Cerita Dewasa Guru Cantik : Si KS 6 Tamat

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Guru Cantik : Si KS 6 Tamat
Cerita Dewasa Guru Cantik : Si KS 6 Tamat

Ah, itulah si tua bangka Tiong Liong yang datang
membikin ribut di sini!” kata Tie Hwie Taysu yang segera
masuk ke dalam kalangan pertempuran, untuk
memisahkan mereka berdua dengan menggunakan ilmu
Khong-siu-jip-pek-jim.
„Berhenti!” ia membentak pada salah seorang yang
dikatakan bernama „Tiong Liong” itu.
Tiong Liong apa boleh buat berlompat ke suatu
pinggiran dengan sikap yang masih sangat penasaran.
Kemudian Poan Thian buru-buru menghampiri Hoa In
Liong sambil berpura-pura menanyakan: „Suheng, cara
bagaimanakah kau bisa berada di sini?”
„Hal ini akan kau ketahui nanti,” kata Hoa In Liong
dengan cepat.
Setelah berkata begitu, diapun lantas maju memberi
hormat pada Tie Hwie Taysu sambil menghaturkan maaf
495
atas keributan yang telah diterbitkannya tadi.
„Kamu sekalian marilah mengikut padaku ke dalam
kelenteng,” kata Tie Hwie Taysu setelah balas pemberian
hormat Hoa In Liong.
Begitulah keempat orang itu lalu dengan berturutturut
melompat turun dari atas wuwungan rumah dan
masuk ke halaman kelenteng dalam suasana yang masih
agak „panas”.
Di situ semua orang lalu dipersilahkan duduk dan
disuguhkan air teh dan buah-buahan kering oleh Tie
Hwie Taysu.
Mula-mula toosu itu perkenalkan kepada Poan Thian
dan In Liong, bahwa orang yang bernama Tiong Liong
ini, yang ternyata mempunyai roman yang hampir mirip
dengan Tie Hwie sendiri, adalah adiknya sekandung
yang bernama Bie Tiong Liong, yang di kalangan Kangouw
terkenal dengan gelaran Sin-siu-tay-seng atau Nabi
yang bertangan sakti, berhubung ia dapat „bergerak”
dengan amat sebat dan gesit dengan „menggunakan”
kedua tangannya. Dan setelah itu, barulah ia
menanyakan pada adiknya sendiri, karena apa ia telah
datang membikin ribut ke tempat kediamannya pada
waktu malam hari beritu?
Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong tinggal bungkem
dan saban-saban melirik pada ketiga orang itu dengan
sorot mata mengandung kebencian.
„Beritahukanlah padaku sebab-musabab dari pada
pertempuran ini,” berkata Tie Hwie pula, yang sekarang
mengunjukkan dengan nyata sikapnya yang kurang
senang pada saat itu. „Segala urusan jikalau masih boleh
didamaikan, mengapakah orang mesti berlaku begitu
goblok akan coba saling mencelakai pada satu sama
496
lain?
„Aku bukan hendak campur tangan dalam urusan
orang lain. Tetapi sebagai seorang yang ingin melihat
segala sesuatu berlangsung dalam suasana damai,
kukira tidak buruknya jikalau aku dapat membantu akan
perlaksanaan yang menuju ke arah perdamaian itu. Oleh
sebab itu, aku minta dengan baik supaya kau suka
memberitahukan padaku sebab-musabab dari
perselisihanmu dengan kedua tuan ini, agar supaya aku
ketahui bagaimana selanjutnya aku harus bertindak.”
„Ya, tetapi hal itu toh tidak ada sangkut pautnya
dengan urusanmu,” selak Bie Tiong Liong. „Perlu apakah
kau mesti menanyakan hal itu kepadaku dengan secara
melit?
Sekarang paling betul kau boleh ke sampingkan
urusan itu. Dan jikalau kau masih mengaku saudara
kepadaku, aku ingin supaya kau memilih satu antara dua
jalan dengan secara tegas. Apakah kau menyatakan
suka memilih pihakku atau pihak kedua orang ini?”
„Aku sungguh tidak bisa mengerti,” kata Tie Hwie
Taysu, „cara bagaimana aku harus memihak ke sana
sini, apabila dalam hal ini aku tidak tahu terang kemana
juntrungannya. Cobalah kau tuturkan dahulu sebabmusabab
dari perselisihan ini, agar supaya aku bisa
menimbang dengan secara bijaksana, pihak mana yang
harus disalahkan dan pihak mana yang harus
dibenarkan.”
Tetapi Bie Tiong Liong tampak semakin kurang
senang mendengar pertanyaan itu. Entahlah apa ia
merasa bahwa dirinya bersalah dan ingin dieloni atau
menganggap Tie Hwie selalu berpihak pada orang lain
karena ia tidak suka dikatakan berlaku berat sebelah
497
dengan hanya memihak pada saudaranya sendiri. Maka
setelah berdiam sejurus lamanya, Tiong Liong lalu
berkata dengan suara menyindir: “Aku tahu,” katanya,
„bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam
pertimbanganmu, hampir selalu membenarkan pada
pihak orang lain dari pada pihak saudara sendiri. Oleh
sebab itu, apakah perlunya aku memberitahukan
urusanku, kalau saja kesudahannya akan jatuh di
pihakku juga yang bersalah?”
Toosu tua itu jadi menghela napas ketika mendengar
pembicaraan Tiong Liong yang mengandung sindiran itu,
hingga semakin lama ia kelihatan jadi semakin jengkel
dan segan akan menanyakan apa-apa pula kepada
saudaranya yang memang ia kenal baik sangat keras
kepala itu.
„Ji-wie Siecu,” akhir-akhirnya ia berkata pada Lie
Poan Thian dan Hoa In Liong, „maafkanlah padaku,
apabila dalam hal ini tak berkuasa aku mengambil jalan
damai sebagaimana mestinya.
„Maka untuk selanjutnya mengetahui sebab-musabah
dari pada perselisihanmu dengan saudaraku ini, sudikah
kiranya tuan memberitahukan kepadaku asal-usul
peristiwa celaka itu?”
Sementara Lie Poan Thian yang merasa bahwa
pokok persoalan itu telah dimulai dari pengalamannya
sendiri, lalu mulai menerangkan pada Tie Hwie Taysu,
semenjak ia diganggu dan ditantang di kelenteng tua
oleh seseorang yang mengaku bernama .,Sin-tui Bie”,
sehingga kemudian ia datang ke kelenteng Ceng-hiekoan
buat pertama kalinya dengan diantar oleh Ciu Kong
Houw, untuk menanyakan keterangan-keterangan lebih
jauh pada Tie Hwie Taysu, pada waktu mana ia tidak
mengetahui, bahwa Tiong Liong itu adalah saudara
498
kandungnya, yang dengan secara tidak sah telah
menggunakan nama sang kakak itu.
Kemudian ia telah ke sampingkan dan hampir
melupakan soal-soal yang tidak enak itu, ketika
mendadak Tiong Liong telah muncul pula dan kembali
datang mencari setori, hingga setelah merasa bahwa
urusan ini tidak boleh dibiarkan dan mungkin juga ada
sangkut-pautnya dengan sang toosu, maka ia jadi
mengambil keberanian akan menanyakan hal ini pada
Tie Hwie, dengan dikawani oleh kakaknya seperguruan
yang sekarang datang bersama-sama ke kelenteng
Ceng-hie-koan di situ.
Demikianlah singkatnya pengaduan yang telah
diajukan oleh pemuda kita pada toosu tua itu.
Tiong Liong yang mendengar pengaduan Lie Poan
Thian di hadapan Tie Hwie alias Sin-tui Bie yang
memang bukan lain dari pada saudaranya sendiri, sudah
barang tentu jadi sangat mendongkol dan lalu berkata
dengan suara keras: „Poan Thian, aku sungguh merasa
amat menyesal tidak lantas bunuh saja padamu, ketika
aku menjumpai kau bersendirian di kelenteng tua itu,
hingga aku sama sekali tidak menyangka bahwa urusan
akan menjadi begitu ruwet seperti hari ini!”
„Tetapi kau harus jangan lupa,” begitulah Tie Hwie
telah mencampuri bicara, „bahwa cara itu adalah suatu
perbuatan pengecut yang tiada taranya!”
Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong jadi sengit
mendengar kecaman kakaknya, yang dianggapnya
seolah-olah mengeloni pada pihak musuh.
„Sekarang telah jelaslah, bahwa kau telah memihak
pada orang yang menjadi musuh besarku!” katanya. „Ia
telah membunuh muridku, kemudian telah menghinakan
499
nama baikku. Apakah perbuatan itu boleh dibiarkan
dengan tidak segera diambil tindakan keras atau
diberantas sebagaimana mestinya? Tampaknya kau
selalu lebih senang membenarkan pihak orang lain dari
pada memihak saudara sendiri!”
„Kau jangan salah paham,” kata Tie Hwie Taysu.
„Pendek, aku tidak perduli siapa, kalau dia benar,
walaupun kau mau putar balik bagaimana juga, dia tetap
benar. Bukan sebab kau ada saudaraku. sehingga
segala perbuatanmu — meski yang bagaimana sesat
juga — lantas harus dibenarkan olehku. Kau sendiri telah
memakai namaku dengan tiada seijinku, itu saja sudah
menjadi suatu kesalahan besar yang tidak boleh
dimaafkan, dan bukan karena kau ada saudaraku,
hingga kau boleh punya suka membawa-bawa namaku
yang sudah „dipendam” dan tidak campur lagi di
kalangan Kang-ouw untuk „dipamerkan” pula di antara
khalayak ramai!
Telah beberapa hari lamanya aku berkeliaran
mencarimu, karena aku mendengar orang di luaran
menceritakan tentang munculnya kembali Sin-tui Bie di
kalangan Kang-ouw. Kau sendiri yang mempergunakan
nama itu, boleh enak-enakan „mengadu biru” kian
kemari, tetapi aku sendirilah yang harus tanggung
risikonya yang paling besar. „Eh, eh, heran benar. Sin-tui
Bie yang sudah menjadi seorang toosu, mendadak
sontak „mengamen” pula di kalangan Kang-ouw!”
begitulah orang nanti bisik-bisik di sana sini. Apakah itu
kau anggap suatu reklame baik bagi diriku?
„Pikirlah dahulu masak-masak pada sebelum kau
berbuat apa-apa. Bagaimana akibatnya bagi dirimu, dan
terutama bagaimana akibatnya pula terhadap orang yang
namanya kau „bawa mengamen” cuma karena akan
500
dapat melampiaskan napsu amarah dengan jalan
mengadu dombakan diriku pada Lie Siecu ini, sedangkan
kau sendiri yang tersangkut mau enak-enakan mencuci
tangan. meminjam nama orang buat keuntungan diri
sendiri.
„Itulah — rupanya — maksud yang terutama
mengapa kau telah mengganggu pada Lie Siecu dengan
mempergunakan namaku sebagai „benderanya”. Apa
bukan begitu, orang tua yang baik hati?”
Sambil menyindir, Tie Hwie Taysu melirik adik
kandungnya
Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong jadi semakin tidak
enak hatinya mendengar „semprotan-semprotan“
kakaknya yang begitu pedas.
Dengan cepat ia bangun berdiri sambil menepok
dada dan berkata: „Hm! Setelah kau berpihak pada
musuhku, sekarang kembali kau menghinakan aku,
apakah itu bukan berarti bahwa persaudaraan kita
terputus sampai di sini?”
Poan Thian dan In Liong yang merasa tidak enak
tinggal menonton saja, lalu merekapun coba campur
bicara, tetapi mereka telah dibentak oleh Bie Tiong Liong
yang mengatakan: „Persetan dengan kamu berdua!
Inilah bukan urusanmu, dimana kau boleh teturutan
membuka bacot!”
Wajah kedua orang muda itu jadi merah jengah,
menyesal dan mendongkol tercampur aduk dalam hati
mereka.
Apabila mereka bukan berada di Ceng-hie-koan dan
di hadapannya Tie Hwie Taysu, niscaya salah seorang
antara mereka sudah turun tangan buat memberikan
501
hajaran pada orang tua yang kurang „penerima” itu.
Tetapi Tie Hwie Taysu yang terlebih siang telah dapat
membaca perasaan kedua tetamunya, dengan lantas ia
menuding pada Tiong Liong sambil membentak: „Dasar
manusia tidak berbudi! Ji-wie Siecu ini bukan takut
padamu, hanyalah karena mereka mengindahkan
kepadaku, maka mereka apa boleh buat tinggal bersabar
dan tidak mengunjukkan aksi apa-apa yang dapat
memperhebat ketegangan ini.
„Maka apabila kau tetap berkeras kepala tidak sudi
diperlakukan dengan baik oleh orang lain, apakah
barangkali kau kepingin supaya peristiwa ini diakhiri
dengan suatu pertempuran yang menentukan pihak
mana yang lebih unggul atau rendah?
„Cobalah kau terangkan dengan secara terbuka di
hadapanku, supaya selanjutnya aku ketahui cara
bagaimana aku dapat bantu membereskan soal-soal
yang tentunya akan terus meruncing bagi kedua pihak,
apabila salah satu pihak belum ada yang suka mengalah
untuk menyudahi perselisihan ini!”
Lic Poan Thian yang tadinya berniat akan menjudahi
saja peristiwa itu untuk mencegah perpecahan
persaudaraan antara Tie Hwie dan Tiong Liong,
sekarang jadi berbalik „sebal” dan tinggal menantikan
saja bagaimana jawabannya sang lawan itu.
„Aku telah mengambil keputusan buat menentukan
siapa di antara kita yang lebih unggul atau rendah!” kata
Bie Tiong Liong dengan suara kaku.
„Kalau begitu,” kata sang toosu sambil menghela
nanas„ aku tak berdaya buat mencegah keruntuhan
salah satu pihak yang mengancam di depan mata! Ya,
apa boleh buat.”
502
Kemudian ia menoleh pada Bie Tiong Liong sambil
berkata: „Jikalau ternyata kau rela akan membela
muridmu yang telah kuketahui bukan seorang baik, itulah
tinggal terserah atas pertimbanganmu sendiri. Karena
biarpun aku selalu berikhtiar buat coba mencegah
perselisihan ini, ternyata masih juga kau berkeras kepala
tidak mau mendengari nasihat-nasihatku yang baik
itu......”
„Kau sendiri berpihak pada musuhku,” Tiong Liong
memotong pembicaraan kakaknya dengan wajah
kemerah-merahan karena gusar, „buat apakah mesti
dibicarakan tentang kebaikanmu, yang hanya berarti baik
bagi pihak musuh dan tidak baik bagi diriku sendiri?”
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh adiknya
itu, Tie Hwie jadi kelihatan semakin mendongkol.
„Jadi dengan perkataan lain,” katanya pada akhirakhirnya.
“kau ingini supaya peristiwa ini dilanjutkan
dengan suatu pertempuran yang menentukan? Aku
ulangi perkataanmu ini: agar supaya selanjutnya kau
jangan menyesal, apabila kau sendiri yang akan
mengalami apa-apa yang tidak enak nanti.”
„Segala risiko akan kutanggung sendiri dan tidak
akan minta pertolongan pada siapapun juga!” kata Bie
Tiong Liong yang kelihatan sudah hilang sabar dan
selalu melirik pada Poan Thian dan In Liong dengan
sikap menantang.
Kedua orang itu yang memang mengharapkan juga
akan lekas dapat mengakhiri perselisihan itu, dengan hati
berdebar-debar tinggal menantikan jawaban Tie Hwie
Taysu yang terakhir.
Begitulah setelah berdiam sejenak, toosu tua itu lalu
bertanya pada Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong: „Apakah
503
kau sekarang telah siap sedia?”
“Aku selalu siap sedia!” jawab yang ditanya dengan
pendek.
Kemudian Tie Hwie menoleh pada kedua orang
tetamunya itu.
„Kamu berdua janganlah menganggap bahwa
omongan yang telah kuucapkan ini hanya berarti mainmain
belaka,” katanya. „Aku telah berdaya sedapat
mungkin buat mendamaikan urusanmu ini, tetapi semua
— sebagaimana kamu juga mendengar sendiri tadi —
tidak berhasil dan tidak dapat tidak diakhiri dengan suatu
pertempuran yang akan menentukan salah satu pihak,
yang mana lebih unggul atau rendah, biarpun sudah
terang, bahwa semua kesalahan telah terjadi karena
kesemberonoannya saudaraku ini.
„Maka buat menghilangkan rasa penasaran
saudaraku ini, aku minta dengan hormat supaya Lie
Siecu suka meladeni ia bertempur beberapa jurus. Bukan
secara main-main, tetapi kau boleh unjukkan ilmu
kepandaianmu seadanya dengan tak usah merasa seejie
lagi.”
Lie Poan Thian yang mendapat anjuran dan
kesempatan akan mengakhiri perselisihannya dengan
jalan bertempur dengan Bie Tiong Liong yang pernah
menggganggu dan melakukan „perang dingin” dengan
memakai nama kakaknya, sudah tentu saja jadi merasa
girang dan lalu mengucap terima kasih atas ijin yang
telah diberikan oleh toosu tua itu.
4.32. Penyelesaian Sengketa “Sin-tui Bie”
„Tetapi oleh karena mengingat bahwa dalam suatu
504
pertempuran tidak semua orang akan „keluar” dengan
badan utuh,” katanya, „maka aku banyak harap supaya
Lo-suhu sudi memaafkan kepadaku, apabila dalam
pertempuran ini aku kesalahan tangan sehingga melukai
pada saudaramu.”
„Ya, ya, itulah memang ada suatu hal lumrah yang
tidak usah kau jelaskan pula kepadaku,” kata Tie Hwie
Taysu, yang berbareng dengan itu, ingin coba
menyaksikan juga sampai di mana kepandaiannya Lie
Poan Thian yang begitu disohorkan orang di kalangan
Kang-ouw sebagai si Kaki Sakti.
Maka dengan mengajak pihak yang bersangkutan ke
suatu lapangan yang agak luas dan terletak di belakang
kelenteng dengan dilingkungi pagar tembok tinggi, Tie
Hwie Taysu lalu kumpulkan semua murid-muridnya buat
turut menyaksikan pertempuran itu, sambil dipesan akan
jangan bersorak-sorak atau menerbitkan suara ribut-ribut
yang akan dapat menarik perhatian orang yang
kebetulan melewat di luar atau di muka kelenteng itu.
Begitulah setelah kedua pihak telah saling
berhadapan di tengah lapangan, Tie Hwie Taysu lalu
memberi tanda bahwa pertempuran itu boleh segera
dimulai.
Dalam pada itu, dengan tidak menunggu lagi sampai
sang toosu selesai berbicara, Sin-siu-tay-seng Bie Tiong
Liong segera menerjang pada Lie Poan Thian dengan
menggunakan siasat Go-houw-pok-yang, atau harimau
kelaparan menerkam kambing.
Ilmu pukulan itu memang amat cepat dan sangat
berbahaya bagi seorang yang kurang paham ilmu silat,
tetapi bagi seorang yang sudah ulung dalam
pertempuran sebagai Lie Poan Thian, ilmu pukulan itu
505
seakan-akan merupakan remeh yang hampir tidak ada
artinya sama sekali.
Tetapi karena ia ada seorang yang tidak suka
memandang ringan pada musuh-musuh dari tingkat yang
mana juga, maka ia selalu bisa berlaku tenang dan
melakukan penjagaan dengan baik pada tiap-tiap
pukulan yang orang telah ajukan kepada dirinya. Apalagi
karena ia telah menduga bahwa Bie Tiong Liong akan
„ngepiah” buat merobohkan padanya sebagai lawan dan
musuh besar dari muridnya sendiri, sudah tentu saja ia
belum mau sudah apabila belum melihat Poan Thian
rebah di tanah dengan mendapat luka-luka parah yang
bisa membahayakan jiwa dan mengalami keruntuhan
nama baiknya yang telah sekian lamanya mengharum di
kalangan Kang-ouw.
Begitupun Lie Poan Thian yang tidak mau dinodakan
namanya oleh seorang yang belum begitu tersohor
sebagai dirinya sendiri, selalu berjaga-jaga dan
menunjukkan kepandaiannya dengan dimulai dari
gerakan-gerakan yang kendor dahulu, kemudian semakin
cepat dalam babak-babak berikutnya.
Poan Thian yang melihat dengan tegas bahwa
letaknya kelemahan pihak musuhnya itu adalah di bagian
kaki, (yang toh dengan secara berani mati ia „membual”
Sin-tui dengan memakai gelaran kakaknya), diam-diam
jadi geli di hati dan kemudian lalu mulai
mempertunjukkan serentetan tendangan-tendangan yang
telah diperlihatkannya di hadapan Bie Tiong Liong,
dengan pengharapan supaya musuh itu bisa mengerti,
bahwa apa yang telah bikin ia terkenal di kalangan Kangouw,
bukanlah SIN-TUI tetiron seperti apa yang pernah
„dipamerkan” oleh Tiong Liong dengan memalsukan
nama julukan orang lain.
506
Sementara Tiong Liong sendiri yang ternyata
mengerti juga apa maksudnya pemuda kita berbuat
begitu, sudah tentu saja jadi amat mendongkol dengan
„sentilan halus” itu. Maka dengan tidak memikirkan pula
akan akibat-akibat dari pada perbuatan-perbuatan yang
dilakukannya pada saat itu, Tiong Liong lalu „ngepiah”
dengan mengajukan berbagai macam ilmu pukulan lihay
yang ia pernah yakinkan seumur hidupnya.
Tetapi karena segala rahasia kelemahannya telah
diketahui cukup jelas, sudah barang tentu tidak sukar
buat Poan Thian membikin setiap gerakannya Bie Tiong
Liong jadi „ngawur”, dengan jalan mengajukan seranganserangan
yang hebat ke arah bagian-bagian yang lemah
dari pihak lawannya itu.
Tie Hwie Taysu yang sekian lamanya menaruh
perhatian atas ilmu tendangan yang dipergunakan oleh
Lie Poan Thian, diam-diam ia jadi memuji di dalam hati
atas kebagusan dan kegesitan pemuda kita yang telah
mempertunjukkan ilmu kepandaiannya itu. Bahkan In
Liong sendiri yang telah sekian lamanya tidak pernah
menyaksikan sang sutee bersilat, dengan tidak terasa
lagi jadi kelepasan omong dan mengatakan: „sungguh
tidak kunyana, bahwa ilmu kepandaianmu telah maju
sedemikian pesatnya!”
Tie Hwie yang mendengar pujian In Liong untuk
alamat adik seperguruannya itu, dengan tersenyum lalu
mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mencampuri
bicara: „Benar, benar. Itulah memang suatu ilmu
tendangan sangat lihay yang pernah kusaksikan seumur
hidupku, walaupun aku sendiri mempunyai nama gelaran
yang sama pada beberapa puluh tahun yang lampau itu.
„Maka dengan menyaksikan ilmu kepandaian Lie
Siecu ini, aku harus akui bahwa adikku yang keras
507
kepala itu bukanlah merupakan lawannya yang setimpal,
hingga kekalahan baginya, hanya tinggal menunggu
beberapa saat lagi saja lamanya.”
Dan selagi Tie Hwie hendak melanjutkan
omongannya, mendadak Tiong Liong yang berkelit
sambil berjongkok dari tendangan Lie Poan Thian yang
dijujukan pada bagian kempungannya, dengan gerakan
secepat kilat telah memukul dari bawah ke bagian atas,
sehingga kalau pukulan itu tidak lekas dihindarkan,
pemuda kita akan menjadi korban terpukul bagian
anggota rahasianya dengan ilmu pukulan Ya-ce-chut-hay
yang sangat berbahaya itu.
Poan Thian sendiri yang menyaksikan Tiong Liong
menggunakan ilmu pukulan itu, bukannya tidak kuatir
atau terperanjat, tetapi karena ia biasa berlaku tenang di
dalam keadaan kesusu, maka sikapnya yang kuatir dan
kaget itu hampir tidak kentara pada paras mukanya.
Semulanya In Liong tidak menyangka akan bahaya
yang sedang dihadapkan suteenya itu, dan ia baru
mendusin setelah melihat Poan Thian menjatuhkan diri
ke belakang dengan menggunakan tipu Say-cu-hwansin,
pukulan Bie Tiong Liong telah jatuh ke tempat
kosong!
„Aih, sungguh tak kunyana, bahwa jalannya
pertempuran bisa jadi begitu rupa!” kata In Liong dengan
rupa terkejut.
Sekarang kita mengikuti pada Bie Tiong Liong, yang
setelah melihat pukulannya luput, segera ia berlompat
bangun dan maju merangsek sambil berniat akan
menendang. Tetapi Poan Thian yang seolah-olah telah
dapat menerka dari di muka apa maunya sang lawan itu,
buru-buru berlompat bangun dan mencelat ke atas
508
dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng, kemudian
di waktu turunnya ke bawah ia telah menggunakan duadua
kepalannya buat menumbuk kepala Bie Tiong Liong
dengan menggunakan siasat Jie-lui-ta-kun-san, atau dua
geledek yang memukul gunung Kun-san.
Orang tua itu telah berhasil dapat mengelakkan salah
satu tinju pemuda kita yang menyamber padanya dari
sebelah atas, tetapi tinju Lie Poan Thian yang lainnya
telah berhasil tiba di bahunya dan bikin ia berteriak
karena kesakitan: „Aduh!”
Tiong Liong roboh dan jatuh terlentang di muka bumi.
Tetapi pada sebelum kaki Poan Thian menginjak tanah,
tiba-tiba ia berlompat bangun sambil meluncurkan
tendangan berantai Wan-yio-lian-hwan-tui!
„Aya!” Poan Thian berteriak dengan hati terkesiap.
Oleh karena gerakan tendangan itu yang amat cepat
dan sukar disingkirkan, maka Tie Hwie dan In Liong pun
jadi teturutan menyebut: „Celaka!”
Dalam pada itu Lie Poan Thian yang melihat tidak
ada jalan lain buat meluputkan diri, segera dengan sebat
ia cekal kaki kiri Bie Tiong Liong yang menendang ke
arah ulu hatinya, tetapi berbareng dengan itu, kaki
kanannya Tiong Liong pun telah sampai, hingga Poan
Thian terpaksa mencekal kaki itu dengan tangan kirinya,
kemudian ia lemparkan orang tua itu sehingga beberapa
belas kaki jauhnya!
„Aya! Celaka!” Poan Thian berkata pada diri sendiri.
Karena biarpun tendangan-tendangan itu tidak
mengenai dengan langsung pada dirinya, sedikitnya ia
bisa rasakan juga bagaimana tenaga yang keluar dari
kaki-kaki yang menendang itu telah berhasil juga melukai
509
dan membikin sebelah paru-parunya tergoncang, biarpun
luka itu tidak seberapa besar atau cukup membahayakan
bagi jiwanya.
Sementara Bie Tiong Liong yang dilemparkan oleh
pemuda kita, segera berputar-putar sampai beberapa
kali, kemudian barulah jatuh ke tanah dan berdiri tegak
bagaikan tak terjadi apa-apa!
„Sungguh bagus sekali ilmu kepandaian saudaramu
ini!” memuji In Liong sambil menoleh pada Tie Hwie
Taysu.
Toosu tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya,
tanpa berkata-kata barang sepatahpun, tetapi matanya
selalu ditujukan pada Lie Poan Thian yang ia tahu telah
mendapat luka karena tendangan saudaranya tadi. Hal
mana, pun bukan tidak diketahui oleh Hoa In Liong,
tetapi ia tidak menjadi kaget atau kecil hati, berhubung
luka itu tidak sukar akan disembuhkannya.
Menurut aturan, Poan Thian tidak boleh melanjutkan
pula pertempuran itu. Ia harus beristirahat dan berobat,
walaupun lukanya itu tidak berapa berbahaya. Tetapi
pemuda kita yang tidak suka mengunjukkan kelemahan
diri sendiri, bukan saja tidak mau berbuat begitu, malah
sebaliknya ia bersumpah di dalam hati, bahwa Bie Tiong
Liong ia harus bisa robohkan dahulu, kalau saja ia mesti
mati dalam pertempuran ini. Dan jikalau seumpama
Tiong Liong tak dapat dikalahkan, ia akan menetapkan
suatu tanggal dimana ia akan bertempur dengan matimatian
dengan disaksikan oleh orang banyak.
Demikianlah, keputusan yang telah diambil oleh
pemuda kita itu.
Maka ketika buat kedua kalinya Tiong Liong maju
menerjang, Poan Thian lalu sengaja berlaku kendor,
510
guna memancing pihak musuhnya akan datang
mendekati.
Sebegitu lekas Tiong Liong membuka serangan baru,
Poan Thian lalu bentangkan kedua tangannya dengan
siasat Pek-ho-liang-cie, atau bangau putih
membentangkan sayap, hingga orang tua she Bie itu
yang menyangka Poan Thian kehabisan tenaga untuk
bergebrak pula dengan ilmu tendangan-tendangannya
yang berat dan meminta banyak tenaga, lalu maju
menerjang dengan ilmu-ilmu pukulan yang cepat dan
dapat menewaskan jiwa. Pada hal ia tidak pernah pikir,
bahwa Poan Thian bisa sapu seluruh ilmu pukulan itu
dengan hanya satu kali jalan saja, ialah menjujukan
serangan kilat pada bagian lemah sang musuh dengan
ilmu tendangan yang ia memang sangat paham.
Maka jikalau ia ingat bagaimana ia telah kena
„dicepol” dengan ilmu tendangan Wan-yio Lian-hwan-tui
oleh Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong tadi, Poan Thian
sungguh malu bukan buatan karena tidak patut akan
seorang ahli dalam ilmu menendang, bisa kena dilukai
dengan ilmu yang dipahaminya itu. Maka buat membalas
atas serangan sang musuh itu tadi, Poan Thian telah
mengambil keputusan akan „mengembalikan” itu dengan
sertai bunganya sekaligus, sehingga dengan begitu, ia
boleh tidak usah merasa penasaran lagi atas
kelalaiannya itu.
Begitulah setelah pertempuran itu berlangsung pula
sampai beberapa belas jurus lamanya, Poan Thian lalu
tunjukkan pula „tangan besinya”, dengan jalan
mempergunakan lain macam ilmu tendangan yang ia
telah sengaja „simpan” karena merasa see-jie pada Tie
Hwie, buat keluarkan itu guna mencelakai pada Bie Tiong
Liong yang menjadi saudaranya.
511
Tetapi kenyataan telah mengunjuk dengan tegas
sekali, bila ia tidak mau turun tangan sebagaimana
mestinya, ia sendirilah yang akhirnya akan menjadi
korban dari sang musuh itu.
Jadi dengan begitu, ia boleh merasa see-jie terhadap
pada toosu itu, tetapi tidak mestinya ia berlaku see-jie
pada Bie Tiong Liong yang menjadi musuhnya. Tidak
perduli akibat apa yang akan dialaminya nanti.
„Jikalau aku tidak berlaku see-jie seperti tadi,” pikir
Lie Poan Thian di dalam hatinya, „niscaya aku tidak
sampai dicelakai orang. Ah! Dasar goblok sekali aku ini!”
Tetapi beras yang sudah menjadi nasi biar
bagaimanapun tak dapat dikembalikan menjadi beras
pula.
Maka setelah menetapkan pikirannya, Poan Thian
lalu ajukan ilmu Sauw-tong Lian-hwan-tui yang telah
diciptakannya sendiri, dan kemudian disempurnakan pula
oleh Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie.
Ilmu tendangan ini agak bertentangan gerakangerakannya
dengan ilmu-ilmu Lian-hwan-tui yang biasa,
oleh sebab itu, maka tidak sedikit ahli-ahli silat yang telah
dirobohkan oleh pemuda kita, berhubung mereka tidak
menyangka sama sekali, bahwa dalam ilmu tendangan
tersebut terdapat gerakan-gerakan yang luar biasa itu.
Demikian juga setelah Tiong Liong menyaksikan
keistimewaan ilmu tendangan yang sekarang diajukan
oleh pihak lawannya, iapun segera dapat
membayangkan sendiri, betapa besarnya bahaya yang
sedang mengancam pada dirinya itu. Tetapi, seperti juga
seorang yang menunggang harimau dan tak berani turun
karena kuatir diterkam, Tiong Liong apa boleh buat
melanjutkan juga pertempuran itu. Walaupun harapan
512
menang dengan mendadak sontak telah buyar bagaikan
awan yang tertiup angin.
Sementara Lie Poan Thian yang melihat musuhnya
telah keteter, segera ia menghujani tendangantendangan
yang amat gencar dan akhirnya telah bikin
Tiong Liong pusing dan jatuh bangun sehingga beberapa
kali, tetapi kekerasan hatinya orang tua itu tidak menjadi
lumer dan tinggal tetap ia berlaku agung dengan tak mau
menyerah mentah-mentah. Oleh sebab itu, pemuda
kitapun jadi semakin sengit dan semakin gencar pula
mempergunakan tendangan-tendangannya.
Dan ketika Tiong Liong terpaksa menyebut: „Lie Poan
Thian! Sekarang aku suka menyerah kalah kepadamu!”
tendangan pemuda kita sudah tak dapat ditahan pula.
Dan berbareng dengan terdengarnya suara yang mirip
dengan dua benda yang saling bertubrukan dengan
hebat. Tiong Liong menjerit dan terlempar ke tengah
lapangan dengan dada melesak dan dari mulutnya
memuntahkan darah hidup yang, menyemprot keluar
bagaikan air yang muncrat dari sebuah pipa yang pecah!
Hal mana sudah barang tentu telah membikin semua
orang yang berkumpul di situ jadi sangat terperanjat.
Lalu Hoa In Liong, Twie Taysu dan toosu kecil yang
menyaksikan pertempuran itu pada datang berkerumun
buat menolong pada orang tua yang celaka itu. Dan
ketika baju Tiong Liong yang penuh darah ditanggalkan,
ternyata pelindung hatinya yang dibuat dari pada baja
tipis telah pecah kena tertendang oleh Lie Poan Thian,
sedangkan pecahan baja itu pada menancap ke dadanya
Tiong Liong yang melesak karena beberapa tulang
rusuknya telah patah!
Menyaksikan keadaan lawannya yang sedemikian
513
payahnya itu, buru-buru Poan Thian maju memberi
hormat pada Tie Hwie Taysu buat meminta maaf atas
kesemberonoannya itu. Tetapi toosu tua itu lantas
berkata justru ada kecelakaan yang aku berniat akan
cegah, tetapi sekarang sudah kasip akan dapat
dihindarkannya. Kau tidak bersalah, Lie Siecu, juga tidak
usah kau menyesal oleh karenanya.”
Maka setelah Tiong Liong diangkut ke dalam
kelenteng dan dirawat luka-lukanya sebagaimana
mestinya, barulah Poan Thian mendapat giliran buat
diobati dan lalu diminta oleh Tie Hwie supaya diapun
suka beristirahat juga di kelenteng itu untuk beberapa
hari lamanya.
Poan Thian mengucapkan banyak terima kasih atas
kebaikan toosu tua itu. Demikian juga In Liong yang
menyaksikan sikap Tie Wie yang sportif itu, tidak lupa
menyatakan kekaguman hatinya dan berterima kasih
atas kesudiannya buat menerima adik seperguruannya
akan menumpang beristirahat di tempat kediamannya.
„Apabila pertempuran itu tidak membawa kesudahan
yang agak hebat itu,” kata Tie Hwie, „Niscaya adikku
belum puas hatinya dan urusan akan tinggal meruncing
terus dengan tidak sudah-sudahnya. Luka-lukanya Tiong
Liong itu memang kelihatan berbahaya, tetapi aku
percaya ia akan dapat disembuhkan setelah meminta
waktu pengobatan dan perawatan yang agak lama. Ia
akan sembuh kembali, tetapi bersamaan dengan itu, ia
akan menjadi cacad dan tak berguna lagi seumur
hidupnya.”
Mendengar keterangan begitu, Hoa In Liong lalu
menyatakan penyesalannya dan persalahkan Poan
Thian yang telah berlaku „terlampau keras”, buat mana ia
menghaturkan maaf sebesar-besarnya atas perbuatan
514
adik seperguruannya itu.
„Tiong Liong bukan anak kecil,” kata sang toosu,
„hingga ia tak boleh menyesal akan memetik buah buruk
dari akibat perbuatan-perbuatannya yang tidak baik itu.”
Demikianlah, setelah mereka beromong-omong pula
buat beberapa saat lamanya, Tie Hwie lalu persilahkan In
Liong akan masuk tidur.
Pada hari esoknya sehabisnya bersantap pagi, Hwat
Lok telah datang melaporkan pada gurunya, bahwa di
luar ada dua orang tetamu yang datang berkunjung
dengan diantar oleh seorang pelayan rumah penginapan
dimana Poan Thian dan In Liong menumpang.
„Kedua orang itu,” katanya lebih jauh, „hendak
mencari pada Lie Kok Ciang dan Hoa In Liong, Ji-wie
Siecu. Tetapi belum tahu apakah Jie-wie Siecu yang
berada di sini bernama begitu atau bukan?”
„Ya, ya, benar,” sahut In Liong, „Itu ada kami berdua
yang mereka cari.”
„Persilahkanlah mereka itu masuk,” kata Tie Hwie
Taysu.
Sementara Poan Thian yang mendengar ada orang
yang mencari pada mereka, lalu berniat akan bangun
dari pembaringan, tetapi Tie Hwie lekas mencegahnya
sambil berkata: „Lie Siecu tidak perlu keluar menyambut
sendiri. Di sini ada Hoa Siecu yang akan mewakilkan
kau.”
„Itu benar,” In Liong menambahkan.
Kedua orang tamu itu yang bukan lain dari pada Cin
Kong Houw dan Lauw Thay, buru-buru memberi hormat
dan mengucap: „Selamat pagi, Lo-suhu! Selamat pagi
Hoa-toako!”
515
„Selamat pagi!” kata Tie Hwie dan In Liong dengan
suara yang hampir berbareng.
„Dari setadian aku telah menduga-duga,” kata In
Liong dengan paras muka yang berseri-seri, „bahwa
kedua orang tamu itu tentunya bukan lain dari pada
kamu berdua.”
„Marilah, silahkan Jie-wie duduk,” kata Tie Hwie
dengan sikap yang ramah-tamah.
Kedua orang itu setelah perintah pelayan tadi kembali
ke rumah penginapan dengan diberikan persenan berupa
uang, mereka lalu menanyakan pada In Liong,
mengapakah Poan Thian tidak tampak di situ?
In Liong lalu tuturkan peristiwa apa yang telah terjadi
pada malam kemarin, hingga kedua orang itu jadi kaget
dan lantas memohon pada Tie Hwie Taysu, supaya
mereka diperbolehkan menyambangi Poan Thian dan Bie
Tiong Liong yang telah menderita luka-luka dalam
pertempuran itu.
„Saudaraku sekarang masih tidur,” kata si toosu.
“Oleh sebab itu, biarlah kita pergi sambangi Lie Siecu
saja.”
Cin Kong Houw dan Lauw Thay menurut. Maka
dengan diantar oleh Tie Hwie, mereka dan In Liong lalu
menyambangi Poan Thian yang rebah di pembaringan
dan dilarang bergerak oleh toosu tua itu.
Tetapi karena Poan Thian tidak diperbolehkan bicara,
maka setelah menyambangi beberapa saat lamanya,
merekapun lalu kembali ke ruangan pertengahan,
dimana Kong Houw dan Lauw Thay disuguhkan air teh
dan sedikit bebuahan kering oleh Hwat Lok, yang selalu
mengerti cara bagaimana buat melayani para tamu yang
516
berkunjung ke kelenteng mereka, sehingga Tie Hwie
tidak perlu lagi akan memerintahkannya cara bagaimana
ia mesti berbuat terhadap pada tamunya itu, tidak perduli
apa ia kenal atau tidak pada orang-orang yang datang
berkunjung itu.
Di sini, setelah mereka saling menyatakan rasa
kagum dan terima kasih mereka atas kebaikan sang
toosu kepada sahabat mereka, Cin Kong Houw lalu
menyatakan pikirannya akan mengajak Poan Thian
kembali ke tempat kediamannya di dalam kota, yang
jaraknya memang tidak berapa jauh dengan kelenteng
itu.
Tetapi Tie Hwie menyatakan tidak berkeberatan buat
merawat dahulu sampai Poan Thian sembuh betul dari
lukanya, barulah kemudian berpindah tinggal ke dalam
kota. Hanya karena Kong Houw meminta dengan sangat,
supaya Tie Hwie tidak usah membikin banyak susah
dengan merawat dua orang yang sakit dengan
berbareng, maka apa boleh buat toosu itupun
mengabulkanlah permintaannya Cin Kong Houw itu.
Maka setelah In Liong pergi membayar uang sewa
rumah penginapan dan sekalian juga mengambil pauwhok
Poan Thian dan punyanya sendiri, lalu ia berpamitan
pada Tie Hwie dan mengikut pada Kong Houw dan Lauw
Thay akan kembali ke kota Kim-leng, buat bantu merawat
Poan Thian yang sebelum pemuda itu boleh bergerak
pula seperti sediakala.
◄Y►
Sebulan telah lalu. Pada suatu hari ketika Poan Thian
tengah duduk pasang omong dengan In Liong dan Kong
Houw suami isteri, mendadak ada seorang piauw-khek
517
yang masuk melaporkan, bahwa di luar ada seorang tua
dari Cee-lam bernama Louw Cu Leng yang minta
bertemu dengan pemuda kita.
Poan Thian yang diberi kabar begitu, dengan tidak
terasa lagi jadi berjingkrak saking kegirangan, karena ia
hampir tidak mau percaya pendengarannya, bahwa
sahabat lawas itu bisa datang juga ke kota Kim-leng
dalam cara yang begitu tiba-tiba.
„Apakah dia itu bukan Sin-kun Louw Cu Leng yang
dahulu pernah bertempur denganmu di kelenteng Tayseng-
tian?” bertanya Hoa In Liong seperti juga orang
yang memikirkan apa-apa.
„Ya, benar,” sahut pemuda kita. „Itulah memang dia,
seorang jago tua yang namanya sangat terkenal di
kalangan Kang-ouw di masa ini.”
Kemudian ia ajak semua orang keluar menyambut
orang tua itu.
Sin-kun Louw Cu Leng meski usianya sudah lanjut,
tetapi gerakan-gerakannya masih gesit dan sama
gagahnya dengan seorang yang usianya baru tigapuluh
tahun lebih. Rambut, misai dan jenggotnya sudah putih
semua, tetapi tubuhnya masih tetap kekar dan kuat,
meski sedikit perubahan terjadi semenjak ia pertama
bertemu dengan pemuda kita, ialah punggungnya
tampak agak bungkuk.
Maka setelah ia dan yang lain-lainnya memberi
hormat, Poan Thian lalu menjabat tangan sahabat itu
sambil berkata: „Aku sama sekali tidak nyana, bahwa
pada hari ini ada angin baik yang telah membawa kau ke
kota Kim-leng. Oleh sebab itu, aku harap supaya Loenghiong
sudi memaafkan, apabila aku tidak keburu
datang menyambut padamu dari kejauhan.”
518
„Ah, buat apa Lao-tee meski berlaku begitu sungkan,
sedangkan kita orang semua toh ada orang-orang sendiri
juga,” kata orang tua itu sambil tertawa.
Setelah itu Kong Houw lalu panggil semua
piauwkhek-piauwkhek buat diperkenalkan pada jago tua
itu, kemudian dengan beramai-ramai mereka
mengadakan beberapa meja perjamuan untuk
menghormati pada Cu Leng, hingga orang tua itu jadi
kelihatan sangat girang atas penyambutan sekalian
sahabat-sahabatnya yang begitu hangat dan ramahtamah.
Dan tatkala Poan Thian menanyakan hagaimana Cu
Leng ketahui yang ia menumpang pada Kong Houw,
orang tua itu lalu tuturkan tentang pertemuannya dengan
Tie Hwie Taysu, dari siapa ia mendapat keterangan
tentang terjadinya pertempuran antara pemuda kita
dengan adiknya si toosu pada beberapa waktu yang
lampau itu, dalam pertempuran mana Tiong Liong telah
menderita luka-luka dan sehingga pada hari itu belum
juga diperbolehkan turun dari pembaringan oleh Tie Hwie
yang menjadi kakaknya.
„Lohu dan Tie Hwie — atau yang di masa mudanya
terkenal dengan nama gelaran Sin-tui Bie — sebenarnya
ada dua orang musuh besar yang saling bersaingan
dengan hebat di kalangan Kang-ouw untuk berebut
gelaran jago,” kata orang tua itu. „Tetapi karena
kemudian kita telah berbalik pikir dan insyaf bahwa cara
kita itu bukan suatu persaingan yang sehat, maka
akhirnya kita lantas saling meminta maaf satu sama lain
atas kegoblokan kita itu, dan semenjak itu kita telah
bersahabat kekal sehingga pada hari ini.
„Aku sendiri sebenarnya tidak tahu-menahu tentang
peristiwa ini atau dimana sekarang Lao-tee berada, kalau
519
saja kemarin malam — ketika aku berkunjung ke Cenghie-
koan — Tie Hwie tidak menceritakan padaku tentang
kejadian ini. Dan dalam pembicaraannya, Tie Hwie
sangat sesalkan adiknya yang keras kepala itu, sehingga
ia mesti mengalami kecelakaan yang membikin ludes
seluruh nama baiknya yang telah mengharum di
kalangan Kang-ouw sekian tahun lamanya.
Sementara dalam omong-omong dengan Tiong Liong
sendiri, aku telah mendapat keterangan-keterangan
banyak sekali tentang segala perbuatannya, bagaimana
ia telah membikin kau mengalami banyak kepusingan,
semenjak ia mengganggu padamu di kelenteng rusak,
sehingga kau bertempur di Ceng-hie-koan dan melukai
padanya, buat mana — dengan secara berterang — aku
sesalkan benar atas perbuatan-perbuatannya yang tidak
baik itu.”
Semua orang mendengari penuturan orang tua itu
dengan penuh perhatian.
„Belum tahu di waktu kau beromong-omong dengan
Tiong Liong,” kata Poan Thian, „apakah ia pernah
menceritakan juga cara bagaimana ia telah berhasil
dapat ,mengambil” pakaianku yang basah ketika aku
sedang bersemedi?”
4.33. Pembunuh Kiriman Ca-kee-chung
„Ya, hal itupun ia telah ceritakan juga kepadaku,” kata
Louw Cu Leng. „yaitu tatkala kau sedang bersemedi,
Tiong Liong yang bersembunyi di atas para di sebelah
atas kepalamu, telah kail pakaianmu dengan
menggunakan galah. Itulah sebabnya mengapa kau tidak
ketahui dengan jalan bagaimana orang telah ambil
pakaianmu.”
520
„Ah!” kata pemuda kita yang sama sekali tidak
menyangka, bahwa pakaiannya telah dicuri secara
demikian.
„Sementara Tiong Liong sendiri yang menyangka
bahwa perbuatannya ini akhirnya akan dapat diketahui
juga olehmu,” kata Cu Leng, „sebenarnya telah bersedia
akan menempur kau di kelenteng rusak itu. Tetapi oleh
karena kau tidak pernah menyangka ia bersembunyi di
atas para, maka urusan telah berlangsung dengan tidak
terjadi apa-apa.
Maka sebegitu lekas kau keluar dari kelenteng
tersebut pada malam itu juga. Tiong Liong lalu bawa
pergi pauw-hokmu dan titipkan itu pada pemilik rumah
makan, yang kemudian telah kau jumpai dan memanggilmanggil
ketika kau berjalan lewat di muka rumah makan
itu.
Si pemilik rumah makan ini, yang memang telah
dipesan oleh Tiong Liong bagaimana ia mesti menjawab
apabila ditanyakan olehmu, sudah tentu saja
memberikan keterangan yang menyimpang, sehingga
kau menyangka bahwa pencuri pauw-hokmu itu adalah
seorang muda, yang kalau aku tidak keliru —
dikatakannya berpakaian biru dengan menyoren
pedang.”
„Ya, ya, benar begitu,” Poan Thian memotong
pembicaraan orang. „Hal mana, pun bersamaan saja
dengan keterangan pelayan rumah makan di Ca-keechung,
yang juga telah disuruh mengatakan begitu oleh
Bie Tiong Liong, tetapi kemudian telah mengaku juga
dengan sebenarnya, setelah aku gertak dan ancam akan
mengambil tindakan keras, apabila ia berani menjustakan
aku.”
521
„Tetapi urusan itu sekarang telah menjadi beres,”
kata Louw Cu Leng, „maka tidak baik akan saling
mendendam mengenai peristiwa-peristiwa celaka itu.
Apalagi ia ada saudara kandung Tie Hwie Taysu atau
Sin-tui Bie yang tulen, maka kita harus pandang padanya
dan mengakhiri permusuhan itu sampai di situ saja.
Karena, biarpun Tiong Liong masih tetap memusuhi
kepadamu, iapun selanjutnya tak akan bisa berbuat apaapa
pula, berhubung ia akan menjadi seorang yang tidak
berguna lagi oleh karena tendangan-tendanganmu itu,
meskipun umpama luka-lukanya itu kemudian dapat
disembuhkan.”
Semua orang menyetujui atas omongan orang tua itu.
Dan tatkala pada akhirnya Kong Houw
memberitahukan pada Louw Cu Leng, bahwa Poan
Thian akan menikah dengan nona Giok Tin, orang tua itu
jadi kelihatan girang dan mengharap akan bisa turut
hadir juga dalam pesta pernikahan itu. Buat mana Poan
Thian yang mengetahui bahwa Louw Cu Leng itu ada
seorang jujur dan tidak pernah salah janji, sudah barang
tentu segera mengucap banyak-banyak terima kasih atas
kecintaan sababat lawas itu.
Demikianlah perjamuan makan minum itu telah
berlangsung sehingga hari menjelang senja, barulah
semua orang pada bubaran dan pergi ke tempat masingmasing
untuk beristirahat.
Pada malam itu Cu Leng bermalam di rumah Kong
Houw dan tidur bersama-sama Poan Thian di sebuah
pembaringan.
„Banyak tahun aku telah hidup di dunia ini,” kata Cu
Leng sambil menguap, „tetapi tidak sama dengan
banyaknya urusan yang kudengar terjadi di luaran seperti
522
juga dalam tahun ini.”
„Benar,” menyetujui Lie Poan Thian.
„Dunia ini sudah tua dan semestinya sudah
mengalamkan beberapa kali perubahan,” Cu Leng
melanjutkan, „tetapi keadaan masih tinggal tetap buruk
dan agaknya akan tinggal tetap begitu, apabila manusia
yang menjadi para penduduknya belum juga mempunyai
keinsyafan akan menuju ke arah perdamaian. Dan
setelah orang ingat pada perdamaian, pada umumnya
sang waktu sudah kasip dan sukar diperbaiki oleh karena
akibat-akibat dari pada kerusakan-kerusakan yang telah
dideritanya itu.
„Sebagai salah satu contoh yang terdekat, aku boleh
kemukakan soalnya Bie Tiong Liong, yang setelah ia
mendapat luka yang sukar dapat memulihkan
keadaannya pada waktu dahulu pula, barulah ia merasa
menyesal atas segala perbuatannya yang sesat itu.....”
„Dan penyesalan itu,” Poan Thian memotong
pembicaraan orang. „tentunya ditimpahkan langsung atas
diriku. Apakah bukan begitu, Louw Lo-enghiong?”
„Hal itu tak pernah aku dengar diucapkannya,” sahut
jago tua itu. „Tetapi meski di dalam hati ia mungkin
bermaksud begitu, tetapi ia sekarang sudah tidak
berdaya lagi akan membalas dendam kepadamu. Ia
sudah cacad.”
„Itu benar,” kata Lie Poan Thian, „ia sudah tak
mampu pula akan melawan padaku, tetapi ia masih
mempunyai mulut yang ada kemungkinan akan dapat
juga menghasut ke kiri kanan, agar supaya aku jadi
celaka di dalam tangan orang lain. Dan meskipun dia tak
dapat berbuat apa-apa, tetapi dengan secara tidak
langsung ia bisa juga membalas dendam dengan
523
menggunakan tenaga orang lain, yang dianggapnya
mempunyai ilmu kepandaian yang seimbang dengan
diriku.”
„Apakah barangkali kau menyangka Tie Hwie akan
dapat dihasut olehnya?” kata orang tua itu, yang seolaholah
hendak menyelami rahasia hati pemuda kita.
„Tie Hwie Taysu itu adalah kakak kandung Tiong
Liong,” kata Lie Poan Thian. „Oleh sebab itu, apakah ia
sesungguhnya merasa rela melihat adiknya dilukai orang
sampai begitu?”
„Kecurigaanmu ini memang sesungguhnya masuk
akal juga,” kata Cu Leng. „Tetapi berdasarkan
pengetahuanku selama aku bergaul dengan Tie Hwie
beberapa belas tahun lamanya, aku rasanya tak percaya,
akan Tie Hwie bertindak hingga sejauh itu, walaupun
Tiong Liong benar saudara kandungnya. Ia ada seorang
jujur yang tidak suka mengeloni pada sesuatu pihak yang
olehnya dianggap bersalah, tidak perduli orang itu sanak
saudaranya atau orang lain. Dan itulah sebabnya
mengapa ia tidak bisa hidup akur dengan adiknya itu.”
„Sudikah kiranya Lo-enghiong menuturkan padaku
bagaimana sikap kedua orang ini, dalam kalangan
persaudaraan mereka menurut apa yang telah kau
ketahui?” bertanya Lie Poan Thian setelah berdiam
beberapa saat lamanya.
„Mereka ini,” sahut Louw Cu Leng, „memang
sesungguhnya tak dapat hidup bersama-sama di satu
tempat. Coba saja kau lihat nanti. Jikalau Tiong Liong
sudah sembuh dan dapat bergerak seperti biasa lagi, ia
lantas berlalu dari Ceng-hie-koan dengan tidak
berpamitan lagi.
„Tiong Liong ini ada seorang yang kurang penerima.
524
Di waktu susah atau kesakitan, ia ingat pada
saudaranya, tetapi dalam kesehatan dan kesenangan, ia
lupa pada saudaranya, hingga tampaknya ia lebih suka
membagi-bagi kesenangan itu pada orang lain dari pada
saudara kandungnya sendiri. Apakah manusia serupa itu
boleh dikasihani orang?”
„Oh. oh, begitu?” kata Poan Thian yang baru tahu
benar tentang perhubungan persaudaraan Tie Hwie dan
adiknya itu.
Maka dengan diperolehnya keterangan-keterangan
dari Louw Cu Leng itu, barulah hati pemuda kita merasa
lebih lega dan tidak antara lama iapun tidak terdengar
berbicara pula.
Demikianpun orang tua itu. Mereka berdua telah
kepulesan, sehingga pembicaraan merekapun telah jadi
terputus sampai di situ.
Pada hari esoknya ketika Kong Houw selesai
melayani duduk bersantap pagi pada jago tua itu dan
sahabat-sahabatnya, mendadak muncul seorang piauwkhek
yang membawa menghadap seorang dari Ca-keechung
yang membawa surat untuk Lie Poan Thian.
„Tuan-tuan,” kata si pembawa surat sambil memberi
hormat pada orang banyak, „apakah boleh aku numpang
tanya, yang mana satu antara kamu yang bernama Lie
Poan Thian Toako?”
Sikap orang itu tidak dapat dikatakan hormat, tetapi
agak congkak dan kasar, hingga ini telah membikin orang
banyak jadi mendongkol dan hampir tidak suka
meladeninya bercakap-cakap.
Tetapi Poan Thian yang disebutkan namanya dan
dicari oleh orang itu, apa boleh buat menahan hatinya
525
yang jengkel dan lalu menjawab: „Itulah aku sendiri.
Belum tahu saudara ada urusan apa mencari padaku?”
„Di sini ada sepucuk surat yang Chungcu-ya perintah
aku sampaikan sendiri kepadamu,” sahut orang itu.
Sambil berkata begitu ia lantas keluarkan sepucuk
surat yang lalu diterimakan kepada Lie Poan Thian.
Tetapi sebegitu lekas Poan Thian mengulurkan
tangannya akan menerima surat itu, tiba-tiba si pembawa
surat telah menggerakkan tangannya secepat kilat dan
menyolok kedua biji mata pemuda kita dengan
menggunakan siasat Thian-ong-tok-tha, atau raja
malaikat menyanggap mercu.
Syukur juga Poan Thian yang dari setadian telah
memperhatikan dengan teliti gerak-gerik orang, lebih
siang telah berjaga-jaga dan mengerti tentang datangnya
gelagat yang tidak baik itu. Maka sebegitu lekas orang itu
menggerakkan tangannya buat menyolok ke arah
matanya, buru-buru ia miringkan kepalanya sambil
dengan tangan kirinya menyampok tangan orang itu,
sedangkan kaki kanannya lantas menendang sambil
membentak: „Kurang ajar! Tidak kunyana kau telah
datang ke sini buat mencari setori! Mari, mari, kita boleh
bertempur di atas pekarangan yang luas di luar halaman
ini!”
Sementara orang itu setelah menghindarkan diri dari
pada tendangan pemuda kita, iapun buru-buru berlompat
keluar sambil menantang „Ayo! Marilah kita menentukan
siapa salah seorang antara kau dan aku yang lebih
unggul atau rendah!”
Sementara orang banyak yang mendengar tantangan
itu, sudah tentu saja jadi sangat mendongkol dan lalu
berlomba akan meladeninya bertempur, tetapi Lie Poan
526
Thian segera berseru: „Kamu sekalian tidak usah campur
tangan! Aku yang ditantang maka aku jugalah yang
harus meladeninya!”
Begitulah setelah mereka berada di atas sebidang
pekarangan yang luas, dengan tidak banyak bicara lagi
kedua orang itu seeera bertempur sambil mengunjuk ilmu
kepandaian masing-masing, hingga para piauw-khek
yang tidak mengetahui sebab-musabab pertempuran itu,
semua jadi pada melongo dan kemudian mengatakan:
„Mengapa sih tak hujan tak angin lantas jadi bertempur?
Ai, sungguh tidak salah jikalau orang yang tua-tua
mengatakan: „mencari musuh gampang, tetapi mencari
sahabat yang jujur terlalu sukar.”
Padahal mereka tak tahu peristiwa apa yang telah
terjadi dibalik tabir yang meliputi keheranan mereka itu.
Siapakah orang itu? Dan karena apakah dengan
secara sekonyong-konyong ia melakukan penyerangan
kilat terhadap pemuda kita yang agaknya ia belum kenal
sama sekali?
Demikianlah orang banyak telah bertanya pada diri
sendiri, selama menyaksikan pertempuran yang maha
dahsyat itu.
Ilmu silat orang itu ternyata tak dapat dicela. Ia
bergerak dengan gesit bagaikan seekor kera, sedangkan
kaki tangannya digerakkan dengan sama cepat dan
gencarnya untuk memukul dan menendang lawannya.
Tetapi Poan Thian yang dihujani jotosan dan
tendangan, bukan saja tidak balas menyerang atau
mengunjukkan tendangan-tendangannya yang terkenal,
malah sebaliknya sambil melawan bertempur sambil ia
mundur, seakan-akan orang yang kena terdesak. Hal
mana, telah membuat orang banyak yang menyangka
527
bahwa Poan Thian masih lelah karena baru baik dari
lukanya, sudah tentu saja jadi kuatir dan menyaksikan
pertempuran itu dengan hati berdebar-debar.
Tidak tahunya ketika pertempuran berlangsung
beberapa jurus lamanya, mendadak pemuda kita telah
merubah silatnya dengan secara yang amat tiba-tiba
yaitu, jikalau pada semula ia kelihatan sabar dan lebih
banyak bersikap menjaga, adalah sekarang tiba-tiba ia
telah berubah jadi beringas dan berbalik menyerang
pada lawannya dengan sikap yang tidak mengasih hati.
Dan jikalau semula lawan itu boleh tersenyum, adalah
sekarang ia jadi meringis dan berkelit kian-kemari untuk
menghindarkan diri dari pada tendangan-tendangan Lie
Poan Thian yang semakin lama jadi semakin gencar.
Dan tatkala serangan-serangan itu telah sampai pada
titik yang terhebat, penglihatan orang itu jadi kabur dan
akhir-akhirnya terpaksa mundur karena tidak tahan
dicecer terus-menerus dengan tendangan-tendangan
kilat yang tampaknya dilakukan oleh beberapa orang,
walaupun kenyataan mengunjukkan dengan jelas, bahwa
di situ hanya ada satu Lie Poan Thian yang sedang
meladeninya bertempur di saat itu!
Orang itu, ketika melihat tidak ada jalan lain untuk
dapat mengalahkan pemuda kita, buru-buru ia
membalikkan badannya dengan maksud akan melarikan
diri. Tetapi, apa celaka, pada sebelum ia berhasil bisa
berbuat begitu, kaki Poan Thian telah menyapu kaki
lawan itu, hingga dengan dibarengi oleh satu jeritan
ngeri, orang itu telah terlempar dan jatuh di suatu tempat
yang terpisah beberapa belas kaki jauhnya dalam
keadaan pingsan, berhubung tulang kakinya telah patah
kena tersabet oleh tendangan Lian-hwan Sauw-tong-tui
pemuda kita yang terkenal sangat lihay itu.
528
„Celaka!” Poan Thian berseru, karena ia sama sekali
tak menyangka. bahwa tendangan itu akan
mengakibatkan kecelakaan di luar dugaannya.
Tahu-tahu ketika kemudian ia tersadar dari
pingsannya, orang itu telah dapatkan dirinya terbaring di
atas ranjang dengan kaki yang patah tulangnya telah
dibalut orang sebagaimana mestinya. Dan ketika melihat
Poan Thian pun berada di situ dengan dikawani oleh In
Liong, Kong Houw dan piauwkhek-piauwkhek yang
lainnya, orang itu jadi kelihatan terperanjat dan buat
beberapa saat lamanya tinggal menundukkan kepalanya
dengan tidak berkata-kata barang sepatah katapun.
Tetapi Poan Thian yang tidak mau menghinakan
orang yang telah menjadi pecundangnya, dengan sikap
yang tenang ia lantas berkata: „Saudara, antara kau dan
aku sebenarnya tidak pernah terbit permusuhan apa-apa,
bahkan bertemu denganmu pun saja pada kali ini.
Apakah sebab-musabab yang telah membikin kau begitu
memusuhi aku?”
Orang itu jadi menghela napas dan berkata: „Lietoako,
aku mohon dengan sangat, supaya kau sudi
memaafkan pada sebelum aku berbicara.”
„Ya, aku bersedia akan memaafkan kepadamu,” kata
Lie Poan Thian. „Kau tidak perlu berlaku malu atau takut
akan berbicara dengan secara terus terang di hadapan
kita sekalian.”
„Aku ini adalah seorang suruhan dari Hek-houw-lie
Cian Cong dari Ca-kee-chung,” kata orang yang celaka
itu. „Olehnya aku telah dijanjikan sejumlah upah yang
besar sekali, guna mencelakai pada dirimu sehingga
namamu menjadi ternoda di kalangan Kang-ouw.”
„Aku dan Cian Cong tidak pernah terbit permusuhan
529
apa-apa,” kata pemuda kita dengan heran. „Juga aku
tidak kenal siapa dia itu. Oleh sebab itu, apakah kau bisa
memberikan sedikit keterangan kepadaku, karena apa
dia memusuhi aku?”
„Tentang ini aku tidak tahu jelas,” kata orang itu.
„Kau ini siapa?” Kong Houw mencampuri bicara.
„Aku bernama Teng Kie,” sahut orang yang ditanya.
Mendengar nama itu, Hoa In Liong jadi turut juga
berbicara dan menanyakan: „Apakah kau ini bukan Teng
Kie yang di kalangan Kang-ouw dikenal orang dengan
nama gelaran Sin-kauw-jie?” (Sin-kauw-jie berarti si kera
sakti).
„Ya, benar,” sahut Teng Kie dengan rupa malu.
In Liong jadi membanting kaki sambil menggerutu:
„Sayang, sayang! Kau telah mempertaruhkan nama
baikmu oleh karena kemaruk dengan upah besar. Tidak
kunyana bahwa urusan bisa jadi begitu......”
Tetapi ia tidak melanjutkan terus omongannya,
berhubung kuatir Teng Kie akan jadi tersinggung dan
berbalik menjadi sakit hati kepadanya.
„Sekarang cobalah kau boleh lanjutkan omonganmu,”
Poan Thian menganjurkan.
Teng Kie sambil menahan rasa sakit dan malu lalu
menuturkan sebagai berikut:
Pada suatu hari ketika kembali ke Ca-kee-chung dari
Hang-ciu, Teng Kie telah mendapatkan Ca Tiauw Cin
telah menjadi seorang cacad karena dilukai oleh Lie
Poan Thian. Tatkala itu Teng Kie telah menyatakan
pikirannya akan membalas dendam pada pemuda kita,
tetapi niatan itu telah dicegah oleh Ca Tiauw Cin yang
530
mengatakan, bahwa ia tidak menyesal mengalami
kecelakaan itu. „Aku rela dirobohkan oleh seorang yang
namanya begitu tersohor seperti Lie Poan Thian,”
katanya. „tetapi aku tidak bisa terima dengan begitu saja,
jikalau Lie Poan Thian itu ada seorang Bu-beng Siau-cut.
Selain dari itu, aku tahu juga bahwa kau sendiri bukan
tandingan Lie Poan Thian, maka itu aku nasehatkan
kepadamu, janganlah kau coba memusuhinya tanpa
sebab.”
Teng Kie yang mendengar omongan Chungcu itu,
dimulut ia mengatakan „ya”, tetapi di dalam hati ia masih
sangat penasaran dan berjanji pada dirinya, akan di
suatu waktu menjajal sampai dimana kepandaian orang
yang begitu disohorkan oleh induk semangnya itu. Maka
pada suatu hari ketika ada seorang tamu yang
berkunjung ke Ca-kee-chung buat menjumpai Hek-houwlie
Cian Cong, di situlah Teng Kie telah diberi
kesempatan oleh Cian Cong dengan membelakangi
perintah Ca Tiauw Cin yang telah menjadi cacad, akan
coba melawan bertempur pemuda kita dengan dijanjikan
upah seribu tail perak, apabila ia mampu mengalahkan
Lie Poan Thian sehingga namanya jadi tercemar di
kalangan Kang-ouw.
Dan tatkala Poan Thian menanyakan, apakah Teng
Kie kenal siapa nama tamu yang mencari Cian Cong itu,
ia mendapat jawaban dia itulah bernama Hok Cit.
„Oh. oh, tidak tahunya dia itulah yang hendak
mencari setori pada kita?” kata orang banyak ketika
mendengar Teng Kie menyebut nama penjahat muda itu.
„Boleh, boleh, aku bersedia buat ,,tangani” semua
sisa berandal dari Jie-sian-san itu,” kata Lie Poan Thian
sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
531
Kemudian ia menoleh pada Teng Kie buat minta
penjelasan terlebih jauh.
„Pada waktu kau berangkat ke sini,” tanyanya.
„apakah Hok Cit itu masih ada di Ca-kee-chung?”
„Ya, sehingga hari inipun dia mungkin masih berada
di sana,” sahut Teng Kie.
„Membabat rumput harus dicabut dengan akarakarnya,”
Poan Thian menggerutu dengan tak tentu
kemana juntrungannya.
Sekarang ia mulai tahu jelas. mengapa Teng Kie bisa
datang mencarinya ke kota Kim-leng dengan menyamar
sebagai seorang pembawa surat.
„Apakah kau kenal siapa Hok Cit itu?”
„Tidak,” Teng Kie menggelengkan kepalanya.
„Apakah dia kelihatan bersahabat rapat dengan Hekouw-
lie Cian Cong?”
Teng Kie membenarkan pertanyaan itu.
.,Kalau begitu,” kata pemuda kita. „mungkin juga Cian
Cong telah dihasut oleh dia itu, sedangkan kau sendiri
telah dijadikan alat mereka. Tidak bisa salah lagi.”
Kong Houw yang melihat sikap Poan Thian terhadap
pada pecundangnya itu, iapun lalu mendekati ke muka
ranjang sambil berkata: „Suudara, sekarang kau boleh
berdiam dan berobat di sini sehingga beberapa hari
lamanya. Apabila kau merasa haus atau lapar, panggillah
pelayan-pelayan yang akan kuperintahkan berdiam di sini
untuk melayani segala keperluanmu. Kau tidak usah
merasa sungkan apa-apa, dan anggaplah bahwa rumah
ini adalah rumahmu juga.”
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Teng
532
Kie jadi sangat berterima kasih dan malu bukan main
mendapat perlakuan yang justru sebaliknya dari pada
apa yang semula dipikirkannya. Dan jikalau ia bisa berdiri
dengan tegak, ia tentu sudah bersoja dan berlutut buat
menyatakan bertobat atas perbuatannya yang sangat
hina dan rendah itu.
Lebih-lebih tatkala ia tahu bahwa orang yang menjadi
tuan rumah itu adalah Cin Kong Houw, pemimpin dan
pemilik Siang-hap Piauwkiok, Teng Kie jadi terperanjat
dan berkata: „Tuan Cin. kepadamu aku harus
menghaturkan beribu-ribu maaf, buat kesukarankesukaran
yang kau telah alami selama kehilangan
bendera lambangmu pada beberapa waktu yang telah
lampau itu. Karena bendera lambang itu bukan dicuri
oleh Ca Chung-cu sendiri, hanya tangankulah yang telah
mencurinya. Tetapi aku harus puji Ca Chung-cu sebagai
seorang Tay-tiang-hu sejati, berani berbuat, juga berani
memikul risikonya. Itulah sebabnya mengapa ia tidak
mengatakan bahwa pencurian itu telah dilakukan
olehku.”
„Jadi dengan begitu,” kata Lie Poan Thian, „inilah ada
buat kedua kalinya kau diperintah akan melakukan
pekerjaan dengan...... secara bergelap?”
„Ya,” sahut Teng Kie sambil menundukkan
kepalanya, karena merasa sangat menyesal dan malu
dengan perbuatannya sendiri.
„Seorang yang perbuatannya sesat tetapi kemudian
insyaf dan bersedia akan berbuat baik, itulah masih
belum kasip akan dipimpin menjadi seorang baik,” kata
Louw Cu Leng yang bermaksud buat menyadarkan
pikiran Teng Kie yang telah terliput oleh pengaruhpengaruh
yang tidak baik.
533
„Ya, benar,” sahut Teng Kie. „Dari itu, aku rasanya
kepingin mati saja karena penyesalan-penyesalan yang
aku harus timpakan atas diriku sendiri.”
„Kau jangan putus asa,” kata jago tua itu. „Dan jikalau
kau tidak buat celaan, aku bersedia akan mendidik
padamu ke jalan yang benar, yang aku percaya akan
membawa bahagia bagi penghidupanmu yang bakal
datang. Kau masih muda, mengapakah tidak berusaha
untuk hari kemudianmu? Tuan Cin di sini mempunyai
perusahaan angkutan yang meminta banyak orang yang
paham ilmu silat buat menjadi pengantar kereta piauw.
Oleh karena itu, aku pujikan benar, jikalau nanti kau telah
sembuh dari lukamu, akan membantu pada tuan Cin di
sini, yang tentu bagimu akan lebih baik sepuluh kali dari
pada berkeliaran di kalangan Kang-ouw dengan tidak
tentu tujuannya. Hanya belum tahu pikiranmu
bagaimana?”
Teng Kie tidak mampu mengucapkan barang sepatah
perkataan. Ia jadi begitu terharu dan berterima kasih atas
nasihat-nasihat orang tua itu, sehingga dengan tidak
terasa lagi ia mangucurkan air mata oleh karena
menyesal atas segala perbuatannya yang sudah-sudah.
Sementara Kong Houw dan orang banyak yang pada
menyaksikan begitu, semua jadi merasa kasihan dan
berjanji akan sedapat mungkin bantu membukakan jalan
untuk Teng Kie menjadi seorang baik.
Dan sesudah mereka pada berlalu dan berkumpul di
ruangan pertengahan, di situ Poan Thian lalu
menyatakan pikirannya akan mencari pada Hok Cit, yang
ia percaya akan mengacau terus menerus apabila ia
belum dikasih hajaran yang, cukup hebat.
Tetapi hampir semua orang menyatakan tidak
534
mufakat, akan Poan Thian berlaku begitu tergesa-gesa.
4.34. Penguasa Ca-kee-cung?
„Memotong rumput harus dicabut dengan akarakarnya,”
kata pemuda kita. „Buat apakah mesti ditinggal
separuh-separuh?”
„Itu benar,” kata Hoa In Liong. „Tetapi kau harus
jangan lupa, bahwa itulah ada urusan remeh. Ingatlah,
seekor naga boleh menjagoi di lautan, tetapi tak dapat ia
berbuat begitu dalam sebuah sungai, dimana ada
kemungkinan ia diganggu oleh kawanan udang.”
„Itu benar, itu benar. Aku mufakat,” kata Louw Cu
Leng sambil tertawa.
Tetapi Poan Thian tetap berkeras akan mencari juga
pada Hok Cit, hingga orang banyak tidak bisa mencegah
lagi akan pemuda kita pergi mencari pada sisa berandal
dari Jie-sian-san itu, yang menurut keterangannya Teng
Kie, ada kemungkinan masih berada di Ca-kee-chung.
„Kedatanganku ke sana,” katanya, „bisa
dipergunakan sebagai pelabi akan menyambangi pada
Ca Tiauw Cin yang telah kulukai sehingga cacad itu.”
Begitulah setelah minta supaya Kong Houw sudi
melayani Louw Cu Leng dan Hoa In Liong sementara ia
pergi „membereskan perhitungan” dengan Hok Cit di Cakee-
chung, pemuda itu lalu menyatakan juga
menyesalnya pada orang tua itu dan kakak
seperguruannya, bahwa ia tidak bisa melayani mereka
sebagaimana mestinya, berhubung ia tak senang akan
Hok Cit yang berada di luaran masih saja mencari garagara
dan menghasut ke kiri-kanan untuk membikin ia jadi
bertambah banyak musuh dan dibenci orang tanpa
535
alasan yang bisa masuk diakal.
Maka dengan hanya membawa beberapa stel
pakaian saja, pedang hadiah dari In Cong Sian-su dan
kantong kulit yang berisikan senjata-senjata rahasia,
pemuda kita segera berangkat ke Ca-kee-chung dengan
menunggang seekor kuda yang dapat berlari cepat.
◄Y►
Dan tatkala melakukan perjalanan sehingga
beberapa hari lamanya, akhirnya sampailah ia di muka
gerbang desa Ca-kee-chung, dimana ia lantas minta
salah seorang pengawal akan pergi memberitahukan
pada Ca Tiauw Cin tentang perkunjungannya itu, tetapi di
luar sangkaannya ia memperoleh jawaban bahwa
Chungcu-ya justru keluar bepergian. Oleh sebab itu,
maka si pengawal minta supaya Poan Thian suka
kembali lagi nanti, dua atau tiga hari pula kemudian.
Oleh karena mendengar keterangan itu, Poan Thian
terpaksa pergi mencari rumah penginapan untuk
berikhtiar, cara bagaimana ia bisa mencari Hok Cit yang
saban-saban telah membuat ia mengalami banyak
kesukaran. Bahkan kalau ia bisa bertemu dengannya di
saat itu, niscaya ia akan bunuh padanya dengan tidak
ampun lagi.
Demikianlah sambil dahar di rumah penginapan,
Poan Thian berpikir dengan tidak henti-hentinya.
Lama-lama timbul ingatan dalam hatinya akan
menerobos saja ke Ca-kee-chung. Tetapi karena
mengingat bahwa Ca Tiauw Cin sekarang sudah menjadi
seorang baik, ia jadi tidak enak buat berlaku semberono,
memasuki rumah orang dengan tidak mengindahkan
536
kepada orang yang menjadi tuan rumahnya. Sebaliknya,
jikalau dibiarkan saja Hok Cit diberi ketika akan merat,
lalu segala kecapaiannya yang dari jauh datang ke situ
dengan maksud khusus untuk membereskan perhitungan
dengan sang musuh itu, akan menjadi sia-sia belaka.
Oleh karena itu, bagaimanakah ia harus berbuat
sekarang?
Pikirannya bekerja dengan keras, tetapi
pemecahannya belum juga dapat diperoleh.
„Pelayan,” ia berkata, „cobalah bawakan pula aku
dua kati arak.”
Si pelayan yang memang telah pernah kenal pada
pemuda kita, tentu saja heran dan balik bertanya: „Tuan,
hari ini tidak sari-sarinya kau minum banyak, sedangkan
di waktu biasa, hanya kau minum sekadarnya saja.”
Poan Thian tertawa.
„Aku sebenarnya telah lupa,” katanya, „bahwa hari ini
adalah hari ulang tahunku. Aku di sini tidak punya
kenalan atau sanak saudara, oleh karena itu, sudikah
kau menemani aku duduk makan minum sambil
mengobrol buat melewati waktu yang terluang?”
Si pelayan itu kelihatan ragu-ragu.
„Tuan,” katanya, „aku ini adalah seorang pelayan
yang tugasnya khusus untuk melayani para tamu yang
menumpang menginap di sini, tetapi bukan mestinya
akan melayani para tamu bermakan minum. Induk
semangku akan menjadi kurang senang dan
menganggap aku kurang ajar, kalau saja aku berani
berhuat begitu.”
„Ya, tetapi inilah ada kehendakku sendiri,” kata Lie
Poan Thian sambil tertawa. “bukan kau yang sengaja
537
berbuat begini atas kehendak sendiri. Dan jikalau nanti
induk semangmu datang menegur kepadamu, aku suka
pikul risiko dan menjawab semua tegorannya.”
„Kalau begitu,” kata si pelayan, „aku bersedia akan
mengabulkan permintaanmu, dengan terlebih dahulu aku
mengucap Selamat ulang tahun! Semoga Thian memberi
kurnia panjang umur dan bahagia bagi dirimu dalam
tahun-tahun yang akan datang.”
Poan Thian mengucapkan terima kasih atas
pemberian selamat si pelayan itu.
„Tetapi karena aku bukan orang kaya,” katanya,
„maka perayaan ulang tahun ini hanya dapat kurayakan
dengan seada-adanya saja.”
„Tetapi siapa tahu perayaan ini akan dirayakan
dengan lebih besar dan mewah pada lain tahun?” kata si
pelayan itu dengan wajah yang berseri-seri. „Ingatlah,
tuan, bahwa segala apa yang besar tidak dimulai dengan
secara besar-besaran.”
„Itu benar,” kata pemuda kita. „Sekarang aku
persilahkan kau memilih makanan dan minuman yang
digemari sendiri olehmu. Nanti rekeningnya aku bayar
sekalian dengan makanan yang telah aku pesan tadi.”
Si pelayan itu jadi kelihatan girang dan lalu pergi
mengambil makanan dan minuman itu tanpa diperintah
sampai dua kali.
Dan tatkala makanan dan minuman itu telah
disajikan, Poan Thian lalu persilahkan si pelayan akan
duduk makan minum bersama-sama.
Tetapi ketika ia persilahkan si pelayan minum
beberapa cawan arak dan mengobrol dengan gembira,
mendadak pemuda kita telah bertanya: „Ah, barusan aku
538
telah lupa menanyakan siapa she dan namamu.”
4.34. Penguasa Ca-kee-cung?
„Aku bernama Kwie Jie,” sahut si pelayan sambil
dahar santapannya dengan secara bernapsu sekali.
„Aku sekarang justru sedang bo-thauw-lo,” begitulah
Poan Thian pura-pura berkata. „Aku dengar Ca Chung-cu
kini sedang mengundang orang-orang yang paham ilmu
silat buat dijadikan kauw-su di gedungnya, tetapi ia tidak
mau terima sembarangan orang yang tidak punya sanak
saudara atau sedikit-sedikitnya mempunyai kenalan yang
berdiam di dalam desa ini. Oleh sebab itu, apakah
saudara sudi mengajak aku ke gedungnya Ca Chung-cu
buat melamar pekerjaan itu, dengan mengakui bahwa
aku inilah seorang sanak saudara atau handai
taulanmu?”
„Oh, itulah suatu pekerjaan yang gampang sekali,
aku juga bisa minta perantaraan mereka buat
memperkenalkan kau pada Ca Chung-cu. Tetapi belum
tahu kapan kau hendak pergi ke sana?”
„Aku sendiri baik menunggu saja di sini dahulu,” kata
pemuda kita, „sedangkan kau sendiri boleh berhubungan
pada salah seorang kenalanmu di sana, sambil
menerangkan juga niatanku akan meminta pekerjaan
tersebut. Tetapi belum tahu apa ini tidak menyusahkan,
apabila urusan diatur begitu rupa?”
„Tidak, tidak,” sahut Kwie Jie. „Malah kalau aku
sendiri yang bantu bicara, aku percaya dalam sepuluh
tentulah ada sembilan bagian yang mesti bisa berhasil.”
„Apabila dengan pertolonganmu itu aku bisa berhasil
bekerja di gedung Ca Chung-cu,” kata Lie Poan Thian,
539
„niscaya aku tidak lupakan atas budi kebaikanmu itu.”
„Itu perkara kecil,” kata si pelayan itu sambil tertawa.
„Sebentar sore aku tanggung kau sudah mendapat kabar
baik.”
„Syukurlah kalau usahamu itu bisa berhasil,” sahut
Poan Thian yang lalu berpura-pura juga tertawa buat
mengunjukkan kegirangannya.
Tidak antara lama setelah si Kwie Jie kelihatan mulai
sinting, Poan Thian lalu menggunakan ketika itu buat
coba menanyakan tentang hal-hal yang bersangkutan
dengan keadaan di Ca-kee-chung. Misalnya, bagaimana
pandangan si pelayan itu terhadap dirinya Ca Tiauw Cin,
siapa orang kepercayaannya, dan soal-soal lain yang
tidak ada kepentingannya untuk dijelaskan satu persatu.
Si Kwie Jie iang diloloh dan ternyata tahu benar
tentang keadaan di dalam desa tersebut, sudah tentu
saja lantas berbicara ke timur dan ke barat buat
mengunjukkan bahwa ia ada seorang „ahli” dalam hal
memberikan keterangan-keterangan yang bersangkut
paut dengan keadaan desa yang didiaminya itu.
Dari keterangan-keterangan yang diperolehnya dari
Kwie Jie, Poan Thian segera ketahui, bahwa Ca Tiauw
Cin itu sebenarnya bukan orang jahat, tetapi sifatnya
memang benar congkak, tidak suka mengunjuk
kelemahan diri sendiri dan agak „gila hormat”.
„Ia itu sekarang telah cacad karena dilukai oleh Sintui
Lie Poan Thian,” kata Kwie Jie yang sama sekali tidak
mendusin, bahwa tetamunya itu adalah orang gagah dari
utara yang disebutkan namanya itu. „Tetapi ia kelihatan
tidak menjadi menyesal, karena ia insyaf, bahwa semua
itu telah disebabkan oleh karena kekeliruannya sendiri.”
540
„Keterangan itu cocok benar dengan keterangan
Teng Kie,” kata Poan Thian di dalam hatinya.
„Tetapi karena ia sekarang telah menjadi cacad,”
Kwie Jie melanjutkan, „maka pengaruhnya telah hampir
lenyap sama sekali, sehingga Hek-houw-lie Cian Cong
yang menjadi orang kepercayaannya, hampir tidak mau
bertunduk lagi di bawah perintahnya. Dan jikalau sampai
hari ini Cian Cong masih berada di sana, adalah karena
aku kira ia hendak merampas hartanya Ca Chung-cu
dengan menggunakan tenaga orang dalam yang sedikit
demi sedikit telah kena juga dipengaruhinya. Bahkan
setiap sahabat Ca Chung-cu yang sengaja datang
berkunjung untuk menyambanginya, hampir selalu ditolak
oleh Cian Cong ini, dengan mengatakan bahwa Chungcu
keluar bepergian buat beberapa hari lamanya.
Padahal Chungcu-ya semenjak menjadi seorang cacad,
tak pernah keluar bepergian kemana-mana. Malah keluar
pintu saja belum pernah aku dapat lihat.
„Sementara lain hal lagi yang telah membikin banyak
penduduk desa ini berkuatir, adalah selama ini Cian
Cong selalu mengundang kambrat-kambratnya buat
berdiam sama-sama di gedung Ca Chung-cu, dengan Ca
Chung-cu sendiri kabarnya tidak tahu menahu tentang
urusan ini, berhubung orang-orang sebawahannya telah
„ditutup mulutnya” dengan menggunakan persenanpersenan
yang besar serta dipesan akan jangan
menyampaikan sesuatu gerakan yang telah dilakukannya
dengan secara diam-diam di belakang pengetahuan
induk semang mereka itu.
„Maka supaya kau bisa berhasil bekerja di gedung Ca
Chung-cu, kukira tidak ada jalan lain yang lebih baik dari
pada coba „menempel” pada Hek-houw-lie Cian Cong ini.
Karena tanpa persetujuan gundal yang licin ini,
541
maksudmu itu pasti tak akan berhasil.”
„Kalau begitu,” kata pemuda kita, „cara bagaimana
urusan ini hendak kau aturnya?”
„Dalam hal ini tidak usah kau kuatir,” sahut Kwie Jie.
„Aku nanti atur begitu rupa sehingga kau bisa berhasil
bekerja di gedung Ca Chung-cu. Percayalah padaku,
tuan Lie.”
Lie Poan Thian diam-diam menjadi girang juga di
dalam hatinya.
Maka setelah mereka puas bermakan minum, tidak
lupa pemuda kita telah „selipkan” juga beberapa buah
uang perak di telapak tangan pelayan itu.
Kwie Jie yang „mengerti” maksud Lie Poan Thian,
mula-mula telah berpura-pura berlaku see-jie dan hendak
menolak pemberian itu, tetapi ketika Poan Thian
memaksa beberapa kali, barulah ia mau terima juga
hadiah itu, yang dikatakannya sebagai „tanda
persahabatan”. Kemudian ia berlalu setelah memesan
supaya Poan Thian jangan pergi kemana-mana,
sementara ia menantikan kabar baik dari Ca-kee-chung.
Poan Thian berjanji akan berbuat begitu.
Pada petang hari itu, Kwie Jie telah kembali dari
luaran dan mengunjungi pemuda kita di kamarnya
dengan wajah yang berseri-seri.
„Beruntung, beruntung,” katanya. „Ketika aku datang
menghadap pada Cian-ya dan terangkan maksud
kedatanganku, ia lantas menyatakan tidak berkeberatan
akan menerima kau sebagai salah seorang kauw-sunya.
Aku katakan, bahwa kau adalah seorang saudaraku dari
pihak ibu. Maka kalau nanti kau datang menghadap
padanya, jangan lupa buat mengaku begitu, ya?”
542
„Baik, baik,” kata Lie Poan Thian yang merasa
mendapat suatu jalan akan mencari Hok Cit di sana.
„Bilamanakah aku dapat menghadap kepada Cian-ya?”
„Petang hari inipun boleh,” sahut Kwie Jie. “Malah
kalau kau suka, akupun boleh juga pergi mengantarkan
kau ke sana.”
„Itu tidak perlu menyusahkan kepadamu,” kata
pemuda kita. „Biar saja aku nanti jumpai sendiri
kepadanya. Tetapi belum tahu bagaimana bentuk tubuh
dan roman Cian-ya itu?”
Kwie Jie lalu coba melukiskan raut muka dan
perawakan Cian Cong dengan menggunakan kata-kata
dan gerakan-gerakan dengan tangannya.
„Cian-ya ini orangnya tidak berapa tinggi,” katanya.
„Kira-kira lebih tinggi sedikit dari pada kau sebegini.”
Sambil ia petakan dengan tangannya yang diangkat ke
sebelah atas kepala Lie Poan Thian. „Badannya agak
gemuk.” (Sambil membentangkan kedua tangannya ke
kiri-kanan). „Usianya lebih tua dari padamu. Kulitnya
kehitam-hitaman. Dan jikalau kau masih merasa raguragu,
tanyakanlah keterangan lebih jauh pada pengawal
yang bernama Tong Yan, dia tentu akan memberikan
keterangan padamu sebagaimana mestinya. Katakan
saja bahwa kau datang ke sana atas perantaraannya
Kwie Jie, dia tentu akan menolong kepadamu.”
„Baik, baik,” sahut Lie Poan Thian sambil mengucap
terima kasih atas bantuan pelayan itu.
Maka sesudah selesai menukar pakaian dan tak lupa
membekal Joan-pian yang dilibatkan di pinggangnya,
pada petang hari itu juga Poan Thian lalu masuk ke Cakee-
chung dan bertemu dengan Hek-houw-lie Cian Cong
atas perkenalannya Tong Yan yang dikatakan oleh Kwie
543
Jie tadi.
Cian Cong menyambut kedatangan pemuda kita
sebagaimana mestinya seorang yang menjadi tuan
rumah.
“Saudara ini apakah bukan sanak saudara Kwie Jie?”
tanyanya sambil memperhatikan dengan teliti gerakgeriknya
pemuda kita.
„Benar,” sahut Lie Poan Thian, yang juga pasang
mata dengan tajam buat menyelidiki kalau-kalau di situ
ada Hok Cit yang sedang dicarinya untuk „membikin
perhitungan”.
„Menurut keterangan yang aku peroleh dari Kwie Jie,”
kata Cian Cong, „kau ini ada seorang ahli silat yang
berasal dari utara. Oleh karena itu, kau tentu kenal juga
dengan beberapa orang jago silat kenamaan di tempat
kelahiranmu itu, misalnya, dengan Sin-tui Lie Poan
Thian, Sin-kun Louw Cu Leng, dan yang lain-lainnya
pula, tidakkah?”
„Ya, nama-nama itu memang telah lama aku dapat
dengar di kalangan Kang-ouw,” Poan Thian mendusta,
„tetapi berhubung aku telah mengembara semenjak
masih anak-anak, maka aku tidak kenal bagaimana
roman mereka itu.”
„Malam ini oleh karena kita kebetulan mengadakan
sedikit perjamuan sederhana,” kata Cian Cong, „maka
tidak jahatnya akan kami minta supaya saudara Lie Kok
Ciang sudi mengunjuk sedikit ilmu kepandaian silatmu,
buat bantu meluaskan pemandangan kita sekalian.”
Tetapi Poan Thian lantas merendahkan diri dengan
mengatakan, bahwa ilmu kepandaian silatnya masih
sangat terbatas, hingga jikalau nanti ternyata ia tak dapat
544
mengunjuk kepandaiannya scbagaimana mestinya, ia
sangat mengharap supaya Cian Cong tidak buat celaan
atau merasa kecewa kepada dirinya.
Sementara Cian Cong yang menyangka bahwa Lie
Poan Thian dan Lie Kok Ciang itu ada dua orang, tentu
saja beranggapan, bahwa pemuda kita telah sengaja
merendahkan diri karena menaruh harga sangat tinggi
atas dirinya yang sekarang berlaku sebagai tuan rumah.
„Saudara Lie ini memang terlalu merendahkan diri,”
katanya sambil tertawa. „Kita semua adalah orang-orang
sendiri dan harus menganggap bahwa kita semua adalah
sama rata. Oleh sebab itu, perlu apakah kau mesti
berlaku sungkan sampai begitu? Marilah, silahkan
kuperkenalkan kau dengan saudara-saudara kita yang
lainnya.”
Sambil berkata begitu. Cian Cong lalu ajak pemuda
kita masuk menjumpai beberapa orang gagah yang
menjadi kambrat-kambratnya, tetapi mereka ini ternyata
tiada seorang pun yang dikenal oleh Lie Poan Thian,
bahkan Hok Cit yang dicarinyapun tidak kelihatan mata
hidungnya.
Maka selama diperkenalkan oleh Cian Cong pada
orang-orang gagah tersebut, Lie Poan Thian tidak hentihentinya
memikirkan di dalam hatinya: „Kemanakah
perginya si Hok Cit? Apakah barangkali ia telah mencium
bau bahwa aku bakal datang ke sini, sehingga siangsiang
ia lantas menyingkir ke tempat lain buat
bersembunyi?”
„Sebentar lagi apabila semua sandara-saudara telah
berkumpul,” kata Cian Cong pula, „barulah perjamuan
yang kukatakan tadi akan dimulai. Maka selama kita
menantikan kedatangan mereka, marilah kita pergi ke
545
ruangan belakang buat melihat murid-muridku yang
sedang berlatih.”
Poan Thian menurut dan mengikuti pada Cian Cong
dengan hati yang semakin curiga.
„Saudara Cian,” katanya pada akhir-akhirnya,
„apakah boleh saudara perkenalkan aku pada Ca Chungcu?
Aku belum pernah kenal kepadanya, selain
mendengar namanya yang begitu tersohor di kalangan
Kang-ouw.”
Cian Cong tertawa dingin waktu mendengar Poan
Thian menyebut-nyebut nama Ca Tiauw Cin.
„Dahulu nama Ca Chung-cu memang amat disegani
oleh jago-jago di kalangan Kang-ouw, tetapi
sekarang...... hm, siapakah lagi yang mau
mengindahkannya yang telah menjadi cacad karena
dipecundangi oleh Lie Poan Thian yang tergolong
sebagai seorang jagoan tingkat terendah di antara
golongan kita? Dia boleh buka mulut besar dan merasa
bangga dengan gelaran Sin-tui yang dipunyainya, tetapi
ia lupa, bahwa di belakang dirinya masih ada saingan
lain yang sepuluh kali lebih jempolan dari pada dirinya!
Dia boleh main gertak terhadap orang-orang yang takut
kepadanya, tetapi gertakan-gertakan itu tak akan
„mempan” terhadap pada orang-orang yang memang
sesungguhnya berani.
„Selain dari pada itu, iapun telah berbuat suatu
kekeliruan besar dan mengira bahwa semua orang ada
begitu goblok sehingga tak dapat mengenali padanya
yang telah memasuki desa ini dengan secara bergelap.
„Sahabat, Hek-houw-lie Cian Cong itu bukanlah
seorang yang mudah dikelabui matanya, sehingga
seolah-olah ia buta dengan kedatangan seseorang yang
546
mengandung maksud tidak baik. Dan orang itu adalah
kau sendiri, Sin-tui Lie Poan Thian!”
Mendengar omongan itu, sudah barang tentu
pemuda kita jadi sangat terperanjat, karena dengan
begitu telah jelaslah, bahwa penyamarannya telah
diketahui oleh si Musang Hitam!
„Dan jikalau aku mesti akui bahwa omongan itu
memang benar begitu,” katanya, „apakah yang kau akan
berbuat padaku selanjutnya?”
4.35. Kebaikan Menghilangkan Permusuhan
Cian Cong mundur beberapa tindak ke belakang
sambil menentang wajah pemuda kita. Sedangkan sorot
matanya yang semula bersifat simpatik, sekarang telah
berubah menjadi beringas dan penuh dengan kebencian.
Kemudian ia menghunus goloknya dengan cepat dan
membentak: „Sekarang aku hendak buktikan sendiri
sampai dimana keunggulanmu!”
Sambil berkata begitu, Cian Cong lalu menerjang
pada Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Tokcoa-
chut-tong, hingga pemuda kita yang mengetahui
betapa berbahayanya serangan itu, buru-buru ia
miringkan badannya buat mengasih lewat tusukan itu,
kemudian ia maju setindak sambil melakukan tendangan
kilat ke arah si Musang Hitam.
Tetapi Cian Cong yang bermata sangat celi dan
ternyata bisa berlaku amat sebat, lalu mengegos buat
menghindarkan diri dari pada tendangan itu, dan tatkala
ia membacok ke arah kepala lawannya dengan
menggunakan siasat Tok-pek-hoa-san, Lie Poan Thian
telah keburu mencabut Joan-pian di pinggangnya,
547
dengan mana ia telah menangkis golok Hek-houw-lie
yang dijujukan ke arah kepalanya. Maka dalam waktu
hanya sekejapan mata saja, tuan rumah dan tamu yang
semula kelihatan begitu hormat dan saling
mengindahkan, sekarang telah berbalik menjadi musuhmusuh
yang telah mencoba segala daya-upaya untuk
saling membunuh dan merobohkan pada satu sama lain.
Sementara kambrat-kambrat Cian Cong yang
menyaksikan pertempuran itu, sudah barang tentu
segera mengambil pihak pemimpinnya. Dan sesudah
mereka mengambil senjata masing-masing, dengan
serentak mereka lalu mengeroyok pemuda kita dengan
tidak banyak bicara lagi.
Poan Thian yang melihat dirinya dikeroyok begitu
rupa, dengan tidak berlaku see-jie lagi iapun lalu putar
Joan-piannya dan menerjang ke kiri dan kanan bagaikan
Tio Cu Liong yang sedang dikepung oleh laskar-laskar
Tio Coh di daerah Tong-yang-kwan.
Dan tatkala pertempuran itu tengah berlangsung
dengan amat hebatnya, tiba-tiba terdengar seorang
orang yang berseru: „Saudara-saudara. janganlah
lepaskan musuh kita itu, pada sebelum ia berlutut
meminta ampun di hadapan kita!”
„Kurang ajar!” kata pemuda kita setelah mengetahui
siapa yang telah memperdengarkan seruannya itu,
karena orang itupun bukan lain dari pada Hok Cit yang
sedang dicarinya untuk „membereskan perhitungan”
yang telah diperbuat untuk kerugian jiwa dan nama
baiknya.
„Hai, pengecut!” teriak Lie Poan Thian dengan hati
sangat penasaran. „Hari ini jikalau aku tak dapat
mengambil kepalamu, aku bersumpah tak akan menjadi
548
manusia lagi! Ayoh, kau boleh maju buat terima binasa!”
Sang hari yang semakin lama telah menjadi semakin
gelap, telah membikin Poan Thian jadi semakin enak
buat menerjang ke kiri dan ke kanan dengan
memperoleh hasil yang sangat memuaskan.
Tidak sedikit kambrat-kambratnya Cian Cong dan
Hok Cit telah roboh atau kabur karena tidak tahan
bertempur dengan Lie Poan Thian, maka akhirnya Hok
Cit pun terpaksa mencabut goloknya buat bantu
mengepung pemuda she Lie itu.
Tetapi meski dikerubuti begitu hebat dan gencar oleh
Cian Cong dan Hok Cit yang maju di muka sekalian
kawan-kawannya yang telah mulai keteter, perhatian
Poan Thian hampir seluruhnya dipusatkan pada Hok Cit
sendiri yang memang sedang „dimauinya”.
Begitulah tatkala Poan Thian telah berhasil dapat
memukul Cian Cong sehingga beberapa kali dan sabansaban
terdengar ia menjerit karena kesakitan, akhirnya
sang lawan itu jadi jerih juga dan sedikit demi sedikit
telah coba menjauhkan diri dari kalangan pertempuran,
hingga Hok Cit yang melihat gelagat tidak baik, sudah
tentu saja lantas panjangkan langkah dan terus
melenyapkan diri di antara kegelapan. Dan meskipun
Poan Thian hendak memaksakan diri akan mengejarnya,
tetapi ternyata tidak mungkin akan ia bisa berbuat begitu,
berhubung musuh-musuhnya yang terbanyak selalu
datang merintangi untuk ia dapat melanjutkan
pengejarannya atas diri si Hok Cit yang sangat
dibencinya itu.
Maka pada waktu Cian Cong telah terpukul roboh
sehingga otaknya berarakan dan binasa di seketika itu
juga, Hok Cit telah berlalu jauh dan tak mungkin lagi akan
549
dapat dicekal!
Oleh karena itu, Poan Thian yang melihat maksudnya
telah gagal, tentu saja menjadi sangat menyesal dan
beranggapan bahwa manusia keji itu selanjutnya akan
lari jauh dan tidak bakal menunjukkan muka pula seumur
hidupnya.
„Sayang, sayang!” kata si pemuda di dalam hatinya.
Tetapi sisa musuh-musuhnya yang masih melakukan
perlawanan dengan secara hebat, tidak dapat dibiarkan
begitu saja.
„Mereka harus dipukul habis-habisan!” Itulah ada
pikiran yang semula dipikirkan di dalam hatinya. Tetapi
setelah mengingat yang mereka itu tidak berdosa dan
terpaksa campur tangan atas anjuran Cian Cong yang
sekarang telah mati terbunuh, ia jadi berbalik pikir dan
lalu berlompat ke atas pagar tembok sambil menyerukan:
„Saudara-saudara, tahan dahulu! Kamu sekalian
sebenarnya tidak terikat permusuhan apa-apa denganku,
seperti juga aku sendiri yang belum pernah mengambil
sikap bermusuh kepada kamu sekalian. Oleh sebab itu,
hentikanlah dengan segera pertempuran ini, agar supaya
penumpahan darah lebih jauh dapat dicegah!”
„Tetapi kau telah membunuh pemimpin kami,” kata
seorang yang bertubuh kate dan bersikap agak kasar.
„Pendek permusuhan ini tak dapat disudahi dengan
begitu saja, apabila kau tak mampu menghidupkan
kembali Hek-houw-lie Cian Cong ini!”
„Saudara,” kata Lie Poan Thian. “kau jangan salah
paham dan menyangka bahwa aku telah membunuhnya
dengan maksud sengaja. Dan jikalau ia sampai kejadian
terbinasa di dalam tanganku, itulah telah terjadi karena
kesalahannya sendiri, yang terlalu mengeloni pada Hok
550
Cit yang busuk itu, yang toh bukan membela pada Cian
Cong seperti kau, tetapi sebaliknya telah meninggalkan
sahabat-sahabatnya yang hendak membela dirinya.
„Aku harus akui, bahwa rasa persahabatanmu itu
kepada Cian Cong cukup tebal. Aku bukan datang ke sini
dengan maksud untuk membunuh kepadanya tetapi
itulah ada Hok Cit yang aku „maui”.
„Maka setelah orang yang „kumaui” telah melarikan
diri entah kemana perginya, cara bagaimana aku mesti
memusuhi padamu sekalian yang tidak ada sangkut
pautnya dengan urusanku ini?
„Pikirlah olehmu masak-masak, saudara, pada
sebelum kau bertindak menuju ke arah perpecahan
antara persahabatan kita di kalangan Kang-ouw.
Sementara buat mengunjukkan bahwa aku tidak
bermaksud akan memusuhi saudara-saudara yang lainlainnya,
dengan ini aku Lie Poan Thian menghaturkan
beribu-ribu maaf pada kamu sekalian.”
Demikianlah, sambil mengangkat kedua tangannya,
pemuda kita lalu memberi hormat pada sisa kambratkambratnya
Cian Cong yang berada di bawah pagar
tembok.
„Jikalau kau sesungguhnya memandang kita sebagai
sahabat, marilah kau boleh turun buat menerangkan
duduknya perkara yang benar pada kita sekalian,” kata
orang banyak yang telah mulai insyaf dari kekeliruankekeliruan
yang telah diperbuat mereka itu.
Poan Thian mengabulkan atas permintaan mereka
itu.
Dalam pada itu Ca Tiauw Cin yang mendengar suara
ribut-ribut dari beberapa orang yang bertempur, lalu
551
dengan diantar oleh orang-orang kepercayaannya telah
datang juga ke tempat keributan itu. Dan tatkala
menampak Lie Poan Thian tengah dikerubungi oleh
kauwsu-kauwsunya di situ, segera juga ia maju
menghampiri sambil bertanya: „Saudara-saudara, ada
urusan apakah ini yang telah menerbitkan suara ributribut?”
Semua orang lalu membuka jalan buat mengasih
lewat pada pemuda kita yang lalu maju menghampiri
pada Ca Tiauw Cin sambil memberi hormat dan berkata:
„Chungcu-ya, aku mohon beribu-ribu maaf atas
kunjunganku ini yang telah menimbulkan keributan tadi.
Tetapi agar supaya kau mengetahui duduknya perkara
yang benar, biarlah aku nanti tuturkan peristiwa ini dari
awal sehingga diakhirnya, supaya Chungcu-ya dapat
bantu menimbang perkara ini, siapa yang salah dan
siapa yang benar.”
Ca Tiauw Cin menyatakan mufakat dengan omongan
pemuda she Lie itu.
“Tetapi karena di sini bukan tempat untuk berunding,”
katanya, „biarlah Lie-toako dan saudara-saudara sekalian
suka mengikut aku ke ruangan pertengahan untuk
membicarakan perkara ini terlebih jauh.”
Begitulah setelah Tiauw Cin telah mengajak semua
orang berkumpul di ruangan tersebut, lalu ia minta
supaya semua orang duduk dengan tenang sambil
mendengarkan segala penuturan yang akan disampaikan
oleh Lie Poan Thian kepadanya, yang tentunya —
dimaksudkan juga untuk diperhatikan oleh mereka yang
terbanyak.
Maka setelah Poan Thian selesai menuturkan sebab
musabab mengapa ia telah datang kedesa Ca-kee-chung
552
dalam cara yang begitu mendadak dan tergesa-gesa,
barulah Tiauw Cin jadi kaget dan berkata: „Ah, kalau
begitu, ternyata aku telah keliru memilih kawan seperti
Cian Cong itu. Aku percaya betul kepadanya dan turuti
segala permintaannya. Tetapi, bukannya ia mengatur
segala apa dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima
kasihnya, malah berbalik hendak mengkhianati aku
dengan secara keji dan diam-diam. Hal mana, aku
percaya, karena ia pikir bahwa aku telah menjadi
seorang cacad, seorang yang tidak berguna lagi.”
Kemudian, sambil menoleh pada kauwsu-kauwsunya
yang terbanyak, ia telah melanjutkan omongannya: „Nah,
sekarang dengarkanlah olehmu sekalian. Apakah Cian
Cong itu bukan merupakan sebagai seekor kutu yang
menumpang hidup dengan menggigit dan menghisap
darah di atas kepalaku? Lie-toako ini,” sambil ia
menunjuk pada Lie Poan Thian, „dahulu memang benar
pernah menjadi seorang lawanku, tetapi sekarang
ternyata telah membuktikan diri di hadapanku, bahwa dia
inilah seorang sahabat yang berharga. Jikalau ia tidak
lekas menolong padaku, belum tahu Cian Cong akan
berbuat bagaimana padaku yang sudah tidak berguna
lagi, sehingga dalam segala hal ia hendak berlaku lebih
berkuasa dari pada aku yang menjadi tuan rumah yang
asli di desa Ca-kee-chung ini.
„Bahkan kalau aku nanti sudah tidak ada lagi di
dalam dunia ini, ada kemungkinan ia akan ubah nama
desa ini menjadi Cian-kee-chung, dengan ia sendiri yang
akan bercokol sebagai Chungcu nya!”
Semua orang yang mendengar keterangan begitu,
sudah tentu saja jadi agak terkejut dan pada menghela
napas sambil berkata: „Sungguh tidak dinyana bahwa
Cian Cong yang begitu dipercaya, ternyata ada seorang
553
musuh dalam selimut!”
„Ya, ya, memang tepat sekali sebagaimana katamu
sekalian,” kau Ca Tiauw Cin.
Maka semua orang yang sekarang telah mengetahui
duduknya perkara yang benar, dengan sendirinya
mereka kelihatan rela akan menyudahi perselisihan
mereka dengan pemuda kita, yang ternyata mendapat
dukungan sepenuhnya dari pihak Ca Tiauw Cin yang
menjadi induk semang mereka.
Lebih jauh sebagai tanda mempererat persahabatan
kedua pihak, Ca Tiauw Cin lalu melangsungkan
perjamuan yang telah dirancangkan oleh Cian Cong
untuk mengatur siasat, cara bagaimana mereka harus
„menggulingkan” sang induk semang dan menggantikan
kedudukan itu dengan mencokolkan dirinya sendiri dalam
kedudukan sebagai Chung-cu dari desa tersebut.
Tetapi, apa mau, Poan Thian telah datang dan
menolong dengan secara tidak langsung pada Ca Tiauw
Cin dari keadaan yang sangat kritis itu, hingga karena ini,
Poan Thian kelihatan agak puas juga, biarpun ia tidak
berhasil dapat membekuk Hok Cit yang menjadi pokok
dari perkunjungannya itu.
Tatkala perjamuan itu ditutup pada kira-kira hampir
tengah malam, barulah Poan Thian meminta diri pada Ca
Tiauw Cin dan terus kembali ke rumah penginapannya,
dengan pikirannya selalu tidak lupa pada Hok Cit, yang ia
belum berhasil dapat binasakan untuk melampiaskan
rasa penasarannya.
Sesampainya di rumah penginapan, ia telah disambut
oleh Kwie Jie yang mengatakan, bahwa dari setadian
ada seorang tamu yang menantikan dan minta bertemu
pada pemuda kita.
554
„Orang itu asal dari mana dan siapa namanya?”
menanya Lie Poan Thian dengan rupa heran.
„Entahlah,” sahut Kwie Jie sambil menggelengkan
kepalanya, „karena ia tidak mau menjawab
pertanyaanku. Katanya dialah salah seorang
sababatmu...... Hanya sebegitu saja.”
„Sekarang dia ada dimana?”
„Di sana, di kamar tamu,” sahut si pelayan sambil
menunjuk ke ruangan yang dimaksudkan itu.
Poan Thian berdiam sejurus lamanya, seperti
seorang yang sedang memikirkan apa-apa.
„Apakah dia bersenjata?” tanyanya kemudian.
„Ya,” sahut Kwie Jie.
Pada waktu Poan Thian berjalan masuk ke ruangan
yang ditunjuki oleh si pelayan, tamu yang sedang dudukduduk
dengan menghadap ke sebelah dalam segera
berbangkit sambil membalikkan badannya, sehingga
sekarang ia jadi berhadap-hadapan dengan pemuda kita.
Lie Poan Thian jadi berlompat ke belakang dengan
hati terkesiap, karena tamu itu bukan lain dari pada......
Hok Cit yang sedang „dimauinya”!
Sementara Hok Cit yang melihat Poan Thian datang
dan kelihatan terperanjat, buru-buru membungkukkan
badannya sambil memberi hormat dan berkata: „Tuan
Lie, ampunkanlah padaku yang telah membikin kau
banyak mengalami kesukaran dan kepusingan oleh
karena perbuatan-perbuatanku yang tidak baik itu.
Sekarang baru kuinsyaf itu semua, setelah mengetahui
bahwa kita orang adalah berasal dari satu golongan
Siauw-lim juga. Aku telah berdosa dan melanggar pesan
guruku yang telah marhum!”
555
Sambil berkata begitu, Hok Cit lalu cabut goloknya
dan serahkan itu dengan kedua tangannya kehadapan
pemuda kita.
„Kau kelihatan masih sangat penasaran kepadaku,”
katanya. „tetapi semua itu tak dapat aku persalahkan
kepadamu. Aku insyaf telah berdosa besar, dari itu,
bunuhlah aku dengan golokku ini.......”
Poan Thian biarpun terhitung seorang yang berhati
baja, tetapi ternyata tidak tahan uji dengan sikap yang
lemah dan minta dikasihani. Maka setelah menerima
golok itu, ia lantas lemparkan senjata itu sambil berkata:
„Kau edan!”
Hok Cit lantas berlutut dengan mengembang air mata
dan berkata: „Aku rela mati di tanganmu, aku telah
menodakan nama guruku yang telah berada di tanah
baka!”
„Siapakah yang kau katakan menjadi gurumu itu?”
kata Poan Thian yang dengan laku gugup lalu
membanguni pada Hok Cit, yang sekarang telah menjadi
begitu jinak bagaikan seekor anak kambing yang
menganggap „sepi” seekor harimau di hadapannya.
„Itulah Cie Ceng Suthay dari Ngo-tay-san,” sahut
orang yang ditanya.
Lie Poan Thian jadi membanting kaki sambil
menghela napas dan menyebut: „Allah! Cara
bagaimanakah urusan bisa jadi berputar balik begitu
rupa? Cie Ceng itu adalah adik seperguruan Beng Sim
Suthay dari kelenteng Giok-hun-am, sehingga dengan
begitu, ia masih menjadi kepernah Su-kouw ku. Aku
sungguh tidak bisa mengerti mengapa kau, sebagai
seorang murid golongan Siauw-lim, bisa jadi ikut-ikutan
ke dalam golongan Kang-ouw hitam?
556
„Mari, duduklah di sini. Aku ingin mengetahui sebabmusabab
yang telah membikin kau tersesat sampai
begitu jauh.”
Hok Cit menurut dengan tak perlu diajak sampai dua
kali.
„Sebenarnya jikalau guruku tidak meninggal dalam
usia yang boleh dikata belum begitu tua, aku tidak
sampai tersesat begini jauh,” katanya.
„Cobalah tuturkan semua riwayat hidupmu,” meminta
Poan Thian yang sekarang seolah-olah telah lenyap
perasaan antipatinya.
„Semasa aku diajak datang ke Pek-lian-am oleh Cie
Ceng Suthay.” Hok Cit mulai menuturkan, „usiaku baru
saja beberapa belas tahun. Ayah bundaku telah menutup
mata ketika aku belum cukup usia sepuluh tahun, oleh
karena itu, aku lalu menumpang tinggal di rumah
pamanku, seorang petani yang boleh dikatakan mampu
juga. Karena selain mempunyai beberapa puluh bouw
sawah-sawah, iapun mempunyai juga beberapa belas
ekor kerbau, yang setiap hari diperintahkannya aku untuk
memeliharanya.
„Oleh sebab itu, aku semulanya buta huruf, pada
sebelum masuk kelenteng Pek-lian-am dimana aku telah
diberi kesempatan untuk belajar ilmu silat dan surat
dengan berbareng oleh Cie Ceng Suthay yang baik hati
itu.
„Paman dan bibiku mungkin juga tak akan
mengizinkan aku berlalu dari rumah mereka, kalau saja
aku tidak bertemu dengan Cie Ceng Suthay, yang karena
kasihan melihat keadaanku yang begitu „dianak tirikan”,
dengan secara diam-diam telah melarikan aku dari
rumah pamanku.
557
„Tetapi, sungguh tidak beruntung, ketika aku berdiam
di Pek-lian-am baru saja kira-kira 2,5 tahun lamanya
guruku telah meninggal dunia, hingga ini telah memaksa
aku lari dari kelenteng tersebut karena hasutan Hekhouw-
lie Cian Cong, yang ketika ita masih menjadi
seorang bajak di telaga Thay-ouw, yang justru itu tengah
berada dalam perjalanan mencari kawan untuk
melakukan perampokan dengan secara besar-besaran.
„Aku tertarik benar oleh omongan Cian Cong ini, yang
selalu menyanjikan aku segala keuntungan dan
kesenangan, hingga aku tidak pikirkan sama sekali
akibat-akibat dari pada perbuatan-perbuatanku yang
tidak baik itu.
„Tidak tahunya ketika tiba pada waktunya
perampokan itu dilakukan, mereka telah dipukul hancur
oleh tentara negeri yang dikepalai oleh beberapa ahli
silat kenamaan, hingga tercerai berailah aku dari Cian
Cong dan melarikan diri untuk mencari tempat berlindung
lain yang lebih selamat.
„Dalam keadaan terlunta-lunta, aku telah bertemu
dengan Liu Tay Hong yang kemudian telah perkenalkan
aku pada Wie Hui yang menjadi pemimpin dari kawanan
berandal di pegunungan Jiesian-san. Maka dengan
mempergunakan nama pemimpin ini, Tay Hong telah
ajak aku memeras ke kiri kanan, sehingga akhirnya aku
bertemu dengan An Chun San, dengan siapa aku telah
bertempur di kelenteng Touw-tee-bio, yang mana kiranya
tak perlu lagi buat aku tuturkan di sini, berhubung kau
sendiripun telah ketahui cukup jelas peristiwa ini.
„Tidak berapa lama setelah kau berhasil
membinasakan Wie Hui dan kawan-kawannya, aku
segera melarikan diri ke daerah Kim-leng, dimana aku
telah bertemu dengan Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong,
558
pada siapa aku kemudian telah berguru, tatkala
mengetahui bahwa dia itulah guru Liu Tay Hong.
„Oleh karena hasutan orang tua ini, maka aku jadi
semakin bermusuh kepadamu, sehingga selanjutnya aku
telah sengaja membikin kau banyak pusing dengan
melakukan berbagai-bagai perbuatan yang tidak patut,
yang sekarang sangat kusesalkan tidak sudah-sudahnya,
apabila hal itu dikenang-kenangkan dalam peringatanku.
„Paling belakang karena segala sepak-terjangku
untuk mencelakai padamu telah menjadi gagal,
sedangkan guruku sendiri telah dirobohkan olehmu,
mendadak aku bertemu dengan Hek-houw-lie Cian Cong,
yang aku lalu hasut untuk memusuhi juga kepadamu.
Begitulah ia lantas kirim Teng Kie buat melakukan
penyerangan gelap kepadamu, tetapi maksud itu —
sebagaimana aku telah dapat kabar kemarin — kembali
telah gagal. Karena selain maksud itu tidak kesampaian,
malah Teng Kie sendiri berbalik kena dilukai olehmu.
„Maka setelah aku terlolos dari tanganmu barusan, di
luar sangkaan aku telah bertemu dengan seorang bekas
Suhengku yang dahulu bersama-sama berdiam di
kelenteng Pek-lian-am, hingga dalam omong dengan
secara berterus terang, ia amat sesalkan atas
perbuatanku itu, dan ia mengatakan bahwa tuan Lie ini
bukan lain dari pada salah seorang murid Kak Seng
Siang-jin Supek, hingga ini bikin aku jadi kaget dan
merasa sangat berdosa besar. Karena selain aku telah
berani melawan pada seorang yang masih kupernah
suheng, akupun telah mengabaikan pesan guruku ketika
beliau hampir menutup mata.
„Ingatlah,” katanya, „bahwa nama Siauw-lim telah
mengharum sekian abad lamanya di seluruh negeri, dan
barang siapa di antara murid-murid kami yang berani
559
melanggar dan menodakan nama baik golongan kita, ia
harus tebus dan perbaiki dengan suatu pengorbanan
jiwa!”
„Tetapi aku sendiri bersedia akan mengampuni
kepadamu,” kata Lie Poan Thian, setelah selesai
mendengar penuturan Hok Cit, „apabila kau suka
merubah perbuatanmu sehingga kau kembali lagi
menjadi seorang yang baik. Hal mana, aku percaya, Cie
Ceng Su-kouw yang sudah berada di tempat baka, tentu
akan menyetujui juga atas tindakanku itu.”
Lebih jauh untuk mengakhiri permusuhanpermusuhan
dengan segala pihak, pemuda kita telah
menganjurkan supaya Hok Cit membantu pada Cin Kong
Houw yang membuka Siang-hap Piauwkiok di kota Kimleng,
buat mana Hok Cit menyatakan kesediaannya akan
melaksanakan maksud itu, asalkan Poan Thian suka
memperkenalkannya dan menerangkan pada Kong
Houw, bahwa selanjutnya ia akan menjadi orang baik
dan mohon dipimpin ke jalan yang terang dalam
penghidupannya di kemudian hari.
„Lebih-lebih karena di sana-pun turut membantu juga
dua saudara Lauw yang dahulu pernah bekerja di bawah
perintah Liu Tay Hong bersama-sama kau sendiri,” kata
pemuda kita. “kukira kau akan merasa senang menuntut
penghidupan sebagai seorang piauw-su, yang tentu jauh
lebih terhormat dari pada berkeliaran di kalangan Kangouw
dengan tidak tentu kemana juntrungannya. Karena
sesuatu orang yang pernah terjerumus dan kemudian
insyaf atas segala kekeliruannya, sedapat mungkin aku
suka bantu mencarikan jalan agar supaya ia bisa hidup
bahagia dan dapat mencicipi keberuntungan dalam cara
yang halal.”
Sementara Hok Cit yang mendengar omongan itu,
560
iapun tampaknya sangat berterima kasih dan berjanji
akan menjalankan tugasnya yang akan datang itu
dengan sebaik-baiknya.
Begitulah setelah kedua pihak melupakan
permusuhan yang telah lampau itu, pada hari esoknya
Poan Thian lalu mengajak Hok Cit akan menjumpai Cin
Kong Houw di kota Kim-leng, dan kedatangan mereka ke
sana bukan saja telah disambut dengan gembira oleh
Kong Houw dan kedua saudara Lauw yang memang
kenal pada Hok Cit, tetapi Cu Leng dan In Liong pun
menyatakan turut bergirang, akan melihat kedua orang
musuh besar itu akhirnya telah bisa kembali dan menjadi
sahabat-sahabat yang jauh lebih menguntungkan pada
kedua pihak dari pada kalau mereka saling bermusuhan
dan mengancam akan saling membunuh jiwa masingmasing.
Maka sebagai tanda turut bersyukur atas kejadian
yang menggirangkan itu, Kong Houw telah mengadakan
perjamuan dengan secara besar-besaran, dalam mana
telah diundang orang-orang gagah yang menjadi handai
taulan Kong Houw dan Poan Thian, dengan nama-nama
Sin-kun Louw Cu Leng, Hoa In Liong dan Hok Cit
tercantum sebagai orang-orang yang turut mengundang.
Tetapi perjamuan itu masih belum dapat dikatakan
besar, apabila dibandingkan dengan perayaan pesta
pernikahan Lie Poan Thian dengan nona Giok Tin yang
diadakan di rumah keluarga Na, dimana selain turut hadir
handai taulan Lie Poan Thian, juga Kak Seng Siang-jin
sendiri telah datang memberi berkah kepada kedua
mempelai. Dan sedikit waktu setelah melangsungkan
pernikahannya, Poan Thian pun telah „mencuci tangan”
dan keluar dari kalangan Kang-ouw sebagai salah
seorang ahli silat yang seumur hidupnya tak pernah
561
dikalahkan orang.
— TAMAT —

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Guru Cantik : Si KS 6 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments