Cerita Dewasa Silat Mandarin Lawas : Sian Li Engcu 2

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Silat Mandarin Lawas : Sian Li Engcu 2
Tiang Houw juga mulai mendongkol, karena ia mulai dihinggapi racun cemburu dan iri hati. Dianggapnya bahwa isterinya itu, setelah menjadi isterinya selama sepuluh tahun, tetap masih menyinta suami pertama.
„Apa kau merasa tidak bahagia menjadi isteriku?” demikian Tiang Houw bertanya pada beberapa hari yang lalu di dalam kamarnya. „Mengapa kau selalu masih ingat kepada suamimu yang dulu? Ingat, Cui Hwa, kau sudah menjadi isteriku selama sepuluh tahun dan kita sudah mempunyai Lian Hong maka seharusnya kau merasa puas dan melupakan hal yang sudah-sudah.”
„Sudah kucoba, namun sia-sia. Hampir setiap malam aku bermimpi melihat Kwee Seng yang membujukku agar supaya aku berusaha mencari pembunuhnya. Suamiku, kau adalah seorang gagah perkasa yang berkepandaian tinggi, di dunia kangouw namamu amat terkenal. Masa kau tidak bisa mencari pembunuh keji itu?”
Demikianlah percakapan itu, percakapan yang membuat Tiang Houw menjadi tak senang, cemburu dan iri hati,
100
dan yang membuat Cui Hwa selalu murung. Mulailah timbul suasana yang tegang di antara mereka.
Cui Hwa menganggap bahwa suaminya itu sengaja tidak mencari sungguh-sungguh untuk membalaskan sakit hati mendiang Kwee Seng, adapun Tiang Houw menganggap bahwa isterinya tidak menyintanya dan masih menyinta kepada suami pertama yang sudah meninggal dunia.
Ong Teng San pada waktu itu sudah dewasa, sudah berusia enambelas tahun, maka ia dapat merasakan suasana yang tidak menyenangkan ini. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani bertanya, hanya menghibur suasana itu dengan mengajak Lian Hong bermain-main.
Kedua orang tua itu hanya memandang saja dan mereka tiada nafsu untuk bercakap-cakap. Keadaan benar-benar tidak menyenangkan.
Teng San merasa sekali akan adanya hal yang tidak menyenangkan ini, maka ia lalu mengajak Lian Hong masuk.
„Adik Hong, kau tidurlah, besok bangun pagi-pagi dan kita berlatih silat. Kau masih kaku dalam mainkan jurus keenam, kakimu masih belum benar gerakannya,” kata Teng San.
Lian Hong cemberut. „Kau selalu mencela saja, San-ko. Ayah, kau lihatlah, masa gerakan begini masih terus disebut kurang sempurna oleh San-ko?”
101
Gadis cilik ini lalu bersilat di depan ayahnya, melakukan jurus keenam yang dimaksudkan oleh Teng San. Gerakannya lincah dan cepat dan ayahnya memandang dengan wajah gembira. Setelah Lian Hong berhenti bersilat, ayahnya berkata:
„Lian Hong, kau harus selalu menurut dan taat akan petunjuk kakakmu, kulihat memang gerakan kakimu kurang sempurna. Sekarang tidurlah, besok boleh dilatih lagi dan aku sendiri akan memberi petunjuk padamu.”
Lian Hong cemberut. Sebagai seorang anak manja, tentu saja ia tidak senang mendengar ayahnya juga mencela kepandaiannya. Maka ia menengok kepada ibunya.
„Ibu! bukankah gerakanku tadi sudah baik sekali?”
Semenjak kecil, kalau Lian Hong bertanya sesuatu kepada ibunya, selalu ibunya memujinya, apalagi dalam ilmu silat memang Cui Hwa tidak tahu apa-apa. Untuk menyenangkan hati puterinya, dan untuk menambah semangatnya, ia selalu memuji begitu saja. Akan tetapi kali ini, jawabannya tidak saja mengejutkan Lian Hong, juga amat mengejutkan hati Teng San.
„Apa sih baiknya segala gerakan silat itu? Ilmu yang kasar tiada gunanya, hanya bisa dipakai untuk main sombong-sombongan! Lian Hong, lebih baik kau belajar menulis dan menyulam, tidak mempelajari ilmu silat yang tidak ada gu-nanya sama sekali itu!” kata-kata ini terdengar keras dan ketus dan biarpun Cui Hwa bicara kepada Lian
102
Hong, namun ia mengerling ke arah suaminya, penuh celaan.
Mendengar jawaban ini, Lian Hong yang amat manja lalu menangis.
Teng San maklum bahwa ada sesuatu yang tidak baik telah terjadi antara ayah dan ibu tirinya, dan tidak baik kalau Lian Hong yang masih kecil tahu akan hal ini. Maka Teng San lalu menggandeng tangan adiknya dan diajak pergi ke kamarnya.
„Ibu sedang tak senang pikirannya, jangan kita mengganggunya,” kata Teng San sambil mengusap air mata dari pipi adik tirinya. „Kau tidurlah dan besok ibu tentu akan bicara manis lagi kepadamu.”
Setelah menghibur hati Lian Hong dan melihat adiknya itu akhirnya tertidur, Teng San lalu berjalan keluar. Ia telah cukup dewasa dan berhak mengetahui apakah yang diributkan oleh kedua orangtua itu. Ia ingin menghampiri mereka, ingin menghibur ibu tirinya dan ingin bertanya kepada mereka tentang kesusahan mereka agar ia dapat ikut memikirkan dan bantu memecahkan persoalannya.
Akan tetapi ketika ia tiba di belakang pintu yang menembus ke ruang depan, ia mendengar ayah dan ibu tirinya bicara dengan perlahan akan tetapi nadanya menyatakan bahwa mereka sedang marah dan bercekcok. Hal ini belum pernah terdengar oleh Teng San sebelumnya, maka ia menahan kakinya dan mendengar dengan wajah berobah.
103
„Cui Hwa, kau selalu menyinggung-nyinggung soal itu. Apakah kau masih menyinta suamimu yang sudah tewas itu dan apakah kau masih belum dapat menghilangkan rasa penasaranmu atas kematiannya?” terdengar Tiang Houw berkata tak senang.
„Tentu saja aku masih menyintanya! Sebelum aku bertemu dengan kau, Kwee Seng adalah suamiku, bagaimana aku tidak menyinta suamiku sendiri? Dia seorang yang berbudi baik, suka menolong orang-orang miskin, kemudian ia menjadi korban pembunuhan secara keji, bagaimana aku tidak penasaran? Sekarang, kau suamiku yang memiliki kepandaian silat tinggi, yang katanya sudah menjagoi di dunia kangouw, melihat kau berpeluk tangan saja, sama sekali tidak mau berusaha untuk mencari pembunuh mendiang Kwee Seng, bukankah hal ini menambah rasa penasaranku?” Suara Cui Hwa makin keras dan terdengar ia tergesa-gesa menahan amarah yang meluap-luap.
Mendengar kata-kata kedua orangtua itu, maklumlah Teng San akan pokok persoalan yang mereka ributkan. lbu tirinya menghendaki agar supaya pembunuh suaminya yang dahulu dicari agar sakit hati suaminya itu dapat dibalas, sedangkan ayahnya agaknya tidak menyetujui akan hal itu. Maka untuk menghilangkan suasana yang buruk itu, Teng San lalu membuka pintu dan maju memeluk pundak ibu tirinya yang kini sudah menangis terisak-isak.
„Ibu, senangkanlah hatimu, ibu. Jangan ibu khawatir, anakmu Teng San yang akan berusaha mencari
104
pembunuh mendiang suamimu yang pertama. Percayalah, anakmu Teng San yang akan menyeret jahanam itu di depan kaki ibu……”
„Teng San……, kau gila……!!” Tiang Houw membentak dengan muka pucat.
Teng San berpaling kepada ayahnya. „Mengapa gila, ayah? Ibu sedang menderita dan penasaran bukankah sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti, untuk mencari orang yang menyakiti hatinya?”
Tiang Houw merasa kedua kakinya gemetar, maka ia menjatuhkan diri duduk di atas kursi sambil menghela napas panjang berkali-kali. „Semua salahku…… semua salahku sendiri……” ia berbisik lemah.
„Cui Hwa, ketahuilah, orang yang membunuh Kwee Seng suamimu itu……, dia adalah seorang yang sudah disakitkan hatinya oleh kaum bangsawan dan hartawan, seperti halku pula. Dalam dendamnya, dia ikut dalam pasukan yang membasmi dua golongan itu……”
„Jadi kau sudah tahu siapa dia?” tanya Cui Hwa dengan mata terbuka lebar.
„Dia membunuh Kwee Seng bukan berdasarkan kebencian perseorangan, Cui Hwa, akan tetapi dia akan membunuh siapa saja asal ia hartawan atau bangsawan. Ketika ia membunuh Kwee Seng, ia tidak tahu siapa itu yang dibunuhnya, kecuali bahwa yang dibunuhnya itu seorang hartawan.”
105
„Kalau kau sudah tahu siapa dia, mengapa tidak lekas-lekas menyeretnya ke sini?” Cui Hwa menuntut, penuh dengan rasa penasaran.
Tiang Houw menarik napas panjang. „Cui Hwa, orang itu sekarang sudah amat menyesal atas semua perbuatannya yang sudah lalu. Apakah kau tidak bisa mengampuni orang yang melakukan sesuatu tidak berdasarkan kebencian terhadap suamimu itu, dan yang sekarang sudah merasa menyesal?”
„Seret dia dulu kesini, biar aku bicara sendiri dengan dia, baru aku akan mengambil keputusan,” jawab Cui Hwa.
„Dia…… dia malu untuk bertemu denganmu, malu untuk mengakui semua perbuatannya kepadamu……”
„Kalau begitu dia pengecut, pengecut yang harus dibikin mampus!” Dada Cui Hwa berombak.
Tiba-tiba Tiang Houw berdiri dari kursinya. Orang boleh memaki pendekar ini dengan sebutan apapun juga, akan tetapi jangan sekali-kali ia disebut pengecut. Semenjak kecilnya, Tiang Houw paling benci kepada pengecut, maka makian pengecut baginya lebih merendahkan daripada makian apapun juga.
„Cui Hwa, aku bukan pengecut!”
Cui Hwa menjadi pucat sekali mukanya, sedangkan Teng San sekarang juga sudah berdiri memandang ayahnya dengan mata terbelalak kaget. Melihat ini, Tiang Houw
106
mengangguk-angguk, menghela napas dan berkata dengan tenang:
„Ya, akulah orang itu, Cui Hwa. Akulah pemimpin dari pasukan Kay-sin-tin, akulah yang menggerakkan penumpasan para bangsawan dan hartawan, dan aku pulalah yang telah membunuh suamimu, Kwee Seng. Kau boleh berbuat apa saja kepadaku, hanya jangan memaki aku pengecut……”
Sampai beberapa detik Cui Hwa berdiri seperti patung, hanya dadanya yang naik turun bergelombang, mulutnya beberapa kali terbuka akan tetapi tidak mengeluarkan suara apa-apa. Kemudian terdengar ia menjerit nyaring dan tubuhnya limbung. Ia roboh pingsan dan tentu akan terjatuh kalau tidak cepat-cepat dipeluk oleh Teng San.
Melihat halnya ibu tirinya, Teng San tak dapat menahan keluarnya dua titik air mata yang membasahi pipinya. Sambil memondong tubuh ibunya, Teng San berdiri dan memandang kepada ayahnya melalui linangan air mata.
„Ayah, kau membunuh suaminya lalu…… lalu mengambilnya sebagai isterimu……?” suaranya sayu dan mengandung nada benci.
Tiang Houw menjadi pucat. „Tidak…… tidak begitu, Teng San……. dengarlah dulu keteranganku……”
Akan tetapi dengan isak tertahan, pemuda itu telah membawa lari ibu tirinya yang dipondong, menuju ke kamar ibu tirinya. Dengan hati-hati ia membaringkan
107
tubuh Cui Hwa dan mempergunakan air dingin untuk membasahi jidat ibu tirinya.
Cui Hwa tersadar dan mengeluh, menyebut-nyebut nama In Hong dan Kwee Seng. Ia merasa berdosa besar, merasa malu kepada diri sendiri. Suaminya mati terbunuh, anaknya entah bagaimana nasibnya dan dia…… dia telah diperisteri oleh pembunuh suaminya itu, hidup dengan penuh kesenangan seakan ia tidak perduli akan nasib Kwee Seng dan In Hong! Inilah yang amat menyakitkan hatinya.
„Ibu, tenanglah, ibu…… akulah yang akan menanggung semua dosa ayah……,” kata Teng San terharu.
Cui Hwa memandang kepada pemuda itu. „Pergilah kau...! Pergi dan jangan dekat dengan aku!” Wajah Teng San memang serupa benar dengan Tiang Houw, dan persamaan ini membuat Cui Hwa tiba-tiba marah terhadap Teng San.
Teng San terisak dan mundur, lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak lama kemudian ia mendengar ayahnya memanggil-manggil namanya dan mengetuk-ngetuk pintu, akan tetapi Teng San diam saja, tidak menjawab. Di luar pintu, dengan wajah pucat Tiang Houw memanggil-manggil nama Teng San. Ingin ia memukul pecah daun pintu itu, ingin ia menjelaskan semua itu kepada puteranya, akan tetapi ia menekan perasaannya dan kemudian berjalan pergi ke kamarnya sendiri sambil menarik napas panjang berulang-ulang.
108
Dan pada keesokan harinya, suami isteri ini kembali mengalami hal yang lebih hebat, yakni dengan lenyapnya Teng San bersama Lian Hong! Pemuda yang hancur hatinya itu ternyata telah lari minggat sambil membawa adik tirinya, entah kemana.
Cui Hwa menangis menggerung-gerung ketika melihat Lian Hong lenyap. Ia menudingkan jarinya kepada Tiang Houw, sambil menangis ia memaki: „Kaulah yang mengakibatkan semua ini, kau…… kau pembunuh…… kau pengecut……!”
Tiang Houw lari maksud mengejar Teng San dan Lian Hong, namun sia-sia belaka karena kepandaian Teng San sudah tinggi, ilmunya berlari cepat sudah menyamai ayahnya dan selain telah tertinggal jauh, juga Tiang Houw tidak tahu kemana arah tujuan puteranya itu.
Semenjak itu, kehidupan Cui Hwa dan Tiang Houw penuh kegetiran, seakan-akan mereka hidup di dalam neraka. Cui Hwa setiap hari termenung, kadang-kadang menangis sedih, sama sekali tidak mau bicara kepada Tiang Houw.
Sebaliknya, Tiang Houw yang tidak dikenal lagi oleh isterinya, merasa begitu perih hatinya, apalagi kalau ia mengingat betapa pandangan Teng San terhadapnya amat rendah. Ia mendapat pukulan batin yang berat sekali kalau ia mengingat bahwa Teng San menganggapnya berbatin amat rendah, seorang yang membunuh suami dan merampas isteri!
109
Demikianlah menjadi kenyataan bahwa penghidupan manusia selalu berobah, kebahagiaan tidak kekal adanya dan siapa yang tidak kuat menerima rezeki atau ujian yang jatuh kepada diri dan keluarganya, ia akan rusak binasa. Tiang Houw juga demikian, pendekar yang gagah perkasa ini lalu meninggalkan rumahnya, merantau ke sana ke mari seperti seorang berobah ingatan. Merantau kemana saja untuk mencari tiga orang, yakni In Hong, Teng San, dan Lian Hong!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, di dalam perantauannya itu Tiang Houw bertemu dengan Wi Tek Tosu tokoh Go-bi-pay dan dia berhasil mencegah tosu yang sakit hati terhadap Hek Moli ini merusak jenazah Hek Moli. Bahkan pendekar ini lalu mengurus dan mengubur jenazah Hek Moli baik-baik. Hal ini terjadi tiga tahun semenjak Teng San dan Lian Hong pergi meninggalkan rumah.
◄Y►
Kwee In Hong yang diusir oleh gurunya untuk turun-gunung dan mencari orang tuanya, tentu saja tidak tahu akan malapetaka yang menimpa diri gurunya. Gadis ini turun gunung dengan cepat, menuju ke kota See-ciu sebagaimana pesan gurunya.
Kalau orang melihat gadis itu berjalan, dia pasti takkan mengira bahwa gadis ini adalah murid tunggal dari Hek Moli dan telah memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan gurunya sendiri! Bahkan mungkin sekali In Hong lebih tangguh daripada Hek Moli, karena selain ia lebih
110
muda dan kuat, juga ia mempunyai gerakan yang lebih ringan. Tentu saja ia masih kalah jauh dalam pengalaman.
Siapa yang akan mengira bahwa gadis yang cantik manis, yang berkulit putih halus, dan yang mempunyai lenggang demikian halus gemulai, yang gerak geriknya lemah lembut, adalah seorang ahli silat tniggi? In Hong adalah anak dari ayah bunda yang terpelajar dan yang mempunyai watak halus, maka sifat ini menurun kepadanya. Akan tetapi, selama belasan tahun dibawah asuhan Hek Moli, kekerasan hati Iblis Wanita Hitam ini juga menurun kepadanya. Di balik gerak geriknya yang lemah lembut, tersembunyi hati yang keras seperti baja dan keberanian yang hebat. Bahkan, sifat-sifat Hek Moli yang ganas menurun pula kepadanya.
Seperti juga gurunya, In Hong melakukan perjalanan dengan membawa sebatang tongkat hitam, akan tetapi tongkatnya ini kecil saja, sebesar ibu jari kaki, panjangnya sama dengan pedangnya yang diikat di belakang punggung. Di dalam sebuah kantong yang tergantung di ikat pinggangnya, tersembunyi senjata rahasia yang mengerikan orang-orang kangouw, yakni pasir hitam yang kalau dipergunakan disebut toat-beng-hek-kong (sinar hitam pencabut nyawa)! Pedang Liong-gan-kiam pemberi gurunya hanya kelihatan ronce-ronce merahnya saja yang melambai-lambai tertiup angin di atas pundaknya.
Setelah turun dari puncak Ciung-lai-san dan menyaksikan pemandangan yang indah, lenyaplah kesedihan In Hong
111
karena harus berpisah dari gurunya. Ia berhenti dan dari atas lereng bukit ia memandang ke bawah.
Dunia seakan-akan sehelai lukisan indah yang dibuka dihadapan kakinya. Nampak dusun-dusun dengan genteng rumah yang kemerahan, nampak sungai-sungai yang airnya kelihatan membiru dan berlika liku. Sawah-sawah menghijau amat indahnya. Semua ini seakan-akan melambai-lambai kepada In Hong, menyuruh gadis itu segera turun menemui semua itu.
In Hong menjadi gembira dan ia lalu berlari turun dari lereng dengan kecepatan seperti burung terbang. Kedua kakinya ringan sekali dan orang akan menyangkanya semacam peri penjaga gunung kalau melihat dia melayang-layang seperti itu. Tentu saja gadis ini bukannya melayang, melainkan berlari cepat, akan tetapi gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga ia kellhatan seperti tidak menginjak bumi.
Ia mengeluarkan ilmu lari cepat yang disebut Teng-in-hui (Terbang menginjak awan)! Akan tetapi bagi mata seorang ahli silat tinggi, tentu akan dapat melihat gerakan seorang wanita cantik jelita yang berlari cepat dengan gerakan indah gemulai, sehingga ia tentu akan mengira bahwa yang berlari turun gunung itu adalah seorang bidadari atau utusan dari Koan Im Pouwsat!
Akan tetapi, gunung Ciung-lai-san amat sunyi dan tidak ada orang yang melihat gadis ini berlari. Setelah turun gunung dan lalu masuk dusun-dusun kecil, barulah In Hong berjalan biasa agar jangan menarik perhatian orang
112
lain. Namun tetap saja hampir semua orang, apalagi laki-laki, menoleh dan memandang kepadanya. Bukan hanya karena pakaiannya yang indah dan berbeda dengan wanita-wanita dusun, akan tetapi juga jarang sekali orang melihat seorang gadis muda yang demikian cantik jelita, apalagi yang melakukan perjalanan seorang diri.
2.2. Pencaharian Ayah Ibu Kandung.
Hanya karena orang melihat ronce-ronce gagang pedang Liong-gan-kiam maka orang tidak berani bersikap sembarangan terhadapnya. Mereka dapat menduga bahwa seorang gadis muda yang berani melakukan perjalanan seorang diri, apa-lagi yang membawa-bawa pedang, tentulah seorang ahli silat yang sudah tinggi kepandaiannya.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, sikapnya yang halus dan uang bekal yang banyak dari gurunya, In Hong dapat melakukan perjalanan tanpa banyak rintangan. Bahkan ia telah membeli seekor kuda dari seorang pedagang kuda, dan melanjutkan perjalanannya ke See-ciu dengan berkuda. Memang harus diakui bahwa In Hong tidak biasa naik kuda, namun dengan kepandaian silatnya yang sudah tinggi, sebentar saja dapat menyesuaikan diri dan dapat duduk di atas punggung kuda dengan enak dan tegak.
Beberapa bulan kemudian, setelah melakukan perjalanan yang amat jauh, sampailah ia di kota See-ciu. Hatinya berdebar penuh ketegangan dan pertanyaan. Apakah ia akan dapat bertemu kembali dengan ayah bundanya di
113
kota ini? Ia hanya masih ingat wajah ibunya, seorang wanita yang cantik sekali, akan tetapi wajah ayahnya ia sudah lupa lagi.
Yang masih teringat betul olehnya malah wajah inang pengasuhnya yakni Can Mama dan In Hong suka tertawa seorang diri kalau ia ingat kepada inang pengasuh ini. Masih terbayang olehnya betapa Can Ma suka mendongeng sambil memangkunya, dan boleh dibilang ia lebih dekat dengan Can Ma daripada de-ngan ayahnya.
Mudah saja baginya untuk mendapatkan rumah Yo-wangwe. Semua orang di kota See-ciu mengenal nama Yo Tang atau Yo-wangwe yang tinggal di sebuah gedung besar dan indah, berdagang hasil bumi dan bahan obat-obatan. Karena perdagangannya ini maka di bagian depan dari rumah gedungnya terdapat gudang-gudang dengan pekarangan amat lebar. Banyak orang sibuk bekerja di depan gudang-gudang itu, mengeluar masukkan barang dan keadaan disitu berdebu dan kotor.
Semua pekerja tiba-tiba menghentikan pekerjaan mereka ketika mereka melihat seorang gadis cantik berpakaian biru memasuki pekarangan itu dan mereka memandang dengan kagum, juga agak terheran-heran. Memang merupakan penglihatan yang jarang sekali adanya seorang gadis cantik jelita muncul di tempat itu seorang diri.
Ketika baru bertemu dengan orang-orang yang memandangnya seperti itu, mula-mula memang In Hong merasa jengah dan malu-malu, juga agak marah. Akan
114
tetapi sekarang ia sudah merasa biasa, bahkan bibirnya tersenyum mengejek kalau ia melihat mata laki-laki seakan-akan hendak menelannya.
Kini ia menghampiri mereka yang bekerja itu, lalu bertanya: „Sahabat-sahabat, apakah disini tempat tinggal Yo Tang?”
Seorang di antara para pekerja itu, yakni mandornya, cepat melangkah maju dan menjawab: „Betul dugaanmu, nona. Kau siapakah dan darimana?”
Semua orang memperhatikan In Hong dan ingin sekali mendengar siapa adanya gadis ini, namun In Hong mengecewakan mereka dengan jawaban sembarangan: „Kalau betul di sini rumah Yo-wangwe, tolong beritahukan bahwa aku datang membawa keperluan amat penting.”
“Akan tetapi, kau siapakah, nona? Dan dari mana? Bagaimana kalau dia tanya tentang hal ini kepadaku?”
„Minta saja dia keluar, aku mau bicara sendiri dengan dia,” jawab In Hong singkat. Ia memang merasa segan untuk memperkenalkan diri kepada orang-orang yang memandangnya seperti itu.
„Akan tetapi, nona, aku harus ketahui siapa kau……” kata mandor itu dan kini ia memandang dengan curiga ke arah gagang pedang yang tersembul dari balik punggung gadis itu.
115
„Dia adalah paman dari ibuku, cukupkah ini?” kata In Hong yang merasa gemas juga melihat desakan orang itu.
Mendengar ini, mandor itu tidak berani mendesak lagi. Kalau nona ini masih terhitung sanak dari Yo-wangwe, ia tidak boleh keterlaluan. Berobahlah sikapnya dan ia membungkuk sambil berkata:
„Ah, mengapa tidak dari tadi kau memberitahu bahwa kau masih cucu dari Yo-loya? Mari, silakan ikut dengan aku, nona. Yo-loya tinggalnya di rumah gedung sebelah belakang. Di depan ini hanya gudang-gudang tempat orang bekerja.”
Dengan diikuti oleh pandang mata semua orang yang bekerja disitu, In Hong berjalan bersama mandor itu, melewati samping gudang menuju ke sebuah rumah besar yang berdiri di belakang gudang-gudang itu. Para pekerja itu sibuk kembali, akan tetapi kini mulut mereka tiada hentinya bicara memuji kecantikan gadis yang baru tiba itu.
„Cantik jelita benar-benar gadis tadi,” kata seorang.
„Dan pedang itu, ia kelihatan gagah. Apakah benar-benar ia pandai main pedang?” kata orang kedua.
„Ah, gadis sehalus dan secantik itu mana bisa main pedang? Senjata hanya untuk hiasan belaka, atau paling-paling untuk menakut-nakuti penjahat agar tidak berani
116
mengganggunya,” kata orang ketiga yang terkenal pandai silat di antara para pekerja itu.
In Hong memiliki pendengaran yang amat tajam terlatih. Kalau mandor yang mengantarkannya tidak dapat menangkap kata-kata itu, adalah gadis ini mendengar dengan jelas sekali. Namun ia tidak ambil perduli, hanya tersenyum kecil sambil memperhatikan rumah gedung yang ia hadapi. Rumah ini benar-benar besar dan mewah, pintu-pintunya dicat kuning dan temboknya tebal, dikapur putih bersih.
„Kau duduklah dulu, nona, biar aku yang melaporkan ke dalam,” kata mandor itu.
In Hong mengangguk dan mengambil tempat duduk di atas sebuah bangku yang banyak terdapat di ruang depan itu. Mandor itu lalu menghampiri pintu dan hendak masuk, akan tetapi tiba-tiba dari dalam keluarlah seorang pemuda yang ganteng dan berpakaian sebagai jago silat. Gayanya memang gagah dan sikapnya menunjukkan bahwa ia memiliki tenaga besar.
„Ah, kebetulan sekali kau keluar, kongcu. Aku hendak menghadap lo-ya……”
„Kwa-lopek, ada apakah dan……?” Pemuda itu menoleh ke arah In Hong dan matanya terbuka lebar, mulutnya ternganga. „Siapa…… eh……” Ia gagap dan mukanya menjadi merah, malu karena kebingungan dan kegugupannya sendiri.
117
In Hong sudah berdiri dan menjura. Adapun mandor itu laiu memperkenalkan: „Kongcu, nona ini adalah seorang tamu yang ingin berjumpa dengan Yo-loya. Katanya dia adalah masih sanak keluarga. Eh, nona, ini adalah Yo-kongcu, cucu dari Yo-loya.”
In Hong memberi hormat, lalu berkata: „Harap maafkan kalau aku mengganggu. Kedatanganku ini hanya untuk menanyakan sesuatu kepada Yo-wangwe, tentang ayah bundaku.”
Pemuda itu melangkah maju. „Kau siapakah, nona? Kalau masih keluarga kong-kong (kakek), mengapa aku tidak kenal padamu?”
In Hong tersenyum dan jantung pemuda itu melompat-lompat di dalam rongga dadanya. „Memang kita belum pernah saling bertemu. Ketahuilah bahwa ibuku adalah keponakan kong-kongmu itu, dan ibuku bernama Yo Cui Hwa
Mendengar disebutnya nama ini, wajah pemuda itu berseri dan ia berkata kepada mandor tadi: „Kwa-lopek, dia adalah saudara sendiri dengan aku, kau kembalilah ke tempat kerjamu.”
Mandor itu membungkuk lalu pergi keluar.
„Kau…… benar-benarkah kau puteri dari bibi Cui Hwa dan kaukah anak yang dulu hilang bersama Can Mama itu?” tanya pemuda ini, masih ragu-ragu dan memandang kepada wajah yang jelita itu.
118
In Hong menjadi terharu. Kalau pemuda ini mengenal Can Mama dan tahu akan semua nasib yang diwaktu kecil ia alami, ia tidak ragu-ragu lagi bahwa ia datang di tempat yang betul.
„Benar,” katanya girang, „namaku adalah In Hong, Kwee In Hong. Dimana ayah bundaku? Apakah mereka berada disini?”
„Marilah ikut aku masuk ke dalam, moy-moy. Kau adalah adik misanku sendiri. Namaku Yo Kang, aku sudah banyak mendengar dari ayah tentang ibu dan ayahmu dan kau juga. Aku lebih tua dua tahun darimu dan aku mendengar kau dibawa pergi oleh seorang Iblis Wanita bernama Hek Moli……” Ia melihat ke arah gagang pedang yang tersembul dari balik punggung gadis itu. „Ah, siauw-moy, alangkah akan terkejut dan girangnya hati kong-kong dan ayah ibuku melihat kau datang dalam keadaan selamat,” Yo Kang, pemuda itu, bicara dengan cepat sekali sehingga In Hong menjadi bingung mendengarkannya.
„Dimana ayah bundaku?” tanyanya dan hatinya berdebar gelisah.
„Marilah kita masuk dulu, banyak yang harus kau dengar.”
Masuklah mereka ke dalam gedung yang ternyata indah dan penuh dengan perabot rumah yang mahal dan bagus.
Mula-mula yang menyambut In Hong adalah Yo Hang Tek, ayah Yo Kang, seorang laki-laki berusia empatpuluh
119
lebih yang sudah putih semua rambutnya dan nampak tua, tubuhnya tinggi besar seperti Yo Kang, namun sikapnya lemah lembut. Yo Hang Tek keluar menyambut bersama isterinya, ibu Yo Kang, yang kurus sekali tubuhnya, akan tetapi wajahnya masih kelihatan cantik. Yo Hang Tek memandang kepada In Hong dengan mata terbelalak, kemudian ia memegang pundak gadis itu dan dua matanya basah.
„In Hong, kau…… kau seperti ibumu benar! Aduh, nak, sudah belasan tahun kami putus asa dan mengira bahwa kau sudah tewas.”
Melihat sikap pamannya ini dan mendengar kata-katanya, tak terasa pula sepasang mata In Hong yang bening itu berlinang. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pamannya.
„Yo-pekhu, anak In Hong mohon penjelasan mengenai nasib ayah dan ibu.”
„Nanti dulu, In Hong, marilah kau menghadap kepada kakekmu, dan disana nanti kita bercakap-cakap,” kata Yo Hang Tek dan mereka lalu masuk ke dalam ruang belakang dimana kakek Yo Tang sudah menanti di atas korsinya yang besar dan empuk. Kakek ini sudah tua, duduk dengan enaknya sambil mengisap pipa tembakau yang panjang. Seluruh ruangan itu berbau asap tembakau.
120
In Hong lalu melangkah maju dan berlutut menghaturkan hormat, sedangkan kakek itu mengangguk-angguk sambil meniup asap dari mulutnya.
„Hm, kau benar-benar serupa dengan Cui Hwa. Duduklah dan ceritakan semua pengalamanmu. Siapa namamu? Aku sudah lupa lagi.”
„Namaku Kwee In Hong……,” kata In Hong lirih.
„Siapa?” kakek itu majukan kepalanya dan miringkan muka untuk mendengarkan lebih jelas.
„In Hong, bicaralah agak keras, kong-kong sudah kurang pendengarannya,” kata Yo Kang kepada In Hong.
Terpaksa In Hong bicara dengan keras, akan tetapi gadis ini hanya mengerahkan khikangnya dan sungguhpun suaranya bagi orang lain biasa saja, namun karena ditujukan kepada kakek itu, Yo Tang dapat mendengar dengan baik. Melihat In Hong bicara masih biasa saja, Yo Hang Tek dan semua orang takut kalau-kalau kakek itu tidak mendengar, akan tetapi aneh, kakek itu ternyata mengangguk-angguk senang.
„Hm, bagus sekali, aku sekarang ingat, namamu In Hong. Nah, kau ceritakanlah semua pengalamanmu, In Hong.”
Hati In Hong kecewa sekali. Ia tidak melihat ayah ibunya disitu, bahkan tidak melihat Can Mama, padahal ia ingat betul bahwa dulu ketika ia dibawa pergi oleh Hek Moli,
121
Can Mama hendak pergi ke See-ciu dan mereka dahulu sudah berada di luar kota.
Apakah Can Mama sudah mati? Akan tetapi, ia merasa tidak pantas kalau ia tidak menurut kehendak kakek itu, maka dengan ringkas ia bercerita bahwa ia memang dibawa oleh Hek Moli yang suka kepadanya dan mengambilnya sebagai murid selama empatbelas tahun. Ia tidak menuturkan panjang lebar tentang ilmu-ilmu silat yang ia pelajari, hanya menyatakan bahwa nenek itu amat baik kepadanya.
„Aah, disukai oleh seorang iblis wanita seganas Hek Moli, benar-benar bukan hal yang baik. Biarpun aku belum pernah bertemu dengan dia, namun namanya yang busuk sudah sampai di mana-mana dan siapakah yang tidak takut mendengar namanya?” kata kakek itu.
In Hong tidak senang sekali mendengar ini dan tanpa disengaja ia memandang ke arah kakeknya dengan mata bersinar.
Yo Kang yang sejak tadi memandang kepada gadis itu dengan penuh perhatian, dapat menangkap pandang mata yang penuh kedongkolan ini, maka ia bicara, tidak cukup keras sehingga kakeknya tidak mendengarnya: „Hek Moli adalah seorang tokoh kangouw yang namanya amat disegani dan sepanjang pendengaranku, biarpun lihay sekali ilmunya, namun ia tidak pernah melakukan kejahatan.”
122
Mendengar ini, In Hong melirik ke arah Yo Kang dengan pandangan mata terima kasih, akan tetapi diam-diam gadis ini juga heran. Bagaimana kakak misan ini tahu tentang dunia kangouw? Ia tidak mau pusingkan hal itu, dan dengan tergesa-gesa ia lalu bertanya kepada Yo Hang Tek: „Pek-hu, dimana adanya ayah ibuku, dan mana pula Can Mama? Apakah mereka tidak berada disini?”
Yo Hang Tek menarik napas panjang, lalu ia bicara dengan suaranya yang halus: „In Hong, ayahmu dan ibumu tidak pernah sampai kesini. Tadinya kami sendiri tidak tahu kemanakah perginya mereka itu. Akan tetapi setelah kakakmu Yo Kang ini pergi menyelidiki, kami mendengar dari seorang perwira yang dulu menolong dusun Tiang-on yang diserang oleh para penjahat itu, katanya mereka telah menemukan ayahmu yang telah tewas oleh penjahat di hutan.”
Pucat wajah In Hong dan kalau saja ia tidak sudah matang latihannya dalam ilmu lweekang dan samadhi, mungkin ia akan menjerit atau jatuh pingsan. Namun ia menguatkan hatinya dan bahkan masih dapat bertanya, suaranya tetap tenang:
„Yo-pekhu, siapakah yang menewaskan ayah dan dimana beliau dimakamkan?”
Yo Hang Tek saling pandang dengan isterinya, agaknya mereka heran melihat ketenangan gadis ini, akan tetapi Yo Kang memandang penuh kekaguman. Pemuda ini pernah belajar ilmu silat dan ia menghargai kegagahan,
123
maka melihat sikap In Hong ia suka dan kagum sekali. Ia benci melihat wanita lemah yang mudah menangis dan mudah jatuh pingsan.
„Hong-moy, aku yang menyelidiki urusan itu, dan aku hanya mendengar bahwa ayahmu tewas dalam keributan, tidak tahu siapa yang melakukan pembunuhan itu, dan jenazahnya dirawat oleh pasukan pemerintah, kini dimakamkan di luar dusun Tiang-on. Aku sudah mengurus kuburannya dan memasang bong-pay (batu nisannya). Kelak kuantar kau mengunjungi makamnya.”
In Hong memandang kepada pemuda itu dan kembali ada sinar terima kasih dalam matanya.
„Dan bagaimana dengan…… ibuku……?”
Setelah mengajukan pertanyaan ini, hati In Hong berdebar. Sungguhpun sekuat tenaga ia menekan perasaannya, namun ia takut bahwa kali ini kalau mendengar berita buruk tentang ibunya, ia takkan dapat menahan tangisnya lagi. Ia merasa amat gelisah dan takut.
„Itulah yang membingungkan kami, Hong-moy. Aku sudah mencari ke mana-mana, sudah menyebar kawan-kawan untuk menyelidiki, akan tetapi ibumu hilang lenyap tak meninggalkan jejak. Benar-benar aneh sekali. Tak seorangpun tahu kemana perginya ibumu.”
Mendengar keterangan ini, hati In Hong tidak karuan rasanya. Ada perasaan lega bahwa ia tidak mendengar
124
ibunya telah tewas, akan tetapi juga ia menjadi bingung, karena kemanakah ia harus mencari ibunya? Ketika ia memandang kepada pek-hunya, Yo Hang Tek berkata
„Yang aneh sekali adalah urusan Can Ma. Pelayan tua itu sudah sampai disini, dan dialah yang bercerita bahwa kau dibawa pergi oleh Hek Moli. Akan tetapi, baru kurang lebih setengah bulan setelah ia berada disini, pada malam harinya tahu-tahu ia lenyap dari kamarnya! Tadinya kami mengira bahwa dia diculik pula oleh Hek Moli……”
“Tidak, guruku tidak pernah menculik Can Ma!” kata In Hong.
„Hm, memang aneh sekali hal ini, Hong-moy. Sayang ketika hal itu terjadi, aku masih kecil. Kalau sekarang, agaknya penjahat yang menculik Can Ma itu akan dapat kutangkap!”
In Hong memandang kepada pemuda ini yang berdiri tegak sambil mengangkat dada, kelihatannya memang gagah sekali. Kembali hati In Hong bingung dan menduga-duga.
Siapakah yang telah menculik Can Ma? Ia menduga-duga dan otaknya yang cerdik bekerja keras. Tentu ada hubungannya dengan ibunya yang hilang, pikirnya, kalau tidak, siapakah yang mau menculik pelayan tua itu?
,Apakah Can Ma tidak diam-diam pergi dari rumah ini?” tanyanya.
125
„Tidak mungkin. Mengapa ia harus pergi minggat? Dan pula, ada tanda-tanda jendela dibongkar orang dari luar. Pasti ada yang menculiknya,'' kata Yo Hang Tek.
Setelah semua orang berhenti bicara. kakek Yo batuk-batuk dan ia sudah merasa amat gemas karena ia tidak dapat mendengar percakapan itu dengan jelas. Suara batuk-batuk ini sudah dikenal baik oleh semua keluarga disitu. yakni bahwa si tua itu menghendaki supaya semua orang berhenti bercakap-cakap dan bubar.
„In Hong, sekarang kau sudah datang, itu bagus sekali. Kau harus tinggal disini dan tidak boleh keluar dari rumah. Tidak patut seorang gadis yang sudah remaja keluar dari rumah, terlihat oleh orang-orang lelaki yang bukan keluarganya! Biarpun kau sudah menjadi murid Hek Moli, aku tidak suka melihat kau berkeliaran di dunia luar rumah keluarga. Kau tinggal disini, belajar menyulam dan kerajinan tangan lain dari bibimu, dan kelak aku akan mencarikan calon jodoh yang baik untukmu.” Sambil berkata demikian, kakek ini menyedot huncwenya (pipa tembakaunya) dan melambaikan tangan menyuruh semua orang keluar dari situ.
Bukan main mendongkolnya hati In Hong. Ingin ia mendamprat kakek itu yang menghina gurunya, ingin ia berlari keluar dari rumah besar ini, karena untuk apakah ia tinggal lebih lama disitu kalau ayah bundanya, juga Can Ma tidak berada disitu?
Akan tetapi, isteri Yo Hang Tek sudah menggandeng tangannya dan pek-hunya telah memberi isyarat dengan
126
mata sehingga ia menurut saja ketika digandeng keluar oleh isteri pekhunya.
Setelah tiba di luar ruangan dimana kakek itu masih duduk mengisap huncwenya, In Hong berkata kepada Yo Hang Tek:
„Yo-pekhu, maafkan bahwa aku tidak bisa lama disini. Aku harus pergi sekarang juga untuk mencari ibu dan Can Ma.”
Yo Hang Tek nampak terkejut, demikianpun Yo Kang.
„Mengapa begitu, Hong-moy? Kau berada di antara keluarga sendiri, jangan kau berlaku sungkan. Soal kong-kong, jangan kau pikirkan, orangtua itu sudah pikun dan tuli……”
„Kang-ji!” Ibunya membentaknya.
Yo Kang mengangkat pundak. „Hong-moy, jangan kau khawatir tentang ibumu. Akulah yang akan membantumu mencarinya lagi. Ketahuilah, aku seringkali keluar kota untuk mengurus perdagangan, dan di dunia kangouw aku mempunyai banyak sekali kenalan. Dengan bantuanku, lebih mudah bagimu untuk mencari ibumu.”
„Benar kata-kata kakekmu, In Hong. Tidak baik kalau kau keluar lagi. Kalau keluar, kau hendak kemanakah? Betapapun juga, harus kau akui bahwa tidak selayaknya seorang gadis seperti engkau merantau mencari ibumu sendiri, se-dangkan kau tidak tahu dimana adanya ibumu
127
itu. Tinggallah disini, dan perlahan-lahan kita berdaya mencari ibumu.”
Tidak enak hati In Hong untuk berkeras. Di antara semua orang yang menjadi sanaknya ini, hanya Yo Hang Tek dan terutama sekali Yo Kang yang baik sikapnya dan menyenangkan hati, akan tetapi ibu Yo Kang sikapnya dingin saja, apalagi kakek berhuncwe itu! Ketika ia memandang kepada pekbo-nya (isteri uaknya), nyonya Yo ini berkata:
„In Hong, kau mendapat kamar di sebelah kiri kamarku,” kemudian ia berkata kepada Yo Kang, „Kang-ji, hayo kau suruh pelayan membersihkan kamar itu untuk In Hong.”
Yo Kang cepat pergi dan wajahnya gembira sekali.
Ter¬paksa In Hong menurut dan malam hari itu ia rebah di atas pembaringan dalam kamarnya. Ia hanya makan sedikit saja karena hatinya diam-diam amat berduka. Ayahnya tewas dibunuh orang tanpa ia tahu siapa pembunuhnya. Ibunya lenyap tanpa ada orang tahu dimana tempat tinggalnya dan apakah ia masih hidup ataukah sudah mati. Juga Can Mama lenyap diculik orang.
„Alangkah buruk nasib ayah ibu……” Dan dengan amat terharu ketika mengenangkan ayahnya, ia berbaring menelungkup dan menyembunyikan mukanya di atas bantal. Ia menangis sedih dan dengan seorang diri di dalam kamar, kini ia memuaskan hatinya dan membiarkan airmatanya membanjiri bantal.
128
Ia mendengar suara pekhu dan pekbonya bercakap-cakap di kamar sebelah. Pendengaran In Hong memang luar biasa tajamnya karena ia memang menerima latihan khusus dari gurunya untuk kepandaian ini. Akan tetapi ia tidak mau memperhatikan percakapan mereka yang hanya terdengar lapat-lapat karena terhalang oleh tembok tebal.
Tiba-tiba ia mendengar nama „In Hong” disebut-sebut dan suara mereka mengandung nada marah. Tertariklah hati In Hong. Kalau mereka tidak membicarakaan dia, iapun tidak nanti suka mendengarkan orang, akan tetapi setelah namanya disebut-sebut, ia lalu bangkit, duduk dan menempelkan telinganya pada tembok yang memisahkan kamarnya dengan kamar pekbonya.
„Menurut pandanganku, dia berjodoh dengan putera kita,” terdengar pekhunya bicara.
„Aah, tidak pantas, tidak pantas!” jawab pekbonya. „Dia menjadi murid iblis wanita, sudah belasan tahun tidak karuan tempat tinggalnya, kemana-mana membawa-bawa pedang. Aku tidak suka mempunyai mantu seorang wanita kasar, lagi pula dia tidak ada keluarga, boleh dibilang seorang anak yang terlantar.”
„Akan tetapi, amat sopan, sikapnya baik seperti orang terpelajar. Tentang ilmu silat, apa salahnya? Anak kita juga mempelajari ilmu silat, jadi lebih cocok. Laginya, In Hong harus diakui amat cantik jelita, dan Kang-ji kelihatannya tertarik dan suka kepadanya. Memang dia cantik sekali.”
129
„Apa artinya kecantikan bagi seorang mantu? Aku tetap tidak suka, laginya dia masih sanak dekat. Apakah kurang puteri-puteri bangsawan dan hartawan yang lebih cantik dari In Hong? Aku tidak suka.”
„Hm, kau tahu apa tentang hati laki-laki?” kata Yo Hang Tek sambil tertawa. „Kecantikan amat penting. Kalau kau tidak cantik, apakah dulu aku mau dijodohkan dengan kau?”
„Ngacau……!”
Sampai disini, In Hong melepaskan telinganya dari tembok, dan ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menangis makin sedih. Ia menutupi kedua telinga dengan bantal agar tidak mendengar percakapan mereka lagi. Akhirnya, karena lelah dan sedih, ia dapat tertidur juga, bahkan di dalam tidurnya ia masih terisak-isak beberapa kali.
2.3. Beginikah Watak Seorang Hartawan?
Dengan memaksakan hati, In Hong tinggal di rumah gedung itu sampai beberapa hari. Ia sudah tidak betah sekali dan di dalam hati ia mengambil keputusan untuk segera meninggalkan tempat itu. Apalagi ketika terjadi hal yang amat menyebalkan hatinya, yang terjadi sepekan sesudah ia tinggal disitu.
Pada hari itu, ia melihat mandor she Kwa itu menyeret-nyeret seorang laki-laki berusia hampir limapuluh tahun. Laki-laki ini terang adalah seorang kuli kasar, karena ia
130
tidak memakai baju, hanya bercelana panjang yang sudah butut. Tulang-tulangnya menonjol keluar dan urat-uratnya menandakan bahwa dia biasa bekerja berat. Garis-garis pada mukanya menimbulkan kisut yang jelas sekali, tanda dari derita hidup yang pahit.
In Hong tengah duduk di ruang luar bersama Yo Kang, bercakap-cakap tentang rencana menyelidiki ibunya. Melihat mandor Kwa menyeret orang tua itu, Yo Kang kelihatan tidak senang dan terganggu.
„Ada apa lagi dengan kakek Lui itu, Kwa-lopek?” tanyanya tidak senang.
„Ia mencuri lagi, Yo-kongcu, sekarang ia mencuri gandum sebanyak lima kati!”
„Dasar sudah tak dapat diperbaiki lagi akhlaknya,” Yo Kang mengomel. „Sekarang dia harus dihadapkan kepada kong-kong.”
„Yo-kongcu, ampunkanlah hamba kali ini, jangan hadapkan pada Yo-loya…..” kakek yang disebut kakek Lui itu meratap.
Akan tetapi Yo Kang tidak perduli dan memberi isyarat kepada mandor Kwa untuk menyeret pencuri itu ke belakang, di ruang belakang yang biasa dijadikan tempat-duduk Yo Tang.
„Ada apakah dia?” tanya In Hong tertarik sekali.
131
„Ah, biasa saja. Mengurus orang banyak memang lebih sukar daripada mengurus sekumpulan kerbau. Mencuri dan mencuri saja kerjanya. Biar kong-kong yang membereskannya, aku sudah lelah mengurus soal pencurian-pencurian itu. Hanya terhadap kong-kong mereka itu mati kutu dan tunduk betul.”
„Apa yang akan dilakukan terhadap kakek Lui itu?” tanya In Hong mengeraskan hati sehingga suaranya terdengar biasa saja.
„Tentu saja dihukum. Kau mau melihat cara kong-kong membikin kapok para pencuri? Mari kita lihat!” Mereka berdiri dan menuju ke belakang. „Aku seringkali merasa heran bagaimana kong-kong seorang lemah itu ternyata pandai sekali mengurus orang-orang jahat.”
Ketika mereka tiba di ruang belakang, ternyata orang she Lui yang dituduh mencuri itu telah dihadapkan di depan kakek Yo yang mengisap huncwenya seperti biasa.
„Sudah tiga kali kau mencuri, ja?” Yo Tang membentak marah. „Tahukah kau apa yang kau akan alami kalau aku menyerahkan kau kepada pengadilan? Kau akan dihukum sepuluh tahun, dan melihat usiamu, kau akan mampus di dalam penjara!”
Pekerja she Lui itu lalu mengeluarkan suara rintihan dan sambil berlutut ia memohon: „Yo-loya yang budiman, mohon kau sudi mengampuni seorang miskin seperti hamba. Hamba bersumpah bahwa hamba takkan
132
melakukan pencurian lagi, biar kelak tangan hamba keduanya dipotong kalau hamba membohong.”
„Hah, seharusnya kedua tanganmu dipotong sekarang juga! Kau sudah mencuri sampai tiga kali!”
„Ampun, loya……, ampunkan hamba……” kakek Lui itu menjadi pucat sekali dan airmatanya bercucuran.
„Sudah berulangkali kau mencuri, mana bisa ada ampun lagi? Kwa Liong, buntungkan kedua tangannya!”
Mandor she Kwa itu sambil menyeringai lalu mencabut golok yang tergantung di pinggangnya, lalu menghampiri kakek she Lui yang menjadi pucat sekali.
„Ampun, Yo-loya…… hamba bersumpah akan bertobat…… hamba…… hamba harus memelihara keluarga hamba…… jangan buntungkan kedua tangan hamba, bagaimana hamba dapat bekerja mencari sesuap nasi untuk keluarga hamba……?” Ia menangis seperti anak kecil.
Yo Tang mengebulkan asap huncwenya dan berkata bengis:
„Kau benar-benar sudah bertobat? Nah, kali ini aku masih ampunkan kau dan aku hanya ingin mengambil jari kelingkingmu sebelah kiri sebagai hukuman dan peringatan. Ingat, lain kali aku takkan menghukummu, akan tetapi akan menyerahkan kau kepengadilan! Kwa Liong, buntungkan jari kelingkingnya sebelah kiri!”
133
Golok diangkat, berkelebat dan putuslah kelingking kiri dari kakek itu.
Kakek Lui meringis kesakitan, memegangi tangan yang terluka itu, akan tetapi wajahnya kelihatan lega dan girang. Ia berlutut dan menghaturkan terima kasih kepada Yo Tang.
Melihat ini, In Hong menjadi marah bukan-main. Kalau saja ia tidak ingat bahwa ia masih keluarga dari Yo Tang, tentu ia sudah menghajar mandor itu bersama kakek she Yo. Namun ia tidak dapat berpeluk tangan saja, maka ia lalu melompat ke dekat kakek Lui dan bertanya:
„Kakek Lui, kau bekerja sebagai apakah?”
Kakek itu sudah tahu bahwa gadis ini adalah cucu dari Yo Tang, maka ia lalu menjawab penuh hormat: „Siocia, hamba adalah kuli pengangkut gandum.”
„Apa yang kau curi?”
„Lima kati gandum.”
„Mengapa kau melakukan kejahatan itu?”
Kakek itu nampak takut-takut dan melirik ke arah gagang pedang yang masih menghias belakang pundak In Hong. „Hamba…… hamba harus memelihara isteri dan seorang anak yang sudah janda bersama tiga orang cucu. Gaji hamba tidak cukup, mereka kelaparan dan terpaksa
134
hamba…… mengambil gandum itu untuk menyambung nyawa cucu-cucu hamba……”
Berobah wajah In Hong. Ia memandang kepada kakek Yo dengan mata penuh kebencian, kemudian ia memandang kepada mandor Kwa dengan gemas. Ketika ia mengerling ke arah Yo Kang, pemuda ini mengejap-ngejapkan matanya, minta agar ia jangan memperlihatkan kemarahannya di depan kakek Yo. Maka sambil menarik napas panjang, In Hong mengeluarkan sepotong uang emas dari sakunya, memberikan itu kepada kakek Lui sambil berkata:
„Terimalah ini dan obati tanganmu sampai baik. Lain kali jangan mencuri lagi, akan tetapi usahakanlah agar kau dapat mencari pekerjaan yang lebih mencukupi hasilnya.”
Kakek Lui bengong dan dengan tangan gemetar ia menerima pemberian itu, lalu menangis terisak-isak, mengucapkan terima kasih dengan bibir gemetar sehingga tidak jelas kata-katanya, kemudian ia membungkuk-bungkuk keluar dari ruangan itu, diikuti oleh mandor Kwa.
Yo Tang melihat perbuatan In Hong dengan mata terbelalak dan ia sampai lupa untuk menyedot huncwenya. Beberapa kali ia menggunakan tangan menepuk-nepuk tangan korsinya sebagai tanda kemarahannya dan saking marahnya ia sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Ia menyedot pipanya, akan tetapi apinya padam. Ketika ia bisa membuka mulut, ia berteriak-teriak:
135
„Hidupkan huncweku……! Bedebah, nyalakan huncweku!”
Yo Tang melangkah maju dan pemuda ini mencetuskan pembuat api untuk menyalakan ujung huncwe kakeknya.
„Kurangajar, In Hong apa yang kaulakukan tadi? Darimana kau mendapatkan uang emas yang kau hambur-hamburkan seperti pasir? Hayo jawab!”
In Hong mendongkol bukan main sehingga mukanya menjadi merah padam.
„Uang itu uangku sendiri, kudapat dari subo, kuberikan kepada siapapun juga adalah hakku,” jawabnya menahan marah.
Yo Tang membanting-banting kakinya. „Celaka! Uang dihambur-hamburkan, diberikan kepada kuli hina, kepada pencuri pula! Aha, bocah perempuan, kau belum tahu bagaimana sukarnya mencari uang, ya? Kalau kita semua mempunyai watak buruk seperti engkau, uang yang kukumpulkan sekian puluh tahun ini dalam sekejap mata akan musnah! Hei, Yo Tang, awaslah kau, jangan kau tiru watak bocah ini!”
Yo Kang berkata keras agar kong-kongnya mendengar, akan tetapi nadanya penuh hormat: „Kong-kong, adik In Hong memberi hadiah itu karena merasa kasihan kepada kakek Lui. Hong-moy belum tahu akan urusan dan keadaan disini, harap kong-kong sudi memaafkannya.”
136
„Keluar! Keluar kalian dari sini dan jangan mengganggu aku lagi! Kalau tidak kupanggil, bocah ini jangan boleh masuk ke ruangan ini!” teriak kakek itu marah-marah.
Yo Kang lalu mengajak In Hong keluar. Setibanya di luar ruangan itu, In Hong tak dapat mencegah lagi mengalirnya airmatanya.
„Hong-moy, kau tentu tersinggung. Maafkanlah, memang sudah kuberitahukau bahwa kong-kong amat pemarah dan pikun. Maklumlah ia sudah amat tua.”
„Tidak apa soal itu, twako. Akan tetapi…… semua kejadian ini…… benar-benar tidak cocok dengan isi hatinya. Mengapa kamu sekalian agaknya menggencet penghidupan para pekerja kasar yang miskin? Mengapa kalian begitu kejam?”
Yo Kang tersenyum dan menggeleng-geleng kepalanya. „Kau salah sangka, adikku. Kalau kami berlaku murah hati seperti yang kaulakukan, sebentar saja semua barang disini sudah habis digondol pergi oleh mereka. Sekarang ini tidak ada orang yang boleh dipercaya, semua pekerja adalah maling-maling yang selalu mengintai kesempatan. Kalau kami tidak bertindak dengan tangan besi, mereka akan makin berani. Ingatkah kau betapa di tempat tinggal orang tuamu, orang-orang miskin itu memberontak dan menyebar maut, merampok dan mengganas seperti binatang-binatang liar? Nah, itulah kalau mereka terlalu diberi hati.”
137
„Akan tetapi, pekerja-pekerja itupun manusia. Kakek Lui itu patut dikasihani, sungguhpun ia mencuri, namun lima kati gandum yang dicurinya itu untuk makan anak cucunya.” In Hong membantah.
„Itulah alasan mereka selalu. Kau tidak tahu, semua pekerja selalu mencari kesempatan untuk berkorupsi dan mencuri. Kalau orang-orang berpenghasilan rendah seperti kakek Lui masih dapat dimengerti, akan tetapi seperti mereka yang sudah mendapat penghasilan besar, tetap saja mereka mencari kesempatan itu. Yang berpenghasilan kecil mencuri untuk makan, katanya, akan tetapi yang berpenghasilan besar? Tak lain untuk memenuhi nafsu mereka yang tak pernah merasa puas dengan keadaan mereka. Marilah kau ikut aku, melihat-lihat tempat orang bekerja, dan kau akan melihat sendiri keadaan mereka, Hong-moy.”
Karena ia sedang mengalami kemendongkolan hati, maka In Hong pikir ada baiknya kalau ia melihat-lihat di luar agar hatinya terhibur. Berangkatlah kedua orang muda ini keluar dari gedung. Dengan gembira Yo Kang memperlihatkan perdagangan keluarganya, yang memang amat besar. Banyak sekali kuli bekerja di gudang-gudang itu, dan Yo Kang memperkenalkan orang-orangnya yang menjadi orang kepercayaan. Di setiap gudang terdapat seorang kepercayaan dan orang ini kelihatan pandai ilmu silat dan bertubuh kokoh kuat.
„Disetiap tempat pasti ada seorang pembantu kami yang boleh dipercaya dan memiliki kepandaian silat sehingga
138
tidak ada pekerja yang berani main gila,” kata Yo Kang kepada gadis itu.
In Hong melihat betapa kuli-kuli itu bekerja berat sekali dan mengingat betapa mereka ini bekerja sekadar untuk mencari makan, itupun tidak mencukupi kebutuhan rumah tangga keluarganya, In Hong merasa kasihan dan terharu sekali.
Kemudian Yo Kang mengajaknya ke tempat pengiriman barang yang dilakukan dengan dua jalan, yakni dengan jalan darat dan ada pula yang jalan air, mempergunakan perahu-perahu besar di sepanjang sungai yang akhirnya turun di sungai Yang-ce-kiang untuk dikirim ke pelbagai kota.
Yo Kang ternyata ahli betul dan mengerti sedalamnya tentang perdagangan keluarganya, tidak mengherankan apabila kong-kong dan ayahnya menyerahkan semua urusan kepadanya, sedetail-detailnya pemuda ini menjelaskan kepada In Hong tentang perdagangan itu, dan setelah ia selesai menuturkan semua ini, tahulah In Hong bahwa yang mendapat keuntungan besar bukan lain adalah keluarga Yo. Para pekerja, dari kuli-kuli angkut, sampai tukang-tukang perahu dan tukang-tukang mengirim barang melalui jalan darat, hanya mendapatkan upah sekadar cukup mereka makan saja.
„Kau mendapatkan untung begitu besar, kadang-kadang sampai lipat duakali dari modal. Mengapa kau dan kong-kongmu itu begitu pelit dan tidak menjamin kehidupan para pekerja kasar?” In Hong bertanya dengan berani.
139
Yo Kang mengangkat pundak. „In Hong moy-moy, sudah sepatutnya kalau kami yang mendapatkan keuntungan besar, karena bukankah kami sudah mengeluarkan modal besar, sudah membanting tulang memeras keringat dan menjalankan otak? Para pekerja itu hanya mengeluarkan tenaga kasar dan mereka tidak tahu apa-apa. Mereka sudah tertolong oleh perusahaan kami, karena tanpa ada perusahaan kami, bukankah berarti ratusan orang pekerja itu menganggur dan tidak bisa makan?”
„Hm, twako, agaknya kau lupa bahwa tanpa mereka, kiranya keluarga Yo dan modalnya juga akan beku. Harus diakui bahwa tenaga para pekerja itulah yang memutar jalannya roda perusahaan sehingga lancar, dan tenaga mereka pulalah yang mengalirkan keuntungan ke dalam kantong keluargamu.”
Yo Kang tertawa. „Ah, Hong-moy, itu sudah selayaknya dalam perdagangan. Siapa bermodal dia memegang kendali, siapa bodoh tentu hanya mendapat sedikit saja dari perasan keringatnya. Pula, harus kau ingat bahwa tidak selamanya kami mendapat untung. Kadang-kadang kami menderita rugi kalau harga barang-barang turun ketika sampai di tempat tujuan, belum lagi kalau ada gangguan orang-orang jahat di tengah perjalanan. Dewasa ini, banyak sekali muncul rampok-rampok yang suka mencegat dan mengganggu barang kiriman. Oleh karena itu, kami sengaja memelihara beberapa orang jagoan untuk mengawal setiap pengiriman, dan aku sendiri yang mengepalai dan memimpin mereka.” Pemuda itu membusungkan dadanya.
140
„Kau? Ah, twako, aku lupa lagi. Tentu kau pandai sekali ilmu silat, dan agaknya kau sudah banyak merantau di dunia kangouw.”
„Tidak berani aku mengaku sudah pandai, akan tetapi sedikit-sedikit ilmu silat pernah kupelajari. Dan biarpun aku belum merantau sampai ke seluruh penjuru dunia, akan tetapi nama Bu-tong-sin-to Yo Kang (Golok sakti dari Bu-tong), bagi semua tokoh sungai telaga (bangsa bajak) di sepanjang Yang-ce-kiang, tidak ada yang tidak mengenal dan tidak ada yang berani mengganggu barang kirimanku.”
„Jadi kau anak murid Bu-tong-pay, twako?”
„Benar, ketika aku berusia sepuluh tahun, kebetulan sekali barang kiriman ayah ada yang mengganggu, dan perampok-rampok itu dihajar habis-habisan oleh guruku, yakni Hoat Gi Thaysu dari kelenteng di Bu-tong-san. Karena ayah amat berterima kasih dan berpikir bahwa dalam keluarga Yo harus ada orang kuat untuk menjaga kalau-kalau barang-barang kiriman diganggu penjahat, maka aku lalu dikirim ke Bu-tong-pay untuk belajar ilmu silat disana. Selama delapan tahun aku belajar disana sampai tamat, dan kiranya Bu-tong-pay tidak merasa kecewa mempunyai anak murid seperti aku. Dan kau sendiri, Hong-moy, kulihat kau mempunyai sebatang pedang yang gagangnya indah sekali, tentu kau juga pandai mainkan pedang, apalagi kalau diingat bahwa kau adalah murid dari Hek Moli yang amat terkenal di dunia kangouw.”
141
In Hong tersenyum dingin. „Orang lemah seperti aku bisa memiliki kepandaian apakah?” Ia teringat akan ucapan-ucapan para pekeja di gudang, maka ia menyambung: „Guruku hanya menaruh kasihan kepadaku maka ia membawaku, akan tetapi aku hanya belajar sedikit sekali. Tentang pedang ini, boleh disebut hanya untuk hiasan saja atau boleh juga dianggap untuk menakut-nakuti para penjahat agar ia jangan menggangguku.”
Yo Kang tertawa „Kau memang gagah sekali memakai pedang itu, Hong-moy. Akan tetapi jangan khawatir, kalau kau melakukan perjalanan bersamaku, aku tanggung tidak akan ada orang berani mengganggumu. Orang yang berani mengganggumu berarti sudah bosan hidup dan darahnya pasti akan diminum oleh golokku.” Ia menepuk-nepuk golok yang tergantung di pinggangnya.
Pada saat itu, serombongan orang datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Mereka ini adalah tujuh orang yang berpakaian seperti jago-jago silat dan melihat dari sepatu dan pakaian mereka yang berdebu, dapat diduga bahwa mereka baru datang dari tempat jauh.
„Celaka, Yo-kongcu, celaka kali ini……” seorang di antara mereka, yang tertua dan bermuka panjang, berkata sambil terengah-engah. Orang-orang lain juga nampak kusut dan lelah sekali, mata mereka rata-rata memperlihatkan ketakutan dan kegelisahan.
„Cong-piauwsu, apakah yang terjadi?” tanya Yo Kang sambil mengerutkan alisnya.
142
Orang yang disebut Cong-piauwsu itu menarik napas panjang, menghapus peluhnya, kemudian berkata:
„Tujuh kereta gandum dan bahan obat yang kami kawal itu telah dirampas oleh seorang tosu dari Go-bi-pay.”
Yo Kang terkejut sekali. „Mengapa seorang tosu melakukan hal itu? Lekas ceritakan dengan jelas.”
Cong-piauwsu lalu menuturkan pengalamannya seperti berikut. Cong-piauwsu, seorang ahli silat yang menjadi pembantu Yo Kang, yang dianggap memiliki ilmu silat paling pandai, bersama enam orang pembantunya yang memiliki kepandaian tinggi pula, mengawal kereta-kereta itu menuju ke kota Hang-ciu. Ketika rombongan ini tiba diperbatasan propinsi Honan, di sebuah dusun yang baru menderita bencana kelaparan karena musim kering, mereka dihadang oleh sekumpulan orang dusun yang kurus-kurus dan kelaparan.
„Cuwi-enghiong, tolonglah kami dan berilah kami sedikit makanan untuk anak-anak kami yang kelaparan,” kata mereka.
Cong-piauwsu hendak menyumbangkan uangnya, akan tetapi para petani yang sudah kelaparan itu tidak mau menerima uang, apalagi setelah mereka mendapatkan kenyataan bahwa yang diangkut dalam kereta adalah gandum dan bahan obat, mereka kembali memohon agar supaya rombongan itu sudi menolong mereka dan meninggalkan sekereta gandum untuk menolong mereka dari bahaya kelaparan.
143
Tentu saja Cong-piauwsu tidak mau mengabulkan permintaan ini dan terjadilah keributan ketika orang-orang kelaparan itu nekad hendak mengambil gandum. Akan tetapi tentu saja orang-orang yang tidak mempunyai kepandaian silat dan pula sudah lemah akibat beberapa hari tidak makan ini bukan lawan yang tangguh dari para piauwsu. Dengan mudah para piauwsu itu mengamuk dan merobohkan mereka, lalu kereta-kereta itu dijalankan cepat-cepat meninggalkan daerah itu.
Akan tetapi, baru setengah hari mereka berjalan, tiba-tiba mereka disusul oleh seorang tosu yang bertubuh tinggi kurus, usianya paling sedikit enampuluh tahun dan jenggotnya panjang sampai ke dada. Tosu itu mendahului rombongan, lalu berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tangan kanan ke atas, memberi isyarat supaya rombongan itu berhenti.
Cong-piauwsu dan kawan-kawannya segera majukan kuda menghadapinya, maklum bahwa tosu itu tentu bukan orang sembarangan karena larinya tadi demikian cepat sehingga dapat mendahului larinya kuda.
„Totiang, ada keperluan apakah maka totiang mengejar kami dan menghadang perjalanan rombongan kami?” tanya Cong-piauwsu setelah memberi hormat kepada pendeta itu.
Tosu itu tertawa perlahan sambil mengelus-elus jenggotnya.
144
„Melihat orang kelaparan tanpa mengulurkan tangan menolong padahal membawa makanan begini banyak, benar-benar hati kalian terbuat daripada batu!” katanya, suaranya halus akan tetapi berpengaruh.
„Totiang, harap maafkan kami dan harap suka mempertimbangkan keadaan kami. Kami hanya mengawal barang-barang ini, dan sama sekali kami tidak berhak memberikan kepada siapapun juga,” jawab Cong-piauwsu.
„Begitukah? Kalau begitu, tinggalkan semua kereta ini dan kalian kembalilah ke tempat tinggalmu, beritahukan kepada pemilik barang-barang ini bahwa pinto Wu Wi Thaysu dari Go-bi-pay minta pinjam bahan makanan dan obat ini untuk menolong daerah yang sedang diancam bahaya kelaparan dan penyakit.”
Cong-piauwsu menjadi cemas sekali, akan tetapi juga mendongkol. Terang sekali bahwa tosu itu tidak memandang sebelah mata kepada mereka, dapat mengeluarkan kata-kata dan perintah demikian enaknya.
„Totiang, barang-barang ini adalah milik dari Bu-tong-sin-to Yo Kang, pendekar muda dari Bu-tong-pay, yang mengirimkan barang-barang ini sebagai barang dagangan. Harap totiang sudi me¬mandang mukanya dan jangan mengganggu pekerjaan kami. Sepulangnya dari Hang-ciu, tentu kami akan mampir disini dan kami akan membantu usaha totiang menolong penduduk dengan jalan mendermakan sejumlah uang.”
145
„Hm, jadi barang-barang ini milik murid Bu-tong-pay? Kebetulan sekali, pinto kenal baik dengan tokoh-tokoh Bu-tong-pay yang dalam hal ini pasti setujuan dengan pinto. Sampaikan terima kasihku kepada Yo-sicu atas sumbangannya berupa tujuh kereta makanan dan obat ini untuk mereka yang menderita.”
Tentu saja Cong-piauwsu tidak mau sudah begitu saja dan ia menjawab:
„Terpaksa kami tidak bisa meninggalkan kereta-kereta ini, totiang. Kalau sekiranya totiang membutuhkan bahan makanan, harap totiang suka datang sendiri ke See-ciu dan minta sumbangan dari Yo-kongcu. Kami harus melaksanakan tugas kami sampai beres, dan barang-barang ini harus kami antarkan sampai di Hang-ciu.”
„Urusan dengan Yo-sicu boleh menanti, akan tetapi perut orang-orang yang sudah kelaparan mana bisa menanti lagi? Pulanglah kalian ke See-ciu dan bagaimanapun juga, barang-barang makanan ini harus ditinggalkan disini!”
„Terpaksa kami menggunakan kekerasan, totiang.”
Akan tetapi, baru saja ucapan Cong piauwsu ini dikeluarkan, tosu itu menggerakkan kedua lengan bajunya dan tujuh orang piauwsu itu terlempar jatuh dari atas kuda! Dari sepasang lengan baju itu menyambar angin yang mendorong mereka.
146
„Demikianlah, Yo-kongcu,” Cong-piauwsu melanjutkan ceritanya kepada Yo Kang yang mendengarkan bersama In Hong, „kami bertujuh tentu saja tidak mau mengalah sampai disitu. Kami mencabut senjata dan maju menyerang tosu itu, akan tetapi Wu Wi Thaysu dari Go-bi-pay itu benar-benar lihay sekali. Tanpa senjata, hanya dengan ujung lengan baju, ia menghadapi kami dan tahu-tahu senjata kami telah dapat dirampas dengan gulungan ujung lengan baju itu! Terpaksa kami melarikan diri dan pulang untuk melaporkan hal ini kepada kongcu.”
Yo Kang mengerutkan keningnya dan ia kelihatan marah sekali.
„Hm, Wu Wi Thaysu dari Go-bi-pay benar-benar memandang terlalu rendah kepadaku, berarti ia tidak memandang kepada Bu-tong-pay. Panggil Ngo-losuhu (Lima orang guru tua) untuk berkumpul di rumahku, aku mau berunding dengan mereka. Kemudian kalian mengasohlah karena kalian segera akan be-rangkat lagi mengantar kami ke tempat itu.”
Setelah memberi perintah ini, Yo Kang mengajak In Hong pulang.
„Memang tosu itu memandang terlalu rendah kepadamu, toako, akan tetapi kalau memang betul ia merampas bahan makanan dan obat itu untuk menolong penduduk daerah yang kelaparan, aku harus menyatakan bahwa perbuatannya itu tidak bisa dibilang jahat.”
147
„Memang demikian, akupun berpikir begitu. Akan tetapi, tidak seharusnya ia terlalu lancang dan merampas barang kiriman. Siapa tahu kalau di Hang-ciu, bahan makanan itu juga dibutuhkan oleh orang banyak? Sepantasnya, meng-ingat akan hubungan antara orang-orang kangouw di dunia persilatan, ia boleh datang kesini dan kalau dia minta secara terus terang untuk menolong orang-orang sengsara, apakah aku begitu pelit untuk menolak permintaannya?”
Ketika kakek Yo mendengar tentang perampasan tujuh kereta gandum dan bahan obat ini, ia mencak-mencak di atas kursinya. Saking marahnya ia memukul-mukulkan huncwenya hingga pecah.
„Penjahat besar, tosu siluman, bedebah! Dia bikin aku rudin dan bangkrut! Yo Kang, kerahkan semua orang, panggil barisan penjaga keamanan kota, tangkap dia. Tosu siluman itu harus dijebloskan di dalam penjara, harus dipenggal lehernya!”
Ia menyumpah-nyumpah dan memaki-maki dengan suara keras dan menjadi begitu marah dan sedih seakan-akan seluruh harta bendanya benar-benar ludas dan habis dengan adanya kejadian ini.
Diam-diam In Hong menjadi sebal sekali. Ia tahu benar bahwa dibandingkan dengan jumlah kekayaan kakek ini, tujuh kereta barang itu hanya merupakan jumlah kecil saja, setitik air dalam air seguci, dan toh kakek itu seakan-akan kehilangan seluruh hartanya.
148
„Apakah begini watak semua hartawan?” pikir gadis ini dengan hati sebal.
2.4. Bu Jin Ay . . . . . ?
Ia mulai merasa kecewa dan tidak puas, bahkan ia mulai mengingat-ingat bagaimanakah watak kedua orangtuanya yang dahulunya juga disebut-sebut orang kaya.
Sore hari itu, di ruang depan dari rumah gedung keluarga Yo, diadakan perundingan. Yo Kang dan ayahnya mengundang Ngo-losuhu yang ternyata adalah lima orang berusia antara empatpuluh sampai limapuluh tahun, dan mereka ini adalah pembantu-pembantu Yo Kang yang memiliki kepandaian tinggi.
Mereka tadi adalah kauwsu-kauwsu (guru-guru silat) dan kini dipekerjakan sebagai pelatih-pelatih kepada para pembantu Yo Kang yang mengawal barang-barang kiriman. Juga mereka ini berkewajiban membereskan kalau terjadi rintangan dan gangguan pada barang-barang kiriman. Akan tetapi oleh karena sekarang ini terjadi perampasan yang luar biasa dan besar, Yo Kang hendak mengurusnya sendiri dengan bantuan mereka.
Karena desakan Yo Kang, maka In Hong diperkenankan hadir dalam pertemuan ini. Ketika diperkenalkan kepada para kauwsu tua itu, In Hong memberi hormat selayaknya, akan tetapi lima orang kauwsu itu hanya membalas penghormatan In Hong dengan dingin saja. Mereka adalah orang-orang berkepandaian, sudah tentu tidak begitu memandang kepada In Hong yang
149
dianggapnya hanya seorang gadis muda cantik yang manja dan yang berlagak seorang pendekar wanita!
In Hong diam-diam memperhatikan mereka. Menurut penglihatannya, di antara lima orang kauwsu itu, hanya seorang saja yang kelihatannya „berisi,” yakni yang bernama Pouw Cun. Mata kauwsu tua ini setengah terkatup seperti orang mengantuk, akan tetapi dari balik bulu matanya yang jarang itu, memancar sepasang sinar mata yang tajam dan bergerak-gerak cepat.
Juga hanya dia seorang di antara lima kauwsu itu yang tidak memegang senjata. Empat kauwsu yang lain semua membawa senjata. The Sun dan The Kwan dua saudara yang diperkenalkan sebagai guru-guru silat asal dari selatan, membawa pedang di pinggang mereka, sedangkan dua orang lagi adalah Tan Koay Kok yang membawa rantai atau pian lemas dan Lay Kiat yang bersenjata golok besar.
„Ngo-wi losuhu, sebetulnya, mengingat bahwa yang melakukan perampasan adalah Wu Wi Thaysu dari Go-bi-pay, sebetulnya aku tidak akan menarik panjang urusan ini. Biarpun aku belum pernah berjumpa dengan Wu Wi Thaysu, namun namanya sebagai tokoh Go-bi sudah cukup terkenal, dan pula harus diingat bahwa ia melakukan perampasan untuk menolong orang-orang yang menderita kelaparan.
Akan tetapi, kalau diingat lagi, perjalanan antara See-ciu amat penting artinya bagi kita. Sedikitnya tiga kali sebulan kita mengirim dan mengambil barang antara See-ciu dan
150
Han-ciu. Kalau gangguan sekali ini dibiarkan saja, tentu para hek-to akan mengira kita lemah dan mereka akan mendapatkan contoh yang buruk,” kata Yo Kang.
„Wu Wi Thaysu adalah seorang tokoh besar dari Go-bi-pay, kalau aku tidak salah, dia adalah tokoh kedua atau murid dari ketua Go-bi-pay, Pek Eng Thaysu. Heran sekali mengapa seorang tokoh besar seperti dia mau melakukan atau mengurus hal semacam itu,” kata Lay Kiat dengan kening berkerut.
Memang, ketika mendengar bahwa yang melakukan perampasan adalah tokoh Go-bi-pay itu, Lay Kiat dan juga kawan-kawannya merasa gentar dan gelisah. Mereka sudah mendengar akan kelihayan tosu itu, dan pula kedudukan Wu Wi Thaysu amat tinggi di kalangan kangouw.
„Apakah yang akan kau lakukan selanjutnya, Yo-kongcu?” tanya Pouw Cun, suaranya perlahan akan tetapi jelas. „Harus kau ingat bahwa Wu Wi Thaysu kepadaiannya amat tinggi, bukan aku hendak berkata bahwa kau takut kepada-nya tetapi menanam permusuhan dengan pihak Go-bi-pay bukanlah hal yang cerdik.”
Yo Kang mengangguk. „Memang betul kata-katamu, Pauw-suhu. Aku sendiri juga ingin mencoba kepandaiannya, dan aku tidak takut. Akan tetapi aku ragu-ragu untuk bermusuhan dengan partai persilatan Go-bi yang demikian besar dan ternama. Tidak, aku tidak akan memusuhi Go-bi-pay, aku hanya ingin mengajak cuwi sekalian pergi menjumpainya dan hanya perlu untuk
151
mencuci muka kita sekalian agar para penjahat tidak mengira kami takut. Terhadap Wu Wi Thaysu, aku hanya ingin minta penjelasan tentang pertolongan kepada mereka yang kelaparan itu, dan minta ia berjanji agar lain kali apabila ada keperluan, agar suka datang saja disini dan minta secara terus terang daripada mengganggu barang kiriman.”
„Baik, aku setuju dengan pikiran itu,” kata The Sun mengangguk-angguk. „Kapan kita akan berangkat?”
„Besok pagi-pagi, dan yang menjadi penunjuk jalan cukup Cong-piauwsu seorang saja. Tak perlu ramai-ramai, banyak orang menarik perhatian saja, seakan-akan kita hendak mengerahkan semua tenaga hanya untuk menghadapi seorang tosu,” kata Yo Kang.
Semua guru silat itu mengangguk setuju.
„Yo-twako, akupun hendak ikut,” tiba-tiba In Hong berkata.
Gadis ini sebenarnya tidak tertarik dengan urusan yang dihadapi oleh Yo Kang, akan tetapi ia memang tidak kerasan di rumah itu. Apalagi kalau Yo Kang pergi, ia takkan betah tinggal disitu.
Selain ini, iapun tertarik mendengar bahwa yang melakukan perampasan itu adalah seorang tokoh Go-bi-pay, karena bukankah gurunya ketika ia pergi juga sedang menghadapi tantangan pihak Go-bi-pay? Ia ingin sekalian bertemu dengan Wu Wi Thaysu itu, untuk
152
bertanya tentang gurunya dan tentang pertandingan yang dilakukan oleh gurunya untuk menghadapi tantangan pihak Go-bi-pay.
Mendengar gadis itu hendak ikut, Yo Kang berseri wajah¬nya, akan tetapi lima orang guru silat itu memandang heran dan nampaknya tidak setuju. Hanya Pouw Cun saja yang tak berobah air mukanya, namun dari balik bulu matanya, ia menatap wajah In Hong dengan tajam.
“Kwee-siocia, perjalanan ini bukan main-main. Kami menghadapi orang yang telah mengganggu pekerjaan kami, siapa tahu akan terjadi pertempuran!” kata The Sun.
„The-kauwsu, kalau ada pertempuran, yang bertempur adalah kau dan kawan-kawanmu, itu tugasmu. Aku hanya ingin ikut saja untuk menambah pengalaman,” jawab In Hong ramah.
„Akan tetapi perjalanan ini tidak dekat dan melelahkan, dan bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa? Kami bahkan harus melindungimu, Kwee-siocia,” kata The Kwan yang juga tidak setuju.
„Belum kalau muncul orang jahat,” kata Tan Koay Kok, „maafkan siocia, akan tetapi mata orang-orang jahat akan menjadi gelap kalau melihat seorang gadis muda yang ehh…… cantik di tengah jalan. Tentu hanya akan menimbulkan keributan belaka.”
153
In Hong tersenyum dan memandang kepada Tan-kauwsu dengan mata berseri. Ia maklum akan maksud kata-kata ini dan tahu pula bahwa kauwsu tua ini bicara dengan sejujurnya, maka ia tidak marah.
„Tan-kauwsu, terima kasih atas pujianmu. Akan tetapi, tentang perjalanan jauh, agaknya tidak mengapa bagiku karena akupun biasa menunggang kuda. Bahkan kudaku masih terpelihara baik-baik di kandang Yo-twako. Adapun tentang orang-orang kurangajar, ada ngo-wi lo-kauwsu dan Yo-twako di-sampingku, aku takut apa sih?”
Akhirnya semua kauwsu itu menyerahkan keputusannya kepada Yo Kang dan semua mata memandang kepada pemuda ini.
„Hong-moy, soal kuda, aku mempunyai yang lebih baik daripada kudamu. Memang, dengan adanya ngo-losuhu bersama kita, kau tak usah khawatir terganggu orang dijalan. Akan tetapi, terus terang saja, perjalanan ini bukan tidak berbahaya. Agaknya akan lebih amanlah hatiku kalau kau tinggal saja di rumah. Urusan ini dikata kecil juga kecil, akan tetapi kalau dianggap besar juga amat besar.”
Walaupun mulutnya berkata demikian, namun di dalam hatinya, Yo Kang merasa amat gembira kalau nona yang mencuri hatinya ini ikut serta dalam perjalanan itu. Ia ingin sekali memamerkan keberanian dan kegagahannya kepada In Hong dan inilah kesempatannya.
154
„Yo-twako, memang aku tidak ada gunanya dalam menghadapi urusanmu yang besar ini, akan tetapi ingatlah, aku sekalian hendak mendengar-dengar tentang ibuku, hendak menyelidiki tentang Can Mama. Sekarang ada kesempatan baik sekali, mau tunggu kapan lagi?”
„Baiklah, Hong-moy. Memang kalau tidak ada peristiwa gangguan ini, akupun tentu akan mengantarmu melakukan penyelidikan itu,” akhirnya Yo Kang berkata dan demikianlah, mereka semua bersiap-siap untuk melakukan perjalanan itu pada keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, berangkatlah rombongan terdiri dari delapan orang itu. Mereka adalah Yo Kang, In Hong, Cong-piauwsu, dan kelima Ngo-lokauwsu. Mereka menunggang kuda dan para guru silat itu merasa lega melihat bahwa In Hong benar-benar tidak kikuk ketika melompat naik ke punggung kuda.
Tadinya mereka sudah merasa khawatir kalau-kalau nona itu akan merupakan penghalang dan penghambat perjalanan mereka. Setelah melompat di atas punggung kudanya yang disediakan oleh Yo Kang, In Hong berpaling dan tersenyum memandang mereka. Ia maklum bahwa gerakannya tadi diperhatikan, maka ja tidak memperlihatkan kepandaian, hanya melompat biasa saja seperti orang yang sudah pandai menunggang kuda namun tidak mempunyai ginkang yang luar biasa.
„Mari kita berangkat!” Yo Kang mengomando.
155
Yang terde¬pan adalah Cong-piauwsu sebagai penunjuk jalan, kemudian menyusul lima orang kawsu. Yo Kang menjalankan kudanya berendeng dengan In Hong, mengikuti dari belakang. Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, Yo Kang merasa luar biasa gembiranya melakukan perjalanan ini. Jauh sekali bedanya dengan yang biasa ia lakukan, padahal kali ini menghadapi urusan besar yang menjengkelkan.
Semua ini tentu saja karena In Hong berada disampingnya! Memang, semenjak pertemuan pertama, hati Yo Kang sudah terampas oleh In Hong dan pemuda ini jatuh hati kepadanya.
„Jangan khawatir, Hong-moy, apapun yang terjadi, dengan adanya aku disampingmu, kau akan selamat. Aku menyediakan nyawa dan raga untuk melindungimu,” kata Yo Kang lirih.
In Hong berdebar hatinya mendengar kata-kata yang penuh arti ini dan ketika ia memandang, wajahnya menjadi merah. Sinar mata pemuda itu membuka semua rahasia hati dan diam-diam In Hong menghela napas gelisah. Hatinya risau ketika ia membaca rahasia hati pemuda ini.
Ia akui bahwa Yo Kang amat baik terhadapnya, akan tetapi ia tidak mengira bahwa sejauh itu perasaan hati pemuda ini terhadapnya. Karena ia maklum bahwa ia tidak mungkin membalas perasaan ini, dan karena ia teringat akan percakapan yang ia dengar antara ayah
156
bunda pemuda ini tentang dia, maka ia menjadi risau dan kasihan kepada Yo Kang.
„Yo Kang, kau seorang pemuda yang baik, kuharap saja tidak kaulanjutkan perasaanmu terhadapku, aku tidak ingin melihat kau menderita,” demikian pikir In Hong sam¬bil mencambuk kudanya untuk menghindari pernyataan Yo Kang tadi.
Betul saja, para penjahat tidak ada yang bernyali begitu besar untuk mengganggu rombongan ini. Mereka kenal baik kepada Yo Kang, apalagi disitu pemuda ini dikawani oleh lima orang kauwsu yang berkepandaian tinggi.
Sungguhpun banyak orang yang mengincar kecantikan In Hong dan mengincar pula perhiasan burung Hong dirambutnya, namun siapakah yang begitu berani mati untuk mengganggu gadis yang berada dirombongan orang-orang kuat itu? Apalagi, gagang pedang dipundak In Hong juga merupakan peringatan kepada mereka bahwa gadis yang berada di tengah-tengah rombongan sekuat itu tentulah bukan seorang gadis lemah yang mudah dijadikan mangsa.
Beberapa hari kemudian, sampailah mereka di perbatasan propinsi Honan yang sedang terancam bahaya kelaparan. Sudah terlalu lama musim kering mengganggu daerah ini sehingga bagian yang jauh dari sungai tidak kebagian air dan para petani tidak berdaya. Tanam-tanaman pada mati dan kering dan persediaan bahan makanan sebentar saja habis dan tidak mencukupi.
157
Orang-orang kaya tentu saja dengan mudah dapat membeli dari daerah lain dan menyimpan persediaan yang cukup di dalam gudang mereka, akan tetapi bagaimana dengan kaum tani yang mengandalkan pengisi perut dari tanah sen-diri? Banyak orang yang sudah mati kelaparan, dan banyak pula yang meninggalkan kampung halaman untuk hidup men¬jadi pengemis di daerah lain, sekadar untuk mengelak daripada terkaman maut yang merajalela di daerah sendiri. Lebih hebat lagi, penyakit bermacam-macam, terutama penyakit panas, berjangkit di daerah ini sehingga penderitaan rakyat kecil makin menghebat.
„Masih jauhkah tempat itu?” tanya Yo Kang kepada Cong-piauwsu. Pemuda ini sekarang bersama In Hong mendahului para kauwsu dan menjalankan kuda di dekat Cong-piauwsu.
„Ini memang daerahnya, akan tetapi dusun itu masih kira-kira sepuluh lie dari sini,” kata Cong-piauwsu. Berdebar juga hati Yo Kang setelah dekat dengan tempat yang dituju. Para kauwsu juga sudah bersiap-siap, menjaga segala kemungkinan.
Ketika mereka memasuki dusun pertama, kuranglebih enam lie dari tempat yang mereka tuju, mereka melihat orang-orang dusun yang kurus kering sedang berkerumun. Jumlah mereka ada tigapuluh orang lebih dan mereka sedang mengelilingi seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian compang-camping akan tetapi bertubuh tegap dan gagah. Laki-laki ini sedang membagi-
158
bagikan beras kepada mereka dan wajah laki-laki yang tampan dan gagah ini nampak berseri.”
„Sabar dan tenang, saudara-saudara! Tak perlu berebut dan tak perlu tergesa-gesa. Kalian sudah cukup mengalami penderitaan dengan sabar, masa untuk menanti giliran pembagian saja tak dapat bersabar?”
Melihat hal ini, para kauwsu dan juga Yo Kang menjadi merah mukanya. Mereka berenam, juga Cong-piauwsu me¬ngira bahwa beras itu tentulah beras mereka yang telah dirampas. Melihat barangnya dibagi-bagikan kepada orang banyak seperti itu, tentu saja mereka merasa mendongkol.
Adapun laki-laki gagah itu ketika melihat serombongan kauwsu ini, menghentikan pekerjaannya membagi beras, kemndian ia tertawa bergelak. Suaranya dan suara ketawanya keras dan nyaring, sikapnya terbuka sekali.
„Ha, ha, kalau tidak salah mereka inilah pemilik-pemilik gandum yang tempo hari dibagi-bagikan oleh Wu Wi Thaysu yang baik hati. Eh, apakah kalian datang untuk menambah sumbanganmu? Mana kereta-kereta terisi gandum? Kami amat membutuhkan!”
„Sungguh tak tahu malu! Merampas barang orang dan membagi-bagikan kepada orang lain tanpa seijin pemiliknya, sungguh tak tahu malu!” kata The Sun marah.
Laki-laki gagah itu lalu memberikan tugasnya membagi beras kepada seorang dusun, dan ia sendiri sekali
159
melompat telah berhadapan dengan The Sun dan kawan-kawannya.
Laki-laki ini tadi terhalang oleh banyak orang maka In Hong tak dapat melihatnya dengan jelas, sekarang ia dapat melihat seorang laki-laki berusia paling banyak empatpuluh tahun, berpakaian compang camping dan bertubuh tegap. Sikapnya gagah sekali, mukanya tampan dan membayangkan kegagahan yang jarang dimiliki oleh laki-laki lain. Alisnya tebal dan giginya putih bersih serta kuat, wajahnya bersifat jantan dan cara ia bergerak menunjukkan bahwa ilmu silatnya tinggi sekali.
„Jadi kalian merasa penasaran dan datang untuk merampas kembali barang-barangmu? Ha, ha, ha, kalian ini seperti sekumpulan babi yang terlalu gemuk, yang kebingungan karena kehilangan sedikit makanan. He, babi-babi gemuk, ketahuilah bahwa makananmu itu telah menghidupkan banyak sekali orang dusun. Masih penasarankah kau?”
Tentu saja lima orang kauwsu itu marah sekali dimaki babi gemuk. Tan Koay Kok yang wataknya paling keras, segera majukan kudanya dan membentak:
„Kau enak saja membuka mulut. Kau memaki kami babi, kalau begitu kaulah anjing kelaparan yang bermata buta, menyerang siapa saja untuk mendapat tulang kering guna mengisi perutmu yang tiada dasarnya!”
Orang itu tersenyum dan menggeleng kepalanya. Aneh sekali ketika ia tersenyum, In Hong melihat seperti ada
160
bayangan kedukaan besar sekali dibalik senyum itu. Diam-diam ia tertarik sekali kepada orang ini dan memperhatikan.
„Sayang sekali bukan demikian, sahabat. Aku juga seorang yang kebetulan lewat di daerah sengsara ini. Melihat orang-orang kelaparan, aku lalu mencari beras untuk menolong mereka.”
„Tentu beras kami yang kau bagi-bagikan. Kau tentu kaki tangan dari Wu Wi Thaysu!”
Laki-laki itu menggeleng kepalanya. „Sungguhpun aku kagum kepada Wu Wi Thaysu, aku belum ada kehormatan bertemu dengan dia yang kini sedang sibuk mengobati orang-orang sakit di bagian lain, mempergunakan obat dari kereta-keretamu itu. Beras ini kudapatkan dari orang-orang hartawan yang mau tidak mau menyumbangkan persediaannya.”
„Dimana Wu Wi Thaysu? Kami hendak bertemu dengan dia!” kata The Kwan.
„Kalian hendak menagih utang? Tak perlu mencari Wu Wi Thaysu, kalau kalian datang bukan untuk membawa gandum guna menolong orang-orang banyak, lebih baik kalian pulang saja, jangan mengganggu pemandangan mata disini.”
„Jahanam busuk, kau kurangajar sekali. Tidak tahukah dengan siapa kau berhadapan?” membentak Tan Koay Kok sambil majukan kudanya.
161
Laki-laki itu tadinya sudah hendak kembali ke tempat orang banyak, mendengar bentakan ini ia membalikkan tubuhnya lagi dan matanya menyapu rombongan itu. Ia hanya memandang sekilas saja kepada In Hong dan agaknya menganggap tidak ada gunanya memandang gadis itu.
„Dengan siapa? Tadinya kusangka akan berhadapan dengan orang Bu-tong-pay yang berjiwa gagah, tidak tahunya hanya sekumpulan babi gemuk yang banyak lagak. Kalian mencari Wu Wi Thaysu mau apa? Kalau hendak mencari ribut, cukup dengan aku saja. Biar aku mewakili Wu Wi Thaysu menghajar kalian!”
Sebelum Tan Koay Kok turun tangan, Yo Kang sudah mendahuluinya. Pemuda ini melompat turun dan menjura kepada orang gagah itu.
„Maafkan kami, saudara yang gagah. Sesungguhnya kami merasa kagum melihat kau menolong orang-orang ini, akan tetapi sikapmu benar-benar terlalu kasar.”
„Siapa kau?” laki-laki itu membentak.
„Siauwte yang bodoh bernama Yo Kang, dan sesungguhnya siauwte pemilik barang-barang dalam kereta yang dirampas oleh Wu Wi Thaysu.”
„Jadi kau yang berjuluk Bu-tong Sin-to, anak murid Bu-tong-pay itu? Hm, seharusnya kau dapat menahan lidah orang-orangmu.”
162
„Maaf, dengan siapakah kami berhadapan? Saudara tentu seorang tokoh kangouw, dari golongan manakah gerangan?” tanya Yo Kang dan diam-diam In Hong memuji pemuda ini yang sikapnya jauh lebih baik daripada guru-guru silat tua itu.
„Aku? Ha, ha, aku akulah Bu Jin Ay, tidak ternama sama sekali. Yo Kang, kau mau apakah datang ke tempat ini?”
In Hong merasa geli dan juga terharu mendengar orang itu menyebutkan namanya. Mana ada orang yang bernama Bu Jin Ay (Tidak ada orang yang menyinta)? Tentu orang itu memakai nama palsu, pikirnya. Dan pikiran ini membuat ia diam-diam tersenyum. Cara orang itu memilih nama baik sekali!
Yo Kang juga bukan orang bodoh, dan ia tahu bahwa orang itu sengaja menyembunyikan nama aselinya.
„Aku hendak bertemu dengan Wu Wi Thaysu minta penjelasan. Tentang sumbangan, yah, kalau dipikir-pikir sesungguhnya ada banyak perbedaan antara minta sumbangan, pinjam, atau merampas! Yang paling akhir ini, biarpun di kalangan kangouw bisa disebut tidak pantas!”
Yo Kang mulai bicara dengan nada gemas, karena tadi ia mendengar orang ini memuji-muji Wu Wi Thaysu dan mengejek pihaknya. Dihadapan Wu Wi Thaysu, mungkin pemuda ini tidak berani bicara kasar, akan tetapi sikap orang ini yang amat berat sebelah benar-benar
163
memanaskan perutnya dan membuat darah mudanya menjadi panas.
„Benar sekali kata-katamu, anak muda. Memang sebagai seorang murid Bu-tong-pay, kau patut mengerti akan hal itu. Akan tetapi kau masih muda dan masih hijau sehingga kau tidak dapat mengerti atau menduga bahwa Wu Wi Thaysu bukanlah orang yang merampas begitu saja. Aku berani bertaruh bahwa dia tentu lebih dulu minta atau minta tolong, baru merampas melihat orang-orangmu menolak permintaannya. Bukankah benar begitu?”
Cong-piauwsu mendengar ini, berobah airmukanya. Memang harus ia akui bahwa sebelum merampas, Wu Wi Thaysu telah berkali-kali minta tolong dan minta pinjam tujuh kereta terisi bahan makanan dan obat-obatan itu.
„Yo-kongcu, marilah kita melanjutkan perjalanan dan mencari Wu Wi Thaysu. Perlu apa mesti bercekcokan dengan orang luar?” katanya.
„Benar!” kata Tan Koay Kok yang gemas sekali melihat orang yang mengaku bernama Bu Jin Ay ini. „Perlu apa melayani segala jembel dan anjing kelaparan?”
Yo Kang menjura kepada Bu Jin Ay tanpa bicara lagi, lalu sekali melompat, dari tempat berdirinya ia telah berada di punggung kudanya, tanpa binatang itu nampak terkejut. Dengan gerakan ini, Yo Kang memperlihatkan ilmu ginkang-nya dan kemahirannya naik kuda.
164
Akan tetapi Bu Jin Ay menghadang di tengah jalan. „Kalau kalian hendak mencari Wu Wi Thaysu, boleh asal membawa lagi tujuh kereta gandum. Kalau tidak, jangan harap akan dapat melanjutkan perjalanan mengotori daerah yang sudah cukup sengsara ini!”
„Bedebah kotor, kau mau apakah?” Tan Koay Kok majukan kudanya. „Apakah matamu buta, tidak tahu bahwa kami berlima yang mengawani Yo-kongcu adalah Ngo-losu dari See-ciu yang tidak boleh dibuat main-main? Minggirlah, kalau tidak jangan katakan bahwa aku Liong-pian (Pian naga) Tan Koay Kok adalah orang yang suka menghina si lemah!”
Bu Jin Ay tertawa bergelak sehingga kuda yang ditunggangi oleh Tan Koay Kok menjadi kaget dan menggerak-gerakkan kepalanya.
„Ha, ha, ha, badut lucu! Kau sudah berani membuka mulut, maka kau harus didenda. Kau tidak membawa apa-apa, akan tetapi kudamu amat gemuk. Penduduk disini hanya menerima pembagian beras, sekarang kau mengantarkan kuda gemuk, banyak terima kasih!”
Tan Koay Kok marah sekali dan ia sudah mengeluarkan pian baja yang lemas dan panjang, dengan senjata mana ia menyabet dengan hebatnya ke arah kepala Bu Jin Ay. Tenaga dari Tan Koay Kok amat besar, maka sabetannya ini mengeluarkan angin dan kalau kepala orang itu terkena hantaman pian baja itu, tentu akan hancur berantakan. Akan tetapi apa yang terjadi?
165
Dengan tangan kosong, orang itu menerima serangan pian dengan mengibaskan tangannya. Dari samping, telapak tangan orang itu menghantam ujung pian sehingga senjata ini menjadi membalik dan menghantam kepala kuda yang ditunggangi oleh Tan Koay Kok sendiri. Terdengar suara keras dan kepala kuda itu pecah terpukul oleh pian, dan binatang itu roboh terguling!
Tan Koay Kok tentu akan ikut roboh pula kalau ia tidak cepat-cepat melompat ke samping, mukanya pucat sekali karena ketika pian tadi tersampok, ia tidak dapat menahan senjata¬ya sehingga memukul kepala kudanya dengan amat keras! Dari sini saja ia sudah tahu bahwa lweekang dari orang aneh ini benar-benar hebat dan jauh lebih tinggi daripada tenaganya sendiri.
Bu Jin Ay tertawa senang. Dengan mudahnya, ia memegang empat kaki-kuda. Kaki depan dipegang dengan tangan kiri sedangkan kaki belakang dengan tangan kanan. Ia mengangkat bangkai kuda itu dengan ringan, melontarkannya ke tengah dusun didekat orang-orang dusun yang berkumpul menonton per-tempuran sambil berkata:
„Nah, kalian boleh membagi-bagi daging kuda gemuk ini!”
Orang-orang dusun itu menjadi gembira sekali dan sebentar saja kuda itu sudah dikuliti orang dan dagingnya dibagi-bagi.
„Kau benar-benar kurangajar!” The Sun membentak keras sambil mencabut pedangnya. Ilmu pedang dari The Sun
166
amat lihay dan biarpun di atas kuda, ketika kudanya maju dan pedangnya berkelebat, sinar yang terang menuju ke arah tenggorokan Bu Jin Ay. Pedang itu telah ditusukkan dan dengan gerak tipu Liong-teng-thi-cu (Ambil mutiara dikepala naga), serangan itu amat berbahaya.
„Kau juga iri dan hendak mendermakan kudamu? Kam-sia (terima kasih), kam-sia……!,” kata Bu Jin Ay.
Secepat kilat ia merendahkan tubuhnya sehingga ujung pedang lewat di atas kepalanya, kedua tangannya menangkap kaki depan kuda yang ditunggangi oleh The Sun dan menariknya ke atas. Tentu saja tubuh kuda itu menjadi berdiri dan The Sun tentu akan terlempar ke belakang kalau saja ia tidak mem-pergunakan kedua kakinya menjepit perut kuda dan mengerahkan tenaga lweekang pada kedua kaki.
Ia tidak tinggal diam dan dari samping pedangnya menyambar ke depan untuk menyerang orang yang memegang kaki depan kudanya. Akan tetapi Bu Jin Ay sambil tertawa menggerakkan kaki kanan menendang ke bawah perut kuda, mengenai dada kuda.
2.5. Namaku . . . . . Put Houw Li!
Tiba-tiba orang melihat tubuh The Sun terpental tinggi di udara dan baiknya orang ini cepat mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat jatuh di atas tanah dalam keadaan berdiri. Mukanya juga pucat dan peluhnya membasahi muka. Tendangan Bu Jin Ay pada perut kuda tadi sekaligus melum-puhkan kedua kaki The
167
Sun, karena tenaga lweekang yang disalurkan dari kaki ke perut kuda bukan main hebatnya. Ada pun kuda itu yang terluka isi perutnya, tewas pada saat itu juga.
Seperti tadi, kuda itupun dilempar oleh Bu Jin Ay ke arah orang-orang dusun yang cepat menerima dan mengulitinya!
Melihat ini, The Kwan dan Lay Kiat menjadi marah. Mereka melompat turun dari kuda dan masing-masing mencabut senjata. The Kwan memegang pedang dan Lay Kiat memegang golok dan tanpa banyak cakap mereka menyerbu, menyerang Bu Jin Ay dengan hebat.
Adapun In Hong ketika melihat dua kali gerakan Bu Jin Ay ketika merampas kuda tadi, dapat menduga bahwa kepandaian orang ini benar-benar tinggi dan agaknya kedudukan kakinya seperti ahli silat Siauw-lim-si.
Ia pernah mendengar penuturan yang jelas dari Hek Moli, bahwa seorang murid Siauw-lim-si kalau belum tinggi kepandaiannya, dilarang keras meninggalkan perguruan. Dan gurunya memuji-muji Siauw-lim-si sehingga Hek Moli sendiri yang sudah berani mengacau Go-bi-pay dan Kun-lun-pay, masih belum berani mencoba-coba untuk menguji kepandaian tokoh-tokoh Siauw-lim-pay yang jarang mau mencampuri dunia ramai itu.
Menghadapi serangan The Kwan dan Lay Kiat, Bu Jin Ay tertawa bergelak dan berkata dengan suaranya yang nyaring:
168
„Yo Kang, kaulihat, orang-orangmu begini tidak punya guna, bagaimana orang-orang macam ini akan kauhadapkan dengan Wu Wi Thaysu? Ha, ha, ha!” Tubuhnya berkelebat kesana sini dan biarpun golok dan pedang itu menyambar-nyambarnya, tak pernah dapat mendekatinya. Tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu pedang dan golok itu saling beradu, lalu terpental dan melayang ke kanan-kiri.
Lay Kiat dan Thio Kwan melompat mundur dengan muka berobah merah. Tadi, ketika mereka menyerang berbareng, entah bagaimana, pergelangan tangan mereka tertangkap oleh Bu Jin Ay dan sekali menggerakkan tangan yang memegang pergelangan tangan kedua lawannya, Bu Jin Ay sudah memaksa mereka mengadu senjata sendiri, sedemikian kerasnya sehingga mereka tidak dapat menguasai tangan dan senjata mereka terlepas. Sebelum lawan merobohkan mereka, kedua orang yang tahu diri ini melompat ke belakang.
Bu Jin Ay tertawa-tawa dan ia melompat sambil menggerakkan kaki tangannya. Kuda tunggangan Lay Kiat kena dipukul kepalanya dan pecahlah kepala itu, sedangkan kuda tunggangan The Kwan tertendang dadanya, sehingga bunyi tulang-tulang patah dan kuda inipun roboh binasa. Bu Jin Ay dengan enaknya menyeret tubuh dua ekor kuda itu dan melemparkannya kepada orang-orang dusun yang kini kebanjiran daging sehingga berlebih-lebihan!
169
„Indah sekali gerakan Lauw-siang-goat (Mencari sepasang bulan) itu!” terdengar orang memuji dan baru saja pu¬jian ini habis, tubuh Pouw Cun yang tadinya masih nongkrong di atas kudanya, tahu-tahu telah berada di depan Bu Jin Ay!
Bu Jin Ay tercengang mendengar orang mengenal gerak tipunya ketika menghadapi dua lawannya tadi, maka ia memandang tajam. Juga In Hong diam-diam kagum, ternyata dugaannya tidak keliru. Baru melihat pertama kalinya saja ia tahu bahwa guru silat yang pendiam dan matanya seperti selalu mengantuk ini ternyata berpandaian paling tinggi di antara kawan-kawannya. Dia sendiri yang tidak mengenal ilmu silat Siauw-lim-pay secara mendalam, tidak dapat mengenal gerak tipu yang dipergunakan oleh Bu Jin Ay tadi, sungguhpun ia dapat melihatnya dengan jelas sekali.
„Ha, Yo Kang bocah Bu-tong-pay, ternyata ada juga pengiringmu yang mempunyai mata tajam!” kata Bu Jin Ay sambil memperhatikan guru silat yang datang dan tidak membawa senjata ini.
„Bu Jin Ay sicu benar-benar hebat kepandaiannya. Aku si tua lemah Pouw Cun yang melihat kelihayanmu, melupakan kebodohan sendiri dan hendak mencoba-coba. Biarlah kudaku kudermakan kepada orang-orang dusun yang tidak kenal kenyang itu,” katanya.
Sambil berkata demikian, Pouw Cu tiba-tiba membungkuk, memegang atau lebih tepat menyangga perut kudanya dan sekali ia berseru, kuda itu terlempar ke
170
atas dan jatuh tepat di atas pohon yang banyak cabangnya sehingga kuda itu tertahan disitu, meronta-ronta dan meringkik-ringkik ketakutan, akan tetapi tentu saja tidak berani melompat turun, apalagi memang ia tergantung sedemikian rupa sehingga keempat kakinya nyeplos di antara cabang-cabang!
„Orang-orang dusun boleh naik dan menurunkan kuda itu kalau aku sudah kalah olehmu, sicu,” katanya kepada Bu Jin Ay.
Menyaksikan demonstrasi tenaga lweekang yang hebat ini semua orang dusun meleletkan lidahnya. Diam-diam Yo Kang juga memuji karena ia tidak pernah mengira bahwa guru silat pembantunya yang terkenal pendiam tidak banyak omong ini ternyata lihay sekali, sungguhpun demonstrasi itu tidak meng-herankannya.
„Aha, Pouw-loenghiong benar-benar kuat sekali!” kata Bu Jin Ay, „mana bisa siauwte melawannya?” Akan tetapi biarpun mulutnya bicara demikian, namun tangan kakinya segera bergerak dan ia memasang kuda-kuda yang disebut Kwan-kong menarik busur. Inilah kuda-kuda seorang ahli lweekeh untuk menghadapi lawan yang memiliki tenaga lweekang yang tinggi pula.
Pouw Cun tersenyum. „Jangan sungkan-sungkan, sicu. Majulah!” Baru saja kata-katanya habis, tubuhnya sudah berkelebat maju dan ternyata ginkangnya hebat juga.
Dalam jurus pertama saja, Pouw Cun telah menyerang dengan dua gerakan sekaligus! Serangan pertama
171
merupakan totokan dengan jari tangan kanan ke arah leher, disusul oleh tusukan jari-jari kiri ke lambung dan kaki kanannya terbang menyusul menendang lutut lawan!
„Bagus, kiranya lo-enghiong dari Hoa-san-pay!” kata Bu Jin Ay dan cepat pula ia mengelak dari tendangan dengan menggeser kaki, miringkan kepala untuk mengelak dari totokan ke arah leher sedangkan tusukan kelambung dapat di-tangkisnya.
Dua lengan beradu dan Pouw Cun merasa lengannya sakit dan terpental mundur, sedangkan Bu Jin Ay seperti tidak merasa sesuatu! Pouw Cun penasaran sekali dan mendesak terus, akan tetapi Bu Jin Ay memperlihatkan kegesitan serta tenaga lweekangnya yang memang masih menang tinggi. Tiap kali ia menangkis pukulan, Pouw Cun merasa lengannya sakit dan sebentar saja kedua lengannya telah merah-merah kulitnya!
Setelah membela diri selama duapuluh jurus, tiba-tiba terdengar Bu Jin Ay berseru „Maafkan, lo-enghiong, siauwte berlaku kasar!”
Pada saat itu, Pouw Cun mempergunakan gerak tipu Hoa-san soat-piauw (Salju melayang di Hoa-san), kedua tangannya bergantian memukul ke depan dengan gencarnya. Tiba-tiba kedua tangannya tertahan dan tahu-tahu kedua telapak tangannya telah menempel pada kedua telapak tangan lawannya!
Pouw Cun hendak menarik tangannya, akan tetapi ada tenaga dari telapak tangan Bu Jin Ay yang menyedot
172
tangannya sehingga tangan itu menempel tak dapat dipisahkan lagi. Pouw Cun tahu bahwa lawannya hendak mengadu lweekang, maka ia mengerahkan seluruh tenaga dan ambekan, mengempos semangatnya dan kedua lengannya sampai mengeluarkan suara berkeretakan ketika ia mendorong dengan sekuat tenaga un¬tuk merobohkan lawannya.
Namun, tubuh Bu Jin Ay seperti batu karang kokohnya. Bahkan orang ini masih bisa mengeluarkan suara ketawa, tanda bahwa adu tenaga ini tidak memerlukan seluruh tenaganya! Kemudian, setelah tenaga Pouw Cun dikeluarkan seluruhnya, dengan mendadak Bu Jin Ay melompat ke samping sambil menarik tangannya.
Tak dapat dicegah lagi, terdorong oleh tenaganya sendiri, Pouw Cun terhuyung ke depan dan akhirnya ia terjungkal ke depan. Baiknya sebelum hidungnya mencium batu yang tentu akan membocorkan hidungnya Bu Jin Ay mengaitkan kakinya dan sekali sontek tubuh Pouw Cun tidak jadi roboh, melainkan berjumpalitan ke atas dan kauwsu ini dapat berdiri kembali. Mukanya sebentar merah sebentar pucat, akhirnya ia menghela napas dan berkata:
„Sudahlah, aku orang she Pouw tiada gunanya, perlu belajar sepuluh tahun lagi untuk dapat mengimbangimu. Ambillah kuda itu, aku mengaku kalah.”
Bu Jin Ay lalu menghampiri pohon dimana kuda itu masih tertahan. Sekali ia mengayun tangannya, terdengar suara keras dan pohon itu terkena dorongannya lalu tumbang
173
bagaikan didorong oleh gajah. Kuda itu tentu saja ikut jatuh, akan tetapi Bu Jin Ay menyambar kakinya dan sebelum tubuh kuda itu terbanting, ia telah mengayun tubuh itu ke atas sehingga luput daripada kematian. Sambil menuntun kuda yang gemetaran itu, Bu Jin Ay menghadapi Pouw Cun dan berkata dengan wajah sungguh-sungguh:
„Pouw-loenghiong, siauwte sungguh kagum kepadamu dan dengan rela hati siauwte mengembalikan kuda ini. Harap lo-enghiong sudi memberi maaf kepada siawtee yang berlaku kurangajar tadi.”
In Hong makin kagum kepada orang itu yang ternyata bukanlah seorang kasar. Ternyata bahwa sekarang orang ini demikian sopan santun dan merendah. Ia benar-benar kagum dan menduga bahwa orang ini bukanlah seorang pendekar biasa. Makin ingin ia berkenalan dengan pendekar aneh ini.
Akan tetapi, ternyata bahwa biarpun pendiam, Pouw Cun adalah seorang yang berhati keras dan angkuh. Sekali ia berjanji, sampai mati ia tidak mau menarik kembali janjinya. Ia tersenyum pait, lalu menuntun kuda itu tanpa berkata sesuatu apa. Akan tetapi ia menuntun kuda itu kedekat orang-orang dusun, lalu tiba-tiba ia menghantam kepala kudanya sehingga pecah.
„Saudara-saudara yang amat membutuhkan daging ini, ambillah. Aku sudah berjanji untuk mendermakan milik yang tidak berharga ini!” Kemudian ia melompat kembali ke tempat kawan-kawannya.
174
Bu Jin Ay menarik napas panjang, lalu memandang kepada Yo Kang dan matanya mengharapkan agar pemuda ini tahu diri dan suka kembali, pergi dari situ.
„Seorang gagah berani berbuat berani bertanggung jawab dan tidak akan menyesali perbuatannya itu!” tiba-tiba terdengar suara yang lemah lembut dan merdu, oleh orang-orang lain terdengar perlahan saja akan tetapi pada telinga Bu Jin Ay amat menusuk dan keras sekali seperti bunyi guntur! „Air yang bersumber dari Sungai Huang-ho, mengalir kemanapun juga masih tetap hebat, dan kiranya Siauw-lim-si boleh diumpamakan Sungai Huang-ho yang besar dan megah!” Ucapan ini keluar dari mulut In Hong.
Yo Kang dan lima orang kauwsu, juga Cong-piauwsu memandang kepada In Hong dengan terheran-heran, sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis ini dan mengira bahwa In Hong telah lancang begitu saja, bersikap seakan-akan mengerti urusan kangouw.
Akan tetapi, Bu Jin Ay tiba-tiba memandang dengan mata memancarkan cahaya aneh dan kagum, juga tercengang sekali. Ia melangkah maju menghadapi kuda In Hong, lalu matanya terbelalak dan mulutnya teranganga.
Kedua tangannya bergerak menggosok-gosok matanya seakan-akan ia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, kemudian ia menggeleng-geleng kepala, lakunya seperti orang gendeng.
„Aku mengimpi……,” bisiknya perlahan.
175
Kemudian ia dapat menguasai perasaannya, menjura kepada In Hong dan berkata:
„Aku Bu Jin Ay benar-benar telah buta mataku. Nona cilik benar-benar bermata awas. Kau membawa pedang yang gagangnya demkian indah, terang pedang pusaka dan siapa yang berani membawa pedang pusaka, tentu lihay kiam-hoatnya. Nona cilik turunlah dari kudamu dan cabutlah pedangmu. Aku si bodoh yang bermata buta mohon pengajaran dari murid orang pandai.”
In Hong merengut. Ia tak senang berkali-kali disebut „nona cilik.”
„Kau bicara seperti kakek-kakek bongkok dan pikun!” bentaknya. „Usiaku sudah sembilanbelas tahun, kau masih mau membadut mengatakan aku nona cilik?” Ia tetap di atas kudanya dan tidak mencabut pedangnya.
Bu Jin Ay memandang dan ia tersenyum, matanya berseri-seri, kelihatannya gembira sekali.
„Maaf, kiranya kau seorang cian-kim-siocia yang cantik dan gagah. Maafkan aku, dan sekarang, setelah kau mengeluarkan ucapan, apakah kau juga hendak mendermakan kudamu?”
„Biarpun orang Siauw-lim-pay, akan mengerti juga bahwa seorang gagah mempunyai rasa setia kawan. Kalau lima orang lo-kauwsu sudah mengorbankan kuda mereka, mengapa aku tidak? Sebaliknya, merampas kuda tunggangan seorang yang melakukan perjalanan jauh,
176
hanya untuk memenuhi selera orang-orang yang sedang kelaparan, benar-benar tak dapat dikatakan menyenangkan hati.”
Mendengar ini, Bu Jin Ay menoleh kepada orang-orang dusun yang telah mendapat daging kuda sebanyak itu, lalu berkata:
„Hee! Kau dengar kata-kata nona gagah ini? Jangan habiskan daging-daging itu sekadar memenuhi selera kalian, akan tetapi keringkanlah agar dapat dipergunakan di hari-hari berikutnya. Jangan berpesta pora hari ini untuk kelaparan besok harinya!”
Kemudian ia menghadapi In Hong sambil berkata „Nona, setelah kau tiba disini dan mengeluarkan kata-kata, tak dapat tidak kita berdua harus main-main sebentar!”
„Kau turunkan aku dari kuda kalau kau dapat, dan kau boleh ambil kuda ini kalau kau bisa!”
In Hong menantang tanpa turun dari kudanya, juga tidak mencabut pedangnya. Sikapnya biasa dan anehnya wajahnya berseri-seri memandang kepada Bu Jin Ay, seakan-akan ia tengah bersenda gurau dengan orang gagah yang aneh itu.
„Begitukah? Kau anak nakal, kaukira aku tidak bisa melakukan itu? Awas, bersiaplah kau! Jawab Bu Jin Ay dengan sepasang mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum. Dengan langkah tenang ia lalu menghampiri In Hong yang masih duduk di atas punggung kudanya.
177
Akan tetapi, sebelum Bu Jin Ay turun tangan, tiba-tiba Yo Kang melompat turun dari kudanya dengan golok di tangan. Ia cepat melompat di depan In Hong dan menghadang orang aneh itu, melindungi In Hong.
„Harap kau jangan mengganggu adik misanku! Hong-moy, jangan kau main-main dengan dia yang lihay dan berbahaya!”
Bu Jin Ay memandang tajam kepada Yo Kang: „Aku dan nona itu mau main-main sebentar, mengapa kau turut campur? Kau mau apakah?”
Yo Kang sudah maklum akan kelihayan orang aneh ini, maka ia tidak berani herlaku kasar. Sambil berdiri tegak di depan kuda In Hong, dan goloknya dilintangkan di depan dada, ia menjawab:
“Si kuat mengganggu si lemah, itulah bukan perbuatan seorang hohan (orang gagah). Kalau adik misanku telah mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan hatimu, biarlah aku Yo Kang yang menebus dosanya. Kau telah mengalahkan lima orang pembantuku dan merampas kuda mereka, biarlah kau sekarang memberi pelajaran padaku dan kalau perlu, jangan hanya kuda, biar nyawaku aku sediakan untuk mem¬bela nama dan membela adik misanku ini.”
Ucapan Yo Kang ini memang gagah dan In Hong diam-diam merasa terharu. Tak disangkanya bahwa pemuda yang terlahir dikeluarga kaya itu, ternyata memiliki kegagahan yang lebih berharga daripada seluruh harta
178
kakek Yo Tang! Dan yang membuat ia terharu adalah cinta kasih pemuda ini terhadapnya yang kini telah dibuktikan dengan perlindungannya yang dimodali nyawa, sungguhpun Yo Kang tahu bahwa kepandaian orang aneh itu tinggi sekali.
Bu Jin Ay tertawa bergelak, lalu berkata: „Cinta membikin orang buta dan gila, akan tetapi tanpa cinta kasih, hiduppun tidak berguna! Anak muda, kau mau memamerkan ilmu golokmu? Marilah!” Sambil berkata demikian, orang aneh ini lalu menyerang, menerjang maju dengan tangan kanan mencengkeram kepada Yo Tang dan tangan kiri menyambar ke arah gagang golok untuk merampasnya.
Yo Kang sudah bersiap-siap, maka melihat datangnya serangan hebat ini, ia cepat melompat ke kiri dan membabat dengan goloknya ke arah lengan kiri, kemudian bebatan itu diteruskan dengan tusukan ke arah lambung lawannya.
„Bagus!” Bu Jin Ay berseru keras sekali sehingga kuda yang ditunggangi In Hong menjadi terkejut dan gelisah. Terpaksa In Hong menarik kendali kudanya dan membuat binatang itu melangkah mundur, menjauhi tempat pertempuran sampai kira-kira dua tombak dan dari situ ia menonton pertempuran itu dengan penuh perhatian.
Ilmu golok dari Yo Kang adalah ilmugolok dari Bu-tong-pay aseli. Lima orang guru silat itu biarpun telah mempelajari ilmu silat bermacam-macam dan sudah pula
179
mempunyai pengalaman bertempur, namun dibandingkan dengan Yo Kang, masih kalah.
Hal ini adalah karena biarpun Yo Kang hanya mempelajari satu macam ilmu silat, namun yang ia pelajari adalah ilmu silat aseli dari perguruan yang besar, sehingga ia dapat memetik sarinya dan ilmugoloknya benar-benar tidak boleh dipandang rendah. Goloknya berkelebat-kelebat bagaikan seekor naga mengamuk dan mata golok itu tergetar selalu sehingga kalau dipandang seperti lebih dari satu golok yang dipegangnya.
Menghadapi ilmugolok aseli dari Bu-tong-pay yang dimainkan dengan hebatnya oleh Yo Kang, orang aneh itu nampak terdesak. Namun anehnya, Bu Jin Ay tidak mau mencabut pedangnya dan hanya menghadapi golok itu dengan kedua tangan kosong.
Memang ia amat gesit, namun golok ditangan Yo Kang tentu saja lebih cepat gerakannya daripada gerakan orang mengelak sehingga golok itu terus menyambar-nyambar mengancam lawan. Yang mengagumkan sekali, kadang-kadang kalau ia sudah kehabisan waktu untuk mengelak, Bu Jin Ay dengan berani sekali mengibaskan tangan dan jari-jari tangannya menyentil golok itu sehingga terpental dan tidak jadi melukainya!
In Hong kagum sekali dan ia maklum bahwa Yo Kang takkan dapat memperoleh kemenangan, bahkan orang aneh itu sudah berlaku terlalu mengalah kepadanya. Kalau orang aneh itu mau mengeluarkan senjatanya, sudah dapat diduga bahwa dalam beberapa jurus saja Yo
180
Kang akan roboh. Kalau dilihat-lihat, orang aneh itu seakan-akan hanya menguji sampai dimana kehebatan ilmu golok Yo Kang yang memang cukup baik dan patut dipuji.
Akan tetapi, tidak demikian pendapat Yo Kang. Pemuda ini merasa penasaran dan marah sekali melihat lawannya hanya menghadapi dengan tangan kosong. Inilah penghinaan hebat baginya. Belum pernah selama hidupnya goloknya yang membuat namanya amat terkenal dengan sebutan Bu-tong Sin-to (Golok sakti dari Bu-tong-pay) itu dihadapi orang dalam pertempuran dengan tangan kosong belaka!
Apalagi ia selalu berada dipihak yang mendesak, hatinya menjadi besar dan timbul nafsunya untuk mengalahkan atau merobohkan orang aneh ini, sungguhpun ia tidak mempunyai niat dihati untuk membunuhnya. Maka setelah tigapuluh jurus lewat belum juga ia dapat melukai Bu Jin Ay, ia menjadi penasaran sekali dan memutar goloknya lebih cepat lagi.
Bu Jin Ay agaknya sudah merasa puas. Melihat gerakan pemuda itu makin mengganas, ia tertawa bergelak dan berkata: „Yo-kongcu, kau betul-betul tidak mengecewakan telah mempelajari ilmu golok dari Bu-tong-pay. Untuk kepandaianmu yang kau pelajari amat baiknya ini, biarlah aku mengalah dan tidak jadi mengambil kudamu!”
Sambil berkata demikian, Bu Jin Ay melompat ke belakang menjauhi Yo Kang. Kata-katanya ini jelas
181
menyatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pertempurannya dengan Yo Kang.
Akan tetapi Yo Kang merasa penasaran dan gemas sekali. Tidak saja ia belum dapat merobohkan lawannya, bahkan kata-kata lawannya itu terang sekali menyatakan bahwa lawan tadi merasa diri jauh lebih unggul dan sengaja mengalah! Darah mudanya tidak membiarkan ia sudah begitu saja sebelum ada keputusan siapa kalah siapa menang, maka ia menubruk maju dan menyerang lagi dengan hebatnya.
„Aku masih belum kalah!” katanya penasaran.
Marahlah Bu Jin Ay. „Anak muda kepala batu! Jadi kau ingin sekali roboh olehku? Mudah saja, bocah. Awaslah pedangku!” Tanpa dapat terlihat oleh Yo Kang saking cepatnya gerakan tangan Bu Jin Ay, tahu-tahu tangan kanan orang aneh itu telah memegang pedang yang tajam dan terdengar suara „Traang!” yang nyaring sekali ketika golok Yo Kang beradu dengan pedang.
Yo Kang merasa telapak tangannya tergetar hebat dan hampir saja goloknya terlepas dari pegangan. Akan tetapi dasar ia masih muda dan berdarah panas, ia tidak mau mundur dan bagaikan seekor harimau muda ia menubruk lagi sambil menyerang dengan goloknya.
Bu Jin Ay menangkis lagi dan kali ini setelah menangkis, pedangnya itu langsung meluncur ke depan, ke arah muka Yo Kang! Yo Kang yang kena ditangkis goloknya sehingga mental ke bawah, berlaku nekad. Ia
182
membiarkan pedang lawan melayang kemukanya dan sebagai pembalasan, ia juga menggerakkan goloknya dari bawah menyabet pinggang lawannya! Gerakan ini cepat dan hebat sekali sehingga kalau pedang itu mengenai muka Yo Kang. agaknya goloknyapun akan berhasil membabat pinggang Bu Jin Ay.
„Celaka……” In Hong mengeluh dalam hatinya. Ia tidak mengira bahwa Yo Kang begitu bodoh dan nekad sehingga dalam pertempuran yang tidak berdasarkan permusuhan itu ia mau mengadu jiwa.
Ia tidak kenal siapa adanya Bu Jin Ay itu, yang baru dilihatnya sekarang, biarpun ia tertarik dan suka melihat sikap orang gagah ini, namun orang itu bukan apa-apa baginya. Sebaliknya, Yo Kang adalah kakak-misannya, maka betapapun juga, ia harus membantu Yo Kang, melepaskan pemuda itu dari ancaman maut yang agaknya sudah tak dapat dielakan lagi.
Sinar hitam meluncur dari tangan gadis ini tanpa ada orang yang melihatnya. Para kauwsu sedang asik menonton pertempuran, maka siapakah yang memperhatikan gadis di atas kudanya itu?
Ketika sinar hitam yang meluncur dari tangan In Hong itu tiba di tempat pertempuran, dua orang yang sedang bertempur berseru kaget. Bu Jin Ay kaget sekali ketika tiba-tiba pedangnya terpental seakan-akan terbentur oleh sesuatu. Sekelebatan ia melihat sinar hitam yang aneh sekali namun amat kuatnya. Sedangkan Yo Kang kaget bukan main karena tiba-tiba Bu Jin Ay mengangkat kaki
183
menendang goloknya sehingga golok itu terpental dan terlepas dari pegangannya!
Yo Kang tidak berdaya lagi dan Bu Jin Ay amat marah melihat ada sinar hitam membentur pedangnya tadi. Ia tahu bahwa ada orang membantu Yo Kang, orang yang pandai sekali. Hal ini mendatangkan penasaran dan marah besar, maka setelah ia berhasil menendang golok Yo Kang sehingga terlepas, ia lalu menggerakkan pedang ke arah telinga pemuda itu untuk memotong telinga sebelah kanan!
Bukan main marah dan ngerinya hati In Hong melihat gerakan ini. Ia tahu bahwa kalau ia tidak turun tangan, Yo Kang tentu akan kehilangan telinga kanannya. Maka, seperti tadi pula, ia mengayun tangan dan sinar hitam menyambar. Kini bukan hanya satu, melainkan tiga sekaligus!
Sebetulnya, Bu Jin Ay tidak begitu keji untuk membuntungi telinga pemuda tampan itu. Ia sengaja melakukan hal ini untuk memancing keluar orang yang membantu Yo Kang. Kalau melihat Yo Kang terancam bahaya, tentu orang itu akan turun tangan lagi.
Pancingannya berhasil, karena kini tiga sinar hitam menyerangnya, satu ke arah pergelangan tangan yang memegang pedang, yang datang terdahulu dan cepat sekali, kedua menyerang ke arah jalan darah dipundaknya dan ketiga menyerang lambung!
184
Bu Jin Ay kaget sekali, bukan saja karena hebatnya serangan sinar hitam ini, akan tetapi lebih kaget melihat bahwa yang melepas sinar-sinar hitam itu adalah nona muda yang duduk di atas kuda! Rasa kaget ini membuat ia termangu dan agak memperlambat gerakannya.
Ia dapat menarik tangan yang memegang pedang sehingga terluput dari sambaran sinar hitam, dan karena serangan sinar hitam pada lambung dan pundak datang berbareng, ia pikir yang menyerang lambung lebih berbahaya, maka ia menyampoknya dengan ujung lengan baju kiri dan mencoba untuk mengelak sinar hitam yang menotok pundak.
Akan tetapi, pada saat ia terancam bahaya, Yo Kang tidak tinggal diam. Pemuda ini setelah goloknya terlepas, lalu menggunakan tangan kiri memukul dada lawannya.
„Buk!”
Bu Jin Ay terhuyung mundur dan mukanya berobah. Bagi orang lain, juga bagi Yo Kang, dikira bahwa jago aneh itu terhuyung karena pukulan Yo Kang. Akan tetapi sesungguhnya, lweekang dari Bu Jin Ay sudah sedemikian tingginya sehingga pukulan itu hanya mendatangkan sedikit rasa sakit pada dadanya, namun tidak mendatangkan luka berat. Yang hebat adalah serangan sinar hitam itu, karena tadi ketika ia mengelak, gerakannya kurang cepat dan ujung pangkal lengan dekat pundak masih terkena sinar hitam itu dan mendatangkan rasa ngilu dan perih!
185
Sinar hitam itu adalah kepandaian tunggal dari Hek Moli yang diturunkan kepada muridnya, yakni senjata rahasia berupa bubuk pasir hitam yang luar biasa lihaynya. Sekali mengenai kulit, pasir hitam ini akan menembus dan meresap ke dalam jaringan darah dibawah daging!
Bu Jin Ay tersenyum pait. Ia memandang kepada Yo Kang dan berkata: „Aku si bodoh terima kalah!” Kemudian ia menghadap kepada In Hong sambil bertanya:
„Nona, beritahukan namamu!”
In Hong merasa terkejut dan juga menyesal. Tadi ia menyerang orang itu karena mengkhawatirkan keselamatan Yo Kang, akan tetapi melihat cara Bu Jin Ay menarik tangannya, tahulah ia bahwa sambaran pedang ke arah telinga Yo Kang hanya gertak belaka, jadi orang itu tidak sungguh-sungguh hendak membuntungi telinga Yo Kang.
Ia menyesal sekali karena melihat pasir hitamnya telah melukai pundak Bu Jin Ay, dan ia maklum bahwa hal itu amat berbahaya bagi keselamatan orang gagah yang aneh itu.
„Namaku? Aku…… aku…… sebut saja aku Put Hauw Li (Anak perempuan tidak berbakti). Aku mempunyai obat untuk menyembuhkan lukamu……”
Akan tetapi, Bu Jin Ay sudah melompat jauh sekali dan berlari pergi, terdengar suara ketawanya dan suaranya lapat-lapat terdengar oleh In Hong, sungguhpun tidak
186
terdengar oleh orang lain: „Namanya Put Hauw Li…… sungguh aneh…… airmukanya sama benar…… kepandaiannya lihay…… aahh……” Dan sebentar saja bayangan orang aneh itu lenyap.
Lima orang kauwsu menghampiri Yo Kang dan dengan muka merah The Sun berkata: „Yo-kongcu, kepandaianmu tinggi sekali sehingga kau berhasil dapat mengusirnya. Kami orang-orang tua tidak berguna, percuma saja mengawanimu.”
„Aah, kepandaianku tidak seberapa, The-kauwsu, hanya orang aneh itu yang berlaku mengalah. Sayang sekali bahwa ngo-wi yang mencari perkara dengan dia. Sekarang kuda kita tinggal dua lagi, bagaimana baiknya?”
In Hong majukan kudanya. „Yo-twako, kau mencari Wu Wi Thaysu bukan untuk bertempur, mengapa harus mencari kawan? Karena kuda yang masih ada hanya kudamu dan kudaku, marilah kita berdua saja mencari tosu itu.”
„Benar kata Kwee-lihiap,” kata Pouw Cun, karena guru ini setengah dapat menduga akan kelihayan In Hong, „biarlah kami berlima kembali jalan kaki, hitung-hitung untuk menebus dosa.”
Terpaksa Yo Kang menyetujui hal ini dan ia lalu pergi bersama In Hong, membalapkan kuda menuju ke dusun di depan setelah mendapat petunjuk dari Cong-piauwsu dimana tempatnya dusun yang pernah mencoba untuk merampas kereta berisi gandum.
187
3.1. Tosu Tua Go-bi-pay
Setelah mengalami pertempuran dengan Bu Jin Ay yang aneh, Yo Kang tidak berani berlaku sembrono lagi. Di dusun yang dimaksudkan, ia berlaku ramah-tamah dan halus, menanyakan kepada mereka dimana adanya Wu Wi Thaysu, seakan-akan seorang sahabat hendak mencari orang tua itu.
Ia mendapat keterangan bahwa Wu Wi Thaysu sedang berada di dusun yang sepuluh lie jauhnya dari situ, membawa kereta berisi bahan obat untuk menolong orang-orang yang sedang diamuk penyakit-penyakit panas, dan kebetulan sekali bahan obat yang dikirim oleh Yo Kang adalah obat untuk menyembuhkan penyakit demam panas.
Mereka akhirnya mendapatkan Wu Wi Thaysu sedang membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun sambil memberi penjelasan cara memasak dan meminumnya. Melihat kedatangan dua orang muda ini, tosu yang sudah tua itu lalu mengoperkan pekerjaannya kepada seorang dusun yang sudah tua pula, dan ia menyambut Yo Kang.
„Wu Wi Locianpwe, maafkan boanpwe Yo Kang datang mengganggu pekerjaan locianpwe yang mulia, membagi-bagi obat kepada orang-orang dusun,” kata Yo Kang.
„Ha, Yo-sicu datang-datang menyindir. Memang obat-obat itu tadinya milikmu yang kurampas dari orang-orangmu. Kau tentu datang untuk menagih, bukan?”
188
„Tidak, locianpwe, hanya boanpwe mohon kepada locianpwe agar suka berjanji bahwa pengiriman-pengiriman selanjutnya takkan mendapat gangguan.”
Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya sehingga jenggotnya berkibar-kibar. „Tidak bisa, tidak bisa. Pinto boleh berjanji, akan tetapi bagaimana dengan mereka yang membutuhkannya?”
Yo Kang mulai tidak senang. „Locianpwe benar-benar keterlaluan. Boanpwe adalah seorang pedagang, kalau terus menerus diganggu, bukankah perdagangan boanpwe bisa bangkrut?”
Mendengar ini, In Hong merasa kecewa. Sedikit banyak, pemuda ini sudah ketularan watak kakeknya, menganggap soal untung dan harta benda sebagai soal terpenting.
„Sudahlah, Yo-sicu. Pinto selamanya tidak mau hutang, kali ini hutang tujuh kereta, tentu akan pinto bayar pula. Karena pinto tidak beruang, dan tidak punya apa-apa, maka pinto hendak menukarnya dengan tujuh petunjuk ilmu silat agar Bu-tong-to-hwat (Ilmu golok Bu-tong-pay) yang kau pelajari bisa makin baik.”
Mendengar ini, Yo Kang merasa girang juga. Memang pemuda ini setelah mengalami kekalahan dari Bu Jin Ay yang aneh dan kemudian ia mendapatkan kemenangan yang aneh pula, ia merasa kecewa. Kalau tokoh besar Go-bi-pay ini mau mengajarnya dengan tujuan petunjuk, hal itu baik sekali. Memang iapun tidak menghendaki
189
pembayaran hutang, karena bagaimanakah tosu ini dapat membayar harga dari tujuh kereta barang itu?
„Terima kasih atas kemurahan hati locianpwe,” katanya.
„Nah, cabutlah golokmu. Ingat baik-baik, ambil tujuh jurus penyerangan ilmu golokmu yang paling lihay dan pergunakan itu untuk menyerangku!”
Mendengar ini, Yo Kang tertegun. Ia mengira akan mendapat pelajaran ilmu silat, mengapa ia bahkan harus menye¬rang kakek itu?
„Jangan ragu-ragu, Yo-sicu. Kalau kau sampai berhasil melukai atau bahkan membunuhku, itu juga merupakan pembayaran yang baik sekali. Tujuh kereta bahan makanan dan obat, yang menolong ratusan nyawa orang, diganti dengan cucuran darah pinto yang tua bangka atau dengan nyawa pinto yang sudah bosan dikurung di tubuh bobrok ini, bukankah itu baik sekali? Sebaliknya kalau golokmu tidak berhasil, kau akan mendapat tambahan pelajaran yang amat berguna bagimu kelak.”
Akan tetapi Yo Kang tetap saja ragu-ragu, apalagi kalau ia ingat bahwa In Hong berada disitu. Ia tidak mau gadis itu akan mencelanya dan menganggapnya keterlaluan menyerang seorang kakek dengan goloknya, apalagi mempergunakan jurus-jurus terlihay dari Bu-tong-to-hwat. Tak terasa lagi ia menoleh kepada In Hong, seperti minta nasihat.
190
„Yo-twako, Wu Wi Totiang bermurah hati kepadamu, mengapa kau ragu-ragu untuk menerimanya? Lekas serang dia!” kata gadis ini.
Kini Yo Kang mengambil keputusan tetap. Peraturan „membayar hutang” ini ditetapkan oleh tosu itu sendiri, bahkan In Hong juga menyetujui, maka kelak ia takkan mendapat nama buruk.
„Siaplah, locianpwe, jurus penyerangan pertama boanpwe lakukan!” katanya dan setelah memutar golok, ia lalu menyerang dengan gerak tipu See-ceng-pay-hud (See-ceng sembah Buddha). Inilah jurus penyerangan yang amat lihay dari Bu-tong-pay dan kalau lawan tidak berkepandaian tinggi, sukarlah menghindarkan diri dari serangan golok ini. Sebelum golok menusuk ke dada, lebih dulu tangan kiri menyelok ke arah perut lawan untuk mengacaukan pertahanan dan golok menyusul dengan kecepatan kilat.
Wu Wi Thaysu bergerak lambat sekali, seakan-akan orang sedang bermain-main. Akan tetapi, ketika golok itu meluncur ke arah dadanya, ia miringkan tubuh, menggeser kaki ke kiri dan sekali tangannya berkelebat ke depan, sambungan siku tangan Yo Kang yang memegang golok telah kena disentil sehingga lengan itu gemetar dan goloknya terlepas dari pegangan!
„Ambillah golokmu, Yo-sicu dan lakukan penyeranganmu yang kedua,” kata tosu itu sambil tersenyum tenang.
191
Muka Yo Kang merah sekali. Ia merasa dipermainkan oleh tosu ini. Katanya hendak mengajar silat, akan tetapi ia disuruh menyerang dan kemudian dikalahkan dalam segebrakan saja, bukankah ia sengaja hendak mempamerkan kepandaian dan sengaja hendak menghinanya?
Saking malunya ia menjadi marah. Ia mengambil goloknya dan sambil berseru keras ia melakukan serangan yang kedua, kini ia menggunakan gerak tipu Liong-bun-kwa-hi (Dipintu naga tunggang ikan). Serangan ini bahkan lebih hebat dari pada serangan pertama. Golok mula-mula diputar merupakan gulungan sinar bundar lebar di depan tosu itu, kemudian tiba-tiba tubuh Yo Kang melompat tinggi dan golok itu dari bawah perutnya ditusukkan ke depan, ke arah leher tosu itu.
Seperti tadi, Wu Wi Thaysu bergerak perlahan sekali, akan tetapi setelah serangan tiba, ia cepat mengangkat kaki, mencokel jalan darah di mata kaki Yo Kang sehingga tubuh pemuda itu terapung makin tinggi dan kakinya yang ditowel itu menjadi lumpuh, dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, goloknya kembali kena dirampas. Ketika ia turun lagi, kakinya tidak dapat berdiri lalu jatuh terguling!
Kalau tadi muka Yo Kang hanya merah saja, sekarang menjadi pucat. Ia hampir menangis saking malu dan men¬dongkolnya.
„Totiang, kau terlalu menghinaku……!” katanya marah sekali.
192
„Yo-twako, bagaimana sih kau ini? Wu Wi Totiang telah memberi pelajaran dan petunjuk yang begitu sempurna, mengapa kau marah? Seranganmu yang pertama tadi, tangan kirimu terlalu ke depan dan kalau menjaga siku kanan, bukankah penyerangan itu baik sekali dan kau takkan kalah? Dalam penyerangan kedua, seharusnya kau mengangkat tinggi kakimu sehingga tidak terbentang, kalau begitu, bukankah Wu Wi Totiang takkan dapat merobohkanmu?” tiba-tiba In Hong berkata dengan suara girang.
Yo Kang terkejut bukan main. Kini terbukalah matanya. Benar-benar tosu itu telah memberi petunjuk yang amat baik!
Di dalam kegembiraannya karena baru sekarang ia tahu akan maksud Wu Wi Thaysu menghadapi serangan-serangannya dan menjatuhkannya, maka Yo Kang tidak menaruh perhatian mengapa In Hong bisa tahu akan hal ini! Yo Kang tidak memperdulikan lagi betapa ia jatuh bangun, cepat ia maju menyerang dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling berbahaya dari ilmu goloknya Bu-tong To-hwat.
Namun, tosu tua itu benar-benar lihay sekali. Yo Kang tidak berani menganggap bahwa ia terpandai dan ilmu goloknya tidak ada yang dapat melawan, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa ada orang yang sanggup menghadapi goloknya hanya dengan tangan kosong belaka. Lebih hebat lagi, setiap jurus dari serangannya pasti dihancurkan oleh Wu Wi Thaysu, diketahui bagian yang lemah dan ia dirobohkan.
193
Sampai tujuh kali Yo Kang menyerang dengan jurus-jurus terlihay, dan tujuh kali pula ia tak berdaya, bahkan pada jurus ketujuh ia terlempar sampai tiga tombak lebih dan kepalanya benjol-benjol!
Akan tetapi pemuda ini, dengan terpincang-pincang menghampiri Wu Wi Thaysu dan menjatuhkan diri berlutut. Ia bukan seorang bodoh dan pada tiap penyerangan tadi, ia memperhatikan sekali bagaimana ia sampai roboh. Memang Wu Wi Thaysu bergerak lambat dan sengaja memberi petunjuk, sehingga Yo Kang tahu bagian mana dari penyerangan tadi yang kurang sempurna dan „terbuka.”
Dengan pengalaman ini, tujuh jurus ilmu goloknya yang pilihan menjadi sempurna dan dia dapat memperbaiki jurus-jurus ini sehingga tidak lagi terdapat lowongan yang membahayakan dirinya sendiri. Memang, inilah petunjuk yang jauh lebih bermanfaat daripada kalau ia menerima pelajaran ilmu silat lain.
„Totiang, teecu menghaturkan banyak terima kasih atas petunjuk-petunjuk totiang yang amat berharga tadi,” katanya.
Akan tetapi Wu Wi Thaysu tidak memperdulikannya, hanya mengebutkan lengan baju sambil berkata: „Sudahlah, itu untungmu kalau kau mengerti, akan tetapi kalau tidak ada nona ini, agaknya kau akan menderita kerugian besar.” Tosu tua itu memandang kepada In Hong dengan pandang mata curiga. „Tidak tahu siapakah
194
nona yang begini muda akan tetapi memiliki mata yang amat awas?”
In Hong tersenyum dan menjura untuk memberi hormat kepada tosu itu.
„Wu Wi Totiang, urusan Yo-twako denganmu telah beres dan hutang pihutang itu telah dilunaskan. Memang tadinya aku hanya ikut saja dengan Yo-twako, akan tetapi setelah bertemu dengan kau orang tua dari Go-bi-pay, tak dapat tidak aku yang muda harus mohon sedikit keterangan tentang seorang tosu kurangajar yang bernama Tek Seng Cu!”
Berubah muka Wu Wi Thaysu mendengar kata-kata ini, sedangkan Yo Kang yang sudah bangkit berdiri, memandang kepada In Hong dengan heran.
„Nona, kau siapakah dan ada urusan apakah kau dengan Tek Seng Cu?”
In Hong tersenyum dan kini senyumnya mengejek. „Wu Wi Totiang, salahkah dugaanku kalau aku katakan bahwa Tek Seng Cu manusia tak tahu diri itu adalah murid dari Go-bi-pay? Harap totiang tidak menyembunyikan dia dari aku yang muda dan yang mengharapkan penjelasan totiang.”
„Hong-moy, jangan kau kurang ajar terhadap locianpwe dari Go-bi-pay!” Yo Kang berseru karena ia merasa khawatir sekali melihat sikap In Hong. „Wu Wi Thay-suhu,
195
mohon maaf sebesarnya atas kelancangan mulut adik misan teecu ini. Dia bernama Kwee In Hong dan dia……”
„Cukup, Yo-twako. Tak perlu kau mencampuri, ini bukan urusanmu, melainkan urusanku pribadi dengan pihak Go-bi-pay,” kata In Hong ketus sehingga Yo Kang terkejut melihat sikap yang baru baginya ini.
Kemudian gadis itu menghadapi Wu Wi Thaysu kembali dan berkata: „Nah, totiang, kau sudah mengetahui namaku. Bagaimana, apakah kau sudah bersedia untuk memberitahu kepadaku, dimana adanya Tek Seng Cu itu dan apa yang ia lakukan akhir-akhir ini?”
Wu Wi Thaysu menjadi mendongkol juga. Tek Seng Cu adalah cucu muridnya dan menjadi anak murid Go-bi-pay. Betapapun juga, urusan dengan Tek Seng Cu berarti urusan dengan Go-bi-pay dan urusannya juga, maka mau tidak mau ia harus membelanya.
„Nona, kau masih begini muda akan tetapi sikapnya keras mendesak, menandakan bahwa kau memiliki kepandaian dan menyombongkan kepandaianmu itu. Tek Seng Cu adalah murid Go-bi-pay dan urusan dia tak perlu diketahui oleh orang luar. Segala sesuatu yang menyangkut diri seorang murid Go-bi-pay, adalah urusan kami sendiri dan kami pula yang akan membereskannya. Orang luar tak perlu tahu!”
Sepasang mata yang indah itu mulai berkilat dan kalau orang tahu akan kebiasan In Hong, ia akan mengerti
196
bahwa inilah tanda kemarahan dari gadis itu. Ia melangkah maju dan berkata, suaranya menantang:
„Wu Wi Totiang, aku yang muda dan bodoh sudah mendengar bahwa kau adalah tokoh kedua dari Go-bi-pay, dengan kepandaianmu yang tinggi menjulang kelangit. Tadipun sudah kusaksikan sendiri kelihayanmu, maka biarlah aku melupakan dalam ilmu pukulan darimu. Kalau aku kalah, sudahlah, kau boleh berbuat apa yang kausuka. Akan tetapi kalau kau mengalah dan tidak mau menjatuhkan aku, terpaksa aku mendesak terus dan kau harus memberitahu kepadaku perihal urusan Tek Seng Cu!”
Inilah kata-kata yang mengandung tantangan. Gadis yang begini muda berani menantangnya dan bertaruh kalau ia kalah supaya memberitahu tentang Tek Seng Cu, alangkah beraninya.
„Hong-moy……! Apakah kau sudah gila……?”
In Hong menoleh. „Mungkin juga, Yo-twako. Akan tetapi kunasihatkan agar supaya kau menjauhkan diri dan menonton saja dari jauh kalau kau tidak ingin dibikin terjungkir balik oleh Wu Wi Totiang yang lihay!”
Wu Wi Thaysu sudah dapat dibakar hatinya dan ia mendelik ke arah Yo Kang. „Orang muda, minggirlah dan jangan ikut-ikut!”
Yo Kang terkejut sekali dan cepat ia menuntun kudanya dan kuda In Hong, menuju ke sebatang pohon dimana ia
197
mengikatkan kedua kuda, lalu berdiri bengong memandang ke arah dua orang yang masih berdiri berhadapan itu. Hati Yo Kang berdebar dan ia masih mengira bahwa In Hong terlalu ceroboh dan berani mati. Apa sih kepandaian gadis itu sehingga berani bersikap demikian kurangajar terhadap Wu Wi Thaysu yang tadi telah membuktikan bahwa kepandaiannya amat tinggi?
„Nona kau benar-benar memiliki keberanian besar sekali. Siapakah gurumu?”
In Hong tersenyum lagi, senyum yang mengandung ancaman. „Totiang, biarlah keterangan tentang guruku inipun kujadikan taruhan. Kalau aku kalah, baru aku akan memperkenalkan siapa guruku, sebaliknya kalau kau tak dapat mengalahkan aku, kau harus memberitahu tentang Tek Seng Cu. Bukankah ini sudah adil sekali?”
„Bagus! Kau majulah, dan jangan anggap aku seorang tua yang keterlaluan mau melayani seorang muda. Ini adalah kau sendiri yang mencari dan kau sendiri yang mendesakku. Agaknya kau terlampau dimanja dan biarlah hitung-hitung pinto memberi hajaran kepada seorang gadis manja!”
In Hong tersenyum geli. „Awaslah, totiang, aku yang muda dan bodoh hendak menyerang lebih dulu,” Baru saja kata-kata ini berhenti, tubuh In Hong sudah berkelebat maju dan melakukan serangan yang amat cepat gerakannya.
198
Hek Moli adalah seorang iblis wanita yang ganas dan ilmu silatnya pun selain aneh, amat ganas sifatnya. Maka serangan dari In Hong ini tidak berbeda dengan gurunya, cepat kuat dan ganas sekali.
Tadinya Wu Wi Thaysu sebagai tokoh besar di dunia persilatan, dan sebagai tokoh kedua dari Go-bi-pay, tentu saja tidak memandang sebelah mata kepada gadis yang begini muda, maka ketika In Hong hendak bergerak maju, ia telah terlanjur berkata:
„Majulah, kalau dalam duapuluh jurus pinto belum dapat mengalahkan, anggap saja kalah……”
Namun kata-katanya terputus ketika tiba-tiba bayangan In Hong, berkelebat dan tahu-tahu gadis itu sudah menyerangnya dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka. Dengan tubuh masih terapung ketika melompat tadi, In Hong sudah mengirim tendangan berantai dengan kedua kaki, tangan kanannya menotok leher, jadi sekaligus, dengan bertubi-tubi, gadis ini telah mengirim tiga macam serangan!
Bukan-main kagetnya Wu Wi Thaysu. Ia sampai mengeluarkan seruan kaget dan cepat-cepat ia melompat ke kiri untuk menghindarkan tendangan berantai, dan melihat tangan kanan gadis itu dengan cepat meluncur, mengejar lehernya untuk ditotok, ia segera mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menangkis.
Kibasan ini adalah ilmu silat tinggi dari Go-bi-pay yang disebut Siu-te-kiat-ciang (Dibawah tangan baju memotong
199
tangan) dan lihaynya bukan main. Biarpun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan dengan tenaga lweekang tingkat tinggi, cukup kuat untuk mematahkan pergelangan lengan lawan!
Namun, apa yang terjadi? Terdengar suara „brett!” dan bukan pergelangan lengan kanan In Hong yang terpukul oleh ujung lengan baju, bahkan gadis itu cepat sekali menarik tangan kanan dan tangan kirinya yang sudah siap sedia itu mencengkeram dan sekaligus ujung lengan baju dari Wu Wi Thaysu robek dan hancur!
„Ganas…… ganas……!” Tosu ini berseru dengan keringat membasahi keningnya. Baru dalam gebrakan pertama saja, dengan susah-payah baru ia dapat menghindarkan diri dan mengorbankan ujung lengan bajunya! Kalau tidak mengalami sendiri, tentu ia takkan percaya.
Namun, In Hong yang mendengar bahwa ia akan dikalahkan dalam duapuluh jurus, sudah menjadi penasaran dan naik darah, maka ia tidak mau memberi kesempatan lagi dan terus mendesak dengan serangan-serangan aneh dan cepat sekali.
Sebaliknya, Wu Wi Thaysu baru terbuka matanya bahwa yang ia hadapi bukanlah gadis sembarangan yang ilmu silatnya dapat disamakan dengan Yo Kang, melainkan seorang lawan yang tangguh sekali, maka ia tidak berani berlaku sembrono lagi. Dengan penuh perhatian ia lalu menghadapi In Hong, menggerak-gerakkan kedua lengan sehingga terdengar bunyi tulang-tulang berkerotokan.
200
Inilah tanda bahwa tosu tua ini telah mengerahkan seluruh tenaga lweekang, membangkitkan tenaga sin-kang di dalam tubuhnya, yang hanya ia lakukan apabila menghadapi lawan berat. Sebetulnya, ia segan sekali harus mengeluarkan kepandaian ini menghadapi seorang gadis yang begitu muda, namun gebrakan pertama tadi sudah merupakan pelajaran pahit baginya bahwa ia sekali-kali tidak boleh memandang rendah kepada lawan muda ini.
Sebaliknya, dahulu In Hong sudah seringkali mendengar penuturan gurunya tentang pelbagai kepandaian istimewa dari cabang-cabang persilatan yang besar, maka ia sudah tahu bahwa Wu Wi Thaysu adalah seorang ahli lweekang yang berbahaya. Ia tahu bagaimana harus menghadapinya, maka diam-diam iapun mengerahkan khikangnya untuk menambah keringanan tubuh, kemudian mengandalkan ginkang yang luar biasa, ia melakukan penyerangan.
Bukan-main hebatnya pertempuran itu. In Hong menyerang cepat sekali, tubuhnya berkelebat kesana kemari sedangkan Wu Wi Thaysu berdiri memasang kuda-kuda yang teguh dan mengandalkan tenaga lweekangnya yang disalurkan dikedua lengan, menyampok, menangkis dan memukul apabila lawannya mendekat. Dilihat dari jauh, seakan-akan tosu itu adalah seekor harimau dan In Hong seekor garuda yang menyambar-nyambar dari atas.
Demikiancepat gerakan In Hong sehingga Wu Wi Thaysu tak pernah berhasil menyentuh tubuh nona itu, dan sama
201
sekali tidak diberi kesempatan menyerang. Namun, bagi In Hong juga amat sukar karena hawa pukulan yang menyambar dari kedua Iengan tosu itu benar-benar amat dahsyat sehingga tiap kali ia hampir berhasil menyerang, ia selalu terpental kembali terdorong oleh hawa pukulan. Baiknya gadis inipun telah memiliki sin-kang yang lumayan, maka dorongan hawa lweekang itu tidak mengganggunya, hanya membuatnya terpental mundur.
Yang bengong adalah Yo Kang. Pemuda ini berdiri menonton dan tak disadarinya, mulutnya ternganga dan sepasang matanya melotot tanpa berkedip. Mimpipun tidak pemuda ini bahwa In Hong dapat mempunyai kepandaian sehebat itu. Matanya sampai berkunang-kunang karena ia tidak dapat mengikuti kecepatan gerak tubuh gadis itu!
Setelah sadar karena merasa matanya pedas, ia menarik napas berulang-ulang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mukanya merah sekali kalau ia teringat betapa ia tidak memandang mata kepada gadis ini!
Duapuluh jurus lewat cepat sekali karena serangan-serangan In Hong memang dilakukan tanpa berhenti. Di dalam duapuluh jurus ini, Wu Wi Thaysu hanya sempat membalas dengan serangan tiga jurus saja, inipun serangan sambil lalu kare¬na ia tidak diberi kesempatan sama sekali.
In Hong tidak mempunyai niat untuk mencelakakan atau untuk memperhebat pertandingannya dengan tosu ini. Sepak terjang tosu ini ketika merampas bahan makan dan
202
obat lalu membagikan kepada rakyat, telah membuatnya kagum maka ia tidak ingin bermusuh dengan orang tua ini.
„Wu Wi Totiang, duapuluh jurus telah lewat, masih harus diteruskankah pertandingan ini?” tanyanya sambil terus menyerang.
Wu Wi Thaysu menjadi merah mukanya dan ia berseru: „Tahan……!”
In Hong melompat ke atas, berjungkir balik beberapa kali kemudian berdiri menghadapi tosu itu dengan bibir tersenyum dan sama sekali tidak kelihatan lelah.
„Ginkangmu hebat sekali, nona. Murid siapakah kau sebenarnya?” tanya tosu itu dengan kagum.
„Ingat, totiang. Aku tidak kalah, bukan semestinya aku bicara tentang guruku, bahkan seharusnya kau bicara tentang Tek Seng Cu!”
Wu Wi Thaysu tersenyum pahit dan kembali menarik napas panjang. „Baiklah, baiklah, aku akan memberitahu kepadamu, akan tetapi setelah aku mengenal ilmu pedangmu. Kau membawa pedang yang begitu indah, pasti aku akan melihat kiam-hoat yang jempol. Kalau dalam sepuluh jurus permainan pedang aku belum dapat menebak kau murid siapa, biarlah aku mengaku kalah betul-betul dan akan menuruti segala permintaanmu!” Sambil berkata demikian, Wu Wi Thaysu mencabut pedangnya.
203
Tosu ini hendak berlaku cerdik. Go-bi-pay terkenal sekali akan ilmu pedangnya yang lihay, dan selain Wu Wi Thaysu telah menguasai delapan bagian dari Go-bi-kiam-hoat, iapun terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mengenal hampir semua ilmu pedang di dunia persilatan. Dengan menantang bermain pedang, tidak saja ia hendak menebus kekalahannya tadi juga ia ingin tahu murid siapa adanya gadis aneh ini. Ia percaya bahwa setelah melihat ilmu pedang gadis ini, ia akan dapat mengetahui dari cabang mana datangnya ilmu kepandaian itu. Boleh jadi ia tidak mengenal ilmu silat tangan kosong, akan tetapi tak mungkin ia tidak mengenal ilmu pedang.
Tentu saja In Hong yang cerdik maklum pula akan siasat tosu tua itu, maka ia tersenyum sambil mencabut pedangnya.
„Bukan aku yang mendesak, sebaliknya kau sendiri yang berjanji, totiang. Terima kasih sebelumnya bahwa kau hendak menuruti segala permintaanku, asal saja kau orang tua tidak membohongi aku orang muda.”
Kata-kata ini mengandung sindiran. Tadi Wu Wi Thaysu sudah mengeluarkan kata-kata bahwa kalau gadis ini mampu menandinginya selama duapuluh jurus, ia akan menerima kalah, akan tetapi kemudian ia mengajak bertanding pedang. Hal ini agaknya dipergunakan oleh In Hong untuk menyindir padanya dan menyatakan bahwa dia membohong!
„Kwee-lihiap, aku orang tua bangka mana sudi membohongimu? Tadi aku memang sudah mengaku
204
kalah dan tentang Tek Seng Cu, pasti akan kuceritakan, sungguhpun kau akan kalah dalam pertandingan pedang ini. Go-bi-pay tidak ada rahasia busuk, mengapa takut menceritakan? Hanya aku masih penasaran dan ingin sekali menerka kau ini murid siapa!”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Silat Mandarin Lawas : Sian Li Engcu 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Selasa, 04 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments