Cerita Cinta Silat Romantis : Iblis Sungai Telaga 7

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Cinta Silat Romantis : Iblis Sungai Telaga 7
baca juga:
Cerita Cinta Silat Romantis : Iblis Sungai Telaga 7
Berkata begitu si nona memikir buat berlompat melawan
para pengurung, tetapi baru ia bergerak, kedelapan orang Lek
Tiok Po lantas maju merangsak. Kembali ia membatalkan
niatnya. Bukannya ia takut, ia hanya kuatir Hauw Yan nanti
terluka atau lolos...
Dengan hati panas, Tan Hong mengawasi sekalian
penghadang itu. Ia memegang Hauw Yan ditangan kiri dan
menyediakan sanho pang di tangan kanan. Lantas ia
mengancam. "Diantara kalian semua, siapa berani merintangi
nonamu, jangan menyesal ! Asal kamu bergerak pula, jangan
salahkan nonamu tak mengenal kasihan ! Awas dapatkah
kamu bertanggung jawab kalau Hauw Yan sampai terluka ?"
Setelah berdiam sekian lama itu, Hoay Giok dapat
menenangi diri. Ia memang telah banyak pengalamannya
walaupun ia masih muda. Ia insaf sungguh berbahaya kalau
kedua pihak berlaku keras sama keras. Lantas ia maju satu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tindak akan memberi hormat kepada Tan Hong sambil berkata
: "Nona sabar, kita dapat bicara dengan baik-baik !"
Tan Hong mengawasi anak muda itu. Ia tak membiarkan
orang bicara. Kata ia : "Kamulah yang tidak pakai aturan !
Kenapa kamu hendak merampas anak orang ?'
"Nona" berkata pula Hoay Giok, "kalau benar kau
mempunyai hubungan persahabatan dengan Tio sute, adik
seperguruanku itu, maka ingin aku minta kau dengan
memandang dia untuk berbicara dengan jelas tentang
duduknya urusan ini. Maukah kau ? Andiakata nona berselisih
dengan adik seperguruanku itu, baiklah urusan diselesaikan
dengan dia sendiri, janganlah nona hubungan itu dengan
anaknya ini ! Bukankah anak ini masih belum tahu apa-apa ?"
Anak muda itu bicara beralasan, tidak ada jalan buat Tan
Hong bersikap keras lebih jauh tetapi mana dapat ia membuka
rahasia hatinya kepada lain orang ? Mana ada muka buat ia
berkatai bahwa ia mencintai It Hiong ? Maka terpaksa, ia
mesti terus bersikap keras. Maka berkatalah ia : "Inilah
mestikaku ! Dapatkah kalian merawat mestikaku ini ?"
Jilid 20
Siauw Houw menganggap lucu bahwa orang ngotot
mengakui Hauw Yan sebagai anaknya. Dari mendongkol dia
menjadi tertawa lebar. Maka dia Tanya: “Baik! Kau mengakui
anak ini sebagai anakmu! Nah bilanglah, siapakah namanya
ayah dari anak ini? Siapakah dia?”
Parasnya si nona menjadi merah, ia telah salah bicara
hingga orang menanya dia sedemikian rupa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Justru itu Hoay Giok turut bicara pula.
“Saudara Pek, buat apa melayani dia bicara?” katanya.
“Kaum laki-laki bukankah dapat mempunyai satu atau dua
istri? Ini toh tidak aneh! Lagipula adik seperguruanku itu
gagah da tampan!”
Berkata begitu dia tertawa.
Tan Hong melirik anak muda itu..
“Cis!” ia perdengarkan suara perlahan sedangkan didalam
hati ia merasa manis. Kata-kata Hoay Giok cocok dengan rasa
hatinya….
“Mama!Mama!” kembali Hauw Yan memanggil.
Siauw Houw terkejut mendengar suara keponakannya itu,
mendadak dia melompat maju, goloknya diputar.
Hoay Giok turut maju, tapi dia menghadang di depan anak
muda itu.
“Urusan si anak baiknya diserahkan padaku?” katanya.
“Kau setuju bukan? Urusan ini tak dapat dipecahkan dengan
kekerasan!”
Siauw Houw heran, dia mengawasi orang she Wie itu.
“Apakah artinya kata-katamu ini, saudara Wie?” tanyanya.
Hoay Giok tertawa.
“Menurut penglihatanku, kalian berdua bukanlah orang
asing satu dengan lain” katanya. “Bahkan sebaliknya kalian
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mirip orang dalam, karena itu baiklah kita bicara dengan hati
yang tenang. Dengan ketenangan tidak ada soal yang tidak
dapat dibereskan. Sekarang begini saudara Pek. Silahkan kau
lekas pulang ke Pek Tiok Po. Kau beritahukan hal ini kepada
adikmu itu, lantas kau minta dia segera datang kemari
menyusul kami! Aku sendiri akan temani Nona ini pergi ke Kui
Kiong San buat mencari adik seperguruanku itu. Andiakata
anak ini hilang, aku yang akan bertanggung jawab! Nah,
bagaimana pikiran saudara? Akur tidak?”
Pek Siauw Houw berdiam untuk berpikir.
Sebaliknya Tan Hong, dia lantas berkata pada Hoay Giok,
“Kau baik sekali saudara Wie, dengan begini kau dapat
memecahkan urursan ini, terlebih dahulu terimalah ucapan
terima kasihku!” Dia lantas memberi hormat, terus
menambahkan: “Cuma ada satu hal yang memberatkan aku.
Aku adalah seorang perempuan, tak leluasa buatku berjalan
bersama-sama kau. Maka itu mengenai Hauw Yan, baiknya
kau percayakan dia padaku. Pasti aku akan antarkan dan
menyerahkannya pada adik It Hiong! Kitalah orang-orang
Kang Ouw, apa yang kita satu dibilang satu tidak dua! Kalian
percayakan padaku?”
“Baiklah!” menjawab Hoay Giok. Dia jujur, dia mudah
menaruh kepercayaan.
Tan Hong menggunakan kesempatan itu untuk bertindak
keluar dengan cepat. Beberapa orang Lek Tiok Po mau
mencegahnya, tapi Siauw Houw melarang mereka. Dengan
demikian dapatlah dia berlalu tanpa rintangan.
“Sampai berjumpa pula!” kemudian Siauw Houw berkatakata
pada Hoay Giok, kepada siapa ia memberi hormat terus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dia mengajak delapan orang pengikutnya meninggalkan
rumah makan itu..
Hoay Giok membalas hormat. Ia mengawasi orang pergi. Ia
bernapas lega. Habis itu ia membayar uang makan, terus ia
juga berlalu menuju kegunung Kiu Kiong San…
Tio It Hiong bersama Cio Kiauw In sementara itu sudah
turun dari gunung Kiu Kiong San bagian selatan, mengambil
jalan besar dimana dahulu ia bertemu dengan Wie Hoay Giok,
maksudnya ialah setelah bertemu dengan kakak seperguruan
itu, hendak mereka bersama-sama pergi ke Ay Kao San guna
menolong Beng Kee Eng sang paman. Setelah mendapatkan
kembali kitab Sam Cay Kiam, hatinya It Hiong lega sebagian
besar. Ia berkata pada Kiauw In, “Kakak, aku kuatir terhadap
paman Beng, maka itu mari kita lekas menemukan kakak Wie
serta kakak Peng, setelah itu baru kita singgah untuk
bersantap. Setujukah kakak?”
Kiauw In tertawa, ia mengangguk. Ia sangat sabar, ia
taidak banyak pikir, mudah saja ia menyatakan
persetujuannya.
Ketika itu jalanan sepi, lantas mereka lari dengan
menggunakan Te In Ciong, ilmu lari ringan tubuh Tangga
Mega. Belum lama mereka berlari, mereka lantas melihat
disebelah depan mereka ada dua orang penunggang kuda lagi
mendatangi dengan cepat. Hingga tidak heran apabila lekas
sekali kedua pihak sudah tiba satu pada yang lain.
Dengan matanya yang tajam, It Hiong melihat kedua
penunggang itu berseragam hitam ringkas, dipunggung
mereka tergantung golok tunggal.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mereka itu selalu mengawasi ke kiri dan ke kanan,
beberapa kali mereka terlihat berhenti untuk bertanya kepada
orang di pinggir jalan.
“Kakak aku rasanya mengenali seragam mereka,” kata It
Hiong selagi orang masih mendatangi. “Dapatkah kakak
menerka siapa mereka itu?”
Belum si nona menjawab, kedua penunggang kuda itu
sudah tiba, bahkan keduanya lantas lompat turun dari
kudanya masing-masing untuk memapaki muda mudi itu.
Sambil memberi hormat, yang satu segera bertanya: “Mohon
bertanya saudara, apakah saudara ini Tio It Hiong?”
It Hiong menarik bajunya Kiauw In, ia lekas-lekas
membalas hormat.
“Aku yang rendah benar Tio It Hiong,” sahutnya terus
terang. "Dapatkah aku ketahui saudara berdua dari pihak
mana dan ada petunjuk apa dari saudara untukku?”
“Kami yang rendah lagi melakukan perintahnya Pek Pocu
dari Lek Tiok Po, sahut seorang diantaranya, “Kami mau pergi
ke Kiu Kiong San buat mencari tuan Tio untuk menyampaikan
suatu berita penting tidak disangka kita dapat bertemu disini.”
Orang agaknya mau bicara lebih jauh, tetapi dia melirik ke
arah Kiauw In.
Beberapa kali dia melirik si nona.
Bercekat hatinya It Hiong, ia mau menerka tentu ada
terjadi sesuatu atas dirinya Giok Peng, maka lekas-lekas ia
berkata: “Nona ini… nona ini ialah nona Cio Kiauw In, ia kakak
seperguruanku. Kakakku ini pernah bersama kakak Peng
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
datang ke Lek Tiok Po. Apakah saudara-saudara ini telah
melupakan nona ini? Nah, kalau ada urusan silahkan bicara
terus terang!”
Kedua orang itu memberi hormat kepada Kiauw In.
“Maaf nona, buat mata kami yang kurang awas!” kata
mereka dengan hormat.
Kiauw In tersenyum, ia memandang mereka itu.
“Apakah berita dari Pek Pocu itu?” tanyanya. “Silahkan
tuan-tuan menyebutkannya, tak usah kalian mengunakan adat
peradatan.”
Orang Lek Tiok Po itu lantas bicara, mulanya ia menutur
tentang pulangnya Giok Peng yang lantas menemui Hong Kun.
Bahwa pertemuan keduanya berjalan baik dan Hong Kun
mengutarakan niatnya untuk meninggalkan Pek Tiok Po.
Namun ternyata pemuda she Gak itu berhati tidak baik, besok
paginya dia menghilang dengan membawa lari tuan kecil
Hauw Yan. Sehingga Giok Peng bersama Thian Liong dan
Siauw Houw serta orang-orangnya telah pergi menyusul dan
mencari dengan berpencaran, sedangkan mereka berdua
ditugaskan untuk menyusul ke Kiu Kiong San sekaligus turut
menyelidiki perihal anak yang hilang itu.”
Mendengar keterangan itu, It Hiong kaget sekali. Anaknya
diculik orang! Tentu saja ia menjadi kuatir dan bingung serta
gusar. Sejenak itu ia berdiri menjublak saja.
Kiauw In juga terperanjat dan gusar, sepasang alisnya yang
lentik sampai bangun berdiri, tapi ia sabar dan cerdas. Cepat
ia mendapatkan ketenangannya dan lantas berpikir.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Sekarang ini dimanakah adanya adik Peng?” tanyanya,
“Tahukah kalian?”
“Segera setelah ketahuan lenyapnya tuan kecil, tindakan
sudah lantas diambil. Nona Peng berangkat bersama tuan
muda Thian Liong menyusul ke Hong Bwe koan sedang tuan
muda Siauw Houw kelain arah, karena itu sekarang kami tidak
tahu dimana mereka itu…..”
It Hiong menganggap sudah tidak perlu bicara lagi, maka ia
menghadapi kedua orang itu dan memberi hormat sambil
berkata: “Terima kasih telah merepotkan kalian! Tolong
sampaikan kepada Pocu tua, bahwa Tio It Hiong telah
mengetahui urusan cucunya terculik itu. Bahwa sekalipun Gak
Hong Kun jahat, dia tidak akan dapat berbuat terhadap
anakku, dari itu tolong minta supaya pocu tua jangan kuatir!
Nah silahkan kalian pulang!”
Dua orang itu memberi hormat.
“Baiklah!” katanya. “Cuma, tuan Tio, Nona Peng ada
memesan dalam hal ini urusan apa juga lainnya diminta tuan
menundanya, supaya urusan tuan kecil Hauw Yan
didahulukan!”
“Aku tahu!” jawab si anak muda.
Seberlalunya dua orang itu, Kiauw In menoleh kepada It
Hiong, ia mendapati anak muda itu berdiam saja, matanya
memandang langit. Ia segera menarik ujung baju orang.
“Adik Hiong, mari!” ajaknya.
Tanpa mengucap sepatah kata, It Hiong turuti kakak itu,
hingga mereka dapat lari berbareng. Selang kira-kira dua jam,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sampai sudah mereka disebuah desa, terpisah dari Kiu Kiong
San kira-kira lima puluh lie. Mereka lantas mendatangi rumah
makan dimana It Hiong dan Wie Hoay Giok membuat janji. Si
anak muda memikir akan mendengar kata-kata dari saudara
seperguruannya itu.
Sebenarnya It Hiong sudah lapar, akan tetapiriknya, dia
menunda sumpitnya dan sambil tertawa ia berkata: “Adik,
lupakah kau akan peribahasa ‘bahwa urusan yang harus
dibereskan tapi tak dibereskan, itu berarti perbuatan orang
bodoh!’ , maka itu apalagi yang kau pikirkan? Mari makan!”
It Hiong menoleh, mengawasi istrinya itu, lalu ia menghela
napas.
“Rupanya adikmu ini ditakdirkan menjadi barang mainan
segala bajingan!” katanya masgul. “Lihat, segala peristiwa tak
disangka-sangka datang susul menyusul! Ombak yang satu
belum reda, sudah tiba gelombang lainnya, membuat aku
repot sekali!”
Kiauw In memandang tajam pemuda itu. Lalu ia berkata
dengan sungguh-sungguh. “Kalau kita menghadapi berlaksa
urusan, kita menyambutnya pula dengan berlaksa perubahan
dan itulah perbuatan seorang laki-laki sejati! Baru dua urusan
seperti ini, mengapa kau biarkan dirimu dipengaruhi begini
rupa?”
Mendengar ucapan si nona, tubuh It Hiong menggigil,
mendadak saja ia sadar.
“Kau benar, kakak!” katanya lantas. “Kata-kata kakak mirip
lonceng diwaktu fajar! Aku tolol, urusan ini membuatku
bagaikan kehilangan ingatan!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lantas pemuda ini makan dengan cepat.
Kiauw In senang, ia tertawa.
“Nah adikku,” katanya habis bersantap. “Bagaimana
sekarang hendak kau bertindak?”
It Hiong minum tehnya.
“Justru aku hendak menanyakan pikiran kakak,” sahutnya.
“Baik adik dulu mengutarakan pikiranmu untuk kita
rundingkan,” katanya kemudian.
It Hiong dapat berpikir cepat.
“Menurut pikiranku, urusan, urusan Hauw Yan dapat
ditunda,” jawabnya. “Paling dulu kita pergi ke Ay Lao San
untuk menolong paman Beng!”
Nona Cio heran, ia melengak.
“Bagaimana kau berpikir demikian, adik?” tanyanya, “Kau
jelaskan!”
It Hiong mengawasi nona cantik di depannya itu.
“Didalam segala hal kita harus mengambil keputusan cepat.
Kitapun harus dapat membedakan kalau urusan bukan Cuma
satu, terutama kita harus mengambil keputusan sendiri! Dalam
hal ini, tak usah aku menjelaskan sebab sebabnya
keputusanku ini!”
Mendengar demikian Kiauw In tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Kalau begitu, adik bertindak sesukamu saja, kau tak
memikir banyak lagi! Itulah tindakan yang tidak tepat. Didalam
urusan yang penting pada saat kita menyesal sudah kasip. Aku
meminta penjelasanmu justru karena aku ingin melihat jalan
pikiranmu.”
“Memang aku tidak memikir panjang, kakak,” sahut si anak
muda. “Aku Cuma pikir ada budi mesti dibalas, dan budinya
paman Beng besar sekali, maka itu aku ingin pergi membantu
dia terlebih dahulu baru kita urus urusa anak kita. Paling
utama aku tidak mau mendapat sebutan ‘Melupakan budi,
menyia-nyiakan kebijaksanaan’!”
Kiauw In menatap tajam suaminya itu. Ia melihat
bagaimana orang sangat bersemangat! Diam-diam dia sangat
girang, tapi ia ingin mencoba hati orang.
“Bagaimana kau dapat membiarkan urusan puteramu itu?”
demikian tanyanya. “Bagaimana kalau anakmu itu menghadapi
ancaman bahaya jiwa? Sekarang kau hendak pergi dulu ke Ay
Lao San! Bagaimana nanti kau bicara terhadap adik Peng?”
Kembali It Hiong menatap si nona, lalu ia tertawa.
“Anak Hauw Yan tidak terancam bahaya jiwa.” Katanya.
Kiauw In tersenyum, ia menyingkap rambutnya.
“Keputusanmu ini terlalu cepat, adik. Kau tahu kejamnya
Hong Kun. Bukankah ia gagal dalam urusan cinta? Bagaimana
dia dapat membiarkan pikirkan dulu dalam-dalam.”
It Hiong tetap bersemangat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Prak!” ia menepuk meja.
“Tio It Hiong bukannya seorang hina dina!” katanya keras.
“Aku bukannya orang yang mengutamakan urusan pribadi!
Aku tak sudi menjadi manusia tak berbudi. Biarpun Hauw Yan
bakal hilang jiwanya, aku tetap hendak menolong dahulu
paman Beng! Lagipula aku masih muda, ada kemungkinan lagi
beberapa tahun aku akan dapat anak pula! Kakak, kenapa
kakak demikian sibuk memikirkan Hauw Yan?”
Diam-diam hati nona Cio girang luar biasa, itulah yang ingin
ia dengar dari suaminya yang tampan dan gagah itu. Ia puas,
maka ia tertawa dan berkata: “Ah adik, bagaimanakah kau
ini? Kakakmu Cuma ingin mengetahui kecerdasanmu.”
It Hiong pun dapat lekas menenangkan diri, ia turut
tersenyum.
“Dalam kecerdasan, aku tak dapat menyusuli kakak!”
katanya.
Kiauw In tersenyum pula.
“Nah, mari kita berangkat!” ia mengajak.
It Hiong berbangkit, ia membayar uang lalu ia turut kakak
itu keluar dari rumah makan untuk melanjutkan perjalanan
mereka. Tepat mereka tiba diuung jalan besar, mata jeli dari
Kiauw In melihat Tan Hong lagi berdiri sedang dalam
gendongannya terdapat Hauw Yan. Ia segera menarik ujung
bajunya It Hiong yang lalu bersama-sama mereka berlompat
lari. Hingga dilain detik mereka sudah berada di depan nona
dari Hek Keng To itu!
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Nona Tan hendak pergi kemanakah kau?” Kiauw In
menanya.
“Oh, kau?” seru Tan Hong terperanjat, “Kau, kakak Cio,
mana adik….”
Kata-kata itu tak diteruskan, dia mau menanyakan “adik
Hiong” tapi si adik justru berdiri di belakangnya Kiauw In.
Bukan main girangnya ia melihat pemuda yang ia buat pikiran
siang dan malam itu. Tanpa terasa merahlah mukanya, karena
itu kata-katanya pun turut tertahan.
Hauw Yan melihat Kiauw In, ia segera memanggil : “Mama!
Mama!” Diapun tertawa.
Nona Cio tidak menjawab Tan Hong, hanya ia lantas
menghampirinya, untuk merangkul bocah manis itu, yang
terus ia hujani dengan ciuman. Setelah mana ia menoleh
kepada It Hiong dan berkata sambil tersenyum.
“Adik Hiong, kau harus mengucapkan terima kasih kepada
Nona Tan ini , yang telah melepas budi membantu anakmu!”
“Ah, kakak malu-malu saja!” berkata Tan Hong cepat tetapi
rada likat. “Ini tidak berarti apa-apa!” Walaupun demikian, ia
melirik si anak muda.
It Hiong menghampiri nona dari Hek Keng To itu, dengan
sungguh-sungguh ia menjura memberi hormat seraya berkata:
“Nona Tan, terlebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak
terima kasih padamu yang telah menolong Hauw Yan.
Tentang budimu ini, It Hiong akan ingat didalam hatinya, nanti
kelak di belakang hari anak ini berdaya membalasnya!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Wajah berseri-seri dari Tan Hong lenyap, matanya
sebaliknya tergenang air, ia mengangkat kepalanya guna
mencegah mengalirnya airmata itu. Toh ia tak dapat menahan
hatinya.
“Adik Hiong, begini asingkah kau terhadapku?” katanya,
“Ah…..”
Tak dapat ia mencegah lagi air matanya yang terus
bercucuran mengalir dikedua belah pipinya yang putih halus.
Hingga ia mirip dengan bunga per yang ada air hujannya.
Tampangnya sangat mendatangkan rasa kasihan orang.
Lekas-lekas ia menoleh kesamping sambil berkata: “Tan Hong
adalah seorang budak keluaran kaum sesat, walaupun ia
mencoba dengan sesungguh hatinya bersahabat dengan
murid yang pandai dari Pay In Nia, pada akhirnya dia Cuma
mendapat malu saja….”
Kiauw In yang menggendong Hauw Yan dengan tangan
kiri, menggunakan tangan kanannya mengeluarkan
saputangan lalu menghapusi air matanya nona dari pulau ikan
lodan hitam itu. Sambil berbuat begitu, ia berkata sambil
tertawa: “Eh, Nona Tan kau kenapakah? Kita adalah orangorang
wanita Kang Ouw, kalau ada hal-hal keliru yang kami
lakukan, tolong jelaskan secara terus terang. Kenapakah kau
agaknya begini berduka?”
Tan Hong terus tunduk, ia menangis sesegukan.
Kiauw In menoleh kepada It Hiong yang ia kedipi mata,
maksudnya menganjurkan si anak muda. Sedang anak muda
“berkepala batu” itu tak biasa ia mengalah. Dilain pihak berat
ia menolak kehendak Kiauw In, kakak seperguruannya yang
baik hati. Dalam keadaan sulit itu, ia berdiri diam sambil
tunduk saja…
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Maka sejenak itu bertiga mereka berdiri melintang ditengah
jalan itu. Syukurlah Kiauw In lekas dapat memecahkan
kesunyian itu.
“Anak, kau ciumlah bibimu,” katanya pada Hauw Yan.
“Lekas kau menghaturkan terima kasih dan minta supaya
Bibimu jangan bersusah hati…” Iapun mengembalikan sibocah
kedalam rangkulan Tan Hong.
Hauw Yan menurut, dengan kedua tangannya yang halus,
dia memegangi pipinya Tan Hong dan menciumnya, lalu
dengan kata-kata terputus, ia berkata: “Mama…jangan
bersusah hati….” Dan jenakanya, kata-kata “bibi” ia tukar
dengan “mama", seperti biasanya ia memanggil…
Mau tidak mau Tan Hong jadi tertawa.
“Ah, Hauw Yan anak yang baik…” katanya girang. Meski
begitu ia rada jengah, mukanya menjadi merah. Cuma
didalam hati ia merasa sangat bahagia….
Kembali Kiauw In mengawasi It Hiong, mulutnya dibuat
main untuk menganjurkan pula, kali ini sambil ia terus
berkata: “Hauw Yan, anak yag baik. Bibi Tan ini adalah
penolong jiwamu, tak apa kau memanggilnya mama, Cuma
ingat jangan kau memanggil mama kepada setiap orang!
Tahukah kau?”
Ada artinya kenapa nona Cio mengucap demikian. Dialah
seorang yang polos dan ada minatnya menyempurnakan
keinginannya Tan Hong itu, terutama untuk membuat hati
orang terbuka….
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong terdesak oleh kakak seperguruannya itu, yang
hatinya demikian suci murni, tanpa terasa ia mendekati Tan
Hong dua tindak untuk berkata perlahan: “Nona Tan, kalau
adikmu ini ada mengatakan sesuatu yang keliru, aku mohon
supaya kau memaafkannya…..”
Tan Hong mengawasi anak muda itu.
Kembali wajahnya menjadi ramai dengan senyuman. Ia
tertawa dan berkata: “Adik Hiong, tak usah kau pakai banyak
peraturan, sudah cukup asal kau ingat kepada kakakmu ini!”
Kali ini si nona lantas mengangsurkan Hauw Yan kepada
pemuda itu, hingga ia berada dekat sekali dengannya, lalu
berkata: “Adik, ini aku kembalikan anakmu. Semoga tidaklah
sia-sia belaka apa yang telah aku lakukan ini…”
Belum sempat It Hiong berkata apa-apa, ia sudah
dikejutkan dengan suara tindakan kaki yang cepat yang
mendatangi, ketika ia menoleh, ia terkejut saking herannya.
“Wie suheng!” serunya.
Belum berhenti suara itu, Wie Hoay Giok sudah berdiri di
depannya ketiga muda-mudi itu. Dengan kegirangan luar biasa
ia berkata nyaring: “Tidak kusangka disini aku dapat
menemukan kalian!” Ia melihat It Hiong lagi menggendong
Hauw Yan, sedangkan Kiauw In dan Tan Hong berdiri
berendeng mengawasi dirinya. Sebagai orang jujur ia lantas
menghadapi Nona Tan untuk memberi hormat sambil berkata
gembira: “Nona, sungguhlah kau seorang yang dapat
dipercaya! Sekarang sudah terbukti kau sampai dengan
mendahului aku, kau sudah lantas menyerahkan anak ini
kepada ayahnya! Nona, aku sangat berterimakasih dan sangat
mengagumimu!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Heran It Hiong mendengar kata-kata kakak
seperguruannya itu.
“Suheng,” katanya, “Apakah terlebih dahulu daripada ini,
kau sudah bertemu Nona Tan ditengah jalan?”
Hoay Giok tertawa bergelak.
“Kita kaum Kang Ouw, dimana saja kita dapat bertemu!”
sahutnya. “Kalau mau dibicarakan ceritanya panjang! Aku
sudah berlari-lari hingga perutku kosong sekali, maka itu mari
kita cari rumah makan dahulu, habis bersantap baru kita
bicara pula!”
Dan tanpa menanti jawaban orang, ia menarik tangannya It
Hiong buat diajak pergi kesebuah rumah makan!
Dengan terpaksa tapipun dengan gembira, It Hiong
menerima baik ajakan kakak seperguruannya itu. Maka itu
Kiauw In dan Tan Hong lantas mengikuti mereka sampai
mereka duduk bersama menghadapi sebuah meja makanan.
“Nona mari minum!” Hoay Giok mengajak Tan Hong. Dia
sangat menghargai nona itu yang dapat memegang janji.
Sebagai seorang jujur, ia girang sekali berhadapan dengan
seorang yang dapat dipercaya. Ia berkesan sangat baik,
hingga ia tidak merasa likat. Ia tidak tahu bahwa Tan Hong
berlaku demikian sebab si nona ada maksudnya…
Habis menegak beberapa cawan arak, barulah Hoay Giok
dapat bicara dengan gembira, maka menuturlah ia tentang
pertemuannya dengan Tan Hong dan Siauw Houw, ia
menceritakan segalanya dengan jelas.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menghela napas lega.
“Jika bukannya aku disibukkan urusan kitab pedang guruku
dan lekas-lekas pergi ke Kiu Kiong San,” berkata dia, “Pasti
waktu itu aku menemani kakak Peng pulang ke Lek Tiok Po
dan pastilah Hong Kun tak dapat melakukan segala
perbuatannya! Kasihan kakak Peng, dia menjadi mendapat
banyak pusing dan bercapek lelah…”
“Tidak Cuma menyusahkan adik Peng tapi juga nona
Hong…” Kiauw In menambahkan.
Tan Hong tertawa, senang ia mendengar kata-katanya
nona Cio itu.
“Jika kau tidak mengasihani aku, kakak panggillah aku
adik,” pintanya pada Kiauw In, “ Dan aku minta supaya aku
tak usah diangkat-angkat saja….”
Berkata begitu dia melirik kepada It Hiong.
Justru itu si anak muda lagi mengawasi nona itu, maka
bentroklah sinar mata mereka hingga hatinya jadi tergetar, ia
masgul sekali mendapat kenyataan Nona Tan demikian tergilagila
terhadap dirinya. Kali ini nona itu telah melepas budi
demikian besar terhadapnya. Ingin ia berbicara tapi ia malu
hati. Disitu ada Hoay Giok si suheng yang berhati terbuka dan
Kiauw In yang berhati emas. Maka ia menyimpang soal.
“Suheng,” katanya, “Kejadian atas dirinya Paman Beng
membuatku tak enak makan dan tidur, maka itu ingin aku
Tanya kau kapan kita pergi ke Ay Lao San dan bagaimana
cara kita menolongnya? Coba suheng memberikan aku
petunjuk!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendengar disebut tentang gurunya, Hoay Giok menunda
cawan araknya, tangannya gemetar, segera cawan itu diletaki
diatas meja. Wajah gembiranya pun berubah menjadi lesu.
“Celaka kakakmu ini!” katanya menyesalkan diri. “Kenapa
disini aku gila arak sedangkan guru kita didalam bahaya? Kau
benar adikku, mari kita berangkat!” dan ia berjingkrak bangun.
Tan Hong tidak tahu duduknya hal ini, ia heran Hoay Giok
bersikap begini aneh, begitu bergirang dan lekas menjadi
berduka! Sampai-sampai ia tertawa.
“Saudara wie, kau kenapa?” tanyanya.
“Kenapa kata-kata adik Hiong membuat kau melupakan
perut laparmu dalam sejenak?”
It Hiong pun memegang tangan orang untuk ditarik.
“Duduk dulu saudara,” katanya, “Kita tidak boleh tergesagesa,
sebaliknya kita harus memikir dan bicara dahulu!
Dengan tergesa-gesa tidak keruan mana kita akan
memperoleh hasil? Kau makan dulu baru kita berunding!”
Hoay Giok dapat dikasihh mengerti, maka ia duduk lagi
untuk terus makan hingga ia merasa cukup, hanya tak lagi ia
minum puas-puasan.
Baru setelah itu, It Hiong bicara, “Tentang berbahayanya
gunung Ay Lao San, pernah suheng memberitahukan aku.
Sekarang aku ingin bertanya, kecuali Cie Ciu Koan Im Lee
Hong Hui dan Kiu Cie Hoan Keng Su, ada siapakah lagi jagoan
lihai di sana? Apakah suheng dapat menjelaskan perihal alatalat
rahasianya?”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ditanya begitu Hoay Giok memperdengarkan suara “Oh…”.
Agaknya ia merasa kecewa, lalu ia menambahkan: “Ketika aku
pergi kepintu goa Lo Sat Tong dari pihak Lo Sat Bun, aku
cuma menuruti hawa amarahku saja, sama sekali aku tidak
memikir buat melakukan penyelidikan. Aku pikir asal Kiu Cie
Hoan Keng Su dapat dibekuk, guru kita bakal segera dapat
ditolong….”
Saat itu Hauw Yan tidur pulas dalam rangkulan Kiauw In, si
nona mendengar suaranya orang she Wie itu, lantas turut
bicara: “Suheng pikiranmu itu terlalu sederhana, rombongan
Lo Sat Bun menjagoi di Ay Lao San sudah belasan tahun. Jika
mereka tidak memiliki kepandaian tinggi, mana dapat mereka
bertahan begitu lama? Bukankah mereka sangat terkenal
sebagai jago-jago yang jahat? Mereka jadi sangat berani
sebab kedudukan tempat mereka yang bagus serta jumlah
pengikutnya yang banyak! Kita sebaliknya, jumlah kita kecil
sekali. Maka itu kita harus dapat menggunakan akal.”
Baru sekarang Tan Hong mengerti duduk persoalannya.
Pamam It Hiong atau gurunya Wie Hoay Giok terkurung dalam
gunung Ay Lao San dan mereka ini mau membantu, maka
tertawalah dia.
“Jika kalian hendak menggunakan akal, aku bersedia
membantu sebisaku!” katannya. “Kebetulan aku kenal dengan
rombongan Lo Sat Bun itu….”
Hoay Giok memberi hormat pada nona itu.
“Jika Nona Tan sudi membantu kami, aku sangat
bersyukur!” katanya yang terus menghaturkan terima kasih.
Tan Hong sebenarnya hendak merapatkan diri pada It
Hiong, maka ia bersedia memberikan tenaganya. Dari itu ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
girang sekali Hoay Giok segera menerima bantuan tenaganya
itu. Diam-diam ia melirik kepada si anak muda dan juga
kepada Kiauw In.
It Hiong masih mengukuhi nama perguruannya yang putih
bersih, tak ingin ia bersama dengan Tan Hong, tapi Hoay Giok
sudah mendahului menerima baik tawaran si nona. Ia tidak
bisa berbuat lain daripada turut menerimanya. Karenanya
hatinya menjadi tidak tenteram. Dengan tampang likat ia
mengawasi Kiauw In, ia ingin mendengar pandangan kakak
seperguruannya itu.
Nona Cio sangat cerdas, ia mengerti maksudnya It Hiong.
Ia pun dapat menerka hatinya Tan Hong. Ia bersimpati pada
Nona Tan, tak perduli nona itu dari rombongan Hek Keng To.
Bahkan ia ingin si nona mencapai angan-angannya. Maka ia
lantas berkata dengan sungguh-sungguh. “Didalam suatu
usaha besar kita jangan menggubris segala urusan kecil, jadi
walaupun adik Tan Hong asal dari Hek Keng To, ia tetaplah
sahabat-sahabat kita. Karena ia suka membantu kita, itulah
hal yang kita mintapun sebenarnya sukar terjadi. Adik Hiong,
janganlah kau menyia-nyiakan kebaikan hatinya adik Tan
Hong!”
Bukan main girangnya Tan Hong mendengar perkataan
Kiauw In, namun ia menyembunyikan kegirangannya itu,
lekas-lekas ia mengangkat tangannya berpura menyingkap
rambutnya, hingga mukanya teraling tangannya itu.
Hatinya It Hiong pun berubah setelah ia mendengar suara
Kiauw In itu. Maka berkatalah ia: “Kakak benar! Baiklah mari
kita mengharapkan tenaga bantuannya Nona Tan! Sekarang
bagaimana dengan Hauw Yan? Dapatkah ia dibawa bersama
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ketempat yang berbahaya itu?”
Kiauw In tertawa.
“Mengenai Hauw Yan telah aku pikirkan, kalian bertiga
berangkat lebih dulu, aku sendiri akan pergi ke Lek Tiok Po
dengan membawa anak ini untuk menemui adik Peng sekalian
memulangkan Hauw Yan, kemudian bersama adik Peng itu,
aku akan menyusul kalian, bukankah itu baik?”
“Kau benar sekali nona Cio!” Hoay Giok memuji girang.
“Tidak ada jalan yang lebih baik daripada itu! Aku sangat
memuji pada nona! Nah adik Tio, sebelum malam tiba, mari
kita berangkat!”
Begitulah keputusan mereka, maka lantas mereka
berangkat pergi. Cuma nona Cio sendiri yang mengambil lain
arah karena ia mengajak Hauw Yan bersamanya.
It Hiong bersama Hoay Giok dan Tan Hong mengambil
jalan dipropnsi Secuan untuk memasuki propinsi inlam.
Mereka melakukan perjalanan cepat, sehingga dalam sembilan
hari mereka sudah tiba dikaki gunung Ay Lao San.
Selama didalam perjalanan itu, hatinya Tan Hong terbuka
bukan main. Ia gembira sekali karena dapat berdekatan
dengan pemuda yang diidam-idamkannya. Tiada waktu yang
tidak ia bersuka ria, tersenyum atau tertawa. Kegembiraannya
itu diam-diam seperti membantu membangun semangatnya
kedua anak muda.
Tiba dikaki gunung, hatinya It Hiong terutama Hoay Giok
menjadi tegang sekali. Buat Hoay Giok ini berarti ia telah
kembali ketempat yang ia kenal baik, tetapi yang sangat
berbahaya dan mengancamnya. Toh ia maju terus tanpa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
rintangan, berkat tempat yang pernah ia kenal itu. Tidak ada
tempat perangkap maupun cegatan lawan.
Sesudah mengikuti jalanan yang berliku-liku, tibalah
mereka di depan Lo Sat Tong atau pintu gua raksasa. Disitu
Hoay Giok memberi tanda kepada kedua kawannya untuk
duduk istirahat disebuah batu karang.
“Lembah di depan itu, yang tak jauh dari sini, itulah Lo Sat
Tong,” ia memberi keterangan.
It Hiong mengangkat kepalanya menatap ke depan,
ketempat yang ditunjuk kakak seperguruannya itu. Ia melihat
mulut lembah dikaki puncak, kecuali batu-batu aneh, disitupun
ada tedapat rumput yang hijau. Hanya sepi saja, tak tampak
seorang juga.
“Kenapa di muka gua tidak ada orang yang menjaga?”
Tanya It Hiong.
Tan Hong juga heran.
“Kakak Wie, apakah kau tidak keliru?” Tanya dia.
“Tidak, aku tidak akan salah mata!” jawab Hoay Giok
dengan segala kepastian.
“Sebentar, kalau kita maju lebih jauh, pasti akan muncul
orang yang bakal menghadang kita!”
“Jika begitu, biarlah aku yang maju dahulu seorang diri,”
Tan Hong berkata, “Aku akan berpura-pura membuat
kunjungan kepada ketua dari Lo Sat Bun! Kalian setuju
bukan?”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong memikir lain, dengan sungguh-sungguh ia berkata:
“Baiklah kita berkunjung secara terus terang menuruti aturan
kaum Kang Ouw dan berterus terang juga kita
memberitahukan bahwa kita datang memenuhi janji untuk
membereskan urusan kita. Buat apa kita takuti, sekalipun Lo
Sat Tong merupakan sarang naga atau harimau!”
Lalu tanpa menanti persetujuan kedua kawannya, anak
muda ini lantas bertindak maju, guna berjalan di muka. Maka
terpaksa Hoay Giok dan Tan Hong menyusul, mengikutinya.
Benar seperti dugaan Hoay Giok tadi, mendekati pintu
belum ada belasan tindak, mereka sudah dirintangi oleh dua
orang yang muncul secara tiba-tiba.
“Tahan!” mereka itu berseru.
It Hiong mengawasi tajam, ia melihat dua orang berdiri
berendeng, baju mereka itu seragam berkembanng, juga
kopiahnya sedang punggungnya menggembol golok.
“Kamilah Wie Hoay Giok bersama sute Tio It Hiong!” si
orang she Wie segera memperkenalkan diri. Suaranya nyaring,
sikapnya gagah. “Kami datang kemari memenuhi
undangannya Keng Su buat membereskan perhitungan kita,
maka itu tolong tuan-tuan berdua mengabarkan perihal
datangnya kami ini!”
Kedua orang itu mengawasi ketiga tamunya itu, lantas
mereka merogoh saku mereka dan mengeluarkan semacam
pluit, lalu mereka meniupnya maka segera terdengar suaranya
yang nyaring. Hingga dilain saat dari dalam lembah muncul
juga serombongan orang bertubuh besar yang seragamnya
serupa dan dipaling belakang tampak seorang wanita yang
dandanannya sangat perlente dan tampangnya sangat centil.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hoay Giok segera mengenali wanita itu ialah Cia Ciu Koan
Im atau Dewi Koan Im yang telengas dan namanya Lou Hong
Hui.
Dengan sikap dingin Lou Hong Hui mengawasi ketiga
tetamunya itu, lantas dia menegur takabur: “Apakah kamu
bertiga murid-muridnya Beng Kee Eng? Kamu mempunyai
nyali datang kemari membuat perhitungan, kamu sungguh
berani! Tapi kepandaian kalian, bagaimanakah itu? Dapatkah
kalian melintasi lembah kami yang dinamakan Lok Hun Kok,
Lembah Roh Berjatuhan? Kalian harus berpikir masak-masak!
Siapa memasuki lembah kami biasanya belum pernah ada
yang bisa keluar pula dengan masih bernyawa!”
Sudah suaranya jumawa, skapnyapun sangat temberang.
Sungguh tak sedap untuk mengawasi tingkah pola semacam
itu.
Tan Hong berlompat maju ke depan, lantas ia meluncurkan
sebelah tangannya. Segera ia menggunakan ilmu lunak Mo
Teng Ka dari Hek Keng To. Sambil menyerang ia membentak:
“Bagaimanapun lihainya Lok Han Kok, nonamu hendak
mencobanya!”
Lou Hong Hui memandang ringan terhadap serangan itu, ia
tidak merasakan hembusan angin yang keras seperti biasanya
suatu serangan yang hebat. Ia menyambut secara
sembarangan saja. Kedua tanganpun beradu tanpa terdengar
suara nyaring, hanya setelah kedua tangan menyampok satu
dengan lain, barulah Hong Hui menjadi kaget sekali.. Dia
tertolak keras hingga dia mundur enam tujuh tindak, namun
dia dapat mempertahankan diri tak sampai roboh terguling.
Baru sekarang dia kaget berbareng gusar, maka matanya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengawasi dengan sorot bengis. Sambil mengawasi dengan
jengekan “Hm!” mendadak dia mau menyerang Nona Tan!
Jago wanita dari Hek Keng To itu mendapat angin, justru ia
mau maju terus, begitu diserang ia lantas menyambut, malah
ia menggunakan kedua belah tangannya dengan jurus silat
“Siang Hee Kauw Tay” atau atas dan bawah saling
menyambut. Tangan yang satu mencari jalan darah hoakay
didada, sedang yang lain meluncur kejalan darah tantian
diperut lawannya itu. Ia berpendirian untuk mempercepat
pertempuran, semua itu cuma buat “adik Hiong”.
Hong Hui menjadi salah satu tongcu dari Losat Bun, dia
bukan sembarang orang. Begitu bentrokan pertama itu lantas
dia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang lawan. Segera
dia berlaku waspada. Dia melihat si nona mengeluarkan dua
buah tangannya dia dapat menerka maksudnya itu. Maka dia
menyambut dengan kedua tangannya juga dengan ilmu Im
Yang Ciang, tangan Im Yang. Itulah semacam khiekang, ilmu
tenaga dalam dari Losat Bun.
Tan Hong bisa melihat gelagat, matanya jeli, tangannya
lincah. Ia tidak menyingkir dari sambutan yang sekalian
merupakan serangan balasan dari lawan itu, ia justru
menyambutnya hingga mereka menjadi mengadu kekuatan
tenaga dalam mereka. Lou Hong Hui cerdik. Tak sudi dia
mengadu tenaga, cepat luar biasa ia merubah gerakan
tangannya dan memotong tangan lawannya itu! Tan Hong pun
bermata jeli dan gesit, ia membarengi menyerang pula
menolak dengan tenaga dalam Mo Teng Ka. Tenaga dalam itu
lunak dan ringan nampaknya, anginnyapun bersiur halus, tapi
sekali menemui perlawanan lantas jadi keras luar biasa.
Hong Hui kenal baik tenaga dalam itu, ia tak sudi
melayaninya. Ia lompat satu tombak, sesudah tenaga itu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hilang ia menyerang kebawah, kembali ia menggunakan
tangan Im Yang Ciang. Tan Hong melihat tubuh lawan turun
kepala dibawah dan kaki diatas, ia ingin mencoba pula tenaga
dalam lawan itu. Maka ia menyambut dengan jurus silat
“Dengan Tangan Mengelilingi Langit”
Kembali bentroklah kedua tangan hingga terdengar suara
nyaring. Kali ini Hong Hui tak sempat menyingkir lagi, bahkan
telapak tangannya bagai tersedot hawa lawan. Untuk
membebaskan diri ia menyerang dengan tangan kanannya.
Kedua wanita itu belum kenal satu dengan lain, mereka juga
tidak bermusuhan. Kalau mereka bentrok, yang satu mau
membela kaumnya sedang yang lain bekerja untuk pemuda
yang dicintainya….
Tan Hong nampaknya terdesak, tapi sebenarnya dialah yan
menolak lawan membikin tenaga lawan berkurang, asal lawan
kalah tenaga maka lawan bakal celaka. Ternyata mereka
seimbang, maka itu kelihatannya mereka seperti tengah
melakukan pertunjukkan, hingga menarik hati untuk ditonton.
Tan Hong berjalan berputar, mukanya diangkat, nampak ia
bersungguh-sungguh.
Mulanya Hong Hui bersikap biasa saja, mungkin ia
memandang ringan kepada lawannya itu, namun sekarang
mukanya menjadi merah dan dahinya dibasahi peluh. It Hiong
bersama Hoay Giok dan orang-orang Losat Bun tercengang
menyaksikan pertempuran tersebut. Syukur Hoay Giok sadar
terlebih dahulu.
“Sute mari kita maju!” ia mengajak It Hiong, suara mana
mengejutkan Tan Hong. Hingga si nonapun menyadari dirinya,
demikian juga dengan Hong Hui, serentak mereka sama-sama
mundur lima tindak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong sudah melompat maju ketika melihat Tan Hong
mundur dengan tubuh limbung ia lantas menahan tubuh nona
itu.
“Kau terluka kakak?” tanyanya.
“Tidak,” sahut si nona, ia memang tidak terluka, ia menjadi
limbung sebab undurnya secara mendadak. Ia merasa sangat
bahagia mendengar si adik Hiong memanggilnya kakak. Justru
saat dia disangga itu sengaja ia menyenderi tubuhnya
dilengan yang kuat si anak muda. Iapun memejamkan mata.
Habis menjawab baru ia buka matanya untuk menambahkan
kata-kata : “Adik, aku sebenarnya membela mengadu jiwa ini
untukmu….” Dan ia menatap si anak muda, parasnya
menunjukkan bagaimana ia sangat memperhatikan anak muda
itu.
Hatinya It Hiong memukul.
“Kau duduklah kakak,” katanya cepat, “kau istirahatlah.”
Ia masih memegangi, membantui orang duduk, kemudian
ia mengeluarkan saputangan untuk menyusuti peluh didahi si
nona.
Dipihak sana, Lou Hong Hui pun mundur dengan limbung,
bahkan ia segera jatuh terduduk karena tidak sanggup
mempertahankan diri, lekas-lekas ia menyalurkan
pernapasannya. Hoay Giok menyaksikan keadaan nona Lou
itu, ia berseru sambil melompat maju kepada nona, hingga ia
membuat kaget pada orang-orang Losat Bun. Serentak
mereka itu melompat maju untuk menghadang. Melihat itu, ia
lantas mundur pula, ia telah berhasil memisahkan dua jago
wanita itu. Ia kembali kepada kawannya seraya terus
menanya It Hiong apa Tan Hong terluka parah. Ia prihatin
terhadap nona itu dan mengawasi mukanya yang elok.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menggeleng kepala.
“Ia tidak terluka, ia cuma terlalu banyak mengeluarkan
tenaga,” sahutnya yang terus memandang Tan Hong untuk
melanjuti :”Kakak baik sekali, entah bagaimana aku
membalasnya nanti……” kata-kata itu ditujukan seperti
terhadap si nona dan juga terhadap Hoay Giok.
Hoay Giok diam melengak, tak mengerti ia akan arti katakatanya
anak muda itu. Ia Cuma pikir: “Sungguh beruntung
adik Hiong, orang sudah mempunyai dua enso(ipar) dan
sekarang akan tambah dengan satu Tan Hong ini. Ia Tanya
dirinya: “Bagaimana meeka diaturnya nanti?”
Tak lama maka Hong Hui bangkit berdiri. Dengan cepat
tenaganya telah pulih kembali. Terus ia melihat cuaca dan
mengawasi rombongannya It Hiong dan berkata jumawa: “Lo
Han Kok bukannya tempat yang dapat kalian masuki
sembarangan! Masihkah kalian tak mau lekas pergi dari sini?”
Mendengar itu, alisnya It Hiong terbangun, Dia justru
melompat maju.
“Lou Tongcu!” katanya nyaring, “Jika benar kau
menghendaki kami pergi, silahkan kau bebaskan dahulu Beng
Bee Kee pamanku itu!”
Nona itu memperlihatkan tampang menghina.
“Bocah kau tidak menerima kebaikan hati orang!”
bilangnya, “Orang she Beng itu berada didalam penjara Losat
Bun yang berada disebelah kanan pendopo pusat kami, jika
kalian berani kalian majulah kependopo kami itu.”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong mendongkol.
“Kau tidak tahu diri!” bentaknya. Barusan selagi kau
beristirahat, kami tidak menyerbumu! Kami tahu aturan Kang
Ouw dan mematuhinya! Kenapa sekarang sikapmu begini, jika
kau tak sudi membiarkan kami masuk, baiklah mari coba
rasakan pedangku!”
Lantas si anak muda menghunus Keng Hong Kiam, hingga
terdengar suaranya yang berisik disertai sinar berkilauan.
Hong Hui terkejut oleh suara dan sinar itu.
“Pasti bocah ini bukan sembarang orang,” pikirnya. “Aku
baru saja beristirahat, mana tepat aku melayani tenaga
baru?...” Maka berputarlah matanya dan bekerja pula otaknya.
Terus dia mengejek, “Apakah kau hendak menempur aku
bergantian? Apakah itu cara orang Kang Ouw sejati?”
It Hiong tahu orang licik dan sengaja mengatakan
demikian, hendak ia menjawabnya namun Tan Hong sudah
mendahuluinya. Nona Tan melompat maju ke depan si anak
muda sambil terus berkata pada lawan. “Kalau Lou Tongcu
takut nanti dilawan dengan bergilir, baiklah nonamu yang
melayani pula padamu!” lantas ia maju lebih jauh sambil
mengangkat sanhopang senjatanya itu.
Hong Hui segera meloloskan senjatanya, yaitu sabuk sulam
emas yang melibat pinggangnya. Selekasnya ia kibaskan itu
sabuk menjadi panjang satu tombak lebih, kaku mirip
sebatang tombak. Sebab ujungnya mempunyai ujung tombak
yang tajam. Diapun terus berkata menantang. “Budak bau!
Kalau kau mempunyai kepandaian buat melayani aku sepuluh
jurus, aku akan ijinkan kau memasuki lembah kami ini.”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong berpengalaman, tahu ia bagaimana harus
melayani senjata lawan itu. Ia menyambut tantangan sambil
terus melompat maju dengan loncatan Walet Menyambar Air,
sedang setibanya di depan lawan, ia segera menyerang
dengan jurus silat Guntur dan Kilat saing berbunyi, senjatanya
ruyung Sanho pang segera menyerang ditiga arah, atas,
tengah dan bawah.
Hong Hui terkejut buat serangan mendadak itu, hingga ia
mundur dengan mencelat, menyusul mana sebelah tangannya
menyambar ujung sabuknya yang terlepas, hingga tangannya
mencekal kedua ujung sabuknya, niatnya guna dipakai
mengekang ruyung lawan.
Tan Hong mendak, selekasnya ruyung menyambar kekaki
lawan…
Itulah serangan hebat, merupakan Loh bwe atau kuda
runtuh, “Tipu daya seperti menjatuhkan diri”
Hong Hui terkejut ia lompat mundur. Segera ia insyaf
lihainya sang lawan. Maka lekas-lekas ia memutar tangannya
mencoba melibat tubuh lawan. Ia bisa bergerak dengan
bebas. Lantas juga Tan Hong yang terancam bahaya, sabuk
lawan membuatnya repot. Asal ruyungnya terlibat, ia bisa
mendapat susah.
Maka kembali ia menggunakan tipu, ia menjatuhkan diri
dalam jurus silat, CaCing Menggulung Pasir, dengan tubuh
bergulingan ia menghampiri lawannya kemudian mendadak ia
berjingkrak bangun sambil membarengi menyerang iga lawan,
itulah jurus silat “Guntur Berbunyi ditanah datar”
Buat membantu si adik Hiong, Tan Hong dengan lantas
mengeluarkan kepandaiannya, cara berkelahinya itu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengagumkan siapa yang manyaksikannya. Dilain pihak Hong
Hui bukan sembarang nona, ia insyaf akan lihainya lawan itu
yang malah ia katakan telengas. Ia tidak melompat mundur,
sebaliknya ia terus memasang kuda-kuda rendah dengan kaki
kiri bertahan dan kaki kanan mendahului menyambar, itulah
tendangan Kaki Menyapu Awan.
Tan Hong menyelamatkan diri dengan lompat jumpalitan
sebanyak tujuh atau delapan kali. Itulah Lompatan Bayangan
Burung Yang Menyerbu Langit. Setelah berjumpalitan itu,
tubuhnya turun ketanah. Namun sabuk lawan memapaki
tubuhnya itu. Ujung tombak bagaikan kepala ular menyambar
bau orang, mirip gerakan ular menyemburkan racun….
Tan Hong terperanjat. Nyata lawan lihai dan telengas juga.
Disaat sangat mengancam tadi, ia sampai membela diri
dengan jalan mengelit bahaya itu. Ia mengira sudah lolos dan
lawannya tidak akan sempat berdaya lebih jauh, siapa tahu
tobak diujung sabuk lawan terus mencari sasarannya, kali ini
punggung orang!
Tan Hong dapat berjumpalitan dengan waktu lebih lama
dari biasanya, itulah disebabkan mahirnya ia dengan ilmu
tenaga dalam dari Hek Keng To. Sesudah lewat ancaman
bahaya itu, ia meneruskan turun dengan cepat tangan kirinya
menyerang, sedang tangan kanannya melindungi diri.
Lou Hong Hui sudah berkecimpung dalam dunia Kang Ouw
selama sepuluh tahun lebih, sampai ia memperoleh julukan
“Cia Ciu Koan Im” belum pernah ia menemukan lawan seperti
nona ini. Ia tidak menyangka bahwa serangannya barusan
bisa gagal, hingga sekarang ialah yang berbalik terancam. Ia
menjadi repot. Dalam tergesa-gesa, ia menolak dengan
tangan kiri, ia berhasil. Tapi setelah itu datang pula tangan
kanan lawannya mengancam dada! Kembali ia menjadi repot,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
secara tergesa-gesa ia menangkis dengan sabuknya,
menyusul mana kakinya menendang.
Kedua pihak sama-sama terancam bahaya bergantian.
Disaat itulah Tan Hong yang terancam bahaya, kaki kirinya
baru saja menginjak tanah ketika serangan lawan datang. Ia
berkelit miring, berbareng dengan itu lagi-lagi iapun
menendang dengan kaki kanannya.
Sebagai orang Kang Ouw ulung, masih bisa Hong Hui
menyelamatkan diri. Ia mundur sejauh lima kaki. Hanya dala
tergesa-gesanya itu, ia membuat senjatanya terlepas dari
tangannya.
Tan Hong tidak menyerang terus, ia hanya mengawasi. Ia
melihat sabuk lawan menggeletak ditanah, ia lantas tertawa
dan berkata: “Terima kasih Lou Tongcu, karena kau sudi
mengalah! Sepuluh jurus sudah lewat….”
“Budak jangan menghina orang!” Hong hui membentak.
“Kapan kau menang?”
Tan Hong tertawa pula.
Dia menunjuk kepada sabuk ditanah itu.
“Bukankah sabukmu itu senjatamu?” Tanyanya. “Kau lihat!
Apakah itu bukan berarti bahwa kau sudah kalah?”
Merah mukanya Hong Hui, ia malu sekali.
“Baik!” serunya mendongkol. “Kau sungguh beruntung!
Sekarang aku ijinkan kamu bertiga melintasi lembah Lok Han
Kok, Ular Melingkar, kita nanti bertempur pula!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Habis berkata, nona Lou memberi isyarat dengan
tangannya, terus ia mengundurkan diri diikuti orang-orangnya.
It Hiong bertiga mengawasi lawan itu masuk kedalam lembah
dan lenyap didalam waktu singkat.
Tatkala itu sudah jam satu kira-kira dan rembulan sedang
bersinar terang, sunyi sekitar mereka.
“Kakak, kau capek,” kata It Hiong menghampiri si nona.
Senang Tan Hong mendengar si anak muda memanggilnya
kakak, tidak nona lagi.
Itulah hasil usahanya menempur Lou Hong Hui tadi. Ia
tertawa dan berkata: “Ah tidak! Demi kau adik Hiong, tak apa
aku mesti mengeluarkan sedikit tenagaku atau mengucurkan
beberapa tetes peluh.”
Jilid 21
Kami sangat berterima kasih kepadamu, Nona Tan" Hoay
Giok terus bicara. "Sungguh besar bantuanmu ini ! Nanti
setelah guru kami dapat dibebaskan dari tangan kaum Losat
Bun, akan aku menghaturkan pula terima kasihku...."
"Kakak Wie, aku minta janganlah kau memandang aku
sebagai orang luar !" berkata si nona. "Bahkan menjadi satu
kehormatan yang Tan Hong dapat membantu dalam usaha
menolong Beng Locianpwe !"
It Hiong melihat langit.
"Selekasnya kakak sudah beristirahat, kita akan segera
memasuki Poan Coa Kok" katanya. "Setujukah kakak ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong melirik pemuda itu.
"Kakakmu tidak terlalu letih." katanya tertawa. "Tak ada
halangannya buatku ! Aku selalu mengiringi kau, adik !"
Tetapi It Hiong lantas duduk diatas rumput.
"Kita beristirahat sebentar" bilangnya.
Malah mereka lantas mengisi perut mereka dengan
rangsum kering yang dibekalnya.
Kira jam dua, rembulan nampak makin terang. It Hiong
berlompat bangun, tangannya pada gagang pedangnya.
"Malam ini juga kita mesti sampai di pendopo pusat Losat
Bun !" kata ia. "Mari !"
Tan Hong tapinya tunduk. Dia berpikir.
"Kakak Whie", tanya ia pada Hoay Giok, "sebelumnya ini
pernahkah kau masuk kemari ? Pernahkah kau tiba di Poan
Coa Kok ?"
Orang yang ditanya menggeleng kepala.
"Malu untuk mengakuinya," sahutnya. "Bahkan sebelum
melintasi Lok Hun Kok telah aku dirobohkan jurus silat Imyang
ciang dari Cie Cia Koan Im..."
"Peduli apa mereka mempunyai banyak lembah atau
perangkap !" berkata It Hiong. "Peduli apa disarang gua
harimau atau sarang naga ! Mari kita maju guna membantu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
paman Beng ! Sebelum maksudku berhasil, aku sumpah tak
akan keluar dengan masih hidup dari gunung Ay Lao San !"
Gagah bicaranya anak muda ini yang demi pamannya
menjadi tidak kenal takut.
Tan Hong tertawa. Ia menepuk bahu orang.
"Sungguh kau gagah, adik !" pujinya. "Nah, mari kita maju
! Asal kita berhati-hati buat segala tipu daya musuh... !"
Hoay Giok pun tertawa.
"Kamu begini gagah, kamu membuat malu !" katanya yang
terus berlompat maju, untuk mendahului berjalan di muka.
Dengan beriringan, ketiga muda mudi ini berjalan
memasuki lembah. Cahaya rembulan membuat mereka
melihat banyaknya batu disepanjang tempat yang dilalui
mereka. Di kiri dan kanan sebaliknya tampak dinding tembok
gunung yang tinggi. Jalanan menuju mendaki.
Satu jam sudah mereka bertiga berjalan cepat, telah
melalui kira sepuluh lie. Kiranya lembah itu panjang. Sunyi
disekitar mereka. Yang berisik melainkan suara angin gunung.
Tanpa merasa mereka telah tiba di pinggang gunung !
Disitu mereka menikung disebuah pengkolan. Lantas mereka
menyaksikan sebuah jurang, kedua tepinya dihubungi satu
dengan yang lain dengan sebuah batu besar dan panjang
yang melintang mirip penglari. Di bawah itu tak tampak batu
atau lain macam barang. Seluruhnya gelap. Dinding juga tak
berpohon apa jua.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menghampiri tepi jurang. Ia melihat jembatan
mirip penglari itu. Tak bersangsi pula, ia lompat ke batu itu
untuk jalan diatasnya. Ia mendahului kedua kawannya.
Tan Hong dan Hoay Giok mengikuti.
Di lain tepi, pada dinding gunung terdapat banyak lubang
gua kecil dan besar hingga mirip sarang tawon. Dari gua yang
besar terlihat molosnya sinar api mirip dengan cahanya
kunang-kunang.
"Mari kita memasuki gua dan melihatnya." It Hiong
mengajak. Ia berani sekali. Ia pula kembali jalan disebelah
depan.
Gua yang dimasuki itu, ditempat dalam belum sepuluh
tombak sudah terhadang sebuat batu besar sekira seperdirian
orang. Pada dinding sisinya dengan huruf-huruf yang bersinar
mirip terangnya kunang-kunang terlihat ukiran dari tiga huruf
besar "Poan Coa Kok" artinya Lembah Ular Melingkar.
Melihat pertanda itu Tan Hong berlari ke depan,
menghampiri It Hiong, ujung baju siapa ia lantas tarik terus
dengan perlahan ia kata : "Lekas menempel di dinding !
Kitapun harus sering mendekam ! Kita mesti bersiaga dari
serangan senjata gelap dari musuh !"
It Hiong bersyukur, ia bagaikan disadarkan si nona. Lantas
ia mepet pada dinding berjalan dengan merapatkan diri terus
menerus. Demikian pun dengan kedua kawannya itu.
Tepat mereka datang dekat pada batu besar dan tinggi
penghadang, mereka lantas mendengar suara melesatnya
panah api tiga kali, panah itu bukan melesat ke depan hanya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ke belakang mereka sejauh satu tombah dan nancap di
dinding, hingga ketiganya mirip obor !
Menyusul itu maka dari balik sebelah batu besar terdengar
suara dingin bagaikan es ini : "Bocah yang baik ! Masihkah
kau hendak menyembunyikan dirimu ? Kalau kau benar pandai
mari sambut golokku ini !"
Dengan golok, orang itu maksudkan "Liu kio-to" yaitu golok
tipis dan ringan. Nama itu berarti "golok daun Yang-liu".
Dan menyusul itu sembilan buah golok tersebut
menyambar kepada It Hiong bertiga, seorang menjadi
sasarannya tiga batang golok yang suara menyambarnya
terdengar nyata dan goloknya sendiri berujung berkilauan
Diantara ketiga orang itu yang kepandaiannya paling lemah
ialah Whie Hoay Giok tetapi dia menang pengalaman, dengan
mudah saja dia dapat menyelamatkan dirinya yaitu dengan
maju ke depan sambil mendekam, hingga ketiga golok lewat
di belakang penggungnya dan nancap pada dinding.
It Hiong lain lagi. Dia mengandal kepada tenaga "Hang
Liong Hok Houw Ciang" dengan satu tolakan jurus silat itu ia
membuat ketiga golok runtuh berjatuhan ke tanah.
Tan Hong sebaliknya keras lawan keras. Dengan sanho
pang ia menangkis meruntuhkan ketiga golok yang
mengancamnya itu, hingga tiga kali terdengar suara
bentrokan nyaring.
It Hiong berlaku cepat. Ia bermata sangat celi. Ia
berlompat ke arah belakang batu sambil membarengi
menyerang dengan pukulan "Now Sie Toat Hian" yang roboh
dengan muntah darah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong lompat menyusul, ia terus mendengar satu suara
menjerit sesudah waktu ia tiba dibalik batu. Ia melihat It
Hiong sedang memegangi tangan seorang berseragam lain,
yang mukanya meringis kesakitan. Orang itu berlutut,
tubuhnya bergemetar, peluhnya membasahi dahinya.
"Ampun" masih terdengar ratapannya.
"Bilang, kau jadi apa di Poan Coa Kok ini ?" Tan Hong
tanyanya.
Tak dapat orang itu menjawab. Maka It Hiong
menamparnya jatuh sambil terus berkata bengis : "Lekas kau
bicara kalau kau masih menyayangi jiwamu !"
Masih orang itu tidak dapat membuka mulutnya. Dia rebah
telentang mata mengawasi si anak muda dan mudi.
"Mana lagi anggota kalian yang lain ?" It Hiong tanya.
"Siapakah yang menjadi tongcu kamu ?"
"Aku cuma dapat menjawab satu kali !" cibirnya, orang itu
membuka juga suaranya dingin. "Tong cu dari Pan Coa Kok
bernama Sioaw Kit gelar Cian Ciu Longkun, si Tangan Seribu
Yang, lainnya sebab aturan kami sangat keras, tak dapat aku
bocorkan !"
"Beranikah kau tidak bicara ?" bentak Tan Hong. "Kau tahu
ruyung nonamu in biasa tak mengasihani orang yang bacotnya
keras !"
Orang itu tertawa sedih.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nyawaku sudah hilang!" sahutnya. "Kalau aku membuka
rahasia disini, maka tubuh tak dapat bertahan dari siksaan
besi panas. Kalau aku tidak bicara, aku tak akan lolos dari
tangan kalian ! Maka itu lebih baik aku menutup mulut dan
terima binasa ditanganmu !"
It Hiong kagum buat sikapnya orang itu.
"Nah, kau pergilah !" kata dia akhirnya. "Aku beri ampun
padamu !"
"Segala manusia jahat buat apa dikasihh tinggal hidup ?"
berkata Tan Hong.
"Kita bukannya penggemar melakukan pembunuhan
terhadap sesamanya !" kata It Hiong tertawa. "Membunuh
lebih satu jiwa bagi kita tidak ada faedahnya. Dimana bisa
harus kita mengampuni orang...Kakak, mari !"
Berkata begitu si anak muda lantas mengikuti orang
tawanannya yang telah dibebaskan itu yang terus berlari
pergi.
Hoay Giok menyusul, begitu pun Tan Hong.
Mereka keluar dari dalam gua itu dan tiba disebuah lembah
sempit dengan dinding batu gunung dikiri dan kanam, luasnya
cuma satu tombak. Menengadah ke langit, orang melihat si
putri malam. Karena suasananya sangat sunyi mereka
mendapat dengar tindakan dari kaki tawanan yang dibebaskan
itu.
Sempit dan berliku-liku, nama lembah itu mirip sekali, Pan
Coa Kek atau lembah ular melingkar. Tikungannya ada yang
besar dan kecil. Sampai kira tiga jam, tetap mereka masih
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berada di lembah itu. Disini lembah gelap sebab cahaya
rembulan tak tembus.
It Hiong sementara itu heran. Bukankah mereka berjalan
cepat ? Kenapa lembah seperti tak ada akhirnya ? Pula kenapa
sampai sebegitu jauh mereka tak menemukan lain rintangan
pula ? Kenapakah ?
Sebenarnya mereka telah kehilangan tawanan mereka pun
berlari-lariputar balik disitu-situ juga.
"Tahan !" berseru Tan Hong yang heran seperti si anak
muda, hingga dia lantas menggunakan otaknya.
It Hiong berhenti berlari dan menoleh.
"Kau melihat musuh kakak ?" tanyanya.
"Mari adik !" kata si nona. "Mari kita bicara !"
It Hiong segera menghampiri nona itu.
"Ada apakah ?" tanyanya.
Tan Hong menyalakan api sumbunya untuk menyuluhi batu
yang ia injak, sembari menunjuk batu itu, ia menjawab : "Lagi
berlari-lari beberapa kali aku telah kena injak ini batu koral
sebesar telor gangga. Batu ini besar dan licin, setiap kena
menginjaknya hampir aku terpeleset jatuh. Karena aku
menginjaknya beberapa kali, apakah itu bukan berarti kita
berlari-lari sia-sia saja ?"
It Hiong berdiam, otaknya bekerja. Ia ingat bahwa iapun
tadi pernah menginjak batu itu. Pula aneh batu serupa berada
hanya disitu. Akhirnya ia bagaikan terasadar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau benar kakak !" kata ia. "Mestinya lembah ini
mempunyai jalan keluar lainnya. Bukankah orang tadi telah
hilang dan tak terdengar juga suara larinya ?"
Ketika itu Hoay Giok pun datang menghampiri. Dia bernafas
memburu.
"Ada apakah ?" tanya dia yang terus menyampok
memadamkan api ditangannya si nona.
Nona Tan memberi keterangan perihal kecurigaan itu.
"Lembah begini gelap, inilah sulit !" kata Hoay Giok
kemudian. "Kalau kita terus menyalakan api itulah berbahaya.
Adalah satu pantangan kalau musuh gelap dan kita terang."
It Hiong mengangkat kepalanya. Tinggi dinding mungkin
seratus tombak. Dari sinar rembulan, dapat diduga mungkin
itu waktu sudah jam empat kira-kira.
"Baik kita duduk beristirahat disini" katanya kemudian. "Kita
menanti sampai terang tanah baru kita lihat bagaimana
baiknya."
Tan Hong tertawa.
"Bukannya tak dapat kita melewati waktu sambil
beristirahat disini !" kata ia. "Cuma apakah orang tak akan
menertawakan kita kalau murid utama dari Tek Cio Siangjin
dari Pay In Nia menunjuki kelemahannya terhadap kaum Losat
Bun ?"
Kata-kata itu membangunkan semangatnya si anak muda
she Tio, sampai ia lupa kepada pantangan "Pria dan wanita
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tak dapat berpegangan tangan". Ia telah memegang erat-erat
tangannya si nona seraya berkata : "Kakak benar ! Terima
kasih untuk kebaikan kau ini !"
Tan Hong bersenyum. Ia merasakan telapak tangan si anak
muda berhawa panas hingga bagaikan terkena tenaga listrik,
tubuhnya menggigil sendirinya. Tidak tahu ia, ia kaget atau
girang. Ia mendekati telinganya si anak muda dan berkata
perlahan : "Asal saja kau tidak menyia-nyiakan kakakmu ini,
adik...."
It Hiong terkejut. Ia insyaf bahwa ia telah berbuat
berlebihan terlalu terpengaruhkan rasa hatinya yang polos.
Sebenarnya ia justru hendak menyingkir dari urusan asmara.
"Kakak Whie" ia lekas menyimpangi pembicaraan, "apakah
pendapat kakak ?"
Berkata begitu, ia lekas-lekas menarik pulang tangannya.
"Mari kita pikir bersama !" sahut Hoay giok yang tengah
menyusuti peluhnya. Memangnya ia belum memikir sesuatu.
Tan Hong tertawa. kata ia, "Orang tawanan kita barusan
bisa menghilang. Itulah pertanda bahwa disini mesti ada satu
jalan keluar, sebuah jalan rahasia. Bagaimana kalau kita
mencari berbareng kita maju sambil kita terus berpegangan
tangan ? Mungkin pada dinding ada jalan rahasia itu ! Dan ini
batu koral kita jadikan tanda, apabila kita menemuinya pula,
itu bukti bahwa kita sudah jalan satu putaran. Bukankah baik
kalau kita jalan dahulu disebelah kanan ?"
"Nona benar. "Hoay Giok menyatakan setuju. "Cuma,
apakah tak baik kita jalan berbareng tetapi misah dikiri dan
kanan ? Bukankah itu berarti menghemat waktu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku hanya menguatirkan apabila kita menemuinya jalan
keluar terjaga musuh atau ada pesawat perangkapnya" kata
Nona Tan. "Aku kuatir kalau kita berpisahan selagi ada
ancaman bahaya kita sukar saling tolong. Baik kita jalan
disebelah kanan saja. Aku percaya jalan keluar itu berada
dikanan kita !"
Nona ini melihat tak mungkin jalan rahasia berada di
sebelah kiri.
Diam-diam mengagumi nona itu yang gagah dan cerdas. Ia
tidak berkata apa-apa lagi hanya harus ia membungkuk akan
mengumpuli batu koral agar menjadi tanda yang mudah
dikenali.
"Nah, mari kita mulai" ia mengajak. "Kita ambil jalan
kanan."
Lantas bertiga mereka mulai bekerja, masih sambil merabaraba,
maju dengan perlahan. Sampai sebegitu jauh apa yang
tangan mereka sentuh adalah batu atau batu karang yang
keras-keras. Belum ada sesuatu yang membuat mereka
curiga. Maka mereka maju terus dengan sabar.
Mungkin sudah melampaui selama satu jam atau mendadak
It Hiong berseru : "Ah ! Aku telah menemukannya !"
Tan Hong sudah lantas menyalakan sumbunya dan Hoay
Giok dengan tangan bajunya mengalinginya ! Sama-sama
mereka memasang mata ke arah tangannya si anak muda
yang bersuara itu.
Pada dinding itu terdapat beberapa buah batu besar, yang
diatur mirip gigi anjing yang merupakan sebuah lubang yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
besarnya cukup buat tubuh seorang. Terang itulah batu
buatan manusia.
It Hiong menyambuti api dari tangannya Tan Hong.
"Nanti aku yang merayap masuk !" katanya. "Kalian
menantikan pertanda dari aku, baru kalian menyusul !"
Tan Hong dan Hoay Giok bersiap menantikan.
Dilain saat, begitu mereka sudah melintasi jalan rahasia itu
hingga mereka menghadapi pula sebuah lembah lainnya.
Mulai lembah-lembah belasan tombak dan penuh dengan
rumput tinggi-tinggi. Teranglah itu sebuah lembah yang sudah
bertahun-tahun jarang di sana manusia.
It Hiong menyingkap rumput tebal itu, sampai ia
menemukan sebuah jalan yang tak berumput dimana terdapat
banyak tapak kaki orang. Sembari tertawa dan menunjuk
jalanan itu, ia kata kepada kedua kawannya "Lihat !
Bagaimana cerdiknya kawanan Losat Bun ! Bukankah kita tak
usah takut ? Mari kita ikuti jalan ini !"
Pemuda ini maju dengan diikuti kedua kawannya. Lewat
sejauh empat puluh tombak, tiba-tiba mereka mendengar
bentakan : "Anak-anak bernyali besar yang sembrono ! Kalian
pendamlah tulang-tulang kalian di lembah Holouw Kok ini ! Ha
ha ha !"
Nyata itulah Lembah Buli-buli atau Holouw Kok, seperti
bentakan itu.
Menyusul itu sebatang panah api menyambar ke dasar
lembah mengenai rumput terus menyala dan apinya lantas
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
merembet perlahan, mendekati ke belakang It Hiong bertiga.
Api itu pun menutup mulut lemah.
Dengan menyalanya api, lembah bisa tertampak jelas mirip
siang hari. Dasar lembah itu makin lama makin lebar dan
dalam seratus tombak lebih, macamnya mirip dengan buli-buli
(ho louw), penuh rumput, tiada pohonnya. Disekitarnya tidak
ada jalanan, jadi itulah lembah mati....
Makin lama api merembet makin mendekati. Banyak tikus
dan ular lari serabutan sebab panasnya hawa api.
Tan Hong berpengalaman, tetapi toh ia jeri, sendirinya ia
menyender pada It Hiong.
"Bagaimana sekarang, adik ?" tanyanya.
"Celaka !" berseru Hoay Giok sebelum It Hiong menjawab si
nna. "Hai begini mengancam, jalan tidak ada---Bukankah ini
berarti kita terancam kematian ?"
It Hiong mengangkat kepalanya, dia bersiul nyaring, hingga
dia mirip harimau menderung. Kumandangnya itu bagaikan
menggetarkan seluruh lembah, mengalunnya lama.
"Seorang laki-laki sejati, mati atau hidup itulah takdir !"
berkata dia, gagah dan sungguh-sungguh. "Dihadapan lawan,
tak dapat kita menunjuk kelemahan ! Biarnya api hebat, belum
tentu dia mengancam jiwa kita. Selama kita masih bernapas,
kita mempunyai harapan ! Mari tenangkan diri, untuk kita
dapat berpikir !"
Habis berkata, pemuda ini menjatuhkan diri, untuk duduk
numprah, matanya mengawai api.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ia seperti tak menghadapi bencana apa jua, saking
tenangnya.
Tan Hong dan Hoay Giok mendapat emposan semangat,
lantas mereka turut duduk berdiam seperti kawannya yang
gagah berani itu, terus mereka mengasah otak mereka.
Selama itu, mereka tidak mendengar suara bentakan orang
tadi. Cuma suara api yang membakar rumput, terdengarnya
meretak dan terus mendatangi makim lama makin dekat
sampai lagi hampir lima tombak jauhnya hingga bisa
dimengerti apabila hawa panasnya mulai terasa ketiga muda
mudi itu.
Tan Hong dapat berduduk dengan tenang. Dia tak takut
mati bahkan dia senang berada bersama It Hiong kepada
siapa didalam hatinya dia telah menyerahkan seluruh tubuh
nyawanya. Dia memejamkan mata. Dia percaya habis pada si
anak muda. Disamping berdiam diapun berpikir keras mencari
daya.
Hoay Giok terganggu hawa api, hatinya menjadi tidak
tenteram. Ia membuka matanya melirik It Hiong dan Tan
Hong. Ia mendapati orang berduduk tak bergeming maka
iapun mencoba menentramkan hatinya itu.
Api merembet terus, sekarang tinggal lagi kira tiga tombak
dan hawanya sudah terasa panas bukan main. Tepat itu waktu
It Hiong berjingkrak bangun.
"Kalian turut aku !" serunya. Dan terus ia membuka
langkahnya.
Tan Hong berlompat bangun, juga Hoay Giok. Tanpa
menanya mereka lantas mengikut berjalan pergi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong berlari-lari ke tempat kemana api jauh belum
sampai sejauh sepuluh tombak. Disitulah dia berhenti.
"Disini kita melepas api !" berkata dia.
"Inilah buat mempercepat habisnya rumput ini !" Dan terus
ia bekerja. Rumput di dekatnya dibakar setelah itu dia
membuat beberapa gulungan rumput buat menyulut itu buat
dipakai membakar dilain-lain bagian. Habis itu ia menyingkir
ke tempat dimana tidak ada api.
Tan Hong menurut buat ia bekerja seperti si anak muda
walaupun ia belum mengerti jelas akan maksud orang.
Tinggallah Hoay Giok yang berdiri menjublak saking heran....
Ia melihat It Hiong dan Tan Hong melakukan pentebaran
melintangi lembah itu membuat api menuju ke arah dasar
atau tengah-tengahnya lembah.
Segera juga ketiga orang itu berdiri diam ditempat yang
bagian depan dan belakangnya penuh dengan api berkobarkobar,
jauhnya api sekira sepuluh tombak.
Hoay Giok jeri menyaksikan api mengancam akan
menembus mereka. "Sute", akhirnya dia tanya adik
seperguruannya itu, " kita melepas api ini buat menolong atau
membunuh diri ? Kakakmu ini masih belum mengerti
maksudmu."
It Hiong tertawa lebar. "Jangan kuatir suheng !" sahutnya
sambil bersenyum. Inilah daya untuk menyelamatkan diri
sendiri ! Jika kita bertiga tidak dapat memikir jalan keluar dari
lembah ini, maka kita bertiga bakal mati tertambun disini !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Justru pemuda ini menjawab kakak seperguruannya, justru
pikirannya Tan Hong terbuka, hingga ia dapat menangkap
mukanya It Hiong. Dengan lantas ia pun tertawa. Bahkan ia
segera berkata : "Oh, adik Hiong yang baik ! Sungguh kau
cerdas ! Di saat menghadapi bahaya kematian seperti ini kau
dapat menggunakan otakmu begini sempurna !"
Hoay Giok mendelong. Dia tetap bingung. "Bukankah kita
lagi menghadapi lantas apa ?" katanya. "Bukankah masih ada
soal kita akan dapat lolos atau tidak ? Kenapa kau berkata
begini, nona ? Aku minta sukalah kau memberikan penjelasan
!"
Tan Hong bersenyum mengawasi It Hiong. "Adik Hiong,
tolong kau jelaskan kepada kakak Whie tentang ilmu
hitunganmu itu !" kata dia.
It Hiong mengangguk. "Inilah soal mudah suheng, "kata dia
pada Hoay Giok. "Cuma baru-baru saja ancaman api membuat
kita bingung hingga pikiran kita menjadi tertutup rapat. Kita
terancam api, habis dimana kita harus menaruh kaki kita di
tempat yang aman ? Tak ada jalan lain daripada kitapun
membakar rumput ini, guna mempercepat musnahnya rumput
disekitar kita. Dimana tidak ada rumput disitu tidak ada api
atau api akan padam sendirinya. Lihat di sana itu, tempat
mulainya api ! Bukankah setibanya ditempat tidak ada rumput,
api lantas berhenti dan mati sebab dia tak dapat merambar
lebih jauh ? Kesana kita pergi ! Mari !"
Dan si anak muda bertindak jalan sambil tertawa.
Hoay Giok mendelong setibanya ia ditempat tidak ada api
sebab rumputnya sudah padam dan hawa panas api pun
lenyap. Baru sekarang ia mengerti. Sebaliknya, api yang
dilepas si anak muda masih merambat terus ke tengah atau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dasarnya lembah itu, menghabiskan tempat yang
dilandanya....
Sementara itu dengan selewatnya sang waktu, fajar mulai
tiba. Perlahan-lahan tampak udara terang. Kalau tadi It Hiong
bertiga mengandalkan sinar api untuk melihat tegas ke
sekitarnya, sekarang mereka ditolong matahari. Lantas
mereka bertindak ke mulut lembah. Di sana dinding tinggi
seratus tombak ! Mana mereka dapat memanjatnya ? Maka
mereka jalan kembali.
Sekarang ini mereka pikirkan soal jalan keluar. Mereka baru
berhenti bertindak selekasnya It Hiong melihat tumpukan batu
yang tadi malam ia buat ! Tanpa merasa ia tertawa sendirinya.
Tan Hong sebaliknya melihat ke sekitarnya, ia memasang
mata tajam. Jauh lima tombak dari tumpukan batu itu tampak
sebuah batu besar mirip daun pintu nempel pada dinding.
Pintu itu tak terlihat tadi malam selagi mereka terbenam
dalam kegelapan. dengan berlompatan, ia menghampiri batu
mirip pintu itu, bahkan dengan kedua tangannya, ia lantas
menolak dengan keras.
"Plak !"
Demikian terdengar suara pada pintu itu hingga percikan
batu dan hancurannya berterbangan, tetapi pintunya sendiri
tidak bergeming.
Hoay Giok nampak heran. "Mungkin inilah jalan keluar !"
berkata dia. "Sute, apakah yang kau lihat ?"
It Hiong mengawasi tajam. Tidak ada sesuatu yang
mendatangkan rasa curiganya. Maka ia mengawasi terus. Dari
pintu dan semua pinggirannya ia memasang mata terus ke
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sekitarnya. Dua kaki dari pintu itu ada sebuah batu yang mirip
tanduk kambing tergantung pada tembok dinding itu tingginya
kira sebatas pundak. Ia lantas menghampiri batu itu, terus ia
memegangnya dan memutarnya menarik ke kiri dan kanan.
Mendadak saja terdengar suara nyaring, tahu-tahu daun
pintu batu itu telah terbuka sendirinya hingga diambang pintu
itu nampak sebuah jalan.
Hoay Giok bersorak tertawa sambil bertepuk tangan.
"Dasar orang baik dilindungi Thian !" serunya. "Siapa
sangka mudah saja kita menemui jalan keluar."
Tan Hong pun bergirang, ia bersenyum melirik si anak
muda.
It Hiong lantas bertindak ke pintu buat memasukinya.
Hoay Giok dan Tan Hong mengikuti.
Pintu rahasia itu memimpin mereka ke sebuah tempat
terbuka yang berupa seperti punggung gunung. Dari situ
mereka dapat memandang ke sekitarnya, semua puncak atau
rentetan pegunungan yang penuh dengan pepohonan. Di
waktu pagi, sang angin mendatangkan rasa nyaman. Di kaki
puncak yang tertinggi di tempat yang rata terlihat segunduk
bangunan yang gentingnya memberi cahaya kilau keemasan.
"Mungkin itu sarangnya Losat Bun !" berkata Tan Hong
sambil menunjuk. "Baik kita beristirahat dahulu disini, baru
kita hampiri mereka. Setujukah kau ?"
Dua-dua It Hiong dan hoay Giok setuju. Memang setelah si
nona bicara, mereka seperti mendadak saja merasa letih.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mereka tidak tidur semalam suntuk, mereka habis berjalan
jauh dan berpikir keras. Jalan jauh sebab mereka berputaran
disitu-situ juga !
Lantas ketiganya duduk untuk mengisi perut dengan
rangsum kering, habis mana mereka berdiam bersemedhi.
Di dalam waktu satu jam It Hiong telah mengembalikan
seluruh tenaganya luar dan dalam hingga ia menjadi segar
sekali, sehat lahir dan bathin. Ketika ia berbangkit bangun,
Tan Hong dan Hoay Giok masih terus duduk mematung. Ia
tidak mau menganggu mereka itu, ia hanya berdiri sambil
mengawasi ke sekitarnya. Secara demikian, ia pun secara
diam-diam tengah melindungi kedua kawan itu.
Mereka berada di tempat terbuka, tidaklah heran kalau
lewat lagi sekian lama mereka kena dipergoki orang Losat Bun
yang lagi tugas meronda, maka atas seruan dia lantas muncul
serombongan kawannya yang berseragam diantara siapa
orang yang menjadi pemimpin adalah orang usia setengah
tua, jubahnya panjang, pinggangnya dilibat sabuk. Dia
bermuka putih dan bersih hingga dia tampak seperti seorang
pelajar. Cuma sepasang matanya tajam dan bersinar mirip
mata tikus serta kopiahnya yang membuatnya mirip seperti
sastrawan. Kopiahnya kopiah kembang juga kopiah seragam.
Dialah Cian Pek Longkun Sutouw Kit si Sastrawan Seribu
Lengan. Di belakang dia terlihat Cia Cu Koan Im Lou Hong Hui
karena merekalah sepasang suami istri yang menjadi anggotaanggotanya
dari Losat Bun Hong Hui adalah yang
menganjurkan suaminya menempur ketiga musuh itu yang dia
benci sebab dia dikalahkan mereka itu.
Beda daripada istrinya itu Sutouw Kit bertabiat tinggi, suka
mengungguli diri. Dia pula sangat cerdik dan licik. Kalau dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mencelakai orang, dia ingin berbareng memperoleh sama
karenanya.
Demikianlah sebabnya kecuali melepas api di Poan Coa
Kok, dia seperti membiarkan orang dari malam sampai pagi itu
sampai orang terpergok perondanya. Dia tidak menyangka
orang tak mati terbakar sedangkan tadinya dia sudah
kegirangan siang siang dan percaya orang akan mati semua
hangus menjadi abu.
Sutouw Kit mengawasi ketiga orang itu. Nampak tegas dia
heran.
"Hai, manusia bau !" dia membentak selekasnya dia datang
dekat, "kamu sudah tidak mampus terbakar, bukannya kamu
kabur untuk menolong jiwa kamu, kenapa kamu masih
berdiam disini ? Mau apakah kamu, mempunyai berapa
banyak batok kepala ?"
It Hiong tidak menjadi gusar walaupun orang bersikap
galak itu. Ia malah memberi hormat seraya berkata sabar,
"Tuan, partaimu dan aku yang rendah tidak bermusuh, kenapa
sekalipun sekarang kita baru bertemu, tuan telah menjadi
begini bergusar ? Aku harap tuan dapat ketahui bahwa kami
datang kemari adalah karena mentaati janjinya Kui Cie Hoan
Keng Su, guna kami ialah dia dan aku membereskan urusan
kami. Aku percaya tuan adalah yang menjadi cianpwe kaum
Kang Ouw,maka itu kenapa dengan tiba-tiba saja tuan
mencampuri urusanku dengan Keng Su ?"
Hoay Giok dan Tan Hong terasadarkan karena suara keras
dari Sutouw Kit, mereka membuka mata dan melihat tibanya
musuh, dengan lantas mereka menghampiri It Hiong bersiap
sedia untuk turun tangan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Wajahnya Sutouw Kit berubah selekasnya dia mendengar
suara halus dari si anak muda. Ia pun telah diangkat menjadi
cianpwe, orang dari angkatan tua. Itulah suatu kehormatan
untuknya.
"Kau bicara manis, anak" katanya tertawa. "Ya, katakatamu
beralasan juga. Cuma tahukah kau aturan kami disini
? Siapa lancang masuk ke tempat kami hukumannya ialah
hukuman tanpa ampun lagi ! Kamu sudah memasuki Lok Han
Kok dan sekarang Poan Bon Kok, dua lembah, jika aku Sutouw
Kit tidak menjalankan aturan kami itu, mana dapat aku
memberikan pertanggungan jawabku ?"
Diam-diam It Hiong bergirang. Telah ia dengan akalnya
mengangkat orang memakai topi tinggi-tinggi. Maka lagi ia
memberi hormat dan berkata hormat seperti tadi : "Kita kaum
rimba persilaran, yang kita utamakan ialah kepercayaan dan
hormat menghormati, dapat kita membedakan budi dari
perasaan, terutama harus kita bedakan permusuhan lama dan
permusuhan baru, supaya dua-duanya itu dapat diputuskan
pada waktu gilirannya. Karena itu aku yang rendah, aku minta
supaya aku dapat membereskan dahulu perhitunganku
dengan Keng Su, supaya aku dapat menolong Paman Beng
kami. Habis itu, cianpwe, apa juga yang kau kehendaki,
bersedia kau mengiringinya !"
Lou Hong Hui panas hati. Dia menyela, "Sakit hati di Lok
Hun Kok kemarin tak dapat aku lepaskan ! Maka itu, budak,
apakah katamu ?" Dia lantas menuding Tan Hong, matanya
mendelik bengis.
Tan Hong berpengalaman. Ia dapat menerka kenapa It
Hiong bersikap demikian merendah. Karena itu, tak suka ia
menyambut kegalakan Hong Hui dengan kekerasan.
Sebaliknya, ia lantas tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Harap kau tidak keliru mengerti, Lou Tongcu" ia berkata
hormat. "Apa yang terjadi di Lok Hun Kok itu adalah tongcu
yang memberi pengajaran padaku, bukannya tongcu keliru
menangkis, tetapi kalau tongcu masih merasa kurang puas,
baiklah, aku bersedia menghaturkan maafku ! Nah, kakak,
terimalah hormatnya adikmu !"
Tepat seperti gerak geriknya It Hiong, Tan Hong memberi
hormat kepada wanita jago Losat Bun itu.
Hung Hui berdiam. Dia memang suka diangkat
sebagaimana suaminya.
It Hiong puas melihat suasana itu. Ia maju satu tindak
terus ia memberi hormat pula pada suami istri itu seraya ia
berkata : "Sekarang ini aku yang rendah mohon diberi ketika,
akan menghadap kepada ketua kalian untuk memohon
petunjuknya, dengan cara bagaimana urusan dengan Keng Su
dapat diputuskan. Bagaimana kalau aku minta perantara
kedua tongcu ? Adat itu terlebih dahulu aku mengucap banyak
banyak terima kasih !"
Di mulut It Hiong berkata hormat tetapi dalam perbuatan
dia bertindak menurut rencananya sendiri ialah tanpa menanti
jawaban kedua tongcu itu, terus ia bertindak maju, perbuatan
mana diturut oleh Tan Hong dan Hoay Giok.
Tanpa merasa Sutouw Kit tertawa, terus ia memberi isyarat
kepada rombongannya itu membuka jalan bagi ketiga tetamu
yang tak diundang itu. Hingga It Hiong bertiga bisa maju
tanpa rintangan bahkan mereka lantas mempercepat jalan
mereka.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Habis melewati sekelompok rimba, It Hiong tiba di depan
pintu gerbang dari sebuah bangunan yang tinggi dan besar
yang tadi mereka lihat dari jauh. Di muka tangga tampak
penjagaan delapan anggota berseragam dari Losat Bun,
pemimpin siapa tadi It Hiong menyebutnya "ketua".
Sebenarnya ketua Losat Bun itu adalah kauwcu semacam raja
agama. Para penjaga itu mengenakan kopiah dan pakaian
seragam dan pinggangnya masing-masing tergantungkan
sebuah golok partainya yang seragam juga.
Di atas pintu gerbang tedapat tiga huruf besar : "Lo Sat
Bun". Tembok berwarna merah, jubahnya putih. Halaman luar
itu luas. Di kiri dan kanannya terpancang bendera partai yang
berkibaran diantara setinggi empat tombak.
Dilihat sekilar, tempat itu mirip markasnya seorang jendral !
It Hiong bertiga lantas bertindak ditangga batu itu. Dia
lantas disusul Sutouw Kit yang terus menitahkan ketiga
tetamunya berhenti untuk menanti disitu, katanya dia hendak
melaporkan dahulu dan harus menanti kesudahannya laporan
itu. Habis berkata dia segera bertindak masuk dengan cepat.
Hoay Giok heran terhadap apa yang dia lihat itu, kata dia :
"Pernah aku menyaksikan ini dalam kaum Kang Ouw tapi juga
cara Ay Lao San ini adalah suatu yang baru untukku !"
"Partai sesat dan orang-orangnya semuanya memang beda
daripada partai dan orang yang kebanyakan" berkata Tan
Hong. "Mereka semua bersikap aneh, karena itu perlu guna
mengelabui mata orang banyak ! Karena itu kakak Whie,
janganlah kau heran. Yang terang ialah kita harus waspada
sebab aku percaya sebentar kita akan mengalami suatu
pertumpahan darah !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tetapi kita harus sabar !" It Hiong turut bicara. "Kita
datang kemari buat membantu paman Beng, jadi tak usah kita
bertempur selekasnya kita melihat orang. Jangan kita
menanam bibit permusuhan dengan kaum sesat !"
Tan Hong dan Hoay Giok mengangguk.
Ketika itu muncullah seorang kacung yang berseragam
juga. Dia menggapai pada It Hiong dan kata : "Tetamu she
Tio, silahkan masuk !"
Itu pun cara mempersilahkan tamu-tamu yang beda sekali
dengan caranya kaum Kang Ouw di Tionggoan. It Hiong tidak
mengatakan apa-apa dengan tangan kanan dipegangnya Keng
Hong Kiam, dia bertindak maju dengan sikapnya yang gagah.
Tan Hong dan Hoay Giok mengintil di belakang kawan itu.
Selewatnya pintu gerbang tiba sudah mereka disebuah
halaman berlantai bata, di kiri dan kanannya adalah beranda
didalam mana terdapat ukiran dari dewa-dewa atau malaikatmalaikat
yang aneh macamnya. Ada wanita, ada pria, ada
juga pelbagai macam binatang. Bahkan ada ukiran orang
tanpa pakaian !
Di muka Toa tian yaitu pendopo besar terdapat patung
kayu yang tinggi dan besar, tubuhnya tubuh manusia,
kepalanya binatang, rambutnya merah dan riap-riapan
mukanya biru, matanya tajam seperti mata singa, sedangkan
mulutnya merah seperti darah. Di kedua gigi mulutnya tumbuh
gigi yang merupakan caling yang tajam. Sebagai penutup
tubuh adalah jubah suci kaum agama Tao dan kakinya
telanjang. Pada tangan dan kaki terdapat gelang emas.
Mengawasi patung aneh itu, orang heran dan siapa yang
nyalinya kecil hatinya bisa menjadi ciut.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di bawah patung aneh itu terdapat dua buah meja terbuat
dari kayu semacam pohon aren. Di atas meja tidak ada tempat
abu atau cipok, cuma ada sebuah para dari kayu yang panah
tertancap lengkie yaitu bendera-bendera kecil pertanda
pelbagai perintah. Disamping para-para bendera itu terdapat
sebuah tempat air dingin dimana tampak sebilah pisau belati
yang tajam mengkilat.
Ditengah-tengah pendopo ada sebuah kursi emas, diatas
kursi itu duduk bercokol seorang wanita tua yang rambutnya
sudah putih, semua mukanya keriputan, tangannya
memegang sebuah seruling hitam mengkilat. Di belakang kursi
kebesaran itu berdiri enam orang nona, pakaiannya
berkembang seragam, kepalanya ditutup kain penutup
berkembang juga hingga ke dahinya. Rambut mereka juga
riap-riapan. Selagi senjata dipinggang mereka terdapat
goloknya masing-masing.
Di kiri dan kanan terdapat lima buah kursi, dua di kanan,
tiga di kiri. Dua kursi di kanan yang serupa perlengkapannya,
kosong, tidak ada yang duduk. Adalah yang dikiri diduduki
oleh Sutouw Kit, Lou Hong Hui dan Keng Su.
Kacung tadi memimpin ketiga tetamunya sampai dipendopo
besar itu, sembari membungkuk. Ia kata pada si nyonya tua :
"Melaporkan kepada Kauwcu, para tetamu sudah tiba !" Habis
itu dia mundur dengan hormat.
It Hiong baru saja hendak memberi hormat atau dia
didahului wanita tua dan keriputan itu yang berkata keras :
"Bocah she Tio tak usah kau bawa lagak hormatmu ! Tentang
maksud kedatanganmu, aku si wanita tua sudah mendapat
tahu dari muridku, jadi tak usah kau bicara banyak lagi !
Hanya sekarang kau harus turut agama kami, kau harus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menusuk diri mengeluarkan darahmu buat menghormati
Couwsu kami, setelah itu baru kita bertindak buat
membereskan perhitungan !"
It Hiong tidak menjawab atau mengutarakan sesuatu. Ia
hanya berkata dengan sungguh-sungguh. "Sekarang ini
dimana adanya Tin Pet Hong Kee Eng yang menjadi pamanku
? Aku minta diberitahukan."
"Tutup mulut !" bentak si nenek gusar.
Tan Hong segera maju dan tindak untuk menghadang di
depannya It Hiong. Ia tidak menanti anak muda ini sempat
bertindak.
"Kwie Tiok Giam Po Ciok Kauwcu !"kata ia. "Kenalkah kau
akan Tan Hong dari Hek Keng To ?"
Nona itu tahu aturan Losat Bun yang aneh-aneh, maka
juga langsung ia memanggil orang dengan sebutan "kauwcu".
Matanya Kwik Tiok Giam Po lantas mengawasi si nona.
Mata itu bersinar sangat dingin. Ia tidak lantas menjawab
hanya balik bertanya : "Terhadap Beng Leng Cinjin,
bagaimanakah kau membahasanya ?"
"Dialah Toasuheng ku !" sahut Tan Hong singkat. Toa
suheng ialah kakak seperguruan kesatu.
"Kau telah datang ke tempat kami ini dengan siapakah kau
bersangkut paut ?" tanya pula si nenek.
"Yang utama ialah akan menanyakan kesehatan dari Ciok
Kauwcu !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nenek itu membuka matanya, kembali mata bersinar tajam.
"Hai budak setan !" mendadak dia membentak. "Bagaimana
kau berani mendusta terhadap aku si orang tua ? Jika aku
tidak memandang muka kakak seperguruanmu itu, pasti
sudah akan mengalir lidahmu yang tajam. Lekas bicara terus
terang !"
Maka si nenek yang julukannya itu Kwie Tiok Giam Po
berarti si Nyonya Giam Bang si Bajingan nampak menjadi
sangat bengis seperti suaranya pun keren sekali. Tetapi Tan
Hong tidak jeri. Mulanya si nona terperanjat parasnya sampai
berubah, hanya sedetik dia mendapat pulang ketenangannya.
Bahkan dia tertawa.
"Jangan salah paham, Ciok Kauwcu !" katanya seenaknya
saja. "Dengan sebenarnya selainnya menunjukkan kesehatan
kauwcu, masih ada dua buah soalku, dua rupa permintaan !"
Matanya Kwie Tiok Giam Po dikasihh turun. Ia tidak
sebengis semula.
"Apa yang kau pikir hendak minta itu ?" tanyanya.
Tan Hong memberikan jawaban cepat dan langsung.
"Permintaan kesatu" demikian sahutnya. "Inilah supaya
Beng Kee Eng dibebaskan !" Ia hening sejenak akan melihat
sikap orang. Lantas ia meneruskan, "yang kedua ialah soal
upacara memuja Couwsu kalian yang diharuskan kepada adik
Hiong ku ini, dalam hal mana adik Hiong mengeluarkan
darahnya ! Aku minta supaya dia dibebaskan !"
Mendengar itu si nenek tertawa. Itulah tawanya yang
sangat jarang orang dengar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hai budak setan, kau sangat cerdik !" katanya. "Kau
membuat aku si orang tua sangat menyukaimu ! Sekarang
soal kedua permintaanmu itu ! Dan soal itu bergantung
kepada kepandaian kalian !"
It Hiong tak sudi mendengari lebih lama pula
pembicaraannya dua orang itu. Dengan suara nyaring ia kata :
"Aku memohon keadilan Kauwcu ! Inilah dalam perkaranya
pamanku Beng Kee Eng yang telah ditawan dan dikurung di
Kiu ci Hui Hoan Keng Sa !"
Nenek itu tidak menjawab hanya ia mengibasi tangannya
ke belakang atas mana salah seorang pengiringnya si nona
berseragam baju berkembang maju kemeja suci untuk
menjemput sebatang lengkie yang terus ia bawa ke depan
kursinya. Mulanya ia menjura dalam setelah berdiri pula
dengan tegak, ia memutar tubuhnya seraya terus berkata
nyaring : "To cu Keng Su, terimalah lengkie ini ! Lantas kau
boleh membereskan perselisihanmu dengan tamu she Tio ini
!"
Keng Su sudah lantas berbangkit untuk berkata terang dan
tegas : "Hambamu ini bukanlah lawannya bocah ini, karena itu
hambamu ini mohon belas kasihan Kauwcu atas cacatnya
tubuhku supaya tugas itu diserahkan kepada lain orang saja !"
"Keng Su !" berkata si raja agama heran. "Musuhmu ini
kaulah yang mengundang dan menjanjikan maka sudah
selayaknya kalulah yang menyambut dia buat membereskan
perhitungan kalian. Couwsu sudah mengeluarkan perintahnya,
apakah kau benar demikian berayal buat berani menolaknya ?
Jika kau tidak dapat merobohkan lawanmu, aku si wanita tua
dapat membalaskan sakit hatimu ! Nah, pergilah kau mati
dengan hatimu tenang !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendengar penolakan ketuanya itu muka Keng Su menjadi
pucat, sembari tunduk, ia menyambuti lengkie dari tangannya
hamba wanita itu, kemudian dengan mengangkat kaki
palsunya dengan memperdengarkan suara nyaring, dia maju
melompat berjingkrakan ke halaman di muka tangga.
It Hiong melihat gerak geriknya Keng Su, lantas ia nyaring
berkata kepada ketua dari Losat Bun, "Dalam hal urusanku ini
aku yang rendah telah membuat rencanaku ! Jika aku Tio It
Hiong kalah akan kupatahkan pedangku ! Jika apa untung aku
yang menang, aku minta supaya Paman Beng segera
dibebaskan. Bagaimana kauwcu ? Aku minta kau memberikan
persetujuanmu!"
Kwie Tiok Giam Po menjawab dengan cepat : "Baik, aku
terima kehendakmu ini ! Sudah jangan banyak bicara lagi !"
Mendengar suara itu It Hiong segera memutar tubuhnya,
hendak ia pergi menghadapi Keng Su atau ia melihat satu
bayangan berkelebat disusul dengan suara beradunya senjata
tajam yang nyaring sekali !
Apakah yang telah terjadi ?
Itulah karena Whie Hoay Giok telah mendahului turun
tangan.
Ketika Keng Su pergi ke halaman muka itu, dia sudah
lantas mengeluarkan senjatanya. Itulah Tiat pit atau pit besi
dan Hoay Giok segera mengenali senjata istimewa dari
gurunya, hingga habislah sabarnya sedetik itu, terus saja dia
melompat maju dan menyerang kepalanya Kiu Cio Hot Hoan !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lengan kanan dan kaki kiri dari Keng Su telah ditebas
kutung oleh It Hiong ketika terjadi pertempuran di kaslor
sewaktu di Haphui, dia telah mengganti itu dengan besi
hingga dia mempunyai lengan dan kaki besi. Dengan
pergantian itu maka kelincahannya berkurang, tetapi ilmu
silatnya tetap lihai. Bahkan dibanding dengan Hoay Giok, dia
terlebih lihai satu tingkat, tetapi dalam gusarnya si anak muda
lupa segala apa.
Girangnya Keng Su melihat orang berlompat kepadanya.
Dia memang benci anak muda itu, hingga dia berkeinginan
membinasakannya buat melampiaskan penasarannya.
Demikian ketika dia diserang dengan golok dia mengangkat
tiat pit kanan dengan apa dia menangkis dengan keras,
berbareng dengan itu, tiat pit kirinya dibarengi diluncurkan ke
dada orang ! Kalau dengan tangan kanan dia menggunakan
jurus silat "Membakar langit Memberaikan mata" dengan
tangan kirinya dia memakai jurus "Langsung Menyerbu Istana
Naga Kuning". Dia bersikap telengas, ini karena dia percaya
sangat akan ketangguhannya.
Hoay Giok sedang sangat bergusar ketika ia menyerang
secara mendadak itu, toh ia terkejut waktu ia mendapatkan
sambutan demikian keras hingga tangannya menggetar dan
terasakan nyeri. Tapi yang membuatnya lebih kaget ialah
waktu ia merasai sambaran angin dan melihat senjata lawan
yang kiri mengarah dadanya, dengan gugup ia terpaksa
menggunakan goloknya melakukan penangkisan. Hingga
dengan susah payah bisa juga ia menyelamatkan dirinya. Ia
lantas mundur lima tindak !
Keng Su tidak mau mengerti, sudah penasaran ia pun
diserang terlebih dahulu. Maka ia lantas berlompat maju
membalas menyerang !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hoay Giok juga penasaran, ia menyambut serangan itu,
dengan demikian, keduanya jadi bertarung seru. Ia tahu ia
kalah lihai tetapi ia nekad. Ia keluarkan dua-dua
kepandaiannya, ilmu golok Lohan To dibantu dengan ilmu
tangan kosong Lohan Ciang. Maka itu dapat ia bertahan.
Karena pertempuran terjadi secara demikian mendadak,
ketua dari Losat Bun sampai diam saja, begitu juga It Hiong
dan Tan Hong. Kedua pihak bahkan jadi menonton.
Lewat sekian lama kedua pihak masih terus saling
menyerang dengan hebat sekali. Keng Su kecele, sedang
menurut pikirannya dia akan berhasil merobohkan lawan
dalam waktu tiga sampai lima jurus. Karena kecele hatinya
menjadi bertambah panas. Maka tibalah saatnya yang dia
mengeluarkan seluruh tenaganya. Golok disampok tiat pit !
Hoay Giok terkejut. Ia kalah gesit, goloknya kena terhajar.
Hebatnya golok itu terlepas dari cekalan dan terpental !
Keng Su melihat ketika baiknya dia meneruskan menyerang
pula ke arah pampilingan lawan atau dia segera menjadi
kaget. Serangannya itu disambut dengan satu sinar putih
berkelebat, lalu tahu-tahu senjatanya sudah kena
terkutungkan dan di depannya berdiri seorang muda yang
tampan dan gagah.
Itulah It Hiong yang membantu kakak seperguruannya. Ia
datang pada saatnya yang tepat.
Keng Su melengak. Lebih dulu dari pada itu tangkisan si
anak muda membuatnya terkejut dan mundur dua tindak.
Hanya habis melengak ia lantas menunjuki kemarahannya.
Matanya pun sampai bersinar berapi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau berani melanggar pantangan kaum Kang Ouw
menyelak diantara orang yang lagi berkelahi satu sama satu ?"
tegurnya dingin. Dia pula lantas mengasi keluar joan pian
yaitu ruyung lunaknya.
It Hiong bersenyum.
"Kau menjanjikan tuan kecilmu datang kemari buat
membereskan hutang lama kita !" sahutnya lantang.
"Sekarang aku telah tiba disini, inilah urusan kita ! Sekarang
aku beri ketika kepadamu untuk kau yang mulai menyerang
supaya kalau sebentar kau roboh, kau roboh dengan puas,
kau menerima nasibmu !"
Keng Su sudah siap sedia, joan pian ditangan kiri, hui hoan
gelang terbangnya ditangan kanan. Ia telah membuang tiat pit
rampasan dari Beng Kee Eng. Sebab senjatanya itu tak dapat
dipakai melayani lawannya yang muda ini. Ia pun tidak sudi
banyak omong lagi. Maka ia geraki joan pian dari atas ke
bawah, menyerang kerongkongan si anak muda. Jurus
silatnya ialah yang dinamakan "Ikan terbang melintasi
gelombang."
"Bagus !" berseru It Hiong yang berkelit ke samping, untuk
meneruskan membalas membacok pedangnya naik ke atas
terus turun ke bawah mengarah batok kepala lawan itu ! Ia
cuma berkelit setengah tindak membebaskan diri dari senjata
lawan itu.
Keng Su melihat ancaman bahaya, ia mundur dua tindak.
It Hiong tak sudi memberi ketika lagi pada lawannya begitu
orang mudur, begitu ia merangsak. Ia lantas menggunakan
ilmu silat pedang Khie bun Pat Kwa Kiam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Keng Su mempunyai pengalaman dari tiga puluh tahun,
sekarang dia keluarkan semua itu. Dia insyaf salah sedikit
saja, jiwanya bisa melayang. Dia bergerak gesit bagaikan naga
sebab dia telah melihat sinar pedang lawan sudah seperti
mengurungnya.
Semua orang Losat Bun menonton dengan prihatin. Ratarata
mereka ngeri menyaksikan bergeraknya pedang lawan
itu.
Keng Su berkelahi sambil berpikir keras. Ia tahu yang pasti
ia menang waktu. Di samping mendesak ia selalu mencari
kesempatan yang baik. Ketika itu tiba lewat beberapa jurus
pula. Disaat datang satu bacokan yang sangat hebat, ia lantas
berkelit habis itu, ia lantas membalas dengan ruyung
lunaknya. Tapi ia tidak cuma membalas, ia membarengi
menyerang. Hanya ia memakai tangannya yang lain dan
dengan menerbangkan gelang mautnya ! Sekali menimpuk, ia
melepaskan tiga buah gelang yang menyambarnya berupa
benda hitam ! Sasarannya ialah dada, perut dan kaki !
Jilid 22
It Hiong berkelahi dengan keras, tetapi berhati-hati sempat
ia melihat lawan menggerakkan tangan kirinya. Ia dapat
menerka maksud lawan. Tak mau ia berlaku sembarangan.
Lantas ia menjejak tanah dan lompat tinggi dengan ilmu
ringan tubuh Tangga Mega. Satu kali tubuhnya melesat naik,
bebaslah dia dari ancaman gelang maut itu yang semuanya
menyerang kesasaran kosong.
Melihat lawan menggunakan senjata rahasia, hatinya It
Hiong menjadi panas. Kalau ia kurang awas dan terlambat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sedikit saja ia bisa roboh konyol. Maka ia memandang musuh
itu dengan sinar mata menyala, terus dari atas ia melesat
turun dengan gerakan capung menyambar, sedangkan dengan
pedangnya ia menikam kedada lawan dengan tikaman
“Burung Air Mematuk Ikan.”
Semua gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat. It Hiong
tahu tak dapat lawan diberi kesempatan menyingkir. Keng Su
sebaliknya melongo ketika mendapatkan hajarannya gagal
semua. Ia mendapatkan tubuh musuh bagaikan lenyap dari
depan matanya. Justru ditengah keheranan itu, serangan
balasan dari si anak muda telah tiba.
Ia kaget sekali, dengan gugup ia menangkis dengan
joanpian!
“Tass!” terdengar satu suara dan putuslah senjata lunak itu
yang tak dapat merintangi pedang, sehingga ujung pedang itu
meluncur terus kedada lawan yang jadi sasaran! Keng Su
mengeluar-kan jerit tertahan, tubuhnya lantas roboh terkulai.
Ia kehilangan jiwa tanpa berdaya lagi.
It Hiong mengawasi tubuh musuh-musuh, terus ia
memasuki pedangnya kedalam sarung. Adalah disaat itu ia
mendengar suara menyambar dari belakangnya. Ia menerka
kepada serangan gelap. Ia berlompat maju satu tindak sambil
terus memutar tubuhnya berbalik ke belakang sambil ia
menolak dengan tangannya. Satu suara nyaring terdengar.
Itulah akibat serangan yang kena terbendung.
Karena hebatnya bentrokan kedua pihak sama-sama
mundur dua tindak!
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Curang!” demikian teriakan nyaring tetapi halus. Itulah
suara Tan Hong yang melompat maju menyerang kepada
pembokongnya si anak muda.
It Hiong segera mengenali penyerangnya itu, ialah Cian Pek
Long kun Sutouw Kit salah seorang tongcu, ketua seksi dari
Losat Bun. Ia menjadi heran, pikirnya: “Kenapa dia main
bokong? Bukankah dia telah berlaku sebagai cianpwe hingga
aku menghargainya?”
Kiranya Sutouw Kit berbuat demikian saking tak tahannya
menyaksikan kebinasaan Keng Su, sesama tongcu. Ia
menganggap kematian itu memalukan Losat Bun, maka
hendak ia mencoba memperbaiki citra partainya.
Iapun merasa jeri menyaksikan ilmu pedang si anak muda
demikian mahir hingga lantas ia memikir untuk membokong
adalah cara yang baik. Tapi Tan Hong melihat orang berbuat
curang, tak dapat si nona mengendalikan diri lagi. Iapun maju
menyerang hingga mereka berdua jadi bergebrak. Dalam
waktu yang pendek, mereka sudah lantas bertarung secara
seru sekali.
“Tahan!” terdengar suaranya Kwie Tiok Giam Po. Seruan itu
tajam bagi siapa yang mendengarnya.
Menyusul itu, tubuhnya Sutow Kit mencelat meninggalkan
kalangan pertempuran untuk kembali kedalam ruangan.
Tan Hong tidak mengejar, dia hanya tertawa dan berkata
kepada It Hiong: “Musuh telah terbinasa, Beng Locianpwe
dapat ditolongi!”
Tapi It Hiong berkata perlahan: “Aku masih menyangsikan
kejujuran pihak Losat Bun ini, aku kuatir mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggunakan akal licik. Karenanya jangan kita dibutakan oleh
kemenangan kita ini. Berhati-hatilah!”
Berkata begitu si anak muda menarik ujung bajunya si
nona untuk kembali kedalam pendopo. Hoay Giok sudah
lantas mengikuti, selekasnya dia memungut goloknya yang
tadi terlepas jatuh.
“Perhitunganku dengan Keng Su sudah dapat diselesaikan,”
berkata si anak muda kepada ketua Losat Bun, “Oleh karena
itu aku minta sudi apalah Kauwcu memenuhi janji dengan
membebaskan Paman Beng! Dapatkah?”
“Kata-katanya Losat Bun tegak bagaikan kiu-teng!”
menjawab sinenek dengan keras dan dingin nadanya. “Mana
dapat aku menghilangi kepercayaanku terhadap kau, bocah
jika kau mempunyai kepandaian, pergilah kau kegua batu di
belakang puncak sana, sambutlah sendiri pamanmu itu!”
It Hiong tidak mau membuang waktu, ia bahkan tanpa
berkata apa-apa lagi, setelah emberi isyarat tangan kepada
Tan Hong dan Hoay Giok, ia mengundurkan diri dari pendopo
besar itu, terus diikuti kedua kawannya. Tapi begitu ia
menindak dianak tangga, tiba-tiba dari belakang ia mendengar
suara nyaring: “Anak she Tio, kau kembalilah!”
Itulah suaranya sinenek. Kontan It Hiong dan dua
kawannya menduga-duga. Entah apa maunya raja agama
Losat Bun tu? Si anak muda menghentikan langkahnya dan
memutar tubuh untuk menghadapi sinenek itu.
“Ada pengajaran apakah dari Kauwcu?”
“Mari, kemari!” berkata sinenek bengis.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Aku hendak memberitahukan kau satu hal yang ada
kebaikannya untukmu!”
It Hiong bertindak maju, ia mengawasi tajam semua orang
Losat Bun.
“Ada bicara apa, Kauwcu? Silahkan!” katanya singkat.
“Oh, bocah bau!” Lou Hong Hui menyela.
“Kau baru menang sedikit, lantas kau bersikap begini
sombong terhadap ketua kami! Kau kurang ajar!”
Sepasang alisnya sipemuda bangun berdiri, tapi dia
menahan sabar. Ia Cuma mengawasi bengis pada wanita itu
da berkata :
“Kau boleh mengatakan apa yang kau suka, tak sempat aku
melayanimu!”
“Eh, anak she Tio, jangan tergesa-gesa!” sinenek berkata :
“Aku si tua belum habis bicara!” Dia berhenti sebentar
sesudah mana baru dia meneruskan : “Sudah sepatutnya aku
memenuhi janjiku kepadamu! Urusannya Keng Su sudah
beres, tinggal urusanmu sendiri! Kau telah lancang memasuki
tampat kami ini! Kau telah melanggar aturan kami! Tahukah
kau apakah hukumannya buat pelanggaran itu?”
It Hiong gusar, orang hendak mempermainkannya.
“Kauwcu hendak menghukum bagaimana kepadaku?”
tanyanya, “Coba jelaskan!”
Sinenek menatap tajam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Siapa lancang memasuki tempat ini, hukumannya ialah
hukuman mati!” Katanya seram. Lagi ia berhenti sejenak.
“Tapi ditanganku si orang tua, suka memberi satu kesempatan
kepadamu supaya kau dapat jalani hidupmu!”
It Hiong terus mengawasi. Tak mau ia segera menjawab.
“Jalan hidup itu,” kata sinenek melanjuti : “Kau harus
meyambut sepuluh jurus dari masing-masing tongcu kami.
Habis itu kau mesti mendengar sebuah lagu dari tanganku
yang kuberi nama BIE CIN TOAN HUN MENYESATKAN YANG
BENAR DAN MEMUTUSKAN ROH. Sekarang ini tongcu kami
yang nomor satu dan dua kebetulan tidak hadir, sebab mereka
lagi menghadiri rapat pertandingan ilmu pedang digunung Tay
San, hingga sekarang tinggallah tongcu nomor tiga dan nomor
empat, yaitu Satouw tongcu dan Lou tongcu. Hal ini
memudahkan kau, sebab kau hanya harus melayani dua puluh
jurus….”
It Hiong tidak takut, ia suka menerima syarat itu. Maka ia
berkata : “Tio It Hiong mempunyai nyali mendatangi gunung
ini, pasti dia bernyali juga untuk menyambuti jurus-jurus
kamu! Nah, tongcu yang mana yang hendak paling dahulu
menjalankan peraturan kamu, silahkan maju! Jangan kalian
banyak rewel lagi!”
Sutouw Kit gusar sekali.
“Bocah jangan takabur!” bentaknya.
“Tunggu dahulu!” berkata Kwie Tiak Giam Po dingin. “Partai
kami harus mentaati peraturannya, maka itu kamu pergi
dahulu menolong si orang tua she Beng, habis itu barulah
kamu datang kemari untuk menjalankan hukuman! Asal kamu
masih mempunyai jiwa kamu1”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hoay Giok pun sengit.
“Sute,” katanya pada It Hiong. “Jangan layani mereka
mengoceh! Mari kita lekas-lekas pergi menolong suhu!”
Hoay Giok senantiasa ingat gurunya.
It Hiong merapatkan kedua tangannya.
“Jika kauwcu tidak mempunyai ajaran lainnya, dengan ini
aku yang rendah mohon diri!”
Walaupun dia berkata demikian, It Hiong memutar
tubuhnya dan berlalu tanpa menanti jawaban lagi.
Tan Hong mendelik terhadap Sutouw Kit dan Lou Hong Hui,
setelah itu sambil mengasi suara menghina “Hm!” ia menyusul
si anak muda, maka iapun disusul Hoay Giok.
Sekeluarnya dari pintu gerbang. It Hiong beramai
memperhatikan letak bangunan yang menjadi sarang Losat
Bun itu. Dengan begitu mereka bisa menyaksikan gunung di
belakang gedung itu, yang puncaknya berentet-rentet
terutama puncak utamanya yang tinggi sekali. Dari jauh itu,
mereka cuma melihat sebuah jalan naik. Dari situ, tak
kelihatan gua dimana guru atau paman mereka dikurung.
Sudah sinenek tidak memberi keterangan, merekapun tidak
menanyakan.
Tan Hong mengawasi si adik Hiong itu, “Sudah adik,”
katanya perlahan. “Buat apa kita memutar otak memikirkan
letaknya gua itu? Lihat di muka pintu gerbang itu, bukankah
disitu ada orang? Bukankah mereka adalah petunjuk jalan kita
yang telah tersedia?”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nona itu memonyongkan mulutnya ke arah beberapa orang
berseragam itu, yang bertugas di muka pintu gerbang.
It Hiong menggeleng kepala.
“Tak dapat.” Katanya keras kepala, tak menyukai
menggunakan kekerasan yang merendahkan martabatnya.
“Itu namanya main paksa-paksa!”
“Kenapa tidak adik” Tanya si nona heran. “Lebih dahulu
dengan hormat kita minta keterangan mereka itu, lalu kalau
mereka menyangkal kita bekuk satu diantaranya1 Musahil
mereka tak takut mati?”
It Hiong memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.
“Kakak maafkan, kali ini aku tak dapat menerima baik
saranmu ini!” kata dia. “Dua jalan itu tak akan ada faedahnya,
kalau kita bicara hormat mereka tak akan mempedulikan dan
kalau kita memaksa kita bakal dicela orang! Mustahil kita
bertiga tak mampu mencari gua itu? Mari!”
Pemuda ini terus emutar tubuh, bertindak ke arah belakang
gedung besar itu.
Tan Hong dan Hoay Giok terpaksa mengikuti. Selagi
memutar tubuhnya, si anak muda berkata pada si nona:
“Memang pendapatnya Tio sute mengatasi kita satu tingkat!
Aku sangat mengaguminya! Bagaimana dengan kau, Nona
Tan?”
Selalu pemuda ini memanggil nona kepada pemudi itu.
Tan Hong tesenyum, ia cuma mengangguk tidak
menjawab. It Hiong berjalan terus, ia tidak menghiraukan dua
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
orang kawannya itu. Sebentar saja ia sudah melalui belasan
tombak. Maka mau tidak mau Tan Hong dan Hoay Giok lari
menyusul!
Selanjutnya mereka berlari-lari. Dalam keuletan, It Hiong
unggul banyak. Itulah karena kasiatnya darah belut. Iapun
menang latihan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Makin lama
ia lari main pesat. Itulah sebab semangatnya, didorong
keinginannya lekas-lekas menyelamatkan pamannya!
Tan Hong menjadi jago dari Hek Keng To, diapun dapat lari
keras, dia mencoba menyusul pemuda yang dicintainya itu.
Tidak demikian halnya dengan Wie Hoay Giok. Dia ini
ketinggalan, meskipun dia sudah termasuk hitungan kelas
satu. Dia mencoba menyusul hingga lekas juga pakaiannya
basah dengan peluhnya. Dimata dia Tan Hong terutama It
Hiong mirip bayangan saja….
Tiga puluh lie sudah dilalui, jalanan makin sukar. Ada
gangguan pohon lebat, pohon berduri dan juga otot-otot
rotan. Jalannya pun berliku.
“Ah…” It Hiong memperdengarkan suaranya. Terus
berhenti bertindak, matanya diarahkan kesekitar.
Tak ada gua yang nampak, yang ada hanya itu batu-batu
karang, rumput dan pohon rotan. Disamping itu gunung sunyi
sekali.
“Apakah aku salah mengambil jalan?” pikir anak muda ini,
“Apakah kaum Losat bun sengaja menipu kita?”
Berpikir begini, anak muda ini menyesal juga telah menolak
sarannya Tan Hong untuk minta keterangan orang-orang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Losat Bun sebagai petunjuk jalan. Sekarang ia jadi
memperlambat pertolongannya.
Selagi pemuda ini berpikir terus, tiba-tiba ia mendengar
suaranya Tan Hong : “Adik Hiong….adik Hiong….adik Hiong!”
suara itu terbawa angin… hingga kadang-kadang terputus.
Hanya melengak sebentar, ia lantas lari balik hingga ia melihat
si nona sedang berdiri diatas sebuah batu besar dan
tangannya menggapai ke arahnya, Diantara tiupan angina
yang santer, tampak rambut hitam nona itu bagaikan
gelombang sutera, sungguh indah dipandang.
Lekas sekali It Hiong telah tiba pada si nona.
“Kakak,” tanyanya segera, “Apakah kakak mendapati
guanya?”
Tan Hong menunjuk ke arah kiri, pada dinding gunung
yang ditutup akar-akar rotan.
“Barusan saja aku melihat satu bayangan manusia
berkelebat di sana.” Sahutnya memberi keterangan. “Ketika
aku menyusul sampai disini, bayangan itu sudah lenyap, Kau
lihat pohon rotan demikian lebat, mungkin mulut gua ketutup
pohon itu…”
It Hiong mengawasi tempat yang ditunjuk itu. Ia juga
menoleh ke belakang kesarangnya sinenek tua. Untuk pergi
ketempat itu ia terpaksa jalan balik….
“Mari!” katanya, lalu dengan terpaksa ia jalan kembali.
Tepat disebuah tikungan, mereka berpapasan dengan Hoay
Giok yang ketinggalan jauh. Kasihan pemuda itu, ia bermandi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
peluh dan napasnya memburu keras. Melihat simuda-mudi dia
menjadi heran. Dia lantas melihat dirinya.
“Eh, eh kenapa kalian kembali?” tanyanya Bicara susah.
Tanpa menantikan jawaban dia menjatuhkan diri untuk duduk
menghilangkan lelah.
Tan Hong mengawasi It Hiong.
“Kita membuang-buang waktu…” katanya.
It Hiong sebaliknya mengawasi sang suheng.
“Suheng, apakah kau kurang sehat?” tanyanya. “Dahulu
dilembah Pek Keng Kok kau kuat lari puluhan lie dan bahkan
masih dapat berkelahi dengan musuh tangguh! Kenapa
sekarang kau tampak payah?”
Tan Hong melirik sipemuda, terus dia berkata : “Kau
menggunakan Te In Ciong hingga kau lari bagaikan terbang,
masih kau mengatakan orang lain tak punya guna? Mana
dapat!”
It Hiong mengerti, maka lantas ia tampak jengah.
“Maaf suheng,” katanya sabil memberi hormat kepada Hoay
Giok. “Aku sangat memikirkan Paman Beng sampai aku lari
tanpa kira-kira, hingga aku membuat suHeng Sangat capek…”
Hoay Giok tidak gusar, bahkan ia melompat bangun sambil
tertawa.
Habis istirahat sebentar, ia menjadi segar pula.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Yang salah ialah aku yang tidak punya guna.” Katanya
kemudian, “Tidak dapat aku menyesalkan kau, bahkan dengan
begini aku jadi dapat menghemat lariku…”
Mau tidak mau It Hiong tersenyum, juga Tan Hong.
“Tapi inilah pengalaman!” berkata si nona. “Sekarang kita
boleh berlari sedikit perlahan. Kita ambil jalan disisi dinding itu
untuk pergi kedinding karang di sana yang mungkin ada
lobang guanya…”
Hoay Giok heran.
“Kalian belum mendapatkan gua itu?”
“Belum,” sahut It Hiong, sedangkan Tan Hong menuturkan
perihal bayangan yang dilihatnya
“Kalau begitu, pastilah itu sebuah gua yang dirahasiakan…”
kata Hoay Giok.
Bertiga mereka berjalan bersama. Mereka mesti jalan
perlahan. Sesudah melalui kira-kira lima puluh tombak sampai
juga mereka dikaki dinding itu, yang dibawahnya terdapat
sumber air.
“Tadi aku melihat bayangan orang di sana.” Tan Hong
memberitahukan sambil menunuk tempat orang melenyapkan
diri. “Karena jaraknya masih sangat jauh, sukar aku melihat
dia tegas-tegas.”
It Hiong memperhatikan tempat yang ditunjuk itu juga
keatasnya. Dinding tinggi cuma ada akar rotan dan pohonpohon
kecil. Sumber air muncrat dari dinding, airnya
berhamburan. Dibawah sekali barulah ada sumber air itu. Ada
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sebuah kolam kecil tempat air itu berkumpul. Kolam itu
terpisah jauh dari sumber air mungkin seratus tombak.
Dengan melihat gerak-gerik bayangan orang yang dilihat
Tan Hong itu, It Hiong menerka mesti ada lobang atau gua
rahasia didekat situ. Ia kasih tau apa yang ia duga itu, maka
bersama-sama mereka memasang mata mencari lubang gua
itu.
Sebegitu jauh Cuma tampak akar rotan dan daun-daun,
tiada sesuatu yang mencurigakan, Hoay Giok menjadi
penasaran.
“Mungkin nona keliru melihat bayangan” katanya. “Disini
dimana ada tempat untuk orang bersembunyi? Buat apa kita
berdiam lebih lama disini?”
“Kenapa kau menjadi tak sabaran, kakak Wie?” Tanya Tan
Hong tertawa. “Memang sulit mencari lubang gua itu, tetapi
aku merasa pasti, disini kita bakal menemui orang Losat
Bun…”
It Hiong memandang nona itu dan juga Hoay Giok.
“Kau pasti merasa letih suheng, baiknya kau duduk menanti
disini.” Katanya kemudian pada kakak seperguruannya itu.
“Nanti aku mencoba mendaki dinding gunung itu, untuk
memeriksa akar rotan yang menutupinya.”
Kata-kata itu ditujukan juga pada Tan Hong. Habis berkata
si anak muda lantas melompat tinggi dengan lompatan Te In
Ciong, sebab ilmu ringan tubuh itu tidak melulu buat lari jauh
dan cepat tapi juga untuk melompat tinggi. Maka dalam
sekejap tubuhnya mencelat lincah dan pesat seumpama
burung terbang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tengah It Hiong mendaki itu, mendadak dari dinding
ditempat dimana dia tiba, ada kepala orang yang nongol,
orang itu terlepas rambutnya, mukanya hitam begitupun sinar
matanya tajam sekali. Selekasnya dia melihat orang, dia
menyambar tangannya yang sebelah, buka untuk menangkap
hanya buat melepaskan senjata rahasia, senjata itupun hitam
warnanya.
Hampir berbareng dengan It Hiong, juga Tan Hong dan
Hoay Giok yang lagi menanti sambil menyaksikan temannya
melompat naik, telah mendapat serangan serupa. Hanya
serangan ini datangnya dari tempat tidak seberapa jauh dari
tempat pertama. Penyerangnyapun hitam muka dan sinar
matanya sangat tajam.
It Hiong kaget karena serangan mendadak itu, tapi dia
tidak bingung. Dengan cepat dia berhasil menyampoknya. Ia
hanya terkejut pula setelah mendapatkan kenyataan senjata
rahasia itu berupa seekor ular beracun! Tan Hong pun bebas
dari serangan gelap itu. Dia melihat serangan datang sambil
berkelit. Dia menghajar dengan sanhu pang. Maka senjata
rahasia itu juga roboh mati dengan mengeluarkan darah
sebab badannya remuk.
Tidak demikian dengan Hoay Giok, pemuda ini sedang
duduk diam sambil matanya dipejamkan, ia mendusin dengan
terkejut ketika merasakan angina menyambar ke arahnya.
Lantas ia berkelit, tapi terlambat sedikit, tahu-tahu bahu
kirinya telah kena terpagut senjata rahasia yang istimewa itu.
“Aduh!” ia menjerit perlahan, tanan kanannya terus dipakai
menyampok, tapi tangan itu juga disambut dengan pagutan
bahkan kali ini nyerinya luar biasa sampai keulu hati.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ular licik itu habis menggigit dia menjatuhkan diri dan
menghilang diantara rumput tebal!
Hebat Hoay Giok. Dia roboh seketika, mukanya menjadi
pucat, mulutnya mengeluarkan rintihan, bakan tangan dan
kakinya terus menggigil.
Tan Hong menyaksikan kawannya itu, dia menjadi kaget
sekali.
“Kakak Wie, kau kenapa?” tanyanya, terus ia cepat
menghampiri untuk memeriksa lukanya yang berada didua
tempat, bahu kiri dan tangan kanan. Disaat ia hendak
membangunkan tubuh kawannya itu, mendadak dua
bayangan orang melompat kepadanya, masing-masing
menyerang dengan golok dan cambuk.
Walaupun ia kaget, ia lompat berkelit membebaskan diri
dari bacokan dan cambukan. Setelah itu ia membalas dengan
senjatanya. Lebih dahulu ia lompat kepada lawan yang
bersenjata cambuk, untuk mendesaknya mundur sebelum
orang sempat menggunakan lagi senjatanya. Habis itu ia
melompat ke arah Hoay Giok, yang sedang dihampiri musuh
yang bersenjata golok, yang mau membacoknya. Satu
sampokan ruyung membuat golok musuh terpental dan
tubuhnya tertolak mundur dua tindak!
Setelah mengawasi kedua penyerangnya, Tan Hong heran,
kiranya mereka orang-orang suku Biatuw yang mukanya
hitam-hitam, juga matanya, rambut riap-riapan. Kakinya tanpa
sepatu, tubuh bagian atas telanjang dan bagian bawahnya
tertutup semacam kain. Usia mereka rata-rata tiga puluhan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Karena terpukul mundur, kedua orang Biauw itu melengak,
tapi hanya sebentar lantas keduanya maju pula. Sambil
berseru-seru mereka mengurung si nona.
Tan Hong menjadi sangat mendongkol, mukanya menjadi
merah berapi. Sudah dikerubuti tadipun dibokong. Tak ayal
lagi ia mengeluarkan ilmu silat pulau Hek Keng To dan balas
menyerang. Ia bergerak lincah berputaran sebab ia selalu
mesti menjauhkan diri dari cambuk. Setelah jauh lalu
mendesak. Kalau ia terus merenggangkan diri, ia menjadi
repot. Itulah maunya cambuk hingga ia bisa dicambuki tanpa
henti. Dilain pihak dengan ruyung tak dapat ia membuat
kutung cambuk itu.
Ternyata dua orang Biauw itu bukan sembarang orang,
mereka dapat bersilat dengan baik dengan masing-masing
senjatanya itu. Mereka pun sangat bersemangat dan cerdik,
sebab mereka tak membiarkan senjata mereka terhajar
ruyung si nona! Mereka dapat maju dan mundur dengan
cepat.
It Hiong sementara itu habis menyampok ular terus
menyambar akar rotan, hingga dia dapat mempertahankan
dirinya tak jatuh. Tepat waktu itu, telinganya mendengar
suara mendatangi. Datang dari bawahnya! Maka segera ia
melihat Tan Hong tengah dikepung dua orang musuh dan
Hoay Giok rebah tak berkutik ditanah.
Ia terkejut dan segera ia melepaskan tangannya untuk
lompat turun bahkan tanpa mengatakan sesuatu, dengan
pedangnya ia terus menyerang orang Biauw yang bersenjata
cambuk itu. Hanya dengan satu gebrakan, orang Biauw itu
sudah kaget sekali. Cambuknya kutung, saking jerinya dia
memutar tubuh dan menjauhkan diri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong tidak mengejar hanya terus ia menghadapi orang
itu dan bertanya : “Siapakah kau?”
Anak muda ini tidak ketahui bahwa orang Biauw itu
bernama Michi dan kawannya yang bersenjata golok Shali.
Mereka adalah murid-muridnya Kiu Lam It Tok Sia Hong, Si
Tunggal Beracun dari Kwiecu Selatan.
Sia Hong menjadi ahli racun ular. Semua senjatanya
empunyai racun, maka orang berikan dia gelar tersebut, jago
ahli racun satu-satunya. Dia tinggal menyepi di Kwiecu
Selatan, hidup diantara ular-ular jahat.
Karena ia sering memasuki wilayah suku Biauw, ia jadi
kenal bangsa itu dan mengetahui adapat kebiasaannya hingga
akhirnya ia menerima dua orang muridnya itu, yang ia ajari
ilmu silat dan cara menggunakan racun. Sebenarnya Sia Hong
hidup diantara dua golongan sesat dan lurus. Diapun
bersahabat dengan Kwie Lok Giam Po. Pertemuannya dengan
ketua Losat Bun terjadi waktu dia mengejar seekor ular
beracun sampai di Ay Lao san, dimana dia tinggal beberapa
bulan lamanya dan telah bertemu dengan orang Losat Bun
yang mengajaknya kenal dengan sinenek, hingga mereka itu
menjadi sahabat erat.
Bersama dua muridnya itu, Sia Hong tingal didalam gua,
guna memperdalam kepandaiannya menggunakan racun ular.
Guanya itu ia beri nama “Sarang Ular” tempat melatih racun.
ketika Beng Kee Eng kena dipancing Keng Su mendatangi Ay
Lao San, ia kena racunnya Sia Hong hingga ia menjadi
kehilangan tenaganya hingga tertawan dan dikurung didalam
gua batu.
“Aku Mikhi!” sahut orang Biauw itu yang bersenjata
cambuk. Dia bicara keras dan bersikap bengis. “Kalau kau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berani mendekati aku satu langkah lagi. Awas, akan aku
berikan kau racun jahat dari guruku Kin Lam It Tok!”
Mendengar disebutnya gelar Kin Lam It Tok itu, alisnya It
Hiong berbangkit, terus ia berpikir. Pernah ia dengar nama itu
entah dari siapa, ia lupa. Maka ia lantas mengingat-ingatnya.
Dua kali ia mnyebut gelaran itu serta menerka-nerka dia orang
macam apa…
Tengah si anak muda berpikir, ia mendengar jeritan
“Aduh!” dan melihat orang Biauw bersenjata golok itu roboh
dengan mulutnya mengeluarkan darah sebab dia terhajar Tan
Hong hingga terluka dalam.
Menyusul itu Tan Hong berkata keras : “Adik Hiong, lekas
tolongi kakak Wie! Kenapa kau masih bicara saja dengan
orang Biauw itu?”
It Hiong terkejut. Ia lantas lompat mendekati Hoay Giok
serta memegangi tubuhnya buat dibangunkan. Ia melihat
muka orang merah dan panas, matanya dipejamkan, mulut
mengeluarkan busa, sedangkan napasnya tersengal-sengal.
Tampak kedua lengannya bengkak dan melar dua kali lipat.
“Kakak! Kakak!” Ia memanggil-manggil, “Kakak! Kau
kenapakah?”
Hoay Giok tidak menjawab, dia diam saja, tubuhnya sangat
lemas san tak kuat ia berdiri.
Tan Hong menghampiri.
“Dia pasti terkena racun ular!” kata si nona.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Tadi aku lihat dia roboh setelah terpanggut ular yang
dilempar ke arahnya, Adik Hiong dapatkah obat Hosin Ouw
menolong dia?”
Ketika itu It Hiong bingung bukan main, sampai ia
mengeluarkan air mata. Masih ia memanggil-manggil sang
kakak, sampai suara Tan Hong menyadarkannya. Karena itu ,
ia lantas ingat obat untuk melawan racun hadiah dari pendeta
tua dari Bie Lek Sie digunung Kiu Kiong San.
“Tertolong!Tertolong!” serunya berulang-ulang kegirangan.
Tan Hong menggantikan memegang Hoay Giok.
“Lekas! Lekas keluarkan obat itu!” dia menganjurkan It
Hiong, diapun sangat kuatir melihat kondisi kawannya itu.
It Hiong merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol
kecil dari kaca hijau, ia lantas membuka tutupnya dan
mengeluarkan enam butir obat pulung yang langsung diremas
dalam kepalannya, setelah itu ia menotok jintiong, hisungnya
Hoay Giok, terus memaksa membuka mulutnya
untukmemasukkan obat tersebut. Tapi saat itu Hoay Giok tak
dapat mengunyah sehingga obat tetap terkumur saja!
Tan Hong merebahkan tubuh Hoay Giok ditanah.
“Adik Hiong, coba paksa memasukkan obat itu dengan
tenaga dalammu!” katanya.
Dia bingung, tapi dia cerdas dan bisa berpikir cepat. Diapun
lantas membantu dengan menekan tangan kanannya pada
jalan darah teng-bun dari pemuda yang keracunan tersebut.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menurut, ia lantas bekerja. Ia membungkuk
membawa mulutnya ke depan mulut Hoay Giok sesudah mana
ia segera mengemposkan tenaga dalamnya.
Ternyata usaha itu memberi hasil. Obat dapat terdorong
masuk kedalam tenggorokannya. Lalu tak berselang satu jam,
perutnya anak muda itu berbunyi keruyukan nyaring. Itulah
tanda obat sudah bekerja dengan baik.
Menyusul itu lekas sekali tampak Hoay Giok membuka
kedua matanya dan kaki tangannyapun bergerak-gerak.
Karena itu It Hiong lantas menghentikan bantuannya.
“Kakak! Kakak Wie!” ia memanggil-manggil.
Tan Hong menarik pulang tangannya dan membantu orang
buat diangkat bangun guna duduk menyandar pada sebuah
batu besar.
Lewat sekian lama baru Hoay Giok dapat membuka
mulutnya.
“Sute aku mual sekali…” katanya sukar. Dan belum
suaranya habis lantas dia muntah mengeluarkan cairan hitam
yang bau.nyaksikan itu, It Hiong dan Tan Hong lega, itu
artinya semua racun sudah dapat dikeluarkan hingga tidak lagi
mengancam jiwa Hoay Giok.
“Kakak wie, bagaimana kau rasa sekarang?” Tanya Tan
Hong.
“Sekarang aku tidak merasakan apa-apa kecuali letih.”
“Kalau begitu kakak istirahatlah!” kata It Hiong, “Lebih baik
lagi kalau kau meluruskan pernapasanmu.”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hoay Giok menurut, ia mencoba duduk dengan tegak.
Baru sekarang It Hiong ingat musuh. Ia mendapati
lawannya Tan Hong lagi duduk meluruskan dirinya, sedangkan
lawannya, yaitu Mikhi telah pergi entah kemana, rupanya dia
sudah kabur dari tadi.
Tan Hong menunjuk orang Biauw itu, katanya pada It
Hiong : “Dialah yang membantu kita mencari mulut gua itu!”
Si anak muda mengangguk. Ketika itu sudah mendekati
magrib, setelah melirik Hoay Giok, iapun duduk dibatu dan
nampaknya lesu.
Tan Hong menghampiri seraya membawa kue kering.
“Mari makan!” kata nona itu tertawa.
“Kakak Wie mengalami bencana, kelihatannya Kin Lam It
Tok benar-benar lihai. Entah dia memiliki racun apa lagi yang
lebih dahsyat.”
It Hiong makan kue itu, tak dapat ia menjawab, lalu ia
minum dari kantungnya.
“Tak usah kita takut padanya!” katanya kemudian. “Dunia
Kang Ouw boleh memuji dia tapi kita membekal obat mujarab
dari pendeta tua Bie Lek Sie.”
Tan Hong mengangguk.
“Kau benar adik, cumalah tak ada salahnya kita waspada…”
katanya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong mengawasi nona it, ia terharu untuk kebaikan
hatinya.
“Kau baik sekali kakak,” katanya sungguh-sungguh. “Kau
telah membantu kami tanpa menghirauka ancaman bencana,
tak tahu aku bagaimana membalas budimu ini?”
Tan Hong tersenyum, ia merasaka hatinya sangat bahagia.
Ia memandang pemuda itu lalu tertunduk.
“Dengan kata-katamu ini adik, kau seperti memandang aku
sebagai orang luar…” katanya perlahan. Dari duduk ia berdiri
lalu membalikkan tubuhnya. Lantas juga terdengar bisiknya
perlahan.
It Hiong melengak, ia lantas berdiri dan menghampiri nona
itu dan memegang bahunya.
“Oh kakak,” katanya, “Aku meyesal karena kata-kataku tadi
kau berduka, apa salahku? Harap kau sudi memaafkan aku…”
Dia a maju ke depan nona itu buat menjura.
Tan Hong berbalik, air matanya berlinang. Ia menatap si
anak muda hingga sinar mata mereka bentrok, keduanya
berdiam saja.
Hati mereka yang bekerja masing-masing.
Tiba-tiba Tan Hong tertawa, dengan saputangannya lekaslekas
ia menghapus air matanya dan melirik si anak muda.
“Bukankah telah aku katakan, adik?” katanya kemudian,
suaranya rada menggetar. “Buatku sudah cukup asal kau tidak
menyia-nyiakan hatiku…”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong terdiam. Ia bukannya tak mengerti maksud orang.
Hanya keadaan menyulitkannya. Diam-diam ia menggigil
sendirinya, kenapa selalu asmara mengganggunya? Kenapa
setiap wanita yang ditemuinya menyukainya? Kenapa orang
ska membantu dia dengan mempertaruhkan jiwanya? Maka
itu, tegakah ia menampik budi kebaikan itu? Pasti ia akan jadi
manusia tak berbudi, tak mempunyai perasaan kemanusiaan…
Dalam masgul, anak muda ini Cuma bisa menghela napas…
“Kau kenapa, adik?” Tanya Tan Hong yang mengawasi
orang. “Aku rasa aku dapat menebak hatimu itu. Aku ingat
pepatah kuno : Dapat satu, mengetahui diri sendiri matipun
tak meyesal. Kakakmu ini justru mau bekerja untukmu,
biarpun darahku harus muncrat digunung sunyi ini aku akan
tersenyum diaLam Sana! Sebaliknya aku tak suka mendengar
kau mengucapkan terima kasih atau bersyukur terhadapku,
itulah artinya kau mengaanggap aku orang asing! Sudah,
jangan memikir terlalu banyak, kau membikin ruwet dirimu
sendiri!”
It Hiong menarik napas dalam dalam, ia tidak mengatakan
sesuatu.
Sang angin bersiur perlahan, membuat ujung lengan baju
mereka bergerak-gerak. Anginpun membawakan harum tubuh
si nona memasuki hidung It Hiong, hingga sipemuda tak
keruan rasa. Ia mengendalikan diri, ia mengangkat kepala
memandang langit, mengawasi malam.
Tanpa merasa sang malam telah tiba. Malam sunyi seperti
diwaktu siang, hanya kali ini mendadak ada satu suara yang
menggangunya. Sebuah siulan lama dan nyaring membuat
gunung bagaikan bergetar dan berkumandang ke empat
penjuru lembah. Menyusul itu dua bayangan orang tampak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berlari mendatangi. Orang yang pertama sampai itu lantas
menghampiri si orang Biauw yang masih duduk diam. Terus
tubuhnya diangkat dan dibawa pergi.
It Hiong melompat maju, ia menyerang punggung orang
dengan satu serangan tangan kosong.
Orang itu berkelit, terus membalas menyerang dengan
senjata rahasia, terus lari lebih jauh. Tapi It Hiong sudah
melompat lagi menghadang di depannya.
“Jika kau benar gagah, mari sambut pukulan Hang Liong
Hok Houw ku!” tantangnya, dan terus ia menyerang pula.
Orang itu terdesak, kalau ia terhajar pasti akan mendapat
luka dalam.
Dasar ia lihai berkelit, dengan lompat kesisi jauh satu
tombak lebih. Sekarang dia tak lari lebih jauh, hanya dia
berdiri diam sambil tertawa berulang kali, suaranya tak sedap
didengar. Habis itu dia berkata tawar : “Hm! Hm! Bocah! Kau
pernah apakah dengan Pat Pie Sin Kit? Kenapa kau berani
banyak tingkah dengan Hiang Liong Hok Houw Ciang di depan
aku si orang tua?”
It Hiong heran hingga ia melengak. Segera ia mengawasi
orang itu hingga sekarang ia dapat melihatnya dengan jelas.
Dia ternyata seorang tua dengan tubuh sedang, tampangnya
bersih , tatapan matanya tajam, sinarnya berkilau. Dia
memelihara kumis dan janggut “kambing gunung”, bajunya
baju kasar, sepatunya ringan. Pada pinggangnya, kiri dan
kanan, ia gantungkan beberapa karung, entah apa isinya
semua itu. Dan dipunggungnya ada semacam benda,
dikatakan seruling bukan seruling, warnanya hitam mirip pipa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
panjangnya tiga kaki lebih. Ia bersikap jumawa, wajah dan
tampangnya mendatangkan perasaan tegang.
Selekasnya dia sadar, It Hiong merasa kurang puas, maka
ia juga menjawab nyaring :”Akulah Tio It Hiong dan Put Pie
Sin Kit In Gwa Sian adalah ayah angkatku! Kau sudah berusia
lanjut tapi lagakmu tak menghormati diri sendiri! Kenapa kau
mudah saja bicara keras?”
Mendengar itu, sepasang alis si orang tua bangun. Segera
ia berkata dengan dingin : “Bocah, kau dengar! Kamu sudah
melukai muridku, tapi sekarang kau masih berani putar lidah
dihadapanku! Nampaknya kaulah si orang mampus! Nah, coba
kau rasai tangannya Kin Lam It Tok!”
It Hiong terperanjat mendengar orang memperkenalkan
diri. Kiranya inilah si racun tunggal dari Inlam selatan, jago
atau ahli racun ular. Ia segera ingat pamannya, maka
bukannya menyambut tantangan malah ia bertanya : “Apakah
paman Beng ku dikurung olehmu didalam guamu?”
Kin Lam It Tok tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin,
keras dan nyaring. “Eh, bocah! Kalau kau berpikir untuk
membebaskan si orang she Beng dari guaku sarang ular, sama
saja kau menyia-nyiakan jiwamu! Aku si orang tua
menyayangkan usiamu yang masih muda, dan kaupun
nampaknya bukan sembarang orang Kang Ouw karena
nyalimu besar! Nah, bocah, meskipun kau sudah melukai
muridku, suka aku memberi ampun padamu! Jika kau tahu diri
pergilah kau turun gunung!”
It Hiong tak puas dengan tingkahnya orang tua itu.
“Kebaikan hatimu ini orang tua, aku terima dengan baik!”
Katanya. “Akan tetapi aku mempunyai pendirian lain. Seorang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
laki-laki dia harus tahu budi dan wajib tahu membalasnya!
Apakah kau sangka It Hiong adalah seorang yang takut dan
cuma memahami hidup? Tidak! Aku bukan manusia rendah
semacam itu! Jika aku tak mempunyai kepandaian untuk
menolong pamanku, tidak nanti aku datang kegunung Ay Lao
San ini. Aku sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan
tempat ini selama aku masih bernyawa! Ada berapa banyak
racun dalam sarang ularmu yang dapat menghadang aku
memasukinya!”
Kin Lam It Tok menjawab dengan jumawa :”Tidak banyak!
Tidak banyak! Julukanku It Tok, si tunggal racun, tapi
walaupun tunggal kau bakal merasakan cukup banyak!” Ia
berhenti sedetik lantas menambahkan : “Guaku itu berada
diatas dinding itu, jika kau benar mempunyai nyali besar,
naiklah kesana kau boleh coba-coba racunku!”
Habis berkata itu , dia menjemput pula muridnya dan terus
mengangkat kaki. Perlahan-lahan jalannya.
It Hiong kuatir orang nanti meracuni pamannya, hendak ia
mencegahnya, maka lantas ia berkata pula : “Orang tua,
namamu menggetarkan dunia Kang Ouw, tapi kenapa kau
berbuat begini macam terhadap aku. Bukankah kita tidak
saling kenal dan tidak bermusuhan? Sungguh sayang, kau
termasyur tapi kau kesudian menjadi andalannya pihak Losat
Bun! Kenapa kau mengurung Paman Beng yang telah melepas
budi besar padaku? Aku datang kemari buat menolong orang
guna membalas budinya itu, karena itu terpaksa aku telah
mendatangi wilayahmu ini! Orang tua karena kaulah seorang
tersohor, bersediakah kau menjanjikan sesuatu? Supaya
hatiku Tio It Hiong menjadi puas dan takluk!”
Kin Lam It Tok menunda langkahnya dan berkata dingin :
“Bocah kembali kau hendak main-main! Apakah kau sangka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kau sederajat denganku hingga kau menantang janji
menghendaki aku menawarkan syarat kepadamu?”
“Itu bukan maksudku orang tua!” It Hiong berkata. “Yang
kukehendaki adalah satu cara lain! Hendak aku mengutarakan
itu, kau suka menerima baik atau tidak, terserah padamu!”
Si Tunggal Racun heran hingga dia mendelong.
“Eh, bocah kau sebutkanlah!”
It Hiong menunjuk tampang sungguh-sungguh dan berkata
: “Kami tidak hendak merintangi kau menolong muridmu!
Bahkan sebaliknya mungkin aku dapat mengobati lukanya
itu…..!”
Kin Lam It Tok memotong kata-katanya dengan tertawa.
Dengan lagak san suara memandang remeh dia berkata :
“Syaratnya itu ialah aku membebaskan si orang she Beng?
Benarkah?”
It Hiong tidak menjawab langsung, katanya sabar : “Kita
tidak bermusuhan satu sama lain, atas nama dunia Kang Ouw,
dapatkah kau lakukan itu, orang tua! Walaupun demikian
itulah syarat yang tak aku kehendaki!”
Orang tua itu agak habis sabar.
“Eh bocah!” bentaknya, “Kenapa kau bicara setengahsetengah?”
Alisnya It Hiong bangkit berdiri lantas ia berkata dengan
gagah : “Kau harus berjanji akan tidak mencelakai pamanku
itu, setuju!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Tok tertawa dingin.
“Oh, kiranya begitu?” katanya. “Jika aku tidak suka berjanji,
habis kau mau apa? Apa kau sangka kau dapat mencegah aku
si orang tua?”
Tepat waktu itu, diantara sinar rembulan terlihat satu
bayangan orang berkelebat, terus terdengar suara nyaring tapi
merdu , “It Tok! Kalau kau benar jago, beranikah kau
merampas muridmu dari tanganku?”
Berbareng dengan suaranya, orangnya sudah berada di
depannya jago tua dari Kwiecu Selatan itu. Dialah si Nona Tan
Hong, yang dengan kecerdikannya sudah merampas Michi
yang ia pegang nadinya atau urat kematiannya. Dengan tak
dapat berkutik, orang Biauw itu mandah dituntun.
Kit Lam It Tok berdiam, dia melihat suasana tidak baik, lalu
ia batuk-batuk.
“Bagaimana dengan syaratmu kalau itu ditukar dengan
muridku ini?” tanyanya kemudian.
It Hiong menjawab dengan cepat dan secara polos. “Kalau
itu yang kau kehendaki orang tua, terserah!”
Tan Hong tertawa terkekeh-kekeh, katanya : “Dengan
syarat ini orang tua, kau telah menang diatas angin! Masihkah
kau tak mau menerima dengan baik?”
It Tok menjawab dengan cepat : “Baik, beginilah janji kita!
Aku tak akan mencelakai pamanmu itu!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Tapi kami tidak menerima dengan baik!” mendadak
datang satu suara keras dan galak, menyusul mana muncullah
orangnya berlompat datang.
Merekalah Tok Pie Longkun Sutouw Kit dan Cie Ciu Koan
Im Lou Hong Hui. Mereka lantas berdiri di depan It Tok dan
rombongan It Hiong.
Lantas Sutouw Kit mengawasi It Tok untuk berkata : “Kami
dari Losat Bun, kami orang-orang yang tak suka melakukan
sesuatu yang gelap! Kami datang kemari untuk mengambil
jiwanya si orang she Beng! Inilah saatnya buat membalas
darah yang dimuncratkan. Locianpwe, buat apa kau melayani
mereka ini?”
Mendadak parasnya It Tok berubah menjadi seram, dengan
dingin ia berkata : “Aku si orang tua, aku bisa mengatakan
satu tapi tak pernah menjadi dua. Dengan bocah ini aku telah
berunding dan berjanji! Perkataanku telah keluar, aku harus
membuktikan itu! Dalam urusanku ini, apakah kalian sangka
ada orang diluar yang dapat campur tangan? Tidak! Nah
kedua tongcu, kalian ada bebas, kalian dapat melakukan apa
yang kalian suka asal itu urusan masing-masing! Nah, maaf
aku si orang tua tak dapat melayani kalian lebih lama!”
Menutup katanya itu, jago tua ini menyambuti Mikhi dari
tangan Tan Hong untuk dipondong dan dibawa pergi! Kali ini
dia berlalu sambil berlari-lari hingga dilain saat lenyap sudah
bayangannya!
It Hiong pandai melihat suasana. Ia lantas mendapat
kekuatiran Sutouw Kit dan Lou Hong Hui nanti pergi
kesarangnya It Tok untuk mencelakai pamannya, lekas-lekas
ia berkata pada Tan Hong! “Kakak, sebenarnya buat apa kita
datang kegunung Ay Lao San ini?”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong heran mendengar pertanyaan itu, tapi ia dapat
berpikir cepat, dan dapat menangkap maksud It Hiong. Maka
dengan cepat juga ia memberikan jawaban : “Kita datang
kemari guna menolong Beng Locianpwe bebas dari dalam
kurungan !”
“Sekarang ada orang hendak mencelakai Beng Locianpwe
itu.” Kata pula It Hiong, “Maka itu apa yang harus kita
lakukan?”
Tan Hong menjawab nyaring : “Orang yang ingin
mencelakai Beng Locianpwe itu ialah musuh besar kita, maka
kita basmi saja tanpa ampun!”
Suara nyaring si nona sampai menyadarkan Wie Hoay Giok
yang sekian lama itu terus bersemadi memulihkan
kesehatannya. Dia melompat bangun dan lari menghampiri.
Selekasnya dia melihat Sutouw Kit berdua, dia mengawasi
mereka itu dengan bengis.
Lou Hong Hui gusar, dia membentak : “ Kamu dua mahluk
celaka, jangan kamu banyak bicara yang tidak-tidak! Kamu
tahu gunung Ay Lao San ini adalah tempat kuburanmu
semua!”
Kata-kata nyonya ini ditutup dengan satu serangan
joanpian kepada It Hiong.
Si anak muda tidak menangkis atau mundur. Ia justru
melompat maju dua tindak terus ia balas menyerang dengan
dua tangan berbareng. Ia menggunakan dua jurus dari ilmu
silat Hiong Liong Hok Ciang, Tangan Menaklu Naga
Menundukkan Harimau. Tangan kanan dengan jurus “Didalam
Awan Mengambil Bulan, sasarannya ialah jalan darah siuteng
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sedang tangan kiri dengan jurus “Dengan Sebelah Tangan
Menawan Naga” yang bergerak untuk menangkap tangan
lawan yang memegang joanpian itu.
Hong Hui terperanjat. Ia menyerang siapa tahu ia justru
yang didahului. Ia menjadi repot sebab sulit buat ia
menggunakan terus senjatanya itu. Ia justru harus
menyelamatkan diri untuk mundur atau berkelit juga sukar.
Maka terpaksa ia lantas menggunakan jurus “Tian Poan Kio”
Jembatan Papan Besi. Ia bebas dari sambaran tangan kanan
lawan tapi anginnya itu membuat mukanya terasa panas.
Dilain pihak ia menurunkan tangan kanannya dengan kaget
sambil menggerakkan senjatanya untuk melindungi diri.
Barulah setelah itu ia dapat melompat mundur dua tindak.
It Hiong tidak mau memberi hati. Orang mau
membinasakan pamannya, ia menjadi gusar. Setelah musuh
itu mundur, ia maju menyusul kembali menyerang, kedua
tangannya bergerak tak hentinya.
Karena dia telah terdesak, Hong Hui menjadi sangat repot.
Tak berdaya dia dengan senjatanya itu. Diapun merasa tangan
lawannya bergerak secara luar biasa. Tapi diapun tersohor
sebagai siganas, dia tidak takut lantas menggertak gigi.
Segera ia menggunakan ilmu silat Im Yang Ciang, ilmu tenaga
dalam Losat Bun. Dengan begini diapun menggunakan kedua
tangannya. Tangan kirinya lantas berubah menjadi bayanganbayangan
dari seratus lebih tangan yang semua eluncur
kepada si anak muda, kemuka, dada dan perut.
Demikianlah, maka bertempurlah kedua macam ilmu silat
dari kedua partai lurus dan sesat.
Tenaga dalam Hian Bun Sian Thian Khie kang melawan
Losat Bun dan Hong Hok Louw Ciang melawan Im Yang Ciang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bahkan sebenarnya It Hiong sendiri mewakili dua partai, yaitu
Pay In Nia dan Pat Pie Sin Kit.
Jilid 23
Bertarung belum lama Hong Hui terperanjat sendirinya. Ia
mendapat kenyataan lama-lama gerak gerik tangan kirinya tak
cocok dengan gerakan tangan kanannya yang mencekal
joanpian. Ia cerdik, hendak ia menggunakan akal. Hendak ia
melayani tetap pada It Hiong dengan dilain pihak berniat
melepaskan joanpian hanya bukan diledaki dengan begitu saja
tetapi sambil dipakai menyerang secara menggelap kepada
pihak musuh! Pada musush yang lagi menonton dipinggiran
yang tak bersiap sedia!
Akan tetapi Tan Hong yang dijadikan sasaran adalah
seorang yang berpengalaman ia jeli telinganya awas matanya
ia lantas melihat ada bayangan melesat ke arahnya dengan
cepat ia berkelit sambil membungkuk dalam sedangkan
dengan tau ho pang ia menangkis katas. Maka itu joanpian
lawan terhajar menggeletak ditanah!
Hong Hui menyesal akan kegagalannya itu, tetapi dia tak
dapat berpikir lagi, dia mesti mengutamakan perlawanannya
terhadap It Hiong. Dia melayani selama lima puluh jurus
masih dia tak berdaya merobohkan lawan. Maka dia menjadi
nekad. Diam diam dia mengerahkan tenaganya pada lengan
kirinya setelah itu dia menyerang sehebat habatnya sambil
menyerukan lawan : "Eh bocah kalau kau berani sambtlah
tanganku ini !" Hanya lebih dahulu dia menyerang dengan
tangan kanannya.
"Mari coba" menjawab It Hiong berani.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Hui girang. menyusuli tangan kanannya itu
menyeranglah ia dengan tangan kirinya dengan dahsyatnya
sebab ia telah menguras semua tenaganya.
Tak ampun lagi beradulah kedua belah tangan dengan
benturan yang keras. Akibatnya itu yaitu Hong Hi terpental
mundur sejauh tujuh tindak tubuhnya limbung turus roboh
terkulai karena tubuhnya bagian dalam telah bergetar hebat.
It Hiong pun terpental tiga tindak tetapi dia segera berdiri
tegak sambil meluruskan jalan darahnya menyalurkan
pernapasannya.
Tan Hong terkejut dia segera lompat ke sisi si anak muda.
"Adik, apakah kau mendapat luka didalam?" tanyanya
prihatin.
It Hiong membuka matanya yang tadi ia pejamkan Habis
menyalurkan diri itu ia merasa kesehatannya tidak terganggu.
Maka ia lantas tertawa.
"Tidak!" sahutnya perlahan.
Tepat itu waktu It Hiong melihat dan mendengan sesuatu
dengan berbareng ia melihat bayangan orang berkelebat
bersama berkelebatnya cahaya berkilau terus terdengar suara
barang terasampok disusul jatuhnya golok ketanah. Lalu
akhirnya tubuhnya Hoay Giok berlompat ke arahnya. Hoay
Giok yang nafasnya tersengal-sengal.
Apakah yang telah terjadi?
Hoay Giok menonton pertempuran dengan asyik.
selekasnya ia melihat Hong Hui roboh ia lompat kepada wanita
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu goloknya diayun Ia hendak membunuh orang saking
panasnya hatinya karena ia berniat hebat membalas dendam
gurunya. Berbareng dengan dia berlompat juga Cian pwee
Longkun SuToaw Kit Dia ini melihat istrinya roboh hendak ia
menyelamatkan. Tapi dia berbareng melihat orang hendak
membinasakan istrinya itu cepat luar biasa dia menangkis
Hoay giok membuat golok terlepas jatuh dan orangnnya
termasgul ke arah It Hiong.
Pemuda she Tio itu lantas melihat bagaimana SuToaw Kit
tengah mencoba menolong Hong Hui dan Hoay Giok berdiri
bernapas membara disisinya. Ia dapat mengerti duduknya
kejadian.
"Kau kena terhajar musuh kakak?" Ia tanya.
"Tidak ada artinya!" sahut Hoay Giok sangat mendongkol.
"Masih bagus nasibnya wanita siluman itu, sayang
kepandaianku masih rendah hingga golokku kena dibikin
orang terpental...."
"Malam ini mereka itu berdua harus dibereskan" berkata
Tan Hong perlahan, habis dia melirik SuToaw Kit dan Lan
Hong Hui " Demi keselamatannya paman Beng, tak dapat
tidak kita harus berlaku keras, bukankah benar demikian adik
Hong?
It Hiong berpikiran lain menjawab. "Asal mereka tahu diri
dan rela mengundurkan dirinya tak usah kita ambil jiwanya."
"Tetapi adik!" kata Hoay Giok matanya mendelik "toh ada
pepatah yang mengatakan bahwa siapa tidak berkeras hati
dialah bukan laki laki sejati! Bermurah hati terhadap lawan
berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri Kau toh ketahui itu
bukan?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selagi It Hiong belum menjawab Tan Hong sudah pergi
memungut goloknya Hoay Giok untuk diserahkan pada
pemiliknya. Ia melihat dua orang itu lagi berdiri diam saling
mengawasi. Lantas ia kata: "Kenapa kalian berdiam saja?
Bukankah kita sedang menghadapi musuh musuh yang
kejam?"
It Hiong mengangkat kepalanya memandang nona itu
"Aku tengah memikirkan kata katanya kakak Hoay Giok
bagaikan emas hendak aku ukir itu di dalam hatiku supaya tak
sampai dapat dilupakan!" Terus dia menjura pada si kakak dan
kata: "Kakak Giok kata katamu menyadarkan aku membuatku
dapat menghilangkan sifat lemah hati wanita dari dalam
kalbuku! Kakak aku sangat kagum terhadapmu."
"Jangan berkata begini adik" kata Hoay Giok cepat. "kita
bagaikan saudara kandung satu dengan yang lain jangan
berlaku sungkan."
Tan Hong mengawasi orang yang ditanyai itu ia tertawa
geli. Ia menganggap lagak orang jenaka.
It Hiong menoleh mengawasi si nona bersungguh sungguh.
"Jangan tertawakan aku kakak!" katanya " Selanjutnya aku
akan bersikap menuruti kata kata emas dari kakak Hoay Giok
akan aku buang sifatku yang lemah itu"
Memang kekurangannya seseorang muda ialah terlalu keras
otak terlalu lemah hingga ia tak dapat berlaku sama tengah
mana itu jalan yang mudah dan sukar. Dikira mudah Tapi itu
pula jalan yang sulit.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Co Kiauw In yang luwes menghendaki si adik Hiong berlaku
murah hati supaya dia bebas dari "kutukan" dimana yang bisa
agar It Hiong dapat mengampuni orang. Karenanya si anak
muda menjadi gagah tetapi lemah hati mudah merasa kasihan
Sekarang ia justru mendengar kata kata gagah dari Whi Hoay
Giok Kakak ini muda tetapi pengalamannya tidak banyak dia
tahu segala apa.
Maka itu terbangunlah semangatnya. Ia memang
membenci kejahatan maka sekarang ia menganggap si sesat
tetap sesat dia berdoa atau tidak.
Sementara itu Lou Hong Hui telah sadarkan diri berkat
bantuan suaminya. ia membuka matanya, ia mengeluarkan
napas lega terus ia bangun berdiri.
Tatkala itu si petani malam sudah menunjuki saat kira jam
tiga, langit bersih sekali hingga puncak dan rimba tampak
jelas dan di depan mata sejauh tiga tombak atau lebih, orang
bisa melihat segala apa dengan nyata. Demikian Hong Hui
bisa melihat It Hiong bertiga sedang berkumpul bersama.
Mendadak munculk kegusarannya sambil berseru ia bergerak
menghampiri si anak muda, musuhnya itu. Ia mau mencari
balas Sutouw Kit menghadang istri itu.
"Lukamu masih belum sembuh" kata sang suami. "jangan
kau turuti hawa amarahmu! Mana dapat kau berkelahi pula ?
Itulah larangan kaum rimba persilatan! Sekarang kau
duduklah beristirahat nanti aku sendiri yang membereskan
mereka itu.
Berkata begitu suami ini merogoh sakunya mengeluarkan
sebutir pil yang ia terus masuki kedalam mulut istrinya
kemudian ia berkata di telinga istrinya itu: " Dari mereka
bertiga rupanya si anak muda yang paling lihai. Bocah yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bersenjata golok itu biasa saja kepandaiannya akan tetapi
mereka berdua nampaknya sangat erat hubungannya. Maka
itu kalau kita bisa bekuk bocah itu kawan kawannya tentu
akan tunduk dan menyerah atas kehendak kita!.”
Sebagai seorang Kang Ouw yang berpengalaman Sutaw Kit
pandai melihat dan berikir maka juga ia dapat menerka tepat
dan terus mendapat ide itu untuk membekuk dan menguasai
Hoay Giok.
Hong Hui mengangguk membenarkan pendapat suaminya
itu, Ia bernapas lega.
Segera Sutauw Kit berteriak ke arah It Hiong bertiga.
Kembali dia membawa tingkahnya seorang Cianpwe orang
yang usianya lebih tua serta tingkatannya llebih tinggi. Dia
berhenti sejenak satu tombak dari mereka itu terus ia
mengelurkan suara lantang :"Eh bocah bau yang tahu langit
tinggi dan bumi tebal! Losu! Bun sudah berlaku murah
terhadap kamu kenapa kamu berani banyak tingkah di sini?
kamu berani melukai Lou tongcu! Kamu bosan hidup disini ya?
Sepasang alisnya It Hiong bangkit matanya menyala.
"Manusia yang tidak menepati janji!" bentaknya
"bagaimana berani kamu datang kemari untuk mencelakai
pamanku? mari jika hendak belajar kenal dengan dengan
seribu tanganmu! Mari kita lihat siapa sebenarnya yang sudah
bosan hidup!"
"Anak muda ini menyebut "seribu tangan" sebab itulah
artinya gelaran dari Sutauw Kit "Cian Pie Longkun" orang
dengan seribu bahu" (cian pie)
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tutup bacotmu!" Sutauw Kit membentak Dia tampak tetap
bengis. Lantas dia maju menyerang. Benar hebat tangannya
itu, sebab tangan dua tetapi bergerak dalam banyak bayangan
saking cepatnya.
It Hiong heran melihat gerakan tangan lawan itu, ia tidak
takut sebaliknya ia menjadi mendongkol dan penasaran. Ia
lantas menyambut selekasnya ia mengerahkan tenaga
dalamnya, siap sedia untuk mengadu tangan itu dengan lain.
Tangan kiri dipakai menjaga diri tangan kana dipakai
menyerang dan pukulan pukulan tangan. Menaklukkan Naga
menundukkan Harimau. dengan jurus "menyingkap Mega
Mengambil Rembulan" Itulah siasat "Penyerang dia balas
dengan menyerang".
Sutaw Kit heran hingga ia lantas lompat mundur. Belum
pernah ia menemui lawan berani seperti pemuda ini. Kalau dia
menyerang terus mungkin ia berhasil, tetapi pun sudah pasti
ia sendiri bakal bahaya. Ia menganggap mundur dahulu paling
selamat. Demikian dia mengalah.
It Hiong jemu dengan lagak orang. begitu berhasil
merangsak ia meneruskan mendesak tiga kali ia menyerang
terus menerus.
Sutauw Kit benar-benar lihai. Dapat dia mengelak. Segera
dia membalas. Kali ini dengan "Poa Lui Ciang Hoat" pukulanpukulan
tangan kosong "guntur" Ia menyerang berulang ulang
hingga tujuh puluh dua kali.
It Hiong terus menangkis atau berkelit dari semua hajaran
itu Ia ditolong oleh Tou In Ciong, lompatan "Tangga Mega"
ilmu ringan tubuh yang lihai sekali itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Maka itu pertarungan jadi berjalan cepat dan seru sampai
puluhan jurus mereka masih sama unggulnya. Sutauw Kit
menjaga diri baik baik supaya tak kena terhajar Ia melihat
bukti pada istrinya yang terluka demikian parah. Sebaliknya
ingin sekalian berhasil menyerang mengenai sasarannya, guna
membalas sakit hati istrinya itu. Dia mengharap harap supaya
lawannya kehabisan tenaga.
Pengharapannya jago Losat Bun itu pengharapan yang
beralasan. Lawan toh masih muda lawan selayaknya kalah ulet
daripadanya. Dia sendiri termasuk jago tua dan tahu baik akan
kekuatan dirinya. Tapi It Hiong dapat bertahan. Terpaksa ia
mesti bertahan juga.
Semua penonton kagum, mereka tak dapat membedakan
mana kawan dan mana lawan saking cepatnya dan orang itu
berlompatan menyerang dan mengulat.
Selagi mendekati jurus yang keseratus Sutauw Kit merasa
hatinya tak tenang. Inilah sebab ia mendapat kenyataan lawan
muda itu tetap gesit dan tangguh. Ia sendiri sebaliknya
merasa tenaganya mulai berkurang dan inilah berbahaya
untuknya.
"Aku mesti mendahului dia!" demikian pikirnya. Lantas ia
mengambil keputusan dan bertindak luar biasa bengisnya ia
mendesak lawannya terpaksa It Hiong mesti mundur sampai
dua tindak. Justru lawan ..... menyerangnya dengan ..... jurus
dari poa jui Ciang yaitu "Sinar Kilat Api bara" hanya itu
selekasnya dirubah menjadi cengkraman kepada bahu.
Hoay Giok kaget sekali ketika ia tengah kesengsem
menyaksikan perlawanannya It Hiong yang sangat
mengagumkan padanya ,.... (tidak terbaca)..
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
SuToaw Kit tercekat dengan tangannya itu gagal dengan
serangannya yang pertama ia menyusuli dengan yang lain tapi
kali ini pasti gagal pula. Kali ini Tan Hong yang
menggagalkannya. Nona itu menghajar tangannya dengan
ruyung ...... Ia menjadi terkejut berbareng penasaran. Lantas
ia menyambar yang sisinya buat.............seru keras supaya
pemilik ruyung ........
Tan Hong berlaku waspada dan Cepat Ia menarik pula
ruyungnya buat terus dipakai menyerang pula kepem...........
lawan. Tapi ia disambut lawan. Kali ini SuToaw Kit juga
menyambut dengan dua dua tangannya inilah yang ia
kehendaki ia memang mau mengguna tipu Bahkan sengaja ia
melancarkan ruyung sedikit jauh supaya dapat tersentuh
lawan itu. Dengan begitu Hoay Giok jadi mendapat ketika
menjaga dirinya.
Hampir Cian Pie Longkun dapat mencekal ujung ruyung
atau mendadak lawan mnyerangnya dengan keras sekali maka
itu kedua tangannya tersentuh ujung ruyung itu Tapi yang
mengagetkan ia adalah .... tangannya terasa kaku.
Akibat sentuhan itu Untuk menyelamatkan diri lantas ia
menendang si nona.
Tan Hong justru mengeluarkan tenaga dalam Mo Teng Ka
ketika tendangan mengancamnya terpaksa ia berkelit dengan
lompat mundur sendiri dengan kaget menarik pulang
ruyungnya menarik pulang sambil disontakkan ke arah lawan.
Seketika itu juga terjadilah dua hal hampir berbareng
Sutaw Kit berdiri limbung hingga ia mundur dua tindak terus
dia memuntahkan darah disebelah dia Hoay Giok pun
mendadak roboh dengan sendirinya terus dia bergulingan
ditambah dengan tangannya yang satu memegangi bahu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tangannya yang lain hingga menyaksikan itu Tan Hong kaget
sekali.
Itulah kejadian diluar dugaannya si nona Kiranya Loa Hong
yang berduduk diam menyalurkan pernapasannya telah
melihat jalannya pertempuran itu mengetahui suaminya
berada dibawah angin Ketika itu pula Hoay Giok maju untuk
membacok suaminya.
Untuk menolong suaminya itu tidak ada jalan lain lantas ia
menjemput batu hancur dan memakai itu sebagai gantinya
senjata rahasia menyerang si anak muda.
Dia berhasil sebab Hoay Giok terhajar lengan kanannya
lengan itu patah dan goloknya jatuh ketanah terjatuh
robohnya tubuhnya hingga ia bergulingan saking ngerinya.
It Hiong telah menyaksikan semua
Tak keburu ia menolong kakak seperguruanya itu ia pun
menjadi sangat gusar Matanya hendak ia memburu si kakak
untuk membantu atau mendadak ia memikir lain.
Ia sudah berlompatan ia merubah arahnya terus ia lompat
kepada SuToaw Kit dan menghajarnya dengan satu hajaran
yang keras dan mengenai punggung jago Losat Bun itu tanpa
si jago sampai berdaya
Tan Hong melengak menyaksikan semua kejadian. Semua
terjadi dengan sangat cepat.
Hong Hui lompat kepada suaminya untuk memayangnya
buat mencoba membantu.
Suaminya itu terus muntah muntah darah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong sebaliknya lompat kepada Hoay Giok untuk
mengasi dia bangun serta paling dahulu memberikan dia obat
pemunah racun.
Jago wanita dari pulau ikan Lodan Hitam tidak melengak
lama. Segera dia lompat kepada Loa Hong Hui dan
menghajarnya dengan ruyungnya.
SuToaw Kit mendapat lihat datangnya serangan kepada
istrinya. Dia sudah terluka parah akibat serangan satu jurus.
Dari Hang Liong Hok Kouw Ciang. Dia masih memuntahkan
darah tetapi melihat istrinya itu terancam bahaya hendak dia
menolongnya dengan sisa tenaganya Maka dia meronta lantas
dia maju dengan dua duanya guna menangkis serangan dia
pun sambil berseru "istriku lekas menyingkir! jangan kau
hiraukan aku lagi...!"
Cuma begitu jago Lohat Bun ini mengeluarkan kata katanya
segera dia roboh terkulai tanpa berkutik lagi karena tak dapat
dia bertahan dari pukulan kematian dari Nona Tan. Dia lain
pihak Hong Hui sudah lantas kabur menuruti anjuran
suaminya Hanya sebentar saja ia telah menjauhkan diri empat
tombak seraya terus menuju ke bawah gunung.
Tan Hong hendak mengejar musuh itu atau hendak ia
membatalkan pikirannya itu, Ia sangat It Hiong lagi membantu
Hoay Giok hingga kedua anak muda itu tak dapat di tinggal
pergi dikuatirkan waktu muncul musuh atau musuh musuh
yang mestinya berada disekitar tempat itu. Begitulah habis
mengawasi tubuhnya Sutow Kit ia menghampiri It Hiong dan
Hoay Giok.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya dia menelan obatnya si pendeta tua dari Bie Lek
Sie. Hoay Giok merasa nyerinya berkurang. Obat itu dapat
mengoobati luka luka dan racun. Ia tak lagi merintih dan
mukanya pun berubah menjadi merah pula tak sepucat
semula.
Lega hatinya It Hiong menyaksikan kemustajaban obat itu.
Ia sekarang memikirkan lengan yang patah dari kakak
seperguruannya itu. Obat apakah harus dipakai tak usah lama
ia berpikir lantas ia mendapat akal. Ia mengeluarkan pil yang
lain ia mengunyah itu terus ia borehkan ditempat yang luka
pada lengannya sang suheng. kemudian luka itu dibabat
dengan robekan ujung sang baju. habis membalut luka ia
meneruskan dengan mengempos tenaga dalamnya ketubuh
Hoay Giok guna menyalurkan darahnya dengan baik supaya
daging dan tulang berambung pula dengan tepat seperti sedia
kala.
Ketika Tan Hong datang menghampiri kedua anak muda itu
lagi sama sama berdiam Hioay Giok tengah bersemadhi
meneriam bantuan ternaga dalam It Hiong lagi
mengemposkan tenaga dalamnya itu. Ia berdiam saja disisi
mereka itu mengawasi sambil berjaga jaga kuatir musuh
datang membokong.
Sang waktu terus berjalan tak hentinya. Fajar tiba sudah
Cahaya terang mulai tampak diufuk timur terus keseluruh
jagad Di atas pohon burung burung mulai bercowetan.
Hoay Giok menghela napas terus membuka matanya terus
ia berbangkit bangun berdiri. Dengan perlahan sekali ia
mencoba menggerakan tangan kanannya yang terluka.
Ia tidak merasa nyeri. Ia mencoba menggerakkan lebih
jauh dengan pelbagai gerakan ke kiri dan kanan, ke atas dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bawah. Untuk girangnya ia merasai tangannya itu bergerak
bebas seperti biasa. Maka bukan main girangnya.
"Sute !" katanya. "Darimana kau mendapatkan obat yang
mujarab sekali ini ? Sute, lukaku telah sembuh !"
It Hiong tidak lantas menjawab kakak seperguruan itu. Ia
justru berdiam sebagai orang lagi bersemadhi. Inilah karena ia
perlu beristirahat habis ia mengemboskan terlalu banyak
tenaga dalamnya yang membuatnya letih.
Adalah Tan Hong yang tertawa dan berkata : "Syukur kau
telah sembuh kakak Whie. Kau bukan ditolong oleh obat
melulu tetapi juga karena bantuan tenaga dalam adik Hiong !
Kalau tidak, kesembuhanmu tak secepat ini !"
Hoay Giok mengawasi It Hiong yang duduk bersila sambil
memejamkan mata dan tubuhnya tak berkutik. Ia menghela
napas dan berkata : "Sungguh baik hatinya Tio sute. Aku
bersyukur bukan main !"
Tan Hong bersenyum.
Selagi sang waktu terus berjalan merayap, kesunyian terus
menguasai tanah pegunungan itu. Tan Hong bertiga merasa
aman. Tak pernah datang pula musuh. Mungkin Kiam Lam It
Tok repot membantu kedua muridnya dan Losat Bun tengah
menantikan si jago muda yang diharuskan datang pula guna
menjalankan syarat atau aturan partainya itu.........
Selekasnya It Hiong pulih seperti biasa, tanpa banyak
omong lagi ia mengajak kedua kawannya mencari lobang gua.
Mereka hendak lekas menolong Beng Kee Eng. Sekarang tak
ada lagi rintangan. Mereka mengingat-ingat dari mana
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
datangnya bokongan tadi. Mereka pun melihat dari mana Kim
Lam It Tok muncul dan kemana ia pergi.
Tidak terlalu lama mereka menggunakan waktunya. Sarang
Ular itu lantas dapat ditemukan. Letaknya tak seberapa jauh
dari mulut sumber air. Mulut gua itu teraling rapat oleh akar
rotan, pantas sukar dicarinya.
It Hiong menghunus Keng Hong Kiam. Dengan itu
membabati sekalian akar yang merintanginya. Setelah itu
dengan berani ia memasuki lobang itu. Tan Hong dan Hoay
Giok ia ajak bersama. Lobang itu berupa seperti terowongan.
Di langitnya terdapat stalaktit. Dari situ menetes terus air
seperti butiran-butiran air es. Karenanya, tanahnya lembab.
Sejauh lima tombak di sebelah depan tampak sinar terang dari
sebuah lentera yang digantung di dinding. Cahaya itu hanya
cukup buat orang mengenali jalanan.
Ketiganya maju dengan perlahan, senjatanya masingmasing
siap sedia. Selewatnya belasan tombak, mereka
melihat makhluk bergerak-gerak di tanah.
"Ular !" seru It Hiong yang berjalan di muka. Tangannya
dipakai mencegah kedua kawannya maju lebih jauh.
Tan Hong dan Hoay Giok berhenti. Mata mereka
mengawasi kepada makhluk itu.
Di sana ada sekumpulan ular besar dan kecil, ada yang
kuning, hijau dan merah dan belang juga. Selainnya yang
bergerak-gerak, ada yang mengangkat kepalanya dan
mengulur memain lidahnya, sedangkan semua matanya
bercahaya bengis. Risau rasanya mengawasi sekalian binatang
dengan sikapnya yang mengancam itu........
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sekarang bagaimana, adik Hiong ?" tanya Tan Hong. Ia
gagah tetapi ia jeri terhadap binatang merayap itu. Dia tak
bebas seluruhnya dari tabiat wanita, takut akan ular. "Hebat
sarangnya Kiu Lam It Tok ! Ular melulu !"
Tanpa malu-malu si nona merapatka tubuhnya pada It
Hiong dan menyendernya.
It Hiong bersikap tenang. Setelah mengawasi sekian lama,
tangannya merogoh sakunya mengeluarkan peles obatnya. Ia
mengulapkan itu di muka si nona.
"Buat apa takut, kakak ?" katanya. "Kita toh mempunyai
obat dari pendeta tua dari Bie Lek Sie itu. Mana dapat ular
beracun ini mencelakai kita ? Sia-sia saja segala akalnya Kiu
Lam It Tok terhadap kita !"
Lantas si anak muda membuka tutup peles dan mengambil
isinya. Ia memberikan tiga butir masing-masing pada si nona
dan Hoay Giok. Ia sendiri mengambil tiga butir pula untuk
bersama-sama memakannya.
Hoay Giok pernah merasai pagutan ular beracun. Walaupun
ia telah menelan obat, hatinya masih cemas. Ia berjalan
dengan berhati-hati sekali. Matanya dipasang tajam-tajam.
"Ular memenuhi jalanan, mana dapat sekali gua semuanya
dibinasakan......" kata ia bersangsi. "Biar bagaimana kita sukar
luput dari pagutan satu diantaranya........ Biarnya kita sudah
makan obat, kita toh harus waspada......... Sute, aku pikir
harus kita mencari jalan paling mudah untuk
melewatinya.........."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Perlahan-lahan Tan Hong mendapat pulang ketabahan
hatinya. Ia berpikir selekasnya ia mendengar kata-katanya
Hoay Giok.
"Kakak Whie, kenapakah kita tidak mau menggunakan api
?" katanya kemudian. "Bukankah ular dan binatang buas
lainnya takut api ?"
"Benar, benar !" menjawab Hoay Giok girang hingga ia
menepuk-nepuk tangan. "Sungguh kau cerdik Nona Tan !"
It Hiong berdiam, ia menggeleng kepala, alisnya
dikerutkan.
"Kau takuti apa, sute ?" tanya Hoay Giok heran.
"Api dan asap dapat mengusir ular." sahut si anak muda.
"Tetapi asap pun dapat membuat Paman Beng sukar bernafas
hingga ia terancam bahaya lain........"
"Tapi kita harus dapat mengira-ngira menggunakannya."
kata Tan Hong bersenyum. "Bagaimana kalau kita membuat
sejumlah obor dari kayu atau cabang-cabang kering. Kita sulut
dan ombang-ambingkan itu sembari kita berjalan maju ? Aku
bukan maksudkan kita membakar habis semua ular ini......"
Selagi bicara itu, Nona Tan tampak gembira sekali.
It Hiong memandang nona itu, lalu ia tunduk dan berkata
dengan perlahan : "Kembali seorang Kakak Cio Kiauw In......."
Manis Tan Hong merasa mendengar pujian itu. Ia
disamakan dengan Kiauw In, si cantik, sabar dan cerdas.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Ah, adik. Kau lagi mempermainkan aku !" katanya
bersenyum. "Mana dapat aku dipadu dengan Kakak Kiauw In
mu itu ?"
It Hiong berdiam. Kata-katanya nona itu bercabang dua.
"Mari kita bekerja seperti katanya Nona Tan !" Hoay Giok
menyela.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Silat Romantis : Iblis Sungai Telaga 7 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 26 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments