Cerita Silat Cersil Terbaik : Jin Sin Tayhiap 2

Cerita Silat Cersil Terbaik : Jin Sin Tayhiap 2
Cerita Silat Cersil Terbaik : Jin Sin Tayhiap 2
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Silat Cersil Terbaik : Jin Sin Tayhiap 2
baca juga:
Tinggallah para kubu ciang-bujin yang seluruhnya seratus orang bersama tiga she-taihap “terimakasih she-taihap, kami hendak undur diri.” ujar Tan-hui “silahkan cianpwe..” sahut Kwaa-gan-bao, lalu merekapun meninggalkan hutan kong-ciak, sehingga tinggallah she taihap dilapangan itu “sam-wi sicu belum berangkat ?” “tentunya kami juga akan pergi sicu muda, namun ada hal yang harus kami bicarakan dengan sicu sendiri.” sahut Kwaa-gan-bao “hal apakah itu sicu ?” tanya Kwaa-han-jin “sicu muda kami bertiga ini adalah saudara, kami she-kwaa, saya adalah Gan-bao, dan ini adalah Hong-moi, serta yang ini adalah yang-bun-te “ooh..sam-wi sicu ternyata she-kwaa, sama dengan saya, saya juga adalah she-kwaa, nama saya Han-jin.” sahut Kwaa-han-jin
“saya sudah menduga bahwa sicu adalah she-kwaa.” “darimana sicu menduga demikian ?” “karena ilmu yang digunakan sicu adalah ilmu she-kwaa, jadi
100
untuk itu kami mohon dijelaskan, tentunya ada pertalian diantara kita, terlebih kita berempat adalah she-kwaa.” “memang benarlah demikian sicu, jadi saya akan katakan bahwa ayah saya adalah Kwaa-han-bu dan ibu saya… ” “maaf kelancangan kami siok-siok, kami keponakanmu tidak berlaku hormat.” “hahaha..hahaha..tidak ada hukum bagi orang tidak tahu, tapi bagaimana kalian menyebut aku paman kalian ?” “jin-siok, saya adalah putri Kwaa-kun-bao putra dari kongkong kwaa-han-bu.” sahut Kwaa-hong “dan saya adalah putra dari Kwaa-sin-liong anak dari kongkong Kwaa-han-bu “saya adalah putra dari kwaa-yun-peng putra dari kongkong kwaa-han-bu “ooh, begitukah ? tidak kusangka bahwa aku memiliki tiga saudara tua, dan bahkan bertemu dengan kalian keponakanku.” “hal ini sungguh menggembirakan jin-siok.” sahut Kwaa-hong “Jin-siok, dimanakah kongkong ? karena selama ini kami kehilangan beliau.” tanya Kwaa-gan-bao “kongkong kalian sudah meninggal beberapa bulan yang lalu demikian juga dengan kong-bo kalian setelah melahirkan paman, marilah ketempat paman untuk menjiarahi makam keduanya” jawab Kwaa-han-jin,” “kalau begitu marilah siok-siok..” saut Kwaa-yang-bun “mari kita menunggangi pek-touw.” “pek-touw tiga orang ini adalah keponakanku, jadi mari kita pulang ke goat-kok.” Ujar Kwaa-han-jin dan kemudian
101
melompat kepunggung rajawali, lalu ketiga keponakannya juga melompat, pek-thouw mengepakkan sayap besarnya dan membumbung keangkasa, empat she-taihap mampu dibawa pek-thouw tentunya bukan hal yang sulit, karena walaupun empat orang, empat she-taihap itu laksana kapas ringannya.
Saat malam tiba merekapun sampai di goat-kok, Han-jin membawa tiga keponakannya ke makam Im-yang-sin-taihap dan Kwee-kim-in, setelah upacara sembahyang mereka masuk kedalam pondok “paman tidak punya apa-apa sam-ji, hanya air untuk malam ini.” “tap aku lapar Jin-siok, bukankah sebaiknya sebentar dicari ditengah hutan ?” “benar..biar saya yang akan berburu.” sahut Yang-bun sambil berdiri dan keluar pondok, tidak lama seekor rusa dipanggul Yang-bun.
“setengah saja untuk kita, dan setengahnya berikan pada Pek-thouw, bun-ji !” perintah Han-jin “baik siok-siok.” sahut Yang-bun kemudian ia mengambil dua bagian kaki rusa, dan sisanya diberikan pada Pek-thouw, dua paha rusa pun dibakar dan bumbunya sudah diracik oleh Kwaa-hong, aroma sedappun tercium, setelah matang, empat she-taihap pun makan dengan lahap. “jin-siok, alangkah senangnya ayah jika siok dapat mengunjunginya.” ujar Kwaa-hong “tenu saya akan mengunjungi orang tua kalian sam-wi-ji, siapakah yang tertua saudara pamanmu ini Hong-ji ?”
102
“yang tertua adalah pek-bo Kwaa-thian-eng yang berada di kota Sinyang, lalu pek-bo kwaa-hoa-mei yang berada di kota Wuhan, kemudian ayah Bao-koko, Kwaa-sin-liong, lalu ayahku Kwaa-kun-bao, kami tinggal dipulau kura-kura Jin-siok.” “dan pulau kura-kura Jin-siok adalah tempat leluhur she-kwaa.” sela Kwaa-yang-bun “sebenarnya bukan she-kwaa bun-te.” bantah Kwaa-hong. “lalu yang benar apa hong-cici ?” tanya Kwaa-yang-bun “yang benar adalah pulau kura-kura adalah leluhur perguruan kita, pulau-kura-kura itu adalah leluhur she-kwee, karena kong-bo kwee-kim-in adalah buyut langsung dari pendiri Pat-hong-heng-te, yang bergelar Kim-khong-taihap” jawab Kwaa-hong menjelaskan
“oo..begitu rupanya, jadi leluhur kita dimana kalau begitu Hong-cici ?” tanyakKwaa-yang-bun “leluhur kita itu ada di kota Kun-leng bun-te.” sahut Kwaa-hong, Kwaa-gan-bao dan Kwaa-yang-bun manggut-manggut “darimana hong-moi dapat keterangan seperti itu ?” tanya Kwaa-gan-bao “saya dapat cerita itu dari kongkong Li-tan-hua, dan faktanya pemakaman yang ada dipulau kura-kura hampir semua she-kwee, sejak buyut kim-khong-taihap “jadi artinya pulau kura-kura adalah leluhur luar dan kota kun-leng leluhur dalam.” sahut kwaa-gan-bao. “benar bao-ko.” sahut Kwaa-hong sambil mengangguk tegas. “sekarang sudah jelas bagi paman, jadi oleh karena itu sudah merupakan keharusan bagi paman untuk mengunjungi orang
103
tua kalian dan kerabat yang lain, dan tentunya paman pertama sekali akan ke kota Sinyang, ketempat eng-cici.” “benar jin-siok, terlebih pek-bo cemas karena saat saya berkunjung kesana, saya mengatakan bahwa Kongkong dan kongbo tidak berada di Kun-leng.” sela Kwaa-hong “dengan kedatangan jin-siok kesana akan melegakan hati pek-bo.” sela Kwaa-yang-bun
“baiklah, sekarang kita istirahat, dan besok paman akan berangkat, terserah kalian apakah kalian akan langsung melanjutkan perjalanan atau masih ingin tetap disini.” ujar Han-jin, ketiga keponakannya itu mengangguk, tidak lama kemudian goat-kok berubah sepi dan sunyi, hanya desiran angin malam yang membelai dedaunan yang terdengar, sang raja malam mutlak menguasai saat itu dengan kegelapan dan kekelaman.
Keesokan harinya, empat she-taihap bangun, Kwaa-han-jin sudah siap dengan buntalannya yang berisi pakaian, dengan menunggang pek-thouw Kwaa-han-jin meninggalkan goat-kok dilepas pandangan ketiga keponakannya, Kwaa-hong dan Kwaa-gan-bao hari itu juga meninggalkan goat-kok, tapi Kwaa-yang-bun masih ingin berdiam di goat-kok yang memiliki pemandangan yang indah.
Kwaa-han-jin melintasi angkasa diatas punggung pek-thouw, dua hari kemudian Kwaa-han-jin sampai diatas kota Tianjin “pek-thouw kita kehutan sana !” perintah Han-jin, Pak-thow memekik keras seakan mengiyakan perintah majikannya, pek-
104
thouw menukik kebawah, dan kemudian terbang rendah mengitari hutan belantara “pek-thouw dari sini akan berjalan, dan kamu kembalilah ke goat-kok, mungkin dari tiga keponakanku masih ingin tinggal disana, temani dan layani mereka.” “kreek..kreekkkk..” pekik pak-thouw, lalu tubuhnya pun kembali membumbung tinggi dan lenyap dibalik awan.
Kwaa-han-jin menelusuri hutan belukar dan dalam waktu sepeminum teh ia sudah keluar dari hutan dan menapaki jalan besar, Han-jin istirahat disebuah kedai makanan dipinggir jalan, kedatangannya jadi perhatian lima orang yang sedang makan, pemilik kedai yang sedang melap meja buru-buru menyambutnya, pemilik kedai itu dipanggil Ciu-siok “silahkan kongcu, mau pesan apa ?” “tolong sepoci teh dan makanan yang ada.” “baiklah kongcu, tunggu sebentar akan saya persiapkan.” sahut ciu-siok dan masuk kedalam kedainya, Han-jin duduk dan menatap lembah yang ada dibelakangnya, dan sekilas tatapan lima orang itu bersilang dengan tatapan Han-jin “apakah kongcu dari shijazhuang ?” tanya ciu-siok sambil menghidangkan makanan “tidak paman, aku dari qingdao hendak ke kota yang terdekat dari sini.” “oo..maksud kongcu kota Tianjin.” sela ciu-siok, Han-jin mengangguk “saya kira dari shijazhuang.” ujar ciu-siok
105
“tidak paman, memangnya kalau dari shijazhuang kenapa paman ?”
“kalau dari shijazhuang akan dapat informasi tentang keadaan kota itu ?” “apa ada masalah dikota itu paman ? “benar kongcu, sesuatu yang sangat mengerikan, karena itu banyak orang yang mengungsi darisana ke kota Tianjin, silahkanlah makan kongcu” sahut ciu-siok “baik paman dan terimakasih.” jawab Han-jin dan kemudian menyantap makanannya, baru saja Han-jin menyelsaikan makannyam serombongan wanita dan orang tua melintasi jalan, mereka berkumpul disekitar kedai tanpa dinding itu, dan sebagian duduk istirahat diseberang jalan dan berteduh dipinggir hutan.
Ciu-siok menawarkan makan dan minuman yang disediakannya, dan tiga orang lelaki diatas lima puluh tahun terngiur dan duduk dimeja, pelayan itu dengan senang hati menghidangkan makanan pada pelanggan tersebut “sam-wi-sicu dari shijazhuang ?” ciu-siok mulai bertanya “benar sicu, dan kami lelah betul.” “bagaimana sekarang keadaan kota itu sicu ?” “makin kacau dan menyedihkan, karena pada hari kami tinggalkan sudah ada empat puluh orang yang tewas mengenaskan, ah….betul-betul kejam” “oh iya silahkan makan sam-wi-sicu.” ujar Ciu-siok sambil
106
melap meja disamping meja tiga orang pengungsi itu, tiga lelaki itu pun memakan makanannnya.
“siapa sih sebenarnya yang melakukan hal tersebut sicu ?” kembali ciu-siok bertanya “segerombolan perampok yang disebut rampok “houw-tek” (bukit harimau), gerombolan itu turun dari bukit dan masuk shijazhuang empat bulan yang lalu, dan mereka dengan terang-terangan merampoki warga.” “lalu apa tindakan para polisi dan kungcu kota itu ?” “mereka tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka sendiri di rampok habis-habisan oleh gerombolan itu, bahkan tihu, ciangbun polisi kota tewas saat mereka rampok, pokoknya kota itu telah dikuasai oleh gerombolan perampok.”
“maaf paman…, saya sudah selesai dan berapa harga makanan saya ?” sela Kwaa-han-jin “oh… satu setengah tail kongcu.” sahut ciu-siok, Kwaa-han-jin membayar makanan, dan Kwaa-han-jin meninggalkan kedai dan berjalan kearah ia datang “kongcu..! kamu salah jalan, kekota Tian-jin kearah sana.” seru ciu-siok “terimakasih paman, sekarang aku hendak kekota shijazhuang.” sahut Kwaa-han-jin, Ciu-siok terkejut “aneh…katanya mau ke tianjin tapi kok malah ketempat berbahaya.” Ujar ciu-siok lirih “mungkin dia itu pendekar baru turun gunung.” sela seorang dari lima orang yang duduk sebelum kedatangan Han-jin
107
“benar, namun sayang dia hanya akan mengantar nyawa saja.” sela rekannya yang lain, selagi mereka menomentari kenekatan Han-jin, mereka tidak sadar bahwa Han-jin sudah sangat jauh meninggalkan areal kedai Ciu-siok.
Kwaa-han-jin dengan kecepatan larinya yang luar biasa menuju kota shijazhuang, hanya dalam tempo dua hari Kwaa-han-jin sudah sampai di kota shijazhuang yang hampir menjadi kota mati ditinggalkan penduduknya, jalanan dalam kota sepi, banyak rumah, toko dan likoan yang rusak berat, di sisi kanan kiri jalan, nyaris seluruh rumah pintunya tertutup baik yang dijalan besar maupun digang-gang perumahan, Kwaa-han-jin berjalan tenang sambil memperhatikan sudut-sudut kota.
Dari sebuah gang dua puluh orang berpakaian serba merah dengan sikap garang melangkah mendekati Han-jin “hehehe..satu lagi pendekar picisan mau mampus.” ujar lelaki besar dengan cambang lebat disekitar mukanya, dia merupakan orang kelima setelah pimpinan rampok, dan gelarnya adalah “ngo-houw” (harimau kelima) “sepertinya para twako yang telah membuat kota ini hampir binasa.” ujar Kwaa-han-bu dengan sikap tenang. “hahaha..hahaha…kalau tahu begitu kenapa tidak langsung gulung ekor dan lari dari hadapan kami !?” sahut ngo-houw sambil tertawa, dan dua puluh bawahannya juga ikut tertawa.
“twako…kalian ini sungguh keterlaluan sehingga membuat penduduk ini menjalani kehidupan yang sengsara.” tegur Kwaa-
108
han-jin “beuh..hahaha…hahaa… lalu kenapa jika memang demikian ?” “mungkin pemuda bau kencur ini ingin jadi pahlawan ngo-twako.” sela anak buahnya “hahaha..hahaha… heh.. pemuda goblok! apa kamu ingin jadi pahlawan ya sehingga berani mati masuk kelota ini ?” ujar ngo-houw dengan nada sinis. “twako, janganlah lagi membuat orang lain mederita, sungguh tidak baik, kejahatan yang kalian lakukan ini hanya akan merugikan dan membinasakan kalian sediri.” “ahhh…bocah tengik ini banyak bacot ngo-twako, sebaiknya kita gorok saja lehernya.” sela sela seorang anak buah ngo-houw sambil melangkah dua tindak dan mengayunkan pedangnya ke arah leher Han-jin. “egh…tuk…adouwhhhh…” pedang perampok itu tiba-tiba berhenti dan gagang pedang bergeser dari genggamannya dan menyodok dadanya dengan kuat, sehingga ia menjerit kesakitan, para kawanan perampok terkejut, karena mereka jelas melihat pemuda dihadapan mereka ini tidak membuat gerakan apapun.
“hmh…ternyata kamu ada isi juga bocah, rasakan ini !” ujar ngo-houw sambil melompat menerjang Han-jin, namun dia terkejut karena tubuh Han-jin menghilang, dia menengok kanan kiri, dan ketika dia berpaling kebelakang “aaa..setan buduk..” teriaknya sambil melompat dengan wajah terkejut karena Han-jin sangat dekat dibelakangnya, tubuhnya merinding ketika Han-jin hilang dan seluruh anak buahnya tiba-
109
tiba melotot kaku kecuali satu anak buahnya yang tadi hendak menebas batang leher Han-jin.
Ngo-houw terkesima dan kemudian matanya mencari-cari Han-jin, namun pemuda itu tidak dilihatnya “apakah twako mencari saya ?” sapa suara yang amat dekat ditelinganya, dia cepat berpaling dan untuk kedua kalinya ia terkejur pucat “ka…kamu hantu apa manusia ?” tanya ngo-houw gagap. “twako aku ini manusia bukan hantu.” “ta..tapi kenapa kamu menghilang, apa yang kamu perbuat dengan anak buah saya ?” “aku tidak menghilang, hanya karena mata twako yang sudah rabun oleh sesuatu, dan anak buah twako hanya saya totok.” Jawab Han-jin sabar dan tenang, ngo-houw makin ciut nyalinya.
“twako…bukankah sebaiknya kamu meninjau kembali dengan harimau-harimau yang lain, bahkan dengan pimpinan harimau tentang keterlanjuran perbuatan aniaya kalian ini ?” “phuah…tunggulah disini bocah sialan ! aku akan akan panggil pimpinan kami.” sahut ngo-houw berubah sikap karena sesaat ia lupa bahwa ia lupa dengan keadaannya saking bingung dan takutnya, dan saat Han-jin mengatakan harimau-harimau lain dan pimpinan harimau, ia jadi ingat bahwa ia tidak sendirian, masih ada empat twako dan pimpinan tertinggi mereka. “baiklah twako, aku akan menunggu disini.” jawab Han-jin.
110
Ngo-houw berlari meninggalkan Han-jin beserta anak buahnya yang kaku “apa dadamu masih sakit twako ?” tanya Han-jin pada orang yang pertama menyerangnya, ditanya seperti itu dia terkesima, tapi dengan terbatuk-batuk ia melarikan diri menyusul pimpinannya ngo-houw, Ngo-houw menuju sebuah rumah yang sangat megah dan luas, rumah itu adalah milik seorang hartawan yang sudah di bunuh kawanan perampok itu
“ngo-twako kamu kenapa ? kenapa buru-buru ?” tanya seorang perampok yang menjaga pintu gerbang “aku mau bertemu suhu, kalian harus berkumpul semua di halaman ini, kita menghadapi orang sakti.” Sahutnya sambil berjalan buru-buru menaiki tangga rumah, dipintu masuk ia bertemu dua orang lelaki kurus, yang satu tinggi dan yang kedua lebih pendek “ngo-houw ada apa kamu kelihatan buru-buru !?” “gawat ji-twako, seorang pemuda luar biasa ada di jalanan masuk pintu gerbang, kita harus sampaikan pada suhu.”
“hahaha..hahaha… jangan panik begitu ngo-houw, kalau hanya seorang pemuda untuk apa suhu yang mengurus, mari bawa saya kehadapan pemuda itu.” sahut lelaki kurus panjang “sam-twako… pemuda ini bukan orang sembarangan .” “heh…apakah semua anak buahmu sudah tewas ?” tanya sam-houw “anak buah saya tidak ada yang tewas, tapi semuanya ditotok olehnya, dan aku tidak tahu kapan ia menotoknya.”
111
“hah… kamu tidak tahu kapan anak buahmu tertotok, apa kamu sedang ngelantur ngo-houw ?” sela ji-houw dengan nada mencibir
“baiklah kalau ji-twako dan sam-twako hendak kesana, marilah ikut saya “ ujar ngo-houw “baik…mari kita kesana, urusan begitu saja kamu tidak becus ngo-houw.” sahut ji-ngouw bernada marah, ngo-houw hanya diam saja dan terus melangkah menurini tangga “empat puluh anak buah sam-houw ikut kami !” ujar ji-houw, empat puluh rampok mengikuti tiga pimpinan mereka, tidak lama kemudian mereka sampai ditenmpat, Han-jin sedang duduk bersandar di sebuah emperan toko yang tertutup, dia bangkit dari duduknya ketika melihat ngo-houw bersama dua orang lelaki kurus
“itulah pemudanya ji-twako.” ujar ngo-houw sambil menunjuk Han-jin yang datang mendekat, tiba-tiba sam-houw bergerak menyerang, namun sama halnya dengan ngo-houw, han-jin menghilang, Han-jin yang sedang mengerahkan “goat-koan-sim-hang” dengan kecepatan luar biasa bergerak diantara para perampok dan menotok semuanya termasuk ji-houw dan ngo-houw, hanya sam-houw yang lagi clingak-clinguk yang tidak ditotok, kemudian Han-jin mendekati punggung sam-houw yang sedang mencari-cari keberadaannya.
“twako… mencari saya ?” sapa Han-jin dari balik punggung sam-houw, sam-houw terkejut dia berdiri tegang karena
112
terkejutnya, “ji….twako a..apa yang sedang terjadi ?” teriaknya sambil menatap mata ji-houw, namun Ji-houw hanya diam kaku membisu, Ji-houw langsung ciut nyalinya “twako..apakah pimpinan harimau tidak datang, pergilah panggil beliau itu twako.” ujar Han-jin masih dengan suara ramah dan lembut, bergetar hati sam-houw mendengar ucapan yang amat ramah itu, dia berpaling dan menatap Han-jin dengan rasa takut yang luar biasa “pergilah twako, panggil beliau pimpinan harimau, aku akan menunggu disini dengan rekan-rekan twako.” ujar Han-jin, bergetar langkah sam-houw meninggalkan tempat itu, enam puluh rekannya seperti patung hidup yang tidak berdaya.
Sam-houw berlari kembali ke markas dengan wajah pucat dan “bagaimana sam-houw-twako, kok cepat sekali apakah pemuda itu sudah dihabisi ?” tanya anak buahnya, tanpa menjawab sam-houw masuk kedalam rumah “suhu…gawat…suhu gawat..” ujarnya sambil berlutut dihadapan lelaki kekar bermata satu, dan dibagian pipinya ada bekas guratan, umurnya hampir mencapai enam puluh tahun, pimpinan rampok ini dikenal dengan julukan “kui-Houw” (harimau siluman) “bicara yang jelas sam-houw !” bentak lelaki kekar dan besar disamnping pimpinan rampok, dia adalah it-houw
“suhu…, ji-houw dan ngo-houw tidak berdaya dihadapan seorang pemuda hijau di jalan masuk gerbang kota, enam
113
puluh anak buah kita juga telah kaku bisu ditotoknya.” “siapa pemuda itu ?” tanya kui-houw “saya tidak tahu suhu, sebaiknya kita kesana dan membunuhnya.” sahut sam-houw “it-houw bawa si-houw dan temani sam-houw menyelesaikan masalah ini !” perintah kui-hiouw “baik suhu, mari sam-houw !” sahut it-houw, lalu keduanya keluar dan it-houw memerintahkan anak buahnya memanggil si-houw lelaki gemuk pendek berkulit hitam, tiga pimpinan itu berangkat bersama lima puluh anak buah it-houw.
Saat matahari tepat diubun-ubun mereka sampai enam puluh rampok sudah mandi keringat dipanggang panas matahari, sementara di emperaan yang teduh Kwaa-han-jin duduk bersandar, Kwaa-han-jin bangkit lagi dari duduknya melangkah mendekati rombonga yang baru datang “apakah itu pemudanya sam-houw ? tanya it-houw dengan hati sedikit meragu karena melihat ji-houw dan ngo-houw beserta puluhan anak buahnya berdiri kaku laksana arca “benar it-twako.” sahut sam-houw “siapakah kamu anak muda ?” tanya it-kiam dengan nada digalak-galakkan “siapa saya tidak penting twako, saya ini bukan siapa-siapa, dan yang terpenting sekarang bahwa penduduk kota ini mengalami sengsara luar biasa oleh sebab ulah kalian yang semena-mena.” jawab Han-jin tenang dan lembut “lalu apa maumu !?” tanya it-houw “twako aku hanya ingin kalian menghentikan prilaku buruk ini
114
dan mengembalikan kenyamanan penduduk kota ini “kamu itu pemuda usil dan tidak tahu diri.” “mungkin dipihak twako aku disebut usil, tapi apakah aku harus berdiam diri melihat apa yang kalian lakukan dengan kota ini ? tentu tidak twako, sebagai sesama harus saling membantu dan tenggang rasa, mungkin saat ini para twako tidak menyadarinya.”
“sudahlah aku tidak mau berdebat dengan mulutmu yang sok berfilsafat itu, serang…!” sahut it-houw sambil memberi komando, it-houw, sam-houw, dan si-houw bersamaan menerjang kwaa-han-jin, untuk ketiga kalinya Han-jin menghilang dan menotoki semua perampok dan dalam waktu yang tidak lama lima perampok kaku termasuk si-houw dan it-houw, hanya sam-houw yang tidak ditotok “maaf twako..sekali lagi panggillah pimpinan kalian supaya urusan kita ini selesai.” bisik Han-jin dari belakang punggung sam-houw “iihh….teriak sam-houw menggigil ketakutan, bulu romanya merinding dan rasa dingin karana takut menyergap hatinya.
Sam-houw kembali berlari menuju markas, dan melapor pada kui-houw “badebah sialan, cepat ikut saya ketempat itu !” ujar kui-houw dengan amarah yang meledak, dalam hitungan menit kui-houw tiba ditempat, hatinya terheyak melihat seratus lebih anak buahnya berdiri mematung memadati jalanan dan terpanggang sengatan matahari yang baru saja melewati puncaknya
115
“mana pemuda usil yang hendak menantang kui-houw !?” teriak Kui-houw “saya pemuda usil itu cianpwe.” sahut Kwaa-han-jin “bangsat kamu bocah ingusan, rasakan pukulanku.” teriak kui-houw dengan sebuah gerak cakaran dahsyat, kali ini Han-jin tidak menghilang, namun menangkap dua lengan kuat yang membentuk cakar itu “aaa…aaaaa….auhh…..tidaaaak…..ampuuunnnn… ” teriak kui-houw histeris karena tanganya diremas oleh Han-jin dan seluruh urat syaraf ditangannya serasa putus dan dipilin-pilin yang bersumnber dari getaran hawa yang masuk pada buku jarinya.
Selama lima menit kui-houw meraung dan berlutut dihadapan Han-jin, bukan hanya air matanya yang bercucuran menahan rasa nyeri dan bersangatan, bahkan dia juga terkencing-kencing merasakan aliran hawa yang membuat urat syaraf tubuhnya menegang dan acak-acakan, seluruh pori-pori tubuhnya merinding merasakan sakit dan nyeri “maaf cianpwe anda tidak kenapa-napa, sekarang aku minta cianpwe menghentikan kegiatan yang merugikan cianpwe dan orang lain, cianpwe dan anak buah patut dikasihani, terjebak oleh nafsu sehingga kehilangan jati diri. Cinapwe aku tidak mampu menjaga sepak terjang kalian, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada lagi saatnya kita bertemu kembali, selamat tinggal cianpwe.” ujar Kwaa-han-jin. dan lalu menghilang
116
Kui-houw yang terduduk dengan deru nafas memburu terdiam lama membelakangi anak buahnya, untuk berdiri rasanya ia belum mampu, getaran jantungnya yang empot-empotan membuat dirinya lemas tidak berdaya seiring rasa nyeri yang bertalu-talu mendera seluruh tubuhnya, tiga jam kemudian kui-houw baru dapat berdiri, dia membalik badan dan beradu pandang dengan tatapan anak buahnya yang menyaksikan keadaannya “apakah suhu baik-baik saja ?” tanya sam-houw “sam-houw coba kamu lepaskan totokan rekan-rekanmu !” ujar Kui-houw, sam-houw mendekati si-houw dan mencoba membebaskannya dari pengaruh totokan, namun usaha itu hanya sia-sia
“suhu aku tidak bisa memunahkan totokan ini.” ujar sam-houw bingung “apa yang harus kita lakukan suhu ?” “sudahlah pendekar muda itu tidak berniat mencelakai kita, kita tunggu saja, mungkin akan punah sendiri.” jawab kui-houw yang duduk diemperan toko, dan kemudian kembali merenung, dan memang benar menjelang malam totokan dua puluh orang pertama punah sendiri, dan lebih setengah jam kemudian empat puluh orang yang lain bebas dari totokan, dan akhirnya mereka bebas semua, namun sebagian besar mereka mengalmi muntah-muntah karena kepala pening dan perut mual akibat dipanggang sengatan matahari selama hampir setengah hari.
117
“kalian semua dengarlah, hari ini kita dapat pelajaran berharga dari seorang pemuda yang tidak dikenal, dan apa yang telah di lakukankannya kepada kita patutlah kita jera dari semua ini, jadi mulai malam ini saya sebagai pimpinan kalian melepaskan diri, saya akan cuci tangan dari kekotoran ini, cukuplah hanya sekali bertemu dengan pendekar muda itu, pergilah kalian dan aku juga akan meninggalkan kota ini.” ujar kui-houw dan dia pun berkelabat meninggalkan anak buahnya.
Empat harimau saling pandang termenung menyaksikan sikap suhu mereka “suhu telah mengambil jalan yang menurutnya harus ditempuh, maka saya juga akan mengikuti sikapnya yang hendak mencuci tangan dari kekotoran ini.” ujar Sam-houw dan meninggalkan tempat itu, lalu tidak lama kemudian dalam kebisuan semuanya bergerak meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya markas perampok sudah kosong, dan luar biasanya harta tumpukan mereka selama ini tidak hanya sedikit yang diambil, bahkan menjelang tengah hari Bu-kungcu datang bersama serombongan pasukan polisi, karena salah satu dari harimau menuliskan surat dan dilempar kedalam kamar Bu-kungcu, surat itu didapati pagi harinya dan isinya berbunyi “Bu-kungcu kota anda sekarang aman dari kejahatan kami, sebagian besar tumpukan harta kami tinggalkan dimarkas
surat itu tidak ada nama pengirim, Bu-kungcu meragu dan mendiamkannya, namun saat matahari mulai naik tinggi,
118
aktivitas perampok tidak ada, biasanya mereka berpatroli membuat onar dan berteriak-teriak “taijin ada yang aneh pada hari ini “ lapor kapten polisi “aneh bagaimana ? tanya Bu-taijin “tidak keliahatan patroli para perampok.” jawann kapten, Bu-kungcu bergetar hatinya dengan bunyi surat
“coba kamu dekati markas mereka, lihat apa dan bagaimana disana !” perintah Bu-kungcu. si kapten segera keluar dan mencoba mengintai markas para perampok, dan yang didapatinya hanya kesunyian, bahkan ia masuk sampai kehalaman, tempat itu lengang, segera dengan buru-buru ia kembali melapor, dan yakinlah bu-kungcu akan pesan surat yang dijumpainya. “siapkan pasukan dan kita segera kesana !” perintah Bu-tai-jin, iring-iringan polisi itu membuat warga yang masih bertahan dikota itu membuka jendela rumah mereka ditingkat atas.
Bu-taijin dan pasukannya memeriksa seluruh ruangan dan puluhan peti harta di angkut kekantor hakim, siang hari itu para warga turun dengan suka cita setelah mendengar aba-aba dari patroli polisi bawa keadaan susah aman dan perampok sudah meninggalkan kota, banyak warga yang bertanya-tanya sebab musabbab kejadian yang membahagiakan itu “menurutmu apa yang terjadi twako ?” “aku tidak tahu kejadian ini sungguh amat aneh bagiku.” “hmh,,,tentu saja kalian tidak tahu.” “eh….emangnya kamu tahu apa yang terjadi ?”
119
“ah…aku tahu karena kejadian luar biasa itu dalam pengintaianku.” “kalau kamu tahu a-tong ceritakanlah pada kami.”
“hal yang luar biasa terjadi persis di depan rumah saya.” „benar saya juga melihatnya, kalau kejadian semalam maksudmu A-tong.” “memang kejadian itulah yang menyebabkan kondisi yang kita alami sekarang.” “ya saya juga yakin karena itu.” sela yang lain, puluhan orang dikedai itu bertumpuk berkerumun penasaran, lalu A-tong pun berceritalah apa yang terjadi di depan rumahnya dijalan dekat gerbang kota
“hayaaa…siapakah pendekar muda itu ?” sela mereka bersamaan “tapi kenapa yah para perampok itu tidak dibunuh saja oleh pendekar itu” sela yang lain sedikit kecewa. “saya mana tahu, namun aku mendengar jelas perkataan terakhir pendekar itu didepan si Kui-houw “apa yang kamu dengar ?” kembali lagi a-tong dikerubuti “pendekar itu berkata aku minta cianpwe menghentikan kegiatan yang merugikan cianpwe dan orang lain, cianpwe dan anak buah patut dikasihani, terjebak oleh nafsu sehingga kehilangan jati diri.” “ck…ck… kalimat yang dalam dan lembut sekali.” Sela sebagian mereka “pendekar itu memang patut disebut….”
120
“disebut apa A-tong ? tanya mereka serempak “disebut “jin-sin-taihap” (pendekar sakti welas asih) rasa kasih sayangnya pada para perampok telah merubah si kui-houw sehingga si kui-houw berkata..” “kamu juga dengar perkataan si kui-houw.” tanya mereka serempak “benar si kui-houw berkata hari ini kita dapat pelajaran berharga dari seorang pemuda yang tidak dikenal, dan apa yang telah di lakukankannya kepada kita patutlah kita jera dari semua ini.” “luar biasa kalau begitu, tepat sekali julukan yang kamu sebutkan pada pendekar itu A-tong, apa tadi kamu bilang “aku bilang jin-sin-taihap” “ya..itu wajahnya apa jelas kamu lihat “ah..sudahlah aku mau belanja lagi, besok tokoku akan kubuka.” sahut A-tong keluar dari kedai.
Kwaa-han-jin sudah berada di kota Tianjin untuk melewatkan malam, dia menginap disebuah likoan yang cukup padat. Keesokan harinya Kwaa-han-jin meninggalkan kota menuju kota Sinyang, Kwaa-han-jin tiba disebuah desa yang bernama ban-in yang sedang berbondong-bondong menuju sebuah hutan “ada apakah lopek sehingga orang semua menuju huran ?” tanya Kwaa-han-jin pada seorang tua yang ikut dalam rombongan itu. “kamu pendatang anak muda, sebaiknya kamu tinggalkan kami ?” sahut si orang tua “kenapa demikian lopek, apakah yang menimpa kalian ?”
121
“desa kami ini telah kena kutukan anak muda.” sahut siorang tua “kutukan ? kutukan bagaimana maksud lopek “desa kami ini telah dikutik selama setahun, dan kami kehutan untuk minta dewa hutan supaya jangan memperpanjang kutukannya.” “yang mengatakan desa ini dikutuk siapa lopek ?” “utusan dewa hutan sendiri.” Jawab siorang tua
Rpmbongan sudah sampai ditepi hutanm, kepala desa memerintahkan supaya semua berlutut “dewa hutan…kami telah datang dengan segala kerendahan, persembahan yang engkau minta melalaui utusan, sudah kami persiapkan,” ujar kepala desa, tiba-tiba deru angin muncul dari dalam hutan, membuat hutan itu laksana diterpa padai, lallu tiba-tiba sosok manusia besar dan tinggi, kepalanya botak dan jenggotnya tebal, kulitnya hitam legam, dikeningnya ada tato berbentuk ular kobra, dan ia membawa tongkat berkepala ular dan duduk disebuah cabang pohon besar “perlihatkan persembahan kalian supaya dewa merasa senang.” ujar manusia botak itu, lalu kepala desa memberi isyarat pada empat pemuda kekar yang mengangkat sebuah joli, joli diangkat lebih dekat ke tepi hutan, lalu tirainya dibuka, didalam joli ada duduk seorang perempuan cantik berpakaian putih tipis, kulitnya yang putih jelas kelihatan, kemudian didepannya ada sebuah nampan besar yang diatasnya adan perhiasan dan uang diatas tumpukan beras
122
Angin sekali lagi menderu dari dalam hutan, joli bergoyang-goyang lalu tiba-tiba joli itu naik keudara dan kemudian melesat kedalam hutan, hal itu menandakan persembahan diterima oleh dewa hutan “baik kalian sekarang pulang, hantu hutan yang menggangu desa kalian akan dibelenggu dewa, tapi ingat setiap lima belas hari, kalian membawa persembahan mati, dan setiap tahun kalian memnpersembahkan persembahan mati dan hidup.” ujar si kepala botak, lalu suara deru angina muncul dan sikepala botak melayang kedalam hutan “bak utusan ! sekarang kami permisi dulu.” sahut kepala desa, hutan itu lengang, lalu rombongan itu kembali kekampung.
Kwaa-han-jin yang memperhatikan dari baris belakang merasa penasaran, setelah romobongan kembali kekampung, Kwaa-han-jin memasuki hutan, didalam hutan itu ada sebuah bangunan yang cukup besar, Kwaa-han-jin masuk kedalam bangunan, dan ternyata tidak berpenghuni, didalamnya banyak sekali tulang belulang hewan, dan aroma dalam bangunan itu menenbar bau dupa dan busuk dari bangkai yang berserakan, Kwaa-han-jin mencari bau dupa, dan disebuah ruangan sebuah patung ular kobra berdiri angker dan didepannya setumpuk dupa yang menyala “hmh…dupa ini baru dibakar, artinya penghuni bangunan ini ada, aku akan selidiki.” pikir Kwaa-han-jin.
Kwaa-han-jin bersembunyi dilangit-langit ruangan dimana patung ular itu berada, dengan perkiraan saat dupa habis,
123
tentunya akan diganti, dan dia ingin melihat siapa yang mengganti dupa, Kwaa-han-jin berselonjoran di kuda-kuda bangunan, bagi Kwaa-han-jin sebetang kuda-kuda itu nyaman baginya untuk tidur dan berselonjoran, ketika malam tiba, suasana ruangan itu gelap, tiba-tiba tiga lilin yang ada disekirat dupa menyala sendiri “hmh..luar biasa.” pikirnya, tidak ada bayangan yang muncul, ruangan itu remang dan bayangan patung ular nampak angker melekat didinding sebelah belakang, Kwaa-han-jin dengan sabar menunggu bahkan melewatkan malam di atas kuda-kuda atap.
Keesokan harinya, Kwaa-han-jin melihat sikepala botak keluar dari belakang altar patung ular, sesaat Kwaa-han-jin memperhatikan apa yang dilakukan si botak, sobotak ternyata mengganti dupa dengan dupa yang baru, lalu ia kembali kebelakang altar, tiba-tia ia terkejut karena matanya menangkap bayangan seseorang turun dari atas, Kwaa-han-jin berdiri dengan tenang “kamu siapa ?” tanya si botak “aku orang yang penasaran dengan keanehan yang kalian buat.” Jawab Kwaa-han-jin “kamu jangan ikut campur anak muda, jika ingin nyawamu selamat !” ancam sikepala botak.
“tidak bisa begitu sicu, kamu mengatakan desa itu terkutuk dan kalian minta sesuatu kepada penduduk desa, kalau kalian ini manusia maka tidak ada kalian membuat kutukan pada bumi
124
ini, karena bumi ini bukan milik kalian, dan ingin kejelasan dari keanehan ini.” ujar Kwaa-han-jin “kamu mau mampus anak muda heaat….” sikepala botak membentak dan menyerang Kwaa-han-jin, Kwaa-han-jin mengelak dan lalu membalas dengan tidak kalah dahsayatnya, sikepala botak terkejut bahwa lawan muda yang masih hijau ini akan sehebat ini, dia mengayun tongkat ularnya dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa, sehingga angin menderu menerpa sekitar Kwaa-han-jin.
Kwaa-han-jin yang menghadapi serangan lawan dengan Im-yang-sian-sin-lie demikian luwes dan gesit memasuki sambaran tongkat naga sikepala botak “tut…plak…auuh..” dada kiri sikepala botak kena patuk tangan Kwa-han-jin, dan dagunya kena tamper, dia meringis terjajar kesamping, untungnya Kwaa-han-jin menghentikan serangannya, sehingga nafasnya yang sesak dapat dia pulihkan kembali, sikepala botak lalu duduk bersiulian, mulutnya komat-kamit, tiba-tiba angina menderu dari luar bangunan, dan segerombolan ular merayap memasuki bangunan dan terbang menyerang Kwaa-han-jin
Kwaa-han-jin bergerak gesit mengelak, karena Kwaa-han-jin hanya mengelak dan tidak mengibaskan tangan untuk memukul ular-ular itu, sehingga tiga ekor dari puluhan ular yang terbang melekat ditubuhnya, dan sepertinya bisa ular itu tidak berpengaruh pada Kwaa-han-jin, hal ini tidak lain karena dulu, ketika ia dalam gendongan ayahnya sedang berusaha
125
menundukkan rajawali berkepala putih, ia meminum liur rajawali yang membersit kemukanya, dan sampai hari ini ia belum menyadari akan khasiat liur tersebut, bahkan ayahnya Kwaa-han-bu juga tidak mengetahui, Kwaa-han-jin menyerang kearah sibotak, si botak terkejut dan menangkis dengan tongkatnya
“plak…” tongkat ditangkap Kwaa-han-jin, dan haw “Im” menerobos pergelangan tangan sikepala botak, mukanya terkejut merasakan hawa dingin memasuki tubuhnya, sikepala botak berusaha bertahan dengan mengerahkan sin-kangnya, namun kekuatannya jauh dibawah Kwaa-han-jin.
“sikepala botak terpaksa melepaskan tongkatnya dengan tubuh menggigil, Kwaa-han-jin melepaskan tongkat dan berdiri tegak memperhatikan reaksi sikepala botak, tiba-tiba dari belakang altar seorang lelaki bermuka putih laksana mayat muncul, orangnya jangkung “coa-ong.. pengacau ini hebat sekali.” ujar sikepala botak, Kwaa-han-jin menghadap si jangkung “hi..hi…mampuslah kamu berengsek !” bentak coa-ong, senjata berupa kebutan bergerak cepat mengancam titik penting pada tubuh Kwaa-han-jin, namun Kwa-han-jin meraup bulu kebutan dengan satu gerakan indah dari Im-yang-sian-sin-lie, adu betotpun terjadi, Coa-ong melotot karena terkejut, karena kuda-kudanya gempor, dan lututnya bergetar menahan dahsyatnya kekuatan yang menariknya.
126
Coa-ong melepaskan gagang kebutannya, dan langsung duduk bersiulian, mulutnya komat-kamit, lalu “anak muda berlututlah !” sebuah tenaga sakti menekan sukma Kwaa-han-jin, namun ketika Kwaa-han-jin menarik nafas, maka tenaga “Wei-si-sin-siulian” bergerak dari dalam tubuh Kwaa-han-jin, Coa-ong terperanjat, karena tiba-tiba ia merasa tekanan luar biasa sehingga ia terduduk, sibotak juga heran melihat majikannya terduduk, dan mengira bahwa Kwaa-han-jin memiliki ilmu hipnotis, jadi ia menyerang dari belakang, Kwaa-han-jin menangkap lengannya dan melempar ke arah coa-ong, coa-ong yang masih terpengaruh dengan sihirnya yang membalik, tidak mampu mengelak
“ngokk..” tubuh besar sibotak menimpa tubuh pucat dan kurus. “Kalian harus menjelaskan apa sebenarnya yang kalian lakukan pada desa dibawah !” ujar Kwaa-han-jin “kalian sebenarnya siapa dan apa yang telah kalian lakukan kepada orang-orang desa !?” “sa..saya adalah coa-ong dan ini pembantu saya, kami memang telah menipu orang kampung dengan magis ilmu sihir saya.” sahut Coa-ong sambil meringis karena dadanya masih terasa sesak akibat ditimpa tubuh besar sikepala botak, jika senadainya ia tidak terpengaruh sihirnya maka berat sikepala botak tidak akan membuat dadanya senyeri itu, namun keadaannya sedang kosong laksana tubuh tidak memiliki tenaga. “sekarang mari kita masuk kedalam ruangan kalian !” ujar Kwaa-han-jin, lalu ketiganya masuku dari belakang altar yang
127
ternyata pintu rahasia masuk keruang bawah tanah, tempatnya sangat luas dan mewah, seorang perempuan pingsan sedang diikat disebuah altar yang ada ditengah ruangan, bajunya putih tipis menunjukkan lekuk tubuhnya yang telanjang. “cepat lepas ikatan perempuan itu !” perintah Kwaa-han-jin, sikepala botak dengan manut melepas ikatan wanita itu, Kwaa-han-jin menarik sehelai tirai yang tergantung dan menutupi tubuh perempuan tersebut.
“sekarang coa-ong keluarkan apa saja yang telah kalian ambil dari penduduk desa !” ujar Kwaa-han-jin, coa-ong lelu melangkah kesebuah kamar dan kemudian keluar membawa satu buntalan harta yang terdiri dari uang dan barang berharga milik warga “apakah hanya ini coa-ong ?” tanya Kwaa-han-ji “be..benar taihap, hanya ini baru kami ambil dari penduduk.” “baik kalau begitu, sekarang coba kamu sadarkan ia supaya kita akan kembali kedesa.” Kwaa-han-ji kepada sikepala botak sambil menunjuk wanita yang pingsan, sikepala botak mendekat sesuatu pada hidung wanita itu “uh..auh…tidak…” jerit wanita itu sambil duduk, ketika dia melihat tiga orang lelaki didepannya memandang padanya “to..tolong ja..jangan aku diperdaya.” pintanya memelas “nona kamu sudah selamat, dan sekarang bungkus dirimu dengan tirai itu supaya kita kembali kedesamu.” ujar Kwaa-han-jin, wanita langsung melihat tirai dipangkuannya, dan baru ia sadari tubuhnya jelas kelihatan dibawah gaun tipis yang dipakainya, kontan ia menutup tubuhnya dengan tirai.
128
Kemudian merekapun meninggalkan bangunan dalam hutan menuju desa, sesampai didesa, orang-orang kampun terkejut, dan mereka langsung mengerumuni empat orang yang memasuki kampung “paman dan sicu semua, dengarlah, apa yang disebut kutukan pada desa kalian adalah tipu daya dari dua orang ini, jadi kalian tidak usah mencemaskan lagi hal-hal yang dipungut oleh kedua orang ini.” ujar Kwaa-han-jin, tiba-tiba wanita itu berlari memeluk ayahnya yang datang agak belakangan.
Penduduk desa menatap coa-ong dan pembantunya dengan hati geram “nah sekarang coa-ong kalian kembalikan harta penduduk dan minta maaf pada mereka !” ujar Kwaa-han-jin “sicu semua, kami telah bersala membuat kalian cemas dan ketakutan, semua itu hanyalah tipu daya kami, dan ini harta yang kalaian bawa kemarin dan pungutan setiap lima belas hari kami kembalikan, dan juga kami minta maaf pada kalian semua.” ujar Coa-ong “lalu bagaimana kalau kalian ulangi lagi jika taihap ini tidak ada ?” ujar lelaki tua teman bicara Kwaa-han-jin saat mengantarkan persembahan, coa-ong memandang dengan takut pada Kwaa-han-jin “ka,,,kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” sahut coa-ong “taihap…kalau keduanya tidak dihukum dan dipotong kedua
129
kaki dan tangannya, mereka tidak akan jera.” ujar lelaki tua itu pada Kwaa-han-jin.
Wajah coa-ong dan sikepala botak takut dan pucat “tidak usah seperti itu lopek dan sicu semua, keduanya juga manusia, yang tentunya punya harga diri walaupun sedikit, mereka sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, bukankah begitu coa-ong ?” “benar taihap.” sahut coa-ong “nah…cukuplah janji itu mereka pegang, mungkin mereka akan mengulang lagi, kita semua tidak bisa jamin, kecuali mereka yang sudah mengikat janji dengan harga diri mereka, lalu jika mereka mau merobek harga diri mereka, lain kali mungkin aku atau mungkin orang lain akan menemuinya lagi, kamu mengertikan coa-ong ?” “mengerti taihap.” sahut Coa-ong “baiklah, kepada sicu semua, katrena semua masalah sudah selesai, maka maki bertiga mohon pamit.” ujar Kwaa-han-jin “terimakasih taihap atas pertolongannya pada kampung kami.” ujar kepala desa “baiklah sicu, dan jagalah kebersamaan kalian, sebab dengan bersama kalian akan kuat dan tidak akan mudah dipedaya orang jahat.” sahut Kwaa-han-jin, lalu Kwaa-han-jin bersama coa-ong dan pembantunya keluar dari desa.
“kalian hendak kemana coa-ong ?” tanya Kwaa-han-jin “kami hendak kembali ketempat kami di kota Bao.” sahut coa-ong
130
“baiklah coa-ong, kita berpisah disini, aku hendak kekota Sinyang, semoga kita jumpa lagi bukan dalam situasi yang tidak mengenakkan” ujar Kwaa-han-jin “baiklah taihap, selamat jalan.” sahut Coa-ong.
Kwaa-han-jin dengan cepat melintasi hutan dan lembah, kecepatan larinya yang laksana kilat menembus medan perjalanan sesulit apapun, dan akhirnya dua minggu kemudian Kwaa-han-jin memasuki kota Sinyang, melewati jalan yang padat oleh penduduk yang lalu lalang membuat ia merasa senang dan bangunan berupa toko dan likoan yang bertingkat membuat ia takjub
“lopek aku mau nanya alamat sesorang dikota ini ?” tanya Kwaa-han-jin ramah pada seorang tua yang sedang duduk didepan toko “alamat siapa yang hendak kau tanya anak muda ?” tanya orang tua itu “alamat seseorang yang bermarga Yo pedagang rempah-rempah.” sahut Kwaa-han-jin “toko kelima dari sini adalah toko rempah-rempah, dan pemiliknya adalah Yo-sicu.” jawab orang tua itu “oh..terimakasih lopek.” ujar Kwaa-han-jin, orang tua itu mengangguk ramah, Kwaa-han-jin menelusuri jalan menuju toko kelima, dia berdiri disebuah toko rempah-rempah, empat orang pembeli sedang dilayani oleh dua orang laki-laki, setelah empat pembeli itu pergi, Kwaa-han-jin mendekati toko
131
“sicu mau beli apa ?” tanya seorang dari keduanya “benarkah ini rumah she-yo bernama seng ?” tanya Kwaa-han-jin “benar, sicu ini siapa ?” tanya lelaki itu “saya adalah kerabat dari she-yo, dan aku ingin menemui mereka.” sahut Kwaa-han-jin. “A-kong coba sampaikan pada loya, bahwa ada tamu hendak berjumpa.” “baik Ma-twako.” sahut lelaki yang dipanggil A-kong sambil keluar dari kedai dan masuk kedalam rumah disamping toko tiga bangunan disamping.
Didalam rumah ternyata Yo-han dan istrinya sedang berkumpul dengan Yo-bian yang tinggal diselatan kota, Yo-seng sedang menggendong cucunya putra Yo-bian yang baru berumur dua tahun, ketika melihat A-kong datang “ada apa a-kong ?” tanya Yo-seng “Loya..! ada seorang tamu diluar hendak berjumpa dengan loya.” sahut A-kong “bian-ji ! pergi tengok dan suruh masuk tamu kita itu.” perintah Yo-seng “baik ayah, mari A-kong !” sahut Yo-bian dan mengajak A-kong keluar.
Yo-bian menatap tamunya yang masih muda “mari siauw-sicu, ayah menunggu di dalam.” ajak Yo-bian, Kwaa-han-jin mengangguk dan mengikuti Yo-bian masuk kedalam rumah, diruang tengah Yo-seng dan Kwaa-thian-eng
132
menyambut tamunya dengan ramah “silahkan duduk anak muda, dan ada apakah ?” tanya Yoseng sambil mempersilahkan duduk dan memberikan cucunya pada Yo-bian, Kwaa-han-jin menetap dua orang tua itu bergantian, kemudian tersenyum
“kedatanganku ini sangat mengejutkan sebenarnya, tapi aku harus menemui kalian.” sahut Kwaa-han-jin “siapakah kamu sebenarnya anak muda ?” “namaku Kwaa-han-jin, aku datang dari Qingdao.” “kamu she-kwaa anak muda dan aku juga adalah she-kwaa.” sela Thian-eng “dan kesamaan she-kwaa itu juga bukannya jauh, bahkan sangat dekat, karena aku adalah adikmu Eng-cici.” sahut Kwaa-han-jin, bedegup jantung Thian-eng “bagaimana kamu berkata demikian kwaa-sicu ?” tanya Yo-seng. “karena tiga keponakanku. Kwaa-yang-bun, Kwaa-gun-bao dan Kwaa-hong bertemu denganku di hutan kongciak, dan dari mereka aku mengetahui bahwa aku memiliki saudara, dan salah satunya Kwaa-thian-eng, ayahku adalah Kwaa-han-bu dan ibuku adalak kwee-..…..” sahut
“adikku..oh ini adikku, ayah….ibu..dimanakah ayah dan ibukita adikku ?” sela Kwaa-thian-eng menyela perkataan adiknya sambil memeluk adiknya dengan buncahan air mata tangis rindu, Yo-seng tercenung, sementara Yo-bian terkejut, Kwaa-han-jin diciumi kakaknya, sehingga mukanya basah air mata,
133
kehangatan ini membuat Kwaa-han-jin tersedu membalas pelukan kakaknya “adikku Han-jin kamu dan aku satu perut, dimanakah ayah dan ibu kita ?” tanya Thian-eng “ibu sudah meninggal saat melahirkan aku cici, dan ayah beberapa bulan yang lalu menyusul ibu.” sahut Kwaa-han-jin “oh..dimanakah keduanya terkubur adikku ?” “keduanya dimakamkan di Qingdao tepatnya di teng-goat.” jawab Kwaa-han-jin.
“hahaha..hahaha..pertemuan ini sungguh luar biasa, Jin-te, hal tidak kami duga bahwa subo masih diberi Thian kejora mata.” sela Yo-seng tertawa untuk menawarkan haru dalam hati istrinya. “eng-moi, sudah dapat adik syukurilah, hehehe..hehehe..” “hi..hi…siapa pula yang tidak senang, aku senang karena bahagia seng-ko.” sahut Thian-eng
“hi..hi…jin-siok, aku anak kedua dari ayah dan ibu memberi hormat pada siok.” Sela Yo-bian yang berumur dua puluh tujuh tahun, dan ini cucu kedua siok, yang sulung ada di rumah di selatan kota.” “hehehe..hehe…Thian memang pembuat keputusan, dan keputusanNya adalah misteri bagi kita.” sela Yo-seng “benar perkataan Seng-ko, bian-ji biarkan cucuku itu kegendon.” sahut Han-jin sambil menerima putra Yo-bian dan memeluknya dalam gendongan.
134
“seng-ko berepakah usia cucuku yang pertama?” tanya Han-jin “hehehe..hahaha….kamu dengar itu eng-moi, Jin-te tanya cucunya yang tertua.” sahut Yo-seng tertawa. “usia cucumu yang tertua delapan tahun Jin-te, anak dari putraku Yohan, mereka tinggal dichangcun.” Jawab Thian-eng senyum “eng-cici aku hanya tahu ayah dan ibu selama ini, baru tahu akan keberadaan cici dan saudara yang lain dari tiga Kwaa-hong dan dua keponakan lain, lalu apa maksudnya eng-cici dan aku satu perut ?”
“jin-te ayah kita punya enam istri, Kwee-kim-in, Cia-sian-li, Khu-hong-in, lauw-bi-hong, kao-hong-li dan Can-hang-bi, karena kamu dan saya dilahirkan ibu kwee-kim-in, maka kita satu perut, dan encimu Kwaa-hoa-mei dilahirkan oleh ibu Khu-hong-in, Kwaa-sin-liong dilahirkan oleh ibu Cia-sian-li, Kwaa-swat-hong dilahirkan ibu Lauw-bi-hong, Kwaa-kun-bao dilahirkan ibu Kao-hong-li dan Kwaa-yun-peng dilahirkan ibu Can-han-bi.”
“dan tempat yang saya akan kunjungi menurut yang saya tahu adalah sinyang, wuhan, shanghai, pulau kura-kura dan lokyang.” “masih ada satu lagi Jin-te, encimu Kwaa-swat-hong yang berada di taiyuan.” sela Kwaa-thian-eng, sebaiknya jika akan melanjutkan kunjungan saudaramu, setelah dari sini, kamu mengunjungi encimu swat-hong, kehadiranmu tentu akan membuat dia bahagia, terlebih swat-hong sampai hari ini, Thian belum menganugrahkan anak padanya, padahal ia menikah
135
saat umur sembilan belas tahun walaupun ia lebih muda dari Hoa-mei.
Keesokan harinya, saat menjelang sore “jin-te mari kita latihan di halaman belakang untuk melenturkan tubuh yang kaku.” “marilah suheng, karena saya butuh banyak petunjuk dari suheng.” sahut Han-jin, keduanya lalu menuju halaman belakang, Yo-seng bergerak pertama menyerang sutenya, dengan “im-yang-sian-sin-lie, Han-jin bergerak dengan jurus yang sama, pertempuran berlangsung alot dan seru, Thian-Eng muncul dan segera menonton dengan serius, Yo-seng dan Thian-eng terkejut melihat bahwa kekeuatan Han-jin jauh melebihi kekuatan Yo-seng, hal ini dilihat bahwa gerakan jurus “Im-yang-sian-sin-lie” yang dikeluarkan Han-jin lebih kuat dan lebih gesit, jika hanya jauh lebih kuat bisa disimpulkan hanya beda satu tingkat, namun nyatanya tidak hanya lebih kuat bahkan jauh lebih gesit.
Setelah dua ratus jurus, Yo-seng sudah berkeringat untuk mengimbangi sutenya ini, lalu Yo-seng merubah gerakan dengan ilmu “Im-yang-bun-sin-im-hoat”, Han-jin juga mengubah gerakannya, keduanya bertarung dengan luar biasa, gerakan melukis diatas diawang seirama dengan kedudukan kaki yang juga melukis tanah, makin terkejutlah kedua suami istri itu akan kemampuan Han-jin, Han-jin sungguh teramat luar biasa, kegesitannya dalam jurus yang penuh keindahan ini sangat luar biasa, kekuatan yang dikeluarkannya juga menggetarkan dada
136
Yo-seng saat beradu sin-kang, dan bukti yang mencengangkan adalah suara gemerisik yang dikeluarkan gerakan Han-jin juga, lebih menggetarkan kalbu dan lebih menusuk gendang telinga.
Dua ratus jurus lebih berlangsung, tubuh Yo-seng sudah banjir keringat, pakaiannya basah, sementara Han-jin belum apa-apa, lalu Yo-seng mengeluarkan jurus “Im-yang-pat-sin-im-hoat” Yo-seng mengerahkan seluruh kekuatan dan kegesitan serta trik pancingan untuk mendesak sutenya, namun sutenya amat tenang dan tidak tergoyahkan, hal ini bukan karena Han-jing memiliki pengalaman tempur diatas Yo-seng, jika untuk pengalaman tempur sang suheng ini akan lebih dari sutenya, namun hanya karena Yo-seng tidak mewarisi sin-kang yang bernama “Wei-si-sin-siulian”, dan dari seluruh she-taihap hanya Kwaa-han-jin yang mewarisi ini dari Im-yang-sin-taihap.
Keduanya berhenti saat hari sudah sangat malam, Thian-eng yang menonton juga masih setia menunggu suami dan adiknya yang bertarung “ayok sute kita bersihkan diri dan makan.” ujar Yo-seng setelah pernafasannya normal kembali, keduanya memebrsihkan diri, sementara thian-eng mempersiapkan makan bagi suami dan adiknya “sute, tenagamu luar biasa, kegesitanmu juga bahkan suara sakti juga melebihi kami, apakah ilmu yang kami tidak ketahui yang suhu berikan padamu ?” tanya Yo-seng kagum pada sutenya “sepertinya suheng tidak memperoleh “wei-si-sin-siulian” dari
137
ayah sahut Han-jin “hmh…benar, nama sin-kang ini tidak pernah kami dengar, bahkan encimu juga tidak pernah dengar.” ujar Yo-seng “benar adikku, lalu apakah ayah menciptakan jurus dari tenaga sin-kang ini ?” “benar enci, ayah menciptakan jurus dari dasar sin-kang ini dengan nama “wei-cu-sin-ciang”
“diantara she-taihap, kamulah yang terhebat sute setelah suhu wafat.” ujar Yo-seng “she-taihap itu maksudnya apa suheng ?” tanya Han-jin heran “she-taihap itu gelar keluarga kita sejak ratusan tahun yang silam, gelar she-taihap dimiliki setiap orang yang menjadi murid pat-hong-te, karena mereka semua adalah anak-anak dari buyut dari suhu, karena buyut dari suhu seorang yang luar biasa dizamannya, maka baik anak-anaknya maupun murid-muridnya digelar dengan she-taihap, dan gelar ini sute menjadi amanah turunan bagi kita sampai hari ini.” sahut Yo-seng.
“sudah lazim bagi she-taihap mengelilingi tionggoan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh keponakan kita kwaa-hong, kwaa-gun-bao dan kwaa-yang-bun yang bertemu denganmu.” “oh-ya bagaimana bisa kalian bertemu di hutan kongciak, apakah urusan begcu yang dibicarakan disana berjalan dengan baik?” sela Thian-eng “sepertinya tidak encik, saya muncul disana saat tiga keponakan kita dikeroyok oleh orang-orang disana, awalnya
138
saya tidak tahu mereka keponakanku, aku hanya berniat melerai pertempuran yang tidak adil itu.” “bagaimana kedudukan tiga keponakanmu saat dikeroyok sute ?” tanya Yo-seng “kedudukan mereka terdesak.” sahut Han-jin “berapa orang yang mengeroyok ?” “ada enam orang yang megeroyok mereka bertiga.” “hmh…luar biasa lawan mereka itu sute.” ujar Yo-seng “lalu apa yang terjadi, jin-te ?” sela Thian-eng “aku datang dan melerai mereka, lalu mereka berenam mengeroyokku.” “mengeroyokmu !?” sela suami istri itu terkejut.” “lalu…bagaimana jadinya adikku ?” tanya Thian-eng dengan heran “syukur pada Thian, aku diberi kemampuan menundukkan mereka.” sahut Han-jin
Kedua suami istri terdiam dan memejamkan mata, mengucap syukur akan anugrah yang diberikan pada keluarga mereka “suheng dan cici kenapa ?” tanya Han-jin “tidak mengapa sute, benar kita sangat patut bersyukur pada thian dengan limpahan anugrah dan berkah yang melimpah.” sahut Yo-seng arif. “sudah, kamu istirahatlah beberapa saat jin-te, karena sebentar lagi malam akan berganti pagi,kami juga mau istirahat sejenak” sela Thian-eng “baiklah enci, suheng saya istirahat dulu.” sahut Han-jin, Yo-
139
seng mengangguk, lalu Han-jin pergi kekamar tamu yang disediakan encinya.
“eng-moi aku harus diurut dulu, tubuhku luar biasa capeknya.” ujar Yo-seng “baiklah seng-ko.” sahut Thian-eng sambil menarik suaminya kekamar. “tanganku yang terasa amat pegal dan kesemutan.” Keluh Yo-seng “iya tidak cuma tangan, semuanya akan ku urut seng-ko.” sahut Thian-eng “benarkah Eng-moi ?” tanya Yo-seng sambil senyum “iya..heh..memang kenapa, kok senyum-senyum begitu !?” tanya Thian-eng dengan mata melotoy “hehehe..hehehe…aku hanya merasa senang, kalau semuanya di urut “ih..ceriwis, dah tua begini, masih macam-macam.” sahut Thian-eng, namun tidak bisa dia senyum juga karena kenakalan suaminya membuat ia jengah, ia meraih tangan suaminya dan memijitnya dengan tekun dan lembut, kenyamanan itu membuat Yo-seng langsung tidur, setelah memijit kedua tangan suaminya, saat matahari terbit Thian-eng baring disamping suaminya, dan ia pun tertidur pulas.
Kwaa-han-jin berada di sinyang bersama encinya selama dua bulan, dan saat Kwaa-han-jin mau berangkat ketaiyuan “Jin-te, ilmu Im-yang-sian-sin-lie diciptakan ayah dengan memakai sabuk, maka bawalah sabuk enci ini.” ujar Thian-eng
140
sambil melingkarkan sabuknya yang berwarna kuning kebahu adiknya. “baiklah encik, sabuk ini akan kupakai.” sahut Han-jin “Jin-sute, suhu mengajarkan Im-yang-bun-sin-im-hoat dengan menggunakan mouwpit, tapi Jin-te, suheng tidak memberikan mouwpit kepadamu, namun aku memberikan sebuah kipas untuk mengusir gerah, hehehe..hehehe…” ujar Yo-seng “ih…seng-ko becanda saja, ikut-ikut perkataanku.” sela Thian-eng mencibir manja pada suaminya yang ketawa. “hahaha..hehehe…suheng memang bisa saja, benar kipas ini bisa mengusir gerah, disamping mengetuk gentong.” sahut Han-hin sambil membuka daun kipas berwarna putih yang bertuliskan “Wei” (rasa) Yo-seng mendapat ide membuat kipas ini sejak Han-jin menceritakan sin-kang “wei-si-sin-siulian” lalu ia memesan pembuatan kipas ini pada pengerajin kipas, gagangnya terbuat dari batu kemala dan daun kipas terbuat dari kulit macan.
“Jin-te, di Taiyuan encikmu swat-hong tinggal disebelah utara kota, kamu tanyakan saja pedagang Bao, orang akan kenal, karena Bao-san suami encikmu pedagang beras di kota itu.” ujar Thian-eng “baiklah encik, suheng saya berangkat dan selamat tinggal.” sahut Han-jin. “selamat jalan sute.” ujar Yo-seng dengan senyum arif “hati-hati, dan jagalah diri baik-baik adikku !” sela Thian-eng dengan hati terenyuh dan kontan matanya berkaca-kaca, Han-
141
jin mengangguk dan melambaikan tangan yangdibalas suheng dan enciknya.
Kota Taiyuan siang itu sangat cerah, sebuah rombongan piauwkiok memasuki kota taiyuan, piauwsunya berbaju putih dengan rompi hitam, bendera piauwkiok berlatar hitam dengan lukisan naga berwarna putih dan juga bertuliskan “Hong-liong” dari benderanya piauwkiok itu dikenal dengan Hong-liong-piauwkiok, Ma-liauw yang berjulukan Thian-liong membawa rombongannya yang terdiri dari tiga puluh anggota kekantor cabang piauwkioknya di kota Taiyuan “setelah makan kalian antar barang bawaan pada penerima barang !” ujar Thian-liong “baik pangcu.” Sahut mereka serempak, lalu merekapun makan dilikoan disamping kantor cabang.
Barang yang mereka bawa berupa satu kereta berisi beberapa karung beras, satu kereta berisi gulungan kain dan dua peti, satu kereta berisi rempah-rempah, penerima barang ini ada empat orang, yakni rempah untuk seorang pedagang rempah bernama Phang-san, rombongan mengantarkan miliknya trlebih dahulu, setelah administrasi selesai, mereka menuju rumah Cao-wangwe pemilik dua peti, setelah itu pedagang kain Gui-san seorang pedagang kain, lalu yang terakhir para piuawsu pada saat malam tiba di tempat Bao-san suami Kwaa-swat-hong
142
Bao-san menyambut kedatangan rombongan piauwsu “bagaimana perjalanan kalian sicu-piauwsu?” tanya Bao-san yang berumur lima puluh tahun itu dengan ramah “perjalanan kami baik-baik saja sicu.” jawab tan-sun wakil dari Ma-liauw, lalu anak buahnya menurunkan karung berisi beras, jumlahnya ada lima belas karung, setelah semua diturunkan dan diletakkan di gudang Bao-san, Bao-san dan Tan-sun menyelesaikan administrasi, lalu rombongan piauwsu pun kembali kekantor cabang.
“Bagaimana, apakah semua sudah selesai ?” tanya Ma-liauw pada wakilnya “sudah pangcu, dan menurut saya kita secepatnya berangkat sebelum pedagang Bao, kami sudah sengaja mengantarkan berasnya saat malam, sehingga ia tidak sempat memeriksa, dan besok ia pasti akan mengetahuinya.” ujar Tan-sun “kamu jangan terlalu cemas Tan-sun, dia tidak akan menyalahkan kita.” “tapi pangcu setidaknya dia akan menanyakan kita perihal berasnya dan menduga kita mengganti berasnya” sahut Tan-sun “justru karena itu kamu tenang saja, sebab kalau kita lansung berangkat dia malah bertambah curiga, nanti kalau dia datang, kita jawab saja, bahwa kita tidak tahu menahu dengan hal itu, sehingga dengan demikian ia harus ke Datong untuk mengklarifikasinya.” ujar Ma-liauw “lalu bagaimana kalau ia mendapatkan bahwa rekannya di Datong mengatakan jenis beras yang dikirimnya ?”
143
“Ke Datong itu perjalanan seminggu, jika dia pergi artinya ia akan mengeluarkan biaya untuk kesana, dan tokonya akan tutup setidaknya selama dua minggu.” “hehehe..hahaha…Pangcu memang cerdik, dan ketika dia tahu, kita sudah berada di Yinchang.” ujar Tan-sun tertawa.
Malam itu setelah Bao-san setelah terima kiriman tidak lagi memeriksa, bahkan langsung masuk kedalam rumah, karena istrinya Kwaa-swat-hong lagi mual-mual sejak dua hari yang lalu. “masih mual lagi perutmu Hong-moi ?” tanya Bao-san “masih San-ko, aduh kepalaku rasanya pusing.” keluh Swat-hong “kalau begitu aku akan panggil Tang-sinse, tunggulah sebentar aku akan kerumahnya.” ujar Bao-san, lalu Bao-san keluar untuk memanggil Tang-sinse Satu jam kemudian, Tang-sinse datang, lalu memeriksa Swat-hong, sesaat wajahnya berkerut heran, lalu dia senyum “Bao-sicu, hehehe..hehehe…selamat dulu aku ucapkan padamu.” ujar Tang-sinse “ada apa Tang-sinse, kenapa kamu ucap selamat pada saya ?” “hahaha..hahaha… kamu tahu kenapa Bao-hujin mual-mual ?” “kenapa dengan aku Tang-twako !?” sela Swat-hong “selamat Bao-hujin, kamu ternyata sedang hamil jalan dua bulan.” sahut Tang-sinse, Bao-san dan Swat-hong saling pandang dengan wajah terkejut, namun hanya sesaat, wajah itu berubah berseri-seri. “benarkah Tang-shinse, apakah itu mungkin ?” tanya Bao-san
144
meragu “jikai Thian berkehendak, hal apakah yang tidak mungkin Bao-sicu ? bagi Thian ini perkara yang mudah” sahut Tang-sinse “oh…Hong-moi, kita akan punya anak hong-moi..” ujar Bao-san dengan nada haru sehingga matanya berkaca-kaca mendekati istrinya. Kwaa-swat-hong lebih bahagia dan haru lagi, dia yang sudah tiada harapan, sehingga sudah pasrah dengan kenyataan, tiba-tiba mendengar bahwa apa yang diharapkan selama ini akan terwujud membuat hatinya menjerit syukur dan rasa bahagia yang tidak terperi, suaminya yang menciumi jemarinya membuat dia haru, hanya karena keberadaan Tang-sinse disamping mereka sehingga ia tidak memeluk suaminya.
“sudah Bao-sicu, saya permisi dulu, dan jagalah Bao-hujin dengan baik, jaga dia tetap kuat, dan istirahatnya harus cukup, hamil dalam usia setua hujin sangat rentan.” ujar Tang-sinse “baik Tang-sinse dan terimakasih banyak.: sahut Bao-san, Tang-sinse mengangguk saambil tersenyum, lalu ia pun meninggalkan rumah Bao-san, Bao-san kembali pada istrinya, suami istri itu langsung berpelukan dengan hati bahagia, dua pelayan rumahnya juga merasa senang mendengar kabar itu, mereka berjanji akan lebih memperhatikan nyonya mereka lebih baik.
Keesokan harinya dengan rasa bahagia dan senyum yang tidak lekang dari bibirnya, Bao-san dengan dua pegawainya membuka toko. “beras ini baru datang loya ?”
145
“benar A-cin, angkat kesini dan bukalah !” sahut Bao-san, A-cin mengangkat beras itu dan membukanya, setelah dibuka dia terkejut “loya…, beras ini sudah lapuk dan rusak.” seru A-cin “apa ? rusak bagaimana ?” tanya Bao-san mendekati A-cin, lalu dia terkejut melihat beras yang sudah lapuk, dan bahkan warnanya sudah ada yang hitam “coba buka karung yang lain.” perintah Bao-san, A-cin dan A-leng membuka semua beras yang baru datang, alangkah terkejutnya Bao-san semua beras yang ia terima adalah beras lapuk dan rusak.
“kalian ikat kembali dan tumpuk disudut, saya akan menemui hong-liong-piauwkiok untuk menanyakan kejanggalan ini.” ujar Bao-san, lalu segera menuju kantor Hong-liong-piauwkiok “apakah sicu ingin memakai jasa pengawalan ?” tanya seorang piauwsu “buka, saya ingin bertemu dengan pimpinan piauwkiok.” sahut Bao-san “oh, kalau begitu tunggu sebentar, saya akan laporkan kedatangan sicu.” sahut piuawsu itu, lalu keluar kantor dan memasuki bangunan utama, tidak lama kemudian piauwsu itu keluar bersamMa-liauw dan Tan-sun
“ada apa sicu, anda perlu dengan saya ?” “betul pangcu, saya adalah Bao-san yang menerima kiriman beras dari Datong dari seorang mitra saya bernama Lauw-teng, dan beras itu diantar sicu ini semalam.” ujar
146
Bao-san sambil menunjuk Tan-sun “hmh..lalu ada apa Bao-sicu ?” “ternyata semua beras yang saya terima adalah beras yang lapuk dan rusak, jadi saya mau menanyakan kenapa bisa demikian.“ ujar Bao-san “wah..kalau itu kami tidak tahu Bao-sicu, kami hanya menyediakan jasa pengawalan, dan bagaimana isi barang itu urusan sicu dengan mitra sicu.” sahut Ma-liauw “tapi pangcu, sebagai piauwkiok yang bertanggung jawab dan bereputasi yang baik, hal ihwal barang tentunya dicek, apakah pangcu tidak menceknya ?” ujar Bao-san
“walaupun saya cek, kalau demikan barangnya, saya mau bilang apa ?” “pang-sicu, piauwkiok anda ini memang tidak sangat tidak etis, jika benar pangcu mengeceknya, setidaknya panngcu dapat pernyataan dari mitra saya untuk menghindar hal yang sekarang terjadi, bisa saja saya menuduh anda yang curang dalam hal dengan mengganti beras itu.” “jadi anda menuduh saya mengganti beras itu ?” “benar. Dan apa bukti anda bahwa anda tidak menukarnya ?” sahut Bao-san. “sialan, kamu cari gara-gara yah dengan kami !?” “saya tidak mau cari gara-gara, saya hanya minta pertanggung jawaban anda sebagai pangcu yang mengewal barang saya. “mitra anda yang memberi barang seperti itu, kenapa kami yang dituduh “buktinya mana, bahwa mitra saya yang mencurangi saya, apa
147
anda demikian sembarangannya mengawal barang orang, inilah buktinya bahwa piuawkiok anda ini tidak etis.
“etis tidak etis apa pedulimu ?” tantang Ma-liauw marah “hmh..anda ini memang arogan, kiramu semua masalah bisa diatasi hanya dengan adu otot, hal ini akan saya adukan pada tihu, dan saya minta ganti rugi.” ujar Bao-san sambil keluar dari kantor “buk…” Ma-liauw menerjang Bao-san sari belakang, sehingga terlempar ketepi jalan, orang-orang berkerumun melihat kejadian itu. “ada apa Bao-sicu ?” tanya otang yang kenal dengan Boa-san “kalian jangan ikut campur, kalau tika mau celaka !” teriak Ma-liauw dengan mata melotot.
Bao-san memang tidak pandai silat, tidak seperti istrinya Kwaa-swat-hong, yang merupakan she-taihap yang luar biasa, jika Ma-liauw tahu bahwa istri Bao-san adalah she-taihap, mungkin dia akan berpikir seratus kali untuk menendang Bao-san, Bao-san mengibaskan pakainnya yang kotor berdebu dan memandang tajam pada Ma-liauw “dari tindakan anda ini, benar anda telah mencurangi beras saya.” ujar Bao-san “tutup mulutmu bangsat..!” bentak Ma-laiuw sambil melompat dengan kedua tangan hendak mencakar muka dan leher Bao-san “tuk..tuk..auh…” Ma-liauw menjerit karena kedua tanganya terasa lemas dan nyeri, karena dua sikunya kena hantam oleh
148
bayangan kilat yang muncul, Kwaa-han-jin berdiri sambil membuka kipasnya sambil mengibaskan kedadanya
“ada masalah bisa dibicarakan, dan tidak seharusnya main hakim sendiri.” ujar Han-jin “jin-sin-taihap..” seru sebagian orang yang menonton, dan Tan-sun juga berseru hal yang sama, Ma-liauw juga terkejut “sialan kamu Jin-sin-taihap, kamu memang orang sok-sibuk, urusan kecil juga kamu campuri.” teriak Ma-liauw, Han-jin yang mendengar seruan-seruan itu sesaat terdiam, karena tidak mengira orang sudah memberikan julukan padanya dengan Jin-sin-taihap, memang hal itu dimulai dari Guiyang, setelah bubarnya pertemuan di hutan kongciak, kemarahan dua cianpwe hek-to yang memaki-maki Han-jin, namun dibalas dengan lembut oleh Han-jin menjadi buah bibir, siapa yang tahan dimaki sedemikian rupa namun hanya seulas senyuman dan kata-kata lembut menyejukkan yang keluar sebagai balasan dari makian, walhal semua tahu enam dedengkot hek-to tidak beradaya dihadapannya, kekuatan luar biasa dahsyat namun dibarengi sikap yang menyejukkan dan tidak gampang terpancing emosi.
Dari semua peristiwa itu ratusan peserta pertemuan baik yang pek-to maupun hek-to, salut dengan sikap dan kekuatan seperti itu, hingga menyebarlah nama Jin-sin-taihap, dan terlebih julukan itu makin marak di shijiazhuang dan Tian-jin lalu merambat ke kota-kota sekitarnya termasuk Taiyuan “paman..! urusan ketidak adilan dan penganiayaan yang tidak
149
berdasar adalah urusan saya dan kita semua, paman demikian telengas mau membunuh paman ini, kenapa bertindak demikian kejam ?” “Jin-sin-taihap, terimakasih atas pertolongan taihap, pangcu ini telah berlaku aniaya, dan aku akan menuntutnya !” sela Bao-san “silahkan pergi kepengadilan, yang jelas aku hanya pengawal barang, utusan tetetk bengek tentang kwalitas barang emang gua pikirin.” sahut Ma-liau.
Bao-san melangkah pergi, kerumunan orang pun bubar, Ma-liauw dan Tan-sun kembali kedalam, Han-jin juga pergi kea rah utara kota, disepannya berjalan Bao-san dengan langkah gontai “paman tunggu dulu, boleh aku bertanya ?” seru Han-jin, Baosan berhenti dan menoleh pada Han-jin “jin-sin-taihap mau menanya apa ?” tanya Bao-san “apakah paman mau ke utara kota ?” “benar taihap, rumahku memang berada disana.” sahut Bao-san “oh, kebetulan kalau begitu, saya mau menemui encik saya yang juga berada di utara kota, mungkin paman kenal.” “siapa nama encikmu itu taihap ?” “encik ku itu namanya Kwaa-swat-hong dan suaminya seorang pedagang beras dan namanya…” Han-jin tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat ketekejutan Bao-san.
150
“paman kenapa ?” tanya Han-jin “namamu siapa taihap ?” tanya Bao-san “namaku Kwaa-han-han-jin.” Jawan Han-jin “hehehe…maaf taihap, Kwaa-swat-hong tidak mempunyai saudara laki-laki bernama Kwaa-han-jin, yang ada Kwaa-sin-liong, Kwaa-kun-bao dan Kwaa-yun-peng.” “bagaimana paman tahu ?” tanya Han-jin tersenyum.” “karena akulah pedagang beras itu.” sahut Bao-san “eh..hehehe..hahaha…maaf kalau begitu twako.” sahut Han-jin sambil menjura dan membungkuk “eh..kenapa taihap menjura pada saya ?” “Bao-twako, adalah suami encik saya, jadi saya harus memberi hormat.” sahut Han-jin “hehehe..hahaha..kamu tidak bercanda Han-jin !?” tanya Bao-san meragu “tentu tidak Bao-twako, bawalah aku menemui encikku, karena dia memang belum tahu dengan keberadaan saya, makanya saya datang twako.” sahut Han-jin “baiklah kalau begitu, marilah jin-te !” ujar Bao-san
Sesampai dirumah, A-cin dan A-leng menyambut kedatangan tuan mereka “bagaimana urusannya loya ?” tanya A-cin “nanti saja kita bicarakan A-cin, stok beras kita masih ada kan ?” “masih loya, dan tadi kami sudah keluarkan, dan beberapa pelanggan sudah datang membeli dan sekarang hanya tinggal satu karung.” Jawab A-cin
151
“sudahlah, itu saja dulu habiskan, kalian jaga toko karena saya lagi ada tamu.” ujar Bao-san. “baik loya.” sahut A-cin dan segera masuk lagi ke toko “mari masuk Jin-te !” ajak Bao-san, keduanya masuk kedalam rumah “duduklah Jin-te, saya akan panggilkan encikmu ?” ujar Bao-san dengan senyum, Han-jin duduk dengan hati bergetar, karena ia akan menjumpai saudara yang pasti tidak mengetahuinya.
“Hong-moi.., bagaimana keadaanmu ?” seru Bao-san masih dari luar kamar dan muncul buru-buru “aih..san-ko mengejutkan saya saja ? kenapa buru-buru dan teriak, aku tidak kenapa-napa.” sahut Swat-hong berlagak manyun. “hehehe..hong-moi sayang, aku juga lagi menyeru anakku yang ada dalam kandungan.” ujar Bao-san.” “hi..hi..konyol, apa ia akan dengar !?” sela swat-hong tertawa “mungkin saja ia dengar, panggilan seorang ayah kan bisa menembus alam, hehehe..hehe..” sahut Bao-san “hi..hi…hi…sudahlah, ada apa ? kenapa koko buru-buru menyeru ?” “hong-moi, kita kedatangan tamu istimewa, namun saya juga bingung, apa benar atau tidak.”
“aih..koko kok ngomongnya ngelantur terus dari tadi, yang jelas dong sayang ngpmongnya !” “benar kita kedatangan tamu dan hendak bertemu denganmu.”
152
sahut Bao-san “loh, kok saya, kan biasanya tamu ingin jumpa dengan koko.” “makanya tamu ini istimewa.” sahut Bao-san, lalu suami istri itu keluar dan menemui Han-jin, Han-jin berdiri menyambut enciknya yang kelihatan lemas dan sedikit pucat, Kwaa-swat-hong heran melihat tamu mereka yang masih muda sekali “apakah encik sakit Bao-tawko ?” tanya Han-jin, makin terkejut Kwaa-swat-hong mendengar perkataan encik dan twako itu.
“siapakah kamu anak muda ?” sela Swat-hong heran, Han-jin melihat enciknya dan tersenyum “Hong-cici, maaf jika kedatangan saya mengejutkan, sebenarnya saya adalah adik encik, nama saya Kwaa-han-jin, ayah saya adalah Kwaa-han-bu dan ibu saya Kwee-kim-in.” jawan Han-jin menatap mata wajah enciknya yang terkejut “ba..bagaimana mungkin ?” sela Swat-hong meragu “hong-moi, ingat tidak kata Tang-sinse mengenai keadaanmu sekarang ?” sela Bao-san “oh..adikku…jin-te adikku..” seru Swat-hong sambil berdiri “adikku, ayah bagaimana, ibu dimana ?” tanyanya sambil memeluk adiknya dan air matanyapun berderai, ia sesugukan mengenang ayah dan ibunya.” “saya minta kamu tenang hong-moi, jangan hanyut dengan permainan perasaan, ingat kandunganmu !” sela Bao-san, mendengar itu Swat-hong menghapus air matanya, Han-jin yang mendengar bahwa kakaknya tidak memiliki anak, namun ternyata kedatangannya menjumpai kakaknya yang sedang hamil membuat dia sangat bahagia.
153
“syukurlah apa yang telah aku dengar ini encik, encik rupanya sedang hamil, sungguh aku bahagia sekali encik.” ujar Han-jin “benar adikku, diusia ini ternyata Thian berkenan mewujudkan harapanku selama ini.” “encik sama dengan ibu, dan keponakanku itu sama dengan aku.” sahut Han-jin senyum “berapakah sekarang umurmu adikku ?” tanya Swat-hong “umurku sudah lewat tujuh belas tahun encik.” “oh..ibu…lalu bagaimana keadaan ayah dan ibu ?” tanya swat-hong “encik, bukankah Thian yang menetapkan segala sesuatu ? baik langkah, rejeki, pertemuan dan maut ?” “benar adikku.” sahut Swat-hong serius “nah kalao Thian berkehendak bukankah kita wajib menerimanya ?” “betul sekali ucapanmu itu jin-te.” “dan Thian telah menetapkan maut bagi ayah dan ibu, dan kita wajib menerima itu.” ujar Han-jin mencoba meredam gejolak hati enciknya dengan memutar-mutar jawaban, dan ketika mendengar itu Swat-hong tercenung, matanya memang berkaca-kaca dan pipinya basah oleh air mata yang berurai, namun setelah mereasapi jawabannya pada dua pertanyaan adiknya, hatinyapun rela.
Kwaa-swat-hong menghapus air matanya, Bao-san luar biasa kagum pada adik istrinya yang teramat muda ini, umurnya memang masih muda namun pemikirannya luar biasa matang, sekilas setelah memperhatikan anak muda didepannya ini,
154
nada bicaranya persis seperti mertuanya Im-yang-sin-taihap, namun wajah itu agak seiras dengan ibu mertuanya Kwee-kim-in. “kapankah ayah dan ibu meninggal Jin-te ?” “ibu meninggal sewaktu melahirkanku dan ayah meninggal beberapa bulan yang lalu.” jawab Han-jin, dan sekarang aku datang untuk menemui encik setelah bertemu dengan encik Thian-eng.” Dengan pandainya Han-jin mejawab dengan menambahkan informasi tentang ia sudah bertemu dengan Thian-eng, dan tentunya pikiran swat-hong akan bertanya tentang Thian-eng, dan melupakan tentang cara meninggal ibunya yang hamil dimasa tua sebagaimana sekarang sedang dialami encikya.
“oh-ya bagaimana kabar mereka di sinyang ?” “hehehe..hahahaa,, kalau diingat lucu sekali encik.” “lucu bagaimana Jin-te?” tanya Swat-hong senyum “suheng dan encik menanya saya dengan serius karena saya datang bertamu, dan memanggil saya “anak muda ? ada apa kamu datang kesini ?”setelah saya ceritakan hal yang sebenarnya suheng tertawa terpingkal-pingkal.” sahut Han-jin “hi..hi… memang Yo-suheng memang begitu, kalau tertawa lepas saja.” sahut Swat-hong “hehehe..gimana tidak kita merasa geli, saya saja setelah tadi Jin-te katakan adik istriku merasa gelid an tertawa. “hehehe..benar Bao-twako, sayapun maklum dengan hal itu.” sahut Han-jin
155
“sabuk yang kamu pakai sepertinya pemberian Eng-cici.” sela Swat-hong “benar sekali encik, bagaimana encik tahu ?” “karena ayah memberinya sabuk kuning, Mei-cici warna merah, dan saya warna biru.” jawab Swat-hong “ooh begitu rupanya, dan kipas ini dari suheng encik, dan tahu apa kata Yo-seheng ?” “apa kata Yo-suheng Jin-te.” “hehehe…Yo-suheng bilang sambil senyum “Jin-te suhu mengajarkan Im-yang-bun-sin-im-hoat memakai mouwpit, aku tidak memberimu mouwpit, tapi kipas ini untuk mengipasmu jika kegerahan.” “hi..hi…hi… Yo-suheng memang ada-ada saja.” “hehehe..memang Yo-suheng sebagaja mengikuti nada eng-cici ketika memberi sabuk ini, jadi karena itu eng-cici mencak-mencak pada suheng.” “hi..hi…hi..hi…hahaha..hahahaa…hahaa…” suara ketawa mereka meledak.
“ah..adikku tentu kamu sudah lapar sekali marilah kita makan !” ajak Swat-hong “benar cici, aku lapar sekali.” sahut Han-jin dengan nada manja, dengan rasa sayang Swat-hong menarik adiknya berdiri, lalu merekapun keruang makan, Han-jin makan dengan lahap “bagaimana rasanya adikku ?” tanya Swat-hong “nasi dan lauknya enak betul encik, membuat aku lahap makannya.” sahut Han-jin “kamu akan lama disini kan Jin-te ?”
156
“benar encik, saya akan berangkat ke lokyang menemui Liong-ko setelah keponakanku lahir.” sahut Han-jin, mendengar itu alangkah bahagianya swat-hong sambil menciumi kepala adiknya.
Malam itu setelah Swat-hong tidur Han-jin mengajak kakak iparnya bicara di depan toko “Bao-twako , apa yang sebenarnya terjadi didepan piauwkiok tadi pagi ?” “hmh…piuawkiok itu membawa kiriman beras dari Datong, dari seorang mitraku disana, namun semalam mereka memberikan beras lapuk dan rusak, jadi tadi pagi saya minta penjelasan mengenai hal itu, namun pangcu itu menjawab bahwa itu bukan urusannya, saya curiga pangcu itu telah berlaku curang, dan sedikit sekali kemungkinan Lauw-sicu di Kota Datong berbuat begitu, karena kami sudah puluhan tahun bekerja sama.” jawab Bao-san.
“hmh..baiklah Bao-twako, aku akan mengurusnya sampai tuntas, malam ini akan kucoba kuusut, sehingga tidak bertele-tele, dan Hong-cici tidak mengetahuinya.” “besok cicimu akan mengetahuinya Jin-te, karena beras jualan kami tinggal sedikit, tentu dia akan bertanya, namun aku akan dapat mengatasinya” ujar Bao-san “baik twako, saya pergi dulu.” ujar Han-jin, “baik Jin-te, kamu hati-hatilah.” sahut Bao-san, Han-jin mengangguk sambil melangkah menuju hong-Liong piauwkiok.
157
“bagaimana pangcu !? apa selanjutnya yang kita lakukan ?” tanya Tan-sun “saya tidak mengira bahwa pedagang beras itu akan memperkarakan kita sampai kepengadilan.” sahut Ma-liauw tercenung “saya kira ada dua jalan bagi kita pangcu ?” sela pimpinan cabang Taiyuan “apa dua jalan itu suma-gui ?” tanya Ma-liauw “jalan pertama, pangcu dan rombongan kembali ke Yinchang malam ini juga sehingga petugas pengadilan tidak sempat menciduk pangcu.” “lalu jalan yang kedua ?” “jalan yang kedua kita bereskan pedagang itu malam ini dengan diam-diam.” sahut Suma-gui.
Menurutmu mana jalan yang terbaik ?” tanya Ma-liauw “menurutku kita bereskan pedagang itu dengan diam-diam, karena itu akan lebih membuat kita nyaman, sebab jalan yang kedua akan membuat kantor kita ini disita dan akan melelang kantor ini untuk ganti rugi pada pedagang itu.” sahut Suma-gui “baiklah, kalau begitu kita bereskan pedagang itu, kamu masih ingat kediamannya Tan-sun ?” sahut Ma-liauw sambil bertanya pada Tan-sun “saya masih ingat pangcu.” sahut Tan-sun “suma-gui, kamu yang berada dikota ini, bagaimana cara kita membereskan pedagang itu.” ujar Ma-liauw pada suma-gui “kita akan menyusup dengan memekai topeng, dan kita buat seperti perampokan.” sahut Suma-gui.
158
“namun sebelumnya kalian harus bertemu aku dulu.” Sela suara, tiba-tiba Han-jin sudah duduk di kursi antara suma-gui dengan Tan-sun “eh jin-sin-taihap !? “ seru mereka bertiga terkejut “benar, saya ingin bicara baik-baik untuk kebaikan semuanya.” sahut Han-jin “apa maksudmu Jin-sin-taihap ?” sela Ma-liauw pucat pias “aku sudah mendengar seluruh pembicaraan kalian yang penuh rencana kejam dan kotor.” “taihap tidak bisakah anda tidak ikut campur masalah ini ?” “pangcu ! anda ini bagaimana, kamu kira aku ini siapa ? yang bisa diajak berunding masalah kejahatan.” sahut Han-jin dengan senyum, melihat senyum Han-jin, Ma-liauw terdiam “pangcu, aku ingin bertanya dan kamu harus jawab dengan jujur, sebenarnya bagaimana beras lapuk dan rusak itu bisa kamu berikan kepada pedagang beras ?” “heh..kenapa taihap tahu berasnya lapuk dan rusak ?” sela Tan-sun “karena aku pergi kerumahnya dan dia menceritakannya padaku.” sahut Han-jin
“se..se…sebenarnya be..beras itu kami ganti taihap.” sahut Ma-liauw dengan gugup dan pucat “hmh…beras yang sebenarnya dimana sekarang ?” tanya Han-jin “be..beras itu masih tinggal di gudang kantor di kota Datong.” jawab Ma-liauw “berapa hari bolak balik mengambilnya kesana ?”
159
“dua minggu taihap.” sahut Ma-liauw “ini menurut saran saya kalau kalian terima, jika tidak bagi saya tidak masalah, hanya mungkin akan lebih runyam jika tidak.” “ma.maksud taihap apa ?” tanya Ma-liauw “selama dua minggu pedagang beras itu akan merugi karena tidak ada lagi beras yang akan dijualnya sebelum beras itu tiba disini, jadi kalian harus ganti rugi padanya pendapatan selama dua minggu, dan kalian kembalikan berasnya.”
“kalau ti..tidak bagaimana taihap ?” tanya suma-gui “kalau tidak saya akan menyita semua harta kalian bahkan sekaligus dengan piuawkiok ini, bukankah kalian akan lebih rugi ?” sahut Han-jin “ba.baiklah taihap kami akan ganti rugi dan bayarkan sekali harga lima belas karung beras milik pedagang itu.” ujar Ma-liauw “baiklah kalau begitu, mari kita berhitung, berapa harga semua lima belas karung menurut surat jalan yang kalian buat.” “aduh….rincian surat jalan tidak kami bawa dan tinggal didatong, jadi kami hanya bawa surat tanda terima saja.” ujar Ma-liauw “memang anda ini berniat curang pangcu.” sela Han-jin dengan mata tajam “maaf..ampuni saya taihap.” sahut Ma-liauw menggigil ketakutan
“tapi saya sudah baca taihap dan saya masih ingat !” sela Tan-sun
160
“hmh..baik berapa menurut yang twako ingat ?” “menurut catatan Lauw-loya harga lima belas karung itu seratus lima puluh tail perak.” sahut Tan-sun “kalau begitu keuntungan seluruh beras jika dijual empat puluh lima tail perak, sehingga kalian harus memberikan pada saya seratus sembilan puluh lima tail perak.” “kenapa harus hal ini juga taihap ikut campur ?” sela suma-gui “karena pedagang beras itu adalah kakak ipar saya, bagaimana ?” sahut Han-jin “ooh, begitu maafkanlah saya taihap, dan tadi saya sudah menjatuhkannya.” sela Ma-liauw makin pucat.” “hal itu tidak masalah, dan kakakku pasti memafkan kelakuan burukmu tadi.” sahut Han-jin “te..terimakasih taihap.” ujar Ma-liauw menjura beberapa kali “nah disamping seratus sembilan puluh lima tail perak itu, kalian juga akan mengganti dua minggu pendapatan kakakku, menurut kalian berapakah perhari rata-rata pendapatannya ?” ujar Han-jin, ketiga piauwsu itu diam
“ba..bagaimana kalau sehari tiga tail perak ?” ujar Ma-liauw “kalau menurut saya dua tail perak.” sela Han-jin “ti..tidak taihap saya akan bayar tiga tail perak perhari.” sahut Ma-liauw “jangan memaksakan diri pangcu, sehingga kamu banyak rugi.” ujar Han-jin “tidak taihap aku rela bayar tiga tail perak perhari.” ujar Ma-liauw
161
“baiklah kalau begitu, jadi ganti rugi selama empat belas hari dikali tiga empat puluh dua tail perak, dan jika ditambah dengan seratus sembilan puluh lima maka dua ratus tiga puluh tujuh tail perak.” ujar Han-jin “dan saya akan genapkan dua ratus lima puluh tail perak sebagai tanda meminta maafku pada kakak ipar taihap yang telah kupukul tadi pagi” ujar Ma-liauw
“baiklah terserah pangcu saja, namun pangcu mesti ingat, bahwa kita sudah pernah bertemu dengan situasi buruk, maka kali kedua jika kita bertemu dengan dalam situasi yang sama maka kita akan berurusan lebih lama.” “ba..baik taihap, aku berjanji tidak akan mengulangi hal buruk lagi.” ujar Ma-liauw “syukurlah kalau begitu pangcu, sekarang ambillah uang sejumlah yang pangcu katakan.” ujar Han-jin. “suma-gui cepat ambil uangnya !” perintah Ma-liauw pada suma-gui, suma Gui dan Tan-sun langsung pergi kedalam dan kemudian keduanya keluar membawa sekantong uang yang berisi dua puluh lima tail emas.
“ini dua puluh lima tail emas sama nilainya dengan dua ratus lima puluh perak “baik pangcu, perkara ini sudah kita selesaikan, dan semoga kita bertemu dalam situasi yang baik.” ujar Han-jing, lalu tiba-tiba hilang dari tempat itu, ketiga piauwsu itu meleletkan lidah takjub, bagi she-taihap muncul dan hilang adalah hal yang biasa, karena she-taihap menguasai ilmu “goat-koan-sim-hang”
162
ilmu intisari dari kitab Bu-tek-cin-keng, tiga piauwsu diam termenung dengan pikiran masing-masing “besok saya akan pulang ke Hopei.” ujar Ma-liauw pada Tan-sun “ke Hopei, tapi cabang kita di Yichang masih baru pangcu, para anggota disana masih baru dan masih butuh dengan pangcu.” sela Tan-sun dengan bingung “mumpung masih baru, cabang di Yichang ditutup saja, cukuplah rute sampai cabang Datong yang kamu pimpin.” sahut Ma-liauw
“jadi apakah saya ke Datong saja ?” tanya Tan-sun “kamu pergi dulu ke Yichang untuk menutup piuwkiok kita.” sahut Ma-liauw “baiklah pangcu kalau begitu.” ujar Tan-sun “pangcu kapan berangkat ke Hopei ?” sela Suma-gui “besok pagi saya akan berangkat.” sahut Ma-liauw. dan kemudian merekapun masuk kekamar masing-masing.
Sesampai dirumah Bao-san, Kwaa-han-jin di sambut A-cin dengan senyum “kongcu darimana ?” tanya A-cin heran melihat peti besar dan kecil yang dibawa Han-jin “aku ada urusan tadi twako, mungkin besok kita akan bicara lagi, bukankah Bao-twako sudah tidur ?” “sepertinya sudah kongcu.” sahut A-cin “baik, aku juga mau istirahat twako.” ujar Han-jin. “baiklah kalau begitu kongcu.” sahut A-cin dan diapun kembali
163
meronda sekeliling rumah, dua pegawai Ba-san ini merangkap kerjanya, disamping membantu berjualan mereka juga jaga malam di sekitar rumah, dan untuk memenuhi tidur keduanya bergantian jaga, sementara A-cin jaga, A-leng sedang tidur dikamar, nanti pada saat jam ganti, A-leng yang akan jaga dan A-cin akan tidur sampai pagi.
Keesokan harinya Han-jin beserta kakak dan kakak iparnya makan pagi “aku mendengar A-cin dan Jin-te bicara semalam, kamu darimana Jin-te ?” “aku semalam jalan-jalan melihat keadaan kota, kota ini lumayan besar ya cici ?” jawab Han-jin “dan bagaimana tidurmu jin-te ? apakah nyenyak ?” tanya Swat-hong “aku nyenyak dan pulas cici.” sahut Han-jin senyum, encikyapun senyum, setelah makan mereka keruang tengah, sementara A-leng dan A-cin sudah membuka toko.
“Bao-twako urusan dengan piuawkiok sudah selesai.” ujar Han-jin “eh adikku disuruh ngapain San-ko ?” sela Swat-hong “hehehe..hehehe…cici langsung nyelutuk aja.” sahut Han-jin “itu yang tidak bisa aku lupakan pada encikmu ini Jin-te.” sela Bao-san “hahaha..hahaha….Bao-twako bisa saja.” sahut Han-jin “eh..merayu yah…semakin tua semakin jadi, apa-apaan ini ?” “ya elah yang dirayu istri sendiri kok orang lain yang sewot,
164
hehehe..hehehe..” “ih…kamu ini kok merayuku depan adikku.” sela Swat-hong dengan muka jengah “justrus karena ada adikmu makanya kutunjukkan cintaku padamu, supaya ia tahu bahwa aku sampai sekarang tetap cinta padamu.” “iih..tidak mau..kau bikin aku malau san-ko.” teriak Swat-hong “sudah..sudah…mari kita dengarkan apa kata Jin-te.” sahut Bao-san
“tidak..katakan dulu apa yang terjadi !?” “baik aku akan katakan, maka dengarlah !” sahut Bao-san “begini, piauwkiok yang membawa beras yang dikirimkan Lauw-sicu sudah datang kemarin malam, namun ternyata beras itu lapuk dan rusak.” “eh..kok bisa begitu ?” sela Swat-hong “itulah aku pun heran dan segera pergi besoknya ke kantor piauwkiok itu untuk menanyakan hal itu.” “lalu apa jawab mereka ?” “mereka bilang tidak mau tahu sih, namun aku bilang aku akan perkarakan mereka ke pengadilan, nah bagaimana akhirnya kita dengar dulu cerita Jin-te “apakah kamu ketemu kakakmu di tempat piauwkiok itu Jin-te ?” “benar cici, aku ketemu twako ditempat itu “apa yang mereka lakukan pada kakakmu ?” tanya swat-hong tajam “cici, mereka memang keterlalauan, jadi aku katakan urusan
165
bisa diselesaikan dengan bicara, makanya aku malam itu sambil jalan-jalan melihat kota, aku mendatangi mereka untuk membicarakan urusan itu.” sahut Han-jin
“aku yakin mereka memukul kakakmu. tapi tidak apa, bukankah engkau sudah selesaikan adikku ?” sela Swat-hong “sudah cici, tunggu sebentar, aku kekamar untuk mengambil sesuatu.” sahut Han-jin meninggalkan kakak dan cicinya. “kamu jangan marah-marah begitu dong sayang, tidak baik untuk kandunganmu.” bisik Bao-san “iya aku tidak marah lagi San-ko, kalian demikian hebat menjaga perasaanku, sehingga pandai mengalihkan perhatianku,” sahut Swat-hong “tapi benar loh aku suka dirimu yang nyelutuk itu.” bisik Bao-san “ih..ceriwis..” bisik Swat-hong senyum manis dan manja “kalau begitu cium aku.” “his..kamu kira adikku tidak dengar bisik-bisik kita ini ?” “eh..benarkah ia dengar sampai kekamarnya dibelakang ?” tanya Bao-san meragu, Swat-hong mengangguk, Bao-san terdiam sambil senyum simpul, Swat-hong menunduk main mata pada suaminya.
Han-jin datang membawa sekatong uang dan meletakkan diatas meja “apa ini jin-te ?” tanya Bao-san heran “ini adalah ganti rugi yang kami bicarakan semalam, menurut catatan dari she-lauw mitra Bao-twako bahwa harga tanggungan beras itu seratus lima puluh tahil perak.”
166
“benar Jin-te .” sela Bao-san “nah pangcu itu setuju mengganti seharga tanggungan, dan juga saya minta keuntungan sebesar empat puluh lima tail perak.” “yah memang sekisar itulah keuntungannya, tapi itu jarang, paling tinggi perkiraan saya empat puluh tiga tail emas.” sela Bao-san “kemudian si pangcu juga saya minta ganti rugi selama dua minggu, karena resikonya mulai hari ini Bao-twako tidak berjualan karena kehabisan stok, dan mereka menyetujui, dan saya hitung pendapatan twako dua puluh delapan tail perak selama dua minggu itu, namun oleh si pangcu malah mau memberikan empat puluh dua tail perak, lalu kami total sehingga terjumlah dua ratus tiga puluh tujuh tail perak, dan oleh si pangcu menggenapkan menjadi dua ratus lima puluh tail perak, dan inilah uangnya sebanyak dua puluh lima tail emas.” ujar Han-jin.
“bagaimana sedetail itu kamu memperhitungkannya Jin-te, sunggguh jumlah itu melebihi harapanku.” ujar Bao-san tercenung “sudahlah Bao-twako, kita syukuri bahwa musibah berakhir dengan baik, terlebih jika memang melebihi harapan kita.” sahut Han-jin “kamu benar Jin-te, kalau demikian selesailah sudah perkara itu.” sela Bao-san. ”lalu sekarang apa yang hendak Bao-twako lakukan ?” tanya Han-jin
167
“sekarang pergilah kedepan panggilkan A-cin dan A-leng.” sahut Bao-san. Han-jin berdiri dan keluar rumah memanggil A-cin dan A-leng.
“A-cin dan kamu A-leng kita harus segera mencari beras kedesa peng-kin, kamu jumpai Liu-cungcu mana tahu dia punya padi yang siap digiling, kalau ada setidaknya lima karung beras, kamu bantu dan tunggu ia menggiling padi, jika lebih itu lebih baik.” ujar Bao-san “baik loya.” sahut A-cin “Bao-twako saya juga ingin ikut cin-twako ke desa peng-kin.” sela Han-jin “kamu kan baru datang Jin-te ?” sela Swat-hong “cici, aku disini sampai keponakanku lahir, jadi bolehkan aku bekerja membantu Bao-twako.” sahut Han-jin, Swat-hong melihat suaminya
“baiklah Jin-te, berangkatlah bersama A-cin, semoga kalian dapatkan beras untuk kita jual besok.” sahut Bao-san, Han-jin tersenyum senang, lalu dia dan han-jin berangkat kedesa peng-kin dengan kereta kuda, perjalanan mereka hanya tiga jam sudah sampai kedesa Peng-kin, A-cin menemui Liu-cungcu, kepala desa peng-kin “ada apa A-cin ?” tanya Liu-cungcu yang berumur empat puluh tahun lebih “begini cungcu, apakah cungcu ada padi yang siap digiling ?” “ada A-cin dan saya sedang menggilingnya sekarang.” sahut Liu-cungcu
168
“berapa banyak cungcu ?” “hanya tiga karung beras, A-cin, kami juga sedang bingung.” “kenapa cungcu ?” tanya A-cin “kami disini sudah panen tiga hari yang lalu, namun hari ini kami tidak bisa panen, padahal masih banyak yang harus dipanen, jika saya dapat memenen semua padi saya, maka akan dapat delapan karung beras.”
“kenapa paman tidak bisa memanen padi ?” sela Han-jin “semalam ada ular besar ditengah sawah, jadi kami takut memanen padi.” jawab Liu-cungcu “eh..seberapa besar ularnya cungcu ?” tanya A-cin “uihh..ularnya besar sekali, kepalanya saja sebesar kepala kerbau, tubuhnya dua pelukan orang dewasa, dan panjangnya sekitar lima tombak, kami waswas ular itu masuk kedalam kampung, maka habislah kami.” sahut Liu-cungcu “paman….dimanakah areal persawahan penduduk ?” tanya Han-jin “dikaki bukit sana koncu.” sahut Liu-cung-cu “apa yang hendak kongcu lakukan ?” tanya A-cin “saya akan kesana, dan kalau bisa cungcu bersiap untuk memanen padi.” “ah..kami takut kongcu.” sela Liu-cungcu pucat “tunggulah disini, sebentar saya kesana.” ujar Han-jin.
Kwaa-han-jin keluar dari desa, lalu dengan dua lompatan luar biasa dia berlari kearah bukit yang ditunjuk Liu-cungcu, dan dalam waktu hitungan beberapa menit Han-jin sudah sampai di
169
area persawahan, dan dia medengar desahan aneh ditengah sawah, ular besar berwarna kuning melintang ditengah persawahan yang luas, Han-jin mendekati ekor ular yang besar ekornya sebesar kelapa yang berada tepat dipematang sawah, ular itu tidak menyadari keberadaan Han-jin, dengan cengkraman yang kuat Han-jin mencengkram ekor ular dan menyentaknya sekali dengan kekuatan luar biasa berhawa “Yang” “rek…tassss…” terdengar suara urat yang putus, ular itu langsung mati dengan keadaan gosong karena seluruh urat ditubuhnya putus dan terbakar, Han-jin menelusuri tubuh ular itu hingga mendapatkan kepalanya yang memang luar biasa besar. “crak…” dengan sekali bacok kepala ular itu putus, dan tubuhnya dilempar Han-jin kea rah lembah yang bukan areal persawahan.
Han-jin kembali kekampung, Liu-cung-cu terkesiap melihat Han-jin sudah kembali, walhal baru setengah jam , dan ditangannya ada kepala ular yang dibicarakannya “paman…ularnya sudah mati, kalau memang hari ini bisa penen, maka panenlah !” ujar Han-jin. “baik kongcu, saya akan bilang pada penduduk, lalu dia menyuruh anaknya untuk mengumpulkan semua penduduk, desa yang terdiri dari seratus kepala rumah tangga itu berkumpul “sicu semua, hari ini aku hanya ingin mengatakan bahwa kita bisa panen kembali, bagi yang berkemas hendak mengungsi,
170
batalkanlah niat kalian, karena ular yang semalam kita lihat sudah mati dan kepalanya ini.” ujar Liu-cungcu sambil membuka karung dimana kepala ular dia bungkus setelah menerima dari tanagan Han-jin. “wah..bagaimana bisa mati dan kepalanya ada bersama cungcu ?” tanya seorang warga “kita kedatangan tamu dari she-taihap dari Taiyuan, jadi bagaimananya hal itu tidak penting, legenda she-taihap bukan hal baru bagi kita.” ujar Liu-cungcu
“dimana she-taihap sekarang ?” tanya warga tadi “dia berada dirumahku, dan sebenarnya mereka hendak membeli beras kesini karena Bao-sicu pedagang beras menyuruh adik iparnya dan pembantunya untuk datang kesini.” “tapi cungcu kita tidak bisa panen hari ini, karena hari sudah menjelang siang.” ujar seorang warga “aku juga berpendapat demikian, namun kalau bisa, hasil yang kita panen dua hari ini kita giling untuk kita jual kepada Bao-sicu.” ujar Liu-cungcu. “aku kira pendapat cungcu itu tepat, kalau memang she-bao membutuhkan beras saya, saya akan jual padanya.” sela seorang warga yang termasuk golongan tua dikampung itu, semuanya setuju. “berapakah perkarung akan kita jual kepada Bao-sicu yang sudah menyamankan kampung kita dari ular besar itu ?” tanya Liu-cungcu “saya setuju perkarung delapan tahil perak.” sela seorang golongan tua.”
171
“saya setuju, walaupun biasanya Bao-sicu membeli beras saya dua belas tahil perak perkarung, tapi kali ini saya akan jual delapan tahil perak.” jawab wakil kepala desa. “setuju..” sahut mereka serempak, lalu merekapun berbondong-bondong menggiling padi mereka.
A-cin yang mendengar semua warga mau menjual beras pada mereka bingung dan melihat Han-jin “berapa cin-twako biasanya Bao-twako membeli beras paman-cungcu ?” “beras warga disini sangat bagus kongcu, dan biasanya loya membayar mereka dua belas tail perak perkarung.” Jawab A-cin “tapi kali ini semua warga akan menjual delapan tahil perak perkarung taihap.” sela Liu-cung “eh..kenapa begitu ?” tanya Han-jin heran “saya atas nama warga mengucapkan banyak terimakasih kepada she-taihap yang telah membuat desa kami aman kembali, jadi sebagai ungkapan terimakasih, kami akan jual perkarung delapan tahil perak kepada Bao-sicu.” sahut Liu-cungcu
“dan kami tidak panen hari ini karena hari sudah siang, dan sekarang warga beramai-ramai menggiling padinya untuk dijual pada Bao-sicu.” ujar Liu-cungcu “uang yang kami bawa mungkin kurang Liu-cungcu.” sela A-cin “tidak masalah A-cin, besok kalian bayar, warga akan setuju,
172
dan pakailah nanti kereta kuda milik warga untuk membawa beras itu nanti malam.” ujar Liu-cungcu.
Ketika malam tiba, para warga mendatangi kediaman cungcu sambil membawa beras yang sudah digiling, mereka bertemu dengan Han-jin dan A-cin, ungakapan rasa terimakasih mereka sampaikan pada Han-jin, dari semua beras milik warga, maka panen dua hari itu terkumpul dua ratus tujuh puluh karung “paman dan para sicu semua, kami sangat berterimakasih atas penyedian beras ini untuk dagangan kakak ipar saya, namun saya yakin kakak ipar saya tidak memeiliki modal untuk membayar ini semua, jadi kami ambil hanya sepuluh karung saja, dan itupun sebagian akan kami bayar besok.” ujar Han-jin
“she-taihap, aku Can-lung seorang warga tertua dikampung ini, apa yang telah she-taihap lakukan hari ini pada kami, seakan menyelamatkan kami dari lobang kematian, beberapa warga kami tadi pagi sudah hendak pergi dari sini untuk menyelamatkan diri, namun ternyata taihap datang dan menyelamatkan seluruh warga ini, terimaksih ini she-taihap bukan hari ini, tapi untuk selama-lamanya, karena warga kampung ini hakikatnya hidup kembali karena kehadiran taihap, jadi aku ingin sampaikan pada Bao-sicu di Taiyuan, juallah beras kami ini, jika sudah laku maka bayarlah delapan tahil perak perkarung pada kami.” “setuju…setuju..” sahut warga serempak
173
“bao-sicu dan she-taihap harus menerima ini untuk selamanya, sampai seratus kepala keluarga dikampung ini tidak ada lagi keturunannya.” ujar Can-lung “bukankah itu berlebihan kakek ?” tanya Han-jin “tidak berlebihan she-taihap, delapan tahil perak sudah lebih dari cukup bagi kami, dan ini juga adalah urusan dagang, dan kami merasa tidak dirugikan, dimanakah berlebihannya taihap ?” sahut Can-lung, Han-jin terdiam melihat kebenaran kakek itu.
“baiklah kakek dan sicu yang baik, aku akan sampaikan pada kakak iparku perjanjian dagang ini, semoga Thian memberikan balasan kebaikan kepada kita semua.” ujar Han-jin, lalu para warga pun menaikkan beras kedalam kereta, tiap kereta memuat dua puluh karung beras, sehingga kereta yang berangkat malam itu empat belas kereta kuda, tiga belas milik warga yang dikusiri tiga belas pemuda yang dipimpin oleh Liu-cungcu, dan satu millik Bao-san, menjelang pagi mereka sampai di rumah Bao-san.
Bao-san dan Swat-hong amat terkejut “ada apa ini Liu-sicu ?” tanyanya heran sambil melihat A-cin dan Han-jin “Bao-sicu, seluruh warga memutuskan menjual beras kepada Bao-sicu, setiap kami panen, kami akan mengirimkan beras untuk Bao-sicu jual, dan jika sudah terjual, maka warga akan menerima delapan tahil perak perkarung, dan sekarang ada dua ratus tujuh puluh karung, beberapa hari lagi kami akan panen, dan akan kami kirim kesini.” ujar Liu-cungcu
174
“liu-sicu ini amat mengejutkan kami dan kami bingung.” sela Swat-hong “she-taihap tidak perlu bingung, ini hanya kerjasama dagang, kami pemasok dan Baao-sicu penjual, jika laku, kami minta delapan tahil perak perkarung, bukankah itu hal tidak rumit she-taihap ?” sahut Liu-cungcu.
“aku mengerti Liu-sicu, namun kenapa bisa demikian, sehingga kami menerima anugrah yang besar ini ?” “hehehe..hahaha… Bao-sicu, untuk itu biarlah she-taihap, adik ipar sicu yang menjelaskan,” sahut Liu-cungcu, sementara Bao-san dan Liu-cungcu bicara, tiga belas pemuda, Han-jin, A-cin dan A-leng menurunkan semua muatan kereta, setelah selesai “Bao-sicu, kami harus bersegera pulang, sehingga kami dapat sampai saat matahari terbit kekampung, dan dapat memanen padi kami.” ujar Liu-cungcu. “baiklah kalau begitu Liu-sicu dan terimakasih banyak.” sahut Bao-san, Liu-cungcu mengangguk, dan memutar kereta kuda, iringan tiga belas kereta kuda itu meninggalkan kota Taiyuan.
Kwaa-swat-hong dan suaminya duduk bersama Han-jin diruang tengah, ketiganya saling berpandangan “Jin-te apa yang telah terjadi, sehingga Thian memberi hal luar biasa ini pada kita.” “sebenarnya aku hanya membunuh ular yang masuk kepersawahan mereka Bao-twako.” jawab Han-jin “ular ? sebesar apa ularnya Jin-te ?” “ularnya memang sangat besar, dua pelukan orang dewasa
175
dan panjangnya lebih kurang lima tombak.” jawab Han-jin, Bao-san melonggo mendengar ada ular sebesar itu. “jadi hal ini semua ungkapan terimakasih mereka Jin-te ?” sela enciknya “benar cici, dan karena ini merupakan dagang, aku tidak bisa bilang apa-apa.” sahut Han-jin.
Berkat kedatangan Han-jin, dagangan Bao-san semakin cepat berkembang, kampung peng-kin sebagai pemasok beras bagi Bao-san, setiap enam bulan mendapat pasokan delapan ratus karung beras sampai seribu karung beras, dan setiap karung Bao-san mendapat untung delapan tahil perak perkarung, sehingga kemungkinan untung yang didapat dalam enam bulan sebesar enam ratus empat puluh tahil emas, dan kenyataannya enam bulan kemudian, toko beras Bao-san bertambah enam toko, sehingga ia memiliki tujuh buah toko di Taiyuan, disamping rumah barunya yang besar dan megah disebelah barat kota.
Disebuah Bukoan sebelah timur Kota chang-an hari itu didatangi banyak kalangan kangowu, didepan gerbang halaman terpampang pelakat dengan tulisan indah yang bertuliskan “Tiuaw-eng-bukoan” (perguruan bayangan rajawali), kauwsu dari bukoan ini adalah phang-bai laki-laki gagah berumur lima puluh tahun, ia dijuluki “kwi-tiauw-eng” (bayangan rajawali iblis) muridnya ada sekitar seratus lebih.
176
Phang-bai ikut menghadiri pertemuan di hutan kongciak, dan menyaksikan hal yang terjadi disana, setelah kembali keperguruannya, dia lalu mengundang rekan-rekannya sealiran daro golongan hek-to, niat ini termotipasi setelah melihat kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia, undangan itu berjalan hingga sepuluh bulan, sehari sebelum hari pertemuan, para undangannya pun datang, tamunya yang pertama datang adalah tiga sahabatnya yaitu “kui-peng” (garuda siluman), “giam-ci” (si jari maut) dan seorang wanita cantik berumur empat puluh tiga tahun yang berjulukan “see-bi-kui” (siluman cantik dari barat), siangnya datang empat orang lagi, salah satunya adalah “tai-twi” (tendangan badai) dan tiga lainnya adalah “tung-mo-san” (kipas setan dari timur), “mo-miuaw” (sikucing setan) dan “Koai-ma” (si kuda gila), menjelang sore dua orang wanita paruh baya datang, keduanya adalah “ang-mou-kui-bo” (biang iblis berambut merah) dan “tok-lian” (si teratai beracun), saat malam seorang biksu datang, tubuhnya tinggi dan kekar,umurnya lima puluh tahun, alis matanya berjuntai panjang, ia adalah “liong-kek” (naga kutub), kemudian malamnya enam tamu yang sangat diharapkannya berdatangan, yaitu “Kwi-ban-ciang”, “kwi-san-hengcia”, “kui-thian”, “kui-tee”, “lam-liong-sian” dan “pak-giamlo-sianli”.
Setelah makan pagi, semua tamunya dibawa ke ruang lianbutia, enam belas tamunya duduk dikursi dan meja yang telah disediakan, sisi kanan dan kiri ruangan masing-masing delapan pasang kursi dan meja, aneka macam makanan dihidangkan, arak terbaik disuguhkan.
177
“saya berbahagia sekali enam belas undangan saya, dapat diperkenankan oleh para cianpwe dan sicu semua, dan saya ucapkan selamat datang pada para cianpwe dan sicu semua.” ujar Phang-bai sambil menjura ke sisi kanan dan kiri, enam belas tamunya membalas bersamaan.
“para cianpwe dan sicu semua, saya sengaja mengundang para cianpwe dan sicu datang ketempat saya ini, tiada lain tiada bukan adalah untuk membicarakan hal sehubungan dengan pernyataan Kwi-ban-ciang cianpwe yang saat di hutan kongciak menantang golongan pek-to, oleh karena pernyataan yang gagah itu, maka saya terbetik niat untuk mengumpulkan kita semua di tempat saya ini.” ujar Phang-bai “apa yang kamu lakukan ini kwi-tiauw-eng sangat tepat, dan dengan berkumpulnya kita disini, maka akan banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menggaungkan kembali aliram kita.” sela kwi-ban-ciang “benar kata kwi-ban-ciang, selama ini aliran kita terbenam oleh gaung she-taihap, dan kita dibuat membisu oleh sepak terjang mereka.” sela kwi-san-hengcia
“memang demikianlah jiwi-cianpwe tujuan saya mengumpulkan kita hari ini, sedikit kami ingin minta jiwi-cianpwe menyampaikan ihwal keadaan aliran kita selama ini.” ujar Phang-bai, lalu kwi-ban-ciang berdiri “memang perlu kita kilas balik perjalanan aliran kita, sehingga kita dapat menyusun rencana kita kedepan, jadi karena saya salah seorang paling tua pada pertemuan ini, maka saya ingin
178
menyampaikan ihwal aliran kita selama ini.” ujar kwi-ban-ciang. “ceritakanlah cianpwe, kami akan mendengarkannya.” sela Phang-bai
“rekan-rekan semua dan sicu yang berbahagia, aliran kita sudah sangat lama tidak ada gaungnya, sejak kemunculan Kim-khong-taihap lima ratus tahun yang silam, apakah golongan ada usaha untuk keluar dari keterpurukan ? jawabanya ada, salah satunya adalah sukong kami sendiri “pah-sim-sai-jin” bahkan su-kong kami pernah berhasil membunuh banyak she-taihap di empat wilayah, bahkan luar biasanya sukong kami berhasil membunuhi she-taihap yang berada di pulau kura-kura. Saat itu aliran hek-to mulai mencuat namun ketika she-taihap yang selamat dari pembantaian di pulau kura-kura muncul dengan julukan Im-yang-sin-taihap, maka aliran kita terpuruk kembali hingga hari ini.” urai kwi-ban-ciang, lalu kemudian ia duduk kembali
“sicu semua kita sudah dengar kwi-ban-siang-cianpwe sudah menceritakan kilas balik aliran kita yang berhadapan lurus dengan she-taihap, jadi kesimpulannya bahwa jika kita ingin aliran kita bergaung kembali maka she-taihap harus kita lenyapkan.” sela Phang-bai. “hal itu memeng benar kwi-eng-tiauw, dan kita sudah berkumpul disini, dua cianpwe juga sudah hadir, maka marilah kita bicarakan rencana kita dalam menghadapi she-taihap.” sela giam-ci
179
“benar dan rencana yang kita susun mestilah jeli dan penuh perhitungan.” sela see-bi-kui, semuanya mengangguk setuju
“baiklah cianpwe dan sicu semua, saya akan coba menyampaikan buah pikiran, sejak pertemuan di hutan kongciak, dimana she-taihap dikeroyok oleh jiwi-cianpwe, saya melihat she-taihap terdesak hebat, itu artinya seorang she-taihap akan kalah dengan jiwi-cianpwe, kemudian tiga dari kita seperti lam-liong-sian, kui-thian, kui-tee dan pak-giamlo-sianli dapat mendesak she-taihap, maka menurut hitungan saya, empat atau lima dari kita akan mampu mendesak dan membunuh she-taihap.” ujar Phang-bai “itu memang benar dan perhitungan kwi-eng-tiuaw tepat, namun ketika seorang she-taihap yang menunggang rajawali datang, kita tidak pungkiri bahwa enam dari pemuka kita yang ada disini hampir celaka.” sela “tai-twi”
“maksudnya Jin-sin-taihap ?” tanya “kwi-san-hengcia” “benar cianpwe.” sahut “tai-twi” “memang jin-sin-taihap sungguh membuat kita tercengang, tapi kita tidak boleh buntu untuk menghadapinya.” ujar Kwi-san-hengcia “jika ditilik sampai hari ini maka saya berkesimpulan bahwa kita harus bertahap menghadapi she-taihap.” sela lam-liong-sian “maksudnya bagaimana lam-liong-sian ?” tanya liong-kek “maksudnya kita harus menyusun rencana awal untuk menumpas she-taihap seperti tiga she-taihap yang berhadapan dengan kami berenam, kemudian baru rencana untuk
180
menghadapi she-taihap seperti Jin-sin-taihap.” sahut lam-lion-sian
“benar saya sangat sependapat dengan lam-liong-sian.” sela Pak-giamlo-sianli, semuanya mengangguk menyetujui. “jika kita sepakati, maka marilah kita susun rencana awal menghadapi she-taihap, silahkan kepada cianpwe dan sicu menyampaikan ide dan pemikirannya !” ujar Phang-bai “menurut saya yang pertama, kita harus hitung keberadaan she-taihap di empat wilayah.” sela kui-thian “benar sehingga kita bisa membuat sterategi yang baik.” sela tok-lian “menurut penyelidikan dari murid-murid saya, keberadaan she-taihap ada di lima titik, yakni pertama jelas pulau kura-kura, kemudian shang-hai, lokyang, shinyang, Wuhan.” ujar Phang-bai “jika sudah demikian usaha kwi-tiuaw-eng sungguh luar biasa, dan memudahkan kita untuk melanjutkan rencana.” Sela ang-mou-kui-bo.” “benar lalu apa rencana kita selanjutnya ?” tanya koai-ma “baik, karena kita telah mengetahui bahwa she-taihap berada di lima titik, maka kita yang ada disni akan dibagi tiga dalam satu kali aksi, dan kapan aksi akan dimulai, nanti kita bicarakan setelah menentukan siapa bertemu siapa.” ujar lam-liong-sian.
“dan menurut saya, untuk menentukan siapa bertemu siapa, sebaiknya jiwi-cianpwe yang menentukan.” sela mo-miauw “dan sebelum penentuan siapa bertemu siapa menurut saya
181
setelah mengetahu lima titik keberadaan she-taihap, maka titik yang masuk rencana awal hanyalah empat titik, yakni lokyang, sinyang, wuhan, dan shanghai.” sela Tok-lian “kenapa demikian tok-lian ?” tanya phang-bai “kita haru sadari bahwa pulau kura-kura merupakan akar she-taihao, mereka berjubel disana, kalau sudah begitu bagaimana ia masuk rencana awal ?” sahut Tok-lian “benar juga pemikiran tok-lian, tempat itu jika kita masukkan rencana awal maka hanya kebinasaan yang kita dapatkan” sela giam-ci, semuanya mengangguk setuju
“hmh…jika demikian rencana awal menurut saya tiga titik saja.” ujar Phang-bai “kenapa tiga titik kwi-tiuaw-eng ?” tanya liong-kek “karena she-taihap di shinyang ada dua yakni putri sulung dan murid langsung im-yang-sin-taihap.” sahut Phang-bai “benar, shinyang juga tidak bisa kita masukkan pada rencana awal, dan itu sudah tepat menurut saya sesuai dengan yang saya katakana tadi bahwa rencana awal kita akan dibagi pada tiga kelompok.” sela Lam-liong-sian. “baiklah lanjutkanlah lam-liong-sian !” sela Tok-lian “nah..bagaimana tadi, apakah kita akan serahkan siapa bertemu siapa ditetukan oleh jiwi-cianpwe ?” tanya Lam-liong-sian “setujuuu….” jawab mereka serempak “baik kalau begitu, untuk dua titik kami sudah dapat gambaran, hanya untuk titik ketiga kita perlukan uji coba, jadi sebaiknya kita keluar untuk melakukannya.” ujar Kwi-san-hengcia, lalu
182
merekapun keluar, maka sebelas orang dari mereka di uji oleh Kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia.
Uji coba berlansung sampai sore hari, dan malamnya setelah makan malam mereka melanjutkan pertemuan “setelah kita adakan uji coba maka siapa bertemu siapa sudah dapat kami tentukan.” ujar Kwi-san-hengcia, semuanya dengan serius mendengarkan “kelompok yang pertama terdiri dari tujuh orang, yakni liong-kek,ang-mou-kuibo, giam-ci, kwi-tiauw-eng, tok-lian, tai-twi, dan kui-peng, kemudian kelompok yang kedua terdiri dari enam orang yakni, lam-liong-sian, pak-giamlo-sianli, kui-thian, kui-tee, see-bi-kui, tung-mo-san, dan kelompok yang ketiga terdiri dari empat orang yakni saya sendiri, kwi-ban-ciang, mo-miauw dan koai-ma.” ujar kwi-san-hengcia, semuanya mengangguk tanda setuju
“dan kelompok pertama ke kota wuhan, kelompok kedua ke kota shanghai, dan kelompok ketiga ke lokyang, dan bagimana nama-nama she-taihap, apakah kamu mengetahuinya kwi-tiauw-eng ?” ujar kwi-san-hengcia “she-taihap yang di wuhan bernama Kwaa-hoa-mei, yang berada di shanghai kwaa-yun-peng, dan yang ada di lokyang kwaa-sin-liong.” sahut Phang-bai. “baik kalau demikian, tiap kelompok ingan nama sasarannya.” Ujar kwi-san-hengcia “lalu kapan kita akan bergerak cianpwe ?” tanya tok-lian “kita akan berangkat dari sini menuju sasaran masing-masing
183
besok lusa.” jawab kwi-san-hengcia “dan juga kalian harus ingat bahwa setiap kelompok hanya mampu mengalahkan seorang dari she-taihap.” sela kwi-ban-ciang “benar, jadi kalian harus beraksi jika she-taihap sendirian.” Kwi-sian-hengcia menambahkan, semuanya menagngguk mengerti
“baik kita sudah sepakat untuk menjalankan rencana awal, lalu kapan lagi kita bertemu untuk membicarakan rencana kedua ?” tanya Phang-bai, semuanya menoleh pada kwi-san-hengcia, kwi-san hengcia berembuk sebentar dengan kwi-ban-ciang “kita akan membicarakan rencana kedua di tempat lam-liong-sian di Guangdong tujuh bulan didepan.” Jawab kwi-san-hengcia, merekapun mengangguk menyetujui, setekah itu acara minum-minum sambil ngalor-ngidul kesana kemari hingga larut malam.
Besok malamnya Kwi-tiuaw-eng mengadakan pesta untuk semua tamunya, nyanyian dan tarian di tampilkan, dan tentunya gadis-gadis penghibur dikota chang-an didatangkan, dan diantara mereka ada empat wanita tidak mau ketinggalan ambil jatah untuk pesta mesum, lam-liong-sian kesengsem pada see-bi-kui, ang-mou-kuibo digaet giam-ci, tung-mo-san di ajak oleh pak-giamlo-sianli, tok-lian bergulung-gulung dengan kui-peng, pesta yang amat semarak dan panas, keesokan harinya kelompok kedua berangkat yang dipimpin oleh lam-liong-sian, dua jam kemudian kelompok ketiga berangkat dipimpin oleh kwi-ban-ciang, dan setelah siang kelompok
184
pertama berangkat yang dipimpin oleh kwi-tiuaw-eng, tujuh belas dedengkot hek-to itu meninggalkan kota chang-an untuk menjalankan misi yang terencana.
Sebelah selatan kota Wuhan, keluarga Kwee-jun-bao sedang mengadakan pesta pernikahan putri bungsunya kwee-lin yang berumur dua puluh tahun, kwee-lin dipersunting seorang pemuda anak zhang-cungcu yang bernama Zhang-feng, Kwee-jun-bao yang berumur lima puluh tiga tahun, dan istrinya Kwaa-hoa-mei yang berumur lima puluh satu tahun memiliki tiga orang anak, yang seulung bernama Kwee-hui-bi berumur dua puluh lima tahun, yang kedua Kwee-bun berumur dua puluh tiga tahun, keduanya sudah berumah tangga.
Dua hari sebelum pesta pernikahan, Kwee-hui-bi bersama suami dan anaknya tiba dari kota nanchao, dan keesokan harinya Kwee-bun dan istrinya yang sedang hamil datang dari khangshi, kemudian pada hari pesta, para undangan pun datang berbondong-bondong, para tetangga yang terlibat sebagai penyambut tamu, dengan hangat menyambut undangan yang datang, para undangan terdiri dari sahabat-sahabat Jun-bao dari kalangan kauwsu dan puluhan pendekar dari kalangan kangowu, disamping itu juga dari kalangan pemerintahan juga ikut menyemarakkan pernikahan tersebut, karena sebagai cungcu, she-zhang juga punya relasi yang banyak.
185
Li-suhu seorang biksu yang didatangkan dari sebuah kelenteng di pusat kota memimpin upacara pernikahan, kedua pengantin disandingkan, sementara Li-suhu dan para muridnya berliangkem dan membacakan doa kepada para dewa “sujud pada dewa langit..!” seru Li-suhu, kedua pengantinpun sujud tiga kalai “sujud pada dewa bumi…! “seru Li-suhu. Kedua pengantin sujud kembali “sujud pada kedua ibu bapak…!” Kedua pengantin menghadap ayah ibu mereka yang duduk dikursi, lalu keduanya sujud tiga kali, dan yang terakhir mereka sujud pada jaum kerabat dan sekaligus ucapan terimaksih pada para undangan.
Setelah upacara pernikahan selesai, dilanjutkan acara makan dan minum serta pemberian kado oleh para undangan, temu wicara, obrolan ramah tamah yang diselingi nyanyian rombongan penghibur, menjadikan suasana demikian meriah dan semarak, setelah siang berganti malam, para tamu undangan pun pamit diiringi ucapan terimakasih dari kedua mempelai dan keluarga, para undangan pun sudah pulang, yang tinggal hanya tetangga dekat dan kerabat dekat, kedua pengantin pun memasuki kamar pengantin dengan rasa bahagia.
Tiga hari setelah pernikahan Kwee-lin pun diboyong suaminya kedesa Yulan sebelah utara kota Wuhan, tangis isak Kwee-lin yang berpisah dengan kedua orang tuanya mengiringi keberangkatannya menuju rumah suaminya, Jun-bao dan
186
istrinya melepas kepergian anaknya bungsu dengan restu dan harapan semoga keluarga yang dibina putrinya langgeng, setelah Kwee-lin berangkat, keesokan harinya kwee-hui-bi dan Kwee-bun kembali kekota masing-masing.
Kini tinggalah suami istri yang sudah berumur itu berdua bersama seorang pelayan, Jun-bao sebagai pedagang obat mulai membuka tokonya setelah tutup lebih seminggu, Jun-bao dan istrinya hanya dibantu seorang pegawai dalam menjalankan dagangannya, keluarga Jun-bao hanyalah keluarga sederhana, namun mereka sangat dihormati orang disekitarnya, demikian juga para aparat pemerintah kota Wuhan, karena keberadaan keluarga kwee tabir bagi segala tindak kejahatan, semua orang tahu bahwa Jun-bao adalah pesilat handal yang tegas pada tindak kejahatan, sejak masa mudanya ia dan kedua saudara seperguruannya menjadi pendekar yang selalu menindak kezaliman dan kesewenang-wenangan, sehingga Jun-bao dijuluki “wuhan-pek-tiauw” (rajawali putih dari wuhan).
Terlebih setelah orang mengetahui bahwa kwee-hujin adalah she-taihap, maka makin ciut nyali penjahat untuk coba-coba bertindak menyimpang di kota wuhan, Jun-bao sendiri sudah demikian hebat dan terkenal kemampuannya sejak masa muda, apalagilah setelah diketahui Kwee-hujin juga bukan orang biasa, bahkan tidak dipungkiri istri she-kwee itu lebih hebat lagi dibanding she-kwee sendiri.
187
Hari itu dari gerbang sebelag selatan kota muncul tujuh orang yang sudah kita kenal sebagai kelompok pertama yang akan mengadakan misi pelenyapan she-taihap, kwi-tiauw-eng membawa enam rekannya memasuki sebuah likoan untuk istirahat dan menyusun strategi untuk menjalankan misi, setelah istirahat sehari semalam, tujuh orang itu mengadakan pertemuan dikamar kwi-tiauw-eng “tempat tinggal she-taihap yang bernama Kwaa-hoa-mei tinggal diselatan kota, jadi hal yang pertama kita lakukan adalah membaca keadaan she-taihap, satu hal lagi yang mesti kita perhatikan bahwa suaminya adalah pendekar yang terkenal dikota ini dan sekitarnya.” ujar Kwi-tiauw-eng
“dari penyelidikan muridmu dulu, apakah menurutmu keberadaan suaminya merupakan hambatan bagi kita untuk membunuh she-taihap ?” tanya ang-mou-kuibo “kalau menurut saya suaminya akan menjadi halangan bagi kita kalau keduanya langsung berhadapan dengan kita.” sahut Kwi-tiuaw-eng “kalau begitu kita harus pasang taktik memisahkan keduanya.” sela kui-peng “benar, hal itu harus kita pikirkan setelah membaca keadaan she-taihap.” ujar liong-kek. “baik kalau begitu, jadi nanti siang tok-lian pergilah kesana untuk membeli obat penawar racun, dan racun apa tentunya tok-lian lebih paham.” ujar Kwi-tiuaw-eng, Tok-lian mengangguk menyanggupi.
188
“baik nanti malam kita bertemu lagi setelah mendapat laporan dari Tok-lian.” ujar Kwi-tiuaw-eng, llau merekapun bubar, setelah makan siang, tok-lian keluar menuju toko obat she-kwee, beberapa orang pembeli sedang dilayani A-meng pegawai Jun-bao “A-meng ! aku butuh obat luka bakar .” ujar seorang lelaki paruh baya “ooh, sebentar kao-siok, aku akan ambilkan.” sahut A-meng, lalu menarik sebuah laci diantara banyak laci lemari yang berada ditoko itu, A-meng membungkus obat berupa serbuk, dan memberikannya kepada lelaki she-kao, lalu she-kao membayar dan segera pergi “kouwnio, mau obat apa ?” tanya A-meng ramah “aku mau membeli balsem.” sahut wanita wanita itu, lalu A-meng mengambil balsem, setelah membayar wanita itu pun pergi.
A-meng melihat tok-lian mendekati toko, dia menyambut dengan senyum ramah “sicu ! apakah ada obat penawar racun ? tanya Tok-lian ”racun apakah itu kouwnio ?” tanya A-meng “racun katak merah.” jawab Tok-lian “maaf kouwnio obat penawar racun itu tidak ada.” ujar A-meng “maaf apakah pemilik toko ini seorang shinse ?” tanya Tok-lian “boleh dikatakan begitu, karena loya juga mengobati orang sakit.” jawab A-meng “pernahkah loyamu mengobati orang yang kena racun ?” “pernah, yang saya tahu, loya pernah mengobati orang yang
189
terkena racun.” “apakah loyamu ada atau sedang keluar ?” “loya memang sedang keluar mengambil beberapa bahan obat.” “apakah loyamu akan lama kembalinya ?” “biasanya nanti malam loya baru kembali.” jawab A-meng “lalu didalam rumah ada siapa saja, yang bisa saya memberi tahu saya tentang obat racun katak merah ?”
“didalam rumah hanya ada hujin, tapi hujin tidak mengerti soal pengobatan.” “anaknya mungkin ada yang tahu ?” “anak beliau juga tidak ada, bahkan seminggu yang lalu putri bungsu beliau sudah menikah. “jadi dirumah hanya tinggal berdua saja ?” “benar kouwnio, tapi kalau kouwnio mencari tabib, sebaiknya kouwnio menemui Wan-sinse, dia seorang tabib yang bagus.” sahut A-meng “baiklah kalau begitu, terimakasih atas informasinya, saya akan coba menemui wan-sinse “alamatnya di gang ketujuh di sebelah barat kota, kouwnio.” ujar A-meng “baik sekali lagi terimakasih.” sahut Tok-lian.
Tok-lian kembali ke penginapan, lalu malamnya ketujuh orang itu berkumpul lagi “bagaimana hasil penyelidikanmu Tok-lian ?” tanya ang-mouw-kuibo
190
“she-taihap hanya berdua dengan suaminya, anak-anaknya semua sudah berkeluarga.” Jawab Tok-lian “lalu apa selanjutnya yang kita lakukan ?” sela Tai-twi “jika demikian kita harus memisahkan keduanya, jadi kita harus membunuh suaminya terlebih dahulu.” sahut Kwi-tiauw-eng “hal itu bisa kita lakukan, dan saya bisa meminta suaminya keluar dari rumah.” sela Tok-lian
“kalau begitu bagus, dan kita bisa membunuhnya sekarang.” ujar peng-kui “tidak malam ini peng-kui, tapi besok saja, saya akan temui suaminya dan meminta tolong untuk mengobati seseorang.” sela Tok-lian “lalu kemana ia akan dibawa ?” tanya lam-kek “kita tunggu tok-lian di luar gerbang utara.” sela kwi-tiuaw-eng “baik kalau begitu, besok kita bersamaan keluar, kami akan menunggumu di luar gerbang utara tiok-lian.” sela giam-ci, lalu mereka bubar dan kembali kekamar masing-masing.
Keesokan harinya tujuh orang itu keluar, Tok-lian menuju kediaman Kwee-jun-bao dan enam rekannya menuju gerbang utara “eh..kouwnio lagi, bagaimana apa kouwnio sudah menemui Wan-sinse ?” “itulah masalahnya sicu, tadi pagi saya kesana, tapi wan-sinse sedang keluar, jadi saya kembali kesini, loyamu ada kan ?” “ada, sebentar saya panggilkan.” sahut A-meng, A-meng masuk kedalam rumah, dan kemudian keluar bersama Jun-bao
191
“ada apa kouwnio ?” tanya Jun-bao ramah “begini loya, suami saya kena racun, bisakah loya ketempatku untuk memeriksa suamiku ?” “suami kouwnio kena racun apa ?” tanya Jun-bao “saya juga tidak tahu, untuk itu saya minta tolong supaya loya memeriksanya.” “tapi kouwnio mencari obat penawar racun katak merah.” sela A-meng “benar sicu, karena kata pembantu kami yang ikut bersama suami saya ketika itu, katanya suami saya kena racun katak merah, tapi semalam adik seperguruannya datang, dan mengatakan bukan racun katak merah, dan saya tanya racun apa, sute itu mengatakan racun teratai hati.” sahut Tok-lian
“saya tidak mengerti loya, jadi tolonglah periksa dulu suami saya.” ujar Tok-lian memelas cemas dan sedih “dimana kalian tinggal kouwnio ?” tanya Jun-bao “kami tinggal di sebelah gerbang utara.” jawab Tok-lian “baiklah, saya akan ikut kouwnio kesana.” ujar Jun-bao “terimakasih loya, terimakasih.” ujar Tok-lian, kemudian Jun-bao masuk kedalam “mei-moi, saya keluar sebentar untuk memeriksa seorang pasien.” ujar Jun-bao “baiklah, dan hati-hati Bao-ko.” sahut Hoa-mei, Jun-bao mengangguk dan keluar, Tok-lian membawa jun-bao kesebelah utara kota, dan tok-lian terus berjalan ke luar gerbang kota “apakah kalian tinggal diluar gerbang kota ?” tanya jun-bao heran
192
“benar loya, marilah tidak jauh lagi rumah saya” sahut Tok-lian, lalu Jun-bao terus mengikuti tok-lian, “nah didalam hutan itu rumah saya, marilah loya.” ujar Tok-lian “suami kouwnio kerja apa ? sehingga kalian tinggal didalam hutan ? “suamiku seorang pemburu, kami hanya tinggal bertiga, saya, suami saya dan seorang pembantu.” sahut Tok-lian demikian tenang dan pandainya mengelabui Jun-bao
Tiba-tiba enam orang muncul serempak mengelilingi tok-lian dan Jun-bao “siapa kalian ?” tanya Jun-bao “seraaang…!” teriak Tok-lian sambil membokong punggung Jun-bao, Jun-bao yang waspada, merasakan angin pukulan Tok-lian, dengan gesit ia berguling kedepan sehingga pukulan Tok-lian luput, namun tiga pukulan datang bertubi-tubi “wuut..sing..sing…” Jun-bao mencabut pedangnya untuk menghalau pukulan “buk..des…” tiga yang menyerangnya menarik serangan, namun saat Jun-bao berdiri, tai-twi dan peng-kui berhasil membokongnya dari belakang, sebuah pukulan dari peng-kui menghantam punggung dan sebuah tendangan tai-twi menghantam lambung, Jun-bao terhempas ketanah, ia muntah darah hingga dua kali, nafasnya sangat sesak, belum lagi ia menguasai keadaan dirinya, “cep…wus…” tiga buah jarum teratai hati menancap di perut, dada dan kening Jun-bao, ditambah pukulan sakti hawa beracun dari Ang-mou-kuibo menerpa tubuh Jun-bao, seketika
193
Jun-bao tewas mengenaskan dengan luka yang amat parah, racun teratai yang diserap tubuhnya ditambah hawa racun dari pukulan membuat organ dalam tubuh Jun-bao matang membiru, mulutnya mengeluarkan busa berwarna hijau kehitaman.
“bagaimana sekarang, apakah kita akan langsung kerumah she-taihap ?” tanya ang-mou-kuibo “tidak usah, pasti dia akan datang menemui kita, jadi kita tunggu saja disini.” Jawab Kwi-tiuaw-eng “lalu mayat ini bagaimana ?” sela giam-ci “kita gantung dipohon ditepi hutan, sehingga ia melihatnya.” sahut kwi-tiauw-eng “lalu sambil tertawa-tawa tai-twi dan peng-kui menggantung Jun-bao dengan kaki diatas.
Hari sudah sore Hoa-mei masih menunggu suaminya tanpa menduga macam-macam, namun ketika malam tiba hatinya mulai gelisah, lalu Hoa-mei menemui A-meng yang sedang istirahat di belakang setelah mandi “A-meng ! kemana loya memeriksa pasien ?” tanya Hoa-mei “loya bersama perempuan itu pergi ke sebelah utara kota, hujin.” jawab A-meng “kamu tahu alamatnya disana ?” tanya Hoa-mei “tidak tahu hujin.” Jawab A-meng meringis “ciri-ciri wanita yang membawa loya bagaimana ?” “wanita paruh baya berumur empat puluh tahun, wajahnya cantik berkulit putih, dan didagunya ada tahi lalat, dan
194
rambutnya digelung dan memakai tusuk rambut dengan gagang bulat berbentuk daun teratai.” jawab A-meng “sudah kamu jaga rumah, saya akan menyusul kesana !” ujar Hoa-mei, A-meng mengangguk, hatinya juga jadi gelisah.
Hoa-mei sampai disebelah utara kota, dia jadi bingung bagaimana menemukan suaminya di perumahan penduduk yang padat itu “Kwee-hujin sedang apa disini ?” tanya seorang lelaki berumur empat tahun lebih “oh…Yo-kauwsu, aku hendak mencari suamiku, untuk mengobati pasien di sini.” sahut Hoa-mei “alamatnya apa kwee-taihap tidak memberi tahu ?” tanya Yo-kauwsu “itulah Yo-kauwsu, makanya aku jadi bingung begini, dari tadi pagi berangkat sampai malam ini belum kembali.” ujar Hoa-mei “apa kwee-hujin tahu, dengan siapa kwee-taihap kesini ?” “dengan seorang wanita cantik berumur empat puluh tahun dan ada tahi-lalat didagunya, dan juga tusuk rambutnya berbentuk daun teratai.” “hmh…sepertinya tidak ada wanita seperti itu disini Kwee-hujin.” sela Yo-kauwsu “benarkah Yo-kauwsu ?” tanya Hoa-mei mulai curiga dan menduga hal yang tidak baik “:benar Kwee-hujin, tapi tunggu sebentar, marilah kita kedalam dulu, saya akan coba tanyakan para murid mana tahu mereka mengetahui wanita itu.” ujar Yo-kauwsu “baiklah Yo-kauwsu dan terimakasih.” sahut Hoa-mei
195
Yo-kauwsu membawa Hoa-mei masuk kedalam rumahnya, dan memanggil semua muridnya yang berjumlah delapan puluh orang “kalian semua, pernah tidak melihat wanita cantik berumur empat puluh tahun, dan ada tahi lalat didagunya tinggal disekitar gerbang utara ini ?” tanya Yo-kauwsu “wanita seperti itu tidak ada tinggal disini suhu.” jawab murid utamanya, dan juga para muridnya mengangguk, tiba-tiba putri To-kauwsu yang berumur enam belas tahun menerobos masuk “eh..maaf ayah aku tidak tahu ayah sedang ada pertemuan.” ujarnya dengan memelas “tidak apa cing-ji, ayah hanya sebentar mengumpulkan murid-murid ayah.” sahut ayahnya senyum.
“hi..hi… eh ternyata kwee-hujin sedang bertamu.” ujar Yo-sui-cing sambil menjura hormat pada Kwee-hujin “sebenarnya kwee-hujin kesini hendak mencari kwee-pek yang tadi kesini mengobati seorang pasien.” sela Yo-kauwsu “kwee-taihap tadi pagi saya lihat bersama seorang wanita ayah.” ujar sui-cin “hah…kemana kamu lihat kwee-taihap dibawa perempuan itu, cin-ji ?” tanya Yo-kauwsu “aku melihat kwee-taihap keluar gerbang kota bersama wanita itu” jawab sui-cin “oh..kalau begitu aku harus mencarinya keluar gerbang kota, terimaksih yo-kauwsu, dan terimakasih cin-ji.” ujar Hoa-mei dengan wajah sedikit gembira.
196
“baiklah Kwee-hujin, semoga Kwee-hujin dapat menemukan kwee-taihap.” sahut Yo-kauwsu, lalu Hoa-mei keluar dari rumah Yo-kauwsu dan berlari dengan cepat menuju keluar gerbang utara, dalam sekejap Hoa-mei sudah berada di tepi hutan yang gelap gulita, namun pandangan she-taihap ini luar biasa, dikeremangan bulan sepotong ia melihat benda menggantung dipohon “jasad manusia.” Pikirnya, lalu ia melompat memutuskan tali ketika ia melihat wajah jasad tergantung itu dengan seksama, jantungnya berdegup, hatinya teriris, ternyata jasad itu adalah jasad suaminya, namun telinganya yang tajam sudah menangkap gerakan disampinya
“siapa kalian dan cepat keluar !” teriak Hoa-mei dengan sikap waspada dan berdiri disamping mayat suaminya, tidak lama tujuh orang pun muncul dari belukar hutan “kamukah wanita yang membawa suami saya kesini ?” tanya Hoa-mei dengan nada dingin pada Tok-lian yang berada disamping kanannya “benar, dan kami sengaja memancingmu datang kesini.” Jawab Tok-lian dengan tenang “hmh…kenapa kalian membunuh suamiku ?” tanya Hoa-mei “hi..hi…hi…karena istrinya she-taihap, maka kami harus bunuh.” sela ang-mou-kuibo “dan juga kami hendak membunuhmu.” sela lam-kek
“siapakah kalian bertujuh ?” tanya Hoa-mei “kami adalah aliran hek-to, dan kamu tahu pasti kenapa kami
197
harus membunuhmu.” sahut giam-ci dengan senyum sinis. “kalian mau maju bersama atau bagaimana ?” tantang Hoa-mei “seraang..!” teriak Lam-kek, tujuh orang itu segera menyerang Hoa-mei, Hoa-mei menyambut ketujuh lawannya dengan kekuatan dan kegesitan yang luar biasa, ilmu im-yang-sian-sin-lie berusaha menghalau dan membalas serangan-serangan tujuh dedengkot hek-to itu “dhuar…dhuar…” dua ledakan terdengar akibat dua tenaga sakti yang beradu, hutan itu tanah diarea itu bergetar, ang-mou-kwi, kui-peng mundur lima langkah, kwi-tiauw-eng, lam-kek dan tai-twi mundur empat langkah, sementara hoa-mei kakinya melesak ketanah hingga mata kaki.
Pertempuran berlanjut dengan seru, dua ratus jurus telah berlalu, Hoa-mei mulai tertekan, lalu dengan cepat ia merubah jurusnya dengan menggunakan Im-yang-bun-sin-im-hoat, gerakan menulis yang indah dan luar biasa, lawannya laksana air bah menyerang Hoa-mei, empat orang menghadapi jurus hoa-mei tang sakti, tiga orang bersiap-siap membokong menunggu peluang dari sela-sela empat rekannya, yang selalu siap mengambil peluang adalah ang-mou-kuibo, tok-lian, dan lam-kek, ang-mou-kuibo dengan pukulan hawa beracunnya yang bernama “tok-hong-ciang” (telapak angin racun) Tok-lian dengan “sim-lian-ciam” (jarum teratai hati) dan pukulan “ho-lian-ciang” (telapak teratai api) sementara lam-kek dengan pukulan “lam-hong-swat-ciang” (telapak salju angin selatan)
198
Hoa-mei dengan sabar dan tenang menghadapi tujuh lawan yang kosen dan memiliki kerjasama yang baik, “tin-liong-siulian” merupakan dasar ketenangannya, karena nafasnya membuat ia dalam kondisi yang prima, “siu-to-po-in” merupakan bentengnya dari serangan gelap dari tiga lawan yang mengintainya, sembari mendesak empat lawannya dengan im-yang-bun-sin-im-hoat, ketujuh lawannya meleltkan lidah melihat betapa she-taihap ini luar biasa, beberapa pukulan ang-bin-kuibo dan lam-kek sudah mengenai sasaran, namun kondisi hoa-mei masih gesit dan kokoh, sementara empat lawannya yang menghadapi jurusnya sudah mandi keringat, bahkan tai-twi sudah mendapat sebuah pukulan yang membuat ia sesak dan berhenti sesaat, tai-twi langsung bergerak ketika giam-ci menjerit merasakan totokan pada bahunya, dan untungnya daya kekuatan serangan Hoa-mei tidak membuat ia sempat terluka dalam, karena sin-kang hoa-mei yang terpecah. Dan terlebih sin-kang itu digunakan juga untuk siu-to-po-in dan tin-liong-siulian.
Giam-ci hanya merasakan nyeri sesaat, dan rasa nyeri itu dipaksakan untuk mebali mendesak Hoa-mei, she-taihap benar-benar diuji ke uletannya, tiga ratus jurus berlalu, tujuh lawannya sudah mulai kecapean, namun demi misi mereka terus berusaha merobohkan nenek tua yang luar biasa dan sakti itu, Hoa mei merubah lagi jurusnya dengan Im-yang-pat-sin-im-hoat, Hoa-mei dapat kembali memperbaiki kedudukannya, pukulan-pukulan jarak jauh dengan suara gemerisik yang lebih kentara dari Im-yang-bun-sin-im-hoat membuat empat
199
lawannya kalang kabut, namun dua pukulan dari ang-mou-kuibo dan lam-kek menerpa tubuhnya, dan sebuah jarum dari sepuluh jarum yang dilempar tok-lian mengenai paha Hoa-mei, sin-kangnya terpaksa terpokus sesaat pada ilmu siu-to-po-in, dan malangnya empat lawannya sudah menyusulkan serangan, dengan gerakan langkah luar biasa Hoa-mei dapat mengelak, tiga senjata lawan, namun pedang pedang kwi-tiauw-eng tidak bisa dielakkan “srat…” sebuah sabetan melukai bahu dan punggungnya.
Hoa-mei tanpa gugup dan meringis mulai lagi menyusun gerakan, pertempuran terus berlansung, hingga malam berakhir, dan suasana pagi pun datang, namun hutan itu sudah porak-poranda laksana diamuk badai, matahari belum lagi terbit, hanya safak merah yang mengarak diufuk timur, Hoa-mei dengan luar biasa bergerak, sebuah pukulan tingkat delapan dari Im-yang-pat-sin-im-hoat mengenai tubuh tai-twi, namun Hoa-mei haarus menerima tiga pukulan lagi dari tiga oraang pengintainya, hoa-mei terduduk dengan nafas sesak, tiga lawannya terus bergerak mengayun kan senjata tanpa menggubris tai-twi yang sudah tewas seketika dengan tubuh membiru kedinginan.
Hoa-mei menagkap golok peng-kui dan suling giam-ci, hoa-mei berpoksai mengindarkan tusukan kwi-tiuaw-eng, dan tiga dua pukulan dan serangkai jarum menyambutnya diudara, Hoa-mei dengan indah bergerak mengelak laksana gerakan kucing diudara, jarum tok-lian luput demikian juga pukulan lam-kek,
200
namun pukulan ang-mou-kuibo menyerempet pundaknya, peng-kui dan giam-ci tiba-tiba mengirimkan pukulan sakti “brush..dess..” dua pukulan itu telak menerpa tubuh Hoa-mei, kekuatan siu-to-po-in kembali bergerak menahan dua hawa yang hendak menerobos.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Cersil Terbaik : Jin Sin Tayhiap 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 12 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments