Kisah Asmara Guru Silat: SKYMDS 2

AliAfif.Blogspot.Com -
Kisah Asmara Guru Silat: SKYMDS 2
Kisah Asmara Guru Silat: SKYMDS 2
-„Ya, ya,” menyetujui Houw-jiauw Co, „itulah memang
tepat sekali akan diberikan sebagai nama julukan Lie
Lauw-tee ini! Sin-tui Lie! Biarlah nama julukan itu dikenal
oleh para eng-hiong dan ho-han di kalangan Kang-ouw.”
„Hiduplah seorang murid Kak Seng Siang-jin yang
telah berhasil dapat memulihkan nama guru dan
kelenteng perguruannya!” teriak satu suara di antara
orang banyak.
Lie Poan Thian dan Cu Leng yang mendengar suara
teriakan itu, mereka jadi kaget dan lalu melihat ke arah
suara teriakan yang telah diucapkan orang tadi, tetapi
ternyata tidak bisa dikenali siapa orangnya yang telah
mengucapkan suara teriakan tersebut.
„Itulah suaranya Hoa In Liong Suheng,” pikir Poan
Thian di dalam hatinya.
Sementara Cu Leng setelah dibanguni oleh Poan
Thian dan mengucap terima kasih atas kebaikan itu, lalu
menjabat tangan si pemuda sambil berkata: „Lauw-tee!
Nyatalah ilmu kepandaianmu sangat tinggi dan aku rela
mengaku kalah di hadapan orang banyak di sini. Lebih
jauh, dari suara teriakan tadi yang entah telah diucapkan
oleh siapa, aku seolah-olahmendengar orang
mengatakan, bahwa kau ini adalah salah seorang murid
Kak Seng Siang-jin Lo-siansu dari kelenteng Liong-tamsie.
Hanya belum tahu apakah omongan itu benar atau
tidak?”
100
Lie Poan Thian membenarkan atas omongan itu.
Bahkan siapa yang telah berteriak tadi di antara orang
banyak, itupun ia kenali sebagai saudara
seperguruannya di kelenteng Liong-tam-sie, yaitu
suhengnya yang bernama Hoa In Liong. Tetapi ia tak
tahu mengapa ia tak mau keluar buat bertemu muka.
Selain dari itu, iapun tidak tahu, buat maksud apa ia
datang ke Cee-lam.
„Sekarang urusan ini sudah menjadi beres,” kata
Louw Cu Leng, setelah bersama-sama Poan Thian
dengan sia-sia mencari Hoa In Liong yang berteriak tadi
di antara orang banyak.
„Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa hari
ini aku akan dapat menyaksikan seorang ahli silat yang
begitu pandai dan lihay ilmu tendangannya!” kata Houwjiauw
Co, yang baru pada saat itu mau percaya segala
keterangannya Louw Cu Leng tentang kelihayannya Lie
Poan Thian.
„Aku sebenarnya masih banyak urusan yang hendak
dibicarakan dengan Lie Lauw-tee,” kata Louw Cu Leng.
„Maka jikalau Lie Lauw-tee sudi dan tidak berkeberatan,
aku mohon supaya pada hari ini juga kau suka
berkunjung ke rumahku. Tetapi, belum tahu, apakah
Lauw-tee sudi mengabulkan permintaanku ini?”
Poan Thian menyatakan tidak berkeberatan akan
mengabulkan permintaan itu, maka dengan naik joli
bersama-sama Cu Leng, ia ikut menuju ke Hu-tong-toakee
dengan diiringi oleh Houw-jiauw Co yang
menunggang seekor kuda besar dan berjalan mengikuti
disamping joli tersebut.
Orang banyak yang kurang mengerti, apa sebab
pertempuran itu dihentikan dengan cara yang begitu
101
mendadak, terpaksa pada berjalan pulang sambil
beromong-omong dan menduga, tentang peristiwa apa
yang terjadi dibalik pertempuran itu.
◄Y►
Sekarang kita ajak para pembaca mengikuti pada
Louw Cu Leng dan Lie Poan Thian yang menuju ke Hutong-
toa-kee tadi.
Sebegitu lekas sampai ke rumahnya, jago tua itu lalu
pimpin tangan Poan Thian, yang lalu diajak masuk ke
ruangan pertengahan, dengan Houw-jiauw Co mengiringi
mereka di sebelah belakang.
Di sini Cu Leng lalu panggil beberapa orang
bujangnya. Yang sebagian ia perintah pergi mengambil
air teh wangi dan beberapa macam makanan, sedangkan
yang lainnya ia perintah menyajikan sebuah meja
perjamuan untuk menjamu pada Lie Poan Thian. Hal
mana, sudah barang tentu, telah membuat pemuda kita
merasa malu hati dan saban-saban menyatakan terima
kasihnya atas kebaikannya jago tua itu. Tetapi Louw Cu
Leng sebaliknya telah minta agar supaya Poan Thian
jangan berlaku sungkan, dan anggaplah bahwa urusan
begini sebagai suatu perkara lumrah.
„Apalagi kita baru saja saling berkenalan satu sama
lain,” katanya, „dari itu, maka kuanggap cara ini tidak
lebih dari pantas, akan dilakukan sebagai tanda
persahabatan dan persaudaraan di antara kita sesama
golongan orang, dalam rimba persilatan.”
Sementara Thian Ko yang melihat Poan Thian
berlaku see-jie, lalu mencampuri berbicara, sambil turut
membenarkan apa kata sahabatnya itu.
102
Oleh karena merasa tidak baik buat terus-menerus
menampik tawaran orang yang begitu manis dan
sungguh-sungguh, maka apa boleh buat Poan Thian
telah mengabulkan juga, sambil tak lupa mengucap
diperbanyak terima kasih atas kebaikannya jago tua itu.
Begitulah setelah mereka selesai minum teh,
beberapa orang bujang lalu memberitahukan, bahwa
hidangan telah disediakan dan dikuatirkan akan keburu
dingin, jikalau tidak lekas didahar.
“Ya, ya, itu benar,” kata Louw Cu Leng sambil
berbangkit dari kursinya, kemudian menoleh pada Poan
Thian dan Thian Ko di kiri-kanannya. „Ayoh, marilah kita
orang dahar. Hidangan kali ini, mungkin juga kurang
memuaskan, berhubung semua ini telah dikerjakan
dengan cara yang kesusu. Nanti lain hari akan kuundang
kamu berdua akan makan besar dengan hidanganhidangan
yang istimewa. Marilah!”
Poan Thian mengucapkan terima kasih, kemudian ia
mengikuti Cu Leng dengan diiringi oleh Thian Ko.
Selama mereka duduk makan minum, Cu Leng telah
menuturkan pada Lie Poan Thian, cara bagaimana
dahulu ia pernah membuka sebuah piauw-kiok, menjadi
piauw-su dan dapat berkenalan dengan Kak Seng Siangjin,
yang ringkasnya kita bisa tuturkan sebagai berikut:
Pada jaman duapuluh tahun yang lampau, di kota
Cee-lam terdapat sebuah kantor angkutan yang memakai
merek Cin-wie Piauw-kiok dan di kepalai oleh Sin-kun
Louw, yakni Cu Leng, yang ketika itu hampir tidak
seorangpun di daerah Shoa-tang yang tidak kenal
namanya. Bahkan banyak hohan-hohan atau orangorang
gagah di kalangan Rimba Hijau merasa segan
untuk melanggar kepadanya, hingga selama ia membuka
103
piauw-kiok dan melindungi barang-barang orang, belum
pernah ada kejadian barang-barang angkutannya yang
dirampok orang. Maka dari itu, Cin-wie Piauw-kiok
mendapat kepercayaan besar sekali dari para saudagar,
yang kerap mengirim barang-barang berharga dalam
melakukan perhubungan dengan daerah-daerah lain di
seluruh Tiongkok.
Pada suatu waktu adalah seorang saudagar kaya
raya yang bernama Souw Bun Hoan dan hendak menuju
ke kota Siang-kiu dalam propinsi Ho-lam. Oleh karena
kereta-kereta piauw Cin-wie Piauw-kiok pun hendak
menuju ke kota tersebut, maka si saudagar ini telah
menitipkan barang-barangnya atas perlindungan Louw
Cu Leng, sedang ia sendiripun turut juga menumpang
dalam salah sebuah kereta piauw tersebut.
Begitulah setelah iringan kereta-kereta piauw
tersebut telah berjalan beberapa hari lamanya, akhirnya
sampailah mereka di lembah pegunungan Cay-heng-san,
yang perjalanannya sukar dilewati orang dan banyak
didiami kawanan berandal yang kerap keluar mencegat
orang-orang atau kereta-kereta piauw yang kebetulan
melewat di situ. Salah seorang di antara kepala-kepala
berandal yang menjagoi di daerah itu, adalah seorang
yang bernama Han Houw, yang di kalangan Kang-ouw
dikenal orang dengan nama julukan Say-pa-ong atau
Couw Pa Ong kedua.
Han Houw ini orangnya tinggi besar, bertenaga kuat
dan mahir menggunakan sepasang gegaman yang
berbentuk aneh dan dinamakan Jit-gwat-lun, atau roda
rembulan dan matahari.
Kepada ia ini Louw Cu Leng hanya mendengar nama
tetapi tidak pernah bertemu muka, hingga sampai
sebegitu jauh, ia belum tahu sampai dimana ilmu
104
kepandaiannya kepala berandal itu.
Maka waktu Cu Leng melewat di situ dan diberi ingat
oleh beberapa orang juru kabar tentang bahaya
perampokan yang mengancam di depan mata, lalu ia
mengatur orang-orangnya buat menjaga di muka dan kirikanannya
iringan kereta-kereta piauw itu, sedangkan ia
sendiri mengiringi belakangan untuk menjaga
penyerangan-penyerangan gelap yang umum dilakukan
oleh para ho-han di kalangan Rimba Hijau.
Tetapi dugaan Cu Leng kali ini telah meleset. Karena
bukannya kawanan perampok itu mengejar dari sebelah
belakang, ternyata mereka telah mencegat dari depan,
sesudah melepaskan dua batang anak panah yang
berbunji nyaring dan melayang di sebelah atas iringan
kereta-kereta piauw tadi.
Louw Cu Leng yang kuatir dibokong dari belakang,
apabila ia segera maju ke muka iringan kereta-keretanya,
lalu tinggal menunggu sampai ada salah seorang
sebawahannya datang memberitahukan kepadanya,
tentang gerak-geriknya pihak kawanan berandal yang
mencegat di muka perjalanan mereka itu.
Begitulah ketika dari salah seorang piauw-khek yang
berjalan duluan ia diberitahukan tentang munculnya
seorang kepala berandal yang bermuka hitam dan
berjembros pendek dengan mencekal gegaman luar
biasa di tangannya, Cu Leng segera menduga, bahwa si
kepala berandal itu tentulah bukan lain daripada Say-paong
Han Houw yang pernah didengar namanya itu. Maka
setelah memerintahkan beberapa orang akan
menggantikan tempat jagaannya di belakang iringan
kereta-kereta itu, ia lantas tampil ke muka sambil
memberi hormat dan berkata: „Selamat berjumpa, Tayong!
Apakah kamu ini bukan Say-pa-ong Han Houw,
105
yang namanya bergema di kalangan Kang-ouw bagaikan
suara guntur di waktu langit terang?”
Kepala berandal itu yang ternyata benar ada Say-paong
Han Houw, dengan laku yang congkak lalu
menjawab: „Betul. Dan setelah kau mengetahui namaku
yang besar, mengapakah kau tidak lekas turun dari kuda
buat mempersembahkan segala barang angkutanmu
buat dibawa olehku ke atas gunung?”
Louw Cu Leng jadi sangat mendongkol mendengar
omongan Han Houw yang begitu sombong dan bersifat
lebih mengutamakan harta daripada persahabatan, maka
dengan mengeluarkan suara jengekan dari lubang
hidung ia lantas menjawab: „Oh, oh, itulah sudah tentu
saja boleh sekali. apabila kau mampu lawan aku
bertempur buat duapuluh jurus lamanya!”
Say-pa-ong Han Houw yang sama sekali tak
menyangka, bahwa ia bakal mendapat jengekan yang
begitu pedas sudah tentu saja jadi amat gusar, hingga
sambil menuding pada si jagoan she Louw ia lantas
membentak: „Jahanam! Aku bersumpah akan tak
menjadi manusia pula, apabila tak mampu aku
mengalahkan seorang macam kau ini!”
Sambil berkata begitu ia segera menyerang pada
Louw Cu Leng dengan sepasang senjata Jit-gwat-lun di
tangannya.
Cu Leng lalu cabut goloknya, dengan mana ia lantas
tangkis serangan lawan itu dengan tak banyak bicara
pula.
Begitulah pertempuran itu telah berlangsung
sehingga beberapa belas jurus lamanya dalam keadaan
seri. Tetapi Cu Leng yang tidak mau mengasih hati
terlebih lama pula kepada sang musuh itu, lalu mulai
106
menghujani serentetan serangan-serangan yang telah
membikin Han Houw terpaksa mundur dan akhirnya
mesti mengakui, bahwa ia sendiri bukanlah lawan yang
setimpal dari sang piauw-su itu. Tetapi ia bukan seorang
bodoh yang rela menyerah dengan begitu saja. Maka
setelah berpikir dengan cepat beberapa saat lamanya,
Han Houw lalu mulai memberi isyarat kepada orangorang
sebawahannya, agar supaya mereka maju
menerjang dari segala jurusan buat membikin kalut
hatinya Louw Cu Leng. Jikalau siasat itu berhasil,
sebagian dari orang-orang sebawahan itu boleh pasang
tali-tali jiretan untuk menjiret kaki kudanya Louw Cu
Leng, karena jikalau binatang itu dapat dirobohkan, sang
piauw-su sendiripun tentu akan jatuh juga, hingga ia
mudah ditawan tanpa melakukan perlawanan apa-apa.
Karena semua isyarat itu ternyata tidak diketahui oleh
Cu Leng, maka ini justeru merupakan titik lemah yang
telah banyak merugikan bagi dirinya sang piauw-su ini.
Sementara Han Houw yang melihat taktiknya
berhasil, lalu memberi tanda supaya pengepungan itu
dilakukan dengan lebih hebat dan rapat, sehingga Cu
Leng yang akhirnya telah mengerti juga muslihatnya
sang musuh itu setelah waktunya telah kasip, barulah
mencoba dengan sekuat-kuatnya tenaga akan menoblos
pengepungan itu dengan jalan bekerja sama dengan
orang-orang sebawahannya. Cuma celakanya jumlah
kawanan perampok itu ada jauh lebih banyak daripada
mereka, hingga Cu Leng dan kawan-kawannya tak
berdaya memberikan pertolongan pada satu sama lain,
tanpa merugikan kepada penumpang-penumpang
beserta sekalian barang-barang angkutannya dan diri
mereka sendiri.
Tetapi Cu Leng yang berhati keras dan lebih suka
107
mati daripada hilang muka, lalu mengeluarkan suara
bentakan keras dan segera menerjang pada Han Houw
yang saban-saban hampir jatuh terpelanting dari atas
kudanya, disaban waktu Cu Leng menabas dengan golok
yang dicekal di tangannya.
Lama-kelamaan, Han Houw mengerti, yang ia tak
akan mampu mengalahkan sang piauw-su itu. Maka
setelah memberikan pula beberapa macam isyarat
kepada orang-orang sebawahannya, buru-buru ia
balikkan kudanya, sambil melambai-lambaikan
tangannya dan berkata: „Hei, piauw-su goblok! Jikalau
kau sesungguhnya ada seorang yang gagah berani dan
pandai, cobalah kau kejar dan taklukkan aku! Jikalau tak
berani kau berbuat begitu, segeralah katakan demikian di
hadapanku, agar supaya aku boleh memberikan
keampunan dengan hanya merampas semua barangbarang
angkutanmu, tetapi sama sekali tak akan
mengganggu kepadamu dan semua orang yang ikut
dalam iringan kereta-kereta piauw ini.”
Mendengar dirinya dihinakan begitu rupa, sudah
tentu saja Cu Leng jadi amat gusar dan lalu balas
menantang: „Berandal gunung yang hina dina!”
bentaknya, „beberapa belas tahun lamanya aku hidup di
kalangan Kang-ouw tak pernah terkalahkan orang,
dimanalah hari ini mau menyerah mentah-mentah
kepada segala kawanan tikus hutan semacam kamu ini!
Ayoh, jikalau kau benar seorang ho-han yang jujur,
marilah kita boleh bertempur dengan memakai syaratsyarat,
siapa di antara kita berdua yang ilmu
kepandaiannya terlebih unggul!”
Tetapi Han Houw yang memang mengetahui, bahwa
ia bukan lawan Louw Cu Leng yang setimpal, dengan
menebalkan muka lalu pecut kudanya yang segera
108
berlari naik ke atas gunung sambil berseru: „Ayo! mari
kita bertempur di atas gunung ini!”
Louw Cu Leng jadi semakin sengit dan lalu pecut
juga kudanya buat mengejar. Tetapi ketika baru saja
mengejar beberapa tindak jauhnya, mendadak kudanya
telah terjiret kakinya dan jatuh terjerumus ke dalam
sebuah lubang, hingga Cu Leng yang tidak menyangka
bakal terjadi begitu, sudah tentu saja jadi turut terjerumus
juga dan segera ditawan oleh kawanan berandal yang
memang telah bersembunyi di antara semak-semak
untuk melaksanakan maksud busuk itu.
Demikianlah Louw Cu Leng yang namanya telah
mengharum sekian lamanya di kalangan Kang-ouw,
hampir saja jadi ternoda oleh karena terjadinya peristiwa
ini. Syukur juga setelah ia tertawan dan hendak
digantung sehingga mati oleh Say-pa-ong Han Houw,
mendadak telah muncul seorang paderi tua yang telah
datang menolong dan membikin Han Houw insyaf dari
segala kekeliruannya.
Paderi itu, yang kemudian ternyata bukan lain dari
Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie,
memang telah sengaja datang ke pegunungan Thayheng-
san oleh karena telah lama mendengar
perbuatannya Han Houw yang agak menyimpang
daripada peraturan-peraturan yang umum ditaati orang di
kalangan Kang-ouw. Oleh karena itu ia telah datang
sendiri untuk memperingati kepada kepala berandal itu,
agar supaya selanjutnya dia bisa merubah segala
perbuatannya yang tak patut itu.
Sementara Han Houw yang kenal baik pada Kak
Seng Siang-jin sebagai sahabat gurunya, sudah tentu
saja lantas berjanji akan menjadi seorang baik dan
selanjutnya tidak pula campur dalam segala urusan yang
109
dapat menodai nama baiknya di kalangan Kang-ouw
hitam.
Maka atas nama gurunya Han Houw — Ciauw-bian
Bie-lek Tay Thong Hweeshio— Kak Seng Siang-jin telah
menerima kebaikan janjinya Han Houw, yang kemudian
telah menyampaikan juga pernyataan maafnya kepada
Sin-kun Louw Cu Leng.
Demikianlah sebab-musabab Cu Leng dapat
berkenalan dengan Kak Seng Siang-jin, yang ternyata
bukan lain daripada guru Lie Poan Thian yang semula
menjadi lawannya itu!
Oleh karena mendengar penuturan itu, buru-buru
Poan Thian berbangkit dari tempat duduknya dan
menyoja kepada jago tua itu, sambil tak lupa
mengucapkan maafnya atas segala perbuatannya yang
olehnya dirasa kurang patut itu.
Tetapi Cu Leng lantas tertawa dan berkata: „Jikalau
kita tak berkelahi, tentulah tidak menjadi sahabat, dan
berbareng dengan itu, kau tentunya tidak mengetahui
cara bagaimana aku bisa berkenalan dengan Kak Seng
Siang-jin Lo-siansu yang menjadi gurumu itu.”
„Itu benar, itu benar,” menambahkan Houw-jiauw Co
sambil bantu menuangi arak ke masing-masing cawan
yang diletakkan di hadapan mereka bertiga.
Tengah mereka bermakan minum Louw Cu Leng
tidak lupa menanyakan tentang halnya Ma-cu Lie kepada
Lie Poan Thian, siapa, dengan secara singkat telah
menuturkan, mengapa ia membikin ribut di rumahnya si
bopeng itu.
Sementara Cu Leng yang baru tahu jelas duduknya
perkara, keruan saja jadi membanting-banting kaki
110
sambil menyatakan kemenyesalannya, yang ia telah
kasih dirinya „diperkuda” oleh manusia busuk itu.
„Jikalau terlebih siang aku tahu duduknya perkara
yang benar,” katanya, „niscaya tak sudi aku menginjak
lantai rumah manusia terkutuk itu! Maka setelah
sekarang aku ketahui tipu muslihatnya manusia busuk
itu, niscaya aku belum mau sudah, jikalau tidak kembali
lagi ke rumahnya untuk mendamprat dan minta ia segera
ganti segala kerugian yang telah diderita oleh ayahmu
itu!”
Tetapi Poan Thian lantas menyatakan, bahwa urusan
kecil itu ia sendiripun sudah cukup untuk
menyelesaikannya.
Tetapi Cu Leng lantas berkata: „Bukan begitu. Aku
percaya Lauw-tee memang dapat menyelesaikan sendiri
urusan itu, tetapi aku perlu peringatkan dan minta
kepastian dari padanya, supaya selanjutnya perbuatanperbuatan
yang serupa itu tak sampai terulang pula.
Jikalau masih saja ia berani berbuat begitu, aku nanti
turun tangan sendiri buat bikin ia kapok betul-betul
seumur hidupnya.”
Poan Thian mengucap terima kasih atas kesudian Cu
Leng yang telah menyatakan kesediaannya akan campur
tangan dalam urusannya ini, maka dari itu, Ma-cu Lie
yang kemudian jadi ketakutan karena akal muslihatnya
telah diketahui oleh jago silat tua itu, buru-buru ia
meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya, sambil
lantas mengganti semua kerugian berikut bunganya
kepada Tek Hoat, tanpa Cu Leng menegurnya pula
sampai dua kali.
Begitulah karena adanya lelakon Ma-cu Lie yang
hendak menyikut dan merobohkan perusahaannya Lie
111
Tek Hoat ini, maka selanjutnya Louw Cu Leng dan Co
Thian Ko jadi bersahabat sangat baik dengan Lie Poan
Thian, hingga perhubungan ini baru berakhir setelah
masing-masing menutup mata, dengan meninggalkan
nama harum di kalangan Kang-ouw sehingga di jaman
sekarang ini.
◄Y►
Pada suatu hari ketika Poan Thian datang bertamu
ke rumah Louw Cu Leng, justeru ahli silat itu telah keluar
bepergian dan belum kembali, tetapi karena ia mendapat
kabar bahwa Cu Leng akan kembali pada hari itu juga,
maka Poan Thian pun lalu menantikan kedatangannya
sahabat itu sambil membaca buku-buku yang banyak
terdapat dalam perpustakaan milik ahli silat tua itu.
Di situ Poan Thian belum membaca cukup lama,
tatkala di sebelah luar terdengar sebuah kereta yang
berhenti, dengan dibarengi oleh seorang yang
menanyakan pada salah seorang keluarga Louw,
katanya: „Sahabat, apakah Louw Suhu ada di rumah?”
„Hari ini ia belum kembali,” sahut bujang yang ditanya
itu.
Sementara dua orang yang menggotong seorang
yang rupanya mendapat sakit berat telah turun dari
kereta sambil mengulangi pertanyaan tadi: „Apakah Louw
Suhu tiada di rumah?”
„Louw Suhu belum kembali,” sahut bujang Louw Cu
Leng tadi. „Tetapi ada kemungkinan ia akan kembali
pada hari ini juga.”
„Ah, kalau Suhu sampai datang terlambat,” meratap
orang yang digotong itu, „niscaya jiwaku akan sukar
112
tertolong lagi, hingga dengan begitu, berarti sukarlah
juga akan dapat aku membalas dendam kepada musuh
besarku itu!”
Tatkala itu Poan Thian yang menyangka telah terjadi
peristiwa apa-apa yang hebat atas diri orang itu, buruburu
ia keluar memberi nasehat, agar supaya mereka
menggotong saja si sakit itu akan dibawa masuk ke
dalam.
Ketika orang itu dibawa masuk, dengan lantas Poan
Thian dapat mengenali, bahwa si sakit itu bukan lain
daripada Teng Yong Kwie, komandan dari tangsi Tokpiauw-
eng, yang ia pernah dorong jatuh dari kudanya di
lorong Cay-hong-kee belum berapa hari berselang!
Tetapi tak tahu ia, Yong Kwie telah bertempur dengan
siapa, sehingga ia menderita luka sedemikian hebatnya.
Maka setelah komandan itu dibaringkan di sebuah
balai papan, Poan Thian lalu menghampiri kepadanya
sambil berkata: „Tuan, aku rasanya sudah pernah
bertemu muka dengan dikau.”
Teng Yong Kwie yang bermula tidak begitu
memperhatikan kepada Lie Poan Thian, lalu mengamatamati
si pemuda itu sehingga beberapa saat lamanya,
kemudian seperti juga seorang yang baru mendusin dari
tidurnya lalu berkata: „Ya, ya. Kau ini sesungguhnyalah
ada seorang pemuda gagah perkasa yang harus dibuat
bangga oleh setiap orang yang menjadi sahabatnya. Aku
telah coba buat mencari tempat kediamanmu, ketika
dihari itu kau telah melemparkan aku berikut kudaku
dengan sekaligus, tetapi ternyata tak berhasil, berhubung
aku belum kenal siapa she dan namamu yang mulia.”
„Namaku Lie Kok Ciang,” menerangkan Poan Thian
sambil tersenyum.
113
Kemudian Yong Kwie pun lalu perkenalkan juga
dirinya sendiri.
Selanjutnya karena Poan Thian menanyakan juga
peristiwa apa yang telah terjadi atas dirinya, maka Teng
Yong Kwie lalu menuturkan pengalamannya dengan
secara singkat seperti berikut:
Seperti di bagian atas telah dikatakan, Yong Kwie ini
adalah seorang komandan dari tangsi Tok-piauw-eng
yang diberi tugas sebagai guru silat di kalangan tentara
negeri, juga kerap diperintah oleh seatasannya untuk
melakukan tugas sebagai kepala polisi, yang biasa
bertindak akan membasmi segala kejahatan yang
diorganisir oleh orang-orang berpengaruh dan hartawanhartawan
jahat yang semata-mata bekerja untuk mencari
keuntungan guna saku sendiri.
Oleh karena perbuatan dan sepak terjang mereka ini
kerap menggelisahkan kaum kecil, maka pembesar yang
berkuasa di Cee-lam merasa perlu akan mengambil
tindakan-tindakan tegas terhadap pada sekelompok
orang-orang yang sangat mengganggu kesejahteraan
masyarakat dan tak bertanggung jawab itu.
Salah seorang di antara manusia-manusia busuk ini,
adalah seorang hartawan yang terkenal dengan nama
sebutan Lauw Sam-ya, siapa telah sekian lamanya
mencari jalan untuk mencelakai Teng Yong Kwie yang
merupakan sebagai duri di matanya. Karena sebegitu
lama Yong Kwie masih hidup dalam masyarakat di Ceelam,
ia selalu merasa tidak tenteram akan melakukan
segala perbuatan yang melanggar undang-undang
negeri, seperti menadah barang gelap,
memperdagangkan barang-barang pemerintah yang
dicuri oleh komplotannya, dan perbuatan-perbuatan lain
yang disembarang waktu bisa bikin ia berbentrok dengan
114
kekuasaan polisi di kota tersebut, jikalau hal-hal ini
sampai dapat diendus oleh pihak hamba-hamba negeri
yang bengis seperti Teng Yong Kwie ini.
Maka buat bisa menyingkirkan jiwanya Yong Kwie
dengan tak usah bertanggung jawab atas perbuatannya
itu, telah sekian lamanya Lauw Sam-ya melepaskan
beberapa orang mata-matanya akan mencari tahu,
dengan jalan apa agar supaya Yong Kwie bisa dipancing
dan dijebak, buat kemudian dibinasakan jiwanya di luar
tahunya orang-orang sebawahannya.
Pada suatu hari salah seorang mata-mata itu telah
kembali dan melaporkan pada Lauw Sam-ya, bahwa
Teng Yong Kwie ini orangnya amat gemar memacu kuda
dan memiliki kuda yang baik. Maka Lauw Sam-ya yang
mendapat kabar begitu, lalu atur suatu tipu muslihat dan
kirim seorang kepercayaannya pada Teng Yong Kwie
buat pura-pura menanyakan, kalau-kalau ia itu suka
membeli seekor kuda yang dikatakan sangat istimewa
dan akan dijual lekas oleh karena pemiliknya kebetulan
perlu pakai uang.
Mendengar kabar ini, Yong Kwie yang memang amat
gemar dengan kuda-kuda yang baik, sudah tentu saja
jadi sangat bernapsu.
„Jikalau apa kata saudara itu benar,” katanya,
,niscaya tak lupa akan kuberikan kau sedikit hadiah
sebagai jasa kecapaianmu itu, jikalau kuda itu kupenujui
dan dapat dibeli dengan harga yang pantas.”
Si pesuruh yang mendengar omongan itu, keruan
saja menunjukkan paras muka girang, biarpun
kegirangan itu lebih banyak berarti kedengkian dan
kecurangan daripada kejujuran, karena sifat kegirangan
itupun bukan lain daripada untuk main tedeng aling115
alingan belaka!
Begitulah dua macam kegirangan telah dirasakan
dalam hati kedua orang itu.
Karena jikalau kegirangan Yong Kwie telah keluar
dari hati yang tulus, adalah kegirangan pesuruh Lauw
Sam-ya itu telah keluar dari dua jalan yang
menguntungkan kepada dirinya sendiri, yakni
kegirangan-kegirangan yang semata-mata tidak
menghiraukan kepada akibat kerugian orang lain yang
hendak dijerumuskan! Dua jalan keuntungan yang telah
kita katakan tadi, ialah kesatu karena ia berhasil dapat
menipu pada Teng Yong Kwie, yang hendak
dipancingnya masuk ke lubang harimau itu, dan
keduanya ia merasa pasti bahwa majikannya akan
merasa senang dengan pekerjaannya ini, hingga buat itu
ia boleh mengharap akan mendapat hadiah dari sang
majikan.
Maka setelah pesuruh itu memberikan alamatnya
pemilik kuda yang katanya hendak dijual itu, lalu buruburu
ia kembali ke rumah Lauw Sam-ya dan melaporkan
kepada sang majikan tentang „pekerjaannya” itu.
Lauw Sam-ya jadi sangat girang dan memuji tinggi
atas kecerdikannya pesuruh itu, kemudian ia kerahkan
orang-orang sebawahannya buat bersiap-siap dan
menjaga jikalau Teng Yong Kwie nanti datang buat
melihat kuda yang dikatakan akan dijual itu.
Pada hari esoknya ketika Yong Kwie mengunjungi
rumah Lauw Sam-ya buat memeriksa kuda dengan
mengajak tiga orang kawannya, komandan itu lalu
disambut oleh pesuruh yang telah datang padanya di hari
kemarin, tetapi di situ ia tidak bertemu dengan Lauw
Sam-ya sendiri, yang memang telah sengaja tidak mau
116
bertemu muka.
Oleh sebab itu, maka soal tawar-menawar kuda yang
akan dijualnya itupun oleh Lauw Sam-ya diserahkan ke
dalam tangan pesuruh tersebut.
„Jikalau tuan sudah melihat macam kuda itu,”
katanya, “niscaya tuan akan merasa penuju dan tidak
banyak tawar menawar pula. Di tiap gegernya binatang
itu terdapat sembilan buah titik putih yang dapat dilihat
jelas dan besar-besar bagaikan bentuk uang logam
senan, maka dari itu, dia patut dinamakan Kiu-tiam Pekbwee-
hoa, seekor kuda yang bisa berlari seribu lie
seharinya.”
Keterangan-keterangan itu membuat Teng Yong
Kwie jadi semakin tertarik dan menanyakan: „Dimanakah
adanya kuda itu sekarang?”
„Marilah tuan ikut aku,” kata pesuruh Lauw Sam-ya
itu.
Yong Kwie dan ketiga orang kawannya lalu mengikut
si pesuruh itu menuju ke sebuah istal, yang terletak di
belakang sebuah gedung besar miliknya Lauw Sam-ya.
Tatkala mereka melalui sekian gang-gang yang
sempit dan berliku-liku sehingga beberapa puteran,
akhirnya sampailah mereka ke sebuah istal, dimana
benar saja ada terdapat seekor kuda besar yang berbulu
gambir, tetapi sama sekali tidak cocok keadaannya,
dengan keterangan-keterangan yang ia telah
diberitahukan tadi. Oleh sebab itu juga, maka Teng Yong
Kwie lalu menanyakan pada si pesuruh itu, mengapa
keterangan itu bisa menyimpang daripada apa yang dia
telah katakan tadi?
Dengan ini, si pesuruh kelihatan terperanjat dan lalu
117
berkata: „Oh, kalau begitu, nyatalah bahwa kuda ini telah
ditukar oleh kawanku! Aku sungguh tak bisa terima akan
dipermainkan orang begini rupa! Harap tuan-tuan suka
menunggu dahulu di sini, sampai aku membereskan
perhitungan dengan kawanku yang curang itu!”
Yong Kwie dan ketiga orang sebawahannya
menyatakan tidak berkeberatan akan menunggu di situ.
Kemudian orang itu segera berlalu dengan tindakan
yang terburu-buru.
Ketika mereka menunggu sampai beberapa saat
lamanya dan ternyata orang itu tidak kelihatan muncul
kembali, hatinya Yong Kwie mendadak timbul rasa
curiga. Lalu ia perintah salah seorang sebawahannya
buat pergi menyusul dengan melalui gang-gang dari
mana mereka masuk tadi.
Tidak antara lama orang sebawahan itu telah balik
kembali sambil berlari-lari dengan paras muka pucat
bagaikan kertas, peluhnya bercucuran, sedangkan
napasnya pun „senin kemis”.
„Celaka, celaka! Kita telah terjebak oleh kawanan
buaya darat yang menjadi musuh-musuh kita!” katanya.
„Semua gang-gang tadi telah tertutup, begitupun pintupintunya
diselot rapat!”
„Celaka!” Dengan suara hampir berbareng, kedua
orang sebawahan yang lainnya pun mengucapkan katakata
yang sangat mencemaskan hati itu.
Tetapi Yong Kwie sama sekali tidak mengunjukkan
sikap yang jerih atau takut. Ia percaya, sebagai salah
seorang muridnya Sin-kun Louw Cu Leng yang
terpandai, tak mungkin ia bisa dikalahkan mentahmentah
oleh segala bu-beng-siauw-cut yang hina-dina
118
itu, bahkan tidak sedikit tukang-tukang pukul yang
terkenal tangguh telah dirobohkan dan dibikin kucar-kacir
olehnya dengan hanya bertempur beberapa gebrakan
saja lamanya.
Maka tempo menyaksikan ketiga orang
sebawahannya tampak ketakutan, Yong Kwie jadi
tersenyum dan berkata: „Jangan takut! Selama kita
masih bisa bernapas, kita pasti akan mendapat jalan
untuk meloloskan diri dari sini. Ayoh, mari kita dobrak
pintu-pintu yang merintangi jalan kita buat keluar dari
tempat ini!”
Kemudian mereka berempat lalu menuju ke ganggang
yang mereka lalui tadi.
Dengan mengandalkan pada tenaganya yang kuat
bagaikan kerbau, Yong Kwie telah berhasil bisa
merobohkan sesuatu penghalang yang orang telah
pasangkan di antara gang-gang itu, dan pekerjaan ini
hampir saja dapat diselesaikan seluruhnya, ketika
dengan sekonyong-konyong muncul sekelompok orangorang
yang bersenjatakan barang tajam dan terus
mengepung mereka bagaikan pemburu-buru yang
mengepung babi rusa.
„Kamu sekalian boleh menjaga serangan musuhmusuh
kita yang datang dari belakang,” kata si
komandan, “sedangkan aku sendiri akan membuka jalan
untuk kita keluar dari sini!”
Ketiga orang sebawahan itu lalu mendiawab: „Baik.”
kemudian mereka lalu mencabut golok masing-masing
untuk bersiap-siap akan menghadapi segala
kemungkinan yang akan menimpa atas diri mereka.
Sementara Teng Yong Kwie yang berjalan di muka
dengan golok terhunus, lalu menerjang setiap musuh119
musuhnya yang berani mendekati kepadanya, hingga
musuh-musuh itu yang baru mengetahui akan
keberanian komandan itu, pelahan-lahan segera pada
mundur dengan meninggalkan beberapa orang
kawannya yang telah dilukai oleh Yong Kwie dan
menggeletak di tanah dalam keadaan separuh mandi
darah.
Lebih jauh karena anak buah Lauw Sam-ya
menyaksikan bahwa Yong Kwie tidak mungkin dapat
dikalahkan dengan jalan berkelahi secara jujur, maka
pemimpin dari rombongan orang-orang itu lalu
menteriakkan kawan-kawannya sambil berkata: „Mundur,
mundur! Pergilah kamu mengundang Sek-hui Ya-ya
datang ke sini!”
Yong Kwie yang menyangka bahwa mereka akan
memanggil seorang ahli silat lain untuk bantu
mengepung ia dan orang-orang sebawahannya sudah
tentu saja tak mau melewatkan ketika yang terbaik ini
untuk melabrak musuh-musuhnya dengan sehebathebatnya.
Karena apabila „ahli silat” yang akan menjadi
lawannya itu telah keburu campur tangan, ia kuatir
keadaan akan menjadi semakin berbahaya bagi
pihaknya yang hanya terdiri dari empat orang saja
jumlahnya. Maka sambil memikirkan bahaya yang akan
mendatangi itu, Yong Kwie telah mengamuk dan
menerjang ke sana-sini untuk meloloskan diri dari dalam
kepungan para buaya darat itu secepat mungkin.
Tidak disangka selagi keadaan mencapai puncaknya
ketegangan, mendadak dari kiri-kanan gang-gang itu dan
dari atas genteng telah turun hujan kapur yang
dilepaskan oleh kawanan manusia busuk itu, untuk
mencelakai Teng Yong Kwie dan orang-orang
120
sebawahannya, hingga Yong Kwie yang sama sekali tak
menduga bakal mengalami kejadian serupa itu, sudah
barang tentu jadi kalang kabut dan coba menerjang
dengan mati-matian, tetapi percobaan itu segera jadi
terhambat dan mandek setengah jalan, ketika dari pihak
para buaya darat telah dilepaskan juga anak-anak
panah, yang mana telah mematikan dua orang
sebawahan Yong Kwie yang menerjang paling depan.
Dan tatkala ia sendiripun telah kena dilukai oleh anak
panah dan senjata serta kapur yang telah membuatnya
hampir buta, Yong Kwie terpaksa melakukan perlawanan
dengan mata hampir dipejamkan, hingga karena ini, tidak
sedikit pukulan-pukulan musuh yang tak mampu ia jaga,
yang mana telah bikin ia hampir jatuh pingsan dan
saban-saban berteriak karena amat kesakitan.
Syukur juga karena kawanan buaya darat itu tak
sanggup mendekati pada Yong Kwie, yang ternyata
masih mampu bertempur meski matanya sudah separuh
buta, dengan tubuh menderita luka-luka mereka segera
melarikan diri. Oleh sebab itu, seorang sebawahan Yong
Kwie yang hanya mengalami luka-luka ringan, buru-buru
menggendong Yong Kwie keluar dari gang-gang itu, dari
mana ia telah melarikan komandannya dengan berkuda,
yang ternyata tidak dibawa pergi oleh kawanan penjahat
yang telah lari kalangkabutan itu.
Sesampainya mereka ke tangsi Tok-piauw-eng,
orang sebawahan itu lalu laporkan peristiwa ini kepada
pihak yang berwajib, yang kemudian segera mengirim
sepasukan tentara buat menangkap kawanan pengacau
itu serta menolong dua orang sebawahan Yong Kwie
yang telah menjadi mayat.
Tetapi dalam penggerebekan ini tidak dapat
ditangkap barang seorang pun yang telah menyebabkan
121
terjadinya keributan itu, sedangkan Lauw Sam-ya yang
disangka menjadi biangkeladinya, ternyata telah
beberapa hari lamanya bepergian, hingga dalam
kerusuhan ini ia tidak tahu-menahu, walaupun keributan
itu telah terjadi di salah satu bagian dari rumahnya
sendiri.
Tatkala kemudian Yong Kwie tersadar dari
pingsannya, lalu ia minta supaya orang sebawahannya
itu lekas membawa padanya ke rumah Louw Cu Leng.
Karena selain luka-lukanya yang baru itu dapat lekas
disembuhkan, juga musuh-musuhnya itupun masih
belum lari jauh dan tidak terlalu sukar untuk dibekuknya.
Tetapi apa celaka, sesampainya di Hu-tong-toa-kee,
Yong Kwie dapatkan gurunya belum kembali dari luar
kota, hingga ia hampir putus asa, apabila Poan Thian
tidak membujuk agar supaya ia suka bersabar, sehingga
urusan ini dapat diurus sebagaimana mestinya. Lebih
jauh dengan mengandal pada pengetahuan ilmu obatobatan
yang ia pernah pelajarkan dari Kak Seng Siangjin
di Liong-tam-sie, Poan Thian lalu coba rawat lukalukanya
Yong Kwie, berikan dia obat makan dan obat
luar untuk menahan sampai Cu Leng kembali dari luar
kota.
Oleh karena ini, Yong Kwie jadi sangat berterimakasih
atas kebaikannya si pemuda itu.
Malah buat menghibur hati Yong Kwie dan bantu
memberantas keburukan yang menjalar dalam
masyarakat di Cee-lam, Lie Poan Thian menyatakan
kesediaannya akan membantu Yong Kwie dalam usaha
ini. Sedangkan berbareng dengan itu, iapun
menganjurkan juga agar supaya Yong Kwie jangan tarik
panjang dulu perkara ini. Karena pihak musuh-musuhnya
Yong Kwie yang melihat tidak tampak reaksi apa-apa dari
122
perbuatan mereka yang tidak baik itu, tentulah
merekapun tinggal diam dan urusan ini akan jadi lebih
mudah untuk diurusnya di kemudian hari.
„Karena dengan adanya „keademan” di pihak kita,”
menganjurkan Lie Poan Thian lebih jauh, „maka pihak
musuh-musuhmu akan berlaku kurang giat buat
menyelidiki tentang keadaanmu setelah terjadinya
kerusuhan itu. Malahan terlebih baik pula jikalau kau
tidak berkeberatan supaya boleh perintah orang-orang
sebawahanmu akan sengaja menyiarkan kabar burung di
luaran, bahwa setelah terjadinya keributan itu, kau telah
mati oleh karena luka-lukamu. Karena disamping aku
bisa selidiki dengan diam-diam siapa yang telah berlaku
paling aktif dalam hal pekerjaan busuk ini, akupun dapat
juga segera ketahui, siapa sebenarnya biangkeladinya
dari kerusuhan ini. Hanya belum tahu, apakah kau
merasa mufakat apabila urusan ini diatur demikian?”
Mendengar anjuran itu, bukan saja Yong Kwie
merasa sangat mufakat, malah sangat berterima kasih
kepada Lie Poan Thian, yang telah begitu sudi akan
campur tangan dalam urusan ini.
Tetapi Poan Thian yang memang bersikap tak suka
tinggal peluk tangan saja akan melihat segala perbuatan
tidak patut dilakukan orang tanpa pembalasan yang
setimpal, lalu mengatakan, bahwa ia senang sekali akan
berbuat sesuatu guna kebaikannya masyarakat, lebihlebih
karena peristiwa-peristiwa serupa itu telah terjadi di
tempat kelahirannya sendiri. Maka selain merasa turut
bertanggung jawab untuk bantu memelihara
kesejahteraan di dalam wilayah tanah tumpah darahnya,
iapun dapat sekalian bantu membikin terang mukanya
Yong Kwie yang menjadi muridnya Cu Leng yang
menjadi juga sahabatnya sendiri.
123
Sementara buat mengetahui terlebih jelas tentang
gerak geriknya Lauw Sam-ya yang ia sangat curigai turut
campur tangan dalam perkara penganiayaan Yong Kwie
dan orang-orang sebawahannya, maka Poan Thian telah
sengaja mengirim seorang mata-mata yang bernama
Lauw Su, dari siapa kemudian ia telah menerima laporan,
bahwa selain Lauw Sam-ya menjadi biangkeladi dalam
perkara busuk itu, si hartawan bajingan itupun menjadi
juga pemimpin sebuah perkumpulan gelap yang dikenal
dengan nama Sam-liong-hwee, sebuah perkumpulan
yang dianggap umum sebagai suatu perkumpulan
kematian, tetapi sebenarnya ada suatu perkumpulan
penjahat, yang karena organisasinya yang diatur
sedemikian licinnya, maka pihak yang berwajib tak dapat
mengambil tindakan untuk menutupnya tanpa alasan
yang kuat.
Selanjutnya, ketika ditanyakan tentang gerak-gerik
kawanan buaya darat itu, tempo mendapat kabar tentang
kematiannya Teng Yong Kwie, Lauw Su lalu jadi
tersenyum dan dengan rupa yang sungkan lalu
menjawab: „Ah, itulah sesungguhnya ada suatu hal yang
sangat menjemukan untuk diceritakan di sini.”
Tetapi, karena Poan Thian dan Yong Kwie telah
minta ia bicara terus, maka apa boleh buat ia telah
menuturkan juga, bagaimana Lauw Sam-ya beserta
sekalian konco-konconya kelihatan begitu girang, tatkala
mendengar tentang kematiannya sang komandan itu,
hingga lantaran itu, selanjutnya mereka lalu mengadakan
suatu perjamuan besar yang dikunjungi oleh hampir
seluruh anggota Sam-liong-hwee yang terkemuka,
dimana telah dinyatakan „turut berduka-cita” atas
kematiannya orang yang mereka anggap sebagai duri di
mata mereka itu.
124
Sementara Teng Yong Kwie yang mendengar kabar
begitu, sudah tentu saja jadi sangat mendongkol dan
bersumpah akan menuntut balas kepada mereka, jikalau
nanti ia sudah sembuh dari penyakitnya.
Tetapi Poan Thian lalu membujuk dan minta supaya
ia suka bersabar dahulu.
„Kita mesti telan dahulu semua hinaan ini,” katanya,
„kita harus berlaku tenang, sementara menunggu ketika
akan melakukan hajaran-hajaran yang kiranya cukup
untuk membikin namanya Lauw Sam-ya dan
perkumpulannya mengalami keambrukan di matanya
orang banyak. Karena manusia busuk serupa mereka itu,
perlu sekali dibasmi sehingga ke akar-akarnya.”
„Jikalau kau mengunjuk sedikit saja aksi yang
menyatakan bahwa kau masih hidup,” Poan Thian
melanjutkan, „dikuatirkan pekerjaanku ini akan gagal.
Dan jikalau pekerjaanku pada kali ini gagal, niscaya
selanjutnya tak dapat pula aku menolong kepadamu.
Karena selain mereka sukar akan dicari, malah bahaya
yang mengancam pada kita akan menjadi semakin
besar.
„Itulah sebabnya mengapa aku minta kau „berlagak”
mati, tetapi bukanlah sekali-kali hendak menganjurkan
kau menjadi seorang pengecut. Apakah sekarang
saudara telah mengerti, maksud-maksud apa yang
sebenarnya terkandung di dalam hatiku?”
Yong Kwie yang mendengar keterangan begitu,
seakan-akan orang yang baru mendusin dari tidur yang
nyenyak, hingga dengan berulang-ulang ia mengucap
banyak terima kasih dan memuji tinggi atas ikhtiarnya
Poan Thian yang begitu teliti dan rapi. Dan jikalau ia
sendiri bisa berpikir panjang sampai begitu, demikianlah
125
katanya, niscaya tak sampai ia begitu mudah diselomoti
oleh pihak musuh-musuhnya. Tetapi beras sudah
menjadi bubur, hingga ia menyesalpun sudah kasip, ia
tidak bisa berbuat lain daripada terima nasib apa yang
ada.
„Tetapi saudara Teng tak usah pikirkan pula segala
hal yang telah lampau itu,” Poan Thian menambahkan,
„sementara di hari esok, adalah giliranku yang akan pergi
menyatroni Lauw Sam-ya di Sam-liong-hwee, dimana
akan kulakukan „penagihan”, atas apa yang ia telah
berhutang kepadamu.”
Demikianlah pembicaraan itu telah berakhir sampai di
situ, karena Poan Thian telah minta dengan sangat agar
supaya Yong Kwie suka lekas beristirahat dan jangan
banyak bergerak, selama minum dan memakai obat yang
ia telah bawa dari Liong-tam-sie itu.
Tetapi hingga hari sudah terganti dengan malam,
ternyata Louw Cu Leng belum juga kelihatan muncul,
hingga Poan Thian terpaksa menginap buat merawat dan
menilik luka-lukanya si komandan muridnya jago tua itu.
Pada hari esoknya sesudah memberikan obat dan
mengganti obat-obat lukanya dengan yang baru, Poan
Thian lalu terangkan maksudnya pada Yong Kwie, bahwa
pada hari itu ia hendak coba pergi menyelidiki pada Lauw
Sam-ya, yang menurut katanya Lauw Su, kerap berada
di gedung perkumpulan Sam-liong-hwee.
Maka setelah menanyakan dimana letaknya gedung
perkumpulan Lauw Sam-ya itu, Poan Thian lalu menuju
ke sana dengan hanya membekal sebatang joan-pian
yang dilibatkan di pinggangnya. Senjata ini tak dapat
dilihat orang, berhubung di sebelah luarnya dialingi oleh
baju si pemuda. Oleh sebab ini, dengan enak saja Poan
126
Thian berjalan di luaran tanpa dicurigai orang.
Sesampainya di gedung perkumpulan Sam-lionghwee,
Poan Thian lalu menghampiri salah seorang yang
kebetulan berada di situ dan coba bertanya: „Sahabat,
apakah hari ini Tong-cu (ketua perkumpulan) ada di
gedung perkumpulan?”
Orang itu tidak lantas menjawab pertanyaan orang,
hanyalah tinggal mengamat-amati sehingga beberapa
saat lamanya. Ketika Poan Thian mengulangi
pertanyaannya, barulah ia mendapat jawaban: „Kau ini
siapa? Dan ada urusan apakah menanyakan Tong-cu
kami?”
Poan Thian jadi mual mendengar omongan orang itu
yang begitu ketus dan kasar tingkah lakunya.
„Aku ada urusan penting yang hendak disampaikan
kepada Tong-cu,” katanya, dengan sikap yang ketus
pula.
„Tidak ada! Tidak ada!” kata orang itu. „Hari ini Tongcu
tidak datang! Jikalau kau hendak bertemu kepadanya,
bolehlah kau datang pula ke sini di hari esok saja!”
„Aku ada suatu urusan yang teramat penting!” Poan
Thian memaksa, „urusan ini perlu sekali dilaporkan
kepadanya hari ini juga!”
„Tidak bisa!” bentak orang itu. „Tong-cu tidak ada!
Kau boleh datang lagi pada hari esok!” Sambil berkata
begitu, orang itu lalu berjalan masuk dengan tindakan
cepat, tetapi Lie Poan Thian lalu jambret lengan bajunya
sambil berkata: „Nanti dulu! Aku masih ada omongan
yang mau ditanyakan!”
Orang itu jadi kelihatan mendongkol dan lalu tarik
lengan bajunya yang dicekal Poan Thian dengan
127
sekuatnya tenaga, hingga dengan mengeluarkan suara
„bret!” lengan baju itu telah menjadi sobek. Hal mana,
sudah barang tentu, telah membikin orang itu jadi sangat
gusar dan lalu menjotos dada pemuda kita sambil
memaki: „Bangsat!”
Tetapi pada sebelum ia bisa sampaikan maksudnya,
Poan Thian telah keburu berkelit dan lalu maju setindak
sambil melintangi kakinya, hingga ketika kakinya orang
itu kena terbentur oleh kaki pemuda kita, dengan lantas
ia jatuh mengusruk dan berteriak: „Rampok! Rampok!”
Teriakan itu telah membikin orang-orang yang berada
di dalam gedung perkumpulan itu jadi ribut dan terus
keluar dengan serentak, dengan membawa senjata di
tangan masing-masing.
„Ayo! jangan kasih lari perampok itu!” teriak seorang
muda yang rupanya menjadi pemimpin dari kelompokan
orang-orang itu.
Tetapi Poan Thian yang sebenarnya bermaksud
hendak mengacau untuk menarik perhatiannya Lauw
Sam-ya, ia merasa tak perlu akan meladeni berkelahi
pada orang ini. Maka setelah melihat ada sebuah pagar
tembok yang tingginya beberapa tumbak di hadapannya,
buru-buru ia gerakkan kakinya meloncat ke atas, dan
terus melayang bagaikan burung kepinis ke atas pagar
tembok tersebut.
Sekelompok orang-orang itu yang telah tak berhasil
melakukan pengepungan itu, lalu pada berteriak:
“Ambillah busur dan anak panah buat menembaknya!
Saudara-saudara, ayohlah lekas bersiap-siap untuk
meringkusnya dari atas pagar tembok itu!”
Mendengar ancaman itu, bukan saja Poan Thian tak
menjadi jerih atau takut, malah sebaliknya lantas tertawa
128
dan berkata: .,Sahabat-sahabat, jangan pula kamu
hendak memanah kepadaku, sedangkan jala alam
semesta sekalipun, tak nanti akan kutakuti! Kamu
sekalian tidak pernah bermusuhan denganku, seperti
juga aku sendiri tak pernah bermusuhan dengan kamu
sekalian. Kedatanganku ini adalah untuk bertemu
dengan Tong-cu, tetapi bukan hendak mencari setori
dengan kamu sekalian. Aku bukan takut berkelahi, juga
bukan takut karena aku tak bersenjata, aku hendak
berkelahi dengan memakai aturan, tetapi bukan berkelahi
seperti kamu ini, yang cuma-cuma akan membikin diri
celaka saja. Maka buat mencegah kerewelan-kerewelan
yang tidak diinginkan, pergilah kamu beritahukan kepada
Tong-cu, bahwa aku di sini ingin bertemu kepadanya!”
Tidak antara lama, lalu muncullah dari antara orang
banyak, seorang yang berusia kira-kira empatpuluh tahun
lebih, wajahnya bengis, hidungnya bengkok macam
paruh betet, bermisai dan berjembros pendek. Oleh
karena orang itu berpakaian ringkas dan mengenakan
sepasang sepatu ringan yang umum dipakai oleh orangorang
yang gemar bersilat, maka Poan Thian lantas
mengerti, bahwa sedikit-sedikitnya orang itu tentu
mengerti juga ilmu silat. Oleh sebab itu, ia lantas
menyoja dari atas pagar tembok sambil berkata: „Lauwhia,
mohon tanya, apakah kau ini bukannya Tong-cu dari
Sam-liong-hwee yang bernama Lauw Sam-ya?”
Orang itu tidak lantas menjawab, tetapi segera
mengamat-amati orang sehingga beberapa saat
lamanya.
„Apakah kau tahu Sam-liong-hwee ini tempat apa?”
tanyanya dengan sikap yang amat sombong.
Lie Poan Thian yang melihat sikap orang itu, keruan
saja jadi mendongkol dan lalu menjawab: „Tak tahu aku,
129
apakah Sam-liong-hwee ini sebuah tempat hitam atau
putih, tetapi aku tahu betul, bahwa inilah bukan tempat
yang terlalu berbahaya untuk ditakuti orang!”
Orang itu kelihatan bersungut-sungut, kemudian
mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung: „Hm!”
katanya. „Barusan telah kau katakan, bahwa kau minta
bertemu dengan Lauw Sam-ya. Aku inilah ada orang
yang kau cari itu! Belum tahu kau mencari aku ada
urusan apa yang perlu kau bicarakan? Ayo, marilah kau
turun ke sini!”
Poan Thian menurut.
Dengan sekali lompat saja, pemuda kita telah berada
di hadapannya Lauw Sam-ya.
„Cobalah ceritakan maksud kedatanganmu ini,” kata
ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu.
Poan Thian lekas menyoja dan berkata: „Aku ini
adalah seorang dari tempat lain yang kebetulan melewat
di sini, tetapi karena justeru keputusan ongkos dan
mendengar namamu yang dermawan dan suka
menolong pada orang-orang yang miskin dan tertindas,
maka aku telah sengaja datang berkunjung kepadamu
untuk meminta pertolonganmu. Belum tahu, apakah kau
sudi mengabulkan atau tidak permintaanku ini?”
Lauw Sam-ya berdiam sejurus, sambil berpikir di
dalam hatinya.
„Jikalau ditilik dari gerakan-gerakannya orang ini,”
pikirnya, „nyatalah ia bukan seorang yang boleh
diperlakukan dengan sembarangan. Maka buat
mencegah peristiwa-peristiwa yang tidak diingini, baiklah
aku berlaku sedikit mengalah dan memberikan dia sedikit
uang, agar supaya dengan begitu dia boleh pergi dari sini
130
dengan tak usah menerbitkan kerewelan apa-apa.”
Begitulah setelah berpikir sesaat lamanya, Lauw
Sam-ya lalu panggil kasir perkumpulan buat mengambil
limapuluh uang tembaga untuk diberikan kepada pemuda
itu.
Tetapi Poan Thian yang melihat jumlah uang sekecil
itu, lalu jadi tertawa dan berkata: „Ah, Lauw-hia, apakah
artinya uang limapuluh tembaga itu, sedangkan buat
membayar ongkos satu kali makan saja belum keruan
bisa cukup? Aku sungguh menyesal sekali, telah mau
percaya saja kata orang, mereka telah mengatakan,
bahwa Lauw Sam-ya itu orangnya amat dermawan, tidak
sayang uang untuk dapat bersahabat dengan orangorang
yang bersatu haluan. Tidak tahunya semua
omongan itu bohong belaka! Dan jikalau itu benar, aku
hanya berani mengatakan, bahwa Lauw Sam-ya itu
orangnya terlalu pelit, sehingga buat memberikan uang
limapuluh tembaga saja mesti dipikir dahulu bolak-balik
sampai beberapa jam lamanya. Ha, ha! Aku sungguh jadi
tertawa geli akan mengalami kejadian lucu semacam ini!”
Lauw Sam-ya yang disindir begitu, dengan mata
mendelik dan hati mendongkol lalu berkata: „Ah, kau ini
sesungguhnya ada seorang yang amat cerewet! Jikalau
kau tidak mau terima dermaanku yang berjumlah
limapuluh uang tembaga itu, berapa banyakkah yang
kiranya patut kuberikan kepadamu?”
„Jikalau kau mau membicarakan tentang banyak
sedikitnya jumlah yang kau harus keluarkan,” kata Lie
Poan Thian sambil tertawa, „jumlah sepuluhribu tail perak
bagimu belumlah terlalu banyak, sedangkan jumlah
seribu tail belum boleh dikatakan terlalu besar. Hanya
karena kau memangnya seorang yang pelit, perlu apakah
kau menanyakan berapa banyak kau harus keluarkan
131
buat aku, sedangkan kau sendiri memangnya mau keluar
uang?”
Lauw Sam-ya jadi semakin mendongkol dan lalu
perintah kasir akan memberikan Poan Thian seratus
uang tembaga, tetapi pemuda kita kembali tertawakan
padanya sambil berkata: „Itu masih terlalu jauh dari
cukup! Itu masih terlalu jauh dari cukup!”
Lauw Sam-ya akhirnya jadi naik darah dan
membentak: „Hei, pengemis! Sungguh tidak kunyana
akan bertemu dengan seorang pengemis yang
kelakuannya lebih mirip dengan seorang perampok!
Belum tahu sampai dimana adanya ilmu kepandaianmu,
sehingga kau berani berlaku begitu kurang ajar akan
memeras orang?”
„Ha, ha, ha!” Poan Thian tertawa. „Jikalau mau
diceritakan tentang ilmu kepandaianku, ada
kemungkinan kau akan terperanjat atau kesima karena
heran. Tetapi semua ini kiranya perlu juga akan
kuberitahukan kepadamu, walaupun ini bisa membikin
kau gegetun seumur hidupmu!”
Kemudian, sambil menunjukkan tinjunya, ia
melanjutkan omongannya dengan mengatakan: „Dengan
tinju ini aku mampu membinasakan harimau dari Bukit
Selatan, sedangkan dengan kedua kakiku ini, aku bisa
tendang mati ular naga dari Lautan Timur. Oleh sebab
itu, siapakah di antara kamu sekalian yang berani
mengadu ilmu kepandaian denganku?”
Lauw Sam-ya jadi tersenyum segan ketika
mendengar omongan Poan Thian yang sesombong itu.
„Akan membunuh harimau atau mematikan ular
naga,” katanya, „itulah bukan perkara gampang, hingga
ini terlalu sukar untuk dapat disaksikan oleh setiap orang.
132
Sekarang aku di sini mempunyai delapanbelas patok Lohan-
chung yang biasa dipergunakan untuk berlatih ilmu
silat. Jikalau patok-patok ini dapat kau tumbangkan
seluruhnya dengan jalan apa saja, barulah aku suka
menyerah dan bersedia akan keluar uang menurut
jumlah permintaanmu dengan tidak tawar-menawar
pula!”
„Kalau begitu,” sahut Lie Poan Thian, „aku suka
terima kebaikan tawaranmu itu. Tetapi dimanakah
adanya patok-patok itu?”
Lauw Sam-ya lalu menunjuk pada sebuah lapangan
di sebelah timur sambil berkata: „Itu, di sana. Apakah kau
sanggup menumbangkan semua patok-patok itu?”
Lie Poan Thian lalu mengamat-amati pada ketiga
perangkat patok-patok yang terpendam dalam tanah,
kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil
berkata: „Ya, ya, itu semua aku sanggup tumbangkan
atau patahkan dengan kaki dan tanganku. Marilah kita
coba pergi ke sana, supaya kau dapat menyaksikan
„pekerjaanku” dari dekat.”
Lauw Sam-ya menurut.
Begitulah dengan mengajak semua orang
sebawahannya, ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu
lalu dipersilahkan Poan Thian buat coba jajal ilmu
kepandaiannya menurut kesanggupan yang telah ia
utarakan tadi.
Maka setelah menyingsingkan lengan baju dan
mengikat erat tali pinggangnya, Poan Thian lalu memukul
patok yang pertama dengan menggunakan sisi telapak
tangannya.
„Plak!” Begitulah terdengar suara barang yang patah,
133
dan berbareng dengan itu, maka patok itupun putuslah
bagaikan terbacok oleh sebilah golok yang amat tajam!
Plak, plak, plak!
Di setiap waktu terdengar suara itu, di setiap waktu
juga tampak patok-patok itu satu per satu terkutung
karena tersabet putus oleh sisi telapak tangannya
pemuda itu!
Lauw Sam-ya dan orang-orang sebawahannya yang
menyaksikan keanehan itu, semua jadi pada memuji di
dalam hati, tentang kepandaiannya pemuda kita yang
amat lihay itu.
Sedangkan dengan kedua kakinya yang
ditendangkan dengan cepat dan berulang-ulang, Poan
Thian telah „sapu” patok-patok itu sehingga tumbang dan
berantakan di sana-sini!
Lauw Sam-ya dan orang-orang sebawahannya yang
sekarang telah dapat menyaksikan dengan mata kepala
sendiri betapa hebatnya ilmu kepandaian pemuda itu,
sudah tentu saja hati mereka jadi jerih dan tidak tahu
selanjutnya mesti berbuat bagaimana.
Maka setelah Poan Thian dapat menyelesaikan
semua „pekerjaannya”, lalu ia menghampiri Lauw Samya
dan bersenyum berkata: „Lauw-hia, sekarang
pekerjaanku untuk menumbangkan dan mematahkan
patok-patok itu telah selesai. Apakah kau sudah bersedia
akan mengeluarkan sejumlah uang yang aku bakal minta
itu?”
„Oh, ya, ya, sudah tentu,” kata ketua Sam-liong-hwee
itu dengan suara gugup. „Tetapi belum tahu apakah kau
juga mampu mementang gendewa Gu-kak-kiong yang
tergantung di atas dinding tembok itu?”
134
Lauw Sam-ya berkata sambil menunjuk pada sebuah
busur besar yang digantungkan di dinding tembok timur,
yang terpisah tak berapa jauh dari tempat mereka berdiri.
Poan Thian lalu menoleh ke arah yang diunjukkan
Lauw Sam-ya tadi.
Tetapi sungguh tidak dinyana, selagi mengamatamati
pada busur itu, mendadak Poan Thian merasakan
ada „angin tidak baik-baik yang berkesiur di belakang
kepalanya, berbareng dengan mana sebuah sinar
menyamber ke arah batang lehernya.
Poan Thian lekas berjongkok buat mengasih lewat
badi-badi Lauw Sam-ya yang telah dijujukan pada
dirinya, kemudian ia putar badannya dan menyapu
kakinya Lauw Sam-ya dengan kaki kanannya.
Ketua perkumpulan Sam-liong-hwee itu buru-buru
berlompat ke suatu pinggiran, hingga dengan begitu, ia
telah dapat meluputkan diri daripada tendangan Poan
Thian itu.
Sementara pemuda kita yang melihat Lauw Sam-ya
hendak berlaku curang, lalu tertawa dan berkata dengan
maksud menyindir, katanya:
„Sudah lama aku mendapat kabar, bahwa Lauw
Sam-ya itu ada seorang yang tidak suka berlaku curang
untuk menjatuhkan orang yang dianggap sebagai
seterunya. Tetapi omongan itu sekarang kembali telah
terbukti kejustaannya. Karena selain ternyata bahwa kau
ada seorang yang pengecut, kaupun tidak segan akan
melakukan perbuatan-perbuatan busuk seperti apa yang
telah kau unjuk sekarang ini. Sedangkan menurut aturan
yang patut dan sebagai seorang laki-laki sejati, kau harus
mengajukan tantanganmu dengan secara berterang
kepadaku, agar supaya dengan begitu, kita boleh
135
berkelahi satu lawan satu untuk menetapkan pihak mana
yang sesungguhnya lebih unggul dan pandai dalam
pertempuran ini!”
Lauw Sam-ya yang telah didamprat di hadapan
orang-orang sebawahannya, tentu saja jadi amat malu
dan apa-boleh buat berlagak tertawa sambil berkata:
„Saudara, sebetulnya aku bukan bermaksud hendak
membokong kepadamu. Dan jikalau aku telah berlaku
begitu, itulah semata-mata buat mencoba ilmu
kepandaianmu saja. Maka setelah sekarang aku ketahui
betul sampai berapa tinggi adanya ilmu kepandaianmu,
akupun selalu bersedia buat menetapkan siapa di antara
kita berdua yang sebenarnya lebih unggul atau lebih
“rendah.”
Maka sesudah memerintahkan orang-orang
sebawahannya berkumpul di suatu tempat yang terpisah
sedikit jauh dari kalangan pertempuran, Lauw Sam-ya
lalu memasang bee-sie (kuda-kuda) sambil berkata:
„Saudara! Marilah kita boleh lantas mulai!”
Lie Poan Thian mengangguk sambil kemudian maju
menyerang, hingga dalam tempo beberapa saat saja
kedua orang itu telah bertempur dengan amat hebatnya.
Selama pertempuran itu berlangsung, Poan Thian
telah mengetahui, bahwa Lauw Sam-ya ini
sesungguhnya ada juga „isinya”, walaupun ia belum
tergolong pada seorang ahli silat dari tingkat kelas satu.
Maka buat menjaga supaya dirinya jangan sampai kena
diselomoti atau „dicepol” orang, ia pikir lebih baik berlaku
see-jie dahulu pada sebelum menerjang pada lawan itu
dengan sekuat-kuat tenaganya.
Maka biarpun Lauw Sam-ya lebih banyak menyerang
daripada semula, tetapi Poan Thian tinggal tetap berlaku
136
tenang dan tidak tergesa-gesa dalam hal menghindarkan
diri daripada penyerangan-penyerangan musuh, yang
semakin lama telah berlangsung semakin cepat dan
berbahaya itu.
Akan tetapi, sebegitu lekas dapat „meloloskan diri”
dari ilmu pukulan Cong-pouw-teng-cu-siu yang Lauw
Sam-ya telah jujukan kepada dirinya, Lie Poan Thian
lekas-lekas menggunakan ilmu Tan-kam-ciang, guna
menyabet pinggang Lauw Sam-ya dengan
mempergunakan sisi telapak tangannya yang kuat dan
„tajam bagaikan golok” itu.
Hal ini, sudah tentu saja telah membikin Lauw Samya
jadi terperanjat. Karena selain mengetahui bagaimana
lihaynya telapak tangan itu, iapun tahu juga, bahwa
dalam ilmu silat pukulan dengan sisi telapak tangan itu
bisa dianggap lebih berbahaya daripada pukulan dengan
tinju. Karena jikalau bekerjanya tenaga pukulan dengan
tinju itu hanya terbatas pada bagian kulit dan daging
saja, adalah sabetan dengan sisi telapak tangan itu
mampu memukul dengan tandas sehingga mengenai
celah-celah tulang, apa pula kalau pukulan itu dijujukan
pada bagian iga atau pinggang seperti apa yang
dilakukan oleh Lie Poan Thian ketika itu.
Pada waktu Lauw Sam-ya melihat Lie Poan Thian
telah memukul seperti apa yang telah kita tuturkan tadi,
buru-buru ia mengegos sambil menendang dengan
sekuat-kuatnya tenaga, hingga ketika Poan Thian berkelit
untuk meluputkan diri daripada tendangan itu, Lauw
Sam-ya segera melakukan desakan kilat, untuk
membikin kalut pikirannya pemuda kita.
Tetapi sungguh tak dinyana, pada sebelum ia
berhasil dapat melanjutkan rencana penyerangannya,
tiba-tiba Poan Thian telah melompat keluar dari kalangan
137
pertempuran sambil berkata: „Hei! Orang she Lauw!
Setelah kau menyerang padaku dengan sepuaspuasnya,
sekarang giliranku buat balas menyerang
kepadamu, dengan suatu cara yang menjadi
keistimewaan dalam ilmu kepandaianku. Sekarang akan
kutitik beratkan segala serangan-seranganku dengan
hanya mempergunakan ilmu tendangan saja. Hal ini,
perlu sekali aku beritahukan kepadamu dari di muka,
agar supaya kau tidak menjadi menyesal, apabila nanti
kau kena dirobohkan olehku. Dari itu, jagalah dirimu
dengan sebaik-baiknya. Sekarang akan kumulai dengan
siasat tendangan Tan-tui, atau menendang dengan
sebelah kaki, kemudian akan kususul dengan ilmu
tendangan lain yang kiranya tak perlu kusebutkan
namanya satu per satu. Hati-hatilah!”
Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu mulai
mengajukan serentetan tendangan-tendangan yang
mula-mula dapat dihindarkan dengan baik oleh pihak
lawannya. Tetapi ketika jalannya pertempuran semakin
lama jadi semakin cepat, Lauw Sam-ya jadi terperanjat
dan berpikir di dalam hatinya: „Sungguh tidak kunyana,”
pikirnya, „bahwa omongan si budak ini ternyata bukan
gertakan belaka!”
Maka kalau tadi ia berpendapat, bahwa ia tak akan
bisa dikalahkan mentah-mentah oleh pemuda itu, adalah
sekarang ia jadi keder dan timbul rasa kuatir, kalau-kalau
ia nanti dirobohkan oleh Lie Poan Thian di hadapan
orang-orang sebawahannya sendiri.
Dan jikalau kekuatiran itu sampai benar-benar
terbukti, cara bagaimanakah ia bisa ada muka akan
bertemu dengan handai taulan dan orang banyak,
sedangkan di hadapan mereka ia pernah bicara tekebur
mengenai pembelaan nama-nama baiknya perkumpulan
138
Sam-liong-hwee, yang pernah dikatakannya tak akan
„turun merek” sebegitu lama diketuai olehnya?
Disamping itu ia telah lupa, bahwa orang gagah di
dunia ini bukanlah hanya dia saja seorang.
Betul telah banyak ahli-ahli silat yang telah
berkunjung dan menjajal ilmu kepandaiannya Lauw Samya,
tetapi mereka itu hampir rata-rata bukan ahli-ahli silat
jempol yang telah sengaja datang buat „minta pelajaran”
kepada ketua Sam-liong-hwee itu, tetapi semata-mata
hendak „menjilat” dan meminta tunjangannya yang
berupa uang atau makanan. Maka selama dilakukan
pertempuran itu, mereka lebih banyak mengalah
daripada melawan dengan sungguh-sungguh hati. Maka
Lauw Sam-ya yang menyangka hahwa ilmu kepandaian
silatnya sudah begitu tinggi sehingga tak dapat pula
dikalahkan orang, tentu saja jadi amat bangga dan
selanjutnya telah berani bicara terkebur seperti apa yang
telah kita sebutkan di atas.
Sementara Lie Poan Thian yang juga ingin
menunjukkan kepandaiannya kepada Lauw Sam-ya dan
gundal-gundalnya, bukan saja tak mau memberikan
kelonggaran lebih jauh kepada sang lawan itu, tetapi juga
segera menerjang dengan ilmu-ilmu tendangan lihay
yang telah membikin Lauw Sam-ya kelabakan, dan tak
tahu bagaimana selanjutnya ia harus menolong dirinya
sendiri.
„Sekarang telah tibalah saatnya akan aku
merobohkan kepadamu!” kata Lie Poan Thian, sambil
mempergunakan ilmu tendangan Lian-hwan Sauw-tongtui
yang sangat diandalkannya itu.
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Lauw
Sam-ya semakin gugup dan tak sanggup pula buat
139
meladeni sang lawan yang masih muda dan jauh lebih
pandai daripada dirinya itu.
„Hei, anak muda! Tahan dulu!”
Ucapan itu baru saja diucapkan oleh Lauw Sam-ya,
ketika satu kakinya Lie Poan Thian telah menyamber
bagaikan kilat cepatnya ke arah dada sang lawan itu,
hingga biarpun ia berhasil dapat menghindarkan diri
daripada tendangan itu tetapi tidak urung ia mesti
menyerah juga dengan tendangan Poan Thian yang
kedua kalinya, yang ternyata tidak kalah cepatnya
dengan tendangan yang telah dilakukannya semula itu.
Maka dengan mengeluarkan suara teriakan ngeri,
Lauw Sam-ya segera kelihatan terpental dengan tulang
iga melesak dan jatuh pingsan di suatu tempat yang
terpisah kira-kira beberapa belas kaki jauhnya, dimana ia
mengeluarkan banyak darah dari hidung dan mulutnya.
Orang-orang sebawahan ketua Sam-liong-hwee yang
telah menyaksikan peristiwa itu dan menganggap ini
sebagai suatu hinaan besar bagi mereka dan
perkumpulan mereka, sudah tentu saja jadi amat gusar
dan lalu berniat akan mengeroyok pemuda kita dengan
pentungan dan barang tajam yang dicekal dalam tangan
mereka.
Tetapi Lie Poan Thian yang memang tidak
bermaksud akan melukai setiap orang dengan membabibuta,
buru-buru menuding kepada mereka sambil
berkata: „Sahabat-sahabat sabar dulu! Janganlah kamu
terburu napsu dan menerbitkan persetorian-persetorian
yang tidak bermanfaat bagi diri kamu sekalian. Aku Lie
Kok Ciang,” pemuda kita melanjutkan sambil
memperkenalkan dirinya sendiri, „bukanlah semata-mata
hendak menerbitkan persetorian-persetorian dengan
140
tidak ketentuan apa maksud atau alasannya. Dan jikalau
hari ini aku telah datang juga ke sini, itulah melulu akan
coba „berkenalan” dengan induk semangmu, yang amat
masyhur namanya sebagai seorang hartawan jahat,
pemeras, penyelundup dan „algojo” dari rakyat yang
lemah dan tidak berpengaruh.
„Bahkan belum berapa hari yang lalu, ia telah
mengatur suatu muslihat busuk untuk membinasakan
jiwanya komandan Teng Yong Kwie dari tangsi Tokpiauw-
eng, yang telah dijebaknya dengan jalan
menawarkan seekor kuda yang katanya dapat berlari
seribu lie seharinya. Apakah kamu tahu akan adanya
muslihat yang keji ini?”
Semua orang tinggal bungkem dan tidak berani
bergerak barang setindak pun.
„Aku tidak memaksa akan kamu menerangkan,
apakah kamu tahu atau tidak tentang adanya urusan
yang sekeji ini?”
Poan Thian melanjutkan. „Tetapi kamu yang terlahir
di Cee-lam, tentunya harus merasa malu dengan adanya
peristiwa busuk serupa itu di tempat kelahiran kamu
sendiri.”
Tetapi nasehat-nasehat itu bukan saja tak dapat
diterima oleh sekelompok manusia-manusia kasar yang
tak mengerti aturan itu, malah sebaliknya mereka jadi
lebih gusar dan lalu bersiap-siap akan mengeroyok
dengan tidak banyak bicara pula.
Sementara Lie Poan Thian yang melihat gelagat tidak
baik, segera hampiri Lauw Sam-ya yang belum sadar
dari pingsannya, yang lalu diangkatnya ke atas sambil
membentak pada orang-orang yang hendak menyerang
kepadanya itu.
141
„Hei, kamu orang-orang dogol!” katanya dengan
perasaan jengkel. „Kamu sekalian janganlah mengira,
bahwa karena kamu berjumlah banyak, maka kamu
hendak menggertak aku yang hanya bersendirian saja.
Aku bukan omong besar. Jikalau aku mau, aku bisa bikin
kamu sekalian binasa dengan hanya beberapa
tendangan saja. Atau, jikalau kamu tak mau percaya juga
omonganku, kamu boleh coba maju dengan serentak di
seketika ini juga, agar supaya aku bisa gunakan induk
semangmu sebagai senjata buat membinasakan kamu
sekalian! Siapakah di antara kamu sekalian yang ingin
terlatih dahulu merasai dikemplang dengan induk
semangmu yang sekarang menjadi senjataku ini?”
Sekelompok manusia-manusia kasar itu jadi terkejut
dan tinggal terbengong bagaikan mendadak kesima oleh
perbuatannya pemuda kita itu.
Dan selagi Poan Thian hendak berlalu dari situ
sambil menyeret Lauw Sam-ya yang pingsan itu,
mendadak seorang wakilnya Teng Yong Kwie telah
sampai dengan membawa sepasukan orang-orang polisi,
hingga sesudah Poan Thian memberitahukan peristiwa
apa yang telah terjadi tadi, maka wakil komandan itu lalu
memerintahkan orang-orang polisi sebawahannya buat
menangkap semua orang-orangnya Lauw Sam-ya yang
berada di situ, yang lalu digiring ke kantor polisi buat
diperiksa perkaranya terlebih jauh.
Sementara Poan Thian sendiri setelah menyerahkan
Lauw Sam-ya di bawah perlindungannya wakil komandan
itu, buru-buru kembali ke Hu-tong-toa-kee buat
menyampaikan kabar girang ini pada Teng Yong Kwie,
yang menantikan padanya di rumah Sin-kun Bu-tek Louw
Cu Leng dengan hati yang tidak sabaran. Tatkala Yong
Kwie mendengar kabar tentang hasil pekerjaannya
142
pemuda kita, sudah tentu saja ia jadi sangat berterima
kasih, dan semenjak itu perkumpulan Sam-liong-hwee
pun telah dibubarkan oleh para anggautanya, berhubung
pemimpin-pemimpinnya satu per satu telah ditangkap
dan dijatuhkan hukuman atau dibuang ke tempat-tempat
lain.
Demikianlah salah sebuah lelakon menarik yang
telah terjadi dalam riwayat hidupnya Sin-tui Lie Poan
Thian, yang sehingga di jaman ini masih diingat dan
dijadikan orang bahan untuk beromong-omongan di
waktu senggang.
◄Y►
Beberapa tahun telah lewat dengan tidak terasa pula.
Tatkala Tek Hoat suami-isteri dengan berturut-turut
telah kembali ke alam baka, maka perusahaan pabrik
Eng-tiang-chun Mo-hong pun lalu dilanjutkan oleh Lie
Poan Thian yang menjadi ahliwaris satu-satunya.
Tetapi berhubung pada tahun itu telah terbit bahaya
banjir dahsyat yang telah menggenang sebagian besar
daerah Shoa-tang dan menerbitkan kerugian yang bukan
kecil bagi penduduk negeri, maka Poan Thian yang
pabriknya telah termusnah seluruhnya oleh air dan tak
dapat bekerja, apa boleh buat segera pindah ke Tiongciu
(sekarang Tiong-cia, dalam propinsi Ho-lam) untuk
menumpang tinggal pada suami kakak perempuannya di
sana, yang membuka kedai garam dan memperoleh
untung besar dalam perusahaannya itu.
Begitulah dengan membawa dua buah pauw-hok dan
„harta bendanya” yang berupa barang-barang pemberian
dari Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie,
143
Poan Thian telah menuju ke propinsi Ho-lam dengan
menyewa sebuah kereta. Tetapi karena rodanya kereta
itu telah patah di tengah jalan, maka apa boleh buat
Poan Thian telah membayar sewa kereta tersebut
sampai di situ saja, sedangkan perjalanan selanjutnya
terpaksa telah dilanjutkannya dengan berjalan kaki.
Ketika itu justeru musim hujan, hingga ini membikin
Poan Thian mengalami kesukaran yang tidak sedikit
dalam perjalanannya.
Beberapa buah kereta yang kebetulan
diketemukannya melawat dalam perjalanannya, ia telah
berhentikan buat coba menumpang, tetapi semua kereta
itu tak ada yang kosong, hingga percobaannya itu sia-sia
belaka. Oleh sebab itu, mau tak mau ia mesti
melanjutkan perjalanan itu dengan berjalan kaki.
Satu lie, dua lie, dan begitu selanjutnya. Dan ketika
matahari telah menyelam ke barat, ia telah sampai di
sebuah desa di perbatasan propinsi Shoa-tang Ho-lam,
dimana ia mendapat keterangan dari salah seorang
penduduk di situ, bahwa di sebelah depan perjalanannya
ada dua buah rumah penginapan yang baru saja dibuka
orang dalam daerah itu, oleh karena itu, buru-buru Poan
Thian pergi mencari rumah penginapan tersebut untuk
menumpang bermalam. Tetapi, apa celaka, rumah
penginapan itu telah penuh dan tak dapat pula menerima
tetamu, walaupun hanya untuk seorang saja.
Kebingungan hati Lie Poan Thian jadi semakin
memuncak, ketika berkunjung dari satu ke lain tempat
rumah untuk menumpang bermalam, tetapi di sana-sini ia
telah ditolak dan belum juga bisa mengaso meski hari
telah terganti dengan malam.
Kira-kira hampir tengah malam, hujan lebat telah
144
turun ke muka bumi, hingga Poan Thian yang melihat
ada sebuah gardu di muka sebuah lapangan yang biasa
dipergunakan orang menjemur padi atau palawija, buruburu
ia berlindung di tempat itu sementara menantikan
berhentinya hujan.
Di situ Poan Thian menantikan sampai lewat tengah
malam, tetapi sang hujan yang jail belum juga mau
berhenti, hingga pemuda kita yang memang telah
merasa sangat lelah dan mengantuk, pelahan-lahan
telah tertidur sambil bersandar pada dua pauw-hok dan
sebuah bungkusan yang dibawanya itu.
Ketika mendusin di waktu fajar, Poan Thian rasakan
badannya demam dan kepalanya berat bagaikan
tertindas oleh sebuah besi. Lebih jauh karena
penglihatannya berkunang-kunang, maka apa boleh buat
ia telah pejamkan kembali matanya, agar supaya dapat
tidur pula untuk meringankan sedikit rasa sakitnya. Tetapi
tidak kira selagi enak menggeros di situ, mendadak ia
telah dibikin kaget oleh suara seorang yang membentak:
„Kurang ajar, sedangkan kita telah pada bangun tidur
untuk bekerja, adalah kau di sini yang masih saja enakenakan
tidur menggeros! Apakah tidak malu kau ditonton
orang-orang yang berjalan mondar-mandir di sini? Ayoh,
lekas bangun, kalau kau tak mau lekas bangun, akan
kuseret kau ke jalan raya!”
Poan Thian bukannya tidak mendengar atas
bentakan itu, hanya karena badannya dirasakan amat
tidak enak, maka terpaksa tinggal memejamkan saja
matanya dengan tak mengucapkan barang sepatah
katapun.
Maka orang itu yang melihat Poan Thian tidak
menghiraukan kepadanya, dengan suara yang sengit
lantas membentak: „Hei, orang pekak! Apakah kau tidak
145
mendengar apa kataku tadi?”
Poan Thian lalu mencoba buat memaksakan diri akan
memhuka matanya, tetapi buru-buru ia memejamkan
pula matanya, karena silau melihat sinar matahari yang
telah mulai naik tinggi.
„Tuan,” katanya, „oleh karena aku sedang menderita
sakit, maka izinkanlah aku berdiam di sini buat beberapa
saat pula lamanya. Jikalau rasa sakitku telah menjadi
kurangan, sudah tentu akan kulekas berlalu dari sini.”
„Kau seorang pemalas sungguh banyak saja akalmu
yang tidak-tidak!” Kata suara orang itu sambil berlalu
dengan cepat. „Lihatlah bagaimana akan kubikin kau
merasa kapok akan menjadi seorang pemalas pula!”
Tetapi Lie Poan Thian yang sama sekali tak pernah
menyangka bakal mengalami suatu peristiwa yang tidak
enak, tinggal tetap memejamkan matanya sambil
menahan rasa sakitnya, yang sekarang seakan-akan
berkumpul menjadi satu di bagian kepalanya.
Tidak antara lama, ia mendengar suara tindakan kaki
yang agak tergesa-gesa. Lalu ia berniat akan membuka
matanya buat melihat.
Tetapi, ketika baru saja hendak membuka matanya,
mendadak Poan Thian merasakan dirinya diguyuri air
dingin dengan sekonyong-konyong, yang kemudian
dibarengi dengan suara jengekan dan tertawa tergelakgelak.
„Nah, mampus kau!” kata orang yang tadi pula.
„Apakah kau sekarang belum mau bangun juga?”
Lie Poan Thian jadi gelagapan.
Para pembaca tentu bisa bayangkan sendiri,
alangkah tidak enaknya jikalau kita sedang demam dan
146
sakit kepala mendadak diguyuri air begitu rupa.
Maka biarpun Poan Thian dalam keadaan sakit, tidak
urung ia menjadi gusar juga dan lalu mendelikkan
matanya sambil mendamprat: „Hei, jahaman! Sungguh
amat keterlaluan perbuatanmu ini! Apakah kau tidak
mendengar apa kataku tadi, bahwa karena sakit, aku
menumpang tinggal di sini berapa saat lagi lamanya?”
„Jangan banyak bacot!”
Sambil berkata begitu, kembali orang itu telah
mengguyuri air pada diri pemuda kita yang sedang sakit
itu.
Oleh karena melihat bahwa omongan yang baik dan
mengalah tidak membikin orang itu mau mengerti tentang
penderitaan seseorang yang sedang sakit, sudah tentu
saja Poan Thian jadi habis kesabaran dan segera
melompat bangun dengan badan gemetaran bahna
gusar dan deman.
Seperti juga seekor singa yang sedang tidur dan
mendadak dibanguni secara kasar, ia lantas cekal orang
itu sambil membentak: „Bangsat!”
Karena kuatnya cekalan Poan Thian itu, maka orang
itupun tak dapat bergerak dan meringis-ringis karena
kesakitan.
„Engkau ini ternyata ada seorang yang tidak
mempunyai liang-sim!” kata Poan Thian dengan suara
gemetar. „Maka jikalau kata-kata yang baik tidak bikin
seorang yang baik bisa dimengerti kebaikannya, kukira
tidak ada jalan lain yang lebih tegas daripada
memberikan kau sedikit pelajaran yang singkat tapi
nyata!”
Sambil berkata begitu, Poan Thian lalu perkuat
147
cekalannya, sehingga selain orang itu teraduh-aduh
karena kesakitan, celananyapun bagian muka dan
belakangnya segera tampak basah dengan warna
kekuning-kuningan yang amat tidak sedap baunya!
„Amp.....!”
Kata-kata „Ampun” belum lagi dapat diucapkan
sebagaimana mestinya, ketika sebelah tangannya
pemuda kita telah menyambar dan memberikan dia dua
kali tempilingan yang nyaring dan membikin dia jatuh
pingsan di seketika itu juga.
Sedangkan Poan Thian sendiri yang dengan
sekonyong-konyong telah merasakan sekujur badannya
amat dingin dan lelah, di lain saat iapun telah jatuh
pingsan juga dengan tak dapat dicegah pula.
Tahu-tahu ketika coba membuka matanya, barulah ia
mendusin, bahwa ia telah berbaring di sebuah ranjang di
dalam sebuah kamar yang ia tak tahu berada di mana.
Tidak berapa jauh dari muka ranjang itu, tampak
seorang muda yang ia tidak kenal dan rupanya sedang
menunggui padanya sambil duduk di atas sebuah kursi.
Dan ketika melihat Poan Thian tersadar dari pingsannya,
ia lantas berbangkit dan maju mendekati sambil
tersenyum dan berkata: „Tuan, terlebih dahulu aku
mengucapkan beribu maaf atas kekurangajaran
mandorku yang telah mengganggu selagi kau tidur
nyenyak tadi.”
Poan Thian jadi terbengong sejurus, karena ia
sesungguhnya tak mengetahui bagaimana duduknya
perkara yang benar. Dari itu sudah tentu saja ia lantas
menanyakan: „Tuan, mohon tanya, aku ini ada dimana?
Kau siapa, dan mengapa aku berada di sini?”
148
„Aku yang rendah adalah Chung-cu dari desa ini,”
sahut si pemuda. „Namaku Tan Tong Goan. Barusan aku
mendengar ribut-ribut di muka gardu, maka aku telah
keluar melihat dan ternyata kau telah jatuh pingsan
disamping mandorku, yang juga jatuh pingsan dengan
mulutnya mengeluarkan banyak darah. Dari keterangan
yang telah kuperoleh dari beberapa sebawahanku, aku
telah diberitahukan, cara bagaimana kau telah
menempiling mandorku itu, yang ternyata telah berlaku
amat kurang ajar kepadamu, yang justeru ini berada
dalam keadaan sakit.
„Aku di sini amat gemar bergaul dengan orang-orang
gagah atau ahli-ahli silat dari tempat-tempat lain. Oleh
karena mendapat keterangan dari orang-orang
sebawahanku tadi, maka aku lantas ketahui, bahwa kau
ini tentu mengerti ilmu silat. Dari itu, aku telah perintah
orang-orangku buat bawa kau ke sini, untuk dirawat
penyakitmu dengan sebaik-baiknya. Namun belum tahu
tuan ini berasal dari mana? She dan nama apa?”
Dengan suara gemetaran Poan Thian menjawab:
„Aku she Lie bernama Kok Ciang, asal orang dari kota
Cee-lam dalam propinsi Shoa-tang.”
Chung-cu atau tuan-tanah itu jadi kelihatan terkejut,
waktu mendengar nama yang disebutkan oleh pemuda
kita itu.
„Apakah tuan ini bukan Lie Kok Ciang yang terkenal
dengan sebutan Sin-tui Lie? Yang dahulu pernah
menjadi murid Kak Seng Siang-jin Lo-siansu dari
kelenteng Liong-tam-sie, pernah mengalahkan Sin-kun-
Bu-tek Louw Cu Leng dan mengobrak-abrik sarangnya
Siauw-pa-ong Lauw Sam-ya dari perkumpulan Samliong-
hwee?”
149
„Ya, itulah benar aku,” sahut Lie Poan Thian.
Dengan diperolehnya keterangan-keterangan itu, Tan
Tong Goan baru tahu, dengan siapa ia sekarang sedang
berhadapan, oleh karena itu, buru-buru ia
membungkukkan badan sambil memberi hormat dan
berkata: „Lie Lauw-hia, nyatalah kau ini ada orang yang
sudah sekian lamanya aku harapkan buat bisa
berkenalan, yang sehingga hari ini dengan secara yang
amat tidak terduga, telah dapat bertemu di sini di
tempatku sendiri. Penyakit Lauw-hia ini kelihatan agak
berat juga, maka aku pikir baik kau beristirahat dahulu di
sini untuk beberapa hari lamanya.”
Poan Thian mengucap banyak terima kasih atas
kebaikannya sang Chung-cu itu.
„Lebih jauh,” kata Tan Tong Goan pula, „aku akan
merasa girang sekali apabila Lauw-hia sudi
menerangkan sebab musabab sehingga kau bisa berada
di sini. Jikalau ternyata ada apa-apa yang aku bisa
menolong, aku tentu akan berdaya sedapat mungkin
guna menolong kepadamu.”
Mendengar omongan itu, Poan Thian lalu tuturkan
segala sesuatu yang telah terjadi di kota kelahirannya,
tetapi sama sekali tidak diterangkan olehnya, bahwa ia
hendak minta menumpang tinggal kepada suami kakak
perempuannya di Ho-lam.
Oleh karena mendengar keterangan begitu, maka
Tong Goan lalu memajukan suatu usul, supaya Poan
Thian suka berdiam saja di rumahnya, untuk mengajar
ilmu silat kepadanya dan orang-orang sebawahannya.
„Aku di sini betul mempunyai dua orang kauw-su dan
beberapa orang ahli silat lain yang kerap menemani kami
berlatih,” kata Chung-cu, „tetapi kedua orang itu kukira
150
masih belum cukup untuk dapat melatih dengan sebaikbaiknya
pada orang-orangku, yang sama sekali
berjumlah puluhan orang banyaknya. Maka jikalau Lauwhia
sudi mengabulkan permintaanku, bukan saja aku dan
orang-orangku akan merasa sangat berterima kasih,
bahkan desa inipun akan merasa bangga dapat
memberikan kau tempat, sedangkan para penduduknya
boleh belajar ilmu silat di bawah pimpinan seorang ahli
silat kenamaan seperti kau ini. Hanya belum tahu,
apakah kau sudi mengabulkan atas permintaanku ini?”
Poan Thian yang melihat Tong Goan orangnya begitu
baik dan sopan-santun, sudah tentu saja tidak berani
menolak permintaan itu.
Begitulah setelah menumpang tinggal beberapa hari
lamanya di rumah tuan-tanah yang baik hati itu, barulah
Poan Thian merasakan penyakitnya sedikit lebih baik,
walaupun kewarasannya belum pulih sama sekali.
Pada suatu hari ketika Tong Goan mengajak ia
mengobrol tentang ilmu silat di ruangan pertengahan,
mendadak seorang yang bertubuh tinggi besar kelihatan
berjalan masuk dengan tindakan kaki yang berat dan
bersuara.
„Inilah ada salah seorang kauw-su kami yang
bernama Liu Tay Hong,” Tong Goan perkenalkan Poan
Thian pada orang yang baru datang itu.
Pemuda kita lekas berbangkit, memberi hormat dan
persilahkan duduk guru silat itu.
„Saudara ini orang dari mana? She dan nama apa?”
t.anya Liu Tay Hong sambil mengambil tempat duduk di
sebuah kursi di dampingnya si tuan-tanah.
„Saudara ini bukan lain daripada orang yang menjadi
151
buah bibir kita sekalian,” Tong Goan memotong
pembicaraan orang sambil tersenyum dan
mengacungkan ibu-jarinya. „Ia inilah Lie Kok Ciang dari
Cee-lam, Sin-tui Lie, yang namanya tak asing pula dalam
kalangan Rimba Persilatan!”
Tay Hong tampak kurang senang mendengar Tong
Goan begitu memuji tetamu yang baru ia kenal itu.
„Aku dengar banyak orang kerap mengatakan,”
katanya. „bahwa kelenteng Liong-sam-sie itu ada sebuah
perguruan ilmu silat yang selalu mengeluarkan muridmurid
yang jempolan. Aku di luaran telah berkeliaran
mencari murid-murid dari kelenteng tersebut, untuk coba
meminta pengunjukan, tetapi sampai sebegitu jauh,
belum juga dapat diketemukan barang seorang pun.
Sekarang oleh sebab mengetahui bahwa Lie Lauw-hia ini
adalah salah seorang murid dari Liong-tam-sie, maka aku
akan merasa berterima kasih, apabila kau sudi memberi
pengunjukan kepadaku. Tetapi belum tahu, apakah
Lauw-hia sudi mengabulkan permintaanku ini?”
Ucapan ini bukan saja telah membikin Poan Thian
jadi tidak enak, malah Tong Goan sendiripun jadi turut
kurang senang dan mual mendengar omongan yang
agak menantang itu. Akan tetapi, buat membikin keadaan
tidak sampai menjadi tegang, Tong Goan lalu pura-pura
tersenyum dan berkata: „Oleh karena kewarasan Lie
Lauw-hia masih belum pulih betul, maka baiklah hal ini
dibicarakan pula nanti saja di lain waktu.”
Tetapi Liu Tay Hong yang memangnya bersikap
sombong, bukan saja tidak mau mengerti dengan alasan
itu, malah sebaliknya lantas bersenyum sindir dan
berkata: „Mula, kukira Sin-tui Lie itu ada seorang yang
berkepala tiga dengan berlengan enam, tidak tahunya
hanya seorang biasa saja yang bertubuh begini kecil dan
152
hampir tidak ada „potongan” untuk dinamakan seorang
gagah. Maka dengan menilik pada keadaan badan yang
begini lemah dan kecil, kukira tidak perlu sampai aku
turun tangan sendiri, karena salah seorang muridku pun
akan mampu merobohkannya dengan hanya beberapa
gebrakan!”
Kemudian dengan melancangi Tong Goan yang
menjadi induk semangnya Tay Hong lalu panggil seorang
muridnya yang bernama See Tek Hun.
„Orang ini bukan lain daripada apa yang khalayak
ramai kenal sebagai Sin-tui-Lie,” kata si kauw-su kepada
muridnya. „Apakah kiranya kau berani, apabila aku suruh
kau bertempur dengannya?”
Tong Goan jadi kemekmek. Poan Thian mendongkol,
tetapi tidak mengatakan apa-apa selainnya bersenyum
sedikit. Sedangkan See Tek Hun yang dianjurkan buat
diadu bertempur dengan Lie Poan Thian, tampaknya
ragu-ragu dan berpaling pada Tay Hong seperti juga
orang yang hendak bertanya: „Sungguh aneh benar
perintahmu ini! Dialah seorang yang kewarasan
badannya belum pulih betul cara bagaimanakah aku bisa
melawan seorang yang keadaannya masih separuh
sakit?”
„Cobalah katakan olehmu!” kata Tay Hong sambil
mendelikan matanya. „Apakah kamu berani melawan
bertempur orang itu?” (Sambil menunjuk pada Lie Poan
Thian).
„Suhu.....” Tetapi Tek Hun tidak berani melanjutkan
bicaranya.
„Aku inilah gurumu,” kata Tay Hong sambil menepuknepuk
dadanya, „cara bagaimanakah kau berani
membantah kehendakku?”
153
„Aku bukan membantah,” kata See Tek Hun, „tetapi
aku malu akan bertempur dengan seorang yang aku tahu
keadaannya masih separuh sakit!”
„Kau jangan omong kosong!” kata Liu Tay Hong pula.
„Sekarang ia sudah separuh sembuh dari penyakitnya, ini
berarti ia sudah mampu akan bertempur sebagaimana
mestinya, sedangkan di waktu sakit ia masih mampu
tempiling si Ah Jie sehingga jatuh pingsan. Oleh sebab
itu, kau ada omongan apa lagi untuk mengeloni dia ini?”
„Aku harap Liu Su-poo supaya suka bersabar sedikit,”
kata Tan Tong Goan yang sekarang baru mendusin, apa
sebab Tay Hong jadi begitu gusar pada Lie Poan Thian.
Itulah karena Tay Hong merasa sangat kurang
senang dan terhina, karena Ah Jie, mandor Tong Goan
dan salah seorang muridnya, telah dihajar oleh Lie Poan
Thian pada beberapa hari yang lampau!
„Dari hal Ah Jie telah diberikan pengajaran oleh Lie
Lauw-hia,” kata Tong Goan pula, „itulah bukan karena
semata-mata dilakukan dengan secara membuta-tuli. Ini
aku tahu betul dan menyaksikan dengan mata kepalaku
sendiri. Ah Jie telah berlaku keterlaluan, hingga kalau
aku tidak pandang ia sudah bekerja sedari jaman
ayahnya masih hidup, aku tentu sudah lepas dia dari
pekerjaannya!”
Kata suatu peribahasa: semut yang kecil kalau
sengaja dipijak, akhirnya tentulah akan menggigit juga,
apalagi manusia yang mempunyai kecerdasan dan
pandai timbang-menimbang perkara.
Demikian juga dengan halnya Lie Poan Thian, yang
telah dihinakan begitu rupa oleh Tay Hong yang
sombong itu.
154
Biarpun dilahir ia kelihatan tenang dan menerima saja
jengekan-jengekan itu, tetapi hatinya semakin lama jadi
semakin panas. Maka setelah tak tertahan pula rasa
panas hatinya, Poan Thian lalu berbangkit dari tempat
duduknya dengan paras muka yang menandakan gusar.
Mula-mula ia meminta maaf pada Tan Tong Goan
yang menjadi tuan rumahnya, kepada siapa ia
menyatakan penyesalannya akan membikin ribut di
hadapannya, seolah-olah tak ada tempat lain untuk ia
berbuat begitu. Kemudian ia lambai-lambaikan
tangannya pada Liu Tay Hong sambil berkata: „Liu Supoo!
Perbuatanmu ini sebenarnya aku boleh lewatkan
dengan begitu saja. Tetapi karena mengingat bahwa
cara mengalah sebagai aku ini bisa berbalik dihinakan
orang sampai begitu rupa, maka sekarang kukira sudah
bukan waktunya pula akan selalu tinggal mengalah. Dari
itu sekarang aku persilahkan salah seorang di antara
muridmu akan coba meladeni aku yang separuh sakit ini
dalam pertempuran satu lawan satu. Tetapi jikalau kau
masih ragu-ragu atau takut, boleh juga kamu keduaduanya
maju dengan berbareng, agar supaya kamu
berdua mengetahui, bahwa gelaran SIN-TUI LIE itu
bukanlah sebuah gelaran kosong belaka! Ayoh, kamu
boleh maju!”
Sementara Liu Tay Hong yang sekarang baru melihat
sikapnya Lie Poan Thian yang begitu garang, buru-buru
dorongkan punggung See Tek Hun sambil berbisik:
„Ayoh segeralah serang padanya dengan tak usah
banyak bicara pula! Jikalau kau kalah, aku nanti labrak
padanya sehingga ia mampus!”
See Tek Hun yang mendapat anjuran begitu, dengan
tidak banyak bicara pula segera menerjang dengan ilmu
pukulan Hek-houw-touw-sim (harimau hitam
155
menyengkeram hati) pada Lie Poan Thian, siapa
sebegitu lekas menghindarkan diri daripada jotosan yang
menyambar ke ulu hatinya, lalu ia pergunakan kakinya
menendang sambil membentak: „Pergi!”
Dan berbareng dengan habisnya seruan itu, See Tek
Hun telah mencelat tanpa ia mengerti karena tak dapat ia
melihat dengan jalan apa Poan Thian telah
„melemparkan” padanya dan jatuh tepat di hadapannya
Liu Tay Hong dengan kepala bonjok!
„Suhu, tolong!” teriaknya.
Dengan hati sangat mendongkol Tay Hong lalu
banguni muridnya.
„Sekarang adalah giliran gurunya yang akan kuajar
kenal dengan tendangan-tendanganku!” kata Lie Poan
Thian. „Tetapi karena mengingat bahwa Liu Su-poo ini
bukan seorang yang sudah termasuk pada golongan
ahli-ahli silat jempolan seperti aku sendiri, maka aku suka
memberikan kelonggaran untuk bertempur dengan
memakai beberapa syarat, yakni, yang pertama, dalam
pertempuran ini aku tak akan menggunakan tinju, dan
jikalau aku sampai menggunakan itu, karena terpaksa
atau tidak, bolehlah terhitung aku kalah berkelahi dengan
Liu Su-poo; yang kedua, dengan segala rela hati aku
suka terima kalah daripadanya, apabila dia bisa
meluputkan diri dari tiga kali tendanganku. Jikalau ia
mampu kalahkan aku pada sebelum aku menendang
sehingga tiga kali, aku rela akan membuang gelaranku
„Sin-tui” dan selanjutnya akan menjadi hweeshio dan tak
campur pula segala urusan di kalangan Kang-ouw. Itulah
syarat-syaratku, yang aku minta supaya Tan Chung-cu
suka berlaku sebagai saksi dalam urusan ini!”
Tetapi pada sebelum Tong Goan membuka mulut
156
buat menyanggupi, Liu Tay Hong telah menuding pada
Lie Poan Thian sambil membentak: „Orang she Lie,
janganlah kau kira bahwa orang gagah di kolong langit ini
hanya kau seorang saja! Sekarang jagalah dirimu sebaikbaiknya!”
Dan berbareng dengan ucapan „Aku mendatangi!”
kauw-su itu lalu menerjang pada Lie Poan Thian dengan
menggunakan siasat Twe-san-jip-hay (mendorong
gunung masuk ke lautan), hingga Poan Thian yang
memang telah menaruh perjanjian tak akan
menggunakan tinju, dengan sebat mengegos sambil
menendang dan berseruh: „Satu!” suatu tanda bahwa
itulah ada tendangan pertama yang ia telah lakukan.
Liu Tay Hong yang mengerti bahwa tendangan itu
tidak boleh dibuat gegabah, buru-buru ia berjongkok buat
meluputkan dirinya. Dan tatkala terluput dari tendangan
tersebut, Tay Hong segera maju merangsek sambil
menyerang dengan ilmu Lian-hwan Twan-sim-kian, yang
dijujukan pada ulu-hati Lie Poan Thian, hingga pemuda
kita yang kenal baik bahaya pukulan-pukulan yang akan
datang dengan berturut-turut itu, dengan secara gesit ia
telah meluputkan dirinya dengan jalan mengegos ke kiri
atau ke kanan, kemudian sambil tersenyum ia berkata:
„Oh, oh, nyatalah kau mengerti juga ilmu pukulan Lianhwan
Coan-sim-tui! Sekarang cobalah kau boleh jaga
tendanganku!”
„Dua!” ia membentak, sambil menendang dengan
gerakan secepat kilat.
Dengan ini, Tay Hong yang merasa lebih selamat
akan membuang diri untuk menghindarkan tendangan
itu, buru-buru ia mundur dengan maksud hendak
mempertahankan diri dengan tipu Yauw-cu-hwan-sin,
atau alap-alap membalikkan badan. Tetapi, apa celaka,
157
pada sebelum ia keburu berbuat begitu, Poan Thian telah
terdengar berseruh: „Tiga!” Dan berbareng dengan
terputusnya seruan itu, mendadak Tay Hong merasakan
dunia ini bergoncang dengan amat hebatnya, hingga
dengan badan terputar di udara ia telah terpental dan
jatuh menimpah sebuah pot bunga yang besar, yang
mana telah membuat pot tersebut hancur berarakan di
seketika itu juga!
Sementara See Tek Hun yang melihat gurunya pun
telah kena dipecundangi oleh Lie Poan Thian, segera
berlari-lari buat coba membanguni, tetapi dengan hati
mendongkol Tay Hong telah menolaknya sambil berkata:
„Tidak apa-apa, tidak apa-apa!” Kemudian, dengan sorot
mata yang menyala-nyala, ia menuding pada pemuda
kita sambil berkata: „Lie Kok Ciang! Hari ini aku mengaku
kalah kepadamu, tetapi berselang beberapa tahun lagi
akan kucari kau buat menetapkan siapa antara kita yang
sesungguhnya lebih unggul! Selamat tinggal!” ia
menambahkan.
Begitulah dengan tidak memohon diri lagi pada Tong
Goan dan kawan-kawan yang lainnya, Tay Hong dan
See Tek Hun telah angkat kaki dari gedung tuan-tanah
itu, untuk mencari guru dan meyakinkan pula ilmu silat
guna membalas dendam kepada Lie Poan Thian di masa
yang akan datang.
Dan tatkala berselang beberapa hari lamanya
semenjak terjadinya perselisihan antara Liu Tay Hong
dan Lie Poan Thian itu, mendadak salah seorang
muridnya Liu Tay Hong yang bernama Lian Cong
kelihatan muncul dan menghadap pada Tan Tong Goan.
Maka beberapa orang yang tidak suka pada Liu Tay
Hong dan bercuriga akan kauw-su pecundang itu
menjalankan muslihat busuk dengan menggunakan
158
tenaga salah seorang muridnya, dengan diam-diam lalu
memberitahukan kepada Lie Poan Thian agar supaya ia
mengintai gerak-geriknya Lian Cong ini. Dan jikalau dia
benar membawa titah-titah rahasia dari orang yang
menjadi gurunya, mereka menyatakan kesediaannya
untuk menangkap pada Lian Cong dan menyerahkannya
pada pembesar yang berwajib.
Tetapi Poan Thian yang menganggap itu sebagai
suatu urusan remeh, lalu pura-pura mengucap terima
kasih dan berjanji, yang ia akan berikhtiar untuk
menghindarkan segala bahaya yang akan datang itu.
Tidak tahunya duduknya urusan yang benar justeru
bertentangan jauh daripada apa yang semula disangka
orang.
Demikianlah singkatnya maksud kedatangan Lian
Cong pada tuan-tanah itu.
Ternyata, ketika Tay Hong berselisih dengan Poan
Thian, Lian Cong justeru berada di desa kelahirannya,
tengah mengurus penguburan jenazah ibunya.
Oleh karena tingkah lakunya Lian Cong tidak
mengecewakan, maka Tong Goan menaruh simpati dan
memberikan ia banyak uang untuk merawat ibunya, dari
sakit sehingga meninggalnya serta dikubur menurut
kebiasaan yang lazim dilakukan orang.
Kepada kauw-su Liu Tay Hong, Lian Cong telah
belajar ilmu silat tidak kurang dari dua-tiga tahun
lamanya, maka dalam pergaulan sekian lamanya itu, Lian
Cong telah ketahui, bahwa maksudnya Tay Hong
mengajar ilmu silat di rumah tuan-tanah itu, bukanlah
didasarkan atas mencari keuntungan, tetapi ada pula
maksud lain yang tersembunyi dan dikandung di dalam
hatinya.
159
Karena selain ingin mendapatkan adik perempuan
Tong Goan yang bernama Giok Hwa, iapun inginkan juga
harta bendanya Tong Goan yang berjumlah bukan
sedikit. Tetapi karena seorang diri tak cukup untuk dapat
melaksanakan pekerjaan besar itu, maka ia telah
berkomplot dengan seorang kepala kampak bernama
Khong Thian Liong di pegunungan Kee-jiauw-san.
Liu Tay Hong telah beberapa kali berusaha untuk
bergerak dengan menggunakan Ah Jie sebagai
pembantu yang bekerja di dalam, tetapi pekerjaan itu
selalu kandas saja, karena dirintangi oleh satu dan lain
sebab, hingga waktu Poan Thian keburu datang ke desa
itu. Tay Hong jadi cemburu dan sedapat mungkin
berdaya upaya, agar supaya pemuda kita bisa
disingkirkan atau, kalau perlu, dibinasakan jiwanya.
Tetapi syukur juga pada sebelum terjadi hal-hal lain
yang lebih hebat, Tay Hong tetah keburu dipecundangi
dan terpaksa angkat kaki dari desa itu, walaupun rasa
penasarannya hanya Allah saja yang tahu disamping
dirinya sendiri.
„Maka setelah aku mengajukan laporan ini,” Lian
Cong akhirkan penuturannya, „aku banyak harap supaya
Chungcu-ya jangan membicarakan lagi urusan ini pada
orang lain. Karena jikalau Liu Suhu yang sekarang sudah
berada di luaran mendapat tahu tentang kebocoran
rahasianya ini, di sembarang waktu ia bisa mencari dan
membunuh aku untuk melampiaskan rasa
penasarannya.”
Tong Goan berjanji akan tutup mulut guna
kebaikannya orang sebawahan itu. Maka sejak hari itu
dan selanjutnya, ia lantas perintah Lian Cong akan
berguru pada Lie Poan Thian, yang terpaksa mesti
mewakili pekerjaan mengajar silat yang telah ditinggalkan
160
oleh guru silat Liu Tay Hong itu.
◄Y►
Pada suatu hari untuk melewati tempo yang terluang,
Lie Poan Thian berjalan-jalan ke pekan dengan hanya
seorang diri saja.
Dalam pada itu Poan Thian yang sedang enak
memandang kian-kemari, tiba-tiba matanya jadi tertarik
oleh sekelompokan orang yang sedang mengobrol
dengan amat asyiknya.
„Badannya binatang itu,” kata salah seorang sambil
memperumpamakan binatang itu dengan seorang
kawannya, „kira-kira hampir bersamaan tingginya dengan
badanmu ini, hanya dia itu lebih besar dan kuat. Bulunya
putih bagaikan kapas, hingga lantaran itu dapat dilihat
orang biarpun ia bergerak di tempat gelap. Banyak orang
yang merasa tertarik dengan hadiah besar yang
diberikan Na Thian Lun, telah coba tempur binatang itu
untuk menghindarkan puterinya hartawan itu akan
menjadi korban, tetapi semua telah gagal dan kena
dilukai atau dibinasakan jiwanya oleh binatang aneh itu,
yang ternyata pandai memainkan pedang, seperti juga
kita manusia yang biasa memainkan senjata itu.”
Sementara salah seorang antaranya yang
mendengar omongan itu, sambil tertawa lalu berkata:
„Ah, apakah kau ini sudah mabuk, hingga mau main
percaya saja ada kera putih yang dapat bertempur
dengan menggunakan pedang? Di jaman dahulu
memang benar ada dongeng-dongeng yang mengatakan
begitu, tetapi di jaman kita ini yang termasuk jaman baru,
dimanalah ada perkara-perkara mustahil serupa itu?”
161
„Hal ini kau jangan tidak percaya,” menyambungi
seorang yang lainnya pula, „karena dia ini memang
pernah juga satu kali ikut mengepung binatang itu serta
melihat gerak-geriknya binatang gaib itu dengan mata
kepalanya sendiri. Selain dari itu, kau harus jangan lupa,
bahwa di kolong langit ini banyak sekali keanehankeanehan
yang sukar dapat dialami oleh setiap orang.”
Tetapi orang yang menimbrung itu tinggal tetap tak
mau percaya dengan omongan itu, hingga di antara
sekelompokan orang itu lalu timbul dua macam pendapat
yang menyatakan pro dan kontra dengan adanya lelakon
kera putih yang bisa bermain pedang bagaikan manusia
itu.
Oleh karena tertarik dengan pembicaraan mereka,
maka Poan Thian pun lalu ikut menimbrung, dan coba
menanyakan, hal apakah yang menjadi pokok dari
perdebatan mereka itu.
Dari salah seorang yang berkumpul di situ, pemuda
kita mendapat keterangan seperti berikut:
Seorang hartawan bernama Na Thian Lun yang
menjadi salah seorang penduduk tanah milik Tan Tong
Goan itu, telah sekian lamanya menjadi sasaran dari
gangguan seekor kera putih yang besar dan ternyata
hendak merampas puterinya hartawan tersebut yang
bernama Giok Tin. Tetapi berkat dari penjagaan kuat
yang diadakan di sekitar tempat kera itu belum berhasil
bisa menculik si nona itu keluar dari rumah orang tuanya.
Tetapi walaupun pekerjaannya selalu digagalkan orang,
binatang itu kelihatan tidak menjadi kapok akan mencoba
dan mencoba pula buat melakukan maksudnya yang keji
itu.
Pada suatu hari atas anjuran salah seorang
162
keluarganya yang bernama Oey Kie Lee, Thian Lun telah
mengundang seorang gagah yang bernama The Goan,
seorang ahli silat dari cabang Siauw-lim.
Ahli silat itu dari satu ke lain malam telah menunggu
kedatangan kera itu di rumahnya keluarga Na, tetapi
ternyata binatang itu tidak juga muncul walaupun ia
menjaga di situ sampai kira-kira hampir satu minggu
lamanya.
Pada suatu malam, kera itu telah datang dalam cara
yang lain dari biasa, yakni selain tidak menyatroni
kamarnya nona Giok Tin pada kali ini, iapun menyoren
juga pedang dan menuju langsung ke tempat jagaannya
The Goan, seolah-olah ia ketahui, bahwa ia harus
robohkan dahulu jago silat ini, pada sebelumnya bisa
menyampaikan maksudnya yang tidak baik itu.
Ketika itu The Goan yang memang selalu berjagajaga
sudah tentu saja tidak berayal lagi buat menempur
pada kera putih itu, sehingga tidak berapa lama
kemudian, terjadilah suatu pertempuran yang amat
dahsyat antara manusia dan binatang itu.
Selama The Goan melawan bertempur dengan
mempergunakan toya, kera itu hanya menggunakan
tangan kosong saja. Dan tatkala toya itu telah kena
dirampas oleh binatang tersebut, The Goan lalu
mencabut golok, dengan mana ia telah menyerang pada
kera putih yang menjadi lawannya itu. Sedang kera itu,
yang melihat The Goan menyerang dengan
menggunakan barang tajam, iapun lalu cabut pedangnya
dan terus melawan bertempur dengan memainkan
pedang itu seperti juga lakunya seorang yang memang
sudah menjadi ahli dalam hal menggunakan senjata
tersebut!
163
Maka The Goan yang melihat begitu, sudah tentu
saja jadi heran dan diam, berpikir di dalam hatinya:
„Jikalau ditilik dari cara berkelahinya binatang ini, apakah
tidak bisa jadi bahwa dia ini hanya binatang tetiron yang
diperankan oleh manusia busuk jago tinggi ilmu silatnya?
Segala serangannya cukup rapih dan berbahaya, hingga
cara ini dapat dikatakan terlalu mustahil, akan dapat ditiru
dan dilakukan dengan sebaik-baiknya oleh seekor kera,
biarpun kera itu terkenal berotak cerdas dan lekas
mengerti jikalau diajarkan apa-apa.”
Begitulah sambil berpikir, The Goan telah bertempur
dengan kera putih itu, yang ternyata telah mampu
menjaga sesuatu serangannya dengan ilmu-ilmu silat
yang justeru menjadi timpalan yang cocok dari sesuatu
siasat silat yang diajukannya itu!
„Adakah seekor kera dapat berbuat sebaik itu, dan
mengerti cara bagaimana akan menghindarkan diri
dengan pelbagai siasat silat yang tidak mudah dapat
dipelajari oleh setiap orang?” The Goan bertanya pula
kepada diri sendiri.
Dalam pada itu The Goan yang bertempur sambil
berpikir di dalam hatinya, sudah tentu saja tak dapat
mencurahkan perhatiannya ke satu jurusan saja, hingga
ketika kera itu membacok dan ia menangkis dengan
goloknya, dengan tak terasa pula ia telah bikin golok itu
beradu dengan pedang yang dipergunakan oleh kera
putih itu.
Trang!
Berbareng dengan terdengarnya suara itu, di antara
malam yang gelap gulita itu tampak lelatu api yang keluar
dari pedang dan golok yang beradu dengan amat
hebatnya itu.
164
Tatkala The Goan menarik pulang goloknya,
mendadak dirasakannya golok itu menjadi lebih ringan
daripada semula, hingga waktu golok itu diperiksa dalam
kegelapan, ternyata bahagian ujungnya telah kutung
kena terbacok oleh pedang sang kera yang
sesungguhnya amat tajam itu!
Maka dengan adanya pengalaman ini, selanjutnya
The Goan jadi semakin hati-hati buat tidak membikin
goloknya beradu dengan pedang sang kera itu. Dan
ketika hari hampir terganti dengan fajar, barulah binatang
itu melarikan diri, dalam keadaan belum diketahui pihak
mana yang lebih tinggi atau lebih rendah ilmu
kepandaiannya dalam pertempuran itu.
Sementara para penjaga yang bersembunyi di sekitar
tempat itu, lalu pada keluar mengejar sambil bersoraksorak,
tetapi binatang itu telah dapat meloloskan dirinya
setelah membabat pedang-pedang, golok, dan
pentungan-pentungan para penjaga seperti juga orang
yang menabas tanah liat.
Demikianlah menurut penuturannya salah seorang
yang sedang mengobrol itu kepada pemuda kita.
Maka Poan Thian yang mendengar penuturan itu, ia
sendiri pun lantas berpendapat, kalau-kalau kera itu
bukanlah kera sewajarnya, hanyalah seorang ahli silat
keji yang sengaja mengacau desa itu dengan menyamar
sebagai seekor kera putih.
„Tetapi belum tahu apakah orang she The itu sampai
sekarang masih menjaga di sana atau tidak?” bertanya
Lie Poan Thian dengan hati penasaran.
„Sekarang The Goan sudah tak menjaga lagi di
sana,” sahut orang yang ditanya, „karena selain kuatir
dengan pedang sang kera yang amat tajam itu, iapun
165
telah kena dilukai dan hampir saja jiwanya tewas dalam
tangan binatang itu.”
Poan Thian jadi mengelah napas panjang.
„Jikalau saudara-saudara sudi mengajak aku ke
rumah Na Thian Lun itu,” kata pemuda kita, „aku
bersedia buat menggantikan The Goan akan menjaga di
sana.”
Mendengar omongan ini, sudah tentu saja orang
banyak jadi pada mencurahkan perhatiannya kepada Lie
Poan Thian yang perawakan tubuhnya tidak berapa
besar, hingga mereka agak ragu-ragu, apakah hati
pemuda itu cukup tabah akan berhadapan dengan
seekor kera besar yang kuat dan telah membikin
kewalahan sekian ahli-ahli silat itu?
2.11. Pertarungan Kera Putih Jejadian
„Dengan memperhatikan sikap saudara-saudara
sekalian,” kata Poan Thian pula, „memanglah ada
kemungkinan serta ada juga ceng-linya, jikalau kamu
merasa ragu-ragu atas kemampuanku buat bertempur
dengan kera putih itu. Aku bukan omong kosong.
Meskipun badanku tidak besar, tetapi aku tak akan
menyerah mentah-mentah dengan segala binatang yang
hina dina itu.”
Dan tatkala salah seorang antaranya menanyakan
siapa dia dan Poan Thian memberitahukan she dan
namanya sendiri, orang itu lalu memberi hormat sambil
berkata: „Saudara, apakah kau ini bukan kauw-su dari
keluarga Tan. Yang pada heberapa waktu yang lalu
pernah merobohkan Liu Tay Hong?”
„Ya, benar, itulah aku sendiri,” sahut Poan Thian.
166
„Kalau begitu,” kata orang itu pula, „nyatalah mataku
tidak bisa mengenali seorang gagah.”
Kemudian sambil menoleh pada kawan-kawannya
yang terbanyak ia memperkenalkan pemuda kita pada
mereka sambil berkata: „Saudara-saudara, saudara ini
ternyata bukan lain dari Sin-tui Lie, yang sekian lamanya
kita dengar namanya yang termasyhur, tetapi belum
kenal orangnya dan tidak tahu romannya bagaimana.”
Lebih jauh karena orang itu telah menuturkan juga
bagaimana Poan Thian telah mampu merobohkan jago
silat tua Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng, Siauw-pa-ong
Lauw Sam-ya dan kauw-su dari keluarga Tan yang
bernama Liu Tay Hong, maka orang banyak kelihatan
mau percaya juga, bahwa pemuda kita akan mampu
mengalahkan kera putih yang sering datang membikin
ribut di rumahnya Na Thian Lun itu. Oleh sebab itu,
mereka dengan beramai-ramai lalu mengantarkan Poan
Thian akan berjumpa dengan Hartawan she Na itu.
Tetapi seperti juga pendapat orang banyak ketika
mula-mula bertemu dengan Lie Poan Thian, Na Wangwee
sendiripun tampak agak ragu-ragu dan tidak
percaya, kalau pemuda kita akan dapat bertempur
dengan kera yang berbadan besar dan buas itu. Oleh
karena itu ia lantas berkata: „Tuan Lie ini rupanya bukan
orang desa ini?”
„Ya, memang bukan,” sahut Lie Poan Thian, „aku
berasal dari kota Cee-lam dalam propinsi Shoa-tang, dan
jikalau sekarang aku berada di sini, itulah karena aku
kebetulan menumpang pada Tan Chung-cu Tan Tong
Goan, dimana untuk sementara lamanya aku mewakili
salah seorang kawan buat mengajar ilmu silat pada
orang-orang sebawahannya Tan Chung-cu tersebut.”
167
Na Thian Lun kelihatan mengangguk-anggukkan
kepalanya, ia tak berkata-kata. Romannya bagaikan
seorang yang sedang berpikir keras.
„Tetapi, maafkanlah jikalau aku mohon bertanya,
belum tahu dalam pekerjaan ini tuan Lie minta upah
berapa?” kata si hartawan setelah berdiam sejurus
lamanya.
Poan Thian tersenyum dan menyahut: „Tuan, aku ini
adalah seorang suka rela, bukan hendak minta upah
berapa. Asal saja kera itu telah dapat diusir dan
selanjutnya tidak berani balik kembali ke sini, itulah
sudah cukup dan aku tidak bermaksud akan mengajukan
permintaan apa-apa pula.”
Thian Lun dan orang banyak yang mendengar
omongan si pemuda, semua jadi memuji dan kagum atas
kebijaksanaannya.
Kemudian setelah menanyakan pada waktu
bagaimana kera itu biasa datang menyatroni, Na Wangwee
lalu menjawab: „Itu tidak tentu. Juga tidak jarang
dia tak datang sama sekali. Dan jikalau seandainya dia
mau datang juga, waktunya hampir terjadi sedikit di muka
tengah malam atau selewatnya itu. Itulah sebabnya
mengapa orang-orang yang pernah membantu di sini jadi
bingung dan tidak tahan menunggu-nunggu.”
„Kalau begitu,” kata Lie Poan Thian, „baiklah aku
permisi pulang dahulu ke rumah Tan Chung-cu, karena
selain mesti membawa senjata, juga akupun tak
menyangka bakal menemui kejadian serupa ini. Oleh
sebab itu, ijinkanlah aku pulang dahulu meminta
perkenan Chungcu-ya buat bantu menjaga di sini pada
sebentar malam.”
Sementara Na Wan-gwee yang ternyata bersahabat
168
baik dengan Tan Tong Goan, lalu menyatakan, bahwa ia
boleh kirim orang buat menyampaikan kabar itu pada
Tan Chung-cu, tetapi Poan Thian menampik dan
mengucap terima kasih.
Maka sebagai pernyataan terima kasihnya, Thian Lun
lalu mengadakan sedikit perjamuan buat mengundang
Poan Thian dan orang banyak akan duduk bermakan
minum, pada sebelum pemuda kita kembali dahulu ke
rumahnya Tan Chung-cu.
◄Y►
Malam itu udara agak mendung.
Dibalik awan-awan yang bergulung-gulung di
angkasa, bintang-bintang mengintip ke muka bumi yang
penuh dengan kekacauan ini.
Sedangkan siliran angin yang dingin dan seakanakan
hendak menembusi tulang setiap orang, membikin
para penjaga jadi mengantuk dan menganggap bahwa
binatang itu tak akan datang. Apapula karena mereka
telah dipesan oleh pemuda kita akan jangan membikin
ribut atau mengunjukkan gerakan apa-apa sebelum
mereka diberi isyarat, maka tidak sedikit antara mereka
yang telah meringkuk dan tidur pules dengan amat
nyenyaknya, meskipun tahu bahwa perbuatan itu akan
sangat menyukarkan Poan Thian, jikalau si pemuda
sampai kejadian keteter dalam pertempuran dengan kera
putih itu.
Kira-kira hampir tengah malam, betul saja ia melihat
ada sebuah benda putih yang bergerak-gerak di suatu
tempat yang terpisah agak jauh.
169
Gerak-gerakannya benda putih itu, yang ternyata
bukan lain daripada kera itu sendiri, bukan saja amat
cepat dan gesit, tetapi juga ia seolah-olah telah ketahui,
bahwa pada malam itu Poan Thian telah sengaja
diundang buat bertempur dengan dirinya.
Dan seperti juga pada waktu The Goan diundang
menjaga di situ, pada malam itu pun kera tersebut tidak
menyatroni kamarnya Giok Tin, tetapi dengan langsung
menuju ke tempat jagaan Lie Poan Thian, dimana
sekarang si pemuda itu sedang menunggukan
kedatangannya dengan sudah bersiap-siap
„Kurang ajar!” menggerendeng pemuda she Lie itu.
„Inilah sudah terang bukan kera asli, tetapi adalah
manusia yang menyamar buat mengabui mata orang!
Karena jikalau dia itu betul binatang, bagaimanakah dia
bisa melompati pagar tembok dengan menggunakan
siasat Yan-cu-cwan-liam? Eh, eh, ini benar-benar luar
biasa!”
Poan Thian membuka matanya lebar-lebar, karena
dengan sekonyong-konyong ia melihat „binatang” itu
menyoren pedang dan menyelendang sebuah kantong
kulit digegernya. „Apakah ada seekor binatang yang
dapat mempersiapkan diri untuk bertempur begini rupa?”
Semakin lama benda putih itu semakin mendekati ke
tempat jagaannya Lie Poan Thian. Dan tatkala telah
terpisah kira-kira seratus tindak jauhnya, dengan sebat
„kera putih” itu telah menyambit si pemuda she Lie yang
sedang berjongkok sambil bersembunyi di belakang
langkan.
Pletak! pletak!
Pemuda kita tiba-tiba melihat ada dua sinar
berkilauan yang, dijujukan ke jurusannya, dan ketika ia
170
berkelit dan barang itu menancap di atas tiang di dekat
tempat ia berlindung, ternyata benda itu adalah dua buah
piauw yang pada masing-masing ekornya diikat benang
sutera yang berwarna merah!
„Kurang ajar!” membentak Lie Poan Thian sambil
berdiri.
Tetapi sebegitu lekas ia mengunjukkan dirinya,
mendadak „kera” yang telah menyabut pedang itu telah
membacok kepadanya dengan sekuat-kuat tenaganya!
Brak!
Syukur juga bacokan itu luput, karena Poan Thian
yang bermata sangat celi, telah keburu melompati
langkan itu sambil mencabut joan-pian dari pinggangnya,
tetapi palanglangkan itu telah terbacok putus oleh
pedang si „kera” yang ternyata amat tajam itu!
Sekarang Poan Thian mengerti, bahwa pedang si
„kera” itu tak boleh dibuat gebabah. Maka buat
menghindarkan joan-piannya ditabas pedang tersebut, ia
merasa perlu sekali akan berkelahi dengan sangat hatihati
dan tidak memberikan kelonggaran akan sang lawan
itu merangsak terlalu dekat.
Sebaliknya sang „kera” yang seolah-olah telah
mengetahui, bahwa kelihayan Poan Thian terletak dalam
tendangan-tendangannya, tampaknya berlaku „see-jie”
dan Poan Thian merangsak sambil menghujani
tendangan-tendangan yang terkenal kelihayannya di
separuh jagat Tiongkok.
Begitulah pertempuran itu telah berlangsung
sehingga duapuluh jurus lamanya. Karena selain
kepandaian si „kera” itu sudah boleh digolongkan pada
tingkat ahli silat kelas satu, Poan Thian-pun agak „see171
jie” dengan pedang yang dipergunakan lawannya itu.
Tetapi biarpun ia telah berlaku bagaimana hati-hati juga,
tidak urung seperempat bagian dari joan-piannya telah
kena juga dibabat putus oleh pedang itu!
Tetapi kejadian itu tidak membikin Poan Thian jadi
jerih atau takut, juga tak mencoba ia memberikan isyarat
akan para penjaga yang bersembunyi di sana-sini akan
keluar membantui kepadanya.
Ia ingin bertempur satu lawan satu, sehingga dalam
hal ini ia bisa menyaksikan kesudahannya, apakah ada
salah satu yang mati atau menyerah kalah.
Dalam pertempuran itu, tidak kurang dari beberapa
puluh macam ilmu tendangan telah dipergunakan Poan
Thian untuk merobohkan pada si „kera”, tetapi semua
tendangan-tendangan itu telah dapat disingkirkan oleh
pihak lawannya, hingga ini telah membikin ia jadi heran
dan teringat pada waktu ia bertempur dengan Sin-kun
Bu-tek Louw Cu Leng, ahli silat satu-satunya yang
pernah ia ketemukan mampu berbuat begitu.
Tetapi pada saat itu bukanlah waktunya akan orang
melamunkan segala sesuatu yang bersifat khayal.
Ia harus berkelahi dengan gagah, buat tidak
membikin dirinya sampai kena „dicepol” orang.
Begitulah pertempuran itu telah berlangsung dengan
tiada kurang hebatnya dari pada semula.
Di suatu saat ketika sang „kera” telah berhasil dapat
meluputkan diri dari tendangannya Lie Poan Thian, buruburu
ia berlompat keluar dari kalangan pertempuran,
berlompat melalui pagar tembok dan terus berlari menuju
ke dalam rimba.
Tetapi Lie Poan Thian yang tak mau membiarkan
172
„binatang” itu meloloskan diri dengan cara begitu saja,
iapun segera mengejar sambil menghujani piauw yang
satu-persatu telah mengenai dengan tepat pada
sasarannya. Dan disaban waktu ada piauw yang
menancap di punggung, bahu dan gegernya „binatang”
itu, dengan tentu-tentu „binatang” itu berteriak: “Aduh!
Aduh!”
„Kurang ajar!” pikir pemuda kita di dalam hatinya.
„Nyatalah dia ini benar manusia! Tetapi siapakah
sebenarnya dia itu, yang ternyata ada seorang ahli silat
yang ilmu kepandaiannya tidak bisa dicela?”
Sambil mengejar „binatang” itu keluar-masuk semaksemak,
Poan Thian berpikir dan akhirnya menyaksikan,
cara bagaimana „binatang” itu telah terjerumus ke dalam
sebuah lobang, dari dalam mana ia mendengar suara
jeritan manusia: „Tolong! Tolong! Matilah aku sekali ini!”
Poan Thian jadi merandek dengan heran, tetapi ia tak
berani sembarangan mendekati tepi lubang itu, walaupun
bulan sabit dapat juga menyinari sedikit keadaan di
dalam rimba itu.
„Tolong.....! To..... long.....!” Semakin lama suara itu
jadi semakin lemah, semakin lemah, dan akhirnya tidak
terdengar sama sekali.
Maka Poan Thian yang kuatir juga akan kecelakaan
lain bagi dirinya yang kurang mengerti tentang selukbeluknya
keadaan dalam rimba itu, lalu buru-buru
kembali ke rumahnya Na Thian Lun, buat melaporkan
apa yang telah terjadi dan berjanji akan kembali lagi ke
situ di hari esoknya, buat coba memeriksa pula ke dalam
lubang itu, kalau-kalau kera tetiron itu masih bisa ditolong
dan ditanyakan keterangan-keterangannya mengapa ia
telah menerbitkan heboh dengan menyamar sebagai
173
binatang.
Hal mana, sudah tentu saja sangat disetujui oleh Na
Thian Lun dan para penjaga yang juga ingin mengetahui
bagaimana kesudahannya tentang lelakon kera putih
tetiron itu.
Begitulah setelah di hari esoknya Poan Thian dan
para penjaga telah selesai dahar nasi, mereka dengan
beramai-ramai lalu menuju ke dalam rimba, dengan Poan
Thian berjalan duluan sebagai petunjuk jalan mereka.
Di sana, tatkala mencari kian-kemari sekian lamanya,
barulah Poan Thian dapat ketemukan lubang yang
semalam telah „menelan” kera tetiron itu.
Tetapi berhubung lubang itu amat dalam dan gelap,
sehingga ini telah membikin tidak seorang pun di antara
mereka yang berani turun ke bawah, maka penyelidikan
itupun terpaksa disudahi sampai di situ saja, dengan
rahasia kera tetiron itu tak dapat dipecahkan sehingga di
jaman ini.
Betul belakangan ada juga orang yang mengatakan,
bahwa itulah ada kepala berandal Khong Tay Liong dari
Kee-jiauw-san, yang telah menyamar menjadi kera putih
untuk mengacau dan melarikan anak perempuan Thian
Lun, tetapi kabar itu ternyata kurang benar, berhubung ia
telah dibikin kocar-kacir oleh seorang gagah tidak
terkenal, ketika peristiwa kera putih itu terjadi di tanahnya
Tan Tong Goan. Maka selain waktu terjadinya tidak
cocok dengan kenyataan, juga tak ada alasan yang kuat
buat membikin orang percaya dengan kabaran itu.
Demikianlah akhirnya lelakon kera putih yang diliputi
oleh rahasia yang tak dapat dipecahkan orang sehingga
di jaman sekarang.
174
◄Y►
Oleh karena terjadinya peristiwa di atas, maka
dengan meminta perantaraan Tong Goan yang menjadi
sahabat karibnya, akhirnya Thian Lun telah dapat
perjodohkan puterinya Giok Tin kepada pemuda kita.
Tetapi karena mengingat bahwa ia masih mempunyai
kakak perempuan yang berdiam di Tiong-ciu, maka Poan
Thian minta supaya pernikahannya ditunda dahulu,
berhubung ia akan pergi menjumpai sang kakak itu dan
berembuk lebih jauh mengenai urusan ini.
Ketika Poan Thian hendak berangkat di hari esoknya.
Tong Goan dan bakal mertuanya telah memberikan ia
banyak uang, tetapi sebagian besar dari ini telah
ditampik, hingga apa yang diambilnya dari jumlah itu,
hanyalah sekedar untuk ongkos dalam perjalanan saja.
Karena, ia mengatakan lebih jauh, bahwa ia tak akan
berdiam terlalu lama di Tiong-ciu, hingga Tong Goan dan
Thian Lun menyatakan kegirangannya dan mengharap
akan selekasnya dapat minum arak kemantin, apabila
nanti Poan Thian kembali dari tempat kakak
perempuannya di Tiong-ciu.
Poan Thian mengucapkan banyak terima kasih dan
berjanji akan kembali selekas mungkin, jikalau di sana ia
tak mengalami halangan apa-apa yang memperlambat
perjalanan pulangnya ke tanah Tong Goan di situ.
Kemudian ia pergi membeli seekor kuda yang kuat dan
dapat melakukan perjalanan jauh, dengan mana ia bisa
berangkat ke Tiong-ciu dengan membawa pakaian yang
perlu dan dibungkus menjadi sebuah pauw-hok besar,
dengan di dalamnya berisikan pelbagai senjata rahasia
dan golok yang telah diperoleh sebagai hadiah dari
175
gurunya sendiri.
Begitulah Thian Lun mengadakan sedikit perjamuan
makan minum yang dikunjungi juga oleh Tan Tong Goan
yang berlaku sebagai wakil dari Lie Poan Thian, barulah
pemuda kita melanjutkan perjalanannya dengan
menunggang kuda yang baru dibelinya.
Selama melalui perjalanan yang beberapa puluh lie
jauhnya itu, boleh dikatakan tidak terjadi peristiwa apaapa
yang penting untuk dituturkan di sini.
Pada suatu tengah hari Poan Thian telah sampai di
sebuah desa yang bernama Oey-touw-pa, suatu desa
yang keadaannya ramai dan besar juga, karena selain
terdapat banyak toko-toko dan kedai-kedai kecil dan
besar, juga penduduknya tampak agak padat juga.
Gedung-gedung dan rumah-rumah penduduk kira-kira
ada seratus beberapa puluh buah banyaknya.
Pemuda kita yang tatkala itu telah merasa lelah dan
haus, dari kejauhan menampak sebuah kedai yang
memakai panji putih dengan tiga huruf merah yang
berbunyi:
Heng-hoa-lauw.
Poan Thian lalu pecut kudanya, supaya berlari lebih
cepat akan mampir ke kedai tersebut.
Sesampainya di sana, ia lantas tambatkan kudanya
di bawah sebuah pohon, sedang ia sendiri lalu menindak
masuk dan panggil jongos buat minta disediakan arak
dan beberapa macam hidangan yang menjadi
kegemarannya.
Tatkala arak dan hidangan telah disediakan, Poan
Thian lalu tuang secawan arak, yang lalu diminumnya
dengan pelahan, kemudian barulah disusul dengan
176
hidangannya yang didahar olehnya dengan bernapsu
sekali.
Tengah bermakan minum dengan hanya seorang diri
saja, mendadak Poan Thian melihat beberapa belas
orang militer telah berhenti juga di kedai itu,
menambatkan kuda mereka di luar dan terus berjalan
masuk sambil beromong-omong pada satu dengan yang
lainnya.
Dua orang di antara mereka, Poan Thian lihat tinggal
menunggu terus di luar kedai, karena mereka ini ternyata
membawa seorang tawanan yang rantainya diikat pada
sebuah pohon Lek-yang di muka kedai tersebut.
Orang tawanan itu menurut pandangan Poan Thian,
tidaklah mirip dengan orang persakitan biasa.
Perawakannya tidak terlalu jangkung, tetapi tegap dan
kuat. Ia berusia antara tigapuluh atau tigapuluh lima
tahun. Wajahnya lebar, hidung mancung, mata celi dan
halisnya yang tebal dan panjang hampir sampai ke
bagian pilingannya.
Sambil bermakan minum, Poan Thian
memperhatikan dan bertanya pada diri sendiri: „Apakah
kedosaan orang ini, sehingga ia mesti mengalami
perlakuan yang tidak enak serupa ini?”
Poan Thian tak sempat melamun terlalu lama, ketika
tak antara lama seorang tinggi besar dengan berkuda
telah sampai juga di kedai itu.
Dua orang militer penjaga persakitan tadi yang
melihat kedatangannya, buru-buru menghampiri dan
sambuti les kuda yang disodorkan kepada mereka oleh
orang yang baru datang itu.
Gerak-gerakkannya orang itu selain gesit dan
177
tangkas, wajahnyapun keren, bermisai dan berusia
hampir bersamaan dengan persakitan yang dirantai di
bawah pohon Lek-yang itu.
Orang itu dengan tak banyak bicara pula lalu
bertindak masuk ke kedai, hingga orang-orang militer
yang berada di dalam dan melihat kedatangannya, buruburu
pada bangun memberi hormat dan
mempersilahkannya akan duduk di kursi yang diatur di
kepala meja.
Mula-mula Poan Thian menduga bahwa orang itu
adalah seorang piauw-su, tetapi ketika diperhatikannya
lebih jauh, ia mendapat kenyataan bahwa dugaannya itu
telah meleset.
„Dia ini rupanya ada seorang keturunan militer yang
berpangkat tinggi,” pikirnya.
Dengan di kepalai oleh orang militer yang datang
terbelakang itu, maka sebuah perjamuan makan minum
lalu diadakan, dengan orang-orang militer yang
berkumpul di situ turut juga bermakan minum, hingga
selanjutnya tak sempat pula mereka bercakap-cakap
dengan leluasa seperti semula tadi.
Sementara dua orang militer lain yang menjaga orang
tawanan di luar kedai, pun diberikan makanan dan
minuman yang sama oleh orang militer yang menjadi
pemimpin mereka itu.
Sambil bermakan minum dan tertawa-tawa ke arah
orang tawanan yang dirantai di bawah pohon Lek-yang
itu, dua orang penjaga yang gatal tangan itu telah mulai
mempermainkannya dengan jalan menyambiti muka
orang itu dengan kulit kwaci dan kacang goreng, hingga
perbuatan ini sudah tentu saja, telah membikin orang
tawanan itu kelihatan mendongkol, tetapi tak dapat ia
178
berbuat lain daripada mandah dirinya diperlakukan
demikian, berhubung borgolan yang tergantung di leher
dan tangannya agak berat untuk memungkinkan ia
bergerak dengan leluasa.
Tetapi belum puas mempermainkan orang dengan
begitu saja, kemudian kedua orang penjaga itu telah
mulai menyambitinya dengan bacang, hingga dalam
waktu sekejapan saja muka orang itu telah berlepotan
dengan nasi bacang yang agak lengket.
„Ah, sungguh bodoh benar kau ini!” kata salah
seorang penjaga itu kepada orang tawanan tersebut.
„Aku tahu kau tentu merasa lapar juga, mengapakah kau
tidak caplok saja bacang-bacang yang kita lemparkan
kepadamu itu?”
Tetapi orang tawanan itu tinggal membisu,
mendelikan matanya yang bundar dan merah karena
mengandung kegusaran.
„Anjing yang terhitung binatang, bisa mencaplok
makanan jikalau dilemparkan oleh majikan,” kata seorang
penjaga yang lainnya. “Apakah kau sebagai seorang
manusia, tak mampu mencontoh teladan itu?”
Kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
„Kurang ajar!” teriak orang tawanan itu, yang akhirnya
tak mampu menindas amarahnya terlebih lama pula.
„Sayang diriku diborgol! Jikalau aku sekarang tidak
memakai borgolan ini, niscaya akan kuberikan kamu
ajaran yang tak akan dapat dilupakan seumur hidupmu!”
„Eh, eh, bukannya kau minta dikasihani, sekarang
kau berbalik mendamprat kami berdua!” kata kedua
orang penjaga itu sambil berbangkit dari tempat duduk
masing-masing.
179
Salah seorang antaranya lalu mengambil air yang lalu
disiramkan ke muka orang tawanan itu.
„Nah, tu! Dinginlah sedikit amarahmu!” katanya
sambil tertawa.
Orang itu jadi gelagapan, hingga sesaat lamanya ia
terpaksa mempejamkan matanya.
„Kurang ajar!”
Lie Poan Thian yang menyaksikan perbuatan yang
amat sewenang-wenang itu, keruan saja jadi sangat
gusar dan menyomel di dalam hatinya seperti di atas.
Tetapi ia sampai cukup taktis buat tidak membikin
keadaan jadi menyimpang dari pada rencana yang
hendak dilakukannya di saat itu.
Segala peristiwa yang menjengkelkan di luar kedai
itu, ia seolah-olah anggap sepi. Lalu ia panggil jongos,
bayar harga arak dan makanan yang dimakannya tadi,
kemudian dengan tindakan yang tenang ia keluar dari
ruangan kedai itu.
Mula-mula ia berlagak berjalan melewat ke samping
penjaga yang telah menyiram muka orang tawanan itu
dengan air. Kudanya Poan Thian ditambatkan tidak
berapa jauh dari pohon Lek-yang yang dipergunakan
untuk mengikat rantai si orang tawanan.
Di situ ia berpura-pura berjalan di antara kedua orang
penjaga yang sedang mempermainkan terus pada orang
tawanan yang tak berdaya itu.
Kemudian, dengan gerak-gerakan secepat kilat, Poan
Thian telah tempiling penjaga yang berdiri di sebelah
kirinya, sedang penjaga yang berdiri di sebelah kanan ia
telah tendang sehingga terpental masuk ke dalam kedai
dan jatuh tepat di tengah meja perjamuan yang diadakan
180
oleh pemimpin orang-orang militer tadi!
„Pemberontakan! Pemberontakan!” teriak orangorang
militer itu.
Keadaan di kedai itu segera menjadi ribut. Orangorang
yang sedang bermakan minum jadi berlarian kian
kemari Sedang orang-orang militer berlomba keluar dari
ruangan itu, untuk mengejar pada Lie Poan Thian, yang
dengan secara mendadak telah menerbitkan keonaran
yang mereka tak pernah impikan sama sekali.
Sementara Poan Thian yang telah merobohkan
kedua orang penjaga itu, buru-buru menghampiri si orang
tawanan sambil berkata: „Saudara, marilah lekas kau ikut
aku!”
Dengan mengandalkan pada ilmu kepandaian dan
tangannya yang kuat, pemuda kita lalu patahkan
borgolan tangan dan putuskan rantai yang membikin
orang tawanan itu tak dapat bergerak dengan leluasa,
hingga dengan begitu ia dapat terbebas dan dengan
sebat merampas golok penjaga yang menggeletak
pingsan karena ditempiling Poan Thian tadi.
„Pergilah ambil salah seekor kuda mereka!” kata Lie
Poan Thian dengan cepat. „Kita perlu berlalu dari sini
selekas mungkin!”
„Saudara-saudara!” teriak pemimpin militer itu. „Ayoh,
lekas kejar dan bekuk kedua orang itu!”
Lebih jauh untuk memperlambat gerakkannya orangorang
militer itu, agar supaya ia dapat memberikan waktu
cukup untuk si orang tawanan merampas kuda dan
bersiap-siap akan melarikan diri, Poan Thian telah angkat
orang militer yang pingsan tadi, akan dipakai memukul
dua orang militer yang baru keluar dari kedai itu, hingga
181
mereka berdua jatuh melosoh, karena tertimpah oleh
kawannya yang dilemparkan ke jurusan mereka. Dan
ketika mereka keluar dari kedai itu, Poan Thian dan
orang tawanan tersebut telah dapat meloloskan diri
dengan menunggang kuda yang dilarikan bagaikan
terbang cepatnya!
Setelah melalui perjalanan gunung yang panjangnya
beberapa puluh lie jauhnya, barulah Poan Thian
mendapat kenyataan, bahwa orang-orang militer itu telah
tidak kelihatan pula bayangan-bayangannya. Tetapi
orang tawanan yang kuatir dikejar terus oleh pihak orangorang
militer yang menjadi musuh-musuhnya tetap
menganjurkan supaya Poan Thian kaburkan kudanya
sehingga melalui daerah perbatasan Shoa-tang-Ho-lam.
Poan Thian kabulkan permintaan orang tawanan itu.
Kira-kira sedikit waktu di muka waktu magrib, kedua
sahabat baru yang tak saling mengenal ini telah sampai
di sebuah desa pegunungan yang sunyi dan mereka
percaya, bahwa orang-orang militer itu pasti tak dapat
pula menyusul mereka di situ.
Buat menghilangkan rasa lelah mereka dan kudakuda
yang mereka tunggangi, kedua orang itu lalu
beristirahat di tepi jalan, dimana orang tawanan itu lalu
membungkukkan badannya memberi hormat kepada Lie
Poan Thian sambil berkata: „Saudara, aku sungguh
harus mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas
pertolonganmu yang sangat besar dan tak akan
kulupakan itu seumur hidupku. Karena jikalau semua itu
bukan mengandal atas pertolonganmu, niscaya tidak
mungkin aku terlolos dari tangan mereka dengan cara
yang begini mudah. Atau, bisa jadi juga, aku sudah mati
di saat ini, karena mereka telah merencanakan akan
membunuh aku di tengah jalan, sehingga dengan begitu,
182
urusanku dapat disudahi sampai di situ saja. Tanpa
diketahui orang, juga tanpa diadili pula sebagaimana
mestinya!”
Si pemuda tampak tertarik mendengar penuturan
orang tawanan yang agak samar dan aneh itu. Dan
ketika Poan Thian coba menanyakan tentang duduknya
perkara, yang telah membikin orang itu ditawan dan akan
dibunuh, maka orang tawanan itu lalu menuturkan
riwayatnya sebagai berikut:
2.12. Pelarian Tawanan Meliter
„Aku ini adalah seorang she Cin bernama Kong
Houw,” katanya, „asal orang dari Ho-lam. Sedari muda
aku gemar sekali ilmu silat, maka hampir tak sempat
menaruh perhatian pada ilmu surat. Tatkala usiaku telah
dewasa dan menikah, aku telah menerima undangan
jenderal Bu Goan Kwie yang berkedudukan di Ho-lam
juga, untuk menjadi guru silat dalam tangsi tentara.
„Pada lain tahunnya isteriku telah meninggal dunia,
hingga semenjak itu tak berniat pula aku akan beristeri
pula. Tetapi sang nasib yang jail telah bikin aku tertarik
dengan seorang bunga raya yang bernama Ya Beng Cu,
yang lalu aku pelihara sebagai gundik. Kita hidup dengan
rukun sehingga beberapa bulan lamanya.
„Pada suatu hari ia bertemu dengan Poo Tin Peng,
putera Poo Co Ciong yang memangku jabatan Toa-tosie-
wie (pengawal kaisar) di kota raja. Manusia busuk ini
yang mengandal pada pengaruh bapaknya yang ternyata
menjadi pengawal kesayangan raja, bukan saja suka
berlaku sewenang-wenang dan tidak segan melakukan
segala perbuatan yang melanggar perikemanusian,
tetapi juga ia tak malu akan mengganggu anak-isteri
183
orang baik-baik dengan tidak memandang bulu. Hal
mana pun tidak terkecuali bagi diriku, walaupun aku juga
ada seorang militer yang memangku jabatan Tong-leng
(komandan) dari tangsi Tok-piauw-eng.
Manusia busuk Poo Tin Peng itu ternyata telah tergiur
hatinya oleh perempuan lacur gundikku itu!
Kali ini si jahanam agak „see-jie” akan mengunjuk
aksinya dengan secara terang-terangan, karena ia tahu
bahwa aku ini bukan seorang yang boleh diperlakukan
sesukanya dengan tidak melakukan perlawanan apaapa.
Oleh sebab itu, ia terpaksa pura-pura mengundang
aku ke suatu perjamuan makan, dimana aku telah diloloh
sehingga mabuk.
Tahu-tahu ketika aku tersadar dari mabukku, aku
telah diborgol dan berada di sebuah kamar tahanan!
Aku lalu memperotes atas penangkapan itu, karena
aku sendiri tidak mengetahui apa kesalahanku, sehingga
mesti diborgol sebagai seorang persakitan. Tetapi
protesku itu tidak dihiraukannya.
Kemudian aku lalu digiring oleh sekawanan orangorang
militer, yang katanya akan bawa aku ke kota-raja
buat memeriksa perkaraku terlebih jauh.
Sesampainya di luar halaman kamar tahanan,
barulah ada seorang sahabatku yang telah
memberitahukan kepadaku, bahwa aku akan
dibinasakan oleh Poo Tin Peng dengan meminjam
tangan orang-orang militer tersebut!
Tetapi aku hadapi nasib buruk itu dengan tenang dan
tanpa mengeluh, karena aku telah yakin, bahwa
bintangnya kawanan dorna-dorna itu sedang terangnya,
sedang semua orang pun seolah-olah membenarkan
184
atas sepak terjang mereka yang amat tidak patut itu.
Demikianlah duduknya perkara yang benar, sehingga
akhirnya Thian menurunkan kau sebagai bintang
penolongku.
Maka setelah kau ketahui sebab musabab mengapa
aku telah ditawan, sekarang adalah giliranku akan
menanyakan she dan namamu, agar supaya nama itu
bisa terukir buat selama-lamanya di dalam hati
sanubariku!”
Sementara Lie Poan Thian yang mendengar
penuturan yang sangat menjengkelkan itu, dengan
roman yang gusar lalu berseru: „Ah, sungguh terkutuk
benar si jahanam Poo Tin Peng itu! Jikalau manusia yang
seperti ini dibiarkan hidup di dunia, niscaya dunia yang
sudah rusak ini akan jadi semakin bejat, semakin kotor!
Marilah kita basmi padanya bersama-sama!”
Cin Kong Houw yang mendengar anjuran dan
kesanggupan pemuda kita, dengan tidak terasa lagi
segera jatuhkan dirinya berlutut di tanah sambil berkata:
„Saudara, setelah kau menghidupkan jiwaku,
sekarang kembali kau hendak mengorbankan jiwamu
buat aku, hingga aku Cin Kong Houw biarpun mati dan
kemudian hidup kembali, niscaya tak akan mampu
membalas budi kebaikanmu yang teramat besar itu!”
Tetapi Poan Thian lekas banguni padanya sambil
menghibur dan berkata: „Cin Lauw-hia, janganlah kau
berlaku sungkan dan menyebut-nyebut perihal
pembalasan budi. Aku Lie Poan Thian bukan seorang
yang kepingin dipuji-puji sebagai seorang gagah yang
budiman, juga bukan kepingin termasyhur oleh
karenanya. Aku menolong sekadar apa yang aku bisa.
Oleh sebab itu, aku mohon supaya selanjutnya kau
185
jangan menyebut-nyebut pula urusan itu, yang cumacuma
akan membikin aku jadi jengah saja.”
Begitulah dengan Cin Kong Houw berlaku sebagai
petunjuk jalannya, Lie Poan Thian lalu menuju ke Khayhong
buat membantu kawan baru itu akan melaksanakan
balas dendamnya terhadap Poo Tin Peng yang keji itu.
Kira-kira pada waktu hampir senja, mereka berhenti
di sebuah kedai kecil untuk menghilangkan dahaga dan
mengisi perut.
Selama mereka bermakan minum, Poan Thian
menanyakan banyak sekali keterangan-keterangan
mengenai tempat tinggalnya Poo Tin Peng, bagaimana
bentuk rumah yang didiaminya, dia di Khay-hong tinggal
di jalan apa namanya, dan yang paling terutama
bagaimanakah romannya si jahanam itu, yang satu per
satu lalu dijawab oleh Cin Kong Houw dengan secara
teliti.
Sehabis dahar kenyang dan membayar harganya
minuman dan makan yang mereka telah pesan tadi,
kedua orang itu lalu melanjutkan pula perjalanan mereka,
dengan mengambil jalanan yang lebih sunyi dan lebih
jauh, berhubung dikuatirkan Kong Houw nanti
berpapasan dengan orang-orang yang dikenal baik,
sehingga ini menerbitkan hal-hal yang tidak diinginkan
dan dapat menggagalkan rencana mereka untuk
membikin pembalasan.
Dalam perjalanan itu, mereka telah menginap di
sebuah rumah makan kecil, yang juga menyewakan
kamar untuk orang-orang perjalanan yang melewat di situ
dan justru kemalaman dalam perjalanan.
Dengan beristirahat semalaman dalam rumah makan
kecil itu, maka Poan Thian dan Kong Houw dapat pulih
186
kesegaran badan masing-masing di hari esoknya.
Maka sehabis sarapan pagi dan membayar semua
ongkos-ongkos mereka makan dan menginap, kedua
orang itupun lalu melanjutkan pula perjalanan mereka ke
Khay-hong dengan menurut cara seperti apa yang telah
mereka lakukan di hari kemarin, yaitu jalanan yang sunyi
tetapi lebih aman daripada kalau berjalan di jalan raya
yang ramai.
Oleh sebab itu juga, mereka baru sampai di luar kota
Khay-hong tatkala matahari menyelam ke barat, tetapi
mereka tidak lantas masuk kota, karena di situ Kong
Houw mempunyai banyak kenalan, yang sewaktu-waktu
bisa berpapasan dengan kaki tangan Poo Tin Peng yang
sedang „dimauinya” itu. Maka atas anjuran Kong Houw,
Poan Thian lalu menumpang menginap di sebuah rumah
makan merek Hok Goan, yang juga menyewakan kamar
buat para tetamu yang tidak suka menginap di dalam
kota, terutama bagi mereka yang tidak suka dengan
tempat yang terlalu ramai dan berisik.
Di situ Kong Houw dan Poan Thian lalu berembuk,
cara bagaimana mereka akan beraksi pada malam hari
itu.
„Menurut pendapatanku!” Kong Houw menganjurkan,
„paling betul sore-sore kita masuk tidur. Nanti hampir
tengah malam, kalau keadaan sudah agak sunyi, barulah
kita keluar dengan diam-diam dan menuju dengan
langsung ke rumahnya jahanam Poo Tin Peng itu. Tetapi
belum tahu pikiran saudara bagaimana?”
„Ya, ya, itu benar. Aku mufakat,” sahut Lie Poan
Thian.
„Apakah kau mempunyai golok atau barang-barang
tajam lain?” bertanya Cin Kong Houw.
187
„Ada,” sahut pemuda kita, „malah kalau kau merasa
perlu, aku di sini ada sedia pelbagai macam senjata
rahasia, yang kau boleh pilih sendiri yang mana kau rasa
perlu pakai.”
Cin Kong Houw jadi sangat girang dan lalu minta
sepuluh buah piauw, jikalau Poan Thian mempunyai
senjata itu.
Poan Thian mengabulkan. Lalu ia berikan senjata
yang diminta itu.
„Golok yang aku rampas dari tangan orang militer
itu,” kata Kong Houw pula, „ada kemungkinan telah
disediakan buat membunuh diriku. Tetapi sekarang golok
itu hendakku pergunakan untuk menyembelih jahanam
she Poo itu “
„Semoga niatanmu itu terkabul menurut cita-citamu,”
kata Lie Poan Thian, bagaikan seorang yang
memberkahkan kawan itu.
Kong Houw tersenyum, walaupun dalam senyuman
itu lebih banyak mengandung kegetiran, daripada
kegirangan yang maksud pekerjaannya ditunjang oleh
tenaga seorang kawan yang boleh diandalkan.
Begitulah sehabis dahar sore dan beres mengatur
rencana yang akan dilakukan pada malam itu, Poan
Thian dan Kong Houw lalu pergi masuk tidur.
Kira-kira hampir tengah malam, Poan Thian tersadar
dari tidurnya. Keadaan di sana-sini gelap-gelita, karena di
dalam kamar itu memang tidak dipasangi lampu. Lalu ia
banguni Kong Houw dengan suara bisik-bisik, tetapi sang
kawan itu rupa-rupanya keenakan tidur hingga ia tidak
mendengar suara bisikannya.
Orang sedalam rumah penginapan itu sudah pada
188
tidur dengan nyenyak, hingga dalam kesunyian hanya
terdengar saja suara kutu-kutu kecil yang berbunyi saling
sahutan di sana-sini.
Dalam pada itu Poan Thian yang kuatir tempo
„beraksi” mereka akan jadi terlambat oleh karena
kelalaian ini, maka sambil menguap dan mengucek-ucek
mata ia lantas berbisik dengan suara yang terlebih keras,
katanya: „Cin Lauw-hia! Cin Lauw-hia!”
Tetapi meski bisikan itu diulangkan sampai beberapa
kali juga, Kong Houw tetap tidak menjawab, hingga Poan
Thian yang mulai jadi tidak sabar dengan sikapnya sang
kawan itu, buru-buru turun dari ranjang dan menghampiri
pada Cin Kong Kong yang tidur di ranjang lain yang
dipasang berhadapan dengan ranjangnya sendiri.
Lalu ia singkap kelambu ranjang itu sambil berbisik:
„Cin Lauw-hia, lekas bangun! Malam ini kita harus
bekerja dengan cepat!”
Tetapi, alangkah terperanjatnya pemuda kita, tatkala
ia melongok ke atas ranjang itu dan mendapatkan Kong
Houw telah berlalu entah sedari kapan!
„Celaka!” pikirnya dengan perasaan kuatir. „Jikalau ia
berlaku kurang hati-hati sedikit saja, niscaya ia akan
dikepung dan ditawan kembali oleh pihak musuhmusuhnya!
Aku mesti menyusul padanya selekas
mungkin!”
Begitulah dengan tidak membuang tempo lagi, Poan
Thian segera berpakaian untuk berjalan di waktu malam,
membekal golok dan senjata-senjata lain yang
dibutuhkannya, kemudian ia tolak daun jendela yang
ternyata tidak terkunci, berhubung Kong Houw telah
keluar dari situ selagi ia masih tidur tadi.
189
Dari itu ia melompat keluar dan rapatkan pula daun
jendela itu dari sebelah luar.
Syukur juga Poan Thian telah menanyakan cukup
jelas dari di muka, cara bagaimana Kong Houw hendak
melakukan „penyerangan” itu dan kemana mereka harus
menuju, hingga Poan Thian yang memang sering
mengunjungi kota Khay-hong dan kenal baik selukbeluknya
keadaan dalam kota itu, dengan mudah saja
telah bisa masuk kota dengan jalan melompati bagian
pagar tembok yang tidak diawasi terlalu keras oleh
serdadu-serdadu penjaga kota di situ.
Dari sana, dengan jalan bersembunyi apabila
kebetulan berpapasan dengan serdadu-serdadu atau
orang-orang yang masih berkeliaran kota yang sudah
mulai sunyi itu, Poan Thian menuju ke rumahnya Poo Tin
Peng dengan menuruti petunjuk-petunjuk yang ia telah
dapatkan dari Cin Kong Houw di hari kemarin.
Tetapi tidak kira pada sebelum sampai ke tempat
yang dituju, di tengah jalan ia menampak seorang yang
berpakaian untuk berjalan di waktu malam berkelebat
melompati pagar tembok di sebelah atasan kepalanya,
hingga Poan Thian yang justru berjalan di bawahnya
dengan tindakan yang hampir tak bersuara, jadi
terperanjat dan lekas bersembunyi di suatu peloksok
yang agak gelap, berhubung ia telah mengenali, bahwa
orang itu bukanlah kawannya sendiri!
Menurut penuturan Cin Kong Houw, di rumah Poo Tin
Peng terdapat beberapa orang kauw-su yang
dipekerjakan oleh si jahanam itu sebagai pengawalpengawal.
„Apakah ia ini bukan salah seorang antara kauw-su,
yang dikatakan Kong Houw itu?” Poan Thian berpikir di
190
dalam hatinya.
Selagi berpikir demikian mendadak orang yang
melompati pagar tembok itu telah turun ke bawah,
sehingga sekarang ia jadi berhadapan dengan Poan
Thian yang berada kira-kira seratus tindak jauhnya dari
tempat mana ia berdiri!
Poan Thian lekas cabut golok dari pinggangnya.
,,Kau jangan maju terus!” kata orang itu.
Pemuda kita jadi kemekmek, kemudian ia
mengeluarkan suara teriakan girang: „Hoa-suheng, cara
bagaimanakah kau bisa berada di sini?”
„St, jangan bikin ribut!” kata orang itu, yang ternyata
bukan lain daripada Hoa In Liong adanya!
Poan Thian lekas memburu dan merangkul padanya
dengan mengucurkan air mata kegirangan.
„Suheng,” katanya, „cara bagaimanakah kau bisa
berada di sini?”
„Marilah kau ikut aku ke tempat lain yang aman,” kata
Hoa In Liong, yang lalu pimpin tangan Poan Thian buat
diajak bersembunyi ke tempat lain yang lebih sentosa.
„Di sana ada seorang kawanku yang sedang
„menyerbu” ke rumah Poo Tin Peng,” berbisik pemuda
kita.
Hoa In Liong menganggukkan kepalanya.
„Ya, itu aku tahu,” sahutnya „tetapi sekarang ia
berhasil dapat membinasakan manusia keji itu serta
meloloskan diri dari dalam pengepungan pihak musuhmusuhnya.”
Lie Poan Thian jadi girang tercampur heran
191
mendengar keterangan begitu.
Yang pertama-tama ia jadi girang karena maksudnya
Cin Kong Houw telah berhasil, sedangkan yang
keduanya, adalah ia heran cara bagaimana In Liong bisa
ketahui adanya peristiwa ini?
In Liong tertawa dan lalu menerangkan duduknya hal
yang benar pada adik sepeguruannya itu.
Demikianlah singkatnya penuturan Hoa In Liong itu:
Sebagaimana di bagian muka pernah disebutkan,
Hoa In Liong ini adalah murid Kak Seng Siang-jin dari
kelenteng Liong-tam-sie, yang bertugas keliaran di
kalangan Kang-ouw untuk bantu memperbaiki keadaan
masyarakat yang diperbudak oleh bangsa Boan-ciu yang
menguasai seluruh Tiongkok di bawah telapak kaki
besinya pada masa itu.
Pada waktu yang pertama-tama ia berjumpa dengan
Poan Thian semenjak pemuda itu lulus dari perguruan
silat di Liong-tam-sie, adalah ketika Poan Thian hendak
mengadu ilmu kepandaian silat dengan Sin-kun Bu-tek
Louw Cu Leng di kelenteng Tay-seng-tian. Tetapi karena
kepingin menyaksikan sampai dimana keberanian dan
kepandaian pemuda itu, maka In Liong telah sengaja tak
mau mengunjukkan diri pada saudara seperguruannya
itu.
Kebetulan pada waktu itu Louw Cu Leng diiringi oleh
Houw-jiauw Co, maka hatinya In Liong jadi bercekat dan
kuatir, kalau-kalau Poan Thian nanti dikerubuti oleh
kedua orang itu. Oleh sebab itu, dengan secara diamdiam
In Liong telah mencurahkan perhatiannya pada ahli
silat she Co tersebut. Ketambahan karena mendapat
keterangan bahwa jago silat itu pandai mempergunakan
pelbagai senjata rahasia, sudah tentu saja ia menjadi
192
semakin teliti dalam hal memperhatikan gerak-gerik
orang. Karena jikalau nanti Louw Cu Leng kena
dikalahkan oleh adik sepeguruannya itu, ia pikir bukan
mustahil akan ahli silat she Co itu turun tangan juga
untuk membela nama baik kawannya.
Itulah sebabnya mengapa In Liong merasa lebih perlu
tinggal sembunyi dan berlaku waspada, daripada
mengunjukkan diri yang bisa membikin keadaan jadi
semakin tegang. Lebih-lebih jikalau di pihak lawan
mereka sampai kejadian terbit sangkaan yang tidak baik
dan paham atas kedatangannya yang terjadi di luar
dugaan itu.
Tetapi ternyata pertempuran itu telah berlangsung
dengan beres dan jujur, hingga In Liong jadi girang dan
lalu menyeruhkan supaya Poan Thian suka
mempertahankan nama baiknya guru dan rumah
perguruan silat mereka di Liong-tam-sie. Kemudian ia
lekas menyingkir dari muka kelenteng Tay-seng-tian
ketika melihat gelagat Poan Thian dan Cu Leng hendak
mencarinya di antara orang banyak yang berkerumunan
di situ.
Itulah sebabnya mengapa tak dapat ia diketemukan
oleh Lie Poan Thian.
Pada kedua kalinya ia bertemu dengan suteenya itu,
ialah pada malam itu, dimana Kong Houw masuk kota
Khay-hong dengan meninggalkan Poan Thian sendirian
di rumah makan Hok Goan.
Tatkala itu In Liong yang memang telah beberapa
hari yang lalu mendapat kabar tentang perbuatannya
Poo Tin Peng yang amat keji itu, iapun telah jadi sangat
gusar dan berniat malam itu juga akan membinasakan
jiwanya manusia busuk itu.
193
Di tengah jalan ia berpapasan dengan Cin Kong
Houw. Mula-mula ia berniat akan bersembunyi, tetapi
Kong Houw keburu melihat dia dan lantas mengejar.
Kong Houw menyangka kalau-kalau In Liong itu
adalah kaki tangan jahanam she Poo itu, seperti juga In
Liong yang telah menyangka demikian kepada orang
yang pertama disebutkan itu.
Mereka lalu saling tanya-menanya dengan cepat, dan
tatkala mengetahui bahwa tujuan mereka itu
bersamaaan, yaitu akan membinasakan jiwanya Poo Tin
Peng, In Liong lalu mengalah dan memberikan jaminan
akan melindungi padanya dengan secara diam-diam.
Kong Houw jadi sangat berterima kasih dan
mengharap akan dapat membalas budi kebaikan sang
sahabat yang tidak dikenal itu, tetapi Kong Houw tidak
pernah menyebutkan tentang adanya lain kawan pula
yang bersedia akan memberikan pertolongan kepadanya
dimana perlu, dan orang itu bukan lain daripada Lie Poan
Thian adanya.
Maka setelah Poan Thian saling berjanji akan
bertemu dan mengobrol terlebih panjang di hari esok di
rumah makan Hok Goan, mendadak mereka telah dibikin
kaget dengan suara orang yang berteriak:
„Tangkap, tangkap si pembunuh! Dia tentu belum lari
terlalu jauh!”
„Celaka!” kata Hoa In Liong. „Rupanya kawanmu itu
telah dikepung orang! Ayoh, pergilah kau lekas menolong
kepadanya. Aku di sini nanti menghambat orang-orang
yang akan mengeroyok ke sana.”
Poan Thian menurut. Kemudian dengan
mempergunakan siasat Yan-cu-cwan-liam ia berlompat
194
melalui sebuah pagar tembok yang tinggi, dari mana ia
dapat menyaksikan bagaimana Kong Houw sedang
dikepung oleh beberapa orang kauw-su nya Poo Tin
Peng yang diiringi oleh beberapa orang murid-muridnya
yang membawa obor.
Poan Thian yang merasa kuatir Kong Houw akan
dilukai oleh seorang kauw-su yang bersenjata sepasang
golok dan dan gerak-gerakannya jauh lebih gesit dari
pada kawan-kawan yang lainnya, lalu menggunakan
pelanting buat melepaskan peluru-peluru Lian-cu-tan
yang segera dijujukan pada musuh itu.
Ser! Ser! Ser!
Sebutir dua butir peluru telah dapat dihindarkan oleh
si kauw-su, tetapi sebutir peluru yang telah dilepaskan
paling belakang telah membikin ia berjengit, berteriak
karena kesakitan dan terus jatuh terlentang di tanah
dengan kepala boboran darah.
Sementara Kong Houw yang melihat sudah tak
terdapat rintangan pula untuk melarikan diri, buru-buru ia
berlompat keluar dari kalangan pertempuran dan terus
melayang ke atas pagar tembok.
Tetapi tidak kira ketika kakinya baru saja menginjak
bagian atasnya pagar tembok tersebut, mendadak dari
sebelah belakangnya terasa ada sesuatu yang
menyamber ke jurusannya. Lekas-lekas ia berkelit, tetapi
ternyata tidak keburu. Sebatang anak panah yang
panjangnya kira-kira satu kaki, telah menancap di atas
bahu kirinya!
Ia pusing dan hampir saja jatuh ke bawah pagar
tembok, kalau saja Poan Thian tidak keburu jambret
padanya buat diajak lari keluar dari tempat berbahaya itu.
195
Dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan,
Kong Houw hendak mencabut anak panah yang
menancap dibahunya itu, tetapi Poan Thian lalu
menyegah sambil berkata: „Jangan! Biarkan saja aku
nanti obati setelah sampai di kamar kita!”
Kong Houw menurut.
Begitulah ketika mereka kembali dengan tiada
diketahui oleh barang satu manusia pun, Poan Thian lalu
cabut anak panah itu dari bahunya Kong Houw, cuci
lukanya, pakaikan obat untuk menghentikan darah dan
menghilangkan rasa sakit, kemudian ia minta sang
kawan berbaring di atas ranjang untuk beristirahat.
Tidak antara lama sang fajar telah mulai
menyingsing, hingga Poan Thian tak mendapat
kesempatan pula untuk tidur.
Tetapi Cin Kong Houw yang merasa sangat lelah
karena pertempuran semalam, bukan saja telah tidur
dengan nyenyak sekali, malah tak pernah ia
mengimpikan, bahwa suatu bahaya besar tengah
mengancam pada dirinya sendiri.
Maka Poan Thian yang tak mau membikin kaget
kawannya yang sedang tidur itu, lalu mengasih tahu
pada jongos, agar supaya dia jangan membanguni
kepadanya, berhubung kawan itu sedang sakit, katanya.
Kemudian ia minta disediakan makanan untuk satu
orang.
Sesudah selesai dahar, ia lantas pergi membeli obat.
Karena selain lukanya Kong Houw perlu diobati dengan
memakai obat tidur, iapun perlu juga diberikan lain
macam obat minum.
Tetapi, tidak kira, sekembalinya dari pasar, ia telah
196
berpapasan dengan seorang yang bertubuh tinggi besar
dan beroman keren, yang entah sedari kapan tampak
duduk di halaman pertengahan dengan sikap yang
menandakan kurang senang.
Orang itu kurang-lebih berusia tigapuluh tahun, ia
mengenakan baju pendek warna hitam dan bersepatu
zool tipis serta menyoren sebilah golok dipinggangnya.
Oleh karena melihat sikap orang yang agak aneh itu,
maka hatinya Poan Thian jadi bercekat dan menduga,
kalau-kalau ada hal sesuatu yang tidak diingini terjadi di
rumah makan itu. Tetapi dilahir ia berpura-pura
mengunjuk sikap yang tenang dan terus saja berjalan
menuju ke kamarnya Cin Kong Houw.
„Hei sahabat, tahan dulu!” teriak satu suara yang
nyaring dari sebelah belakang pemuda kita.
„Belum tahu tuan ada urusan apa memanggil aku?”
tanya Lie Poan Thian.
Orang tinggi-besar itu lalu menghampiri padanya
dengan sikap yang sombong dan menantang.
„Kemanakah kau mau pergi?” tanyanya dengan
suara ketus.
Poan Thian jadi mendongkol dan lalu menjawab
dengan secara ketus pula!
„Kemana aku hendak pergi, itulah ada urusanku
sendiri! Ada apa sih untungnya kau menanyakan
begitu?”
„Kurang ajar!” membentak orang itu, sambil berniat
akan menempiling pada si pemuda.
Tetapi Poan Thian segera miringkan sedikit
kepalanya, hingga tempilingan itu telah luput.
197
„Apakah kau hendak melawan aku?” teriak orang itu
dengan hati sangat penasaran.
Kemudian dengan tidak mengatakan „ba” atau ,bu” ia
lantas menjotos muka Lie Poan Thian, siapa, setelah
berkelit dan kasih liwat tinju itu di atas bahunya, lalu
putarkan tubuhnya sambil menggunakan siasat Yu-cengpwe-
pauw. Kedua tangannya dipergunakan untuk
mencekal tinju orang itu yang melalui di atas bahunya,
hingga dengan begitu, punggungnya pun jadi mendekati
pada dada orang tersebut, kemudian dengan kecepatan
bagaikan kilat, ia tarik tangan itu sambil membentak:
„Pergi!”
Dan berbareng dengan terputusnya bentakan itu,
Poan Thian telah melemparkan orang tinggi besar itu
bagaikan orang yang melemparkan bola ke tanah
lapang, hingga orang itu yang telah jatuh ke atas jubin
dengan kepala mendahului kaki, sudah tentu saja lantas
jatuh pingsan dan ditinggalkan oleh Poan Thian yang
menuju ke kamarnya Kong Houw dengan tindakan yang
tergopoh-gopoh.
Tatkala sampai ke depan pintu kamar, Poan Thian
mendengar suara berkerincingnya rantai yang dibarengi
dengan suaranya orang yang menyomel sambil
mengancam:
„Kau dan aku sebenarnya sahabat-sahabat baik yang
telah sekian lamanya bekerja di bawah satu majikan.
Tetapi kalau sekarang aku telah memperlakukan kau
begini rupa, itulah sama sekali bukan karena aku
melupakan pada persahabatan kita, hanyalah karena kau
telah melakukan pembunuhan terhadap pada Poo Tin
Peng dan sekalian keluarganya, dari itu, aku terpaksa
mengambil tindakan buat menangkap kau sebagai
seorang pembunuh! Sebagai seorang sahabat, aku boleh
198
memaafkan itu, tetapi sebagai seorang hamba negeri,
aku harus berlaku keras dan tidak memandang bulu!
Itulah sebabnya mengapa setelah sekian lamanya kita
bersahabat, barulah pada kali ini aku merasa perlu
mengambil tindakan tegas dan keras terhadap pada
dirimu. Maka kalau kau berani berbantahan atau
membikin perlawanan, golokku yang tidak bermata ini
akan memenggal kepalamu di seketika ini juga!”
Setelah itu, lalu terdengar suaranya Cin Kong Houw
yang tidak kalah sengitnya dan membentak: „Tutup
bacotmu! Di sini tidak ada soal sahabat atau bukan
sahabat! Jikalau kau mau menangkap, segeralah kau
boleh tangkap, perlu apakah mesti mendongeng panjang
lebar buat mencari kemenangan sendiri?”
„Kurang ajar!” teriak orang itu dengan amat
marahnya.
Sementara Lie Poan Thian yang kuatir Kong Houw
yang terluka dianiaya oleh pihak musuh-musuhnya, buruburu
berlompat masuk ke dalam kamar dan bikin seorang
militer yang berdiri di belakang pintu jadi terpental dan
jatuh mengusruk ke depan ranjang, karena terbentur
pintu yang didorongnya dari sebelah luar oleh pemuda
kita.
„Kau ini siapa?” membentak seorang militer lain yang
beroman keren dan bermisai, yang ketika itu justeru
sedang memborgol Cin Kong Houw.
Tetapi Poan Thian tinggal membelalakkan matanya
dengan tak bicara barang sepatah katapun.
Kemudian dengan pelembungi dada orang militer itu
lalu membentak: „Hei, anak kecil! Tahukah kau siapa aku
ini? Di tanah Ho-lam tak ada dua atau tiga orang yang
bergelar Sin-kun selain aku Tang Ngo ini, kau tahu?”
199
Mendengar omongan orang militer yang sombong itu,
Poan Thian lalu mengeluarkan suara jengekan dari
lobang hidung dan berkata: ,Perduli amat dengan segala
gelaran kosong! Aku di sini tidak gentar dengan segala
„tinju malaikat” atau „tinju iblis-iblis. Jikalau kau berani,
segeralah kau serang aku, jikalau kau takut, kau boleh
segera pergi persetan dari sini!”
Tang Ngo yang bersifat pemarah, sudah tentu saja
jadi amat gusar. Dengan satu teriakan keras ia lantas
menyerang pada Lie Poan Thian dengan sepasang
tinjunya.
Poan Thian yang melihat halaman kamar di situ agak
sempit, segera menyingkir dari pada pukulan itu sambil
berlompat keluar kamar, perbuatan mana, pun diikuti
juga oleh Tang Ngo yang membentak:
„Kau jangan lari!”
Tatkala berada di halaman pertengahan, barulah
kedua orang itu mulai berhantam dan menguji
kepandaian masing-masing dengan tidak banyak bicara
pula.
Dalam pada itu Poan Thian mendapat kenyataan,
bahwa ilmu kepandaian Tang Ngo ini sesungguhnya
tidak boleh dipandang ringan. Karena selain gerakgeriknya
amat sebat dan sesuatu pukulannya sukar
diduga, iapun mempunyai beberapa macam ilmu pukulan
yang Poan Thian belum pernah lihat dipergunakan orang
lain daripada Sin-kun Bu-tek Louw Cu Leng di kota
tumpah darahnya.
Maka sambil bertempur dengan orang militer itu,
pemuda kita jadi berpikir di dalam hatinya:
200
2.13. Makhluk Gaib di Leng-coan-sie
„Apakah orang ini ada salah seorang muridnya Louw
Cu Leng Lo-suhu di Cee-lam, yang juga pernah
mempunyai murid orang militer Teng Yong Kwie itu?”
Tetapi Poan Thian tak sempat berpikir atau
menduga-duga lebih jauh pula, karena Tang Ngo yang
melihat pemuda kita berlaku sedikit lambat dalam
penyerangan atau penangkisannya, bukan saja telah
menyangka bahwa Poan Thian tidak tahan lama dalam
pertempuran itu, malah hatinyapun diam-diam jadi girang
dan lalu menyerang dengan cara yang terlebih gencar,
sambil mengajukan ilmu-ilmu pukulan yang ia percaya
Poan Thian tak akan mampu jaga.
Tetapi, tidak kira, ketika sedang enaknya ia
merangsek. mendadak Poan Thian telah merubah siasat
perlawanannya dan terus menerjang pada Tang Ngo
dengan menggunakan ilmu tendangan yang bernama
Siang-hui-lian-hwan-tui.
Tendangan ini sifatnya bersamaan dengan ilmu
tendangan yang bernama Tan-hui-tui, tetapi
dipergunakannya agak berlainan sedikit.
Kalau dengan mempergunakan ilmu yang tersebut
belakangan orang hanya mempergunakan sebelah kaki
saja, adalah dengan ilmu tendangan yang tersebut
belakangan itu orang menendang dengan berturut-turut,
baik dengan kaki kanan maupun dengan kaki kiri, hingga
jikalau orang berlaku lengah sedikit saja, sudah pasti
dirinya bakal menjadi celaka oleh tendangan yang
sedemikian hebatnya itu.
Sin-kun Tang Ngo terkejut bukan main ketika melihat
serangan lawan yang sangat berbahaya dan lagi pula
sangat gencar itu, maka buru-buru ia melompat ke
201
samping buat menghindari serangan-serangan itu,
kemudian ia menjotos pilingan orang she Lie itu dengan
siasat „Menuang arak ke dalam cawan” yang tergolong
sebagai salah satu macam ilmu pukulan yang berbahaya
dari golongan siasat silat Ngo-houw-kun.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Kisah Asmara Guru Silat: SKYMDS 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments