Cerita Cinta Kasih Asmara : PG 2

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Cinta Kasih Asmara : PG 2
-
“Sungguh memalukan bila kuceritakan,” jawab Ciok Bok. “Kemarin aku kepergok pasukan besar
Mongol, karena kewalahan menghadapi jumlah musuh sekian banyak, akhirnya aku tertawan.
Ditengah jalan tadi untung terjadi angin puyuh selagi pasukan Mongol mengejar pasukan Sehe yang
melarikan diri, kesempatan itu telah kugunkakan untuk meloloskan diri.
“benar2 sangat kebetulan, aku juga lolos dari kejaran musuh karena angin puyuh yang hebat tadi,”
ujar Su-lam dengan tertawa. “Ciok-heng tentunya sangat lapar, aku masih ada sedikit makanan
kering.”
“Barusan aku dapat membunuh seekor kelinci, apakah Li-heng membawa batu api?” kata Ciok Bok.
Lalu dari semak2 dilekuarkannya seekor kelinci. Segera Su-lam membuat api unggun untuk
memanggang kelinci. Selesai makan semangat mereka banyak terbangkit kembali.
Su-lam menjadi teringat lagi kepada Nyo Wan, ia coba tanya: “Ditengah pasukan yang kacau balau
tadi apakah Ciok-heng melihat seorang nona.” ~ lalu ia menguraikan ciri2 Nyo Wan. Sebenarnya ia
hanya tanya sekadarnya saja, sebab tahu sangat tipis harapan akan diketemukannya bakal istrinya
itu.
Tak disangka, setelah mendengar ciri2 Nyo Wan, tentang wajah dan pakaiannya, tiba2 Ciok Bok
menjawab: “Aku melihatnya. Cuma, ai, sungguh malang nasib nona itu.....” ~ tiba2 ia bertanya:
“Entah nona itu pernah apanya Li-heng?”
Berdebar jantung Su-lam, jawabnya kemudian: “O, kawanku seperjalanan. Kami sama2 hidup
terlunta dinegeri orang yan sedang berkecambuk oleh peperangan, maka kami sama2 ingin pulang
kekampung halaman, tak terduga ditengah kekacauan kemarin dia telah terpencar dariku. Entah
bagaimana nasibnya, dapatkah kau menceritakan?”
Ia kuatir Ciok Bok tidak mau menceritakan seluk beluk daripada apa yang dilihatnya, maka tidak
dikatakan bahwa Nyo Wan adalah bakal istrinya.
Begitulah maka Ciok Bok mulai menutur
: “kejadian ini terjadi sebelum terjangkitnya angin puyuh. Ditengah barisan tawanan kaum wanita
yang terpisah tidak jauh dari rombongan tawanan laki2 kulihat ada seorang nona baju merah yang
mirip nona yang kau tanyakan itu.”
“benar, kemarin dia memang memakai baju merah jambon,” kata Su-lam. “Kiranya dia telah
tertawan musuh. Apa yang terjadi atas dirinya?”
“hendaklah kau jangan berduka, dia ......dia mungkin tak bisa pulang lagi,” kata Ciok Bok.
Mendadak Su-lam mencengkeram bahu Ciok Bok dan berteriak: “Bagaimana duduk perkara? Lekas
katakan padaku!”
“Kulihat seorang perwira Mongol tertarik oleh kecantikan nona itu dan coba2 menggodanya, watak
nona itu tampaknya sangat keras, dia mencabut sebilah belati, sekali tikam perwira itu telah
dibunuhnya. Ketika prajurit2 Mongol mengepungnya, sinona lantas menikam ulu hati sendiri
dengan belatinya. Dia telah membunuh diri.”
Kepala Su-lam seperti dikemplang dengan keras, seketika ia ter-mangu2 seperti orang gendeng
dengan mata terbelalak, tapi tanpa airmata.
“Li-heng! Li-heng! Kenapakah kau?” Ciok Bok coba menyadarkannya.
Sejenak kemudian barulah Su-lamdapat menangis, ratapnya: “O, Wan-moay, alangkah malang
nasibmu. Bila kau mati, mana aku dapat hidup sendiri?”
Melihat keadaan Su-lam itu, Ciok Bok dapat menduga huibungan antara Su-lam dan Nyo Wan yang
ditanyakan tentu tidak terbatas “kawan biasa” saja. Segera ia menghiburnya: “Li-heng jangan sedih
dulu, mungkin penglihatanku keliru, apalagi kejadian itu kulihat dari jauh, apakah nona baju merah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
itu betul sudah meninggal atau belum tidaklah diketahui denganpasti. Pula, kukira kaum kita harus
berpandangan jauh dan berpikir luas, jangan cuma memikirkan kemalangan kawan atau sanak
keluarga sendiri saja.”
Ucapan terakhir ini seperti kemplangan diatas kepala Li Su-lam, ia tersentak kaget, jawabnya
kemudian: “Ya kata2 Ciok-heng memang benar, akulah yang salah.”
“Dalam pertempuran yang kacau entah betapa banyak jatuh korban rakyat tak berdosa,” Ciok Bok
berkata pula. “Kalau nona baju merah yang gugur itu betul adalah nona yang dimaksud Li-heng,
maka Li-heng justru harus berani hidup terus untuk menuntut balas baginya dan juga untuk
membalas dendam bagi mereka2 yang tak berdosa itu.”
Muka Su-lam menjadi merah, katanya: “Banyak terima kasih atas nasihat emas Ciok-heng,” kata
Su-lam sambil mengusap air matanya. Waktu dia mendongak, ternyata hari sudah terang.
“Aku harus berangkat sekarang, banyak terima kasih ata sberita Li-heng tentang diri Sumoay, aku
ingin mencari mereka ke Lembah Kupu2,” kata Ciok Bok. “Adakah Li-heng mempunyai rencana
selanjutnya? Bila engkau tidak ter-buru2 harus pulang, bagaimana kalau kita berangkat bersama?”
“pasukan berkuda Mongol pergi datang secepat angin, saat ini mereka tentu sedang menerjang
ibukota Sehe, kesempatan ini akan kugunkan untuk melintasi perbatasan, kalau samapai pasukan
Mongol putar balik tentu sukar melewati rintangan.”
Ciok Bok tahu Su-lam adalah buronan dari Mongol, karena alasannya memang tepat, segera ia
menjawab: ‘Baiklah. Kita sampai bertemu pula kelak.”
“pakaianmu yang berlepotan darah ini terlalu menyolok, kalau suka silahkan Ciok-heng pakai
bajuku ini,” kata Su-lam sambil menanggalkan baju dalamnya yang cukup bersih.
Ciok Bok juga tidak menolak, perawakan merekapun hampir sama, maka cocok juga bagi Ciok
Bok, ia mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah Su-lam tiada pesan lain2.
Su-lam seperti merenungkan sesuatu, sejenak kemudian baru menjawab: “Tidak ada pesan apa2,
cukup sampaikan salamku saja kepada Sumoaymu dan nona Beng, katakan aku sudah pulang
dengan selamat.”
Setelah Ciok Bok pergi, seorang diri Su-lam mengheningkan cipta dan berdoa: “Adik Wan, aku
bersumpah bagimu, tak perduli engkau sudah meninggal atau masih hidup, yang pasti selama
hidupku ini aku takkan menikah lagi. Jika engkau betul telah meninggal, maka aku pasti akan
membunyh Tartar Mongol se-banyak2-nya untuk membalas sakit hatimu.”
Sumpah Su-lam ini bukannya ber-lebih2an, soalnya pada waktu berada bersama Nyo Wan telah
diketahui nona itu paling menguatirkan hubungan Su-lam dengan Beng Bing-sia, hal ini cukup
dipahami Su-lam sendiri. Sebabnya dia tidak mau ikut Ciok Bok kembali ke lembah kupu2 justru
disebabkan hal itu. Jika Nyo Wan masih hidup umpamanya, baginya masih dapat mempertahankan
persahabatannya dengan Bing-sia, ia sendiri tidak tahu apakah ia kuatir dirinya tidak sanggup
mengatasi emosi sendiri atau karena takut menusuk hatinya yang sudah terluka lantaran kematian
Nyo Wan itu?
Sesungguhnya semua itu adalah rahasia yang tersembunyi didalam lubuk hatinya, bahkan ia
sendiripun tidak berani mengeluarkan isi hatinya itu. Sekarang dia mengambil keputusan demikian
hanya sekadar sebagai kompensasi penyesalannya terhadap Nyo Wan. Padahal apakah Nyo wan
benar sudah mati atau masih hidup sesungguhnya masih suatu teka teki.
Memang betul, nona baju merah yang dilihat Ciok Bok itu memang Nyo Wan adanya, pada saat
dikerubut oleh kawanan prajurit Mongol yang ganas itu Nyo Wan memang betul juga rela
membunuh diri daripada teraniaya. Tak terduga pada saat ujung belatinya menempel badan sendiri,
tiba2 pergelangannya terasa sakit seperti digigit semut, ujung belati menjadi menceng ke samping.
Ia terkejut, belati itupun jatuh ketanah.
Dan pada saat itulah angin puyuh berjangkit dan mengamuk dengan hebatnya, terdengar jerit tangis
yang memilukan, beberapa prajurit Mongol yang hendak mendekatinya juga mendadak terguling.
Di tengah pertempuran kacau serta mengamuknya angin puyuh, terjai pula pemberontakan diantara
kawanan tawanan dan sama berusaha melarikan diri. Kesempatan yang baik itupun digunakan Nyo
Wan untuk lari. Memangnya kepandaiannya tidak lemah, ditambah ginkangnya sangat hebat,
ditengah kekacauan itu dia dapat menyingkirkan perintang2nya dan berhasil meloloskan diri.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dalam kegelapan sukar dibedakan kawan atau lawan, ia tidak berani lari ke tempat yang banyak
orangnya, tapi menuju ke tanah pegunungan yang sunyi. Sementara itu angin kencang sudah mulai
mereda.
Dengan bingung Nyo Wan memandang sekitarnya sambil berpikir: “Entah bagaimana keadaan
engkoh Lam? Aku tidak kenal jalan disini, bagaimana baiknya sekarang?”
Selagi serba susah, tiba2 dilihatnya seorang berlari datang dengan cepat luar biasa, tampaknya
ginkang pendatang ini tidak kalah daripada Nyo Wan sendiri. Keruan ia terkejut, disangkanya
musuh. Pedangnya sudah hilang ketika tertawan musuh, belatinya juga sudah jatuh ketika lari tadi,
sungguh runyam menghadapi lawan tangguh tanpa senjata.
Ditengah kecemasan Nyo Wan, sementara pendatang itu sudah berada didepannya. Diluar dugaan
pendatang ini ternyata seorang pemuda tampan dengan perawakan yang gagah, tampaknya bukan
orang jahat. Yang legih aneh, sudah pasti Nyo Wan tidak pernah lihat pemuda ini, tapi rasanya
seperti sudah kenal mukanya.
Pemuda tampan itupun cukup sopan, sampai didepan Nyo Wan lantas memberi hormat dan
menyapa: “Maaf, ku kuatir nona tak bisa terhindar dari bahaya. Sekarang nona tampaknya tak apa2
bukan?”
“Siapa kau?” tanya Nyo Wan dengan ragu2.
“Aku she Toh bernama Hiong,” jawab pemuda itu.
“Darimana kau mengetahui aku terancam bahaya?” tanya Nyo Wan pula.
Pemuda itu tidak menjawab, tapi mengeluarkan sebilah belati yang ada bekas kotoran darah, belati
itu diangsurkan kepada Nyo Wan dan berkata: “Ini milik nona bukan? Nona telah melawan musuh
secara ksatria, sungguh aku sangat kagum.”
Baru sekarang Nyo Wan sadar tentang apa yang terjadi tadi. Katanya: “O, kiranya kau adalah orang
yang menolong aku tadi.” ~ Cepat ia mengucapkan terimakasih pula.
“Tadi akupun mencampurkan diri ditengah kaum tawanan, untung angin puyuh berjangkit secara
kebetulan sehingga usahaku berhasil. Kita sama2 senasib, adalah pantas saling memberi
pertolongan. Eh, belum kutanyakan nama nona yang terhormat, sudikah memberitahu?”
Lalu Nyo Wan mengatakan namanya sendiri.
“Sekarang nona Nyo hendak kemana?” tanya Toh Hiong.
Dari pada orang agaknya ada maksud mengajaknya menjadi teman perjalanan, Nyo Wan pikir
orang telah menolongnya, pula tampaknya adalah kaumpendekar budiman, kalau bicara terus terang
padanya mungkin tidak berhalangan, maka dijawabnya: “Mestinya kami suami istri sedang dalam
perjalanan pulang kekampung halaman. Suamiku bernama Li Su-lam, kami terpencar ditengah
medan perang yang kacau, entah engkau pernah melihat seorang macam dia?” ~ Lalu diuraikannya
pakaian serta wajah Su-lam.
“O, kiranya demikian,” kata Toh Hiong sambil berpikir sejenak, lalu menghela napas gegetun dan
berkata pula: “Ya, memang aku ada melihat seorang yang mirip suamimu itu. Waktu itu kami bersama2
menerjang kesana kemari ditengah pasukan musuh yang kacau, tapi hendaknya kau jangan
berkecil hati atas apa yang terjadi. Kulihat seorang perwira Mongol sangat lihai, tampaknya dia
sudah kenal suamimu dan terus mengejarnya dengan kencang, pada suatu ketika suamimu telah
terbunuh oleh panahnya yang lihai.”
Ditengah pasukan musuh Nyo Wan juga pernah melihat panji kebesaran Cepe, sekarang Toh Hiong
menyatakan seorang perwira Mongol, maka Nyo Wan yakin yang dimaksudkan tentu Cepe adanya.
Ilmu panah Cepe cukup diketahui Nyo Wan, kalau Toh Hiong bilang Li Su-lam mati dipanah Cepe,
hal ini dapat dipercaya Nyo Wan.
Seketika itu Nyo Wan merasa langit dan bumi se-akan2 berputar, ia sempoyongan dan hampir2 tak
sadar. Dalam keadaan setengah sadar itu tiba2 Nyo Wan merasa sebuah tangan yang kuat telah
merangkulnya, seketika Nyo Wan terkejut, sekuatnya ia tolak tangan itu. Waktu membuka mata,
dilihatnya Toh Hiong berdiri disampingnya dengan wajah merah dan berkata dengan tergagap:
“Kukuatir engkau jatuh pingsan, maka ……. Maka aku telah memegangi kau.”
Sebagai keturunan keluarga ternama, biasanya Nyo Wan sangat mengutamakan adat istiadat yang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sopan, ia pikir meski orang bermaksud baik, tapi mana boleh aku diladeni oleh orang laki2 yang
belum kekenal. Aku harus bertahan dan jangan sampai pingsan. Syukur Nyo Wan punya pikiran
demikian sehingga dia tidak sampai jatuh pingsan.
Dengan menahan airmata kemudian Nyo Wan berkata: “Banyak terima kasih atas beritamu ini,
maaf kalau aku tidak dapat membalas kebaikanmu. Sekarang bolehlah engkau pergi saja!”
Melihat keadaan Nyo Wan yang sayu menawan itu, makin tertarik hati Toh Hiong, pikirnya: “
Perempuan cantik seperti kau kemana harus dicari? Kalau aku dapat memperistrikan dia rasanya
tidak sia2 hidupku ini. Aku tidak boleh ter-gesa2, lambat laun makanan ini toh menjadi milikku.
Aku harus membuatnya menjadi istriku secara sukarela barulah kurasakan bahagianya.”
Kepandaian Toh Hiong sebenarnya diatas Nyo Wan, kalau dia mau pakai kekerasan tentunya Nyo
Wan tak bisa membebaskan diri. Tapi lantaran dia telah mengetahui siapa Nyo Wan serta sikapnya
yang agung, tanpa terasa timbul rasa segan dalam hati Toh Hiong, maka ia telah ubah pikirannya
untuk mendapatkan Nyo Wan dalam jangka panjang secara sabar.
“Sekarang Li-toaso hendak kemana?” tanyanya kemudian. “Hendaklah Li-toaso teguhkan hati, kita
harus melanjutkan perjuangan Li-toako yang belum selesai. Kini suasana kacau balau dilanda
peperangan, Tionggoan masih be-ribu2 li jauhnya, tentunya tidak leluasa seorang diri Li-toaso
menempuh perjalanan sejauh ini. Kebetulan akupun hendak kembali ke Tionggoan, bagaimana
kalau kita menjadi teman perjalanan dan saling menjaga, entah engkau setuju tidak?”
Nyo Wan pikir orang didepannya ini tampaknya adalah pemuda baik2, tapi seorang laki2 dan
seorang perempuan menempuh perjalanan jauh bersama, betapapun kurang leluasa. Namun lantas
terpikir lagi kepada siapa dirinya harus bersandar agar bisa membawanya pulang ke Tionggoan?
Selagi ragu2, Toh Hiong seperti sudah meraba perasaan Nyo Wan, ia berkata: “Suasana kacau
begini memang sulit untuk bicara tentang adat istiadat. Sebagai anak kangouw kitapun jangan
terlalu kolot mengenai urusan laik2 dan perempuan. Asalkan kita pegang teguh tata adat yang baik
apa halangannya kita berada bersama? Li-toaso, boleh kau anggap saja aku sebagai sanak
keluargamu, bila ditanya orang katakan kita adalah ....”
“Benar, kita dapat mengaku sebagai kakak beradik,” sambung Nyo Wan. “Engkau menyelamatkan
jiwaku, aku tidak bisa membalas, terpaksa menghormat dan anggap kau sebagai kakak sekadar
membalas kebaikanmu.”
Toh Hiong tertawa, katanya: “Aku memang punya maksud begitu, syukur kaupun punya pikiran
yang sama. Jika demikian biarlah aku memanggil kau adik.” ~ Tapi dalam hati ia pikir sekarang aku
panggil kau adik, kelak pada suatu hari tentu aku akan panggil kau sebagai istriku.
Sejak itulah mereka menjadi teman seperjalanan. Beberapa hari pertama Nyo Wan selalu waspada
dan menjaga diri dengan hati2, kemudian ia mulai merasa lega setelah kelakuan Toh Hiong tampak
tetap sopan padanya.
Agaknya Toh hiong sangat apal tempat2 yang mereka lalui, Nyo Wan diajaknya ber jalan diwaktu
malam dan mengaso di siang hari, yang dilalui selalu jalan pegunungan. Diwaktu tidur di hutan
belukar sunyi itu Toh Hiong selalu menyingkir agak jauh. Semula Nyo wan masih sangsi, tapi
lama2 ia merasa syukur mempunyai seorang teman baik. Ia tidak tahu bahwa sikap Toh Hiong itu
justru disengaja untuk memikat hatinya.
Beberapa hari lagi hubungan mereka menjadi makin akrab, ketika Toh Hiong menanyakan
pengalamannya di Mongol, apa yang Nyo Wan merasa boleh diceritakan lantas dituturkannya,
hanya urusan kematian To Pek-sing, pertemuannya dengan To Hong dan sebagainya tidak
diceritakan kepada Toh Hiong.
Asal usul Toh Hiong sendiri juga diceritakan dengan samar2, Nyo Wan hanya mengetahui dia
berasal dari keluarga Bulim, ayah meninggal, ibu sakit di rumah, punya adik perempuan, tapi satu
sama lain tidak cocok, apa sebabnya, Nyo Wan merasa tidak enak untuk tanya lebih jauh.
Sepanjang jalan tiada terjadi apa2, suatu hari mereka sudah melintasi wilayah Sehe dan sampai
disuatu kota kecil yang belum terlanda api peperangan. Dengan gembira Nyo Wan berkata:
“Akhirnya kita telah sampai di tanah leluhur. Entah di kota kecil ada toko pakaian jadi atau tidak?
Kuingin beli beberapa perangkat pakaian.”
“Benar, selama belasan hari ini debu kotoran benar2 telah menyelimuti kecantikanmu,” kata Toh
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Hiong tertawa. “Ku kira kau harus beli pula cermin dan sisir, kita mencari sebuah hotel, malam ini
dapatlah kau mandi dan berdandan se-puas2nya.”
Watak Nyo Wan sebenarnya memang suka akan kebersihan, meski kata2 Toh Hiong itu rada2
berlebihan, tapi disangkanya karena hubungan mereka yang semakin akrab, maka pemuda itu
sengaja berkelakar dengan dia.
Maka dengan tertawa Nyo Wan menjawab: “Cermin dan sisir sih tidak penting, kukira harus
membeli sebatang pedang atau golok.”
“Ya, akupun ingin membeli dua ekor kuda tunggangan,” kata Toh Hiong. “Marilah kita coba cari ke
sana.”
Kota ini sangat kecil, tapi berhubung banyak pengungsi yang pendah kesitu, suasana menjadi
tambah ramai. Nyo Wan menemukan sebuah toko pakaian bekas, pemilik toko adalah kaum wanita.
Nyo Wan merasa sangat kebetulan maka ia pesan agar Toh Hiong pergi mencari kuda dan senjata,
nanti dirinya akan menyusul kesana.
Toh Hiong merasa si nona sekarang sudah sangat jinak rasanya tak mungkin lari sendiri, maka
tanpa sangsi iapun tinggal pergi.
Selesai memilih beberapa pasang pakaian yang cocok ukuran dan warnanya, Nyo Wan bayar
harganya, lalu keluar dari toko untuk mencari Toh Hiong.
Di depan toko pakaian bekas itu ada seorang laki2 memakai sebuah caping yang bagian depannya
hampir menutupi separoh wajahnya. Ketika Nyo Wan keluar, terdengar laki2 itu bersuara heran
sangat perlahan.
Mula2 Nyo Wan tidak menaruh perhatian, setelah berjalan sebentar, tiba2 ia merasa orang
bercaping itu menguntit di belakangnya. Ketika Nyo Wan memutar ke sauatu gang kecil dan keluar
jalanbesar pula, ternyata orang itu selalu mengintil saja.
Dengan mendongkol mendadak Nyo Wan berhenti, keruan orang itu hampir2 menyeruduknya dan
lekas2 berhenti. Dengan nada dingin Nyo Wan menegur: “Apa kehendakmu, mengapa kau terus
mengikuti aku?”
Berdiri berhadapan, laki2 itu merasa lebih pasti akan diri Nyo Wan, ia pikir di dunia ini masakah
ada orang yang begini mirip? Tentu dia adanya. Padahal tempo hari kusaksikan sendiri dia sudah
membunuh diri, mengapa dia masih hidup? Sebaiknya kupancing dia ke suatu tempat terpencil
untuk berbicara dengandia. Demikan pikirnya.
Melihat orang memandangnya dengan kesima, Nyo Wan tambah mendongkol. Baru saja ia hendk
mendamprat tiba2 orang itu berkata dengan menghormat: “Aku adalah kaum pengungsi, aku
kekurangan sangu, maka ingin menjual sebilah golok pusaka padamu. Apakah nona mau beli?”
Memangnya Nyo Wan lagi ingin beli senjata, segera ia menjawab: “Mana goloknya? Coba lihat!”
Dari pinggangnya orang itu menanggalkan sebilah golok dan diangsurkan kepada Nyo Wan, ketika
golok itu dilolos keluar dari sarungnya, ternyata gemerlapan menyilaukan mata. Mau tak mau Nyo
Wan memuji kebagusan golok itu. Tapi lantas timbul curiganya, tanyanya kemudian: “Dari mana
kau tahu aku ingin membeli senjata?” ~ Pada umumnya tidaklah banyak kaum wanita membeli
golok, maka ia merasa sangsi dan heran apakah percakapannya dengan Toh Hiong tadi telah
didengar oran ini.
Tiba2 orang itu balas bertanya: “Nona baru buron dari Sehe bukan? Adakah punya kawan?”
“Ada apa kau tanya demikian,” jawab Nyo Wan.
“Seorang perempuan dapat menyelamatkan diri ditengah kekacauan perang, tentunya dia mahir
ilmu silat, sebab itulah kupikir nona tentu ingin punya senjata untuk menjaga diri.”
Meski alasan yang dikemukan orang itu timbul secara mendadak, tapi cukup masuk diakal. Maka
Nyo Wan tidak mendebatnya lagi dan bertanya: “Golok ini akan kau jual berapa duit?”
“Yang kuharapkan adalah pembeli yang tepat dan bukan soal harganya, kalau pemakainya tidak
tepat, biarpun seratus ribu tahil emas juga tidak kujual,” kata orang itu. Cuma, sebelumnya aku
ingin tanya sesuatu pada nona, apakah nona bisa singgah sebentar diwarung minum sana untuk
bicara.”
Nyo Wan menjadi heran, tanyanya: “Kau hendak bicara apa? Boleh katakan saja disini.”
“Disini bukan tempatnya untuk bicara,” ujar orang itu.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Heran dan sangsi Nyo Wan, pikirnya: “Orang ini rada aneh, selamanya aku belum kenal dia, tapi
apa yang hendak ia bicarakan padaku? Jangan2 dia bermaksud jahat padaku.”
Tapi setelah dipikir lagi ia merasa geli juga, masakah dirinya harus takut terhadap orang begini.
Tertarik oleh rasa ingin tahu, segera Nyo Wan bermaksud menerima usul orang itu. Tapi sekilas
bayangan Toh Hiong tampak berjubelan ditengah orang lalu lalang sana, segera ia berseru: “Tohtoako,
lekas kemari, coba lihatlah golok ini bagus tidak?”
Toh Hiong ber-lari2 mendatangi sambil berseru: “Dari mana kaumendapatkan golok bagus?”
“Toako ini yang menjual padaku, dia tidak pasang harga, tapi kukira harus memberi penilaian yang
pantas, kau taksir berapa harganya yang pantas?” kata Nyo Wan.
Tapi mendadak Toh Hiong terbelalak heran katanya: “Toako penjual siapa? Mana dia?”
Nyo Wan menjadi terkejut ketika berpaling dan tahu2 laki2 penjual golok tadi ternyata sudah
menghilang.
“Sungguh aneh, mengapa golok ini ditinggalkan padaku tanpa minta uang, kemana perginya dia?”
ujar Nyo Wan dengan melongo heran.
Setelah Toh Hiong menerima golok itu, iapun merasa herandan sangsi.
“Ada apa, Toh-toako? Apakah sesuatu mencurigakan?” tanya Nyo Wan.
Toh Hiong ter-mangu2 sejenak, setelah agak tenang barulh menjawab: “Tidak apa2. Golok ini
memang bagus, buatan sebuah toko senjata yang ternama di Lokyang. Tentunya penjualnya tadi
adalah orang Tionggoan juga.”
“Benar, melihat bentuknya memang bangsa Han,” kata Nyo Wan.
“Apa saja yang dibicarakan padamu?” tanya Toh Hiong.
“Dia memang bermaksud mengajak bicara padaku, tapi belum sempat karena kau keburu datang,”
jawab Nyo Wan. Lalu diceritakan pula wajah serta dandanan orang itu.
“Aku sudah penujui dua ekor kuda, dipojok sana itu penjualnya, coba kau periksa lagi, bila cocok
boleh dibeli saja, ini uangnya. Kau tunggu saja disana, aku akancoba cari orang tadi,” kata Toh
Hiong sambil menyerahkan dua potong uang emas, lalu tinggal pergi dengan ter-gesa2.
Nyo Wan menjadi sangsi mengapa Toh Hiong tidak mengajaknya bersama pergi mencari orang
tadi. Terpaksa ia mendatangi pasar hewan, dilihatnya kuda2 pilihan Toh Hiong memang baik,
setelah tawar menawar lantas dibayarnya.
Sampai sekian lamanya ia menunggu barulah Toh Hiong kembali. “Bagaimana? Ketemu tidak?”
tanya Nyo Wan.
Toh Hiong menggeleng. Jawabnya: “Tidak, sungguh aneh orang itu, entah lari kemana dia?”
Nyo Wan menjadi bingung, katanya: “Entah dari aliran apakah orang itu? Harga goloknya malah
belum kubayar.”
“Sudahlah, tak perlu urus dia,” kata Toh Hiong tertawa. “Salah dia sendiri, bukan kita sengaja
mengalap barangnya. Marilah kita pergi mencari hotel.”
Kota yang kecil ini biasanya sangat sepi, kini dalam suasana perang mendadak tambah makmur
karena membanjirnya pengungsi, maka tidak sedikit rumah makan dan rumah penginapan yang
baru dibuka. Namun hampir semuanya penuh dengan tamu. Dengan susah payah akhirnya mereka
mendapatkan sebuah hotel besar dengan janji bayaran lipat. Pemilik hotel tanya mereka apakah
suami istri. Dengan muka merah Nyo Wan menjawab bukan dan mengaku kakak beradik.
“Tapi kami hanya tinggal sebuah kamar ini, kakak beradik juga tiada halangannya tidur sekamar,”
ujar pemilik hotel.
“Mengapa hanya ada sebuah kamar?” ujar Nyo Wan sambil mengerutkan kening.
Cepat Toh Hiong me-narik2 lengan baju Nyo Wan sambil berkata: “Jika tiada kamar lebih, terpaksa
kami gunakan satu kamar.” ~ Lalu ia membayar uang sewa dan pelayan mengantar mereka kekamar
yang dimaksud.
Ternyata kamar itu adalah kamar yang paling baik dilengkapi dengan ruang terpisah, legalah hati
Nyo Wan. Ia pikir Toh hiong adalah seorang ksatria sejati, tidur dihutan belukar saja menyingkir
jauh2, apalagi tinggal di hotel, rasanya tiada halangannya Toh Hiong disuruh tidur diruangan tamu.
Hanya dalam hal berdandan dan membersihkan badan memang rada repot.
Rupanya Toh Hiong tahu pikiran Nyo Wan, setelah pelayan pergi, ia berkata: “Kamar sukar dicari,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
harap maafkan bila tadi aku menyewanya tanpa berunding dulu dengan kau. Tapi engkau boleh
pakai dulu kamar ini, aku akan keluar sebentar untuk beli barang2 keperluan sambil mengawasi
kalau2 ketemukan penjual golok tadi.”
Dalam hati Nyo Wan berterima kasih atas kebaikan Toh Hiong. Setelah pemuda itu pergi, segera ia
suruh pelayan mengambilkan air dan mandi sepuasnya.
Perlengkapan kamar itu cukup lengkap, ada sebuah cermin tembaga. (jaman dulu belum ada kaca)
yang mengkilap. Menghadapi cermin Nyo Wan menghela naps gegetun, pikirnya: “Sayang engkoh
Lam tak dapat mendampingi aku untuk menyaksikan aku bersolek.”
Ketika dalam cermin terbayang suatu titik merah, Nyo Wan sendiri tercengang, tanpa terasa ia
menghela napas panjang.
Kiranya titik merah itu adalah “Siu-kiong-she” diatas lengannya yang putih itu. Siu-kiong-she
artinya andeng2 merah cicak, yaitu titik merah yang ditisik oleh ibunya ketika dia akan
meninggalkan rumah. Andeng2 merah itu tak bis dicuci atau dibusek. Sebaliknya akan lenyap
sendiri bilamana sudah kawin. Dus kalau masih perawan suci andeng2 merah itu akan tetap
“menyala” diatas lengannya.
Melihat titik merah itu ia menjadi teringat kepada ibunya, kepada kakaknya, dengan sendirinya
terkenang pula kepada Li Su-lam. Bila engkoh Lam masih hidup, tentu dia akan percaya penuh
padaku kalau melihat andeng2 merah ini, demikian pikirnya.
Selagi Nyo Wan merasa gegetun, tiba2 diluar kamar ada orang mendehem, lekas is tenangkan dir
dan menegur: “Apakah Toh-toako yang kembali?”
“Benar, bolehkah saya masuk?” tanya Toh Hiong.
Nyo Wan membukakan pintu, lantaran pikiran kacau sehingga lengan baju lupa diturunkan,
andeng2 merah sekilas sempat dilihat toh Hiong. Sebagai pemuda yang berpengalaman, ia tahu apa
artinya andeng2 merah itu, ia tersenyum girang didalam hati. Untuk menutupi pikiran jahatnya, ia
pura2 tak acuh dan berkata: “Tampaknya kau sudah selesai berdandan,nah apa kataku kan betul,
kini engkau benar2 tambah cantik.”
Nyo Wan menurunkan lengan bajunya dan menjawab: “ah, aku sudah terhitung janda kematian
suami, harap Toako jangan bergurau. Eh, bagaimana ketemu tidak orang itu?”
Toh Hiong bersikap prihatin pula dan menjawab: “Tidak ketemu. Cuma aku telah memperoleh dua
berita penting.”
“Berita2 penting apakah?” tanya Nyo Wan.
“Pertama mengenai ibukota Sehe yang telah dibobolkan oleh pasukan Mongol, raja Sehe takluk
kepada musuh dengan menyerahkan putrinya yang cantik,” kata Toh Hiong.
“Berita kedua mungkin sama sekali diluar dugaanmu. Setelah menaklukkan Sehe, kini pasukan
Mongol dengan cepat dialihkan keselatan lagi dan kembali menyusup ke wilayah Kim. Cuma bukan
melalui jurusan ini, tapi bisa jadi membagi pasukannya kesini dan yang penting, coba terka
siapakah panglima garis depan pasuka Mongol itu?”
“Darimana aku tahu?” sahut Nyo Wan.
“Yang menjadi panglima pasukan garis depan adalah calon menantu Jengis Khan, yaitu pangeran
Tin-kok dengan wakilnya orang Han keparat yang memalsukan nama Li Hi-ko tapi nama aslinya
Sia It-tiong itu. Tentu tak kau duga bukan?”
Tentang ayah Li Su-lam dicelakai oleh Sia It-tiong dan sebagainya memang telah diceritakan Nyo
Wan kepada Toh Hiong. Maka dengan gregetan Nyo Wan berkata: “Ya, keparat Sia It-tiong itu
pantas dimampuskan, memang tak terduga bahwa dia akan datang sedemikian cepatnya.”
“Setibanya di Tionggoan, kalau kita mau membinasakan bangsat she Sia itu akan jauh lebih
gampang daripada di Mongol,” ujar Toh Hiong. “Bila perlu aku dapat mengajak kawan2 pejuang
untuk mencari kesempatan buat membunuh pengkhianat itu.”
Nyo Wan bergirang karena apa yang diucapkan Toh Hiong ini sesuai dengan rencana Li Su-lam
sebelum “meninggal” maka dengan terharu ia menjawab: “Pekerjaan ini teramat bahaya, apakah
engkau benar2 rela melaksanakannya?”
Dengan sikap ksatria To Hiong sengaja berkata: “Manusia berhati binatang seperti Sia It-tiong itu
pantas dibunuh. Kutahu dia adalah musuh besarmu, hanya untukmu saja aku harus membunuhnya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sekalipun harus mengorbankan jiwaku, apalagi dia juga musuh bersama bangsa kita.”
Kata2 Toh Hiong sangat mengharukan perasaan Nyo Wan, dengan airmata berlinang ia lantas
memberi sembah, katanya: “Begini baik Toh-toako kepadaku, entah cara bagaimana aku harus
berterima kasih padamu.”
Dengan tersenyum Toh Hiong membangunkan Nyo Wan, jawabnya: “Ah, jangan adik Wan berkata
demikian se-akan2 kita ini baru kenal saja. Demi kau, kelautan api atau terjun keair mendidihpun
aku tidak menolak. Tentunya kau paham perasaanku.”
Nyo Wan menjadi tercengang ole kata2 Toh hiong itu, ia heran ucapan pemuda itu malam ini
agaknya berbeda daripada biasanya, apa artinya dia mengutarakan perasaannya kepadaku? Hanya
demi persaudaraan saja atau masih ada kehendak lain?
Kasihan Nyo Wan, dasar masi hijau dan polos, sampai asst demikian ia masih anggap Toh Hiong
sebagai penolong yang baik hati dan tidak berani berprasangka buruk atas diri pemuda itu.
Sementara itu Toh hiong berkata pula dengan tersenyum: “Adik Wan, apakah kau masih senantiasa
teringat kepada mendiang suamimu?”
Nyo Wan terkesiap, jawabnya dengan kereng: “Aku dan Su-lam telah bersumpah sehidup semati,
soalnya sakit hatinya belum terbalas, maka aku bertahan hidup sampai sekarang.”
Toh Hiong geleng2 kepala, katanya pula: “Adik Wan, harap engkau dapat menerima nasehatku.
Orang mati takkan bisa hidup lagi, yang masih hidup mana boleh berkorban masa muda selamanya
bagi yang sudah mati? Engkau adalah pahlawan diantara kaum wanita, janganlah kau terlalu terikat
oleh adat istiadat kolot yang membikin susah orang.”
“Apa maksudmu? Kau suruh aku menikah lagi dengan orang lain?” jengek Nyo Wan.
Dari sikap sinona dan padanya Toh Hiong sudah tahu gelagat jelek, tapi ia masih mencoba
membujuk: “Adik Wan, sejak kenal kau sungguh aku sangat kagum terhadap keteguhan jiwamu dan
kepintaranmu. Syukur engkau telah sudi mengikat persaudaraan denganku dan tampaknya kita
cocok satu sama lain. Kini kita senasib pula, mati-hidup bersama, maka kupikir, kupikir apakah
persaudaraan kita tak bisa ditingkatkan lebih maju selangkah, umpamanya kalau aku dapat
membalaskan sakit hatimu dan untung akupun tidak tewas, lalu sudikah engkau menerima ………
menerima ………..
Mendadak Nyo Wan berubah tidak senang, jawabnya ketus: “Ternyata kau memang punya maksud
tertentu. Ingin kukatakan padamu, hidup atau mati aku sudah menjadi anggauta keluarga Li,
tekadku ini tak bisa berubah. Karena kau ada tujuan tertentu, maka akupun tidak berani
mengharapkan bantuanmu lagi. Biarlah sekarang juga aku mohon diri.”
“Nanti dulu, adik Wan!” seru Toh Hiong cepat ketika melihat Nyo Wan melangkah pergi.
Menyusul ia terus menampar pipi kanan kiri sendiri.
Perbuatan Toh Hiong itu rada diluar dugaan Nyo Wan, tanpa terasa ia melengak dan tidak jadi
melangkah pergi. Didengarnya Toh Hiong sedang berkata pula: “Adik Wan, rupanya otakku ini
sudah kopyor sehingga tanpa sadar mengucapkan kata2 yang menusuk perasaanmu. Cuma,
sesungguhnya aku memang sangat kesemsem padamu, mohon kau dapat memaafkan
kecerobohanku tadi. Selanjutnya aku bersumpah akan mendampingi kau menurut adat, pasti tak
berani mengucapkan kata2 yang kurang pantas.”
Pada umumnya kalau seseorang menyatakan jatuh hati kepada seorang gadis, maka betapapun akan
diterima dengan senang oleh sigadis biasanya sigadis merasa jemu terhadap orang itu. Apalagi
sekarang Nyo Wan memang sudah punya kesan baik kepada Toh Hiong, lebih2 ia merasa pernah
ditolong olehnya. Maka setelah Toh Hiong menyatakan penyesalannya serta berjanji akan berlaku
sopan padanya seterusnya, mau tak mau Nyo Wan merasa tidak tega dan duduk kembali ke
tempatnya.
Yang sudah ya sudahlah, akan kuanggap tidak pernah dengar kata2mu tadi dan kaupun tidak perlu
menyinggungnya pula. Selanjutnya kita tetap bersaudara,”kata Nyo Wan.
Dalam hati Toh Hiong sangat senang, tapi ia pura2 besikap likat, katanya kemudian: “Terima kasih,
dengan demikian barulah lega hatiku. Tentang sakit hatimu tentu akan kubantu menuntut balas. Eh,
hari sudah malam, tentunya kau sudah lapar bukan?”
Untuk mengalihkan pokok pembicaraan, dengan terus terang Nyo Wan menjawab: “Ya, memang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terasa agak lapar. Panggilkan pelayan dan pesan sedikit daharan saja.”
“Sudah sejak tadi kupesankan,” kata Toh Hiong dengan tertawa. Lalu ia keluar, ketika kembali lagi,
benar juga pelayan telah ikut datang dengan membawa daharan2 semeja penuh.
“Ai, mengapa begini banyak, mana bisa habis termakan?” ujar Nyo Wan.
“Sudah cukup lama kita menderita, suah waktunya kita makan enak,” kata Toh Hiong. “Silahkan
makan saja mana yang kau sukai.”
Habis itu Toh hiong memberi tanda agar pelayan pergi, artinya tidak perlu melayani disitu. Maka
setealh siapkan meja perjamuan itu dengan baik, lalu pelayan itupun keluar.
Toh Hiong ber-ulang2 membujuk Nyo Wan agar makan yang banyak, beberapa kali ia
menyumpitkan daging san sayur untuk si nona. Lalu ia menuang dua cawan arak, katanya: “Adi
Wan, marilah kita habisi satu cawan sebagai tanda selamat telah lolos dari bahaya.”
“Aku tak bisa minum arak,’ kata Nyo Wan.
“Arak ini tidak keras, hanya satu cawan saja tak bisa membikin mabuk,” ujar Toh Hiong. “Selesai
makan, aku akan mencari suatu tempat lain untuk bermalam. Sebagai laki2 , tidur di mana2pun
jadi.” ~ Kata2nya itu se akan2 hendak menghilangkan rasa sangsi Nyo Wan kepadanya.
Nyo Wan menjadi rada rikuh, pikirnya selama alam perjalanan memang pemuda itu tidak perlu
brbuat hal yang tidak sopan padanya, tampaknya dia masih terhitung seorang laki2 yang punya tata
krama.
Selagi Nyo Wan merasa ragu2, disana Toh Hiong suah menenggak habis isi cawannya, lalu
katanya: “Aku telah minum lebih dahulu sebagai penghormatan padamu. Adik Wan bila kau tidak
minum berarti kau masih marah padaku.”
Karena kata2 itu, terpaksa Nyo Wan angkat cawannya dan berkata: “Baiklah, sesungguhnya aku
memang tidak bisa minum arak, tapi akan kuminum juga secawan ini bagimu.”
Girang Toh Hiong tak terkatakan melihat Nyo Wan sudah mau minum arak. Tapi bru saja Nyo Wan
Angkat cawannya, baru cawan itu menempel bibir, se-konyong2 terdengar ‘Trang” satu kali, tahu2
dari luar jendela menyamber tiba sebuah senjata rahasia mata uang, kontan cawan arak yang
dipegang Nyo Wan itu pecah berantakan.
Keruan Nyo Wan terkejut. Terdengar seorang berseru di luar jendela: “Dalam arak dicampur obat
tideu, jangan minum!” ~ dari suaranya itu Nyo Wan mengenalnya sebagai laki2 penjual golok siang
hari tadi.
Dengan gusar Toh Hiong terus menolak daun jendela dan melompat keluar sambil membentak:
“Bagus, kiranya kau! Sudah kuampuni jiwamu, tapi kau masih berani mengacau padaku?”
Orang itu terus melompat turun dari wuwungan rumah sambil berteriak: “Toasuko, perbuatanmu
yang membinasakan Jisuko adalah terkutuk, sekarang kau memeras otak bermaksud menjebak pula
seorang nona sebatang kara, apakah kau masih terhitung manusia? Nona Nyo, kau jangan percaya
omongannya. Li Su-lam masih ……….”
Belum habis omongannya Toh Hiong sudah mengejarnya dan secepat kilat menusuk dengan
pedangnya. Orang itu menangkis denagn pedang juga, tapi tangannya terasa pegal kesemutan,
hampir senjatanya terlepas, terpaksa ia lari pula secepat terbang.
“Ciok Bok,” dengan gusar Toh Hiong membentak dengan suara terathan, ‘Kau sendiri yang cari
mampus, malam ini tak bisa kuampuni kau lagi.”
Kiranya laki2 penjual golok itu bukan lain daripada laki2 yang dijumpai Li Su-lam diatas gunung
tempo hari itu, ialah Ciok Bok, kekasih To Hong. Sedangkan Toh Hiong ini adalah nama samaran
To Liong, kakak laki2 To Hong.
Setelah berpisah dengan Li Su-lam tempo hari mestinya Ciok Bok bermaksud mencari Sumoaynya
ke lembah kupu2, tapi karena jalanan masih kacau oleh pasukan2 musuh, terpaksa ia sembunyi sana
sini sehingga tertunda beberapa hari, setiba di lembah tujuan sang Sumoay dan rombongannya
sudah pergi. Terpaksa Ciok Bok bermaksud pulang ke Sanceh (perbentengan kayu digunung) untuk
menjenguk ibu gurunya, tak terduga dikota kecil inilah dia ketemu dengan Nyo Wan. Semula iapun
tak percaya Nyo Wan adalah nona baju merah yang pernah dilihatnya membunuh diri itu, tapi
makin dipandang tampaknya makin mirip, akhirnya ia gunakan alasan hendak menjual senjata
untuk mengajak bicara pada Nyo Wan. Sayang sebelum dia sempat menyampaikan kabarnya Li SuKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lam sudah lantas kabur karena datangnya To Liong. Sebab itulah dengan menyerempet bahaya
terpaksa ia mendatangi tempat penginapan mereka, maksudnya hendak memperingatkan Nyo Wam
agar waspada, dan secara kebetulan sekali ia menyaksikan sandiwara permainan To Liong yang
hendak menjebak si nona dengan arak beracun.
Sudah tentu To Liong kuatir kalau2 Ciok Bok membeberkan lebih banyak tipu muslihatnya, maka
begitu mengejar tiba segera ia melancarkan serangan2 maut. Tenaga dalam Ciok Bok tak bisa
menandingi sang Suheng, tapi ginkangnya lebih tinggi, mak sambil bertempur iapun berusaha
melarikan diri serta meneriakkan berita“ Li Su-lam masih hidup.”
Dengan murka To Liong terus mengejar dan memaki: “ Li Su-lam masih hidup, kaulah yang takkan
hidup lagi!”
Karena kalah tenaga dalam, setelah kejar mengejar belasan li jauhnya, akhirnya To Liong dapat
menyusul Ciok Bok, terpaksa Ciok Bok mengadakan perlawanan sengit.
Kalimat “Li Su-lam masih hidup” tidak terdengar secara lengkap oleh Nyo Wan, tapi cercaannya
terhadap To Liong telah didengar jelas olehnya, ia menjadi ter-mangu2 bingung, terutama
disebutnya nama “Li Su-lam” oleh “penjual golok” itu. Jika demikian orang itu tentu kenal engkoh
Lam. Dia mengatakan arak ini dicampur obat tidur, entah betul atau tidak? Apakah memang
sedemikian kotor dan rendah pribadi Toh Hiong itu? Demikian pikir Nyo Wan.
Selagi merasa sangsi, tiba2 ia dikejutkan oleh suara “meong”, kiranya seekor kucing telah
melompat masuk dari jendela. Rupanya kucing itu mencium bau ikan, maka mendekati Nyo Wan
sambil mengeluarkan suara minta makan.
Tergerak hati Nyo Wan, segera ia sumpit sepotong ikan dan dicelup lebih dulu arak yang tumpah
tadi. Lalu diberikan kepada kucing. Sungguh luar biasa, sepotong kecil ikan itu tentunya tak bisa
bikin kenyang si kucing, tapi setelah makan, mendadak kucing itu jatuh menggeletak dengan mulut
berbuih.
Keringat dingin seketika membasahi tubuh Nyo Wan, ia ter-mangu2 sejenak, mendadak ia melonjak
bangun pula sambil berteriak: “Kiranya Toh Hiong benar2 menaruh obat tidur didalam arak!”
Sesaat itu Nyo Wan merasa terkejut dan gusar karena merasa telah dibodohi Toh Hiong, sungguh
tidak nyana pemuda cakap yang disangkanya orang baik kiranya adalah manusia berhati binatang.
Serentak mengkirik juga Nyo Wan mengingat dirinya hampir2 “termakan.”
“Orang tadi mencerca Toh Hiong dan menyebut nama engkoh Lam, rasanya dia tentu akan
menyampaikan kabar apa2 tentang engkoh Lam padaku. Ya, benar, aku harus mencarinya. Pula aku
harus bikin perhitungan kepada manusia berhati binatang itu,” demikian pikir Nyo Wan.
Segera ia melompat keluar jendela. Tapi ia tidak tahu Ciok Bok lari kearah mana, lebih dulu ia
mencarinya ke arah timur, tak tahunya justru menuju jurusan sebaliknya………
Kita bercerita dulu tentang To Liong yang telah berhasil menyusul Ciok Bok. Begitu mendekat
segera ia menyerangnya dengan Tok-liong-piau. Cepat Ciok Bok putar pedangnya ke belakang
menyampuk, “trang”, piau berbisa itu se-akan2 menyerempet dahinya. Rupanya tenaga To Liong
sangat kuat, Ciok Bok hanya mampu memukul menceng Tok-liong-piau yang disambitkan olehnya
dan tidak dapat memukulnya jatuh.
Ciok Bok cukup kenal kelihaian Tok-liong-piau, ia tidak berani memberi kesempatan lagi kepada
lawan untuk menyambitkan piau kedua, apalagi sudah kepepet, terpaksa ia mendahului
melancarkan serangan. Segera ia menubruk maju sambil membentak: “Kau sudah menewaskan
Jisuko dan sekarang hendak membunuh aku pula, hubungan sesama saudara perguruan kita sudah
putus, hari ini kalau bukan kau yang mampus biarlah aku yang mati. Ini, lihat pedangku!”
“Hm, kau telah menerima budi keluargaku, kau tidak tahu balas, sebaliknya menggoda adik
perempuanku dan menyesatkan hidupnya, dosamu ini manabisa kuampuni,” jengek To Liong.
“Baiklah, jika kau ingin mengadu jiwa akan kusempurnakan maksudmu ini.”
Sembari bicara sedikitpun To Liong tidak kendurkan serangannya, pedangnya menusuk ke kanan
dan ke kiri, dalam sekejap saja ia sudah melancarkan belasan kali tusukan, seluruhnya mengarah
Hiat-to mematikan ditubuh Ciok Bok.
Untung Ciok Bok cukup paham ilmu pedang perguruan sendiri sehingga sanggup bertahan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sekuatnya. Namun tenaga dalam To Liong jauh lebih kuat, pengalaman tempurnya juga lebih luas,
biarpun Ciok bok telah mengeluarkan segenap kepandaiannya tetap juga tidak sanggup balas
menyerang. Selang 50-an jurus kemudian keadaan ciok bok tambah payah, ia sudah terkurung
ditengah sinar pedang lawan.
Tampaknya Cipk Bok tak sanggup bertahan lagi, baru saja ia bermaksud menggunakan suatu jurus
hancur bersama musuh, tiba2 terdengar suara orang berseru: “Eh, bukankah itu dia Ciok Bok? Eh,
Ciok Bok, mengapa kau berkelahi dengan Toasuhengmu?”
Sekilas memandang, alangkah girangnya Ciok Bok. Kiranya yang datang ini adalah Song Thi-lun.
Diantara beberapa Thaubak adalah Song Thi-lun yang ada hubungan paling baik dengan Ciok Bok,
pula tiada sebulan yang lalu merekapun pernah bertemu disekitar lembah kupu2 sehingga urusan
Liong Kang dicelakai To Liong telah didengarnya juga.
Begitu Ciok Bok lantas berseru: “Song-toako, hendaklah kau memberi keadilan. Tadi dia hendak
menjebak seorang wanita bersuami dan kepergok olehku, tapi lantas dia hendak membunuh aku.”
“Ngacau belo,” bentak To Liong. “Aku menghajar dia karena dia telah melanggar peraturan
perguruan.”
“Peraturan apa yang kulanggar? Hm, kau sendirilah yang mengkhianati ajaran Suhu, kau telah
membinasakan Jisuko, kau berkomplotan pula dengan bangsa lain serta memaksa Sumoay kawin
dengan orang yang tak disukainya ……”
“Tutup mulutmu!” bentak To Liong dengan gusar. “Dengan dasar apa kau menuduh aku membunuh
Liong kang? Ayah sudah meninggal, maka akulah yang mengepalai Sanceh kita. Kau berani
membangkang padaku, maka aku berhak menghukum mati kau.” ~ Berbareng ia putar pedangnya
lebih kencang dan menyerang denganlebih ganas.
Melihat gelagat jelek, cepat Song Thi-lun menggunakan kedua rodanya untuk menahan pedang To
Liong dambil berseru: “Siaucecu, ada urusan apa boleh dibicarakan secara baik2, jangan cekcok
diantara orang sendir.”
To Liong menjadi gusar, teriaknya: “Song Thi-lun, apa kau ingin membantu bocah ini untuk
melawan aku?”
Watak Song Thi-lun sebenarnya sangat benci kepada kejahatan, tapi mengingat To Liong adalah
tuan muda pimpinan, sebelum dosanya terbongkar dan mendapat celaan para bawahan, rasanya
tidak enak Song Thi-lun hendak melawannya. Pula iapun tahu kepandaian To Liong, biarpun
bergabung dengan Ciok Bok juga belum tentu mampu mengalahkannya. Dan kalau To Liong sudah
nekad, bukan saja jiwa Ciok Bok akan melayang, bahkan jiwa Song Thi-lun sendiri juga bisa
amblas.
Maka dengan menahan perasaannya Song Thi-lun menjawab: “Siaucecu, aku hanya bantu pihak
yang benar dan tidak pandang orang. Hendaklah kalian berhenti berkelahi dulu, nanti kalau urusan
telah diusut dengan jelas, bila tuduhan Ciok Bok padamu memang betul, dusta, maka bukan saja
engkautakbisa mengampuni dia, malahan aku juga tidak bisa melepaskan dia.”
Song Thi-lun cukup paham To Liong adalah pihak yang salah, apa yang dia katakan itu hanya
membuka jalan bagi To Liong untuk menyudahi pertarungan. Bila betul harus mengusut
persoalannya, tentunya akan memakan waktu cukup lama, sementara ini To Liong yang merasa
berdosa tentu akan mengacir sendiri tanpa dipaksa.
Tak terduga, biarpun berdosa masih juga To Liong belum mau ngacir. Sekarang dosanya telah
dibongkar oleh Ciok Bok, mana bisa orang yang tahu rahasianya dibiarkan hidup. Begitulah pikiran
“membunuh untuk menghapus saksi” akhirnya menguasai benak To Liong. Dengan sekuatnya ia
menolak pergi sepasang roda Song Thi-lun itu sambil membentak: “ Song-thauleng, hendaklah kau
jangan ikut campur selagi aku selaku Ciangbun-suheng mengadakan pembersihan dalam perguruan
sendiri!”
Tapi Song Thi-lun hanya mundur satu langkah, segera ia mengadang ketengah lagi ketika To Liong
hendak menyerang pula. Serunya: “Nanti dulu!”
“Song-thauleng, jadi kau sengaja merintangi aku?” damprat To Liong. “Sudah kukatakan agar kau
jangan ikut campur urusan ini.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Benar, memang urusan perguruan kalian aku tidak ikut campur,” kata Song Thi-lun. “Tapi ada satu
orang yang berhak ikut campur soal ini.”
“Siapa?” tanya To Liong dengan membentak.
“Adik perempuanmu, nona Hong. Dia sedang mencari Ciok Bok, iapun pernah pesan padaku agar
bantu mencarinya. Sekarang kalian telah berkelahi sedemikian rupa, sukar bagiku untuk tinggal
diam karena adanya pesan nona Hong itu.”
To Liong terkejut. “Dimana budak itu sekarang?” tanyanya.
Song Thi-lun tidak menjawab, tapi ia lantas melepaskan sebatang panah berapi (roket) keangkasa,
lalu jawabnya: “Harap tunggu sebentar, segera nona Hong akan datang.”
“Hm, aku justru hendak memberi ajaran2 padanya, masakah dia berbalik hendak mencampuri
urusanku?” jengek To Liong dengan gusar. “Dimata budak itu hanya ada Ciok Bok seorang, mana
dia ingat lagi pada kakak sendiri. Hm, aku justru tak ingin angan2nya terkabul. Song-thauleng, bila
kau tahu aturan sebaiknya kau jangan ikut campur urusan dalam rumah tangga kami.”
“Aku telah dipesan oleh nona Hong, apapun kehendakmu boleh kau lakukan nanti bila adik
perempuanmu sudah tiba,” jawab Thi-lun tegas.
To Liong menjadi ragu2. Bukannya ia takut kepada To Hong, soalnya dia sendirian, kalau benar
sebentar To hong muncul dan mengeloni pihak sana, maka sukarlah baginya untuk membunuh Ciok
Bok.
Malahan kalau To Hong sudah datang, bukan mustahil To Liong sendiri yang sukar meloloskan
diri.
Teringat demikian, To Liong menjadi jeri, segera ia pura2 berlagak garang, jengeknya: ‘Hm, siapa
ada tempo buat menunggu budak itu. Baiklah, kalau dia datang nanti suruh dia dan Ciok bok
menemui aku dihotel paling besar di kota ini.”
Habis berkata To Liong lantas mengeloyor pergi tanpa menghiraukan seruan Song Thi-lun. Melihat
kelakuan To Liong itu, Thi-lun tertawa geli.
Ciok Bok sendiri menantika datangnya sang Sumoay dengan tak sabar, ketika mendengar Song Thilun
tertawa, ia melengak, tapi segera paham persoalannya, tanyanya: “Song-toako, apa kau cuma
menggertak dia saja?”
“Benar,” jawab Thi-lun. “Bila aku bilang Sumoaymu akan datang masakah dia bisa digertak lari?”
Dengan sendirinya Ciok Bok rada kecewa. Tapi Song Thi-lun lantas berkata pula: “Namun
Sumoaymu memang benar2 pernah pesan aku agart mencari dirimu. Dia benar2 sangat
menguatirkan kau.”
“kau bertemu muka dengan adik Hong?” Ciok Bok Menegas.
“Ya, kira2 lima hari sesudah kita berpisah lantas bertemu dengan mereka, dia berada bersama nona
Beng, Putri Beng-tayhiap. Aku telah menyampaikan berita tentang dirimu, dia sangat senang. Cuma
dia dan nona Beng buru2 harus pulang, katanya hendak mengundang Beng-tayhiap untuk
membantunya menuntut balas. Sebab itulah dia minta aku mencari kau lagi.”
Ciok Bok merasa girang karena telah mendapatkan berita yang pasti mengenai diri To Hong, tapi
kecewa pua karena sang nona tak bisa datang sendiri. Dengan menghela napas ia berkata: “Tak
apalah kalau Sumoay tak bisa datang, yang kukuatirkan adalah nona yang tertipu oleh To Liong itu,
sekembalinya To Liong ke hotel mungkin nona itu sukar lolos dari cengkeramannya, kita berdua
saja rasanya sulit untuk menolong dia.”
“Nona yang kau katakan itu apakah tunangan seorang kawan baikmu? Siapakah dia?” tanya Song
Thi-lun.
“Yaitu Li Su-lam yang pernah kukatakan padamu,” jawab Ciok Bok.
Thi-lun ter-bahak2: “Haha, kiranya Li Su-lam, jika demikian tak perlu kau kuatir.”
“Sebab apa?” tanya Ciok Bok heran.
“Tunangannya bernama Nyo Wan, dia pernah bergebrak dengan aku, ilmu pedangnya sangat bagus.
Kepandaian To Liong mungkin lebih tinggi sedikit dari nona itu, tapi tidak gampang untuk
mengalahkannya. Apalagi kau telah membongkar tipu muslihat To Liong, masakah sinona tidak
lekas2 kabur?”
Ciok Bok rada lega, katanya: “Walaupun begitu lebih baik kita coba mencarinya saja. Aku masih
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
utang budi kepada Li Su-lam dan belum sempat membalas.”
“Baiklah, kita mencarinya dan bertindak menurut gelagat,” kata Thi-lun.
“Sebab apa kau pernah bertempur dengan Li Su-lam dan bakal istrinya?” tanya Ciok Bok.
“Sungguh memalukan kalau diceritakan,” kata Thi-lun, “aku slah paham bahwa ayahnya menjadi
pengkhianat, tak tahunya pengkhianat itu adalah seorang bangsat yang memalsukan nama ayah Li
Su-lam. Duduk perkara ini aku baru tahu setelah bertemu dengan Sumoaymu.”
“Ya, Li Su-lam pernah katakan padaku bahwa dia pernah bertemu dengan Sumoay di lembah
kupu2. Tentunya Sumoay juga kenal nona Nyo itu.”
“Tentu saja kenal,” ujar Thi-lun dengan tertawa. “Malahan dia dan nona Beng sangat menyesalkan
meninggalnya nona Nyo, siapa tahu berita yang kau sampaikan itu ternyata tidak betul.”
“Sekarang nona Nyo belum mendapatkan tempat tinggal yang tetap, kalau kita ketemukan dia lantas
ajak dia ke Sanceh, biar Sumoay ikut bergirang nanti,” kata Ciok Bok.
Ciok Bok tidak tahu bahwa pada saat yang sama itu Nyo Wan juga sedang mencarinya.
Waktu itu dengan murka Nyo Wan sedang mencari To Liong buat bikin perhitungan. Sekeluar dari
hotel ia lantas ber-lari2 belasan li jauhnya dan masih belum menemukan To Liong, si penjual golok
juga tak kelihatan batang hidungnya. Setelah ber-lari2 sejauh itu, teringatlah Nyo Wan, ia keluarkan
saputangan untuk mengusap air keringat di dahinya. Cahaya bulan malam ini cukup terang,
terlihatlah olehnya sepasang burung merpati yang tersulam diatas saputangan itu.
Nyo Wan tertegun, teringat olehnya saputangan itu adalah tanda mata pemberian Karosi ketika
mereka hendak berpisah. Saputangan itu selalu disimpannya dalam baju, sekarang tanpa sengaja
telah dikeluarkan dan digunakan.
Menghadapi saputangan itu, tanpa terasa timbul macam2 perasaan dalam benaknya. Teringat
olehnya suara merdu biduanita padang pasir Karosi yang cantik itu ketika tertawan oleh jago2 Sehe
dan dirinya dan Li Su-lam telah menyelamatkannya. Waktu itu Karosi sedang mengikuti sang
kekasih yang sedang berangkat ke medan perang, gadis yang setia dan suci murni cintanya itu
sungguh jarang ada ddi dunia ini. Nyo Wan menjadi terbayang akan nasib sendiri yang hampir
sama, ia pikir nasibku mungkin lebih buruk daripada Karosi, selama hidup ini mungkin aku tak bisa
bertemu pula dengan Su-lam.
Tiba2 terkilas pula setitik sinar harapan baginya, sebab teringat olehnya apa yang diucapkan si
penjual golok yang belum selesai lantas dipaksa kabur oleh To Liong itu. Penjual golok itu
menyerukan agar dia jangan percaya pada To Liong dan menyebut pula nama Li Su-lam. Menurut
jalan pikirannya, orang itu telah membongkar muslihat To Liong yang hendak memberi minum arak
beracun padanya, maka yang dia anjurkan agar jangan percaya kepada To Liong tentu adalah suatu
urusan lain atau ada hubungannya dengan Su-lam sebagaimana disebut olehnya. Ah, jangan2 Sulam
masih hidup si dunia ini dan keparat ‘Toh Hiong” itu sengaja mendustai aku.
Dapatkah Nyo Wan menyelamatkan diri?
Kemana perginya To Liong dan bagaimana dengan nasib Li Su-lam?
Bagaimana akibatnya dengan penyerbuan pasukan Jengis Khan ke wilayah Kim?
Jilid 05 bagian pertama
Dengan berpegang pada titik harapan itu, Nyo Wan menjadi sangat mengharapkan bisa bertemu
pula dengan si penjual golok untuk ditanyai se-jelas2nya. Maka cepat ia simpan kembali saputangan
itu dan segera melanjutkan perjalanan ke barat.
Tidak jauh, tiba2 terdengar didalam hutan sana ada suara lari kuda yang ramai walaupun rada jauh.
Ia heran mengapa malam2 begini masih ada orang lalu lalang dan mengapa pula tidak mengambil
jalan besar, tapi menyusur hutan ?
Nyo Wan menduga besar kemungkinan adalah orang kangouw, karena rasa ingin tahu, segera iapun
masuk kehutan itu untuk mengintai.
Ternyata rombongan pendatang itu sangat cepat tibanya, baru saja Nyo Wan masuk hutan sudah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tampak belasan penunggang kuda mendatangi dengan cepat. Dengan terkejut lekas2 Nyo Wan
sembunyi dibalik sepotong batu besar. Akan tetapi tempat itu kebetulan tandus, bayangannya yang
tersorot oleh cahaya bulan sudah keburu dilihat oleh kawanan pendatang itu. Seorang diantaranya
berpakaian perwira lantas membentak : “Siapa yang sembunyi disitu ? Lekas keluar !”
Ternyata yang diucapkan adalah bahasa Mongol. Rupanya rombongan ini adalah regu pengintai
pasukan Mongol yang ditugaskan diwaktu malam sekaligus menjadi perintis bagi pasukan induknya
yang sedang menyusup ke dalam wilayah Kim. Beitu perwira itu membentak, serentak belasan
penunggang kuda itu menerjang ke tempat sembunyi Nyo Wan.
Merasa tak bisa kabur lagi, apalagi jumlah musuh hanya belasan orang, Nyo Wan lantas
menampakkan diri, pikirnya kebetulan dapat merampas seekor kuda mereka.
Dalam pada itu dengan cepat sekali seorang penunggang kuda itu sudah menerjang tiba, kontan
Nyo Wan mengaju tangannya, sepotong batu kecil lantas menyamber ke depan dan tepat mengenai
Hiat-to di dada sasarannya. Tapi yang terdengar adalah suara “trang” yang nyaring, batu itu malah
terpental jatuh ketanah. Kiranya prajurit itu memakai baju perang dari baja, dengan sendirinya
timpukan batu Nyo Wan itu tidak membawa hasil. Walaupun begitu prajurit Mongol itu kesakitan
juga dan hampir2 jatuh dari kudanya, karena tak bisa menguasai tali kendali, kudanya lantas lari
kepinggir.
Menyusul dibelakangnya seorang lain lantas menerjang maju sambil berseru: “Awas, jangan
meremehkan nona cilik ini!”
Dalam pada itu Nyo Wan telah mencabut goloknya sambil melompat kesamping, berbareng
goloknya lantas membabat kaki kuda musuh. Senjata prajurit itu adalah tombak panjang, dari atas
tombaknya menusuk kebawah, terdengar suara nyaring disertai letika api, ujung tombak orang itu
kena dikutungi oleh golok pusaka Nyo Wan, tapi Nyo Wan juga tidak berhasil memotong kaki kuda
lawan, sedangkan kuda itu tetap mencongklang ke depan.
Nyo Wan merasakan kesemutan juga tangannya dan diam2 mengakui beberapa lawan itu tidaklah
lemah. Dalam pada itu kembali ada dua penunggang kuda menerjangnya dari kanan kiri, senjata2
yang mereka gunakan adalah tombak2 pula, sebaliknya Nyo Wan memakai golok pendek, meski
tajam juga kurang menguntungkan. Apalagi musuh diatas kuda dan Nyo Wan ditanah, terang posisi
demikian juga menguntungkan musuh.
Sementara itu kedua penerjang itu sudah mendekat, melihat gelagat buruk, terpaksa Nyo Wan
menggunakan ginkang untuk meloncat se-tinggi2nya keatas dan secara tepat pada saat yang paling
gawat dapat menghindar tusukan tombak lawan.
“Hebat sekali kepandaianmu, nona cilik!” perwira Mongol tadi memuji. “Tapi kaupun tidak perlu
mengadu jiwa, kami tidak ingin membikin susah padamu, hanya ingin menanya kau saja.”
Mana Nyo Wan mau percaya. Dalam pada itu seorang musuh menerjang tiba pula. Ia pikir sekali ini
harus kurobohkan dia. Mendadak ia melompat ke atas lagi, kembali ia menggunakan ginkang yang
tinggi, prajurit mongol yang menerjang tiba ini terus ditubruknya, belum kakinya menginjak pelana
kuda lawan goloknya sudah menabas lebih dahulu.
Diluar dugaan, selagi Nyo Wan menyerang, dari belakang iapun diserang. Belum lagi golok Nyo
Wan mengenai sasarannya, tahu2 sesuatu benda menyamber dari belakang tubuh Nyo Wan sudah
terjerat oleh tali laso.
Kiranya perwira Mongol itu adalah bekas pemburu yang mahir, kepandaiannya yang khas adalah
menangkap binatang buas dengan laso. Dalam keadaan terapung diatas,keruan Nyo Wan tak bisa
berkutik terjerat oleh laso itu.
Setelah jatuh ketanah, Nyo Wan meronta sekuatnya. Tak tahunya tali laso itu bukan tali tambang
biasa, tapi adalah buatan kulit badak yang sangat kuat. Karen meronta2 dan tidak dapat melepaskan
diri, akhirnya golok ditangan Nyo Wan juga terlepas jatuh.
“Jika kau berani menyentuh diriku, sekaligus akan kugugur bersama kau,” bentak Nyo Wan.
Biarpun teringkus laso, namun Nyo Wan masih mahir Tiom-hiat dengan jarinya, maka bentakannya
itu bukan hanya gertak sambel belaka.
Perwira Mongol itu berkata: “Jangan kuatir, kami takkan menggangu kau, orang mongol tidaklah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sejelek sebagaimana kau pikir. Tapi kau harus mengaku siapakah kau ini, dari mana kau
memperoleh kepandaian tinggi ini dan mengapa tengah malam buta berada disini?”
“Kau hanya ada dua pilihan, bunuh aku atau bebaskan aku, aku tidak sudi dipaksa mengaku,” jawab
Nyo Wan.
“Bandel benar nona macam kau,” ujar perwira itu dengan tertawa. “Aku takkan membunuh kau,
tapi akupun tak dapat membebaskan kau sebelum kau diperiksa.”
Perwira itu merasa sudah kenal muka Nyo Wan, Cuma dimana tidaklah ingat, maka ia sangat heran
dan coba mendekati Nyo Wan. Sebaliknya Nyo Wan sudah bertekad akan mati, maka iapun tidak
ambil pusing.
Sekilas perwira itu melihat saputangan yang terselip dipinggang Nyo Wan, tiba2 ia bersuara heran
dan bertanya: “Darimana kau mendapatkan saputangan ini?”
Nyo Wan melengak, jawabnya: “Buat apa kau tanya hal demikian?”
Perwira itu merasa sangsi, ia tidak menjawab, tapi saputangan Nyo Wan itu dicukilnya dengan
golok. Ketika dia memeriksa saputangan itu, dalam hati ia menarik kesimpulan: “Memang benar,
saputangan ini adalah sulaman Kalusi sendiri.” ~ Segera ia balas bertanya: “Kau harus
memberitahukan padaku, siapakah yang memberi saputangan ini padamu?”
Tergerak juga hati Nyo Wan, jawabnya: “Hendaklah kau beritahu lebih dulu, apakah kau juga
memunyaio saputangan yang serupa ini?”
“Darimana kau mengetahui?” kata perwira itu terkejut. Cepat ia pun mengeluarkan sebuah
saputangan dari bajunya, ternyata saputangan itu memang serupa dengan saputangan yang dimiliki
Nyo Wan, sama2 tersulam sepasang burung merpati.
Melihat itu barulah Nyo Wan memberi keterangan: “Saputangan ini kuterima dari seorang nona
Mongol bernama Kalusi. Dia mengatakan seluruhnya membuat tiga saputangan macam begini,
sebuah diberikan tunangannya, sebuah disimpannya sendiri dan yang ketiga diberikannya kepadaku
ini.”
Perwira itu terkejut dan girang pula, katanya: “akulah Akai, tunangan Kalusi. Bila dan dimanakah
engkau ketemu dengan Kalusi? Mengapa dia memberikan saputangan ini padamu?”
Nyo Wan terkejut dan girang pula, sebab dari Kalusi telah diketahuinya pribadi Akai. Tapi ia
sengaja hendak menjajalnya , maka sengaja tak menggubris pertanyaan Akai tadi dengan muka
cemberut.
Akai seperti tersadar, cepat ia membuka ikatan Nyo Wan dan memberi hormat: ‘Maaf nona,
sebelumnya aku tidak tahu bahwa nona adalah sobat baik kalusi.”
Maka berceritalah Nyo Wan tentang perkenalannya dengan Kalusi tempo hari. Akai terkejut,
katanya: “O, kiranya adalah penolong jiwa Kalusi malah, sungguh aku terlalu sembrono.” ~ Habis
berkata ia terus berlutut dan menyembah kepada Nyo Wan.
Nyo Wan tidak pantas membangunkan orang, terpaksa ia balas hormat dan berkata: ‘Kau bertindak
menurut disiplin, akupun tidak menyalahkan kau. Tapi sekarang bolehkan kau membebaskan aku
pergi?”
Akai ragu2 sejenak, katanya kemudian: “Aku tidak bermaksud menahan nona. Cuma, demi
kebaikan nona, kukira jalanan ini tidak baik dilakukan oleh seorang perempuan. Oya, aku lupa
menanyakan nama nona, mengapa datang kesini seorang diri? Bukankah nona tadi mengatakan
punya seorang teman ketika menyelamatkan Kalusi tempo hari?”
Melihat Akai adalah seorang yang jujur, pula telah menanam budi padanya, rasanya Akai takkan
membikin susah padanya, maka Nyo Wan merasa tiada jeleknya mencari keterangan kepada Akai
tentang Li Su-lam. Maka dengan suara oelahan ia berkata: “Dapatkah kau minta pengiring2 mu
menyingkir dulu?”
Akai tahu ada sesuatu yang hendak dibicarakan si nona, segera ia memberi tanda agar
pengiring2nya menyingkir agak jauh. Lalu bertanya: “Adakah sesuatu yang hendak nona katakan
padaku?”
“Sebagai tunangan Kalusi, aku percaya penuh padamu,” kata Nyo Wan. “Aku ingin tanya keadaan
seorang padamu. Li Su-lam, pernahkah kau dengar nama ini?”
“Li Su-lam?” Akai menegas dengan terkejut. “Apakah orang yang kini menjadi buronan panglima
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
perang kami?”
“Benar, tidak Cuma panglima perang kalian, bahkan Khan agung kalian juga hendak
menangkapnya. Apakah kau tidak takut membicarakan soal orang ini?”
“Jangan kuatir,” jawab Akai sambil menepuk dada sendiri. “kau telah menyelamatkan Kalusi,
biarpun jiwaku berkorban juga sukar membalas budi baikmu. Apa yang kau inginkan bantuanku,
silahkan bicara saja, aku tidak takut akibatnya.”
“Aku bukan minta bantuan tanagamu, hanya ingin tanya kabar beritanya saja.”
“Aku Cuma mengetahui panglima telah menyebarkan perintah penangkapan dengan melukiskan
gambar ini. Lebih dari itu aku tidak tahu.’
“Kabarnya Li Su-lam terpanah mati oleh ahli panah Mongol kalian yang terkenal, yaitu Cepe,
apakah berita penting demikian juga tak kau dengar?”
“Hah, masakah ada peristiwa begitu? Tapi aku belum pernah dengar kabar demikian? Ah, kukira
kabar ini tidk betul.”
“berdasar apa kau mengatakan tidak betul?” tanya Nyo Wan.
“Sebab kalau peristiwa demikian benar terjadi, tentunya panglima mengirim perintah lanjutan lagi
tentang pencabutan perintah penangkapan buronan itu. Namun samapi saat ini aku tidak pernah
menerima perintah apa2 dari atasamku.”
Sungguh girang Nyo Wan tak terkatakan, pikirnya didalam hati: “Hah, jika demikian besar
kemungkinan engkoh lam masih hidup di dunia ini.”
Dan baru saja ia hendak mohon diri, tiba2 Akai berkata: “Jangan berangkat dulu , nona NYO.”
Nyo Wan melengak, tanyanya: “Aku belum lagi memberi tahukan namaku, mengapa kau sudah
tahu sekarang?”
“Soalnya perintah penangkapan buronan tidak Cuma LI Su-lam saja, tapi masih ada gambar
buronan seorang lagi, yaitu seorang wanita muda she Nyo bernama Wan yang lari bersama Li Sulam,
sebab itulah aku lantas tahu siapakah nona ketika engkau menyebut namanya Li Su-lam.”
“O, kiranya begitu,” kata Nyo Wan.
“Terus terang kuberitahukan, pasukan yang kupimpin ini adalah pelopor pasukan induk kami, kira2
besok pasukan induk kami sudah dapat sampai disini, bila kau melanjutkan perjalanan kedepan
tentu akan ketemukan peperangan besar.”
“Jika betul begitu, ya, apa boleh buat,” ujar Nyo Wan.
“Tapi kalau nona ketemukan perwira2 pasukan kami yang kenal mukamu dari gambar, tentu
mereka takkan melepaskan kau begitu saja. Nona telah menanam budi padaku, betapapun aku tiak
bisa membiarkan nona menghadapi bahaya.”
“Lalu apa kehendakmu?” tanya Nyo Wan.
“Aku punya suatu usul, entah nona dapat terima atau tidak?”
“Coba jelaskan dulu!”
“Dimanakah kampung halaman nona?”
“Di suatu kampung diluar kota Kiciu.”
“Kiciu? Itukan suatu tempat yang terletak tidak terlalu jauh dari Taytoh?”
“Ya, kira2 empat ratusan li dari taytoh.”
“Jika begitu soalnya menjadi beres. Nanti bila pasukan kami maju terus menyerbu ke Taytoh tentu
pula akan melalui kampung halamanmu itu. Maka aku bermaksud minta nona sudi bergabung dulu
didalam pasukanku ini, dapat nona menyamar sebagai laki2 dan menjadi pelayanku. Setiba di
kampung halamanmu nanti barulaj kau meninggalkan pasukanku. Sebagai buronan, tentunya
perwira2 kami tidak menyanka kau justru sembunyi ditengah pasukan mereka sendiri. Dengan
demikian kuyakin nona akan dapat pulang dengan aman.”
Nyo Wan pikir dirinya ada kaum wanita, mana boleh bercampur dengan kawanan prajurit. Setelah
ragu2 sejenak, akhirnya ia berkata: “Kukira kurang leluasa, bahkan sukar mengelabui mata telinga
orang lain sehingga bocor rahasia diriku, akibatnya pasti akan bikin susah padamu.”
“Aku tidak sependapat dengan nona. Pertama aku hanya seorang Pek-hu-tiang (pemimpin seratus
prajurit, kira2 sama dengan komandan kompi), kukira para panglima takkan mengontrol kedalam
kemahku. Kedua, semua anak buahku adalah sesama suku dengan aku, terutama belasan orang yang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengelilingi aku ini adalah seperti saudara saja dengan diriku, mereka pasti takkan membocorkan
rahasiaku. Ketiga, kau akan kuberi sautu tenda tersendiri bila berkemah. Dengan demikian kujamin
kau takkan diganggu oleh anak buahku.”
“Aku percaya penuh padamu,” jawab Nyo Wan. ‘Cuma untuk menyamar kukira agak ........” “Apa
sukarnya jika mau menyamar?’ ujar Akai.
Sebagai seorang bekas pemburu, rupanya Akai kenal macam2 rumput2an, segera ia mengajarkan
Nyo Wan menggunakan air sejenis rumput untuk dipoleskan pada mukannya, lalu dipupuri dengan
debu tanah, ketika Nyo Wan bercermin pada air sungai di tepi jalan, ternyata hampir tidak
mengenal dirinya sendiri.
“nah, bagaimana, siapa yang dapat kenal kau lagi? Tentunya nona dapat menerima usulku bukan?”
kata Akai.
Tiba2 hati Nyo Wan tergerak, ia teringat sesuatu, tanyanya: ‘Konon wakil panglima perang pasukan
kalian ini adalah seorang Han, apakah betul?”
“Benar, orang ini bernama Li Hi-ko, seorang kepercayaan Khan, apakah nona Nyo kenal orang
ini?”
“Tidak kenal. Soalnya jarang terjadi seorang Han bisa mendapat kedudukan begitu tinggi di tengah
bangsa kalian, makanya aku heran dan bertanya. Apakah dia sekarang sudah ikut datang bersama
pasukanmu?”
“Dia berada dalam pasukan induk dan baru akan sampai disini beberapa hari lagi,” jawab Akai
tanpa curiga.
Keterangan ini membikin Nyo Wan merasa mantap. Ia pikir mati hidup Su-lam belum jelas, yang
pasti sakit hatinya harus kubalaskan baginya. Bila kucampurkan diri ditengah pasukan mongol tentu
akan ada kesempatan buat membunuh Li Hi-ko palsu alias Sia It0tiong itu. Setelah ambil keputusan
demikian, lalu katnay kepada Akai: “Banyak terima kasih atas saranmu yang baik ini, terpaksa juga
aku mesti minta perlindunganmu. Cuma aku masih ada permintaaan2 lain, semoga engkau dapat
memaklumi keadaanku.’
“Nona adalah penolong kalusi dan dengan sendirinya juga penolongku, ada persoalan apa silahkan
nona bicara terus terang saja,” jawab Akai.
“Begini,” kata Nyo Wan. ‘Pertama aku minta aku diberi kebebasan dalam hal menentukan pergi
atau tetap tinggal dalam pasukanmu pada setiap waku. Jadi bila perlu setiap saat aku bisa pergi
biarpun belum sampai di kampung halamanku.’
“Yang kuharapkan hanya engkau terhindar dari bahaya, soal kau ingin berangkat se-waktu2, ya ,
tentu aku akan memberi bantuan sepenuhnya.”
“Permintaanku yang kedua adalah nanti bila kalian berperang dengan pasukan kim, maka aku akan
ikut maju di medan perang. Tapi kalau kalian sembarangan membunuhi rakyat jelata, hal ini
kutentang se-keras2nya.’
“kalusi juga pernah berkata demikian padaku,” jawab Akai. “Terus terang kukatakan bahwa aku
sendiripun anti perang, maka kau jangan kuatir, aku pasti takkan membunuh rakyat yang tidak
berdosa.”
“Bicaramu yang blak2an harus dipuji. Tapi akupun ingin omong dimuka, meski negeri yang kalian
serang adalah Kim, namun wilayah Kim yang luas itu adalah tanah air kami yang diduduki,
sebagian besar rakyatnya juga bangsa Han kami, maka bukan mustahil pada suatu hari kita akan
bertemu dimedan perang dan berhadapan sebagai musuh.
“Menyerbu negeri orang, membunuh rakyatnya, memangnya ini adalah salah kami. Tapi kami
hanya taat kepada perintah atasan, taat pada Khan. Maka demi membalas budi kebaikanmu, biarpun
kelak aku mati ditanganmu juga aku tidak menyesali kau.”
Dalam hati Nyo Wan merasa Akai ini termasuk orang Mongol yang bisa menerima nasehatnya,
Cuma seorang hendak disadarkan dengan segera adalah urusan yang tidak gampang, dipaksakan
juga percuma, biarlah kelak kalau ada kesempatan lagi akan diberi nasehat pula, demikian pikir Nyo
Wan.
Begitulah setelah pembicaraan ini kedua pihak menjadi dapat saling maklum kesulitan masing2,
Nyo Wan lantar terima juga saran Akai tadi dan menyamar. Sementara itu anak buah Akai sudah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
selesai mendirikan kemah. Ketika mereka melihat Nyo Wan berubah menjadi pemuda mereka terheran2.
Maka Akai memberi penjelasan bahwa Kalusi pernah hutang budi kepada Nyo Wan,
sekarang kebetulan mereka menuju ke arah yang sama, agar leluasa di tengah perjalanan, maka Nyo
Wan disuruh menyamar sebagai laki2, hendaklah para anak buah itu menjaga rahasia ini.
Anak buah kepercayaan Akai itu kenal juga Kalusi, merekapun tahu Nyo Wan berilmu silat tinggi
dan sangat mengaguminya, maka dengan serentak mereka menyatakan taat atas perintah Akai.
Kacung penjaga kuda Akai itu berusia enambelasan tahun, namun tubuhnya cukup kekar sehingga
lebih tinggi sedikit dari Nyo Wan. Akai lantas suruh penjaga kuda itu mengambilkan seperangkat
pakaiannya untuk Nyo Wan serta memberi pesan pula: “Selanjutnya kalian harus panggil Nyotoako
padanya dan dilarang panggil nona Nyo. Nah, sekarang silahkan Nyo-toako berdandan dulu
ke dalam tenda, coba dulu pakaian itu cocok atau tidak. Tentang urusan2 lain akan kubicarakan pula
dengan mereka.”
Melihat orang2 Mongol itu semuanya jujur dan tulus, diam2 Nyo Wan merasa lega dan bergirang.
Pikirnya: “Apa yang dikatakan Akai memang tiak salah, di tengah orang Mongol terdpat juga orang
baik. Padahal prajurit2 ini sebagian besar berasal dari keluarga rakyat jelata, mereka tidak
menginginkan perang, mereka Cuma menuruti perintah pemimpinnya saja. Sungguh tidak nyana
aku dapat menemukan suatu tempat berlindung yang aman disini, tapi engkoh Lam saat ini entah
ter-lunta2 dimana? Dari keterangan Akai tadi telah terbukti apa yang dikatakan Toh Hiong itu sama
sekali bohong, dengan demikian tentunya engkoh Lammasih hidup di dunia ini.”
Nyo Wan tidak tahu bahwa pada saat dia memikirkan Li Su-lam, pada saat yang sama Li Su-lam
juga sedang mencarinya di kota kecil itu.
Hari itu dengan susah payah dapatlah Li Su-lam terlepas dari pengejaran musuh dan dapat melintasi
perbatasan Sehe dengan selamat, akhirnya iapun tiba dikota kecil yang pernah disinggahi Nyo Wan
itu.
Setiba disitu, urusan yang dilakukannya adalah mencari kabarnya Nyo Wan. Kota kecil itu adalah
tempat yang mesti dilalui oleh kaum pengungsi yang melarikan diri dari Sehe, maka Su-lam pikir
kalau beruntung Nyo Wan dapat menyelamatkan diri bukan mustahil nona itu akan dapat
diketemukan atau diperoleh beritanya.
Begitulah setelah membersihkan diri, mulailah Su-lam mengadakan penyelidikan. Ia mendapatkan
hotel yang paling besar di situ,pikirnya: “Bila adik Wan pernah melalui tempat ini, besar
kemungkinan dia akan mondok di hotel besar ini.”
Dugaan Su-lam memang tepat. Hotel itu adalah tempat menginap Nyo Wan dan To Liong semalam
sebelumnya. Waktu Su-lam tiba adalah lohor keesokan harinya dan To Liong belum lagi kembali ke
hotelnya semalam, tapi demi melihat potongan Li Su-lam yang gagah, terpaksa ia melayani dengan
hormat.
Kamar hotel mestinya sudah penuh semua, tapi ada sebuah kamar besar yang ditinggalkan tamunya
semalam tanpa pamit, sekarang sudah mendekat lohor tamu itu masih belum nampak kembali.
Namun pemilik hotel itu masih ragu2 untuk disewakan kepada Li Su-lam, terpaksa ia menyatakan
keadaan sebenarnya.
“Jangan kuatir,akan kuberi sewa kamar dua kali lipat, bila tamu lama kembali aku akan mengalah
dan mencari hotel lain,” kata Li Su-lam.
Walaupun masih ragu2 dan rada takut terhadap penghuni kamar yang menghilang semalam, namun
dasarnya manusia yang mata duitan, di-iming2 dengan sewa kamar dobel, pemilik hotel menjadi
tertarik, apalagi Li Su-lam sudah berjanji akan mengembalikan kamarnya kalau penghuni semula
pulang.
Sesudah selesai persoalan sewa kamar, lalu Su-lam tanya apakah ada tamu wanita muda di hotel itu.
Rupanya pemilik hotel salah wesel, disangkanya Li Su-lam iseng mau cari “tukang pijat”.
“O, ada saja, mau yang bagaimana? Yang kurus, yang gemuk? Yang muda atau setengah tua?”
tanya pemilik hotel.
Keruan Su-lam melengak, cepat ia menjawab: “Tidak, tidak, bukan itu maksudku. Tapi aku Cuma
mencari keterangan seorang kawan perempuan pengungsi yang mungkin pernah lalu disini.”
“O, siapakah dia? Coba ceritakan, mungkin aku masih ingat tamu2 wanita yang pernah bermalam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
disini,” ujar pemilik hotel.
“Perempuan muda usia 20-an,” tutur Su-lam, lalu diuraikannya wajah dan dandanan Nyo Wan.
Pemilik hotel terkejut mendapat penjelasan itu, ia ter-mangu2 bungkam, pikirnya dalam hati:
“Kiranya yang dia tanya adalah bandit perempuan yang kabur semalam itu. Celakanya kamar yang
kusanggupi justru kamar bandit perempuan itu. Apakah mesti keberitahu atau tidak?”
Selagi pemilik hotel merasa sangsi, segera Su-lam menyodorkan lagi sepotong perak seberat
beberapa tahil, katanya: “Sedikit uang capek ini buat minumteh, harap kau terima dulu.”
Dasar pemilik hotel ini memang tamak, biarpun dimulut masih sungkan2, eh, tangannya sudah tidak
kuasa lagi, potongan perak itu lantas sudah diambilnya. Katanya: “Ah, untuk minum the juga tidak
perlu biaya sebanyak ini.”
“Asalkan kau mau berteman dengan aku, maka secangkir teh ini akan kuhargai lebih daripada
pemberianku ini,” kata Su-lam tertawa. Berbareng I aputar sebuah cangkir the yang berada diatas
meja di depannya, ketika cangkir itu diangkat, tertampak diatas meja telah mendekuk suatu
lingkaran bekas pantat cangkir.
Sungguh kaget pemilik hotel itu tak terkatakan, jelek2 dia juga berpengalaman kangouw, dengan
sendirinya ia dapat menerima ucapan Li Su-lam yang terakhir itu sebagai tanda mengatakan: “Kalau
kau mau berkawan, tentu kau akan mendapat persen lebih banyak. Tapi kalau kurang simpatik
sehingga merugikan aku, maka kau akan tahu rasa nanti.”
Dibawah serangan “persen dan kekerasan” Li Su-lam, terpaksa pemilik hotel itu bicara terus terang:
“Ya, memang ada seorang perempuan muda seperti apa yang kau tanyakan dan bermalam disini.
Cuma dia tidak sendirian. Makanya tadi aku rada ragu2 sebab yang kau tanyakan adalah nona muda
yang sendirian.”
“O, dia tidak sendirian?” Su-lam menegas dengan heran. “Lalu siapkah teman perjalanannya?”
“Dia datang bersama seorang pemuda, katanya mereka kakak beradik,” pemilik hotel itu
menerangkan.
Su-lam tambah heran, tanyanya pula: “bagaimana muka pemuda itu? Apa betul si nona
mengakuinya kakak?”
“Entah betul tidak kakaknya, yang jelas dia sendiri mengaku demikian, tentu tuan kenal asal usul
mereka bukan?”
“Ya, tapi kakaknya sudah lama meninggal,” kata Su-lam.
“O, pantas wajah mereka toh tidak mirip biarpun mengaku sebagai kakak adik.”
“Apakah sekarang mereka masih berada disini?” cepat Su-lam bertanya pula.
Baru sekarang pemilik hotel mengatakan: “Kamar yang kuberikan kepada tuan inilah kamar yang
disewa mereka semalam. Terus terang, semalam mereka pergi tanpa pamit dan sampai sekarang
belum nampak kembali.”
Pada umumnya kamar yang disewa akan kehilangan haknya kalau sudah lewat tengah hari, maka
Su-lam lantas berkata: “Kini sudah lewat lohor, tentunya kamar yang kau janjikan dapat kumasuki
bukan?”
Kamar itu sejak ditinggalkan To Liong dan Nyo Wan semalam masih terkunci dengan rapat,
pemilik hotel sendiri tidak berani memasukinya. Maka begitu dibuka, Su-lam lantas menyaksikan
arak dan daharan memenuhi meja. “Alangkah senangnya mereka?” jengek Su-lam dalam hati.
Setelah memeriksa keadaan kamar, tiba2 pemilik hotel melihat kucing belangnya tergeletak tak
berkutik disudut kamar, disangkanya kucing itu tidur disitu. Tak tahunya kucing itu telah makan
sepotong ikan yang tercampur arak obat sehingga tak sadarkan diri.
Sebaliknya perhatian Su-lam tertarik oleh sebuah buntalan di tempat tidur, buntalan itu dikenalnya
sebagai milik Nyo Wan, di meja rias juga tertampak sisa pupur dan gincu yang dipakai Nyo Wan.
Tanpa terasa timbul macam2 dugaan dan kecurigaan dalam hati Li Su-lam, pikirnya: ‘Dia baru saja
mengalami bencana dan berpisah dengan aku tanpa mengetahui mati hidup masing2, mengapa dia
masih ada pikiran buat bersolek segala? Ai, apakah dia benar2 sudah berubah?”
Sudah tentu Su-lam tidak tahu bahwa didalam daharan dn arak yang berserakan diatas meja itu
tercampur obat tidur, sebab itulah dia tidak tahu tipu muslihat keji To Liong, sebaliknya menyangka
Nyo Wan telah ber-foya2 mencari senang dengan teman lelakinya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Sementara itu pelayan datang membersihkan kamar. Kucing belang yang masih tidur lelap itupun
dibawa pergi. Lantaran Su-lam lagi dirundung kemasqulan, maka terhadap kucing yang tidak wajar
itupun tidak diperhatikannya.
“Didalam kamar ini hanya ada buntalan ini dan kukira tiada sesuatu benda berharga lain, maka
boleh kau tinggalkan buntalan ini disini, nanti kalau tamu perempuan itu pulang boleh kuserahkan
kembali padanya,” kata Su-lam.
Sudah tentu pemilik hotel lebih suka terhindar dari tanggung jawab, maka ia mengiakan saja, lalu
mengundurkan diri.
Setelah pemilik hotel pergi, Su-lam menutup pintu kamar dan coba membuka buntalan itu, isinya
adalah dua perangkat pakaian Nyo Wan yang sudah tuan dan kotor, rupanya belum sempat dicuci.
Pakaian2 itu dipakai Nyo Wan ketika masih bersama Su-lam, meski dia sudah ganti pakaian
baru,namun dia tidak lupa pada kekasih yang hilang, pakaian lama tetap disimpannya sebagai
kenangan2.
Melihat barangnya menjadi teringat pula kepada orangnya, terasa pilu hati Su-lam, remuk redam
rasanya. Terkenang kepada cinta kasih yang sudah terjalin, semakin pedih hatinya. Apakah
mungkin cintanya hanya palsu belaka? Saking gemasnya mendadak ia lolos pedang dan
menghancurkan sebuah cermin sebagai pelambang cermin yang sudah pecah sukar dibulatkan
kembali.
Setelah melampiaskan rasa gusarnya, kemudian Su-lam menjadi malu dan mencela diri sendiri,
pikirnya: “Kenapa kau marah padanya?” Dia kan tidak utang sesuatu padamu, sebaliknya terlalu
banyak kau berutang padanya. Dia pernah merawat ayahmu tanpa kenal capek, kakaknya mati demi
membela kau. Sekarang kau tidak mampu melindungi dia, sedangkan dia sudah sebatangkara di
dunia ini, kenapa kau menyalahkan dia mencari pasangan baru? Padahal dia juga belum menjadi
istrimu secara resmi, iapun tidak tahu keadaanmu hidup atau mati, mana boleh kau anggap dia tidak
setia padamu? Sebenarnya semula kaupun tidak ingin memperistrikan dia, mengapa sekarang kau
merasa marah lantaran dia mencari pasangan lain? Sudahlah, anggap saja kau tidak pernah kenal
dia.”
Selagi pikirannya bergolak tak teratasi, tiba2 terasa angin berkesiur,waktu Su-lam menoleh,
tertampak seorang telah melompat masuk melalui jendela. Kiranya To Liong adanya.
Kembalinya To Liong adalah mencari Nyo Wan. Dia tidak tahu apakah Nyo Wan sudah
mengetahui rahasia arak yang ditaruh obat tidue, maka dalam hati kecilnya masih menaruh harapan
semoga Nyo Wan belum pergi, tapi sedang menantikan pulangnya.
Walaupun begitu, namun karena pikirannya masih ragu2 dan kuatir To Hong dan Ciok Bok
menyusulnya, maka ia tidak mau kembali kekamarnya melalui pintu hotel, soalnya ia tidak mau
buang tempo dan akan segera angkat kaki bila Nyo Wan masih menunggu dikamar hotel. Tak
terduga, begitu berada didalam kamar Nyo Wan tidak kelihatan, yang ada Cuma seorang pemuda
yang ter-mangu2 disitu.
Sebelumnya To Liong tidak kenal Li Su-lam, tapi pernah melihat gambarnya, maka segera ia dapat
menduga siapa yang dihadapinya. Tapi ia pura2 membentak: “Siapa kau? Mengapa kau berani
memasuki kamarku?”
Sejak dikamar itu memangnya Su-lam sudah siap untuk menghadapi kembalinya Nyo Wan dan
kawan barunya, maka datangnya To Liong tidak membuatnay kaget. Hanya saja ia bingung juga
dan ber-debar2 ketika pemuda yang sekamar dengan Nyo Wan ini mendadak muncul dihadapannya.
To Liong pikir Su-lam adalah buronan dari Mongol, kalau aku dapat membekuknya tentu akan
sangat dihargai oleh pangeran Tin-kok. Tapi diketahui pula Li Su-lam adalah murid kesayangan
Kok Peng-yang, tentunya tidak gampang ditangkap begitu saja. Sebaliknya ia rada keder juga ketika
melihat Su-lam melotot kearahnya dengan sikap menantang.
Dengan mendengus segera To Liong berkata: “Apakah kau tuli, kau tidak dengar pertanyaanku
tadi?”
Su-lam tenangkan diri, lalu menjawab: “Dimanakah Nyo Wan? Suruh dia kemari, tentu kau tahu
siapa aku?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Hm, tidak tahu aturan! Kau pernah apanya Nyo Wan, berdasar apa harus kupertemukan dia
denganmu?” jengek To Liong.
“Aku suaminya!” teriak Su-lam dengan gusar.
Baru sekarang To Liong yakin bahwa Li Su-lam belum bertemu dengan Nyo Wan. Segera timbul
pikirannya untuk membikin gusar lawannya, jawabnya kemudian dengan menyindir: ‘Hm, ngaco
belo kau, ketika aku kenal Nyo Wan dia masih perawan yang suci bersih, darimana dia punya suami
macam kau? Apakah kau tahu siapakah aku? Justru aku ini suaminya! Kamar inilah yang kami
jadikan kamar pengantin semalam!”
Hampir kelenger Li Su-lam saking gusarnya, tapi iapun tidak dapat sama sekali mempercayai
ucapan To Liong itu, sebab kalau bukannya mereka sudah menjadi suami istri, darimana dan cara
bagaimana To Liong mengetahui tadinya Nyo Wan masih perawan suci bersih?
Selagi Li Su-lam tertegun saking murkanya, segera To Liong menyambitkan sebuah Tok-liongpiau.
Serangan ini mestinya sukar dihindarkan Su-lam. Untung pada saat itu kebetulan pelayan
hotel datang menanyakan tamunya apakah ada sesuatu pesanan, ketika dia mendengar ribut2
didalam kamar, ia coba melongok dan melihat tamu kemarin dengan galaknya sedang berhadapan
dengan tamu baru, ia terkejut dan menjerit. Lantaran jeritan yang tepat pada waktunya inilah Su-lam
terkejut sadar dan sempat melihat menyambernya Tok-liong-piau yang sudah mendekat. Tanpa ayal
lagi ia menegos sambil mendekap meja sehingga piau itu menancap dimuka meja.
Dalam pada itu dengan cepat sekali To Liong lantas menubruk maju.
“Kurang ajar!” damprat Su-lam dengan gusar. “kau telah merampas istriku, sekarang kau hendak
membunuh aku pula!” ~ Trang, cepat ia melolos pedang menangkis pedang To Liong yang
menabas kearahnya.
“Hm, kau masih berani mengaku dia sebagai istrimu bentak To Liong sambil melancarkan serangan
yang lebih gencar. Ilmu pedang keluarga To yang disebut “Tui-hun-toat-beng-kiam-hoat” (ilmu
pedang penguber sukma dan perampas jiwa) sangat lihai, serangan gencar itu membuat Su-lam
terpaksa hanya sanggup menangkis saja dan tidak sempat balas menyerang.
Tapi Su-lam juga bukan kaum lemah, sebabnya terdesak adalah karena pikirannya yang kacau,
setelah bergebrak dia menjadi tenang malah. Semakin gencar serangan To Liong, semakin rapat
pula dia bertahan. Tat-mo-kiam-hoat dari Siau-lim-pay memangnya mengutamakan kemantapan,
secara sabar Su-lam mematahkan setiap serangan lawan, maka meski To Liong selesaikan 36 jurus
serangan “Tui-hun-toat-beng-kiam-hoat” kedua pihak ternyata sama kuat.
Setelah serangan lawan mulai longgar, Su-lam berseru: “Sekalipun kau benar sudah menjadi suamiistri
dengan Nyo Wan juga aku akan bertemu dengan dia!”
“Kurang ajar, jangan kau harap aka bertemu dengan dia, biar kuantar kau keneraka saja,” jawab To
Liong.
“Hm, kau merintangi pertemuanku dengan dia, terpaksa aku mengadu jiwa dengan kau,” jawab Sulam
dengan gemas.
Karena ber-ulang2 menyerang tidak berhasil, To Liong mulai gugup. Maklum dia lari kembali ke
hotel lantaran jeri terhadap Ciok Bok yang menggertaknya dengan nama To Hong, To Liong
percaya gertakan Ciok Bok itu dan kuatir adik perempuannya benar2 akan menyusul tiba, sebab
itulah ia pikir meski lekas2 angkat kaki dari tempat bahaya ini.
Namun setiap kali To Liong menggeser langkah, setiap kali pula Su-lam membayanginya.
“Mau lari kemana!” bentak Su-lam sambil melancarkan serangan balasan.
Tiba2 To Liong mendapat akal, katanya dengan mendengus: “Hm, apakah kau benar2 mencintai
Nyo Wan?”
“Persetan! Pertanyaan ini bukan menjadi hakmu, suruh Nyo Wan kemari, aku nanti yang akan
bicara sendiri padanya,” damprat Su-lam.
“Aku adalah suaminya, mengapa aku tidak boleh tanya?”
kata To Liong. “Hm, kukira dasarnya kau memang tidak pernah cinta padanya. Jika kau benar cinta
dia, seharusnya kau mesti mengutamakan kepentingannya.”
Su-lam melengak. “Apa katamu?” ia menegas.
“Kubilang kau harus mengutamakan kepentingannya bila benar kau cinta dia,” jawab To Liong.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Coba kau pikir, dia sudah rela menjadi istriku, mengapa kau masih merecoki dia? Mau apa jika
kau bertemu dengan dia? Paling2 hanya akan membikin susah padanya.”
Kata2 To Liong ini benar2 menusuk kedalam lubuk hati Li Su-lam, tergetar hati Su-lam pikirnya: “
Ya, memang betul, aku mau apa bila bertemu dengan dia? Dia kan sudah menjadi milik orang lain.”
Belum lenyap pikirnya. Se-konyong2 To Liong menusuk dengan pedangnya. Karena hatinya sudah
hancur, Su-lam tidak ingin banyak urusan lagi, ia berkelit kesamping sambil berkata: “Pergi saja
kau!”
Tanpa ayal lagi To Liong melompat keluar jendela.
Dalam sekejap itu timbul macam2 pikiran Su-lam , semula ia bertanya pada diri sendir apa mesti
membiarkan To Liong kabur begitu saja? Lalu terpikir lantas mau apa kalau To Liong ditahan
disitu, apakah aku mesti membunuhnya? Sedangkan Wan-moay sudah menjadi istrinya, bila To
Liong terbunuh berarti Nyo wan akan menjadi janda dan merana selama hidup. Berpikir sampai
disini ia menjadi malu sendiri dan mencela diri sendiri: “Wahai Li Su-lam, kenapa jiwamu begini
sempit? Jika kau benar2 mencintai Nyo Wan seharusnya kau mengutamakan kebahagiaannya.
Jangankan kau tidak pantas mencelakai suaminya, sekalipun pikiran ingin bertemu denganmu juga
seharusnya dihapuskan.”
Terpikir sampai disini, tiba2 diluar ada suara jerit ngeri. Kiranya waktu To Liong keluar, mendadak
pelayan hotel tadi juga sedang berlari disebelahnya. Rupanya pelayan itu lagi mengintip apa yang
terjadi dikamar, ketika To Liong melompat keluar, ia menjadi ketakutan dan bermaksud lari pergi.
Namun sudah tidak keburu To Liong sudah kadung gemas karena jeritannya tadi sehingga Li Sulam
terhindar dari sambitan Tok-liong-piau, kini pelayan itu dipakai sebagai pelampias gemasnya,
sekali pedangnya menabas segera jiwa pelayan itu melayang.
Mendengar suara jeritan, Su-lam lantas keluar, menyaksikan adegan mengerikan itu, ia menggusar,
bentaknya: “Keparat, aku sengaja melepaskan kau, tapi kau malah membunuh orang yang tidak
berdosa!”
Saat itu To Liong lagi membuka kandang kuda untuk mengambil kuda yang dibelinya kemarin,
baru saja ia mencemplak keatas kuda dan dilarikan, Su-lam tampak memburu keluar. Segera To
Liong menyambitkan sebuah Tok-liong-piau, menyusul sebuah Tok-liong-piau yang lain disabitkan
kepantat kuda lain didalam kandang, maksudnya agar kuda itu tidak dapat ditunggangi oleh Li Sulam.
Dengan mudah dapatlah Li Su-lam menyampuk Tok-liong-piau yang menyamber kearahnya.
Terdengar To Liong bergelak tertawa dan berseru dari jauh: “Hai Li Su-lam, menyesalpun sudah
kasip kau!” Mampukah kau mengejar aku sekarang? Haha, hari ini kau lepaskan aku tapi lain hari
bila bertemu jangan kau harap aku akan melepaskan kau!”
Dengan murka Su-lam lantas menguber, tapi betapa ginkangnya sukar juga melampau lari kuda
bagus itu. Setelah keluar kota kecil itu, dalam keadaan remang hanya kelihatan suatu titik hitam
dikejauhan, To Liong sudah pergi jauh.
Tertiup oleh angin malam yang dingin barulah pikiran Su-lam rada jernih kembali. Ia menghela
napas dan berpikir: “Kiranya orang ini begini busuk, demi kebahagiaan Wan-moay aku telah
mengampuni dia, tapi mendapatkan suami begini apakah adaik Wan bisa bahagia? Tahu begini tadi
tentu takkan kuampuni dia.” ~ Lantas terpikir lagi olehnya: ‘Aneh, mengapa adik Wan bisa memilih
pasangan seperti orang ini? Biasanya dia bisa berpikir panjang, masakah sama sekali dia tidak bisa
menilai antara orang baik dan busuk?”
Selagi Su-lam merasa gegetun bagi Nyo Wan, tiba2 terdengar suara derapan barisan kuda yang riuh.
Waktu menoleh, dilihatnya sepasukan Mongol telah memasuki kota kecil itu. Panji pasukan Mongol
yang bersulamkan gambar elang tertampak juga dari jauh.
Ia terkejut, sungguh tak terduga pasukan tartar itu bisa tiba begitu cepatnya. Karena seorang diri,
Su-lam tidak ingin terlibat alam pertempuran yang merugikan, terpaksa ia melarikan diri.
Sudah tentu Li Su-lam tidak tahu bahwa yang memasuki kota kecil itu adalah pasukan yang
dipimpin Akai yang bertugas sebagai pelopor dan pengintai. Bahkan Nyo Wan juga berada ditengah
pasukan musuh itu. Karena larinya Su-lam, maka hilanglah kesempatannya untuk berjumpa kembali
dengan Nyo Wan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Penduduk setempat jug apanik dan lari serabutan melihat kedatangan pasukan berkuda Mongol.
Dari jauh Nyo Wan melihat juga bayangan seorang lari dengan cepat sekali diantara penduduk yang
ketakutan. Karena hari sudah dekat magrib, keadaan mulai remang2, hanay dari bayangan belakang
orang itu Nyo Wan merasa seperti orang yang dikenalnya. Namun dengan cepat orang itupun sudah
menghilang. Ia pikir masakah bisa sedemikian kebetulan Li Su-lam berada disitu. Mungkin saking
rindunya kepada Su-lam, maka timbul khayalannya. Ia tidak tahu bahwa yang lari paling depan itu
memang benar2 Li Su-lam adanya.
Nyo Wan juga telah memeriksa kembali ke hotel yang dipondokinya semalam, tentu mencari
jejaknya To Liong saja. Pemilik hotel juga sudah melarikan diri, pelayan yang ketakutan juga
sembunyi, tiada seorangpun yang berani menghadapi prajurit Mongol. Karena tidak mendapat
keterangan apa2, terpaksa Nyo Wan tidak mencari lebih jauh.
Besoknya pasukan Mongol yang lain ber-turut2 tiba, regu yang dipimpin Akai itu kembali ke
pasukan induknya. Nyo Wan mencampurkan diri dengan anak buah Akai dan ternyata mendapat
perlindungan Akai dengan baik. Dia menyamar sebagai tukang kuda dan mendiami sebuah tenda
kecil sendirian, tugasnya cuma merawat kuda Akai, pekerja lain sama sekali bebas. Yang tahu dia
adalah kaum wanita cuma belasan orang saja, tapi belasan orang itupun dapat menjaga rahasia.
Semula Nyo Wan rada kebat-kebit, lama2 menjadi biasa juga.
Pasukan Mongol maju dengan pesat se-akan2 tidak mendapatkan perlawanan, sampai di kaki
gunung Liong-pan-san, karena panglima kerajaan Kim bertahan dengan gigih, beberapa kali
pasukan Mongol menyerang selalu gagal, terpaksa pasukan Mongol Berkemah di kaki gunung
sambil menunggu datangnya bala bantuan.
Beberapa hari kemudian Nyo Wan mendengar panglima besar Mongol an wakilnya sudah tiba
semua, yaitu pangeran Tin-kok dan “LI KI-ho”. Maka Nyo Wan mulai mengatur rencana
pembunuhan terhadap Li Ki-ho palsu alias Sia It-tiong itu.
Dengan bantuan pimpinan Sia It-tiong yang mahir ilmu kemiliteran, pasukan Mongol mengadakan
pengepungan ketat terhadap kedudukan musuh diatas gunung, mereka menduga musuh pasti akan
kekurangan makanan dan air dan akhirnya tentu akan menyerah.
Dari penyelidikan Nyo Wan diketahui kemah kediaman Sia It-tiong serta keadaan penjagaannya.
Suatui malam, hujan rintik2 dan gelap gulita, sungguh suatu kesempatan bagus buat Nyo Wan
menjalankan pekerjaannya. Tengah malam, diam2 Nyo wan mendekati kemah Sia It-tiong, didepan
kemah ada empat penjaga yang sudah capek dan mengantuk sehingga tidak mengetahui datangnya
Nyo Wan.
Sudah tentu kemah tempat tinggal Sia it-tiong jauh lebih bagus dan luas daripada kemah prajurit
biasa. Luas tenda itu kira2 belasan meter persegi, atap tenda tersanggah sehingga bagian tengah
rada dekuk, tapi pada umumnya sangat rata tiada ubahnya seperti ataop rumah biasa.
Dengan ginkang yang tinggi, laksana burung saja Nyo Wan melayang keatas atap tenda, dari atas ia
mendekat dan mengintip kebawah. Para penjaga hanya memperhatikan depan kemah, sama sekali
mereka tidak memperhatikan bagian atas, apalagi keempat sudut tenda rada menjengkit, biarpun
mereka menengadah juga takkan melihat keadaan diatas.
Nyo Wan menggunakan belati tajam untuk menyobek kain tenda itu, lalu mengintip kebawah.
Dilihatnya suasana terang benderang didalam kemah itu. Pangeran Tin-kok tampak juga berada
disitu dan sedang memeriksa sebuah peta bersama Sia It-tiong. Disamping mereka ada dua orang
Busu.
Dalam hati Nyo Wan berdoa semoga arwah Li Hi-ko dan kakaknya memberkati agar usahanya
membalas sakit hati terlaksana. Habis itu ia terus mengincar dan menyambitkan belatinya. Dasar
ajal Sia It-tiong belum tiba, kebetulan dia menggeser dan menunduk untuk memeriksa peta
terdengar suara “cret”, kopiahnya yang tersamber oleh belati Nyo Wan itu, hanya secomot
rambutnya ikut terkupas.
Keruan kaget Sia it-tiong tidk kepalang hingga jatuh terduduk lemas.
“Ada pembunuh gelap!” teriak pangeran Tin-kok.
Dalam pada itu dengan cepat sekali Busu tadi sudah lantas mengejar keluar, seorang diantaranya
lantas melompat keatas tenda, menyusu tiga buah piau terus disambitkan sekaligus.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Nyo Wan merasa gegetun karena serangannya terhadap Sia It-tiong mengalami kegagalan. Karena
jejaknya sudah ketahuan musuh, terpaksa ia melarikan diri.
Kepandaian kedua Busu itu ternyata tidak lemah, serangan tiga piau meleset, segera mereka
mengejar dengan kencang. Sementara itu para penjaga didepan kemah juga berteriak ada pembunuh
sambil ikut mengejar.
Untung hujan gerimis dan malam gelap. Tiba2 Nyo Wan mendapat akal, iapun ikut ber-teriak2 ada
pembunuh gelap, kemudian ia memutar balik sebatang pohon rindang, lalu mencampurkan diri
dengan kawanan Busu lain yang waktu itu be-ramai2 mengejar tiba.
Waktu itu pangeran Tin-kok juga mengejar datang dengan menunggang kuda, rupanya ia mendapat
petunjuk dari Sia It-tiong, sebab ia lantas memberi perintah agar para Busu memeriksa sekitar
sendiri kalau2 ketemukan orang yang tak dikenal yang bertubuh kecil.
Perintah itu menyadarkan Busu yang ber-lari2 berdampingan dengan Nyo Wan, mendadak ia
mencengkeram bahu Nyo Wan sambil membentak: ‘Kau dari regu mana?”
Busu ini adalah jagoan gulat Mongol, cepat Nyo Wan mendak kebawah, berbareng pedang
menusuk. Namun tusukannya meleset, sedangkan Busu itu menubruk maju lagi. Se-konyong2 Nyo
Wan menyusup lewat disebelahnya, berbareng itu iga Busu Mongol itu terasa kesemutan, kontan ia
terjungkal dan masih sempat berteriak: ‘Pembunuh gelapnya ada disini!”
Rupanya Nyo Wan dapat menutuk Hiat-to dipinggang lawan, baru saja ia hendak kabur, tahu2
seorang Busu lain sudah menubruk tiba pula. Busu ini meyakinkan “Tay-lik-ing-jiau –kang”,
cakaran elang bertenaga raksasa, sekali cengkeram, walupun tidak kena, namun robek juga baju
Nyo Wan.
Sembil menggeser kesamping, berbareng Nyo Wan cabut goloknya, “sret-sret-sret”, sekaligus ia
melancarkan tiga kali tabasan sehingga Busu itu dibuat kelabakan menangkisnya.
Busu itu terkejut dan baru mengetahui lawan tidaklah lemah, cepat ia berteriak: “Lekas kemari!”
Mendadak Nyo Wan membentak: “Kena!” ~ Dimana sinar golok berkelebat, kontan lengan kiri
Busu itu tertabas buntung.
Habis itu Nyo Wan lari pula secepat terbang dengan ginkang yang tinggi, karena hujan gerimis,
jalanan licin kawanan Busu Mongol sukar mengejarnya. Sementara itu tanda bahaya telah
dibunyikan diseluruh perkemahan pasukan Mongol.
Nyo Wan tidak berani mencampurkan diri ditengah pasukan musuh, terpaksa lari kejurusan yang
sepi, menuju kejalan pegunungan.
Tapi kemudian Nyo Wan merasa cemas karena dibawah dikelilingi pasukan Mongol, diatas gunung
juga pasukan musuh, yaitu tentara Kim. Ia pikir daripada tertangkap, segera ia menyusup ketengah
hutan dilereng gunung, tapi mendadak tertampak pula di tengah hutan juga banyak tenda2. Keruan
ia terkejut.
Selagi bingung se-konyong2 beberapa orang menubruk tiba dari balik pepohonan sambil
membentak: “Siapa kau? Jangan bergerak!” ~ Dari suara mereka yang nyaring jelas orang2 itu
kaum wanita semua.
Melengsk heran juga Nyo Wan. Pada saat itulah sinar ketikan api berkelebat, lalu seorang
mendamprat: “Kurangajar! Kiranya seorang lelaki busuk! Mau apa kau datang kesini?”
“Dibawah sedang ribut ada pembunuh gelap, aku mengejar dan kesasar kemari,” jawab Nyo Wan.
“mengejar musuh masakah masuk kewilayah perkemahan kita yang terlarang bagi kaum lelaki ini?
Apakah minta mampus?” bentak prajurit wanita tadi.
Dalam pada itu dari bawah ada orang mengejar keatas dan berseru dari jauh: ‘Pembunuh melarikan
diri keatas gunung! Awas adik2 dari pasukan ‘srikandi’, lindungi bangsal Putri!”
“jangan2 bocah ini adalah buronan pembunuh itu,” kata prajurit kepala tadi.
“Ya, paling perlu kita ringkus dia dulu dan urusan belakang,” kata yang lain. Lalu ia mengeluarkan
tali dan bermaksud mengikat Nyo wan.
Selagi Nyo Wan mengeluh bisa celaka, tiba2 terdengar suara orang yang sudah dikenalnya berkata:
“Apa yang kalian ributkan disitu?” ~ Ketika Nyo Wan menoleh,kiranya yang muncul adalah Putri
Minghui.
Segera prajurit wanita tadi melaporkan apa yang terjadi. Nyo Wan juga lantas berseru: “Harap tuan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Putri maklum, aku Cuma memasuki daerah terlarang ini dan mengejar pembunuh gelap yang
dimaksudkan.”
Dengan lentera yang dibawa Minghui mengamat amati Nyo Wan, ia merasa suara orang sudah
dikenalnya. Baju Nyo Wan terobek oleh jambretan Busu tadi sehingga baju dalam warna jambon
tertampak sebagian, Minghui menjadi curiga dan yakin kalau prajurit Mongol sendiri tentu tidak
memakai baju bangsa han sedemikian itu.
Tiba2 ia ingat: ‘Jangan2 dia adalah nona yang berada bersama Li Su-lam itu? Tapi mengapa dia
berubah begini?”
Maklumlah, ketika MInghui bertemu Li Su-lam berada bersama Nyo wan dilembah sunyi dahulu, ia
pandang Nyo Wan sebagai saingan asmaranya, maka kesannya terhadap Nyo Wan cukup
mendalam, biarpun wajahnya kini dalam samaran, namun suaranya masih teringat olehnya.
Terkejut dan girang juga Minghui, segera ia katakan pada anak buahnya: “Aku akan periksa sendiri
bocah ini tapi kalian dilarang menyiarkannya.”
Para prajurit wanita itu menjadi sangsi apakah mungkin Tuan Putri mereka telah pinujui ‘anak
muda’ ini? Soalnya mereka cukup mengetahui Minghui tidak menyukai pangeran tin-kok sehingga
mustahil ingin memilih calon suami sendir. Maka be-ramai2 mereka lantas mengiakan.
Sementara dua pengawalnya Sia-It-tiong juga menyusul keatas, tapi mereka tidak berani memasuki
daerah terlarang, terpaksa berseru dari jauh: ‘Apakah kalian melihat seorang buronan yang lari
kesini?”
Tengah malam buta apa yang kalian ributkan?’ damprat Minghui. “Aku tidak tahu buronan apa
segala, sebaiknya kalian jangan mengacau disini. Hanyo enyah semuanya!”
Sama sekali kedua Busu itu tidak menduga akan didamprat oleh sang Putri, keruan mereka
ketakutan dan lekas2 minta ampun, lalu ngacir cepat2.
Minghui membawa Nyo Wan kedalam tendanya, ia menyingkirkan anak buahnya keluar, lalu tanya
Nyo Wan dengan suara pelahan: “dihadapanku tidak perlu berdusta sebenarnya siapakah kau?”
“kalau tidak keberatam, aku mohon mncucui muka dahulu,” jawab Nyo Wan.
Air merupakan benda berharga dalam perkemahan tentara, namun didalam kemah sang Putri air
jernih selalau tersedia cukup. Sesudah mencuci muka, maka pulihlah Nyo Wan kepada wajahnya
yang asli.
Putri Minghui kejut2 girang, tangan Nyo wan digenggamnya erat2, katanya: “ Betul kau ini? Cara
bagaimana kau bisa sampai disini?”
Kata Nyo Wan: “Terus terang aku sedang buron, sekarang aku terjatuh di tangan tuan Putri terserah
cara bagaimana kau hendak menghukum aku!”
Putri Minghui tersenyum, katanya: ‘Apa kau masih ingat , bukankah dulu aku pernah mengundang
kau datang ke Holin untuk menemani aku, tatkala itu kau tidak sudi. Tak terduga malam ini tanpa
diundang kau sudah datang sendiri, betapa girang hatiku ini masa aku tega mencelakai kau,
legakanlah hatimu!”
Cepat2 Nyo Wan membungkuk memberi hormat menyatakan terima kasih: ‘Sungguh aku terharu
akan kemurahan hati tuan putri, aku rela menjadi budak dan menghamba dibawah perintahmu!”
“Ah,cici yang baik,” ujar Putri Minghui, “jangan kau bicara begitu sungkan. Kita sudah terhitung
sebagai ‘anda’ (saudara angkat, sahabat karib), mana bisa aku membuatmu menderita? Kau tinggal
bersama aku anggap saja aku sebagai saudaramu sekandung.”
“Tuan putri laksana gagang emas daun pualam, masa aku bisa sejajar dengan kau!”
Putri Minghui tertawa getir, ujarnya: ‘Setulus hati ingin aku bersahabat dengan kau, kalau kau tidak
sudi itu berarti kau pandang rendah diriku!”
Memang keadaan Nyo Wan serba sulit dan terdesak oleh keadaan, dihadapan putri Minghui ia
terpaksa harus membuka kedok aslinya sebetulnya hatinya sangat was2 dan kuatir, sekarang setelah
melihat sikap Minghui yang tulus dan welas asih ini, hilanglah ganjelan hatinya. Batinnya:
“walaupun Akai selalu melindungi dan merawat aku, namun seorang gadis sebatang kara seperti
aku keluntang luntung dalam gerombolam laki2 betapa juga rada kikuk.” ~ Maka segera Nyo Wan
menyahut: “Terima kasih akan kebaikan tuan putri, di saat aku menemui jalan buntu ini kau sudi
menerimaku sibawah lindunganmu. Betapajuga aku tidak berani terima uluran persahabatan sama
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
derajat sebagai saudara sekandung. Apalagi bila didengar orang lain nanti bakal menjadi buah mulut
mereka saja.”
Sejenak putri Minghui berpikir lalu berkata: “Kalau begitu terpaksa pura2 kurendahkan derajatmu
menjadi pelayan penhiringku saja, di belakang orang lain kita masih sebagai ‘anda’. Untuk ini
kuharap kau tidak perlu main sungkan lagi.” ~ lalu ia maju bersanding di pinggir Nyo Wan serta
katanya tertawa: “Lihat, potongan badan kita hampir sama, coba kau ganti pakaianku. Masih
banyak persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu!”
Setelah berganti pakaian Nyo Wan menyingkap kerai dan beranjak keluar, tampak olehnya putri
Minghui sedang mondar mandir. Nyo Wan membatin: “Mungkin ia masih tetap rindu kepada
engkoh Lam!”
Betul juga lantas terdengar putri Minghui bertanya: “Nyo-cici, bukankah kau bersama Li Su-lam?
Kemana pula dia sekarang?”
“Akupun juga sedang mencarinya!” sahut Nyo Wan. Maka secara ringkas jelas ia bercerita cara
bagaimana ia sampai berpisah dengan Li Su-lam serta diceritakan pula pengalamannya selama ini
kepada putri Minghui.
“Kejadian ini sungguh diluar dugaan,” kata putri Minghui dengan rawan, “Tapi masih ada setitik
harapan yang dapat melegakan hatimu, apa yang kau dengar tentang cerita itu berani kupastikan
adalah kabar bohong belaka. Belum lama aku pernah bertemu cepe, hakikatnya ia tidak berhasil
menangkap Li Su-lam, maka berita tentang Li Su-lam terpanah dan terluka apa segala boleh
dipasytikan hanya kabar angin melulu.
Sebetulnya Akai juga pernah berkata kepada Nyo Wan bahwa Li Su-lam tak mungkin tertangkap,
namun itu hanya analisa Akai saja menurut situasi yang didengarnya. Sekarang setelah secara
langsung mendengar kepastian ucapan putri Minghui yang boleh diandalkan. Betapa girang hati
Nyo Wan sukar dilukiskan dengan kata2. Pikirnya: “Asal engkoh Lam masih hidup, meski aku
harus menderita lebih parah lagi juga tak menjadi soal bagiku.”
Kata putri Minghui: ‘Kau seorang gadis belia seorang diri lagi berani menerobos kibu2 pasukan
besar yang sedemikian banyak serta membunuh musuh, keberanianmu ini betul2 harus dipuji. Tapi
juga terlalu menempuh bahaya.”
“Sia It-tiong si bajingan tengik itu betul2 maha jahat dan kejam,” kata Nyo Wan, “bukan saja ia
musuh besar yang mencelakai ayah Li Su-lam, juga durjana yang membunuh engkoh kandungku,
Kita merupakan musuh bebuyutan yang tak mungkin berdiri sejajar dalam dunia fana ini. Malam ini
waktu aku ambil keputusan hendak menyatroninya aku sudah ambil keputusan tidak menghiraukan
keselamatan diri sendiri, aku tak perduli lagi apakah caraku ini terlalu menempuh bahaya.”
“Sekarang apakah kau masih ingin menuntut balas?”
Nyo Wan menggertak gigi, desisnya: ‘Selama aku masih bernapas, lambat atau cepat aku tetap
harus menuntut balas.’
Putri Minghui tertawa geli, katanya: “Tapi aku tidak setuju caramu bekerja dengan mengorbankan
jiwa sendiri untung mengutungi kepala musuh. Urusan ini lebih baik kau serahkan kepadaku saja.
Paling cepat sepuluh hari, paling lambat setengah bulan, kepala Sia It-tiong pasti akan kuserahkan
kepadamu.”
Nyo Wan bimbang dan setengah percaya, katanya: ‘Tapi bukankah dia wakil panglima perang?” ~
dalam hati ia membatin, meski putri minghui terhitung seorang majikan, tapi hendak membunuh
jendral tinggi dalam pasukan besar, masa ia punya kekuasaan demikian tinggi?
“Pangkatnya itu pemberian dari ayahku, bila suka ayah bisa mengangkatnya pada jabatan yang
tinggi tapi juga bisamembunuhnya sesuka hati. Tak lama lagi ayahku bakal datang, tiba waktunya
bila kubongkar kedok Sia It-tiong yang memalsukan ayah Li Su-lam, lihat saja apakah ayah mau
mengampuni dosanya itu?”
Nyo Wan berpikir: ‘Minghui adalah putri tunggal yang paling disayang oleh Jengis Khan, kalau dia
berkukuh dan merengek minta ayahnya membunuh Sia It-tiong tujuh delapan bagian tentu bakal
berhasil, dengan demikian meski tidak secara langsung aku menuntut balas dengan tanganku
sendiri, paling tidak juga sudah terbalas sakit hatiku.” ~ Maka lekas2 ia berlutut serta berkata:
‘Untuk kepentinganku tuan putri sampai ikut susah payah, sungguh aku tidak tahu cara bagaimana
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
harus membalas kebaikan dan budi ini?”
Cepat2 putri Minghui memapahnya bangun, ujarnya tertawa: ‘Nah kau ada2 lagi, kita kan sudah
sebagai ‘anda’ urusanmu bukankah juga menjadi urusanku? Apalagi urusan ini belum terlaksana,
nanti kalau aku betul2 sudah membawa pulang kepala Sia It-tiong boleh kau nyatakan terima kasih
kepadaku!”
Hari kedua betul juga ada berita kilat yang datang memberi kabar, katanya Jengis Khan sendiri
bakal pimpin Sing-hek-eng dari Sehe untuk mengadakan inspeksi, kurang lebih tujuh hari lagi pasti
akan tiba.
Sudah tentu bagi pangeran Tin-kok dan Sia It-tiong yang tidak menemukan pembunuh gelap itu
menjadi uring2an dan gusar, namun apa boleh buat. Meski mengejar pembunuh itu cukup penting,
tapi kedatangan Jengis Khan sendir mengadakan inspeksi kiranya jauh lebih penting, utusan yang
dikirim jengis Khan sudah menyampaikan perintahnya secara langsung, beliau mengharap
setibanya nanti pasukan Mongol sudah harus dapat memukul pecah gunung Kiok-pan-san. Ini
berarti dalam jangka tujuh hari ini mereka harus berhasil menduduki Liok-pan-san.
Terpaksa pangeran Tin-kok dan Sia It-tiong kesampingkan dulu peristiwa pembunuh gelap itu,
perhatiannya dicurahkan mengatur rencana untuk menggempur Liok-pan-san. Sudah tentu untuk
menjaga segala kemungkinan, penjagaan semakin diperketat dan keras.
Pasukan Kim yang menduduki puncak Liok-pan-san sudah terkepung beberapa hari lamanya,
ransum sudah mulai habis, saluran air juga dibendung, ini merupakan pukulan berat bagi mereka.
Apalagi dibawah tekanan pasukan Mongol yang menyerang semakin gencar, akhirnya wakil
panglima pasukan Kim membunuh Oh Sa-hou yang memegang tampuk pimpinan tertinggi. Dalam
jangka lima hari akhirnya mereka menyatakan menyerah tanpa syarat.
Hari kedua setelah pasukan Mongol menduduki Liok-pan-san, putri Minghui dan Nyo Wan tengah
ngobrol didalam kemah, tiba2 seorang prajurit wanita masuk memberi laporan bahwa jengis Khan
sudah tiba. Kedatangan beliau sehari lebih cepat dari dugaan semula.
“Dimana Kgan besar sekarang berada?” tanya putri Minghui berjingkrak girang.
“Goanswe (panglima besar) tengah mengiring beliau menginspeksi keatas gunung.” Sahut prajurit
wanita itu.
Putri Minghui menghela napas, katanya: “Ayah selalu memikirkan urusan perang, tak pernah
bercengkerama dengan keluarga.”
Segera ia perintahkan seorang prajurit menyiapkan kudanya, lalu berpaling berkata kepada Nyo
Wan: ‘kau tinggal disini saja menunggu kabar baikku. Bila ketemu ayah nanti pasti rahasia kedok
licik Sia It-tiong itu kulaporkan kepada ayah.”
Jilid 05 bagian kedua
Dalam pada itu dengan terburu Jengis Khan telah memburu tiba dari negeri Sehe, mendengar
laporan bahwa gunung Liok-pan-san sudah pecah dan diduduki pasukan Mongol sungguh
girangnya bukan main. Tanpa hiraukan badan sendiri yang capek, dengan tetap menunggang kuda
perang serta membawa sebarisan pasukan bendera perang langsung ia adakan pemeriksaan keatas
gunung dibawah iringan pangeran Tin-kok, dengan tangannya sendiri ia hendak menancapkan
bendera kebesaran bangsa Mongol dipuncak gunung daerah musuh yang diduduki.
Para perwira dan panglimanya tahu adat keras Jengis Khan yang tengah dimabuk kegirangan akan
kemenangan pasukan perangnya, tiada seorangpun yang berani tampil depan mendahului naik ke
atas gunung. Para perwira tentara Kim yang tertawan hidup sudah digusur kebawah gunung,
keadaan markas diatas gunung sudah kosong melompong, ini sangat kebetulan untuk tempat
istirahat bagi Jengis Khan.
Pangeran Tin-kok selalu berada disampingnya, disamping melindungi iapun ingin mengambil hati
bakal mertuanya ini, diatas gunung ini tiada seorang musuhpun, maka tak perlu kuatir ada
pembunuh gelap.
Waktu sampai di tengah perjalanan agaknya rasa girang Jengis Khan meluap tak terkendali lagi, ia
ter-bahak2 serunya: ”Oh Sa-hou adalah panglima terbesar nomor satu dari pasukan kerajaan Kim.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tempat strategis Liok-pan-san adalah merupak pintu gerbang kerajaan Kim yang paling berbahaya.
Sekarang Oh Sa-hou sudah tewas, pintu gerbangnya juga sudah kita jebol dan kita duduki, tanah itu
yang subur dari Tionggoan aganya memang sudah tak harus kucaplok sekalian.”
Untuk menyanjung dan menyemarakan suasan yang riang gembira ini segera pawa perwira dan
bawahannya be-ramai2 melagukan nyanyian perah yang gagah perwira. Jengis Khan junjungan
agung yang terpuja, Thian memberkahi kekuatan dan kecerdikan luat biasa ........
Pangeran Tin-kok segera keprak kudanya maju mendekat, serunya: ‘Bukan saja tanah luas
Tionggoan nan subur, dibawah pimpinan Khan agung yang jaya, seluruh dunia ini pasti bakal
menjadi ladang gembala bangsa Mongol.”
Jengis Khan ter-bahak2 saking gembiranya, pecutnya terayun terus membedal kudanya lebih jauh.
Sungguh luar dugaan belum lagi lagu perang selesai dinyanyikan, belum pula suara gelak tawanya
lenyap, kaki depan kuda tunggangannya mendadak kesandung batu gunung, kontan Jengis Khan
terjungkal roboh dari tunggangannya.
Beberapa hari ini sering turun hujna, jalanan pegunungan menjadi becek dan licin. Betapapun kuat
badan Jengis Khan kini usianya sudah mendekati 70 tahun, begitu terjungkal seketika tak mampu
bangun malah terus menggelundung kebawah.
Apa itu ‘kekuatan yang maha besar’ , apa itu ‘junjungan agung yang seba pintar’ nyanyian perang
menyanjung puji masih bergema mengalun tinggi menembus angkasa, ini kebetulan menjadi
tanggapan ironis bagi keadaan Jengis Khan yang payah itu.
Tatkala itu putri Minghui baru sampai dilamping gunung, dari jauh ia saksikan Jengis Khan
terjungkal jatuh dari atas kudanya, keruan kagetnya bukan kepalang! Cepat ia keprak kudanya
memburu datang, tak luoa ia perintahkan para perwira mendirikan kubu2 besar di tanah
pegunungan, terus memajang ayahnya memasuki kemah itu unutk istirahat.
Tak lama kemudian tabib negara sudahmemburu datang memeriksa serta menyambung tulang rusuk
Jengis Khan yang patah.
Waktu Jengis Khan membuka mata, pertama yang dilihatnya adalah putri kesayangannya yang
menunggu disampingnya, maka Jengis Khan berkata riang sembari berseri tawa: “Kau gugup dan
ketakutan bukan?”
“Ayah bagaimana keadaanmu?” tanya putri Minghui.
“Aku memperoleh firman Tuhan, aku harus menjadi Khan teragung dari seluruh bangsa di dunia.
Sebelum seluruh pelosok dunia dapat kutaklukkan mana boleh aku mati?” ~ Habis berkata ia
bergelak tawa se-keras2nya, sehingga lukanya pecah dan berdarah, keruan sakitnya bukan kepalang
sampai Jengis Khan mengeluh dan merintih,
Dengan menahan sakit Jengis Khan akhirnya menghela napas panjang dan mengeluh: “Dasar aku
memang sudah tua bangka!”
“Yah,” sela putri Minghui, “Kau harus istirahat sebentar?”
Tatkala itu kemah yang tidak begitu besar penuh berjubel banyak orang, yang berdiri di belakang
tak dapat melihat jengis Khan, ber-bisik2 mereka tanyakan keadaan junjungan.
Tiba2 Jengis Khan mengerutkan alis: “Aku belum lagi mati, apa yang kalian ributkan. Semua
menggelinding keluar!”
Cepat putri Minghui membujuk dengan kata2 manis. Khan besar harus istirahat dengan tenang,
biarlah aku sendir yang merawatnya sudah cukup, besok saja kalian boleh datang lagi.
Semua orang beruntun keluar, akhirnya tinggal pangeran Tin-kok dan putri Minghui berdua. Putri
Minghui segera mendelikkan mata, semprotnya: “Kau juga harus keluar!”
Sejenak pangeran tin-kok melengak, sahutnya: “Ah, masa aku juga tidak boleh tinggal disini?”
“Bukankah ayah sendiri yang memberi perintah, kalian disuruh keluar semua, demikian juga kau!”
Jengis Khan mengeleng kepala, katanya: “Ai, kenapa kalian selalu bertengkar begitu bertemu muka,
sungguh bisa membuat aku mati jengkel! Ya, begitulah, Tin-kok kau keluarlah!”
Semula Jengis Khan ingin menahan pangeran Tin-kok tapi melihat putrinya menjadi murung dan
jengkel terpaksa ia biarkan putri sendiri yang merawatnya.
Wajah hitam pangeran Tin-kok menjadi merah pada pikirnya: “Kau suka atau benci padaku, pada
suatu hari akhirnya bakal jadi istriku. Sekarang biar aku mengalah, nanti setelah kau menjadi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
istriku, akan kulihat apa kau masih berani bertingkah?”
Jengis Khan pejamkan matanya dan istirahat, tak dirasa di lain saat ia sudah pulas. Putri Minghui
tak berani mengusiknya lagi, diam2 ia merancang dua persoalan, urusan pertama minta ayahnya
untuk membunuh Sia It-tiong, urusan kedua adalah ia tidak sudi menikah dengan pangeran Tin-kok.
Untuk ini ia harus meinta persetujuan ayahnya. Dalam anggapan sanubari putri Minghui, persoalan
pertama mungkin takkan menemui kesulitan, justru persoalan kedualah yang memerlukan mulut
manisnya untuk merengek.
Kira2 dua jam kemudian baru Jengis Khan siuman dari tidurnya, begitu membuka mata lantas ia
berkata: “Alehai, kau masih belum pergi?”
“Kalau aku pergi siapa yang merawatmu?” sahut putri Minghui, ‘meski anak buahmu banyak tapi
aku tahu kau tak senang diwarat mereka.”
Jengis Khan tertawa, ujarnya: “Sebenarnyalah hanya kau yang paling prihatin akan kesehatanku.
Aku paling suka dan sayang padamu, tapi aku tidak suka kau kelelahan, harisudah hampir petang
lekas kau pulang istirahat!”
Putri Minghui menggeleng kepala, sahutnya: “Yah, kau usirpun aku tak mau pulang!”
Memandangi putrinya Jengis Khan tersenyum manis, katanya: “Agaknya ada apa2 yang hendak kau
sampaikan kepadaku bukan?”
Putri Minghui bersorak, bertepuk tangan, serunya: “Ayah memang pintar,sekali tebak lantas kena!”
Jengis Khan tertawa puas dan bangga, ujarnya: “Isi hatimu selamanya takkan dapat mengeelabui
aku, coba katakan.”
“Nah, sekarang kau salah terka. Persoalan yang ingin kukatakan justru adalah urusanmu.”
Jengis Khan tertegun sebentar, lalu tanyanya: “Urusanku? Aku ada urusan apa perlu kau turut
ribut?”
“Apa kau tahu orang macam apakah wakil panglima besarmu itu?”
“maksudnya Li HI-ko itu?” Jengis Khan menegas, “Asal meulanya dia seorang tawanan, tapi cukup
punya kepandaian, maka kuangkat pada kedudukan yang tinggi. Untuk apa kau tanyakan
pribadinya?”
Putri Minghui geleng2 kepala katanya: “Yah, kau kena dikelabui olehnya. Dia bukan Li Hi-ko,
nama aslinya adalah Sia It-tiong. Setelah mencelakai Li Hi-ko ia memalsukan namanya untuk
mengejar pangkat!” ~ Segera ia ceritakan bagaimana Sia It-tiong mencelakai Li Hi-ko kepada
Jengis Khan.
Dengan cermat Jengis Khan mendengarkan ceritanya, akhirnya ia berkata: “O, Ada kejadian begitu,
Sia It-tiong itu termasuk juga orang yang cerdik dan banyak muslihatnya!”
Putri Minghui tercengang, katanya: “Yah, agaknya kau memuji dan mengaguminya malah!”
“Lalu menurut pandanganmu, bagaimana aku harus bertindak padanya?”
“Manusia keji yang menjual sahabat demi mengejar pangkat dan kedudukan, mana bisa ayah
tempatkan pada jabatan penting yang begitu tinggi ? Seumpama tidak membunuhny, Pling ringan
harus diusir keluar!” ~ menurut hemat putri Minghui asal Sia It-tiong terusir keluar dari pasukan
besar, tanpa sesuatu sandera yang diandalkan gampang saja umpama Nyo Wan hendak
membunuhnya. Daripada pinjam tangan orang lain ada lebih baik Nyo Wan membunuh musuh
besarnya dengan tangan sendiri.
Bertaut alis Jengis Khan, ujarnya: “Ah, itukan pandangan bocah cilik!”
“Yah,” seru putri Minghui kesal, “Aku pikir demi kebaikanmu, apa kau tidak kuatir orang kerdil
macam Sia It-tiong yang telengas dan busuk itu selalu berada disampingmu? Selamanya kau paling
benci terhadap orang yang tidak jujur dan tidak setia, kenapa kau mandah saja diapusi Sia It-tiong
palsu itu?”
Jengis Khan tertawa lebar, katanya: “Ah, pandangan sempit seorang bocah cilik. Kau menganalisa
persoalan dari pihak sebelah, masa kau kira aku gampang kena diapusi apakah tidak lucu dan
menggelikan?”
“Dia memalsukan nama dan menggantikan orang, terang gamblang telah menipu kau bukan?”
desak putri Minghui.
“kau tak perlu gelisah,” bujuk Jengis Khan, “Duduklah, pelan2 akan kuterangkan.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Per-tama2 aku memerlukan seorang yang cerdik pandai bangsa Han yang bisa kuperalat, orang
macam ini besar bantuannya terhadap bangsa dan negara Mongol kita, untuk menundukkan negeri
tiongkok. Kau sudah jelas belum? Tentang orang itu she Sia atau she Li aku tidak ambil peduli dan
tidak penting bagiku!”
Dingin perasaan putri Minghui seperti kepala diguyur air dingin, debatnya: “Yah, tapi dia seorang
kerdil yang hina dina dan kejam!”
“Aku toh bukan handak pilih mantu, peduli amat akan watak dan sepak terjangnya?” demikian ujar
Jengis Khan tertawa, apalagi dia seorang bangsa Han, bukan sanak bukan kadang kita. Semakin
buruk dan bejat perangainya, aku semakin lega memperbudak dirinya?”
Mendengar uraian ayahnya in putri Minghui se-akan2 terjungkal masuk kedalam lobang es yang
dingin, badannya bergidik dan gemetar, pikirnya: ”Ternyata begitu cara ayah memperalat orang. Ai,
bahwasanya Huma (mantu raja) yang dia pilih untuk jodohku melulu demi kepentingannya sendiri,
betapa dia pernah pikirkan kebahagiaanku? Tin-kok manusia jelek itu bukan saja gila pangkat dan
kemaruk harta malah hidung belang lagi, watak dan perangainya juga bejat.” ~ Kiranya pangeran
Tin-kok adalah putra kepala suku Wangku. Suku Wangku merupakan satu bangsa paling besar dan
kuat bangsa Mongol. Dengan menjodohkan putri tunggalnya kepada pangeran jelek ini tujuan
utama adalah memelet dan meminjam kekuatan militer suku Wangku yang besar itu.
Melihat putrinya tunduk terpekur Jengis Khan menyangka ia belum dapat menangkap arti
ucapannya, maka segera ia menyambung lagi: “Ketahuilah, kita hendak merebut tanah bangsa Han,
bicara terus terang, orang Han yang mau kita peralat dan menjual jiwa bagi kepentingan kita sudah
tentu orang2 hina dina yang rendah dan kepincut harta dan pangkat, lebih jelas lagi mereka aalah
pengkhianat2 bangsanya sendiri. Jikalau seorang ksatria dan pahlawan bangsa, mana mungkin
mereka mau membantu kita menghantam bangsa dan negaranya sendiri.
“tentang dia menipu aku, hal ini harus kita pandang dari segi untung ruginya, apa pula maksud dan
tujuannya, kalau bermaksud membangkang dan mengkhianati aku, sudah tentu tidak akan kuberi
ampun. Tapi tidak demikian akan Sia It-tiong itu, dia hanya menipu aku demi jabatan dan pangkat
saja, demi kepentingan kita yang luhur kenapa aku harus kikir menganugerahinya sekedar pangkat
wakil panglima perang?
“Kau pernah membaca buku karangan orang Han, dan kau tahu ada sebuah pepatah orang Han yang
berbunyi: “kalau tidak jahat bukan seorang laki2. Memang cara Sia It-tiong mencelakai jiwa Li Hiko
cukup kejam dan telengas, tapi ini malah membuktikan akan cerdik pandainya?”
“Sudah tentu dengan adanya seorang keji berada disamping aku harus selalu waspada. Bicara
sejujurnya aku hanay menggunakan dia sebagai anjing pemburu yang paling setia melulu. Orang
Han mereka masih ada sebuah pepatah yang berbunyi: “Kelinci terpanah mati, anjing tergebak lari.
Tanah luas nan subur dari bangsa Han merupakan kelinci buruanku, sekarang kita baru saja
menelan sebagian kerajaan Kim, mana bisa aku menggebah lari antek (anjing) macam Sia It-tiong?
Kau membujuk aku membunuhnya, kelak aku memang harus membunuhnya. Tapi harus tunggu
setelah kita bisa mencaplok kerajaan Kim dan sudah menyebrangi sungai besar menelan kerajaan
Song Selatan!
“Cukup, sekarang kau sudah paham bukan? Selanjutnya kularang kau menyinggung persoalan
membunuh Sia It-tiong lagi, tentang rahasia Sia It-tiong memalsu nama dan menggantikan orang
lain juga jangan sampai bocor. Ini menyangkut urusan besar dan sangat penting, kau harus selalu
ingat peringatanku ini, jangan sekali2 kau membangkang dn melanggar perintah! Sudah kini kau
boleh pulang.”
Luka2 Jengis Khan masih terasa sakit, setelah berkata panjang lebar tenaganya rada terkuras
sebagian, napasnya menjadi memburu, setelah habis berkata ia pejamkan mata mulai istirahat.
Putri Minghui tahu tabiat keras ayahnya, apa yang sudah dikatakan tak pernah ditarik kembali,
apalagi ucapannya kali ini begitu tandas dan tegas, betapapun aleman dan disayang dirinya takkan
mungkin dapat membujuknya untuk membunuh Sia It-tiong.
Apa boleh buat akhirnya putri Minghui menghela napas katanya: “Yah, kalau kau benar2 hendak
memperalat antek busuk ini, aku berjanji takkan membocorkannya. Tapi dalam hati aku benar2
benci askali pada antek hina dina ini. Yah, kau harus istirahat, besok pagi aku datang menengokmu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lagi.”
Baru saja putri Minghui hendak pergi, tiba2 Jengis Khan seperti teringat akan suatu hal, mendadak
ia membuka mata dan berteriak: “Minghui, kau kembali!”
Putri Minghui menjadi putus asa, dengan lesu ia berpaling sahutnya: “Yah, permintaanku kau tak
kabulkan, ada persoalan apa lagi yang perlu dibicarakan?”
Setelah menenggak air kolesom pelan2 Jengis Khan berkata: ‘Urusan rumit ini kau dengar
darimana?”
“Urusan apa?” putri Minghui menegas dengan tertegun.
“Urusan perihal Sia It-tiong tadi, siapa yang memberi tahu kepadamu?” nadanya tertekan dan
serius.
Muka putri Minghui menjadi merah, sahutnya ”tersekat ini, ini …………”
Mendelik mata Jengis Khan, gerungnya: ’Ini Itu apa katakan! Apakah bocah Li Su-lam itu yang
memberi tahu kepadamu?”
Tahu tak dapat mengelabui lagi, terpaksa putri Minghui menjawab: ”Benar, Li Su-lam yang
beritahu kepadaku!”
Jengis Khan menjengek dingin: ’Maka kau hendak menuntut balas baginya bukan?”
Jengkel dan gemes pula hati putri Minghui, katanya : “Suatu persoalan pasti ada baik buruknya,
ayah Li Su-lam sudah dicelakai oleh Sia It-tiong, apakah dia tidak boleh menuntut balas? Memang
aku sendiri merasa simpatik akan persoalan ini, tapi ayah sebaliknya kau lindungi manusia jahat,
apa yang dapat kuperbuat?”
”Bukan itu yang kupersoalkan,” Jengis Khan menegas, ”Ya, ingin kutahu kapan bocah Li Su-lam
itu memberitahu kepadamu?”
”Ayah, buat apa kau urus persoalan tetek bengek ini. Lebih penting kau istirahat tak perlu usut
urusan sepele ini?”
”Ini bukan urusan sepele. Aku tahu bocah Li Su-lam itu menggembol sejilid buku pelajaran perang
karangan Han Si-tiong, betapun aku harus menangkapnya kembali! Terakhir kapan kau bertemu
dengan dia?”
”Waktu berburu di holin tempo hari aku kan bersama Li Su-lam, bukankah kau sendir yang minta
dia menemani aku?”
”Bukan waktu itu yang kumaksud. Watak Li Su-lam sangat keras, menurut rekaanku waktu berburu
di Holin dulu pasti dia masih belum tahu bahw asia It-tiong adalah musuh besar pembunuh
ayahnya, kalau tidak, tidak mungkin dia mau bersama Sia It-tiong mengahdap aku? Segala urusan
ini tentu belakangan ini dia beritahu kepadamu!”
”Yah,” putri Minghui merengek: ’Agaknya kau ingin tahu se-akar2nya, baiklah kuberitahu. Setelah
dia merat dari Holin secara diam2 aku mengejarnya dan kita bertemu disuatu tempat, disanalah ia
memberitahu persoalan itu. Ini terjadi beberapa bulan yang lalu.’
”Sekarang dia dimana?”
”Sudah lama dia pergi,bagaimana aku bisa tahu dimana dia berada?”
“kaukah yang membantu dia melarikan diri?”
“Benar, aku memberinya sebuah medali emas! Yah, cara bagaimana kau hendak menghukum aku,
aku mandah saja.”
Jengis Khan menghela napas, nadanya tiba2 berubah lemas, katanya halus: ”kau melepas buruanku
ini merupakan kesalahan besar, tapi masa aku tega menghukum padamu. Kau menyukai bocah Li
Su-lam itu bukan?”
Perih rasa hati sepertidisayat sembilu, pikirnya: ’Umpama aku memang suka dia apa pula yang
dapat kuperbuat, kan dia sudah punya calon istri.”
Jengis Khan tertawa, ujarnya: ”Kau tidak perlu takut, kalau kau memang suka dia boleh kau panggil
dia kembali. Asal dia mau menurut dan dengar kataku, aku tidak akan mempersukar dia lagi.”
”Tadi sudah kukatakan, pertemuan kita yang terakhir terjadi beberapa bulan yang lau, bagaimana
aku bisa menemulan dia? Ayah, kau tak perlu tanya apakah aku suka atau tidak kepada Li Su-lam,
yang terang aku tidak suka pilihan Huma yang kau penyjui itu!”
”Apakah Li Su-lam betul2 tidak berada disini?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Putri Minghui menjadi uring2an, katanya: “Yah, masa aku bisa menyembunyikan seorang laki2
segede itu?”
“Ya, aku tahu kau takkan berani,” seru Jnegis Khan menarik muka, “Tapi kau harus tahu bahwa kau
sudah ditunangkan dengan orang lain. Huma yang kupilihkan itu peduli suka atau benci kau harus
menikah dengandia. Perlu kuberitahu padamu, Li Su-lam adalah bangsa Han, meski kau
mencintainya, tak mungkin kau menikah dengan dia. Apa kau sudah paham?”
Air mata meleleh keluar membasahi kedua pipi Putri Minghui, saking jengkel ia merengek: “Siapa
sudi aku hendak menikah dengan dia, siapapun aku tidak sudi menikah.”
“Ah, omongan bocah kecil!” Hm, nanti setelah luka2ku sembuh segera kupilih hari baik dan
kulangsungkan pernikahanmu supaya kau tidak banyak pikiran dan berubah hati. Sudahlah kau
boleh pulang. Boleh kau renungkan nanti, jangan kau sia2kan rasa sayangku kepadamu.”
“Mana kau sayang padaku?” demikian batin Putri Minghui, “kau menekan aku menikah dengan
badut buruk itu terang melemparkan aku ke dalam bara api.”
Karena Jengis Khan sedang merawat luka2nya, Putri Minghui tak enak membuatnya marah,
terpaksa ia bungkam saja, dengan mengembeng airmata segera ia tinggal pergi.
Dengan masqul segera Putri Minghui kembali ke kemahnya, begitu melihat sikap orang yang lesu
Nyo Wan lantas mengeluh dalam hati, pikirnya: “Seharusnya aku tidak mengandalkan bantuan
orang lain untuk menuntur balas!” ~ Oleh karena itu meski rada kecewa seberapa bisa ia berlaku
tenang dan membujuk Putri Minghui malah: “Tuan putri demi urusanku kau sampai bercapek lelah,
berhasil atau tidak sama saja aku sangat berterima kasih kepadamu.”
Kata Putri Minghui dengan gegetun: ‘Ayah tidak memberi ijin aku membunuh Sia It-tiong. Tapi
akan datang suatu hari ia bakal terjungkal, cepat atau lambat tentu dia akan terjatuh ditanganku.
Aku sudah pasti harus melawannya sampai babak terakhir.”
Meski Putri Minghui bicara secara tegas, hakikatnya ia sendiri tidak punya pegangan apakah
usahanya membunuh Sia It-tiong bisa berhasil. Apalagi dalam situasi sekarang ini bukan saja dia
tidak mungkin membantu Nyo Wan, sedangkan urusan sendiri yang gawatpun seebtulnya
memerlukan bantuan orang lain yang tidak mungkin dapat terlaksana.
Malam itu Putri Minghui gulak gulek ditempat tidur tak bisa pulas. Jengis Khan pernah berkata
begitu luka2nya sembuh segera hendak melangsungkan pernikahannya dengan pangeran Tin-kok.
Tahu ia ucapan Jengis Khan selamanya menjadi perintah yang tidak boleh dibangkang, betapapun
tak bisa diubah lagi, bagaimanakah baiknya?
Hampir pada kentongan kelima baru lapat2 Putri Minghui bisa pulas dalam mimpinya. Hari kedua
waktu itu ia siuman, matahari sudah naik tinggi segenter. Seharusnya ia pergi menengok luka
ayahnya tapi takut ayahnya nanti menyinggung persoalan pernikahannya. Tengah ia bimbang,
seorang pesuruh masuk melapor, baru sekarang Putri Minghui mengetahui. Karena fasilitas yang
sukar dicapai, terpaksa pangeran Tin-kok memindah tempat istirahat Jengis Khan ke sebuah kota
kecil bernama Ko-goan dikaki gunung Liok-pan-san sebelah selatan.
Menurut rencana militer pasukan besar Mongol semula setelah dapat menjebol pertahanan dan
menduduki Liok-pan-san yang strategis itu, serentak terus menyerbu ke Tiong-tok ibu kota kerajaan
Kim. Namun secara diluar dugaan Jengis Khan terjungkal jatuh dan luka2 maka terpaksa rencana
penyerbuan harus ditunda beberapa waktu lagi.
Untuk memelet dan mengambil hati bakal mertua, pangeran Tin-kok juga tinggal di Ko-goan untuk
merawat penyakitnya. Segala urusan kemiliteran diserahkan kepada kedua pembantunya, sudah
tentu Sia It-tiong semakin terpandang dalam kedudukannya.
Besar hasrat Putri Minghui pergi ke Ko-goan untuk tilik ayahnya, namun takut ketemu dengan
pangeran Tin-kok, pula Jengis Khan tidak mengutus orang memanggilnya, terpaksa Putri Minghui
selalu mengeram dalam kemahnya dengan masqul, sambil menunggu panggilan.
Tak terasa sepuluh hari sudah lewat, selama ini utusan Jengis Khan tidak kunjung datang juga. Tapi
kabar berita dari Ko-goan setiap hari tak pernah putus, kabar didapat selalu mengatakan bahwa
penyakit Jengis Khan sudah berangsur baik. Diam2 putri Minghui menjadi lega, batinnya:
“Mungkin yah masih marah padaku maka tak ingin aku menemui beliau. Tapi asal penyakitnya
lekas sembuh tak menjadi soal aku sedikit menderita tekanan batin.” Dalam rasa girangnya ini
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terselip juga rasa kuatir, karena bila penyakit Jengis Khan sembuh beliau segera hendak
melangsungkan pernikahannya.
Tersekam didalam kubu ketentaraan yang sempit kurang leluasa lagi, Nyo Wan selalu termenung
dan gelisah. Semula ia punya dua tujuan tertentu, dengan berada dalam pasukan musuh ia lebih
dekat dan gampang untuk membunuh musuh besar, dilain pihak seiring dengan ekspansi pasukan
Mongol ke selatan ini sekaligus ia bisa pulang ke kampung halaman yang sudah sangat dirindukan.
Kenyataan musuh besar berada didepan mata, namun i atak berdaya membunuhnya, sekarang
pasukan ini bercokol di Liok-pan-san, entah kapan lagi baru dirinya bisa kembali tiba dikampung
halamannya? Orang lain boleh mondar mandir kemana suka, sebaliknya kuatir konangan kedok
samarannya, paling banyak ia hanya bisa bergerak di tempat2 terlarang khusus bagi pasukan kaum
wanita.
Hari itu karena iseng Nyo Wan pergi kehutan memetik bunga, mendadak terdengar keliningan kuda
yang membedal tiba, dari kejauhan san terleihat perwira muda tengah melarikan kudanya
mendatangi, berani benar perwita ini memasuki dareha terlarang ini.
“Siapaakh itu?” segera Nyo Wan maju membentak, “Apa kau tahu inilah kubu pasukan
perempuan?”
“Ya, aku sedang mencari putri Minghui.” Sahut perwira muda itu.
“Mencari tuan putri juga tidak boleh sembarangan main terobos,” jengek Nyo Wan, “Siapa namamu
sekas sebutkan, bihar kulaporkan dulu, kau keluar dari hutan dang tunggu disana.”
Perwira muda itu malah melompat turun dari kudanya, dengan cermat ia mengawasi Nyo Wan
sekian lama, katanya tertawa: “Dulu agaknya aku belum pernah lihat kau, kapan kau datang kemari,
siapa pula namamu?”
“Kau tahu aturan tidak?” semprot Nyo Wan jangkel. “Kusuruh kau keluar kau dengar tidak?”
Perwira itu tertawa lebar, katanya: “Nona seperti kau ternyata begitu galak, aturan apa yang kau
maksudkan, coba katakan.”
“Siapapun dilarang menginjak daerah terlarang kubu pasukan wanita, apa kau tidak tahu.”
“Ya, siapapun dilarang masuk kemari, hanya akulah yang dikecualikan, hei, kau belum menjawab
pertanyaanku tadi, siapa namau?”
Timbul rasa curiga dan was2 Nyo Wan, batinnya: “Orang ini bernyali begitu besar dan membuat
ribut lagi, bukan mustahil sebagai utusan Sia It-tiong yang hendak menyelidiki jejakku? Kalau
dugaanku ini salah, terang ia sengaja hendak main gila dengan aku.”
Sudah beberapa hari ini Nyo Wan dirundung kesesapan hati yang belum terlampias, segera ia
membentak lebih keras: “Tak perduli siapa kau, berani sembarang terobosan ke daerah terlarang
maka kau harus kubekuk.”
Perwira muda itu bergelak tertawa: “Apa betul? Tapi aku tak percaya nona cantik selemah kau
mampu membekuk diriku?”
“Tak percaya?” jengek Nyo Wan tawar. Mendadak secepat kilat ia melompat menerjang sembari
rangkap kedua jarinya menutuk ke muka si perwira muda.
Jurus Ji-liong-jiang-cu (dua naga berebut mutiara) adalah pelajaran ilmu tunggal dari Go-bi-pay,
merupakan tipu yang lihai dari kepandaian merebut senjata musuh dengan tangan kosong. Sejak
kecil Nyo Wan sudah diajari ilmu lihai ini dari engkohnya Nyo To, begitu kedua jarinya bergerak
laksana dua japitan besi langsung mencolok kedua biji mata lawan, cara serangan ini memang
cukup ganas dan keji.
Keruan perwira muda itu sangat terkejut, “kejam benar!” bentaknya, cepat telapak kirinya
dimajukan miring melindungi muka sedang kakinya bergeser berputar setengah lingkaran berbareng
pecut di tangan kanan juga terayun, perwira muda ini merupakan jago gulat yang paling kenamaan
di Mongol, begitu kedua jari Nyo Wan menyerang tiba asal sekali kena cengkeram pasti patah,
disusul ayunan pecut di tangan kiri, pikirnya gerakan serentak ini tentu dapat meringkus Nyo Wan
dengan mudah.
Tak kira serangan Nyo Wan merupakan gertakan belaka dengan bunyi di timur memukul di barat.
Hakikatnya dia tidak bermusuhan dengan perwira muda ini, mana tega mencukil biji mata orang?
Tapi justru serangannya ini merupakan gertakan yang lihai, terpaksa pihak musuh harus membela
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
diri dan melindungi mukanya dengan sepenuh perhatian.
Tapat pada waktu telapak kiri si perwira muda tegak dimuka wajahnya, mendadak Nyo Wan
merubah gerakannya, tiba2 lengan bajunya dikebutkan mengebut pergelangan tangan si perwira
muda, kontan pecutnya itu kena terampas olehnya.
Sebetulnya tenaga dan kekuatan si perwira muda jauh lebih besar dari Nyo Wan, kalau gebrak
secara terang2an Nyo Wan pasti tak semudah itu dapat mengambil keuntungan, namun dengan
gebrak tipunya yang lihai itu cara berbunyi di timur menggempur di barat kiranya berhasil dengan
gemilang.
Perwira muda itu malah bergelak tertawa, serunya: “Kepandaian hebat, tapi untuk apa kau merebut
pecutku. Bukankah kau dayang Minghui, apa mau menjadi tukang kudaku?”
Pecut musuh telah terampas oleh Nyo Wan, terasa olehnya pecut ini bobotnya rada berat dan lebih
besar dari pecut umumnya, setelah ditegasi baru diketahui bahwa pecut ini teranyam dari rambut
bulu mas hitam yang tumbuh diperbatasan barat, mas hitam yang terdapat di daerah pegunungan
Altai bobotnya lebih berat dari mas kuning biasa, sudah tentu pecut yang dipegangnya sekarang
juga merupakan benda berharga yang tak ternilai harganya. Dari sini dapatlah diduga pemilik dari
pecut ini pasti bukan perwira sembarangan.
Tahu bahwa musuhnya ini bukan orang sembarang, namun ia gemes akan kata somobong dan
kurangajar, diam2 ia membatin: “Peduli siapa dia, yang terang ia melanggar larangan menerobos
tempat penting, betapapun aku harus memberi pelajaran, kukira putri Minghui takkan menyalahkan
aku!”
Belum lagi gelak tertawa si perwira muda lenyap, mendadak Nyo Wan menggertak keras:
“Rebahlah,” pecut rampasannya itu diayun menyerang dengan jurus Ko-teng-jan-su (rotan kering
menggubet pohon), ujung pecut di tangannya bergetar terus menyapu kedua kaki si perwira.
Kali ini agaknya siperwira muda sudah siaga, serunya tertawa: “Belum tentu!” dimana tubuhnya
bergerak dengan tipu “Chiu-hui-bi-ba” (tangan memetik harpa), bukan mudur malah menerjang
maju telapak tangannya terjulur hendak menangkap pergelangan tangan orang. Namun gerak gerik
Nyo Wanternyat cukup gesit pula, di tengah jalan ia merubah gerakan pecutnya melingkar hendak
membelit lengan lawan, tapi keburu si perwira memutar tubuh dari emncengkeram telapak,
tangannya dirubah menjadi kepalan, dimana jotosannya berkwsiur mengeluarkan deru angin yang
deras, kiranya ia telah melancarkan rangsakan kencang yang dahsyat.
Tapi kepandaian Nyo Wan pun tidak lemah, kakinya bergerak lincah tubuhnya bergoyang selicin
belut, pecut di tangannyapun ditarikan begitu indah dan tangkas sekali.
Terdengar perwira muda itu bergelak tawa lagi: ‘Permainan pecutmu ternyata cukup hebat pula, tadi
kukira kau nona cilik yang lemah lembut, sungguh aku telah salah lihat!” ~ Belum lenyap gelak
tawanya mendadak ia menghardik: “ Lepas tangan!” kelima jarinya bagai cakar garuda sekali
cengkeram telak sekali kena pegang pecut yang menyamber tiba.
Sudah tentu tenaga Nyo Wan bukan tandingan musuhnya, dalam keadaan gawat ini timbul akalnya
yang pintar, pergelangan tangannya memuntir dan digentakkan keras, kontan ujung pecut melejit
balik laksana kepala ekor yang mematuk “plok” tepat sekali menutuk jalan darah hoan-tiau-hiat
didengkul si perwira.
Saat mana si perwira sudah kerahkan tenaganya membetot dengan sepenuh tenaga, memang ia
berhasil merampas balik pecutnya, namun tepat pada saat itu juga ia rasakan dengkulnya mendadak
kesemutan, tak kuasa lagi “bluk” ia roboh terjungkal di tanah.
Karena tarikan yang besar, sehingga Nyo Wan kehilangan keseimbangan badan, hampir saja iapun
terseret terjerembab, untung ilmu ringan tubuhnya sangat tinggi, sekali menggoyangkan pundak
dengan gaya kek-cu-hoan-sin (burung dara jumpalitan) kakinya menjejakkan tanah tubuhnya lantas
melejit berjumpalitan dan hinggap di tanah dengan entengnya.
Karena mengenakan pakaian perang yang cukup berat bobotnya dalam waktu dekat siperwira tak
mampu bangun berdiri. Baru saja Nyo Wan memburu maju hendak meringkusnya, tiba2 terdengar
seruan kaget dan kuatir orang berteriak: “Uhana, apa yang kau lakukan? Lekas berhenti!” ~ ternyata
para prajurit wanita memburu keluar waktu mendengar ribut2 disini, “Uhana” adalah nama Nyo
Wan dalam bahasa Mongol yang diberikan oleh putri Minghui.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Karena pakaian perangnya yang serba tebal itu, meski jalan darah dengkulnya kena totok namun
tidak begitu berat akibatnya, belum sempat para prajurit wanita itu memapahnya, perwira itu sudah
merangkak bangun sendiri. Katanya tertawa: “Dia begitu setia terhadap Minghui. Akupun tidak
terluka apa2, kalian tidak perlu salahkan dia.”
Para prajurit wanita itu barui lega hatinya, kata salah seorang: “Uhana, untung kau tidak
menimbulkan keributan basar, kau tahu siapa beliau?”
“Mana aku tahu?” jawab Nyo Wan.
Seorang prajurit yang paling baik hubungannya dengan Nyo Wan segera maju memberi keterangan:
“beliau adalah pangeran keempat kita. Diantara empat bersaudara , putri paling baik dengan dia.
Nanti kau harus minta ampun kepad atuan putri.”
Nyo Wan benar2 terkejut, baru sekarang diketahui oelhnya bahwa perwira muda ini tak lain tak
bukan adalah putra keempat Jengis Khan yang bernama Dulai. Dari penuturan Li Su-lam Nyo Wan
pernah dengar perihal Dulai, diketahui olehnya bahwa Dulai dan Minghui adalah dua putra putri
Jengis Khan yang paling disayang. Sifat Dulai lapang terbuka dan polos, bijaksana terhadap sesama
orang, jauh beda dengan ketiga engkohnya.
Dulu waktu ikut berburu dengan Jengis Khan , Dulai pernah bersahabat dengan Li Su-lam, sejak itu
hubungan mereka semakin akrab, malah Dulai pernah memberi ‘kado’ (berupa sapu tangan),
menurut adat istiadat suku Mongol memberi kado dianggap merupakan persahabatan yang kekal,
sejak saat itu ia anggap Li Su-lam sebagai ‘Anda’ (saudara angkat).
Mendengar ucapan prajurit perempuan itu, Dulai tertawa geli, ujarnya: “Jangan kalian salahkan dia,
perlu apa minta ampun segala? Sudahlah lekas bawa aku menemui Minghui!”
Segera Nyo Wan maju nyatakan maaf, terus membawa Dulai masuk kedalam kemah. Minghui
tengah termenung dengan murung, tiba2 dilihatnya Dualai datang bertandang sungguh kejut dan
girang hatinya, teriaknya: “Si kecil bukankah kau tinggal di Holin pegang kekuasaan? Kenapa
datang kemari?”
“Kudengar ayah terluka, beberapa hari yang lalu aku sudah tilik ke Ko-goan,” sahut Dulai
“dayangmu ini dulu agaknya aku tak pernah lihat, kapan kau terima dia? Naga2nya dia bukan nona2
kasar dari padang rumput dinegara kita?”
“Jadi kau datang dari Ko-goan?” kata Minghui, “Bagaimana keadaan ayah? Tentang Uhana nanti
kita pelan2 kujelaskan kepadamu.” ~ Putri Minghui sendir masih belum ambil kepastian apakah dia
harus menjelaskan asal usul Nyo Wan, apalagi selama ini sudah kangen benar dengan sang ayah,
ingin benar mengetahui berita terakhir, maka ia alihkan pokok pembicaraan.
Kata Dulai dengan lesu: ‘Luka panah ayah kumat lagi, penyakitnya semakin parah. Aku justru
menerima perintahnya kemari memanggilmu kesana. Agaknya ada sesuatu hal yang tidak
disenanginya tentang kau, sudah beberapa hari aku berada di Ko-goan belum pernah ia
menyinggung tentang dirimu. Semalam setelah penyakitnya rada baik, ayah sangat kangen
kepadamu, semalam suntuk mengigau namamu. Lekas kau siap2 hari ini juga kau ikut aku kesana!”
Terperanjat putri Minghui,katanya: “bagaimana penyakitnya bisa menjadi berat? Saban hari berita
yang kudengar disini selalu menggembirakan, malah kukira penyakit ayah sudah sembuh sama
sekali.”
Dulai tertawa getir: ‘memang ayah merahasiakan keadaannya yang gawat supaya tidak menggangu
ketentraman para prajurit dimedan perang. Kau jauh dari Ko-goan, seluk beluk ini sudah tentu tidak
kau paham.”
Putri Minghui menjadi bingung dan gelisah,katanya: ‘Apakah begitu krisis sampai mengganggu
jiwanya? Apakah bajingan Tin-kok itu masih berada disamping ayah?”
Dulai menghela napas, sahutnya: ‘Sukar dikatakan. Usia ayah sudah menanjak tujuhpuluh. Setua ini
hidup dalam petualangan diatas kuda, mendirikan pahala besar bagi bangsa dan negara kita,
seumpama betul2 menemui ajalnya juga tak perlu dibuat sedih. Kaupun tak perlu terlalu merawan
hati.” ~ sejenak berhenti, lalu sambungnya: ‘Aku tahu kau benci pangeran Tin-kok,apalagi keadaan
ayah sudah gawat, betapapun pernikahanmu pasti tertunda, maka kaupun tak perlu kuatir
menghadapinya. Ada aku yang mengiringi kau ke Ko-goan, kutanggung pangeran Tin-kok takkan
berani mengusik padamu.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Kiranya hubungan putri Minghui paling akrab dengan Dulai diantara sekian banyak saudaranya, isi
hati putri Minghui selamanya disampaikan kepada Dulai secara bebas terbuka. Dasar watak Dulai
polos dan jujur,iapun tidak cocok dengan pangeran Tin-kok.
“Baik, kau keluar sebentar, aku hendak ganti pakaian,” kata putri Minghui, ‘tolong kau suruh
mereka menyiapkan kudaku, suruhlah mereka pilih tiga ekor kuda yang paling jempolan!”
Mendadak Dulai bertanya: ‘Apakah kau bermaksud membawa pelayanmu itu?”
Sesaat putri Minghui tertegun, sahutnya: “untuk apa kau tanyakan hal ini?”
Pandangan Dulai beralih kepada Nyo Wan, katanya: “Kepandaian Uhana cukup baik, tadi hampir
saja aku kena diringkus olehnya. Menurut hematku kepandaiannya jarang didapat diantara kaum
putri umumnya, mungkin para busu kita hanya beberapa orang saja yang kuat menandinginya.
Baru sekarang putri Minghui paham kemana juntrungan pertanyaan saudaranya itu,
dengantersenyumpenuh ia berkata: “Jadi maksudmu supaya aku membawanya serta.”
‘Dengan ada seorang pelindung yang berkepandaian tinggi seperti Uhana berada disampingmu aku
lebih berlega hati.’
“baiklah,kau keluar dulu, biar kutanya maksudnya.”
Bagitu bayangan Dulai lenyap diluat kemah segera Nyo Wan berkata: “Aku tak mau pergi,” ~
Menurut pertimbangannya Dulai kelihatan rada curiga terhadap dirinya, mungkin dia sudah
mengetahui rahasia diriku sebagai bangsa han. Meskipun dia sahabat baik Li Su-lam, batapapun dia
keturunan raja, belum tentu karena atau demi sahabatnya lantas mau begitu saja melepaskan
buronan penting. Ada lebih baik asal0usulku tidak diketahui olehnya.”
Putri Minghui berpikir sejenak, katanya: “Aku berpikir demi kepentinganmu. Menurut pendapatku
lebih baik kau ikut aku pergi.’
‘Kenapa?’ tanya Nyo Wan.
“Aku tidak tega meninggalkan kau disini.” ~ Sebentar ia merandek lalu menyambung lagi, “Malam
itu mereka sudah curiga bahwa pembunuh gelap itu melarikan diri kemari, tapi mereka takut dan
melihat mukaku maka tidak menggerebek kesini. Setelah aku pergi, kalau takut terang terangan
mungkin Sia It-tiong bisa kirim begundalnya kemari secara menggelap.”
Sia It-tiong itu memang banyak akal muslihat dan sukar ditebak sepak terjangnya, demikian pikir
Nyo Wan, paling tidak Dulai jauyh lebih baik dari pada dia, dari pada aku kena dobokong Sia Ittiong,
biarlah aku dicurigai oleh Dulai saja, maka akhirnya ia mengabulkan.
Letak Ko-goan kira2 seratus li di selatan bukit Liok-pan-san, dengan menunggang kuda cepat
malam itu juga mereka sudah tiba di tujuan. Dulai dan putri Minghui langsung masuk kedalam
kemah menilik penyakit Jengis Khan, sedang Nyo Wan beristirahat di kemah lain yang sudah
disediakan khusus bagi para dayang.
Waktu Dulai an putri Minghui memasuki kemah emas kebetulan mendengar Jengis Khan
mengumpat caci: ‘Hm, apa itu bijaksana dan cinta kasih, berbuat luhur sedikit membunuh apa
segala emangnya kau ini pelajar rudin yang berpandangan sempit? Sebagai seorang ksatria sebagai
pahlawan bangsa kalau aku tidak tumpas seluruh musuh sehingga mereka keder dan gemetar, mana
aku bisa menguasai seluruh jagat? Hah, aku mendapat firman Thian sebelum seluruh pelosok dunia
kusatukan, aku ingin matipun juga takkan gampang binasa! Tak perlu kau obati, pergi kau pergi!
Aku tidak percaya, tanpa kau masa aku bisa mampus!” ~ di tengah gema makiannya itu tampak
seorang tua yang memanggil peti obat beranjak keluar dari dalam.
Dulai ter-heran2, tanyanya kepada Busu yang jaga diluar kemah: ‘Apakah yang telah terjadi?”
“Orang itu tabib kenamaan dari bangsa Han yang bernama Liu Goan-cong, dengan susah payah
baru mengundangnya kemari untuk memeriksa penyakit Khan besar.”
‘Kenapa pula Khan besar mengusirnya keluar malah?” desak Dulai.
“Katanya dia membujuk Khan besar supaya menyebarkan kebajikan dan berbuat amal, sedikit
membunuh, baru batin bisa tentram dan panjang umur. Agaknya Khan besar tidak sepaham dengan
pendapatnya ini, maka memaki dang mengusirnya!”
“Dulai terkejut, katanya: ‘Apakah tabib lihai inipun sudah tak mampu memberikan obatnya?”
Busu itu manggut2 tanpa menjawab.
Cepat2 putri Minghui dan Dulai memasuki kemah ter tampak Jengis Khan berbaring dengan napas
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
memburu sedang pejamkan mata, mungkin terlalu bernafsu mengumpat caci tadi sehingga
kelelahan. Ketiga selir Jengis Khan dan tiga putra lainnya yaitu Cuja, Cahatai dan Ogol sudah
mengelilingi di samping pembaringan.
Salah seorang selir tersayang Jengis Khan membisik pinggir telinganya: “Khan besar, Alehai dan
Dulai yang paling kau sayang sudah tiba!”
Dulai segera maju serta berkata lirih: ‘Yah, aku datang bersama adik Minghui. Apakah keadaanmu
rada baik?”
Pelan2 Jengis Khan membuka mata, mendadak ia berteriak keras: ‘Apa, kau takut aku segera
modar? Seluruh dunia ini akan kujadikan ladang gembala bangsa Mongol kita, siapa berani
melawan perintahku ini? Aku harus tetap hidup!”
Sungguh kasihan keadaan Jengis Khan yang payah itu justru karena merasa jiwanya bakal tamat
sehingga pikirannya menjadi kurang waras. Setelah ber-teriak2 kontan ia jatuh pingsan.
Seorang Ongkong (abdi dalam) berkata lirih: “Agaknya keadaan Khan besar susah ditolong lagi,
marilah kita minta beliau memberikan pesannya terakhir.”
“Apakah Khan besar bisa siuman lagi?” tanya Ogotai.
‘Akulah putra terbesar,”sela Cuja, “Sudah seharusnya akulah yang mewarisi kedudukannya ini.’
“Cis, apa kau layak!” jengek Ogotai.
Lapat2 agaknya Jengis Khan ada mendengar orang berdebat, pelan2 ia membuka mata lagi.
Dua orang Ongkong yang paling lajut usia seger maju berlutut, sembahnya: “Badan masmu laksana
sekokoh gunung, kalau ambruk siapakah yang bakal pegang tampuk peimpinan negara besar ini?
Kau merupakan tunggak negara kalau roboh spa pula yang kuat menjunjung kewibawaan negara?
Siapa pula yang kuasa mengendalikan keempat puteramu? Anak2mu, para saudara dan rakyatmu
seta para selir sekalian, harap Khan besar kau berikanlah pesan masmu.”
Jengis Khan menghela napas dengan lesu, mulutnya menggumam: ‘Apa aku betul2 hampir mati?
Keadaannya sekarang rada jernih, samar2 ia tahu betapapun ia takkan kuasa melawan malaikat
kematian yang hendak merengut jiwanya.
Semua oran yang hadir tiada satupun yang berani bersuara. Satu persatu pandangan mata Jengis
Khan menatap keempat putranya, setelah menghela napas ia berkata: “Apakah kalianmasih ingat
pelajaran mematahkan panah yang kuberikan dulu? Kalian harus seperti segebung anak panah yang
bergabung menjadi satu, sehingga musuh takkan bisa mematahkan kalian satu persatu. Belum lagi
aku mati kalian sudah bertengkar sendiri, matipun aku takkan tentram.”
Keempat putranya mengiakan bersama, namun Ogotai dan Cuja masih saling melotot, jelas rasa
permusuhan mereka masih saling menghantui sanubari masing2.
Ternyata ibunya Cuja dulu pernah menjadi tawanan suku Murkit yang merupakan musuh bebuyutan
Jengis Khan. Kelahiran Cuja berlangsung di tengah perjalanan waktu ibunya dilepas pulang, maka
para saudaranya sering curiga akan asal usulnya yang kurang gamblang, mereka tidak
menganggapnya sebagai saudara tertua. Terutama Ogotai ini paling benci terhadap engkohnya ini,
malah beberapa kali secara langsung ia pernah memakinya sebagai keturunan ‘haram.’
Tadi waktu Jengis Khan jatuh pingsan, Cuja sebagai putra sulung hendak mengambil kedudukan
ayahnya, segera Ogotai memakinya. Kebetulan Jengis Khan siuman dari pingsannya, perdebatan itu
didengar semua olehnya.
Jengis Khan berkata dalam hati: “Kalau aku angkat Cuja sebagai gantiku tentu ketiga saudaranya
tak mau tunduk padanya. Cahatai paling pandai berperang, namun sifatnya kasar dan berangasan,
kalau dia diangkat jadi pimpinan mungkin bisa timbul huru hara di dalam negeri sendiri. Ogotai
bersifat jujur dan setia serta bijaksana, paling mendapat sanjung puji para bawahannya, namun
kurang cerdik dan tumpul otaknya, kalau di yang kuangkat keadaan dalam negeri akan lebih celaka
dan mungkin makin berbahaya bagi keselamatannya.”
Harus diketahui meskipun Ogotai mendapat junjungan dari anak buahnya, tapi pasukan besar dalam
penyerbuan di Liok-pan-san ini seluruhnya adalah dibawah pimpinan pangeran Tin-kok. Justru
pangeran Tin-kok berpihak kepada Cahatai, sudah tentu Cahatai takkan sudi memberikan
kedudukan tinggi sebagai Khan teragung bangsanya pada adiknya. Oleh pertimbangan ini walau
Jengis Khan ada maksud hendak angkat Ogotai sebagai pewarisnya, betapapun ia harus
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pertimbangkan lagi lebih masak, karena situasi sekarang tidak menguntungkan bagi segala pihak.
Terakhir Jengis Khan teringat akan putranya yang tersayang Dulai, Dulai berotak cerdik dan pandai
bekerja, sayang usianya terlalu muda belum punya wibawa, kalau dia membantu Ogotai adalah
yang paling cocok.
Belum lagi selesai pertimbangan Jengis Khan ia ter-batuk2 lagi, setelah menenggak wedang jinsom
baru berkata: ‘Dunia ini sedemikian besarnya, kalau kalian sudah menundukkan seluruh pelosok
jagat, masing2 boleh ambil daerahnya sendir dan bercokol mendirikan negara baru, takperlu kalian
saling rebutan dan cakar2an sendiri.”
“Ucapan ayah memang tepat,” kata Cahatai, “namun orang Han ada punya pepatah yang berkata:
‘Matahari takkan timbul selama dua hari, rakyat tak boleh punya dua raja. Bukankah kata2 ini
merupakan peringatan bagi kita?”
Bertaut alis jengis Khan, akhirnya tersimpul suatu keputusan oelhnya, katanya: ‘Siapapun yang
bakal menjadi junjungan dia harus mendapat suara terbanayk dari seluruh rakyat. Bukankah pada
pertemuan besar disungai kastan dulu aku yang dipilih dan dijunjung oleh para kepala suku untuk
menjadi Khan agung. Cara baik ini haruis dijadikan tradisi bagi generasi mendatang, angkatlah
sebagai per undang2 negara kita.”
Dua abdi dalam tadi sekali lagi menyembah: “Harap Khan besar suke memberi petunjuk lebih
jelas.” ~ Sebab ini merupakan suatu prinsip dlam teori saja belum secara langsung menyentuh
persoalan luas yang objektif.
“Baik, kalian dengarlah!” kata Jengis Khan sambil mengelus dada, “Setelah akau wafat, kalian
harus membawa pulang jazatku ke Holin, kuberi peluang selama tiga bulan panggillah seluruh
kepala suku,abdi dalam serta para panglima besar dari berbagai angkatan,adakan suatu rapat besar
yang dinamakan Kuliatai (artinya dalam bahasa Mongol adalah orang2 yang punya kuasa). Rapat
Kuliatai inilah yang akan menerima surat pewarisku, saat itulah kalian angkat dan pilih Khan besar
yang baru. Sebelum Khan baru terpilih, kuangkat Dulai sebagai pejabat Khan besar, dialah yang
pegang kekuasaan negara.’
Cahatai rada kecewa setelah mendengar pesan jengis Khan ini, hatinya kurang senang karena
kedudukan Khan besar belum ada keputusan yang positip, sehingga kekuasaan negarapun tiada
bagian untuknya. Tapi justru karena belum ada ketentuan siapa yang bakal terangkat menjadi khan
Agung, paling tidak ia masih punya setitik harapan.
Bagi orang yang punya ambisi sudah lumrah kalau menilai diri sendiri terlalu tinggi demikianlah
keadaan Cahatai, ia berpikir: “Dalam peperangan akulah yang paling besar mendirikan pahala, abdi
dalam, kepala suku serta panglima siapa yang tidak takut dan keder terhadap aku? Dalam rapat
besar Kuliatai nanti asal ada beberapa orang kuat terpercaya mau membantu aku, para kepala suku
dan abdi dalam yang lemah itu tentu kan tunduk pula padaku. Kedudukan Khan besar yang
teragung betapapun bakal menjadi makanan empuk bagiku.”
Keputusan Jengis Khan tak mungkin diubah, pikiran Cahatai terlalu muluk dan memandang enteng
persoalan ini, maka tidak terpikir olehnya untuk angkat senjata menumpas Ogotai dan Dulai.
Seleuruh hadirin tengah tumplek perhatian mendengarkan pesan terakhir Jengis Khan, mimik wajah
mereka saling berlainan sesuai dengan kepetingan masing2, entah girang atau sedih mungkin pula
ada yang bersyukur dalam hati. Hanya putri Minghui seorang yang tidak masuk hitungan
dalampesan terakhir itu, dirinya tidak berkepentingan dalam urusan negara, hatinya dirundung
kesedihan hanya keselamatan ayahnya yang menjadi buah pikirannya. Di-saat2 menjelang ajal ini
pikiran Jengis Khan menjadi jernih dan menyesal sekali, melihat titik air mata dikelopak mata putri
Minghui hatinya menjaditidak tega dan terharu pula, pikirnya: “Kiranya hanya Alaehai saja yang
paling prihatin akan diriku, tak seperti Cahatai dan lain2 belum lagi aku mati mereka sudah saling
cakar dan rebutan warisan.”
Sunggu sesal dan pilu perasaan Jengis Khan, katanya lirih: “Alehai!”
“yah, aku ada disini.”
Jengis Khan menggengam dan mengelus tangannya, katanya: ‘Aku menyesal dan mohon maaf tak
dapat mengabulkan permintaanmu terakhir, apakah kau masih marah pada ayah?”
Putri Minghui maklum yang dimaksud adalah persoalan dirinya dengan pangeran Tin-kok, dari
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
nada ucapannya ini dapat dirasakan bahw abeliau benar2 sudah menyesal dan sadar. Tak tahu
bagaimana ia harus menjawab, hanya air mata saja yang tak kuasa dibendungnya. Katanya dengan
sesenggukan: “Yah, aku pasrah saja kepada pendapatmu.”
“Kau tak perlu bersedih,” bujuk Jengis Khan. “Setelah ku wafat, engkohmu Dulai pasti akan
merawat kau, serahkan saja persoalanmu kepada dia.”
Kata2 Jengis Khan ini mengandung arti yang dalam, tegasnya ia serahkan persoalan pernikahan
putri Minghui kepada Dulai untuk membereskannya kelak.
Jengis Khan tahu situasi sekarang masih memerlukan kekuatan tentara Tin-kok, maka ucapannya
hanya samar2 saja, tapi bila kelak situasi dan kondisi sudah berubah, bantuan Tin-kok sudah tiada
artinya, persoalan nikah yang tidak disetujui langsung oleh putri Minghui, sudah tentu Jengis Khan
sendiri tidak perlu mengukuhi pendapatnya secara sepihak. Namun perubahan situasi kelak
betapapun sebagai orang biasa jengis Khan tak bisa meramalkan, maka ia serahkan keputusan
terakhir kepada Dulai saja, hakekatnya ucapannya ini juga memberi kisikan kepada Dulai: kalau
kelak kau masih memerlukan kekuatan pangeran Tin-kok, betapapaun pernikahan adikmu tidak
boleh batal.
Putri Minghui dapat emamklumi arti kata ayahnya, jeritnya menangis: ‘ayah, kau jangan tinggalkan
aku!”
Jengis Khan menghela napas, ujarnya: ‘Sekarang aku sudah paham, akhirnya orang pasti mati! Aku
percaya kelak seluruh dunia ini pasti bakal menjadi ladang gembala seluruh bangsa Mongol, hanya
sayang hari bahagia itu aku tidak bakal mengalami sendiri.” ~ suara kata2nya semakin lirih dan
lenyap, seorang junjungan perkasa akhirnya menutup mata untuk selama2nya.
Putri Minghui men-jerit2.
“Jangan karena tangismu sampai menggangu pikiran orang lain, sebentar lagi kita mesti berunding.”
Sentak Cahatai.
Di lain saat, para abdi dalam, selir, serta para panglima yang hadir segera mengadakan pertemuan
dalam kemah itu juga, mereka mengadakan perundingan kilat, mencari jalan cara bagaimana untuk
mengadakan upacara pemakaman bagi Jengis Khan, serta rencana militer untuk menyerbu kerajaan
Kim serta lain2 persoalan penting.
Sudah tentu karena masing2 mempunyia kepentingan dan jalan pikiran sendiri, tak heran terjadi
beberapa kali perdebatan seru.
Walaupun pangeran Tin-kok tidak paham apa maksud ucapan terakhir Jengis Khan tadi sebelum
ajal, namun samar2 ia merasa sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Terang dirinya tidak
cocok dengan Dulai, sekarang justru Dulai yang pegang kekuasaan negara, sudah tentu ia sangat
merugikan kepentingannya pribadi. Di lain pihak dengan kematian Jengis Khan menurut adat
istiadat bangsa Mongol meski tidak seperti aturan orang Han harus menunggu tiga tahun lagi,
paling tidak pernikahannya dengan putri Minghui harus tunggu setelah pemilihan baru dari Khan
besar nanti. Sudah tentu iapun maklum bahwa putri Minghui tidak suka padanya, kalau pernikahan
itu tertunda terus semakin lama semakin merugikan dirinya.
Diam2 Cahatai menarik pangeran Tin-kok ke pinggir, katanya: “Cepat atau lambat kerajaan Kim
pasti bakal kita caplok, menurut pendapatku, lebih baik sekarang kita tarik tentaramu pulang dulu.
Kalau aku dapat mewarisi kerajaan besar ini, tatkala itu segala kepentinganmu tentu menjadi
perhatianku juga.
Jelas sekali ucapan Cahatai ini, seumpama seorang bodohpun mesti bisa menangkap arti kata2 itu.
Secara tidak langsung Cahatai mengajukan syarat penggantian, kalau Tin-kok mau membantu
dirinya merebut kekuasaan besar menjadi Khan agung, Cahatai akan mengabulkan segala
permohonannya, pernikahannya dengan putri Minghui seudah tentu takkan menjadi soal lagi.
Kata Tin-kok: “Baik, Inspansi ke Selatan kala ini ada dibawah pimpinanku, tidak perduli kalian
setuju atau menentang aku sudah pasti harus menarik bala tentaraku pulang negeri.”
“Benar”, Cahatai memberi persetujuannya, “Kematian Khan besar tentu mempengaruhi hati nurani
para prajurit, kalau mereka tiada niat berperang terpaksa harus beri kesempatan pada mereka untuk
melayat jenazah Khan besar kembali ke negeri, biarlah mereka berkesempatan berduka cita.”
Begitu keputusan ini diumumkan, para abdi dalam, para menteri sampai Dulai sendiripun, meski
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
ada yang tidak setuju, namun mereka tiada yang berani menentang secara terang2an. Saat itu juga
Pangeran Tin-kok lantas membawa para busu pengiringnya keluar kemah emas, siap kembali ke
front terdepan dikaki gunung Liok-pan-san, untuk menarik mundur seluruh milisinya kembali
kenegeri .
Tatkala itu sudah hari kedua pagi2 benar.
Dilain pihak, waktu bangun pagi Nyo Wan menjadi kurang tentram, bergegas ia keluar dari
kemahnya dan ber-jalan2 di lereng bukit yang terdekat, diam2 ia awasi situasi kemah mas dari
kejauhan.
Sungguh diluar dugaannya yang ditunggu2 putri Minghui justru yang keluar dulu adalah pangeran
Tin-kok. Urusan penting dan tugas berat tengah melibat diri pangeran Tin-kok, sebetulnya ia tidak
memperhatikan Nyo Wan, tapi kedua Busu pengiringnya justru ketarik akan bayangan bentuk tubuh
Nyo Wan. Kedua Busu itu justru adalah Busu yang pernah bertempur dekat dengan Nyo Wan pada
waktu ia hendak membunuh Sia It-tiong malam itu.
Karen arasa curiga ini segera merek amaju membentak: “Siapa kau?”
Dengan tenang Nyo Wan menyahut: ‘Aku adalah dayang putri Minghui.”
Mnedengar dayang putri Minghui, pangeranTin-kok menjadi tertarik, apalagi melihat dia orang Han
timbul rasa sangsinya, katanya: “Dayang putri Minghui mana boleh menggunakan orang Han?
Kulihat kau inipalsu belaka?”
“Putri Minghui berada didalam kemah, kalau tidak percaya silahkan pergi tanya beliau!”
Pangeran Tin-ko memicingkan mata, katanya menyengir: “Betina ini cukup menggiurkan.”
Lekas2 kedua Busu itu melapor: ‘Lapor Goanswe, betina ini persis sama dengan pembunuh gelap
malam itu.”
Hati Nyo Wan gugup dan kebat-kebit, namun lahirnya ia berlaku tenang2 saja, katanya: ‘Aku betul2
dayang putri Minghui, harap Goanswe tanya kepada tuan putri, tentu akan jelas.”
Pangeran Tin-kok menyeringai dingin, jengeknya: ‘kau gunakan nama Minghui untuk menggertak
aku? Hm, seumpama kau benar aalah dayangnya lalu mau apa? Kaau sangka aku tidak berani
menjatuhkan hukuman kepadamu? Minghui berani menerima dayang orang Han ini terang salah!” ~
Bicara sampai disini tiba2 mukanya membesar beringas, bentaknya: “Jangan kuatir, ringkus dia.”
Ternyata karena selalu dihadapi sikap dingin dan cemoohan melulu pangeran Tin-kok menjadi
dendam dan gegetun terhadap putri Minghui, apalagi ia sudah kepincut akan kecantikan Nyo Wan,
maka terpaksa ia gunakan alasan yang tidak masuk akal untuk membekuknya.
Sambil mengiakan segera kedua Busu itu lompat turun. Busu baju hitam menerjang lebih dahulu
langsung ia mencengkeram ketulang pundak Nyo Wan.
Nyo Wan tahu ilmu gulat orang memang cukup hebat, mana ia mau mandah saja dipegang? Lincah
sekali bagai naga melingkar ia berputar sembari kebutkan lengan bajunya menyaplok muka si Busu.
“Bret”, lengan baju Nyo Wan sobek sebagian kena dicengkeram musuh, sebaliknya ujung mata si
Busu juga kena kebutan lenga bajunya, seketika air mata meleelh saking pedas dan sakit. Jurus
Kim-na-chiu yang cukup hebat dan ganas dari serangan si Busu dengan mudah dapat dipunahkan
oleh Nyo Wan.
Kalau dikata lambat kenyataan sangat cepat, Busu baju kuning saat manapun sudah merangsak tiba.
Terpaksa Nyo Wan harus melolos pedang, gertaknya: ‘Nyalimu cukup besar, berani menghina aku!
Lihat pedang.”
“Aku diperintah Goanswe, peduli kau dayang tuan putri!” jengeknya sambil angkat tamengnya
menangkis ‘tang” tepat sekali ia tangkis tusukan pedang Nyo Wan, berbareng golok panjang di
tangan kanan segera membabat mengarah ke mata kaki Nyo Wan.
Terdengar pangeran Tin-kok membentak: “Jangan melukainya, aku ingin yang hidup.”
Kedua Busunya mengiakan lagi, tajam goloknya menukik naik terus menusuk pergelangan tangan
Nyo Wan bermaksud menyampok katuh pedang Nyo Wan. Tak diketahui olehnya bahwa ilmu
pedang Nyo Wan justru sangat hebat dan lihai perubahan nya sukar diraba sebelumnya, meski
kedua Busu ini mengeroyoknya dengan sekuat tenaga paling banyak kuat bertahan saja takkan
mampu merobohkan dirinya.
Apalagi merek akuatir pula melukai, setiap kali menyerang selalu harus merobah sasaran meski
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terang serangan itu bakal berhasil?
Terdengar Busu itu malah menjerit sendiri terus terhuyung mundur tiga langkah. Kiranya lengan
kirinya telah tergores ujung pedang, untungnya badannya terlindung pakaian perangnnya sehingga
lukannya tidak terlalu parah. Tapi tak urung baju luarnya dedel dowel, kaca tembaga dalam
tubuhnya juga hancur. Keruan kagetnya bukan kepalang.
Sekali gebrak saja Busu baju hitan itu lantas mengenal car permainan Nyo Wan, teriaknya: “Tak
salah lagi, betina ini memang pembunuh gelap malam itu!” ~ Setelah meng ucek2 mata diapun
mencabut goloknya melengkung terus menerjang maju membantu temannya.
Pangeran Tin-kok sudah tahu bahwa kepandaian Nyo Wan cukup tinggi, segera ia memberikan
perintahnya lagi: “Kuijinkan kalian melukainya, asal tidak sampai menjadi cacat.”
Kedua Busu itu adalah jago pilihan kelas satu dlam pasukan Mongol, kepandaian merekapun tidak
lemah. Kalau satu lawan satu dengan gampang pasti Nyo Wan dapat merobohkan mereka, namun
dengan dua lawan satu, keadaannya menjadi rada terdesak dibawah angin. Untung karena dilarang
melukai sampai cacat kedua Busu ini menjadi takut melukai dan tidak sepenuh tenaga
menempurnya.
Nyo Wan insaf kalau bertempur lama2 tentu dirinya bakal celaka, dalam gugupnya tk perduli lagi
apakah bakal bikin geger para abdi dalam atau pembesar lainnya, segera ia berteriak keras: “Tuan
putri, tuan putri! Lekas keluar! Ada orang menganiaya aku.”
Tempat dimana Nyo Wan menempur kedua Busu itukira2 berjarak tiga li dari kemah emas tempat
tinggal Jengis Khan, namun karena ia berteriak menggunakan Joan-im-jib-bit, dengan dilandasi
Lwekang yang kuat suarnay bisa terdengar sampai jauh. Putri Minghui sedang duduk didalam
kemah, lapat2 ia mendengar teriakan Nyo Wan ini.
Saat mana segala persoalan yang dirundingkan boleh dikata sudah selesai dan mendapat persesuaian
pendapat. Begitu mendengar teriakan Nyo Wan, bercekat hati putri Minghui , segera ia berdiri dan
berkata kepada Dulai: ‘Si ko, agaknya dayangku itutengah memanggil aku, mari kita keluar
bersama.”
“Baik, kau keluar dulu, segera aku menyusulmu.” ~ sahut Dulai. Karena Ogotai hendak bicara
dengannya terpaksa ia harus tinggal lagi beberapa saat, setelah pembicaraannya dengan Ogotai
selesai baru ia memburu keluar.
Dalam kejap lain putri Minghui sudah memburu datang, jauh2 ia menghardik: “Mengandal apa
kalian berani menganiaya dayangku?”
Pangeran tin-kok menyeringai dingin, jengeknya: “Dia dicurigai sebagai pembunuh gelap,aku
sebagai seorang panglima perang, masa begitu gampang harus melepaskannya?”
Terperanjat Putri Minghui, batinnya: ‘Nyo Wan suah menyamar bagaimana mungkin bisa dikenal
oleh mereka?” ~ Tapi putri Minghui tahu mereka tidak punya bukti yang dapat diandalkan apalagi
segera Dulai bakal datang membantu maka meskipun hatinya rada keder, namum nadanya tetap
garang, bentaknya: “Omong kosong. Malam itu dia selalu berada di sampingku, mana mungkin
menjadi pembunuh gelap!”
“Benar atau tidak, betapapun aku harus memeriksanya sendir!” pangeran Tin-kok menegas.
Dapatkah putri Minghui menolong Nyo Wan?
Bagaimana nasib Nyo Wan selanjutnya?
Sesudah kematian Jengis Khan siapakah calon penggantinya?
Apakah pasukan Mongol akan terus menyerbu ke Tionggoan?
Dapatkah Nyo Wan menemukan jejak Li Su-lam?
Bagaimana pengalamannya selama ini?
Jilid 06 bagian pertama
Berubah air muka putri Minghui, makinya: “Kentut busuk. Ayahku baru saja meninggal , kalian
lantas berani menghina aku? Perintahku kalian berani membangkang, apa dalam mata kalian masih
ada aku ini tuan putrimu?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Putri Minghui menggunakan istilah ‘kalian’. Sudah tentu kedua Busu itu menjadi ketakutan, mereka
membatin: “ Goanswe dan tuan putri bertengkar, kalau kita sampai terjepit ditengahnya pasti celaka
dan konyol. Maka tanpa berjanji mereka menyurut mundur kesamping dan mengawasi pangeran
Tin-kok mendelong.
Pangeran Tin-kok berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, hardiknya marah2: “Baik, kalian tak
berani turun tangan, biar aku sendiri yang meringkusnya.” ~ Saking marahnya hingga sama sekali
tak terpikir olehnya bahwa kepandaian silat Nyo Wan jauh lebih tinggi dari pada kemampuannya,
maka tanpa banyakpikir lagi ia menerjang sembari ulur tangan mencengkeram ke arah Nyo Wan.
Tenang2 saja Nyo Wan memasukkan pedangnya kedalam kerangkanya, sekali berkelebat ia
luputkan diri. Pangeran tin-kok tidak tahu bahwa lawannya sengaja mengalah, lagi2 ia menubruk
maju lebih ganas, kedua tangannya terpentang terus menyingkap ke depan, bentaknya: ‘Akan
kulihat kemana kau akan lari!”
Putri Minghui tertawa mengejek: “Dia berani menghina aku, ada aku disini tak perlu takut, pukul
dia se keras2nya!”
Nyo Wan memang sedang menunggu ucapan Putri Minghui ini maka dalam gebrak selanjutnya ia
tidak berlaku sungkan lagi, begitu putar tubuh sebelah telapak tangannya terayun keras “plak!” telak
sekali telapak tangannya mampir di pipi pangeran Tin-kok. Walaupun ia belum gunakan sepenuh
tenaga tak urung pangeran Tin-kok terhuyung sempoyongan, pandangan gelap kepala pusing tujuh
keliling.
Dasar muka pangeran Tin-kok sudah hitamlegam, maka tertampar menjadi bengap lagi mukanya
menjadi jelek, panas dan kesakitan. Selama hidup ini ia selalu disanjung puji oleh orang, mana
pernah mendapat hinaan begitu rupa? Saking murka matanya melotot besar, tanpa hiraukan
kedudukan dan nama baiknya segera ia lolos goloknya terus membacok serabutan ke arah Nyo
Wan.
Sebetulnya Nyo Wan bisa melolos pedang dan menusuknya terluka, namun sengaja ia tidak berbuat
demikian malah pura2 terdesak, segera ia lari ber-putar2 dan dikejar oleh pangeran tin-kok. Kiranya
dari kejauhan ia sudah melihat Dulai tengah membedal kudanya mendatangi. Kebetulan Tin-kok
membelakangi kemah emas maka tidak mengetahui kedatangannya.
Saat mana pangeran Tin-kok tengah obat-abitkan goloknya mengejar Nyo Wan. Keruan Dulai
menjadi gusar, kudanya dilarikan semakin cepat.
Pangeran tin-kok membentak gusar: ‘Siapa itu?” ~ Belum lenyap suaranya. “ser!” Dulai sudah
memecut jatuh golok pusaka milik pangeran Tin-kok itu.
Waktu pangeran Tin-kok berpaling baru ia tahu yang memukul jatuh goloknya kiranya adalah
Dulai. Sungguh murka pangeran Tin-kok bukan main, namun tak berani mengumbar napsu.
Dulai mendengus sekali, serunya: “Duli (nama asli pangeranTin-kok), sebagai seorang Goanswe,
apa tidak malu kau menghina kaumperempuan yang lemah?”
Pipi pangeran Tin-kok yang ditampar Nyo Wan masih terasa pedas dan panas. Sudah tentu Dulai
tidak tahu akan hal ini, sebaliknya mengingat kedudukannya, pangeran Tin-kok tak berani sesumbar
lagi, betul2 seperti orang bisu yang tak bisa melimpahkan penderitaan.
Sebagai pihak yang salah, namun Putri Minghui pandai melihat gelagat, segera ia maju dan
mengadu lebih dulu: “Si-ko, tepat betul kedatanganmu, coba kau memberi keadilan. Dia se-mena2
menuduh dayangku ini sebagai pembunuh gelap, bukankah fitnah yang menggelikan belaka?
Dayangku mana bisa menjadi pembunuh? Apalagi waktu peristiwa itu terjadi pelayanku ini
sedetikpun tidak pernah terpisah dengan aku!”
Sambil menahan gusar segera pangeran Tin-kok mendekat: “Mereka sendiri yang menyaksikan,
mana bisa salah?” Putri Minghui memanggil kedua Busu itu mendekat, tanyannya: ‘Pembunuh
gelap yang kalian lihat pada malam itu laki atau perempuan?”
‘Seorang pemuda!” sahut kedua Busu itu.
“Pemuda itu berwajah ganteng atau buruk?”
Malam itu Nyo Wan masih dalam penyamaran, mukanya dipolesi getah rumput yang membuat kulit
mukannya berubah buruk, meski tidak begitu jelek namun cukup menjijikkan. Terpaksa kedua Busu
itu menjawab sejujurnya sesuai dengan kenyataan: “Pemuda bermuka buruk.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Putri Minghui menjengek dingin, ejeknya: ‘Nah! Dayangku ini sebaliknya perempuan jelita. Dia
bukan siluman yang bisa berubah menjadi pemuda buruk?”
Kedua Busu itu menjadi tergagap. Katanya: “Potongan badannya memang rada cocok, demikian
juga kepandaian silatnya sama.”
Potongan badan yang sama tidak sedikit jumlahnya, perempuan yang punya kepandaian tinggi tidak
sedikit pula, para prajurit bawahanku itu siapa yang tidak memiliki ilmu silat? Kata Minghui.
‘Coba kalian lihat lebih cermat lagi,apakah ada sesuatu yang mencurigakan?” demikian desak
Dulai, maksudnya bahwa hanya perawakan badan yang hampir sama tidak dapat dijadikan bukti.
Kedua Busu itu mengerti bahw Dulai berpihak pada Putri Minghui, maka ia merubah haluan
mengikuti angin, cepat sahutnya: ‘Malam itu turun hujan rintik2, cuaca gelap sekali, kamipun tidak
melihat jelas. Mungkin kami yang salah lihat,harap tuan putri memberi maaf!”
“Duli.” Jengek Putri Minghui. “apa lagi yang hendak kau katakan?”
“Apakah pembunuh gelap atau bukan biarlah kita sampingkan dulu. Tapi kau pantas menerima dan
membela orang Han, ini terang kurang pantas!” Karena kedua Busu itu berani mengukuhi
tuduhannya, sikap dan kata2 pangeran Tin-kok sendiri juga menjadi lembek.
Kata Dulai: ‘Dalam hal ini kau terburu napsu menyalahkan Minghui. Memang menurut peraturan
dulu orang Han tidak boleh menjadi pemgikut atau pelayan pangeran dan tuan putri. Tapi sejak
Khan agung berkeputusan hendak menelan Tiongkok, undang2 ini sudah diubah. Kita harus
membuat orang Han secara suka rela mau diperalat oleh kita, maka janganlah bersikap hina
terhadap mereka. Ini cara gamblang aku dapat menunjukkan buktinya , bukankah Li Hi-ko itu
menjabat sebagai wakil panglimamu. Wakil panglima yang berkedudukan begitu tinggi boleh
dijabat oleh orang Han apalagi hanya pelayan saja?”
Pangeran Tin-kok menjadi bungkam, akhirnya ia menyahut ter-sekat2: ‘Kau sebagai pengawas
negara, kalau kau sendiri bicara begitu apa lagi yang dapat kulakukan?”
Dulai pun tidak mau membuatnya malu, segera ia membujuk dengan omongan halus: “Kau sebagai
komando tinggi dalam milisi ini, urusan besar masih banyak yang harus kau kerjakan, urusan
sekecil ini tak perlu kau risaukan. Kalau pelayan Han ini betul2 mencurigakan, biarlah aku bantu
kau menyelidikinya!”
Sebelum Khan agung yang baru terpilih, pengawas negara merupakan pejabat pimpinan negara
tertinggi di negara Mongol. Meskipun Tin-kok pegang kekuasaan besar dalam ketentaraan namun ia
tak berani melawan Dulai. Maka dalam hati ia berpikir: ‘Benar, ucapan Dulai ini masih memberi
ingat padaku. Biar aku tarik bala terntara kembali dan membantu Cahatai merebut kedudukan Khan
agung ini, tatkala itu apa yang tidak dapat kucapai? Karena batinnya ini hatnya menjadi tentram dan
tidak buat panjang urusan lagi.
Setelah pangeran Tin-kok dan kedua Busu itu pergi jauh, berkatalah Putri Minghui: “Adik Wan,
mimbikin susah padamu saja. Kembalilah ganti pakaian, sebentar lagi aku kembali menyusulmu!”
Baju Nyo Wan memang sobek ditarik oleh Busu tadi, dlam bertempur kena kotoran lagi, memang
harus segera diganti, setelah mengucapkan terima kasih Nyo Wan lantas mengundurkan diri
kembali ke kemah yang disediakan untuknya.
Dulai mengantar punggung Nyo Wan sampai jauh baru ia tertawa, katanya: ‘Pelayanmu ini benar2
bernyali besar. Kemarin ia hendak menangkap aku, hari ini berani pula melawan pangeran tin-kok.
Darimana kau cari pelayan orang Han ini? Sekarang kau boleh beritahu kepadaku?”
“Bukan aku yang cari, justru dia sendiri yang lari kepadaku.” Sahut Minghui.
“Ah, aku menjadi tidak mengerti, seorang perempuan bagaimana bisa lari kedalam barisan besar
tentara kita? Kapan hal itu terjadi? Kenapa kau terima dan pakai dia?”
“Pada malam hari dimana terjadi keributan pembunuh gelap itu.” Kata Minghui pelan, “Dia kepepet
dan tak dapat lari lagi terpaksa aku tahan dan menolongnya. Sudah kau paham bukan?”
Dulai terkejut, tanyannya: “Apakah dia betul2 pembunuh itu?”
“Tidak slah,” sahut Minghui, “tapi malam itu yang hendak dibunuhnya bukan Tin-kok siburuk rupa
itu. Yang hendak dibunuh adalah Sia It-tiong.”
“Siapakah Sia It-tiong itu?”
“Bangkotan tua pemalsu Li Hi-ko itulah orangnya, terlalu panjang kalai mau diceritakan.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Dulai ingin benar mengetahui peristiwa yang menyangkut Nyo Wan itu, segera ia menyela: “Perihal
Sia It-tiong kita bicarakan nanti. Siapakah sebetulnya pelayan Hanini? Kau mau menerima dia tentu
siang2 kau sudah kenal dia. Bagaimana pula kau bisa bersahabat dengan dia?”
Putri Minghui tersenyum, ujarnya: “Si-ko, apap kau kepincut olehnya? Kunasehatkan jangan kau
membuang2 waktu dan tenagamu. Sebab seumpama sekuntum bungan dia sudah dipetik orang.”
Dulai menjadi malu ter-sipu2, katanya: “Jangan kau guyon2, aku hanya ingin tahu asal usulnya saja.
Seorang pembunuh menyelundup ke dalam barisan besar ini bukan urusan sepele.
“baiklah, kalau kau tiada maksud2 tertentu terhadapnya, biar ku ceritakan sejelasnya. Dialah calon
istri Li Su-lam yang bernama Nyo Wan.”
Dulai terperanjat, tanyannya menegas: ‘Apa calon istri Li Su-lam?”
“Benar, kau sudah jelas duduk perkaranya? Bukankah Li Su-lam juga sebagai ‘anda’mu?
Dulai menjadi melongo dan tak habis herannya, katanya: “Calon istri Li Su-lam hendak membunuh
wakil panglima perang kita? Kau, jelas kau sudah tahu asal usulnya, kenapa pula kau bersikap
begitubaik terhadapnya?”
Walau secra terang Putri Minghui tdak memberitahukan is hatinya kepada Dulai, namun sikap
dantidak tanduknya waktu berburu di pegunungan Ken tempo hari, dimana hubungan Li Su-lam dan
Minghui begitu akrab dan mesra, betapapun tak dapat mengelabui pandangan Dulai. Untuk
melindungi dan membela Li Su-lam Minghui tak segan2 bertengkar dengan pangeran Tin-kok,
inipun telah disaksikan olehnya. Maka sekarang setelah mengetahui hubungan adiknya dengan Nyo
Wan begitu akrab seperti adik sekandung layaknya, timbul keraguan dan herannya.
Putri Minghui menjadi geli, katanya: “Lalu menurut pendapatmu bagaimana aku harus bersikap
kepadanya?”
“Aku tidak tahu,” sahut Dulai tergagap, “Tapi sekarang kau begitu baik terhadapnya, sungguh aku
kagum kepadamu.”
Minghui menghela napas, ujarnya: ‘Aku paham akan maksudmu, bicara terus terang aku pernah
sirik dan jelus kepada nona Nyo ini, malah pernah timbul niat jahatku hendak memisahkan
sepasang kekasih ini. Tapi akhirnya aku berpikir dan berpikir kembali, dia seorang Han selama
hidup ini tak mungkin kita menjadi suami istri, buat apa aku harus berbuat hal yang tercela dan
merugikan orang lain? Apalagi hatinya hanya terpikat oleh Nyo Wan seorang.
Bahasa kita ada berkata: “memetik semangka yang masih muda takkan manis rasanya, seumpama
aku bisa berhasil memisah mereka mengandal kekuasaanku, hatinya juga takkan menjadi milikku.
Akhirnya aku tersadar dan terbuka pikiranku,aku harus rela berkorban demi kebahagiaan orang
yang kucintai! Inilah sebabnya kenapa aku mau menerima Nyo Wan. Bicara terus terang, ini bukan
karena dia, justru karena Li Su-lam lah!”
Dulai menjadi terharu akan sikap agung adiknya ini, katanya: “Kau benar Sam-moay, sikapmu
sungguh harus dipuji. Kalau Li Su-lam tahu hal ini , tentu dia berterima kasih padamu.’
“Si-ko kau salah duga, bukan karena ingin dia berterima kasih aku lantas berbuat demikian.”
“Ya, aku tahu. Tapi betapapun dia akan sangat berterima kasih kepadamu. Perbuatanmu ini
langsung atau tidak mungkin malah membantu rencanaku kelak!”
‘Rencana apa?” tanya Putri Minghui tak mengerti.
Dulai tertawa, katanya: “Sekarang terpaksa kita hentikan inspansi ke selatan sementara waktu, akan
datang saatnya kita menelan seluruh daratan Tiongkok. Li Su-lam merupakan pahlawan gagah
diantara bangsa Han, kalau dia bisa keperalat ……….. “
Ternyata meski Dulai bersahabat dan angkat saudara dengan Li Su-lam, hakekatnya persahabatan
ini mengandung kepentingan pribadi, sedikit banayk ia berniat mennggunakan tenaga Li Su-lam.
Sudah pasti kelak ia hendak merebut kekuasaan militer pangeran Tin-kok, dan memimpin bala
tentaranya menelan kerajaan Song selatan. Untuk ambisinya ini dia memerlukan bantuan orang2
Han yang berkepandaian tinggi.
Putri Minghui geleng2 kepala, katanya: “aku tahu watak Li Su-lam yang keras dan kukuh dalam
pendirian. Aku kuatir dia takkan bisa dapat kau peralat menurut kemauanmu.”
“itu kan urusan kelak, biarlah dibicarakan kemudian. Sekarang bagaimana kau harus menyelesaikan
urusan ini?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
‘Maksudmu bagaimana menyelesaikan persoalan nona Nyo itu?”
“Betul, dialah pembunuh yang hendak mengambil jiwa wakil panglima perang kita. Meski urusan
ini bisa kita atasi hari ini, namu mata umum takkan dapat kita kelabui terus!”
“Sebetulnya Sia It-tiong itu memang pantas dibunuh!” demikian kata putri Minghui. Secara singkat
ia lantas ceritakan bagaimana Sia It-tiong memalsu nama orang lain serta mencelakai kiwa Li Hiko.
Kata Dulai: “Durjana ini kelak tentu akan kubunuh, tapi saat ini tak mungkin terjadi. Maka segala
tinadak tanduk kita selanjutnya harus lebih hati2.”
Putri Minghui termenung diam. Dulai tahu orang belum paham akan maksudnya, maka dengan
kalem ia menjelaskan: “kedudukan Khan agung belum terpilih siapakah calonnya. Dilihat situasi
sekarang bakal terjadi perebutan sengit antara Ogotai dan Cahatai. Aku sendiri tiada niat menduduki
jabatan tinggi ini, tujuanku hanya ingin pegang tampuk pimpinan terttinggi kemiliteran. Kalau Samko
(maksudnya Ogotai) yang menjadi Khan agung masih rada mendingan dan menguntungkan bagi
kita, aku justru pasti hendak membantu dia. Tapi pangeran Tin-kok justru menjadi begundal
Cahatai, Sia It-tiong pun menjadi wakil komandannya, jikalau kau bawa pulang seseorang
pembunuh yang hendak menamatkan jiwa Sia It-tiong ke Holin, mungkin, mungkin rada kurang
leluasa, lebih celaka kalau titik kelemahan ini dibuat alasan oleh pihak lawan untuk menuduh dan
menyerang kita. Kalau hal ini benar2 terjadi kedudukan Sam-ko dlam perebutan Khan agung juga
bisa terpengaruh.”
Putri Minghui menghela napas, ujarnya: ‘Ai, tak terduga bahwa begitu lihai dan hebat pertentangan
diantara kalian!” Menurut analisamu ini terpaksa aku harus berpisah dengan Nyo Wan.”
“Ya, dia calon istri Li Su-lam, sudahj seharusnya dia kembali mencari suaminya. Betapapun kau
takkan bisa menahannya untuk selamanya. Setelah ia kembali kalau orang hendak memeriksa
peristiwa itupun takkan dapat sumber penyelidikan.”
“Apakah mereka takkan lebih curiga?”
‘Ah, gampang saja, katakan bahwa dia mati diluar dugaan waktu terjadi peperangan, walaupun
orang lain curiga namun tiada bukti2 yang nyata, apa yang mereka bisa perbuat atas dirimu. Apalagi
tiga bulan lagi Sam-ko bakal menjabat sebagai Khan agung, tatkala itu kalau situasi sudah tenang,
gampang saja aku bunuh Sia It-tiong itu, urusan kecil ini siapa lagi yang berani mengungkap?”
“Sebelumnya aku berat berpisah dengan dia. Tapi menurut keteranganmu ini demi kepentingan
pribadi lebih baik dia kembali. Tapi cara bagaimana aku mengantarnya pulang?”
“Aku sebagai pejabat pengawas negara, betapa gampangnya melepas seseorang. Suruh dia
menyamar sebagai orang laki2, dan keluar menemui aku!”
Dalam pada itu Nyo Wan suah berganti pakaian dan tengah menunggu didalam kemah, tengah
hatinya risau kebetulan Putri Minghui datang, katanya: “Nyo-cici, akan kuberi tahu padamu bahwa
ayahku sudah meninggal!”
Nyo Wan sudah tahu bahwa penyakit Jengis Khan sangat berat dan tinggal menanti ajalnya saja,
maka ia tidak merasa terkejut mendengar berita ini. Tapi dia seorang cerdik dan berotak encer,
melihat Putri Minghui begitu serius memberitahu kepada dirinya,lantas terpikir olehnya tentu soal
ini bisa menyangkut keadaan dirinya disini. Maka dengan lemah lembut ia menghibur hati Putri
Minghui serta berkata: “jadi untuk selanjutnya apakah tuan putri hendak kembali lagi ke holin?”
“Justru karena soal inilah yang membuatku sulit,’ sahut Putri Minghui, “semula aku pernah
mengabulkan hendak mengantarmu kembali ke selatan, sekarang aku menjadi sangsi entah kapan
hal itu bisa terlaksana!”
“Banyak terima kasih pada tuan putri yan telah menyembunyikan diriku disini, budi besar ini
takkan kulupakan selama hidup. Sekarang tuan putri hendak kembali ke Holin, aku kurang leluasa
ikut kesana. Harap tuan putri memberi ijin aku kembali saja.”
“Sudah sekian saat kita bersahabat laksana saudara sekandung, bicara dari lubuk hatiku yang dalam
aku merasa berat berpisah dengan kau. Tapi tiada perjamuan yang tidak bubar, aku tak enak
mengganggu masa remajamu. Ku doakan sekembalimu ini bisa selekasnya berjumpa dengan
suamimu!”
Nyo Wan berpikir: “Sebenarnya tuan putri seorang yang sengsara dalam batin, kelihatannya ia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
masih terkenang kepada engkoh Lam, sayang dalam hal ini aku tak mampu membantunya.’ Segera
ia nyatakan terima kasihnya kepada Putri Minghui serta tanyanya: “Kapan tuan putri akan kembali
ke Holin?”
‘Hari ini juga aku akan berangkat.”
‘Kalau begitu aku ………… “
“Kau tak perlu kuatir,” Kata Minghui tertawa. “siang2 aku sudah mengatur segala sesuatu yang
kauperlukan.’
Kemah ini memang khusus untuk keperluan Putri Minghui dan para dayangnya, maka segala
keperluan dalam kemah serba lengkap, setengah bulan yang lalu segala keperluan Putri Minghui
pakaian umpamanya semua sudah dipindah kemari.
Putri Minghui membuka sebuah peti katanya: ‘kau kembali seorang diri, maka perlu berganti
pakaian.” Sebetulnya Nyo Wan punya seperangkat pakaian pemberian Akai, namun baju itu sudah
bedah dan butut tidak dibawa serta pula. Memang ia sedang kuatir dengan cara berpakaian sebagai
dayang tuan putri tentu perjalanan kali ini serba sulit dan menyukarkan. Tapi dilihatnya Putri
Minghui mengeluarkan seperangkat pakaian laki2, keruan girang hatinya, serunya: ‘Tuan Putri,
kenapa sudah kau siapkan? Apa kau tahu bahwa hari ini aku hendak pulang?”
Putri Minghui tersenyum, katanya: Aku sendiri juga sering mengenakan pakaian laik2, hanya kau
tidak pernah lihat saja. Inilah pakaianku peranti berburu,coba kau kenakan!”
Perawakan Putri Minghui tidak berbeda jauh dengan Nyo Wan ternyta sangat cocok dan pas dipakai
Nyo Wan. Putri Minghui menanggalkan pedangnya sendiri serta katanya lagi: ‘Aku tahu kau biasa
menggunakan pedang, bawalah pedangku ini!”
Pedang milik Putri Minghui ini adalah sebilah pedang pusaka yang terbuat dari baja murni tajam
luar biasa, gagangnya disepuh mas dan bertatahkan berlian, harganya tak ternilai. Keruan Nyo Wan
sangat terkejut, katanya: “Mana bisa aku menerima hadiah tak ternilai ini dari tuan putri?”
“Apakah nilai persahabatan kita tidak jauh lebih tinggi dari hadiah ini?” kata Putri Minghui, “Kalau
kau menolak pemberianku ini terang kau menghina aku!”
Orang memberi secara tulus ikhlas dan bersungguh hati, terpaksa Nyo Wan menerima dengan
perasaan haru.
“Baiklah,” kata Minghui, “Sekarang mari kita menemui Dulai.”
“Harus menemui Dulai dulu?” kata Nyo Wan ragu an gelisah.
“Pangeran Tin-kok sudah menarik kembali milisinya, mungkin tentara yang bakal kau jumpai
ditengah jalan besar berkurang. Tapi betapapun kau harus mempersiapkan diri. Dulai sebagai
pejabat pengawas negara dia bisa memberikan segala fasilitas kepadamu. Persoalanmu sudah
kusampaikan kepadanya dia menyatakan suka membantu kesulitanmu. Diapun bersahabat kental
dengan Li Su-lam kau tak perlu kuatir.”
Waktu mereka keluar dari kemah tampak Dulai sudah menunggu diluar. Segera Dulai
mengeluarkan sebatang anak panah katanya: “Batang panah ini terukir nama kebesaranku, kalau
ada orang tanya katakan bahwa aku mengutusmu keselatan untuk menjadi mata2. Kupercaya takkan
ada orang yang mempersukar perjalananmu.’
Waktu Nyo Wan hendak menyambuti panah itu terdengar Dulai berkata lagi: “Sekembalimu bila
bertemu dengan Su-lam sampaikan salam hangatku kepadanya. Sekarang meskipun sementara
waktu kita hentikan inspansi keselatan betapapun kelak kita tentu bercokol di tionggoan. Aku sudah
mengambil keputusan aku sendiri yang akn pimpin penyerbuan kelak. Siapa tahu ada kalanya kita
bakal bertemu lagi tak lama ini,”
Terketuk sanubari Nyo Wan seperti sadar dari lamunannya, ia berpikir: “Betapapun Dulai tak sama
dibanding Putri Minghui, sebagai pejabat pengawas negara Mongol jikalau kelak ia menyerbu ke
Tionggoan, dia menjadi musuh bangsaku nomor satu. Aku mana boleh ceroboh menerima segala
budi pekertinya!” ~ Terpikir sampai disini, cepat2 Nyo Wan menarik tangannya yang sudah
diulurkan hendak menerima batang panah itu, katanya: “harap maaf kalau aku tidak tahu
kebaikan,panah kuasa ini silahkan pangeran tarik kembali saja.”
Dulai merasa diluar dugaan, alisnya berkerut dalam katanya: “Kenapa begitu?”
‘Kalau aku menerima budi pangeran yang besar ini, mungkin selama hidup ini aku dan Li Su-lam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
takkan mampu membalasnya!”
Dulai bergelak tawa, serunya: Aku dan Li Su-lam sebagai saudara angkat yang pernah bertukar
kado, berarti kau sebagai kakak iparku. Bukankah seharusnya aku dapat membantu kesulitanmu,
masa aku mengharap balas budi apa segala!”
“Bicara memang begitu, namun bagi adat istiadat kita bangsa Han, setelah menerima budi kebaikan
orang lain berarti kita menunggak hutang yang besar, betapapun hutang itu harus dibayar lunas baru
hati ini bisa tentram. Oleh karena itu meski pangeran tidak mengharap balasan, bagi aku bagaimana
juga tidak berani menerima kebaikan ini.”
Alis Dulai bertaut semakin dalam, sejenak kemudian baru ia tertawa dan berkata: “Aku paham arti
kata2mu. Baiklah aku bicar terus terang kepadamu. Marilah kita bedakan antara kepentingan
pribadi dan kepentingan umum. Kuberikan panah kuasa ini sebagai persahabatan pribadi kita. Kelak
seumpama karena utusan negara kalian suami istri hendak jumpa padaku dimedan perang aku
takkan salahkan kalian. Sekarang boleh kau terima bukan?” Lahirnya Dulai bicara begitu manis,
bahwasanya hatinya berpikir lain maksudnya memang hendak mengikat Su-lam dan Nyo Wan
dengan budi demi kepentingannya sendiri.
Kata Nyo Wan sungguh2: “Hubungan pribadi dan kepentingan umum kadang2 juga sukar
dibedakan. Aku maklum dan berterima kasih akan kebaikan pangeran ini, bagaimana juga aku tidk
bisa mempersulit keadaan Li Su-lam!”
Melihat Nyo Wan begitu kukuh pendirian tak mau menerima, bertambah kagum dan memuji batin
Putri Minghui, segera ia ikut bicara: “Tentara kita sudah ditarik mundur dari Liok-pan-san, daerah
utara Ko-goan sudah tiada milisi kita, dari jalan utara kau kembali bahayanya lebih ringan,
seumpama ada kejadian diluar dugaan boleh kau suruh mereka membaw akau menghadap aku.
“Terima kasih akan petunjuk tuan putri.” Sahut Nyo Wan terus naik keatas kuda pemberian putri
Minghui sembari melambaikan tangan ia keprak kudanya membedal kearah timur.
Mengantar pemberangkatan Nyo Wan yang membedal kudanya meninggalkan debu bergulung di
angkasa Dulai meng geleng2 kepala, rona wajahnya membeku dan tidak enak dipandang.
‘Siko,’ kata putri Minghui, “Kau tidak salah kan sikapnya yang tidak tahu kebaikan bukan?
Sebaliknya aku merasa kagum dan salut akan sikapnya yang kukuh itu.’
“Benar, memang harus dipuji,” jawab Dulai. “Tapi justru sikapnya yang kukuh ini bakal membuat
aku susah tidur tidak enak makan.”
Putri Minghui tertawa cekikikan, ujarnya: “Kau takut dia kena halangan di jalan? Kukira tidak
begitu serius sampai tak bisa tidau tidak enak makan bukan? Kuduga bukan melulu karena
persoalan Li Su-lam saja tentu?”
Dulai menjadi uring2an, katanya kurang senang: “Bicaramu nglantur kemana?”
Melihat engkohnya bicar begitu sungguh2 dan prihatin terkejut hati putri Minghui, segera ia robah
sikapnya tanyanya: “Lalu kenapa pula?”
“Coba pikirkan seorang wanita sebatang kara yang lemah ternyata punya pambek begitu besar
apakah tidak menakutkan?”
Baru sekarang putri Minghui tersadar dan paham segala2nya, ujarnya: “O, jadi kau takut kelak kau
tak mampu menundukkan dan menguasai bangsa Han.”
“Betul,” sahut dulai, “Sering aku mendengar bahwa mereka bangsa Han paling mengutamakan
sikap dan pendirian. Janganlah ternggelam dan mabuk akan pangkat dan harta, janganlah menyesal
karena miskin dan janganlah tunduk dan bertekuk lutut akan kekerasan yang tidak dilandasi oleh
kebenaran. Sam-moay, kau pernah membaca buku bangsa Han apakah kau paham akan makna
kata2 yang berbau tengik ini?”
Putri Minghui manggut2 , katanya: “Dulu guru bahasa Tionghoa yang mengajar aku pernah
memberi penjelasan arti kata2 itu kepadaku.”
“Bagus, kalau begitu aku tidak perlu memberi penjelasan lebih jauh,” sambung Dulai. “Tapi
walaupun dulu aku paham akan watak orang Han yang mengutamakan sikap dan pendirian itu,
betapapun aku masih rada sangsi dan hampir tidak percaya, pikirku masa ada manusia yang serba
lengkap begitu? Dengan sebelah tangan menjinjing pedang dan ditangan lain aku memegang harta
benda dan pangkat jabatan siapa yang takkan tunduk dan bertekuk lutut di hadapanku? Sekarang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
setelah aku melihat nona Nyo ini baru terketuk lubuk hatiku bahwa betul2 ada orang macam begitu.
Justru yang lebih menakutkan lagi adalah dia seorang wanita lemah yang sebatang kara.”
“Ya, namun belum tentu semua orang Han berwatak macam dia,” sanggah puri Minghui,
“Bukankah masih ada manusia hina dina bangsa Han mereka macam Sia It-tiong yang rela
diperbudak dan berlutut di hadapan kita?”
“Memang tapi aku kuatir jumlahnya sangat sedikit. Kalau bangsa Han mereka kebanyakan
berwatak seperti nona Nyo itu, kelak seumpama kita bisa bercokol di tanah bangsa Han mungkin
juga takkan kuat bertahan lama!”
“kalau begitu tak usahlah kau gempur tanah bangsa Han mereka.” Seru putri Minghui tertawa.
“Masa kami berani membangkang akan perintah peninggalan ayah sebelum ajal itu?”
“Ayah sudah meninggal, kau patuh atau membangkang akan perintahnya hakekatnya beliau takkan
tahu lagi, lalu siapa yang berani usil terhadap kau?”
Dulai mengerutkan kening, katanya: “Ah, ucapan anak2 yang tidak tahu urusan! Jikalau aku tidak
serbu tanah luas orang Han mana mungkin aku bisa pegang kekuasaan kemiliteran, kalau aku tak
kuasa akan kemiliteran bukan saja aku bakal dibunuh oleh Ji-ko (maksudnya Cahatai), kau
sendiripun takkan punya perlindungan!”
Putri Minghui menjadi bungkam, matanya memandang jauh kedepan di ufuk selatan, Nyo Wan
sudah tidak kelihatan lagi, namun debu yang mengepul tinggi ditengah udara maih kelihatan jelas
terbawa angin. Diam2 berpikir putri Minghui: ‘Orang lain sama kepincut dan iri akan kedudukanku
sebagai tuan putri, sebaliknya aku sangat kepengin seperti Nyo Wan, walaupun ia sudah kehilangan
ayah bunda dan sebatang kara namun masih ada Li Su-lam, sebagai sahabat kental sepaham yang
bisa menyelami sanubariku saja tiada. Dia bisa bebas kemana ia suka pergi, sebaliknya laksana
burung kenari aku selalu terkurung dalam sangkar mas tidak bisa bebas. Ai, Nyo-cici betul2 jauh
lebih bahagia dari aku. Semoga sepanjang jalan ini ia tidak menemui halangan apa2.”
Doa putri Minghui ternyata terkabul, memang sepanjang jalan ini Nyo Wan selamat tak menemui
rintangan apa2. Menurut petunjuk putri Minghui ia berputar melalui utara kota Ko-goan melampaui
Liok-pan-san terus putar balik kearah selatan, sepanjang jalan ini seorang tentara Mongolpun tak
dijumpainya.
Kalau putri Minghui terkenang akan dirinya sebaliknya Nyo Wan terkenang akan Li Su-lam “Entah
apakah engkoh Lam sudah melarikan diri tidak? Dunia seluas ini kemana aku harus mencarinya?”
demikian pikir Nyo Wan.
Mendadak tergerak hati Nyo Wan, teringat olehnya kampung halaman Li Su-lam berada di Bu-seng
di wilayah Soatang. Diam2 ia menerawang: ‘kalau engkoh Lam betul2 lolos dari mara bahaya tentu
dia akan kembali ke kampung halaman menjenguk ibunya. Betul, aku kekota Buseng saja
mencarinya!”
Perhitungan Nyo Wan memang tepat, tatkala itu memang Li Su-lam tengah dalam perjalanan
menuju kampung halamannya. Tapi hal ini tak diketahui oelh Nyo Wan, dia sendiri menggembol
harapan besar yang tersekam dalam sanubarinya untuk mencari Li Su-lam disana. Sebaliknya Li Sulam
sudah luntur dan putus asa terhadap dirinya dengan hati yang luka dan tak mungkin ditambal
lagi, seorang diri ia beranjak dalam perjalanan kembali ke kampung halaman.
Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Li Su-lam sejak ia melarikan diri dari kota diluar perbatasan
itu, sungguh hatinya dirundung duka lara yang menyekam lubuk hatinya, dia sangka bahwa Nyo
Wan sudah nikah dengan orang lain bukan saja ia tidak berani memikirkan ‘rujuk kembali’ sampai
untuk bertemu lagi dengan Nyo Wan pun tidak berani lagi. Dalam persoalan ini memang tidak bisa
salahkan dia, karena dia pernah memeriksa tempat penginapan dimana Nyo Wan dan To Liong
bermalam bersama dalam satu kamar. Malah dikamar itu pula ia temukan baju bekas yang
ditinggalkan oleh nyo Wan, pula bertempur sengit melawan To Liong yang ber-kaok2 mengaku
sebagai suami Nyo Wan. Mana terpikir olehnya bahwa di belakang semua peristiwa ini hakekatnya
masih ada latar belakang yang ber-belit2?
Baju bekas milik Nyo Wan itu ia masukkan kedalam buntalan sendiri dan dibawa serta, setiap kali
ia melihat baju bekas itu se-oleh2 ia melihat bayangan Nyo Wan, ber-tenger2 dihadapannya
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
sehingga menimbulkan rasa duka dan rawan yang berlebihan. Batinnya; menghadapi kenalan baru
adik Wan melupakan sahabat lama. Tapi inipun tak dapat salahkan dia, sebagai wanita lemah yang
sebatang kara apalagi iapun tak tahu kabar beritaku mati atau masih hidup. Tapi sayang sekali ia
rela menikah dengan manusia rendah pekerti dan hina dina, betapapun aku merasa kasihan dan
menyesal sekali. Sungguh heran sebagai perempuan cerdik yang dapat meebut segala selukbeluk
urusan kenapa ia bisa menikah dengan orang macam itu? Ah mungkin memang sudah jodoh, buat
apa aku kasihan dan ikut resah toh tidak mungkin ditolong kembali. Ai, aku memikul tugas negara
kenapa harus memikirkan urusan pribadi dan segala urusan tetk bengek.” ~ meski dalam batin ia
berkata demikian, bagaimana juga hari2 yang telah lewat dimana dia hidup bersama Nyo Wan
sekian lamanya mengalami berbagai tekanan dan penderitaan takkan mungkin terlupakan olehnya,
wajah Nyo Wan betapapun takkan terlupakan dari lubuk hatinya.
Terkenang akan ibunda yang lemah dan sering sakit itu Li Su-lam lanjutkan perjalanan siang malam
tak mengenal lelah, beruntung sepanjang jalan ini juga tak pernah mengalami rintangan, hari itu
akhirnya yang kembali sampai di kampung halamannya.
Waktu Li Su-lam angkat kepala, kelihatan pintu besar rumahnya tertutup rapat, kotor lagi oleh
gelagasi yang malang melintang diambang pintu seperti tak pernah diambah orang. Li Su-lam
menjadi heran, pikirnya: ‘Ibu seorang yang paling suka kebersihan, apakah dia jatuh sakit sehingga
tiada sempat menyapu dan membersihkan rumah? Tapi siang bolong begini kenapa menutup pintu
rapat2?” Dengan telapak tangannya Li Su-lam mendorong terbuka pintu rumahnya sembari
berteriak: “Bu, aku kembali!” ~ Suasana rumahnya sunyi senyap, terdengar gema suaranya sendiri.
Jantung Li Su-lam menjadi berdetak keras, dengan langkah lebar segera ia memburu masuk
kedalam, waktu sampai di ruang depan tampak sebuah layon terpampang ditengah ruangan.
Sungguh kejut Li Su-lam bukan alang kepalang, dengkulnya terasa lemas kontan ia jatuh berlutut
didepan layon.
Lamat2 kupingnya mendengar suara yang welas asih memanggil namanya: “Li-siangkong, bangun,
bangun!” Ter-sipu2 Li Su-lam merangkak bangun waktu ia angkat kepala melihat kiranya paman
Thio dati tetangga sebelah, dengan perasaan hampa ia bertanya: “Panan Thio, ibuku ibuku ……….
“ ~ sebenarnya pertanyaan ini berlebihan, penghuni rumahnya ini tinggal ibundanya yang sudah
lanjut usia, kalau bukan layon ibunya mana mungkin layon orang luar?
Paman Thio menghela napas, ujarnya: “Oh, anak yang sengsara, ibumu sudah meninggal!” ~
setelah menyeka air matanya paman Thio melanjutkan: “Badan ibumu memang rada kurang sehat,
permulaan bulan yang lalu dia mengdengar kabar bahwa tentara Mongol bakal menyerbu kemari,
kuatirnya bukan main. Dia berkata sangat menyesal menyuruhmu pergi mencari ayahnya, ia kuatir
begitu terjadi perang mungkin kau sendiripun bakal tak kembali lagi. Berulangkali aku membujuk
bahwa anak Lam seorang yang cerdik dan pintar tentu dia dapat menemukan ayahnya disana,
seumpama tak ketemu juga pasti bisa kembali. Apa boleh buat meski lidahku hampir kering
membujuknya bagaiamana juga ia tak dapat melepas tekanan batin yang menghimpit lubuk hatinya
akhirnya ia jatuh sakit, dikampung kita ini tiada tabib pandai lagi, bertahan sampai tanggal sembilan
bulan ini, ia tak kuasa bangun lagi dari pembaringan, diharap2 kaupun tak kunjung datang.
Keluargamu tiada sanak kadang lain maka terpaksa aku ambil putusan sendiri menyediakan peti
mati ini secara sederhana, kurawat jenazahnya dan kutaruh disini menunggu kau kembali untuk
menguburnya. Ai, anak Lam, kenapakah kau?”
Mata Li Su-lam terlongong, giginya menggigit bibirnya kencang2 sampai darah mengalir
membasahi dagunya, tiba2 ia tumbukkan kepalanya kepeti mati seraya berteriak: “Bu, anakmu
inilah yang tak berbakti, sehingga kau menderita sampai meninggal.”
Ter0gopoh2 paman Thio menariknya mundur serunya membujuk: “Anak Lam, keluarga Li tinggal
kau seorang, kau harus dengar kata paman Thio, baik2 jaga kesehatanmu supaya ibumu bisa
tentram beristirahat dialam naka.”
Li Su-lam rada sadar baru sekarang ia bisa menghamburkan tangisnya. Setelah puas ia menangis
baru paman Thio berkata lagi: “Orang meninggal takkan hidup lagi, sekarang kau kembali lekaslah
diatur supaya ibunya dikebumikan!”
Ter-sipu2 Li Su-lam berlutut menyembah tiga kali kepada paman Thio katanya: ‘Banyak terima
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kasih bantuan paman Thio yang telah merawat ibunda, budi besar ini takkan mungkin dapat
kutebus. Urusan penguburan ibu selajutnya harap paman Thio suka membantu sekali lagi!”
Ah kita kan tetangga lama, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong, apalagi dalam situasi
yang kacau balau ini. Marilah bangun, carilah hari baik untuk melaksanakan penguburan ibumu.”
Demikian bujuk paman Thio. “Hongsui (ilmu menilik baik buruknya pekuburan) aku tidak
percaya,” demikian kata Su-lam “paman memangbenar, ada lebih baik ibu lekas dikebumikan
supaya arwahnya bisa tenang dan tentram di alam baka. Besok pagi apakah paman senggang?”
Panen sudah lewat aku memang menganggur. Besok kau boleh urus segala keperluan pekuburan
biar aku panggil para tetangga unutk datang membantu.”
Hari keduia sesudah mengubur ibunya, semua barang peningalan dalam rumag di bagi2kan kepada
para tetangga, Terutama Su-lam berikan sebagian besar barang2nya kepada paman Thio yang
paling besar membantu dirinya, malah uang bekal selama perjalanan di Mongol pun seluruhnya
diserahkan pula kepadanya.
Kata paman Thio: ‘Harta bendamu kau berikan kepadaku, apakah kau tidak mau lagi dengan rumah
ini? Kau pulang tidak membawa harta, uangmu ini aku tak bisa terima!”
Perlu kuberitahukan kepada paman , besok aku akan berangkat lagi.” Kata Su-lam.
Baru saja pulang kau mau pergi lagi?” tanya paman Thio.
Ayah ibuku sudah meninggal, aku tidak mau tinggal dirumah ini. Semasa hidup ayah pernah
mengajar kepadaku, jaya runtuhnya negara merupakan tanggung jawab bangsa. Demi nusa dan
bangsa kita kita harus berani berkorban baru terhitung seorang yang bijaksana dan berbakti.
Sekarang situasi sangat tegang pasukan Monol sudah mulai menyerbu ke selatan, kini tiba saatnya
aku mendharma baktikan tenaga dan pikiranku,, amak aku berpikir ,aku tidak akan berkabung
sampai begitu lama. Semoga arwah ibu tidak akan salahkan aku.’
Paman thi manggut2, katanya: ‘Benar, seorang laki2 harus punya tekad dan cita2, orang berbakat
macam kau memang tidak seharusnya mengeram di kampung menunggu kebon. Baiklah, boleh kau
berangkat besok. Rumah ini biar aku yang urus.”
Li Su-lam tertawa getir, katanya: “Setelah pergi entah kapan aku barui bisa pulang, rumah bobrok
ini sebetulnya tak perlu diurus lagi, boleh dijadikan kandang api atau gudang pari saja. Diluar aku
punya banyak teman tak perlu kuatir kelaparan di jalanan. Sedikit uang iniharap paman bisa
terima!”
Karena kewalahan akhirnya paman Thio menerima juga, katanya: ‘Kalau begitu besok biar aku
mengantar pemberangkatanmu.”
“Ah, menyusahkan paman saja, hari ini kau sudah bercapek lelah seharian. Besok sebelum terang
tanah aku sudah akan berangkat.’
Setelah mengantar paman Thio pulang, Li Su-lam sesenggukan di depan meja pemujaan ibunya rasa
duka dan rawan tak kuasa dibendung lagi, entah berapa lama ia tenggelam dalam duka cita. Tatkala
itu hari sudah menjelang tengah malam, Li Su-lam tahu malam ini betapapun tak mungkin bisa
tidur, maka dicainya sebotol arak di depan ruang layon situia tenggak arak untuk menghibur diri
sambil menghabiskan waktu.
Arak simpanan itu berbau wangi dan cukup keras, namun begitu masuk ketenggorokan Li Su-lam
terasa begitu pahit. Selama setahun ini penderitaan dan pengalaman pahit getir kini terbayang
didepan mata. Teringat olehnya, waktu tahun lalu ia meninggalkan kampung halaman ini, ibunya
pernah pesan wanti2. Untuk itu ia tidak menyia2kan harapan ibunya, setelah mengalami berbagai
rintangan dan bahaya di gurun Gobi, akhirnya ia temukan ayahnya sejati dalam pelukan
pegunungan belukar yang sepi itu. Sayang belum sehari mereka ayah beranak bersua, sang ayah
yang hidup penuh penderitaan itu akhirnya menemui ajal dipelukannya.
Terbayang oleh Su-lam waktu ayahnya menjodohkan dirinya dengan Nyo Wan sebelum beliau
menemui ajalnya. Ayahnya sangat kasih sayang kepada Nyo Wan masih jelas dalam ingatannya
betapa gembira dan senang hati ayahnya waktu perjodohan mereka terikat. Begitu riangnya
sehingga ia menghembuskan napas sewaktu bergelak tawa. “Waktu ayah meninggal sedikitpun ia
tidak merasakan segala penderitaan, dia sangka tentu kami bisa sehidup semati sampai hari tua, ai,
mana mungkin beliau tahu terjadilah peristiwa seperti yang kami alami ini.’
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Pelan2 Su-lam membuka buntalan butut serta membolak balik baju bekas peninggalan Nyo Wan tak
terasa terketuk sanubarinya, ditambah pengaruh arak yang cukup keras ia semakin tenggelam dalam
duka lara.
Li Su-lam meng-geleng2 kepala, dalam alam pikirannya tiba2 terbayang bentuk seorang gadis
itulah bayangan Beng Bing-sia tang sudah lama tak pernah terpikirkan oelhnya, entah kenapa dalam
saat2 dirundung kedukaan ini bayangan pujaan hatinya muncul lagi. Ia geleng2 kepala lagi, se olah2
hendak melenyapkan bayangan Beng Bing-sia dari gelengan kepalanya, tapi seperti tamu yang tak
diundang dan ndablek diusirpun tak mau pergi.
Li Su-lam berpikir: ‘Entah apakah To Hong dan Beng Bing-sia sudah kembali ke markas besar
mereka? Begitu pasukan Mongol menyerbu datang, bala tentara kerajaan Kim takkan kuat bertahan
lama. Yang bisa diandalkan hanyalah pasukan pergerakan. Semasa masih hidup To Pek-seng
sebagai pejabat Bulim Bingcu, entahlah sesudah beliau wafat apakah orang2 gagah dari berbagai
golongan dan rada liar itu mau mendengar komando To Hong? Haruslah aku kesana membantu
kesulitan yang mereka hadapi?”
Sampai disini tiba2 terketuk hati Su-lam, diam2 ia terperanjay se-olah2 ia mendadak menemukan
rahasia hati kecilnya: ‘Kenapa aku tidak bisa melupakan Beng Bing-sia?” Mengetahui rahasia
hatinya ini seketika merah padam mukanya, ia mencela dirinya sendiri: ‘Li Su-lam wahai Li Sulam,
kenapa begitu cepat luntur cintamu? Bak umpama sepasang itik mandarin kita pernah
mengalami bencana bersama, meski pbetul ia menikah dengan orang lain betapapun dia merupakan
seorang yang sangat terpuja dan berkesan dalam sanubarimu!”
Sekali tenggak Su-lam habiskan sisa arak dlam botol, didepan matanya terbayang lagi bentuk Nyo
Wan yang menderita dan penuh dikasihani. Lantas terpikir lagi dalam benak Su-lam: “Biarlah adik
Wan yng ingkar padaku, asal buka aku yang ingkar kepadanya. Kalau karena hal ini aku tidak
berani menemui Beng Bing-sia, betapapun harus diutamakan. Asal tugas bakti ini tidak dijadikan
alasan seumpama setiap saat bergaul bebas dengan beng Bing-sia apapula halangannya?”
Begitulah dalam keadaan gundah dan perang batin, lamat2 Li Su-lam mendengar suara benturan
senjata tajam dari kejauhan. Li Su-lam terperanjat, pikirannya rada sadar dari mabuknya, tepat pada
saat itulah terdengar lengking sebuah suitan panjang dari kejauhan, didengar dari nadanya yang
lencir terang adalah suitan seorang gadis.
Untung benar suitan itu bergema begitu panjang dan keras, tepat pada saat Li Su-lam berjingkrak
kaget sebatang piau terbang melesat masuk dari luar jendela, secara gerak reflek Li Su-lam
lontarkan botol araknya yang sudah kosong, sudah tentu botol arak itu terbanting hancur, namun
senjata rahasia itupun tersampuk jatuh.
Betapa kejut Li Su-lam, namun lebih kejut lagi orang yang membokong diluar itu. Botol arak yang
terbuat dari tanah liat yang mudah pecah, namun sekali sambit saja Li Su-lam mampu memukul
jatuh senjata rahasianya yang terbuatdari besi, terang lwekangnya jauh diatas kemampuannya. Mau
tak mau orang itu berpikir: “Tak heran semasa hidup Khan agung begitu kagum dan sangat
menghargai kepandaiannya. Kepandaian bocah ini mungkin jauh berada diantara kawan2 kelompok
Busu kemah mas kita.”
Kalau dikata lambat kenyataan begitu cepat, dengan gaya Yan-cu-coan-lian (burung seriti
menerobos kerai) sekali loncat Li Su-lam menerjang keluar dari jendea, bentaknya gusar: “siapa
kau? Tengah malam buta rata kenapa main bokong?”
Orang itu membalikan golok menangkis babatan pedang Li Su-lam, hardiknya: “Khan agung
memberi berkah kepadamu, kenapa kau malah lari pulang kandang?”
Dibawah penerangan bulan sabit sekarangLi Su-lam suah melihat tegas wajah orang ini, samar2
masih dikenalnya waktu berburu di pegunungan Ken tempo hari. Orang ini merupakan slah seorang
pengikut pangeran Tin-kok.
Li Su-lam menjadi murka: “Kurang ajar! Aku pulang ke kampung halaman sendiri kalian masih
mengejar kemari? Hm, disini tanah bangsa Han kita, tak bisa kubiarkan kalian mengganas disini.”
Orang itu berhasil memunahkan berbagai serangan Li Su-lam , namun seluruh kepandaian dan
tenaga sudah tumplek keluar, keruan keadaannya menjadi serba sulit dan payah, insaf ia bahwa
dirinya buka tandingan orang, mendadak ia ayun sebelah tangannya menyabitkan sebatang senjata
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
rahasia. Li Su-lam miringkan badan menghindar “blum” senjata rahasia itu meledak memercikkan
api.
Kiranya pada jaman Jengis Khan ini bangsa Mongol saudah berhasil membuat bahan peledak meski
masih serba sederhana, namun senjata rahasia yang bisa meledak ini merupakan salah satu macam
senjata peledak yang istimewa. Untung melulu senjata rahasia berbentuk ekcil dan daya bakarnya
tidak begitu besar maka kekuatannyapun tidak begitu mengejutkan.
Tahu dirinya takka menang senjata rahasiapun tak dapat meukai Li Su-lam maka begitu mendapat
kesempatan cepat2 orang itu lari sipat kuping. Li Su-lam tak sempat memadamkan api lagi yang
penting mengejar musuh lebih dulu. Beberapa kali lompatan ia berhasil mengejar tiba dibelakang
orang, bentaknya: ‘Diberi tidak membalas tentu kurang hormat, nih kaupun sambutlah
kepunyaanku.”
Kedua jari Li Su-lam dijentikkan, creng. Creng dua buah mata uang ia sambitkan bersama sebagai
senjata rahasia. Busu Mongol itu membalikan goloknya menyampok jatuh sebuah yang didepan,
tapi mata uang yang kedua denga telak mengenai jalan darah ciam-kin-hiat. Kontan Busu Mongol
itu terjungkaljatuh sambil berteriak nyaring.
Baru saja Li Su-lam memburu maju hendak membekuknya, mendadak terdengar pula suara suitan
nyaring itu, nada suitan jauh lebih lemah dari pertama tadi terang napasnya sudah empas empis dan
tenagapun hampir habis. Li Su-lam menjadi kaget, pikirnya: ‘Suitan ini terang suara seorang
perempuan, siapakah dia? Lebih penting aku menolong orang, orang ini sudah ditotok jalan
darahnya, sepulangnya nanti biar kukompes keterangannya.”
Cepat2 ia kembangkan ilmu rinagn tubuh Pat-pou-kan-sian (delapan langkah mengejar tonggeret)
terus berlari kencang ke arah datangnya suara. Waktu itu dipinggir kampung tampak didepan sana
seorang gadis berpakaian merah tengah bertempur sengit melawan laki2 yang menggunakan golok
tunggal.
Dibawah cahaya bulan jelas kelihatan gadis berpakaian merah itu bukan lain adalah Beng Bing-sia
adanya. Dalam sekejap itu hati Li Su-lam sungguh kejut dan girang bukan main hampir saja ia
terkesima dan menjublek di tempatnya. Belum lama berselang baru saja ia berpikir apakah ia perlu
pergi mencari Beng Bing-sia? Siapa tahu tanpa dicari sekarang Beng Bing-sia malah muncul
dihadapannya.
Laki2 yang melawan Beng Bing-sia itu memang cukup lihai, permainan goloknya cukup ganas,
dilihat dari kejauhan goloknya diputar begitu kencang seperti kilatan sinar putih membungkus
segumpal awan merah. Baju Beng Bing-sia me-lambai2, terjang kiri terobos kanan betapapun tak
berhasil keluar dari rintangan kilatan sinar putih itu.
Saat mana Beng bing-sia sudah melihat kedatangan Li Su-lam, keruan girangnya bukan kepalang,
teriaknya: “Su-lam kau sudah pulang? Keparat ini keponakan Yang Thian-hui, mereka paman dan
keponakan adalah anjing pengkhianat bangsa yang menjadi mata2 bangsa Mongol.” Belum habis
kata2nya, mendadak laki2 itu membacok dengan goloknya, kontan Beng Bing-sia membalas
dengan sebuah babatan terus diganti jurus berantai menyontek pundak menusuk lambung, ternyata
permaian pedangnya cukup lihai pula.
Siapa tahu permainan golok laki2 itu ternyata memang hebat, jurus tersembunyi dalam jurus, tipu
dilembari dengan tipu pula, se konyong2 telapak tangannya membalik bukan saja goloknya
menyamber telapak tangannyapun ikut beraksi dengan serangan yang mematikan, tunjuk timur,
gempur barat, babat selatan bacok utara, mendadak terdengar ia membentak: “Roboh!” sebuah
pukulan dahsyat laksana geledek menyamber tiba2 sudah menyelonong didepan dada Beng Bingsia.
Saat mana pedang panjang Beng Bing-sia tertahan oleh golok lawan sehingga tak mampu
bergerak dengan lincahnya, terang pukulan telapak tangan itu bakal mendarat dengan telak didada
Beng Bing-sia dan tak mungkin dihindari lagi.
Untung gerak berbagai pihak adalah begitu cepat laksana kilat, di saat2 kritis telapak tangan laki2
itu hampir mendarat didada Beng Bing-sia, tangkas sekali Li Su-lam menerjang tiba tubuh dan
bayangan pedangnya tergubat menjadi satu merangsak tiba denganjurus Pek-hong-koan jik (pelangi
menembus sinar matahari), ujung pedangnyapun sudah mengancam tepat di punggung si laki2 itu.
Laki2 itu adalah kepnokanan iblis besar Yang Thian-lui yang bernama Nyo Kian-pek. Yang thianKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lui merupakan tokoh utama dari golongan sesat, karena tidak punya anak maka keponakannya ini
dipandang sebagai anak kandung sendiri, sejak kecil Nyo Kian-pek diasuhnya hingga besar dan
dididik ilmu silat, boleh dikata kepandaiannya sudah menelan sebagian kemampuan pamannya,
sudah tentu ilmu silatnya sangat tinggi.
Begitu emndengar kesiur angin dibelakangnya dimana ujung pedang tengah mengancam
punggungnya sigap sekali ia berkisar memutar tubuh sembari melintangkan goloknya menyampok
miring pedang Li Su-lam. Jurus permainannya ini sungguh berbahaya dan untung dapat
menyelamatkan dirinya. Li Su-lam sendiri merasa kagum dan memuji dalam hati batinnya: “tak
heran suhu pandang Yang Thian-lui sebagai musuh bebuyutan yang paling tangguh selama hidup.
Ternyata keponakannyapun sedemikian lihai.”
Ginkang Beng Bing-sia cukup tinggi, karena Nyo Kian-pek harus menggerakkan golok untuk
menangkis pedang Li Su-lam, meski telapak tangan kiri masih menyelonong kedada Beng Bing-sia
namun daya kekuatan pukulannya menjadi banyak berkurang. Sekali berkelebat dan mencelat Beng
Bing-sia berhasil menghindar diri. Tapi ia tidak berhenti begitu saja, pedangnya ‘ser’ menukik balik
menusuk kejalan darah Hun-kun-hiat dibawah ketiak Nyo Kian-pek.
Lekas2 Nyo Kian-pek merubah ilmu pukulannya dengan ilmu tangan kosong merebut senjata,
kelima jarinya bagai cakar langsung mencengkeran pergelangan tangan Beng Bing-sia. Tapi gerak
perubahan pedang Beng Bing-sia juga turun dan sedikit dimiringkan kesamping terus dibabatkan
maju “crat!” ujung baju Nyo Kian-pek berlubang besar ditembus ujung pedang. Ini masih untung
karena Beng Bing-sia harus menghindari cengkeraman tangannya, sehingga ujung pedangnya ikut
tertarik miring, kalau tidak pasti ujung pedangnya sudah menusuk amblas kedalam lambungnya.
Saking kaget keringat dingin membasahi tengkuk Nyo Kian-pek. Bentaknya dengan gusar: “Bagus,
kalian majulah bersama. Li Su-lam, kalau aku takut aku tak bakal datang kemari!”
Istilah ‘maju bersama’ bagi pendengaran Li Su-lam sungguh sangat menusuk telinga, keruan
mukanya menjadi jengah . Tapi sedikitpun ia tidak perlu sangsi, pedangnya dengan gesit bergerak
lagi menusuk kepada musuh serta makinya: ‘Memang menghadapi pengkhianat bangsa yang
menjadi antek musuh seperti tampangmu ini buat apa harus bicara tentang peraturan kangouw apa
segala? Peduli kau takut atau tidak, bagaimana juga pedang pusakaku ini harus membabat habis
segala kejahatan.”
Nyo Kian-pek menyeringai, ejeknya: “Mengandal kepandaian pasaran ini kau berani hendak
membunuh aku?” ~ dimulut ia berkata garang dan congkak, namun menghadapi serangan pedang Li
Su-lam yang hebat dan kuat itu betapapun ia harus tumplek segala perhatian untuk menghadapinya.
Tat-mo-kiam-hoat yang dimainkan Li Su-lam adalah ajaran murni dari Siau-lim-pay, jurus
permainan serta tipu2 nya mungkin tidak serumit ilmu pedang Beng Bing-sia, namun ilmu pedang
ini memang peranti dan leluasa untuk menjaga diri dan balas menyerang, penjagaannya sangat rapat
serangannyapun cukup keji. Apalagi lwekangnya jauh diatas Beng Bing-sia, maka kalau Nyo Kianpek
melawan Beng Bing-sia bisa berada diatas angin, namun menghadapi Li Su-am sukar baginya
untuk dapat menang. Kini Li Su-lam dan Beng Bing-sia maju bersama mengeroyoknya keruan ia
semakin terdesak hanya mampu bertahan tanpa kuasa balas menyerang lagi.
Sepuluh jurus telah berlalau, diam2 Nyo Kian-pek mengeluh dalam hati, pikirnya: ‘kalau aku tidak
nekad dan menempuh bahaya mungkin jiwaku susah ditolong lagi,’ karena sengitnya segera ia
kembangkan ilmu golok ajaran pamannya yang paling hebat, tak lupa dalam permainan goloknya
ini ia kombinasikan pula dengan ilmu pukulan, kali ini yang diserang denga deras adalah Li Su-lam
dengansebuah bacokan maut.
“awas, ilmu latihannya adalah Thi-sa-ciang!” teriak Beng Bing-sia memperingatkan.
“Tak menjadi soal,” jawab Li Su-lam. Sementara itu telapak tangan mereka sudah bertemu ditengah
jalan. “Blang” begitu kedua telapak tangan masing2 kebentur, tubuh Nyo Kian-pek menggeliat terus
jumpaltitan mundur tiga tombak jauhnya, sigap sekali Beng Bing-sia lompat mengejar seraya
menusukkan pedangnya dan berhasil menggores sebuah luka panjang dipundaknya. Nyo Kian-pek
menggerung kesakitan seperti binatang yang kena luka ia melarikan diri berlari lintang tukang
sambil ber-kaok2.
Waktu Beng Bing-sia hendak mengejar dilihatnya Li Su-lam berdiri tegak tanpa bergerak sambil
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengerutkan alisnya, naga2nya tiada maksud hendak mengejar musuh, keruan ia terkejut, serunya:
‘Li-toako,kenapa kau?”
Li Su-lam menghirup napas lalu mengerahkan hawa murni dalam tubuhnya tiga putaran untuk
menghimpas tekanan berat yang menyesakkan napasnya, setelah itu baru ia sempat berbicara: ‘tak
apa2, Thi-sa-ciang bajinagn itu cukup lihai, sungguh diluar perhitunganku.”
Waktu ia ulurkan telapak tangannya kedepan Beng Bing-sia, tampak ditengah telapak tangannya
terdapat bundaran merah yang menyolok mata seperti kena terbakar. Sungguh kejut dan merinding
kuduk Beng Bing-sia melihat kehebatan ilmu lawan.
Ternyata lwekang Nyo Kian-pek sebetulnya tidak dibawah Li Su-lam kalau tidak mau dikatakan
sebanding. Tapi karen ai harus waspada dan berjaga2 dari sergapan Beng Bing-sia terpaksa tidak
bisa melimpahkan seluruh kekuatannya, tak heran dalam benturan tadi ia terkena tergetar mundur
oleh tenaga pukulan Li Su-lam.
Tanya Li Su-lam: ‘Nona Beng, kenapa kau bisa datang ke kampungku ini? Secara kebetulan
berjumpa disini atau sebelumnya kau sudah tahu niat jahat mereka?”
Beng Bing-sia tertawa, sahutnya: ‘Aku memang datang mencari kau! Peristiwa malam ini dikata
kebetulan atau tahu sebelumnyapun boleh. Kalau diceritakan amat panjang biar nanti kita bicarakan
pelan2. Orang she Nyo itu masih punya begundal apakah sudah kau gebah lari?”
“Busu Mongol itu sudah kutotok jalan darahnya, mari kita pulang untuk mengompes tawanannya di
semak rumput di pinggir jalan, sangkanya pasti Busu Mongol itu masih rebah disana. Tak duga
waktu mereka kembali bayangan Busu Mongol itu sudah tak kelihatan lagi, entah membuka jalan
darah sendiri atau ditolong orang.
“he, dikampung ada kebakaran, apakah ………….” Teriak Beng Bing-sia, belum lagi ia bicara
habis tampak seseorang telah ber lari2 datang serta berteriak: ‘Li-siangkong, lekas kau kembali
rumahmu kebakaran!” ~ ternyata senjata rahasia Busu Mongol yang meledak tadi telah
menimbulkan kebakaran.
Untung segala peralatan dan harta benda Li Su-lam yang ada dalam rumah sudah dibagikan kepada
para tetangga, tiada barang ketinggalan yang mudah terbakar, apalagi bara api tidak begitu besar
sehingga kebakaran ini mudah diatasi. Waktu Li Su-lam sampai depan rumahnya, para tetangga
sudah be-ramai2 memadamkan kebakaran ini.
Kata paman Thio: ‘Omitohud, kukira kau masih mendengkur dalam impianmu smapai tak tahu
rumah sendiri terbakar. Untung kau berhasil lari keluar. Bagaimana terjadinya kebakaran ini?
Siapakah nona ini?” ~ para tetangga menjadi heran dan ber tanya2 karena Li Su-lam kembali
dengan seorang gadis yang mereka belum kenal.
“Ada begundal Mongol yang hendak mempersulit padaku,’ sahut Li Su-lam, “Tentu anjing keparat
itulah yang melepas api ini. Nona Beng ini adalah kawanku, untung dia mengetahui musuh hendak
mencelakai aku dan memanggilku keluar. Selain itu ada pula rampok yang telah dipukul mundur
atas bantuannya.”
Tatkala itu hari sudah terang tanah orang2 kampung yang melihat keramaian semakin banyak
keruan Beng Bing-sia semakin kikuk dan malu ditonton begitu banyak orang. Merek begitu kesima
melihat penganten baru, malah merekapun ber bisik2 memperbincangkan Beng Bing-sia: “sungguh
tak kira gadis rupawan yang lemah lembut ini ternyata punya kepandaian begitu lihai.’ ~ Lihatlah ia
berdiri berendeng dengan Li-siangkong, betul2 sepasang jodoh karunia Tuhan,” betapapun polos
dan lapang jiwa Beng Bing-sia, mendengar kisikan ini tak urung merah jengah selebar mukanya.
“Memang aku sudah berkeputusan hendak berangkat pagi ini,” seru Li Su-lam, “Banyak terima
kasih akan bantuan para saudara yang telah memadamkan kebakaran ini, sekarang kalian kebetulan
berkumpul disini, maka aku mohon diri dan selamat berpisah.” Ia menjura dalam sambil memutar
bada lalu membawa Beng Bing-sia meninggalkan kampung halamannya.
Di saat Li Su-lam dan Beng Bing-sia ambil berpisah dengan orang2 kampung, di lereng bukit diluar
kampung di belakang sebuah pohon besar ada seorang juga tengah meninggalkan tempat
sembunyinya secara diam2. Li Su-lam dan Beng Bing-sia tidak mengetahuinya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Jilid 06 bagian kedua
Setelah jauh keluar kampung baru mereka ada kesempatan bicara. Tanya Li Su-lam: “Untuk
keperluan apa kau datang mencariku?”
“Waktu berada di lembah kupu2 si Sehe tempo hari Suheng To Hong yang bernama Ciok Bok
pernah datang mencari kita. Dia bercerita tentang kau baru kami mengetahui pengalamanmu selama
ini. Ai, Li toako, kaupun tidak perlu terlalu bersedih, Nona Nyo gugur sebagai pahlawan bangsa,
kukira iapun takkan meneysal akan pengorbanannya.”
Ternyata waktu Ciok Bok bertemu dengan Beng Bing-sia di lembah kupu2 masih belum tahu bahw
asebenarnya Nyo Wan belum mati, kemudian baru ia bertemu dengan Nyo Wan didalam kota kecil
diperbatasan itu, baru diketahui olehnya bahwa NYo Wan sebetulnya masih hidup. Sejak berpisah
dilembah kupu2 Beng Bing-sia tidak pernah bertemu dengan Ciok Bok.
Beng Bing-sia pun menyangka Nyo Wan betul2 sudah mati, dengan bujukan manis ia menghibur
dan menasehati Li su-lam, membuat Li Su-lam serba runyam dan tertawa getir saja. Melihat Li Sulam
tidak menitikkan air mata dan bersedih sungguh heran dan diluar dugaan Beng Bing-sia malah,
batinnya: “agaknya dia tidak begitu berduka merana, apakah hubungannya dengan Nyo Wan tidak
begitu erat dan kekal sebagaimana dugaanku semula?”
Sebaliknya Li Su-lam sendiri saat itu juga tengah berpikir: ‘Benar,, meski Nyo wan masih hidup
namun sekarang dia sudah menjadi istri orang lain, dalam lubuk hatiku anggap dia sudah mati saja!”
~ karena itu ia menyahut tawar saja: ‘Nona Beng, banyak terima kasih akan perhatianmu ini.”
Beng Bing-sia menghela napas, ujarnya: “Aku takut kau berduka karenanya, kalau hatimu bisa
terbuka itulah baik sekali.” ~ lahirnya ia berkata begitu namun dalam hati ia mencemooh: ‘Orang
sering berkata jiwa laki2 rada sempit dan gampang luntur, kiranya benar!”
Li Su-lam tak ingin berkepanjangan membicarakan tentang Nyo Wan, segera ia putar pokok
pembicaraan: ‘Nona Beng, kenapa kau tak berada di markas To Hong, malah seorang diri kemari?”
To Hong sudah tahu musuh besar pembunuh ayahnya adalah iblis besar durjana Yang Thian-lui,
sakit hati ini mungkin tak mudah dibalas. Demi membantu usahanya aku kembali dari Mongol dan
kembali pula ke kanglam rumahku, mengundang ayahku keluar membantu.”
“Ayahmu suah datang?” tanya Su-lam.
“Para kawan Bulim di Kanglam tengah berunding cara bagaimana menghadapi serbuan tentara
Mongol, ayah mungkin harus terlambat sedikit hari lagi baru bisa menyusul kemari.” Demikian
Beng Bing-sia memberi keterangan, “Mengenai persoalanmu sudah kusampaikan kepada ayah,
beliau pernah salah paham terhadap kau sekarang setelah tahu duduk perkara sebenarnya beliau
sungguh menyesal dan mohon maaf.”
Itu tidak menjadi soal. Tapi baik juga kalau Beng tayhiap sudah tahu seluk beluknya.
Beng Bing-sia menyambung ceritanya: “Markas To Hong berada di Long gak san disebelah
tenggara distrik Impeng, jaraknya tidak terlalu jauh kira2 empat lima hari perjalanan dari kota Buseng
dan teringat akan kau. Aku tidak tahu apakah kau sudah pulang maka sengaja aku datang
bertandang.’
“Terima kasih akan kunjunganmu ini.” Kata Su-lam.
“Bicara terus terang,” ujar Bing-sia tertawa, kedatanganku ini bukan melulu kangen lantas
bertandang kemari, tujuanku adalah mengajak kau membantu To hong. Untuk sementara waktu
ayahku tidak bakal datang, markas perlu beberapa tenaga yang berkepandaian tinggi.”
“Sudah menjadi kewajibanku untuk membantu, umpama kau tidak datang akupun hendakkesana
mencari kalian.”
Untuk selanjutnya Beng Bing-sia bicara lagi: “Secara kebetulan aku melihat Nyo Kian-pek mencar
tahu alamat rumahmu dikota Bu-seng, aku lebih waspada dan kukuntit mereka. Setelah mengetahui
tempat tinggalmu ia berunding dengan bahasa Mongol dengan perwira itu, meski bicara dalam
bahasa Mongol aku kurang lancar namun aku dapat mendengar arti pembicaraan mereka. Aku
mendengar bahwa pamannya siang2 sudah menjadi antek orang Mongol, kali ini dia mendapat
tugas bersama perwira itu dengan dua tujuan. Pertama melihat kau sudah kembali belum, kalau
sudah kembali kau akan dibunuh dan kepalamu akan dipersembahkan kepada Sia It-tiong. Kalau
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kau belum kembali mereka akan menggeledah isi rumahmu. Menurut apa yang kudengar dari
pembicaraan mereka agaknya dirumahmu ada tersimpan buku militer apa aku yang kurang terang,
yang jelas bahwa Jengis Khan sendiri juga tengah mengincar buku itu.”
Baru sekarang Li Su-lam jelas segala2nya. Pikirnya : ‘memang aku pernah ngapusi Sia It-tiong
bahwa buku catatan kemiliteran itu tidak kubawa serta. Tak heran ia kirim orangnya untuk
menggeledah rumahku. Kalau hanya karena aku tak mungkin mereka bekerja begitu serius.”
Beng Bing-sia menyambung lagi: “Secara diam2 kukuntit mereka, siapa tahu ternyata mereka sudah
waspada, begitu masuk kampung lantasjejakku konangan oleh mereka. Thi-sa-ciang orang she Nyo
itu memang cukuop lihai, kalau kau tidak datang menolong tepat pada waktunya hampir saja aku
terjungkal oleh tangan jahatnya.”
Kata Su-lam: “Konon To Pek-seng masih seorang putra yang bernama To-Liong, setelah ToPekseng
mati, apakah dia yang mewarisi jabatan Bulim Bingcu Itu? Mana Li Su-lam tahu laki2 yang
mengaku sebagai suami Nyo Wan dan bertempur dengan dirinya dalam penginapan itu justru
adalah to Liong.
“jangan kau singgung tentang orang ini,” kata Beng Bing-sia, “Orang inijahat dan bejat
perangainya. Jiko To Hong yang brnama Liong Kang justru teraniaya sampai mati olehnya. Dia
bersekongkol dengan ayah beranak Tun-ih Ciu sampah dunia persilatan, sudah banya bukti2 yang
nyata menandakan mereka menjadi kakki tangan bangsa Mongol.
Li Su-lam menghela napas, ujarnya: “To Pek-seng seorang pahlawan yang gagah berani, ternyata
punya putra bejat dan durhaka, sungguh sangat mengenaskan. Lali bagaimana To Hong
dibandingkan engkohnya …………. “
To Hong sudah putuskan hubungan persaudaraan denganengkohnya,” demikian Beng Bing-sia
menjelaskan, ‘To Liong tidak berani pulang,sekarang seluruh anak buah To Pek-seng sudah
mengangkat To Hong sebagai gantinya. Tapi karena usianya masih muda cetek pengalaman lagi,
kalau anak buah ayahnya mau tunduk dan terima perintah, tapi para cecu lainnnya belum tentu mau
tunduk kepadanya. Maka saat ini dia justru sangat perlu bantuan orang2 pandai.’
To Hong merupakan wanita perwira yang menuruni sifat2 gagah ayahnya, sang waktu akan
menggemblengnya menjadi seorang yang bisa menegakkan wibawa dikalangan Bulim!” demikian
puji Su-la.
To Hong memang gadis yang cerdik pandai, namun pelajaran atau ilmu perang sedikitpun ia tidak
paham. Kau merupakan keturunan orang berpangkat, sering baca buku dan paham taktik
peperangan maka bantuanmu sangat diperlukan disana.’
Li Su-lam tertawa,ujarnya: ‘Buku catatan kemiliteran peninggalan ayahku memang sudah kubaca
apal, namun apa yang tercatat didalam buku adalahteori melulu, entah apakah dapat dilaksanakan
dalam praktek? Aih ……. Bicara sampai disitu mendadak ia berhenti se akan2 tengah
mendengarkan ssuatu suara.
‘Apa yang kau dengarkan?’ tanya Beng Bing-sia heran.
‘Dalam hutan sana agaknya ada seorang perempuan menghela napas!”
“Apa betul? Kenapa aku tidak dengar?”
‘Biar kulihat kesana.”
Beng Bing-sia tertawa geli godanya: ‘Mungkin mantu orang yang tengah dirundung kesedihan
karena jengkel pada mertuanya, buat apa kau urus tetek bengek ini?”
Li Su-lam tetap masuk kedalam hutan memeriksa, namun tak seorangpun ditemuinya.
“Siapa kiranya yang kau duga sembunyi disini?” tanya Beng Bing-sia.
Li Su-lam rada sangsi pikirnya: ‘Apakah aku yang terlalu curiga atau salah pendengaran? Nyo Wan
sudah menikah dengan orang lain , mana mungkin datang kemari?” Kiranya samar2 ia mengenal
suaar hela napas itupersisi benar dengan suara Nyo Wan.
Su-lam segan menyinggung soal NyoWan lagi terpaksa ia menyahut meng-ada2: ‘Aku kuatir anak
manu siapa yang lari kemari hendak mencari jalan pendek.”
‘Sudah sekarang kau boleh berlega hati bukan.” Goda Beng Bing-sia lagi, dalam hati ia tertawakan
sikap Li Su-lam yang linglung ini.
Setelah keluar dar hutan entah mengapa hati Su-lam masih dirundung kekuatiran. Dengan ter
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mangu2 ia berjalan terus kedepan sambil menunduk. Teringat olehnya pada waktu berada dilembah
gunung pedalaman saat ia melarikan diri bersama Nyo Wan. Duduk di pinggir kolam Nyo Wan
membuang jelopak bunga kedalam air yang mengalir pelan dan hilang di kejauhan. Hari itu adalah
hari kedua setelah ikatan jodoh mereka, Nyo Wan pernah menyatakan rasa kuatirnya bahwa ia
hanya menurut akan perintah sang ayah baru bertunangan dengan dirinya, maka ia merasa rawan
menghadapi keadaan yang menyedihkan ini , meminjam bunga ia bermain air untuk melampiaskan
rasa duka nestapa yang tersekam dalam lubuk hatinya.
Hati Su-lam membatin: ‘Sungguh tak duga peristiwa yang dikuatirkan oleh adik Wan kini menjadi
kenyataan. Tapi bukan karena aku ingkar janji adalah karena adik Wan sndir yang berubah.
Siapakah yang harus disalahkan. Gara2 pasukan Mongollah sehingga kita harus berpisah di tengah
keributan itu, keadaan lah yang menentukan sehingga adik Wan merubah haluan. Ai, bunga rontok
melayang, air mengalir sendiri, enta dimanakah sekarang adik Wan berada. Orang itu belum tentu
suami yang baik, kasihan kalau adik Wan takkan bisa sehidup semati sampai hari tua.”
Teringat akan masa lalu tak kuasa hati Li Su-lam menjadi pilu, rasa duka dan rawan sukar
dibendung lagi. Terlihat oleh Beng Bing-sia kelopak mata Li Su-lam mengembeng air mata, tak
teras ia ikut tertegun, serunya: “Su-lam, persoalan apakah yang tengah kau risaukan?”
“Ayahku wafat dirantau orang, jauh2 aku kembali kekampung halaman tak kira ibundapun telah
meninggal. Sekarang aku berpisah dengan tempat kelahiran selanjutnya tiada tempat menetap lagi,
betapa hati ini takkan pilu.”
“Hidup manusia memang jamak mengalami berbagai bencana, apalagi dalam jaman yang kalau
balau, apa hanya kau seorang saja yang mengalami malapetaka? Jauh didepan sana masih luas tanah
yang dapat kau arungi, disana tiada tempat tinggal namun disana kau bisa berpijak dan menetap.
Kau pun tak perlu memeras diri!”
Li Su-lam menjadi sadar, katanya: ‘Tepat sekali ucapanmu, diluar sana masih luas tanah perdikan,
aku harus kelaur menerobos lingkaran yang kubangun dalam angan2 ku sendiri.”
Dengan membekal perasaan hambar Li Su-lam ambil berpisah dengan kampung halaman kelahiran
bersama Beng Bing-sia menuju arah timur.
Belum lama setelah Li Su-lam lewat terlihat seorang gadis beranjak keluar dari dalam hutan
melewati sebuah jembatan batu, dimana tadi Li Su-lam mengenang masa lalu, disini gadis itu
menghamburkan daun2 pohon kedalam sungai. Gadis ini tak lain tak bukan aalah Nyo Wan.
Perasaan Li Su-lam memang tajam tadi ia tidak salah dengar, suara helaan napas dalam hutan itu
memang suara Nyo Wan. Sayang Li Su-lam tidak memeriksa secara teliti. Kini waktu Nyo Wan
berjalan keluar dia sudah pergi jauh bersama Beng Bing-sia.
Diatas jembatan Nyo Wan melemparkan daun2 kering kedalam sungai, betapa duka lara lubuk
hatinya boleh dikata jauh lebih parah dari Li Su-lam. Beruntung terhindar dari berbagai malapetaka
ia berhasil lolos pulang ke negeri leluhur membekal harapan besar datang mencari Beng Bing-sia.
Sungguh dilaur tahunya, Beng Bing-sia memang sudah ditemukanm, namun Beng Bing-sia pergi
bersama Beng Bing-sia. Sang Mertua yang bakal ditemuinyapun sudah wafat,
Ucapan Beng Bing-sia tadi dapat didengarnya dengan jelas, bisak bisik para orang kampungpun ia
sudah tahu. Tanpa merasa Nyo Wan berpikir: “Ternyata nona Beng itu menyangka aku sudah mati,
tak heran ia datang mencari engkoh Lam.” ~ terpikir pula: “Omongan orang2 kampung itupun tak
salah, engkoh Lam sangat cocok seperti apa yang dikatakan orang kampung merupakan jodoh
karunia Tuhan.” ~ lantas terpikir pula olehnya: ‘Terang mereka menyangka aku sudah mati, buat
apa aku muncul diantara mereka menjadi batu sandungan belaka? Ai, lebih baik aku anggap diriku
sendiri sudah mati saja!”
Berpiir kearah yang menyedihkan ini ingin rasanya Nyo Wan terjun ke sungai bunuh diri saja.
Namun terkilat dalam otaknya pikiran lain: “Sia It-tiong itu bukan saja musuh besar engkoh Lam
juga musuh besarku. Sebelum dendam ini terbalas masa aku boleh mati begitu saja?” ~ Ucapan
Beng Bing-sia yang dapat dicuri dengar tadi sekarang mendadak mengiang di pinggir telinganya: “
Diluar sana masih luas tanah perdikan, kenapa kau tidak melangkah kesana?” ~ Terpikir oleh Nyo
Wan: “Nona Beng berhasil merebut engkoh Lamku, namun ucapannya ini betul2 sangat tepat.
Akupun harus berani menjebol segala rintangan dalam lingkunganku.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tapi meski dunia sedemikian luas kemana pula aku harus menetap? Li Su-lam bisa pergi ke markas
To Hong bersama Beng Bing-sia, sebaliknya kemana aku harus pergi? Dalam dunia ini ia tiada
sanak kadang, sampai seorang terakhir yang pernah hidup bersama mengalami berbagai penderitaan
seperti Li Su-lam pun telah ikut orang lain, siapa lagi yang dapat diandalkan olehnya sekarang?”
Betapapun jalan ini harus ditempuh, seumpama didepannya tiada jalan lagi dan tiada kawan seorang
diripun aku harus melangkah maju, pantang mundur. Dunia sebetulnya tiada jalan, hanya
manusialah yang membuat jalan itu karena melewatinya.
Maka Nyo Wan menekan rasa duka lara, iapun meninggalkan kampung halaman Li Su-lam. Untuk
selanjutnya tidak berharap berjumpa lagi dengan Li Su-lam maka dicarinya jalan lain yang ber liku2
di pedalaman. Waktu tengah hari ia sampai di sebuah gundukan tanah tinggi, dari dalam hutan
terdengar dering beradunya senjata tajam, agaknya ada orang tengah bertempur sengit disana. Suara
salah seorang diantaranya agaknya sudah kenal malah, Nyo Wan tak punya minat turut campur
segala urusan tetek bengek, tapi pertempuran kedua orang dalam hutan serta bentakannya yang riuh
rendah itu sungguh menarik perhatiannya.
Nyo Wan tertegun sebentar, tak terasa ia menghentikan langkahnya. Tepat pada saat itulah suara
yang seperti telah dikenalnya itu tengah membentak: “Kau bersekongkol hendak mencelakai Li Sulam,
asal aku Ciok Bok masih hidup dan bisa bernapas betapapun jangan harap kalian bisa
berhasil.”
Seorang lain lantas ter-kekeh2, serunya: “Memang aku hendak bunuh kau, sekarang kau mau jual
nyawa sendiri untuk Li Su-lam, maka bolehlah kusempurnakan kau!”
Nyo Wan tersentak kaget, bergegas berlari masuk kedalam hutan dilihatnya seorang pemuda yang
bersenjata pedang tengah bertempur seru melawan laki2 lain yang bersenjata sepasang gaetan.
Waktu Nyo Wan menegas dikenalnya pemuda yang bersenjata pedang adalah orang yang menjual
golok dikota perbatasan tempo hari. Orang ini pula yang telah menghancurkan cawan araknya
waktu To Liong hendak melolohnya dengan arak obat pada malam itu.
Saat mana Ciok Bok sudah melihat kedatangan Nyo Wan sungguh terkejut dan girang pula, cepat ia
berteriak: “Bukankah kau nona Nyo?” ~ sedikit terpencar perhatiannya hampir saja lambungnya
kena tergaet oleh senjata musuhnya yang tajam.
Tak sempat menjawab Nyo Wan melolos pedang terus merangsak maju pedangnya menusuk ke
rusuk silelaki yang bersenjata sepasang gaetan. Ternyata kepandaian laki2 itu tidak lemah, dalam
keadaan terjepit dari depan dan belakang ia masih mampu bergerak selincah itu tanpa gentar, sebat
sekali sebuah gaetannya berputar membalik mudah sekali ia punahkan tusukan pedang Nyo Wan
yang menggunakan tipu Giok-li-toh-so.
Terdengar laki2 itu ter-loroh2, ujarnya: “Ternyata kau inilah Nyo Wan, tapi apa kau tahu siapa aku
ini?”
“Aku tahu kau adalah pengkhianat bangsa yang menjadi antek musuh,” bentak Nyo Wan.
“Salah, salah!” seru lai2 itu tertawa. Kalau dibicarakan boleh terhitung kau sebagai famili dekatku,
kenapa kau berbalik membantu orang luar malah?”
“Omong kosong, lihat pedang!” maki Nyo Wan.
Ciok Bok ikut bicara: “Tepat, bajingan ini bernama Tun-ih Pin, begundal yang diundang oleh Nyo
Kian-pek , mereka bersekongkol hendak menjebak Li Su-lam.”
Tun-ih Pin bergelak tertawa, serunya: “Benar, seorang laki2 berani terus terang. Tun-ih Pin adalah
aku. Akulah Tun-ih Pin. Apakah To Liong tidak pernah membicarakan tentang aku dengan kau?”
Nyo Wan ter heran2 dianggapnya orang mengomel karena otaknya sinting, namun gerak pedangnya
tetap gencar menyerang musuh.
Sepasang gaetan Tun-ih Pin me nari2 dengan lincahnya, beruntun ia punahkan tiga jurus serangan
bersama Nyo Wan dan Ciok Bok, mulutnya masih sempat mengoceh. “To Liong sudah setuju
menjodohkan adiknya perempuan menjadi istriku. To-toaso (maksudnya Nyo Wan) To Liong
adalah suamimu sedang aku adik ipar To Liong bukankah kau dan aku menjadi famili dekat?
Haha,melihat sikapmu ini agaknya To Liong belum memberitahukan kepadamu, To Liong adalah
pemuda yang tidur sekamar dengan kau dan mengaku bernama Toh Hiong itu. Urusan kalian aku
tahu se jelas2nya.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Obrolan Tun-ih Pin ini sungguh membuat Nyo Wan murka bukan main sehingga pandangan serasa
gelap. Kesempatan ini tak di sia2kan oleh tun-ih Pin, beruntun ia lancarkan serangan ganas, dimana
kedua batang gaetannya berhasil memantek mati pedang panjang Nyo Wan.
Saat mana Ciok Bok tengah meloncat mundur tiga tindak, kebetulan Tun-ih Pin tengah lancarkan
serangannya yang ganas ini, cepat Ciok Bok mengayun tangannya, sebatang Tok-liong-piau
disambitkan kearah tun-ih Pin. Tun-ih-pin tahu betapa lihainya senjata rahasia berbisa ini, terpaksa
ia gerakkan sebuag gaetannya untuk menangkis jatuh Tok-liong-piau yang menyamber tiba.
Nyo Wan rugi dalam adu tenaga yang terpaut jauh, kalau mengadu permainan pedang ilmu
kepandaiannya cukup hebat dan jauh diatas kemampuan Tun-ih Pin. Begitu tekanan rada berkurang
gaetan Tun-ih Pin menjadi kurang kuat bertahan dari perlawanan pedang Nyo Wan, mudah sekali
Nyo Wan lancarkan tipu Sam-coan-hoat-lun dan berhasil memapas runtuh dua gigi gaetan.
Ciok Bok berteriak: “Nona Nyo, mulut anjing durjana ini takkan tumbuh gading, jangan kau tertipu
oleh pancingannya.’
Nyo Wan menekan perasaannya, dengan mengertak gigi serangannya makin gencar, bentaknya:
‘bangsat durjana, kubunuh kau!”
Tujuan Tun-ih Pin hendak membuat jengkel Nyo Wan, baru dia ada pegangan mengambil
kemenangan. Siapa tahu mau untung malah buntung, sekarang Nyo Wan melancarkan serangan
nekad yang mematikan untuk gugur bersama, sungguh dahsyat dan susah dibendung.
Kalau seoarng lawan seorang menghadapi Nyo Wan, mungkin Tun-ih Pin boleh membanggakan
kepandaiannya, tapi sekarang ia harus menghadapi keroyokan Ciok Bok, walaupun kepandaian
Ciok Bok setingkat dibawahnya, betapapun merupakan lawan berat pula.
Ciok Bok lancarkan siasat tempur gerilya dan berlari putar2, setiap ada kesempatan lantas
menyambitkan Tok-liong-piau. Justru Tun-ih Pin paling gentar dan takut menghadapi Tok-liongpiau
karena bisa Tok-liong-piau sangat ganas begitu kena darah lantas bekerja sekejap mata jiwa
lantas melayang. Keruan Tun-ih Pin kebat kebit.
Pedang Nyo Wan bergerak sangat lincah, tusuk timur membabat kebarat, stiap jurus serangannya
mengarah tempat2 mematikan di tubuh Tun-ih Pin. Pedang yang digunkan adalah pedang pusaka
pemberian putri Minghui, tajamnya dapat mengiris besi seperti memotong tahu. Sedikit Tun-ih Pin
berlaku ayal ‘tang’ gaetan ditangan Tun-ih Pin terpapas kutung.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan, Tun-ih Pin pura2 lancarkan serangan balasan gertakan
terus loncat mundur, sambil lari ia tertawa dingin, jengeknya: “To-toaso, kau hendak bunuh aku
untuk menutup mulutku bukan? Hehe, kalau ingin orang tak tahu janganlah berbuat. Perbuatanmu
serong dengan To Liong seumpama tidak kusebarkan akhirnya Li Su-lam bakal tahu juga. Hm, huh,
apakah dia masih sudi menerima kau? Menurut hematky lebih baik kau nikah dengan To Liong saja
, nasi sudah menjadi bubur, buat apa kau mengemis dan minta pengampunan pada Li Su-lam?”
Sebetulnya Nyo Wan menekan perasaannya untuk bersabar, tapi serta mndengar perkataan kotor
yang memfitnah itu berkobar pula amarahnya sehingga kedua dengkul terasa lemas sampai tak
mampu mengejar.
“Tutup mulutmu!” bentak Ciok Bok seraya mengayun tangan, sekaligus ia sambitkan tiga batang
Tok-liong-piau. Senjata Tun-ih Pin tinggal sebuah gaetan, dengan senjata tunggalnya ini ia berhasil
menyampok jatuh dua piau, dan piau yang terakhir mengarah kelambung kanannya dan tak
tertangkis lagi, lekas2 ia tekuk pinggang berusaha menghindar, namun tak urung tajam senjata ini
telah menggore luka kulit daging bawah ketiaknya.
Tun-ih Pin cukup tabah dan keji, tanpa ayal gaetannya menggores kebawah terus mengiris kulit
dagingnya yang terluka itu, keruan darah mancur bagai air ledeng, ia tak sempat bubuhi obat luka
lagi, melarikan diri lebih penting. Meski ia harus mengorbankan sebagian daging diatas tubuhnya
paling tidak nyawa sendiri dapat diselamatkan.
Ciok Bok mendengar suara gedebukan, lekas2 ia berpaling kebelakang, dilihatnya Nyo Wan jatuh
diatas tanah, airmata tak terbendung lagi.
Bujuk Ciok Bok: “Nona Nyo, keparat itu seperti anjing gila saja layaknya, tak perlu kau marah dan
berduka karen ucapannya tadi, kesehatanmu lebih penting.”
Nyo Wan menyeka airmatanya, pikirnya: “Bermula aku boleh anggap diriku sudah mati dan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
selanjutnya takkan jumpa lagi dengan engkoh Lam, tapi keparat itu memfitnah se-mena2, adalah
jamak kalau berita ini bakal didengar oleh engkoh Lam, matipun aku tidk suci bersih lagi. Ai, aku
tak bertemu dengan engkoh Lam tak menjadi soal, namun bagaimana juga akuharus berusaha
supaya engkoh Lam tahu bahwa badanku ini masih suci bersih.”
Ter-sipu2 Nyo Wan bangkit terus menjura kepada Ciok Bok, katanya: ‘Ciok-toako, banyak terima
kasih bahwa kau telah membongkar muslihat keparat itu, aku, sehingga aku tidak terjebak
karenanya.”
Ciok Bok menjadi lega hati, katanya gegetun: “Sungguh aku sangat menyesal punya suheng sebejat
itu.” Nyo Wan tertegun, tanyanya: “Apa, Toh Hiong adalah suhengmu?”
“Benar,” sahut Ciok Bok, “nama aslinya adlah To Liong, putra sulung suhuku To Pek-seng!”
“Jadi adalah engkohnya To Hong?” Nyo Wan menegas.
“Walaupun sebagai saudara sekandung, namun sifat dan watak mereka berlainan. To Hong adalah
seorang gadis yang baik,” demikian Ciok Bok memberi penjelasan sekadarnya.
‘Aku tahu,tempo hari aku pernah bertemu dengan dia.” ~ dalam hati Nyo Wan membatin: “engkoh
Lam kebetulan hendak kemarkas To Hong, maka kabar angin itu lebih gampang didengar olehnya.”
Tanya Ciok Bok: “Nona Nyo, kudengar Su-lam Toako sudah kembali apakah kau sudah pergi
kerumahnay?”
“Memang aku baru saja keluar dari kampungnya,” sahut Nyo Wan, “Ya, memang ia sudah pulang.”
“Jadi kau masih belum betemu dengan Su-lam toako?” tanya Ciok Bok Keheranan.
Kecut perasaan Nyo Wan, sahutnya gemes: “Sudah, aku sudah melihatnya.”
Ciok Bok bertambah tak mengert, tanyanya lagi: ‘Kenapa kau seorang diri, kemanakah Su-lam
toako?”
“aku melihat dia, dia tidak melihat aku. Sekarang dia sudah pergi bersma Beng –lihiap.”
“O, Beng Bing-sia juga sudah datang? Tentu dia mewakili To Hong kemari mengundang Su-lam
toako kemarkasnya bukan?”
“Benar,” kata Nyo Wan menerangkan, “Keparat Nyo Kian-pek itu justru dipukul mundur oleh
mereka berdua.
Ciok Bok menduga dibelakang persoalan ini tentu ada latar belakang yang tak diketahui oleh
dirinya, setelah berpikir sebentar segera ia berkata; ‘Kalau begitu lebih menghemat tenagaku. Tapi
ada sepatah dua kata,entahlah apakah aku boleh bertanya kepadamu?”
“Ciok toako silahkan katakan saja!”
“kau sudah bertemu dengan Su-lam toako, kenapa kau tidak pergi bersama mereka?”
Nyo Wan tertawa getir, ujarnya: “Sebab mereka menyangka aku sudah lama mati.”
Sejenak Ciok Bok menjadi tertegun. Tapi sebagai seoran yang pernah merasakan pahit getirnya
permainan asmara sebentar saja ia lantas dapat menebak dari sikap dan rona wajah Nyo Wan,
akhirnya ia paham seluruh persoalan ini, batinnya: “ternyata ia merasa jelus dan cemburu terhadap
Beng Bing-sia.” ~ maka dengan lemah lembut segera ia membujuk: ‘Beng-lihiap adalah seorang
gadis yang polos dan jujur, sifatnya bebas dalam hubungan antar laki dan perempuan.”
“Perkenalan Su-lam dan Bing-sia jauh lebih dulu sebelum kenal dengan aku. Jangan kau salah
paham menyangka aku sirik terhadap meeka.”
Ciok Bok tersenyum geli, katanya: ‘menurut apa yang kau tahu. Beng-lihiap dan To Hong sangat
kagum dan sujud kepadamu. Kalau kaupun naik kegunung tentu mereka akan gembira.”
Nyo Wan menghela napas, ujarnya: “Untuk apa aku kesana? Ai, Ciok toako, kau, kau takkan
paham!”
“Nona Nyo, agaknya kau ada sedikit salah paham terhadap Su-lm toako?”
“Tidak, aku tidak salah paham terhadapnya.”
“Atau mungkin kau takut dia yang salah paham terhadap kau? Legakanlah, waktu di Sehe aku
pernah bertemu dengan saudara Su-lam, dia sangat kangen kepadamu. Kalau tahu penderitaanmu
ini tentu ia sangat simpatik dan belas kasihan, tak mungkin timbul salah paham. Kalau kau masih
kurang lega, baiklah aku juga bisa bikin bersih persoalan ini.”
Merah malu wajah Nyo Wan, katnya: “Kau boleh beritahu dia apa yang kau lihat tentang diriku,
tapi jangan sekali2 kau beritahukan jejakku kepadanya. Aku harap dia tetap anggap aku sudah mati
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
saja.”
“kenapa begitu?”
“Tidak kenapa. Beruntung aku bisa tetap hidup setelah mengalami bencana itu, hatiku sudah lama
tawar.”
Ciok Bok tahu apa yang diucapkan tidak selaras dengan isi hatinya, namun sesaat ia menjadi
kehabisan kata2 untuk membujuk.
“Ciok toako,” kata Nyo Wan, “Terima kasih akan pemberian golok pusakamu ini kepadaku,
sekarang kukembalikan kepadamu.” ~ Setelah mengembalikan golok itu segera ia menjura dan
pamit.
‘nanti dulu!” seru Ciok Bok.
“Sekarang aku sudah peroleh sebilah pedang bagus, sudah seharusnya golok pusaka ini
kukembalikan!”
“Bukan golok ini yang kupersoalkan, yang kumaksud adalah kau! Kuharap kau tunggu sebentar.”
Nyo Wan tersenyum pahit, tanyanya: “Ada apa pula yang perlu diperbincangkan?”
“Nona Nyo seorang diri kemana kau hendak pergi?”
“Aku tidak tahu, kemana kakiku melangkah kesitulah aku pergi.”
Kata Ciok Bok: ‘Nona Nyo, tujuan tertentu kau tiada, kenapa tidak pergi kemarkas kita saja? Kita
sepakat untuk membendung dan menahan serbuan pasukan Mongol, bukankah Mongol juga
menjadi musuh besarmu? Kita punya musuh yang sama, kenapa pula tidk bisa sepakat dan
bergabung untuk melawannya? Nona Nyo , musuh besar dihadapan kita, bolehkah sementara waktu
kau kesampingkan dulu urusan pribadi, tenangkan pikiran dan pikirlah sekali lagi.”
Kata2 Ciok Bok diucapkan dengan serius dan tegas, Nyo Wan tergerak dan tersentuh lubuk hatinya,
pikirnya: “Benar, mengandal tenagaku seorang betapapun takkan mudah membunuh Sia It-tiong!”
setelah dipikir bolak balik akhirnya Nyo Wan mengambil keputusan, katanya: “Ciok toako,aku akan
ikut kemarkas kalian, tapi kau harus menyetujui dua permintaanku!”
“baik,coba katakan!”
“Pertama, aku menyaru jadi laki2 ikut kau mendaftarkan diri jadi prajurit, tanggung jawabmu hanya
sebagai perantara, jangan sekali2 kau bocorkan rahasiaku. Ingat aku tidak ingin menjadi Tahubak
apa segala.”
Ciok Bok tertawa, ujarnya: “Rakyat yang menggabungkan diri kemarkas kita setiap hari ada banyak
sekali, gampang saja kalau kau ingin menjadi prajurit rendahan. Cuma aku rada bingung kenapa kau
harus berbuat demiian.”
“Sebab aku tidk ingin ada orang lain yang tahu asal usulku selain kau seorang.”
“begitupun baik, aku setuju. Lalu yang kedua?”
“Jangan sekali2 kau beritahukan kepada Li Su-lam bahwa aku masih hidup dalam dunia fana ini.
Sudah tentu perihal aku berada di merkas juga harus dirahasiakan.”
“Inipun bolehlah,’ sahut Ciok Bok. “Aku hanya beritahu dia bahwa aku pernah bertemu kau dikota
kecil diperbatasan itu, selain itu apapun takkan kuceritakan. Namun betapapun aku tidak akan
bohong dan menyatakan bahwa kau suah mati.” ~ Kini sedikit banyak Ciok Bok sudah dapat
menyelami perasaan Nyo Wan.
“Baiklah, hidup mati biar dia main tebak sendiri. Kata2 seorang laki2 harus dapat dipercaya, kita
tentukan perjanjian ini.”
Kiranya Nyo Wan berniat menjadi prajurit rendah untuk mengintip gerak gerik Li Su-lam. Kalau
diketahui Li Su-lam benar2 mencintai Beng Bing-sia, dia bersedia tinggal pergi kalau peperangan
sudah selesai, selama hidupini takkan muncul dihadapan Li Su-lam.
Setelah ada kata sepakat, Nyo Wan lantas ikut Ciok Bok menuju markas To Hong. Disebuah kota
kecil mereka menginap semalam, disini Nyo Wan ganti pakaian menyamar jadi laki2, ia sudah
berpengalaman berpakaian laki2, maka samarannya boleh dikata persis benar.
Ciok Bok menepati janjinya, setelah sampai dimarkas ia menutup rahasia ini serapat mulut botol.
Dia mengatur segala sesuatunya begiturapi, memberikan Nyo Wan segala yang diperlukan, sejak
hari itu Nyo Wan mendapat tugas sebagai peronda. Dipos penjagaan hanya diperlukan seorang
petugas dan aplusan dengan prajurit tua, keadaan disini lebih leluasa dan bebas bergerak, karena
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tidk tercampur baur dengan prajurit lainnya.
Setelah selesai mengatur segala sesuatu yang menguntungkan Nyo Wan , baru Ciok Bok masuk
menghadap kepada To Hong.
Waktu ia melangkah masuk keruang pertemuan tampak To Hong sedang bicara dengan para tamu,
Li Su-lam dan Beng Bing-sia juga tampak hadir. Selain itu masih ada empat orang lain, mereka
adalah Tang Khay-san dari Im-ma-coan, Ting Hwi dari Tiau-hou-ciam, Oh Tiu dari Ya-cu-lim dan
Li Tan dari Wa-kong-ceh. Mereka adalah para Cecu dan wakil cecu dari berbagai pangkalan.
Melihat kedatangan Ciok Bok, To Hong tertawa, serunya: Ciok suko, kau kecelik bukan? Beng cici
sudah mewakili kita mengundang datang Li toako.”
Suasana yang ramai ini sangat kebetulan bagi Ciok Bok malah, pertama karena ada tamu luar,
kedua ia sudah setuju untuk merahasiakan persoalan Nyo Wan, maka tak enak mengisahkan
perjalanan kali ini, secara samar2 dan sekarang basa basi ia memberi salam kepada Li Su-lam, Beng
Bing-sia serta para tamu, lalu mencari tempat duduk.
Kata To Hong: ‘Ciok-suko, sungguh tepat kembalimu ini, aku sudah mengundang delapan belas
cecu untukberkumpul disini besok pagi, bersama merundingkan cara bagaimana menghadapi
musuh.” ~ Sekarang baru Ciok Bok tahu bahwa keempat cecu yang hadir ini sudah mendahului
datang sebelum waktu yang ditentukan.
Tang Khay-san adalah sahabat karib To Pek-seng semasa hidupnya, wajahnya kelihatan rada
gelisah dan kuatir, katanya kepada To hong: “Nona To, apakah kaupun mengundang Tun-ih Ciu?”
“Mereka ayah beranak sudah bukan lagi kawan sepaham dan sealiran dengan kita, apakah paman
Tang belum mengetahui?”
“Aku tahu, tapi ……… “
“Tapi apa?”
“Para kawan dalam bulim belum tentu semua mempunyai pandangan yang terang dan dapat
membedakan baik dan buruk. Setelah ayahmu wafat, hanya Tun-ih Ciu yang paling terpandang dan
tertinggi kedudukannya. Menurut apa yang kita ketahui, besar minatnya untuk ganti menduduki
jabatan Bulim-bengcu, saat ini ia menyebar kaki tangan nya mengadakan kampanye. Kalau
pertemuan besok pagi tidak mengundang dia, aku kuatir dia bakal mengacau dan membuat onar
disini.”
“Seumpama kuundang diapun bakal mengacau saja, ada lebih baik tidak kuundang saja beres.
Menurut hematmu bagaimana ia hendak membuat onar disini besok?”
“Kita semua sudah sepakat untuk angkat kau mewarisi ayahmu.” Kata Tang Khay-san. “Tapi bukan
mustahil ada sementara orang yang telah diancam dan digertak oleh Tun-ih Ciu sehingga tidak
berani hadir. Seumpama datang juga belum tentu seia sekata.”
Kata To Hong: ‘Aku masih muda dan cetek pengalaman, kedudukan Bulim bengcu ini betapapun
aku tak berani terima. Tujuan utama dalam pertemuan besok pagi bukan melulu memilih calon
bulim bengcu saja, yang terpenting adalah menentukan cara bagaimana kita melawan serbuan
musuh bersama. Tun-ih Ciu sudah pasti bakal mengacau pertemuan kita besok pagi, hal ini siang2
sudah kuperhitungkan. Terserah berapa banyak dari delapan belas cecu yang bakal hadir besok pagi
pendapat masing2 berlainan. Atau anggap saja kita peroleh kata sepakat. Perdebatan atau perebutan
kedudukan haruslah kita kesampingkan dulu, akan kumohon kepada hadirin untuk mengutamakan
persatuan bersama untuk melawan agresi pasukan Mongol. Aku percaya kebenaran akan selalu
menjadi landasan kita beramai”.
Melihat To Hong begitu tegas dan kukuh serta punya jiwa patriot girang hati Tang Khay-san,
katanya bergelak tawa: ‘Hahaha, ada ayah tentu ada putrinya. Keponakanku yang baik, bukan aku
suka mengagulkan kau, kepandaian silatmu mungkin tak sepadan dibanding ayahmu, namun
pengetahuan dan pandanganmu itu serta kesungguhan hati yang bertekad besar, sedikitpun tak
terkalahkan oleh ayahmu. Bagaimana juga aku tentu menjunjung kau sebagai Bulim Bengcu!”
Umum biasanya tahu adanya pameo yang berkata: ada ayah ada anak, namun Tang Khay-san
mengganti kata2 ‘anak’ menjadi ‘putri’, sudah tentu istilah yang lucu ini menggelikan setiap
hadirin. To Hong sendiri mencelos hatinya, pikirnya: “Koko menjadi putra durhaka, tentu para
teman sudah tahu semua.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Teringat akan engkohnya hati To Hong menjadi pilu dan bersedih, mendengar pujian Tang Khaysan
wajahnya rada bersungut sedikitpun tidak menunjukkan rasa girang, katanya: “Paman Tang
terlalu memuji. Aku harap paman tang tidak memilih dan angkat aku menjadi Bulim Bengcu.
Pertemuan besok pagi ku punya rencanaku sendiri.” ~ Tang Khay-san beramai anggap ucapan ini
hanya sekadar basa basi dan kata2 sungkan belaka, semua mandah tersenyum saja.
Para paman datang dari jauh tentu sudag capek dalam perjalanan, silahkan istirahat dulu,’ kata To
Hong, Ciok suko silahkan kau bawa para paman istirahat dikamar yang telah disediakan!”
Diam2 Ciok Bok membatin: “Nyo Wan terfitnah oleh suheng yang durhaka, penasaran hatinya ini
betapapun aku harus membantu untuk mencuci bersih. Agaknya hari ini tak mungkin aku bekerja.
Untung Nyo Wan sekarangpun berada disini, cepat atau lambat tentu bakal dibikin benar, tak
perlulah ter-gesa2. Setelah pertemuan besok pagi aku harus mencari kesempatam untuk
disampaikan kepada Li Su-lam.”
Hari kedua para cecu dari pangkalan lainpun beruntun datang, waktu lohor yang datang sudah
berjumlah tiga belas cecu. Pertemuan besar hari ini ditetapkan pada tengah hari. Sebetulnya To
Hong tidak berani mengharap kedelapan bela cecu itu semua bisa datang, sekarang yang hadir
sudah tiga belas, separoh lebih dari jumlah semestinya keruan girang hatinya susah dilukiskan
dengan kata2. Maka menurut rencana yang sudah ditentukan, ia siap membuka pertemuan ini.
Waktu semua orang mencari tempat duduk masing2, tiba2 terlihat seorang Thaubak lari ter-sipu2
dengan ketakutan, teriaknya: ‘Cecu celaka!”
“Ada urusan apa, kenapa begitu gelisah?” tanya To Hong.
“Keparat Tun-ih Ciu itu menerjang masukkemari, kita tak kuasa merintangi,” demikian lapor
Thaubak kecil itu.
Belum habis laporannya, terdengar gelak tawa Tun-ih Ciu bergema diluar sana, serunya: “Lohu
datang tanpa diundang, keponakan baik kau tidak menolak kedatanganku bukan?”
Tun-ih Ciu melangkah lebar memasuki ruang pertemuan ini. Dibelakangnya beruntun mengekor
puluhan orang, lima orang diantaranya adalah cecu yang diundang dalam daftar To Hong, sedang
enam tujuh yang lain adalah begundal yang diundang Tun-ih Ciu, kedudukan merekapun adalah
cecu didaerah lain.
Meski To Hong sudah menduga Tun-ih Ciu bakal datang dan mengacau, namun tak terpikir olehnya
bahwa ia membawa begitu banyak begundal dan kaki tangannya secara terang2an. Kekuatan kedua
belah pihak sama besar, menjadi pihak yang berlawanan yang sembabat. Situasi cukup genting
sedikit saja salah langkah bakal terjadi bentrokan hebat antar sesama kawan bulim.
Sebisa mungkin To Hong mengendalikan perasaan, sahutnya dingin: “Tun-ih cecu ikut datang entah
ada petunjuk apakah?”
“Pertama untuk urusan pribadi , kedua untuk kepentingan umum.” Seru Tun-ih Ciu.
“Kami mohon petunjuk lebih lanjut.’
“Putraku telah dobokong oleh Ciok Thauling kalian sengan Tok-liong-piau sehingga terluka, untung
tidak sampai menemui ajalnya, ingin aku minta pengajaran terhadap Ciok Thauling. Harap tanya
apakah Ciok Thauling hadir disini?”
Ciok Bok gegas berdiri, serunya: “Memang putra sayangmu terluka oleh piauku, tapi apa kau tahu
kenapa sku sampai menyerangnya dengan Tok-liong-piau?”
“Aku tidak perduli apa sebabnya. Sudah lazim bagi kaum bulim kalau tidak ada kata sepakat lantas
menggerakkan senjata. Tapi aku punya hubungan kental dengansuhu kalian, kalau secara terang2an
kau bertanding denganputraku aku tidak ambil persoalan. Tapi kau melukainya dengan senjata
berbisa yang jahat dan mematikan macam Tok-liong-piau betapapun kau harus bertanggung jawab.”
Ciok Bok menjadi murka, debatnya dengan keras: ‘Baik kau bicara tak kenal aturan, silahkan cari
perkara dengan aku, tuntutlah balas bagi putra sayangmu!”
Berubah rona wajah Tun-ih Ciu, jengeknya: ‘Kalau suhumu masih hidup diapun takkan berani
menantang kepadaku? Hm, meski Tok-liong-paiu mu lihai belum tentu dpat mencabut jiwa anakku.
Nanti kuberi kesempatan untuk bertanding melawan anakku lagi, asal kau tidak main keroyokan
saja, akupun takkan turun tangan.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Tang Khay-san ikt berpikir: “Kalau dalam hari2 biasa urusan macam ini tentu dapat dibereskan,
siapa salah dan siapa benar dihadapan sekian banyak cecu. Tapi betapa penting pertemuan hari ini,
mana boleh karena urusan pribadi menggagalkan urusan besar?” ~ maka lekas2 ia tampil kedepan
melerai: “menurut apa yang dikatakan Tun-ih cecu tadi biarlah setelah putramu sembuh luka2nya
supaya CiokBok pergi kepesanggrahannya minta maaf saja.”
“Aku tidak berbuat salah, kenapa aku harus minta maaf, tidak bisa!” seru Ciok Bok lantang.
Para cecu lainnya sependapat dengan omongan Tang Khay-san tadi, be-ramai2 mereka maju
membujuk: “Siapapun yang salah atau benar, urusan ini harus ditundadulu.” ~ maksudnya supaya
urusan iniselesaikan oleh semua orang setelah pertemuan penting ini berakhir.
Mencelos hati Ciok Bok, tersentak sadar, pikirnya: “benar, jangan karena membawa adatsendiri
sampai mengganggu urusan besar orang banyak. Apalagi didengar dari nada bangkotan tua ini,
agaknya Tun-ih Pin sudah menceritakan cara bagaimana aku mengeroyoknya bersama Nyo Wan?
Hal ini kebenaran malah, buat apa aku membeberkan soal ini dihadapan sekian banyak orang?” ~ Ia
menjadi setuju untuk menutup rahasia Nyo Wan, terpikir ke arah itu kontan bungkam dan tak
banyak bicara lagi.
To Hong menahan kedongkolan hatinya, serunya: “Baik, urusan ini kita tunda dulu. Alasan Tun-ih
cecu mengenai kepentingan umum tadi silahkan terangkan sekali!”
Tun-ih Ciu menyeringai, jengeknya: “Nona To, kau mengundang delapan belas cecu berkumpul
disini, jelek2 aku ini juga seorang cecu kenapa aku tidak menerima undanganmu. Malah kabar
inipun ditutup rapat untuk mengelabui lohu.”
“Soalnya kau seorang cianpwe angkatan tua, pertemuan angkatan muda seperti kita beramai mana
berani mengejutkan kau orangtua,” demikian To Hong main diplomasi.
“Persoalan yang hendak kita bicarakan dalam pertemuan ini juga bukan urusan bulim. Tak lain para
kawan sepaham dan sehaluan berkumpul untuk mengobrol belaka.” ~ ucapan terakhir ini
mengandung sindiran yang cukup pedas, maksudnya orang yang tidak sepaham dan sehaluan tidak
diajak bekerja.
Tun-ih Ciu bergelak tawa, serunya: ‘kau tidak mau mengganggu aku, justru sekarang aku telah
datang sendiri terserah kau hendak mengusir aku atau silahkan aku duduk ditempat paling rendah?
Aku ini belum tentu sehaluan dan sepaham dengan kau nona To.”
Seorang begundal Tun-ih Ciu ikut bicara: “Sebetulnya kalau kita semua sehaluan dan sepaham,
nona To menurut hematku, pertemuan inipun tak perlu diadakan lagi.” ~ debatnya ini cukup pedas
juga, namun juga cukup beralasan.
To Hong tak rela pertemuan hari ini dikacau mereka, pikirnya: ‘begitupun baik, coba kulihat dia
punya petunjuk apa? Keadilan tidak takut didebatkan, kita buka kedok palsunya dalam rapat nanti,
situasi tentu menguntungkan pihak kita.” ~ maka segera ia bicara: ‘Aku kuatir sukar mengundang
cianpwe kemari, sekarang cianpwe sudah tiba tanpa diundang sudah tentu kita merasa girang dan
persilahkan.
Tak duga persoalan satu belum selesai persoalan lain sudah memburu tiba, baru saja To Hong
hendak mengumumkan pertemuan ini dibuka, tiba2 Tun-ih Ciu berseru: “nanti dulu!”
“Tun-ih cianpwe ada petunjuk apa lagi?”
“Tuan rumah belum hadir, mana bisa pertemuan ini dibuka?”
To Hong tercengang sebentar, serunya: “Tuan rumah siapa?”
“Bukankah markas kalian yang menjadi tuan rumah dalam pertemuan ini?” tanya Tun-ih Ciu.
“Betul,” sahut To Hong pendek.
Tun-ih Ciu berkata dingin: “Kalau begitu silahkan engkohmu keluar untuk memimpin rapat ini!”
“Tun-ih cianpwe mungkin rada khilaf,” sela Tang Khay-san. “Sejak To cecu wafat markas ini sudah
diwariskan kepada nona To untuk memimpinnya.”
Sebetulnya Tun-ih Ciu sudah tahu hanya meng-ada2 saja. Tang Khay-san juga tahu bahwa Tun-ih
Ciu memang sengaja memprovokasi cari gara2 belaka. Soalnya Tang Khay-san dan To Hong
beramai menghindari sebelum rapat dibuka supaya tidak terjadi keonaran dulu, meski mereka tahu
kalau Tun-ih Ciu sengaja mencari gara2, terpaksa memberi penjelasan dengan sabar.
Tun-ih Ciu membalikkan mata jengeknya menyeringai: ‘Menurut adat kebiasaan bulim, jabatan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
cecu diturunkan kepada putra tertua. To Pek-seng bukan tidak punya putra tertua. To Pek-seng
bukan tidak punya putra, kukira belum saatnya menjadi giliran nona To untuk tampil kedepan.”
“Engkohku sudah lama tidak tinggal dirumah,” demikian To Hong berbicara, “Para Taubak dan
kedudukan cecu tak bisa kosong terlalu lama, maka terpaksa aku mengajukan diri untuk
menanggulangi segala kesulitan, atas restu ibunda sementara aku menjabat kedudukan ini.” ~
betapapun buruk keadaan rumah tanggannya To Hong berusaha untuk menrahasiakannya, maka
samar2 saja ia memberikan penjelasan.
“kalau begitu,” kata Tun-ih Ciu, “Kalau engkohmu kembali kedudukan cecu ini sudah seharusnya
kau serahkan kepadanya bukan?”
Song Thi-lun bawahan To Pek-seng semasa masih muda adalah pembantu yang paling diandalkan
sekarang dia sudah diangkat menjadi wakil cecu, wataknya keras dan berangasan, mendengar kata2
ini menjadi bergolak amarahnya , bergegas ia bangkit seraya berseru: “Ininkan urusan rumah tangga
nona To , kau orang luar tidak perlu turut campur.”
Selamanya Tun-ih Ciu suka mengagulkan diri, terutama sejak kematian To Pek-seng, kedudukan
Bingcu sudah dianggap sebagai jabatannya. Maka begitu Song Thi-lun berani mendebatnya dengan
kasar para hadirin menjadi kuatir, mungkin dengan alasan ini dia bisa bikin onarmakin besar. Tapi
diluar dugaan semua orang, ternyata Tun-ih Ciu tidak marah sebaliknya bergelak tawa, serunya:
“kalau begitu menjadi aku yang salah karena brengsek. Tapi walupun urusan keluarga To aku tidak
bisa turut campur, ada orang lain yang bisa mengurusnya.”
Belum habis ia bicara mendadak terdengar suara ‘blang’ yang keras, pintu besar ruang pertemuan
yang tertutup rapat itu mendadak semplak terbuka karena ditendang orang. Semua orang
terperanjat, siapakah yang bernyali begitu besar waktu angkat kepala tampak dua orang beriring
berjalan masuk, salah seorang diantaranya bukan lain adalah To Liong, sedang seorang yang lain
masih asing belum dikenal oleh para hadirin.
Baru sekararang Tang Khay-san dan hadirin lain paham, ternyata Tun-ih Ciu sudah berintrik dengan
To Liong. Kalau tiada Tun-ih Ciu yang menjadi backingnya tentu To Liong takkan berani pulang.
Mendadak melihat yang muncul ternyata To Liong untuk sesaat Li Su-lam menjadi terlongong,
sungguh perih dan kejut hatinya, diam2 ia membatin: “bagaimana diapun datang kemari? Kenapa
NyoWan tidak datang bersama dia? Mungkinkah dia sudah tahu kalau akupun berada disini.”
Begitu To Liong beranjak masuk kontan seluruh hadirin menjadi gempar, selain Tun-ih Ciu seorang
yang sudah tahu sebelumnya, semua orang merasa kejut dan heran, mereka ber- bisik2.
Setelah menenangkan hatinya, pelan2 Li Su-lam berbisik tanya kepada Ciok Bok: “Siapakah orang
ini?”
Belum Ciok Bok menjawab, tampak To Hong sudah berdiri dan berteriak menuding To Liong:
‘Kau, kau masih ada muka pulang kemari?”
To Liong menjengek keras2, sahutnya congkak: ‘Rumahku sendiri kenapa aku tidak boleh pulang?”
Teringat kematian Liong Kang yang mengenaskan itu sungguh sedih dan gusar pula perasaan to
Hong, bicaranyapun jadi gemetar: ‘Kau, kau, dengan tok-ciang kau mencelakai jiwa ji-suheng. Apa
kau berani mungkir akan peristiwa itu?”
“Benar!” Sahut To Liong sinis, Liong Kang memang kupukul sekali sekarang dia sudah mati.
Memang dia patur mampus, kenapa aku harus mungkir?”
To Hong menggertakkan gigi, serunya lantang dan serius, negara punya undang2, rumah tanggapun
punya peraturan, kau bertindak se mena2 membunuh Liong Kang, tiada tempat lagi bagi kau
dirumah ini!”
To Liong melirik sambil memicingkan mata, seringainya: ‘Jadi kau mendesak aku untuk
mengatakan alasanku? Hm, aku masih menjaga gengsi dan nama baikmu, kalau benar kukatakan
tiada untungnya bagi kau!”
Saking gusarnya alis To Hong berjengkit tinggi, dengan murka ia tampil kedepan serta serunya:
‘Ada apa yang perlu kutakuti,coba katakan? Silahkan, akan kulihat cara bagaimana kau mengudal
mulut memfitnah orang!”
“urusan Ji-sute, Sam-sute dan kau sendiri tentu kau paham, jelek2 aku ini adalah engkohmu,
betapapun aku tak bisa tinggal diam, kau membikin buruk nama perguruan!”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Muka To Hong menjadi pucat saking menahan gusar, airmata sudah mengembeng dikelopak mata.
Bentaknya: “Omong kosong, cara bagaimana aku merusak nama baik perguruan kita? Justru kau ini
putra durhaka! Baik, kedatanganmu ini memang tepat, dihadapan para saudara sekian banyak ini
serta para thaubak kita, mari selesaikan urusan kita siapa salah dan siapa benar. Bagaimana juga
hari ini aku harus mewakili ayah mencuci bersih nama baik keluarga.”
To Liong ter-bahak2, ujarnya: “Aku belum mengadakan pembersihan perguruan kau sudah mau
mencuci bersih nama baik keluarga? Budak busuk, disaat aku tidak dirumah kau bersekongkol
denganpara saudara seperguruan, kau sangka kau dapat merambat keatas kepalaku? Hah, ayah
sudah meninggal, segala urusan keluarga To kita, kau tiada hak pegang kuasa.”
Sepihak mengatakan hendak mengadakan pembersihan perguruan sedang pihak lain hendak
mencuci bersih nama baik keluarga. Tun-ih Ciu dan para begundalnya berpeluk tangan menonton
saja, kalau ada kesempatan malah menghasut dan mempertegang suasana. Sebaliknya Tang Khaysan,
Ting Hwi dan lain2 menjadi kuatir. To Liong mengudal mulutnya yang kotor, lekas2 berdiri
melerai: ‘To-siheng, antar saudara kandung sendiri buat apa harus bikin onar dibuat tertawaan orang
saja!” ~ Nona To, hari ini kita berkumpul adalah untuk berunding cara bagaimana melawan serbuan
tentara Mongol. Urusan keluarga kalian, apakah bisa dibicarakan nanti saja?”
Malah ada seorang cecu yang berangasan dan tidak tahu duduknya perkara ikut menyela: “Betul,
kita datang bukan ingin menonton pertengkaran. Stelah pertemuan rapat ini peduli akan
membersihkan perguruan atau membersihkan nama baik keluarga silahkan urus sendiri.”
Bercekat hati To Hong, pikirnya: ‘Tepat, mereka sengaja memancing kemarahanku untuk
menjatuhkan nama baik dan kedudukanku, supaya rencana mereka untuk menggagalkan rapat ini
bisa terlaksana. Ah, kenapa aku harus meladeni mereka dan terjebak kedalam tipu muslihatnya.”
Sebetulnya Tun-ih Ciu punya rencana sendiri yang lebih keji. Melihat para hadirin tidak senang aka
sepak terjang To Liong, lekas2 iapun merubah haluan menurut arah angin, ia tekan To Liong
supaya dia tidak membuikin onar lebih besar.
Baru sekarang Li Su-lam tahu bahwa To Liong trenyata adalah engkok To Hong, keruan hatinya
tambah gelisah dan gundah, pikirnya me-layang2 bagai mimpi. Pelan2 Beng Bing-sia berbisik
dipinggir telinganya: ‘Li-toako, kejadian selanjutnya kukira kaulah yang harus tampil kedepan!”
Alis Li Su-lam bertaut, pikirnya: “Kenapa aku yang harus tampil kedepan, apakah dia sudah tahu
bahwa Nyo Wan sudah menikah dengan keparat ini? Kejadian ini merupakan pertikaian diantara
kita bertiga. Urusan peribadi masa dibongkar dihadapan sekian banyak orang.’
Tatkala itu delapan belas cecu sudah menempati tempat duduknya masing2. To Liong dan orang
asing itupun sudah maju dan tengah mencari tempat duduk. Suara ribut dan kacau berbisik tadipun
sudah mereda dan tenang. Sudah tentu Li Su-lam menjadi tidak enak bertanya lebih anjut kepada
Ciok Bok.
Mendadak Tun-ih Ciu bicara: ‘Nona To, silahkan kau menggir mengaso saja!”
Sungguh To Hong tidak menduga bahwa orang akan mengobarkan keributan lagi, keruan hatinya
bertambah murka, hardiknya: “Apakah maksudmu ini?”
Tun-ih Ciu menjengek dingin: “Tiada maksud apa2, bukankah engkohmu sudah pulang, tempat
tuan rumah sudah seharusnya diduduki olehnya!”
To Hong menarik muka, serunya keras: “Baru saja aku hendak mengumumkan. Disini tiada tempat
lagi bagi To Liong!”
To Liong berjingkrak bangun, semprotnya gusar: ‘Kurangajar, ada aku disini masa kau berani
pegang kuasa. Budak busuk macam kau berani mengusir aku?”
Tun-ih Ciu segera unujk sikap sebagai angkatan tua untuk memberi keadilan, ujarnya: ‘Nona To,
kau ini rada keterlaluan? Dia kan engkohmu, kedudukannya sebagai Siau-cecu (tuan muda) dari
Long-gak-san. Pertemuan hari ini adalah rapat besar kaum bulim, dengan alasan apa kau berani
mengusirnya keluar?”
To Hong menjawab dengan nada dingin: ‘Jadi kau tanya alasannya. Baik terpaksa kubeberkan
dihadapan umum To Liong disinyalir ada bersekongkol dengan kaki tangan bangsa mongol. Rapat
besar hari ini adalah merundingkan cara bagaimana menghadapi serbuan pasukan Mongol, kalau
diapun hadir disini, bukankah berarti didalam rapat pertemuan ini hadir pula mata2 musuh?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Berubah air muka To Liong, bentaknya: “kau punya bukti apa?”
“Kau bersahabat kental denganTun-ih Pin.’ Demikian kata To Hong kalem, “Setengah tahun yang
lau, kalian berdua pernah bersama menuju ke Mongol, apakah ada kejadian itu?”
“Memang, aku pernah kesana dengan dia untuk menyelidiki musuh besar pembunuh ayah.
Bukankah kau sendiri juga kesana?” demikian debat To Liong.
‘Apakah benar kau ada sekongkol dengan penjajah Mongol saat ini aku belum mendapatkan bukti2
yang nyata. Tapi Tun-ih Pin menjadi antek Mongol ini sudah gamblang dan tidak perlu diragukan
lagi. Pada suatu hari dilembah kupu2 kita beramai disergap dan dikepung oleh sepasukan perwira
Mongol, diantaranya Tun-ih Pin lah yang menjadi biang keladinya.”
Ber- Tun-ih Ciu bangkit berdiri hendak menyanggah perkataan To Hong, namun suaranya kelelap
oleh gerungan gusar dan teriakan orang ramai.
Terdengar Tang Khay-san tertawa dingin, jengeknya: Tun-ih cianpwe, biar dia selesai bicara, baru
nanti kau angkat bicara?”
Oh Cu juga ikut bicara: “Urusan rumah tangga mereka kita tidak perlu ikut campur tapi urusan
besar demi jaya dan runtuhnya nya negara betapapun harus dibikin terang!”
Terdengar To Hong melanjutkan: ‘Waktu itu Tun-ih Pin lah yang memimpin sepasukan perwira
Mongol menyergap kita, meski diantara mereka tiada To Liong, namun bukankah mereka berdua ke
Mongol bersama. Setelah kembali To Liongpun terus menetap dirumah Tun-ih Pin tak kembali
kerumah sendiri. Maka kukatakan dia punya kecurigaan yang terbesar, demi keselamatan kita
beramai dan demi suksesnya rapat pertemuan ini =, maka aku usulkan supaya dia tidak
diperbolehkan hadir dalam perundingan ini.”
“Eh, eh, kenapa bicara ngelantur keatas kepala kami ayah dan anak,’ tiba2 Tun-ih Ciu menyeringai
sinis. “terpaksa akupun perlu membeber suatu urusan dihadapan umum. Ketahuilah nona To ini
pernah ditunangkan dengan putraku, sekarang ia terlibat dlam cinta segitiga dengan kedua
suhengnya, jelas tujuannya hendak membatalkan pernikahannya dengananakku,maka ia mengatur
segala tipu daya ini. He he, omongannya itu tak bisa dipercaya seluruhnya bukan?”
Li Su-lam menjadi tak kuasa menahan sabar lagi, mendadak ia bangkit berdiri serta teriaknya: “
Akulah yang menjadi saksinya!”
Tun-ih Ciu melirik dan memalingkan mata, tanyanya menghina: ‘Siapakah dia?”
To Liong menyahut dingin: “Bocah ini bernama Li Su-lam. Ayahnya Li Hi-ko menjabat pangkat
wakil panglima perang pasukan Mongol waktu penyerbuan ke kerajaan Kim!”
“Omong kosong, ayahku sudah meninggal,’ bentak Li Su-lam, “Wakil panglima perang Mongol itu
bernama Sia It-tiong, dia memalsukan nama ayahku untuk menjabat kedudukan itu!”
“Dari mana kita tahu apakah ucapanmu ini benar atau ngelantur belaka?” jengek Tun-ih Ciu.
Beng Bing-sia dan Song Thi-lun suami istri bangkit berdiri, serunya berbareng: ‘Kita bisa menjadi
saksinya akan kebenaran kata2 itu!” ~ Secara ringkas jelas Beng Bing-sia menceritakan bagaimana
semula ayahnyapun salah paham dan mencurigai Li Su-lam, akhirnya setelah tahu seluk beluk
keadaan sebenarnya baru kesalah pahaman itu tidak berbuntut lebih panjang.
Semua hadirin tahu Beng Bing-sia adalah putri beng tayhiap beng Siau-kang, dengan kedudukan
mereka ayah dan anak tentu ucapannya dapat dipercaya. Song Thi-lun suami istri biasa sangat tenar
sebagai sepasang suami istri yang jujur dan berjiwa lapang. Semua orangpun mempercayai
ucapannya. Maka beramai2 mereka berkata: “Kalau begitu silahkan Li kongcu menceritakan
kejadian hari itu.’
Kata Li Su-lam: “Hari itu waktu Tun-ih Pin membawa pasukan Mongol mengepung lembah kupu2
kebetulan akupun hadir disana, malah aku sendiri yang menempurnya.”
Mendengar penjelasan inikontan pandangan seluruh hadirin tumplek kemuka Tun-ih Ciu dan To
Liong. Tang Khay-san berkata: ‘Tun-ih cianpwe, perjalanan putramu ke Mongol kali ini, mungkin
banyak urusan dilakukan tanpa sepengetahuan kau? ~ Karena kuatir Tun-ih Ciu dari malu menjadi
gusar dan segera mengumbar napsunya, maka ucapannya ini sedikit banyak memberi muka
kepadanya. Maklum, kalau Tun-ih Ciu tahu tujuan perjalanan putranya itu berarti bahwa mereka
ayah beranak memang berintrik.
Ting Hwicecu dari Tiau-hou-cuian adalah seorang yang berangasan, namun kali ini bicara serba
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kalem: ‘Kejadian ini harus diselidiki supaya menjadi terang. Tun-ih Cecu adalah locianpwe dari
kaum bulim, tentu berpandangan luas, janganlah karena kepentingan pribadi lantas mengeloni anak
sendiri! ~ jelas sekali maksud kata2 ini, mendesak kepada Tun-ih Ciu harus mengutamakan
kepentingan umum dan menghukum anaknya yang salah.
Mendadak To Liong berseru dingin: “Seumpama betul ada hubungan dengan bangsa mongol, kan
persahabatan antar bangsa yang menjadi tetangga biasa, kenpa harus diributkan!”
“Yang kumaksudkan bukan bangsa atau rakyat Mongol biasa, tapi adalah Busu Mongol. Tun-ih Pin
ada intrik dengan Busu bawahan Jengis Khan, mencelakai an menindas orang2 gagah bangsa Han
kita, apakah ini urusan kecil? Demikian Li Su-lam menekankan persoalan sesungguhnya.
Kata To Liong: “Waktu itu belum tentu Tun-ih Pin tahu siapakah orang2 yang berada dilembah
kupu2 itu, mungkin kejadian itu merupakan kesalah pahaman belaka. Mungkin juga secara
kebetulan ia lewat di lembah kupu2 itu bersama Busu Mongol, karena tiada kata sepakat lantas
terjadi perkelahian itu, kesalahan sekecil ini kan boleh dimaafkan!”
Pegang kelemahan kata2 orang segera Li Su-lam mendebat dengan tandas: ‘kau sudah mengakui
bahwa dia bergaul dengan Busu Mongol, apakah sepak terjangnya itu boleh dimaafkan?”
Seru To Liong: ‘Coba kutanya dulu kepada para hadirin, apakah kalian berpendapat bahwa para
Busu Mongol itu semua pasti menjadi musuh kita?”
Semprot To Hong dengan gusar: “Apa2an ucapanmu ini? Penjajah Mongol menyerbu kedaerah
tionggoan. Bukankah terang gamblang kalau Busu mereka menjadi musuh besar kita? Kecuali para
Busu itu adalah pengkhianat atau membangkang atas perintah Khan agung mereka.’
Kata2 To Hong begitu tandas dan mengutamakan kebenaran, keruan para hadirin menjadi gempar,
serunya beramai2: ‘Benar, kita harus dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
kita harus bisa mengikuti situasi . bangsa Mongol menyerbu dan menduduki tanah leluhur kita,
betapapun kita harus bersatu hati melawannya bersama?”
To Liong berteriak sembari angkat tangannya: “Para saudara harap tenang sebentar. Cobalah
pikirkan sekali lagi, jangan terburu nafsu dan membaa adatnya sendiri sehingga mengecilkan arti
kepentingan negara dan bangsa!”
“Begitupun baik,” sela tang Khay-san, “Marilah kita dengar dulu pendapat dari To-siaucecu!”
“Soal ini bukan melulu pendapatku seorang,’ demikian To Liong kata sembari berpaling, “Su-tayjin
silahkan berdiri!”
Orang asing yang datang bersama To Liong itu lekas2 bangkit. Para hadirin mendengar dia sebagai
Su-tayjin apa segala, keruan semua melengak heran.
Tang Khay-san segera membuka mulut: ‘Pertemuan kita hari ini adalah rapat besar kaum Bulim,
tuan pembesar Su, Su ini ……… “
“Su-tayjin datang dari Lingan (ibukota kerajaan Song selatan)” demikian seru To Liong
memperkenalkan, “Penasehat raja Song raya yang bernama Su Mi-wan adalah paman kecilnya. Susiangkok
bersusah payah hendak merebut kembali daerah Tionggoan
Untuk mengusir penjajah bangsa Kim, maka diutusnya keponakannya ini menjadi kurir kemari
untuk menjalin persatuan dengan berbagai pasukan pergerakan yang berada didaerah Hopak. Kita
sebagai kaum persilatan yang cinta nusa dan bangsa. Maka kurir yang diutus oleh kerajaan kini
sudah hadir disini apakah kalian akan tolak kehadirannya?”
Baru sekarang semua hadirin tahu bahwa orang asing ini ternyata kurir yang diutus oleh kerajaan
Song selatan jadi bukan pembesar kerajaan Kim. Daerah Tionggoan dijajah musuh sudah ratusan
tahun lamanya, semua orang ber-harap2 pada suatu ketika tanah air sendiri bakal bebas merdeka
dari jajahan, maka begitu mendengar orang asing ini adalah utusan dari istana semua orang menjadi
tegang dan bangkit semangatnya, se-olah2 kedatangan sanak kadang yang terdekat layaknya. Hanya
Li Su-lam dan Beng Bing-sia berdua yang otaknya masih rada tenang dan dapat berpikir secara
wajar, diam2 timbul kecurigaan dalam benak mereka.
Beng Bing-sia baru saja pulang dari Kanglam, ayahnya Beng Siau-kang adalah pemimpin kaum
persilatan disana, berita penting apa saja yangtidak masuk kedalam telinganya. Dari penuturan
ayahnya Beng Bing-sia tahu bahwa penasehat raja Song selatan yang bernama Su Mi-wan itu
adalah bekas seorang buaya darat yang berotak tumpul tak punya kepintaran, suka main kuasa dan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
senang menjual pangkat demi keuntungan kantong sendiri. Meski tidak sejelek dan mencela seperti
Cin Kui yang rela menjadi antek musuh dan menjual negara, betapapun dia seorang yang kejam dan
suka memeras rakyat. Justru karena mendengar kisikan bahwa Su Mi-wan ini sedang berusaha
mengirim kurir untuk bergabung dan berserikat dengan Mongol untuk menumpas Kim, maka Beng
Siau-kang meluruk ke Mongol untuk mencari kebenaran berita yang didengarnya ini. Waktu Li sulam
bertemu dengan Beng Siau-kang digurun Gobi tempo hari juga pernah dengar perihal ini. Maka
timbullah rasa curiga dalam benak mereka: ‘kurir yang diurus oelh Su Mi-wan ini tentu tidak
mempunyai maksud yang baik dan menguntungkan bagi kita umumnya.”
Para cecu hanya tahu bahwa Su Mi-wan memang penasehat raja Song selatan, namun asal usul dan
kelahiran bangsawan yang menanjak ini sedikitpun mereka tidak tahu jelas, maka ber-sama2
mereka berkata: “syukurlah duta dari istana sekarang sudah tiba, silahkan su-tayjin memberikan
petunjuk dan umumkan perintah raja dalam rapat pertemuan kaum persilatan hari ini!” ~ tapi ada
juga yang ramai2 dan bisik2 dengan rasa was2: ‘apakah kurir ini asli atau palsu.”
Su-tayjin itu segera mengeluarkan segulung kertas surat serta katanya: ‘Inilah surat mandat untuk
tugas kali ini harap tuan2 suka periksa!” Memang gulungan kertas itu tersegel dengan lak warna
merah yang peranti digunakan oleh instansi pemerintahan.
Ada beberapa cecu diantaranya pernah pergi ke Kanglam, mereka pernah membaca pengumuman
pemerintah yang disegel dan dicap dengan lak yang sama, maka mereka tahu bahwa surat mandat
ini terang adalah asli, sehingga tidak beragu lagi mereka menyilahkan Su0tayjin ini hadir dalam
pertemuan Bulim ini. Dari apa yang tertulis diatas surat mandat itu diketahui bahwa Su-tayjin ini
bernama Su Kong-bang.
Suasana menjadi rada kacau karena sang tamu seakan akan menjadi tuan rumah malah, sebab To
Hong didiamkan saja ditempatnya.
Demikianlah dengan congkaknya To Liong segera berkata lantang: “silahkan Su-tayjin segera
mengumumkan perintah atau petunjuk dari istana!”
Pelan2 Su Kang-bang berkata: “Menurut petunjuk istana adalah gabung dengan Mongol
melenyapkan kerajaan Kim bersama. Begitu bala tentara Mongol memasuki Tionggoan, kitapun
segera mengerahkan tentara menyeberangi sungai besar dan menyerang berbareng dari dua
jurusan.”
Diantara para cecu itu ada pula yang berpengetahuan dan bisa melihat gelagat. Tang Khay-san
bergegas berdiri serunya: “Mongol adaah negara imperialis, kalau kita gabung dan menuntun
Mongol memasuki daerah kita, apakah kelak kita bisa minta kembali daerah dan tanah air kita
sendiri masih merupakan persoalan, aku kuatir kelak tentu bakal banyak kesulitan yang harus kita
hadapi!”
Kata Su Kong-bang: “Saudara sekalian tidak pelu kuatir, dalam hal ini sudah tentu pihak istana
sudah memikirkan secara masak. Biar kuberi satu rahasia kepada saudara2. Kurir Jengis Khan
pernah ke Lingan dan sudah menanda tangani perjanjian dengan pamanku. Dalam perjanjian itu
berkata setelah melenyapkan kerajaan Kim, daerah yang pernah diduduki oleh Kim akan
dikembalikan kepada kita, Mongol hanya kebagian daerah kerajaan Sehe dan negerinya sendiri.
Hanya ransum yang diperlukan dalam penyerbuan kali ini harus dipikul oleh raj aSong kita.
“Perjanjian ini kalau dipandang sepintas lalu memang pihak Mongol banyak mengambil
keuntungan, namun hakekatnya pihak Song kitapun tak kena dirugikan. Malah boleh dikata kitapun
telah mengambil hasil dan manfaatnya.
Apakah orang2 gagah kaum persilatan mau tunduk akan perintah raja?
Apakah benar Su Kong-bang sebagai kurir dari istana?
Ikutilah pertandingan adu silat untuk memperebutkan kedudukan Bengcu pasukan
Pergerakan ! Apakah To Hong atau Li Su-lam yang terpilih?
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Jilid 07 bagian pertama
Saudara2 harus tahu, sejak junjungan kita hijrah ke selatan selama ratusan tahun ini, meski kita
punya tekad besar untuk merebut kembali tanah yang diduduki musuh, hasrat ini takkan pernah
menjadi kenyataan? Itulah karena pihak musuh kuat dan kita lemah. Kalau hanya mengandal tenaga
Song raja kita masih jauh dikatakan mampu, apalagi harus mengusir penjajah. Sekarang Tuhan
telah memberikan petunjuk dan jalan kepada kita, dengan kekuatan tentara Mongol sekarang yang
kuat tiada lawan diseluruh jagat, mereka rela dan sudi berserikat dengan Song kita, apalagi syarat
yang diajukanpun tidak terlalu berat. Coba saudara2 pikir, bukankah ini suatu kesempatan yang
sulit didapat selama ini?
“Maka menurut perintah dari istana diserukan supaya pasukan pergerakan didaerah Hopak jangan
ambil sikap bermusuhan dengan Mongol, dimana pasukan Mongol tiba kalian harus membantu
sekuat tenaga, seumpama harus bekerja berat dan rada menderita juga jangan dirisaukan. Tujuan
kita adalah merobohkan kerajaan Kim dan merebut kembali tanah air kita yang dijaajh musuh,
kalau ini bisa terlaksana berarti saudara2 sekaligus sudah membantu dan memberikan harapan besar
kepada raja kita.”
Selain delapan belas Cecu yang diundang To Hong dalam pertemuan ini hadir pula begundal
undangan Tun-ih Ciu. Kedelapan belas Cecu itupun belum tentu sepaham dan sepandangan dengan
To Hong, yang terang lima diantaranya berpihak kepada Tun-ih Ciu, tigabelas Cecu lainnya adalah
yang rada tumpul otaknya dan kurang terpelajar, maka setelah mendengar penjelasan atau ‘pidato’
duta yang diutus istana, mereka menjadi bingung, walaupun dalam hati terasa ganjel karena harus
membantu pihak Mongol dari sikap semula yang bermusuhan, namun terasa oleh mereka bahwa
petunjuk inipun rada masuk akal. Apalagi karena ini perintah raja maka mereka menjadi tak berani
banyak bicara lagi.
Melihat semua orang ber-sungut2 dan bungkam Li Su-lam menjadi gopoh, keadaan ini terlalu tidak
menguntungkan, seketika bergolak darah dalam rongga dadanya, tanpa benyak pikir segera ia
bangkit serta serunya lantang: ‘Aku baru saja kembali dari Mongol, menurut apa yang kutahu
Jengis Khan punya ambisi yang besar untuk merobohkan kerajaan Kim, kalau kerajaan Kim sudah
lenyap merekapun hendak mencaplok Song sekalian. Maka menurut pendapatku petunjuk dari
istana itu tidak mungkin dilaksanakan!”
Tun-ih Ciu menggeram, jengeknya: ‘Perintah dari istana kaupun berani bangkang? Berapa banyak
mengetahui bocah ingusan macam kau, mana bisa lebih tinggi dari para menteri?”
To Liong juga menyeringai dingin, ejeknya sinis: “Maksud hati Jengis Khan, bocah macam kau
darimana bisa tahu?”
“Aku dengar dari mulut Jengis Khan sendiri!” Sahut Li Su-lam tegas.
To Liong tertawa sinis, jengeknya: “bagaimana mungkin Jengis Khan membicarakan persoalan ini
dengan kau?”
“Aku dengar waktu ia memberi wejangan kepada anak buahnya waktu berburu. “segera ia ceritakan
pengalaman waktu berburu dipegunungan Ken dengan jela.
Kata To Liong: “Menurut ceritamu waktu berburu kau telah menolong jiwa putri Jengis Khan.
Sudah semestinya Jengis Khan sangat berterima kasih kepadamu, bagaimana mungkin dia mau
melepas kau pulang?”
“Betul,” sahut Li Su-lam dengan tegas dan angkat dada. “Dia menganugerahkan pangkat Busu
Kemah Emas kepadaku. Aku tidak rela menghamba dan mengabdi dibawah perintahnya, maka hari
kedua dengan menempuh bahaya aku berhasil lari dari Holin!”
To Liong tertawa dingin, jengeknya: “Karangan ceritamu memang cukup menarik, sayang kurang
dapat dipercaya dan menyangsikan!”
“Tunggu sebentar.” Kata Li Su-lam, “Akan keperlihatkan sesuatu kepada para hadirin.’
Ketika Li Su-lam masuk ruang belakang, Beng Bing-sia lantas berdiri dan angkat bicara: ‘Aku dan
ayah pernah menjelajahi daerah Mongol selama lebih setengah tahun. Apa yang kami lihat dan
dengar memang benar pihak Mongol sedang menyiapkan penyerbuan kenegeri Kim dan mencaplok
Song kita.” ~ Lalu ia menceritakan keadaan pihak Mongol yang sedang melatih angkatan laut
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dibeberapa danau besar serta mencari jago2 pelarian Han yang mau diperalat.
Para hadirin cukup hormat dan percaya kepada Bing-sia mengingat ayahnya yang termashur,
tentunya sinona takkan berdusta. Mereka menjadi saling pandang setelah mendengar laporan
keadaan musuh itu.
Sementara Li Su-lam telah keluar dengan membawa seperangkat busur dan panah, katanya: “ini
adalah busur baja pribadi Jengis Khan, lantaran aku pernah menyelamatkan jiwa anak
perempuannya, maka dia memberi hadiah busur ini kepadaku. Silahkan lihat, busur dan panah ini
rasanya tidak sembarangan dapat dibuat oleh tukang didaerah Tionggoan kita.”
Memang busur Jengis Khan itu adalah gemblengan dari baja keluaran pegunungan Altai, bobotnya
jauh lebih berat daripada busur biasa. Tatkala itu Mongol sudah mengimpor ilmu teknik
menggembleng baja dari persia,sudah mahir membuat baja yang lemas sehingga busur dapat ditarik
hingga membulat. Teknik gembleng baja yang maju itu belumdapat dilakukan oleh pandai besi
didaerah Tionggoan waktu itu.
Karen itu, para hadirin menjadi tambah percaya kepada kata2 Li Su-lam.
Namun To Liong masih berusaha menyanggah: “Sekalipun busur itu buatan orang Mongol, tapi
darimana bisa diketahui adalah milik Jengis Khan? Seumpama benar milik pribadi Jengis Khan,
darimana pula dapat dibuktikan Jengis Khan menyatakan akan menyerbu Kim dan mencaplok
Song?”
“Sejak Mongol berbangkita, tidak sedikit negeri2 lain yang telah dirampasnya,” kata Tang Khaysan.
“Kalau menurut kekuatan militernya sekarang, untuk membasmi Kim boleh dikata
kekuatannya masih berlebihan, buat apa mesti berserikat dengan Song, jelas karena bertujuan
mengorbankan kekuatan Song saja. Maka menurut pendapatku daripada tidak percaya, lebih baik
kita percaya akan rencananya mencaplok Song kita.”
“Pihak pemerintah sudah menentukan arah politiknya, apakah kalian ingin melawan keputusan
pemerintah?” ujar Tun-ih Ciu.
Tang Khay-san menjadi aseran, serunya: “Pemerintah boleh menetapkan keputusan nya, kita kaum
Lok-lim juga punya peraturan Lok-lim sendiri, kita tidak terima gaji dari pemerintah, kenapa kita
harus patuh kepada keputusan pemerintah?”
“Ucapan Tang cecu memang tidak salah, kalau saudara2 kaum Lok-lim ingin membentuk pasukan
sukarela, maka harus memikirkan kepentingan rakyat banyak,” sambung Su-lam. “Kita akan sokong
keputusan pemerintah jika menguntungkan rakyat banyak, kalau merugikan tentu akan kita tolak.
Penyerbuan Mongol ke Tionggoan mengenai kepentingan bangsa, yang terbunuh adalah bangsa
kita, kenapa kita malah membantu dan bekerja sama dengan mereka?”
Tun-ih Ciu berteriak dengan muka merah: “Melulu gabungan kaum kita yang tiada artinya ini
apakah mampu membendung musuh dan melawan serbuan tartar Mongol? Betapapun juga negeri
Song adalah tanah air kita, kaisar Song adalah raja kita, maka aku mengusulkan taat kepada
keputusan pemerintah.”
Begitulah kedua pihak saling tidak mau mengalah dan makin meruncing ucapan masing2 pihak,
kedua pihak sama2 mempunyai pendukung, suasana ruang sidang menjadi ribut.
Cecu tua Go Hing dari Pak-bong-san ikut bicara: “Percuma cara kita ribut2 begini. Ular juga mesti
ada kepalanya. Maka menurut pendapatku, lebih dulu kita harus memilih seorang Bengcu, habis itu
kita harus patuh kepada perintah sang Bengcu.”
Go Hing adalah angkatan tua kaum Lok-lim, ucapannya tidak saja disokong oleh orang2 pihak Tunih
Ciu, diantara ke-18 cecu juga ada sebagian besar menyatakan setuju dengan usulnya itu.
Segera Tang Khay-san bicara pula: “Sejak To-bengcu meninggal, rasanya tiada seorang pemimpin
Lok-lim lagi yang berwibawa. Menurut pendapatku, bengcu tidak berarti boleh berbuat sesukanya,
segala urusan harus mengutamakan musyawarah.”
Semua orang sama menyatakan akur dalam hal pemilihan bengcu baru. Maka Ting Hui dari Tiauhou-
kan, salah seorang pemimpin ke-18 cecu, segera berkata: “Mendiang To-bengcu dahulu dipilih
sebagai bengcu karena beliau adalah cecu dari Long-sia-san yang terbesar dikalangan Lok-lim kita.
Sekarang Long-sia-san dipimpin oleh nona To Hong, maka adalah pantas dan kayak jika kedudukan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Bengcu ini diwariskan sekalian kepada nona To saja.”
“Hm, bukankah To Pek-seng masih punya seoarng anak laki2 disini?” jengek Tun-ih Ciu. “Kalau
mau bicara tentang ahli waris kan lebih tepat harus diwariskan kepada To Liong, putra mendiang
To-bengcu.”
“Ah, cayhe punya kepandaian apa sehingga berani melampaui Tun-ih Ciu yang lebih bijaksana dan
punya nama, bahkan mendiang ayahku biasanya juga sangat kagum kepada Tun-ih cecu. Maka
kedudukan bengcu adalah lebih pantas kalau dipegang oleh Tun-ih cecu,” demikian To Liong.
Serentak begundal Tun-ih Ciu bersorak menyatakan setuju, teriak mereka: “To-siaucecu memang
seorang yang punya pandangan jauh. Kedudukan bengcu memang lebih tepat diduduki oleh seorang
yang lebih berpengalaman, maka maksud baik To-siaucecu tadi hendaklah jangan ditolak oleh Tunih
Cecu.
Tun-ih Ciu pura2 sungkan, katanya: “Ah, usiaku sudah tua, mana aku sanggup memikul tugas
seberat ini. Tapi kalau kalian sudah sepakat, apa boleh buat, terpaksa aku bertindak sekuat tenaga.”
“Nanti dulu!” mendadak Song Thi-lun berteriak. “Pemilihan belum lagi dilakukan, tidakkah Tun-ih
cecu terlalu ter-gesa2 mengucapkan kata2mu itu?”
“Aku saja sudah rela, apakah budak cilik seperti To Hong juga berani merebut bengcu dengan Tunih
Locianpwe?” seru To Liong gusar.
“Kau rela mengalah adalah urusanmu, yang pasti kami tetap mendukung nona To Hong,” jawab
Song Thi-lun.
Cepat To Hong berdiri, serunya: ‘Kalian jangan ribut dulu, dengarkanlah kataku.”
“Hm, coba apa yang akan kau katakan, ingin kulihat betapa tebal kulit mukamu,” jengek To Liong.
To Hong tidak menggubrisnya, ia mulai bicara: “Urusan yang paling penting sekarang adalah cara
bagaimana kita harus melawan serbuan Mongol. Maka menurut pendapatku Bengcu yang dipilih
nanti harus disebut sebagai bengcu pasukan sukarela, dengan demikian pejuang2 dari luar kalangan
Lok-lim juga dapat ditampung dan para cecu yang hadir sekarang adalah pula pimpinan pasukan
sukarela ditempat masing2. Namun orang yang dicalonkan menjadi bengcu nanti tidak harus berasal
dari kalangan Lok-lim.”
Tang Khay-san yang per-tama2 menyatakan akur, menyusul para cecu juga memberi suara setuju.
Tapi dengan tertawa dingin To Liong menanggapi; “Aku tidak peduli dari kaum mana orang yang
akan menjadi bengcu, yang jelas kau tidak sesuai untuk menjadi bengcu.”
“Betul juga ucapanmu, aku memang tidak sesuai untuk menjabat bengcu,” jawab To Hong. “Tugas
yang paling utama sekarang adalah tartar Mongol, maka bengcu baru nanti tidak hanya ilmu
silatnya harus tinggi, bahkan harus mahir pula ilmu militer. Sekarang aku sudah mempunyai
seorang calon yang tepat, tentunya para hadirin dapat menyetujuinya.”
“Siapa?” tanya To Liong.
“Dia tak lain tak bukan adalah Li-siauhiap, Li SU-lam yang baru pulang dari Mongol ini!” sahut To
Hong.
Su-lam sendiri terkejut, cepat ia berseru: ‘He, mana boleh jadi? Aku adalah orang baru, selamanya
tiada hubungan apa2 dengan para kawan disini.”
To Hong lantas melanjutkan: “Pertama Li-kongcu adalah keturunan keluarga panglima perang dan
tentu mahir ilmu militer. Kedua, dia adalah murid Kok-tayhiap dari Siau-lim-pay, asal usulnya
sudah jelas dari perguruan yang ternama dan aliran yang terpuji, bila menjadi bengcu tentu akan
menarik para pahlawan diluar kalangan Lok-lim untuk menggabungkan diri. Ketiga, dia baru
pulang dari Mongol dan cukup memahami keadaan musuh, untuk menghadapi musuh yang kuat
kita perlu tahu akan kekuatan pihak sendiri dan paham akan kekuatan musuh. Li Su-lam memenuhi
ketiga syarat ini, maka menurut pendapatku tiada calon bengcu lain yang lebih cocok daripada dia.”
Kiranya diantara ke-18 cecu yang diundang oleh to Hong sudah ada separoh telah dihubungi oleh
To Hong, yang lain juga lantas menyatakan setuju demi mendengar uraiannya cukup beralasan.
Li Su-lam sendiri bermaksud menolak, tapi Bing-sia lantas berkata: ‘Kau harus berani memikul
tugas berat ini. Apakah kau sudah lupa akan dendam keluarga dan negara? Jika kau ingin menuntut
balas, melulu tenaga seorang saja tidaklah cukup. Apalagi soalnya bukan Cuma urusanmu sendiri
saja, kita telah mencurahkan segenap harapan dan cita2 keatas pundakmu, kenapa kau malah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mengelakkan diri?”
Karena teguran Bing-sia yang mengutamakan tugas berdharma bakti kepada nusa dan bangsa itu,
terpaksa Su-lam tidak bersuara lagi.
Tapi To Liong lantas berteriak: “Biarpun yang akan dipilih adalah bengcu pasukan sukarela dan
tidak harus berasal dari tokoh Lok-lim, tapi calonnya harus pula seorang yang punya nama baik dan
bijaksana.”
“Apakah sekongkol dengan tartar Mongol termasuk terhormat dan bijaksana?” ejek Song Thi-lun.
Kata2 ini membikin air muka Tun-ih Ciu dan To Liong berubah seketika.
Dengan gusar To Liong berteriak: ‘Berserikat dengan Mongol, ini adalah keputusan pemerintah,
pula sidang sekarang juga belum mengambil sesuatu ketetapan, berdasarkan apa kau menuduh
orang yang pro Mongol sebagai pihak yang berdosa?”
“Ya, maka soal paling penting sekarang adalah memilih dahulu bengcu baru agar dapat
melaksanakan langkah2 kaum Lok-lim kita,” kata Tang Khay-san.
Karena sekarang To Liong dan To Hong sudah melepaskan hak berebut Bengcu, maka yang tinggal
hanya dua calon saja yaitu Tun-ih Ciu dan Li Su-lam, masing2 sama mempunyai pendukung2
tersendiri.
“Menurut peraturan Lok-lim, bila ada persengketaan tentang kedudukan bengcu, maka harus
ditentukan melalui ilmu silat masing2,” kata Go Hing sebagai angkatan tua.
“Tadi nona To sudah mengatakan, ilmu silat bukan segi terpenting dalam perjuangan melawan
tartar,” kata Ciok Bok.
“Dahulu To-bengcu dipilih bengcu juga berdasarkan pertandingan di tengah2 para calon yang lain,”
ujar Go Hing. Rupanya dia telah dijanjikan sesuatu oleh Tun-ih Ciu sehingga ber-ulang2 ia
berpegang teguh kepada peraturan Lok-lim. Tampaknya dia ingin adil, tapi sebenarnya membela
pihak Tun-ih Ciu.
Serentak begundal Tun-ih Ciu bersorak menyatakan setuju: “Benar!” Seorang bengcu memang
harus memiliki kepandaian yang tinggi. Yang menang menjadi raja, kenapa mesti banyak bicara?”
Maklum bahwa Tun-ih Ciu adalah tokoh Lok-lim yang namanya sama tenarnya dengan To Pekseng,
setelah To Pek-seng meninggal bicara ilmu silat tentu dia yang paling kuat bila ditentukan
secara bertanding.
Pihak To Hong sudah tentu tahu Go Hing membela pihak Tun-ih Ciu, tapi urusan sukar dicapai
persepakatan, terpaksa mereka mengikuti peraturan yang dikemukakan itu. Segera Tang Khay-san
berkata: “Pertandingan boleh dilakukan secara bergilir oleh jago2 yang diajukan masing2 pihak.
Bila salah satu pihak sudah tidak sanggup bertanding lagi dan rela mengaku kalah, maka pihak yang
menang boleh mengajukan calon bengcu yang didukungnya. Demikian bukan peraturannya?”
“Benar”,jawab Go Hing. “Tapi calon bengcu juga harus ikut bertanding dan harus memenangkan
pertandingan. Nah, sekarang masing2 pihak boleh menampilkan jago masing2.”
Tun-ih Ciu menjaga harga diri, sudah tentu ia tidak maju pertama. Dalam pihaknya ada dua tokoh
yang berilmu tinggi silat tinggi, yaitu Liu Tong-thian, cecu dar Hek-sin-kang, ilmu pedangnya Liangoan-
toat-beng-kiam-hoat ( ilmu pedang pencabut nyawa ) yang meliputi 72 jurus terkenal lihai.
Seorang lagi aalah Cui Tin-san, seorang bandit besar dari Liautang, gwakangnya sudah mencapai
tingkatan sempurna yang hampir2 kebal terhadap senjata tajam.
Begitulah Tun-ih Ciu coba menatap kedua kawannya itu, maksudnya agar mereka maju
berkalangan. Tak terduga Liu Tong-thian sengaja menghindarkan pandangannya. Cui Tin-san lebih
lucu lagi, ia sengaja duduk diam seperti orang samadi, pura2 tidak tahu maksud Tun-ih Ciu itu.
Keruan Tun-ih Ciu mendongkol. Katanya kemudian: ‘Keng-ciat, kau saja maju dulu!”
Oh Keng-ciat adalah Hucecu, wakil Tun-ih Ciu sendiri, dengan sendirinya harus menurut perintah.
Dengan memegang golok tebal ia lantas maju ketengah kalangan dan berseru: ‘Li-kongcu, maaf aku
ingin belajar kenal dengan Siau-lim-kiamhoatmu!”
Mengingat Oh Keng-ciat adalah jago yang sama tingkatnya dengan Tun-ih Ciu, segera Tang Khaysan
hendak mewakili Li Su-lam menerima tantangannya. Tapi mendadak seorang sudah melompat
maju. Kiranya Beng Bing-sia adanya.
“Tang-pepek,” kata Bing-sia, “Sudah lama kudengar golok Oh-locianpwe yang termashur,
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kesempatan ini hendaknya berikan padaku untuk minta belajar ilmu goloknya.”
Memangnya Tang Khay-san tidak yakin akan dapat mengalahkan Oh Keng-ciat, maka majunya
Bing-sia menjadi kebetulan baginya, dengan tertawa iapun menyerahkan babak pertama itu kepada
Bing-sia.
Sebaliknya Oh Keng-ciat menjadi terkejut, bukannya takut kepada Bing-sia, tapi kuatir mencelakai
anak perempuan Kanglam-tayhiap Beng Siau-kang yang disegani itu. Terpaksa ia menghadapi dan
berkata: ‘Beng-lihiap jangan sungkan2, aku dan ayahmu juga kenalan lama. Biarlah kita bertanding
secara persahabatan, kalau menyenggol lantas anggap berakhir saja. Beng-lihiap silahkan mulai.”
“Wanpwe mohon Oh-locianpwe mengajar tiga jurus lebih dulu,” kata Bing-sia.
“Wah, besar amat mulutnya sehingga mau mengalah tiga jurus lebih dulu, memang nya golok Ohcecu
dianggap sebagai besi karatan belaka?” demikian To Liong meng olok2.
“Hm, kau tidak perlu mengadau domba, bila tidak terima sebentar kau boleh maju pula,’ jengek
Bing-sia.
Ucapan Bing-sia sebenarnya ditujukan kepada To Liong tapi tanpa sengaja telah menyinggung juga
harga diri Oh Keng-ciat se-akan2 kemenangan sudah pasti dipihak Bing-sia sehingga sebentar lagi
masih akan menghadapi To Liong. Dengan mendongkol segera Keng-ciat angkat golok dan
menabas dari kanan dan kiri dua kali. Tapi goloknya Cuma menyamber lewat diatas rambut Bingsia
tanpa menyenggolnya. Bing-sia sendiri berdiri tegak tenang tanpa menghiraukan serangan itu.
Keruan semua orang sama berseru kaget.
Rupanya Bing-sia mengetahui serangan2 Oh Keng-ciat itu hanya serangan kembangan saja.
Walaupu begitu dengan golok yang tebal dan berat itu ternyata dapat digunakan dengan begitu
tepat,kemahiran Oh Keng-ciat menguasai senjatanya sungguh harus dipuji pula.
“Hm, ditengah kalangan tidak kenal kawan, setiap gerakan tidak kenal ampun, disini bukan
tempatnya orang beramah tamah!” jengek To Liong pula.
Oh Keng-ciat menjadi gusar dan dongkol oleh olok2 To Liong itu. Dia memang sengaja menyerang
dengan gerakan pura2 mengingat dirinya adalah angkatan tua, tapi Bing-sia justru sengaja memberi
serangan tiga kali lebih dulu, sudah tentu Keng-ciat jug aingin menjaga harga diri. Kalau cuma diolok2
To Liong saja tidak menjadi soal, kuatirnya Tun-ih Ciu ikut2 curiga, hal ini bisa runyam.
Berpikir demikian, terpaksa Oh Keng-ciat tidak sungkan2 lagi, goloknya lantas bekerja dengan
kencang, sekali bacok sekarang bukan serangan pura2 lagi, tapi serangan maut.
“Ilmu golok Oh-locianpwe memang hebat,’ puji Bing-sia sambil berkelit. Menyusul iapun mulai
melancarkan serangan balasan. Namun Oh Keng-ciat menang dalam hal tenaga, goloknya diputar
kencang pula sehingga penjagaan sangat rapat. Ber-ulang2 Bing-sia gagal menerobos pertahanan
lawan. Terpaksa Bing-sia main kegesitan sambil mengitar kesana kemari untuk mncari kesempatan.
Sampai berpuluh jurus ternyata senjata kedua pihak tidak pernah kebentur.
“Diam2 Oh Keng-ciat juga mengeluh, lawannya lebih lincah, lama2 tenaganya sendiri tentu akan
terkuras habis jika main kucing2an begitu.
“Hm, macam pertandingan apa ini? Kalau berani gebraklah apa mestinya!” kembali To Liong
meng-olok2, sekali tijukan kepada Bing-sia.
Belum lenyap suaranya, mendadak Bing-sia berhenti langkah, secepat kilat pedangnya membuat
beberapa lingkaran, lingkaran satu disusul dengan lingkaran lain sehingga sinar golok Oh Keng-ciat
se-akan2 terkunci, terdengar suara gemerincing nyaring ber-ulang2.
Diam2 To Liong bergirang karena menyangka sinona terpancing oleh olok2nya dan bukan mustahil
dalam waktu singkat dapat dikalahkan oleh Oh Keng-ciat. Namun dia ternyata salah sangka.
Lingkaran2 sinar pedang Bing-sia semakin kerap dan semakin rapat, ketika lingkaran2 sinar itu
mendadak mencurah kebawh, terdengarlah suara ‘trang’ sekali, golok Oh Keng-ciat yang tebal itu
tahu2 mencelat terlepas dari cekalan.
Kiranya pada waktu Bing-sia berputar tadi telah didapatkan akal membobolkan pertahanan musuh,
yaitu putaran pedang yang melingkar yang semakin cepat. Golok Oh Keng-ciat menjadi terselubung
oleh lingkaran2 sinar pedang itu dan sukar melepaskan diri. Ketika lingkaran2 sinar pedang
semakin cepat, sama halnya sepotong batu yang terikat, kalau diputar secepatnya kemudian akan
mencelat lepas.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Begitulah Bing-sia lantas menyimpan kembali pedangnya lalu berkata: “Maaf atas kesembronoan
wanpwe.”
OH Keng-ciat menjadi malu, ia jemput kembali pedangnya dan mendekati Tun-ih Ciu, katanya:
“Cayhe tidak becus sehingga dikalahkan lawan, sejak kini cayhe rela mengundurkan diri pulang ke
kampung halaman saja, sekarang juga cayhe ingin mohon diri.”
Tun-ih Ciu mengerut kening, jawabnya: ‘kalah atau menang adalah soal lumrah dikalangan
pertandingan, engkau masih tetap wakilku kenapa mesti terburu napsu begitu?”
Dengan muram Keng-ciat menjawab: ‘Sekalipun cecu dapat memahami kekalahanku, namun cayhe
merasa malu sendiri. Dibawah cecu masih banyak ksatria muda perkasa, oran tua lapuk seperti
cayhe sudah sepantasnya tahu diri dan menyerahkan tempatnya kepada kaum muda yang lebih
tangkas.”
Habis berkata, tanpa menunggu jawaban Tun-ih Ciu, segera Keng-ciat melangkah pergi. Rupanya
ngambeknya Oh Keng-ciat itu tidak melulu merasa malu saja dikalahkan oleh seorang nona muda,
soalnya dia tidak tahan atas olok2 dan ejekan To Liong tadi.
Tun-ih Ciu sangat mendongkol, tapi didepan orang banyak sudah tentu ia tiak enak membujuk dan
menahan kepergian Oh Keng-ciat, sebab hal ini akan lebih membuatnya kehilangan muka, terpaksa
ia membiarkan Keng-ciat pergi.
Rupanya To Liong juga mempunyai perhitungan sendiri, ia tahu anak buah ayahnya telah
meninggalkan dia an mendukung adik perempuannya. Tapi kalau dirinya dapat menjadi wakil Tunih
Ciu, walaupun kedudukannya lebih rendah setingkat, tapi sedikitnya sudah dapat menambal
kehilangannya itu. Sebab itulah dia memang sengaja hendak membikin malu Oh Keng-ciat dan
membuatnya tidak kerasan dan akhirnya angkat kaki sendiri.
Akan tetapi beberapa kata Oh Keng-ciat sebelum pergi rada membikin To Liong serba susah. Kata2
tadi jelas ditujukan kepadanya bahwa ada ksatria muda yang lebih tangkas, maka kalau To Liong
ingin mempertahankan kehormatannya dia harus maju kekalangan untuk menggantikan bertanding
pula melawan Bing-sia.
Dipihak Tun-ih Ciu itu, yang berkepandaian tinggi seprti Liu Tong-thian dan Cui Tin-san jelas tiada
niat maju bertanding. To Liong merasa dirinya tidak sanggup mengalahkan Bing-sia, maka ia
menjadi ragu2. Padahal dia sendiri tadi sudah omong besar, kalau sekarang ia tidak berani
menghadapi Bing-sia, ini benar2 kehilangan muka yang terbesar. Karena itu terpaksa To Liong
berbangkit dan bermaksud maju.
Tiba2 seorang laki2 tegap mendahului maju kedepan dan berseru: ‘Nona Beng, silahkan kau
mengaso dulu. Song-cecu, sudah lama aku ingin berkelahi dengan kau, mungkin sekarang ada
kesempatan, marilah maju, aku ingin men-coba2 kau punya sepasang roda.”
Kiranya laki2 kasar itu bernama Ciu Tin-hay, adalah sutenya Cui Tin-san. Kepandaiannya jauh
dibawah sang suheng, tapi wataknya berangasan. Pernah satu kali dia bertengkar dengan Song Thilun,
keduanya sama2 berwatak keras, seketika mereka main jotos, Cuma waktu itu mereka lantas
dilerai orang banyak sehingga tidak jadi berkelahi.
Tentu saja To Liong merasa kebetulan dengan majunya Ciu Tin-hay, katanya dengan lagak ksatria:
“Baik nona Beng sudah bertanding satu babak, sudah sepantasnya dia mengaso dulu.”
Sudah tentu Bing-sia dapat meraba kelicikan orang, jengeknya: ‘Hm, boleh kau menyelami dulu
cara bagaimana melayani ilmu pedangku dan maju dalam babak berikutnya.”
Begitu Song Thi-lun segera juga terima tantangan Ciu Tin-hay tadi. Mula2 mereka bertanding
senjata. Ciu Tin-hay pakai gaman toya dari bongkotan rotan, toya yang keras2 lemas. Sebaliknya
Song Thi-lun memakai sepasang roda tajam dari baja. Sifat kedua orang sama2 berangasan, begitu
maju lantas berhantam tanpa banyak bicara.
Begitu hebat pertarungan mereka berdua sehingga lebih 50 jurus sudah lalu masih belum tampak
kalah dan menang, bahkan makin lama keduanya makin tangkas. Akhirnya Ciu Tin-hay kehilangan
sabar, tanpa peduli roda lawan yang diputar begitu kencang, segera toyannya mengemplang
sekuatnya dari atas. Ketika Song Thi-lun angkat kedua rodanya dan mencakup keatas , maka
terdengar suara “trang” yang memekak telinga. Ditengah suara nyaring itu terdengar pula …. Suara
‘krak’ yang keras.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Srentak para penonton sama berdiri dengan mata terbelalak untuk melihat bagaimana akibat
hantaman keras lawan keras itu. Ternyata kedua seteru di tengah kalangan sama2 melompat
mundur. Toya ditangan Ciu Tin-hay tinggal sebagian pendek saja, sebaliknya sebuah roda Song
Thi-lun mencelat keudara, roda yang lain juga rompal beberapa buah giginya. Rupanya toya terjepit
patah oleh kedua roda, sebaliknya Song Thi-lun juga tidak tahan oleh tenaga kemplangan toya yang
dahsyat itu.
Su-lam bersyukur karena kedua pihak sama2 tidak cedera apa2, kedua orang ituu sama2
mempunyai watak yang polos, maka Su-lam mengira mereka akan mengakhiri pertandingan sampai
disitu saja.
Tak terduga Ciu Tin-hay mendadak menubruk maju lagi sambil berseru: “Sekarang aku ingin
belajar kenal dengan ilmu pukulan Song-toako!” ~ Dari nadanya yang memanggil ‘toako’ kepada
lawan, jelas Ciu Tin-hay sudah menaruh hormat kepaa Song Thi-lun.
Tentu saja Song Thi-lun juga tidak mau mengalah,serunya: ‘Baik, sudah lama akupun kagum
terhadap ilmu pukulan Ngo-heng-kun Ciu-toako yang hebat, kebetulan hari ini kita dapat
mencobanya disini.’ ~ habis berkata, ia lemparkan rodanya dan pasang kuda2, segera kedua orang
mulai berhantam lagi.
Kembali para penonton iut berdebar lagi karena pertarungan yang ramai itu. Ngo-heng-kun, ilmu
pukulan kebanggaan Ciu Tin-hay mengutamakan serangan melulu. Gebrakan pertama telah
ditangkis oleh Song thi-lun secara keras melawan keras, dua arus tenaga kebentur dan ternyata sama
kuat.
Mendadak Song thi-lun menggertak, dari pukulan berubah menjadi tendangan, kakinya susul
menyusul melayang keatas.
“Bagus!” sambut Ciu Tin-hay sambil mengegos kesamping. Berbareng dengangerak cepat telapak
tangannya menyorong betis lawan.
Kedua orang sama2 cepatnya, ber-turut2 Song thi-lun menendang beberpa kali, beruntun Ciu Tinhay
juga memotong bebrapa kali, tendangan Song thi-lun tidak kena sasaran, tabasan Ciu Tin-hay
juga tidak kena, keduanya tetap sama kuat.
Tendangan berantai seperti dilakukan Song thi-lun itu tidak tahan lama, terpaksa ia main pukulan
pula sehingga keduanya kembali serang menyerang dengangesit.
Lama2 Song thi-lu menjadi tidak sabar, ia pasang kuda2 kuat, ditengah pukulannya disertai pula
Kim-na-jiu-thoat, mencengkeram dan membetot.
Secara membadai Ciu Tin-hay melancarkan serangan gencar, namun Song thi-lun tetap berdiri
dengankukuh, sedikitpun tidak terdesak mundur. Keadaan demikian mau tak mau membuat
keduabelah pihak sama2 mengagumi pihak lawannya.
Paa saat yang menentuka, mendadak kepalan Ciu Tin-hay menghantam batok kepala Song Thi-lun
dengan sekuat tenaga. Cepat Thi-lun menangkis sambil balas menyerang. Tapi tenaga kepalan lebih
kuat daripaa telapak tangan, sakit juga telapak tangan Song thi-lun, terpaksa dia urungkan
membetot, tapi terus dikipatkan kesamping sehingga tenaga pukulan lawan dipatahkan.
Ciu Tin-hay ternyata sangat kepala batu, setelah hantamannya gagal, seharusnya dia mundur dulu
untuk ganti serangan alin. Tapi dia tidak mundur, sebaliknya malah melangkah maju, kepalan terus
menerobos dari bawah keatas, langsung ia tonyor muka lawan. Nama pukulan ini disebut” Ciongthian-
bau” atau meriam menmbus angkasa lihai luar biasa. Dengan menggunakan pukulan ini Ciu
Tin-hay sudah bertekad mengakhiri pertarungan ini secepatnya.
Ditengah jerit kaget orang banyak karena menyangka Song Thi-lun pasti terkena pukulan yang
hebat itu. Tak terduga mendadak Song Thi-lun memutar tubuh sedikit, tangan terus membalik untuk
mencengkeram sambil membentak: ‘Kena!” ~ Berbareng telapak tangan lain menyusup dibawah
ketiak Ciu Tin-hay, kedua tangan bekerja sekaligus karena tekukan itu, seketika tulang lengan Ciu
Tin-hay dipatahkan.
Ciu Tin-hay menggerung kesakitan, berbareng kepalannya jug amenghantam dan tepat mengenai
dada, Song Thi-lun terpental dua-tiga meter jauhnya. Sebaliknya saking kesakitan karen atulang
patah, Ciu Tin-hayjatuh kelengar.
Dengan kuatir cepat Liu Sam-nio berlari maju untuk menolong sang suami. Ciu Tin-san juga lekas2
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mamburu maju untuk membangunkan sutenya.
Tapi sebelum Liu Sam-nio mendekati sang suami, tahu2 Song Thi-lun sudah melompat bangun.
Maka legalah hati Sam-nio mengetahui suaminuya tidak terluka parah.
Begitu melompat bangun Song thi-lun lantas berseru: “Kepandaian Ciu-toako sungguh hebat, aku
perpukul roboh dan terluka, babak ini aku terima mengaku kalah!” ~ Habis berkata baru darah segar
tersembur dari mulutnya.
Bahwasanya Song thi-lun terima mengaku kalah, hal ini sungguh diluar dugaan para ksatria.
Biarpun Thi-lun terluka dan muntah darah, tapi lawan lebih parah. Kalau dinilai sepantasnya Ciu
Tin-hay dipihak yang kalah.
Rupanya setelah pertarungan sengit tadi, diam2 timbul rasa kagum dan hormat antara Song Thi-lun
dan Ciu Tin-hay. Karena terpaksa Song Thi-lun harus mematahkan tulang lengan orang, dalam hati
ia merasa tidak enak, makanya terima ngaku kalah sebagai tanda hormat pada lawannya.
Saat itu Cui Tin-san lagi meng urut2 tubuh Ciu Tin-hay sehingga keadaan Tin-hay sebenarnya
dalam keadaan setengah sadar. Ketika mendengar ucapan Song thi-lun, tanpa menghiraukan lengan
yang kesakitan itu, cepat iapun berseru: ‘Tidak, tidak bisa! Mana boleh aku dianggap menang?
Lukaku lebih parah daripadamu sudah tentu aku yang kalah, aku tidak mau terima kemurahanmu.”
Kalau orang berebut menang adalah kejadian lumrah, tapi sekarang mereka berebut saling mengaku
kalah keruan semua orang sama merasa geli dan kagum pula.
Segera Tang Khay-san menengahi: “ Sudahlah, kedua ksatria memang sama2 laki2 sejati dan
berjiwa ksatria. Pertandingan kalian tadi biar dianggap seri saja, buat apa mempersoalkan luka
parah dan luka ringan segala.”
Ucapan ini memang cocok dengan pikiran semua orang, maka kedua pihak juga tidak menyanggah.
Tun-ih Ciu mengeluarkan obat luka untuk Ciu Tin-hay, lalu menolongnya pula dengan mengapit
tulang lengan yang patah itu dengan dua potong papan. Caranya mengobati sungguh cekatan. Lalu
katanya kepada Cui Tin-san: “Sutemu rela mengaku kalah, sungguh seorang ksatria sejati. Tapi
Song Thi-lun hanya jago kelas dua di dunia Lok-lim, apakah kau tidak kuatir orang lain
memandang rendah kepada Ngo-heng-kun kalian?”
Cui Tin-san cukup tahu bahwa ucapan Tun-ih Ciu itu bernada memancing kemarahannya. Tapi
karena orang tengah menolong sutenya, pula menyangkut kehormatan perguruan, maka walaupun
enggan membela pihak Tun-ih Ciu terpaksa Cui Tin-san menjawab: “ Tun-ih cecu, orang she Cui
cukup tahu membedakan antara budi dan sakit hati. Bahwa engkau telah menolong nsuteku, tentu
aku akan mencari jalan untuk membalas kebaikanmu.”
Dalam paa itu ketika Liu Sam-nio hendak memapah kembali suaminya kesana, tiba2 pihak Tun-ih
Ciu melompat maju seorang sambil berseru: ‘Liu Sam-nio, tunggu dulu!”
“O, kiranya Pok-cecu,” kata Liu Sam-nio sambil menoleh. “Apakah Pok-cecu bermaksud memberi
pelajaran juga?”
“Benar,” kata orang itu. “Sudah lama aku mendengar permainan cambuk dan senjata rahasia Samnio
yang lihai, maka mumpung sekarang bertemu disini, aku menjadi ingin belajar kenal dengan
kepandaian Sam-nio tersebut.”
Kiranya orang ini bernama Pok Toh-lam dan berjuluk “To-pi-wan” (sikera bertangan banyak),
terkenal dengan kepandaian menggunakan Am-gi (senjata rahasia). Tapi sejak Liu Sam-nio muncul
di dunia kangouw, dia menjadi punya saingan dalam hal am-gi. Seperti kata peribahasa “satu
gunung tidak mungkin hidup dua harimau”, makanya dia sudah lama ingin mencari Liu Sam-nio
untuk bertanding.
Sudah tentu Liu Sam-nio tidak manda dipandang pengecut, segera ia terima baik tantangan orang,
jawabnya” Ah, kepandaian Pok-cecu juga sudah lama kukagumui. Bila Pok-cecu sudi memberi
pelajaran, silahkan mulai saja.”
“Sebagai tamu, silahkan Sam-nio saja mulai lebih dulu!” jawab Pok Toh-lam. Nadanya ramah, tapi
sikapnya angkuh.
Dikalangan Lok-lim sebenarnya nama Pok Toh-lam tidaklah begitu harum, apalagi sikapnya yang
angkuh sekarang, tentu saja Liu Sam-nio mendongkol. Segera ia ayun cambuknya tanpa sungkan2
lagi. “Tarrr”, cambuknya lantas menyabet.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Pok Toh-lam menggunakan senjata Boan-koan-pit, potlot baja. Pada umumnya Boan-koan-pit
terdiri dari sepasang, tapi Pok Toh-lam hanya memakai sebuah saja, hanya ukurannya lebih panjang
daripada biasa sehingga dapat pula digunakan sebagai tombak. Ketika cambuk Liu Sam-nio
menyabet tiba, segera ia menyampuk dengan Boan-koan-pitnya.
Begitulah pertandingan kembali dimulai pula dengan sengit. Setelah berpuluh jurus, amndadak
csambuk Liu Sam-nio melibat dibatang potlot lawan. Se-konyong2 Pok Toh-lam menggertak sekali,
potlotnya menyendal sehingga cambuk lawan tergetar lepas. Ditengah bayangan cmbuk itu Pok
Toh-lam terus menubruk maju, potlotnya terus menotok ‘Ih-gi-hiat’ lawan.
Cepat Liu Sam-nio berkelit, tubuhnya melompat kesana dan cambuknya juga berputar, dimana
ujung cambuknya menyamber, tahu2 kopiah Pok Toh-lam sudah tersabet jatuh. Sementara itu Liu
Sam-nio telah memutar balik, katanya dengan dingin: ‘Pok-cecu, apakah kau perlu mengaso
sebentar?”
Rupanya Liu Sam-nio telah melancarkan serangan cambuk yang hebat, lebih dulu ia libat potlot
lawan, setelah tak berhasil merampas senjata musuh, segera ia menyabet pula dan akhirnya kopiah
lawan tersabet jatuh.
Bicara tentang tenaga dalam memang Pok Toh-lam lebih kuat, dia dapat menggetar lepas cambuk
lawan yang melilit potlotnya itu, tenaga dalamnya jelas jauh lebih tinggi daripada Liu Sam-nio.
Tapi bicara tentang tipu serangan jelas Pok Toh-lam sudah kalah satu jurus, sebagai tokoh ternama
dikalangan Lok-lim seharusnya dia mengaku kalah. Tapi karena dia mengetahui tenaga dalam
sendiri lebih kuat daripada lawan, pula kepandaian sendiri yang paling diandalkan belum lagi
dikeluarkan, mana dia mau menyerah begitu saja.
Begitulah Pok Toh-lam telah mendengus, berbareng ia menyambitkan tiga buah senjata rahasia
mata uang yang terbagi tiga juruan, atas-tengah-bawah, masing2 mangarah batok kepala , dada dan
dekat selangkangan.
Disinilah Liu Sam-nio memperlihatkan pula ketangkasannya, sedikit menunduk ia hindarkan mata
uang yang menyamber kebatok kepalanya itu, berbareng ia menyampuk sehingga mata uang yang
mengarah dadanya disabet jatuh, pada saat yang sama sebelah kakinya juga mendepak sehingga
mata uang bagian bawah mencelat pergi. Rupanya sepatunya pakai lapisan sol besi sehingga tidak
takut pada senjata rahasia sekecil itu.
Yang satu menyerang dengan cepat, yan glain juga menghindar dengan bagus, serentak bersoraklah
para penonton. Ternyata Pok Toh-lam tidak memberi kesempatan bernapas bagi Lis Sam-nio,
menyusul senjata rahasia lain dihamburkan pula, sekarang terdiri dari tiga buah mata bor. Namun
dengan cara yang indah, semua senjata rahasia Pok Toh-lam kembali dielakkan pula oleh Liu Samnio.
“Pok-cecu, senjata rahasia apalagi yang kau miliki, silahkan gunakan saja semuanya!” seru Liu
Sam-nio dengan tertawa.
Olok2 ini tentu saja membikin Pok Toh-lam mendongkol. Betapapun ia adalah jagoan Lok-lim yang
sudah terkenal, dia tak ingin dipandang hina oleh orang lain, terpaksa ia menjawab dengan tertawa:
‘Baiklah, sekarang giliranku menyaksikan kemahiran Sam-nio!”
“Ah, Pok-cecu terlalu rendah hati,’ ujar Liu Sam-nio. “Kepandaianku yang tak berarti ini masih
perlu petunjuk2 Pok-cecu nanti!”
Habis berkata segera Liu Sam-nio menghamburkan tiga buah pisau sekaligus. Akan tetapi Pok Tohlam
juga sengaja pamer, ia menyambitkan tiga buah mata uang sehingga ketiga pisau lawan
dibentur jatuh.
Menyusul Liu Sam-nio menghamburkan lagi enam pisau, cara menyambernya pisau2 itu lain
daripada yang lain, tidak langsung menuju sasaran, tapi ber-putar2 siudara dan ada yang saling
bentur.
Pok Toh-lam menjadi heran permainan apaka hitu. Tanpa pikir ia lantas merogoh segenggam mata
uang pula terus ditaburkan diudara, jadi mata uang itu berjumlah lebih banyak daripada pisau2
terbang, maka terjadilah hujan pisau dan mata uang.
Namun mata uang itu tidak seluruhnya bisa membentur pisau, soalnya pisau2 itu lebih dulu saling
bentur dan terpental sehingga arahnya telah berganti, habis itu pisaunya terus membalik dan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menyamber kearah Pok Toh-lam.
Keruan Pok Toh-lam terkejut,pisau yang menyamber tiba2 itu jaraknya terlalu dekat, dalam
keadaan kepepet terpaksa Pok Toh-lam melindungi kepalanya dengan Boan-koan-pit, berbareng ia
menjatuhkan diri ketanah terus ber-guling2 kesamping.
Maka terdengarlah suara ‘trang-tring’ dua kali, dua pisau kena disampuk jatuh oleh Boan-koanpitnya,
dua pisau lagi menyamber lewat pundaknya, dua pisau lain jatuh dibelakangnya dan
hampir2 menancap dipahanya.
Walaupun tidak sampai terluka oleh pisau2 terbang itu namun cara Pok Toh-lam menghindar
kelihatan sangat konyol. Waktu ia melompat bangun lagi, bajunya sudah kotor, kaki dan tangannya
juga berlepotan tanah.
Teringat keadaannya yang berbahaya tadi, diam2 Pok Toh-lam bersyukur dirinya dapat mengelak
pada waktunya. Ia pikir pertandingan ini tentu dapat dianggap seri mengingat dirinya tidak sampai
terluka.
Baru dia hendak buka suara, tiba2 kulit kepalanya terasa sakit perih seperti digigit semut. Pada saat
itulah Song Thi-lun sedang menanggalkan kopiahnya dan berkata: “Wah, pertarungan sengit kalian
membikin aku ikut berkeringat kegerahan.”
Anehnya sambil bicara sorot mata Song thi-lun menatap keatas kepala Pok Toh-lam. Sudah tentu
Pok Toh-lam merasa curiga, ia pikir apakah diri sendiri telah kecundang? Cepat iapun
menanggalkan kopiah sendiri, waktu diperiksa, ternyata diatas kopiah itu menancap tiga batang
Bwe-hoa-ciam (jarum) yang lembut, hanya kelihatan ujung jarum menonjol sedikit, orang lain pasti
tidak melihatnya kalau tidak diperiksa dari dekat.
Dari ujung jarum yang mengkilat itu, Pok Toh-lam tahu jarum itu tidak berbisa, lega juga hatinya.
Sebagai ahli senjata rahasia segera ia menyadari apa yang sudah terjadi tadi. Kiranya Bwe-hoa-ciam
itu disambitkan Liu Sam-nio bercampur dengan pisau2 terbang, jarum itu lembut sekali, Pok Tohlam
hanya dapat menghindarkan pisaunya, tapi sukar menghindarkan samberan jarum.
Diam2 Pok Toh-lam membatin: ‘kalau lawan berhati keji dan jarum itu mengarah pelipis atau hiatto
lain yang mematikan, tentu sejak tadi jiwanya sudah melayang. Jelas pihak lawan sengaja
bermurah hati agar dia tidak malu didepan banyak orang.
Terima kasih dan malu pula rasa Pok Toh-lam. Segera ia memberi hormat dan berkata; ‘Kepandaian
Am-gi Liu-hingcu memang jauh diatasku, orang she Pok ini terima mengaku kalah.”
Sudah tentu banyak orang merasa heran, ada yang ber-teriak2: ‘Pok-cecu belum lagi kalah,
mengapa sudah menyerah? ~ Ya, pertandingan babak ini harus dianggap seri.”
Tapi Tun-ih Ciu cukup mengetahui duduk perkara, dengan muka bersengut ia berkata: “Buat apa
ribut2? Kalah atau menang adalah soal biasa dikalangan pertandingan, mengapa banyak urusan? ~
Eh, Cui-heng,keadaan sutemu tentu tidak berhalangan bukan?”
Dengan sendirinya Cui Tin-san tahu maksud Tun-ih Ciu, terpaksa ia mesti membela orang yang
telah mengundangnya, maka pelahan2 ia tampil ketengah kalangan dan berkata: ‘Mumpung hari ini
kita bertemu disini, maka orang she Cui juga ingin belajar kenal dengan para hadirin, silahkan
ksatria mana yang sudi memberi pelajaran?”
Kepandaian Cui Tin-san yang terkenal adalah Tay-lik-kim-kong-ciang (pukulan bertenaga raksasa),
semua orang tahu kepandaiannya jauh diatas sutenya,yaitu Ciu Tin-hay. Maka sukar rasanya
mencari seorang yang mampu menandinginya dengan sama kuat. To Hong pikir yang dpat
mengalahkan Cui Tin-san mungkin Cuma Li Su-lam, tapi Li Su-lam perlu menahan diri dan
memupuk tenaga untuk menghadapi Tun-ih Ciu nanti. Pula Cui Tin-san terkenal dengan ilmu
pukulan, kalau Li Su-lam mengalahkan dia dengan pedang juga tidak gemilang kemenangannya.
Sedang To Hong menimbang siapa jago yang akan diajukannya, tiba2 tertampak Tang Khay-san
melangkah maju, serunya: “Sebenarnya tua bangka macam diriku sudah tidak pantas berebut
menang dengan Cui-heng, tapi pertandingan ini dilakukan berdasarkan persahabatan, menang atau
kalah adalah soal sepele, maka tiada jeleknya aku main2 dengan Cui-heng beberapa jurus saja.
Tang Khay-san terkenal dengan kepandaian “Tay-sui-pi-jiu”, yakni ilmu pukulan dengan telapak
tangan yang dahsyat. Dimasa mudanya pernah sekaligus dia mengalahkan tujuh jagoan terkenal di
Hoksiok. Hanya saja sebagaimana dikatakannya tadi, usianya sudah lanjut, sebab itulah dalam
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
pertimbangan To hong tadi tidak pernah menginginkan mengajukan dia sebagai jagonya.
Begitulah Cui Tin-san lantas menyambut: ‘Jika Tang-locianpwe sudi memberi pelajaran, sungguh
aku merasa sangat beruntung. Sudah lama kudengar tay-sui-pi-jiu yang hebat, biarlah kita coba2
saja dalam hal ilmu pukulan.”
Sebagai kaum muda, segera Cui Tin-san mendahului menyerang sebagai tanda hormat kepda lawan.
Telapak tangan nya mendorong pelahan kedepan Tang Khay-san juga sudah siap, ia menunggu
seranagn orang sudah mendekat baru mendadak memapak dengan telapak tangan pula ‘blang’
terdengar suara keras, Cui Tin-san tergentak mundur dua tiga tindak.
Orang2 dipihak To Hong sama bergirang dan bersyukur Tang Khay-san ternyata tua2 keladi, bisa
jadi Cui Tin-san sebentar lagi akan dirobohkan olehnya.
Akan tetapi Tang Khay-san sendiri cukup paham bahwa bukan saja Cui Tin-san sengaja mengalah
sejurus, bahkan tenaga belum dikerahkan sepenuhnya. Pukulan Cui Tin-san itu disebut “Liong-bunsan-
kik-lang” (Ombak mendampar tiga kali digerbang naga), kalau tenaga pukulannya dilancarkan
seluruhnya, maka berturut2 akan terpancar tiga gelombang kekuatan yang satu lebih hebat dari pada
yang lain. Namun Cui Tin-san tadi hanya mengerahkan gelombang tenaga pertama saja, lalu
bertahan dan mundur.
Cui Tin-san sendiri tak menduga akan tergentar mundur. Semula ia mengira usia Tang Khay-san
sudah lanjut, kalau terlalu kuat menggunakan tenaga bisa jadi lawan itu tak tahan. Tapi setelah
bergerak satu jurus baru diketahui kekuatan pukulan tang khay-san ternyata diatas penilaiannya
walaupun masih kalah kuat daripada tenaga pukulan dirinya.
Orang persilatan paling mengutamakan nama kebaikan atau kehormatan, biarpun Cui Tin-san tidak
ingin mencelakai kaum tua, tapi juga tidak mau dikalahkan. Maka sesudah menjajal satu jurus tadi,
lamban laun ia mulai menambahkan tenaga pukulannya. Pertarungan segera mulai tegang.
Tidak lama kemudian, kepala Tang Khay-san mulai mengepulkan hawa tipis, yaitu haw yang
menguap dari air keringatnya. Sebaliknya jidat Cui Tin-san tidak tampak sebutir keringatpun.
Diam2 To Hong merasa kuatir, biarpun nampaknya tidak bermaksud mencelakai lawan yang sudah
tua, tapi dalam pertarungan sengit itu bukan mustahil akan terjadi cedera yang susah dielakkan. Ia
menyayangkan Tang Khay-san mengapa tidak mau mengaku kalah saja daripada bertahan secara
susah payah.
Rupanya To Hong tidak tahu kedua orang yang bertanding itupun punya pikiran serupa dengan dia.
Soalnya Tang Khay-san itu hidupnya paling ter-gila2 kepada ilmu silat, sudah lama ia mengagumi
Tay-lik-kim-kong-ciang lawan, maka sedapat mungkin ia bertahan agar bisa mengetahui sampai
dimana ilmu pukulan lawan selengkapnya.
Cui Tin-san juga sudah memikirkan kalau pertarungan itu dilanjutkan, biarpun Tang Khay-san
akhirnya tak dilukai tentu juga akan jatuh sakit payah karena terlalu banyak keluar tenaga itu.
Segera ia memberi suatu gerakan pancingan agar kedua tenaga Tang Khay-san menyerang dari
depan tengah, berbareng itu ia lantas menarik, diangkat dan ditolak, dengan pelahan Tang Khay-san
ditolak kesamping beberapa langkah jauhnya.
Tiga kali gerakan menarik, angkat dan ditolak kesamping itu dilakukan sekaligus dengan cepat,
sebelum semua orang melihat jelas caranya ia bergerak itu, tahu2 Cui Tin-san sendiri juga tergentar
mundur beberapa tindak.
Setelah Tang Khay-san dapat menahan tubuh sendiri dan baru saja hendak bicara, tiba2 Cui Tin-san
sudah mendahului buka suara: “Ilmu pukulan Tang-locianpwe memang hebat, atas kesudian
mengalah sehingga pertarungan ini berakhir dengan seri.”
Akan tetapi Tang Khay-san lantas ter-bahak2, allu berkata dengan gegetun: “ah, aku sudah tua,
sudah tak berguna lagi. Pertarungan ini jelas Cui-lote yang telah mengalah paaku, mana berani aku
menerimanya sebagai seri. Jelas aku telah kalah.”
Sejak tadi Tun-ih Ciu bersengut saja karena Cui Tin-san tidak bertempur dengan sungguh2. Kini
setelah mendengar ucapan Tang Khay-san itu barulah dia merasa senang, segera ia menimbrung:
‘Keduanya sama2 ksatria yang terpuji, sungguh hebat.”
Tiba2 Tang Khay-san berkata pula: “Tapi sayang, sungguh sayang!”
“Sayang apa?” Cui Tin-san melenggak.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“kabarnya kau punya Kim-kong-ciang meliputi 8 X 8 = 64 gerakan, sayang aku hanya melihat 48
gerakan saja tadi sehingga belum lengkap,” kata Tang Khay-san.
Cui Tin-san tersenyum, sahutnya: ‘banyak terima kasih atas pujian Tang-locianpwe dan untung
cayhe tidak sampai kalah. Biarlah diantara hadirin siapa lagi kiranya yang sudi maju memberi
pelajaran pula?”
Menurut aturan, pihak pemenang ada hak buat bertanding lagi satu babak. Maksud ucapan Cui Tinsan
ini pertama menyatakan dia sanggup bertanding lagi, kedua juga secara tidak langsung telah
memenuhi permintaan Tang Khay-san, asalkan ada orang yang mau bertanding lagi dengan dia,
maka dia bersedia mempertunjukkan Tay-lik-kim-kong-ciang-hoat yang meliput 64 gerakan secara
lengkap.
Tapi dengan demikian To Hong sibuk berunding, tiba2 seoran laki2 baju kuning tampil kemuka dan
berseru: “Cayhe yang bodoh ini ingin belajar kenal beberapa jurus dengan Cui-cecu.”
Umur orang ini hanya duapuluhan, wajahnya cakap, lebih mirip seorang anak pelajar daripada
diaktakan jago kaum Lok-lim.
Anehnya keduabelah pihak sama2 tidak kenal siapa pemuda ini tentu saja semua orang pada heran
dan membatin: “Siapakah dia? Berani benar!”
Cui Tin-san telah menjawab: “Numpang tanya siapakah nama saudara? Kawan dari garis mana
kiranya?”
‘Ah, cayhe hanya seorang Bu-beng-siau-cut (prajurit tanpa nama) saja di Long-sia-san sini,” jawab
pemuda baju kuning.
Tiba2 To Hong menjengek: “Hm, apakah Bu-beng-siau-cut atau pahlawan sejati dan jago ternama,
sedikitnya kan punya nama?”
Dengan pelahan barulah pemuda itu berkata: “Cayhe she Ci bernama In-hong. Yang kuharap
bukanlah ingin terkenal atau dipuji, tapi dengan tulus hati ingin belajar kenal dengan para tokoh2
kosen. Maka dari itu aku telah tampil secara sembrono, harap para maklum.”
“Ci In-hong? Nama ini tidak pernah terdengar!” demikian semua orang sama melengak.
Karena pemuda she Ci itu mengaku dari Long-sia-san, mau tak mau To Hong menjadi sangsi
apakah orang ini baru saja datang? Mengapa sebelumnya tak pernah dilihatnya?
“Jika mau saling tukar pikiran tentang ilmu silat, hendaknya Ci-heng jangan sungkan2, silahkan
mulai!” demikian Cui Tin-san menanggapi.
Segera kedua tangan Ci In-hong mengepal didepan dada dengan sedikit diangkat sebagai tanda
penghormatan, lalu ia mengadakan serangan pembukaan dengan menolak kepalan kedepan.
Gerak tangan Ci In-hong ternyat lamban tak bertenaga. Para penonton sama berkerut kening.
Sebagai jago pihak Long-sia-san, jika kepandaiannya Cuma begitu saja bukankah akan membikin
malu pihak yang diwakilinya?
Selagi semua orang menilai rendah pemuda baju kuning ini, sementara itu Cui Tin-san sudah
mengadu pukulan satu kali dengan lawan. Kedua telapak tangan kebentur, tanpa suara dan tiada
bunyi, sama sekali berbeda daripada pertandingan Cui Tin-san melawan Tang Khay-san tadi.
Setelah adu pukulan itu, air muka Cui Tin-san tampak menunjuk rasa ke-heran2an.
Kiranya gerak pukulan Ci In-hong itu tampaknya pelahan tapi tenaga raksasa pukulan Cui Tin-san
ternyata tidak mampu membikin lawannya bergoyah sedikitpun. Begitu kedua tangan kebentur,
segera suatu arus tenaga yang lunak memunahkan tenaga raksasa Cui Tin-san itu. Gambaran ini
sama seperti sepotong batu besar dilempar kedalam air.
Keruan Cui Tin-san ter-heran2, sungguh tidak nyana pemuda cakap ini memiliki kepandaian yang
begitu tinggi. Mau tak mau ia harus ber-hati2 bila tidak ingin terjungkal ditangan seorang pemuda
yang tak terkenal. Segera Ia melangkah maju dengan tipu “Gwa-hou-ting-san” (naik harimau
mendaki gunung), tenaga dikerahkan hampir penuh, ber-turut2 ia menyerang tiga kali dengan
dahsyat.
Namun Ci In-hong tetap mematahkan pukulan lawan dengan cara yang lunak, tertampak tubuhnya
bergerak enteng dengan gaya yang indah. Pukulan2 Cui Tin-san yang dahsyat itu ternyata takbisa
meng-apa2kan lawannya.
Baru sekarang para ksatria ikut terkejut juga. Beng Bing-sia cukup berpengalaman karena sejak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
kecil telah berkelana ikut jejak ayahnya. Dengan suara perlahan ia berkata kepada To hong:
‘Caranya itu adalah pukulan bertenaga dalam yang paling tinggi. Selamat To cici sungguh aku tidak
tahu bahwa ditempatmu ini ada seorang kosen begini.”
Bagi Cui Tin-san sejak namanya tersohor belum pernah ketemukan tandingan sehebat ini, maka ia
menjadi bersemangat, makin lama makin dahsyat pukulannya, angin menderu dengan hebat terbawa
oleh setiap pukulannya, 64 gerakan Kon-kong-ciang telah dimainkan dengan lengkap dan hebat.
Pertarungan sengit ini membikin para penonton ikut ber-debar2. Meski To Hong telah mengetahui
Ci In-hong adalah seorang Lwekeh (ahli lwekang) , diam2 diapun merasa kuatir kalau2 pada
akhirnya pemuda ini dikalahkan juga oleh tenaga pukulan raksasaa Cui Tin-san yang dahsyat itu.
Orang tiak tahu bahwa tampaknya saja hampir seluruh serangan yang dilakukan oleh Cui Tin-san,
sebaliknya Ci In-hong hanya menangkis dan memunahkan daya serangan lawan, hanya terkadang
balas menyerang satu-dua kali saja. Tapi bagi Cui Tin-san sendiri sebenarnya sudah merasakan
daya tekanan setiap jurus serangan lawan itu. Maka akhirnya bukan Ci In-hong yang payah,
sebaliknya Cui Tin-san mulai mandi keringat dan mengeluh dalam hati.
Tanpa terasa 64 gerakan pukulan Kim-kong-ciang telah diulangi Cui Tin-san sampai dua kali.
Ditengah pertarungan sengit itu, se-konyong2 Ci In-hong berkelit dan menubruk kedalam lingkaran
pukulan Cui Tin-san, berbareng tangan kanan memegang dan tangankiri menarik, seketika Cui Tinsan
tidak mampu berdiri tegak dan melompat kesamping beberapa meter jauhnya dengan tubuh berputar2
beberapa kali.
Setelah berhasil dengan jurusnya Ci In-hong juga segera melompat kepinggir dan sama2 berputar
beberapa kali.
“Benar2 tandingan yang sama tangguh, babak ini kembali seri lagi!” seru Li Su-lam.
Padahal ia cukup paham bahwa Ci In-hong juga sengaja mengalah kepada Cui Tin-san. Tadi Cui
Tin-san mengalah kepada Tang Khay-san dan sekarang Ci In-hong melakukan hal yang sama.
Jilid 07 bagian kedua
Cui Tin-san menghela napas katanya: “Gelombang laut memang selalu dari belakang mendorong
kedepan, tunas baru selalu pula melebihi yang lama. Ci-heng selamanya aku berbangga Kim-kongciangku
tidak pernah ketemu tandingan, tapi sekarang mau tak mau aku harus menyerah padamu.”
Semua orang terperanjat mendengar Cui Tin-san sendiri mengaku kalah. Maka ramailah para
hadirin saling mencari tahu asal usul Ci In-hong itu. Tapi ternyata tiada seorang pun yan
mengenalnya.
Baru saja Cui Tin-san mengundurkan diri, dari pihak Tunih Ciu tiba2 tampil lagi seorang laki2
pertengahan umur berbaju putih. Deangan tersenyum dia berkata: “Ilmu pukulan Ci-heng sungguh
luar biasa. Aku menjadi ikut tertarik dan ingin belajar kenal pula.”
Orang ini adalah kawan baik Cui Tin-san, salah seorang tokoh undangan Tun-ih Ciu yang
diandalkan. Namanya Liu Tong-thian.
Liu Tong-thian lebih tenar daripada Cui Tin-san dan dikenal sebagai ahli pedang, ilmu pedangnya
Lian-goam-toat-beng-kiam-hoat (ilmu pedang pencabut nayawa) yang meliputi 72 gerakan secara
berantai itu sangat disegani orang Bu-lim, meski mungkin belum bisa dijajarkan dengan Beng Siaukang,
Kok Peng-yang dan pendekar2 pedang angkatan tua lainnya, tapi telah diakui oleh dunia
persilatan bahwa paling tidak dia sudah terhitung satu diantara kesepuluh pendekar pedang pada
jaman ini.
Seperti juga Cui Tin-san, karena melihat tujuan Tun-ih Ciu yang kurang baik, maka sebenarnya Liu
Tong-thian juga enggan membantu pihak Tun-ih Ciu. Tapi kemudian setelah menyaksikan Cui Tinsan
dikalahkan seorang pemuda yang tidak terkenal, timbul juga rasa ingin tahu Liu Tong-thian
untuk menjajal si pemuda berbareng untuk membela kehormatan kawan.
“Liuheng,” tiba2 Tang Khay-san membuka suara, “engkau adalah ahli pedang, tidakkah lebih baik
bila nanti Li-kongcu saja yang melayani kau?”
Tak terduga Liu Tong-thian lantas menjawab: “Sebutan sebagai ahli pedang, tidak berani kuterima.
Tapi kalau sebentar Li-kongcu sudi memberi pelajaran bolehlah nanti kulayani. Sekarang biarlah
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
lebih dulu aku belajar kenal ilmu pukulan dengan Ci-heng.”
Ternyata Liu Tong-thian siap melayani Ci In-hong dengan ilmu pukulan, hal ini sungguh diluar
dugaan siapapun. Padahal Liu Tong-thian terkenal karena ulmu pedangnya sebaliknya ilmu pukulan
Ci In-hong telah disaksikan kelihaiannya tadi.
Hanya Tun-ih Ciu saja yang kenal Liu Tong-thian tidak melulu ilmu pedangnya yang hebat, bahkan
ilmu pukulannya “Bian-ciang” juga sangat lihai, sekali pukul bisa membikin hancur batu, ilmu
pukulannya tidak dibawah Cui Tin-san. Soalnya dia terkenal sebagai ahli pedang sehingga ilmu
pukulannya jarang digunakan, maka orang Lok-lim jarang yang mengetahui kelihaian ilmu
pukulannya itu. Dari itu Tun-ih Ciu yakin dengan ilmu pukulan “bian-ciang” rasanya Liu Tongthian
sanggup mengalahkan lawannya.
Terdengar Ci In-hong lantas menjawab: “Sudah lama kukagumi ilmu pedang Liu-thocu yang sakti,
sungguh beruntung hari ini aku dapat bertemu tokoh yang termashur, maka kesempatan baik ini
harus kupakai untuk minta belajar beberapa jurus kepada Liu-thocu. Karena itu pula cayhe lebih
suka minta belajar ilmu pedang dari Liu-thocu.”
Kalau tadi semua orang heran karena Liu Tong-thian hendak bertanding ilmu pukulan dengan
lawan, adalah sekarang semua orang menjadi terperanjat pula karena Ci In-hong justru menantang
bertanding dengan ilmu pedang. Mereka heran apakah mungkin anak muda belia ini serba mahir
sehingga ilmu pedangnya juga sudah terlatih dengan baik? Betapapun juga, kegagahannya yang tak
gentar terhadap musuh sudah mengagumkan setiap orang.
Segere Ciok Bok menyela: “Ci-heng, apakah kau perlu menggunakan pedangku ini!”
‘Terima kasih, siaute sendiri membawa senjata,” jawab Ci In-hong. Sekali ia memutar tubuh dengan
cepat, tahu2 tangannya sudah memegang sebatang pedang.
Kiranya pedangnya itu sangat lemas dan biasa terpakai sebagai sabuk dipinggangnya, orang lain
memang tidak tahu kalau dia membawa senjata aneh demikian.
Sekali pandang segera Liu Tong-thian tahu pedang orang pasti pedang pusaka dan mengucap:
‘Silahkan”. Se-konyong2 terdengar suara gemerincing yang nyaring, ternyata dalam beberapa jurus
saja senjata kedua orang sudah berbenturan beberapa kali.
Ditengah sorak puji oran gbanyak, mendadak Liu Tong-thian meloncat keatas dengan menggunakan
tenaga mental pedang lawan, kemudian ia terus menikam ke bawah mengarah Hong-hu-hiat
dibelakang pundak Ci In-hong.
Tapi dengn cepat sekali Ci In-hong putar pedengnya kembali terdengar suara “trang”, Liu Tongthian
sudah turun kembali ke bawah, sebaliknya Ci In-hong sukar menahan tubuhnya sehingga
berputar satu kali.
Setelah bergebrak dua kali, kedua pihak sama2 periksa dulu senjata sendiri2. Liu Tong-thian merasa
lega melihat pedangnya tidak cacat sedikitpun. Tapi dalam hati tidak habis heran, ari aliran
manakah pemuda ini? Mengapa aku sama sekali tak bisa mengetahui dari gaya permainan
pedangnya?”
Pedang Ci In-hong juga tidak rusak, walaupun senjata kedua pihak sama2 tidak cedera apa2, namun
Ci In-hong jauh lebih terkejut daripada lawannya. Maklumlah bahwa kwalitas pedangnya lebih
bagus daripada pedang lawan, kalau kedua pihak sama2 tidak cacat, maka jelas ilmu pedang lawan
harus diakui lebih tinggi setingkat.
Biarpun terkejut, tapi Ci In-hong tidak patah semangat. Sebab ada suatu segi lain yang lebih
menguntungkan dia yakni Liu Tong-thian sudah terkenal sebagai pendekar pedang da ilmu
pedangnya juga sudah lama diketahui olehnya, sebaliknya ilmu pedang Ci In-hong sama sekali
belum dikenal oleh Liu Tong-thian.
Meski kedua pihak sama2 memandang pertandingan itu sebagai pertandingan persahabatan, tapi
bila pertarungan sudah memuncak, sudah tentu keduanya sama2 tidak mau mengalah. Ilmu pedang
Liu Tong-thian mengutamakan serangan dengan cepat. Begitu hebat serangan yang dilancarkan Liu
Tong-thian sehingga tampaknya setiap saat Ci In-hong dapat ditembus oleh pedangnya. Hanya
sekejap saja beberapa puluh jurus sudah berlangsung.
Anehnya ilmu pedang Ci In-hong ternyata jug atidak kurang hebatnya, hal ini benar2 diluar dugaan
siapapun. Seringkali tampaknya Ci In-hong pasti sukar menghindarkan sesuatu serangan Liu TongKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
thian, tapi entah cara bagaimana, pada saat terakhir selalau ia dapat mematahkan lawan sehingga
Liu Tong-thian dipaksa dari menyerang berbalik menjadi terserang. Padahal banyak juga ahli
pedang diantara para penonton, namun tiada seorangpun yang jelas gerak apa yang telah dilakukan
oleh Ci In-hong.
Kalau para penonton ter-heran2, ternyat Liu Tong-thian juga tidak kurang terkejutnya. Dia terhitung
seorang ahli pedang yang seba tahu, sebenarnya cukup beberapa jurus atau belasan jurus tentu asal
usul ilmu pedang lawan akan datang diketahuinya. Tapi kini sudah berlangsung berpuluh jurus dan
sedikitpun belum dapat meraba asal ilmu pedang lawan. Walaupun begitu Liu Tong-thian tidak
menjadi gentar, betapapun ia tetap pada pihak yang lebih banyak menyerang daripada diserang.
Tanpa terasa ratusan jurus sudah lewat, lama2 Liu Tong-thian menjadi tidak sabar, ia keluarkan
segenap kemahirannya sehingga setiap serangannya begitu hebat dan ganas. Diam2 Li Su-lam dan
lain2 sama kuatir bagi Ci In-hong.
Saat itu jidat Ci In-hong memang tampak mulai berkeringat, Cuma dia masih tetap tenang. Yang
satu menyerang dengan gencar, yang lain bertahan dengankuat. Terkadang bila serangan Liu Tongthian
sudah sedemikian lihainya, mendadak Ci In-hong melancarkan serangan balasan satu-dua kali
dan keadaan berubah menjadi sama kuat lagi.
Akhirnya Liu Tong-thian melakukan serangan berbahaya, sinar pedangnya menyamber laksana
kilat, satu jurus mengandung tujuh gerakan secara berantai. Sesaat itu suasana menjadi sunyi dan
tegang, semua orang ikut ber-debar2. Se-konyong2 dua larik sinar perak melayang keudara, dua
sosok bayangan juga cepat terpisah kepinggir, berbareng merekapun berseru; ‘Kiam-hoat hebat!”
Selang sejenak baru terdengar pula suara “trang-trang”, yang nyaring, dua batang pedang jatuh
bersama dan menancap kedalam bumi hampir sebatas gagang.
Berakhirnya pertandingan sengit itu secara demikian sudah tentu memikin senang dan lega hati para
penonton. Serentak bersoraklah orang banyak. Tang Khay-san dan lain2 tertawa dan berseru:
‘Keduanya sama2 hebat dan sama2 kuat, sungguh membikin orang sangat kagum!”
Karena pedang kedua orang sama2 terlepas, maka pertandingan itu memang pantas dianggap seri.
Maksud ucapan Tang Khay-san justru untuk menyatakan pendapat demikian. Tak terduga Tun-ih
Ciu lantas menanggapi: ‘Ah, belum tentu, lihat saja sebentar lagi!”
Sementara itu Ci In-hong dan Liu Tong-thian telah sama2 mencabut kembali pedang masing2. Air
muka Ci In-hong mendadak berubah, segera ia berseru: ‘Memang tidak salah ucapan Tun-ih Cecu,
pertandingan ini aku mengaku kalah.”
Kiranya pada pedang masing2 terdapat cedera kecil, sedikit gumpil. Namun pedang Ci In-hong
adalah pedang pusaka yang sangat tajam, sebaliknya senjata Liu Tong-thian Cuma pedang biasa
saja. Sekarang kedua pedang sama2 gumpil, ini menandakan tenaga Liu Tong-thian lebih unggul
setingkat.
“Ah, Ci-heng jangan merendah diri, dalam hal Kiam-hoat aku tidak dapat mengalahkan kau.” Kata
Liu Tong-thian dengan sejujurnya.
Hasil pertandingan ini sungguh diluar dugaan siapapun juga, siapapun tidak mengira seorang Ci Inhong
yang tak terkenal itu ternyata sanggup menandingi Liu Tong-thian yang tersohor itu dengan
seri, apalagi sebelumnya Ci In-hong sudah bertanding satu babak melawan Cui Tin-san.
Dengan suara pelahan Bing-sia berkata kepada Su-lam, “kalau Ci In-hong sebelumnya tidak
mengeluarkan tenaga bukan mustahil Liu tong-thian akan dikalahkan olehnya.”
“Jelas tenaga Liu Tong-thian lebih kuat, ilmu pedangnya jug atidak kalah bagusnya, kukira Ci Inhong
sukar untuk mengalahkan dia,” ujar Su-lam.
Pada saat itu tiba2 Liu Tong-thian menantang pula, serunya sambil menatap Li Su-lam:
“sebagaimana sudah kukatakan tadi, sekarang cayhe ingin belajar kenal ilmu pedang Li-kongcu
pula!”
Rupanya Liu Tong-thian pernah dengar cerita dari To hong tentang asal usul Li Su-lam, katanya
anak muda ini adalah murid kesayangan Kok Peng-yang, ahli waris Tat-mo-kiam-hoat dari Siaulim-
si, sebab itulah timbul rasa ingin menang pada diri Liu Tong-thian dan karena itu pula ia ingin
coba2 sampai dimana ilmu pedang itu yang kini dicalonkan sebagai bengcu oleh pihak Leng-siasan.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Karena tantangan itu, mau tak mau Li Su-lam harus turun ketengah kalangan. Calon bengcu maju
sendiri, sudah tentu pertandingan babak ini sangat menarik perhatian. Ilmu pedang Liu Tong-thian
sudah disaksikan tadi, sebaliknya sampai dimana kehebatan ilmu pedang Li Su-lam belum diketahui
orang banyak kecuali To hong dan Beng Bing-sia saja.
Sementara itu Li Su-lam sudah maju ke tengah sambil memegang pedangnya di depan dada, ia
memberi salam kepada Liu Tong-thian dan mengucapkan “silahkan”, lalu pasang kuda2 dengan
gaya biasa, sikapnya seenaknya saja.
Liu Tong-thian pikir anak muda ini harus diberi rasa lebih dulu. Segera iapun mengucapkan ‘maaf’
dan segera pedangnya menusuk secepat kilat kedada lawan.
Serangan ini tidak menurut cara umum, sebab biasanya pedang mengutamakan serangan dari
samping, tapi sekarang baru jurus pertama Liu Tong-thian sudah lantas menyerang dari depan, ini
jelas mengandung maksud menghina lawannya.
Kiranya Liu Tong-thian tidak sengaja menghina lawannya, tapi hal itu merupakan siasatnya saja.
Dia Cuma sengaja memancing kemarahan Li Su-lam. Sebagai seorang ahli ilmu silat ia cukup tahu
kunci kalah menang dalam suatu pertandingan, asal salah satu pihak timbul rasa tidak sabar dan
naik darah, maka akibatnya pasti akan merugikan diri sendiri.
Namun Li Su-lam ternyata tenang2 saja, dia tetap berdiri tegak, ketika ujung pedang lawan sudah
mendekati dadanya baru mendadak ia gerakkan pedangnya, dengan tipu ‘kim-peng-tian-ih’
(rajawali emas pentang sayap), pedangnya cepat menabas kesamping.
Gerak pedang Li Su-lam itu sangat cepat pada waktunya. Tergetar juga hati Liu Tong-thian. Cepat
ia tarik pedang dan ganti gerakan. Untung diapun cepat, kalau tidak, sebelah lengannya sama seperti
diangsurkan untuk dikutungi lawan.
“Bagus!” Su-lam memuji, menyusul iapun tarik kembali serangannya dan ganti gerakan,tapi tidak
ter-gesa2 untuk menyerang pula.
Sekali pancingannya tidak berhasil, diam2 Liu Tong-thian juga agum terhadap Li Su-lam. Terutama
ketenangan dan kesabaran Li Su-lam sungguh harus dipuji mengingat usianya masih begitu muda.
Setelah gebrak tadi, kedua pihak sama2 tidak berani gegabah lagi. Pertarungan mereka lanjutkan
dengan sama2 prihatin. Sesudah belasan jurus lagi, ternyata gerak serangan Li Su-lam masih tetap
sabar saja, tiada sesuatu yang istimewa, padahal dari mula semua orang ingin tahu sampai dimana
kehebatan ilmu pedangnya.
“mengapa tat-mo-kiam-hoat hanya begini saja?” kata Tang Khay-san kepada Bing-sia dengan suara
tertahan.
“Memang beginilah tat-mo-kiam-hoat yang asli,” sahut Bing-sia dengan tertawa. “Malahan aku
tidak menyangka Li Su-lam dapat memainkan ilmu pedangnya sebagus ini.”
“mengapa aku tidak melihat letak kehebatannya?” ujar Tang Khay-san dengan sangsi. “Coba
bandingkan, ilmu pedang Liu Tong-thian begitu cepat dan lincah, sebaliknya gerak gerik Li Su-lam
lamban dan berat tampaknya.”
“menurut ayahku, ilmu pedang harus mengalahkan kegesitan lawan dengan kesabaran, harus
menggunakan akal. Kalau melihat tingkat yang telah dicapai oleh Li Su-lam sedikitnya ilmu
pedangnya sudah berlatih 20 tahun, padahal usianya baru likuran saja, makanya aku bilang tidak
menyangka ilmu pedangnya bisa begini bagus,’ kata Bing-sia “Tapi silahkan ikuti saja
kelanjutannya.”
Sudah tentu Tang Khay-san kurang percaya, tapi sesudah sekian lamanya lagi, mau tak mau ia
harus percaya juga. Dilihatnya Li Su-lam mulai putar pedangnya secara wajar, sedikitpun tidak
pakai variasi atau kembangan. Namun betapapun juga Liu Tong-thian melancarkan serangan aneh
dan lihai,setiap kali selalu kena ditangkis oleh Li Su-lam.
Siam2 Liu Tong-thian terkejut juga, ia pikir kalau sampai lama tak bisa membobol pertahanan
lawan, akhirnya diri sendiri yang pasti akan ri=ugi. Segera ia ambil keputusan akan lekas
menyelesaikan itu dengan serangan kilat. Serentak 72 gerakan Lian-goan-toat-beng-kiam-hoat
dilancarkan secara membadai, sinar pedang gemilapan sehingga membikin silau para penonton.
Tampaknya saja Liu Tong-thian yang memegang kunci serangan, tapi dalam pandangan kaum ahli,
terlihat Li Su-lam sudah berada dipihak yang unggul. Maksud Liu Tong-thian melancarkan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
serangan kilat adalah ingin memaksa Li Su-lam mengikuti gerak cepatnya sehingga akan kelihatan
lubang kelemahannya. Tak terduga Li Su-lam tetap menghadapi dengan tenang dan sabar,serangan
demi serangan Liu Tong-thian telah dipunahkan. Jadi sama sekali Liu Tong-thian tidak dapat
menemukan titik kelemahan Li Su-lam. Sebaliknya ia menjadi banyak keluarkan tenaga percuma
dan mulai tampak payah.
Begitu makin lama makin cepat serangan Liu Tong-thian, sebaliknya makin lama makin lambat
pula gerakan Li Su-lam, ujung pedangnya seperti diganduli benda berat gerak geriknya sangat
lamban. Tapi sungguh aneh, berbalik Liu Tong-thian yang sudah mandi keringat, airmukanya
tampak masam. Sebaliknya Li Su-lam masih seenaknya saja tanpa kelihatan gugup sedikitpun.
Sampai disini barulah Bing-sia benar2 merasa yakin dan lega, katanya kepada Tang Khay-san
dengan suara tertahan: “Liu Tong-thian terburu2 ingin menang, tapi jadinya malahan akan membuat
kalah lebih cepat.”
Benar juga, segera terlihat Liu Tong-thian melompat keatas, ia mengeluarkan jurus serangan
berbahaya dari kanan kiri. Tampaknya Li Su-lam sudah terkurung dibawah sinar pedangnya dan
segera tubuhnya akan tertembus pedang lawan.
Ditengah jerit kuatir orang banyak terlihat Li Su-lam sedikit mendak kebawah, menyusul terus
melompay kesamping, tahu2 kopiahnya telah jatuh ketanah. Keruan orang2 pihak Tun-ih Ciu
kegirangan dan bersorak gemuruh: ‘Menanglah Liu-thocu akhirnya!”
Tapi ditengah pekik seru aneh orang2 itu terselip pula terial nyaring seorang: ‘Ah,akhirnya Likongcu
yang menang!” ~ Kiranya suaranya Beng Bing-sia adanya.
Mendengar ucapan bing-sia itu barulah Liu Tong-thian sempat memeriksa keadaan sendiri, ternyata
memang betul apa yang dikatakan itu. Sektika wajahnya menjadi merah.
Kiranya baju di bagian dadanya jelas ada tiga lubang sebesar mata uang. Tak perlu ditanyakan lagi
tentu lubang itu adalah hasil kerja Li Su-lam.
Dengan tersenyum kemudian Li Su-lam berkata dengan tersenyum: ‘siaute kurang hati2 sehingga
membikin rusak baju Liu-siansing, harap sudi memaafkan.” ~ waktu ia membuka sebelah
tangannya,terlihat tiga cuil robekan kain bulat kecil.Walaupun Liu Tong-thian juga berhasil
emnjatuhkan topi Li Su-lam, tapi hal demikian lebih mudah daripada melubangi baju lawan di
bagian dada,bahkan lubang2 itu tiga buah dan sama besarnya.
Selain itu Li Su-lam telah berhasil menghindarkan dari serangan Liu Tong-thian tadi, meski kurang
sempurna cara mengelaknya, tapi lawan juga Cuma mampu mengenai kopiahnya saja dan tiak dapat
melukai badannya. Sebaliknya tusukan Li Su-lam itu boleh dikata berlainan sama sekali,
hakekatnya Liu Tong-thian tidak tahu bajunya berlubang, jadi kalau Li Su-lam mau mencelakai dia,
cukup tusukannya disorong lebih maju tentu dadanya sudah berlubang tiga. Sebab itulah kalau
dinilai, bukan saja Liu Tong-thian sudah kalah satu jurus, bahkan jiwanya sebenarnya telah
diampuni oleh Li Su-lam.
Liu Tong-thian menjadi malu dan berterima kasih, dengan menghela napas ia berkata: “Benar2
diatas langit masih ada langit, orang pandai masih ada yang lebih pandai. Li-heng, ilmu pedangmu
jauh lebih tinggi dariku, pertandingan ini siaute terima mengaku kalah.”
Lalu ia simpan kembali pedangnya dan mendekati Cui Tin-san, katanya dengan tersenyum getir:
“Cui-heng, kaupun sudah balas kebaikan Tun-ih cecu, marilah kita berangkat saja,” lalu ia berpaling
dan berkata pada Tun-ih Ciu: “Tun-ih cecu, kami berdua sama2 maju dua babak bagimu, untung
tidak sampai rugi. Maka kami ingin mohon diri saja sekarang.”
Sebagaimana diketahui dalam pertandingan2 tadi Cui Tin-san telah mengalahan Tang Khay-san dan
kalah terhadap Ci In-gong, sedang Liu Tong-thian mengalahkan Ci In-hong dan dikalahkan oleh Li
Su-lam. Jadi menang satu kalah satu, makanya mereka menyatakan tidak sampai bikin rugi kepada
Tun-ih Ciu.
Rupanya Tun-ih Ciu juga tahu kedua orang itu tak mungkin berjuang mati2an baginya, setelah basa
basi sekadarnya, iapun tidak menahan lebih jauh. Bersama Ciu Tin-hay yang patah tulang itu,
segera Cui Tin-san bertiga berangkat pergi.
Setelah mengalahkan Liu Tong-thian, be-ramai2 para ksatria lantas mengucapkan selamat kepda Li
Su-lam. Namun bagi Li Su-lam sendiri kemenangannya tadi sebenarnya diperoleh dengn cukup
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
tegang, makanya juga tidak memuaskan baginya.Melihat suasana senang pihak lawan, Tun-ih Ciu
menjengek: “Hm, belum apa2 sudah mengadakan perayaan kemenangan, apakah tidak ter-buru2
sedikit?” ~ Segera ia bermaksud maju sendiri untuk menantang Li Su-lam, tapi To Liong ternyat
sudah mendahului maju.
Akan tetapi To Liong tidak menantang Li Su-lam, yang ditantang adalah Beng Bing-sia.
Menurut perhitungan To Liong, betapapun dirinya harus bertanding satu babak, bukan melawan
Beng Bing-sia tentu juga melawan Li Su-lam. Tapi secara diam2 ia telah minta pendapat Tun-ih Ciu
atas ilmu pedang Beng Bing-sia, maka dia yakin sekalipun sukar mengalahkan nona itu, rasanya
dirinya juga sukar dikalahkan. Maka ia pikir daripada menantang Li Su-lam ada lebih
menguntungkan menantang Beng Bing-sia saja.
Melihat To Liong tampil kemuka, seketika Li Su-lam naik darah dan segera melangkah maju.
“Li-kongcu,” kata To Liong dengan tertawa, “kau baru saja bertanding, lebih baik mengaso dulu
saja sebentar. Nona Beng, kau sudah istirahat, biarlah aku minta pelajaran padamu saja.”
“Baik,” sambut Bing-sia sambil maju ketengah kalangan.
Tapi sebelum dia minta Su-lam mundur, tiba2 Su-lam malah mencegahnya dan berkata: ‘Menurut
peraturan bertanding aku masih boleh bertanding satu babak lagi. Nah To Liong, bila kau mampu
mengalahkan aku barulah nanti minta pelajaran kepada Nona Beng. Sudah tentu lain soalnya bila
kau jeri terhadapku.”
Biasanya Li Su-lam sangat sopan dan ramah tamah tutur katanya, tapi sekarang dia sampai bicara
dengan kasar terhadap To Liong, hal inisangat mengherankan para ksatria yang tidak mengetahui
adanya perselisihan mereka.
Bing-sia sendiri menyangka Nyo Wan sudah meninggal dantidak mengetahui peristiwa To Liong
mendustai dan menipu Nyo Wan. Maka iapun ter-heran2 dan ragu2 mengapa Li Su-lam begitu
marah dan sedemikian bencinya terhadap To Liong.
“Baiklah, babak ini kuberikan padamu pula, Cuma ……. Cuma hendaknya kau jangan
membinasakan dia mengingat adiknya ,nona Hong,” kata Bing-sia kemudian dengan suara tertahan.
Li su-lam hanya mendengus pelahan saja tanpa menjawab karen asaat itu pikirannya menjadi kacau,
walaupun ucapan Bing-sia itu pelahan, tapi cukup jelas didengar oleh To Liong.
Dalam keadaan demikian , sekalipun To Liong merasa jeri kepada Su-lam, mau tak mau ucapan
Bing-sia itu menimbulkan rasa marahnya juga. Segera iapun beteriak: ‘Baiklah Li Su-lam, jika kau
mampu bolehlah ambil jiwaku ini!”
“Kenapa ribut!” sela Tun-ih Ciu seperti tidak sabar.
“kalau mau berhantam mati2an boleh dimulai, mengapa naik pitam segala?” ~ Ucapannya seperti
memarahi To Liong, tapi sebenarnya mengingatkan sesuatu kepada To Liong.
Seketika To Liong tersadar, pikirnya: ‘Memang betul, menghadapi musuh tangguh se kali2 tidak
boleh naik darah. Orang she Li ini barusan sudah bertanding dan tentu banyak buang
tenaga,sekarang dia marah2 padaku, hal ini kbetulan malah bagiku. Maka aku harus menghadapi dia
dengan sabar.”
Karena itu To Liong sengaja melirik hina kepada Li Su-lam dan berkata: ‘baiklah, mengingat tadi
kau bertanding, biarlah aku memberi kesempatan kepadamu untuk menyerang lebih dulu.”
‘tidak perlu kau memberi kesempatan segala!” sahut Beng Bing-sia dengan gusar.
Belum lenyap suaranya,se-konyong2 pedang To Liong sudah menyambar tiba, berbareng itupun To
Liong berseru: ‘Baik, akupun tidak perlu sungkan2 lagi kalau begitu!”
Melihat kelicikan To Liong itu, padahal saat itu Beng Bing-sia bahkan belum sempat melolos
senjatanya. Keruan banyak diantara ksatria itu sma mencemoohkan To Liong dengan gusar.
Maka terdengarlah suara ‘trang’, sambil menggeser kesamping, berbareng Beng Bing-sia melolos
pedang dan menangkis serangan lawan. Beberapa gerakan itu dilakukan sekaligus dengan cepat
sekali. Kalau semula para penonton sama mencaci atas kelicikan To Liong itu, sebaliknya sekarang
mereka bersorak bagi Beng Bing-sia.
Namun kepandaian To Liong tidak lemah juga, menyusul kembali ia melancarkan serangan berantai
tiga kali secara ganas.
Beng Bing-sia menjadi murka, kalau kau ingin mengadu jiwa, terpaksa aku tidak perduli lagi.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Begitulah kedua pihak sama2 timbul hasrat membinasakan lawan, tipu serangan masing2 semakin
lama semakin lihai.
Dahulu Beng Bing-sia sudah pernah bergebrak dengan To Liong dan yakin akan cukup mampu
untuk mengalahkannya, sebab itulah dia menjadi rada memandang enteng lawannya itu. Tak
terduga meski pbelasan jurus sudah lalu, sedikitpun Beng Bing-sia tidak lebih unggul, berbalik
beberapa kali ia harus menghadapi serangan maut lawan.
Harus diketahui bahwa ayah To Liong , yaitu To Pek-seng adalah seorang tokoh persilatan dengan
bakat yang tinggi, boleh dikata serba bisa menggunakan macam2 senjata. Meski To Liong belum
memperoleh seluruh kemahiran sang ayah, namun sedikitnya juga telah mendapatkan beberapa
bagian kepandaian orang tua, lebih2 ilmu silat ciptaan To Pek-seng sendiri yang terkenal ganas
sudah tentu telah dilatihnya dengan baik, sebab itulah kalau cuma ilmu pedang saja kepandaian To
Liong boleh dikata tidak dibawah Liu Tong-thian. Namun begitu Li Su-lam masih dapat
mengalahkan dia. Soalnya Su-lam sudah dibikin marah dulu oleh To Liong, padahal pertandingan
antara jago silat paling pantang naikdarah. Apalagi semula iapun rada pandang enteng lawannya,
karena itu begitu mulai bergerak ia menjadi pihak yang tercecer malah.
Syukurlah Li Su-lam memang seorang ahli silat tunas muda yang hebat, sesudah menghadapi
serangan maut beberapa kali, segera ia sadar akan kekeliruannya. Cepat ia tenangkan pikiran dan
ganti siasat bertempur. Dibawah serangan To Liong yang gencar itu ia main mundur beberapa kali,
dengan demikian setiap serangan To Liong dapat dipatahkan dan segera dapat menyerang pula.
Diam2 To Liong terkesiap melihat lawan yang tenang dan ccekatan itu, lamban laun ia sendiri
berbalik dipihak terserang dan hany amampu menangkis saja. Sedankan Li Su-lam tidak memberi
kesempatan lagi kepada To liong untuk balas menyerang. Sinar pedangnya ber-gulung2, dalam
sekejap saj aseluruh tubuh To Liong sudah terbungkus ditengah sinar pedangnya.
To Liong mengeluh dan menyadari bila keadaan demikian berlangsung terus, akhirnya dirinya akan
mati konyol dibawah lawan. Mendadak ia mendapat akal, dengan mengerut kening ia menjengek:
‘Hm, sekalipun kau bunuh diriku, juga nona Nyo belum tentu mau menikah dengan kau!”
“kau mengoceh apa?” dmaprat Li Su-lam dengan gusar.
“Hm, dia sudah datang lebih dulu, bukankah kau bersekongkol dengan adik perempuanku dan telah
mengurungnya secara diam2,” kata To Liong. “Hendaklah mengetahui Li Su-lam, nona Nyo sudah
menjadi istriku,jangan kau coba menggangunya atau kau harus tebus dosamu jika terjadi apa2 atas
diri istriku tercinta itu.”
Sambil berkata pedang To Liong tidak menjadi kendor dan terdengar suara mendesing beradunya
kedua pedang, karena iu suara bicaranya menjadi tidak terdengar oleh orang lain, hanya tampak
bibirnya bergerak, tapi tak jelas apa yang dikatakan, sebaliknya sikap Li Su-lam tambah lama
tambah gusar.
Li Su-lam tidak ingin mengungkat namanya Nyo Wan, hanya dengan gemas ia menjawab: “biar
apapun yang kau ocehkan, yang pasti hari ini takkan kuampuni jiwamu!”
Biar begitu katanya, namun pikirannya menjadi kacau juga oleh godaan ucapan To Liong tadi. Ia
ragu2 apakah benar Nyo wan telah datang juga. Lalu bagaimana pikirannya jika Nyo Wan
menyaksikan pertarungan nya melawan suaminya sekarang ini?
Bagi To lionh sendiri memang dia menyanskan Nyo Wan sudah berada di Long-sia-san, tujuannya
pulang kesini juga karena ingin menemukan NyoWan. Kini melihat sikap Li Su-lam itu , tahulah
dia bahwa Su-lam belum lagi berjumpa dengan Nyo Wan, maka legalah hatinya.
Karena kusutnya pikiran, serangan2 Li Su-lam menjadi rada kacau pula, kesempatam ini segera
digunakan oleh To Liong untuk membalas menyerang. “Bret”, tiba2 ujung pedangnya telah
merobekkan lengan baju Li Su-lam.
Sekalipun serangan ini tidak sampai melukai Li Su-lam, tapi sudah terhitung menang satu jurus bagi
To Liong. Serentak orang2 dipihak Tun-ih Ciu sama bersorak memberi semangat kepada To Liong.
Namun sorak puji lawan itu berbalik membuat pikiran Su-lam menjadi tenang kembali pikirannya:
“Aku takkan membunuh dia, tapi takkan pula kubiarkan diamembunuh diriku.”
Setelah tenangkan pikiran, segera pedangnya berputar kencang, ia melancarkan serangan hebat pula
sehingga keadaan terserang diputar balik lagi. Seketika orang2 yang bersorak memuji To Liong tadi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
menjadi bungkam.”Sudah waktunya sekarang!” pikir Li Su-lam. Segera ia menyerang lebih gencar
secara membadai. Jangankan tak mampu balas menyerang, bahkan untuk menagkispun To Liong
sudah mulai repot.
Dengan penuh perhatian To hong mengikuti pertarungan sengit itu dengan hati yang ber-debar2.
Sudah tentu ia berharap kemenangan diperoleh Li Su-lam, akan tetapi ia hanya mempunyai seorang
kakak, sekalipun tingkah laku sang kakak tidak baik, namun rasa kasih antara kakak beradk sedikit
banyak tentuny ada pula. Kini To Liong telah terkurung ditengah sinar pedang Li Su-lam, serangan
Su-lam juga tambah ganas, tampaknya setiap saat jiwa To Liong bisa melayang. Diam2 To Hong
menjadi kuatir, bagi dirinya tidak menjadi soal andaikan jiwa sang kakak akhirnya melayang, yang
pasti tidak tahan pukulan peristiwa demikian adalah ibunya.
Belum habis pikir, tiba2 seorang pelayan kecil mendekati To hong dan membisiki sesuatu kepada
To Hong. Kiranya sejak ayahnya meninggal, ibu To Hong terus jatuh sakit, sebab itulah dia tidak
keluar sendiri dan hanya suruh pelayan memberitahu kepada To Hong agar jangan bertengkar
dengan kakak sendiri dan To Liong disuruh masuk menemui sang ibu. Ibunya kuatir terjadi
perkelahian antara kakak beradik itu, tak tahunya kini yang sedang bertempur dengan To Liong
adalah orang luar.
To Hong menjadi tambah tidak tenteram memikirkan pesan ibunya itu. Persoalan hari ini tidak
melulu urusan keluarga saja,tapi adalah pertarungan antara Cing-pau dan Sia-pay, perebutan bengcu
antara dua golongan , kalau dirinya lebih mementingkan urusan pribadi tentu akan ditertawai oleh
para ksatria.
Di sebelah sana Li Su-lam juga sudah mengetahui datangnya pelayan cilik yang telah membisiki To
Hong, iapun dapat menduga apa artinya itu. Saat itu To Liong sudah terancam dibawah lingkaran
sinar pedangnya. Seketika pikirannya bergolak, kelakuan lawannya terkenal jahat, telah merampas
pula bakal istrinya, apakah orang demikian harus dibunuh atau diampuni? Tapi ia menjadi ragu2
pula, kalau dibunuh, itu berarti hidup Nyo Wan juga akan menjadi korban. Dan mungkin nona Beng
dan nona To juga takkan memaafkan diriku, demikian pikirnya.
Karena itu, akhirnya Su-lam tidak tega membunuh To Liong, mendadak ia membentak:
“Enyahlah!” ~ berbareng pedangnya menyampuk kebawah, ‘trang’, pedang To Liong dihantam
jatuh, menyusul sebelah kakinya lantas melayang, To Liong ditendang hingga terguling.
Tak terduga, kalau Su-lam mau mengampuni To Liong, sebaliknya To Liong ternyata tidak mau
tahu. Setelah terguling, segera iapun menyiapkan Tok-liong-piau, sebelum dia berbangkit, tiga buah
Tok-liong-piau sekalgus lantas disambitkan.
Pertandingan sudah berakhir dengan jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah, bahkan Li Sulam
sengaja mengampuni jiwa To Liong, siapapun tidak menyangka mendadak To Liong bisa
lakukan perbuatan keji itu, membalas air susu dengan air tuba.
Keruan To Hong dan Bing-sia terkejut, berbareng mereka memburu maju. ToHong bermaksud
mengatasi kakaknya, sedang Bing-sia ingin melindungi Su-lam dari hujan Tok-liong-piau. Namun
sudah terlambat. Tiga buah Kim-ci-piau (senjata rahasia mata uang) yang disambitkan Bing-sia
ternyata meleset membentur Tok-liong-piau, sebaliknya ketia buah Tok-liong-piau secepat kilat
telah menyamber tiba dan tampaknya akan menancap semua ditubuh Su-lam.
Pada saat berbahaya itu, se-konyong2 Su-lam melompat keatas terus berjumpalitan satu kali.
Terdengar suara “cring”, sebuah Tok-liong-piau telah jatuh ditanah, menyusul “cring” pula satu
kali, Tok-liong-piau kedua tahu2 menyamber balik ke arah To Liong, sedangkan Tok-liong-piau
ketiga telah menyamber lewat disisi pundak Li Su-lam dan menancap batang pohon di belakangnya.
Kiranya dalam sekejap itu Li Su-lam telah menggunaan tiga gerakan yang indah untuk menghindari
ketiga buah Tok-liong-piau yang menyamber dari atas tengah bawah. Lebih dulu ia depak jatuh
Tok-liong-piau bagian bawah, ketika meloncat keatas pedangya menghantam kuat Tok-liong-piau
bagian tengah sehingga mencelat balik kesana. Tok-liong-piau ketiga menyamber lewat tubuhnya
karena dia sempat berjumpalitan diatas. Mula2 para penonton menjerit kuatir, segera mereka
bersorak memuji ketangkasan Su-lam.
Namun ditengah tampik sorak ramai itu, tiba2 terdengar To Liong menjerit ngeri. Kiranya telah
terjadi senjata makan tuannya, Tok-liong-piau yang disampuk balik oleh Li Su-lam telah menancap
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
di bahunya.
Jeritan To Liong itu benar2 ngeri dan menggetar sukma. Sebab semua orang tahu racun Tok-liongpiau
itu sangat lihai, begitu masuk darah segera korban akan mampus. To Liong harus terima akibat
perbuatannya sendiri, semua orang sama merasa senang, tapi juga saling pandang dengan terkesiap.
Seketika suasana menjadi sunyi senyap, semua orang sama menantikan apa yang akan terjadi
selanjutnya.
Meski To Liong juga membekal obat pemunah racun, tapi begitu kena Tok-liong-piau, dalam
sekejap saja badannya lantas kaku dan gatal, tenaga sedikitpun tak ada, mana sanggup dia merogoh
obat pemunah didalam kantong.
“Kau …… kau …….. bukan …….. bukan manusia, kau ……..” demikian sebenarnya To Hong
hendak mendamprat habis2an sang kakak, tapi demi melihat keadaan To Liong itu, ia tidak tega
menyaksikan to Liong mati konyol oleh Tok-liong-piau sendiri. Maka ia urung memaki lebih lanjut
dan cepat memburu maju mendekati sang kakak, ia menotok tiga tempat Hiat-to disekeliling luka
agar racun Tok-liong-piau tidak merembes dan menyerah jantungnya. Habis itu ia lantas
mengeluarkan obat pemunah dari saku kakaknya serta diminumkan padanya, kemudian Tok-liongpiau
dicabut dan dibubuhi obat pula tempat luka itu. To Hong cukup paham cara mengobati luka
piau beracun itu, maka jiwa To Liong dapatlah diselamatkan.
“Aku tidak sengaja, tapi terpaksa melukainya,” ujar Su-lam dengan menyesal.
“Aku tahu, bukan salahmu,” sahut To Hong.
Mendadak To Liong bangkit berduduk dan menjengek dengan melotot: “Hm, kalian tidak perlu
main sandiwara di hadapanku!”
Sedih an gemas pula To Hong, katanya: “Koko, sudah begini kau masih tidak insaf akan dosamu?”
Akan tetapi To Liong malah mendelik, jelas rasa benci dan dendamnya kepada Li Su-lam tidak
menjadi berkurang, Cuma dia sudah lemas sehingga tak bicara lagi. Ia menggape pelayan kecil tadi
dan berseru dengan lemah: “Jun-lan, kem …..kemari sini, papak aku ke dalam!”
“kau mau apa?” tanya To Hong tercengang.
“Rumahku sendiri masakah aku tidak boleh masuk?” jengek To Liong sekuat tenaga.
Setelah makan obat pemunah racun, memang To Liong perlu dirawat lagi dan perlu suatu tempat
istirahat yang baik. To Hong tidak sampai hati, katanya kepada pelayan kecil tadi: “Jun-lan,
bawalah dia keruang belakang, sementara jangan beritahukan ibu, nanti aku akan mengurusnya
sendiri.”
Begitulah setelah terjadi kegaduhan sebentar, ketika To Hong kembali ketempatnya tadi, Li Su-lam
dang Bing-sia juga akan mundur kepinggir, ternyata jago utama lawan yaitu Tun-ih Ciu sendir
sudah maju ketengah kalangan.
“Hm, bertanding silat sudah tentu sukar terhindar akan mati atau terluka, kenapa kalian mesti
ribut2?” jengek Tun-ih Ciu. “Nah, sekarang paling perlu urusan pokok harus diselesaikan. Siapa
yang akan maju untuk coba2 dengan diriku?”
Kalau bicara kepandaian berkelahi satu lwan satu maka dipihak To Hong rasanya tiada seorangpun
yang mampu menandingi Tun-ih Ciu. Diam2 To Hong membatin: “Kalau ayah masih hidup, tidak
sampai seratus jurus tentu dapat mengalahkan dia. Tapi sekarang siapa yang dapat diajukan untuk
menandingi dia?”
Para ksatria menjadi kuncup dan bungkam. Tak terduga mendadak Li Su-lam kembali masuk
kalangan dan berseru: “Tun-ih cecu, biar aku terima tantanganmu!” Apa kau sanggup? Kau sudah
bertarung dua babak tadi,” koar Tun-ih Ciu tak acuh.
“Benar,” jawab Su-lam. “Tapi aku, aku rela melepaskan istirahat dulu, kan boleh toh?” Tun-ih Ciu
hanya mendengus saja dan tidak menyatakan pendapatnya lagi. Sebaliknya para ksatria lantas
berteriak: “Tidak adil kalau begitu! Tidak adil.”
Sebenarnya majunya Li Su-lam itu tentu saja kebetulan bagi Tun-ih Ciu. Tapi demi mendengar
teriakan orang banyak itu, untuk menjaga kehormatan diri sendiri, terpaksa sengaja bersikap tidak
sudi, ia mengerut kening dan berkata: “Biarpun kau maju dengan sukarela, tapi aku tak sudi
menarik keuntungan darimu.”
“Baiklah, biar aku saja yang minta pelajaran kepada Tun-ih cecu,” tiba2 Bing-sia menyela.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Bicara tentang angkatan, jelas Bing-sia lebih muda satu tingkat,selain itu Bing-sia tadi juga sudah
bertanding satu babak. Bila Tun-ih cecu menolak bertanding denganLi Su-lam dengan sendirinya
iapun tidak lantas menerima tantangan Bing-sia. Tapi baik Su-lam maupun Bing-sia tidak mau
mengundurkan diri, sama2 ingin menempur Tun-ih Ciu.
Tiba2 hati Tun-ih Ciu tergerak, katanya kemudian: ‘Baiklah, kalian boleh maju saj aberdua. Dengan
demikian menjadi adil bukan?”
Menurut perhitungannya, Li Su-lam sudah bertempur sengit dua babak, tenaganya tentu sudah
lemah, ilmu peangny ayang hebat itupun dapat dipatahkannya, sedangkan Bing-sia lebih12 tak
dipandang sebelah mata olehnya.
Usukl Tun-ih Ciu itu sebenarnya tak diterima oleh Li Su-lam, tapi Bing-sia sudah lantas berkata:
“Baik, engkau adalah angkatan tua, kalau kami berdua melawan kau sendirian belum terhitung
menarik keuntungan darimu. Baiklah kami terima tantanganmu!”
Karena Bing-sia sudah setuju, terpaksa Su-lam menuruti. Mereka berdua lantas berdiri berjajar,
pedang masing2 sudah dilolos. “Tun-ih cecu, silahkan keluarkan senjatamu!” kata Su-lam.
“Hahahaha!” tiba2 Tun-ih Ciu bergelak tertawa. “To Pek-seng sudah mati, bagiku kedua gaetan
yang selamanya mendampingi aku menjadi tidak berguna lagi. Maka kedatanganku hari ini tidak
membawa apa2?”
Dibalik kata2nya itu hendak artikan kalau To Pek-seng belum mati, maka senjatanya masih dapat
digunakan untuk melawan teman tua itu. Tapi sekarang dia tidak perlu ;agi menggunakan senjata
untuk melayani kaum muda.
“Baik, jika kau hendak melayani kami dengan bertangan kosong jug aboleh!” sahut Bing-sia.
Karena soalnya mengenai perebutan kedudukan bengcu bagi Li Su-lam, maka Bing-sia pikir takkan
kehilangan gengsi melawan orang bertangan kosong dengan senjata mengingat su-lam dan dirinya
adalah kaum muda.
Tak terduga Tun-ih Ciu lantas menjawab dengan tertawa: ‘Sebenarnya bertangan kosong jug
aboleh, Cuma tampaknya aku menjadi kurang hormat terhadap ayahmu. Begini saja, aku akan
sembarangan menggunakan sesuatu benda sebagai senjata.”
“Ciok-seheng, harap suruh mengeluarkan ke-18 macam senjata agar Tun-ih Cecu memilih sendiri
senjata yang akan dipakai,” ujar To Hong.
“Tidak perlu,’ kata Tun-ih Ciu. “Seorang pemain silat, setiap benda yang dipegangnya adalah
senjata.”
“Baiklah, nah peganglah benda yang kau hendak pegang, tidak perlu omong kosong!” Tang Khaysan
menjengek dengan aseran.
Tun-ih Ciu tertawa, katanya: “Nona To, aku ingin pinjam sebentar genta besar markasmu ini!”
Di tengah ruang latihan silat itu tergantung sebuah genta tembaga besr, bila ada urusan penting,
genta itu dibunyikan sebagai tanda berkumpul.
Setelah bicara tadi, tanpa menunggu jawaban To Hong segera Tun-ih Ciu ayun tangannya dan
mendadak genta raksasa itu jatuh kebawah, keruan orang2 yang berada didekat situ sama
menyingkir ketakutan.
Kiranya dengan sebuah mata uang Tun-ih Ciu menyambit dan memutuskan tali penggantung genta.
Berbareng Tun-ih Ciu terus menubruk maju, kedua tangannya menjulur dan genta itu kenapa
dipegang olehnya.
Padahal mata uang yang disambitkan itu bukan senjata rahasia “Kim-ci-piau” yang tepinya diasah
hingga tajam, tapi toh dapat memotong putus tali yang cukup besar itu. Tenaga dalam ini saja sudah
cukup mengejutkan. Apalagi genta itu beratnya ada beberapa ratus kati, ketika jatuh kebawah, untuk
menangkapnya sedikitnya orang harus punya kekuatn beribu kati. Dalam sekejap saja Tun-ih Ciu
sudah memperlihatkan dua macam kepandaian yang mengejutkan itu, sekalipun orang tidak suka
kepada pribadinya, mau tak mau banyak juga yang bersorak memuji.
Nah, dengan benda berat inilah aku akan main2 dengan kalian,” kata Tun-ih Ciu kemudian.
“hayolah mulai! Li-kongcu, asalkan kalian dapat mengalahkan aku, maka jabatan bengcu ini boleh
kau duduki.”
Sudah tentu Li Su-lam tidak manda diejek, tapi menghadapi musuh tangguh iapun tidak berani
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
gegabah, segera ia pasang kuda2 dan membuka serangan. Ia pikir genta besar ini sukar ditembus
dari depan, sebaikny amenyerang dari samping. Segera pedang berputar kebawah dan ujung pedang
menusuk “Hong-ji-hiat” di dengkul Tun-ih Ciu. Beng bing-sia juga punya pikiran sama, segera ia
bekerja sama dengan Su-lam, secepat kilat pedangnya menusuk “Ih-gi-hiat” di pinggang lawan.
Tak terduga Tun-ih Ciu ternyata sangat tangkas, biarpun memegangi genta yang berat toh gerak
geriknya tetap sangat gesit. Sambil pegang genta ia terus berputar, maka terdengarlah suara “trangtrang”
dua kali, serangan dari kedua sayap telah kena ditangkis semua. Li Su-lam tidak merasa
apa2, tapi genggaman tangan Bing-sia sudah terasa kesemutan, hampir2 pedang terlepas dari
cekalan.
Menyusul itu dengan cepat luar biasa Tun-ih Ciu lantas mendorong gentanya ke arah Li Su-lam,
cepat Su-lam berkelit, dengan ilmu pedangnya yang lincah ia menghadapi lawan yang bertenaga
besar itu.
Serangan2 cepat terjadi pula, terdengar serentetan suara nyaring tersntuhnya genta oleh ujung
pedang, ternyata semua serangan Su-lam dan Bing-sia kena dihalau oleh genta besar.
Melihat serangan2 selalu gagal, segera Su-lam dan Bing-sia ganti tipu serangannya, seringkali
menyerang sungguhpun kadang2 hanya pancingan belaka, mereka tidak membentur genta lawan
lagi, tapi mencari lubang kelemahan musuh.
Meski tenaga Tun-ih Ciu sangat besar, tapi genta yang digunakannya itu betapapun terlalu besar
sehingga kurang leluasa dimainkan sebagai senjata sebangsa pedang atau golok. Karena itu dia
memang dapat berjaga dengan rapat tapi untuk balas menyerang menjadi kurang bebas.
Pertandingan ini benar2 lain daripada yang lain. Di tengah pertarungan sengit itu tiba2 Tun-ih Ciu
menolak gentanya ke tubuh Bing-sia, namun ginkang sinona ternyata hebat sekali biarpun tenaga
lemah, terdengar suara angin mendesir, Bing-sia melompat keatas, kakinya menutul bagian atas
genta, tubuhnya terus melayang lewat diatas kepala Tun-ih Ciu laksana burung terbang.
Sebelum Bing-sia mencapkan kaki kebawah, ujung pedang sudah lantas menusuk “Tay-cu-hiat” di
punggung mush. Saat itu Tun-ih Ciu sedang menahan tusukan pedang Li Su-lam dari depan, tapi
mendadak sebelah tangannya meraup kebelakang, dengan ilmu tangan kosong merebut senjata ia
hendak merampas pedang Bing-sia, begitu cepat dan tepat se-akan2 di punggungnya jug atumbuh
mata. Namun Bing-sia juga cukup gesit, tusukan pedanga meleset segera ia menghindar kesamping
,lalu melancarkan serangan pula.
Karena sebelah tangan Tun-ih Ciu terpaksa harus dipisahkan untuk melayani serangan Bing-sia dari
arah belakang, dengan sendirinya kekuatan gentanya banyak berkurang. Sebaliknya dengan
menyerang dari muka dan belakang, posisi pertarungan itu seketika berubah, belasan jurus
kemudian Tun-ih Ciu sudah repot melayani, beberapa kali hampir2 ia termakan oleh pedang li Sulam.
Diam2 Tun-ih Ciu mengeluh: ‘Mereka bertempur dengan cara main putar, sedangkan genta yang
kupakai ini cukup berat, lama kelamaan bila sedikit lengah saja tentu akan memberi kesempatan
pada mereka untuk menyerang.
Karena pikiran demikian, segera ia ganti cara bertempur. Waktu itu Li Su-lam masih coba2
menyerang dari depan. Se-konyong2 Tun-ih Ciu menggertak, genta teru sdilemparkan ke depan,
mulut genta yang menganga itu terus memangkup keatas kepala Li Su-lam.
Su-lam terkejut, untung dia keburu melompat minggir pada detik terakhir. Dalam pada itu Bing-sia
juga telah menusuk punggung Tun-ih Ciu. Namun Tun-ih Ciu sudah keburu melompat kedepan,
gentanya didorong pula sebelum genta itu jatuh ke tanah, seketika genta itu berganti arah dan
menyamber ke jurusan Bing-sia.
Dengan ginkang yang tinggi Bing-sia meloncat keatas sehingga genta itu melayang lewat bawah
kakinya, namun ujung pedangnya tidak urung menggeser genta itu sehingga tangannya tergetar
sakit, waktu turun kembali kebawah langkahnya juga rada sempoyongan.
Sementara itu dengan cepat luar biasa Tun-ih Ciu telah memukul gentanya dengan kepalan
sehingga genta itu kembali menyamber ke arah Li Su-lam. Dan baru saja Li Su-lam sempat
meloncat untuk menghindar, tahu2 Tun-ih Ciu memburu maju lagi, genta digosok pelahan terus
ditolak lagi kedepan, untuk kedua kalinya genta itu melayang kearah Bing-sia.
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Waktu itu Bing-sia baru saja berdir tegak, napas masih memburu dan tahu2 genta sudah menyamber
tiba pula, terpaksa ia harus menghindar lagi. Tapi tenaganya sudah lemah, lompatannya kurang
jauh, sedangkan genta musuh kedengaran sudah menyusul sampai dibelakangnya. Diam2 ia
mengeluh jiwanya pasti akan melayang. Pada saat berbahaya itulah tiba2 ia merasa tubuhnya
menjadi enteng dan mumbul keatas. Kiranya Ii Su-lam keburu melompat tiba dan menariknya
meloncat kesana dengan ginkang yang tinggi.
Pada detik yang berbahaya itu, para penonton ada yang menjerit kuatir bagi keselamatan Bing-sia.
Ditengah jerit kuatir itu samar2 Su-lam mendengar suara seorang perempuan yang seperti sudah
dikenalnya. Tergetar hati Su-lam tapi dalam saat genting itu iapun tidak sempat memikirkan suara
siapakah gerangannya.
To hong juga berkeringat dingin menyaksikan keadaan Su-lam dan Bing-sia yang terdesak itu, ia
bermaksud menyuruh kedua kawannya itu mengakhiri pertandingan itu saja dan mengundurkan diri.
Tapi kalau mereka menyerah kalah, meski jiwa selamat, namun kedudukan bengcu terang akan
amblas dan jatuh ketangan Tun-ih Ciu.
Sedang ragu2, To Hong melihat keadaan ditengah kalangan sudah mulai berubah. Semula Su-lam
dan Bing-sia memang rada repot diuber oleh genta musuh, tapi lama2 mereka menjadi tenang dan
bisa saling membantu, mereka terus berlari mengitar kalangan untuk mengelak. Sebaliknya Tun-ih
Ciu harus menggunakan tenaga untuk menggeser dan menolak gentanya yang berat itu. Sebab itulah
keadaan sekarang menjadi adu kekuatan bertahan, bila Tun-ih Ciu kehabisan tenaga dan
menghentikan melayangnya genta, hal ini berarti memberi kesempatan bagi Li Su-lam berdua untuk
melancarkan serangan balasan.
Rupanya Tun-ih Ciu menjadi gopoh juga sehingga kehilangan sabar, satu kali Ia menolak terlalu
keras sehingga genta melayang dengan cepat kedepan, untuk menyusulnya sudah rada kasip.
Kesempatan ini tidak di-sia2kan Li Su-lam, cepat ia menyusup lewat amping genta dan secepat kilat
sudah menerjang ke hadapan Tun-ih Ciu, pedangnya terus menusuk.
Lantaran ketinggalan oleh melayangnya genta yang lebih cepat itu, sekarang Tun-ih Ciu jadi
berhadapan dengan Li Su-lam dan terpaksa melawannya dengan tangan kosong.
Dalam pada itu genta yang kehilangan kemudi itu sudah melayang keluar kalangan, para penonton
sama menyingkir dengan ketakutan. Tapi ada beberapa orang yang kurang cepat menghindar,
tampaknya mereka pasti akan hancur tertimpa oleh jatuhnya genta itu.
Justru ditengah jerit kaget dan kuatir orang banyak itulah, tiba2 sesosok bayangan melayang datang
secepat burung terbang. Ketika semua orang mengetahui apa yang terjadi, terdengarlah suara ‘trang’
yang keras, genta itu telah jatuh di tanah dan diatas genta berduduk seorang dengan ongkang2.
“He, Beng-tayhiap!” seru orang banyak berbareng.
Kiranya oran ini adalah Beng Siau-kang, ayah Bing-sia. Kedatangannya tepat pada saat genta
raksasa itu melayang keluar kalangan, segera ia meloncat ke atas, dengan cara membikin berat
tubuhnya ia tekan mentah2 genta itu sehingga jatuh kebawah sebelum melayang jauh kesana.
Sementara itu Bing-sia sedang menerjang kearah Tun-ih Ciu, ia menjadi kegirangan melihat
kedatangan sang ayah sehingga rada merandek di tempatnya. Dengan sendirinya Li Su-lam
sendirian menjadi kewalahan melawan Tun-ih Ciu, sekali tersentil, kontan pedangnya ,encelat dari
cekalannya.
Bing-sia tersentak kaget, lekas2 ia tangkap pedang Su-lam itu dan berlari maju untuk menahan
desakan Tun-ih Ciu sambil mengangsurkan kembali pedang kepada Li Su-lam.
“Tun-ih Ciu, kau sudah kehilangan senjata, apakah kau masih leluasa untuk bertempur lagi?” seru
Beng Siau-kang sambil maju ketengah kalangan dengan mengangkat genta besar.
“Apakah aku mesti dianggap kalah?” sahut Tun-ih Ciu dengan gusar.
“Baik, anggap saja kedua bocah itu yang kalah dan babak berikutnya biar aku yang main2 dengan
kau,’ ujar Beng Siau-kang.
Tun-ih Ciu terkejut. “Apa? Kau juga mau bertanding?” ia menegas.
“kalau kau sudah melarak anak perempuanku, memangnya aku hanya berkelakar saja dengan kau?”
sahut Beng Siau-kang.
“Baiklah, anggap pertandingan tadi seri saja,” kata Tun-ih Ciu. “Nah, beng-tayhiap, tentu kau tak
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
perlu marah lagi bukan?”
“Bukan maksudku berkelakar dan juga tidak marah padamu, pendek kata babak berikutnya aku
yang turun kalangan untuk bertanding dengan kau,” kata Siau-kang.
“Pertandingan ini dalam rangka perebutan bengcu, aku membantu pihak Li Su-lam, menurut
peraturan aku diperbolehkan bertanding dengan kau bukan?”
Menurut aturan pertandingan, setiap orang berhak bertanding dua babak bilamana babak pertama
mendapat kemenangan. Maka Tun-ih Ciu menjadi serba susah. Kalau dia anggap dirinya
mengalahkan kedua lawannya, mau tak mau ia harus terima tantangan Beng Siau-kang yang
merupakan tenaga baru dan terkenal dengan “pedang sakti” didunia kangouw. Dia hanya dapat
mengelakkan pertandingan dengan Beng Siau-kang jika dia menyerah kalah terhadap Li Su-lam dan
Bing-sia, sudah tentu dia tidak sudi mengaku kalah begitu saja.
Dalam keadaan serba sulit itu, tiada jalan lain terpaksa Tun-ih Ciu menjawab: “Baik, pertandingan
tadi boleh dianggap seri. Dan kalau Beng-tayhiap ingin mencoba diriku, babak berikutnya terpaksa
kulayani. Cuma aku tidak membawa kedua senjataku, kalau dikalahkan Beng-tayhiap rasanya
masih ada harganya.”
“Hm, kau tidak perlu kuatir, masakah orang she Beng dapat menarik keuntungan darimu bila kau
bertanding tanpa senjata?” ujar Siau-kang. “nah, ingin kutanya lebih dulu, senjata apa yang akan
kau pilih?”
Tiba2 Tun-ih Ciu mendekati genta dan berkata; “Aku akan teatp menggunakan benda berat ini
saja.”
Rupanya Tun-ih Ciu menyadari biarpun bersenjatakan sepasang gaetan yang biasa dia pakai juga
sukar melawan pedang sakti Beng Siau-kang yang lhai itu, maka ia pikir ada lebih baik
menggunakan genta besar itu saja, dengan demikian malah akan lebih menguntungkan baginya
dalam hal pemakaian senjata, hal ini terbukti dari pertandingan nya dengan Su-lam dan Bing-sia ,
genta itu ternyata lebih enak digunakan melayani kedua pedang Li Su-lam dan Bing-sia. Sudah
tentu Beng Siau-kang bukan Su-lam dan Bing-sia, akan tetapi ia Cuma sendirian dan taknbisa
mengerubutnya dari muka dan belakang, untuk melayani tentu akan lebih gampang. Sebab itulah
Tun-ih Ciu memutuskan tetap memakai genta itu sebagai senjata.
Bagi semua hadirin, termasuk Tun-ih Ciu sendiri, semuanya menganggap Beng Siau-kang pasti
akan menggunakan pedang sebagai senjata andalannya, lantaran itulah Tun-ih Ciu merasa tidak
perlu tanya senjata apa yang hendak digunakan lawan itu.
Tak terduga Beng Siau-kang lantas berkata: “Baiklah, jika kau menggunakan genta besar itu, maka
aku hanya bertangan kosong saja agar lebih menguntungkan kau dalam hal senjata. Tentu kau tidak
perlu banyak omong lagi.”
Ucapan Beng Siau-kang membuat semua orang terkejut. Sekali Tun-ih Ciu mendorong gentanya
berarti tenaga yang dikerahkan ribuan kati, hal ini masakah mampu ditangani dengan badan
manusia biasa.
Li Su-lam juga merasa heran dan sayang pula tak bisa menyaksikan ilmu pedang Beng siau-kang
yang terkenal itu.
“Nanti dulu!” tiba2 Beng Siau-kang berkata pula dengan tertawa: ‘Tadi kau sudah bertanding satu
babak, dalam hal tenaga rasanya tidak enak jika aku menarik keuntungan darimu. Boleh begini saja,
harap nona To menyulut sebatang hio (dupa) dan menancapkan diatas tanah hanya sepertiga bagian
batang hio itu.”
To Hong rada bingung atas permintaan itu, tapi iapun menuruti, ia suruh ambil sebatang hio dan
ditancapkan kedalam tanah sehingga tinggal sepertiga bagian yang masih kelihatan diatas tanah.
Lalu dengan pelahan Beng Siau-kang berkata pula: “Sekarang kita boleh mulai, bila api dupa itu
padam dan pertandingan kita belum berakhir, maka anggaplah kau yang menang.”
Padahal waktu menyala sepertiga bagian sebatang dupa itu kira2 sama dengan waktu pertandingan
bersenjata selama tiga puluhan jurus saja. Rupanya Beng Siau-kag sungkan menghitung jumlah
jurus pertandingan, maka memberi kelonggaran kepada Tun-ih Ciu.
Memangnya yang dikuatirkan Tun-ih Ciu adalah tenaga nya yang sudah banyak terbuang karena
pertandingan melawan Li Su-lam tadi, kini usul Beng Siau-kang itu tentu saja sangat kebetulan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
baginya. Tapi disamping girang iapun mendongkol pula, sebab dengan cara begitu menandakan
pula Beng Siau0kang sangat memandang enteng kepadanya dan yakin dalam waktu nyala api
sepertiga bagian batang hio itu pasti akan dapat mengalahkannya.
Dengan gusar akhirnya Tun-ih Ciu menjawab: ‘Baiklah, kau sendiri yang menghendaki, kalau kau
kalah jangan menyesalkan diriku!”
“Ya, asalkan api dupa padam dan kau masih sanggup melawan, maka aku akan mengaku kalah.
Nah, mulailah sekarang, tak perlu banyak omong!” kata Siau-kang dan minta To Hong menyalakan
api dupa.
Setelah diberi kelonggaran itu dengan sendirinya Tun-ih Ciu main ulur waktu lagi. Ia sudah ambil
keputusan akan melancarkan serangan2 lebih dulu, habis itu barulah akan bertahan sekuat mungkin.
Segera ia angkat genta besar itu dengan gaya “Thay-sn-ap-teng” (gunung raksasa menindih kepala),
segera ia mengepruk keatas kepala Beng Siau-kang.
Ternyata Beng Siau-kang tidak berkelit juga tidak menghindar, tubuhnya Cuma mendak sedikit,
telapak tangan kiri menabok genta, kepalan kanan menyusuk menghantam pula. Maka terdengarlah
suara “trang” yang keras memekak telinga. Beng Siau-kang tertampak tetap berdiri ditematnya
tanpa menggeser sedikitpun, sebaliknya Tun-ih Ciu tergetar mundur beberapa tindak malah.
Kiranya sekali tabok dan sekali hantam tadi, sekaligus Beng Siau-kang telah menggunakan tenaga
lunak dan tenaga keras berbareng. Tabokan tangan kiri telah emnyampingkan tenaga dorong yang
kuat dari lawan, habis itu kepalan menghantam sehingga lebih kuat daripada tenaga lawan, hal ini
berarti dua arus tenaga menyerang kembali kepada Tun-ih Ciu sendiri. Keruan Tun-ih Ciu tidak
tahan, masih boleh juga dia hanya mundur beberapa tindak saja dan tidak sampai terjungkal.
Setelah kecundang sekali, segera Tun-ih Ciu menggunakan posisi bertahan, genta selalu bertedeng
di depan dada dan tidak didorong lagi untuk menghantam musuh.
Seketika banyak orang menyoraki dan meng-olok2. Ada yang mengejek: ‘Huh, tidak tahu malu!
Apa ingin mengulur waktu?” ~ Ada yang menyindir: “Katanya mau rebut jabatan bengcu, tapi
kenapa main mengkeret seperti kura2, tahu malu tidak?”
Namun Tun-ih Ciu anggap tidak dengar atas ejek tawa orang2 itu.
“Tun-ih Loji, genta ini takkan bisa melindungi kau, sekalipun kau ingin menjadi kura2 yang
mengkeret juga tidk jadi,” ujar Beng Siau-kang dengan tertawa. Berbareng ia terus mendesak maju
“tang”, kembali kepalan menghantam diatas genta.
Tenag apukulan Beng siau-kang ini hanya menggunakan tenaga sendiri dari balik genta sehingga
Tun-ih Ciu masih sanggup bertahan, namun tangan yang memegang genta terasa sekali kaku pegal.
Sekali mulai menyerang, segera pukulan2 Beng siau-kang selanjutnya susul menyusul sebagai air
bah yang membanjir. Ya menghantam dengan kepalan, ya menabok dengan telapak tangan, dalam
sekejap saja ia sudah memukul tujuh kali dan menabok delapan kali, suara “trang-treng” berbunyi
ber-ulang2 memekak telinga.
Kalau orang yang menonton disamping dapat emnutupi kuping masing2 untuk menahan getaran
suara keras itu, sudah tentu Tun-ih Ciu tak dapat berbuat demikian, ia harus jinjing genta besar itu
sehingga anak telinganya se-akan2 bergetar pecah oleh suara nyaring itu.
Hanya sebentar saja Tun-ih Ciu sudah merasa napas memburu dan darah bergolak didalam rongga
dada, setiap kali pukulan Beng Siau-kang mengenai genta, setiap kali pula dadanya merasa seperti
dipalu dengan keras.
Diam2 Tun-ih Ciu mengeluh, sebelum kehabisan tenaga, cepat ia ganti siasat bertempur, sekuatnya
ia lempar genta kedepan.
Tadi ia telah menguber Li Su-lam dan Beng Bing-sia dengan genta yang dikemudikan berada diatas
angin. Sekarang dia tidak sanggup bertahan, terpaksa ia mengulangi caranya tadi, walaupun dia
harus lebih banyak mengeluarkan tenaga. Tapi sebagian batang dupa yang menyala itu kini sudah
tinggal sepotong kecil saja, menurut perhitungan Tun-ih Ciu, asalkan Beng Siau-kang tiga kali
menghindari timpukan genta saja tentu api dupa itu sudah padam, padahal Beng Siau-kang
menyatakan sendiri, bila api dupa padam, dia akan menyerah kalah.
Diluar dugaan Tun-ih Ciu, justru Beng Siau-kang menghendaki dia berbuat demikian. Ketika genta
dilemparkan kedepan, segera Beng Siau-kang bersuit panjang, bentaknya: “Bagus!” ~ Berbareng ia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
terus meloncat memapak genta yang menyamber tiba dari depan itu, ia keluarkan kemahirannya
cara mengalihkan tenaga serangan lawan, telapak tangannya menabok pelahan, seketika genta itu
berganti arah dn berbalik menyamber kejurusan Tun-ih Ciu, keruan Tun-ih Ciu kaget, cepat ia
menggeser kian kemari dalam bentuk zigzag, walaupun terhindar juga oleh timpaan genta, tapi
serba konyol jug atampaknya.
“Bagus, ini senjata makan tuan!” sorak Tang Khay-san.
Dengan tertawa Bing-sia juga berkata: “Anggapnya kaum cianpwe tapi si tua Tun-ih Ciu ini
ternyata harus meniru kepandaian kita, entah dia tahumalu atau tidak?”
Kiranya cara Tun-ih Ciu menghindarkan genta yang menyamber balik itu tepat sama seperti cara
Su-lam dan Bing-sia berlari tadi.
Maka Ii Su-lam jug aberkata dengan tertawa: “Sayang lawannya ialah ayahmu, biarpun dia meniru
cara kita juga sukar terhindar dari kekalahan!”
Walaupun begitu, dalam hati Su-lam merasa kuatir juga soalnya bukan kepandaian yang bertanding
, tapi adalah soal waktu, sepertiga bagian batang dupa yang disulut itu dalam waktu singkat akan
habis terbakar, kini sisanya hanya tinggal sedikit saja. Bila api dupa padam, itu berarti Beng Siaukang
harus dianggap kalah biarpun nanti Tun-ih Ciu roboh terhantam gentanya.
Dalam pada itu mendadak terdengar suara “tang” satu kali pula, kembali Beng Siau-kang
menghantam genta sehingga menyamber lebih epat kedepan. Pada saat kepepet, daya pikir Tun-ih
Ciu menjadi tambah cerdik pula, seluruh perhatiannya dicurahkan untuk meng-amat2i gerak gerik
Beng Siau-kang. Bila telapak tangan Beng Siau-kang menghantam arah kiri, segera ia mendahului
berkelit kesebelah kanan.
Tak tersangka cara Beng Siau-kang menggunakan tenaga pukulannya ternyata sukar diraba, ia
sengaja membiarkan lawan melihat gerak pukulannya untuk memancing nya masuk perangkap.
Suatu kali tampaknya dia menabok kearah kiri, tapi ketika kena genta, tenaga yang digunakan
adalah tenaga memelintir, tenaga efek. Maka terdengarlah “tang” satu kali, baru saja Tun-ih Ciu
berkelit kekanan, tahu2 genta juga ganti haluan dan menyamber kearahnya.
Keruan kejut Tun-ih Ciu tak terkatakan, hampir sukma meninggalkan raganya. Untuk berkelit
rasanya sudah kasep, terpaksa ia menjatuhkan diri kebawah sambil ber-guling2 kesamping.
Dengan cepat luar biasa Beng Siau-kang lantas memburu maju, kedua tangan memegang genta,
mulut genta yang menganga tepat mengancam diatas batok kepala Tun-ih Ciu, bentaknya:
‘Sekarang kau menyerah atau tidak?”
Dalam keadaan begitu, asalkan Beng Siau-kang menjatuhkan gentanya, seketika jiwa Tun-ih Ciu
pasti melayang. Tiada pilihan lain, terpaksa Tun-ih Ciu berseru: “Ampun Beng –tayhiap! Aku …….
Aku mengaku kalah!”
Beng Siau-kang bergelak tertawa sambil angkat gentanya lalu bertanya:”Nona To, api dupa padam
belum?”
“tepat sekali waktunya, api dupa masih merah membara!” sahut To Hong dengan tertawa.
Waktu Tun-ih Ciu merangkak bangun dan memandang api dupa, ternyata persis baru habis terbakar
dan masih ada sisa satu titik pucuk api yang belum padam. Diam2 Tun-ih Ciu gegetun dan merasa
sial, Cuma kalau sanggup bertahan sejenak lagi, betapapun Beng Siau-kang harus mengaku kalah
padanya.
Setelah menaruh gentanya, lalu Beng Siau-kang berkata: “Jika kau sudah mengaku kalah, bolehlah
kau pergi saja. Hendaknya untuk selanjutnya kau bisa perbaiki dirimu dan tidak berbuat kejahatan
lagi.”
Begundal Tun-ih Ciu ada belasan orang, kecuali Liu Tong-thian bertiga yang sudah pergi lebih
dulu, sisanya masih cukup banyak. Tapi begitu pertandingan berakhir, sebagian diantaranya
serentak mengerumuni Li Su-lam untuk memberi selamat padanya yang pasti akan menduduki
jabatan bengcu itu. Sebagian lagi merasa tertipu oleh Tun-ih Ciu yang diam2 bersekongkol dengan
Mongol, karena itu tiada seorangpun yang mau mendekatinya lagi.
Tentu saja Tun-ih Ciu kehilangan muka dan terpaksa mengeloyor pergi seorang diri.
Utusan pemerintah Song jug amaju menyampaikan selamat kepada Li Su-lam dengan permintaan
agar Su-lam dapat bekerja sama dengan pemerintah untuk melawan Mongol dan Kim. Akan tetapi
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
dengan sikap dingin Li Su-lam menyatakan pihaknya mempunyi pendirian dan cita2 perjuangan
sendiri dan tidak terikat dibawah perintah kerajaan Song. Lantaran tidak memperoleh kata sepakat,
terpaksa utusan Song juga mengeloyor pergi meninggalkan gunung.
Siapakah gerangan Ci In-hong dan dari mana asal-usulnya?
Kemana perginya Nyo Wan dan bagaimana pengalaman selanjutnya?
Jilid 08 bagian pertama
Setelah urusan penting selesai, semua orang sama2 gembira, Su-lam memberi hormat lagi kepada
Beng Siau-kang. Sebaliknya Beng Siau-kang meminta maaf karena salah pahamnya dulu terhadap
LI Su-lam.
Melihat betapa simpatiknya Beng Siau-kang terhadap Li Su-lam, para ksatria sama berpikir besar
kemungkinan Beng-tayhiap akan memungut mantu bengcu baru itu dan tampaknya Li-bengcu juga
setuju. Memang bengcu yang masih muda itu dengan nona Beng merupak pasangan yang sangat
setimpal. Demikian pikir mereka.
Ditengah suasana riang gembira itu ternyata ada seorang yang merasa cemas dan sedih, lalu diam2
meninggalkan Long-sia-san. Orang ini tak lain tak bukan ialah Nyo Wan. Ia sudah datang sejak tadi
Su-lam dan Bing-sia berdua menempur Tun-ih Ciu dengan sengit. Karena dia dalam penyamaran
sebagai prajurit biasa sehingga tiada seorangpun yang memperhatikan dia.
Waktu Li Su-lam menghadapi bahaya tadi pernah juga mendengar suara jeritan orang yang seperti
telah dikenalnya, hanya saja Su-lam tak pernah menyangka bahwa suara itu adalah suaranya NYo
Wan.
Kemudian ketika menyaksikan Su-lam dan Bing-sia lolos dari bahaya, ia menjadi girang dan kecut
pula rasanya. Akhirnya ia tambah pilu demi menyaksikan Su-lam, Bing-sia dan Beng Siau-kang
bertiga dikerumuni orang banyak dalam suasana gembira ria, sebaliknya diri sendiri hanya
menonton saja dari jauh, sungguh waktu itu air mata hampir2 menetes.
Namun ia telah teguhkan hatinya dan berkata pada diri sendiri: ‘Tidak, aku tidak boleh menangis
dan tak boleh diketahui olehnya. Nona Beng memang lebih sesuai baginya daripada diriku. Biarlah
dia anggap aku sudah mati saja, buat apa aku msti merintangi perjodohannya yang setimpal dan
bahagia itu?”
Begitulah diam2 Nyo Wan telah pergi dengan menahan air mata, kasihan sedikitpun Li Su-lam
tidak mengetahui hal itu. Yang dipikir oleh Li Su-lam pada waktu itu hanya memenuhi kewajiban
untuk melaksanakan cita2nya bagi kepentingan bangsa dan negara.
Pada saat itu pula ternyata ada seorang lagi yang merasa tidak tenteram. Orang ini adalah Ciok Bok.
Ia merasa serba susah melihat suasana gembira itu, melihat gelagatnya Beng Siau-kang bermaksud
menjodohkan putrinya kepada Li Su-lam, tampaknya To hong juga pasti akan mendukung maksud
ini karena berkawan baik dengan Bing-sia. Lantaran tidak tahu keadaan Nyo Wan, bisa jadi Su-lam
juga jatuh hati terhadap Bing-sia. Padahal Ciok Bok telah berjanji pada Nyo Wan untuk
menyampaikan keadaan nona itu kepada Li Su-lam. Kalau sekarang hal itu ciceritakan, jelas akan
merupakan suatu pukulan keras bagi Beng Siau-kang dan putrinya, mungkin To Hong juga akan
menyalahkan tindakannya. Sebaliknya kalau tidak dikemukakan, itu berarti dia tidak memenuhi
janjinya kepada Nyo Wan.
Begitulah Ciok Bok menjadi serba susah, apalagi saat itupun bukan waktunya untuk bicara urusan2
pribadi. Terpaksa ia mencari kesempatan lain untuk menyampaikan nasib Nyo Wan yang
sebenarnya kepada Li Su-lam.
Dalam pada itu To Hong telah memerintahkan diadakan perjamuan besar untuk merayakan
kemenangan mereka. Tiba2 Li Su-lam ingat satu orang. Ia coba memandng sekelilingnya dan
ternyata tidak nampak orang yang dicari. Cepat ia tanya: “Kemanakah perginya ksatria she Ci yang
mengalahkan Cui Tin-sn tadi itu?”
Maklumlah, kalau bicara tentang jasa, sudah tentu jasa Beng Siau-kang paling besar, begitu pula
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
jasa Li Su-lam sendiri, tapi jasa Ci In-hong juga tidak kecil. Tidak hanya mengalahkan Cui Tin-san
saja, bahkan dia telah menandingi Liu Tong-thian dengan sama kuat. Maka dalam perjamuan besar
sebagai tanda menghormati pahlawan2 yan gberjasa mana boleh kekurangan pahlawan seperti Ci
in-hong? Akan tetapu orangnya ternyata sudah menghilang.
Baru sekarang To hong ingat juga kepada Ci In-hong itu. Tadi ia mengira Ci in-hong tentu berada
diantara orang banyak pula, siapa tahu sudah menghilang malah. Cepat ia suruh anak buahnya
keluar mencari, tapi sampai sekian lamanya takdapat ditemukan.
Sementara itu pesta perayaan sudah siap, tempat duduk juga sudah diatur dengan baik. Tempat
duduk untuk Ci In-hong disediakan disebelah Li Su-lam, satu meja dengan Beng Siau-kang dan
Bing-sia serta To Hong, tapi yang bersangkutan tidak ada, terpaksa tempatnya dikosongkan.
“Sungguh sayang saudara Ci Tidak hadir sehingga pesta ini kurang semarak,” ujar Li Su-lam.
“Siapakah Ci in-hong yang kalian maksudkan itu,” tanya Beng Siau-kang.
Segera Bing-sia menerangkan apa yang telah terjadi dalam pertandingan antara Ci In-hong melawan
Cui Tin-san dan kemudian menempur Liu Tong-thian pula dengan sama kuat.
Beng siau-kang menjadi heran, ilmu pukulan Cui Tin-san dan ilmu pedang Liu Tong-thian terhitung
kepandaian yang menonjol didunia kangouw, tapi sekarang angkatan muda yang tak terkenal dapat
mengalahkan yang satu dan menandingi sama kuat dengan yang lain, sungguh luar biasa.
“Anehnya, mengapa akupun tidak tahu ada seorang angkatan muda sehebat itu,” ujar Beng Siaukang.
“kalian tidak kenal asal usulnya, apakah dari ilmu pedangnya juga tak dapat diraba?”
“Ilmu pedangnya tidak sama dengan aliran2 yang terdapat di Tionggoan sehingga sukar diketahui
asal usulnya, “ kata Bing-sia.
“Beng-tayhiap berpengalaman luas, mungkin dapat menerka asal-usul orang ini?” Su-lam ikut
bicara.
“Ilmu pedangnya tidak sama dengan aliran2 ilmu pedang Tionggoan, inilah luar biasa. Umurnya
kira2 berapa?” tanya Beng Siau-kang kemudian.
“Baru likuran,” jawab Su-lam.
‘O, masih begitu muda? Sukar bagiku untuk menerkanya,” kata Siau-kang. “Setahuku, memang ada
satu-dua tokoh persilatan yang mengasingkan diri dengan ilmu pedang yang hebat, tapi anak
muridnya mereka sedikitnya juga sudah setengah umur. Padahal ksatria muda she Ci ini baru
likuran, seumpama dia mendapat petunjuk dari guru sakti juga rasanya takkan mencapai tingkatan
sesempurna itu.”
“Sayang dia lantas menghilang, tapi lain hari tentu dapat menyelidiki asal-usulnya,” ujar To Hong.
“marilah sekarang kita minu mdulu satu cawan untuk keselamatan bersama.”
Suasana riang gembira meliputi pesta pora itu. Be-ramai2 para hadirin saling memberi hormat
dengan sama2 mengeringkan isi cawan masing2, ber ulang2 Beng bing-sia juga menyuguhkan arak
kepada li Su-lam. Dibawah pengaruh alkohol, Su-lam menjadi ngelamun dan samar2 bayangan
Bing-sia yang cantik itu se-akan2 berubah menjadi Nyo Wan.
Beng Siau-kang dan Bing-sia dapat melihat keadaan Li Su-lam yang ter-mangu2 itu, segera Beng
Siau-kang berkata: ‘mungkin kau sudah lelah, boleh pergi mengaso saja lebih dulu.”
Setelah Li Su-lam mengundurkan diri, tiba2 Ciok bok berkata padanya: ‘Biarlah kuantar kau
kembali kekamarmu, Li-heng!”
“Memangnya kau kuatir aku mabuk?” ujar Su-lam dengan tertawa. Tapi maksud baik Ciok Bok
itupun tak ditolaknya.
Sementara itu sudag menjelang tengah malam, sekeluarnya dari ruang perjamuan, Ciok Bok berkata
pula: “Apakah benar sekarang juga Li-heng sudah mengantuk dan ingin tidur? Malam ini sinar
bulan cukup terang, kalau aku tentu tidak mau tidur sedini ini. Bagaimana kalau kita omong2 dulu
sambil menikmati bunga bwe yang baru mekar dibelakangh gunung sana?”
“Jika Ciok-heng punya minat, tentu saja aku akan mengiringi kau,” sahut Su-lam. Tiba2 hatinya
tergerak pula,ia heran mengapa tanpa sebab mendadak Ciok bok mengajaknya omong2 dan
menikmati bunga bwe segala? Jangan2 dia ada urusan yang perlu dibicarakan padanya secara
berduaan.
Segera Su-lam mengikuti Ciok Bok menuju kehutan bwe, setiba disana , belum sempat pasang
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
omong, tiba2 tertampak dua penunggang kuda mendatang dari bawah gunung. Ciok bok heran
malam2 begitu ada orang naik keatas gunung.
Sesudah dekat, dikenalnya seorang diantaranya adalah thaubak yang ditugaskan menjaga rumah
makan dibawah gunung itu. Rumah makan itu adalah milik Long-sia-san yang dipimpin To hong
ini, tugasnya adalah mata2 dan juga mengantar tamu yang perlu menemui sang cecu. Seorang lagi
adalah laki2 kekar yang tak dikenal Ciok Bok.
Melihat Ciok Bok, Thaubak itu cepat berhenti dan memberi hormat seraya memberi lapor bahwa
kawannya itu adalah suruhan dari Hui-liong-san, katanya ada urusan penting yang harus
disampaikan cecu.
Ciok Bok merasa tidak enak untuk tanya lebih jelas karena urusan penting itu harus disampaikan
kepada To hong sendiri, maka segera iapun menyilahkan mereka naik keatas gunung.
Sesudah kedua orang pergi, suasanan disitu menjadi sunyi kembali. Dengan tertwa Su-lam berkata:
“Ciok-toako, mengapa malam ini kau menjadi iseng?”
“Terus terang aku ingin bicara sedikit dengan Li-heng,” kata Ciok bok. “Tentu Li-heng masih ingat
ketika kita bertemu di Mongol tempo hari, kau kan pernah tanya kabar beritanya nona Nyo
kepadaku?”
Seketika Li Su-lam menarik muka, katanya: “Sekarang aku tidak lagiingin tahu tentang dia.”
‘tapi sekarang aku justru mengetahui dia, apakah benar kau tidak ingin tahu?” tanya Ciok Bok.
Hati Su-lam menjadi pedih, ingin menyatakan tak mau mendengarkan, namun akhirnya ia menghela
napas dan menjwab:”Tak kau katakan juga aku sudah tahu. Ai, urusan yang menyedihkan buat apa
disebut pula?”
“kau tahu apa?” tanya Ciok Bok.
“Aku tahu dia masih hidup didunia ini, tapi aku tak mau bertemu lagi dengan dia.”
“Sebab apa?”
“Jangan kau paksa aku bicara, Ciok-toako,” pinta Su-lam. Ia pikir “bunga sudah dipersunting orang,
buat apa di-sebut2 pula.
Tiba Ciok Bok berkata dengan tertawa: “Li-heng, biarpun kau tidak menjelaskan jug aaku tahu apa
yang sedang kaupikirkan. Padahal semua pikiranmu itu keliru, Li-heng.”
Su-lam menjadi melengak, jawabnya: “darimana kau yakin pikiranku keliru?”
“Aku tahu tentu kau berpendapat “bunga sudah dipersunting orang’, padahal kau keliru sangka,
sama sekali keliru!”
Ucapan Ciok Bok ini membikin Su-lam melonjak kaget, serunya: “Ciok-toako, apakah kau ……
kau kau mengetahui sesuatu apa lagi?”
“Ya,aku tahu kau telah dibohongi oleh to liong, kau tertipu olehnya!” kata Ciok bok. “Meski To
liong adalah suhengku, tapi aku dapat mengatakan lasana sicebol hendak mencapai bulan jika dia
ingin mempersuntingkan nona Nyo.”
“jadi maksudmu ……… maksudmu adalah tidak benar nona Nyo telah menjadi istri To Liong?”
Su-lam menegas dengan ter-gagap2.
‘Ai,” Ciok Bok menghela napas. “Bukan Cuma sehari dua hari saja Li-heng berkumpul dengan
nona Nyo, mengapa kau masih tidak percaya padanya?”
Kejut dan girang pula hati Su-lam, tapi ia masih ragu2, katanya: ‘Tapi …… tapi dengan mata
kepala sendiri aku melihat hubungan mereka dan bukan Cuma berdasarkan ocehan To Liong
belaka.”
“Kau menyaksikan mereka berada bersama di suatu tempat?” tanya CiokBok.
Su-lam mengangguk, hatinya menjadi seperti di-sayat2 demi teringat apa yang dilihatnya tempo
hari itu.
“Benarkah kau melihat nona Nyo berada di kamar hotel kecil itu? Ah, kukira yang kau lihat adalah
To Liong bukan?” ujat CiokBok.
‘He, mengapa kaupun tahu kejadian itu?” Seru Su-lam sambil melonjak pula.
“Benar, aku memang tahui kejaidan itu, tidak saja To Liong, bahkan aku juga melihat nona Nyo
disana. Aku datang ke kota kecil itu satu hari lebih dulu daripada kau, sayang kita kehilangan
kesempatan buat berjumpa disana, kalau tidak tentu kau takkan salah paham terhadap nona Nyo.”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Sebenarnya bagaimana duduknya perkara? Ciok toako, lekas kau ceritakan padaku!” pinta Su-lam
sambil pegang kedua bahu Ciok Bok.
Diam2 Ciok Bok geli, tadi bilang tidak ingin tahu urusan diri Nyo Wan, sekarang berbalik ingin
lekas2 tahu secara tidak sabar. Iapun tidak ingin membikin gelisah pada Su-lam, maka dengan jelas
dituturkan apa yang dilihatnya tempo hari, tentang Nyo Wan diapusi oleh to Liong, untung dia
keburu menolongnya di kamar hotel itu, begitu pula apa yang didengarnya dari penuturan Nyo Wan
tentang kepalsuan To Liong juga diceritakan pula kepada Su-lam.
Habis mendengarkan, tak kepalang pedih dan gemas serta malu pula hati Li Su-lam. Ia pedih atas
nasib Nyo Wan dan gemasterhadap kelicikan To Liong yang kotor itu. Iapun malu terhada diri
sendiri yang tolol.
Dengan muka merah akhirnya ia berkata: ‘Ciok-toako, sungguh aku sendiripun takkan mengampuni
ketololanku sendiri ini. Sekarang aku hanya ingin mohon padamu, beritahukan padaku dimana nona
Nyo berada kini? Saat ini juga aku ingin pergi mencarinya untuk minta maaf barulah hatiku dapat
merasa tenteram.”
“Sekarang dia berada dimana, aku sendiripun tidak tahu,” jawab Ciok bok setelah merenung
sejenak. “Apalagi kini kau telah menjabat bengcu baru, mana boleh kau meninggalkan urusan maha
besar hanya untuk mencari nona Nyo saja?”
“Bukan maksudku hendak meninggalkan urusan yang lebih penting, aku Cuma ingin tahu jejaknya
agar dapat berusaha menemukan dia,” kata Su-lam. ‘Sama juga seperti diriku, iapun menanggung
sakit hati keluarha dan negara, bila dia berada disini tentu akan dpat ikut memberikan sumbangan
pikiran dan tenaganya. Ciok toako, kau tentu tahu jejaknya, dapatkah kau memberitahukan
padaku?”
“kau ingin minta maaf pada nona Nyo,kukira tidak perlu ter-buru2 pada waktu ini,” kata Ciok bok
dengan tertawa. “Asalkan dalam lubuk hatimu tetap terukir bayangannya, pada suatu hari kelak dia
pasti aka tahu juga isi hatimu dan dia sendiri tentu akan mencari padamu. Percayalah padaku,
lakukanlah menurut kata2ku ini, tentu tidak salah lagi.”
Dibalik kata2 Ciok bok itu se akan2 menyampaikan apa yang telah menjadi tekad Nyo Wan, Su-lam
menjadi ragu2 apa benar begitulah keinginan Nyo Wan.
Selagi ia hendak tanya lebih jelas, tiba2 datang seorang pelayan To hong memanggil Ciok Bok.
Dapat diduga tentu ada sangkut pautnya dengan kedatangan utusan Hui-liong-san tadi. Segera Ciok
bok berkata kepada Su-lam: ‘Li-heng, kau tentu sudah cukuo lelah, malam ini hendaklah kau
istirahat dan tidur senyenyaknya. Besok aku akan bicara lagi dengan kau.”
Karena To Hong tidak mengundang serta Li Su-lam, dengan sendirinya Ciok Bok tidak enak
mengajaknya pula ketempat perundingan.
“Silahkan saja, aku akan tinggal sebentar lagi disini,” kata Su-lam.
Setelah Ciok Bok berangkat, Su-lam mondar mandir sendiri dasitu dengan pikiran yang kusut.
Teringat kata To Liong siang tadi, ia pikir jangan2 Nyo Wan memang berada juga didalam sanceh
(markas bangunan gunung) situ. Kalau demikian mengapa adik Wan tidak menemui saja aku?
Apakah dia salah sangka aku telah mencintai orang lain?
Selagi melamun, tiba2 terdengar suara kresek, seorang jelita mendadak muncul dari semak2 sana.
Jantung Su-lam berdetak, waktu dia mengawasi, dengan tersenyum simpul nona itu sudah berdiri
dihadapannya. Su-lam rada kecewa, tanpa terasa ia berseru: “O, kiranya kau, Bing-sia!”
“Memangnya kau kira siapa?” sahut Bing-sia rada heran.
Wajah Su-lam menjadi merah, katanya dengan kikuk:”aku menyangka Ciok Bok telah kembali
lagi.”
“Mungkin dia harus banyak berundingan dengan To Hong,” kata Bing-sia, “Dia bilang kau berada
disini, setelah ebrtempur seharian ternyata kau masih punya minat untuk pesiar kesini?”
“Ciok Bok mengajak omong2, maka ku mengiringinya kesini,” sahut Su-lam. “Mengapa kaupun
belum tidur?”
“Akupun sedang omong2 dengan ayah,” kata Bing-sia. “Ayah sangat senang padamu, ber-ulang2
dia memuji kau, masih muda, cakap, tapi sudah menjadi pemimpin yang bertanggung jawab.”
“Ah, jangan terlalu menyanjung diriku,” ujar Su-lam dengan tertawa. “Bila ayahmu tidak keburu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
datang, tentu kedudukan bengcu sudah dipegang Tun-ih Ciu. O ya, entah ada urusan apakah dari
Hui-liong-san sehingga nona To Hong pelu ajak berunding dengan Ciok-toako?”
“Ya, Hui-liong-san memang ada urusan penting yang perlu minta bantuan To Hong,” kata Bing-sia.
“Cuma yang akan dirundingkan To hong dengan Ciok Bok tidak melulu urusan Hui-liong-san saja,
tapi masih ada urusan mengenai kakaknya. Ya, akupun ingin tanya padamu, ketika dia bertempur
dengan kau siang tadi agaknya dia sangat dendam kepadamu. Sungguh aku dan To Hong sangat
kuatir bagi kalian.”
“Benar, aku memang sangat benci padanya, tapi sekarang rasa benci itu sudh banyak berkurang.”
“Aeeh, mengapa begitu?” Bing-sia ter-heran2.
“Sebenarnya tiada permusuhan apa2 antara dia dan aku, aku hanya benci pribadinya yang buruk itu.
Tapi sekarang dia mau tinggal dirumah, mungkin dia sudah mulai menyesal atas perbuatannya,
maka rasa benciku padanya menjadi berkurang.” Sudah tentu ia tidak enak untuk membicarakan
soal Nyo Wan yang menjadikan bencinya kepada To Liong, terpaksa ia menerangkan secara
samar2.
Bing-sia menyangka yang dimaksudkan Su-lam adalah persekongkolan To Liong dengan Tun-ih
Ciu serta bermaksud takluk kepada pihak Mongol. Segera iapun berkata: “Penghianatan To Liong
itu sungguh harus dikutuk, tapi jangan kau kira dia akan menyesal secara begitu mudah. Bukan
mustahil berdiamnya dia disini justru mempunyai tipu muslihat tertentu, maka kita perlu waspada.
Betapapun jahatnya To Liong tetap kakaknya To Hong, maka apa yang akan dilakukannya tentu
akan membikin To Hong serba susah. Sebab itulah To Hong mencari Ciok Bok untuk berunding.’
“Utusan Hui-liong-san itu entah datang untuk urusan apa, dapatkah aku diberitahu?” tanya Su-lam.
“Sebagai bengcu, sudah seharusnya kau diberitahu, mungkin To Hong menyangka kau sudah tidur,
maka tidak ingin mengganggu ketentramanmu,” tutur Bing-sia. “Kau tentu tahu letak Hui-liong-san
itu berada diperbatasan antara propinsi2 Holam dan Siamsay, tempat strategis yang harus dilalui
tartar Mongol bila ingin menyerbu kedaerah Tionggoan.”
Su-lam terkejut, cepat ia tanya:”Apakah disana telah melihat gerak-gerik musuh?”
“Benar. Pertemuan di Liong-sia-san kali ini pihak Hui-liong-san tidak mengirim wakil, semulakita
mengira karena jauhnya perjalanan, tapi sekarang baru tahu bahwa mereka sedang mencurahkan
segenap tenaga untuk siap menghadapi serbuan pihak Mongol.”
“Waktu aku meninggalkan Sehe pasukan Mongol masih bercokol di Liong-soa-tui, masakah begitu
cepat kini sudah sampai di Hui-liong-san?” ujar Su-lam.
“Pasukan berkuda pihak Mongol terkenal karena gerak cepatnya yang sukar diduga, bahkan saat ini
mungkin pasukan pelopornya sudah memasuki wilayah Hui-liong-san.”
“Jika begitu kedatangan utusan Hui-liong-san itu adalah minta bantuan. Siapakah cecu mereka,
sungguh harus dipuji kepahlawanannya melawan musuh hanya dengan kekuatan suatu sanceh saja
sebagai Hui-liong-san yang kecil itu.”
“Cecu Hui-liong-san itu bernama Toh An-peng, didunia Lok-lim terkenal dengan ilmu pukulan
Bian-ciang, konon wataknya sangat keras, untuk memikatnya To Pek-seng perlu bertanding dengan
dia baru menaklukkannya. Biasanya ia tidak pandang pihak, apakah kalangan Pekto atau Hek-to tak
diperduli olehnya, maka iapun tidak tergolong kaum ksatria yang terpuji. Cuma sekali ini dia berani
angkat senjata melawan tartar Mongol, sungguh diluar dugaan dan patut dikagumi.”
“Perbuatan setiap orang memang harus dinilai dari segi kepentingan umum, kalau ada kesalahan
kecil tidaklah perlu diungkat. Cuma jarak Hui-liong-san dari sini rada jauh, bala bantuan yang akan
dikirim mungkin tidak keburu lagi.”
“Rupanya Toh-cecu juga telah memperhitungkan hal demikian, maka di samping minta bala
bantuan, dia minta dikirim dahulu beberapa jago yang punya pengaruh dan dapat diandalkan untuk
membantu dia memimpin pasukan, terutama jika terpaksa harus mengadakan perang secara terbuka.
Dia berharap To Hong sendiri dapat berangkat kesana, sebagai puteri mendiang Bengcu yang
dahulu tentu akan punya daya penarik terhadap rakyat jelata dan sisa sisa pasukan sukarela setempat
yang tercerai berai.”
“Kukira To Hong tidak dapat meninggalkan sancehnya,” ujar Su-lam.
“Memang benar. Dia justru kuatir kakaknya akan mengacau pada waktu dia tidak dirumah, bukan
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
mustahil pula Tun-ih Ciu juga akan menggunakan kesempatan itu untuk menyerbu tempat ini
dengan bersengkongkol dengan To Liong, bila terjadi demikian tentu akan sangat berbahaya.”
“Sebagai bengcu, bagiku tugas ini merupakan tanggung jawabku, biarlah kubicarakan dengan To
Hong, aku saja yang berangkat ke Hui-liong-san.”
“Ya, selaku bengcu sudah tentu kau ada hak buat menentukan siapa yang harus berangkat kesana.
Namun kukira akulah yang lebih tepat untuk minta izin padamu.”
“Minta izin apa?” tanya Su-lam heran.
“Izin ke Hui-liong-san,” sahut Bing-sia.
“Kau juga ingin pergi kesana?” Su-lam menegas. “Kukira kau lebih baik tinggal disini saja untuk
membantu nona To. Kupikir akan mengajak Song Thi-lun dan istrinya saja yang mengiringi aku,
menyusul Ciok Bok boleh berangkat pula dengan pasukan bala bantuan, dengan demikian kurasa
sudah cukup.”
“Bing-sia menjadi rada kurang senang sebab mengira Li Su-lam sengaja menjauhinya, namun
sebagai seorang wanita sejati, iapun tidak banyak bicara lagi, katanya kemudian: “Kukira kau perlu
pembantu yang dapat diandalkan, Song Thi-lun dan istrinya meski tidak lemah, tapi sukar
membantu kau jika ketemukan musuh setangguh Tun-ih Ciu. Bagaimana kalau aku minta ayah
mengiringi kau kesana?”
“Sudah tentu baik sekali jika Beng-locianpwe ikut pergi. Cuma disini juga perlu pembantu yang
kuat. Bila ayahmu disini tentu Tun-ih Ciu tidak berani sembarangan bergerak. Sungguh sayang Ci
In-hong menghilang begitu saja, kalau dia berada disini, sungguh cocok sekali dia kuminta menjadi
pembantuku. Tapi biar kita berunding saja dengan nona To.”
“Dugaan Bing-sia ternyata tidak salah, Li Su-lam memang sengaja menjauhi dia demi untuk
mencegah salah sangka, yaitu kuatir menimbulkan salah paham Nyo Wan.
Li Su-lam tidak tahu bahwa saat itu juga NYo Wan justru berada disekitar hutan bwe itu, yaitu
ditempat pos penjagaan yang terletak tidak jauh dari situ.
Waktu itu kebetulan Nyo Wan tidak dinas jaga, ia melihat Su-lam dan Ciok Bok menyusuri hutan
bwe tadi, ia ingin tahu apa yang hendak dibicarkan Ciok Bok pada Su-lam, maka diam2 iapun
mengintil dibelakang mereka. Namun dia tidak sempat mendengar percakapan mereka yang
menyangkut dirinya sebab pesuruh To Hong keburu datang memanggil Ciok bok. Yang
diketahuinya adalah Ciok Bok telah menepati janjinya tanpa membocorkan jejaknya. Setelah Ciok
Bok pergi, selagi dia ragu2 apakah mesti keluar menemui Li Su-lam atau tidak, saat itulah tiba2
Bing-sia muncul.
Begitulah, dari tempat sembunyinya NyoWan menyaksikan bayangan Li Su-lam dan Beng Bing-sia
yang semakin menjauh, hatinya menjadi pedih. Pikirnya: “Tampaknya Beng Bing-sia benar2 jatuh
hati kepada engkoh Lam, malahan dari ucapannya tadi agaknya Beng tayhiap juga penujui engkoh
Lam sebagai menantunya. Akan tetapi mengapa engkoh Lam menolak ikut sertakan Bing-sia ke
Hui-liong-san? Apakah lantaran diriku?”
Berpikir demikian, rada lega dan manis juga rasanya,wajahnya menampilkan senyuman. Tapi
senyuman manis itu hanya sekilas saja laksana bulan purnama yang tiba2 tertutup pula oleh awan
tebal. Pikirnya pula: ‘Biarpun engkoh Lam belum melupakan diriku, namun sedikitnya nona Beng
juga telah mengisi sebagian hatinya. Tampaknya nona Beng memang lebih setimpal dengan dia
daripada diriku. Aku sudah yatim piatu, paling2 hanya akan menjai beban bagi engkoh Lam.
Sebaliknya ayah nona Beng adalah seorang pendekar besar pada jaman ini, bila engkoh Lam
mengikat jodaoh dengan nona Beng akan berari punya sandaran yang kuat.”
Karena merasa dirinya dalam macam2 hal tidak dapat menandingi orang, tanpa terasa ia menjadi
putus asa. Dasar watak Nyo Wan memang selalu mengejar hal2 yang sempurna, yangmutlak, kalau
tidak sempurna lebih baik tidak. Dan begitulah perasaannya sekarang.
Ia tahu bila unjuk diri sekarangpasti Li Su-lam takkan mengingkari dia, betapapun Beng Bing-sia
sukar berlomba dengan dia. Akan tetapi dia tidak mau berbuat demikian, sebab ia merasa
hubungannya dengan Li Su-lam sudah ada retaknya, sudah ada cacatnya dan tidak sempurna lagi.
Pelahan2 ia keluar dari hutan bwe itu, sang dewi malam yang menghias ditengah cakrawala sudah
condong kebarat. Kembali terpikir pula olehnya: “Besok juga apakah dia pergi bersama Bing-sia
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
atau Beng-tayhiap yang pasti hubungan mereka entu akan tambah rapat lalu buat apa aku mesti
berpihak di tengah2 mereka?”
Tampaknya ia telah ambil keputusan yang tegas namun hatinya tetap sukar terlepas dari
memikirkan diri Li-Su-lam. Betapapun juga ia takdapat menyetop perasaannya terhadap pemuda
itu. Teringat olehnya besok juga Li Su-lam akan berangkat ke Hui-liong-san, se konyong2 ia seperti
tersentak dari lumunannya karena tiupan angin pegunungan yang diangin. Tiba2 ia merasa ada
sesuatu yang tidak beres.
Ia pikir kedatangan uusan Hui-liong-san itu adalah buat minta bala bantuan karena ada tanda2 pihak
musuh telah mulai bergerak. Ketika Beng Bing-sia memberitahukan hal itu kepada Li Su-lam,
pernah Li Su-lam menunjukkan rasa sangsinya atas gerakan musuh yang begitu cepan. Hanya saja
gerak cepat pasukan berkuda Mongol memang terkenal gesit di seluruh dunia, maka rasa sangsi Li
Su-lam itupun lantas lenyap.
Dan yang dirasakan rada tidak benar adalah soal ini, ia cpba mengikuti jalan pikirannya itu dan
diselami lebih mendalam, makin dipikir makin terasa kejanggalannya.
Bahwasanya Jengis Khan telah wafat di Liok-pan-san, Dulai diangkat sebagai “mangkubumi”.
Pasukan Mongol telah seluruhnya ditarik kembali ke Holin. Keempat putera pangeran dan para
perwira tinggi Mongol besera kepala2 kelompok suku akan mengadakan sedang besar di Holin
untuk memilih Khan baru. Hal2 ini belum diketahui Li Su-lam, tapi cukup diketahui oleh Nyo Wan
lantaran waktu itu dia berada bersama puteri Minghui.
Menurut perhitungan Nyo Wan, lantaran pertarungan di belakang layar antara para pangeran
Mongol seperti Ogotai, Cahatai dan lain2 untuk memegang kekuasaan tertinggi, sebelum
kedudukan Khan dietapkan, rasanya pihak Mongol tidak akan mengerahkan pasukannya. Dan untuk
itu diperkirakan akan makan waktu lebih setengan tahun, padahal dirinya baru tiga bulan berpisah
dengan Minghui muncul di daerah timur pada saat sekarang?
Berdasarkan perhitungan dan apa yang diketahuinya itu, Nyo Wan dapat memastikan bahwa apa
yang dilaporkan Toh-cecu dari Hui-liong-san itu tentu laporan palsu. Untuk apa dia menyampaikan
laporan bohong memang sukar diketahui yang jelas tentu dibalik itu ada suatu intrik keji. Kalau
sekarang Su-lam berangkat ke Hui-liong-san bukankah akan berarti measuk perangkap musuh?
Tapi ia menjadi serba susah pula. Muslihat musuh itu pantas harus dikemukakan kepada pimpinan,
tapi dia justru tidak ingin bertemu dengan Su-lam. Lalu bagaimana baiknya?
Akhirnya ia mendapat akal. Su-lam belum kenal tulisannya, dia akan menyampaikan secara tertulis
saja asalkan tulisannya dibikin tada kasar sehingga tidak terduga ditulis oleh kaum wanita.
Segera Nyo Wan kembali ke kamarnya untuk menulis surat, lalu ia menyusup ke tempat tinggal Li
Su-lam. Saat itu sudah lewat tengah malam, dengan leluasa dapatlah Nyo Wan mencapai tempat Sulam.
Baru saja ia hendak mencari jalan masuk ke kamarnya, tiba2 dilihatnya sesosok bayangan
muncul di atas wuwungan. Nyo Wan terkejut, cepat ia sembunyi di belakang sepotong batu besar.
Dibawah sinar bulan yang remang2, samar2 dapat dikenali orang yang muncul ini adalah Ci Inhong
yang menggemparkan kalangan pertandingan siang tadi.
Nyo Wan menjadi heran. Ci In-hong tidak mau menghadiri pesa perayaan kemenangan, sebaliknya
malam2 mendatangi kamarnya engkoh Lam, apa tujuannya? Belum habis Nyo Wan berpikir, se2-
konyong2 dari balik pohon sana melayang keluar pula sesosok bayangan lain terus mengejar ke
arah bayangan pertama tadi. Melihat bayangan kedua itu jelas To Liong adanya.
Tergerak hari Nyo Wan, jangan2 ada persekongkolan kotor diantara mereka. Segera iapun
mengintil di belakang mereka dengan Gikangnya, dilihatnya bajangan To Liong telah menyisup ke
dalam hutan Bwe, segera ia memutar dan menyusup pula kedalam pepohonan itu melalui arah lain.
Didengarnya ada suara tepukan tangan tiga kali, menyusul seorang lagi juga tepuk tangan tiga kali,
kemudian saling mengucapkan kode, kedua orang lantas sama tertawa dan menampakkan diri.
“Ci-heng ternyata betul orang sendiri, utung Siaute tidak sembarangan bertindak,” terdengar To
Liong berkata.
“Siaute lebih2 tidak mengira To-heng juga kawan dari satu garis yang sama,” jawab Cin In-hong.
Mendengar itu, kejut sekali Nyo Wan di tempat sembunyinya. Sungguh tak pernah terduga olehnya
bahwa Cin In-hong yang berjasa besar pada siang hari itu ternyata adalah sekomplotan dengan To
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
Liong.
Lalu buat apa siang tadi ia membantu Su-lam? Hal yang bertentangan ini sungguh membikin Nyo
Wan tidak habis paham.
Dalam pada itu terdengar To Liong sedang bicara sebagaimana menjadi pertanyaan Nyo Wan itu,
katanya: “Ci-heng dapat bekerja dengan rapi, sungguh Siaute sangat kagum. Hanya Siaute rada
heran, apakah sebelumnya Ci-heng sudah tahu akan kedatangan si tua bangka Beng Siau-kang?”
“Aku tidak punya kepandaian menghitung hal2 yang terjadi sebelumnya, darimana bisa tahu?”
sahut In-hong.
“Jika begitu, mengapa siang tadi Ci-heng malah muncul membela pihak lawan, habis itu mengapa
pula menghindari pertemuan dengan Li Su-lam?” tanya To Liong.
“Tentunya kau belum lagi kenal asal-usulku bukan? Bunga yang merah dan daun yang hijau meski
tumbuh dari satu sumber yang sama, tapi persamaan sumber di kalangan kita harus pula bertindak
bagi majikan masing2 . apakah To-heng paham maksudku?”
“O, jadi Ci-heng mempunyati junjungan yang serupa dengan Tun-ih Cecu, sama2 berjuang bagi
Khan Agung Mongol. Entah siapakah junjungan Ci-heng?
“Sebenarnya tiada berhalangan kuberi tahu, hanya setelah kau mengetahui, jangan2 malah akan
menimbulkan rasa tidak enak bagimu.”
To Liong menjadi bingung dan kuatir, katanya: “Kalau………..kalau tidak……………..”
Belum habis ucapannya, se-konyong2 Ci In-hong angkat sebelah tangan dan menepuk sebatang
pohon Bwe. Dalam sekejap saja bunga Bwe rontok bertebaran dan akhirnya tinggal dahan yang
gundul saja.
Nyo Wan menyaksikan juga cara Ci In-hong mengalahkan Cui Tin-san dengan ilmu pukulannya,
walaupun pukulannya sekarang tampaknya lebihj hebat daripada siang tadi, tapi tidak perlu
diherankan.
Tidak demikian dengan To Liong, biarpun siangnya iapun menyaksikan kepandaian Ji In-hong, tapi
sekarang kepandaian Ji In-hong membikin rontok bunga Bwe dengan tepukan perlahan itu telah
membuatnya terperanjat sekali. Ia tertegun sejenak baru kemudian sanggup membuka suara:
“Apakah……apakah kau murid Yang Thian-lui?”
“Muridnya atau bukan, kau mau apa?” jawab Ci In-hong dengan nada dingin. “Tajam juga
pandanganmu, dapat mengenali pukulanku ini menggunakan Thian-lui-sin-kang.” ~ Meski dia
belum mengaku sebagai muridnya Yang Thian-lui, tapi nada ucapannya itu sudah memberi
petunjuk bahwa sedikitnya dia ada hubungan kekeluargaan dengan Yang Thian-lui.
Sekarang Nyo Wan benar2 sangat terkejut. Yang Thian-lui itu tak lain tak bukan adalah pembunuh
To Pek-seng. Hal ini telah dibuktikan oleh To Hong dan Toas suhengnya, yaitu Liong Kang, ketika
mereka menyelidiki kedaerah Mongol.
Diam2 Nyo Wan ingin tahu cara bagaimana To Liong akan menghadapi murid pembunuh ayahnya
itu. Tapi didengarnya To Liong berkata pula: “O, kiranya demikian, pantas kau bilang akan
menimbulkan rasa tidak enak bagiku. Tapi aku tidak perduli apakah kau murid Yang Thian-lui atau
bukan, yang jelas pembunuh ayahku hanya Yang Thian-lui dan bukan kau. Dalam perjuangan kita
mempunyai garis yang sama, Kita harus bahu membahu. Tapi sakit hati ayahku tetap akan kutuntut,
jika kau membela perguruanmu, terpaksa kita berhantam mati2an, yang terang aku takkan mulai
menyerang kau.” ~ Ucapan terakhir ini jelas hanya untuk menutupi rasa malunya saja.
Diam2 Nyo Wan menggerutu To Liong yang pengecut itu, percuma saja ksatria gagh perkasa
sebagai To Pek-seng itu mempunyai seorang putra seperti dia itu.
“Seorang ksatria harus bisa melihat gelagat,, keputusan To-heng harus kupuji,” ujar Ci In-hong
sambil bergelak tertawa. “Baiklah, apakah kau akan menuntut balas atau tidak kepada Yang Thianlui
adalah urusanmu. Yang pasti urusan di sanceh ini aku tentu akan membantu kau .”
Nyo Wan memang gadis yang cermat, ia menjadi heran mendengar Ci In-hong menyebut nama
Yang Thian-lui secara begitu saja, kalau betul muridnya tentu tidak pantas menyebut langsung
nama sang guru.
“Ci-heng,” kata To Liong pula, “Setelah kau mendapat nama siang tadi, kenapa kau menghilang
pula, apakah kuatir rahasiamu diketahui orang?”
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
“Ya, sebab aku tahu seorang utusan Hui-liong-san akan tiba hari ini, utusan itu kenal asal usulku,”
jawab in-hong.
“Ah, dalam hal ini agaknya Ci-heng hanya tahu yang satu, tapi tidak tahu yang dua,” ujar To Liong.
“O, kalau begitu aku minta To-heng suka memberi penjelasan yang kedua itu?”
“Hui-liong-san juga kawan kita, Toh-cecu sengaja mengirim berita palsu, hal ini sebelumnya sudah
dirundingkan dengan aku?”
”Buat apa mengatur berita militer yang tidak benar?”
“Ini namanya tipu ‘memancing harimau meninggalkan sarangnya’. Ci-heng adalah orang pintar,
masakah tidak paham maksudku?”
“O, jadi kau sengaja pasang perangkap dengan Toh An-peng untuk memancing adikmu
meninggalkan tempat ini.”
“Benar. Bila budak ini meninggalkan sanceh bersama anak buahnya, dengan sendirinya aku dapat
bertindak sesukanya disini.”
“Hebat benar akalmu, sampai2 tidak sayang bersekongkol dengan orang luar untuk menjebak adik
perempuan sendiri. Sungguh aku sangat kagum,” ujar Ci In-hong dengan nada menyindir.
“Kata peribahasa: Tidak keji bukanlah laki2. Habis dia telah merebut kedudukan cecu dariku, tidak
menghormati aku pula sebagai kakak. Cuma akupun tidak bermaksud mencelakai adikku sendiri,
aku justru bermaksud baik mencarikan suami baginya. Terus terang, saat ini putranya Tun-ih Cecu,
yaitu Tun-in Pin, justru sedang menunggu di Hui-liong-san.”
Mendengar berita itu, Nyo Wan terkejut dan bergirang pula. Ternyata dugaannya tidak salah, Huiliong-
san memang benar berkomplot dengan to Liong, bahkan To Liong hendak menjerumuskan
adik perempuannya sendiri, sungguh terkutuk.
Terdengar Ci In-hong berkata: “Tapi menurut pikiranku, adik perempuanmu agaknya takkan
berangkat ke Hui-liong-san, besar kemungkinan bocah she Li sendiri yang akan pergi.”
“Jika demikian akan lebih baik lagi,” kata To Liong. “Perginya rintangan besar ini akan lebih
leluasa bagi pekerjaanku disini. Ci-heng, begitu Li Su-lam berangkat segera pula aku akan bergerak,
harap engkau memberi bantuan.”
“Tapi masih ada Beng Siau-kang disini,” ujar Ci In-hong.
“Masakah Ci-heng tidak tahu Beng Siau-kang ada maksud menjodohkan anak perempuannya
kepada Li Su-lam. Kalau Li Su-lam berangkat, tentu Beng Siau-kang dan putrinya akan ikut serta.
Maka cukup kau bantu menaklukkan budak Hong dan Ciok Bok, dengan gampang aku akan dapat
menguasai sanceh ini.”
“Aku pasti akan bantu usahamu ini,” kata Ci In-hong.
Nyo Wan pikir sudah cukup apa yang didengarnya, sebaiknya lekas pergi saja untuk
memberitahukan apa yang diketahuinya itu kepada Ciok Bok. Diluar sadarnya, baru saja timbul
pikirannya itu sudah keburu jejaknya diketahui To Liong. Rupanya apa yang didengarnya itu
membuatnya berdebar sehingga lupa menahan napas, keruan lantas didengar oleh To Liong.
Mendengar disekitarnya ada orang, To Liong pura2 tidak tahu, mendadak ia menubruk ketempat
sembunyi Nyo Wan.
Pada saat yang sama juga tiba2 Ci In-hong juga membentak: “Siapa yang sembunyi disitu, lekas
menggelinding keluar.”
Untung karena suara bentakan Ci In-hong itu sehingga Nyo Wan tersentak kaget dan sadar akan
tubrukan To Liong itu. Cepat ia mengelak dan sempat pula menghindarkan serangan To Liong.
Diam2 To Liong sangat mendongkol akan tindakan Ci In-hong itu, tpi karena dia masih
mengharapkan bantuannya, terpaksa menahan perasaannya dan berseru: “Ci-heng, tak perlu urus
siapa dia, binasakan saja dia!”
Rupanya Nyo Wan dalam keadaan menyamar sebagai laki2, mukanya dipoles pula dengan obat
bubuk pemberian Akai tempo hari, maka dibawah sinar bulan yang remang2 To Liong tidak tahu
bahwa orang dihadapannya bukan lain adalah Nyo Wan yang sedang dicarinya itu.
Saking gemasnya Nyo Wan ingin sekali tabas membinasakan To Liong, tapi terpaksa dia harus
memperhitungkan kekuatan Ci In-hong yang kini berdiri dipihak To Liong itu. Ia pikir sementara
ini lebih baik bersabar daripada menggagalkan urusan yang lebih pentin, yaitu membongkar tipu
KANG ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
muslihat penghianatan mereka.
Namun To Liong tidak memberi kesempatan kabur baginya, segera ia melancarkan pukulan pula.
Tapi siangnya To Liong baru terkena Tok-liong-piau, meski sudah minum obat pemunah, namun
tenaganya belum pulih seluruhnya, lantaran ini Nyo Wan tidak terlalu sukar untuk menangkis setiap
serangan To Liong.
Hanya belasan jurus saja To Liong lantas curiga, ia merasa gerak gerik lawan seperti telah
dikenalnya? Tentu bukan prajurit biasa, kalau prajurit biasa tentu tidak berkepandaian setinggi ini?
“To-heng, biar kubinasakan dia!” bentak Ci In-hong tiba2 sambil memukul dari jauh.
Diam2 Nyo Wan mengeluh. Tak terduga ketika tenaga pukulan Ci In-hong tiba, rasa Nyo Wan
seperti didorong saja, sebaliknya To Liong yang lantas menjerit malah sambil ter-huyung2
kesamping.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Kasih Asmara : PG 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments