Cerita Legendaris Mandarin : Sampek Engtay 3 tamat

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Legendaris Mandarin : Sampek Engtay 3 tamat
baca juga:
-Cerita Legendaris Mandarin : Sampek Engtay 3 tamat
17
Pertemuan Terakhir
NIO San Pek telah berpulang, keluarga Nio tenggelam
dalam duka yang amat sangat. Tetapi Ciu Po teringat
pesan putranya, segera ia berkata pada Su Kiu: “Kau
jangan pikirkan urusan di sini, segera kamu naik kuda
dan pergi ke dusun Ciok untuk menyampaikan pesan Tuan
Mudamu. Katakan padanya, ini soal pertemuan terakhir,
karenanya jenazah San Pek tidak segera ku urus....”
Su Kiu, dalam kedukaannya, menerima perintah itu.
“Bila kamu naik kuda, mungkin kamu tiba di sana
tengah malam,” kata sang majikan pula. “Kalau demikian,
jangan segera mengetuk pintu, tetapi tunggu sampai
terang tanah. Lihat saja, kapan kau dapat pulang kembali.”
“Baik, Tuan Besar, besok malam pasti abdimu sudah
dapat pulang,” kata Su Kiu, yang terus saja
mengundurkan diri untuk segera memulai pejalanannya.
Abdi ini menjalankan tugasnya dengan sungguhsungguh
dan cerdik. Ia tiba di dusun Ciok mendekati fajar.
Ia beristirahat dulu di perhentian. Setelah terang, barulah
ia menghampiri pintu rumah keluarga Ciok. Ia dikenal baik
oleh pengawal pintu maka segera saja ia diajak masuk,
sedang kudanya diurus oleh orang lain. Ia pun diantar
sampai ke bawah loteng Hwe Sim Law, persis di saat Gin
Sim muncul dengan membawa setangkai bunga. Gin Sim
tertegun.
“Eh, Kakak Su Kiu!” tegurnya. “Kau datang pagi sekali!
“Ya, sejak tadi, menjelang fajar,” jawab Su Kiu. “Bagaimana
dengan Tuan Muda Nio?” tanya Gin Sim segera. “Apakah
dia baik-baik saja?”
Su Kiu memperhatikan paras sangat berduka.
“Ia telah tiada,” sahutnya perlahan. “Inilah sebabnya
aku datang ke mari....”
Gin Sim terperanjat hingga bunga di tangannya terlepas
dan jatuh ke lantai.
“Oh...,” serunya. “Tuan Muda Nio meninggal....”
Su Kiu menjalankan tugasnya, segera ia minta Gin Sim
menyampaikan pesan kepada majikannya.
Tetapi Gin Sim masih berkata: “Hari ketika Tuan Muda
Nio muntah darah, aku telah mendapat firasat buruk
sedangkan tadi malam sesudah pukul tiga pagi, Nonaku
tiba-tiba mendusin dalam keadaan kaget, hingga aku turut
terbangun. Aku berharap hari ini akan datang berita
bahwa Tuan Muda Nio sudah sembuh. Oh, tak disangka, ia
justru meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya....”
“Ah, sudahlah, lebih baik lekas kabarkan Nonamu, kata
Su Kiu.
“Sabar,” sahut si kawan, “sebentar setelah aku
mengajak Nona naik ke loteng, baru kau bicara dengannya.
Kau bicara dengan tenang. Jika tidak, Nona bisa kaget,
roboh serta menangis. Kalau Tuan Besar dan Nyonya Besar
tahu, itu tidak baik....”
Su Kiu mengerti, ia menurut dan menunggu.
Gin Sim mengusap air-matanya, terus ia berlalu. Setiba
ia di kamar si majikan, Eng Tay persis akan ke luar. Gadis
ini heran melihat abdinya tidak membawa apa-apa.
“Mana bunganya?” tanyanya, kemudian.
Gin Sim menggelengkan kepala.
“Mari kita naik ke loteng, Non,” katanya. “Ada kabar
penting.”
Bahkan abdi ini segera berjalan mendahului.
Eng Tay heran, ia menerka-nerka. Tak biasanya abdinya
berlaku seperti ini, namun ia mengikuti.
Setibanya di loteng, Gin Sim memandang si majikan,
yang sikapnya masih biasa-biasa saja.
“Ada berita mengenai Tuan Muda Nio,” kata abdi ini
kemudian.
“Apakah dia sudah sembuh?” tanya gadis itu.
“Sekarang Su Kiu ada di bawah loteng, kalau Nona
tanyakan dia, Nona akan mengerti,” kata abdi itu, yang
tidak mau sembarang bicara.
“Kalau begitu, suruh dia naik ke mari,” perintah Eng
Tay, sepasang alisnya berkerut.
Gin Sim pergi ke mulut tangga.
“Su Kiu!” panggilnya.
Su Kiu muncul dengan cepat. Di depan Eng Tay, ia
berlutut memberi hormat.
“Apakah Tuan Muda Nio sudah sembuh?” tanya nona
rumah tak sabar.
“Tenang, Tuan Muda,” jawab Su Kiu. “Sebenarnya, Tuan
Muda Nio kami telah berpulang tadi malam....”
Eng Tay kaget bukan main, hingga ia harus memegang
meja erat-erat. Wajah pun lantas berubah menjadi pucatpasi.
“Ia meninggal?” tanyanya, menegaskan.
“Benar Tuan Muda, tadi malam,” jawab Su Kiu.
Eng Tay jatuh terduduk di kursi, airmatanya segera
mengucur deras. Ia menangis tersedu-sedu. Beberapa
lama, ia diam saja.
Su Kiu bangkit dan berdiri terpaku, ia pun menangis.
Gin Sim, dengan air-mata berlinang-linang, menghampiri
majikannya.
“Sudahlah Nona, tenanglah,” katanya. “Masih ada yang
ingin disampaikan Su Kiu....”
Eng Tay mengusap airmatanya, ia mencoba
menenangkan diri.
“Katakanlah, apa pesan Tuan Muda Nio sebelum tiada?”
“Di saat Tuan Muda menghembuskan napas terakhir,
aku ada bersamanya,” kata Su Kiu, “tetapi setelah ia tiada,
aku segera berangkat ke mari untuk menyampaikan kabar.
Tuan Muda hanya berpesan, sebelum jenazahnya diurus,
dia menantikan kedatangan Nona untuk pertemuan yang
terakhir.”
Mendadak saja, Eng Tay bangkit berdiri. “Ya, aku pergi!
Aku pergi!” katanya. “Lekas siapkan kereta...!”
“Tetapi, Non,” kata Gin Sim, “kalau kita pergi, Tuan
Besar dan Nyonya Besar perlu diberi tahu lebih dulu....”
“Tetapi,” kata Eng Tay, “bagaimana kalau Papa dan
Mama melarangku...?”
“Namun, Non,” kata Gin Sim, “tanpa memberitahu Tuan
Besar dan Nyonya Besar, siapa berani menyiapkan kereta
ataupun joli?”
“Baiklah, aku mengerti,” kata Eng Tay. “Sekarang juga
aku akan menemui Papa dan Mama. Kalau Papa dan
Mama mengizinkan, aku pergi, jika tidak, aku rela mati
demi Kakak Nio!”
“Tenanglah, Non “ kata Gin Sim. “Kita lihat dulu....”
“Kalau begitu, baiklah, mari kita pergi bersama,” kata
Eng Tay, yang masih dapat menenangkan diri. “Su Kiu,
kau tunggu di bawah loteng.”
Su Kiu meng-iya-kan, ia menuruni loteng.
Eng Tay yang didampingi Gin Sim segera pergi ke kamar
kedua orangtuanya.
Kong Wan dan Teng-si baru selesai berdandan. Teng-si
heran melihat kedatangan putrinya, bahkan gadis itu
tampak habis menangis.
“Ada apa, Nak, pagi-pagi kau kelihatannya tidak
senang?” tegur ibunya
“Baru saja datang utusan keluarga Nio yang
mengabarkan bahwa Nio San Pek telah meninggal dunia,”
sahut Eng Tay langsung.
Teng-si terperanjat. Juga Kong Wan.
“Ah, dia meninggal dunia?” tanya ayah dan ibunya itu.
“Bersama San Pek aku tinggal selama tiga tahun, kami
sudah seperti saudara,” kata putrinya, “maka dari itu
sekarang, setelah ia meninggal dunia, aku hendak pergi
menjenguknya. Kini aku datang memberitahu.”
Kong Wan dan Teng-si, yang duduk bersebelahan,
tampak heran.
“Apa? Kau hendak menjenguknya?” tanya ayahnya.
“Benar, Pa!” jawab putrinya, singkat.
“Nak, janganlah berpikir yang tidak-tidak,” kata
ayahnya lagi. “Kau harus ingat, kau adalah anakku, kau
adalah seorang gadis terhormat, bahkan, kau adalah calon
menantu keluarga Ma Thay-siu! Juga, tidak seharusnya
kau sembarang keluar rumah! Di samping itu, putra
keluarga Nio itu mati muda, itulah pertanda keluarga yang
tidak beruntung. Tidak, Nak, kau tidak boleh pergi!”
“Tetapi, Pa, Aku ini senasib,” kata Eng Tay. “Dia tidak
beruntung, aku lebih malang lagi! Pa, terpaksa aku harus
pergi!”
Suara gadis itu keras dan mantap.
“Nak, apakah kau tidak takut jika keluarga Ma nanti
menyalahkan kita?” kata ayahnya lagi.
Eng Tay mengawasi ayahnya. Ia melihat di jendela
tergantung sebuah gunting yang tajam, disambarnya
gunting itu dengan tangan kanannya, dan digunakannya
untuk mengancam. Ia berkata. “Sebaiknya Papa izinkan
aku pergi! Kalau tidak, gunting yang ada di tanganku ini
akan ku tikamkan ke tubuhku, di hadapan Papa!” Teng-si
kaget bukan kepalang.
“Jangan Nak!” jeritnya. “Letakkan gunting itu! Kalau
kau mau juga pergi, pergilah! Jangan kau gunakan gunting
itu....”
“Tetapi Papa belum memberi izin,” kata gadis itu seraya
berpaling pada papanya bagaikan orang yang menantikan
keputusan hakim.
“Baiklah!” kata Kong Wan. “Kau boleh pergi tetapi ada
tiga syarat!”
“Apa tiga syarat itu, Pa?”
“Pertama-tama ku larang kau berpakaian berkabung,”
kata ayah yang kolot itu. “Kedua, kau harus membawa
beberapa pengikut. Dan ketiga, kau harus lekas pergi dan
lekas pulang!
“Baik Pa, ketiga syarat Papa ku terima semua!” kata
putrinya, yang hatinya lega. “Tetapi aku hendak mengajak
Gin Sim. Yang lainnya, boleh Papa kirim siapa saja.”
“Bagus, Nak!” kata Teng-si, si ibu yang juga lega
hatinya. “Sekarang pergilah tukar pakaian! Kau, Gin Sim,
kau ikut Nonamu. Di sepanjang jalan, kau harus melayani
dan menjaganya baik-baik!”
“Baik, Nyonya Besar,” janji si abdi.
Eng Tay melepaskan guntingnya, terus ia kembali ke
kamarnya.
Su Kiu, yang menanti di bawah loteng, segera juga
memperoleh berita. Sambil menunggu, ia pergi bersantap.
Eng Tay bertukar pakaian, lalu ia siapkan pakaian
lainnya. Ia tidak memakai kembang dan pita merah di
rambutnya, juga tidak memakai bedak. Segera saja ia telah
ke luar dan terus naik kereta yang sudah tersedia. Gin Sim
turut serta dengan membawa sebuah buntalan. Ada dua
orang lain yang ikut, yaitu kusir kereta, dan Ong Sun yang
menunggang kuda. Su Kiu, dengan kudanya, berjalan di
depan.
Perjalanan dilakukan terus-menerus tanpa istirahat,
malah diusahakan secepat mungkin. Maka, tidak lama
kemudian sampailah mereka di depan pintu rumah
keluarga Nio.
Eng Tay, sebelum turun dari kereta, mengenakan lebih
dulu pakaian putih dan juga membungkus rambutnya
dengan sapu-tangan putih. Gin Sim turun lebih dulu
untuk membantu nona majikannya turun dari kereta.
Su Kiu sudah berlari mendahului untuk memberi kabar
tentang datangnya tamu. Maka, pintu depan pun lantas
dibentangkan dan beberapa bujang sudah menantikan
untuk menyambut. Mereka kagum melihat sang tamu,
seorang gadis ayu sekalipun berdandan serba putih,
pakaian berkabung.
Nio Ciu Po dan Kho-si menyambut tamunya di depan
pintu. Su Kiu mendekati Eng Tay sambil berkata: “Kedua
orang tua ini adalah Tuan Besar dan Nyonya Besar.”
Eng Tay melihat tuan rumah yang berbaju biru dan
berjanggut putih serta parasnya mirip paras San Pek. Khosi
mengenakan baju abu-abu, dia tidak menangis tetapi
pada wajahnya tampak bekas airmata.
Suami-istri tua itu menyambut tamunya dengan ramah.
Di pihak lain, mereka kagum menyaksikan kecantikan si
gadis.
“Nona, kau sediakan diri untuk datang dari tempat yang
jauh, banyak terima kasih!” kata Ciu Po. Demikian juga
kata-kata nyonya rumah.
Eng Tay segera memberi hormat, bahkan ia memegang
erat-erat tangan Kho-si sambil berkata perlahan:
“Kedatanganku tidak ada gunanya, Paman dan Bibi.
Terima kasih, Paman dan Bibi telah menyambut aku.”
“Ini sudah seharusnya, Nona,” kata Ciu Po.
“Bahkan kau kenakan pakaian berkabung, Nona,” kata
Kho-si juga. “Kalau San Pek di dunia sana mengetahui hal
ini, betapa bersyukurnya dia. Mari, mari kita masuk ke
dalam!”
Nyonya rumah ini melangkah masuk sambil memegangi
tangan tamunya. Eng Tay mengikuti. Ciu Po dan Gin Sim
mengiringi mereka.
Tiba di dalam, Eng Tay melepaskan tangannya dari
pegangan nyonya rumah.
“Maafkan Eng Tay yang telah lancang masuk ke mari,”
katanya. “Silakan Paman dan Bibi duduk, aku hendak
memberi hormat!”
Ciu Po dan Kho-si hendak menolak, tetapi tidak dapat.
Bahkan Su Kiu sudah lantas membawakan guderi kecil
untuk orang berlutut guna menjalankan penghormatan.
Suami-istri itu pun duduk dan Eng Tay lantas
menyembah, menjalankan penghormatannya.
Beberapa bujang yang menyaksikan upacara itu
berkata: “Pantas, pantas, tamu datang dari tempat sejauh
seratus li, dia demikian tulus, selayaknya dia
memperlihatkan hormatnya!”
Eng Tay menyembah empat kali, setelah berdiri, ia
menyuruh Gin Sim melakukan hal yang sama.
Ciu Po dan Kho-si sangat terharu dan bersyukur
sekaligus kagum. Nona tamu itu sangat tahu tata cara.
Mereka sangat menyukainya.
Setelah itu Eng Tay bicara.
“Kakak Nio San Pek tiada sejak kemarin, ia belum
dirawat, bukan?” demikian tanyanya.
“Memang belum, Nona,” jawab Ciu Po. “Segala
sesuatunya sudah siap, kami hanya menantikan
kedatangan Nona. San Pek ingin sekali melihat Nona sekali
lagi....”
“Bapak, panggil saja aku tit-li” kata Eng Tay, yang lebih
suka dipanggil tit-li, atau ‘keponakan perempuan’, daripada
dipanggil ‘nona’. “Jangan panggil aku nona. Sekarang aku
ingin melihat Kakak San Pek, siapa yang akan
mengantarkan aku?”
“Baik, tit-li” kata Ciu Po. “Mari ikut aku.”
Eng Tay mengangguk, ia lantas mengikuti.
Setibanya di ruang dalam, di luar dan di dalam kamar
serta di lantai, banyak lilin putih menyala sebagai
pengganti pelita penerang jalan. Di lantai, tubuh San Pek
rebah kaku, ia mengenakan baju biru. Di sekitarnya
terhampar daun pisang, bahkan seprei dan bantal
kepalanya juga memakai lapisan daun serupa. Hanya
kopiahnya, tetap kopiah kaum pelajar. Wajahnya tampak
seperti orang hidup dan matanya masih terbuka. Jari-jari
kedua tangannya yang dilonjorkan, menggenggam
sepasang kupu-kupu kemala.
Segera juga Eng Tay lari menghampiri tubuh yang
sudah tak dapat bergerak itu. Ia malah menjerit.
“Kakak San Pek, aku datang menemuimu! Kau tahu apa
tidak...?” suaranya parau. Setelah itu airmatanya
bercucuran. Ia berlutut di samping tubuh sang ‘kakak’, ia
mengangguk-angguk empat kali.
Gin Sim, tanpa disuruh lagi, turut membungkuk empat
kali juga.
Ketika itu Kho-si datang menyusul. Airmatanya
berlinang-linang. Dengan suara parau ia berkata: “San
Pek, Anakku, bagaimana kau bisa mendapatkan adik
angkat seperti Ciok Hian-tnoy ini? Nak, ia datang
menjengukmu...!”
Kata-kata nyonya rumah ini membuat semua orang
yang berada di situ menangis tersedu-sedu. Tak dapat lagi
mereka menahan rasa haru hati, mereka. Mereka juga
sangat mengagumi sang tamu itu....
“Kakak San Pek, mengapa matamu masih menatap
saja?” tanya Eng Tay. “Inilah yang membuat kami bingung
dan berduka,” kata Ciu Po, sang ayah. “Aku rasa, tit-li, ia
tentu sedang menantikan kedatanganmu. Ia ingin bertemu
satu kali lagi....”
“Kakak Nio, Kakak Nio!” kata Eng Tay memanggilmanggil,
seraya berlutut di sisi tubuh si pemuda. Ia pun
lantas menangis. “Kakak Nio, pertemuan kita di tempat
perhentian dan bersekolahnya kita bersama-sama selama
tiga tahun, ku anggap sebagai saat-saat yang paling
bahagia selama hidup kita, maka siapa sangka bahwa
dalam Buku Pernikahan tak ada nama kita berdua. Aku
pernah membayangkan bahwa pada suatu hari di depan
kita, ada barisan musik berkumandang, di belakang kita
ada iring-iringan kereta terhias kembang, mengantarkan
kita dengan segala kebahagiaan ke rumahmu. Siapa duga
sekarang, aku datang dengan pakaian berkabung; dalam
satu malam seratus li aku jalani hanyalah untuk
menyembahyangimu. Oh, Kakak mengapa kedua matamu
masih belum dirapatkan juga? Mungkinkah kau masih
berat berpisah dari ayah dan ibumu, kau belum ikhlas
meninggalkan mereka?”
Sambil berkata begitu, dengan gerakan tangan yang
lemah-lembut, Eng Tay meraba dan mengusap mata sang
kekasih. Ia pun menangis dengan sangat berduka.
“Kalau benar demikian, Kak, baiklah kau tak usah
khawatirkan,” kata si gadis pula. “Bukankah Kakak masih
punya sanak-keluarga, keponakan umpamanya? Pasti
mereka dapat merawat kedua orangtuamu itu....”
Masih saja gadis itu menangis dan tetap saja kedua
mata San Pek terbuka.
Kembali Eng Tay mengusap-usap mata kekasihnya itu.
“Oh, Kakak,” kata gadis itu lagi, “mungkinkah kau tak
dapat meninggalkan guru kita serta teman-teman sekolah
di Ni San? Atau, apakah kau menyesal tidak akan ada
orang yang berkabung untukmu? Atau, apakah mungkin
karena kepandaianmu yang kau bawa pergi secara sia-sia
belaka...?”
Tidak ada jawaban apa pun juga untuk keluh-kesah itu.
Ya, San Pek telah berpulang. Mana ia dengar, mana ia
tahu?
Betapa pilu hati Eng Tay. Ia tersedu-sedan.
“Kak... Oh, Kakak,” ratapnya lagi, kemudian, “Kak,
apakah kau tidak rela meninggalkan Ciok Eng Tay, Adikmu
ini? Oh, Kakak...”
Persis gadis itu berkata demikian, tangannya
merasakan gerakan lembut kelopak mata San Pek, dan
terus saja mata itu menutup.
Eng Tay kaget, ia menjerit, ia menangis kencangkencang.
“Oh, Kakak!” teriaknya. “Kak, kau tak ikhlas
meninggalkan Adikmu ini! Aku juga, si adik, mana rela
ditinggal-kanmu? Pantas bila untuk kuburanmu di Owkio-
tin kau siapkan dua buah batu nisan. Itulah jalan
untuk umum, di tepi sungai yang mengalir. Kak, suatu
hari Adikmu ini akan menemui kau di sana.... Di dalam
Buku Pernikahan tidak tercantum nama kita berdua, akan
tetapi nama kita akan kekal abadi beribu-ribu tahun;
sampai mati pun, akan ku perjuangkan! Ya, pasti nama
kita akan tercatat juga dalam buku itu! Kak, hendak ku
beritahukan, aku pasti bukan orang keluarga Ma, juga tak
sudi aku tinggal di rumah keluarga Ma itu! Kak, rohmu
masih belum pergi jauh, kau tahu, para malaikat menjadi
saksi dan Kakak mendengarnya sendiri....”
Begitu gadis itu mengakhiri kata-katanya, kedua mata
San Pek pun terpejam rapat. Jelas rohnya mendengar dan
mengetahui, maka rela juga ia pergi....
Eng Tay menangis, meratap, namun ia masih dapat
menguasai diri. Akhirnya ia menoleh pada nyonya rumah,
dan berkata: “Nah, Bibi, Kakak San Pek telah memejamkan
matanya. Adakah yang masih Bibi inginkan lagi?”
Kho-si menahan kesedihannya.
“Kau baik sekali, tit-li,” katanya.”Dari jauh kau sengaja
datang ke mari. Kau pasti letih sekali, mari kita istirahat
sebentar....”
“Tidak, Bibi, tidak, tit-li tidak letih” jawab Eng Tay.
“Hanya hatiku gelisah melihat kupu-kupu kemala
pemberianku masih tergenggam di tangan Kakak San
Pek.... Mana bisa aku istirahat?”
Kembali gadis itu menangis.
“Biar bagaimana, tit-li” kata Ciu Po, “kau harus
beristirahat dulu barang sejenak, kau telah melakukan
perjalanan jauh dan menahan kantuk. Sekarang kami
akan menukar pakaian San Pek agar ia bisa lekas
dimasukkan ke peti jenazah. Sebentar, setelah selesai
upacara, tit-li sekalian boleh terus pulang....”
Melihat sikap tuan dan nyonya rumah yang demikian
prihatin, akhirnya Eng Tay menurut. Ia melihat Gin Sim,
dan juga Su Kiu, yang berdiri di luar pintu, maka ia
berkata pada abdi San Pek itu: “Su Kiu, pergilah kau ajak
Gin Sim melihat-lihat rumahmu ini!”
“Baiklah, Non,” kata Su Kiu. “Gin Sim, ke mari!”
Gin Sim menurut. Ia telah mendengar perkataan nona
majikannya.
“Sayang Tuan Muda Nio telah tiada. Kalau tidak, aku
senang tinggal di sini,” kata Gin Sim setelah ia diajak
berjalan-jalan mengelilingi rumah. “Eh, ya, di mana itu
Ow-kio-tin?”
Su Kiu menjawab pertanyaan itu, ia menerangkannya.
“Baiklah,” kata Gin Sim kemudian. “Nanti kita bicara
lagi, sekarang aku hendak melayani nonaku.”
Su Kiu meng-iya-kan. Ia mengantarkan sang sahabat ke
dalam, kemudian ia sendiri pergi beristirahat.
Di dalam, Gin Sim melihat nona majikannya sedang
duduk terpaku disisi jendela. Kho-si menemaninya sambil
berbaring di ranjang. Airmata keduanya masih belum juga
kering.
“Ke mana saja Su Kiu mengajakmu?” tanya Eng Tay
kepada abdinya.
“Ke sekitar rumah ini,” sahut si abdi. “Bagaimana
pendapatmu?” “Sempurna segala pengaturan Tuan Besar.”
Eng Tay menarik napas.
“Non, sebaiknya Nona istirahat,” kata Gin Sim. “Segera
akan fajar....”
“Ya, aku tahu. Bibi pun telah menasihati. Tetapi,
bagaimana aku bisa istirahat?”
“Gin Sim, pergilah bersantap dulu,” kata Kho-si.
“Setelah itu, kau pun boleh istirahat.”
“Bibi benar,” kata Eng Tay. “Memang kita perlu
istirahat.”
Waktu itu, si Li-so muncul. Maka Kho-si menyuruhnya
mengantarkan Eng Tay beristirahat. Gadis itu mengikuti
setelah ia bicara dengan Kho-si perihal Su Kiu dan Gin
Sim.
Sang kala berjalan terus, segera tiba saatnya jip-bok,
upacara pemasukan jenazah San Pek ke dalam keranda.
Kho-si dan Eng Tay muncul dengan mata yang basah.
Saat itu, mereka tampak benar seperti mertua dan
menantu. Semua anggota rumah telah berkumpul. Tubuh
San Pek masih berada di lantai.
Eng Tay, dengan pakaian berkabungnya, berlutut di sisi
San Pek.
“Kak, hari ini hari pertemuan kita yang terakhir,” kata
gadis itu sambil menangis, “kalau sebentar Kakak masuk
dalam peti, kita tak akan dapat bertemu pula. Maaf, Kak,
aku tak dapat berbuat apa-apa untukmu. Sedih aku
melihat Kakak tak rela meninggalkan ayah dan ibumu.
Dan kepandaianmu, kau tinggalkan setengah jalan....”
Berkata demikian, EngTay mendekam seraya
menggenggam erat-erat tangan San Pek yang
didekatkannya ke bibirnya untuk diciumi, seraya berkata
pula dengan sedih: “Kak, mengapa kau membungkam saja,
sepatah kata pun tak ke luar dari mulutmu?”
Tepat di waktu itu pemimpin upacara berkata: “Nona
Ciok, silakan mengundurkan diri, sudah tiba saatnya
jenazah masuk peti!”
Segera juga tiga orang tamu wanita menghampiri Eng
Tay untuk membantu membangunkannya dan
mengundurkan diri. Mereka berkata: “Sudahlah, Nona
janganlah kau terlalu bersedih....”
Empat orang pun maju akan mengangkat tubuh San
Pek dan memasukkannya ke dalam peti jenazah. Maka di
saat itu riuhlah tangisan para hadirin, khususnya Ciu Po
dan Kho-si, terlebih-lebih lagi Eng Tay.
Selang beberapa saat, barulah ruang itu menjadi sepi
dan sunyi.
Masih satu kali lagi, Eng Tay menjerit: “Kakak San
Pek...!”
18
Habis Sabar
BUKAN kepalang kaget dan repotnya ketiga tamu wanita
yang mendampingi Nona Ciok. Tak kuat hati Eng Tay, ia
jatuh pingsan. Beberapa waktu barulah ia sadarkan diri.
Masih saja ia memanggil-manggil: “Kakak San Pek, Kakak
San Pek....”
Kho-si menghampiri gadis itu untuk menghiburnya.
“Tit-li sudahlah,” katanya, “jangan kau terlalu bersedih.
Ingat, kau pun masih harus melakukan perjalanan pulang
sejauh seratus li...”
“Apakah Kakak San Pek sudah masuk keranda?” tanya
gadis itu. Dia telah lupa karena pingsannya itu.
“Sudah, Nak,” jawab Kho-si. “San Pek tidak beruntung,
jangan kau pikirkan dia....”
“Sekarang tit-li hendak menghormatinya untuk yang
terakhir kali,” kata Eng Tay kemudian. “Setelah itu, saya
hendak pulang. Gin Sim siapkan bungkusan kita.”
“Telah saya serahkan pada Ong Sun, Non,” jawab si
abdi.
“Dalam bungkusan kita itu ada dua gulung kertas
putih,” kata Eng Tay. “Itulah syair yang ku buat selama di
Hang-ciu untuk Kakak San Pek, bawalah ke mari. Mulai
hari ini, aku tak akan menggubah syair lagi!”
Gin Sim menurut, ia menghampiri Ong Sun untuk
mengambil syair itu.
Eng Tay kemudian menanyakan Kho-si, apakah segala
persiapan untuk sembahyang sudah selesai.
“Sudah,” jawab Kho-si.
Ciu Po pun membenarkan kata istrinya itu. Orang tua
ini sangat cemas ketika tadi menyaksikan gadis itu,
tamunya, pingsan.
Segera juga semua orang berkerumun di ruang depan,
ruang tempat jenazah San Pek disemayamkan. Meja
sembahyang pun sudah siap. Maka Eng Tay segera
memasang hio, ia bersembahyang sambil berlutut.
“Kak,” kata gadis itu kemudian, “selesai sembahyang,
Adikmu akan segera berangkat pulang. Tak dapat aku
berdiam lama-lama di sini. Akan tetapi di Hwe Sim Law
sana, aku harap rohmu suka sering berkunjung. Di saat
hujan dan angin, maupun langit cerah dan terangbenderang,
aku akan selalu berdoa untukmu....”
Setelah gadis itu berdiri, Gin Sim menyerahkan syair
yang diambilnya. Eng Tay menerimanya, lantas dibawanya
ke api lilin untuk disulut, sambil berkata lagi: “Kakak San
Pek, Adikmu membakar syair ini untukmu. Di dalam syair
ini, masih ada kata sambutanmu. Kak, mulai hari ini,
Adikmu tidak akan mengarang syair lagi!”
Demikianlah, dua gulung syair itu segera berubah
menjadi abu.
Kemudian Eng Tay menoleh pada abdinya seraya
bertanya: “Gin Sim, apakah kereta sudah-siap?” “Sudah,
Non,” sahut Gin Sim-.
Eng Tay mengangguk. Segera ia menghampiri Ciu Po
dan Kho-si. Dipegangnya erat-erat tangan Nyonya Nio dan
berkata: “Bibi, saya bendak pulang. Harap Bibi jangan
terlalu bersedih dan rawatlah diri baik-baik....”
Kho-si mengangguk, ia tak dapat berkata-kata saking
terharunya.
Eng Tay menghadapi meja sembahyang, jenazah San
Pek, untuk kembali memberi hormat sambil menjura lagi.
Katanya, perlahan, suaranya serak: “Kakak San Pek, aku
pulang....” Kembali ia menangis.
“Tit-li sudahlah, jangan menangis lagi,” ujar Ciu Po
menghibur. “Kereta sudah menanti di luar.”
Eng Tay mengusap airmatanya dengan sapu-tangan,
terus ia menghadapi semua orang, memberi hormat, untuk
berpamitan. Setelah itu, ia melangkah ke luar.
Ciu Po dan Kho-si mengantarkan.
“Tit-li, maaf, kami tidak menyuruh Su Kiu
mengantarmu,” kata Ciu Po.
“Memang tidak perlu, Paman,” kata Eng Tay. “Tit-li pun
didampingi dua orang saya. Bila ada kesempatan, Su Kiu
boleh sewaktu-waktu datang berkunjung. Nah, Paman dan
Bibi, harap baik-baik merawat diri!”
Kedua orangtua itu, tuan dan nyonya rumah,
mengangguk sambil menyahut: “Ya.” Mereka mengawasi,
terharunya bukan kepalang. Mereka merasa kasihan,
mereka menyesalkan karena sang dara tak beruntung
menjadi menantunya....
Eng Tay dan Gin Sim menghampiri kereta mereka, lalu
mereka menaikinya. Sebentar kemudian, mereka sudah
menghilang dari pandangan.
Sewaktu kereta mulai berangkat, Gin Sim melihat Su
Kiu masih berdiri terpaku di bawah pohon, mengawasi
keberangkatannya...
Ong Sun, di atas kuda, mengikuti kereta.
Di tengah perjalanan, kereta berhenti sejenak. Eng Tay
turun dari kereta untuk menukar pakaian berkabungnya.
Setelah itu, perjalanan pulang dilanjutkan.
Perjalanan pulang ini berlangsung lebih lambat
daripada perjalanan pergi. Maka, ketika tiba di rumah, tiba
saatnya kentongan yang kedua. Ong Sun masuk lebih
dulu, dengan demikian Ciok Kong Wan dapat menyambut
kedatangan putrinya. Ia melihat bagaimana wajah sang
putri tampak bekas airmata tetapi ia tak menanyakan apaapa.
Eng Tay langsung masuk ke kamarnya. Keesokan
paginya, setelah bangun tidur, ia membersihkan diri dan
berdandan seperti biasa. Tetapi akhirnya, ia duduk
termenung saja. Selanjutnya, selama tiga hari ia terus
berdiam diri.
Kong Wan dan istrinya tidak dapat berbuat apa-apa,
mereka membiarkan putri mereka menanggulangi sendiri
pikirannya yang berat itu.
Suatu kali, Gin Sim berkata pada nona majikan:
“Berdiam secara begini tidak ada gunanya, lebih baik Nona
pergi ke loteng, membaca buku di sana. Atau, Nona
membuka jendela, memandangi taman atau kolam....
Sekarang musim panas, di waktu tengah hari hawa udara
kering sekali.”
Eng Tay setuju, maka ia naik ke loteng. Benar saja,
dengan membentangkan jendela, hatinya menjadi agak
lapang. Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang luas.
Pada suatu lohor, Eng Tay membuka jendelanya dan
melihat ke luar. Nun jauh disana, tampak dua orang
sedang berjalan: satu laki-laki, satu perempuan. Mereka
menapaki jalan kecil. Usia mereka mungkin baru tiga
puluh tahun. Mereka memikul kayu bakar.
Selagi berjalan mendatangi, terdengar, suara si lelaki:
“Hari mulai panas, kita harus cepat tiba di pasar. Setelah
menjual kayu kita membeli kacang hijau, untuk dimasak
dengan nasi. Kau setuju?”
Si wanita menjawab: “Baik! Kita harus membeli juga
dua potong kue buat kedua mustika kita di rumah!”
Eng Tay terkesan sekali mendengar ucapan kedua orang
itu, yang jelas adalah suami-istri, bahkan mempunyai dua
anak yang mereka sebut “mustika.” Betapa rukun dan
beruntungnya pasangan itu, sekalipun mereka berasal dari
keluarga miskin.
Gadis itu berpikir keras, dan akhirnya ia merebahkan
diri di ranjangnya. Masih saja ia merenung. Ia terkenang
pertemuannya dengan San Pek di lotengnya, ‘Hwe Sim Law’
yang berarti ‘Hati Bertemu’. Bukankah itu bermakna,
pertemuan hatinya dengan hati si pemuda?
Tiba-tiba....
San Pek, berjubah biru, tampak mendaki loteng. Cepatcepat
Eng Tay bangkit dan menyambutnya, ia tertawa dan
berkata: “Kakak Nio, aku justru sedang mengenangmu!
Kau dari mana saja?”
San Pek menghampiri, ia menggenggam tangan gadis itu
dan berkata. “Adikku telah meminta agar rohku sering
berada di sini. Ketika Adikku sedang mengenangku aku
sedang berjalan-jalan di luar Hwe Sim Law....”
Sekonyong-konyong Eng Tay teringat bahwa San Pek
sudah meninggal dunia. Ia lantas berkata: “Walaupun
Kakak telah meninggal dunia, akan tetapi Kakak tetap
seperti masih hidup...!”
San Pek bertepuk tangan. Ia berkata: “Mana aku mati?
Aku mati hanya untuk mengelabuhi kamu, Dik. Aku
sedang membangun sebuah rumah loteng yang indah di
luar dusun Ciok....”
Eng Tay tercengang mengawasi si pemuda.
“Oh, kau sedang membangun loteng yang indah?”
tanyanya.
“Benar!”
Eng Tay berkata: “Aku hanya khawatir banyak orang
yang mengetahui sehingga mereka bisa menghalangimu.
Antara lain... keluarga Ma!”
San Pek tertawa. Ia berkata: “Ada banyak orang pun
tidak mengapa! Mari, ikutlah aku!”
Eng Tay membiarkan sebelah tangannya dipegangi dan
ditarik si pemuda. Tetapi justru ketika ia mau melangkah,
tiba-tiba ia mendengar: “Non, airnya sudah dingin!” Ia
terkejut, ia menoleh, dan ia mendusin. Ternyata ia telah
bermimpi, ia masih berbaring di ranjang. Di sisinya, Gin
Sim sedang berdiri dengan secawan air teh di tangannya.
“Aku bermimpi,” kata sang nona majikan. “Tuan Muda
Nio dengan setangkai bunga sedang menantikan aku....”
Berkata begitu, nona majikan ini menerima cawan teh
dan lantas meneguk isinya. Ia menghirup dua kali. Setelah
mengembalikan cawan itu pada abdinya, ia duduk berdiam
diri. Akan tetapi, otaknya bekerja.
“Mimpi ini aneh,” katanya lagi, kemudian. “Mungkin
besok Su Kiu datang.”
“Tidak aneh, Non, mimpi itu biasa saja,” kata si abdi. Ia
tahu bahwa nona majikan itu terlalu banyak berpikir
karena bersusah hati.
Eng Tay membungkam, namun ia berpikir.
Lohor hari berikutnya, benar-benar Su Kiu muncul. Gin
Sim menyambutnya dengan berkata: “Kakak Su Kiu, Nona
berkata bahwa esok lusa kau akan datang, eh, hari ini kau
benar-benar muncul!”
Su Kiu membuka tudungnya, ia berkata: “Ini mungkin
adalah kedatanganku yang terakhir. Tolong sampaikan
pada Nona, aku datang untuk menyampaikan kabar.” Ia
kemudian merogoh sakunya.
Gin Sim mengangguk, lantas ia ajak tamunya masuk,
terus naik ke loteng.
Ketika itu. Eng Tay sedang duduk berdiam diri. Ia
tergerak melihat Su Kiu.
“Oh, Su Kiu, kau datang!” tegurnya.
“Ya, sengaja untuk menjenguk Tuan Muda,” jawab abdi
itu.
“Apakah penguburan Tuan Mudamu sudah selesai?”
“Sudah.”
“Di mana dikuburnya?”
“Tentu saja di Ow-kio-tin.”
“Apakah mudah membeli tanah di Ow-kio-tin?”
“Kami punya sanak di sana sehingga pembelian tanah
mudah saja.”
“Di sebelah manakah letak makamnya?”
“Di ujung timur laut,” sahut Su Kiu. “Di situ ada satu
tempat yang disebut Kiu-liong-hi Ceng-to-guan” 29
“Bukankah Kiu-liong-hi itu berdekatan dengan Sungai
Yong?”
“Benar. Letak kuburan di sebelah barat laut. Kalau kita
berbicara di makam, orang di atas perahu dapat
mendengarnya.”
“Ya, aku tahu. Ada berita apa lagi?”
“Seusai penguburan, setelah pulang, Tuan Besar
memerintahkan hambamu ini segera berangkat ke mari
guna memberi kabar pada Tuan Muda. Lainnya tidak.”
Eng Tay diam sejenak.
“Baiklah, aku sudah tahu semua. Sekarang kau ikut
29 Menurut kitab Kang Hie Kin Koan, sebelum meninggal dunia, San Pek berpesan
agar dikuburkan di Kiu-liong-hi, Sekarang di tempat tersebut, Kiu-liong-hi, ada
kuburan serta juga kuil San Pek dan Eng Tay.
Gin Sim, seusai bersantap, kau boleh pulang.”
Su Kiu meng-iya-kan, ia mengucapkan terima kasih,
kemudian memberi hormat dan terus mengundurkan diri.
Eng Tay melangkah ke samping lotengnya. Ia membuka
jendela lebar-lebar dan memandang ke sebelah timur.
Awan putih tampak mengapung di segala penjuru, pohonpohon
semua berdaun hijau.
“Ya, kuburan Kakak San Pek berada di sebelah sana,”
katanya dalam hati. “Ia tentu sedang menantikan orang
membukakan pintunya.”
Ya, Eng Tay termenung, termenung terus....
Han-hari musim panas terasa lebih panjang.
Pada suatu hari. Teng-si teringat akan anak gadisnya. Ia
menduga-duga, apa saja yang sedang dilakukan putrinya.
Eng Tay terbiasa mengurung diri di loteng. Apakah dia
selalu membaca bukunya? Apakah dia masih suka
membentang jendela menatap langit? Musim gugur akan
segera tiba, maka keluarga Ma akan segera datang
menyambut gadis menantunya....
“Baiklah, akan ku lihat dia,” pikir sang ibu. Lantas ia
mengajak Kiok Ji naik ke Hwe Sim Law untuk menemui
putrinya. Ternyata putrinya itu tidak sedang menyulam
atau menjahit, tidak juga membaca buku atau menulis.
Sebaliknya gadis itu sedang berdiri di depan jendela,
matanya menatap hampa ke depan....
“Nak, kau sedang mengawasi apa?” tegur Teng-si.
Eng Tay menoleh. Mendengar suara ibunya, barulah ia
tahu bahwa ibunya datang menengoknya.
“Oh, Mama datang,” katanya. “Tidak, Ma, tidak ada apaapa
yang dapat dipandang. Hari ini hawa udara menyengat
sekali, pikiranku tidak tenang, maka ku buka jendela,
berharap akan mendapat angin segar.”
Sang ibu mendekati, ia duduk di sisi jendela, turut
memandang jauh ke luar. Matahari sedang memancarkan
cahayanya yang putih.
“Hawa begini panas, Nak,” kata ibunya kemudian,
“kalau kau tidak membaca buku, kenapa kau tidak
menjahit atau menyulam?”
“Menjahit atau menyulam, Ma?” tanya gadis itu. “Hari
demikian panas, mana bisa?” Tiba-tiba ia tertawa dan
berkata lagi: “Sulamanku sudah cukup banyak....”
Ibu itu terkejut.
“Aku mengerti pikiranmu, Nak,” kata ibu ini kemudian.
“Pastilah kau selalu terkenang akan Nio San Pek, teman
sekolahmu selama tiga tahun. Akan tetapi, sudah
berselang dua bulan Nio San Pek meninggal dunia. Kau
hendak menemui dia, kau telah diizinkan pergi. Tetapi
sekarang, kau tidak boleh lagi mengingat dia....”
Eng Tay masih saja berdiri, bersandar pada jendela.
“Tidak, Ma, tidak bisa,” jawabnya. “Benar ia sudah
meninggal dunia, akan tetapi teman sekolahku ini masih
hidup, belum mati... Gunung boleh tinggi, air boleh
panjang, namun gunung dan air akan hidup bersama
selama-lamanya....”
Melihat putrinya masih tetap berdiri, Teng-si berkata
pada Kiok Ji: “Ambilkan kursi buat duduk Nonamu. Kami
hendak bicara lebih jauh....”
Pelayan itu menurut, ia membawa kursi yang
ditaruhnya di belakang gadis itu.
“Non, silakan duduk,” katanya perlahan.
Eng Tay berpaling, mengawasi abdi itu. Ia mengangguk
tetapi tidak mau duduk. Kiok Ji tidak berani berkata apaapa,
ia berdiri saja di samping jendela.
Teng-si memperhatikan putrinya itu lalu berkata: “Di
luar jendela itu, apa ada yang bagus dipandang? Kau
masih berdiri saja, Nak.”
Mendengar kata-kata majikannya itu, Kiok Ji
tersenyum.
“Mari kita bicara, Nak,” kata Teng-si lagi kemudian.
“Tidak lama lagi hawa udara akan berubah menjadi sejuk.
Setelah perubahan hawa itu, keluarga Ma akan datang
menyambut gadis menantunya. Maka, jika nanti,
keadaannya akan tetap begini Anakku, rasanya ada
kekurangannya....
“Aku tidak kenal keluarga Ma, Mama!” Sang ibu
menatap putrinya.
“Nah, inilah yang kurang tepat dari kau, Nak,” katanya.
“Kalau tiba hari yang ditentukan nanti, keluarga Ma
mengirim kereta pengantin, apakah kau masih tetap tidak
mau pergi?”
Di luar dari kebiasaannya yang lemah-lembut, Eng Tay
memperdengarkan suara di hidung.
“Hm, apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi”
katanya. “Aku tidak kenal keluarga Ma, sekiranya mereka
mengirim kereta berhias untuk menyambut pengantin,
peduli apa? Karena tidak ada hubungan antara aku dan
mereka, maka pasti aku tidak akan mempedulikannya!
Kalau mereka tidak berhasil menyambut orang, biar
mereka cari majikannya sendiri!”
Panas hati sang ibu mendengar perkataan putrinya itu,
kedua matanya terbelalak. Ditatapnya gadis itu tetapi
akhirnya ia bisa juga menguasai dirinya. Malahan ia
tertawa.
“Benar, memang mereka dapat mencari majikannya
sendiri,” katanya. “Tetapi majikannya itu adalah kepala
sebuah keluarga, dan si kepala keluarga itu dapat
memperlihatkan pengaruhnya. Mulutnya itu dapat
mengeluarkan perintah-perintah untuk memaksamu
pergi!”
Eng Tay mengebut debu di papan jendela dengan ujung
bajunya. Bersamaan dengan suara kebutannya itu, dari
mulutnya pun keluar kata-kata ini: “Aku tidak mau pergi!
Kalau si majikan mau menggunakan aturan rumahtangganya,
menghendaki aku mati, aku boleh segera mati
karenanya! Tetapi untuk memaksaku pergi ke rumah
keluarga Ma, sekalipun raja mengeluarkan firmannya, aku
masih tetap tidak mau pergi!”
Teng-si bangkit berdiri.
“Inikah kata-katamu?”
“Ya, kata-kataku!” jawab Eng Tay.
Ketika itu Gin Sim berada di bawah loteng. Mendengar
pembicaraan antara ibu dan anak itu, ia merasa gelisah.
Segera ia naik tangga loteng. Dari jauh ia sudah mengedipngedipkan
mata pada Kiok Ji, maka mereka berdua
menghampiri ibu yang sedang naik pitam itu. Mereka
menghadang di depan si nyonya.
“Nyonya Besar, jangan marah,” kata Gin Sim. “Nona
masih muda, ia tidak bisa bicara!”
Teng-si berdiam, tetapi dengan sorot matanya yang
tajam ia menatap putrinya itu.
“Mama tidak mau bicara lagi denganmu!” kata ibunya.
“Dua hari lagi, akan menemui kau untuk bicara dengamu!
Mama mau pergi!”
Benar saja, dengan mengajak Kiok Ji, sang ibu berlalu,
menuruni loteng.
Gin Sim segera mengamati nona majikan itu.
Eng Tay bersikap wajar saja, ia masih memandang ke
luar jendela, memandangi langit. Bahkan kemudian, ia
tersenyum.
Tong-si berlalu dengan hati masih panas. Ingin ia segera
bicara dengan suaminya untuk menceritakan tentang
kekerasan hati putrinya, tetapi kemudian ia berubah
sikap. Ia khawatir, kalau ia bicara dengan suaminya,
urusannya nanti menjadi kacau-balau. Maka, pikirnya,
lebih baik ia menunggu saja mendekatnya hari
pernikahan, barulah masalah itu dimunculkan lagi. Ia
ingin menyaksikan, apakah putrinya masih terus
membangkang atau tidak.Pada saat itu, suaminya tentu
akan turun tangan juga. Demikianlah, ia segera berpesan
pada semua orang agar mengawasi Eng Tay.
19
Naik Perahu
LAMBAT-laun, Eng Tay mengetahui sikap ibunya yang
selalu mengawasi gerak-geriknya. Ia tidak peduli. Malahan
sekarang, ia telah berpikir untuk kalau tiba saatnya, ia
akan menghabisi nyawanya sendiri....
Demikianlah, hari-hari telah berlalu dengan tenang
sampai pada awal bulan ke-sembilan. Udara kini berubah
menjadi sejuk. Justru itu, keluarga Ciok tampak sibuk.
Pakaian untuk gadis pengantin sedang disiapkan. Untuk
pesta, segala barang yang diperlukan pun sedang dibeli.
Semua orang tampak repot, akan tetapi Eng Tay bersikap
masa bodoh.
Pada suatu hari, Ciok Kong Wan menemui istrinya di
kamarnya. Teng-si sedang mengukur kain untuk membuat
baju pengantin putrinya.
“Beberapa hari ini aku tidak melihat Eng Tay,” kata
suaminya. “Mungkinkah karena hari pernikahannya
semakin mendekat, dia tidak mau ke luar?”
“Ya, mungkin itu sebabnya,” jawab Teng-si, si istri. Ia
memang sedang kurang memperhatikan putrinya itu
karena sekian lama tidak ada laporan apa pun dari para
abdi yang diperintahkan untuk mengamat-amati putrinya.
“Bagaimana dengan pakaian pilihan kita?” tanya Kong
Wan. “Apakah Eng Tay setuju?”
Sang istri melepaskan jarumnya, ia menghadapi
suaminya.
“Belakangan ini, adat Eng Tay semakin keras,” katanya.
“Semua bahan pakaian pilihan kita adalah istimewa, tetapi
anak itu, melihat pun tidak sudi!” “Eh, kenapa begitu?”
“Dia sangat tidak puas berkenaan pernikahannya
dengan putra keluarga Ma. Mengenai ini, aku pernah
bicara padanya, memberinya nasihat, tetapi dia, dia tak
sudi memperhatikan!”
“Habis, apa maunya?”
“Mana aku tahu? Dia bahkan bicara semakin kasar!
Katanya, meskipun ada perintah raja, dia tak sudi
menikah!”
Kong Wan menghentakkan kaki.
“Gila!” serunya. “Kapan ia ucapkan itu?”
“Kira-kira dua bulan yang lalu....”
“Begitukah? Bukankah itu tak pantas!”
“Ya, begitulah....”
Ayah ini menjadi sangat kecewa.
“Coba panggil dia, akan ku tegur dia!”
“Sikapmu ini tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata
Teng-si. “Bila kau panggil dia, kau harus bicara dengan
sabar. Anak itu tabiatnya keras, tetapi dia tak akan tidak
acuh.”
Kong Wan melipat kedua belah tangannya, ia berjalan
mondar-mandir, otaknya bekerja keras. Kemudian dia
mengangguk dan berkata: “Baiklah, akan ku turuti
pikiranmu. Kiok Ji, pergilah kau undang nonamu datang
ke mari!”
Teng-si tertawa.
“Sungkan, ya?” katanya. “Keluar juga kata
mengundang....”
Kiok Ji berada di luar jendela, di saat ia hendak berlalu,
nyonya majikannya berkata padanya: “Jangan pergi dulu,
sini, kau dengar perkataanku.”
Abdi itu menurut, ia menghampiri majikannya.
“Bila nanti bertemu dengan Nonamu,” pesan Teng-si,
“jangan kau katakan hal lainnya, cukup bahwa tadi ketika
kau berada di luar, Tuan Besar menyuruhmu
memanggilnya. Ini penting sekali, kau jangan sembarang
bicara!”
“Tak perlu dipesan lagi, Nyonya Besar, hambamu sudah
tahu,” kata Kiok Ji yang segera saja berjalan cepat menuju
Hwe Sim Law, bahkan ia langsung mendaki tangga loteng.
Begitu bertemu dengan Eng Tay, ia berkata: “Tuan Besar
sedang berada di kamar Nyonya Besar, Nona diminta lekas
datang menemuinya.”
Gadis itu mengawasi abdi itu.
“Ketika Tuan Besar menyuruhmu, dia tampak gusar
atau tidak?” tanya Eng Tay.
“Abdimu berada di luar tatkala Tuan Besar memanggil,”
kata Kiok Ji. “Sewaktu aku masuk, Tuan Besar lagi marah
atau tidak, aku....”
“Benar-benar kau tidak tahu?” tanya si nona
menegaskan.
Gin Sim juga berada di loteng, ia tertawa.
Eng Tay segera berkata: “Saat begini Tuan Besar
memanggilku, pasti ia sedang marah!”
“Tidak, Non,” kata Kiok Ji, “kalau Tuan Besar bicara, ia
pasti bicara dengan haik-baik....”
“Benar itu?”
“Aku berada di luar jendela saat mendengar panggilan,
Non.”
“Bukankah kau sedang berada di luar maka barulah
kemudian kau masuk?” tanya gadis itu lagi.
Kiok Ji tertawa. Ia menganggap nona majikannya itu
lucu....
Gin Sim pun turut tertawa.
“Baiklah, Non, aku akan berterus-terang,” kemudian
kata Kiok Ji lagi. “Sekiranya Tuan Besar tahu, paling juga
aku dirangket....” Dan pelayan ini menceritakan apa yang
ia lihat dan dengar perihal gerak-gerik Ciok Kong Wan,
sang majikan.
“Nah, bagaimana ya?” kata Eng Tay. “Memang aku telah
menduganya! Sekarang, ayo jalan, aku tak akan
memberitahukan Tuan Besar!”
Kiok Ji mengangguk, lantas ia pergi, nona majikannya
mengikuti.
Kong Wan sedang berjalan mondar-mandir ketika ia
melihat kedatangan anak gadisnya.
Segera ia tertawa dan berkata: “Selamat, Anakku,
selamat!”
Eng Tay tidak segera menanggapi.
“Ada apa, Pa?” tanyanya. “Aku biasa diam di dalam
kamar, apa yang harus diberi selamat?”
“Ada kabar baik, Nak!” jawab ayahnya. “Sekarang hawa
udara sedang nyaman. Keluarga Ma telah memberi kabar
bahwa pada akhir bulan ini akan dilakukan penyambutan
guna menjalankan upacara pernikahan! Ini soal hidup
seratus tahun, masalah andalan bagimu seumur hidup!
Bukankah itu kebahagiaan yang harus diberi selamat?”
Tetapi Eng Tay menggoyangkan tangannya.
“Tentang lamaran keluarga Ma, aku belum pernah
menyetujuinya!” katanya. “Katanya dia memberi kabar
hendak melakukan penyambutan mempelai, mempelai
siapakah yang hendak disambut?”
Mendadak Kong Wan berdiri tegak, dengan tajam ia
mengawasi putrinya. Masih dapat dia menguasai diri lalu
diusapnya janggutnya. Dia pun terus berkata dengan
sabar: “Ketika Nio San Pek masih hidup, kau hendak
menikah dengannya, ini menolak. Papa justru
menghendaki kau menikah dengan Ma Bun Cay, waktu itu
kau menolak sekeras-kerasnya. Itu masih masuk di akal,
ada alasannya, tetapi sekarang setelah Nio San Pek
meninggal Papa mau menikahkan kau dengan keluarga
Ma, maka kau, Nak, tidak beralasan lagi untuk menolak..!”
“Apakah beralasan dan tidak beralasan itu?” putrinya
balik bertanya. “Meskipun San Pek sudah tiada tetapi aku,
aku telah bersumpah bahwa seumur hidupku tidak akan
menikah! Inilah kehendak Tuhan Yang Mahakuasa!”
“Itu alasanmu yang tidak masuk akal! Memangnya
siapa yang mengizinkan kau dijodohkan dengan keluarga
Nio?”
Eng Tay mengangguk.
“Siapa yang mengizinkan, yang menerima baik lamaran
keluarga Nio?” ia balik bertanya. “Itulah aku! Mustahilkah
kalau aku menyerahkan diri sendiri, itu tidak boleh? Kalau
demikian, dengan kekuasaan Papa sebagai orangtua,
apakah aku bisa dijual-belikan? Bolehkah itu?”
Ciok Kong Wan mengusap janggutnya.
“Papa bilang kau ngawur, malah lebih lagi!” kata
ayahnya. “ menjodohkan kau dengan keluarga Ma, itu
berarti kemuliaan bagimu! Hal itu tidak ada jeleknya! Ada
berapa banyak gadis, yang memimpikannya pun tidak
bisa! Kalau demikian, apakah dapat dikatakan si ayahbunda
menjual putrinya?”
“Kenapa tidak?” kata Eng Tay menyahut. “Memang,
keluarga Ma itu sangat penting dan berpengaruh, tetapi
hanya Papa yang dapat meminjam pengaruhnya itu.”
Tiba-tiba saja, Kong Wan tak dapat lagi menguasai
amarahnya, ia sampai menggebrak meja.
“Anak kurang ajar!” teriaknya. “Bagaimana kamu berani
melawan Mama-?”
Teng-si kaget, ia menarik baju putrinya.
“Nak, kau tidak selayaknya berkata bahwa meminjam
pengaruh keluarga Ma,” kata si ibu. “Kau tahu, Papa dan
Mama ini cukup kaya, mana mungkin kami menjual anak?
Sudah, sekarang semua harus tenang saja. Kita bicara
sampai di sini saja, besok kita sambung lagi....”
Eng Tay mengawasi ayahnya, ia maklum sikap keras
ayahnya, maka ia lantas berkata. “Baiklah, aku pergi dulu.
Tapi, biar bagaimana juga, kapan pun, aku tidak mau
menikah!”
Setelah berkata demikian, gadis yang tiba-tiba menjadi
keras kepala ini, lantas meninggalkan ayah-bundanya itu
begitu saja.
Gin Sim segera mengikuti nona majikannya itu kembali
ke kamarnya. Ia merasa lega melihat ggdis itu bersikap
tenang-tenang saja. Maka ia berkata: “Non, hari ini Tuan
Besar bersikap tidak seperti biasa....
Gadis itu lantas duduk di kursinya, bahkan dia tertawa.
“Kejadian ini telah ku duga,” katanya. “Dan aku telah
memikirkan pemecahannya, tak usah kau khawatir.”
Gin Sim bingung, namun ia tidak mau bertanya lagi.
Sikap nona majikannya kali ini luar biasa, pikirnya.
Biasanya, majikannya itu tak pernah merahasiakan apa
pun padanya, tetapi kali ini lain. Malahan gadis itu bisa
tersenyum selagi suasana sangat tegang. Namun toh, ia
bertanya juga: “Non, besok pasti Nyonya Besar datang ke
mari, bagaimanakah sikap Nona?”
“Kapan tiba saatnya yang paling sukar, aku mempunyai
dayaku,” jawab majikannya. “Tapi apa dayaku itu,
sekarang kau tak usah tanyakan.”
Terpaksa Gin Sim menutup mulutnya, hanya ia
menerka-nerka di dalam hati.
Tengah hari keesokan harinya, sehabis bersantap, Tengsi
masuk ke kamar putrinya sesudah ia mencari tahu dulu
apakah putrinya itu berada di loteng. Ia heran sewaktu
melihat bahwa tidak terjadi perubahan apa-apa pada anak
gadisnya itu. Eng Tay tampak tenang-tenang saja
membaca buku.
Sang ibu batuk-batuk untuk memberi tanda
kedatangannya.
Mendengar suara ibunya, Eng Tay meletakkan bukunya
dan menoleh.
“Ma!” panggilnya.
Teng-si lantas saja duduk di depan putrinya itu. Ia
melihat ke sekitarnya. Ia tidak mendapatkan Gin Sim di
situ, lantas ia mulai bicara: “Saat ini bagus sekali, enak
buat kita bercakap-cakap....”
Eng Tay tidak menanggapi. Ia mengangkat bukunya
tetapi segera diletakkannya pula. Kelihatannya ia hendak
membaca, namun batal.
“Mama ingin bicara denganmu, Nak,” kata Teng-si lagi.
“Letakkan bukumu dulu supaya kita enak bicara. Bisa,
bukan?”
“Tetapi, Ma, aku tak tahu maksud kedatangan Mama
ini,” kata putrinya. “Bukankah Mama hendak mengulangi
pembicaraan kita kemarin? Urusan itu sudah cukup
dibicarakan, apakah sekarang hendak diulangi lagi?”
“Mama belum bicara, Nak, kau sudah menghalangi,”
kata ibunya. “Sebenarnya juga, Mama ingin bicara.”
Gadis itu mengangguk.
“Nah, bicaralah!” ia menganjurkan.
“Keluarga Ma itu....”
“Ah, sudahlah, Ma!” gadis itu memotong. “Jangan Mama
sebut-sebut itu pula, jangan! Mendengarnya saja, aku
sudah muak..!”
“Oh...!” si ibu gugup. “Katamu tidak mau menikah, Nak,
lalu, di rumah saja, kau hendak melakukan apa?”
“Merawat Papa dan Mama....”
“Ah....!” kata ibunya, yang menepuk pahanya.
“Bagaimana kalau Papa dan Mama sudah meninggal...?”
“Di saat itu aku juga sudah tua, maka selanjutnya aku
akan menutup pintu, membaca buku saja, untuk
menenteramkan hati.”
“Itu pikiran yang bukan-bukan. Kami orangtua tidak
punya anak lelaki, maka menantu lelaki menjadi separuh
anak juga. Kalau kau menikah dengan Ma Bun Cay, jika
nanti kau memperoleh anak lelaki, anak itu bisa diambil
menjadi turunan keluarga Ciok. Bukankah itu baik
sekali?”
“Sudahlah, Ma, tak usah Mama bicarakan lagi. Kalau
Mama bicara juga, aku tidak mau mendengarnya!”
Berkata begitu, gadis ini mengambil bukunya, terus ia
membaca. Ketika ibunya berkata-kata lagi, ia seperti tidak
mendengarnya.
Teng-si kewalahan. Tatkala ia masih mencoba bicara
lagi, ia tetap tidak mendapat tanggapan. Maka akhirnya ia
benar-benar kewalahan. Segera ia bangkit berdiri dan
akhirnya berkata: “Baiklah! Kau bicara saja nanti
dengan....”
Ibu ini berjalan ke luar, ia menarik napas panjangpendek.
Sewaktu Kong Wan, suaminya, menanyakan, ia
membungkam.
Ayah itu penasaran, ia suruh beberapa pelayan
perempuannya mendatangi putrinya untuk dibujuk, tetapi
sia-sia belaka, mereka itu kembali tanpa hasil. Jawaban
gadis itu singkat saja: “Disuruh menikah, tidak mau!
Disuruh mati, ya, rela mati!”
Kong Wan bingung sekali. Tentu saja ia tidak
menghendaki kematian putrinya itu. Dua hari telah berlalu
tanpa penyelesaian apa pun. Tetapi mendadak ia
memperoleh suatu pikiran, maka ia lantas bicara dengan
istrinya.
“Anak kita tidak mau menikah, bukankah itu
disebabkan oleh San Pek?” katanya pada istrinya.
“Sekarang coba kau tanyakan dia, apa yang hendak
dilakukannya untuk San Pek, supaya ia dapat melupakan
kekasihnya itu. Asal jawabannya masuk akal, akan ku
turuti dia. Setelah maksudnya kesampaian, dia tentu mau
menikah....”
Teng-si ragu-ragu, akan tetapi karena demikianlah
kemauan suaminya, ia mau mencoba juga. Begitulah, ia
kembali ke dalam, menemui putrinya. Namun, sesaat
kemudian, ia kembali dengan tangan hampa....”
“Apa jawaban Eng Tay?” tanya sang suami mendahului
bertanya.
Sang istri menggelengkan kepala, ketika menyahut, ia
tampak lesu sekali. Ia berkata. “Kata Eng Tay, San Pek
sudah mati, dia sudah tidak punya kehendak apa-apa lagi,
kalau Papa dan Mama masih punya perasaan sayang
padanya, dia minta dibiarkan saja hidup menyendiri untuk
menjaga kesuciannya, dan dapat merawat orangtua
saja....”
“Gila!” seru Kong Wan. “Aku tidak percaya! Mustahil
seorang perempuan seperti dia sanggup melayani
orangtuanya? Sudah, kau jangan campur-tangan, saat tiba
harinya, akan ku ringkus dia dan ku paksa naik kereta
pengantin!”
Teng-si bungkam. Suaminya sudah marah sekali.
Kong Wan juga selanjutnya tidak berkata apa-apa lagi.
Akan tetapi keesokannya, dua orang perantara jodoh
muncul secara mendadak tanpa memberi kabar terlebih
dulu. Mereka adalah Li Yu Seng dan Tian Leng Bow!
Tuan rumah segera menyambut tamunya itu. Setelah
bicara sebentar, dia masuk ke dalam menemui istrinya,
dan berkata pada si istri: “Dua wakil keluarga Ma telah
tiba, mereka sudah menetapkan hari nikah yaitu tanggal
delapan belas. Karena itu, bagaimanapun juga, kita harus
beritahu tanggal ini pada Eng Tay. Juga masih ada satu
hal, yaitu masalah perjalanan. Kita memilih jalan darat
atau jalan air? Kalau jalan darat, harus menginap dua
malam. Mempelai laki-laki akan menyongsongnya di
tengah jalan. Kereta pengantin berjalan di jalan umum,
tampaknya kurang serasi. Sebaliknya kalau kita memilih
jalan air, kita harus mengambil waktu tiga hari. Pengantin
laki-laki pun akan menyambutnya dengan perahu. Di
dalam perahu pengantin perempuan, segala sesuatunya
akan disiapkan selengkap-lengkapnya, seperti persiapan di
rumah. Melalui jalan air, mempelai laki-laki, tak usah
datang ke rumah kita. Dijalan air, sejauh dua li, ada
pelabuhan tempat mempelai laki-laki akan datang
menyambut. Demikianlah, soal perjalanan ini, pihak kita
diminta memilih dan mengambil keputusan. Karenanya,
kita harus tanyakan pendapat anak kita sebab dia gadis
yang luar biasa. Demikianlah pertanyaan keluarga Ma.
Maka, istriku, kau harus menemui anak kita untuk
menanyakan pendapatnya.”
Ini masalah agak ruwet, tetapi Teng-si toh masuk ke
dalam, untuk menemui putrinya. Tetapi lebih dulu ia
menanyakan suaminya, bagaimana kalau Eng Tay tetap
menolak.
“Kalau sampai begitu, aku mempunyai dayaku!” kata
Kong Wan.
Teng-si sampai di Hwe Sim Law. Seperti biasa, ia
melihat putrinya sedang membaca buku. Gadis itu diam
saja, dia seperti tidak mempedulikan ibunya.
“Ah, Nak, Mama datang lagi mengganggumu,” kata
ibunya, memulai pembicaraannya. “Akan tetapi Mama
datang dengan kabar baik! Kau tahu, keluarga Ma sudah
memilih dan menetapkan tanggal pernikahan. Tanggal
delapan belas tahun ini kau akan disambut mereka.”
Eng Tay menoleh, mengawasi ibunya, tetapi ia tidak
menanggapi.
Sang ibu berdiri di sisi meja. Katanya lagi: “Sekarang
tinggal soal perjalanan, yaitu, jalan darat atau jalan air.
Mengenai hal ini, kita yang diminta memilihnya.”
Di luar dugaan, mendengar tentang jalan darat atau
jalan air itu, hati gadis itu tergerak. Segera juga ia
bertanya: “Bagaimana kalau jalan air, dengan naik perahu?
Apakah perahunya akan melewati Ow-kio-tin?”
“Ah, itu Mama tidak tahu,” sahut ibunya.
“Kalau demikian, tolong Mama minta Papa tegaskan,
pihak sana, jalan air akan melewati Ow-kio-tin atau tidak,”
pinta Eng Tay. “Sebentar tolong beritahu aku.”
Kembali Teng-si heran. Putrinya tidak marah, malah
tertarik. Tapi ia toh bertanya. “Kalau melewati Ow-kio-tin,
kau berarti suka naik perahu?”
“Benar, Ma!” sahut putrinya. “Barangkali tidak ada
halangannya kalau aku memberikan keterangan. Makam
Nio San Pek ada di sebelah timur laut Ow-kio-tin, di
makam Kiu-liong-hi di Ceng-to-goan.”
Teng-si diam sejenak. Ia berpikir cepat.
“Jadi kau ingin menemui kuburan keluarga Nio?”
tanyanya kemudian.
“Ya, Ma!” sahut putrinya. “Itu sudah semestinya!”
Teng-si diam, ia bimbang. Namun akhirnya ia berkata:
“Baiklah, nanti Mama tanyakan....” Dan terus saja ia pergi
ke luar. Sekarang ini, wajah si nyonya tidak lagi
memperlihatkan kebingungan seperti tadi.
“Bagaimana jawabannya?” Kong Wan mendahului
menanyakan istrinya. “Dia setuju?”
“Aneh!” jawab si istri. “Dia tidak menolak, juga dia tidak
menerima, hanya dia bertanya, kalau jalan air, perahunya
melewati Ow-kio-tin atau tidak. Ketika ku tanya, apa
perlunya dengan Ow-kio-tin yang tiada sangkut-pautnya
dengan keluarga Ciok, dia berkata kuburan San Pek-ada di
sana....”
Kong Wan membelai-belai janggutnya.
“Oh, begitu?” katanya. Dia pun heran. “Tapi, melewati
Ow-kio-tin atau bukan, mana ada aturan untuk memberitahu
dia atau tidak....!”
“Kau tolol!” kata Teng-si. “Bukankah cukup asal kau
dapat menipu dia hingga dia suka menaiki perahu? Peduli
apa dengan kuburan keluarga Nio atau bukan?”
Kong Wan merunduk, ia berpikir.
“Kalau begitu, beritahu dia, perahunya melewati Owkio-
tin!” katanya akhirnya.
Teng-si menggoyangkan tangan.
“Kita tak boleh mendustai dia!” katanya. “Kau tahu adat
Eng Tay!”
“Baiklah, nanti ku tanya dulu,” kata Kong Wan. Terus
saja ia kembali ke ruang tamu, menemui dua perantara
itu. Tidak lama kemudian, ia sudah kembali pada istrinya.
Ia berkata: “Benar, perahunya akan lewat Ow-kio-tin. Aku
ditanya, pertanyaan ini datang dari Eng Tay atau ada hal
lainnya, aku menjawab dengan berdusta. Ku katakan
bahwa putri kita mempunyai sahabat di Ow-kio-tin dan
putri kita itu hendak mengunjunginya. Kedua tamu itu
mengatakan tak soal bila perahu singgah di Ow-kio-tin.
Nah, sekarang kau pergi kabarkan padanya. Aku mau
tahu, apa lagi tanggapannya.”
Teng-si terpaksa menurut, ia masuk lagi ke dalam.
Melihat ibunya, tanpa menanti si ibu berkata, gadis itu
sudah mendahului: “Apakah akan melewati Ow-kio-tin?”
“Benar, Nak,” jawab ibunya. “Nah, apa lagi
pertanyaanmu?”
“Sekarang aku hanya mau minta bertemu dengan Papa,
untuk mendengar dari Papa sendiri apakah Papa
menerima baik atau tidak permintaanku. Asal Papa terima,
segala hal mengenai diriku seumur hidup, kupasrahkan
pada Papa. Kalau malah sebaliknya, sampai mati pun aku
tidak akan ke luar dari rumah keluarga Ciok ini!” Teng-si
melengak sejenak.
“Jadi kau mau bicara sendiri dengannya?” tanyanya.
“Baiklah! Mari kita menemuinya!”
Si ibu segera berjalan, dan putri itu mengikuti. Di dalam
kamar, Kong Wan tampak sedang membenahi kain untuk
keperluan pernikahan. Ia tampak tidak gembira.
Begitu masuk, melangkahi pintu, Eng Tay segera
memanggil: “Pa...!”
Kong Wan melepaskan kain di tangannya, dia menoleh.
Dia pun mengangguk,
“Oh, kau, Nak!” sahutnya. “Kau hendak bicara apa?”
Gadis itu mengangguk pada ayahnya.
“Ayo, duduklah!” kata Teng-si menyelak. “Kau baru tiba,
kau ini mirip tamu saja....”
“Tak usah, Ma!” kata Eng Tay. “Aku ingin tanya Papa,
kalau kita naik perahu, apakah kita akan melewati Ow-kiotin
atau tidak?”
“Benar, Nak. Kita akan melewati Ow-kio-tin,” jawab
ayahnya.
“Di Ow-kio-tin itu, di timur lautnya ada makam Kiuliong-
hi,” kata Eng Tay. “Di sana ada kuburan Nio San Pek.
Ku harap, setibanya di sana, aku dapat mendarat sebentar
saja. Ya, aku hendak berziarah ke makam Nio San Pek
untuk menyampaikan kerinduanku, kerinduan yang
terakhir kali....”
“Ini...” kata Kong Wan tertahan.
“Papa jangan ragu-ragu,” kata Eng Tay memotong. “Jika
Papa izinkan aku mendarat, aku akan memberi hormatku
yang terakhir pada Kakak San Pek, seandainya tidak boleh,
ya sudah, aku pun tidak akan naik perahu!”
Kong Wan tercengang. Pertanyaan yang sangat
menyulitkan, jelas putrinya memaksakan permintaannya.
Menerima salah, menolak juga salah, bagai buah
simalakama.
Teng-si yang berada di sisi mereka tahu kebimbangan
suaminya. Dalam keadaan seperti itu, ia memberanikan
diri berkata.
“Sudah, izinkan saja!” demikian katanya. “Menghormati
pihak Nio pun ada baiknya.”
Kong Wan masih berpikir, barulah kemudian ia
mengibaskan tangannya.
“Baiklah, Papa izinkan kau memberikan
penghormatanmu!” katanya akhirnya. “Tetapi masih ada
satu permintaan, Papa! Kau tak boleh mengenakan
pakaian berkabung!”
“Baik, Pa, ku turuti perintah Papa!” kata gadis itu cepat.
“Namun, sekali seorang terhormat mengeluarkan katakatanya,
dia tak dapat menyesali dan menariknya
kembali!”
Tanpa tedeng aling-aling gadis ini mendesak ayahnya
yang dianggapnya orang terhormat.
“Kalau Papa menolak, Papa tetap menolak,” kata
ayahnya. “Setelah Papa izinkan bagaimana Papa bisa
menariknya kembali? Tetapi Papa ingin bertanya, dengan
kepergianmu ini, kau akan pergi ke rumah keluarga Ma
atau tidak?”
Orang tua ini pun masih ragu-ragu, khawatir diperdayai
putrinya yang cerdik ini.
Gadis itu menjawab dengan cepat.
“Perahu itu milik keluarga Ma, lalu aku hendak kabur
ke mana?” demikian jawabannya, yang mirip pertanyaan
pula.
Sampai di situ, Teng-si menyelak lagi. “Putri kita sudah
bicara, perkataannya sepatah ya sepatah!” demikianlah
sang istri ini mencoba menengahi.
“Putri kita ini sudah memberikan jawaban, pasti dia
tidak akan mengingkarinya!”
“Baiklah!” kata suaminya akhirnya. “Aku mau pergi ke
depan!”
Eng Tay tidak mempedulikan apa-apa lagi, langsung ia
kembali ke lotengnya. Gin Sim mengikuti nona majikannya
itu.
“Apakah Nona bersedia menikah dengan keluarga Ma?”
tanya abdi itu, heran.
“Kalau aku menolak, bagaimana?” gadis itu balik
bertanya.
“Seandainya Nona tetap menolak, mustahil Tuan Besar
memaksa dengan mengikat Nona.”
“Ternyata kau berani, Gin Sim. Tetapi hal ini lebih baik
tidak kau campuri. Tetap sudah keputusanku untuk naik
perahu! Namun, bagaimana pendapatmu?”
Si abdi membungkam, ia tak dapat menjawab, maka ia
mengawasi majikannya itu.
Eng Tay menatap pelayannya ini.
“Hayo bicara!” desaknya. “Ini adalah saat kritis
terakhir!”
“Non, aku hanya mengikutimu saja. Ke mana Nona
pergi, ke sana aku turut juga!
“Itu aku sudah tahu. Aku tanya tentang perasaan
hatimu sendiri!”
“Saya sudah mengambil keputusan seperti Nona. Saya
tak mau menikah!”
“Itu baru separuh bunyi hatimu,” kata nona majikannya
itu. “Baiklah, yang sebagian lagi aku yang katakan
padamu. Aku ingin menyerahkan kau pada Su Kiu supaya
kalian dapat hidup bersama seratus tahun....”
Gin Sim tertegun, tetapi ia tersenyum-simpul.
Eng Tay mengangguk.
“Pasti itu dapat terlaksana,” kata si majikan. “Tiba
saatnya nanti tentu ada orang yang menggenapinya. Aku
akan naik perahu, kau tetap ikuti aku. Kau akan mengerti
bila nanti tiba saatnya...!”
Gin Sim menerima baik perkataan majikannya itu,
meski ia masih belum jelas. Ia mencoba untuk tidak
memikirkannya.
Sejak hari itu, semua orang di rumah keluarga Ciok
mengetahui bahwa nona mereka telah menerima lamaran
pernikahan dengan keluarga Ma. Semua pun lantas
bekerja, mengerjakan ini dan itu dengan hati gembira.
Sebaliknya dengan Eng Tay sendiri, dia tidak
mempedulikan apa pun juga.
Demikianlah, pada tanggal 24, perahu yang dikirim
keluarga Ma untuk menyambut pengantin telah tiba, terus
berlabuh di tempat sejauh satu li dari rumah keluarga
Ciok. Telah datang dua buah perahu dengan dua puluh
anak buahnya.
Ciok Kong Wan lantas memeriksa perahu, terus ia
mengatur barang-barang yang hendak dibawa-serta oleh
beberapa orang pengikutnya. Ia sendiri bersama istrinya
akan mengantarkan putrinya, sebab tak tenteram hatinya
membiarkan Eng Tay pergi tanpa pengantar sebagai
wakilnya. Mengenai Gin Sim, abdi ini tetap ikut dan
bertempat di perahu nona majikannya.
Pada tanggal 25, semua orang sudah berada di atas
perahu.
Eng Tay tidak mengenakan pakaian baru, hanya baju
hijau. Ia pun tidak berhias atau memakai bedak. Melihat
demikian, Teng-si, si ibu tidak puas, akan tetapi mengingat
masih ada waktu dua hari untuk berhias, ia melegakan
hatinya, ia membiarkan saja.
Perahu yang ditumpangi Eng Tay berada di sebelah
belakang, perahu ayah-bundanya di depan. Jendela
perahu gadis itu dirintangi dengan sejenis jala yang
tertutup dedaunan hingga tangan pun sukar dijulurkan.
Melihat itu, Eng Tay tersenyum dalam hati. Kamarnya
diperlengkapi dengan ranjang, meja dan kursi batu. Di atas
meja terdapat beberapa jilid buku. Jelas lengkaplah
persediaan yang dibutuhkan.
“Perahu ini bagus sekali,” kata Eng Tay. “Kalau Papa
tidak memanggilku, aku tidak mau pergi ke perahu Papa.”
Kedua orangtuanya meng-iya-kan.
Selama dua hari pelayaran tidak terjadi hal yang tidak
menyenangkan. Di hari ketiga, perahu itu pun mulai
memasuki sungai Yong. Tetapi hari itu, mendadak saja
angin berhembus kencang hingga air sungai bergelombang,
tidak seperti biasanya.
Anak buah perahu dengan cepat menurunkan layar.
Air sungai naik setinggi tiga kaki, suaranya berdebur
keras.
Tentu saja, tubuh perahu pun oleng, naik-turun.
Ombak putih datang dan pergi bergantian. Kalau ombak
muncrat di tepi kiri dan kanan sungai, orang tak dapat
melihat dengan jelas wujud rumah yang teraling
pepohonan.
Daun-daun tua berwarna kuning, terbang berhamburan
tertiup sang bayu.
Sudah pasti, di atas perahu pun, orang tak dapat berdiri
tenang.
“Tempat ini, apa namanya?” tanya Eng Tay pada anak
buah perahu.
“Inilah Ow-kio-tin,” gadis itu mendapat jawaban. “Di
sana itu adalah tempat yang disebut Kiu-liong-hi.”
“Oh!” seru gadis itu. “Ayo cepat kau berlabuh!”
“Tak usah Anda perintahkan, Non,” kata si tukang
perahu. “Kita memang mesti singgah di sini. Gelombang
terlalu besar dan berbahaya bagi kita.”
Eng Tay melongok ke luar jendela, ke sebelah kanan.
“Aku ingin kalian berlabuh di dekat Kiu-liong-hi,
bisakah?” tanya lagi.
“Bisa, Non!” demikian jawab si tukang perahu.
Perahu pun mulai menuju Kiu-liong-hi.
20
Sepasang Kupu-kupu
MENURUT keterangan anak buah perahu, tempat yang
disinggahi itu benar adalah Kiu-liong-hi, di dalam daerah
Ow-kio-tin.
Ciok Kong Wan merasa gelisah, setibanya di Ow-kio-tin
ini, mendadak saja datang angin besar hingga air
bergelombang. Akhirnya, ia menanyakan seorang tukang
perahu: “Angin dan gelombang ini akan bertahan sampai
berapa lama?”
“Mungkin tak lama,” jawab orang yang ditanya.
Kong Wan menjadi tenang, ia mengusap-usap
janggutnya lalu berdiam diri.
Anak buah perahu pun menurunkan jangkar, maka
berlabuhlah kedua perahu itu.
Lantas Eng Tay menghadap ke perahu ayahnya, dan
berkata pada ayahnya: “Pa, kita sudah sampai di Ow-kiotin,
sekarang aku mau mendarat untuk berziarah ke
kuburan Nio San Pek. Berapa orang kiranya boleh ku
ajak?”
Kong Wan tidak segera menjawab, jelas ia berpikir dulu.
“Cukup kau ajak Gin Sim seorang saja,” demikian
jawabannya. Namun ia menambahkan: “Tetapi di sini
semua orangnya keluarga Ma, kalau mereka mau turut,
aku tidak dapat melarangnya....”
“Terima kasih, Pa.” Kalau mereka mau turut, biarkan
saja!”
Teng-si tidak berkata apa-apa, akan tetapi dengan
kedua matanya, ia mengawasi kepergian putrinya itu.
Eng Tay bergelung Tui in-ki - Awan Bersusun. Ia bersalin
pakaian serba merah, ia pun mengenakan dengan lengkap
perhiasan rambutnya. Bajunya bersulamkan seekor kupukupu
berwarna-warni serta bunga bow-tan atau peony.
Sepatunya bersulamkan kepala burung Hong, phoenix. Ia
pun berbedak secara serasi hingga tampak sangat ayu.
Sang ibu heran melihat dandanan putrinya itu, hingga
ia berkata: “Nak, dandananmu kurang tepat. Kau toh
hendak pergi ke makam, mengapa kau berpakaian begitu
bagus?”
“Tetapi, Ma,” jawab putrinya, “Papa telah melarangku
mengenakan pakaian berkabung, maka dari itu sekarang
aku berpakaian seperti ini!”
Teng-si membungkam, ia melengak. Tetapi, tidak
demikian dengan suaminya.
Kong Wan menuding putrinya: “Papa melarangmu
mengenakan pakaian berkabung, tetapi bukan
mengizinkan pakaian macam ini!”
“Ah, sudahlah!” ujar Teng-si akhirnya menengahi.
“Pakaian apa juga, sama saja. Kita tak perlu menarik
perhatian orang banyak....”
Eng Tay berjalan perlahan-lahan.
“Pa, Ma, aku berangkat,” katanya tenang.
“Baiklah, Nak,” kata ibunya. “Tapi kau harus lekas pergi
lekas pulang.”
Eng Tay mengangguk. Tadinya ia mau berhenti sebentar
untuk mengatakan sesuatu, namun ia batalkan. Ia
khawatir nanti ayahnya bicara lagi. Dengan langkah hatihati,
ia berjalan di papan jembatan sampai tiba di darat, di
tepian.
Di tepian itu tampak orang-orang keluarga Ma
bertebaran.
Eng Tay mengetahui hal itu, ia diam saja.
Gin Sim mengiringi nona majikannya, ia pun melihat
orang-orang keluarga Ma, ia juga tidak mengatakan
sesuatu. Ia bungkam seperti nona majikannya itu.
Keduanya berjalan dengan tenang.
Jalanan di depan terpecah dua, barat dan utara. Jalan
yang di tengah, di depan, tampak banyak pepohonan,
lebat, hingga tak tampak orang berlalu-lalang. Berjalan
lebih jauh, di antara dua baris pepohonan, tampak
segundukan tanah - tumpukan tanah yang baru diuruk. Di
sisi gundukan itu, terdapat sebuah batu nisan dengan
sebaris huruf berbunyi: Kuburan Nio San Pek.
Tak ragu lagi, itulah tempat Nio San Pek beristitahat
untuk selama-lamanya!
Eng Tay mempercepat langkahnya hingga ia tepat
berada di depan kuburan yang lantainya terbuat dari batu
hijau itu. Segera ia menjatuhkan diri, berlutut, dari
mulutnya pun serta-merta ke luar suaranya yang parau:
“Kakak San Pek, inilah Adikmu, Eng Tay... Aku ingat janji
kita dulu, kau akan menantikanku di jalan ke dunia yang
lain. Nah, sekarang aku lewat di sini, maka inilah saatnya
kita berkumpul bersama...!”. Tangisan sedih menyusuli
ratapan gadis itu.
Tepat pada saat itu, sekonyong-konyong saja, bertiuplah
angin kencang, melintas, terdengar di antara
pepohonan. Sebaliknya dipucuk pohon, di atas, tampak
sinar kuning bagaikan kilau emas!
Gin Sim terkejut, ia menghampiri nona majikannya
yang sedang berlutut di depan kuburan. Di saat mendekat,
ia mendengar suara majikannya:
“Kakak San Pek, aku ingat janji kita dulu. Di kuburan
ini akan dipasang dua batu nisan, satu atas nama Nio San
Pek, yang lain atas nama Ciok Eng Tay, tetapi sekarang,
mengapa cuma satu batu dengan nama Nio San Pek
saja...”
Sehabis berkata demikian, Eng Tay bangkit, untuk
memeluk nisan sang kekasih. Tangisannya yang keras pun
menyusul.
Tiba-tiba saja, awan hitam bergulung-gulung di
angkasa, disusul dengan kilat yang menyambar-nyambar,
bergerak-gerak bagaikan seekor naga kuning, berkelapkelip,
bersuara nyaring, kemudian diikuti dengan suara
guntur yang menggelegar!
Gin Sim terkejut, ia takut hingga tubuhnya menciut,
dan kedua tangannya dipakai untuk menutupi matanya.
Hujan pun segera turun, butirnya besar-besar. Hingga
dalam sekejap saja, basah-kuyuplah tubuh semua orang!
Itu belum lengkap! Di saat menegangkan semacam itu,
tiba-tiba tanah kuburan San Pek terbuka, merekah, sambil
memperdengarkan suara nyaring, dan mencuatlah sebuah
batu nisan bercacahkan lima kata besar: Ciok Eng Tay Ci
Bok, artinya, Kuburan Ciok Eng Tay.
Aneh luar biasa, selagi hujan turun demikian derasnya,
tubuh Eng Tay tidak basah. Ia berdiri di samping batu
nisan itu!
Menyaksikan hal itu, dari kaget dan gugup, Eng Tay
menjadi girang tiada-kepalang. Ia segera berteriak: “Kakak
San Pek, lekas buka pintu, Adikmu sudah datang!”
Hebat teriakan gadis itu. Suaranya bagaikan
menggetarkan bumi. Dan, luar biasa, segera terjadilah
keajaiban: Tanah kuburan itu merekah, dengan
memperdengarkan suara nyaring; terbuka lebar-lebar,
seperti dua daun pintu yang dibentang. Dari liang lahat
terlihat cahaya terang api lilin. Tanah bongkaran itu
bertumpuk di kedua sisi.
Menyaksikan hal itu, Eng Tay menjerit lagi: “Kakak San
Pek, Adikmu, datang...!”
Menyusul ucapannya itu, tubuh gadis itu bergerak,
melompat, masuk ke dalam liang kubur....
Gin Sim kaget bukan-kepalang, cepat ia menyambar
tubuh nona majikannya itu, akan tetapi sudah terlambat.
Ia cuma dapat menggenggam ujung bajunya yang robek,
tinggal secuil di tangannya. Tubuh gadis itu telah masuk
ke dalam liang lahat, dan kuburan itu pun segera tertutup
dengan sendirinya, tanpa bekas-bekas terbuka!
Semua kejadian itu susul-menyusul dengan cepat
sekali, secepat kilauan sang kilat. Begitu berkelebat, begitu
lenyap.
Gin Sim tertegun, ia terperanjat dan juga takut. Ia
sangat heran. Bukan main menyesalnya ia. Kini ia hanya
memegangi sobekan baju nona majikannya. Gadis itu
sendiri lenyap entah ke mana....
Sekian lama Gin Sim berdiri tercengang, ia seakan-akan
lumpuh.
Setelah itu hujan pun berhenti, langit terang kembali
seperti sediakala. Segalanya sunyi.
Tiada jalan lain, Gin Sim berpikir untuk kembali ke
perahu. Tetapi saat itu juga, satu kejadian lain menyusul.
Sobekan baju di tangannya itu, bukan lagi cuilan baju, dan
tijba-tiba berubah menjadi seekor kupu-kupu berwarnawarni,
indah sekali. Kupu-kupu itu terbang di antara
rerumputan!
Bersamaan dengan rasa herannya, Gin Sim berniat
menangkap binatang itu, namun ia gagal. Sang kupu-kupu
terbang, tak dapat ditangkap. Ia penasaran, ia mengejar,
namun sia-sia saja. Kupu-kupu itu terlalu gesit dan lincah.
Setelah terbang di atas kepala abdi yang setia itu, terus dia
terbang tinggi, menghilang....
Gin Sim membelalak, mengawasi, sampai ia tersadar.
Selang sesaat, selagi abdi ini berniat kembali ke perahu,
tiba-tiba ia mendengar suara bertanya: “Gin Sim, baru saja
hujan lebat! Mana Nonamu?”
Ternyata orang yang menegur itu, yang baru tiba adalah
Teng-si. Di samping si nyonya, juga ada Ciok Kong Wan,
sang majikan. Mereka itu datang karena telah terlalu lama
menantikan kembalinya putri mereka.
Sejenak Gin Sim bingung. Ia bicara atau tidak?
Bagaimana kalau ia membungkam? Mana tanggung
jawabnya? Kalau ia bicara sebenarnya, apakah ia akan
dipercaya? Tetapi jelas, nona majikannya telah lenyap....
Akhirnya, mau tidak mau, hamba ini menjawab yang
sebenarnya.
Kong Wan dan Teng-si kaget bukan main, mereka
tercengang. Hal itu teramat aneh! Sulit untuk
mempercayainya!
“Gila kau!” damprat Kong Wan. “Bagaimana mungkin
manusia hidup bisa lompat masuk ke dalam liang kubur?”
“Tetapi itu benar, Tuan Besar,” kata si abdi. “Di sana,
ada orang-orang keluarga Ma yang turut menyaksikan.”
Saat itu enam orang keluarga Ma, dengan tubuh basah
kuyup datang mendekat. Mereka mendengar pembicaraan
antara majikan dan hambanya itu, maka tanpa diminta
lagi, mereka menegaskan: “Benar, Tuan Besar, benar apa
yang dikatakan nona ini. Kami menyaksikannya sendiri!
Kami berada sedikit jauh, kami tak dapat menolong.
Kuburan itu merekah dan tertutup dengan sangat cepat,
terjunnya gadis itu lebih cepat lagi!”
Teng-si mengawasi mereka itu.
“Benar demikian?” tanyanya. “Sungguh aneh!”
Kong Wan dan istrinya masih ragu-ragu, bersama-sama
mereka melangkah cepat menuju kuburan. Mereka
memeriksa kuburan yang tanahnya masih baru itu.
Urukannya baru. Mereka pun menyaksikan kedua batu
nisan yang berukiran nama-nama San Pek dan Eng Tay,
bukan main herannya mereka. Sejenak, mereka berdiri
terpaku, mata mereka tertuju pada kuburan.
Segera juga Teng-si menjerit menangis.
“Ketika masih berada di perahu, hujan besar
membuatku sangat cemas,” katanya sambil menangis.
“Aku memikirkan Eng Tay, aku mengkhawatirkan
keselamatannya maka aku sungguh tidak duga, dia justru
lenyap secara begini aneh...! Oh Nak, di mana kau....?”
Kong Wan yang berhati keras juga mengucurkan airmata.
Biar bagaimanapun, ia menyayangi putrinya.
Gin Sim menangis dengan sangat pilu. Ia pun takut
disalahkan majikannya. Ia mohon maaf, tetapi ia
menambahkan bahwa dirinya tidak bersalah.
“Kau memang tidak bersalah, kami tidak
menyalahkanmu,” ujar Teng-si menenangkannya.
Tiba-tiba tangan Gin Sim menunjuk dan dari mulutnya
terdengar suara yang menyatakan keheranannya: “Lihat,
kupu-kupu itu muncul lagi...!”
Semua orang heran, dengan sendirinya semua menoleh
ke arah yang ditunjuk si abdi itu.
Seekor kupu-kupu muncul, terbang perlahan-lahan.
Binatang itu cantik sekali. Sayapnya berwarna lima
macam, bergemerlapan dan terang, bercahaya gemilang.
Dia lantas turun ke atas kuburan dan hinggap di rumput.
Namun itu belum lengkap. Mendadak juga, dari
belakang kuburan, muncul pula seekor kupu-kupu yang
lain. Dia ini melayang, terus hinggap di sisi kupu-kupu
yang pertama. Sayapnya juga indah. Setelah itu, keduanya
terbang lagi. Akan tetapi kali ini, keduanya mengapung
turun dan naik, bersamaan dan bergantian.
Selang sesaat, keduanya terbang tinggi, melayang
sampai di atas kepala Ciok Kong Wan dan Teng-si yang
saking herannya berdiri terpaku mengawasi kedua
binatang itu sejak tadi. Di atas kedua suami-istri itu,
kedua kupu-kupu itu terbang berputar-putar....
“Sungguh kupu-kupu nan besar dan indah!” puji
beberapa orang keluarga Ma.
Kedua kupu-kupu itu terbang lagi ke atas kuburan, ke
antara beberapa orang itu, agaknya keduanya mengerti
bahwa mereka dipuji, rupanya mereka hendak
mengucapkan terima kasih....
Tetapi kali ini, sesudah mengapung berputar-putar,
keduanya semakin lama semakin tinggi, tanpa terasa
mereka telah terbang jauh dan lantas lenyap dari
pandangan mata!
Kong Wan memandang kosong mengawasi kuburan San
Pek, akhirnya ia berkata pada istrinya: “Sudahlah, mari
kita pulang! Kita perlu mengetahui sikap keluarga Ma. Ku
pikir, kejadian ini tak perlu membuat kita mengalami
kesukaran. Kejadiannya pun disaksikan oleh orang-orang
keluarga itu, sedangkan kita, kita tidak tahu apa-apa.
Saksi kita hanya Gin Sim seorang, mungkin kesaksiannya
tidak cukup kuat, tetapi bersama kesaksian pihak sana
sendiri....”
Teng-si mengusap airmatanya. Beberapa lama ia
berdiam saja. Sesaat kemudian, barulah ia berkata.
“Ayo kita pulang....” suaranya berat. “Harap saja kalau
nanti orang-orang keluarga Ma ini pulang, mereka bisa
memberikan kesaksian dan hal itu diterima baik oleh
keluarga Ma....”
Kong Wan lantas menggapai Gin Sim.
“Gin Sim, mari kita pulang! Masih ada beberapa
pertanyaan kami untukmu.”
Sang abdi membungkam, tetapi ia ikut pulang. Ia masih
memikirkan nona majikan, orang yang ia andalkan. Sesaat
itu, ia bingung memikirkan dirinya, tentang masa
depannya....
Orang-orang keluarga Ma pun turut pulang, mereka
tidak berkata apa-apa. Masing-masing balik ke perahu
mereka.
Kong Wan tidak memperoleh keterangan lebih jauh,
sebab peristiwa itu pun tidak diketahui oleh orang lain.
Tiba dirumah, benar juga, Kong Wan menanyakan Gin
Sim, akan tetapi hamba ini tidak dapat memberikan
keterangan lebih banyak. Walaupun aneh, sederhana
sekali terjadinya peristiwa itu.
Di lain hari, sewaktu malam gelap dan sunyi, diam-diam
Gin Sim membuka pintu, pergi ke luar tanpa
sepengetahuan siapa pun. Ternyata ia tak dapat tinggal
lebih lama pula di dusun Ciok, maka ia menjauhkan diri.
Sang Kala berlalu, tibalah pertengahan bulan kedua.
Waktu itu, di Kang-lam selatan sungai Yang Tze, ratusan
bunga bermekaran. Dan pada suatu hari, di kuburan Nio
San Pek, tampak Su Kiu bersama Gin Sim!
Pepohonan dan rerumputan di sekitar kuburan, semua
tampak hijau dan segar.
Su Kiu bersama Gin Sim menjalankan penghormatan
dengan berlutut dan membungkuk di depan kuburan San
Pek. Di hati mereka, itu juga kuburan Eng Tay. Kemudian
mereka berdiri diam, mata mereka menatap kuburan.
Sewaktu mereka mengawasi, mendadak dari antara
pepohonan yang lebat muncul dua ekor kupu-kupu yang
indah sayapnya, beterbangan berpasangan di depan
kuburan.
“Itulah kedua Tuan Muda kita, Nio San Pek dan Ciok
Eng Tay!” seru muda-mudi itu, girang dan kagum serta
heran....
Gin Sim gembira karena ia merasa yakin, itulah
reinkarnasi nona majikannya serta sang Tuan Muda. Ia
mengagumi kedua pasangan itu. Su Kiu terpesona akan
agung dan indahnya kedua kupu-kupu itu, yang
‘riwayat’nya telah ia dengar dari kawannya itu, yang kini
telah menjadi istrinya.
Kedua abdi ini terus mengawasi sepasang kupu-kupu
yang indah itu, yang sedang terbang berdampingan,
mengapung turun-naik, berputar-putar di atas rerumputan
kuburan yang baru itu, lalu perlahan-lahan, terbang naik,
sampai ke pucuk pohon-pohon cemara yang besar dan
tinggi, dan akhirnya, lenyap... tak tampak lagi....
TENTANG PENULIS
OKT, alias Oey Kim Tiang, lahir di Tangerang pada tahun
1903, seorang peranakan Cina generasi ke-2, dan
berbahasa “Melayu pasar” dalam keluarganya. Ia mendapat
pendidikan formal bahasa Cina di sekolah dasar. Di bawah
bimbingan gurunya, yaitu Ong Kim Tiat (1893-1964), yang
juga menggunakan initial O.K.T., OKT-muda bergelut
dalam penerjemahan berbagai karya dari bahasa Cina.
Sejak tahun 1920-an ia telah dikenal sebagai penyadur
cerita-cerita silat dan kerajaan dari Cina dalam bentuk
cerita bersambung di surat kabar dan majalah maupun
dalam format buku. Sadurannya sangat banyak dan amat
digemari, dan sering dibajak sampai sekarang (untuk
daftar sebagian karya terjemahan atau sadurannya, lihat
Claudine Salmon, Literature in Malay by the Chinese of
Indonesia: A Provisional Annotated Bibliography, pada judul
“Oey Kim Tiang” dan “Ong Kim Tiat”). Ketika muda, selain
menyadur, ia juga terjun dalam pers sebagai korektor atau
editor, suatu kegiatan yang hingga kini masih dilakukan
bila membaca surat kabar, majalah, buku atau menonton
televisi. Walau telah lanjut usia, OKT masih bersemangat
tinggi untuk menyumbangkan apa saja yang dapat
dilakukannya. Saduran San Pek Eng Tay ini merupakan
sumbangsihnya kepada masyarakat Indonesia dalam usia
yang ke-85.
ASA (Achmad Setiawan Abad) lahir di Bangka pada tahun
1951. Mantan dosen Universitas Indonesia (UI) (1976-1988)
dan Universitas Nasional, mantan peneliti pada Lembaga
Riset Kebudayaan Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia, mantan anggota Badan Komunikasi
Penghayatan Kesatuan Bangsa Pusat, mantan pengurus
Himpunan Perserikatan Bangsa-Bangsa - Indonenesia, ia
mendapat pendidikan formalnya antara lain dari Fakultas
Farmasi Gajah Mada (UGM), Fakultas Hukum Universitas
Kristen Indonesia, Fakultas Sosial dan Politik UGM,
Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia (UI),
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Fakultas Ekonomi UI,
Fakultas Komunikasi serta Fakultas Politik Universitas
Hawaii. Pendidikan non-formal diperolehnya antara lain
dari East West Center Communication Institute. Telah
menerjemahkan buku-buku antara lain, non-fiksi:
Menjangkau Dunia: Menguak Kekuasaan Perusahaan
Multinasional, Geografi Keterbelakangan, Pengantar Analisis
Politik, Islam di Asia Tenggara, Pembangunan Berdimensi
Kerakyatan; fiksi antara lain: Novel Batas Air (Shui Hu
Chuan) dan Sang Ayatollah.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Legendaris Mandarin : Sampek Engtay 3 tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 20 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments