Cerita Silat terbaik : Jinsin Tayhiap 1

Cerita Silat terbaik : Jinsin Tayhiap 1
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Silat terbaik : Jinsin Tayhiap 1
Baca Juga:

JIN SIN TAIHIAP
“Goat-kok” (lembah bulan) sebelah selatan kota Qingdao banyak ditumbuhi bunga kanoka, yang jika dipandang dari bukit laksana hamparan permadani raksasa berkilau kuning keemasan, sebuah pundok berdiri dilereng bukit sebelah utara yang langsung mengarah kehamparan lautan luas, disebalah timur hamparan kanoka yang indah sementara yang berakhir dengan tepi hutan yang menghijau.
Sepasang pendekar tua sedang duduk dalam selimut kemesraan sambil memandang hamparan laut yang luas, kakek itu berumur enam puluh dua tahun, sementara sinenek berumur lima puluh empat tahun, sinenek menyandarkan kepalanya dibahu sikakek yang memeluk bahunya, wajah pasangan tua masih menyisakan rias ketampanan dan kecantikan masa muda, pasangan tua ini bukanlah orang sembarangan, dari sejak mudanya sampai sekarang pasangan ini adalah ikon dunia persilatan di delapan penjuru angin.
2
Bahkan sejak dari leluhur mereka ratusan tahun yang silam pada masa dinasti sung-selatan, leluhur pasangan tua ini telah menjadi buah hati seluruh kalangan, baik kalangan awam, pemerintahan dan kalangan liok-lim di seantoro tionggoan, tentunya para pembaca yang setiap membaca serial ini akan dapat menebak siapa sebenarnya pasangan tua tersebut. Benar, pasangan tua itu adalah Kwaa-han-bu atau yang dikenal dengan julukan Im-yang-sin-taihap bersama istrinya Kwee-kim-in keturunan langsung Kim-khong-taihap yang melegenda.
Kwaa-han-bu dan istrinya sudah dua tahun berkelana menjelajahi rimba persilatan, awalnya pasangan sakti ini menetap di Kun-leng, namun sejak dua putranya Kwaa-sin-liong dan Kwaa-yun-peng menikah, Kwaa-sin-liong menikah dengan Tang-bi-wei putri sorang tabib, mereka menetap di Lokyang dengan usaha membuka toko obat, sementara Kwaa-yun-peng menikah dengan Bao-ci-lan dan menetap di kota Shanghai, sejak itu mereka tinggal berdua, lalu tiga tahun kemudian mereka meninggalkan kota kun-leng dan berkelana di dunia kangowu, perjalanan mereka itu hanya untuk bersantai menikmati hari tua denganmenikmati indahnya panorama alam dan tempat-tempat yang indah.
Dan suatu ketika, saat pasangan ini berada di kota Zhaojuang dan sepulang menikmati keindahan taman kota yang indah dan ramainya kota, tiba-tiba Kwee-kim-in merasa mual pada perutnya sehingga dia muntah-muntah di sebuah gang yang sepi
3
“kamu kenapa In-moi ?” tanya Kwaa-han-bu cemas “entahlah Bu-ko, perutku terasa mual, mungkin aku masuk angin.” Jawab Kwee-kim-in dengan muka sedikit pucat. “sebaiknya kita kembali ke penginapan dan istirahat.” ujar Kwaa-han-bu, kemudian menuntun istrinya kembali ke penginapan.
Sesampai dipenginapan Kwee-kim-in dibaringkan, namun baru saja berbaring, kembali ia merasakan mau muntah, lalu segera ia berdiri dan muntah diatas sebuah baskom air, setelah itu dengan mata berair ia kembali baring, Kwaa-han-bu menjadi cemas “kamu tunggu sebentar, aku akan keluar dan mencari seorang tabib.” ujar Kwaa-han-bu dan segera keluar dan bertanya pada pemilik likoan “sicu…dimanakah aku mendapatkan seorang tabib ?” “apakah taihap perlu seorang tabib ?” “benar sicu, istri saya sepertinya sakit.” “oh..kalau begitu tunggulah sebentar, A-bing…! kamu segera kerumah Gu-sinse, dan minta dia datang kesini untuk memeriksa tamu kita.” ujar pemilik likoan “baik..tuan, saya akan segera kesana.” “ya dan segera bawa kekamar she-taihap.” sahut pemilik likoan, A-bing mengangguk dan segera keluar likoan.
Tidak berapa lama Gu-sinse pun datang kekamar Kwaa-han-bu bersama A-bing “apa yang bisa saya bantu she-taihap ?”
4
“istri saya shinse, dia muntah-muntah entah kenapa, tolong diperiksa.” “baik..baik…” sahut Gu-sinse sambil melangkah mendekati ranjang dimana Kwee-kim-in terbaring dengan wajah pucat.
Gu-sinse memegang pergelangan tangan Kwee-kim-in, lalu melihat wajah kwee-kim-in yang pucat, wajah Gu-shinse terlihat heran dan terkesima “maaf nyonya, aku hendak meraba bagian perut nyonya.” ujar Gu-sinse, dan mukanya makin terkesima bahkan terkejut, kemudian dia pun tertunduk lalu tersenyum sendiri, Kwaa-han-bu dan Kwee-kim-in yang melihat Gu-sinse senyum jadi heran “bagaimana shinse ? sakit apakah saya ?” tanya Kwee-kim-in “sudah berapakah umur nyonya ?” tanya Gu-sinse balik bertanya “masuk lima puluh tiga shinse.” jawab Kwee-kim-in “hehehe..hohohoho…luar biasa, jika Thian berkehendak apapun bisa terjadi.” “apa maksudnya shinse ?” sela Kwaa-han-bu, Gu-sinse berdiri dari ranjang dan duduk di kursi, Kwaa-han-bu duduk juga duduk didepan Gu-sinse “katakanlah shinse, apa yang terjadi dengan istri saya ?” tanya Kwaa-han-bu sambil memandang cemas pada istrinya yang sudah duduk menatapnya dengan wajah sedikit bersemu merah
“she-taihap perkiraan kita dengan umur nyonya yang sudah diatas limapuluh tidak lagi akan mempunyai anak, selamat she-
5
taihap nyonya sedang hamil.” Jawab Gu-sinse, sesaat Kwa-han-bu tercenung mendengar jawaban Gu-shinse, namun kemudian wajahnya merona merah dan senyumnya pun muncul, hatinya yang suka cita nampak jelas tergambar pada wajahnya, ucapan selamat Gu-sinse disambut hangat dan senyum bahagia “terimakasih shinse, jika demikian kenyataannya syukur pada Thian akan berkah dan anugrah ini.” “benar taihap, sekarang saya permisi dulu.” “baik…baik shinse dan sekali lagi terimakasih.” sahut Kwaa-han-bu, setelah Gu-sinse keluar, Kwaa-han-bu memeluk mesra istrinya “In-moiku sayang, Thian mengamanatkan anak lagi untuk kita.” ungkapnya penuh rasa bahagia, Kwee-kim-in dengan hangat menyambut pelukan suaminya “aku juga merasa bahagia koko.” bisiknya lembut dekat telinga suaminya.
Tiga hari kemudian pasangan tua yang berbahagia itu melanjutkan perjalanan, sehingga membawa mereka ke Goat-kok yang indah, waktu senja mereka sampai di lembah tersebut, mereka duduk istirahat sambil menikmati indahnya hamparan bunga kanoka, seiring hembusan angin sepoi-sepoi yang mebelai tubuh mereka “tempat ini sungguh indah Bu-ko.” ujar Kwee-kim-in “benar sekali In-moi, hampatan bunga kanoka itu laksana permadani berkilau emas, dan lautan yang terhampar luas disebelah utara itu juga menyamankan pikiran.”
6
“Bu-ko…aku ingin kita tinggal disini, dan melahirkan anak kita.” “baiklah In-moi, besok kita akan mendirikan pondok untuk berdiam disini, dimanakah sebagusnya menurutmu sayang kita dirikan pondok ?” sahut suaminya dengan nada sayang.
“dilereng bagian utara itu sepertinya cocok, karena arealnya lapang.” “baiklah In-moi, besok kita akan mendirikan pondok disana, dan malam ini kita akan tidur di alam terbuka berlantaikan tanah dan beratap langit, sekaligus berlampukan hamparan bintang dan sinar rembulan.” “hihi…hihi….koko puitis sekali.” sela Kwee-kim-in, Kwaahan-bu merangkul istrinya dan mengajaknya baring diatas rerumputan, sesaat ia memandang mata indah istrinya, kemudian bibirnyapun melumat mesra bibir istrinya.
Kwee-kim-in membalas hangat kecupan dan lumatan suaminya, malam penuh bintang dan sinar bulan setengah menjadi saksi bisu kemesraan suami istri yang saling mencinta itu, malampun merayap dengan tenang seiring hembusan angin malam yang dingin serta nyanyian serangga malam, namun bagi pasangan sakti yang terlelap dalam birahi cinta itu tidak merasakan apa-apa kecuali hanya kehangatan dan kenyamanan nikmatnya hubungan suami sitri.
Keesokan harinya Kwaa-han-bu mencari kayu untuk membangun pondok, dengan semangat dan hati gembira Kwaa-han-bu mendirikan pondok yang terdiri dari sebuah
7
kamar, ruang tengah yang cukup luas dan dapur yang, juga pondok itu memiliki teras dengan pagar bambu kuning, dalam dua minggu Kwaa-han-bu sudah menyelesaikan pekerjaannya, Kwee-kim-in tidak ikut membantu suaminya untu bekerja berat, karena hamilnya semakin besar, Kwee-kim-hanya menyiapkan makanan untuk suaminya.
Beras dan lauk pauk mereka tidak khawatir, karena ada sebuah desa bernama Yaning sejauh dua mil dari kaki bukit ke arah kota Qingdao, hari-hari mereka lalui dengan rasa bahagia sambil menunggu kelahiran bayi mereka, hingga saat melahirkan tiba seorang dukun beranak dari desa Yaning sudah berada didalam pondok, sementara bibi pok panggilan dukun beranak menuntun Kwee-kim-in, Kwaa-han-bu menyiapkan air panas dan hangat didapur, setelah itu ia membawa kedalam kamar, Kwee-kim-in atas aba-aba bibi pok berusaha mendorong bayinya, keringat Kwee-kim-in sudah membanjir, dan wajahnya demikian pucat, ketika matahari naik sepenggalah dan sinar matahari mulai terasa panas, Kwee-kim-in pun melahirkan bayinya, suara tangis yang keras dan lantang bergema di lereng bukit tersebut.
Kwaa-han-bu memegang lengan istrinya yang pucat dan terpejam,nafasnya memburu, hati Kwaa-han-bu miris melihat wajah istrinya yang tercinta, bibi pok membersihkan bayi mungil dan sehat “koko, mana anakku ?” tanya Kwee-kim-in lemah “sebentar si bibi lagi memandikannya.”
8
“bawalah anakku kesini koko !” pinta Kwee-kim-in semakin lemah, sementara tubuh bagian bawah Kwee-kim-in terus mengeluarkan darah persalinan, bibi pok dayang menggendong bayi laki-laki yang sehat “ini anaknya nyonya, laki-laki.” ujar bibi Pok, Kwee-kim-in memeluk anaknya, matanya berkaca-kaca.
“In-moi apakah kamu baik-baik saja ?” tanya Kwaa-han-bu dengan nada cemas “koko, ini anak kita, siapakah namanya koko ?” “nama..? “ sesaat Kwaa-han-bu terdiam, lalu kemudian menjawab saat melihat istrinya membuka mata setelah terpejam beberapa saat “nama anak kita adalah Kwaa-han-jin.” “han-ji…sepertinya ibu tidak akan akan bersamamu, jagalah ayah dengan baik.” “in-moi…In-moi…apa yang kamu katakan itu.” jerit Kwaa-han-bu dan air matanyapun bersimbah, ingin rasanya rasa sakit istrinya dia ambil, sesat mata Kwee-kim-in terpejam dan berusaha menenangkan nafasnya yang memburu
“koko, Thian sepertinya akan memanggilku, a..aku menyayangimu koko, tapi waktuku sepertinya sampai disini, ja..jagalah anak-anak kita, se..selamat tinggal koko… a..aku be…be…rang…kat…ko….ko….” nyawa Kwee-kim-in pun meninggalkan raganya, Kwaa-han-bu sambil memeluk anaknya menunduk menciumi istrinya dengan simbahan uraian air mata, bibi pok terlihat sesugukan menangisi kepergian Kwaa-hujin.
9
Satu jam kemudian Kwaa-han-bu menyusut air matanya “bibi pok terimakasih atas usahanya, apakah bibi-pok akan segera kembali kedesa ?” tanya Kwaa-han-bu dengan nada tenang “biarlah aku kembali besok siang saja, setelah nyonya di kebumikan.” “baiklah kalau begitu bibi pok, sekarang coba kita bersihkan ranjang ini dan menukarnya dengan yang baru.” ujar Kwaa-han-bu, bibi-pok mengangguk, Kwaa-han-bu meletakkan Jin-han dan menggendong jasad istrinya, bibi pok segera menarik sprei bekas persalinan yang penuh bercak darah, kemudian dengan cekatan mengganti spreinya, lalu Kwaa-han-bu pun kembali meletakkan jasad istrinya.
Kwaa-han-bu berasama anaknya menunggui jasad Kwee-kim-in, sementara bibi pok memasak nasi didapur, saat malam pun tiba, merekapun makan, Kwaa-jin-han malam itu sangat kalem, oleh bibi-pok memberikan madu sebagai makanannya, malam itu dilewatkan dengan keheningan yang mencekam, wajah Kwee-kim-in nampak begitu tenang dalam tidurnya yang panjang.
Keesokan harinya Kwaa-han-bu menggali kuburan di belakang pondok, lalu saat matahari terbit Kwaa-han-bu meletakkan istrinya dalam kubur, dan kemudian menguruk kembali tanah galian, gundukannya sedikit agak tinggi dan berbentuk bulat, dan diatasnya diletakkan batu nisan yang sudah dibentuk dan bertuliskan
10
“makam istri tercinta Kwee-kim-in, diujung nisan dibuat bentuk bintang bersegi enam, sama halnya dengan nisan semua istrinya, enam segi itu melambangkan enam istrinya, dan kenyataannya enam istri Kwaa-han-bu, tiga orang terkubur disatu tempat yakni di Kun-leng, dan tiga istri lainnya berpencar, Cia-sian-li terkubur dibawah jurang di kota Hanzhong, Can-hang-bi di Jim-kok kota Bao, dan Kwee-kim-in di tempat ini, di Goat-kok kota Qingdao
Siang harinya Kwaa-han-bu mengantar bibi pok kedesa Yaning, sekalian memasan susu perah untuk makanan anaknya, kemudian dengan bekal sebulan Kwaa-han-bu kembali kelembah dan naik kelereng tempat kediamannya. Kwaa-han-bu adalah manusia sakti dengan keuletan dan kesabaran yang tinggi, dengan sepenuh hati anak bungsunya itu diasuh dan dipelihara sepenuh hati, tubuh tua itu demikian telaten merawat anaknya, tiap bulan ia membawa anaknya menuruni bukit dan mengambil perbekalan didesa yaning.
Tidak terasa dua tahun sudah berlalu, Kwaa-han-jin telah pandai duduk dan merangkak, pagi itu sebelum matahari terbit, Kwaa-han-bu bermain-main dengan anaknya, tubuh han-jin yang mungil dan sehat dilempar berkali-kali keatas, lalu ditangkap sambil mengajak anaknya bergurau, ketika matahari terbit ayah dan anak itu menikmati sinar matahari, Han-jin duduk dipangkuan ayahnya yang bersila, jenggot ayahnya yang putih berjuntai jadi mainannya sambil rebahan diatas dada ayahnya.
11
Setelah panas matahari sudah menyengat kulit, Kwaa-han-bu berdiri, dan tiba-tiba ia mendengar dari atas pekik burung rajawali raksasa, diatas permukaan laut yang biru burung itu melayang dengan gagahnya, selama hampir tiga tahun, tidak ada tanda-tanda keberadaan rajawali tersebut, tapi pagi itu ia melayang rendah diatas permukaan laut dan hinggap disebuah tebing batu yang terjal dipinggir laut, kepakan sayapnya mambuat mata biasa dapat melihatnya dari lereng kediaman Kwaa-han-bu, terlebih mata seawas Im-yang-sin-taihap. Kepala burung itu putih sementara bulunya berwarna coklat, kakinya berwarna kuning keemasan.
Kwaa-han-bu masuk kembali ke dalam pondok dan memeberi makan anaknya, demikianlah hari-hari yang dilalui Im-yang-sin-taihap, setahun sudah lewat, dan burung rajawali tersebut masih berkeliaran mengelilingi lembah dan permukaan laut, pagi setelah menikmati sinar matahari pagi, burung itu kembali memekik dicakrawala, Kwaa-han-bu sambil menggendong putranya mengikuti rajawali, dengan menerobos hutan disebelah timur, Kwaa-han-bu mendekati tebing sarang rajawali, bagi Im-yang-sin-taihap tidak ada halangan untuk mendatangi sarang tersebut walaupun diatas tebing terjal.
Dengan ilmunya yang luar biasa Kwaa-han-bu sudah berada diatas tebing, permukaan tebing itu amat luas dan berbatu-batu dan pada satu sisi permukaan tebing ada sebuah goa besar namun tidak dalam, karena lorongnya hanya empat tombak kedalam, mulut goa itu hampir ditutupi tubuh rajawali, rajawali
12
bergerak leluasa dimulut goa, ketika rajawali melihat Kwaa-han-bu, matanya yang tajam menyorot tajam, rajawali bergerak maju dan keluar dari mulut goa, ia merasa tidak senang dengan kehadiran kwaa-han-bu, patuknya laksana kilat meluncur kearah kepala Kwaa-han-bu, namun patukan itu gagal karena Kwaa-han-bu lebih cepat berkelit.
Rajawali merasa penasaran, lalu ia pun mematuk kembali, namun hasilnya gagal lagi, berkali-kali ia mematuk, namun selalu luput, saking marahnya rajawali terbang berputar dua kali diatas permukaan tebing, lalu dengan gesit ia menyerang Kwaa-han-bu, kwaa-han-bu tidak lagi mengelak tapi menyambut rajawali dengan sebuah pukulan dahsyat “kwekkkk….” pekik rajawali, bulu coklatnya bertebaran, rajawali kembali mengambil ancang-ancang dan menyerang, pertempuran unik pun terjadi, anak manusia bertempur hebat dengan rajawali raksasa.
“kwaa-han-bu sambil menggendong putranya bergerak cepat dan gesit, dan tiga puluh jurus kemudian, Kwaa-han-bu dapat mencengkram bulu leher rajawali, dan dengan ringan menunggang punggung rajawali, rajawali itu panik, dan terbang membumbung tinggi keangkasa, Kwaa-han-bu dengan ketukan pada leher membuat rajawali itu memekik kesakitan, setelah dua jam berputar-putar diangkasa akhirnya rajawali itu menyerah dan takluk “Pek-thouw, kita kelembah dibawah sana !” teriak Kwaa-han-bu sambil menunjuk kebawah kedaratan hamparan bunga kanoka,
13
rajawali itu pun menukik kearah lembah, persis didepan pondok rajawali mendarat.
Kwaa-han-bu turun dari punggung rajawali, dan mendarat ringan diatas tanah “pek-thouw tunggu disini dan jangan pergi kemana-mana.” ujar Kwaa-han-bu, namun rajawali itu hendak pergi, dengan sigap “pek-thouw..” panggil kwa-han-bu dengan sirapan singkang, suara itu hanya pelan, namun akibatnya bagi rajawali, membuat ia sempoyongan dan memuntahkan liur yang banyak, muntahan itu muncrat mengenai wajah Kwaa-han-jin, yang sedang menguap setelah tertidur karena nyamannya hembusan angin cakrawala, air liur sontak tertelan Kwaa-han-jin, Kwaa-han-jin menjilati bibirnya dan menelan liur itu kembali, sementara kwaa-han-bu membersihkan dadanya dan muka anaknya “jangan pergi pek-thouw !” bentak Kwaa-han-bu, rajawali itupun kembali mendekam dan bahkan menganggukkan kepalanya ketanah.
Kwaa-han-bu masuk kedalam pondok, ia membersihkan tubuh kwaa-han-jin dan mengganti bajunya, lalu ia pun menngganti bajunya yang kotor, lalu dengan menggendong Kwaa-han-jin ia keluar menemui rajawali yang sudah manut, Kwaa-han-bu berkata-kata sambil berisyarat didepan rajawali, hal itu dilakukan berulang-ulang, ternyata Kwaa-han-bu sedang mengajari rajawali untuk memahami berbagai isyarat yang ditunjukkannya. Kadang kwaa-han-bu menyuruh rajawali
14
terbang, kemudian dengan sebuah switan ia memanggil kembali, dan rajawali itu pun datang kembali.
Sampai sore Kwaa-han-bu berkata dan berisayarat dengan burung rajawali, sementara Kwaa-han-jin tertidur pulas di teras pondok, hari demi hari pun berlalu, dan setahun lagi sudah lewat, umur Kwaa-han-jin sudah empat tahun, dan dia sudah dapat berlari kencang, dan berbicara dengan fasih, dan rajawali juga sudah akrab dan manut pada Kwaa-han-bu, sejak umur empat tahun Kwaa-han-bu pun mulai mengenalkan tulis baca pada anaknya, daya tangkap Kwaa-han-jin memang kuat, otaknya cerdas.
Ketika umur lima tahun Kwaa-han-jin disamping belajar sastra dari buku-nuku yang dibawa Kwaa-han-bu dari desa Yaning, Kwaa-han-jin juga mulai mendapat pelajaran teori silat, gerak tangan , melatih kuda-kuda, ilmu pernafasan, setiap pagi dinihari Kwaa-han-jin melatih teori dasar ilmu silat, dan setelah siang ia belajar sastra, saat menjelang sore, ia kembali melatih dasar gerakannya, semua itu berjalan dibawah pengawasan ayahnya yang penuh perhatian, dan teman bermainnya pek-thouw.
Tiga tahun kemudian, saat umur delapan tahun, Kwaa-han-jin mulai mempelajari ilmu-ilmu ayahnya yang luar biasa, empat ilmu leluhurnya mulai ia serap, “Bu-tek-cin-keng” dengan intisarinya “siulian-tin-liong, “hun-kong-coan-im”, “goat-koan-sim-hang”, “Siu-to-Po-in”, dan “san-phak-eng-coan”, lalu
15
kemudian “im-yang-sian-sin-lie, Im-yang-bun-sin-im-hoat, dan “im-yang-pat-sin-im-hoat” empat pelajaran itu dapat dikuasai dengan baik oleh Kwaa-han-jin selama delapan tahun.
Umur enam belas tahun ia sudah dapat melayani ayahnya sampai ratusan jurus, lalu tanpa lelah Kwaa-han-bu yang sudah berumur tujuh puluh delapan tahun itu mewariskan ilmu ciptaannya yang terakhir yakni “wei-cu-sin-ciang” (telapak sakti mustika rasa, ilmu ini berpondasi tenaga “Wei-si-sin-siulian” (semedi sakti empat rasa), selama empat bulan Kwaa-han-jin mendawamkan siulian dan rafalan kalimat berupa
Diri hanyalah jasad yang berpadu dengan ruh yang dipinjami JIka yang meminjamkan mengambil tiada sesuatu yang merugi Sesuatu yang berlaku sesuai kehendak yang memiliki Tiadalah alam dapat menyalahi kecuali pemilik memberkati
Setelah itu Kwaa-han-bu mengajarkan gerak pengunnaan tenaga dalam empat tahapan jurus sesuai empat posisi siulian duduk dengan telapak tangan menegadah keatas, duduk dengan kedua tangan disatukan, berdiri dengan kedua tangan disatukan, dan berdiri dengan kedua tangan disatukan diatas kepala, masing-masing posisi memiliki empat kembang gerakan untuk mengeluarkan tenaga super dahsyat tersebut, dan jika enam belas kembang gerakan itu disatukan dalam satu gerakan, maka tenaga yang keluar akan mengeluarkan empat cahaya kilat, yakni merah, hijau, kuning dan biru.
16
Kwee-han-jin dapat menguasai ilmu itu dalam kurun waktu setahun, umur tujuh belas tahun Kwaa-han-jin telah menyerap seluruh warisan ayahnya, suatu hari Kwaa-han-bu setelah menikmati sinar mentari pagi memanggil anaknya “jin-ji….kemarilah !” serunya lembut, han-jin segera mendekati ayahnya, dan duduk didepan ayahnya “jin-ji, sebentar lagi kamu akan turun gunung dan akan menghadapi keras dan pedasnya dunia, jadi dengarlah petuah ayah ini !” “anak siap mendengarnya ayah !”
“Jin-ji masa yang dilalui manusia yang berumur panjang dalam hidup ini ada lima, apakah yang lima itu ? yang lima itu adalah masa manangis saat kamu baru lahir sampai umur tujuh tahun, saat itu kamu tahunya hanya menangis, basah celanamau kamu menangis, kamu lapar kamu menangis, setelah itu saat engkau memasuki umur delapan tahun sampai lima belas tahun kamu memasuki masa mengemis, masa ini kamu tahunya hanya meminta ini dan itu, masa yang ketiga adalah masa menimbang, yakni umur enam belas tahun sampai dua puluh satu tahun, pada masa ini kamu menhgadapi dilema keraguan, dihadapkan pada berbagai pilihan, kemudian masa yang keempat adalah masa berpikir, dari umur dupuluh dua sampai umur lima puluh tahun, dan masa yang kelima adalah masa menyesal, yakni dari umur lima puluh tahun sampai ajal menjelang, jadi Jin-ji pandai-pandailah menimbang pada masa menimbang supaya saat memasuki masa berpikir kamu memiliki pikiran yang cemerlang, sehingga kamu baik dan bijak
17
dalam segala permasalahan, dan pada gilirannya kamu tidak menjalani masa menyesal.” ujar Kwaa-han-bu dengan jelas dan lembut, Kwaa-han-jin meresapi kata-kata ayahnya dengan tekun dan mematrikannya dalam hati.
Kemudian anakku dalam diri manusia itu ada tiga khazanah diri, yakini akal, nafsu dan hati, dan masing-masing khazanah memiliki tiga karakter, karakter pada akal adalah licik,picik dan cerdik, karakter pada nafsu ada senang, menang dan kenyang, kemudian karakter pada hati ada cinta, kasih dan sayang, dari tiga khazanah, dua khazanah cendrung merusak yakni pikir dan nafsu, karena karakter didalamnya dominan hal yang tidak baik, namun kedua khazanah ini dapat dikendalikan, jika manusia itu memiliki dua ilmu.” “apakah dua ilmu itu ayah ?” tanya Kwaa-han-jin “dua hal itu adalah ilmu pikir dan ilmu zikir, akal harus dikendalikan oleh ilmu pikir sementara nafsu dikendalikan oleh ilmu zikir.” “apakah itu ilmu piker dan Ilmu zikir ayah ?” “ilmu pikir adalah pemahaman baik dan buruk, salah dan benar, sementara ilmu zikir adalah pemahaman dalam dan luar diri, sisi gelap dan terang diri, jadi jika akal sudah dikendalikan pemahaman salah san benar, baik dan buruk maka tiga karakter akal tadi tidak akan mencuat dalam prilaku, mau bagaimana berbuat licik dan picik muncul, jika manusia itu sudah paham akan salah dan benar, kemudian jika nafsu sudah dikendalikan pemahaman dalam dan luar, sisi gelap dan terang diri, maka tiga karakter nafsu tidak akan muncul dalam
18
prilaku, mau bagaimana ingin senang, menang maupun kenyang timbul, jika manusia itu sudah memahami dirinya sendiri dan sesuatu diluar dirinya, mengertikah engkau nak ?”
“mengerti ayah, petuah ayah akan selalu anak ingat sebagai bekal diri menjalani hidup.” “bagus anakku, berusahalah sekuat hati, tenaga dan pikiranmu untuk tidak mengecewakan dirimu, dan berupayalah menjaga dirimu dihadapan penciptamu yang tidak pernah kecewa.” “apakah maksud pencipta saya yang tidak pernah kecewa ? jika Thian tidak pernah kecewa, lalu untuk apa saya berusaha ayah ?” “Jin-ji, apapun yang kamu lakukan dalam hidup ini bagi Thian tidak ada pengaruh, Thian hanya memberi hukum, baik kamu akan Thian hukum dengan baik, jahat kamu, Thian hukum dengan jahat, jadi jangan merasa jika kamu jahat maka Thian akan kecewa sehingga menghinakanmu, tidak, dasar Thian menghinakanmu bukan karena ia kecewa tapi karena memang kamu jahat, begitu juga sebaliknya dasar Thian meninggikanmu bukan karena Thian bangga padamu, tapi karena kamu memang baik.” Jelas Kwaa-han-bu, Kwaa-han-jin mengangguk paham setelah mendengar penjelasan ayahnya.
Siang harinya merekapun masuk kedalam untuk makan siang, banyak nasihat dan wejangan yang disampaikan oleh Kwaa-han-bu pada anaknya, sepertinya seluruh kebijakan hidupnya di beberkan didepan anaknya, dan ternyata setelah tiga bulan kemudian Kwaa-han-bu pun sakit, dan hanya selama tiga hari
19
sakit, ditengah kelarutan malam Kwaa-han-bu pun menutup mata meninggalkan putra bungsunya bersama Pek-thouw. sesaat kesedihan pemuda gembelengan itu menangisi kepergian ayahnya, dan keesokan harinya dengan hati yang tegar dan jiwa yang tenang Kwaa-han-jin menguburkan ayahnya disamping pusara ibunya, sebuah batu nisan pun diletakkan diatas kubur, Kwaa-han-jin membuat nisan yang sama bentuknya dengan nisan ibunya, sama-sama memiliki bintang segi enam diujungnya, dinisan tertera tulisan “makam ayahanda tercinta Kwaa-han-bu”
Jauh dari Qingdao tepatnya di Heng-sing-kok dekat kota Guangdong, pemghuni rumah megah di lembah itu sedang mengadakan pesta, pesta sangat ramai oleh undangan yang datang dari berbagai tempat, rata-rata undangan dari kalangan kangowu, dan ada juga dari kalangan pembesar pemerintahan dari Guangdong, pesta itu merupakan dukungan pada pemilik lembah untuk menjadi bengcu wilayah selatan yang akan diadakan dikota Guiyang lima belas hari bulan ketujuh.
Pemilik lembah itu adalah lelaki tampan berumur tiga puluh tahun, namanya adalah Tio-cun dan dikenal dengan julukan “Lam-liong-sian” (dewa naga dari selatan) dia adalah murid dari pemilik heng-sing-kok yang bernama Tan-lou-pang salah seorang dari rekanan Kwi-sian-pat, Tan-lou-pang memberikan bimbingan pada muridnya hanya selama lima tahun, karena Tan-lou-pang meninggal dunia oleh kerentaan dan penyakit yang ia derita.
20
Sebagaimana kita ketahui bahwa Tan-lou-pang dan tujuh rekannya dilemparkan oleh she-taihap kelaut, diantara mereka yang hidup hanyalah Tan-lou-pang sendiri dan seorang rekannya yang bernam Suma-xiau, ditengah lautan yang luas perahu mereka diombang-ambing oleh gelombang, pada hari kedua dua rekanan yang masih hidup itu siuman karena panasnya terik matahari, dengan lemas dan kehausan mereka berusaha duduk “bagaimana keaadanmu she-tan ?” tanya Suma-xiau “luka yang kuderita cukup parah, aku tidak bisa lagi mengerahkan sin-kang.” “begitu juga denganku she-tan, terlebih pinggulku juga sudah hancur remuk.” “tidak dinyana bahwa putra Ui-hai-liong-siang telah menunggu kita.” “sudahlah she-tan, hari ini kita kalah, namun kita akan mempunyai kesempatan untuk menghabisi she-taihap.” “maksudmu apa she-suma !?” “jika tidak kita yang menghabisi she-taiihap, akan tetapi kita masih bisa mencari murid dan mewariskan ilmu-ilmu kita kepada murid tersebut.” “apakah kamu akan mengambil murid she-tan ?” “benar, itulah yang aku inginkan sekarang, sehingga suatu saat nanti ia akan membalaskan dendam kita pada she-taihap”
“kamu memang benar she-suma, ide itu cukup menjanjikan menurut saya.” “dan juga terlebih she-tan bahwa kumpulan kitab kita
21
berdelapan tersimpan di kota Bao, jika kita bagi kitab itu dan kita warsikan pada murid kita, tentunya murid kita akan menjadi seorang yang luar biasa saktinya.” “hmh….benar pendapatmu itu she-suma, jadi yang pertama yang kita lakukan setelah sampai didaratan besar adalah kembali kekota Bao dan mengambil kitab-kitab tersebut.” ujar Tan-lou-pang, Suma-xiau mengangguk membenarkan.
Kemudian keduanya dengan susah payah menggulingkan enam rekan mereka kelaut, setelah itu keduanya dengan tenaga luar seadanya mendayung perahu, untungnya keesokan harinya hujan turun, dengan berbaring dan muka menegadah kelangit keduanya membuka mulut dan meminum air hujan, kerongkongan mereka yang kering sudah basah kembali oleh sejuk dan segarnya air hujan, sedikit banyaknya tenaga mereka yang mendayung seharian pulih kembali, lalu keduanya kembali mendayung perahu menuju daratan besar.
Selama dua minggu dua rekanan itu terlunta-lunta dilaut, dan akhirnya mereka mencapai daratan besar, mereka keluar dari perahu, lalu berenang dan merayap ketepi pantai dan masuk ke dalam hutan belukar, keduanya bersandar di pohon, didalam hutan sambil mencari makanan, tan-lou-pang juga mencari daun obat untuk menyembuhkan luka dalam mereka, usaha mereka yang tidak kenal menyerah itu membuat mereka selamat dari derita luka dalam yang mereka derita, selama setahun mereka berkeliaran di tengah hutan tersebut.
22
Keduanya memang sudah menjadi orang awam yang mengandalkan tenaga luar, bahkan suma-xiau menjadi cacat, karena sekarang ia berjalan dengan bantuan tongkat kayu, berhari-hari mereka berjalan menelusuri hutan, seminggu kemudian merekapun dapat keluar dari hutan, disebuah desa yang cukup ramai mereka istirahat “she-suma supaya perjalanan kita dapat cepat, kita harus mencari kuda.” “benar, apakah kita akan mendapatkan kuda didesa ini ?” “tidak tahu juga, marilah kita lihat !” sahut Tan-lou-pang sambil bangkit dan membantu suam-xiau berdiri dengan tongkatnya.
Mereka melewati sebuah rumah yang cukup besar dan mewah “mungkin ini rumah tuan tanah, dan besar kemungkinan ia memiliki kuda.” ujar Tan-lou-pang, keduanya memasuki halaman rumah, seorang lelaki tua berpakan mewah keluar bersama empat orang anak buahnya, dengan muka mununjukkan marah, seorang dari empat orang membentak “kalian ini siapa, kenapa lancang memasuki rumah Bu-loya !?” “kami ini membutuhkan kuda, apa kalian punya kuda ?” “sialan mau cari mampus yah, ditanya malah balik bertanya.” Bentak orang itu, lalu dengan tangannya yang kuat dan kekar melayang menampar Tan-lou-pang, Tan-lou-pang mencoba menagkap tangan orang itu “buk…eh…eit…plak..plak…auuggghh….” dua lengan beradui, Tan-lou-pang sempoyongan hingga ia terkejut, lelaki besar itu cepat dan kuar menarik leher baju Tan-lou-pang, sehingga tubuh Tan-lou-pang doyong kedepan, dan dua buah tamparan
23
kuat mebersarang dikedua pipinya yang kempot, Tan-lou-pang menjerit kesakitan, kasihan memang dua rekanan itu, awalnya mereka adalah pesilat tangguh dan luar biasa, namun hari ini mereka tidak obahnya manula yang lemah dan rapuh.
“enyah kalian dari sini, sebelum kalian kuhajar sampai babak belur.” bentak lelaki itu, dua rekanan itu pun dengan tertatih-tatih keluar dari halaman tuan tanah. “jika sudah begini aku tidak yakin kita akan sampai ke kota Bao dan menyusun cita-cita kita.” ujar Tan-lou-pang dengan nada putus asa, sambil meraba pipinya yang masih panas bekas tamparan, dan dari sudut bibirnya mengeluarkan darah, “marilah kita duduk dulu untuk memikirkan jalan keluar yang lain.” sahut Suma-xiau, lalu keduanyapun duduk dipinggir jalan , beberapa ibu-ibu dengan menjinjing keranjang belanjaan lalu lalang sambil mengobrol.
Kehadiran mereka yang tua, kotor dan kumal tidakpun sedikit digubris, karena keduanya disangka orang terlantar dan pengemis, seorang kongcu dan seorang gadis cantik lewat dengan menunggang kuda “Ci-moi, hari ini aku akan membawamu kesebuah tempat yang indah.” “dimanakah itu liem-koko ?” tanya sigadis dengan raut wajah senang “dikota Qingdao, kamu tidak akan mendapatkan tempat seindah yang akan kita lihat.” “marilah kita kesana koko, aku sudah tidak sabar ingin
24
melihatnya.” sahut gadis yang ternyata tamu sipemuda dari kota Qingdao, kuda mereka sedikit dihentak, sehingga dari berjalan biasa menjadi lari congklang.
“mari kita ikuti kedua orang itu she-tan, mereka mungkin sepasang tunangan, kita akan mencuri kuda mereka jika ada peluang.” ujar Suma-xiau, Tan-lou-pang juga berpikiran sama, ia pun berdiri dengan semangat dan membantu Suma-xiau berdiri, lalu keduanya berjalan kearah perginya kedua muda-mudi itu, mereka sudah berjalan dua jam dan susah diluar desa, namun dua bayangan muda-mudi itu tidak kelihatan. “disana ada sungai, mari kita kesana untuk mandi dan menyegarkan diri.” ujar Tan-lou-pang, tanpa menjawab suma-xiau mengikuti langkah Tan-lou-pang, ketika keduanya sudah dekat, keduanya melihat dua kuda muda-mudi tertambat, mata mereka mencari-cari kedua muda-mudi itu.
“ini kesempatan kita, mari kita ambil kudanya.” bisik Tan-lou-pang dengan gembira, lalu keduanya mendekati kuda, Tan-lou-pang membantu Suma-xiau naik kepunggung kuda, setelah itu ia pun naik, lalu keduanya melarikan kuda dan meninggalkan desa, kedua muda-mudi ternyata menyeberang sungai, dan diseberang sungai ada setumpuk kebun-kebun warga, dan setelah tumpukan kebun itu akan berakhir pada sebuah tebing, dua sejoli itu ternyata duduk bermesraan sambil menikmati pemandangan yang luas dan indah dibawah tebing, yang merupakan hamparan permukaan danau yang diatasnya mengambang bunga teratai dengan aneka warna bunganya,
25
pemandangan itu memang indah dilihat dari atas, sepasang kekasih itu tidak menduga bahwa kuda meraka akan dicuri, karena orang desa kenal betul dengan kuda milik tuan tanah.
Tan-lou-pang dan Suma-xiau membalakan lari kuda melintas jalanan kecil berbatu, sehari semalam mereka membalapkan kuda, menjelang siang keduanyapun sampai di kota Qingdao, kedua ekor kuda itu disembunyikan dan merumput di sebuah bangunan tua dipinggir kota, lalu Tan-lou-pang dan Suma-xiau mengemis dijalanan, untungnya dua hari mereka mengemis di kota Qingdao mereka dapat bebrapa tail tembaga dan beberapa sen, setelah keduanya membeli bekal perjalanan selama dua hari mereka meninggalkan kota Qingdao.
Perjalanan itu memang sangat lambat, karena seringnya mereka berhenti untuk mengemis, akhirnya enam bulan kemudian mereka sampai dikota Bao, segera mereka menuju markas, namun markas itu sudah tinggal puing-puing berserakan dan sudah ditumbuhi semak belukar, keduanya tidak lagi memikirkan bagaimana dan siapa yang membakar dan menghancurkan kediaman mereka, keduanya segera menuju sebuah bagian belakang dan menggali tanah dekat kolam ikan.
Hampir empat jam mereka menggali, dan kemudian mengeluarkan sebuah peti besar, peti besar itu pun dengan susah payah dulu baru terbuka, didalam peti terdapat enam belas kitab mereka, lalu Tan-lou-pang mengambil kitab
26
miliknya, begitu juga Suma-xiau mengambil kitab miliknya, dan tersisa lima kitab, dua kitab milik Ma-tin-bouw, satu kitab milik Bu-leng-ma, satu kitab milik she-zhang dan Yang, dan satu kitab milik sikembar Gu.
“kitab Ma-twako dan she-gu kamu ambil , dan saya ambil kita she-bu dan kitab sepasang she-yang dan zhang.” ujar Suma-xiau, Tan-lou-pang mengangguk. “setelah ini kita akan berpisah she-tan.” ujar Suma-xiau “demikian juga boleh, aku akan kekota Heng-sing-kok di kota Guangdong.” sahut Tan-lou-pang “baiklah , saya juga akan ke liong-teng di kota Yiming.” ujar Suma-xiau, lalu keduanya kembali menunggang kuda, Tan-lou-pang keluar dari pintu gerbang sebelah selatan, sementara Suma-xiau keluar dari pintu gerbang sebelah timur.
Tan-lou-pang memacu kudanya, dan sebulan kemudian ia sampai dikota kicu, ketika dia mengemis dijalanan dia melihat anak umur sebelas tahun sedang mencuri makanan disebuah kedai, pemilik kedai tidak menyadari, anak lelaki itu pergi kesebuah gang yang sepi dan memakan makan yang dicurinya “siapakah namamu bocah ?” tanya Tan-lou-pang “saya Tio-cun, ada apa, kenapa nanya-nanya ?” jawab anak itu ketus “maukah kamu ikut saya ?” “ikut anda ? apa yang saya dapatkan jika saya ikut kamu orang tua, kamu juga seorang pengemis jalanan.” sahut Ti-cun “aku ini orang kaya dan berada, kalau kamu ikut saya, kamu
27
akan saya jadikan murid.” Heheh..heheh orang tua kamu jangan kamu membual, kamu tidak kelihatan seperti orang kaya, dan juga tidak seperti ahli silat hebat.
“sekarang memang iya, tapi jika kita sampai di Guangdong kamu akan melihat kekayaan saya, dan dulu saya adalah pesilat yang ditakuti, karena kumpulan kami dikenal dengan sebutan Kwi-sian-pat.” “hahaha..hahah…aku tidak percaya, kamu hanya penipu tua.” Sahut Tio-cun mencela Tan-lou-pang “saya memang tidak bisa membukitikan padamu, tapi percayalah.” “hahaha..hehehe…mungkin kekayaanmu tidak dapat kamu buktikan kecuali kita ke Guangdong, namun ahli silat hebat, coba kamu tunjukkan meremas batu ini hingga hancur.” ujar Tio-cun.
“saya ini tidak bisa lagi besilat tapi benar saya dulunya ahli silat tinggi, karena saya membawa kitab-kitab saya,” “benarkah orang tua, bagaimana kamu tidak bisa lagi bersilat ?” “karena saya ditipu musuh saya, sehingga saya terjebak.” “siapa musuhmu itu orang tua ?” “musuh saya itu penghuni pulau kura-kura, mereka petarung yang handal, namun mereka curang mengeroyok saya, empat orang pimpinan pulau itu membuat saya seperti ini.” “kenapa kamu menginginkan saya menjadi muridmu ?” “karena saya melihat bakat yang ada padamu sangat luar
28
biasa, jika kamu mau sambil menuju Guangdong saya akan mulai membimbing kamu.” “coba tunjukkan pada saya kitab-kitabmu orang tua !” ujar Tio-cun, Tan-lou-pang membuka buntalannya, dan lima buah kitab ada didalamnya, Tio-cun membaca kitab-kitab tersebut, dan tertarik dengan nama-nama kitab yang tertulis disampulnya. “ktab-kitabnya sungguh menarik .” ujar Tio-cun dengan wajah terkesima.
“ternyata kamu juga pandai membaca.” “tentu dong orangtua, walau begini aku dulu pernah belajar tulis baca.” “apakah kamu orang sini bocah ?” “tidak, aku dari desa diluar kota ini” “lalu bagaimana kami terlunta-lunta dikota ini ?” “ayahku dulu tuan tanah didesa kami, namun keluargaku menhgadapi warga yang memberontak, yang berakhir pada kematian seluruh keluaargaku, dan rumah kami juga dibakar, aku melarikan diri dari desaku, itu terjadi dua tahun yang lalu, keinginanku hanya untuk membinasakan seluruh warga desa itu.” “kita berjodoh kalau begitu, jika engaku sudah menguasai kitab-kitan ini atas bimbinganku maka jangankan hanya desa, istana kaisar saja dapat kami obok-obok.” “benarkah itu orang tua ?” ujar Tio-cun dengan sinar mata takjub. “benar bocah, bagaimana ?” “baiklah kalau begitu, aku akan menjadi muridmu suhu.”
29
“hehehe..hehehe..bagus….bagus…. marilah ikut saya.” sahut Tan-lou-pang.
Sejak itu Ti-cun dalam perjalanan ke Guangdong menerima pelajaran dari Tan-lou-pang, dan disetiap desa dan kota yang dilalui mereka istirahat, Tio-cun yang mahir mencuri membuat Tan-lou-pang dapat mengatasi rasa laparnya, keberadaan muridnya ini sangat membantunya melakukan perjalanan, terutama masalah makan, sebaliknya Tio-cun dapat menyerap ilmu silat tan-lou-pang.
Akhirnya setahun kemudian merekapun sampai ke Heng-sing-kok, Ti-cun tidak menyangka bahwa suhu memang benar-benar kaya, kedatanga Tan-lou-pang disambut istrinya dan para pelayangiat, sebuah pesta diadakan untuk menjamu Tan-loo-pang yang hampir enam tahun meninggalkan Heng-sing-kok, “rajin dan giatlah belajar cun-ji supaya balas dendamku dan balas dendammu dapat kamu penuhi.” “baik suhu, tecu akan berusaha keras.” “bagus cun-ji, semua akan kuwariskan padamu, baik kitab-kitabku maupun Heng-sin-kok.” ujar Tan-lou-pang, Tio-cun merasa bangga dan senang, sejak itu ia dipanggil kongcu sebagaimana dulu ia rasakan didesanya.
“tio-cun pun belajar dengan giat, hingga empat tahun kemudian Tan-lou-pang meninggal dunia, walaupun pelajarannya belum selesai, namun berkat kecerdasan Ti-cun lima kitab pusaka gurunya dibaca dan dipelajari dengan tekun, hingga tujuh tahun
30
kemudian kelima kitab suhunya sudah dikuasai, dalam umur dua puluh tiga tahun, Tio-cun menjadi kongcu tampan yang luar biasa sakti, ilmu-ilmu yang dikuasainya adalah “kwi-ban-ciang” dan “kwi-ban-lui-kong-kiam” peninggalan dari Ma-tin-bouw, “thian-te-liong-kun-hoat” dan “liong-ban-hai-hoat” dari sikakek kembar she-gu, “leng-sim-ciang” , sin-liong-siauw-sian” dan “sin-bian-bi-sianli” dari suhunya sendiri.
Seluruh perguruan yang ada di Guangdong tidak ada yang dapat menandinginya, sehingga ia dijuluki “lam-liong-sian” (dewa naga dari selatan), Tio-cun selama tiga tahun menyusuri wilayah selatan menaklukkan berbagai pendekar dan perguruan, bahkan ia memasuki wilayah barat, julukannya semakin terkenal dan ditakuti karena disamping kesaktiannya yang luar biasa, Ti-cun juga suka menindas warga lemah seperti memaksa anak gadis orang melayani nafsu mesumnya, para pendekar yang berjiwa satria berusaha untuk melenyapkannya, namun sudah puluhan pendekar meregang nyawa ditanganya.
Kemunculan Lam-liong-sian membuat wilayah selatan bergolak, sehingga dari berbagai perguruan hendak menunjuk bengcu wilayah selatan, dan hal itu tersebar di seluruh pelosok, para golongan hitam sudah barang tentu mendukung Lam-liong-sian, sehingga mereka beramai-ramai datang menghadiri pesta yang diadakan Tio-cun
31
“hahaha..hahhaa tanpa diadakan pibu pun nanti di guiyang bagi kita sudah jelas siapa yang akan menjadi bengcu, siapakah yang berani mati menghadapi Lam-liong-sian ?” teriak seorang lelaki bermuka hitam “betul kata “hek-bin-kwi” (iblis muka hitam) terlebih dari golongan yang menamakan dirinya pendekar hanyalah delapan partai besar, dan beberapa kauwsu picisan, lalu “Hwi-I-kaipang” (pengemis baju kembang) dan sekelumit pendekar, sementara kita yang berkumpul disini terdiri dari utusan dari puluhan perguruan, belum lagi kalangan rampok dan bajak.” sela lelaki berperawakan kekar dengan parut dikeningnya, ditangannya ada senjata berupa dayung
“terimakasih …terimakasih hek-bin-kwi dan “kin-ban-hai-ma” (kuda laut selaksa kati) atas dukungannyya dan begitu juga dengan rekan-tekan semua, jika kita sudah menundukkan wilayah selatan maka kita akan mengembangkan sayap ke wilayah barat, dan nama saya disana juga sangat menggetarkan , jika saya sudah menjadi bengcu, maka seluruh kekuatan akan kita kendalikan, kebebasan dan keinginan kita akan kita lepaskan, harta yang melimpah akan mudah kita dapatkan.”
“hidup….Lam-liong-sian……” teriakan mereka pun bergema hingga tempat itu hangar bingar, terelbih ketika para penari dikeluarkan untuk menghibur, sorak-sorai pun terdengar disana-sini, kata-kata nakal pun terlepas tidak terkendali, minuman arak makin membuat suasana makin panas, sebagian
32
dari mereka tertawa-tawa sambil menari dan mencolek para penari, tawa cekikan para penari pun membuat suasana makin romatis.
Kita tinggalkan dulu pesta berbau miumunan keras itu, dan kita tengok kekota Datong sebelah selatan kota bejing, tepatnya di “sianli-teng” (puncak dewi), penguasa tempat itu adalah seorang wanita berumur du puluh tujuh tahun, namanya adalah suma-hoa, dan dikenal dengan sebutan “pak-giam-lo-sianli” (dewi maut dari utara), suma-hoa adalah murid dari suma-xiau.
Setelah suma-xiau berpisah dengan Tan-lou-pang, suma-xiau memacu kudanya kearah timur, ia mengadakan perjalanan berhari-hari tanpa henti, sehingga tiga minggu kemudian kudanya yang terus dipaksa mati lemas, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bantuan tongkatnya, sehari perjalanannya yang lambat membuat ia kesulitan mendapat perkampungan, setelah dua hari tidak makan, ia pun pingsan ditengah jalan.
Sebuah rombongan piuawkiok dari Qinngdao hendak kekota Beijing, mereka melewati jalan setapak dimana Suma-xiau pingsan, kepala rombongan itu Lu-bian menyuruh berhenti “A-tang coba kamu perksa orang tersebut apakah ia masih hirup atau sudah mati.” “baik twako..” sahut A-tang, lalu ia menddekati suma-xiau, A-tang memeriksa nadi dipergelangan tangan Suma-xiau. “orang tua ini masih hidup twako.” “kalau begitu angkat kepinggir dan coba sadarkan !” sahut Lu-
33
bian, A-tang menyiramkan air kemuka Suma-xiau, merasakan sejuknya air membuat suma-xiau sadar “a..air…a..aku mau air….” ujarnya lemah, A-tang segera membantu suma-xiau meminumkan air “siapakah kamu orang tua, bagaimana kamu pingsan ditengah jalan ?” “aku orang tua cacat, dan aku belum makan sudah dua hari.” Sahutnya memelas “twako.. orang tua ini belum makan sudah dua hari.” “berilah dia makan !” sahut Lu-bian, A-tang mengambil makanan berupa dendeng kering.
Suma-xiau dengan cepat melahap dendeng kering itu “hendak kemanakah kamu orang tua ?” tanya Lu-bian tiba-tiba mendekat “saya hendak kekampung atau kota yang ada didepan.” jawab Suma-xiau “bauk kami akan bawa kamu orangtua sampai kedesa qin-lung.” “terimakasih sicu atas bantuannya.” sahut Suma-xiau, lalu rombongan itu pun melanjutkan perjalanan, Suma-xiau dimasukkan kedalam kereta barang, suma-xiau merasa nyaman hingga tertidur, dia bangun saat rombongan istirahat dan makan.
Dua minggu kemudian rombongan itu pun memasuki desa qin-lung “kami hanya dapat membawa kamu orang tua sampai desa ini.”
34
ujar Lu-bian “baik..sampai disini juga sudah bagus, terimakasih.” sahut Suma-xiau sambil turun dari gerobak barang, kemudian rombongan itu pun melanjutkan perjalanan, suam-xiau berjalan dibantu tongkatnya, dan diemperan sebuah kedai minum ia duduk sambil menegadahkan tangan meminta belas kasihan orang-orang yang lewat.
Beberapa orang merasa kasihan dan memberikan uang ala kadarnya, Suma-xiau hampir sebulan berada di desa qin-lung, setelah membeli bekal perjalanan, suma-xiau melanjutkan perjalanannya, tiga minggu kemudian ia kembali kehabisan bekal, untuk kedua kalinya ia pingsan ditengah jalan, dan sama halnya dengan peristiwa pertama ia ditolong oleh rombonngan piuawkiok yang membawa keluarga Suma dari Kota Datong menuju bejing.
“kenapa berhenti Ma-pangcu ?” seru suma-lao dari dalam kereta “ada orang yang tergeletak dan menghalangi jalan loya.” sahut Ma-hui selaku pimpinan piauwkiok, Suma-lao turun dari keretanya, dan juga putrinya suma-hoa yang berumur delapan tahun ikut turun, Ma-hui memeriksa suma-xiau “orang tua ini masih hidup, cepat bawakan minuman dan makanan “ teriak Ma-hui, seorang anak buahnya membawakan air dan makanan. “kamu sadarkan ia , lalu beri dia makan !” perintah Ma-hui, anak buah Ma-hui dengan menyiramkan air membuat suma-xiau
35
siuman “ah…ada air…air aku mau minum.” Ujarnya lemas, lalu piauwsu itu membantunya minum, dan membawanya kepinggir, kemudian menyuruh suma-xiau makan.
Dengan lahap suma-xiau makan, dan suma-hoa mendekati suam-xiau “kakaek siapakah namamu ?” tanyaksuma-hoa “aku suma-xiau.” Jawab suma-xiau sambil mengunyah makanannya. “eh…kakek sama marganya dengan saya.” “apakah kamu she- suma juga ?” “benar kakek, aku suma-hoa, ayah…! Kakek ini she-suma.” teriak suma-hoa pada ayahnya, suma-lao datang mendekat.
“orang tua kenapa kamu terlantar begini ?” tanya suma-lao “diusia senja begini saya mengalami cacat sehingga tidak bisa berjalan tanpa dibantu tongkat. “dimanakah keluargamu paman ?” tanya suma-lao “saya tidak punya keluarga lagi, saya hanya hidup sendirian.” “ayah kakek ini she-suma, kita bawa kakek ini ya , biar dia bersama kita.” “hmh…bagimana menurutmu paman ?” “ah..aku sangat berterimakasih nak jika kamu mau menolong saya.” “baiklah kalau begitu ikutlah dengan kami paman !” ujar Suma-lao,
36
Suma-lao pun ikut suma-lao ke kota Beijing, dikota Beijing suma-xiau sudah berubah penampilan, bajunya tidak kumal lagi, tetapi sudah memakai baju baru dan bagus, suma-lao sedang mengunjungi adiknya yang sedang mengadakan pesta naik jabatannya suami adiknya dari seorang polisi menjadi kepala polisi, selama seminggu suma-lao berada dikota Beijing, kemudian merekapun kembali kekota Datong.
Suma-xiau merasa dekat dengan suma-hoa yang manja , ayahnya sangat memanjakannya karena ibunya sudah meninggal ketika suma-hoa berumur lima tahun, wakaupun ada tiga selir ayahnya, namun ia tidak suka dengan ketiga selir ayahnya, seharian ia hanya bermain dengan suma-xiau, setelah setahun kemudian, suma-xiau menyampaikan maksud hatinya mengajar suma-hoa ilmu silat
“paman bisa ilmu silat ?” tanya suma-lao heran “karena cacat saya tidak lagi bersilat, tapi dulu saya adalah ahli silat, jadi saya ingin mengangkat suma-hoa menjadi murid saya.” “kalau begitu baguslah paman, saya setuju sekali jika hoa-ji belajar ilmu silat.” Ujar suma-lao, dan sejak itu suma-xiau mengajar ilmu silat pada suma-hoa, dan ternyata suma-hoa memiliki bakat yang luar biasa dan daya tangkap yang kuat dalam bidang ilmu silat, lain halnya dengan ilmu sastra, suma-hoa sangat buntu dan malas.
37
Suma-hoa demikian bersemangat menerima bimbingan suhunya, dan dia juga sangat rajin berlatih, sehingga membuat suam-xiau merasa gembira, dan tidak terasa tujuh tahun kemudian, suma-hoa telah menjadi seorang gadis cantik yang sakti, ilmunya luar biasa, kegesitannya amat menakjubkan, tapi tidak lama kemudian suma-xiau pun meninggal dunia, dan sebelumnya suma-xiau telah menyerahkan semua kitabnya pada suma-hoa, dan di suruh supaya menguasai semua kitab
“hoa-ji ini adalah kitab-kitab yang aku miliki dan akan ku wariskan padamu.” ujar suma-xiau dua hari sebelum ia meninggal “kamu harus kuasai semua kitab-kitab inii sehingga kamu dapat membalaskan dendam saya.” “kepada siapakah saya harus balas dendam suhu ?” “:kamu harus balas dendam pada orang yang telah membuat saya cacat dan tidak berguna selama ini.” “siapakah yang telah membuat suhu cacat ?” sela suma-hoa dengan rasa amarah , mendengar dan melihat sikap suma-hoa, membuat suma-xiau senyum dan merasa bangga.
“yang mnembuat saya cacat adalah penghuni pulau kura-kura, kamu harus mebalaskan dendamku kepada seluruh penghuni pulau kura-kura.” “baik suhu, akan aku hancurkan pulau kura-kura sekaligus penghuninya.” “bagus hoa-ji, namun kamu mesti ingat, kamu tidak akan melakukannya sebelum kamu menguasai baik seluruh kitab-
38
kitab yang aku wariskan.” ujar suma-xiau, suma-hoa menganguk pasti.”
Setelah suma-xiau meninggal, suma-hoa pun melanjutkan pelajarannya pada kitab-kitab milik suhunya, dengan ketekunan yang luar biasa dan latihan yang gigih suma-hoa terus belajar, sehingga tidak terasa delapan tahun kemudian, seluruh warisan suhunya sudah ia kuasai, umurnya sekarang sudah dua puluh empat tahun, wajahnya yang cantik dengan binary mata secerah bintang meluluh lantakkan hati pemuda kota Datong, namun para pemuda itu harus gigit jari karena mendengar bahwa suma-hoa adalah ahli silat yang hebat, dan ilmu-ilmu yang dikuasai oleh suma-hoa seperti “tung-sian-sin-hoat” warisan dari Yang-ma-kui , see-sianli-sin-hoat” warisan dari Zhang-kui-lan, “thai-lek-twi-lui-kong-kun” , “hong-sing-bong-sian” warisan dari Bu-leng-ma, “liong-ciang” , “Thian-sian-jio” warisan dari suhunya sendiri suma-xiau. Suaru ketika ayahnya mengadakan pesta karena mengambil selir muda lagi cantik, usianya satu tahun lebih tua dari suma-hoa, setelah pesta selesai, suma hoa menemui ayahnya “ayah…besok aku akan keluar untuk berkelana .” “berapa lama kamu hendak pergi ?” tanya ayahnya “saya akan pulang dalam jangka setahun.” jawab suma-hoa “baiklah kalau begitu, ayah tentunya tidak bisa menahanmu.” Sahut ayahnya.
Keesokan harinya suma-hoa meninggalkan kota Datong, tujuannya keluar tiada lain untuk menguji kemapuannya,
39
dimana bukoan ia datangi dan kauwsunya ia tantang untuk pibu, suma-hoa sendiri takjub dengan dirinya para kauwsu-kauwsu itu hanya puluhan jurus sudah dapat ia robohkan, kesombongannya mulai muncul, setiap pendekar yang ia jumpai ia ajak pibu, dan kenyataannya ia memang tidak tertandingi, setelah tahun ia kembali kerumahnya dikota Datong
Seorang lelaki tampan berumur du puluh tiga tahun sedang sibuk dikantor ayahnya, lelaki itu juga memandang takjub padanya, “kamu siapakah ?” tanya Suma-hoa “saya Lu-duong adalah pegawai baru sebagi juru tulis suma-taijin.” “ooh, begitu, saya adalah suma-hoa, sudah berapa lama kamu dipekerjakan ayahku ?” “baru empat bulan siocia.” Jawab lu-duong, “baik lanjutkanlah pekerjaanmu !” ujar Suma-hoa dan berlalu dari hadapan Lu-duong
Sejak pertemuan itu keduanya saling menyapa dan tersenyum, tiga bulan kemudian Lu-duong menyatakan cintanya dipaviliun halaman belakang rumahnya, suma-hoa juga merasa suka dan cinta pada Lu-duong, terjalinlah hubungan cinta antar keduanya, manisnya cinta membuat keduanya demikian ceria, keduanya sering bermesraan di halaman belakang rumahnya, dua bulan kemudian suma-hoa kembali meninggalkan rumah dan berkelana.
40
Kali ini ia kembali kerumah setelah enam bulan, dengan gerakannya yang lincah dan gesit ia memasuki kamarnya, namun ia mendengar kasak-kusuk dikamar selir ayahnya, laksana seekor kelelawar ia mengintai kamar selir ayahnya, dan ternyta didalam kamar selir termuda ayahnya sedang bergumul hangat dengan Lu-duong, hatinya terbakar emosinya meledak, dengan sekali emosi yang meluap suma-hoa turun kedalam kamar, tanpa bicara dua tubuh telanjang yang sedang berpacu dalam birahi itu ditampar kepalanya dengan kekuatan penuh, akibatnya tanpa bersambat keduanya tewas seketika dengan kepala hancur berantakan. darah berserakan diseluruh ranjang semenatara tulang dan daging-daging kecil juga berserakan di ranjang dan lantai.
Suma-hoa meninggalkan kamar tersebut dan masuk kedalam kamarnya, hatinya sakit menyaksikan penghianatan kekasihnya, dia tidak biasa memejamkan mata, gambaran dua tubuh telanjang yang baru disaksikannya terus membayang, hatinya berdegup dan hawa amarahnya meluap-luap, kebenciannya pada Lu-duong tidak terperikan, suma-hoa memutuskan untuk tidak menemui ayahnya, dia akan berkelana pikirnya, lalu malam itu juga Suma-hoa meninggalkan rumah, walaupun ia baru datang.
Keesokan harinya penghuni rumah gempar, suma-lao yang menyaksikan pemandanagan mengerikan itu merasa mual dan mau muntah “cepat kalian enyahkan mereka !” perintah suma-lao pada
41
pelayannya, para pelayan itu segera membersihkan kamar tersebut, keduanya segera dimasukkan peti dan disuruh kubur didalam hutan diluar kota Datong, melihat dari keadaan dua jasad suma-lao yakin bahwa yang membunuh keduanya adalah suma-hoa, lagian tidak mungkin orang lain, karena orang semua takut dan jerih dengan kesaktian putrinya.
Sejak peristiwa yang dialaminya, suma-hoa menjadi seorang yang telengas dan kejam, ajakan pibunya pada para pendekar tidak hanya menguji kemampuan tetapi sudah mengarah kepada kepuasan batin mengikuti pembunuhannya yang pertama yakni kekasihnya dan selir ayahnya, kematian banyak para pendekar pun tersebar, cerita dari mulut kemulut pun beredar, dan orang pun menjulukinya “pak-giam-lo-sianli” , dan ia juga juga sering gonta-ganti pasangan sebagaimana ia lihat perilaku ayahnya. hal ini disebabkan suma-hoa type gadis pembosan karena kemanjaannya.
Suma-hoa menemukan sebuah puncak, puncak itu sangat indah karena banyaknya aneka macam bunga tumbuh, aromanya semerbak mewangi, lalu suma-hoa berencana mendiami puncak tesebu, dengan kesaktiannya ia mengambil harta orang kaya di kota Datong dan Beijing, dan juga ia menculik banyak lelaki atau bahkan mencegat piuwkiok yang kebetulan lewat dikaki puncak, lelaki itu dipaksa untuk bekerja membangun rumah megah dengan modal harta curiannya. Selama lima bulan rumah megah diatas puncak pun berdiri
42
anggun dengan aroma wangi semerbak yang menyebar diseluruh puncak.
Setelah itu suma-hoa menculik para gadis-gadis cantik, sehingga dalam tiga bulan istananya sudah memiliki gadis muda dan cantik sebanyak lima puluh orang, semuanya dijadikan pelayan, dan suma-hoa juga memberikan pelajaran ilmu silat pada lima puluh pelayannya, dan hari itu ia sedang memberikan pelajaran silat pada para pelayannya. “sekarang kalian lakukan gerakan yang telah kutunjukkan !” perintah suma-hoa “baik sian-li, lalu lima puluh wanita itu pun menirukan gerak yang baru dicontohkan suma-hoa.
“sudah latihan kita cukupkan dulu, kalian kembali pada pekrejaan kalian masing-masing, dan siapkan kamarku seindah mungkin.” “baik-sianli..” jawab mereka serempak, Suma-hoa meninggalkan mereka, dan menuruni puncak, dia menuju kota Beijing yang indah dan padat.
Suma-hoa memasuki sebuah restoran , sore itu para kongcu banyak yang kemuar menimati taman kota yang indah, yaman dan luas, berbagai hiburan malam pun pun mulai dibuka, berbagai anekpermaianan pun di gelar, terlebih saaat malam tiba, bohlam laompian dalam berbagai corak pun menyala, yang dipajang disepanjang jalan dan ditata rapi.
43
Seorang kongcu muda berwajah tampan memasuki restoran, pemilik likoan dengan ramah terkesan menjilat menyambut sikongcu “Yang-kongcu, silahkan masuk, tempat kami menyediakan berbagai aneka makanan, dan juga tempat bersantai yang nyaman “hahaha..haha… bagus kalau begitu cepat hidangkan makanan kalian yang terlezat, dan juga aku ingin makan ditempat istimewa.” “baiklah yang-kongcu, mari saya antar ke ruang atas, kamarnya juga luas dan sangat nyaman.” “oh-ya jangan lupa datangkan gadis pennyanyi dan penghibur yang cantik dan menggemaskan, hehehe…hahha…,” “beres kongcu, pokoknya kongcu akan merasa senang dan nyaman.” Sahut pemilik restoran.
Kamar itu memang luas dan perabotannya juga indah, bersih dan rapi, bahkan terkesan mewah karena tirai dan karpetnya dari bahan yang mahal harganya, yang-kongcu memasuki kamar sambil menebar senyuman “bagus… kamar ini cocok dengan seleraku.” pujinya dengan rasa senang. pemilik restoram manggut-manngut karena rasa bagga karena tentunya kantong si-kongcu akan merembes kekantongnya. “yang-kongcu silahkan duduk dan sebentar lagi gadis-gadis cantik dan menggairahkan akan datang.” “baiak, jangan lama-lama.” “tentu kongcu, nah..itu mereka datang !” sahut sipemilik
44
restoran, emapt orang gadis cantik memasuki kamar, Yang-kongcu tersenyum dan merasa senang “silahkan kongcu bersantai dan bersenang-senang.” ujar pemilik restoran setelah empat pelayannya menghidangkan makanan diatas meja, lalu kamar pun ditutup.
Wanita-wanita cantik itu menggerubiti manja dekat Yang-kongcu, yang-kongcu semakin gembira dan nakal, tangannya yang jail mencolek dan meremas dan disambut teriakan manja dan tawa cekikian para gadis, Yang-kongcu sambil memeluk para gadis sambil mengunyah makanan yang disuapkan kemulutnya, tiba-tiba seorang wanita cantik menggiurkan berdiri didepannya, suma-hoa dengan kerlingan menggoda menatap Yang-kongcu “hahaha…hahaha…darimanakah kamu gadis cantik ?” sapa yang-kongcu terpesona “benarkah aku cantik kongcu ?” suma-hoa balik bertanya “benar, kamu sungguh cantik.” sahut Yang-kongcu “jika aku cantik apakah empat wanita ini masih diperlukan disini ?” ujar Suma-hoa dengan senyum sinis “hahahaa..hahha…. benar…… kalian pergilah biar bidadari rupawan ini menemaniku “ ujar yang-kongcu, emapt wanita itu dengan bibir mencibir dan hidung menyepak, keluar dari kamar Yang-kangcu. “hehehe..heheh..kesinilah cantik, temani aku makan dan setelah itu kita akan bersenang-senang.” ujar Yang-kongcu, dengan sikap agak malu-malu suma-hoa melangkah mendekati yang-kong-cu.
45
Yang-kongcu dengan senang membelai-belai jemari suma-hoa, suma-hoa tersenyum makin menggoda dan membuat yang-kongcu semakin blingsatan, sambil meminum arak ia berdiri, lalu menarik suma-hoa untuk berdiri, yang-kongcu melangkah keramjang dengan kasur beralaskan sprei yang indah dan lembut, suma-hoa memang menginginkan kongcu tampan dan hidung belang ini, keduanyapun berpelukan sambil berciuman, semakin lama ciuman dan rabaan makin panas, birahi keduanyapun menggelegak hebat, disela-sela ciuman yang semakin ganas, baju merekapun satu-satu lepas, ketelanjangan keduanya semakin memacu detak jantung, mereka bergumul dan saling pagut, selimut birahi yang panas sambar menyambar seiring hentakan kedua makhluk telanjang itu memacu mendaki menuju puncak kenikmatan.
Suma-hoa merasa senang akan kekuatan kongcu muda yang tampan itu, sebaliknya yang-kongcu juga merasakan hal yang luar biasa, serasa birahinya tidak mau padam setipa melihat lekuk tubuh mulus suma-hoa, malam pun semakin larut, kembali yang-kongcu terhempas kenikmatan untuk yang ketiga kalinya “nona siapakah namamu ?” “namaku sianli kongcu.” “bagaimana kalau kamu kujadikan selirku ?” “aku mau saja kongcu, tapi dengan satu syarat.” “apakah syaratnya sianli ?” tanya Yang-kongcu dengan senyum lembut “kongcu bawalah seratus tahil emas besok ke pancuran singa
46
ditengah taman kota.” “heh untuk apa seratus tahil emas dan dibawa pula ke taman kota ?” “hik…hik… kongcu, aku akan menunggumu di tempat itu, setelah itu kita akan bersama-sama ketempatku dan meminta restu pada orang tuaku.”
“seratus tail emas itu besar sekali sianli ? “hik..hik…. ternyata kamu perhitungan jjuga kongcu, apakah menteri yang tidak akan meluluskan permintaanmu ?” “bukan begitu, seratus tail emas tidaka seberapa.” “lalu apa masalahnya kongcu, jika kamu merasa sayang dengan jumlah itu, apakah aku tidak sepadan dengan jumlah itu ?” “bu..bukan begitu maksudku .” “sudahlah kongcu, aku tidak suka bertele-tele, masih banyak kongcu kaya dan murah hati yang akan kudapatkan.” “baiklah..jika itu maumu akan kupenuhi, sekarang kesinilah, masuk dalam pelukanku.” rayu yang-kongcu. “nafsuku hilang setelah pembicaraan kita, aku beri kesempatan sampai dupa binting ini habis, jika kamu kongcu tidak dapat mengembalikan suasana hatiku seperti sebelum pembicaraan tadi, maka aku tidak mau lagi bertemu mukamu kongcu,” ujar Suma-hoa sambil menyalakan dupa yang sudah dipatahkannya menjadi dua, yang-kongcu jadi cemas, “sianli cintaku, malam ini kita sudah jalani tiga ronde, apakah kamu tidak ingin kali keempat, aku akan membuatmu menggelepar kenikmat.”
47
“hmh…” dengus suma-hoa sambil membuang muka, yang-kongcu menggrauk kepalanya yang tidak gatal “sianli saying, aku tadi hanya bercanda, aku akan mengikuti kemauanmu, kedinilah sayang aku ingin mencium dan melumat bibirmu yang ranum, membelai tunuhmu yang mulus, meremasmu dengan bitahi cintaku.” rayu Yang-kongcu, namun suma-hoa tetap tidak menggubrisnya, api dupa tingga seujung kelingking lagi, Yang-kongcu makin panik.
Sianli yang cantik dan kucintai, maafkan aku yang telah mengubah suasana hatimu, aku suka padamu sayang, jangankan seratus tail emas, bahkan jika kamu minta dua ratus akan kupersembahkan padamu, kesinilah sayang, birahiku makin panas melihat lekuk tubuhmu.” “benarkah kongcu, kamu akan memberikan dua ratus tail emas untukku ?” sela Suma-hoa “benar sayang, marilah cintaku aku ingin kembali merasakan hangatnya tubuhmu.” sahut Yang-kongcu mesra, suma-hoa dengan senyum dan kerlingan mesra dan deru nafasnya yang harum menerpa wajah Yang-kongcu, yang-kongcu makin terbakar dan manarik tubuh lembut dan hangat suma-hoa.
Kembali Yang-kongcu dan suma-hoa berpilin dalam bara birahi, kali ini yang-kongcu bertambah kuat staminanya, dan ronde ini agak lama, jerit dan desahan nafas suma-hoa semakin membuat yang-kongcu gemas, dan kahirnya tuntas juga pendakian yang-kongcu, dan keduanya terlelap tidur hampir dipenghujung malam.
48
Keesokan harinya, setelah matahari hampir mendekati siang, keduanya baru terbangun, dengan mesra dan lembut yang-kongcu mengecup suma-hoa yang bermalas-malasan, yang-kongcu membersihkan diri dan memakai bajunya kembali, empat tail emas ia berikan pada suma-hoa “berikan satu tail untuk pemilik restoran.” “baik koko, aku akan menunggu kongcu nanti sore dipancuran singa.” “baik, aku akan datang sianliku yang cantik.” sahut Yang-kongcu dengan senyum puas.
Pemilik restoran segera menyambut Yang- kongcu yang menuruni tangga, “yang-kongcu mau pulang !?” “benar, dan aku telah tinggalkan bagianmu pada gadismu dikamar.” “terimakasih…terimaksih kongcu, lain kali datang lagi.” sahut pemilik restoran sambil menjura.
Yang-kongcu meninggalkan restoran, sementara sipemilik naik keatas dan masuk kedalam kamar, namun tidak ada seorang pun didalam kamar, bersegera ia kebelakang, dimana para gadis-gadis penghibur berkumpul menunggu para tamu, dia menemui bibi cai pengasuh gadis-gadis penghibur.” “Cai-bo…empat gadismu yang malayani Yang-kongcu mana ?” “mereka ada dikamar atas, katanya mereka tidak jadi melayani Yang-kongcu.” “hah..!? bagaimana bisa ?” cepat bawakan mereka kesini !” ujar
49
pemilik, empat orang wanita itupun menghadapnya “kalian telah melayani yang-kongcu, dan katanya ia menyerahkan bagian saya pada kalian.” “cih….yang-kongcu mengusir kami Tan-loya, mentang-mentang muncul gadiis baru, kami tidak dipandang lagi.” “sekarang mana gadis barunya ?” tanya Tan-loya “mana kami tahu Ma-loya.” sahut empat wanita. “hayaa… hilang sudah bonus saya dari yang-kongcu.” Tan-loya kesal, lalu ia meninggalkan empat gadis itu.
Sore harinya Suma-hoa menunggu yang-kongcu di pancuran singa, dan tidak berapa lama yang-kongcu datang menunggang kuda bersama empat pengawalnya “bagaimana kongcu apakah kongcu sudah membawanya ? “sudah sian-li, lalu bagimana selanjutnya ?” “kita akan ke desaku mengantarkan peti itu untuk orang tuaku, dan setelah itu aku akan mengikuti kongcu selama-lamanya.” sahut Suma-hoa dengan senyum penuh pesona, yang-kongcu merasa hatinya dielus-elus, lalu suma-hoa naik kepunggung kuda Yang-kongcu, sehingga suma-hoa masuk dalam pelukan Yang-kongcu yang memegang tali kekang kuda.
Dengan senyum hangat, kuda pun dideplak dan lari conglang kea rah pintu gerbang kota bagian timur, empat pengawalnya mengikuti dibelakang “jauhkah desamu sianli ?” tanya Yang-kongcu setelah berada dipintu gerbang kota “tidak kongcu, hanta dibalik bukit itu.” jawab suma-hoa
50
“oo, baiklah kita akan memacu kuda supaya kita cepat sampai.” ujar Yang-kongcu, lima kuda berlari cepat meninggalkan gerbang kota, ketika sampau ditikungan bukit, yang-kongcu merasa tubuhnya lemas, dan kuda pun berhenti, empat pengawaalnya sigap mendekati “ada apa kongcu ?” tanya seorang pengawal, namun jawaban yang diperolehnya adalah tamparan yang merrmukkan tengkoraknya sehingga ia tewas seketika, tiga rekannya terkejut, namun tiga tamparan dari sebuah bayangan hitam telah menghanatam kepoala mereka, tanpa bersambat ketiganya tewas.
Suma-hoa memacu kuda bersama Yang-kongcu, Yang-kongcu dibawa ke sianli-teng, seminggu kemudian mereka sampai dipuncak, sepuluh pelayan menyambutnya “kaliana siapkan air mandi untukku !” perintah suma-hoa, sepuluh gadis itu segera malkukan apa yang diperintahkan, tubuh yang-kongcu yang lemas di baringkan di peraduannya yang besar dan indah, lalu suma-hoa menuju tempat pemadiannya, sepuluh gadis itu memandikannya dengan lembut, dan gadis-gadis lain menyiapkan bajunya. setelah selesai para pelayan meriasnya, suma-hoa kembaali kekamarnya.
Yang-kongcu di pulihkan kembali, dengan wajah tidak senang yang-kongcu bertanya “kenapa sianli membunuh pengawal saya ?” “untung baru pengawalmu yang mati, kalau tidak kamu sendiri
51
akan saya bunuh.” “apa maumu sianli ?” “aku mau kita tinggal disini, kamu harus menurut kalau kamu masih sayang nyawamu !” jawab suma-hoa dengan ancaman, Yang-kongcu pucat, tidak menyangka bahwa wanita yang membuat hatinya terpana adalah perempuan sadis, pilihan terbaiknya hanya harus menuruti kemauan perempuan didepannya ini.
“sekarang pergilah mandi, aku tidak sabar menunggumu diranjangku.” ujar Suma-hoa, Yang-kongcu pun keluar dan empat pelayan membawa Yang-kongcu kepemandian, dan bajunya juga sudah dipersiapkan, setelah selesai mandi dan memakai baju, yang-kongcu kembaali kekamar suma-hoa, suma-hoa telah menunggunya dengan gaun lembut dan tipis, sehingga lekuk tubuhnya yang telanjang demikian merangsang. Dengan manja dia memanggil yang-kongcu supaya naik keranjang, yang-kongcu pun menurutinya.
Hanya malam itu yang-kongcu terasa berat akibat masih merasakan kesadisan suma-hoa, namun malam berikutnya Yang-kongcu sudah terlelap kenikmatan dipelukan suma-hoa yang cantik dan binal, dipuncak itu hanya yang-kongcu laki-laki, dia merasakan kenyamanan yang melelapkan diantara wanita-wanita cantik itu, terlebih suma hoa sebagi ratu dipuncak itu demikian mesra dan lembut padanya, layaknya Yang-kongcu sebagai raja ditempat itu, sehingga ia merasa betah di sianli-teng.
52
Kota guiyang dibanjiri para kalangan dunia persilatan, karena seminggu lagi peertemuan penetapan bengcu selatan akan diadakan di “kong-ciak-lim” (hutan merak), likoan dipadati tamu-tamu dari luar daerah, dan dua hari menjelang perhelatan para tokoh rimba hijau keluar dari kota Guiyang menuju “kong-ciak-lim” gerakan orang-orang itu tangkas dan gesit melintasi hutan dan mendaki bukit. Seorang pemuda tampan berumur dua puluh dua tahun melangkah santai memasuki hutan kong-ciak, didepannya berjalan seorang kakek berumur hampir enam puluh dengan bantuan tongkatnya, dan dibelakangnya ada dua lelaki berumur tiga puluh lima tahun, walaupun langkah sikakek pelan nampak lemah, tapi jika dilihat kebawah, kakinya nyaris tidak menginjak tanah, tongkatnya yang menjejak tanah tidak sedikitpun meninggalkan bekas, walaupun tongkat itu menotol tanah lembut berlumpur.
Siapakah kakek yang luar biasa ilmu gin-kangnya itu ? kakek itu adalah Lou-beng-ho, dulunya ia adalah asuhan dari Ma-tin-bouw rekanan tertua dari Kwi-sian-pat, sejak markas majikannya di bumi hanguskan dua she-taihap, dia dengan Tio-huang pergi menyelamatkan diri, dan ditengah jalan keduanya berpisah, enam bulan kemudian Lou-beng-hong memasuki kota Huangsan.
Lou-beng-ho memasuki sebuah likoan untuk makan dan istirahat, setelah selesai makan tanpa membayar ia keluar, seorang pelayan mengejarnya
53
“tuan anda belum bayar !” tegur pelayan “kamu mau cari mampus ya !? masih untung saya tidak bayar, kalau tidak nyawamu yang melayang.” sahut Lou-beng-ho, mendengar itu dua penjaga keamanan mendekat “jangan asal bicara, cepat bayar atau kamu akan babak belur !” ancam dua penjaga “hahaha..hahaha… orang seperti kalian hendak menghajar saya ? nih rasakan aku tidak hanya menghajar bahkan mencabut nyawa kalian “buk…buk….” Dua pukulan keras menghantam dada kedua pengawal, keduanya terlempar dua tombak dan ambruk ketanah dan sesaat tubuh mereka menggelepar sambil muntah darah yang cukup banyak, dan kemudian nyawa keduanya putus.
Para tamu terkejut, terlebih pelayan yang hendak menagih bayaran, wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya menggigil ketika Lou-beng-ho mendekatinya “ampun tuan….” serunya sambil berlutut ketakutan, namun Lou-beng-ho tidak memebri ampun “prak…” Lou-beng-ho memukul kepala si pelayan hingga hancur, sipelayan ambruk dengan tengkorak kepala pecah, lalu dengan tertawa yang bergema ia meninggalkan likoan.
Pembunuhan itu membuat kota Huangsan gempar, selama dua hari Lou-beng-ho menyelidiki bukoan ternama, setelah itu ia memutuskan mendatangi “Lui-kong-kun-bukoan” (perguruan pukulan kilat) yang dipimpin oleh Liem-hung yang berjulukan
54
“sin-sinciang” (telapak sakti), sim-sinciang sedang mengawasi enam puluh muridnya yang sedang berlatih, namun mereka berhenti ketika Lou-beng-ho tiba-tiba muncul “kamu siapa dan ada urusan apa ?” tanya sin-sinciang bersikap wibawa “hahaha..hahaha… saya siapa tidak perlu tapi urusan saya untuk menantang kauwsu perguruan ini. siapa yang jadi kauwsu silahkan maju.” tantang Lou-beng-ho, Liem-hung maju
“saya Liem-hung kauwsu dari bukoan ini.” sahut Liem-hung “bagus, terima seranganku karena kamu harus mampus “ teriak Lou-beng-ho sambil memasang kuda-kuda, Liem-hung juga memasang kuda-kuda, keduanya saling menatap tajam saling menduga kekuatan lawan “ciaaat…..” Liem-hung dengan satu lompatan menyerang “plak…plak…” dua lengan bertemu, lalau saling mengunci bergerak luwes mencari celah untuk menghantam tubuh lawan, dan akhirnya keduanya undur dua langkah, dan kemudian kembali keduanya saling serang, keduanya dengan gerak cepat mengeluarkan trik pancingan untuk mengecoh lawan.
Angin berkesiuran dari setiap gerakan yang mengandung sin-kang, dan kadang suara benturan keras terdengar ketika kedua pukulan berhawa sakti beradu, sampai sekian lama keduanya masih seimbang walhal sudah lebih dari seratus jurus, ternyata alot juga pertempuran yang terjadi, namun ketika Lou-beng-ho mencaput pedangnya dan Liem-hung menggunakan cambuknya, empat puluh jurus kemudian, pedang Lou-beng-
55
hong telah memetuskan cambuk Liem-hung, sehingga Liem-hung terdesak hebat, ayunan pedang dalam rangkaian jurus “kwi-ban-lui-kong-kiam” demikian gencar mengurung gerak Liem-hung. “crak…aghh…wut….cep…” Liem-hung menjerit ketika tangannya buntung sehingga darah memancur, dan gerakan susulan yang mematikan dimana ujung pedang Lou-beng-ho menancap kedada Liem-hung dan menyate jantungnya, tanpa bersambat Liem-hung tewas seketika.
Murid-murid Liem-hung terpana melihat tewasnya guru mereka “hehehe..hehe…. guru kalian telah tewas, siap yang mau mengiringnya keneraka silahkan maju.” tantang Lou-beng-ho sambil mengangkat pedangnya yang masih merah oleh darah Liem-hung, para murid tidak ada yang berani bergerak, tiba-tiba istri Liem-hung dan putrinya yang berumur dua belas tahun menjerit mendapatkan jasad Liem-hung.
“hmh…kalian mau mati atau hidup bersamaku !?” tanya Lou-beng-ho dengan senyum menyeringai. “bunuh saja aku.. !” teriak Liem-hujin “baik jika itu mauamu….crak…aghhh…”” sahut Lou-beng-ho dan pedangnya menebas leher Liem-hujin, terdengar jerit terputus Liem-hujin, para murid tak kuasa melihat pembantaian sadis tersebut, sementara Liem-cu putri Liem-hung yang melihat ibunya ambruk tanpa kepala menjerit histeris, lalu menerjang Lou-beng-ho, namun “buk…” terjangan Liem-cu disambut tendangan dahsyat dari
56
Lou-beng-ho, tubuh gadis remaja itu melayang dua tombak dan ambruk dengan nyawa melayang karena dadanya remuk.” “hahaha….hahaha…sekali lagi siapa yang ingin mengiringi kauwsu kalian segeralah maju !” teriak Lou-beng-ho sambil tertawa jumawa.
“baik…sejak hari ini kalian harus ikut perintahku, bukoan ini akan saya ambil alih, dan kalian akan kuajari ilmu-ilmuku yang luar biasa, sekarang kalian bersumpah setia padaku.” ujar Lou-beng-ho, lalu enam puluh murid itu terpaksa manut dan ikut setia pada Lou-beng-ho ketimbang harus kehilangan nyawa. “perguruan ini akan dirunah namanya dengan “kwi-ban-sinciang” (telapak selaksa iblis)” ujar Lou-beng-ho, dengan mengambil nama ilmu tangan kosong yang dimilikinya.
Sejak itu Lou-beng-ho menjadi kauwsu dan mengajari enam puluh anak muridnya dengan ilmu-ilmu yang luar biasa, empat tahun kemudian muris-muridnya sudah mencapai dua ratus orang, dan mereka adalah perguruan yang ditakuti di kota Huangsan, semua bukoan takluk pada bukoan yang satu ini yang terkenal kebuasan dan kekejamanya.
Suati hari Lou-beng-ho sedang bersantai diruang tengah sambil dengan dilayani empat gadis cantik, tiba-tiba dua orang muridnya menghadap “suhu..tecu hendak menyampaikan berita penting.” “ada apa cepat katakan !” “kami mendengar informasi bahwa enam bukoan yang lain
57
sedang mencari sebuah kitab yang bernama “liang-jiu-po” (kitab lengan-sukma)” “hmh…mereka mencari kemana ?” “katanya kitab itu berada di “kiam-teng” (puncak pedang) “apa memang kitab itu ada ?” “Sepuluh tahun lalu hal itu pernah tersebar dikalangan persilatan, namun karena puncak itu tinggi jadi tidak ada yang berhasil mencapainya.”
“kalau begitu saya akan kesana untuk mencoba mendapatkannya.” ujar Lou-beng-ho dengan wajah berbinar, keesokan harinya Lou-beng-hong bersama dua murid tertuanya menuju daerah pantai dimana Kiam-teng menjulang tinggi laksana pedang tegak, lereng puncak itu terdiri dari batu-batu hitam licin dan banyak jurang menganga dibawahnya, ketika Lou-beng-ho sampai dikaki puncak empat orang kauwsu dari bukoan lain sedang memandangi puncak “untuk apa kalian kesini !?” tanya Lou-beng-ho tiba-tiba, empat orang itu terkejut dan menoleh “eh..ternyata ”kwi-ban-ciang” (telapak selaksa iblis) sahut mereka dengan hormat, Lou-beng-ho dijuluki dengan nama perguruannya.” “benar…kalian kalau tidak ada urusan segera enyah dari sini !” bentak Lou-beng-ho dengan sikap meremehkan, empat kauwsu itu segera menyingkir, setelah empat orang itu pergi
“kalian tunggu disini ! jika sampai malam aku belum turun, kalian pulang saja, dan jaga perguruan selama saya tidak ada.”
58
“baik suhu…” sahut dua orang muridnya, kemudian Lou-beng-ho berkelabat dan berlari manaiki ke arah puncak, dengan gin-kangnya yang tinggi Lou-beng-ho melintasi jurang dan tebing yang licin, dia terus mendaki hingga sampai kelereng tertinggi, dan ditempat ini banyak para pendekar yang gagal, karena untuk dapat naik lebih keatas harus menyeberangi jurang yang sangat lebar.
Lou-beng-ho memperhatikan areal yang sulit itu mencoba memikirkan jalan keluar untuk sampai keseberang, tidak ada jalan kecuali memang harus melompati mulut jurang tersebut, Lou-beng-ho memperkirakan jarak antara tempatnya dengan tebing diseberang sekitar dua belas tombak, itu artinya tiga kali lompatannya, dan jika dia lakukan lompatan dari tempat ia berdiri maka hasilnya sebelum mencapai kemungkinan besar ia mendarat di dinding tebing tiga tombak dibawah permukaan tebing, dan dinding tebing itu dari batu hitam yang padas, cendrung kemungkinannya ia akan jatuh hancur didasar jurang, samabil mengelus jenggotnya ia terus berpikir, sementara hari sudah senja, sebentar lagi malam akan tiba.
Lou-beng-jo mendongak keatas melihat pepohonan yang tumbuh disekitarnya, lalu ia coba memanjat pohon yang paling tinggi kira-kira sepuluh tombak, setalah sampai diatas Lou-beng-ho berpikir, kalau dari atas dahan ini ia melompat setidaknya ia mampu hanya dua tombak melayang, jadi itu artinya enam lompatan, pas pikirnya, lalu ia turun kembali dan mempersiapakan enam potongan kayu sepanjang lengan,
59
kemudian ia kembali naik keatas pohon, setelah merasa siap, Lou-beng-ho melompat dari saat tubuhnya melayang sebuah kayu dilempar sebagai injakan kakinya untuk melompat kembali, demikian terus dilakukan hingga enam kali lompatan dan akhirnya ia mendarat mulus di permukaan tebing.
Tanpa menunda waktu, Lou-beng-ho melanjutkan pendakian, namun ketika sampai di leher puncak, tempat itu berupa tebing lurus dengan bongkahan batu, tapi hanya dapat dinaiki oleh jejakan kaki setinggi enam tombak, dan enam tombak diatasnya adalah batu licin, Lou-beng-ho berhenti dibawah tebing yang tinggal enam tombak, sementara malam sudah merambat jauh, Lou-beng-ho terpaksa turun dan istirahat ditempat yang datar.
Keesokan harinya setelah mengisi perut dengan binatang buruan di huitan, dan ia dapatkan hanya sebesar jempol kaki, namun itu sudah cukup dibuat menjadi sate bakar ular, sambil minum air dari kendi yang diikatkan dipinggangnya Lou-beng-ho menatap puncak, kemudian ia kembali menaiki bagian yang penuh bongkahan batu, sesampai dibawah pada bagian yang licin ia kembali berhenti, dia coba menusuk tebing batu dengan pedangnya, namun hanya suara dentingan yang terdengar dan ujung pedang tidak mampu menembus dinding batu, andai dia paksakan pedangnya yang akan patah.
Lou-beng-ho kembali duduk dan berpikir, dan tiba-tiba ia mendapat ide, lalu ia segera mengitari puncak dan ternyata
60
disisi lain ada bekas cakaran pada dinding batu, Lou-beng-hong takjub dengan orang yang telah mencakar patu padas itu layaknya seperti tahu, Lou-beng-hong dengan gembira menaiki tebing dengan memasukkan jemarinya pada bekas cakaran tersebut, dan ia pun memanjat tebing, dengan hati-hati ia terus merayap keatas, dan akhirnya sampai ke permukaan puncak, diatas puncak anginnya sangat kencang dan luas permukaan puncak hanya seluas sepuluh tombak kali sepuluh tombak.
Diatas permukaan puncak ada sebuah nisan dan tidak ada lagi yang lain, lalu Lou-beng-ho menggali nisan itu dengan pedangnya, dan didalam galian terdapat sebuah peti yang didalamnya hanya ada sebuah peta “sialan…” gerutu Lou-beng-ho, namun peta itu disimpanya dan dia pun turun kembali, setelah dua hari ia sampai kekaki puncak, dengan berlari cepat Lou-beng-hong kembali kekota Huangsan, dia disambut murid-muridnya “bagaimana suhu ? apakah suhu berhasil ?” tanya muridnya yang tertua “disana tidak ada apa-apa, tapi mulai besok aku akan meninggalkan kalian untuk sementara, kalian jaga baik-baik tempat ini selama saya pergi.” “kemanakah suhu akan pergi ?” “hal itu tidak perlu kalian tahu.” jawab Lou-beng-hong, para murid pun terdiam.
Keesokan harinya Lou-beng-hong meninggalkan perguruannya, dari pantai ia berlayar menuju kea rah matahari terbit, sehari
61
semalam ia mendayung, dua buah pulau nampak, dan dalam gambar pulau berbentuk punggung kapal yang harus dia cari, dia menyusuri pulau-pulau yang berada disekitar perairan itu, dan setelah tiga hari pulau dalam gambar peta pun kelihatan, segera Lou-beng-ho mengarahkan perahunya ke pulau tersebut, sesampai dipantai, Lou-beng-ho istirahat di pinggir hutan sambil membakar ikan untuk pengganjal perut.
Kemudian Lou-beng-ho masuk kedalam hutan belukar, dan menjelang sore ia melihat gua yang dimaksud dalam peta, dengana hati-hati ia memsuki lorong goa yang pajang, dan akhirnya titik pencariannya berupa nisan yang sama bentuknya dengan nisan yang yang ada di “kiam-tek”, Lou-beng-hong menggali nisan tersebut dan dia menemukan peti yang cukup besar, dengan tidak sabar ia membuka peti dan untungnya ia bergerak cepat mengibaskan pedangnya hingga tiga anak panah yang meluncur dari dalam peti jatuh patah dua, dan satu menancap didinding goa.
Lou-beng-ho mengambil isi peti berupa dua buah kitab lusuh, satu kitab berisi pelajaran ilmu tangan kosong dengan nama “liang-jiu-po” dan satu lagi berisi kitab pelajaran ilmu pedang yang bernama “liang-lo-kiam” (pedang pengacau sukma), dengan hati gembira Lou-beng-ho mempelajari dua kitab tersebut, siang malam ia membaca dan memahami dua kitab, sehingga tidak sadar waktu telah berjalan cukup panjang, sepuluh tahun ternyata sudah berlalu, Lou-beng-ho sudah berumur lima puluh dua tahun.
62
Lou-beng-ho meninggalkan pulau dan kembali ke kota Huangsan, kehadirannya membuat gembar kembali kota Huangsan, perguruannya selama sepuluh tahun ternyata kandas di habisi oleh seorang pendekar yang berjulukan “Nanjing-kim-houw” (harimau emas dari Nanjing) tiga tahun yang lalu, tentunya hal ini menjengkelkan “Kwi-ban-ciang” lalu kembali mengumpulkan bekas murid-muridnya, yang tersisa hanya empat puluh orang, setahun kemudian “kwi-ban-ciang-bukoan” kembali beroperasi.
Dua bulan kemudian lou-beng-ho berangkat ke nanjing untuk menemui pengacau perguruannya, sebulan kemudian Lou-beng-ho sampai dikota Nanjing “silahkan totiang, totiang mau makan apa ?” “sediakan nasi dan panggang bebek, dan juga seguci arak !” ujar Lou-beng-ho, sipelayan hendak beranjak namun “heh tunggu dulu, dimana saya bisa berjumpa dengan nanjing-kim-houw?” tanya Lou-beng-ho “Nanjing-kim-houw selalu berkelana, dan sepertinya ia sedang tidaka ada dalam kota.” “dia tinggal dimana kalau kembali kesini ?” “pendekar itu adalah putra Ma-tihu.” “dimana rumah Ma-tihu ?” “Ma-tihu tinggal di sebelah utara.” “sudah kalau begitu, cepat pesanan saya di siapkan,” “baik totiang.” sahut pelayan segera meninggalkan Lou-beng-hong
63
Lou-beng-hong memasuki rumah Ma-tihu, dua orang pengawal datang mendekat, namun sebelum mereka bertanya, Lou-beng-ho bergerak, dan kedua pengawal itu sudah ambruk tewas dengan tubuh kaku dan mata melotot, dengan sadis Lou-beng-hong menggunakan “liang-ci-hoat” (jurus jari sukma) salah satu daru jurus lengan sukma yang baru ia dapatkan. “Nanjing-kim-houw..” keluar kamu dan cepat hadapi saya !” teriak Lou-beng-ho, para pengawal bermunculan dengan senjata ditanga “kamu siapa ?” tanya kepala pengawal “cepat suruh Nanjing-kim-houw keluar !” “tuan muda tidak berada disini, dan kamu sudah lancang membunuh dua pengawal.” bentak kepala pengawal
“hahaa..hahhaa… ternyata kamu tidak sabaran, kesini kau supaya saya kirim cepat keneraka “ tantang Lou-beng-hong, lalu ia melompat laksana naga terbang, kepala pengawal mengayunkan tombaknya “krekkk…” mata tombak diremas oleh Lou-beng-ho, dan pecahan mata tombak disambitkan kemuka kepala pengawal “cep…cep…auuuuhhh….” Kepala pengawal itu terjunkal dengan dua pecahan besi menancap di kening dan pipinya, pasukan pengawal segera menyerang dan mengeroyok Lou-beng-hong.
Tapi pasukan itu laksana membentur dinding baja, siapa dekat langsung terjungkal untuk tidak bangkit lagi, luar biasa gerakan tangan Lou-beng-ho yang sudah melatih ilmu luar biasa Liang-
64
jiu-hoat” dua puluh orang telah meregang nyawa dihalaman rumah Ma-tihu, yang tersisa ada sepuluh lagi dengan sikap meragu mengurung Lou-beng-ho, Lou-beng-ho melangkah memasuki rumah, dan diikuti dari jarak aman oleh para pengawal.
Ma-tihu dan istrinya meringkuk dikamar dengan wajah pucat ketakutan “brak…” daun pintu hancur berkeping-keping dihantam kepalan Lou-beng-ho, Ma-tihu dengan pedang ditangan yang bergetar diacungkan, namun sebuah gerakan kibasan, pedang ditangan Ma-tihu terlempar, Ma-tihu makin menggigil, sementara istrinya menggigil keyakutan sambil memeluk kaki suaminya, dengan lompatan gesit Lou-beng-ho telah meremas tenggerokan Ma-tiuhu, laksana ayam disembelih Ma-tihu mengelepar dan darah muncrat dari lehernya yang hancur, lalu Lou-beng-ho mencengkram engkuk Ma-hujin dan sekali lempar tubuh Ma-hujin terhempas kedinding dan jatuh dengan kepala pecah.
“hahaha..hahaha… kalian sampaikan pada Nanjing-kim-houw, ini baru bunga akibat perbuatannya mengacau di Kwi-ban-ciang-bukoan, jika ia hendak membalas kematian keluarganya, segera ia datang ke huangsan untuk menemui saya “Kwi-ban-ciang” hahaha,,hahha… kamu harus mati ditanganku nanjing-kim-houw..” teriak Lou-beng-ho sambil tertawa dan kemudian dengan kecepatan kilat ia telah berkelabat dari tempat itu.
65
Sepuluh pengawal itu membariskan jenazah pembantaian kwi-ban-ciang, lalu warga bergotong royong menggali kuburan bagi keluarga Ma-tihu, sebulan kemudian Ma-ceng-fu yang lebih dikenal dengan Nanjing-kim-houw pulang kerumahnya, pemuda dua dua tahun itu terkejut mengetahui keluarganya telah binasa, dua puluh pengawal ayahnya tewas, dengan menggebrak meja dan mata melotot karena dendam amarah “brak….siapa orangnya yang telah membuat aniaya keluargaku !” teriaknya “tuan muda, orang itu berjulukan kwi-ban-ciang dari Huangsan.” ujar seorang pengawal “apa !? Kwi-ban-ciang…” sela nanjing-kim-houw dengan suara menggeledek “benar tuan muda.” sahut pengawal.
Ma-ceng-fu mengingat-ingat nama yang disebutkan dengan kejadian masa lalu, dengan muka merah ia menggerutu “hmh….bangsat perguruan tersebut !” lalu ia keluar rumahnya dan segera berlari cepat meninggalkan kota nanjing menuju Huangsan, dan dua minggu berikutnya, ia pun mendatangi perguruan yang empat tahun lalu ia hancurkan.
“Kwi-ban-ciang…! Keluar kamu , aku Nanjing-kim-houw datang hendak menagih nyawamu.” “hahaha..hahaha… bagus ternyata kamu cepat juga datangnya untuk mengantar nyawa.” sambut Lou-beng-ho dan berdiri tegap dihadapan Ma-ceng-fu “ bangsat sialan…terimalah pembalasanku !” teriak Ma-ceng-fu
66
sambil menerjang Lou-beng-ho, Lou-beng-ho malayani seranagan Ma-veng-fu sambil tersenyum, grakannya yang luar biasa mengatasi kecepatan serangan Ma-ceng-fu, dengan jurus kwi-ban-ciang ia memapaki jurus-jurus Ma-ceng-fu, pada jurus tangan kosong ini nampak Lou-beng-ho terbentur, lalu ia coba dengan ilmu pedang warisan suhunya Ma-tin-bouw, sementara Ma-ceng-fu menggunakan senjata goloknya yang bergagagang emas.
Pertempuran dengan senjata pun berlangsung dengan seru, kali ini Lou-beng-ho dapat mendesak ilmu golok Ma-ceng-fu, dengan lincah Lou-beng-ho terus mendesak kedudukan Ma-ceng-fu, Ma-ceng-fu walaupun terdesak masih berusaha dengan gigih untuk mencari celah menyerang, akibat amarah yang menguasai kekuatan Ma-ceng-fu bertambah hebat, namun terkesan membabi buta, dan Lou-beng-ho yang sudah berada diatas angin dengan cekatan meruntuhkan semua serangan Ma-ceng-fu, hingga “crak..crak…augh,,,,,crak….aghh….” tiga bacokan mengenai tubuh Ma-ceng-fu dibagian perut, bahu dan leher dan dada.
Ma-ceng-fu ambruk bersimbah darah , dan tidak lama kemudian nyawanyapun melayang, sorak-sorai murid-murid Kwi-ban-ciang menyambut kemenangan suhu mereka. “buang mayat orang itu kejurang, biar menjadi makanan binatang di sana.” perintah Lou-beng-ho, empat orang muridnya segera menagngkat jasad Ma-ceng-fu dan membuangnya di areal belakang perguruan yang merupakan
67
hutan dan dibagian dalam hutan ada jurang yang terjal, mayat Ma-ceng-fu dilempar jatuh kedalam jurang.
Lo-beng-ho sejak itu konsentrasi membina murid-muridnya yang kian bertabah hingga lima tahun kemudian perguruannya menjadi momok menakutkan dunia persilatan, dan hari itu ia dengan langkah kelihatan lunglai memasuki hutan merak, sementara pemuda dibelakangnya juga bukan orang biasa, pemuda berumur dua puluh dua tahun itu adalah Kwaa-yang-bun anak dari Kwaa-yun-peng yang tinggal di kota shanghai.
She-taihap muda ini sedang melakukan perjalanan panjang, karena ayahnya Kwaa-yun-peng menyuruhnya untuk meluaskan pengalaman, sebagaimana kita ketahui Kwaa-yun-peng menikah dengan Bao-ci-lan, dan memegang perguruan “pek-lek-twi” milik mertuanya, dengan kehadiran she-taihap maka perguruan Pek-lek-twi makin terkenal, makin banyak murid yang mendaftar, karena tidak ada lagi yang meragukan akan khzanah ilmu yang akan ditimba diperguruan tersebut, suhu mereka adalah she-taihap yang sudah terkenal kehebatannya yang luar biasa, ikon dunia persilatan sejak ratusan tahun yang silam, seluruh perguruan tunduk dan takluk pada Pek-lek-twi-bukoan, bahkan tiga tahu kemudian Kwaa-yun-peng menciptakan jurus khas tendangan yang diambil dari intisari perguruan, memang tidak dipungkiri berkat ilmu bu-tek-cingkeng, semua keturunan Kim-khong-taihap memeiliki kelebihan berupa daya cipta pada ilmu silat,
68
Kwaa-yun-peng menciptakan jurus “pek-lek-sian-twi” (tendangan dewa halilintar) dan juga menciptakan “pok-pek-lek-tin” (barisan halilintar menyambar) yang terdiri dari enam orang, setiap perayaan pibu di kota shanghai perguruan Pek-lek-twi sudah dijamin menang, namun akan tetap diselenggarakan untuk membina hubungan baik antar perguruan, sejak Pek-lek-twi memiliki nama besar, kota shanghai semakin aman dan tenang, tidak ada para pengacau yang berani coba-coba membuat kerusuhan di shanghai.
Saat umur Kwaa-yang-bun lima tahun, Bao-ci-lan pun melahirkan anak yang kedua, seorang bayi perempuan yang cantik, Kwaa-yun-peng memberi nama putrinya Kwaa-hang-bi mengambil nama ibu kandung Kwaa-yun-peng Can-hang-bi, Kwaa-yang-bun sejak usia lima tahun sudah mulai belajar Bun dan bu, dalam asuhan ayah ibunya Kedua anak itu tumbuh dengan nilai-nilai yang diajarkan ayahnya, tentunya kedua anak ini mewarisi semua ilmu leluhurnya, umur sepuluh tahun Kwaa-yang-bun sudak tidak bisa dikalahkan oleh para suhengnya.
Saat usia Kwaa-yang-bun dua puluh tahun, di suatu malam Kwaa-yun-peng memanggil putranya “Bun-ji… ayah ingin supaya engakau keluar untuk menjelajahi dunia persilatan, disamping untuk meluaskan pengalaman dan mendarma baktikan apa yang telah kamu milki untuk kebaikan dan kemaslahatan, kamu juga berkunjunglah ketempat saudara-saudaramu.” “kemana-kemanakah aku akan berkunjung ayah ?”
69
“dari rute perjalananmu maka tempat pertama yang kamu kunjungi pulau kura-kura di perairan kota Kaifeng, sampaikan kirim salam ayah kepada pek-pekmu kwaa-kun-bao, kemudian ke kota kun-leng.” “aku akan bertemu dengan kongkong dan kong-bo ayah.” “benar anakku, setelah itu kamu menuju lokyang, untuk mengunjungi pek-pekmu Kwaa-sin-liong, dan jika engkau melewati kota Bao, istirahatlah di jim-kok untuk menjiarahi makam kong-bo mu ibu kandung ayah.
“terus kemana lagi ayah ?” “selanjutnya kamu terus kota sinyang untuk mengunjungi supek dan pekbo mu Yo-seng dan Kwaa-thian-eng, dan setelah itu terserah kemana langkahmu selanjutnya, namun juga jangan lupa kamu berkunjung ke Wuhan menemui pek-bo mu Kwaa-hoa-mei, dan waktu yang ayah berikan selama tiga tahun kamu sudah kembali kesini.” “baiklah ayah, anak akan melakukankannya, dankapankah anak akan berangkat ayah ?” “kamu berangkat besok pagi, dan ingatlah anakku, bahwa dunia luar penuh dengan batu ujian, yang semuanya itu untuk mengasah dan mematangkan kejiwaanmu, yang penting anakku jangan hilang kendali akan jati dirimu, kamu tidak lebih hanya seorang manusia lemah yang harus mempertahankan martabat kemanusiaan, jika tersalah anakku maka sebaik-baik manusia adalah yang cepat menyadarinya dan berubah dari kesalahan itu.”
70
“pesan ayah akan anak ingat, restu ayah semoga dalam bayangan langkah perjalanan anak.” “baiklah Bun-ji, kamu berkemaslah “ ujar Kwaa-yun-peng, lalu merekapan bubar untuk istirahat, malam itu Kwaa-yang-bun mengemasi perbekalan berupa baju dan uang yang diberikan ibunya sebagai bekal perjalanan.
Keesokan harinya Kwaa-yang-bun berangkat meninggalkan kota shanghai, hatinya demikian gembira, perjalananan ini adalah perjalanan untuk menguji dirinya baik fisik maupun mental, dua bulan kemudian Kwaa-yang-bun sampai dikota shuzou, daerah pesisir yang ramai dengan penduduk, Yang-bun mencari penginapan untuk bermalam, kemudian ia memasuki penginapan yang masih buka. “lopek…saya ingin menyewa kamar, apakah masih ada kamar yang kosong.” “oh ada kongcu, marilah masuk.” “terimakasih lopek, namun sebelumnya saya ingin makan dulu.” “kalua begitu duduklah kongcu, kongcu mau makan apa ?” “tolong lopek sediakan nasi dan lauk yang masih ada.” “lauk yang masih ada ikan bakar, ayam goreng dan ikan gulai.” “kalau begitu ikan gulai saja lopek.” “baiklah, tunggu sebentar saya akan ambilkan.” ujar pelayan dan segera meninggalkan Yang-bun.
Tidak lama kemudian pesanan yang-bun pun datang dan pelayan dengan cekatan menghidangkan diatas meja Yang-bun “silahkan kongcu..!” ujar pelayan
71
“terimakasih lopek..” sahut Yang-bun, lalu ia pun makan dengan lahap, tapi tiba-tiba hatinya tertarik mendengar percakapan dua nelayan di seberang mejanya “kalau terus begini bisa-bisa kita tidak melaut lagi, Bao-twako” “benar Zao-te, lalu kita bisa berbuat apa ? bajak itu menguasai perairan yang banyak ikannya, belum lagi jika kita berjumpa dengan mereka, tentu kita akan dihabisi.” “nasib kita para nelayan ini sungguh tertekan betul.” Keluh she-Bao
“Jiwi-lopek bolehkah aku tahu hal apa yang menimpa para nelayan ?” “ah anak muda sungguh hanya membuat sakit hati jika di ingat-ingat.” sahut she-zao “ceritakanlah padaku paman, semoga saja aku dapat membantu.” “anak muda polisi dan pasukan kungcu saja dipecundangi.” keluh she-zao “jiwi-lopek, menceritakan padaku tentu tidak ada ruginya bukan ? aku memang bukan orang sini, namaku Kwaa-yang-bun.”
“anak muda kami para nelayan sudah dua tahun kesulitan mendapat ikan tangkapan, karena perairana yang biasa banyak ikannya ditempati bajak laut “hek-liong” (naga hitam), akhirnya nelayan banyak yang hilang pekerjaan, coba bayangkan bagaimana kami akan menghidupi keluarga kami jika mata pencaharian kami dicaplok.” “benar sekali lopek.” sahut Yang-bun
72
“Lauw-kungcu memang sudah mengerahkan pasukan untuk menghabisi para bajak, namun sayang, pasukan itu tewas semuanya ditelan laut. “lopek…jika kita berlayar dari pantai kea rah manakah tempat bajak itu ?” “apa maksudmu anak muda, apa kamu akan mendatangi bajak itu ?” “mungkin iya lopek, saya juga tidak yakin, tapi saya ingin tahu tempat bajak itu.” “jika dari pantai terus berlayar , dan dalam waktu setengah hari, akan ada sebuah pulau yang banyak ditumbuhi pohon kelapa, nah dibalik pulau itulah sarang mereka, dan juga perairan yang banyak ikannya.”
“ooh…jadi disekitar pulau yang banyak pohon kelapanya, lalu, jika saya hendak berlayar, apakah ada yang menyewakan perahu ?” “apakah kamu akan benar-benar ke tempat berbahaya itu anak muda ?” “sepertinya iya lopek, saya jadi penasaran.” “kalau memang kamu anak muda mau kesana, nampaknya tidak ada yang akan menyewakan perahu, karena bisa jadi perahunya tidak akan kembali.” “kalau begitu susah juga ya lopek, untuk membeli perahu saya tidak punya uang untuk itu, tap tidak apalah lopek, terimakasih telah besedia bercakap-cakap dengan saya.” ujar Yang-bun, kedua nelayan itu mengangguk, lalu merekapun berdiri dan membayar makanan mereka.
73
Yang-bun naik kelantai dua memasuki kamar yang telah disediakan, sebentar saja Yang—bun rebah ia pun sudah tertidur, namun saat menjelang pagi, dan haripun masih gelap, Yang-bun bangun dan ia keluar dari kamarnya lewat jendela karena ruangan pintu gerbang penginapan belum dibuka, dinihari yang sejuk dan kuatnya hembusan angina, bayangan Yang-bun laksana burung alap-alap melintasi atap-atap rumah menuju pantai, dengan sebilah papan alas ranjangnya Yang-bun meluncur dipermukaan laut, sebelah kakinya sesekali mendayung, dan sekali dayung papan itu laksana busur melesat kedepan.
Hari masih samara-samar, namun pulau dengan bayangan tumbuhan kelapa sudah kelihatan oleh Yang-bun, hanya dengan empat kali dayung Yang-bun sudah sampai didekat pulau, lalu Yang-bun mengitari pulau itu, dan yang-bun melihat dua kapal besar ditengah laut, sementara puluhan perahu berjejer ditepi pantai, yang-bun melangkah kepantai, dan hendak masuk kedalam hutan menuju perkampungan bajak laut, namun puluhan bajak ternyata sudah bangun dan berduyun-duyun ketepi pantai
“kamu siapa !?” bentak seorang bajak, dan tang lain-lain pasang aksi mengancam “apa kalian bajak laut yang telah menyengsarakan nelayan dikota shuzou ?” “bangsat ditanya malah balik bertanya, serangg..!” teriak bajak itu, lima orang bajak segera menyerang dengan berbagai
74
senjata, Yang-bun dengan tenang berkelit dan membagi-bagi tamparan yang tidak mematikan, tapi cukup membuat mereka pening dan tumbang, rombongan bajak makin marah, sepuluh orang maju, sepuluh orang ambruk tumbang
“berhenti….!” Teriak seorang lelaki umur lima puluhan, dengan perawakan besar dan bercambang lebat, namun kepalanya botak kelimis, dia adalah Coa-ciang, pimpinan bajak hek-liong “siapa pengacau yang tidak tahu diri ini !” bentak lelaki itu yang ternyat pimpinan bajak, hatinya sedikit ciut melihat dua puluh anak buahnya sudah malang melintang pingsan hanya dalam beberapa gebrakan, namun dia mencoba menutupi kecemasannya “saya hendak mencegah kalian berbuat aniaya terhadap para pelayan.” sahut Yang-bun dengan tenang. “apa kamu punya nyawa rangkap sehingga berani mendatangi tempat ini !?” bentak Coa-ciang
“urusan nyawa itu urusan Thian, jangan sembrono seakan engkau yang memberikan nyawa padaku.” sahut Yang-bun tegas “sial…bunuh pemuda berengsek ini !” teriak Coa-ciang, amak buahnya segera menyerang, namun sebagaimana pada pertempuran pertama, berapa orang mendekat, langsung sempoyongan dan tumbang, Coa-ciang jengkel dan marah, lalu dengan dua senjata pisaunya menyerang yang-bun, namun kali ini Coa-ciang ketemu batunya, selama lima puluh jurus semua serangannya luput, tapi pada jurus berikutnya, ia sudah jadi
75
bulan-bulanan oleh tamparan Yang-bun yang bertubi-tubi mendera tubuhnya, dia menjerit-jerit karena merasa kulitnya panas dan nyeri.
Anak buahnya yang masih banyak berdiri disekitar pertempuran tanpa dikomando membantu pemimpin mereka, namun mereka seperti laron menyerang api, dekat langsung jatuh, Yang-bun dengan ilmu Im-yang-sian-sin-lie tanpa menggunakan sabuk telah membuat puluhan bajak laut kalang kabut dan bergelimpangan, akhirnya ketika matahari terbit para bajak laut menyerah, Coa-ciang tubuhnya sudah lemas matang membiru, rasanya seluruh tubuhnya sakit dan nyeri, mukanya juga lebam bengkak membiru.”
:”hari ini saya masih memberikan hajaran pada kalian, itupun kalau kalian mau merubah diri dan tidak menjadi bajak laut yang kerjanya menindas orang lemah, ayok berikan alas an pada saya untuk tidak melukai kalian lebih parah lagi bahkan mungkin tewas.” ujar Yang-bun dengan nada tegas. “ampun taihap….kami akan berhenti dari pekerjaan ini.” “bagus kalau begitu, jadi saya minta beberapa dari kalian untuk pergi membakar dua kapal kalian itu.” ujar Yang-bun sambil menunjuk dua kapal yang parkir ditengah laut.” “tapi tuan bagaimana kami akan ke suzou jika kapal itu dibakar, kami akan terpencil disini.”: sela seorang bajak. “ini ada puluhan perahu, yang bisa kalian gunakan untuk pindah ke shuzou, tiga empat kali kalian sudah terangkut semua, cepat bakar kedua kapal itu sebelum pikiran saya
76
berubah.” sahut Yang-bun, enam orang segera menaiki perahu dan mendayung kea rah dua kapal mereka, dan sesampai dikapal, merekapun membakar dua kapal tersebut.
Setelah itu puluhan perahu dengan dua belas penumpang tiap masing-masing perahu berlayar menuju shuzou, dan memang benar dalam empat kali bolak-balik semua bajak sudah terangkut dan itu membutuhkan waktu sampai dua hari, sementara Yang-bun pada keberangkatan pertama sudah meninggalkan pulau dengan sebilah papan yang dibawanya, sosok perkasa yang mendayung kakinya diatas sebilah papan itu membuat para bajak meleltkan lidah saking takjubnya, dan sebagian mulut yang banyak celoteh memberi julukan pada Yang-bun dengan sebutan “Liong-san-taihap” (pendekar penakluk naga).
Saat matahari naik tinggi Yang-bun masuk kembali kedalam kamarnya, pemilik pengunapan tidak menyadari apa yang telah dilakukan oleh Yang-bun, mereka mengira Yang-bun baru bangun ketika turun untuk sarapan, namun siang harinya daerah pantai gempar melihat iringan puluhan perahu mendarat dipantai, terlebih hal itu berlangsung dua hari, dan dari pantai julukan “Liong—san-taihap” menyebar dan jadi buah bibir di kedai dan pasar-pasar, she-zhou dan she-bao terheyak mendengar berita yang hangat dibicarakan itu, merekapun ikut aktif menyebar berita bahwa pemuda yang mereka ajak bicara itu adalah she-kwaa bernama Yang-bun dengan julukan “Liong-san-taihap”
77
Kwaa-yang-bun melanjutkan perjalanan, dan sebulan kemudian ia sampai kepulau kura-kura, “sicu siapa dan hendak bertemu siapa ?” tanya seorang murid. “saya hendak bertemu kauwsu, saya Yang-bun she-kwaa.” “oh…ternyata suheng, mari kita masuk kedalam !” sahut si murid sambil menjura hormat, lalu Yang-bun pun memasuki istana dan disambut KWaa-kun-bao dan keluarga
“anak Kwaa-yang-bun dari shang-hai datang menghadap pek-pek dan pek-bo.” “hahaha..hahaha…ternyata putra dari peng-te, bagaimana keadaan ayah ibumu Bun-ji ?” “ayah, ibu dan keluarga dalam keadaan baik dan keduanya menitip salam untuk pek-pek dan keluarga.” “syukurlah kalau begitu, dan bangkitlah Bun-ji dan duduklah !” ujar Kwaa-kun-bao.
Kwaa-kun-bao menikahi sutitnya LI-ceng-lin, setahun setelah menikah Kao-kun-bao memperoleh anak perempuan yang diberi nama Kwaa-goaat-niu, kemudiaan dua tahun kemudian lahir pula anak kedua yang juga perempuan, Kwaa-kun-bao memebri nama dengan Kwaa-hong, sebagai pemegang guru besar Pat-hong-heng-te, Kwaa-kun-baao sarat dengan pembinaan fisik dan mentak murid-miridnya yang berjumlah ratusan, demikian juga dengan kedua anak perempuannya.
Kedua anaknya tumbuh dengan binaan baik dari kedua orang tuanya, dan saat kedatangan Kwaa-yang-bun, kedua putri
78
pamannya itu tidak ada di pulau kura-kura, karena Kwaa-goat-niu, sudah tiga tahun menikah dengan putra Tang-kungcu Kaifeng yang bernama Tang-yuan dan sekarang menetap dengan suaminya di Taiyuan, karena suaminya sebagai pejabat pemerintahan sebagi Tihu kota Taiyuan, sementara putri kedua beliau Kwaa-hong sudah berumur dua puluh satu tahun, satu tahun lebih tua dari Kwaa-yang-bun.
Kwaa-hong ternyata keluar pulau kuara-kura setahun yang lalu, sebagaimana halnya kwaa-yang-bun, Kwaa-kun-bao sangat senang dengan kunjungan keponakannya itu, namun karena perjalanan Kwaa-yang-bun masih panjang, jadi Kwaa-yang-bun hanya selama dua minggu berada di pulau kura-kura, dan melanjutkan perjalanan kekota Kun-leng.
Kwaa-yang-bun memasuki kota Kun-leng setelah dua minggu kemudian, namun rumah kakeknya ternyata kosong, dia hanya menemui dua keluarga dari dua orang pelayan kakeknya yan sudah berumur tujuh puluh tahun lebih. “sejak kapankah kakek meninggalkan kota kun-leng, paman ?” tanya Yang-bun pada putra seorang pelayan “tepatnya sudah dua puluh satu tahun loya dan nyonya meninggalkan rumah dan sampai sekarang belum pernah pulang.” jawab putra pelayan kakeknya, Kwaa-yang-bun tercenung mendengar berita itu, lalu tiga hari kemudian Yang-bun meninggalkan rumah kakeknya.
79
Kwaa-yang-bun terus menuju Lokyang untuk menjumpai pek-peknya Kwaa-sin-liong, Kwaa-sin-liong menikah dengan Tang-bi-wei, Kwaa-sin-liong mempunyai tiga orang anak dua laki-laki, anak sulungnya perempuan bernama Kwaa-lian-bi sudah menikah dengan putra seorang kauwsu dikota Lokyang bernama Kam-ci-han, dan keduanya tinggal di rumah she-kam di bagian barat kota lokyang, lalu anak keduanya Kwaa-gan-bao seumur dengan Yang-bun, dan sedang berkelana di dunia persilatan, dan anak yang ketiga Kwaa-tan-bouw berumur enama belas tahun, saat kedatangan Kwaa-yang-bun disambut hangat oleh pek-peknya Kwaa-sin-liong.
Kwaa-yang-bun tinggal seminggu di kota lokyang dan selama itu Kwaa-yang-bun akrab dengan saudara misannya Kwaa-tan-bouw yang sangat periang dan humoris, sehingga waktu seminggu itu berlalau tanpa terasa, karena ada saja bahan yang dibicarakan Tan-bouw sejak dari bicara tempat-tempat penting di lokyang, sampai bicara masalah ilmu silat, keduanya sempat juga saling mengukur, dan kakak misan mudanya itu sangat cekatan dan membannggakan sebagai she-taihap.
Dan kenyataan bahwa kakeknya sudah dua puluh tahun lebih meninggalkan Kun-leng sudah diketahui oleh pek-peknya dari informasi Kwaa-hong yang berkunjung ke lokyang kurang lebih setahun yang lalu, dan sebulan setelah keberangkatan Kwaa-hong, putranya Kwaa-gan-bao ditugaskan ayahnya untuk mencari keberadaan kakek dan neneknya, dan Kwaa-sin-liong menyarankan Kwaa-yang-bun untuk ikut andil mencari kakek
80
dan neneknya sebagaimana juga dipesankannya pada Kwaa-hong saat itu.
Kwaa-yang-bun berangkat menuju Sinyang, dan sepuluh bulan kemudian Kwaa-yang-bun sampai kerumah supeknya Yo-seng dan pekbonya Kwaa-thian-eng, Yo-han putra sulung Yo-seng sudah berumur tiga puluh tahun dan hidup dengan keluarganya di kota changcun, dua adik yohan yang keduanya perempuan Yo-bian dan Yo-lian juga sudah berumah tangga, jadi yang tinggal di lokyang hanya Yo-seng yang sudah berumur lima puluh lima tahun dan Kwaa-thian-eng yang berusia lima puluh tahun.
Dan Yo-seng juga sudah mengeatahui bahwa suhunya atau ayah mertuanya tidak berada di kun-leng dan tidak diketahui dimana rimbanya dari cerita Kwaa-hong yang berkunjung ke sinyang, Kwaa-yang-bun tinggal di sinyang selama seminggu, dan setelah itu melanjutkan perjalanannya sambil mencari informasi tentang keberadaan kakek dan neneknya.
Setahun kemudian ketika ia sampai di kota Guiyang, pertemuan penetapan bengcu ia dengar dan hatinya tertarik karena kemungkinan kakek dan neneknya akan dapat beritanya dari kalangan pendekar yang akan banyak hadir disana, lalu ia pun memasuki hutan kong-ciak, sementara dua lelaki dibelakanya adalah lelaki yang cukup menggemparkan karena mereka dijuluki “kui-thian” (siluman langit) dan “kui-te” (siluman bumi)
81
Kedua siluman itu adalah she-Gu, Kui-thian bernama Gu-mao putra dari Gu-siang dan Kui-tee bernama Gu-long putra dari Gu-liang, keduanya dari kota Taiyuan tepatnya di perguruan ayah mereka yang kembar “sian-siang-bukoan” (perguruan Dewa kembar). Kedua orang tua mereka meninggalkan keduanya saat berumur empat belas tahun dan membentuk perserikatan Kwi-sian-pat, namun empat tahun kemudian mereka mendengar kwi-sian-pat telah hancur di tangan she-taihap, dengan dendam kesumat yang besar kepada she-taihap, keduanya berkelana untuk memperdalam ilmu disamping ilmu yang telah diajarkan oleh ayah mereka.
Lima tahun perkelanaan, akhirnya mereka sampai di kota Hailar, di In-teksan keduanya berguru pada seorang pertapa sakti yang berjulukan “im-kan-kui-hengcia” (pederi siluman dari akhirat) dan berguru padanya, dengan ketekunan yang kuat dan kemauan yang gigih oleh sebeb dilatari dendam kesumat terhadap she-taihap yang terkenal sakti, keduanya menyerap ilmu-ilmu luar biasa dari suhunya, dan untuk menyempurnakan semua ilmu yang mereka pelajari , hingga tidak disadari sudah sepuluh tahun sudah berlalu.
Setelah menammatkan pelajaran, keduanya turun gunung pada usia tiga puluh tiga tahun, dan dalam masa dua tahun kesadisan dan kebrutalan mereka membuat wilayah wilayah timur berguncang dan sebagian wilayah utara, nama mereka merupakan kecemasan bagi orang yang mendengarnya, dan
82
pagi itu kedunya memasuki hutan kong-ciak dibelakang Liong-san-taihap yang berada dibelakang Kwi-ban-ciang.
Setelah matahari naik tinggi empat orang tokoh itu pun sampai dilapangan yang sangat luas ditengah hutan kon-ciak, para pendekar sudah banyak berkumpul di areal tersebut, delapan ciang bujin perguruan besar juga sudah mengambil tempat masing-masing, rata usia delapan ciangbujin enam puluh tahun, Tan-hui dari shaolin-pai, Bao-han dari thaisan-pai, Bu-hong dari hengsan-pai, Lu-bong dari butong-pai, Can-ceng dari kotong-pai, Zhang-kui dari Gobi-pai, Lui-kong dari kunlun-pai, Lie-seng dari Hoasan-pai.
Disamping itu ada juga perkumpulan besar seperti Kam-han pimpinan tertinggi Hwa-I-kaipang (pengemis baju kembang) yang berjulukan “Eng-bu-sin-kai” (pengemis sakti tanpa bayangan) sekaligus seponsor perhelatan akbar tersebut, kemudian Lou-gan pimpinan tertinggi “Hek-I-kaipang” (pengemis baju hitam) yang berjulukan “Koai-kai” (pengemis aneh), dan kemudian Jiang-lung pimpinan tertinggi “ang-kin-kaipang” (pengemis sabuk merah) yang berjulukan “seng-tung-sin-kai” (pengemis sakti tongkat malaikat).
Dibagian lain ada barisan para piauwsu dengan bendera dan seragamnya masing-masing, dan diantara sekian piauwkiok kita hanya menyebutkan tiga yang terbesar dan terkenal yakni ekpedisi “hong-,liong” (naga angin) yang bersal dari kota Hopei dengan pimpinan Ma-liauw dengan julukan “Thian-liong” (naga
83
langit), kemudian Tio-tang pangcu dari ekpedisi “hek-ma” (kuda hitam) dengan julukan “ma-bin-sin-seng” (malaikat sakti muka kuda) dan yang ketiga Cia-keng pangcu dari ekpedisi “lam-soan-hong” (angin puyuh dari selatan) yang berjulukan “tai-twi” (tendangan badai).
Dan diantara para pendekar yang banyak berdiri dan duduk disisi lain ada ada tiga orang yang harus diperkenalkan, yaitu seorang kakek berumur lanjut, kakek itu adalah Tio-huang salah satu murid dari Ma-tin-bouw yang dipecundangi oleh dua she-taihap, sehingga ia dan rekannya lou-beng-ho melarikan diri.
Setelah berpisah dengan Lou-beng-ho, Tio-huang berkelana sampai ke “mo-san” (gunung iblis) sebelah selatan kota Yinchuan, dia menjadi perampok tunggal yang ditakuti para piauwkiok, sehingga ia dijuluki “mo-san-hengcia” (paderi jahat gunung iblis), banyak sudah para pendekar dan rombongan piauwsu yang mati ditangannya, kesaktian Ti0-han sangat luar biasa, karena didamping ilmunya yang dipelajari dari Ma-tin-bouw, di gunung iblis Tio-han mendapatkan warisan ilmu dari seorang pertapa yang sakti dengan julukan “boanpai-kwi-sim” (suara iblis kuburan).
Ilmu-ilmu yang dikuasai terdiri dari ilmu hipnotis tingkat tinggi, kemudian “jiangshi-lek-kun” (pukulan gaib mayat hidup) dan “jiangshi-Hudtim” (kebutan mayat hidup), selama lima belas tahun Tio-huang baru dapat menguasai ilmu-ilmu tersebut
84
dengan sempurna, setelah itu Tio-huang tetap berada di kwi-san menjadi rampok tunggal dan menikmati hasil jarahannya baik berupa harta atau wanita, “Mo-san-hengcia” adalah sosok angker di kalangan penduduk Yinchuan.
Mo-san-hengcia turun gunung ketika mendengar pesta penetapan bengcu selatan, dan hari itu ia berdiri angker ditengah kerumanan orang dari berbagai daerah, dan kegembiraannya bertambah saat bertemu dengan sahabat lamanya Kwi-ban-ciang yang barusan sampai dan mengambil tempat disebelah kerumunannya, kedua kakek itu saling berpelukan dan berbagi pengalaman sambil menunggu waktu.
Kemudian seorang gadis berumur dua puluh dua tahun, dia adalah putri tercinta Kwaa-kun-bao yang bernama Kwaa-hong, sudah dua tahun ia meninggalkan pulau kura-kura, selama perjalanan tempat-tempat yang ia lalui, jika terjadi penindasan dan ketidak adilan, dia sangat ringan tangan untuk menyelesaikan masalah bahkan jika kejahatan itu perlu dibinasakan, tanpa tedeng aling-aling gerombolan atau individu itu dikipas habis oleh Kwaa-hong, sehingga dua tahun perjalanannya Kwaa-hong dijuluki orang dengan julukan “kim-kin-sianli” (dewi bersabuk emas) hal ini sesuai dengan jurus Im-yang-sian-sin-lie” yang sering disaksikan oleh para lawan-lawannya.
Selanjutnya disamping Kwaa-hong ada pemuda tampan berumur dua puluh dua tahun, pemuda itu adalah Kwaa-gan-
85
bao putra dari Kwaa-sin-liong, sebulan setelah keberangkatan Kwaa-hong, Kwaa-gan-liong ditugaskan ayahnya untuk mencari keberadaan kakek dan neneknya, hampir dua tahun perjalananya, sama halnya dengan Kwaa-hong, selalu mendarma baktikan apa yang dimilikinya untuk menindak kejahatan, namun dia tidak sekeras Kwaa-hong, para pelaku kejahatan jarang yang tewas, yang paling berat hanya luka parah.
Kwaa-gan-bao dalam pencaharian keberadaan kakek dan neneknya sampai ke wilayah Tibet, dan orang-orang wilayah barat itu menjulukinya dengan “Lam-sin-siucai” (sastrawan sakti dari selatan), dan sekembalinya dari barat, Kwaa-gan-bao mendengar perhelatan akbar dunia persilatan untuk menetapkan bengcu di kota Guiyang, Kwaa-gan-bao segera menuju kota Guiyang dengan harapan dapat mendengar kabar kakek dan neneknya.
Saat menginap di kota Guiyang, Kwaa-gan-bao bertemu dengan Kwaa-hong, dan keduanya dengan merasa gembira dengan pertemuan tidak terduga itu, dan niat keduanya menghadiri perhelatan itu adalah untuk mengetahui keberadaan kakek dan nenek mereka, dua malam menginap di Guiyang, keduanya saling bercerita pengalaman perjalanan mereka, lalu saat hari pertemuan digelar keduanya sama-sama berangkat ke hutan kong-ciak.
86
Saat semua sedang sibuk dengan hal masing-masing, rombongan “Lam-liong-sian” Tio-cun datang, semua yang hadir menatap iring-iringan dibelakang Tio-cun, hampir semua orang yang yang sudah berada di areal itu mengenal betul orang yang satu ini, setelah Tio-cun mengambil tempat, tidak lama muncul rombongan enam gadis-gadis cantik, dipimpin seorang wanita cantik dengan baju luar biasa indah, wajahnya cantiknya terkesan sinis karena garis senyumnya yang sinis.
“aku suma-hoa dari wilayah utara, dan ingin melihat siapa yang akan menjadi bengcu selatan, dan tentunya aku juga ingin belajar kenal nantinya.” ujarnya dengan wibawa tinggi dan memandang rendah semua orang, lalu Eng-bu-sin-kai melangkah ketengah lapangan, dan menjura ke empat penjuru.
“yang terhormat para cianpwe, hohan, taihap, laihap, kauwsu, pangcu dan sicu yang berhadir, saya eng-bu-sin-kai pimpinan Hwa-i-kaipang sebagai sponsor pertemuan ini mengucapkan selamat datang pada sicu semua, pertemuan ini jelas tujuan sudah kita ketahui, yakni memilih dan menetapkan bengcu selatan, kenapa bengcu selatan ? hal ini jelas jadi pertanyaan bagi para sicu, walhal bengcu yang kita tahu adalah bengcu yang menguasai dan mengayomi empat wilayah.” “benar sin-kai, kami ingin tahu apa latar penetapan bengcu selatan.” sela Bao-han dari thaisan-pai
“para sicu sekalian, saya pribadi tidak mampu untuk melangkahi she-taihap di pulau kura-kura, karena sudah
87
ratusan tahun, sejak leluhur mereka dipilih menjadi bengcu, sampai sekarang gelar itu sangat melekat kuat pada diri mereka, sehingga tanpa diadakan pemilihan pun nurani manusia cendrung mengatakan she-taihap adalah bengcu dunia persilatan didelapan penjuru angin. Jadi oleh karena itu tanpa mengurangi hormat pada she-taihap ide bengcu selatan saya munculkan.” jawab Eng-bu-sin-kai.
“baik ide itu dapat diterima dan kita sudah hadir semua disini, bahkan “pak-giam-lo-sian-li” (dewi maut dari utara) juga berkesempatan hadir, lalu bagaimanakah formasi penetapan bengcu selatan ini ?” sela “koai-kai” “penetapan tetap mengacu pada hal yang mendasar, yakni kesaktian dan kebijakan.” “tidak bisa begitu, untuk kriteria kebijakan, hal itu adalah sesuatu yang ambigiu dan abstrak, dan saya saya setuju jika yang tersakti lah yang akan menjadi bengcu.” sela Lam-liong-sian” “setuju….., benar…..betuulll..” sahut tiga perempat orang yang hadir, sehingga gemuruh suara menderu jauh kesekitar hutan kong-ciak.
“tunggu dulu, jika kebijakan kita tiadakan maka penetapan bengcu ini akan menjadi ajang perebutan golongan, kami tidak pungkiri bahwa dari golongan hek-to juga ada yang memiliki kebijakan, maksudnya mungkin dalam hal urusan yang menyangkut dirinya ia akan berutal dan sadis, namun jika menyangkut hal yang tidak menyangkut dirinya ia bisa
88
memberikan solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah.” ujar Lu-bong dari butong-pai “tidak setuju….” sahut gemuruh suara dari para pendukung Lan-liong-sian, kemudian tiba-tiba Kwi-ban-ciang dan kwi-san-hengcia masuk ketengah lapangan
“tujuan saya datang kesini bukan untuk memilih bengcu tapi ingin mengikis habis golongan yang menamakan dirinya pek-to, saya Kwi-ban-ciang dari hek-to menantang siapa saja dari pek-to.” ujar Lou-beng-ho “demikian juga saya “Kwi-san-hengcia” dari golongan hek-to menantang orang yang menamakan dirinya pek-to “hidup hek-to..hidup hek-to..” sambuat gemuruh suara, tiba-tiba dua orang she-Gu juga tampil, kami Kui-thian dan Kui-tee ikut menantang orang-orang pek-to, dan bahkan jika ada dari she-taihap pulau kura-kura majulah untuk menghadapi kami.” ujar Gu-long, “hidup hek-to tumpas seluruh turunan pulau kura-kura…!” teriak mereka dengan lantang.
“Jika demikian halnya pertemuan ini, maka saya pak-giam-lo-sian-li” ikut dibarisan hek-to menantang pek-to.” ujar suma hoa sambil melompat melayanag ketengah lapangan dan berdiri empuk di samping Gu-mao “hahaha..hahaha…hehehe…lam-liong-sian juga tidak mau ketinggalan dalam pesta luar biasa ini.” ujar Tio-cun dengan lompatan yang indah melayang ketengah lapangan., para pendukung hek-to makin hangar bingar melihat enam orang
89
yang berdiri gagah ditengah lapangan, para pendekar terdiam dan tidak merasa tidak puas akan pengkudetaan tujuan pertemuan tersebut, namun melihat enam orang yang berada di tengah lapangan, tentunya ciut juga nyali para pendekar, terlebih Lam-liong-sian ada dibarisan itu, “sepertinya niat baik ini akan menjadi pemicu kegelapan dunia persilatan, jika memang harus demikian maka selembar nyawa saya akan saya gadaikan.” sahut Lu-bong melompat ketengah lapangan, lalu disusul ketujuh cianbujin lainnya, “cianpwe ciangbujin, saya akan ikut menghadapi kemelut yang akan terjadi ini.”: sela Eng-bu-sin-kai dan berdiri disamping ciangbujin, kemudian barisan ciangbujin tampil seng-tun-sin-kai, sementara Koai-kai memihak barisan hek-to
TIga dari piuawkiok yang kita sebut, “tai-twi” dan Thian-liong memihak hek-to, sementara “ma-bin-sin-seng” memihak barisan ciang bujin, barisan ciangbujin berjumlah sebelas tokoh berhadapan dengan sembilan hek-to “hahaha..hahaha…. apakah kita siap membantai sebelas orang ini ?” ujar Kwi-ban-ciang kepada orang-orang didekatnya “sangat siap, dan bahkan aku tidak sabat lagi.” sahut Lam-liong-sian “tapi sayang tidak ada dari she-taihap yang muncul.” sela Gu-mao “hahaha..hehehe.. she-taihap sudah tidak ada lagi, biarlah mereka hidup dengan legenda mereka.” sahut Lam-liong-sian.
90
“hahaha..hahha… sungguh manusia picik yang selalu ingin menegakkan akara murka, kalian ini berusaha menegakkan benang basah, tiadalah kebenaran akan dapat terbenam oleh kejahatan.” ujar Kwaa-gan-bao sambil melangkah dan berdiri persis ditengah antara dua kubu yang berhadapan dengan menghadap kesamping. “kamu dari kubu mana anak muda, jangan banyak bacot dihadapanku !” bentak Kw-san-hengcia “kami dari kubu yang tidak senang dengan pertentangan ini.” sahut Kwaa-hong dan mengambil tempat disisi Kwaa-gan-bao “siapa kalian ini !?” tanya Lam-liong-sian jengkel “kami berdua dari keluarga yang jelas ditantang saat ini.” sahut Kwaa-hong “apa kalian she-taihap pulau kura-kura ?” tanya Gu-mao “benar, kami datang dari pulau kura-kura.” sahut Kwaa-gan-bao “bagus kalau begitu, bersiaplah untuk mampus !” teriak Gu-long “tunggu dulu, dua saudaraku tentu membutuhkanku untuk melawan tirani yang hendak unjuk gigi.” sela Kwaa-yang-bun, kedua she-taihap menoleh kearah Kwaa-yang-bun.” “Kwaa-yang-gun dari shanghai” bisik Kwaa-yang-gun senyum, kedua she-taihap ikut tersenyum setelah mengetahu bahwa pemuda sebaya ini adalah anak paman mereka.
“para ciangbujin dan rekan sekalian yang budiman, tirani didepan mata menggonggong memperlihatkan taringnya, kumpulan mereka amatlah banyak, jadi perkenankan kami she-taihap yang menjajal lebih dahulu, jika kami tewas kalian sevagai saksinya bahwa kami telah melakukan tugas amanah
91
leluhur kami.” ujar Kwaa-yang-bun, memang setelah terjadi dua kubu, peserta yang hadir otomatis terbagi dua, dari kubu ciangbujin hanya seratus orang, sementara kubu hek-to hampir tiga ratus orang. “sam-wi she-taihap, apapaun yang nantinya terjadi, barisan ini akan ikut mengiringi sam-wi-taihap.” sahut Eng-bu-sin-kai.
Tiga she-taihap berbaris membelakangi kubu ciangbujin dan menghadap kubu hek-to “hahaha..hahaha… kwi-ban-ciang mari kita buat sejarah baru dalam dunia persilatan, she-taihap sebagai tumbal pertama.” teriak Kwi-san-hengcia, lalu keduanya menerjang kwaa-yang-bun dan kwaa-gan-bao, karena hanya dua kakek itu yang maju maka Kwaa-hong menyingkir kesamping, namun Gu-mao tiba-tiba menyerang kwaa-hong.
Tiga kelompok pertempuran terjadi, suatu tontonan yang luar biasa dan jarang terjadi, tiga she-taihap dengan tenang dan melayani semua serangan dan juga tidak melepaskan peluang untuk balas menyerang, ilmu-ilmu she-taihap demikian agung dan mempesona ditampilkan ketiga she-taihap, keuletan dan ketangkasan luar biasa membuat yang menonton terpukau, namun tiga lawan she-taihap juga adalah orang-orang kosen luar biasa, serangan mereka demikian dahsyat dan trik pancingan berbahaya, ilmu “jiangshi-lek-kun” menebarkan aroma bangkai yang memuakkan, belum lagi senjata kebutan yang luar biasa dalam rangkaian jurus “jiangshi-hudtim” mengancam jalan darah, yang apabila kena, akan
92
mengakibatkan pendarahan permanen bagi sin-kangnya dibawah kwi-san-hengcia.
Demikian pula Kwi-ban-ciang dengan ilmu “liang-jiu” membuat sekali bergerak membuat empat bayangan tangan yang keempatnya memiliki kekuatan yang menggetarkan, didamping dengan sambaran pedangnya dalam rangkaian “liang-lo-kiam” yang dari setiap gerakan sangat kuat mempengaruhi lawan, Gu-mao juga menunjukkan betapa tantangannya pada she-taihap bukanlah tantangan sumbang, hal ini dibuktikan dengan ilmunya yang hebat dan dahsyat.
Dalam menghadapi Kwaa-hong, Gu-mao mengeluarkan jurus pamungkasnya yakni “hok-te-koai-liong” (naga siluman mendekam) disamping itu senjatanya yang berupa thi-pian (cambuk besi dengan bola berduri) dengan rangkaian jurus “ho-kui-pian” (cambuk siluman api) sangat luar biasa mengancam nyawa.
Tiga she-taihap awalnya mengeluarkan jurus “Im-yang-sian-sin-lie” namun sepertinya belum cukup untuk merobohkan lawan, lalu ketiganya mengeluarkan jurus Im-yang-bun-sin-im-hoat, dan dalam jurus ini dua kekek masih alot dan ulet, bahkan masih mampu membuat serangan berbahaya, tapi bagi Tee-kui, gerakannya sudah terbentur, walaupun ia tidak terdesak, namun ia tidak lagi mampu menyusun serangan berarti, lalu ketiganya mencoba gabungan antara “san-phak-eng-coan” dengan “Im-yang-pat-sin-im-hoat” dimana ketiga she-taihap
93
menjadi enam dan menyerang ketiga lawan dengan jurus im-yang-pat-sin-im-hoat.
Seluruh yang menyaksikan pertempuran itu berdecak kagum dan bahkan karena saking ayiknya dan terkesimanya menyaksikan pertarungan tingkat tinggi luar biasa itu sebagian besar dari tidak menggubris malam yang kian larut, untungnya orang-orang yang silau dan pening membuat api unggun yang besar disisi tempat mereka duduk sehingga di areal itu menyaala delapan api unngun yang besar, sehingga membuat lapangan pertempuran itu terang benderang, ditambah lagi sinar rembulan yang terang.
Sesaat ketiga orang lawan she-taihap terdesak hebat, dan bahkan Tee-kui, terlempar dengan tubuh menggigil, dan kwi-ban-ciang terpapar satu tombak karena sebuah pukulan menghantam lambungnya, sementara Kwi-san-hengcia terpaksa melompat mundur untuk menyelamatkan diri dari sebuah pukulan jarak jauh, setelah melihat keadaan barulah Kwi-san-hengcia menyadari bahwa mereka melawan bayangan sakti luar biasa, lalu Kwi-san-hengcia berteriak “hilang tidak berbekas…. !” serta merta tiga bayangan itu hilang, namun efeknya Kwi-san-hengcia memuntahkan darah segar, sementara tiga she-taihap bergetar, kemudian pertarungan kembali dilanjutkan.
Pada jurus im-yang-pat-sin-im-hoat ini Kwaa-hong berada diatas angin, Tee-kui tidak kuasa membendung dahsyatnya
94
serangan Kwaa-hong “buk..des….” dua pukulan bersarang telak diperut dan didada Tee-kui, badannya nyeri minta ampun, hawa im dan yang mempengaruhi tubuhnya, namun berkat sin-kangnya yang luar biasa, dia masih bisa bangkit untuk melanjutkan pertarungan, dan kali ketiga sebuah tendangan akan menghantam perutnya, thian-kui langsung datang menerjang dengan sebuah pukulan dalam rangkaian ilmu pamungkasnya “thian-lo-in-koai” (siluman mega mengacau langit).
Kwaa-hong yang merasakan serangan gelap menarik tendangan dan menyambut pukulan ganas Thian-kui “dhuar…” ledakan keras terdengar, Thian-kui terlempar dua tombak, sementara Kwaa-hong terlempar satu tombak, namun kwaa-hong sibuk mengelak dari serangan balasa Tee-kui, dan terlebih dengan masuknya Thian-kui, kwaa-hong terdesak, walaupun kwaa-hong terdesak, bukan hal yang mudah bagi kedua siluman itu merobohkannya, pertahanan she-taihap dengan langkah-langkah garudanya luar biasa unik dan menakjubkan.
Sementara dua kakek saat menghadapi jurus lihai ini, keduanya sibuk bertahan sehingga jurus-jurus dua she-taihap menyudutkan mereka pada posisi bertahan, kedua kakek dengan serangan-serangan mengecoh mencoba melepaskan diri dari kelihaian jurus dua she-taihap, waktu terus berlalu sehingga malam pun berganti pagi, pagi menjelang siang, dua kakek sudah ngos-ngosan, nafas mereka sudah senin kamis,
95
sementara dua she-taihap masih dalam kondisi yang prima, satu kelebihan ilmu she-taihap yang diakui oleh Tio-huang dan Lou-beng-ho.
Dan untung bagi kedua kakek “lan-liong-sian” dan “pak-giam-lo-sianli” masuk pada pertempuran dan mengambil alih, sehingga keadaan mereka yang terdesak hebat dapat mengambil nafas, setelah merasa pulih keduanya kembali masuk dalam pertempuran, dua she-taihap dikeroyok, pertempuran terus berlangsung sampai menjelang sore, kali ini bukan saja kwaa-hong yang terdesak, tapi dua saudaranya juga terdesak hebat, namun kegigihan dan keuletan turunan she-taihap ini patut diacungkan jempol, karena ironisnya kubu ciangbujin tidak mampu untuk mencampuri pertempuran yang jauh diatas mereka.
Beberapa pukulan hebat telah diterima ketiga she taihap, namun untuk roboh tunggu dulu, mereka ini adalah she-taihap yang kesaktiannya melegenda selama hampir lima ratus tahun, kubu ciangbujin penuh kecemasan, ingin membantu tidak kuasa, dibiarkan tiga she-taihap sebentar lagi akan terkapar, ditengah kecemasan yang menggelisahkan itu sebuah teriakan terdengar dari langit “kreeeekkkk…krekkkkkk…” benda hitam dari langit turun seekor rajawali, penungganganya seorang pemuda tampan umur tujuh belas tahun, dengan gerakan menukik dia melayanag tangannya mengembang lalu berputar “dhuar,,,,dhuar… dhuar….” tiga ledakan keras mengguncang
96
hutan kong-ciak, tiga she-taihap melompat mundur sementara enam lawan mereka juga melakukan hal yang sama, sembilan petarung itu merasakan dada mereka sesak akibat hawa luar biasa dahsyat yang membentur tiga kelompok pertarungan.
“apa yang kalian lakukan ini sungguh memalukan, pengeroyokan ini sungguh tidak adil.” tegur kwaa-han-jin menatap enam orang dihadapannya “dua cianpwe kenapa demikian telengas pada tiga orang muda, bukankah seharusnya sikap jantan yang harus dimunculkan sekalipun keinginan untuk menang dan menguasai itu demikian besar, apa kepuasan batin yang cianpwe dapatkan dengan megeroyok, tidak ada kecuali hanya bukti kepengecutan.” “tutup mulutmu bocah tengik, untuk apa kamu ikut campur.” Ujar Kwi-san-hengcia “hahaha..hahaha..cianpwe yang miskin hati, aku sadari aku boleh dikatakan masih bocah bilah dibandingkan dengan kalian semua, namun tolong merasa malulah disaat pengalaman hidup sudah berkarat, pemikiran juga sudah amat matang, tapi berbuat layaknya bocah, cianpwe aku yang bocah merasa malu, lalu kenapa anda tidak, tidakkah cianpwe berdua melihat kejanggalan ini.
“kami tidak butuh komentar bodohmu itu bocah sialan, enyah kamu dari hadapan saya !” bentak Kwi-ban-ciang “maafkan aku cianpwe, aku tidak akan pergi dari sini sebelum kalian mampu melakukan keadilan dalam pertarungan ini.” “jadi apa maksudmu bocah bau kencur !?” tantang Kui-thian
97
“maksudku jelas mencegah terjadinya ketidak adilan kalau memang pertarungan harus dilanjutkan.” “lagi-lagi ketidak adilan yang kau bicarakan, mari kita tunjukkan keadilan kita pada bocah tidak tahu diri ini.” ujar Kwi-ban-ciang, dan tanpa diduga enam orang kosen barisan hek-to itu menyerang Kwaa-han-jin, ketiga she-taihap hendak bergerak “tiga sicu jangan memaksakan diri.” teriak Kwaa-han-jin sambil bergerak super cepat menghindari terjangan enam lawannya, tiga she-taihap saling pandang dan memperhatikan gerakan yang sulit di tangkap mata itu, dan ketiganya terpana karena pemuda itu menghadapi enam keroyokan itu dengan im-yang-bun-sin-im-hoat yang digabung dengan “san-phak-eng-coan” dua tubuh Kwaa-han-jin melawan enam orang, dan keenam lawan merasa jengkel karena gerakan lawan mereka ini sangat membingungkan karena sulit ditangkap mata.
Tio-huang terkejut karena ilmu ini juga milik ketiga she-taihap yang barusan mereka hadapi, lalu dengan sikap jumawa dia berteriak “hilang tanpa bekas..!” “duk…tuk….tuk…hoak…hoak…” sebuah pukulan menghantam lan-liong-sian sehingga terpapar satu tombak, dan dia terduduk karena nafasnya sesak, kemudian dan ketukan jari yang merupakan ganti dari mouwpit menghantam dada kwi-ban-ciang dan menghantam perut Kwi-san-hengcia, sehingga ia terjungkal sambil memuntah isi perutnya dan bahkan muntahan kedua bercampur darah.
98
Kwi-san-hengcia hendak memunahkan ilmu san-phak-eng-coan, namun tenaganya jauh dibawah Kwaa-han-jin yang masih muda, tentunya ia tidak tahu bahwa she-taihap muda ini memiliki inti ilmu “Wei-si-sin-siulian” getaran teriakan yang mengandung sin-kang itu mental kembali menyerangnya, lalu disusul jotosan pada perutnya, hingga dia pun terjungkal dengan luka dalam yang cukup parah. “apakah cianpwe terluka parah ?” tanya Kwaa-han-jin tiba-tiba, dan pertanyaan ini membuat enam lawannya terkesima, demikian juga tiga she-taihap dan semua penonton yang mendengarnya.
kwi-san-hengcia merasa jengkel dan emosinya meledak sebab karena merasa dipandang rendah “bangsat….jika aku terluka kamu mau apa hah..!?” “cianpwe kendalikan emosi yang hanya merugikan dirimu.” sahut Kwaa-han-jin “peduli apa kamu, jangan dikira aku sudah kalah !” teriak Kwi-san-hengcia “tidak ada yang sanggup mengalahkanmu cianpwe, tidak juga aku melainkan hanya dirimu sendiri yang dapat mengalahkanmu dengan mencoba mengambil sikap mengalah.” sahut Kwaa-han-jin.
“sudahlah…! hari ini merupakan hari tertunda, sebab lain waktu kalau kamu tidak mampus jangan sebut aku kwi-san-hengcia…!” ujar Kwi-san-hengcia dengan hati mengkal, karena jawaban-jawaban yang didengarnya tidak sedikitpun
99
mengandung ejekan dan kebencian “terimakasih ciannpwe, jika menyudahi sementara perkara ini, dan itu lebih baik daripada membabi buta yang akan merugikan diri sendiri.” sahut Kwaa-han-jin, Kwi-san-hengcia segera berkelabat dari tempat itu dan disusul oleh lima orang lainnya, dan bahkan kubu hek-to mengikuti enam orang yang menjadi pentolan mereka.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat terbaik : Jinsin Tayhiap 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 12 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments