Cersil Pedang Pusaka Buntung 1

AliAfif.Blogspot.Com -
Cersil Pedang Pusaka Buntung 1
baca juga:

-BAGIAN 1
MEMPERTARUHKAN JIWA DILEMBAH
Ketika bulan Maret tiba bunga2 azalea merah menutupi
lembah Lek Yun Kok dari Pegunungan Kwat Cong San.
Tidak mengherankan jika ditempat yang indah permai itu
tampak banyak penyair2 dan orang2 yang menikmati
keindahan alam. Yang mengherankan dilembah Lek Yun
Kok itu tampak yuga seorang Too-jin (pendeta), berusia
lebih kurang 50 tahun, berjalan mundar-mandir diantara
bunga2 azalea merah itu.
Dibahunya tampak sebuah gagang pedang. Dari cara
jalan atau langkahnya, segera orang dapat menarik
kesimpulan bahwa Too-jin itu adalah seorang jago silat
yang lihay!. Akan tetapi ia tengah mengerutkan keningnya
dan seluruh wayahnya bermuram durja. Agaknya ada
urusan penting yang harus diselesaikannya.
Lembah yang terang benderang tampak olehnya sebuah
bayangan putih, dan seperti awan ter-apung2 melayang
dengan pesat menghampirinya.
Sampai dihadapannya, ternyata bahwa bayangan putih
itu adalah seorang gadis muda berbaju putih, dan berusia
lebih kurang 19 tahun.
Gadis berbayu putih itu setelah melihatnya, segera
memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya, dan
berkata sambil tersenyum : “Goan Siu Tootiang betul2
dapat dipercaya! Guru kami Lak Chao Shin Kun Ban Cun
Bu tiba diluar lembah, dan beliau memerintahkan kami
datang untuk menyelidiki lebih dahulu!” tidak melupakan
janji yang telah berlangsung sepuluh tahun. Kami minta ia
datang kesini memberi petunjuk2!” Jawab Toojin itu sambil
tertawa.
3
Lalu Bian Leng Jun menyanggupi akan menyampaikan
jawaban tersebut kepada gurunya, dan setelah memberi
hormat sambil berjalan mundur 7 atau 8 tindak, ia memutar
tubuhnya dan dengan menggerakkan bahunya, dengan
sekejap saja ia telah tiba kembali diujung lembah, begitu
cepatnya, bagaikan sebatang anak panah perak terlepas dari
busurnya.
Goan Siu Toojin menghela napas dan berkata kepada
dirinya sendiri ”Kepala ini betul2 seorang yang sangat ganjil
pada dewasa ini! Cobalah lihat murid perempuannya itu.
Betapa sopan-santunnya! Lagi pula ilmu meringankan
tubuhnya demikian mahirnya. Rupanya hari ini, aku ......
Goan Siu ...... akan menemui ajalku dipegunungan Kwat
Cong San ini!”
Kemudian, ditempat yang dituju gadis berbayu putih,
Bian Leng Jun, telah muncul serombongan orang2 yang
berjalan laksana awan melayang dengan pesat sekali.
Lembah yang terang benderang tampak olehnya sebuah
bayangan putih, dan seperti awan ter-apung2 melayang
dengan pesat menghampirinya.
Sampai dihadapannya, ternyata bahwa bayangan putih
itu adalah seorang gadis muda berbaju putih, dan berusia
lebih kurang 19 tahun.
Gadis berbayu putih itu setelah melihatnya, segera
memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya, dan
berkata sambil tersenyum : “Goan Siu Tootiang betul2
dapat dipercaya! Guru kami Lak Chao Shin Kun Ban Cun
Bu tiba diluar lembah, dan beliau memerintahkan kami
datang untuk menyelidiki lebih dahulu!” tidak melupakan
janji yang telah berlangsung sepuluh tahun. Kami minta ia
datang kesini memberi petunjuk2!” Jawab Toojin itu sambil
tertawa
4
Lalu Bian Leng Jun menyanggupi akan menyampaikan
jawaban tersebut kepada gurunya, dan setelah memberi
hormat sambil berjalan mundur 7 atau 8 tindak, ia memutar
tubuhnya dan dengan menggerakkan bahunya, dengan
sekejap saja ia telah tiba kembali diujung lembah, begitu
cepatnya, bagaikan sebatang anak panah perak terlepas dari
busurnya.
Goan Siu Toojin menghela napas dan berkata kepada
dirinya sendiri ”Kepala ini betul2 seorang yang sangat ganjil
pada dewasa ini! Cobalah lihat murid perempuannya itu.
Betapa sopan-santunnya! Lagi pula ilmu meringankan
tubuhnya demikian mahirnya. Rupanya hari ini, aku ......
Goan Siu ...... akan menemui ajalku dipegunungan Kwat
Cong San ini!”
Kemudian, ditempat yang dituju gadis berbayu putih,
Bian Leng Jun, telah muncul serombongan orang2 yang
berjalan laksana awan melayang dengan pesat sekali.
Rombongan itu terdiri dari 8 gadis berbaju putih, dan 4
dari mereka itu menggotong sebuah tempat tidur dihahu.
Tempat tidur itu lengkap dengan bantal, kasur dan seperei
sutera. Diatas tempat tidur tersebut berbaring seorang yang
menutupi tubuhnya dengan selendang sutera.
Bian Leng Jun yang tadi berbicara dengan Goan Siu
Totiang berjalan paling depan. Ketika rombongan kira2 3
depa jauhnya dari Goan Siu Totiang, Bian Leng Jun
memberi isyarat dengan tangannya dan ketuyuh gadis2 itu
berhenti. Bian Leng Jun tampil kedepan tempat tidur,
memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya, lalu
berkata : „Hamba memberitahukan Su-hu bahwa kita telah
tiba ditempat peryanyian Lembah Lek Yun Kok. Goan Siu
Totiang, salah satu dari Thian Lam Sa Kiam (Tiga jago silat
pedang dari selatan), sedang menanti Su-hu untuk
berbicara!"
5
„Janji dari 10 tahun ini aku idam2-kan siang-malam.
Kini waktunya telah tiba, dan aku gembira sekali! Akan
tetapi ..... 10 tahun berselang aku telah membuat janji
terhadap tiga jago silat pedang dari selatan; mengapa hanya
seorang saja berada disini? Goan Siu Totiang! Aku kira kau
sehat walafiat! Apakah kau masih kenali aku ini orang gila
dari Lak Cao, Ban Cun Bu?" kata orang yang berada
ditempat tidur itu dengan perlahan.
Dengan hanya mengipaskan Iengan bajunya, ia telah
duduk diatas tempat tidur itu. Orang yang belum pernah
melihatnya tentu akan mengira bahwa Ban Cun Bu itu
seorang orang tua dengan wajah yang seram! Tetapi ia
adalah seorang muda yang berusia lebih kurang 30 tahun
dengan wajah seorang terpelajar yang tampan. Kedua
alisnya yang hitam dan tebal menyebabkan kelihatannya
sangat mulia. Akan tetapi ........ kedua pahanya telah dua
pertiga lenyap, ditabas putus oleh musuhnya! la
mengenakan baju yang terbuat dari kulit ikan hiu.
Meskipun la sedang berbicara dengan Goan Siu Totiang, ia
tetap duduk diatas tempat tidur itu dan tidak turun ketanah!
Dengan berdiri dihadapan Cun Bu, Goan Siu Totiang
berkata sambil tertawa gelak2 : „Ban Cun Bu! 10 tahun
berselang setelah kita mengadu silat aku telah mengetahui
bahwa kita pasti akan berjumpa lagi disini !
Aku mendengar kabar bahwa kau telah memperoleh
kitab Bu Lim Po Lek Sun Yo Cin Kai (Kitab ilmu silat) dan
telah pelajari seluruhnya dengan mahir dan berhasil. Untuk
itu aku mengucapkan selamat! Bagi kami Thian Lam Sa
Kiam, seorang berarti tiga orang, dan tiga orang berarti
seorang. Dengan pedang2 kami, berani kami mengatakan
bahwa ilmu silat pedang kami sehingga dewasa ini nomor
wahid dikalangan Bu Lim.
6
Jika dalam setengah jurus kau dapat mengalahkan aku,
maka kau dapat merasa puas bahwa ilmu silatmu tiada
taranya dikolong langit! Mengapa kau mesti mencari kedua
saudara mudaku?"
Ban Cun Bu mendehem, lalu berkata sambil tersenyum :
„Sepuluh tahun berselang dilembah Lek Yun Kok ini,
karena aku ingin menjadi jagoan dikolong langit, aku telah
rela melawan kamu bertiga. Hasilnya aku kalah dan
menderita luka2 parah. Dalam perjalanan kembali ke Lak
Cao, aku telah berjumpa dengan musuhku Ngo Tok Tian
Mo, dan ia menabas putus kedua pahaku! Sekarang, setelah
aku mempelajari kitab Bu Lim Po Lek Sun Yo Cin Kai dan
berlatih keras dengan berhasil, aku kembali kedaerah tengah
ini dengan maksud : kesatu, membalas dendam terhadap
semua musuh2ku; kedua mengajar ilmu silat di Lak Cao!.
Ngo Tok telah kukirim keacherat! Jika sekarang aku
menemui Goan Long dan Goan Cin, bukankah hasrat yang
telah ku-idam2kan selama 10 tahun ini menjadi sia2 belaka?
! Dikalangan Kang Ouw telah tersiar berita bahwa Thian
Lam Sa Kiam bukan saja lihay ilmu silatnya, bahkan besar
juga keksatriaannya. Mengapa sekarang bertempur
melawan Ban Cun Bu mereka lupa akan persaudaraannya,
dan membiarkan Goan Siu sendiri melawan aku ?!"
Goan Siu mengerutkan kening dan bermaksud membela
saudara mudanya, dan membebankan semua dendam atas
diri sendiri ! Akan tetapi dari belakang semak2 diatas
karang curam se-konyong2 terdengar suara orang
membentak : „Ban Cun Bu! Thian Lam Sa Kiam bukan
sebagaimana pendapatmu! Goan Long dap Goan Cin
berada disini! Kau terlampau sombong! Apakah kau kira
dengan kitab Bu Lim Po Lek Sun Yo Cin Kai dan melatih
diri beberapa jurus, kau dapat mengejutkan orang dan
menaklukkan semua orang2 dari kalangan Bu Lim ?!"
7
Segera kedua orang itu meloncat turun dari atas karang
curam! Ke-dua2nya berpakaian seperti Goan Siu dan kedua2nya
pun bersenjata pedang. Dengan mengepal kedua
tinjunya mereka berdiri dihadapan Ban Cun Bu.
Lak Cao Shin Kun tahu bahwa yang kurusan adalah
Goan Cin, dan iapun maklumi bahwa dengan maksud
membalas dendam la tidak perlu berdebat. Ia menyahut :
„Ban Cun Bu! sudah mengetahui bahwa kamu berdua pasti
datang. Oleh karena itu, aku sengaja mengejek.
Pertempuran hari ini ialah yang kuat hidup, dan yang
Iemah binasa Ketiga saudara apakah ingin bertiga melawan
aku seorang, atau ingin bertempur dengan cara lain ? Aku
Ban Cun Bu telah datang dari jauh. Pribahasa mengatakan:
'Hanya naga yang kuat melintasi!’ sungai. Oleh karena itu,
aku minta ketiga saudara berunding dahulu !"
Sebetulnya Thian Lam Sa Kiam menggemparkan
kalangan Kang Ouw dengan ilmu silatnya yang sangat
lihay. Goan Siu Totiang dengan pedangnya telah diakui
oleh orang2 dikalangan Bu Lim sebagai jago silat pedang
nomor wahid! Lak Cao Shin hun Ban Cun Bu juga seorang
yang lihay sekali silatnya. Karena la tidak sudi melihat
bahwa Thian Lam Sa Kiam dianggap nomor wahid, pada
10 tahun berselang, dilembah Lek Yun Kok dari
pegunungan Kwat Cong San, dengan senjata kerincingan2
la seorang diri telah melawan tiga jago2 silat pedang itu,
dengan akibat ia sendiri menderita luka2 parah. la kembali
kekota Lak Cao, dan ditengah jalan la terjebak oleh Ngo
Tok Tian Mo yang menabas putus kedua pahanya. Kini,
setelah 10 tahun, ia kembali kedaerah tengah untuk
memenuhi janji melawan ketiga jago2 silat pedang. Goan
Siu telah mengetahui bahwa akan terjadi suatu pertempuran
hidup mati, dan ia telah mencegah Goan Long dan Goan
8
Cin datang kelembah itu agar dapatlah ia sendiri membuat
perhitungan terhadap musuhnya itu !
Goan Long dan Goan Cin tidak membantah kehendak
saudara tuanya, akan tetapi siang-malam mereka datang terburu2
kelembah itu, dan telah tiba lebih dahulu daripada
Goan Siu.Mereka bersembunyi dibelakang semak2. Karena
tidak tahan di-ejek, mereka meloncat keluar menghadapi
Ban Cun Bu! Goan Siu mengetahui bahwa la tak dapat
mengelakkan pertempuran itu. Goan Cin berpikir :
„Meskipun kau telah mempelajari kitab ilmu silat Bu Lim
Po Lek Sun Yo Cin Kai, akan tetapi kau telah tak berkaki.
Lagi pula kami bertiga telah berlatih kembali, dan selama
10 tahun ini, kami belum pernah menemui lawan yang
dapat menandingi kami. Masa kali ini kami tidak bisa
melawanmu!”
„Ban Cun Bu! Kita bertiga semuanya sudah berusia lebih
kurang 50 tahun. Bila kau berusia 50 tahun, kaupun dapat
memberi kelonggaran kepada orang lain. Barusan kau telah
katakan bahwa dalam pertempuran ini yang kuat hidup,
yang lemah binasa, dan tak dapat dielakkan lagi.
Tetapi ......... aku mempunyai suatu cara baru yang
berlainan daripada jago2 silat dikalangan Bu lim.
Bagaimana pendapatmu jika kita hari ini mempertaruhkan
jiwa kita masing2 dengan mengadu silat kita dalam tiga
taraf. Yang kalah harus membunuh diri! Bagaimanakah
pendapatmu Kata Goan Siu sambil tersenyum.
Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu menyahut sambil
tertawa: „Aku Ban Cun Bu tidak mangkir. Aku telah
menanyakan apakah kamu ingin bertempur dengan cara
Iain, dan aku pasti menerima usul kamu. Sebetulnya
pertaruhan jiwa ini sangat menarik. Akan tetapi yang kamu
usulkan mengadu silat dalam tiga taraf, dan yang kalah
harus membunuh diri, aku Ban Cun Bu minta penjelasan"
9
Goan Cin Mendahului Goan Siu dan menyahut:
„Caranya ialah yang kalah dalam taraf pertama berhak
ajukan usul tentang cara mengadu silat taraf kedua.Untuk
taraf pertama kita adakan undian!"
„Ha! Ha! Ha! cara2 demikian betul adil. Akan tetapi
untuk taraf pertama kta tak usah adakan undian. Aku sudi
mengalah. Goan Sin Totiang dapat menetapkannya!" Kata
Cun Bu sambil tertawa berkakakan.
„Maksud Ban Cun Bu yang baik itu, kami bertiga
saudara sangat menghargainya. Tetapi lebih baik kita
tetapkan dengan adil menurut kehendak Thian (Tuhan
Allah)! Kita bukannya ingin menyombong. Kita semuanya
adalah orang2 yang terkenal dikalangan Bu Lim.
Pertempuran kali ini yang kalah harus membunuh diri.
Oleh karena itu, setelah kita selesai mengadu silat, pihak
yang kalah sebelumnya memenuhi janji harus diberi hak
untuk bertempur satu kali lagi. Jika ia menang, iapun harus
memberi hak kepada pihak yang kalah untuk bertemrpur
satu kali lagi. Dengan cara demikian maka yang kalahpun
menjadi rela, bukan? Bagaimanakah pendapat Ban Cun
Bu?" KataGoan Siu seraya tersenyum.
Ban Cun Bu tertawa lagi dan berkata : „Tidak salah jika
orang katakan Goan Siu Totiang seorang ksatria dikalangan
Bu Lim. Segala sesuatu diatur dengan baik dan adil, aku
Ban Cun Bu sangat menghargai.
Untuk taraf pertama sebetulnya aku Ban Cun Bu rela
menyerahkan kepada Goan Siu Totiang. Tetapi jika kamu
menolak, akupun tak dapat memaksa. Akupun tak mengetahui
cara yang ditetapkan dengan kehendak Thian."
Lalu Goan Siu Totiang mengeluarkan sekepal 'Hian Men
Ti Cu' (manik2 yang dipergunakan sebagai senjata rahasia)
dari saku didadanya, dan berkata kepada Ban Cun Bu:
10
„Sebetulnya pihak yang manakah yang mengajukan usul
untuk pertempuran taraf pertama tidak penting. Tetapi kita
semua terkenal dikalangan Bu Lim, dan kita tak ingin
ditertawakan orang karena diberi kelonggaran oleh pihak
lawan. Oleh karena itu, kita menetapkan dengan caranya
kanak2. Didalam kepalan aku ini ada sejumlah „Hian Men
Ti Cu". Kau Cun Bu dapat menebak jumlahnya ganjil atau
genap untuk menentukan hak menetapkan cara bertempur
taraf pertama!" Sambil tertawa gelak2 Ban Cun Bu berkata :
„Ha! Ha! Ha! Betul2 menarik! Hari ini kita menjadi
penjudi2 besar dan kita mempertaruhkan jiwa kita! Aku
turut kehendak Goan Siu Totiang, dan aku tebak jumlah
''Hian Men Ti Cu itu genap!"
Goan Siu membuka kepalannya dan menghitung jumIah
'Hian Men Ti Cu' Ti Cu' ada 7 buah. Ban Cun Bu tertawa
lagi dan berkata : „Aku salah tebak, dan aku rela Goan Siu
Totiang menetapkan cara pertempuran taraf pertama!"
Lalu Goan Siu dan kedua sandara mudanya berunding
untuk kemudian berkata kepada Ban Cun Bu : „Kita
beruntung dapat menetapkan cara mengadu silat taraf
pertama. Kita main mengadu ilmu 'Hui Hua Mok Tu' atau
ilmu menyambit bunga kedalam tanah!"
„Totiang betul2 mulia. Ilmu 'Hui Hua Mok Tu'
sebenarnya tidak sukar. Yang sukar ialah bunga itu harus
mendem didalam tanah dan tidak hancur. Ilmu ini se-mata2
ilmu Im Ju Kong Lit atau ilmu tenaga lunak tetapi dahsyat.
Mungkin pelajaran dari kitab ilmu silat Sun Yo Cin Kai-ku,
aku tak dapat menandingi ilmu silat kalian. Akan tetapi
perkataan yang telah ku-ucapkan tak dapat kutarik kembali.
Meskipun aku yakin akan kalah, tetapi aku harus lakukan.
Leng Jun! Petik sebuah bunga untukku!" Kata Ban Cun Bu
seraya mengerutkan keningnya.
11
Gadis yang berdiri dimuka tempat tidur Lak Cao Shin
Kun dan yang bernama Bian Leng Jun menjadi terpesona
melihat jago2 silat itu mempertaruhkan jiwa mereka dengan
cara yang menarik tetapi ganjil! Ketika dipanggil gurunya,
iapun terkejut. Segera ia memetik sebuah bunga azalea
putih untuk gurunya.
Ban Cun Bu melihat bahwa ketiga saudara Thian Lam
Sa Kiam itu telah memetik bunga2 azalea. Lalu tiap2 orang
memegang sebuah. Goan Siu sambil berdiri dimuka karang
curam yang jauhnya sedepa lebih berkata kepada kedua
saudara mudanya: „Sute! Kita mulai lakukan!"
Tenaga dalam ketiga saudara itu telah terkumpul, dan
mereka berbareng melemparkan bunga2nya kekarang
curam dihadapan mereka. Ketiga bunga azalea itu
terapung2 dan dengan pelahan2 menuju kekarang curam,
dan tertancap didalam karang tersebut tanpa suara. Ketiga
bunga tersebut nancap dengan teratur merupakan titik sudut
dari sebuah segi-tiga!
Wajah Ban Cun Bu berubah sedikit! la tidak mengangkat
tangannya untuk melontarkan bungannya. Ia tetap duduk
diatas tempat tidurnya. Bunga itu ditaruh diatas telapak
tangannya, lalu ditiupnya kearah karang curam
dihadapannya. Secepat kilat bunga itu terbang nancap
kedalam karang curam, tepat di-tengah2 ketiga bunga2-nya
Thian Lam Sa Kiam!
Bian Leng Jun anggap bahwa gurunya menang, akan
tetapi, Ban Cun Bu berkata sambil tertawa : „Aku sudah
duga aku akan kalah! Bunga aku terpendam terlampau
dalam; dan daun bunga disebelah kanan rusak sedikit.
Tetapi bunga2 yang dilontarkan oleh ketiga Tojin telah
nancap sama dalamnya, dan bunga2nya tetap utuh! Ilmu
mereka Iebih baik daripada ilmuku. Aku harus ajukan cara
untuk mengadu kepandaian silat taraf kedua, dan jika aku
12
kalah lagi, aku tak akan ajukan usul untuk pertempuran
taraf ketiga. Aku rela menyerah kalah, dan membunuh diri
!"
Bian Leng Jun rupanya tak percaya akan perkataan
gurunya. la menyamperi dan melihat dengan teliti tiga
bunga yang dilontarkan oleh Thian Lam Sa Kiam, dan
betul saja bunga2 itu nancap sama dalamnya, sedangkan
bunga yang dilontarkan gurunya, betul2 koyak satu daun
bunganya
Ketika ia kembali kehadapan gurunya, ia mengawasi
bahwa gurunya tengah berpikir. lapun melihat bahwa wajah
ketiga jago2 silhat pedang itu ber-seri2 !
Tiba2 kedua matanya Ban Cun Bu bersinar, dan dengan
suara keras ia berseru : „Taraf kedua ini adalah
pertempuran mati-hidup. Marilah kita mengadu ilmu
meringankan tubuh. Kita berlomba mendaki karang curam
yang 100 depa lebih tingginya!"
Perkataan itu mempersonakan ketiga saudara Thian Lam
Sa Kiam itu! Mereka mengetahui bahwa meskipun ilmu
silatnya lihay sekali, akan tetapi ia tak berkaki. Bagaimanakah
ia berani berlomba mendaki karang yang curam
dengan orang2 yang tak bercacad?! Apakah Ban Cun Bu
kurang waras pikirannya? Demikianlah berpikir ketiga jago
Thian Lam Sa Kiam itu!
Melihat ketiga lawannya terpesona, Ban Cun Bu
tersenyum. Lalu dari bawah bantal dikeluarkannya
sepasang besi pendek. Sepasang besi itu, yang dapat dibikin
panjang sehingga 5 kali itu di-main2kan-nya! Dengan
memegang besi tongkat itu ditangn kiri dan kanan, Ban Cun
Bu berdiri se-akan2 besi tongkat itu kedua kakinya. la
bertindak maju menyamperi Goan Siu Totiang, lain berkata
: „Kalian tak usah kuatir akan Ban Cun Bu. Kedua kakiku
13
meskipun telah lenyap, akan tetapi tongkat2 besi ini dapat
menggantikannya. Marilah kita mulai mengadu silat taraf
kedua !"
Ketiga saudara Thian Lam Siat kiam baru insyaf bahwa
Ban Cun Bu telah melatih diri dengan ber-sungguh2 dalam
ilmu meringankan tubuh. Setelah ke-empat orang itu
mangguti kepala sebagai tanda mulai, lalu mereka berusaha
sekuat tenaga mendaki karang curam itu! Ban Cun Bu
rupanya sengaja sedikit terbelakang. la membiarkan
lawan2nya mendaki lebih dahulu, lalu dengan tertawa
gelak2, tongkat besi ditangan kanannya menotok tanah, dan
ia terbang sehingga 6 atau 7 depa tingginya, dan segera
dibarengi dengan totokan tongkat besi ditangan kirinya, ia
terbang keatas lagi. Demikianlah dengan kedua tongkat
besinya menotok karang curam silih-berganti, ia tiba diatas
lebih dahulu daripada ketiga saudara Thian Lam Sa Kiam!
Sedetik kemudian Goan Siupun tiba diatas. la mengangkat
kedua tangannya memberi hormat, dan berkata : „Ban Cun
Shin Kun, ilmu meringankan tubuhmu mengejutkan orang.
Kami mengaku kalah. Marilah kita turun dan kita hendak
berunding tentang pertempuran taraf ketiga yang
merupakan pertempuran mati-hidup!"
Ketika Goan Long dan Goan Cin tiba diatas karang
curam itu, mereka saling pandang-memandang. Bersama2
Goan Siu mereka turun untuk merundingkan pertempuran
taraf ketiga.
Dalam pertempuran dua taraf pertama, kedua pihak
dapat dikatakan seri. Pertempuran taraf ketigalah yang
menjadi penting ! Oleh karena itu, bukan saja orang2 yang
bersangkutan menjadi cemas, bahkan gadis2 muridnya Ban
Cun Bu yang menonton juga menjadi cemas!
Thian Lam Sa Kiam berunding lama. Goan Cin anggap
dengan mengunakan senjata rahasia mereka mungkin dapat
14
menang. Ketiga saudara itu masing2 mempunyai 108 biji
'Hian Men Ti Cu'. Disamping jumlahnya yang banyak itu,
mereka dapat menggunakan senjata rahasia itu dengan
lihay sekali. Dengan menghujankan biji2 'Hian Men Ti Cu',
dapatkah seteru itu melawan mereka? Ban Cun Bu harus
menggunakan tongkat2 besinya sebagai kaki dan sekaligus
juga menangkis biji2 yang menyerangnya; ia pasti keteter !
Goan Siu dan Goan Long coba memikirkan cara yang lebih
menguntungkan, akan tetapi hampa! Achirnya mereka
menyetujui usul Goan Cin, ialah menggunakan senjata
rahasia 'Hian Men Ti Cu'. Lalu Goan Siu menyamperi Ban
Cun Bu dan berkata :„Taraf ini adalah taraf terachir, dan
juga taraf dimana kedua-belah pihak bertempur mati2-an.
Menurut perjanjian pihak kami yang akan mengajukan cara
bertempur. Kami akan bertempur melawan dengan
menggunakan senjata rahasia 'Hian Men Ti Cu'!" Kata
Goan Siu seraya menghampiri Cun Bu.
Perkataan tersebut membuat Bian Leng Jun terkejut. Ban
Cun Bu, setelah berpikir sejenak, lalu menyahut : „Baik.
Kamu bertiga dengan 324 biji manik2 menyerang aku. Jika
sampai satu bijipun menyentuh bayuku ini, aku Ban Cun
Bu mengaku kalah, dan, aku harus membunuh diri!"
„Ting !" tongkat2 besinya berbunyi ketika menotok
tanah, dan secepat kilat Ban Cun Bu telah berada diatas
satu batu yang 3 atau 4 depa jauhnya dari ketiga seterunya!
Lalu ia berkata kepada ketiga seterunya itu : “Hei! Tian
Lam Sa Kiam! Ini adalah pertempuran kita yang terachir!
Jagalah serangan kembali Ban Cun Bu !"
Melihat wajah yang tenang dan Ban Cun Bu, Goan Cin
menjadi kuatir. Ia kuatir Karena usulnya untuk bertempur
dengan senjata rahasia, berarti menjeru-muskan
saudara2nya sendiri keneraka! Tetapi pada saat itu, ia tak
dapat menarik kembali usulnya lagi. Jalan satu2nya ialah
15
bertempur dengan sekuat tenaga dan menang dalam
pertempuran. Lalu diambilnya biji2 'Hian Men Ti Cu' dan
menggenggamnya didalam kedua tan gannya dengan
maksud mulai menyerang musuh supaya dapat mengetahui
mengapa ia menjadi gembira ketika mendengar usul
bertempur dengan biji2 'Hian Men Ti Cu'. Sebetulnya
mempunyai kepandaian apakah Ban Cun Bu itu ? Setelah
menetapkan tekad, dengan 6 biji manik2 di-masing2 tangan,
dilontarkannya biji2 tersebut kearah seterunya dengan ilmu
Loan Tiam Yen Yang atau menyambar burung dari segala
penjuru! biji2 tersebut kelihatannya beterbangan tidak
teratur dan saling tubrukkan, lalu masing2 menyerang
kearah Ban Cun Bu!
Ban Cun Bu! telah kembali dengan maksud membalas
dendam dari tahun berselang. Ia sudah mengerti betul
segala sesuatu tentang seteru2-nya. lapun mengetahui
bahwa diantara ketiga Tian Lam Sa Kiam itu, Goan Siulah
yang terpandai dan terkuat. Tetapi dalam mengunakan
senjata rahasia 'Hian Men Ti Cu' itu, Goan Cin-lah yang
terpandai! Tetapi karena yakin bahwa ia dapat menangkis
atau mengegoskan biji2 'Hian Men Ti Cu' itu dengan
sempurna, ia menjadi geli karena menginsyafi bahwa ketiga
seterunya itu mengambil jalan maut!
Dengan tenang Ban Cun Bu mengangkat tongkat besi
ditangan kirinya dan membuat suatu lingkaran diatas
kepalanya. Dengan memutar tongkat besi itu, 12 biji2 itu
jatuh ketanah laksana batu terlempar kedalam laut tak
berbekas !
Goan Siu dan Goan Long sesudah melihat keadaan itu,
lalu serentak melontarkan biji2 'Hian Men Ti Cu'-nya
kearah Ban Cun Bu sehingga suasana menjadi terang
karena biji2 tersebut beterbangan diudara. Sebetulnya biji2
tersebut dilontarkan dengan tenaga yang maha dahsyat
16
sehingga sinarnya berkilauan dan anginnya berembusan.
Tetapi Ban Cun Bu tetap tenang. la membuat lingkaran
diatas kepalanya dengan jalan memutar tongkat besi
ditangan kanannya. Lingkaran itu bersinar mengurung
seluruh tubuhnya. biji2 itu membentur sinar dan lenyap tak
berbekas ! Ketiga saudara itu terus menyerang dengan
melontarkan biji2 itu, akan tetapi setelah separuh
jumlahnya telah dilontarkan, tidak satu bijipun yang
menyentuh bajunya Ban Cun Bu. Goan Cin insyaf akan
kegagalannya. Dengan isyarat, ketiga saudara itu
melontarkan sisa biji2 'Hian Men Ti Cu' itu dengan ilmu
Boan Tian Hua I atau hujan lebat diseluruh angkasa. Lalu
dengan sisa 7 biji di-masing2 tangan, ketiga saudara itu
menyambit Ban Cun Bu dari bawah dengan ilmu To Sai
Boan Tian Seng atau menyemprot bintang2 dari bumi !
Dengan tertawa besar dan lama, Ban Cun Bu menotok
tongkat2 besinya diatas batu, dan secepat kilat tubuhnya
terbang keatas ! Semua biji2 'Hian Men Ti Cu', dari ketiga
jago2 pedang itu jatuh berantakan disekitar batu itu, dan
merupakan satu lingkaran 3 kaki jauhnya mengitari batu
itu!
Sejenak kemudian Ban Cun Bu sudah terduduk diatas
batu itu !
Ketiga Tian Lam Sa Kiam baru mengetahui bahwa.
didalam 10 tahun dengan tekun berlatih, Ban Cun Bu telah
memahami sesuatu ilmu silat silat dari kitab Sun Yo Cin
Kai, sehingga ilmu Tai Yo Shin Kong, sehingga ilmu dewa
mataharipun telah dipelajarinya dengan mahir! 324 biji2
'Hian Men Ti Cu' dari ketiga saudara itu yang dilontarkan
dengan ilmu tenaga dalam juga gagal menyentuh bajunya.
Mereka merasa tidak ada muka lagi untuk muncul
dikalangan Bu Lim. Ketika mereka sedang merasa sedih, se17
konyong2 Ban Cun Bu berkata :„Hei! Kalian, jaga serangan
kembali dari Ban Cun Bu !"
Lalu terdengar suara kerincingan yang sangat nyaring,
dan terlihat oleh ketiga jago2 lebih kurang 50 buah, dan
yang tak diketahui kapankah dilontarkannya. Sebetulnya
cara melontarkannya serupa dengan cara Goan Cin
melontarkan biji2 maniknya, hanya lebih sempurna dan
lebih tinggi ilmu silatnya. Meskipun kerincingan2 itu
mengeluarkan suara yang sangat bising sehingga
mengacaukan perhatian lawan dan sinarnya menyilaukan
mata!
Sepuluh tahun yang lalu, Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu
ini dilembah Lek Yun Kok pernah melawan ketiga jago2
Tian Lam Sa Kiam ini dengan senjata sepasang
kerincingan! Sepuluh tahun kemudian dengan mempelajari
ilmu silat Sun Yo Cin Kai, ia telah menggunakan sepasang
tongkat besi untuk menggantikan kedua kakinya yang telah
ditebas putus, oleh musuhnya. Tetapi senjata kerincingan,
tetap sangat digemarinya. Dengan perhatian dan ketekunan
sepasang kerincingan itu diubah dan dibuatnya menjadi 49
buah. Iapun telah melatih dengan sempurna cara
melontarkan-nya.
Bagaimanakah ketiga jago Thian Lam Sa Kiam
menghadapi serangan balasan Ban Cun Bu? Setelah
mendengar suara bising dari keriricingan2 itu, ketiga
saudara itu berkumpul dan berdiri menghadapi segala
sesuatu. Mereka mengawasi arah serangan kerincingan itu,
dan dengan sekuat tenaga berusaha menghalaukannya
dengan angin dari geprakkan2 kedua tangan mereka. Akan
tetapi tidak semua serangan2 dapat di-elakkan. Tiba2 Goan
Cin berseru :"Aku telah menjerumuskan kedua saudara,
dan aku harus jalan lehih dahulu!" Lalu dicabut pedangnya
dan bertindak hendak memenggal Iehernya sendiri!
18
Goan Siu lekas2 menghalangi perbuatan nekad itu.
Dari bawah jubah Goan Cin dipungutnya satu
kerincingan mas yang halus buatannya dan yang berduri
disekitarnya. la tidakk mengembalikan kerincingan itu
memasukkannya kedalam kantong didepan dadanya. la
menghampiri Goan Cin dan berkata:"Su-tee tak usah sedih.
Dikalangan Bu Lim kita pernah sama2 terkenal. Kini kita
telah berusia setengah abad, tak usah menghiraukan soal
mati atau hidup. Tetapi mengapa Su-tee ,segera membunuh
diri? Bukankah kita masih berhak bertempur lagi?” Lalu ia
berkata kepada Ban Cun Bu : "Ban Cun Shin Kun!
Kerincingan2 kau yang beryumumlah 7 X 7 = 49 itu betul2
tak ada taranya dikalangan Bu Lim. Kali ini kita bertiga
saudara mengaku kalah. Tetapi kita masih berhak
bertempur sekali lagi, bukan? Dan caranya kita yang
tetapkan!"
„Totiang dapat usulkan, aku pasti setuju!" KataCun Bu.
Sambil tersenyum Goan Siu Totiang berkata: „Sepuluh
tahun yang lalu dilembah Lek Yun Kok ini kami dengan
bersenjata tiga pedang mengalahkan kau dengan senjata
kerincingnganmu! Sepuluh tahun kemudian hari ini, kami
tewas dibawah kerincinganmu dilembah ini pula! Untuk
pertempuran ulangan, apa salahnya jika kita bertempur
seperti pada waktu 10 tahun yang Iampau? Kau dengan
tongkat besimu jika dalam 100 jurus dapat mengalahkan
kami bertiga dengan memakai pedang, maka kami tak
mempunyai permintaan lain, dan kami binasa dengan
perasaan puas! Jika kau tak dapat mengalahkan kami dalam
100 jurus, aku Goan Siu minta kau dalam jangka waktu 10
tahun tidak datang kedaerah tengah untuk mengajar ilmu
silat. Kau harus menanti digedung Sun Yo dikota Lak Cao
kedatangan murid kami. Kami yakin bahwa Ban Cun Bu
seorang ksatria dan pasti setuju!"
19
Ban Tun Bu tidak segera menjawab, la berpikir dan
mengawasi Goan Siu agak lama. Kemudian la menjawab,
suaranya pelahan : „Totiang, kau betul2 seorang yang
berbudi. Kau mengetahui bahwa ilmu silatku ini lihay, dan
jika aku mengajar ilmu didaerah tengah, kau kuatir akan
banyak kurban menderita luka2 atau tewas. Oleh karena
itu, kau ingin melarang aku datang kedaerah tengah selama
10 tahun. Aku sudah katakan, aku menurut usulmu dan
akan bertempur melawan kamu bertiga. Tetapi, kalah atau
menang, untuk memperingati hari ini, aku Ban Cun Bu
mengatakan dihadapan 8 orang muridku bahwa mulai hari
ini, setelah kamu bertiga tewas karena aku, aku tak akan
membunuh lagi!"
Dengan mengangkat kedua tangan memberi hormat
Goan Siu berkata dengan chidmat : „dengan janji itu kita
akan mati dengan perasaan puas. Marilah kita mulai
bertempur!"
Ketiga saudara itu mencabut pedangnya dengan
serentak, mundur beberapa tindak dan mengambil tempat
masing2. Kemudian Ban Cun Bu dengan menggunakan
kedua tongkat besinya berdiri di-tengah2.
Goan Siu berkata lagi :”Aku minta Ban Cun Shin Kun
menyuruh seorang murid menghitung jumlah jurus! Ban
Cun Bu lalu berkata kepada Bian Leng Jun: „Leng Jun!
Ketiga jago silat pedang ini tidak ada taranya dikolong
langit. Kau menghitung jumlah jurus pertempuran ini hal
niana akan bermanfaat sekali"
Bian Leng Jun memberi hormat sebagai tanda menurut
perintah, lalu mengambil tempat yang baik untuk
menghitung jumlah jurus pertempuran yang akan dilangsungkan.
20
Goan Siu, Goan Long dan Goan Cin karena nasibnya
telah ditetapkan, maka sebelumnya mereka bunuh diri,
mereka akan berusaha agar tak dikalahkan dalam 100 jurus.
Dengan demikian Ban Cun Bu akan memenuhi janji tidak
datang kedaerah tengah melakukan perbuatan se-wenang2
dikalangan Bu Lim. Dengan maksud yang mulia itu, ketiga
saudara itu akan keluarkan semua kepandaian silat
pedangnya bertahan atau mengalahkan lawannya. Setelah
isyarat mulai bertempur diberikan, dengan pedang terhunus
mereka jalan dengan waspada mengurung Ban Cun Bu
sambil melihat kesempatan untuk menyerang.
Lak Cao Shin Kim Ban Cun Bu pernah kalah dan
menderita luka2 parah melawan tiga jago2 silat pedang itu
pada 10 tahun yang lampau. Meskipun ia telah faham akan
ilmu silat yang dipelajari dari kitab Sun Yo Cin Kai, ia tak
berani bersikap lengah melawan mereka yang sudah
menjadi sangat nekad. Tiga jago2 silat pedang ini, terutama
Goan Siu, pada 10 tahun yang lewat terkenal sebagai jago
silat pedang nomor wahid dikolong, langit! Tiga pedang
yang lihay melawan ia yang tak berkaki lagi bukanlah soal
remeh! Dengan tongkat besinya ia berdiri tegak dengan
mata mengawasi segala gerak gerik lawan2nya!
Tiba2 dengan isyarat dari Goan Siu, ketiga jago2 pedang
itu menyerang berbareng. Mula2 pedang2 mendatanginya
agak lambat, akan tetapi ketika berada dekat tubuh Ban
Cun Bu, ujung2 dari pedang2 itu tergetar se-akan2 menjadi
ber-puluh2 pedang datang menusuk dadanya! Ban Cun Bu
menjerit, kedua tongkat besinya tergerak sedikit, dan
dengan secepat kilat la telah loncat tiga depa jauhnya!
Sebetulnya ketika ia melawan ketiga jago2 pedang itu
pada 10 tahun yang lalu, iapun dikurung dengar posisi
tersebut diatas. lapun diserang secara serentak Dua pedang
menjaga, sedangkan satu pedang menusuk Ia tak
21
mengetahui pedang yang manakah yang menusuk! Dengan
dermikian ia telah dikalahkan dengan menderita luka2
parah! Tetapi pertempuran hari ini berlainan sekali. Ketiga
pedang itu semuanya menusuk, dan tidak satu yang
menjaga sehingga menyimpang dari peraturan ilmu silat.
Mengapakah? Ketiga jago2 pedang itu harus membunuh
diri karena telah kalah dalam pertaruhan jiwa. Dengan
kesempatan yang diberikan, mereka hanya bertekad
membunuh lawannya. Ban Cun Bu harus waspada! la harus
mencuri kesempatan mengalahkan seteru2-nya selekas
mungkin! Setelah pertempuran berlangsung 40 jurus Iebih,
ia baru memperoleh lowongan untuk balas menyerang
dengan tongkat besinya. Iapun insyaf akan siasat seteru2-
nya yang memperhatikan serangan dan melalaikan
tangkisan. Mungkin sukar sekali ia menIgalahkan mereka
dalam 100 jurus!
Setelah lewat 70 jurus, dengan ilmu 'I'o Coan Tialrg
Hon, atau menggulung pelangi dari bawah, ketiga jago
pedang itu berbareng menyapu dengan pedang2-nya dari
bawah. Ban Cun Bu harus menggunakan ilmu Kiat Kiat
Teng Kong Hie Pu Hoat atau ilmu mendaki udara dengan
tenaga dalam kedua tangannya setelah ia menotok tanah
dengan tongkat besi ditangan kanannya. Sabetan2 pedang2
itu menyapu angin! Dengan tongkat besi yang telah diulur
sehingga 5 kaki panjangnya, ia secepat kilat balas menyabet
seteru2-nya dengan ilmu Po Hong Pwee Pah atau ilmu
mendesak angin menyerang delapan jurusan! demikianlah
BanCun Bu berada lebih kurang 6 kaki dari tanah dengan
tongkat besi ditangan kirinya sebagai tunjangan, dan
dengan tongkat besi ditangan kanannya ia balas menyerang.
Untuk menabas atau membacoknya, ketiga jago Tian Lam
Sa Kiam itu harus juga meloncat 6 kaki tingginya! Mereka
lalu mengubah siasat serangan untuk menangkis serangan
tongkat besi yang dahsyat itu! Setelah hampir 100 jurus,
22
Goan Siu berseru : „Tiga pedang kembali asal. Ubah
serangan menjadi tangkisan Ban Cun Bu mengetahui
bahwa 100 jurus hampir selesai, tetapi ia masih belum dapat
mengalahkan seteru2-nya. Dengan kesempatan ketiga jago2
pedang menarik senjata2-nya, la menyerang Goan Cin yang
paling lemah dengan ilmu Lo Hauw Hiat Ji atau menyodok
tengorokkan mengucurkan darah! Goan Cin melihat
serangan itu. Ia buru2 putar pedangnya dengan ilmu Ju I
Tian Lo atau jaring ajaib menjaga tubuh. la berhasil
menangkis dua pukulan, akan tetapi pukulan ke-3
mengenakan bahunya. Ketiga jago2 pedang itu menjadi
pucat! Ban Cun Bu mundur dengan sikap tenang. Lalu
menanya: „Hei, Leng Jun! Pertempuran berlangsung
beberapa jurus"
Ketiga jago Thian Lam Sa Kiam menjadi biru dan
memandang kearah Bian Leng Jun yang menundukkan
kepala tidak segera menjawab ! Ban Cun Bu merasa, bahwa
ada aesuatu yang tidak beres. Dengan chidmat ia menanya
lagi : „Leng Jun! Kamu tak usah ragu2. Kau sebutkanlah
jumlah jurus dengan jujur.
Bian Leng Jun mengangkat kepala, dan dengan terang
berkata: „Seratus satu jurus!" Ban Cun Bu berbalik menjadi
bisu. la, kembali berbaring ditempat tidurnya, sedangkan
ketiga jago pedang itu agak gembira wajahnya ketiga
saudara Thian Lam Sa Kiam itu berdiri bahu-membahu
dihadapan Ban Cun Bu, dan masing2 mengangkat kedua
tangan memberi hormat kepadanya. Goan Cin dan Goan
Long lalu menghadapi Goan Siu dan berkata : „Tua-ko
dapat mengurus seterusnya, kita berdua menunaikan janji
lebih dahulu!"
Goan Siu menyahut : „Baiklah. Aku akan mengurus
seterusnya. Selamat jalan, dan kita akan bertemu dijaIan kesorga
segera!"
23
Goan Long dan Goan Cin dengan wajah tenang
menggorok leher masing2 dengan pedangnya. Darah segar
muncrat keluar, dan terjatuhlah kedua jago itu di-tanah.
Adegan sedemikian menyedihkan sekali daripada jika
mereka mati terbunuh setelah bertempur dengan dahsyat!
Goan Siu menyobek baju dalamnya, memotong satu jari
tangannya, dan menulis diatas kain sobekan baju itu dengan
darah dari jari tangannya. Lalu ia mencabut pedangnya dan
mematahkannya menjadi dua dengan satu sentilan jarinya.
Separuh pedang itu bersama-sama satu kerincingan mas
kepunyaan Ban Cun Bu yang telah dipungut dibungkusnya
didalam kain yang bertulisan darah. Lalu dibungkusnya lagi
seluruhnya dengan kain yang,disobeknya dari jubahnya.
Setelah la menulis nama dan alamat orang yang harus
menerimanya, diangkatnya kepalanya, dan sambil tertawa
berkata kepada Ban Cun Bu : „Kita bertiga saudara tewas
dilembah ini. Kita mohon seorang murid dari Shin Kun
sudi menyampaikan kepada murid2 kami agar mereka
setelah belajar dan berlatih dengan keras, kembali lagi
setelah 10 tahun dengan membawa separuh pedang dan
satu kerincingan ini kekota Lak Cao!"
Lak Cao Shin Kun menyahut dengan chidmad : „Aku
harap Totiang dapat merasa reda. Ban Cun Bu pasti
menunaikan janji. Karena aku tak dapat mengalahkan
kamu dalam 100 jurus, aku pasti tak akan kembali kedaerah
tengah. Aku menanti sehingga Totiang pergi, lalu aku
membawa murid2ku kembali kekota Lak Cao menanti
kedatangan murid atau murid2 Totiang selama 10 tahun ini.
Aku akan memerintahkan Bian Leng Jun membawa
bungkusan ini dan menyampaikan kepada alamatnya.
Goan Siu Totiang setelah menghaturkan terima kasihnya,
lalu dengan dua jari menjepit separuh pedang lainnya.
Sambil tertawa ditusuknya jantungnya dengan separuh
24
pedang tersebut! Suara tertancapnya separuh pedang itu
membuat berdirinya bulu roma semua orang yang
menyaksikan pembunuhan diri itu! Dengan wajah yang
tenang, Goan Siu tewas seketika itu juga untuk mengejar
kedua saudara dijalan ke-sorga!
Lak Cao Shin Kun menghela napas mengawasi mayat2
ketiga saudara yang bersusun tindih itu. Ia mencabut
separuh pedang yang nancap dijantung Goan Siu dan
menaruhnya didalam kantong yang telah dirampasnya dari
musuhnya, Ngo Tok Tian Mo. Lalu ia berkata kepada Bian
Leng Jun : „Leng Jun! Kau bawa barang2 peninggalan
Goan Siu Totiang kepada alamat dan orang yang berhak
menerimanya. Aku dan saudari2mu kembali dahulu kekota
Lak Cao!" Lalu la berbaring lagi ditempat tidurnya. Empat
gadis menggotong tempat tidur itu menuju kekota Lak Cao!
Setelah menerima perintah Lak Cao Shin Kun, Bian
Leng Jun mengambil bungkusan Goan Siu untuk melihat
alamatnya. la tidak sampai hati membiarkan mayat2 ketiga
jago2 silat itu dimakan binatang liar atau burung.
Dikuburkannya jenazah2 itu dengan seksama, dan didepan
kuburan itu ditancapkannya sebuah batu. Dengan ilmu Kim
Kang Cit Shin Kong atau ilmu membikin jari tangan keras
sebagai berlian, dicungkilkan diatas batu itu enam huruf ;
Thian Lam Sa Kiam Cu Bo atau Makam Jago Silat Pedang
Tiongkok Selatan. Setelah ia memberikan hormat
dihadapan arwah ketiga jago2 itu, iapun berlalu dari lembah
Lek Yun Kok menuju ketempat yang tertulis diatas
bungkusan!
---oo0oo---
25
BAGIAN 2
GADIS CANTIK DAN JEJAKA TAMPAN
Diceriterakan bahwa disebelah selatan pegunungan Ma
An San didistrik Ci Men, propinsi An Hwei, ada sebuah
gedung besar yang ditelantarkan. Meskipun genteng2nya
telah penuh debu, dan tiang2nya telah lapuk, namun masih
tampak gayanya yang angker. Terutama didalam kebun
dibagian belakang dari rumah itu, dengan rumput2 Yang
segar, dan kolam yang bening jernih airnya, orang akan
merasa dalam keadaan alam yang menakjubkan itu seakan2
berada didunia lain.
Gedung yang telah ditelantarkan itu sebetulnya milik
seorang pembesar. Karena kesalahannya dalam pekerjaan
untuk negara, la telah dipecat dari kedudukannya yang
tinggi. Lagi pula anak2nya tak dapat hidup akur sehingga
merekapun tinggal terpisah. Oleh karena itu rumah gedung
yang besar dan mewah itu ditelantarkan!
Disatu sudut dari kebun tersebut, disuatu kamar yang
sunyi-senyap tampak seorang pemuda, berusia lebih kurang
19 tahun, seorang keluarga jauh dari pembesar itu, tengah
tekun belajar. Dengan wajahnya yang bersemangat dan
kulit tubuh yang putih bersih, la kelihatannya sebagai
seorang pemuda terpelajar. Akan tetapi orang2 yang
mengetahui atau faham akan ilmu silat, dengan melihat
kedua biji matanya yang bersinar itu segera dapat menduga
bahwa pemuda itu, disamping kemahirannya dalam sastra,
juga mahir sekali dalam ilmu silat!
la bernama Kong Sun Giok Kedua orang tuanya telah
wafat. la hidup sebatang kara! la pintar dan cerdik dan
faham akan sastra dan ilmu silat. la adalah murid
kesayangan ketiga jago silat Thian Lam Sa Kiam!
26
Pada waktu itu, hari telah senja. Kong Sun Giok seelah
berlatih silat-pedang dikebun, masuk kekamarnya untuk
mempelajari ilmu silat pedang dari suatu buku. Sejenak
kemudian ditutupnya buku itu. Diambilnya sebatang
seruling, bertindak keluar menuju kesatu punjung diatas
bukit, dan mulai meniup seruling itu. Tiba2 ia berhenti
meniup serulinnya. Rupanya ada sesuatu yang membuat ia
cemas. la duduk termenung. Ketika itu bulann telah keluar
memancarkan sinarnya kedalam kebun yang indah Itu.
Kong Sun Giok berpikir: „Untuk beberapa lama lagi Aku
harus berlatih dan belajar ilmu silat? Kapankah aku dapat
mengembara?" Lalu dengan tak diucapkannya sebuah sayak
dari penyairLi Tiong Kuang yang berbunyi: „Siapakah yang
dapat menghindarkan kecemasan dan dendam? Kecemasan
dan dendam itu hanya kita yang rasain .....”
Belum lagi selesai ia mengucapkan sayak tersebut, tiba2
terdengar olehnya orang menegur: „Janganlah banyak
ngelamun. Lamunan telah merugikan banyak pemuda!"
Kong Sun Giok terkejut! Dengan ilmu tenaga dalamnya
ia dapat merasai sesuatu meskipun sejauh 10 depa. Bahkan
daun pohon yang terjatuh 10 depa jauhnya dapat
dirasakannya! Ia menoleh kearah teguran tersebut, dan
melihat seorang gadis sedang berdiri dipuncak sebuah bukit.
Ia bangun dari tempat duduknya dan bertindak keluar
dengan waspada menyamperi gadis itu. Dibawah sinar
bulan yang permai, gadis berbaju putih yang cantik itu
menggoncangkan buah jantung Kong Sun Giok. Dengan
mengepal kedua tinjunya didada ia menanya: „Sudilah
sekiranya Sio-cia memberitahukan nama dan maksud
kedatangan ini?"
Gadis berbaju putih diatas bukit itu dengan ilmu
meringankan tubuhnya segera terbang menyamperi Kong
Sun Giok. Harum yang terembus angin masuk kedalam
27
lubang hidung Kong Sun Giok ketika gadis itu tiba. Dari
jarak yang dekat itu, Kong Sun Giok melihat nyata bahwa
gadis itu betul2 cantik, dari kedua matanya yung jeli
mengawasi pemuda itu. Setibanya dihadapan Kong Sun
Giok, gadis itu berkata: „Aku bernama Bian Leng Jun.
Kongcu mungkin adalah Kong Sun Giok, murid
kesayangan dari Thian Lam Sa Kiam, bukan?"
Kong Sun Giok makin terperanjat dengan pertanyaan
itu. Ia menyahut: „Aku betul Kong Sun Giok.Melihat sikap
Sio-cia, aku kira Sio-cia ada urusan ……”
Dengan tidak menanti jawaban ia berkata lagi: „Kongcu
tengah ngelamun. Sebetulnya aku tidak sampai hati
menyampaikan berita buruk ini. Akan tetapi aku
diperintahkan oleh guruku, dan juga menerima pesanan
Goan Siu Totiang ketika hampir menemui ajalnya, maka
……”
Kong Sun Giok berseru : „Ha! Hampir menemui
ajalnya!? Apakah Su-huku ……”
Bian Leng Jun menyusut air mata, dan dengan suara
rendah berkata: „Thian Lam Sa Kiam, Goan Siu,
GoanLong dan Goan Cin ketiga Totiang telah tewas bersama2
dilembah Lek Yun Kok dipegunungan Kwat Cong
San. Pesan dan barang peninggalannya aku yang
membawa!"
Kong Sun Giok mundur selangkah, memandang
wajahnya Bian Leng Jun, dan bertanya lagi: „Bian Sio-cia
sebetulnya murid dari partai silat manakah? Guruku Goan
Sin dan kedua pamanku Goan Long dan Goan Cin, ilmu
silat pedangnya tak ada taranya dikalangan Bu Lim.
Bagaimanakah mereka dapat menemui ajalnya
dipegunungan Kwat Cong San? Apakah karena mereka
menderita luka2, atau sakit?? Aku minta Sio-cia
28
menceriterakan kepadaku se-jujur2nya. Budi guruku itu
sebesar budi ibu-ayahku. Jika kau berdusta, kau harus
merasai akibatnya!"
Bian Leng Jun-pun mengetahui bahwa ilmu silat pedang
Thian Lam Sa Kiam itu terkenal lihay sekali dikalangan Bu
Lim. Tidak mengherankan jika Kong Sun Giok tak percaya
akan tewasnya ketiga jago2 silat pedang itu. la segera
membuka tali ikatan bungkusan dari punggungnya yang
berisi barang2 peninggalan dan surat pesanan Goan Siu
Totiang. Diserahkannya bungkusan itu sambil berkata:
„Akupun duga bahwa Kong-cu tak akan percaya.
Bungkusan ini yang berisi baeang2 peninggalan dan surat
pesanan akan menjadi bukti akan pemberitahuanku kepada
Kong-cu. Aku harap Kong-cu jangan terlampau bersedih
hati, akan tetapi segera melaksanakan pesan Goan Sin
Totiang!"
Seterimanya bungkusan dari sobekan jubah itu, Kong
Sun Giok makin cemas. Setelah melihat pedang yang
separuh itu, ia menangis sedih ber-sama2 Bian Leng Jun,
dan dengan tidak terasa lagi ia berseru : „Hai…… " Belum
lagi ia meneruskan ucapannya, ia telah jatuh pingsan
ditanah!
Bian Leng Jun yang menyaksikan kehancuran hatinya
Kong Sun Giok itu menjadi sangat terharu akan budi yang
dikandungnya. Ia buru2 berusaha menyadarkan Kong Sun
Giok. Dari kantong didadanya ia mengeluarkan sebutir
Leng Tan (Pil mustajab) dan dimasukkannya kedalam
mulut Kong Sun Giok. Lalu dipijit-pijitnya urat dibahunya!
Sejenak kemudian, Kong Sun Giok membuka kedua
matanya, dan melihat Bian Leng Jun masih berada
didampingnya dengan wajah yang muram. Ia
membungkukkan tubuh menghaturkan hormat kepadanya.
Dengan suara rendah Bian Leng Jun berkata :„Kau tak
29
usah menghaturkan terima kasih kepadaku. Bacalah surat
pesan Goan Siu Totiang, karena antara kita berdua, tentang
budi dan dendam belum lagi dapat dipastikan!" Kong Sun
Giok tidak mengerti akan ucapan-gadis itu. Ia segera
membaca surat pesanan gurunya yang ditulis dengan darah.
Seluruh tubuhnya gemetar, dan keringatnya mengucur
diseluruh tubuhnya!.
Bian Leng Jun lalu mengajak Kong Sun Giok duduk
diatas suatu bangku batu, dan dengan suara halus berkata:
„Betapa agungnya ketika ketiga jago Thian Lam Sa Kiam
itu menunaikan janji!" Kong Sun Giok mengerutkan
keningnya, menggeretak giginya, Lalu membuka lagi surat
pesanan gurunya dan membaca isinya. Goan Sin Totiang
menuturkan tentang dendam terhadap Lak Cao Shin Kun
Ban Cun Bu yang dibereskan dengan pertempuran
pertaruhan jiwa dilembah Lek Yun Kok dipegunungan
Kwat Cong San. Goan Siu Totiang juga menerangkan
bahwa ilmu silat pedangnya sebetulnya dapat menjagoi
dikolong Langit dan lebih unggul daripada ilmu Sun Yok
Cin Kai dari Ban Cun Bu, akan tetapi karena masih ada
kekurangan ilmu dari kitab Ju Keng, ilmu silat pedang itu
belum mencapai mujizatnya, sehingga ketiga jago Thian
Lam Sa Kiam itu harus membayar mahal dengan jiwanya!
Seterusnya, surat pesan itu berbunyi sebagai berikut :
”Menurut ceritera, kitab Ju Keng tersebut tidak lebih dari
100 huruf. Ber-puluh2 tahun banyak jago2 silat berusaha
mencarinya, tetapi sia2 belaka!
Seterimanya surat ini, kau tak usah terlampau sedih. Aku
dan pamanmu telah berkorban untuk ber-bagai2 partai silat
didaerah tengah degan mencegah iblis Ban Cun Bu itu
kembali kedaerah tengah, dan kita mati dengan perasaan
puas ! Kedua pamanmu yang satu adalah menjangan, dan
yang lain bangau, dan ke-dua2nya masih mengajar silat
30
dikalangan Bu Lim. Akan tetapi aku tak mengetahui
dimanakah mereka sekarang. Kau dapat berusaha
menyampaikan berita buruk ini kepada mereka. Lalu bersama2
paman2mu itu kau berdaya mencari kitab Ju Keng
itu untuk membalas dendam dan mencuci bersih malu yang
kita derita! Ban Cun Bu, meskipun kejam, akan
menunaikan janjinya. Selama 10 tahun ini, ia tak akan
datang kedaerah tengah. ya, pribahasa berkata: “Manusia
berusaha, Tuhan berkuasa, seudah 10 tahun lagi, kitapun
tak dapat mengetahui bagaimana akibatnya janji yang aku
buat dengan Ban Cun Bu. Tetapi jika kau dapat
melaksanakan pesanku ini, aku merasa bangga mempunyai
murid serupamu! Ketika kita bertempur melawan Ban Cun
Bu dalam taraf ulangan yiang terachir, sebetulnya
pamanmu Goan Cin telah dikalahkan dalam jurus ke-100!
Tetapi muridnya Ban Cun Bu, Bian Leng Jun, sengaja
menghitung lebih satu jurus. Oleh karena itu Ban Cun Bu
harus menunaikan janji tak datang kedaerah tengah selama
10 tahun. Gadis itu berjasa sekali. Tetapi mengapa ia
Sengaja berbuat demikian terhadap gurunya? Oleh karena
itu, jika ia yang menyampaikan surat ini, atau jika
dikemudian hari kau menemuinya lagi, kau tak dapat
memandangnya sebagai musuh!"
Kong Sun Giok membaca surat itu sambil mengucurkan
air mata, dan setelah membaca habis, ia membungkukkan
tubuhnya memberi hormat kepada Bian Leng Jun. Bian
Leng Jun lekas2 mengangkat tubuhnya Kong Sun Giok dan
berkata : „Kong-cu terlampau menghormati aku!"
Dengan air mata ber-linang2, Kong Sun Giok berkata :
“Bian Sio-cia, dilembah Lek Yun Kok, kau bukan saja telah
mengubur guru2ku dengan seksama, menyampaikan
barang2 peninggalan dan surat ini, bahkan dengan sengaja
menghitung lebih satu jurus, demi kepentingan para jago2
31
silat didaerah tengah. Budi dan jasamu ini besar sekali. Tapi
gurumu dan aku dendamnya hebat sekali. Lain hari setelah
aku datang ke Lak Cao membikin perhitungan terhadap
Ban Cun Bu, aku tak lupa membereskan budi baikmu ini!"
Melihat demikian sedih hatinya Kong Sun Giok, Bian
Leng Jun coba menghibur dengan berkata : „Ilmu silat
Thian Lam Sa Kian betul2 tinggi, karena aku telah
menyaksikan dengan kepala mataku sendiri. Sebetulnya
membantu orang luar seperti juga berontak terhadap pihak
sendiri. Tetapi hubungan murid dengan guru antara aku
dan Lak Cao Shin Kun tidak erat, karena aku mempunyai
suatu dendam yang tak terduga olehnya. Aku sangat
mengagumi dan menghormati Thian Lam Sa Kiam yang
rela berkorban demi kepentingan partai2 silat didaerah
tengah. Aku sengaja menghitung lebih satu jurus ketika
Goan Cin Totiang dikalahkan. Jika Goan Siu Totiang tidak
me-nyebut2 dalam suratnya, akupun tak akan
menceriterakan ini kepadamu. Tentang mengubur jenazah2
ketiga jago Thian Lamm Sa Kiam itu, aku anggap
kewajibanku. Jenazah siapapun akan kukuburkan dengan
saksama. Aku gembira mengenal Kongcu. Dikemudian hari
setelah kau memahami dan mempelajari ilmu silat dari
kitab Ju Keng dan datang ke Lak Cao untuk membikin
perhitungan terhadap Ban Cun Bu, aku minta dengan
sangat kau datang kekuil Pik Yun Yen yang terletak
dibawah kaki gunung Pek Lok Hong menemui aku untuk
mengetahui segala sesuatu tentang gedung Sun Yo
sebelumnya mengatur sia-sat melawan Ban Cun Shin Kun
!"
Kong Sun Giok mendengarkan pesan itu dengan
sungguh2, dan masih tak dapat memecahkan mengapa Bian
Leng Jun membela gurunya. Bian Leng Jun mengatakan
lebih lanjut: “Lak Cao Shin Kun menanti kedatanganku.
32
Aku tak dapat diam lama2 disini. Nah ........ kita berpisah
sekarang, dan bertemu pula 10 tahun lagi. Saudara Giok,
jika boleh, panggil saja aku Jun Moy."
“Aku sukar membalas budi Jun Moy. Ya, kau dapat
menantiku 10 tahun di Lak Tan!"
Dengan hati berat, Bian Leng Jun minta diri. Mengingat
cara tewas guru dan paman2 gurunya, Sun Giok menjadi
geregetan dan hendak menghancurkan seruling
ditangannya. Perbuatan itu dicegah oleh Bian Leng Jun
yang dengan suara halus berkata : „Saudara Giok, didalam
10 tahun, jika kau berusaha keras, kau dapat membalas
dendam. Aku menantimu di Lak Cao. Seruling ini jangan
dirusakkan. Berikan kepadaku "sebagai kenang2an!"
Bian Leng Jun insyaf bahwa jika ia tak segera berlalu, ia
tentu akan terlalai. Dengan air mata berlinang, ia
membalikkan tubuh, menotok tanah dengan kedua ujung
jari kakinya, dan dibawah sinar bulan ia meloncat melewati
segala rintangan didalam kebun itu seperti seekor burung
terbang pergi!
Kong Sun Giok berdiri terpesona menyaksikan ilmu
meringankan tubuh sigadis itu. Tiba2 ia merasa bahwa
tangannya memegang sapu tangan halus kepunyaannya
Bian Leng Jun yang dipakai untuk menyusut air matanya.
Harum dari sapu tangan tersebut membikin ia ngelamun
lagi!
la mengumpulkan barang2 peninggalan dan surat
gurunya, dan masuk kedalam kamarnya. Ia duduk sambil
memikirkan dendam terhadap Ban Cun Bu, budi kasihnya
Bian Leng Jun, cara mencari kedua paman gurunya, dan
kitab Ju Keng yang harus dicarinya ber-sama2 kedua paman
gurunya. Dengan pikiran itu bagaimanakah ia dapat tidur?
33
Keesokan paginya, setelah ia membereskan buku2nya
dan barang2 lainnya, dibawanya separuh pedang,
kerincingan, dan surat gurunya, dan juga pedangnya
sendiri, pergi meninggalkan tempat kediamannya untuk
berkecimpung dikalangan Kang Ouw dengan maksud
pertama mencari kedua paman gurunya, memberitahukan
berita buruk tentang gugurnya Thian Lam Sa Kiam, dan
kedua mencari kitab Ju Keng.
Setelah ia berlalu dari distrik Ci Men, iapun tak
mengetahui jurusan mana yang harus ditempuhnya. la
memikirkan bagaimana ia dapat berjumpa dengan kedua
paman gurunya yang juga berkecimpung dikalangan Kang
Ouw. Tentang kitab Ju Keng yang oleh guru2nya telah berpuluh2
tahun dicari tanpa hasil, akan diusahakannya
setelah la bertemu dengan kedua paman gurunya.
Tetapi segala sesuatu yang berharga dan ganjil
kebanyakan tersembunyi di-sudut2, atau peloksok2,
gunung2 atau sungai2 kenamaan. Telaga Poa Yo Hu yang
terletak disebelah utara propinsi Kiangsi dan tidak jauh dari
distrik CiMen sangat indah pemandangannya. Dari dahulu
telah menjadi tempat kesukaan para sastrawan dan
demikian, dari distrik Ci Men ia menuju kebaratdaya.
Tetapi ketika tiba dikota Keng Tek Cin yang terkenal
dengan barang2 porselennya, la mengalami suatu peristiwa
ganjil!
Setelah tiba di Keng Tek Cin, ia sudah berada tidak jauh
dari Poa Yo Hu. Keng Tek Cin adalah salah satu kota yang
besar dan sangat ramai. la mencari sebuah rumah
penginapan.
Pelayan rumah penginapan melihat Kong Sun Giok
dengan sikap dan wajah yang bersemangat dan sebuah
pedang dipinggang. Sambil tersenyum ia berkata : „Tuan
mungkin bukan orang dari propinsi ini. Mungkin Tuan
34
mendengar berita, lalu datang dari tempat jauh dengan
maksud memperoleh Po-kiam dan gadis cantik berikut harta
yang ber-limpah2."
Dengan perasaan heran Kong Sun Giok bertanya :
“Apa? Po-kiam dan gadis cantik serta harta ber-limpah ?
Aku tak mengerti. Cobalah kau ceriterakan dengan sejelas2nya."
Pelayan itu berkata sambil tertawa : „Masa urusan yang
menggemparkan seluruh propinsi Kiangsi ini tak Tuan
ketahui? Jika ilmu silat Tuan tinggi, Tuanpun boleh coba2!"
Lalu pelayan itu duduk disatu meja ber-sama2 Sun Giok
dan mulai menjelaskan sebagai berikut : “Sebetulnya di
Keng Tek Cin ada satu keluarga Sim. Kepala keluarganya
bernama Sim Hiong Hui. Dimasa mudanya ia adalah
seorang jago silat dikalangan Kang Ouw. Dengan pedang
wasiatnya Poa Cu Kiam ia pernah menjagoi daerah sebelah
timur sungai ini. Setelah berusia agak lanjut, ia membawa
semua harta bendanya dan tinggal tenang di Keng Tek Cin
disebuah rumah yang dibuat sangat indah. la hanya
mempunyai seorang puteri yang amat disayanginya
bernama Sim Lam Si. Tahun ini puteri itu berusia 29 tahun.
Puteri itu pandai bersilat, dan cantik jelita. Tetapi cara Sim
Hiong Hui memilih menantu sangat keras, sehingga sampai
sekarang ia tak berhasil mendapat menantu yang dapat
memenuhi syaratnya. Sim Hiong Hui karena sangat sayang
pada puteri yang satu2nya itu berketetapan mencari
menantu yang pandai ilmu silat. la telah mengumumkan
bahwa dengan batas waktu satu bulan, pemuda yang
tingkah-lakunya baik, berusia tidak lebih dari 25 tahun dan
belum menikah, jika dapat menempuh ujian ilmu silat
dalam tiga taraf, akan dikawinkan dengan puterinya yang
cantik jelita dan diberikan pedang wasiat Poa Cu Kiam
yang bergagang emas dan harta benda yang ber-limpah2
35
banyaknya. Emas, pedang wasiat, gadis cantik tiga2nya
mempunyai gaya tarik yang hebat sekali. Segera setelah
berita ini tersiar, banyak sekali jago2 silat dikalangan Bu
Lim, dengan tak menghiraukan perjalanan jauh datang
untuk menguji peruntungan. Akan tetapi syarat ujian ilmu
silat yang ditetapkan oleh Sim Hiong Hui itu sangat berat.
Meskipun sampai sekarang sudah berjalan 25 hari, akan
tetapi belum ada seorang yang dapat mengatasi ujian
tersebut sampai taraf ke-2, dan emas, pedang dan gadis
cantik jelita itu tetap tak terganggu!"
Setelah mendengar penuturan itu, Kong Sun Giok
merasa bahwa cara menguji ilmu silat tersebut betul2 sangat
ganjil dikalangan Bu Lim. Dengan beban dendam gurunya
dan rupa gadis Bian Leng Jun yang selalu terlihat didalam
impiannya, ia tentu tak akan mencoba mengadu
peruntungan untuk mendapat hadiah yang menarik itu.
Tetapi ia ingin mengetahui syarat ujian ilmu silat dalam tiga
taraf itu.Maka ia lalu menanyakan jalan ketempat keluarga
Sim kepada pelayan rumah penginapan. Sambil tertawa
pelayan itu berkata : „Rumah Sim Hiong Hui mudah dicari.
Setelah keluar dari pintu kota disebelah barat Tuan akan
menemui sebuah gedung besar dengan pekarangan yang
sangat luas. Itulah rumah keluarga Sim. Kini batas
waktunya masih ada 5 hari. Aku dengar hari ini telah
datang banyak jago2 silat, maka pertempuran diwaktu lohor
ini pasti ramai. Tuan dapat makan dahulu baru pergi
kesana." Kong Sun Giok tersenyum, lalu menyuruh pelayan
itu menyediakan santapan. Setelah itu, ia berjalan menuju
jalan menurut petunjuk pelayan tersebut.
Ketika ia tiba diluar rumah keluarga Sim itu, ia
menyaksikan orang telah banyak berkumpul mengelilingi
sebuah panggung, dan tribune dikiri dan kanan panggung
itu juga telah penuh orang. Panggung itu berada
36
dipekarangan belakang dari tempat kediaman Sim Hiong
Hui itu. Kong Sun Giok menghampiri tribune sebelah
timur, tiba2 ia terkejut dan berseru : „Jun Moy!"
Sebetulnya didalam tribune sebelah timur itu telah duduk
seorang pemuda berbaju hijau yang wajah, dan sikapnya
mirip seperti murid berbaju putih gadis Bian Leng Jun!
Kong Sun Giok berhenti dan berkata seorang diri : „Aneh!
Didunia ini ada pria yang demikian cantiknya. Selainnya
satu tahi lalat diatas alis kirinya, ia mirip sekali dengan Bian
Leng Jun yang berpakaian laki2."
Dengan tak terasa la berjalan kedepan pemuda berbaju
hijau yang segera mendungak melihatnya. Sambil
tersenyum pemuda itu menggeser sedikit untuk
mempersilahkan ia duduk disampingnya.
Dengan mengangkat kedua tangannya Kong Sun Giok
menghaturkan terima kasih kepada pemuda itu, lalu berkata
: „Sio-tee Kong Sun Giok mohon berkenalan dengan
saudara."
“Sio-tee bernama Yen keh Ciu. Apakah saudara Kong
Sun Giok datang untuk mengadu peruntungan? Melihat
paras dan jejak saudara, maka Sio-cia Sim Lam Si akan
tertarik, dan saudara tak usah menempuh ujian yang
berlangsung tiga taraf itu" Jawab pemuda berbaju hijau
sambil tersenyum.
Kong Sun Giok tak merasa canggung lagi, karena Yen
Keh Ciu berlaku wajar meskipun mereka baru saja
berkenalan. „Sio-tee sebetulnya hanya ingin menonton, dan
tak bermaksud mengadu peruntungan. Saudara Yen yang
jauh lebih pandai daripada aku, pasti bermaksud demikian."
Kata si-orang she Kong.
Yen Keh Ciu lalu berkata : „O…… sebetulnya saudara
Kong Sun Giok datang hukan karena tertarik oleh emas,
37
pedang wasiat dan gadis cantik! Jika demikian saudara
menenangkan pikiran banyak jago2 silat yang telah datang
dengan maksud tersebut."
Pada saat itu tampak diatas panggung seorang tua yang
berbadan sehat dan bersemangat dan seorang gadis cantik
jelita berbaju hijau muda dengan sebuah pedang tergantung
dibahunya. Lalu orang tua itu berkata sambil mengepalkan
tinjunya : “Aku Sim Hiong Hui yang telah
menyelenggarakan pertemuan ini. Tentang maksudnya, aku
yakin para tamu yang terhormat sudah mengetahuinya.
Ujian dalam tiga taraf ini tidak sukar. Taraf pertama ialah
bertempur melawan aku. Jika tidak terkalahkan dalam 100
jurus, maka calon itu lulus. Taraf kedua ialah menguji
tenaga dalam dari tinju dengan jalan ‘Kek Ci Pik Kiok’ atau
memecahkan batu terdedeng kertas. Taraf ketiga adalah
mengadu silat pedang melawan puteriku. Ujian dilakukan
tiap2 hari pada waktu pagi dan lohor dengan terbatas tiga
calon. Kini batas waktu masih ketinggalan 5 hari. Para
tamu yang terhormat, pemuda yang manakah ingin naik
panggung menempuh ujian lebih dahulu?"
Yen Keh Ciu tersenyum terhadap Kong Sun Giok dan
berkata: „Saudara Kong, coba lihat Sio-cia Sim itu. Betapa
cantiknya ia! Silatnya lihay! mengapa saudara tidak coba
naik kepanggung menempuh ujian?"
Kong Sun Giok menganggap ia mengejeknya. Ia
mengerutkan keningnya. Tiba2 dari tribune disebelah barat
terdengar suara orang berteriak : „Sim Cuan Cu. Aku Pan
Bian Kong The Tin mohon mencoba!"
Teriakan tersebut diiringi dengan berkelebatnya
bayangan terbang dari tribune tersebut yang jaraknya lebih
kurang 3 atau 4 depa, dan jatuh diatas panggung! Hebat
betul ilmu meringankan tuhuhnya!
38
Pan Bian Kim Kong The Tin ini tidak asing lagi bagi
orang2 dari kalangan Bu Lim, karena ia adalah seorang
perampok yang jahat yang berkeliaran sendirian.
Sim Hiong Hui setelah mendengar nama orang yang
naik panggung itu, lalu mengerutkan kening merasa masgul
Tetapi ia telah berjanji menerima calon2 yang dapat
menempuh ujian dalam tiga taraf dengan syarat2 tertentu,
dan ia tak dapat menolak calon itu. la mengawasi Pan Bian
Kim Kong itu. Meskipun sikapnya kuat dan bersemangat,
tetapi kedua matanya bersinar nafsu berahi dan
menunjukkan watak yang rendah.
Dengan tak banyak bicara lagi kedua orang itu segera
bertempur mengadu silat. Sim Hiong Hui dengan ilmu ‘Hut
Houw Cong’ atau ‘tamparan macan’ yang telah
menggemparkan kalangan Kang Ouw selama 30 tahun
menyerang setrrunya dengan berupa-rupa pukulan. Dibantu
dengan tenaga dalamnya yang dikeluarkannya dengan
sekuat tenaga, ia ingin dalam beberapa jurus saja Pan Bian
Kim Kong The Tin jatuh terpelanting kebawah panggung!
Akan tetapi The Tin telah ber-latih keras sebelum ia datang
ketempat itu. Semua pukulan si-orang tua itu dapat
dielakkan dan ditangkisnya. Setelah pertempuran
berlangsung 80 jurus, The Tin masih saja mengelakkan dan
menangkis. la tak menyerang! Setelah lewat 100 jurus, The
Tin loncat keluar, dan mengangkat kedua tangannya
memberi hormat kepada Sim Hiong Hui. la berkata sambil
tertawa :„Aku minta Sun Cuang Cu siapkan ujian taraf
kedua!"
Sim Hiong Hui menjadi cemas. Ia berpikir mengapa ia
tak beruntung menjatuhkan seterunya. la tak ingin
mendapat menantu yang demikian rendah wataknya. Ia
melirik kearah puterinya. Sim Lam Si tetap bersikap tenang,
se-akan2 menyuruh ayahnya tak usah kuatir. Sim Hiong
39
Hui sangat mencintai puterinya. Iapun mengetahui bahwa
silat puterinya lihay dan mungkin dapat mengalahkan The
Tin. Kini ia terpaksa menyiapkan ujian taraf kedua. Sekonyong2
dari tribune disebelah timur terdengar suara
orang berteriak : „Tunggu!"
Yen Keh Ciu setelah tersenyum kepada Kong Sun Giok,
lalu bangun dari tempat duduknya dan berkata: „Sio-tee ada
urusan!" Ia berjalan per-lahan2 dan naik kepanggung
melalui tangga. Setelah berada diatas panggung dengan
wajah yang murka ia membentak The Tin : „The Hian Cit!
Aku ingat pada 20 tahun yang lalu, aku pernah bersahabat
dengan gurumu Tai Ouw It Hok. Ketika itu kau baru
belajar jalan. Kini kau sudah besar, mungkin kau tak
mengenali aku lagi? Aku telah mengembara didaerah utara,
dan aku rindu terhadap sahabat2 disebelah selatan sungai.
Apakah gurumu Tai Ouw It Hok baik?"
Pan Bian Kim Kong yang sedang gembira, melihat
pemuda itu datang naik keatas panggung, dan mendengar ia
me-nyebut2 nama gurunya pada 20 tahun yang lalu, ia
menaksir tentu orang itu telah berusia 40 tahun. Tetapi
orang yang didepannya itu adalah seorang muda yang
berusia lebih kurang 19 tahun. Ia menjadi murka. Dengan
melotot ia bertanya : “Aku The Tin sudah berkecimpung,
dikalangan Kang Ouw semenjak aku berusia 8 tahun.
Selama 20 tahun aku mengikuti guruku, tetapi aku belum
pernah melihatmu! Kau tak usah beragak! Jika kau tidak
menghaturkan maaf, kau tak dapat turun dari panggung
ini!"
Yen Keh Ciu dengan tubuhnya yang tegap, sikapnya
yang sopan dan wajahnya yang menarik telah diperhatikan
oleh Sim Hiong Hui dan puterinya ketika ia naik keatas
panggung. Dengan tenang ia menyahut : „Kau mengikuti
guru semenjak berusia 8 tahun. Kau telah mengatakan telah
40
mengikuti gurumu selama 20 tahun. Kau sekarang sudah
berusia 28 tahun. Syarat dari Sim Cuan Cu ialah pemuda
yang belum menikah dan berusia tidak lebih dari 25 tahun
baru dapat turut menempuh ujian. Betul ilmu silatmu agak
bagus, akan tetapi kau datang terlambat 3 tahun, dan tidak
memenuhi syarat. Oleh karena itu ujian taraf kedua, tak
dapat kau tempuh. Lebih baik kau kembali pulang ke Tai
Ouw!"
Mendengar ucapan itu, Sim Hiong Hui menyesali diri
sendiri berlaku teledor tentang syarat2 yang harus ditepati
oleh para calon. Karena keteledorannya itu, mungkin
puterinya mendapat suami yang rendah wataknya!
Pada saat itu, Sim Lam Si menjadi sangat tertarik oleh
sikap dan perbuatan Yen Keh Ciu, dan telah jatuh cinta
padanya.
Pan Bian Kim Kong The Tin yang telah ditelanjangi
dihadapan banyak orang oleh pemuda itu, menjadi marah
sekali. Dengan satu jeritan keras ia menyerang Yen Keh
Ciu dengan kedua tinjunya!
Sim Hiong Hui dan puterinya tidak senang melihat
perbuatan kasar dari The Tin itu. Mereka membentak!
Tetapi Yen Keh Ciu hanya kebat lengan baju kirinya, dan
The Tin memukul angin! Sambil tersenyum ia berkata
kepada Sim Hiong Hui dan puterinya : „Sim Cuang Cu dan
Sim Sio-cia, tak usah gusar. Orang gila ini, akan kuhajar!"
Lalu secepat kilat ia membalikkan tubuhnya dan dengan
satu tinju dihajarnya muka The Tin yang menangkis dengan
kedua tinjunya. „Brek" terdengar suara beradunya tinju2
itu, dan The Tin terpental 7 atau 8 kaki! Sambil tertawa Yen
Keh Ciu ayun tangan kanannya sambil berkata: „Jika kau
tak percaya hahwa aku adalah sahahat gurumu, pulanglah
dan tanyakan pada gurumu di Tai Ouw tentang pukulan
tinju tangan kananku ini!" The Tin yang baru saja
41
mengumpulkan semangatnya dari pukulan pertama buru2
meloncat turun dari panggung untuk menghindarkan
pukulan tangan kanan Yen Khe Ciu itu, dan lari
sipatkuping seperti anjing dipukul.
Setelah me!ihat The Tin kabur, Yen Khe Ciu
menghampiri Sim Hiong Hui dan berkata : „Aku ini Yen
Khe Ciu minta belajar silat dari Sim CuangCu!"
Sikapnya, ilmu silatnya, tingkah-lakunya, kecerdasannya
telah menggiurkan hatinya Sim Hiong Hui maupun
puterinya. Sambil tertama gelak2 Sim Hiong Hui menjawab
: „Baru saja The Tin dapat bertahan melawan aku selama
100 jurus, dan ia dapat dikalahkan oleh Yen Cuang Su
hanya dengan satu jotosan. Taraf kesatu ini dapat
dibebaskan. Kau boleh mencoba taraf kedua, ialah ujian
'Kek Ci Pik Ciok' atau memecahkan batu tertedeng kertas!"
Lalu disuruhnya empat pesuruh membentangkan sehelai
kertas tipis. Tiga atau empat kaki dibawah kertas itu terletak
sebuah batu besar.
Sambil tersenyum Yen Khe Ciu mendekati pinggir kertas
dan berkata dengan hormat : “Aku akan coba ujian ini. Jika
gagal, harap jangan ditertawakan!"
Sim Hiong Hui dan Sim Lam Si mengharap ia berhasil
menempuh ujian itu. Untuk ujian taraf ketiga menerima
kalah.
Yen Khe Tiiu menggulung kedua lengan bajunya, dan
terlihat kulit lengannya yang putih bersih. la mengangkat
kedua tangannia dengan kedua tinju terkepal, lalu dengan
per-lahan2 diturunkannya kedua tinjunya keatas kertas tipis
itu. Kertas tersebut tak tergetar. Ia mundur beberapa tindak,
lalu berkata samhil tersenyum kepada Sim Hiong Hui :
„Tenaga dan ilmu Kek Ci Pik Ciok-ku ini masih belum
42
sempurna. Aku tak dapat membikin batu menjadi bubuk.
apakah aku dapat lulus ujian?"
Sim Hiong Hui tak percaya bahwa Yen Khe Ciu telah
memecahkan batu dibawah kertas. la menyuruh pesuruh2
mengangkat kertas tipis itu. Terlihatlah olehnya batu itu
masih utuh! Akan tetapi setelah disentuh maka batu itu
berantakan menjadi 10 potong kecil! Ilmu memecahkan
batu itu bukan saja membikin Sim Hiong Hui dan puterinya
menjadi heran, bahkan Kong Sun Giok yang menyaksikan
ditribune sebelah timur juga terpesona. Ilmu tenaga
dalamnya pasti lebih lihay dari ilmunya!
Sejenak kemudian, Sim Hiong Hui berkata sambil
tersenyum : „Yen Cuang Su betul2 lihay ilmu silatnya. Aku
si-tua bangka ini sangat kagum! Ayolah tempuh ujian taraf
ketiga, ialah bertempur melawan puteriku."
Mendengar perkataan itu, Yen Khe Ciu tersenyum.
Lalu ia menghadapi Sim Lam Si dan berkata : „Aku tak
mempunyai senjata apapun. Aku minta Sio-cia
meminjamkan sebuah pedang kepadaku!"
Sim Lam Si telah berlatih silat dari banyak guru silat
kenamaan, dan silatnya banyak lebih tinggi dari ayahnya.
Akan tetapi hatinya telah tertarik oleh Yen Khe Ciu.
Dengan permintaan itu, segera diberikannya pedang
wasiat Poa Cu Kiam kepunyaan ayahnya dengan sikap
hormat sekali! Sim Hiong Hui melihat puterinya rela
meminjamkan pedang wasiat itu kepada Yen Khe Ciu
segera insaf bahwa menantu yang di-idam2kannya telah
berada didepan mata. la tertawa gembira sambil meng-elus2
jenggotnya
Dengan kedua tangan Yen Khe Ciu menerima pedang
Poa Cu Kiam itu. Dipandangnya gagang pedang emas yang
43
indah itu dan memeriksa matanya yang tajam dan
mengkilap. Tidak salah jika pedang itu dikatakan sebuah
pedang wasiat! Lalu dipentilnya mata pedang itu dan
berkata kepada Sim Lam Si : „Dengan mendapat pinjaman
pedang wasiat ini, aku Yen Khe Ciu minta Sio-cia,
mengajariku ilmu shat Shin Lo Put Coan Pi Hak dari
pegunungan Bo San yang telah Sio-cia fahami!"
Mendengar Yen Khe Ciu menyebut nama gurunya, ia
terkejut. Ketika itu Sim Lam Si telah bersedia bertempur
dengan sebuah pedang lain yang dibawakan se-orang
pesuruh untuknya. Lalu dengan senyuman dari bibir merah
delima Sim Lam Si berkata : „Yen Kong-cu, ilmu silatmu
dapat menjagoi dunia. Tak usah merendahkan diri ! Aku
Sim Lam Si bodoh dan dungu. Meskipun telah belajar silat
selama 10 tahun, akan tetapi tak ada hasilnya. Aku mohon
Kong-cu memberi petunjuk2!"
Setelah membungkukkan tubuh memberi hormat,
dengan ilmu "Tan Hong Tiauw Yo” atau burung phoenix
menghadapi surya, Sim Lam Si menusuk pundaknya Yen
Khe Ciu!
Dengan bertindak cepat Yen Khe Ciu mundur dan
berkata : „Sim Sio-cia, serangan demikian ringan. Ayo,
keluarkan ilmu Shin Lo Put Coan Pi Hak-mu!"
Sim Lam Si yang telah bertekad mengalah setelah
melihat ilmu Kek Ci Pik Cioknya, merasa kuatir jika ia
dianggap enteng. Lalu dengan peringatan : „Kong-cu! Jaga
serangan ini!", pedangnya menyamber dari bawah keatas
kepalanya Yen Khe Ciu! Yen Khe Ciu berseru : „Itu
barulah silat pegunungan Bo San!" sambil mundur dua
tindak untuk mengelakkan sabetan pedang lawannya!
Diangkatnya pedang Poa Cu Kiam-nya, dan entah dengan
cara apa pedang itu di-putar2nya diatas kepalanya sehingga
sinarnya ber-kilau2 se-akan2 kembang api meliputi angkasa!
44
Tiba2 pedang itu menyamber ketubuh Sim Lam Si seakan2
se-ekor naga datang melilit! Tidak kecewa jika
pedang wasiat itu dinamakan Poa Cu Kiam (Pedang Naga
Melingkar)! Sim Lam Si harus memutar pedangn ya
mcnangkis serangan tersebut, dan kedua pedang ter-putar2
mengurung kedua jago silat itu. Seterusnya Yen Khe Ciu
hanya berusaha mengegos, mengelit dan menangkis. la
tidak menyerang! Maksudnya hanya mendesak lawannya
mundur!
Pertempuran yang seru itu membikin semua orang2 yang
menyaksikan duduk atau berdiri terpesona, tak terkecuali
Kong Sun Giok.
Meskipun Yen Khe Ciu mengambil sikap menjaga, akan
tetapi tiap2 serangan memaksa lawannya mundur.
Kong Sun Giok berpikir : „Ilmu silat pedang guruku,
Goan Siu Totiang, boleh dikatakan nomor wahid dikolong
langit. Jika aku dapat belajar dari Yen Khe Ciu itu, maka
ilmu silat pedangku akan lebih lihay lagi. Sebetulnya ilmu
silat pedang Yen Khe Ciu dari partai silat apakah?"
Demikianlah pertempuran diatas panggung berjalan
lebih kurang 50 jurus, dan Sim Lam Si insyaf bahwa
lawannya lebih unggul daripadanya. Untuk membikin Yen
Khe Ciu berhenti bertempur, tiba2 ia menyerang lawannya
dengan ilmu Tui Hun Kauw Ciat atau mengusir roh dari
sembilan jurusan. Serangan pedangnya dilakukan dengan
ber-turut2 sampai 9 kali kearah muka, punggung, kiri dan
kanan lawannya. Tetapi Yen Khe Ciu dengan pedang Poa
Cu Kiamnya melayani semua serangan2 itu sambil tertawa,
dan dengan suatu gentakkan, terlepaslah pedang Sim Lam
Si dari tangannya!
Sim Lam Si lain lari kebelakang ayahnya dengan
perasaan malu. Sim Hiong Hui tertawa gembira dan siap
45
mengumumkan kepada para penonton bahwa Yen Khe Ciu
telah lulus semua ujian, dan bahwa ia akan menikah dengan
puterinya dan memperoleh pedang wasiat Poa Cu Kiam
dan harta. Tetapi Yen Khe Ciu segera menancapkan
pedangnya Sim Lam Si keatas papan panggung, dan sambil
memegang pedang Poa Cu Kiam ia berkata kepada Sim
Hiong Hui dengan chidmad : „Sim Cuang Cu, Sim Sio-cia.
Aku hidup seperti awan. Selama hidupku aku tidak ingin
terikat, jadi akupun tak menghiraukan kebahagiaan orang
yang berumah tangga, maupun kekayaan" Lalu ia melirik
kearah dimana Kong Sun Giok duduk dan melanjutkan
pembicaraannya: „Cobalah lihat pemuda yang berjubah
biru ditribune itu. la mahir dalam sastra maupun ilmu silat.
Kepandaiannya lebih unggul dari kepandaianku. Ialah yang
pantas menjadi pasangan Sim Sio-cia. Aku hanya ingin
meminjam pedang Poa Cu Kiam ini untuk sementara
waktu, dan pasti aku kembalikan setelah lewat tiga tahun!"
Ayah dan puteri itu berubah wajahnya mendengar
ucapan itu, dan buyarlah impiannya. Lalu dengan
menuding2, Sim Hiong Hui berkata : „Kau…… kau……
menghina kami?! Kau terlalu ……'' Belum lagi murkanya
diucapkan keluar, dengan menotok kedua ujung jari
kakinya diatas papan panggung, Yen Khe Ciu telah loncat
terbang dari panggung untuk kemudian lari keluar dari
pekarangan entah kemana!
Kong Sun Giok yang menyaksikan dan mendengar
segala sesuatu yang terjadi diatas pangung itu baru insyaf
bahwa pemuda yang bernama Khe Ciu itu berarti „Keh
Ciu" atau mencari pedang. Ia tak berniat mengadu
peruntungan agar dapat menikah dengan gadis cantik dan
memperoleh pedang wasiat dan kekayaan, karena Bian Len
Jun masih ter-bayang2 dipikirannya, dan ia harus mencari
kedua paman gurunya untuk ber-sama2 mencari kitab Ju
46
Keng agar dapat membalaskan dendam gurunya yang tewas
dilembah Lek Yun Kok. Bagaimanakah ia dapat mencari
urusan yang dapat menyulitkannya dalam mencapai
maksudnya? Lalu dikeluarkannya sebiji 'Hian Men Ti Cu'
dan sentil biji itu kearah pedangnya Sim Lam Si yang
ditancapkan oleh Yen Khe Ciu diatas panggung. Kemudian
ia lekas2 berlalu dari tempat itu.
---oo0oo---
BAGIAN 3
MENGHADAPI PEDANG MENCARI KITAB JU
KENG
Setelah ia berlalu dari pekarangan Sim Hiong Hui, ia
buru2 kembali kerumah penginapannya. Disiapkannya
koffer2nya dan segera meninggalkan kota Keng Tek Cin
untuk menuju ketelaga Poa Yo Ouw. Bagaimanakah
pandangannya terhadap Yen Khe Ciu? Apakah ia harus
benci atau sayang??? la sayang, karena meskipun usianya
masih muda, kecuali silat pedangnya mungkin ia dapat
mengatasi, tetapi ilmu lain2nya ia lebih pandai
daripadanya. Lagi pula rupanya mirip sekali dengan Bian
Leng Jun! la benci, karena ia terlampau cerdik dan banyak
tipu-muslihat. Setelah membawa kabur pedang Poa Cu
Kiamnya, ia telah mempermainkan gadis dan ayahnya
dihadapan orang hanyak sehingga gadis itu sangat malu.
Jika ia tidak jatuhkan pedangnya yang tertancap dipapan,
mungkin gadis itumenggorok leher membunuh diri untuk
mencuci malu!
Setelah Kong Sun Giok tiba dipinggiran telaga Poa Yo
Ouw, ia berjalan mengitari pinggir telaga itu sambil
menikmati keindahan alam. la ingin mencari perahu
sewaan. Tiba2 datanglah sebuah perahu yang dihias. Kong
47
Sun Giok melihat bahwa perahu itu sudah ada
penumpangnya! la kecewa lagi, akan tetapi orang yang
didalam perahu memanggihiya : „Mungkin Kong-cu ingin
pesiar didalam perahu? Aku undang Kong-cu naik perahu
ini." Lalu perahu itu didayung kepinggir.
Ketika Kong Sun Giok naik keatas perahu itu, betapa
terkejutnya ia melihat orang yang memanggilnya tidak lain
tidak bukan ialah Yen Khe Ciu yang telah membawa kabur
pedang Poa Cu Kiam dan mempermainkan gadis Sim Lam
Si yang cantik jelita! Setelah mereka ber-hadap2an, Kong
Sun Giok berkata dengan ketus : „Aku Kong Sun Giok
meskipun mengagumi ilmu silat saudara, teapi jika saudara
ingin mempermainkan aku lagi, aku terpaksa tidak
mengenal saudara lagi!"
Pemuda berbaju hijau itu tertawa gelak2, dan seret Kong
Sun Giok duduk didalam perahu. Lalu la berkata : “Sio-tee
tidak duga bahwa saudara Kong Sun Giok demikian
alimnya. Aku sebetulnya berwatak kasar, tetapi aku ingin
bersahabat dengan saudara Kong." Ucapan yang memikat
hati itu melunakkan hati Kong Sun Giok. la segera
menerima cangkir arak yang dipersembahkan. Dengan
merubah wajahnya ia berkata :„Setelah mendapati pedang
Poa Cu Kiam, saudara tak usah memakai nama Khe Ciu
lagi. Sebetulnya apakah aku harus terus panggil Yen-heng ?"
Pemuda berbaju hijau itu menyahut sambil bersenyum :
„Saudara Kong bicara demikian, betul2 seorang pahlawan.
Aku sebetulnya bernama Tee Tian Kauw. Tahun ini aku
berusia 18 tahun setengah. Saudara Kong mungkin lebih
tua daripada aku?”
Kong Sun Giok mengerutkan keningnya, lalu menyahut :
„Aku berusia 19 tahun. Tetapi saudara Tee …… mengapa
harus nunggunakan tipu-muslihat untuk membawa kabur
pedang PoaCu Kiam?"
48
Tee Tian Kauw bisu sejenak, lalu sambil tersenyum ia
menanya : „Bagaimana halnya dengan Sim Sio-cia?"
Sambil goyang2 kepalanya, Kong Sun Giok menjawab:
„Jika tidak kujatuhkan pedangnya dengan Hian Men Ti Cu
mungkin Sio-cia itu membunuh diri karena kau beri malu!”
Lalu Tee Tian Kauw menghaturkan terima kasihnya untuk
jasa itu. Lalu dengan mata melotot ia menanya : „Hian
Men Ti Cu? Apakah saudara Kong murid dari Thian Lam
Sa Kiam yang lihay itu?"
Mendengar sebutan gurunya, Kong Sun Giok
mengucurkan air-mata karena sedihnya. Dengan air-mata
berlinang ia berkata : „Thian Lam Sa Kiam adalah guru2ku.
Apakah saudara Tee menanya ini karena ada sangkutan ?"
Tee Tian Kauw menjadi makin heran, dan ia berkata lagi
: „Goan Siu, Goan Long dan Goan Cin ketiga Totiang
(pendeta kepala) dengan ilmu silatnya yang tinggi, tenaga
yang besar dan kelihayan menggemparkan pedangnya
sebetulnya tak ada taranya dikalangan Bu Lim. Sio-tee
meskipun tak ada sangkutan dengan mereka, akan tetapi
Sio-tee sangat mengagumi dan menghormati ilmu silatnya.
Mendengar Kong Heng bicara demikian sedihnya tentang
Thian Lam Sa Kiam, aku duga Kong Henq pasti sangat erat
sekali hubungannya. Apakah aku sebagai sahabat baru
tetapi setia dapat berbuat sesuatu untuk menolong
saudara??''
Lalu Kong Sun Giok menuturkan peristiwa pertaruhan
jiwa dilembah Lek Yun Kok dipegunungan Kwat Cong San
karena dendam dari 10 tahun berselang sehingga ketiga
gurunya tewas. Iapun menuturkan pesan dan kewajibannya
sebagai murid Thian Lam Sa Kiam untuk membalas
dendam itu.
49
Setelah mondengar habis, Tee Tian Kauw menarik napas
panjang dan berkata seorang diri : „Tidak terduga Cun Bu
itu yang telah hilang kedua kakinya demikian lihaynya!
akupun mempunyai musuh, tetapi guruku tak
memberitahukan namanya. Aku hanya mengetahui musuh
itu adalah suatu iblis dikalangan Bu Lim. Kali ini aku
pinjam pedang Poa Cu Kiam adalah karena perintah
guruku yang berhudi. Dengan pedang wasiat itu, dan
melatih keras selama tiga tahun semua cara dan siasat ilmu
silat, guruku akan memberitahukan nama dari musuh besar
itu, dan mengizinkan aku pergi membikin perhitungan!"
Kong Sun Giok telah mengetahui bahwa Tee Tian Kauw
dalam hal ilmu silat pedang, ilmu silat lain2nya, maupun
ilmu tenaga dalam, ada lebih pandai daripadanya.
Mendengar ia juga mempunyai musuh besar, ia merasa
telah memperoleh seorang saudara yang serupa nasibnya. la
lalu bertanya: „Saudara Tee dengan kepandaian silat yang
lihay, dan gurumu demikian hati2nya, aku tak dapat pikir
sebetulnya siapakah iblis dikalangan Bu Lim itu?
Sebetulnya siapakah gurumu itu ?''
Tee Tian Kauw tidak segera menjawab pertanyaan itu. la
mengerutkan keningnya se-akan2 ada sesuatu yang
dipikirnya. Lalu ia berkata: „Ketika aku turun gunung,
guruku pernah berpesan. Untuk melawan musuh besar itu,
dikalangan Bu Lim hanya ada dua pedang yang dapat
digunakan. Yang satu pedang Leng Liong Pi dan yang satu
lagi ialah pedang Poa Cu Kiam. Tersebar kabar bahwa
pedang Poa Cu Kiam ini sangat erat hubungannya dengan
kitab Ju Keng yang saurdara Kong katakan. Setelah aku
memperoleh pedang Poa Cu Kiam, aku harus berlatih ilmu
silat pedang Kiat Biauw Kiam Sut sebanyak tujuh rupa
yang dipahami oleh guruku. Ilmu silat pedangku ini hanya
terdiri dari empat rupa. Selama aku mencari pedang wasiat
50
yang berlangsung hampir setengah tahun, akupun telah
mempelajari ilmu silat pedang Tat Mo Shin Kiam dari
partai Silat Siauw Lim Sie, kelihayan ilmu silat pedang itu
dapat menumbangkan gunung! Sebetulnya pedang Leng
Liong Pi lebih mujizat daripada pedang Poa Cu Kiam tapi
aku telah berusaha mencarinya dengan sia2 belaka. Aku
beruntung masih bisa mendapatkan pedang Poa Cu Kiam
ini! Kini saudara Kong dapat perintah mencari kitab Ju
Keng. Aku kira jika akupun dapat mempelajari ilmu dari
kitab Ju Keng itu, maka aku dapat siap menghadapi musuh
yang bagaimanapun juga lihaynya pada setiap waktu!
Guruku membatasi jangka waktu setengah tahun untuk aku
kembali. Kini batas waktunya telah tiba, aku harus kembali
kegunung. Aku rela menyerahkan pedang Poa Cu Kiam ini
kepada saudara, agar saudara dapat menyelidiki hubungan
apakah pedang ini dengan kitab Ju Keng. Setelah lewat tiga
bulan, aku minta saudara membawa pedang ini datang
kesebuah rumah gubuk yang terletak dipuncak Ti Shing
Hong dari pegunungan Kauw Ji San dipropinsi Hunan.
Pada waktu itu mungkin aku minta saudara mengajari ilmu
silat pedang yang luar biasa kepadaku. Tentang siapakah
guruku, aku kira saudara kelak dapat mengetahuinya."
Semenjak Kong Sun Giok meninggalkan distrik Ci Men,
ia telah merasa bahwa untuk mencari kitab Ju Keng, Yang
guru2nya telah berusaha mencarinya dengan hampa selama
10 tahun lebih, adalah seperti mencari sebatang jarum
didalam lautan hesar. la telah hampir2 hilang harapan!
Tidak terduga ia dapat menemui Tee Tian Kauw yang
mengatakan bahwa pedang Poa Cu Kiam itu erat sekali
hubungannya dengan kitab Ju Keng. la merasa sangat
beruntung! la menjadi gembira sekali!
Sebetulnya kitab Ju Keng itu harus dipelajari dengan
tekun oleh orang2 yang betul2 lihay ilmu silatnya, dan
51
harus melatih dengan giat untuk dapat dipergunakan dan
tampak manfaatnya. Pedang Poa Cu Kiam itu adalah yang
sangat disegani oleh tiap2 jago silat. Kerelaan Tee Tian
Kauw menyerahkan pedang itu kepada Kong Sun Giok
untuk diselidiki hubungannya dengan kitab Ju Keng betul2
harus dipuji. Oleh karena itu Kong Sun Giok menjadi
sangat percaya kepada Tee Tian Kauw!
Ketika Tee Tian Kauw menyerahkan pedang wasiat itu.
Kong Sun Ciok berkata: „Dengan kemurahan hati saudara
Tee yang besar itu, aku tak tahu bagaimanakah
menghaturkan terima kasih. Aku berjanji, setelah lewat tiga
bulan, apakah aku mendapat atau tidak kitab Ju Keng itu,
aku PASTI datang kepuncak Ti Shing Hong dari
pegunungan Kauw Ji San untuk mengembalikan pedang
wasiat ini, dan aku tentu rela mengajari ilmu silat pedang
kepada saudara!"
Sambil memandang kearah telaga Tee Tian Kauw
berkata : „Perkenankan aku menganggap saudara Kong
sebagai kakak !"
Mendengar ucapan itu, Kong Sun Giok terkenang akan
gadis Bian Leng Jun yang mirip sekali dengan Tee Tian
Kanw! la menggambarkan peristiwa didalam kebun dari
tempat kediamannya ketika Bian Leng Jun menyerahkan
barang2 peninggalan dan surat pesan gurunya yang tertulis
dengan darah. Lalu ia keluarkan pedang buntung dan
kerincingan emas itu dan memperlihatkan kepada Tee Tian
Kauw. la berkata : „Marilah kita bersumpah menjadi
saudara. Kau katakan pedang Poa Cu Kiam dan kitah Ju
Keng sangat erat hubungannya. Itulah isyarat bahwa kau
dan aku harus juga erat hubungannya seperti saudara
kandung, bukan?"
Lalu dari meja Tee Tian Kauw angkat pedang Poa Cu
Kiam dan serahkan pedang itu kepada Kong Sun Giok
52
sambil berkata : „Ketika guruku memberi petunjuk
kepadaku, akupun pernah bertanya tentang kitab Ju Keng,
dan hubungannya dengan pedang Poa Cu Kiam. Kitab Ju
Keng yang sangat disegani oleh jago2 silat sebetulnya
sangat sukar dicari. Guruku hanya mengatakan :„Untuk
mendapatkan kitab Ju Keng, orang harus memperoleh
pedarig Poa Cu Kiam. Kini pedang Poa Cu Kiam telah
ditangan kita, aku kira banyak harapan untuk memperoleh
kitab Ju Keng. Saudara dapat menyelidiki dan mempelajari
dengan teliti hubungan pedang ini dengan kitab Ju Keng itu
jika telah ditangan saudara!"
Kong Sun Giok mengetahui dengan diserahkan pedang
itu kepadanya, Tee Tian Kauw tak akan menyembunyikan
rahasia lagi. la menerima pedang itu yang panjangnya lebih
kurang 3 kaki, dan yang gagangnya merupakan seekor naga
sedang melingkar.
Setelah memeriksa gagang dan daun pisau pedang
tersebut agak lama kedua pemuda itu tertawa, dan Tee Tian
Kauw berkata : „Bagaimanakah kita dapat mencari kitab Ju
Keng dengan melihati pedang ini saja? Aku sampai lupa
bahwa aku harus Iekas2 kembali kepuncak Ti Shing Hong
dipegunungan Kauw Ji San di propinsi Hunan. Terimalah
pedang ini, dan aku minta saudara Kong mengantarkan aku
sampai ke Poa Yo." Permintaan itu pasti dikabulkannya,
karena jika ia tak bertemu Tee Tian Kauw, bagaimanakah
ia dapat membawa pedang Poa Cu Kiam, dan tanpa pedang
itu, apakah gunanya kitab Ju Keng? Betul janji kepada Cun
Bu berlangsung sepuluh tahun, tetapi janji kembali
kepuncak Ti Shing Hong dari pegunungan Kauw Ji San
hanya tiga bulan batas waktunya. Untuk memperingatkan
malam sumpah menjadi saudara kandung, mereka
mengambil keputusan pesiar didalam telaga itu semalaman
untuk berpisah di-esok harinya.
53
Ke-esokan harinya perahu telah tiba di Tek An. Tee Tian
Kauw lalu berdiri, dan dengan air mata berlinang ia berkata
sambil memaksa diri tersenyum kepada Kong Sun Giok:
„Didalam dunia ini, perpisahanlah yang paling berat
rasanya. Tetapi kita masing2 mempunyai tugas penting, dan
harus menunaikan janji dan melaksanakan tugas penting
kita itu. Mulai hari ini, selama tiga bulan, Aku dipuncak Ti
Shing Hong menanti saudara. Dan Saudara jangan jangan”
la tak dapat meneruskan lagi air matanya mengucur. Sambil
susut air matania, la melepaskan diri dari pegangan Kong
Sun Giok dibahu kanannya, dan dengan ilmu meringankan
tubuh, ia loncat kedaratan empat depa jauhnya. la tak
menoleh kebelakang lagi dan terus lari ketempat tuyuannya!
Kong Sun Giok sangat sedih hatinya berpisah dengan
saudara angkatnya itu. Ia terus melihat larinya Tee Tian
Kauw sampai tak kelihatan lagi!
Lalu dibayarnya tukang perahu itu. Dengan pedang Poa
Cu Kiam dipinggang, iapun pergi ketempat yang ditujunya.
---oo0oo---
Kong Sun Giok lekas2 mencari rumah penginapan
dengan maksud beristirahat se-malam2annya. Karena ia tak
mempunyai urusan lain, dimalam itu dikeluarkannya lagi
pedang Poa Cu Kiamnya. Dipikirkannya kembali ucapan
Tee Tiyn Kauw yang mengatakan bahwa pedang tersebut
ada hubungannya dengan kitab Ju Keng. Lalu diselidikinya
lagi pedang itu dengan teliti. Daun pedang tersebut terbuat
dari baja murni. Dengan tangan kirinya memegang gagang
pedang, jari2 tangan kanannya me-mijit2 daun pedang.
Ketika pijitannya sampai dekat gagangnya, terasa olehnya
sesuatu yang berlainan! Gagang pedang itu yang berbentuk
naga melingkar dibuat dari emas, dan sebuah dari kedua
54
mata naga itu terbuat dari mutiara merah, dan yang sebuah
lagi dari mutiara hitam. Mutiara merah itu sekeras baja,
akan tetapi mutiara hitamnya empuk seperti karet.
Dicongkelnya mutiara hitam itu dengan sebuah pisau kecil,
dan ternyata juga sekeras baja, akan tetapi dibawah mutiara
hitam itu ada bahan yang empuk. la ingin tahu, lalu
dikoreknya keluar bahan yang empuk itu, kiranya ternyata
sehelai kulit kambing yang sangat tipis!
Lalu kulit kambing tersebut dilipatnya kemudian
dihimpitnya dengan gagang pedang Poa Cu Kiam.
Kemudiari ia berlutut dihadapan pedang itu, dan
sembahyang", memanggil roh2 dari guru2nya, Tian Lam Sa
Kiam, untuk membantu usahanya mencari kitab Ju Keng
dan melatih ilmu silatnya agar dapat pergi kekota Lak Cao
dipropinsi Yunnan mencari Ban Cun Bu dan mengadakan
pembalasan yang setimpal!
Setelah sembahyang demikian, dibukanya lipatan kulit
kambing itu, dan matanya terbelalak ketika melihat di-atas
kulit kambing itu ada 7 Iingkaran kecil2 dan delapan huruf
berwarna kuning muda! 7 lingkaran itu terdiri dari 7 wanna,
dan delapan huruf tersebut adalah: „Kong Wai Cu Kong,
Sek Tiong Cu Sek" (Kekosongan diluar kosong, warna
didalam warna lain). Lalu diambilnya kapas sedikit, dan
dimasukkannya kedalam lubang bekas kulit kaimbing tadi,
kemudian barulah mutiara hitam tadi dimasukkannya
kembali. Kulit kambing dengan 7 lingkaran2 kecil dan 8
huruf2np diperhatikan dengan teliti. Apakah denan isyarat2
itu ia dapat mencari kitab Ju Keng?? Tetapi mengapa
…seganjil itu benar kulit kambing itu disembunyikan orang?
Kong Sun Giok memikirkan soal itu sepanjang malam
tanpa hasil. Akhirnya ia menghibur diri scndiri dengan
mengingat perkataan guru dari saudara angkatnya Tee Tian
Kauw yang mengatakan : „Untuk mendapat kitab Ju Keng,
55
harus mendapat pedang Poa Cu Kiam" Kemudian kulit
kambing itu disimpannya dikantong dadanya sebelum ia
tidur.
Ketika ia bangun, 7 lingkaran yang beraneka warna dan
8 huruf diatas kulit kambing ter-bayang2 dihadapan"
matanya. la merasa se-olah2 ia telah menemui rahasia dari
pedang wasiat itu. Mengapa ia harus menanti 3 bulan
kembali kepuncak Ti Shing Hong dari pegunungan Kauw Ji
San. Mengapa ia tak segera pergi menemui saudara
angkatnya Tee Tian Kauw, memberitahukan hal ikhwal
kulit kambing itu agar dapat berunding, atau mcnemui guru
saudara angkatnya untuk minta petunjuk2?
Setelah mengambil ketetapan, pada waktu fajar
berangkatlah ia menuju ketempat kediaman saudara
angkatnya. Ketika la tiba didaerah dekat puncak Lui Leng
Hong dari pegunungan Bu Tong San dipropinsi Hunan,
bulan sedang bersinar dengan terangnya.
Pegunungan Bu Tong San sangat curam jurang2nya, dan
disana banyak binatang2 liar. Tetapi dengan tekad yang
kuat, Kong Sun Giok tidak berhenti untuk berlindung
didalam goa atau beristirahat dibawah pohon. la berjalan
terus dan mendaki jurang2 curam itu dengan ilmu
meringankan tubuhnya. Dengan lekas ia dapat melintasi
jalan gunung dan berada disuatu hutan. Tetapi pada saat itu
angin meniup keras dan awan tebal menutupi bulan. la
mengetahui bahwa tak lama lagi tentu hujan akan turun. la
berusaha mencari tempat berlindung. Dari jauh
didengarnya suara kelenengan dari kuil. la berlari menuju
kearah suara kelenengan itu. Betul saja dibelakang semak
belukar tampak olehnya tembok merah yang melingkari
sebuah kuil tua. Tetapi pada saat itu hujan telah turun. la
terpaksa berhenti dibawah sebuah pohon besar agar
pakaiannya tidak basah kuyup.
56
La meloncat keatas sebuah dahan dan berlindung diatas
dahan itu seperti seekor burung. la menoleh kebawah, dan
tampak olehnya diantara akar2 pohon yang besar itu, ada
sebuah lubang mungkin lubang ular berbisa. Hujan makin
lebat, dan ia terpaksa mencari tempat yang lebih baik. Dari
atas pohon itu tampak olehnya sebuah gua. la meloncat
turun dan lari kegua itu.
la masuk kedalam gua, dan terciumlah olehnya bau amis
yang menusuk hidung. la ingin menyelidiki sumber bau
amis itu, maka la masuk dengan waspada. Se-konyong2 ia
menampak suatu sinar menyorot kearahnya. Dihampirinya
sinar tersebut dan tampak olehnya seorang orang tua
berbaju hitam sedang duduk bersila didalam gua itu.
Rambutnya yang panjang dan kedua ails beserta jenggotnya
putih seperti perak. Pakaiannya compang-camping. Nyata
sekali bahwa ia telah ber-tahun2 tak keluar dari goa itu!
Disamping orang tua itu tampak perbekalan bahan
makanan, dan mata air yang mengalir keluar goa. Didepan
orang tua itu tiga balok kayu yang besar dan hitam ditaruh
nielintang, se-akan2 ia dikelilingi oleh balok2 kayu tersebut.
Kong Sun Giok menghampirinya lalu memberi hormat
sambil berkata : „Aku bernama Kong Sun Giok. Karena
ingin mencari tempat berteduh telah datang masuk kedalam
gua ini sehingga mengganggu bapak. Aku minta
dimaafkan!"
Orang tua itu segera mengangkat kedna alisnya, dan
dengan kedua matanya tertutup berkatalah ia : „Mendengar
suaramu, kau adalah seorang orang muda. Apakah kau
datang dari Timur, atau dari Barat?"
„Aku datang dari propinasi Kiangsi dan hendak pergi
kepropinsi Hunan, dan aku melewati pegunungan Bu Tong
San ini." sahut Sun Giok dengan hormatnya.
57
“Kau datang dari sebelah Timur. Beberapa lie dari gua
ini, disebelah Barat-daya ada sebuah kuil. Apakah kau telah
datang ke kuil itu?"Orang tua itu bertanya lagi.
Kong Sun Giok segera mengetahui hahwa kuil yang
disebut itu ialah kuil yang dilingkari tembok merah. Selama
pembicaraan itu berlangsung, orang tua itu tak pernah
membuka kedua matanya. Hal ini mengherankan Kong Sun
Giok. Atas pertanyaan tadi, ia menyahut : „Aku belum
pernah pergi kekuil itu. Bapak se-akan2 dijaga oleh tiga
balok yang besar ini dan rupanya telah lama berdiam
didalam gua ini. Aku mengerti ilmu silat, apakah ada
sesuatu yang dapat aku tolong?"
Orang tua itu menanya lagi: „Kau mengerti ilmu silat.
Dalam kalangan Bu Lim, kau dari partai silat yang
manakah?"
Dengan hormat Kong Sun Giok menjawab :„Guruku
ialah Goan Siu To Tio yang juga menjadi guru dari partai
silat Tian Lam Bu Ki Kiam!"
Dengan senyuman yang dapat dilihat dari gerak kedua
bibirnya, orang tua itu berkata : „Goan Siu itu adalah jago
silat pedang nomor wahid dikalangan Bu Lim. Ilmu silat
tenaga luar maupun tenaga dalamnya, semuanya lihay.
Apakah sebabnya dapat ia tewas ? Apakah ia tewas
ditangan musuhnya?"
Karena Kong Sun Giok tak mengetahui riwayat orang
tua berbaju hitam itu, ia menjadi ragu2 untuk
memberitahukannya. Akan tetapi sikap tersebut rupanya
ditebak oleh orang tua itu, maka ia berkata lagi :„Jika kau
merasa keberatan memberitahukan kepadaku, sudahlah!
Lantaran tiga balok yang besar ini, aku telah delapan tahun
tidak keluar dari gua ini. Jika kau betul dari partai Thian
Lam Sa Kiam, mungkin kau dapat nienolongku dengan
58
ilmu tenaga dalam dan luar menghalaukan balok2 yang
besar ini, atau mematahkannya."
Melihat keadaan orang tua yang sudah sangat lanjut
usianya, dan menurut keteran'gannya telah terkurung
selama 8 tahun didalam gua, sebagai manusia ia harus
segera menolong. Ia tak menanyakan lagi riwayat orang tua
itu, atau mengapa balok2 yang besar itu tidak dihalaukan
jika ia pandai ilmu silat. Lagi pula ia dapat berusaha
meloloskan diri dari kurungan balok2 yang besar itu, karena
lubang diantara balok2 tersebut cukup besar. Mengapa ia
harus diam terkurung selama delapan tahun. Dengan segera
ia mendekati balok2 yang besar itu.Mengapa ia harus diam
terkurung selama 8 tahun. Dengan segera ia mendekati
balok2 yang besar itu.Mendengar suara tindakannya, orang
tua itu berkata lagi : “Kau jangan pandang remeh balok2
yang besar ini. Balok2 ini lebih kuat daripada baja. Jika kau
ingin menolong aku, kau harus menghalaukannya menurut
petunjukku, ialah dengan seluruh tenaga dalam, kau harus
gerakan balok itu, kemudian menekannya !"
Kong Sun Giok yang yakin akan ilmu silat yang dapat
dipelajarinya dari Thian Lam Sa Kiam masih memandang
remeh balok2 yang besar itu ! Akan tetapi untuk
menyenangkan orang tua itu, iapun menurutkan
kehendaknya.
Dikeluarkannya semua tenaga dalamnya, dan dengan
tinju kanan ditekannya sebuah balok besar. Ketika tinju
tersebut diangkat, „tak!", patahlah balok itu menjadi dua
potong! Berbareng dengan patahnya balok itu terbukalah
kedua mata si-orang tua yang tcerus mengawasi Kong Sun
Giok. Orang tua itu tak berdusta. Balok tersebut betul
sekeras baja, karena untuk mematahkan satu balok saja la
telah harus mengeluarkan tenaga yang besar sekali. Apakah
ia dapat mematahkan balok kedua? Sambil tersenyum ia
59
bertanya: „Pak, apakah aku harus menggunakan kedua
tinjuku untuk mematahkan balok kedua ?"
Belum lagi habis ucapannya itu, tiba2 dari luar gua
terdengar suara kelenengan. Air muka orang tersebut
berubah, dan dengan mengerutkan kening ia berkata :
“Mengapa kau harus menggunakan kedua tinjumu ? Kau
tak usah membuang tenaga dengan sia2 !" Ketika itu iapun
dapat melihat pedang Poa Cu Kiam dipinggannya Kong
Sun Giok, dan dengan tad: terasa ia berseru ; „Hm !"
Kong Sun Giok yang tidak senang terhadap sikap yang
congkak dari orang tua itu, tak dapat berbuat lain, karena ia
telah berjanji menolong mengeluarkannya dari kurungan
balok2 itu. Dengan kedua tinjunya ditekannya balok kedua
dengan sekuat tenaga. Balok itupun patah !
Lalu orang tua tersebut berdiri, dan menarik napas lega.
Setelah melihat Kong Sun Giok mcnjadi letih ia bertanya:
„Pedang dipinggangmu itu "
Ucapan tersebut belum habis, se-konyong2 terdengar
suara jeritan yang ganjil dari luar gua, dan suara kelenangan
yang sehingga waktu itu telah berbunyi 30 kali. Kong Sun
Giok yang sudah menjadi letih dan setelah mencium pula
sesuatu bau yang amis menjadi lemas dan kemudian jatuh
pingsan! Sebelumnya ia jatuh pingsan ia rupanya
merasakan angin keras berembus dan mendengar orang tua
itu berseru dengan keras!
Entah beberapa lama Kong Sun Giok baru sadar dari
pingsannya. la merasa berbaring diatas tempat tidur, dan
terciumlah bau hio yang harum. Ketika ia memikirkan
peristiwa menolong si-orang tua didalam gua, berdirilah
bulu tengkuknya! Dicobanya bangun, tetapi ia merasa
pening dan tak bertenaga! la hanya dapat berbaring lagi dan
membuka kedua matanya. Kemudian datanglah seorang
60
niko (rahib perempuan) yang sangat lanjut usia dan putih
rambutnya. Niko itu memandang Kong Sun Giok dan
berkata: „Kong-cu, kau hampir tewas karena baik hati
menolong orang. Bahkan hampir saja kau mencemaskan
semua jago2 silat dikalangan Bu Lim !"
Dengan terkejut Kong Sun Giok bertanya: „Mengapa ??
Niko itu berkata : “Ya kau telah melakukan itu dengan
tak mengetahui siapa orang yang kau tolong.Meskipun kau
mempunyai senjata, kau tak menggunakannya, akan tetapi
dengan tenaga dalammu kau telah mematahkan dua balok
besar. Untuk balok ketiga belum patah. Meskipun iblis tua
itu telah kabur, tetapi ia tak akan membunuh orang lagi.
Mungkin setelah dikurung 8 tahun didalam gua, ia telah
membuang wataknya yang congkak, kejam dan jahat!"
Ketika itu Kong Sun Giok baru insyaf bahwa orang tua
yang ditolongnya adalah satu iblis durhaka !
Niko itu lalu berkata lagi: „Aku ini Ceng Lian Niko.
Melihat jejakmu, kau tentu adalah seorang jago silat.
Melihat cara kau mematahkan balok2 tadi dengan tenaga
dalammu, aku segera mengetahui bahwa kau tentu dari
partai silat Thian Lam Sa Kiam. Apakah hubungannya kau
dengan Goan Siu, Goan Long dan Goan Cin, rekan2ku
itu?"
Kong Sun Giok mengetahui bahwa Ceng Lian Taysoe
itu terkenal juga sebagai „Fut Mo Shin Ni" (Pembasmi
iblis2) yang lihay sekali ilmu silatnya, dan sudah lama
tinggal bersembunyi memisahkan diri dari kalangan Kangouw.
la beruntung sekali dapat menjumpainya. Setelah ia
memberitahukan bahwa ia adalah murid dari Goan Siu Totiang,
lalu dengan bernapsu ia betrtanya tentang orang tua
tadi : „Shin Ni (rahib sakti), orang tua yang berbaju hitam
itu apakah bukan 'Lat Siu Shin Mo' (iblis kejam) yang
61
berbuat se-wenang2 dikalangan Kang-ouw pada 10 tahun
berselang?"
Ceng Lian Tay-soe menganggukkan kepalanya, dan
Kong Sun Giok menjadi sangat cemas, karena iapun
mengetahui bahwa jika iblis tersebut telah menjadi mabuk
arak, ia pasti berbuat kejahatan yang tak mengenal
prikemanusiaan. Jago2 silat yang berwatak rendah sering
memberikan ia arak yang baik sebagai suapan agar
kemudian dapat menolong mereka melakukan pembalasan
dendam. Jago2 silat dikalangan Bu Lim telah berusaha
menawan atau membasminya, akan tetapi karena ia
menjadi jahat hanya diwaktu mabuk arak, maka para jago2
silatpun sering2 melalaikan usaha membasmi atau
menangkapnya. Kemudian selama kurang lebih 10 tahun
tak terdengar maupun kelihatan lagi dikalangan Bu Lim
sebab terkurung oleh balok2 besar didalam gua. Kini karena
keteledorannya, Kong Sun Giok telah membebaskannya
lagi. Jika ia berbuat sebagaimana sediakala, maka jago2
silat dikalangan Kang-ouw pasti menyalahkan Kong Sun
Giok, dan Kong Sun Giok merasa berdosa! Makin
dipikirkannya, makin banyak keluar keringatnya !
Melihat kecemasan Kong Sun Giok, Ceng Lian Taysoe
berkata sambil tersenyum :„Kau tak usah terlampau cemas,
karena kau tidak sengaja! Sebentar aku akan
memberitahukan kau cara bagaimana iblis itu terkurung
oleh tiga balok2 besar didalam gua. Tetapi aku harus
menanyai kau lebih dulu : Goan Siu To-tiang yang lihay
sekali ilmu silat pedangnya, mengapa bisa tewas
ditanganmusuh ?"
Mengetahui bahwa Fut Mo Shin Ni Ceng Lian Taysoe
itu adalah jago silat dari angkatan tua dan juga rekannya
Thian Lain Sa Kiam, Kong Sun Giok menuturkan peristiwa
pertaruhan jiwa dari Thian Lam Sa Kiam dengan Lak Cao
62
Shin Kun Ban Cun Bu dilembah Lek Yun Kok dari
pegunungan Kwat Cong San.
Ceng Lian Tay-soe mendengar dengan penuh perhatian,
dan setelah mendengar keterangan itu yang diut yapkan
dengan suara ter-sedu2 dan air mata berlinang, ia berkata :
„Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu dan Lat Siu Shin Mo dari
dahulu terkenal sebagai 'Lam Pak Sung Mo' (sepasang iblis
dari Selatan dan utara). Kini Ban Cun Bu telah di-ikat oleh
janjinya terhadap Thian Lam Sa Kiam dengan bantuan
Bian Leng Jun, ia tak akan berbuat se-wenang2 selama 10
tahun, dan harus berdiam di Lak Cao selama 10 tahun itu.
Lat Siu Shin Mo meskipun telah kau bebaskan, akan tetapi
karena balok ketiga belum patah, ia tak bisa membunuh
orang. Mulai hari ini, kau mencari kitab Ju Keng untuk
membalas dendam guru2mu melawan Ban Cun Bu. Dan
…… aku akan berusaha menangkap lagi iblis Lat Siu Shin
Mo ini dalam jangka waktu 10 tahun ini. Mudah2an usaha
kita berhasil!"
Kong Sun Giok lalu berpikir tentang iblis tua itu yang
senantiasa menutup kedua matanya sebelumnya balok
pertama patah, dan baru dapat bangun setelah balok kedua
patah. Kini menurut Ceng Lian Tay-soe, ia tak dapat
membunuh orang jika balok ketiga tidak patah. Karena
ingin mengetahui seluk-beluknya, ia bertanya pada Ceng
Lian Shin Ni : „Shin Ni, aku ingin mengetahui tentang
balok ketiga."
Sambil tersenyum Ceng Lian Tay-soe berkata: „Dengan
pedang Poa Cu Kiam itu dipinggang, kau harus makan
sebuah pil Leng Tan dari aku untuk memulihkan
perasaanmu. Lain kau harus makan lagi Pil Kauw Coan
Tan Sa dari aku untuk memulihkan tenaga tubuh dan kakitanganmu
dan membuyarkan segala racun yang telah kau
63
hirup didalam gua tadi. Setelah kau sehat, baru aku
menceriterakan lebih lanjut !"
Lalu ia berikan sebutir pil obat Leng Tan kepada Kong
Sun Giok. Sejenak kemudian Kong Sun Giok merasa
semangatnya kembali, akan tetapi tubuh dan kakitangannya
masih lemes. Lalu diberikannya lagi sebutir pil Kauw Coan
Tan Sa. la merasa hangat diseluruh tubuhnya. Rupanya
khasiat pil obat itu mengalir masuk kedalam semua jalan2
darah ditubuhnya Kong Sun Giok. Lalu ia tak merasa lemes
atau letih lagi. la bangun dari tempat tidurnya dengan sehat
walafiat! Lalu ia membungkukkan diri untuk memberi
hormat kepada Ceng Lian Tay-soe yang telah menolongnya
dari bahaya maut didalam gua tadi, dan minta ampun atas
perbuatan membebaskan iblis Lat Siu Shin Mo yang jahat
dan kejam itu yang dilakukannya tidak dengan sengaja.
---oo0oo---
BAGIAN 4
PENDETA JAHATMEREBUTPEDANG
Ceng Lian Tay-soe menggoyangkan tangannya
memerintahkan Kong Sun Giok bangun, lalu ia mulai
menceritakan kisahnya: „Ketika itu, para jago silat dari berbagai2
partai silat dikalangan Bu Lim telah setuju bersama2
menangkap Lat Siu Shin Mo yang juga terkenal
dengan nama Shin It Cui. Dalam pandanganku, Shin It Cui
itu hanya kejam wataknya. Selain dari itu ia lebih pandai
dalam ilmu silat daripada kebanyakan jago2 silat. Untuk
melawannya kita harus waspada. Oleh karena itu, aku
mengajaknya untuk berjanji datang kekuilku dipegunungan
ini. Aku tantang ia mengadu silat dalam tiga taraf, dan yang
kalah harus memenuhi janji dari pihak yang menang. Shin
It Cui yang congkak itu menganggap bahwa ia dapat
64
melakukan apa saja dan ia yakin bahwa aku ini Fut Mo
Shin Ni mempunyai ilmu silat lebih rendah daripadanya.
Dengan tak memikir lagi ia menerima tantanganku, dan
menyerahkan kepadaku cara2 mengadu tilat itu. Dengan
hasrat untuk mencegahnya berbuat se-wenang2 dikalangan
Bu Lim, aku tantang ia mengadu silat dengan senjata
pedang. Dengan sombong sekali ia berkata bahwa ia dapat
mengalahkan aku dalam 10 d yurus. Betul ilmu silatku lebih
rendah daripada ilmu silatnya, akan tetapi aku dapat
membela diri dengan caraku sendiri yang luar biasa.
Dengan ilmu silat pedang
Ceng Lian Kiam Hoat aku dapat meletihkan lawanku.
Aku tantang ia bertempur selama 100 jurus. Tantangan itu
membuatnya murka, dan dengan tak banyak bicara lagi ia
segera datang menyerang. Akibatnya ia tak dapat
mengalahkan aku dalam 100 jurus. Dengan perasaan malu
ia mengaku kalah dalam taraf pertama."
Mendengar pertaruhan Fut Mo Shin Ni Tieng Lian Taysoe
melawan Lat Sin Shin Mo Shin It Cui dalam tiga taraf
itu menyebabkan Kong Sun Giok ingat akan pertaruhan
jiwa guru2nya Thian Lam Sa Kiam terhadap Lak Cao Shin
Kun Ban Cun Bu dilembah Lek Yun Kok dari pegunungan
Kwat Cong San, dan dengan tak terasa ia mengucurkan air
mata. Ceng Lian Shin Ni melihat itu, dan merasa kagum
atas perasaan halusnya. la berhenti sejenak, lalu
menerukkan kisahnya: „Pertempuran taraf kedua aku yang
mengusulkan. Aku yakin bahwa ia gemar minum arak, dan
selalu menyombongkan diri bahwa ia dapat minum arak sebanyak2nya
tanpa menjadi mabuk. Aku berikan arak Cian
Jit minum sampai 10 gelas. Dengan keyakinan penuh
bahwa ia dapat minum 10 gelas tanpa menjadi mabuk, ia
menerima usulku itu. Tetapi setelah ia minum 7 gelas, ia
terjatuh dan menjadi mabuk tak terhingga! Saat yang
65
demikian baik sekali untukku. Aku segera mengangkatnya
kedalam gua, dan mengurungnya dengan tiga balok kayu
besar yang kudapat dari Sin Teng Tay-soe. Aku menanti
sampai ia sadar. Setelah sadar, ia insyaf bahwa iapun telah
kalah dalam taraf kedua. Sebagai salah seorang dari
kalangan Bu Lim iapun memenuhi janjinya, dan meminta
aku melanjutkan pertaruhan taraf ketiga. Aku bertekad
hendak mengalahkannya, dan aku suruh ia memukul patah
balok2 kayu itu dengan sate pukulan. Dengan tak berpikir
lagi, ia segera memukul satu balok dengan tinjunya. Akan
tetapi ……hampa! Ia tak mengetahui bahwa balok2 besar
itu dapat menunjang gedung yang besar, dan kuat seperti
baja! la menarik napas panjang seperti orang yang putus asa
!"
Kong Sun Giok lalu bertanya: „Shin It Cui yang ilmu
silatnya lebih tinggi daripada Shin Ni mengapa tak dapat
memukul patah balok kayu itu ? Sedangkan aku telah
berhasil memukul patah dua ?"
Sambil tersenyum Ceng Lian Tay-soe berkata : „Ilmu
tenaga dalam yang kau dapat pelajari dari guru2mu Thian
Lam Sa Kiam tak ada taranya. Balok2 kayu tersebut tak
dapat dipukul begitu saja. Kau telah metmatahkan balok2
itu dengan tenaga dalam. Shin It Tiui tenaganya besar
sekali, tetapi dengan tenaga besar saja ia tak dapat memukul
patah balok2 itu ! Mungkin sekarang setelah dikurung
selama 8 tahun didalam gua itu, ia telah berubah wataknya.
Setelah ia kalah dalam pertaruhan tiga taraf itu, ia harus
memenuhi janjinya.
Aku katakan kepadanya, bahwa jika balok kesatu belum
patah, ia tak dapat membuka-kedua matanya. Jika balok
kedua belum patah, ia tak dapat keluar dari gua. Jika balok
ketiga tidak patah, ia tak dapat membunuh siapapun! Untuk
mematahkan balok2 tersebut, la tak dapat melakukan
66
sendiri. la harus dapat pertolongan orang lain untuk
memukul patah. Lagi pula pukulan itu tak dapat dilakukan
sampai dua kali. Jadinya …… balok itu harus dipatahkan
dengan satu pukulan! Shin It Cui hanya menarik napas.
Lalu menutup kedua matanya tidak bicara lagi. Aku
memberitahukannya bahwa hukuman itu ada manfaatnya
bagi orang2 dikalangan Bu Lim, dan aku minta ia tinggal
berdiam dalam gua itu. Tiap2 tiga hari aku bawakan
makanan untuknya dan la dapat minum air yang mengalir
didalam gua itu."
Kong Sun Giok sangat mengagumi perbuatan Ceng Lian
Tay-soe itu demi kepentingan jago2 silat dikalangan Bu
Lim. Lalu ia menanyakan :„Setelah aku pukul patah balok
kedua, aku menjadi letih karena mencium bau amis, dan
seterusnya aku terjatuh pingsan. Apakah aku telah
menghirup racun ular berbisa?"
Ceng Lian Tay-soe menyahut : „Sebetulnya didekat gua
ini dulu ada se-ekor ular berbisa. Aku telah berdaya
menangkapnya, tetapi hasilnya nihil. Tidak terduga pada
suatu hari ular itu masuk kedalam gua itu, dan dapat
dibinasakan oleh Shin It Cui! Bau amis yang kau cium
hanya sisa racun ular berbisa itu. Kini Shin It Cui telah
kabur. Tetapi beruntung sekali balok ketiga belum patah,
dan iapun tak dapat membunuh siapapun. Ia banyak
musuhnya. la tak dapat membunuh orang, tetapi banyak
orang ingin membunuhnya. Akupun harus memenuhi
kewajibanku sebagai orang yang mempunyai
prikemanusiaan mencegah agar ia tak terbunuh. Aku telah
bertekad mengejarnya dan berdaya melindunginya Cui dan
mengatakan kepadanya bahwa ia tak dapat apa2 dari segala
pembunuhan untuk kemudian menasehatinya supaya
datang kembali kekuilku ini untuk menjadi orang baik."
67
Sambil tersenyum Kong Sun Giok berkata: „Tay-soe
sangat murah-hati. Aku yakin usaha Tay-soe dapat berhasil
dengan bantuan Tuhan yang maha kuasa !"
Ceng Lian Tay-soe berhenti bercerita sejenak, lalu
berkata lagi : „Aku telah berusia lanjut, dan aku pun tak
mengetahui Shin It Cui lari kemana. Aku hanya mengharap
ia pada suatu hari ingin kembali kekuil ini untuk
membersihkan diri. Dan aku dengan ilmu silat pedangku
Ceng Lian Kiam Hoat yakin dapat mengatasi segala
rintangan dalam usahaku mencarinya. Jika kau tak
keberatan, aku ingin mengajarkan ilmu silat pedangku ini
kepadamu !"
Kong Sun Giok yang telah mendengar kisah tentang
Shin It Cui yang tak dapat menaluki Ceng Lian Taysoe
dalam 100 jurus, yakin betul ilmu silat Ceng Lian Kiam
Hoat itu akan bermanfaat baginya. la menghaturkan terima
kasih atas tawaran itu, dan menyatakan kesediaannya untuk
mempelajari ilmu silat Ceng Lian Kiam Hoat itu.
Maka didalam kuil itu Ceng Lian Tay-soe dengan tekun
mengajari Kong Sun Giak yang cerdik dan pintar itu. Kong
Sun Giok merasa bahwa ilmu silat Ceng Lian Kiam Hoat
itu luar biasa lihaynya. Meski bagaimanapun hebatnya
serangan lawan, dengan ketabahan hati dan hanya dengan
sedikit tenaga dalam, ia dapat menangkis dan melindungi
dirinya ! Jika ia telah mempelajarinya sampai mahir sekali,
meskipun la melawan musuh yang jauh lebih pandai
daripadanya, iapun dapat menahan dan melindungi diri
dari serangan2 lawannya.
Kong Sun Giok betul2 sudah mahir dalam ilmu silat
Tieng Lian Tay-soe.
68
Ketika Ceng Lian Tay-soe melihat bahwa Kong Sun
Kiam Hoat itu, ia baru senang melihat Kong Sun Giok
pergi meneruskan perjalanannya.
Sebetulnya Fut Mo Shin Ni Ceng Lian Tay-soe itu
adalah seorang jago silat dari angkatan tua. Ketika berada
dikuilnya, Kong Sun Giok lupa menanyakan 7 lingkaran
dengan tujuh warna dan sajak yang berbunyi 'KongWai Cu
Kong, Sek Tiong Tin Sek' (Kekosongan diluar kosong,
warna didalam warna lain) diatas bulu kambing yang hitam
yang terdapat dari dalam gagang pedang Poa Cu Kiamnya.
Setelah ia memperoleh pikiran itu, ia lekas2 kembali kekuil
Ceng Lian Tay-soe. Tetapi ketika ia tiba didepan kuil itu,
dilihatnya bahwa pintu kuil tersebut telah terkunci, dan
Ceng Lian Tay-soe entah dimana!
Kong Sun Giok merasa menyesal, mengapa ia tidak
ingat untuk menanyakan arti daripada sajak itu. Jika' ia
dapat mengetahui artinya, mungkin juga ia dapat petunjuk
untuk mencari kitab Ju Keng dengan lebih mudah. Lalu
dengan perasaan kecewa la melanjutkan perjalanannya lagi
menuju kepegunungan Kauw Ji San dipropinsi Hunan.
Disepanjang jalan ia mengenangkan peristiwa2 yang
lampau : peristiwa ia memperoleh saudara angkat Tee Tian
Kauw, peristiwa ia memperoleh pedang Poa Cu Kiam,
peristiwa berjumpa Lat Sin Shin Mo Shin It Cui digua, dan
peristiwa ia dapat pelajaran ilmu silat pedang Ceng Lian
Kiam Hoat dari Ceng Lian Tay-soe dikuil dipegunungan
Lee Ling San. Ketika ia tiba disuatu lembah yang sunyi
senyap, ia mengeluarkan pedang Poa Cu Kiamnya untuk
melatih diri dalam ilmu silat pedang Ceng Lian Kiam Hoat
yang baru difahaminya. la yakin bahwa ia telah betul2
faham segala sesuatu mengenai ilmu pedang itu, dan ia
merasa gembira sekali !
69
Tetapi ketika ia tengah berlatih, rupanya ia mendengar
suatu suara dari dalam hutan dekat lembah tersebut. la
sarungkan pedangnya, dan berjalan menuju kearah suara
itu. Ia harus berjalan dijalan yang berliku2. Ketika ia tiba
disuatu belokan, ia berjumpa dengan seorang pendeta! Ia
mengharap supaya pendeta itu juga seorang jago silat, agar
ia dapat menguji ilmu silat pedang Ceng Lian Kiam
Hoatnya. Pendeta itu berdiri diatas sebuah batu yang besar.
Kong Sun Giok datang menghampiri.
Lalu pendeta itu meloncat turun dari atas batu besar itu,
dan inembentak :„O Mi To Hut ! Berhenti ! Kau harus
membayar untuk lewat !"
Nyata sekali pendeta itu bermaksud jahat. la berhenti
dan mengawasi pendeta yang berwajah seram itu,
brewokan, tubuhnya tinggi besar, kedua matanya beringas,
dan anting2 emas yang kelilingnya lebih kurang 2 dim
tergantung dikedua kupingnya. Dengan golok besar
ditangan kanannya, la berdiri tegak dihadapan Kong Sun
Giok !
Kong Sun Giok tidak bersikap ragu2 lagi setelah
peristiwa membebaskan iblis Shin It Cui. Tetapi ia mencoba
mengingat tentang jago2 silat dikalangan Kangouw yang
diberitahukan oleh gurunya Goan Siu To-tiang dan ia
teringat akan pesan gurunya untuk bersikap sopan. Lalu ia
bertanya : „Aku ada urusan hendak pergi kepropinsi
Hunan. Aku tidak mempunyai apa2. To-su (pendeta)
hendak meminta apakah? Apakah To-su bukannya yang
terkenal dikalangan Kang-ouw sehagai Kim Wan Lo Han
(Pendeta ber-anting2 emas)?" Pendeta itu tidak
menunjukkan sikap curiga setelah disebut riwayatnya. la
tertawa ter-bahak2 dan berkata : “Matamu lihay, dan
pengetahuanmu boleh juga. Aku tidak menghendaki emas
70
atau perakmu. Aku hanya meminta pedang yang
dipinggangmu !"
Lalu Kong Sun Giok berpikir bahwa suara yang
terdengar olehnya ketika ia tengah berlatih ilmu silat
pedang Ceng Lian Kiam Hoat dilembah tadi, mungkin
suara dari pendeta ini yang sedang menontonnya. lapun
dapat mengetahui dari gurunya bahwa Kim Wan Lo Han
tersebut pandai ilmu silat Wai Go Men Ing Kong
(Menyerang hebat lima pintu), dan berbuat se-wenang2
dikalangan Kang-ouw. la sendiri semenjak keluar dari
tempat kediamannya di Ci Men belum pernah mengadu
ilmu silatnya. Kesempatan ini adalah yang terbaik,
pikirnya. Dengan tekad itu ia menyahut : „Tay-soe
mempunyai mata yang lihay. Tay-soe telah melihat pedang
Poa Cu Kiamku yang luar biasa ini. Jika pedang ini
kepunyaanku sendiri, aku pasti tidak keberatan
memberikannya. Akan tetapi pedang ini aku pinjam dari
saudara angkatku, dan aku tak dapat meluluskan
permintaan Tay-soe."
Melihat dan mendengar sikap dan jawaban Kong Sun
Giok itu, pendeta itu insyaf bahwa lawannya itu bukan
anak kemarin dahulu. Dengan kedua kakinya yang agak
terpaku ditanah, dan sikap yang gagah perkasa Kong Sun
Giok telah siap menghadapi segala sesuatu!
Lalu pendeta yang congkak dan kasar itu membentak lag
: „Aku hanya melihat pedang itu dipinggangmu. Jika kau
tidak sudi menyerahkannya kepadaku, kau harus membayar
dengan jiwamu!” Ucapan itu diiringinya dengan satu
tamparan dengan tangan kirinya. Tetapi ia menampar
angin! Kong Sun Giok tidak mengegos atau menjingkir.
Hanya dengan tenaga dalamnya ia membikin punah
tamparan itu! Pendeta itu memukul lagi! Tetapi ia
merasakan bahwa tinjunya itu se-akan2 memukul barang
71
keras, meskipun lawannya tidak berkisar sedikitpun! Lalu
dengan terperanjat pendeta itu menanya : „Apakah kau ini
muridnya Thian Lam Sa Kiam??? Apakah Goan Siu Totiang
gurumu???"
Kong Sun Giok lalu menjawab dengan tenang: „Betul,
guru2ku adalah Thian Lam Sa Kiam dengan ilmu silat
tenaga dalam yang tak ada taranya dikalangan Kangouw."
Wajah pendeta itu segera berubah. Dengan tersenyum ia
berkata lagi :„Aku dan guru2mu pernah sering kali
berjumpa. Jika aku tahu bahwa kau murid mereka, aku
tentu tidak berbuat begini. Seumur hidupku, aku belum
pernah mengalami tamparan kini menampar angin tinjuku
menjadi sakit karena memukul angin. Tetapi aku ada satu
permintaan. Aku minta pinjam pedangmu selama tiga hari.
Aku pasti mengembalikan. pedang itu setelah lewat tiga
hari."
Kong Sun Giok tidak mudah ditipu lagi. la menyahut
:„Tay-soe mengapa hendak menipu aku ? Apakah Tay-soe
anggap aku ini anak kecil? Mengambil atau meminjam
pedang sebetulnya tidak sukar. Tay-soe telah mencoba
menampar dan memukul aku, tetapi mengapa tidak
mencoba mengeluarkan kepandaian lagi ?"
Pendeta itu, yang belum pernah di-ejek demikian, segera
berpikir untuk menyerang lawannya dengan ilmu silat Wai
Go Men Ing Kong-nya (menyerang hebat herbareng dari
lima jurusan). Setelah bertekad demikian ia menjawab
sambil tertawa :„Membunuh orang harus dibayar dengan
jiwa. Hutang uang harus dibayar dengan uang. Jika kau
mendendam karena tamparan dan pukulanku tadi, aku rela
menerima tiga pukulan dari kau. Akan tetapi jika dengan
tiga pukulan kau tak dapat membuat aku bergerak, kau
harus pinjamkan pedangmu selama tiga hari!"
72
Kong Sun Giok yakin bahwa ia dapat memukul
lawannya, sampai bergerak, lalu menerima baik usul itu.
Dengan 80% tenaganya dipukulnya balm kanan lawannya !
Tetapi Kim Wan Lo Han itu tak bergerak. Ia merasa seakan2
tangannya memukul balok kayu. Dikumpulkannya
semua tenaganya lalu memukul lagi. Tubuh lawannya
tergerak sedikit, akan tetapi kaki2nya tetap tak beranjak.
Dengan mengawasi Kong Sun Giok ia berkata :„Dalam
kalangan Bu Lim jago2 silat senantiasa mentaati janji. Jika
pukulan ketiga tak berhasil, kau harus pinjamkan pedangmu
selama tiga hari!"
Setelah dua pukulan yang tak berhasil itu, Kong Sun
Giok mulai insyaf akan kelihayan ilmu lawannya. Tetapi ia
teringat tentang peristiwa ia memukul balok kayu didalam
gua. Lat Sin Shin Mo telah memberi petunjuk kepadanya,
bahwa untuk mematahkan balok kayu ia harus menekan
dengan tenaga dalamnya. Masa tubuh Kim Wan Lo Han
keras daripada balok kayu didalam gua, pikirnya. Lalu ia
mempergunakan siasat tersebut. Dikumpulkannya semua
tenaga dalamnya. Kemudian disentuhnya bahu kiri Kim
Wan Lo Han dengan tinjunya, lalu ditekannya! Betul saja
siasat itu membikin Kim Wan Lo Han kesakitan dan menjerit2
seperti anak kecil terpukul palu besi, sambil berjingkrak2!.
Se-konyong2 dicabutnya anting2 emas dikedua
kupingnya, dan melontarkannya kearah Kong Sun Giok!
Kong Sun Giok baru saja merasa gembira telah berhasil
dengan siasatnya, dan ketika melihat anting2 emas itu
dilontarkan kearahnya, dengan tenang dipukulnya kembali
dengan tinjunya! Kong Sun Giok kurang pengalaman
dikalangan Kang-ouw. Ia tak memikirkan Kim Wan Lo
Han itu justru ditakuti karena anting2 emasnya itu! Ketika
Kong Sun Giok ingin mengelakkan serangan anting2 emas
itu dengan angin dari kedua tinjunya, Kim Wan Lo Han
73
mengejek dengan suara yang keras : „Anjing! Hari ini kau
membayar dengan jiwamu dan pedangmu!"
Anting2 emas itu meledak diudara dan menjadi banyak
potongan yang kecil2 dan yang bersinar seperti bintang2
dilangit, datang menyambar Kong Sun Giok. Tiba2 entah
dari mana, terasa hembusan angin yang keras sekali dangan
harumnya arak. Potongan2 emas tersebut tertiup buyar dan
jatuh ketanah! Lalu terdengar suara tertawa yang nyaring.
Ketika tercium bau harum arak itu, Kim Wan Lo Han
teringat akan seseorang. Tetapi setelah mendengar suara
tertawa yang nyaring itu, wajahnya menjadi pucat lesi, dan
buru2 la lari kabur!
Dari jurang yang curam dekat tempat itu terdengar lagi
suara orang memaki :„Hei! KimWan Lo Han! Jika pemuda
ini sempat mematahkan balok kayu yang ketiga, jangan kau
harap dapat hidup hari ini!" Tetapi Kim Wan Lo Han telah
kabur masuk kedalam semak belukar untuk bersembunyi.
Ucapan itu membikin Kong Sun Giok terperanjat! la
menoleh keatas jurang yang curam itu. Betul saja seperti
dugaannya! Orang yang menolongnya adalah Lat Sin Shin
Mo Shin It Cui yang telah dibukakannya kedua matanya
dan membebaskannya keluar dengan mematahkan balok
kesatu dan balok kedua didalam gua dipegunungan Lee
Ling San. Ia berada diatas dahan sebuah pohon diatas
jurang yang curam, dan tengah mengawasinya dengan
wajah ber-seri2! Kong Sun Giok menjadi serba-susah
menghadapinya. Apakah Shin it Cui itu musuhnya atau
kawannya??? Apakah ia harus Iekas2 berlalu, atau ia harus
menghampiri dan menasehatinya supaya kembali kekuil
Ceng Lian Niko untuk ber-sama2 Ceng Lian Niko
mempelajari ilmu silat yang lebih mendalam, dan tidak
berbuat onar dikalangan Kang-ouw lagi???
74
Melihat sikap Kong Sun Giok yang ragu2 itu, Shin It Cui
lalu meloncat turun dari atas, dan sambil menepuk bahu
kawannya ia berkata :„Kong Sun Lo-tee, aku tak
menghiraukan apa pandanganmu terhadapku setelah kau
dengar uraian Ceng Lian Niko tentang aku. Mungkin kau
anggap aku ini suatu iblis yang jahat dan gemar membunuh
orang. Akan tetapi kau telah membebaskan aku dari gua
yang gelap seperti neraka, dan membuka kedua mataku.
Aku harus membalas budi dan jasamu yang besar itu. Kau
telah menjadi pingsan karena hawa beracun dari ular
berbisa, dan akulah yang telah menolongmu dengan
membinasakan ular itu. Kau bukannya pingsan karena
hawa sisa ular beracun sebagaimana yang dikatakan Ceng
Lian Niko. Aku telah mendengar semua pembicaraan Ceng
Lian Niko kepadamu. Aku telah mengetahui dari
pembicaraan itu bahwa ia telah menipu aku dengan
menjadikan aku mabuk. Tetapi ia baik hati dan
menghendaki aku berubah, dan akan berdaya menjaga aku
dari pembalasan dendam musuh2ku. Jika tidak demikian
baiknya, pasti telah-kubakar habis kuilnya ber-sama2
dirinya! Setelah ia mengajari kau ilmu silat pedang Ceng
Lian Kiam Hoat, ia segera meninggalkan kuilnya dan
mengembara mencari aku. Setelah ia pergi, aku datang
kembali kekuilnya, dan mencuri araknya. Lalu aku
mengejar kau!"
Kong Sun Giok mendengarkan dengan sabar cerita Lat
Sin Shin Kun itu. la juga berpikir, jika Lat Sin Shin Kun tak
datang menolong dari serangan Kim Wan Lo Han, ia pasti
sudah binasa. la menghaturkan terima kasih sambil
membungkukkan tubuhnya. Shin It Cui buru2 menahannya
dan berkata: „Aku si-tua-bangka ini paling tidak menyukai
orang yang terlampau hormat. Jika kau tak keberatan
bersaudara dengan seorang pemabuk, kau dapat
memanggilku Cui Ko-ko (kakak pemabuk) dan aku panggil
75
kau Lo-tee (adik), bagaimanakah ? Setelah kita menjadi
saudara angkat, masih ada yang hendak kubicarakan
denganmu."
Mendengar itu, Kong Sun Giok mengerutkan keningnya,
dan merasa geli didalam hatinya. Dipikirnya kisah2nya: ia
jatuh cinta kepada Bian Leng Jun, ia telah angkat saudara
dengan Tee Tian Kauw, dan kini ia akan mendapat lagi
satu kakak pemabuk yang sangat terkenal dan dibenci
dikalangan Kang-ouw. la lalu berkata :„Baik, Cui Ko-ko.
Aku siap mendengari Cui Ko-ko!" Lalu ia mencari sebuah
batu dan duduk siap mendengarkan.
Mendengar ia dipanggil Cui Ko-ko, bukan main
girangnya Shin It Cui. Lalu la memulai ceritanya: “Dari
pembicaraanmu dengan Ceng Lian Niko didalam kuil, aku
mendapat tahu bahwa guru2mu Thian Lam Sa Kiam telah
binasa ditangan Lak Cao Shin Kim Ban Cun Bu. Menjadi
murid dan membalas dendam untuk guru adalah soal
pertama. Tetapi pada 10 tahun berselang aku pernah
bertempur melawan Ban Cun Bu, dan kesudahannya,
diantara kami tidak ada yang kalah atau yang menang.
Tetapi setelah 10 tahun, ia sendiri dapat mengalahkan
Thian Lam Sa Kiam, aku yakin bahwa ilmu silat ,Sun Yo
Cin Kai’-nya sudah mahir betul. Setelah aku dikurung 8
tahun didalam gua aku tak yakin akan dapat melawannya
kembali! Tetapi untuk melawan Ban Cun Bu, aku akan
menyertai kau "
Kong Sun Giok menyahut : „Jika aku tak dapat
membunuh Ban Cun Bu, aku tak mempunyai muka untuk
bertemu dengan roh2 dari guru2ku dialam baka! Aku tak
menghiraukan betapapun juga hebatnya ilmu silat 'Sun Yo
Cin Kai', aku rela mati binasa melawannya dengan
pedangku! Maksud yang mulia dari Cui Ko-ko …… sangat
kuhargakan !"
76
Sambil mengacungkan ibu jarinya Shin It Cui berkata :
„Lo-tee, kau betul seorang satria! Marilah kita coba
bertempur selama 100 jurus. Kau dapat menggunakan
pedang PoaCu Kiam itu!"
Kong Sun Giok yang ingin menguji kepandaian silatnya,
menjadi gembira sekali dengan permintaan itu. Dengan
pedang terhunus. dan ilmu silat-pedang yang telah
didapatnya dari Thian Lam Sa Kiarn ia meloncat
menyerang lawannya! Sambil berseru 'AWAS !' Shin It Cui
menyodoklcan kedua tinjunya keatas dada lawannya.
Ketika kedua tinju itu satu atau dua kaki jaubnya dari
dadanya, Kong Sun Giok menangkis dengan pedangnya,
dan Shin It Cui harus lekas2 menarik kembali kedua
tinjunia untuk menghindarkan sabetan pedang itu! Ia
mundur beberapa tindak dan sambil tertawa berkata : „Aku
telah mengetahui riwayatnya Goan Sin To-tiang. Kau harus
ingat betul2. limu silat pedang Thian Lam Sa Kiam itu
paling hebat dikalangan Bu Lim, apalagi jika kau melawan
dengan dendam yang akan dibalas!"
Ucapan tersebut diiringinya dengan satu pukulan secepat
kilat kemuka Kong Sun Giok. Tetapi Pada saat tindiu itu
segera akan menyentuh mukanya ia lekas2 menariknya
kembali. Maksudnya ialah ingin mengajari Kong Sung
Giok cara menonjok dengan ilmu "Tok Coa Tu Tiong” atau
„ular berbisa tiba2 meniambar". seraya melihat caranya
Kong Sun Giok mengelakkan jotosan itu!
Jotosan demikian telah tiga kali dikirimnya, dan Kong
Sun Giok senantiasa dapat mengegoskan dengan ilmu Ceng
Lian Kiam Hoat Yang telah didapatnya dari Ceng Lian
Niko. Kong Sun Giok insyaf akan maksud baik dari Shin It
Cui, dan dalam hatinya ia sangat berterima kasih
kepadanya. Shin It Cui mengirim jotosan2 tersebut sambil
berseru : „Lo-tee, gunakan ilmu Ceng Lian Kiam Hoatmu,
77
dan aku akan menyerangmu lebih hebat!" Kong Sun Giokpun
merasai bahwa tiap2 jotosan itu dapat memecahkan
batu walau bagaimanapun juga kerasnya, tetapi dengan
Ceng Lian Kiam Hoatnya yang istimewa untuk melindungi
diri, ia berhasil mengelakkan. Setelah pertempuran berjalan
lebih kurang 40 jurus, dengan pedang Poa Cu Kiamnya
Kong Sun Giok mencoba menyerang. Serangan2 pedang itu
semuanya dapat dielakkan oleh Shin It Cui. Lalu Shin It
Cui menyerukan supaya pertempuran dihentikan.
Ditepuknya bahu kiri Kong Sun Giok dan memberi
petunjuk: „Lo-tee Cara kau menyerang dengan ilmu silat
pedang Thian Lam Sa Kiam masih kurang hebat! Cara kau
menjaga atau melindungi diri dengan ilmu silat Ceng Lian
Kiam Hoatmu masih belum sempurna! Jika tidak
diperbaiki, kau tak dapat mengalahkan Ban Cun Bu!"
Kong Sun Giok, setelah mengucapkan terima kasih atas
petunjuk2 itu, berkata : „Terima kasih. Justru guruku
berpesan dan memerintahkan aku mencari kitab Ju Keng
agar ilmu silat Thian Lam Sa Kiam ini menjadi sempurna
dan dapat mengalahkan Ban Cun Bu !"
Shin It Cui menganggukkan kepalanya dan herkata ;
“Betul! Akupun pernah dengar tentang kitab Ju Keng itu
yang dapat mengatasi ilmu silat Sun Yo Cin Kai dari Ban
Cun Bu. Tetapi …… dunia ini sangat luas. Dimanakah kita
harus mencari kitab itu?"
Lalu Kong Sun Giok mengeluarkan kulit kambingnya,
dan sambil memperlihatkan kulit itu kepada Shin It Cui ia
berkata : „Cui Ko-ko! Kitab Ju Keng betul2 sukar dicari.
Apalagi isyarat2 lingkaran2 dengan tujuh warna diatas kulit
ini, dan arti sajak ini, aku belum fahami!”
Kemudian Shin It Cui menanyakan hal-ikhwal kulit
kambing itu, dan melihat dengan teliti lingkaran2 dan sajak
yang berbunyi „Kong Wai Cu Kong, Sek Tiong Cu Sek"
78
yang tertera diatas kulit kambing itu, dan iapun tak
mengerti : Sejenak kemudian ia berkata: „Teka-teki ini
betul? ganjil! Simpanlah baik2. Kita berpisah disini dulu,
karena aku akan pergi dulu kekota Lak Cao dipropinsi
Yunan !"
Mendengar bahwa Shin It Cui ingin pergi kepropinsi
Yunan, Keng Sun Giok menjadi heran dan ia menanya :
„Untuk maksud apakah kau pergi ke Lak Cao ?"
Sambil tersenyum Shin Cui menyahut: „Untuk
menggempur musuh, kita harus mengetahui segala sesuatu
tentang musuh kita, bukan? Aku tekah dikurung selama 8
tahun, didalam gua aku tidak mengetahui sampai dimana
kelihayan si-iblis Ban Cun Bu itu. Aku harus pergi
ketempatnya untuk menyelidiki dan untuk rencanamu
membalas dendam."
Kong Sun Giok insyaf bahwa saudara angkatnya itu
betul2 ingin membantunya melaksanakan rencananya, dan
dengan hati yang berat ia mengucapkan kata2 perpisahan.
Dengan satu loncatan Shin It Cui naik keatas jurang yang
curam. la menoleh kebawah dan berkata : „Lo-tee ! Kau
baik sekali. Hanya hatimu sedikit lemah! Gelarku ialah 'Oi
Bo Im' atau 'Sibaju-Hitam tampa bayangan'. Aku dapat
berlari sangat pesat, dan hidungku lebih tajam daripada
hidung anjing. Meskipun kita berpisah sekarang, namun
sembarang waktu kita dapat berjumpa lagi! Aku hanya
mengharap agar sekembalinya dari Lak Cao, aku dapat
memberitahukan arti dari, pada isyarat2 dan sajak diatas
kulit kambing itu!" Kemudian dengan suara hembusan
angin ia telah berlalu entah kemana.
Kong Sun Giok berdiri terpesona, dan mengenangkan
kembali peristiwa tadi. la tersenyum ketika ingat akan kritik
Shin It Cui yang mengatakan bahwa hatinya sedikit lemah.
Ia menarik napas panjang, lalu meneruskan perjalanannya!
79
Pegunungan Kauw Ji San terletak tidak jauh dari
propinsi Hunan. Setelah ia membelok kebarat-daya ia
segera masuk kebatas propinsi Hunan. la bertanya pada
pemburu2 dan tukang2 potong kayu yang dijumpainya
disepanjang jalan dimana letaknya puncak Ti Shing Hong,
akan tetapi mereka tak mengetahui. la berpikir, puncak itu
bernama Ti Shing (memetik bintang), maka puncak itu pasti
tinggi sekali. Mengapa ia tak mendaki puncak yang
tertinggi? Dengan tekad tersebut, ia segera menuju
kepuncak yang tertinggi. Dengan susah-payah ia mendaki
puncak yang tertinggi dan curam itu. Ia berdiri diatas
puncak yang diliputi oleh awan atau kabut yang tebal. la tak
dapat melihat jauh karena awan yang tebal itu, tetapi ia
dapat melihat bahwa tempat tersebut, dengan batu2 yang
besar dan banyak itu merupakan suatu tempat yang baik
sekali untuk bertapa. la mengharap puncak itu adalah
tempat kediaman saudara angkatnya Tee Tian Kauw, dan
lekas2 berjumpa dengannya. Betul saja, dari tempat sejauh
10 depa lebih terdengar suara orang yang nyaring sekali
memanggilnya : „Giok Ko-ko, mengapa demikian lekas kau
datang? Aku diatas puncak ini me-nanti2 kedatanganmu
tiap2 hari!" Sejenak kemudian, disertai dengan bau yang
harum, telah berdiri dihadapannya seorang gadis yang
sangat cantik jelita. Bukan main girangnia Kong Sun Giok;
ia berseru :„Jun Moi!" Tetapi setelah melihat tahi lalat
disebelah alis kirinya, ia baru insiaf bahwa gadis itu
bukannya Bian Leng Jun, tetapi Tee Tian Kauw. Namun, ia
merasa girang.
Mendengar seruan „Jun Moi" dari Kong Sun Giok, Tee
Tian Kauw lalu bertanya : „Giok Ko-ko, siapakah Jun Moi?
Aku ini adikmu Tee Tian Kauw. Masa baru berpisah
beberapa hari saja sudah tak mengenal aku?"
80
Kong Sun Giok baru insyaf bahwa Tee Tian Kauw yang
wajahnya mirip sekali dengan wajah Bian Leng Jun pernah
mengecewakannya ketika mereka berada dipekarangan Sim
Hiong Hui. Dengan sikap yang canggung ia lekas2
menyahut: „Aku kangen kepadamu, maka aku Iekas2
datang. Barusan aku bersikap bingung, karena aku telah
mengalami beberapa peristiwa2 ganjil dijaIan. Aku tak tahu
mana yang lebih dahulu yang harus kuceritakan."
Kekeliruan itu tak dapat disalahkan, karena Tee Tian
Kauw yang wajahnya seperti seorang gadis yang cantik
jelita ketika itu berpakaian seperti seorang gadis. Lalu Tee
Lian Kauw berkata sambil tersenyum :„Giok Ko-ko, aku
minta maaf. Aku telah membikin kau keliru, karena
pakaian ini. Peristiwa2 apakah yang Ko-ko jumpai ?"
Kong Sun Giok yang masih teringat akan Bian Leng Jun
karena menghadapi Tee Tian Kauw, lalu menyahut : „Dik,
mengapa kau demikian terburu napsu? Aku ingin kau
segera mengajak aku menemui gurumu. Nanti akan
kuceritakan peristiwa2 itu! Aku harus menemui gurumu
dahulu. Jika tidak, aku dapat dianggap tidak tahu aturan
Tee Tian Kauw berkata : „Watakmu betul halus! Tetapi
didunia ini banyak sekali orang yang berlagak sopan, tetapi
hatinya busuk! Ayo! Kekamarku, dan minum dulu
secangkir teh daun Song!" Segera ditariknya tangan Kong
Sun Giok dan dituntun kekamarnya!
---oo0oo---
BAGIAN 5
SIAPAKAHDAPATDISALAHKAN
Rumah2 gubuk yang didiami oleh Tee Tian Kauw dan
gurunya, terletak diatas puntiak Ti Shing Hong. Meskipun
81
rumput tumbuh disekeliling rumah2 itu, tetapi keadaan
disekitarnya permai sekali. Dibelakang rumah2 itu tampak
air terjun. Jika orang menoleh kebawah tampaklah puncak2
lainnya yang diselubungi awan yang tebal. Dengan berdiri
diatas puncak itu orang merasa se-akan2 berada diatas
langit! Hawanya yang amat sejuk telah menyegarkan Kong
Sun Giok kembali. Tee Tian Kauw menempati rumah
disebelah kiri rumah gurunya. Semua meja, bangku dan
tempat tidur dibuat dari batu gunung. Buku2 dan senjata2
tajam seperti pedang dsb..nya berada dekat tempat tidurnya.
Umumnya kamar itu tidak mengesankan kamar seorang
gadis. Kong Sun Giok berdiri menghadapi jendela se-akan2
banyak urusan menindih dadanya. Ketika Tee Tian Kauw
mempersembahkan secangkir teh daun Song kepadanya, ia
berkata sambil tersenyum : „Giok Ko-ko. Apa lagi yang
dipikirkan ! Pemandangan puncak ini belum kau lihat
seluruhnya. Nanti setelah kau dan aku menunaikan tugas2
kita masing2, aku akan menyertai kau ber-jalan2
dipegunungan ini menikmati keindahan alam.
Bagaimanakah pendapatmu ?"
Kong Sun Giok tak segera menyahut ia memikirkan
tugasnya yang belum ditunaikan, ia memikirkan pesan Bian
Leng Jun yang menantinya dikuil Sun Yo dikota. Lak Cao
selama 10 tahun. la memikirkan juga orang2 yang pernah
menolongnya. la memandang kepada Tee Tian Kauw,
sambil berkata kepada dinnya sendiri : „Mengapa kau mirip
sekali dengan Bian Leng Ju ? Mengapa kau bukannya Bian
Leng Jun?"
Tee Tian Kauw tak mengerti mengapa Kong Sun: Giok
tak menjawab, dan hanya memandang kepadanya. la
menanya lagi: „Giok Ko-ko, apakah kau memikirkan Jun
Moi? Siapakah Jun Moi? Apakah wajahnya mirip dengan
wajahku?”
82
Kong Sun Giok menyanggukkan kepalanya dan berkata :
„Betul Kau mirip dengan dia. Kecuali tahi lalat diatas
alismu, kau sama sekali serupa dengan dia!"
Mendengar jawaban itu, Tee Tian Kauw tertarik.. Ia
menanya lagi : „Jika kau panggil ia Jun Moi, maka aku
harus panggil ia Jun Ci. Sebetulnya siapakah Jun Ci itu?
Bolehkah aku mengetahuinya?”
Melihat Tee Tian Kauw mendesak, Kong Sun Giok
terpaksa menyahut: „Kau dan Jun Moi hampir sama
usianya. Belum tentu ia lebih tua dari padamu. Teh daun
Song ini enak. Coba tuangkan secangkir lagi untuk aku.
Aku segera menuturkan peristiwa perkenalanku dengan Jun
Moi."
Setelah teh itu dipersembahkan lagi kepadanya, maka
mulailah Kong Sun Giok tierita tentang peristiwa
perkenalannya dengan Jun Moi. Ketika ia cerita bagaimana
BianLeng Jun membaw kabar kematian guru2nya yang
telah tewas, dengan tak tertahan ia mengucurkan air mata.
Karena peristiwa pertaruhan jiwa dilembah Leng Yun Kok
pernah ditieritakannya kepada Tee Tian Kauw, maka ia
sekarang hanya menceritakan tentang surat yang tertulis
dengan darah, pedang sepotong dan kerincingan emas yang
dibawa oleh Bian Leng Jun atas permintaan gurunya Goan
Siu To-tiang sebelum beliau menepati janji membunuh diri.
Ketika Tee Tian Kauw mendengar sehingga ketiga jago2
silat pedang Thian Lam Sa Kiam itu dapat memaksa Ban
Cun Bu berjanji tidak akan datang kedaerah pertengahan
selama 10 tahun untuk berbuat sewenang2 dikalangan Bu
Lim, iapun tak dapat menahan hatinya clan berseru : „Jun
Ci itu betul baik hatinya. Giok Ko-ko, kau harus ajak aku
pergi kekota Lak Cao agar aku dapat membantu kau
membalas dendam terhadap Ban Cun Bu, dan kemudian
memperkenalkan aku kepada Jun Ci."
83
Kong Sun Giok menganggukkan kepalanya, dan Tee
Tian Kauw berkata lagi : „Peristiwa2 yang kau cerita kota
King Tek Cin. Tadi kau mengatakan kepadaku bahwa
setelah kita berpisah ditepi telaga, kau telah menemui
beberapa peristiwa2 yang ganjil lagi. Ayo, ceritakanlah."
Kong Sun Giok menyerahkan pedang Poa Cu Kiamnya
kepada Tee Tian Kauw. Kemudian dikeluarkannya kulit
kambing dan menuturkan dengan jelas segala sesuatu
tentang kulit kambing yang dicongkelnya dari gagang
pedang PoaCu Kiam.
Mula2 Tee Tian Kauw merasa gembira melihat kulit
kambing itu, akan tetapi setelah melihat lingkaran2 yang
tujuh warna dan sajak yang tertera diatas kulit kambing itu,
iapun mengerutkan kening berpikir, karena iapun tak dapat
menafsirkannya!
Kong Sun Giok meneruskan ceritanya tentang peristiwa2
ia mematahkan balok kayu didalam gua clan membebaskan
Shin It Cui yang kemudian menjadi saudara angkatnya. Tee
Tian Kauw mendengarkan dengan gembira, dan menaruh
simpati terhadap Lat Siu Shin Mo Shin It Cui. la menanya :
„Lat Sin Shin Mo itu betul2 lihay silatnya, karena dengan
mudah ia menolongmu dari Kim Wan Lo Han. Guruku
baru dapat keluar setelah tiga hari. Sementara ini, Giok Koko
dapat mengajarku ilmu silat pedang Thian Lam Sa
Kiam!"
Sambil tersenyum Kong Sun Giok mengambil pedang
Poa Cu Kiam, dan kedua pemuda itu keluar dari rumah.
Tee Tian Kauw berkata lagi :„Giok Ko-ko, aku gemar
belajar. Kaupun dapat mengajariku ilmu silat pedang Ceng
Lian Kiam Hoat dari Fut Mo Shin Ni."
Dengan tertawa ter-bahak2 Kong Sun Giok berkata :
„Ya…… asal saja kau giat belajar, aku pasti sudi
84
mengajarimu. Bukan saja aku akan mengajarimu ilmu silat
pedang Ceng Lian Kiam Hoat, bahkan juga ilmu silat tinju
Ceng Biauw Cong Hoat (ilmu tinju ajaib) yang kupelajari
dari saudara angkatku Cui Ko-ko atau Shin It Cui!"
Tee Tian Kauw me-lonjak2 karena terlampau girang.
Mereka berdua keluar dari rumah dan menuju kesuatu
padang rumput yang luas dengan membawa pedang. Kong
Sun Giok lalu mempertunjukkan ilmu silat pedang Thian
Lam Sa Kiam, dan kemudian ilmu silat pedang Ceng Lian
Kiam Hoat dan ilmu silat tinju Ceng Biauw Cong Hoat dari
Shin It Cui!
Tee Tian Kauw sangat pintar dan cerdas. la dapat
mengikuti dan memahami semua jurus, serangan, sabetan,
egosan, sodokan, tusukan, loncatan dan lain sebagainya
dari ilmu2 silat yang diajarkan kepadanya. Lalu mereka
berlatih sampal senja. Tee Tian Kauw berterima kasih
untuk kesungguhan hatinya saudara angkatnya
mengajarinya. Lalu la mengajak saudara angkatnya itu
bermalam dirumahnya. Selama tiga hari Tee Tian Kauw
menuturkan selak-beluk puncak Ti Shing Hong itu, atau
merundingkan ilmu2 silat sambil menikmati teh daun Song.
Dengan demikian persaudaraan mereka itu menjadi makin
hari makin kekal.
Pada hari ke-4-nya, Tee Tian Kauw pagi2 telah
mendatangi Kong Sun Giok. Sambil tersenyum ia berkata :
“Giok Ko-ko, jurus "Hua Kai Kua Hut' atau „bunga
terbuka melihat dewa" dari ilmu silat Ceng Lian Kiam
Hoat, masih juga belum dapat kufahami dengan sempurna.
Bolehkah Ko-ko memberi petunjuk lagi ?"
Sambil tersenyum Kong Sun Giok bangun, mengambil
pedangnya, dan ber-sama2 Tee Tian Kauw keluar menuju
kelapang rumput.
85
Kemudian dengan pedang Poa Cu Kiamnya Kong Sun
Giok mempertunjukkan segala cara silat pedang Ceng Lian
Kiam Hoat. Lalu Tee Tian Kauw mengambil pedang Poa
Cu Kiam dari Kong Sun Giok dan berkata: „Giok Ko-ko,
aku akan melatih jurus 'Hua Kai Kua Fut', dan aku minta
kau beri petunjuk lagi bila perlu!"
Kong Sun Giok belum menjawab, tiba2 dari belakang
Tee Tian Kauw terdengar suara orang menegur, dan orang
itu berkata sambil tertawa : „Tian Kauw, kau jangan merasa
puas dengan ilmu silat itu! Tiap kau melakukan silat pedang
Ceng Lian Kiam Hoat itu hanya kuat dibagian atas, tetapi
lemah dibagian bawah. Dan tenaga yang kau keluarkan
tidak cukup. Sebetulnya ilmu silat pedang Ceng Lian Kiam
Hoat ini adalah dari Ceng Lian Shin Ni; dan ia belum
pernah menurunkan ilmu silat tersebut kepada orang lain.
Dari manakah kau mempelajarinya? Dan pedang
ditanganmu itu, apakah pedang Poa Cu Kiam, atau pedang
Leng Liong Pit?"
Kong Sun Giok menoleh kearah orang yang berbicara
itu. la melihat bahwa orang tersebut sedang berdiri didepan
rumah yang berada didekat rumah dimana ia telah
menginap selama tiga hari. la adalah seorang pendeta,
berusia lebih kurang 40 tahun, dan tubuhnya kokoh sekali.
la insyaf bahwa pendeta itu tentulah gurunya Tee Tian
Kauw. Lalu la buru2 menghampiri dan membungkukkan
diri dihadapannya memberi hormat. Rupanya Tee Tian
Kauw sangat disayangi oleh gurunya. Dengan tak menoleh
kearah gurunya ia menjawab : „Pedang ini pedang Poa Cu
Kiam, aku tak berhasil mencari pedang Leng Liong Pit.
Tentang ilmu silat pedang aku telah belajar banyak. Coba
lihatlah ini. Ini jurus Tat Mo Shin Kiam (menyentuh
pedang lawan) dari partai silat Siauw Lim, …… ini jurus
Hui Hong Bu Liu (angin topan menumbangkan pohon )
86
dari partai silat Tiam Cong yang dapat menumbangkan
gunung, dan ini adalah jurus : „Tiam Lam Bo Kit Kiam
Hoat (sodokkan dahsyat) dari partai Tiam Lam yang
kudapat dari saudara angkatku Kong Sun Giok"
Demikianlah Tee Tian Kauw melatih dan
mempertunjukkan jurus2 silat pedang yang telah
didapatinya dilapang rumput itu.
Lalu pendeta itu berkata sambil tersenyum : „Tian
Kauw, ilmu silat pedang tidak dapat menjadi mahir dengan
berlatih hanya setengah hari! Siapakah pemuda ini? Kau
belum memperkenalkannya kepadaku!" Tee Tian Kauw
berhenti berlatih, menarik lengannya Kong Sun Giok dan
berkata : „Giok Ko-ko, inilah guruku Heng Tay-soe! Taysoe,
inilah saudara angkatku, Kong Sun Giok !"
Kong Sun Giok yang telah menyaksikan dengan mata
kepala sendiri betapa lihay silatnya Tee Tian Kauw, yakin
menanya: „Cucu Kong Sun! Apakah kau muridnya Thian
Lam Sa Kiam ?" Kong Sun Giok tak menyahut. la
mengeluarkan air-mata karena ia teringat kembali akan
guru2nya yang budiman itu! Tee Tian Kauw buru2
menyahut : „Guru2 Giok Ko-ko adalah Goan Siu To-tiang
dan kedua saudaranya Goan Liong dan Goan Cin. Mereka
adalah yang terkenal sebagai Thian Lam Sa Kiam (Tiga
jago silat pedang dari selatan). Mereka semuanya telah
gugur dimedan Bu Lim. la kini memikul beban yang sama
beratnya seperti aku. Musuhnya Giok Ko-ko ialah Lak Cao
Shin Kun Ban Cun Bu. Tetapi siapakah musuhku? Aku
mohon Tay-soe lekas2 memberitahukan."
Heng Tay-soe tidak menjawab pertanyaannya Tee Tian
Kauw, ia terus mengawasi Kong Sun Giok, dan berseru:
„Apa ? Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu???"
Tee Tian Kauw melihat bahwa gurunya tidak ingin
menyaksikan silat pedangnya lagi, tidak ingin
87
memberitahukan nama musuhnya, dan Kong Sun Giok
belum lagi menjawab, lalu menyerahkan pedang Poa Cu
Kiam kepada saudara angkatnya sambil berkata: „Giok Koko,
tolong pegang pedang ini. Aku ingin memperlihatkan
silat tinju kepada guruku! Ceritamu agak panjang. Sebentar
kita masuk kedalam rumah, dan aku dapat menceritakan
kepada guruku."
Lalu ia kembali kelapangan rumput, dan
mempertunjukkan ilmu silat tinjunya. Baru saja la
melakukan satu jurus, gurunya berseru: „Ha!" Tee Tian
Kauw terus menjalankan jurus2 silat tinjunya yang gesit dan
gaib se-akan2 seratus naga sedang me-nari2, dan aingin
keras berembus, dimana tinjunya melayang!
Setelah Tee Tian Kauw berhenti berlatih, Heng Taysoe
berkata sambil goyang2 kepalanya: „Itu adalah ilmu silat
'Thian ShingCong' (Memetik bintang2 dilangit) dari Lat Sin
Shin Mo Shin It Cui. Tian Kauw, bagaimana dalam hanya
setengah tahun, kau dapat mempelajari ilmu2 silat yang
lihay2 ?? Ayo, kita masuk kedalam rumah, dan kau harus
memberitahukan kepadaku."
Tee Tian Kauw yang biasa di-manja2kan merasa
gembira sekali dengan pujian gurunya. Setelah mereka
berada didalam rumah, Heng Tay-soe bertanya kepada
Kong Sun Giok : „Cucu Kong Sun, Tian Kauw sudah lama
tinggal bersama aku, dan ia sangat manja sehingga tak
mengenal aturan. Karena kau telah menjadi saudara
angkatnya, kau harus mendidik ia dalam hal budi pekerti
dan sopan santun!"
Kong Sun Giok sukar menjawab, ia hanya tersenyum.
Pada saat itu ia baru melihat bahwa kedua lengan pendeta
itu telah buntung! Ketika mula2 berjumpa tadi ia tak
melihat, karena Heng Tay-soe berdiri dengan kedua
lengannya yang buntung tertutup dengan lengan bajunya
88
yang besar. la berpikir: „Dunia ini betul2 ganjil. Ban Cun
Bu buntung kedua betisnya, akan tetapi masih dapat
menjagoi dikalangan Bu Lim. Dan ……… Tay-soe ini
buntung kedua lengannya!"
Kamar didalam rumah yang didiami oleh Heng Taysoe
sangat sederhana. Kursi, maupun mejanya semua terbuat
dari batu gunung. Diatas sebuah meja batu terlihat
bungkusan2 daun2 obat2an, kitab2 kuno dan hio2 wangi
untuk bersembayang. Heng Tay-soe duduk diatas tempat
tidur. Karena kedua lengannya buntung, maka dilengan
kanannya telah dipasang suatu gaitan dari baja yang dapat
bekerja sepcrti tangan untuk makan atau minum!
Tee Tian Kauw lalu menyediakan dua cangkir teh.
Secangkir diberikannya kepada Kong Sun Giok, dan
secangkir lagi ditaruhnya dimeja batu untuk gurunya. Lalu
ia menceritakan peristiwa Thian Lam Sa Kiam
mempertaruhkan jiwa terhadap Ban Cun Bu dilembah Lek
Yun Kok dari pegunungan Kwat Cong San, peristiwa Bian
Leng Jun membawa kabar buruk tentang tewasnya Thian
Lam Sa Kiam kepada Kong Sun Giok, peristiwa tentang
caranya ia inemperoleh pedang Poa Cu Kiam sehingga ia
dapat menemui Kong Sun Giok dan menjadi saudara
angkat ditelaga Poa Yo Ouw. Tetapi dalam ceritanya itu,
dengan tak sengaja ia menceritakan juga tentang janji Bian
Leng Jun untuk bertemu dengan Kong Sun Giok lagi
setelah 10 tahun, dan tentang wajahnya yang mirip sekali
dengan wajah Bian Leng Jun, kecuali tahi lalat diatas alis
kirinya.
Heng Tay--soe mendengarkan dengan sabar dan penuh
perhatian, dan perasaan simpati terhadap Kong Sun Giok.
Ia minum teh yang dipersembahkan oleh Tee Tian Kauw,
lalu menarik napas panjang dan berkata : „Thian Lam Sa
Kiam telah berkorban demi kepentingan jago2 silat
89
dikalangan Bu Lim. Perbuatannya itu mulia sekali. Ban
Cun Bu pada akhirnya tentu musnah! Dulu aku pernah
dengar bahwa untuk memperoleh kitab Ju Keng, orang
harus mempunyai pedang Poa Cu Kiam. Kini kamu berdua
telah memperoleh pedang Poa Cu Kiam, dan nampaknya
rencana untuk memperoleh kitab Ju: Keng mendapat
kemajuan. Tetapi apakah kamu telah mencari dan
mendapatkan soal2 yang luar biasa tentang pedang itu?"
Kong Sun Giok hendak menyahut, tetapi telah didahului
oleh Tee Tian Kauw yang buru2 berkata : „Giok Ko-ko
bukan saja telah menemui sesuatu yang ganjil tentang
pedang itu, bahkan dalam perjalanannya dari telaga Poa Yo
Ouw, iapun telah mengalami peristiwa2 aneh. Tay-soe,
minumlah teh dulu, nanti aku ceritakan lebih lanjut."
Lalu diceritakannya peristiwa tentang Kong Sun Giok
menemui kulit kambing didalam gagang pedang Poa Cu
Kiam, peristiwa ia mematahkan balok2 kayu yang
mengurung Lat Sin Shin Mo didalam gua dipegunungan
Lee Leng San ketika ia hendak berlindung dari hujan,
peristiwa Ceng Lian Shin Ni mengajarkan ilmu silat pedang
Ceng Lian Kiam Hoat, peristiwa tentang KimWan Lo Han
yang merampas pedang Poa Cu Kiamnya dan kemudian
ditolongoleh Shin It Cui atau Lat Siu Shin Mo yang
kemudian menjadi kakak angkatnya, dan peristiwa Shin It
Cui mengajarinya ilmu silat tinju „Tian Shing Cong" dan
lain sebagainya.
Setelah Tee Tian Kauw berhenti dengan kisah2 itu, Hung
Tay-soe berkata, suaranya rendah: ”dikalangan Kang-ouw
orang2 sudah mengetahui bahwa Lat Siu Shin Mo Shin It
Cui itu membunuh orang seperti membunuh se-ekor ayam,
akan tetapi iapun mengenal budi. Seterusnya kamu harus
bertindak hati2, karena dikalangan Kangouw banyak sekali
bahaya. Sekali karnu bertindak salah, bukan saja namamu
90
menjadi busuk, bahkan kamu juga harus membayarnya
dengan jiwa!"
Kong Sung Giok mendengar nasehat itu dengan
khidmat, akan tetapi Tee Tian Kauw memotong
pembicaraan gurunya dan berkata: „Tay-soe dapat nasehati
kita nanti. Menurut pandanganku, orang yang mengenal
budi seperti Shin It Cui, harus dihormati"
Heng Tay-soe tersenyum dan Tee Tian Kauw
meneruskan : „Tay-soe, aku telah memahami ilmu silat
pedang seperti Tat Mo Shin Kiam (menyentuh pedang
lawan), 'Hui Hong Bu Liu' (angin topan menumbangkan
pohon), Thian Lam Bo Kit Kiam Hoat (sodokkan dahsyat
ala ilmu silat pedang Thian Lam), dan juga 'Tian Shing
Cong' (memetik bintang2 dilangit)! Tapi …… tentang
rencana Giok Ko-ko mencari kitab Ju Keng, meskipun kita
telah memperoleh pedang Poa Cu Kiam, bagiku masih
merupakan suatu teka-teki. Tay-soe, apakah artinya 'Sek Kit
Su Kong, Kong Kit Su Sek' (Warna ialah kekosongan,
Kekosongan ialah warna) yang diajarkan kepada para
penganut Buddha? Diatas kulit kambing tertera sajak yang
seperti itu apakah kedua sajak2 tersebut tak ada sangkutmenyangkut?
Dan bagaimanakah tentang lingkaran2 yang
mempunyai tujuh warna itu???"
Lalu dari tangannya Tee Tian Kauw, Heng Tay-soe
menyelidiki isyarat2 dan sajak yang tertera diatas kulit
kambing itu. Kemudian dipejamkannya matanya untuk
berpikir ! Tee Tian Kauw yang duduk disamping gurunya
memberi isyarat kepada Kong Sun Giok untuk
memperhatikan wajah gurunya. Kong Sun Giok mengawasi
wajahnya Heng Tay-soe, lalu mengawasi sikapnya Tee Tian
Kauw, dan teringat lagi olehnya Bian Leng Jun. Agak lama
juga Heng Tay-soe menutup kedua matanya.
91
Tiba2 kedua matanya dibukanya lebar2, dan berkata
dengan suara yang khidmad sekali :„Orang yang
meninggalkan kulit kambing ini mempunyai dua watak.
Satu waktu ia membuat orang benci, dan lain waktu ia
membuat orang sayang kepadanya. Jika sajak diatas kulit
kambing itu diperbandingkan dengan sajak dari Buddha,
maka orang dapat semakin bingung menafsirkannya! Tapi
Cucu Kong Sun adalah seorang yang juga mahir dalam
ilmu surat. Huruf Tionghoa mementingkan bentuk. Tulisan
huruf Tionghoa ialah hampir serupa dengan tulisan Mesir
kuno, yaitu hiroglypik. Misalnya huruf 'Jin' (orang) ditulis
seperti kita menggambar orang, huruf 'Hie' (ikan) ditulis
seperti kita menggambar se-ekor ikan, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, bentuk2 huruf2 yang disusun menjadi sajak
itu, harus kita selidiki juga. Dan orang yang pandai
menggambar, entah ia menggambar pemandangan, entah ia
menggambar suatu benda, sebelumnya ia mulai
menggambar, ia telah menentukan dimana ia harus mulai
mencoretnya, dan dimana harus dibiarkan kosong atau
diberi warna ……"
Tee Tian Kauw memotong lagi omongan gurunya, dan
berkata :„Tay-soe, jadi sajak yang berbunyi 'Kong Wai Cu
Kong' (Kekosongan diluar kosong) itu serupa dengan
'kosong' dalam suatu gambar?"
Heng Tay-soe menganggukkan kepalanya, dan
meneruskan penjelasannya : „Diluar lingkaran2 yang
mempunyai tujuh warna diatas kulit kambing itu bukannya
putih kosong? Itulah serupa dengan 'kosong' diatas suatu
gambar."
Lalu Kong Sun Giok menanya :„Tay-soe jika demikian
yang tidak berwarna diluar lingkaran2 ialah yang diartikan
'kekosongan diluar kosong'. Akan tetapi ………"
92
Tee Tian Kauw memotong lagi pembicaraan itu, dan
berkata : „Di-tengah2 tujuh lingkaran yang berwarna itu
tertampak juga suatu warna yang berlainan daripada tujuh
warna itu. Apakah ini diartikan 'Warna didalam warna' ?"
Heng Tay-soe tertawa dan berkata : „Kamu berdua
cukup cerdas! Sajak yang berbunyi 'Kong Wai Cu Kong,
Sek Tiong Cu Sek' (Kekosongan diluar kosong, warna
didalam warna) memberitahukan kepada kita bahwa kulit
kambing yang berwarna hitam itu sebetulnya berwarna
putih! Kulit kambing yang berwarna putih menjadi hitam
karena telah disepuh hitam, atau terlapis oleh kulit hitam.
Cobalah kita selidiki lagi kulit kambing itu. Tian Kauw kau
dapat merendam kulit kambing ini dalam air bersih untuk
mengetahui apakah kulit ini terdiri dari dua lapisan !"
Tee Tian Kauw segera bangun dari tempat duduknya,
dan keluar membawa kulit kambing itu untuk direndam
didalam air gunung. Kemudian ia kembali lagi membawa
dua potong kulit kambing yang basah. Betul saja kulit
kambing itu terdiri dari dua lapis…… lapisan atas berwarna
hitam, dan lapisan bawah berwarna putih. Sambil tertawa ia
berkata : „Giok Ko-ko, kau agak tolol Mengapa tidak
direndamtadinya?"
Kong Sun Giok tidak menjawab. la merasa canggung diejek
demikian, tetapi ia merasa girang melihat
perkembangan usahanya.
Lalu Heng Tay-soe berkata: „Orang yang meninggalkan
kulit kambing ini betul2 cerdik. la telah membuat orang
memutar otaknya untuk menafsirkan lingkaran2 dengan
tujuh warna itu dan sajak yang merupakan teka-teki.
Siapapun tidak akan menduga kulit ini terdiri dari dua lapis
!"
93
Tee Tian Kauw lalu menggosok kering kedua potong
kulit kambing itu dengan hati2, dan sambil memegang kulit
kambing yang putih ia menanya gurunya :„Tay-soe,
cobalah lihat kulit kambing ini. Bukankah diatasnya ada
gambar pemandangan?"
Kong Sun Giok mendekati Heng Tay-soe dan
mengawasi gambar yang tertera diatas kulit kambing yang
putih itu. la melihat gambar sebuah puncak gunung yang
tinggi, dan disebelah kanan puncak yang tinggi itu ada lagi
sebuah puncak yang lebih rcndah. Diatas puncak tersebut
tampak suatu lingkaran berwarna merah, dan didalam
lingkaran merah itu ada delapan huruf yang berbunyi: Ju
Cai Ju Tiong, Ko Beng Ju Kek (Kelembutan berada dalam
watak lemah-lembut, kemuliaan dapat menalukkan
kelembutan)!
Ketiga orang itu lalu duduk diam, dan berusaha
menafsirkan arti sajak itu. Apakah puncak yang tinggi itu
menunjukkan puncak gunung dimana kitab Ju Keng
tersimpan? Tetapi puncak gunung yang manakah? Apakah
puncak yang rendahan tempat tersimpannya kitab Ju Keng?
Lagi pula sajak yang berbunyi : Ju Cai Ju Tiong, Ko Beng
Ju Kek apakah artinya? Huruf pertama 'Ju' itu mungkin
berarti kitab Ju Keng. Tetapi apakah artinya huruf 'Ju' yang
kedua? Mereka memutar otak berusaha menafsirkan selama
setengah hari. Kemudian Tee Tian Kauw mengembalikan
kulit kambing yang putih itu kepada Kong Sun Giok sambil
berkata: „Gok Ko-ko, huruf 'Ju' kedua itu sukar ditafsirkan.
Pendapatku ialah kau harus mencari puncak yang tinggi itu
dulu, dan kemudian pergi menyelidiki puncak yang lebih
rendah."
Kong Sun Giok menjawab sambil tersenyum :„Tian
Kauw, omonganmu sangat beralasan. Tetapi entah berapa
94
banyaknya puncak2 gunung. Puncak tinggi yang manakah
yang harus?"
Lalu 'Heng Tay-soe berkata : „Dikaki gunung Siat Hong
San disebelah barat propinsi Hunan ada tinggal bertapa
seorang tua yang bernama Sio Yo Sian Seng. la telah
mengembara keberbagai tempat, dan mengenal banyak
gunung2 maupun sungai2. Tidak salahnya jika cucu Sun
Giok pergi menemui dia, dan memohon pertolongan atau
bantuannya."
Usul tersebut menggirangkan Kong Sun Giok. la
sebetulnya hendak segera berangkat, akan tetapi ia teringat
akan Bian Leng Jun dalam dirinya Tee Tian Kauw. Sikap
tersebut dapat dilihat oleh Tee Tian Kauw yang lalu
berkata: „Giok Ko-ko, aku yakin kau ingin lekas2 mencari
kitab Ju Keng, tetapi kau agaknya enggan berpisah dari aku.
Tetapi kita berdua mempunyai kepandaian silat yang tinggi,
dan kita dapat berjumpa lagi dengan mudah. Aku berlatih
ilmu silat pedang disini, dan kau dapat segera pergi mencari
Sio Yo Sian Seng. Setelah aku mahir betul, aku pasti datang
menyusul mencari Sio Yo Sian Seng dan menemui kau."
Heng Tay-soe berkata sambil tertawa : „Tian Kauw,
usulmu itu bagus sekali. Aku hanya mengharap kamu
berdua dapat selamanya saling bantu-membantu, dan dapat
ber-sama2 menunaikan tugas2mu." Lalu dengan
menghadapi Kong Sun Giok, ia berkata : „Cucu Kong Sun,
kau telah datang kesini dari tempat yang jauh. Aku tak ada
mempunyai apa2 untuk diberikan kepadamu. Aku hanya
dapat memberikan kepadamu 'Kasih-sayangku', dan aku
harap kau dapat menjaga diri dimana saja kau berada
dengan sikapmu yang sopan-santun, dan dengan watakmu
yang mengenal budi. Dengan berbuat demikian, aku yakin
kau senantiasa disertai keberuntungan !"
95
Setelah itu, ia menghadapi Tee Tian Kauw dan berkata :
„Tian Kauw, aku harap kau giat berlatih, dan berlatih
sampai sempurna ilmu2 silat pedang yang baru kau pelajari
dari saudara angkatmu dengan mencurahkan semua
perhatianmu selama satu bulan. Setelah itiu kau dapat turun
gunung untuk menunaikan tugasmu! Nah! Kini kau
antarkan saudara angkatmu turun dari puncak ini !"
Kong Sun Giok lalu membungkukkan tubuhnya
memberi hormat clan menghaturkan terima kasih kepada
Heng Tay-soe. Kemudian ber-sama2 Tee Tian Kauw ia
turun dari puncak itu.
Mereka berjalan ber-damping2an sepcrti sepasang
merpati, dan tidak berbicara. Berpisahan itu sangat berat
bagi mereka!
Dengan ilmu meringankan tubuh, dengan cepat mereka
tiba dikaki gunung. Tee Tian Kauw menghadapi Kong Sun
Giok, memandang wajahnya sejenak, dan berkata: “Giok
Ko-ko, kau harus rela berpisah. Kau harus lekas2 mencari
kitab Ju Keng itu. Setelah lewat satu bulan, dengan ilmu
silat pedang yang akan kupelajari dengan sempurna, aku
pasti datang menyusul kau !"
Dengan berat sekali, Kong Sun Giok memaksa dirinya
untuk berpisah. la memutar badan, dan dengan tak
berbicara lagi ia segera lari pergi kearah barat-laut!
Tee Tian Kauw menggigit bibir untuk menahan air
matanya jangan sampai mengucur keluar. Ia terus
mengawasi Kong Sun Giok sampai hilang.
Disepanjang jalan Kong Sun Giok senantiasa
mengenang2kan pengalaman2 dan peristiwa2 yang lampau
: Lak Cao Shin Kun Ban Cun Bu kehilangan kedua betis,
akan tetapi dapat menjagoi dikalangan Bu Lim. Heng Taysoe
kehilangan kedua lengan, akan tetapi ilmu silat yang
96
telah diajarkannya kepada muridnya Tee Tian Kauw lihay
sekali: Bian Leng Jun yang cantik jelita tengah menantinya
dikota Lak Cao. Tee Tian Kauw yang mirip dengan Bian
Leng Jun dan yang selalu membikin ia mabuk asmara telah
menjadi adiknya. Lat Siu Shin Mo yang terkenal lihay
sekali ilmu silat tinjunya, karena telah dibebaskannya dari
kurungan dalam gua, juga telah menjadi kakak angkatnya.
Semua pengalaman2 dan peristiwa2 itu menyenangkannya.
Akan tetapi …… tugas ia membalas dendam guru2nya
belum terlaksana. Dimanakah kitab Ju Keng itu yanmdapat
membantu usahanya? Dan apakah artinya sajak „Ju Cai Ju
Tiong, Ko Beng Ju Kek" yang tertera diatas kulit kambing
yang putih itu? Betul sajak yang berbunyi : Kong Wai Cu
Kong, Sek Tiong Cu Sek telah dapat diartikan, akan tetapi
masih juga tidak diketahui dimana kitab Ju Keng tersimpan.
Menurut Heng Taysoe, ia harus mencari Sio Yo Sian Seng
yang mungkin dapat memberikan petunjuk padanya. Jika
Sio Yo Sian Seng juga tak dapat mengetahuinya ……
bagaimanakah? Demikianlah Kong Sun Giok berpikir
disepanjang jalan.
Pada suatu hari ia tiba disuatu tempat yang luar biasa.
Didepan matanya ada barisan gunung. Batu2 gunung yang
beraneka bentuk, pohon2 dan tumbuh2an yang belum
pernah dilihatnya dan air terjun dengan air yang jernih,
tampak disekitarnya. Dilereng gunung disebelah baratlaut ia
menampak hutan pohon bambu, dan tiap2 pohon bambu
setinygi 7 atau 8 depa. Angin yang sejuk meniup dengan
halus ketubuhnia. Ia merasa berada didunia lain!
Sebetulnya ia gemar sekali akan pohon bambu. la datang
menghampiri hutan bambu itu, dan setelah mencari tempat
Yang nyaman, ia berbaring ditanah untuk beristirahat
dengan maksud mencari orang yang dapat memberi
97
petunjuk kepadanya dimanakah letaknya guniang Siat
Hong San.
Belum lama ia berbaring, se-konyong2 terdengar olehnya
dari dalam hutan bambu itu suara nyanyian : „Cobalah
tanya kepada para pahlawan, setelah mereka menjadi jago,
apakah manfaatnya? Bukankah manusia akhirnya juga
masuk kelubang kubur?"
Kong Sun Giok yang faham akan sastra segera dapat
mengetahui bahwa sajak yang dinyanyikan itu adalah
karangan Bee Ci Yen dari zaman dinasti Goan. la bangun
dan menyelidiki siapakah yang telah bernyanyi itu. Dengan
ilmu meringankan tubuhnya, dengan pesat dan gesit sekali
ia berlari kian kemari mencari orang yang menyanyi itu.
Ketika ia merasa bahwa ia telah berada dekat sekali dengan
orang itu, ia berjalan dengan sikap yang waspada. Betul saja
di-tengah2 hutan bambu itu, disamping satu batu gunung
yang besar ada seorang tua berjubah warna coklat tengah
berbaring. Orang tua itu sedang menikmati arak dan
hidangan2 ringan!
Meskipun orang tua itu mengetahui ada orang yang
menghampirinya, akan tetapi ia tetap berbaring sambil
bernyanyi. Ketika itu ia menyanyikan sajak dari penyair
Pek Lok Tian dari zaman dinasti Tong. Mendengar sajak2
yang dinyanyikan itu, Kong Sun Giok segera mengetahui
bahwa orang tua ini bukan orang biasa. la berjalan sampai
didepan orang tua itu, membungkukkan diri memberi
hormat, lalu berkata : „Pak, mungkin bapak ini seorang
suci. Hamba ini juga bukannya orang yang tamak atau
serakah. Bagi hamba tempat ini asing sekali. Oleh karena
itu hamba mohon bapak memberi petunjuk2."
Si-orang tua lalu bangun dan duduk disamping batu itu.
la mengawasi Kong Sun Giok sejenak, lalu berkata sambil
tertawa : „Sio-tee dari manakah? Sio-tee ingin menanya
98
jalan yang manakah ? Kau katakan kau bukan seorang yang
tamak atau serakah, akan tetapi ilmu meringankan
tubuhmu itu betul2 lihay. Dengan maksud apakah kau
datang kesini ?"
Kong Sun Giok melihat bahwa si-orang tua itu masih
merasa curiga terhadapnya. la bersikap sabar dan hormat,
dan berkata lagi: „Hamba datang dari puncak Ti Shing
Hong dari pegunungan Kauw Ji San. Hamba ingin pergi
kepuncak Siat Hong San disebelah barat propinsi Hunan.
Hamba telah mengganggu ketenteraman bapak, dan hamba
minta dimaafkan."
Orang tua itu lalu tertawa lagi dan berkata : „Sio-tee
rupanya baru terjun dikalangan Kang-ouw. Meskipun kau
tidak tamak, akan tetapi kau masih belum dapat menahan
napsu. Tempat ini adalah Siat Hong San!"
Kong Sun Giok merasa girang mendengar bahwa ia telah
berada digunung Siat Hong San. Ta merasa girang karena
meskipun ia tak tahu jalan, namun ia telah beruntung tidak
tersesat. Dengan wajah ber-seri2 ia menghaturkan terima
kasih kepada orang tua itu.
Wajah orang tua itu lalu berubah. Dengan senyuman
lebar ia berkata :„Sio-tee telah datang dari puncak Ti Shing
Hong dari pegunungan Kauw Ji San. Tetapi disitu ada
tinggal berdiam atau bertapa seorang jago silat ang lihay
dengan nama Kong Men Ki Hiap Heng Tay-soe. Apakah
kau tidak menjumpainya ?"
Mendengar orang tua itu juga mengenal Heng Tay-soe,
ia berpikir „Aneh sekali! Aku telah beruntung sekali! Segala
yang aku usahakan selalu memperoleh bantuan. Apakah
orang tua ini bukannya Sio Yo Sian Seng ang sedang
dicarinya?" Lalu ia bertanya dengan hormat : „Hamba ini
bernama Kong Sun Giok. Aku, atas perintah Heng Tay-soe,
99
datang kesini dengan maksud mencari Sio Yo Sian Seng.
Apakah hamba dapat mengetahui nama bapak ?"
Orang tua itu meng-urut2 jenggotnya yang panjang, dan
sambil tersenyum ia berkata : „Sio-tee, kau bukan saja telah
tiba digunung Siat Hong San, kau juga telah menjumpai Sio
Yo Sian Seng. Aku baru saja kembali dari pegunungan Oey
San. Gelarku ialah sibangau liar. Aku pemalas. Aku enggan
melihat orang. Akan tetapi karena Sio-tee ada hubungan
dengan Heng Tay-soe, dan telah datang dari tempat yang
jauh, aku harus menerima kau. Marilah kita masuk
kegubukku, dan kau dapat menceritakan maksud
kedatanganmu. Meskipun ilmu silatku ini kalah dari ilmu
silatnya Heng Tay-soe, tetapi belum tentu kalah dari ilmu
silatmu. Jika ada sesuatu yang aku dapat membantu, kau
dapat memberitahukan kepadaku."
Sambil berbicara, si-orang tua membereskan cangkir dan
guci araknya, dan mengajak Kong Sun Giok kegubuknya.
Kong Sun Giok memperhatikan bahwa perabot2 didalam
gubuk itu kebanyakan dibuat dari bambu atau batu gunung.
Setelah mereka terduduk, Kong Sun Giok lalu
mengeluarkan kulit kambing yang putih dan
memperlihatkan itu kepada Sio Yo Sian Seng dengan
permintaan supaya sudi menjelaskan teka-teki yang tertera
diatas kulit kambing itu!
Sio Yo Sian Seng mengawasi dan menyelidiki agak lama
teka-teki diatas kulit kambing itu. Lalu ia memejamkan
kedua matanya untuk berpikir. Kemudian Sio Yo Sian Seng
membuka kedua matanya, dan dengan mengerutkan kening
ia berkata : „Kong Sun Sio-tee, meskipun aku baru saja
mengenal kau, tetapi Heng Tay-soe telah menolong aku,
dan budinya tak bisa kulupakan. Aku harus menceritakan
segala sesuatu dengan jujur. Aku selalu bersikap masa
bodoh. Aku tidak menghiraukan harta benda atau
100
keuntungan. Aku gemar sekali berkelana. Oleh karena itu
selama beberapa puluh tahun yang lampau aku telah
berkelana kebanyak tempat, mungkin juga aku pernah
berkelana diseluruh negeri ini. Aku pernah mendaki banyak
gunung maupun puncak. Aku tidak ingat semua gunung2
atau puncak2 itu. Tetapi aku akan menceritakan apa saja
yang aku masih ingat. Setelah melihat gambar puncak2
gunung diatas kulit kambing itu, aku teringat akan puncak2
yang bentuknya dan Ietaknya mirip seperti puncak2
didalam gambar diatas kulit kambing itu."
Kong Sun Giok berkata sambil tersenyum :„Hambapun
tidak mendesak bapak. Sudilah kiranya bapak
memberitahukan apa saja yang bapak masih ingat."
Sambil tersenyum Sio Yo Sian Seng melanjutkan : „Siotee
telah menjumpai aku. Aku ingin mengetahui maksud
Sio-tee pergi ke-puncak2 itu."
Lalu Kong Sun Giok menuturkan segala sesuatu tentang
tekadnya mencari kitab Ju Keng atas perintah gurunya agar
dapat membalas dendam dan mencuci malu gurunya. Iapun
ingat akan pemberitahuan gurunya yang telah berusaha
mencari kitab Ju Keng itu selama beberapa puluh tahun
tetapi hampa.
Orang tua itu agaknya puas dengan penjelasan itu, lalu
sambil meng-hitung2 dengan jari2 tangannya, ia
melanjutkan penuturannya : „Gunung Tiang Pek San yang
terletak diluar tembok kota dekat Chosen kedua puncaknya
mirip seperti puncak2 digambar. Gunung Pek Tian San
dipropinsi Sinkiang kedua puncaknya juga mirip seperti
puncak2 digambar. Puncak2 yang mirip seperti gambar itu
terletak dipegunungan Biauw Ling dipropinsi Kwie Cioe,
dipegunungan Lak Cao dipropinsi Yunan dan
dipegunungan Kong Son dekat propinsi Kwangtung.
101
Kelima tempat itu se-akan2 terpencar disemua mata angin.
Sio-tee bagaimanakah mencarinya?"

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cersil Pedang Pusaka Buntung 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments