Cerita Romantis 16 Kamis : Iblis Sungai Telaga

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Romantis 16 Kamis : Iblis Sungai Telaga
Cerita Romantis 16 Kamis : Iblis Sungai Telaga
"Sicu," katanya sabar. "Kau telah berkelahi satu malam
suntuk. Kau sudah letih sekali, maka itu jangan mencari
kesengsaraan lebih jauh......"
Justru pendeta itu berbicara dengan si nona, Gak Hong Kun
maju menyerang, menebas ke arah pinggang. Pie Te Taysu
tidak menangkis, karena ia lagi menghadapi Kiauw In.
Tubuhnya jadi berada disampingnya penyerang, maka itu ia
terus memutar tubuhnya itu, bahkan dengan berani ia
memasang perutnya, untuk dibiarkan kena tertebas !
Hebat, pedang mengenai perut tetapi tak mempan, bahkan
setelah satu suara nyaring, pedang itu terpental jatuh ke
tanah sejauh enam kaki sebab cekalannya Hong Kun terlepas
sendirinya !
Im Ciu It Mo terkejut menyaksikan kegagalannya kedua
murid itu. Ia sendiri tak berdaya, sebab ia terluka parah. Tapi
seorang It ciu. Sekarang tidak lagi memperlihatkan tampang
seram atau garang. Sebaliknya dia tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Eh, anak-anak, jangan kalian sembrono !" demikian ia
tegur Hong Kun dan Kiauw In. "Baiklah kalian dengari apa
pengajarannya bapak pendeta yang mulia ini."
Pie Te Taysu memuji Sang Buddha.
"Sicu," tanyanya, "bagaimanakah dengan lukamu ?"
Pertanyaan diluar sangkaan itu membuat Im Ciu It Mo
melengak. Tak dapat ia menerka maksudnya si pendeta itu.
"Tak usah taysu merisaukan hati." sahutnya kemudian.
"Aku si wanita tua masih dapat bertahan !"
"Sicu," berkata pula si pendeta, "telah empat puluh tahun
kau bertapa, kau sudah mendapatkan kemajuan yang tak
sedikit. Hanya kau masih belum menyadari apa artinya nama
dan laba !"
Kembali si wanita tua membungkam.
"Hm !" demikian terdengar suaranya paling akhir, suara
tawar.
Dengan sinar mata tajam, Pie Te Taysu menatap wanita
tua itu, terus ia kata dengan kata demi kata yang terang dan
tegas :
"Sicu, aku si pendeta tua menerima perintah dari ketua
kami buat pihak kami menyudahi semua perbuatan pihakmu
membinasakan dan melukai murid-murid kami, supaya kalian
bertiga dibiarkan bebas meninggalkan kuil kami ini !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Cuma sedetik si pendeta berdiam, segera ia menambahkan
: "Cuma aku si pendeta tua ingin menasehati sicu secara
sungguh-sungguh hati."
Hatinya It Mo menggetar, akan tetapi ia mencoba
menenangi diri, selagi ia ditatap, ia membalas mengawasi.
"Silahkan bicara, taysu !" katanya.
Pie Te Taysu berkata : "Kesesatan itu adalah perbuatan diri
sendiri, maka itu aku si pendeta tua ingin memohon sicu suka
memikirkan dan menyadarinya, supaya kelak di belakang hari
tidaklah sampai sicu menyia-nyiakan kebaikan ketua ini yang
menjadi kakak seperguruanku, yang suka membebaskanmu
supaya sicu memperoleh jalan hidupmu ! "
Selekasnya dia mengucapkan kata-katanya itu, Pie Te
Taysu segera berlalu pergi menuruni lereng itu. Im Ciu It Mo
melongo saja. Coba ia tidak tengah terluka parah, pasti ia tak
mau mengerti. Tak puas ia dengan nasehat itu. Ia telah
dipengaruhi kejumawaannya, keinginannya menjadi orang
pandai dan disegani. Nama termashur dan kedudukan telah
menutupi kesadarannya. Dia telah dibudaki sigarnya suka
menang sendiri dan keunggulan yang melebihkan orang lain.
Demikian, seberlalunya si pendeta, dia tertawa dingin
berulang-ulang untuk mengejek pendeta yang murah hati itu.
Kemudian ia mengulapkan tangannya, menyuruh Hong Kun
menjemput pedangnya, buat mereka terus berjalan turun dari
lereng itu, guna meninggalkan gunung Gwan Sek Sie.
Mereka berjalan baru beberapa tombak atau dari balik
sebuah batu karang yang besar muncul seorang wanita
dengan dandanan jubah kependetaan, usianya setengah tua,
tampangnya genit, pinggangnya tergantungkan sepasang
golok. Dan wanita itu segera menghadang di tengah jalan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Gak Hong Kun terkejut selekasnya dia melihat wajah wanita
itu. Dia sedang dibawah pengaruh It Mo tetapi dia masih ingat
orang yang menghadang di depan mereka ini. Dia hanya lupa
nama orang. Apa yang dia ingat adalah dia pernah roboh
dibawah pengaruh bubuk biusnya.........
Kapan Im Ciu It Mo sudah melihat orang itu, dia lantas kata
dingin : "Eh, Sek Mo Ceng Ciang Nikouw. Bagaimana kau
berani main gila dihadapan si wanita tua ?"
Wanita setengah tua itu, seorang nikouw ialah Ceng Kiang
Bajingan Paras Elok. Dia tertawa geli dan kepalanya
bergoyang-goyang seumpama bunga yang bertangkai. Ketika
dia membuka mulutnya, terdengarlah sahutnya yang sabar.
"Eh, perempuan tua, kau harus mengenali aku !" demikian
katanya. "Sekarang ini telah aku menukar gelarku ! Aku bukan
lagi Sek Mo hanya Peng Mo, si Bajingan Es ! Dan sekarang aku
berhadapan dengan kau karena aku ingin menguji
kepandaianku terhadap kepandaianmu "San Im Cit Sat Kang !"
It Mo heran hingga ia melengak, ia lagi terluka. Mana dapat
ia berkelahi ? Sebalik kejumawaannya Peng Mo membuat
darahnya bergolak. Hatinya sangat panas. Saking mendongkol
ia lantas tertawa nyaring. Hanya kali ini suaranya tidak
berpengaruh dan menakuti seperti biasanya. Sekarang ini
suaranya lemah dan juga tidak lama. Ia mau menggertak
orang tetapi ia gagal.
Selekasnya ia bersuara itu, lantas nafasnya memburu keras
sekali hingga ia lalu selekasnya memegangi bahunya Kiauw In
supaya tubuhnya tidak terhuyung roboh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pada mulanya hati Peng Mo menegang ketika ia mendengar
suaranya It Mo itu tetapi selewatnya itu dengan matanya yang
tajam ia mendapat kenyataan orang seperti lagi terluka parah,
maka berubahlah hatinya dari jeri menjadi berani ! Dan tak
lagi ia menunjuki tampang centilnya. Rupanya menjadi bengis
dan matanya menyorong galak sekali.
"Hai bajingan perempuan tua !" demikian tegurnya.
"Bajingan perempuan mana bisa kau menyembunyikan
kepadaku hal kekalahanmu di Gwan Sek Sie ? Jika kau tahu
selatan, lekas kau serahkan murid orang yang kau rampas itu
kepadaku supaya dapat aku membawanya pergi ! Dengan
begini jadi tak usahlah kerukunan kita menjadi terganggu !"
Berkata begitu Peng Mo menunjuk Hong Kun.
Selama orang bicara It Mo berdiam saja. Diam-diam ia
mencoba meluruskan nafasnya dan mengumpulkan tenaganya
juga. Ia mencoba mencegah agar darahnya tak bergolak
terus. Kemudian ia mengawasi Hong Kun dan terutama Kiauw
In. Dengan mengawasi muda mudi itu, ia bagaikan tak
mendengar kata-kata lanjutan dari si Bajingan Es.
Ceng Ciat Nikouw juga mengawasi tajam pada Hong Kun, si
anak muda yang tampan. Pemuda itu tetap ganteng walaupun
pikirannya tak sadar hingga dia membuatnya si bajingan
wanita menjadi mengiler. Peng Mo ingin segera merangkul
pemuda tampan itu.
Dengan Peng Mo berdiam dan It Mo tidak menjawab,
sejenak itu sunyilah suasana diantara mereka kedua belah
pihak. Hanya It Mo berpikir keras bagaimana harus melayani
bajingan yang menjadi saingannya itu. Ia lagi terluka, tak
dapat ia menggunakan kekerasan. Apa akal ?
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Karena Hong Kun kena dirampas Peng Mo itulah suatu
penghinaan dan kehinaan untuknya. Pasti nama besarnya
bakal tercemar. Asal namanya rusak, tak dapat ia berdiri pula
di muka orang banyak, diantara sesama kawannya kaum
sesat.......
Ada satu hal yang dikuatirkan Im Ciu It Mo, Sek Mo atau
Peng Mo biasanya bertiga, sebagaimana julukan mereka ialah
Hong Gwa San Mo, Tiga bajingan dari luar perbatasan, kalau
sekarang muncul Peng Mo, siapa tahu kedua kawannya tak
berada di tempat yang berdekatan ? Satu Peng Mo sudah tak
dapat dilawan, bagaimana lagi apabila datang dua saudaranya
itu ? Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin tidak dapat
dipandang ringan !
It Mo mengawasi wanita di depannya yang lagi tersengsem
oleh ketampanannya Hong Kun. Diam-diam tetapi dengan
disengaja ia batuk untuk perlahan. Peng Mo sadar mendengar
suara batuk itu, kulit mukanya menjadi merah. Lekas sekali
telah muncul nafsu birahinya. Maka lantas dia mengawasi
tajam pada It Mo.
"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Apakah kau tak sudi minum
arak hutangan hanya lebih suka menenggak arak doang? Hari
ini aku, Peng Mo mau mendapat bagianku !"
It Mo tidak menjawab pertanyaan orang, dia hanya
mengalihkan itu.
"Aku heran akan Hong Gwa Sam Mo." demikian katanya.
"Kenapa sekarang cuma muncul Peng Mo, satu nikouw ? Aku
Im Ciu It Mo, walaupun aku tengah terluka ingin aku belajar
kenal dengan kepandaiannya Sam Mo bertiga ! Jadilah perlu
supaya nanti di dalam pertemuan Bu Lim Cit Cun di In Bu San,
dapat kita mengambil keputusan !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo cerdas dan licik, mana ia tak dapat menerka
maksudnya It Mo itu ? Maka ia tertawa dan kata, "Kau mau
maksudkan kedua saudara seperguruanku ? Mereka berdua
berada diatas ! Mereka tengah menikmati kota dan hutan di
sana, disebelah dalam. Bajingan tua, kau tahulah diri sedikit !"
It Mo menahan sabar.
"Oh, kiranya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, kedua
orang lihai itu juga takut menemui aku!" demikian katanya.
Peng Mo menjadi panas hati, alisnya terbangun, matanya
mencelak bengis !
"Jika kau bertemu dengan kakakku yang tua, Hiat Mo
Hweshio sukar dijamin yang darahmu tak akan bermuncratan
!" katanya sengit.
Im Ciu It Mo menggerakkan kepalanya hingga rambutnya
turut bergerak juga.
"Aku si orang tua tak memiliki apa juga !" katanya.
"Dengan sesungguhnya ingin sekali aku bertemu dengan Hiat
Mo ! Apakah yang aku takuti ?"
Peng Mo tak puas, ia pun berkata nyaring. "Mungkin
kakakku yang kedua Tam Mo Tojin menyukai jantungmu
untuk dikorek dikeluarkan guna dilihat-lihat warnanya putih
atau hitam !"
Peng Mo tidak tahu bahwa dengan caranya itu It Mo
sedang mengulur waktu. Segera diam-diam wanita tua ini
tengah mengerahkan tenaga dalamnya guna menyembuhkan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lukanya. Dengan perlahan-lahan dia berhasil membuat
lukanya sembuh.
Sebagai seorang licik telah dia memikir semakin lama dia
mengulur waktu, semakin baik untuknya. Asal dia sembuh ! It
Mo pun berlaku cerdik. Apa yang dikatakan Peng Mo tak dia
hiraukan, sedangkan dia biasanya pemarah, mukanya mudah
menjadi merah padam. Bahkan dia dapat bersenyum dan
tertawa.
"Sebenarnya memang ada niatku memberi kau jantungku
kepada kakakmu yang nomor dua itu!" katanya sengaja.
"Hanya itu aku tidak tahu kakakmu menginginkan itu atau
tidak !" Dia hening sebentar untuk meneruskan, "Hari ini aku
si wanita tua sangat beruntung karena aku tidak bertemu
dengan Hiat Mo dan Tam Mo ! Dengan demikian maka
bebaslah aku dari ancaman darahku bermuncratan dan
jantungku dikorek keluar untuk dilihat warnanya ! Aku justru
bertemu kau, wanita tua hingga kita jadi berhadapan wanita
dengan wanita, hingga pertemuan ini tak merugikan siapa
juga ! Ha ha ha !"
Alisnya Peng Mo terbangun.
"Eh, kau dengar tidak ?" tegurnya. "Bukankah barusan
telah kukatakan supaya muridmu kau serahkan padaku,
supaya dengan begitu dapat aku beri jalan hidup padamu ?"
It Mo melengak. Tak ia sangkat bahwa orang menimbulkan
pula hal yang ia telah alihkan itu. Tapi ia lekas bersenyum.
Kata ia,
"Aku si wanita tua bukannya tak ikhlas memberikannya,
cuma aku pikir, aku memberikannya padamu juga tak ada
gunanya !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo heran dengan jawaban itu. Sejenak ia pun
melengak. Lalu dia tersenyum dan kata : "Tak dapat aku
diperdaya kau ! Dia toh seorang pria, kenapa dia boleh tak
ada gunanya ?" Berkata begitu, dia melirik tajam pada Hong
Kun, sinar matanya menunjuki bahwa dia sangat mengiler
terhadap si pemuda.
It Mo tertawa.
"Aku si orang tua, aku juga seorang yang telah
berpengalaman !" katanya. "Dahulu hari lakon asmaraku
melebihi lakon asmaramu sekarang ! Dahulu itu, asal aku
menemui pria yang tampan, hatiku lantas goncang keras dan
semangatku seperti terbang pergi..........."
Bajingan ini berhenti bicara secara tiba-tiba. Terus dia
berdiam saja.
Sebenarnya Peng Mo sangat tertarik hati mendengar katakata
orang itu. Asal ada soal asmara, tak perduli itu
sebenarnya soal nafsu birahi, lantas saja dia menjadi sangat
gembira. Maka juga, dengan tak sabaran dia lantas bertanya,
"Bagaimana, eh ? Murid priamu itu apakah dia telah
kehilangan tenaga laki-lakinya ? Dia pula, benarkah ?"
Dengan sendirinya, Peng Mo nampak kurang gembira.
Puas It Mo melihat rupa orang itu. Ia mengerti yang katakatanya
telah memberi pengaruh. Maka terus ia main komedi.
"Sahabatku, sabar !" demikian katanya. "Buat apa tergesagesa
? Kau tahu, bicaraku si wanita tua belum sampai
diakhirnya........"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo menggertak gigi. Dia tak sabaran.
"Perempuan tua !" tegurnya. "Urusan asmara dahulu, hari
itu baiklah ditangguhkan dahulu ! Apa yang aku ingin ketahui
sekarang ialah apa benar dia pelu ? Aku minta kau bicara
secara jujur!"
It Mo berpikir keras. Inilah saat yang mendesak. Kalau ia
menjawab Hong benar pelu, Hong Kun pasti tak akan dibawa
pergi. Kalau ia menjawab, sebaliknya Peng Mo dapat menjadi
gusar dan ia dapat dimarahi. Itulah berbahaya. Bagaimana
kalau mereka bertiga diserang nenek cabul itu ? Ia lagi terluka
parah, tak sanggup ia melawan wanita itu. Kalau Hong Kun
dibawa lari saja, pasti sudah ia bakal mendapat malu. Tapi
dasar cerdas, tiba-tiba ia mendapat pikiran.
"Muridku ini," kata ia sambil mengangkat kepalanya, "dia
sedang muda dan gagahnya. Kalau kau mendapati dia, kau
pasti bakal merasa puas luar biasa, cuma...."
Peng Mo bukan main tertarik ketampanannya Hong Kun,
yang ia kuatir ialah pemuda itu tak memiliki tenaga
kelelakiannya, sekarang ia mendengar It Mo mengatakan si
anak muda gagah sekali, girangnya bukan kepalang. Tapi,
mendengar kata-kata "cuma" dari si bajingan di depannya,
mendadak hatinya menjadi bimbang. Seketika juga ia menjadi
tak sabaran pula, hingga dia maju menghampiri It Mo, untuk
berkata keras, "Bajingan tua, jangan kau jual lagak pula !
Lekas kau bicara !"
Matanya Peng Mo terbuka lebar, sinarnya bengis.
Selama itu Kiauw In dan Hong Kun berdiam saja. Mereka
mendengari pembicaraannya kedua bajingan tua itu tetapi
mereka tak mendengari apa-apa. Inilah sebab keduanya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tengah dipengaruhi Thay Siang Hoan Hun Tan, pil pelupa diri,
yang mereka diberi makan oleh It Mo. Berdua mereka cuma
bengong mengawasi It Mo saja.
Peng Mo mengerutkan alis, matanya mengawasi It Mo. Ia
heran orang tidak menjawabnya.
"Hayo, kau bicaralah !" desaknya. "Apa mungkin muridmu
itu berhati keras seperti Liu Hee Hui dijaman dahulu, yang tak
gentar akan soal asmara ? Aku tak percaya ada pria yang lain
dapat lolos dari genggamanku !"
It Mo tertawa tawar.
"Muridku ini bukannya suhengku Liu Hee Hui !" sahutnya.
"Dia juga bukan telah kehilangan tenaga kelaki-lakiannya. Dia
hanya makan obat Thay Siang Hoang Hun Tan dari si wanita
tua, dengan demikian, hilang sudah kecerdasannya ! Karena
itu, mana dia dapat mengerti urusan asmara ?"
Peng Mo melengak. Mulanya berdiam terus, dia tampak
murka, matanya mendelik pula.
"Aku tak perdulikan muridmu itu ada gunanya atau tidak !"
katanya kemudian sengit. "Hari ini dia bertemu denganku,
hendak aku bawa dia pergi ! Hendak aku mencobanya !"
Kata-katanya ditutup dengan tubuhnya si Bajingan
bergerak, agaknya dia hendak mengajukan diri buat
memegang Hong Kun buat diseret pergi.
It Mo berpikir keras. Selama memperdayai wanita itu, diamdiam
ia sudah mencoba terus mengerahkan tenaga dalamnya.
Lekas sekali ia telah memperoleh kemajuan. Maka itu sampai
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
disitu ia dapat berpikir, "Aku merasa kesehatanku sudah pulih
banyak.
Bersama kedua muridku, kami ada bertiga ! Mustahil aku
tidak dapat lawan kepadanya ? Sedikitnya kami dapat mundur
teratur......."
Selam itu It Mo pun heran. Ia masih belum juga melihat
munculnya Hiat Mo Hweshio dan Tam Mo Tojin, dua anggota
lainnya itu dari Hong Gwa Sam Mo. Mereka itu biasanya tak
pernah memisahkan diri dan tadipun Peng Mo mengatakan
bahwa kedua saudara angkatnya itu berada berdekatan.
Dimana adanya mereka itu berdua ? Apakah mereka lagi
menyembunyikan diri ?
"Ah, perduli apa mereka itu !" pikir Im Ciu It Mo kemudian.
Sendirnya nyalinya menjadi besar pula.
Peng Mo maju lebih dekat pula. Orang tetap tak
menjawabnya.
"Kau harus tahu diri !" tegurnya pula. "Kau harus tahu
selatan ! Mari dengan baik-baik kau serahkan muridmu supaya
persahabatan diantara kita tetap terjamin !"
It Mo berlaku sabar sekali.
"Orang setolol dia percuma aku serahkan dia padamu !"
sahutnya. "Maka itu aku pikir lebih baik kau memberi muka
kepada aku si perempuan tua supaya kita tetap bersahabat !"
Hatinya Peng Mo tergerak juga mendengar kata-kata orang
itu, ia ingat kalau It Mo tidak tengah terluka, sulit buat ia
menempurnya. Mungkin ia kalah seurat. Sekarang bagaimana
ia harus bertindak ? It Mo agaknya membalas........
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tak dapat aku sudah saja....." pikirnya lebih jauh. Daging
tinggal dicaplok saja !
Lantas Peng Mo mengawasi tajam kepada Hong Kun,
sekian lama, barulah ia berpaling kepada It Mo. Ia bersenyum,
bersenyum licik. Terus dia kata, "Bajingan tua, kau benar juga
! Memang kita kaum sungai telaga, baik digunung maupun di
air, ada saatnya buat kita saling bertemu ! Baiklah, bajingan
tua. Aku dengar kata-katamu, kita saling mengalah, untuk
melindungi kerukunan kita kelak di belakang hari. Cuma,
bajingan tua, kau harus menerima baik dahulu satu
permintaanku."
Lega juga It Mo mendengar orang berubah sikap.
"Aku kagum yang kau dapat melihat selatan, sahabatku."
katanya. "Sekarang tolong coba beritahukan aku, apakah
permintaanmu itu ?"
"Itulah permintaan yang sangat sederhana." sahut Peng
Mo, si Bajingan Es. "Kau bagi aku sedikit obat pemunah pil
Thay Siang Hoan Hun Tan, supaya aku dapat menyadarkan
muridmu itu, supaya dengan demikian dapat aku pinjam dia
selama satu bulan...."
It Mo melengak. Itulah permintaan yang diluar dugaannya.
Mana dapat ia memberikan obat pemunah itu ? Mana dapat ia
meminjamkan Hong Kun, apa pula buat satu bulan ? Apa
dayanya sekarang ? Agaknya pertempuran tak dapat
disingkirkan........
Selagi berpikir keras, It Mo memandang ke sebelah depan,
sambil mengangkat kepalanya ia mengawasi heran diatas
tanjakan, di lereng di depannya itu. Ia melihat cahaya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
matahari. Ketika itu sudah siang, sebab sang pagi telah lewat
sekian lama. Sunyi disekitar mereka. Cuma angin bertiup halus
dan burung-burung kecil beterbangan.
Parasnya si Bajingan Tunggal berubah dengan cepat. Dari
tenang ia menjadi bersungguh-sungguh, menjadi tegang.
Dengan tawar dia berkata kepada si Bajingan Es. "Bagaimana
sahabat andiakata aku si wanita tua tidak suka memberikan
obat pemunah kepadamu ?"
Dengan begitu, It Mo sudah mengambil keputusan akan
apabila perlu mengadu tenaga dan kepandaian ! Lalu terjadi
hal diluar dugaan !
Peng Mo, yang tadinya selalu bersikap keras, mendadak
saja bersenyum dan tertawa !
"Telah aku menerka bahwa tak nanti kau sudi memberikan
obat pemunahmu itu !" katanya. "Tapi tak apalah ! Aku Peng
Mo, aku pun telah membuat obat pemunah yang dapat
memusnahkan obat Thay Siang Hoang Hun Tan buatanmu itu
!"
Berkata begitu, si bajingan mengawasi lawannya.
"Jika kau memberi pinjam muridmu padaku buat lamanya
satu bulan maka di belakang hari pastilah persahabatan kita
dapat dilanjuti seperti sediakala !" ia menambahkan kemudian.
Pergi pulang, Peng Mo tetap menghendaki murid orang itu.
Im Ciu It Mo tertawa nyaring. Tak lagi dia jeri seperti
semula tadi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jika aku tidak sudi memberikan muridku itu, kau akan
berbuat apa ?" tanyanya seperti menantang.
Parasnya Peng Mo menjadi merah padam, matanya
bercahaya jahat.
"Kalau begitu, jangan kau sesalkan Peng Mo telengas !"
sahutnya keras.
Begitu lekas ia berkata, begitu lekas juga Peng Mo
menyerang. Ia menggunakan tangan kirinya dan sasarannya
ialah dada orang.
Tetapi serangan itu gertakan belaka, serangan benar-benar
adalah susulan tangan kanan, yang menuju ke buah pinggang
!
Im Ciu It Mo juga menjadi seorang bajingan yang lihai dan
telengas, dia sudah berpengalaman di dalam pertempuran,
tidak mudah dia kena dijual. Dia tidak menangkis, hanya
dengan gesit sekali dia memutar tubuh sambil berkelit tiga
kali, sebaliknya, menyusuli kesulitan itu, tongkat panjangnya
dikasihh bekerja guna membalas menghajar. Dia
menggunakan jurus silat, "Si Sembrono Menggebuk padi". Dia
tidak menyerang cuma satu kali, hanya dimulai dengan ujung
yang satu diteruskan dengan ujung yang lain. Mengenai atau
tidak mengenai, ia membalas dan serempak !
Peng Mo terperanjat sebab dua-dua serangannya gagal,
lebih-lebih setelah tongkat panjang berkelebat ke arahnya.
Untuk menyelamatkan diri, terpaksa dia menyingkir sambl
berlompat tujuh tindak, kalau tidak tongkat yang panjang ia
pasti bakal menegur juga tubuhnya. Sebab serangan tongkat
dilakukan dengan luar biasa cepatnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya Peng Mo lolos dari serangannya, baru saja
orang berdiri tatap muka, Im Ciu It Mo sudah mengasih
dengar siulannya yang nyaring yang terkenal itu atas mana
Hong Kun dan Kiauw In yang semenjak tadi berdiri diam saja,
lantas maju sambil menggerakkan senjatanya, menghampiri si
Bajingan Es guna dikepung bersama, pedang mereka berdua
menikam berbareng !
Peng Mo terkejut. Itulah ia tidak sangka. Guna
menyelamatkan diri, dia berkelit dengan jurus silat Tiat Poan
kio, Jembatan Papan
Besi, hingga tubuhnya melengak rata, kedua ujung pedang
lewat diatas perut atau dadanya. Dia kaget berbareng
mendongkol, maka juga selekasnya dia bisa bangkit berdiri,
dia lantas membalas menyerang dengan berjingkrak lompat,
menendang berbareng kepada muda mudi itu. Itulah jurus
silatnya yang diberi nama Wan Yon Twie Kaki, Burung
Mandarin.
Kiauw In dan Hong Kun terkena pengaruh obat tetapi ilmu
silatnya tak terganggu seperti ingatan atas syarafnya, maka
juga ketika didepak itu, keduanya dapat menyingkirkan diri
dengan sama-sama berlompat mundur.
Habis mendepak itu, Peng Mo berlompat untuk berdiri,
karena selama menendang itu, kedua tangannya menekan
tanah, sebab tengah melengak tadi, kedua tangannya itu
diteruskan diturunkan. Sekarang, setelah bangun berdiri
dengan cepat ia menyambut kingato, sepasang goloknya yang
tergantung dipinggangnya. Oleh karena hatinya panas, tanpa
ayal pula ia maju menyerang dalam gerakan Sepasang Walet
Terbang Berbareng. ia menyerang pula kepada dua dua Hong
Kun dan Kiauw In, karena mana, sepasang goloknya
dilancarkan ke kiri dan kanan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sepasang anak muda itu berani, keduanya lantas
menangkis untuk seterusnya melakukan perlawanan, hingga
bertiga mereka menjadi bertarung, hingga pedang-pedang
dan golok-golok tak hentinya berkelebatan menikam dan
menebas, menyambar ke bawah.
Di dalam sekejap itu, orang bagaikan berkelahi untuk mati
dan hidup !
Im Ciu It Mo menyaksikan kedua pembantunya turun
tangan. Dia jeri terhadap Peng Mo maka dia mengajukan
muda mudi itu.
Walaupun demikian dia masih memikir menguatirkan kedua
muridnya itu nanti kalah dari bajingan itu. Ia berdiri diam di
dekat mereka, siap sedia dengan tongkatna. Sembari
menonton dia memikirkan bagaimana ia harus turun tangan
guna merebut kemenangan. Ia ingin menyelak maju
selekasnya datang kesempatannya.
Dengan sepasang goloknya, Peng Mo benar-benar lihai,
walaupun demikian untuknya ia melayani dua orang yang urat
syarafnya terganggu, jika tidak, tidak nanti dia dapat melayani
Kiauw In dan Hong Kun, yang mempunyai masing-masing ilmu
pedangnya yang istimewa.
Selainnya cahaya pedang berkilauan, percikan api pun
sering bermuncratan dan suara beradunya pedang dan golok
senantiasa mendatangkan suara berisik. Sekian lama itu,
mereka masih selalu berimbang.
It Mo memasang mata, tidak cuma terhadap medan
pertempuran, kadang-kadang ia melirik ke sekitarnya karena
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ia kuatir akan munculnya si Bajingan lainnya, saudarasaudaranya
Peng Mo.
Setelah bertempur sekian lama itu tanpa hasil, Peng Mo
lantas memikir buat menggunakan bubuk biusnya. Ia pula
mengawasi Hong Kun, ketampanannya yang membuat hatinya
goncang, ia suka menggertak gigi sekira gatal sendirinya.
Hong Kun tidak menghiraukan yang orang selalu
menginplangnya. Selagi urat syarafnya terganggu itu, dia tak
kenal akan asmara.
Dia tetap berkelahi dengan keras sampai satu kali
mendadak pedangnya meluncur secara sangat membahayakan
Peng Mo hingga
si Bajingan Es terkejut dan repot membela dirinya.
Hingga Peng Mo penasaran sekali belum juga ia bisa
membekuk anak muda, walaupun ia sudah mencoba pelbagai
macam ilmu silatnya. Diakhirnya likat atau tidak, ia memikir
terpaksa ia mesti minta bantuannya Tam Mo dan Hiat Mo, dua
orang saudaranya.
Maka itu selekasnya ia sudah mengambil keputusan
sembari berkelahi itu, sekonyong-konyong, ia
memperdengarkan siulannya yang nyaring, siulan yang berupa
isyarat. Suaranya itu satu pendek dua panjang, iramanya mirip
"burung jenjang menangis atau bajingan memekik-mekik".
Sebenarnya sejak di Ngo Tay San, ditengah jalan, Hong
Gwa Sam Mo sudah melihat Im Ciu It Mo bersama-sama
Kiauw In dan Hong Kun, selekasnya melihat Hong Kun,
hatinya Sek Mo tergiur bukan main.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jilid 48
Dimatanya, Hong Kun adalah si anak muda yang ia
ketemukan di kota Gakyang, yang ia telah tawan tetapi yang
kena dirampas oleh Tok Mo. Ia tidak berani lantas turun
tangan setelah ia mengenali Im Ciu It Mo yang ia segani,
walaupun demikian ia minta dengan sangat agar dua
saudaranya suka mengikuti ia menguntit It Mo bertiga.
Selama Im Ciu It Mo menyerbu Gwan Sek Sie dan
bertempur seru itu, Peng Mo bertiga menonton sambil
bersembunyi dalam rimba, diatas pohon hingga mereka dapat
melihat tegas jalannya pertempuran. Peng Mo girang sekali
menyaksikan It Mo terluka di dalam, hingga ia membayangi
Hong Kun si tampan, sudah berada dalam
rangkulannya...........
Dasar jumawa, disamping ingin mendapati si anak muda,
Sek Mo juga mau mempertontonkan kegagahannya. Begitulah
ia menemui Im Ciu It Mo sambil meminta dua saudaranya
tetap menyembunyikan diri dengan dipesan agar mereka itu
jangan muncul kecuali ia memberi isyarat. Ia ingin mereka
menonton bagaimana ia merampas Hong Kun
Tam Mo dan Hiat Mo mengiringi permintaannya san
sumoay adik seperguruan, terhadap siapa mereka suka
mengalah.
Demikianlah sudah terjadi, selama Peng Mo melayani It Mo
berbicara dan bertempur sampai dia dikepung Hong Kun dan
Kiauw In, mereka terus menonton saja dari atas pohon. Hanya
selama paling belakang, hati mereka tegang sendirinya sebab
pertempuran seru dan meminta waktu lama sehingga mereka
kuatir adik itu gagal dan terluka. Begitulah, selekasnya mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mendengar isyarat itu, tak ayal lagi mereka berlompatan turun
dari atas pohon dan lari mendatangi kepada sang sumoay.
Bahkan Hiat Mo segera menyerang Kiauw In selagi nona itu
membaliki belakang dan menyerangnya dengan pukulan
tangan kosong Tangan Bajingan Asuara atau Bajingan
Raksasa.
Syukur Kiauw In dapat mendengar hal datangnya bantuan
lawan dan ia keburu berkelit dari serangan berbahaya itu.
Dengan loncatan Tangga Mega, ia menjatuhkan dirinya tiga
tindak.
Dengan si nona mencelat menyingkir, tinggallah Hong Kun
sendiri melayani Peng Mo. Dengan ilmu silat pedang Heng San
Kiam Hoat, tak nanti Hong Kun mudah dikalahkan lawannya
itu, apa lacur, kawan sudah menggunakan senjata rahasianya,
yaitu sebuah peluru yang ditimpukan, meledak pecahlah dia
dan bubuknya terbang berhamburan. Lawan itu bukannya
Peng Mo, hanya Tam Mo, yang menyerang secara diam-diam.
Peng Mo melihat saudaranya menimpuki peluru, ia lompat dan
menghajarnya pecah. Ia sendiri terus lompat maju kepada
Hong Kun.
Bubuk beracun itu berbau harus dan buyarnya pesat,
saking kerasnya Bieus bukan hanya Hong Kun, melainkan
Peng Mo sendiri roboh bersama. Hanya itu Tam Mo berlaku
dengan sangat cepat. Dia segera lompat kepadan Peng Mo,
akan menciumnya dengan sebuah kantong harum, setelah dia
melihat sang adik seperguruan sadar dan membuka matanya,
dia kata sambil tertawa,
"Sumoay, saudaramu telah membantumu. Maka kau
gunakanlah baik-baik kesempatan ini !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya dia siuman dan mendengar suara saudaranya
itu, Peng Mo lantas bergerak, ia lompat bangun. Ia girang
sekali. Terus dia menoleh, mengawasi Hong Kun yang rebah
tak berkutik dengan pedangnya terletak disisinya. Tak ayal
lagi, dia lompat ke sisi anak muda itu, buat memondongnya
bangun. Dia pula menolong memungut pedangnya pemuda
itu. Ketika ia hendak menjemput goloknya sendiri, mendadak
ada bayangan tongkat panjang menyambar dibarengi
anginnya.
Bukan main kagetnya Peng Mo. Kedua tangannya lagi
memegangi Hong Kun, tak sempat ia menangkis, malah
berkelit pun sukar.
Justru itu mendadak ada angin keras yang menolak tongkat
itu. Tahulah ia yang Tam Mo, kakaknya sudah membantunya.
Pasti tongkat telah dihajar dengan Siulo Mo Ciang, pukulan
Tangan Bajingan Raksasa itu. Maka itu tanpa berpikir panjang
pula, ia berlompat pergi sambil mengempit tubuhnya Hong
Kun. Ia memang pandai ilmu loncat "Rusa Menggali Lobang".
Sekali dia melejit, dia lari terus turun gunung !
Kiauw In habis berkelit dan mundur, dia kaget waktu dia
mendapati benda meledak dan asap berhamburan, baunya
membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kungan.
Mulainya ia memikir maju pula buat membantui Hong Kun,
atau ia terus jatuh duduk disebabkan bubuk bius yang lihai itu.
Ia tidak pikir tetapi ia tak dapat bangun berdiri pula !
It Mo mau membantu Hong Kun karena dihadang Hiat Mo
Hweshio, ia jadi menempur si Bajingan Darah itu. Tetapi baru
bebarapa jurus ia sudah memaksa lawannya lompat mundur.
Justru itu ia menyaksikan Hong Kun dibawa lari oleh Peng Mo.
Bukan main panas hatinya, ia lompat menyusul tetapi kembali
ia dirintangi Hiat Mo, bahkan kali ini selagi ia menghajar si
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bajingan Es, tongkatnya kena terhajar keras sekali oleh Hiat
Mo sampai tongkat itu terlepas dan jatuh dan ia merasai
sangat nyeri di dalam tubuhnya. Maka insyaflah ia akan
kelemahan dirinya. Hanya sebagai seorang yang
berpengalaman yang tak mau hilang muka, ia lantas kata
dingin : "Tak kusangka Hong Gwa Sam Mo juga dapat
bertindak secara begini tak tahu malu !"
Tam Mo yang memungut sepasang goloknya Peng Mo
menjawab dingin : "Siapa beruntung dia dapat, siapa malang
dia gagal.
Semua itu sudah takdir ! Karena itu bajingan tua buat apa
kau menyesal ?" Dia sengaja menyebut orang si Bajingan Tua.
Pula kata-katanya itu mempunyai arti : It Mo menawan murid
orang, pantas kalau murid orang itu dirampasnya. Jadi mereka
saling ganti merampas..........
Hiat Mo pun tertawa dan kata nyaring, "Adik
seperguruanku menyukai muridmu itu, maka dia
meminjamnya untuk dipakai buat sementara waktu.
Maafkanlah dia yang sudah terlalu terburu nafsu hingga dia
berbuat salah terhadapmu, cianpwe. Di sini aku si pendeta
muda menalanginya menghatur maaf, harap dia suka
dimaklumi !" Terus si pendeta menjura dalam.
Bukan main sulitnya It Mo. Marah salah, tidak marah ia
mendongkol sekali. Berkeras pun ia tidak bisa. Hanya dasar
Bajingan ulung pandai pikir. Pengalaman membuatnya pintar
dan cerdik.
"Hong Kun telah dibawa lari. Kini aku tak bisa berbuat apaapa......."
demikian pikirnya. "Baiklah, aku bersabar." Maka
terus dia menjawab si Bajingan Darah : "Adikmu itu tepat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
julukannya ! Dia memandang paras elok dan asmara lebih
hebar dari jiwanya !
Cumalah tanpa obat pemusnahnya sia-sia saja dia nanti
menghadapi pemuda yang linglung itu, yang suka berdiam
saja bagai patung ! Mana ada rasa nikmatnya ?"
Hiat Mo berlagak pilon. Jawabnya sabar, "Tentang urusan
diantara pria dan wanita, maafkan aku si pendeta. Aku tak
suka mencampur tahu !"
It Mo berpaling kepada Tam Mo si Tamak. Kata dia,
"Muridku ini telah kena mencium bubuk biusmu, dia duduk
tidak berkutik, apakah dia juga hendak dipinjam oleh kau,
rahib tua ?"
Dengan rahib tua yang dimaksudkan tosu tua, penganut To
Kauw, agama To.
Tam Mo Tojin menggoyang-goyangi tangannya.
"Tidak, tidak !" katanya cepat. "Pinto adalah orang kaum
Sam Ceng, biasanya kami pantang paras elok ! Mana pinto
memikir hal demikian ?"
Hiat Mo sementara itu mengawasi Kiauw In yang lagi
duduk berdiam saja, bersila ditanah, tangannya menunjang
dagu, matanya dipejamkan. Nona itu mirip orang yang lagi
tidur nyenyak. Lantas dia tertawa dan berkata : "Tidak
disangka obat paling beracun It Toan In buatan adik
seperguruanku yang nomer dua begini lihai, asal orang
menciumnya orang lantas tak sadarkan diri ! Budak ini cuma
membaui sedikit, terus dia roboh dan tak ingat apa-apa lagi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tam Mo pun tertawa, dia juga berkata : "Kakak, jangan
kakak meniup mengepul keterlaluan ! Inilah kepandaian yang
sangat tak ada artinya ! Kalau ilmu ini dicoba di depan
Cianpwe Im Ciu itu sama saja orang bertingkah di depan ahli
!"
Berkata begitu, kawan ini melirik kepada Hiat Mo Hweshio,
guna memberi isyarat, kemudian ia menoleh pula kepada Im
Ciu It Mo untuk memberi hormat sambil menjura, seraya
berkata : "Cianpwe, kami berdua memohon diri !" lalu terus
mereka memutar tubuhnya jalan menuruni lereng !
Hati It Mo panas sekali. Belum pernah orang menghinanya
secara demikian. "Tahan !" teriaknya, sambil dia berlompat
maju untuk menghadang. Kedua Bajingan menghentikan
langkahnya. Mereka pun berpaling. Hiat Mo mengasi lihat
wajah heran ketolol-tololan, dengan berpura pilon dia
bertanya, "Cianpwe, ada perintah apa lagi ?" Im Ciu It Mo
mengangkat tongkatnya, dipakai menunjuk kepada Kiauw In.
"Obat pingsan kalian membuat pemudi itu menderita !"
katanya. "Apakah dapat kalian pergi dengan begini saja ?"
Tam Mo Tojin tertawa. Dia maju dua tindak.
"Tidak, tidak !" sahutnya. "Ini hanya permainan kecil saja,
locianpwe ! Tak usahlah locianpwe terlalu memperhatikannya !
Kenapa locianpwe tak mau menyadarkannya sendiri ?"
"Kalian boleh main gila !" bentak It Mo. "Jika kalian tak
menyadarkan muridku ini, hati-hatilah tongkatku tidak akan
mengenal persahabatan lagi !"
Dengan satu gerakkan tangan, It Mo membuat tongkatnya
melesat dan nancap pada sebuah pohon kayu sebesar pelukan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
manusia, nancapnya dalam dua kaki dan ujungnya yang lain
bergoyang-goyang.
Di waktu melontarkan tongkatnya itu, It Mo menggunakan
seluruh tenaga dalamnya yang mulai pulih kembali. Ia tidak
membuka mulut, hanya menyalurkan nafasnya dengan rapi.
Hiat Mo dan Tam Mo terbengong menyaksikan kepandaian
wanita tua itu. Memangnya mereka jeri. Kalau toh mereka
berani main gila, itu disebabkan It Mo tengah terluka parah.
Tidak disangka yang si Bajingan Tunggal dapat sembuh
demikian cepat.
Habis terguguh sebentar, Hiat Mo lantas tertawa. Dia
memang sangat cerdik dan licik. Lantas dia kata : "Perkara ini
perkara kecil ! Tak usah kau bergusar orang tua ! Nah ! Jie
Sute, lekas kau sadarkan budak perempuan itu ! Memang
siapa yang membelenggu, dialah yang harus melepaskannya
!"
Tam Mo sebaliknya. Dia membawa aksi memandang
ringan. Kata dia sengaja pada It Mo : "Sicu toh seorang ahli.
Apakah artinya bubuk bius It Toat In dari aku ini ? Pasti
bubukku ini tak dilihat mata ! Ha ha !"
Berkata begitu, tanpa menoleh lagi kepada si Bajingan
Tunggal, Bajingan Tamak bertindak ke arah Kiauw In yang
masih berduduk diam bagaikan patung itu.
Sementara itu mukanya It Mo menjadi merah padam dan
pucat pasi bergantian, sebab ia insyaf yang kedua bajingan itu
tengah mengejeknya, walaupun demikian terpaksa dia
berdiam saja sebab memang dia tidak sanggup menyadarkan
Nona Cio.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya dibikin siuman oleh Hiat Mo, Kiauw In lantas
bangkit berdiri. Ia menggerakkan tubuhnya dan melonjorkan
tangan dan kakinya untuk melemaskan otot-ototnya, sesudah
itu ia melihat ke sekitarnya. Dengan ayal-ayalan ia memasuki
pedangnya ke dalam sarungnya.
Segera setelah itu, It Mo menatap bengis kepada Tam Mo
dan Hiat Mo yang justru lagi membaliki belakang padanya.
Kemudian ia kata seperti orang mendamai tetapi nadanya
mengancam : "Di saat aku Im Ciu It Mo pu ia seluruh
kegusaranku, maka itulah hari akhir dari kamu bertiga Hong
Gwa Sam Mo".
Terus ia membuka langkahnya akan menghampiri Kiauw In
guna memegang tangan orang.
"Muridku, mari kita pergi !" dia mengajak. Kemudian diapun
menyambar tongkat dipohon untuk ditarik lolos. Sesudah itu
sambil itu, sambil dipayang Nona Cio dia bertindak turun
gunung !
Memang hebat sekali luka di dalam tubuh dari Im Ciu It
Mo. Kalau tadi ia bisa beraksi sebentar menggertak Hong Gwa
Sam Mo itulah karena dia memaksakan diri, dia mencoba
mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya itu. Sekarang
setelah urusan beres, ia merasai pula nyerinya itu. Hingga
Kiauw In mesti memegangi ia selama mereka berlalu. Untuk
penghinaan yang It Mo tak mudah melupakannya. Di depan
matanya Hong Kun telah dibawa lari oleh Peng Mo, Bajingan
Paras Elok, Tam Mo dan Hiat Mo pun mengoloknya,
menambah sakit hatinya. Maka juga kelak dalam pertempuran
Bu Lim Cit Cun, di sana telah terjadi sesuatu kontrak di sana !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sementara itu, Pie Te Taysu, habis dia memberi nasihat
kepada Im Ciu It Mo dilereng gunung, terus dia pulang ke
dalam taman.
Biarnya dia seorang pertapa dan suci, dia pun mendongkol
yang tak karu-karuan. It Mo datang mengacau itu artinya
menghina Sang Buddha pujaannya. Hanya saking taatnya
kepada ajarannya nabinya itu, ia menahan perasaan hatinya,
ia menguasai dirinya untuk tetap berlaku sabar. Itulah uji
derita yang harus dimiliki oleh setiap umat beragama.
Tiba ki go gee mai, pintu rembulan dari taman, Pie Te
bertemu dengan Liong Hauw Siang Ceng serta muridnya
bertiga, yang pun baru tiga, ia merunduk dan bertanya kepada
kedua pendeta Naga dan Harimau : "Tahukan kalian berapa
orang murid kita yang terbinasa dan terluka ?"
Liong Hauw Siang Ceng bertiga memberi hormat sambil
menjura. Lantas Bu Sek menjawab : "Diantara para petugas di
pendopo, dua terluka parah, lima terluka ringan. Diantara
murid tingkat dua, telah terluka enam anggauta."
Alisnya sang pendeta terbangun.
"Adakah mereka semua telah diobati ?" tanyanya pula.
Siebie kecil, kacung muridnya Liong Houw Siang Ceng
menjawab : "Semua telah dirawat, cuma kedua pendeta yang
terluka parah itu, sampai sekarang ini masih belum siuman."
Bibirnya Pie Te bergerak, kumis dang janggutnya
terbangun, pertanda bahwa ia gusar sekali, akan tetapi ia
tetap bungkam. Ia dapat mengendalikan kemurkaannya. Ia
berdiri diam sekian lama, lalu ia menatap kedua pendeta di
depannya itu, kemudian ia memutar tubuh, meninggalkan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pintu model rembulan itu. Selekasnya ia melangkah dari
ambang pintu, ia berpaling dan kata : "Bu
Sek dan Bu Siang, kedua kemenakan, pergilah kalian ke
seluruh pendopo guna melakukan penyeledikan !"
Kedua pendeta itu mengangguk, tetapi mereka bertindak
menghampiri, hingga mereka berada di belakangnya si
pendeta tua.
"Paman guru !" katanya.
Pie Te Taysu memutar tubuh.
"Ada apakah ?" tanya dia.
Liong Hauw Siang Ceng saling mengawasi, kemudian Bu
Sek yang membuka mulutnya. Katanya perlahan-lahan sekali,
"Paman, bukankah paman baru dari gunung belakang ?"
Pie Te Taysu bersenyum.
"Sebelumnya kalian membuka mulut, lolap telah ketahui
maksud pertanyaan kalian." katanya. Berkata begitu, dia
menatap tajam sekali.
Bu Sek dan Bu Siang tunduk, mereka menjura sambil
merangkapkan kedua tangannya masing-masing.
Pie Te Taysu mengawasi, terus dia menghela nafas.
"Lolap telah mentaati pesan dari ciangbun suheng, di
lereng gunung belakang sana telah lolap mengasi lolos pada
Im Ciu It Mo bertiga." katanya, memberikan keterangan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciangbun suheng ialah panggilan yang berarti kakak
seperguruan (suheng) yang berbareng pun menjadi ketua
(ciangbun).
Liong Houw Siang Ceng berdiam. Sesaat kemudian, mereka
mengangkat kepala mereka.
"Paman." kaat Bu Siang. "Kami berdua memohon perkenan
paman untuk turun gunung buat melakukan suatu perjalanan !
Dapatkah ?"
Dengan "kami berdua", Liong Houw Siang Ceng
menyebutkan "tua ca" yang berarti "murid" tetapi disisi katakata
itu selain untuk merendahkan diri berbareng juga untuk
menghormati sang susiok, paman guru.
Pie Te Taysu mengawasi kedua kemenakan murid itu. Ia
menghela nafas.
"Kemenakanku," sahutnya kemudian. "Sekarang ini ada
jaman lagi kacau dari dunia Sungai Telaga. Karena itu dengan
tenaga kalian berdua untuk menyusul Im Ciu It Mo, hasilnya
sungguh sukar diterka. Dengan kata lain, mungkin kalian tak
akan berhasil."
"Kami berdua justru hendak mencari tahu sampai dimana
kejahatan dan tenaga Bajingan itu !" Bu Sek turut bicara.
Parasnya si pendeta tua berubah, tetapi dia berkata cepat :
"Baik, kalian boleh pergi ! Cuma haruslah kalian hati-hati !"
Bu Siang dan Bu Sek girang sekali, mereka bersyukur.
Mereka memohon ijinnya sang paman guru disebabkan di saat
itu guru mereka Pie Sie Siansu, sedang menyekap diri, hidup
bersendirian di dalam sebuah kamar suci dan segala tugasnya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
diwakilkan pada Pie Te, sang paman guru yang menginap Ing
Ciang Ih, pendopo tempat pendeta kepala, ketua Gwan Sek
Sie.
Sekarang kita melihat dulu pada Sek Mo alias Peng Mo si
Bajingan Es. Dia kabur dengan mengempIt Hong Kun. Jalan
yang diambil yaitu lereng di belakang gunung Gwan Sek San.
Dia lari dan jalan cepat bergantian selama tujuh atau delapan
lie tak henti-hentinya.
Baru setelah itu dia memperlahan langkahnya.
Sebenarnya Sek Mo adalah seorang nikouw, tapi cara
hidupnya mirip separuh siluman. Dengan telah berhasil
mendapatkan Gak Hong Kun girangnya tak kepalang.
Sehingga dia bagaikan tengah bermimpi manis, terus dia
menatap wajah tampan si pemuda, hingga ia seperti juga
hendak mencaplok dan menelan pemuda itu..........
Ketika itu angin gunung meniup, membuat berdeburan
jubarahnya si nikouw, sedangkan sinar layung matahari
memancarkan wajahnya yang cantik tetapi berwajah sangat
centil, bayangannya berpeta di jalan lereng itu. Dia berjalan
perlahan dengan tindakan elok, lemah gemulai..........
Sembari jalan, Sek Mo memikirkan dimana dia harus
singgah atau mondok, maka juga matanya selalu mencari
rumah atau pondokan dimana ia mengharap ia bisa
menumpang bermalam, supaya disitu malam juga dapat ia
mempuaskand irinya, bagaikan bidadari terbang melayanglayang
diangkasa........
Toh didalam keadaan sepertiitu, ia masih sadar akan
keganjilan diri atau perbuatannya. Sebab sebagai seorang
wanita, apa pula wanita yang beribadat, mengapa ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengempit dan memeluki seorang pria muda belia ? Tidakkan
itu akan membuat orang heran dan curiga ? Ia telah memikir
dan mencari saja sebuah gua tetapi ia tak setujui itu. Ia pula
kuatir Im Ciu It Mo nanti dapat menyusulnya.
Selagi berpikir itu, Sek Mo berjalan dengan perlahan-lahan.
Kapan ia melihat cuaca ia mulai bingung. Sang lohor sudah
tiba, sang magrib lagi mendatangi, sedang ia belum juga
mendapatkan pondokan.
Terpaksa, si Bajingan Es lantas mempercepat langkahnya.
Di sebelah depan terdapat sebuah tikungan, selewatnya
mana tampak sebuah tanah kosong yang bertumbuhkan
rumput tebal.
Justru ia menikung justru ia melihatnya sesosok tubuh
manusia, cepat bagaikan bayangan berkelebat.
Peng Mo terkejut hingga ia melengak, lantas ia maju dua
tindak.
"Sahabat, siapa disitu ?" tegurnya. "Silahkan sahabat keluar
untuk kita bertemu."
Dari dalam semak terdengar tawa nyaring disusul paling
dahulu dengan munculnya sebuah kepala orang yang gundul,
segera seluruh tubuhnya tampak, nyata dialah seorang
pendeta dengan jubahnya warna kuning. Dia tertawa pula,
terus dia berlompat hingga di detik yang lain dia sudah berdiri
di depannya Sek Mo. Jaraknya lima kaki satu dengan yang
lain.
Dengan mata dibuka lebar, pendeta itu mengawasi Peng
Mo dan Hong Kun bergantian, terutama si anak muda.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo melihat pendeta itu berumur kurang lebih tiga
puluh tahun, mukanya montok, matanya bundar. Ia merasa
asing terhadap orang suci itu. Karena orang mengawasi terus
padanya, ia mau menyangka pendeta itu kurang pendidikan,
atau dialah si pendeta cabul sebab dia terus mengawasi
padanya !
Habis mengawasi Hong Kun, pendeta itu mengangkat
kepalanya, akan memandangi si wanita untuk terus menanya
hormat : dari mana didapatnya si anak muda yang yang
dikempitnya..........
Ditanya begitu, Peng Mo justru tertawa. Ia lantas
menjawab tetapi bukannya menyahuti pertanyaan orang, dia
justru balik bertanya : "Suheng, apakah nama suci suheng ?"
Pendeta itu merakopi kedua tangannya.
"Pinceng ialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie." jawabnya.
Peng Mo tertawa manis, matanya memain galak.
"Suheng, untuk apalah maksud suheng maka suheng
menguntitku ?" dia tanya. Kembali dia menanya.
Bu Kie tidak puas terhadap pertanyaan itu yang dibarengi
dengan tingkah centil. Maka dia kata keras : "Akulah pendeta
yang mengutamakan aturan-aturan agama, sekalipun si
wanita cantik yang muncul di depanku, tak nanti hatiku
tergiur, maka itu aku minta sukalah kau menghargai dirimu
sendiri !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Parasnya Sek Mo berubah. Inilah tidak disangkanya. Dia
menjadi tidak senang hingga dia lantas memperlihatkan
tampang bengis.
Kata dia keras : "Air tidak mengganggi air sungai, orang
mengambil jalannya sendiri-sendiri, maka itu, kepala keledia,
kau pikir baik-baik ! Sekarang ini telah tiba saatnya buat kau
memanjat sorga !"
Bu Kie makin gusar. Bentaknya : "Oh, manusia penuh dosa
! Tak dapat kau lolos dari tanganku! Rupanya inilah yang
dinamakan jodoh !"
Diantara waktu Bu Kie keluar dari Gwan Sek Sie dengan
saatnya Peng Mo merampas Hong Kun dan turun dari gunung,
bedanya ialah setengah hari satu malam. Karena itu, mereka
berpapasan dari siang-siang. Tapi itulah bukan soal bagi si
pendeta. Dia hanya tertarik oleh tampangnya Hong Kun yang
mirip It Hiong hingga ia menyangka pemuda itulah murid Pay
In Nia. Orang yang telah melepas budi besar terhadap Siauw
Lim Sie. Maka itu, selagi si anak muda terjatuh dalam
tangannya wanita cabul, hendak ia membantunya. Telah ia
mendengar berita perihal It Hiong lagi menempuh bahaya.
Karena ia tidak sanggup memberikan bantuannya, ia mundar
mandir saja di sekitar gunung Ngo Pay San. Sungguh
kebetulan hari ini, ia bertemu dengan Peng Mo yang lagi
melarikan Hong Kun sebagai It Hiong palsu !
Tempat Hong Gwa Sam Mo bertempur dengan Im Ciu It
Mo, Bu Kie dapat melihat. Ia menonton dari tempat jauh tanpa
ia dapat dilihat mereka itu. Sampai Im Ciu It Mo menghilang,
ia tidak tahu tetapi disini apa mau mereka berselompokan.
Maka ia lantas muncul dan merintanginya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo mendongkol. Kata dia dingin : "Kepala keledia
gundul, kita berjodoh ! Marilah hendak aku lihat, kepandaian
apa yang kau miliki !"
Berkata begitu, dengan berani si wanita menunjukan
dirinya. Masih ia mengempIt Hong Kun. Ia bertindak dengan
langkah elok tetapi ia sengaja mau menabrak pendeta itu !
Bu Kie gusar, dia bersiap sedia. Kedua tangannya digeraki
dengan berbareng ! Tangan kiri diluncurkan ke muka si wanita
dengan jurus : "Arhat Menggoyang Lonceng", tangan
kanannya menyambar Hong Kun buat dirampas.
Inilah jurus "Di dalam Laut Menawan Naga". Dua-dua jurus
itu adalah jurus-jurus dari "Cap jie Na Liong Ciu", "Dua belas
Tangan Menawan Naga", yang semuanya terdiri dari tujuh
puluh dua jurus. Tangan kiri separuh menggertak, tangan
kanan bekerja benar-benar.
Peng Mo terkejut merasai angin menyambar keras. Dengan
cepat ia mencelat mundur dua tindak. Dengan begitu bebaslah
ia dari dua-dua tangannya si pendeta.
Menyaksikan kelincahan si wanita, tahulah Bu Kie yang dia
lagi menghadapi bukan sembarang wanita. Ia lantas maju pula
untuk merangsak. Kembali ia menggerakkan kedua belah
tangannya. Kali ini dengan gerakan "Merogoh Rembulan
Didalam Air". Kedua tangannya bergerak ke kiri dan kanan
tubuh orang. saking cepatnya, tangan kanannya sudah lantas
menyentuh tubuhnya si anak muda.
Peng Mo kaget sekali. Dia tidak menyangka si pendeta
demikian lihai, hingga dia telah kena ditipu. Lekas-lekas dia
menangkis dan merampas pulang tetapi dia gagal. Tubuhnya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun sudah pindah tangan. Dan Bu Kie berlaku cerdik,
dengan lantas dia memutar tubuh untuk berlari pergi !
Bukan main panas hatinya Peng Mo. Maka juga ia lantas
lari mengejar. Dulu di dalam rimba diluar kota Gakyang ia
telah dipermainkan Ya Bie, yang menggunakan ilmu silat.
Tetapi sekarang Bu Kie mempermainkannya terang-terang. Ia
pun tidak takut terhadap pendeta itu. Bahkan dia bisa berlari
dengan keras. Dengan dua kali lompat, ia sudah dapat
menyandak dan melewatinya, untuk terus menghadang.
Dengan memondong tubuhnya Hong Kun, Bu Kie tak dapat
lari keras. Ia pun segera menjadi repot selekasnya si wanita
menyerangnya. Tadi Sek Mo melayani ia dengan satu tangan,
sekarang ia membela diri dengan satu tangan juga, sebab
tangan yang lain terus mengempit tubuhnya si anak muda.
Untung baginya, ilmu silatnya yang dinamakan Nu Liong Cu -
Menawan Naga dan Kim kong Ciang Hoat, Tangan Arhat,
sudah sempurna hingga ia dapat melindungi dirinya. Setelah
terdesak ia berdiri tegak, matanya mengawasi tajam pada si
Bajingan Paras Elok.
"Kita tidak bermusuhan, kenapa kau begini mendesak aku
?" tanyanya.
Alisnya Peng Mo bangun, matanya mendelik.
"Kau telah merampas sahabatku, apakah itu bukannya
permusuhan ?" dia balik bertanya sambil membentak.Bu Kie
mengawasi mukanya Hong Kun. Lantas dia memperlihatkan
tampang sabar.
"Mari aku memberikan keteranganku" katanya. "Pemuda ini
adalah orang gagah yang pernah melepas budi terhadap
Siauw Lim Sie. Dialah sicu Tio It Hiong yang budiman. Kita
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kaum rimba persilatan toh membedakan budi dari dendam ?
Dia sekarang terancam bahaya, mana dapat aku tidak
menolongnya guna membalas budinya ?"
"Hm !" Peng Mo memperdengarkan ejekannya. "Kiranya
pemuda ini tuan penolong dari Siauw Lim Sie kamu !"
Bu Kie mengangguk.
"Tak salah !" sahutnya.
Dari murka, mendadak Peng Mo tertawa. Dia pandai sekali
memainkan peranan.
"Dia... dia.. Denganku pun bermusuhan !" katanya.
"Bagaimana sekarang ?"
"Bagaimana kalau pinceng yang bertanggung jawab sendiri
?" tanya Bu Kie yang mau percaya keterangan dusta si wanita
licik.
"Pinceng sangat menghargai kau, bapak pendeta, maka
juga pinni suka mengalah.: kata Peng Mo. Ia sekarang
membahasakan dirinya pinni, si nikouw melarat, untuk
merendahkan diri. "Nah, coba kau pikir masak-masak,
kepandaian apa yang lihai yang kau miliki buat kau
melayaniku."
Bu Kie berlaku sabar.
"Paling baik ialah kau mengalah supaya kelak di belakang
hari akan aku membalas kebaikanmu ini." sahutnya.
Mendadak saja Peng Mo gusar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Mana dapat !" serunya sambil dia maju untuk menyerang
dengan dua-dua tangannya. Dia pun membentak : "Sudah,
jangan ngaco belo saja !" Terus dua tangannya terluncurkan
hingga si pendeta membuat perlawanan.
Dengan tangan kiri tetap mengempIt Hong Kun, dengan
tangan kanannya si pendeta menangkis serangan dahsyat itu.
Berbareng dengan itu ia pun berkelit dari tangan lawan yang
lainnya.
Setelah beradu tangan itu Peng Mo ketahui tentang
musuhnya ini. Musuh kuat tenaga luarnya tetapi belum
sempurna tenaga dalamnya. Ia sendiri masih lemah tetapi
sebagai seorang yang berpengalaman, ia bisa mengimbangi
diri bagaimana harus melayani lawan yang tangguh itu.
Begitulah ia menyerang gencar dengan dua-dua tangannya,
sebagaimana dia pun dengan lincah sekali berkelit sana dan
berkelit sini atau sewaktu-waktu dia lari berputaran
mengelilingi lawan untuk membikin lawan pusing dan repot,
terutama agar lemas kehabisan tenaganya. Lawan mengempit
si anak muda !
Hong Gwan Sam Mo mempunyai ilmu silat istimewa yang
diberi nama "San Hoa Siauw Cia" atau "Menyebar Bunga".
Maka juga Sek Mo sudah lantas menggunakan ilmunya itu. Ia
berputaran terus, saban-saban ia menyerang dengan ilmu
silatnya itu. Bu Kie menjadi repot, hingga jangan kata
menyerang, membela diri saja sukar. Ia tak dapat bergerak
dengan leluasa. Sedangkan mulanya ia memikir menggunakan
kekerasan akan melumpuhkan lawannya itu. Ia tidak
menyangka bahwa lawan licik sekali dan pula masih
mempunyai kegesitan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sesudah menyerang beberapa puluh kali dengan sia-sia
saja pendeta itu menjadi bingung juga. Ia mulai lelah karena
sudah menggunakan tenaga terlalu banyak.
Sebaliknya Peng Mo. Dia lihai, dia mendapat lihat lawan
mulai kehabisan tenaga, lantas dia menggencarkan
serangannya. Dia menyerang sambil lompat berputaran untuk
membikin lawan pusing kepala. Dia pula selamanya
menyingkir dari serangan dahsyat lawannya itu.
Bagus buat Bu Kie, walaupun dia sudah kalah angin tetapi
ia masih dapat bertahan. Terus ia mengempIt Hong Kun yang
ia sangka It Hiong adanya, ia selalu menangkis serangan, atau
kalau ia berkelit selamanya ia berkelit dengan lompat mundur.
Ia selalu mundur di jalan pegunungan itu.
Peng Mo bertempur dengan gembira. Harapannya telah
timbul. Ia melihat lawan sudah terdesak hingga lekas juga si
anak muda yang dijadikan barang perebutan bakal segera
kembali ke dalam rangkulannya. Ia tertawa saking girangnya.
"Bapak pendeta awas !" katanya kemudian yang lantas
menyerang dengan ilmu silat "Boan Thian Hoa In, Hujan
Bunga di Seluruh Langit". Dengan begitu saking gencarnya
serangan kedua belah tangannya bergerak-gerak cepat
bagaikan bayangan berkelebatan.
Bu Kie Hweshio bingung. Matanya telah berkunang-kunang.
Satu kali ia berkelit dari serangannya lawan. Ia bisa
menyelamatkan dirinya tetapi karena lambat, angin
serangannya Peng Mo mengenai Hong Kun yang tak sadarkan
diri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aduh !" mendadak si anak muda menjerit karena serangan
itu membuatnya siuman. Ia tertotok pada jalan darah giok-cim
di belakang batok kepalanya itu.
"Ah, kau sadar Tio sicu !" kata Bu Kie girang sambil dia
mengambil kesempatan mengawasi muka si anak muda.
Justru itu pendeta ini mengeluarkan jeritan tertahan.
Sedangnya dia tunduk, tangannya Peng Mo menghajar bahu
kirinya hingga dia roboh dan hatuh bergulingan dengan Hong
Kun terus terkempit.
Peng Mo lompat menyusul, tangannya pun menyambar
Hong Kun. Apa mau, ia telah kena injak sebuah batu bundar,
maka tidak ampun lagi, ia terpeleset dan jatuh, hingga bertiga
mereka jadi bergumulan. Tubuh mereka bergelindingan.
Karena jalanan disitu turun, mereka jatuh ke bawah sejauh
belasan tombak, baru mereka kena terhalangi batu karang
besar disebuah tikungan !
Dua-dua Peng Mo dan Bu Kie merasakan nyeri sekali,
sebaliknya Hong Kun yang berada ditengah-tengah diantara
mereka berdua tak kurang suatu apa. Selekasnya tubuhnya
tak bergulingan pula, Peng Mo menarik tangan kirinya
melepaskan cekalannya atas Hong Kun, dengan cepat dia
bangun berduduk buat menyerang Bu Kie atau mendadak ia
menjadi kaget dan segera membatalkan serangannya itu,
tidak dapat dihajar atau Hong Kun yang mesti dihajar terlebih
dahulu ! Walaupun demikian ia tidak sempat menarik pulang
tangannya, karena mana dengan disampingkan, ia jadi kena
menyampok batu karang hingga batu karang itu pecah
berserakan !
Justru Peng Mo menyampingkan serangannya, justru Bu
Kie dan Hong Kun berlompatan bangun berbareng. Bu Ki
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
memangnya tidak pingsan dan Hong Kun siuman sebab
kepalanya - jalan darah giok-cim kena terserempet
sampokannya Peng Mo. Dengan berlompat bangun, keduanya
jadi berdiri terpisah satu dari lain.
Asap bius It Toan In - Segumpal Awan - dari Tam Mo
adalah obat bius yang istimewa. Siapa mencium asap itu
kontan dia pingsan dan tubunya menjadi lemas. Namun
kekuatan obat itu tak lama, cuma enam jam. Selewatnya
waktu itu, dapat orang siuman sendirinya. Selayaknya Hong
Kun harus sudah sadar siang-siang, tetapi diapun terkena obat
Thay Siang Hoan Han Tan dari Im Ciu It Mo, maka juga dia
pingsan lebih lama dari semestinya. Hingga dia menjadi
barang perebutan dan dibawa berlari-lari. Syukur untuknya,
sampokan meleset dari Peng Mo membuatnya terasadar,
hanya sejenak dia merasakan nyeri hingga dia mengeluh
"aduh". Hanya tetap setelah siuman itu dia masih terpengaruhi
obatnya It Mo. Ia berdiri menjublak saja, tak tahu Peng Mo
dan Bu Kie itu lawan atau kawan.........
Si nikouw mengebuti pakaiannya yang berdebu, terus ia
mengawasi Hong Kun sambil ia memperlihatkan senyuman
manisnya.
Memang ia berwajah sangat genit dan sekarang ia beraksi
nampaknya ia menggairahkan.
"Ah, adikku yang baik, bagaimana kau rasa ?" tanyanya
prihatin. Lantas ia bertindak menghampiri akan mencekal dan
menggenggam tangan orang erat-erat, agaknya ia sangat
mengasihi.
Bu Kie merasai bahunya nyeri sekali, tetapi ia tidak
menghiraukan itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tio sicu !" ia memanggil Hong Kun yang ia tetap sangka It
Hiong adanya, "sicu, siauteng ialah pendeta dari Siauw.........."
"Sie-cu ialah pengamal atau penderma dan oleh kaum
beragama biasa digunakan sebagai panggilan.
Dengan mendadak Peng Mo memutus kata-katanya si biksu
dengan menyampok padanya sedangkan mulutnya
memperdengarkan suara kasar sekali : "Jika kau tahu diri,
lekas kau mengangkat kaki dari sini."
Bu Kie berkelit sambil mundur. Ia tidak mau menangkis
atau melawan. Luka dibahunya hebat sekali, hingga ia insyaf
tak nanti ia sanggup menggempur pendeta wanita itu.
"Sicu Tio It Hiong !" ia memanggil si anak muda, "Tio sicu !
Apakah kau telah melupai Bu Kie dari Siauw Lim Sie ?"
Atas suaranya si biksu, Hong Kun cuma mengawasi
pendeta itu, matanya mendelong, tubuh berdiri bagaikan
terpaku sedangkan kedua tangannya ia biarkan dipegangi si
nikouw atau nikouw. Ia tak bergirang atau bergusar, ia
melongo saja.
Sampai disitu tahulan Bu Kie bahwa It Hiong, penolong dari
Siauw Lim Sie telah orang pengaruhi, entah dengan obat atau
ilmu apa. Sekarang ia menjadi heran kenapa pemuda yang
demikian gagah dan cerdas kena orang celakai. Tak mungkin
pemuda itu kena pengaruh paras elok. Sedangkan selama di
Gwan Sek Sie, It Hiong ada berdua bersama Kiauw In,
pacarnya.
"Aneh !" demikian ia cuma bisa kata dalam hati.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo beraksi akan mengambil hatinya si anak muda. Ia
sampai tak merasa likat tingkahnya itu ditonton Bu Kie. Ia
tidak
mendapati hasil, Hong Kun tetap berdiam saja, bungkam dan
tawar, matanya mendelong saja. Karena itu ia jadi berpikir
keras.
Satu kali ia mendongkol karena kekasih tak melayaninya.
Dalam mendongkol dan masgulnya, mendadak ia ingat
perkataannya It Mo tentang pil Thay Siang Hoan Hun Tan,
bahwa tanpa obatnya itu, Hong Kun akan tak ada
faedahnya.......
"Ah !" serunya di dalam hati, mukanya menjadi merah. Dia
likat sendirinya. Diapun merasa malu sudah beraksi
dihadapannya Bu Kie. Tapi ketika dia menoleh kepada pendeta
asal Siauw Lim Sie itu, hatinya lega juga. Bu Kie lagi tunduk
diam, rupanya dia sedang berpikir keras.
"Bagus !" pikirnya pula. Lantas timbul keinginannya akan
mencium Hong Kun. Disitu toh tak ada orang yang melihatnya.
Bu Kie tengah kelelap dalam pikirannya.
Justru ia mau mengangsurkan mukanya, tiba-tiba
telinganya dengar satu suara lapat-lapat : "Ah ....!"
Mulanya melengak, nikouw ini menjadi mendongkol.
"Kurang ajar !" pikirnya. Ia gusar terhadap Bu Kie, yang ia
sangka telah mengeluarkan suara itu guna mengganggunya.
Hendak ia menghajarnya, atau segera ia mendengar tawa
yang nyaring, hingga ia menjadi kaget. Ketika ia menoleh ia
melihat munculnya secara tiba-tiba dari Hiat Mo Hweshio dan
Tam Mo Tojin, kedua saudara seperguruannya yang berdiri
berendeng disampingnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sebaliknya, waktu ia berpaling kepada Bu Kie, pendeta itu
sudah lenyap entah kapan dan kemana perginya !
"Suheng !" kemudian ia memanggil kedua saudara
seperguruannya itu.
Tam Mo Tojing dilain pihak sudah bertindak akan
menjemput sepasang goloknya saudaranya, sembari
menghampiri dan menyodorkan golok itu, dia berkata :
"Bunga indah tak membuat orang lupa daratan, hanya orang
sendiri yang melupai dirinya ! Sumoay kau rupanya telah
terpesonakan pemuda tampan ini hingga kau lupa segala apa !
Benarkah ?"
Hiat Mo Hweshio pun kata tertawa : "Selama satu hari ini
pastilah sumoay telah merasakan kenikmatan yang
memuaskan sekali ! Lihatlah, hati sumoay memain, matanya
bercanda dan pinggangnya lemas ! Ha ha ha ! Kau tahu
sumoay, kau membuat kami berdua mencari kau ubek-ubakan
diempat penjuru angin, sampai kami bermandikan peluh
sampai kita menjadi seperti si hweshio bersengsara dan Tojin
menderita."
Mukanya Sek Mo menjadi merah saking likat tetapi ia tak
gusar cuma ia mendelik kepada kedua saudara seperguruan
itu.
"Cis !" katanya sengit. "Suheng berdua, mulut kalian tak
bersih !"
Meski begitu ia menyambuti sepasang goloknya yang terus
ia masuki ke dalam sarungnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hiat Mo dan Tam Mo saling mengawasi dan tertawa.
Kemudian mereka pun saling memandang dengan sang adik
seperguruan untuk bersenyum juga bersama-sama. Selama itu
mereka tidak perhatikan lagi pada Gak Hong Kun yang sejak
tadi berdiri menjublak saja. Mereka baru sadar ketika melihat
sesosok tubuh berlompat kepada mereka sambil sebatang
pedang dibalingkan, hingga serentak mereka berlompat misah
menjauhkan diri dati tubuh orang itu yang ternyata Gak Hong
Kun adanya !
Ketika itu sang malam telah tiba dengan cepat, maka juga
sinar pedang nampak berkilauan, anginnya pun bersuara
nyaring menyambar kepada Hong Gwa Sam Mo. Habis
serangan yang pertama itu menyusul yang lainnya karena si
anak muca bersilat dengan serupa jurus silat pedang berantai
dari Heng San Pay !
Tam Mo segera memasang mata. Habis menyerang
beberapa kali itu, kembali Hong Kun berdiri menjublak,
matanya mendelong ke satu arah. Ke arah sebuah batu
karang.
"Sute, tahan !" berseru Hiat Mo kepada Tam Mo si Bajingan
Loba, yang tadi beraksi hendak melakukan penyerangan
membalas.
Peng Mo pun sudah lantas memberi isyarat supaya kedua
saudaranya jangan sembarang turunt angan, terus ia
mengawasi Hong Kun yang ia hampiri dengan langkah
perlahan-lahan, niatnya membokong dengan satu totokan,
supaya anak muda itu kembali mati kesadarannya.......
Habis berdiri diam itu sekonyong-konyong Hong Kun
tertawa nyaring, disusul dengan suara gusarnya berulangulang
: "Hm ! Hm !".
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak. Diakhirnya, dia
tampak berdiam dengan tampang sangat berduka, tubuhnya
tak bergerak.
Peng Mo mengawasi kelakuan tidak beres ingatan dari
orang yang dikasihhaninya itu, ia merasa sangat kasihan,
maka setelah orang berdiam, ia menghampirinya. Dengan jari
tangan kanan, ia menotok jalan darah ouwtian dari si anak
muda.
Heran pemuda itu. Dia seperti tidak merasai totokan itu.
Mendadak ia memutar tubunya sambil terus miring sedikit,
dengan pedangnya dia membarengi menebas.
Si Bajingan Es menjadi kaget dan heran sekali. Syukur dia
sempat berlompat berkelit. Hampir lengan kanannya kena
terbabat.
"Bagaimana kalau kakakmu yang muda membantumu ?"
tanya Tam Mo si rahib agama To yang terus mengibaskan
tangan kanannya, maka juga sebutir peluru It Toan In lantas
meluncur ke arah si anak muda.
Cuaca sudah mulai gelap. Hong Kun tak melihat apa-apa,
apa pula peluru bius itu. Ia toh luput dari roboh tak sadarkan
diri. Justru ia tengah berlompat ke samping, pada Peng Mo
yang ia serang pula.
"Kau.... kau..." tegurnya Peng Mo.
Peluru lewat terus, tanpa mengenai sasarannya, jatuh ke
tanah, tak meledak. Dengan begitu bebaslah anak muda itu.
Bahkan dia tetap tidak tahu bahwa orang telah menyerangnya
dengan senjata rahasia.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo mengawasi sekian lama lantas menghampiri.
"Adik !" sapanya tertawa. "Apakah kau hendak bilang ?"
Karena orang memegang pedang terhunus dan barusan
baru saja dia menyerang, Sek Mo tidak berani menghampiri
sampai dekat, ia pula siap sedia kuatir nanti diserang lagi.
Hong Kun bicara seorang diri, suaranya sangat perlahan
hingga tak terdengar kata-katanya, dengan tangannya dikasih
turun, ia terus berdiri diam.
"Sumoay" Tam Mo berkata kepada adik seperguruannya
itu, "kalau kita menghadapi musuh, hati kita lemah dan kita
menaruh belas kasihan, itu artinya kita mudah mendapat
celaka. Maka itu, baiklah pemuda ini dibekuk terlebih dahulu,
sesudah itu baru kau baiki dia. Nanti aku yang mewakilkan
kau menawannya...."
Begitu ia berkata, tanpa menanti jawaban lagi dari si adik
seperguruan, Tam Mo lantas bertindak kepada Hong Kun
sambil terus menyerang dengan tangan kosong.
Hong Kun seperti tidak melihat orang menyerangnya,
hanya justru ia lari turun gunung ! Dengan begitu kembali ia
bebas dari serangan itu. Malah ia lari terus hingga ia lenyap di
dalam kegelapan !
Tam Mo heran hingga ia berseru sendirinya. Ia sudah
lantas menarik pulang tangannya. "Ah, jie suheng !" Peng Mo
kaget dan menyesalkan saudaranya yang nomor dua itu, "Kau
lihat, lantaran diserang olehmu dia telah pergi kabur...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Saking menyesal, si nikouw membanting-banting kaki.
Tanpa berunding lagi ia lari menyusul.
Hiat Mo tertawa menyaksikan adik seperguruan itu
demikian tergila-gila pada si anak muda. Kata dia tertawa :
"Bocah tolol itu lagi tak sadarkan diri, dia dapat lari kemana ?
Mustahil dia bisa naik ke langit ! Ha ha ha !"
"Kau benar, suheng." berkata Tam Mo yang barusan
disesalkan adiknya dan dia menyesal juga. "Sekarang mari kita
pergi membantu mencari pemuda itu, supaya dia tak usah
bersusah hati. Bisa-bisa dia penasaran dan bergusar."
Hiat Mo mengangkat kepalanya, melihat ke langit. Ia
mendapati sudah banyak bintang dan rembulan bermodel
sisir.
"Nah, marilah kita pergi !" sahutnya. "Kita sama-sama si
biksu dan Tojin menderita. Ada baiknya kita berjalan malammalam
guna melemaskan otot-otot kaki kita."
Habis dia mengucap itu, bersama saudaranya, Bajingan
Tamak itu lantas berangkat menyusul.
Malam itu kedua anggauta Hong Gwan Sam Mo ini mesti
berputaran di gunung Ngo Tay San itu, entah berapa puncak
telah didaki dan berapa rimba telah dilewati, emreka tidak
dapat menyusul atau mencari Sek Mo, adik seperguruan yang
paling muda itu !
Karenanya, mereka mencari terus sampai munculnya sang
fajar tetapi sia-sia belaka !
Biar bagaimana, keduanya merasa letih. Maka mereka
berdiri di sebuah puncak, matanya mengawasi sekitarnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dengan begitu mereka sekalian beristirahat. Keduanya
berdiam saja. Mereka itu, yang satu berkepala gundul, yang
lain berjanggut seperti janggutnya kambing gunung.
Keduanya berdiam, mereka cuma dapat bersenyum berduka.
Lewat sekian lama dengan membungkam saja. Kemudian
Hiat Mo si Bajingan Darah yang berkata terlebih dahulu.
"Adikku, mari kita turun gunung !" demikian katanya
kepada sang jie-sute, adik seperguruannya yang nomor dua
itu. "Bagaimana kalau kita pergi ke Biauw Im Am, biaranya
adik kita itu ?"
Tam Mo akur, ia mengangguk. Karena Hiat Mo sudah lantas
berjalan, ia bertindak mengikuti.
Sekarang kita menyusul Sek Mo atau Peng Mo si Bajingan
Paras Elok atau Bajingan Es. Ia menyusul terlambat, sejarak
belasan tombak. Tetapi syukur sinar bintang membantunya
hingga samar-samar ia bisa melihat bayangannya si anak
muda. Ia perkeras larinya untuk dapat menyandak. Yang
membuat masgul dan berkuatir ialah larinya Hong Kun,
sebentar ke kiri, sebentar ke kanan, seperti orang berkelitkelit.
Dalam bingung dan penasaran, Sek Mo lari dengan ilmunya
yang dinamakan "Hon Eng Lie Heng", "Merubuh bayangan,
meninggalkan bentuk". Maka ia bagaikan melesat seperti
sesosok bayangan hitam.
Apa pula adalah Hong Kun. Dia lari cepat dan lama diluar
dugaan, mungkin itu disebabkan lari tanpa tujuan atau karena
pikirannya tidak sadar. Terus terusan dia kabur tiga sampai
empat puluh lie, sampai dua jam lamanya, masih belum ia
mau berhenti. Maka taklah kecewa ia menjadi murid tunggal
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dari Heng San Pay karena dia telah berhasil mewariskan
kepandaiannya ilmu ringan tubuh gurunya, It Yap Tojin.
Dalam tak sadara, dia pula seperti dapat tenaga istimewa.
Hingga ia tak kenal lelah. Sudah lari puluhan lie, dia nafasnya
tak memburu. hanya, sebab lari tanpa tujuan itu, beberapa
kali dia terpeleset dan jatuh memegang tanah !
Peng Mo Ni kouw menggunakan ilmu lari seluruhnya tak
berhasil dia menyusul si anak muda yang digilainya itu, sampai
dia bermandikan peluh dan bajunya demek, sedang nafasnya
tersengal. Tetapi dia beradat keras dan penasaarn, makin tak
dapat menyandak, dia lari makin sengit.
Demikian yang seorang lari tanpa tujuan, yang lain dengan
akan maksudnya, lalu dengan sendirinya mereka bagaikan
main kejar-kejaran atau mengadu kepandaian lari. Dan
mereka berlari-lari ditanah pegunungan, diantara rumput
tebal, diantaranya batu besar dan pepohonan.
Lagi tiga puluh lie dilalui, maka terpisah sudah mereka dari
wilayah gunung Ngo Tay San, lewat jauh sekali.
Sebelumnya fajar, Hong Kun sudah melintasi sebuah
tanjakan dan mulai berlari-lari di jalan umum. Dari jauh sekali,
Peng Mo melihat anak muda itu, dalam rupa seperti bayangan
lenyap didalam suatu benda yang gelap. Ia menyusul terus.
Setelah cuaca sedikit terang, benda gelap itu mirip sebuah
gubuk, tapi sesuah dihampiri dekat kiranya kereta bertenda
yang ditarik kuda, yang berhenti di tepi jalan.
"Heran...." pikir si Bajingan Es. "Kenapa kereta ini
diberhentikan di tepi jalan ini tanpa kusir ? Keretanya juga
tanpa sesuatu pertanda hingga tak diketahui pemiliknya
siapa."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sesudah berdiri mengawasi sekian lama, dengan dia tetap
tak melihat ada orang keluar dari dalam kereta itu, Peng Mo
habis sabar.
"Kereta ini ada penumpang atau tidak ?" demikian dia
tanya. "Pinni hendak menanyakan sesuatu."
Tiada jawaban dari dalam kereta. Tidak sekalipun,
pertanyaan telahh diulang beberapa kali.
Oleh karena ia tak mendapat jawaban, si Bajingan Es
menjadi mendongkol.
"Kurang ajar !" pikirnya. Maka hendak dia menaiki kereta
itu, guna memeriksa dalamnya. Atau disaat itu dari tepi jalan
dimana ada rumput tebal tampak munculnya seorang pria
yang berjalan perlahan sambil dia merapikan pakaiannya,
kemudian dia melompat naik ke atas kereta itu untuk
membuka tambatan tali kudanya, guna memegang juga
cambuknya. Hanya sebelum dia memberangkatkan kereta, dia
tunduk akan melirik ke bawah kereta kepada si nikouw !
Karuan Peng Mo pun memandang muka orang. Empat buah
mata bentrok sinarnya satu sama lain. Lantas Peng Mo merasa
seperti pernah mengenal kusir itu, cuma ia tak ingat nama
atau gelarannya dan lupa juga dimana mereka pernah jumpa.
Yang pasti si kusir pun orang Kang Ouw !
Pria itu tampan, bajunya panjang biru punggungnya
menggendol pedang yang ada rendanya -renda merah. Dia
sudah setengah tua tetapi nampak seperti seorang muda dan
gerak geriknya halus.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hampir Peng Mo lupa akan dirinya, karena ia mengawasi
saja kusir kereta itu, akhirnya bagai orang baru sadar, ia
memberi hormat dan menanya : "Sicu, pinni mohon bertanya,
kereta ini ada penumpangnya atau tidak ?"
Kusir itu melongo. Ia tersengsem oleh suara merdu dari
biksui, tanpa merasa ia menurunkan tangannya yang
mencekal cambuk dan terus mengawasi muka orang. Ia tidak
lantas menjawab, hanya bersenyum.
Orang pengalaman seperti Peng Mo ketahui baik bahwa
orang telah tertarik oleh dirinya, maka itu ia menjadi girang
sekali.
"Sia-sia belaka aku menyusul si anak muda, ada baiknya
kusir ini menjadi penggantinya." demikian pikirnya. Karena ia
sudah pandai beraksi lantas ia mempertunjuki gerak geriknya
yang menggairahkan.
"Sicu !" katanya tertawa manis, alisnya memain, "sicu,
apakah kau tak dengar ? Pinni menumpang bertanya, di dalam
keretamu ini ada penumpangnya atau tidak ?"
"Oh !" pria itu kaget. Ia seperti baru sadar dari tidur.
"suthay, apakah gelaranmu yang mulia dari suthay ?"
bukannya menjawan, ia malah sebaliknya.
"Ha, kau licik, anak !" kata Peng Mo di dalam hati, sebab ia
bukan dijawab hanya ditanya. "Awas kalau sebentar kau
sudah tergenggam olehku ! Asal saja kau telah
mengundangku naik ke dalam keretamu ! Sampai itu waktu
mana dapat si anak muda lolos dari tanganku."
Dengan tindakan elok, Peng Mo menghampiri kereta dua
tindak, hingga ia jadi berdiri di sisinya. Di situ ia berdiri, sambil
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tertawa ia berkata : "Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah Beng
Hiat Nikouw dari Biauw Im Am, salah seorang dari Hong Gwa
Sam Mo. Sicu belum lagi pinni belajar kenal dengan she dan
namamu yang mulia dan tersohor !"
Jilid 49
Pertanyaan itu membuat mukanya si pria berubah sedikit
pucat dan merah, entah dia likat atau terkejut tetapi lekas
juga dia tertawa dan berkata manis : "Saru nama besar yang
telah lama kudengar ! Sungguh berbahagia aku yang sekarang
ini aku dapat bertemu denganmu suthay ! Aku yang rendah
ialah Cek Hong Bu Ciu Tong si Angin Merah ! Suthay terimalah
hormatku !"
Kusir itu sudah lantas memberikan hormatnya sambil ia
berbangkit, sedangkan matanya yang tajam tak mau
menyimpang dari wajahnya si nikouw.
Ceng Ciat Nikouw melirik pula pria setengah tua itu.
"Oh, kiranya seorang gagah dari Heng Keng To !" katanya
tertawa manis. "Sungguh kecewa mataku yang ada bijinya tak
bisa mengenali orang Kang Ouw yang tersohor ! Maaf, maaf !"
Memang juga pria itu Ciu Tong dari Hek Keng To, pulau
ikan Lodan Hitam, adik seperguruan dari Beng Leng Cinjin,
ketua Hek Keng To dan suheng, kakak seperguruan yang
kedua dari Tan Hong. Dialah orang golongan sesat tetapi dia
telah ketahui namanya Hong Gwa Sam Mo yang tidak dapat
dipandang ringan. Maka itu tidak mau dia berlaku sembrono,
hanya itu dia sangat tertarik oleh kecantikanya Peng Mo yang
centil itu, hingga disaat itu juga darahnya bagaikan bergolak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Maka disaat detik itu, disamping jeri, dia ingin mendapati si
nikouw.
Cia Tong memegang lis dengan tangan kiri. Mestinya ia
menarik mengedutnya, membikin kudanya membuka langkah
untuk menarik keretanya, tetapi sekarang, dia berdiam saja,
seperti juga tangan kirinya kehabisan tenaga.
"Ciu sicu" kemudian ia mendengar suara merdu dari si
nikouw, "pagi-pagi begini sicu berada di tengah jalan ini,
sebenarnya sicu hendak pergi kemanakah ? Nampaknya sicu
agak tergesa-gesa !"
Ciu Tong bingung tapi ia lekas memberikan jawabannya.
"Aku hendak pergi ke Hek Sek San." demikian sahutnya.
Mendadak ia berhenti. Sebab ia ingat tak dapat ia sembarang
bicara Peng Mo tersenyum manis.
"Kita sama-sama orang Kang Ouw, kalau kita kebetulan
bertemu satu dengan lain, tak apa-apa bila kita memasang
omong !" katanya manis. "Bukankah kau tak bakal terbinasa,
Ciu Sicu. Laginya kita..."
Parasnya Ciu Tong merah. Dia jengah sendirinya. Sikapnya
barusan bukan lagi sikap orang Kang Ouw. Sebagai orang
Kang Ouw, tak dapat ia pemaluan. Ia lantas berpura batuk
untuk guna melindungi diri, terus dia tertawa.
"Harap jangan salah mengerti, suthay !" katanya. "Jika
suthay benar suka memandang mukaku, aku senang sekali
yang kita mengikat perkenalan. Itulah suatu kehormatan
bagiku, hingga mukaku bagaikan ditempel emas !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Senang Peng Mo mendengar orang bicara demikian
hormat. Ia mengangkat kepalanya memandang wanita itu,
wajahnya sendiri tersungging senyum ramai, matanya
mengawasi mata orang.
"Ah !" serunya perlahan.
Tetapi Ciu Tong telah mendengar itu, dia senang sekali.
Suara itu sangat merdu dan membuat hatinya berdebaran.
Hingga ia merasai dirinya seperti lagi terbang melayanglayang.
Peng Mo, orang mengawasi dia dengan sinar mata
menyayangi.
"Su thay." berkata pula jago muda dari Hek Keng To itu.
"Kalau kita sama tujuannya tidak ada halangannya buat su
thay naiki keretaku ini untuk kita jalan bersama-sama. Maukah
su thay diantar oleh buat satu rintangan ?"
Itulah kata-kata yang menggirangkan Peng Mo. Itulah
tawaran yang ia harap-harap semenjak tadi. Saking girangnya,
alisnya bangun berdiri. Tapi ialah seorang licik, ia beraksi
membawa diri agar orang memandang tinggi padanya.
Bukankah ia menang diatas angin ?
"Terima kasih, sicu." katanya. "Meski benar tujuan kita
sama tetapi aku tak berani kalau sicu sampai mesti
mengantarku. Harap sicu tidak berlaku sungkan !"
Ciu Tong berpikir. Tiba-tiba ia sadar. Tak dapat ia
dipengaruhi nikouw ini. Ia pun jeri terhadap Hong Gwa Sam
Mo. Maka itu lekas-lekas ia memberi hormat seraya berkata :
"Kalau su thay mengatakan demikian, baiklah ! Maaf, su thay.
Ijinkanlah aku pamitan ! Sampai kita jumpa lagi !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya suaranya berhenti, jago dari Hek Keng To itu
menggemprak kudanya yang ia sekalian bentak, maka
berbengarlah kuda itu, yang terus membuka langkahnya,
hingga roda-roda kereta tadi berjalan bergelindingan !
Peng Mo melengak. Orang pergi berlalu mendadak. Tak
ada waktu buat ia bicara pula. Bahkan buat lompat naik ke
kereta, kesempatan sudah tidak ada lagi. Ia berdiri diam saja
mengawasi kereta berlalu meninggalkannya.
"Hai !" serunya kemudian saking mendongkol. "Awas, Ciu
Tong ! Hendak aku lihat, berapa kuatnya hatimu ! Mesti
datang saatnya yang kau jatuh kedalam tanganku !"
Dengan satu lompatan, nikouw ini lantas lari untuk
menyusul kereta itu. Ia lari dengan ilmunya "Hoa Eng Lie
Hong".
Ciu Tong sendiri kabur dengan pikirannya pusing kacau, tak
dapat ia melupai si pendeta perempuan. Ia seperti kehilangan
sesuatu. Selagi sadar, ia jeri terhadap Bajingan itu. Selekasnya
pikirannya butek, ia ingin mendekatinya. Pernah ia melihat
seperti si nikouw cantik berada di depannya.
"Sayang aku tidak ajak dia naik keretaku." pikirnya
kemudian, menyesal. Ceng Ciat Nikouw seperti lagi main mata
dengannya !
"Ciu sicu !" tiba-tiba ia mendengar suara merdu
memanggilnya. Lebih dulu ia pun bagaikan mendengar tawa
yang manis sekali. Ia menjadi bingung. Ia lalu berpikir
mungkin ada harganya kalau dia bersahabat dengan Hong
Gwa Sam Mo yang pasti bisa membantu segala usahanya Hek
Keng To.....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Oleh karena pikirannya kacau itu tanpa merasa, Bek Hoan
Siancu membuat keretanya berlari kendor. Bahkan dilain saat
mendadak kudanya menghentikan langkahnya, hingga
keretanya turut berhenti juga. Ia menjadi melengak, matanya
mendelong ke depan, kemudian ia melihat juga ke sekitarnya.
"Ah !" serunya sendiri perlahan. Ia menyesal sudah tidak
mau lantas mengikat persahabatan dengan Peng Mo. Dalam
pikiran sadar seperti itu ia bisa menggunakan otaknya.
"Ciu sicu ! Ciu Sicu !" tiba-tiba ia mendengar panggilan
halus disaat ia hendak menjalankan pula keretanya. "Ciu sicu,
tunggu dahulu......"
Itulah suara Peng Mo, maka giranglah Ciu Tong.
"Ada apa ?" sahutnya sambil ia menoleh ke belakang,
bahkan kudanya pun diputar untuk dikasih balik ke tempat
darimana si nikouw datang..........
Boleh dibilang di dalam sekejap saja disusul dengan
berkelebatnya tubuh bagaikan bayangan. Peng Mo sudah
berlompat naik ke atas kereta, malah dengan tidak malu-malu
lagi dia lantas duduk disampingnya kusir. Bukannya dia likat,
dia justru bersenyum manis.
"Ada beberapa kata-kata yang pinni ingin tanyakan kepada
sicu......." katanya merdu.
"Jangan sungkan, su thay !" berkata Ciu Tong cepat.
"Pengajaran apakah itu ? Katakanlah !"
Roda-roda kereta bergelindingan terus, karenanya kereta
itu berjalan dengan tetap bergoncang seperti biasanya, maka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
juga tubuh Ciu Tong dan si nikouw menjadi saling bentur tak
hentinya, memangnya tempa bukannya lega dan mereka
duduk rapat satu sama lain. Di hatinya si kusir saban-saban
berdenyut kapan tubuhnya membentur tubuh yang lunak dari
penumpangnya yang tak diundang itu..........
Masih ada satu hal yang membuat hatinya Ciu Tong sabansaban
bergoncang. Itulah harum kewanitaan dari tubuhnya
Sek Mo.
"Sicu" berkata Ceng Ciang Nikouw yang memecahkan
kesunyian diantara mereka berdua, "Sudikah kau mengijinkan
aku masuk ke dalam keretamu ini ?"
Ciu Tong memegang les mengendalikan kudanya, akan
tetapi diam-diam ia selalu melirik wanita disisinya itu. Ia
seperti tak bosan-bosannya ia bersinggungan demikian rupa
sampai ia tak dapat dengar perkataan orang.
Peng Mo menoleh akan memandang muka orang, maka
juga ia mendapati jago dari Hek Keng To itu lagi medelong
mengawasinya. Di dalam hati ia girang sekali. Tahulah ia yang
ia telah berhasil mempengaruhi pria disisinya ini. Dalam
girangnya ia tertawa garing.
"Ciu sicu !" sapanya kemudian. "Ciu sicu, kau kenapakah ?
Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?" Ia melirik dan
tertawa pula.
Ciu Tong bagaikan mendusin dari tidurnya.
"Ah !" katanya. "Apakah katamu ?"
Peng Mo menatap tajam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Jangan berlagak pilon, sicu !" katanya aleman. "Bukankan
sicu tak melihat mata padaku ? Bukankah kau tak sudi bicara
denganku ?"
Ciu Tong jengah tetapi ia paksakan diri tertawa.
"Bukan, bukan begitu !" katanya cepat. "Sebenarnya aku
tengah memikirkan sesuatu. Harap suthay tidak menjadi kecil
hati !"
Peng Mo tertawa.
"Oh, kiranya sicu lagi berpikir ! Tidak, aku tidak menjadi
kecil hati !"
Karena berjalan terus, tubuh mereka berduapun sabansaban
saling beradu !
"Haa !" Ciu Tong menggeprak kudanya. Kemudian ia
menoleh kepada orang disampingnya untuk berkata : "Suthay
tolong ulangi apa katamu barusan. Suka sekali aku
mendengarnya !"
Peng Mo bersenyum.
"Pinni ingin masuk ke dalam keretamu, bolehkah ?"
katanya.
Ciu Tong bungkam. Airmukanya pun berubah sedikit.
Peng Mo heran, hingga ia mau menerka apakah Hong Kun
bersembunyi di dalam kereta itu. Walaupun demikian, ia tidak
mengatakan sesuatu lagi, tak mau ia mendesak. Pikirnya,
"Cukup sudah asal aku mendapatkan dia sebagai gantinya....."
Tapi kemudian ia didesak rasa ingin tahunya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tak apalah sicu, tak dapat aku masuk kedalam keretamu."
katanya. "Hanya dapatkah sicu menjelaskan sesuatu padaku
?"
Lega juga hatinya Cek Hong Sian cu yang orang tidak
mendesaknya.
"Apakah itu suthay ?" sahutnya. "Silahkan tanyakan. Asal
apa yang aku tahu, pasti suka aku memberikan keterangan !"
Peng Mo mengawasi dengan sinar mata lunak. Ketika ia
bicara, ia pun bicara dengan sabar.
"Sicu" demikian katanya, "didalam keretamu ini ada atau
tidak murid dari Pay In Nia yang sedang menyembunyikan diri
?"
Peng Mo tidak tahu halnya It Hiong tulen dan It Hiong
palsu, maka itu ia mengira Hong Kun sebagai muridnya Tek
Cio Siangjin. Ia mendengar nama Gak Hong Kun selama
pertempurannya di Ngo Tay San di waktu mana Hong Kun
menyebut dirinya sebagai murid dari Pay In Nia.
Hatinya Ciu Tong tergerak mendapat pertanyaan nikouw
ini. Ia jadi ingat pada Tio It Hiong. Ketika baru-baru ini ia turut
Beng Leng Cinjin menyerbu Siauw Lim Sie, ia pernah
menempur It Hiong dan Kiauw In. Karena perbedaannya
golongan sesat dan lurus, pihak Pay In Nia jadi termasuk
musuhnya. Sekarang ia mendengar disebutnya nama Tio It
Hiong, maka ingatlah dia akan kekalahannya di gunung Siong
San serta lolosnya ia dari ujung pedang di jalan umum di kaki
gunung Heng San. Karena ia menjadi berpikir. Setelah dapat
menentramkan hatinya, ia menggeleng-geleng kepala.
Katanya : "Aku dengan pihak Pay In Nia adalah musuh satu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dengan lain, mana mungkin dia bersembunyi di dalam
keretaku ?"
Peng Mo heran, ia tidak ketahui adanya permusuhan
diantara Pay In Nia adan Heng Keng To.
"Kenapa kalian kedua belah pihak bentrok ?" demikian
tanyanya.
"Hm !" Ciu Tong memperdengarkan suara membenci.
"Pihak sana menganggap diri sebagai pihak lurus !"
"Tetapi sicu" kata Peng Mo tawar, "dahulu Gak Hong Kun
menjadi murid Pay In Nia tetapi sekarang dia telah menjadi
muridnya Im Ciu It Mo !"
Ciu Tong heran sekali. Kenapa Peng Mo menyebut Gak
Hong Kun ? Yang ia tahu, muridnya Pay In Nia cuma dua ialah
Cio Kiauw In dan Tio It Hiong dan belakangan karena ada
hubungannya dengan Tio It Hiong, Pek Giok Peng menjadi
murid yang ketiga. Kenapa sekarang muncul Gak Hong Kun ?
Menurut apa yang ia tahu, Gak Hong Kun adalah muridnya It
Yap Tojin dari Heng San Pay. Bagaimana sebenarnya ?
Saking herannya, jago Heng Keng To ini menggelenggelengkan
kepalanya.
"Suthay" katanya. "Mungkin kau telah kena orang
persilatan ! Atau kau sendiri yang keliru ! Di dalam keretaku ini
tidak ada Gak Hong Kun yang menyembunyikan dirinya !"
Sek Mo pun heran.
"Kau tahu ?" katanya menjelaskan. "Gak Hong Kun itu
adalah seorang pemuda dengan baju panjang dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menggedong pedang dipunggungnya. Sudah satu malam aku
mengejarnya, ketika tadi dia tiba disini dari kejauhan aku
melihat dia lompat kedalam keretamu ini !"
"Suthay, benarkah orang itu Gak Hong Kun ?" Ciu Tong
tegaskan.
Peng Mo agak bersangsi.
"Dialah seorang pemuda dengan ilmu silat pedangnya
hebat !" sahutnya, "dan ilmu ringan tubuhnya pun mahir
sekali. Hanya waktu aku menemuinya, dia tidak sehat
disebabkan dia telah makan obat Thay Siang Hoang Han Tan
dari Im Ciu It Mo. Nama Gak Hong Kun itu dia sendiri yang
menyebutnya."
Mendengar disebutnya nama Im Ciu It Mo, Ciu Tong mulai
mengerti duduknya hal.
"Ah, apakah dia bukannya............." katanya ragu-ragu,
hingga suaranya terputus sampai disitu.
Peng Mo tidak sabaran menyaksikan tingkahnya pria
tampan ini.
"Ah, buat apa kau menerka sana menduga sini !" tegurnya.
"Cukup asal kau menjawab aku secara terus terang ! Di dalam
tenda keretamu ini ada orang bersembunyi atau tidak ?"
"Tidak !" sahut Ciu Tong cepat. "Tidak."
Sepasang alisnya si nikouw terbangun.
"Benarkah tidak ?" tanyanya. "Baiklah ! Sudah kita jangan
bicarakan pula urusan itu ! Kau akur bukan ?" Lantas ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berpaling ke kiri dan kanan di mana terdapat banyak
pepohonan, sebab itulah rimba. Ia melihat cuaca.
"Ciu Sicu." tanyanya kemudian. "Sekarang ini kau sedang
menuju kemana ?"
Ciu Tong melengak. Pertanyaan itu menyadarkannya.
Saking asyiknya mereka bicara, keretanya tengah berjalan
menuju Hek Sek San kebalikannya ! Tanpa merasa mereka
sudah berjalan satu jam lebih, mereka sudah melalui lebih
daripada dua puluh lie. Hingga mereka telah berada di luar
wilayah kecamatan Ngo tay koan ! Untuk kembali ke Hek Sek
San, kereta harus diputar balik !
Sesudah melengak sekian lama, Cak Hong Siancu
mengawasi Peng Mo, terus dia tertawa. Dia tanya, "Bukankah
tadi kau bilang bahwa kau mau pergi ke Hek Sek San ?
Dengan demikian, kita jadi ada bersamaan tujuan.”
Nikouw itu tertawa manis.
"Bagiku si orang Kang Ouw, kemana aku pergi, semua itu
sama saja !" sahutnya. "Aku girang bertemu denganmu, sicu,
bahkan kita agaknya cocok sekali satu dengan lain. Sicu, dapat
kita berjalan bersama-sama, bahkan aku merasa, berat buat
berpisah dari kau......"
Selagi bicara itu, lemah lembut nampaknya si nikouw,
hingga dia mendatangkan kesan baik bagi Ciu Tong hingga
jago Hek Keng To yang berpengalaman itu menjadi jatuh hati,
hingga ia tak ingat lagi tugasnya menuju ke Hek Sek San !
"Meskipun aku tak dapat berpisah dari kau," kata Sek Mo
kemudian. "akan tetapi aku tidak memikir buat pergi ke Hek
Sek San...."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong heran.
"Kenapakah ?" tanyanya.
Dengan sinar matanya yang sayup-sayup, Sek Mo menatap
penarik kereta itu.
"Jalanan ke Hek Sek San itu jalan tegal belukar yang sepi
sunyi." sahutnya. "Di sana tidak ada tempat yang indah
menarik hati, tidak juga rumah penginapan atau rumah
makan, dimana kita dapat berplesiran. Sekarang ini dengan
kita duduk berdua saja diatas kereta ini, aku pun merasa
kurang gembira."
Ciu Tong menyela kata orang. "Aku mau pergi ke Hek Sek
San, di sana kana kau tunaikan tugasku, habis itu, akan aku
temani kau pesiar ke tempat-tempat yang indah dan menarik
hati, untuk kita dapati kepuasaan ! Kau setuju, bukan ?"
"Tak sudi aku pergi ke Hek Sek San." kata Peng Mo manja.
"Di sana ada Im Ciu It Mo, orang yang paling menjemukan !
Kalau kau pergi ke sana kau aku tak mau mengikut !"
Tapi Ciu Tong tertawa.
"Habis," katanya, "habis kalau menurut kau, kita harus
pergi kemana ?"
Peng Mo menekan dahi orang, dia bersenyum.
"Nah, beginilah baru kau menjadi saudaraku yang manis !"
katanya girang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau bilanglah !" kata Ciu Tong, yang ia pun girang sekali.
"Bilang kemana kita harus menuju. Akan kau ikut kau !"
Peng Mo menengadah langit, agaknya dia berpikir.
"Mari kita pergi ke Kang Lam !" bilangnya sejenak
kemudian. "Kang Lam indah segala-galanya ! Kau akur bukan
?"
Dengan matanya yang tajam tetapi jeli, Sek Mo menatap
orang yang disampingnya itu. ia menantikan jawaban.
Perlahan sekali ia menyanyikan syairnay Pek Kie Ek,
"Mengenang Kang Lam":
"Kang Lam indah, sudah semenjak dahulu kala !
Kalau matahari muncul, merahnya melebihi api !
Kalau musim semi datang, air sungainya hijau kebirubiruan
!
Dapatkah Kang Lam tak dikenangkan ?"
Suara itu merdu sekali, puas Ciu Tong mendengarnya.
"Baik, baik !" katanya cepat. "Baik akan kau selalu
mendampingimu ! Kang Lam memang indah, dengan aku
berada bersama, bagaimana aku berbahagia !"
Berkata begitu, jago Hek Keng To ini mengangguk
berulang-ulang.
"Hm, kau bisa saja !" kata Peng Mo yang cahaya mukanya
terang sekali.
"Nah, sudah !" katanya kemudian. "Tengah hari akan
segera tiba, mari kita percepat perjalanan kita !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong tertawa, dia mencambuk kudanya. Maka dengan
berlarinya Bienatang itu, terdengarlah suara berisiknya rodaroda
keretanya. Sang kuda pun meringkik beberapa kali.
Dua-dua Ciu Tong dan Peng Mo ada pikirannya masingmasing,
tetapi dalam hal asmara untuk berplesiran hati
mereka bersatu. Selagi kuda berlari-lari masih mereka
berbicara tak hentinya, saban-saban sambil tertawa, mereka
terus bergurau........
Tiba disebuah tikungan, disitu terdapat jalan cagak. Ciu
Tong hendak mengambil jalan yang satu untuk memasuki
sebuah dusun atau mendadak Peng Mo menarik dan menahan
kudanya.
"Kita menuju ke kecamatan Kang pou !" kata nikouw itu.
"Di sana ada restoran Kui Hiang Koan yang tersohor. Di sini
tidak menarik !" Ia pun melirik manis pada si sahabat baru.
Ciu Tong tertawa.
"Baik su thay. Akan aku iringi kehendakmu." bilangnya.
"Kita harus berjalan malam-malam ! Bagaimana, apakah kau
dapat makan rangsum kering ? Aku kuatur kau nanti
mengeluh perutmu perih......"
Peng Mo bersenyum. Ia menarik las kuda, membuat
binatang itu mengambil jurusan jalan besar.
"Kita akan jalan siang dan malam !" kata ia. "Jalan malam
pun menarik hati, kita dapat melihat sinarnya si putri malam
yang indah permai. Jangan kau menguatirkan apa-apa, akan
aku membuatmu puas !'
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selagi kedua orang itu berbicara dan bergurau, mereka
tidak tahu bahwa diatas kereta mereka diatas tenda, ada
rebah seorang lain yang tidur nyenyak sekali hingga dia mirip
mayat hidup. Dialah Gak Hong Kun. Dia terganggu urat
syarafnya tetapi dia tak kenal capek, adalah setelah berlompat
naik ke atas keretanya Ciu Tong dan merebahkan diri disitu,
kontan dia tidur pulas demikian nyenyaknya. Dengan demikian
dia telah dibawa terus oleh jago Hek Keng To itu diluar tahu si
jago dan diluar tahunya sendiri.......
Kota kecamatan Kangpou terletak di tengah jalan
hubungan yang ramai dan penting antara utara dan selatan
hingga banyak kereta dan orang mondar mandir di sana,
kotanya pun ramai sekali. Disitu terdapat banyak restoran dan
kedia teh, begitu juga rumah-rumah penginapan. Siapa lewat
disitu pasti dia mampir akan bermalam. Ada pula tempat
keramaiannya, yang terpisah dari pusat kota kira lima lie.
Itulah sebuah rimba ditengah-tengah mana terdapat bagian
yang tumbuh pelbagai macam bungan dan walaupun di musim
gugur, semua pepohonan itu tetap hidup segar hingga
selalunya indah pula sejuk. Sangat menyenangkan dan
nyaman rasanya berdiam disitu. Dan Kui Hiang Koan justru
dibangun dan dibuka ditengah-tengah rimbah itu indah. Dia
bagai dikurung pohon-pohon itu. Dan untuk tiba disitu orang
merasa leluasa dengan dibuatnya sebuah jalan besar yang
berbata putih, tepat sampai di muka hotel sekali.
Hotel kenamaan itu tinggi dan besar, ruang dalam berlapislapis,
ada lauteng dan sanggounya, ada pelbagai paseban
atau pafiliunnya dimana orang dapat duduk berangin atau
main catur. Setiap halamannya ada taman kecilnya.
Sedangkan gentengnya hijau dan temboknya merah,
membuat menarik hati siapa gemar akan syair...........
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Oleh karena hotal ternama, para tamunya juga orang-orang
yang tersohor atau berharta seperti pemuda-pemuda
hartawan dan gagah para saudagar besar bahkan tak
terkecuali kaum Lok Lim Rimba hijau kalangan atas. Mereka
itu termasuk golongan orang-orang yang tangannya terlepas
yang biasa dilayani oleh nona-nona manis pelayan biasa atau
tukang-tukang bernyanyi.
Di muka umum pemilik hotel adalah Siang Kang Ba Fung
Theng Liok Cim si Tongkat Tak Berbayang dari Siangkan.
Sedangkan sebenarnya dialah seorang Kang Ouw golongan
sadar yang benci akan segala kejahatan, maka juga sambil
mengusahakan perusahaannya itu, diam-diam ia dapat
mengawasi gerak geriknya setiap orang kaum sesat yang
singgah di hotelnya itu.
Menarik hati adalah seluruh ruang dari Kui Hiang Koan, Kui
Hiang berarti hanya kesatria yang harum. Maka itu disemua
bagian temboknya dipajang gambar-gambar lukisan yang
indah-indah serta syair-syari yang berarti. Diantaranya ada
sebuah lian atau syair berpigura yang penulisnya menyebut
dirinya "Anak nakal !" Sudah tulisan huruf-hurufnya indah dan
"gagah", bunyinya pun mengherankan banyak orang.
Beginilah lian itu.
"Semasa hidupnya tiada lawan.
Berlaksa urusan tak meminta bantuan".
Bersama si penulis syair si Anak Nakal itu tertera juga
namanya pemilik Kui Hiang Koan.
Sudah belasan tahun Kui Hiang Koan diusahakan. Selama
itu belum pernah terjadi peristiwa apa juga di dalam hotel itu.
Kata orang kesejahateraan itu berkatnya syair itu bahwa
sekalipun orang-orang yang bermusuh satu dengan lain
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mereka tak berani berselisih atau berkelahi di dalam Kui Hiang
Koan.
Demikian itu satu hari maka Ciu Tong bersama Peng Mo
telah menghentikan keretanya yang berkuda dua di depan
hotel yang tersohor itu. Cek Hong Siancu memimpin Sek Mo
turun dari kereta untuk bertindak masuk ke dalam hotel,
sedangkan seorang pelayan sudah lantas menyambuti tali
kereta itu ke istal buat dijagai dan dirawat kudanya.
Sementara itu diluar tahunya si jongos hotel, Hong Kun
tetap tertidur nyenyak diatas tenda kereta itu.
Untuk dapat mengambil hatinya Peng Mo, Ciu Tong
meminta sebuah kamar yang terkurung taman bunga serta
memesan barang hidangan yang istimewa. Sambil menenggak
arak perlahan-lahan, mereka ngobrol dengan asyiknya.
Sampai jam tiga lewat mereka masih terus bergurau memain
asmara.
Sekonyong-konyong daun pintu kamar terbuka dan satu
bayangan orang menyeplok masuk tanpa diketahui sepasang
merpati yang lupa daratan itu. Merekalah yang dibilang : "Arak
tak memabukkan orang, orang mabuk sendirinya." Ciu Tong
pula merasa sangat puas karena ia selalu membaui bau harum
kewanitaan.....
Bayangan atau orang yang baru masuk itu sudah lantas
mengawasi bergantian kepada si pria dan wanita, juga seluruh
kamar, sesudah itu mendadak ia memperdengarkan suaranya.
"Hm !"
Peng Mo yang mendengar paling dahulu hingga dia
menjadi terkejut. Dengan lantas dia mengangkat kepalanya,
mengawasi orang itu. Dalam kagetnya dia menegur, "Siapakah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kau ? "Hampir berbareng dengan itu, ia berjingkrak bangun
sambil sebelah tangannya menarik lengan Ciu Tong hingga
keduanya jadi berdiri berendeng.
Ciu Tong pun mengawasi orang dengan ia bermata
berkedip-kedip, tetapi ia lekas sadar dari separuh sintingnya
selekasnya ia sudah melihat nyata. Lantas ia menyapa, "Oh, Ie
Tok Sinshe ! Malam begini sinshe datang kemari, ada apakah
pengajaranmu ?"
Orang itu memang Ie Tok Sishe, hanya dialah si Ie Tok
Sinshe palsu, sebab dia adalah Couw Kong Put Lo. Dia
bersenyum atas teguran itu.
"Saudara Ciu, bagus, bagus !" demikian katanya. "Saudara,
datangku si tua kemari ialah guna mengambil pulang sebuah
guci arak !"
Ciu Tong melengak. Tidak mengerti dia akan kata-kata itu.
Peng Mo sebaliknya dapat menerka, maka juga ia lantas
menatap orang itu dengan matanya dibuka lebar-lebar
sehingga sinarnya tampak bengis tetapi ketika ia bicara, ia
tertawa : "Tua tua, kau keliru mengenali orang ! Di sini tidak
ada guci arak yang kau cari itu !"
Couw Kong Put Lo menunjuki tampang heran, nampak ia
mendongkol. Ia mengira Peng Mo tidak mau mengenalnya
sebab si Bajingan Es sudah mendapati pacar baru. Walaupun
sepintas lalau, dahulu hari pernah mereka berdua bercintacintaan.
Ia tidak puas sebab orang seperti tak sudi
mengenalnya !
Setelah melengak sejenak, Couw Kong Put Lo lantas
terasadar. Ia mengerti yang orang tak mengenalnya karena ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lagi menyamar sebagai Ie Tok Sinshe. Ia mengenakan topeng
yang merupakan wajah lain orang. Biar begitu, ia toh tergiur
hatinya menyaksikan bekas pacar itu demikian
menggairahkan. Hampir ia menyebut dirinya sebagai Couw
Kong Put Lo dan bukannya Ie Tok Sinshe. Syukur ia dapat
mencegahnya. Sebagai gantinya kata-kata, ia berpura batuk.
Walaupun demikian, ia tetap likat.
Ciu Tong jeri terhadap Ie Tok Sinshe, tapi setelah
mengawasi sekian lama dan mendengari pembicaraan orang
dengan Peng Mo, ia bercuriga. Terutama ia merasa cemburu.
Saking tak puas, ia lantas kata keras : "Sahabat, di depan aku
Cek Hong Siansu, jangan kau mendusta ! Jikalah kau tahu
gelagat, baiklah besok kita bicara pula !"
Kata-kata itu tak terlalu keras tetapi itu lah pengusiran.
Couw Kong Put Lo pun merasa tak puas. Sebenarnya ia jelas
melihat Peng Mo ada bersama pria lain. Di sini mereka
bertemu secara kebetulan saja. Ia sengaja muncul dengan
maksud menggertak Ciu Tong. Ia percaya orang bakal
menjadi ketakutan dan pergi menyingkir. Ia tak mengira,
Siansu itu justru tak takut padanya. Mungkin Ciu Tong sudah
mengetahui penyamarannya itu......
Couw Kong Put Lo tertawa dingin. Ia tak puas.
"Eh, saudara Ciu !" katanya. "Apakah kau hendak menguji
kepandaianku si orang tua menggunakan racun maka barulah
kau puas ?'
Sepasang alisnya Ciu Tong terbangun.
"Sret !" dia menghunus pedang di punggungnya. Lantas dia
tertawa tawar dan kata sabar : "Aku yang rendah barulah
takluk jika aku menghadapi Ie Tok Sinshe yang sejati yaitu
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tok Mo Cianpwe yang namanya tersohor di seluruh dunia
sungai telaga, sebaliknya terhadap si palsu, hendak kau mainmain
dengan pedang disaat habis aku minum arak."
Jago dari Heng Keng To ini menjadi bercuriga dan
menyangka orang adalah orang palsu. Ia pula tak senang
sebab ia terganggu kesenangannya. Orang hendak merampas
pacarnya ! Mana ia mau mengerti ? Demikian ia menantang.
Couw Kong Put Lo membawa sikap tenang-tenang saja.
"Saudara Ciu" katanya. "Walaupun ilmu pedang Hek Keng
To sangat tersohor tetapi kau, mana kau sanggup menyambut
aku barang tiga jurus ? Maka itu tak usahlah kau bicara
tentang digunakannya Racun !"
Sebisa-bisa Couw Kong Put Lo tetap hendak membawa
tingkahnya Tok Mo, tenang tapi jumawa. Walaupun ia bicara
dengan Ciu Tong, ia tak lengah akan melirik kepada Peng Mo.
Ciu Tong gusar tak terhingga, maka melesatlah ia ke depan
orang tua itu. Pedangnya segera digeraki dipakai membacok.
Ia menggunakan tipu pedang "Angin Puyuh Menyapu Salju."
Cepat luar biasa, Couw Kong Put Lo berkelit. Ia melihat
ilmu pedang orang telah terlati baik tetapi ia tak takut. Ia
tertawa dingin dan kata : "Dengan ilmu pedang begini macam
kau berani menerbitkan onar di dalam Kui Hiang Koan ? Hmm
!"
Hebat kata-kata itu menusuk hatinya Ciu Tong. Dia terkejut
hingga segera dia menghentikan serangannya terlebih jauh.
Sedangkan menurut panas hatinya ingin dia menikam mampus
pada penggoda ini.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Memang semenjak beberapa puluh tahun untuk di Selatang
dan Utara baik dikalangan Putih maupun golongan Hitam, tak
ada orang yang berani berkelahi di dalam penginapannya Liok
Cim ini. Siapa menjadi orang Kang Ouw yang sudah biasa
bertualang jarang yang tak mendengar namanya pemilik
penginapan Kiu Hiang Koang. Dan Ciu Tong bukannya satu
kecuali. Itulah sebabnya kenapa jago Hek Keng To ini lantas
merubah sikapnya. Tapi ia penasaran, maka tak mau ia
mengalah dan kata : "Kalau kita bicara dari hal peraturan Kui
Hiang Koan, maka kaulah yang paling utama harus mendapat
hukuman !"
Couw Kong Put Lo menyambut dengan tawanya......
"Apakah katamu ?" katanya sengaja.
"Jika peristiwa malam ini aku keluarkan di muka umum"
berkata Ciu Tong, "hendak aku lihat kau masih mempunyai
muka atau tidak untuk melihat orang ! Berbareng
kepalsuanmu sebagai Tok Mo juga pasti akan terbongkar."
Kata-kata itu ditutup dengan tawa yang nyaring.
Di dalam hati Couw Kong Put Lo terkejut juga hingga tanpa
merasa ia berhenti tertawa. Hanya sebentar ia berkata pula :
"Saudara Ciu, jangan kau mencoba memfitnahku ! Kau lihat
disini cuma ada kita orang bertiga ! Pula di saat ini ada tengah
malam buta. Nah, saudara, bagaimana kalau buat urusan dia
kita berbicara dengan mementang jendela."
Tamu tak diundang ini berpaling kepada Peng Mo dan
menunjuknya.
Couw Kong Put Lo tidak tahu halnya Ciu Tong menuduh
dialah Tok Mo palsu tanpa buktinya bahwa jago Hek Keng To
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu cuma menerka dan menggertak saja. Ciu Tong
menggunakan akal biasa yang disebut "Menimpuk rimba
dengan batu secara sembarangan saja". Kapan dia mendengar
suaranya penggoda ini menjadi lunak, dia mendapat hati.
Maka dia tertawa terkekeh dan kata : "Sicu tahu selatan,
dialah si orang gagah ! Kau saudara, kaulah si orang gagah itu
!"
"Hm !" Couw Kong Put Lo memperdengarkan suara
dinginnya. Agaknya dia mencoba menguasai kemarahannya.
Lantas dia bertindak ke meja perjamuan untuk duduk diatas
sebuah kursi, sembari berbuat begitu dia kata : "Jangan
tertawakan aku, si tua hendak mencicipi arak kalian !" Terus
dia mengangkat poci arak, menuang isinya ke dalam sebuah
cawan. Dia pun mengisikan cawan-cawannya CIu Tong dan
Peng Mo. Setelah itu sendirinya dia menengak isi cawannya !
Selama itu Peng Mo berdiam saja. Ia cuma memperhatikan
gerak geriknya kedua orang itu, sekarang menyaksikan
perubahan sikap dari si tetamu tidak diundang, ia lantas
menoleh kepada Ciu Tong. Ia memberi isyarat dengan
menjebikan bibirnya, habis mana ia menghampiri kursi buat
terus berduduk disitu.
Ciu Tong tertawa dingin, dia masuki pedangnya kedalam
sarungnya. Dia pun terus berkata tawar : "Sahabat, kalau kau
ada sesuatu, bicaralah supaya aku dapat mendengarnya."
Couw Kong Put Lo mengangkat cawannya. Dia tertawa.
"Mari kita keringi dulu cawan kita !" katanya dengan
gembira. "Malam yang indah ini pun tak dapat disia-siakan !"
Dan dia mendahului meneguk araknya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong dan Peng Mo saling mengawasi. Keduanya
bercuriga dan kuatir nanti kena dibokong. Mereka tidak minum
arak mereka dan juga membungkam.
Couw Kong Put Lo membuat main janggutnya yang mirip
janggut kambing, dia tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh diluar sangkaku si orang tua yang dua orang
yang gagah kaum Kang Ouw yang tersohor tidak memiliki
nyali besar untuk minum arak yang disuguhkan oleh aku si
orang tua !" demikian katanya. Dan dia tertawa puas.
Peng Mo tertawa dan kata : "Orang Kang Ouw yang licik
dan licik, aku si pendeta telah banyak melihatnya ! Dan kau
tuan, kau orang kalangan apa, sampai nama dan julukanmu
pun kau tak berani memberitahukannya ! Cobalah kau
pikirkan, apakah caramu ini ada caranya laki-laki sejati kaum
kangouw ?"
Couw Kong Put Lo mengawas tajam nikouw itu, kembali dia
tertawa.
"Su thay yang baik, kau cuma ingat sahabat yang baru
hingga kau melupai sahabat yang lama!" katanya. "Ah, aku si
tua walaupun rupaku telah berubah akan tetapi suaraku tetap
suaraku yang lama ! Kau bilang kau tidak kenal aku si tua,
itulah rada keterlaluan !"
Kembali dia mengisikan cawannya terus cawan itu
diangkat.
"Aku minta sukalah saudara Ciu berlaku sedikit polos !"
kata dia. "Saudara mari kita mengeringi cawan kita ! Habis
minum maka aku si tua akan memberitahukan namaku yang
buruk !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong sebenarnya cerdik dan jumawa, tak biasanya ia
menerima ajakan atau penghinaan, maka itu di dalam
keadaan sesulit itu ia lantas mendapat satu pikiran. Mendadak
sontak ia bangkit berdiri dan mengangkat cawannya terus ia
berkata nyaring : "Aku Ciu Tong di dalam dunia Kang Ouw,
ada juga namaku yang kecil, maka arak ini biar ada
rencananya yang dapat memutuskan haus, akan aku coba
meminumnya !" Ia terus membawa cawan ke mulutnya untuk
ditengak kering ! Tetapi ia tidak telan itu, ia berpura jatuh
membungkuk pada belakang kursi, tangannya dipakai
menekan semua arak itu. lantas dikeluarkan pada tangan
bajunya !
Couw Kong Put Lo heran menyaksikan Ciu Tong "roboh"
demikian cepat hingga ia menerka yang ia telah menggunakan
racunnya terlalu banyak. Ia pula terlalu tergiur terhadap Peng
Mo hingga ia tak ingat akan memperhatikan Ciu Tong benar
terkena racun atau tidak.
Peng Mo tak menyangka Ciu Tong lagi main gila, melihat
kawan itu roboh tak sadarkan diri ia bersyukur yang ia tidak
minum arak dan tidak roboh karenanya. Ia girang yang ia
tidak berlagak menjadi seorang kosen. Di sebelah itu heran
yang tamunya demikian lihai.....
"Aku pun harus mencoba." pikirnya kemudian. Dia tetap
berlaku tenang. lalu dia kata pada tamunya itu : "Orang jaman
dulu kala berkata, 'Sekali sinting lenyap seribu kedukaan',
karena itu pinni juga ingin menemani kau lotiang untuk
mengeringi cawanku supaya kita sama-sama mabok."
Dengan lirikan tajam dan menggiurkan hati, Peng Mo
memandang Couw Kong Put Lo terus ia berbangkit dan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bertindak lembut menghampiri orang tua itu sambil ia
mengangkat cawannya.
Tamu itu girang sekali. Ia cuma memperhatikan Peng Mo.
Pikirnya kalau Peng Mo pun mabuk betapa senangnya dia
nanti.........
Karena ini ia menyambut ajakan si nikouw. Biar bagaimana
ia rada bimbang. Tak puas ia andiakata Peng Mo roboh seperti
Ciu Tong. pasti ia akan kurang merasai kenikmatan.
Karenanya ia tak lantas menengak araknya.
Sek Mo tertawa.
"Bagaimana, eh ?" tegurnya. "Apakah kau tak memandang
mata kepada aku Peng Mo ?"
Couw Kong Put Lo tersengsam. Tapi dia tertawa.
"Minum ?" katanya. "Sebenarnya tak tega aku kalau sampai
kau sinting ! Dengan begitu kita sudah menyia-nyiakan malam
yang indah ini !" Ia menoleh kepada Ciu Tong, akan melihat
jago Hek Keng To itu.
Ciu Tong diam tak berkutik di kursinya.
Peng Mo menghampiri lebih dekat pada si tamu, dia
membawa aksinya.
"Kau mau minum atau tidak ?" tanyanya manja.
"Minum, pasti aku akan minum !" sahut Couw Kong Put Lo,
yang jadi lupa pada dirinya sendiri. "Asalkan tidak takuti
menjadi mabuk, aku si tua akan melayanimu."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Meski ia berkata begitu, ia tapinya tidak lantas minum
araknya.
Kedua orang itu berdiri berhadapan dekat sekali satu
dengan lain, tak ada sekali terpisahnya.
"Kau menyia-nyiakan kebaikan orang, akan aku tidak
hiraukan kau !" kata Peng Mo, yang terus melemparkan
cawannya, hingga cawan itu terus jatuh ke lantai, pecah dan
araknya melelehan.
Couw Kong Put Lo tercengang, hingga ia terdiam saja.
Justru ia tercengang atau lantas ia terkejut sekali. Tahu-tahu
ia sudah tidak memakai topengnya lagi sebab penutup
mukanya itu secara tiba-tiba dijambret Sek Mo tanpa berdaya
!
Segera Pek Mo tertawa geli.
"Oh, kiranya kau, Couw Kong Put Lo. Tidak lagi berkumis
atau berjanggut, bahkan mukanya putih dan segar mirip anak
muda. Dengan telah berhasil memahamkan isinya kitab "So
Lie Kang," dia berhasil mempertahankan kemudaannya. Di
dalam usia lanjut, dia nampak seperti orang setengah tua.
Tak marah Couw Kong Put Lo yang Peng Mo melocotkan
kedoknya itu, bahkan ia lantas tertawa. Katanya gembira,
"Lakon asmara kita dahulu hari itu, aku si tua masih
mengenangkannya setiap siang dan malam, tak dapat aku
melupakannya. Malam ini, siapa sangka, kita telah bertemu
pula. Maka itu sudah selayaknya kalau cinta kasih kita itu kita
lanjuti, kita sambung pula."
Peng Mo tertarik hati. Dalam soal asmara dialah juara. Dia
selalu mengagumi paras tampan, sambil membuat main
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
topeng orang, ia tertawa dan kata : "Kalau ini dipakai wanita,
entah bagaimana jadi macamnya !" Ia tertawa mengimplang
pria di depannya. Wajahnya tersungging senyuman. Ia benarbenar
menggiurkan.
Couw Kong Put Lo mengawasi nikouw itu, hatinya
melonjak-lonjak, matanya bersinar berapi, sikapnya bagaikan
singa hendak menerkam mangsanya.
Peng Mo berkelit lincah ke sisi meja, ketika orang hendak
merangkulnya !
Karena ia merangkul tempat kosong, Couw Kong Put Lo
menjadi terkusruk ke depan, sampai ia menubruk dinding.
Hampir dia roboh terguling. Dengan cepat ia memutar tubuh
buat maju pula kepada pacarnya.
Sek Mo menghindarkan dari dengan ia berputar di seputar
meja, sembari lari itu ia tertawa manis. Sebab si pria terus
mengejar, mereka lantas bagaikan main petak di seputar meja
itu !
Kedua orang itu demikian asyik bergurau hingga mereka
melupakan Ciu Tong yang masih diam mendekam seperti juga
dia benar-benar tak sadarkan diri sebab terkena obat biusnya
Couw Kong Put Lo itu.
Sesudah merasa puas mempermainkan pria di depannya
itu, Sek Mo menyerah dengan ia berpura terlalu letih dengan
nafas tersengal-sengal ia roboh dilantai sesudah ia membentur
kursinya Ciu Tong !
Couw Kong Put Lo berlompat menubruk sembari tertawa, ia
berkata : "Sudah su thay, sudah cukup kau menunjuki
kenakalanmu ! Mari kita pergi ke sorga !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sambil saling berpeluk, keduanya bangkit berdiri. Peng Mo
sempat menjebi ke arah Ciu Tong unguk memberitahukan
Couw Kong Put Lo yang dia kuatir Ciu Tong nanti keburu
siuman.
Couw Kong Put Lo mengulur tangan kirinya kepada Ciu
Tong, niatnya menotok otot suwtian di belakang batok
kepalanya jago Hek Keng To itu. Sembari dia tertawa dan kata
: "Apakah kau kuatir obat biusku kurang cukup kuat ? Nah,
begini sja, kau tentu tak akan berkuatir lagi....."
Belum berhenti kata-katanya si jago tua itu, tau-tau
tubuhnya Ciu Tong sudah bergerak bangun seraya sebelah
tangannya diluncurkan ke pinggang orang buat menotok jalan
darah tay meh.
Couw Kong Put Lo kaget sekali sampai tak sempat dia
berdaya hingga seketika juga tubuhnya roboh terkulai dilantai.
Peng Mo kaget sekali, tetapi dia sangat cerdik. Dia lantas
menuding Put Lo sambil mendamprat: "Oh, bajingan tua
bangka ! Bagaimana kau berani menghina aku si pendeta ?"
Dan terus ia mendepak membuat tubuh orang berbalik !
Setelah itu lantas dia berpaling kepada Ciu Tong sembari
menanya : "Saudara Ciu, kau tak kurang suatu apa bukan ?"
Ciu Tong tertawa puas.
"Aku yang muda mana mudah saja aku kena minum racun
?" katanya. Terus ia mengawasi Couw Kong Put Lo seraya
berkata : "Setan tua ini menganggu kesenangan kita, sudah
selayaknya dia mendapat bagiannya !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Rupanya panas hatinya jago Hek Keng To ini, dia maju
menghampiri terus dia menendang tubuh yang lagi rebah tak
berkutik itu !
"Aduh !" demikian satu jeritan hebat, jeritan kesakita
dibarengi dengan robohnya satu tubh manusia.
Itu bukannya jeritannya Put Lo hanya Ciu Tong gelar Cek
Hong Siancu !
Peng Mo melengak. Dia kaget dan heran hingga dia terus
mengawasi Ciu Tong yang tubuhnya terhuyung-huyung,
tangannya memegang kaki kanannya. Di lain pihak Couw
Kong Put Lo tampak telah meletik bangun untuk terus
mengawasi bergantian kepada Ciu Tong dan Peng Mo !
Hatinya Peng Mo bercekat menyaksikan kelicikan dua orang
itu, ia pun bingung sekali. Siapakah yang harus ia berati ? Put
Lo si sahabat lama atau Ciu Tong si kawan baru ?
Put Lo lihai sekali. Sudah puluhan tahun dia melatih tenaga
dalamnya. Ketika tadi dia dibokong Ciu Tong dia roboh tak
berdaya, tetapi dia bukannya pingsan hanya tetap sadar,
maka diam-diam dia mencoba mengarahkan tenaga dalamnya
untuk ia dapat pulih tenaganya. Kebetulan sekali untuknya,
selagi ia mencoba menyelamatkan diri itu Peng Mo
menendang padanya terkena otot kehidupannya, maka dia
bebas dengan segera. Maka juga sekalian membalas sakit
hati, dia menghajar kakinya jago Hek Keng To itu yang
mendepak padanya !
Ciu Tong merasai sakit bukan main, terasa hampir kakinya
patah. Maka selekasnya dia dapat berdiri tegak, dia lantas
menghunus pedangnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Setan tua, serahkan jiwamu !" bentaknya sambil terus
menikam ulu hati orang.
Put Lo berkelit, sambil berkelit, dia menyentil belakang
pedangnya penyerang itu hingga pedangnya terpental,
baiknya tak lepas dari tangan pemiliknya.
Dalam hal imu silat atau tenaga dalam, Put Lo menang dari
Ciu Tong, akan tetapi ilmu pedang Hek Keng To juga tidak
dapat dipandang ringan.
Couw Kong Put Lo batuk-batuk, terus dia tertawa.
"Saudara Ciu !" katanya. "kita tidak bermusuhan satu
dengan lain, bahkan kita dari satu kalangan, karena itu kenapa
kau hendak mengadu jiwa denganku ?"
Ciu Tong gusar, dia membentak : "Tapi kau pikirlah baikbaik
! Kenapa kau melintangi golok dan merampas kekasih
orang ? Apakah kau masih menghargai cara-cara kaum Kang
Ouw ?"
Lenyap tawanya Put Lo, lantas dia berwajah tawar.
"Habis, apakah tetap kau hendak mengadu jiwa ?"
tanyanya. "Kau toh tak mampu melawan aku si orang tua ?
Dalam hal asmara kau juga tidak dapat menandingi aku. Maka
itu baiklah kau berlaku tenang, kau menerima baik kalau kita
membagi rasa ! Bagaimana pendapatmu ?"
Mendengar itu merah mukanya Peng Mo.
"Ciis, setan tua !" bentaknya. "Bagaimana kau berani
menghina aku begini rupa ? Siapa yang menghendaki ilmumu
yang didapati dari kitab So Lie Kang itu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di mulut nikouw berkata keras, demikian matanya tetapi
dibuat main.
Melihat tingkahnya Peng Mo itu, Ciu Tong gusar sekali.
Tetapi ia membungkam. Adalah setelah kakinya tak terasakan
nyeri hebat seperti tadi, ia maju menyerang pula kepada Tok
Mo palsu. Lima kali dia menyerang berulang-ulang hingga
pedangnya berkilauan dan suara anginnya berserabutan,
sampai api lilin pun bergoyang-goyang !
Couw Kong Put Lo benar lihai. Dia tidak membalas. Asal
dibacok, ditikam atau ditebas, dia berkelit secara gesit dan
lincah sekali, senantiasa dia menyingkir dari ujung pedang.
Baru kemudian dia kata secara menantang : "Akan kau
mengalah buat sepuluh jurus seranganmu, supaya dengan
begitu puaslah hatimua, supaya kau dapat berpikir dan
mengerti !"
Ciu Tong menyerang berantai lima kali dengan ilmu pedang
istimewa dari Hek Keng To, biar bagaimana ia cepat dan gesit
selalu ia gagal. Karenanya ia menjadi berpikir.
Lantaran berpikir ini hawa amarahnya berkurang
sendirinya. Begitulah ia menghentikan serangannya lebih jauh
untuk berkata dengan tawar : "Setan tua, kau berjumawa !
Bagaimana kau berani bertahan buat sepuluh jurusku ?
Apakah ini lima jurus yang sudah lewat masuk hitungan atau
tidak ?"
Put Lo mengawasi orang dengan tampangnya sangat
temberang terus dia tertawa !
"Eh, orang she Ciu !" demikian sahutnya. "Jika memangnya
kau mempunyai kegembiraanmu bolehlah kau menyerang pula
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kepadaku sepuluh jurus lagi ! Ketahuilah olehmu, aku si orang
tua, aku akan tidak membalas menyerangmu !"
Hatinya Ciu Tong panas tetapi dia tersenyum. Terus dia
mengangkat pedangnya.
"Berhati-hatilah kau !" teriaknya seraya terus memutar
pedangnya itu untuk mulai dengan penyerangannya. Itulah
jurus silat "Angin Puyuh Menggulung Gubuk" yang dimulai
dengan serangan dari bawah sesaat pedangnya berputar.
Put Lo kaget oleh serangan itu. Itulah karena disaat itu ia
kebetulan berdiri membelakangi tembok. Terpisahnya tidak
ada dua kaki. Sangat sulit buat ia berkelit mundur. Pedang
pun terus dibolang balingkan. Maka jalan selamat baginya
cuma berlompat tinggi. Karenanya tidak ada jalan lain, segera
ia mengeluarkan ilmu penolong dirinya yang istimewa. Begitu
dia berkelit, begitu ia bagaikan lenyap dari pandangan mata !
Apakah yang terjadi ?
Di saat serangan tiba, Put Lo mundur menempelkan
tubuhnya pada tembok terus ia menjejak lantai, terus kedua
tangannya ditempelkan juga kepada tembok. Kali ini ia
menggunakan "Pek Houw Yu Cong", ilmu "Cecak merayap
memain di tembok" hingga ia dapat melompat naik lima kaki
tingginya !
Ciu Tong heran dan kagum. Tipunya sangat lihai, sebab dia
menebas dari bawah ke atas, terus ke bawah lagi disebabkan
pedangnya diputar sebab bagaikan angin puyuh yang.
Kecepatannya itu dinamakan "Hung Khong Thian Mo", "Kuda
Langit Jalan Udara". Ia heran dan kagum sebab ia gagal.
Karena menghilang, dengan cepat ia memutar tubuh ! Maka ia
mendapati Put Lo lagi berdiri di belakangnya !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Selekasnya ia tiba diatas, Put Lo menekan tembok dengan
kedua tangan dan kakinya, membuat tubuhnya mencelat
melewati kepala orang, hingga ia dapat menaruh kaki di lantas
tanpa dapat dilihat lawan. Gerakan itu dilakukan dengan
kecepatannya.
Couw Kong Put Lo menyangkal kata-katanya, kalau dia
menyerang, pasti celakalah jago dari Hek Keng To itu, tak
nanti dia sempat menangkis atau berkelit.
Peng Mo bingung, menyaksikan pertempuran itu. Kalau
keduanya sudah bersungguh-sungguh, salah satu pasti bakal
roboh korban, atau ada kemungkinan dua-duanya nanti samasama
mendapat luka.
Kalau sampai terjadi begitu, itulah berabe ! Pemilik Kui
Hiang Koan pastilah bakal jadi gusar sekali atau urusan
mereka bertiga, rahasia asmara mereka bakal tersebar luas.
Pasti ia bakal dapat malu besar karenanya.
"Tahan !" akhirnya dia berseru.
Put Lo tertawa nyaring. Katanya nyaring juga : "Kau takut ?
Apakah yang harus ditakuti ? Walaupun ilmu pedangnya
saudara Ciu sangat lihai dan dia juga telengas, tak nanti dia
dapat berbuat sesuatu atas diriku !"
Mendengar itu, mukanya Ciu Tong menjadi merah. Ia
merasa kulit mukanya sangat panas ! Tapi dialah orang Kang
Ouw yang berpengalaman, dia tahu diri. Dia anggap dimana
dia harus berhenti. Maka dia menguasai dirinya, mengekang
hawa amarahnya. Justru Peng To memperdengarkan
cegahannya itu, walaupun dengan jengah, dia toh tertawa dan
kata : "Couw Kong cianpwe, benar-benar kau lihai ! Baiklah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dengan memandang mukanya Peng Mo Su thay, suka aku
menghentikan pertempuran kita ini !" Dan dia masuki
pedangnya kedalam sarungnya, dia pula bertindak mundur.
Sepasang alisnya Put Lo bangun berdiri.
"Kau baik, Saudara Ciu" katanya. "Senang aku menerima
kebaikanmu ini !"
Berkata begitu, jago tua ini memutar tubuhnya untuk
menghampiri Peng Mo. Ia mau menjambret ujung bajunya si
nikouw, nikouw, buat ditarik diajak masuk kedalam.
Sek Mo tertawa.
"Ah, kau terlalu !" katanya, matanya mengawasi Ciu Tong.
"Mana dapat ?"
Put Lo pun tertawa. Kata dia : "Saudara Ciu laki-laki sejati,
hatinya terbuka ! Dia toh cuma membiarkan aku si tua
berjalan lebih dahulu satu tindak ! Sebentar akan tiba
gilirannya ! Ha ha ha!"
Mukanya Ciu Tong merah padam, bukan main ia
mengekang diri, dadanya sampai naik turun. Ia mengawasi
Peng Mo, wajahnya murah.
"Su thay" katanya, "kau."
Cuma begitu ia dapat membuka mulutnya, terus ia
membungkam.
Peng Mo bingung juga. Ya, ia ingin merasakan segar, siapa
tahu dua orang itu tak sudi saling mengalah. Mana dapat ia
memecah diri. Ia pula tak dapat bicara. Bergantian ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mengawasi kedua kekasih itu, lalu tiba-tiba setelah
megngertak gigi ia kata sengit : "Kalian berdua boleh
bertempur sampai hidup atau mati ! Aku mau pergi !"
Dengan hanya satu kali menjejak lantai, nikouw ini sudah
lantas lompat keluar jendela !
Dua-dua Couw Kong Put Lo dan Ciu Tong Siancu melengak.
Itulah perubahan sikapnya Biekuni yang mereka tak sangka
sama sekali, hingga tidak ada kesempatan buat mereka
mencegah. Mereka lantas saling mengawasi lantas keduanya
sama-sama lompat juga ke jendela untuk lari menyusul !
Jilid 50
Di luar Peng Mo tak tampak ! Entah dia menyingkir
kemana.......
Sebaliknya, mereka lantas menyaksikan sesuatu yang
membuat mereka heran dan kaget karean mereka tidak
mendapat tahu tak dapat menerka, di dalam Kui Hiang Koan
sudah terjadi perkara apa !
Di jalan umum yang menuju ke penginapan terdengar
suara berisik dan tampak banyak orang berjalan berlari-lari
dalam rombongan-rombongan dari empat atau lima orang,
semua mengenakan pakaian hitam, semua bersenjata, seperti
juga mereka itu lagi menghadapi musuh besar. Lebih-lebih
ialah cahaya sangat terang dari banyak obor dan lentera yang
membuat golok dan pedang bercahaya berkilau-kilau.
Bentakan-bentakan pun terdengar tak putusnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kawanan orang-orang berseragam itu terus menuju ke
sebelah kiri penginapan.
Ciu Tong mengangkat kepalanya, memandang ke arah kiri
itu. Ia melihat sebuah pemandangan dimana terdapat cahaya
terang naik tinggi, umpama kata sampai diudara, seluruhnya
merah. Ketika itu mungkin baru jam empat tetapi langit terang
bagaikan siang hari. Lekas-lekas jago Hek Keng To ini
menoleh ke sisinya, atau dia melengak ! Couw Kong Put Lo
tidak ada disisinya itu, entah kapan perginya dia dan setahu
dia pergi kemana. Maka lekas-lekas ia berlompat naik ke
genteng. Maka sekarang ia bisa melihat diantara cahaya api
itu, didalam sebuah halaman beberapa orang berseragam
hitam tengah mengurung dan menyerang seorang pemuda
yang bergenggaman pedang. Mereka itu bertempur sambil
membentak-bentak. Diantaranya terdengar juga suaranya
ringkik kuda !
"Aneh !" pikir Ciu Tong atau segera dia ingat bahwa di
dalam kereta karungnya justru termuatkan sesuatu yang
penting miliknya Im Ciu It Mo. "Mungkinkah yang terbakar itu
istal dimana mereka dan kudaku ditambatkan ?"
Karena ia mengingat demikian, tanpa ayal sedetik juga,
jago Hek Keng To ini berlari-lari diatas genteng menuju ke
tempat kebakaran dan perkelahian itu. Baru ia melintasi
beberapa wuwungan, mendadak ada sinar pedang yang
berkelebat menyambar pinggangnya sambil ia dibentak :
"Tahan !" Cepat luar biasa, ia berlompat ke samping akan
berkelit buat seterusnya memutar tubuh, mengawasi
penyerangnya itu.
Itulah seorang muda yang goloknya tajam mengkilat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kau siapakah tuan ?" Cui Tong mendahului menyapa.
"Tuan dari golongan mana ? Aku sendiri ialah Ceng Hong
Siancu Ciu Tong......."
Orang itu tidak mau menyebutkan nama dan golongannya,
dia hanya menjawab bengis. "Kami mau membekuk orang
jahat yang melepas api ! Mau apa kau pergi menuju kesana ?"
Ciu Tong mendongkol atas perlakuan itu, maka ia pun kata
tak kalah bengisnya : "Tuan kenapa kau tak sudi
memberitahukan nama atau gelaranmu ? Kenapa kau justru
merintangi aku ? Rupa-rupanya kaulah konco dari pelepas api
itu !"
Pemuda bergegaman golok itu menjadi gusar sekali.
"Di Hek Keng To juga tidak ada orang baik-baik !" katanya
nyaring. "Mana orang ? Mari kepung manusia ini jangan
biarkan dia lolos !"
Atas seruan itu, dari empat penjuru wuwungan lantas
muncul empat orang berseragam hitam yang terus mengurung
jago dari pulau Ikan Lodan Hitam itu.
"Segala manusia tak berguna !" kata Ciu Tong yang tertawa
tawar. "Kalian mau mencari mampus ?" Dan ia menghunus
pedangnya.
"Bekuk dia !" membentak si pemuda bersenjatakan golok
itu yang lalu mendahului maju menyerang.
Ciu Tong berkelit atau mana ia diserang pula beruntun
hingga lima kali. Si anak muda berdarah panas dan telah
mendesak keras. Menyusul dia maju pula empat orang
kawannya itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dengan lantas Ciu Tong mengenali kelima orang itu bersilat
dengan ilmu silat golongannya Koay To Ciok Peng si Golok
Kilat. Ia berlaku lincah akan selalu berkelit sampai satu kali ia
menangkis keras hingga pedang dan golok bentrok nyaring
dan berisik. Dengan begitu ia menghalangi kelima orang itu
dengan ia terus lompat mundur ke sebuah wuwungan dimana
ia berdiri tegak sambil berseru : "Tahan ! Tuan, kau pernah
apakah dengan Koay To Ciok Peng Ciok Cianpwe ?"
Jago Hek Keng To ini menghormati Koay To Ciok Peng juga
maka ia membahasakannya cianpwe, orang tingkat lebih tua
yang terhormat. Ia pun sengaja menanya untuk menegaskan
saja. Namanya Ciok Peng sangat dikenal dan ia
menghargainya.
Memang Ciok Pen, sejak beberapa tahun ini, telah menjadi
pengusaha dari Kui Hiang Koan, maka itu para pelayan atau
pegawai hotel itu mesti murid-muridnya. Sedangkan menurut
orang yang tahu pemilik sah dari Kui Hiang Koan adalah
seorang jago rimba persilatan yang tersohor yang sudah lama
hidup menyembunyikan diri. Terhadap Ciok Peng sendiri Ciu
Tong tidak jeri tetapi ingin dia berhati-hati.
Atas kata-kata Ciu Tong yang terakhir lagi si anak muda
menjawab dingin : "Tuan mudamu ini ialah muridnya keluarga
Ciok dan namaku San Sie ! Kau telah ketahui nama guruku,
sekarang terangkan mau apa kau datang ke tempat kami ini ?"
Ciu Tong dapat menyadari diri. Ia merangkapkan
tangannya memberi hormat.
"Aku baru tadi sore tiba disini dan singgah di
penginapanmu, tuan." ia memberi keterangan. "Tempat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kebakaran itu justru tempat dimana keretaku ditaruh, maka itu
hendak aku melihatnya !"
Begitu dia menutup kata-katanya, orang she Ciu itu lekas
berlompat untuk melanjuti kepergiannya.
" Tahan !" si anak muda membentak pula.
Dan ia mencoba menghadang lagi. "Tuan mudamu masih
hendak menanyakan sesuatu."
Cegahan anak muda itu diikuti oleh ke empat kawannya.
Sikap mereka itu sangat mengancam
Ciu Tong gusar tetapi ia masih menguasai dirinya.
"Ada apakah pengajaranmu tuan ?" tanyanya tetap hormat.
See Sie menatap tajam. Dia melirik.
"Kui Hiang Koan mempunyai aturannya sendiri !" katanya
keras. "Kau telah ketahui itu, tetapi kenapa kau melanggarnya
? Apakah kau sengaja ?"
Ciu Tong melihat ke arah kobaran, ia menjadi bingung
sekali. Api berkobar demikian rupa hingga ia kuatir keretanya
menjadi hangus. Di dalam kereta itu ada termuat "batang
yang sangat berharga", tetapi pemuda garang dan jumawa ini
menghalang-halanginya !
"Aku mau melihat keretaku itu !" katanya mendongkol. "Di
dalam keretaku itu termuat barang yang berharga. Apakah
dengan begitu aku jadi melanggar aturan penginapanmu ?"
See Sie membalingkan goloknya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Di dalam kereta bertenda semacam itu juga dimuatkan
barang berharga ?" katanya mengejek. "Ha ha ! Sungguh lihai
tipu dayamu untuk mengelabui orang !" Ia lantas menghadapi
ke empat kawannya untuk memberi isyarat, setelah mana, ia
menyambungi berkata lebih jauh pada tamunya : "Barang
pentingmu itu bukan dibakar oleh orang-orang kami ! Buat
apa kau tergesa-gesa tak karuan ?"
Hebat kata-kata ini. Dengan begitu bukan saja Ciu Tong
tidak dipercaya bahkan tetapi dia dicurigai sebagai konconya si
pembakar !
Pikirannya Ciu Tong bagaikan kacau. Ia gusar dan
berkuatir. Ia menyaksikan menghebatnya api. Ia pula makin
nyata suara bentrokannya pelbagai senjata tajam. Terpaksa ia
menghunus pula pedangnya, sambil ia berkata keras : "Bocah,
kalau kau mampu, kau rintangilah aku !"
Kata-kata bengis itu ditutup dengan satu tikaman kepada si
anak muda, untuk diteruskan ditebas ke kiri dan kanan kepada
ke empat orang berseragam hitam itu.
See Sie berkelit lalu sembari maju pula ia membalas
membabat pinggang orang !
Ciu Tong gusar, hatinya pansa. Ia melawan dengan hebat.
Cuma karena musuh ada berlima ia mesti memecah juga
perhatiannya berbareng ia mesti melayani ke empat orang
lainnya itu, yang juga berkepandaian bukan sembarangan.
Hingga tak mudah untuk merobohkan atau mengundurkannya.
Karena ia adalah seorang yang berpengalaman, ia tahu
caranya melayani banyak lawan, hanya ia tidak menyangka
kelima lawan itu pun lihai, hingga tak dapat ia pandang
ringan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jurus demi jurus telah dilewati, lama-lama Ciu Tong
menjadi bingung juga. Tak berhasil ia meloloskand iri. Setelah
sampai pada jurus yang ketiga puluh ia merasakan bagaimana
sukarnya untuk meloloskan diri. Mak ia menyesal sekali yang
mula-mula ia telah tak memandang mata kepada kelima
musuh itu.
Tengah mereka lagi bertempur seru, tiba-tiba Ciu Tong
mendengar teriakan berulang-ulang : "Bekuk dia ! Bekuk dia !"
Teriakan itu datangnya dari bawah genteng. Itu tibanya
orang-orang Kui Hiang Koan berjumlah besar dan mereka itu
telah mendatangi semakin dekat. Itu pula berati yang
perguruan mereka telah diperketat.........
Tengah bertempur itu, Ciu Tong berpikir keras, bagaimana
ia harus meloloskan diri. Tadinya ia memandang soal remeh
sekali. Diam-diam dia memperhatikan ke empat
pengepungnya yang berseragam hitam itu. Ia mencari salah
satu yang terlemah. Selekasnya ia mendapati, lantas ia
menggunakan tipu. Selagi menghadapi lawan itu sengaja ia
bergerak lambat......
Lawan itu girang melihat musuh lamban, tidak waktu lagi
dia membacok hebat kepada perut lawannya !
Ciu Tong bersiaga. Setibanya golok, ia berkelit sambil
memiringkan tubuhnya, dengan begitu mudah saja dia
memutar pedangnya membalas menebas lengan orang
berbareng dengan mana, tangan kirinya pun menyerang
dengan satu bacokan tangan kosong.
Lawan itu kaget sekali, sebab serangannya gagal. Ia
melihat kalau ia tidak melepaskan goloknya, lengannya Bisa
buntung. Tetapi ia berhati keras, tak sudi ia menyerah dengan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
begitu saja. Maka ia berkelit, tangannya dikasih turun, sambil
bertindak maju sambil mendekam dia meninju dengan tangan
kirinya pada pinggangnya lawan itu !
Saking gagah si hitam itu bersedia mati bersama. Ciu Tong
kaget. Dia kalah hati. Maka dia lompat mundur.
Mendadak ada suara angin datang dari belakang. Kembali
Ciu Tong terkejut. Tahulah ia yang orang membokongnya dari
belakang itu. Inilah berbahaya, sebab dari depannya musuh
tadi melanjuti menyerangnya !
Justru itu bentakan terdengar dan kilaunya golok tampak
menyambar. Itulah See Sie yang menyerang justru lawan itu
lagi terancam di depan dan belakang. Dia datang dari samping
!
Di dalam saat yang berbahaya itu, Ciu Tong ingat satu jalan
buat menyelamatkan dirinya ialah dengan keras ia menjejak
genteng hingga genteng pecah dan bolong, lantas ia
menceploskan tubuhnya ke dalam lobang genteng itu sambil
pedangnya diputar dipakai menangkis ke sekitarnya!
Maka lenyaplah ia dari atas genteng bagaikan ditelan
rumah !
See Sie berlima tercengang. Mereka tidak sangka lawan
sedemikian cerdik, sudah meloloskan diri dengan cara yang
sangat luar biasa itu.
Anak muda yang dikepung orang-orang Kui Hiang Koan
adalah Gak Hong Kun. Dia tidur sangat nyenyak diatas tenda
kereta sampai lewat satu hari dan satu malam. Dia telah
disadarkan oleh ringkik kuda. Dia heran waktu dia membuka
matanya dia tak tahu bahwa malam itu sudah jam dua kiraKang
Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kira. Dia melihat ke sekitarnya. Dia lantas melihat sinar api
bergoyang-goyang di bawah tenda kereta. Karena seram ingin
ia melihat api itu api apa. Lantas dia berbangkit atau "Duk !",
kepalanya kena membentur genteng hingga dia merasa nyeri.
Justru itulah yang membuatnya sadar. Dia mendak pula,
kembali dia mengawasi ke sekelilingnya. Tak dapat dia melihat
tegas sebab cahaya api lemah dan juga memain saja. Dia
berdiam, matanya dipejamkan. Dia mencoba mengingat-ingat.
"Ah !" serunya tertahan. Lewat sedetik ia ingat bahwa ia
tengah dikepung orang tapi dia berhasil lompat naik ke atas
kereta dimana dia mendekam akan menyembunyikan diri dan
tanpa merasa disitu dia ketiduran hingga pula nyenyak.
"Ah, aku berada dimana sekarang ?" demikian dia tanya
dirinya sendiri.
Kembali terdengar ringkik kuda. Kali ini tahulah Hong Kun
halnya dia tidur diatas kereta di dalam istal, disisi kandang
kuda.
Karena dia tidak dapat berdiri atau duduk tegak diatas
tenda itu, Hong Kun merayap turun akan mendekati sinar
terang itu hingga dia mendapat kenyataan, inilah pelita yang
berada pada dinding istal. Terus dia merayap turun akan
berduduk di tempat kusir. Tengan dia berfikir, tiba-tiba
pikirannya menjadi gelap pula. Maka tanpa disengaja dia
menepuk-nepuk kereta sambil dia tertawa keras !
Di waktu malam begitu, pengurus istal sudah lama tidur
nyenyak. Memangnya mereka tidak tidur di istal, maka juga
tawanya Hong Kun itu dapat penyahutan ringkik kuda. Tak
lama dia berhenti tertawa, ringkik kuda pun lenyap.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bangkit dari tempat duduknya, Hong Kun pergi ke tenda.
Kali ini otaknya rada terang. DI muka pintu tenda, dia berdiri
mengawasi tetapi dia tak melihat apa-apa. Karena gelapnya
dalam tenda dia menyangka itulah sebuah kereta kosong.
Tetapi dia ingin mausk kedalamnya walaupun tanpa ada
niatnya yang tertentu.
Selekasnya dia menyingkap tenda, Hong Kun bertindak
memasukinya. Sang gelap membuatnya tak melihat apa juga.
Maka tu dia keluar, dia menghampiri pelita di tembok untuk
diambil dan dibawa kembali ke dalam kereta. Kereta itu benar
kosong, cuma terdapat tempat duduknya. Ketika dia
mengangkat tempat duduk yang kosong, dia melihat sebuah
peti atau kotak kecil yang warnanya hitam, rupanya bekas di
cat.
Dia mencekal gelang peti untuk diangkat. Ketika dia
menyentil peti itu dua kali terdengar suara yang menyatakan
peti bukannya kosong. Peti itu tak ada satu kaki persegi. Dia
mengawasi. Dia agaknya heran. Tapi dia tak mengerti. Kenapa
ia ketarik hati. Bahkan dia berniat membukanya walaupun
tanpa maksud.
Muridnya It Yap Tojin mengangkat peti kecil itu, dia
membulak baliknya, dia menyentil-nyentil pula tetapi tak dapat
dia membukanya, tidak ada anak kunCinya atau alat
rahasianya untuk membuka itu. Sementara itu tangan kirinya
yang memegang pelita itu, hingga cahaya apinya bermainmain.
Lewat lagi beberapa saat, dalam keadaan syaraf tak sehat
itu, Hong Kun tampak mendongkol. Belum juga ia bisa
membuka peti itu. Ia mengawasi dengan tajam, sinar matanya
bengis. Tiba-tiba saja naik darahnya, maka peti itu
dilemparkan kedalam kereta, ia sendiri lantas merebahkan diri.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tangannya masih memegangi pelita tadi. Tubuhnya bergerakgerak,
sebentar meringkuk, sebentar dilempengkan. Hingga
dia mirip seekor caCing. Dia bergerak sekian lama. Karena
bergeraknya sedikit keras, kereta sampai bergoyang-goyang.
Tiba-tiba anak muda ini tertawa sendirinya, terus dia
bangun untuk berduduk. Tangan kanannya menyambar peti
hitam tadi, akan dibulak balik di depan matanya, habis mana
dia meletakkannya diatas kereta di depannya. Tiba-tiba saja
dia menggunakan tangannya menghajarnya !
Tak pecah peti itu, cuma satu kali bersuara keras
disebabkan hajaran itu.
Hong Kun mengangkatnya pula, ia membulak balik lagi
kemudian menaruhnya kembali dengan dibanting. Mendadak
tutup peti itu terbuka dengan sendirinya dengan bersuara
nyaring beberapa kali. Selekasnya peti terbuka, dari dalamnya
menyorot keluar sinar hijau yang membuat mukanya si anak
muda menjadi hijau juga, hingga wajahnya nampak mirip
wajah bajingan.......
Rupanya sinar itu dianggapnya bagus, maka juga Hong Kun
tertawa nyaring, dia terbahak-bahak hingga dia melangsing
sebab perutnya mulas lantaran tertawa itu, yang berisik bukan
cuma didalam kereta hanya jauh jauh keluar. Dia terus
tertawa dengan terlebih keras pula, berbareng dengan mana
pelitanya dilemparkan ke tenda keretanya !
Sebenarnya itulah obat beracun Thay Siang Hoang Hun Tan
buatannya Im Cio It Mo yang It Mo memesan Ciu Tong
membawanya ke Hek Sek San. Obat itu lihai tetapi tidak ada
baunya. Maka juga terkena obat, Hong Kun tidak merasakan
apa-apa. Ia tertawa kalap justru disebabkan pengaruhnya
obat itu. Ia tertawa terus sampai pelitanya telah membakar
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tenda, apinya merembet dari kecil menjadi besar, menjadi
membakar seluruh kereta itu.
Pengaruh obat membuat si anak muda makin besar.
Cahaya api tetap hijau. Di dalam waktu yang pendek, peti
lantas berupa mirip bola api. Karena peti itu pun menyala.
Hong Kun baru kaget sesudah dia merasai hawa panas,
sebab api membakar rambutnya juga bajunya. Karena ini, dia
menjadi sedikit sadar. Dia melemparkan peti, dia lompat turun
dari kereta.
Api tidak ada yang padamkan, dari kereta menyambar ke
rumput terus ke lainnya barang di dalam istal itu. Kebetulan
sekali angin malam seperti membantu meniupinya. Maka mulai
dari kereta Hek Tak Seng Kun, Dewa Api terus menyambar
bangunan istal seluruhnya.
Baru setelah itu pihak Kui Hiang Koan mendapat tahu
adanya bahaya api. Maka mereka menjadi kaget, berisik dan
repot. Mereka lantas menerka kepada perbuatan orang jahat !
Disamping membunyikan kentongan, orang repot berdaya
memadamkan api itu.
See Sie adalah orang yang memegang pimpinan, disamping
menitahkan orang memerangi api, ia membawa beberapa
orang untuk mencari si orang jahat. Ia pula memasang jagajaga
di sana sini.
Kui Hiang Koan luas beberapa bun, semuanya dihubungi
dengan jalan yang kecil. Di jalan-jalan itulah yang orang-orang
berseragam hitam lari mondar mandir atau berdiri diam
melakukan penjagaan. Semua mereka itu membekal golok
yang kedua bagian mukanya berkilat berkilauan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun berlari-lari tanpa tujuan. Dia pula tidak tahu
dirinya berada dimana. Dia terus terpengaruhkan obat
pengganggu syaraf itu. Dia kaget waktu dia mendengar ada
yang memegatnya sambil membentak, terus orang
mengurungnya dengan mereka itu memperlihatkan golokgolok
telanjang.
"Berhenti !" demikian teriakan itu.
Hong Kun berhenti berlari. Ia melihat delapan orang
mengurungnya, ia mendelong mengawasi mereka itu,
mulutnya bungkam.
Semua orang mengawasi si anak muda yang rambut dan
bajunya bertanda bekas kebakar. Lalu See Sie menegur dingin
: "Bangsar, apakah kau masih berlagak pilon ?"
Dengan kelakuan orang separuh mengerti separuh tidak, si
anak muda balik bertanya : "Kenapa kalian memegat aku ?"
"Kau bekas terbakar, pastilah kau si penjahat yang melepas
api !" bentak seorang berseragam. "Kawan-kawan, mari kita
ringkus dia !"
Menyusul itu enam buah golok menyerang berbareng
kepada Hong Kun. Anak muda itu segera menyambuti. Dia
terpengaruhkan obat tetapi ilmu silatnya tidak dilupakan
karenanya. Selekasnya pelbagai senjata beradu, nyaring dan
berisik suaranya. Dua barang golok lantas mental terbuang.
"Awas !" beberapa orang berseru, "Hati-hati !"
Mereka itu tidak takut, mereka maju pula. Yang goloknya
terlepas mencari dulu senjatanya itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun berdiri diam, matanya mengawasi, pedangnya
dilintangi.
"Kalian menyerang aku, kenapakah ?" tanya dia, sikapnya
ketolol-tololan. "Kenapa kalian tidak mengenali aku ?"
Sementara itu tiba pula serombongan lain dari orang-orang
berseragam hitam itu. Mereka pada membawa obor hingga
wajahnya Hong Kun tampak tegas, tidak ada orang yang
mengenali si anak muda. Mereka tidak tahu yang anak muda
ini memakai topeng, sedang menyamar sebagai Tio It Hiong.
Sekarang, yang jadi pemimpin rombongan lantas menanya
: "Tuan, kau berani mengacau di Kui Hiang Koan ini, sudah
selayaknya kau berani memperkenalkan dirimu ! Beritahukan
nama besar tuan, nanti aku pergi melapor kepada majikan
kami !"
Di luar dugaan, orang itu berubah sikapnya menjadi lunak.
"Akulah Gak Hong Kun dari Heng San !" sahutnya si anak
muda seenaknya saja. "Siapa itu majikan kalian ? Suruhlah dia
datang kemari menemui aku !"
Tanpa disengaja, anak muda ini menyebutkan nama
aslinya. Dia tak ingat lagi yang dia lagi memalsukan Tio It
Hiong.
Semua orang berseragam itu berdiam saja, tetap mereka
mengurung. Cuma seorang yang diam-diam lari mencari Ciok
Peng, guna memberi laporan. Maka itu tak lama kemudian
Koay To si Golok Kilat sudah muncul bersama delapan orang
pengiringnya, yang pun hitam seragamnya. Bakan di belakang
dia ada Siang Kun Buan thung Liok Cim.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciok Peng sudah lantas mengasi si anak muda, yang
tenang habis kena terbakar dan tampan, bahkan dia
mengenali Tio It Hiong murid dari Pay In Nia ! Maka ia
menjadi heran sekali.
"Tio It Hiong Laote !" akhirnya dia menanya, "apakah
benar-benar kau hendak menyeterukan lohu ?"
Laote atau "adik tua" adalah panggilan hormat terhadap
anak muda yang dihargai. Sedangkan lohu adalah "aku" untuk
orang tua berbicara dengan anak mdua, artinya "aku si orang
tua".
Siang Kun Bu teng sebaliknya tetap tertawa tawar. "Hm !
Sekarang ini orang dan buktinya telah ada, tak usah dikuatir
yang kau nanti menggunakan lidahmu yang tajam untuk
menyangkal perbuatanmu ini !"
Liok Cim telah terluka dan rumah bercelaka, itulah satu
permusuhan yang besar sekali, sekarang dia justru
menghadapi musuh besarnya, maka dapat dia mengenali
musuhnya itu, sudah sepantas saja dia menyatakan
kemurkaannya. Hanya sayang, hutang itu dibebankan atas
dirinya Tio It Hiong karena dia tidak tahu musuhnya ialah Gak
Hong Kun !
Ciok Peng menghalangi sahabatnya itu. Ia takut, saking
gusar si sahabat nanti segera turun tangan. Dia pun maju
lebih jauh.
"Tio It Hiong !" sapanya, sebab pertanyaannya belum
memperoleh jawaban.
Gak Hong Kun mengawasi dengan mendelong. Dia tetap
tidak menjawab.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Salah seorang berseragam hitam menyela : "Ciok Loyacu,
bocah ini barusan menyebukan namanya sendiri ! Menurut
dia, dia she Gak, bukannya she Tio !"
Ciok Peng menjadi terlebih heran pula.
"Apakah dia menyebut juga namanya ?" tanyanya. "Apakah
namanya itu ?"
Orang yang ditanya berpikir keras.
"Ya, dia menyebutkan namanya." sahutnya. Lalu dia raguragu
dan suaranya terputus-putus. "Dia menyebut Gak. Gak,
entah, entah, apa, Jun".
"Hm !" Koay To si Golok Kilat memperdengarkan suara
dinginnya. Matanya mengawasi gusar pada orangnya itu,
hingga orang itu menundukkan kepala saking takut.
"Tio It Hiong !" Liok Cim menegur pula keras. "Tio It Hiong,
apakah kau tetap berpura-pura pilon ?"
Kali ini Hong Kun bagaikan terasadar, maka dia lantas
mengawasi dengan mata dibuka lebar, sinarnya bengis.
Dengan dingin dia berkata nyaring : "Buat apakah kau
pentang bacot keras-keras. Jika kau benar laki-laki, mari
sambut barang beberapa jurus ilmu pedang Heng San Pay ku
!'
Hong Kun menyamar menjadi It Hiong, tetapi disaat
dibawah pengaruh pil Thay Siang Hoang Hun Tan itu, dia ingat
hanya she dan namanya sendiri, partainya sendiri juga.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mendengar jawaban itu yang berupa tantangan, Liok Cim
menjadi heran.
Dunia Kang Ouw ketahui baik Tio It Hiong murid dari Tek
Cio Siangjin dari Pay In Nia, kenapa dia sekarang ini menyebut
partainya ialah Heng San Pau dan tadi namanya Gak entah
apa Kun ?
Koay To Cio Peng pun heran sekali tetapi karena dia harus
memegang derajat supaya nama Kui Hiang Koan yang
tersohor puluhan tahun tak jadi jatuh mata, dia perlu
membekuk dahulu anak muda ini. Dia pula tahu semua
orangnya bukanlah lawan dari si anak muda, jadi perlu ia
turun tangan sendiri.
"Anak muda !" bentaknya, "tak perduli kau orang macam
apa, karena kau telah mengacau disini, kaulah musuh lohu !
Lihatlah golokku !'
Kata-kata itu dibarengi dengan satu serangan. Karena
golok diputar, Hong Kun seperti juga lantas kena terkurung
atau ketutupan sinar senjata tajam itu.
Melihat kesehatan dan kelincahannya, tak kecewa Ciok
Peng memperoleh gelarannya Koay To si Golok Kilat.
Otaknya Hong Kun bagaikan sadar, selekasnya dia melihat
golok musuh menyambar berulang-ulang. Dia tidak mau
menangkis, dia hanya main berkelit hingga nampak
kelincahannya yang luar biasa. Tujuh kali dia berkelit, lima
tindak dia mundur. Setelah itu mendadak dia berseru-seru :
"Aku Tio It Hiong ! AKu Tio It Hiong ! Kenapa kalian
menyerang aku ?"
Ciok Peng menunda penyerangannya !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bukankah kau yang melepas api menerbitkan kebakaran ?"
tegurnya. Dan dengan goloknya dia menunjuk ke tempat
dimana api masih berkobar-kobar.
Hong Kun berpaling ke tempat kebakaran.
"Kamu yang melepas api membakar aku !" katanya nyaring.
"Sekaragn kamu mau menyangkal itu ?"
Pil beracun membuat pikirannya anak muda ini kacau tak
karuan. Sealgi dia memperdengarkan suaranya itu keras, dia
pun lantas menyerbu rombongan orang-orang berseragam
hitam !
Dua orang maju menangkis dengan golok guna
menghadang, tetapi golok mereka kena disampok terbang,
menyusul mana si anak muda berlompat lari nyeplos diantara
dua musuh itu yang tak berani merintanginya. Dia kabur keras
sekali.
"Kejar !" teriak Ciok Peng yang menjadi panas hati. "Jangan
kasih dia lolos !" Dan dia mendahului berlompat lari mengejar.
Liok Cim turut mengejar, hanya ia memencar
rombongannya.
Hong Kun kabur, tanpa tujuan. Dia lagi langsung ke depan,
maka itu dia mesti melewati beberapa pendopo, beberapa
halaman terbukan dan taman-taman bunga kecil. Dia lari dan
berlompatan mirip seekor rubah atau tupai.
Di sepanjang jalan itu, selalu ada orang yang melintang,
yang menghadang, tetapi semua dapat dilewati, baik karena
senjatanya diterbangkan maupun karena mereka dilukai.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Malam itu sunyi tetapi sekarang berubah menjadi sangat
berisik, lonceng Kui Hiang Koan berbunyi nyaring tak hentinya.
Suara kebakaran pun riuh dan teriakan-teriakan serta
bentakan-bentakan menambah ramainya. Di dalam keadaan
berisik dan kacau itu, Hong Kun lari terus-terusan, sering kali
dia berlompatan. Toh disaat tak sadar itu, dia ingat mencari
tempat yang ruyuk dan celah untuk menyembunyikan diri.
Begitulah ketika ia melihat sebuah jendela terbuka, didalam
mana ada cahaya api yang terbayang diantara kain jendela,
sewajarnya saja dia lompat memasuki jendela itu dengan satu
lompatan "Ular Hijau Melintas Pohon".
"Oh !" jerit seorang wanita, menyusul mana suatu
hembusan angin yang keras menjurus ke mulut jendela itu,
kepada orang yang berlompat masuk !
Hong Kun terkejut. Tubuhnay telah tertolak keras hingga
dia terhuyung membentur tembok. Justru itu, api pun padam
secara tiba-tiba. Di dalam gelap dan sunyi, terdengar suara
berkeresekan perlahan dari orang yang tengah mengenakan
pakaian terburu-buru.
Hong Kun merasai kepalanya pening, dia sangat lelah.
Tengah sadar dan tidak, dia jatuh berduduk di lantai,
punggungnya menyender pada tembok. Bahkan dia terus
berdiam. Karena dia memejamkan matanya hendak tidur.....
Tidak antara lama, api di dalam kamar menyala pula.
Bahkan kali ini dengan terlebih terang, maka tegas nyata
tampak kamar itu seluruhnya. Itulah sebuah kamar tamu.
Pembaringan tertutup kelambu yang indah sebanding dengan
kamarnya seorang nona anak pahlawan atau putri bangsawan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kamar pula berbau harum, membangkitkan rasa gairah
sukma.
Setelah menyalanya api, tampak di depan pembaringan itu
berdiri seorang wanita yang bukan lain dari pada Sek Mo atau
Peng Mo, si Bajingan Es. Wajahnya ramai dengan senyuman
manis, matanya tajam jeli mengawasi seluruh kamarnya,
sedangkan tangannya masih merapihkan jubahnya.
Diatas pembaringan, yang kelambunya terpentang, rebah
seorang pria setengah tua, matanya dipejamkan, separuh
tubuhnya tertutup selimut. Dia rebah dengan diam saja, entah
lelah atau terlalu kantuk. Dia sampai tak menghiraukan bahwa
barusan ada orang yang lancang masuk ke dalam kamarnya
itu !
Siapakah pria itu ?
Dialah Couw Kong Put Lo si ahli So Lie Kang, kitab ilmu
awet muda. Dia berada bersama Peng Mo di dalam satu
kamar, dapat dimengerti bahwa mereka tengah berplesiran.
Ketika siangnya Ciu Tong dan Couw Kong Put Lo berselisih
disebabkan memperebutkan dia, Peng Mo yang cerdas lantas
memikir jalan guna mencari kepuasan dirinya. Ia berpokok
pada satu soal : Mendapati dua-dua pria itu atau hanya satu
diantaranya. Jalannya ialah ia meninggalkan kamar dengan
lompat keluar dari jendela. Ia tapinya tidak kabur terus hanya
bersembunyi di tempat gelap, matanya mengawasi ke jendela.
Ia melihat Couw Kong Put Lo menyusul keluar. Segera ia
menyampok dengan pukulan angin kepada pria itu, ia sendiri
menyingkir ke semak pohon bunga lainnya.
Couw Kong Put Lo seorang Kang Ouw ulung. Dia tak roboh
karena serangan pukulan angin itu. Dia berkelit dan sempat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
melihat satu tubuh langsing berkelebat lewat. Dia lantas
menerka, itulah Peng Mo yang memanggilnya. Sebab
serangan angin itu tidak hebat. Ketika ia menoleh, dia melihat
Ciu Tong lompat keluar dari kamar. Dia tak ingin mengenai
serangan itu, dia menyingkirkan diri dari penglihatan orang.
Ciu Tong sebaliknya cuma mencari Peng Mo. Dia sebal dan
jemu terhadap Couw Kong Put Lo, dia justru hendak
menyingkir dari situ. Langsung dia lompat naik ke atas
genteng karena dia menyangka Peng Mo mengambil jalan itu.
Lacur baginya, dia berpapasan dengan See Sie dan jadi
bertempur karenanya !
Put Lo sebaliknya menyusul ke tempat kemana tubuh
ramping tadi menghilang. Segera ia melihat si nikouw tengah
mengawasinya. Ia lompat kepada wanita itu, terus keduanya
saling bersenyum. Di lain saat, si wanita telah dituntun diajak
jalan berbareng. Mereka melintasi sebuah taman, tiba di
sebuah kamar dimana tampak sinar api. Mereka melongok di
jendela dan menyaksikan sebuah kamar dengan perlengkapan
indah. Dengan berani keduanya memasuki kamar itu !
"Sungguh kamar yang indah, cocok untuk kita !" Put Lo
kata tertawa.
Peng Mo mengiringi tawa itu.
Di saat sepasang merpati ini menikmati lakon asmaranya,
mereka tidak tahu apa yang telah terjadi diluar, mereka tak
mendengarnya. Mimpi sedap mereka baru terganggu loncat
masuknya Hong Kun. Peng Mo yang menyerang, terus dia
menyalakan lilin. Selekasnya dia mengenali orang itu ialah
orang yang lagi ia cari seperti dalam impian, perlahan-lahan
dia menghampirinya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Luar biasa Hong Kun, cepat sekali dia telah tidur pulas dan
menggeros.
Hatinya Peng Mo berdebaran. Ia sudah mengambil
keputusan, Couw Kong Put Lo mau ditinggal pergi, sebaliknya
Hong Kun mau dibawa lari. Hanya belum lagi ia bekerja,
mendadak ia mendengar daun pintuk diketuk keras dua kali,
terus terdengar suara orang berkata : "Tetamu kami, harap
suka membuka pintu !" Disebelah itu terdengar suara orang
lainnya : "Aku lihat bocah itu lari kemari, lantas dia lenyap !
Mestinya dia berada di dalam kamar ini !"
Peng Mo berdiam, Couw Kong Put Lo sebaliknya.
"Siapa ?" tanyanya lagi. "Siapa yang mengetuk pintu ?"
Tanpa menanti jawaban, Peng Mo menyambar tubuhnya
Hong Kun buat diangkat dan dipondong dibawa lari
bersembunyi ke belakang pembaringan.
"Buka pintu ! Lekas !" demikian terdengar suara.
Terpaksa Put Lo turun dari pembaringannya, dengan
tindakan tak tetap ia menghampiri pintu dan membukakan.
Maka segera ia melihat serombongan orang berseragam
hitam, yang semua membekal senjata tajam.
"Hei, bagaimana ini ?" tanya Put Lo tak puas. "Malam gelap
gulita begini, kenapa kalian mengganggu tidurku ?"
"Maaf, tuan !" berkata seorang sambil memberi hormat. "Di
dalam kamar tuan ini ada siapa lagi? Kami mendapat perintah
akan memeriksa setiap kamar !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Put Lo tidak melihat Peng Mo, ia menerka orang sudah
pergi menyembunyikan diri, maka itu lantas ia memperlihatkan
sikap tawar.
"Kalian keluarlah !" bentaknya.
Beberapa orang itu saling mengawasi. Nampak mereka
tidak senang.
"Maaf, tuan" kata orang yang tadi, tetap sabar. "Kami
mendapat perintah membekuk seorang penjahat yang
membakar penginapan kami. Maka itu kami minta suka apalah
kau memandang pemilik kami, supaya kau sudi mengijinkian
kami melakukan pemeriksaan !"
Put Lo memperdengarkan tampang gusar.
"Di sini tidak ada si pembakar rumah !" katanya keras.
"Tidak ada orang lainnya ! Kalian mau pergi atau tidak ?" Ia
hendak menggertak rombongan itu.
Si pemimpin rombongan menghunus goloknya. Kata dia
terpaksa : "Tuan, karena tuan tidak sudi memberi muka
kepada kami, maaf !'
Rombongan itu turut menghunus goloknya masing-masing,
lantas mereka mengatur diri, bersiap-siap untuk menggeledah
!
Couw Kong Put Lo menjadi sangat tidak puas.
"Hm, hm !" ia perdengarkan suara dingin berulang-ulang.
"Kalian mencari mati kalian sendiri. Jangan kalian mengatakan
aku si orang tua telengas !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Rombongan itu tidak menghiraukan ancaman, mereka
lantas menggeledah. Mereka tidak mendapati siapa juga.
Diantaranya tiada ada yang menyangka ke belakang
pembaringan......
Si pemimpin rombongan menjadi bingung. Dia heran dan
bercuriga. Tadi justru dia sendiri yang melihat si pelepas api
lari ke halaman ini. Pelepas api itu tidak ada ! Habis,
kemanakah ia itu menyingkir ?
"Kalian sudah memeriksa seluruhnya ?" tanyanya pada
kawan-kawannya.
"Sudah !" sahut rombongan itu, yang terus berkumpul di
belakang pemimpinnya ini.
Put Lo diam-diam girang dan heran. Girang sebab orang
tidak mendapatkan bukti, heran sebab dia menerka-nerka
kemana menyingkirnya Peng Mo. Tentang datangnya Hong
Kun, dia memangnya tidak tahu sama sekali.
"Cukup sudah kalian menggeledah ?" tanyanya bengis.
"Kalian sudah menghina padaku si orang tua ! Jangan kalian
harap akan dapat keluar pula dari kamar ini !"
Kata-kata itu ditutup dengan satu gebrakan pada meja
hingga meja itu pecah. Dengan bengis dia mengawasi
rombongan itu dan berulang-ulang dia memperdengarkan
suara dingin. "Hm ! Hm! Dia pula berdiri tegak dan keren.
Si pemimpin rombongan penasaran. Sebenarnya dia tak
kenal hati. Sikapnya mengancam dari tetamu membuat
orangnya bersiap sedia melakuka perlawanan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Coba periksa disitu !" perintahnya sambil menunjuk ke
belakang pembaringan.
Rombongan itu ragu-ragu.
"Periksa !" perintah si pemimpin. "Dia tentu bersembunyi
disitu !"
Justru itu tiba-tiba angin menghembus kelambu, lilin diatas
meja padam seketika. Maka gelaplah seluruh kamar. Justru itu
terdengar beberapa orang menjerit tertahan, terdengar juga
suara orang dan golok roboh ke lantai !
Lewat sekian lama, lilin telah menyala pula. Tiga orang
tampak berdiri, yang lainnya rebah malang melintang. Si
pemimpin baru saja melayap bangun, mukanya pucat pasi dan
merah padam bergantian sebab malu dan marah. Kamar itu
kosong. Kelambu belakang pembaringan tersingkap. Di situ
ada kamar pakaian. Yang heran, penghuni kamar tadipun
turut lenyap !
Pemimpin rombongan itu heran. Ia mendapatkan tidak ada
orangnya yang luka, walaupun mereka roboh dan rebah, cuma
golok mereka yang terlepas dan berserakan di lantai. Ketika
kawan-kawannya pada bergerak bangun, mereka semua
saling mengawasi dengan muka menyeringai saking likat.
Habis menjemput goloknya, mereka meninggalkan kamar
dengan mulutnya semua bungkam.
Peng Mo telah berlaku lihai sekali. Mendengar orang
hendak menggeledah belakang pembaringan, dia
mengeluarkan pukulan angin yang membuat pelita padam.
Menyusul itu, dia memondong Hong Kun berlompat
meninggalkan kelambu. Dengan sampokan lihai, dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
merobohkan rombongan itu. Maka mudah saja dia lari
meninggalkan kamar. Hong Kun tetap dikempitnya.
Couw Kong Put Lo, orang Kang Ouw berpengalaman. Ia
tahu apa artinya angin itu dan padamnya pelita. Tanpa ragu
sedikit juga, ia lompat keluar dari dalam kamar. Tak sudi dia
menjadi rewel dan pusing.
Peng Mo membawa Hong Kun lari sampai di jalan besar
ditepi rimba. Ia melihat sang fajar bakal segera tiba. Ia heran
mendapati Hong Kun menjublak saja. Dengan prihatin dia
menanya : "Saudaraku yang baik, kau kenapakah ?"
Hong Kun tidak menjawab, dia tetap berdiam saja.
Peng Mo heran dan menerka-nerka, lantas ia merogoh
sakunya mengeluarkan peles obat, mengambil tiga butir pil,
yang ia terus jejalkan ke dalam mulutnya si anak muda.
Itulah obat pemusnah racun dari Hong Gwa Sam Mo. Inilah
obat yang di Ngo Tay San ia banggakan terhadap Im Ciu It Mo
yang katanya dapat memusnahkan racun Thay Siang Hoang
Hun Tan.
Habis mengasi makan obat itu, Peng Mo tarik si anak muda
dibawa masuk kedalam rimba, di tempat yang terkurung. Di
situ ia suruh si anak muda duduk ditanah, terus ia menguruti,
akan mencoba meluruskan jalan darahnya.
Disaat itu Hui Hiang Koan sudah menderita kerugian
kebakaran. Kecuali istal, telah musnah beberapa ruang lainnya
yang berdekatan. Hanya akhirnya api dapat juga dipadamnkan
hingga tampak puing dan abunya saja, asapnya yang masih
mengepul......
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciok Peng gusar dan mendongkol bukan main. Sia-sia
belaka ia mencari si orang jahat yang melepas api itu. Tetapi
ia memerintahkan orang-orangnya berjaga-jaga, melarang
orang masuk terutama keluar. Kerugian benda ia tak hiraukan,
yang hebat ialah nama baik Kui Hiang Koan akan tercemar.
Akhirnya Koay To beramai berkumpul di Toa tian, ruang
besar. Tetap ia bergusar.
"Setelah fajar, undanglah semua tetamu hadir diruang ini !"
demikian perintahnya. Ia masih hendak terus membuat
penyelidikan.
Ciu Tong sementara itu lolos juga dari kepungannya Dee
Sie sekalian sesudah dia menjebloskan diri ke dalam kamar
yang gelap gulita. Dia menjaga diri supaya tidak roboh keras
dan terluka. Untuk herannya, kakinya menginjak barang yang
lunak yang terus pecah. Kiranya dia jatuh diatas kasur.
"Aduh !" terdengar jeritan tajam tetapi halus.
Menyusul itu orang she Ciu ini terasampok tangan yang
halus yang membuatnya terguling jatuh ke lantai. Ia terkejut.
Ia menerka yang ia sudah jatuh diatas pembaringannya orang
perempuan. Ia merasai nyeri sekali tetapi ia menahannya. Ia
menutup mulut sedang otaknya bekerja memikirkan jalan lolos
! Matanya pun melihat kelilingan, tak perduli kamar gelap
sekali.
Tiba-tiba tampak cahaya terang ! Kiranya lilin diatas meja
telah ada yang menyalakan. Disitu berdiri seorang nona
dengan baju hijau, matanya berkesap kesip mengawasi
tamunya yang tak diundang itu. Terang dia kaget dan heran,
dia pula gusar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong memandang nona itu, ia menoleh ke
pembaringan. Tampak ia jengah. Di situ tidak orang lainnya.
Si nona tetap berdiam saja, cuma tangannya memegangi
ikat pinggangnya.......
Ciu Tong berbangkit perlahan-lahan. Lega juga hatinya
mengetahui si nona sendirian saja. Lekas sekali timbullah
nafsu birahinya.
"Peng Mo lenyap, sekarang ada gantinya, nona ini !
Bukankah ini jodoh ?" demikian pikirnya. Maka lekas-lekas ia
merangkap tangannya memberi hormat pada nona itu seraya
berkata : "Nona, Kui Hiang Koan terbakar, nona ketahui atau
tidak ?"
"Hm !" si nona memperdengarkan jawabannya.
"Kui Hiang Koan kebakaran tetapi kau jatuh dari atas
genteng ke atas pembaringanku ! Benar bukan ?"
"Maaf, nona. Itulah tidak aku sengaja." kata jago Hek Keng
To itu. Ia merendah sendirinya sebab tak berani ia membuka
rahasianya.
Nona itu mengawasi dengan mata mendelik, lantas dia
tertawa.
"Kau... kau bukannya orang baik-baik !" katanya,
tangannya menuding. "Aku larang kau mengaco belo !"
Ciu Tong mengawasi, hatinya bekerja. Ia lantas duga si
nona siapa dan macam orang apa ? Adalah dia tahu hotel ?
Kalau benar dialah seorang nona ! Kenapa dia bersendirian
saja ? Biar bagaimana hotel adalah sebuah tempat dimana
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
naga dan ular biasa berdiam bercampuran ! Adakah diantara
dia orang Lang Ouw ? Gerak geriknya tak mirip-miripnya ! Toh
dia tenang, dia tak bingung.
Jago Hek Keng To ini menatap si nona, kata dia sungguhsungguh.
"Nona, aku orang baik atau jahat, nona dapat lihat
sendiri. Nona dapat menetapkannya. Bahkan mungkin ada
saatnya yang nona menyukai aku si orang jahat."
Nona itu balik menatap, ia agaknya kurang mengerti.
"Aku Ya Bie, aku tak menyukai orang jahat !" katanya
kemudian. "Orang yang aku sukai ialah seorang kakak Hiong
!"
Ciu Tong melongo. Tak mengerti ia akan kepolosan nona
tiu, hingga ia mau menerka orang benar-benar polos atau
tengah berlagak polos. Lalu ia bersenyum dan maju satu
tindak, ia memberi hormat pula.
"Nona, kebetulan sekali kita bertemu disini !" katanya. "Di
empat penjuru lautan, manusia itu sebenarnya bersaudara !
Nona, aku mohon bertanya she yang mulia serta nama besar
dari nona ! Bagaimanakah aku harus memanggilnya ?"
Nona itu mengangkat kepalanya. Dia berpikir. Tiba-tiba dia
tertawa.
"Namaku Ya Bie !" katanya pula kemudian. "Pernah kau
dengar atau tidak ?"
Ciu Tong mengernyitkan alisnya, otaknya berfikir keras. Ia
mengingat-ingat namanya orang-orang Kang Ouw yang ia
pernah kenal dan dengar. Mana ada yang bernama Ya Bie.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Nama itu aneh ! Belum pernah ia mendengarnya ! Maka ia
heran sekali.
Si nona mengawasi, tanpa menanti jawaban lagi ia berkata
pula : "Ya Bie dari Ceng Lo Ciang ! Aku datang dari
pegunungan Ceng Lo Ciang itu ! Masihkah kau belum pernah
mendengarnya !"
Ciu Tong terpaksa menggeleng kepala, agaknya dia
bingung.
"Maafkan aku nona yang aku kurang pendengaran dan
penglihatanku kurang luas" demikian katanya. "Menyesal aku
belum pernah mendengar nama nona. Walaupun demikian
kita toh dapat menjadi sahabat bukan ?"
Ya Bie memperlihatkan tampang tidak senang.
"Jika kau tidak tahu ya sudah " katanya. "Memangnya
siapakah yang menginginkan kau ketahui nama nonamu ini ?"
Ciu Tong sebaliknya tertawa. Dia maju lagi dua tindak.
"Aku menyesal nona, aku mohon maaf yang aku tak
mengenal nona !" kata dia hormat. "Aku girang yang sekarang
telah aku mengetahuinya !"
Ya Bie polos, pengalamannya sangat sedikit. Melihat
tingkahnya Ciu Tong, ia tertawa sendirinya.
"Ah, kau benar orang tak punya muka !" katanya.
"Terhadap seorang wanita kau bicara bergula begini manis !"
Senang hatinya Ciu Tong. Ia menyangka si nona
menyukainya. Maka maulah ia bergurau.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Nona, sabuk hijaumu indah sekali !" demikian pujinya
mengangkat-angkat. "Nona, dari bahan apakah kau
membuatnya ?" Lalu dengan berani dia mengulur tangannya
akan meraba sabuk dipinggangnya nona itu. Tapi dia bukan
meraba atau menoel, mendadak saja dia terus menotok jalan
darah "Yauw hiat" nona itu.
Ya Bie berseru kaget, baru setengahnya ia sudah roboh
lemas.
Tak terkirakan girangnya Ciu Tong. Dia telah berhasil
membokong nona yang polos itu, yang kecantikannya sangat
menggiurkannya. Maka dia tertawa terbahak-bahak. Kemudian
tanpa ayal lagi, dia membungkuk akan memondong,
mengangkat tubuh si nona guna dipindahkan ke atas
pembaringan. Bahkan dengan kecepatan luar biasa, dia pun
meloloskan sabuk hijau nona itu, hingga usahanya tinggal satu
tindak lagi....
Sekonyong-konyong jago Hek Keng To ini menjadi kaget
sekali. Sabuk hijau itu memperlihatkan cahaya berkilau. Saking
kagetnya dia mencelat mundur tiga tindak, matanya
mengawasi mendelong terhadap sabuk itu yang dirabanya
bukan terasa sebagai kain.....
Mengawasi terlebih jauh, Ciu Tong menjadi terlebih kaget
hingga dia bergidik jeri.
Sabuk itu ternyata seekor ular yang sekarang kedua biji
matanya memain bercahaya merah seperti darah. Begitu pun
merah juga lidahnya yang pastinya beracun sebab itulah ular
hijau yang disebut ular bunga laut. Cuma Ciu Tong belum tahu
ular itu ular apa, dia hanya menyangka....
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ular itu melingkar ditubuhnya Ya Bie, kepalanya diangkat,
matanya mengawasi manusia dihadapannya, lidahnya tetapi
diulur keluar masuk.
Walaupun dia jatuh, Ciu Tong bersiap sedia andia kata
binatang itu lompat menyambarnya. Sesudah lewat sekian
lama, ia mendapati sang binatanga hanya diam melingkar,
hatinya menjadi tenang. Dia tak berkuatir lagi seperti semula.
"Ha !" pikirnya, "sekiranya dia mengembara dengan
mengandali ularnya ini...Hm !"
Segera jago Hek Keng To itu menghunus pedangnya, tanpa
ragu pula ia menebas ke arah ular itu, ia tidak membacok
sebab bacokannya dapat mengenai tubuhnya si nona. Ia pula
tidak menikam karena kuatir tikamannya kurang tepat. Ia
telah memikir, asal ular itu sudah mati, akan puaslah ia ! Ia
pun mau membinasakanulat itu sebab ia sangat mengilari si
nona. Bukankah si nona itu bagaikan daging angsa, bayangan
yang sudah disajikan di depannya ? Ia percaya ilmu silatnya
lihai, maka ia merasa pasti dapat ia membunuh binatang
beracun itu.
Baru pedang diluncurkan setengah atau Ciu Tong sudah
merasakan lengannya lengan kanan yang dipakai menebas itu
nyeri sekali, dan rasa sakit itu terus menyelusup ke ulu
hatinya. Karena itu, tidak dapat ia terus menggunakan
tenaganya untuk menebas ular itu.
Masih ada satu hal lagi, yang membuat disebelahnya nyeri
lengannya itu juga tubuhnya tertarik keras ke belakang,
hingga dia menjadi mundur limbung tiga tindak, hampir dia
terguling jatuh. Selekasnya dia sudah dapat menetapkan
tubuhnya, dia lantas menoleh ke belakang. Kembali dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menjadi kaget sebab dia melihat siapa yang telah menariknya
itu ! Ialah seekor orang utan yang tubuhnya besar dan
berbulu tebal, yang mestinya bertenaga kuat sekali,
sebagaimana dia mudah saja dibetot mundur itu, sedang
matanya Bienatang itu yang bengis dipakai mengawasi
padanya secara menyeramkan !
Orang utan itu membuka lebar mulutnya hingga tampak
giginya atas dan bawah yang tajam, dia pula berPekik
beberapa kali, habis mana dia bukan menerkam manusia itu,
dia hanya lompat ke pembaringan untuk memondong bangun
tubuhnya Ya Bie.
Sebelumnya dia dikasih bangun dan duduk dipembaringan,
nona dari Cenglo ciang itu sebenarnya sudah lantas ingat apa
yang barusan terjadi. Tak ia lemah dan roboh, ia pingsan
sebentar saja, hingga ia menjadi tidak berdaya. Setelah sadar
ia lantas mengerahkan tenaga dalamnya. Ia pula
menggunakan Sin Kut Kang, ilmu memperciut tubuhnya.
Selekasnya sudah dapat menyalurkan seluruh darahnya,
bebaslah ia dari totokan pada jalan darahnya itu.
Ya Bie adalah Cianglo ciang adalah muridnya Kip Hiat Hong
Mo, walaupun dia belum pernah merasai atau menikmati
hubungan pria wanita atau suami istri, dia telah sering
melihatnya. Karena itu dia lantas mengetahui maksudnya Ciu
Tong. Maka dari bersikap tenang, dia menjadi gusar sekali Ciu
Tong hendak membukai pakaiannya. Itulah dia harus balas.
Dia polos tetapi dia cerdas bagaimana harus bertindak. Maka
dia berpura-pura masih lemas meskipun sebenarnya
kesehatannya sudah pulih seluruhnya. Dia merebahkan diri
sambil mengawasinya si pria, matanya mengintai.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Si orang utan tidak tahu niatnya sang majikan, dia muncul
secara tiba-tiba, melihat si nona terancam bahaya, dia
membetot Ciu Tong keras sekali.
Menampak demikian, Ya Bie lantas berlompat turun dari
atas pembaringan degnan sebab ia menjemput ularnya, hanya
waktu ia mengangkat kepalanya menoleh ke arah Ciu Tong,
pria itu lenyap entah kemana. Sementara itu kecuali sinar lilin,
kamar pun mulai diterangi remang-remang sang fajar. Justru
itu terdengar juga suara genta dan berisik dari Kui Hiang Koan
hanya samar-samar.
Ya Bie pergi ke jendela, dia menengadah langit. Katanya
seorang diri, perlahan : "Sekarang sudah terang tanah, dapat
aku cari dia ! Kemana juga kau pergi akan aku cari padamu.
Hendak aku membalas untuk perbuatan ceriwis dan kurang
ajarmu ini !"
Begitu berpikir begitu si nona bekerja. Ia memadamkan
lilin, terus ia lompat keluar jendela.
Si orang utan berlompat menyusul nonanya itu sambil dia
beberapa kali memperdengarkan Pekiknya.
Ciu Tong sementara itu keluar dari jendela dengan
pikirannya kaget. Dia sangat berduka, menyesal dan
mendongkol dengan berbareng. Dialah seorang Kang Ouw
yang berpengalaman, namanya pun cukup terkenal, bahkan
dia pernah menemukan orang segolongannya yang luar biasa
baik di jalan putih maupun di jalan hitam, akan tetapi kali ini
dia dibuat kecele oleh seorang Ya Bie yang dia belum kenal
sama sekali, yang namanya dia belum pernah dengar !
Siapakah nona itu ? Kenapa dia berikat pinggangkan seekor
ular ? Dan kenapa dia membawa-bawa orang utannya yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
bertenaga luar biasa itu ? Lagi pula nona itu dari golongan
manakah ?
Jilid 51
Biar bagaimana jago Hek Keng To ini sangat tertarik
kecantikannya Ya Bie. Sekeluarnya dari jendela, dia kabur
sembari otaknya bekerja keras. Maka itu dia lari tanpa arah.
Dia memasuki rimba. Kapan dia sudah melewati rimba itu dan
berada di jalan umum, baru dia terasadar karena angin pagi
yang halus meniup mukanya. Tapi dia baru sadar separuhnya
! Yang separuhnya lagi sadar setelah telinganya mendengar
suara genta !
Demikianlah bagaikan baru mendusin dari tidur nyenyak,
dia memasang mata melihat ke depan dan sekitarnya. Tibatiba
dia melihat dua orang dibawahnya sebuah pohon yanglie
yang besar. Itulah seorang berjubah pendeta tengah
menguruti seorang muda. Dia cuma melihat jubah, sebab
orang alim tengah membaliki belakang kepadanya. Sesudah
mengawasi sekian lama, dia merasa bahwa dia kenal jubah itu
serta potongan tubuh orang. Dia melengak terus dia
mengingat-ingat. Segera dia ingat kepada Peng Mo si Bajingan
Es. Tiba-tiba timbul rasa cemburunya. Tidak ayal pula dia
berlompat lari kepada nikouw itu.
Peng Mo menoleh kapan ia mendengar suara berisik di
belakangnya. Dengan begitu ia menjadi melihat dan
mengenali jago dari Hek Keng To itu. Lantas saja ia mengasi
suara menghina dari hidungnya. Cuma sebegitu, terus ia tak
menghiraukan orang. Ia terus melanjuti dayanya membantu si
anak muda guna meluruskan saluran jalan darahnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ciu Tong telah datang cukup dekat, maka dia lantas
mengenali si anak muda sebagai Tio It Hiong dari Pay In Nia.
Dia tak tahu yang Hong Kun sudah menyamar sebagai
muridnya Tek Cio Siangjin. Dia kaget hingga dia mundur dua
tindak. Segera dia menghunus pedangnya, sambil menunjuki
si anak muda dia membentak : "Eh, orang she Tio, kau telah
menipu dan membawa kemana Tan Hong adik seperguruanku
?"
Jago Hek Keng To ini tidak cuma menanya, bahkan dia
terus maju pula sambil membabat dengan pedangnya itu !
Peng Mo terkejut. Karena ia melihat gerak gerik orang,
mudah saja ia menyampok pedang orang itu.
"Tahan !" bentaknya dingin.
Ciu Tong tertawa, walaupun pedangnya kena dibikin
terpental tapi syukur tak lepas dari tangannya. Biar bagaimana
dia menyukai nikouw ini. Bukankah diatas kereta kudanya
telah bergurau secara gembira sekali. Bukankah selama itu dia
terus duduk berendeng dengan wanita cantik itu ? Sampai
saat ini kesannya tetap baik. Maka juga suka dia mengalah.
Dia telah disampok pedangnya dan dibentak, tetapi dia masih
dapat bersabar. Demikianlah dia dapat memaksakan dirinya
tertawa.
"Su thay, apakah su thay kenal bocah ini ?" begitu dia
tanya.
Peng Mo melirik sambil mendelik. Sahutnya dingin : "Dialah
muridnya Im Ciu It Mo ! Kau peduli apa padanya ?"
Ciu Tong melengak atas jawaban itu. Dia lantas mengawasi
meneliti jawabannya Peng Mo.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu Hong Kun sudah mendusin dan sadar tujuh
bagian. Obatnya Hong Gwa Sam Mo dapat juga melawan obat
Thay Siang Hong Hun Tan. Ia melihat Ciu Tong dan akhirnya
dia itu ia berdiam saja. Ia pun tidak membuka mulutnya. Peng
Mo telah menyampok pedang orang.
Ciu Tong tetap mengawasi tajam, tetap dia tak dapat
membedakan It Hiong palsu dan It Hiong tulen. Maka dia
menganggap inilah pemuda yang menjadi musuh besarnya !
Musuh tak dapat hidup bersama, seperti si sesat dan si lurus,
tak dapat berdiri berdampingan ! Dia pula jelus karena gerak
geriknya Peng Mo menguruti pemuda itu ! Dendam kesumat
dan kejelusan bercampur menjadi satu membuat hatinya
sangat panas, hingga dadanya turun naik, mukanya merah
padam, otot-otot pada mukanya menonjol. Matanya merah
membara ! Timbul pulalah niatnya menyerang dan
membinasakan anak muda itu !
Peng Mo selalu memperhatikan orang sekalipun dia tengah
membantu Hong Kun, sering-sering dia melirik, maka itu dapat
ia melihat sikapnya Ciu Tong itu. Diam-diam ia terkejut.
Segera ia menunda usahanya membantu Hong Kun, terus ia
menoleh seraya bangkit berdiri.
"Kau mau apa ?" tegurnya. "Kenapa kau kelihatan begini
bengis ?"
Ciu Tong tengah dikuasai amarahnya, dia seperti tak
mendengar suaranya Peng Mo itu, justru si Bajingan Es
bangun, justru dia lompat maju dan pedangnya terus dipakai
membacok kepalanya Hong Kun !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Peng Mo kaget luar biasa. Tak sempat dia menyampok
pedangnya jago Hek Keng To itu. Dia kaget sebab bagaimana
kalau si anak muda terbinasakan penyerang itu ?
"Traaang !" demikian satu suara nyaring, suara dari
beradunya senjata-senjata tajam, menyusul mana terlihat
percikan api pada meletik, dua sinar pedang lantas berpisah
serta berpisah juga dua sosok tubuh yang sama-sama
berlompat mundur !
Ciu Tong kaget dan heran ! Peng Mo terlebih heran pula !
Itulah Hong Kun yang menangkis pedangnya jago Hek
Keng To itu. Dia telah memasang mata, dia cepat luar biasa,
maka juga selagi diserang itu dia dapat menghunus
pedangnya dan menangkis serangan lawan sesudah dia
mencelat bangun dalam gerakannya "Lee Hie Ta Teng", Ikan
tamora meletik !
Ciu Tong mundur dengan kaget. Dia telah merasai
tangkisan yang keras sekali. Ini justru membuat dugaannya
makin kuat bahwa si anak muda ialah It Hiong adanya.
"Aku tidak salah mata !" pikirnya.
Peng Mo sebaliknya heran karena anak muda itu sadar
demikian cepat dan dapat mengelak ancaman maut itu. Ia
tahu orang sudah mendusin hanya tidak menyangka
tenaganya pulih demikian rupa.
Habis mundur itu, Ciu Tong segera maju pula. Dia tidak
takut bahkan dia makin penasaran. Maka dia menyerang pula.
Tapi baru pedangnya meluncur atau pedang itu sudah
tertahan, terlilit sesuatu yang berwarna hijau, membarengi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mana telinganya mendengar satu bentakan yang cempreng
merdu !
"Ah !" serunya terkejut. Segera dia menoleh. Lantas dia
menjadi terlebih kaget pula. Yang merintangi dia ternyata Ya
Bie adanya, dan ularnya si nona yang mengganggu
tikamannya itu !
Ya Bie mengasi lihat wajah murka tetapi toh ia terus ia
bersenyum ketika ia berkata sambil menanya : "Di tengah
malam gelap gulita kau telah menghina aku, itu masih belum
cukup. Kenapa sekarang kau masih hendak membinasakan
Kakak Hiong ku ?"
Berkata begitu, si nona melepaskan lilitan ularnya kepada
pedang lawan. Lantas ular hijau itu mengangkat kepalanya,
memperlihatkan lidahnya yang lancip dan tajam !
Ciu Tong menarik pulang pedangnya sambil dia mundur
satu tindak, tetapi dia terus menuding Hong Kun seraya
bertanya : "Pernah apakah kau dengan dia ?"
Ya Bie mendahului menjawab cepat : "Dialah kakak Hiong
ku !" Terus ia menghampiri Hong Kun, untuk berdiri
berendeng dengannya.
Selama itu Hong Kun pun berdiri diam sebab dia juga
merasa heran dengan munculnya secara tiba-tiba dari nona
itu.
Ya Bie melanjuti kata-katanya sebelum Ciu Tong berkata
pula : "Sebenarnya aku lagi mencari kau buat membikin
perhitungan ! Tapi sekarang aku telah bertemu dengan kakak
Hiong kun ini, baiklah, akan kau tidak sudi berurusan lebih
lama pula denganmu, kau maburlah ! Lekas !'
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Justru itu, Peng Mo sambil tertawa menghampiri si nona.
Dia berdiri di depan orang.
"Adik Ya Bie, kau salah mengenali orang." katanya dengan
manis. "Dia ini bukannya Tio It Hiong."
Peng Mo lagi menggunakan akal bulusnya. Sebenarnya dia
belum pernah melihat sama sekali wajahnya asli dari It Hiong
maupun Hong Kun. Dia banyak jeri terhadap nona ini. Waktu
diluar kota Gakyang, dia bertemu dengan Ya Bie, disitu dia
mengetahui si nona ialah muridnya Kip Hiat Hong Mo yang
lihai dan dia telah menyaksikan sendiri halnya si nona pandai
ilmu sihir Hoan Kak Bie Ciu, bahkan Kim Lam It Tok yang lihai
yang menyamar sebagai Tok Mo, si Bajingan Racun kena
dipermainkan nona itu. Jadi dia pun tidak berani main gila
terhadap si nona. Maka ia menggunakan cara liciknya ini.
Ya Bie mengawasi Peng Mo, ia menggeleng kepala.
"Tak dapat aku percaya kau !" katanya selang sejenak.
"Sebab aku menemui Kakak Hiong, salalu aku melihat kau
berada bersama, kau berada disampingnya ! Apakah
bukannya kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ?"
"Sabar, adik". Peng Mo membujuki. "Jangan tergesa-gesa !
Apakah kau tak akan mendatangkan tertawaan orang kalau
kau memaksa mengakui orang sebagai Kakak Hiong mu ?"
Ya Bie heran. Ia jadi curiga. Maka ia mengawasi Hong Kun,
mengawasi lagi.
Selama itu Ciu Tong berdiri diam saja. Dia belum mau
mengangkat kaki walaupun si nona dari Cenglo ciang telah
mengusirnya. Ia menyaksikan tingkahnya Peng Mo itu, maka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
tahulah ia yang Peng Mo pasti menyintai Hong Kun. Maka ia
menjadi jelus.
"Hm !" ia bersuara di dalam hati. Mau ia merusak usaha si
Bajingan Es. Segera ia membentak Tio It Hiong. "Tio It Hiong,
apakah kau masih berlagak pilon saja ? Jika kau tidak
serahkan adikku Tan Hong padaku, hendak aku mengadu
jiwaku dengan jiwamu !"
Sengaja orang she Ciu ini memutar pedangnya sehingga
terdengar siutan angin yang keras. Selama itu ia mengawasi
Peng Mo dan Ya Bie, menantikan sikapnya mereka itu. Tapi
mendadak ia menjadi kaget sekali. Tahu-tahu tubuhnya telah
terangkat dan terlempar jauh dua tombak ! Syukur dia hanya
jatuh duduk. Ketika terangkat itu, ia cuma merasa tubuhnya
tercekal dua buah tangan yang berbulu ! Sebab itulah si orang
utan yang melontarkannya !
"So Hun Cian Li, jangan ladeni dia !" Ya Bie berseru.
Si orang utan membuka mulutnya, dia mengangguk, terus
dia pergi ke belakang pohon.
Biar bagaimana Ciu Tong merasa nyeri. Tetapi dia tak
menghiraukan itu. Dia melanjuti akalnya memecah belah.
Sembari masih duduk numprah itu, dia berkata nyaring : "Tio
It Hiong, sungguh lihai akalmu menipu kaum wanita !
Perempuan siapa saja menginginimu, mereka seperti juga
seluruh yang menyerbu api !"
Peng Mo mendongkol. Ia tahu maksudnya Ciu Tong
berkaok-kaok itu ialah supaya Ya Bie percaya Hong Kun benar
It Hiong. Itulah bakal merugikannya. Kalau sampai si nona
merampas kekasihnya ? Maka dengan mata mendelik dan
menggertak gigi, ia mengawasi orang asal luar lautan itu !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ya Bie menarik ujung jubahnya si nikouw.
"Dia itu orang jahat, jangan layani dia !" katanya sambil
menunjuk Ciu Tong.
Peng Mo berpaling. Lantas ia bersenyum.
"Adik Ya Bie, cara bagaimana kau ketahui dia itu orang
busuk ?" tanyanya.
Mukanya si nona menjadi merah, tandanya ia jengah.
"Tadi malam dia mencoba menganggu aku." sahutnya.
Terus ia tunduk sambil membuat main ularnya.
Peng Mo cerdas, ia mengerti kata-katanya si nona itu. Pasti
tadi malam Ciu Tong sudah mencoba main gila terhadap si
nona. Diam-diam, ia melirik pada Hong Kun, memberi isyarat
supaya anak muda itu pergi menyingkir. Ia sendiri lantas kata
pula pada si nona : "Bagaimana adik? Dia itu berani main gila
terhadapmu ? Dia berhasil atau tidak ?"
Ya Bie mengangkat mukanya. Parasnya masih merah. Dia
tetap likat. Sambil menggeleng kepala, ia kata keras : "Tidak !
Dia cuma....."
"Binatang itu sangat tak tahu malu !" berkata Peng Mo
sengit. "Kau harus ajar adat padanya, supaya tahu rasa."
Ya Bie menggeleng kepala.
"Barusan telah aku katakan." sahutnya. "Aku telah dapat
menemukan Kakak Hiong, maka itu biar aku beri ampun
padanya......"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun sementara itu tak mengangkat kaki walaupun dia
mengerti isyarat Peng Mo. Dia justru memikir harus dia
mendapati Ya Bie.....
Peng Mo mendongkol melihat si anak muda tak mau pergi
hingga ia menjejak tanah terus sebelah tangannya
menyampok Ya Bie, di lain pihak tangan kirinya menarik Hong
Kun buat diajak lari keluar dari rimba itu !
Tiba-tiba Peng Mo kaget. Mendadak saja di depannya
muncul si orang utan menghadangnya. Tentu ia menjadi
berkuatir apabila ia kena dirintangi. Ketika barusan ia
menyerang Ya Bie, ia gagal, serangannya tidak mengenai
sasarannya, maka ia takut Ya Bie mengejarnya. Maka itu
dengan kedua tangannya terus ia menyerang So Hun Cian Li !
Si orang utan tak kena dihajar. Dia dapat berkelit.
Memangnya dialah seekor binatang yang cerdas dan ringan
tubuh, dia pula muridnya Kip Hiat Kong Mo, dia makin lincah.
Dia tak lari, dia tetap menghalangi dua orang itu, tidak peduli
Sek Mo menyerang terus beruntun beberapa kali.
Selagi Peng Mo menyerang terus pada So Hun Cian Li buat
merobohkannya atau sedikitnya buat membikin dia itu tidak
menghadangnya lebih jauh, tiba-tiba ada benda hijau melesat
kepadanya, ke arah tangannya.
"Aduh......!" dia menjerit seraya memegangi lengan kirinya,
tubuhnya terus roboh ke tanah terus dia merintih tak henti,
sedangkan keringat dingin membasahi dahinya !
Ya Bie bertindak menghampiri si nikouw, mulanya ia
menoleh kepada Hong Kun, terus ia kata kepada nikouw itu :
"Kakak Peng Mo, kenapa kau begitu bermuka tebal ? Kenapa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kau hendak merampas Kakak Hiong ku ini ? Nah, aku mau
lihat sekarang, kau masih berani mencoba merampasnya atau
tidak."
Peng Mo kena dipagut ular, racunnya binatang itu sudah
menyerang terus ke lengan bagian atas. Mulai naik ke sikut
atau pergelangan tangan, menjalar ke sebelah atas lagi
menuju ke paha. Tangan itu pun segera membengkak dan
memerah.
Peng Mo merasa nyeri sekali sampai tubuhnya
bergemetaran seluruhnya, kapan dia mendengar suara si
nona, dia mengangkat kepalanya mengawasi nona itu dengan
sinar mata membenci. Dia pun menggertak gigi. Dengan
tangan kanannya dia mengeluarkan peles obat pemunah
racun istimewa buaTan Hong Gwa Sam Mo, dengan mulutnya
dia membuka peles obat itu, untuk dengan cepat mengunyah
dan menelan beberapa butir diantaranya. Dia memikir obatnya
itu dapat menentang atau memunahkan racun si ular hijau.
Menyaksikan penderitaannya Peng Mo, Ya Bie merasa
kasihan juga.
"Obatmu itu mana dapat menolongmu......." katanya.
"Obatmu itu mana dapat memunahkan racunnya Siang Liong ?
Dengan memandang mukanya kakak Hiong, suka aku
membantu kau !"
Si nona mengeluarkan peles obatnya, buat mengambil
sebutir pil warna hijau yang terus ia jejalkan ke mulutnya si
Bajingan Es.
Ketika itu sudah terang tanah, matahari sudah melancarkan
cahayanya ke seluruh rimbah. Dari kejauhan terdengar
berisiknya suara riuh dari banyak orang. Lekas sekali tibalah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
serombongan orang berseragam hitam. Tiba di hutan yangliu
itu mereka itu segera berpencar diri, buat mengurung Ya Bie
bertiga !
Seorang muda dengan pakaian singsat dengan diikuti dua
orang berpakaian hitam bertindak maju. Mereka menghampiri
sampai di depannya Ya Bie bertiga itu. Dia terus mengangkat
tangannya memberi hormat seraya memperkenalkan diri dan
bertanya : "Aku yang muda adalah See Sie ! Aku mohon
bertanya nona bertiga, apakah kalian adalah tamu-tamu dari
penginapan kami ?"
Ya Bie mengawasi orang, dia terus menoleh, tangannya
menunjuk, "Itu di kamar sebelah sana!"
See Sie mengawasi si orang utan di belakangnya nona itu,
dia heran hingga melongo.
"Di dalam kamarmu itu mana muat begini banyak orang
serta hewan itu ?" tanyanya.
Ditanya begitu, si nona tertawa.
"Kau menanya terlalu banyak !" sahutnya. "Kau usilan !"
See Sie heran sekali. Si nona dan kawan-kawannya itu
mengherankan ia, menimbulkan kecurigaannya. Diantara
mereka itu juga ada si orang utan yang tentunya liar.......
"Pemilik penginapan kami memerintahkan aku yang muda
datang kemari buat mengundang nona beramai datang
berkumpul di ruang besarnya" katanya. "Ada sesuatu yang
hendak didamaikan......"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu Peng Mo bangkit berdiri ! Habis makan obatnya si
nona, nyerinya lenyap, bengkak lengannya kempes.
"Ada urusan apa pemilik hotel mengundang kami ?" dia
bertanya.
See Sie memperlihatkan tampang sungguh-sungguh.
"Apakah su thay beramai masih belum tahu ?" sahutnya.
Lantas dia menjelaskan. "Tadi malam Kui Hiang Koan telah
terbakar dan pemiliknya lagi mencari orang yang
membakarnya."
Si Bajingan Es tertawa dingin.
"Hotelmu terbakar dan kalian masih belum berhasil mencari
pembakarnya ? Hm !"
See Sie menajadi sabar. Sejak semula ia menguasai dirinya.
"Kalian mau pergi atau tidak ?" tanyanya gusar.
Dengan acuh tak acuh, Peng Mo kata : "Kau datang kemari
buat mengundang atau buat menawannya ?"
Sepasang alisnya See Sie bangkit berdiri.
"Hm !" diapun memperdengarkan suara dingin. "Kau tidak
sudi minum arak undangan hanya arak dendaan. Nah, kalian
lihatlah di sana ! Itu contohnya !
Peng Mo menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana tampak
rombongan orang berseragam hitam tengah menggiring Couw
Kong Put Lo. Ia melihat kekasihnya itu jalan dengan tunduk
saja serta tangannya di belakangkan. Mereka itu tengah
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menuju ke ruang besar yang dimaksudkan. Semua pengiring
itu membekal golok. Ia heran.
"Couw Kong Put Lo lihai, kenapa dia kena ditawan
beberapa orang itu ?" demikian pikirnya. Atau mendadak dia
ingat halnya di belakang pemilih Kui Hiang Koan ada seorang
terahasia yang lihai, jago rimba persilatan yang sudah lama
hidup menyendiri.
Tak lama muncul pula satu rombongan lain lagi. Kali ini
orang yang digiring ialah Ciu Tong. Di dalam rombongan itu
terdapat juga beberapa orang dengan pakaian singsat
pertanda bahwa merekalah orang-orang Bu Lim rimba
persilatan. Yang paling menyolok mata adalah seorang
pendeta dengan jubah kuning.
Hanya sedetik itu Peng Mo mengenali siapa si pendeta.
Dialah Bu Kie dari Siauw Lim Sie, yang di dekat gunung Ngo
Tay San sudah pernah memegatnya. Semua mereka itu
berjalan sambil tunduk saja.
Ketika itu pun See Sie mengawasi Gak Hong Kun untuk
terus menanya : "Tuan, aku mengenal baik tampang tuan.
Siapakah guru tuan yang mulia itu ?"
See Sie ingat halnya ia pernah bertemu Tio It Hiong diluar
kota Gakyang. Ketika itu Liong Houw Siang Ceng Pendeta
Naga dan Harimau yang mau membalaskan sakit hati dari adik
seperguruannya yang sebelumnya telah menempur si anak
muda she Tio itu tetapi ketika itu gurunya Koay To Ciok Peng
telah memisahkan mereka kedua pihak dengan memberikan
keterangan bahwa musuhnya Liong Houw Siang Ceng adalah
musuhnya It Hiong yang memfitnah It Hiong bahwa mungkin
ada seseorang yang sudah menyamar menjadi Tio It Hiong.
Sekarang ia melihat Gak Hong Kun mirip dengan Tio It Hiong
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang ia pernah ketemukan di luar kota Gakyang itu cuma
sekarang ini "Tio It Hiong" berdiam saja maka karena ia
merasa heran, ia bukan menanya nama orang hanya nama
dan gelaran gurunya orang itu.
Gak Hong Kun tetap berdiri menjublek bagaikan tidak
mendengar pertanyaan orang, dia berdiam saja.
Melihat demikian Ya Bie tertawa.
"Kakak Hiong !" katanya. "Kakak, orang tanya kau kenapa
kau diam saja ?" Ia pun mengulur tangannya menarik ujung
tangan bajunya si pemuda.
Bagaikan orang baru mendusin, Hong Kun memutar tubuh.
"Apa ?" tanyanya singkat.
"Siapakah gurumu yang mulia itu tuan ?" See Sie
mengulangi pertanyaannya.
Hong Kun berpikir lalu jawabnya ayal-ayalan : "Aku yang
muda ialah Tio..... It Hiong murid dari Heng San...."
Itulah jawaban yang membukan rahasia sendiri. Habis
membelai Siauw Lim Sie, namanya Tio It Hiong menjadi
sangat tersohor hingga semua orang Kang Ouw atau rimba
persilatan tahu baik sekali yang ia adalah murid ahli waris dari
Cio Tek Siangjin dari Pay In Nia. Sekarang Hong Kun
menyebut nama It Hiong tapi dari Heng San.
Ya Bie pun heran.
"Kakak Hiong, jangan kau sembarang bicara !" katanya.
"Kenapa kau menyebut dirimu murid dari Heng San Pay ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
See Sie sebaliknya tertawa. kata dia : "Nona
pengalamanmu tentang dunia Kang Ouw masih terlalu cetek.
Tuan ini telah membuat pengakuan tanpa disiksa lagi !" Terus
dia mengulapkan tangannya kepada kawan-kawannya seraya
menambahkan : "Aku mengundang kalian suka pergi ke ruang
besar kami !"
Di dalam keadaan seperti itu, Ya Bie dan terutama Peng Mo
tidak dapat menampik lagi, maka bersama-sama mereka
lantas berseragam itu mengiringi mereka.
Di tengah jalan si Bajingan Es atau Bajingan Paras Elok
mengasah otaknya. Dia heran sekali, dia bingung hingga tak
dapat dia memberi keputusan sendiri. Kekasihnya ini siapakah
? Dia benar Tio It Hiong atau hanya murid dari Heng San Pay
? Kalau dia It Hiong dialah murid dari partai kaum lurus,
kenapa dia turut Im Ciu It Mo, bahkan dia pergi ke Gwa Sek
Sie dimana dia melakukan penyerangan dan pembunuhan ?
Taruh kata dia telah makan Thay Siang Hoan Hun Tan tetapi
diapun sudah diberi obatnya yang mujarab, bukankah
kesadarannya telah pulih separuhnya ? Ya mustahil beginilah
Tio It Hiong yang orang sohor itu. Aneh ! Dia menyebut diri
Tio It Hiong, dia pun mengaku murid Heng San Pay !
Hampir meledak otaknya Peng Mo walaupun dialah si
Bajingan cerdik dan licin. Dia baru berhenti berfikir ketika dia
dikejutkan suaranya See Sie : "Sudah sampai !" Dia
mengangkat kepalanya dan melihat pintunya sebuah ruang
besar berada dihadapannya.
Segera juga mereka bertindak memasuki ruang besar itu,
yang benar-benar luas sekali. Di dalam situ telah kedapatan
banyak orang duduk berkumpul, pria dan wanita, tua dan
muda. Dari dandanannya mereka itu semua, terang sekali
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
mereka ada dari pelbagai golongan, orang-orang Kang Ouw,
saudagar, pemuda tukang berfoya-foya, pembesar negeri dan
nyonya-nyonya hartawan atau berpangkat.
Di tengah ruang tergantung sehelai tirai sulam yang lebar
yang ujungnya nempel dengan lantai. Di empat penjuru
dinding terdapat lentera-lentera berkaca, juga pelbagai pigura
lukian dan tulisan. Suasana ialah kemewahan merangkap
kewibawaan.
Di depan tirai itu terdapat beberapa buah kursi, yang
semua ada orang-orang yang duduki. Diantarany Koay To Ciok
Peng si Golok Kilat, Bu Eng Thung Liok Ciu si Tongkat Tanpa
Bayangan, serta seorang nikouw setengah tua yang berjubah
warna gwee pee, putih rembulan, yang wajahnya cantik.
Ciok Peng lantas memasang mata selekasnya dia melihat
tibanya rombongannya Ya Bie ini, terutama ia mengawasi
Peng Mo, si nona serta orang utannya yang besar itu.
See Sie menghampiri gurunya, buat memberi hormat
seraya memberikan laporannya halnya beberapa orang ini
telah ditemui didalam hutan yangliu. Kemudian dia mundur ke
samping.
Ciok Peng mengangguk.
"Apakah tamu-tamu yang diundang sudah hadir semuanya
?" tanyanya.
"Kira-kira sudah semuanya." sahut seorang yang baru
berbangkit habis dia batuk-batuk dan mengangguk. Dialah
pengurus hotel yang memelihara janggut seperti janggut
kambing dan bajunya thungsha yaitu baju panjang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kemudian pengurus hotel ini berpaling akan menghadapi
sekalian tetamunya, tiga kali tangannya ditepuk, hingga
sunyilah ruang yang besar itu. Tadinya ada beberapa orang
yang ramai berbicara. Kembali dia batuk-batuk, baru dia
berkata : "Para hadirin ! Hotel kami telah terbakar, kalian
tentu telah ketahui ! Pastilah tadi malam kalian menjadi kaget
sekali, hingga kalian terganggu dalam impian sedap kalian !
Sudah begitu sekarang ini kami pun membuat capek pada
kalian dengan mengundang kalian hadir disini ! Para hadirin
buat semua itu atas nama pemilik, kami menghaturkan maaf."

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Romantis 16 Kamis : Iblis Sungai Telaga ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 27 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments