Cerita Novel Cinta : Dendam Iblis Seribu Wajah 2

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Novel Cinta : Dendam Iblis Seribu Wajah 2
Baca Juga:
Cerita Novel Cinta : Dendam Iblis Seribu Wajah 2
BAGIAN VIII
Sementara itu, dari sekitar Cui Sian Lau dan ujung jalan, keluar sekerumunan orang.
Ada Rahib, Tosu, Nikouw, Hwesio dan berbagai kalangan. Tampak langkah kaki mereka
semuanya sangat ringan. Gerakan tubuh juga sangat cepat. Hal ini membuktikan bahwa
mereka bukan tokoh sembarangan.
Untuk apa mereka datang ke tempat ini? Melihat keadaan ini, Tan Ki yang bersembunyi
di kegelapan menjadi terkejut setengah mati. Pengalaman memberitahukan, bahwa
kedatangan orang-orang ini yang mana termasuk tokoh-tokoh dari lima partai besar, pasti
bukan sekedar kebetulan.
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat. Lok Hong dan Cian Cong saling susul menyusul
melayang ke atas tanah. Begitu mata memandang, keduanya menjadi tertegun.
Tampaknya, mereka juga tidak tahu apa yang direncanakan orang-orang ini.
Seorang angkatan tua dari Siau Lim Pai, yakni Pun Bu Taisu, merupakan orang pertama
yang segera menghampiri. Dia merangkapkan sepasang tangannya dan mengucapkan
nama Budha.
“Entah bagaimana kabar Cian Sicu setelah sekian lama tidak berjumpa?” sapanya
ramah.
Sepasang biji mata Cian Cong jelalatan ke sana ke mari.
“Apakah kau Hwesio busuk ini mengharap aku mati cepat-cepat atau mati kekenyangan
makan daging anjing?” sahutannya malah merupakan gerutuan.
Tampaknya Pun Bu Taisu sudah paham sekali watak Cian Cong yang suka ceplasceplos.
Ucapan seperti ini entah telah didengarnya berapa puluh kali. Oleh karena itu,
terhadap sahutan Cian Cong, dia hanya tersenyum simpul.
“Mana mungkin, mana mungkin. Tentunya Sicu hanya bergurau.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Untuk apa kalian datang ke mari? Untuk menyaksikan si pengemis tua berkelahi
dengan si nenek kurus itu bukan?”
Pun Bu Taisu masih tersenyum-senyum.
“Dapat menyaksikan kehebatan Cian Sicu, sungguh merupakan keberuntungan bagi
kami. Tetapi, sebetulnya kedatangan kami ini adalah untuk menunggu seseorang.”
Tampaknya Cian Cong tertarik sekali dengan ucapannya. Dia langsung tertawa lebarlebar.
“Siapa yang kalian tunggu?”
“Cian bin mo-ong!”
Cian Cong tertegun.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau Cian bin mo-ong benar-benar akan ke tempat ini?”
“Cian Sicu merupakan salah satu dari dua tokoh sakti di dunia Bulim. Dan malam ini
mengadakan perjanjian untuk bertarung dengan Ciu Cang Po. Pertandingan ini pasti
sangat seru dan mendebarkan hati. Dalam hati pinceng berpikir Cian bin mo-ong memiliki
ilmu silat yang tinggi. Masa dia tidak mendengar berita ini dan bergegas datang untuk
menyaksikan keramaian? Oleh karena itu, pinceng segera mengajak beberapa orang
kawan dan menunggu di sini untuk berjaga-jaga, tapi…”
Cian Cong tertawa terkekeh-kekeh. “Tapi, orang yang kalian tunggu ternyata tidak
datang bukan?”
“Bagaimana kau bisa tahu?”
“Biar aku beritahukan kepadamu, Kwesio busuk. Beberapa malam yang lalu, si
pengemis tua justru sudah bertemu dengan Cian bin mo-ong. Bahkan kami sempat
bergebrak. Sayangnya dia hanya terkena satu pukulan si pengemis tua, akhirnya dia
berhasil meloloskan diri…” kata-katanya terhenti dan tangannya menunjuk ke arah Lok
Hong. “Pangcu dari Ti Ciang Pang ini juga mende-ngar kabar tentang tindak tanduk Cian
bin mo-ong yang menimbulkan huru-hara di dunia Kangouw. Perbuatannya tidak
mengenal bumi dan langit. Dia sengaja meninggalkan markas Ti Ciang Pang dan bersiapsiap
diri bertemu dengan Cian bin mo-ong. Si pengemis tua tahu, setelah terkena
pukulanku, dalam waktu tiga atau lima hari pasti belum pulih. Lebih baik kita menuju
gedung keluarga Liu untuk sementara. Biar kita tidak usah menganggu dia beberapa hari,
sekalian merundingkan cara menghadapi Cian bin mo-ong ini.”
“Bisa memperoleh bantuan dari Cian Sicu serta Lok Sicu ini, meskipun urusan yang
lebih hebat juga pasti dapat diselesaikan.” sahut Pun Bu Taisu.
Si pengemis tua tertawa terkekeh-kekeh.
“Jangan cepat-cepat menempelkan emas di muka si pengemis tua ini. Siapa tahu kalian
kelak yang tidak becus, sehingga belum apa-apa sudah ketakutan. Hal inilah yang akan
menjadi bahan tertawaan.” ucapannya ini seperti tidak berani memandang rendah Cian bin
mo-ong.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian, dengan diiringi si pengemis sakti Cian Cong dan Lok Hong, tokoh-tokoh dari
kelima partai besar berbondong-bondong menuju gedung kediaman keluarga Liu. Dalam
sekejap mata, kerumunan orang itu sudah bubar sampai bersih.
Meskipun dalam masalah tadi, Tan Ki tidak ikut campur, tapi melihat saja hatinya sudah
tergetar. Tahu-tahu keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya!
‘Rupanya tokoh-tokoh dari kelima partai besar masih belum sudi melepaskan diriku.’
pikirnya dalam hati.
Mendadak mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.
‘Pada suatu hari nanti, Cian bin mo-ong akan berkunjung kelima partai besar dan
menantang kalian satu persatu.’ katanya dalam hati.
Mendadak, terdengar suara Liang Fu Yong yang membersin.
“Adik, ke mana lagi tujuan kita setelah ini?” tanyanya kemudian.
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Aku sendiri tidak tahu.”
Dia tahu Cian Cong, Lok Hong dan yang lain-lainnya semua berada di rumah Liu Seng.
Apabila dia ingin membunuh Liu Seng untuk membalaskan dendam ayahnya, sekarang ini
dia juga tidak sanggup menandingi mereka. Satu-satunya jalan hanyalah menghindari
mereka selam tiga atau lima hari.
Tetapi, dalam waktu beberapa hari ini, apa yang harus dilakukannya? Dan ke mana dia
harus pergi? Tidak ada.
Dia tidak mempunyai rumah. Meskipun dunia ini begitu luas, tetapi dia tidak tahu harus
pulang ke mana?
Berpikir sampai di sini, tanpa sadar dia menarik nafas panjang. Kepalanya tertunduk
dalam-dalam dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Kemudian, perlahan-lahan dia
mendorong tubuh Liang Fu Yong.
“Mari kita pergi pesiar saja.” katanya kemudian.
Liang Fu Yong mengangkat sebelah tandannya dan merapikan rambutnya yang acakacakan.
Dengan penuh perasaan dia mengembangkan seulas senyuman.
“Terserah engkau saja. Pokoknya dalam tiga bulan ini, ke manapun kau pergi, Cici akan
mengikutimu. Aku tidak akan banyak tanya ataupun membantah.”
Sinar mata Tan Ki segera beredar ke sekitarnya.
“Lebih baik kita cari rumah penginapan dan beristirahat sejenak.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Demikianlah, kedua orang itupun segera meninggalkan toko tahu dan mencari
penginapan yang sederhana. Tan Ki meminta dua kamar tidur dan berpencar dengan
Liang Fu Yong untuk beristirahat.
Hal ini malah membuat perasaan Liang Fu Yong menjadi tertekan.
‘Hari ini terpaksa aku memeluk bantal seorang diri…’ katanya dalam hati.
Keesokan paginya, kedua orang itu mencari kuda tunggangan dan mengambil arah ke
Lung Si. Satu hari… dua hari telah berlalu…
Tan Ki menceritakan berbagai kisah para wanita yang menjadi pahlawan bangsa dan tri
==================
Jilid 5 Hal 50 51 Hilang
Kalo ada yang punya silahkan contact lavilla.dry@gmail.com
==================
seorang tokoh persilatan. Meskipun ilmu silatnya tidak terlalu tinggi, tapi mungkin dia
bisa mengenali senjata-senjata rahasia ini!’
Tetapi, begitu dia menghambur ke dalam kamar ibunya, ternyata di sana tidak ada
seorangpun. Hatinya tercekat. Dia merasa aneh sekali. Kembali hatinya berpikir:
‘Mungkinkah ibu mendengar suara ayah yang berkelahi dengan seseorang, maka dia lalu
keluar dengan tergesa-gesa?’
Matanya menerawang, di tembok masih tergantung sepasang golok berbentuk bulan
sabit. Pasangan golok itu merupakan senjata yang digunakan oleh ibunya sehari-hari.
Kalau dia tidak membawanya, pasti dia bukan keluar untuk melihat ayah.
Tiba-tiba dia melihat sehelai sapu tangan laki-laki di tengah-tengah kamar, hatinya
berdebar-debar, cepat-cepat dia memungutnya. Sekali pandang saja dia sudah tahu
bahwa benda itu bukan milik ayahnya.
Untuk apa seorang laki-laki asing masuk ke kamar ibunya?
Pikiran ini melintas di kalbunya yang masih bersih. Tanpa sadar dia menjadi marah
sekali. Meskipun usianya masih kecil, tetapi terhadap urusan laki-laki dan perempuan,
cukup banyak yang diketahuinya.
‘Ketika ayah sedang dalam keadaan di ambang maut, ibu malah kabur dengan seorang
laki-laki.’ pikirnya dalam hati.
Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa dugaannya tidak salah. Tanpa sadar, air
matanyapun mengalir dengan deras. Dia sudah menjadi seorang anak yatim piatu…
Sampai saat ini, dia baru mengerti apa yang dinamakan penderitaan. Ayahnya sudah
mati, ibunya kabur dengan seorang laki-laki, dalam keadaan dilanda dua macam pukulan
bathin, diapun menangis meraung-raung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sebab sebelumnya, dia adalah seorang bocah yang cerdas dan lincah, hidupnya
bahagia dengan keluarga yang harmonis. Dia tidak tahu hal lainnya kecuali kegembiraan.
Tetapi, dalam waktu yang singkat, dunianya seakan ambruk. Diapun berubah menjadi
dewasa.
Dia tahu apa yang dinamakan kegagahan seorang laki-laki. Dia sudah dapat memburu
para laki-laki sehingga menggemparkan dunia persilatan. Setiap malam dia selalu bercinta
dan melampiaskan hasrat hatinya. Kadang-kadang dalam satu malam dia mencari tujuh
atau delapan orang laki-laki.
Tetapi sejak mengikuti Tan Ki, ternyata dia dapat juga menuruti nasehat anak muda itu
dan berusaha menenangkan gairah yang bergejolak dalam dadanya. Meskipun baru tiga
hari yang singkat, tetapi sebetulnya tidak mudah. Kalau dia merasa iseng atau sumpek, hal
ini tidak boleh disalahkan.
Kemudian terdengar lagi suara Liang Fu Yong yang merdu, “Adik, bolehkah aku datang
ke kamarmu dan bercakap-cakap?”
“Apa yang akan kita percakapkan?”
Kamar sebelah menjadi hening. Tampaknya Liang Fu Yong sedang merenung. Agak
lama kemudian, terdengarlah suara tawanya.
“Kita bicarakan masalah apa saja. Kalau tidak, kau boleh bercerita lagi. Saat ini Cici
tidak dapat pulas. Hanya ingin berbincang-bincang saja denganmu.” sahutnya.
“Baiklah, kau datang saja ke mari.”
Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, tiba-tiba tampak sesosok bayangan
menyelinap masuk lewat jendela kamar. Pertama-tama Tan Ki tertegun kemudian dia
tersenyum simpul.
“Mungkin dulu kau selalu menggunakan cara seperti ini untuk menyelinap ke dalam
kamar seorang laki-laki…” tiba-tiba dia merasa kata-katanya ini bisa menyinggung
perasaan Liang Fu Yong, maka dari itu dia tidak jadi melanjutkan. Tetapi di wajahnya
sudah terlihat jelas rona kemerah-merahan.
Liang Fu Yong tertawa-tawa. Tampaknya dia tidak mengambil hati terhadap ucapan
Tan Ki barusan. Dia langsung duduk di tepi tempat tidur. Tan Ki menegakkan badannya
dengan maksud turun dari tempat tidur. Tapi Liang Fu Yong segera mencegahnya.
Bibirnya tersenyum.
“Kau berbaring saja. Cici hanya ingin melihatmu, tidak ada niat lainnya.”
Begitu mata memandang, wajah Tan Ki yang tampan begitu polos bagai bayi yang baru
dilahirkan. Bersih dan menawan hati. Di bawah sorotan cahaya lampu yang remangremang,
tampangnya semakin memukau.
Hatinya langsung berdebar-debar, seakan ada terselip perasaan jengah yang naik ke
atas kepala. Cepat-cepat dia menundukkan wajahnya dan tidak berani memandang lebih
lama. Tiba-tiba telinganya mendengar suara Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Konon ada seorang wanita, namanya Liang Ang Giok. Dia hidup sebagai seorang
penyanyi yang melayani tamu-tamu di rumah pelesiran. Begitu cantiknya dia sampai
namanya terkenal ke daerah-daerah yang jauh…”
Liang Fu Yong merasa hatinya gelisah. Pikirannya melayang-layang. Dia sedang
memikirkan sesuatu hal. Apa yang dikatakan oleh Tan Ki selanjutnya sama sekali tidak
masuk dalam pendengarannya.
Lambat laun, dari sepasang sinar matanya menyorot cahaya yang aneh…
Suasana di dalam ruangan juga seakan dipenuhi gairah yang misterius. Yang seorang
terus berbicara, sedang yang satunya lagi mendengarkan dengan setengah hati.
Orang yang bercerita justru memusatkan perhatian pada kisah yang diceritakan.
Bagaimana wanita bernama Liang Ang Giok itu terpaksa menjual diri guna menutupi
hutang-piutang suaminya. Orang yang mendengarkan malah membiarkan pikirannya
melayang-layang dan saat itu seperti ada kobaran api di dalam hatinya yang naik semakin
tinggi.
Tiba-tiba dia memejamkan matanya dan berteriak, “Tidak usah diteruskan lagi!”
Tan Ki jadi tertegun.
“Apakah kau tidak senang dengan cerita yang satu ini?” tanyanya bingung.
Perlahan-lahan Liang Fu Yong menggigit bibirnya yang sebelas atas.
“Tidak, adik. Apapun yang kau ceritakan, Ciri selalu senang mendengarnya. Biarpun kau
memarahi aku juga tidak apa-apa. Tetapi saat ini, aku… aku…”
Entah mengapa, kata-kata yang selanjutnya begitu sulit dicetuskan oleh Liang Fu Yong.
Sebelumnya, apabila dia berhadapan dengan laki-laki manapun, dia selalu mencetuskan
perasaannya terang-terangan, bahkan tanpa perasaan malu sedikitpun. Siapa nyana, saat
ini, di hadapan Tan Ki dia malah merasa jengah dan tidak sanggup membuka mulut.
Tan Ki merasa terpana.
“Ada apa dengan dirimu?”
“Aku… aku…” setelah setengah harian, dia juga belum sanggup mengatakan apa yang
tersirat dalam hatinya.
Tan Ki melihat sinar matanya yang pilu. Air mata berderai dengan deras. Hatinya timbul
sebuah pemikiran yang menyeramkan. Tanpa sadar tubuhnya menggigil.
Tiba-tiba… dengan gerakan spontan, Liang Fu Yong menerjang ke tubuh Tan Ki.
Gerakannya yang tidak disangka-sangka ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Dia
segera dapat merasakan bahwa peristiwa malam ini agak tidak beres.
Telinganya menangkap gumaman Liang Fu Yong…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Adik, aku membutuhkan… membutuhkan…” suaranya gugup. Nafasnya memburu. Di
balik semua ini seakan terkandung sesuatu permintaan.
Hati Tan Ki semakin tercekat. Dalam waktu yang bersamaan, dia segera sadar apa yang
dibutuhkan oleh Liang Fu Yong. Tiba-tiba dia berusaha menegakkan badannya, namun dia
ditekan kembali oleh Liang Fu Yong. Dalam keadaan panik dia malah sulit memberikan
perlawanan.
Begitu terkejutnya Tan Ki sehingga gerakannya semakin gugup.
‘Datang lagi, datang lagi. Kali ini habislah…!’ jeritnya dalam hati.
Dia mengerti apa yang akan dilakukan oleh Liang Fu Yong. Tetapi, meskipun sebetulnya
dia merupakan seorang anak muda yang cerdas, namun menghadapi kejadian seperti ini,
yang belum pernah dialaminya seumur hidup. Dia juga tidak tahu harus bertindak apa.
Tampak selembar wajah Tan Ki yang tampan menjadi merah padam saking paniknya.
Kadang-kadang wajahnya berubah pucat pasi. Tetapi untuk sesaat dia tidak dapat
meluapkan kemarahannya. Perlahan-lahan Liang Fu Yong mengangsurkan wajahnya yang
merah membara mendekati…
Tiba-tiba Tan Ki merasa nafasnya memburu, perasaannya menjadi tegang, sepasang
tangannya entah harus diletakkan di sebelah mana. Suasana semakin panas, kalau saja
ada orang lain yang menyaksikan, mereka tentunya dikira sepasang pengantin baru yang
masih hijau dalam urusan tempat tidur…
“Tidak boleh… Cici, tidak boleh begini…!” teriak Tan Ki.
Tapi kalau ada yang mencuri dengar percakapan yang berlangsung di dalam kamar itu,
tentu orang tersebut akan merasa heran mengapa yang mengeluarkan jeritan justru
pengantin laki-lakinya.
“Adik, aku harap kau bersedia membantu, Cici benar-benar tidak sanggup
mempertahankan diri lagi…” di bawahnya masih ada kata-kata yang lain, tetapi dia tidak
berani mengatakannya.
Mendadak Liang Fu Yong menempelkan sepasang bibirnya di atas wajah Tan Ki. Pada
saat itu juga, Tan Ki merasa seperti ada arus listrik yang menjalari seluruh tubuhnya. Dan
dia langsung tergetar.
“Cici, kau tidak boleh melakukan hal seperti ini. Tidak boleh…!” seru Tan Ki panik sekali.
Kali ini bibirnya yang disekap oleh Liang Fu Yong. Tan Ki hanya merasa suatu benda
yang hangat dan harum bermain di atas bibirnya. Tan Ki dicium sedemikian rupa sampai
gelagapan. Ciuman itu demikian hangat dan mesra.
Benda-benda yang ada di sekitar seperti lenyap satu persatu. Meskipun dunia ini sangat
luas, tetapi sepertinya hanya milik mereka berdua. Liang Fu Yong hanya digelayuti satu
macam pikiran. Yaitu apa yang dikehendakinya sekarang…..
Sedangkan di pihak Tan Ki, begitu terkejutnya dia sampai tidak sanggup mengucapkan
sepatah katapun. Matanya terbelalak lebar-lebar……
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sepasang tangannya telah basah oleh keringat dingin, jantungnya berpacu cepat
seperti orang yang baru saja berlari dalam jarak jauh. Segulung demi segulung bau harum
yang terpancar dari tubuh perempuan itu menerpa hidungnya. Dia merasa pikirannya
mulai kacau, sepasang matanya berkunang-kunang… tetapi di hati kecilnya masih terselip
sedikip kesadaran.
Tegang! Romantis! Panas! Merangsang!
Suasana yang hangat memenuhi kamar itu. Sungguh saat-saat yang mendebarkan hati
dan sulit melepaskan diri!
Tiba-tiba… Tan Ki berteriak sekeras-kerasnya. Dengan kuat dia mendorong tubuh Liang
Fu Yong dan melonjak turun dari tempat tidur tersebut. Perubahan yang mendadak ini,
membuat Liang Fu Yong termangu-mangu. Dia tidak menyangka kalau Tan Ki dapat
melepaskan diri dari rangsangan bi-rahi yang hampir memenuhi benaknya.
Dalam keadaan tertegun, dengan sekali loncat Tan Ki sudah keluar dengan menerobos
jendela. Liang Fu Yong terkejut setengah mati.
“Adik, jangan pergi!” kakinya menutul dan diapun menyusul dari belakang.
Di bawah sorotan rembulan yang terang, tampak kedua orang itu berlarian dengan
saling mengadu kecepatan. Dalam waktu yang singkat, mereka sudah berlari sejauh dua
belas li.
Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berdiri di atas puncak sebuah bukit
dengan tidak bergerak sama sekali. Hembusan angin membawa keharuman yang
terpancar dari tubuh seorang perempuan. Liang Fu Yong sudah mendarat di sampingnya.
Tempat ini sudah tidak jauh dari hutan. Daerahnya agak tinggi. Begitu di bagian de-i
pan bertiup segulungan angin malam, tanpa terasa tubuh Liang Fu Yong menjadi
menggigil. Kobaran api dalam dadanya pun padam seketika.
Matanya beralih, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan wajahnya menatap langit.
Matanya menerawang, seakan ada sesuatu hal yang menggelayuti pikirannya. Dia berdiri
tegak tanpa mengucapkah sepatah katapun.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia baru menarik nafas panjang.
“Cici, tidak seharusnya kau berbuat begitu terhadapku.”
Mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Dia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Tan
Ki. Sesaat kemudian, akhirnya dia tersadar. Otomatis wajahnya jadi merah padam dan
kepalanya tertunduk dalam-dalam.
Tan Ki melihat tampangnya seperti orang yang menderita malu. Oleh karena itu dia
segera tersenyum.
“Aku juga mengerti. Selama ini tindak-tandukmu selalu mengikuti kata hati. Apa yang
ingin kau lakukan, tidak pernah dihalangi oleh siapapun. Kalau mengharapkan kau
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berubah dalam waktu beberapa hari, tentu tidak mungkin. Apa yang terjadi barusan,
anggaplah tidak pernah terjadi. Biarkanlah berlalu begitu saja.”
Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendongakkan kepalanya. Di wajahnya yang merah
jengah sudah mengalir dua tetes air mata.
“Adik, apakah kau marah kepadaku?”
Air matanya menetes bukan karena perasaannya takut ataupun sedih. Justru karena dia
merasa malu sekali. Hati Tan Ki jadi tergerak.
Dia juga bisa mengeluarkan air mata, hal ini membuktikan bahwa di otaknya masih ada
sedikit kesadaran dan belum tertutup sama sekali. Kalau aku menasehati lebih gencar lagi,
mungkin tidak sulit mengajaknya kembali ke jalan yang lurus dan menjadi orang baik-baik,
pikirnya dalam hati.
Setelah mempunyai renungan seperti itu, bibirnya langsung mengembangkan seulas
senyuman.
“Urusan kecil seperti ini, tidak mungkin aku memasukkannya ke dalam hati.”
Kata-kata ini diucapkan dengan nada tulus. Justru membuat perasaan Liang Fu Yong
semakin tergugah.
Kalau saat ini Tan Ki mendampratnya habis-habisan, mungkin perasaan Liang Fu Yong
lebih lega. Tetapi Tan Ki justru mengucapkan kata-kata yang wajar dan tidak mengandung
sedikit kemarahan pun. Hatinya segera dilanda perasaan rendah diri. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuh dan menuruni bukit tersebut.
Gerakannya dilakukan dengan tiba-tiba, Tan Ki menjadi termangu-mangu. Dia tidak
mengerti mengapa Liang Fu Yong mendadak pergi begitu saja. Sebetulnya, dia memang
tidak memahami perasaan seorang perempuan. Dia merasa hati seorang wanita paling
sulit diraba. Mimpi pun dia tidak mengira bahwa justru sikapnya yang terbuka dan lembut
serta kata-katanya yang menghibur itulah yang bukan saja terpatri dalam-dalam di
sanubari Liang Fu Yong. Malah membuat perempuan itu merasa dirinya begitu rendah dan
tidak tahu malu. Serta merasa baik tindak-tanduknya maupun mutu dirinya sendiri tidak
dapat dibandingkan dengan anak muda tersebut.
Biar bagaimana dia hanya seorang perempuan yang jalang, genit dan rendah.
Kepergian Liang Fu Yong meninggalkan Tan Ki, sebetulnya karena dia tidak berani
menghadapi kenyataan yang terpampang didepannya.
Tan Ki sama sekali tidak memikirkan bahwa menjelang kepergiannya, hati Liang Fu
Yong digelayuti berbagai macam tekanan bathin. Setelah tertegun sejenak, dia segera
menggerakkan langkahnya mengejar.
“Cici, cici, mengapa kau pergi?” Liang Fu Yong menyahut dengan suara tersendatsendat.
“Aku ingin meninggalkan tempat ini, meninggalkan engkau dan meninggalkan
semuanya yang ada…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hatinya seperti dipenuhi berbagai katakata, tetapi dia tidak sanggup mencetuskan-nya.
Setelah mengucapkan beberapa patah kata di atas, tiba-tiba mulutnya membungkam.
Pada saat berbicara, dia sudah menghentikan langkah kakinya. Tetapi dia masih belum
membalikkan tubuh. Dia berdiri memunggungi Tan Ki, dia takut menatap wajahnya yang
selalu tersenyum dan matanya yang berbinar-binar…
Terdengar Tan Ki tertawa getir.
“Kau tidak boleh pergi. Kecuali kalau kau mempunyai keyakinan bahwa kau tidak akan
mengulangi perbuatanmu yang dulu, tentu kau boleh pergi. Tetapi kalau kau belum
mempunyai kesanggupan untuk merubah tindak-tandukmu, lebih baik kau ikut denganku.
Dengan demikian, masih ada orang yang mengawasimu sehingga perbuatan terkutuk itu
tidak akan terulang lagi.” kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan tegas. Suaranya
juga serius sekali serta mengandung kewibawaan yang tidak dapat ditolak.
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.
“Untuk apa? Di dalam hatiku telah tertanam akar jahat yang tidak dapat dicabut lagi.
Dan aku juga tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Setiap gairah itu datang, aku seperti
tidak memperdulikan hal lainnya lagi. Bahkan sikapku berubah menjadi demikian rendah
serta tidak tahu malu. Dengan bisa memperoleh perhatianmu, sebetulnya aku sudah
merasa bahagia. Apa lagi yang aku inginkan? Namun, di dalam hatiku justru terselip
perasaan pesimis dan rendah diri yang bertambah berat sehari demi sehari…”
Tan Ki memutar tubuhnya dan berdiri dihadapannya. Dia segera meraih tangan Liang
Fu Yong dan menggenggamnya erat-erat. Bibirnya tersenyum lembut. “Kau salah. Orang
yang tahu kesalahannya sendiri dan berniat merubah, merupakan
pahala yang besar sekali. Siapa orangnya yang berani menyatakan bahwa dirinya tidak
pernah melakukan kesalahan? Para dewa yang sudah menetap di atas langit juga tidak
berani mengucapkan kata-kata yang demikian takabur, apalagi kita yang terlahir sebagai
manusia biasa?”
“Apakah kau benar-benar memaafkan aku dan tidak menaruh benci sedikitpun terhadap
perbuatanku tadi?”
“Cici, apakah kau tetap tidak percaya?” suaranya demikian tulus, persis seperti sebilah
pedang tajam yang langsung menembus jantung hatinya.
Sedemikian terharunya Liang Fu Yong sampai-sampai air matanya mengalir dengan
deras. Yang diteteskan olehnya adalah air mata persahabatan yang tulus dan perasaan
kasih yang dalam.
Perlahan-lahan Liang Fu Yong memejamkan sepasang matanya.
“Adik, kalau kau benar-benar memaafkan aku, sudikah kau memeluk aku… walaupun
hanya sekejap saja?” tanyanya dengan nada berat.
Tan Ki tersenyum lembut. Kedua tangannya terulur dan dia memeluk Liang Fu Yong
erat-erat. Tubuh perempuan yang mungil itupun terjatuh dalam pelukannya…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia merasa nafasnya sesak, seluruh tubuhnya lemas, menggunakan kesempatan ini dia
menyelusup ke dalam pelukan Tan Ki. Untuk sesaat, suasana jadi sepi senyap, tetapi
mengandung keperihan yang dalam.
Lama, lama sekali… dia masih tetap memejamkan sepasang matanya, tubuhnya tidak
bergerak sedikit juga. Saat itu juga, apa yang didambakannya dan benda yang
diharapkannya seperti terlampias dalam pekikan anak muda tersebut.
Tiba-tiba matanya mengejap. Dua tetes air mata mengalir turun membasahi pipinya.
Tan Ki mengusapkan wajahnya pada rambut Liang Fu Yong.
“Cici, yang lalu biarkanlah berlalu. Tidak perlu dipikirkan lagi. Yang kita kejar sekarang
hanya kecerahan masa depan… kau mengerti maksudku bukan?” nada suaranya demikian
tulus. Seperti seorang ibu yang bijaksana yang menasehati putrinya dengan suara lembut
dan tidak kenal jenuh.
“Aku tahu, lain kali aku pasti bisa berubah.”
Tan Ki tersenyum lebar.
“Baiklah, kita sudah harus pulang sekarang.”
Malam semakin larut, angin yang dingin tetap berhembus…
Tan Ki dan Liang Fu Yong segera mengembangkan ilmu meringankan tubuh dan
kembali ke penginapan. Kemudian, Tan Ki mengantarkan Liang Fu Yong ke kamar sebelah.
Dia memperlakukan perempuan itu bagai perlakuan seorang ibu terhadap putrinya. Dia
menyelimuti tubuh perempuan itu, bahkan menyenandungkan lagu…
Sampai Liang Fu Yong tertidur dengan pulas, dia baru menghembuskan nafas panjang
dan kembali ke kamarnya sendiri.
Tiba-tiba… Liang Fu Yong menarik nafas panjang dan membuka matanya. Di sudut
matanya terlihat buliran air mata yang menggantung. Sebetulnya, dia belum tertidur.
Namun dia hanya pura-pura terpulas.
Dalam keadaan seperti ini, mana mungkin dia dapat tidur dengan nyenyak? Tindaktanduk
Tan Ki membuat dia menekan keras-keras kobaran birahi di dalam dadanya.
Namun setelah dia pergi, otomatis gairah itu terbangkit kembali.
Terjadi peperangan di antara kesadaran serta keinginan di dalam hatinya. Liang Fu
Yong membolak-balikkan tubuhnya tanpa bisa pulas sedetikpun. Memangnya dia sendiri
tidak berniat berubah, tetapi, ada semacam keinginan yang kuat di dalam bathinnya yang
terus menerus merongrongnya dan membuatnya tidak dapat mengendalikan diri!
Dia rela meloncat dari sebuah tepi jurang yang dalam… terjun ke bawah…
Cahaya lampu di dalam kamar lambat laun menjadi suram, malam telah bertambah
larut. Liang Fu Yong merasa, di dalam tubuhnya terdapat setungku api yang terus
berkobar-kobar, semacam keinginan yang mendesak yang membuat pikirannya menjadi
kebal… Dari sepasang sinar matanya tersorot cahaya yang dipenuhi oleh hasrat yang kuat,
namun justru membuat wajahnya semakin cantik.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aku tidak sanggup lagi… aku tidak dapat menahannya… aku ingin…” gumamnya
seorang diri.
Terdengar desahan nafas yang lirih, di mimik wajahnya mulai tersirat gairah yang
meluap-luap. Pada saat itu juga, dia sudah tahu apa yang akan diperbuatnya. Walaupun
bagaimana Tan Ki berusaha menasehatinya, akhirnya semua sia-sia.
Dia sadar mengapa dirinya begitu gelisah… justru karena kesadarannya hampir lenyap
dari benaknya. Tampak bayangan manusia berkelebat. Cahaya lampu berkibar-kibar. Dia
sudah menyelinap keluar dari kamarnya.
Gerakannya pesat bagai kilat, namun langkah kakinya tidak menimbulkan suara
sedikitpun. Cahaya rembulan yang suram, sesosok bayangan meninggalkan tanah seakan
terbang, dan menerjang terus ke depan.
Sekali lagi perbuatan terkutuk akan diulanginya.
BAGIAN IX
Malam semakin larut. Di sekitar yang terlihat hanya kesunyian. Tampak di bawah
sorotan cahaya rembulan, sesosok bayangan melesat bagai kilat menerjang terus ke
depan.
Angin malam bertiup kencang, tidak henti-hentinya menyapu wajah Liang Fu Yong,
namun hembusan angin yang dingin itu tidak dapat memadamkan api yang berkobarkobar
di dalam dadanya. Sebaliknya, malah menambah hasrat di dalam kalbunya yang
menuntut hal yang didambakannya.
Dalam waktu yang singkat dia sudah berlari sejauh sepuluh li. Di depan terdapat
sebuah kota, begitu mata memandang, yang terlihat hanya kegelapan, tidak ada cahaya
lampu setitikpun. Tentu saja, para penduduk saat ini sedang pulas dalam mimpi. Siapa
yang akan menduga bahwa seorang perempuan yang terkenal kejalangannya akan
mencari mangsa di kota mereka.
Sesaat kemudian, dia menghentikan langkah kakinya. Seperti biasa, dia mengedarkan
pandangannya ke sekeliling tempat itu. Beberapa saat kemudian, tubuhnya berkelebat
dengan kaki menghentak, dia menuju ke arah sebuah gedung besar yang ada di sebelah
kiri. Sepasang kakinya segera menutul, tubuhnya melayang ke atas dan orangnya pun
mendarat di taman belakang.
Sekali lagi dia mengedarkan pandangannya. Di hadapannya terdapat sebuah ruang
perpustakaan. Di sana masih ada cahaya lampu yang menyorot lewat dedaunan yang
rimbun di depan jendela.
Sayup-sayup, hembusan angin membawa suara seseorang yang sedang membaca
syair. Dari pengalamannya, Liang Pu Yong segera mengetahui bahwa yang ada dalam
ruangan itu pasti seorang pelajar yang lemah. Lagipula, keadaan di dalam ruangan itu
begitu hening. Seakan tidak ada pihak ketiga di sana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bibirnya tersenyum simpul. Dengan berani dia melangkah ke arah ruangan tersebut dan
mengetuk daun jendelanya.
“Siapa?” dari dalam terdengar suara seorang laki-laki bertanya.
Sekali lagi terlihat seulas senyuman di bibir Liang Fu Yong.
Dengan berani dia menyahut, “Aku.”
“Oh, apakah Ie Cin Moay-moay yang datang? Sekarang sudah larut sekali, kau datang
ke mari…”
Belum lagi kata-katanya selesai, secercah sinar menerobos keluar, orang itu sudah
membuka jendelanya.
Dia langsung tertegun.
Selembar wajah yang tampan namun menunjukkan perasaannya yang kebingungan
muncul di depan mata Liang Fu Yong.
Kenyataannya, laki-laki itu balikan tidak pernah bermimpi bahwa pada saat ini dan
tempat ini akan muncul seorang perempuan yang cantik jelita serta bukan Ie Cin Moaymoay
seperti yang diduganya.
Kejadian yang benar-benar di luar dugaan itu, membuat dirinya terkejut untuk sesaat.
Diapun berdiri dengan termangu-mangu. Hanya terlihat Liang Fu Yong bergerak sedikit,
tahu-tahu orangnya sudah masuk ke dalam ruangan dengan menerobos jendela. Dia
malah merapatkan daun jendela ruangan tersebut. Dia berdiri sambil menatap laki-laki itu
lekat-lekat. Pancaran matanya me-ngandung perasaannya yang terang-terangan dan
senyumannya juga begitu mesra.
Dia sedang memperhatikan laki-laki itu. Tapi pihak lawan justru begitu ketakutannya
sehingga pucat pasi.
“Siapa… kau… sebenar…nya?” tanyanya gugup.
Liang Fu Yong tersenyum simpul.
“Aku adalah aku. Memangnya siapa? Tetapi, kau adalah seorang laki-laki sedangkan
aku adalah seorang perempuan…” senyumnya itu bagai sekuntum mawar yang baru
mekar namun mempunyai duri yang tajam dan dapat menusuk.
Diam-diam timbul perasaan ngeri di dalam hati laki-laki itu. Tanpa sadar tubuhnya
bergetar. Tampangnya yang tegang dan menyiratkan perasaan takutnya, membuat Liang
Fu Yong yang sedang menatapnya malah bertambah senang. Dia berjalan menghampiri
sambil menepuk bahunya beberapa kali.
“Apa yang kau takuti? Laki-laki sejati harus mendongakkan kepala menatap langit dan
menginjakkan kaki di bumi dengan keras. Kalau terhadap seorang perempuan saja sudah
takut sedemikian rupa, bukankah orang yang menyaksikannya bisa tertawa terbahakbahak
sampai giginya copot?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Laki-laki itu membangkitkan keberaniannya dan memaksakan sebuah senyum di
bibirnya.
“Aku hanya seorang pelajar yang miskin. Aku tidak mempunyai apa-apa. Apabila Li
Enghiong mencari harta benda atau batu permata, harap mencari di tempat lain saja.”
Liang Fu Yong mencibirkan bibirnya dan tersenyum mengejek.
“Aku tidak ingin segala harta benda ataupun batu permata.”
Laki-laki itu jadi tertegun.
“Lalu apa yang kau inginkan?”
“Sesuatu yang ada pada tubuhmu.”
Mula-mula laki-laki itu terpana. Sesaat kemudian dia menjadi gusar.
“Perempuan tidak tahu malu, cepat menggelinding dari sini! Aku berasal dari keluarga
yang taat pada ajaran Kong Beng, mana boleh aku melakukan perbuatan rendah seperti
itu?” bentaknya keras.
Liang Fu Yong malah cengar-cengir menatapnya.
“Aduh, galak benar!” dia sengaja melangkah maju dan merapat kepada laki-laki itu.
Laki-laki itu semakin ketakutan. Cepat-cepat dia mundur dua langkah.
“Pergi! Kalau kau tetap tidak mau pergi, aku akan berteriak sekeras-kerasnya!” ancam
laki-laki itu.
Tiba-tiba, terdengar suara prang! Prang! Beberapa kali. Rupanya laki-laki itu begitu
panik sehingga sebuah pot kembang yang terdapat di atas meja tersentuh sikut tangannya
dan pecah berantakan. Suasana semakin menegangkan dan membuat jantung berdebardebar.
Liang Fu Yong seperti seekor kucing yang maju setindak demi setindak mendesak
ke arah tikus kecil tersebut. Berani sekali dia!
Laki-laki itu mundur lagi beberapa langkah. Akhirnya dia sudah merapat pada ujung
tempat tidur. Dalam keadaan seperti ini, dia sadar dirinya sudah dalam ambang bahaya,
tanpa dapat di pertahankan lagi, mulutnya terbuka lebar-lebar dan berteriak sekeraskerasnya.
“Tolong! Tolong!”
Dia masih ingin berteriak terus, tetapi tiba-tiba terdengar suara aduhan dari mulutnya
dan diapun terkulai di atas tanah. Rupanya Liang Fu Yong sudah menotok jalan darah lakilaki
tersebut. ”Di dalam ruangan itu terdapat sebuah lampu gantung yang cahayanya
terang sekali. Saat itu tengah menyinari wajah Liang Fu Yong yang telah berona merah
dan membuat diri perempuan itu semakin menawan.
Perlahan-lahan dia mengangkat laki-laki itu dan meletakkannya di atas tempat tidur.
Meskipun dalam keadaan tertotok, tetapi pikiran maupun perasaannya masih tetap sadar.
Menilik situasi yang dihadapinya, biar seorang yang paling pandir sekalipun, tetap dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
menduga apa yang akan terjadi. Hatinya menjadi mangkel dan marah. Pada, dasarnya dia
memang seorang pemuda yang sopan dan berpendidikan. Meskipun mulutnya ingin
mencaci maki, tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Untuk sesaat dia
menjadi termangu-mangu tanpa tahu harus mengucapkan apa.
Dengan tenang Liang Fu Yong membaringkan laki-laki itu di atas tempat tidur. Bibirnya
tersenyum manis.
“Aku tidak akan menelan dirimu. Kau jangan khawatir.”
Dengan marah laki-laki itu memalingkan wajahnya. Dia tidak memperdulikan Liang Fu
Yong. Tetapi bathinnya justru sedang membara, jantungnya berdegup-degup. Telinganya
mendengar segulungan suara yang merdu dan membetot sukmanya.
“Koko yang baik, kau tidak perlu merasa takut. Kau hanya diminta untuk meminjamkan
tubuhmu malam ini kepadaku. Kalau tidak bisa juga, bayangkan saja aku sebagai Ie Cin
Moay-moay, kekasihmu itu.”
‘Perempuan yang tidak tahu malu. Kata-kata yang begitu rendah masih bisa diucapkan
dengan santai!’ makinya dalam hati.
Ketika benaknya sedang bergerak, tiba-tiba dia merasakan selembar wajah yang panas
merapat ke arahnya. Hatinya semakin berdebar-debar. Dia merasa pikirannya menjadi
tegang. Nafasnya sesak dan keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Dia ingin membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada suara
sedikitpun yang keluar. Dua belah bibir yang hangat dan harum tahu-tahu telah menempel
di atas bibirnya.
Pada saat itu juga, dirinya bagai kena sambaran petir. Sehingga dia merasa seluruh
tubuhnya dijalari perasaan yang aneh. Perasaan itu demikian janggal, ajaib dan belum
pernah ia rasakan sebelumnya. Sampai-sampai dia sendiri tidak tahu bagaimana harus
menjelaskannya…
Dalam waktu yang singkat, dia seperti tiba-tiba menjadi dewasa.
Dia mulai mengerti bahwa di antara laki-laki dan perempuan terselip hubungan yang
demikian ajaib. Hatinya menjadi lemas. Dia tidak dapat mempertahankan diri dari
keindahan bayangan di hadapannya. Ciuman yang mendadak itu telah membuat hatinya
menjadi luruh.
Entah mendapat kekuatan dan keberanian dari mana, tiba-tiba dia menggulingkan
tubuhnya dan menindih Liang Fu Yong. Terdengar suara tawa yang genit, centil, dan
bebas. Seakan seluruh manusia di dunia ini juga tidak dapat menolak suara tawa yang
satu ini.
Terdengar suara hembusan angin, Liang Fu Yong menghantamkan sebuah pukulan
jarak jauh dan lampu di dalam ruangan itu-pun padam seketika. Di dalam ruangan
sekarang yang ada hanya kegelapan.
Hening seketika, yang terdengar hanya suara desiran baju yang dibuka. Sesuatu yang
luar biasa akan berlangsung di dalam ruangan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba… dari luar jendela berkumandang serangkum suara tawa yang dingin!
Datangnya suara tawa ini demikian mendadak, sehingga benar-benar di luar dugaan.
Tapi sempat membuat dua orang yang sedang bergelut di atas tempat tidur itu menjadi
tertegun. Otomatis gerakan tangan pun terhenti.
Dalam kegelapan, wajah Liang Fu Yong yang cantik segera berubah hebat. Hawa
pembunuhan mulai tersirat di keningnya. Dalam waktu yang singkat, dia sudah
mengenakan kembali pakaiannya. Karena dia sadar, musuh yang datang di luar jendela
pasti merupakan seorang tokoh dari aliran lurus!
Sedangkan laki-laki itu langsung menundukkan kepalanya dengan wajah pucat pasi. Dia
meringkuk di sudut tempat tidur tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Dia takut orang
yang ada di luar jendela adalah Ie Cin Moay-moay atau keluarganya. Kalau urusan yang
memalukan ini sampai tersebar keluar, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya.
Berpikir sampai di sini, tanpa dapat tertahan lagi, keringat dingin pun membasahi
tubuhnya. Gairah yang berkobar-kobar dalam dadanya pun padam seketika. Tepat pada
saat itu, kembali terdengar suara tertawa dingin dari luar jendela.
“Siau Yau Sian-li, keluarlah!” bentak orang itu.
Liang Fu Yong menjadi tertegun. ‘Mengapa orang ini bisa mengenali aku?’ tanyanya
dalam hati.
Di samping itu, hatinya juga merasa marah, peristiwa menyenangkan yang sudah di
depan mata, jadi gagal gara-garanya. Bagaimana hatinya tidak jadi benci!
Oleh karena itu, dia meraung sekeras-kerasnya. Sebuah kursi bundar langsung
ditimpukkannya keluar jendela. Sepasang kakinya menutul, seiring melayangnya kursi tadi,
tubuhnya pun menerobos keluar.
Ketika sepasang kakinya baru menginjak tanah, dia melihat kibaran pakaian berwarna
hijau melesat ke arah depan. Dia tidak tahu orang yang tertawa dingin sengaja
memancingnya keluar dari gedung tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera
mengejar.
Telinganya menangkap suara gaduh dari belakang. Bayangan manusia
berbondongbondong mengejar keluar. Rupanya suara jendela pecah karena sambitan
kursi Liang Fu Yong telah mengejutkan seisi gedung tersebut dan merekapun keluar
beramai-ramai untuk melihat apa yang telah terjadi.
Di bawah sorotan cahaya rembulan yang remang-remang, kedua orang itu berlari
dengan cepat. Yang satu kabur dan yang satu lagi mengejar. Dalam waktu yang singkat,
mereka sudah berlari sejauh dua puluh li.
Tiba-tiba terlihat orang itu menghentikan langkah kakinya dan membalikkan tubuhnya.
Tepat pada saat itu, Liang Fu Yong sedang berlari dengan kecepatan tinggi. Nyaris dia
tidak dapat mengendalikan keseimbangan tubuhnya dan bertumbukan dengan orang itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untung saja ilmu silatnya cukup tinggi. Dengan gugup dia menahan gerakan tubuhnya
dan berputaran sebanyak dua kali baru perlahan-lahan berhenti. Begitu matanya
memandang, dia melihat orang itu mengenakan pakaian berwarna hijau, usianya sekitar
empat puluh tahunan. Wajahnya pucat pasi
dan datar sekali. Tidak dapat kita menentukan bagaimana perasaan orang itu yang
sebenarnya.
Tampang yang menyeramkan muncul di tengah malam yang dingin mencekam.
Meskipun nyali Liang Fu Yong cukup besar namun tanpa dapat di tahan lagi, tubuhnya
juga bergidik. Kakinya sampai mundur dua langkah.
“Siapa kau?” bentaknya.
“Cian bin mo-ong!” sahut orang itu dengan nada suara yang sinis.
Keempat huruf itu diucapkan dengan lambat dan panjang. Di dalamnya seakan
terkandung ketegasan seorang laki-laki yang penuh wibawa. Mendengar kata-katanya,
Liang Fu Yong terkejut setengah mati. Wajahnya berubah hebat dan tanpa sadar kakinya
sampai mundur dua langkah.
Cian bin mo-ong yang namanya telah menggetarkan dunia persilatan dan membuat
para tokoh di dunia Bulim jadi pusing kepalanya, ternyata muncul di hadapan dirinya
sendiri. Hal ini bahkan tidak pernah terbayang dalam impiannya. Tentu saja, dia masih
belum tahu kalau Cian bin mo-ong merupakan samaran dari Tan Ki.
Dalam keadaan terkejut dan ketakutan, Liang Fu Yong meliriknya sekali lagi. Dia
berusaha memberanikan dirinya dan memperdengarkan suara tawa yang genit.
“Setiap orang mengatakan bahwa Cian bin mo-ong dapat merubah dirinya menjadi
ribuan orang. Bahkan kabarnya dapat membunuh orang dalam sekejap mata. Tapi dalam
pandanganku, biar bagaimana kau juga tetap seorang manusia biasa.”
Cian bin mo-ong Tan Ki tersenyum simpul, “Betul, aku juga manusia. Tidak mempunyai
tiga kepala atau enam pasang tangan. Gerak-gerikku juga tidak mirip dengan setan
gentayangan. Adik Tan Ki juga sering menasehati bagaimana caranya menjadi manusia
yang wajar, apakah kau sudah melupakah kata-katanya?”
Hati Liang Fu Yong tercekat mendengar ucapannya.
“Bagaimana kau bisa tahu urusan ini?”‘ tanyanya dengan suara tajam.
Tan Ki tertawa lebar.
“Cian bin mo-ong sudah berkelana menjelajahi seluruh Kangouw. Tentu saja
mempunyai kepandaian yang tidak dimiliki orang lain. Urusan sekecil ini, seandainya dapat
mengelabui pandanganku, mana pantas aku mendapat sebutan iblis nomor satu di dunia
ini?” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia berhenti. Wajahnya berubah menjadi serius dan
penuh wibawa. “Kau sudah mengadakan perjanjian dengan Tan Ki bahwa dalam waktu
tiga bulan ini kau tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan ataupun mencelakai
orang lain. Kalau malam ini dihitung juga, kau baru menepati janjimu selama tiga hari dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengulangi lagi perbuatan yang terkutuk itu. Apakah kau kira Tan Ki itu orang yang bodoh
sehingga tidak mengetahuinya sama sekali?”
Liang Fu Yong mendengar kata-katanya semakin lama semakin keras. Di dalamnya
terkandung kemarahan yang meluap-luap. Bahkan orang itu sampai menghentakkan
kakinya beberapa kali saking jengkelnya. Sedangkan di bathinnya sendiri, semakin
didengarkan, perasaannya semakin menggigil. Entah mengapa, di dalam hatinya timbul
semacam ketakutan. Dia khawatir Cian bin mo-ong akan membeberkan urusan malam ini
kepada Tan Ki.
Liang Fu Yong tidak sempat mempertimbangkan lagi keadaan yang terbentang di depan
matanya. Mengapa orang ini begitu jelas tentang dirinya sendiri, seperti orang yang
menatap telapak tangannya sendiri. Mengapa ketika mengungkit persoalan Tan Ki, nada
suaranya begitu marah dan tajam, mengapa…?
Pada saat itu juga, dia merasa otaknya seakan menjadi kosong melompong.
Perlu diketahui bahwa hubungannya dengan Tan Ki berlangsung selama tiga hari.
Meskipun semuanya masih demikian singkat, tetapi di dalam hati Liang Fu Yong telah
timbul perasan hormat yang dalam pada adik Tan Ki-nya. Dia merasa setiap tindaktanduknya
demikian wajar, lembut, penuh perhatian dan mengandung curahan kasih yang
tidak terkatakan.
Meskipun dia sudah pernah bertemu dengan ratusan bahkan ribuan laki-laki, tetapi ia
belum pernah melihat orang seperti Tan Ki. Orang yang mana dapat membuat
perasaannya tergugah. Bahkan setiap ucapan maupun senyum anak muda itu, tidak ada
satupun yang membuat dirinya bertambah gagah dan tampan. Perempuan manapun yang
bertemu dengannya, tentu sulit menahan rasa simpatinya. Rasa hormat yang timbul dalam
hati Liang Fu Yong kepada Tan Ki adalah berda-sarkan perasaannya yang tulus. Dia
merasa adiknya yang satu ini membuat sejarah hidupnya bertambah dengan terukirnya
nama seorang laki-laki. Tetapi dia masih belum sadar bahwa perasaan hormat yang ada
sekarang merupakan bagian dari cinta kasihnya yang mulai tumbuh. Dalam pikirannya,
apabila dia dapat berdekatan dengan adiknya itu, hatinya sudah merasa puas dan senang.
Apabila Cian bin mo-ong memberitahukan urusan malam ini kepada Tan Ki, akibatnya
sungguh tidak berani ia bayangkan. Mungkin, saking marahnya, Tan Ki akan
meninggalkannya begitu saja. Dan pasti untuk selamanya tidak sudi memperdulikan
dirinya lagi.
Berpikir sampai di sini, sekali hatinya tergetar. Dia segera mengambil sebuah
keputusan. Mulutnya memperdengarkan suara tertawa dingin.
“Apakah kau bermaksud menceritakan urusan malam ini kepada adikku?” tanyanya
serius.
“Tidak salah!”
Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Segulung hawa pembunuhan yang tebal segera
merasuki jiwanya. Sekali lagi dia tertawa dingin.
“Kalau begitu aku terpaksa membunuh agar mulutmu bungkam!” kata-katanya yang
terakhir baru terucap, telapak tangannya segera mendatangkan serangkum angin dari
diapun menghantam ke depan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Saat itu, hawa amarah yang memenuhi hatinya telah berganti dengan niat membunuh.
Begitu pukulannya dilancarkan, kekuatannya mengandung kekejian yang tidak tertandingi.
Tampak angin yang timbul dari telapak tangannya laksana putaran roda. Batu-batu kerikil
maupun debu-debu beterbangan. Kehebatannya sungguh tidak dapat dipandang enteng.
Apalagi serangannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat.
Untuk sesaat Tan Ki tidak menduga kalau dia akan diserang sedemikian rupa. Hatinya
tercekat. Dengan panik dia meliukkan pinggangnya dan mencelat mundur tiga langkah.
Setelah serangannya yang pertama berhasil membuat lawan terdesak, Liang Fu Yong
tentu saja tidak sudi berhenti setengah jalan. Setelah berteriak lantang, sepasang
tangannya langsung mengeluarkan pukulan-pukulan. Dalam sekejap mata dia sudah
melancarkan tiga pukulan dan tujuh totokan.
Serangan yang gencar ini jauh lebih hebat dari yang pertama. Setiap pukulannya
mengarah pada bagian yang mematikan. Setiap totokannya mengincar tempat mematikan.
Diam-diam hati Tan Ki jadi tercekat.
“Tidak disangka ilmu silatnya juga setinggi ini. Kalau berganti orang lain, mungkin sulit
meloloskan diri dari tiga pukulan dan tujuh totokannya ini.” katanya dalam hati.
Sambil membawa pikiran seperti itu, tubuhnya berputaran beberapa kali. Dia berhasil
mengelakkan diri dari serangan yang gencar itu dan malah membalas dengan sebuah
serangan.
Ilmu silat yang dimilikinya sekarang adalah hasil curian dari kitab-kitab peninggalan
ketua Ti Ciang Pang. Jurus serangannya ini kelihatannya biasa-biasa saja. Tetapi begitu
dilancarkan, terdapat kekompakan yang serasi diantara setiap gerakannya. Liang Fu Yong
terpaksa menyelamatkan dirinya terlebih dahulu. Dengan gugup dia mencelat mundur tiga
langkah.
Apabila tokoh kelas tinggi berkelahi, kecepatannya bagai kilat. Liang Fu Yong menggerakkan
tubuhnya menghindar. Begitu kakinya menginjak tanah, Tan Ki segera
menggunakan kesempatan ini untuk mengatur nafasnya dan bergerak kembali.
Tiba-tiba, Liang Fu Yong meraung keras, dan kembali dia melancarkan sebuah
serangan. Secercah bau harum berhembus mengiringi gerakannya. Sepasang telapak
tangannya bagai beterbangan di udara dan menimbulkan hempasan angin yang kuat.
Yang mana semuanya memenuhi sekitar tubuh Tan Ki.
Di antara bayangan pukulan, terlihat lengan baju Tan Ki berkibar- kibar. Dia menerobos
dari kiri dan mengelak ke kanan. Kecepatannya bagai terjangan seekor srigala.
Biarpun bayangan telapak tangan memenuhi sekitarnya, namun jangan kata mengenai
di-rinya, bahkan menyentuh ujung bajunya pun tidak.
Tampak Tan Ki hanya membalikkan telapak tangannya, tetapi Liang Fu Yong langsung
terdesak mundur. Perempuan itu sulit menemukan kesempatan untuk mendekati Tan Ki.
Hal ini bukan karena ilmu silat anak muda itu mengandung jurus-jurus yang aneh atau
tenaga dalamnya yang jauh lebih tinggi dari pada Liang Fu Yong. Tetapi setiap
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangannya selalu mempunyai kecepatan yang tidak terduga-duga, dan lagi bagian yang
diarahnya selalu di luar dugaan perempuan itu.
Kadang-kadang, secara nyata dia mempunyai kesempatan untuk melukai Liang Fu
Yong, tetapi entah mengapa, setiap kali pula dia selalu merubah gerakannya di tengah
jalan atau merubah sasarannya ke arah yang lain sehingga membuat perempuan itu
mendapat kesempatan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Biar bagaimana bodohnya, Liang Fu Yong tetap menyadari bahwa Cian bin mo-ong
sengaja mengalah kepadanya. Hanya saja dia tidak mengerti mengapa dia melakukan hal
seperti itu.
Tiba-tiba… Tan Ki berteriak lantang, lengan kirinya membuat lingkaran di tengah udara.
Telapak tangan segera terulur ke depan. Jurus Tian Ping Tian-ciang pun dilancarkan
dengan keras, jurus ini merupakan jurus pertama dari Tian Si Sam-sut. Di dalamnya
terkandung kekuatan tenaga yang dahsyat. Terasa angin yang menderu-deru menerpa
dari depan!
Melihat serangan itu, hati Liang Fu Yong langsung tercekat. Dia tidak sempat lagi melancarkan
jurus serangan ke arah lawannya. Dengan cepat dia meliukkan Pinggangnya dan
mendadak mencelat mundur ke belakang sejauh tujuh delapan depa. Pada saat itu juga,
sukmanya seakan melayang dan jantungnya berdegup dengan kencang.
Tidak usah diragukan lagi, Liang Fu Yong juga seorang tokoh kelas tinggi di dunia
Bulim. Tenaga dalamnya cukup kuat. Tetapi setelah bergebrak dengan Cian bin mo-ong
sebanyak dua puluhan jurus, dirinya seperti ombak kecil dihantam ombak besar. Setiap
serangannya berhasil dielakkan dengan mudah. Tampaknya ilmu silat kedua orang itu
terpaut agak jauh.
Diam-diam hatinya merasa kagum.
“Ternyata Cian bin mo-ong tidak bernama kosong. Ilmu silatnya memang benar-benar
mengejutkan!” pikirnya.
Pada saat itu, api yang berkobar-kobar dalam hatinya, sudah lenyap tanpa bekas sejak
tadi. Tetapi hawa pembunuhan yang tersirat di wajahnya masih kentara dengan jelas.
Dalam waktu yang bersamaan, dia juga mendapatkan sebuah kenyataan yang
mengejutkan hatinya, yakni ilmu silat Cian bin mo-ong ternyata lebih tinggi dari pada
dirinya. Begitu pikirannya tergerak, mulutnya mengeluarkan suara siulan panjang dan
tubuhnya mencelat ke belakang.
Tan Ki jadi tertegun. Dia masih belum dapat menebak maksud perbuatan lawannya,
tiba-tiba dia melihat Liang Fu Yong berputaran dengan gerakan yang gemulai. Tangannya
menari dan kakinya diangkat ke atas. Ternyata dia memang benar-benar menari di
hadapan Tan Ki!
Tentu saja Tan Ki jadi termangu-mangu. Perubahan gerakan lawannya yang tiba-tiba
ini membuat dia tidak mengerti apa yang telah terjadi. Tetapi hati kecilnya seperti
memperingatkan bahwa urusan malam ini semakin lama semakin membahayakan.
Kalau tidak, mana mungkin Liang Fu Yong malah menari pada saat segenting ini?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu matanya memandang, dia melihat cahaya rembulan yang remang-remang
menyoroti rambut perempuan itu sehingga tampak berkilauan. Angin malam pun
mengibar-ngibarkannya sehingga beterbangan. Di antara gerakan kaki dan tangannya,
tampak seperti mengandung tenaga namun lemah sekali. Liuk pinggangnya yang gemulai
membuat hati orang tergerak.
Beberapa menit telah berlalu, Liang Fu Yong masih terus berputar. Tariannya semakin
lama semakin cepat. Mata Tan Ki sampai berkunang-kunang melihatnya. Dia sendiri jadi
bingung. Hatinya tetap khawatir kalau Liang Fu Yong tiba-tiba akan melancarkan
serangan. Diam-diam dia menghimpun hawa murninya untuk berjaga-jaga terhadap
segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tiba-tiba terdengar suara desiran angin, tahu-tahu Liang Fu Yong telah melepaskan
pakaian luarnya. Dia mengangkat tangan-nya ke atas dan melempar ke mari. Pada saat
itu, Tan Ki merasa jantungnya berdebar-debar dan pikirannya menjadi kacau. Tanpa sadar
dia mengulurkan tangannya menyambut. Begitu telapak tangannya menyentuh pakaian
tersebut, dia merasa pakaian itu begitu lembut dan serangkum bau yang harum terpancar
keluar dari pakaian tersebut.
Dia hanya merasa hatinya tergetar dan wajahnya menjadi panas!
Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong kembali melepaskan gaunnya
yang panjang. Sepasang pahanya yang putih dan berkilauan langsung terlihat jelas. Pada
saat itu juga, gerakannya semakin erotis seakan mengandung kekuatan yang dahsyat dan
membuat orang yang melihatnya tidak sanggup mengalihkan pandangan.
Padahal Tan Ki tidak mengerti sedikitpun tentang nyanyian dan tarian. Tetapi karena
dia memusatkan perhatiannya dan menatap dengan lekat-lekat setiap lekuk tubuh Liang
Fu Yong, maka dia merasakan bahwa setiap kali perempuan itu bergerak seakan
mengiringi irama debaran jantungnya.
Setiap melihat gerakan yang dilakukan oleh perempuan itu, hatinya tergetar pasti.
Ketika tariannya semakin cepat, jantungnya berdegup dengan keras. Hatinya berdebardebar.
Perasaannya pun menjadi tidak tenang.
Begitu dia memandang sekali lagi, kali ini hatinya malah seperti terlonjak keluar dari
dadanya. Wajah Tan Ki berubah hebat. Rasa terkejutnya segera menyentak kesadarannya.
“Kalau dia menari lebih cepat lagi, bukankah jantungku bisa terputus saking kerasnya
berdegup-degup?” pikirnya dalam hati.
Kesadarannya tersentak, cepat-cepat dia menjatuhkan diri dan duduk bersemedi.
Dengan menghimpun hawa murni dan memaksakan dirinya menolak daya tarik yang
terpancar dari tarian tersebut.
Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki keseluruhannya merupakan hasil curian. Tidak
ada seorang gurupun yang memberi pelajaran kepadanya. Mengenai ilmu pengaturan
nafas maupun cara menghimpun hawa murni untuk diedarkan ke seluruh tubuh, dia
memang tidak mengerti sama sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Baru saja dia menjatuhkan diri untuk bersemedi, tiba-tiba dia merasa dadanya dipenuhi
hawa yang sesak. Dia tidak sanggup mencairkannya agar normal kembali seperti semula.
Hatinya menjadi kalut dan sedih.
Kali ini, begitu paniknya Tan Ki sampai seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin.
Dia tidak pernah menduga bahwa tarian Liang Fu Yong yang erotis dan indah ini ternyata
mengandung kekuatan yang demikian dahsyat!
Hatinya menjadi gelisah. Dengan panik dia memejamkan matanya kembali dan
berusaha mengosongkan pikirannya. Saat ini, keadaan Liang Fu Yong tetap telanjang
bulat. Sembari menari, lambat laun dirinya semakin merapat ke arah Tan Ki. Kulit yang
mulus dengan bentuk yang indah, di bawah sorotan cahaya rembulan malah menimbulkan
rangsangan yang tidak terkirakan. Semakin membetot sukma orang yang melihatnya.
Seumur hidup, Tan Ki belum pernah melakukan hubungan seks dengan seorang
perempuan. Dalam keadaan seperti ini, dia memandang sampai matanya terbelalak dan
mulutnya terbuka lebar. Padahal tadi dia sudah memejamkan matanya, namun ada
semacam perasaan aneh yang membuat hatinya tidak tahan untuk melihat. Saat ini,
hampir saja dia melonjak bangun dan memeluk Liang Fu Yong erat-erat.
Suasana semakin menegangkan!
Suasana yang panas dan mendebarkan itu ditambah lagi dengan gejolak birahi yang
meluap-luap. Tampak wajah Tan Ki sudah berubah pucat pasi. Seluruh tubuhnya bergetar
dengan hebat. Rasanya dia tidak sanggup mempertahankan diri lagi. Tetapi, dia tetap
menggertakkan rahangnya erat-erat dan memaksakan dirinya duduk bersila tanpa
bergerak sedikitpun. Dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres di balik semua ini.
Apabila dia melihat terus, tentu hanya ada satu jalan kematian yang dapat ditempuhnya.
Hatinya mengambil keputusan untuk tidak memperdulikan banyak lagi. Bunuh saja
perempuan itu, baru pikirkah akibatnya nanti. Oleh karena itu, sebelah telapak tangannya
pun perlahan-lahan diangkat ke atas.
Siapa nyana baru saja tangannya terangkat, tiba-tiba terkulai kembali. Perlahan-lahan
dia menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. Ternyata ketika tangannya
terangkat ke atas, dia baru merasakan bahwa tenaganya seakan lenyap. Dia tidak
mempunyai kekuatan sedikitpun. Tentu saja, semua ini merupakan pengaruh dari tarian
Liang Fu Yong yang mengandung kekuatan aneh. Hal mana membuat tenaganya bagai
terkuras dan tidak dapat memberikan perlawanan.
Hatinya bertambah panik. Tiba-tiba dia merasa segulungan hawa panas menerjang ke
atas dan terhenti di rongga tenggorokannya. Kemudian terdengar suara ‘Hoakk!’ yang
keras dan diapun memuntahkan darah segar yang muncrat bagai anak panah. Tan Ki tidak
dapat mempertahankan diri lagi. Dia berusaha untuk berdiri, tetapi tubuhnya malah
terkulai jatuh di atas tanah.
Kali ini rasa terkejutnya tak terkatakan lagi. Terdengar suara bentakan nyaring dari
mulut Liang Fu Yong, orangnya pun langsung menerjang datang!
Saat-saat yang membahayakan!
Tan Ki sudah kehilangan daya untuk melawan. Seandainya dia terkena satu pukulan
atau sekali tendangan dari Liang Fu Yong, kalau tidak sampai mati, dia pasti akan terluka
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
parah. Dalam keadaan yang membahayakan, tiba-tiba Tan Ki mengeluarkan suara tawa
yang sumbang.
“Cici, tindakanmu sungguh keji…!” dia berusaha berteriak dengan suara sekeraskerasnya.
Liang Fu Yong langsung tertegun. Panggilan “Cici” tadi membuatnya merasa bingung.
Tetapi dia sudah menghentikan gerakan tubuhnya dan tidak jadi mengeluarkan pukulan.
Setelah tertegun sejenak, dia segera membentak.
“Siapa kau?” meskipun dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Cian bin mo-ong
memanggilnya ‘Cici’, tetapi dia dapat merasakan bahwa suara itu sama sekali tidak asing
di telinganya. Suara itu seperti amat dekat dengan dirinya.
“Aku… tentunya Cian bin mo-ong!” baru berkata sampai di sini, kembali mulutnya
membuka dan lagi-lagi dia memuntahkan segumpal darah segar.
Bercak darah yang berwarna merah segar seakan mewakili sesuatu yang tidak
kelihatan. Begitu mata Liang Fu Yong memandang, tanpa terasa tubuhnya juga menggigil.
Bulu kuduknya meremang seketika. Setelah berusaha memberanikan dirinya selama
beberapa saat, dia memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Siapa yang tidak tahu kalau kau adalah Cian bin mo-ong? Yang kutanyakan adalah
wujudmu yang asli!” tampangnya dingin dan mengandung hawa pembunuhan yang tebal.
Kata-katanya bahkan terdengar sangat sinis.
Sepasang mata Tan Ki membalik. Dia tahu isi perutnya sudah terluka parah sekali.
Tetapi dia m menggertakkan giginya erat-erat dan menahan rasa sakit yang menggigit.
“Aku… aku ada… lah… a… dik… mu…Tan… Ki…” dia memaksakan dirinya mengucapkan
beberapa patah kata itu.
Ucapan yang terakhir tercetus dari bibirnya, orangnya pun langsung jatuh tidak
sadarkan diri. Keempat anggota tubuhnya terasa dingin dan nafasnya lambat laun menjadi
lemah!
Sekali lagi Liang Fu Yong tertegun mendengar kata-katanya. Orang yang ada
dihadapannya berusia sekitar empat lima puluh tahunan. Mana mungkin adiknya Tan Ki?
Hal ini benar-benar sulit diterima oleh akal sehat.
Tetapi, suaranya memang suara adik Tan Ki! Dua macam pikiran yang saling
bertentangan melintas di benak perempuan itu. Dia malah menjadi kalang kabut dan
untuk sesaat tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Matanya menatap ke arah Tan Ki
dengan wajah termangu-mangu. Bahkan dia sampai lupa mengenakan pakaiannya.
Tiba-tiba dia mencengkeram lengan Tan Ki dan menyingkapkan lengan bajunya.
Ternyata tidak salah, di bawah sikutnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam.
Ketika dia bermaksud memperkosa Tan Ki tadi, dia sempat melihat andeng-andeng
tersebut. Sekarang bukti sudah ada, saking terkejutnya dia menjadi terpana seketika.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Betul, orang yang ada dihadapannya memang Tan Ki, adiknya. Ternyata dialah yang
merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong. Tetapi rasa takut di dalam hatinya malah
lebih dalam daripada rasa terkejutnya barusan.
Perlu diketahui bahwa Tian Ti Mo-bu (Ta-rian Iblis Tubuh Surga) merupakan semacam
ilmu sesat yang sudah ratusan tahun menghilang. Ilmu ini dapat membetot pikiran sampai
kita kehilangan kesadaran. Siapa nyana Tan Ki menggunakan tenaga dalamnya untuk
menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia menggunakan tenaga
dalamnya untuk menolak daya tarik yang timbul dari tarian iblis tersebut. Dia
menggunakan cara keras lawan keras. Hal ini membuat hawa murni di dalam tubuhnya
berbalik arah dan menghantam isi perutnya sendiri sehingga terluka parah.
Meskipun Liang Fu Yong menguasai ilmu Tian Ti Mo-bu ini, tetapi terhadap luka yang
diakibatkannya, dia tidak mempunyai kesanggupan untuk mengobati. Pikirannya tergerak,
hatinya semakin panik. Air mata menetes dengan deras namun mulutnya mengeluarkan
suara tawa yang pilu.
“Adik, aku telah mencelakaimu..,” suaranya lirih, di dalamnya terkandung penyesalan
yang tidak terkirakan. Sayangnya Tan Ki sudah tidak dapat mendengarnya lagi.
Angin malam bertiup sepoi-sepoi. Dia merasa udara semakin dingin. Dan dalam waktu
yang bersamaan dia baru menyadari bahwa dirinya belum mengenakan pakaiannya
kembali. Dengan lembut dia mengusap wajah Tan Ki. Hatinya seakan hancur berkepingkeping,
pilunya tidak terkatakan. Dua bulir air mata bagai pancuran terus mengalir
membasahi kedua pipinya. Sampai lama sekali dia berdiam diri, akhirnya dia menarik nafas
panjang dan melangkah ke tempat di mana bajunya berserakan.
Cahaya rembulan bagai air yang beriak menyoroti tubuh yang mulus dan indah serta
melenggok dengan gemulai…
Ini merupakan pemandangan yang dapat membuat manusia terlena!
Tiba-tiba… sebuah suara tawa yang panjang, berkumandang memecahkan keheningan.
Suara tawa yang keras dan menggetarkan hati. Bayangan manusia berkelebat, seorang
laki-laki setengah baya yang mengenakan pakaian berwarna hijau tahu-tahu telah berdiri
di depan mata.
Gerakan orang ini demikian cepat sehingga sulit ditangkap oleh penglihatan. Apalagi
kehadirannya tidak menimbulkan suara sama sekali. Ketika Liang Fu Yong melihat
bayangan berkelebat, tanpa terasa hatinya menjadi tercekat, kakinya sampai mundur tiga
langkah!
Begitu matanya memandang, manusia berpakaian hijau itu seakan melihat sesuatu
yang ada di luar dugaannya. Dia menatap
Liang Fu Yong lekat-lekat. Sinar, matanya menyiratkan keheranan, penasaran,
gembira… dan sesuatu yang kurang, beres.
Tanpa sadar, dia menundukkan kepala dan melihat keadaannya sendiri. Tiba-tiba dia
menjerit kaget. Sepasang lengannya segera bergerak untuk menutupi dua bagian
terpenting di tubuhnya. Sepasang pahanya merapat dan meringkukkan badannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dulu, dia memandang kaum laki-laki bagai harta benda, sering dia menggunakan
keindahan tubuhnya untuk merayu mereka dan menukar kegembiraan dengan mereka.
Tetapi saat ini, dia juga bisa merasa malu?
Apakah ini termasuk keahliannya, yakni berpura-pura? Tidak. Dalam hatinya telah
terukir bayangan Tan Ki. Suaranya, nasihatnya, setiap saat melintas di dalam benaknya.
Membuat hatinya mempunyai keinginan untuk, merubah wataknya. Malam ini, dia
menghindari Tan Ki dan mencari pelajar itu untuk bertukar kesenangan. Semua ini
merupakan spontanitas di mana untuk sesaat dia tidak dapat mengendalikan dirinya
sendiri.
Sekarang di depan matanya tiba-tiba muncul manusia berpakaian hijau ini, se
dangkan dirinya dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Bagaimana
hatinya tidak menjadi tegang dan malu setengah mati.
Justru ketika dia meringkukkan badannya, selembar wajahnya sudah berubah merah
padam. Ya panik, ya malu, ingin rasanya dia menyelusupkah dirinya ke dalam sebuah liang
di tanah agar tidak kelihatan lagi.
Manusia berjubah hijau itu menatap Liang Fu Yong sekian lama, akhirnya dia seperti
telah memuaskan pandangan matanya, bibirnya tersenyum.
“Kouwnio, apakah kau yang dipanggil Siau Yau Siau-li?”
Hati Liang Fu Yong tercekat.
“Tolong lemparkan pakaian yang ada di bawah kakimu,” katanya gugup. Manusia
berpakaian hijau itu semakin acuh tak acuh.
“Malam demikian dingin dan berkabut pula. KouWnio tidak takut masuk angin? Dengan
bertelanjang bulat seperti ini, sebetulnya…” bibirnya tersenyum simpul. Dia
menggelengkan kepalanya dan menghentikan kata-katanya. Tetapi tubuhnya tidak
bergeming, tampaknya dia memang tidak ingin Liang Fu Yong mengenakan pakaiannya.
Saat itu Liang Fu Yong hanya merasa takut dan malu. Wajahnya yang cantik
menyiratkan kegelisahan. Begitu paniknya sampai dia ingin meraung keras-keras. Akhirnya
terpaksa dia berkata dengan suara memohon…
“Pek Pek yang baik, berbuatlah sedikit kebaikan, lemparkanlah pakaian itu untukku.”
Manusia berpakaian hijau itu melirik sekilas ke atas tanah. Kaki kirinya ternyata
menginjak di atas pakaian dalam yang berwarna merah. Tiba-tiba hatinya tergerak.
Terdengar suara tawanya yang licik.
“Kau ambillah sendiri!”
Melihat tampangnya yang cengar-cengir, Liang Fu Yong langsung sadar bahwa orang
itu mengandung maksud yang tidak baik. Hatinya menjadi bimbang dan tidak berani maju
ke depan. Tetapi kalau begini terus, tidak lama lagi fajar akan menyingsing dan pasti ada
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
orang yang berlalu lalang di sekitar tempat itu. Hai ini juga bukan jalan yang baik. Setelah
berpikir ke sana ke mari, dia malah menatap orang itu dengan termangu-mangu.
BAGIAN X
Terlihat manusia berpakaian hijau itu mengembangkan tertawa lebar. “Ke marilah!”
Wajah Liang Fu Yong semakin merah.
“Tetapi kau tidak boleh sembarangan!”
“Tentang ini, kita lihat saja nanti.” dari kata-katanya sudah jelas bahwa dia memang
mengandung maksud yang tidak baik. Setelah berhenti sejenak, sinar mata manusia
berpakaian hijau itu beralih kepada Tan Ki. “Tampaknya orang ini mempunyai hubungan
dengan dirimu. Lukanya parah sekali, mungkin kau sendiri tidak sanggup mengobatinya.”
selesai berkata, dia kembali tertawa terkekeh-kekeh. Tampangnya seakan menyimpan
sebuah rencana yang licik.
Liang Fu Yong menundukkan kepalanya merenung. Dia sedang memikirkan ucapan
lawannya barusan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu seperti
menginginkan sesuatu dan saat itu sedang melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.
Hatinya terkesiap, kakinya menutul di atas tanah dan mendadak mencelat mundur sejauh
tiga depa. Tubuhnya sedang telanjang bulat dan gerakannya otomatis cepat sekali, tetapi
dia tetap tidak berani menegakkan badannya dan dia mundur dalam keadaan agak
meringkuk.
Tiba-tiba wajah manusia berpakaian hijau menjadi kelam.
“Apakah kau sengaja ingin membangkang terhadapku?” nada suaranya mengandung
kemarahan.
“Sejak hari ini Siau Yau Sian-li tidak seperti dulu lagi…”
Manusia berpakaian hijau itu tertawa dingin.
“Kalau begitu aku ingin menjajal-jajal, biar kubunuh dulu orang ini.” kata-katanya yang
terakhir terucap, terdengar hembusan angin dari telapak tangannya yang bergerak dengan
keji ke arah ubun-ubun kepala Tan Ki.
Gerakannya cepat sekali. Jurus serangan yang dilancarkan ini sama sekali di luar
dugaan Liang Fu Yong. Begitu matanya memandang, hatinya langsung tercekat. Dia tidak
memperdulikan lagi keadaan tubuhnya yang telanjang bulat atau perasaan malunya.
Dengan panik tubuhnya melesat ke atas dan mulutnya mengeluarkan suara teriakan…
“Kau berani?” pergelangan tangannya memutar, dengan sengit dia melancarkan sebuah
pukulan ke arah manusia berpakaian hijau.
Segulung angin yang kencang terpancar dari telapak tangannya yang menghantam ke
depan. Tiba-tiba dia melihat manusia berpakaian hijau itu membalikkan tubuh sedikit dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia juga melancarkan sebuah serangan balasan. Hati Liang Fu Yong terperanjat sekali. Dia
segera merasakan sesuatu yang tidak beres.
Kejadiannya cepat sekali. Baru saja dia merasa bahwa tenaga dalamnya kalah jauh
dibandingkan dengan orang itu dan bermaksud menghindar. Tetapi sudah terlambat.
Terdengar suara dengusan yang berat, tubuh Liang Fu Yong yang mungil berturut-turut
mundur sejauh tujuh delapan langkah. Tubuhnya sempoyongan, hampir saja dia
terjungkal ke atas tanah. Matanya terasa berkunang-kunang, mulutnya membuka dan dia
langsung memuntahkan segumpal darah segar.
Tetapi, meskipun dia mengalami kerugian yang cukup parah, paling tidak, nyawa Tan Ki
sudah tertolong. Di bawah cahaya rembulan, terlihat tampangnya yang sungguh
mengenaskan dan menderita sekali.
Dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh manusia berpakaian hijau… tetapi, tenaga
dalamnya hebat sekali, jauh lebih tinggi dari padanya puluhan kali lipat. Kalau dia
memaksakan diri untuk melawan, mungkin hanya ada satu jalan kematian yang akan
diperolehnya.
Berpikir sampai di situ, diam-diam dia melirik ke arah Tan Ki dan menarik nafas
panjang. Untuk sesaat dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Tiba-tiba, di benaknya
terlintas sebuah jalan…
Tampak Liang Fu Yong tertawa getir.
“Sebetulnya apa yang kau inginkan?” tanyanya.
Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak.
“Kau ikut denganku, hal lainnya kita bicarakan kemudian.”
“Baik, boleh saja aku ikut denganmu, tetapi ada syaratnya.”
“Syarat? Coba kau katakan, kalau aku tidak rugi apa-apa, tentu saja aku akan mengabulkannya.”
Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa getir.
“Pertama-tama kau harus menolong adikku, Tan Ki. Aku akan ikut denganmu. Sekarang
aku sudah tahu, kau adalah Cianpwe yang muncul di atas genting Cui Sian Lau beberapa
hari yang lalu, kau juga membawa pergi Ciu Cang Po. Luka yang tidak seberapa parah ini,
bagimu tentu bukan hal yang serius…”
Ketika mengucapkan kata-kata ini, dia menekan dalam-dalam keperihan di hatinya.
Diberanikannya dirinya untuk mengeluarkan isi hati. Tujuannya adalah mengobarkan diri
demi Tan Ki. Dia ingin menyelamatkan nyawa anak muda itu. Dengan demikian dia dapat
menebus kesalahan yang telah dilakukannya.
Berbicara sampai di situ, dia tidak dapat lagi menahan keperihan hatinya. Dua bulir air
mata menetes membasahi pipinya, semakin lama semakin deras bagai air hujan yang
tercurah dari atas langit.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak.
“Hal ini mudah sekali.” katanya.
Dia menyingsingkan lengan bajunya, tidak terlihat bagaimana dia bergerak. Tahu-tahu
dia telah menepuk tiga puluh enam urat darah di tubuh Tan Ki. Mungkin cara
penyembuhan seperti ini sangat efektif, tetapi menguras tenaga. Begitu dia selesai
menepuk, saking letihnya, seluruh tubuh orang itu sudah basah kuyup oleh keringat,
nafasnya tersengal-sengal.
Namun terdengar keluhan dari bibir Tan Ki. Kepalanya menggeleng dengan perlahan
beberapa kali. Tetapi orangnya sendiri belum sadar. Dengan demikian, tugasnya seperti
sudah selesai, dia pun menghela nafas lega dan tertawa lebar.
“Tugasku sudah selesai.” katanya.
Air mata Liang Fu Yong masih mengalir dengan deras. Dia menggumam seorang diri…
“Adik, aku terpaksa mengingkari nasehat yang kau berikan. Maafkan aku… maafkan
aku…” sebetulnya di dalam hati perempuan ini terselip banyak perkataan yang ingin
diucapkannya, tetapi pada saat ini, entah mengapa dia tidak sanggup mengatakannya. Air
matanya semakin deras mengalir seakan mewakili ucapan yang tersimpan dalam kalbu.
Juga hati yang mengandung perasaan kasih…
Sayangnya Tan Ki tidak bisa mendengarkan ucapannya, dia masih terkulai di atas tanah
dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tiba-tiba angin malam berhembus, dua sosok
bayangan melesat, satu di depan dan satunya lagi di belakang.
Mereka sudah pergi, di tempat itu hanya tertinggal seorang pemuda yang terluka…
Angin masih bertiup sepoi-sepoi, kurang lebih setengah kentungan kemudian, dia masih
tidak sadarkan diri. Kalau ditilik dari keadaannya, apabila tidak ada orang yang berteriak
memanggilnya, dia tidak mungkin sadar sendiri.
Saat ini, di batas langit telah muncul secercah sinar, fajar telah menyingsing. Seluruh
permukaan bumipun menjadi terang. Kegelapan malam seakan terusir pergi…
Tiba-tiba terdengar suara ringkikan kuda yang memacu dengan cepat. Seiring dengan
angin yang berhembus, tampaklah tiga ekor kuda berlari ke tempat tersebut. Di bagian
paling depan adalah seorang gadis yang matanya tajam, dia langsung menghentikan
kudanya.
“Siapa orang itu?” tanyanya seperti kepada dirinya sendiri. Sepasang kakinya segera
menghentak perut kudanya. Tubuhnya mencelat meninggalkan pelana kuda, gerakannya
bagai seekor burung walet yang melayang di angkasa, indah menawan.
Terlihat gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, alisnya bagus, hidungnya
mancung menantang, seakan seluruh syair indah di dunia ini dapat melukiskan
kecantikannya. Begitu mempesona sehingga setiap orang yang bertemu dengannya tidak
dapat menahan diri untuk menoleh sekali lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di belakangnya mengikuti dua orang. Yang satu pendek gemuk dan tinggi tubuhnya
tidak mencapai tiga ciok. Dengan duduk di atas pelana, dari jauh ia terlihat seperti sebuah
bola besar. Tampangnya pun lucu sekali. Sedangkan orang yang satunya lagi berpakaian
seperti seorang pelajar. Pakaiannya rapi dan tangannya memegang sebuah kipas di atas
kepala seperti melindungi wajahnya dari sinar matahari.
Kedua orang itu ternyata tidak lain tidak bukan dari Ciong San Suang-siu, yakni Cu Mei
dan Yi Siu. Dan gadis yang paling depan merupakan gadis yang dirindukan oleh Tan Ki
selama ini, yaitu putri tunggal Bu Ti Sin
Kiam Liu Seng, Mei Ling adanya.
Ketika dia menghambur ke arah Tan Ki, yang tertangkap oleh penglihatannya adalah
seorang laki-laki setengah baya dan sama sekali tidak menduga bahwa dia adalah
samaran dari Cian bin mo-ong yang namanya telah menggemparkan dunia Kangouw.
Karena riasan wajah Tan Ki masih belum luntur, dia juga belum tahu bahwa laki-laki
setengah baya ini merupakan pemuda tampan yang sempat dirawatnya beberapa hari
yang lalu.
Tampak matanya yang indah mengejap-kejap dan melirik Tan Ki beberapa kali.
“Rupanya orang ini dalam keadaan tidak sadarkan diri.” katanya.
Sepasang alis si pendek gemuk Cu Mei bertaut dengan erat.
“Lebih baik kita selesaikan urusan kita sendiri, untuk apa mengurusi hal yang bukanbukan?”
Sepasang alis Mei Ling langsung terjungkit ke atas.
“Aih, apakah Cu Siok Siok tidak sudi menolong orang yang sedang dalam kesulitan?”
Cu Mei menarik nafas panjang.
“Demi menghadapi Cian bin mo-ong, kita telah berusaha sekuat kemampuan untuk
mengumpulkan para sahabat di dunia Kang-ouw. Tidak ada seorangpun yang memiliki
kepandaian cukup yang tidak datang ke Lok Yang. Kita tinggal menunggu perintah untuk
bertindak. Sekarang, balikan kelima partai besar juga telah diundang, aku justru merasa
tidak tenang. Biar bagaimanapun Cian bin mo-ong mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali,
jarang menemukan tandingan. Untuk apa kita membesar-besarkan persoalan yang sepele
yang mungkin akan mengacaukan hubungan baik antara golongan hitam dan putih. Kali
ini, tujuan kita adalah Ming San, kita diperintahkan untuk mencari seorang tokoh Go Bi Pai.
Entah kita berhasil atau tidak. Kalau kita menolong orang ini terlebih dahulu, tentu banyak
waktu yang akan terbuang, aku khawatir Cianpwe itu keburu pergi pesiar ke tempat lain.”
Wajah Mei Ling menjadi kelam.
“Aku tidak mengatakan bahwa kita harus menolong orang ini untuk menyembuhkan
lukanya, tapi paling tidak kita bisa antarkan orang ini ke sebuah penginapan. Jangan
sampai dia terbaring di sini diterpa angin dan disinari terik mentari. Dengan demikian,
bukankah lukanya akan bertambah parah? Lagipula, kita sudah menempuh perjalanan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang demikian jauh. Sehari semalam kita tidak berhenti sama sekali. Setidaknya kita juga
perlu mencari tempat untuk beristirahat.” katanya dengan nada kurang senang.
Yi Siu merasa kata-katanya memang mengandung kebenaran, maka diapun tersenyum
sambil menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, nonaku yang manis. Terserah’ bagaimana kehendakmu saja.” sahutnya.
Mei Ling segera tertawa senang. Dia membungkukkan tubuhnya dengan maksud
hendak membopong Tan Ki, tetapi tiba-tiba dia merasa kurang pantas, bagaimanapun dia
adalah seorang gadis yang suci, mana boleh sembarangan membopong tubuh seorang
laki-laki yang tidak dikenal. Wajahnya jadi merah padam seketika. Cepat dia
mendongakkan kepalanya dan berseru…
“Yi Siok Siok, tolong kau angkat orang ini. Aku akan berjalan duluan untuk mencari
tempat peristirahatan.” baru saja ucapannya selesai, dia tidak menunggu jawaban dari Yi
Siu, tubuhnya melesat ke atas kuda kemudian menghentakkan kendalinya dan menerjang
ke depan dengan kecepatan tinggi.
Melihat hal itu, Yi Siu menggelengkan kepalanya beberapa kali.
” Anak ini juga benar-benar, meskipun jiwa kependekarannya sangat kuat, tetapi
berbuat apa-apa selalu tanpa berpikir panjang lagi. Lagipula peradatannya terlalu kukuh,
tidak sudi menyentuh tubuh seorang laki-laki sedikitpun.” sambil berkata, dia langsung
melonjak turun dari kudanya, digendongnya tubuh Tan Ki, kemudian ia mencelat kembali
ke atas pelananya.
Terdengar suara ringkikan kuda memecah keheningan. Debu jalanan beterbangan di
udara. Dua ekor kuda langsung melesat seperti anak panah dan menghambur ke arah
yang sama dengan Mei Ling tadi.
Tidak berapa lama kemudian, tampak Mei Ling berdiri di depan sebuah penginapan. Dia
segera menggapaikan tangannya seakan takut kedua orang itu tidak melihat dirinya.
Ternyata penginapan yang dipilihnya merupakan penginapan yang sama di mana Tan Ki
dan Liang Fu Yong bermalam.
Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Tan Ki siuman dari pingsannya. Begitu mata
memandang, di depan matanya terlihat berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan
berpenampilan anggun. Gadis itu tentu saja Mei Ling, putri tunggal Bu Ti Sin Kiam Liu
Seng. Tanpa terasa mulutnya mengeluarkan seruan terkejut dan dia langsung melonjak
dari tempat tidurnya.
“Rupanya engkau!” katanya spontan.
Sejak bertemu dengan gadis ini beberapa hari yang lalu ketika dirinya terluka, dalam
hati Tan Ki terus merindukannya siang dan malam. Kekolotannya justru menunjukkan
bahwa dia seorang gadis yang tidak sembarangan. Kecantikannya bagaikan mewakili
semua bunga-bunga yang indah yang terdapat di dunia ini.
Tan Ki sendiri belum lama berkecimpung di dunia Kangouw. Malah dia menggunakan
nama Cian bin mo-ong yang menggetarkan hati setiap tokoh di rimba persilatan. Selama
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini dia belum pernah tertarik kepada gadis manapun. Entah mengapa, hanya bayangan
Mei Ling seorang yang terus menggelayuti pikirannya.
Saat ini, gadis pujaannya tahu-tahu ada di depan mata, bagaimana hatinya tidak jadi
terkejut serta gembira?
Tampak Mei Ling tersenyum simpul. Dia merasa heran terhadap sikap Tan Ki.
“Aih, kau juga mengenal aku?”
“Di tengah kota Lok Yang pernah melihat Kouwnio beberapa kali, oleh karena itu Cayhe
jadi tahu siapa Kouwnio ini.” matanya beredar, dia melihat tangan Mei Ling memegang
sebuah mangkok berisi ramuan obat.. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.
‘Ini adalah untuk ketiga kalinya aku ditolong oleh Liu Kouwnio’ keluhnya dalam hati.
Dalam keadaan tidak sadar, dia tidak tahu mula-mula Liang Fu Yong yang menolong
jiwanya dengan mengorbankan diri rela diajak oleh manusia berpakaian hijau. Dia mengira
Mei Ling juga yang menolongnya kali ini. Tetapi dia takut gadis itu akan mengetahui wajah
aslinya, maka cepat-cepat dia memalingkan ke arah lain.
Diam-diam dia melirik ke arah gadis itu. Dia melihat sepasang mata Mei Ling yang
indah sedang menatap lekat-lekat sambil tersenyum simpul. Seakan ada sesuatu yang
diingatnya.
Hatinya menjadi khawatir. Tanpa dapat menahan diri lagi dia bertanya…
“Apa yang Kouwnio pikirkan?”
Mei Ling tersemyum lembut.
“Aku merasa seakan pernah melihat sinar matamu itu, tetapi untuk sesaat aku tidak
dapat mengingatnya kembali.”
“Apakah kau merasa tidak asing?”
“Tidak salah, sinar matamu ini persis dengan sinar mata seseorang yang ingin aku
temui, tapi usianya jauh lebih muda daripadamu.”
Hati Tan Ki berbunga-bunga. Belum apa-apa dia sudah kesenangan setengah mati.
“Apakah orang yang Kouwnio maksudkan itu bernama Tan Ki?”
Mendengar pertanyaannya, sepasang mata Mei Ling langsung berbinar-binar
menunjukkan kegembiraan hatinya.
“Apakah kau kenal dengannya?” tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dia menarik nafas
panjang satu kali baru melanjutkan kembali. “Aih, sebetulnya biar kau mengenal dia juga
tidak ada gunanya. Urusan ini bukan hanya dia seorang yang dapat menyelesaikannya.”
Kalau ditilik dari nada suaranya, tampaknya hati gadis ini sedang dilanda kegundahan
yang dalam, yang mana ada persoalan yang tidak dapat dipecahkannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Entah apa maksud Kouwnio mencarinya? Meskipun Cayhe tidak mempunyai
kepandaian apa-apa, tetapi Cahye rela membagi suka duka dengan Kouwnio. Hal ini tentu
saja untuk membalas budi pertolongan Kouwnio.” kata Tan Ki.
Mei Ling menarik nafas panjang sekali lagi.
“Karena urusan dia dan Kiau Hun Moay Moay, akhirnya timbul persengketaan antara
guruku dengan si pengemis sakti Cian Cong Locianpwe. Kemudian mereka menentukan
waktu untuk bertanding sekali lagi. Kemudian, karena ilmu silat guruku terpaut segaris
dengan Cian Locianpwe, akhirnya beliau terkena serangan ‘Hui Siu Jut Lim’ milik tokoh tua
tersebut…”
Terdengar seruan terkejut dari mulut Tan Ki, cepat-cepat dia menukas.
“Peristiwa ini aku sudah tahu. Kemudian gurumu ditolong oleh seorang manusia
berpakaian hijau dan menjanjikan bahwa dalam waktu tiga bulan, dia akan mengajarkan
ilmu yang sama kepada Ciu Gang Po dan membayar hutang Cian Locianpwe.”
“Aku justru dipusingkan oleh masalah ini. Setelah itu, Cian Locianpwe mencari info ke
sana ke mari, akhirnya dia berhasil mengetahui bahwa manusia berpakaian hijau itu
adalah tokoh yang disebut iblis nomor satu di dunia Bulim sepuluh tahun yang lalu.
Julukannya ‘Sam Jiu San Tian-sin’ (Dewa Kilat Bertangan Tiga) nama aslinya Oey Kang,
Usia orang ini belum terlalu tua, tetapi ilmu silatnya sudah mencapai taraf tertinggi,
bahkan Cian Locianpwe dan tokoh lain yang seangkatan dengannya, mengaku sendiri
bahwa mereka masih bukan tandingan orang tersebut. Apalagi dia bisa mengeluarkan tiga
macam senjata rahasia sekali kibas. Maka kehebatannya dapat dibayangkan. Selama
ratusan tahun, belum pernah ada tokoh lain yang sanggup melakukan hal yang sama…”
“Sekali kibas tiga macam senjata rahasia?” tanpa sadar Tan Ki mengulangi sekali lagi
ucapannya. Ayahnya mati di bawah serangan berbagai senjata rahasia. Tentu saja dia
menaruh perhatian besar terhadap orang yang dapat menggunakan senjata rahasia
dengan baik.
Diam-diam hatinya jadi tergerak. “Apa hubungannya masalah ini dengan Tan Ki?”
Wajah Mei Ling bagai diselimuti awan gelap.
“Asal dia muncul dan meminta maaf kepada guruku, tentu urusan ini akan lebih mudah
dibicarakan. Bayangkan saja, Suhuku merupakan orang yang tinggi hati. Kalau pamornya
dapat dikembalikan seperti semula, mungkin perselisihan antara dirinya dengari Cian
Locianpwe juga dapat didamaikan. Kalau tidak, dengan mengikuti seorang iblis yang sudah
terkenal di dunia persilatan, kemungkinan dia akan terjerumus ke jalan yang sesat.”
selesai berkata, dia menarik nafas lagi dalam-dalam.
Sepasang alis Tan Ki bertaut erat.
“Menurut apa yang kuketahui, orang yang
Kouwnio cari itu juga memiliki watak yang keras. Kalau mengharapkan dia minta maaf
begitu saja, rasanya tidak mungkin dia bersedia.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau begitu aku akan memohon kepadanya. Aku tahu, pada dasarnya hati orang ini
sangat baik, dia tidak akan membuat aku kecewa.” kata Mei Ling panik.
Hati Tan Ki tergetar mendengar ucapannya “Mengapa kau bisa tahu kalau dia adalah
orang baik-baik? Dan di mana letak kebaikannya?”
Sepasang mata Mei Ling yang indah mengejap-kejap. Dia berbicara dengan nada polos.
“Aku dapat melihat dari sinar matanya, lagipula sikapnya terhadapku…” tiba-tiba dia
merasa ucapannya jadi ngelantur. Wajahnya berubah merah padam dan ia tidak
melanjutkan kata-katanya kembali. Tampangnya menyiratkan rasa jengah yang tidak
terkirakan.
Melihat tampangnya yang demikian rupa, hati Tan Ki semakin tertarik. Tanpa dapat
mempertahankan diri lagi, dia menarik nafas panjang.
“Kentungan ketiga malam ini, harap kau tunggu di sekitar kota sebelah Barat. Di sana
ada sebuah jembatan kecil. Kouwnio pasti akan bertemu dengan orang yang dicari. Saat
itu, permintaan apapun yang kau ajukan, dia pasti akan mengabulkannya…”
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang riuh. Bayangan manusia berkelebat. Yi Siu
masuk dengan langkah tergesa-gesa. Bibirnya tersenyum.
“Apakah orang itu sudah sembuh?” tanyanya cepat.
Tan Ki tetap berbaring di atas tempat tidur. Dia menjurakan sepasang kepalan
tangannya.
“Terima kasih atas bantuan Saudara. Cay-he akan mengenangnya dalam hati.” katanya.
Yi Siu tertawa lebar.
“Kita sama-sama orang dari dunia Bulim. Memang sudah seharusnya saling tolong menolong.
Semua ini toh merupakan hal yang wajar, buat apa sungkan-sungkan?” dia segera
menoleh kepada Mei Ling dan melanjutkari perkataannya. “Kouwnio, kita sudah boleh
pulang sekarang.”
Mei Ling jadi tertegun mendengar kata-katanya.
“Kenapa? Apakah kita tidak jadi menemui Yuan Kong Taisu?”
Sekali lagi Yi Siu tersenyum simpul.
“Ini yang di namakan, gunung jauh-jauh hendak didatangi, tidak tahunya sudah ada di
depan mata. Kita malah jadi hemat tenaga. Kita hendak mencari tokoh sakti tersebut,
orangnya justru sudah sampai di sini mencari kita. Sekarang sedang berbincang-bincang
dengan Cu Siok Siokmu.”
Mendengar percakapan kedua orang itu, hati Tan Ki langsung terkesiap. Dari kitab hasil
curiannya di kuburan para ketua Ti Ciang Pang, di dalamnya ada keterangan tentang Yuan
Kong Taisu yang dinyatakan sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan ilmunya
sudah mencapai taraf yang tertinggi. Sedangkan dalam hal angkatan-angkatan tua,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bahkan dua tokoh sakti di dunia Kangouw saat ini, yakni Cian Cong dan Tian Bu Cu masih
lebih rendah dari orangtua ini setengah angkatan.
Selain terkejut, hatinya juga merasa bangga. Ternyata namanya sendiri bisa begitu
terkenal sehingga membuat para tokoh dari dua golongan, baik hitam maupun putih
menjadi cemas bukan kepalang.
Sementara itu, tampak Mei Ling tertawa lebar.
“Aku ingin menemuinya.” dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Melihat kelincahannya, Yi Siu tersenyum simpul.
“Keponakanku ini sungguh nakal, tidak pernah memperdulikan adat istiadat, sungguh
menjadi bahan tertawaan Saudara saja.”
“Mana bisa orangnya anggun dan lincah, maka tampaknya seperti nakal, padahal itu
hanya kepolosan jiwanya dan sikapnya yang masih kekanak-kanakan. Malah membuat
orang senang melihatnya. Cahye malah sudah menerima budi pertolongannya satu kali,
entah bagaimana harus membalasnya.” karena hatinya sendiri sudah tertarik kepada Mei
Ling, kata-katanya jadi memuji gadis itu terus. Tanpa sadar, sering dia mengutarakan isi
hati yang sebenarnya.
Untung saja Yi Siu menganggap ucapannya sebagai ungkapan yang wajar. Dia segera
merangkapkan sepasang tangannya dan menjura kepada Tan Ki.
“Lebih baik kita juga ke sana dan berbincang-bincang dengan mereka.” katanya.
“Baik, Cayhe juga ingin sekali bertemu dengan Yuan Kong Taisu yang terkenal itu.”
Kedua orang itu lalu keluar berendengan dan masuk ke kamar sebelah. Begitu mata
memandang, di dalam kamar itu telah dipenuhi oleh sejumlah orang. Baik Tan Ki maupun
Yi Siu jadi tertegun.
Sekilas perasaan gentar segera merasuk hati Tan Ki. Tanpa sadar, tubuhnya bergetar.
“Mungkinkah mereka telah mengetahui rahasiaku dan sengaja mengatur perangkap ini
untuk menjebakku?”
Dengan membawa pikiran demikian, perasaannya semakin tegang. Dia berdiri di depan
pintu dengan hati bimbang.
Rupanya di dalam kamar tersebut, kecuali seorang Hwesio tua yang rambutnya sudah
putih semua dan berpakaian abu-abu, di sana masih terdapat Bu Ti Sin Kiam Liu Seng, si
pendek gemuk Cu Mei, Tian Tai Tiau-siu, Kok Hua Hong dan tujuh delapan orang laki-laki
bertampang gagah. Mereka semuanya pernah dilihat oleh Tan Ki di rumah Liu Seng di kota
Lok Yang. Hanya si pengemis sakti Cian Cong yang tidak menyukai keramaian maka tidak
kelihatan.
Perlahan-lahan dia mengalihkan pandangannya, tampaknya Yi Siu juga tidak
menyangka akan kehadiran Liu Seng dan yang lainnya. Melihat kemunculan orang-orang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
itu, hampir saja dia tertawa terbahak-bahak kalau bukan karena hadirnya Yuan Kong Taisu
yang dihormati semua orang.
Tampak Liu Seng berdiri sambil tersenyum-senyum.
“Harap saudara berdua duduk di dalam.” sapanya.
Dia mengira Tan Ki adalah teman Yi Siu. Maka ketika mempersilahkan dia menyebutkan
kedua-duanya. Pada saat itu Tan Ki masih merenung. Melihat Yi Siu menjura kepada para
hadirin, terpaksa dia memberanikan diri dan ikut melangkah ke dalam.
Riasan wajahnya masih belum luntur, tampangnya yang kaku sekaan tidak
menunjukkan perasaan apapun. Yuan Kong Taisu adalah seorang angkatan tua Siau Lim
Pai yang sudah lama mengasingkan diri. Matanya sangat awas. Ketika Tan Ki baru
melangkah sampai di depan pintu, mulutnya langsung mengeluarkan suara ‘Ehem’ yang
lirih. Rasa curiganya sudah tergugah. Begitu Tan Ki masuk ke dalam, dia malah
memperhatikan dengan pandangan yang lebih teliti.
Sinar mata Tan Ki bertemu pandang dengan tokoh tua tersebut. Dia segera merasakan
sinar matanya tajam menusuk, seperti ingin menembus pribadinya dalam-dalam.
Diam-diam hatinya terkesiap, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya dan pura-pura
melihat ke arah yang lain.
Tiba-tiba Yuan Kong Taisu menyerukan nama Buddha. Suaranya bagai bunyi genta
berdentang. Begitu kerasnya sehingga menggetarkan gendang telinga. Melihat keadaan
itu, wajah orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut segera berubah hebat.
Perlahan-lahan Yuan Kong Taisu bangkit dari tempat duduknya. Tendengar suaranya
yang parau dan mengandung kewibaan yang dalam.
“Apa kabar Sicu setelah sekian lama tidak bertemu, tentunya masih mengenali Pinceng
bukan?”
Datangnya pertanyaan itu begitu mendadak, Tan Ki yang mendengarnya sampai
termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena dia tidak merasa kenal dengan
Hwesio tua tersebut.
Sampai-sampai orang-orang yang ada dalam ruangan itu juga merasa heran. Puluhan
pasang mata segera beralih pada diri Tan Ki. Suasana menjadi mencekam.
Dari perhatiannya yang teliti tadi, Yuan Kong Taisu sudah mengetahui bahwa
kedatangan Tan Ki ke dalam ruangan ini bukan menggunakan wajahnya yang asli.
Tampang dan gerak-geriknya persis dengan musuh bebuyutannya puluhan tahun yang
lalu. Sekarang melihat Tan Ki diam saja serta tidak menyahut sepatah katapun,
kecurigaannya semakin dalam. Sepasang alisnya yang sudah putih segera terjungkit ke
atas.
“Apakah Sicu benar-benar sudah lupa dengan Pinceng? Mungkin, jurus serangan ‘Tian
Wu Te-am’ ini akan mengingatkanmu kembali?” bentaknya marah. Deraan pukulan
langsung dihantamkan ke depan. Rangkuman angin yang terpancar dari telapak
tangannya menimbulkan suara suitan yang panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki merasa segulungan angin yang kencang mendorong ke arahnya. Nafasnya jadi
sesak, hatinya terperanjat dan dengan gugup dia segera melesat keluar dari ruangan
tersebut untuk menghindarkan diri dari serangan yang dahsyat itu. Terdengar suara yang
bergemuruh. Pukulan lewat di sampingnya dan menghantam pintu kamar, pintu kayu
itupun hancur berkeping-keping dan berhamburan ke mana-mana.
Sekali lagi Yuan Kong Taisu berdehem. Serangannya ditarik kembali. Sinar matanya
bagai kilat memperhatikan diri Tan Ki.
“Apa hubunganmu dengan ‘Cian Tok Kui-ong’ (Raja Setan Seribu Racun)?” bentaknya
marah.
Tan Ki tertegun.
“Aku tidak mengenal segala raja setan maupun dewa-dewa, aku juga tidak
mengenalmu. Mengapa baru saja bertemu, tanpa menyatakan dengan jelas, kau langsung
melancarkan pukulan?” sahutnya kesal.
Yuan Kong Taisu tertawa dingin.
“Kalau, kau bukan Cian Tok Kui-ong sendiri, pasti kau juga mempunyai hubungan yang
erat dengannya. Kalau tidak, ilmu merias wajah kelas wahid di dunia seperti yang kau
kuasai tidak mungkin diwariskannya kepadamu!”
Sejak puluhan tahun yang lalu, Hwesio tua ini sudah mengasingkan diri dan tidak
mencampuri urusan duniawi. Selama ini dia hanya bersemedi melatih ilmu dan membaca
ayat-ayat suci. Sebetulnya hawa emosi dalam dirinya sudah padam. Tetapi saat ini,
kemarahannya demikian meluap-luap. Hal ini menandakan bahwa kebenciannya terhadap
Cian Tok Kui-ong sudah merasuk ke tulang sumsum.
Tan Ki memaksakan diri mengembangkan seulas senyuman.
“Aku tidak tahu siapa itu Cian Tok Kui-ong. Kalau pun aku tahu, karena seranganmu
tadi, aku juga tidak akan mengatakannya!” dia langsung membalikkan tubuh dan
bermaksud meninggalkan tempat itu.
Penampilannya keras kepala seperti biasa. Dia memang bukan manusia yang dapat
dihadapi dengan kekerasan.
Tampak Yuan Kong Taisu mengibaskan lengan bajunya dan berteriak.
“Jangan lari!” dia langsung mengerahkan langkah kakinya mengejar. Dalam waktu yang
singkat, tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan hilang dari pandangan.
Beberapa perubahan yang mendadak benar-benar di luar dugaan para hadirin, ketika
mereka bermaksud mencegah, ternyata sudah tidak keburu lagi.
Tampak Liu Seng menarik nafas panjang. Kepalanya menggeleng beberapa kali.
“Karena kemunculan Cian bin mo-ong, Yuan Kong Taisu yang sudah mengasingkan diri
berpuluh tahun ikut merasa marah dan berkecimpung lagi di dalam dunia Kangouw. Tidak
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
di sangka orang tadi merupakan sahabat dari Cian Tok Kui-ong atau mungkin muridnya.
Kalau sampai karena persoalan tadi Cian Tok Kui-ong jadi muncul kembali, dunia Bulim
mungkin akan bertambah lagi satu masalah yang pelik.”
Sekali lagi dia menarik nafas panjang. Wajahnya jadi kelam seketika. Para hadirin juga
tidak mengucapkan sepatah katapun. Mereka merasa banyak bicara pada saat seperti itu
hanya menambah pusing pikiran saja.
Cian Tok Kui-ong sebetulnya seorang iblis yang gemar membunuh dan berhati keji.
Orang ini pernah menggemparkan dunia Kangouw. Berpuluh-puluh tahun yang lalu. Dia
mempunyai keahlian yang khas. Yakni merias wajah seperti yang dikuasai oleh Tan Ki.
Kebesaran namanya hampir berimbang dengan Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang.
Apa yang dikatakan oleh Liu Seng memang tidak salah. Seandainya muncul lagi
seorang Cian Tok Kui-ong, para sahabat golongan putih di dunia Bulim pasti harus
mengeluarkan tenaga sekuatnya untuk menghadapi tiga orang lawan yang tangguh.
Cian bin mo-ong, Sam Jiu San Tian-sin, Cian Tok Kui-ong.
Bencana besar mungkin akan melanda lagi dunia Kangouw. Tetapi, para hadirin sama
sekali tidak mengerti. Tan Ki sebetulnya memang tidak mengenal Cian Tok Kui-ong. Dia
juga tidak tahu siapa orang itu. Dia hanya tahu bahwa ilmu merias wajahnya diperoleh
dari sebuah kitab yang dihadiahkan oleh Bu Beng Lo Jin (Orangtua tanpa nama).
Siapakah Bu Beng Lo Jin?
Tan Ki tidak tahu banyak orangtua itu langsung menghembuskan nafas terakhir setelah
menghadiahkan kitab berisi ilmu merias wajah itu kepadanya.
Sementara itu, terdengar Yi Siu mengeluarkan suara batuk yang keras untuk memecah
keheningan yang mencekam.
“Ada apa dengan kalian? Hanya karena kemunculan seseorang yang asal-usulnya tidak
jelas, kalian jadi kalang kabut tidak karuan. Mari, mari. Kita panggil pelayan agar
menyediakan arak yang bagus banyak-banyak. Setelah itu kita minum sampai puas, kalau
perlu tujuh hari tujuh malam. Apabila benar ada masalah yang rumit, sampai waktunya
pasti ada jalan keluarnya!”
Liu Seng tertawa getir.
“Bicara memang mudah, sekarang saja, para sahabat yang hadir di sini sudah
dipusingkan oleh urusan Cian bin mo-ong, memangnya…” dia berhenti sejenak, wajahnya
tiba-tiba berubah menjadi serius. “Memangnya Yi Heng sudah mempunyai rencana yang
bagus untuk menghadapi kenyataan di depan mata?” tanyanya kemudian.
Yi Siu mendongakkan kepalanya merenung sejenak, kemudian tampak dia
menggelengkan kepalanya perlahan-lahan.
“Rencana yang bagus sih belum ada. Tetapi menurut pandangan Hengte, kita sudah
mengerahkan tenaga mengumpulkan para sahabat di dunia Bulim. Setidaknya pihak lawan
juga merasa agak gentar menghadapi situasi seperti ini, yang penting…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liu Seng mengibaskan tangannya dua kali mencegah Yi Siu meneruskan kata-katanya.
“Aku tahu, aku tahu. Demi mencegah jatuhnya korban lebih banyak di antara para
sahabat kita di dunia Kangouw, kecuali akal tadi, aku mohon tanya kepada Yi Heng,
apakah jalan keluar yang lebih baik yang mana tidak akan makan banyak korban?”
Kata-kata ini diucapkan dengan kewibawaan yang dalam. Pertanyaannya membuat Yi
Siu bungkam dan sampai sekian lama tidak sanggup memberikan jawaban. Memang
benar, mereka bisa saja mengumpulkan para tokoh di Bulim untuk menghadapi Cian bin
mo-ong maupun Oey Kang. Tetapi tidak diragukan lagi, pasti banyak korban yang akan
jatuh.
Untuk sesaat suasana di dalam ruangan menjadi hening. Perasaan hati para hadirin
semakin tertekan. Tian Tai Tiau-siu Kok Hua Hong yang dari awal hingga akhir tidak
mengucapkan sepatah katapun tiba-tiba angkat suara.
“Ada orang yang datang!”
Baru saja kata-katanya selesai, mendadak terdengar suara langkah kaki, tanpa terasa,
para hadirin menolehkan kepalanya seketika. Tampak pakaian berwarna abu-abu
bergerak-gerak. Seseorang tanpa mengeluarkan suara sedikitpun melesat masuk ke dalam
kamar.
Para hadirin masih belum melihat jelas siapa orang yang datang, tetapi hidung mereka
sudah mengendus harumnya daging panggang. Si gadis cantik jelita memperhatikan
dengan seksama, sejenak kemudian terdengar dia berseru dengan suara gembira. “Bagus,
Cian Pek Pek sudah datang!”
“Po Siu-cu Cian Cong bisa tiba-tiba muncul, benar-benar di luar dugaan para hadirin.
Begitu mata memandang, orang-orang yang hadir di dalam ruangan langsung tertegun.
Sampai Liu Seng sendiri juga merasa heran.
Cian Cong sama sekali tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Dengan tenang
dia melangkah masuk ke dalam ruangan dan tidak mengucapkan sepatah katapun.
Rupanya mulut orangtua ini sedang menggerogoti sepotong paha ayam. Dia sampai tidak
sempat bicara. Cian Cong tampaknya baru saja membeli paha ayam tersebut, dagingnya
masih banyak dan harumnya sampai menyebar ke seluruh ruangan.
Tapi caranya memakan paha ayam itu sangat berlainan dengan sebelumnya. Biasanya
dia menggerogoti dengan rakus dan kadang-kadang air liurnya sampai menetes keluar.
Sedangkan sekarang cara makannya sangat sopan dan seakan menikmati dengan tenang.
Tiba-tiba, Mei Ling maju beberapa langkah dan muncul di hadapannya.
“Cian Pek Pek, kau pernah mengatakan bahwa apabila bertemu lagi nanti, kau akan
mengajarkan sejurus ilmu pukulan kepadaku!”
Wajah Cian Cong agak berubah mendengar ucapannya. Kakinya pun segera mundur
dua langkah.
“Jangan ribut, aku ada sesuatu yang akan diberikan kepada ayahmu.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati Liu Seng tiba-tiba tergerak. Dia merasa gerak-gerik Cian Cong hari ini bukan saja
agak janggal, malah ucapannya juga tidak beraturan, jauh berbeda dengan sikap dan
jiwanya yang welas asih.
Setelah mempunyai pemikiran demikian, tanpa dapat ditahan lagi dia melirik Cian Cong
berulang kali. Padahal, si pengemis sakti yang juga merupakan ketua Kai Pang (Partai
Pengemis) yang ada di hadapan mereka sekarang ini, memang merupakan samaran dari
Cian bin mo-ong Tan Ki.
Setelah berhasil meloloskan diri dengan susah payah dari kejaran Yuan Kong Taisu, dia
segera mencari kesempatan dan merias wajahnya menjadi si pengemis sakti Cian Cong.
Tujuannya adalah membunuh Liu Seng guna membalas dendam bagi ayahnya.
Justru ketika hati Liu Seng mulai bimbang, tiba-tiba terdengar Mei Ling tertawa
terkekeh-kekeh.
“Cian Pek Pek, ke mana perginya hiolomu itu?”
Rupanya Tan Ki merias wajahnya dengan tergesa-gesa, dia melupakan beberapa hal
yang kecil-kecil. Meski dalam waktu yang singkat dia berhasil membeli sepotong paha
ayam panggang, sepasang sepatu rumput, tetapi dia justru lupa membeli sebuah hiolo
untuk mengisi arak. Sebetulnya barang ini justru merupakan sahabat seumur hidup si
pengemis sakti dan belum pernah lepas dari sisinya. Setelah diteriaki oleh Mei Ling, kepalsuannya
hampir saja terbongkar.
Untuk sesaat, perasaan curiga di hati Liu Seng makin dalam. Tetapi karena Cian Cong
adalah seorang tokoh sakti yang namanya sudah terkenal di empat samudera dan lima
pegunungan, kalau sampai terjadi kesalahan, pasti akan timbul perselisihan di antara
mereka. Dari kawan malah menjadi lawan. Oleh karena itu, lama sekali dia tidak berani
menyatakan apa-apa.
Tampak wajah Cian Cong berubah hebat. Kakinya sampai mundur tiga langkah. Dengan
memaksakan sebuah senyuman dia menyahut dengan gugup…
“Hioloku itu tertinggal di atas pohon tadi, aku sampai lupa mengambilnya kembali.”
Lambat laun Liu Seng semakin tertegun. Kata-katanya ini juga tidak tepat. Pada hari
biasanya, Cian Cong selalu mengatakan: ‘Barang kesayanganku ini’ selamanya dia tidak
pernah menyebut kata ‘hiolo’.
Begitu matanya mengedar, tiba-tiba dia melihat bahwa di pinggang kiri Cian Cong ini
juga tidak terselip tongkat bambunya! Padahal tongkat itu merupakan senjata yang
dipakai oleh Cian Cong sehari-harinya. Mengapa dia tidak membawanya? Rasanya tidak
mungkin kalau tertinggal juga…
Suasana yang hening lambat laun terselip semacam ketegangan. Mimpi pun Tan Ki
tidak menyangka kalau riasannya hari ini menunjukkan banyak kelemahan. Bahaya yang
mengerikan perlahan-lahan mendekati dirinya!
Tiba-tiba… Liu Seng tertawa terbahak-bahak dan menegakkan badannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
BAGIAN XI
Kata-kata dengan nada yang berat segera tercetus dari mulutnya.
“Entah urusan apa yang menggelayuti pikiran Cian Locianpwe sehingga tindaktanduknya
hari ini menjadi jauh berbeda dengan biasanya. Sampai-sampai senjata yang
sehari-harinya digunakan juga ketinggalan…!” mendadak mimik wajahnya menjadi dingin.
Dia langsung membentak dengan suara keras. “Siapa kau sebenarnya?”
Suara bentakannya bagai guntur yang menggelegar, sehingga menggetarkan hati orang
yang mendengarnya. Padahal wajahnya penuh welas asih dan murah senyum, tetapi
begitu hawa amarah dalam dadanya meluap, tiba-tiba suaranya pun berubah ketus dan
tajam. Di dalamnya seakan terkan-dung kewibawaan yang besar sekali.
Hati Tan Ki tercekat. Dia memaksakan seulas senyuman di bibirnya.
“Aku adalah aku, memangnya ada orang lain yang berani memalsukan?” mungkin
orang yang melakukan kesalahan pasti gugup. Tawanya ini demikian janggal serta aneh.
Liu Seng langsung tertawa dingin.
“Selamanya Cian Locianpwe selalu menyebut dirinya sendiri ’si pengemis tua’. Mengapa
tiba-tiba cara bicara saja bisa berbeda…” dibenaknya, tiba-tiba terlintas sebuah ingatan,
wajahnya langsung berubah hebat. “Kau… kau adalah… Cian bin mo-ong?”
Kata-kata ini sebetulnya baru saja terlintas di otaknya. Tetapi karena hatinya tersirat
rasa takut yang dalam, maka begitu dicetuskan, suaranya pun terdengar gemetar dan
tersendat-sendat.
Ketika kata-kata tadi sudah tercetus dari mulutnya, suasana di dalam ruangan itu bagai
diselimuti hawa kematian yang tebal. Wajah orang-orang yang hadir hari itu langsung
berubah hebat. Mereka berdiri serentak. Suasana semakin menegangkan. Akhirnya Tan Ki
tahu samarannya sudah terbongkar. Dalam seumur hidupnya, baru kali ini samarannya
berhasil dibongkar orang. Dia sadar percuma meneruskan sandiwaranya. Oleh karena itu,
dia mengeluarkan suara tertawa yang panjang. Suara tawanya itu sampai menggetarkan
atap penginapan tersebut. Begitu kerasnya sampai me-mekakkan telinga orang yang
mendengarnya. Namun di dalamnya seperti tersirat perasaannya yang penuh penderitaan
dan kesedihan.
Dengan demikian, rencananya untuk membalaskan dendam bagi ayahnya tercinta
kembali gagal. Kemudian, dia tertawa dingin sambil memalingkan wajahnya.
“Benar. Aku memang Cian bin mo-ong. Untungnya mata Saudara bagai dewa, belum
apa-apa sudah membongkar samaranku ini. Kalau tidak, mungkin saat ini kau sudah rebah
di atas tanah bermandikan darah!” ketika berbicara, nada suaranya yang tercetus keluar
mengandung hawa pembunuhan yang tebal rasa benci yang dalam.
Tiba-tiba, terlihat bayangan-bayangan, berkelebat. Orang-orang yang ada dalam
ruangan itu segera memencarkan diri dan mengambil posisi mengurung Tan Ki. Meskipun
hanya ada seorang Cian bin mo-ong, namun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sanggup membuat mereka khawatir dan tidak tenang. Gerakan mereka ini tentu saja
berniat mengeroyok Tan Ki. Mereka tidak perduli lagi peraturan dunia Kangouw yang
menganggap perbuatan itu sangat rendah.
Tan Ki mengeluarkan suara tawa yang dingin. Dia tetap berdiri tanpa bergerak sedikit
pun. Dia tahu segelombang pembunuhan segera akan berlangsung di depan mata. Diamdiam
dia menghimpun tenaga dalamnya dan siap-siap melancarkannya setiap waktu.
Penampilannya malah berubah menjadi tenang dan dingin. Bagai seekor rajawali yang siap
tempur, berani dan gagah.
Tiba-tiba terdengar Liu Seng membentak dengan suara lantang.
“Ini yang dinamakan dikejar malah hilang, tidak diundang malah datang sendiri!”
keberhasilan yang tidak perlu mengeluarkan tenaga. Karena engkau seorang, Lohu sampai
mengirimkan surat undangan kepada para sahabat di dunia Bulim agar mereka berkumpul
di Lok Yang. Tak nyana sama sekali, di tempat seperti ini dan saat seperti ini, Saudara
justru datang berkunjung. Tampaknya kita memang berjodoh, terimalah!”
Begitu kalimatnya yang terakhir diucapkan, tampak Liu Seng memajukan langkah
kakinya dengan diiringi segulungan hembusan angin dia pun melancarkan sebuah pukulan.
Terasa gulungan angin bagai putaran roda, di dalamnya terkandung searus gelombang
yang kuat. Belum lagi serangannya sampai di sasaran, pakaian Tan Ki sudah terhembus
sehingga berkibaran.
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuh Tan Ki sudah menghilang dari
pandangan. Dalam waktu yang sekejap dia sudah sampai di belakang punggung Liu Seng.
Bahaya datang mengincar!
Kalau pada saat ini Tan Ki melancarkan sebuah pukulan, tidak ayal lagi Liu Seng pasti
akan terluka parah walaupun tidak sampai ajal. Pada saat yang genting ini, para hadirin
sampai mengeluarkan seruan terkejut saking paniknya. Keringat dingin membasahi tubuh
mereka. Saat itu, merupakan detik-detik yang kritis!
Sebuah suara yang merdu menjerit memecahkan kesunyian! Angin yang bertiup
membawa serangkum bau yang harum. Bagai seekor walet, tubuh Mei Ling melesat keluar
dari tempat berdirinya!
Gerakannya yang cepat bagai anak panah yang meluncur. Seandainya Tan Ki berhasil
melukai Liu Seng tanpa memperdulikan segalanya, dia sendiri pasti terhantam oleh
pukulan Mei Ling sehingga terluka parah.
Dalam keadaan seperti ini, mau tidak mau Tan Ki harus menyelamatkan jiwanya dulu.
Dia terpaksa melepaskan kesempatan yang bagus untuk membunuh Liu Seng.
Dendam di. dalam hati anak muda ini sudah mendalam sekali. Melihat kesempatannya
membunuh musuh gagal, dia meluapkan segala kekecewaan dan kemarahan hatinya pada
orang yang menyerangnya dari belakang.
Sayangnya, dia tidak tahu orang yang menyerangnya dari belakang adalah gadis
pujaan hatinya! Dia hanya ingin mengumbar kemarahannya. Tiba-tiba dia meraung murka
dan secepat kilat memutar lengan tangannya dan menghantamkan sebuah pukulan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Jurus Tian Lui Ci-ming (Guntur di langit bagai ratapan) langsung dikerahkan pada saat
itu juga. Jurus yang digunakannya ini merupakan salah satu jurus yang paling ampuh dari
ilmu Tian Si Sam-sut. Kecepatannya mengandung kekejian yang dahsyat.
Hati Mei Ling khawatir ayahnya dalam keadaan bahaya, tanpa memperdulikan dirinya
sendiri, dia terus menerjang ke depan!
Sesaat yang kritis itu menimbulkan kenyataan yang menyayat hati. Tiba-tiba terdengar
suara jeritan ngeri yang berkumandang memenuhi seluruh ruangan disusul dengan
sesosok bayangan manusia yang terkapar di atas tanah.
Perubahan yang mendadak ini, membuat para hadirin tidak sempat lagi memberikan
pertolongan. Untuk sesaat mereka malah jadi terpana. Tan Ki sendiri langsung tertegun.
Mimpipun dia tidak pernah menduga bahwa serangannya tadi justru melukai gadis
pujaan hatinya. Hal ini benar-benar di luar dugaannya, dia merasa hatinya bagai disiram
oleh air es dan keringat dingin segera membasahi keningnya.
Meskipun, perasaan cintanya terhadap Mei Ling hanya sepihak saja, tetapi dia juga
merasa bahwa tidak seharusnya dia membuat gadis itu berduka. Pukulan yang melukai
Mei Ling benar-benar merupakan suatu kesalahan yang besar.
Dalam keadaan panik, tanpa dapat ditahan lagi seluruh tubuhnya basah oleh keringat
dingin. Tiba-tiba dia juga teringat suatu persoalan.
‘Apakah aku boleh membunuh Liu Seng?’ tanyanya dalam hati.
Dia jadi termenung. Semakin dipikirkan hatinya semakin bimbang. Dia sendiri tidak
dapat mengambil keputusan yang tepat. Untuk sesaat, dia bahkan lupa bahwa dirinya
masih terkurung oleh lawan-lawan yang hebat.
Tepat pada saat itu, terdengar bentakan dari mulut Liu Seng.
“Hari ini aku akan mengadu jiwa denganmu. Kalau bukan kau yang mati, maka akulah
yang akan menghadapi ajal!”
Dia melihat putri tunggal kesayangannya rebah di atas tanah dengan mata dan mulut
tertutup rapat, rambut acak-acakkan, dan tidak bergerak sedikitpun. Dia mengira Mei Ling
sudah mati. Dalam waktu yang singkat, rasa bencinya kepada Cian bin mo-ong Tan Ki
segera menyusup sampai ke tulang sumsum.
Begitu kumandang suaranya sirap, dengan cepat dia melancarkan tiga pukulan. Ketiga
pukulan ini dilancarkan dalam keadaan marah, deraan angin dari telapak tangannya kuat
sekali. Udara bagai sesak dan sayup-sayup terdengar suitan panjang yang terpancar dari
pukulannya. Sasarannya merupakan bagian yang mematikan dari tubuh Tan Ki.
Pikiran Tan Ki masih kalut. Dia tidak tahu apakah dia harus membunuh Liu Seng untuk
membalaskan dendam ayahnya. Kalau dilihat dari ilmu silat yang dimilikinya sekarang,
apabila bertarung satu lawan satu, hal ini merupakan urusan yang mudah baginya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tetapi kalau urusan ini berhasil, dia pasti kehilangan kesempatan untuk memperoleh
cinta kasih Mei Ling.
Dendam ayahnya? Cinta kasih? Dua macam pikiran yang bertolak belakang ini
membuahkan bayangan penderitaan dalam sanubarinya. Hatinya menjadi gundah. Dia
tidak dapat menentukan pilihan yang tepat. Entah mana yang lebih baik di antara
keduanya!
Di kala dia masih merenung, tiga pukulan yang gencar dan mengandung kekuatan yang
dahsyat menerjang ke arahnya. Dengan panik dia menggeser tubuhnya ke samping sejauh
dua tindak. Dengan demikian Tan Ki pun berhasil meloloskan diri dari serangan tersebut.
Saat ini dia sudah terperangkap dalam kurungan para hadirin. Baru saja dia berhasil
menghindarkan diri dari tiga pukulan Liu
Seng. Di belakang kepalanya terdengar lagi desiran angin yang lain. Sebatang golok
sedang menebas di belakang kepalanya dari atas ke bawah.
Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap seketika. Di tambah lagi dengan perasaan
khawatir dan takut. Segala keresahan dalam hatinya belum sanggup disalurkan. Oleh
karena itu, dia langsung tertawa dingin.
“Bagus, kalian ingin mengandalkan orang banyak untuk meraih kemenangan?”
bentaknya sinis.
Pinggangnya meliuk, dia berhasil menghindar dari serangan golok. Kemudian dengan
gerakan yang kilat, dia melesat ke sebelah kiri orang tersebut. Gerakan tubuhnya sangat
aneh, seperti setan gentayangan layaknya.
Detik-detik yang hanya sekejapan mata saja, membuat pandangan para hadirin jadi
berkunang-kunang. Tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri yang menggetarkan indera
pendengaran. Sesosok tubuh yang tinggi besar tahu-tahu melayang keluar dan terjatuh di
sudut tembok. Mulut orang itu terbuka lebar, matanya membelalak. Nyawanya pun
melayang seketika. Sebatang goloknya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, tertancap
dalam-dalam di tanah dan yang terlihat hanya gagangnya saja.
Kematiannya yang mengenaskan dan menyayat hati. Membuat orang-orang yang ada
dalam ruangan itu memandang dengan terbelalak dan nyali mereka pun ciut seketika.
Perasaan takut yang tidak terkirakan menyusup di dalam hati mereka. Mereka seperti
melihat Dewa Kematian telah menggapaikan tangannya kepada mereka.
Kengerian dalam menghadapi kematian!
Ketegangan yang mencekam!
Semuanya terpatri dalam bathin mereka. Setelah berhasil membunuh satu orang, Tan
Ki memperdengarkan suara tertawa yang panjang. Suaranya bagai ratapan. Melihat
keadaan itu, hati para hadirin semakin berdebar-debar.
Dalam suara tawanya seperti menyatakan, biarpun dia sudah membunuh satu orang,
namun hatinya masih belum merasa puas. Betul! Dendam ayahnya belum terbalas tuntas.
Kalau urusan ini belum beres, selamanya dia tidak akan merasa puas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam suasana yang diselimuti dengan hawa pembunuhan ini, terlihat tangan Liu Seng
bergerak. Dari balik pakaiannya dia mengeluarkan sebilah pedang panjang. Pedang itu
segera dihunus dan tampaklah cahaya yang berkilauan. Cahaya itu demikian terangnya
sehingga menyilaukan dan untuk sesaat para hadirin sulit membuka matanya lebar-lebar.
Bagi orang yang ahli, sekali pandang saja tentu dapat mengetahui bahwa pedang
tersebut terbuat dari bahan baja yang murni dan dapat memotong besi dengan sekali
tebasan. Pedang ini sudah pasti bukan sembarangan pedang tetapi merupakan benda
pusaka yang langka. Hati Tan Ki sampai tercekat melihatnya. Mimik wajahnya yang dingin
dalam sesaat berubah menjadi kelam. Tampaknya dia tidak berani berbesar hati.
Terdengar suara
Trak! Dia pun mengeluarkan sebatang suling kumala yang berbentuk antik.
Pandangannya beredar. Karena tidak tahu nasib putrinya yang entah sudah mati atau
masih hidup, Liu Seng sampai sakit hati saking kesalnya. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara
teriakan dan langkah kakinya pun menerjang datang. Tangannya bergerak-gerak dan
menebaskan pedangnya dari atas ke bawah.
Meskipun kekuatan serangan ini tidak terlalu dahsyat, tetapi karena hawa dingin yang
terpancar dari atas pedangnya bagai air sungai di kutub yang beriak-riak, maka orang
yang memandangnya merasa ada segulungan angin yang menggigilkan menerjang
datang, Tan Ki seakan merasa hidungnya menyedot segulungan hawa yang dingin. Cepatcepat
dia bertindak mundur. Suling kumala yang ada di tangannya merupakan hasil curian
dari kuburan para ketua Ti Ciang Pang. Dia tidak tahu di mana letak keistimewaannya,
baru pertama kali ini dia menggunakannya. Oleh karena itu dia tidak berani menggunakan
suling tersebut untuk menangkis datangnya serangan pedang Liu Seng.
Ketika kakinya melangkah mundur, dia melihat cahaya dingin bagai kilat dan
memancarkan bintang-bintang berwarna keperakan yang memenuhi udara. Dalam waktu
yang singkat, Liu Seng sudah melancarkan delapan belas tusukan ke arahnya.
Gerakannya yang indah dipadukan dengan serangannya yang gencar, membuahkan
kekuatan yang dahsyat. Depan belakang kiri kanan bagai diselimuti cahaya dingin yang
menggigilkan.
Serangan yang gencar ini membuat hati Tan Ki tercekat saking terdesaknya. Dia
merasa hal ini di luar dugaan. Biar bagaimanapun, ilmu silatnya merupakan peninggalan
para ketua Ti Ciang Pang yang masing-masing memiliki ilmu pukulan maupun ilmu pedang
yang tinggi sekali. Suling kumalanya segera digerakkan, terdengar suara suitan yang
seperti ratapan dari suling tersebut! Dalam sekejap mata dia sudah berhasil
menghindarkan diri dari delapan belas tikaman pedang Liu Seng. Dalam waktu yang
bersamaan, dia pun melancarkan tiga tusukan dengan serulingnya dan satu buah
tendangan.
Perkelahian di antara kedua orang ini sama-sama menggunakan kecepatan yang sulit
diikuti pandangan mata. Setiap jurusnya dapat mematikan pihak lawannya. Orang-orang
yang ada dalam ruangan ini membelalakkan matanya lebar-lebar agar dapat melihat lebih
jelas. Suasanapun semakin menegangkan.
Diam-diam Tian Tai Tiau-siu Kok Hua-hong mengeluarkan dua butir bola besi yang kecil
dari dalam sakunya. Dia bermaksud menimpukkan senjata rahasia tersebut ke arah Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tapi pertarungan di antara kedua orang itu berlangsung dengan sengit. Tubuh keduanya
melesat ke sana ke mari. Tampaknya dia tidak mempunyai kesempatan untuk menurutkan
niatnya tersebut.
Ciong Sang Suang-siu melihat Liu Seng melancarkan serangan dengan gencar. Setiap
jurus yang digunakannya seperti sedang pengadu nyawa dan tidak memperdulikan
keselamatan dirinya sendiri. Tanpa sadar keduanya saling pandang sekilas, dan dalam
Waktu yang bersamaan mereka pun mengerahkan tenaga dalamnya pada ujung telapak
tangan serta bersiap-siap memberikan perto-longan kepada Liu Seng di saat yang kritis.
Begitu mata memandang, tampak Cian bin mo-ong lebih banyak menahan diri daripada
melancarkan serangan. Penampilannya begitu tenang. Meski bagaimana caranya Liu Seng
menusukkan pedangnya, dia tetap dapat memecahkannya atau menghindarkannya
dengan mudah. Kalau tiba-tiba dia melancarkan serangan, maka tampak Liu Seng segera
terdesak dalam keadaan yang membahayakan sehingga mau tidak mau orang itu terpaksa
menggerakkan tubuhnya mundur ke belakang.
Julukan Liu Seng, yakni Bu Ti Sin-kiam, bukan sekedar nama kosong belaka. Tetapi
karena saat ini hatinya sedang gelisah dan kalut. Maka hawa amarah dalam dirinya
membuat akal sehatnya tidak dapat bekerja dengan sempurna. Boleh dibilang dia
melancarkan serangan dengan kalap. Tanpa perhitungan yang matang. Setiap jurus yang
dikembangkannya seperti tidak mengandung perubahan yang hebat. Di tambah lagi ilmu
silat yang dikuasai oleh Tan Ki boleh dibilang semuanya aneh-aneh. Setiap serangannya
merupakan jurus yang belum pernah ditemui maupun didengar olehnya. Sasarannya
malah merupakan bagian tubuh yang harus dilindungi.
Dari dua kelebihan ini saja, meskipun Liu Seng mempunyai ilmu yang lebih tinggi lagi,
tetap sulit baginya untuk meraih keuntungan. Walaupun demikian, cahaya pedang dan
bayangan suling memenuhi seluruh ruangan. Kadang menebas, menikam, menyapu,
menerjang, membuat orang yang melihatnya menjadi kagum bukan main dan
menyayangkan kedudukannya yang hanya sebagai pe-nonton.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, orang-orang yang ada di dalam ruangan itu
mulai dapat merasakan, apabila pertarungan ini diteruskan, maka pihak yang akan
tumbang pasti si Pedang Sakti tanpa tandingan, Liu Seng.
Hawa kematian yang semakin menebal ditambah lagi dengan ketegangan yang
menyesakkan dada!
Entah siapa yang bersuara, tiba-tiba terdengar teriakan lantang.
“Saudara-saudara sekalian, menghadapi raja iblis yang gemar membunuh ini, kita tidak
perlu membicarakan peraturan dunia Kangouw lagi. Mari kita maju bersama untuk
membasminya!”
Baru saja suara teriakan sirna, tiba-tiba terlihat cahaya yang dingin berkelebat,
sebatang trisula sudah meluncur ke arah Tan Ki. Di dalamnya terkandung kekuatan yang
dahsyat. Serangannya sendiri belum sampai, sudah terasa angin yang menggigilkan
menerpa wajah dan dinginnya bagai sayatan golok.
Perlu diketahui, bahwa setiap orang yang ada di dalam ruangan itu memiliki ilmu yang
tinggi dan merupakan tokoh Bulim yang sudah menyandang nama besar. Biarpun
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
serangan yang dilancarkan tampaknya sederhana, namun sanggup mencabut nyawa
seseorang sehingga tidak boleh dipandang ringan.
Melihat keadaan itu, hati Tan Ki marah sekali.
“Bagus, Kalian turun tangan saja sekaligus!” tubuhnya menggeser dan dihindarinya
serangan trisula tersebut.
Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuhnya memutar dan
menerjang ke arah Kok Hua-hong. Tampak bayangan suling dalam jumlah yang banyak
seperti gulungan ombak yang menyapu ke depan.
Jurus serangan yang tidak alang kepalang cepatnya!
Pada dasarnya Kok Hua-hong memang sudah bersiap melancarkan serangan. Melihat
Tan Ki mendahului, mulutnya segera mengeluarkan suara bentakan:
“Bagus!”
Lengannya yang bak besi itu dibenturkan dengan keras untuk menangkis serangan
suling kumala. Dan dalam waktu yang bersamaan, pergelangan tangannya memutar, dua
buah bola besi yang tergenggam dalam telapak tangannya dan mengandung kekuatan
yang dahsyat tiba-tiba dilontarkan secara terturut-turut sehingga melayang ke depan
Benda ini merupakan senjata rahasia, bentuknya agak besar (seperti bola kasti) dan
telah membuat nama Kok Hua-hong terkenal di dunia Bulim. Bola besi tersebut sangat
berat serta dapat menebus berbagai jenis logam. Begitu dilancarkan kali ini, tampaknya
lebih hebat dari yang sudah-sudah. Bola besi itu melayang di udara kemudian menerobos
ke dalam bayangan suling kumala dan meluncur terus ke depan.
Jarak di antara mereka hanya kurang lebih satu setengah meter. Meluncurnya bola besi
itu begitu cepat bagai kilat, dan datangnya juga mendadak. Tan Ki baru merasakan
adanya suara yang bergema di udara, hebatnya bukan main. Dia segera tahu bahwa yang
meluncur datang merupakan senjata yang berat, dia bermaksud menghindar namun tidak
keburu lagi. Terlihat bola-bola besi itu menerobos melewati bayangan sulingnya dan tahutahu
sudah mengincar bagian yang membahayakan di depan dada.
Keadaan yang genting segera terpampang
di depan mata!
Hati Tan Ki tercekat, bulu kuduknya merinding seketika. Tanpa dapat mempertahankan
diri lagi, dia mengeluarkan suara bentakan dan tubuhnya pun melesat ke atas. Gerakan
yang hebat. Caranya mencelat ke atas tadi sebetulnya merupakan kesalahan bagi kaum
persilatan, tetapi karena ilmu silat Tan Ki tidak dapat dipandang ringan, dua bola besi pun
meluncur lewat di bawah kakinya. Dia tidak menunggu sampai para hadirin
mengeroyokinya, tiba-tiba terdengar suara tawanya yang panjang, kepala di bawah dan
kaki di atas, laksana seekor elang yang menukik, dia menerjang ke bawah.
Terdengar suara Trang! Trang! Sebanyak dua kali berturut-turut. Diantara para hadirin,
sudah ada dua orang yang senjatanya terpental. Pada saat ini, Tan Ki sedang
mengumbarkan hawa amarahnya kepada para penyerang. Cara turun tangannya menjadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
keji. Begitu mendarat di tanah, kakinya segera maju dan sejurus Si U Kua-sa (Burung
Gagak Mengais Pasir) pun langsung dikerahkan.
Kembali terdengar suara jeritan memenuhi seluruh ruangan. Segera terlihat seseorang
terhantam mundur dua langkah. Orang itu memuntahkan darah segar dan rubuh
bermandikan darah!
Diiringi suara jeritan yang menyayat hati, orang kedua pun tumbang, mati. Kembali
terdengar suara Prang! Prang! Yang keras dan memekakkan telinga. Pintu kayu ruangan
tersebut hancur ambruk dengan dua lubang besar bekas hantaman kedua bola besi milik
Kok Hua-hong.
Rupanya, ketika Tan Ki mencelat ke udara dan mementalkan senjata lawan serta
melukai seseorang, kejadian berlangsung secara berturut-turut. Tepat pada saat itu juga,
kedua bola besi yang dilontarkan oleh Kok Hua-hong pun menghantam pintu ruangan
sehingga hancur. Dapat dibayangkan sampai di mana kecepatan gerakannya. Begitu mata
para hadirin ikut memandang, mereka merasa terkejut juga penasaran. Dalam sesaat,
timbul niat untuk menghabisi musuh dan merekapun turun tangan serentak.
Terjadilah pertarungan yang sengit!
Cahaya pedang bayangan golok melayang ke sana ke mari memenuhi ruangan. Deruan
angin yang timbul dari pukulan dan tinju menyesakkan di setiap sudut. Yang dapat terlihat
saat itu hanya bayangan tubuh manusia yang berkelebat, tanpa dapat dibedakan mana
kawan dan mana lawan.
Dengan merayapnya waktu, pertarungan semakin lama semakin sengit!
Tiba-tiba terdengar suara bentakan Tan Ki…
“Enyah!”
Blamm! Segera ada seseorang yang memuntahkan darah segar dan terkapar di atas
tanah. Hawa kematian yang memenuhi ruangan, semakin lama semakin menebal. Para
hadirin mengandalkan tenaga gabungan sejumlah tujuh delapan orang, meskipun belum
sanggup menyentuh ujung pakaian Tan Ki, tetapi membuat anak muda itu letih sekali.
Kening dan dahinya telah dibasahi oleh keringat.
Keadaan yang membahayakan semakin merapat pada dirinya. Tiba-tiba dia menjadi
sadar. Apabila dia masih tidak mencari jalan untuk menerobos keluar, setiap saat pasti
akan timbul bencana yang mungkin membuat nyawanya melayang.
Tiba-tiba, Liu Seng bersiul dengan kalap dan tanpa berpikir panjang lagi dia menikam
ke depan. Jurus serangannya ini tidak mempunyai nama. Dia hanya melancarkannya tanpa
memperdulikan keselamatan nyawanya sendiri. Suling kumala di tangan Tan Ki baru saja
menangkis pukulan Yi Siu. Tiba-tiba dia merasa cahaya dingin menyilaukan mata dan
menekannya dari atas. Hatinya terkesiap. Baru saja dia bermaksud menggeserkan
tubuhnya menghindar, si pendek gemuk Cu Mei sudah memutar pegelangan tangannya
dan melancarkan sepasang pukulan yang mengandung tenaga dahsyat!
Kali ini, dia menghadapi dua musuh yang menyerang sekaligus. Meskipun Tan Ki
mempunyai kepandaian yang tinggi, tetap saja sulit baginya untuk menyelamatkan dirinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari kedua serangan tersebut. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia menarik kembali
suling kumalanya dan memutar lengannya untuk menghindari serangan kedua pukulan
dari belakang. Justru pada saat yang sedetik itu, tanpa dapat dipertahankan lagi mulutnya
mengeluarkan suara keluhan. Terasa pinggang sebelah kiri bawah agak dingin dan
darahpun merembes keluar.
Tusukan pedang ini hebat sekali. Darah mengalir dari pinggang sebelah kiri bawah anak
muda tersebut. Dagingnya tersayat kurang lebih tiga cun dan menimbulkan guratan
panjang.
Dia menggigit bibirnya sendiri dan mempertahankan diri untuk tidak mendengus
sedikitpun. Telapak tangan kiri dan suling di tangan kanan, secara gencar melancarkan
beberapa serangan. Dia sadar, apabila saat ini dia hanya melihat ke arah lukanya, malah
memberi kesempatan pada pihak lawan. Oleh karena itu, dia segera melancarkan tiga
kibasan suling dan dua pukulan. Dia berusaha menerobos keluar dari kepungan lawan.
Tampak jelas bahwa pihak lawannya merupakan orang-orang yang sudah
berpengalaman dalam menghadapi pertempuran. Apalagi mereka tidak memakai
peraturan lagi mengeroyoknya. Bagaimana Tan Ki bisa mendapat kesempatan untuk
mengatur nafasnya, sedangkan deruan pukulan, tinju dan berbagai macam senjata rahasia
mengepungnya dengan ketat.
Dalam waktu yang singkat, Tan Ki sudah menjadi kalang kabut. Nafasnya tersengalsengal.
Belum lagi rasa sakit di bagian atas pahanya semakin lama semakin terasa. Seiring
dengan gerakan tubuhnya, bercak darah terlihat di mana-mana. Membuat orang yang
melihatnya menjadi ngeri.
Keadaan yang kritis! Bayangan kematian! Tan Ki sudah hampir kehilangan daya untuk
memberikan perlawanan. Orang-orang yang ada dalam ruangan itu dapat melihat keadaan
Cian bin mo-ong sudah mulai payah. Hal ini malah membangkitkan semangat mereka.
Secara berturut-turut mereka menerjang ke depan. Rasanya ingin menebas mati Tan Ki
dalam satu gebrakan.
Beberapa saat dia masih dapat mempertahankan diri. Dengan seorang diri, Tan Ki
menghadapi lima enam jago kelas tinggi dari dunia Bulim. Sebetulnya dia sudah
memaksakan diri mati-matian. Tenaganya bagai terkuras habis.
Tiba-tiba…
Brak! Brakkk! Terdengar dua suara menggelegar. Jendela kayu yang menghadap ke
arah pegunungan hancur seketika. Pecahan kayu jendela menimbulkan suara yang bising.
Sesosok bayangan berwarna hijau melesat ke dalam ruangan.
Gerakan orang ini cepatnya luar biasa. Meskipun hal ini di luar dugaan para hadirin,
tetapi pada saat ini, keadaan sedang genting, kesempatan untuk membunuh Cian bin moong
merupakan urusan yang akan terjadi dalam satu dua detik. Siapa yang sudi
memencarkan perhatiannya pada orang yang baru datang itu?
Manusia berpakaian hijau itu tertawa terbahak-bahak. Dia tidak menghalangi para
hadirin. Dengan santai dia membopong tubuh Mei Ling yang tidak sadarkan diri karena
lukanya yang parah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ketika Liu Seng melihat keadaan ini, dia hampir jatuh pingsan saking kagetnya. Kemarahannya
berubah menjadi kehilangan kesadaran. Untuk sesaat dia malah berdiri
termangu-mangu.
Manusia berpakaian hijau itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia
memperhatikan situasi yang berlangsung beberapa saat. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan
suara bentakan yang keras.
“Berhenti!”
Suara bagai guntur yang menggelegar. Begitu kerasnya sampai ke telinga para hadirin
seperti tergetar dan lama sekali baru sirna. Kekuatan tenaga dalam orang ini sudah terlihat
jelas dari bentakannya ini. Kalau dikatakan secara kasar, tidak ada seorangpun diantara
para hadirin yang dapat menyamai setengahnya saja.
Rasa terkejut yang tidak diduga-duga timbul dari suara bentakan tadi. Tanpa
bersepakat terlebih dahulu, serentak para hadirin mencelat mundur dan menarik kembali
serangan masing-masing.
Begitu mata memandang, terlihat di wajah para hadirin seakan tersirat datangnya
kesulitan yang besar. Begitu terkejutnya mereka sampai mencelat mundur sejauh dua
langkah. Mereka benar-benar tidak menduga, bahwa biang iblis nomor satu di dunia
Kangouw yakni Sam Jiu San Tian-sin Oey Kang bisa muncul di tempat ini dan pada saat
seperti ini.
Oey Kang melihat tampang para hadirin yang pucat pasi. Dia langsung mendongakkan
kepalanya dan tertawa dengan penuh kebanggaan.
“Apakah kalian semua merasa takut kepadaku?”
Yi Siu yang merupakan salah satu Ciong San Suang Siu berusaha membangkitkan keberaniannya.
“Takut sih belum tentu, namun ingin tahu tujuan Locianpwe muncul di tempat ini.”
Oey Kang menunjuk ke arah Mei Ling yang berada di dalam pondongannya.
“Aku memerlukan gadis ini untuk melengkapi barisan yang kuciptakan.” matanya
beralih dan berhenti pada diri Tan Ki. “Pernah dengar cerita orang banyak bahwa Po Siucu
Cian Cong pernah bergebrak dengan si Tosu tua Tian Bu Cu selama tujuh hari tujuh
malam. Bahkan masih belum dapat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Urusan ini menjadi buah bibir orang-orang Bulim. Tetapi pertemuan dengan Saudara hari
ini, benar-benar membuat aku rada kecewa.”
Yi Siu tertawa dingin. Dia segera menukas.
“Cian Heng merupakan salah satu tokoh sakti dari dunia Bulim. Jiwa pendekarnya tidak
usah diragukan lagi. Meskipun kami-kami ini mempunyai kedudukan di perguruan masingmasing,
juga tidak berani kurang ajar terhadap orangtua itu. Sedangkan orang ini…”
Oey Kang tersenyum simpul.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Dia adalah Cian bin mo-ong bukan?”
Mulut orang ini manis namun tajam menusuk. Liciknya bukan main. Tampangnya selalu
tersenyum dan ramah. Kalau orang-orang yang hadir bukan tokoh-tokoh yang sudah
berpengalaman, pasti akan termakan rayuan manisnya.
Tan Ki tertawa sumbang.
“Aku memang Cian bin mo-ong. Tampaknya pandangan Saudara cukup tajam.” katanya
tenang.
Wajah Oey Kang agak berubah mendengar ucapan ini, tetapi dalam sekejap mata
sudah normal kembali.
“Kau ikutlah denganku!” sahutnya.
Nada suaranya datar, tetapi mengandung kekuatan yang tidak terkirakan. Membuat
orang yang mendengarnya ragu-ragu mengambil keputusan. Tan Ki sendiri sampai
tertegun.
Tiba-tiba terdengar bentakan Liu Seng… “Kembalikan putriku!”
Terdengar suara Trang!!!
Sebuah serangan dilancarkan. Oey Kang tersenyum simpul.
“Segala macam kutu busuk juga berani banyak lagak!” pada saat berbicara, tidak
terlihat bagaimana tubuhnya bergerak, tiba-tiba terdengar Liu Seng menjerit, tubuhnya
sempoyongan dan kakinya mundur satu langkah. Disusui dengan suara dentingan,
pedangnya pun terjatuh di atas tanah.
Jurus yang ampuh dan ajaib, kecepatannya membuat orang tidak sempat melihat
bagaimana cara dia melakukannya.
Jurus yang dilancarkan oleh Oey Kang ini membuat para hadirin yang melihatnya
menjadi terperanjat dan sekaligus marah. Tetapij tidak ada seorang pun yang berani
mengambil tindakan apa-apa. Dia telah membuat orang-orang itu ciut nyalinya. Oey Kang
tertawa lebar. “Siapa lagi yang merasa tidak puas?” tanyanya angkuh.
Matanya beredar, wajah para hadirin menunjukkan kegusaran hati mereka, tetapi tidak
ada seorangpun yang berani untuk menyambut tantangan Oey Kang. Orang itu kembali
tersenyum simpul.
“Baiklah, kalau begitu aku akan membawa pergi si Cian bin mo-ong ini, tampaknya
kalian tidak ada yang merasa keberatan.”
Kemarahan di hati Tan Ki hampir meledak. Begitu jengkelnya sampai sepasang
matanya mendelik lebar, rambutnya berjingkrakan ke atas dan baru saja dia berniat
menerjang ke depan untuk mengadu jiwa, tiba-tiba dia dicekal erat-erat oleh Kok Huahong.
Akhirnya dia menarik nafas panjang, dan dari kedua matanya mengalir air mata
seorang pendekar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Padahal dia juga tahu sampai di mana ketinggian ilmu silat Oey Kang, hanya dengan
sebuah telunjuknya saja dia sanggup membunuh Liu Seng. Sedangkan kematian tetap
tidak dapat menyelamatkan putrinya.
Tan Ki melihat gadis pujaannya dibopong oleh Oey Kang. Meskipun dia tidak bisa menunjukkan
reaksi apa-apa, tetapi hatinya terasa perih. Kenyataan yang terpampang di
depan mata, hanya membawa kerugian bagi dirinya. Kemungkinan yang paling baik
adalah mengikuti Oey Kang. Meskipun hal ini agak menjatuhkan pamornya, tapi dalam
keadaan terdesak, dia tidak mempunyai pilihan yang lain. Oleh karena itu dia menahan
gejolak hatinya dan tersenyum-senyum.
“Kalau begitu aku harus mengucapkan terima kasih kepadamu.” perlahan-lahan dia
melangkah menuju ambang jendela.
Liu Seng yang melihat mereka akan pergi, hatinya menjadi panik.
“Jangan pergi!” bentaknya keras.
Terdengar suara hembusan angin dan sebuah serangan dihantamkan ke depan.
Kekuatan yang terkandung dalam serangannya merupakan luapan emosi. Oleh karena itu
terselip kekejian yang hebat.
Tan Ki tertawa sumbang.
“Biar aku yang menjajal dirimu kali ini!” baru saja ucapannya selesai, dia segera
mengulurkan tangan kanannya menyambut serangan Liu Seng.
Perlu diketahui bahwa ilmu silat Tan Ki merupakan hasil curiannya. Dia tidak pernah
mempunyai guru yang membimbingnya. Oleh karena itu, semua ilmu silat yang
dikuasainya hanya berdasarkan perkiraannya saja. Demikian pula tenaga dalamnya.
Keseluruhannya merupakan pelajaran yang dipaksakan. Begitu serangannya dilancarkan,
dia tidak bisa mengira-ngira seberapa banyak tenaga yang harus digunakannya. Itulah
sebabnya serangan anak muda itu selalu terlihat keji karena mengandung tenaga yang
sepenuhnya. Tenaga dalamnya bagai air yang meluap tanpa dapat dibendung. Terdengar
suara beradunya pukulan yang keras sekali. Seluruh ruangan bahkan ikut bergetar. Tubuh
merekapun terhuyung-huyung. Wajah menjadi merah padam. Tiba-tiba terdengar Liu Seng
mengeluarkan suara jeritan, kakinya limbung, dan tanpa dapat mempertahankan diri lagi,
dia tergetar mundur tiga langkah.
Habislah sudah! Dia sudah kalah! Nama besar yang dipupuk Liu Seng selama ini goyah
bersamaan dengan langkah kakinya yang tergetar mundur.
Putri kesayangannya diculik orang, nama baiknya hancur, dalam pukulan bathin yang
bertubi-tubi itu, dia meraung sekeras-kerasnya dan jatuh tidak sadarkan diri.
Perubahan yang mendadak ini berlangsungnya terlalu cepat. Begitu paniknya para
hadirin sampai kalang kabut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Telinga mereka menangkap suara tawa Oey Kang yang terbahak-bahak.
“Mari kita pergi!” tubuhnya berkelebat dan melayang keluar menerobos jendela.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kemudian, terlihat Tan Ki segera menyusul di belakangnya. Tidak ada seorangpun yang
menghalangi. Nama besar Oey Kang yang menggemparkan dunia Kangouw, kehebatan
tenaga dalam Tan Ki, membuat para hadirin jadi terpana dan membiarkan mereka pergi
begitu saja.
Entah mengapa, Cianpwe Bulim yang dihormati setiap orang, yakni Yuan Kong Taisu
masih belum menampakkan diri lagi sejak mengejar Tan Ki.
Sementara itu, Tan Ki terus mengikuti belakang Oey Kang. Mereka meninggalkan
penginapan tersebut dengan terus berlari kencang. Dalam waktu yang singkat, mereka
sudah mencapai jarak kurang lebih enam tujuh puluh li.
Sembari berlari, otak Tan Ki terus berputar. Bagaimana caranya menolong Mei Ling?
Karena hatinya digelayuti masalah dan lagipula ilmu Oey Kang memang jauh lebih tinggi
daripadanya, lambat laun jarak antara kedua orang itu semakin lama semakin jauh.
Tiba-tiba terlihat Oey Kang menghentikan langkah kakinya pada sebuah padang rumput
dan mendongakkan kepalanya seakan sedang merenungkan sesuatu. Tan Ki juga diam
tidak bersuara. Hatinya justru lagi memecahkan persoalan yang membingungkan…
Beberapa hari yang lalu, Oey Kang membawa pergi Ciu Cang Po, entah apa tujuannya?
Beberapa hari kemudian, yakni saat ini, Oey Kang juga menculik gadis pujaannya bahkan
menolong dirinya. Mungkinkah di balik semua ini juga terselip rencana yang licik?
Dua pertanyaan ini terus berputaran di benaknya. Tetapi dia tetap tidak sanggup
memberi jawaban yang memuaskan kepada dirinya sendiri. Tetapi hati kecilnya berkata,
bahwa tindakan Sam-jiu San Tian-sin ini pasti tidak mengandung niat yang baik!
Dalam keadaan merenung, tiba-tiba terdengar suara tawa Oey Kang.
“Saudara mengaku sebagai Cian bin mo-ong, apakah ada bukti yang dapat dipercaya?”
“Kalau kau tidak percaya, aku juga tidak dapat berbuat apa-apa.” sahut Tan Ki.
Setidaknya anak muda ini sudah mempunyai cukup banyak pengalaman. Sebelum
mengetahui tujuan lawannya, dia tidak ingin berterus terang tentang dirinya. Sembari
berbicara, dia mengeluarkan obat penyembuh luka dan mengobati bagian atas pahanya
yang tersayat pedang Liu Seng.
Terdengar kembali suara tawa Oey Kang yang lepas.
“Baik, pokoknya aku mempercayaimu. Mulai hari ini, kau kuangkat sebagai Koanke
(semacam kepala pelayan) di Pek To San (Gunung Unta Putih) sebagai salah satu
pembantu yang paling kuandalkan. Tetapi, kau jangan mencoba-coba mengandung
maksud lain terhadapku! Soal membereskan para pengkhianat, aku mempunyai keahlian
tersendiri.” ujarnya kemudian.
Tan Ki menjadi tertegun.
“Apa yang kau katakan?”
Oey Kang tertawa lebar.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah kau masih belum jelas? Aku bilang mulai hari ini, aku menerima kau sebagai
Koanke, guna membantu menyelesaikan berbagai urusan.”
Sekali lagi Tan Ki tertegun. Tiba-tiba dia tersadar dan memperdengarkan suara tawa
yang dingin.
“Urusan seperti ini, seharusnya atas persetujuan kedua belah pihak. Sama sekali tidak
boleh dipaksakan. Lagipula, siapa memangnya Cian bin mo-ong, mana sudi ia memangku
jabatan serendah itu?”
Lambat laun wajah Oey Kang berubah kelam. Tetapi dalam waktu yang singkat sudah
pulih kembali. Isi hati orang ini sungguh sulit diterka, perubahan mimik wajahnya terjadi
demikian cepat. Sejenak kemudian dia sudah tersenyum kembali.
“Kau tidak boleh terlalu keras kepala. Pertimbangkan dengan kepala dingin. Biar
bagaimana aku tidak akan merugikan dirimu.”
Selesai berkata, sepasang matanya mengeluarkan sinar yang tajam dan menatap lekatlekat
kepada Tan Ki. Dia seakan sedang menunggu jawaban dari anak muda itu.
BAGIAN XII
Tiba-tiba, Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.
“Urusan ini sulit diterima!” katanya dengan nada berat.
“Apakah kau demikian kukuh?”
Tan Ki tertawa dingin.
“Meskipun Cayhe juga termasuk orang jahat, dan belum bisa membedakan antara
kemuliaan dan kebathilan…”
Oey Kang tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berkata lebih lanjut, dia
langsung menukas dengan suara membentak…
“Aku tidak percaya kau tidak menurut pada kata-kataku!”
Tan Ki tersenyum datar. Baru saja dia ingin membantah, tiba-tiba dadanya terasa
sesak. Nafasnya sulit, serangkum tenaga yang dahsyat telah menerpa ke arahnya.
Oey Kang dijuluki Sam-jiu San Tian-sin. Bukan saja ilmu senjata rahasianya mempunyai
keistimewaan tersendiri, dalam hal ilmu silat pun ia lihai bukan main. Cara melancarkan
serangannya kali ini, cepat bagai kilat dan kekuatannya hebat sekali.
Serangan yang mendadak ini membuat Tan Ki terkejut setengah mati. Pundaknya
dimiringkan dan ia melesat keluar dari samping. Gerakan tubuh yang cepat serta aneh,
membuat Oey Kang yang melihatnya jadi termangu-mangu. Bagaimanapun dia mendapat
sebutan sebagai Raja Iblis nomor satu di dunia Kangouw saat ini, sampai di mana
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tingginya ilmu silat yang dimiliki dapat dibayangkan. Hanya dengan satu gerakan yang
aneh, Tan Ki berhasil menghindarkan diri dari serangannya, bagaimana dia tidak menjadi
terkejut dan tertegun melihatnya?
Oleh karena itu, dia segera memperdengarkan suara tawa yang mengandung
kemarahan.
“Coba sambut sekali lagi seranganku ini!” Hembusan angin dari telapak tangannya
segera terpancar keluar, diiringi dengan suara bentakan, gulungan angin tersebut melanda
seperti gelombang ombak yang besar.
Hati Tan Ki terperanjat melihatnya. Dia merasa hantaman telapak tangan lawan
mengandung tenaga yang dahsyat sekali. Tampaknya bahkan lebih hebat dari tenaga
dalam yang dimiliki oleh si pengemis sakti Cian Cong. Untuk sesaat dia tidak berani
menyambut dengan kekerasan. Tubuhnya bersalto di udara kemudian mencelat ke
belakang dan melesat keluar dari serangan Oey Kang.
Menghindari serangan dengan cara seperti tadi, dilakukannya dengan kecepatan kilat.
Tiba-tiba terdengar Oey Kang tertawa dingin, tubuhnya menggeser ke samping kemudian
bagai harimau yang mengamuk dia menerjang ke depan.
Tubuh Tan Ki baru mendarat ke tanah, belum lagi dia melihat jelas pemandangan di
hadapannya, ia terkejut sekali ketika dia merasakan ada serangkum angin kencang yang
menerjang dari depan, tiba-tiba pundaknya terasa seperti kesemutan dan orangnya pun
segera terkulai di atas tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Waktu terus merayap, entah berapa lama sudah berlalu, perlahan-lahan dia siuman dari
tidurnya yang panjang dan membuka matanya seketika. Begitu dia memusatkan
perhatiannya, tempat di mana dia berada adalah sebuah kamar yang besar. Meja dan
kursinya terbuat dari batu kumala. Terdapat juga beberapa guci antik sebagai hiasan.
Meskipun hanya beberapa macam barang yang ada di dalamnya, tetapi menimbulkan
kesan nyaman dan enak dipandang.
Setelah memperhatikan sekelilingnya beberapa saat, diam-diam Tan Ki merasa heran.
“Tempat apakah ini?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba dia teringat bahwa dirinya terkena totokan Oey Kang tadi sehingga tidak
sadarkan diri. Mengapa sekarang dia bisa berada di tempat ini? Perasaan herannya
semakin terbangkit. Tanpa dapat menahan rasa ingin tahunya, dia langsung memberontak
dan melonjak turun dari tempat tidur. Namun dia merasa hawa murninya bagai tersumbat.
Sedikitpun tenaga dalam tidak sanggup ia kerahkan. Tentu saja dia terkejut setengah
mati.
Semacam ingatan lantas lewat di benaknya. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.
“Rupanya aku sudah terperangkap oleh Oey Kang. Entah obat apa yang dicekokan-nya
padaku, sehingga membuat seluruh tenagaku lenyap dan tubuh terasa lemas seperti ini.
Tampaknya kali ini, riwayatku akan tamat…” keluhnya seorang diri.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendatangi. Otomatis
lamunannya jadi tersentak. Dia mendongakkan kepalanya memandang, seorang nenek tua
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
bertubuh kurus dan berwajah jelek masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan di
tangan. Tan Ki terkejut sekali, tanpa sadar dia berseru…
“Locianpwe, mengapa kau juga bisa berada di tempat ini?”
Rupanya nenek tua yang kurus dan rambutnya sudah penuh uban itu bukan lain
daripada guru Mei Ling, Ciu Cang Po. Tampak wajahnya datar sekali, mimik mukanya
kaku, seakan tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Tan Ki. Langkah kakinya seperti
dihitung, setindak demi setindak dia maju dan berhenti di depan anak muda itu.
“Makanlah.” dia meletakkan nampan yang dibawanya ke atas meja kemudian
membalikkan tubuhnya dengan perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut.
Gerakannya aneh sekali seperti sudah kehilangan kelincahannya di waktu lalu.
Keadaannya sekarang lebih mirip mayat hidup. Wajahnya tidak memperlihatkan perasaan
apa-apa seperti pikirannya telah menjadi kebal dan kehilangan kesadarannya. Hati Tan Ki
menjadi panik. “Harap Locianpwe tunggu sebentar. Entah mengapa tubuhku kehilangan
tenaga sama sekali. Kalau tidak bisa bergerak, bagaimana aku bisa makan?” teriaknya
gugup.
Ciu Cang Po tetap seperti orang yang indera pendengarannya kurang beres. Tanpa
memperdulikan Tan Ki, dia langsung keluar dari kamar kemudian membelok dan hilang
dari pandangan.
Begitu paniknya Tan Ki sampai digigitnya bibir sendiri berulang kali. Lalu tampak dia
menarik nafas panjang.
“Bagaimana baiknya? Ingin mendapat sedikit keterangan darinya saja tidak mungkin.”
gumamnya seorang diri.
Dia merasa perutnya mengeluarkan suara seperti air yang beriak-riak. Haus dan lapar
menyiksanya. Dengan mata terbelalak dia menatap ke arah nampan. Tampangnya seperti
orang yang tidak berdaya. Bau harum nasi dan daging terpancar keluar dari kotak
makanan yang ada di atas nampan. Keharuman yang menusuk dan hanya dapat ditatap
itu membuat perutnya semakin keroncongan, hampir-hampir saja dia jatuh pingsan
kembali saking laparnya.
Diam-diam dia menghembuskan nafas panjang. Dia berusaha untuk mengalihkan
pikirannya.
“Kalau tidak salah, di atas genting Cui Sian Lau, Ciu Cang Po terkena pukulan si
pengemis sakti Cian Cong sehingga terluka parah. Kemudian dia dibawa oleh Oey Kang…
akh, jangan-jangan tempat ini merupakan kediaman iblis itu? Mungkinkah dia telah
mencekoki semacam obat kepada Ciu Cang Po yang mana dapat membuat kesadarannya
jadi hilang?”
Pikirannya tergerak, semakin direnungkan rasanya dugaan itu semakin benar. Saat itu
juga seluruh tubuhnya dibasahi oleh keringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan
dilakukan Oey Kang terhadapnya. Kalau caranya sama seperti Ciu Cang Po, yakni
meminumkan sejenis obat yang dapat merubahnya seperti orang-orangan yang kaku,
yang tidak mempunyai perasaan maupun pikiran sama sekali, maka seumur hidup ia akan
sama saja berada dalam alam antara manusia dan setan, selamanya tidak akan muncul
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dari laut penderitaan…
Berpikir sampai di sini, hatinya semakin takut dan terkesiap. Saking paniknya, ingin
rasanya menegakkan badannya dan kabur dari tempat itu. Tapi keempat anggota
tubuhnya tetap tidak mau diajak bekerja sama. Tanpa sadar, lagi-lagi dia menarik nafas
panjang. Akhirnya dia memejamkan mata dan tidak mau berpikir lebih lanjut lagi.
Setelah agak tenang, pikirannya malah menjadi peka. Diam-diam dia menghapalkan
ilmu pernafasan yang terdapat dalam kitab yang diambilnya dari kuburan para ketua Ti
Ciang Pang. Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, tiba-tiba dia menggelenggelengkan
kepalanya dan menggumam seorang diri…
“Sayang sekali aku tidak pernah mempelajari ilmu Lwe Kang yang benar. Kalau tidak,
ilmu pernafasan dan cara menghimpun hawa murni tingkat tinggi yang ada dalam kitab itu
pasti bisa membantu aku menembus urat darah dan menyembuhkan…”
Belum lagi kata-katanya selesai, kembali telinganya menangkap suara langkah kaki
orang yang menuju ke arahnya. Dia mengira tentunya Ciu Cang Po yang balik kembali,
dengan kesal dia memalingkan wajahnya dan tidak mau melirik sedikitpun.
Tiba-tiba dia mendengar suara ratapan serta tangisan.
“Adik…”
Seiring angin yang berhembus, tercium bau yang harum. Sesosok tubuh perempuan
tahu-tahu telah menelungkup di atas dadanya dan menangis tersedu-sedu.
Pertama-tama Tan Ki tertegun, dia merasa heran, ketika dia melihat jelas siap
perempuan itu, rasa tertegunnya berubah menjadi terkejut. Tanpa sadar dia berseru…
“Mengapa kau juga datang ke sini?”
Begitu melihat Tan Ki, hati perempuan itu langsung diserang oleh kegembiraan yang
meluap-luap. Rasa sedih dan gundahnya selama beberapa hari, bagai terlampias keluar
dalam waktu seketika. Tentu saja dia tidak mendengar jelas ucapan Tan Ki.
Anak muda itu menarik nafas panjang-panjang. Dia memaksakan diri untuk
mengangkat sebelah lengannya dan menggenggam pergelangan tangan perempuan itu.
“Cici, jangan menangis lagi. Urusan apapun sulit dibereskan dengan deraian air mata
saja.” katanya menghibur.
Setelah menangis beberapa saat, perempuan itu mendongakkan wajahnya yang masih
basah dengan air mata.
“Apakah kau tidak membenci aku? Kau tidak kesal karena aku mengingkari janjiku
sendiri? Lagipula pada waktu itu aku tidak tahu bahwa orang itu adalah dirimu, sehingga
menggunakan cara’yang begitu rendah yakni ilmu tarian iblis dan membuat dirimu
terluka…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya. Dia segera menukas.
“Urusan yang sudah lewat tidak perlu dibicarakan lagi. Apakah kau tahu tempat apa
ini?”
Rupanya, perempuan yang baru saja masuk itu tidak lain daripada Siau Yau Sian-li
Liang Fu Yong yang membuat Tan Ki hampir kehabisan akal membimbingnya ke jalan
yang benar.
Tampak Liang Fu Yong tertawa getir.
“Seluruh gedung ini merupakan villa kepunyaan Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.”
“Mengapa kau juga berada di sini?”
Pertanyaan ini membuat Liang Fu Yong tertegun. Hari itu, di bawah paksaan Oey Kang
dan demi keselamatan Tan Ki, mau tidak mau dia terpaksa ikut dengan iblis tersebut.
Siapa kira, meskipun usia orang ini sudah di atas lima puluh tahun tetapi gairahnya masih
berkobar-kobar. Yang diinginkannya, justru tubuh perempuan itu.
Di hadapan Tan Ki, mana berani dia mengucapkan kata-kata ini. Hatinya merasa hina
dan malu bukan kepalang. Meskipun tekadnya sudah bulat untuk berubah dan tidak
pernah mengabulkan permintaan iblis tersebut, tetapi dia justru menerima banyak hinaan.
Oleh karena itu, begitu bertemu dengan Tan Ki, dia langsung mencurahkan segala
keperihan hatinya dalam bentuk tangisan.
Hukum karma memang ada. Seakan semuanya merupakan takdir dari Yang Kuasa.
Kalau dulu dia sering memaksakan kehendaknya agar orang lain memberi kepuasan sesaat
kepadanya, siapa yang berani membangkang, pokoknya mati. Sekarang, dia diperlakukan
seperti itu juga…
Hal ini merupakan hukum karma yang akibatnya terasa langsung.
Tan Ki melihat dia termenung-menung tanpa memberikan jawaban untuk sekian lama,
dia segera menduga bahwa perempuan itu mempunyai kesulitan yang tidak dapat
diutarakan. Oleh karena itu Tan Ki segera tersenyum simpul.
“Kalau begitu kau juga diculik ke mari?”
Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya sambil tertawa getir.
“Mengapa tidak berusaha untuk melarikan diri? Berdiam di sini sama saja menunggu
kematian di sarang harimau.” kata Tan Ki kembali.
Tampak Liang Fu Yong tertawa sumbang.
“Urusan ini kalau dibicarakan memang mudah. Karena ada sesuatu yang diinginkan Oey
Kang dari diriku, maka aku diberi kebebasan. Tidak terkekang sedikitpun. Tetapi begitu
melangkah keluar dari beberapa bangunan ini, setiap saat dan setiap waktu alat rahasia
yang dipasang akan bergerak atau kita akan terperangkap dalam barisannya yang aneh.
Lagipula, ketiga puluh enam jen-deral langit yang merupakan bawahan Oey Kang, setiap
orangnya mempunyai kepandaian masing-masing yang istimewa…” tiba-tiba Liang Fu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan, tetap saja ia tidak bisa merubah
keadaannya, oleh karena itu dia segera mengubah bahan pembicaraan sambil tersenyum
simpul.
“Tadi mulutmu seperti sedang mengha-palkan pelajaran, apakah kau sedang
memikirkan dirimu yang belum pernah mempelajari Lwe Kang sehingga merasa putus
asa?”
“Betul…”
Liang Fu Yong tertawa lebar.
“Bagus sekali. Ilmu Lwe Kang maupun pernafasan, Cici pernah belajar sedikit. Di mana
letak kesulitannya, sekarang boleh kau utarakan. Coba lihat apakah aku dapat
mencernakan artinya.”
Tampang Tan Ki menjadi penuh semangat. Hampir saja dia melonjak bangun. Urusan
ini sudah lama menggelayuti hatinya dan tidak berhasil mendapat pemecahannya. Tetapi
karena dirinya telah dikenal sebagai Cian bin mo-ong yang telah menggemparkan dunia
persilatan, dia tidak berani meminta petunjuk dari golongan lurus. Oleh karena itu, selama
ini dia hanya menghapal mati ilmu tersebut dan tidak tahu cara penggunaannya.
Tan Ki menundukkan kepalanya dan berpikir sejenak.
“Apa yang disebut dengan Su-siang (Empat Persamaan)?”
Hati Liang Fu Yong menjadi terkejut mendengar pertanyaannya.
“Masa pelajaran serendah ini kau juga tidak paham?”
Wajah Tan Ki yang tampan jadi merah padam. Dia menyahut dengan tersipu-sipu.
“Ilmu silatku keseluruhannya merupakan hasil dari belajar sendiri. Tidak ada guru yang
mewariskan. Tentu saja aku jadi tidak mengerti.”
Liang Fu Yong tersenyum.
“Tidak heran kau tidak bisa menolak daya tarik dari ilmu tarian iblisku.” dia merandek
sejenak. Tiba-tiba ia teringat kejadian tempo hari. Tanpa dapat ditahan lagi wajahnya jadi
merah padam. Rasa malunya semakin bertambah. Setelah terdiam agak lama, perlahanlahan
dia menggigit bibirnya sendiri dan melanjutkan kembali. “Renungan terpusat, cinta
kasih diabaikan, tubuh kosong hawa murni terhimpun, hati mati jiwa hidup, Yang bangkit
Im tenggelam. Itu yang disebut sebagai ‘Empat Persamaan’.
Hal ini berarti ketika kau duduk bersila dan bersemedi, tubuh harus dilemaskan agar
hawa murni berjalan dengan lancar. Pikiran tidak boleh melayang-layang, jiwa tidak boleh
terbawa emosi.”
Pada dasarnya Tan Ki adalah seorang pemuda yang mempunyai bakat tinggi.
Kecerdasannya melebihi orang lain. Kalau tidak, dengan menyembunyikan diri selama
sepuluh tahun, mana mungkin dia bisa mempelajari sendiri keenam puluh empat kitab
yang ditemukannya bahkan kemudian dapat dimanfaatkan untuk menghadapi musuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar penjelasan dari Liang Fu Yong, dia langsung hapal di luar kepala. Menanti
sampai keterangannya usai, dia langsung bertanya lagi…
“Cici, apa artinya menyembunyikan di dalam perahu?”
“Badan perahu mempunyai bobot yang berat. Kalau berada di atas air, gerakannya jadi
lancar, tetapi mudah terbakar api. Hal ini berarti gerakan harus lancar bagai perahu dalam
air tetapi hati tidak boleh mudah terbakar. Dalam keadaan yang tenang, latihan baru bisa
berhasil dan ibarat kata tubuh kita mempunyai bobot yang berat ibarat perahu itu sendiri.”
Sembari mendengar keterangan Liang Fu Yong, bibir Tan Ki terus mengembangkan
senyuman dengan kepala terangguk-angguk. Perasaan hatinya demikian terharu sehingga
tangannya yang mencekal pergelangan tangan Liang Fu Yong pun terus bergetar. Dia
sendiri sadar bahwa ilmu yang dipelajarinya ibarat masakan kekurangan bumbu. Dia tidak
bisa mengimbangi tenaga dalamnya dengan baik. Hal ini karena dia belum pernah
mendapat bimbingan seorang ahli. Dia juga tidak paham cara menggunakan daya im
untuk menambal tenaga yang-nya yang mana merupakan pelajaran tingkat tertinggi
dalam ilmu silat. Meskipun dia sudah hapal luar kepala kitab yang ditemukannya, tapi
tanpa adanya pengarahan dari seorang guru, dia pun tidak mempunyai kesempatan untuk
melatihnya.
Saat ini, lewat penjelasan Liang Fu Yong, kesadarannya menjadi terbangun. Tanpa
dapat ditahan lagi, bibirnya terus tersenyum. Otaknya bagai disengat aliran listrik, banyak
bagian yang tadinya kurang paham menjadi terang seketika. Begitu terharunya Tan Ki
sampai air matanya menetes dengan deras.
Liang Fu Yong mengeluarkan sapu tangan dari saku pakaiannya. Dengan penuh
perhatian, dia mengusap air mata yang membasahi pipi pemuda tersebut.
“Tidak ada hujan tidak ada angin malah menangis, memangnya tidak takut menjadi
bahan tertawaan kalau sampai ada yang melihatnya.”
Dengan rasa haru Tan Ki menyahut…
“Cici, kunci pelajaran Lwe Kang dan pernafasan ini mempunyai kaitan yang erat dengan
diriku. Aku ingin menggunakannya untuk membalaskan dendam ayahku. Aku… aku…
terlalu bahagia.”
Jari jemari Liang Fu Yong yang lentik segera menutup mulutnya dengan lembut Dia
mencegah Tan Ki berkata lebih lanjut. Bibirnya mengembangkan seulas senyuman yang
manis.
“Aku tahu kau pasti ingin mengungkit segala budi, kasih, membuat orang yang
mendengarnya menjadi salah tingkah. Lebih baik kau hemat saja tenagamu itu.” berkata
sampai di sini, dia langsung teringat keadaannya sendiri yang terkenal jalang dan rendah.
Bahkan keadaan yang memalukan inilah yang membuat dirinya menjadi terkenal. Mana
berani dia mengharap cinta kasih dari adiknya, Tan Ki?
Berpikir sampai di sini, segulungan perasaan yang pedih segera menyelimuti hatinya.
Tanpa dapat ditahan lagi, air mata kepiluan mengalir dengan deras. Dengan tersendatsendat
dia melanjutkan kata-katanya…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Cici juga tidak mengharapkan balasan darimu. Asal di sanubarimu masih terselip
bayangan Cici, hati ini sudah puas sekali…”
Melihat Liang Fu Yong tiba-tiba menangis dengan terisak-isak dan sebelumnya tertawa
senang, dia malah menjadi kalang kabut. Dengan termangu-mangu Tan Ki
memandangnya lekat-lekat. Dia tidak berani mengajukan pertanyaan apapun.
Setelah puas menangis, kesedihan hati Liang Fu Yong bagai sudah terlampias semua.
Dia mengusap sisa air matanya sambil tersenyum.
“Adik, kalau kau masih mempunyai kesulitan lain yang belum kau mengerti, cepat
katakan. Jangan sampai…”
Belum lagi perkataannya selesai, tiba-tiba telinga mereka menangkap suara tertawa
yang panjang. Keduanya jadi terkejut setengah mati. Mereka segera memalingkan
wajahnya. Entah sejak kapan, di depan pintu sudah berdiri Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.
Ilmu orang ini sudah mencapai taraf tertinggi. Gerakan tubuhnya bagai hembusan
angin. Kedatangannya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Meskipun ilmu Tan Ki sendiri
sudah termasuk lumayan dan indera pendengarannya sangat tajam, dia juga tidak tahu
kapan orang ini muncul di kamar tersebut.
Terdengar Oey Kang tertawa terbahakbahak. Dia melangkahkan kakinya masuk ke
dalam.
“Rupanya kalian sudah saling mengenal. Hal ini malah kebetulan, aku tidak
mengakukan lidahku ini untuk memperkenalkan kalian.” katanya sambil cengar-cengir.
Pertama kali dia melihat Tan Ki, yakni ketika dia membawa pergi Liang Fu Yong. Namun
saat itu Tan Ki merias dirinya menjadi laki-laki setengah baya. Sekarang Tan Ki sudah
kembali pada wajah aslinya. Oleh karena itu, dia tidak mengetahui bahwa kedua orang
yang pernah ditemuinya itu merupakan orang yang sama.
Tan Ki tertawa dingin. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba dia melihat
tubuh Liang Fu Yong bergetaran, mimik wajahnya menyiratkan perasaan takut yang
dalam. Kepalanya tertunduk, tangannya terkulai. Bahkan bernafaspun tidak berani kuatkuat.
Tampaknya dia takut sekali melihat orang ini. Hati Tan Ki merasa heran bukan
kepalang, kata-kata yang tadinya sudah siap dilontarkan jadi tertelan kembali. Dengan
wajah datar dia melihat perkembangan yang akan dihadapi.
Begitu matanya beralih, tiba-tiba wajah Oey Kang berubah garang. Suaranya pun
dingin sekali.
“Untuk apa kau berdiri di situ? Barusan aku membawa seseorang, sekarang ada di
ruangan sebelah. Cepat ke sana dan layani dia!” bentaknya dengan suara keras.
Mendengar ucapannya, wajah Liang Fu Yong berubah hebat. Hawa amarahnya hampir
meledak, tetapi dia seperti teringat akan sesuatu hal, sehingga hatinya menjadi bimbang.
Kemudian dia mengangkat kepalanya perlahan-lahan dan melirik ke arah Tan Ki. Dengan
perasaan berat dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Lirikan mata menjelang kepergiannya seakan mewakili ribuan kata-kata yang ingin
diucapkan. Juga tersirat cinta kasihnya yang dalam. Semuanya tertera jelas dalam sinar
matanya. Tan Ki sendiri seakan menemukan sesuatu rahasia dengan tidak diduga-duga.
Hatinya bergetar, nyeri dan ngilu. Tanpa sadar, dia memperhatikan bayangan punggung
Liang Fu Yong dengan termangu-mangu. Rasanya dia ingin mengucapkan beberapa patah
kata untuk menghibur hati perempuan itu, tetapi kata-kata yang sudah sampai di ujung
lidah, akhirnya ditariknya kembali.
Bayangan tubuh berkelebat, sesosok bayangan yang mengenaskan menghilang di balik
pintu. Oey Kang menunggu sampai Liang Fu Yong pergi jauh, lalu bibirnya pun
mengembangkan seulas senyuman yang licik.
“Bagaimana? Apakah kau sudah merubah keputusanmu?”
Tan Ki menggertakkan giginya erat-erat.
“Kalau kau mengharapkan aku menuruti kemauanmu, maka kau sedang bermimpi.”
sahutnya dengan nada penuh kebencian.
Oey Kang tertawa dingin.
“Sungguh kata-kata yang congkak. Kau sudah menelan pil pembuyar hawa murni
milikku, seluruh tenaga dalammu lenyap. Kalau suatu hari kau tidak meminum obat
penawarnya, berarti satu hari kau kehilangan kebebasanmu. Biarpun dua tokoh sakti di
dunia ini bergabung, mereka juga belum tentu dapat menyembuhkan dirimu. Kecuali kalau
kau membuka mulut memohon kepadaku. Tetapi kalau ditilik dari adatmu, mungkin kau
lebih suka menerima penderitaan ini. Tiga atau lima hari kemudian, aku akan
menjengukmu kembali. Pertimbangkanlah baik-baik.” selesai berkata, dia mendongakkan
wajahnya dan tertawa terbahak-bahak. Tanpa menunggu jawaban dari Tan Ki, dia
langsung membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar tersebut. Saking jengkelnya,
sepasang mata Tan Ki sampai mendelik lebar-lebar kemudian membuka mulut mencaci
maki.
Hari lambat laun mulai menggelap. Ruangan itu tidak mempunyai penerangan
setitikpun. Sekitar sunyi senyap, tidak tampak bayangan seorangpun. Tanpa sadar Tan Ki
menarik nafas panjang. Berulang kali dia menyalahkan nasib yang seakan
mempermainkannya.
Di benaknya terlintas sebuah ingatan. Tiba-tiba penjelasan Liang Fu Yong tentang kunci
ilmu pernafasan dan Lwe Kang terngiang kembali di telinga. Timbul secercah harapan
dalam hatinya.
“Penjelasan ini berisi ilmu tingkat tinggi dari kitab yang kutemukan. Mengapa aku tidak
mencobanya? Siapa tahu di dalam kesalahan malah terselip kebenaran yang mana dapat
menyembuhkan penyakit aneh yang reaksinya lambat ini?” katanya kepada diri sendiri.
Dengan membawa pikiran demikian, cepat-cepat dikosongkannya pikiran dan ia memejamkan
mata untuk berlatih. Begitu perasaannya tenang, indera mata maupun
pendengarannya menjadi tajam. Entah kapan, tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa
cekikikan yang terpancar sayup-sayup dari ruangan sebelah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah didengarkan dengan seksama, Tan Ki segera tahu bahwa suara tawa tadi
berasal dari ruangan sebelah kiri. Jumlahnya tidak lebih dari dua orang. Untuk sesaat dia
jadi tertegun. Dia merasa suara itu tidak asing dalam pendengarannya, tetapi dalam
keadaan panik, dia malah tidak dapat mengingatnya kembali.
Sementara hatinya masih terkejut dan terpana, tiba-tiba dia mendengar Liang Fu Yong
menarik nafas panjang.
“Moay Moay, setelah sampai di tempat seperti ini, kau masih mempunyai
kegembiraan?”
Dari ruangan sebelah kiri sayup-sayup terdengar suara tawa yang merdu, disusul
dengan suara sahutan seorang gadis.
“Ketika paman berpakaian hijau itu membawa aku ke mari, memang aku merasa agak
takut. Kemudian dia mengatakan bahwa tempat ini bagai istana, di dalamnya banyak
permata serta taman yang indah-indah. Pokoknya penuh dengan pemandangan fantasi
seperti istana para dewata. Dia juga mengatakan bahwa di sini banyak permainan yang
aneh-aneh, maka aku tidak merasa takut lagi.”
“Kau percaya pada ucapannya?”
“Paman berpakaian hijau itu memperlakukan aku dengan lembut. Mengapa aku harus
tidak percaya?”
Terdengar lagi suara helaan nafas Liang Fu Yong.
“Tidak kusangka pembawaanmu demikian polos dan menawan hati.”
Mendengar sampai di sini, Tan Ki segera tahu bahwa orang yang mereka katakan
adalah Sam-jiu San Tian-sin Oey Kang.
Diam-diam dia berpikir…
‘Gadis ini sungguh lugu. Diri sendiri sudah terperangkap dalam sarang harimau,
ternyata masih belum sadar. Tampaknya dia masih belum tahu bahwa Oey Kang
merupakan manusia yang licik dan berhati keji’.
Nalurinya mengatakan bahwa akan terjadi bencana yang dahsyat, hal itu membuat
perasaannya jadi bergidik. Hatinya tergetar, emosinya pun terbangkit, hampir saja dia
tidak dapat mempertahankan diri. Dengan panik dia segera menghembuskan nafas
panjang dan menghimpun hawa murninya. Setelah sibuk sekian lama, akhirnya dia
berhasil menekan perasaannya yang gundah. Keadaannya menjadi normal kembali. Tetapi
tubuhnya sudah dibasahi oleh keringat dingin.
Kurang lebih sepeminum teh kemudian, dia merasa hawa murninya kembali berjalan
dengan lancar. Segulung demi segulung mengaliri seluruh tubuhnya. Di dalam urat
darahnya seakan terdapat sebuah selang yang mengalir kian ke mari sesuka hati.
Perasaannya jadi nyaman seketika.
Entah kapan, dari ruangan sebelah kiri terdengar lagi suara si gadis…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Betul. Ketika aku dibawa, aku mendengar sendiri dia mengatakan, berlatih ilmu Tou Li
Mi-hun Toa Ceng.”
“Itu dia. Tujuannya membawa kau ke mari justru karena barisan Gadis Pengait Sukma
ini. Setahu Cici, barisan ini memang kekurangan seorang anggota. Mungkin dia bermaksud
menjadikan dirimu sebagai pelengkap barisan tersebut. Siapa sangka kau malah percaya
penuh dengan segala omong kosongnya…”
Tampaknya gadis itu mulai mempercayai kata-kata Liang Fu Yong. Hatinya mulai di
serang rasa takut. Dengan nada gugup dia berkata…
“Cici, bagaimana baiknya? Ketika aku diculiknya, meskipun ada Ciong San Suang-siu
yang melihat, tetapi mereka mana tahu kalau aku terperangkap di tempat ini. Cici yang
baik, kalau kau bersedia membantu, tunjukkanlah sebuah jalan keluar yang baik agar aku
dapat melarikan diri dari tempat ini. Dengan demikian kau sudah berbuat kebaikan.”
Berkata sampai di sini, ruangan sebelah menjadi hening kembali. Mungkin Liang Fu
Yong sedang mengasah otaknya. Lama sekali dia tidak berkata apa-apa. Keheningan yang
berlangsung lama ini membuat perasaan orang menjadi tertekan.
Pada saat itu, Tan Ki yang berbaring di atas tempat tidur terkejut setengah mati.
Wajahnya berubah hebat. Dia sudah mengenali suara tadi sebagai suara gadis pujaan
hatinya, Liu Mei Ling.
Hatinya menjadi panik, hampir saja dia membuka suara berteriak agar mendapat
perhatian dari kedua orang yang ada di ruangan sebelah. Namun karena saat itu,
latihannya sedang sampai pada masa kritis, biarpun ingin berteriak, tetap saja tidak ada
suara yang keluar. Saking gelisahnya, mata Tan Ki yang membelalak terasa berkunangkunang
dan tubuhnya basah oleh keringat.
Tepat pada saat itu, telinganya menangkap lagi suara Liang Fu Yong yang bertanya
dengan lirih…
“Moay Moay, apakah kau masih seorang gadis yang suci?”
Pertanyaan ini diajukan, ruangan sebelahpun menjadi hening kembali. Di depan mata
Tan Ki seperti muncul bayangan selembar wajah yang polos kekanak-kanakan dan sering
tersenyum tersipu-sipu dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Hampir saja dia tertawa
keras-keras. Pertanyaan yang diajukan Liang Fu Yong ini rasanya terlalu bodoh? Biar
bagaimanapun Tan Ki adalah seorang pemuda yang cerdas, ketika otaknya masih
berputar, tiba-tiba kesadarannya tersentak. Pertanyaan Liang Fu Yong ini tidak mungkin
tanpa sebab musabab.
Mungkin kediaman Mei Ling bagi Liang Fu Yong merupakan suatu jawaban. Terdengar
dia menarik nafas panjang sekali lagi.
“Hal ini semakin mencurigakan. Barisan Gadis Pengait Sukma itu justru membutuhkan
para perempuan yang sudah tidak suci lagi. Kalau kau masih perawan, kemungkinan Oey
Kang akan mengambil keuntungan lebih dahulu sebelum menggunakan engkau sebagai
pelengkap barisannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati Tan Ki semakin kelam, dia semakin panik. Rasanya ia ingin dipunggungnya tibatiba
tumbuh sayap dan terbang ke samping Mei Ling agar dapat menghiburnya beberapa
patah kata.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa Mei Ling yang merdu.
“Tidak mungkin. Kalau Siau Moay memilih mati daripada menuruti kehendaknya, dia
juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
Liang Fu Yong menghentakkan kakinya sambil menarik nafas dalam-dalam.
“Aduh, orang sudah kebingungan setengah mati, kau masih tenang-tenang saja bahkan
bicara yang bukan-bukan. Kau percaya ilmu silatmu bisa menandinginya? Kau kira bisa
dengan mudah melarikan diri dari tempat ini? Orang ini tampangnya ramah hatinya licik.
Dia juga pandai menggunakan ratusan macam racun. Dapat membuat orang tertipu dalam
situasi apapun. Sejenis obat yang tampaknya biasa-biasa saja sudah dapat membuat
pikiranmu menjadi kehilangan akal sehat dan menuruti apa saja yang dikatakan olehnya.
Atau pikiran tetap sadar namun seluruh anggota tubuh tidak mempunyai tenaga sama
sekali sehingga tidak dapat bergerak serta lemas…”
Baru Liang Fu Yong berkata sampai di sini, Mei Ling sudah membuka mulut dan
menangis tersedu-sedu. Dia adalah seorang gadis yang lincah dan polos. Walaupun
pernah mempelajari ilmu silat yang lumayan tingginya, tapi bagaimanapun dia belum
melihat dunia yang luas. Nyalinya kecil, baru mendengar Liang Fu Yong mengucapkan
beberapa patah kata, dia sudah begitu terkejut sehingga ketakutan setengah mati. Apalagi
berpikir tentang urusan cinta kasih antara laki-laki dan perempuan, apabila dia benarbenar
diperkosa, bagaimana dia harus menghabiskan sisa hidupnya di kemudian hari?
Semakin dibayangkan hatinya semakin takut, suara tangisnya pun semakin keras dan air
matanya tercurah bagai hujan.
Tan Ki juga panik sekali sampai kening serta dahinya basah oleh keringat. Tubuhnya
terbaring di atas tempat tidur, matanya mendelik menatap langit-langit kamar. Hatinya
gelisah dan perih. Di benaknya seperti muncul bayangan-bayangan. Dia mulai
membayangkan yang bukan-bukan. Dia seperti melihat tubuh Mei Ling yang telanjang
bulat berdiri di hadapannya. Sesosok bayangan manusia berwarna hitam sedang
memaksakan kehendak setan di bathinnya…
Tanpa dapat ditahan lagi, Tan Ki menguraikan air mata. Dia seperti melihat orang itu
sedang memperkosa Mei Ling. Tiba-tiba dia merasa aliran darahnya seperti bergejolak dan
hampir saja termuntah dari mulutnya.
Untuk sesaat tenggorokannya menjadi dingin dan matanya gelap. Nyaris dia jatuh tidak
sadarkan diri. Sayup-sayup dia seakan mendengar suara ratapan Mei Ling yang menusuk
hatinya dalam-dalam.
Justru ketika perasaannya gundah dan hatinya gelisah, telinganya menangkap suara
langkah kaki seseorang yang menuju ke ruangan sebelah. Kemudian terdengar pula suara
tawa Oey Kang yang seperti orang gila.
“Fu Yong, apakah kau sudah menasehati-nya?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aih, Locianpwe sebagai seorang angkatan tua di dunia Bulim, untuk apa memaksa
seorang gadis yang masih suci bersih?”
Oey Kang tertawa seram.
“Kau berani mengajari aku?”
“Tidak, tidak berani…”
Tan Ki mendengar suara sahutannya setiap kali selalu agak gemetar. Hal ini benarbenar
di luar dugaannya.
‘Kalau berani membantah perbuatannya, serta bermaksud menolong Mei Ling, mengapa
setelah bertemu dengan iblis ini, dia begitu ketakutan?’ pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang merdu…
“Biar matipun, Kouwnio tidak akan menuruti kata-katamu!”
“Moay Moay jangan menimbulkan masalah.” kata Liang Fu Yong gugup.
Suara bentakan dan gerakan kedua orang itu terdengar hampir dalam waktu yang
bersamaan. Mungkin dalam hati Mei Ling timbul rasa benci sehingga dia nekat menerjang
akhirnya malah ditotok oleh Oey Kang.
Justru karena hal ini pula, kemarahan dalam dada Oey Kang jadi terbangkit.
“Fu Yong, ikat dia!” teriaknya.
Liang Fu Yong panik sekali.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Oey Kang tersenyum simpul. Senyumnya tersirat keinginan hatinya yang menakutkan.
“Malam ini rembulan bersinar indah. Kau keluarlah, aku tidak memerlukan pelayananmu
lagi di sini.”
Liang Fu Yong mengalihkan pandangannya. Mei Ling terkulai di atas tanah dalam
keadaan tertotok, dia tidak bergerak sama sekali. Namun orangnya masih sadar.
Wajahnya yang cantik tampak murung, dua bulir air mata membasahi pipinya.
Kecantikannya semakin mempesona, bak bunga-bunga yang mekar di pagi hari. Tanpa
dapat ditahan lagi, Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Usia Locianpwe sudah cukup tua, ternyata masih tidak tahu malu bisa menyimpan
keinginan untuk merusak sekuntum bunga yang baru mekar…”
Liang Fu Yong sudah mendapat nasehat dari Tan Ki. Walaupun hanya beberapa hari,
tetapi sudah mampu membedakan antara kebaikan dengan kejahatan. Hatinya menjadi
sadar. Maka ketika mengucapkan kata-kata tadi. Suaranya terdengar tegas dan
mengandung kemuliaan hatinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampaknya Oey Kang merasa sindiran Liang Fu Yong barusan benar-benar di luar
dugaan. Dia jadi tertegun sekian lama kemudian membentak dengan nada marah. “Tutup
mulutmu!”
Lengan kirinya terangkat, dengan gerakan secepat kilat, dia menggerakkan tangannya
menggampar. Kaki Liang Fu Yong sampai goyah terkena pukulannya, dia tergetar mundur
dua langkah. Pipi sebelah kirinya langsung merah membengkak dan terlihat bekas guratan
telapak tangan.
Sejak dilahirkan oleh ibunya, Liang Fu Yong mana pernah ditampar orang. Kali ini
mendapat pukulan Oey Kang, dia jadi tertegun beberapa saat. Hatinya terasa perih dan
tanpa ditahan lagi, air matanya mengalir turun dengan deras membasahi pipinya.
Tetapi dengan keras hati dia menggertakkan giginya, dia berusaha untuk tidak
mengeluarkan suara ratapan atau isak tangis sedikit juga. Malah dia memberanikan dirinya
berkata.
“Adik ini masih muda. Hatinya polos dan lugu. Jiwanya masih belum mengerti
kekotoran manusia yang licik seperti dirimu. Kalau kau sampai mencemarkan kesucian
dirinya, bukankah berarti kau menghancurkan kebahagiaannya seumur hidup? Kalau kau
memang menginginkannya, mengapa tidak mengincar diriku saja?”
“Kau kira aku tidak berani!” bentak Oey Kang. Tubuhnya berkelebat, sembari
melangkahkan kaki, lengannya terulur. Sekali loncat dia langsung memeluk pinggang Liang
Fu Yong yang ramping dan menatapnya lekat-lekat.
Dari sinar matanya terpancar kebuasan serta kekalapan seekor binatang yang
kelaparan. Sinar itu demikian menakutkan…
Liang Fu Yong merasa hatinya tercekat, kaki tangannya menjadi dingin seketika.
Hatinya sadar bahwa segelombang badai topan akan melanda dirinya. Tidak mungkin
baginya untuk menghindarkan diri. Dengan panik dia memejamkan matanya erat-erat.
Dua butir air mata bak mutiara justru berderai lagi pada saat seperti ini.
Mei Ling dalam keadaan tertotok, tubuhnya terasa lemas dan ngilu. Dia tidak dapat
bergerak sama sekali. Matanya melibat Oey Kang memeluk Cici yang dia tidak tahu siapa
namanya itu. Baru saja dia membuka mulut dengan maksud ingin mencaci maki, tiba-tiba
dia melihat Oey Kang menundukkan wajahnya dan mencium Cici tersebut dengan buas.
Hatinya terperanjat sekali, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya ke tempat lain.
Wajahnya mendadak menjadi panas. Dia merasa jengah sekaligus benci.
Begitu dia memalingkan wajahnya, tiba-tiba terasa serangkum angin yang kuat
menerjang ke arahnya dan tahu-tahu tubuhnya sudah ditendang oleh Oey Kang sehingga
menggelinding keluar dari kamar. Terdengar suara alat rahasia menimbulkan bunyi yang
berderak-derak. Dua bilah pintu rahasia yang terbuat dari besi merapat perlahan-lahan.
Mei Ling jadi tergetar oleh perubahan yang mendadak ini. Untuk sesaat dia menjadi
bingung tidak karuan. Ketika lambat laun dia mengerti maksud serta keinginan Oey Kang,
bayangan Liang Fu Yong sudah lenyap di balik pintu besi tersebut. Tanpa dapat ditahan
lagi, dia segera menangis meraung-raung.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tiba-tiba terlihat bayangan berkelebat, Tan Ki sudah menerjang ke tempat itu. Tampak
mimik wajahnya menyiratkan penderitaan yang luar biasa. Dia sama sekali tidak
memperdulikan Mei Ling. Menghambur sampai di depan pintu, dia langsung mengulurkan
tangannya mendorong. Jangan kata terbuka, bergeming saja tidak. Pada saat itu dia baru
merasa tangannya terasa dingin. Tentu saja dia terkejut setengah mati. Sekarang dia baru
melihat kalau pintu itu terbuat dari besi yang kokoh dan tebal.
Dalam waktu yang bersamaan, harapannya yang menggebu-gebu untuk menolong
Liang Fu Yong hampir surut secara keseluruhan. Hidungnya terasa perih, air matanya pun
berderai…
Rupanya Tan Ki berhasil menghilangkan pengaruh obat yang diberikan Oey Kang
dengan ilmu pernafasan yang kuncinya diberitahukan oleh Liang Fu Yong. Mula-mula dia
mengalami kesulitan. Beberapa kali dia mencoba namun tidak terlihat hasilnya. Justru
pada saat itulah dia mendengar jeritan Liang
Fu Yong. Dia segera tahu sesuatu yang tidak beres sedang berlangsung, juga tidak
tahu dari mana datangnya kekuatan, dia memberontak sekuatnya dan langsung
menerjang keluar. Sayangnya pengaruh obat yang diberikan Oey Kang tidak hilang secara
tuntas. Tenaganya hanya cukup kuat untuk berlari.
Dia tahu apa yang dilakukan oleh Liang Fu Yong adalah pengorbanan dirinya untuk
menolong Mei Ling dari aib. Perbuatannya ini membuat orang menaruh hormat padanya.
Tetapi memikirkan perempuan itu yang masih terkurung di dalam kamar dan apa yang
akan dilakukan Oey Kang kepadanya, darah dalam tubuh Tan Ki seakan bergejolak.
Hatinya terasa sedih dan sakit. Dia juga merasa kebencian memenuhi kalbunya. Meskipun
Mei Ling adalah gadis pujaannya, tetapi pada saat ini dia tidak memperdu-likannya lagi.
Setelah mengetahui bahwa kedua belah pintu tersebut terbuat dari bahan besi, dia
tertegun sejenak, tiba-tiba dia membuka mulut dan berteriak sekeras-kerasnya.”
“Cici, cici, apakah kau mendengar perka-taannku?”
Dalam keadaan panik serta sakit hati, suara teriakannya menjadi semakin keras dan
nyaring, memecahkan keheningan seluruh ruangan dan bahkan bergema ke mana-mana.
Setelah berteriak satu kali, suasana di dalam kamar itu tetap sunyi senyap. Tidak
terdengar sahutan dari Liang Fu Yong.
Semacam firasat buruk melintas di hati kecil Tan Ki. Tanpa terasa tubuhnya jadi
menggigil. Dia berteriak sekali lagi:
“Cici, jawablah… aku Tan Ki…!”
Tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar. Tiba-tiba Mei Ling juga merasa telah terjadi
sesuatu yang tidak beres, air matanya tidak tertahankan lagi. Dia menangis tersedu-sedu.
Ratapan isak tangis menambah kepedihan suasana di luar kamar. Hati Tan Ki semakin
panik. Dengan kalap dia terus berteriak:
“Cici, Cici, dengarlah ucapanku! Jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…!”
nafasnya mulai tersengal-sengal. Namun dia tidak berhenti. Dia seakan takut Liang Fu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Yong tidak mendengarkan kata-katanya. “Cici, apakah kau mendengarkan kata-kataku?
Cici, apakah kau dengar?”
Air mata mengiringi suara teriakannya. Dia menggerakkan sepasang kepalan tangannya
dan memukuli pintu besi tersebut.
Blamm! Blamm! Blammm!
Suara gedoran itu bagai irama kepedihan yang menyayat hati Mei Ling. Pintu besi itu
juga menjadi batas antara dua alam. Tan Ki menjadi kalap. Tingkah lakunya seperti orang
yang tidak waras lagi. Dia terus berteriak, menggedor, meraung-raung…
“Cici, jangan biarkan tua bangka itu menghinamu…! Cici, jangan biarkan tua bangka itu
melakukan hal yang tidak senonoh kepadamu…!”
Dalam keadan yang kacau dan bising itu, sayup-sayup terdengar isak tangis
berkumandang dari dalam kamar. Tan Ki merasa hatinya pedih tidak terkira. Keringat dan
air mata membaur menjadi satu membasahi pipinya. Suaranya semakin lama semakin
parau, tetapi dia terus meneriakkan kata-kata yang sama.
“Jangan biarkan dia menghinamu…! Jangan biarkan dia menghinamu…!”
Dia sudah kehilangan ilmu silatnya. Tenaga dalamnya hampir lenyap. Sepasang kepalan
tangannya yang terus menggedor pintu besi tersebut hanya timbul dari emosinya yang
meluap-luap. Sampai saat itu, sepasang kepalan tangannya sudah merah membengkak,
tetapi perasaan Tan Ki seakan menjadi kebal. Dia tidak merasa sakit sedikitpun.
Hatinyalah yang sakit. Akhirnya dia terkulai dan duduk di atas tanah. Tampangnya
kusut. Penderitaannya tersirat jelas di wajah. Dia juga tampak lelah sekali, perlahan-lahan
dia menyandar pada pintu besi dan mengalirkan air mata kepedihan.
Tiba-tiba… serangkum suara tawa yang keras dan panjang berkumandang dari dalam
kamar. Kemudian disusul dengan jeritan histeris Liang Fu Yong. Setelah itu hening
kembali. Setelah mendengar suara jeritan Liang Fu Yong barusan, benak Tan Ki bagai
disengat aliran listrik. Otaknya seperti pecah berhamburan seiring dengan suara tersebut.
Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu, habislah sudah.
BAGIAN XIII
Tan Ki tahu kali ini semuanya sudah selesai. Segulung api kemarahan seakan berkobarkobar
dalam hatinya!
Tampangnya yang terlongong-longong berbaur dengan kepedihan hatinya. Penasaran,
kecewa semuanya campur aduk menjadi satu. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya
berdiam diri sambil menguraikan air mata. Sampai saat ini, apalagi yang dapat
dikatakannya?
Dia menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berguna, tidak mempunyai kesanggupan
untuk menolong Cicinya. Telinganya menangkap suara ratapan dan isak tangis yang
terputus-putus terpancar dari dalam kamar. Suara itu bagai sebilah golok, sebatang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
pedang yang tajam menusuk dan menyayat kalbunya. Yang mana membuat air matanya
mengalir tambah deras.
Sekitar ruangan tersebut masih sunyi senyap seperti sebelumnya. Gedung ini sangat
besar tetapi seakan tidak ada penghuni lainnya. Tidak ada seorang pun yang menyusul ke
tempat tersebut untuk melihat apa yang telah terjadi. Atau… mereka sudah terbiasa
dengan situasi seperti ini. Juga tidak terdengar suara seorangpun… hanya ratap tangis dari
bibir Mei Ling.
Kurang lebih satu kentungan telah berlalu. Hati Tan Ki masih dilanda kesedihan. Tibatiba
dia mendengar suara alat rahasia yang berderak-derak. Setelah berbunyi sesaat, baru
pikiran Tan Ki tergugah, tahu-tahu kedua belah pintu besi telah bergerak dan menyusut ke
dalam dinding.
Begitu matanya memandang, dia melihat Liang Fu Yong duduk di ujung tempat tidur
tanpa bergerak sedikitpun. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu.
Rambutnya acak-acakkan, pakaiannya tidak karuan. Tampangnya kusut serta terlihat letih.
Seakan badai topan yang baru melanda dirinya telah menguras habis tenaganya.
Wajahnya juga pucat pasi, dia telah kehilangan kecemerlangan yang terpancar dari kedua
pipinya tadi. Oey Kang sendiri entah kabur ke mana. Dia tidak berada di dalam kamar.
Setelah menatap sejenak, perasaan Tan Ki menjadi sedih dan iba. Dia memanggil
dengan suara sekeras-kerasnya.
“Cici…!”
Sambil merangkak dan menggelinding, dia menerjang ke dalam kamar. Liang Fu Yong
yang melihat Tan Ki seperti orang kalap menghambur ke dalam kamar hanya
menganggukkan kepalanya sedikit. Bibirnya mengembangkan senyuman yang pilu.
Belum lagi dia sempat mengucapkan sepatah katapun, air matanya sudah berderai
dengan keras.
Di bagian sebelumnya telah diceritakan tentang pengorbanan Liang Fu Yong demi aib
yang akan dialami oleh Mei Ling. Begitu melihat perempuan itu, Tan Ki segera menerjang
ke dalam kamar.
Liang Fu Yong yang melihat Tan Ki menerjang bagai orang kalap, tidak bergerak sama
sekali. Dia hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa sumbang. Badai topan yang
melandanya kali ini seperti membuat dirinya menjadi tua beberapa tahun dalam waktu
yang sekejap. Butiran air matapun tidak sekilau kemarin-kemarinnya.
Tan Ki menghambur ke dalam kamar. Dia tidak memperdulikan lagi batas antara lakilaki
dan perempuan, sekali loncat dia langsung menyusup ke dalam pelukan Liang Fu Yong
dan menangis dengan sedih.
“Cici, mengapa kau begitu ceroboh, mengapa bersedia mengorbankan diri sendiri
sehingga menyerahkan tubuhmu…?” kata-katanya belum selesai, tenggorokannya seperti
tercekat, dia tidak sanggup melanjutkan kembali. Air matanya mengalir semakin deras.
Sekali lagi Liang Fu Yong tertawa sumbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Laki-laki di kolong langit ini, entah sudah berapa banyak yang pernah berhubungan
badan denganku. Ditambah satu lagi tidak ada artinya. Buat apa kau menangis meraungraung
seperti anak kecil?” sahutnya dengan mengeraskan hati.
Tampaknya kata-kata Liang Fu Yong benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Dia menjadi
termangu-mangu untuk beberapa saat.
“Apakah penghinaan semacam ini tidak membuat hatimu menjadi pedih?” tanyanya
penasaran.
Wajah Liang Fu Yong agak berubah. Tangan yang tadinya hampir terulur untuk
membelai kepala Tan Ki ditariknya kembali. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya
dan berdiam diri.
Penerangan di dalam kamar bagai dihimpit oleh kegelapan malam. Cahaya semakin
mere-mang. Tapi Tan Ki dapat melihat jelas sepasang alis Liang Fu Yong yang terus
mengerut. Isak tangis yang lirih menyusupi indera pendengarannya. Untuk sesaat dia
menjadi maklum akan isi hati perempuan itu. Kata-kata yang diucapkannya tadi pasti
bermaksud meringankan beban hatinya. Akhirnya Tan Ki menatapnya sambil menarik
nafas panjang.
“Sebetulnya kau juga tidak dapat disalahkan. Kalau ada yang harus disalahkan, Thianlah
yang mengatur sampai semua ini terjadi. Sayangnya aku juga tidak mempunyai kebisaan
apapun, benar-benar manusia yang tidak berguna!” gerutunya kepada diri sendiri.
Liang Fu Yong tertawa getir.
“Anak bodoh, Oey Kang sudah meninggalkan tempat ini lewat jalan rahasia… buat apa
kau menyalahkan dirimu sendiri?”
“Aku benci… benci kepada diriku yang tidak bisa memberi pertolongan kepada Cici!” dengan
kalap dia meninju ujung tempat tidur sekeras-kerasnya. Sekejap saja tangannya
sudah merah membengkak.
Liang Fu Yong menangkap pergelangan tangannya dan mencegah Tan Ki meneruskan
perbuatan tolol itu.
“Meskipun telapak tanganmu sampai hancur, tidak akan ada orang yang perduli. Lagi
pula kau juga tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi. Tenangkanlah hatimu dan
dengarkan ucapan Cici ini.”
Tangannya terulur dan diangkatnya bantal bersulam di sisinya. Di bawah bantal
tersebut terdapat sebuah bungkusan kertas. Kelihatannya biasa-biasa saja. Tidak ada
keistimewaannya sama sekali. Tetapi Liang Fu Yong malah memandangnya seperti barang
pusaka, dia mengambilnya dengan hati-hati.
“Pertemuan beberapa hari, meskipun belum membuat aku mendapatkan apa-apa,
tetapi kesungguhan hatimu yang ingin mengubah aku menjadi orang baik-baik serta
kembali ke jalan yang lurus, aku menyadari sekali. Bahkan kau tidak menganggap aku
hina serta bersedia memanggil Cici kepadaku. Di antara laki-laki yang pernah kukenal, aku
tidak pernah bertemu dengan seorangpun yang hatinya lebih mulia dari padamu…!” tibatiba
Liang Fu Yong merasa, apabila kata-katanya diteruskan hanya menambah kepedihan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
hatinya saja. Dan apa yang diharapkannya, mungkin akan diketahui oleh Tan Ki. Oleh
karena itu dia menarik nafas panjang dan memadamkan kobaran api dalam hatinya.
“Sekali bertemu, kita terhitung memiliki jodoh. Obat penawar ini anggaplah sebagai hadiah
perpisahan. Semoga kelak namamu akan menjulang tinggi di dunia Kangouw dan
mempunyai masa depan yang cerah.”
Hati Tan Ki terkesiap. “Apa, hadiah perpisahan?”
“Tidak salah. Aku sudah mengambil keputusan untuk tetap menetap di sini. Mungkin
sepanjang hidupku, aku tidak akan keluar lagi ke dunia ramai. Mengingat persaudaran kita
yang meskipun baru terjalin dalam beberapa hari, tunggulah sejenak, nanti ada orang
yang mengantarmu keluar dari perkampungan ini. Pergilah ke depan sana.”
Kata-katanya yang terakhir, walaupun diucapkan dengan nada yang kaku serta tegas,
namun dia juga tidak sanggup menutupi kepiluan hatinya menjelang perpisahan ini.
Perasaannya semakin tertekan. Di kelopak matanya kembali menggenang air mata yang
siap berderai setiap waktu.
Tanpa disangka-sangka, Tan Ki mengibaskan tangannya dan melempar bungkusan obat
itu ke atas tanah. Dia tertawa sumbang dua kali. Saking kesalnya, air matanya ikut
mengalir turun.
“Rupanya kau mengorbankan diri, hanya…
untuk menolong aku. Kata-kata apa yang kau ucapkan barusan? Meskipun obat ini
dapat merubah aku menjadi dewa, aku juga tidak mau meminumnya!”
Mendengar perkataannya yang tulus dan air matanya yang berderai deras, tanpa dapat
ditahan lagi, serangkum rasa pedih menyusup dalam sanubarinya. Tetapi dia menguatkan
hatinya agar air matanya jangan menetes. Berulang kali dia mengibaskan tangannya dan
sengaja berkata dengan suara yang dingin serta ketus.
“Pergilah, pergilah! Di sini bukan tempat yang baik untuk berdiam lama-lama!”
Tiba-tiba terlihat Tan Ki mengangkat lengan bajunya untuk mengusap air mata yang
membasahi pipinya, kemudian dia memeluk Liang Fu Yong erat-erat.
“Cici, katakanlah terus terang. Apakah kau mengorbankan diri hanya untuk memohon
obat penawar ini? Katakanlah, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri…!”
Liang Fu Yong tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut sepatah katapun. Namun
kepedihan hatinya tidak tertahankan lagi. Dua butir air mata berurai ke bawah. Tan Ki
semakin panik melihatnya. Dia mengguncang tubuh
Liang Fu Yong keras-keras… “Katakanlah!”
“Jangan memaksa aku mengatakan apa-apa! Jangan memaksa aku…!” suaranya
semakin parau dan tiba-tiba dia mengulurkan “sepasang lengannya serta memeluk Tan Ki
erat-erat. Dengan wajah bersandar pada pundaknya, dia menangis tersedu-sedu.
Air mata kepedihan terus mengalir…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bukan kerena takut atau terkejut, tetapi air mata yang berderai karena curahan kasih
dalam hati. Penerangan dalam kamar semakin lama semakin suram. Suasana dingin
mencekam. Hanya terlihat sepasang pemuda-pemudi yang saling berpelukan sambil
terisak-isak… sungguh suatu pemandangan yang menyentuh hati.
Setelah menangis beberapa saat, perasaan Tan Ki menjadi agak tenang.
“Cici, terima kasih…” baru mengucapkan sepatah kata, hidungnya terasa pedih kembali.
Kata-kata selanjutnya tidak sanggup ia lanjutkan kembali.
Perlahan-lahan Liang Fu Yong mendorong tubuhnya. Dia mengeluarkan sehelai sapu
tangan dan diusapnya bekas air mata yang membasahi pipi Tan Ki. Gerakannya sangat
lembut dan penuh perhatian. Persis seperti seorang ibu yang menghibur putranya yang
sedang bersedih hati.
“Orang sebesar ini masih menangis meraung-raung…” tiba-tiba dia teringat bahwa
dirinya sendiri juga tidak berbeda, wajahnya menjadi merah dan cepat-cepat kata-katanya
dihentikan.
Tan Ki tersenyum lembut. Dia tidak langsung menyahut kata-kata perempuan itu.
Delipan mata yang memancarkan perasaan penuh kasih, dia menatap Liang Fu Yong lekatlekat.
“Cici, maukah kau menikah denganku?” tanyanya kemudian.
“Apa?”
Liang Fu Yong terkejut sekali. Sepasang matanya memandang terpana. Hampir saja dia
tidak berani mempercayai pendengarannya sendiri, padahal dia mendengarnya dengan
jelas.
“Jangan sembarang mengoceh, mana boleh…”
“Ucapan yang kukatakan tadi bukan gurauan. Malah aku sudah mempertimbangkannya
matang-matang. Sekarang kita sudah mendapatkan obat penawar, ilmu silatku dapat pulih
kembali. Walaupun tidak ada yang mengantar kita keluar dari Pek Hun Geng ini, dengan
asal terjang aku yakin kita bisa menemukan jalan keluarnya. Pada waktu itu, samudera
luas dan batas langit kapan saja dapat kita datangi. Kau hanya perlu menunggu aku
membalaskan dendam ayahku, kemudian kita cari pegunungan yang sunyi dan
berpemandangan indah sebagai tempat tinggal kita di hari tua…”
“Tidak bisa…” Tan Ki tertawa lebar.
“Bukan masalah bisa atau tidak, tetapi kau bersedia atau tidak?”
“Aku adalah seorang perempuan yang penuh dosa, mana pantas aku bersanding…”
Tiba-tiba Tan Ki mengangkat tangannya dan menutup bibir perempuan itu.
“Jangan berkata apa-apa lagi. Aku tahu sebetulnya kau bersedia. Hanya perasaan
harga dirimu yang mencegah kau mengatakannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ucapan Tan Ki, Liang Fu Yong tahu isi hatinya telah terbongkar oleh anak
muda tersebut. Dengan tersipu-sipu dia menundukkan kepalanya, jari jemarinya
mempermainkan ujung pakaian. Dia tidak berani menatap sinar mata Tan Ki. Sedangkan
jantungnya berdegup semakin keras.
Ketika perasaannya masih malu dan wajahnya tersipu-sipu, dia mendengar Tan Ki melanjutkan
kata-katanya.
“Kau duduk saja di sini, tunggulah aku sebentar. Aku akan bersemedi sesaat untuk memulihkan
tenaga dalamku, setelah itu, kita bersama-sama melarikan diri dari tempat ini.”
Tan Ki langsung membalikkan tubuh dan memungut bungkusan obat yang tadi dilemparkannya
di atas tanah. Dia segera membuka bungkusan obat itu dan menelannya
sekaligus. Sejenak kemudian terasa serangkum hawa yang sejuk mengalir di dalam
tubuhnya, dia merasa nyaman sekali.
Setelah itu, Tan Ki duduk bersila di atas tanah. Dia mengembangkan seulas senyuman
lembut kepada Liang Fu Yong. Kemudian matanya dipejamkan rapat-rapat dan mulai
bersemedi. Mata Liang Fu Yong memandang wajah tampan Tan Ki lekat-lekat. Dia sendiri
tidak tahu apa yang terasa dalam hatinya. Sakitkah? Pedihkah? Terkejut? Atau gembira?
Mendengar lamaran Tan Ki yang dinyatakan secara langsung. Sejenak dia tertegun tanpa
tahu keputusan apa yang harus diambilnya.
Beberapa hari menempuh perjalanan bersama, membuat hati Liang Fu Yong jadi
memiliki semacam perasaan yang aneh terhadap pemuda di hadapannya ini. Tetapi masa
lalunya terlalu suram sehingga dia tidak mempunyai keberanian untuk mengungkapkan
perasaan yang terkandung di dalam hatinya.
Apalagi setelah dia membandingkannya, ketampanan, keceriaan, kegagahan Tan Ki
membuat Liang Fu Yong merasa dirinya semakin rendah dan hina. Sedangkan pada saat
seperti ini, tiba-tiba Tan Ki melamarnya, tentu saja hati perempuan ini menjadi curiga.
Berdasarkan pengalamannya selama bertahun-tahun bergaul dengan kaum laki-laki,
Liang Fu Yong dapat melihat bahwa tindakan anak muda itu hanya lampiasan emosinya
sesaat. Dia belum mempertimbangkannya dengan matang-matang. Seandainya ada orang
yang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini dapat membawa kebahagiaan, maka di
dunia tidak ada tragedi lagi.
Meskipun demikian, bayangan Tan Ki sudah terpatri dalam hatinya. Dia tahu perasaan
ini ajaib sekali. Biar bagaimanapun sulit baginya untuk menghapuskan bayangan tersebut,
tetapi dia tidak tahu mengapa. Perasaannya saat ini seperti bercampur
aduk, asam manis, pahit, pedas, semuanya bersatu di dalam kalbu. Air matanya bagai
untaian mutiara yang jatuh berderai. Hati kecilnya ingin sekali menerima lamaran Tan Ki,
namun perasaan rendah dirinya seperti mencegah. Dia menjadi serba salah.
Burung-burung kecil yang berkeliaran di atas jendela tidak hentinya mencuit-cuit.
Suaranya terputus-putus seakan menambah di dalam kamar itu menjadi semakin
mengenaskan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Entah berapa lama sudah berlalu, di atas ubun-ubun kepala Tan Ki terlihat uap putih
yang mengepul ke atas. Perlahan-lahan memenuhi ruangan. Tampaknya semedi anak
muda itu sudah hampir mencapai puncaknya dan sebentar lagi akan selesai.
Liang Fu Yong sadar bahwa sejenak lagi Tan Ki akan membuka matanya. Dia menggertakkan
giginya erat-erat dan menarik nafas panjang dengan wajah yang muram.
Dirapikannya pakaiannya yang tidak karuan. Matanya yang mengandung kasih sayang dan
penyesalan diri terus menatap Tan Ki lekat-lekat. Dia seperti khawatir Tan Ki tiba-tiba akan
menghilang dari pandangannya. Dia tidak mengedipkan matanya sama sekali. Tetapi
langkah kakinya perlahan-lahan bertindak menuju pintu.
Tan Ki sedang bersemedi, dia seperti meragakan kalau Liang Fu Yong akan meninggalkannya.
Tiba-tiba sepasang matanya membuka dan melihat ke arah perempuan itu. Saat
itu keadaannya sedang pada puncak krisis. Mulutnya tidak boleh bicara sama sekali.
Melihat Liang Fu Yong melangkah perlahan-lahan dengan maksud pergi dari situ, dia
hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan keras, wajahnya menunjukkan kepanikan.
Dua pasang mata saling pandang, hati Liang Fu Yong menjadi tertekan. Wajahnya
berubah hebat. Dia merasa dari sinar mata Tan Ki terpancar semacam kekuatan yang
memaksa dirinya untuk kembali. Untuk sesaat tubuhnya terasa lemas. Dia tidak
mempunyai tenaga untuk melangkah. Cepat-cepat dia memejamkan matanya dan
bersandar pada daun pintu. Dia mengatur nafasnya beberapa saat.
Ketika Liang Fu Yong memaksa diri untuk membuka matanya. Tampak dua bulir air
mata telah membasahi wajah Tan Ki. Air mata yang mengalir dari cinta kasih dalam hati
pemuda itu membuat pikiran Liang Fu Yong seakan mendapat pukulan bathin yang hebat.
Dia berteriak sekeras-kerasnya dan menghambur keluar dari tempat tersebut.
Rupanya di dalam hati perempuan itu telah tertanam semacam perasaan rendah diri
yang dalam. Dia menganggap dirinya sebagai perempuan jalang dan rendah, sama sekali
tidak pantas bersanding dengan Tan Ki. Melihat air mata kepedihan yang keluar dari
sepasang kelopak mata Tan Ki, hatinya semakin menderita. Dua arus perasaan yang
berbeda, yakni sesat dan lurus berkecamuk di dalam bathin-nya. Untuk sesaat dia menjadi
kehilangan akal sehat dan menerjang keluar seperti orang yang kerasukan setan.
Hati Tan Ki sendiri bertambah panik. Dengan kalap dia melonjak bangun dan
bermaksud mengejar. Siapa nyana saat itu semedinya sedang mencapai puncak krisis,
hawa murninya sedang mengalir mengelilingi seluruh tubuh. Mendadak dia melonjak
bangun, otomatis hawa murni yang sedang mengalir itu seperti kehilangan kendali dan
buyar seketika. Malah secara perlahan-lahan menyerang isi perutnya sendiri. Ketika
kakinya baru berdiri tegak, dia sudah merasakan sesuatu yang tidak beres. Dia langsung
menjerit keras-keras dan terkulai di atas tanah.
Agak lama kemudian, lambat laun dia mulai tersadar dari pingsannya. Dia merasa
kepalanya seperti digelayuti beban yang berat dan terasa pusing tujuh keliling. Tubuhnya
seperti terserang penyakit yang parah serta tidak bertenaga sama sekali. Tanpa dapat
mempertahankan diri lagi, dia memuntahkan darah segar beberapa kali berturut-turut.
Tan Ki juga tidak memperdulikan bercak darah yang membasahi pakaiannya, dia juga
tidak menghapus sisa darah di ujung bibirnya. Matanya mengedar ke sekeliling.
Penerangan sudah padam. Ruangan tersebut menjadi gelap gulita. Untung saja
penglihatannya sangat tajam. Biarpun malam gelap sekali, dalam jarak tiga depa dia masih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dapat melihat dengan jelas. Tetapi dia tidak berhasil menemukan bayangan Liang Fu
Yong. Meja maupun kursi di dalam ruangan tersebut masih sama dengan sebelumnya.
Tanpa sadar dia menarik nafas dalam-dalam. Dia memaksakan dirinya untuk bangun.
Sepasang tangannya bertumpu pada dinding ruangan. Setindak demi setindak dia berjalan
keluar dari kamar tersebut.
Karena emosi sesaat, hawa murni dalam tubuhnya malah berbalik arah melukai isi
perutnya sendiri. Meskipun tenaga dalamnya dapat pulih kembali, tapi dia sudah
mendapatkan kerugian yang besar.
Setelah berjalan sejenak, dia keluar dari halaman lewat koridor yang panjang. Dia
sudah kelelahan. Keningnya berkeringat. Dihentikannya langkah kakinya, wajahnya didongakkan
dan menatap rembulan.
“Meskipun dapat keluar dari tempat ini, tapi dalam waktu tiga kentungan, luka ini
mungkin dapat mengakibatkan kematian.” katanya kepada diri sendiri.
Berkata sampai di sini, gambaran dirinya menjelang kematian seakan membayang di
depan pelupuk mata. Tanpa sadar dia menarik nafas dengan tampang mengenaskan!
Angin bertiup rumputpun melambai-lambai, daun serta ranting pepohonan
menimbulkan suara yang gemerisik. Seakan mengalunkan irama yang menyayangkan
umur Tan Ki yang pendek. Tiba-tiba terdengar suara kibasan baju yang terpancar dari
empat penjuru. Meskipun hati Tan Ki dalam keadaan gundah dan sedih, tetapi
pendengarannya justru semakin peka. Begitu mendengar sedikit suara, dia langsung
tersentak. Matanya segera mengedar dengan seksama. Justru dalam waktu yang sekejap
ini, di bagian depan dan belakangnya telah berdiri tiga puluh enam lakilaki berpakaian
hitam. Mimik wajah mereka masing-masing sangat kaku. Mata mereka membelalak,
seperti manusia yang tidak mempunyai sukma. Mereka juga tidak bergerak. Ketika angin
malam berhembus, perasaan Tan Ki seperti sedang dikelilingi oleh sekumpulan hantu
gentayangan.
Dalam hati timbul firasat yang buruk. Diam-diam dia berpikir…
‘Kalau ditilik dari gerakan mereka, tentunya semua orang ini tergolong tokoh tingkat
tinggi. Tapi mengapa tampang mereka lebih mirip dengan mayat hidup, berdiri termangumangu
dengan mata membelalak. Sehingga perasaan orang yang melihatnya jadi tidak
karuan’.
Baru saja pikiran ini melintas dalam benaknya, tiba-tiba matanya terasa berkunangkunang,
gulungan tenaga yang kuat dalam jumlah yang tidak terkira telah mendesak ke
arahnya. Begitu kerasnya sehingga tubuh Tan Ki berputaran beberapa kali dan hampir
tidak dapat tegak kembali.
Pekarangan ini luasnya sedang-sedang saja. Dikatakan besar tidak, dibilang kecil juga
tidak. Laki-laki berpakaian hitam yang berdiri di sana ternyata tidak merasa sesak, tetapi
apabila bertambah satu orang lagi, malah terasa seperti tidak ada tempat lagi untuk
berdiri.
Tan Ki justru berdiri di tengah-tengah pekarangan. Dalam keadaan seperti ini, dengan
hadirnya sedemikian banyak laki-laki berpakaian hitam, di tambah lagi dengan dirinya
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang, seakan terasa berlebihan. Seperti sebutir abu di dalam mata, yang mana terasa
menusuk dan menimbulkan perasaan tidak enak.
Sejak tadi dia sudah menghimpun tenaga dalam untuk melindungi dirinya. Secara tibatiba
dia didesak oleh rangkuman tenaga dalam dari kiri kanan depan belakang, tentu saja
timbul serangkum tenaga tolakan yang membuat tenaga yang mendesaknya seperti buyar
seketika.
Setelah itu, dengan kecepatan kilat dia mengirimkan dua pukulan ke arah lawannya.
Terdengar suara bentakan yang menggelegar. Empat rangkum angin pukulan yang
dahsyat menerjang ke arahnya.
Rupanya para laki-laki berpakaian hitam ini merupakan Barisan Jenderal Langit yang
dididiknya sendiri. Ketiga puluh enam orang ini terbagi dalam sembilan kelompok. Setiap
kelompok mempunyai keahlian masing-masing yang berbeda. Ada yang menggunakan
pukulan untuk melancarkan serangan, ada yang menggabungkan tenaga dalam meraih
kemenangan. Hal ini membuat pihak lawannya sulit meraba bagaimana cara bekerjanya
barisan itu dan mengadakan persiapan sejak semula.
Sedikit saja kurang berhati-hati, hampir saja Tan Ki terjerat dalam perangkap. Dengan
panik dia menghimpun tenaga dalamnya ke arah telapak tangan dan dengan posisi
menahan di depan dada, dia mendorong ke depan.
Meskipun serangan ini dilancarkan dalam keadaan terluka, tetapi kekuatannya tidak
dapat dipandang ringan. Gagahnya bukan main, meskipun manusia berpakaian hitam itu
menyerangnya dengan cara menggabungkan tenaga dalam empat orang sekaligus, tetapi
dia berhasil menahannya.
Mengadu pukulan dengan kekerasan yang hanya berlangsung satu jurus itu, tubuh Tan
Ki hanya terhuyung-huyung sedikit kemudian tegak kembali. Telinganya menangkap suara
desiran angin, serangan kelompok ketiga sudah menerjang tiba. Serangan kali ini tentu
saja berbeda dengan yang sebelumnya. Empat orang itu memencarkan diri menjadi dua
orang di kiri dan duanya lagi di kanan. Suara yang terpancar dari kepalan tangan dan
bayangan telapak menerjang ke arahnya.
Diam-diam sepasang alis Tan Ki mengerut dengan ketat. Mulutnya mengeluarkan suara
bentakan yang keras. Sepasang telapak tangannya ditekapkan di bawah ketiak kemudian
dihantamkan kedua arah yang berlawanan.
Baru saja dia berhasil mendesak mundur orang-orang dari kelompok ketiga, orangorang
dari kelompok keempat sudah menyerbu ke arahnya. Serangan demi serangan
dilancarkan dengan gencar. Semuanya memiliki keahlian yang berbeda-beda. Apalagi
serangan mereka semakin lama semakin kuat dan juga semakin membahayakan.
Dengan berturut-turut dia menyambut serangan sembilan kelompok dari barisan
tersebut. Diam-diam hatinya menjadi gelisah.
“Mereka menyerang dengan cara bergiliran. Tampaknya tidak ada henti-hentinya. Kalau
begini terus, sampai kapan aku harus bertarung, sampai kapan baru berhenti? Tenagaku
yang seorang ini melawan tenaga mereka yang menggunakan cara bergilir, kalaupun tidak
terpukul mati, lambat laun pasti akan mati lemas. Apalagi luka dalamku sangat parah,
apabila dipaksakan, malah bisa-bisa mempercepat kematian. Lebih baik himpun seluruh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tenaga dan menerjang keluar. Siapa tahu benar-benar berhasil keluar dari kepungan
barisan ini.” katanya kepada diri sendiri.
Baru saja pikirannya tergerak, dia langsung mengumpulkan seluruh tenaganya dan
bersiap-siap melancarkan beberapa pukulan yang dahsyat. Dia berniat menggunakan
siasat menggertak terlebih dahulu, kemudian menerjang. Tiba-tiba telinganya menangkap
suara siulan yang nyaring dan berkumandang dari kejauhan. Laki-laki berpakaian hitam itu
mendadak menghentikan gerakannya dan mundur ke tempat semula.
Tampak sebelah telapak tangan mereka menahan di depan dada dan berdiri dengan
termangu-mangu. Wajah mereka tidak menunjukkan perasaan sedikitpun. Empat orang
dalam setiap kelompoknya berbaris dengan rapi. Apabila diperhatikan, barisan itu tampak
angker sekali.
Hati Tan Ki terkejut setengah mati.
‘Mungkin kali ini, seluruh barisan akan bergerak serentak.’ pikirnya dalam hati.
Suatu ingatan melintas di benaknya. Cepat-cepat dia maju dua langkah, telapak
tangannya mengambil posisi menahan di depan dada, seakan-akan dia ingin melancarkan
sebuah serangan ke arah kelompok yang berjarak satu depa di depannya.
Ilmu silat Tan Ki sudah tergolong jago kelas satu dalam dunia Kangouw. Meskipun
sedang terluka parah dan hawa murninya telah terhambur banyak, tetapi kecepatan
gerakannya ini bukan alang kepalang. Lawannya baru melihat jelas kakinya melangkah
maju dua tindak, tahu-tahu dirinya sudah kembali pada posisi semula.
Ternyata di bagian belakang punggungnya terasa melanda tiba sebuah kekuatan yang
besar. Kekuatan itu demikian besar laksana ombak yang bergulung-gulung. Tan Ki
menggertakkan giginya erat-erat. Secepat kilat dia membalikkan tubuhnya dan
menghantamkan sepasang telapak tangannya.
Begitu matanya memandang, tanpa terasa dia jadi tertegun. Ternyata dibelakangnya
tidak ada orang yang mengejar, hanya sekelompok orang-orang dari barisan yang berdiri
berbaris. Masing-masing mengulurkan telapak tangan kanannya dengan gaya mendorong
ke depan. Jarak mereka kira-kira setengah depa dari tempat Tan Ki, tapi ternyata
gulungan tenaga yang terpencar dari pukulan mereka sudah sampai di belakang punggung
anak muda tersebut.
Kumpulan laki-laki berpakaian hitam itu merupakan tokoh-tokoh dari dunia Bulim yang
dipaksa dengan berbagai macam cara oleh Oey Kang untuk mengikuti perintahnya.
Mereka juga mendapat didikan langsung dari iblis tersebut. Kekuatannya tidak dapat
dipandang ringan, setiap orang memiliki keahlian tersendiri. Begitu gabungan tenaga
dalam mereka dilancarkan, otomatis kekuatannya jadi melipat ganda. Tadinya Tan Ki
berpikir, apabila orang yang mengejar di belakangnya tiba, dengan tidak terduga-duga dia
akan melancarkan sebuah serangan yang mengandung seluruh kekuatannya agar
kelompok itu dapat terdesak mundur. Dengan demikian, dia bisa merebut posisi
menyerang duluan kemudian menerjang keluar. Tetapi kenyataannya berbeda dengan apa
yang dibayangkan. Justru dia yang terkejut setengah mati.
Kalau diceritakan memang panjang, kejadiannya sendiri berlangsung dengan cepat
sekali. Tenaga dalam yang terpancar dari telapak tangannya baru beradu dengan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kekuatan gabungan empat orang tersebut, tiba-tiba dia membentak marah, lengannya
tergetar dan tubuhnyapun mencelat ke tengah udara. Dia merasa tenaga hantaman
keempat orang itu terus meluncur di bawah kakinya, kalau saja dia tidak bersiap sedia
dengan menghimpun tenaga dalamnya, akibatnya sulit diba-yangkan. Sungguh detik-detik
yang menegangkan!
Begitu terpental, dia segera melambungkan tubuhnya sampai setinggi tiga depa,
kepalanya menoleh ke bawah. Ternyata barisan ini memang hebat sekali. Gerakan mereka
sangat kompak. Di dalamnya juga terkandung kekuatan yang dahsyat.
Pada saat ini, kesembilan kelompok dari barisan itu sudah bergerak serentak ke arah
pusat. Tampak bayangan manusia berkelebat ke sana ke mari, tetapi kibaran pakaian
mereka tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Sementara itu, tubuhnya pun sedang meluncur ke bawah. Entah mengapa, tenyata
orang-orang dari barisan itu tidak ada satupun yang mendongakkan kepala
memandangnya. Hati Tan Ki segera tergerak, dia meliukkan pinggangnya dan merubah
gerakan jurusnya, sebuah pukulan ia lancarkan ke arah seseorang yang di bagian penutup
kepalanya tertancap sekuntum bunga merah.
Apabila pukulan ini mencapai sasarannya, orang itu pasti akan terkapar mati seketika.
Siapa nyana orang itu sama sekali tidak ambil perduli, dia tetap melangkahkan kakinya ke
pusat barisan. Ketika pukulan Tan Ki hampir mencapai sasarannya, tiba-tiba serangkum
tenaga dari samping menyampoknya sehingga angin pukulannya menghantam ke bawah
tanah.
Saat itu dia sudah kehabisan akal dan kehilangan tenaga, dia tidak tahu apa lagi yang
harus diperbuatnya. Dia merasa tenaga dalam tersebut sedemikian kuat sehingga
tubuhnya tergeser ke samping dan kecepatannya semakin bertambah ketika menukik ke
bawah.
Dia sudah kehilangan banyak hawa murni dalam tubuhnya. Dengan mengandalkan kekerasan
hati dan kenekatannya dia tidak sampai rubuh dan dapat mempertahankan diri
beberapa saat. Tetapi setelah mengadu kekerasan beberapa kali dengan pihak lawan,
tenaga dalamnya sudah banyak terkuras, tubuhnya sudah basah oleh keringat. Dia sadar,
apabila mengadu kekerasan dua kali lagi dengan pihak lawan, dia pasti tidak kuat lagi dan
pasti rubuh. Apalagi saat ini tubuhnya sedang menukik ke bawah, tentu saja sulit baginya
untuk mengedarkan hawa murni guna melindungi badannya. Terdengar suara gubrakan
yang keras, Tan Ki pun terjatuh di atas tanah dalam posisi duduk.
Beberapa perubahan yang mendadak ini terjadinya begitu cepat. Begitu terjatuh di atas
tanah, Tan Ki langsung merasa kepalanya pusing tujuh keliling, matanya sampai
berkunang-kunang. Belum lagi kesadarannya pulih semua, tiba-tiba terlihat orang-orang
yang dari kelompok di hadapannya sudah mengulurkan telapak tangan dan berjalan
menghampirinya.
Dari jauh saja kekuatan tenaga dalam yang terpancar dari pukulan mereka sudah
terasa. Herannya gerakan mereka sangat kompak dan barisan itu begitu rapi seperti
barisan para prajurit yang sudah terlatih.
Kali ini, siapa yang lemah dan siapa yang kuat sudah terlihat jelas. Keadaan sungguh
membahayakan. Tan Ki sudah tidak bisa menghindar lagi. Semacam perasaan yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
merupakan harapan mencari kehidupan di ambang kematian tiba-tiba menyusup dalam
hatinya. Dia meraung sekeras-kerasnya. Telapak tangannya terulur ke depan dan
dipaksakannya untuk melancarkan beberapa pukulan sekaligus. Kedua pukulan ini
dilancarkan dalam keputusasaan. Hampir seluruh kekuatan dalam tubuhnya dihimpun
sekaligus. Tampak deruan angin yang bergulung-gulung, kehe-batannya malah seperti
berlipat ganda. Tenaga dalam yang merupakan gabungan dari kelompok tersebut ternyata
berhasil ditolaknya. Begitu kerasnya benturan itu sehingga tubuh keempat orang itupun
terpental dan melayang ke belakang. Namun setelah melancarkan dua buah pukulan
tersebut, Tan Ki pun tidak dapat mempertahankan diri lagi. Mulutnya membuka dan
segumpal darah segar terlihat muncrat dari mulutnya.
Baru saja Tan Ki meghantam.empat orang yang sebelumnya sehingga terpental ke
belakang dan dirinya sendiripun memuntahkan segumpal darah segar, satu kelompok yang
lain telah tiba di sampingnya. Tinju dan pukulan bagai curahan hujan menerpa di atas
tubuhnya.
Terdengar suara bentakan Tan Ki, sepasang lengannya bergerak dengan kalap. Dengan
memberontak dia melonjak bangun, ditangkisnya serangan tinju dan pukulan dari keempat
orang tersebut. Tiba-tiba kepalanya terasa pening, langkah kakinya menjadi goyah
kemudian ia terpaksa mundur dua tindak.
Tepat pada saat itu juga, otaknya langsung diasah, kalau dia tidak mengerahkan jurus
yang ampuh melukai orang-orang ini, malah dirinya sendiri yang akan rubuh dan mati
tanpa kuburan.
Dengan tujuan mencari hidup, pikirannya pun bekerja keras. Suatu ingatan mendadak
melintas di benaknya. Dia seperti melihat bayangan-bayangan yang keadaan posisinya
berbeda-beda. Ada yang berdiri, ada yang membungkuk, ada lagi yang pahanya
direntangkan ke depan dan ada yang tangannya diangkat ke atas. Semuanya berputaran
di depan pelupuk matanya.
Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan ingatannya, secara kilat kedua
tangannya terulur dan tahu-tahu dia sudah berhasil mencekal dua orang lawannya.
Dengan bertumpu pada kedua orang tersebut, sepasang kakinya dihentakkan
meninggalkan tanah dan dua orang manusia berpakaian hitam lainnyapun tertendang
jatuh.
Gerakannya ini merupakan salah satu jurus dari Te Sa Jit-sut, yakni Si Goat-liu Sing
(Malam Purnama Bintang Kejora). Apabila telah terlatih sampai mencapai kesempurnaan,
begitu tangan terulur untuk mencekal, pasti tidak akan luput. Meskipun baru kali ini Tan Ki
menggunakannya, tetapi rumus ilmu itu sendiri sudah dihapalnya luar kepala. Di saat
ilhamnya datang, tiba-tiba dia mengerahkan jurus yang ampuh tersebut. Begitu tangan
terulur dan kaki menendang, empat orang sekaligus rubuh olehnya.
Seandainya pikiran dan kesadaran orang-orang ini masih ada, tentu mereka, akan
terkejut mengetahui bahwa dalam waktu yang singkat ilmu silat Tan Ki seakan bertambah
tinggi. Sayangnya orang-orang ini telah dice-coki semacam obat oleh Oey Kang, sehingga
kesadarannya hilang. Mereka seakan tidak mempunyai perasaan lagi. Meskipun melihat
dengan mata kepala sendiri keempat rekan mereka terluka oleh pihak lawan, tidak ada
satupun yang menerjang datang atau melampiaskan kemarahannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki memperdengarkan suara tawa yang dingin. Diam-diam dia mengedarkan hawa
murninya agar jalan darah yang terguncang tadi dapat pulih kembali. Kemudian telapak
tangannya kembali bergerak, dia melancarkan sebuah jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Dalam
waktu yang singkat dia sudah berhasil menotok tujuh manusia berpakaian hitam.
Ketujuh manusia berpakaian hitam yang tertotok urat nadinya, tetap berdiri tanpa
bergeming sedikitpun. Tan Ki mengulurkan tangannya dan mencekal bagian punggung
orang tersebut. Dikerahkannya tenaga dalam sambil membentak keras. Orang itu
dilemparkan pada kelompok orang-orang yang paling dekat dengannya. Baru tangannya
bergerak, kembali dia mencekal manusia berpakain hitam lainnya dan dilemparkannya
kembali ke sebelah kiri.
Dua kelompok manusia berpakaian hitam itu tampaknya tidak bersiap siaga. Melihat
rekannya sendiri melayang datang, keraguan sempat menyelinap dalam hati mereka.
Sebelum sempat mengambil tindakan apa-apa, tubuh rekannya sudah membentur keras
ke arah mereka.
Terdengar suara bentakan dan seruan terkejut. Dua manusia berpakaian hitam segera
terhantam ke belakang dan bergulingan di atas tanah. Seluruh bentuk barisan menjadi
kacau balau.
Seandainya saat itu Tan Ki membangkitkan keberaniannya untuk terus menyerang,
serta menggunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk membuka jalan, meskipun belum
tentu dapat memecahkan barisan tersebut tetapi ada kemungkinan untuk meloloskan diri.
Tetapi, justru pada saat ini luka dalamnya kambuh. Keringat dingin membasahi seluruh
tubuhnya. Bukan saja dia tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah, bahkan
untuk berdiri tegak mengatur nafas saja sulitnya bukan main. Dia merasa keringatnya
menetes terus dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya bergetar hebat. Rasanya dia
ingin membaringkan tubuhnya di atas tanah. Dengan demikian mungkin keadaannya lebih
lumayan.
Penderitaan di masa kecilnya membuahkan semacam watak pada dirinya. Dia sama
sekali tidak membiarkan tubuhnya terkulai. Bayangan di benaknya melintas secepat kilat.
Dia sedang merenungkan jurus lain dari Te Sa Jit-sut. Pikirannya terpusat. Dia sampai lupa
bahwa dirinya berada dalam kepungan musuh-musuh yang tangguh. Dia malah berdiri
termangu-mangu.
Justru ketika pikirannya terpusat penuh, Tiba-tiba dia merasa bagian punggungnya
tergetar. Tahu-tahu dia sudah termakan sebuah pukulan. Pukulan ini mengandung
kekuatan yang dahsyat. Jantungnya serasa membalik. Tubuhnya terhuyung-huyung dan
diapun terjatuh sejauh empat lima langkah.
Begitu tubuhnya terjatuh di atas tanah, kembali ada sekelompok orang yang menerjang
ke arahnya. Kecepatan gerakan mereka bagai kilat. Begitu melesat langsung sampai.
Delapan buah lengan dari empat orang tersebut menyerang bagian berbahaya di tubuh
Tan Ki dalam waktu yang bersamaan.
Tiga empat rangkum tenaga yang kuat secara bergulungan menerpa tiba. Kalau sampai
terhantam telak, meskipun tubuhnya terbuat dari baja, tetap saja dia tidak sanggup
mempertahankan diri. Terdengar suara angin yang menderu-deru. Keadaannya sungguh
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
membahayakan. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang kemudian memejamkan matanya
menunggu kematian.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara teriakan yang memecahkan keheningan. Entah
apa sebabnya, serangan telapak tangan, tinju maupun pukulan yang gencar menjadi
terhenti seketika.
Tan Ki jadi termangu-mangu diserang rasa terkejut yang di luar dugaannya. Cepatcepat
dia mengalihkan matanya memandang. Dia segera melonggo, wajahnya jadi berseriseri
seketika. Entah sejak kapan, Liang Fu Yong sudah berdiri di sampingnya.
Tampak tangannya mengibarkan sebuah bendera merah, dia sedang mengatur barisan
manusia berpakaian hitam tersebut. Bendera merah itu panjangnya kira-kira tiga mistar,
kalau diperhatikan seperti biasa-biasa saja. Tidak ada keistimewaan apa-apa. Entah
mengapa, manusia berpakaian hitam yang tadinya berwajah kaku menyeramkan, begitu
melihat bendera ini, tampang mereka seperti setan kecil di hadapan iblis besar. Mimik
wajah mereka yang tidak menunjukkan perasaan apa-apa, tiba-tiba juga menunjukkan
kilasan rasa ketakutan setengah mati. Dengan ber-pencaran mereka mengundurkan diri.
Setelah mengatur beberapa saat, Liang Fu Yong menggebah orang-orang itu seperti
gembala yang menggebah kambing-kambing pulang ke kandang. Dalam waktu yang
singkat, pekarangan itu langsung bersih dan hanya tersisa mereka berdua. Perlahan-lahan
dia membalikkan tubuhnya sembari menyimpan kembali bendera merah tersebut. Matanya
beralih menatap Tan Ki.
Setelah memperhatikan beberapa saat, dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun.
Wajahnya yang cantik masih tersirat kepedihan, membuat orang yang memandangnya
menaruh rasa iba kepadanya.
Dalam waktu yang kurang lebih sepena-nakan nasi itu, Tan Ki sudah mengatur hawa
murninya kembali. Tenaga dalamnya pun sudah pulih walaupun lukanya masih belum
sembuh. Tiba-tiba dia melonjak bangun dengan bibir tersenyum.
“Cici, kembali kau menolongku. Sekarang aku tidak akan membicarakan masalah balas
budi segala, tetapi kali ini aku juga tidak akan membiarkan kau pergi lagi.”
Liang Fu Yong mendengar Tan Ki mengungkit masalah tadi, wajahnya jadi merah
padam seketika. Bibirnya mengembangkan tertawa yang getir.
“Aku memang dilahirkan dengan nasib yang buruk, tidak pantas merasakan
kebahagiaan, mengapa kau mendesak aku sedemikian…”
Wajah Tan Ki langsung berubah.
“Asal aku masih mempunyai sedikit nafas, tetap aku tidak membiarkan kau berdiam di
tempat seperti ini dan menjadi permainan tua bangka itu. Kecuali kalau dirimu sendiri
senang melakukannya!” katanya kesal.
Tanpa menunggu jawaban dari Liang Fu Yong, tubuhnya tiba-tiba bergerak, jurus Bulan
Purnama Bintang Kejora kembali dikerahkan, tahu-tahu pergelangan tangan perempuan
itu sudah tercekal olehnya dan langsung diseret meninggalkan pekarangan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hati Liang Fu Yong jadi panik.
“Mana boleh begini?”
Meskipun mulutnya menolak, tetapi karena tangannya ditarik oleh Tan Ki, mau tidak
mau langkah kakinya jadi terseret mengikuti gerakan Tan Ki yang menghambur secepat
kilat.
Para manusia berpakaian hitam yang berada di luar pekarangan seperti menyandang
beban bathin yang berat, mata mereka melihat kedua orang itu meninggalkan tempat
tersebut, tetapi tidak ada satupun yang mencegah. Wajah mereka masih kaku seperti
sebelumnya dan berdiri tegak tanpa bergerak sedikitpun.
Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, tampak dua sosok bayangan yang
berlari dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka seakan tidak menginjak tanah. Setelah
melewati taman bunga, mereka sudah keluar dari
Pek Hun Ceng (Komplek Awan Putih, nama tempat tinggal Oey Kang). Begitu mata memandang,
seluruh permukaan bumi seperti samar-samar, sulit menentukan mana Barat
dan mana sebelah Timur. Tiba-tiba Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan berulang
kali mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Rupanya karena keadaannya masih letih dan hawa murninya banyak berkurang dan
sekarang malah memaksakan diri untuk berlari, lukanya menjadi kambuh kembali.
Keadaannya saat ini hampir seperti lampu yang kehabisan minyak. Baru saja langkah
kakinya berhenti, dia segera menyandarkan kepalanya pada bahu Liang Fu Yong, dia tidak
mempunyai tenaga lagi untuk bergerak. Tapi tangan-nya yang mencekal pergelangan
tangan perempuan itu semakin erat, seakan takut Liang Fu Yong akan kabur
meninggalkan dirinya.
BAGIAN XIV
Begitu kulit tubuh mereka saling menyentuh, Liang Fu Yong baru merasakan suhu
badan Tan Ki panas membara. Tangannya seperti menyentuh api yang berkobar-kobar.
Hatinya terkesiap, dia segera menundukkan kepalanya untuk melihat. Tampak bola mata
Tan Ki yang menerawang telah kehilangan sinarnya yang cemerlang. Wajahnya pucat pasi,
seluruh tubuhnya penuh dengan bercak darah. Hatinya terasa pedih sekali. Dia
mengulurkan tangannya mengambil sapu tangan dari dalam saku, dengan hati-hati dia
menghapus noda darah yang membasahi wajahnya. Gerakannya begitu lembut dan sangat
terlatih.
Pada saat itu juga, dari seorang perempuan jalang serta rendah, tiba-tiba dia berubah
menjadi wanita lemah lembut dan berhati mulia. Baik mimik wajah maupun gerak-geriknya
menunjukkan daya pikat seorang wanita yang lembut serta penuh perhatian.
Di bawah cahaya rembulan, angin malam berhembus semilir, di sini hanya terdapat dua
anak manusia yang saling berangkulan…
Tepat sepeminuman teh kemudian, Tan Ki baru mengeluarkan suara yang lemah dan
ter-sendat-sendat, tampaknya dia sedang menahan rasa sakit yang amat sangat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tadinya aku berpikir untuk mengajak Cici meninggalkan tempat ini, kemudian mencari
tempat yang tenang untuk hidup sampai hari tua. Namun manusia memang hanya bisa
berharap, semuanya Thian yang menentukan, ternyata umurku demikian pendek…”
Hati Liang Fu Yong menjadi perih mendengarnya. Air matanya turun bagai curahan
hujan. Cepat-cepat dia mengulurkan tangannya dan mendekap mulut anak muda itu.
“Jangan mengucapkan kata-kata yang putus asa. Lebih baik hemat tenagamu agar
tubuhmu dapat bertahan. Setelah mendengar kata-katamu tadi, Cici pasti akan mati
meram.”
Tan Ki dapat mendengar suaranya yang pilu. Di dalamnya seakan terkandung
penderitaan yang tidak kepalang. Hampir saja dia tidak dapat menahan air matanya yang
akan mengalir. Cepat-cepat dia menarik nafas dalam-dalam dan mengulurkan tangannya
menghapus air mata Liang Fu Yong. Kemudian dia membelai rambut perempuan itu
dengan kasih sayang. Mulutnya bergerak-gerak, tampaknya seperti ingin mengatakan
sesuatu, tetapi sepatah katapun tidak sanggup ia cetus-kan keluar.
Menghadapi belaian Tan Ki yang demikian mesra, seluruh urat darah di dalam tubuh
Liang Fu Yong seakan berdesir aneh. Apalagi mereka berdiri berhadapan dengan wajah
saling menempel, jaraknya tidak sampai setengah inci, masing-masing dapat mendengar
denyut jantung yang lainnya.
Perasaan nyaman serta indah yang mereka alami, bukan suatu hal yang dapat
diuraikan dengan kata-kata. Rasanya Liang Fu Yong ingin waktu yang beredar di seluruh
dunia ini berhenti pada saat itu juga. Dia berharap waktu berhenti berputar, tetapi begitu
teringat akan nama busuknya di masa lalu, harapannya yang menggebu-gebu langsung
surut seketika. Air matapun tidak tertahankan lagi.
Akhirnya Liang Fu Yong menarik nafas panjang.
“Tempat ini masih dalam lingkungan Pek Hun Ceng, meskipun kita sudah berhasil
melarikan diri, tapi keadaan belum aman. Mumpung tidak ada seorangpun, kita harus
berlari lebih jauh sedikit.” katanya.
Tan Ki menggelengkan kepalanya perlahan.
“Aku tidak sanggup berjalan lagi,” sahutnya lirih.
Liang Fu Yong merasa kata-katanya memang beralasan. Setelah merenung sejenak,
akhirnya dia mengambil keputusan. Tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat
kemudian dibopongnya tubuh Tan Ki. Dengan menghimpun hawa murni ia bergerak
secepat kilat dan melesat meninggalkan tempat tersebut.
Ketika Liang Fu Yong membungkukkan tubuhnya ingin menggendong Tan Ki, anak
muda tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia segera mengecup pipinya yang
harum dan manis itu. Bibirnya malah tersenyum simpul.
“Cici, usiamu hanya bertaut tiga tahun denganku. Meskipun kau lebih besar daripada
aku, hal ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh membicarakan masalah perkawinan. Tadi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
waktu masih di dalam kamar, mengapa kau sengaja menghindarkan diriku? Apakah kau
benar-benar tidak sudi menikah denganku?”
Liang Fu Yong meliriknya sekilas. Wajahnya menjadi merah padam.
“Ini… ini…” perempuan itu menjadi gugup sekali.
Setelah beberapa saat, dia tetap tidak sanggup memberikan jawaban. Padahal, hati perempuan
itu memang sudah jatuh cinta kepada Tan Ki, tetapi dia sendiri belum
menyadarinya. Dia hanya merasa, apabila dapat menemani Tan Ki seumur hidup, sudah
merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dalam ba-thinnya. Sedangkan ucapan Tan Ki
barusan, datangnya terlalu mendadak, di tambah lagi dengan penyesalannya terhadap
masa lampaunya. Mendapat kasih sayang dari Tan Ki malah membuat dirinya merasa
serba salah. Untuk sesaat dia tidak berani menerima lamaran itu, sekian lama dia
termenung akhirnya mengembangkan senyuman yang pahit.
“Lebih baik kita tinggalkan dulu tempat ini. Masalah lainnya kita bicarakan kemudian.”
katanya seakan mengelak dari pokok pembicaraan.
Tubuhnya melesat seperti terbang. Dia terus menghambur ke depan karena ingin
cepat-cepat meninggalkan tempat yang penuh bahaya itu. Sebentar saja dia sudah berlari
cukup jauh. Tiba-tiba mulutnya mengeluarkan suara mengaduh. Langkah kakinya pun
terhenti, tubuhnya agak meringkuk seperti menahan sa-kit.
Tan Ki terkejut sekali.
“Ada apa?” tanyanya panik.
“Bagian bawah perutku…” wajahnya menjadi merah padam dan langsung bungkam.
Tan Ki menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan diapun melorot turun dari bopongan
Liang Fu Yong. Matanya segera mengalih, tampak Liang Fu Yong setengah meringkuk
seperti sedang menahan sakit. Kedua tangannya terus meremas bagian bawah perutnya
dan tidak bisa berdiri tegak.
Sepasang alis Tan Ki terjungkit ke atas.
“Apakah perutmu terasa sakit?”
Liang Fu Yong menganggukkan kepalanya. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun.
Hanya wajahnya tampak muram. Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang,
tampangnya sungguh mengibakan.
Tan Ki tidak tahu bahwa Liang Fu Yong diperkosa habis-habisan oleh Oey Kang. Lakilaki
itu meminum semacam obat perangsang yang membuat gairahnya menggebu-gebu
dan seperti tidak terpuaskan. Pertama-tama dia hanya merasa letih dan lemas. Tetapi
karena barusan dia memaksa diri membopong Tan Ki sambil berlari, tiba-tiba dia merasa
bagian bawah perutnya perih sekali bagai disayat pisau.
Itulah sebabnya dia mengaduh kesakitan. Sedangkan Tan Ki hanya mengira perempuan
itu sakit perut. Dengan gugup dia menggosok-gosokkan telapak tangannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Pada saat seperti ini tiba-tiba ribut sakit perut. Aku malah tidak bisa memberi
pertolongan apa-apa. Bagaimana baiknya sekarang?” katanya gugup.
Dia segera mengedarkan matanya memandang daerah sekitar. Kemudian jari
tangannya menunjuk ke arah hutan.
“Kita sembunyi saja di sana untuk sementara. Meskipun Oey Kang mempunyai
kemampuan menembus langit, dalam waktu yang singkat belum tentu dapat menemukan
kita.”
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya.
“Tidak bisa. Hutan ini tampaknya biasa-biasa saja. Tetapi sebetulnya telah dirancang
sedemikian rupa dengan unsur Pat Kwa oleh Oey Kang. Orang yang masuk ke dalamnya
laksana terombang-ambing di tengah lautan, memandang ke manapun sama saja. Yang
terlihat hanya pepohonan yang rimbun. Untuk selamanya tidak bisa menemukan jalan
keluar.”
Sembari berkata, perlahan-lahan dia menegakkan badannya. Bibirnya tersenyum.
“Sekarang tidak terasa sakit lagi. Tetapi, kita tidak bisa berjalan cepat-cepat.”
Tan Ki menjadi bingung.
“Bukankah kau mengatakan bahwa semakin cepat kita tinggalkan tempat ini semakin
baik, mengapa tidak berlari saja? Masa kita mau merayap seperti seekor siput serta
menunggu sampai si tua bangka berhasil menyusul kita?”
Wajah Liang Fu Yong semakin merah.
“Jangan tanya macam-macam. Urusan perempuan biar aku katakan, kau juga belum
tentu mengerti. Hayo jalan!”
Kedua orang itu saling membimbing mengambil jalan memutari balik hutan. Tiba-tiba,
dari lembah sebelah Timur, terdengar suara suitan yang panjang dan perlahan-lahan suara
itu semakin jelas seakan sedang menuju ke arah mereka.
Kedua orang itu saling lirik sekilas. Wajah mereka tampak sama-sama terkejut. Entah
tokoh kelas tinggi dari mana yang tiba-tiba berkunjung ke Pek Hun Ceng. Liang Fu Yong
menarik tangan Tan Ki. Dia bermaksud mengajaknya menyembunyikan diri di balik semaksemak
yang rimbun, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang dingin terpancar dari lebatnya
dedaunan yang ada di sebelah kiri.
“Berhenti!” suara bentakan pun menyusul tiba.
Suara bentakan yang tidak diduga-duga itu membuat orang tersebut menghentikan
langkah kakinya secara otomatis. Tan Ki segera mengedarkan pandangannya, tidak
terlihat bayangan seorangpun, yang ada hanya dedaunan yang melambai-lambai. Tetapi
dari nada suaranya, Tan Ki tahu bahwa orang itu bukan si iblis Oey Kang.
Dari dalam hutan berkumandang lagi suara orang itu yang datar dan dingin.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Sebelum masuk ke wilayah ini, apakah kalian tidak membaca papan peringatan yang
tertancap di dekat kaki kalian itu?”
Kedua orang itu langsung menolehkan kepalanya mencari-cari. Ternyata dalam jarak
kurang lebih sepuluh langkah dari kaki mereka, terdapat sebuah papan peringatan yang
bertuliskan:
- Sebelum masuk ke wilayah ini, urus dulu masalah penguburan -
Begitu mata Liang Fu Yong memandang jelas, dia merasa tulisan ini membawa
keangkeran yang menggidikkan hati. Tanpa terasa tubuhnya gemetar dan wajahnya
berubah hebat. Sedangkan Tan Ki hanya tertawa dingin, diam-diam dia berpikir dalam
hati: ‘Sungguh kata-kata yang congkak. Kalau keadaanku tidak sedang terluka parah, aku
justru ingin masuk dan melihat apa gerangan yang ada di dalamnya’.
Sementara itu, orang yang bersembunyi dalam kegelapan seakan mempunyai suatu
ganjalan dalam hatinya. Terdengar dia menarik nafas panjang.
“Di sini ada sebungkus obat bubuk, berikan pada sahabat itu. Walaupun tidak dapat
sembuh dalam sekejap mata, tetapi mempunyai khasiat membantu memulihkan tenaga
dalam. Apabila Kouwnio sudah membawanya keluar dari tempat ini, jangan sekali-kali
kembali lagi ke sini. Ingat baik-baik! Ingat baik-baik!’ katanya berulang kali.
Baru kata-katanya selesai, tiba-tiba terdengar suara desiran di tengah udara, seperti
suatu benda yang melayang ke arah mereka. Menggunakan cara menyambut senjata
rahasia, Liang Fu Yong mengangkat tangannya menangkap benda tersebut. Begitu sampai
di tangannya, dia segera melihat bahwa benda itu ternyata merupakan bungkusan obat.
Belum juga dibuka, baunya sudah menusuk hidung. Bau itu harum sekali. Orang yang
menghirupnya merasa nyaman seketika.
Tiba-tiba terdengar Tan Ki menarik nafas panjang sambil memuji.
“Ilmu ginkang orang ini hebat sekali. Tampaknya tidak berada di bawahku.”
“Apakah kau berhasil melihat orangnya?” tanya Liang Fu Yong.
“Lihat jelas sih tidak. Tetapi aku mendengar kibaran pakaiannya begitu lembut dan
seperti ada dan tiada. Dari gerakan ini saja, dapat dibayangkan bahwa ilmu silat orang ini
sama sekali tidak lemah.” dia berhenti sejenak, kemudian menarik nafas lagi. “Tetapi,
mengapa dia bermaksud menolong aku?” tanyanya tidak mengerti.
Liang Fu Yong tersenyum.
“Orang sengaja mengantarkan obat, bagaimanapun bermaksud baik. Kau tidak perlu
berpikir yang bukan-bukan, cepat minum obat ini.”
Tan Ki seperti masih ingin mengucapkan sesuatu. Tetapi Liang Fu Yong sudah
membuka bungkusan obat itu dan menjejalkannya ke dalam mulut anak muda tersebut.
Tiba-tiba sepasang alis Tan Ki mengerut ke atas.
“Obat ini pahit sekali. Ada air tidak, aku tidak bisa menelannya, obat ini masih tercekat
dalam tenggorokan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Liang Fu Yong menjadi muram.
“Tengah malam buta seperti ini, di mana aku harus mencari air.”
Tan Ki sengaja memperlihatkan tampangnya yang sedih.
“Kalaupun ada, Cici juga belum tentu bersedia memberikannya, buat apa banyak
bicara?” dia mengulurkan tangannya dan mengelus-elus tenggorokan, seakan hendak
mengurut obat itu agar tertelan ke dalam perut, tetapi tetap saja tidak ada hasilnya.
Liang Fu Yong menjadi panik.
“Kalau memang ada air, masa Cici tidak mau memberikan kepadamu. Masa Cici tega
melihat obat itu tercekat di tenggorokanmu dan tidak bisa tertelan? Cepat katakan, di
mana air itu?”
Tan Ki tersenyum simpul.
“Tempat di mana ada air, ya di mulutmu itu.”
Pertama-tama dia tertegun mendengar ucapan Tan Ki, kemudian dia seperti tersentak.
Wajahnya tertunduk tersipu-sipu. Kakinya goyah sehingga mundur dua langkah. Rasanya
ada segulungan perasaan yang aneh berkecamuk dalam hatinya. Tahu-tahu air mata
sudah membasahi kelopak matanya.
“Rupanya kata-katamu yang manis hanya karena masa laluku yang suram. Kau
menganggap aku perempuan rendah dan hanya ingin mempermainkan cinta kasihku.”
Selesai berkata, tubuhnya berkelebat, sekejap saja dia sudah mencapai jarak tujuh
delapan mistar.
Sekali lagi kakinya menutul, orangnya sudah mencapai dua belas depaan, sejenak
kemudian menghilang dalam kegelapan.
Tan Ki sama sekali tidak menduga akibatnya akan seperti ini. Hatinya terkejut sekaligus
panik. Dia tidak mengira ucapannya yang merupakan gurauan tadi membuat perasaan
perempuan itu tersinggung dan meninggalkannya. Hatinya menjadi sedih seketika. Dia
berteriak sekeras-kerasnya…
“Cici, jangan lari. Aku bukan…!”
Tiba-tiba dia merasakan serangkum hawa dingin menyerang dirinya. Bahkan sebentar
saja sudah menjalar sampai keempat anggota tubuhnya. Dia segera sadar bahwa reaksi
obatnya sudah bekerja. Cepat-cepat dia memutuskan ucapannya dan diam-diam duduk
bersila serta bersemedi. Dia menghimpun hawa murninya yang kemudian dialirkan ke
tujuh puluh dua urat darah dalam tubuhnya. Dia sudah hapal luar kepala isi kitab yang
tertuliskan ilmu pernafasan dan Lwe Kang, Lewat penjelasan Liang Fu Yong, meskipun
tidak bisa maju lebih jauh lagi, sehingga mencapai taraf kesempurnaan, namun terhadap
ilmu pernafasan yang biasa-biasa saja, dia sudah dapat memanfaatkannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Begitu menenangkan diri bersemedi, pikirannya langsung terasa kosong. Dipusatkannya
reaksi obat dengan bagian yang terluka agar kerjanya lebih cepat. Dia merasa di dalam
tubuhnya mengalir hawa murni yang lancar dan menimbulkan perasaan nyaman.
Dalam waktu yang singkat, kesehatannya sudah lebih pulih. Tampangnya tidak begitu
kusut seperti orang yang baru saja bekerja keras. Rasa sakitnya juga jauh berkurang.
Perlahan-lahan dia membuka matanya memandang, rembulan bersinar dengan indah.
Cahayanya berwarna keperakan. Sungguh suatu, alam yang romantis. Tiba-tiba
perasaannya jadi tersentuh. Tanpa sadar dia menarik nafas panjang.
‘Seandainya dapat duduk bersama kekasih hati di bawah pancaran rembulan, tentunya
segala keruwetan hidup ini dapat terlupakan sejenak. Bersama-sama menikmati indahnya
rembulan yang memancarkan cahaya berkilauan, meskipun waktu segera berlalu, dan
masa remaja sebentar sudah lenyap. Tapi rasanya sudah menikmati kehidupan seperti
para dewata.’ katanya kepada diri sendiri.
Setelah pikirannya melayang-layang sejenak, dia merasa hatinya seperti terlena. Tibatiba
dari kejauhan berkumandang suara beradunya senjata tajam. Di susul dengan suara
bentakan kemarahan. Dia menjadi tertegun untuk sesaat.
‘Tempat ini tidak jauh dari Pek Hun Ceng, siapa yang nyalinya begitu besar, beraniberanian
memasuki sarang harimau?’ tanyanya dalam hati.
Berpikir sampai di sini, hatinya semakin bingung. Tangannya mengetuk-ngetuk batok
kepalanya sendiri dan merenung beberapa saat. Kemudian seperti teringat akan suatu
urusan. Liang Fu Yong baru meninggalkan tempat ini, mungkinkah dia bertemu dengan
musuh dan terjadi pertarungan diantara mereka?
Untuk sesaat hatinya menjadi khawatir sekali. Semakin dibayangkan rasanya semakin
tepat. Perasaannya menjadi tercekat. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Dia menoleh ke
arah sumber suara dan menghentakkan kakinya untuk menghambur ke sana.
Kurang lebih sepenanakan nasi, secara berturut-turut dia sudah melalui dua celah
pegu-nungan dan sampai di sebuah lembah yang kosong. Di sana dia menghentikan
langkah kakinya.
Hatinya sedang khawatir, cara larinya tadi seperti orang kesetanan. Orang biasa pasti
tidak dapat melihat kalau dia sedang berlari. Kakinya seperti tidak menginjak tanah, seolah
terbang saja.
Begitu matanya memandang, tenyata dugaannya tidak salah. Tiga orang berdandanan
tosu, sedang menggerakkan pedang menyerang Liang Fu Yong. Tampak perempuan itu
tidak menggunakan senjata apapun. Dengan sepasang tangan kosong, dia menerobos ke
kanan dan melesat ke kiri. Dia baru saja menghindarkan diri dari tiga serangan pedang
yang gencar. Tampaknya perempuan itu sudah kewalahan. Dia tidak mempunyai
kesempatan untuk membalas menyerang setengah juruspun. Keadaannya sungguh
berbahaya.
Hawa amarah dalam dada Tan Ki jadi meluap seketika.
“Menghina seorang perempuan, kalian masih punya muka?” bentaknya keras.
Tubuhnya langsung melayang, jaraknya masih kurang lebih dua depaan, dia melesat ke
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tengah udara. Ketika sepasang kakinya mendarat di atas tanah, dirinya tepat berada di
bagian belakang punggung tosu sebelah kiri. Dengan membentak keras, dia langsung
menghantamkan dua buah pukulan.
Begitu kedua pukulannya dilancarkan, segera terasa ada serangkum tenaga yang mengandung
hawa panas menerpa datang. Tampaknya ketiga tosu tadi terkejut sekali
melihat gerakannya yang begitu cepat, serta tenaga dalamnya yang mengandung
kekuatan dahsyat. Serentak mereka terdesak ke samping seiring dengan suara deruan
angin pukulan Tan Ki.
Pertarungan yang menegangkan tiba-tiba ditambah oleh serangkum tenaga kuat yang
membawa hawa panas. Suasana semakin mencekam. Kejadian di luar dugaan ini
menyebabkan dada mereka terasa sesak.
Sinar mata Tan Ki perlahan-lahan menyapu wajah ketiga tosu tersebut. Terdengar
suara tawa dingin dari bibirnya. Kemudian dia menoleh ke arah Liang Fu Yong dengan
pandangan khawatir.
“Apakah kau terluka?” tanyanya penuh perhatian.
Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Tidak…”
Tan Ki melihat beberapa bagian bajunya telah terkoyak di sana-sini, tetapi tidak ada
bekas darah sedikitpun. Tampaknya perempuan itu memang belum mendapatkan luka
apa-apa. Hanya dari bagian bajunya yang koyak, tersembul kulitnya yang putih mulus.
Hatinya terasa pedih dan kasihan. Cepat-cepat dia melepaskan jubah panjangnya dan
disodorkan kepada perempuan itu.
“Cici, tadi aku hanya bergurau. Siapa sangka kalau kau malah jadi tersinggung. Cici,
maafkanlah aku kali ini. Lain kali aku pasti tidak akan mengulanginya kembali.” ucapannya
ini terdengar lucu sekali. Seperti anak usia tiga tahun yang memohon pengampunan dari
ibunya. Hati Liang Fu Yong menjadi pedih. Air matanya langsung mengalir turun.
“Aku tidak marah, hanya merasa agak sedih saja.”
Dengan hati-hati Tan Ki menghapus air matanya. Baru saja dia ingin mengucapkan
beberapa patah kata untuk menghibur hatinya, tiba-tiba dia melihat tosu yang ada di
sebelah kirinya menggenggam pedang dengan kedua tangannya, serta menegakkan
tubuhnya dan berjalan ke depan.
“Rupanya perempuan jalang ini sudah mempunyai kekasih hati. Maaf kalau Pinto belum
menyatakan selamat.” selesai berkata, dia benar-benar menjura dalam-dalam kepada Tan
Ki.
Mendengar ucapannya, pertama-tama Tan Ki tertegun. Sepasang alisnya bertaut erat.
Dia hampir mengira pendengarannya kurang beres. Oleh karena itu dia bertanya sekali
lagi.
“Apa yang kau katakan?”
Tosu tersebut mendonggakkan wajahnya dengan angkuh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siau Yau Sian-li jalangnya bukan main. Orang-orang dunia Kangouw, siapa yang tidak
tahu, siapa yang belum dengar. Eh… entah dari mana tahu-tahu bisa menggaet seorang
pemuda gigolo…”
Sepasang alis Tan Ki langsung mengerut mendengar sindirannya yang tajam ini. Dia
merasa ada serangkum hawa panas berkobar dalam tubuhnya. Untuk sesaat wajahnya
jadi berubah hebat. Dia tidak menunjukkan kemarahan, tetapi malah tertawa.
“Dia adalah perempuan jalang, aku adalah gigolo. Sungguh paduan kata-kata yang
tepat sekali, tepat sekali!” selesai berkata, dia mendongakkan wajahnya dan tertawa
terbahak-bahak tanpa henti-hentinya.
Suara tawanya yang panjang dan mengandung kemarahan besar ini, tinggi dan nyaring
sekali. Di dalamnya terkandung kepedihan yang tidak terkira, namun kegagahannya tetap
terlihat jelas. Getarannya sampai membuat dedaunan di dalam hutan jatuh berguguran.
Seluruh lembah kosong itupun bergema dengan suara tawanya.
Mendengar suara tawanya yang hebat itu, ketiga orang tosu jadi terkesiap dan berubah
hebat wajahnya. Mereka segera mempersiapkan diri, berjaga-jaga apabila diserang oleh
lawannya secara mendadak. Tapi hati mereka mempunyai pikiran yang sama: ‘Tidak
disangka usianya masih begitu muda, ternyata mempunyai
tenaga dalam yang demikian hebat. Apabila kita tiga bersaudara tidak memiliki
ilmu yang lumayan, mungkin suara tawanya saja dapat menggetarkan isi perut kami
sehingga terluka parah.’
Baru saja pikiran mereka terhenti, suara tawa Tan Ki yang panjang pun sirap pada saat
yang hampir bersamaan. Wajah anak muda itu berubah kelam sekali.
“Biar kalian rasakan dulu sampai di mana tingginya ilmu silat gigolo ini!” katanya
dengan nada ketus.
Kakinya langsung maju, tubuhnya melesat, tepat pada saat kata-katanya yang terakhir
terucap, terdengar suara deruan angin, sebuah pukulanpun dilancarkan ke depan.
Serangan ini dilancarkan dalam kegusaran, hampir seluruh tenaga dalamnya
dikerahkan. Sungguh pukulan yang keji dan datangnya bagai badai topan yang melanda.
Tosu itu sudah tahu kalau Tan Ki bukan tokoh sembarangan. Tentu saja dia tidak
berani memandang ringan. Pedang panjang dikibaskan. Timbul rangkaian cahaya yang
memenuhi angkasa. Kemudian berubah menjadi serangan yang gencar.
Tan Ki tertawa dingin.
“Anak murid Go Bi Pai memang lain dari yang lain. Sambutlah seranganku sekali lagi!”
pergelangan tangannya memutar perlahan-lahan. Lima jarinya membentuk cakar, secepat
kilat dia mencengkeram ke arah lawannya.
Perubahan jurus ini sedemikian cepat. Belum lagi jurusnya dilancarkan dengan
sempurna, gulungan anginnya sudah menerpa badan. Tentu saja tosu itu terkejut sekali.
Pedang panjangnya segera digerakkan untuk menyambut datangnya cengkeraman lawan.
Terdengar suara bentakan dari mulut Tan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ki.
“Enyah!”
Diiringi suara bentakan, pedang panjang tosu itupun sudah tiba di hadapannya untuk
menyambut serangan Tan Ki. Tiba-tiba tubuh anak muda itu melesat ke depan.
Kecepatannya bagai pancuran air terjun. Tahu-tahu dia sudah sampai di hadapan tosu
tersebut, tangannya yang terulur, dengan perlahan-lahan menepuk di dada lawan.
Tampaknya seperti tidak mengandung tenaga sama sekali. Namun kecepatannya bukan
alang kepalang, tahu-tahu dada tosu itu telah terhantam telak.
Terdengar suara jeritan ngeri dari mulut tosu tersebut. Pedangnya merenggang dan
terjatuh di atas tanah. Tubuhnya yang tinggi besar pun segera melejit di udara. Tosu
muda yang berdiri di sebelah kanan, melihat suheng-nya terjungkal di tangan lawan tidak
sampai tiga jurus, dia merasa terkejut sekali karena kejadian itu benar-benar di luar
dugaannya. Tanpa dapat ditahan lagi mulutnya mengeluarkan seruan terkejut.
Aduh!”
Begitu matanya memandang, Ji Suhengnya sudah mengulurkan lengan dan tubuhnya
pun melesat ke tengah udara. Dia menyambut tubuh Toa Suhengnya yang sedang
melayang turun. Tubuh tosu itu tidak goyah dan turun dengan mulus meskipun tangannya
membopong seseorang. Gerakannya sungguh indah. Tanpa memperdulikan hal yang
lainnya lagi, dia segera menundukkan kepalanya melihat keadaan Toa Suheng tersebut.
Tampak darah mengalir dari ke tujuh lubang panca indera Toa Suhengnya itu. Ternyata
Toa Suhengnya sudah melayang jiwanya.
Melihat perkembangan yang terjadi, tosu muda itu merasa hatinya pedih sekali. Air
matanya mengalir dengan deras. Mulutnya mengeluarkan suara raungan yang histeris dan
dengan kalap dia menerjang ke arah Tan Ki.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari tosu yang satunya. “Berhenti!”
Mendengar suara bentakan tersebut, tosu muda itupun menghentikan langkah kakinya.
Wajahnya basah oleh air mata, cepat-cepat dia menoleh kepada Suhengnya yang satu.
“Apakah Suheng memanggil aku?”
Dengan menahan rasa pilu di hatinya tosu
tersebut berkata, “Kalau kau menerjangnya, sama saja mengorbankan nyawa dengan
sia- sia.” matanya segera beralih kepada Tan Ki. Dia memperhatikan anak muda itu dari
atas kepala sampai ke bawah kaki. “Ilmu silat Sicu ternyata tinggi sekali.”
Tan Ki tertawa dingin.
“Totiang hanya memuji.” sahutnya datar
Sepasang mata tosu itu mendelik lebar-lebar. Dari dalamnya terpancar sinar kepedihan
dan kebencian yang tidak terkirakan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mohon tanya siapa julukan Sicu yang mulia. Apabila Pinto bertemu lagi denganmu
kelak, tentu lebih mudah meminta pelajaran.”
“Kau ingin membalas dendam? Ini, akulah yang disebut Cian bin mo-ong!”
Mendengar keterangannya, kedua tosu langsung terkesiap. Karena tiba-tiba mendengar
empat kata Cian bin mo-ong mereka terkejut setengah mati. Tanpa dapat ditahan lagi,
keduanya memperhatikan Tan Ki sekali lagi.
Liang Fu Yong yang sejak tadi berdiri di samping juga tidak kurang terkejutnya. Benarbenar
keterangan yang di luar dugaannya dan rasa pedih diantara kegembiraan. Hal ini
malah membuat perempuan itu jadi termangu-mangu dan menatap Tan Ki dengan
terpesona.
Untuk sesaat, suasana di tempat itu jadi hening. Setiap orang mempunyai renungan
masing-masing. Kurang lebih sepeminum teh kemudian, tosu yang tua itu baru membuka
suara dengan perlahan-lahan…
“Gunung tetap menghijau, lain kali kita akan berjumpa lagi!” tanpa menunggu sahutan
dari Tan Ki, dia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Tampaknya si tosu
muda merasa, kurang senang. “Masa kita lepaskan orang ini begitu saja?” katanya.
Dengan menahan kepedihan hatinya, tosu yang lebih tua membentak, “Jangan banyak
bicara! Suheng sudah mempunyai rencana tersendiri!” tiba-tiba dia mempercepat
langkahnya dan dia melesat ke arah sebuah jalan tapak di samping sungai.
Tosu muda itu tampaknya masih tidak sanggup menenangkan hawa amarah dalam
dadanya. Dia membalikkan tubuhnya dan menuding hidungnya sendiri.
“Ingat baik-baik, aku bergelar Ceng Hong Tojin, murid Bu Tong Pai. Malam ini kami.
melepaskan dirimu. Pada suatu hari, kalau sampai bertemu lagi, meskipun aku tidak dapat
menandingimu, aku juga akan berusaha membokongmu dari belakang!”
Selesai berkata, tubuhnya langsung menjungkir balik di udara dan melesat sejauh tujuh
langkah. Kemudian dia menghimpun tenaga dalamnya dan melesat ke depan mengejar Ji
Suhengnya. Dalam waktu yang singkat dia sudah menghilang dari pandangan.
Liang Fu Yong memperhatikan sampai keduanya tidak terlihat lagi. Barulah dia
menghela nafas lega. Tampaknya pikirannya yang tegang ikut terhembus keluar. Matanya
segera dialihkan, dia melihat Tan Ki sedang mendongakkan kepalanya menatap langit
dengan termangu-mangu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Tiba-tiba sepasang matanya dipejamkan. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk
batok kepalanya perlahan-lahan. Dia termenung beberapa saat. Tiba-tiba dia mengulurkan
kepalan tangannya dan meninju beberapa kali. Kemudian kakinya menendang. Setelah itu
tampak dia menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menarik nafas panjang berulang
kali.
Gerak-gerik yang aneh, membuat Liang Fu Yong yang melihatnya jadi tertegun. Tetapi
pikiran perempuan ini memang amat peka. Melihat sebentar saja, dia sudah dapat
menduga bahwa saat ini Tan Ki sedang merenungkan semacam ilmu silat tingkat tinggi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk sesaat dia tidak berani menegurnya dan terpaksa berdiam diri serta berdiri tegak di
samping.
Kembali Tan Ki merenung dengan pikiran terpusat. Tiba-tiba telapak tangannya
diangkat ke atas dan menepuk kepalanya satu kali. Tahu-tahu air matanya telah mengalir
dengan deras.
“Rupanya aku orang yang begini bodoh, masih memikirkan soal balas dendam segala!”
keluhnya kesal.
“Kau sama sekali tidak bodoh.” sahut Liang Fu Yong.
“Masih bilang tidak bodoh. Kalau saja aku bisa menggabungkan Tian Si Sam Sut dan Te
Sa Jit Sut, sekarang juga aku bisa mencari Oey Kang untuk membalaskan sakit hatimu.
Sayangnya aku terlalu bodoh, malah melupakan kesempatan yang langka ini.”
Liang Fu Yong tertawa lebar.
“Renungkan saja perlahan-lahan, toh sama saja. Saat ini kau dilanda keputusasaan dan
sakit hati, mana bisa mengingatnya. Lebih baik cari suatu tempat yang tenang dan
renungkan kembali. Siapa tahu, kalau perasaan tenang, otakmu pasti akan lebih
cemerlang.” dia mengulurkan tangannya dan menarik tangan Tan Ki serta mengajaknya ke
padang rumput di tengah pegunungan.
Untuk sesaat Tan Ki juga tidak mempunyai pertimbangan apa-apa. Begitu ditarik oleh
Liang Fu Yong, otomatis langkah kakinya pun mengikuti. Liang Fu Yong mengajaknya
berjalan beberapa langkah. Mereka sudah sampai di padang rumput yang ditumbuhi
ilalang tinggi-tinggi. Dia mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan. Tampaknya
tempat ini cukup aman dan tersembunyi. Dia mengajak Tan Ki rebah di sana.
Padang rumput ini ditumbuhi ilalang yang tinggi serta lebat. Luasnya kurang lebih
sepuluh depaan. Apabila bersembunyi di dalamnya, orang yang ada di luar tentu tidak
mudah menemukannya. Hanya saja malam agak dingin dan kabut tebal. Sehingga tanah
di atasnya agak basah karena endapan embun.
Baru saja Liang Fu Yong merebahkan tubuhnya, dia merasa air embun membasahi
punggungnya. Rasanya dingin sekali, tanpa dapat ditahan lagi, tubuhnya agak gemetar.
“Dingin betul!” katanya.
Tubuhnya perlahan-lahan meringkuk, hatinya ingin sekali merapat pada tubuh Tan Ki
agar terasa hangat. Tan Ki tersenyum lembut. Dia juga tidak mengatakan apa-apa.
Tubuhnya bergeser sedikit, lalu ditariknya Liang Fu Yong. Sepasang lengannya bagai
ranting pohon yang kokoh dan memeluknya erat-erat. Perlahan-lahan dia memejamkan
sepasang matanya kemudian menghimpun hawa murni sambil mengatur pernafasan.
Cahaya rembulan terasa sejuk. Malam dingin belum berlalu. Di dalam rumpun ilalang
yang lebat ini, terbaring sepasang pemuda-pemudi. Kepala mereka saling bersandar
dengan mata terpejam. Pada zaman yang kolot dan peradaban manusia belum seterbuka
sekarang, apa yang mereka lakukan merupakan hal yang jarang terlihat dan dapat
menimbulkan kesan yang bukan-bukan dalam tafsiran orang lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cukup lama telah berlalu, Tan Ki membuka matanya menatap cahaya rembulan dan
berkata dengan nada terharu:
“Dalam sepuluh tahun ini, dari seorang bocah cilik aku tumbuh menjadi pemuda
dewasa. Sejak pertama berlatih ilmu silat sampai berkecimpung di dunia Kangouw, dari
awal sampai akhir, rasanya aku belum pernah merasakan apa yang disebut santai. Kau
lihat, walau bagaimana redupnya sinar rembulan, cahayanya masih dapat menerangi
tempat sekitar sepuluh depaan. Walaupun tempat ini sunyi senyap, tetapi masih ada
engkau dan aku yang terbaring di sini. Bukankah hal ini merupakan hal yang
membangkitkan semangat? Selama sepuluh tahun ini, untuk pertama kalinya aku
merasakan malam yang tenang dan syahdu…”
Setelah berkata panjang lebar, dia tetap tidak mendengar sahutan dari Liang Fu Yong.
Dia merasa heran, wajahnya segera dipalingkan. Begitu memandang, hatinya jadi
terperanjat. Entah sejak kapan, tahu-tahu ujung mata Liang Fu Yong telah mengalir dua
bulir air mata yang cahayanya berkilauan.
“Tidak hujan tidak angin, kok tiba-tiba menangis lagi?”
Liang Fu Yong tertawa sumbang. “Cepat-cepat dia mengangkat tangannya dan
menghapus air mata yang masih mengalir.
“Siapa yang menangis, justru karena terlalu bahagia…”
Tan Ki tak membiarkan dia meneruskan kata-katanya.
“Aku tahu kau mengingat terus ocehan Tojin tadi, jadi merasa sedih.”
Mendengar Tan Ki langsung bisa menebak isi hatinya, wajah Liang Fu Yong jadi merah
padam. Air mata yang mulai mengering kembali mengalir lagi. Setelah beberapa saat dia
baru menyahut:
“Aku yang dulu hanya tahu mengejar kesenangan. Ke mana-mana mencari laki-laki
untuk dipermainkan. Aku tidak pernah tahu hal yang lainnya kecuali melampiaskan hasrat.
Oleh karena itu, para sahabat di dunia Kangouw menjuluki aku Siau Yau Sian-li. Mereka
bahkan memaki aku sebagai perempuan jalang. Sejak mengenal dirimu, baru aku
menyesal atas kelakuanku di masa lalu. Aku berniat merubah kebiasaanku yang buruk dan
menjadi orang baik-baik. Tidak terduga muncul ketiga murid Bu Tong Pai tadi yang
langsung membuka mulut mencaci maki diriku. Mereka mengatakan bahwa di dunia ini
tidak ada lagi perempuan yang lebih rendah daripada diriku. Dengan menggabungkan diri,
mereka ingin menghukum mati diriku. Untung saja kau datang tepat pada waktunya
sehingga aku belum sempat terluka sedikit-pun. Akupun terhindar dari kematian.”
“Kalau Cici masih merasa benci terhadap mereka. Lain kali aku akan naik ke gunung Bu
Tong untuk mengobrak-abrik perguruan mereka. Biar rasa sakit hatimu terlampiaskan,
bagaimana?” tanya Tan Ki.
Liang Fu Yong tertawa sumbang.
“Tidak perlu melakukan hal itu. Perguruan Bu Tong Pai terkenal sebagai golongan putih
yang paling membenci segala macam kejahatan. Bertemu dengan manusia busuk seperti
aku ini, tentu saja mereka tidak sudi melepaskan. Kalaupun tadi aku sempat terbunuh,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mereka juga tidak dapat disalahkan. Tetapi karena masalah ini, aku teringat sebuah
pepatah yang mengatakan, “Sekali maling, selamanya tetap maling! Meskipun aku sudah
berniat menjadi orang baik-baik, tetapi pandangan orang lain terhadapku tetap sebagai
Siau Yau Sian-li, si perempuan jalang. Siapa yang mau tahu kesusahan dalam hatiku
bahwa aku telah berubah?” kata-katanya diucapkan dengan ke-pedihan yang tidak terkira.
Dua butir air mata diiringi suara yang gemetar terus mengalir turun.
Seumur hidupnya, baru kali ini Tan Ki melanggar tata susila dengan rebah bersama
seorang perempuan di atas rerumputan. Bersama-sama menikmati cahaya rembulan. Dia
juga baru kali ini menghadapi perempuan yang menangis dengan tersedu-sedu. Akibatnya
dia jadi kelabakan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.
Setelah termangu-mangu beberapa saat, cepat-cepat dia mengulurkan tangannya
menghapus air mata Liang Fu Yong. Bibirnya tersenyum lembut.
“Untuk apa kau berpikir banyak-banyak? Sama saja mencari kesulitan sendiri. Urusan
orang lain kita tidak perlu turut campur, demikian pula urusan kita sendiri. Biar mereka
mencerca dirimu, asal kau tetap berada di jalan yang lurus, suatu hari nanti, mereka pasti
akan mengerti sendiri.”
“Bicara memang mudah. Tetapi biar bagaimana sulit rasanya mencuci bersih dosaku di
masa lampau.” Liang Fu Yong menarik nafas dalam -dalam. Di wajahnya tersirat
penderitaan yang tidak terperikan.
Mendengar nada suaranya, Tan Ki menyadari bahwa Liang Fu Yong hampir merasa
putus asa menyongsong masa depannya yang tidak menentu. Lambat laun dia semakin
tertegun. Tiba-tiba teringat olehnya bahwa kaum wanita maupun anak gadis, apabila
mengalami suatu hal yang merupakan pukulan bathin, sering mengambil jalan pendek,
umpamanya masuk biara untuk menjadi biarawati atau bunuh diri agar terlepas dari
segala kesulitan. Hatinya menjadi terkesiap. Tangannya memeluk tubuh Liang Fu Yong
erat-erat. Seakan merasa takut kalau perempuan itu akan melarikan diri dari sampingnya.
Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum.
“Tunggu sampai kita sudah menikah, aku ingin lihat siapa yang berani mencaci dirimu.
Hm, hm… kalau sampai terdengar oleh telingaku, jangan salahkan apabila aku merobek
mulutnya!”
Mendengar kata-kata Tan Ki, hati Liang Fu Yong diliputi perasaan bahagia yang tidak
ter-kirakan. Wajahnya yang muram jadi berseri-seri. Bibirnya pun tersenyum.
“Pernikahan adalah masalah seumur hidup. Bukan semacam permainan. Perkataanmu
seperti yakin sekali bahwa bagaimanapun kau harus menikah dengan Cici. Apakah kau
memang sudah mempertimbangkannya matang-matang atau karena perasaan iba yang
timbul sesaat?”
Mendapat pertanyaan yang mendadak itu, Tan Ki jadi terpana.
‘Betul, mengapa aku tidak pernah memikirkan masalah ini. Apakah aku memang
mencin-tainya atau hanya kasihan kepadanya?’ tanyanya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Hatinya berpikir, otaknya bagai tersengat aliran listrik. Dia merasa kedua macam
pemikiran itu sama-sama memungkinkan. Tapi kalau dipertimbangkan kembali, keduaduanya
juga seperti benar namun juga salah. Untuk sesaat dia tidak tahu bagaimana
harus menjawab pertanyaan itu.
Liang Fu Yong dapat melihat tampangnya yang serba salah. Tiba-tiba hatinya seperti
ter-tusuk puluhan jarum. Semacam kesedihan yang aneh menyelinap dalam hatinya.
Perasaannya seperti hancur lebur. Tetapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan
perasaan tersebut pada mimik wajahnya. Bibirnya malah tersenyum lembut.
“Urusan sepenting ini saja tidak kau pikirkan baik-baik. Jangan ceroboh asal comot
sehingga merusakkan kebahagiaanmu seumur hidup.”
Setelah mempertimbangkan sesaat, tiba-tiba dia seperti telah mengambil keputusan
yang tepat.
“Apapun yang kau katakan, aku tetap ingin hidup bersamamu sampai hari tua!” katanya
tegas.
Mata Liang Fu Yong mengerling ke kiri dan kanan. Kemudian tampak dia tersenyum
lem-but.
“Apabila kau ingin aku menerimanya, boleh saja. Tapi ada syaratnya.” sahutnya
kemudian. “Apa syaratnya? Coba kau katakan, biar
aku pertimbangkan baik-baik.”
“Syaratku ini aneh sekali. Belum tentu kau dapat mengabulkannya.” dia berhenti
sejenak. Tiba-tiba sepasang matanya terpejam. Dengan penuh rasa haru dia berkata.
“Ciumlah aku…”
Mendengar ucapannya, mula-mula Tan Ki agak tertegun. Kemudian dia malah tertawa
lebar.
“Aku kira urusan sebesar apa, rupanya begitu. Cici sengaja memutar arah pembicaraan
sehingga aku jadi bingung. Kalau itu keinginanmu, Siaute terpaksa menurut.”
Tangan kirinya segera mengangkat dagu Liang Fu Yong sedikit. Agak lama juga dia
memandangnya. Dia melihat bibir itu begitu indah, menantang bahkan kemerahan
walaupun tidak diolesi gincu. Nafas yang keluar dari hidungnya sebentar lambat sebentar
cepat. Malah terendus keharuman yang khas.
Hatinya jadi tergerak, perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dan menekankan
bibirnya di atas bibir tersebut. Begitu sepasang bibir bertemu, Tan Ki segera merasa
seluruh tubuhnya bagai disengat aliran listrik. Dia agak gemetar. Maklumlah, baru pertama
kali ini dia mencium seorang perempuan. Keempat anggota tubuhnya seperti kehilangan
tenaga.
Ada semacam perasaan yang melenakan serta membuat dirinya merasa nyaman.
Tetapi dia tidak dapat menjelaskan bagaimana perasaan itu sesungguhnya. Tanpa dapat
dipertahankan lagi, sepasang lengannya memeluk Liang Fu Yong semakin erat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pada saat itu juga, dia telah memejamkan matanya seakan sedang menikmati apa yang
sedang berlangsung. Entah sejak kapan, sepasang mata Liang Fu Yong yang juga
terpejam mengalirkan dua bulir air mata. Kalau saja Tan Ki tahu apa yang sedang tersirat
dalam hatinya saat itu, maka ciuman itu menjadi ciuman yang paling mengenaskan.
Tampak sepasang lengannya yang indah memeluk leher Tan Ki erat-erat. Ciumannya
semakin mesra. Rembulan masih bersinar. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi. Kurang lebih
sepeminuman teh, Tan Ki mendorong tubuh Liang Fu Yong perlahan-lahan. Dua pasang
matapun bertemu. Tanpa terasa wajah keduanya jadi merah padam.
Dengan gerakan yang lemah gemulai, Liang Fu Yong mengulurkan tangannya untuk
memeluk sekali lagi.
“Sekali lagi…” katanya lirih.
Tan Ki tersenyum lembut. Dia menurut apa yang diminta oleh Liang Fu Yong dengan
men-ciumnya sekali lagi. “Sekali lagi…”
Hal ini berlangsung terus. Entah berapa kali sudah bibir mereka saling bertautan. Tan Ki
seperti terlena. Bahagianya bukan main. Akhirnya mereka saling melepaskan diri juga.
“Cici, sisakan untuk malam pernikahan kita. Hari sudah hampir terang, kita boleh melanjutkan
perjalanan sekarang.”
Liang Fu Yong menggelengkan kepalanya beberapa kali. Rasanya seperti ingin
memandang Tan Ki terus menerus. Tapi dia tetap membungkam seribu bahasa. Pada
dasarnya, Tan Ki memang seorang pemuda yang berotak cerdas. Pikirannya cepat
tanggap terhadap suasana sekitar. Tiba-tiba dia merasa ada yang tidak beres. Dia
merenungkan kembali gerak-geriknya sejak awal hingga akhir. Semakin dipikirkan,
hatinyapun semakin yakin akan dugaannya sendiri. Perempuan itu pasti sudah
merencanakan sesuatu.
Pandangan mata Liang Fu Yong tajam sekali. Melihat sepasang bola mata Tan Ki terus
bergerak memperhatikan dirinya lekat-lekat. Hatinya menjadi panik. Terdengar tarikan
nafas perempuan itu. Tarikan nafasnya seperti menyiratkan perasaan hatinya yang pedih.
Pada malam yang sesunyi ini, kedengarannya malah tambah menyayatkan hati.
Tepat pada saat perempuan itu selesai menarik nafas panjang, tiba-tiba tangannya
terulur dengan cepat dan tahu-tahu dia menotok salah satu urat darah di tubuh anak
muda tersebut.
Perubahan yang mendadak ini benar-benar di luar dugaan Tan Ki. Hatinya menjadi
tercekat. Tiba-tiba urat nadinya terasa kesemutan dan seluruh tubuhnya jadi lemas tidak
bertenaga. Dia langsung membentak dengan suara keras.
“Apa yang kau lakukan?”
Meskipun dirinya sudah tertotok, tetapi cara turun tangan Liang Fu Yong memang
sudah dipertimbangkan matang-matang. Jadi dia tetap dapat berbicara. Tampak Liang Fu
Yong melonjak bangun. Bibirnya tersenyum.
“Dengan demikian kau tidak bisa mengejar aku lagi.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia membalikkan tubuhnya dan menghambur ke depan secepat kilat. Tetapi di kala
tubuhnya baru bergerak, sudah terlihat air matanya mengalir dengan deras. Wajahnya
tampak muram sekali.
BAGIAN XV
“Cici, kau hendak ke mana?” teriak Tan Ki panik.
“Dunia ini luas sekali, ke manapun aku bisa pergi…”
Entah karena hati Tan Ki terlalu panik sehingga tidak dapat mendengar jelas ucapannya
atau perasaan Liang Fu Yong yang terlalu pedih sehingga suaranya seperti tercekat di
tenggorokan. Pokoknya setelah mengucapkan beberapa patah kata itu, orangnya sudah
jauh sekali dan sekejap mata kemudian menghilang dari pandangan.
Yang tersisa hanya gema suaranya yang terdengar begitu menyayat dan mengandung
penderitaan yang hebat. Sampai saat ini Tan Ki baru tersadar. Liang Fu Yong mendapat
caci maki dari para murid Bu Tong Pai, hal ini membangkitkan kenangan masa lalunya
yang gelap. Dalam keadaan tertekan, juga pukulan bathin yang hebat. Meskipun dirinya
sendiri sudah berniat bertobat, tetapi dia seperti kehilangan rasa percaya diri. Dengan
terang-terangan dia minta dicium oleh Tan Ki, pada dasarnya hanya sebagai kenangan
menjelang perpisahan.
Berpikir sampai di sini, tanpa dapat dipertahankan lagi, dia memaki-maki dirinya sendiri.
Mengapa sampai hal sekecil ini dia juga tidak menyadarinya sejak semula?
Sembari menyalahkan dirinya sendiri, matanya terus memandang arah di mana Liang
Fu Yong pergi. Untuk sesaat dia menjadi termangu-mangu. Tiba-tiba wajahnya terasa
sejuk. Setetes embun menyadarkannya dari rasa sedih.
Dia mendongakkan kepalanya. Di ujung langit telah terbit seberkas sinar. Fajar
sebentar lagi akan menyingsing, angin masih terasa sejuk. Hal itu membuat perasaan anak
muda itu semakin pilu.
Setelah berbaring sejenak, hatinya berpikir untuk membalikkan tubuhnya, tetapi
tenaganya tidak ada sama sekali. Keinginannya pun tidak dapat terkabul. Tanpa sadar dia
menarik nafas panjang.
‘Seandainya aku pernah mempelajari Lwe Kang, tentu aku dapat melancarkan hawa
murni untuk menerobos urat yang tertotok. Sayangnya Cici hanya menjelaskan sedikit
pelajaran tersebut. Sehingga totokan yang tidak seberapa berat ini pun membuat aku
tidak berdaya!’ pikirnya dalam hati.
Tepat pada saat itu juga, telinganya menangkap kibaran pakaian yang sedang menuju
ke tempatnya. Cepat-cepat dia mengerlingkan matanya memandang. Hatinya menjadi
gembira bukan kepalang.
“Aku tahu kau pasti akan kembali.” katanya sambil tersenyum.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liang Fu Yong hanya tertawa datar. Tampaknya dia tidak merasa heran. Wajahnya juga
tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Tan Ki tersenyum.
“Kau meninggalkan aku terbaring seorang diri di tempat ini, apalagi aku tidak dapat
bergerak sama sekali. Kalau aku sampai tergigit ular berbisa atau disantap binatang buas,
tamatlah riwayatku. Aku rasa setelah kau pergi, tentu kau baru teringat akan hal ini. Itulah
sebabnya kau kembali lagi.”
Liang Fu Yong tertawa getir.
“Tekadku untuk pergi sejak semula sudah kupertimbangkan matang-matang. Meskipun
gunung Thai San menjulang di hadapanku, niatku juga tidak akan berubah. Kali ini aku
kembali, hanya untuk menyampaikan beberapa patah kata. Pertemuan kita terlalu lambat,
dalam hal ini entah siapa yang harus disalahkan. Dunia memang penuh dengan tragedi.
Mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir kalinya…”
Berkata sampai di sini, dia merandek sejenak. Dia membuka jubah panjang yang
diberikan oleh Tan Ki. Dia menyelimuti anak muda tersebut dengan jubahnya sendiri.
Kemudian dia mengeluarkan bendera merah yang terselip di pinggangnya. “Bendera ini
dinamakan Tiat Hiat (Darah Besi). Di lihat dari luar memang biasa-biasa saja. Tidak ada
keistimewaannya sama sekali. Tetapi benda ini merupakan lambang perintah dari Barisan
Jendral Langit. Keampuhannya sampai di mana, kau sudah pernah menyaksikan sendiri.
Tetapi harap kau ingat baik-baik, si tua bangka Oey Kang merupakan manusia yang
sangat licik. Ilmu senjata rahasianya tinggi sekali. Barisan Jendral Langit merupakan hasil
didikannya langsung. Setiap orangnya dapat menimpukkan tiga macam senjata rahasia
sekaligus. Apabila kelak kau kebetulan datang lagi ke Pek Hun Ceng, maka kau harus
berhati-hati terhadap bokongan senjata rahasia mereka. Aku sudah berkhianat terhadap
Pek Hun Ceng, bahkan mencuri Tiat Hiat Ki ini. Oey Kang pasti membenci aku sampai ke
tulang sumsum. Kelak apabila aku sampai terjatuh ke tangannya. Hidup atau mati sulit
ditentukan.”
Otaknya segera membayangkan bagaimana Oey Kang membereskan seorang murid
yang mengkhianatinya. Cara turun tangannya yang demikian keji, rasanya tiada duanya
lagi di dunia ini. Tanpa terasa tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi
keningnya.
Sejenak kemudian dia meletakkan bendera tersebut di atas kepala Tan Ki.
“Baik-baiklah menjaga diri, aku pergi…” kata-katanya pendek, tetapi mengandung
makna yang dalam. Tan Ki yang mendengarnya sampai tertegun. Dia melihat kaki Liang
Fu Yong melangkah mundur setindak demi setindak. Tampaknya sebentar lagi dia akan
meninggalkan Tan Ki. Hati anak muda itu menjadi panik. Rasanya dia ingin berteriak
sekeras-kerasnya agar Liang Fu Yong membatalkan maksudnya. Tetapi dia tidak tahu
kata-kata apa yang harus diucapkannya. Dia hanya merasa ada segulung kepedihan yang
memenuhi hatinya. Perasaannya bagai hancur lebur. Ingin rasanya dia mengorek hatinya
sendiri agar Liang Fu Yong dapat melihat bagaimana khawatirnya dia saat itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Akhirnya, dia hanya melihat saja Liang Fu Yong meninggalkan dirinya setindak demi setindak.
Ketika akan melangkah pergi, Liang Fu Yong seperti merasa berat berpisah dengan Tan
Ki. Meskipun kakinya terus maju, namun setiap tiga langkah, dia pasti menoleh kembali.
Dari sinar matanya terpancar kerinduan dan kepedihan yang tidak terkirakan.
Sebagian sukma Tan Ki seakan dibawa pergi juga oleh perempuan itu. Meskipun Liang
Fu Yong sudah meninggalkannya cukup lama, namun dia masih memandangi arah
kepergiannya dengan termangu-mangu. Tampak air matanya mengalir dengan deras
membasahi kedua pipinya.
Yang Kuasa seperti mempermainkan nasib anak manusia. Takdir memang tidak dapat
ditolak. Dia ingat ketika pertama kali bertemu dengan Mei Ling serta pelayannya Kiau Hun.
Meskipun, gadis itu hanya seorang budak, tetapi api asmara di dalam kalbunya juga
berkobar-kobar. Namun, gadis itu juga meninggalkan dirinya dengan membawa hati yang
terluka…
Kalau dibandingkan, tampaknya penderitaan Liang Fu Yong lebih hebat, belum lagi
pukulan bathin yang diterimanya, juga berlipat ganda!
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa dia menarik nafas panjang. Air matanya mengalir
semakin deras. Tiba-tiba telinganya menangkap suara tawa yang dingin yang datang dari
samping tubuhnya.
“Seorang laki-laki sejati lebih memilih terjun ke jurang yang dalam daripada cengeng
seperti perempuan. Coba lihat dirimu, menangis tersedu-sedu, menarik nafas panjang
pendek, masa pantas disebut seorang pendekar yang gagah?” sindir orang itu.
Mendengar ucapan orang itu, Tan Ki terkejut setengah mati. Dirinya tenggelam dalam
kesedihan sampai sedemikian rupa, sampai ada orang yang berdiri di sampingnya, dia
tidak menyadarinya sama sekali. Begitu terperanjatnya Tan Ki, sampai seluruh tubuhnya
basah oleh keringat. Dia segera memalingkan wajahnya. Si pengemis sakti Cian Cong
dengan tubuhnya yang tinggi besar sudah berdiri dalam jarak kurang lebih lima langkah di
sebelah kirinya. Cepat-cepat dia mengembangkan seulas senyuman.
“Locianpwe…” sapanya.
Belum lagi kumandang suaranya sirap, Cian Cong sudah mendengus dingin. Mulutnya
langsung mengomel.
“Pagi-pagi buta ada tempat tidur tidak ditiduri, malah datang ke tempat ini dan purapura
gila. Kau kira si pengemis tua tidak menjadi marah?” tiba-tiba sebelah kakinya
terjulur dan ditendangnya Tan Ki keras-keras.
Orang ini memang tidak malu disebut sebagai salah satu dari dua tokoh sakti di dunia
ini. Pengetahuannya sangat luas. Sekali pandang saja dia sudah tahu kalau Tan Ki dalam
keadaan tertotok. Tendangannya tadi begitu cepat, namun begitu sampai di tubuh Tan Ki,
tidak terasa sakit sama sekali. Malah jalan darahnya yang tertotok jadi terbuka.
Dengan pandangan kagum, Tan Ki langsung meloncat bangun. Dia menggerakkan
anggota tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian dia mengambil bendera merah yang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ditinggalkan Liang Fu Yong dan menyelipkannya di pinggang. Setelah itu dia menjura
dalam-dalam kepada Cian Cong.
“Terima kasih atas pertolongan Locianpwe. Kalau tadi Locianpwe tidak menghadiahkan
sebuah tendangan, entah sampai kapan Boanpwe harus terbaring di tempat ini.” hatinya
teringat kesedihan Liang Fu Yong ketika akan meninggalkannya. Hatinya masih terasa pilu.
Tetapi di hadapan seorang tokoh sakti, dia tidak berani berlaku kurang ajar. Selesai
berkata, sekali lagi dia membungkukkan tubuhnya rendah-rendah.
“Menurut Ciong San Suang-siu, kau mengejar Oey Kang. Sampai sekarang dua hari
sudah berlalu, mengapa kau malah terbaring di tempat ini dan bermimpi yang bukanbukan?”
Tan Ki tertawa getir. Dia menceritakan bagaimana dirinya ditolong oleh Mei Ling,
sampai ia dibawa oleh Oey Kang. Seluruhnya dikisahkan dengan jelas. Tetapi dia menutupi
nama busuk Liang Fu Yong di luaran, malah mengisahkan bagaimana dia mengorbankan
diri sehingga diperkosa oleh Oey Kang.
Cian Cong mendengarkan dengan seksama. Akhirnya dia menarik nafas panjang.
“Di dunia ini ternyata ada seorang gadis yang begitu mulia hatinya. Pada suatu hari
nanti, si pengemis ingin sekali belajar kenal dengannya.” dia merandek sejenak. Kemudian
mengalihkan ‘pokok pembicaraan. “Tua bang-ka itu benar-benar jahat. Mengapa tidak
mencari wanita penghibur saja malah…”
Dia tidak jadi melanjutkan kata-katanya. Seperti ada sesuatu yang terlintas dalam
benaknya. Rupanya orangtua ini memang membenci sekali segala macam kejahatan. Dan
wataknya juga agak aneh. Tindak-tanduknya kadang-kadang menyimpang dari jalur dan
selalu di luar dugaan orang lain. Sejak bertarung dengan Ciu Cang Po di atas genting Cui
Sian Lau tempo hari, meskipun dia berhasil melukai nenek tua tersebut, namun dia juga
dikejutkan oleh gerakan tubuh Oey Kang ketika datang dan pergi. Dia menjadi kagum
sekali. Timbul perasaan menyayangkan dalam hatinya. Saat ini, mendengar keterangan
Tan Ki bahwa orang itu juga mata keranjang, memang tepat kalau disebut sebagai raja
iblis nomor satu di dunia ini. Hatinya menjadi tergerak, tanpa sadar dia menarik nafas
panjang kembali.
Mendengar ucapannya yang sepotong itu, Tan Ki sudah paham isi hati tokoh tua
tersebut. Dia teringat saat-saat di mana Liang Fu Yong diperkosa oleh raja iblis itu, hawa
amarahnya langsung meluap-luap. Sepasang alisnya terjungkit ke atas.
“Sikap Locianpwe terhadap orang tersebut seakan menutupi sesuatu, hal ini benarbenar
membuat Boanpwe tidak habis pikir…” tiba-tiba dalam perutnya terdengar suara air
yang beriak-riak. Rupanya dia sudah kelaparan setengah mati. Sudah dua hari dua malam
dia tidak mengisi perut, malah dirinya tidak sadar akan hal ini.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Cian Cong malah seperti tidak mendengarkan.
Tampak dia tertawa terbahak-bahak.
“Mari ikut aku.” katanya.
Tiba-tiba tubuhnya berkelebat dan dia menghambur menuju lembah sebelah kiri.
Melihat tindak-tanduknya, mula-mula Tan Ki tertegun. Tetapi pada dasarnya dia memang
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
seorang pemuda yang cerdas. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera menggerakkan
kakinya mengejar ke depan.
Meskipun si pengemis sakti Cian Cong tidak menolehkan kepalanya sama sekali. Tetapi
setiap gerak-geriknya dapat diketahui oleh tokoh sakti tersebut. Begitu Tan Ki mengejar,
dia pun menambali kecepatan langkahnya.
Tampaknya dia ingin mengadu kecepatan kaki dengan Tan Ki. Langkahnya mendadak
dipercepat, gerakan tubuhnya laksana terbang dan menerjang ke depan. Sepasang alis
Tan Ki bertaut erat.
‘Rupanya kau ingin menguji diriku?’ katanya dalam hati.
Dipertahankannya luka dalam yang dideritanya, kecepatan kakinya ditambah. Dikerahkannya
ilmu ginkang tingkat tinggi. Tubuhnya pun seakan melayang di udara. Pakaiannya
berkibar-kibar, menimbulkan deruan angin.
Gerakan mengadu kecepatan kedua orang ini benar-benar seperti dua ekor kijang yang
saling mengejar. Di bawah sorotan terik matahari, tampak dua titik hitam yang berendeng
dan melesat ke depan. Dalam pandangan orang biasa, tentu tidak mengira bahwa kedua
titik hitam itu merupakan dua orang tokoh silat kelas tinggi yang sedang berlari.
Dalam waktu yang singkat mereka sudah berlari sejauh dua li. Jarak diantara mereka
tetap kurang lebih dua depa. Tan Ki tidak dapat lebih dekat satu inci pun, dan Cian Cong
juga tidak sanggup menarik jarak lebih jauh satu langkahpun.
Tiba-tiba tampak sepasang lengan Cian Cong bergerak sedikit, tahu-tahu tubuhnya
sudah mencelat ke atas setinggi satu depa. Dia melayang melewati sebuah batu karang
dan tahu-tahu hilang dari pandangan.
Tan Ki menghentikan langkah kakinya dan memandang ke daerah sekitar. Dia melihat
semak belukar di mana-mana. Udara terasa agak lembab. Rupanya kedua orang itu terus
berlari dan tidak memperhatikan arah sama sekali. Tahu-tahu mereka sudah sampai di
pegunungan yang ditumbuhi rumput-rumput serta semak-semak belukar.
Mula-mula Tan Ki agak ragu, tetapi akhirnya dia melangkah perlahan-lahan memanjat
batu karang. Segulungan angin gunung menghembuskan bau harum arak dan daging
bakar. Tanpa sadar kakinya mengikuti sumber bau harum itu.
Begitu matanya memandang, dia melihat si pengemis sakti Cian Cong sedang duduk
ber-sandar di batang pohon. Matanya terpejam, dia sedang beristirahat. Di hadapannya
terdapat tiga bongkah batu yang mana di atasnya menangkring sebuah panci. Tungku api
alami yang dibuatnya sudah menyala. Uap mengebul-ngebul dari dalam panci. Sehingga
tutup di atasnya bergerak-gerak. Entah apa yang dimasaknya. Bau daging yang menusuk
terendus dari panci tersebut.
Hidung Tan Ki mengendus bau harum masakan. Dia memandang panci yang sedang
mengepulkan uap panas tersebut. Perutnya semakin keroncongan. Matanya sampai
berkunang-kunang. Diam-diam dia meneguk air liur, tetapi tidak berani membuka mulut
meminta makanan itu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Setelah berdiri agak lama, terdengar suara bersin dari hidung si pengemis sakti.
Dengan gerak lambat dan kemalas-malasan, dia mengeluarkan tujuh delapan biji bakpao
yang sudah gepeng karena terlalu sering tertekan. Dia melemparkannya ke arah Tan Ki.
“Sambutlah!”
Caranya melempar bakpao itu seakan menggunakan ilmu yang khas. Jarak bakpao itu
kurang lebih masih kurang lebih dua inci, sudah terasa hembusan angin yang terpancar
dari lemparannya.
Hati Tan Ki diam-diam merasa kagum. Dengan cepat dia mengulurkan tangannya dan
secara berturut-turut dia berhasil menangkap lima butir bakpao. Tampak Cian Cong
tersenyum simpul kepadanya.
“Gerakan yang bagus. Tampaknya mau tidak mau, kau harus ikut ke Pek Hun Ceng kali
ini.”
Tan Ki langsung tertegun.
‘Rupanya lemparan bakpao ini mempunyai maksud tersendiri. Tampaknya kau ingin
menguji kesigapanku dalam menyambut senjata rahasia.’ pikirnya dalam hati.
Begitu hatinya tergerak, tadinya dia bermaksud mengajukan beberapa pertanyaan.
Tetapi rasa lapar di perutnya tidak tertahankan lagi. Dengan lahap dia menikmati makanan
di tangannya. Dalam waktu yang singkat, kelima butir bakpao tersebut sudah habis
tertelan ke dalam perutnya.
Sementara itu, tangan kanan Cian Cong menggenggam sepotong paha ayam.
Sedangkan tangan kirinya memegang hiolo arak kesayangannya. Setiap menggigit ujung
paha ayamnya sekerat, dia pun minum araknya seteguk. Tampaknya dia sangat menikmati
cara makannya itu.
Tan Ki tahu, diantara tokoh-tokoh sakti di dunia Bulim, ada beberapa yang wataknya
aneh. Biasanya mereka tidak suka segala peradatan. Melihat Cian Cong menikmati
makanannya dengan lahap, dia jadi tidak enak hati mengganggunya dengan pertanyaanpertanyaan.
Diam-diam dia berdiri di samping dan menunggu kurang lebih setengah
kentungan. Akhirnya sepotong paha ayam dan sekendi arak itu habis juga. Tan Ki baru
berani menghampiri tokoh tua itu.
“Kalau mendengar kata-kata Locianpwe tadi, apakah yang dimaksudkan sebagai Pek
Hun Ceng adalah tempat tinggal si raja iblis Oey Kang?”
“Tidak salah. Orang yang pergi ke sana bukan hanya si pengemis tua saja. Masih ada
orang-orang dari lima partai besar yakni, Siau Lim, Bu Tong, Kun Lun, Go Bi dan Ceng
Cen. Kalau seluruh Hwesio dan Tojin dihitung sekaligus, jumlahnya tidak kurang dari
seratus orang. Mereka semua berbondong-bondong menuju Pek Hun Ceng. Bahkan ada
beberapa pendekar yang tidak termasuk perguruan maupun partai lima besar ikut
mengambil bagian.” selesai berkata, dia langsung mendongakkan wajahnya dan tertawa
terbahak-bahak. “Dengan berkumpulnya tokoh-tokoh ini, tentu ada keramaian yang dapat
disaksikan.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Kalau para pendekar dunia Bulim semuanya menggabungkan diri, meskipun Oey Kang
mempunyai kepandaian setinggi langit, juga tidak sanggup menghadapi kemarahan
mereka. Satu Pek Hun Ceng yang demikian kecil, tentu tidak sanggup menahan…”
Wajah Cian Cong menjadi serius. Dia segera menukas ucapan Tan Ki yang belum
selesai.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Novel Cinta : Dendam Iblis Seribu Wajah 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 20 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments