Cerita Romantis 23 Keren : Iblis Sungai Telaga Tamat

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Romantis 23 Keren : Iblis Sungai Telaga Tamat
Cerita Romantis 23 Keren : Iblis Sungai Telaga Tamat
"Kakak benar, " sahutnya. ia melihat sampul surat
bertuliskan empat buah huruf, bunyinya "Ban Hoa Pie Teng"
yang berarti "selaksa bunga menutupi langit (atau kepala)" ia
lantas menyobek pinggiran sampul, akan menarik keluar
suratnya.
Ketiga nona datang dekat sekali pada si anak muda, hingga
berempat mereka merubung menjadi satu, sebab semuanya
ingin segera melihat bunyinya surat, setelah surat dibeber,
maka mereka membacanya sebaris dari enam belas huruf
kecil, beginilah bunyinya: Gie Kiam Siauw Seng, Ban Ho Apie
Teng Ay Lao Tek Cie, Hek Sek Yu Keng"
Berempat muda-mudi itu lantas mengawasi saja, tak
mudah mereka membacanya mengerti, mereka harus
menggunakan otak memikirin.
Lewat sekian lama, Kiauw In yang mulai bicara, katanya:
"Menurut dugaanku, surat rahasia ini, kita terlambat
membukanya. ada disebut-sebut nama Ay lao dan Hek sek,
itulah toh gunung Ay lao sian dan Hek Sek San? bukankah
adik Hiong telah menjelajah sarang-sarang bajingan dikedua
gunung itu?"
It Hiong mengangguk.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku sepakat dengan kau, kakak," katanya. "Rupanya
sampul ini harus dibuka setelah kita meninggalkan Ay lao san
atau sebelumnya pergi Ke Hek Sek San, benar demikian,
bukan?"
"Tapi, apakah artinya dua baris, atau delapan huruf yang
pertama itu?" tanya Giok Peng.
It Hiong berpikir, sampai ia bagaikan tersadar.
"Empat huruf dari baris kedua, itulah kata-kata rahasia,
atau kunci buat mempelajari Ilmu Gie Kiam Hui Heng Sut,"
katanya, "ban hoa pie teng berarti berlaksa bunga menutupi
langit, maksudnya ialah di waktu mempelajari ilmu pedang
orang harus mencapai batas kesempurnaan, buat mana, hati
mesti tetap, belajar mesti tekun, hingga akhirnya orang dapat
terbang mengedalikannya pedang, Yakni Gie Kiam Siauw
Seng, jadi artinya ringkasnya belajar harus sungguh-sunguh
sampai maksudnya tercapai,"
"Jika demikian," Tan Hong turut bicara, "Rupanya gurumu
itu. kakak, bermaksud memberi anjuran pada kau, yaitu
setelah kau mememperoleh Ilmu Ay lao san, kau mesti
mempelajari itu sampai sempurna, seperti berlaksa bunga
menutupi langit, setelah mana, di Hek Sek San nanti, haruslah
kau berhati-hati, harus waspada sebab mungkin di sana ada
ancaman malapetaka."
"Aku kira taksiran adik Tan Hong cuma benar separuhnya
saja," kata Giok Peng, "menurut aku, empat huruf dari baris
ke empat, yang terakhir, berarti menunjuk pada kakak Kiauw
In, yang digunung Hek Sek San sudah terkena racun yang
mengekang kesadarannya, maksudnya ialah kita harus
berjaga-jaga akan ancaman bahaya itu,..."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku percaya kau benar! adik Peng," Berkata Kiauw In,
"Hanya sekarang ini, semua telah berlalu lewat, nah, adik
Hiong, coba kau buka sampul yang ketiga itu, supaya kita
tidak menyia-nyiakan waktu dan terlambat seperti sampul!
kedua itu!"
It Hiong menurut, ia lantas membacanya muka sampul itu,
ketiga nona bersama melihatnya, nyata tulisannya ialah " Cit
Mo Tong Hian," Yang berarti "tujuh bajingan muncul
bersama,"
"Kleihatannya kali ini kita tidak terlambat" kata It Hiong
pada ketiga nona kawannya, sembari tertawa.
"Masih kau bicara saja!"" kata Giok Peng, "Bukannya lekas
buka sampulnya"
It Hiong menurut, ia merobek sampul dan menarik
suratnya, maka ia lantas membacanya Bunyinya:"satu racun
berubah tiga racun, seratus tak suka daging atas nampan,
darah bajingan mencuci pelangi kaget, laki-laki atau suami
kenal mulia dan hina malu,"
Kiauw In bertiga turut membacanya.
Lalu berulang-ulang mereka membacanya dan mengulangi
sebelum mereka dapat menangkap artinya maksudnya tulisan
itu, yang terbagi dalam empat baris, mereka sampai pada
"menunduk kepala akan mengasah otak," sebab semua katakata
itu sulit untuk segera ditangkap artinya dengan satu kali
melihat atau membaca saja.
"Bagaimana kalau kita masing-masing menerka satu baris?"
tanya Tan Hong.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Gio peng mengangguk.
"Sepakat," sahutnya, "Bagaimana caranya?"
Tan Hong mengulur tangannya, bergantian menunjuk
Kiauw In, It Hiong dan si nona Pek, katanya:" Kakak beramai
mengambil satu baris menurut runtunannya, dan aku baris
yang ke empat, yang terakhir! Bagaimana ??"
It Hiong semua setuju, maka itu, lantas mereka masingmasing
mengapali satu baris untuk mengingatanya diluar
kepala, hingga mudahlah bagi mereka itu buat memahami arti
dan maksudnya, karenanya lantas mereka itu berpikir, seperti
lakunya anak-anak sekolah.
"Aku mendapatkan baris yang ketiga," Kata Giok Peng
kemudian, "Aku anggap kata-kata itu sederhana sekali,
karenanya aku mengartikannya menurut sebagaimana
adanya,"
Baris ketiga itu ialh "darah bajingan mencuci pelangi langit
kaget," tegasnya darah bajingan dipakai mencuci pelangi
kaget, dan "pelangi kaget" ialah pedang mustika Keng Hong
Kiam, Keng=kaget, dan Hong=pelangi.
Kiauw In mengangguk, katanya, "Tepat! Keng Hong Kiam
dicuci dengan darah bajingan, itu artinya, kapan adik Hong
menghadapi ketujuh bajingan, ia mesti menghadapi
pertempuran yang berdarah, seteleh itu 'baru' ia akan berhasil
menumpas kawanan bajingan itu. tegasnya adik Hiong harus
menggunakan kekerasan!--dan aku, aku mendapatkan baris
pertama--satu racun berubah tiga racun, dengan racun pasti
diartikan si bajingan beracun, sulitnya buat aku ialah
pengetahuan atau pengalamanku yang kurang mengenai
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
sekalian bajingan itu? kenapa satu bajingan berubah tiga
bajingan? disaat ini, belum dapat aku menerkanya pasti...."
Juga Giok Peng dan Tan Hong kurang mengtahui halnya si
bajingan beracun--Tok Mo, cuma satu kali mereka pernah
melihat empat huruf "Giok Lauw Kip Ciauw" di pendopo Tay
Hong Tian didalam vihara Siauw Lim Sie, empat huruf
beracun, pertanda pembunuhan oleh Tok Mo, lainnya tidak,
kakek itu, tak dapat mereka membantu kakak yang tertua itu.
"Apakah tak mungkin bahwa si bajingan beracun itu, Tok
Mo ada satu yang tulen dan tiga yang palsu?" It Hiong turut
mengutakan terkaannya.
Kiauw In berpikir.
"Memang ada kemungkinannya adik, "sahutnya kemudian,"
Tapi, cobalah kalian memikirkannya terlebih jauh, kita
membutuhkan kepastian"
"Apakah tak boleh jadi, namanya saja satu Tok Mo tetapi
sebenarnya ada tiga orangnya?" Tan Hong turut membantu
berpikir.
"Mungkin kau benar adik, hong," berkata It Hiong, "didalam
satu bulan terakhir ini aku telah melihat dua orang Tok Mo
yang sama rupa dan tampangnya, ialah seorang pelajar tua
yang kulit mukanya sudah berkerut-kerut, entahlah Tok Mo
yang ketiga itu...."
Giok Peng nampaknya heran.
"Kalau baru menemui dua orang adik," Giok Peng pun
turut bicara, "Bagaimana kau dapat memastikan merekalah
dua orang? siapa tahu meerka itu cuma satu, yaitu pertama
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kali kau ketemu yang satu, lalu yang kedua kali, dia juga
sebab mereka bagaikan kembar dan tentulah sukar
memastikan merekalah dua orang...."
"Inilah sebab aku memperhatikan suara mereka," It Hiong
menjelaskan, "Suara mereka berdua berlainan, bahkan halnya
Tok Mo yang satu itu, yang berada didalam sarangnya Im Ciu
It Mo, aku mendengarnya dari mulut Cit Biauw Yauw Lie,
katanya dialah Couw Kong Put Lo yang menyamar, entahlah
Tok Mo yang kedua itu...."
"Jika demikian adanya adik,"Kiauw in turut bicara pula,
"mungkin sekali Tok Mo yang ketigapun si Tok Mo yang palsu,
jadi benar seperti katanya guru kita, bahwa Tok Mo satu
berubah menjadi tiga Tok Mo.........guru kita mengerti ilmu
meramal, mestinya ramalannya itu tidak salah!"
"Ya, demikianlah terkaanku," kata It Hiong, "ketiga Tok Mo
palsu tiga-tiga!'nya.
"Taruh kata benar demikian adanya" tanya Tan Hong,
"Habis bagaimana dengan Tok Mo yang satu itu, yang tulen?"
"Bukankah tadi adik mengatakan ada satu saja namanya
tetapi tiga orangnya?" It Hiong tanya, "Kenapa sekarang adik
mengatakan begini? tentang itu baik kita tak usah repotkan
pula, pedang Keng Hong Kiam menjadi pedang pembela
keadilan dan penakluk bajingan, sekarang tak usah kita
rewelkan pula dia bajingan tulen atau si bajingan palsu,
biarlah ujung pedang yang nanti menentukan!"
Gagah bicaranya si anak muda, dia nampak sangat
bersemangat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Dari ke empat baris surat rahasia, yang tiga telah dapat
kita tafsirkan," kata Giok Peng. "Sekarang tinggal yang ke
empat adik Hong, coba kau menjelaskan pendapatmu."
Tan Hong lantas membaca mengapali baris terakhir itu,
"Laki-laki atau suami kenal mulia dan hina atau malu," terus ia
berpikir, baru ia berkata"Menurut aku, aku kira maksud
singkatnya yaitu setelah seseorang berhasil dalam usahanya,
dia menepi digunung atau dalam rimba, akan mencuci tangan
dari kalangan sungai telaga, bagaimana, apakah kakak
beramai setuju?"
Kiauw In mngenagguk.
"Menurut pikiranku," katanya, "Kalau nanti di In Bus san
pihak kita berhasil menumpas kawanan bajingan sesat itu
maka selayaknya apabila Adik Hiong bertindak sebagai
seorang laki-laki sejati yang kenal akan kemulian dan
kehinaan, buat menjadi orang gagah yang tahu gelagat, guna
selanjutnya menutup diri dan menyepi di tanah pegunungan
atau rimba, akan menempuh sisa hidup selanjutnya...."
Mendengar itu, alisnya It Hiong terbangun.
"Bagus, " serunya, "semua pesan suhu, akan aku Tio It
Hiong mentaatinya! selesai urusan di In Bu San, akan aku
mengajak kakak bertiga tinggal bersama ditanah pegunungan!
di sana kita bersama akan melewati hari-hari kemudian kita
!....."
Kata-kata itu dikeluarkan secarah sungguh, maka juga
ketiga orang nona itu menerima dan menyambutnya dengan
berkesan sekali, lebih -lebih Tan Hong, yang kenal diri, sampai
dengan perlahan ia berkata:"Tan Hong adalah perempuan asal
kaum sesat, mana dapat ia memikir yang tidak-tidak? mana
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dia mempunyai rejeki besar akan hidup bersama kalian, para
kakak? Ah......."
Dengan tampang sangat mengasihi, It Hiong
berkata:"didalam halnya manusia bergaul atau bersahabat,
yang paling diutamakan ialah mengenal hati satu sama lain!
maka itu, apabila telah tiba saatnya, akan aku mengambil
keputusan yang bijaksana, yang pasti tak bakal
mengecewakan kalian!, sekarang ini masih terlalu pagi buat
menyebutkan itu!"
Mendengar kata-kata "Tak bakal mengecewakan kalian" itu,
bukan main terbukanya hatinya Tan Hong, dia merasa sangat
lega dan bersyukur, dia girang sekali.
"Aku....Aku......" katanya dan tak dapat ia meneruskannya,
sebab Kiauw In mencelanya:"Apa lagi yang hendak kau
katakan, adik? kita adalah sesama orang kaum sungai telaga,
dada kita harus lebar bagaikan perahu, kepalan kita harus
keras dan ulet! bukankah soalmu soal remeh, dari itu buat
apakah kau memikir dan mengkhawatikrkannya?"
Tan Hong terdiam, matanya mengawasi nona Cio, sinarnya
menyatakan yang ia sangat beryukur, sebab Kiauw In sangat
sabar dan lapang dada, pikirannya terbuka sekali, dia tak iri
atau jelus, dia bahkan sangat mulia!
Begitulah mereka berempat, memasang omong, sampai
rembulan mulai selam ke arah barat, barulah mereka berjalan
mendaki gunung.
Besoknya pagi. makin banyak orang yang naik ke In Bu
San, hingga ke kiri dan kanan puncak Pek Lok Hong,t ampak
hanya kilauan dari golok dan pedang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lagi satu hari lewat maka tibalah di hari yang dinantinantikan
cia-gwee-cap gouw, tanggal lima belas bulan
pertama. malam itu diperbagai kota dan kampung di seluruh
negeri, orang merayakan pesta Goan siauw, atau Cap go meh,
sebaliknya, diatas puncak In Bu San, kedua belah pihak
menghadapi saat-saat pertempuran yang memastikan ,
disamping mereka yang hadir untuk menonton.....
Kedua belah pihak yang berkelompok sudah bersiap sedia
didalam masing-masing rombongannya. di pihak sesat orang
memilih It Yap Tojin sebagai ketua di bantu oleh Kip Hiat
Hong Mo Touw Hee Cie dari lembah Ceng-lo Ciang gunung Bu
liang san serta Im Ciu It Mo dari Hek Sek San, it yap tenang
sekali melihat datangnya sedemikian banyak kawan yang
tersohor.
Dipihak sadar, pendatangpun bukan main banyaknya,
disamping wakil-wakil kesembilan partay persilatan besar,
hadir juga banyak guru silat tersohor, bahkan orang yang
tadinya sudah lama tak muncul dalam dunia kang ouw,
terutama orang yang tak disangka-sangka, yang sudah empat
puluh tahun lebih hidup menyendiri. dialah Pek Yam Siansu
dari vihara Bie Lek Sie.
Perubahan terjadi selekasnya pihak sesat melihat pasti
keadaan rombongan pihak lurus itu, orang lantas pada saling
mengalah, bahkan Gwa To Sin Mo lantas mengundurkan diri
sebab dia kena bujuk Bu Pa Dan In Go kedua muridnya, yang
tidak sudi bermusuhan dengan Tio It Hiong.
Kerugian lain dari pihak sesat itu ialah dengan mundurnya
juga Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Cie, sebab dia itu, setelah
melihat It Hiong, ia lantas ingat pada janjinya dahulu dengan
anak muda itu, dan dia mundur seketika.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Karena mundurnya dua anggota penting itu, susunan
penyelenggara pun turut berubah. telah diadakan pemilihan
ketua yang baru, It Yap Tojin tidak dapat sesatu penuh
disebabkan dia adalah orang kaum "sama tengah" sebab
tadinya dialah orang lurus dan baru belakangan masuk ke
dalam kalangan sesat, setelah pemilihan baru, kedudukan
ketua di pegang oleh Im Ciu It Mo di bantu oleh hong gwa
Sam Mo dan ketiga Tok Mo, si bajingan tunggal.
Im Ciu It Mo lantas mengirim Ek tou Biauw, murid pertama
diantas Cit Biauw Yauw Lie, buat pergi ke pihak lurus, buat
menyampaikan tantangan untuk memulai pertempuran besar
yang memutuskan.
Dengan berjalan cepat, sebentar saja Toa Biauw sudah
sampai digubuknya pihak sadar, dengan mudah ia diijinkan
masuk kedalam kemah terakhir, untuk menghadap Liauw In
Tianglo yang lagi di temani It Hiong bersama Kiauw In, Giok
Peng dan Tan Hong.
Ek Toa Biauw mengenali It Hiong dan Kiauw In, Giok dan
Tan Hong asing baginya, Liauw In mengenakan jubah kuning.
biksu itulah yang dihampirinya, akan memberi hormat
padanya seraya berkata:"Ek Toa Biauw dari Hek Sek San
datang menghadap bapak pendeta ketua dari Siauw lim pay!"
Liauw In memblas hormat seraya menanya nona itu ada
punya pengajaran apa untuknya.
Toa Biauw mengawasi dahulu pendea itu dan orang-orang
lainnya. baru ia menjawab:"ketuadari bu-lim Cit cun, yaitu
guru kami, Im Ciu It Mo, mengutusku menyampaiakn surat,
kepada loSiansu untuk memohon loSiansu sudi membacanya,"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dengan membungkuk hormat, si nona mengeluarkan
surtanya dan terus menghaturkan itu,
Pek Giok Peng berbangkit akan menyambuti surat itu,
setelah itu ia berkata:"silahkan pembawa surat menunggu
dipinggiran gua menantikan balasan!" Terus ia menyerahkan
surat lawan pada tetua Siauw Lim Sie itu.
Liauw In menyambuti surat itu, karena ia tahu apa
bunyinya itu, ia tidak membuknya, hanya terus ia berkata
pada si nona pengantar surat, bahwa ia sudah mengerti dan
meminta si nona menyampaikannya balasan bahwa pihaknya
telah siap sedia menerima tantangan.
Ek Toa Biauw menyahuti dan berpamitan. ia baru berjalan
beberapa tindak, atau si biksu, yang tampangnya sangat
berkesan baik, memanggilnya kembali, maka lekas ia memutar
tubuhnya dan menanya, biksu itu mempunyai titah apa.
Liauw In menangkapkan tangannya dan
berkata:"Sebenarnya di antara kita berdua kaum tidak ada
permusuhan untuk mati atau hidup, yang hanya perselisihan
belaka, hal mana mudah dibataskan asal kedua belah pihak
dapat membataskan diri dan tak usah membinasakan, maka
itu lolap hendak memberi nasehat kepada gurumu itu supaya
dia mundur teratur, guna mencegah bencana, ia, asal gurumu
itu suka menghapus niatnya menjagoi dunia Bu Lim, suka
lolap mengajak para ketua dari sembilan partai meninggalkan
tempat ini, agar selanjutnya kita hidup rukun sama-sama,
maukah nona menyampaikan pesanku ini pada gurumu?"
Demikianlah pendeta tua itu, yang hatinya pemurah, yang
tak menyukai pertumpahan darah, hingga ia suka bicara
demikian halus maka sayang sekali, pihak sesat tetap sesat,
jalannya kesasar, tak sudi mereka menoleh akan melihat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pantai keselamatan, yang masih muda sama pendiriannya
seperti gurunya itu.
Begitulah nona ini bersenyum dan menjawab, "losiansu,
maaf, tugasku bukan untuk menyampaikan kata-kata
losiansu ini kepada guruku, nah, ijinkalah aku yang muda
mengundurkan diri!"
Begitula suara ditutup, begitu orangnya memutar tubuh
melanjutkan perjalanannya pergi.
Menyaksiakn kelakuan orang itu, Laiuw In menghela napas.
"Amitabha budha, inilah takdir, yang tak dapat diubah!"
katanya, masgul, ia terus duduk sambil tunduk seraya mendoa
perlahan sekali, lewat sesaat ia mengangkat tangannya,
diletaki di depan dada, terus ia menengadah kelangit untuk
memberi hormat seraya mengucap:"Budha kami yang maha
pemurah, maafkanlah muridmu ini yang tidak mempunyai
guna, yang tidak mampu menyingkirkan malapetaka, hingga
kekerasan mesti diambil juga, supaya kawanan bajingan dapat
disingkirkan, guna membela keadilan, terpaksa muridmu mesti
memegang pimpinan dalam usaha penindasan kepada kaum
sesat yang ganas dan kejam itu!"
Ketika itu Ek Toa Biauw sudah kembali kepada gurunya,
guna menyampaikan jawabannya pihak lurus itu, maka Im Ciu
It Mo segera bekerja, menitahkan orang-orang pihaknya
bersiap sedia, terutama didalam urusan menyiapkan perbagai
racun, guna dipakai menghadapi lawan, ia ingin, pada
saatnya, musuh dapat diserang dengan senjata yang sangat
berbahaya itu!.
Kapan sang magrib dan sore telah lewat tibalah sang
malam, rembulan indah, udara pun bersih dari sang mega,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
cahayanya si putri malam membuat tanah lapang, yang
dijadikan medan laga itu, terang mirip siang hari.....
Tidak lama maka muncullah rombongannya kaum sesat,
mereka mengambil lapangan sebelah barat, menghadap pihak
sadar disebelah timur, mereka sudah lantas mengatur
kedudukan dengan Cit Biauw Yauw Lie berdiam di depan
gurunya, untuk dapat menerima segala titah.
Liauw In duduk rapi bersama ketua delapan partai. Pek
Yam Siansu duduk tetap diatas usungannya, yang diletaki di
belakang Liauw In beramai, sebab ia tak mau maju kemuka, ia
duduk sambil memejamkan mata, nampaknya ia seperti tak
memperdulikan soal pertempuran hidup mati itu, ia hanya
dikawal empat orang biksu bersenjatakan golok kayTo, yang
berdiri dikedua sisinya, di depannya setiap biksu itu terdapat
sebuah guci besar berisi arak, yang baunya keras tersiarnya!.
Sudah rembulan terang, di kedua belah pihak orang pun
memasang banyak obor yang besar-besar, hingga dilapangan
itu terlihat suasana malam disebabkan cahaya semua obor itu.
Sang waktu berjalan terus.
Tepat kira jam permulaan maka ditengah udara lantas
terdengar siulan yang nyaring dan panjang, suaranya tajam
seperti menusuk telinga, terasa nyeri, itulah pertanda dari
pihak barat, pertanda bahawa pertandiangan akan dimulai.
Disaat itu, sunyilah suara orang di sebelah timur dan barat,
bahkan sunyi juga diantara rombongan penonton, yang
berkelompok sendiri dilain bagian dari tanah lapang itu, untuk
sejenak, mereka itu kaget dan khawatir, syukur suara tajam
itu lenyap tak lama kemudian.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Menyusul berhentinya pertanda itu, seorang perempuan
lompat keluar dari bagian barat, untuk maju kelapangan
dimana dia terus memberi hormat krarah timur seraya
berkata:"pertemuan sudah dimulai! silahkan ketua dari
golongan lurus maju kemuka buat berbicara!"
Duduk disisi kiri Laiuw In ialah Hay Thian sin lie dari
haylam. dia memuji sang Buddha, terus berkata pada tertua
siauw lim pay itu:"suheng, bagaimana kalau dititahkan murid
kami Cukat Tan keluar untuk menemui lawan?"
Liauw In mengangguk.
"Baiklah, Sin-ni!" sahutnya. "Lolap setuju!" lantas ia
memberi isyarat pada seorang murid di depannya, siapa sudah
lantas berkata nyaring:"Cukat Tan murid dari Ngo Bie pay,
silahkan maju!"
Cukat Tan yang berada di dalam rombongan murid tingkat
dua, sudah lantas menyahuti seraya terus bertindak maju,
akan terus memberi hormat pada ketua lalu terus maju lebih
jauh sampai ketengah medan pertempuran. dia memberi
hormat pada si nona dari pihak barat itu serta menanya:
"nona akulah Cukat Tan dari Ngo Bie pay, aku ditugaskan buat
berada disini, maka itu, ada pengajaran apakah dari nona?
silahkan beritahukan!"
Wanita itu tertawa tawar.
"Oh, segala orang tak berarti!" katanya, "kaulah Cukat Tan
dari Ngo Bie pay? tapi kau berani maju kesini, kau boleh
dibilang berani juga!"
Cukat Tan mendongkol hingga sepasang alisnya bangkit
berdiri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nama Cukat Tan memang tidak mengangetkan orang
tetapi dia berani menyebut namanya terang-terangan!"
katanya keras, "tidak sebagai kau, nona, kau tak punya nama
sama sekali!"
Nona itu tertawa dingin.
"Sahabat, silahkan berdiri biar tegak!" katanya keras,
"nonamu hendak memberi tahukan namanya!"
"Hm!" sambutnya Cukat Tan, mengejek.
Nona itu cuma berhenti sejenak, segera terdengar pula
suaranya yang nyaring:"Kau dengar baik-baik! Nonamu ialah
Ek Toa Biauw muridnya Im Ciu It Mo dari Hek Sek San!"
Dia memang murid kepala dari sibajingan tunggal dari Hek
Sek San.
Cukat Tan tertawa.
"Kiranya kaulah anggota dari Cit Biauw Yauw Lie!" katanya,
"Aku khawatir dari Toa Biauw kau bakal berubah menjadi put
Biauw!"
Itulah ejekan, "Toa Biauw" berarti "cantik luar biasa"
sedang "put Biauw" ialah "tidak cantik" alias jelek! maka itu,
mendnegar demikain, matanya Toa Biauw melotot.
"Kau pandai memainkan lidahmu!" bentaknya. "Bilang, kau
datang kemari untuk berbicara atau bertempur?"
"Untuk bicara!'
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nah, kau dengarlah ! Guruku, Im Ciu It Mo, berkatai
bahwa, pertama kali kita bertarung, kita menggunakan
senjata! pihakmu akan mengajukan siapa?"
Cukat Tan merabah gagang pedangnya.
"Aku yang akan belajar kenal dengan pihakmu," sahutnya.
Ek Toa Biauw lantas saja pergi kepihaknya, dirombongan
sebelah barat itu, guna menyampaikan kabar pada gurunya,
segera muncul seorang yang bertubuh besar, yang mukanya
hitam dan brewokkan, serta senjatanya sebuah tok kak
tongjin, boneka terbuat dari tembaga, dia berjalan cepat
memasuki kalangan.
"Akulah Peklie cek, tongcu nomor satu dari losat kauw dari
gunung Ay lao san!" demikian katanya dengan nyaring.
"Bocah, kalau kau melawan aku, aku khawatir usiamu yang
muda membuatmu tak tahan menerima satu kali saja
hajaranku!"
"Cukup!" seru Cukat Tan sambil memberi hormat,
"silahkan?"
Berkata begitu anak muda kita menghunus pedangnya.
Melihat demikian, Pek lie cek sudah lantas menggerakkan
senjatanya yang hebat dengan apa dia menghajar pedang
lawan, maksudnya untuk dengan satu gerakan saja membuat
senjata lawan runtuh!
Cukat Tan tidak mau mengadu senjata, pasti pedangnya
yang ringan kalah dari boneka yang berat itu, maika ia
menggunakan kegesitan tubuhnya dan kelincahannya, ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menarik pulang pedangnya untuk diteruskan menyerang pula,
hingga lawan menjadi repot ketika ia menyerang terus-terusan
tiga kali!
Pek lie kaget, terpaksa ia melompat mundur.
Cukat Tan tidak mau mengerti, ia melompat menyusul,
untuk mengulangi serangan saling susul, dengan demikian, ia
seperti mengurung lawan itu.
Peklie repot sekali, dia selalu mesti membela diri, karena
mana menjadi kena terdesak, bonekanya yang berat dan
panajng seperti membuatnya sulit bergerak dengan leluasa,
dia menang latihan tetapi kalah gesit.
Dengan mengandalkan kegesitannya, Cukat Tan menampak
menang unggul dan keunggulan itu ia pergunakan sebaikbaiknya.
"Awas!' teriaknya mendadak setelah bertempur puluhan
jurus.
Pek lie kaget dan menjerit kesakitan, tubuhnya mundur,
bahu kirinya mengucurkan darah sebab ujung pedang lawan
menikam tepat.
Cukat Tan berhenti sampai disitu, ia melompat maju, guna
mengulangi serangannya, atau dari dalam rombongan lawan
terlihat seseorang lompat maju pada si hitam yang brewokan
itu, guna menolong dengan dia lantas menghajar pedangnya,
hingga senjata mereka beradu.
"Siapa kau?" bentaknya orang baru itu. "bagaimana kau
merasakan kim tay tongcumu ini?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kim tay" adalah senjata sabuk sulam.
Cukat Tan heran, ia mengawasi penghadangnya itu,
seorang wanita cantik tetapi tampangnya bengis, matanya
sangat tajam.
Dia berdiri tegak di depannya Pek Lie cek.
"Kau sebutkan namamu!" kata Cukat Tan nyaring sesudah
ia mengawasi orang perempuan itu' "pedangnya Cukat tak
membinasakan perempuan siluman yang tak bernama!"
Wanita itu tertawa, dia mengawasi si anak muda yang
tampan, yang sangat menarik hatinya.
"Lou hong hui muncul guna main-main beberapa jurus
denganmu!" sahutnya tersenyum.
Cukat Tan tidak mau banyak bicara, pengalaman
memperingati ia untuk jangan memasang omong dengan
wanita centil itu atau genit, maka ia lantas maju menikam.
Wanita itu melompat muhndur, untuk mendapat
kesempatan memutar sabuknya yang panjang setombak lebih,
dengan cara itu, hendak ia melihat pinggangnya anak muda di
depannya itu!
Cukat Tan merasa sulit melayani senjata yang panjang
yang dapat diulur panajng itu, sedangkan pedangnya cuma
tiga kaki kira-kira, karena itu, perlu ia menggunakan siasat,
apa akal? mendadak ia menjatuhkan diri dengan jurus silat
"cacing bergilingan di pasir," tubuhnya terus menggelinding
menghampiri lawan, dengan demikian sambil berkelit, terus ia
membalas menyerang dibagian bawah, ia menyerang sambil
tubuhnya mencelat bangun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lou hong hui terkejut dan repot sekali, tidak dia sangka
lawan dapat lolos dari libatan sabuknya seraya terus
menghampiri dekat padanya serta menyrang dengan serangan
berbahaya itu, tapi dasarnya sudah berpengalaman, ia tidak
menjadi gentar atau bingung, ia berkelit dari ujung pedang
dengan tubuhnya lompat jumplitan, diwaktu mana, sebelah
kakinya terulur mendepak lawan!
Itulah berbahaya buat Cukat Tan, yang gagal menikam
lawannya, sulit buat ia menggunakan pedangnya atau berkelit
tubunhya. didetik yang sangat berbahaya itu, ia menjadi
nekat, terpaksa, terpaksa ia menyerang terus, buat celaka
bersama, demikian ia tidak menangkis atau berkelit ia justru
meneruskan tikamannya!
Tang hiang dipinggiran kaget sekali melihat pacarnya itu
dalam ancaman bahaya, dalam bingungnya ia menjerit sambil
berlompat maju, hendak mia membantui sang pacar atau
justru ia maju, justru ia menyaksiakn sesuatu yang
membuatnya heran dan tercengang!
Mendadak hoa hong hui dan Cukat Tan mencelat mundur
masing-masing, dua-daunya selamat tak kurang suatu
apapun!
Apakah yang telah terjadi?
Itulah sebab hong hui, yang banyak pengalamannya, tidak
mau celaka bersama, disaat yang tepat, dia dapat
membatalkan serangannya, sebaliknya dari pada menentang
terus, kaki lainnya dipakai menjejak tanah, buat melompat
mundur juga.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Menyusul itu terdengar siulan nyaring, yang menjadi abaaba
buat menunda pertempuraan, maka lou hong hui segera
mengundurkan diri dan Cukat Tan balik kedalam
rombongannya bersama-sama Teng Hiang, ketika itu Pek lie,
yang terluka sudah ditolong dan dirawat kawannya.
Pertandingan itu ditundah, bukannya dihentikan, maka itu
tak lama dari mundurnya hong hui berdua Cukat Tan, dipihak
sesat muncul lain pahlawannya,seorang pria setengah tua,
yang tangannya bersenjtakan golok dan tangan kirinya pisau
belati, dia betubuh besar, matanya bersorot bengis, yang luar
biasa ialah rambutnya hijau.
Melihat lawan itu, Teng Hiang mengenali Lek hoat jin long,
maka ia lantas menghadap ketuanya, mohon ijin maju buat
melayani lawan, ia memperoleh perkenan lantas ia maju.
Lek hoat jin long mengenali si nona mereka berdua pernah
bertemu di Kho-tiam cu. maka itu, tak mau Teng hiang bicara
lagi, bahkan ia lantas menyerang!
Lek hoat jin long menangkis serangan itu, dia lantas
tertawa, dialah si mata keranjanag, tak dapat ia melihat muka
kelimis atau timbullah maksudnya yang bukan-bukan.
"Oh, nona Teng Hiang!" katanya, "kembali bertemu pula
gunung dan air! sungguh kita berdua berjodoh!"
"Siapa kesudian mengadu mulut denganmu!' bentak si
nona, "lihatlah pedangku!'
Kembali Teng Hiang menyerang, kali ini ia menikam dan
menebas hingga tiga kali ini.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Masih Lek hoat jin long menggoda dengan kata-kata dan
tertawanya, ketiga serangan itu dengan mudah saja ia
menghalaunya, tapi sekarang Teng Hiang melihat sesuatu
pada lengannya lawan, lengan itu kaku dan bergeraknya
kurang lincah.
Memang, sepasang tangannya jin long telah dikutungkan
Kiauw In dan So Hun Cian Li si orang utan ketika diluar kota
Hen yang dia itu bertemu si nona dan Ya Bie serta binatang
paraannya itu, dia lihai, dia membuat sepasang tangan besi
dan masih tak mau tobat.
"Tanganmu kejam, nona." katanya tertawa, matanya
melirik Teng Hiang. "akan tetapi aku tahu, hatimu sebenarnya
baik bahkan manis, nah, marilah kita berdua main-main buat
beberapa jurus!"
Pria itu menggunakan golok, dengan senjatanya itu dia
menerjang lawannya, tetapi dia bukan menyerang seperti
biasa, hanya selalu menarik buah susu Teng Hiang, hingga
hatinya nona Teng menjadi sangat panas, dengan mendadak
ia membalas menyerang secara hebat!
******
Terpaksa Jinlong maju mundur, tetapi dia mundur sekalian
hendak menggunakan kesempatan, dia pun gusar sebab
terdesak itu. Mendadak dia meluncurkan lengan kirinya.
Kelihatannya dia menunju, tak tahunya tangannya
meluncurakn pisau belatinya itu, yang cahayanya berkilauan.
Teng Hiang kaget sekali, inilah ia tidak sangka, syukur
dalam keadaan terancam masih sempat ia menyampok pisau
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
belati itu,. tapi itu justru membuat kemarahannya meluap, ia
melompat sambl menebas bengis.
Masih Lek hoat jin long tertawa ceriwis, ia menangkis
dengan goloknya, kembali ia menyerang dengan tangan
kirinya yang sudah tidak bersenjata lagi, nampaknya ia
meninju, tidak tahunya mendadak tangannya itu
menyamburkan sesuatu seperti uap ungu, sebab itulah senjata
rahasianya, bubuk beracun Bie hun Tok-hun!
Teng Hiang terkejut, ia kena menyedot bubuk itu, tetapi ia
tidak takut, ia telah makan obatnya Pek Yam Siansu, bubuk
beracun itu tidak mempan terhadapnya.
Lek hoat jin long menggunakan bubuknya dengan dia
merasa sangat girang, dia percaya bubuknya itu bakal
berhasil, hingga mungkin dia dapat menawan nona buat
dibawah pulang, kedalam rombongannya, akan seterusnya
memiliki......
Justru bubuk itu belum buyar dan si pria ceriwis lagi
mengawasi tajam, mendadak dia melihat satu sinar berkelebat
ke arahnya, dia menjadi kaget, akan tetapi sebelum dia tahu
apa-apa, tubuhnya sudah roboh dengan jiwa melayang
seketika, sebab secara sangat cepat, Teng Hiang sudah maju
menyerang dengan satu tebasan ke arah pinggang hingga
pinggang itu putus!
Menyaksikan demikian, dari pihak barat lompat maju
seorang laki-laki yang tubuhnya jangkung kurus, yang kedua
tangannya memegang siang kauw, yaitu sepasang kaitan yang
menjadi senjatanya, dia gusar dan berkata bengis kepada
nona teng: "Eh, budak bau, kenalkah kau pada siauw tiong
beng dari to liong to?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Teng Hiang menunjuk pada mayatnya Lek hoat jin lomnng
sambil ia berkat: "siapa yang tak kenal kamu dari pihak To
Liong To? kamu telah mengucurkan banyak darah yang
berbau bacin dalam dunia sungai telaga! semua orang
membenci kamu! hanya mengenai kau sendiri, sayang
pendengaranku kurang luas, belum pernah aku dengar
namamu! apakah kau mau turut teladan dia ini supaya kau
pun mati puas?"
Mata Tiong beng mendelik.
"Jangan mengoceh saja?" bentaknya. "lihat senjataku"
Dan sepasang kaitannya menyerang Teng Hiang itulah
jurus "sepasang naga keluar dari laut,"
Teng Hiang menangkis, terus ia membalas, bahkan segera
ia mendesak, tapi siauw cong beng tidak sudi mengalah, dia
mencoba-coba mendesak, hingga keduanya jadi bertarung
seru sekali.
Dalam ilmu pedang dan kaitan, keduanya sama-sama
sempurna, hanya dalam hal tenaga dalam, atau keuletan, si
nona kalah setingkat, rupanya, itu disebabkan perbedaan usia
dari mereka itu berdua, hanya dalam hal keringanan tubuh,
Teng hiang lebih unggul, dengan begitu dapat ia menutupi
kelemahannya.
Pertempuran seru dan berisik disebabkan sering beradunya
kedua senjata, diantara penonton didua-dua pihak pun kadang
terdengar puji-pujian buat masing-masing jagonya, disebelah
itu, kedua pihak sama-sama waspada, buat membantu
pihaknya apabila bantuan mereka diperlukan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendadak saja satu sinar putih berkelebat, munculnya dari
arah barat, meluncur ketengah kalangan, maka segera tampak
Teng Hiang menjerit keras dan tubuhnya roboh ketanah, pada
bahunya tertancapkan sebilah golok lu yan To, dan dari
lukanya darah mengucur keluar sedang pedangnya lepas dari
gengamannya!
Justru itu si nona terjatuh maka siauw tiong beng
melompat ke arah lawannya itu sambil dia mengayun
kaitannya, sebab ingin dia merampas nyawa orang. Justru itu
juga dari arah timur bergerak tubuh melompat bagaikan
bayangan, melompat ke arah kalangan pertempuran, dan
sebelum lagi Tiong beng tahu apa-apa senjata kaitannya
terjun itu tiba-tiba tubuhnya roboh terjengkang dan darahnya
mencrat, dia rebah ditanah, tak berkutik pula.
Hebat penyerangnya Tiong Bneg itu, karena gerakannya
bagaikan kilat. Justru si orang she Siuaw roboh, dia justru
mengangkat bangun Teng Hiang, yang terus dipayang
dibawah pulang kedalam rombongannya. Dia bersenjatakan
sebatang pedang.
Semua orang dikedua belah pihak kagum sekali atas
gerakan penolong itu, sedangkan pihak kaum sesat kagum
berbareng kaget, kiranya dialah nona, yang sudah
menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta Ilmu
pedang Khie-bun patkwa kiam!
Dan dialah Cio Kauw In dari Pay In Nia, yang terpaksa
berbuat demikian guna membantu Teng hiang. Bukankah
nona itu pun roboh sebab terbokong?
Tengah nona Cio memayang Teng Hiang pulang, di
belakangnya tampak sesosok bayangan menyusul edngan
sangat cepat, didalam satu kelebatan, bayangan itu sudah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menghampiri sejauh dua tombak lagi! Menyususl itu, sehelai
sabuk panjang menyambar pada nona dari Pay In Nia itu,
bahkan itulah serangan “tok coa touw sin,--ular beracun
mementahkan racun”
Tepat orang menyerang padanya tepat Kiauw in memutar
tubuhnya seraya dia menebaskan pedangnya ke belakang,
maka itu dengan satu suara “sreet” perlahan, terkutunglah
senjata musuh, yaitu sabuk yang lihai itu. Kemudian tanpa
menoleh lagi, nona kita berjalan terus mengantarkan Teng
Hiang pulang kedalam rombongannya.
Bukan main mendongkolnya si penyerang gelap itu. Dialah
seorang bertubuh besar dan jangkung. Dia gusar dan malu.
Dila gusarnya, dia mengumbar hatinya. Maka juga dia
mendamprat:”Oh, budak hina dina! Kamulah bangsa palsu
semuanya siapakah diantara kamu yang mau datang kemari
akan menerima bisa?’
Suara itu keras dan keren, muka orang pun merah dan
membara, matanya melotot. Hanya sinar mata itu nampak
guram, kelihatannya ketolol-tololan.
Bu Sek hweshio dari liong houw Siang ceng segera maju
menyambut tantangan itu. Dia bertindak lebar hingga
jubahnya berkibar-kibar, pada lengannya tampak sepasang
kim hoan emas, yang bersinar berkeredipan. Dia menghampiri
lawan sambil memuji sang Buddha yang maha suci, terus dia
memberi hormat sambil berkata:”sicu, usiamu sudah lanjut
sekali, kenapakh masih begini tidak dapat bersabar?
Bagaimana kalau pin ceng yang menerima pengajaran
beberapa jurus dari kau?”
“Akulah kang Teng Thian dari to liong to!” orang itu
berseru memeprkenalkan dirinya. “Eh, keledai gundul yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tidak mempunyai nama, jangan kau membuat ruyungku
menjadi kotor!”
Bu Sek tidak menjadi kurang senang. Sebaliknya ia tertawa.
“sicu, pin ceng adalah Bu Sek dari Gwan Sek Sie!” iapun
memperkenalkan dirinya. “pasti sicu pernah mendengar
namanya liong houw siang ceng!”
Mana Teng Thian tertawa lebar.
“Memang itulah nama yang bukan kecil!” katanya, baiklah
sekarang ini lohu hendak mencoba coba kepandaian, taysu,
untuk mendapat kenyataan nama besarmu itu, nama curian
atau bukan!”
Didalam keadaan otak tak sadar seluruhnya, kang Teng
Thian menyebut orang sekenanya saja, nama kepala keledai,
nanti taysu—panggilan suci untuk seorang biksu. Disaat itu, ia
lupa pada siauw tiong heng, adiknya yang ia hendak bela, dan
begitu dia menutup mulutnya, begitu dia menyerang lawan
tanpa menanti jawaban dari lawan itu!,
Bu Sek berkelit kesamping, dari situ lantas ia membalas
menyerang dengan gelang emasnya, ia galak seperti lawannya
itu, maka itu. Keduanya lantas saling menyerang atau
bergantian berkelit, nayta snejata mereka, satu panajng yang
lain pendek, menyulitkan msaing-masing, Teng Thian mau
renggang, Bu Sek sebaliknya, dengan demikian, masingmasing
ada kelemahannya, asal Bu Sek merangsak, Teng
Thian mundur, hingga karenanya, sipendeta selalu maju
mendekati! Sebaliknya dengan jago to liong to itu, karenanya
demikian,keduanya tak mudah dapat memperlihatkan
serangan-serangan yang dahsyat. Yang terang ialah Teng
Thian seperti kena desak….
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kang Teng Thian juga terganggu oleh pikirannnya, tak
dapat dia memikir dengan sadar. Maka itu, dalam cara
berpikir, dia menang unggul, baik diwaktu menyerang,
maupun disaat berkelit dapat ia mengira dengans seksama.
Diwaktu menyerang, ia pula dapat mencuri kesempatannya
yang baik.
Nampaknya kedua lawan itu sama tangguhnya, akan tetapi
dimata ahli. Teng Thian adalah yang kalah angin. Bahkan dia
sudah memasuki tahap berbahaya. Dia bukan kalah lihai
hanya kalah dengan kekuatan otaknya.
Lewat kira setengah jam. Pertempuran berlangsung makin
hebat.
Im Ciu It Mo senang menyaksikan pertempuran itu. Dia
memang hendak mengadu jiwanya jago-jago kaum sesat buat
keuntungan dirinya sendiri, supaya pihak lurus mendapat
kerugian jiwa, buatnya, kematian jago-jago tidak berarti apaapa,
tentu saja, Teng Hiang semua tidak insaf yang mereka
tengah dijadikan perkaakas.
Lewat lagi sesaat maka berakhirlah sudah pertarungan
dahsyat itu, tahu-tahu pedangnya si orang suci telah
menyambar batok kepalah siornag sesat, maka robohlah jago
dari toliong to, pulau naga melengkung, dengan kepalanya
pecah terbelah!
Im Ciu It Mo menyaksikan kekalahan pihaknya itu. Segera
merubah siasatnya, begitulah di lantas bersiul, memberi
isyarat kepada ketujuh orang muridnya:”Cit Biauw Yauw Lie,
supaya mereka itu yang mengajukan diri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ek Toa Biauw menerima titah. Ia memberi hormat pada
gurunya, lantas ia mengajak enam orang saudarinya maju
ketengah tanah lapang. Hanya disaat ia hendak mulai
mengatur tin, Barisan rahasianya tiba-tiba ia didahului
dihampiri Gu Tauw Kong, murid kepala dari Ceng Shia Pay
sebab orang she gu itu mengenali Ek ci Biauw sebagai murid
murtad dari partaynya., ia tidak sangka adik seperguruannya
itu kabur terus masuk menjadi murid kaum sesat, lebih dahulu
tauw kong menemui gurunya buat mengasih keterangan
tentang ji Biauw serta memohon perkenan memberikan
hukuman pada adik seperguruannya itu, setelah memperoleh
ijin barulah dia maju, dia menghunus pedangnya dan
menghadap Im Ciu It Mo, habis memberi hormat, ia
berkata”Aku adalah Gu Tauw Kong murid Ceng Shin Pay, ingin
aku melaporkan pada bapak ketua dari Bu Lim cit cun tentang
Ek Ji Biauw Yauw Lie, bahwa dialah murid Ceng Shia Pay
yang buron dan sedang dicari, kerananya sekarang aku
datang untuk menawan dan menghukumnya!”
Im Ciu It Mo tahu, memang benar Ek Ji Biauw adalah orang
Ceng Shia Pay yang lari kepadanya di Hek Sek San dan
menerimanya sebagai murid, tentu sekali tak berani ia
melindungi murid itu secara terang-teragan. Maka ia berlagak
pilon. Maka juga sengaja ia menegur:”Eh, Gu Tauw Kong,
bukankah disini ada terselip soal pribadi, yang kau hendak
mengumbar secara umum? Tidakkah dengan demikian kau
bakal memnbuat orang penasaran?”
Gu Tauw Kong menjawab dengan hormat:”Dia benar-Benar
murid murtad dari partai kami. Disini hadir paman guru dari
kami dan beliau dapat dijadikan saksi dari kebenarannya katakataku
ini!”
“Gu Tauw Kong!” kata pula Im Ciu It Mo, “kalau benar kau
hendak membersihkan partaimu, buat itu kau harus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggunakan kepandaianmu, kalau kepandaianmu belum
berarti maka janganlah kau menyesal atau menyesalkan orang
lain! Terutama jangan kau nanti mengatakan aku kejam!”
“Itulah aturan kaum Bu Lim yang harus ditaati!” sahut
Tauw kong singkat.
Terpaksa mau Im Ciu It Mo, mesti membatalkan
penggunaan Barisan , ia panggil Ek Ji Biauw datang dekat
padanya, buat diberikan pesan sekalian diberikan juga secara
diam-diam sebungkus bubuk racun, guna si murid pakai
merobohkan lawannya, lawannya yang menjadi kakak
seperguruannya.
Ek Ji Biauw tidak menjadi jeri, ia mengandalkan pada
gurunya ini, bahkan ia girang sekali. Selekasnya ia
menghampiri Gu Tauw Kong, ia lantas menegur:”Eh, orang
she Gu, benarkah kau tidak memandang persahabatan lama
dan hendak membinasakan aku ?”
Tauw kong mengasih dengar suara dinginnya “Hm!”
berulang kali.
“Ek Ji Biauw, apakah kau masih tetap tak sadar?” tegurnya,
“kaulah si murid durhaka! Apakah kau menganggap dunia
kang ouw masih dapat menerima dirimu? Kau berbuat
pelanggaran, kau yang cari penyakit sendiri kenapa kau masih
membandel?’
Ji Biauw tertawa dingin.
“Siapa hidup siapa mati,. Dia harus mengandalkan
tangannya sendiri!” sahutnya keras dan gagah. Bahkan segera
dia menyerang dengan sabuk sulamnya, senjata yang
ujungnya kelihatan barang keras berupa seperti bulan sabit,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tapi itulah perkakas belaka, untuk ia mengtahui sampai
dimana sudah kemnjuan sang kakak seperguruannya yang
bengis itu.
Tauw kong berdiri tegak, ketika senjata sampai kepada
kepalanya, ia cuma berkelit, sikap tenang itu membuat si
nona percaya sang kakak telah menjadi lihai sekali, hingga
sulit buat ia mengalahkannya. Dari itu. Ia mau mengandalkan
racun bubuk gurunya. Lantas ia menyerang pula, kali ini
dengan sungguh-sungguh terus, terus dengan keras, hingga
sabuknya naik turun, ke kiri dan kanan, berputaran dan
melibat, menyambar-nyambar!
Gu Tauw Kong berlaku waspada dan gesit. Ia menangkis
dan berkelit dengan beraturan, ia pun membalas menyerang
setiap ada kesempatan, karena ia tidak mau hanya menjadi
sasaran, ia malah ingin lekas-lekas menyudahi pertempuran
itu!.
Segera setelah lewat banyak jurus, nampak Ek Ji Biauw
keteter, dia kalah lihai dan kalah hati juga. Oleh karena itu, dia
menjadi penasaran dan gusar sekali, hingga dia mengertak
gigi. Lantas dia mencari saat baiknya.
Gu Tauw Kong tidak menyangka jelek, ia mengira adik
seperguruan murtad itu sudah mogok, ia mendesak. Siapa
tahu, mendadak Ji Biauw menyerangnya dengan bubuk
beracunnya Im Ciu It Mo. Tak sempat ia menangkis atau
berkelit, dalam sekejap saja ia gelagapan, lantas ia roboh,
bahkan lantas keluar darah dari mulut, mata, hidung dan
telinganya.
Bukan alang-kepalang girangnya Ji Biauw yang ia berhasil
memperoleh kemenangan, sambil menuding mayatnya sang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
suheng ia berkata:” kau mencari mampus sendiri maka jangan
kau sesalkan siapa juga….”
Baru Ek Ji Biauw mengeluarkan ejekannya itu atau
mendadak saja tubuhnya roboh tergulung dengan jiwa segera
melayang, hingga orang –orang kedua belah pihak menjadi
heran, tak terkecuali Im Ciu It Mo yang senantiasa mengawasi
gerak-gerik muridnya itu.
Ek Toa Biauw kaget dan heran tetapi ia lantas lari pada
adiknya itu, untuk mengangkat tubuhnya, buat dibawah
pulang, ketika ia memeriksa tubuh si adik seperguruannya,
tidak ada luka yang ditemui kecuali sebelah pelipisnya
berlobang kecil dan dari situ tampak darah meleleh keluar.
Im Ciu It Mo gusar sekali, tahulah dia yang muridnya itu
telah terbokong. Maka juga dia mengawasi ke arah lawan
dengan matanya merah seperti darah.
Berbareng itu waktu di sebelah timur. Hay Thian Sin Nia
berbangkit untuk terus memberi hormat pada Liauw In Tianglo
seraya berkata:”Saudara ketua, pin-ni memohon maaf atas
perbuatanku!’
Liauw In membalas hormat, sepasang alisnya bergerak.
“Sinni tidak bersalah apa-apa,” sabutnya. “Sinni toh tengah
menghukum muridmu yang murtad yang telah menjadi sesat”
Pi sie Siansu tertawa dan berkata: ”Sinni, sungguh lihai
ilmumu Tan ciu sinthong serta Bie lip ta hiat sungguh jitu dan
tepat, hingga lolap menjadi sangat kagum!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan ci sin-thong ialah ilmu menyentil dengan jari tangan
serta Bie lip ta hiat adalah ilmu menimpuk jalan darah dengan
sebutir beras.
“Kalian baik sekali saudara-saudara!” Hay thian sinni
berkata pula. “perbuatan itu pinni lakukan karena terpaksa,
buat itu pinni bersedia menerima kutukan thian!’
“pinni” ialah sebutan ‘aku’ buat seorang nikouw.
Pi sie Siansu berkata pula: “seorang murid murtad harus
menerima hukumannya, apapula murid yang bandel dan
menjadi sesat dan jahat, hingga ia tak segan menggunakan
racun membinasahkan kakak seperguruannya sendiri. Orang
kejam semacam dia, kalau dia hidup terus, dia bakal berbuat
lebih banyak dosa, dia akan mencelakai lebih banyak orang
terutama kaum Bu Lim, sin ni telah membinasakannya,
Buddha kita tentu maklum dan akan memaafkan!’
Mendengar pembicaraan itu barulah semua pihak timur
ketahui sebab musababnya kematian Ek Ji Biauw. Hanya
selama itu, kedua belah pihak pada berdiam selama sekian
lama.
Sang malam makin larut, rrembulan sekarang berada
ditengah-tengah langit, angin gunung keras dan hawanya
sangat dingin sekali meresap di tulang.
Im Ciu It Mo sementara lantas berpikir keras, kekuranganya
Ek Ji Biauw menyebabkan Barisan Cit Biauw tin tidak dapat
dikerahkan. Jadi perlu dicari lain orang untuk diajukan guna
menantang lawan. Dia ingin sekali memperoleh kemenangan
…..
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tepat itu waktu. Ang gan kwi bo bangkit dari tempat
duduknya dan bicara dengan ketua Bu Lim cit cun,
menawarkan diri buat maju menempur musuh.
Im Ciu It Mo mengenal baik si biang iblis dari pulau Lee san
di Haylam itu, dia jarang mengembara, kurang
pengalamannya, dalam pertempuran, ilmu silatnya juga
sangat terbatas. Yang dia sangat andalkan adalah ilmu
sesatnya, yaitu:”Toat Pek mo im”—suara bajingan membetot
arwah, ilmu itu membuatnya menjadi jumawa. Sedangkan
senjatnya adalah sebatang tongkat rotan. Biasanya dia tidak
memakai sepatu, maka itu, dia melangkah ketanah lapang
dengan sepasang kakinya telanjang!
Bagi pihak timur, Ang Gan Kwie Bo boleh dibilang asing, dia
pun berwajah sangat luar biasa. Sudah rambutnya riap-riapan,
mukanya merah. Dia berjubah panjang, tetapi bertangan
pendek. Pada bajunya terdapat sulaman kupu-kupu warna
merah maron.
Cuma Tan Hong yang tertawa selekasnya si nona melihat
bajunya jago dari Lee san itu, dia lantas berkata:”Ditanah siok
sudah tiada panglima perang lagi, hingga Liauw hoa menjadi
sianhong, perwira yang maju di muka lihat, Ang Gan Kwie Bo
pun maju berperang!”
Tanah siaok ialah tempat formasi kerajaan tau dinasti Han,
dari Lauw pie, di jaman Sam Kok, tiga kerajaan.
Mendengar demikian, Pek Giok Peng berkata :”Biarlah aku
yang mencoba-coba bagaimana lihainya Biang iblis itu!”
“Ay ..ah, kau berhati-hati, kakak!” Tan Hong pesan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nona Pek lantas minta perkenannya Laiuw In Tianglo, terus
itu maju akan menghampiri yang baru itu. Bahkan tiba di
depan lawn, ia lantas menegur:”Ang Gan Kwie Bo, bukannya
kau bertapa digunung lee san, haylam, untuk hidup dengan
aman dan damai. Kenapa justru kau datang kemari
mencampuri diri dalam air keruh? Apakah kau tidak takut
mati?”
Orang yang ditegur tertawa terkekeh-kekeh, pertanda
bahwa dia berani sekali:”Nona, kau she apa dan nama apa?”
tanyanya. “Kau harus bicara dahulu!”
Sama sekali tak tampak tanda yang jago wanita dari Lam
Hay ini berniat berkelahi.
Terpaksa, Giok Peng pun tertawa menyaksikan lagak orang
itu.
“Akulah Siauw Yan Ji Pek Giok Peng!” demikian jawabnya.
“Pekerjaanku ialah menaklukan bajingan dan membekuk
iblis!”
Belum berhenti suaranya nona kita, atau Ang gwan Kwie Bo
sudah perdengarkan suara iblisnya, “Toat Pek Im Po,” –
gelombang suara memebtot arwah, --jeritan mana diulangulang
beberpa kali.
Suara itu sangat tajam masuk ke telinga bagaikan
mendatangkan rasa nyeri, sangat mengagetkan, dan bulu
roma bangkit berdiri karenanya, hingga tanpa merasa, orang
jeri sendirinya, demikian dengan Giok Peng. Dadanya
bagaikan bergolak, jantungnya berdebaran, darahnya
mengalis deras, hingga tubuhnya turut menjadi limbung,
terhitung mau jatuh! Karena itu jangan kata buat berkelahi,
buat menggengam pedang saja sukar…..
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bukan saja nona Pek, juga orang lainnya. Di sebelah timur
itu turut merasakan hebatnya Pekik iblis tersebut, darah
mereka terasa berjalan keras dan hati mereka goncang…..
Sementara itu. Tio It Hiong sudah memasang mata
semenjak Ang Kwie Bo mulai muncul, ia melihat dan
mendengar, begitu lekas ia mendengar suara orang dan
mendapatkan tubuhnya Giok Peng terhuyung-huyung, segera
ia melompat maju dan lari menghampiri, sedangkan
tangannya sudah menarik keluar Lee-cu, mutiara mustika dari
sakunya. Ia lari pada istrinya, yang mulutnya terus ia
desakkan mutiaranya itu, kemudian ia melompat mundur,
akan memasang mata, guna memberikan pertolongan lebih
jauh bila perlu…..
Ang Gan Kwie Bo girang sekali dapat menggunakan suara
jahatnya itu, ia terus memperdengar-kan lebih jauh. Hingga
suaranya makin mengentarkan, bagaikan Pekik burung
bajingan itu, ia sampai lupa menggunkan tongkat rotannya!
It Hiong mundur bukan melulu buat mengawasi Giok Peng,
diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya menurut ilmu
Khie Bun Hian Thian Khie Kang, guna menutup semua jalan
darahnya, agar darahnya tak bergolak. Iapun terbantu
khasiatnya darah belut emasnya serta hasilnya latihan Gie
Kiam Sut. Maka juga suaranya si biang bajingan cuma
membuat darahnya bergerak sedikit. Ia dapat tetap berdiri
tegak menjagai isterinya.
Lain-lain orang tergempur hebat sebab Toat Pek Im po
diperdengarkan terus-menerus, orang telah menutup telinga
tetapi toh hati mereka goncang dan muka mereka pucat pasi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Luar biasa khasiatnya Lee-cu, di dalam waktu yang pendek,
Giok Peng dapat pulih kesegarannya dan kesehatan tubuhnya.
Ia seperti tak terganggu sama sekali oleh suara aneh tapi
dahsyat dari lawannya. Maka diam-diam ia mengawasi
lawannya itu, lalu selagi mulutnya orang bekerja, tiba-tiba ia
menyerang dengan pedangnya!
Hanya dengan satu gerakan itu, tongkatnya Kwie Bo kena
dibikin terbang!
Nona Pek bergerak terus dengan sangat cepat. Dengan
pedangnya ia menuding si biang bajingan, sedangkan dengan
tangan kirinya ia menyambar rambut orang. Terus ia
mengancam:”tutup mulutmu! Apakah kau kira dengan ilmu
iblismu ini dapat kau menakuti nonamu?”
Giok Peng paksakan bicara, meskipun mulutnya lagi
mengulum mutiara mustika.
Ang Gan Kwie Bo kaget sekali, ia tidak menerka sama sekali
akan gerakan si nona lawannya itu. Memangnya ilmu silatnya
tidak lihai, lantas ia menjadi tidak berdaya, bahkan tubuhnya
gemetaran saking takutnya. Di dadanya sudah terancam ujung
pedang mustika. Hatinya berdebar keras, tubuhnya lantas
bermandikan peluh dingin. Ia menggoyang-goyangkan
tangannya. Mukanya menjadi sangat pucat, karena ia tidak
dapat lantas membuka suara, gerakan tangannya itu
merupakan permintaan ampunnya….
Cio Hoa sang murid menjadi kaget dan ketakutan. Diapun
tidak berdaya. Maka dia menghampiri gurunya, akan memeluki
kaki orang sambil dia menangis sesugukan.
Baru sekarang Ang Gan Kwie Bo menyesal, sampai air
matanya tergenang……
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Giok Peng menggerakkan pedangnya, ia membabat kutung
rambut orang yang panjang, yang ia cekal dengan tangan
kirinya, menyusul itu, ia mendepak tubuh si biang bajingan
sambil ia membentak:”kau menggelindinglah!”
Benar-benar tubuhnya Ang Gan Kwie Bo bergulingan lebih
jauh dan hatinya pun mulai tenang, dengan muka kemerahmerahn
saking malu, ia merayap bangun, terus dia
mengawasi nona Pek, sinar matanya menunjukkan yang dia
bersyukur sebab jiwanya tidak dirampas. Setelah itu, tanpa
mengatakan sesuatu, dia menarik tangan muridnya buat
diajak berlari pergi!
Sampai disitu, hati semua orang sudah tenang kembali,
maka juga, menyaksikan tingkahnya si biang bajingan, mereka
tertawa.
Adalah Im Ciu It Mo di sebelah barat yang menjadi kaget,
malu tak enak hati. Dia khawatir, dia pula panas hati, maka
berulang-ulang dia mengetuk-ngetuk tanah dengan
tongkatnya.
It Yap Tojin melirik Im Ciu It Mo, sang kawan yang tadinya
ia biarkan menjadi pemimpin, atau ketua diantara mereka. Ia
pikir sekarang tibalah saatnya buat ia merampas kedudukan
tanpa menyentuh rasa tinggi diri dari si bajingan tunggal,
maka sembari tertawa lebar, ia berkata:”saudara ketua,
apakah kau membutuhkan bantuanku tauwto si rahib?”
Im Ciu It Mo menoleh mengawasi, mednadak ia tampak
tenang, ia tampak girang. Maka tak lagi ia bermuka kebirubiruan
saking masgul dan bareng mendongkol. Iapun lantas
menyahuti:”Toheng, janganlah kau mengucap begini!
Terhadapmu bahkan memintapun aku tak berani!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Yap Tojin tersenyum..
“Cuma,” katanya, “kalau pinto sendiri yang turun tangan itu
tidak mungkin kurang bagus kesudahannya!.......
Im Ciu It Mo melengak. Dia manatap rahib itu, dasar cerdik
dan licik, dia dapat menerka hati orang, maka ia lantas
berkata :”asal lotiang turun tangan, pasti kita bakal
memperoleh kemenangan! Setelah ini, Toheng, tidak nanti aku
berani menyangkal jasa besarmu!’
It Yap tertawa lebar itulah jawaban yang ia tunggu-tunggu.
Tapi ia menggunakan alasan. Katanya :”Pinto tak memikir
sedemikian jauh, bukankah kita satu sama lain sahabatsahabat
dari satu hati dan satu tujuan? Dibawah dari cit cun,
kedudukan yang terakhir bagiku pun sudah cukup!”
Bukan main girangnya Im Ciu It Mo mendengar kata-kata si
rahib, hatinya menjadi sangat lega, maka lantas ia berkata
:”Baiklah, dengan cara begini kita berjanji silahkan Toheng
turun tangan!”
It Yap mengangguk.
“Baiklah, akan pinto coba, “ sahutnya
Walaupun ia mengatakan demikian, It Yap Tojin tidak
lantas maju sendiri hanya sambil mengulapkan tangannya ia
menyuruh Gak Hong Kun, muridnya.
Hong Kun mau maju pada permulaan pembukaan, ia
dicegah oleh gurunya, ia telah meminta beberpa kali tapi
selalu gurunya itu mengisyaratkan buat ia bersabar, sampai
sekarang tibalah saatnya ia maju, maka ia juga girang bukan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
main, tidak ayal lagi ia memegang gagang pedangnya, terus ia
melompat maju, dan terus pula ia menantang :”Mana dia Tio
It Hiong? Mari maju! Bukankah cepat kalau sekarang kita
mencari keputusan?”
It Hiong mau menyambut tantangan itu, inilah kesempatan,
sebab ia akan dapat menempur si manusia licik di muka
umum. Hanya belum lagi dia maju, Giok Peng sudah
mendahuluinya, nona itu panas hati, sekarang sudah tidak ada
sisa kasih atau kesan baiknya terhadap anak muda itu,
sebaliknya. Ia sangat membencinya. Maka dengan menempur
si anak muda, hendak ia melampiaskan dendam hatinya yang
telah tertahan sekian lama. Bahkan setibanya di tanah lapang,
ia tanpa membuka mulutnya lagi, ia sudah lantas menerjang!
Gak Hong Kun pun membenci nona Pek, sebabnya mudah
dimengerti. Si nona telah meninggalkannya, sekarang tiba
kesempatan akan mengumbar sakit hatinya. Maka ia
menyambut serangan si nona dan lantas saja melawan,
bahkan membalas menyerang, dengan hebat sekali!
Setelah bertemu dengan gurunya, meski juga didalm waktu
yang pendek, Hong Kun telah memperoleh petunjuk dari
gurunya itu hingga ilmu silatnya mendapat kemajuan yang
berarti.
Diantara pasangan ini, dalam halnya ilmu silat, mereka
seimbang, sulit buat mengatakan siapa terlebih lihai, tetapi
toh Hong Kun menang diatas angin, disebabkan senjatanya
pedang mustika Kie kwat kiam yang tajam luar biasa! Ia jadi
dapat menangkis pedang si Nona tanpa rasa khawatir.
Sebaliknya, Giok Peng harus waspada. Ia mesti menjaga
supaya pedang mereka tidak beradu satu sama lain—beradu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bagian tajamnya, kecuali mengadu bagian samping atau
sisinya. Karenanya si nona tampak kalah rangsak.
Pertempuran segera menjadi seru sekali. Keduanya
berkelahi seperti untuk mati atau hidup. Bagusnya mereka
masih dapat menggunakan otak mereka. Mereka sama-sama
bersikap keras tetapi tidak membabi buata.
Tentu sekali, pertempuran sangat menarik perhatian kedua
rombongan barat dan timur itu, terutama pihak timur, It Hiong
bersama Kiauw In dan Tan Hong yang perhatiannya tertarik
sepenuhnya, lebih-lebih si pemuda, sedikit banyak, ia khawatir
buat isterinya itu sebab ia tahu Hong Kun lihai dan licik,
sedangkan Giok Peng jujur.
Lama pertempuran berlangsung, sampai orang dikejutkan
suara beradunya senjata yang keras sekali disusul jeritannya
Giok Peng, si nona mana terus tampak melompat mundur dan
pakaiannya basah dengan darah dan tubuhnya pun
terhuyung-huyung!
Kiauw In berdua Tan Hong sudah lantas melompat maju,
guna memayang saudaranya itu, sebaliknya It Hiong
melompat pada Hong Kun, guna terus menyerangnya. Ia
sekarang menggunakan Keng Hong Kiam, pedang mustikanya
yang telah dikembalikan oleh Tonghong Kiauw couw. Hingga
ia dapat berkelahi dengan hati mantap. Ia pun sudah lantas
menyerang dengan keras sekali sebab hatinya panas
menyaksikan isterinya dilukai si pemuda jahat dan licik.
Sebenarnya kekalahannya Giok Peng tadi bukannya
kekalahan lantaran kalah pandai, itulah sebab disaat sedang
murka itu, ia kehilangan kesabarannya, ia tahu yang senjata
lawan senjata mustika, toh disaat itu ia lalai, Hong Kun
menyerangnya, ia menangkis, ia menangkis dengan jurus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“melintang menyapu seribu serdadu” itulah tangkisan yang
wajar, tapi Hong Kun sangat cerdik. Dia membatalkan
serangannya ditengah jalan, selagi si nona menangkis, ia
membabati pedang nona itu, disaat demikian, tak keburu Giok
Peng menarik pulang pedangnya. Maka pedang itu kena
terbabat kutung dan ujung pedangnya si pemuda meluncur
terus mengenaikan lengannya tanpa ia berhasil
mengelakkannya. Hanya syukur, pedang lawan tak sampai
menebas kutung lengannya itu, karena ia masih bisa mengelit
tangan dan tubuhnya.
Sekarang Hong Kun mesti melayani It Hiong. Sekarang ia
bukan menempur orang seperti pertempuran dahulu hari di
Heng San, sekarang mereka bukan lagi sahabat dan It Hiong
pula tak lagi memandang-mandang. Sekarang merekal musuhmusuh
besar.
Selama di Heng San, kepandaian mereka berdua dapat
dikatakan seimbang sekarang lain sekali, selain
pengalamannya bertambah It Hiong pun pandai ilmu Gia Kiam
Hui Heng Sut, sedangkan kemajuannya Hong Kun lain lagi,
tapi sekarang Hong Kun berkelahi nekat, dengan keberanian
luar biasa, dibelakangnya, di sana, ada gurunya, yang
membuat nyalinya menjadi besar. Dia pula sangat ingin
merobohkan bahkan membinasakan musuhnya ini, yang ia
anggap menjadi saingan hebat dalam urusan asmara, ia tetap
menganggap It Hiong merampas Giok Peng dari tangannya.
Dengan bersenjatakan Kie Kwat Kiam, Hong Kun menjadi
tidak kenal takut, dia melawan dengan sungguh-sungguh hati.
Hanya kali ini. Seperti di Bu Ie San, pertempuran mereka
tampak luar biasa. Itu karena Hong Kun tetap dalam
penyamarannya, hingga wajah dan dandanannya sama
dengan It Hiong. Hingga mereka mirip dua orang kembar,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hingga sangat sulit orang membedakannya. Selagi bertempur,
tubuh mereka bergerak dengan sangat gesit! Mana It Hiong ?
mana Hong Kun? Karena tampang dan pakaian, pedang
mereka pula sama-sama pedang mustika, yang bentuk dan
tampangnya sama pula.
Setiap terdengar suara nyaring dari beradunya senjata,
selalu tampak letupan api berpeletikan dan berkilauan. Hingga
pertempuran bagaikan disemarakkan kembang api…..
Semua penonton menyaksikan pertempuran dengan
berdiam saja, melainkan mata mereka yang dipasang tajam,
sebisanya kedua pihak ingin mengenali, yang mana satu jago
mereka. Tentu sekali, berbareng pun ada yang hatinya
berkebat-kebit sebab melihat serunya pertempuran.
Demikian semua penonton seperti mereka menonton
sambil melongo. Siapakah bakal menang? Siapakah bakal
roboh dan runtuh?
Tentu sekali, walaupun pertempuran berjalan cepat,
mereka itu telah memakan waktu yang lama. Sekian lama itu.
Mereka tetap sama tangguhnya, sama gesit dan lincahnya!
Tentu sekali, sama-sama mereka pun terancam maut…..
Meski juga sudah berjalan lama, pertempuran tidak
berubah menjadi kendor, kedua pihak tetap bergerak dengan
cepat dan keras.
Lagi setengah jam berlalu, maka disaat itu barulah tampak
perubahan. Hong Kun mulai bermuka merah. Napasnya mulai
terengah-engah. Dan gerak-geriknya tak lagi segesit semula.
Tidak demikian dengan It Hiong. Pemuda itu tampak segar
seperti semula.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kemudian tibalah saat yang memutuskan. Sekonyongkonyong
satu tusukan dari It Hiong merupakan susulan dari
satu tangkisan atas serangan dahsyat Hong Kun. Yang
membuat pedangnya pemuda she Gak itu terpental. Dibarengi
satu teriakan yang mengerikan. Lantas tubuhnya roboh
bermandikan darah. Roboh tanpa berkutik lagi. Karena rohnya
sudah lantas melayang pergi meninggalkan tubuh kasarnya!
Habis merobohkan lawan itu, It Hiong berdiri diam
bagaikan tonggak. Wajahnya tidak memberikan perubahan
apa-apa. Hingga dia tak tampak seperti orang yang baru
merebut kemenangan. Karena di detik itu, pikirannya rada
kacau memikirkan nasibnya orang she Gak itu!
“Adik Hiong, kau kembalilah!” demikian satu suara perlahan
tetapi tegas terdengar It Hiong. Suara itu dikeluarkan setelah
orang menghela napas. Dan itulah suaranya Pek Giok Peng,
yang terharu menyaksikan gerak-gerik suaminya itu.
It Hiong mendengar suara si nona. Ia bagaikan sadar,
maka mau ia memutar tubuhnya buat kembali kedalam
rombongannya, mendadak ia medengar bentakan bengis
terhadapnya :”Diam, jangan pergi!” dan bentakan itu disusul
dengan berkelebatnya sesosok tubuh, yang berlompat ke
arahnya!
Itulah It Yap Tojin, yang hatinya bagaikan pecah sebab dia
mesti menyaksikan muridnya binasa, maka juga selekasnya
dia datang dekat, dia berteriak setinggi-tingginya :”Kau ganti
jiwa muridku! Kau…..kau….ganti jiwa muridku!”
It Hiong menghadapi imam itu. Ia memberi hormat sambil
menjura.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Totiang," katanya sabar, "Aku yang muda mengharap
supaya totiang mengerti akan keadaan kita. totiang menjadi
orang tua kenamaan dan mengerti segala aturan, jadi totiang
pasti dapat memberikan pertimbangan secara adil.
pertempuran barusan adalah pertempuran buat mati atau
hidup, karenanya dari itu tidak dapat diharap kesudahan yang
sempurna bagi kedua belah pihak! Di dalam hal ini maka
hanya harus disesalkan murid totiang, yang kepandaiannya
kurang sempurna....."
"Ganti jiwa muridku!' teriak pula si rahib, yang telah
menjadi seperti kalap. sikapnya pun mengancam.
It Hiong tetap sabar, akan tetapi ketika dia berkata pula.
suaranya terang dan tegas :"Totiang, bagaimanakah pendapat
totiang andaikata yang rebah binasa di situ bukannya Gak
Hong Kun tetapi aku Tio It Hiong? apakah yang totiang akan
bilang?"
Ditanya begitu, agaknya It Yap Tojin tersadar, berhentilah
ia dengan teriakan kalapnya itu. lantas ia mengawasi si anak
muda, dia tercengang. tetapi hanya sebentar, sinar matanya
lantas menyala! cepat luar biasa, ia melompat kepada Hong
Kun guna menyambar pedang Kie Kwat muridnya itu,
kemudian dengan mencekal pedang itu, dia menghadapi anak
muda kita, untuk memperdengarkan suaranya yang keras
sambil dia menuding :"Orang She Tio, beranikah kau
membereskan sakit hati muridku yang telah kau binasakan
itu?"
"Totiang," kata It Hiong, sabar luar biasa, "Sekarang ini
totiang tengah dipengaruhikan hawa amarahmu yang meluapluap,
karena itu tak berani aku melayani kau, sebab aku
dengan begitu bisa menjadi seorang Bulim muda yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berdosa telah melawan seorang tua, maka itu waktu akan aku
pergi kepda totiang guna mohon maaf..."
"Hm!" sirahib memperdengarkan ejekannya. "Jangan kau
mengoceh tidak karuan! itulah tak perlu! kau bersiaplah. pinto
hendak turun tangan sekarang!"
Si rahib sudah lantas mengangkat tanganya, hendak ia
melangkahkan kakinya.
"Tahan!" It Hiong berseru, "Aku masih hendak bicara!"
Masih saja si anak muda berlaku hormat.
"Kau mau bicara apa lagi?" tanya si rahib bengis. "Lekas"
"Totiang," kata It Hiong, sabar, "Totiang bersama guruku
serta ayah angkatku terkenal sebagai tiga orang gagah luar
biasa di kolong langit ini, nama totiang tersohor sekali dan
nama itu pastikan berada buat selam-lamanya, oleh karena
itu, dirusak dalam satu saat cuma disebabkan kemarahan?
bukankah sebagai seorang ketua partai, nama totiang telah
harum sekali? dapatkah totiang merusak itu didalam satu hati?
Nampak parasnya si rahib tidak sebengis tadi, tetapi ketika
dia berkata, suaranya tetap keras.
"Siapa membunuh orang, dia harus mengganti jiwa"
demikian jawabnya. "Siapa berhutang darah, dia mesti
membalas dengan darah juga! bocah, apakah kau hendak
bersilat dengan lidahmu? apakah kau hendak menentang
kenyataan? jadi kau hendak menyingkir dari keadilan? Hm!"
It Hiong dapat mengendalikan dirinya. ia menuding pada
mayatnya Hong Kun dan menanya:"Totiang, coba totiang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
perhatikan tampang muka dan dandanya orang itu! coba
totiang bilang, dia Gak Hong Kun atau bukan?"
It Yap Tojin mengawasi muridnya itu, lantas ia berdiri
menjublak. sudah sekian lama. baru sekarang dia sadar.
memang, Hong Kun sangat mirip dengan It Hiong! maka dia
heran, kenapa tak dari siang-siang dia melihat penyamaran
muridnya itu!
Selagi orang berdiam. It Hiong mengawasi saja. ia menanti
jawaban.
Justru itu diam-diam, diluar tahunya si rahib dan juga si
anak muda, disisi mereka sudah muncul seorang lain, ialah
seorang pendeta yang tubuhnya tinggi dan kekar akan tetapi
sikapnya sangat alim, entah kapan datangnya dia! dan dialah
Pe Sie Siansu dari vihara Gwan Sek Sie digunung Ngo Tay
San.
Segera biksu itu memperdengarkan batuk-batuk perlahan,
segera dia merangkapkan kedua belah tangnya terhadap It
Yap Tojin.
"Toheng!" sapanya terhdapa rahib itu.
It Yap Tojin mengangkat mukanya, dia mengawasi orang
yang menyapanya. dia masih mengenali pendeta itu walaupun
sudah beberapa puluh tahun tak pernah mereka bertemu pula.
"Toyu dari Gwa Sek, ada pengajaran apakah dari kau?" dia
tanya.
Pie Sie Siansu tersenyum.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Maksudku tak lain tak bukan," ia menjawab, "Berdasarkan
pantang mudah murka dan membunuh dari sang buddha
kami. lolap ingin menyampaikan sepatah dua patah kata pada
Toheng, agar....."
Ia berhenti sebentar, baru ia melanjutkan:"Toheng sudah
berusia mendekati tahun ke seratus, itu pertanda bahwa harihari
mendatang kita sudah tidak lama lagi, bahwa di dalam
waktu sekilas lalu, kita bakal menjadi tulang belulang di dalam
peti dalam tanah! jika telah tiba saatnya itu, dimanakah
adanya budi atau permusuhan?"
Alisnya It Yap Totjin bangkit, kumisnya bangun.
“Hm,” terdengar suara tawarnya. Ia tidak menjawab atau
mengatakan sesuatu, bahkan pedangnya ia masuki kedalam
sarungnya.
Pie Sie Siansu mengawasi. Ia berkata pula:”Kaum rimba
persilatan umumnya, karena soal nama atau hawa amarah,
suka sekali menerbitkan peristiwa-peristiwa berdarah, hingga
mereka saling menanam permusuhan besar, hingga
selanjutnya mereka gemar saling menyantroni, itu artinya bagi
kita sudah tak ada lagi saat-saat tenang dan berbahagia!
Bukankah ada dibilang, siapa membunuh ayah orang, ayahnya
dibunuh orang lain? Siapa membunuh kakak orang, kakaknya
akan dibunuh juga, demikianlah orang saling membinasakan,
langsung dan tidak langsung! Kenapakah demikian? Oleh
karena itu lolap memohon sudilah kiranya Toheng
menjernihkan otakmu menyingkirkan pikiran sesat, terus
berlaku tenang untuk memahami artinya kata-kataku ini.
Amidha Buddha,”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Yap Tojin masih berdiam, nasehat itu meresap kehati
sanubarinya. Dia memang asal sadar tetapi belakangan berat
kepihak sesat.
Si biksu batuk-batuk. Terus dia melanjuti katakatanya:”
Diantara tiga orang yang bersama –sama Toheng
ternama besar, Tek Cio Toyu sudah pergi merantau untuk
melepaskan diri dari dunia kita ini, sudah kemana perginya,
sedang Pat Pie Sie Kit In Gwan Sian, dia telah menutup
matanya buat selama-lamanya tak dapat melihat pula, akan
tetapi mereka berdua berlalu dengan meninggalkan namanama
yang besar dan harum, maka itu tinggal Toheng sendiri
sekarang ini, sudah selayaknya jika Toheng pun sudi
menyempurnakan diri sebagai layaknya, agar nama kalian
bertiga harum bersama, agar namanya ketiga orang tak
ternodakan! Demikian apa yang hendak lolap katakan,
Toheng, maka sekrang terserahlah kepada Toheng sendiri!”
Mendadak saja, It Yap Tojin bagaikan mendengar khotbah
penerangan, mendadak ia sadar sesadar-sadarnya, hingga
otak dan hatinya menjadi jernih, hingga lenyap juga rasa
marah dan mendongkolnya, lalu, dengan tiba-tiba ia
melemparkan Kie Kwat Kam ke sisinya Hong Kun, terus ia
membuka langkah lebar, lari turun gunung In Bu San, hingga
selanjutnya orang tidak mendengar pula perihal dia!
Pie Sie Siansu bersama Tio It Hong mengawasi orang
menghilang dikaki gunung. Lalu, bersama-sama mereka
kembali ke dalam rombongan mereka kemana Pek Giok Peng
telah dipayang pulang buat diobati dan beristirahat.
Di pihak Bulim Cit Cun, orang saling memandang dengan
melongo, diluar dugaan mereka, It Yap Tojin dan Hong Kun,
hilang dan mati tidak karuan, diam-diam hati mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menjeblos, sebab mereka kehilangan orang–orang yang dibuat
andalan.
Selain itu, menyaksikan pertempuran diantara It Hiong dan
Hong Kun, hati mereka gentar dan ciut. Hebat pertempuran
itu, terutama hebat adalah It Hiong. Si anak muda yang gagah
dan lihai luar biasa!
Tapi Im Ciu It Mo sendiri tidak puas dan penasaran.
Sekarang saatnya buat dia berkuasa sendiri. Karena sudah
tidak ada lagi It Yap Tojin yang bisa menjadi saingannya yang
hebat. Lantas ia tertawa terkekeh-kekeh dan berkata pada
sekalian kawannya :”Saudara-saudara, ditempat dan saat
seperti ini. Tidak ada lagi saat buat kita bersantai dan berpikirpikir
pula! Saat ini ialah saatnya kita menghajar musuh, buat
melabraknya habis-habisan, inilah saat mati hidup kita
semua!”
Hiat Mo hweshio berani, dia menjawab nyaring :”Bapak
ketua benar, apakah yang kita takuti? Biarlah kami Hong Gwa
Sam Mo membinasakan mereka!”
Ketiga Tok Mo palsu pun turut berseru :”Sahabatku, kau
benar sekali, nah kalian bertiga majulah, supaya kita dapat
mengangkat nama Bu Lim Cit Cun kita!”
Hiat Mo mengangguk, dia mendapat persetujuan dari Peng
Mo dan Tam Mo, dua orang saudara angkatnya, maka ketiga
mereka lantas mengajuhkan diri. Mereka menantang Tio It
Hiong? Mereka percaya, asal It Hiong, roboh, tentu hancurlah
kaum sadar itu. Mereka tidak takut, mereka bertiga, It Hiong
sendiri, dan mereka pun memiliki senjata rahasia mereka yang
lihai -bubuk beracun-.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di sebelah timur banyak orang yang hatinya tidak tenang
mendengar It Hiong ditantang seorang diri. Nama Hong Gwa
Sam Mo memang terkenal sekali. Maka ada memikir untuk
memajukan seorang pembantu. Tidak demikain anggapannya
Liauw In Tianglo dari Siauw Lim Pay. Biksu tua ini justru
percaya betul kepandaiannya si anak muda. Maka juga ia
berkata : ”Baiklah. Tio sicu dapat menyambut tantangan
mereka itu! Bahkan dengan begini, kita jadi membuat puas
hatinya ketiga bajingan itu!”
Mendengar suaranya sang ketua, semua orang berdiam.
Hanya itu Hay Thian Sin-ni seorang yang menganggap baiknya
Tio It Hiong makan lebih banyak obat pemunah racun. Maka
lantas ia menoleh dan mengawasi Pek Yam Siansu dari Bie Lek
Sie. Terus ia mengedipkan mata pada It Hiong, supaya si anak
muda meminta obat dari biksu tua itu.
It Hiong tidak menyambuti isyarat itu, ia hanya dengan
tenang merogoh sakunya dan mengeluarkan peles kecilnya,
dari mana ia menuang enam butir obatnya, yang terus ia
masuki kedalam mulutnya dan telan, baru setelah itu, ia
menjura pada si nikouw seraya berkata:”Baiklah, aku yang
muda menurut nasehat, aku makan obat,”
Hay Thian Sin-ni heran, lantas ia pikir, tentulah It Hiong
muda dan keras tabiatnya. Bahwa anak muda ini tak sudi
sembarang tunduk pada orang lain, hingga ia menyayangi
anak muda itu, maka hatinya menjadi kurang tentram. Tidak
ayal pula, ia bangkit, akan memutar tubuh menghadapi Pek
Yam Siansu, untuk berkata pada pendeta tua itu :”Suheng,
mengapa kau berlagak pilon saja? Hayolah keluarkan Wan Ie
Jie, obat mujarab itu!”
Pek Yam Siansu , yang terus duduk bercokol sambil
memejamkan matanya, membuka matanya itu, ia terus
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengawasi nikouw, untuk kemudian berkata :”Oh, nikouw
yang tak sabaran! Baik kau ketahui Wan Ie Jie sudah berjalan
masuk sampai kedalam kantung nasinya Tio sicu!”
Begitu ia mengucapkan kata-kata itu, begitu si biksu
meram pula. Hay Thian Sin Ni heran hingga ia melongo.
Menyaksikan demikian, It Hiong berkata hormat pada
nikouw tua itu :”Terima kasih untuk kebaikanmu ini, sin ni,
Obat yang aku makan adalah obatnya losiansu sendiri”
Mendengar demikian Hay Thian Sie Ni tersenyum, terus ia
duduk pula.
Selama itu, Hong Gwa Sam Mo sudah tidak sabaran, hingga
Hiat Mo mengulangi tantangannya.
It Hiong sebaliknya tidak puas, maka waktu ia bertindak
maju, ia berkata nyaring :"Orang sudah tua-tua tetapi tidak
mengenal aturan kaum kang ouw! buat apakah kalian
berteriak tidak keruan juntrungannya?"
Peng Mo tidak puas dia sudah berusia empat puluh tahun
tetapi dia benci kalau orang mengatakan dia tua. Maka diapun
berkata:"Eh, bocah, buat apa kau mengadu lidahmu? marilah
maju kita mengadu kepandaian kita!" baru dia berkata begitu,
dia merasa sebutannya kurang tepat, maka lekas-lekas dia
menambahkan:"Eh, orang muda, saudara yang baik! mari,
saudara, kakakmu hendak main-main beberapa jurus
denganmu!"
Kagum Peng Mo, Bajingan Es, melihat It Hiong berwajah
demikian gagah dan tampan, hatinya menjadi sangat tertarik,
maka hendak dia beraksi, memperlihatkan tingkahnya yang
menggiurkan guna menggempur hati muda orang.....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dasarnya gemar paras tampan, Peng Mo menjadi tak tahu
malu, sekalipun di depan banyak orang kaum sesat dan sadar,
dia membawwa tingkah centilnya itu,
"Hm," It Hiong memperdengarkan suara dingin seraya ia
menghunus Keng Hong Kiam, pedang mustikanya itu,
kemudian barulah ia menjawab nyaring :"Pedangku ini yang
panjangnya tiga kaki tidak kenal orang dan juga tidak dapat
mengadu lidah, oleh karena itu aku mohon kalian bertiga
harap berhati-hati, supaya kalian tak nanti menyesal setelah
kasip!"
Hiat Mo gusar mendengar suara besar dari si anak muda,
tanpa mengatakan apa-apalagi, ia maju sambil mengirim satu
hajarannya!
Melihat saudaranya sudah turun tangan, Peng Mo
menggertak gigi, iapun menyambuti goloknya dan turut
menerjang juga, maka kecuali seranagnnya si Bajingan Darah,
It Hiong mesti membela diri dari serangan si Bajingan
Kemaruk dan Bajingan Es!
Demikianlah It Hiong kena dikurung ketiga penjuru, hingga
ia mesti berkelahi sambil berputaran, sebelahnya sepasang
pedang dan sebatang golok, ia mesti berjaga-jaga dari tangan
kosong tetapi lihai dari Hiat Mo, mereka itu justru ingin
berkelahi cepat, guna cepat-cepat juga menyudahi
pertempuran.
It Hiong sendiri juga ingin lekas-lekas merobohkan ketiga
lawannya itu, supaya ia berhasil cepat-cepat membasmi kaum
sesat tukang bikin kacau golongan sadar dan lurus. Maka itu ia
memutar pedangnya bagaikan kitiran.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Diantara ketiga bajingan, Hiat Mo si bajingan darah adalah
yang paling lihai ilmu silatnya dan dia juga paling telengas,
sudah begitu, dia berkelahi dengan bengis sekali, maka,
karena kedua belah pihak sama-sama ingin pertempuran lekas
selesai, dapat dimengerti hebatnya jalan pertempuran.
Sepasang golok Peng Mo si nikouw mengeluarkan cahaya
kebiru-biruan, selain senjata itu termasuk senjata mustika,
yang tak takut segala macam senjata logam lainnya, golok
pula diberi racun. Karenanya, bisa dimengerti yang dia
mencoba merangsek dan mendesak lawannya.
Adalah Tam Mo si kemaruk yang licik, sebab dia takut mati,
dia ingin hidup panjang umur, dia benar membantui dua
saudaranya tetapi ia merangsak secara waspada. Dia lebih
banyak berkelit menyingkir daripada mendesak menghajar
lawan.
It Hiong dapat melihat ketangguhan dari lawannya itu,
lantas ia berlaku cerdik. Ia mengguna-kan akal. Tam Mo si
licik termakan umpan. Disaat dia merangsak untuk
menyerang, mendadak dia dipapak anak muda kita.
“Aduh….’ Demikian jeritan tertahannya, sebab tubuhnya
terus roboh bermandikan darah dan jiwanya melayang pergi!
Hiat Mo dan Peng Mo kaget sekali, itulah tidak mereka
sangka, mereka jadi sangat gusar, hingga mereka berniat
menuntut balas, segera mereka memperhebat serangannya!
Diam-diam Peng Mo telah menyiapkan bubuk beracunnya.
Dia mendesak hebat sekali. Berbareng menyerang dengan
kehebatannya, ia pun menyebarkan racunnya, maka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berhamburanlah bubuk racun itu, bagaikan halimun yang
menututpi muka It Hiong!
Bukannya kepalang girangnya si bajingan es, dia percaya
yang bubuknya sudah meminta korban,
Hiat Mo pun girang, ia melihat adiknya sudah turun tangan.
Ia percaya, seperti si adik. It Hiong bakal roboh tak berdaya.
Bahkan ia tertawa dan memuji adiknya :”Sungguh hebat
kepandaianmu adik!”
Justru karena ia berbicara itu, dengan sendirinya si
bajingan darah desakannya mengendor. Pada saat itulah sinar
pedang berkelebatan!
“Aduh!.....” menjerit si Bajingan darah, yang lengan
kanannya mendadak tertebas kutung, hingga dengan
berlumuran darah, dia jatuh terduduk. Dia tertikam rasa nyeri
berbareng sangat penasaran dan gusar tetapi tanpa
berdaya…….
Peng Mo menyangka, sesudah terkena bubuk beracunnya,
It Hiong jadi kalap dan menyerang kakaknya itu dengan
segenap kekuatan yang penghabisan, iapun gusar sekali,
lantas ia menyerang secara hebat dengan sepasang goloknya.
Keinginannya akan dapat mencincang lawannya itu.
Kembali bajingan ini mendapat hal yang tak disangkanya.
Ketika bubuknya buyar, ia melihat It Hiong berdiri tetgak di
depannya dengan tidak kurang suatu apa-apa. Hingga ia
menjadi tercengang.
Kenapa It Hiong tak mempan bubuknya beracun itu?
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Justru itu Hiat Mo sudah dapat menyelamatkan dirinya
sendiri. Ia makan obat dan membalut lukanya, terus ia
melompat bangun, buat berkelahi pula. Ia sangat penasaran!
It Hiong melayani kedua musush itu. Ia panas hati sebab
orang tidak kenal jera. Tak roboh terus. Dalam
mendongkolnya, ia mendesak si bajingan darah. Kembali ia
satu tikaman dahsyat.
“Aduh….” Sekali lagi Hiat Mo menjerit tertahan. Hanya kali
ini buat yang penghabisan kali. Sebab sekarang dadanya yang
terpanggang pedang It Hiong! Itulah akibatnya serangan jurus
silat ”Sie Toat Ang Sim,” -anak panah mengenakan sasaran-,’
Peng Mo kaget bukan main. Baru sekarang hatinya menjadi
ciut. Bubuknya tidak memberikan hasil, maka ingin dia
melarikan diri. Segera dia mengibaskan sepasang goloknya
seraya melompat kesamping buat pergi kabur!.......
It Hiong melihat gerak-gerik orang, ia dapat , menerka
maksud orang itu, segera ia menjejak tanah, buat melompat
melesat, pedang dan tubuhnya bagaikan satu, karena itulah
satu gerakan, dari Gie Kiam Hui Heng Sut. Sejenak saja. Dapat
ia menyusul lawan. Maka ketika pedangnya ditebaskan. Maka
kutunglah barang lehernya si bajingan es. Hingga dia roboh
binasa tanpa sempat berkaok lagi….
Segera setelah memperoleh kemenangan yang luar biasa
atas Hong Gwa Sam Mo yang kesohor dan di segani. It Hiong
maju terus kepda rombongan di sebelah barat itu, ia telah
berkeputusan akan melabrak habis kawanan kaum sesat!
Im Ciu It Mo bersama Tok Mo palsu kaget sekali, melihat
ketiga bajingan mati secara demikian cepat. Mereka insaf
bahaya. Maka lantas mereka bersatu hati mempertahankan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
diri. Tindakan mereka yang pertama ialah selekasnya It Hiong
mendekati mereka, lantas mereka menyambut dengan
pelbagai senjata rahasianya masing-masing!
Anak muda kita tidak jadi mundur karena penyambutan
yang istimewa dan sangat berbahaya itu. Ia memutar hebat
pedangnya menghalau setiap senjata rahasia yang mengarah
tubuhnya. Akan tetapi, setelah ternyata serangan lawan tidak
ada hentinya. Ia tidak mau sembrono menempuh bahaya.
Lekas-lekas ia melompat mundur kembali ke tanah lapang
tempat tadi!
Sementara itu kaum lurus, melihat majunya anak muda
kita, sudah bergerak maju bersama. Mereka lantas mengambil
sikap mengurung musuh, bahkan kali ini. Yang luar biasa ialah
Pek Yam Siansu, ia tadinya selalu bersiam di sebelah
belakang, sekarang ia justru maju di muka!
Melihat majunya musuh, Im Ciu It Mo mengeluarkan
Pekiknya yang luar biasa nyaring, yang membuat orang kaget
sebab bulu roma orang pada berdiri. Karenanya kaum lurus
yang tenaga dalamnya masih terbelakang pada lekas-lekas
mundur sambil menekap telinga mereka.
Tiba-tiba terdengarlah suara nyaring bagaikan Guntur.
Itulah “Say Cu hauw” atau “Auman Singa,” suatu ilmu tenaga
dalam yang istimewa dari kalangan agama Buddha. Gunung In
Bu San bagaikan mendengung jadinya. Dengan demikian
maka lenyaplah Pekiknya si bajingan tunggal, bahkan
orangnya sendiri roboh dengan seketika dengan jiwanya
terbang melayang serta darah keluar dari mulut hidung, mata,
dan telinganya!
Menyaksikan kebinasaannya Im Ciu It Mo, ketiga Tok Mo
mnejadi bernyali kecil, dengan bersatu hati, mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menerobos untuk membuka jalan darah, guna mengangkat
kaki. Mereka licik, maka itu, mereka menyerbu diantara lawanlawan
yang lemah, mereka seperti mengobral senjatasenjatanya
mereka yang beracun. Karena itu, banyak orang
lurus yang roboh keracunan, ada yang telah terluka parah.
Selekasnya It Hiong menyakkikan sepak terjangnya ketiga
bajingan beracun itu, ia lompat lari menyusulnya. Ia
menggunakan lari ilmu lari Gie Kiam Sut, maka dengan cepat
ia menyandak mereka itu, akan tetapi, belum sempat ia turun
tangan, ia telah didahului oleh Hay Thian Sie Ni, karena
nikouw yang membenci ketiga orang jahat dan telengas itu,
yang berkhawatir, mereka itu nanti dapat lolos, sudah lantas
menyerang dengan “Ciang sim luiji---pukulan tangan Guntur—
yang dapat dilakukan dari tempat jauh, maka itu, tanpa
ampun lagi, ketiga bajingan beracun itu roboh berbareng
dengan rohnya pada terbang melayang, mereka roboh
terbinasa, dengan nadi dan otot-otot terputus sebab
gempuran dahsyat sekali!
Dengan terbinasanya Im Ciu It Mo dan ketiga Tok Mo,
selesai sudah pertempuran dahsyat itu, karena pihak sesat
yang tidak berarti itu pada lari meloloskan diri yang tinggal
ialah mereka yang terbinasa.
It Hiong menyimpan pedangnya kedalam sarungnya, lekaslekas
ia pergi mencari Giok Peng serta Kiauw In dan Tan
Hong.
Tepat itu waktu, Pek Yam Siansu mengirup arak yang ia
bawa-bawa itu, ia menyemburkan berulang-ulang kepada
semua orang pihaknya yang telah roboh akibat Pekik hebat
dari Im Ciu It Mo, maka itu didalam waktu singkat, mereka
yang tengah bergeletakan ditanah lapang lantas pada
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bergerak dan bangun sendirinya, sebab mereka telah sadar
cepat sekali.
Sementar itu sang waktu, yang berjalan terus, telah
membawa orang pada waktu fajar, karena mana banyak
orang Bu Lim yang sudah lantas berpamitan dari Pek Yam
Siansu dan Liauw In Tianglo sekalian buat mereka lantas pergi
pulang, hingga In Bu San menjadi sunyi, tak ramai seperti
kemarin-kemarin tengah malam itu, para penonton sudah
kabur siang-siang disaat mereka kaget mendengar Pekik
dahsyat dari Im Ciu It Mo.
Tengah Liauw In semua masih berkumpul sekonyongkonyong
mereka melihat seorang nona lari mendatangi
dengan pesat, hingga sebentar saja ia sudah sampai tiba di
rombongan.
Segera It Hiong mengenali nona Tonghong Kiauw In dari
Bu Ie San, maka itu ia yang menyambutnya. Kiranya nona itu
datang buat menonton pertempuran antara It Hiong dan Hong
Kun tetapi ia terlambat.
Melihat nona yang baru datang itu, Hay Thian Sin Ni segera
menyambut dengan tegurannya : ”Nona Tonghong,
bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak mau kembali pada
wajah diri asalmu?”
Tonghong Kiauw heran, dia tertawa.
“Sinni bercanda denganku!” katanya, “bukankah boan pwe
tidak memalsukan siapa juga?”
Sebagai seorang nona muda, si nona dapat merendah
dengan menyebut dirinya “boanpwe” orang dari tingkatan
muda.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mereka berdua berdiri berhadapan, dengan kecepatan yang
luar biasa, sinni menyambar mukanya si nona dan menggeset
kulitnya, sembari tertawa ia berkata pula:”Nona, pinni toh
tidak salah mata, bukan?”
Selekasnya kulit mukanya disingkirkan maka kembalinya
Tonghong Kiauw couw pada diri asalnya, yaitu Siauw Wan
Goat hingga It Hiong dan Kiauw In dan lainnya menjadi heran
sekali, lebih-lebih si anak muda sebab ia tidak sangka Kiauw
couw ialah Wan Goat dari To Liong To, si bajingan wanita dari
pulau naga melengkung itu, mereka itu sampai
berseru:”Oh!........”
Lantas Hay Thian Sinni berkata pula :”Nona ini telah kena
dipengaruhi obat yang menggangu ingatannya, hingga ia tak
ingat akan diri asalnya. Tio sicu, tahukah she dan asalnya
dia?”
“Dialah Siauw Wan Goat dari To Liong To,” sahut si anak
muda.
“Dia berjodoh dengan agama sang Buddha,” kata pula sin
ni,”Kalau dia dibiarkan hidup terus merantau, dia akan
tersesat lebih jauh dan dapat pula menciptakan berbagai
macam gara-gara, karena itu pinni mau ajak dia pulang ke
gunungku supaya ia dapat menuntut penghidupan suci dan
damai,--Nah, kau dengarlah!”
Kata-kata itu diakhiri pada Wan Goat, yang sedari tadi
berdiri diam saja, nona itu tampak terkejut dan tubuhnya
terus bergemetar.
Sin ni lantas menyuruh Teng Hiang dan Cukat Tan
membujuk keenam Yauw Lie supaya insaf dan merubah cara
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hidupnya, mereka itu menurut, maka bersama Kiauw Couw,
mereka lantas diajak pergi oleh Hay Thian Sinni.
Sampai disitu, orang berpamitan, buat pulang ke masingmasing
gunungnya.
It Hiong mengajak Kiauw In bersama Pek Giok Peng dan
Tan Hong pulang langsung ke Pay In Nia, buat hidup
menyendiri digunung yang sunyi dan damai itu, tak lagi
mereka pergi merantau.
Sampai itu waktu maka tahulah Tan Hong akan cinta kasih
yang murni…………………
TAMAT

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis 23 Keren : Iblis Sungai Telaga Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 27 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments