Cerita Dewasa Tiongkok Kuno : Sian Li Eng Cu 1

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Tiongkok Kuno : Sian Li Eng Cu 1

1.1. Penyerbuan Pasukan Kay-si-tin
„TOLOOONG……! Tolooong……!!”
„Tolonglah…… rumahku terbakar……!!” „Ho-han (orang gagah), ampunkanlah kami…… jangan bunuh kami. Ambil semua harta benda kami, akan tetapi am¬punkan dan jangan bunuh kami……”
Ratapan dan jerit tangis memilukan terdengar di dusun Tiang-on pada tengah malam itu, jerit tangis yang disusul oleh bentakan-bentakan marah dan ganas dari orang-orang yang mendatangkan keributan itu, disusul pula oleh berkelebatnya golok dan pedang yang tanpa kasihan membacoki leher orang-orang yang minta tolong itu. Disusul pula oleh nyala api yang sebentar saja menjalar ke sana sini, memakan habis semua gedung berikut isinya. Juga para penghuninya, mati atau hidup, banyak yang menjadi korban api mengganas.
Anehnya, serbuan orang-orang yang ratusan banyaknya itu, api yang memakan rumah-rumah gedung-gedung, hanya ditujukan kepada para hartawan dan bangsawan, tidak memilih bulu. Rumah pen¬duduk yang miskin sama sekali tidak diganggu, bahkan para penyerbu yang menyebar malapetaka kepada hartawan dan bangsawan itu berteriak-teriak ganas:
„Saudara-saudara petani miskin, kaum tertindas, mari bangkit dan membalas dendam kepada mereka yang memeras keringat dan darah saudara-saudara!”
2
Oleh seruan ini, tidak sedikit penduduk Tiang-on yang merasa menjadi orang miskin dan memang hidupnya sehari-hari digencet dan diperkuda oleh para hartawan dan bangsawan serentak keluar dari rumah dan membantu, terutama sekali untuk mempergunakan kesempatan itu mencari keuntungan, merampok! Kemudian mereka ini mendapat kenyataan bahwa diantara para penyerbu itu terdapat belasan orang petani di dusun itu yang jelas menjadi anggauta penyerbu.
Memang serbuan itu telah direncanakan lebih dulu. Para penyerbu terdiri dari pasukan rakyat yang menamakan dirinya Kay-sin-tin (Pasukan sakti para pengemis). Sebetulnya mereka ini bukan seluruhnya terdiri dari para pengemis, melainkan rakyat dusun-dusun yang memberontak karena merasa hidupnya amat tertekan dan tertindas, baik oleh kemiskinan maupun oleh penghisapan para tuan tanah dan para pembesar yang korup.
Mereka menyebut pasukan jembel karena keadaan hidup mereka memang tiada bedanya dengan para jembel. Kalau para jembel atau pengemis minta makanan berdasar¬kan dermaan siapa saja yang menaruh hati kasihan, mereka lebih-lebih lagi, selalu harus mengharapkan uluran tangan atau „pertolongan” dari para tuan tanah.
Akan tetapi pertolongan macam apa! Mereka harus bekerja, membanting tulang melebihi kerbau atau kuda, dan semua hasil cucuran darah dan peluh mereka mengalir ke dalam kantong para tuan tanah, sedangkan untuk mereka sendiri, agar dapat makan setiap hari saja
3
harus mengemis-ngemis dan membongkok-bongkok terhadap para tuan-tanah itu.
Inilah sebabnya maka di mana-mana timbul pemberontakan rakyat kecil yang kelaparan, dipimpin dan dikepalai oleh orang-orang gagah yang berjiwa patriotis. Akan tetapi, sebagaimana hal¬nya segala sesuatu yang terjadi dunia ini, sifat-sifat yang baik selalu memancing datang sifat-sifat yang bertentangan.
Memang banyak sekali diantara para pemberontak itu yang betul-betul memperjuangkan nasib, demi kebaikan tingkat hidup kaumnya, yakni rakyat kecil, rakyat tani dan pekerja. Namun, tidak jarang diantara para „pejuang” ini menyelundup orang-orang yang memang pada dasarnya buruk watak. Tidak kurang banyaknya para perampok dan manusia-manusia yang sudah be¬jat moralnya, menggabungkan diri, berkedok semboyan „perjuangan suci” dan dalam kesempatan itu mereka me¬muaskan nafsunya yang jahat, merampok, membunuh, mem¬perkosa dan lain perbutan jahat lagi yang semata-mata mereka lakukan atas dorongan nafsu.
Tengah malam itu, dusun Tiang-on menjadi korban. Semua rumah gedung dimakan api, orang-orang yang terbunuh mati tak terhitung banyaknya. Mula-mula memang para bangsawan dan hartawan itu mengadakan perlawanan, tentu saja anak-buah dan kaki tangan mereka yang maju menghalang serbuan pa¬sukan Kay-sin-tin. Akan tetapi karena jumlah para penyerbu banyak sekali, terutama dikepalai oleh seorang pemuda yang gagah perkasa, sebentar saja mereka itu dibabat roboh
4
dan sebagian besar melarikan diri, samasekali tidak mau memperdulikan lagi nasib para majikan mereka.
Beberapa orang hartawan dan bangsawan mencoba untuk melarikan diri dari pintu belakang, namun mereka disambut dengan babatan golok dan pedang. Mayat bergelimpangan, darah mengalir, tidak saja di depan dan belakang rumah atau di dalam gedung, akan tetapi juga di jalan-jalan. Hiruk pikuk, sorak-sorai para penyerbu, jerit tangis keluarga yang men¬jadi korban, suara ketawa menghina dan mengejek dari para anggauta penyerbu yang sudah keranjingan, bercampur aduk menjadi satu, mengotorkan hawa malam yang sejuk dan bulan yang tadinya mengintai di balik awan cepat-cepat menyem¬bunyikan diri di belakang awan hitam. Agaknya ngeri menyak¬sikan tingkah manusia yang saling menyembelih, dilakukan oleh manusia pada manusia, disebabkan oleh keserakahan manusia pula. Angin bersilir lembut pada daun-daun pohon se-akan-akan berbisik:
„Manusia, mahluk yang terpilih, terpandai, berakal budi, akan tetapi…… manusia pula mahluk yang paling bodoh dan jahat! Kalau saja para bangsawan dan pembesar tidak serakah dan korup, kalau saja para jembel tidak mudah dikuasai oleh nafsu, kalau saja…… ya kalau saja manusia tidak diciptakan sama sekali, takkan terjadi hal-hal yang menge¬rikan ini……”
Pembunuhan dan pembakaran berlangsung terus. Biarpun sebelum menyerbu, para anak buah dipesan keras oleh pemim¬pin mereka bahwa mereka tidak boleh
5
sekali-kali mengganggu wanita dengan perbuatan rendah, akan tetapi boleh membunuh para anggauta keluarga wanita itu, namun diantara para penyerbu yang bermoral bejat ada yang diam-diam menculik para wanita dan membawa lari mereka!
„Para pelayan boleh lari, tidak akan kami ganggu kalian asal saja tidak membantu para majikan!” seru pemimpin penyerbu dan suaranya terdengar lantang, mengatasi semua suara hiruk pikuk itu. Ini membuktikan bahwa pemimpin itu memang berilmu tinggi dan suaranya itu dikerahkan melalui tenaga lweekang yang sudah tinggi tingkatnya.
Mendengar ini, para pelayan otomatis meninggalkan maji¬kan mereka. Mereka tentu saja lebih sayang kepada nyawa sendiri. Namun, tidak kurang diantara mereka yang diam-diam melarikan diri sambil menyambar barang-barang berharga!
Di ujung sebelah timur dari dusun itu, tinggal keluarga Kwee-wangwe (hartawan Kwee) di dalam rumah gedungnya yang besar. Kwee-wangwe juga seorang tuan tanah yang kaya raya, kekayaan yang ia dapat dari warisan orangtuanya yang sudah enam keturunan lebih tinggal di tempat itu. Tidak ada lagi orang yang dapat menerangkan bagaimana caranya nenek¬ moyang Kwee ini mengumpulkan harta bendanya, entah de¬ngan jalan halal dan memeras keringat atau berniaga, atau¬kah dengan jalan haram, mencekik para buruh tani.
6
Akan tetapi yang sudah jelas, dan hal ini diakui dan diketahui pula oleh seluruh penghuni dusun Tiang-on, adalah bahwa Kwee Seng adalah seorang hartawan yang murah hati. Dialah orang satu-satunya di dalam dusun itu yang menjamin kehidupan semua buruh taninya, tangannya terlepas dan selalu ia siap ¬sedia menolong mereka yang kekurangan atau yang mengha¬dapi kesusahan.
Terutama sekali Kwee-hujin (Nyonya Kwee), seorang wanita yang usianya baru duapuluh lima tahun, cantik jelita seperti bidadari, halus lembut tutur sapa dan gerak¬ geriknya, murah senyumnya dan murah pula hatinya. Tidak ada orang di seluruh dusun yang tidak menaruh hormat dan sayang kepada Nyonya Kwee.
Dengan adanya hartawan Kwee di dusun itu, maka dusun Tiang-on terkenal sebagai dusun yang tak pernah dilanda bahaya kelaparan, dalam arti kata bahwa belum pernah di dusun itu ada orang yang mati kela¬paran. Di waktu musim kering, keluarga Kwee tidak segan-segan menguras seluruh gudang gandumnya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada mereka yang sudah tidak mempunyai bahan makanan lagi.
Kwee Seng dan isterinya sudah menikah enam tahun lama¬nya dan mereka hanya mempunyai seorang puteri yang diberi nama Kwee In Hong. Nyonya Kwee cantik jelita seperti bi¬dadari, Kwee Seng sendiripun berwajah tampan, maka tidak mengherankan apabila Kwee In Hong seorang anak perempuan yang mungil manis, dan lucu.
7
Semua pelayan di dalam rumah itu, terutama sekali Can Ma inang pengasuh Kwee In Hong semenjak terlahir, amat sayang kepada anak ini. Can Ma se¬orang janda tua yang hidup sebatangkara, maka terhadap In Hong kesayangannya sama dengan kesayangan seorang ibu kepada anaknya, atau kesayangan seorang nenek kepada cu¬cunya.
Ketika terjadi penyerbuan, Kwee Seng dan keluarganya juga menjadi panik. Tidak seperti hartawan-hartawan yang lain, Kwee Seng tidak mempunyai tukang-tukang pukul, hanya mempunyai pelayan-pelayan laki-laki perempuan yang mengurus rumah tangganya. Para penyerbu masuk ke dalam kampung dari sebelah barat, maka biarpun banyak rumah sudah menjadi lautan api, rumah gedung Kwee Seng masih belum mendapat giliran.
Ini ada sebabnya, yaitu karena belasan orang penduduk yang menjadi anggauta barisan penyerbu, masih merasa malu dan sungkan untuk cepat-cepat menyerbu rumah hartawan Kwee. Tak seorang¬pun diantara mereka ini yang belum pernah menerima per¬tolongan Kwee Seng, maka mereka tidak ada hati untuk men¬jadi penunjuk jalan, dan membiarkan saja sampai para penyerbu dari luar dusun itu sendiri yang mendapatkan rumah gedung Kwee-wangwe.
Di dalam rumah gedung Kwee Seng terjadi keributan hebat. Hartawan ini memberi perintah kepada semua pelayan untuk segera melarikan diri, tak usah menjaga rumah.
8
„Kita harus melarikan diri, mencari jalan masing-masing agar dengan berpencaran lebih mudah melarikan diri. Biarkan saja, rumah dan harta habis tidak apa asal kita dapat me¬nyelamatkan diri,” kata Kwee Seng.
Tiba-tiba Can Ma sambil menangis, dengan muka pucat berkata: „Kwee Wangwe, harap cepat melarikan diri bersama hujin. Nona In Hong biar hamba bawa lari, jangan ikut dengan wangwe dan hujin.”
Isteri Kwee Seng mengulurkan tangan hendak merampas In Hong dari gendongan Can Ma, sambil berkata:
„Can Ma, kau bagaimanakah? Anakku akan pergi kemana juga orang tuanya lari. Tak mungkin dia harus berpisah dari kami. Kesinikan, biar aku gendong sendiri dia!”
Akan tetapi, Can Ma mundur dan mendekap tubuh In Hong yang menjadi kebingungan: „Tidak, hujin. Ingatlah, mereka itu datang dengan nafsu iblis, dan mereka bermaksud mem¬basmi semua orang hartawan dan bangsawan. Sedikit sekali harapan bagi para hartawan dan bangsawan di dusun ini untuk lari. Kalau terjadi demikian……” Can Ma menangis keras, „kalau terjadi demikian…… biarlah anak ini selamat bersama hamba…… Mereka takkan mengganggu hamba, seorang tua miskin dan lemah, dan nona In Hong…… biarlah dia menjadi cucuku, cucu seorang nenek mis¬kin……”
Kwee Hujin hendak membantah dan kini iapun sudah mencucurkan airmata, akan tetapi Kwee Seng yang cerdik sudah maklum akan maksud Can Ma. Tidak ada
9
jalan lain, pikirnya, kalau seorang diantara kita bertiga harus selamat, maka orang itu haruslah In Hong!
„Hayo kita pergi, biar kita titipkan In Hong untuk semen¬tara waktu kepada Can Ma. Dengan Can Ma keselamatannya lebih terjamin!” Sambil berkata demikian, Kwee Seng me¬narik tangan isterinya, diajak lari.
„Terima kasih, wangwe. Hamba akan menjagai anak ini dengan taruhan nyawa!” Can Ma berseru dan nenek inipun lari cepat keluar dari rumah gedung itu, sedangkan Kwee Seng bersama isterinya lari ke arah kandang kuda.
„In Hong…… anakku……!” Nyonya Kwee menjerit, akan tetapi suaminya cepat menariknya sehingga ia terpaksa ikut berlari.
Pada saat itu, suara sorak-sorai menggegap gempita dari para penyerbu sudah mendekat. Mereka dari barat menuju ke timur dan seorang diantara mereka sudah tahu bahwa di ujung timur terdapat rumah gedung Kwee-wangwe.
„Mari cepat, kau tunggang kuda yang ini!” Kwee Seng ber¬kata dengan gugup.
Isterinya memang sudah biasa naik kuda karena ketika masih belum menikah, isterinya ini mempunyai kesukaan menunggang kuda milik ayahnya yang menjadi pedagang kuda yang kaya raya pula. Kwee-hujin dengan ce¬katan naik ke atas punggung kuda dan sebentar kemudian sepasang suami isteri ini melarikan kuda masing-masing
10
menuju ke timur. Suara derap kaki kuda mereka bergema di malam gelap.
„Mereka lari……! Kejar dan bunuh hartawan jahanam itu……!” Teriak para penyerbu ketika mereka dari jauh melihat dua bayangan menunggang kuda melarikan diri.
Akan tetapi, para penyerbu itu datang dengan jalan kaki, dan biarpun di dusun itu banyak kuda yang mereka rampas, namun dalam kesibukan itu, siapakah yang ingat untuk mem¬persiapkan kuda rampasan untuk mengejar orang? Tiba-tiba dian¬tara mereka berkelebat bayangan yang bukan lain adalah pe¬muda gagah yang menjadi pemimpin mereka.
„Habiskan mereka. Kumpulkan kuda dan jangan lawan kalau ada barisan penjaga datang. Bawa lari semua kuda dan barang rampasan!” kata pemuda itu. Kemudian ia berlari cepat mengejar Kwee Seng dan isterinya.
Bukan-main hebatnya kepandaian pemuda ini. Biarpun ia hanya mempunyai dua buah kaki, namun dibandingkan dengan kuda yang memiliki empat buah kaki, agaknya ia tidak akan kalah! Ia berlari sambil mempergunakan ilmu lari cepat cho-sang-hui (terbang di atas rumput). Larinya demikian cepat dan ringan sehingga seakan-akan kedua kakinya tidak menyentuh bumi. Tidak terdengar derap kakinya, tanda bahwa ginkangnya memang sudah tinggi.
Namun, kuda adalah binatang yang tidak saja terkenal pandai berlari cepat, juga amat terkenal akan kekuatan serta panjang napasnya. Apalagi ketika Kwee Seng dan
11
isteri¬nya membedalkan kuda mereka, payahlah bagi pemuda itu untuk menyusul. Akan tetapi, ada hal yang menguntungkan si pengejar dan merugikan Kwee Seng berdua, yakni bulan yang tetap bersembunyi di balik awan.
Kwee Seng dan isterinya tidak mengenal jalan, maka sambil melarikan kuda, mereka mencari jalan yang tentu saja menghambat perjalanan itu. Sebaliknya, derap kaki kuda mereka terdengar baik oleh telinga pemuda itu yang amat tajam pendengarannya.
Kurang lebih dua jam kemudian, setelah pemuda itu mulai merasa lelah, tiba-tiba ia menjadi amat girang melihat betapa dari suara derap kaki kuda, dua ekor binatang itu dilarikan lambat, atau tidak secepat tadi. Bulanpun mulai bersinar dan kini suara hiruk-pikuk dari dusun yang dibakar itu tidak ter¬dengar lagi.
Memang Kwee Seng dan isterinya memperlambat larinya kuda mereka, karena tentu saja mereka tidak mengira bah¬wa ada musuh yang mengejar mereka dan kini sudah dekat. Sebaliknya, pemuda itu juga sudah terlampau lelah untuk mengejar terus dan kini iapun memperlambat larinya sambil mengatur pernapasan. Bulan bersinar dan ia dapat melihat bahwa yang ia kejar adalah seorang laki-laki muda dan seorang wanita muda. Ia mengeluarkan dua butir senjata rahasia berbentuk bulat dari sakunya. Inilah thi-lian-ci (biji tera¬tai besi) yang menjadi kepandaiannya yang amat disegani orang.
12
„Suamiku, bagaimana dengan In Hong……?” Kwee hujin bertanya dan kembali airmatanya mengucur deras ketika ia teringat akan puterinya.
„Tentu selamat bersama Can Ma, mari kita sekarang pergi ke kota See-ciu, ke rumah paman Yo,” jawab suaminya.
„Apakah kita tidak menunggu Can Ma disini?” tanya isterinya ragu-ragu.
„Tak usah, laginya belum tentu Can Ma mengambil jalan ke jurusan ini. Tidak baik kalau kita menunggu disini, siapa tahu para pemberontak itu akan datang di tempat ini pula. Lebih baik kita berangkat sekarang juga, nanti dari kota See-ciu kita mengirim orang untuk menyelidiki dimana la¬rinya Can Ma agar In Hong dapat diantar ke See-ciu.”
Mendengar ini, Kwee-hujin menjadi lega. „Baiklah, mari kita……” Baru saja ia bicara sampai disini, tiba-tiba kuda¬nya berdiri, meringkik kesakitan.
Gerakannya demikian mendadak dan kuat sehingga tak da¬pat dicegah lagi, Kwee-hujin terlempar ke belakang, jatuh dari atas punggung kuda!
Kwee Seng kaget sekali, akan tetapi pada saat itu, peluru kedua yang dilepas oleh pemuda pengejar mereka menyam¬bar kepalanya.
13
„Tak!” Kwee Seng tak dapat mengeluarkan suara lagi dan ia terjungkal roboh dari atas kuda dengan kepala pecah!
Kwee-hujin yang terjengkang dari atas kuda, jatuh de¬ngan kepala tertumbuk batu sehingga ia pingsan. Sesosok ba¬yangan dengan beberapa kali lompatan telah berdiri disitu, dan bayangan ini yang bukan lain adalah pemuda yang menye¬rang mereka, berdiri bertolak pinggang dengan senyum puas.
Ia tadi memang sengaja menyerang kuda Kwee-hujin, karena ketika ia mengayun tangan yang pertama, tiba-tiba ia menjadi lemas dan tidak tega membunuh seorang wanita yang kelihat¬annya demikian tak berdaya dan tak berdosa. Oleh karena ini ia lalu mengarahkan sambitannya kepada kuda yang ditunggang oleh nyonya Kwee. Namun, peluru kedua diayun tanpa ragu-ragu lagi ke arah kepala Kwee Seng sehingga merampas nyawa hartawan muda itu.
Pemuda itu setelah memandang ke arah mayat Kwee Seng sambil tersenyum puas, kini mengalihkan pandangan matanya kepada tubuh Kwee-hujin yang telentang di atas tanah dalam keadaan pingsan. Senyumnya tiba-tiba lenyap, keningnya berkerut dan bibirnya bergerak aneh. Berbeda dengan tadi, kini ia termangu. Ia terpesona oleh kecantikan luarbiasa dari nyonya muda itu.
Kebetulan sinar bulan menerangi wajah nyonya Kwee dan lemaslah hati pemuda itu. Selama hidupnya, banyak ia melihat wanita cantik, akan tetapi belum pernah ia
14
me¬nyaksikan kecantikan yang demikian melemaskan dan memikat kalbunya. Bibir berbentuk indah yang kini ditarik seperti orang berada dalam keadaan duka dan takut, benar-benar menggerakkan hatinya dan menimbulkan belas kasihannya.
Ia berlutut didekat tubuh nyonya Kwee. Dijamahnya kening nyonya itu yang terluka sedikit dan berdarah. Dikeluarkan sehelai saputangan dan dengan penuh kasih sayang dan ibahati, dibalutnya kepala itu. Ketika jari-jari tangannya menyentuh kulit jidat yang halus, rambut yang lemas dan halus serta menge¬luarkan keharuman yang memabokkan, hatinya berdebar.
Tiba-tiba ia bangkit berdiri dan tangan kanannya menampar pipinya sendiri!
„Ong Tiang Houw, kau harus malu kepada diri sendiri. Kau harus membunuhnya, bukan tergila-gila kepadanya!” katanya kepada diri sendiri. Sambil merapatkan giginya ia mencabut pedang yang tergantung di pinggang, mengangkat pedang itu, diayun ke arah leher Kwee-hujin.
Akan tetapi, pedang itu berhenti di tengah udara dan seperti tadi, sepasang mata Ong Tiang Houw menatap wajah nyonya itu seperti orang kena hikmat. Tangan yang memegang pedang perlahan-lahan turun dan pedang itu kembali masuk ke dalam sarungnya. Ong Tiang Houw menarik napas panjang, menggeleng-geleng kepalanya.
„Kau memang orang bodoh, lemah!” ia memaki diri sen¬diri, kemudian ia membungkuk dan mengangkat
15
tubuh Kwee-¬hujin. Tiba-tiba terdengar suara banyak kaki orang berlari-larian menuju ke tempat itu. Tiang Houw melepaskan lagi tubuh Kwee-hujin di atas tanah dan ia cepat melompat, bersem¬bunyi di balik pohon.
Yang datang adalah serombongan anak-buahnya yang tadi menyerbu dusun Tiang-on. Pemuda ini keluar dan menghadang mereka.
„Apa yang terjadi?” tanyanya.
Anak buah itu girang melihat pemimpinnya dan mereka melihat tubuh Kwee Seng dan istrinya yang menggeletak di atas tanah, maka tak seorangpun diantara mereka mengira bahwa pemimpin mereka telah melakukan sesuatu yang ganjil, yakni tidak tega membunuh nyonya muda itu.
„Pasukan berkuda kerajaan datang dan kami terpaksa me¬larikan diri,” seorang diantara mereka melapor.
„Lekas lari, berpencar dan jangan melawan mereka. Ke¬lak aku akan memberi tanda dimana kita harus berkumpul lagi!” kata Tiang Houw. Mereka bubar dan melarikan diri mencari keselamatan masing-masing.
Setelah keadaan disitu menjadi sunyi kembali, Tiang Houw kembali mengangkat tubuh Kwee-hujin yang masih pingsan.
Akan tetapi begitu diangkat, terdengar nyonya muda ini me¬ngeluh.
16
„In Hong……” demikian keluhan pertama yang keluar dari mulut nyonya itu. Ketika ia telah sadar betul dan melihat bahwa ia berada dalam pondongan seorang laki-laki muda, nyonya Kwee memberontak marah:
„Siapa kau……? Kurangajar, lepaskan aku!”
Tiang Houw melepaskannya dan kini nyonya muda itu berdiri tegak, marah sekali.
„Kau siapa? Mana…… mana suamiku……?”
Akan tetapi, sebelum laki-laki muda itu menjawab, Kwee-¬hujin telah melihat suaminya, menggeletak di atas tanah de¬ngan kepala berlumur darah, tak bergerak lagi.
Ia menjerit dan hendak menubruk suaminya, akan tetapi laki-laki muda itu cepat menyambar tubuhnya, dan memegang kedua tangannya.
„Dia sudah mati, tiada gunanya ditangisi,” katanya meng¬hibur, akan tetapi terdengar amat canggung. „Kita harus cepat pergi dari sini, ada pasukan kuda datang mengejar!”
Akan tetapi Kwee-hujin meronta-ronta. „Tidak, tidak……! Biarkan aku tinggal disini dengan suamiku…… ahh…… suamiku…… In Hong……” Ia menangis sedih dan betapapun ia meronta, ia tak dapat melepaskan diri dari pe¬lukan pemuda yang amat kuat kedua lengannya itu. Sementara itu, dari jauh terdengar derap kaki kuda yang makin lama makin mendekat.
17
Tiang Houw tidak mau membuang banyak waktu lagi. Ia melihat kuda yang tadi ditunggangi oleh Kwee Seng masih berada disitu, maka cepat dipondongnya tubuh nyonya Kwee dan sekali lompat saja ia telah berada di punggung kuda! Kuda itu segera melompat maju dan sebentar kemudian larilah ia kuat-kuat, dikemudikan oleh tangan kanan Tiang Houw yang pandai.
Adapun Kwee-hujin yang dipondong di¬ lengan kiri, meronta-ronta dan menjerit-jerit: „In Hong……! Kwee Seng……!!”
Akan tetapi segala usahanya untuk melepaskan diri sia-sia belaka dan angin malam menyambar pada mukanya, membuat ia sukar bernapas dan tak lama kemudian nyonya muda ini menjadi lemas dan pingsan lagi dalam pondongan Tiang Houw.
◄Y►
Siapakah adanya Ong Tiang Houw yang memimpin penyer¬buan ke dalam dusun itu? Dia sebetulnya adalah anak seorang petani miskin. Semenjak kecil, Tiang Houw memang suka sekali belajar ilmu silat dan akhirnya ia beruntung sekali menjadi murid Bu Sek Tianglo, tokoh besar di selatan, bahkan ia menjadi ahliwaris tunggal dari Bu Sek Tianglo. Guru besar ini yang melihat dasar baik pada diri Tiang Houw, sebelum meninggal dunia karena usia tua, ia menurunkan seluruh ke¬pandaiannya sehingga Tiang Houw menjadi seorang yang berkepandaian amat tinggi.
18
Ia pulang kekampungnya dalam usia duapuluh tahun dan oleh orang tuanya ia dijodohkan dengan seorang gadis petani yang sederhana. Tiang Houw memang terkenal berbakti ke¬pada orangtuanya, maka ia tidak berani menolak. Demikian¬lah ia menikah dengan seorang gadis, dan biarpun ia tidak menyinta gadis ini, namun ia hidup rukun dan tinggal di rumah sampai setahun lebih. Isterinya memperoleh seorang putera dan setelah hampir dua tahun tinggal di rumah, Tiang Houw tak dapat menahan lagi keinginan hatinya untuk meran¬tau. Ia tinggalkan rumah tangganya dan terjun di dalam du¬nia kangouw.
Sebentar saja ia telah mengangkat tinggi na¬manya dan di dunia kangouw tidak ada yang belum mengenal nama Ong Tiang Houw. Tidak saja ilmu silatnya yang tinggi, terutama sekali sepak terjangnya yang sesuai dengan sikap seorang pendekar itulah yang membuat nama Ong Tiang Houw menjadi terkenal. Di mana-mana ia menyebar perbuatan baik, menolong kaum tertindas dan menghajar orang-orang yang jahat.
Selama enam tahun Tiang Houw merantau di dunia kangouw dan barulah ia teringat kepada keluarganya. Yang terutama sekali menarik hatinya untuk pulang adalah kenangan kepada puteranya, yakni Ong Teng San yang baru berusia satu tahun ketika ia pergi merantau.
Akan tetapi setelah tiba di dusunnya, apakah yang ia dapatkan? Isterinya telah meninggal dunia, membunuh diri dan kedua orang tuanya juga meninggal dunia karena berduka.
19
Beberapa tahun setelah Tiang Houw pergi, di dusunnya terserang bencana alam. Musim kering jauh lebih lama daripada biasanya dan sebagian besar kaum tani miskin yang hidupnya mengan¬dalkan tenaga memburuh, kehabisan makanan dan banyak yang mati kelaparan.
Ayah bunda Tiang Houw yang juga merupakan keluarga miskin, terpaksa minta tolong kepada seorang hartawan she Sim. Hartawan ini mengulurkan tangan dengan memberi pin¬jaman kepada mereka. Hutang mereka bertumpuk-tumpuk tanpa dapat terbayar dan akhirnya hartawan she Sim ini menagih dengan paksa. Kakek Ong dan isterinya serta mantunya ditangkap, dimasukkan tahanan.
1.2. Iblis Wanita Hitam
Kemudian, hartawan she Sim itu mengajukan usul untuk membayar hutang itu dengan diri mantu perempuan kakek Ong yang memang manis. Tentu saja kakek itu menolak keras, akan tetapi dengan mengandalkan pengaruh harta bendanya, hartawan she Sim berhasil membawa isteri Ong Tiang How dengan paksa keluar dari tahanan.
Orang tidak mendengar bagaimana nasib nyonya muda ini, hanya tahu-tahu orang-orang terkejut mendengar berita bahwa nyonya muda ini membunuh diri dengan jalan membenturkan kepalanya sampai pecah pada dinding! Mendengar ini, kakek Ong dari isterinya menjadi begitu berduka sampai mereka jatuh sakit dan meninggal di dalam tahanan.
20
Bagaimana dengan Ong Teng San? Anak ini ketika kakek dan nenek serta ibunya ditahan, melarikan diri dan berlindung ke rumah seorang petani miskin yang menjadi kenalan baik dari keluarga Ong.
Dua tahun kemudian setelah peristiwa menyedihkan itu terjadi, datanglah Ong Tiang Houw di dusunnya! Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Tiang Houw mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarganya. Ia mencari puteranya dan pertemuan ini amat mengharukan. Teng San tentu saja tidak mengenal ayahnya, akan tetapi ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan ayahnya ketika ia diperkenalkan.
„Jahanam she Sim! Jahanam dan jahat belaka hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan yang mencekik leher orang-orang miskin. Aku bersumpah akan membasmi mereka semua!” Berkali-kali Tiang Houw berkata.
Pada malam hari itu, hartawan Sim terdapat mati dengan leher terbabat pedang. Gedungnya dibakar habis. Perbuatan ini tentu saja dilakukan oleh Tiang Houw.
Orang-orang disitu, yakni para petani miskin, merasa bersyukur. Bangkit semangat mereka karena perbuatan Tiang Houw dan mereka lalu berkumpul, menyatakan hendak membantu gerakan Tiang Houw untuk membersihkan para iblis yang masuk ke dalam diri hartawan-hartawan pelit dan bangsawan-bangsawan korup.
21
Tiang Houw gembira sekali melihat ini. Memang pada masa itu, dilain-lain daerah sudah banyak terbentuk pasukan-pasukan rakyat yang hendak memberontak terhadap tuan-tuan tanah dan bangsawan-bangsawan. Tiang Houw lalu membentuk barisan yang menamakan dirinya Kay-sin-tin (Barisan sakti dari para jembel).
Mulai saat itu, Tiang Houw memimpin orang-orangnya untuk melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap rumah orang-orang besar. Nama Kay-sin-tin terkenal sekali dan dusun demi dusun diserbu, orang-orang kaya dan bangsawan dibunuh, rumah mereka dibakar habis!
Demikianlah, bukan untuk pertama kalinya Tiang Houw memimpin kawan-kawannya menyerbu dusun Tiang-on. Akan tetapi, benar-benar baru untuk pertama kalinya hatinya lemas ketika ia menghadapi Kwee-hujin!
◄Y►
Sebulan lewat kemudian, di luar kota See-ciu masih sepi karena hari masih pagi. Waktu itu musim dingin sudah mulai sehingga para penduduk yang masih meringkuk di atas pembaringan, malas meninggalkan pembaringannya, bahkan menarik selimut makin ke atas agar terlindung seluruh tubuh dari hawa dingin.
Beberapa orang yang karena tugas pekerjaannya terpaksa keluar meninggalkan rumah, rata-rata memakai pakaian tebal, karena hawa yang amat dingin memang luar biasa sekali. Di dalam baju tebalpun orang masih menggigil dan kulit muka terasa kaku.
22
Akan tetapi, pada saat sedingin itu, di luar kota See-ciu bagian selatan, dua orang manusia berjalan berpegangan tangan sambil menggigil kedinginan. Yang seorang sudah amat tua, dan hawa dingin membuatnya makin bongkok dan berkeriputan. Mukanya pucat sekali sehingga kelihatan kehijau-hijauan. Lagaknya seperti hendak membimbing orang kedua, akan tetapi jelas kelihatan bahwa dialah yang minta bantuan tenaga dari tangan kecil yang dipeganginya.
Orang kedua adalah seorang anak perempuan berusia lima tahun, pakaiannya kotor, mukanya kurus dan pucat tanda kurang makan. Pada wajah yang kotor berdebu itu terdapat bekas-bekas airmata, tangan kirinya sebentar-sebentar menekan perut dan tangan kanannya menggandeng tangan nenek itu. Anak ini menggigit bibirnya dan biarpun ada tanda-tanda kedukaan dan kebingungan luar biasa pada sepasang matanya, namun ia berjalan dengan langkah dikuat-kuatkan, bahkan ialah yang menarik tangan nenek itu.
„Marilah, Can Mama, lekas masuk kota. Ayah dan ibu tentu sudah menanti di dalam kota!” kata anak itu berkali-kali.
Nenek itu tak dapat mengeluarkan suara lagi untuk men¬jawab. Bibirnya gemetar dan biarpun ia menggerakkan bibir itu namun tidak ada suara yang keluar. Ia hanya mengangguk-angguk dan berjalan tersaruk-saruk seakan-akan ia memaksa sedikit tenaga yang masih ada untuk menggerakkan kedua kakinya.
23
Tiba-tiba ia batuk-batuk. Celakalah kalau orang terkena penyakit batuk dalam waktu hawa sedingin itu, apalagi kalau perut sedang kosong. Nenek itu terpaksa menghentikan gerakan kakinya, memegangi perut dengan kedua tangan, terus batuk-batuk dengan hebatnya. Ia merasa dadanya sesak dan sakit, perutnya yang kosong dan perih terguncang-guncang. Ia membungkuk dan melipat tubuh bagai¬kan pisau lipat hendak ditutup.
„Ugh…… ugh-ugh-ughhh……” batuknya berkali-kali.
Anak perempuan itu yang bukan lain adalah Kwee In Hong, segera mengurut-urut punggung nenek itu yang kini sudah bongkok dan membungkuk-bungkuk, menggeliat-geliat kesakitan. Sudah beberapa hari Can Ma menderita batuk ini dan In Hong kini sudah tahu bahwa ia harus mengurut-urut punggung nenek itu apabila batuknya kambuh.
Pada saat itu, dari udara turun hujan kecil. Air bertitik-titik kecil, membawa hawa yang makin menggigilkan tubuh, hawa dingin meresap ke dalam tulang sumsum, dan hal ini memperhebat rasa gatal ditenggorokan dan sesak pada isi dadanya.
„Ugh-ugh-ugh……” suara batuknya makin gencar akan tetapi makin lemah.
„Can Mama, mari kita berteduh……” In Hong berkata bingung. Ia melihat ke kanan kiri dan kebetulan sekali tak jauh dari jalan itu terdapat sebuah kelenteng tua yang tidak terawat sama sekali. Rumput alang-alang memenuhi
24
halaman kelenteng dan sebagian gentengnya sudah terbuka, bangunan bagian kiri sudah hampir ambruk. In Hong segera menarik tangan Can Ma yang terpaksa berdiri sambil terbongkok-bongkok.
„Can Mama, itu disana ada rumah kosong, mari kita berteduh, hawa begini dinginnya.”
In Hong berkata keras-keras diantara suara batuk-batuk nenek itu. Dia sendiri merasa dingin bukan main, akan tetapi melihat keadaan nenek itu, ia seperti tidak merasakan penderitaannya sendiri dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya ia menarik tubuh nenek itu ke arah kelenteng. Dengan susah payah akhirnya In Hong berhasil membawa Can Ma memasuki kelenteng tua.
Baiknya masih ada sebagian genteng yang utuh sehingga mereka dapat terlindung dari serangan air hujan, sungguh¬pun hawa dingin tidak memperdulikan halangan ini dan dengan mudah dapat meresap masuk sampai ke pojok-pojok ruangan kelenteng tua.
Can Ma menjatuhkan diri di atas lantai yang penuh debu. Ia masih batuk-batuk terus dan tubuhnya setengahnya berbaring di atas lantai itu. Mukanya yang tadi kehijauan sekarang sudah berobah menjadi kehitaman.
„Siocia…… aku…… aku tidak kuat lagi……”
25
In Hong menubruknya dan merangkul leher nenek itu. Tak terasa lagi kedua matanya yang tadinya sudah hampir kekeringan air mata itu, menjadi basah lagi.
„Tidak, Can Mama, jangan berkata begitu. Kita akan masuk ke kota dan bertemu dengan ayah ibu. Kau akan mendapat obat, akan sembuh……”
„Ugh…… ugh-ugh-ugh…… siocia…… kalau aku…… mati disini…… kau masuklah ke kota, carilah paman dari ayahmu……” „Kau takkan mati, Can Mama…… jangan mati…… jangan mati……!” Kini In Hong menangis tersedu-sedu dan air matanya bercucuran, menyaingi air hujan yang mulai mengucur dari genteng kelenteng itu.
„Nona…… aku tidak kuat lagi…… dadaku…… dadaku…… aaaachhh…… sesak dan sakit sekali…… ugh ugh-ugh……!”
Tubuh Can Ma menggeletar dan kini ia merebahkan diri, menggeliat-geliat ke kanan kiri seperti cacing terkena abu panas.
In Hong menjadi bingung sekali. Ia mengangkat kepala Can Ma, didekap dan dipeluknya kepala itu di atas pangkuannya sambil bersambat: „Can Mama…… jangan…… jangan tinggalkan aku……!” Kemudian sunyi, hanya napas berat Can Ma yang terdengar diselingi oleh suara batuknya dan suara isak tangis In Hong.
26
Tiba-tiba terdengar suara batuk lain, suara batuk yang tinggi dan nyaring, seperti suara batuk buatan:
„Iihh-ihh-ihh……!”
Tadinya In Hong tidak memperhatikan suara ini karena di¬sangkanya suara batuk dari Can Ma, akan tetapi suara batuk yang tinggi ini disambung oleh suara yang kecil nyaring.
„Thian Maha Adil! Manusia tahu apakah tentang keadilan Thian? Orang baik-baik menderita, yang jahat makmur dan senang! Orang bertanya-tanya mana keadilan Thian? Padahal Thian memang Maha Adil, hanya cara Thian bekerja penuh rahasia, mana manusia tahu? Ih-ih-ih……!”
In Hong menengok ke kiri. Ruangan itu memang gelap dan baru sekarang ia melihat sesuatu bergerak di sudut yang paling gelap dari ruangan itu. Sesuatu yang hitam dan setelah ia memperhatikan, baru terlihat olehnya bahwa yang bergerak dan batuk serta bicara itu adalah seorang nenek pula. Seorang nenek yang duduk melingkar seperti seekor binatang trenggiling.
Muka nenek itu tidak kelihatan, tertutup oleh rambutnya yang panjang dan hitam sekali, yang kacau dan riap-riapan ke muka dan belakang, pendeknya disekeliling kepalanya yang kecil. Pakaiannya compang camping, tidak tentu lagi warnanya karena kotor sehingga kelihatan menghitam. Kedua kakinya tidak bersepatu. Sebatang tongkat panjang, juga warnanya hitam, menggeletak di dekatnya.
27
In Hong mengeluh di dalam hatinya. Terlalu banyak ia melihat kemelaratan. Sejak ia melarikan diri dengan Can Ma, tidak saja ia sendiri mengalami apa artinya kelaparan dan kedinginan, juga di jalan-jalan ia melihat orang-orang yang mati kelaparan, mati kedinginan, dan kesengsaraan yang mendirikan bulu tengkuknya.
Biasanya ia hidup mewah dan senang di rumah orang tuanya yang kaya raya, dan tak pernah ia mengira bahwa di luar rumah gedungnya banyak terjadi hal-hal demikian. Mimpipun tak pernah ia bahwa ada orang yang sampai mati kelaparan, padahal biasanya ia merasa bosan dengan segala macam makanan enak yang disuguhkan kepadanya oleh para pelayannya.
Kini, berada di puncak penderitaan, dua hari ia tidak makan, dan Can Ma berada dalam keadaan yang amat membingungkan, juga membikin ia ketakutan sekali karena Can Ma bicara tentang kematian, ia tidak bertemu dengan orang yang dapat menolongnya, bahkan bertemu dengan seorang jembel lain yang keadaannya tidak lebih baik daripada keadaan Can Ma!
Ia sudah cukup besar untuk dapat mendengar dari para pelayan betapa ayah bundanya seringkali menolong orang-orang dengan menderma uang, pakaian dan makanan. Sekarang barulah ia tahu bahwa perbuatan kedua orang tuanya itu memang tepat.
„Kelak aku akan minta kepada ayah dan ibu untuk lebih banyak menolong orang-orang ini. Aku akan minta kepada ayah dan ibu agar menolong semua jembel
28
sehingga di dunia ini tidak ada orang mati kelaparan dan menderita kedinginan,” demikian bisik suara hati anak yang luar biasa ini.
Memang luar biasa kalau seorang anak berusia lima tahun bisa mempunyai pikiran seperti ini. Padahal orang-orang dewasa, bahkan orang-orang yang sudah mengira cukup berpengetahuan dan cukup pengalaman, kadangkala melupakan suara hati macam ini, melupakan atau sengaja tidak mau mendengar suara hati nurani yang menggugah manusia mengulurkan tangan menolong mereka yang sengsara.
Akan tetapi, kembali ia mendengar Can Ma batuk-batuk dan napas nenek ini makin sesak terengah-engah. Timbul kembali rasa takut dan gelisahnya.
„Can Ma, berkatalah sesuatu…… Can Ma, kuatkanlah, nanti kalau sudah berhenti hujan, kita melanjutkan perjalanan!” ia berkata dengan suara memohon.
Can Ma membuka matanya dan aneh, mata itu kini basah sehingga tak lama lagi dua titik airmata jatuh di atas pipinya yang berkeriputan dan menghitam warnanya. Tiba-tiba ia berkata, dan aneh lagi, suaranya kini lancar tidak berat seperti tadi, seakan-akan ada sesuatu yang tadinya mengganjal hatinya telah lenyap.
„In Hong, anakku yang manis, cucuku yang mungil, jangan kau bersedih. Kau lanjutkanlah sendiri perjalanan ini, cari ayah bundamu, jangan perdulikan Can Mama. Can Mama sudah tua, sudah cukup makan garam, sudah
29
cukup merasa senang dan susah, sudah sepantasnya Can Mama mati……”
„Can Mama……!! Jangan mati……!!” In Hong menjerit dan kini ia menangis keras, meraung-raung sambil memeluki tubuh nenek itu.
Pada saat itu, nenek hitam yang tadi meringkuk di sudut, bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya jangkung sekali, nampak lebih jangkung karena ia memang kurus kering.
Akan tetapi luar biasa sekali. Jarak antara ia dan In Hong ada tiga tombak lebih. Agaknya ia tidak menggerakkan tubuh atau kakinya, akan tetapi tahu-tahu ia telah berada di dekat In Hong dan Can Ma.
„Lahir tak dapat diminta, mati tak dapat ditolak, mengapa bicara yang bukan-bukan tentang mati? Tidak takut mati bukan hal yang patut disombongkan, hanya berani hiduplah yang boleh dibanggakan!” Setelah berkata demikian, dua kali tangan yang memegang tongkat panjang bergerak ke arah Can Ma dan In Hong.
In Hong merasa bawah tulang punggungnya di belakang pusar, tersentuh oleh benda keras dan aneh sekali, tiba-tiba di dalam tubuhnya seperti ada api membakar. Hawa panas merayap dari tempat yang ditotok oleh ujung tongkat itu dan sebentar saja hawa dingin yang membuat ia menggigil lenyap terusir pergi oleh hawa hangat ini. Akan tetapi rasa lapar pada perutnya makin menghebat!
30
Adapun Can Ma yang juga terkena totokan ujung tong¬kat, segera bangkit duduk seperti mendapat tenaga baru. Ia memandang kepada nenek hitam tinggi kurus itu dengan mata terbelalak lebar, kemudian menjatuhkan diri berlutut:
„Pouwsat (dewi) yang mulia, mohon beribu ampun kalau hamba berdua mengganggu tempat yang suci dari pouwsat!” kata Can Ma sambil mengangguk-anggukkan kepala seperti orang bersembahyang di depan patung Kwan Im Pouwsat.
Nenek hitam itu tertawa bergelak dan suara ketawanya membikin In Hong membuka mata lebar-lebar dengan hati ngeri. Suara ketawa ini seperti bukan suara manusia.
Can Ma mendengar suara ketawa ini makin takut lagi dan ia berlutut sampai jidatnya membentur lantai yang berdebu.
„Can Ma, kau tua bangka sungguh bodoh dan tolol, mengira aku seorang pouwsat. Akupun seorang nenek tua bangka seperti kau pula yang menderita penyakit batuk, bahkan penyakitku seratus kali lebih berat daripada penyakitmu. Siapakah bocah yang kau sebut siocia ini?” Pertanyaan dalam kalimat terakhir ini terdengar berpengaruh, membuat siapa saja yang mendengar merasa takut untuk tidak mengaku.
„Mohon ampun, hamba adalah pelayan keluarga Kwee di Tiang-on. Semua hartawan dan bangsawan di Tiang-on dibunuh, rumah mereka dibakar. Majikan hamba, ayah
31
bunda anak ini, melarikan diri dan hamba membawa siocia ini lari pula untuk menyusul mereka di kota See-ciu. Ampunkanlah hamba kalau hamba mengganggu, lihiap.”
Karena nenek hitam itu tidak mau disebut pouwsat, Can Ma yang sudah banyak mendengar tentang orang-orang kangouw, dapat menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita sakti, maka ia mengubah sebutannya kepada wanita itu dengan sebutan lihiap (pendekar wanita).
„Hm, dia ini anak bangsawan?”
„Bukan, lihiap. Ayahnya adalah seorang hartawan yang berhati mulia dan budiman.”
„Hah! Mana ada hartawan berhati mulia dan budiman? Barangkali betul terhadap kau, karena kau pelayannya. Hm, manusia sekarang banyak yang buta dan sesat! Siapa percaya ayah bunda anak inipun tidak ikut gila?”
Setelah berkata demikian, ia menggerakkan tangan, menjambak rambut In Hong dan mengangkat bocah itu ke atas sehingga ia dapat melihat dengan jelas muka In Hong. Biarpun rambutnya dijambak dan ia dipegang seperti orang memegang kelinci, In Hong tidak menjerit. Anehnya, ia tidak merasa sakit biarpun rambutnya dijambak dan ia digantung seperti itu. Mukanya yang mungil dan lucu itu kini nampak kotor penuh debu dan airmata, akan tetapi sepasang mata yang amat tajam dari nenek hitam itu dapat melihat dengan jelas, menembusi debu dan kotoran.
32
„Sayang, tunas yang baik tak boleh tumbuh dipohon yang buruk. Can Ma, kau carilah sendiri ayah bunda anak ini, bilang bahwa anak ini dibawa pergi oleh Hek Moli!”
Tentu saja Can Ma hendak membantah, akan tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, di depan matanya berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu nenek hitam itu bersama In Hong telah lenyap dari situ tidak meninggalkan bekas lagi! Can Ma bagun berdiri, memburu keluar, mencari ke dalam sambil menjerit-jerit, namun sia-sia saja, tidak ada bayangan dari In Hong.
Can Ma menjatuhkan diri dan menangis tersedu-sedu. Ia merasa bingung dan ngeri. Bagaimana ia harus bertanggung jawab di depan majikannya? Ia merasa ngeri kalau mengingat gerak-gerik dan sepak terjang nenek hitam yang mengaku bernama Hek Moli (Iblis Wanita Hitam) itu.
Can Ma dalam kebingungan dan kesedihannya sampai lupa bahwa tiba-tiba saja ia telah sembuh, bahwa ia kini dapat bang¬kit berdiri, dan bahkan dapat berlari-larian menuju ke kota See-ciu! Dengan tergesa-gesa ia mencari rumah hartawan Yo, paman dari Kwee Seng yang tinggal di See-ciu. Sambil menangis ia menghadap Yo-wangwe dan menuturkan semua pengalamannya.
Yo-wangwe mengerutkan kening dan alisnya yang sudah putih itu bergerak-gerak. Ia sudah mendengar akan adanya pasu¬kan Kay-sin-tin yang menyerbu dusun-dusun dan kota-kota di selatan. Dan ia merasa amat berduka mendengar betapa keponakannya ikut menjadi
33
korban pula. Akan tetapi hatinya terhibur mendengar bahwa keponakannya itu dan isterinya telah dapat melarikan diri.
„Can Ma, kau tinggallah disini sambil menanti datangnya Kwee Seng dan isterinya. Heran sekali mengapa mereka masih belum tiba, sedangkan kau sudah datang lebih dulu. Tentang In Hong, biarlah kita menanti datangnya Kwee Seng, karena tak mungkin kita dapat mencarinya. Aku sudah mendengar akan nama seorang tokoh kangouw wanita yang disebut Hek Moli itu, seorang yang seperti iblis saja, yang tak pernah terlihat oleh orang lain, hanya namanya saja yang dikenal oleh semua orang. Bahkan ada yang bilang bahwa Hek Moli sebetulnya tidak ada, atau kalau ada juga bukan manusia, melainkan dewa atau iblis.”
„Memang dia seperti bukan manusia, Yo-wangwe.” Can Ma menceritakan semua keadaan Hek Moli yang amat luar biasa itu dan bahwa ia sama sekali tidak melihat mukanya yang tertutup oleh rambut yang riap-riapan.
Demikianlah, Can Ma tinggal di rumah Yo-wangwe, bekerja sebagai pelayan sambil menanti datangnya Kwee Seng dan isterinya. Akan tetapi, tentu saja mereka semua tidak tahu bahwa Kwee Seng sudah binasa di tengah hutan, terkena thi-lian-ci yang dilepas oleh Ong Tiang Houw, dan bahwa Kwee-hujin telah dibawa lari oleh orang muda itu. Namun mereka tetap menanti, menanti penuh harapan.
◄Y►
34
Waktu memang amat ganjil dan penuh rahasia. Gerakannya tidak kentara, kadang-kadang terasa lambat merayap, lebih lambat daripada merayapnya seekor siput, akan tetapi kadang-kadang terasa cepat, lebih cepat daripada menyambarnya kilat. Ada yang bilang bahwasanya waktu itu jalannya amat lambat, akan tetapi coba saja kita renungkan, satu tahun, bahkan beberapa tahun lewat tanpa kita rasai dan seakan-akan sesuatu yang terjadi pada beberapa tahun yang lalu itu seperti kejadian kemarin saja. Alangkah cepatnya waktu berjalan, demikian kita akan berpikir kalau teringat akan hal ini.
Sebaliknya, ada pula yang bilang bahwasanya waktu itu amat cepat jalannya. Akan tetapi coba saja kita bayangkan bilamana kita menanti datangnya kereta api di setasiun, terlambat seperempat jam saja datangnya kereta api, terasa seperti seperempat abad! Alangkah lambatnya waktu merayap, sedemikian kita akan berpikir pada saat seperti itu.
Memang aneh, dan demikianlah, di dalam cerita ini, tahu-tahu tanpa dapat dirasakan, empatbelas tahun telah lewat semenjak peristiwa yang telah dituturkan di atas!
Di puncak Ciung-lai-san, sebuah gunung di propinsi Secuan, tempat yang tersembunyi dan tak pernah didatangi oleh manusia karena tempat ini masih liar dan jalan menuju ke puncak amat sukarnya, tinggallah Hek Moli. Belasan tahun yang lalu, nama Hek Moli pernah menggetarkan dunia kangouw karena sepak terjangnya yang lihay dan hebat. Apalagi orang-orang biasa, bahkan para tokoh kangouw sendiri tidak tahu darimana
35
datangnya wanita sakti yang merupakan seorang nenek berwajah dan bertubuh mengerikan dipandang ini.
Akan tetapi, sekali nenek ini keluar di dunia kangouw, ia telah melakukan banyak hal yang menggemparkan. Lima perampok terkenal di daerah Santung yang ditakuti orang dan disegani oleh para tokoh kangouw, berjuluk Santung Ngo-kui (Lima setan dari Santung) bersama anak buahnya yang puluhan orang banyaknya telah dibasmi habis oleh Hek Moli.
Ini masih belum hebat, bahkan Hek Moli telah mendatangi Go-bi-pay dan Kun-lun-pay, menantang pibu kepada para tokoh kedua partai persilatan besar ini dan mengalahkan tokoh-tokoh itu. Yang amat menggemparkan adalah ketika seorang diri Hek Moli menyerbu istana kaisar dan mengambil dua buah barang pusaka kerajaan, yakni sebatang pedang mustika yang bernama Liong-gan-kiam dan sebuah perhiasan rambut dari kemala yang berbentuk burung Hong dan amat indahnya.
Akan tetapi, seperti munculnya, tiba-tiba saja empatbelas tahun yang lalu Hek Moli lenyap dari dunia kangouw, tanpa meninggalkan bekas seolah-olah ia ditelan oleh bumi. Ada beberapa orang tokoh kangouw yang menyatakan bahwa mereka melihat Hek Moli terserang penyakit batuk dan keadaannya amat payah, maka kehilangannya membuat semua orang me¬ngira bahwa tokoh ini sudah meninggal dunia.
Sebetulnya bukan demikianlah keadaannya. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Hek Moli
36
secara kebetulan, ketika sedang menderita di dalam kelenteng, terserang penyakit batuknya, ia telah bertemu dengan Kwee In Hong dan membawa pergi anak perempuan yang berusia lima tahun itu. Ia merasa suka sekali kepada anak ini, maka dibawanyalah In Hong ke puncak Ciung-lai-san di propinsi Secuan dimana ia menyembunyikan diri dan menurunkan seluruh kepandaiannya kepada murid tunggalnya.
Selama empatbelas tahun itu, In Hong menerima latihan ilmu silat yang amat tinggi dan aneh, dan gurunya demikian sayang kepadanya sehingga tidak ragu-ragu untuk mewariskan seluruh kepandaiannya yang dimilikinya. Bahkan ia mengajar muridnya membaca dan menulis sekadarnya, karena Hek Moli sendiri bukanlah seorang yang amat pandai dalam ilmu menulis.
Selain ini, setelah kepandaian In Hong cukup tinggi, ia memberikan pedang Liong-gan-kiam dan hiasan rambut burung Hong kepada muridnya. Katanya sambil tertawa terkekeh ketika memberikan hiasan rambut itu:
„Muridku, namamu In Hong, hiasan rambut burung Hong ini tepat sekali menghias rambutmu yang panjang, hitam dan halus. Pedang ini untuk memperlengkapi kepandaianmu karena tidak patut bagi seorang gadis cantik seperti engkau bersenjata tongkat seperti gurumu. Pakailah hiasan itu, mu-ridku.”
Dengan girang dan manja In Hong memakai hiasan rambut itu pada rambutnya. Ia kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita seperti ibunya. Ketika hiasan itu
37
telah dikenakan pada rambutnya, gurunya memandang dengan mata terbelalak, kemudian tiba-tiba dua titik airmata melompat keluar dari sepasang mata Hek Moli:
„Alangkah cantiknya engkau, In Hong. Ah, seperti kau inilah aku dahulu……!”
1.3. Murid Terkasih Hek Moli
In Hong membalas kasih sayang gurunya dengan kebaktian, dan ia tidak saja merasa suka kepada gurunya, juga merasa terharu dan kasihan. Diam-diam ia sering bertanya rahasia apakah yang disimpan oleh gurunya. Mengapa gurunya menjadi rusak muka dan tubuhnya seperti itu. Tentu dahulu pernah mengalami hal-hal yang amat mendukakan hatinya. Akan tetapi tiap kali ia bertanya, gurunya hanya menggeleng kepalanya dan tidak mau menuturkan riwayatnya. Ia hanya mendesak agar gadis itu belajar lebih giat lagi.
„Muridku, di dunia ini banyak sekali orang-orang jahat yang amat lihay. Kau demikian cantik, tentu akan mengalami hal-hal yang mendatangkan bencana kalau saja kau tidak mampu menjaga dirimu. Untuk itu kau harus memiliki ilmu yang tinggi. Pula, sudah menjadi kewajibanmu untuk membantu usaha orang-orang gagah, membasmi para penjahat dan membela para kaum tertindas.”
Tentu saja In Hong mengerti akan kehendak gurunya ini, karena semenjak dahulu iapun merasa amat sakit hati kepada orang-orang jahat yang mencelakakan orang
38
tuanya. Sering kali ia menyatakan rindunya kepada orang tua dihadapan gurunya, akan tetapi Hek Moli selalu menjawab:
„Sabarlah, muridku. Belum tiba masanya kau mencari orang tuamu. Aku sendiri tidak tahu dimana mereka dan apakah mereka masih hidup. Akan tetapi, kalau sudah cukup kepandaianmu, kau harus mencari mereka sendiri. Kurasa kau akan dapat mencari mereka kalau kau pergi ke kota See-ciu.”
Kini In Hong sudah berusia sembilanbelas tahun. Cantik jelita dan sikapnya gagah. Gurunya yang amat menyayangnya, tidak ingin melihat muridnya memakai pakaian buruk. Beberapa kali Hek Moli turun gunung dan ketika ia kembali, ia membawa pakaian-pakaian indah untuk In Hong. Dan untuk dia sendiri, ia tak pernah berganti pakaian, tetap pakaian yang kotor menghitam! Kalau In Hong mencela gurunya dan mendesak agar supaya gurunya berganti pakaian, Hek Moli berkata:
„Untuk apa aku berganti pakaian? Apakah kau menyuruh aku menjadi seperti seekor monyet berpakaian dan menjadi tontonan orang? Aku sudah jemu dengan pakaian-pakaian, bahkan kalau semua orang di dunia ini tidak memakai pakaian, aku akan lebih suka lagi, lebih bebas dan enak, tidak terganggu oleh pakaian bermacam-macam!”
Mendengar jawaban ini, In Hong tertawa cekikikan saking geli hatinya.
39
„Mengapa kau tertawa?” gurunya bertanya heran karena muridnya benar-benar tertawa geli seakan-akan dikitik-kitik.
„Subo memang lucu sekali. Kalau teecu bayangkan betapa semua orang bertelanjang bulat, berjalan hilir mudik seperti monyet-monyet liar tersesat dikota, ah alangkah lucunya pemandangan itu. Teecu bisa mati tertawa melihatnya!”
Mau tidak mau Hek Moli tertawa juga mendengar kata-kata muridnya itu, karena iapun dapat membayangkan keadaan yang amat menggelikan itu. Tiba-tiba Hek Moli menghentikan ketawanya dan In Hong juga, karena gadis inipun telah dapat menangkap bunyi yang asing dengan pendengarannya yang sudah amat tajam.
„Ada orang datang!” bisik Hek Moli.
Muridnya mengangguk dan tangan kanan In Hong meraba gagang pedang yang tergantung di pinggangnya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan tahu-tahu, sekira lima tombak dari mereka, terlihat seorang tosu berusia kurang lebih enampuluh tahun, muncul dari balik batu karang besar. Tosu ini berpakaian putih dan yang paling menyolok pandangan mata adalah tangan kanannya yang buntung sebatas siku.
„Hek Moli, akhirnya pinto dapat menemukan tempat persembunyianmu!” kata tosu itu dan suaranya halus dan
40
lemah lembut, akan tetapi sepasang matanya memancarkan cahaya penuh kebencian.
Hek Moli mengeluarkan suara mengejek. „Anjing buntung kakinya dari manakah berani mengotorkan tempatku?”
Tosu itu tersenyum. „Mata Hek Moli sudah lamur agaknya karena terlalu tua, dan ingatannyapun sudah pikun. Benar-benarkah kau tidak mengenal lagi siapa pinto?”
„Siapa mengenal segala anjing yang berpura-pura suci? Siapa kau? Hayo lekas mengaku dan katakan apa kehendakmu sebelum aku membikin buntung lehermu!”
„Hm, masih tetap galak dan ganas seperti belasan tahun yang lalu. Kau mau tahu maksud kedatanganku? Tunggu sebentar!” Setelah berkata demikian, tosu itu lalu menengok ke arah sebuah batu besar, lalu dengan jari telunjuknya yang kiri ia membuat corat-coret di atas batu itu. Kemudian, dengan tangan kirinya pula, ia mendorong batu itu ke arah Hek Moli. Bukan main hebatnya tenaga dorongan ini. Batu yang besar dan beratnya paling sedikit enamratus kati itu terlempar ke arah Hek Moli!
Akan tetapi, dengan tenang Hek Moli mengangkat tongkat hitamnya dan sekali ia menggerakkan tangan, batu itu terputar-putar di atas ujung tongkat, kemudian ia menarik tongkatnya dan batu itu jatuh tepat di depannya demikian perlahan seakan-akan diangkat dan diletakkan disitu oleh tenaga yang mujijat!
41
Hek Moli dan In Hong melihat batu yang dicorat-coret tadi dan disitu ternyata telah terdapat beberapa huruf yang tergores dalam pada batu, tanda bahwa ketika mencoret dengan telunjuk, tosu itu telah mengerahkan lweekang yang tak boleh dipandang ringan. Tulisan itu berbunyi:
Go-bi-pay mengundang Hek Moli untuk melunaskan perhitungan lama di O-mei-san.
Melihat tulisan ini, teringatlah Hek Moli. Dahulu ia pernah naik ke Go-bi-san untuk menantang tokoh-tokoh Go-bi-pay mengadakan pibu. Dalam pertandingan pibu ini, seorang tokoh Go-bi-pay yang bersikap sombong dan mengucapkan kata-kata memandang rendah, telah ia robohkan dan sebelah lengannya terputus.
Mengingat akan hal ini, ia memandang kepada tosu itu dan tertawa:
„Aha, begitukah kehendak orang Go-bi-pay? Biarpun aku sudah tuabangka, siapa pernah takut terhadap tikus-tikus Go-bi-pay! Tunggu saja, setengah bulan lagi aku akan datang ke tempat itu!”
Tosu itu menjura dan berkata singkat:
„Terima kasih. Pinto percaya Hek Moli takkan menjilat ludahnya sendiri. Kami menanti dengan sabar.” Ia lalu membalikkan tubuh dan berlari pergi.
Akan tetapi baru saja ia berlari dengan cepat paling jauh sepuluh tombak, tiba-tiba di sebelah kanannya berkelebat
42
bayangan orang. Tosu itu terkejut melihat ginkang orang itu yang demikian lihay dan mengira bahwa tentu Hek Moli telah menyusul dan mendahuluinya. Ia merasa khawatir karena melihat cara Hek Moli menyambut batu besar yang dilem¬parkannya tadi, ia merasa tidak akan kuat menandingi iblis wanita hitam ini, dan mengira bahwa Hek Moli menyusulnya dengan maksud buruk.
„Hek Moli, apa yang……?” Tegurannya terhenti sampai disitu karena kini ia berdiri tertegun melihat seorang gadis cantik jelita berdiri dihadapannya dengan senyum mengejek.
Gadis itu adalah gadis yang tadi dilihatnya berdiri dekat Hek Moli. Tosu itu menjadi makin terkejut. Bukan main hebatnya, semuda ini sudah memiliki kepandaian ginkang yang demikian tingginya!
„Nona, apa kehendakmu menghadang perjalananku?” tanyanya, menyembunyikan rasa khawatirnya di balik senyum.
In Hong mengeluarkan suara mengejek: „Tosu busuk, kau datang-datang menyombongkan kepandaian dan menghina guruku, bagaimana aku dapat membiarkan kau pergi begitu saja? Hayo kau mengaku siapa namamu dan berlututlah minta ampun kepada guruku, kalau tidak, jangan harap kau akan dapat pergi dari sini!”
Merah muka tosu itu, merah karena marah yang ditahan-tahan. Kata-kata gadis itu merupakan penghinaan yang amat besar. Di Go-bi-pay, ia termasuk tokoh yang cukup
43
disegani, dan biarpun bukan merupakan tokoh pimpinan tertinggi, namun setidaknya ia adalah wakil guru besar yang memberi pelajaran ilmu silat kepada murid-murid tingkat rendahan dan dalam hal kepandaian ilmu silat, ia bisa dikatakan menduduki tingkat keempat.
„Nona, pinto dengan kau belum pernah bertemu dan tidak mempunyai sangkut paut. Kalau gurumu merasa penasaran, biarlah dia sendiri yang memutuskan. Pinto tidak suka berurusan dengan segala bocah kecil yang kurangajar.”
„Hayo kau mengaku nama dan berlutut minta ampun!” In Hong memotong omongan tosu itu dengan bentakan mengancam.
Akan tetapi, sambil mengeluarkan suara ejekan, tosu itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tubuh berlari ke depan, memutari tubuh gadis itu yang menghadang di depannya.
„Minggirlah!” katanya dan tangan kirinya dengan lengan baju yang lebar itu menyambar ke arah muka In Hong. Ini adalah gerakan serangan yang hebat, karena tidak hanya ujung lengan baju itu yang menyabet dengan tenaga lwee-kang akan tetapi jari-jari tangan itupun dipentang dan dapat dipergunakan untuk menyampok, memukul, atau mencengkeram menurut perkembangan dari perlawanan orang yang diserangnya.
Orang lain yang menghadapi serangan hebat ini, yang merasa sambaran angin yang dahsyat, tentu akan terkejut
44
dan mengelak. Setiap orang ahli silat yang belum mengukur tenaga dan kepandaian lawan, selalu akan mengelak dari pukulan pertama, karena untuk menangkis pukulan lawan sebelum mengukur tenaga lawan yang menyerangnya, adalah hal yang berbahaya dan dianggap merugikan pihak sendiri.
Akan tetapi In Hong adalah seorang gadis yang amat tabah dan pula ia sudah percaya penuh akan kepandaian sendiri. Biarpun ia belum mengukur tenaga tosu itu, namun tadi tosu itu telah secara lancang memperlihatkan kepandaian-nya ketika menggurat batu dengan jari tangan dan melontarkan batu itu kepada Hek Moli. Melihat betapa coretan pada batu itu masih kasar dan ada tanda-tanda guratan jari tangan, ia tahu bahwa tosu itu masih belum mampu mempergunakan lweekang secara mendalam dan lemas.
Kalau seorang ahli yang lweekangnya sudah tinggi dan dapat mengatur dengan hawa dalam tubuh sehingga ujung-ujung kuku dapat dipergunakan dan disembunyikan dan biarpun tenaga yang keluar dari jari tangan yang menggores batu adalah tenaga yang dahsyat, namun kulit jari sendiri demikian lemas sehingga tidak akan mendatangkan bekas guratan jari pada batu. Dilihat dari sini saja ia sudah dapat mengukur tenaga dari tosu itu, maka kini melihat tosu itu mempergunakan tangannya untuk menyerang sambil lari, In Hong mengangkat tangan kirinya dan dengan jari telunjuknya ia menyambut tangan itu.
45
Melihat ini, tosu itu menjadi girang. Kalau ia tidak dapat dan belum berani membalas sakit hatinya kepada Hek Moli, sedikitnya ia akan dapat membalas dengan jalan menyakiti murid iblis wanita hitam itu. Maka ia lalu mempergunakan lima jari tangan kirinya untuk menampar dan maksudnya hendak mematahkan tulang telunjuk gadis itu. Telapak tangan yang dikerahkan dengan tenaga lwekang dan menjadi keras seperti baja bertemu dengan telunjuk In Hong yang runcing dan mungil.
Kalau dibicarakan memang agaknya tak masuk diakal, karena tiba-tiba tosu itu menjerit dan meringis kesakitan, tangannya menjadi kaku dan jari-jarinya direnggangkan, sakitnya bukan main! Akan tetapi harus dimengerti bahwa In Hong telah mempergunakan im-kang (tenaga lemas) untuk menghadapi yang-kang (tenaga kasar) dari tosu itu, dan di dalam hal ilmu silat, yang lemas memang mudah sekali menggulingkan yang kasar.
Dengan telunjuknya yang sudah terlatih sempurna, gadis itu dapat menyentuh jalan darah di pangkal ibu jari, .jalan darah yang menjadi saluran ke arah nadi dan semua jalan darah aseli, maka sebelum telapak tangan itu dapat mematahkan jari telunjuk In Hong, lebih dulu jalan darah dari tangan tosu itu telah kena ditotok!
In Hong tertawa cekikikan melihat tosu itu meringis-ringis kesakitan. Akan tetapi timbul juga rasa kasihan di dalam hatinya karena kini lengan kanan yang buntung itu mencoba untuk menolong tangan kiri yang terluka. Tentu saja lengan kanan yang buntung itu hanya bisa bergerak-gerak sampai di siku kiri saja, mana bisa menolong.
46
„Hm, kini kau tahu bahwa kami tidak mudah dipermainkan begitu saja oleh kalian orang-orang Go-bi-pay. Orang macam kau berani menghina guruku? Hayo mengaku siapa namamu dan lekas kau berlutut minta ampun!”
Tosu itu mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Sebagai seorang tokoh tinggi dari Go-bi-pay, ia telah mengalami hinaan yang amat memalukan. Mana ia sudi berlutut minta ampun? Lebih baik ia mati!
Hek Moli yang melihat keadaan itu, diam-diam dalam hatinya terkejut. Tak disangkanya bahwa muridnya mempunyai hati yang lebih telengas dan ganas. Maka untuk menjaga agar muridnya ini kelak jangan sampai bermusuhan dengan partai-partai besar yang akan mencelakakan hidupnya, ia berseru:
„In Hong, tosu itu bernama Tek Seng Cu, dan kalau memang dia sudah insaf, tak perlu dia berlutut minta ampun, asal dia sudah mengakui kesalahannya cukuplah!”
Mendengar kata-kata ini, Tek Seng Cu melihat jalan keluar yang lebih enak baginya, maka cepat ia menjura sambil berkata ke arah Hek Moli:
„Hek Moli, pinto benar-benar bermata akan tetapi tak pandai melihat. Biarlah kau maafkan sikapku yang kasar tadi. Nah, sampai berjumpa di puncak O-mei-san!” Ia membalikkan tubuh dan berlari cepat sambil menahan rasa sakit pada telapak tangannya, rasa sakit yang menusuk hatinya yang sudah sakit karena penghinaan itu.
47
In Hong menghadapi gurunya: „Subo, orang macam dia sudah sepatutnya dibunuh saja agar lain kali jangan datang menimbulkan keributan lagi.”
Hek Moli menarik napas panjang. „In Hong, kau belum tahu banyak tentang dunia kangouw. Ketahuilah, Tek Seng Cu itu hanyalah cucu murid dari ketua Go-bi-pay, dan dahulu belasan tahun yang lalu, untuk menghadapi dan meng-alahkan ketua Go-bi-pay, aku harus mengeluarkan seluruh kepandaianku. Ketua Go-bi-pay bukanlah orang jahat, bahkan dia seorang locianpwe yang disegani, maka tidak baiklah membuat permusuhan dengan Go-bi-pay.”
In Hong mengerutkan keningnya dan sepasang alisnya yang hitam dan berbentuk indah itu bergerak-gerak.
„Subo, mereka sudah menantang dan menghinamu, bagaimana tak dapat disebut jahat?”
Hek Moli tersenyum. „Mungkin diantara tokoh-tokoh Go-bi-pay ada yang berwatak sombong dan kasar, bahkan aku tidak menyangkal bahwa banyak orang-orang mengaku pendeta namun hatinya kotor melebihi penjahat biasa. Akan tetapi, untuk apakah bermusuhan dengan mereka kalau tidak ada alasan? Kalau kau melihat mereka melakukan perbuatan jahat, siapapun juga adanya mereka, pantas kau musuhi dan kau basmi, biarpun untuk itu kau harus mengorbankan nyawa. Akan tetapi, dalam hal ini tidak ada permusuhan hebat, yang ada hanyalah menebus kekalahan dalam pibu.”
48
„Akan tetapi Go-bi-pay menantangmu, subo.”
„Tidak apa, aku akan datang kesana pada waktunya dan dengan tulang-tulangku yang sudah tua, akan kucoba mengalahkan mereka seperti belasan tahun yang lalu.” Nenek ini memukul-mukulkan tongkat hitam yang panjang ke atas tanah. „Biarpun aku sudah tua, akan tetapi tongkat ini tetap kuat dan masih muda. Aah, manusia mana bisa menangkan benda mati. Benda hidup akan melayu dan mati, akan tetapi tongkat ini sudah mati ketika lahir, bagaimana dia bisa layu dan akhirnya mati seperti aku?” Nenek ini menghela napas lalu duduk termenung.
Melihat gurunya nampak berduka, In Hong menjadi terharu dan berbareng merasa panas hatinya.
„Subo, biarkan teecu pergi menemui mereka di O-mei-san! Biarkan teecu mewakili subo menghajar mereka dan memperlihatkan bahwa murid subo saja sudah cukup untuk mengalahkan semua tokoh Go-bi-pay dalam pibu!” Kata-katanya keras bersemangat, wajahnya yang cantik jelita itu kemerahan sehingga menjadi demikian segar bagaikan setangkai bunga mawar merah yang sedang mekarnya.
Akan tetapi alangkah terkejutnya hati In Hong ketika tiba-tiba tongkat hitam panjang di tangan nenek itu menghantam batu yang segera menjadi hancur berkeping-keping. Nenek itu sendiri melompat bangun dan membentaknya:
49
„Diam kau! Jangan mencampuri urusan ini, ini adalah urusan pribadiku, tidak ada sangkut-pautnya denganmu, mengerti?”
In Hong tertegun, wajahnya yang tadi kemerahan tiba-tiba menjadi pucat. Selama menjadi murid Hek Moli, belum pernah gurunya ini marah kepadanya, selalu memperlihatkan kasih sayang. Gadis ini hanya dapat memandang kepada gurunya dengan mulut sedikit terbuka dan mata tak berkedip, kemudian perlahan-lahan, dua butir air mata menitik turun ke atas pipinya yang berkulit halus bersih.
Hek Moli memandang kepada muridnya dan tiba-tiba saja rasa marahnya tadi lenyap seperti awan tipis tersapu angin. Ia melangkah maju dan memeluk muridnya, mendekap kepala yang berambut hitam panjang itu kepada dadanya yang tipis. Seperti air hujan, air mata mengalir dari sepasang mata In Hong. Gadis ini merasa sengsara dalam hatinya karena sekali saja dimarahi oleh gurunya, ia teringat kepada ayah bundanya.
„In Hong, muridku yang baik, muridku yang terkasih, jangan kau kecewa. Aku percaya bahwa kau akan dapat mengalahkan tokoh-tokoh Go-bi-pay, bahkan ketuanya sendiri boleh maju, kau takkan kalah! Akan tetapi, jangan kau kecewa. In Hong. Main-main dalam pibu ini dahulu adalah aku yang mencari sendiri, akulah yang menjadi biangkeladi, oleh karena itu aku pula yang harus menyelesaikan. Kau tidak boleh terseret-seret dalam permainan gila ini, permainan dari ahli-ahli silat yang tidak mempunyai pekerjaan, yang sombong dan ingin
50
memperlihatkan kepandaian, ingin diakui sebagai jagoan paling pandai di dunia! Ya, dahulu aku amat sombong, In Hong, aku belum puas kalau belum mengalahkan tokoh terbesar di dunia kangouw. Kau tidak boleh terseret-seret, aku akan merasa menyesal dan berduka sampai mati kalau melihat kau dibenci oleh para tokoh-tokoh besar di dunia kangouw. Kau harus menjadi seorang pendekar yang berguna bagi rakyat, berguna bagi manusia. Kerahkan kepandaianmu untuk menolong manusia, bukan untuk mencari permusuhan de-ngan lain orang. Jangan salah mengerti, muridku, aku melarangmu pergi atau ikut ke O-mei-san, bukan sekali-kali karena aku tidak percaya akan kepandaianmu. Pada waktu ini, kepandaianmu tidak kalah olehku sendiri. Aku hanya sayang kalau-kalau kau muridku yang masih murni, masih suci, akan terseret ke dalam permusuhan yang tidak ada artinya, permusuhan dicari-cari yang tidak ada dasarnya.”
„Jadi subo mau pergi sendiri, meninggalkan teecu seorang diri disini?”
„Selalu aku pergi seorang diri kalau hendak berpibu, In Hong. Kesombongan itu sampai sekarang masih ada di dalam dadaku. Aku tidak mau kalau orang mengira aku mengandalkan bantuanmu. Selain itu, kau harus memenuhi tugasmu yang pertama, yakni mencari ayah bundamu di See-ciu.”
Mendengar disebutnya ayah bundanya, berseri wajah In Hong. Hal ini memang sudah dirindukan belasan tahun dan kini mendengar bahwa gurunya sudah memberi ijin
51
kepadanya untuk mencari ayah bundanya, tentu saja ia menjadi girang sekali.
„Baik, subo. Kapankah teecu boleh berangkat mencari ayah dan ibu?” tanyanya.
Hek Moli menyembunyikan senyumnya penuh kegetiran dan iri hati. Ia maklum bahwa betapapun besar kasih sayang muridnya terhadap dia, tetap saja kasih sayang muridnya kepada ayah bundanya jauh lebih besar.
„Sekarang juga, In Hong. Berangkatlah bersama doaku. Tigapuluh potong uang emas yang kusimpan itu boleh kau bawa, juga pedang dan hiasan rambut yang kau pakai. Pakaianmu juga bawalah semua untuk bekal di jalan. Kau harus berlaku hati-hati dan jangan lupa, disamping melakukan perbuatan sesuai dengan kepandaianmu dan sesuai pula dengan tugas seorang pendekar seperti yang seringkali kunasihatkan kepadamu, jangan sekali-kali kau mencari permusuhan dengan orang-orang kangouw tanpa alasan yang kuat.”
„Baik subo, baik!” Dengan girang gadis ini lalu masuk ke dalam pondok untuk mengambil uang dan pakaian, kemudian ia keluar lagi, siap untuk berangkat. Akan tetapi, ketika melihat gurunya yang tua dan kurus itu berdiri seperti orang melamun, seperti sebuah tonggak kayu yang tua dan buruk, lambang kesunyian dan kelayuan, hatinya terharu sekali dan ia memeluk subonya.
„Akan tetapi, subo. Bagaimana teecu tega meninggalkan subo seorang diri?” isaknya.
52
Hek Moli menjadi besar kembali hatinya. Dielus-elusnya rambut muridnya penuh kasih sayang.
„In Hong, bagaimana kau bisa tinggalkan aku? Aku sendiri sekarang juga akan berangkat ke O-mei-san.”
„Akan tetapi…… bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu, subo?”
„Ha, kau tidak percaya kepadaku? Aku dapat menjaga diri, In Hong, dan biarpun tulang-tulangku telah tua, kiranya takkan mudah dicelakakan orang!”
„Bila teecu dapat bertemu dengan subo? Kemana teecu harus mencari subo?”
„Kalau kau sudah bertemu dengan orang tuamu, kau tidak boleh lagi meninggalkan mereka! Kalau kau merasa rindu kepadaku, kau datanglah di puncak ini. Setelah beres menguruskan persoalan pibu dengan orang-orang Go-bi-pay, aku tentu akan kembali kesini. Aku sudah terlalu tua dan sudah bosan untuk merantau, aku mau menanti sisa umurku di puncak ini. Kalau kau datang kesini, aku pasti ada disini, In Hong, kecuali kalau aku tidak ada disini, tentu……. ah, kau tak usah mencariku lagi kalau aku tidak ada disini.”
„Subo……!” In Hong menjerit sambil menjauhkan diri agar dapat memandang muka gurunya.
53
Hek Moli tersenyum. „In Hong, jangan seperti anak kecil! Betapapun juga, pibu adalah pertandingan silat dan luka atau tewas dalam pibu bukanlah hal yang rendah.”
„Subo, biarkan teecu turut dan membantumu! Mereka tidak boleh menjatuhkanmu, subo! Biar kelak saja teecu men¬cari ayah bunda.”
Hek Moli menggeleng kepalanya perlahan. „Tidak bisa, In Hong. Belum tentu aku kalah, dan tidak baik kalau kau ikut seperti sudah kukatakan tadi. Berangkatlah kau, dan sekali lagi, kalau kelak kau tidak mendapatkan aku disini, jangan kau mencariku lagi, dan ingat! Jangan kau mencari gara-gara dengan mereka yang menang dalam pibu melawanku. Luka atau mati dalam pibu sudah sewajarnya!”
„Subo……”
„Berangkatlah! Jangan bikin aku jengkel!” Hek Moli membentak.
In Hong menghapus airmatanya, berlutut di depan gurunya dan berkata lemah: „Selamat berpisah, subo. Tak lama lagi teecu akan mencari subo disini……”
„Pergilah, muridku.”
In Hong berdiri, sebelum berangkat ia maju dan menubruk, memeluk suhunya untuk terakhir kali, kemudian ia berlari turun gunung dengan cepat sekali. Setelah bayangan In Hong tidak kelihatan lagi, Hek Moli
54
menjatuhkan diri duduk di atas batu dan mempergunakan ujung baju untuk menghapus beberapa titik air mata.
◄Y►
Gunung O-mei-san terletak di sebelah selatan pegunungan Ciung-lai-san. Tepat setengah bulan kemudian semenjak tosu Tek Seng Cu dari Go-bi-pay mendatangi Hek Moli di puncak Ciung-lai-san, pada pagi hari kelihatan Hek Moli berjalan terbongkok-bongkok mendaki puncak O-mei-san, dibantu oleh tongkatnya yang panjang dan hitam.
Untuk dapat tiba di lereng O-mei-san dalam waktu setengah bulan dari puncak Ciung-lai-san, membutuhkan kepandaian berlari cepat yang tinggi, dan tentu saja Hek Moli mengeluarkan kepandaiannya dalam perjalanan itu. Namun setelah tiba dikaki bukit O-mei-san, melihat bahwa waktu setengah bulan itu kurang dua hari lagi, ia berhenti dan tidur sehari semalam di bawah pohon besar. Ia hanya melakukan perjalanan sembilan hari saja, karena setelah In Hong pergi meninggalkannya, sepekan kemudian barulah ia turun gunung berangkat ke O-mei-san.
Sehari kemudian, barulah Hek Moli mendaki bukit O-mei-san, berjalan kaki perlahan-lahan. Ia merasa betapa tubuhnya kini tidak sekuat dulu, bahwa semangatnya tidak sepanas belasan tahun yang lalu. Ia berjalan-jalan sambil mengingat-ingat semua pengalamannya. Diam-diam ia menghela napas panjang:
55
„Tua bangka yang tidak beruntung,” bisiknya, „usiamu sudah sembilanpuluh tahun, namun masih saja dalam saat terakhir menghadapi kematian usia tua, kau masih mendaki bukit untuk berpibu! Ah, benar-benar memalukan!”
Tiba-tiba ia mendengar suara orang berlari dari bawah bukit, dan tak lama kemudian ia melihat Tek Seng Cu berlari naik melewatinya! Dari wajah tosu ini, jelas nampak kekaguman dan juga keheranan. Tek Seng Cu berlari cepat terus menerus menuju kebukit O-mei-san ketika ia meninggalkan Hek Moli, dan sekarang ia melihat nenek itu sudah berjalan perlahan di lereng O-mei-san!
„Hek Moli, kau sudah sampai disini?” tak terasa pula ia menegur, tak kuasa menyembunyikan keheranannya.
Hek Moli terbatuk-batuk hebat. Memang, semenjak In Hong turun gunung meninggalkannya, penyakit batuknya yang tadinya seperti sudah sembuh itu kumat kembali.
„Tek Seng Cu, kau datang? Kebetulan sekali, lekas kau memberi laporan kepada pimpinan Go-bi-pay bahwa aku sudah datang untuk memenuhi undangan,” kata Hek Moli setelah dapat mengatur napasnya yang menjadi sesak karena batuk-batuk tadi.
Tanpa menjawab Tek Seng Cu berlari terus mendaki gunung itu. Hek Moli tidak perduli dan tetap berjalan perlahan-lahan, dibantu oleh tongkatnya.
1.4. Kecurangan Pendeta Go-bi-pay dan Kun-lun-pay.
56
Akan tetapi sebelum tiba di puncak O-mei-san, baru saja tiba di lereng yang datar, ia melihat Tek Seng Cu berdiri menunggu bersama tujuh oleh kakek yang semuanya berdiri memandang kepadanya dengan mata penuh kebencian.
Hek Moli terkejut dan juga heran, hatinya terasa tidak enak. Ia tidak melihat ketua Go-bi-pay yang sudah dikenalnya baik, yakni Pek Eng Taysu, dan menurut pandangan matanya yang biarpun sudah tua masih amat tajam. Ia melihat bahwa tiga diantara tujuh orang itu adalah tokoh-tokoh penting dari partai Kun-lun-pay. Apakah maksud kedatangan tiga orang Kun-lun itu?
Akan tetapi, biarpun di dalam hatinya Hek Moli timbul pertanyaan ini, pada wajahnya ia tidak memperlihatkan sesuatu, dan langsung ia berjalan terbongkok-bongkok menghampiri mereka.
„Tek Seng Cu, mana adanya Pek Eng Taysu ketuamu? Mengapa kalian berdiri disini? Hayo antar aku menjumpainya. Apakah dia menanti kedatanganku di puncak?”
Akan tetapi, kata-kata ini dijawab oleh Tek Seng Cu dengan seruan kepada kawan-kawannya yang tujuh orang jumlahnya itu: „Cuwi beng-yu, mari kita basmi siluman perempuan yang jahat ini!”
Serentak tujuh orang kawannya itu tanpa mengeluarkan kata-kata mencabut senjata. Ada yang bersenjata pedang, golok, dan bahkan ada yang bersenjata toya dan
57
siang-koan-pit. Melihat cara mereka mencabut senjata, Hek Moli maklum bahwa mereka terdiri dari orang-orang berkepandaian tinggi.
Kini ia dapat mengenal bahwa mereka adalah orang-orang Go-bi-pay dan Kun-lun-pay yang dahulu belasan tahun yang lalu pernah ia robohkan dalam pibu ketika ia mencoba kepandaian tokoh-tokoh dari dua partai besar itu. Di Go-bi-pay, ia telah mengalahkan Pek Eng Taysu ketua Go-bi-pay dengan susah payah, akan tetapi di Kun-lun-pay, ia tidak sempat bertemu dengan ketuanya, hanya dilayani oleh tokoh-tokoh ketiga dan kedua yang semuanya dengan perlawanan gagah dapat ia kalahkan.
Teringat akan semua itu, dan mendengar seruan Tek Seng Cu, Hek Moli menjadi marah sekali. Ia dapat menduga bahwa undangan ini tentulah perbuatan Tek Seng Cu yang sengaja mengumpulkan kawan-kawan untuk mencelakakannya, atau untuk membalas dendam atas kekalahannya sehingga sebelah lengannya buntung. Inilah curang, pikirnya. Untuk menghadapi pibu biasa, sampai kemanapun atau berhadapan dengan siapapun ia tidak gentar dan menerima dengan gembira, akan tetapi menghadapi kecurangan ini, ia takkan dapat membiarkan begitu saja.
„Tek Seng Cu, kau benar-benar penjahat berjubah pandeta!!” teriaknya dan jauh sekali bedanya dengan ketika ia berjalan terbongkok-bongkok naik gunung tadi, kini tubuhnya bergerak cepat dan tahu-tahu tongkatnya telah menusuk ke arah muka Tek Seng Cu!
58
Sebagai seorang ahli, Tek Seng Cu yang kini tangan kirinya telah bersenjata pedang tipis, cepat mengelak dan mencoba membalas dengan babatan pedang. Namun, dua kali tongkat panjang hitam itu bergerak secara aneh setelah tadi me¬ngancam muka Tek Seng Cu. Pertama-tama tongkat itu meluncur ke leher, akan tetapi, sewaktu Tek Seng Cu menggerakkan tubuh mengelak, tahu-tahu tongkat itu berobah lagi gerakannya dan tanpa dapat dielakkan atau ditangkis lagi, dada kiri tosu itu kena ditotok.
Tek Seng Cu menjerit, tubuhnya terhuyung dan ia roboh miring, tak dapat ditolong lagi karena sebelum tubuh itu roboh, nyawanya telah melayang!
Empat orang tosu Go-bi-pay dan tiga orang kakek Kun-lun-pay cepat maju mengeroyok Hek Moli. Tadi mereka tak sempat melindungi Tek Seng Cu karena penyerangan Hek Moli benar-benar tidak terduga dan amat cepatnya. Kini mereka serentak maju mengepung dan menyerang dengan hebat.
Diam-diam Hek Moli terkejut. Para penyerangnya ini memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada Tek Seng Cu, apalagi tiga orang kakek dari Kun-lun-pay itu benar-benar amat tangguh ilmu pedangnya.
„Hm, beginikah caranya kalian berpibu? Bagus, bagus, mari kita mengambil keputusan siapa yang akan tinggal hidup!” kata Hek Moli sambil mengejek dan tongkatnya digerakkan secara luar biasa sekali.
59
Empat orang tosu Go-bi-pay itu semua setingkat lebih tinggi dari Tek Seng Cu. Mereka adalah tokoh-tokoh tingkat tiga dari Go-bi-pay, maka ilmu silat mereka tentu saja sudah cukup tinggi. Mereka ini adalah paman-paman guru dari Tek Seng Cu, yakni murid dari Pek Eng Taysu tingkat muda. Nama mereka adalah Wi Tek Tosu, Wi Kong Tosu, Wi Jin Tosu, dan Wi Liang Tosu.
Sebagai murid Pek Eng Taysu yang terkenal sebagai seorang ahli silat serba bisa, maka senjata mereka juga bermacam-macam. Wi Tek Tosu terkenal dengan siang-kiamnya, Wi Kong Tosu kuat sekali permainan toyanya, Wi Jin Tosu mempergunakan sebatang golok besar, sedangkan Wi Liang Tosu bersenjata ruyung kuningan. Masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri dan rata-rata merupakan lawan yang amat tangguh.
Adapun tiga orang kakek dari Kun-lun-pay, bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka ini adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Kun-lun-pay, menjadi murid-murid tertua dari Pek Ciang San-lojin (Kakek gunung bertangan putih), yakni ketua Kun-lun-pay pada waktu itu.
Ketika belasan tahun yang lalu Hek Moli naik ke Kun-lun dan menantang tokoh-tokoh Kun-lun-pay berpibu, kebetulan sekali Pek Ciang San-lojin sedang tidak ada disana dan sebagai wakilnya, yang maju adalah muridnya yang kedua, yakni Kim Sim Sanjin (Orang gunung berhati emas). Biarpun tak dapat dikatakan mudah, akhirnya Kim Sim Sanjin harus mengakui kelihayan Hek Moli dan ia kena dikalahkan dan hanya menderita luka ringan.
60
Kini, tiga orang Kun-lun-pay yang datang, adalah tiga orang tokoh yang menjadi wakil Pek Ciang San-lojin, merupakan tiga orang yang paling ternama di bawah guru besar itu, yakni pertama adalah Cu Sim Sanjin (Orang gunung berhati penuh welas asih), orang kedua adalah Kim Sim Sanjin sendiri, dan orang ketiga mempunyai sebutan Sun Sim Sanjin (Orang gunung berhati bersih). Cu Sim Sanjin senjatanya adalah ujung lengan bajunya yang panjangnya satu kaki lebih, Kim Sim Sanjin bersenjata sepasang siang-koan-pit, sedangkan Sun Sim Sanjin senjatanya adalah sebuah kebutan pendeta (hudtim) yang berbulu putih berkilau seperti perak.
Melihat senjata-senjata ini saja sudah dapat dinilai bahwa ilmu kepandaian tiga orang kakek Kun-lun-pay ini benar-benar tinggi karena senjata-senjata mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah ahli-ahli lweekeh (ahli ilmu lweekang) dan ahli totok atau tiam-hoat.
Namun, Hek Moli bukan disebut Hek Moli Iblis wanita hitam kalau dia gentar menghadapi keroyokan tujuh orang jago tua yang lihay itu. Dengan tongkatnya yang panjang dan hitam, ia bersilat dengan aneh, ilmu silat yang tak pernah terlihat di wilayah Tiongkok Pedalaman. Tongkat itu berubah menjadi segundukan sinar hitam yang membungkus tubuhnya, dan tiap kali senjata lawan terbentur oleh sinar hitam ini, senjata lawan itu pasti terpental, seakan-akan dari sinar hitam itu keluar tenaga dahsyat yang amat luar biasa.
Hek Moli benar-benar marah. Ia sudah amat tua dan tenaganya tidak seulet dahulu, maka ia merasa
61
penasaran sekali dan menganggap tujuh orang pengeroyoknya adalah pengecut-pengecut belaka yang mempergunakan jumlah banyak untuk mengeroyok seorang perempuan tua seperti dia. Oleh karena merasa gemas dan marah, timbullah hati ganas dan kejam di dalam dada Hek Moli. Apalagi ketika ia merasa bahwa perlahan-lahan ia mulai terdesak hebat.
Kepandaian tujuh orang lawannya benar-benar kuat sekali. Apalagi ketiga orang kakek Kun-lun-pay itu, benar-benar sukar dilawan. Menghadapi seorang diantara tiga orang kakek ini saja, agaknya ia harus mengerahkan seluruh kepandaian untuk mengalahkannya.
Dahulu, ketika ia mengalahkan Kim Sim Sanjin, biarpun tidak begitu mudah namun kepandaiannya masih jauh mengatasi kepandaian Kim Sim Sanjin. Akan tetapi sekarang ia mendapat kenyataan bahwa sepasang siang-koan-pit ditangan Kim Sim Sanjin jauh lebih lihay daripada dahulu, tanda bahwa setelah dikalahkan, tokoh Kun-lun ini telah memperdalam ilmu kepandaiannya.
Makin lama Hek Moli makin terdesak. Tiba-tiba wanita ini diam-diam merogoh sakunya dan sekali ia mengeluarkan jerit nyaring yang menyakitkan anak telinga dan membuat hati tujuh orang lawannya tergoncang, tangan kirinya bergerak. Sinar-sinar hitam melayang cepat ke depan. Tiga orang kakek Kun-lun-san dapat mengelak dan menyampok sinar ini dengan senjata mereka. Juga dua diantara tokoh Go-bi-pay dapat mengelak. Akan tetapi Wi Liang Tosu dan Wi Jin Tosu menjerit ngeri, tubuh mereka
62
terhuyung-huyung, lalu roboh berkelonjotan dan tak lama kemudian mereka menghembuskan nafas terakhir!
Ternyata bahwa dalam kemarahannya, Hek Moli telah mempergunakan senjata-senjata rahasia aneh yang ia sebut Toat-beng-hek-kong (Sinar hitam pencabut nyawa)! Senjata-senjata rahasia ini juga tidak dikenal di daerah Tiong-goan atau pedalaman Tiongkok, dan merupakan semacam pasir berwarna hitam yang kalau mengenai tubuh lawan, terus menyusup ke dalam jalan darah dan mengandung bisa yang cepat merampas nyawa lawan!
„Siluman wanita, kau benar-benar berbahaya dan jahat, patut dilenyapkan dari muka bumi!” teriak Cu Sim Sanjin orang tertua dari Kun-lun-pay. Begitu ia berteriak, ia dan dua orang sutenya lalu mendesak hebat.
Teranglah bagi Hek Moli bahwa tadi tiga orang Kun-lun-pay ini tidak bertempur sungguh-sungguh dan sekarang barulah ia tahu bahwa kalau mereka bertempur sungguh-sungguh, tak mungkin baginya untuk mempergunakan senjata rahasia. Baru beberapa gebrakan saja setelah mereka membulatkan penyerangan dengan gerakan-gerakan cepat, pundaknya telah kena sabetan ujung lengan baju Cu Sim Sanjin sehingga ia terhuyung tiga langkah dan merasa pundaknya sakit sekali.
„Bedebah, mampuslah kalian!” bentak Hek Moli dan kembali tongkatnya menyambar-nyambar.
Diam-diam Cu Sim Sanjin tertegun. Pukulannya dengan ujung lengan baju tadi adalah pukulan To-san-ciang
63
(Pukulan menghantam gunung), hebatnya bukan main dan betapapun kuat tubuh seorang lawan, pasti akan roboh kalau terkena pukulan ini. Akan tetapi, wanita tua ini hanya terhuyung tiga langkah, bahkan dapat mengamuk lagi dengan hebatnya. Benar-benar luar biasa sekali!
„Siluman wanita, bukankah kau datang dari Sik-kim dan kau adalah keturunan dari Bhutan Koay-jin (Orang aneh dari Butan)?”
Mendengar ini, berobahlah wajah Hek Moli, akan tetapi ia mengamuk makin hebat sambil berseru: „Tutup mulut dan mampuslah kalian!”
Tongkatnya membuat gerakan memanjang yang luar biasa kerasnya, disusul dengan gerakan terputar, kini tidak menghadapi lima orang pengeroyoknya, melainkan menindih dan mendesak kepada Wi Kong Tosu. Mana tosu Go-bi-pay ini mampu mempertahankan diri setelah tongkat itu khusus diserangkan kepadanya? Dengan tepat kepalanya terkena sambaran ujung tongkat sehingga pecah dan ia menggeletak tak bernyawa tanpa dapat mengeluarkan sedikitpun suara!
Akan tetapi, karena perhatiannya ditujukan kepada seorang saja, sedetik setelah tongkatnya menghancurkan kepala Wi Kong Tosu, empat orang lawannya hampir berbareng melakukan serangan hebat. Pedang kiri Wi Tek Tosu menusuk pangkal lengan Hek Moli, ujung lengan baju Cu Sim Sanjin menampar kepalanya, Siang-koan-pit sebelah kanan dari Kim Sim Sanjin menotok
64
jalan darah pada iganya, sedangkan ujung hud-tim (kebutan) dari Sun Sim Sanjin menotok jalan darah pada lehernya.
„Tongkat jahanam…… ternyata manusia tidak seperti engkau…… kau tidak bisa mati, tak bisa rusak akan tetapi aku…… majikanmu…… sudah lemah dan sekarang akan mati……”
Empat orang pengeroyoknya mendengar kata-kata ini dengan mata memandang heran, akan tetapi Cu Sim Sanjin orang tertua dari Kun-lun-pay yang mengerti akan maksud kata-kata ini, merasa kasihan. Memang ia terkenal seorang yang mudah sekali merasa kasihan kepada orang-lain, oleh karena itu ia dijuluki Cu Sim Sanjin (Orang-gunung berhati penuh welas asih).
„Hek Moli, kau salah duga. Biarpun tongkat benda mati namun ia bisa lapuk dan rusak.” Sambil berkata demikian ia menyambar tongkat panjang yang tertindih oleh tubuh Hek Moli, menggenggamnya di kedua tangan. Ia mengerahkan lweekangnya yang paling tinggi diantara kawan-kawannya. Terdengar suara „krek! krek!” dan tongkat itu hancur pada bagian yang dicengkeramnya, lalu patah menjadi tiga potong.
„Lihat, Hek Moli, tongkatmu pun lapuk dan tua seperti kau.”
„Cu Sim Sanjin…… terima kasih……” Hek Moli tersenyum puas, terengah-engah.
65
„Hek Moli, sebelum kau pergi, terangkanlah kepada pinto, apakah betul dugaanku bahwa kau ada hubungan dengan Bhutan Koay-jin dari Sikkim?” tanya Cu Sim Sanjin.
Hek Moli memandang kepadanya, lalu tersenyum pahit.
„Kau baik…… sudah berusaha menghiburku…… kau tidak tahu…… Koay-jin itu adalah…… adalah suamiku……” Setelah berkata demikian, Hek Moli tertawa lemah dan suara tertawanya menghilang bersama nyawanya.
Cu Sim Sanjin menarik napas panjang. „Pantas saja dia begini ganas, dia tidak membunuh buta tuli masih cukup baik kalau mengingat akan nasib suaminya……”
„Siapakah Butan Koay-jin?” tanya Wi Tek Tosu penasaran mendengar tokoh Kun-lun-san ini masih menaruh hati kasihan kepada Hek Moli.
Cu Sim Sanjin menggeleng kepalanya, „Diberitahu juga kau takkan mengerti, Wi Tek To-yu. Lebih baik kau merawat empat orang kawanmu yang terbinasa. Kami tidak dapat tinggal lebih lama lagi, selamat berpisah.” Setelah berkata demikian, Cu Sim Sanjin mengajak kedua orang sutenya pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum jauh ia menengok dan berkata lagi:
„Kami datang karena kau undang dan Hek Moli maupun empat orang kawanmu tewas dalam pertempuran yang diadakan oleh Go-bi-pay. Oleh karena itu, disamping
66
empat orang kawanmu, agaknya sudah sepatutnya kalau kau merawat jenazah Hek Moli juga.”
Wi Tek Tosu mendongkol sekali mendengar kata-kata ini, akan tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu karena tiga orang kakek Kun-lun-pay itu sudah pergi dan tidak kelihatan bayang-bayangnya lagi. Betapapun juga, ia harus akui bahwa tanpa bantuan tiga orang kakek Kun-lun-pay itu, ia takkan dapat membunuh Hek Moli, bahkan nyawanya sendiri tentu akan terbang pula oleh nenek yang sakti ini.
Ia berhasil membujuk Kim Sim Sanjin untuk datang membantunya melawan Hek Moli dan hanya karena Kim Sim Sanjin pernah dikalahkan oleh Hek Moli maka tiga orang kakek itu mau datang membantu. Pula, ia telah berdaya untuk memanaskan hati mereka dengan me¬nyatakan betapa kejamnya Hek Moli sehingga muridnya, yakni Tek Seng Cu dibuntungi lengannya oleh nenek itu.
Kini, biarpun ia sudah dapat membunuh Hek Moli, akan tetapi tiga orang sutenya tewas, bahkan muridnya juga tewas oleh Hek Moli. Bagaimana ia sudi mengubur dan merawat jenazah nenek yang mendatangkan malapetaka bagi Go-bi-pay ini? Apalagi kalau diingat bahwa ia harus menghadapi pertanggungan jawabnya apabila pibu ini terdengar oleh suhunya, yakni Pek Eng Taysu.
Sudah berkali-kali Pek Eng Taysu menyatakan bahwa Go-bi-pay tidak ada urusan dendam dengan Hek Moli. Memang betul bahwa Hek Moli sudah pernah naik ke Go-
67
bi-san, sudah menjatuhkan mereka, bahkan melukai Tek Seng Cu, akan tetapi semua itu terjadi dalam sebuah pibu yang adil. Tidak ada alasannya untuk bersakit hati.
„Apalagi untuk membalasnya dengan jalan pibu. Pinto sendiri sudah bosan main-main seperti anak kecil, mengadu kepalan seperti badut. Sedangkan kiraku tak seorangpun dian¬tara kalian yang dapat menandinginya, maka sudahlah, urusan kecil itu habiskan saja.” Pek Eng Taysu pernah berkata ketika murid-muridnya mengajukan penasaran dan hendak membalas kepada Hek Moli.
Sekarang, di luar tahunya Pek Eng Taysu, Wi Tek Tosu dan tiga orang sutenya, bersama muridnya, minta bantuan tiga kakek Kun-lun-pay dan berhasil menewaskan Hek Moli. Akan tetapi tiga orang sutenya dan seorang muridnya tewas, bagaimana ia dapat menjawab pertanyaan suhunya?
„Dia inilah yang menjadi gara-gara dan biangkeladi?” Wi Tek Tosu memaki sambil memandang kepada jenazah Hek Moli yang menggeletak miring. Makin dipandang, makin gemaslah dia, apalagi kalau ia memandang kepada empat mayat kawan-kawannya. Dalam kegemasannya, Wi Tek Tosu mencabut siang-kiamnya (sepasang pedangnya), lalu menghampiri jenazah Hek Moli.
„Siluman wanita, kalau belum menghancurkan tubuhmu, aku belum puas!” katanya.
Pedang kanannya digerakkan dan „bless!” pedang itu amblas ke dalam punggung Hek Moli. Ia mencabut
68
pedang itu dan hendak diayun lagi untuk memenggal leher mayat Hek Moli. Akan tetapi, tiba-tiba menyambar sebuah benda kecil yang tepat mengenai pedang yang diayunnya itu.
„Criing……!”
Wi Tek Tosu terkejut dan melompat mundur. Tangannya terasa tergetar. Ia mengira bahwa tiga orang kakek Kun-lun-san yang kembali dan mengganggunya, akan tetapi ketika ia menengok, ia melihat seorang laki-laki bertubuh gagah, bermata tajam dan beralis tebal sedang memandangnya sambil bertolak pinggang. Laki-laki ini berusia empatpuluh tahun lebih dan melihat pakaiannya yang sederhana itu, mudah diduga bahwa dia adalah seorang ahli silat yang sedang melakukan perjalanan jauh dengan jalan kaki.
„Wi Tek Totiang, mengapa seorang pendeta seperti kau mau mengganggu tubuh yang sudah tak bernyawa lagi?” tanya laki-laki gagah itu dengan suaranya yang keras.
Wi Tek Tosu tentu saja mengenal laki-laki gagah itu karena dia ini adalah seorang tokoh kangouw yang terkenal. Dengan muka berobah merah sekali saking jengah dan malu, Wi Tek Tosu tertawa masam lalu berkata:
„Eh, kiranya Ong Tiang Houw Tayhiap yang datang. Baiknya tayhiap keburu mencegah pinto yang menjadi hilap karena amarah sehingga pinto tidak jadi merusak
69
mayat manusia iblis ini.” Wi Tek Tosu menyimpan kembali pedangnya.
„Siapakah dia itu?” tanya orang gagah yang bukan lain adalah Ong Tiang Houw yang sudah kita kenal dibagian depan dari cerita ini. Ia mendekati dan agak terkejut ketika mendapatkan mayat-mayat lain yang ia kenal sebagai tosu-tosu terkemuka dari Go-bi-pay. „Ayaa… a......! Kulihat tosu-tosu Go-bi-pay ada yang tewas pula! Apakah yang telah terjadi, totiang?”
Wi Tek Tosu menarik napas panjang. „Sute-suteku dan muridku sebanyak empat orang ini tewas oleh siluman wanita ini.”
Ong Tiang Houw kini mengalihkan perhatiannya kepada mayat Hek Moli. Ia melihat mayat seorang nenek tua yang berpakaian buruk, bertubuh kurus panjang dan mukanya tidak kelihatan karena tertutup oleh lengannya, didekatnya terdapat sebatang tongkat hitam panjang yang sudah patah-patah. Ia merasa hatinya terguncang keras.
„Wi Tek Totiang, tahukah kau siapa adanya wanita tua ini?” tanyanya sambil menekan guncangan hatinya.
„Dia adalah Hek Moli, iblis wanita yang sejahat-jahatnya,” jawab Wi Tek Tosu. „Tanpa sebab dia pernah naik ke Go-bi-san, menghina kami, bahkan membuntungi sebelah lengan muridku. Hari ini muridku bersama sute-suteku hendak memberi hajaran kepadanya, akan tetapi dia ternyata jahat dan ganas sekali sehingga murid dan sute-
70
suteku tewas. Baiknya kami dapat menewaskan pula siluman ini.”
Mendengar bahwa nenek itu adalah Hek Moli, muka yang tampan dari Ong Tiang Houw menjadi gelap, dan hatinya tidak enak sekali. Ia memandang tajam kepada Wi Tek Tosu sambil berkata:
„Wi Tek Totiang, aku tidak tahu urusan apa yang terjadi antara Hek Moli dan Go-bi-pay, akan tetapi yang jelas, dia ini lihay sekali sehingga dapat mengalahkan empat orang tokoh Go-bi-pay. Sekarang dia tewas, bagaimanapun juga, tidak patut sekali kalau kau menuruti nafsu iblis dan merusak mayat yang tidak bernyawa lagi.”
Kembali muka tosu itu menjadi merah. Ia menjura dan kata-katanya terdengar kering: „Ong-tayhiap, kau tidak tahu bagaimana sakit hati orang melihat tiga orang sute dan seorang muridnya menggeletak tak bernyawa, sehingga pinto menjadi mata gelap. Baiknya kau datang sehingga pinto tak jadi melakukan hal-hal yang kurang layak. Terima kasih atas kedatanganmu ini.”
Setelah berkata demikian, tanpa meno]eh kepada Tiang Houw lagi, Wi Tek Tosu lalu menghampiri em¬pat mayat kawan-kawannya, mengambil empat mayat itu satu demi satu, lalu memanggul mereka dengan sedikitpun tak kelihatan berat, kemudian ia lari turun gunung O-mei-san dengan cepat.
Ong Tiang Houw hanya memandang dan menarik napas panjang. „Tak pantas menjadi pendeta,” celanya dengan
71
suara perlahan. Kemudian ia menghampiri mayat Hek Moli, menurunkan lengan yang menutup muka nenek itu. Ia melihat wajah yang sudah tua, wajah yang keriputan dan menghitam, yang kelihatan sekelebatan amat buruk. Akan tetapi ketika ia memperhatikan, ternyata olehnya bahwa sebetulnya wajah itu mempunyai garis-garis yang amat baik, bahwa mata, hidung dan mulut itu dahulunya amat baik, wajah seorang yang dahulu amat cantik.
Teringatlah ia akan pesan dari mendiang suhunya, yakni Bu Sek Tianglo ketika kakek itu hendak menghembuskan nafas terakhir:
„Tiang Houw, kelak kalau kau sudah terjun ke dunia kang¬ouw, dan kau bertemu dengan seorang wanita yang memakai nama julukan Hek Moli, betapapun jahat ia nampaknya, jangan kau mengganggunya. Bahkan kau harus membela dia sedapat mungkin, Tiang Houw. Dialah satu-satunya orang di dunia ini yang kupuja, yang kuhormati dan yang takkan pernah terbayar budinya yang telah kuterima. Bela dan lindungi dia, Tiang Houw, sungguhpun ilmu silatnya sudah amat tinggi, mungkin dia dibenci orang-orang kangouw……”
Memang sudah seringkali Tiang Houw dalam perantauannya di dunia kangouw, mendengar akan nama Hek Moli yang amat ditakuti orang, akan tetapi belum pernah ia bertemu muka dengan orangnya. Ia mencari-cari keterangan dan akhirnya ia mendapat gambaran bahwa orang yang namanya Hek Moli adalah seorang nenek seperti siluman, bertongkat panjang hitam,
72
berpakaian butut dan berwajah buruk sekali, mem¬punyai watak aneh dan ganas.
Dan kini, di puncak O-mei-san, tanpa tersangka-sangka, ia telah bertemu dengan Hek Moli dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi. Namun, hatinya bersyukur bahwa dalam saat terakhir itu ia telah dapat memenuhi pesanan suhunya, yakni membela Hek Moli, sungguhpun pembelaannya itu amat sedikit artinya, yakni hanya mencegah orang merusak mayat nenek itu. De¬ngan sebutir senjata rahasia thi-lan-ci, ia tadi mencegah Wi Tek Tosu menurunkan pedang merusak jenazah Hek Moli. Diam-diam ia merasa lega.
Ia dapat membayangkan betapa sukar kedudukannya kalau ia datang lebih pagi, yakni selagi Hek Moli bertempur menghadapi pengeroyokan orang-orang Go-bi-pay. Apa yang harus ia lakukan? Biarpun suhunya sudah meninggalkan pesan agar ia membela Hek Moli, akan tetapi suara yang ia dengar tentang Hek Moli yang dianggap sebagai seorang iblis wanita ganas dan kejam, lagi pula suka mencari perkara, membuat ia ragu-ragu.
Apalagi kalau melihat Hek Moli bertempur melawan tokoh-tokoh Go-bi-pay! Ia mengenal baik ketua Go-bi-pay, yakni Pek Eng Thaysu yang diketahuinya benar-benar adalah seorang kakek pertapa yang berhati mulia dan suci. Ia tahu bahwa Go-bi-pay adalah sebuah partai persilatan yang amat besar, berpengaruh dan ternama, yang menghasilkan banyak pendekar-pendekar budiman. Bagaimana ia dapat membantu Hek Moli dan bermusuhan dengan Go-bi-pay?
73
„Betapapun juga, aku telah membelanya,” kembali Tiang Houw menghela napas lega, „setidaknya membela mayatnya.”
Ia lalu menggali lubang di tempat yang baik di puncak gunung, kemudian memondong mayat nenek itu dan menguburnya baik-baik. Agar kuburan itu tidak akan lenyap begitu saja tanpa bekas, ia lalu mengambil tongkat hitam yang sudah patah-patah itu, kemudian ia menancapkan tiga potongan tongkat itu di depan gundukan tanah kuburan.
Bagaimana Ong Tiang Houw dapat tiba di O-mei-san dan kebetulan sekali dapat mencegah Wi Tek Tosu merusak mayat Hek Moli? Untuk mengikuti perjalanan Ong Tiang Houw, baiklah kita mundur sebentar dan mengikuti pengalaman Nyonya Kwee Seng.
◄Y►
Seperti telah dituturkan dibagian depan dari cerita ini, empatbelas tahun yang lalu Ong Tiang Houw memimpin pasukan rakyat yang mempergunakan nama Kay-sin-tin, menyerbu dan membasmi orang-orang hartawan dan bangsawan di beberapa dusun, termasuk dusun Tiang-on. Sudah diceritakan pula betapa keluarga hartawan Kwee Seng pun menjadi korban. Kwee Seng sendiri tewas terkena sambaran senjata rahasia thi-lian-ci dari Ong Tiang Houw, adapun Kwee-hujin atau Nyonya Kwee yang masih muda dan cantik jelita itu menarik hati Ong Tiang Houw sehingga duda yang masih muda dan gagah
74
ini tidak tega untuk membunuhnya, bahkan lalu melarikannya di atas kuda.
Kwee Hujin, atau nama kecilnya Yo Cui Hwa, siuman dari pingsannya, membuka mata perlahan dan mengeluarkan suara rintihan. Ia membuka mata lebar-lebar ketika merasa betapa angin menyambar-nyambar dan membuat kulit mukanya terasa dingin. Ia melihat pohon-pohon berlari-larian cepat sekali dan setelah ia sadar betul-betul, barulah ia tahu bahwa ia berada dalam pondongan seorang laki-laki di atas kuda!
Kenyataan ini demikian mengejutkan dan mengerikan hatinya sehingga sambil mengeluarkan keluhan lemah, nyonya muda ini pingsan kembali dalam pelukan Ong Tiang Houw. Tiang Houw merasa betapa tubuh nyonya yang dipondongnya tadi bergerak perlahan, lalu lemas kembali, akan tetapi kini terasa hawa panas keluar dari tubuh yang dipondongnya itu. Bukan main panasnya sehingga ia sendiri sampai berpeluh.
Ia menahan kendali kudanya dan meraba jidat nyonya Kwee. Alangkah terkejutnya ketika tangannya meraba kulit jidat yang panas seperti terbakar. Ternyata bahwa luka dikepala karena beradu dengan batu, ditambah dengan pukulan batin melihat dirinya dilarikan oleh seorang laki-laki, telah menda-tangkan demam hebat pada diri Yo Cui Hwa nyonya muda itu.
1.5. Pernikahan dengan Pembunuh Suami.
75
„Dia harus cepat-cepat mendapat perawatan yang baik,” Ong Tiang Houw berkata seorang diri. Cepat ia membalapkan kuda menuju ke kampungnya sendiri.
Ketika Yo Cui Hwa sadar kembali, ia mendapatkan dirinya telah rebah di atas pembaringan sederhana dalam sebuah kamar yang bersih. Di atas meja dekat pembaringan itu terdapat sebuah tempat kembang terisi kembang yang masih segar. Keadaan disitu tenteram dan damai, menyenangkan sekali.
„Ibu, harap suka minum dulu obat ini agar lekas sembuh.”
Cui Hwa tersentak kaget dan menengok. Di sebelah pembaringan, ternyata seorang anak laki-laki berusia kurang lebih enam tahun tengah berlutut dan memegang sebuah mangkok terisi obat masakan yang masih hangat dan berbau harum. Cui Hwa tercengang. Anak itu berwajah bundar, kulit mukanya putih bersih, matanya bersinar dan bibirnya merah. Benar-benar muka seorang anak laki-laki yang tampan sekali.
Cui Hwa segera bangun dan duduk, memandang dengan mata terbuka lebar-lebar.
„Siapa kau? Dimana aku……?”
„Ibu, anak adalah Teng San dan ibu berada di rumah kita sendiri. Marilah minum obatnya, ibu……,” ucapan itu seperti tadi, terdengar amat halus dan penuh kasih sayang, sehingga Cui Hwa menjadi makin heran.
76
„Bagaimana kau memanggil aku ibu dan…… dan bagaimana aku bisa berada disini? Apa artinya ini semua?” Cui Hwa hampir menjerit saking tegangnya perasaan diwaktu itu.
Semua ini terjadi seperti dalam mimpi buruk. Tahu-tahu ia berada disebuah kamar asing dan anak laki-laki ini, yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya, tiba-tiba saja menyebutnya sebagai ibunya! Gilakah dia?
Anak laki-laki itu memandang dan bibirnya bergerak seperti orang berduka. „Ibu, anak mohon ibu minum dulu obat ini agar lekas sembuh. Tentang semua pertanyaan itu, nanti akan anak jawab setelah ibu minum obat.”
Kata-kata yang amat halus dan penuh perhatian itu benar-benar membuat Cui Hwa terharu. Tak dapat lagi ia menolaknya, maka sambil memandang muka anak itu tanpa berkedip, ia menerima mangkok dan minum isinya tanpa ragu-ragu lagi. Rasanya agak pait dan masam. Adapun anak itu memandang dengan muka berseri ketika melihat Cui Hwa minum obatnya, kemudian anak itu memandang kagum melihat betapa muka Cui Hwa bergerak-gerak menahan rasa pahit. Dalam pandangannya, muka itu bukan main indahnya.
„Pahit, ibu?” tanyanya dan suaranya mengandung kasih sayang yang menggetarkan kalbu Cui Hwa. Ia menaruh mangkok kosong itu di atas meja dekat pembaringan, kemudian ia bertanya: „Nah, sekarang ceritakanlah yang jelas. Siapa namamu tadi? Teng San?”
77
„Ong Teng San nama anak, ibu. Ayahku yang membawa ibu dalam keadaan sakit hebat. Kata ayah, ibu ditolong oleh ayah dari ancaman maut, dan menurut ayah, kau adalah pengganti ibuku yang sudah meninggal dunia. Kata ayah, aku harus menganggap kau sebagai ibuku sendiri, dan karena…… karena akupun suka sekali mempunyai ibu seperti kau, maka aku menurut pesan ayah dan merawat ibu disini. Anak merasa senang sekali melihat ibu berangsur sembuh dan……”
„Nanti dulu!” Cui Hwa kini memandang pucat. „Apa kau bilang? Siapa itu ayahmu? Bagaimana ia berani sekali mengatakan bahwa aku……”
„Ibu, maafkanlah ayah…… dia seorang yang paling mulia di dunia ini, jangan marah kepadanya. Dia…… di…… ibuku…… telah meninggal dunia setahun lebih yang lalu dan dia…… aku…… amat berduka.”
Melihat anak itu menangis tersedu-sedu, Cui Hwa menjadi terharu. Memang, kesedihan hati sendiri akan terobat melihat penderitaan atau kesedihan orang lain, dan untuk sementara, seorang berhati mulia seperti Cui Hwa yang sedang berduka, akan melupakan kedukaan sendiri menghadapi orang lain yang demikian berduka. Ia turun dari pembaringan, memegang pundak Teng San dan menyuruhnya berdiri.
„Diamlah, nak,” ia mengelus-elus kepala anak itu. „Dan kau pergilah, panggil ayahmu kesini.”
„Akan tetapi jangan marah kepadanya, ibu……”
78
Melihat betapa sepasang mata yang tajam dan bening itu memandang kepadanya dengan penuh permohonan, mengucurlah airmata dari sepasang mata Cui Hwa dan dengan mulut tersenyum sedih, ia menggeleng perlahan kepalanya sambil berkata perlahan:
„Kalau ayahmu sebaik engkau, aku takkan marah, Teng San.”
Mendengar ini, Teng San kelihatan girang sekali dan ia lalu berlari keluar. Sampai di pintu, ia menengok kembali dan berkata:
„Kau duduklah dulu, ibu. Jangan berdiri saja, kau masih lemah. Biar anak memanggil ayah!”
Cui Hwa menghela napas dan duduk, termenung. Dalam rumah siapakah ia tiba? Dengan orang macam apa ia akan berhadapan? Ia mengingat kembali semua pengalamannya. Yang teringat olehnya hanyalah bahwa suaminya sudah menggeletak mandi darah di dalam hutan, kemudian ia dibawa lari di atas kuda oleh seorang laki-laki yang tak dilihat mukanya diwaktu itu. Apakah laki-laki itu yang menjadi ayah Teng San?
„Suamiku…… agaknya kau…… kau telah……” Sampai disini, air matanya turun bertitik-titik di atas sepasang pipinya yang agak pucat. Kemudian ia teringat akan puterinya, In Hong, maka makin deraslah air matanya.
„In Hong…… bagaimana nasibmu, anakku……??” bisiknya.
79
Pada saat itu, terdengar suara langkah orang di luar pintu kamar. Teng San muncul bersama seorang laki-laki yang sikapnya gagah, pakaiannya sederhana, dan wajahnya tampan.
„Ibu, mengapa kau menangis……?” Teng San berlari menghampiri Cui Hwa dan memeluk nyonya muda yang sedang duduk menangis itu. „Jangan bersedih, ibu, ada Teng San disini yang akan menghiburmu.”
Cui Hwa makin terharu dan tak terasa pula ia mendekap kepala anak itu kepangkuannya, terisak-isak menangis. Kemudian ia teringat akan laki-laki yang datang bersama Teng San, maka ia lalu mengangkat muka memandang. Dua pasang mata bertemu lama, yang sepasang penuh kasih sayang, yang sepasang lagi penuh selidik dan curiga, akhirnya sepasang mata Cui Hwa yang memandang penuh selidik itu mengalihkan ke bawah, mukanya menjadi agak merah karena ia merasa amat tidak enak dan malu berhadapan dengan seorang laki-laki muda yang tak dikenalnya di dalam kamar yang asing itu. Baiknya disitu ada Teng San, maka ia mengelus-elus kepala anak itu untuk menghilangkan kebingungannya.
„Kau sayang kepada Teng San, bagus sekali. Bukan main lega hatiku melihatnya,” terdengar laki-laki itu berkata dan suaranya mempunyai gaya seperti suara Teng San, halus dan lemah lembut, namun berpengaruh.
Dengan perlahan, Cui Hwa mendorong kepala Teng San dari pangkuannya dan anak ini lalu duduk di atas pembaringan dekat Cui Hwa.
80
„Kau siapakah? Dan apa maksudnya ini semua? Mengapa kau membawaku kesini dan bagaimana dengan…… suamiku? Dimana pula In Hong anakku?” Cui Hwa hanya sebentar saja menatap wajah laki-laki itu, karena pandang mata yang penuh kekaguman dan kasih sayang yang ditujukan kepada¬nya itu membuat ia tidak berani memandang dan bertemu pandang terlalu lama.
Laki-laki itu yang bukan lain adalah Ong Tiang Houw, menarik sebuah bangku di dekat meja, lalu duduk. Ia menarik napas panjang berkali-kali, agaknya hendak menenteramkan hatinya yang berguncang, kemudian berkata lambat-lambat:
„Biarlah kita bicara dengan hati terbuka dan biarpun yang akan kita bicarakan ini tidak patut didengarkan oleh seorang anak-anak, akan tetapi kurasa lebih baik Teng San biar tinggal disini agar kau tidak merasa kikuk dan pula lebih pantas kalau dia mengawanimu disini.”
Hati Cui Hwa lega mendengar kata-kata ini, ia merasa setuju dan terhibur mendengar kata-kata yang mencerminkan sikap sopan dan jujur ini, maka ia mengangguk menyetujui.
„Aku bernama Ong Tiang Houw, seorang…… duda yang hidup berdua dengan puteraku ini, Ong Teng San……”
Kembali Cui Hwa mengangguk tanda bahwa ia sudah mengerti akan hal ini, karena memang ia sudah mendengar dari Teng San bahwa ibunya meninggal dunia setahun lebih yang lalu. Nama Ong Tiang Houw tidak
81
pernah dikenalnya, maka tidak mendatangkan sesuatu yang aneh. Padahal bagi dunia kangouw, nama ini tentu akan dikenal baik sebagai nama seorang pendekar muda yang lihay sekali!
„Dua pekan yang lalu, pada suatu malam, lewat tengah malam, aku mendapatkan kau menggeletak di dalam hutan dalam keadaan pingsan dan……”
„Dua pekan yang lalu?” Cui Hwa mengulang dan ia memandang wajah Tiang Houw untuk sejenak.
Tiang Houw mengangguk. „Ya, dua pekan yang lalu. Kau telah menderita sakit demam yang cukup hebat selama hampir dua pekan.”
„Aahhh…… teruskanlah.”
„Selain kau, aku melihat pula…… seorang laki-laki rebah di atas tanah dalam keadaan sudah…… tewas.”
Cui Hwa tak dapat menahan air matanya yang mengucur keluar. Ia mengangguk-angguk dan berkata terputus-putus: „Aku tahu, aku tahu…… aku melihat dia…… suamiku…… menggeletak dengan kepala penuh darah. Sudah kuduga…… dia tentu sudah…… meninggal dunia……”
Tiang Houw membiarkan nyonya muda itu terisak-isak sebentar dan Teng San memeluk Cui Hwa: „Tenanglah, ibu, harap suka menguatkan hati……”
82
„Teruskanlah……” minta Cui Hwa dengan suara sayu.
„Karena di dalam keributan itu aku tidak dapat melakukan sesuatu untuk menolongmu, maka terpaksa aku lalu membawamu pergi dari tempat berbahaya itu dan membawamu pulang ke rumahku ini. Kau berada dalam keadaan pingsan dan ketika kau kubawa kesini, kau terserang demam hebat. Nah, hanya itulah yang dapat kuceritakan.”
Cui Hwa kembali mengangkat muka, memandang kepada Tiang Houw dengan sinar mata penuh selidik.
„Siapakah yang membunuh suamiku?”
Ketika ia melakukan pertanyaan ini, kedua matanya demikian tajam menatap wajah Tiang Houw sehingga yang dipandang terpaksa mengalihkan pandang matanya kekanan, tidak berani menghadapi sinar mata Cui Hwa secara langsung.
Tiang Houw adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang takkan merasa gentar menghadapi keroyokan musuh yang bagaimana kuatpun, akan tetapi kini menghadapi Cui Hwa dengan sinar matanya yang bening tertutup air mata itu dan mendengar pertanyaan yang diucapkan oleh bibir yang gemetar, hatinya berdebar keras! Dan baru pertama kali ini selama hidupnya, Tiang Houw merasa takut dan tidak merasa malu untuk membohong!
„Malam hari itu terjadi keributan besar, orang-orang miskin membalas dendam kepada orang-orang yang
83
menindas mereka, aku hanya mendapatkan kau dan…… suamimu dalam keadaan seperti yang kututurkan tadi, bagaimana aku bisa tahu?” jawab Tiang Houw secara menyimpang.
„Ibu, kalau ayah tahu orang yang membunuh, tentu pembunuh itu takkan dapat melarikan diri. Ayah adalah seorang gagah yang berkepandaian tinggi……”
„Teng San, jangan menyombong!” tegur Tiang Houw.
„Tidak, ayah, terhadap orang lain tentu saja anak tidak akan mau menyombongkan diri atau menyombongkan ayah, akan tetapi di depan ibu……” Akan tetapi, ia segera menghentikan kata-katanya ketika melihat pandang mata ayahnya melarangnya bicara terus.
Cui Hwa termenung sejenak. Kemudian ia bertanya:
„Dan tahukah kau dimana adanya puteriku, In Hong?”
„Sayang sekali aku tidak tahu, dan ketika aku mendapatkan kau di dalam hutan itu, aku tidak melihat lain orang, tidak melihat seorang anak-anak disana.”
Kembali Cui Hwa termenung. Memang ia tahu bahwa Tiang Houw tak mungkin bertemu dengan In Hong. Anaknya itu telah melarikan diri dengan Can Mama, dan ia tidak tahu bagaimana nasib mereka. Mengingat betapa ia telah ditinggal mati suaminya dan kini kehilangan anaknya yang belum diketahui bagaimana nasibnya, kembali air matanya seperti membanjir keluar. Perlahan ia
84
berdiri dan kata-kata yang keluar lambat-lambat dari bibirnya yang telah memerah kembali, terdengar jelas:
„Aku harus membalas dendam kepada orang yang menyebabkan kematian suamiku dan kehilangan anakku!”
Kata-kata ini lambat-lambat dan perlahan, namun terdengar bagaikan suara guntur menggelegar bagi telinga Tiang Houw sehingga mukanya berubah pucat. Adapun bagi telinga Teng San, suara itu terdengar amat mengharukan, maka sambil memeluk pinggang nyonya muda itu, ia berkata keras:
„Jangan khawatir, ibu, anakmu Teng San kelak akan mencari dan membalas dendam kepada keparat itu!!”
„Diamlah kalian!” Tiang Houw membentak, membikin kaget kepada Cui Hwa dan Teng San. Ketika mereka menengok, mereka melihat Tiang Houw sudah duduk sambil menutup muka dengan kedua tangannya.
Teng San melompat dan memegang pundak ayahnya.
„Kenapakah, ayah?”
Cui Hwa juga memandang heran dan sampai lama Tiang Houw tidak mengeluarkan sedikitpun suara. Terjadi pertentangan di dalam dada pendekar itu. Ia ingin berterus terang sebagai seorang gagah, bahwa dialah yang membunuh Kwee Seng, membunuh bukan karena dendam perseorang, ingin berterus-terang bahwa dia
85
sebagai laki-laki gagah berani bertanggung-jawab atas semua perbuatannya.
Akan tetapi dilain pihak, ia takut kalau-kalau nyonya ini akan membencinya. Makin lama, makin dalamlah perasaan cinta kasihnya kepada Cui Hwa sehingga ia memberitahu kepada Teng San yang selalu bertanya bahwa wanita ini adalah pengganti ibu Teng San. Dan lebih berat lagi baginya, tidak saja dia telah jatuh hati betul-betul kepada Cui Hwa, bahkan Teng San sendiri sudah menyinta Cui Hwa sebagai seorang anak terhadap ibunya.
Akhirnya, cinta kasih lebih kuat daripada kegagahan.
„Untuk apa ribut-ribut tentang kematian? Mati atau hidup bukanlah urusan manusia, melainkan keputusan dari Thian Yang Mahakuasa. Siapa pula yang mengira bahwa ibumu dapat meninggal dunia, Teng San?”
Kembali Tiang Houw menutup mukanya, bukan saja karena merasa malu kepada diri sendiri karena kebohongannya, akan tetapi juga karena ia merasa berduka kalau mengingat isterinya yang membunuh diri gara-gara perbuatan laknat dari seorang hartawan jahanam.
Cui Hwa memandang kepada ayah dan anak ini. Hatinya mulai tertarik dan terharu.
„Kalian ini orang-orang yang berbudi mulia,” katanya dan ia kini menentang pandang mata Tiang Houw yang telah
86
menurunkan tangannya dari depan muka, „aku berterima kasih sekali kepadamu, saudara Ong. Kau juga seorang anak yang amat berbakti dan baik, Teng San, aku benar-benar suka sekali kepadamu. Akan tetapi, sekarang aku harus pergi, tidak selayaknya aku lebih lama tinggal di rumah kalian ini.”
Tiang Houw terkejut dan mukanya berubah. Apalagi Teng San, anak ini segera menubruk Cui Hwa dan menangis.
„Ibu, jangan pergi meninggalkan kami! Bukankah aku anakmu dan kau sudah menjadi ibuku…..? Ayah, jangan perbolehkan ibu yang ini pergi lagi seperti ibu yang dulu……!”
Tiang Houw merasa terharu dan ia hanya memandang dengan muka sedih. Dengan suara yang parau ia menjawab: „Teng San, bagaimana ayahmu bisa menahan? Ayah pun tidak berdaya, anakku, hanya dapat berduka dan kecewa.”
Cui Hwa bingung. Ia benar-benar merasa kasihan kepada dua orang ini.
„Tidak bisa, aku pergi. Aku harus mencari In Hong, anakku. Aku tidak boleh tinggal disini, apa akan kata orang lain?”
„Orang lain sudah mengetahui bahwa kau tinggal bersama kami selama dua pekan, bahkan Teng San sudah membanggakan bahwa kau adalah ibunya, hal ini
87
diceritakannya kepada siapapun juga yang mau mendengarnya.”
Merahlah wajah Cui Hwa dan ia memandang kepada Teng San dengan marah. Akan tetapi kemarahannya lenyap ketika ia memandang kepada anak itu. Bagaimana ia bisa merasa marah kepada anak yang memandangnya dengan sinar mata demikian menyinta? Bahkan sinar mata In Hong tidak sehalus anak ini kalau memandangnya.
„Bagaimana ini? Mengapa kau diamkan saja anakmu bica¬ra seperti itu?”
Tiang Houw kini merah mukanya dan dengan lambat perlahan ia menjawab: „Memang aku tidak melarangnya, karena aku…… akupun mempunyai pikiran yang sama. Aku…… aku mau kau…… yakni kalau kau sudi…… kau menjadi pengganti ibu anakku……” Sukar sekali kata-kata ini keluar dari mulut pendekar yang tidak pernah gentar menghadapi penjahat besar itu.
Wajah Cui Hwa menjadi makin merah. Ia bingung sekali karena anak dan ayah ini benar-benar aneh.
„Bagaimana kau dan anakmu bisa berpikiran begitu? Aku kehilangan anakku……”
„Dan aku kehilangan ibuku!” Teng San menjawab cepat.
„Dan Teng San dapat menjadi anakmu yang berbakti dan baik,” Tiang Houw membantu anaknya.
88
„Akan tetapi…… aku baru saja kematian suamiku……,” kata pula Cui Hwa.
„Dan aku kematian isteriku!” kata pula Tiang Houw cepat-cepat untuk mengimbangi keadaan Cui Hwa. „Dan tentang pemikahan kita, tak perlu terburu-buru, terserah kepadamu memilih waktu setelah kau melepas perkabunganmu.”
„Dan ayah adalah seorang ayah dan suami yang baik sekali!” Teng San yang cerdik membantu ayahnya. „Aku berani tanggung bahwa dia akan menjadi seorang suami yang tiada bandingnya di dunia ini!”
Wajah Cui Hwa makin merah dan ia menjadi makin bingung, tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana.
„Aku harus mencari In Hong, harus tahu bagaimana nasibnya. Bagaimana aku dapat memikirkan nasib sendiri kalau keadaannya belum kuketahui?” Kata-kata ini merupakan keluhan.
„Hujin (nyonya)……” kata Tiang Houw, akan tetapi sebelum ia melanjutkan kata-katanya, Teng San menegurnya:
„Ayah, alangkah lucunya panggilan itu. Mengapa ayah menyebut nyonya kepada ibuku?”
89
Tiang Houw menjadi gugup, demikianpun Cui Hwa. Akan tetapi Tiang Houw dapat mengatasi keadaan yang lucu dan ganjil ini, maka katanya sambil tersenyum:
„Betul juga, sampai demikian lama, aku belum mendapat tahu namamu, bolehkah kami mengetahuinya?”
„Aku adalah Nyonya Kwee……”
„Ibu, mengapa masih memakai nama itu? Ibu tentu mempunyai nama sendiri, bukan?” tanya Teng San sebelum ayahnya dapat mencegahnya.
Namun Cui Hwa tidak menjadi marah karena ia maklum bahwa anak itu belum tahu apa-apa dan tidak bermaksud menyinggung hatinya.
„Teng San, dahulu aku bernama Yo Cui Hwa.”
„Nama yang bagus! Ibu, bagus sekali namamu. Yo Cui Hwa, ah, benar-benar indah. Bukan begitu, ayah?”
Tiang Houw hanya mengangguk-angguk. „Memang bagus, nah se¬karang dengarlah usulku, adik Cui Hwa. Tentang puterimu yang masih belum diketahui tempat tinggalnya dan nasibnya itu, biarlah kauserahkan kepadaku untuk mencarinya. Kalau memang dia masih ada, tentu aku akan dapat membawanya kesini dan biar dia tinggal bersama kita disini. Bukankah hal itu akan baik sekali?”
90
„Bagus, aku akan mendapatkan seorang adik! Aku senang sekali!” Teng San berteriak-teriak.
Tentu saja Cui Hwa setuju. Memang baginya sendiri, amat berat untuk mencari In Hong. Dia seorang wanita lemah, bagaimana ia dapat mencari In Hong? Kalau Tiang Houw mau mencari, itulah hal yang paling baik.
„Terima kasih, saudara Ong. Kau lagi-lagi memperlihatkan budimu yang amat baik. Ketika terjadi penyerbuan, anakku itu dibawa pergi oleh Can Mama, inang pengasuhnya. Kalau aku tidak salah kira, tentu oleh Can Mama, anakku itu dibawa lari ke See-ciu, dimana tinggal seorang pamanku yang bernama Yo Tang. Harap kau suka mencarinya disana.”
„Baik, adik Cui Hwa. Hari ini juga aku akan berangkat. Harap kau baik-baik tinggal di rumah bersama anak kita.”
Merah pipi Cui Hwa mendengar ini, akan tetapi ia tidak marah dan hanya mengelus-elus kepala Teng San. Ia harus akui bahwa Tiang Houw benar-benar merupakan seorang laki-laki yang tidak saja tampan dan gagah, akan tetapi juga bersikap halus dan berbudi mulia dan sopan. Suaminya telah meninggal dunia, dan agaknya di dalam dunia ini tidak mungkin ia mendapatkan seorang calon suami seperti Ong Tiang Houw.
Demikianlah, Tiang Houw pada hari itu juga meninggalkan rumahnya dan mulai dengan perjalanannya mencari puteri dari keluarga Kwee yang dibasminya bersama anak buahnya! Sesuai dengan keterangan Cui
91
Hwa, ia mencari ke See-ciu dan benar saja, di kota ini ia mendengar tentang adanya seorang hartawan bernama Yo Tang. Ia mulai menyelidiki karena untuk langsung mendatangi hartawan ini, ia merasa tidak enak.
Dari keterangan yang ia kumpulkan, ia mendengar bahwa memang betul rumah hartawan Yo itu kedatangan seorang nenek tua bernama Can Mama dan orang-orang mengabarkan pula bahwa Can Mama adalah pelayan dari seorang keponakan Yo-wangwe di dusun Tiang-on yang sudah dibasmi oleh para penyerbu, yakni pasukan Kay-sin-tin. Akan tetapi ketika ditanya tentang seorang nona kecil bernama In Hong, tak se¬orang pun mengetahuinya.
Oleh karena itu, Tiang Houw lalu mengambil jalan pendek. Pada malam harinya, ia mendatangi rumah gedung hartawan Yo dan di luar tahunya siapapun juga, ia menangkap dan membawa pergi Can Mama! Setelah mendapat keterangan dari Can Mama bahwa nona In Hong dibawa pergi oleh se¬orang nenek seperti siluman, Tiang Houw menjadi bingung. Ia dapat menduga bahwa yang membawa pergi In Hong tentulah seorang kangouw yang berkepandaian tinggi, yang suka melihat nona kecil itu dan hendak mengambilnya menjadi murid. Maka tiada lain jalan baginya kecuali membawa Can Mama pulang ke dusunnya sendiri.
Pertemuan antara Cui Hwa dan Can Mama amat mengharukan. Setelah bertangis-tangisan mereka saling menuturkan pengalamannya dan Cui Hwa menangis sedih ketika mendengar bahwa In Hong dibawa pergi oleh seorang nenek seperti siluman. Ia mengira bahwa nenek
92
itu tentu sebangsa siluman yang akan mengganggu puterinya. Akan tetapi Tiang Houw menghiburnya.
„Nenek itu tentu seorang kangouw yang berkepandaian tinggi. Aku berani memastikan bahwa anakmu itu akan selamat, adik Cui Hwa. Jangan kau khawatir, aku akan bertanya-tanya kepada kawan-kawan di dunia kangouw kalau-kalau ada yang melihat anakmu. Kalau yang membawanya itu seorang kangouw, percayalah kepadaku, kalau aku yang minta tentu ia akan memberikan In Hong kepadaku.”
Akhirnya, berkat hiburan Tiang Houw, Teng San, dan dibantu pula oleh Can Mama, akhirnya hati Cui Hwa terhibur juga. Terutama sekali, dengan adanya Can Mama disitu, ia merasa lebih suka tinggal disitu. Akhirnya iapun tidak me-nolak menjadi isteri Tiang Houw yang diketahui benar-benar memang amat baik budinya. Can Mama juga membantu Tiang Houw dengan bujukan-bujukannya, karena orang tua ini juga tidak melihat jalan lain yang lebih baik bagi nyonya majikannya.
Memang betul mereka dapat pergi ke See-ciu, akan tetapi apa akan kata orang kalau mengetahui bahwa nyonya janda muda itu sudah lama tinggal di rumah seorang duda yang hidup berdua dengan puteranya? Kalau pamannya, yakni Yo-wangwe mendengar pula, tentu akan marah sekali dan mungkin akan mengusirnya, karena akan menganggap bahwa Cui Hwa hanya akan mencemarkan nama baik keluarga Yo! Memang pada waktu itu, peraturan di Tiongkok bagi pihak wanita amat keras dan bengis.
93
Semenjak menikah dengan Cui Hwa, Tiang Houw tidak lagi mau memimpin orang-orang untuk menyerbu dusun dan kota. Tidak lagi ia menaruh hati dendam kepada hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan.
Ini adalah jasa dari Cui Hwa. Didalam percakapan mereka, ketika Tiang Houw menyatakan pembelaannya terhadap para jembel yang menyerbu kota dan dusun, yang membalas dendam kepada orang-orang hartawan dan pembesar yang dianggap orang-orang yang mencekik kehidupan mereka, Cui Hwa menjawab penuh semangat:
2.1. Pengakuan Sang Suami Pengecut.
„Alangkah picik dan rendahnya pendirian macam itu! Memang tak dapat disangkal kebenarannya bahwa ada orang-orang hartawan dan bangsawan yang jahat dan keji, yang tidak segan-segan memeras keringat dan darah rakyat kecil. Akan tetapi harus diingat pula bahwa ada juga orang miskin yang pada dasarnya berwatak rendah dan jahat! Tak dapat disangkal pula bahwa ada di antara bangsawan dan hartawan yang berhati mulia, seperti juga halnya petani miskin ada pula yang berhati baik. Bagaimana manusia bisa disama ratakan? Bukan semua orang hartawan mendapatkan harta bendanya dengan jalan memeras keringat orang miskin! Apa sih jahatnya seseorang yang rezekinya kebetulan banyak dan baik? Suamiku, memang aku tahu akan rasa sakit hatimu karena keluargamu musnah akibat perbuatan busuk seorang hartawan keji, akan tetapi sungguh merupakan penasaran besar kalau kau lalu menganggap semua
94
hartawan jahat belaka. Coba bayangkan, andaikata kau bekerja keras kemudian berhasil mengumpulkan harta benda dengan halal, kemudian datang para jembel itu yang membalas dendam kepada para hartawan sehingga kau dan anak isterimu menjadi korban pula, bagaimana perasaan hatimu?”
Tiang Houw diam saja, mendengarkan penuh perhatian.
„Seorang hartawan berlaku jahat lalu semua hartawan dibasmi, benar-benar merupakan penasaran besar! Andaikata ada seorang jembel melakukan kejahatan, apakah semua orang jembel di dunia inipun harus dibasmi habis? Menilai watak orang tak dapat dipandang dari sudut kaya miskinnya, melain¬kan dari perbuatannya. Memang, kekayaan bisa membikin orang menjadi jahat, akan tetapi sebaliknya harus diingat bahwa kemiskinan pun bisa membikin orang menjadi mata gelap dan jahat. Semua tergantung dari si orang itu sendiri.”
Diam-diam Tiang Houw memuji kebijaksanaan isterinya dan diam-diam ia harus akui bahwa tadinya dia terlampau menurutkan nafsu dan dendam. Memang, pembalasan dendam yang ditujukan kepada semua orang hartawan dan bangsawan, benar-benar tidak adil sama sekali. Ia merasa malu kepada diri sendiri dan tanpa diketahui oleh isterinya, ia lalu mendatangi kawan-kawannya dan membubarkan Kay-sin-tin, bahkan mengancam agar mereka jangan sekali-kali melakukan penyerbuan yang membabi buta itu!
95
Setahun setelah mereka menikah, Cui Hwa melahirkan seorang anak perempuan. Bukan main girangnya keluarga itu dan terutama sekali Cui Hwa dan Can Mama. Kedua orang wanita ini terhibur kedukaan hati mereka karena kini ada seorang anak perempuan yang menggantikan In Hong yang telah lenyap tiada kabar ceritanya. Sia-sia saja Tiang Houw mencari ke mana-mana, karena ia tidak tahu bahwa In Hong dibawa oleh Hek Moli ke puncak Ciung-lai-san dan semenjak itu tak pernah turun-gunung.
Cui Hwa hidup dengan aman dan tenteram dan kelihatan¬nya berbahagia. Suaminya benar-benar seorang yang amat cinta kepadanya. Teng San lebih-lebih lagi merupakan seorang putera yang amat berbakti, bahkan sikap anak ini demikian baik kepadanya sehingga Cui Hwa merasa bahwa anak itu seperti anaknya sendiri. Adapun anak perempuan yang menjadi adik Teng San itu bernama Ong Lian Hong, makin besar makin nampak kecantikannya, serupa benar dengan ibunya sehingga tentu saja serupa pula dengan In Hong!
Teng San amat sayang kepada adik tirinya ini, demikianpun Lian Hong amat kasih kepadanya. Memang tidak ada sesuatu nampaknya yang akan dapat mengurangi kebahagiaan Cui Hwa. Akan tetapi, tetap saja ada sesuatu yang menusuk hati dan merupakan ganjalan di dalam kebahagiaan Cui Hwa. Seringkali ia minta kepada suaminya, yang diketahuinya seorang pendekar perkasa, untuk mencari tahu dan menyelidiki siapakah sebenarnya pembunuh dari Kwee Seng!
96
Tiada apapun jua di dalam dunia ini yang kekal. Segala sesuatu berubah pada saatnya, dan tidak ada kekuasaan di dunia yang dapat mencegah terjadinya perubahan ini. Anak-anak berubah menjadi dewasa, orang dewasa menjadi tua, yang tua meninggal dunia, dilain pihak manusia-manusia baru terlahir dan muncul di dunia menggantikan mereka yang pergi ke tempat asal. Tepatlah kata-kata orang bijaksana dijaman dahulu bahwa Langit dan Bumi serta segala isinya berasal dari ADA, sedangkan ADA berasal dari TIADA!
Bukankah segala sesuatu yang kita lihat di depan mata kita ini tadinya memang TIDAK ADA? Dan bukankah semua ini kelak juga kembali menjadi TIDAK ADA?
Demikian pula dengan kebahagiaan hidup manusia. Dimana ada kebahagiaan kekal di dunia ini? Kalau orang mengira bahwa ia mengenal kebahagiaan, itu berarti bahwa iapun akan mengenal kesengsaraan! Kalau orang bisa bersenang, pasti ia bisa berduka. Inilah hukum IM-YANG dari pada alam yang meliputi kehidupan seluruh alam, hukum yang tak dapat di¬sangkal pula kebenarannya. Kalau ada siang pasti ada malam, kalau ada kanan pasti ada kiri, ada senang pasti ada susah dan ada bahagia pasti ada sengsara. Sebaliknya, tanpa siang takkan ada malam, tanpa kanan takkan ada kiri dan sebagainya. Kalau kita tidak mengenal senang, bagaimana dapat mengenal susah? Manusia selalu menjadi hamba daripada perasaannya sendiri dan karena inilah maka ia terombang ambing dalam permainan perasaan yang seluruhnya dikuasai oleh tenaga IM-YANG.
97
Karena kelemahan manusia inilah maka Guru besar Khong Hu Cu mengajar manusia tentang Tiong-yong, tentang menguasai hati dan perasaan sendiri agar selalu „tiong” atau lurus tegak, tidak condong ke kanan atau ke kiri, tidak con-dong kepada IM maupun kepada YANG. Tidak terseret oleh suka maupun duka, sehingga orang akan menerima segala apa dengan tenang.
Penghidupan keluarga Ong Tiang Houw memang tadinya nampak seakan-akan mereka itu selalu berbahagia dan tidak pernah mengenal duka. Ong Tiang Houw dan isterinya yang baru, yakni Yo Cui Hwa, saling menyinta dan hidup rukun sekali. Putera dan puteri mereka, Ong Teng San dan Ong Lian Hong, juga amat penurut serta berbakti kepada orang tua.
Teng San merupakan seorang pemuda yang benar-benar patut disayang. Biarpun Cui Hwa adalah ibu tirinya, akan tetapi ia ibu tirinya seperti ibu sendiri. Juga ia sayang kepada adik tirinya, Lian Hong. Boleh dibilang dialah yang mengasuh adiknya ini selalu, sungguhpun sudah ada pelayan atau inang pengasuh.
Disamping kebaikan-kebaikan ini, Teng San juga merupakan seorang pemuda yang amat gagah, tubuhnya tinggi besar dan tegap, mukanya kemerahan dan alisnya tebal. Ilmu silatnya lihay karena semenjak kecil ia digembleng oleh ayahnya. Juga Lian Hong setelah berusia enam tahun, mulai menerima latihan dari kakaknya.
98
Adapun Lian Hong, serupa benar mukanya dengan ibunya, cantik manis dan lucu. Anak ini amat disayang oleh ayah bunda serta kakaknya, maka ia menjadi manja sekali. Apa saja yang dimintanya, pasti dipenuhi oleh ayah bundanya. Memang, dipandang begitu saja orang akan mengira bahwa kehidupan keluarga ini sudah amat berbahagia, tiada kekurangan dan tiada sesuatu yang dapat menyusahkan hati mereka.
Akan tetapi, pada hakekatnya tidaklah demikian. Cui Hwa memang sudah dapat merasa puas menjadi isteri Tiang Houw, namun nyonya ini selalu merasa penasaran dan sakit hati atas kematian suaminya yang pertama, yakni Kwee Seng. Tiap kali ia teringat akan suaminya yang terbunuh secara menyedihkan dan teringat kepada putrinya, In Hong yang belum juga diketahui bagaimana nasibnya, ia lalu mendesak kepada suaminya untuk menyelidiki.
Tiang Houw sudah bertahun-tahun berperang di dalam dadanya sendiri. Dia adalah seorang gagah yang menjunjung tinggi kegagahan, menjunjung tinggi kejujuran dan karenanya ia merasa amat sengsara bahwa selama ini ia membohongi isterinya yang dicintainya. Sebagaimana diketahui, yang mem-bunuh Kwee Seng suami pertama dari Cui Hwa adalah Ong Tiang Houw sendiri, akan tetapi sudah sepuluh tahun mereka menjadi suami isteri, Tiang Houw masih belum berani mengakui perbuatannya.
99
Pada suatu senja, keluarga itu duduk bercakap-cakap di ruang depan setelah makan sore yang selalu dilakukan berbareng. Tidak seperti biasanya, Cui Hwa nampak termenung dan berduka, agaknya ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Suaminya maklum bahwa lagi-lagi isterinya ini memikirkan tentang sakit hati yang belum juga terbalas, dan sudah dalam beberapa hari ini, seringkali mereka berbantahan kalau membicarakan hal itu di dalam kamar mereka.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Tiongkok Kuno : Sian Li Eng Cu 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments