serangan.
Angin yang timbul dari pukulannya tampak bagai ombak yang bergulung-gulung.
Kekuatan tenaganya hebat bukan main. Serangan tasbihnya demikian cepat. Untuk sesaat,
ru-angan itu dipenuhi bayangan tasbih yang tidak terhitung jumlahnya. Benar-benar ilmu
yang tidak dapat dipandang enteng.
Serangannya yang gencar ini membuat Tan Ki terdesak sampai mengelak ke kiri,
menangkis ke kanan. Langkah kakinya terus mundur ke belakang. Apabila dua tokoh kelas
tinggi bergebrak, mati hidup hanya ditentukan dalam sesaat saja. Begitu serangannya
gagal, kedudukan Tan Ki semakin membahayakan. Tosu yang garang itu terus mendesak
maju, sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk mengatur nafas. Tasbihnya terus
bergerak ke sana ke mari, bahkan menimbulkan suara yang berdesing-desing. Dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sengit dia melancarkan dua jurus. Kaki kirinyapun menendang dalam waktu yang
bersamaan. Kecepatannya bagai kilat. Sasarannya bagian bawah perut yang mematikan.
Saat ini Tan Ki sudah terdesak sampai bawah jendela. Di belakangnya adalah dinding
rumah. Tidak ada tempat lagi untuk mundur. Meskipun hatinya tercekat melihat dua jurus
serangan serta sebuah tendangannya, tetapi pada dasarnya dia merupakan manusia yang
banyak akal. Meskipun menghadapi bahaya, ia tetap dapat mempertahankan ketenangan.
Ce-pat-cepat dia menghimpun hawa murninya. Dengan jurus Pelangi Di atas Langit, dia
segera membalas serangan yang hasilnya segera terlihat, memecahkan dua jurus dan
sebuah tendangan yang keji itu.
Pertarungan ini merupakan pertempuran dua jago kelas tinggi yang seakan sedang mengadu
jiwa. Satu jurus atau satu gerakan, sudah cukup untuk membunuh orang. Baik
menyerang ataupun melindungi diri, semua dilakukan dengan cepat. Baru dilancarkan
tahu-tahu sudah ditarik kembali. Setelah belasan kali, sulit lagi membedakan mana lawan
dan mana diri sendiri.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Roman Picisan Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 20 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments