Cerita Novel Dewasa Silat : PAB 8

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Novel Dewasa Silat : PAB 8
Cerita Novel Dewasa Silat : PAB 8
Akhirnya Wang Xiaho pun memutuskan untuk bertanya dengan hati-hati pada Ding Tao, ―Ketua Ding Tao, apa kau ingin menemui tamu-tamu itu sendirian?‖
Ding Tao kembali keluar dari lamunannya, perkataan Wang Xiaho tentu saja dia dengar, tapi perlu beberapa saat bagi otaknya untuk mengingat kembali apa yang baru dia dengar dan memprosesnya. Dengan wajah tersipu Ding Tao pun menjawab.
―Tidak perlu, tidak apa, justru kuharap kalian semua mau menemaniku untuk menemui mereka berdua.‖
1319
―Tapi jika ada yang terlalu pribadi untuk kami dengar…‖, jawab Wang Xiaho dengan meragu.
―Tidak, tidak apa. Kebetulan ada Paman Wang dan Tabib Shao Yong di sini. Kalian berdua sudah kuanggap orang-orang tua yang bijak, tempat aku bertanya, pengganti orang tuaku. Sedang yang lain sudah kuanggap sebagai saudara tuaku sendiri. Sudahlah, masakan aku harus lari dari perbuatanku sendiri. Tapi tentang apakah hubungan kami itu harus dibuka atau tidak, biarlah bukan aku yang memutuskan.‖, ujar Ding Tao menjawab sebagian pertanyaan dalam benak mereka.
Ding Tao tidak lagi ingin menyembunyikan sesuatu, lagipula dari cara mereka bertanya, sudah tersirat bahwa tebakan mereka tidak jauh dari kejadian yang sesungguhnya. Mencegah mereka untuk ikut mendengar justru bisa membuat tebakan mereka lebih buruk dari kejadian yang sesungguhnya. Tapi bukan nama baik dirinya yang dia pikirkan, melainkan nama baik kedua gadis itu. Itu sebabnya dia mengatakan, tentang hubungan mereka biarlah bukan dia yang memutuskan. Ding Tao juga cukup percaya, bahwa mereka yang dia ajak adlah orang-orang yang cukup bijaksana untuk menimbang apa yang bisa dikatakan dan apa yang sebaiknya disimpan.
1320
Tidak lama mereka berjalan menyusuri lorong-lorong rumah, akhirnya sampai pula mereka di bangunan tempat tamu-tamu mereka menunggu. Bangunan kecil itu ditata dengan rapi dan sederhana, ke empat dindingnya bisa digeser, sehingga pada saat cuaca cerah seperti sekarang ini, ke empat sisi bangunan itu terbuka luas. Angin semilir bertiup melewati ruangan, di setiap sisi terlihat pula pemandangan yang menyejukkan mata. Hamparan rumput hijau yang tebal, semak-semak dengan bebungaan, pohon-pohon dengan buahnya yang ranum dan sungai buatan berisi ikan-ikan hias yang mengalir mengelilingi taman kecil itu. Suara gemericik air dan kicauan burung menambah asri suasana.
Namun keindahan taman itu lebih bersinar lagi hari ini, karena di pusat taman adalah bangunan tempat tamu-tamu mereka menunggu.
Di tengah ruangan, duduklah kedua orang tamu. Dua orang gadis cantik jelita yang sedang dilayani oleh pelayan dari rumah Ding Tao saat ini. Kedua tamu itu begitu jelita dan ramah, hingga mereka yang melayaninya ikut tertawa lepas mendengar gurauan mereka. Seakan tidak bosan-bosannya memandangi kedua orang tamu itu, gadis-gadis itu tidak juga beranjak pergi meskipun hidangan sudah selesai diletakkan.
1321
Mereka terlihat begitu riang, hingga Ding Tao dan mereka yang baru datang pun merasa enggan untuk mengganggu. Apalagi Ding Tao, begitu dia melihat kembali Murong Yun Hua, seketika itu juga ingatan yang telah lama dipendam dalam-dalam muncul kembali ke permukaan.
Siapa orangnya yang bisa mengendalikan perasaan cinta? Bahkan banyak pertapa masih tergoda olehnya. Apalagi Ding Tao yang terlalu peka perasaannya, lebih mudah lagi diombang-ambingkan perasaan cinta. Sejak dia menerima berita akan bencana yang menimpa keluarga Huang, ditambah lagi dengan kepercayaan yang diletakkan di atas pundaknya, perasaan cintanya pada Murong Yun Hua pun terpendam dalam-dalam. Namun di luar kuasanya, segala perasaan yang pernah dia rasakan, memberontak keluar begitu dia bertemu dengan gadis itu kembali.
Ding Tao pun sadar, betapa dia mencintai gadis itu. Kesadaran ini pula yang menyiksa dirinya, karena perasaan yang dia miliki ternyata lebih kuat dari kesetiaan yang sudah dia janjikan pada Huang Ying Ying. Sebagai seorang pemuda yang romantis dan tergila-gila pada prinsip-prinsip hidup ideal yang ada dalam angannya, kegagalannya untuk tetap setia merupakan siksa sendiri baginya.
1322
Kerumunan gadis di bangunan tempat menerima tamu itu pun pecah, saat seorang dari mereka menyadari kehadiran Ding Tao dan sahabat-sahabatnya. Dengan menutup mulut dan tawa geli campur malu, untuk menyembunyikan rasa canggung mereka, gadis-gadis itu pun bertebaran, menghilang. Menyisakan dua gadis jelita yang sama-sama memandang Ding Tao dengan hati penuh rindu. Murong Huolin yang tadi bercanda penuh tawa, tiba-tiba berubah menjadi pendiam, tapi tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan pemiliknya. Demikian juga Murong Yun Hua yang tadi tampil begitu anggun, berubah menjadi seorang gadis yang gugup dan pendiam.
―Enci Yun Hua, Adik Huolin, bagaimana kabar kalian? Perkenalkan mereka ini sahabat-sahabatku, orang-orang yang sangat dekat dan kupercaya, bisa dikatakan tidak ubahnya keluarga sendiri bagiku.‖, sapa Ding Tao sambil berjalan mendekat.
Dengan sapaan itu, kekakuan yang ada jadi sedikit mencair, dilanjutkan dengan saling memperkenalkan diri. Meskipun masih ada rasa canggung dan serba salah, namun setidaknya mereka bisa bercakap-cakap dengan lancar. Setelah berbasa-basi beberapa lama sambil menikmati hidangan yang ada,
1323
Murong Yun Hua menggamit lengan Murong Huolin yang segera saja bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah peti yang bila ditillik dari lebar dan panjangnya, sesuai benar untuk menyimpan sebilah pedang.
Murong Yun Hua pun membuka mulutnya dan berkata, ―Adik Ding Tao, sudah kudengar sepak terjangmu beberapa bulan terakhir. Sepak terjangmu sudah membuat gempar dunia persilatan, hingga kami yang sudah lama tidak mengikuti berita dunia persilatan akhirnya mendengar pula tentang kebesaran namamu saat ini.‖
Sambil tersipu Ding Tao menggoyangkan tangannya, ―Tidak ada yang bisa dibanggakan, hanya orang-orang saja yang sering membesar-besarkan. Lagipula itu adalah berkat hasil kerja keras saudara-saudara yang ada, bukan hanya hasil kerjaku seorang.‖
Murong Yun Hua tersenyum lembut, ―Aku mengerti… bagaimanapun juga tugas yang kau sandang cukup berat, tidak mungkin dengan seorang diri kau dapat menyelesaikannya. Kudengar sampai saat inipun, kau belum berhasil menemukan Pedang Angin Berbisik. Benarkah itu?‖
1324
Ding Tao mengangguk, ―Benar, sampai sekarang jejaknya belum lagi ketahuan. Tapi dukungan dari sahabat dan saudara yang kurasakan saat ini, jauh lebih berharga dari pedang itu sendiri.‖
―Syukurlah kalau begitu…‖, ucap Murong Yun Hua dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
Seperti agak ragu dia berhenti sejenak sebelum menyambung, ―Aku bersyukur jika benar demikian, mungkin aku terlalu banyak mengkhawatirkan dirimu tanpa sebab. Aku kuatir kehilangan pedang itu akan membuatmu kehilangan semangat.‖
―Enci Yun Hua menghabiskan banyak waktu untuk memeriksa rumah dan bangunan-bangunan milik kami, karena dia teringat, bahwa paman, membuat sepasang pedang. Satu untuk dirinya sendiri dan satu untuk ayahku, adiknya‖, ujar Murong Huolin yang sudah tidak sabar untuk menceritakan penemuan mereka berdua, menyambung perkataan Murong Yun Hua.
―Dan hasilnya kami menemukan pasangan dari Pedang Angin Berbisik, cobalah lihat ini‖, ujarnya sambil membuka peti yang dia bawa-bawa.
1325
Mendengar cerita Murong Huolin, tentu saja setiap orang jadi tertarik. Tanpa terasa mereka semua mendekat untuk melihat isi dari kotak tersebut. Sebilah pedang yang tidak terlihat istimewa tapi Ding Tao yang sudah pernah memiliki Pedang Angin Berbisik tidak kaget. Pedang itu pun tidak telrihat istimewa, sampai kau mulai mencoba menggunakannya.
―Apakah… apakah.. aku boleh coba memegangnya?‖, tanyanya dengan terbata-bata.
―Tentu saja tolol, Enci Yun Hua mencarinya siang dan malam untuk diberikan padamu, mengapa pula kau tidak boleh memegangnya.‖, ujar Murong Huolin sambil terkekeh geli.
Ding Tao merasa lucu sekaligus terharu, dengan sungguh-sungguh dia memandang Murong Yun Hua dalam-dalam dan berkata, ―Enci Yun Hua, sekali lagi dirimu menanam budi yang tidak akan pernah bisa kubalas…‖
Tersipu Murong Yun Hua mendengar celoteh Murong Huolin dan tanggapan Ding Tao, dengan cepat dia menjawab, ―Jangan berterima kasih padaku, sebenarnya Adik Huolin tidak kalah sibuknya denganku. Bahkan sebenarnya dia pula yang menemukan pedang tersebut.‖
1326
Ding Tao yang mengetahui perasaan Murong Huolin padanya menjadi terenyuh dan dengan tulus dia menatap gadis nakal yang sekarang jadi pemalu setelah Ding Tao menatapnya dengan mesra, ―Adik Huolin, kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih padamu.‖
Dengan wajah memerah dan mulut mencibir, Huolin menjawab cepat, ―Ah, aku pun tidak akan tahu kalau ada pasangan dari Pedang Angin Berbisik kalau bukan Enci Yun Hua yang bercerita dan soal aku mencarinya, itu karena aku kasihan pada Enci Yun Hua, bukan karenamu, tolol. Sudah kenapa tidak cepat kau coba saja.‖
Sambil tersenyum haru Ding Tao mengangguk, ―Baiklah kalau begitu coba aku lihat.‖
Dengan tangan sedikit gemetar dia meraih pedang itu. Begitu pedang itu berada di dalam genggamannya, maka dia pun merasa bertemu kembali dengan sahabat lama. Sungguh pedang ini merupakan kembaran dari Pedang Angin Berbisik. Meskipun ukiran dan bentuk bilah dan gagang yang sedikit berbeda, namun baik dari bobot maupun perasaan saat menggenggamnya terasa begitu serupa. Yang namanya pendekar pedang, sudah biasa jika jadi gila pedang. Ding Tao
1327
bukan orang yang gila pedang, tapi semakin banyak pengalamannya dalam bertarung menggunakan pedang, semakin dia bisa meresapi nilai dari satu bilah pedang. Setelah berkali-kali bertarung menggunakan pedang biasa, sekarang kembali bisa merasakan pedang pusaka di tangan, barulah terasa betapa jauh perbedaannya.
―Bagaimana? Bagus tidak? Kenapa tidak coba mainkan beberapa jurus?‖, seru Murong Huolin dengan nada ingin tahu.
―Benar, bagaimana kalau kau coba memainkan beberapa jurus dengan pedang itu. Lihatlah apa kau menyukainya.‖, ujar Murong Yun Hua tidak kalah bersemangatnya.
Tidak sulit untuk membayangkan perasaan mereka berdua. Setelah berminggu-minggu mereka membongkar seluruh bangunan milik keluarga Murong akhirnya mereka menemukan pula pedang itu. Setelah menemukan pedang itu, merekapun harus memberanikan diri untuk pergi jauh dan bertatapan muka kembali dengan Ding Tao. Sekarang akhirnya pedang itu sudah sampai di tangan Ding Tao, betapa menggelembungnya perasaan mereka saat ini.
1328
Ding Tao tidak menjawab, hanya mengangguk singkat, lalu melompat keluar bangunan. Di atas hamparan rumput yang hijau dia mulai bergerak-gerak, memainkan jurus-jurus pedang yang terangkai dalam ingatannya.
Ding Tao hari ini berbeda dengan Ding Tao beberapa tahun yang lalu. Dulu dia melatih jurus-jurus yang sama berulang-ulang. Memperhatikan rincian tiap-tiap jurus dan mengejar bentuk ideal dari jurus yang dia pelajari. Demi mendapatkan pemahaman akan tiap-tiap jurus dia melatih bentuk yang sama berulang-ulang. Ding Tao yang sekarang memainkan jurus menurut keadaan, tanpa tergantung patokan yang baku. Bentuk dari tiap jurus tidaklah kaku, melainkan mengikuti keadaan yang selalu berubah. Itu pula sebabnya setiap kali dia mendapatkan pengalaman baru, bentuk jurusnya pun berubah, hal ini terjadi justru karena sekarang dia sudah menyentuh pemahaman terdalam dari jurus-jurus yang dia miliki.
Jika dulu lewat bentuk dia berusaha mendapatkan isi. Sekarang ini dia telah mendapatkan isi, karenanya bentuknya bisa berubah disesuaikan dengan keadaan, meskipun isinya tetap sama.
1329
Karena itu berbeda pula cara Ding Tao berlatih, jika dulu dia melatih jurus membayangkan penggunaannya. Sekarang dia membayangkan lawan dan keadaan, kemudian menggunakan jurus untuk bermain melawan bayangan tersebut, pada hakekatnya apakah dia berlatih sambil bergerak atau berlatih dalam keadaan duduk, tidak selisih banyak perbedaannya. Meskipun tentu saja, latihan fisik, bentuk dan gerak tidak bisa ditinggalkan.
Masih segar dalam ingatan Ding Tao tentang pertarungannya yang diakhiri dengan kekalahan, melawan Xun Siaoma. Kali ini adalah pertarungan antara dirinya melawan Xun Siaoma untuk kedua kalinya.
Di antara mereka yang hadir mungkin hanya Liu Chuncao yang bisa benar-benar memahami keindahan dari gerakan Ding Tao. Meskipun demikian dilihat oleh orang awam pun gerakan Ding Tao terlihat mengesankan. Kecepatan yang terkadang sulit diikuti mata, hawa pedang yang terasa menggores tubuh mereka padahal mereka berada cukup jauh dari pemuda itu. Ding Tao sendiri larut dalam bayangannya. Mereka yang menonton menjadi ikut tegang di luar pengertian mereka sendiri. Liu Chuncao untuk kesekian kalinya terhanyut dalam permainan pedang Ding Tao.
1330
Setelah beberapa puluh jurus, tiba-tiba Ding Tao berhenti, mengerutkan alis dan berpikir. Pada akhirnya dia belum bisa menemukan jalan untuk mengalahkan Xun Siaoma. Tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu, dia memalingkan wajah pada Murong Yun Hua dan Murong Huolin, lalu tersenyum.
―Pedang ini rasanya serupa benar dengan Pedang Angin Berbisik, meskipun ada perbedaan pada bentuk luarnya, namun dalam hal yang lain-lain, terasa sama sempurnanya. Kukira tinggal satu ujian lagi buat dia.‖, ujarnya sambil mendekat ke arah Liu Chuncao.
―Pendeta Liu, bisakah kau lemparkan pedang yang biasa kubawa-bawa ke mari?‖, tanya Ding Tao sambil menunjuk pada pedang yang dia tinggalkan.
―Hmm, baiklah coba kita lihat.‖, ujar Liu Chuncao sambil menganggukkan kepala.
Dengan gerakan yang gesit dia melemparkan pedang itu ke arah Ding Tao, cara melemparkannya punya tehnik sendiri, pedang dilemparkan sehingga saat dia turun ke bawah, dia turun dengan gagang terlebih dahulu. Di tengah udara, tepat di depan Ding Tao, saat pedang itu mulai jatuh ke bawah, pedang
1331
dan sarungnya berpisah. Di saat yang pendek itu, terdengar desingan pedang dicabut dan dibabatkan. Itulah gerakan Ding Tao yang dengan cepat menghunus pedang lalu menabaskannya ke bilah pedang yang sedang jatuh.
Memotong sebilah pedang dari baja pilihan, seperti sedang merajang bambu muda, sudah tentu, tidak salah lagi, pedang pusaka ini benar-benar pasangan dari Pedang Angin Berbisik.
―Pedang hebat!‖
―Benar-benar pedang pusaka!‖
Mereka yang melihat pun sama-sama memuji dan bersorak, ketika Ding Tao kembali ke dalam ruangan, dengan serta merta mereka ikut mengamat-amati bentuk dari pedang pusaka tersebut. Jika melihat penampilan luarnya maka tak seorangpun akan merasa bahwa pedang tersebut bisa sedemikian hebatnya.
Dengan mata berbinar, Ding Tao menghampiri Murong Yun Hua dan Murong Huolin, ―Sungguh besar budi kalian pada orang yang tidak berguna ini.‖
1332
Tersipu kedua nona tersebut mendengar ucapan Ding Tao, Murong Yun Hua pun menjawab dengan lembut, ―Dirimu memikul tugas yang penting bagi seluruh negeri, jadi sewajarnya saja bila kamipun berusaha semampu kami untuk membantu tercapainya tujuanmu.‖
―Enci Yun Hua…‖, tercekat tenggorokan Ding Tao tak mampu menjawab.
Semua yang mendengar ikut kagum oleh jawaban Murong Yun Hua, meskipun ada pemikiran juga bahwa tentunya bukan patriotisme semata yang mendorong sepasang gadis itu untuk bersusah payah sedemikian jauhnya. Tapi mereka juga merasa kikuk, sebagai pengikut yang harus menyaksikan ketuanya sedang dimabuk cinta, beralih membicarakan pedang pusaka yang baru saja mereka lihat.
Liu Chuncao pun berkata, ―Ketua Ding, bolehkah aku meminjam pedang itu sebentar, aku pun jadi ingin untuk merasakan, seperti apa yang namanya pedang pusaka.‖
―Tentu saja, eh Enci Murong… tidak apa-apa kan?‖
1333
―Tentu saja, pedang itu sudah jadi milikmu, dengan sendirinya, apa yang mau kau lakukan dengan pedang itu terserah pada dirimu.‖, jawab Murong Yun Hua dengan tersenyum manis.
Pedang pun beralih ke tangan Liu Chuncao yang dengan segera dirubungi oleh penggila silat yang lain. Ding Tao hanya menyengir saja melihat kelakuan mereka, tanpa ada rasa was-was bahwa akan ada yang melarikan pedang itu. Ding Tao justru berbalik ke arah kedua gadis Murong dan bercakap-cakap dengan mereka. Kekakuan yang sempat muncul, mencair dengan cepat, meskipun dinding penghalang belum sepenuhnya bisa dihilangkan. Bagaimanapun juga apa yang sudah pernah terjadi tidak bisa dengan mudah hilang dari ingatan.
Tabib Shao Yong bukan seorang pendekar silat, tentu saja beda dengan pengikut Ding Tao yang lain, yang ikut bersorak dan mengagumi pedang pusaka yang dibawa oleh Murong Yun Hua. Tabib Shao Yong sebagai orang yang sudah tua, justru lebih memperhatikan Murong Yun Hua dan Murong Huolin. Bukan maksud penulis mengatakan bahwa Tabib Shao Yong seorang yang mata keranjang, tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Namun orang tua ini justru lebih tertarik untuk mengurai hubungan antara Ding Tao dengan kedua gadis itu. Selain
1334
Tabib Shao Yong, ada juga Chou Liang yang juga memandang pedang pusaka dengan cara pandang yang berbeda. Saat semua masih memperhatikan dan bergantian ingin ikut mencoba menggerak-gerakkan pedang itu, dia sudah teralih perhatiannya.
Chou Liang melihat pandangan Tabib Shao Yong yang sesaat merenung, sesaat pula menghitung, memandang Ding Tao, kemudian Murong Yun Hua. Otak Chou Liang bekerja dengan cepat, melihat keluarga Murong ternyata adalah pembuat Pedang Angin Berbisik, Chou Liang pun sudah mulai menimbang-nimbang, keluarga seperti apakah keluarga Murong itu. Apalagi saat dia memperhitungkan pula, peti-peti kecil lain yang dibawa oleh kedua nona Murong itu.
Tapi adalah Tabib Shao Yong yang terlebih dahulu menyela percakapan ramah tamah antara Ding Tao dan kedua gadis Murong itu.
―Maafkan orang tua ini, nona muda, tapi kelihatannya, nona yang ini, sedikit pucat. Apakah merasa tidak enak badan?‖, tegurnya dengan ramah.
1335
Murong Yun Hua pun menengok ke arah Tabib Shao Yong dengan terkejut lalu menjawab dengan ramah, ―Ah…, paman, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh. Kami tidak berani terlalu lama beristirahat di satu tempat, karena cukup banyak barang berharga yang kami bawa di perjalanan. Tapi sekarang semuanya sudah sampai di tempat tujuan, tentu aku pun akan dapat beristirahat dengan nyenyak nanti malam.‖
Murong Huolin memandang kakak perempuannya dengan pandangan penuh perhatian, ―Itu benar sekali, beberapa hari ini, Enci Yun Hua tidak pernah bisa beristirahat dengan benar. Malam ini, Enci harus benar-benar menggunakan waktu untuk beristirahat.‖
―Enci Yun Hua, benarkah itu? Ah… tidak seharusnya Enci terlalu memaksakan diri, seharusnya Enci mengirimkan saja seorang pembawa pesan dan aku bisa pergi ke sana untuk meminjam pedang ini. Apakah benar Enci tidak apa-apa?‖, ujar Ding Tao dengan cemas.
―Sungguh aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu terlalu kuatir, tubuhku tidak selemah yang kalian bayangkan.‖, jawab Murong Yun Hua sambil tersenyum.
1336
―Ah, kalau memang benar begitu tentu saja baik. Tapi kalau nona tidak keberatan, biarlah kuperiksa denyut nadi nona sebentar. Jelek-jelek begini, aku orang tua mengerti sedikit ilmu pertabiban.‖, ujar Tabib Shao Yong dengan tersenyum ramah.
Murong Yun Hua tercenung dan sekilas lamanya saling bertatapan dengan Murong Huolin, kemudian dia ragu-ragu menjawab, ―Paman sungguh baik hatimu, namun sungguh aku tidak apa-apa. Rasanya tidak enak kalau sebagai tamu aku terlalu banyak menyusahkan tuan rumah.‖
Giliran Ding Tao yang menyela, ―Enci Yun Hua, janganlah memandang remeh kesehatan tubuh sendiri. Biarlah Tabib Shao Yong memeriksa sebentar, jika ada resep untuk memperkuat tubuh apa salahnya nanti kami menyediakan. Justru kami semua merasa sangat berhutang budi pada kalian sekeluarga. Jika sedikit apa yang bisa kami lakukan, kalian tolak, betapa kami merasa semakin susah hati saat bertemu dengan kalian.‖
―Soal itu…‖, Murong Yun Hua sekali lagi memandang Murong Huolin, seakan meminta pertimbangan atau bantuan.
1337
Murong Huolin pun beberapa kali membuka mulut, seakan ingin berkata, namun tidak menemukan kata-kata yang tepat. Tabib Shao Yong, tertawa ramah, kemudian dengan gerakan yang luwes, dia sudah menyentuh ringan denyut nadi Murong Yun Hua.
―Wah, sudahlah tidak perlu sungkan, aku ini sudah tua, kalau tidak diikuti kemauannya bisa kualat lho kalian nanti.‖, ujarnya bergurau.
Hanya sebentar saja Tabib Shao Yong menyentuh nadi Murong Yun Hua, Murong Yun Hua dan Murong Huolin belum sempat mengatakan apa-apa ketika Tabib Shao Yong sudah pula mengangkat tangannya dan terdiam sejenak untuk berpikir. Kedua gadis itu dan juga mereka yang ikut mendengarkan percakapan mereka hanya bisa memandang tabib tua itu dengan sedikit cemas, karena raut wajah Tabib Shao Yong yang tampak cukup serius.
Sebentar kemudian Tabib Shao Yong pun menengadahkan kepala dan tersenyum pada sekalian orang yang memandangi dirinya; ―Hehehe, kalian ini kenapa? Tidak perlu cemas, Nona Murong tidak apa-apa. Tubuhnya lemah, mungkin karena perjalanan yang jauh, tapi tidak kulihat ada tanda penyakit
1338
tertentu. Kalau boleh kusarankan, sebaiknya kita sediakan salah satu bangungan yang memang disediakan untuk sahabat-sahabat dekat yang datang berkunjung. Biar kutuliskan beberapa resep untuk mengembalikan tenaga dan stamina.‖
―Hmmm… tabib tua, rupanya kau nakal juga. Jika tidak ada yang serius, mengapa berdiam diri dengna raut wajah semacam itu, menakut-nakuti kami saja.‖, ujar Wang Xiaho dengan gemas dan disambut tawa oleh yang lainnya.
―Tabib Shao Yong benar, bagaimana menurut kalian berdua, apakah kalian berdua setuju? Kami pun akan merasa sangat senang jika nona berdua bersedia menginap beberapa lama di tempat kami. Ketua kami sudah mendapat banyak pertolongan dari kalian, biarlah kamipun membalasnya sebisa kami.‖, ujar Chou Liang dengan ramah.
Murong Yun Hua dan Murong Huolin yang tampaknya lega oleh jawaban Tabib Shao Yong dengan cepat menyetujui usulan tersebut, tidak lupa pula mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas keramahan mereka.
Ding Tao pun menyambut kesediaan mereka untuk menginap dengan senyum senang. Memang ada kecanggungan untuk
1339
berdekatan kembali dengan kedua gadis itu, namun sulit disangkal, hatinya pun merasa berbahagia dengan kedatangan mereka. Pembicaraan antara dua orang tamu yang menyenangkan dan tuan rumah yang ramah, tentu saja berlangsung cukup lama, bercakap-cakap dengan orang yang menyenangkan memang seringkali membuat kita lupa waktu. Tapi setiap hal tentu ada waktu berakhirnya, demikian juga dengan perbincangan mereka.
Apalagi Ding Tao dan para pengikutnya tidak pernah tidak, selalu memiliki tugas di tiap-tiap harinya. Setelah mereka cukup lama berbincang, akhirnya mereka pun berpisah. Murong Huolin dan Murong Yun Hua diantar ke tempat peristirahatan oleh beberapa orang pelayan wanita di tempat itu. Mereka diperlakukan dengan sangat ramah dan hormat. Sementara Ding Tao dan yang lain pergi untuk mengerjakan tugas masing-masing.
Di luar sepengetahuan yang lain, diam-diam Chou Liang pergi menemui Tabib Shao Yong yang berjaga di toko obat milik Partai Pedang Keadilan yang dia kelola.
1340
―Tabib Shao Yong, apa kabar?‘, ujar Chou Liang sambil berjalan menuju ke meja tempat Tabib Shao Yong memeriksa pasien-pasiennya.
―Saudara Chou, baik-baik. Ada keperluan apa ke mari?‖, tanya Tabib Shao Yong sambil tersenyum lebar.
Chou Liang menunggu sampai pasien Tabib Shao Yong yang diperiksa pergi ke tempat para penjaga toko yang lain meracikkan obat sesuai resep Tabib Shao Yong sebelum membungkuk dan berbisik, ―Tentang du aorang Nona Murong…‖
Kemudian orang yang sekarang menjadi penasihat dari Partai Pedang Keadilan itu pun duduk di kursi pasien, menghadap Tabib Shao Yong dengan mata penuh selidik. Tabib Shao Yong pun menghela nafas, kemudian mengitarkan pandangannya ke sekelilng ruangan. Ada beberapa orang yang membeli obat, namun pasien yang menunggu untuk dia periksa tidak ada.
Akhirnya Tabib Shao Yong melihat ke arah Chou Liang dan berkata, ―Mari kita bicarakan saja di dalam.‖
Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Chou Liang, Tabib Shao Yong berdiri dan pergi berjalan ke ruang dalam.
1341
Ketika melewati salah seorang pekerja, dia berpesan, ―A Chou, kalau ada pasien, suruh tunggu terlebih dahulu, aku ada keperluan dengan seorang sahabat.‖
A Chou yang melihat Chou Liang dengan segera mengangguk. A Chou pun merupakan salah satu anggota Partai Pedang Keadilan yang ditugaskan untuk membantu Tabib Shao yong, dengan sendirinya sudah cukup maklum dengan pesan Tabib Shao Yong. Chou Liang mengangguk ramah pada A Chou sebelum mengikuti Tabib Shao Yong pergi ke ruang dalam.
Sepanjang perjalanan Tabib Shao Yong tidak mengatakan apa-apa, setelah sampai di ruangan yang dia maksud, Tabib Shao Yong pun menunggu Chou Liang masuk dan segera menutup pintu ruangan.
Tapi Chou Liang justru tersenyum dan membuka pintu ruangan, katanya, ―Kalau pintu tertutup dan ada orang yang sedang mendengarkan, justru kita tidak tahu. Kalau pintu terbuka dan kita bicara perlahan-lahan, orang yang di luar tidak mendengar dan sebaliknya kita pun akan segera tahu bila ada yang datang mendekat.‖
1342
Tabib Shao Yong duduk dan tercenung sebentar memikirkan perkataan Chou Liang sebelum tertawa kecil dan memuji Chou Liang, ―Hahaha, tidak salah kalau Saudara Chou dipercaya untuk menjadi penasihat, segala urusan tentu Saudara Chou Liang bisa melihat dari sisi yang berbeda dari orang kebanyakan.‖
―Hahaha, biasa saja, kelebihanku hanya sedikit usilan saja.‖, jawab Chou Liang sambil tertawa pula.
―Hahhh…. Jadi Saudara Chou Liang memiliki pikiran yang sama denganku tentang kedua nona itu? Atau setidaknya tentang salah satu dari mereka?‖, tanya Tabib Shao Yong.
―Oh itu tergantung, aku tidak tahu apa Tabib Shao Yong pikirkan, dengan sendirinya, tidak bisa pula mengatakan apakah sama atau tidak.‖, jawab Chou Liang sambil tersenyum.
―Nah, coba dengarkan dulu apa yang kupikirkan tentang kedua orang nona itu. Keduanya jelas memiliki perhatian khusus pada Ketua Ding Tao. Keduanya berasal dari keluarga yang memiliki kedudukan unik dalam dunia persilatan. Kukatakan unik, karena semenjak mengikut Ketua Ding Tao, setiap waktu yang ada kupergunakan untuk mempelajari peta kekuatan dunia
1343
persilatan dan tidak sedikitpun aku mendengar nama keluarga Murong muncul dalam penyelidikanku.‖
―Tapi dari pembicaraan kita tadi, bisa ditarik kesimpulan keluarga Murong adalah pembuat Pedang Angin Berbisik, berarti ada hubungan pula dengan Pendekar pedang Jin Yong, pemilik dari pedang pusaka tersebut. Aku pun sempat memeriksa beberapa bingkisan yang lain, mereka memang tidak menyinggungnya, namun setiap barang yang ada, semuanya barang dari kualitas pilihan. Jadi bisa disimpulkan keluarga Murong ini adalah keluarga yang cukup terpandang.‖
―Oh ya…? Aku justru tidak terpikir masalah itu.‖, ujar Tabib Shao Yong dengan kening berkerut.
―Saudara Chou Liang sebenarnya ke arah mana pembicaraan ini nantinya?‖, tanya tabib tua itu menyelidik.
Chou Liang menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi dan mendesah, ―Hmm… Tabib Shao Yong, kalau tidak salah perhitunganku, apakah benar jika kukatakan bahwa Nona Murong Yun Hua sedang mengandung?‖
1344
Tabib Shao Yong memejamkan mata dan menghela nafas panjang sebelum kembali membuka matanya, ―Benar sekali katamu itu…darimana Saudara Chou Liang menebaknya?‖
―Tentu saja dari melihat tindak tanduk, Tabib Shao Yong pada pertemuan itu. Juga sikap kedua nona itu yang tampak serba salah. Dari cara mereka bertindak, nampaknya mereka ingin menyembunyikan keadaan itu dari Ketua Ding Tao. Menurut Tabib Shao Yong, apakah kemungkinan besar, ayah dari bayi itu adalah Ketua Ding Tao? Atau justru ayah dari bayi itu bukanlah Ketua Ding Tao dan kedua nona itu ingin menyembunyikan hal itu darinya?‖, tanya Chou Liang segera setelah menjelaskan.
―Hmm… tanpa bertanya dengan Ketua Ding Tao tentu sulit untuk memastikannya. Namun bila ditilik dari umur kehamilan dan waktu saat menghilangnya Ketua Ding Tao selama beberapa bulan dari dunia persilatan. Ada kemungkinan Ketua Ding adalah ayah dari bayi itu.‖, jawab Tabib Shao Yong dengan serius.
―Jika benar demikian, menurut Tabib Shao Yong apa yang harus dilakukan oleh Ketua Ding Tao?‖, tanya Chou Liang.
1345
―Hahh… apa ada hal lain yang bisa dilakukan, kecuali menikahi nona tersebut? Nona itu berasal dari keluarga yang terhormat, betapa besar aib yang harus dia tanggung jika Ketua Ding Tao tidak segera menikahinya.‖, keluh Tabib Shao Yong sambil membayangkan nasib dari Murong Yun Hua.
―Tabib Shao Yong, jika benar Ketua Ding Tao adalah ayah dari bayi itu, mengapa pula kedua nona itu berusaha menyembunyikannya dari Ketua Ding Tao? Bukankah lebih masuk akal bila kedatangan mereka adalah untuk meminta pertanggung jawaban Ketua Ding Tao?‖, tanya Chou Liang.
―Mungkin mereka merasa malu karena di sana ada banyak orang.‖, jawab Tabib Shao Yong.
―Hmm… jika demikian tentu setidaknya besok atau lusa Ketua Ding sudah mengetahui akan hal ini dan akan pergi untuk meminta pertimbangan dari Tabib Shao Yong. ‖, ujar Chou Liang.
―Kukira demikian.‖, jawab Tabib Shao Yong sambil berpikir apa tujuan dari pembicaraan ini.
―Tapi bagaimana jika tidak terjadi hal seperti itu? Apakah mungkin itu artinya, anak yang dikandung Nona Murong
1346
bukanlah anak dari Ketua Ding Tao?‖, tanya Chou Liang lebih lanjut.
Alis Tabib Shao Yong berkerut, perlahan tabib itu menggeleng, ―Mana mungkin demikian, kedua nona itu terlihat terpelajar dan terhormat, pula pandangan mereka tidak bisa menyembunyikan perasaan mereka pada Ketua Ding Tao. Meskipun bisa jadi…‖, ujar Tabib Shao Yong yang kemudian terdiam oleh keraguannya.
―Bisa jadi karena keduanya kakak beradik dan mengasihi satu orang yang sama. Sehingga untuk menjaga perasaan sang adik, sang kakak memilih untuk berdiam diri.‖, lanjut Chou Liang.
―Bisa jadi… tapi adiknya tentu tidak akan mengijinkan hal itu terjadi, keduanya terlihat rukun sebagai saudara. Tapi mungkin… mungkin sekali, keduanya tahu pula akan perasaan Ketua Ding Tao terhadap Nona muda Huang Ying Ying. Jika benar demikian… padahal jika mereka mengenal baik sifat Ketua Ding Tao dan memikirkan perasaannya… Bisa jadi…‖, Tabib Shao Yong menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ikut pusing memikirkan masalah asmara dari orang-orang muda.
1347
―Bisa jadi keduanya memilih diam untuk menjaga perasaan dan nama baik Ketua Ding Tao. Melupakan masalah nama baik mereka sendiri. Dengan uang kukira mereka tidak akan kesulitan untuk menutup masalah ini dan membesarkan anak itu sendirian.‖, ujar Chou Liang.
―Menurut Saudara Chou Liang, apakah seperti itu yang mereka pikirkan? Lalu bagaimana dengan putera atau puteri Ketua Ding Tao? Bagaimana pula nasib kedua orang nona muda Murong itu? Saudara Chou Liang, engkau datang ke mari tentu karena sudah memiliki satu pemikiran, coba ceritakan pemikiran itu padaku.‖, ujar Tabib Shao Yong penuh harap.
―Tabib Shao, tentang masalah partai memang Ketua Ding Tao akan mencari nasihat padaku. Tapi mengenai masalah ini, sudah jelas Ketua Ding akan mencari dirimu, selain sebagai orang yang dituakan, dirimu juga orang yang terdekat setelah gurunya Tetua Gu Tong Dang. Selain itu, bila kedua gadis itu memutuskan untuk menyimpan rahasia ini, sekali lagi, hanya Tabib Shao Yong yang bisa menyampaikannya pada Ketua Ding Tao. Jadi…‖
―Jadi bagaimana?‖, tanya Tabib Shao Yong memburu.
1348
―Jadi jika menurut Tabib Shao Yong, Ketua Ding Tao harus bertanggung jawab masalah ini, maka Tabib Shao Yong sebaiknya segera menemui Ketua Ding Tao dan membicarakan masalah ini dengannya.‖, ujar Chou Liang.
―Untuk itukah kau datang ke mari?‖, tanya Tabib Shao Yong.
―Ya… begitulah. Tabib Shao Yong, mungkin apa yang kupikirkan tidak semurni pikiran Tabib Shao. Yang kupikirkan adalah kedudukan partai kita dan keuntungan bagi partai kita jika Ketua Ding Tao menikah dengan Nona Murong Yun Hua. Selain keuntungan dalam bentuk sokongan harta dan hal-hal lain, pernikahan juga akan memantapkan kedudukan Ding Tao sebagai seorang yang mapan bukan seorang pemuda yang baru keluar sekolah. Apalagi Nona Murong Yun Hua, jelas adalah seorang gadis yang memiliki banyak kelebihan.‖
―Permasalahannya akan terletak pada perasaan Ketua Ding Tao pada Nona muda keluarga Huang. Bukan hanya perasaan cinta tapi juga ada perasaan bersalah dan keinginannya untuk setia menanti kabar tentang keselamatan Nona muda Huang. Padahal kenyataannya, bisa jadi Tiong Fa hanya membual saja pada waktu itu.‖, ujar Chou Liang.
1349
―Apakah Saudara Chou Liang belum mendapatkan sedikitpun kabar mengenai nona dan tuan muda Huang?‖, tanya Tabib Shao Yong.
Chou Liang menggelengkan kepala, ―Bukan aku tidak berusaha, namun jejaknya memang sulit ditemukan. Ada kemungkinan Tiong Fa memang menyelamatkan mereka, tapi kalaupun benar demikian, maka bila Ketua Ding Tao menikah dengan Nona Murong Yun Hua, ada kemungkinan Tiong Fa akan membebaskan mereka.‖
―Maksud Saudara Chou bagaimana?‖, tanya Tabib Shao Yong.
―Tiong Fa menahan kedua orang bersaudara itu karena dia maklum akan perasaan Ding Tao pada Nona muda Huang Ying Ying. Tapi jika didengarnya Ketua Ding Tao menikah, bukankah harga dari Nona muda Huang Ying Ying jadi turun di matanya? Daripada menyimpan kedua orang bersaudara itu, sementara dia tidak akan dapat menggunakan mereka untuk menekan Ketua Ding Tao, bukankah lebih baik melepaskan mereka berdua. Sedikitnya dia akan menanamkan budi pada Ketua Ding Tao. Secara licik dan melihat sifatnya yang picik, mungkin juga dia ingin melihat Ketua Ding Tao dipermalukan oleh Nona
1350
muda Huang Ying Ying yang marah setelah mendengar berita pernikahan itu.‖
Tabib Shao Yong menjawab dengan sedikit gemetar, ―Saudara Chou Liang, tahukah kau di mana aku berdiri saat ini. Di satu sisi ada Nona Murong Yun Hua dan putera Ketua Ding Tao dalam kandungannya. Di sisi lain ada Nona muda Huang Ying Ying… Apa yang harus kulakukan coba?‖
Chou Liang terdiam beberapa lama, menunggu Tabib Shao Yong mereda pergolakan hatinya, kemudian dengan hati-hati dia menjawab, ―Tabib Shao Yong, bukankah dari uraian tadi sudah cukup jelas, menikahkan Ding Tao dengan Nona Murong Yun Hua adalah keputusan, yang bukan saja baik bagi Nona Murong Yun Hua, tapi juga memiliki keuntungan buat Nona muda Huang Ying Ying juga, itu bila benar Nona muda Huang Ying Ying masih hidup dan saat ini berada dalam sekapan Tiong Fa.‖
―Tapi apa yang akan terjadi, bila benar Nona muda Huang Ying Ying masih hidup dan kemudian dibebaskan hanya untuk mendapati Ketua Ding Tao sudah menikah dengan Nona Murong Yun Hua?‖, tanya Tabib Shao Yong.
1351
―Apa salahnya bila Ketua Ding Tao memiliki dua atau bahkan tiga orang isteri? Meskipun bukan sesuatu yang ideal, namun juga bukan sesuatu yang melanggar adat istiadat. Sudah lumrah bila seorang laki-laki yang berkedudukan tinggi memiliki lebih dari satu isteri. Bukankah Sun Liang dari Luo Yang yang terkenal akan budinya itu pun memiliki tiga isteri?‖, jawab Chou Liang dengan sabar.
―Ada baiknya juga jika Tabib Shao Yong, mendiskusikan hal ini dengan Nona Murong Yun Hua, jika benar kedua nona itu memilih untuk diam demi menjaga perasaan Ketua Ding Tao, kukira bisa diatur agar saat Nona muda Huang benar-benar muncul, maka Nona muda Huang akan berkedudukan sebagai isteri pertama. Bukankah Ketua Ding Tao lebih dahulu berkenalan dengan Nona muda Huang? Kukira ini bisa jadi jalan tengah yang terbaik bagi kita semua.‖, bujuk Chou Liang.
Tabib Shao Yong terdiam beberapa lama, merenungi pilihan-pilihan yang ada, kemudian akhirnya dia pun menyerah pada keadaan.
―Saudara Chou Liang, aku tidak dapat memikirkan pemecahan yang lebih baik dari yang kau usulkan. Baiklah, malam ini aku akan menemui Ketua Ding Tao dan berusaha membicarakan
1352
masalah ini dengannya.‖, ujar tabib tua itu dengan sedikit lemah.
―Maaf Tabib Shao Yong, kukira lebih baik justru Tabib Shao Yong berbicara dengan Nona Murong Yun Hua terlebih dahulu.‖, sela Chou Liang.
―Oh mengapa demikian?‖, tanya Tabib Shao Yong.
―Saat nanti Tabib Shao Yong membicarakan hal ini dengan Ketua Ding Tao, tentunya Ketua Ding tidak akan bisa mengambil keputusan dengan segera. Untuk meyakinkan Ketua Ding Tao, Tabib Shao Yong pun akan menggunakan berbagai alasan seperti tadi yang sudah kuceritakan. Antara lain demi kebaikan Nona muda Huang sendiri, juga tentang kedudukan Nona muda Huang sebagai isteri pertama.‖
―Hmm… kurasa begitu‖, jawab Tabib Shao Yong sambil mendengarkan.
―Nah, jika setelah itu Ketua DIng Tao akhirnya setuju, lalu Tabib Shao Yong menemui Nona Murong Yun Hua dan menjelaskan apa-apa yang ktia bicarakan tadi. Tentu nona muda itu pun akan bertanya, apakah Tabib Shao Yong sudah menemui
1353
Ketua Ding Tao. Jika ditanya demikian apa jawab Tabib Shao Yong?‖, tanya Chou Liang menyelidik.
―Eh… tentu saja kukatakna kalau aku sudah bertemu dengan Ketua Ding Tao dan dia setuju.‖, jawab Tabib Shao Yong dengan heran.
Sambil tersenyum Chou Liang pun berkata, ―Jika demikian, bukankah dalam benak Nona Murong Yun Hua akan muncul pikiran bahwa tindakan Ketua Ding Tao bersumber dari rasa cintanya pada Nona muda Huang bukan karena Ketua Ding Tao mengasihi dirinya. Pikiran seperti itu bisa jadi menyulut rasa cemburu dan sakit hati Nona muda Murong.‖
―Wah, kalau begitu akan kujawab tidak‖, ujar Tabib Shao Yong.
―Hahaha, begitu pun kurang baik, dari waut wajah Tabib Shao Yong, tentu Nona muda Murong akan merasakan bahwa Tabib Shao Yong sedang berbohong. Tabib Shao Yong orang yang jujur, ketika berbohong hal itu dengan mudah nampak di wajah Tabib Shao.‖, jawab Chou Liang sambil tertawa kecil.
―Astaga… apakah benar begitu? Baiklah kalau begitu kukira aku akan menemui Nona Murong Yun Hua terlebih dahulu. Tapi Saudara Chou Liang, dengan membujuk Nona Murong Yun
1354
Hua memakai uraianmu, bukankah sama juga pada akhirnya kita bisa dianggap lebih mementingkan diri Nona muda Huang daripada dirinya?‖
―Ada persamaannya ada pula perbedaannya. Karena hal ini terjadi sebelum Ketua Ding Tao tahu, maka Nona Murong Yun Hua akan memandang hal ini sebagai pengorbanan dari pihaknya. Bukan merupakan permintaan Ketua Ding Tao pada dirinya untuk berkorban. Hal ini tentu jauh sekali perbedaannya, antara menyerahkan sesuatu karena kerelaan, dengan menyerahkan sesuatu karena terpaksa.‖, jawab Chou Liang sambil tersenyum.
―Hmm hmm… ya… ya… kukira aku sedikit mengerti.‖, gumam Tabib Shao Yong.
Memandangi Chou Liang yang tersenyum-senyum, Tabib Shao Yong pun menggelengkan kepala sambil berujar, ―Saudara Chou Liang, aku tidak tahu apakah aku harus merasa kagum padamu atau merasa takut padamu. Keputusanmu ini sebenarnya bukan didasari atas perasaan kasihan pada kedua nona itu bukan? Hanya karena menimbang untung dan rugi, namun pertimbanganmu sungguh melampaui pertimbanganku yang sudah tua ini.‖
1355
Chou Liang tercenung sejenak kemudian sambil menganggukkan kepala dia menjawab dengan serius, ―Memang tidak salah jika Tabib Shao Yong mengatakan demikian. Memang jika dilihat sepintas sepertinya siauwtee ini orang yang tidak berperasaan. Tapi jangan salah, bukannya siauwtee tidak bersimpati dengan kedua orang nona itu, hanya saja saat ini dalam pikiran siauwtee hanya ada Ketua Ding Tao saja.‖
―Berpuluh tahun siauwtee hidup dan belajar, namun tidak ada seorangpun yang menghargai kerja keras dan bakat siauwtee. Sampai tiba-tiba siauwtee dipertemukan dengan Ketua Ding Tao. Bukan saja beliau menghargai bakat siauwtee, tapi juga diri siauwtee sebagai manusia. Perasaan ini sungguh sulit diungkapkan, namun sejak pertemuan itu siauwtee sudah bersumpah dalam hati akan bekerja sekeras mungkin demi kejayaan ketua Ding Tao.‖, demikian Chou Liang menjawab dengan bersungguh-sungguh.
Tabib Shao Yong yang mendengarkan jadi ikut terharu lalu berkata pula dengan setengah bercanda untuk meringankan suasana, ―Hehehe, sungguh tak kusangka Ding Tao yang dulu begitu pemalu bisa menjadi seorang pemimpin yang memiliki sekian banyak pengikut.‖
1356
Chou Liang tersenyum, ―Ya… kukira banyak juga mereka yang mengenal Ketua Ding Tao sejak masa kecilnya merasakan hal yang sama. Sayangnya terkadang hal itu jadi membuat kalian sulit untuk mengenali dirinya yang sekarang ini. Seorang pemuda yang memiliki kharisma untuk menjadi seorang pemimpin besar.‖
―Benarkah demikian? Saudara Chou Liang, mendengar perkataanmu aku jadi berpikir pula, sebenarnya tanpa Ding Tao pun kau bisa menjadi seorang yang sukses tapi mengapa kau menunggu sampai bertemu orang seperti dia sebelum mulai aktif bekerja?‖, ujar Tabib Shao Yong yang mulai menikmati percakapannya dengan Chou Liang.
―Tabib Shao, setiap orang memiliki tempatnya sendiri-sendiri, menurutku pribadi, orang semacam diriku dan dirimu, juga orang seperti Tiong Fa dan Tuan besar Huang Jin, tidaklah ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin yang besar. Kita bisa jadi sukses menjadi pemimpin kecil, namun jangan berharap menjadi besar. Menjadi kepala ayam tapi jangan berharap menjadi kepala naga.‖
1357
―Hmm… aku pernah mendengar ucapan lebih baik jadi kepala ayam daripada ekor naga. Menurut Saudara Chou Liang bagaimana?‖, tanya Tabib Shao Yong.
―Itu relatif, tergantung kita saja bagaimana memandangnya. Namun semut yang kecil bisa membuat sarang yang setinggi kepala anak-anak, itu dapat dilakukan karena semut mau bekerja sama. Demikian pula manusia, jika ingin melakukan satu pekerjaan besar, maka tidak mungkin bekerja sendirian, melainkan haruslah dikerjakan bersama-sama. Dan hanya seorang pemimpin yang besar yang memungkinkan hal itu bisa dilakukan. Seorang yang berjiwa pemimpin akan mampu menyatukan berbagai macam orang untuk bekerja sebagai satu kesatuan.‖, jawab Chou Liang.
―Dan menurutmu Ding Tao memiliki hal itu? Hehh…. Sebenarnya apa yang membuat seseorang menjadi pemimpin? Saat dia masih kecil tidak pernah lewat dalam pikiranku bahwa dia bakal menjadi seorang pemimpin.‖
―Ding Tao belumlah menjadi seorang pemimpin yang sempurna, dalam artian dia memiliki kekurangannya juga. Namun dia memiliki beberapa syarat yang membuat dia menjadi sosok pemimpin yang tepat. Yaitu yang pertama,
1358
kepeduliannya pada orang banyak, kepedulian yang kemudian mendorong dia untuk membentuk satu cita-cita yang wawasannya melingkupi kepentingan orang banyak. Dan yang kedua adalah, keyakinannya yang sangat kuat pada cita-cita yang dia miliki.‖
―Dua hal ini saja tentu belumlah cukup, namun dua hal ini yang membedakan Ketua Ding Tao dengan kebanyakan tokoh persilatan yang lain. Kemudian didukung dengan beberapa hal seperti, sifatnya yang jujur, lurus dan terbuka. Bakat dan ilmunya yang tinggi dalam bidang ilmu silat. Maka jadilah dia seorang yang pantas untuk menjadi pemimpin dunia persilatan.‖, ujar Chou Liang berusaha menjelaskan.
―Jika hanya berpatokan pada kharisma dan kemampuan ilmu silat saja, mungkin banyak ketua partai dan tokoh-tokoh lain yang bisa menyamai. Namun keluasan pandangan Ketua Ding Tao, agaknya hal inilah yang menjadi kelebihannya yang sulit ditandingi. Kebanyakan ketua partai, cenderung hanya memikirkan kepentingan partainya sendiri. Dengan sendirinya, cita-cita dan pandangan yang mereka miliki hanya mampu membuat tertarik orang-orang dalam partainya tapi tidak untuk mereka yang ada di luar partainya.‖
1359
Mendengarkan penjelasan Chou Liang, Tabib Shao Yong pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.
―Hehh… uraianmu masuk akal juga. Orang mau mengikuti Ding Tao karena merasa apa yang menjadi pemikirannya, terwakili oleh pemikiran Ding Tao. Hal itu hanya mungkin terjadi karena Ding Tao memiliki pemikiran yang luas dan tidak berpusat pada diri sendiri.‖, ujar tabib tua itu sambil memikirkan kembali ucapan Chou Liang.
―Selama ini setiap orang yang bekecimpung dalam dunia persilatan, memikirkan sebutan dan nama besar. Setiap perkumpulan hanya berpikir untuk menjadi yang terbesar dan setiap jagoan yang hidup lepas dari perkumpulan, mengincar gelar nomor satu di dunia… Tapi Anak Ding berbeda, dia belajar ilmu silat bukan untuk menjadi yang terkuat…‖, gumam Tabib Shao Yong seorang diri.
―Hehehe, tak kusangka, kepribadian seperti itu bisa juga jadi seorang pemimpin.‖, ujar Tabib Shao Yong sambil terkekeh.
―Ya…, dan kukira hampir semua jenis pemimpin besar, berawal dari kepeduliannya yang besar. Berawal dari kebesaran jiwanya yang tidak berpusat pada memikirkan diri sendiri, melainkan
1360
memperhatikan kepentingan yang lebih luas.‖, jawab Chou Liang sambil menganggukkan kepala.
―Saudara Chou… baiklah, aku merasa lebih mantap sekarang. Masalahnya bukan hanya perasaan hati tapi juga kepentingan yang lebih luas. Meskipun sepertinya tidak memiliki perasaan… tapi selain aku tidak boleh bersikap tidak adil dengan lebih mementingkan perasaan Nona muda Huang, kenyataannya memang dari segala segi pertimbangan yang terbaik adalah bila Ketua Ding Tao bersedia menikahi Nona Murong Yun Hua.―, ujar Tabib Shao Yong dengan hati berat.
―Tabib Shao Yong, terima kasih sudah mau mengerti. Meskipun demikian, pastikanlah sekali lagi bahwa yang dikandung itu adalah benar putera dari Ketua Ding Tao. Dengan demikian hatimu pun akan jauh lebih yakin dan tidak terbeban oleh perasaan bersalah pada Nona muda Huang.‖, ujar Chou Liang.
Tabib Shao Yong pun memandangi Chou Liang dan Chou Liang menjelaskan, ―Aku yakin, Nona muda Huang akan mengerti keadaan Ketua Ding Tao. Apalagi jika benar anak yang dikandung oleh Nona Murong Yun Hua adalah anak dari Ketua Ding Tao, maka aku yakin Nona muda Huang juga akan menghendaki pernikahan mereka berdua.‖
1361
Tabib Shao Yong merenung dan menganggukkan kepala, dalam hati dia membatin, ‗Benarkah demikian? Kalaupun benar, bukankah hatinya tetap akan sakit juga?‘
Tapi pada masa itu memang hal yang lumrah jika seorang laki-laki memiliki beberapa isteri. Dengan sendirinya keberatan yang muncul dalam hati pun tidaklah terlampau besar. Banyak pula wanita yang lebih bisa menerima keadaan ini, meskipun mungkin dalam hati ada juga setitik penolakan.
XXVIII. Chou Liang dan Tabib Shao Yong bekerja sama.
Setelah mendapatkan kunjungan dari Chou Liang, Tabib Shao Yong pun mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Keesokan paginya, Tabib Shao Yong pergi berkunjung ke tempat rombongan dari Keluarga Murong beristirahat. Dengan dalih ingin memeriksa kesehatan Murong Yun Hua ditambah umurnya yang sudah tua, tanpa banyak menarik perhatian orang Tabib Shao Yong pun berhasil bertemu dengan Murong Yun Hua secara pribadi.
1362
Setelah berbasa-basi sejenak dan menunggu tidak ada orang lain yang hadir dalam pembicaraan mereka, dengan hati-hati Tabib Shao Yong bertanya, ―Maafkan bila orang tua ini terlalu banyak bertanya, Nona Murong Yun Hua…, benarkah nona sedang dalam keadaan… eh… mengandung?‖
Murong Yun Hua dan Murong Huolin sudah berkali-kali membicarakan tentang Tabib Shao Yong dan kehamilan Murong Yun Hua. Mulai dari kemungkinan yang terburuk hingga kemungkinan yang baik, mereka pun sedikit banyak sudah bertanya-tanya, siapakah Tabib Shao Yong tersebut. Jawaban-jawaban yang mereka dengar, tidak juga membuat hati mereka merasa tenang. Benar memang Tabib Shao Yong tampaknya adalah orang yang bisa dipercaya, tapi Tabib Shao Yong juga pengikut keluarga Huang yang setia. Bahkan dikatakan dekat pula dengan Ding Tao dan Huang Ying Ying, jika benar demikian apakah kemudian tabib tua itu akan marah dengan Ding Tao yang tidak setia pada Huang Ying Ying?
Karena itu ketika Tabib Shao Yong datang berkunjung, hati mereka sudah berdebar. Di luar mereka berusaha tampil setenang mungkin, namun dalam hati selalu ada pertanyaan, apa maksud kedatangan dari tabib tua ini?
1363
Begitu mendengar pertanyaan Tabib Shao Yong yang cukup terbuka tanpa ditutup-tutupi, kagetlah kedua gadis itu, sebelum membuka mulut untuk menjawab, muka mereka pun memucat terlebih dahulu.
Tabib Shao Yong yang melihat reaksi dari kedua orang gadis itu buru-buru menenangkan mereka, ―Nona-nona sekalian jangan salah sangka, aku orang tua tidak memiliki pikiran yang buruk tentang kalian berdua. Aku pun tidak memiliki niatan yang buruk. Jika aku bertanya itu muncul dari kepedulianku sebagai seorang yang sudah tua, seorang yang menganggap Ketua Ding Tao sebagai puteraku sendiri.‖
―Mungkin caraku menyampaikannya membuat kalian terkejut dan merasa risih, namun setelah kupikirkan lama tidak kutemukan cara lain yang lebih baik untuk membciarakan masalah ini, selain dengan saling terbuka dan jujur tanpa menutupi apa-apa.‖, ujar Tabib Shao Yong ketika melihat kedua gadis itu sudah melampaui rasa terkejut mereka.
―Tabib Shao Yong… kemarin kau sudah memeriksa nadiku, kurasa aku tidak mungkin menyembunyikan hal ini darimu. Memang benar aku sedang mengandung, namun yang aku
1364
belum mengerti, apa urusannya hal itu dengan Tabib Shao?‖, jawab Murong Yun Hua dengan nada bertanya.
Bagaimanapun kedudukan Murong Yun Hua tidaklah menyenangkan, hamil di luar nikah, apa pendapat orang mengenai dirinya? Tapi hendak mengelak pun sudah tidak bisa. Tabib Shao Yong berusaha memahami perasaan gadis ini dan berpikir keras untuk tidak menyinggungnya dengan kata-kata yang dia ucapkan.
―Maafkan aku Nona muda … sesungguhnya memang terlalu usil bila aku bertanya-tanya. Hanya saja aku memberanikan diri untuk bertanya, meskipun dalam hati merasa malu, itu semua karena aku sudah menganggap Ketua Ding Tao seperti puteraku sendiri. Kulihat, di antara kalian berdua… ada… ada hubungan yang khusus… sementara usia kehamilan nona, bertepatan pula dengan saat menghilangnya Ketua Ding Tao setelah dia melarikan diri dari Kota Wuling.‖, ujar Tabib Shao Yong dengan berhati-hati.
―Apakah… apakah benar tebakanku, bahwa… bahwa anak yang nona kandung adalah anak dari Ketua Ding Tao?‖
1365
Murong Yun Hua mengalihkan pandangan ke arah Murong Huolin, tapi Murong Huolin pun tidak tahu harus menjawab apa. Keduanya terdiam, membiarkan Tabib Shao Yong menanti dan menebak-nebak sendiri jawaban dari pertanyaannya.
―Nona Murong Yun Hua, jika benar, anak itu adalah anak dari Ketua Ding Tao, bukankah sebaiknya Nona memberitahukan hal itu padanya. Tidak baik jika anak itu sampai dilahirkan tanpa ayah. Jika nona merasa kesulitan untuk menceritakan hal itu pada Ketua Ding Tao, biarlah aku membantu nona untuk menyampaikannya pada Ketua Ding Tao.‖
―Jangan…!‖, sergah Murong Yun Hua begitu dia mendengar Tabib Shao Yong hendak menyampaikan berita itu pada Ding Tao.
―Jangan beritahukan tentang kehamilanku pada Adik Ding Tao…‖, ujar Murong Yun Hua dengan nada isak yang tertahan.
Sepasang matanya yang bening mulai berkilauan oleh air mata yang mengembeng di pelupuk mata. Tabib Shao Yong pun terdiam untuk sesaat. Dengan gerakan yang anggun Murong Yun Hua menyusut air mata yang hendak jatuh, kemudian
1366
dengan nada yang lebih terkendali dia mengulangi perkataannya.
―Tabib Shao Yong, kumohon, rahasiakanlah hal ini dari Adik Ding Tao, jangan beritahukan apa pun padanya.‖, ujar Murong Yun Hua dengan tubuh tegak dan mata menatap Tabib Shao Yong.
―Duh… nona… mengapa? Apakah mataku yang tua ini salah melihat? Bukankah kalian berdua saling mencinta? Atau salahkah dugaanku bahwa anak yang nona kandung adalah anak Ketua Ding Tao? Coba katakanlah mengapa, apa sebabnya nona melarang, supaya hati orang tua ini bisa tenang.‖, ujar tabib tua itu dengan sungguh-sungguh.
Murong Yun Hua menghela nafas, hatinya terasa berat untuk menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Ding Tao. Bagaimanapun juga dia berusaha menerima, kejadian itu tetaplah satu pengalaman yang menyakitkan bagi dirinya. Lama dia menundukkan kepala. Saat dia menengadahkan kepala, Tabib Shao Yong masih duduk di hadapannya, dengan pandangan mata yang menyorotkan belas kasihan. Betapa Murong Yun Hua berharap, kedatangan tabib tua itu hanya permainan angan-angannya belaka, dan saat dia
1367
menengadahkan kepala tidak ada siapa-siapa di sana, kecuali dirinya dan adiknya Huolin.
―Tabib Shao Yong… tidak salah dugaan Tabib, bahwa aku mencintai Adik Ding Tao dengan sepenuh hatiku dan anak yang ada dalam kandunganku ini adalah anaknya. Namun ada hal-hal yang Tabib Shao Yong tidak mengerti dalam hubungan kami berdua.‖, dengan berat Murong Yun Hua pun mulai menceritakan tentang bagaimana hubungan antara dirinya dan Ding Tao bermula.
Sejak pertemuan mereka untuk pertama kalinya, cerita Ding Tao tentang Pedang Angin Berbisik dan sumpah Murong Yun Hua sebagai keturunan dari pembuat pedang tersebut, penolakan Ding Tao hingga malam terjadinya hubungan di antara mereka berdua. Tentu saja tidak disampaikan secara rinci, meskipun demikian cukuplah cerita Murong Yun Hua itu memberikan gambaran pada Tabib Shao Yong mengenai apa yang telah terjadi. Mulai dari penolakan Ding Tao dan kekecewaan yang dirasakan kedua gadis bermarga Murong itu, hingga bagaimana mereka belajar untuk menerima keputusan Ding Tao dan mencintainya dari kejauhan.
1368
―Oleh karena itu Tabib Shao… kuharap kau mengerti, janganlah kau ceritakan hal ini pada Adik Ding Tao. Kami sudah merasa bahagia dengan adanya bayi kecil dalam kandunganku ini. Biarlah dia menjadi pelipur lara, pengingat kami akan cinta kami dan pengganti kehadirannya yang tidak akan pernah hadir dalam hidup kami. Karena hatinya sudah ada yang memiliki.‖, ujar Murong Yun Hua menutup penuturannya.
Murong Huolin hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah yang terkadang terasa panas oleh rasa malu. Terkadang gadis yang pemberani ini justru merasa kagum pada keberanian encinya yang terlihat pendiam. Jika dia yang berada di posisi Murong Yun Hua, tidak terbayang apa yang harus dia katakan atau bahkan apakah dia bisa berkata-kata.
Tabib Shao Yong pun memandangi kedua gadis itu bergantian, sebelum kemudian menundukkan kepala. Di wajah kedua gadis itu, terbayang wajah Huang Ying Ying. Tabib tua itu pun dalam hati menggelengkan kepala dan bertanya-tanya, mengapa nasib mempermainkan muda-mudi dengan jerat-jerat cinta. Beberapa saat kemudian tabib tua itu pun menghela nafas dan bertanya.
1369
―Nona Murong Yun Hua, mungkin benar dalam hati Ketua Ding Tao sudah ada Nona muda Huang Ying Ying, tapi kurasa di dalam hatinya juga ada nona berdua. Hal itu dapat kulihat saat kalian saling berjumpa. Mungkin bukan sesuatu yang ideal, namun apa salahnya seorang lelaki memiliki lebih dari satu orang isteri? Bukankah lebih baik demikian daripada harus ada yang terluka hatinya, lebih baik berbagi dan saling mengasihi daripada harus ada yang mengalah?‖, ujar tabib tua itu kepada kedua nona muda yang ada di hadapannya.
Dalam hatinya Tabib Shao Yong membayangkan apa yang akan dikatakan Chou Liang. Chou Liang meminta agar Tabib Shao Yong bisa mengatur pernikahan Ding Tao dengan Murong Yun Hua, entah apa reaksinya jika nanti dia tahu bahwa bukan hanya Murong Yun Hua saja tapi juga adiknya pun akan dinikahi oleh Ding Tao.
―Tabib Shao Yong, aku ini hanya seorang janda muda, masakan aku hendak keberatan jika Adik Ding Tao menghendaki aku menjadi isteri kedua atau ketiganya? Masakan Tabib Shao Yong tidak memahami pula watak dari Adik Ding Tao?‖, tanya Murong Yun Hua dengan kepala tertunduk.
1370
―Hehhh… Ding Tao masih sangat muda apalagi saat dia baru bertemu dengan nona berdua. Kurasa pendiriannya sebenarnya sudah berubah. Sejak bencana yang terjadi atas keluarga Huang di Kota Wuling, wawasannya jauh berubah. Dia sudah merasakan sendiri, betapa kematian bisa datang sewaktu-waktu, menjemput orang yang kita kasihi. Aku yakin, jika sekarang aku berbicara dengannya, dia pasti akan menerima usulanku ini.‖, ujar tabib tua itu dengan hati-hati.
―Apakah Tabib Shao Yong sudah pernah membicarakan hal ini dengan Ketua Ding Tao? Apakah maksud Tabib Shao Yong, karena sekarang nona muda Huang sudah meninggal maka Ketua Ding Tao akan menerima kami berdua?‖, tanya Murong Yun Hua dengan wajah yang masih tertunduk.
Jika Shao Yong belum pernah bercakap-cakap dengan Chou Liang mungkin tidak terpikir olehnya, bahwa jawaban yang dia berikan bisa memiliki berbagai macam arti. Pertanyaan Murong Yun Hua pun tentu akan dengan mudah dijawab olehnya. Namun justru Chou Liang sudah bercakap-cakap panjang dengannya, sehingga sekarang tabib tua itu pun memutar otak, menganalisa pertanyaan Murong Yun Hua dan jadi ragu-ragu untuk menjawab dengan segera.
1371
―Nona Murong, tentang Ketua Ding Tao sendiri, aku belum pernah menyinggung-nyinggung sedikitpun tentang masalah ini dengannya.‖, ujar Tabib Shao dengan cepat, menjawab pertanyaan yang termudah.
Kemudian perlahan-lahan Tabib Shao Yong berusaha menjawab pertanyaan kedua dengan berhati-hati, ―Kemudian tentang perasaan Ketua Ding Tao pada nona berdua, sebagai orang yang mengenalnya dengan baik. Aku sangat yakin bahwa diapun mencintai nona berdua. Jika dia meragu, itulah karena wataknya yang lurus, tapi aku yakin di lubuk hatinya yang terdalam, diapun ingin bisa hidup bersama dengan nona berdua. Kuharap kesalahannya di masa lalu, tidak membuat nona berdua mengeraskan hati, justru saat kesempatan untuk hidup bahagia bersama terbuka bagi kalian.‖
Di lain tempat, Chou Liang sedang bercakap-cakap dengan Ding Tao. Mereka berdua baru saja selesai membicarakan hasil laporan dari Song Luo, orang tua yang tadinya lebih banyak mengetahui tentang bumbu dapur daripada tokoh-tokoh dunia persilatan, sekarang sudah berubah menjadi pustaka mengenai tokoh-tokoh dunia persilatan yang ada. Ketekunannya membuahkan hasil, meskipun Song Luo bukan orang yang berotak jenius, namun hal itu bisa ditutupi dengan ketekunan
1372
dan ketelitiannya. Song Luo ternyata menjadi pasangan yang serasi dengan Chou Liang.
Kecerdikan Song Luo lebih terarah pada kecerdikan yang praktis. Sebagai seorang yang hidup dari membuka warung dan menjual makanan, hal itu adalah bagian dari hidupnya, dan Chou Liang dengan bijak bisa mengarahkan Song Luo agar dia dapat menggunakan kelebihan-kelebihan yang dia miliki dalam menjalankan tugasnya.
Ding Tao pun terlihat puas dengan kemajuan yang mereka capai, meskipun hatinya sedih karena bulan-bulan sudah berlalu namun kabar mengenai Tiong Fa, apalagi mengenai Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu tidak juga didapatkan.
―Hhh…. Kakak Chou Liang, apakah menurutmu, pada saat itu Tiong Fa hanya menggertak saja? Apakah menurutmu aku hanya ditipu mentah-mentah oleh pengkhianat itu?‖, tanya Ding Tao waktu itu.
―Ketua Ding Tao, soal itu jangan lagi dipikirkan. Orang ini memang licin seperti belut, tapi keputusan Ketua Ding Tao waktu itu adalah keputusan yang terbaik. Aku yakin semua yang hadir pada saat itu bisa memahami dan sepenuhnya
1373
setuju dengan keputusan Ketua Ding Tao.‖, jawab Chou Liang dengan diplomatis.
―Hmm… kuharap begitu…‖, ujar Ding Tao dengan lemah, jawaban Chou Liang menyiratkan bahwa dugaan Ding Tao kemungkinan besar benar, Tiong Fa hanya mempermainkan mereka.
―Jangan kuatir Ketua Ding Tao, meskipun dunia ini lebar, namun tetap ada batas-batasnya, lagipula ada perkataan jaring keadilan dari langit tidak pernah luput menangkap orang yang bersalah. Sepandai-pandainya Tiong Fa, satu saat nanti dia akan jatuh juga.‖, hibur Chou Liang.
―Daripada membicarakan orang yang menyebalkan itu, mengapa tidak membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan?‖, tanya Chou Liang.
―Hai… apa maksud Kakak Chou Liang?‖, tanya Ding Tao dengan alis terangkat.
―Hahaha, Ketua Ding Tao jangan pura-pura tidak tahu. Maksudku tentu saja kedua nona dari keluarga Murong itu, bukankah keduanya menyenangkan bagi mata dan menyenangkan pula bagi telinga. Daripada Ketua Ding Tao
1374
memikirkan Tiong Fa, tidak ada salahnya jika Ketua Ding Tao mengunjungi kedua nona itu dan bercakap-cakap dengan mereka.‖, goda Chou Liang sambil tertawa lebar.
―Kakak Chou Liang, jangan menggodaku.‖, ujar Ding Tao sambil tersipu malu.
Melihat reaksi Ding Tao Chou Liang pun tertawa makin keras, ―Ketua Ding Tao, tak kusangka ternyata kau pun memiliki kelemahan. Pendekar lain ada yang takut pedang ada pula yang takut racun tapi ketua kami berbeda, dia takut perempuan muda dan cantik.‖
―Kakak Chou Liang, janganlah berbicara sembarangan, kedua nona itu berasal dari keluarga yang terhormat. Janganlah bercanda secara keterlaluan.‖, ujar Ding Tao dengan wajah memerah karena malu.
―Ah ya… baiklah, baiklah. Maafkan aku, kedua nona itu jelas memang dua orang nona yang terhormat, cara mereka berbicara dan berperilaku sungguh menunjukkan hal itu. Tapi Ketua Ding Tao, tidakkah ketua merasa bahwa mereka sangat memperhatikan Ketua Ding Tao?‖, ujar Chou Liang setelah tawanya mereda.
1375
―Ya… kurasa begitu… yang pasti aku sudah banyak berhutang budi pada mereka.‖, jawab Ding Tao.
―Ketua Ding Tao, apakah Ketua Ding Tao tidak memiliki perasaan sedikitpun pada kedua gadis itu?‖, tanya Chou Liang pada Ding Tao.
―Maksud Kakak Chou Liang bagaimana? Tentu saja aku sangat berterima kasih pada mereka dan.. dan… sebagai teman aku sangat menghargai mereka berdua.‖, ujar Ding Tao dengan susah payah.
―Maafkan aku Ketua Ding Tao, tapi kita semua sudah di sini sudah cukup berumur, sudah cukup dewasa, jadi kupikir biarlah aku berterus terang saja. Ketua Ding Tao toh sudah cukup umur untuk menikah dan kedua gadis itu sepertinya menaruh hati pada Ketua Ding Tao. Apakah Ketua Ding Tao tidak pernah berpikir untuk membangun keluarga dengan salah satu dari mereka?‖, tanya Chou Liang dengan serius.
Wajah Ding Tao pun terasa panas dengan suara sedikit terbata dia menjawab, ―Kakak Chou Liang, kalau aku berkata bahwa aku tidak memiliki perasaan apapun pada kedua nona itu tentu saja aku berbohong. Keduanya sangat cantik, lagipula memiliki
1376
sifat yang baik. Tapi… keadaanku saat ini… apakah tidak terlalu terburu-buru untuk memutuskan hal seperti itu?‖
―Ketua Ding Tao, salah satu dari kewajiban sebagai seorang anak lelaki terhadap leluhur adalah melanjutkan nama keluarga. Bagaimana bisa Ketua Ding Tao memandang sepele hal seperti ini.‖, tegur Chou Liang dengan wajah serius.
Bukan Chou Liang namanya jika tidak mengetahui titik lemah seseorang. Jika dia ingin Ding Tao berbuat sesuatu, maka cara termudah adalah dengan menghadapkan pemuda itu pada hal-hal seperti ini, tradisi, nilai-nilai kekeluargaan dan prinsip-prinsip lain yang diikuti secara umum. Dihadapkan pada pertanyaan demikian, Ding Tao pun menghela nafas.
―Hahh… Kakak Chou Liang, bukannya aku tidak pernah berpikir demikian. Tapi… bukankah pekerjaan yang kita hadapi saat ini lebih penting daripada persoalan pribadi?‖, tanya Ding Tao.
―Hee… jika berpikir demikian, maka sampai Ketua Ding Tao berumur pun Ketua Ding Tao tidak akan pernah menikah karena pekerjaan kita tidak akan pernah selesai. Apakah Ketua Ding Tao berpikir pendek saja ke depan? Apakah hanya Ren Zuocan atau Tiong Fa saja yang menjadi ancaman?
1377
Bagaimana dengan tingkah laku orang-orang dunia persilatan yang cenderung menggunakan kekerasan untuk menekan yang lemah? Bagaimana dengan persaingan untuk menjadi yang terkuat, yang seringkali hanya menimbulkan pertumpahan darah yang tidak perlu?‖, ujar Chou Liang dengan gemas.
―Yang ini dikerjakan, yang lain pun tidak boleh dilupakan. Kewajiban yang satu tidak berarti melupakan kewajiban yang lain. Menjaga agar setiap kewajiban dilaksanakan dengan berimbang, itulah baru lelaki sejati.‖
Ding Tao pun tercenung didebat oleh Chou Liang, jangankan didebat oleh Chou Liang, tanpa didebat pun siapa yang tidak ingin memperistrikan wanita secantik Murong Yun Hua? Tapi jika itu dilakukan bagaimana pula dengan Huang Ying Ying? Bagaimana juga dengan permintaan Murong Yun Hua di waktu yang lalu? Haruskah Ding Tao menikahi juga Murong Huolin?
―Kakak Chou Liang, hal ini sebenarnya aku tidak bisa mendebat kakak, namun antara diriku dan Nona Murong Yun Hua sebenarnya ada latar belakang yang kakak belum tahu…‖, ujar Ding Tao dengan ragu-ragu.
1378
―Ah… kalau begitu mengapa Ketua Ding Tao tidak menceritakannya saja? Sejak mengikut Ketua Ding Tao, selain merasa diri sebagai seorang pengikut, akupun sering merasa seperti saudara tua bagi Ketua Ding Tao. Aku ini seorang anak tunggal, terkadang iri pula dengan mereka yang memiliki banyak saudara. Bertemu dengan Ketua Ding Tao, kerinduan ini sedikit terobati, jika Ketua Ding Tao tidak keberatan, aku ingin memandang Ketua Ding Tao seperti adikku sendiri.‖, ujar Chou Liang dengan sungguh-sungguh.
Ucapan Chou Liang ini tentu saja setengah benar, setengahnya lagi karangan saja, namun lagi-lagi dengan cerdik dia berhasil mengenai kelemahan Ding Tao. Ding Tao yang tidak memiliki keluarga, mudah sekali terharu oleh kebaikan orang. Chou Lian yang memahami hal ini, memanfaatkannya untuk membuat Ding Tao terbuka. Benar saja, mendengarkan perkataan Chou Liang hati Ding Tao pun jadi terharu.
Dengan tulus dia menjawab, ―Kakak Chou Liang, tentu saja aku tidak keberatan, sebenarnya kalian semua ini sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Baiklah aku akan menceritakannya, tapi kuharap kakak Chou Liang bisa merahasiakan hal ini, karena hal ini bukan saja menyangkut diriku tapi juga menyangkut nama baik kedua nona itu.‖
1379
―Tentu saja, aku mengerti dan Ketua Ding Tao tidak perlu merasa kuatir. Masakan Chou Liang tidak bisa menjaga mulutnya sendiri?‖, ujar Chou Liang dengan meyakinkan.
Dengan jawaban Chou Liang itupun akhirnya Ding Tai mulai menumpahkan apa yang selama ini tersimpan dalam hati dan pikirannya, berkenaan dengan pengalamannya setelah melarikan diri dari Kota Wuling. Sudah sejak lama hal itu menjadi rahasia bagi dirinya sendiri, seperti luka yang digaruk-garuk terus dan tak pernah sembuh. Gatal tapi tidak boleh disentuh. Sekarang ada orang yang bisa dipercaya yang mau peduli, maka Ding Tao pun bercerita untuk sedikit melegakan hatinya.
Ding Tao tentu saja tidak menceritakan dengan rinci tentang apa-apa yang terjadi, tapi setidaknya hal itu sudah cukup bagi Chou Liang untuk merangkaikan seluruh kejadian.
―Begitulah kesulitanku dalam hal ini, entah bagaimana dengan pendapat Kakak Chou Liang?‖, ujar Ding Tao mengakhiri penjelasannya.
Mendengar cerita Ding Tao, dalam hati Chou Liang jadi semakin bersemangat untuk menjodohkan Ding Tao dengan
1380
keluarga Murong. Salah satu kelemahan Ding Tao dalam hal ilmu silat adalah pengalamannya. Chou Liang memang bukan seorang ahli bela diri, namun pengetahuannya dalam ilmu perang membantu dia untuk memahami kedudukan Ding Tao ketika pemuda itu berhadapan dengan tokoh-tokoh nomor satu dalam dunia persilatan. Hampir setiap orang yang membicarakan Ding Tao, selalu mengakui bakat dan potensi dari pemuda itu, namun pengalaman tidak bisa dipaksakan. Setiap orang menjalani waktu yang sama dan tidak mungkin pula jika Ding Tao yang saat ini berusaha meraih dukungan dari orang banyak untuk pergi menantang tokoh-tokoh yang ada.
Jika Ding Tao bersikap seperti itu, tentu akan mengundang banyak rasa tidak suka dari mereka yang lebih tua. Belum lagi kekalahan-kekalahan yang mungkin saja terjadi, bisa mengurangi dukungan yang ada. Melawan Xun Siaoma saja Ding Tao masih membentur dinding batu. Tapi sekarang ada kemungkinan untuk menutupi kelemahan itu, jika benar keluarga Murong menyimpan berbagai macam kitab pelajaran ilmu silat, maka tanpa bertarung pun Ding Tao bisa mempelajari kelemahan dan kelebihan calon lawan-lawannya.
Tapi di luar tentu saja Ding Tao tidak melihat yang bergejolak dalam hati Chou Liang.
1381
Chou Liang justru bersikap sangat prihatin, kemudian dengan suara yang berat dia berkata, ―Ketua Ding Tao, kau sudah banyak sekali membuat susah kedua orang nona itu. Betapa mereka merasa terhina saat Ketua Ding Tao menolak pernyataan cinta mereka, bisakah Ketua Ding Tao bayangkan?‖
―Ya… ya… justru aku bisa membayangkan rasanya, aku semakin merasa bersalah pada mereka saat mereka menghujani aku dengan berbagai macam kebaikan.‖, ucap Ding Tao dengan sedih.
―Hehhh… Ketua Ding Tao, kurasa tidak ada jalan lain untuk menebus semua kesalahan Ketua ini, Ketua Ding Tao harus pergi menemui mereka dan mengajukan lamaran selayaknya.‖, ujar Chou Liang dengan serius, padahal dalam hati dia tertawa gembira.
―Kakak Chou Liang, bagaimana juga dengan permintaan Nona Murong Yun Hua mengenai urusan melanjutkan keturunan dari Keluarga Murong?‖, tanya Ding Tao.
―Apa salahnya dengan hal itu? Apakah Ketua Ding Tao melihat ada kekurangan dalam diri Nona Murong Huolin?‖, tanya Chou Liang dengan wajar.
1382
―Tentu saja tidak... bagaimana mungkin ada yang kurang dari dirinya‖, jawab Ding Tao sambil menggelengkan kepala.
―Nah, jadi tidak ada masalah bukan? Tentang nama marga, kukira kedua nona itu pun dapat mengerti jika Ketua Ding Tao meminta putera pertama untuk terlebih dahulu mewarisi marga Ding. Soal sekecil ini kurasa bukan masalah besar.‖, jawab Chou Liang seakan-akan tidak mengerti masalah Ding Tao.
Ding Tao sendiri dihadapkan pada jawaban Chou Liang yang ringan dan wajar, jadi memikirkan kembali keberatan-kebaratan yang selama ini dia ajukan. Apakah selama ini dia mempersoalkan hal kecil dan melupakan yang penting? Bukankah justru dia jadi tidak jujur pada diri sendiri dengan setiap pertimbangan yang dia lakukan? Hatinya merasa senang, tapi di mulut mengatakan tidak, bukankah munafik namanya? Tapi bagaimana dengan janji setianya pada Huang Ying Ying. Dalam hal ini, perkataan Chou Liang jadi tidak berarti dan Ding Tao pun mencetuskan hal ini.
―Tapi bagaimana dengan Adik Ying Ying? Patutkah aku menikah dan bersenang-senang, sementara nasibnya belum jelas diketahui? Sudahlah Kakak Chou Liang, aku mengerti setiap pertimbangan yang kakak utarakan, namun satu hal ini
1383
tidak bisa kupungkiri. Jika aku menikah sekarang maka aku akan merasa bersalah pada Adik Ying Ying.‖, ujar Ding Tao dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat.
Tapi bukankah Chou Liang sudah memiliki jawabannya?
Dan Chou Liang pun menjawab, ―Tapi Ketua Ding Tao, keputusan Ketua Ding Tao ini justru bisa menjadi bencana bagi Nona muda Huang Ying Ying. Lagipula apakah itu bukan merupakan tindakan seorang pengecut?‖
―Apa maksud perkataan Kakak Chou Liang?‖, tanya Ding Tao dengan heran dan penasaran.
―Yang pertama, Ketua Ding Tao sendiri mengakui perasaan cinta Ketua Ding Tao terhadap Nona Murong Yun Hua, bahkan sampai Ketua Ding Tao melakukan hubungan di luar batas. Sekarang Ketua Ding Tao menyembunyikan perasaan Ketua Ding Tao itu dari Nona muda Huang Ying Ying, bukankah itu karena rasa takut dan bersalah? Jika Ketua Ding Tao memang seorang lelaki, akuilah hal itu di hadapan Nona muda Huang Ying Ying. Atau Ketua Ding Tao ingin hidup sampai tua dalam kebohongan? Memakai topeng manusia suci padahal di dalam hatinya mendua?‖
1384
Keras dan pedas perkataan Chou Liang, jika Chou Liang tidak yakin akan watak Ding Tao tidak akan berani dia berkata demikian. Merah dan pucat bergantian wajah Ding Tao ditegur sedemikian rupa. Beberapa lama tidak ada yang membuka suara, sampai akhirnya Ding Tao menghela nafas dan mengangguk dengan berat.
―Ya… dalam hal ini Kakak Chou Liang benar… aku tidak boleh menyembunyikan hal ini terus menerus. Segera setelah kita menemukan Adik Ying Ying, aku akan membuka semuanya…‖, ujar Ding Tao dengan hati yang sudah menemukan ketetapan.
―Hmm… tapi sampai kapan Ketua Ding Tao mau menunggu, sampai kapan kedua nona itu harus menunggu? Bagaimana jika Nona muda Huang Ying Ying tidak pernah ditemukan? Ketua Ding Tao mengorbankan dua orang demi satu orang, membicarakan yang mungkin dan mengorbankan yang di depan mata. Padahal jika Nona Huang Ying Ying muncul pun Ketua Ding Tao tetap akan menikahi kedua Nona Murong itu. Sikap yang tidak tegas seperti ini, masakan layak bagi seorang pemimpin?‖, tanya Chou Liang dengan wajah tidak puas.
1385
Merah padam wajah Ding Tao, tanpa sadar digebraknya meja yang ada di hadapannya, ―Apa Kakak Chou Liang pikir aku pun menikmati keadaan ini !‖
―Jadi lelaki mengapa takut menderita? Demi orang yang dicintai rela menanggung derita, demi menunaikan kewajiban sanggup menekan perasaan. Tahu mana kepentingan yang besar dan mana yang kecil. Menempatkan kepentingan orang lain, di atas perasaan sendiri. Baru itu namanya lelaki!‖, ujar Chou Liang tidak kalah kerasnya.
Kedua orang itupun saling berhadapan dengan wajah keras. Selama bertemu dengan Chou Liang mungkin baru kali ini keduanya bersinggungan sedemikian rupa. Tapi tidak berlangsung lama Ding Tao pun akhirnya menghela nafas.
―Sebagian dari diriku membenarkan perkataan Kakak Chou Liang, tapi sebagian yang lain menolaknya.‖, ujarnya setelah menyabarkan diri dan menghalau pergi amarah yang tadi menguasai hatinya.
―Jika hati terbelah siapa yang bisa mengaturnya, tapi bagaimana dengan pertimbangan pikiran Ketua Ding Tao?‖, tanya Chou Liang.
1386
―Hmmm… aku cenderung memandang pertimbangan-pertimbangan akalku dengan curiga. Selama ini aku mengamat-amati, tidak jarang akalku memberikan berbagai pertimbangan hanya demi menekan hati nuraniku dan membenarkan keinginanku. Dan dalam hal ini aku sudah menginginkan Nona Murong Yun Hua…‖, jawab Ding Tao dengan muka kelam.
―Jika kuminta Ketua Ding Tao untuk menjawab dengan jujur, dari ketiga gadis itu siapa sebenarnya yang Ketua Ding Tao inginkan?‖, tanya Chou Liang.
Ding Tao pun menggigit bibir dan menjawab, ―Murong Yun Hua.‖
―Jadi sebenarnya bukankah tidak salah jika kukatakan perasaan Ketua Ding Tao pada Nona muda Huang Ying Ying sudah berubah?‖, kejar Chou Liang.
Meskipun dengan berat hati akhirnya Ding tao pun menganggukkan kepala.
―Bukankah sebenarnya terjadinya pertentangan batin adalah karena Ketua Ding Tao tidak bisa menerima hal ini? Ketua Ding Tao lari dari kenyataan. Salahkah jika aku mengatakan bahwa
1387
Ketua Ding Tao adalah seorang pengecut?‖, tanya Chou Liang tanpa memberi Ding Tao ampun sedikitpun.
Ding Tao pun menganggukkan kepala dengan lemah.
―Menurut Ketua Ding Tao, seandainya ketua Ding Tao menemukan Nona muda Huang Ying Ying dan menikahinya, sambil mengubur dalam-dalam kenyataan bahwa hati Ketua Ding Tao sudah menjadi milik orang lain. Apakah Nona muda Huang Ying Ying tidak akan merasakannya? Apakah bahagia hidup dalam satu tipuan?‖
―Tapi jika Ketua Ding Tao dengan jantan mau mengakuinya, maka sakitnya mungkin terasa, tapi ada kesempatan bagi Nona muda Huang Ying Ying untuk menemukan orang lain yang lebih mencintainya daripada cinta yang terbagi yang bisa diberikan Ketua Ding Tao. Bukankah sikap Ketua Ding Tao yang sekarang ini justru mencelakai Nona muda Huang Ying Ying? Karena Ketua Ding Tao mengurungnya dengan kata kesetiaan, padahal Ketua Ding Tao sendiri tidak bisa memberikan sepenuh hati Ketua Ding Tao padanya?‖
Tercenung Ding Tao mendengarkan uraian Chou Liang.
1388
―Apa yang Ketua Ding Tao lakukan, sebenarnya sudah menyakiti semua pihak dan menutup pula masa depan Nona muda Huang Ying Ying.‖, ujar Chou Liang dengan lembut.
―Bagaimana tuntutan Nona Murong Yun Hua mengenai Nona Murong Huolin?‖, tanya Ding Tao.
―Dalam hal ini tergantung pada keputusan Nona muda Murong Huolin sendiri. Jika Ketua Ding Tao bisa berterus terang dan mengatakan perasaan Ketua Ding Tao secara sejujurnya pada Nona Murong Huolin, maka apapun keputusannya bukankah tidak ada keberatan dalam nurani Ketua Ding Tao?‖, tanya Chou Liang.
Setelah mendengarkan uraian Chou Liang, Ding Tao pun akhirnya menganggukkan kepala. Melihat Ding Tao sudah menerima pendapatnya, Chou Liang pun menambahkan.
―Demikian pula nanti jika pada akhirnya kita berhasil menemukan dan menyelamatkan Nona muda Huang. Jika setelah melihat kenyataan dan dia bersedia menerima cinta Ketua Ding Tao yang terbagi. Maka selama masih ada kasih Ketua Ding Tao pada dirinya, kukira yang terbaik adalah Ketua Ding Tao menerimanya pula. Bagaimana pun juga Ketua Ding
1389
Tao sudah pernah menjanjikan hal itu pada dirinya. Namun hal itu terjadi bukan dengan kebohongan-kebohongan atau ada yang ditutupi, melainkan dengan melihat kenyataan dan sesuai pilihan hati Nona muda Huang sendiri.‖, ujar Chou Liang.
Alis Ding Tao pun terangkat mendengar usulan Chou Liang yang terakhir. Chou Liang seperti orang yang tidak tahu kapan harus berhenti. Sudah berhasil meyakinkan Ding Tao untuk menikahi Murong Yun Hua, bahkan Murong Huolin jika gadis itu setuju, sekarang Chou Liang menyarankan Ding Tao untuk menikah pula dengan Huang Ying Ying, seandainya gadis itu menyetujuinya.
―Tentu saja dengan mendengarkan pula pertimbangan dari Nona Murong Yun Hua dan Nona Murong Huolin.‖, ujar Chou Liang tanpa merasa bersalah.
Ding Tao pun mendesah dan menggelengkan kepala, ―Baiklah, aku sudah mengerti apa maksud Kakak Chou Liang. Sekarang tolong tinggalkan aku sendiri, biarkan aku memikirkannya sekali lagi.‖
1390
Chou Liang menganggukkan kepala dan berpamitan, ―Baiklah kalau begitu, semoga Ketua Ding Tao boleh mendapatkan jalan keluar yang terbaik.‖
―Terimakasih‖, jawab Ding Tao.
Chou Liang pun keluar meninggalkan Ding Tao sendirian di ruang kerjanya. Para penjaga pintu mengangguk hormat padanya, meskipun di wajah mereka terlihat pula keheranan. Pintu ruangan itu memang tebal, namun tidak urung mereka sempat mendengar pertengkaran yang sempat terjadi, meskipun tidak dengan jelas.
Chou Liang yang melihat keheranan di wajah mereka hanya tersenyum dan berkata, ―Dua orang tentu tidak aneh jika memiliki dua pendapat yang berbeda. Seorang pengikut yang baik bukan hanya mengikuti secara membuta, tapi harus berani memberikan pendapatnya yang mungkin berbeda, jika itu demi kebaikan. Kalian mengerti?‖
―Ya, kami mengerti Tuan Chou Liang‖, jawab salah seorang dari mereka.
―Baguslah kalau begitu, sekarang kalian berjagalah baik-baik, jika tidak ada persoalan yang sangat penting, maka kuminta
1391
kalian mencegah orang yang hendak menemui Ketua Ding Tao.‖, ujar Chou Liang berpesan.
―Baik Tuan Chou.‖, jawab para penjaga.
Sementara itu pembicaraan Tabib Shao Yong dan kedua nona dari keluarga Murong itu pun akhirnya selesai. Wajah dua gadis yang tadinya pucat saat mendapatkan kunjungan dari Tabib Shao Yong, sekarang menjadi cerah. Awan gelap yang tadinya menutupi hati sudah hilang tertiup angin dan harapan sedang berbunga dalam hati keduanya.
―Kalau begitu, kurasa sudah saatnya aku pergi menemui Ketua Ding Tao, bagaimana menurut nona berdua?‖, tanya Tabib Shao Yong mengakhiri pembicaraan yang menyenangkan.
Dengan tersipu malu, Murong Yun Hua menjawab, ―Tentu saja, aku menyerahkan segala persoalan di tangan Tabib Shao Yong. Kami hanya bisa menunggu dan berharap.‖
Tabib Shao Yong pun tertawa bahagia, ―Hahaha, jangan kuatir, aku mengenal Ketua Ding Tao dengan baik. Kukira tidak akan ada halangan apa pun. Baiklah kalau begitu aku pamit dahulu, entah nanti aku akan datang kembali atau Ketua Ding Tao sendiri yang akan datang ke mari.‖
1392
―Terima kasih Tabib Shao Yong, hati-hati dalam perjalanan.‖, ucap kedua gadis itu dengan wajah kemerahan. Dengan hati berdebar keduanya mengantarkan Tabib Shao Yong sampai di luar, menanti tabib tua itu lenyap dari pandangan mata, keduanya saling berpandangan. Senyum mengembang di wajah keduanya.
―Hmm… Enci Yun Hua sepertinya senang sekali, jangan keburu senang dulu Tabib Shao Yong kan belum bertemu dengan Kakak Ding Tao, bagaimana kalau nanti jawabannya tidak sesuai harapan.‖, goda Murong Huoling dengan mata berkilat, antara kata-kata dan raut wajahnya saling bertentangan.
―Eh..eh.. anak nakal, bukannya dirimu yang dari tadi tersenyum-senyum.‖, balas Murong Yun Hua sambil memainkan mata.
Semburat merah wajah Murong Huolin tapi tak mau mengalah, ―Ah… aku hanya senang melihat Enci senang. Tidak ada sebab yang lain.‖
―Oh… jadi begitu ya… benar tidak mau jadi isterinya Ding Tao?‖, goda Murong Yun Hua dengan geli.
1393
―Huuh… kalau jadi isterinya bisa makan hati tiap hari, matanya kan melihat Enci terus, mana ada waktu untukku.‖, balas Murong Huolin dengan bibir mencibir.
―Ah masa iya sih? Kulihat tadi senyumanmu lebih lebar saat Tabib Shao Yong mengatakan akan meminta Adik Ding Tao untuk menerima syaratku, yaitu dia harus menikahi kita berdua sekaligus.‖, ujar Murong Yun Hua tidak mau kalah.
―Ahh… siapa bilang? Aku tidak tersenyum kok‖, jawab Murong Huolin sambil mencubit kakak perempuannya.
―Aduh… aduh… kalau tidak tersenyum ya tidak perlu mencubit. Belum jadi isteri Ding Tao aku sudah kau cubit, nanti kalau sudah menikah dengan Ding Tao jangan-jangan kau malah lupa dengan Encimu ini.‖, goda Murong Yun Hua sambil berlari menuju ke dalam.
Murong Huolin pun mengejar sambil tersipu malu, ―Ah… jangan bicara sembarangan, siapa juga yang kepingin jadi isterinya.‖
Salah satu pembantu di kediaman Partai Pedang Keadilan yang kebetulan sedang membawakan makanan dan minuman untuk kedua gadis itu melongokkan kepala ke dalam dan
1394
berseru, ―Wah, kenapa nona muda berdua ceria sekali, aku dengar ada yang mau kawin, siapa yang mau kawin?‖
―Hush… bukan kawin, tapi nikah, ini adik kecilku ini yang mau menikah‖, jawab Murong Yun Hua dari dalam.
Dengan segera ketiga gadis itu pun ramai bercanda. Murong Huolin yang termuda, meskipun pandai bicara, kali ini tidak berkutik karena diserang dari dua arah. Jika di tempat Murong Yun Hua dan Murong Huolin menginap ramai dengan canda tawa. Berbeda lagi dengan suasana di ruang kerja Ding Tao. Sesuai dengan pesan Chou Liang, para penjaga pintu terlebih dahulu menanyai urusan dari orang yang ingin bertemu dengan Ding Tao. Hari itu sudah tidak ada hal penting lain kecuali pertemuan dengan Chou Liang, dengan sendirinya tidak ada seorangpun yang diijinkan untuk menemui Ding Tao.
Di dalam ruang kerjanya pemuda itu duduk sendirian ditemani dengan kesunyian. Entah sudah berapa kali pemuda itu bangkit berdiri kemudian berjalan mondar-mandir dalam ruang kerjanya, untuk kemudian duduk lagi sambil menghela nafas.
1395
Sekali lagi dia berdiri dan berjalan, mengelilingi ruang kerjanya, matanya tertumbuk pada sebilah pedang yang digantungkan di dinding.
Pedang hadiah dari Murong Yun hua dan Murong Huolin, lebih tepatnya hadiah dari Murong Huolin, karena jika Pedang Angin Berbisik itu milik ayah Murong Yun Hua, pedang yang satu ini adalah milik ayah Murong Huolin. Entah apa nama pedang itu, ayah Murong Huolin tidak pernah memberikannya nama, Ding Tao sendiri sebagai pemiliknya tidak terpikirkan untuk memberikan nama.
Dicabutnya pedang itu dan diamatinya baik-baik, lalu ditimangnya dan diayunkan dengan hati-hati. Tiba-tiba ditikamkannya pedang itu dengan sekuat tenaga hingga suara dengungan pedang memenuhi ruangan. Penjaga di luar terlonjak kaget mendengar dengungan yang bagai raungan seekor macan kumbang di pendengaran mereka.
Sebelum para penjaga bisa memutuskan akan mencoba mengetuk pintu ataukah mendiamkan saja kejadian itu, Ding Tao terlihat melangkah keluar.
1396
Segala kebimbangan sudah dia tikam habis dengan pedang pusakanya, sekarang hanya ada satu tempat yang harus dia tuju. Melihat roman wajah Ding Tao, para penjaga tidak ada yang berani bertanya, meskipun dalam hati mereka tidak habis-habisnya menebak. Pertama pertengkaran Ding Tao dengan Chou Liang, sekarang suara raungan dari dalam ruangan.
Baru beberapa langkah Ding Tao meninggalkan bangunan tempat ruang kerjanya berada, ketika dia melihat Tabib Shao Yong sedang berjalan ke arahnya. Melihat tabib tua itu berjalan ke arahnya, Ding Tao pun menghentikan langkahnya dan menunggu.
―Tabib Shao Yong, apakah mencariku?‖, tegurnya sambil tersenyum ramah.
―Ya, benar. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu. Apakah waktunya tepat? Sepertinya Ketua Ding Tao hendak pergi ke satu tempat.‖, jawab tabib tua itu dengan senyum lebar, hatinya masih berbunga-bunga oleh kabar gembira yang hendak dia sampaikan.
1397
―Hmmm… tidak apa, tapi jika tidak terlalu penting biarlah kita bicarakan di sini saja. Aku hendak pergi mengunjungi Nona muda Murong.‖, jawab Ding Tao.
―Ah… kedua gadis itu.., kebetulan justru aku baru saja dari sana dan hendak menemui Ketua untuk membicarakan sesuatu mengenai mereka.‖, ujar Tabib Shao Yong.
―Apakah terjadi sesuatu dengan mereka? Apakah berkenaan dengan kesehatan Nona muda Murong Yun Hua?‖, tanya Ding Tao dengan cemas.
Tabib Shao Yong tertawa geli melihat reaksi pemuda itu, ―Ya.. memangnya ada sesuatu terjadi pada diri Nona muda Murong Yun Hua, dan itu jelas-jelas karena kesalahanmu. Namun tidak ada yang perlu dikuatirkan, aku sudah memberikan obat yang baik bagi mereka. Asalkan tidak ada salah perhitungan tentu mereka berdua baik-baik saja.‖
―Eh… aku jadi tidak mengerti maksud Tabib Shao.‖, ujar Ding Tao dengan kebingungan.
―Hehehe, sudahlah, kita cari tempat yang nyaman untuk bicara sebentar. Bagaimana kalau ke taman sebelah situ?‖, ujar Tabib
1398
Shao Yong sambil menunjuk sebuah taman kecil yang mengisi jarak antara bangunan yang satu dengan yang lain.
―Baiklah, mari kita pergi ke sana. Tapi benar tidak ada apa-apa dengan kesehatan dua orang nona itu?‖
―Tidak ada yang perlu dikuatirkan, marilah kita pergi ke sana, setelah kujelaskan pasti Ketua Ding Tao akan paham juga.‖, ujar Tabib Shao Yong sambil lebih dahulu berjalan ke arah taman yang dia maksud.
Ding Tao dengan tidak sabar menunggu Tabib Shao Yong yang menurunkan pantatnya perlahan-lahan ke salah satu bangku yang ada dalam taman kecil itu. Menunggu Tabib Shao Yong duduk dengan nyaman, barulah Ding Tao duduk di bangku yang lain. Dari kedudukan sudah sewajarnya bila Ding Tao yang duduk terlebih dahulu, tapi mengenai hal ini Ding Tao justru berkeras, agar mereka yang lebih tua yang lebih dahulu duduk. Pada saat awal Ding Tao menjadi ketua tentu saja beberapa kali hal ini jadi perdebatan kecil di antara mereka. Namun karena Ding Tao tidak mau mengalah, maka akhirnya orang tua- orang tua itu yang mengalah.
1399
―Tabib Shao Yong, jadi bagaimana dengan keadaan kedua nona tersebut?‖, tanya Ding Tao dengan tidak sabar.
―Hmm… baiklah pertama-tama mengenai Nona Murong Yun Hua… kuharap Ketua Ding Tao jangan terburu-buru mengambil kesimpulan atau kaget mendengar berita ini.‖, ujar Tabib Shao Yong dengan hati-hati.
―Ya… ya… aku mengerti, jadi ada apa dengan Enci Murong Yun Hua?‖
―Nona Murong Yun Hua saat ini dalam keadaan hamil…‖, jawab Tabib Shao Yong sambil terus memperhatikan wajah Ding Tao.
Pucat wajah Ding Tao mendengar berita itu, termangu pemuda itu tidak memberikan tanggapan apa-apa pada Tabib Shao Yong, otaknya dipenuhi berbagai macam pertanyaan dan dugaan, begitu sibuknya hingga Ding Tao sendiri tidak tahu apa yang dia pikirkan. Melihat Ding Tao terdiam, Tabib Shao Yong pun kembali berkata.
―Menurut perhitunganku, usia kandungannya kurang lebih berumur 5 bulan, apakah kira-kira perhitunganku ini tepat dengan perhitungan Ketua Ding Tao?‖, tanya Tabib Shao Yong dengan lembut.
1400
Pertanyaan Tabib Shao Yong itu seperti angin yang bertiup keras menghembus semua kericuhan dalam benak Ding Tao. Pemuda itu memejamkan mata dan menghela nafas.
Ketika dia membuka mata diapun berkata, ―Kukira apa yang terjadi antara diriku dengan Enci Murong Yun Hua, sudah Tabib Shao Yong ketahui. Tapi biarlah kuucapkan terus terang, kecuali Enci Murong Yun Hua berkata lain, anak dalam kandungannya itu tentu adalah anakku.‖
Tabib Shao Yong menganggukkan kepala, ―Nona Murong Yun Hua tidak mengatakan hal yang berlawanan, ketika aku bertanya padanya.‖
―Apakah Enci Murong Yun Hua yang meminta Tabib Shao Yong untuk menyampaikan kabar itu padaku?‖. Ding Tao bertanya dengan tenang.
Tabib Shao Yong pun menggelengkan kepala, ―Tidak, akulah yang pergi ke sana untuk bertanya, dan aku pula yang menawarkan diri untuk menyampaikan berita ini padamu. Tadinya kedua nona itu hendak menyembunyikan hal ini darimu, berkenaan dengan perasaanmu terhadap Nona muda Huang Ying Ying.‖
1401
Termenung Ding Tao mendengar jawaban Tabib Shao Yong, kemudian dengan perlahan dia berkata, ―Syukurlah Tabib Shao Yong berpikir sampai ke sana. Jika tidak, betapa besar dosaku telah menelantarkan Enci Yun Hua dan anakku sendiri.‖
Kembali Tabib Shao Yong mengangguk-anggukkan kepala, teringat juga dia dengan perkataan Chou Liang, dalam hatinya tabib itu pun membenarkan pendapat Chou Liang, ―Jadi, sekarang, apa yang akan Ketua Ding Tao lakukan?‖
―Aku akan pergi menemui mereka. Hari ini pun sebenarnya aku sudah banyak mendengarkan pendapat Kakak Chou Liang mengenai hubunganku dengan kedua gadis itu dan akupun sudah mengambil keputusan, meskipun ada juga pertanyaan dalam hati. Tapi berita dari Tabib Shao Yong menegaskan semuanya, kukira tidak ada yang perlu dipikirkan lagi.‖, jawab Ding Tao sambil tersenyum.
Tabib Shao Yong pun tersenyum lebar, ―Baiklah kalau begitu, nah apakah Ketua Ding Tao mau ke sana sendirian, atau perlu aku temani?‖
Sambil tersipu malu Ding Tao menjawab, ―Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan, biarlah kali ini aku pergi sendiri. Di kali
1402
kedua tentu aku akan meminta bantuan dari Tabib Shao Yong untuk pergi mewakili diirku.‖
―Hahahahaha, baiklah kalau begitu. Memang sebaiknya kau pergi sendiri untuk meluruskan semuanya terlebih dahulu. Aku orang tua hanya ikut ambil bagian dalam peresmiannya saja‖, jawab Tabib Shao Yong sambil tertawa berkepanjangan.
Sambil tersipu malu Ding tao menganggukkan kepala lalu berpamitan dengan Tabib Shao Yong. Bergegas pemuda ini melangkahkan kaki menuju ke tempat menginapnya rombongan dari keluarga Murong. Langkah kakinya begitu ringan, jika tidak malu karena dlilihat orang, mungkin dia sudah berlari sekencang mungkin. Namun mengingat kedudukannya, ditahan-tahan juga langkah kakinya, meskipun setiap saat berlalu, sejumput kesabarannya juga ikut melayang.
Saat akhirnya dia sampai di depan gedung justru langkah kakinya terhenti. Tadi dia begitu tak sabar ingin cepat sampai, sekarang setelah tinggal mengetuk pintu justru dia terdiam dengan jantung berdebaran.
1403
Kalau tidak ada yang kebetulan hendak pergi keluar dan melihat dirinya, entah sampai berapa lama Ding Tao akan berdiri mematung di situ.
Salah seorang pengantar Murong Yun Hua dan Murong Huolin, rupanya mendapat perintah untuk mengembalikan peralatan makan yang sudah mereka pakai ke dapur. Sambil membawa keranjang berisi setumpuk mangkok dan seikat sumpit dia berjalan keluar.
Saat dia melihat Ding Tao ada di sana, dengan sendirinya dia pun membungkuk dan menyapa Ding Tao, ―Eh… Ketua Ding Tao… selamat datang, apakah ada keperluan?―
―Oh… ya… ya aku ingin bertemu dengan Nona Murong Yun Hua dan Nona Murong Huolin, apakah mereka ada di dalam?‖, jawab Ding Tao sedikit terbata.
―Ada, ada, tunggulah sebentar, biar siauwtee panggilkan.‖, jawab orang tersebut dan dengan terburu-buru diapun masuk kembali ke dalam dan menyampaikan kedatangan Ding Tao pada kedua Nona Murong tersebut.
Mendengar kedatangan Ding Tao tentu saja hati kedua gadis itu jadi berdebar makin kencang. Sejak kepergian Tabib Shao
1404
Yong, keduanya sudah dilambungkan oleh angan-angan. Sekarang orang yang ditunggu dan diimpikan sudah ada di depan pintu.
―Persilahkan dia untuk masuk dan menunggu di ruang tamu, kami mau merapikan diri sebentar‖, ujar Murong Yun Hua pada orangnya.
Ketika orangnya baru saja hendak pergi keluar, cepat-cepat pula dia menyusul dan setengah berteriak, ―Jangan lupa hidangkan makanan kecil dan minuman untuk Adik Ding Tao.‖
―Ya, baik nona‖, jawab pembantunya sambil menggelengkan kepala, senyum kecil tersungging di bibirnya.
Di luar diapun menemui Ding Tao dan mempersilahkan Ding Tao menunggu di ruangan yang dimaksud, tidak lupa beberapa hidangan disediakan untuk menemani Ding Tao menunggu. Setelah selesai semuanya, sambil tersenyum penuh arti diapun berpamitan pada Ding Tao. Melihat senyum di wajah orang, muka Ding Tao terasa panas dan dengan hati berdebar dia menunggu.
Berapa lama Ding Tao harus menunggu, jika bertanya pada Ding Tao tentu akan dijawab sangat lama. Jika ditanya pada
1405
kedua nona tersebut, jawabnya tidak terlalu lama. Jika Ding Tao berani mendebat jawaban mereka, bisa-bisa kan dijawab, toh tidak selama kami menunggu kedatangan dirimu.
Berapa lama Ding Tao menunggu bukan masalah, selama apapun itu akhirnya penantiannya pun berakhir. Murong Yun Hua dan Murong Huolin akhirnya muncul juga, sebelum terlihat, bau harum sudah terlebih dahulu sampai, diikuti dua orang nona yang berdandan sepenuh hati. Melihat mereka berdua jantung Ding Tao pun berdebaran makin kencang. Murong Yun Hua memang selalu tampil cantik dan anggun, entah memakai dandanan atau tidak Ding Tao dengan mudah dibuat terpesona olehnya. Perubahan terbesar justru ada pada Murong Huolin, dandanannya lebih dewasa dibanding biasanya, sehingga dia tampil seperti orang yang berbeda, tidak kalah anggun dengan Murong Yun Hua.
Membuat Ding Tao jadi terpesona, matanya menatap kedua gadis itu bergantian. Sebelum bertemu mereka, sudah berkali-kali Ding Tao berpikir tentang apa yang akan dia katakan, sekarang tiba-tiba saja Ding Tao kehilangan kata-kata. Murong Huolin yang tadinya begitu gugup untuk bertemu, menjadi hilang kegugupannya, karena merasa geli melihat raut wajah
1406
Ding Tao, juga merasa bangga bisa membuat Ding Tao terkagum-kagum.
Sambil menutup mulutnya Murong Huolin terkikik geli, ―Kakak Ding Tao, makanya kalau makan perlahan-lahan saja, jangan serakah, jangan sampai terlalu banyak yang dimasukkan ke mulut hingga sulit bicara.‖
―Ah… bukan.. bukan begitu… aku hanya… Adik Huolin hari ini kau cantik sekali.‖, ujar Ding Tao terbata-bata.
Huolin yang tadinya mau menggoda Ding Tao pun jadi terbungkam dengan wajah tersipu. Murong Yun Hua yang melihat hal ini jadi tertawa geli.
―Wah… Adik Ding Tao, sekarang pandai merayu…‖, ujarnya sambil melirik Huolin yang terdiam.
―Eh.. bukan maksudku seperti itu, aku hanya kaget saja dan di luar mauku, tercetus begitu saja.‖, jawab Ding Tao dengan malu.
Murong Yun Hua sebenarnya ingin menggoda Ding Tao lebih lama, namun melihat wajah pemuda itu, dia jadi jatuh kasihan
1407
dan berhenti menggoda. Murong Yun Hua segera duduk di seberang Ding Tao dan Huolin mengikutinya.
―Adik Ding Tao, ada keperluan apa engkau mencari kami?‖, tanya Murong Yun Hua memulai.
Kedua gadis itu pun memperhatikan tiap patah kata dan raut wajah Ding Tao dengan hati berdebar. Mereka sangat berharap Tabib Shao Yong sudah bertemu dan dapat mempengaruhi keputusan Ding Tao, namun di saat yang sama mereka juga berusaha menekan harapan mereka itu agar tidak terlalu kecewa jika harapan itu salah. Apalagi kedatangan Ding Tao tidak berselang terlalu lama dari kepergian Tabib Shao Yong.
Ding Tao sendiri kesulitan untuk menjawab pertanyaan Murong Yun Hua, padahal sepanjang jalan dia sudah berpikir panjang dan rinci tentang apa yang akan dia sampaikan. Namun semuanya menguap begitu berhadapan dengan kedua gadis itu.
Di bawah tekanan dan pikiran yang kalut, yang terucap adalah, ―Aku datang untuk menikahi kalian berdua.‖
Perkataan Ding Tao yang begitu langsung membuat mereka bertiga kaget, termasuk Ding Tao sendiri, karena bukan itu
1408
yang ingin dia ucapkan. Meskipun hal itu yang ingin dia sampaikan, namun tentunya dengan perkataan yang lebih tertata.
Tergagap Ding Tao memandangi kedua gadis itu dan berusaha menjelaskan, ―Eh, maksudku… aku datang untuk bertanya, apakah kalian berdua mau kunikahi…‖
―Ah…, bagaimana ya, Tabib Shao Yong dan Kakak Chou Liang, mereka membicarakan tentang perasaanku terhadap kalian berdua. Ini tentang perasaan cintaku pada Enci Yun Hua dan perasaan sukaku pada Adik Huolin. Juga tentang perasaanku pada Adik Ying Ying, sebenarnya memang memalukan, seorang lelaki bisa memiliki perasaan demikian pada tiga wanita berbeda. Tapi kenyataannya demikian dan aku tidak mau bersikap tidak jujur.‖
―Jadi…‖
―Jadi kau nikahi saja ketiga-tiganya, begitu maksud Kakak Ding?‖, tanya Huolin yang sudah pulih dari rasa kagetnya, pura-pura marah dan menikmati kecanggungan Ding Tao.
―Ya…. Ya…, bagaimana ya…‖, jawab Ding Tao dengan bingung.
1409
―Bagaimana kalau kami menolaknya?‖, tanya Murong Huolin.
―Kalau demikian, tentu saja tidak apa-apa. Itu … bukan maksudku mencari mauku sendiri, hanya saja kupikir…‖
―Oh… jadi rasa cintamu pada kami hanya sebesar itu, kalau mau ya iya, kalau tidak ya apa boleh buat, kalau dari 3 ada 1 yg mau ya syukur, kalau ketiganya mau ya untung. Apa begitu?‘, sela Murong Yun Hua ikut pura-pura marah.
―Bukan begitu pula… soal ini…‖
Melihat Ding Tao kebingungan, tidak tahan akhirnya kedua gadis itu pun tertawa terbahak-bahak. Ding Tao pun sadar dia sudah dikerjai oleh kedua gadis itu.
―Ah…. Kalian ini… sungguh aku tidak bisa menjelaskan apa maksud hatiku. Hanya saja kuharap kalian sudah cukup mengenalku untuk mengerti isi hatiku.‖, keluh Ding Tao sambil menundukkan kepala.
Kedua gadis itupun saling berpandangan, kemudian dengan senyum simpul Murong Yun Hua berkata dengan lembut, ―Kami tidak mengerti isi hatimu, tapi kami percaya padamu. Lamaran
1410
itu, kau atur sajalah sesuai dengan yang seharusnya diadakan. Kami berdua akan mengikuti kemauanmu.‖
Dan itu adalah akhir dari bab ini, bisa saja diceritakan tanggapan Ding Tao, godaan Huolin, kebahagiaan yang terpancar di wajah ketiga orang tersebut. Namun jika semuanya dituliskan, akan terbuang lagi beberapa lembar halaman hanya untuk menceritakan pertemuan mereka hari itu. Apalagi jika kemudian diceritakan bagaimana Ding Tao menemui Tabib Shao Yong dan Chou Liang. Demikian juga tanggapan setiap orang ketika mereka mendengar berita itu. Orang-orang tua seperti Wang Xiaho dan Li Yan Mao, yang muda seperti Tang Xiong dan Qin Baiyu.
Singkat cerita, pesta pernikahan berlangsung dengan meriah, untuk menutupi kehamilan Murong Yun Hua yang sudah berjalan selama 5 bulan, maka dibuatlah cerita bahwa ketiganya sudah menikah beberapa bulan yang lalu dan pernikahan kali ini hanyalah sebuah pesta untuk merayakannya secara terbuka.
Untuk sesaat lamanya, segala kesibukan dan kerisauan ditinggalkan. Bagi sepasang … atau dua pasang… atau 1 ½ pasang mempelai itu, juga bagi mereka yang dekat dengan
1411
mereka bertiga, hari-hari itu adalah hari perayaan yang penuh tawa. Mungkin hanya Chou Liang yang masih saja berkerut kening dan menjalankan semua urusan. Berusaha memanfaatkan berita pernikahan Ding Tao ini untuk memperluas hubungan mereka di luaran, tanpa pernah lupa untuk berjaga-jaga terhadap adanya bahaya. Namun hari-hari itu berjalan tanpa gangguan, hingga terkadang sebagian besar dari mereka lupa akan adanya bayangan gelap yang belum terungkap di dunia persilatan.
Bab XXIX. Cinta Huang Ying Ying dan kelicikan Tiong Fa.
Tiong Fa sedang termenung di ruangan kecilnya, uang bekal yang diberikan Chou Liang cukup besar. Meskipun kehilangan banyak pengikut, namun bahkan orang seperti Tiong Fa pun masih memiliki orang-orang kepercayaan yang setia padanya. Kecerdikan dan kepandaiannya bermain dalam dunia persilatan yang keras, menimbulkan kekaguman di hati orang-orang tertentu. Orang-orang yang terinspirasi oleh kekuasaan dan tidak merasa ngeri pada kelicikan.
1412
Entah bagaimana dalam hati mereka percaya bahwa boleh saja Tiong Fa mengorbankan orang lain, tapi itu bukan mereka. Dalam kenyataannya memang demikian, Tiong Fa pun mengerti dia membutuhkan orang-orang yang bisa dia percayai sepenuhnya, dan terhadap orang pilihannya dia tidak segan-segan mengorbankan banyak hal.
Tapi sebanyak apapun modal yang dia miliki saat ini, masih jauh dari keadaannya di masa sebelumnya. Apalagi Tiong Fa sadar, di luaran sana, mata dan telinga Ding Tao serta sekutunya sedang mencari dirinya.
Berbagai cara dia pikirkan untuk membalaskan sakit hatinya pada Ding Tao. Bukan hanya masalah balas dendam, tapi dia juga tahu, dia tidak bisa bergerak bebas selama Ding Tao masih memiliki kekuatan dan pengaruh yang besar. Beruntung bagi Ding Tao dia memiliki Chou Liang, di permukaan hal ini tidak nammpak, namun sebenarnya kedua orang ini, Tiong Fa dan Chou Liang sudah bertarung ratusan kali banyaknya, dan Chou Liang selalu menang. Bukan berarti kecerdikan Chou Liang berkali lipat di atas Tiong Fa.
Memang kedudukan Tiong Fa sudah ada posisi yang kalah, sehingga seperti tikus yang terjepit, Tiong Fa harus mati-matian
1413
untuk sekedar lepas dari genggaman tangan Chou Liang. Sehingga hampir-hampir mustahil bagi dirinya untuk melakukan pembalasan. Beberapa kali jejaknya tercium Chou Liang dan Tiong Fa harus melarikan diri secepatnya. Beberapa bulan ini hidupnya selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Tapi sesulit apapun keadaannya Tiong Fa masih merasa memiliki satu kunci penting melawan Ding Tao.
Huang Ying Ying.
Ya, Tiong Fa bukan sekedar menggertak sewaktu dia mengatakan bahwa Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu berada dalam kekuasaannya.
Tapi sekarang muncul kabar baru yang membuat Tiong Fa risau, kesempatannya untuk membalas dendam pada Ding Tao semakin mengecil. Berita tentang rencana pernikahan Ding Tao sudah sampai ke telinga Tiong Fa. Segera setelah mendengar berita itu, Tiong Fa pun segera mengirimkan orang untuk menyelidiki kebenarannya dan tentu saja siapa dan apa latar belakang calon isteri Ding Tao.
Laporan baru saja masuk dan sekarang Tiong Fa merenungi kedudukan Ding Tao yang makin kuat sementara dari sisi
1414
dirinya tidak ada kemajuan yang berarti. Dengan pernikahan ini semakin kecil pula nilai Huang Ying Ying sebagai sandera. Orang sering mengukur orang lain dengan diri sendiri, tidak luput Tiong Fa sendiripun demikian. Meskipun cerdik diapun tidak luput dari kebiasaan ini.
Saat ini Tiong Fa sedang mempertimbangkan ilang kepribadian Ding Tao yang dia kenal. Dulunya Tiong Fa memandang Ding Tao sebagai pemuda tolol yang kepalanya penuh berisi ajaran-ajaran ketinggalan jaman dan roman-roman picisan. Itu sebabnya dia yakin bahwa Huang Ying Ying sangat berharga bagi Ding Tao. Siapa sangka, dalam keadaan kekasihnya masih disekap oleh orang semacam dirinya, Ding Tao justru menikah dengan dua orang gadis sekaligus. Kakak dan adik dari satu keluarga yang tidak kalah kaya dengan keluarga Huang di masa kejayaannya.
Karena kejadian di luar dugaan inilah, Tiong Fa pun mulai memikirkan kembali, siapakah Ding Tao yang sedang dia hadapi saat ini.
Jangan-jangan selama ini dia sudah salah perhitungan. Mungkin Ding Tao adalah seorang pemuda ambisius yang bertopengkan kejujuran dan kepolosan. Jika demikian,
1415
bukankah tidak aneh jika Ding Tao berusaha merebut hati Huang Ying Ying? Merebut hati Huang Ying Ying bisa menjadi jalan pintas untuk masuk ke dalam jajaran pimpinan keluarga Huang. Sekarang setelah keluarga Huang hancur, Ding Tao pun tanpa segan-segan, mencari incaran yang lain.
Lalu kenapa waktu itu Ding Tao melepaskan dirinya? Bisa jadi untuk merebut simpati orang-orang bekas pengikut keluarga Huang. Bukankah dengan cara itu Ding Tao menunjukkan kasihnya yang begitu besar pada Nona muda mereka?
Memikirkan itu semua membuat Tiong Fa semakin putus asa. Dipikirkannya kembali setiap langkah dan perbuatan Ding Tao dengan kacamata yang berbeda. Sungguh lucu cara manusia berpikir, tindakan yang sama bisa diberikan arti yang berbeda, tergantung dari siapa pelakunya. Ketika Ding Tao sebagai pemuda lugu yang menjadi pelakunya, dan ketika Ding Tao sebagai pemuda cerdik, ambisius dan pandai berpura-pura yang menjadi pelakunya, betapa berbeda hasil dari analisa Tiong Fa.
Akhirnya dengan rahang tekatup rapat dan tangan mengepal Tiong Fa menyudahi perenungannya. Dengan kesal dihantamnya meja yang ada di hadapannya.
1416
―Sialan! Anak anjing! Tidak kukira dia sudah menipu aku mentah-mentah!‖, geram Tiong Fa dengan marahnya.
Entah sudah berapa kali dia tertawa terbahak-bahak karena berhasil menipu orang, sekarang dia menganggap orang berhasil menipu dirinya dan merasa marah luar biasa. Perasaannya melonjak-lonjak dan Tiong Fa pun bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya yang kecil untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak.
―Apa yang harus kulakukan dengan sepasang kakak-beradik itu kalau begitu?‖, dengan mata berkilat oleh rasa marah Tiong Fa kembali duduk dan merenung.
―Hmph! Kubunuh saja yang lelaki dan yang gadis kujual jadi pelacur.‖, ujarnya dengan mata berkilat.
Untuk beberapa saat lamanya, Tiong Fa membiarkan dirinya larut dalam khayalan, Huang Ying Ying adalah gadis yang cantik dan Tiong Fa bukan orang yang bisa menghargai seorang wanita sebagai manusia. Meskipun bisa dikatakan, selain dirinya sendiri, semua manusia lain tidak lebih seperti bidak catur dalam pandangan Tiong Fa yang egois. Meskipun
1417
yang tercetus tadi tidak lebih dari celetukan sambil lalu, setelah berkhayal Tiong Fa diam-diam memikirkannya lebih serius.
Perlahan-lahan wajah Tiong Fa tampak makin kejam, otaknya bekerja, merajut pembalasan dendam bagi Ding Tao lewat Huang Ying Ying.
Di ruang tempat Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu disekap, kedua besaudara itu tengah berlatih dengan tekunnya. Keduanya sadar bahwa apa yang sudah mereka pelajari belumlah sampai pada puncak ilmu keluarga mereka. Mereka juga berada di tengah-tengah lawan yang berjumlah jaih lebih banyak dan lebih berpengalaman, sementara mereka hanya berdua saja.
Tapi keduanya pantang untuk menyerah pada keadaan, meski harapan yang ada hanyalah selemah nyala lilin kecil, nyala yang lemah itu terus mereka pertahankan.
Saat mereka mendapatkan jatah makanan, maka Huang Ren Fu akan terlebih dahulu mencicipi setiap hidangan. Setelah mereka yakin semuanya aman, barulah mereka menyantapnya bersama-sama. Setiap ada waktu terluang, maka kedua bersaudara itu akan berlatih dengan keras.
1418
Di luar itu, merekapun berusaha sebisa mungkin untuk menyelidiki situasi keberadaan mereka saat ini. Mengenali tiap-tiap penjaga, berusaha mempelajari kebiasaan setiap orang dan sebagainya. Keduanya memiliki waktu yang cukup panjang untuk melakukan semua itu, apalagi Tiong Fa ternyata berlaku cukup baik dalam menyediakan segala kebutuhan mereka. Namun kebaikan Tiong Fa itu pula yang membuat mereka semakin tergerak untuk berusaha lepas dari cengkeramannya. Mengenal tabiat Tiong Fa, mereka berpendapat bahwa tentu ada satu tujuan yang tidak baik yang dimiliki Tiong Fa atas diri mereka berdua.
Berada di dalam ruangan yang terbatas dan tertutup dari lingkungan di luar, mereka berdua sudah belajar untuk mempertajam telinga mereka. Saat Tiong Fa dan dua orang penjaganya berjalan menuju ke ruangan mereka, Huang Ying Ying yang lebih tajam telinganya dengan segera memberi peringatan.
―Awas, ada yang datang‖, desis Huang Ying Ying.
Kedua orang bersaudara itu segera menghentikan latihan mereka, menggunakan handuk kecil yang ada mereka mengeringkan keringat dan perlahan-lahan mengatur nafas
1419
agar siapapun yang datang, tidak akan menyadari bahwa mereka masih berlatih dengan tekun meskipun sudah terkurung selama beberapa bulan.
Dengan berdebar keduanya menunggu, hal ini sudah terjadi berulang kali dan setiap kali mereka mendengar orang datang mendekat, seluruh urat syaraf merekapun menegang, bersiap, menantikan kesempatan untuk lolos.
Seringkali penantian mereka berakhir dengan kekecewaan, hidangan dimasukkan lewat sebuah lubang kecil yang ada di pintu besi tempat mereka dikurung. Pernah Huang Ren Fu mencoba menangkap tangan yang memasukkan hidangan tersebut. Siapa sangka begitu tangan itu terpegang, maka sebilah pedang berkelebat memenggal tangan itu. Suara orang menjerit dan dengusan tawa mengejek, terdengar dari dalam ruangan.
―Hohoho, jangan harap kau lepas dari tahanan ini. Orang yang memberimu makan hanyalah orang yang tidak mengerti apa-apa. Jangan harap kau lepas dari tempat ini dengan melibatkan mereka, tidak akan ada yang kau dapatkan, hanya menyengsarakan nasib mereka saja.‖, ujar suara tersebut dari luar.
1420
Penuh penyesalan Huang Ren Fu hanya bisa memandangi kutungan tangan yang ada di genggamannya. Hebat akibat dari keganasan penjaga itu, bukan hanya Huang bersaudara saja yang enggan untuk melibatkan orang lain. Orang yang dibayar untuk mengurus merekapun hilang nyalinya, jangankan berusaha membantu kedua saudara itu, berpikir untuk membantu mereka pun tidak berani mereka lakukan.
Tapi kali ini debar jantung di dada mereka tidak berakhir dengan kekecewaan. Debar jantung di dada mereka makin mengguruh dengan semakin dekatnya suara tapak kaki yang ada di luar.
―Tiga orang…‖, bisik Huang Ren Fu sambil melirik Huang Ying Ying.
Huang Ying Ying mengangguk membenarkan. Biasanya jika yang datang adalah orang yang bertugas untuk mengantarkan makanan dan mengambil ember tempat mereka membuang kotoran. Maka hanya dua orang yang datang. Yang pertama adalah yang bertugas untuk membawa semuanya itu dan yang kedua adalah penjaga yang mengawasi setiap gerakan yang ada.
1421
Demikian kuat debaran jantung mereka, hingga rasanya dada mereka mau pecah saat tiba-tiba pintu besi yang ada terbanting terbuka. Suara pintu yang terbuka menggelegar, Tiong Fa dengan tangan di pinggang dan kaki terpentang lebar berdiri di sana. Dengan wajah yang diwarnai kemarahan hebat dia menunjuk-nunjuk kedua orang bersaudara itu. Di belakangnya berdiri dua orang penjaga dengan golok dan pedang di sarungnya.
Berbagai umpatan kasar melompat keluar dari mulut Tiong Fa, kedua orang bersaudara itu hanya bisa menatap dengan penuh keheranan. 1000 macam makian dan kutukan mereka siapkan bila saatnya bertemu dengan Tiong Fa. Namun saat ini keheranan lebih menguasai diri mereka dibandingkan kemarahan dan dendam. Di luar sangkaan mereka Tiong Fa akan datang dengan kemarahan yang meluap-luap. Ada apakah gerangan?
Perlahan-lahan mereka mulai menangkap sumber dari kekesalan Tiong Fa. Mulai dari keberadaan Ding Tao, sampai keberhasilan Ding Tao dalam mengusir Tiong Fa dari setiap cabang usaha keluarga Huang yang dikuasainya. Tanpa terasa, seulas senyuman terbentuk di wajah kedua bersaudara itu.
1422
Melihat senyuman yang terbentuk di wajah kedua orang muda mudi itu, Tiong Fa terdiam sejenak. Kemudian sebuah senyuman sinis terpampang di sana.
―Hehehehe, rupanya kalian merasa senang mendengar berita kekalahanku dan kemenangan Ding Tao.‖
―Ding Tao, pahlawan kecil kalian. Heh ! Apakah kalian tahu mengapa aku memilih untuk menyekap kalian berdua hidup-hidup daripada membunuh kalian seperti yang lain? Bisakah otak kalian yang kecil memikirkannya?‖, ejek Tiong Fa dengan senyum mengejek.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu bukan orang bodoh, segera setelah Tiong Fa bertanya, dengan cepat mereka menghubungkannya dengan Ding Tao dan sampai pada kesimpulan yang sama. Wajah Huang Ying Ying berubah jadi pucat, sementara Huang Ren Fu lebih tenang.
―Jangan harap kau bisa menggunakan kami untuk menekan Ding Tao.‖, ujar Huang Ren Fu dengan dingin.
Kedua bersaudara itu sudah menemukan kembali ketenangan mereka, dengan gagah keduanya mengambil kuda-kuda dengan kedua tangan mereka bersiap di depan dada. Tiong Fa
1423
tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan pemuda itu dan melihat sikap mereka berdua.
―Hahahaha, baguslah kalau kalian masih punya semangat bertarung.Memang benar kalian harus siap-siap mempertahankan diri dari kami bertiga, tapi jangan salah pikir, lakukanlah itu untuk diri kalian sendiri dan bukan untuk Ding Tao, karena Ding Tao sudah melupakan kalian berdua.‖
―Hmph! Tutup mulutmu, Kak Ding Tao bukan orang seperti itu!‖, seru Huang Ying Ying dengan marah.
―Hahahaha, Kak Ding Tao… mesra sekali kau memanggilnya. Apakah kau tidak tahu, kalau sekarang ini Ding Tao sudah menikah? Bukan hanya menikah, tapi menikah dengan dua orang gadis sekaligus. Hahahaha, hebat sekali dia, bukan saja berhasil mengangkangi harta kalian sekeluarga, diapun mampu menipu segenap orang yang ada, sehingga dia dipandang sebagai orang yang jujur.‖
―Jujur? puih…‖, ejek Tiong Fa sambil meludah ke atas lantai.
Tapi Huang Ying Ying tidak mendengar ejekan Tiong Fa, wajahnya sedikit pucat dan dengan gemetar dia bertanya, ―Apa maksudmu Kak Ding Tao sudah menikah…?‖
1424
Tawa Tiong Fa memenuhi ruangan itu, melihat Huang Ying Ying termakan oleh perkataannya, bergiranglah hati Tiong Fa, ―Sudah jelas bukan? Ding Tao menganggap dirimu sudah mati, itu sebabnya dia menikah lagi. Atau mungkin lebih tepatnya harus kukatakan, dia sudah tidak memerlukan dirimu lagi untuk dapat menguasai harta benda keluarga Huang. Buat dia adalah kebetulan yang baik, kalau dirimu mati atau dianggap mati. Jadi daripada susah-susah berusaha memastikan keselamatanmu, dia memilih untuk menyiarkan kematianmu pada dunia dan menikah dengan gadis kaya untuk memperbanyak hartanya.‖
―Hmp! Tidak perlu kau dengarkan dia Adik Ying, jika benar Ding Tao orang semacam itu, lalu apa gunanya dia menahan kita?‖, dengus Huang Ren Fu, sambil berbicara, matanya yang tajam tidak pernah lepas dari Tiong Fa dan kedua orang anak buahnya.
―Hohoho, justru untuk itulah kau ke mari, selama ini kupikir kalian adalah sandera yang berharga, tapi nyata sekarang bahwa kalian tidak ada harganya buatku. Jadi kuputuskan daripada memberi makan kalian tanpa guna, lebih baik kujual saja kalian. Yang lelaki bisa kujual pada orang asing untuk dijadikan budaknya. Yang perempuan akan kujual ke pelacuran.‖, jawab Tiong Fa sambil terkekeh kejam.
1425
Wajah kedua orang bersaudara itu pun jadi pucat membayangkan nasib yang akan menimpa mereka. Apalagi bagi Huang Ren Fu yang mengkhawatirkan keselamatan dan kehormatan Huang Ying Ying.
Dengan desis tertahan dia berbisik pada Huang Ying Ying, ―Tenangkan dirimu… tajamkan mata dan pikiran, begitu ada kesempatan, cepat lari.‖
Huang Ying Ying tidak menjawab hanya menganggukkan kepala.
Tiong Fa tertawa saja melihat kedua orang bersaudara itu, ―Hahaha, apa kalian semudah itu untuk kabur dari sini? Kalian hanya berdua dan tidak bersenjata, sedangkan kami bertiga memegang senjata dan di luar sana masih ada banyak lagi penjaga yang lain. Jangan bermimpi, terima saja nasib kalian dan khusus untuk Puteri Ying Ying… hehehe, sebelum kau kujual, aku sudah memutuskan untuk mencicipi dirimu terlebih dahulu. Hitung-hitung untuk melampiaskan kekesalanku pada Ding Tao.‖
―Keparat!‖, mendengar ucapan Tiong Fa, kemarahan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying pun memuncak, tanpa
1426
bersepakat terlebih dahulu, keduanya sudah melompat bersama-sama untuk menyerang Tiong Fa.
Gesit gerakan kedua orang bersaudara itu, tapi tidak kalah gesit Tiong Fa dan kedua orang anak buahnya.
―Kalian tangkap yang lelaki, yang gadis serahkan padaku!‖, seru Tiong Fa sambil berkelit dari serangan kedua orang muda tersebut.
Berdua menghadapi Tiong Fa saja, keduanya masih belum bisa menandinginya apalagi ketika Huang Ying Ying berhadapan sendirian dengan Tiong Fa, dari segi kecepatan, kematangan ilmu dan juga kekuatan, gadis itu berada di bawah Tiong Fa. Sehingga dalam waktu yang singkat Huang Ying Ying sudah berada di bawah angin.
Lain lagi dengan Huang Ren Fu, pemuda itu mampu mempertahankan diri dengan ketat, meskipun dia tidak mampu menerobos kedua orang lawannya untuk membantu Huang Ying Ying. Namun kedua orang anak buah Tiong Fa juga menghadapi kesulitan untuk menaklukkannya. Namun mendengar teriakan Huang Ying Ying dan tawa Tiong Fa,
1427
membuat konsentrasi pemuda itu menjadi kacau dan mempengaruhi pula pertahanannya.
Tiong Fa sendiri mempermainkan Huang Ying Ying seperti seekor kucing mempermainkan tikus tangkapannya. Dia tidak terburu-buru melumpuhkan gadis itu, melainkan tangannya dengan nakal menyentuh bagian-bagian tubuh dari gadis itu.
―Keparat! Orang tua bejad! Berkelahilah seperti laki-laki jantan kalau kau memang laki-laki!‖, bentak Huang Ying Ying dengan wajah memerah karena malu dan kesal.
Sebuah pukulan yang dilepaskan dengan sekuat tenaga dapat dihindari dengan mudah oleh Tiong Fa. Ketenangan yang diperlukan dalam sebuah pertarungan sudah tidak dimiliki oleh Huang Ying Ying, gerakannya hanya terdorong oleh kemarahan dan rasa putus asa. Sembari berkelit, tangan Tiong Fa pun dengan cepat mampir, meremas pantat gadis muda itu. Tidak urung Huang Ying Ying terpekik, bercampur kaget dan marah.
―Hyahahaha… benar-benar masih perawan, kalau laki-laki jantan bertarung dengan betina tentu berbeda caranya, hyahahaha‖, ujar Tiong Fa sambil tertawa.
1428
Huang Ren Fu meskipun sadar bahwa dia harus tetap tenang, namun dia tidak dapat mengingkari kemarahan yang dia rasakan. Dahinya terasa berdenyut kencang, darahnya mengalir semakin cepat. Gerakannya semakin ganas, mengiringi kemarahan yang timbul dari dalam dada. Kemarahannya memang membuat tenaganya semakin besar, jika saja lawan yang dihadapi tidak cukup berpengalaman, mungkin hal ini akan memberikan keuntungan pada dirinya. Namun lawan yang dihadapi sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan. Sadar bahwa lawan bangkit amarahnya, mereka tidak melawan keras lawan keras.
Justru mereka lebih banyak melakukan gerak tipu dan menghindar.
―Wah Tuan Tiong Fa sungguh beruntung, gadis semontok itu, akupun ingin bertarung melawannya‖, ujar salah seorang dari mereka sambil menghindari serangan Huang Ren Fu yang datang ke arahnya.
―Hahahaha, ya benar-benar, kuharap Tuan Tiong Fa mengijinkan aku juga untuk menunjukkan kejantananku.‖, olok-olok yang lain menimpali.
1429
Merah darah kedua bola mata Huang Ren Fu, pukulannya bertubi-tubi dilepaskan ke arah dua orang lawannya. Perkelahian pun berubah bentuknya, jika tadi mereka bertiga saling menyerang dan bertahan. Sekarang hanya Huang Ren Fu yang menyerang, sedang kedua orang yang lain hanya menghindar, bergantian mendekat dan menjauh. Jika yang seorang berkelit menghindari serangan Huang Ren Fu, maka yang lain akan mendekat dan memasang diri untuk menjadi sasaran serangan Huang Ren Fu. Dengan jalan itu, Huang Ren Fu dibuat melepaskan serangan tiada hentinya dan menghabiskan tenaga Huang Ren Fu dengan cepat.
Di lain tempat Tiong Fa pun mempermainkan Huang Ying Ying semaunya, dada, pantat, pinggul, paha dan setiap bagian tubuh gadis itu pun jadi sasaran kekurang ajaran Tiong Fa. Pekikan Huang Ying Ying dan tawa ketiga orang itu, membuat nalar Huang Ren Fu hilang.
Dalam satu gerakan mudah, kedua orang lawannya memasukkan serangan yang bersarang telak pada tubuh dan dahinya. Seketika itu juga pandangan Huang Ren Fu menjadi nanar, tubuhnya terlempar bergulingan. Saat pandangan matanya sudah kembali normal dan kepalanya tidak lagi terasa
1430
berputar, yang dilihatnya pertama kali adalah dua ujung golok yang teracung di hadapan matanya.
Perlahan matanya bergerak dan melihat pemandangan yang membuat hatinya mengerut.
Tidak berapa jauh di sana, Tiong Fa berdiri dengan senyum iblisnya. Sementara Huang Ying Ying tergeletak dengan wajah memar-memar.
―Bagus, cepat juga kau sadar, kalau tidak terpaksa aku harus menyirammu dengan air dingin. Aku ingin kau melihat tontonan yang menarik.‖, ujar Tiong Fa memandangi Huang Ren Fu dengan sinar mata yang mengerikan.
Huang Ren Fu bukan pemuda yang takut mati, tapi ketika dia menyadari apa yang akan terjadi tanpa dia bisa melakukan apa-apa, otaknya berhenti bekerja, menolak untuk menerima kenyataan. Tubuhnya pun diam membeku di tempatnya, tidak kuasa bergerak, hanya matanya yang nyalang menatap merekam kejadian yang ada di hadapannya, tanpa otaknya bisa memahami apa yang dia lihat.
Tiong Fa terlihat sangat menikmati tiap saat, dia tidak terburu-buru, perlahan dia melangkah mendekati Huang Ying Ying
1431
yang masih tergeletak. Ketika dia melihat Huang Ying Ying tidak juga bergerak dia mendengus kesal dan menengok ke arah Huang Ren Fu.
―Hmm… aku tahu kalian berlatih dengan rajin semenjak aku menyekap kalian di sini. Jadi setidaknya aku berharap melihat sedikit kemajuan. Sayang sepertinya adikmu kurang cocok untuk berlatih bela diri. Seharusnya saat ini dia sudah mulai sadar, seperti dirimu.‖, ujarnya pada Huang Ren Fu.
―Er Nu, ambil air dingin untuk nona muda.‖, ujarnya pada salah seorang anak buahnya.
Yang dipanggil Er Nu segera menyarungkan kembali goloknya dan hendak melangkah untuk mengambil air seperti yang diperintahkan Tiong Fa. Baru beberapa saat dia melangkah, terdengar Huang Ying Ying mengeluh perlahan.
―‖Tunggu dulu‖, ujar Tiong Fa dan Er Nu pun menunggu, sebuah seringai kejam terlihat di wajahnya.
Perlahan-lahan, Huang Ying Ying membuka matanya dan berusaha bangkit. Otaknya baru bekerja berusaha memahami situasi yang ada di sekelilingnya. Ketika dia melihat Tiong Fa berdiri di hadapannya, seluruh kesadarannya menjeritkan tanda
1432
bahaya. Serentak Huang Ying Ying melompat berdiri. Hampir saja dia terjatuh lagi, namun sekuat tenaga dia berusaha bertahan agar tidak jatuh.
Tiong Fa tertawa terbahak-bahak, sambil mengedipkan mata ke arah Huang Ren Fu dia berkata, ―Jangan kuatir, adikmu masih utuh, aku sengaja menunggu sampai engkau sadar, supaya tidak ada sedikitpun yang terlewat darimu.‖
Berbalik ke arah Huang Ying Ying, Tiong Fa membuka jubah luarnya dan melepaskan ikat pinggangnya sambil berkata, ―Nah, sekarang akan kutunjukkan bagaimana seorang lelaki jantan bertarung.‖
Diiringi suara tawa dari dua orang anak buahnya, tanpa malu-malu Tiong Fa melepaskan bajunya satu per satu hingga semuanya terlepas dari tubuhnya. Tubuh Huang Ying Ying menggigil ketakutan, tenaganya sudah terkuras oleh pertarungan melawan Tiong Fa tadi. Semangatnya pun sekarang menghilang, kakaknya terbaring tidak mampu berbuat apa-apa, sementara di hadapannya, orang yang paling ia benci hendak merenggut kehormatannya.
1433
Dengan satu gerakan yang sebat, Tiong Fa menyapu kaki Huang Ying Ying hingga gadis itu jatuh terjerembab tanpa mampu melawan sedikit pun. Menyusul Tiong Fa menubruk gadis itu dan menangkap kedua tangannya.
Huang Ying Ying hanya mampu menjerit dan menangis, saat Tiong Fa bertubi-tubi menciumi wajahnya. Semakin gadis itu meronta, semakin memuncak nafsu liar Tiong Fa dan anak buahnya. Di saat yang seperti itu, mengapakah HuangRen Fu hanya berdiam diri menonton? Apakah pemuda itu takut kehilangan nyawanya di bawah todongan mata golok yang tajam?
Bukan demikian, pemuda itu bukan pemuda yang takut kehilangan nyawa dan memilih diam melihat adiknya dihina orang. Namun saat Tiong Fa melepaskan bajunya, Tiong Fa juga melemparkan pedangnya ke atas lantai. Melihat pedang yang tergeletak tidak berapa jauh dari dirinya, Huang Ren Fu melihat satu jalan untuk melepaskan dirinya dan menolong adiknya. Justru karena ada harapan, maka pemuda itu tidak berani bertindak dengan gegabah.
Huang Ren Fu melihat betapa Tiong Fa dan kedua anak buahnya sudah dikuasai oleh nafsu binatang mereka.
1434
Pengawasan terhadap dirinya tidak lagi dilakukan. Kedua orang anak buah Tiong Fa yang seharusnya menjaga dirinya, justru lebih sibuk mengamati Tiong Fa yang berusaha menggagahi Huang Ying Ying. Namun sesekali mereka masih melirik ke arahnya sambil menyeringai iblis. Itu sebabnya Huang Ren Fu tidak segera bertindak, perlahan-lahan dia mengatur nafasnya, sambil matanya nanar memandang ke depan, seakan tidak memiliki semangat untuk melawan. Pedih hatinya melihat Huang Ying Ying dihina orang, namun kesempatan yang tipis tidak ingin dia sia-siakan.
Sementara itu Tiong Fa berusaha membuka baju Huang Ying Ying, sebagian pundak dan bagian atas dada gadis itu sudah terbuka. Namun gadis itu tidak hendak menyerah begitu saja, dia terus berjuang untuk mempertahankan kehormatannya. Akhirnya Tiong Fa habis sabar dan berteriak pada anak buahnya.
―Er Nu, kemari, pegang kedua tangan gadis ini!‖, seru Tiong Fa dengan wajah yang merah padam oleh nafsu yang bergolak.
Tanpa ragu lagi, Er Nu yang juga sudah dikuasai oleh nafsu melemparkan goloknya dan bergegas pergi untuk membantu Tiong Fa melampiaskan nafsu bejatnya.
1435
Tinggal seorang yang menjaga Huang Ren Fu, yang seorang itu pun sudah tidak lagi memperhatikan pemuda itu. Nafasnya berat dan matanya nyalang menatap ke depan. Seluruh perhatiannya tertuju pada Huang Ying Ying yang sekarang tidak mampu lagi melawan kehendak Tiong Fa. Dua tangannya terpegang erat oleh Er Nu.
Diiringi tawa penuh nafsu, tangan Tiong Fa yang sekarang bebas bergerak perlahan meremas dada Huang Ying Ying yang membukit. Puas meremas-remas, perlahan-lahan dia menarik sisa baju yang masih menutupi sebagian besar dada Huang Ying Ying, dinikmatinya ekspresi wajah Huang Ying Ying yang ketakutan.
Ketiga orang laki-laki itu tidak lagi melihat ataupun mendengar hal lain kecuali Huang Ying Ying. Nafsu sudah memuncak memenuhi setiap reling hati dan pikiran mereka.
Di saat itulah tiba-tiba sebuah jeritan meregang nyawa menggoncang kesadaran mereka yang sedang dimabuk nafsu binatang.
Diam-diam Huang Ren Fu berhasil menggapai golok Er Nu yang tergeletak dekat dirinya, jauh lebih dekat dari pedang
1436
Tiong Fa. Dihimpunnya hawa murni dan dengan satu hentakan dia melompat bangun sambil menebas leher penjaganya.
Darah pun memancar keras, membasahi dinding ruangan dan Huang Ren Fu yang tidak berhenti di situ saja. Seperti seorang malaikat pencabut nyawa dia melompat cepat bagaikan terbang menyambar Tiong Fa yang masih menindih tubuh Huang Ying Ying.
Namun Tiong Fa memang bukan orang sembarangan, dalam situasi seperti itupun dia masih sempat melompat pergi, meskipun harus menyelamatkan diri sampai terguling-guling, menjauh dari golok Huang Ren Fu yang menyambar-nyambar.
Adalah Er Nu yang menjadi korban golok Huang Ren Fu yang haus darah, karena segera setelah goloknya tidak berhasil memenggal kepala Tiong Fa, Huang Ren Fu tidak mencoba nengejar orang biadab itu. Perhatiannya yang pertama adalah melihat adik tersayangnya lepas dari cengekeraman orang. Reaksi Er Nu tidak secepat Tiong Fa, pula wajah Huang Ren Fu yang masih dihiasi oleh darah kawannya dengan mata melotot penuh kemarahan dan mulut menyeringai bak harimau mukra, tampak begitu menakutkan, hingga Er Nu membeku di
1437
tempatnya. Mata golok yang berkilauan dihiasi merahnya darah datang menyambar dan Er Nu hanya diam menanti kematian.
Segera setelah Huang Ying Ying lepas, Huang Ren Fu menarik adiknya itu menjauh, tapi Huang Ying Ying yang mulai hilang keterkejutannya, sekarang dikuasai oleh kemarahan. Gadis itu menyambar pedang Tiong Fa yang tergeletak di lantai. Seakan mendapatkan kembali kekuatannya yang tadi hilang, gadis itu berkelebat membur Tiong Fa. Serba keripuhan Tiong Fa berusaha mengelak dan menangkis serangan gadis itu. Tiong Fa yang tadi berada di atas angin, sekarang tiba-tiba terancam nyawanya, tapi Tiong Fa tidak kehilangan ketenangannya.
Meskipun tadi sempat terkejut namun cepat dia menguasai kembali hati dan pikirannya.
―Awas tawanan hendak kabur!‖, demikian dia berteriak-teriak sambil berusaha menyelamatkan diri dari serangan Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu.
Huang Ying Ying yang sudah kalap tidak menghiraukan teriakan Tiong Fa. Untung ada Huang Ren Fu yang lebih tenang, pemuda itu segera sadar akan keadaan mereka saat ini. Memang benar mereka berada di atas angin, namun untuk
1438
membunuh Tiong Fa bukanlah pekerjaan mudah. Ilmu Tiong Fa masih beberapa lapis lebih tinggi dari mereka berdua, dengan teriakannya itu tentu anak buah Tiong Fa akan berdatangan dan keadaan akan segera berbalik saat itu terjadi.
Pemuda itu pun dengan segera menarik tangan Huang Ying Ying, saat Huang Ying Ying meronta, maka dengan keras dia membentak, ―GADIS BODOH! Lepaskan dia! Apa kau mau tertawan lagi? Kita harus lari sekarang!‖
Huang Ying Ying terkejut, seumur hidup belum pernah kakaknya ini memaki dia. Namun kejutan itu justru menyadarkan gadis itu akan keadaan dirinya. Sambil merapikan bajunya dia melompat mundur ke arah pintu. Huang Ren Fu yang merasa lega oleh tanggapan adiknya itu dengan segera menyerbu Tiong Fa dengan begitu hebatnya hingga Tiong Fa terpaksa menyelamatkan diri, melemparkan tubuhnya mundur jauh ke belakang. Tidak menanti Tiong Fa bangkit berdiri, Huang Ren Fu segera melompat menyusul Huang Ying Ying yang sudah keluar ruangan terlebih dahulu.
Melihat Huang Ren Fu muncul, Huang Ying Ying pun segera berlari menuju ke arah pintu keluar. Dalam waktu dingkat Huang Ren Fu sudah menjajari adiknya itu. Sementara Tiong
1439
Fa masih sibuk berteriak dan terburu-buru memakai pakaiannya, kedua bersaudara itu sudah semakin dekat ke arah pintu keluar dari bangunan itu.
Tiga orang penjaga yang berusaha menghadang mereka tidak sempat memberikan banyak perlawanan. Bagaikan sepasang banteng ketaton, kedua berusadara itu menyerbu dan tidak memberikan kesempatan bagi lawan mereka untuk melawan.
Sepanjang mereka berada dalam tahanan, keduanya sudah menggunakan telinga mereka baik-baik untuk mengamati keadaan di luar. Langkah kaki penjaga dan juga pengantar makanan mereka dengarkan baik-baik. Dari situ mereka berusaha menggambarkan keadaan di luar. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan, sejak mereka ada di dalam sana, mereka sudah mendiskusikan jalan lari keluar dari bangunan itu, seandainya mereka mendapatkan kesempatan.
Sekarang kesempatan itu sudah terbuka, keduanya pun berlari dengan seluruh hidup dan mati mereka dipertaruhkan di sana. Tidak ada waktu bagi mereka untuk meragukan rencana yang sudah mereka buat. Teriakan Tiong Fa dan derap langkah kaki lawan yang mereka dengar, menjadi cambuk yang melecut semangat mereka berdua.
1440
Segera setelah sampai di luar bangunan tempat mereka dikurung, barulah mereka tercenung sejenak. Rupanya tempat itu cukup luas, dengan tembok yang mengelilingi seluruh kompleks bangunan. Tempat mereka dikurung hanyalah salah satu dari bangunan yang ada.
Tapi Huang Ren Fu sudah memikirkan hal ini jauh sebelumnya, tanpa ragu pemuda itu segera menunjuk tembok pagar yang terdekat.
Begitu sampai di sana, dia berikan kedua tangannya bagi Huang Ying Ying sebagai tumpuan. Tanpa ragu gadis itu pun menggunakannya sebagai pijakan untuk melompat ke atas tembok. Huang Ren Fu pun segera melontarkan tubuh Huang Ying Ying, membantunya melompat semakin tinggi.
Tinggi tembok itu tidak sampai dua kali tinggi Huang Ren Fu, Huang Ying Ying yang sudah berada di atas tembok, segera mengulurkan tangan membantu Huang Ren Fu untuk melompat ke atas.
Di balik tembok itu mereka melihat gang kecil yang berujung ke sebuah jalan besar. Tanpa ragu keduanya melompat ke bawah.
1441
―Cepat hapus darah di wajah kakak!‖, ujar Huang Ying Ying mengingatkan Huang Ren Fu yang sudah hendak lari ke jalan besar.
Huang Ren Fu yang tersadar, cepat melepaskan baju luarnya yang juga terciprat darah dan menggunakan baju luarnya itu untuk membersihkan wajah dan tangannya dari darah yang baru mulai mengering. Huang Ying Ying sendiri menggunakan kesempatan itu untuk merapikan dirinya.
Golok dan pedang yang tidak bersarung, menjadi ganjalan, namun tidak melihat jalan lain untuk menyamarkannya, tidak ingin pula melepaskan senjata satu-satunya, mereka putuskan membawanya saja sesamar mungkin.
Kedua bersaudara itu pun pergi ke jalan besar yang cukup ramai, kemunculan mereka tentu saja menarik perhatian. Yang pemuda hanya mengenakan baju dalam tanpa jubah luar dan keduanya menjinjing senjata yang sudah dicabut dari sarungnya.
Dengan menundukkan kepala, karena sadar oleh perhatian orang, keduanya berjalan secepat mungkin, menjauh dari bangunan tempat Tiong Fa bermarkas.
1442
Nasib baik masih menaungi mereka, entah karena sebab apa, Tiong Fa dan rombongannya terlambat cukup lama. Ketika Tiong Fa dan orang-orangnya menemukan jejak mereka di gang sempit itu, mereka berdua sudah ada di dalam kerumunan orang di jalan yang ramai.
Tapi Tiong Fa tidak menyerah dengan mudah. Dia segera menyebarkan anak buahnya dalam kelompok-kelompok kecil untuk mencari jejak kedua orang muda itu.
Terjadilah kejar-kejaran yang cukup mendebarkan di antara mereka. Keadaan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying yang cukup mencolok membuat mereka mudah dilacak. Beberapa kali mereka sempat melihat kelompok orang Tiong Fa yang memergoki mereka berdua. Namun kelompok Tiong Fa pun tidak berani terlalu terang-terangan dalam menangkap kedua orang muda itu. Hal ini memberikan keuntungan sendiri bagi Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu.
Apalagi kedua orang muda itu begitu awas melihat ke sekeliling mereka karena merasa masih berada dalam bahaya. Sehingga belum sampai orang-orang Tiong Fa mencapai posisi mereka, kedua orang muda itu sudah sempat lari ke arah yang lain.
1443
Sayangnya, untuk melepaskan diri dari kejaran mereka juga tidak mudah.
Nafas kedua orang muda itu mulai habis, sementara lawan yang lebih banyak dan lebih menguasai medan, perlahan-lahan berhasil menggiring mereka ke tempat yang sepi.
Di sebuah perempatan jalan, kedua orang muda itu tiba-tiba sadar bahwa lawan sudah mendekati dari tiga arah yang ada. Mau tidak mau, merekapun lari melewati satu-satunya jalan yang tersisa. Keduanya sudah terlalu panik untuk berpikir jernih. Bahwasannya lawan tidak berani bertindak terlalu gegabah, seharusnya tempat yang ramai adalah perlindungan yang terbaik. Namun yang ada dalam benak mereka hanya lari sejauh-jauhnya dari lawan.
Saat mereka berdua mendapati jalan yang mereka pilih itu tidak memiliki percabangan dan menuju ke satu tempat, barulah mereka curiga akan maksud lawan.
Saat mereka sampai di sebuah kawasan yang kumuh dan sepi, barulah keduanya sadar bahwa mereka sudah terjebak. Jalan itu membawa mereka ke sebuah lapangan kecil yang dikelilingi perkampungan kumuh. Penghuni rumah-rumah kumuh itu
1444
rupanya sudah kenyang oleh penderitaan dan biasa diinjak-injak orang. Ketika melihat dua orang muda itu berlari dan di belakang keduanya ada sekelompok orang yang mengikuti, dengan segera mereka masuk ke rumahnya masing-masing dan menutup pintu rapat-rapat.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu akhirnya saling berpandangan, mendapati jalan buntu di depan mata.
―Sudahlah, biarlah kita lawan saja mereka, kalaupun tidak bisa lepas, setidaknya mereka tidak bisa menangkap kita hidup-hidup.‖, ujar Huang Ren Fu sambil menghela nafas.
Huang Ying Ying menggigit bibir dan mengangguk. Belum hilang dari benak gadis itu, bayangan Tiong Fa yang menindih dirinya. Sekujur tubuhny masih terasa kotor oleh sentuhan Tiong Fa.
Kedua orang muda itupun membalikkan badan, menanti lawan yang berjalan mendekat. Pedang dan golok digenggam kuat-kuat.
―Jangan terlalu tegang, atur nafas dan kumpulkna hawa murni‖, ujar Huang Ren Fu mengingatkan adiknya.
1445
Huang Ying Ying menganggukkan kepala, sebisa mungkn diapun berusaha mengendorkan ketegangan yang mencengkam hatinya dan membangkitkan semangat yang ada. Para pengejar yang melihat kedua orang itu tidak lagi lari, mengendurkan lari mereka. Sekarang mereka berjalan lebih perlahan, merekapun sadar, sebentar lagi akan terjadi pertarungan.
Tidak ada yang ingin mencapai kedua orang buruan mereka terlebih dahulu dengan nafas terengah-engah dan tenaga yang membuyar. Itu sama saja mengirimkan nyawa dan teman-temannyalah yang akan menarik keuntungan.
Setapak demi setapak, mereka pun semakin dekat.
Debaran jantung kedua orang muda itu pun semakin sulit dikendalikan. Namun setidaknya tenaga mereka sudah pulih sebagian. Nafas mereka sudah tidak lagi memburu. Pedang dan golok di tangan digenggam dengan mantap. Ketegangan yang mereka rasakan, tidak membuat mereka menjadi panik, namun dialihkan menjadi dorongan semangat berjuang.
Mereka yang mengejar kedua orang muda itu nampaknya memahami benar keadaan keduanya. Itu sebabnya mereka
1446
pun mendekat dengan hati-hati. Salah seorang di antara mereka yang berperan sebagai pemimpin, menggerakkan tangannya dan dengan rapi mereka pun menyebar, perlahan-lahan bergerak mengepung kedua orang muda itu.
Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu bergerak sehati, perlahan-lahan mengubah posisi tubuh mereka mengikuti gerakan lawan, menjaga agar lawan selalu berada dalam jarak pandang mereka.
Ketika lawan membentuk kepungan dalam bentuk lingkaran yang sempurna, kedua orang muda itu pun sudah beradu punggung dan saling menjaga.
―Sebaiknya kalian berdua menyerah saja. Aku tahu kalian berdua berasal dari keluarga pesilat, namun kami pun bukan orang yang tidak pernah mengayunkan pedang sebelumnya. Kalian masih muda, selama kalian masih hidup, masih ada harapan untuk bangkit kembali.‖, ujar pemimpin kelompok itu membujuk mereka untuk menyerah.
Sambil mengertakkan gigi Huang Ren Fu menjawab, ―Hmph! Orang she Huang boleh mati tak boleh dihina. Jangan berpikir untuk melemahkan semangat kami!‖
1447
Lama mereka terdiam, akhirnya pemimpin kelompok lawan pun berkata, ―Baiklah aku mengerti, kulihat kalian sudah bertekad untuk melawan sampai titik darah penghabisan. Meskipun Tuan Tiong Fa menghendaki kami untuk menangkap kalian hidup-hidup, tapi sepertinya aku tidak akan bisa memenuhinya.‖
Rupanya pemimpin kelompok ini bukannya orang yang tidak berperasaan. Meskipun dia menjadi orang upahan Tiong Fa, dia bisa memahami perasaan kedua orang buruannya. Tidak menangkap salah, tapi menangkap mereka hidup-hidup hanya akan membuat mereka lebih menderita. Ada kalanya hidup lebih menderita dari mati, meskipun bisa diperdebatkan apakah memang mati lebih baik daripada hidup. Ada yang lebih takut hidup menderita daripada takut mati, ada pula orang yang lebih takut mati daripada hidup dalam penderitaan dan kehinaan.
―Awas serangan!‖, seru pemimpin gerombolan upahan Tiong Fa mengawali serangan.
Dengan seruan itu dimulai pula pertarungan seru antara kedua belah pihak. Dua orang muda itu bertarung bagaikan serigala yang terpojok. Golok dan pedang mereka menyambar-nyambar lawan tanpa ampun. Huang Ying Ying mungkin tidak sekuat lawan-lawannya, namun dengan pedang di tangan dia mampu
1448
menutupi hal itu dengan kecepatannya. Beberapa kali lawan yang lengah harus menahan nyeri ketika pedang gadis itu menumpahkan darah.
Tapi lawan terlalu banyak dan kedua orang muda itu pun harus mengakui bahwa ilmu mereka masih kurang dalam hal pengalaman. Perlahan-lahan, pakaian mereka mulai berwarna merah, oleh darah yang mengucur dari luka akibat senjata lawan.
―Jika kalian ingin menyerah, menyerahlah. Kapan saja kalian menyerah aku akan menghentikan serangan. Namun jika kalian memang menghendaki kematian, akupun tidak akan menghalangi niat kalian.‖, seru pemimpin lawan sambil sedikit mengendurkan tekanannya atas Huang Ren Fu.
Menggunakan kesempatan yang singkat itu, Huang Ren Fu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dengan tegas dia menjawab.
―Cuma satu jalan untuk membawa kami pergi ke tempat anjing Tiong Fa, yaitu sebagai mayat.‖
1449
―Baiklah, sekali lagi kukatakan, setiap saat kau merasa ingin menyerah, katakan saja dan aku akan menghentikan serangan.‖
Kemudian melihat ke sekeliling pada setiap orang-orangnya yang ikut menghentikan serangan dia menekankan,‖Kalian mengerti?‖
―Kami mengerti‖, jawab mereka serempak.
―Serang!‖, dengan seruan itu sekali lagi pertarungan dimulai.
Keadaan Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying sudah sangat payah, entah sengaja atau tidak tekanan lebih banyak ditujukan pada Huang Ren Fu. Lengan pemuda itu sudah mulai terasa kejang, dalam satu serangan dia dipaksa untuk menangkis serangan lawan. Kelelahan sudah tidak tertahankan, goloknya terlempar lepas dari tangan. Dua buah pedang menyambar, menyusul serangan yang tadi berhasil dia tangkis.
Kata orang, pada saat kematian datang menjemput, berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau berkelebat cepat dalam benakmu. Saat Huang Ren Fu menyadari kematiannya akan datang sebentar lagi, entah apa yang mengisi benaknya. Tangannya bergerak secara naluriah, untuk melindungi bagian-
1450
bagian vital dari tubuhnya yang diserang lawan. Namun dia tahu yang dia lakukan sia-sia belaka. Tangan yang terdiri dari daging dan tulang tidak akan menang melawan logam yang sudah diasah tajam.
Jika lawan kurang kuat, lengannya akan terluka dan serangan selanjutnya baru akan menembus tubuhnya. Jika dia beruntung berhadapan dengan lawan yang tangguh, senjata lawan akan menebas lengannya dan terus menebas tubuhnya tanpa terhenti oleh daging dan tulang.
Tapi di saat dia sudah pasrah menanti tajamnya bilah pedang lawan mencacah tubuhnya, gerak pedang lawan tiba-tiba terhenti. Seperti membentur sesuatu yang keras di tengah jalan.
Lapangan yang tadi riuh oleh teriakan dan dentang besi beradu dengan besi, sekarang menjadi sunyi. Butuh waktu beberapa saat sebelum Huang Ren Fu menyadari keadaan di sekitarnya. Dan beberapa saat lagi sebelum panca inderanya bekerja dengan wajar dan dia merasakan kehadiran seseorang di dekat dirinya dan Huang Ying Ying.
1451
Terkejut pemuda itu mundur selangkah dan menoleh ke samping. Huang Ying Ying rupanya juga sudah merasakan kehadiran orang itu dan sekarang berada di sisi Huang Ren Fu, memandang penolong mereka.
Berdiri di sana seorang tua dengan baju compang-camping. Seluruh rambutnya sudah memutih, di tangannya dia memegang sebuah tongkat. Roman mukanya seperti monyet, semakin berkesan demikian dengan kerutan yang memenuhi wajahnya, demikian pula tubuhnya yang kecil dan bungkuk. Namun dari penampilan yang tidak mengesankan itu muncul wibawa yang besar.
Tertawa terkekeh kakek tua itu pun berujar, ―Ong Bun kecil, aku tahu kesusahanmu tidaklah kecil. Barang kawalan dirampas orang, dua orang saudara angkatmu mati dalam pengawalan. Tuan besar yang menyewa dirimu pun menyita habis seluruh hartamu sebagai ganti rugi atas hilangnya barang kawalan. Tapi apa perlu dirimu jadi pesuruh dari orang licik macam Tiong Fa?‖
Rupanya pemimpin gerombolan yang mengejar Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying itu bernama Ong Bun, bekas kepala dari sebuah jasa pengawalan. Terdesak oleh hutang akhirnya jadi
1452
orang upahan Tiong Fa. Ditegur sedemikian rupa oleh orang tua tersebut, wajah Ong Bun berubah jadi pucat.
Salah seorang anak buahnya menggeram dan memaki, ―Orang tua, jangan sembarangan mengeluarkan perkataan. Tuan besar Ong Bun bukanlah orang yang boleh kau hina seenaknya!‖
―Hoho, anjing kecil berani juga menyalak‖, ujar orang tua itu sambil tertawa.
―Keparat! Siapa yang kau panggil anjing?‖, seru orang yang merasa tersindir itu dengan marah.
Ong Bun yang melihat gelagat kurang baik berusaha mencegah anak buahnya dan berteriak, ―Tahan!‖
Namun teriakan itu terlambat keluar, dua bilah pedang sudah berkelebat dengan cepat mengancam orang tua itu. Yang seorang menyerang sambil bergulingan membabat kaki. Yang seorang lagi melompat setinggi dada, sebuah kakinya melayang menendang bahu sementara pedang di tangan bergerak membacok ubun-ubun orang tua itu.
Serangan mereka cukup cepat, Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying tidak sempat bertindak, mereka berdua masih belum pulih
1453
dari rasa kaget mereka akan kemunculan orang tua itu yang begitu tepat waktu menyelamatkan mereka, lagipula mereka sedang di tengah pembicaraan. Lain dua orang muda itu, lain pula orang tua itu. Meskipun usianya lebih lanjut, namun kewaspadaannya justru lebih tajam dari mereka yang lebih muda. Diserang dari dua arah dengan tiba-tiba, tidak membuatnya gugup.
Dengan satu lompatan dia menendang ke atas, tepat mengenai kaki lawan yang mengarah ke bahunya. Terdorong ke atas oleh tendangan itu, otomatis bacokan ke arah ubun-ubun pun kehilangan tenaganya karena terhalang oleh kaki dan badan sendiri. Di saat yang sama golok yang membabat kaki dihindari. Tongkat di tangan pun tidak diam saja, dengan sebat lawan yang masih berada di atas disodok ulu hatinya. Pada saat turun pun orang tua itu tidak hanya turun begitu saja. Di saat melompat dia melompat dengan ringan, di saat turun dia turun seperti batu gunung yang berguguran. Kuda-kudanya kokoh kuat menancap ke tanah, tepat menginjak tangan lawan yang memegang golok. Suara tulang yang patah terdengar nyaring, diiringi teriakan kesakitan dari dua orang lawannya.
1454
Cukup panjang jika diceritakan, tapi sesungguhnya terlihat sederhana bagi mereka yang melihatnya. Sederhana, hanya saja tiap gerakan tepat dilakukan, baik tempat dan waktunya.
Melihat pameran keahlian itu tidak ada yang berani lagi sembarangan maju. Apalagi Ong Bun sendiri sudah berteriak memerintahkan mereka untuk menahan serangan. Berbeda dengan anak buahnya, Ong Bun sejak tadi sudah merasakan bahwa orang tua di hadapannya itu tidak boleh diremehkan. Bukankah tadi dia dan dua orang anak buahnya yang lain, sudah merasakan betapa mudahnya orang tua itu menyelinap di antara mereka dan Huang Ren Fu, kemudian menghentikan serangan mereka? Lalu orang tua itu pun menunjukkan pengetahuannya tentang keadaan mereka, sementara mereka belum mengenali orang tua itu.
Ditambah lagi sejak awal Ong Bun sudah merasa dirinya berada di pihak yang bersalah. Ong Bun ini dulunya sempat berguru di biara Shaolin, setelah menyelesaikan satu dari 72 warisan Shaolin, dia kemudian keluar untuk mencari pengalaman di dunia persilatan. Dalam perjalanannya dia bertemu dua orang sahabat, kemudian saling mengangkat saudara dan mendirikan satu biro pengawalan.
1455
Tahun berjalan, biro pengawalan mereka semakin besar. Siapa sangka saat mereka mendapat pesanan antar dari seorang pejabat tinggi negara, satu terobosan bagi biro pengawalan mereka, justru mereka mendapatkan masalah. Bukan hanya gagal mengawal barang, dua orang sahabatnya ikut gugur dalam menjalankan tugas. Sudah jatuh tertimpa tangga, pejabat tinggi tersebut menuntut tanggung jawab dari biro pengawalan mereka. Demi agar tidak terjerat oleh hukum, harta simpanan yang ada semuanya diberikan.
Dalam keadaan putus asa dan Ong Bun masih memiliki rasa tanggung jawab terhadap anak buahnya, keluarga saudara angkat yang ditinggalkan dan juga keluarganya sendiri. Di saat terjepit itulah Tiong Fa datang menawarkan bantuan.
Meskipun reputasi Tiong Fa sudah sangat buruk di dunia persilatan, demi rasa setia kawan, Ong Bun menelan harga dirinya dan menutup mata hati nuraninya.
Siapa sangka, hari ini dia harus berhadapan dengan orang tua yang menegurnya sedemikian rupa, tepat menusuk di tempat yang paling lemah dalam hatinya.
1456
―Tetua… memang mudah untuk mengatakan mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi terkadang kehidupan tidak semudah itu. Jalan manapun yang kupilih, semuanya tampak salah di mataku.‖, ujar Ong Bun dengan suara berat.
―Hmm… benarkah demikian?‖, tanya orang tua itu.
―Tetua, jika aku tidak merendahkan diri dengan menjadi orang upahan Tiong Fa, maka anak isteriku, anak isteri saudara angkatku dan juga pengikutku dan keluarga mereka akan kelaparan. Bisakah aku sebagai seorang pemimpin, saudara dan kepala keluarga membiarkan hal itu terjadi?‖, tanya Ong Bun menolak untuk disalahkan.
―Hoo… anak isterimu adalah satu hal, tapi mengapa pula kau menaruh di atas pundakmu, anak isteri dari saudara angkatmu, juga anak isteri dari sekian pengikutmu?‖, orang tua itu balik bertanya.
―Ong Bun, janganlah sombong. Seorang manusia tetaplah hanya seorang manusia. Kau bukan dewa, jika memang pundakmu hanya mampu menanggung beban keluargamu sendiri, mengapa pula kau memaksakan diri untuk menanggung beban orang lain? Apakah kau pikir dengan
1457
tindakanmu sekarang ini, kau berbuat baik bagi mereka? Bukankah yang kau lakukan sekarang ini tidak ubahnya menarik mereka semua, bersama-sama masuk ke dalam kubangan lumpur?‖, tanya orang tua itu kepada Ong Bun.
Kemudian dengan tongkatnya dia menunjuk pula sekian banyak orang-orang Ong Bun dan berkata pula, ―Salahkah aku jika aku memanggil kalian anjing? Kalian hanya mengenal kesetiaan, tapi tidak memiliki kebijakan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Seperti anjing yang hanya tahu setia pada tuannya, tanpa mau tahu apakah tuannya itu memilih jalan yang benar atau yang salah.‖
―Apakah demikian yang namanya kesetiaan seorang manusia? Jika kalian setia pada Ong Bun sebagai seorang manusia, sudah selayaknya kalian mengingatkan dia jika dia mengambil jalan yang salah.‖
Perkataan orang tua itu membangkitkan berbagai macam perasaan yang berbeda di hati setiap orang yang mendengarnya. Mereka yang sudah lama merasa sudah mengambil keputusan yang salah dengan bekerja untuk Tiong Fa, mendapatkan bentuknya dari ucapan orang tua tersebut dan merasa bersyukur sudah mendengarnya. Tapi mereka
1458
yang mengikuti Tiong Fa demi upah, entah Ong Bun mengajak ataupun tidak, merasa risih dan tertuduh oleh perkataan orang tua itu.
Tiba-tiba salah seorang dari anak buah Ong Bun menyarungkan kembali pedangnya, menghadap ke arah Ong Bun orang itu membungkuk hormat dan berkata, ―Ketua Ong, sudah lama aku mengikutimu dan tidak pernah aku menyesalinya sedikitpun. Hari ini aku ingin mengucapkan salam perpisahan, meskipun dalam hati kau tetap seorang pemimpin bagiku. Maafkan aku, jika beberapa waktu terakhir ini, aku sudah menjadi beban bagimu, hingga Ketua Ong harus menginjak jalan yang penuh lumpur. Aku hanya bisa berdoa, suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.‖
Satu per satu, jumlah orang yang berpamitan bertambah. Ong Bun berdiri dalam diam merenungi kejadian ini.
Tapi tidak semua merasakan hal yang sama.
Salah seorang dari mereka tiba-tiba berteriak keras, ―Pengecut kalian semua! Kalian lari ketika bertemu musuh yang kuat,
1459
meninggalkan Ketua Ong Bun sendiri dan kalian menyebut diri kalian sebagai pengikut yang setia? Puihh! Pergi saja kalian!‖
Dengan teriakan itu muncullah teriakan-teriakan yang lain. Dari teriakan berubah jadi makian dan tiba-tiba kelompok yang tadinya berdiri dalam satu barisan kini terpisah menjadi dua. Satu kelompok yang hendak memisahkan diri dan mundur dari pertarungan dan yang lain yang ingin tetap bertahan. Ong Bun berdiri terpaku melihat pengikutnya siap untuk saling berkelahi antar diri mereka sendiri. Sejenak laki-laki itu menutup mata. Saat dia membuka matanya kembali, sinar yang dulu hilang sudah kembali.
―Hentikan! Berhenti kalian semua!‖, seru Ong Bun, teriakannya mengguruh mengatasi caci maki gusar dari para pengikutnya yang siap saling menumpahkan darah.
Semua terdiam, tatapan mereka tertuju pada diri Ong Bun.
―Mulai hari ini, jangan panggil aku lagi Ketua Ong. Selama ini aku sudah menipu diriku sendiri. Jika aku sendiri tidak mampu berjalan dengan benar, bagaimana mungkin aku bisa memimpin orang lain untk berjalan bersama denganku?‖, ujar Ong Bun dengan tenang.
1460
Sudah sekian lama mereka tidak melihat Ong Bun yang berdiri dalam keyakinannya sendiri, sehingga ketika dia kembali pada dirinya, seakan-akan dia menjadi orang yang berbeda. Tapi bagi mereka yang masih ingat akan Ong Bun yang dulu, mereka diingatkan kembali akan sosok Ong Bun yang membuat mereka menjadi pengikutnya dengan hati rela.
Berbalik pada orang tua itu, Ong Bun mengangguk hormat, membungkuk dalam-dalam dan berkata, ―Tetua, jika boleh aku mengenal namamu. Biar akan kuingat hari pertemuan kita ini dan di setiap doaku akan kuingat nama anda.‖
―Hmm… tidak malu kau pernah belajar di Shaolin. Baiklah, namaku adalah Hua Ng Lau, kau tidak perlu memanggilku tetua, panggil saja Si tua Ng Lau.‖, jawab orang tua itu sambil tersenyum ramah.
Hilang sudah kegarangannya, bersamaan dengan ucapan Ong Bun yang mengakui kesalahannya. Sebaliknya wajah Ong Bun berubah begitu dia mendengar nama orang tua itu.
―Tetua Hua… rupanya anda…‖
1461
Tapi Hua Ng Lau mengulapkan tangannya tanda dia tidak ingin Ong Bun melanjutkan kata-katanya. Melihat itu Ong Bun pun mengangguk-anggukkan kepala.
―Tentang dua orang muda ini, mereka adalah…‖, Ong Bun berujar sambil menunjuk ke arah Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying.
Namun kata-katanya terputus sekali lagi oleh gerakan tangan Hua Ng Lau, ―Tak perlu kau katakan, hal itu aku sudah bisa menduga-duganya sendiri. Sekarang kau pergilah bersama dengan mereka yang masih mau mengikutimu. Carilah jalan yang baik untuk mencari penghidupan, asalkan seseorang mau mencari jalan, langit tentu tidak menutup mata.‖
―Dan bagi kalian‖, kali ini orang tua itu menatap ke arah para pengikut atau bekas pengikut Ong Bun, ―Ingatlah hal ini, bahwa siapapun yang kalian ikuti, tidak berarti melepaskan tanggung jawab kalian sebagai pribadi demi pribadi. Kalianpun adalah manusia-manusia yang memiliki hak dan kewajiban untuk memilih jalan hidup kalian masing-masing.‖
Beberapa orang dari mereka menganggukkan kepala dengan tulus merenungi perkataan orang tua itu. Sebagian yang tidak
1462
ingin menerima kekalahan, namun juga tidak berani untuk meneruskan pertarungan, melihat banyaknya kawan, bahkan Ong Bun sendiri yang memutuskan untuk mundur dari pertarungan. Hua Ng Lau dan kedua bersaudara Huang hanya memandangi mereka yang perlahan-lahan pergi meninggalkan tempat itu. Memandangi punggung-punggung mereka yang semakin lama semakin menjauh. Ada yang berjalan kembali ke arah kediaman Tiong Fa dengan sumpah serapah di dalam hatinya. Ada pula yang menempuh jalan lain dengan satu hati yang ringan dan bersih. Tapi setiap orang harus memilih jalannya sendiri, karena setiap orang akan dimintai pertanggungan jawabnya sendiri oleh langit.
Menanti mereka semua pergi, Hua Ng Lau membalikkan badan dan memandangi kedua orang bersaudara itu, lalu dengan senyum ramah dia bertanya, ―Maukah kalian ikut denganku?‖
Di lain tempat orang-orang yang mengejar kedua bersaudara dan memutuskan untuk tetap bekerja pada Tiong Fa kembali dengan wajah menunduk dan hati berdebar. Sudah bisa mereka bayangkan hukuman dan makian yang akan mereka terima. Namun hal itu tidak membuat mereka memilih jalan yang lain. Bagi beberapa orang sepertinya hanya ada satu jalan yang terbuka. Sayangnya mereka memilih untuk mencarinya
1463
pada orang seperti Tiong Fa, karena yang mereka temukan hanya sebuah bangunan yang kosong.
Di perbatasan kota itu, sebuah rombongan kecil pedagang sedang berjalan dengan santai. Beberapa buah kereta berjalan beriringan di belakang mereka. Setiap kereta dijaga oleh beberapa orang, di masa di mana penjahat masih berkeliaran di jalan-jalan antara satu kota dengan kota yang lain, hal ini bukanlah pemandangan yang aneh. Bersenda gurau di bagian paling depan adalah Tiong Fa bersama beberapa orang pengikut utamanya.
―Tuan Tiong Fa, apa yang akan terjadi dengan dua orang bersaudara itu?‖, tanya seorang dari mereka.
―Hmm… hal ini tergantung juga dengan nasib baik dua orang bersaudara itu. Jika nasib mereka buruk, mereka akan mati di tangan Ong Bun.‖, jawab Tiong Fa.
―Bagaimana jika Ong Bun berhasil menangkap mereka hidup-hidup?‖
―Oh jika demikian, saat Ong Bun mendapati rumah sudah kosong, dia tentu akan melepaskan kedua orang bersaudara itu.‖
1464
―Tapi kulihat beberapa orang di antare mereka bukan orang baik-baik. Jika Ong Bun mati dalam pertarungan dan yang menggantikannya adalah orang-orang itu…‖
―Hahaha, maka nasib kedua orang bersaudara itu akan jauh lebih buruk, tapi tetap hidup. Karena buat mereka, seorang gadis cantik yang hidup tentu lebih baik daripada sebuah mayat. Dengar, apapun yang terjadi dengan dua orang bersaudara itu, setidaknya mereka sudah tidak lagi menjadi beban buat kita. Tapi jika mereka ternyata berhasil hidup dan lolos, maka itu lebih baik.‖, ujar Tiong Fa.
―Hmm… kami kurang mengerti maksud Tuan Tiong Fa.‖, ujar salah seorang dari mereka.
―Hohoho, bukankah mudah untuk dimengerti. Dengan sengaja kubuat mereka harus berjuang keras untuk bebas. Menderita penghinaan dan kesusahan. Jika setelah semua perjuangan itu mereka mendapati Ding Tao yang mengambil alih kekayaan dan kekuasaan keluarga Huang sudah melupakan nasib mereka. Kira-kira bagaimana perasaan kedua orang bersaudara itu? Kira-kira bagaimana perasaan nona muda Huang ketika mendapati cintanya sudah dilupakan?‖, ujar Tiong Fa berusaha menjelaskan.
1465
―Hahahaha, salah satu penyangga Ding Tao yang terbesar saat ini adalah sisa-sisa keluarga Huang. Kemunculan kedua orang bersaudara itu akan mengambil penyangga itu dari dirinya. Dan mereka tidak akan dengan mudah mau mendukung Ding Tao. Tidak, setelah apa yang mereka alami hari ini.‖, ujar Tiong Fa sambil tertawa terbahak-bahak.
Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying mungkin mengira bahwa mereka berhasil lolos dari cengkeraman Tiong Fa oleh kesiap sediaan mereka. Atau mungkin karena kelalaian Tiong Fa, tapi Tiong Fa tidak lalai hariitu. Dia tidak lalai saat dia melemparkan pedangnya di dekat Huang Ren Fu. Tidak juga lalai saat dia mengajak dua orang bodoh dengan nafsu besar yang mudah kehilangan kewaspadaan saat melihat kulit putih mulus, untuk menemani dia.
―Tapi bagaimana jika ternyata dua orang bersaudara itu tidak juga membenci Ding Tao setelah apa yang kita lakukan hari ini?‖, tanya salah seorang pengikut Tiong Fa.
―Hmm… itu akan sangat menjengkelkan, tapi itu adalah tanda bahwa kita harus mencari tempat untuk tidur panjang beberapa tahun lamanya. Jika setelah melewati penghinaan sedemikian rupa dan mendapati Ding Tao sudah menikahi wanita lain,
1466
namun Huang Ying Ying tidak juga membencinya. Itu tandanya Ding Tao bukan orang yang mudah untuk dihadapi. Tahu kekuatan lawan dan tahu kekuatan sendiri. Tahu kapan harus bersembunyi dan kapan memunculkan diri. Memiliki kesabaran untuk diam dan menunggu. Kalian mengerti?‖, ujar Tiong Fa menjelaskan.
―Ya… kami mengerti.‖, jawab mereka serempak.
Tiong Fa mungkin seorang bajingan, tapi dia bajingan dengan otak yang licin.
Bab XXX. Tabib Dewa Hua Ng Lau
Kembali pada Huang Ren Fu, Huang Ying Ying dan Hua Ng Lau, pertanyaan Hua Ng Lau menyadarkan kedua orang bersaudara itu. Sebelumnya sejak kedatangan orang tua itu yang terjadi dengan tiba-tiba, percakapan antara orang tua itu dengan Ong Bun dan anak buahnya, semuanya seperti mimpi dan khayalan yang tidak nyata. Tadinya mereka sudah bersiap-siap untuk menyongsong kematian, kemunculan Hua Ng Lau sungguh di luar dugaan. Bahkan ketika Ong Bun dan anak buahnya memencar pergi, mereka masih belum percaya bahwa
1467
mereka akhirnya selamat, luput dari cengkeraman dewa kematian.
Begitu tersadar, keduanya cepat menjatuhkan diri untuk berlutut dan mengucapkan terima kasih.
―Tetua Hua… kami berhutang nyawa padamu. Budi baik ini entah kapan kami bisa membalasnya.‖, ujar Huang Ren Fu sambil menjatuhkan diri berlutut.
―Terima kasih Tetua Hua…‖, sahut adiknya dengan tenggorokan tercekat dan sedikit terisak.
Rasa syukur memenuhi rongga dada keduanya, Huang Ying Ying yang lebih perasa sudah mulai meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata syukur dan bahagia. Orang tua itu hanya tertawa terkekeh sambil membangunkan kedua orang muda itu. Badannya memang kecil dan bungkuk, tapi nyata tenaga yang besar tersembunyi di dalamnya. Dengan mudah dia menegakkan tubuh dua orang muda itu.
―Hahahaha, jangan panggil aku tetua, panggil saja Kakek Hua. Berdirilah kalian anak baik… ayo kita cari dulu tempat yang enak untuk mengobrol.‖, ujarnya dengan ramah.
1468
Keduanya pun berjalan mengikuti Hua Ng Lau. Orang tua itu berjalan dengan pasti, seakan sudah hafal daerah kumuh tersebut. Dia tidak mengambil jalan keluar dari lingkungan yang kumuh itu, melainkan berjalan menuju ke salah satu rumah dalam lingkungan yang kumuh itu. Melalui beberapa lorong sempit dan halaman rumah yang dipenuhi gantungan cucian, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang terlihat bersih dan rapi.
Rumah itu tidak mewah, hanya sebuah rumah yang dibangun dari bambu dan beratapkan daun. Namun berbeda dengan rumah lain, rumah ini terpelihara dan rapi, dengan kebun yang ditanami berbagai macam tanaman, di pelatarannya terlihat beberapa macam dedaunan dan akar-akaran yang sedang dijemur dan dikeringkan.
―Ayolah, kita duduk-duduk di dalam‖, ujar orang tua itu sambil membuka pintu.
Dengan sopan kedua orang muda itu pun ikut masuk ke dalam. Menunggu orang tua itu duduk terlebih dahulu, barulah mereka ikut duduk di bangku yang ditunjukkan.
1469
Hua Ng Lau menganggukkan kepala melihat kesopanan kedua orang muda itu, ―Hmm… apakah benar kalian ini adalah dua orang kakak beradik, putera dan puteri Huang Jin, yang selamat dari pembantaian keluarga Huang di kota Wuling?‖
Sejenak Huang Ren Fu saling berpandangan dengan Huang Ying Ying, keduanya sudah begitu dekat sebagai saudara. Apalagi mengalami penderitaan bersama-sama, tanpa terucap satu kata pun, mereka sudah saling tahu, bahwa Huang Ying Ying menyerahkan percakapan itu pada kakaknya.
Huang Ren Fu pun berpikir sejenak sebelum menjawab, ―Benar sekali Tetua… eh maksudku Kakek Hua. Namaku Huang Ren Fu dan ini adikku Huang Ying Ying.‖
―Hmm… jadi benar dugaanku…‖, jawab Hua Ng Lau.
―Dari mana Kakek Hua tahu bahwa kami dua bersaudara dari keluarga Huang di Wuling?‖, tanya Huang Ren Fu ingin tahu.
―Sejak penyerangan di Wuling sampai hari ini, kira-kira sudah hampir 9 bulan berlalu. Selama itu kalian terus berada di dalam sekapan Tiong Fa tentunya kalian belum tahu betapa banyak perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan dalam waktu
1470
yang singkat itu. Jika kalian tahu tentu tidak akan sukar bagi kalian untuk menduganya.‖, ujar Hua Ng Lau menjawab.
―Kalau Kakek Hua tidak keberatan, maukah Kakek menceritakannya pada kami?‖, ujar Huang Ren Fu dengan penuh keingin tahuan.
Tentu saja sekilas berita tentang apa yang sudah dan sedang terjadi sudah mereka tangkap dari ocehan Tiong Fa sesaat sebelum mereka melarikan diri dari cengkeraman Tiong Fa, namun siapa yang mau percaya dengan manusia yang berlidah ular? Berbeda dengan Hua Ng Lau, bukan saja dia merupakan penolong mereka, namun dari apa yang mereka tangkap Hua Ng Lau sungguh berbeda dengan Tiong Fa. Meskipun baru saja bertemu, namun dalam hati, mereka merasa bahwa kakek tua ini bisa dipegang perkataannya.
―Aku mengerti, kalian pasti ingin tahu dengan apa yang terjadi selama kalian dalam sekapan Tiong Fa, terutama dengan hal-hal yang berkenaan dengan nasib keluarga kalian. Aku tidak tahu, apakah yang akan kuceritakan ini akan membuat kalian merasa bersyukur atau justru merana. Aku jenis orang yang percaya bahwa tahu yang sebenarnya lebih baik daripada bahagia dalam penipuan. Tapi sebelum aku memulai, aku ingin
1471
kalian berusaha mendengar kisahku ini dengan bijaksana. Tidak ada yang terjadi di muka bumi ini, yang tidak ada hikmahnya. Kalian mengerti maksudku?‖, tanya orang tua itu pada keduanya.
Huang Ren Fu mengambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab, dari penuturan Hua Ng Lau sebelum bercerita dia sudah dapat membayangkan apa yang terjadi selama mereka disekap sudah tentu tidak indah bagi pendengaran mereka berdua. Tanpa bisa dicegah jantungnya berdegup lebih kencang.
Setelah hatinya tenang dia pun menjawab, ―Kami mengerti Kakek Hua, orang yang picik hanya bisa menyesali keadaan yang buruk dan bersombong sewaktu keadaan baik. Namun orang yang bijak bisa mengambil hikmah dari kejadian yang buruk dan waspada sewaktu keadaan baik.‖
―Ya, kurang lebih seperti itu. Tidak ada manusia yang sempurna. Tapi manusia yang bijak bisa merenungi setiap keadaan dirinya, entah baik atau buruk dan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan. Dengan demikian, baik buruknya keadaan yang menimpa dirinya, dari
1472
waktu ke waktu dia menjadi semakin sempurna sebagai manusia.‖, ujar Hua Ng Lau.
Huang Ying Ying yang sedari tadi diam tiba-tiba berkata, ―Kakek Hua… engkau berkata demikian, apakah berarti tidak ada kabar baik yang hendak kau sampaikan buat kami?‖
Hua Ng Lau tersenyum dengan lembut pada nona muda itu dan menjawab, ―Baik dan buruk hanyalah ilusi, semuanya tergantung bagaimana caramu memahami satu peristiwa. Sesuatu yang dianggap buruk bisa menjadi pelecut semangat bagi kebangkitan di masa depan, jika sudah demikian apakah masih bisa dikatakan sebagai sesuatu yang buruk?‖
―Sebaliknya satu kejadian yang baik, bisa membuat orang terlena dan jatuh dalam kesusahan, jika sudah demikian apakah masih bisa dikatakan sebagai sesuatu yang baik? Pahami hal ini baik-baik, jika kau sudah memahami hal ini dengan baik, aku akan menceritakan kejadian dalam dunia persilatan selama kalian disekap oleh Tiong Fa.‖, ujar Hua Ng Lau sambil menepuk bahu gadis itu.
Cukup lama gadis itu terdiam, saling berpandangan dengan saudaranya, untuk kemudian menunduk dan menyeka pelupuk
1473
mata yang membasah. Hampir seluruh keluarga dan sahabatnya, dibantai habis dalam semalam. Apa ada yang lebih buruk lagi dari itu? Jika ada yang masih tersisa, maka itu adalah Ding Tao, laki-laki yang dikasihinya. Apakah yang satu itupun akan diambil dari dirinya? Apakah benar yang dikatakan Tiong Fa tentang Ding Tao? Tapi jika benar perkataan Tiong Fa tentang Ding Tao, bukankah dia masih memiliki kakaknya yang dia kasihi? Bukankah dia masih memiliki kebebasannya? Tidakkah dia harusnya bersyukur bisa lepas dari cengkeraman Tiong Fa?
Sambil menguatkan hati gadis itu menengadah, menatap ke arah Hua Ng Lau dan menganggukkan kepala, ―Kakek Hua, berceritalah. Aku tidak yakin apakah aku bisa menanggapinya dengan bijaksana, tapi percayalah aku akan berusaha mendengarkannya dengan hati dan pikiran yang terbuka. Tidak terburu-buru menilai, namun mengambil waktu untuk merenunginya.‖
―Hmm… baguslah kalau begitu. Baiklah kalau begitu aku akan mulai bercerita.‖, ujar Hua Ng Lau sambil tersenyum.
Hua Ng Lau pun mulai bercerita tentang apa yang dia dengar dan ketahui, sejak dari peristiwa terbantainya keluarga Huang
1474
di Wuling, Tiong Fa yang mengembangkan sayap dan menguasai seluruh cabang-cabang bekas miliki keluarga Huang, kemunculan Ding Tao kembali di Wuling, serangan Ding Tao atas Tiong Fa, desas-desus akan pertarungan Ding Tao dengan ketua Partai Hoasan, berdirinya Partai Pedang Keadilan dan akhirnya sampai pada berita tentang pernikahan Ding Tao dengan Murong Yun Hua dan Murong Huolin.
Mengikuti cerita Hua Ng Lau, kedua bersaudara ini dibuat naik turun perasaannya. Kesedihan saat mengingat kehancuran keluarga Huang, bersemangat oleh pembalasan dendam Ding Tao atas Tiong Fa, khawatir saat Ding Tao berhadapan dengan Ketua Partai Hoasan dan kemudian dengan salah seorang Tetua dari Hoasan.
Merekapun ikut bersyukur dengan keberhasilan Ding Tao.
Dan merekapun tertegun mendengar kisah pernikahan Ding Tao dengan keluarga Murong. Huang Ren Fu dengan rasa khawatir memandangi raut wajah Huang Ying Ying, ketika akhirnya mereka sampai di titik itu. Huang Ren Fu yang beberapa tahun lebih tua, sudah beberapa kali merasakan apa yang dia kira sebagai cinta dalam hidupnya. Sebagai remaja dia pernah mengalami cinta monyet yang hanya bertahan
1475
beberapa bulan lamanya. Menjelang dewasa pernah pula dia jatuh cinta namun terpaksa melupakannya karena gadis yang dia kagumi sudah bertunangan dengan pemuda lain. Dengan pengalaman ini Huang Ren Fu tidak terburu-buru menilai Ding Tao seperti apa yang dituduhkan Tiong Fa, hanya karena Ding Tao menikahi gadis lain selain adiknya.
Namun sebagai seorang kakak, dia juga bisa merasakan kepedihan Huang Ying Ying. Apalagi Ding Tao dan Huang Ying Ying sudah begitu dekat sekian lama, belasan tahun lamanya, meskipun perasaan cinta itu baru bersemi di akhir kebersamaan mereka.
Di satu sisi adalah sahabat baiknya, di sisi lain adalah adiknya. Melihat kesedihan yang membayang di wajah Huang Ying Ying, ada pula rasa geram yang muncul dalam hatinya.
―Nona itu… maksudku isteri Kakak Ding Tao saat ini sedang menanti kelahiran anaknya?... Itu berarti dia sudah hamil 5 bulan saat menikah dengan Kakak Ding Tao?‖, tanya Huang Ying Ying sedikit terbata.
Hua Ng Lau menganggukkan kepala, ―Benar… itu berita yang kudengar.‖
1476
―Jika demikian, setidaknya Kakak Ding Tao sudah mengenal nona itu ketika keluarga kami diserang…‖, ujar Huang Ying Ying sambil memandang ke kejauhan.
―Kira-kira begitu…‖, jawab Hua Ng Lau.
―Tapi Adik Ying Ying, Ding Tao tidak menikahinya hingga 5 bulan kemudian. Pada saat dia sudah berhasil membalaskan dendam keluarga Huang. Dari cerita Kakek Hua, juga bisa kita simpulkan bahwa selama itu Ding Tao tidak pula berusaha menemui gadis itu. Gadis itu yang datang menemui Ding Tao. Sebaliknya selama itu, justru dia berusaha mencari tahu tentang keberadaan kita berdua.‖, ujar Huang Ren Fu sambil menggenggam, lembut tangan adiknya.
―Ya… aku juga berpikir demikian…‖, ujar Huang Ying Ying dengan lemah.
Lama tidak ada seorangpun di antara mereka yang berbicara. Tidak Huang Ying Ying, tidak Huang Ren Fu, tidak pula Hua Ng Lau. Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau, mereka bisa membayangkan pergumulan batin yang sedang dilalui Huang Ying Ying dan karenanya memilih diam. Kedua orang itu hanya bisa menghela nafas saat Huang Ying Ying mengerjapkan
1477
matanya dan menghapus titik air mata yang hendak mengalir di pipinya.
―Aku percaya pada ketulusan Kakak Ding Tao, hanya saja keadaan menentukan jalan yang berbeda bagi kami berdua.‖, ujar Huang Ying Ying sambil menahan isak.
―Hmm… baiklah kurasa kalian berdua sudah bisa memahami keadaan yang terjadi saat ini, keluarga Huang seperti yang dahulu kalian kenal sudah tidak ada, berganti menjadi Partai Pedang Keadilan di bawah pimpinan Ding Tao.‖, ujar Hua Ng Lau dengan lembut.
―Kalau begitu, aku ingin menanyakan sesuatu pada kalian. Apa yang ingin kalian lakukan sekarang? Apakah kalian ingin kembali ke Wuling atau setidaknya kembali menemui orang-orang dari masa lalu kalian sebagai bagian dari keluarga Huang. Atau kalian ingin mencoba hidup yang baru. Melepaskan masa lalu kalian sebagai keluarga Huang?‖, tanya Hua Ng Lau pada kedua bersaudara itu.
―Sebelum kalian memutuskan aku ingin memberi beberapa masukan pada kalian. Kembalinya kalian pada apa yang tersisa dari keluarga Huang, ada kemungkinan akan membuat
1478
keadaan yang sudah mulai tenang kembali bergoncang. Entah goncangan besar atau kecil, hal itu tidak bisa dikatakan dengan mudah. Tergantung dengan bagaimana kalian menyikapi keadaan sekarang ini.‖, ucap Hua Ng Lau segera setelah dia menanyakan hal itu.
―Kalian bisa saja datang dan mengambil alih apa yang tersisa dari keluarga Huang, sebagai orang yang paling berhak atas warisan dari keluarga Huang. Jika demikian, itu berarti akan ada sebagian besar dari Partai Pedang Keadilan yang akan memisahkan diri. Atau bisa juga kalian datang hanya sebagai bagian lain dari sisa-sisa keluarga Huang. Mengikuti mereka yang sudah terlebih dahulu menggabungkan diri dengan Ding Tao. Meskipun tidak ada goncangan besar, namun tentu saja dengan kemunculan kalian akan ada penyesuaian dan ada singgungan-singgunngan yang muncul.‖, ujar Hua Ng Lau sambil memandang ke arah Huang Ying Ying.
Dia tidak ingin menjelaskan dengan detail tapi berharap Huang Ying Ying bisa membayangkan sendiri bagaimana kemungkinan akan munculnya singgungan-singgungan baik dalam partai maupun dalam keluarga Ding Tao.
1479
Setelah mengambil nafas dalam-dalam Hua Ng Lau melanjutkan, ―Atau jika kalian ingin memulai hidup yang baru. Aku memiliki satu tawaran bagi kalian.‖
―Pertemuan kita yang terjadi oleh karena satu kebetulan, kupandang sebagai ketentuan langit. Beberapa hari ini, aku sering sekali memikirkan keadaanku yang tidak memiliki keluarga maupun pewaris untuk mewarisi ilmu dari keluarga Hua. Dalam keadaan seperti ini, bertemu dengan kalian yang kehilangan akar kalian, membuat aku berpikir.‖
―Jika kalian bersedia, aku ingin mengangkat kalian sebagai pewarisku, menjadi murid-muridku yang bisa meneruskan ilmu yang sudah kupelajari. Agar tidak punah di tanganku, melainkan boleh diamalkan demi kebaikan sampai ke generasi-generasi yang selanjutnya.‖, ujar Hua Ng Lau sambil tersenyum pada kedua anak muda itu.
Tawaran Hua Ng Lau itu tentu saja membuat kedua bersaudara itu terkejut bukan main. Mereka sudah menyaksikan sendiri kehebatan Hua Ng Lau saat menghadapi Ong Bun dan anak buahnya, jika dibandingkan tentu kehebatannya beberapa tingkat di atas kemampuan ayah mereka sendiri. Bagi Huang Ren Fu tawaran itu membuah pilihan menjadi mudah, kembali
1480
ke Wuling tidak berarti apa-apa lagi baginya, seluruh keluarganya sudah tiada. Usaha yang dulu dimiliki keluarganya sekarang sudah berada di tangan orang lain. Jika usaha itu masih berada di tangan Tiong Fa, mungkin masih ada keinginan untuk merebutnya kembali, namun sudah ada yang membalas dendam pada Tiong Fa dan sisa-sisa keluarga Huang sudah jatuh ke tangannya, orang itupun adalah sahabatnya sendiri, maka keinginan itu pun hampir-hampir tidak ada.
Di lain pihak, melepaskan masa lalu juga berarti mendapatkan seorang guru yang mumpuni. Apalagi dari nama orang tersebut, ada satu ingatan tentang nama-nama tokoh besar dalam dunia persilatan. Seorang tokoh sakti yang juga pandai dalam hal pengobatan, bermarga Hua, menurut orang masih keturunan dari Hua Tuo di jaman tiga kerajaan.
Tapi Huang Ren Fu masih ragu-ragu untuk memutuskan, keraguannya itu muncul karena Huang Ying Ying. Bagi Huang Ren Fu, sekarang ini Huang Ying Ying adalah orang yang paling berharga buatnya. Seluruh keluarganya sudah mati terbantai, tinggal adiknya seorang. Sementara Huang Ying Ying memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Ding Tao. Jika Huang Ying Ying memutuskan untuk menemui Ding Tao, maka
1481
Huang Ren Fu tidak akan tega untuk melepaskannya pergi sendirian, menghadapi situasi yang mungkin tidak mengenakkan. Bagaimanapun juga Ding Tao sudah berkeluarga, pertemuan mereka itu nanti, tentu akan penuh dengan perasaan yang serba salah. Karena itu, Huang Ren Fu tidak segera menjawab pertanyaan Hua Ng Lau, sebaliknya dia menoleh dan memandang ke arah Huang Ying Ying.
Huang Ying Ying tentu saja bisa merasakan apa yang ada dalam hati kakaknya itu. Gadis ini pun berusaha memahami hatinya yang sedang tidak menentu. Ada kerinduan untuk bertemu kembali dengan Ding Tao. Ada ketakutan untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja muncul jika dia bertemu kembali dengan Ding Tao.
Setelah beberapa lama dia berpikir, dengan suara lirih dia bertanya, ―Bisakah kita pergi diam-diam untuk mengunjungi Wuling? Aku ingin melihat bagaimana kehidupan Ding Tao sekarang ini, setelah itu aku akan mengikuti Kakak Ren Fu dan Kakek Hua.‖
Huang Ren Fu memandangi adiknya dalam-dalam, kemudian dengan lembut bertanya, ―Adik Ying Ying, sebenarnya apakah yang ada dalam hatimu? Jika kau ingin hidup bersama Ding
1482
Tao, aku akan menemanimu. Di dunia ini tinggal dirimu seorang keluargaku, apa pun keputusanmu aku akan menemanimu dengan senang hati. Jika memang ingin melepaskan diri dari masa lalu, apakah tidak lebih baik jika tidak usah melihatnya sekali lagi, meskipun dari kejauhan.‖
―Tidak Kakak Ren Fu, aku sudah memutuskan untuk meninggalkan masa laluku, termasuk hubunganku dengan Ding Tao. Aku mengerti kedatanganku hanya akan membawa gangguan dalam rumah tangganya. Aku hanya ingin melihat dirinya sekali lagi.‖, jawab Huang Ying Ying.
―Tidakkah hal itu akan membuat hatimu terluka nantinya?‖, tanya Huang Ren Fu dengan hati-hati.
Huang Ying Ying tersenyum dan menjawab, ―Hatiku tidak serapuh itu. Kakak Ren Fu dan Kakek Hua tidak perlu kuatir.‖
Huang Ren Fu memandangi adiknya sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Hua Ng Lau, ―Menurut … Kakek Hua bagaimana‖
Hua Ng Lau dengan tertawa menjawab, ―Ya sudah, kalau Anak Ying Ying sendiri sudah berkata demikian, aku percaya sepenuhnya. Jadi kalian mau menjadi pewarisku?‖
1483
Sejenak Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying saling berpandangan sebelum menjawab dengan serempak, ―Ya Kakek Hua, kami mau.‖
Tanpa menunggu banyak aba-aba, keduanya pun segera menjatuhkan diri berlutut dan memberikan hormat pada Hua Ng Lau, sesuai dengan adat kebiasaan pada jaman itu ketika mengangkat seseorang menjadi guru. Dalam dunia persilatan, hubungan guru dan murid tidak sama dengan hubungan antara guru dan murid di masyarakat biasa. Hubungan guru dan murid adalah satu hubungan yang khusus, tidak ubahnya hubungan antara orang tua dengan anaknya.
Selesai dengan segala tatacara yang biasa dilakukan, termasuk menyuguhkan teh dan sebagainya. Huang Ren Fu kemudian bertanya pula pada Hua Ng Lau, ―Hmm… apakah kami sebaiknya memanggil Guru Hua atau Kakek Hua saja?‖
―Hehehe, kalian lebih kuanggap sebagai cucuku sendiri, oleh karena itu, panggil saja aku kakek.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa bahagia.
Huang Ying Ying pun tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Hua Ng Lau. Ada kalanya membuat orang
1484
lain bahagia, terasa lebih membahagiakan daripada mencari kebahagiaan bagi diri sendiri. Penderitaan yang dialami pun terasa lebih ringan, saat perhatian kita tertuju pada orang lain dan bukan berpusat pada diri sendiri.
―Kakek…, sebenarnya siapa julukan kakek dalam dunia persilatan?‖, tanya Huang Ying Ying dengan manja.
―Jika cucu tidak salah, apakah kakek yang berjuluk Tabib Dewa?‖, ujar Huang Ren Fu yang dengan cepat ikut menyesuaikan diri.
―Hahaha, kalian ini memang cucu kakek yang pintar. Ya, ada juga orang yang memanggilku demikian.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
―Tabbib Dewa? Kalau begitu selain mahir ilmu silat, kakek tentu juga mahir ilmu pengobatan, pantasan di pelataran rumah ada banyak tanaman obat-obatan yang sedang dikeringkan.‖, sahut Huang Ying Ying.
―Kakek, kakek pandai ilmu pengobatan dan juga bermarga Hua, apakah kakek masih keturunan dari Tabib Hua Tuo yang terkenal dalam sejarah itu?‖, tanya Huang Ying Ying yang berbicara tanpa henti.
1485
―Heh… menurut orangtuaku demikianlah halnya.‖, jawab Hua Ng Lau dengan mata berbinar-binar.
―Tapi setahuku, Tabib Hua Tuo tidak pandai bersilat, bagaimana kakek bisa jadi mahir pula bersilat?‖, tanya Huang Ying Ying sekali lagi.
―Hmm… kejadiannya seperti ini…‖, ujar Hua Ng Lau membuka ceritanya.
―Sebenarnya dari keluarga Hua, tidak banyak yang meneruskan ilmu keluarga mengikuti Kakek moyang kami Tabib Hua Tuo. Tapi setidaknya di setiap generasi harus ada satu anak yang berkewajiban meneruskan ilmu keluarga.‖
―Sejak dari dulu, sebagai seorang tabib, hubungan antara penerus keluarga ilmu keluarga Hua dengan orang dari dunia persilatan memang tidak pernah putus. Namun prinsip kami adalah mengobati siapapun yang datang tanpa mau berpihak pada golongan tertentu. Tokoh-tokoh dunia persilatan pada umumnya menghargai keputusan ini dan tidak pernah mengganggu kami.‖
―Siapa sangka, pada jaman kakek buyutku hidup, ada seorang tokoh dunia persilatan yang mendendam pada kakek buyutku,
1486
karena dia telah menyelamatkan nyawa dari musuh bebuyutannya. Tanpa menghiraukan kesepakatan yang tidak tertulis di masa itu, dia berusaha membunuh kakek buyutku itu.‖
Sambil mengambil nafas Hua Ng Lau menghirup teh di cangkirnya sambil diam-diam melirik Huang Ying Ying dan Huang Ren Fu yang sedang mendengarkan cerita Hua Ng Lau dengan penuh perhatian. Entah kenapa, kebanyakan orang tua memang suka bercerita dan kesenangan bercerita itu semakin berlipat saat pendengarnya mendengarkan dengan penuh perhatian. Demikian juga Hua Ng Lau, sudah lama orang tua ini hidup sendirian. Munculnya dua anak muda ini membawa semangat baru dalam hidupnya.
―Lalu apa yang terjadi kemudian? Mengapa ada yang berani berusaha menyakiti kakek buyut, apakah dia tidak takut pada orang-orang dunia persilatan yang lain?‖, tanya Huang Ying Ying yang tidak sabaran.
Senyum lebar terbentuk di wajah Hua Ng Lau, ―Hee… sabar sedikit biar kakek membasahi tenggorkan kakek dulu.‖
1487
Huang Ying Ying pun mendapatkan sodokan di pinggangnya dari kakaknya. Sambil meleletkan lidah, Huang Ying Ying segera bangkit dan mengisi cangkir Hua Ng Lau dengan teh.
Setelah menghirup teh dalam cangkirnya untuk kedua kalinya dan berdehem beberapa kali, Hua Ng Lau kembali melanjutkan ceritanya, ―Tokoh jahat yang berusaha menyakiti kakek buyut ini bukan orang sembarangan. Bisa dikatakan dia termasuk 4 besar dalam dunia persilatan di masa itu. Untung saja rencananya untuk mencelakai kakek buyut berhasil didengar oleh partai Kaypang.‖
―Ketua Kaypang di masa itu, yang termasuk 4 besar juga, mengundang sahabatnya untuk menggagalkan rencana tokoh jahat itu. Pertarungan hebat pun terjadi sampai beberapa kali. Karena ilmu mereka memang hampir seimbang, Ketua Kaypang dan sahabatnya tidak pernah berhasil mengalahkan dengan telak. Meskipun mereka berhasil menyelamatkan nyawa kakek buyut, namun selama tokoh jahat itu masih hidup, bahaya terus saja mengancam.‖
―Akhirnya Ketua Kaypang dan sahabatnya itu memutuskan untuk mengajarkan dua macam ilmu silat andalan mereka pada kakek buyutku. Dengan demikian diharapkan kakek buyut bisa
1488
melindungi dirinya sendiri dan tidak harus selalu bergantung pada perlindungan orang lain.‖
―Sejak itu pula, selain mewarisi ilmu pengobatan, pewaris ilmu keluarga Hua, juga mewarisi ilmu silat.‖, ujar Hua Ng Lau menutup ceritanya.
―Oh… rupanya demikian. Kakek, ada hal yang membuatku heran. Bukankah ilmu keluarga Hua diwariskan turun temurun sampai beberapa generasi. Jika demikian, bukankah harusnya keluarga Hua sudah menjadi satu kekuatan yang besar? Ataukah di tiap generasi hanya boleh ada satu pewaris saja, sementara yang lain tidak mendapatkan bekal apa-apa sedikitpun?‖, tanya Huang Ying Ying sambil mengerutkan alisnya.
―Hehehe, kami Keluarga Hua memang berbeda dengan yang lain. Sejak keturunan Tabib Hua Tuo yang pertama, kami sudah merasakan beratnya menyandang nama besar. Bukankah beliau akhirnya harus menderita hukuman mati oleh karena nama besarnya itu?‖
―Itu sebabnya hanya ada satu pewaris di tiap generasi dan hanya ada satu orang yang berhak menyandang nama marga
1489
Hua dari keturunan Tabib Hua Tuo. Hal ini pun dilakukan hanya agar ilmu itu tidak lenyap begitu saja.‖, ujar Hua Ng Lau menjelaskan.
―Wah.. tapi bagaimana kali pewaris itu tidak memiliki keturunan atau mengalami kecelakaan? Apa tidak terlalu riskan dengan mempercayakannya pada satu orang saja?‖, tanya Huang Ying Ying sekali lagi.
―Hehehe, sebenarnyalah demikian dan memang pernah terjadi demikian. Contohnya seperti diriku yang tidak memiliki keturunan. Dan pernah juga ada salah seorang pewaris ilmu keluarga Hua yang mati sebelum sempat mewariskannya pada seseorang.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
―Lho… jika begitu, kakek mendapatkan ilmu keluarga Hua dari siapa. Kok aku sekarang jadi bingung.‖, ujar Huang Ying Ying sambil menggosok-gosok ujung hidungnya yang mancung.
―Hahahaha, hmm… rupanya kalau tidak diceritakan sampai tuntas, kau tidak akan pernah puas.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
Huang Ren Fu pun ikut tertawa, sejak mendengarkan jawaban Hua Ng Lau tentu saja dia sudah memiliki dugaan. Namun dia
1490
tidak ingin menjawabnya, dia lebih suka berdiam diri dan mendengarkan percakapan antara Huang Ying Ying dan Hua Ng Lau, karena terlihat jelas bagaimana keduanya menikmati percakapan itu.
―Tentu saja tidak puas, karena itu kakek baik tolong ceritakan sampai tuntas‖, ujar Huang Ying Ying dengan manja.
Ya, untuk sejenak lamanya segala penderitaan yang dialami Huang Ying Ying jadi terlupakan. Tidak salah keputusan Huang Ren Fu untuk berdiam diri.
―Hehehe, ya,ya. Nah dengarkan baik-baik. Selain mewariskannya pada satu orang, kami penerus ilmu warisan keluarga Hua juga diwajibkan untuk menuliskan ilmu yang kami miliki serta pengembangannya di sebuah kitab. Kitab itu sendiri tersimpan di tempat yang aman. Sehingga bila terjadi sesuatu pada diri kami, jika langit mengijinkan dan ada orang yang berjodoh, ilmu itu masih ada yang meneruskan. Dan itulah yang terjadi saat salah seorang penerus keluarga Hua meninggal sebelum sempat mewariskan ilmunya.‖, jawab Hua Ng Lau.
―Kalau memang salah seorang keturunan Tabib Hua Tuo meninggal tanpa meninggalkan keturunan dan ilmu itu diwarisi
1491
lewat kitab, mengapa sampai sekarang penerusnya masih bermarga Hua? Apakah memang karena jodoh maka yang menemukannya juga orang bermarga Hua?‖, tanya Huang Ying Ying.
―Tidak, bukan demikian. Saat itu penemunya tidak bermarga Hua, namun ketika dia menemukan kitab itu dan membaca pesan dari penulisnya. Hatinya tergerak oleh budi pekerti dari para penerus Tabib Hua Tuo dan diapun memutuskan untuk mengganti marganya menjadi Hua, demi meneruskan nama keluarga Hua yang terputus. Hal itu dia tuliskan dalam kitabnya dan sampaikan pada penerusnya. Sejak saat itu, setiap penerus ilmu keluarga Hua, otomatis memiliki nama marga Hua, meskipun jika sebelumnya mereka bukan bermarga Hua.‖
―Kakek, jika demikian, apakah kakek berharap agar kami juga mengubah nama marga kami menjadi Hua?‖, Huang Ren Fu yang sejak tadi diam mendengarkan, sekarang membuka suara.
Hua Ng Lau tersenyum lembut, ―Memang seharusnya demikian. Namun dalam kasus kalian, kupikir, tidak ada salahnya jika kau tetap bermarga Huang dan hanya Ying Ying yang mengganti marganya menjadi Hua.‖
1492
Menoleh ke arah Huang Ren Fu dia melanjutkan, ―Hal ini kuputuskan karena kebetulan dirimu adalah satu-satunya penerus nama keluarga kalian.‖
Kemudian kepada Huang Ying Ying dia berkata, ―Kuharap kau tidak keberatan, apalagi kalau dipikir sebenarnya hanya masalah nama, hubunganmu dengan kakakmu juga tidak berubah, kalian tetap kakak beradik.‖
Dengan rasa malu Huang Ren Fu berkata, ―Kuharap kakek tidak salah paham, sebenarnya jika dikatakan meninggalkan masa lalu, sudah sepantasnya kalau cucu mengganti juga nama marga menjadi Hua, hanya saja seperti yang kakek bilang, penerus nama keluarga Huang dari Wuling hanya tinggal diriku seorang.‖
Hua Ng Lau tertawa sambil menepuk bahu Huang Ren Fu, ―Hahaha, apa perlunya merasa sungkan? Sejak hari ini kalian sudah kuanggap cucuku sendiri, masalah nama marga bukan hal yang perlu dipikirkan. Hal itu menjadi penting untuk menunjukkan rasa terima kasih kita pada para pendahulu.‖
1493
―Nah, apakah kalian setuju dengan pengaturan itu?‖, tanya Hua Ng Lau sambil melihat ke kanan dan ke kiri, ke arah Huang Ren Fu dan Huang Ying Ying.
―Tentu saja kek, tidak ada masalah. Tapi omong-omong, karena cucu perempuanmu ini yang mewarisi marga Hua, apakah itu artinya ilmu warisan keluarga Hua yang diwariskan akan lebih lengkap?‖, jawab Huang Ying Ying atau yang sekarang lebih tepatnya bernama Hua Ying Ying, sambil bertanya.
―Hahaha, apakah kau mau seperti itu?‖, tanya Hua Ng Lau sambil tertawa lebar.
―Ya… tidak usah selisih banyak-banyak, sedikit saja, asal cucu perempuanmu ini punya senjata rahasia untuk melawan kakaknya kalau kakaknya sedang nakal.‖, jawab Hua Ying Ying sambil menempel-nempel pada Hua Ng Lau.
―Hahahaha, baiklah, biar orang berkata kalau aku kurang adil, nanti aku beri satu ilmu rahasia, supaya kakakmu tidak berani nakal padamu.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa lebar.
Huang Ren Fu tentu saja tidak keberatan, Hua Ying Ying adalah adik kesayangannya, jika Hua Ng Lau bersikap baik padanya, diapun ikut bergembira. Apalagi sejak ayah mereka
1494
merebut Pedang Angin Berbisik dari tangan Ding Tao, adiknya itu sering sekali menjadi murung dan semakin murung sejak terbunuhnya seluruh anggota keluarga mereka. Kehadiran Hua Ng Lau sebagai kakek yang memanjakan cucunya, tampaknya menjadi penghibur yang tepat untuk mengakhiri masa-masa kesedihan Hua Ying Ying. Huang Ren Fu hanya ikut tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hua Ying Ying yang melihat kakaknya hanya bisa tertawa pun, menggodanya, ―Nah, jangan iri ya. Tapi jangan kuatir, kalau kakak baik padaku aku tentu tidak akan memakai ilmu rahasia itu.‖
―Hahaha, baiklah aku akan jadi kakak yang patuh pada adiknya.‖, jawab Huang Ren Fu sambil tertawa.
―Hehehe, Ying Ying, kakek belum beritahukan ilmu rahasia untuk melawan kakakmu, tapi melihat gelagatnya, sebaiknya kakek beritahukan sekarang. Ilmu rahasia itu namanya, ilmu menjadi adik yang sopan dan penurut. Kalau kau sudah mahir ilmu itu, kutanggung kakakmu tidak akan pernah mengganggumu.‖, ujar Hua Ng Lau sambil tertawa terkekeh-kekeh.
1495
―Waah… kalau ilmu itu sih sudah tidak perlu diajari lagi kek…‖, ujar Hua Ying Ying sambil menepuk-nepuk jidatnya, berpura-pura kecewa, diiringi tawa Huang Ren Fu dan Hua Ng Lau.
Sudah berpuluh tahun rumah kecil itu tidak pernah ramai oleh tawa. Tentu saja perubahan yang terjadi membuat tetangga kiri kanan ingin tahu. Dinding rumah tidak tebal, jarak antara rumah yang satu dengan yang lain juga tidak berjauhan. Pun ketiga orang itu tidak menahan-nahan suaranya, hati sedang gembira, dengan sendirinya suara menjadi cukup keras. Tapi tidak ada yang merasa terganggu dengan suara tawa mereka. Sebaliknya ketika para tetangga dekat mulai menangkap bahwa Hua Ng lau mengangkat dua orang muda sebagai cucunya, mereka ikut merasa bergembira. Maklum saja sebagai tabib, entah sudah berapa banyak orang yang tertolong oleh kebaikan hati Hua Ng Lau.
―Kakek, tentang keinginan Adik Ying Ying untuk melihat keadaan Ding Tao, menurut kakek, kapan baiknya perjalanan itu kita mulai?‖, tanya Huang Ren Fu setelah tawa mereka mereda.
―Hmm… aku tahu Ying Ying tentu ingin secepatnya melihat keadaan Ding Tao, namun setidaknya aku ingin kalian
1496
menunggu kira-kira ½ tahun lamanya. Dalam waktu itu aku akan melatih kalian dengan ilmu beladiri warisan keluarga Hua. Kalian sudah memiliki dasar yang cukup baik, jadi kurasa waktu yang ½ tahun itu sudah cukup untuk membuat kalian menjadi jagoan yang tangguh.‖, ujar Hua Ng Lau menjawab pertanyaan Huang Ren Fu.
Wajah Hua Ying Ying berubah menjadi sedikit muram, namun dia tidak mengeluh, sebaliknya justru dia menganggukkan kepala, ―Aku mengerti kek, tanpa bekal yang cukup untuk menjaga diri. Berkelana di dunia persilatan hanya akan mengundang bahaya saja. Aku juga tidak ingin menjadi beban bagi kakek.‖
Hua Ng Lau tersenyum dan mengelus kepala Hua Ying Ying yang dengan cepat menjadi cucu kesayangannya itu, ―Baguslah kalau kau bisa berpikir dengan matang. Mulai besok kita akan mempelajari dasar-dasar dan teori ilmu bela diri keluarga Hua.‖
―Hmm… kek, waktu ½ tahun itu tentunya bukan waktu yang tidak bisa ditawar bukan? Jika ternyata kami bisa maju dengan pesat, melebihi perkiraan kakek, tentu waktu yang ½ tahun itu bisa menjadi lebih singkat.‖, tanya Huang Ren Fu.
1497
Pertanyaan itu timbul bukan dari ketidak sabarannya, namun Huang Ren Fu yang melihat kemurungan Hua Ying Ying ingin menunjukkan kemungkinan itu pada adiknya. Sekaligus ingin melecut pula semangat adiknya itu dalam berlatih dengan adanya harapan tersebut. Hua Ng Lau yang sudah mulai sedikit-sedikit memahami watak Huang Ren Fu tersenyum dalam hati.
―Ya, tentu saja, semakin tekun kalian dalam mempelajarinya, semakin pendek pula waktu yang dibutuhkan. Hanya saja aku perlu mengingatkan bahwa tubuh kitapun memliki batasan-batasannya. Berlatih tanpa beristirahat yang cukup, justru akan merusak tubuh.‖, jawab Hua Ng Lau dengan bijak.
―Wah, kalau begitu kek, kenapa harus menunggu besok untuk memulai pelajarannya? Bagaimana kalau dimulai dari sekarang?‖, tanya Hua Ying Ying pada Hua Ng Lau.
―Hehehehe, bukankah sudah kubilang, tubuh kalian pun perlu istirahat. Barusan kalian harus bertempur dan memaksa tubuh kalian untuk bekerja melebihi batas kekuatannya. Sekarang kalian harus mengistirahatkan tubuh kalian baik-baik, besok barulah kalian bisa perlahan-lahan mulai berlatih.‖, jawab Hua Ng Lau sambil tertawa.
1498
―Hmmm… tapi kek, kalau hanya dalam bentuk teori, kan bisa dilakukan sambil beristirahat?‖, ujar Hua Ying Ying terus memaksa.
―Hahaha, ya,ya, kalau begitu pun boleh. Baiklah hari ini kita mulai pelajarannya, tapi ingat hanya teorinya saja yang akan kuuraikan. Besok baru kalian boleh menggunakan tenaga kalian.‖, jawab Hua Ng Lau sambil menggelengkan kepala, diikuti oleh sorakan Hua Ying Ying yang senang karena keinginannya terpenuhi.
―Adik Ying, omong-omong, apa kau tidak ada yang terlupa?‖, tegur Huang Ren Fu setelah tawa Hua Ying Ying mereda.
―Lupa? Apa ya yang terlupa?‖, Hua Ying Ying balik bertanya dengan wajah bingung.
―Hari sudah siang, sedari tadi sejak menolong kita kakek belum sempat makan apa-apa, hanya meminum beberapa cangkir the. Apa tidak kasihan?‖, tegur Huang Ren Fu sambil menahan senyum.
―Astaga… aku lupa. Maafkan aku ya kek, kakek mau makan apa? Apa ada bahan-bahan di dapur yang bisa dimasak? Atau
1499
kita pergi untuk membeli makanan?‖, ujar Hua Ying Ying sambil segera berjalan ke arah dapur.
Rumah Hua Ng Lau tidak besar, tentu saja dengan cepat keduanya sudah tahu di mana dapur, ruang tidur dan sebagainya.
Hua Ng Lau merasa bahagia, memang manusia sudah dikodratkan untuk hidup bersama-sama. Rumah yang biasanya sepi jadi ramai, orang tua itu pun merasakan kehangatan dalam hatinya.
Sambil tersenyum dia menyahut, ―Di dapur masih ada nasi yang kumasak tadi pagi, ada juga beras, sayuran, tepung dan bumbu-bumbu seadanya.‖
Huang Ren Fu pun menyusul Hua Ying Ying sambil berpamitan pada Hua Ng Lau, ―Kek, biar aku bantu Adik Ying Ying menyiapkan makan siang.‖
―Ya, ya, pergilah. Aku akan beristirahat sebentar, sudah lama juga aku tidak menggerakkan badan seperti tadi‖, jawab Hua Ng Lau sambil menepuk-nepuk pundak pemuda itu.
1500
Dari tempatnya Hua Ng Lau bisa mendengar senda gurau kakak beradik itu di dapur.
―Hee… memangnya kau bisa masak apa?‖, terdengar suara Huang Ren Fu berkata pada adiknya.
―Oh, jangan salah ya, aku kan sering belajar memasak juga di rumah. Bukan seperti dirimu yang hanya tahu makan saja.‖, sahut Hua Ying Ying.
―Katanya sudah pandai ilmu sopan dan penurut pada kakak, tapi sepertinya kok belum dipraktekkan ya?‖, balas Huang Ren Fu.
―Hooo, maunya…‖, ujar Hua Ying Ying dibalas tawa oleh Huang Ren Fu.
Sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok, mata Hua Ng Lau pun mulai terpejam dengan senyum masih menghiasi wajahnya. Tidak salah jika orang bijak pernah mengatakan, untuk segala sesuatu di bawah langit ini ada waktunya. Ada waktu untuk mencucurkan air mata, ada pula waktunya untuk tersenyum dan tertawa. Kali ini adalah saat bagi Hua Ng Lau dan kedua cucu barunya untuk tertawa dalam kebahagiaan.
1501
----------------------- 0 --------------------------
Di tempat lain, Ding Tao dan sahabat-sahabatnya sepertinya belum bisa lepas dari perjuangan dan kerja keras. Pernikahan Ding Tao memberikan selingan yang menyegarkan, namun beberapa bulan berjalan usia pernikahannya, mereka sudah kembali sibuk dengan pekerjaan mereka. Permasalahan pertama muncul dari keinginan Murong Yun Hua agar Ding Tao memanfaatkan kitab-kitab koleksi keluarga Murong. Terutama kitab-kitab ilmu silat yang berisi berbagai macam aliran ilmu silat yang berhasil dikumpulkan oleh ayah Murong Yun Hua dan Murong Huolin.
Ding Tao yang sejak awal enggan untuk melanggar batasan dan kebiasaan dalam dunia persilatan, tentu saja dengan cepat menolak ide Murong Yun Hua tersebut. Mencuri belajar dari ilmu orang lain adalah perbuatan yang dipandang hina dalam dunia persilatan. Tidak ingin berselisih dengan Ding tao, Murong Yun Hua pun tidak memaksa Ding Tao untuk ketiga kalinya. Namun Murong Yun Hua yang menyadari betapa pentingnya peran Ding Tao sebagai pimpinan dari satu partai, tidak mau menyerah begitu saja, diam-diam Murong Yun Hua menemui Chou Liang untuk membicarakan hal ini.
1502
Chou Liang seperti biasa sibuk dengan masalah jaringan mata dan telinga Partai Pedang Keadilan. Terutama dengan semakin besarnya bayangan dari Partai Pedang Keadilan yang digerakkan oleh Guru Chen Wuxi, Fu Tong si tongkat besi dan Song Luo si pemilik rumah makan. Chou Liang tidak ingin mereka yang bergerak di luar ini sembarangan menerima anggota. Justru karena mereka bergerak tanpa membawa nama Partai Pedang Keadilan, tiap-tiap anggota harus benar-benar dapat dipercaya sebelum mereka boleh tahu bahwa sebenarnya mereka masih merupakan bagian dari Partai Pedang Keadilan.
Jumlah anggota inti dari gerakan bayangan ini tidaklah besar, namun tiap orang tentu memiliki jaringannya sendiri yang tidak tahu menahu tentang hubungan mereka dengan Partai Pedang Keadilan. Hingga saat itu, jumlah mereka yang menjadi inti dari bagian tersebut baru sejumlah 14 orang, termasuk guru Chen Wuxi, Fu Tong dan Song Luo.
Dari 14 orang itu, 5 di antaranya bertugas untuk mengurusi rumah-rumah aman, tempat anggota inti Partai Pedang Keadilan bisa bersembunyi jika diperlukan.
1503
Selain 5 tempat tersebut, secara lebih terbuka untuk anggota Partai Pedang Keadilan sendiri, Chou Liang juga sudah menempatkan 8 orang tersebar di berbagai tempat untuk menyiapkan tempat serupa itu. Demikian juga dengan jaringan mata dan telinga bagi Partai Pedang Keadilan yang dibentuk dari orang-orang Partai Pedang Keadilan sendiri. Demkian sibuknya Chou Liang menangani dua jalur jaringan mata-mata dari Partai Pedang Keadilan.
Bukan hanya sebagai muara akhir dari setiap sumber informasi, Chou Liang juga bertanggung jawab untuk menyaring dan menganalisa setiap informasi yang dia terima untuk disampaikan pada Ding Tao dan orang-orang kepercayaannya.
Karena itu dahi Chou Liang pun sedikit berkerut saat mendengar Murong Yun Hua berkunjung ke tempat kerjanya dan meminta bertemu. Salah seorang anggota yang sedang menyampaikan laporan, cepat-cepat disuruhnya meninggalkan tempat dan berkas-berkas pun dirapikan sebelum kemudian dia mempersilahkan Murong Yun Hua untuk masuk ke dalam. Tentu saja pintu dibiarkan terbuka lebar-lebar dan seorang pembantu perempuan diminta untuk menghidangkan minuman bagi Murong Yun Hua.
1504
Murong Yun Hua sendiri tidak datang sendirian, dia datang bersama seorang pelayan pribadinya. Setelah bertemu, tentu Murong Yun Hua tidak langsung menyinggung masalah yang ingin dia sampaikan. Terlebih dahulu mereka berbasa-basi sejenak.
Setelah selesai dengan basa-basi, Murong Yun Hua pun dengan tenang berujar, ―Penasehat Chou Liang, sebenarnya aku datang karena aku memiliki sedikit masalah dengan barang-barang warisan keluarga Murong yang baru saja dikirimkan dari rumah.‖
―Oh… begitu, kalau memang bisa membantu tentu akan kubantu. Coba nyonya ceritakan masalahnya, barangkali Chou Liang bisa memberikan sedikit bantuan.‖, ujar Chou Liang sambil menduga-duga.
Murong Yun Hua sudah dua bulan lebih tinggal bersama Ding Tao, sebagai orang kepercayaan dan sahabat Ding Tao, sudah berulang kali Chou Liang bertemu dan juga sempat bertukar pikiran dengannya. Dari apa yang dia lihat dan dengar Chou Liang sudah tahu bahwa Murong Yun Hua bukan seorang wanita cantik dengan otak kosong.
1505
Murong Yun Hua dengan cepat menyesuaikan diri dengan keadaan di kediaman mereka, markas besar dari Partai Pedang Keadilan. Dalam waktu yang singkat dia berhasil memperoleh kepercayaan dan kesetiaan para pelayan di sana. Mereka dengan senang hati melaksanakan apa yang diminta Murong Yun Hua dari mereka, bukan hanya karena mereka menghargai Ding Tao suaminya, tapi karena mereka hormat dan segan pada Murong Yun Hua sendiri. Murong Yun Hua tidak ragu untuk menegur, tidak lupa juga untuk memuji, tidak canggung untuk mengambil inisiatif dan terbukti apa yang dia sarankan membuat kehidupan dalam rumah tangga Ding Tao berjalan dengan lebih baik.
Selesai dengan mengatur para pelayan pribadi untuk keluarga Ding Tao, Murong Yun Hua mengalihkan perhatiannya pada lingkungan di sekelilingnya. Pada tempat bangsal di mana anggota-anggota lain berdiam, perawatan keseluruhan kompleks bangunan, penyediaan makanan dan minuman dan masalah-masalah lain yang menyangkut penghidupan seisi markas besar tersebut. Di sinipun Murong Yun Hua menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur dan menata.
Dan dengan bijaksana, dalam melakukan semuanya itu, Murong Yun Hua tidak pernah lupa untuk bertanya terlebih
1506
dahulu pada Ding Tao, meskipun hal itu sebenarnya tidak berkenaan secara langsung dengan masalah organisasi. Sehingga ketika pada awalnya ada yang meragukan dan mempertanyakan perintah dari Murong Yun Hua, dengan sendirinya harus menutup mulut ketika mengetahui bahwa hal itu sudah diketahui dan disetujui oleh Ding Tao sendiri.
Dengan demikian dalam waktu yang beberapa bulan Murong Yun Hua bukan hanya menjadi isteri Ding Tao, tapi juga berperanan dalam berputarnya roda Partai Pedang Keadilan, meskipun dalam fungsi yang berbeda dengan anggota inti Partai Pedang Keadilan yang lain.
Tidak ada seorangpun yang merasa keberatan dengan apa yang dilakukan Murong Yun Hua, justru kesigapan dan kecekatan nyonya muda ini membuat mereka terkagum-kagum. Bahkan Sun Liang yang memiliki keluarga cukup besar dan 3 orang isteri yang cantik dan cakap, juga mengakui kelebihan Murong Yun Hua dibandingkan kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Dalam satu pertemuan, dengan bercanda dia menggoda Ding Tao dan memuji keberuntungannya karena mendapatkan Murong Yun Hua sebagai isterinya.
1507
Chou Liang sebagai orang yang berperanan cukup besar untuk menyatukan Ding Tao dan Murong Yun Hua, dalam hati merasa berbangga akan ketepatan keputusannya waktu itu. Itu sebabnya jika kini Murong Yun Hua mengajak dia berbincang, meskipun merasa terganggu tidak kemudian Chou Liang meremehkan nyonya muda ini. Dalam hati dia bertanya-tanya dan yakin bahwa tentu ada persoalan yang cukup penting untuk dibicarakan.
―Sebenarnya, ayah kami berdua, aku dan Adik Huolin, memiliki kegemaran mengumpulkan kitab-kitab berharga dari berbagai tempat. Baik kitab berisikan ilmu pengobatan, kesenian, kerajinan sampai pada kitab-kitab yang berisi ilmu bela diri. Begitu banyaknya koleksi buku mereka, hingga sewaktu kami pindah untuk tinggal di tempat ini, hanya koleksi mereka tentang ilmu bela diri yang bisa kubawa.‖, ujar Murong Yun Hua bercerita.
―Tadinya kupikir, Kakak Ding Tao yang gemar belajar ilmu bela diri, tentu akan menyukainya. Siapa sangka, ternyata Kakak Ding Tao tidak ingin melihatnya sama sekali, karena tidak ingin disangka mempelajari ilmu orang tanpa ijin. Sekarang aku jadi bingung, hendak disimpan di mana kitab-kitab itu. Jika disimpan di rumah, tentu Kakak Ding Tao akan merasa tersinggung.
1508
Hendak disimpan di tempat lain, tentu akan sulit mengawasinya. Bagaimanapun barang itu adalah peninggalan keluarga, apalagi kitab jika tidak disimpan di tempat yang baik akan mudah rusak oleh cuaca.‖, demikian Murong Yun Hua menjelaskan duduk masalahnya.
Chou Liang tentu saja bukan bernama Chou Liang jika tidak dapat segera menangkap maksud dari pembicaraan ini. Meskipun Chou Liang tidak tertarik dengan kitab ilmu silat tapi dia juga paham betapa besar artinya jika Ding Tao mau mempelajari ilmu dalam kitab-kitab tersebut. Sudah tentu yang dibawa Murong Yun Hua bukanlah kitab yang tidak berharga. Sudah tentu pula yang dimaksudkan Murong Yun Hua bukanlah di mana kitab itu harus disimpan, tapi bagaimana caranya agar Ding Tao mau mempelajarinya.
Dengan senyum sopan Chou Liang pun menjawab, ―Ah… rupanya begitu, baiklah, jika demikian, orang bermarga Chou ini akan coba bantu untuk mengurusnya. Nyonya tidak perlu memikirkan hal itu lagi.‖
Murong Yun Hua pun tersenyum mengerti, ―Syukurlah kalau begitu, baiklah kalau begitu aku pamit dahulu, aku tidak berani mengganggu pekerjaan Penasehat Chou Liang lebih jauh lagi.
1509
Kuharap Penasehat Chou Liang bisa menemukan solusinya secepat mungkin.‖
Dengan itu pula pertemuan mereka berakhir, tentunya diwarnai dengan beberapa basa-basi sebelum Murong Yun Hua meninggalkan Chou Liang untuk berpikir. Berpikir keras karena Chou Liang pun sadar, bahwa masalah mencuri ilmu ini memang masalah yang sensitif bagi orang-orang dalam dunia persilatan. Bagi beberapa aliran dan tokoh yang keras, terkadang sebelum seseorang diterima menjadi murid, terlebih dahulu harus melalui seleksi yang ketat dan kemudian melakukan upacara yang rumit. Sudah seperti itupun, belum tentu seluruh ilmu diajarkan, untuk melanjutkan ke tahap tertentu, tidak jarang kembali ada tata cara yang harus dilewati.
Tentu saja bukan tanpa alasan jika satu ilmu dijaga dengan demikian ketatnya. Karena perbuatan buruk murid tentu akan menjatuhkan nama gurunya. Kekalahan murid akan menjatuhkan juga nama besar gurunya.
Meskipun tidak semua orang begitu kukuh dengan aturan tidak tertulis ini. Bagaimanapun juga pada akhirnya, dalam dunia yang mengadu kekuatan maka hukumnya menjadi, siapa yang kuat dialah yang benar, tapi Chou Liang tidak ingin bertindak
1510
dengan gegabah. Dia tahu betapa keras kepalanya Ding Tao, jika dia tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin dia justru membuat Ding Tao semakin enggan untuk membaca kitab-kitab itu. Perlahan-lahan sebuah siasat muncul dalam benaknya.
Seperti juga saat dia membuat Ding Tao menikahi Murong Yun Hua, Chou Liang pun berpikir untuk mencari rekan dalam menjalankan siasatnya dan dia sudah tahu siapa orang yang tepat untuk diajak berbicara. Tapi Chou Liang tidak terburu nafsu untuk melaksanakan siasatnya.
Kebetulan orang yang hendak ia mintai tolong memang berencana untuk berkunjung ke Jiang Ling. Chou Liang pun dengan sabar menunggu kedatangannya.
XXXI. Ding Tao, Chou Liang dan Sepasang Iblis Muka Giok.
Siapa yang sedang ditunggu kedatangannya oleh Chou Liang? Ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Ma Songquan dan isterinya. Keduanya sejak dulu memang tidak pernah terpisahkan, meskipun keadaan di cabang Wuling jadi kurang kuat karena ditinggalkan oleh mereka berdua, Ding Tao dan yang lainnya pun tidak pernah terpikir untuk meminta mereka
1511
membagi tugas. Yang seorang pergi ke Jiang Ling untuk bertemu dengan Ding Tao dan yang seorang lagi menunggu di Wuling.
Bagi setiap orang dalam Partai Pedang Keadilan, Ma Songquan ya Chu Linhe, Chu Linhe ya Ma Songquan. Ada Ma Songquan tentu ada Chu Linhe dan demikian pula sebaliknya.
Bukan tanpa alasan kuat jika Chou Liang memilih sepasang pendekar itu untuk menolongnya meyakinkan Ding Tao mempelajari ilmu dari kitab-kitab milik Murong Yun Hua. Jika ada orang dalam Partai Pedang Keadilan yang hampir-hampir sama sekali tidak terikat dengan adat istiadat dunia persilatan yang berlaku secara umum, maka itulah mereka. Bukankah dulu mereka ini sepasang iblis, dijuluki sepasang iblis bukan hanya karena kekejiannya, tapi juga karena sifatnya yang sesat. Sesat ketika diukur dengan ukuran tata cara baku yang disepakati bersama sejak ratusan tahun lamanya.
Bisa dikatakan sepasang pendekar ini adalah lawan dari Ding Tao dalam hal pandangan hidup. Justru itu hubungan mereka ini termasuk hubungan yang sangat unik. Mereka saling menghormati dan bersahabat erat, namun pandangan mereka terhadap suatu masalah seringkali berbeda. Jika sepasang iblis
1512
itu jadi jinak sekarang ini, hal itu tidak lepas dari kesediaan mereka untuk tunduk pada perintah Ding Tao yang lurus. Namun cara pandang dan cara berpikir mereka sendiri sebenarnya tidak banyak berubah. Hanya letak kesetiaan mereka yang berpindah tempat. Jika dulu mereka hidup untuk diri mereka sendiri, maka sekarang sepasang pendekar itu memutuskan bahwa selain demi diri mereka sendiri, mereka juga hidup untuk Ding Tao yang mereka pandang sebagai sahabat sejati mereka.
Kemudian perlahan-lahan, dengan berjalannya waktu, merekapun belajar untuk menghargai dan bersahabat pula dengan orang-orang yang dekat dengan Ding Tao. Rasa hormat dan persahabatan yang timbul karena kesamaan, mereka sama-sama mengagumi dan mengasihi Ding Tao.
Bagi sepasang pendekar ini, perasaan demikian adalah sesuatu yang sudah lama mereka lupakan. Diawali dengan hilangnya kepercayaan mereka terhadap sesama, mereka pun hidup sebagai sepasang iblis, semua orang menjadi musuh di mata mereka. Padahal kodrat manusia untuk hidup sebagai makhluk sosial, tidak heran, hubungan mereka berdua pun menjadi sangat erat. Hidup berlawanan dengan kodrat, tentu saja sangat menyiksa, mungkin itu pula sebabnya mereka
1513
makin hari makin kejam dalam beraksi. Seperti lingkaran setan, semakin sakit mereka karena dikucilkan, makin kejam perbuatan mereka, sebagai balasan pada dunia. Semakin kejam mereka, semakin pula mereka dimusuhi dan dikucilkan.
Kehadiran Ding Tao dalam perjalanan hidup mereka akhirnya berhasil memutuskan pusaran kebencian dan permusuhan dalam hidup sepasang iblis itu. Kejujuran Ding Tao dan kebesaran hatinya, telah membuka celah dalam benteng kecurigaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Lewat Ding Tao mereka belajar mempercayai kembali sesamanya. Dimulai dari pertemuan mereka dengan Ding Tao, hati mereka mulai dibebaskan dari penderitaan pengucilan, kecurigaan, ketakutan yang terus menerus dan kesepian.
Jadi tidak heran pula, jika dibandingkan para pengikut Ding Tao yang lain, sepasang iblis yang cara pandangnya jauh berlawanan dengan Ding Tao justru menjadi pengikutnya yang paling setia. Berdasarkan dua hal ini, yaitu ketidak terikatan mereka dengan tata cara dunia persilatan yang sudah diterima secara umum dan kesetiaan mereka pada Ding Tao yang tidak tergoyahkan, Chou Liang memutuskan bahwa mereka adalah orang yang tepat untuk dimintai bantuan.
1514
Kedatangan sepasang iblis kali ini, ada hubungannya dengan keluhan dari salah satu biro pengawalan yang sudah bersumpah setia dengan Partai Pedang Keadilan, mengenai gerombolan penjahat di sepanjang jalur dari Kota Gui Yang sampai ke Ling Ling.
Dari kabar yang dikumpulkan Chou Liang, akhirnya diputuskan bahwa Ma Songquan dan Chu Linhe saja yang nampaknya sanggup mengatasi gerombolan ini. Sebelum pergi ke tempat yang dituju bersama kepala biro pengawalan yang meminta bantuan. Mereka berdua akan berkunjung ke Jiangling dulu untuk kemudian, bersama-sama beberapa orang anggota yang lain pergi menyerang markas gerombolan perampok tersebut.
Salah satu penyebab makin populernya Partai Pedang Keadilan adalah usaha sungguh-sungguh dari tiap anggotanya untuk saling melindungi seperti yang akan dilakukan Ma Songquan kali ini.
Satu hari sebelum kedatangan Ma Songquan di Jiang Ling, Chou Liang sudah tahu keberadaan mereka yang sedang menginap di sebuah desa kecil yang berada di dekat perbatasan Jiang Ling. Pagi-pagi benar, Chou Liang pun sudah berada di atas punggung kuda, berderap kencang menuju desa
1515
itu. Pasangan itu sedang menikmati sarapan mereka ketika Chou Liang masuk ke dalam rumah dan menyapa keduanya.
―Haha, Saudara Ma Songquan, Nyonya Chu Linhe, senang bertemu lagi dengan kalian berdua. Bagaimana tidur kalian kemarin? Kuharap kedatanganku tidak mengganggu selera makan kalian.‖, ujarnya sambil tersenyum lebar.
―Hoo… Saudara Chou Liang… ada urusan apa pagi-pagi sudah menyambut kedatangan kami di sini? Apakah ada masalah di Jiang Ling?‖, sahut Ma Songquan dengan kening berkerut.
Bukannya Ma Songquan tidak suka melihat kedatangan Chou Liang, hanya saja timbul sedikit kekuatiran dalam hatinya. Meskipun senyum lebar di wajah Chou Liang tentu saja menandakan bahwa tidak ada masalah apa-apa di Jiang Ling.
―Ah.. tidak ada masalah besar. Hanya saja aku pribadi, memiliki satu masalah kecil yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua.‖, jawab Chou Liang dengan senyum di wajahnya.
Tanpa sungkan-sungkan, diapun menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Tidak lama kemudian menyusul pemilik rumah datang sambil membawa cangkir, mangkok dan sepasang sumpit untuk Chou Liang.
1516
―Hee, kuharap kalian tidak keberatan kalau aku ikut makan bersama kalian. Dari Jiang Ling aku berangkat pagi-pagi sekali dan tidak sempat sarapan.‖, ujar Chou Liang sambil mulai mengisi mangkoknya.
―Hmm… pantas saja semalam aku bermimpi buruk. Rupanya hari ini kita akan kedatangan tamu yang tidak tahu malu.‖, ujar Chu Linhe sambil tersenyum ramah.
―Hahaha, Nyonya Chu Linhe ini bisa saja. Tapi buatku lebih baik tidak tahu malu daripada kelaparan.‖, jawab Chou Liang sambil tertawa.
―Heh… daripada bicara ke sana ke mari, cepat ceritakan masalahmu. Kalau ada masalah menggantung, makanku jadi kurang lahap.‖, ujar Ma Songquan sambil tertawa.
―Hmm… baik, tidak masalah. Masalah ini munculnya dari Nyonya Murong Yun Hua.‖, ujar Chou Liang mengawali penjelasannya.
Kedua suami isteri itu pun memasang telinga mereka baik-baik sambil mengangkat alias. Apa pula urusannya Murong Yun Hua hingga Chou Liang menyempatkan diri berangkat pagi-pagi dari Jiang Ling untuk menemui mereka?
1517
―Kalian tahu Keluarga Murong itu ternyata memiliki latar belakang yang cukup unik dalam dunia persilatan. Pertama Pedang Angin Berbisik ternyata mereka yang membuatnya, kemudian beberapa hari yang lalu, Nyonya Murong Yun Hua menemuiku dan memberi tahu bahwa merekapun memiliki koleksi kita-kitab ilmu silat dari berbagai aliran.‖, lanjut Chou Liang.
―Hmm… soal itu sedikit banyak kami sudah bisa menduga.‖, ujar Chu Linhe sambil terus mendengarkan.
Sepasang iblis itu memang sudah lebih dahulu mengetahui hubungan Ding Tao dengan keluarga Murong sebelum yang lain mengetahuinya. Bahkan mereka juga yang pertama kali merasakan dahsyatnya ilmu Ding Tao setelah meminum obat dewa pengetahuan dan mempelajari ilmu tenaga dalam inti bumi.
―Oh, begitu. Nah baiklah, kalau begitu kulanjutkan ceritaku. Selain memberitahukan masalah itu, Nyonya Murong Yun Hua, secara tidak langsung juga bercerita bahwa dia sempat meminta Ding Tao untuk mempelajari isi kitab-kitab tersebut, namun ditolak mentah-mentah oleh Ketua Ding Tao. Mendapati jalan buntu, dia datang kepadaku dengan harapan aku dapat
1518
membujuk Ketua Ding Tao untuk mempelajari isi dari kitab-kitab itu.‖, lanjut Chou Liang menjelaskan.
―Hohoho dan kau ingin kami berdua untuk membantumu, meyakinkan Ding Tao untuk mempelajari isi dari kitab itu. Begitu maksudnya?‖, ujar Ma Songwuan sambil tertawa.
―Ya, begitulah maksudku. Nah bagaimana menurut kalian?‖, jawab Chou Liang.
―Hmm… ada beberapa hal yang jadi masalah. Yang pertama, mempelajari ilmu silat tidak sama dengan mempelajari satu hafalan. Tidak cukup hanya dengan mengerti teorinya, tapi perlu dipraktekkan dan dilatih dalam kurun waktu tertentu untuk bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Sehingga meskipun ada banyak kitab, untuk mempelajari satu saja dari kitab itu, akan memakan waktu yang cukup lama.‖, jawab Ma Songquan.
―Bagi orang yang sudah matang ilmunya seperti Ketua Ding Tao, kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan?‖, tanya Chou Liang ingin tahu.
―Ketua Ding Tao memiliki bakat di atas rata-rata… tergantung juga jenis ilmu yang dipelajari, tapi kira-kira, setidaknya dia
1519
membutuhkan waktu 1 bulan untuk mempelajari 1 ilmu.‖, jawab Ma Songquan sambil menghitung-hitung.
―Hmm… dari sekarang sampai pertemuan untuk pemilihan Wulin Mengzhu masih ada waktu 7-8 bulan. Bukankah itu artinya Ketua Ding Tao akan mampu menguasai 8 macam ilmu baru pada saat maju nanti?‖, tanya Chou Liang.
―Hehh… sekarang kita membicarakan masalah kedua. Banyaknya pengetahuan seseorang, tidak selalu menjadikannya satu keuntungan dalam sebuah pertarungan. Tidak sedikit orang berbakat yang mempelajari banyak hal, namun karena terlalu banyak yang dia pelajari ilmunya jadi setengah matang. Dan akhirnya dia kalah melawan orang yang hanya mempelajari satu ilmu saja, namun sampai pada puncaknya.‖, jawab Ma Songquan sambil menyengir, melihat kurangnya pengetahuan Chou Liang dalam hal imu bela diri.
―Ahh… benar juga… tapi apakah tidak ada keuntungannya bagi Ketua Ding Tao dengan mempelajari isi kitab-kitab tersebut?‖, tanya Chou Liang.
1520
Wajahnya berubah murung dan matanya memandangii isi mangkoknya yang sudah hampir kosong, sementara benaknya merenungi kitab-kitab keluarga Murong yang tersia-sia itu.
―Hei, tidak perlu kau susahkan mangkokmu yang kosong itu.‖, ujar Chu Linhe sambil menyumpitkan sepotong tahu besar ke dalam mangkok Chou Liang.
―Hahaha, meskipun aku berkata demikian, bukan maksudku kitab-kitab itu tidak ada gunanya sama sekali.‖, ujar Ma Songquan yang tertawa geli melihat waah kecewa Chou Liang.
―Ah, mengapa Saudara Ma Songquan tidak mengatakannya dari tadi. Jika dari tadi dikatakan, tentu selera makanku tidak hilang.‖, ujar Chou Liang yang wajahnya menjadi cerah kembali.
―Nah, kau dengarkan saja penjelasanku sambil menghabiskan saja isi mangkokmu. Sederhana saja sebenarnya, kekurangan Ketua Ding Tao yang paling besar jika dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu nanti adalah dalam hal pengalaman bertanding. Kitab-kitab yang berisi ilmu dari berbagai macam aliran itu, dapat menutupi kekurangannya ini. Di saat yang sama, jika dia menemukan
1521
jurus-jurus tertentu atau tehnik-tehnik tertentu yang dapat dia satukan dalam ilmu yang sudah dia tekuni selama ini, maka ilmunya pun akan menjadi semakin mapan dan tinggi tingkatnya.‖, jawab Ma Songquan dengan puas.
―Baguslah kalau begitu, jadi kalian berdua setuju bahwa Ketua Ding Tao harus dibuat setuju untuk mempelajari isi dari kitab-kitab itu?‖, tanya Chou Liang dengan gembira.
Ma Songquan dan Chu Linhe saling berpandangan sejenak. Chu Linhe kemudian menganggukkan kepala dan Ma Songquan-lah yang kemudian menjawab pertanyaan Chou Liang.
―Ya, kami rasa hal itu akan sangat membantu Ketua Ding Tao untuk meningkatkan ilmunya. Aku yakin dia cukup cerdas untuk tahu, seberapa banyak dia harus membaca, mana yang bisa diambil mana yang harus ditinggalkan. Mana yang cukup dipakai untuk menambah pengetahuan, mana pula yang bisa dia gunakan dalam pertarungan.‖
―Penasehat Chou Liang datang menemui kami, tentunya sudah memiliki siasat yang jitu untuk membuat Ketua Ding Tao
1522
bersedia mempelajarinya.‖, ujar Chu Linhe menyambung jawaban suaminya.
Chou Liang pun tersenyum lebar dan dengan gaya yang kocak menjawab, ―Hehee, soal itu baiklah akan kujelaskan dalam perjalanan.‖
Ma Songquan dan Chu Linhe dibuat tertawa terbahak-bahak oleh cara Chou Liang berkata-kata. Tidak ada hal penting lain yang mereka bicarakan lagi selama sarapan itu. Baru di perjalanan, Chou Liang pun mulai menjelaskan siasatnya. Mereka menempuh perjalanan dengan santai, matahari sudah berjalan cukup tinggi ketika mereka sampai di markas besar Partai Pedang Keadilan.
--------------------------------------- o ---------------------------------------
Kedatangan mereka bertiga tentu saja disambut dengan hangat, tidak ada yang bertanya mengapa Chou Liang bisa bersama-sama dengan Ma Songquan dan Chu Linhe. Karena memang tidak terlalu aneh juga bila Chou Liang datang menyambut tamu terlebih dahulu. Sebelum mereka bertiga sempat datang ke ruangan Ding Tao, ternyata Ding Tao sudah terlebih dahulu menemui mereka. Hubungan Ding Tao dengan
1523
sepasang pendekar itu memang cukup erat. Hari itu Ding Tao yang biasanya ikut datang melihat-lihat anggota mereka yang sedang berlatih, dengan tidak sabar menanti-nantikan kedatangan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Namun betapa heran hati Ding Tao saat keduanya tampak sedikit dingin dan menyembunyikan sesuatu darinya. Meskipun sikap mereka di luaran tetap sopan, namun kehangatan yang biasanya dia rasakan hilang.
Karena itu sewaktu mereka berjalan bertiga seja menuju ke ruangan Ding Tao, Ding Tao pun bertanya pada Ma Songquan, ―Kakak Ma Songquan, hari ini aku merasa ada sedikit ganjalan di antara kita. Apakah aku ada berbuat kesalahan? Jika memang ada, katakan saja secara terbuka, karena sedikitpun tidak ada maksud dalam hatiku untuk berlaku demikian.‖
Ma Songquan dan Chu Linhe berpandangan sejenak, kemudian seperti biasa Chu Linhe membiarkan Ma Songquan untuk menjawab.
―Hmm… sebenarnya memang ada sedikit ganjalan dalam hati ini. Kalau Ketua Ding Tao tidak keberatan, bisakah kita
1524
memakai ruang latihan pribadi milik Ketua Ding Tao untuk meluruskan sesuatu?‖, ujar Ma Songquan.
―Ah, tentu saja. Tapi ada masalah apa sebenarnya?‖, jawab Ding Tao.
Sambil menjawab Ding Tao pun mengambil jalan menuju ruang latihan miliknya pribadi. Ruangan latihan itu hanya digunakan oleh Ding Tao dan orang-orang yang diajaknya berlatih. Di saat Ding Tao tidak berlatih, ruangan itu pun dibiarkan kosong, tidak ada yang menggunakannya.
―Soal itu akan jadi jelas nanti. Kami sendiri tidak merasa yakin, namun kami ingin memastikannya terlebih dahulu.‖, jawab Ma Songquan.
―Apakah lewat latih tanding?‖, tanya Ding Tao dengan hati-hati.
―Ya, benar, kami ingin memastikan dugaan kami terlebih dahulu dengan berlatih tanding melawan Ketua Ding Tao.‖, jawab Ma Songquan dengan sedikit dingin.
Berdebar juga hati Ding Tao mendengarnya. Bukan karena dia takut kalah, atau takut dicelakai oleh dua orang yang pernah dijuluki Sepasang Iblis Muka Giok itu, melainkan karena dia
1525
sungguh-sungguh tidak ingin timbul permusuhan di antara mereka. Begitu sampai di dalam ruangan latihan, pintu pun ditutup rapat, agar tidak ada orang luar yang bisa melihat. Mereka bertiga berjalan ke tengah-tengah ruangan lalu berdiri saling berhadapan.
―Apakah… akan kita mulai sekarang?‖, tanya Ding Tao sedikit ragu-ragu.
―Ya. Sekarang. Awas serangan!‖, jawab Ma Songquan pendek-pendek dan dengan itu pula dia langsung memulai pertarungan.
Serangan sepasang pendekar itu tetap rapat dan saling mengisi seperti yang lalu-lalu. Tidak ada yang hilang dari kekompakan mereka, bahkan dengan pengalaman mereka beberapa waktu yang lalu, saat menyaksikan pertarungan Ding Tao dengan Pan Jun dan kemudian Xun Siaoma. Ilmu mereka pun meningkat pesat. Serangan mereka lebih tajam, pertahanannya pun jadi lebih rapat.
Tanpa sungkan mereka dengan segera mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk mendesak Ding Tao. Tapi Ding Tao yang sekarang juga berbeda dengan Ding Tao yang dulu. Ketajaman serangan mereka, tetap saja seperti membentur
1526
dinding batu. Bukan hanya bertahan, sekarang Ding Tao juga mampu balas menyerang dan mengimbangi serangan-serangan sepasang iblis itu. Jika pada pertarungan mereka yang terakhir, Ding Tao masih bersandar pada staminanya yang lebih kokoh dari lawan. Sekarang jurus serangan Ding Tao sudah cukup tajam untuk mendesak lawan. Bagusnya sepasang pendekar itu selama ini sudah mencurahkan waktu dan pikiran mereka untuk memperbaiki pertahanan dalam ilmu pasangan mereka.
Pertarungan pun berjalan makin seru, di satu titik, tiba-tiba Ding Tao melihat adanya lowongan yang terbuka di pertahanan Ma Songquan. Sebenarnya sudah beberapa kali dia melihatnya, namun tidak ingin mempermalukan lawan, dengan sengaja dia tidak mengambil kesempatan itu. Kali ini Ding Tao merasa sudah cukup banyak memberi muka pada lawan dan tanpa ragu menyerang di celah yang dia dapatkan itu.
Tapi Ding Tao jadi terkejut, ketika tiba-tiba sepasang iblis itu segera melompat berjumpalitan, menjauh ke belakang sambil berseru, ―Itu dia!‖
1527
―Nah, apa kataku, bocah cilik ini sudah mencuri ilmu kita dengan diam-diam.‖, geram Chu Linhe sambil menunjuk-nunjuk Ding Tao.
―Ya… kau benar isteriku. Selama ini aku tidak percaya perkataanmu. Siapa sangka, ternyata orang yang aku percayai ini sampai hati mencuri ilmu kita tanpa ijin.‖, jawab Ma Songquan pada Chu Linhe, sambil menunjukkan wajah bengis pada Ding Tao.
Ding Tao yang dituduh demikian pun menjadi pucat wajahnya, ―Ini… soal ini… sebenarnya apa maksud kalian?‖
―Ding Tao, jangan berpura-pura lagi, aku tidak tahu bagaimana caranya kau melakukan hal itu. Namun aku ingin bertanya kepadamu. Jawablah dengan sejujurnya. Jurus serangan yang baru saja kau lancarkan tadi, bukankah itu jurus serangan milikku?‖, geram Ma Songquan sambil mengacungkan pedangnya ke arah Ding Tao.
Ding Tao pun sudah membuka mulut untuk menyangkal, ketika dia teringat dari mana dia mempelajari jurus serangan itu. Jurus serangan yang dimiliki Ding Tao memang sebelumnya sangat terbatas, yaitu hanya berasal dari ilmu keluarga Huang. Namun
1528
sejak dia berkelana dan mendapatkan pengalaman dari bertarung melawan berbagai macam lawan. Dengan sendirinya diapun mulai menyisipkan dan menggunakan jurus serangan yang dia lihat dari pengalamannya tersebut, untuk melengkapi ilmu yang sudah ada pada dirinya. Salah satunya yang menjadi jurus andalannya adalah jurus yang dia serap ketika dia bertarung melawan Sepasang Iblis Muka Giok. Teringat akan hal ini, mulut Ding Tao yang tadinya sudah terbuka untuk menjawab, terkatup kembali.
―Nah, Ding Tao, kenapa kau diam. Sekali lagi aku bertanya, bukankah jurus yang baru saja kau gunakan berasal dari ilmu andalanku?‖, geram Ma Songquan.
Akhirnya dengan lemah, Ding Tao menganggukkan kepalanya, ―Ya… soal itu… Kakak Ma Songquan memang benar. Jurus itu berasal dari ilmu andalan kalian.‖
―Bagus kalau kau mau mengakuinya. Sekarang aku mau tanya, dari mana dan kapan kau mencuri ilmu itu? Apakah kau mengirimkan orang untuk memata-matai kami saat berlatih?‖, desak Ma Songquan sambil berjalan mendekat.
1529
―Kakak Ma Songquan, kuharap kau jangan salah paham. Tidak pernah aku mencurinya, hal itu…, hal itu aku dapatkan ketika kita bertarung di waktu yang lampau. ‖, jawab Ding Tao serba salah.
―Hoo… benarkah demikian? Jadi maksudmu, karena kau mendapatkannya dalam sebuah pertarungan, maka hal itu tidak bisa disebut mencuri belajar? Begitu maksudmu?‖, desak Ma Songquan tidak mau mengalah.
Ding Tao pun tidak tahu harus menjawab apa, ―Entahlah, menurutku memang demikian. Tapi jika Kakak Ma Songquan memaksaku berkata yang sebaliknya, apa lagi yang dapat kukatakan. Aku hanya berharap Kakak Ma Songquan dapat memakluminya. Bukankah kakak tahu, ilmuku sendiri yang kudapatkan dari guruku sangatlah terbatas. Lewat pengalaman aku berusaha mengembangkannya, bukan dengan sengaja jika kemudian ada unsur-unsur tertentu yang kuambil dari ilmu orang lain, yang kudapatkan lewat pengalamanku bertarung.‖
―Hmm.. mudah buatmu untuk berkata demikian, kau tentu juga akan membela diri dengan mengatakan, bukankah demikian juga dengan semua orang lain dalam dunia persialatan. Kita mengembangkan ilmu kita melalui pengalaman. Dengan
1530
sendirinya, cara bertarung orang lain pun termasuk di dalamnya. Benar tidak?‖, desak Ma Songquan pada Ding Tao.
―Ya…, apa hendak dikata, bukankah memang demikian yang terjadi?‖, jawab Ding Tao dengan pasrah.
―Hee… jika begitu bukankah lama kelamaan, ilmu-ilmu yang ada akan semakin bercampur baur. Tergantung dari bakat tiap orang saja untuk mengolahnya.‖, ujar Ma Songquan sambil menghela nafas, namun suasana permusuhan yang tadinya terpancar sudah menghilang.
Melihat itu Ding Tao merasa bersyukur, kiranya Ma Songquan sudah tidak lagi mencurigai dirinya, diapun kemudian menjawab, ―Kukira demikian pun tidak ada buruknya. Bukankah dengan cara itu, apa yang ada semakin lama semakin berkembang. Jika tidak salah, ada pula yang berpendapat, bahwa sebenarnya semua ilmu bela diri itu berasal dari satu sumber saja. Maka dari itu, adanya berbagai macam golongan dan aliran, harusnya tidak perlu bersaing.‖
―Ketua Ding Tao benar juga. Jika setiap orang memiliki wawasan yang luas seperti itu, bukan saja ilmu bela diri bangsa kita akan berkembang maju. Suasana persaingan yang tidak
1531
sehat antar aliran pun bisa dihilangkan.‖, ujar Ma Songquan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
―Benar, lagipula, ciri-ciri setiap perguruan juga tidak akan hilang. Bagaimanapun juga ilmu itu, kalaupun memang berasal dari satu sumber yang sama, terlalu luas untuk dipahami dan diyakinkan oleh satu orang saja. Itu sebabnya muncul berbagai macam aliran, karena satu orang lebih menitik beratkan pada satu hal, dan orang yang lain menitik beratkan latihannya pada hal yang lain.‖, jawab Ding Tao yang sudah lupa dengan kemarahan Ma Songquan beberapa waktu yang lalu.
―Hmm… jika benar ada satu ilmu yang menjadi sumber bagi sekian banyak aliran… andai saja ada orang yang memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia, yang mau mengumpulkan berbagai macam ilmu yang tercerai berai itu. Dan mengolahnya menjadi satu ilmu yang lebih lengkap. Tentu saja hanya sebagai usaha, agar kebesaran ilmu yang menjadi sumber dari setiap aliran itu tidak terlupakan orang.‖, ujar Ma Songquan sambil matanya melayang memandang ke kejauhan.
Ding Tao yang terbawa suasana ikut mengangguk-anggukkan kepala.
1532
―Apakah Ketua Ding Tao setuju dengan perkataanku barusan?‖, tanya Ma Sonquan.
―Ya, ya, seandainya saja ada orang demikian. Hanya saja, perbuatannya itu bisa memancing pula salah paham, seperti yang terjadi barusan.‖, ujar Ding Tao.
―Hmm… kalau dia mengumpulkannya dengan cara menantang setiap aliran yang ada untuk bertarung bagaimana?‖, ujar Ma Songquan.
―Wah… tidak baik itu, justru cara demikian akan menanamkan benih-benih permusuhan.‖, ujar Ding Tao sambil menggelengkan kepala.
―Ya, ya… seandainya saja kitab-kitab yang memuat berbagai macam ilmu dari berbagai macam aliran terkumpul di satu tempat… Hehehe, tapi bukankah aku terlalu mengkhayal, hal demikian mana mungkin terjadi?‖, ujar Ma Songquan, mentertawakan sendiri ucapannya.
Tapi justru ucapan Ma Songquan itu membuat Ding Tao tercenung, bukankah apa yang dikatakan Ma Songquan itu justru sudah ada di tangannya saat ini? Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang karena dia menyadari bahwa pada waktu
1533
yang sesaat lamanya, dia sempat mempertimbangkan untuk mempelajari pula ilmu-ilmu yang tertulis dalam kitab-kitab itu.
Karena memikirkan hal itu, maka cepat Ding Tao menggelengkan kepala dan berkata, ―Sekalipun jika ada yang demikian, tidak baik pula jika orang mempelajarinya. Bukankah sama dengan mencuri ilmu namanya?‖
―Tentu saja tidak.‖, jawab Ma Songquan dengan tegas.
―Jika buku-buku itu sampai di tangannya bukan lewat jalan mencuri, bagaimana bisa dikatakan sebagai pencuri? Jika mempelajari sesuatu dianggap mencuri, lalu apa bedanya dengan menyerap ilmu lawan saat bertarung?‖, lanjut Ma Songquan, membuat jantung Ding Tao makin berdebar.
Melihat Ding Tao masih termangu dan tidak menjawab, Ma Songquan pun meneruskan argumentasinya, ―Bukankah peraturan itu dulu muncul karena ada seseorang menggunakan ilmu silat dengan ciri-ciri ilmu milik seorang guru yang melakukan kejahatan. Melihat ciri-ciri itu, orang pun menduga bahwa guru silat itu atau muridnya sudah berbuat kejahatan. Belajar dari pengalaman itu, maka dibuatlah aturan yang ketat, agar pewaris dari satu ilmu bukanlah orang sembarangan.‖
1534
―Tapi coba lihatlah sekarang, murid keluaran dari perguruan besar yang kemudian mencari makan dengan menjadi guru silat. Tidak ada yang namanya ilmu rahasia, jika uang sudah di depan mata dan perut kelaparan. Tidak sedikit ilmu rahasia yang tersebar dengan cara demikian.‖
―Hmm… Kakak Ma Songquan, bukankah justru itu menunjukkan sisi buruk dari mempelajari ilmu orang lain?‖, ujar Ding Tao berusaha menyanggah.
―Hee… justru itu menunjukkan betapa konyolnya aturan tentang mencuri ilmu itu. Lebih baik jika ilmu itu dipelajari dengan niat yang benar, entah bagaimana caranya. Daripada dipelajari lewat jalur yang benar, namun dengan niat yang tidak benar. Atau dengan iman yang kurang kokoh, lalu hanya jadi alat untuk mengisi perut yang lapar.‖, ujar Ma Songquan membalas bantahan Ding Tao.
―Selain itu, bukankah kita tadi sudah sepakat, bahwa sebenarnya semua ilmu itu bersumber dari satu ilmu yang sama. Jika demikian, bagaimana bisa dikatakan mencuri? Bukankah ketika mempelajari ilmu aliran lain, sebenarnya yang dipelajari hanyalah percabangan dari ilmu kita sendiri?‖, sambung Chu Linhe yang dari tadi diam saja mendengarkan.
1535
―Orang besar harus bisa melihat dari sudut pandang yang luas baru menentukan benar tidaknya satu masalah. Tidak boleh terlalu terikat pada kebiasaan, tanpa mau memahami konteksnya. Mengerti semangatnya, dan tidak terikat pada bentuknya. Seperti seorang hakim harus mengerti keadilan dan bukan sekedar mengerti peraturan.‖, ujar Ma Songquan lebih lanjut.
Mendengarkan perkataan kedua orang itu, Ding Tao pun jadi termangu-mangu. Teringat pula dengan perdebatannya melawan Murong Yun Hua mengenai masalah yang sama. Sekarang dia melihat pula dari sisi yang berbeda dan dari dua orang yang berbeda. Mau tidak mau Ding Tao pun jadi semakin ragu akan keputusannya yang terdahulu, sewaktu dia menolak tawaran Murong Yun Hua.
―Hee… mengapa melamun? Ketua Ding Tao, sudahlah, maafkan aku kalau tadinya aku sempat curiga padamu.‖, ujar Ma Songquan sambil menepuk pundak Ding Tao, membangunkan dia dari lamunannya.
―Ah, ya. Tidak apa-apa, justru aku yang merasa tidak enak hati pada Kakak Ma Songquan.‖, ujar Ding Tao.
1536
―Baiklah kalau begitu, aku akan menemui mereka yang akan ikut berangkat denganku menuju ke Guiyang hari ini.‖, ujar Ma Songquan.
―Ya…, apakah tidak beristirahat lebih dulu? Kita bisa duduk-duduk dulu sebentar sambil mengobrol.‖, ujar Ding Tao.
―Hmmm… harusnya begitu, tapi kulihat Ketua Ding Tao sepertinya ada yang sedang dipikirkan. Mungkin itu karena kesalahanku barusan juga yang terburu-buru menuduh tanpa menyelidik terlebih dahulu.‖, ujar Ma Songquan.
―Maafkan kami Ketua Ding Tao, padahal kalau dipikirkan lagi, bukankah kita juga sering bercakap-cakap dan bertukar pikiran mengenai ilmu kita masing-masing. Entah mengapa tiba-tiba kami jadi kesal oleh masalah kecil.‖, ujar Chu Linhe sambil tersenyum manis.
―Sudahlah… memang saat ini hatiku gundah memikirkan sesuatu dan hal itu timbul setelah percakapan kita barusan. Namun bukan karena aku tersinggung oleh ucapan kalian. Hanya saja kalian baru saja mengingatkan aku tentang sesuatu.‖, jawab Ding Tao dengan sungguh-sungguh.
1537
―Syukurlah kalau begitu, kuharap Ketua Ding Tao bisa cepat menyelesaikan masalah yang mengganggu pikiran Ketua Ding Tao. Bagaimanapun juga, pemilihan Wuling Mengzhu semakin lama semakin dekat. Ketua Ding Tao sebagai orang yang mewakili harapan kami semua, harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.‖, kata Chu Linhe dengan manis.
―Ya… masalah lain tidak usah dipikirkan, Ketua Ding Tao cukup berkonsentrasi saja untuk meningkatkan ilmu Ketua Ding Tao. Kukira pertarungan antara Ketua Ding Tao dan Tetua Xun Siaoma cukup membuka mata. Ada banyak jagoan di luar sana yang ilmunya sukar dijajaki.‖, sambung Ma Songquan.
―Sebenarnya aku yakin kalau Ketua Ding Tao tidak kalah dengan mereka dalam hal bakat, hanya sayang pengalaman Ketua Ding Tao masih kalah jauh dengan mereka.‖, ujar Chu Linhe ke arah suaminya.
―Aku sependapat, dengan banyaknya pengalaman, otomatis semakin banyak jenis ilmu silat yang pernah dihadapi dan dilihat. Ilmu kita sendiri menjadi semakin kaya. Pikiran kita juga jadi semakin berkembang.‖, jawab Ma Songquan pada Chu Linhe.
1538
―Sudahlah, ayo kita pamit sekarang. Soal itu tidak ada jalan keluarnya, yang bisa kita lakukan hanya membantu Ketua Ding Tao sebisanya, kecuali bila kita memiliki perpustakaan seperti Shaolin, mungkin ada gunanya kita berbicara tentang hal itu.‖, ujar Chu Linhe sambil menarik ujung baju suaminya.
―Ya… benar… orang-orang Shaolin memiliki perpustakaan yang sangat lengkap. Entah ada kitab apa saja di dalam perpustakaan mereka. Kalau saja mereka memperbolehkan orang luar untuk melihatnya, mungkin tidak ada salahnya kita mengajak Ketua Ding Tao untuk berkunjung ke sana.‖, ujar Ma Songquan menyesali keadaan.
―Ah sudahlah, Ketua Ding Tao, kami pamit dulu.‖, ujar Ma Songquan mengakhiri pembicaraan mereka.
―Ya.. hati-hatilah kalian di jalan. Maaf aku tidak bisa membantu banyak. Sebenarnya ingin juga aku ikut pergi berangkat.‖, ujar Ding Tao dengan tulus.
―Hah! Kecoak kecil macam mereka cukup ketua serahkan pada kami sekalian. Tugas ketua justru lebih berat, lawan-lawan yang nanti akan muncul pada pertemuan Wulin Mengzhu tentu tidak akan bisa dibandingkan dengan lawan yang akan kami hadapi
1539
beberapa hari lagi. Bukan tidak mungkin, dedengkot-dedengkot macam Tetua Xun Siaoma juga akan bermunculan di sana.‖, ujar Ma Songquan sambil tertawa lebar.
Sekali lagi sepasang suami isteri itu pun berpamitan dan akhirnya mereka meninggalkan Ding Tao sendirian dalam ruang latihannya. Setelah mereka berdua pergi, Ding Tao tidak segera beranjak dari tempatnya. Dia justru menutup pintu ruang latihan dan pergi ke tengah ruangan. Perlahan-lahan dia mulai bertarung dengan bayangannya sendiri. Entah untuk ke berapa kalinya Ding Tao berhadapan dengan bayangan Xun Siaoma. Sampai sekarang pun dia belum berhasil meyakinkan dirinya bahwa dia dapat menang melawan Tetua Xun Siaoma jika harus berhadapan untuk kedua kalinya. Bukan karena dendam jika Ding Tao sering berlatih dengan mambayangkan dirinya sedang berhadapan dengan Xun Siaoma. Tapi karena Xun Siaoma adalah lawan terkuat yang pernah dia hadapi dan Ding Tao sadar dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu tentu akan ada lawan-lawan setangguh Xun Siaoma atau bahkan lebih tangguh darinya.
Sebenarnya sulit dikatakan, apakah benar jika Ding Tao bertemu dengan Xun Siaoma untuk kedua kalinya, pemuda itu akan kalah untuk kedua kalinya. Bayangan Xun Siaoma dalam
1540
benak Ding Tao, tidak mewakili Xun Siaoma yang sesungguhnya. Apalagi pemuda itu memandang Xun Siaoma sebagai orang yang dituakan, seorang pendekar pedang legendaris, dengan sendirinya, Xun Siaoma yang muncul dalam bayangannya beberapa kali lebih tangguh dari kenyataannya.
Meskipun demikian pemikiran itu tidak pernah terlintas dalam benak Ding Tao. Perasaan rendah dirinya tidak mudah diobati. Sudah bertahun dia merasa diri lebih rendah ilmunya dibandingkan orang lain. Kemenangan yang pernah dia raih hanya mampu meningkatkan sedikit keyakinan dalam dirinya dan yang sedikit itu hilang lenyap begitu dia berhadapan dengan Pan Jun dan Xun Siaoma.
Baiknya Ding Tao bukan orang yang mudah berputus asa, rasa tanggung jawab yang kuat menyebabkan dia bekerja berkali lipat lebih keras untuk menutupi kekurangannya.
Tapi latihan kali ini berbeda dengan latihan biasanya. Jika biasanya Ding Tao berkonsentrasi penuh, berusaha memecahkan serangan-serangan Xun Siaoma yang muncul dalam benaknya. Kali ini dia mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi, tidak jarang saat dia hendak bergerak, teringatlah dia dari mana dia mengambil gerakan itu.
1541
Terkadang gerakan yang hendak dia pakai adalah gerakan yang dia ―curi‖ dari Liu Chuncao, ada kalanya gerakan itu dia dapatkan saat berlatih melawan Wang Xiaho, atau gerakan dari Ma Songquan dan Chu Linhe. Bahkan ada pula gerakan-gerakan yang dia serap dari pertarungannya melawan Pan Jun dan Xun Siaoma sendiri.
Akhirnya pemuda itu menjatuhkan dirinya ke lantai dan merenungi kembali percakapannya dengan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Teringat pula dengan kumpulan kitab yang dibawa Murong Yun Hua dari rumahnya yang lama. Rumah warisan turun temurun, milik keluarga Murong. Sesaat kemudian terlintas lagi dalam benaknya, pertemuan untuk memilih Wulin Mengzhu, entah sejak kapan, setiap orang mulai menaruh harapan pada dirinya untuk merebut kedudukan itu. Jika dia gagal, berapa banyak orang yang akan merasa kecewa?
Murong Yun Hua mengatakan wataknya yang terlalu kaku mengikuti adat istiadat akan merugikan dirinya dan juga orang lain yang bergantung padanya. Sebelumnya Ding Tao berkeras bahwa adat istiadat terbentuk karena alasan tertentu dan dia tidak ingin menganggap dirinya lebih bijak daripada orang lain,
1542
hingga dia bisa menentukan mana yang harus diikuti dan mana yang bisa dilanggar. Berbeda memang dengan pandangan Murong Yun Hua, apalagi dengan pandangan Ma Songquan dan Chu Linhe.
Jika Ding Tao lebih suka berjalan mengikuti adat yang ada dan hidup dalam keselarasan dengan masyarakat di sekitarnya. Murong Yun Hua berpendapat, jika dia yakin akan kebenaran tindakannya, maka dia akan melakukan hal itu, meskipun hal itu bertentangan dengan pendapat orang banyak.
Ding Tao tidak menyukai konflik, sebisa mungkin dia menghindarinya. Namun akhir-akhir ini, kedudukannya menempatkan dia di posisi di mana dia tidak bisa menghindari konflik. Tidak jarang pilihan yang ada hanyalah konflik kecil atau konflik besar. Apa yang dia pandang adil dan sepantasnya, tidak jarang dipandang berat sebelah bagi pihak yang dirugikan oleh keputusannya. Sungguh menjadi seorang ketua bukan urusan yang mudah. Beruntung ada orang-orang yang bersedia memberikan nasihat padanya. Meskipun tidak jarang akhirnya Ding Tao memilih mengambil keputusan yang merugikan partai, tapi tidak melanggar hati nuraninya daripada keputusan yang menguntungkan mereka namun tidak sesuai dengan hati nuraninya.
1543
Jika demikian yang terjadi, maka biasanya Chou Liang-lah yang bekerja keras untuk meminimalkan kehilangan mereka, sambil menggunakan hal itu untuk membangun reputasi Ding Tao sebagai orang yang adil.
Perselisihan baik kecil maupun besar, dalam dunia persilatan, tidak urung membawa korban. Itu sebabnya keteguhan Ding Tao untuk menolak belajar dari kitab-kitab pemberian Murong Yun Hua pun mulai goyah. Jika dibandingkan korban jiwa yang sering terjadi akibat keputusannya. Sekedar melanggar sopan santun dunia persilatan dengan mempelajari ilmu-ilmu aliran lain terlihat begitu remeh.
Ding Tao masih duduk merenungkan cara untuk mengalahkan Tetua Xun Siaoma, ketika dia mendengar suara pintu diketuk.
―Siapa itu?‖, tanya Ding Tao sambil bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya.
―Aku ketua… Chou Liang‖, sahut orang yang berada di luar.
Mengenali suara Chou Liang, Ding Tao pun bertanya-tanya dalam hati, tidak biasanya Chou Liang mengganggu jam latihannya. Dengan segera dia berjalan untuk membukakan pintu.
1544
―Kakak Chou Liang, mari masuk. Ada apakah gerangan hingga kakak mencariku? Apakah ada masalah yang gawat?‖, tanya Ding Tao setelah membukakan pintu buat Chou Liang.
Sembari berjalan bersama Ding Tao masuk ke dalam, menuju ke salah satu bangku-bangku panjang yang berada di ke empat sisi ruangan, Chou Liang menjawab, ―Tidak ada masalah gawat yang muncul.Hanya saja aku agak heran, mengapa Ketua Ding Tao tidak ikut mengantar kepergian Saudara Ma Songquan dan Nyonya Chu Linhe berangkat. Apakah Ketua Ding Tao merasa kurang sehat?‖
―Oh, begitu rupanya… Tidak ada apa-apa, hanya saja percakapan kami mengingatkanku akan kemampuanku yang masih kurang. Sehingga aku ingin berlatih dan mencoba menguraikan beberapa masalah.‖, jawab Ding Tao sambil duduk ke salah satu bangku yang ada.
―Oh… jadi bagaimana dengan hasil latihan Ketua Ding Tao selama ini? Apakah akhirnya Ketua Ding Tao berhasil menemukan cara untuk menang melawan Tetua Xun Siaoma?‖, ujar Chou Liang sambil menganggukkan kepala tanda mengerti.
1545
Sudah sering mereka bercakap-cakap. Chou Liang pun sudah tahu benar, bagaimana Ding Tao akhir-akhir ini berlatih melawan bayangan Xun Siaoma yang ada dalam benaknya. Hampir tidak ada hal yang disembunyikan Ding Tao dari Chou Liang. Chou Liang sendiri orang yang pandai mengajak bicara dan mengorek keterangan dari lawan bicaranya.
Ditanya demikian oleh Chou Liang, Ding Tao hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum getir, ―Sayangnya tidak… meskipun sudah ada kemajuan, namun pada akhirnya aku selalu berhasil dikalahkan olehnya.‖
Chou Liang tersenyum menenangkan, ―Ketua jangan berkecil hati…, aku juga sering bermain catur melawan diriku sendiri untuk membuang-buang waktu dan tahu betapa sulitnya untuk menang, sementara diriku tahu apa maksud dari setiap langkah yang kujalankan.‖
Ding Tao tertawa kecil, ―Ya… bisa juga demikian… Entahlah, aku hanya tidak memiliki keyakinan yang cukup tentang pemilihan Wulin Mengzhu yang akan diadakan. Kakak Chou Liang, seandainya aku tidak berhasil menduduki kursi itu, apakah menimbulkan banyak masalah?‖
1546
―Hmm… seandainya tidak ada kejadian pembantaian keluarga Huang di kota Wuling mungkin keadaannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Meskipun menurut pendapatku tidak ada banyak bedanya. Yang jadi masalah adalah adanya gerakan Ren Zuocan yang diam-diam menjalin hubungan dengan tokoh persilatan dari dalam perbatasan. Siapa orangnya masih gelap, yang terlihat hanya cecunguk macam Tiong Fa. Tapi dari keterlibatan seorang tokoh semacam Pan Jun, bisa kita bayangkan, kekuatan mereka tidak bisa diremehkan. Jika mereka juga ikut dalam pemilihan tersebut…‖, jawab Chou Liang dengan akhir yang menggantung.
―Bisa jadi, orang yang menjadi Wulin Mengzhu tidak lain adalah kaki tangan Ren Zuocan.‖, ujar Ding Tao menyelesaikan jawaban Chou Liang.
―Ya… benar…, bisa jadi kedudukan tersebut justru dipegang oleh orang yang sudah menjalin hubungan dengan Ren Zuocan. Satu-satunya jalan untuk memastikan bahwa hal itu tidak terjadi, Ketua Ding Tao harus bisa memenangkan kedudukan tersebut.‖, jawab Chou Liang serius.
―Jika kita berpikir demikian, bukankah juga banyak di luar sana yang berpikiran sama? Kemudian apa yang akan terjadi dalam
1547
pemilihan nanti? Sesama patriot yang cinta negara akan saling berlawanan demi sebuah kedudukan, didorong oleh ketakutan yang sama. Pada akhirnya Ren Zuocan tetap saja akan mengambil keuntungan.‖, keluh Ding Tao dengan sedih.
―Ketua Ding Tao benar, dengan adanya lawan yang tersembunyi dalam gelap seperti saat ini. Kita berada di posisi yang serba salah. Tapi kukira masih ada kemungkinan untuk menghindari bentrokan yang merugikan pihak sendiri.‖, ucap Chou Liang dengan sungguh-sungguh.
―Benarkah itu Kakak Chou Liang? Cara apa itu?‖, tanya Ding Tao penuh perhatian.
―Hanya saja, cara ini … Ketua Ding Tao tidak perlu pikirkan terlalu mendalam. Cara ini memang bisa dikatakan cara yang terbail. Hanya sayang, dalam pelaksanaannya terlampau bergantung pada satu orang.‖, jawab Chou Liang sambil menggelengkan kepalanya, menolak sendiri usulan yang dia ajukan.
―Tunggu dulu, jangan terburu memutuskan sesuatu. Coba kakak ceritakan dulu cara yang kakak maksudkan. Jika memang cara ini bisa menghindarkan jatuhnya banyak korban.
1548
Meskipun harus mengorbankan diriku sendiri, aku tidak keberatan mencobanya.‖, desak Ding Tao dengan penuh harap.
Chou Liang terdiam dan berpikir beberapa lama, sementara Ding Tao menunggu jawaban darinya dengan tidak sabar. Beberapa kali Chou Liang seperti ingin mengatakan sesuatu namun dibatalkan.
Akhirnya Chou Liang berbicara juga, meskipun dengan wajah serba susah, ―Cara ini kalau kupikir lagi sebenarnya bisa dikatakan bukan cara yang baik. Tapi kakau Ketua Ding Tao mau tahu, baiklah akan kukatakan.‖
―Jika dalam perebutan kursi Wulin Mengzhu itu, Ketua Ding Tao bisa menunjukkan kemampuan yang jauh melampaui kemampuan dari semua peserta yang ada. Dengan sendirinya mereka yang melihat hal itu akan mundur sebelum mencoba. Dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi dari lawan, Ketua Ding Tao juga tentunya akan mampu mengalahkan lawan tanpa melukainya.‖, ujar Chou Liang sambil tersenyum kecut.
Mendengar jawaban Chou Liang, Ding Tao pun menggelengkan kepala dengan sedih, ―Bisa jadi benar, tapi hal
1549
itu mana mungkin terjadi. Melawan Tetua Xun Siaoma saja aku masih belum memiliki keyakinan. Apalagi hendak menundukkan semua lawan dalam perebutan kedudukan Wulin Mengzhu dengan gemilang.‖
Chou Liang menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum kecut, ―Ya… bukankah sudah kukatakan. Untuk sejenak lamanya cara itu seperti cara yang baik. Hanya sayang terlalu tidak masuk akal. Sama saja seperti mengharapkan langit menurunkan dewa bermata tiga untuk berdiri di pihak kita.‖
Ding Tao ikut tersenyum kecut mendengar perkataan Chou Liang itu.
Menghela nafas panjang, Chou Liang pun berkata, ―Yah… begitulah, mengharapakan keajaiban terjadi memang tidak salah, hanya saja kita harus berusaha sekuat tenaga kita tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Andai saja ada cara agar Ketua Ding Tao bisa mempelajari ilmu-ilmu dari setiap aliran. Bukankah dikatakakan dalam seni berperang, tahu diri sendiri dan lawan, 100 kali berperang, 100 kali menang.‖
1550
Tergerak hati Ding Tao mendengar perkataan Chou Liang, tahu diri sendiri dan tahu lawan, 100 kali berperang, 100 kali menang. Jika dia mempelajari kitab-kitab yang dibawa Murong Yun Hua, bukankah hal itu akan jadi kenyataan? Jika dia tahu setiap gerak tipu, serangan dan pertahanan lawan, maka dengan mudah dia bisa bertahan dan menyerang. Dalam bertarung pun dia tidak perlu menirukan gerakan lawan, yang penting dia sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh lawan, tentu dia dapat memikirkan cara untuk mematahkannya.
Melihat Ding Tao termenung, Chou Liang pun cepat-cepat berkata, ―Sudahlah Ketua Ding Tao, jangan dipikirkan perkataan ngawurku tadi. Asalkan ketua bisa menunjukkan bahwa ilmu ketua tidaklah di bawah peserta yang lain, hal itu sudah cukup. Percayalah, Chou Liang akan berusaha menggalang kekuatan untuk memastikan keberhasilan ketua. Dalam kenyataannya dukungan dari sahabat-sahabat Partai Pedang Keadilan cukup besar.‖
Ding Tao hanya menganggukkan kepala setengah hati, menanggapi usaha Chou Liang untuk menghibur dirinya itu.
―Apakah Ketua Ding Tao ingin melanjutkan kembali latihan?‖, tanya Chou Liang bersiap untuk berpamitan.
1551
―Ya, waktu yang tersisa ingin kugunakan sebaik-baiknya. Moga-moga pada waktunya nanti aku tidak mengecewakan kalian semua.‖, jawab Ding Tao.
―Baiklah kalau begitu aku pamit lebih dahulu. Kuharap Ketua Ding Tao, jangan pula terlalu memaksakan diri. Setiap manusia memang ada keterbatasan, asalkan ketua sudah berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya pada pemilihan Wulin Mengzhu nanti, tidak ada yang perlu disesalkan.‖, ujar Chou Liang.
Setelah sekali lagi berpamitan, Chou Liang akhirnya meninggalkan Ding Tao sendirian didalam ruang latihan. Setelah menutup pintu, Ding Tao berjalan ke tengah ruangan, kemudian duduk bersila. Benaknya penuh dengan pertanyaan, tidak terpikir lagi untuk berlatih, melainkan Ding Tao ingin terlebih dahulu mengambil keputusan, akankah dia mempelajari isi dari kitab-kitab yang dibawa Murong Yun Hua ataukah dia akan terus berlatih seperti yang selama ini dia lakukan?
Sambil menggigit bibir Ding Tao pun bertanya pada diri sendiri, apakah terus berlatih seperti yang dia lakukan selama ini, akan membawa dia melangkah lebih jauh lagi? Ataukah kemampuannya untuk mengembangkan diri sudah sampai
1552
pada batasnya? Teringat dahulu ketika dia hendak mengikuti ujian kenaikan tingkat dalam keluarga Huang, melatih jurus-jurus yang sama, mencoba menyelaminya, semuanya terasa seperti membenturkan diri melawan tembok yang kokoh. Namun saat pencerahan itu datang, terobosan itu terjadi dan tiba-tiba dia memahami segala sesuatunya dengan pengertian yang lebih dalam.
Saat ini pun dia mengharapkan hal yang sama. Berbulan-bulan lamanya, dia menghabiskan sekian banyak waktu untuk memerah tenaga dan pikiran, tapi masih saja mendapati jalan buntu. Dia menantikan saat-saat di mana pikirannya berhasil memecahkan kebuntuan itu, namun saat itu tidak juga kunjung datang.
Di saat yang sama, Murong Yun Hua sudah menyediakan jawaban bagi persoalan yang dia hadapi. Jika dia tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah dihadirkan ini, apakah masih bisa dikatakan bahwa dia sudah berusaha sekuat tenaga? Jika sampai jatuh banyak korban dalam pertemuan Wulin Mengzhu nanti, apakah dia bisa tidur dengan nyenyak, mengetahui bahwa dia memiliki kesempatan untuk mencegah hal itu terjadi namun tidak mengambilnya?
1553
Lama Ding Tao menutup mata dalam sikap duduk bersila. Lama dia berpikir, menimbang dan bertanya. Akhirnya dia membuka mata dengan satu keputusan sudah terbentuk dalam hatinya. Ding Tao pun berjalan keluar dari ruangan latihan itu, pergi menuju ke tempat dia tinggal bersama kedua isterinya. Ada kalanya seseorang harus mengaku bahwa sikap yang dia ambil tidaklah tepat. Banyak orang merasa malu untuk mengakui kesalahan, padahal berkeras pada hal yang salah justru menunjukkan kekerdilan hati seseorang. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, hanya saja ada yang berani mengakuinya dan ada yang tidak mau mengakuinya

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Novel Dewasa Silat : PAB 8 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 06 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments