Cersil Cerita Romantis Sedih: Iblis Sungai Telaga 6

AliAfif.Blogspot.Com - Cersil Cerita Romantis Sedih: Iblis Sungai Telaga 6
-Kiauw In mengawasi bayangan rembulan itu, ia bagaikan
menjublak kemudian ia merogoh sakunya akan menarik keluar
surat wasiat gurunya, ia membolak balik surat, ia sangsi akan
membukanya.
It Hiong bertindak mendekati kakak itu. Ia sudah mengulur
tangannya akan mengambil surat itu atau mendadak ia
menarik pulang tangannya. Ia ingat tak dapat ia membuka itu,
itulah tugasnya sang kakak.
Kiauw In mengira sang adik seperguruan hendak membuka
surat wasiat itu, siapa tahu It Hiong mendadak membatalkan
siasatnya, ketika si pemuda mengulur tangannya ia sudah
menyodorkannya selekasnya surat dipegang It Hiong ia
melepaskannya, maka waktu anak muda itupun melepaskan
pegangannya surat lantas terlepas dan jatuh bahkan melayang
terbawa angin jatuh ke telaga !
Dua duanya muda mudi itu terperanjat, waktu kertas
melayang keduanya lompat menyambar tetapi gagal. It Hiong
tidak mau menyerah, ia berlompat terus dengan
menggunakan ilmu ringan tubuh Lompatan Tangga Mega.
Tatkala itu kertas sudah sampai di air, maka ia pun jatuh ke
telaga, ketika ia berhasil memegang kertas, pakaiannya basah,
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
maka dengan pakaian kuyup ia lompat naik ke darat. Pula,
dengan sendirinya sampul surat telah terbuka.
"Kakak" kata adik seperguruan ini yang menghampiri
kakaknya sembari mengangsur surat itu, "Kakak, bagaimana
kalau kakak buka dan baca pesan guru kita ini ?"
Kiauw In menyambuti sebelum ia membuka surat itu, ia
memandang dulu si anak muda.
"Pakaianmu basah seluruhnya, adik" kata ia sambil
mengawasi. "Di sini angin besar dan hawa angin. Itulah
kurang baik bagi kesehatanmu. Bagaimana kalau kita cari
dahulu sebuah gua untuk kau mengeringkan pakaianmu itu ?"
Berkata begitu si nona mengawasi ke dinding gunung buat
mencari gua dimana It Hiong dapat membuka pakaiannya
untuk diperas dan dikeringi dengan diangin-anginkan. It Hiong
setuju dan ia turut melihat kedinding gunung itu.
"Mari !" kata si kakak seperguruan kemudian. Ia menarik
tangan orang, untuk dibawa ke sebuah gua disamping telaga.
Dimulut sebuah gua, yang mulutnya lebar, ia menolak tubuh si
anak muda seraya menyuruh masuk, ia sendiri berdiri
menantikan di luar itu, bahkan segera ia membeber surat
wasiat gurunya, buat membacanya diterangnya si putri
malam.
Tek Cio Siangjin, sang guru menulis empat buah huruf yang
bunyinya syair bukanya syair, sedangkan dipaling bawah ada
catatannya sebaris huruf-huruf, bunyinya :
"Untuk Anak In dan Anak Hiong"
Bunyinya pesan itu begini :
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Pada malam sepasang rembulan saling memancarkan
sinarnya.
Itulah waktunya jodoh ditetapkan ditelaga mirip
nampan kumala.
Malam ini menjadilah malam dari lilin berbunga.
Kesampaianlah maksud hati dibukit Kiu Kiong San.
Jangan menentang pesan ini !
Jangan lewatkan saat indah !"
Membaca itu mengertilah Kiauw In akan maksud gurunya.
Surat wasiat itu menunjukkan dan mengharuskan ia menikah
dengan Tio It Hiong disitu malam juga, dibukit Kiu Kiong San
itu, ditepinya telaga atau muara Giok Poan Tha--demikian
telaga itu yang namanya berarti Nampan Kumala. Sendirinya
ia girang berbareng jengah hingga jantungnya memukul
dadanya berombak. Ia girang sebab tercapailah cita-citanya
berpasangan dengan Tio It Hiong. Ia lantas ingat bagaimana
dahulu hari sewaktu perpisahan dari It Hiong yang turun
gunung buat mencari musuhnya guna menuntut balas di kaki
Pay In Nia, mereka berdua mengikat janji bagaimana berat
rasanya perpisahan itu, hingga semenjak itu tak pernah ia
melupakan si anak muda. Ia pula bertambah girang waktu
dahulu ia memperoleh jaminan dari paman In nya yang
menguatkan perjodohannya itu.
Semenjak itu, ia dan It Hiong adalah calon suami istri.
Hanya itu saat pernikahannya yang masih belum ditetapkan.
Pertama-tama It Hiong tengah merantau, kedua guru mereka
sedang berpesiar dan ketiga si Paman In Gwa Sian repot
dengan pengembaraannya. Dan ia sendiri, ia pun turut
menjelajah dunia Kang Ouw sungai telaga buat mencari
pengalaman. Tapi malam ini adalah malam yang tepat yang
dipilih dan ditetapkan guru mereka. Inilah malam diluar
dugaan mereka, sebab surat wasiat justru dibuka digunung
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang menjadi wilayah musuh. Hanya dasar wanita, ia gagah
dan polos atau tidak ia toh merasa malu sendirinya. Begitulah
sendirinya, tanpa ia merasa mukanya menjadi bersemu merah
dadu, demikian juga kedua telinganya....
Sambil memegangi surat wasiat itu, Nona Cio berdiri
menjublak. Ia seperti membiarkan angin gunung yang halus
meniup-niup membuat main anak rambutnya sedangkan si
putri malam membuatnya seperti berkaca di permukaan air
telaga. Bayangannya di muka air membuatnya seperti Goat
Kiong Siansu si putri rembulan...
Masih lama Kiauw In berdiri diam saja itu sampai kemudian
ia mendengar suara sabar dari It Hiong yang keluar dari dalam
gua. "Eh, kakak In, kakak telah memikirkan apakah ? Kenapa
kakak berdiri menjublak saja...?"
Nona Cio terperanjat, ia lantas menoleh.
It Hiong bertindak mendatangi, selagi datang semakin
dekat, dia berkata pula : "Kakak, apakah yang guru kita tulis ?
Petunjuk apakah diberikan kepada kita ? Bolehkah aku
membaca pesan itu ?"
Segera si pemuda datang dekat dan tangannya terus diulur
guna menyambuti surat.
Kiauw In melengak. Ia jengah dan bingung hingga tak tahu
apa ia harus bilang. Maka ia cuma mengangsurkan surat
wasiat guru mereka itu, setelah mana ia memutar kepalanya,
melihat ke arah lain. Ia lihat sekali sebabnya jantungnya
memukul...
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong sudah lantas membaca surat gurunya itu. Ia girang
bukan main bagaikan anak kecil, ia lompat berjingkrakan. Ia
lantas berpaling pada kakak seperguruannya.
"Kakak ! Kakak !" serunya. "Kakak, kau.." Mendadak ia
terdiam. Ia mendapati kakak itu tunduk dan likat, mulutnya
bungkam, kedua tangannya yang halus membuat main ujung
bajunya.
"Eh, kakak kau kemanakah ?" tanya si pemuda heran. Ia
mendekati sampai dekat sekali.
Sang kakak terus berdiam, kepalanya tetap tunduk,
mulutnya tetap bungkam...
It Hiong dapat menerka sebab dari sikap kakak
seperguruan itu, ia lantas memegang dan menggenggam
tangan halus si nona, ia tertawa ketika ia berkata : "Urusan
pernikahan adalah urusan sangat penting bagi kita kakak.
Buat apakah kau malu-malu ? Bukankah itu merupakan citacita
kita yang telah terwujud ? Kakak adalah orang rimba
persilatan, tak layaknya kakak bersikap seperti nona-nona
yang kebanyakan !"
Kata-kata itu benar dan membangunkan semangat. Kiauw
In segera mengangkat kepalanya mengawasi si anak muda
wajah siapa terang bercahaya sebab kegembiraannya. Ia
sendiri air matanya masih berlinang tetapi ialah air yang jernih
sekali. Keduanya saling menatap. Akhirnya mereka bersenyum
dan tertawa !
It Hiong tetap sangat bergembira.
"Sungguh lihai guru kita !" kata ia dengan pujiannya. "Guru
kita pandai silat berbareng juga mengerti ilmu siam in dapat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menghitung -hitung sang waktu dengan tepat sekali !
Bukankah aneh guru dapat menunjuki pertemuan kita ditelaga
ini guna mecekoki jodoh kita ? Dan justru di malam mana
terang bulan seperti ini, tanpa menghiraukan disinilah tempat
musuh ! Malam ini gua kita jadikan kamar pengantin kita,
bagaikan sepasang walet yang terbang pulang ke sarangnya !
Entah bagaimana beruntung adikmu ini kakak..."
Sang malam berlalu terus. Segera juga tiba jam empat.
Diwaktu begitu si putri malam menggunclang makin terang
indah lemah lembut tampaknya, cahayanya membuat
sepasang muda mudi itu bagaikan bayangan. Sambil
berpegangan tangan dengan perlahan mereka bertindak
memasuki gua dimana hawa hangat. Maka disitulah sepasang
muda mudi yang saling mencinta telah menyempurnakan
angan-angan hidupnya.
Di dalam gua di gunung seperti Kiu Kiong San itu, tidak
terdapat ayam atau lebih benar si ayam jago tukang
menceritakan tibanya sang fajar, walaupun demikian, cuaca
pagi tampak tegas, sedangkan sebagai gantinya sang ayam,
burung bercowetan, bernyanyi menuruti caranya sendiri. Dan
di pagi hari itu maka dari dalam gua muncullah sepasang
mempelai, berjalan bergandengan tangan menghampiri tepian
telaga Giok Poan Tha, untuk mereka mencuci muka dan mulut
buat membersihkan tubuh mereka untuk kemudian beruda
mereka duduk berendeng diatas sepotong batu ditepi telaga
itu yagn menjadi saksi dari terikatnya jodoh mereka.
Mereka masih mempunyai bekalan rangsum kering,
bersama-sama mereka mengisi perut mereka, sembari
bersantap mereka berbicara bersenyum dan tertawa. Mereka
saling mengawasi dengan sinar mata mereka memain, wajah
mereka terang dan ramai alis mereka bergerak gerak...
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Adalah hal yang menyenangkan mereka berdua sejak
kemarin maghrib sampai malam tadi terus sampai fajar itu,
mereka tidak mendapat rintangan dari imam atau imam-imam
dari Siang Ceng Koan. Rupanya imam-imam itu tidak
menyangka yang muda mudi itu bermalam digunungnya.
"Sekarang sudah tidak pagi lagi" lewat sesaat It Hiong
berkata. Mereka sudah makan dan beristirahat cukup. "Marilah
kita pergi ke Siang Ceng Koan ! Tapi kakak kau letih atau tidak
?"
Kiauw In tersenyum. Biar bagaimana ia nampak masih
sedikit jengah. Ia tunduk ketika ia menjawab. "Kakakmu tidak
letih, mari kita berangkat !" Dan terus ia bangkit berdiri.
Dengan tangan pada gagangnya pedang Keng Hong Kiam,
It Hiong jalan mengitari sebuah telaga yang berukuran lebar
kemudian ia bertindak jalan dari mana kemaren magrib
mereka datang.
Kiauw In bertindak merendengi suaminya itu. Pernikahan
mereka tidak wajar tetapi sah sebab pernikahan itu telah
memperoleh pengakuan dari pihak-pihak yang menguasai diri
mereka. Tek Cio Siangjin dan In Gwa Sian sang guru dan ayah
angkat. Selagi meninggalkan telaga, mereka masih menoleh
sekali lagi sebagai pertanda mengambil selamat berpisah.
Hanya sejenak wajah mereka itu guram.
"Inilah telaga yang seumur kita tak dapat kita lupakan !"
kata It Hiong. "Bukankah benar begitu kakak ?"
Masih anak muda ini memanggil kakak kepada istrinya itu
sebagai mana juga istri itu tetap memanggil adik kepada
suaminya. Mereka pun tetap su cie dan sute, kakak dan adik
seperguruan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In tertawa manja.
"Asal saja kau ingat, adik !" katanya.
Sampai itu waktu, mereka sudah turun dari halaman batu
karang yang tinggi dan luas itu. Matahari pagi cerah sekali,
langit bersih bagaikan habis dicuci. Diatas gunung tak ada
mega sedikit juga. Karena ini tidak heran kalau dari jauh-jauh
dua-dua Kiauw In dan It Hiong dapat melihat samar-samar
bangunan kuil jauh disebelah kanan depan mereka. Kuil itu
berada disebelah kanan, diantara pepohonan dan
wuwungannya bersusun-susun.
Jilid 17
"Lihat itu !" kata Kiauw In kepada suaminya sambil
tangannya menunjuk. "Ini dia yang pepatah berkatai, kalau
kita mencari sesuatu, sampai sepatu besi kita rusak, masih
kita tidak dapat mencarinya, tetapi sebaliknya, kalau mau
bertemu, dapat diketemukannya dengan mudah saja ! Aku
percaya, itulah Siang Ceng Koan !"
"Aku pun percaya kita tidak menerka keliru." berkata It
Hiong girang. "Kemaren kita tiba sesudah magrib, terus
sampai sore dan malam kita sukar melihat apa-apa, sekarang
langit begini cerah, segala sesuatu tampak terang dan jelas.
Aku percaya bahwa kita diberkahi Thian Yang Maha Kuasa !
Mari, kakak, mari kita percepat perjalanan kita... !"
Kiauw In mengangguk.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Tidak disangka Siang Ceng Koan berada di kaki puncak."
kata ia. "Jadi dari sini jaraknya sangat dekat. Adik, segera kita
bakal sampai di sana. Harap kau berhati-hati !"
"Aku tahu kakak" sahut anak muda yang berterima kasih
kepada istrinya itu. Sebagai kakak seperguruan si nona turut
menyayangi adik seperguruannya itu. Sedangkan merekalah
suami istri, bahkan pengantin baru.
Berdua muda mudi ini melakukan perjalanan yang tak
mudah. Sebab inilah bukan jalanan hanya tanah pegunungan,
banyak batu berselangkatan, banyak pohon tumbuh
serabutan. Dilihat dari telaga nampaknya SInag Ceng Koan
dekat, tetapi setelah dihampiri letaknya cukup jauh. Itulah
sebab jalanan turun naik dan berliku-liku, tak dapat orang
berlari langsung. Mereka juga mesti menghadapi dirintangan
lembah.
Syukur ilmu ringan tubuh mereka sudah sempurna dan
latihannya membuat mereka seperti tak kenal lelah. Selang
dua jam tibalah sudah mereka diluar rimba, didalam mana
Siang Ceng Koang berdiri tegak sebagai bangunan yang besar
dan megah.
Hutan itu umumnya terdiri pohon-pohon cemara dan jie,
entah kapan tumbuhnya sebab rata-rata sudah besar, tinggi
dan tua, dahan-dahannya banyak dan daunnya lebar hingga
suasana disitu menjadi tenang sekali.
Selekasnya memasuki rimba dan keluar dilain bagian. It
Hiong dan Kiauw In melihat sebuah halaman yang lebar, yang
penuh dengan rumput, hingga sekarang tampak tegas kuil-kuil
agama kho yang besar, kekar dan angker kelihatannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tiga huruf "Siang Ceng Koan" yang besar tampak tegas
sekali di muka pimtu gerbang, saking besarnya, itu terlihat
dari jauh-jauh.
Suami istri itu berjalan dihalaman rumput itu, akan
menghampiri pintu gerbang. Di muka tangga mereka berhenti
sejenak, untuk melihat keliling, guna mencari kalau-kalau ada
orangnya kuil itu yang kebetulan berada diluar.
Tidak terlihat siapapun juga, kecuali pintu yang besar dan
lebar dan bercat hitam. Yang luar biasa adalah pintu
terbentang lebar, hingga orang bisa melihat ke arah
kedalaman, kepada pendopo pertama yang disebut Wie To
Tian, yaitu pendopo Veda.
"Heran." pikir Kiauw In. "Kuil Siang Ceng Koan di Huyong
ini tersohor busuk didalam dunia Sungai Telaga, ini jadinya
bukan tempat orang-orang baik-baik, sedangkan tadi malam
ada isyarat panah api, kenapa sekarang pintuk gerbang
dipentang lebar-lebar ? Kenapa juga tiada seorang jua yang
menjaga di muka pintu ? Apakah maksud para pendeta disini
?"
It Hiong mengawasi istrinya yang berdiam berpikir itu
kemudian ia bertanya : "Kakak, bagaimana kakak pikir kuil ini
bagaikan kuil kosong melongon ! Apakah baik kita langsung
masuk kedalamnya tanpa menghiraukan mereka memasang
jebakan atau tidak dan tanpa memperdulikan mereka
mengatur tipu daya tersembunyi ? Apakah tak baik kita maju
dengan melihat selatan saja?"
"Semua orang Siang Ceng Koan terhitung orang-orang
sesat" sahut sang istri. "Mereka terkenal telangas dan kejam,
tetapi sekarang mereka bersikap begini rapi, terang sudah
mereka mempunyai rencana yang tersembunyi ! Entah apa
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dayanya itu, lubang jebakan atau penjagaan gelap ? Aku
percaya sengaja mereka mengatur begini bukan memancing
kita lancang masuk kedalam perangkapnya ! Maka itu, kalau
kita berlaku sombong, mudah kita dijebak mereka ! AKu pikir,
baik kita juga menggunakan akal tua-tua dan lumrah sekali !
Kita menggunakan batu menimpuk kedalam kuil ! Kau akur
bukan ?"
It Hiong mengangguk. Bahkan segera ia bekerja. Dengan
mengerahkan tenaga dalam Sian Thian Hian Buk Khie kang,
dengan jari-jari tangannya ia menutuk kepada dinding
gunung, demikian ia dapat mencongkel beberapa potong batu
karang sebesar kepalan, terus batu ditimpukkan ke arah
patung Veda di pendopo itu.
Satu suara nyaring yang keras adalah akibat timpukan itu,
terus patung itu bergerak sendirinya, segera dari dalam tubuh
patung itu melesat berhamburan anak-anak panah dan golokgolok
pendek. Jadi disitulah adanya senjata rahasia yang
tersembunyi, celakalah siapa lalai dan berani menyentuh
patung itu dengan tenaganya !
Kiauw In cerdik dan cepat, selekasnya ia melihat patung
bergerak, ia menarik ujung bajunya It Hiong buat diajak
berkelit bersama hingga semua senjata rahasia itu tidak
mengenai sasarannya.
Selekasnya semua golok dan panah rahasia itu habis,
meluncur dari sebelah dalam ruang segera muncul empat
orang tosu atau imam yang rata-rata berusia kira empat puluh
tahun, tubuhnya tertutup jubah suci, tangannya masingmasing
menyekal pedang panjang, matanya terpentang lebar
dan bersorot bengis.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Hai, bocah cilik !" salah seorang imam membentak,
"kemarin mudah kau melukakan murid kami yang lagi
melakukan Pekerjaan meronda sekarang kamu datang dengan
mengacau ke kuil kami !"
It Hiong berlaku sabar. Dengan merangkapkan kedua
tangannya ia memberi hormat
"Totiang, harap totiang sudi dengar perkataanku" katanya
tenang.
"Hm !" si imam menanggapi, jumawa.
"Totiang," kata pula si anak muda. Totiang ialah panggilan
terhormat untuk seorang imam, tosu atau Tojin. "Totiang,
kedatangan kami ke kuil totiang ini sebenarnya guna mencari
Hian Ho Cinjin dari Kim Hee Kiong guna kami minta pulang
kitab ilmu pedang guru kami. Oleh karena itu, kami memohon
sudi apakah totiang memberitahukan kami, Hian Ho ada
didalam kuil totiang atu tidak dan kalau ada tolonglah
beritahukan dia agar dia mengembalikan kitab pedang kami
itu."
"Aku tak perduli kamu mengoceh apa juga !" membentak
imam itu kasar. "Kamu sudah melukakan orang kami, maka itu
kami mau membuat pembalasan dan kami mau minta itu dari
kamu !"
Masih It Hiong dapat mengendalikan dirinya !
"Totiang, tolong totiang mengabarkan ketua totiang
tentang tibanya kami !" ia memohon pula. "Kepada ketua
totiang itu kami akan menghaturkan maaf kami."
Imam itu melengak buat kesabaran orang. Dia menatap.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bocah, coba bilangi nama perguruan atau partaimu !" kata
dia akhirnya. "Nanti Toya kamu pikir-pikir bagaimana kami
harus bertindak !"
It Hiong segera memperkenalkan dirinya. Dengan suara
terang dan jelas ia menjawab : "Aku yang rendah bernama Tio
It Hiong dan inilah kakak seperguruanku Cio Kiauw In. Kami
adalah murid-murid dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia Kui
Hoa San."
"Hm !" lagi-lagi si imam memperdengarkan suara dingin
yang bernada mengejek. "Pantaslah kamu berani datang ke
Huyong ciang ini dan lancang melukakan orang !" Ia
mengimplang bergantian pada si muda mudi baru dia
melanjuti : "Sekarang Toya kamu hendak menguji pihak Pay
In Nia mempunyai kepandaian apa yang luar biasa ! Jika kamu
dapat melewati pedang Toya kamu, baru nanti aku mengasi
laporan kedalam ! Bagaimana ?"
Sampai disitu Kiauw In menyela.
"Aku pikir totiang," katanya sabar, "baiklah tak usah kita
sampai mengadu kepandaian. Kami cuma memohon kebaikan
kalian buat melaporkan kepada ketua totiang tentang
kedatangan kami ini guna mencari Hian Ho Cinjin dari Kim Hee
Kiong guna kami meminta pulang kitab ilmu pedang kami
habis itu segera kami akan turun gunung buat terus pulang.
Diantara kita toh tidak ada dendam atau permusuhan, buat
apa kita sampai mengadu tenaga ?"
"Anak perempuan, banyak bacot ya ?" bentak imam itu.
"Apakah itu ada karena ajarannya si imam tua Tek Cio ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sampai disitu meluap sudah hawa amarahnya It Hiong.
Gurunya telah diperhina.
"Eh, imam, berapa tinggi kepandaianmu maka kau berani
menghina guru kami ?" tegurnya. Dan lantas ia menghunus
pedang Keng Hong Kiam dan tanpa mengatakan apa-apa lagi,
segera ia menikam !
Imam itu bukan sembarangan imam, matanya juga sangat
awas. Dengan melihat cahaya berkelebatnya pedang, tahulah
ia yang pedang si anak muda pedang mustika. Maka itu tak
sudi ia mengadu senjata. Begitu ditikam, begitu ia lompat
mundur, begitu juga ia menghunus pedangnya, buat
meneruskan membalas menebas pinggangnya si anak muda.
Hebat imam itu, habis menebas dan gagal karena It Hiong
berkelit, ia melanjuti menebas dan menikam pula, bergantian
dengan berulang-ulang. Sama sekali ia tak sudi mengasi ketika
pada si anak muda. It Hiong dapat membalas tetapi lawan
terus berkeliat. Dalam hal itu, imam itu lincah dan awas sekali
matanya.
Maka, seperti tanpa merasa mereka lekas juga telah
bertempur sampai tiga puluh jurus ! Setelah itu barulah si
imam seperti kehilangan kesempatan yang baik,
menggerakkan pedangnya, terpaksa dia malah mundur. Maka
dengan demikian juga, dia mulai terancam bahaya.
Lagi satu jurus, mendadak It Hiong berseru, pedang
menyambar membarengi seruannya itu. Serangan itu
dilakukan dengan si penyerang berlompat maju, sinar
pedangnya berkilauan. Yang menjadi sasarannya ialah
kepalanya si imam sebab tipu pedang yang digunakan yaitu
"Burung Air Mematuk Ikan."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Bukan main kagetnya si imam, tak sempat dia berkelit,
terpaksa dia menangkis. Kesudahannya dia menjadi kaget
pula. Pedangnya kena dibuat buntung ! Maka syukurlah buat
dianya selagi terancam maut itu, ketiga orang kawannya
meluruk bersama, menyerang si anak muda guna membantu
padanya agar dia tak terdesak lebih jauh. Gerakannya ketiga
imam itu ialah yang dinamakan "Mengurung Negara Wee
Untuk Menolong Negara Tio."
It Hiong memutar pedangnya untuk sekaligus menyampok
ketiga pedang lawan !
"Apakah janji kamu janji belaka ?" ia menegur. "Kamu
sudah kalah, apakah kamu belum mau melaporkan kepada
koancu kamu ?"
"Koan Cu" ialah ketua kuil atau imam kepala.
"Apakah kau tidak dapat melihat ?" seorang imam balik
menegur. "Di sana kakak seperguruanku telah pergi untuk
memberi laporan !" Tapi dia penasaran, sembari berkata itu,
dia maju dengan serangannya ! Dia menebas dengan hebat !
It Hiong tidak menangkis, ia hanya lompat berkelit.
"Masihkah kamu tidak mau berhenti menyerang ?"
tegurnya. "Apakah kamu menghendaki supaya darah kamu
muncrat berhamburan ?"
Imam itu penasaran, dia berkepala besar.
"Jika kau benar laki-laki, mari kau tempur pula Toya kamu
bertiga !" demikian tantangannya, suaranya dingin. "Kau nanti
lihat siapa yang nanti roboh numprah dengan darahnya
muncrat berhamburan !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Lalu tanpa menanti jawaban lagi, imam itu maju
menyerang pula dibarengi kedua kawannya, hingga bertiga
mereka meluruk pula dari tiga arah dengan cara teratur dan
pedang-pedang mereka meluncur berbareng. Dengan
demikian It Hiong terus kena dikurung. Bahkan habis tikaman
yang pertama itu menyusul yang lainnya tikaman dan tebasan
atau bacokan !
Tidak ada si anak muda akan melayani ketiga imam itu
tetapi sekarang terpaksa ia melayani juga karena orang
memaksanya dan hatinya menjadi panas dibuatnya. Bagus
untuk ketiga imam itu lawannya tidak memikir menanam
permusuhan jadi tidak dilawan secara telengas.
Oleh karena ketiga imam menyerang hebat sekali
kesudahannya mereka sendiri yang menjadi lelah terlebih
dahulu, napas mereka lantas memburu keras, peluh mereka
mulai mengucur. Dengan begitu juga gerak gerik mereka
menjadi kendor sendirinya. Sebaliknya adalah lawan mereka
yang berkelahi keras tetapi tetap tenang.
Akhirnya It Hiong kata mengancam : "Jika kamu masih
tetap tak mau berhenti menyerang aku, awas, jangan kamu
nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan !" Lalu ia putar
pedangnya buat mengurung diri. Itulah tipu pedang "Badai
Menyapu Salju" hingga sinar pedang merupakan mirip
kurungan berkeredepan.
Barulah sekarang ketiga imam itu kaget sekali, tanpa
berkata apa-apa mereka berlalu dengan berbareng, mereka
melompat mundur untuk lari kabur kedalam kuil mereka !
It Hiong berhasil bersilat, pedangnya dimasuki kedalam
sarungnya. Ia mengawasi dengan sabar kaburnya ketiga
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lawan itu, sesudah lenyap dibalik pintu atau tembok
Pekarangan baru ia bertindak perlahan menghampiri Kiauw In
yang semenjak tadi berdiam saja menonton pertempuran itu.
"Kakak" tanyanya, "apakah baik kita susul mereka itu atau
bagaimana ?"
"Baiklah kau beristirahat dahulu, adikku" menjawab si nona
sabar dan prihatin, "Kita lihat dulu ada apa lagi gerak gerik
sesudah itu..."
It Hiong suka mendengar pikirannya sang kakak, ia
mengangguk.
Tak usah lama muda mudi ini menantikan, dari arah
sebelah dalam pintu gerbang kuil sudah terdengar tawa yang
nyaring beberapa kali, tatkala daun pintu terpentang dengan
menerbitkan suara keras, maka diambang pintu gerbang itu
tampaklah munculnya enam orang Tosu atau imam yang
jalannya saling susul diantara siapa ada seorang To-kouw
ialah imam wanita, sedangkan yang jalan paling depan adalah
Tiang Heng Hojin, imam tua usia lebih kurang enam puluh
tahun. Dia bertubuh kasar dan kekar, lebar mukanya, putih
kumisnya, janggutnya jarang. Yang hebat adalah sepasang
matanya--mata kecil seperti mata tikus tetapi tajam dan
cahayanya mengundang kekejaman. Dia pula mengenakan
jubah merah api dan bahannya dari bahan yang mahal serta
sulamannya ialah lambang Patkwa yang terbuat dari sutra
emas. Ditangannya dia mencekal sebatang Giok jit ie,
semacam tongkat lambang kesucian yang terbuat dari batu
kemala, warnanya kehijau-hijauan mengkilat. Dan suara tawa
tadi adalah suara tawanya yang disalurkan dengan bantuan
tenaga dalamnya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Imam yang kedua berusia kira lima puluh tahun, jubah
kuning, punggungnya menggendol pedang panjang. Dia
berwajah halus berbayang otot-ototnya yang merah, sedang
sepasang matanya tajam galak, membuat siapa yang
melihatnya menjadi jeri. Dialah Kim Leng Tojin.
Di belakang Kim Leng ini ialah si To-kouw, yang usianya
baru empat puluh lebih. Nama suci dia ialah Gouw Ceng yang
berarti "Imam putih bersih". Tubuh dia ramping dan mukanya
bundar dan elok mirip bulan purnama, hanya pipinya montok,
pupurnya tebal serta sepasang alisnya bersikap tegas. Kalau
imam yang pertama bermata bengis, maka mata dia ini
bersinar tajam galak karena kegenitan seperti juga seluruh
tampang wajahnya. Senjatanya ialah sebatang kebutan.
Tiga orang imam lainnya ialah ketiga koancu dari Kim Hee
Kiong yaitu Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu. Mereka mengintil
di belakangnya ketiga imam tuan rumah itu. Mereka berdiam
di Siang Ceng Koan semenjak Kim Hee Kiong, kuil yang
menjadi sarangnya, diobrak abrik It Hiong.
Tiang Heng Tojin bertindak dengan perlahan, setiap
tindakannya berat. Ia turun diundakan tangga, sampai
diundakan yang terakhir, berdiri di tanah yang berumput.
Dengan lantas ia mengawasi tajam It Hiong dan Kiauw In.
Terang wajahnya menunjuki ia merasa heran.
"Eh, kedua bocah, apakah kau datang ke gunung ini
dengan mendaki dan melintasi lembah Huyong ciang yang
sempit ?" demikian tanyanya. Ia heran sebab sesudah orang
berada disitu satu jam atau lebih, kedua-duanya masih sehat
tak kurang suatu apa, tak ada tanda-tandanya terkena hawa
gunung yang beracun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong sementara itu diam-diam memasang mata
terhadap Hian ho Cinjin si imam yang hilang mata kirinya, ia
mencoba menyabarkan diri sebab hatinya merasa panas. Ia
ingin lantas mendapat pulang kitab ilmu pedangnya tetapi
iapun menerka Hian Ho akan tak secara mudah sudi
menyerahkannya karena itu kata-katanya Tiang Heng itu tak
ada dalam perhatiannya. Ia mendengar tetapi bagaikan tidak.
Tiang Heng menjadi tidak puas. Inilah kentara pada
perubahan parasnya.
"Hei, bocah cilik !" dia membentak. "To ya kamu
menanyakan kau, kau dengar atau tidak ? Kenapa kau tidak
terpaksa berani menjawab pertanyaanku ?"
Kali ini suara itu keras dan tajam, keras mirip guntur.
It Hiong terperanjat, ia bagaikan orang terasadar, maka ia
berpaling kepada imam itu. Hendak ia memberikan
jawabannya atau Kiauw In sudah mendahuluinya.
Nona Cio maju satu tindak.
"Kami mendaki Huyong ciang sejak kemarin." sahutnya
sabar. "Maksud kami adalah membuat kunjungan, akan
tetapi..."
"Tutup mulutmu !" Gouw Ceng Tokouw menyela, hingga
kata-kata orang menjadi terputus. "Bukankah kamu sudah
memperdayai murid kami yang merondia gunung, yang kamu
telah bujuk menyerahkan obat pemunah racun, setelah mana
kamu menggunakan tangan jahat melukai para murid kami itu
?"
Kiauw In tidak gusar. Sebaliknya ia tertawa manis.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Akulah Cio Kiauw In !" sahutnya sabar. "Tidak nanti aku
melakukan perbuatan yang tidak pantas itu yang dapat
memalukan perguruan kami !"
"Oh !" si imam wanita mengasi suara dengar suara tertahan
perlahan. Ia seperti ingat sesuatu.
"Eh, bocah !" kemudian ia tanya. "Kau she Cio, apakah kau
ada hubungannya dengan Cio Hay Auw ?"
Kiauw In heran ditanya begitu. Sebagai seorang jujur yang
pertama ia ingat ialah mungkin imam ini kenalan atau sahabat
ayahnya. Maka ia lantas merubah sikapnya.
"Cio Hay Auw itu adalah nama ayahku almarhum."
sahutnya hormat. "Mohon tanya cianpwe, apakah nama atau
gelaran cianpwe ?"
"Cianpwe" ialah orang atau panggilan buat orang dari
angkatan lebih tua.
Selagi nona Cio berlaku hormat itu mendadak si imam
wanita memperlihatkan wajah suaram atau muram
mendongkol karena penasaran, ketika ia membuka mulut pula
ia membentak dengan bengis sekali.
"Hai budak bau !" demikian suaranya yang kasar. "Kiranya
kaulah anak perempuan dari si orang she Cio, manusia yang
tak berbudi itu ! Baiklah, nanti nyonyamu memberi pelajaran
kepadamu, supaya sekalian aku dapat melampiaskan
penasaranku selama belasan tahun !"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kata-kata itu ditutup dengan orangnya berlompatan maju
kepada nona kita, jangankan dia lantas hajar dengan satu
cambukan kebutannya !
Kiauw In waspada dan bermata jeli. Selekasnya mendengar
suara orang yang kasar itu sudah bercuriga, apa pula ia
melihat si imam menjejak tanah untuk berlompat kepadanya.
Belum lagi ujung kebutan mengenakan padanya, ia sudah
mencelat mundur satu tindak. Walaupun ia diperlakukan kasar
itu ia tidak lantas menjadi gusar. Tetapi ia berlaku sabar dan
tak mau ia membalas menyerang.
"Cianpwe" katanya, "kalau dahulu hari ayahku almarhum
ada melakukan sesuatu yang tidak selayaknya terhadap
cianpwe, aku mohon sudilah cianpwe menjelaskan padaku
apabila ternyata benar ayahku itu keliru, dengan segala
senang hati suka aku menghaturkan maaf untuknya..."
Mendengar suara orang itu, maka Gouw Ceng menjadi
merah dan pucat bergantian. Agaknya dia jengah berbareng
mendongkol atau bergusar. Tak sudi dia memberikan
keterangan, karena dia merasa malu akhirnya. "Hei, budak
bau !" dia membentak pula.
"Pergilah kau pulang dan tanyakan sendiri pada orang she
Cio yang harus dibacok beribu kali itu. Kau tanya dia apa yang
dia lakukan pada delapan belas tahun yang lampau di kota
Kayhong ! Jika kau tanyakan nanti ketahui jelas perbuatan tak
berbudi apa yang dia telah perbuat."
Kembali si imam wanita menunjukan tampang gusar,
kembali dia maju sambil dia menyabet pula dengan
kebutannya itu yang merupakan genggamannya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Buat kedua kalinya Kiauw In melompat mundur, hanya kali
ini, hatinya menjadi panas juga. Orang terlalu menghina
padanya sedangkan ia telah berlaku sabar dan mengalah.
"Ayahku almarhum adalah seorang lelaki Kang Ouw sejati !"
demikian ia kata, suaranya tegas. "Manakah ayahku mau
memandang mata kepada seorang wanita semacam kau ?
Jangan kau lancang menyebut orang darah ! Jangan kau
mengoceh tidak karuan !"
"Kang Ouw" ialah Sungai Telaga sebagaimana "Lok Lim"
Rimba Hijau dan "Bu Lim" Rimba Persahabatan.
Sepasang alis si Tokouw bangkit bangun, matanya bersinar
sangat tajam dan galak, itulah tanda bahwa dia sangat
penasaran dan gusar. Lantas terdengar tawa dinginnya
berulang kali.
"Budak kurang ajar !" bentaknya pula.
Dan dia maju pula dengan serangan kebutannya tu, yang
lemas-lemas kaku, bahkan kali ini dia turut menyerang sampai
dua belas kali, sebab setiap kali si nona menyingkirkan diri !
Sekarang tibalah serangan terakhir dari Gouw Ceng yang
mengumbar nafsu amarahnya, sekarang tidak lagi Kiauw In
sudi mengalah terus, terpaksa ia menangkis dan membalas
menyerang. Dengan segera ia menggunakan tiga puluh enam
jurus Khie bun Pat Kwa Kiam, jurus-jurus pilihan untuk
mengimbangi serangan kebutan.
Saking sengitnya pertempuran, kedua wanita itu seperti
nampak hanya bayangannya saja, mereka membuat mata
orang bagaikan kabur.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
It Hiong menonton sekian lama. Tahulah ia sebabnya
pertempuran itu. Itulah pasti soal lama, yang hanya diketahui
Gouw Ceng sendiri, sebab segalanya gelap bagi Kiauw In. Si
nona bertempur saking terpaksa, sebab ia harus bela diri.
Tentu sekali, It Hiong tidak dapat berdiam saja. Mereka
berdua datang guna meminta pulang kitab ilmu pedang dan
sekarang Hian Ho berada dihadapannya. Karena ia melihat
bahwa ia tak usah berkuatir bagi Nona Cio, ia lantas maju ke
hadapannya Hian Ho, tangannya diulur dengan satu gerakan
"Chong Hay Na Liong" atau "Didalam Laut Menangkap Naga"
suatu jurus dari "Hang Liong Hok Houw". Ia menyambar
bahunya si imam untuk menjambret jalan darah hang hu !
Hian Ho terkejut, dia terdesak sekali. Tidak sempat dia
menangkis, maka terpaksa dia berkelit sambil mendak,
mengasi lewat tangan penyerangnya.
Sementara itu Tiang Heng Tojin tidak dapat berdiam saja.
Rupanya keadaan membuatnya bertangan gatal. Bukannya dia
berbicara dahulu, dia justru berlompat maju dengan
senjatanya yang istimewa itu, ia sampok tangannya It Hiong !
"Bocah, tanganmu telengas !" dia membentak. "Tidak
kusangka, seorang guru yang tersohor dapat mewariskan
seorang murid rendah begini."
It Hiong mengelit tangannya sambil tubuhnya berkisar. Ia
tidak melayani si imam tua itu, ia juga tidak terus menyerang
kepada Hian Ho. Memang barusan ia sudah menyerang
separuh membokong, atas itu ia merasa jengah sendirinya. Di
lain pihak, kata-katanya si imam menyakiti telinganya. Ia
percaya pasti si imam tak tahu sebabnya ia bersikap keras
demikian sebab keinginannya yang keras agar lekas mendapat
pulang kitab ilmu pedang gurunya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Totiang, terima kasih" kata ia kepada si imam. Ia berlaku
sabar dan memberi hormat pula.
"Tapi ada sebabnya kenapa barusan aku mengambil
sikapku itu. Totiang ketahui, Hian Ho sudah mencuri kitab ilmu
pedang guru kami dan sekarang kami datang untuk
memintanya pula. Sekarang aku minta totiang tolong
memberikan pertimbangan mereka kami bisa memiliki pula
kitab ilmu pedang kami itu !"
Sementara itu kitab pedang itu sudah berada ditangannya
si imam dari Siang Ceng Koan itu maka juga mendengar
pemintaannya si anak muda Tiang Heng menjadi berdiam. Ia
malah merasa likat. Sejenak itu, tak dapat dia membuka
mulutnya.
Sebenarnya ketiga koancu dari Siang Ceng Koan itu ialah
Tiang Heng, Kim Leng dan Gouw Ceng bukannya saudara
seperguruan satu dengan lain, mereka berkenalan dan
bersahabat disebabkan dengan asmara dan satu tujuan.
Tiang Heng Tojin bertubuh tinggi dan besar dan kekar
tetapi dia ada kekurangan dalam hidupnya ialah ia telah
kehilangan tenaga kelaminnya. Maka sia-sia saja dia menjadi
seorang laki-laki. Itu pula yang menyebabkan dia memilih
nama suCinya itu. Tiang Heng berarti penyesalan atau
penasaran seumur hidup. Sedang begitu nafsu birahinya
berkobar-kobar. Maka itu kebetulan sekali ia berkenalan
dengan Gouw Ceng si wanita nakal maka juga berdua mereka
nama dan tampangya suci, hatinya lain.
Gouw Ceng itu pada delapan belas tahun yang lampau
menjadi seorang nona usia dua puluh lima atau dua puluh
enam tahun, dia cantik dan ilmu silatnya baik demi
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kesenangan dirinya itu waktu dia repot mencari seorang pria
yang sudi menjadi kekasihnya, ia ingin seseorang yang gagah
perkasa.
Terjadilah suatu hari selagi berada di dalam kota Kayhong,
Gouw Ceng bertemu dengan Cio Hay Auw ayah almarhum dari
nona Cio. Cio Hay Auw tidak tahu siapa Gouw Ceng. Berdua
mereka bermain api asmara. Baru belakangan ia ketahui
sifatnya wanita itu yang hatinya mudah berubah yang cintanya
tidak untuk satu. Lantas ia memisahkan diri. Gouw Ceng
penasaran, dia pergi mencari. Dia berhasil menemukannya.
Lantas dia menggerembengi Hay Auw hingga Hay Auw
menjadi kewalahan dan habis sabar lantas dia diserang
sehingga luka tangannya. Hal itu membuat dia sakit hati, dia
gilai Hay Auw tetapi bukan sesuci suci hatinya, melulu untuk
memuaskan nafsu birahinya saja. Berpisah dari Hay Auw
selama belasan tahun dia terus hidup berfoya-foya dengan
siapa saja yang ia sukai atau siapa saja yang menyukainya.
Sekarang didalam usia empat puluh tahun lebih kurang dia
justru bersahabat dengan Tiang Heng Tojin dan Kim Leng
Tojin. Inilah kebetulan sebab mereka sama-sama orang yang
beragama walaupun cuma namanya saja. Disamping kedua
imam itu ia juga main gila dengan Hian Ho Cinjin. Inilah
perhubungan mereka berdua yang membikin Hian Ho dapat
berdiam di Siang ceng Koan.
Habis memperoleh kitab pedang Sam Cay Kiam, Hian Ho
lantas kembali ke Siang Ceng Koan. Ia berlaku cerdik sekali.
Kitab itu ia persembahkan kepada Tiang Heng Tojin. Katanya
buat menghunjuk penghargaan serta membalas budi.
Bukankah ia telah diberi menumpang tinggal di dalam kuil
orang ? Sebenarnya dengan begitu hendak ia melindungi diri
dengan mengajukan Tiang Heng andia kata Tio It Hiong
datang mencarinya. Kalau It Hiong dan Tiang Heng bertempur
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dan It Hiong kalah dan terbinasa ia selamat dan tetap
tenanglah kedudukannya.
Tiang Heng Tojin senang menerima kitab ilmu pedang Sam
Cay Kiam itu. Dia memang gemar mengumpulkan barangbarang
berharga umpama batu permata. Hanya ada satu hal
yang memberatkan padanya, ia menganggap diri sebagai
seorang koancu maka ia harus menghargai diri. Sekarang
sekali ini It Hiong datang meminta pulang kitab Sam Cay
Kiam, ia jadi merasa sulit. Tak dapat ia menyangkal tapi juga
tak sudi mengembalikan kita itu ! Habis, bagaimanakah ? Lalu
ia batuk-batuk, terus ia menyerukan Gouw Ceng untuk
menghentikan pertempuran.
Gouw Ceng mendengar kata, selekasnya dia mendengar
suaranya ketua itu, dia menangkis satu serangan, terus
lompat keluar dari kalangan pertempuran. Kiauw In pun
berhenti menyerang, bahkan ia terus bertindak ke sisinya It
Hiong. Dari sini, bersama-sama adik seperguruannya itu, ia
mengawasi para lawan, guna mendengari apa katanya mereka
itu.
Sekian lama sudah lewat. Tiang Heng masih berdiam saja.
It Hiong menjadi tidak sabaran, maka ia kata kepada imam itu
: "Totiang, jika totiang tidak dapat berlaku adil dalam urusan
kitab pedang kami itu, harap totiang jangan persalahkan aku
apabila aku terpaksa mesti menggunakan kekerasan guna
turun tangan sendiri !"
Dan benar-benar anak muda ini maju satu tindak ke arah
Hian Ho sedangkan pedangnya sudah lantas dihunus.
Ketiga imam dari Kim Hee Kiong pernah dikalahkan pemuda
itu, mereka sudah jeri sendirinya. Hanya kali ini mereka
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
berada ditempat terbuka, disarang kawannya sendiri,
terutama di muka umum, mereka bersitegang.
Hian Siu melihat kakaknya berayal-ayalan ia tidak puas ia
pun menjadi gusar sekali.
"Eh, bocah, jangan jumawa !" bentaknya. "Sakit hati dari
tangan buntung justru harus diminta pertanggung jawabnya
dari kau ! Itulah hutang darah yang harus ditagih dan dibayar
!"
Imam ini berlompat maju selekasnya dia habis berkata,
tangan kanannya menghunus pedang.
"Hm !" It Hiong memperdengarkan suara menghinanya. Ia
sebal menyaksikan lagak orang. "Bagaimana kalau kau kalah
pula ? Kau hendak mengembalikan kita pedang atau tidak ?
Kau ajukanlah caramu !"
Gusar tinggal gusar. Hian Siu tahu dia bukanlah lawan dari
si anak muda. Tapi dia menebalkan muka. Dia sudah
mencabut pedangnya tetapi tak mau dia lantas maju
menyerang. Dia kata : "Kitab ilmu pedangmu yang tak berarti
itu berada ditangan Tiang Heng Toheng ! Jika kau mempunyai
kepandaian bocah, kau mintalah sendiri !"
Kata-kata kawan itu membuat mukanya Tiang Heng merah.
Itulah justru hal yang dia tak sukai. Tapi dia mesti membuka
suaranya. Maka dengan dingin dia berkata : "Tentang kitab
pedang itu harus dicari tahu terlebih dahulu siapa benar siapa
salah. Tentang itu Toya kamu tidak mau mengambil peduli !
Baik kalian memutuskannya dengan tenaga kalian sendiri !"
Imam ini tidak mau merendahkan diri maka ia
membahasakan dirinya "Toya kamu".
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Sudah jangan bicara saja dari hal tidak karuan !" bentak It
Hiong yang habis sabarnya, maka ia menjadi menuruti hawa
amarahnya dan telah bicara besar. Ia menambahkan : "Kalian
dari Kim Hee Kiong, kalian adalah arwah-arwah
bergelandangan yang baru lolos dari ujung pedang, maka itu,
baik kalian semua majulah dengan berbareng !"
Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu bertiga menjadi sangat
terdesak. Mereka lantas saling melirik. Di dalam keadaan
seperti itu mereka jadi buntu jalan, mereka menjadi nekad.
Terpaksa mereka memikir akan kalah atau berbicara bersama
musuh....
Dengan satu siulan berbareng, ketiga imam dari Kim Hee
Kiong berlompat maju dengan berbareng juga serentak
mereka menyerang si anak muda, maka juga sinar pedang
mereka seperti menjadi satu berkelebat ke arah si anak muda,
semua mencari sasarannya masing-masing.
It Hiong dengan bersiap sedia atas tibanya serangan itu, ia
menggerakkan pedangnya untuk menghalau ancaman
bencana. Pedangnya pun berkelebat berkilauan. Karena
sangat mendongkol, ia ingin menjauhi pertempuran secepat
mungkin. Maka juga, habis diserang itu ia segera membuat
pembalasan. Dengan satu emposan semangat maka
tenaganya telah dikerahkan pada kedua belah tangannya
terutama tangan kanan dan tubuhnya bergerak dengan lincah.
Ketiga koancu termasuk orang-orang kelas satu tetapi hati
mereka telah diciutkan pedang Keng Hong Kiam dari
lawannya. Biar bagaimana mereka merasa jeri juga. Saking
terpaksa sekarang mereka melawan dengan mati-matian,
dengan begitu merekapun menjadi tangguh.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hian Siu kehilangan tangan kirinya, dengan hanya
menggunakan tangan kanan, tak mereka ia menggunakan
ilmu silat pedang simpanannya, Im sat-ciang. Hian Ho lenyap
sebelah matanya, dalam hal penglihatan, dia pula kurang
leluasa. Hian Ciu sebaliknya, ilmu silatnya masih kalau jauh
dari kedua kakak seperguruannya itu, ia juga turut bergerak
tetapi sangat terbatas. Adalah kenekatan mereka bertiga yang
menyebabkan mereka dapat bertahan.
Oleh karena kedua belah pihak berkelahi dengan keras,
jurus-jurus juga dilewatkan sama cepatnya. Hanya sebentar,
dua puluh jurus telah berlalu. Habis itu, It Hiong lantas dapat
memperhatikan setiap lawannya, satu demi satu, kemudian ia
terutama perhatikan Hian Siu, si mulut kasar itu.
Dalam murka, Hian Ciu melihat lowongan pada tubuh
lawan. Tak ayal lagi, ia maju menikam, ia memang tidak mau
memberi ketika kepada musuh yang ia benci itu.
It Hiong lihat bahaya mengancamnya, dengan cepat ia
mengegos ke sisi, selekasnya ujung pedang lawan ia
meluncurkan tangan kirinya dengan apa ia menangkap lengan
lawan. Itulah jurus silat "Tangan Menawan Naga". Tepat ia
berhasil dengan sambaran atas cekalannya itu !
Bukan kepalang kagetnya Hian Siu. Itulah berbahaya untuk
saudaranya. Ia berlaku cepat, tangannya ditarik terus
pedangnya diayun guna menikam iga kiri lawan.
It Hiong tidak menjadi bingung, ia bahkan berlaku sangat
cepat. Guna menghindarkan diri dari ujung pedang, ia
menggeser tubuh sambil menyempar tubuhnya Hian Ciu
menyusul mana kaki kanannya dikasih melayang naik !
Sedangkan pedangnya, berbareng digerakkan !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Benar-benar darah sudah lantas berhamburan, muncrat
dari tubuh yang terluka sebab pedang It Hiong tidak kepalang
tanggung menyambar yang satu diteruskan kepada yang lain.
Hian Siu dan Hian Ciu roboh tak berdaya lagi, selagi kena
terhajar berteriakpun mereka hampir tak sempat ! Kedua
imam itu mau saling tolong tetapi mereka justru menjadi
korbannya si anak muda yang menjadi lawannya itu.
Hian Ho adalah korban yang paling hebat, dia merangsak
maju justru keduanya sudah roboh terkulai, justru dia datang
dekat, dia disambut It Hiong dengan satu bacokan hebat,
maka juga pecahlah kepalanya, tubuhnya rebah disisi Hian
Siu.
Hian Ciu tapinya beruntung. Dia cuma kena tertendang
hingga muntah darah, selekasnya dia roboh dan berlompat
bangun untuk lari pergi, ketika It Hiong membebat padanya ia
menangkis maka dengan beradunya kedua pedang, Keng
Hong Kiam membabat kutung pedang lawan. Dalam kaget dan
takutnya, Hian Ciu terus kabur, menghilang di belakang kuil
Siang Ceng Koan. Ia sipat kuping tanpa berani menoleh pula,
tanpa menghiraukan pula dua saudaranya !
Tiang Heng Tojin bertiga Kim Leng dan Gouw Ceng
berubah pucat parasnya, mereka berdiri melengak
menyaksikan It Hiong dalam satu rintasan itu telah
merobohkan ketiga lawannya. Itulah hebat sekali.
It Hiong tidak mengejar Hian Ciu, hanya ia bertindak ke
depannya Tiang Heng Tojin, koancu utama dari Siang Ceng
Koan.
"Totiang, aku minta suka apalah totiang memegang janji !"
demikian katanya, halus tetapi berwibawa. "Sekarang aku
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang rendah minta supaya kitab ilmu pedang kami dibayar
pulang, seterimanya itu kami berdua segera akan turun
gunung dan berlalu dari sini !"
Ketika itu Kim Leng Tojin yang sadar paling dahulu, dia
memandang si anak muda dan juga Kiauw In, terus dia
tertawa dengan menunjuki wajahnya yang licik. Kata dia :
"Untuk mengembalikan kitab ilmu pedang mesti ada syaratnya
!"
"Apakah janji kalian tak masuk hitungan ?" It Hiong
menanya menegaskan. "Masih ada syarat apakah lagi ?"
Kembali Kim Leng memperdengarkan tawanya yang tak
sedap terus dia menunjuk Nona Cio.
"Syarat itu mudah sekali !" jawabnya. "Ialah ini nona harus
ditinggalkan disini ! Kitab ilmu pedang harus ditukar dengan
dia !"
Sepasang alisnya It Hiong berdiri, ia gusar bukan main.
"Kau gila !" bentaknya. "Lekas serahkan kitab kami itu !"
Menutup kata-katanya, anak muda ini berlompat maju ke
depan orang, pedangnya ditebaskan !
Kim Leng Tojin terkejut, tetapi dia tak menjadi gugup.
Karena dia tak sempat menghunus pedangnya buat
menangkis terpaksa dia lompat mundur. Dia cuma lompat
sambil mengibaskan tangan kirinya. Tapi disisi dia, Tiang Heng
Tojin membantu saudaranya itu dengan ia melakukan satu
serangan tangan kosong yang hebat ke arah tubuh si anak
muda, sedangkan Gouw Ceng juga tak berdiam saja. Dia ini
turut menyerang dengan kebutannya, menghadang di
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
depannya Kim Leng Tojin hingga imam pria itu terhindar dari
ancaman maut !
It Hiong merasai terjangan angin yang dahsyat, cepat
sekali ia berlompat mundur. Tiba-tiba saja insaf bahwa tak ada
gunanya untuk melayani imam itu secara mati-matian.
Kim Leng Tojing tidak kabur terus, setelah lolos dari
bahaya, ia kembali, ia hanya sekarang tangannya sudah lantas
menggenggam dua buah senjata rahasianya ia ia beri nama
"jie ie" menuruti kehendak hati" senjata mana biasa ia simpan
didalam sakunya. Inilah semacam peluru yang dapat
menyiarkan hawa beracun yang bisa membuat orang tak
sadarkan diri maka lengkapnya ialah hia hun hio atau peluru
asap yang mempingsankan. Segera ia menimpuk ke arah
Kiauw In. Dalam hal menimpuk itu, ia sudah melatih diri
dengan sempurna. Kedua peluru dibikin bentrok satu dengan
lain terus meledak dengan berbunyi cukup nyaring.
Jie ie tan meledak tepat diatas kepala Nona Cio, lantas
menghembuskan asapnya warna ungu, buyar ke pelbagai arah
mengikuti tiupannya angin, baunya harum sangat menusuk
hidung dan memusingkan kepala.
Kiauw In kena mencium bau asap itu, kontan dia limbung
dua tindak terus roboh tak sadarkan diri.
Gouw Ceng tahu maksudnya Kim Leng merobohkan si
nona, ia tidak sudi mengalah, maka juga tanpa menghiraukan
halnya mereka lagi menghadapi lawan tangguh ia justru
menegur kaka seperguruannya yang nomor dua itu Jie
suheng.
"Eh, kakak bagaimana eh ?" demikian tanyanya. "Kau.."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kim Leng tidak menghiraukan pertanyaan itu menyusuli
robohnya Kiauw In, ia lompat melesat kepada nona itu, kedua
tangannya diulur maksudnya guna menjambret tubuh si nona
guna digampit buat dibawa lari.
Berbareng dengan gerakan gesit imam itu, dia juga telah
memperdengarkan jeritan dari kesakitan yang menyayatkan
hati, tubuhnya telah terpental dan roboh terkulai dengan
mandi darah, darahnya berhamburan disekitarnya. Sebab
justru dia lompat kepada Kiauw In justru orang menyambut
kepadanya, tubuhnya dipapaki dihajar dengan tinju tangan
berbareng tubuhnya itu tertolak mundur. Tapi yang paling
celaka ialah waktu ada sesosok tubuh lain yang mencelat ke
arahnya sambil memperlihatkan sinar pedang berkelebatan
dan sinar pedang itulah yang merampas rohnya dan
membuatnya mandi darah.
Apakah yang sebenarnya terjadi ?
Kiauw In terkena asap beracun, kepalanya pusing dan
tubuhnya limbung terus dia roboh tetapi itu bukannya berarti
ia pingsan. Obat pemunah racun kuat melindungi
kesadarannya bahkan setelah merasai kepalanya pusing, insaf
ia akan jahatnya asap ungu itu maka dengan kecerdikannya
terus ia menggunakan akal berpura roboh lalu diwaktu rebah
diam-diam ia memasang mata, selekasnya Kim Leng tiba ia
menghajar dengan satu tinju dari lima "Heng Liong Hok Mo
Ciang" membuat si imam terhajar hebat hingga muntah darah
dan tubuhnya terpental balik, justru itu tiba juga tubuhnya It
Hiong !
Si anak muda melihat segala apa ia terkejut, ia menyangka
kakak seperguruannya roboh di tangan musuh, maka itu, agar
dapat membantu ia lompat menghampiri Kim Leng Tojin,
tanpa banyak pikir lagi ia sambut imam itu dengan pedangnya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
yang tajam. Kemudian maka sampailah Kim Leng Tojin yang
ceriwis dan cabel itu pada ajalnya hingga tamat sudah lakon
hidupnya yang mesum !
Dua-dua Tiang Heng Tojing dan Gouw Ceng Tokouw
menjadi kaget sekali. Sudah menyaksikan kebinasaannya Hian
Siu dan Hian Ho sekarang mereka mesti melihat tanpa
berdaya kematian saudara seperguruannya itu sedangkan
tadinya hati mereka sudah girang sebab nona lawannya itu
kena dibikin roboh. Bedanya cuma mereka kalau Tiang Heng
girang sesungguhnya, Gouw Ceng hanya sesaat dan segera
timbul jelus dan cemburunya terhadap sang Jie suheng. Tapi
setelah jie suheng itu terbinasa, kembali dia kaget dan hatinya
mencelos. Habis kaget, dua-duanya menjadi gusar, maka itu
dengan muka merah dan mata mendelik mereka maju
menyerang It Hiong.
"Bocah, serahkan jiwamu !" bentak Gouw Ceng yang
menyerang dengan kebutannya.
Sementara itu It Hiong sudah lompat kepada Kiauw In
dengan berniat mengasi bangun kakak seperguruan itu. Ia
girang akan mendapat kenyataan si kakak tak kurang suatu
apa. Karena mau menolong Nona Ciu, ia tidak menyangka
jelek kepada Tiang Heng dan Gouw Ceng hingga tahu-tahu si
imam wanita sudah menerjang ke arahnya.
"Kakak.." ia memanggil Kiauw In atau segera ia merasai
serbuan anginnya serangan gelap. Ia mengerti bahwa itulah
ancaman bahaya, tanpa ragu pula ia menjatuhkan diri dengan
jurus silat "Harimau lapar Menerkam Kambing" menyusul
mana kakinya menyapu dengan jurus silat "Kaki Ekor
Harimau" hingga dengan demikian selamatlah ia dari
kebutannya si imam wanita.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di pihak lain, Gouw Ceng juga menjerit kaget. Inilah sebab
geraka kaki dari jurus silat "Kaki Ekor Harimau" dari si anak
muda yang hampir mengenai perutnya. Syukur ia gesit sekali
dan dapat mengegos diri.
It Hiong berlompat bangun, ia menuding si imam wanita
sambil berkata keras : "Jika kau benar mempunyai
kepandaian, kau bertempurlah secara terang-terangan ! Kau
main menyerang secara menggelap, tidakkah itu membuat
orang memandang hina kepadamu ?"
Gouw Ceng berdiri diam, ia melengak sejak ia bebas dari
ancama petaka. Tegurannya si anak muda juga membuatnya
bungkam, sebab tidak ada alasan untuk menyangkal atau
membantah. Disamping itu ia jeri terhadap pedang mustika si
anak muda serta kegagahannya yang ia telah saksikan sendiri.
Ketika itu Teng Hiang Tojin telah lantas menunjuki
kecerdikannya. Ia memangnya beraninya cuma terhadap yang
lemah dan takut kepada yang kuat, ia pula merasa lega sebab
Gouw Ceng tidak kurang suatu apa. Sebenarnya ia mempunyai
latihan dari beberapa puluh tahun serta juga mengerti ilmu
silat sesat yang disebut "Pan Bun To To", tetapi terhadap It
Hiong ia ragu-ragu atau kurang gunakan. Maka itu sampai itu
waktu segera ia merogoh sakunya mengeluarkan kitab Sam
Cay Kiam, yang mana terus ia angsurkan kepada si anak
muda. Tetapi supaya ia tidak kalah gertak, ia tertawa dingin
dan kata : "Ini kitabmu, ambillah ! Toya kamu tak
membutuhkan kitab semacam ini !"
It Hiong menyambut, tangannya sampai bergemetar saking
girangnya. Karena orang menyerahkan kitab itu, ingin ia
mengucapkan kata-kata sungkan, baru ia mau mengajak
Kiauw In turun gunung. Atau si imam telah mendahuluinya.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Di dalam peristiwa hari ini, itulah bukan karena Toya kamu
jeri terhadap kamu !" kata koancu dari Siang Ceng Koan
jumawa. "Yang benar ialah aku tidak mau turun tangan
terhadap kamu, kawanan anak kecil ! Taruhlah aku menang,
kemenangan bukanlah kemenangan kegagahan ! Mampusnya
mereka itu juga menyenangkan hatiku, sebab dengan
demikian maka adik seperguruanku bakal dengan setulusnya
hati mencintai aku ! Kau telah ketahui, cukup sudah !"
Dengan adik seperguruan itu Tiang Heng maksudnya su
moay, adik seperguruan yang wanita ialah Gouw Ceng
Tokauw si imam wanita yang berbareng menjadi kekasih atau
gula-gulanya.
It Hiong dan Kiauw In melengak mendengar perkataannya
imam tua itu. Itulah kata-kata atau sikap yang mereka tak
sangka sama sekali hingga mereka dibuat heran karenanya.
Sesadarnya mereka, tanpa mengatakan sesuatu lagi, berdua
mereka mengangkat kaki meninggalkan Kiu Kiong San.
Waktu sudah tengah hari selagi mereka berlari-lari. Seluruh
gunung sunyi kecuali oleh deru angin diantara pepohonan.
Mereka terus berlari keras sampai mereka tiba di jalan yang
memasuki lembah Huyong ciang yang sempit itu. "Kakak"
berkata si anak muda yang menghentikan larinya, "kakak,
mari kita beristirahat disini sambil mengisi perut...'
"Aku kuatir kakak sudah letih."
Memang anak muda ini menyayangi kakak itu, rasa
bersatunya telah menjadi sangat erat. Sekarang mereka bukan
kakak beradik lagi, bukan su cie dan sute, hanya tunangan
satu dengan lain.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In sudah lantas turut menghentikan larinya, ia
berbalik melirik adik seperguruan itu, senyumannya berpeta,
lalu sambil mengangguk, ia pergi ke sebuah batu untuk
berduduk disitu.
It Hiong menghampiri, keduanya terus duduk berendeng.
Si nona mengeluarkan bekalan rangsum keringnya, ia
membagi kepada si anak muda, maka dengan begitu berdua
mereka mulailah bersantap.
Beberapa kali Kiauw In menyingkap rambutnya yang dibuat
main sang angin.
"Adik, apakah kau telah simpan baik-baik kitab pedang itu
?" kemudian si Nona Tanya sembari ia tertawa.
It Hiong meraba ke dadanya.
"Jangan kuatir, kakak" sahutnya. "Akan aku jaga baik-baik
kitab ini, yang akan aku hargai melebihi jiwaku !"
"Sebenarnya" kata pula si nona, "dengan berhasilnya
perjalanan kita ke Huyong cian ini harus kita berterima kasih
kepada bapak pendeta dari vihara Bie Lek Sin. Bapak pendeta
itu telah memberikan kita obat pemunah racun hingga kita
bebas dari gangguan racun itu."
"Dan juga..." berkata ItHiong yang tiba-tiba terhenti katakatanya.
Si nona heran, dia menatap muka orang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kiauw In cantik manis, halus kulit mukanya, dia luwes
sekali. Ketika itu, disaat hatinya terbuka, dia pula tampak
ramah sekali.
"Dan.." katanya bersenyum, "kita harus bersyukur juga
pada malam dari muara Giok Poan Tha itu disaat Siang Goat
Kouw Hui, Sepasang si putri malam saling memancarkan
cahayanya yang indah permai. Itulah saat yang
menyempurnakan cita-cita kita, kakak. Benar bukan kakak ?"
Kiauw In melirik.
"Cis !" ia kasih dengar suaranya. "Adik, kapannya kau
belajar jail begitu rupa ? Kau mulai nakal ya ? Ah, kau begini
gembira, apakah kau telah melupai Paman Beng mu serta adik
Peng atau kakak Peng mu itu ?"
Ditanya begitu It Hiong berdiam, wajahnya tak lagi
tersungging senyuman seperti barusan. Ya, ia lantas ingat
Paman Beng nya, orang yang telah melepas sangat banyak
budi terhadapnya, juga kakak Giok Peng nya itu terutama si
Paman Beng yang lagi terkurung di Ay Lao San, yang perlu
segera ditolongi. Di lain pihak, ia juga ingat keruwetan
diantara si kakak Giok Peng dengan Gan Hong Kun, hingga
didalam sekejap ia dapat membayangi pula semua peristiwa di
Lek Tiok Po dahulu hari. Bagaimanakah semua itu harus
dipecahkan ?
Selagi It Hiong memikirkan kakak Giok Peng itu sebab ia
diingatkan oleh si kakak Kiauw In, maka Giok Peng sendiri
sementara itu bersama dua orangnya telah kembali ke Lek
Tiok Po, ke rumahnya. Di ruang besar, ia menemui ayahnya
serta dua orang kakaknya, begitupun sang paman emPek,
yaitu paman tua Tong Wie Lam. Paling dahulu ia memberi
hormat dan menanyakan kesehatan ayah serta sekaliannya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
itu, baru pembicaraan beralih ke lain-lain urusan sampai
akhirnya tiba kepada halnya Gak Hong Kun.
"Bocah she Gak itu nampak seperti orang gila hingga dia
sangat memuakkan." berkata Pek Kiu Jie, sang ayah. "Bahwa
dia telah pergi kabur siang-siang itu adalah hal yang baik
sekali. Anak Peng kalau nanti kau bertemu pula dengannya,
jangan kau memandang-mandang lagi, jangan kasih hati,
supaya tak usahlah dia nanti mengerocoki pula kita disini !"
"Hm !" Tong Wie Lam memperdengarkan suara dihidung.
"Seumurku aku menjelajah dunia Kang Ouw, belum pernah
aku bertemu dengan bocah bermuka tebal tak kenal malu
seperti dianya ! Keponakan Peng, jika nanti kau bertemu
dengannya, kau berhati-hatilah terhadap akal muslihatnya
yang licik, supaya kau tak usah sampai kena terjebak !"
"Ayah, paman, terima kasih buat nasihat ini." berkata sang
anak atau keponakan, "aku dapat membawa diriku baik-baik.
Andia kata dia berani main gila terhadapku, tak nanti aku beri
hati padanya, aku akan menghajarnya !"
Kemudian nona menghampiri Pek Siauw Hoaw, kakaknya
yang nomor dua.
"Kakak" tanyanya, "apakah kesehatan kakak sudah pulih
kembali ?"
"Sudah, adik" sahut kakak itu, "tak usah kau
mengkhawatirkan aku."
"Kakakmu malu pada dirinya sendiri" Thian Liong, si kakak
tertua berkata. "Karena ilmu silatku tidak berarti maka telah
terjadi peristiwa mengecewakan ini, hingga nama baiknya Lek
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tiok Po turut tercemarkan oleh anak edan she Gak itu ! Eh,
adik. mengapakah kau tidak pulang bersama-sama adik Tio ?"
Dengan "adik Tio" itu, Thiang Liong menyebutnya "moay
hu" yaitu "suami dari si adik", suaminya Giok Peng. Ia
memanggil demikian karena menuruti aturan kekeluargaan
walaupun pernikahan Giok Peng dan It Hiong itu secara luar
biasa sekali.
Giok Peng tidak menjawab kakaknya yang tua itu,
sebaliknya tanpa merasa ia mengucurkan airmata, ia berduka
kalau ia ingat terlukanya kakaknya nomor dua itu serta
"suasana" di ruang itu tatkala Hong Kun mengacau, ia seperti
dapat membayanginya.
Jilid 18
“Semua ini salahku” katanya menyesal dan masgul sekali. “
Tak selayaknya aku bersahabat dengan bocah edan she Gak
itu! Kau kakak, kau sampai terluka, sedang ayah ibu dan
paman Tong menjadi pusing karenanya.”
Kakak yang dimaksud si nona adalah kakaknya yang kedua,
Siauw Houw, sedang mengenai Tong Wie Lam, ia
menyebutnya paman yang telah dirobohkan oleh Hong Kun.
Selagi menyebut itu, saking gusarnya, tubuhnya sampai
gemetar sendirinya, sebab ia mesti menguasai hawa
marahnya.
Thian Long bangkit da mengusap-ngusap rambut adiknya
itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Sudah adikku.” Dia menghibur. “Sudah jangan kita
pikirkan pula bocah edan itu! Cuma kalau adik Tio pulang
bersama, pastilah bocah edan itu jeri terhadapnya….”
Giok Peng mengeluarkan sapu tangannya guna menghapus
airmatanya.
“Tatkala kami mendengarkan peristiwa ini, ketika itu kami
lagi berada dirumah paman Liok Cim,” kata Giok Peng. “Ketika
itu adik Hiong gusar tak terkirakan segera dia mengajakku
pulang supaya orang edan she Gak itu dapat dihajar! Aku
kuatir urusan menjadi besar dan dapat mengguncangkan
dunia Kang Ouw. Bukankah karena itu bisa bentrok dengan
pihaknya dia itu? Bukankah sekarang justru sedang banyak
urusan? Ketika itupun kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam dari
gurunya adik Hiong telah dicuri Hong Kun yang membuatnya
jatuh kedalam tangannya Hian Ho si imam siluman dari Kim
Hee Kiong. Hebat akibatnya andiakata imam itu dapat
kesempatan mempelajari ilmu pedang itu, maka itu perlu adik
Hiong lekas mencari dan merampasnya kembali. Kitab itu
seterusnya jatuh ketangan imam-imam dari Kiauw Kiong San,
supaya kitab itu dapat dirampas pulang, adik Hiong telah pergi
bersama kakak Kiauw In. Kitab itu sangat penting, karena itu
aku tak berani mengganggu waktu yang sangat berharga buat
adik Hiong, maka juga sekarang aku pulang seorang diri.
Kalau urusan disini sudah beres, aku memikir untuk pergi
menyusul adik Hiong dan kakak In itu.”
“Oh, begitu?” kata Thian Liong yang melengak sebentar,
terus dia tertawa. “Maaf aku keliru menyesali adik Hiong!”
Wie Lam gusar mendengar halnya Hong Kun mencuri kitab
ilmu pedangnya Tek Cio Siangjin, sampai ia menggebrak meja.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Bangsat cilik itu benar-benar manusia yang berwajah
binatang!” katanya sengit. “Tidaklah keterlaluan kalau kalian
bikin dia mampus!”
“Anak Peng” berkata Kiu Jie sabar, “Kau habis melakukan
perjalanan jauh, pergilah kau beristirahat. Pergi kau menemui
ibumu dahulu! Jangan kau pergi ke Ciat Yan Siaw, sigila itu!”
Giok Peng menurut, ia memohon perkenan terus ia
mengundurkan diri. Ketika ia bertindak kedalam, hatinya
berat, pikirannya kacau. Ia berjalan dengan perlahan dengan
demikian ia bisa melihat segala sesuatu didalam rumahnya itu,
yang mengingatkan segala apa, dari segala perabotan sampai
pohon-pohon kembang. Hanya saat itu ia tak sempat
memperhatikannya, ia menuju kedalam dimana ia menemui
ibunya, Ban Kim Hong.
“Mama!” ia berseru memanggilnya seraya terus menubruk
merangkul ibunya itu, selekasnya ia mengngkat kedua belah
tangannya memberi hormat, kemudian ia lantas menangis
tersedu-sedu.
“Ah,anak...” berkata sang ibu yang terus mengelus elus
rambut putrinya itu. “Kau baru pulang anak? Kenapa kau
berduka begini rupa? Apakah kau merasai sesuatu
penasaran…?”
Dengan air mata berlinangkat mukanya, mengawasi ibunya.
“Aku menyesal buat urusan Gak Hong Kun, ibu” sahutnya
berduka. “Dialah si iblis pengganggu jiwa ragaku! Kenapa dia
selalu menyusahkanku, membuatku taka man?”
Diapun sekalian menuturkan halnya pemuda she Gak itu
sudah mencuri kitab ilmu pedang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Sudahlah anak, sudah” ibu yang baik hati itu menghibur.
“Kau jangan pikirkan pula orang edan itu. Yang paling perlu
adalah memperhatikan suami dan anakmu. Anakmu baik-baik
saja. Kau justru harus melewatkan hari-harimu yang
menggembirakan! Jangan pedulikan soal kecil, hanya
utamakan saja kesehatamu. Mengenai Gak Hong Kun, setelah
kau pulang ini, ibu da ayahmu tahu bagaimana harus
mengambil tindakan….”
Justru waktu itu seorang budak perempuan mendatangi
bersama Hauw Yan. Si anak yang baru saja disebut dan baru
mulai belajar, bahkan dengan caranya yang lucu anak itu
berkata pada neneknya: “Nenek – nenek, kakak ini tak mau
mengajak aku main-main…dia…dia…dia mengajak pulang.”
Sang nenek tertawa.
“Dia tak mau bermain dengan mu tidak mengapa”,
katanya. “Kau boleh bermain-main dengan nenek! Nah, kau
lihat ini! Siapakah ini?”
Nyonya tua itu menunjuk puterinya.
Hauw Yan mengawasi ibunya, matanya dibuka lebar-lebar.
“Ma…mama…!” segera ia memanggil.
Bukan main girangnya Giok Peng, ia lompat pada anaknya
itu untuk lantas menyambarnya buat diangkat dan dipeluk.
“Anak manis!” serunya sambil terus menghujani ciuman,
“Anakku!”
Maka sekejap itu buyarlah kesusahan hati ibu ini.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ban Kim Hong sementara itu memerintahkan budaknya
yang barusan memomomg Hauw Yan: “Kau beritahukan
semua budak lainnya tentang pulangnya nonamu ini, jangan
sampai beritahukan pada orang she Gak itu! Mengertikah
kau?”
“Mengerti, nyonya!” sahutnya sang budak, yang terus
memberi hormat dan mengundurkan diri.
Giok Peng terus melayani anaknya yang manis itu.
Besok siangnya, nona Peng memberitahukan ayah ibunya
bahwa ia hendakmenemui Gak Hong Kun. Orangtuanya
setuju, namun harus ditemani ibunya serta kakak tertuanya,
Thian Long.
Tiba di muka loteng Ciat Yan Lauw, Giok Peng berkata pada
ibu dan kakaknya: “Ibu dan kakak jangan turut masuk dahulu,
tunggu saja disini dahulu, biar aku yang menemuinya, hendak
aku lihat tingkahnya. Kalau sampai terjadi pertempuran
barulah ibu dan kakak masuk membantu.”
Ibu dan kakak itu mengangguk, maka menantila mereka
diluar.
“Asal kau berhati-hati, anak!” pesan ibunya.
Giok Peng lantas bertindak memasuki ruang depan. Ia
melihat sebuah ruang yang kosong. Tak ada kursi, meja dan
perabot lainnya. Ditembok juga tak tergantung barang apapun
juga. Hal ini membuat ia jadi mendongkol. Ruang itupun
sangat sunyi, Hong Kun tak tampak sekalipun bayangannya.
“Gak Hong Kun!” ia lantas memanggil, “Gak Hong Kun!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Dari dalam kamar-kamar tidur terdengar suara bagaikan
orang terasadar, terus itu disusul suara cacian “Ah, budak
mana yang begini kurangajar, berani memanggil-manggil aku
dengan namaku saja. Dia harus dihajar…!”
“Manusia bermuka tebal, kau keluarlah!” Giok Peng
membentak gusar, “Mari keluar, beranikah kau menemui aku
Pek Giok Peng!”
Hong Kun memperdengarkan suara kaget dan heran, lantas
orangnya melompat keluar.
“Oh adik Peng, adik Peng, kau pulang?” serunya, “Maafkan
buat kata-kataku barusan…”
Ia berlari menghampiri si nona yang ia sambar kedua
tangannya untuk ditatap mukanya!
Giok Peng menepis tangan orang hingga anak muda itu
terpelanting.
“Kau pakailah aturan!” bentaknya. “Mari kita bicara, buat
apa kau minta maaf, kalau kau berlaku sangat kejam
terhadapku?”
Nona itu melangkah kekursi dipojok di sana ia terus
menjatuhkan diri untuk duduk. Ia masih dapat menguasai
dirinya. Dari situ ia mengawasi si anak muda. Pakaian Hong
Kun tidak rapi, rambutnya juga kusut kecuali ia tampak
bengong saja, kesehatannya tidak terganggu. Dia berdiri diam
dengan mata mengawasi si nona, nyata dia tak wajar lagi. Dia
menjadi tenang setelah Kiu Jie menjanjikan akan mengirim
orang pergi menyusul dan mengajak Giok Peng pulang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Agaknya dia memperoleh harapan. Cuma selain pendiam ia
juga tidak menghiraukan pula perawatan dirinya.
Habis menatap si nona, Hong Kun pergi duduk, kedua
tangannya dipakai membuat main rambutnya. Beberapa kali ia
tunduk, lalu kembali mengawasi nona di depannya itu. Sekian
lama itu ia tetap membungkam. Giok Peng pun mengawasi
tanpa mengucap sepatah kata, menyaksikan kondisi
sipemuda, timbullah rasa kasihannya.
Sebab anak muda itu menjadi kacau pikirannya disebabkan
gagal dalam soal asmara dengannya. Tapi kapan ia ingat
orang telah berlaku kurang ajar dan mengacau, timbul pula
hawa marahnya. Bukankah ayah bundanya telah diperhina
dan kakaknya dilukai pemuda edan itu?
Cinta itu pikirnya kemudian, cinta ialah taman firdaus muda
mudi, tetapi itupun tempat makamnya si anak-anak
muda.Memikir demikian nona ini menghela napas panjang.
Demikian muda mudi ini sampai sekian lama saling berdiam
saja, Cuma kadang-kadang terdengar helaan napas mereka.
Akhirnya Giok Peng disadarkan oleh batuk-batuk ibunya
diluar jendela.
“Gak Hong Kun!” demikian sapanya. “Gak Hong Kun kau
telah datang kemari katanya mencari aku, lagakmu seperti
orang gila, mau apakah kau? Sekarang aku berada disini dan
kita sudah bertemu muka, kenapa kau berdiam saja?
Bicaralah!”
Suara nona itu keras dan tandas.
Hong Kun tetap membungkam, kedua tangannya
memegangi kepalanya, wajahnya diam tak berubah.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Apakah yang kau pikir tentang perbuatanmu disini?” Giok
Peng berkata pula. “Mengertikah kau bahwa itulah perbuatan
buruk sekali? Jika kau insyaf dan tidak dapat mengatakan
sesuatu, terserah kepada kau, aku tidak mau bila ada apa-apa
lagi! Supaya aku tak usah bertemu pula denganmu!”
Tiba-tiba saja Hong Kun mengangkat kepalanya, dengan
kedua mata dipentang lebar ia mengawasi tajam kepada nona
di depannya itu.
“Jadi kau begini tega hati terhadap aku?” demikia
tanyanya. “Kau tahu sendiri aku Gak Hong Kun, apa yang aku
lakukan seua buat kebaikanm! Kau lihat sekarang, orang
sampai menganggap aku seorang gila! Aku dianggap tak tahu
malu! Sekarang kau datang, kau juga tak mau mengingat
persahabatan kita dahulu, kau mengusirku! Kenapa kau tidak
mau menghiburku? Kalau demikian baiklah kau bunuh saja
aku, supaya tak usah setiap pagi dan sore aku memikirkan
dirimu! Kau tahu hatiku terasa ditusuk-tusuk saja!”
Nona Pek menghela napas.
“Gak Hong Kun,” katanya. “Kau bukan lagi seorang anak
kecil, kau pintar dan cerdas, kenapa sekarang pikiranmu gelap
begini rupa? Kau toh tahu cinta tidak dapat dipaksakan?”
Pemuda itu mengangguk.
“Adik Peng” katanya sabar. “Walaupun Gak Hong Kun
bodoh, diapun tahu cinta tak dapat dipaksakan, akan tetapi
harus ingat saat sebelum kau bertemu dengan saudara Tio itu!
Bukankah kita sering berpesiar bersama, mendayung perahu
dan menunggang kuda dan berbincang dibawah sinar puteri
malam? Atau kita berkumpul diantara terangnya sinar api?
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ketika itu , kau memanggilku kakak dan aku memanggil kau
adik, hati kita bagaikan bersatu. Apakah ketika itu Gak Hong
Kun telah berbuat salah? Adik dengar! Hari ini tak peduli
bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mencintai kau!
Justru demimu aku telah datang kemari! Kau bialng tentang
hubunganmu dengan adik Tio? Itu adakah karena anjuran
orang atau karena kerelaanmu? Jawablah!”
Dan dia menatap tajam dan bengis, matanya tak pernah
berkedip!
Giok Peng diam berpikir. Pertanyaannya pemuda itu tepat
sekali, maka ia jadi membayangkan hubungan mereka dahulu.
Gak Hong Kun menantikan, lalu dia tertawa dingin :
“Aku tahu bahwa rejekiku tipis sekali,” katanya pula.
“Dimasa ini selama hidup kita tak ada harapanku lagi untuk
hidup bersama denganmu adik Peng. Inilah yang dibilang air
mengalir ketimur tanpa kembali.”
“Apalagi yang dapat kubilang? Aku Cuma merasa menyesal
telah terlalu percaya bahwa cinta itu putih bersih bahwa Cinta
tak dapat diminta dengan paksa! Inilah yang membuatku
menyesal dan penasaran seumur hidupku! Coba dahulu hari
aku mencontoh perbuatan saudara Tio di loteng Ciat Yan
Lauw ini, tak nanti terjadi urusan kita sekarang ini.”
Pikiran Giok Peng kacau, kata-kata Hong Kun membuat
otaknya bekerja keras, tapi mendengar kata-katanya itu
hatinya menjadi panas. Orang telah mencela It Hiong! Iapun
turut terembet!
“Tutup mulutmu!” mendadak ia membentak.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Adik Tio adalah seorang laki-laki sejati, dia tak berhati
kotor sepertimu! Aku justru telah melihat kelicikanmu, maka
aku menjauhkan diri darimu! Tentang hubunganku dengan
adik Hiong, kau tanyakan Teng Hiang, kau nanti tahu dengan
jelas sekali! Kenapa kau menuduh yang tidak-tidak? Kenapa
kau memfitnah adik Hiong?”
Hong Kun menghela napas panjang.
“Semua hal sudah lewat, tak mau aku menimbulkannya
pula,” katanya perlahan. “Cuma hendak aku bertanya, adik
Peng bagaimanakah perasaanmu pada saat pertama kita
bertemu? Kenapa kau menjauhkan diri? Apakah aku pernah
melakukan kesalahan terhadapmu? Hari ini adik, aku bilang
terus terang tak peduli apa sikapmu terhadapku aku tetap
mencintaimu dan untuk kebaikan kita, maka aku telah datang
kemari, bukan anjuran dan tipu muslihat orang? Apakah sebab
memang kau rela?”
Kembali si anak mda menatap tajam. Ia bilang urusan
dapat dilewati namun dia masih menegasi!
Giok Peng tertawa tawar.
“Aku terima kebaikan hatimu!” katanya sama tawarnya.
“Urusanku dengan adik Hiong tidak ada sangkut pautnya
dengan kau!”
Mata Hong Kun terbuka lebar.
“Kau tidak bicara menurut suara hatimu!” bentaknya,
“Selama aku masih hidup, kau nanti lihat!”
Giok Peng mencelat bangun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Kau berani berbuat kurang ajar!” bentaknya.
Hong Kun tunduk, dia terdiam. Rupanya dia tengah
berpikir, karena kemudian sambil mengangkat kepalanya dia
bertanya : “Saat ayahmu membuat persiapan tentang
persiapan pernikahan kita, kenapa kau tidak menentangnya?
Kenapa setelah tiba hari pernikahan kau berpura sakit dan
menunda harinya? Kenapa keu menyuruh Teng Hiang
menemui aku untuk kita membuat pertemuan diluar desa?
Dengan begitu, bukankah kau mempermainkan cintaku, kau
menjual aku Gak Hong Kun? Kalau tidak, kau pastilah sudah
kena didesak Tong Wie Lam si tua bangka….!”
Mau tak mau Giok Peng tertawa.
“Gak Hong Kun, kau berpikir berlebihan!” tegurnya, “Mana
dapat kau main menerka-nerka dan menuduh saja? Baiklah
aku teus terang, Jodohku dan adik Hiong sudah terangkap
selama berada dikota Hap Hui, disebabkan satu tusukan
pedang! Pada bahuku masih ada tandanya! Apakah kau
hendak melihatnya, baru hatimu puas?”
Tubuh Hong Kun menggigil mendengar keterangan Giok
Peng itu, mukanyapun pucat. Ia berdiri diam bagaikan boneka
kayu.
Pada saat itu, dari luar ruangan terdengar tindakan kaki
perlahan dibarengi tawanya seorang anak kecil, lalu meyusul
masuk seorang budak perempuan yang masih kecil dengan
Hauw Yan dalam rangkulannya.
“Nona!” memanggil sibudak yang bernama Kui Hoa, “Tuan
kecil ini ribut mencari nona!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hauw Yan sibocahpun sudah lantas memanggil: “Mama!
Mama!” dan lantas dia mengulurkan kedua belah tangannya
untuk minta dirangkul ibunya itu, kemudian didalam rangkulan
sang ibu dia masih mengoceh saja….
Sambil memeluk anaknya itu, Giok Peng melirik Hong Kun.
“Hong Kun!” tanyanya, “Kau hendak bicara apalagi? Aku
akan pergi!”
Orang yang ditanya itu berdiam, Cuma kepalanya
digelengkan. Dia tampak sangat putus asa.
Giok Peng membawa anaknya bertindak ketangga loteng,
tiba di muka tangga ia memutar tubuh, lalu berkata pada si
anak muda :”Peristiwa kita yang lampau sekarang sudah elas
dapat dimengerti! Kaulah seorang cerdas, pasti kau dapat
mengenali salah paham diantara kita itu! Karena itu janganlah
karena kecewa dan bersusah hati kau terjerumus kedalam laut
penasaran yang luas. Dengan wajah dan ilmu silat yang kau
miliki, tak usah kau kuatir dalam dunia ini tidak ada seorang
nona yang akan mencocoki hatimu! Aku bilang terus terang
padamu, Giok Peng tidak ada kelebihannya, bahkan sekarang
dia adalah seorang ibu yang telah mempunyai anak, karena itu
tidak ada harganya lagi untuk kau menggilainya….”
Tiba-tiba Hong Kun mengangkat mukanya menatap si nona
atau lebih tepat nyonya! Dia menatap sebentar saja, lantas dia
merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat dan
berkata: “Adik Peng, kata-katamu ini mengenai hatiku yang
cupat dan pepat, jangan kau sangka Gak Hong Kun adalah
seorang yang hina dina, yang Cuma menggemari muka yang
berpupur! Sebenarnya wajahmu adik, sudah tertera didalam
hatiku dan tak mudah dihapus! Bicara tentang kecantikan, kau
kalah setingkat dari Pek Lah Hoa, sedang dalam kecerdikan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
dan pandai melayani kau kalah dua kali lipat dari Teng Hiang
sibudak, tetapi…. Ah, sudahlah aku Gak Hong Kun, aku telah
kehilangan landasan asmaraku, maka tidak ada jalan lain lagi
daripada pergi menjadi pendeta….”
Giok Peng terharu mendengar kata-kata itu. Hatinya
guncang, tanpa terasa air matanyapun mengembang, maka ia
lantas berkata perlahan: “Beginilah hidup manusia….kita
menjadi permainan cinta….. Baiknya kau jangan menyulitkan
dirimu sendiri, jangan menjadi tawar hati, jangan karena aku
seorang wanita biasa, kau merusak hari depanmu yang penuh
pengharapan!....”
Hong Kun gelak tertawa.
“Ya, kita hidup sebagai permainan cinta!” serunya, lalu ia
menghela napas dan menambahkan: “Bagaimana adik Peng?
Dapatkah kau menemani aku minum arak barang satu cawan
saja buat melewati detik malam ini, sebagai kata selamat
jalan? Dapatkah?”
Giok Peng berpikir keras, ia mengangguk.
“Baik, akan aku temani kau minum satu cawan arak,”
sahutnya. “Aku harap dengan secawan arak itu nanti kau cuci
bersih semua lakon yang telah lau, supaya selanjutnya kita
menjadi sahabat-sahabat orang Kang Ouw yang baru!”
Terus si nona berpaling kepada budaknya buat menyuruh
dia lekas membawakan arak berikut barang hidangannya.
Tatkala itu sudah mendekati magrib. Diatas meja loteng itu
sudah tersedia perjamuan lengkap.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hauw Yan mengiler melihat barang hidangan yang masih
mengepul itu.
Giok Peng menjepit sepotong daging ayam terus disuapi
kemulut anaknya, kemudian sambil menyerahkan si anak
kepada Kui Hoa, ia berkata: “Anak yang baik, pergi kau ikut
Kui Hoa untuk menemui nenekmu, sebentar mama akan
menemani kau bersantap!” sedangkan kepada sibudak ia
menambahkan: “Bawalah tuan kecilmu ini turun…”
Kiu Hoa menurut, ia lantas berlalu bersama Hauw Yan.
Dilain saat kedua muda mudi itu duduk berhadapan
menghadapi barang hidangan.
Hong Kun mengisikan cangkir si nona dan cangkirnya
sendiri, lalu ia mengangkat cangkirnya itu sambil berkata : “
Adik Peng, aku bersyukur karena kau begini baik hati
terhadapku, maka dengan jalan ini juga aku mohon pamitan
dari kau! Mari minum!”
Giok Peng mengangkat cawannya, dia tertawa da berkata:
“Akupun mau memberi selamat jalan padamu! Kakak Hong
Kun semoga kau berhasil dan bahagia!”
Bukan main senangnya Hong Kun mendengar ucapan
“Kakak Hong Kun” hatinya nyeri sekali. Segera ia mengangkat
kepala dan cawannya untuk menegak dan mengeringkan
isinya, sesudah mana ia cepat mengisikannya pula.
Giok Peng mengawasi pemuda itu, ia melihat wajah orang
bercahaya lalu suaram pula. Lantas ia sadar akan
kekeliruannya sudah memanggil “Kakak Hong Kun” itu. Karena
itu ia lekas-lekas berkata nyaring: “Seorang laki-laki dia harus
memandang jauh ke depan, jika Cuma berkecimpung didalam
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
asmara dia akan kehilangan sifat jantannya! Itulah yang
dibilang pinter keblinger! Benar , bukan?”
Hong Kun mmenyeringai sedih.
“Adik Peng kau membawa tingkahnya siguru sekolah yang
lagi memberikan kuliahnya….” Katanya lesu. “Tak berani Hong
Kun menerima itu, usaha itu kosong melompong! Harta
bagaikan mega yang melayang-layang! Mana dapat
dibandingkan dengan seseorang yang rindu akan cinta dan
selalu didampingi kekasihnya? Siapa menyayangi cinta kasihku
itu, barulah namanya bahagia!”
“Telah aku bilang!” kata Giok Peng. “Aku hanya itu seorang
ibu yang telah mempunyai anakku, Hauw Yan! Bagiku soal
asmara ialah masa lalu, maka itu baiknya jangan kita
bicarakan lagi. Itu Cuma menambah keruwetan pikiran saja!”
Hong Kun menghela napas.
“Tak apa untuk tidak membicarakannya,” katanya berduka.
“Hanya itu…..” sang gunting tak sanggup mengguntingnya
putus….Gak Hong Kun harus merasa malu karena dia tak
mempunyai kemampuan untuk mengatasinya….. Ia lantas
mengangkat cawannya untuk terus berkata: “Malam ini mari
kita minum sampai habis kegembiraan kita! Bukankah
menghadapi arak orang harus mabuk? Peduli apa kita akan
soal esok hari!”
Anak muda ini menghirup pula cawanya itu, diisi lagi dan
dihirup lagi beruntun sampai lima cawan!
Giok Peng melihat poci arak sudah kosong, tapi ia berpikir
untuk meloloh orang dan membuatnya rebah tak berdaya,
maka ia tertawa, “Ya, kalau kau begini gembira baiklah akan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
aku panasi arak Pek Lo Cun untukmu, sekalian buat mengucap
selamat jalan padamu!”
Segera si nona memanggil seorang kacung yang menanti
dibawah loteng buat menyuruhnya lekas memanaskan arak
yang ia sebutkan itu dan dibawa kepada mereka.
Ketika itu lilin telah dinyalakan hingga ruang mungil dari
loteng dimana mereka duduk berhadapan tampak terang
sekali. Hatinya Giok Peng tidak tenang, tetapi pada wajahnya
ia menunjukkan tampang sabar sekali. Sebisa-bisa ia berlaku
tentram.
Hong Kun sebaliknya, dia tampak bergembira.
Giok Peng mengangkat poci arak untuk mengisi cawannya
pemuda itu.
“Kau cobailah arak Pek Lo Cun ini,” katanya tertawa.
“Bagaimana tentang harum dan lezatnya?....”
Hong Kun menghirup arak itu, tiba-tiba dia tertawa
bergelak da matanya bersinar tajam galak, terus dia menatap
si nona di depannya. Matanya itu bersinar dingin
menakutkan…
“Kau kenapa ah?” tanyanya. “Apakah arak itu kurang
keras?”
Hong Kun menyeringai.
“Araknya baik sekali” sahutnya, “Itu hanya membangkitkan
aku….”
Nona Pek mengawasi.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Apakah itu?” tanyanya, “Dapatkah kau menuturkannya?
Barangkali dapat aku membantu kau untuk
memecahkannya…”
Hong Kun mengawasi nyalanya licin.
“Itulah aneh!” katanya menjawab si nona. “Kita bersamasama
berada diatas loteng Ciat Yan Lauw ini, kau menemani
aku bersantap dan minum arak, adik tetapi dengan kau
terpisah bagaikan langit dan bumi!” demikian katanya.
Giok Peng mendelong.
“Ah!.....apa katamu?” tanyanya.
Hong Kun tertawa pula, tertawa sedih.
“Buat apa mengatakannya?” katanya. “Beberapa tahun lalu,
saudara Tio bersama adik Peng makan dan minum arak
bersama disini, dan dia telah berhasil seperti seorang calon
yang telah lulus memenangkan ujian tertinggi! Tapi sekarang
kau dan aku bersama minum disini, tapi arak sekarang
berlainan dengan arak yang dulu itu! Kalau dulu orang
berbahagia, kita sekarang justru bersusah hati soalnya kita
bakal segera berpisah! Oh, sungguh kejam Tuhan mengatur
jalan hidup Gak Hong Kun!”
Walaupun mengatakan hal demikian, si anak muda tetap
tertawa bergelak, hanya berbareng dengan itu air matanya
keluar dua tetes dari matanya….
Giok Peng mengawasinya dan tertawa.
“Kau sudah mabuk!” katanya nyaring, “Sudah jangan
minum lebih banyak lagi! Pergilah masuk kedalam kamar!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Biar bagaimana tak tega hatinya menyaksikan penderitaan
sipemuda.
Tubuh Giok Kum menggigil.
“Semoga aku mabuk tak sadarkan diri!” katanya. Dan
kembali ia minum araknya, hanya kali ini lantas kepalanya
mendekam diatas meja hingga sumpit dan cawannya
berserakan jatuh kelantai.
Giok Peng lantas berbangkit hendak menghampiri si anak
muda buat mengangkat tubuhnya, buat dibantui pindah
kekamarnya, mendadak Thian Liong muncul diambang pintu.
“Adik kau pulanglah!” demikian kakak itu berkata, “Nanti
aku yang membantunya naik keatas pembaringannya!”
Si adik melengak tapi dia menurut tanpa berkata suatu apa.
Ia keluar dari ruang itu dan turun dari tangga yang disambut
oleh ibunya yang mengajaknya pulang kerumah besar.
Thian Liong dengan dibantu seorang kacung memondong
tubuhnya Hong Kun kedalam kamar dimana dia direbahin
setelah mana dia ditinggalin seorang diri.
Paginya Hong Kun tampak duduk simpruh diatas
pembaringan memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Arak
membuatnya tidur lupa daratan tapi setelah sadar, dapat ia
mengingat-ingatnya. Ia merasa pikirannya makin kacau.
“Apakah setelah sadar begini aku lantas pergi angkat kaki?”
kemudian dia Tanya pada dirinya sediri. Lantas dia berpikir
keras.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Angin pagi berhembus kedalam kamar, meniup dan
mengerak-gerakkan gambar lukisan yang tergantung didinding
kamar. Mendengar suara bergerak-gerak si anak muda
terkejut, segera ia menoleh maka ia melihat perihalnya
gambar lukisan itu, “Co Beng Tek Melintangkan Tombak” yang
diikuti syairnya, lukisan itu bagaikan hidup dan tulisan
hurufnya bagus sekali, entah siapa pelukisnya.
Hong Kun terpelajar, tahulah ia siapa Co Beng Tek itu, yaitu
Co Coh si perdana menteri dorna jaman kerajaan Han, bahkan
ia ingat juga kata-katanya dorna itu: “Biarlah aku
mengecewakan orang dikolong langit, jangan orang dikolong
langit yang mengecewakan aku.” Mengingat itu tiba-tiba
tergeraklah hatinya, maka katanya seorang diri: “Apakah aku
Gak Hong Kun dapat bersabar menerima perbuatan orang
yang mengecewakanku? Dapatkah aku menerima hinaan dari
Tio It Hiong yang telah merampas kekasihku? Dapatkah aku
menerimanya semua itu dengan tunduk kepala saja! Tak
peduli apa juga aku mesti membikin adik Peng berada kembali
dalam rangkulanku! Biarlah aku turut kata-katanya Co Coh,
biarlah aku mengecewakan orang dikolong langit! Aku harus
lakukan itu sekehendak hatiku! Sepuasku!.
Adalah biasa bahwa seseorang suka berbuat keliru, karena
kekeliruannya disatu saat hingga tertutuplah kesadaran hati
sanubarinya yang putih bersih hingga akhirnya celakalah
tubuh raganya, hingga berakhir dengan kesudahan yang
menyedihkan. Demikian dengan Gak Hong Kun ini.
Dia telah terjerat dengan kata-katanya Co Coh itu karena
kalah bersaing asmara, dia hendak melakukan pembalasan
dan tak memikirkan akibatnya nanti.
Segera setelah mengambil keputusan, maka Hong Kun
lantas memikirkan cara atau jalannya pembalasan yang
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hendak diperbuatnya itu. Ia memikirkan diri Giok Peng sampai
ia ingat kepada Hauw Yan, anaknya yang masih kecil itu.
Pikirnya, “Lenyapnya Sam Kiam tidak membuatmu sibuk,
hanya si orang she Tio yang repot mencarinya kembali, tapi
Hauw Yan adalah buah hatinya, kalau dia terjatuh kedalam
tanganku mustahil kau tak bakal tunduk dan menurut saja
segala kehendakku?”
Memikir demikian, maka bersemangatlah anak muda itu,
mendadak ia lompat turun dari pembaringannya, dengan
cepat merapikan pakaiannya dan mengambil pedangnya. Dan
bergerak turun dari loteng Ciat Yan Lauw.
Sudah banyak hari Hong Kun tinggal di Lek Tiok Po, maka
ia kenal baik rumah itu dan sekitarnya. Maka itu seturunnya
dari loteng, ia berjalan diantara pohon-pohon bunga dengan
hati-hati.
Ia menyingkir dari pandangan siapapun penghuni
rumahnya Giok Peng dengan begitu dia berhasil lompat naik
ketembok halaman dalam dimana dia lantas mendekam untuk
menyembunyikan diri.
Diwaktu demikian semua pegawai pria dan wanita tengah
berdiam didalam rumah. Itulah sebabnya kenapa Hong Kun
tak terpergoki. Dengan sendirinya diapun jadi bebas bergerak.
Sambil mendekam anak muda ini melihat kesekitarnya.
Tatkala itu seluruh Lek Tiok Po sunyi sekali, maka juga
orang lantas dapat mendengar nyata ketika tiba-tiba ada
suara anak kecil bernyanyi-nyanyi: “Matahari muncul ditimur,
bunga harum, kupu-kupu repot beterbangan….” Nyanyian itu
kadang-kadang terhenti sebentar.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun lantas melompat kesebuah pohon da
bersembunyi diantara dahan-dahan dan daun. Dia melihat
kebawah, ke arah darimana suara nyanyian itu datang.
Segera tampak Hauw Yan lari mendatangi dengan tindakan
perlahan, tangannya dituntun seorang budak perempuan kecil.
Sibudak yang bernyanyi mengajari sibocah cilik itu….
Bukan main girangnya Hong Kun ketika ia melihat Hauw
Yan dan budaknya itu, Kui Hoa. Disaat mereka itu menikung
disebuah jalan kecil, ia berlompat turun diatas sebuah pohon.
Tubuhnya yang ringan dan lincah membuatnya menginjak
tanah tanpa bersuara. Lalu ia menguntit dengan hati-hati.
Belum jauh, maka Hong Kun memungut sebuah batu kecil,
terus ia timpukkan ke depan Hauw Yan bedua sejarak tiga
kaki di muka mereka itu. Karena caranya ia menimpuk, ia
membuat batu berkisar seperti berputar.
“Bagus sekali!” Hauw Yan berseru sambil bertepuk tangan.
“Kakak Kui Hoa, lihat, katak hijau itu bagus sekali…!”
Dia mengatakan katak, sebab ia tak dapat segera
mengenalinya.
Kui Hoa hendak menjawab anak asuhannya itu namun
mendadak mulutnya dibekap dari belakang, hingga ia tak
dapat membuka mulutnya. Sedangkan satu totokan pada jalan
darah hek tiam di belakang kepalanya membuat ia tak
sadarkan diri.
Itulah Hong Kun yang telah menurunkan tangannya yang
lihai sebelum sibudak memergokinya. Sesudah itu ia lompat
kepada Hauw Yan untuk merangkulnya sambil menutup mulut
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
si anak. Segera anak itu dibawa lari ketembok Pekarangan dan
berkat larinya yang gesit dan pesat ia sudah berada diluar
wilayah Lek Tiok Po.
Giok Peng dan ibunya yang duduk bersantap, waktu itu
mereka mendengar laporan dari kacungnya yang membawa
makanan buat Hong Kun bahwa loteng itu sudah kosong.
Giok Peng mengangguk dan tertawa.
“Kau boleh mengundurkan diri!” katanya pada sikacung,
setelah mana ia meneruskan pada ibunya: “Mama, selanjutnya
kita tak usah pusing-pusing lagi! Rupanya Gak Hong Kun tidak
mempunyai muka untuk bertemu dengan kita, maka dia pergi
tanpa pamitan lagi, benarkah itu?”
“Selama beberapa hari kita telah diganggnya hingga kita
menjadi merasa tidak aman,” berkata sang ibu, “Maka itu lebih
cepat dia berlalu lebih baik pula!”
Sang putri tersenyum.
Habis bersantap, Giok Peng ingat anaknya. Biasanya
setelah bangun pagi, Hauw Yan diajak Kui Hoa kedalam taman
untuk bermain atau jalan-jalan sebentar. Setelah itu barulah
anak itu sarapan. Tapi sampai sekarang, lebih siang dari
biasanya, si anak dan sibudak belum juga muncul, sang ibu
berpikir: “Mungkin mereka terlalu gembira bermain-main maka
mereka terlambat pulang…” Tapi ia teap berkata pada ibunya:
“Ah, si Kui Hoa dia main entah apa! Sampai begini hari belum
juga mengajak Hauw Yan pulang untuk bersantap…”
Berkata begitu, ibu ini lantas bertindak keluar. Ia tak mau
menyuruh orang mencarinya, ia mau pergi melihat sendiri. Ia
berjalan perlahan-lahan. Lantas ia menjadi heran karena tidak
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
melihat siapa-siapa dan juga tak terdengar suaranya Hauw
Yan atau Kui Hoa.
“Ah, kemanakah mereka?” pikirnya, setelah mana ia
berteriak nyaring memanggil: “Hauw Yan, Hauw Ya anak
manis, mari pulang, anak kau belum bersantap! Kau bermain
dimana?”
Pertanyaan atau panggilan itu juga tiada jawabannya.
“Aduh!” pikir ibu itu yang lantas tercekat hatinya, karena ia
mulai berkuatir sebab ia lantas menduga jelek. Dengan
sendirinya ia lantas bertindak cepat memasuki taman bunga.
Taman sunyi disitu, tak nampak siapapun juga.
“Ku Hoa! Kui Hoa!” Giok Peng memanggil-manggil.
Kembali tiada jawaban, taman tetap sunyi senyap.
“Mungkinkah Kui Hoa membawa Hauw Yan keruang besar
untuk bermain dengan kakeknya?” pikirnya pula. “Hanya
biasanya diwaktu pagi begini, mereka tak suka pergi ke
depan…..”
Maka ibu ini berjalan terus dengan langkah dipercepat.
Baru setelah menikung dipengkolan ia melihat punggungnya
Kui Hoa yang lagi berdiri diam saja.”
“Kui Hoa! Kui Hoa!” ia memanggil manggil pula sambil
berlari menghampiri. Kekuatirannya timbul sebab Hauw Yan
tak nampak dan cara berdirinya sibudak tampak aneh.
Segera setelah datang dekat, Giok Peng menjadi kaget
sekali, sebab Kui Hoa itu berdiri bagaikan patung sebab
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
terkena totokan. Maka kekuatirannyapun mencapai
puncaknya, sebab ia mengkuatirkan keselamatan Hauw Yan.
Tanpa ayal lagi ia membuka totokan Kui Hoa.
Hanya sedetik, Kui Hoa terasadar, bingung mirip orang
yang mendusin dari mimpinya. Dan selekasnya ketika tidak
melihat Hauw Yan, ia lantas menjerit menangis!
“Kui Hoa, jangan menangis!” Giok Peng lantas menghibur,
“Mana Hauw Yan?”
Kui Hoa takut bukan main, dia menangis terus, ditanya
begitu dia hanya menggelengkan kepalanya.
Giok Peng dapat menenangkan diri, ia mengusap rambut
bocah itu dan berkata: “Kui Hoa jangan takut,” katanya
perlahan. “Tak nanti aku persalahkan kau, kau bilanglah apa
yang terjadi?”
Lama-lama bisa juga budak itu menenangkan diri, ia
menepis air matanya. Rupanya sikap manis dari majikannya
itu membuat hatinya tentram.
“Barusan aku mengajak tuan kecil Hauw Yan bermain-main
disini,” sahutnya perlahan. “Tiba-tiba aku melihat…..”
“Kau lihat apa Kui Hoa?” Tanya Giok Peng tetap sabar.
“Apakah kau melihat orang? Dia laki-laki atau wanita? Lekas
bilang!”
Kata-kata yang terakhir itu ditanyakannya dengan cepat.
Kui Hoa menangis pula.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Aku melihat katak hijau….” Katanya sukar. “Katak itu
bergerak-gerak…..kiranya hanya baru kecil….”
Dan ia menunjuk batu yang dilihatnya seperti katak hijau
itu.
Giok Peng bertindak ke arah batu kecil itu dan
memeriksanya.
“Apa katamu barusan?” ia menegaskan. “Kenapakah batu
ini?”
“Batu itu bergerak berlompatan seperti katak hijau…” sahut
sang budak, “Aku dan tuan kecil mengawasinya, bahkan tuan
kecil bertepuk tangan saking girangnya. Tapi belum lama,
tiba-tiba aku tidak melihat lagi tuan kecil dan batu itu….”
Giok Peng mengasah otaknya dan menerka-nerka.
“Kui Hoa coba bilang,” katanya kemudian. “Cobalah kau
pikir benar-benar. Apakah kau melihat atau mendengar ada
suara orang atau tindak kakinya di belakangmu?”
Kui Hoa menggeleng kepala.
“Tidak!....” sahutnya.
Giok Peng menatap budaknya itu, budak masih kecil yang
tak ia sangsikan kejujurannya. Melihat sibudak ditotok orang
dia sudah menduga, bahkan ia segera ingat Hong Kun.
Bukankah pemuda itu lenyap tak keruan pula. Dalam
bingungnya ia lantas lari pulang dan mencari ibunya untuk
menuturkan lenyapnya Hauw Yan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kali ini nona ini tak dapat menahan perasaannya. Ia lantas
menangis dan air matanya meleleh keluar dengan deras….
Nyonya Pek tua pun kaget.
“Kui Hoa yang mengajak Hauw Yan, kau lekas tanyakan
dia!” katanya.
“Dia tak dapat menerankan apa juga.” Kata Giok Peng, “Dia
kutemukan dalam keadaan menjublak seperti patung
disebabkan totokan hingga tak dapat ia bergerak, berbicara
atau melihat …..dia tak tahu apa-apa!”
Kembali nyonya tua itu kaget sekali, hanya kali ini
berbareng dia gusar. Segera dia memerintah mengumpulkan
semua bujang laki-laki dan perempuan, guna didengar
keterangannya.
Maka dilain saat berkumpullah semua hamba dari Lek Tiok
Po.
Giok Peng menangis tapi tidak lama. Sebagai orang Kang
Ouw dia cepat menguasai dirinya. Dia menghapus air
matanya, sekarang dia justru bergusar.
“Menurut dugaan anakmu, ini tentu perbuatan Gak Hong
Kun!” katanya mengutarakn terkaannya.
“Benarkah binatang itu berani berbuat gila semacam ini
terhadap Lek Tiok Po?” Tanya sinyonya tua heran.
Ketika itu semua sudah berkumpul dan atas pertanyaan
Nyonya Pek itu mereka menerangkan tidak melihat siapa juga,
tak ada orang asing yang datang atau melintas. Di Toa-thia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
ruang besar, diapit kedua putranya Thian Liong dan Siauw
Houw. Giok Peng duduk disisi ibunya.
Pada saat itu datang laporan dari pegawainya yang
bertugas menjaga pintu gerbang. “Tadi aku melihat tuan Gak
Hong Kun bersama tuan kecil Hauw Yan keluar dari Lek Tiok
Po. Atas pertanyaanku Tuan Gak kata dia mau pesiar bersama
tuan kecil. Aku memberitahukan bahwa menurut aturan kita
disini, siapa mau keluar dari wilayah rumah kita, dia
membutuhkan perkenan, tapi disaat aku bicara itu tuan Gak
lantas omong besar dan menyerang kami hingga kena
dirobohkan. Lantas dengan membawa tuan kecil dia segera
pergi dan aku segera datang kesini untuk memberi laporan
ini….”
Kiu Jie gusar sekali, hingga tubuhnya menggigil dan giginya
berkerutukan, tanpa disengaja dia menggebrak meja hingga
pingiran meja itu pecah rusak, sebab dia pandai Tiat See
Ciang, ilmu kekuatan tangan pasir besi. Dia terlebih gusar
daripada saat diganggu kelima “bajingan” untuk
mengacaukannya.
Giok Peng bergusar berbareng bersusah hati. Inilah sebab
ia menyaksikan kegusaran luar biasa dari ayahnya itu. Tanpa
merasa ia melinangkan air mata.
“Sudah, ayah jangan gusar.” Ia mencoba menghibur.
“Sekarang hendak aku menyusul dia, tak perduli sampai
diujung langit akan aku binasakan manusia tak
berprikemanusiaan itu!”
“Akupun mau sekarang juga pergi ke Heng San!” berkata
Kiu Jie dalam sengitnya. “Hendak aku menemui It Yap Tojin
guna minta keadilan, kalau perlu akan aku korbankan jiwa
tuaku ini, supaya aku bisa mendapatkan pulang cucuku!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
“Sabar, saudara Pek….” Berkata Wie Lam menghela napas.
“Urusan ini masih harus dipikirkan dahulu dengan tenang,
jangan kita menuruti saja bujukan hawa amarah…”
“Tong Loyacu,” Nyonya Pek turut bicara, “Cobalah tolong
pikirkan data apakah yang rasanya paling baik?”
Nyonya Pek Kiu Jie tidak memanggil paman kepada sahabat
suaminya itu, hanya “loyacu”, suatu ucapan yang penuh
kehormatan. Paman hanya ucapan biasa saja. Wie Lam pun
berusia terlebih tua daripada Kiu Jie.
Wie Lam menatap semua hadirin.
“Menurut pendapatku sekarang ini,” berkata ia kemudian.
“Sekarang juga baiklah kedua keponakan thian Liong dan
Siauw Houw segera pergi menyusul secara berpisahan kepada
orang she Gak itu! Demikian juga kau keponakanku.
Disamping itu kita juga segera mengirim kepelbagai sahabat
rimba persilatan guna memberitahukan peristiwa ini seraya
memohon bantuan mereka mencari tahu kemana perginya
anak celaka she Gak itu!”
Giok Peng mengangguk.
“Paman benar,” katanya. “Baik, mari kita lekas berangkat!”
Belum sampai nona ini berbangkit namun ia berseru
tertahan: “Oh! Aku lupa! Akupun mesti mengrim orang ke Kiu
Kiong San guna menyampaikan kabar ini kepada adik Hiong
dan kakak In, supaya mereka itu turut membantu mencari
Hauw Yan!”
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Berkata begitu, nona ini lantas menyuruh kacungnya segera
menyiapkan pedang dan buntalannya yang berisikan uang dan
pakaian seperlunya.
Sementara itu Nyonya Pek melarang suaminya pergi ke
Heng San, buat mencari It Yap Tojin, katanya suaminya perlu
berdiam didalam rumah untuk mengurus sesuatu. Bukankah
anak mereka telah pergi semua dan rumah menadi kosong.
Kiu Jie dapat dikasih mengerti, ia suka membatalkan
kepergiannya ke Heng San.
Ketika itu Thian Liong yang telah berpikir turut bicara, kata
dia: “Menurut terkaanku, Gak Hong Kun berbuat begini untuk
memancing adik Peng pergi menyusulnya seorang diri. Kalau
adik Peng menyusul dia, ia pasti bakal kena terpancing dan
terjebak. Karena itu aku pikir baik aku pergi berdua adik Peng,
sedangkan adik Houw pergi bersama beberapa orang kita.
Asal Hong Kun ketahuan jejaknya, salah seorang mesti lekas
pulang memberi kabar”
Kiu Jie mengangguk.
“Begitupun baik” bilangnya. “Cuma kalian semua harus
berhati-hati!”
Lantas ayah ini mengatur orangnya :”Empat pegawai
ditegaskan turut bersama Giok Peng dan Thian Long dan
delapan orang ikut Siauw Houw, segera mereka dititahkan
berangkat”
Wie Lam dan nyonya Pek menyetujui cara bekerja seperti
itu.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Sementara itu Gak Hong Kun yang menculik Hauw Yan
sekeluarnya dari wilayah Lek Tiok Po dia lalu tiba dipelabuhan
sungai Tiang Kang dan lantas membeli seekor kuda untuk
melanjutkan perjalanannya. Dia tak mau menyingkir secara
cepat-cepat, tapi dengan menunggang kuda dia merasa lebih
leluasa. Ini disebabkan dia mesti mengasuh Hauw Yan,
sedangkan dia adala seorang laki-laki, dia nanti kuatir orang
mencurigainya. Dengan bercokol diatas kuda sehingga seolaholah
mereka tengah berpesiar…
Disepanjang jalan Hauw Yan dibujuki, diajak bicara sambil
tertawa-tawa, hingga anak itu tidak ingat apa-apa. Dilain
pihak diam-diam dia memasang mata, kuatir Giok Peng atau
lainnya menyusul….
Biar bagaimanapun hati pemuda ini tidak tenang. Kalau dia
sedang sadar, dia malu sendiri, sebab dia sebagai seorang
laki-laki sejati telah melakukan perbuatan hina dina itu.
Diapun kuatir Giok Peng menyusulnya. Dilain pihak lagi dia
sangat ingin bertemu nona itu…
“Dengan Hauw Yan ditanganku, mesti dia akan turuti
segala kehendakku….” Demikian dia melamun.
Selang dua hari Hong Kun sudah sampai dikecamaTan
Hong Bwe, dia singgah semalam. Tidak juga dia melihat Giok
Peng yang dia harapkan datang menyusul. Karena dia sengaja
mengambil jalan memutar guna memperlambat perjalanannya
untuk menantikan nona Pek…..
Hari itu diwaktu lohor, Hong Kun tiba di Thian Kee Tiu.
Itulah sebuah kota perdagangan yang tak besar tapipun tak
kecil. Perumahannya Cuma enam tujuh puluh pintu. Tapi
sebagai kota perdagangan lalu lintasnya ramai sekali. Diluar
itu adalah segundukan rimba pohon yangliu dan bunga toh
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hoa yang indah pemandangannya. Didalam rimba itu diantara
sinar sang surya, Hong Kun menjalankan kudanya perlahan.
Keindahan sang alam hendak dinikmati supaya hatinya tenang
dan lega.
Tiba-tiba saja kesunyian sang rimba diganggu oleh
bentakan berulang ulang serta bentrokan nyaring diantara
senjata tajam yang datangnya dari sebelah dalam rimba itu.
Hong Kun terkejut, apalagi ketika dia lantas mendengar suara
seorang wanita yang mirip dengan suaranya Giok Peng. Dia
lantas memasang telinganya, tapi tak dapat dia mendengar
lagi suara wanita itu. Lalu dengan ragu-ragu dia melarikan
kudanya kedalam rimba, ke arah dimana suara pertempuran
terdengar.
Setelah memasuki rimba sejauh sepuluh tombak lebih,
kembali Hong Kun mendengar beradunya senjata, hanya kali
ini dia lantas mendengar juga suara orang bertanya: “Nona,
apakah nona datang dari Lek Tiok Po!”
Sejenak itu bergetarlah hatinya si orang she Gak.
“Dia pasti Giok Peng!” pikirnya. Dia ragu-ragu, toh dia
mencambuk kudanya untuk disuruh lari.
Meskipun kuda dilarikan keras, Hauw Yan dalam usia lima
tahun tidak takut sama sekali, sebaliknya dia tertawa. Dia
menjadi sangat girang. Ini disebabkan dia bertubuh kekar dan
bernyali besar dan selama di Pay In Nia dia sering mengikuti
Giok Noaw berlari-lari ditanah pegunungan.
Setelah menikung beberapa kali, Hong Kun tiba disebuah
tempat terbuka kecil yang tanahnya penuh berumput, di sana
dia melihat dua orang lagi bertarung, yang satu pria dan satu
wanita. Yang pria berumur lima puluh tahun lebih, bajunya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
panjang senjatanya tongkat bambu, sepatunya sepatu ringan.
Dia adalah Ngay Eng Eng dari lembah Kian kok Wan di
Lokyang. Sementara yang wanita dandanannya ringkas dan
rambutnya berponi, senjatanya sepasang ruyung Sae ho pang,
dialah Tan Hong dari Hek Keng To, pulau ikan lodan. Hanya
terhadap nona itu, Hong Kun tidak kenal. Dia cuma heran
suara orang sama dengan suaranya Giok Peng.
Selagi si orang she Gak menjublak menyaksikan
pertempuran itu, Hauw Yan justru bersorak-sorak tangannya
ditepuk-tepuk dengan sangat kegirangan.
Tatkala itu Ngay Eng Eng sebenarnya sedang repot. Setelah
membantu pihak Siauw Lim Pay mengusir kawanan bajingan
yang menyerbu kesana lalu disebabkan ada janji pertempuran
digunung Tay san, dia repot mondar mandir mengundang
sahabat-sahabat guna membantu pihak Siauw Lim Pay.
Kebetulan saja lohor itu selagi ia lewat dirimba itu, dia
bertemu dengan Tan Hong, segera dia menghadang nona itu.
Sebabnya ialah dia telah mendengar berita halnya Tan Hong
sudah mencuri kitab ilmu pedangnya It Hiong. Jadi dia mau
merampas pulang kitab itu untuk dikembalkan kepada si anak
muda. Tan Hong sebaliknya panas hati, sebab meski ia sudah
memberi keterangan berulang-ulang, si jago tua ngotot tak
mau mengerti. Maka habislah sabarnya dan bertempurlah
mereka berdua.
Selagi bertempur itu masih dapat Nona Tan menguasai
dirinya, maka sambil melayani berkelahi dalam hal mana ia
lebih banyak bertahan sambil menjelaskan perihalnya ia kenal
Giok Peng dan lainnya dan baru belum lama ini ia berpisah
dari nona Pek itu. Karena ia menyebut kenal Giok Peng, Eng
Eng menyangka ia datang dari Lek Tiong Po.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Jilid 19
Tan Hong mempunyai telinga yang Peka dan mata yang
awas, sedangnya bertempur itu telinganya lantas mendengar
suara kuda berlari-lari disusul dengan tawa riang dari anak
kecil. Segera ia menangkis satu serangan dari Eng Eng, lantas
ia lompat mundur beberapa tindak, untuk menoleh ke arah
darimana datangnya suara kuda dan tawa, hingga ia lantas
mendapat lihat Hong Kun diatas kudanya lagi memeluki si
bocah riang gembira itu. Ia heran hingga ia terus mengawasi
saja.
Selama It Hiong dan Hong Kun mengadu kepandaian di kuil
Go In Ih di Heng San, Nona Tan Hong telah mencintainya
maka itu ia tahu dan mengenali Gok Hong Kun, sekarang ia
melihat pemuda itu bersama seorang bocah, mengawasi siapa
ia merasa bahwa ia rada-rada mengenalnya.
"Ah, siapakah bocah itu ?" pikirnya.
Karena orang berlompat mundur, karena datangnya si anak
muda dan si bocah, Ngay Eng Eng juga menunda
penyerangannya. Bahkan ia lantas menghadapi Gak Hong Kun
untuk bertanya : "Saudara, apakah kaulah murid pandai dari It
Yap Totiang dari Heng San ?"
Hong Kun merangkapkan kedua belah tangannya.
"Tenaga ingatan dari Ngay Locianpwe kuat sekali."
sahutnya sambil memberi hormat itu. "Kita sudah berpisah
beberapa tahun tetapi locianpwe tetap masih ingat kepadaku,
Gak Hong Kun, murid dari Heng San Pay."
Jago tua itu tertawa.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Bagaimana dengan gurumu, saudara, adakah ia baik-baik
saja ?" tanyanya. "Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu
dengannya."
"Terima kasih, locianpwe, guruku sehat-sehat saja." sahut
si pemuda.
Eng Eng menunjuk Hauw Yan.
"Saudara Gak, adakah anak itu puteramu ?" ia tanya pula.
"Sungguh seorang anak yang tampan sekali !"
Ditanya begitu, Hong Kun tergugu. Tak dapat ia menjawab
"ya" tapi juga tak boleh ia menyebut anaknya Giok Peng atau
It Hiong. Terpaksa, ia berpura-pura batuk.
Eng Eng menghela nafas. Kata ia perlahan.
"Ketika beberapa tahun yang lampau itu, aku si orang tua
berkunjung ke Go In Ih, saudara Gak, kau masih seperti
seorang bocah, maka tidaklah disangka sang waktu mengalir
lewat cepat sekali. Sebentar saja beberapa tahun sudah
berlalu, atau sekarang saudara adalah ayah dari seorang anak
! Haa !"
Tak ada maksudnya Eng Eng akan menggodia orang atau
mengejek, tetapi kata-kata dan tawanya itu membuat merah
muka dan telinga Hong Kun. Dia ini malu sendirinya hingga dia
mencari alasan untuk menoleh ke lain arah.
Ketika Hauw Yan telah melihat Tan Hong, tiba-tiba dia
memanggil : "Mama ! Mama !"
Eng Eng mendengar suara bocah itu, ia heran. Ia ingat
sikapnya Hong Kun barusan yang agak jengah. Maka mau ia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
menerka yang wanita itu adalah istrinya si anak muda. Hal ini
membuatnya likat sendirinya. Sebab sebagai seorang dari
angkatan tua, ia sudah menghadang istrinya seorang dari
angkatan muda.
"Oh, saudara Gak, harap sudi apalah kau memaafkan aku"
katanya kemudian. "Aku hendak membantu mencari kitab ilmu
pedangnya Tio It Hiong, maka barusan aku telah berlaku
keliru, sudah bertempur dengan Nyonya Gak.."
Tan Hong pun melengak karena bocah itu memanggil
mama kepadanya. Ia mengingat-ingat kapannya dan dimana
pernah ia melihat si bocah. Sekarang ia mendengar suaranya
si jago tua, ia menjadi tidak senang. Ia bukan istrinya Hong
Kun ! Maka berbangkitlah sepasang alisnya melentik!
"Orang she Ngay, jangan kau mengaco tidak karuan !"
bentaknya. "Jangan kau beragak dengan ketuabangkaanmu !
Siapa bilang aku istrinya dia ? Kau tahu, dia justru lagi
kebingungan sebab dia gagal dalam urusan asmaranya
dengan Pek Giok Peng !"
Mendengar suaranya si nona, Hong Kun segera memutar
kudanya untuk terus dikasih lari kembali ke arah dari mana dia
datang tadi, dia merasakan suasana tidak baik bagi dirinya.
Dalam bingungnya dia berlalu tanpa menyapa lagi Ngay Eng
Eng !
Sementara itu Tan Hong selekasnya ia menyebut namanya
Giok Peng, sekonyong-konyong ia ingat tampangnya bocah
tadi, bocah mana pernah ia lihat di gunung Siauw Sit San
ketika di sana ia bertemu dengan Giok Peng.
Selagi ia menempur Nona Pek, nona itu telah mengempo
seorang anak kecil dan anak itu mirip dengan anak ini.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Mengingat ini lantas ia ingat juga bahwa anaknya Pek Giok
Peng adalah anaknya Tio It Hiong !
"Oh !" Kenapa anaknya It Hiong berada di tangannya Gak
Hong Kun ?" demikian pikirnya atau kecurigaan berkelebat di
benak otaknya nona ini.
Inilah heran ! Inilah aneh !
Maka berpikirlah ia dengan keras.
"Gak Hong Kun aneh ! Mungkinkah dia tengah main gila ?"
demikian Tan Hong pikir pula.
"Hatiku telah aku serahkan pada adik Hiong. maka itu perlu
aku ketahui urusan ini !"
"Aku mesti susul Hong Kun guna memperoleh kepastian
tentang anak itu !"
Maka itu segera setelah mengambil keputusan ia memberi
hormat pada Ngay Eng Eng seraya berkata : "Locianpwe"
katanya. "Locianpwe hendak membantu Tio It Hiong mencari
kitab ilmu pedangnya yang hilang, karena itu hendak aku
menanya, tahukah locianpwe anaknya It Hiong itu siapa
namanya ?"
Itulah pertanyaan diluar sangkaan, Eng Eng heran hingga
ia menunduki kepalanya untuk berpikir.
"Kalau tidak keliru, anak itu bernama Hauw Yan" sahutnya
kemudian. "Mau apakah kau menanyakan tentang anaknya It
Hiong itu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Setelah memperoleh keterangan itu, Tan Hong berkata
diluar jawaban yang ia harus berikan kepada si jago tua.
Katanya singkat. "Demi urusannya adik Hiong mesti aku ludas
menyusul Gak Hong Kun ! Maka itu maafkan aku tak dapat
menemani locianpwe lebih lama pula !"
Dan berhenti kata-kata itu, si nona sudah berlompat lari
hingga dilain detik ia sudah lenyap ditelan sang rimba.
Lagi-lagi Eng Eng melengak. Dialah seorang jago tua tetapi
dia kena dibikin bingung tindak tanduknya Tan Hong dan
Hong Kun itu. Karena dia tidak dapat menyusul pemuda dan
pemudi itu, terpaksa dengan lega dia pun pergi melanjuti
perjalanannya.
Tan Hong kabur ke Thian-keetin, ia sampai di pasar
sesudah cuaca gelap. Di sana sini, rumah-rumah sudah
menyalakan api terutama rumah-rumah makan. Sekalipun
malam, keadaan ramai sekali. Ada banyak orang masih
mondar mandir. Ia melalui beberapa jalan besar tidak juga ia
menemukan Hong Kun.
"Mungkinkah dia melewati tempat ini ?" pikirnya kecewa
berbareng penasaran. Di depan situ justru seorang jongos lagi
memelihara seekor kuda. Ia masih mengenali itulah kudanya
Hong Kun tadi.
Sekarang si nona mendapat kenyataan itulah penginapan
merangkap rumah makan. Dengan tindakan perlahan, ia
memasuki ruang restoran. Matanya diam-diam dialihkan ke
seluruh penjuru. Maka legalah hatinya waktu di satu pojok
terlihat Hong Kun ada bersama Hauw Yan tengah menghadapi
barang santapan. Meja itu berada di dekat jendela.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Untuk memperoleh kepastian anak itu Hauw Yan atau
bukan kalau benar Hauw Yan dialah putranya It Hiong atau
Giok Peng lantas ia bertindak menghampiri terus secara tibatiba
ia memanggil : "Hauw Yan ! Hauw Yan ! Mama datang !"
Anak itu tengah dibujuki Hong Kun untuk menmakan
nasinya, ia mendapat dengar panggilan itu secara mendadak
ia mengangkat kepalanya dan menoleh.
"Mama !" ia lantas memanggil. "Mama !" dan lantas tanpa
menghiraukan nasinya, hendak ia berlompat turun dari
kursinya !
Hong Kun terkejut, dia heran. Dia menahan bocah itu dan
membujukinya. Ketika dia menoleh, dia mengenali nona yang
tadi bertarung dengan Ngay Eng Eng di dalam hutan. Dia tidak
kenal nona itu, dia makin heran. Kenapa nona itu memanggil
Hauw Yan ? Tadi didalam rimba juga heran yang Hauw Yan
memanggil mama kepada wanita itu.
"Itulah bukan mamamu" kata ia kepada si anak. "Dialah
seorang moler ! Hauw Yan anak manis, makanlah. Mari !
Lekas makan !"
Kata-kata Hong Kun tidak keras, tetapi karena jarak antara
ia dan Tan Hong dekat, si nona mendapat dengar dengan
nyata. Seketika juga merahlah mukanya. Ia dikatakan "moler".
Bukan main gusarnya ia. Di pihak lain, sekarang ia
memperoleh kepastian anak itu ialah anaknya It Hiong dan
Giok Peng, maka hendak ia merampas si anak dari tangannya
pemuda itu. Tapi ia adalah seorang nona Kang Ouw yang
berpengalaman, tak peduli usianya masih muda. Ia tidak mau
segera menunjuki kemurkaannya. Maka ia menghampiri meja
yang dekat dengan mejanya Hong Kun.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ia kata pada jongos yang menghampirinya. Ia menyebut
beberapa rupa sayuran.
Hong Kun terus membujuki Hauw Yan yang ia layani
dengan telaten. Ia mengeluarkan sapu tangan guna menyusuti
mulut si anak dan menyeka kedua tangannya. Sembari
berbuat begitu, ia pun menggunakan ketika untuk makan dan
minum.
Sembari menantikan barang hidangan, Tan Hong
mengasah otaknya. Mulanya dia berniat berlompat kepada
Hauw Yan untuk memeluknya dan terus melompat pergi guna
mengangkat kaki. Hanya sesaat ia merobah pikirannya itu. Ia
kuatir percobaan itu gagal. Ia percaya Hong Kun bukan
sembarangan orang. Pasti tak mudah baginya bertempur
sambil mendukung Hauw Yan. Ia tentu tidak dapat lari pesat
dan bakal tersusul kalau Hong Kun mengejarnya. Pula masih
ada satu soal lain : Bagaimana kalau Hauw Yan kaget dan
menangis ?
Maka ia menyabarkan diri seraya terus memutar otaknya,
mencari pikiran dan kesempatan yang baik.
Hong Kun sendiri, berat dia merasai pikirannya. Karena si
nona tidak bertindak terlebih jauh dan Hauw Yan pun diam
saja, tak dapat dia berbuat apa-apa terhadap nona yang tidak
dikenal itu. Dia berdiam tetapi otaknya bekerja terus. Biar
bagaimana, dia mencurigai nona itu.
Hauw Yan sendiri tak dapat duduk berdiam saja. Entah apa
yang dipikirkannya. Dia mengawasi Hong Kun, yang matanya
mendelong ke satu arah, kedua tangannya ada pada pipi dan
telinganya yang dia garuk-garuk tanpa dia merasa gatal.
Tan Hong terus memasang mata secara diam-diam.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tak lama datanglah jongos dengan barang hidangan yang
dipesannya. Justru itu si nona mendapat satu pikiran. Tidak
ayal pula, ia mencoba mewujudkan itu. Secara diam-diam ia
mengisyaratkan jongos itu membawa semangkok daging ayam
ke mejanya Hong Kun, ia sendiri secara diam-diam berbangkit
bangun, bertindak mengintil di belakang jongos itu yang
kebetulan bertubuh besar dan gemuk. Selekasnya ia sudah
datang dekat Hauw Yan, dengan kecepatannya yang luar
biasa, ia mengulur tangannya dan menyambar bocah itu, terus
ia berlompat lari keluar !
Hauw Yan menyangka orang bermain-main dengannya, ia
bukan takut atau kaget, ia justru tertawa, maka Tan Hong
lekas-lekas membekap mulutnya. Setibanya di luar, nona itu
berlompat naik ke atas genteng.
"Tuan, mari cobai daging masakan kami ini !" berkata si
jongos kepada Hong Kun sambil ia meletakkan mangkuk ayam
di depannya pemuda itu. Dia bicara sambil bersenyum.
Dia menuruti kehendaknya si nona sebab menuruti
kebiasaannya menyangka tentulah muda mudi itu mau main
pacar-pacaran hingga ia bakal mendapat hadiah berarti. "mari
cobai, tuan, itulah si nona di sana yang memesannya untuk
tuan..."
Hong Kun tengah berpikir hingga pikirannya itu terintang,
ia mengawasi jongos itu yang kembali berkata padanya :
"Lekas cobai, tuan ! Jangan tuan sia-siakan kebaikan nona
itu..."
Kali ini si jongos menoleh, akan menunjuk kepada Tan
Hong, atau dia lantas berdiri menjublak sebab si nona tak
nampak sekali pun bayangannya !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun juga terperanjat. Ia tidak melihat nona yang
ditunjuk itu. Yang hebat ialah ketika ia menoleh ke kirinya
Hauw Yan, bocah itu tidak ada di tempatnya !
"Celaka !" serunya. Lantas ia menolak tubuh si jongos buat
terus berlompat keluar. Dia tahu yang dia telah kena orang
akali. Dia menyesal sekali yang dia seperti buta mata dan
pikiran sebab dia terlalu keras mengasah otaknya hingga dia
tidak melihat Hauw Yan telah orang sambar !
Tepat diambang pintu, Hong Kun berhadapan dengan
seorang tua.
"Eh, eh, saudara Gak, kau tergesa-gesa kenapakah ?" tanya
si orang tua ialah Ngay Eng Eng yang baru saja tiba.
Mulanya Hong Kun melengak atau segera dia menanya :
"Locianpwe, apakah barusan locianpwe mendapat lihat nona
yang kita ada urusan di dalam rimba tadi ?"
Eng Eng menggeleng kepala.
"Tidak" sahutnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hong Kun lompat ke
samping orang tua itu, buat terus lari keluar guna menyusul
Tang Hong. Maka dilain saat, lenyap sudah ia di jalan besar
yang gelap, yang tak disampaikan cahaya api.
Tan Hong berlaku cerdik sekali. Sengaja ia lompat naik ke
atas genteng. Ia percaya Hong Kun pasti menerkanya sudah
kabur terus. Ia pula tidak lari terus, hanya sambil mendekam
diatas wuwungan, ia mengintai ke arah pintu penginapan
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
hingga ia melihat si anak muda lari keluar itu, mungkin untuk
terus meninggalkan Thian-keetin !
Sampai sekian lama, jago wanita dari Hek Keng To itu
masih mendekam saja dan Hauw Yan ia peluki terus. Setelah
mendapatkan Hong Kun belum juga kembali, legalah hatinya.
Tapi yang paling membuatnya lega ialah waktu ia mendapat
kenyataan bocah di dalam pelukan atau empoannya itu sudah
tidur pulas !
Rupanya bocah itu senang sekali dipeluki seorang wanita
yang membuatnya merasa hangat, apa pula itulah wanita
yang dia panggil mama !
Dengan berhati-hati Tan Hong berjalan di atas wuwungan
menuju ke ujung genteng dimana terdapat sebuah gang yang
gelap. Di situ dia berlompat turun. Ia tidak terpergoki siapa
juga. Di dalam gang itu ia berjalan cepat melalui tiga tikungan
baru ia muncul di jalan besar.
Selama si nona berdiam di atas genteng sang waktu berlalu
dengan cepat. Maka itu waktu mungkin sudah jam dua. Di
jalanan umum itu sangat sedikit orang yang masih berlalu
lalang. Dengan cepat ia kembali ke rumah makan tadi, kali ini
untuk meminta kamar, maka selanjutnya ia tidur pulas
bersama-sama puteranya It Hiong itu.
Selama itu Nona Tan ini sudah memikirkan tentang Hong
Kun. Ia berpengalaman dan teliti. Ia dapat menerka apa yang
Hong Kun bakal lakukan sesudah anak muda itu gagal
menyusulnya. Ia menerka mesti Hong Kun menyusul keluar
kota. Maka itu dengan berani ia ke hotel bahkan untuk tidur
nyenyak. Itulah yang dinamakan tipunya "Kakak tua pulang ke
sarangnya". Dan dengan demikian Hong Kun kena
diperdayakan !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Besok paginya Tan Hong mendusin dari tidurnya, buat
seterusnya membawa sikap tenang-tenang saja. Dapat ia
membuat Hauw Yan tidak banyak rewel, sebab anak itu
memangnya anak baik. Paling dahulu ia ajak si bocah
bersantap lantas ia membayar uang penginapan dan santapan
baru ia bawa Hauw Yan meninggalkan rumah penginapan itu.
Sekarang ini Tan Hong sudah memikirkan masak-masak.
Hendak ia menyerahkan Hauw Yan kepada It Hiong sendiri
supaya senang dan puaslah hatinya pemuda yang ia gilai itu.
Ia percaya kapan Giok Peng ketahui ialah yang membantu
anak mereka, nona itu tentulah berkesan baik terhadap
dirinya. Ia tidak jelas bersedia ia bersuamikan It Hiong tak
perduli pemuda itu telah mempunyai istri. Asal It Hiong
menerimanya puas sudah hatinya.
Dengan membawa Hauw Yan, nona cantik dari pulau Ikan
Lodan Hitam itu menuju Kiu Kiong San.
Selagi Nona Tan melakukan perjalana itu, baiklah kita
menoleh dahulu kepada Gak Hong Kun.
Benar seperti terkaan Tan Hong, dia lari terus keluar kota.
Inilah sebab didalam kota sendiri semua jalan besar dan gang
sudah ia jelajahi dan nona itu bersama Hauw Yan sudah tak
tampak. Dia masgul dan mendongkol sekali. Di luar kota, dia
menghampiri rimba yang gelap. Disini siuran angin malam
membuatnya bagaikan terasadar. Dia menggigil lantas sirna
pengaruh alkohol yang membutakan pikirannya. Lantas dia
berdiri diam dan berpikir. Ia memperhatikan keadaan di
sekitarnya. Ia melihat jalanan. Ia juga menduga-duga kemana
si nona telah mengambil jalan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Di luar kota itu sama ada sebuah jalan besar yang
jalanannya berliku-liku sampai ke rimba itu. Tak ada jalan
lainnya. Di waktu malam seperti itu rimba gelap. Itulah
saatnya untuk orang bersembunyi dengan aman.
Lantas Hong Kun menggunakan akal liciknya. Berkatalah ia
seorang diri dengan perlahan. "Eh, budak bau berapa
tinggikah kepandaianmu ? Mana dapat kau lolos dari mata dan
telingaku ? Lihat, akan aku bekuk kau."
Habis berkata, ia berdiam sebentar.
Itulah tipu menakut-nakuti orang yang bersembunyi
andiakata dia benar mengumpatkan diri disitu. Lewat sesaat
karena tidak ada hasil dari gerakannya itu, ia lari memasuki
rimba buat mulai menggeledah rimba itu !
Sampai kepalanya bermandikan keringat tak juga Hong Kun
berhasil dengan usahanya itu. Ia mendongkol berbareng
bingung. Mendesak Giok Peng ia tidak berhasil, mencuri kitab
Sam Cay Kiam gagal dan kali ini menculik Hauw Yan bocah itu
kena orang bawa kabur di depan matanya, sia-sialah segala
dayanya maka sekarang ia menjadi uring-uringan sendiri
sampai tubuhnya bergemetaran...
Masih anak muda ini berjalan mundar mandir, masih dia
mencoba mencari Tan Hong. Ia mirip orang yang otaknya
terganggu. Satu kali dia bersiul nyaring sekali hingga burungburung
kaget dan terbang.
Tidak lama rasanya terdengar sudah suara turun burung
kucica bernyanyi dan itulah tanda dari tibanya sang fajar.
Anak muda ini kantuk, letih dan pening kepalanya, pikirannya
kacau, napasnya memburu. Ia menembusi hutan menuju ke
jalan umum, jalan tanpa tujuan. Tengah hari itu, ia tiba
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kembali di kecamaTan Hong bwe. Dengan surat cekat,
terdengar dari mulutnya : "Anak Hauw Yan ! Adik Peng !" Ia
berjalan dengan kepala tunduk. Maka itu, diwaktu ia
membelok disebuah pengkolan, hampir ia bertabrakan dengan
seorang wanita, sampai telinganya mendengar cicitan : "Orang
buta ! Kau main gila, ya ?" Dan tangannya wanita itu
melayang !
Hong Kun terperanjat, ia mengangkat kepalanya, melihat
datang serangan, ia berkelit. Lantas ia berdiri mengawasi.
Maka ia melihat seorang nona dengan baju merah serta
pedang di punggung, rambutnya yang panjang tergerai di
punggungnya dan matanya mendelik terhadapnya !
Di dalam keadaan seperti itu, matanya Hong Kun bagaikan
kabur, maka juga ia melihat si nona seperti Tan Hong. Ia
menjadi gusar.
"Budak bau !" bentaknya. "Apakah kau sangka kau dapat
lolos dari tangannya Tuan Gak mu ini? Ha !" Dia lantas maju
satu tindak, kedua tangan berbareng diluncurkan.
Nona itu bukannya Tan Hong, ialah Cit Mo Siauw Wan
Goat, bajingan wanita nomor tujuh dari pulau To Liong To. Dia
sebenarnya tengah dalam perjalanan bersama kedua orang
kakaknya yaitu Lie Mo Lam Hong Hoan, bajingan nomor lima.
Mereka bertiga mau pergi ke Heng San buat mengundang It
Yap Tojin guna sudi membantui mereka. Di tengah jalan
pengunungan Heng San, Wau Goat kebetulan bertemu dengan
Tio It Hiong kontan di jatuh cinta terhadap pemuda tampan
dan gagah itu. It Hiong mirip pulau suci di tengah lautan,
mudah dipandangi sukar dijamah, hingga ia menjadi bersusah
hati dan kesusahan hatinya itu cuma dapat disimpan di dalam
dada. Dengan hati tidak karuan rasa dia mengajak kakak
seperguruannya berpesiar kemana dia suka. Dia berniat
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
melegakan hati, siapa tahu justru dia berpapasan dengan
Hong Kun, Dia tidak kenal si anak muda yang justru adalah
muridnya It Yap Tojin karena ia menyangka pemuda itu
ceriwis, dia lantas mendamprat dan menyerang !
Lantas Nona Siauw menjadi marah sekali. Orang bukan
minta maaf tapi justru menyerangnya. Dengan gerakan jurus
silat "Bajingan berkelebat", ia berkelit terus ke belakang orang
guna dari situ balik menghajar.
Hong Kun bukan sembarang orang, tak kena ia diserang
secara begitu. Cepat luar biasa ia membalik tubuh guna
menghajar balik pada nona itu. Maka beradulah tangan
mereka berdua hingga keduanya sama tertolak mundur
separoh terpelanting.
Justru itu tibalah Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw yang
berjalan belakangan. Mereka itu terkejut sebab mereka
mengerti muridnya It Yap Tojin, sedangkan imam itu adalah
orang yang bantuannya mereka harapkan. Sambil lari
menghampiri mereka berseru : "Su-moay tahan !"
Su-moay ialah panggilan yang berarti adik seperguruan
wanita.
Siauw Wan Goat mengangkat mukanya mengawasi anak
muda itu atau si anak muda mendahului berlompat pula,
menyerang lagi padanya. Itu pula serangan dahsyat sekali . Ia
berniat berkelit atau rambut kepalanya kena terasampok
hingga jepitan rambutnya yang berkepala burung pong kena
terasampok jatuh. Ia menjadi sangat gusar, ia lantas
menghunus pedangnya. Justru itu waktu ia mendengar
cegahan kedua saudara seperguruannya itu, terpaksa ia
menyimpan pedangnya dan mundur setindak akan menoleh
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
kepada kedua saudara itu.
Hong Hoan dan Cee Lauw sudah lantas tiba. Mereka itu
menggoyang -goyangi tangannya.
"Jangan bertempur !" mereka kata. "Kita ada orang sendiri
!"
Hong Kun mendelong mengawasi dua orang yang baru tiba
itu mulutnya bungkam.
Hong Hoan mengawasi anak muda itu dan memandang
adiknya, ia menyangka diantara dua orang itu ada suatu
perselisihan untuk dapat mendamaikan ia terus bersenyum
kepada mereka kemudian sembari tertawa ia kata kepada si
anak muda, "Gak Laote dengan memandang muka tipis dari
aku yang mengenal gurumu yang terhormat dan kau sendiri,
aku minta sukalah kau memaafkan adikku ini andiakata dia
telah melakukan sesuatu yang tak menyenangimu..."
Kemudian kepada Wan Goat ia lantas menerangkan. "Su
moay, inilah saudara Gak murid pandai dari It Yap Totiang !
Hahahaha ! Kalau tidak bertempur kalian tentulah tak kenal
satu dengan yang lain."
Suara tawa orang membuat Hong Kun dapat berpikir
hingga ia tak lagi seperti orang lupa ingatan. Ia lantas
mengawasi Hong Hoan bertiga terutama Hong Hoan, terus ia
berkata : "Oh, kakak Lam sudah lama kita tak berjumpa !"
Meski ia mengucap demikian pemuda ini belum sadar
seluruhnya. Maka itu ia lantas nampak keheran-heranan.
Bok Cee Lauw melihat gerak gerik orang ia menarik ujung
bajunya Wan Goat dan bertanya perlahan, "Sumoay, kenapa
kau bentrok dengannya ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Ditanya kakaknya merah mukanya si nona. "Cis !" katanya
sengit. "Dia nampak sopan tetapi dia ceriwis sekali !"
Cee Lauw bersenyum, ia menggodia adik seperguruannya
itu. "Kau cantik bagaikan bunga, jangan heran kalau kupukupu
beterbangan mengitari ataupun menowelmu.
Hahahaha."
Nona itu merasa likat, dia menoleh kelain arah. Dengan
begitu dia tidak mengambil kata-kata kakaknya yang nomor
dua.
Lam Hong Hoan melihat suasana masih keruh itu, lantas ia
memberi hormat pada Hong Kun untuk berkata pula. "Gak
Laote, sampai jumpa pula !"
Lantas ia menoleh kepada dua kawannya untuk mengedipi
mata setelah mana ia bertindak mengajak dua saudara itu
melanjuti perjalanan mereka.
Siauw Wan Goat berlalu dengan ogah-ogahan bahkan ia
menjebih terhadap si anak muda yang dianggapnya ceriwis
itu.
Gak Hong Kun melengak sebentar lalu mendadak ia
berseru. "Saudara Lam tunggu dulu !"
Hong Hoan membalik tubuh. Ia berdiri menanti. "Ada
apakah Gak Laote ?" tanyanya.
Hong Kun masih berpikir sejenak sebelumnya ia tanya,
"Saudara Lam, apakah tadi ditengah jalan kau bertemu
dengan seorang nona dengan baju hitam ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Pertanyaan itu membikin Hong Hoan lantas menerka bahwa
si nona berpakaian hitam itu adalah pacarnya anak muda ini
yang nampak lagi bingung sekali, bahwa mungkin mereka itu
berdua tengah bertengkar maka ia tertawa dan menjawab,
"Tidak, saudara, aku tidak menemui nona seperti yang kau
tanyakan itu. Baiklah saudara jangan bingung. Kau harus
ketahui sifatnya wanita ! Mungkin dia sedang bergurau
dengan saudara ! Baiklah saudara lekas susul, barangkali kau
akan lekas dapat menyandaknya."
Habis berkata Hong Hoan membalik pula tubuhnya buat
melanjuti perjalanannya, dengan cepat menyusul kedua
saudaranya.
Hong Kun sebaliknya menganggap kata-kata orang benar
adanya tanpa berpikir lagi ia pun melanjuti perjalanannya
sekarang dengan cepat.
Segala sesuatu bisa terjadi, demikian dengan Hong Kun ini,
disaat ia mendekat Hong bwe koan ditangah jalan besar ia
justru berpapasan dengan rombongannya Pek Giok Peng dan
Pek Thian Liong, dan selekasnya Nona Pek melihat si anak
muda, naiklah darahnya. Dengan mata merah dibuka lebar ia
menghunus pedangnya.
"Mana Hauw Yan ?" ia menegur dengan tebasan
pedangnya itu.
Hong Kun terkejut, dia tak sempat berlompat mundur maka
dia melengak dengan jurus silat Thia Poan Kio, Jembatan Besi.
Masih dia terlambat sedikit, baju didadanya kena terpapas
hingga ke kulitnya hingga kulitnya itu terluka dan
mengeluarkan darah. Mulanya dia terkejut akhirnya dia
tertawa. Sekarang dikenali nona di depannya justrulah si adik
Giok Peng, yang ia buat pikiran siang dan malam ! Lupa dia
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
pada bajunya yang robek dan kulitnya yang terluka itu, dia
kata sambil tertawa.
"Oo, adikku ! Kenapa baru saja bertemu denganku kau
menyerang secara begini telengas."
Habis menyerang itu, Giok Peng menatap. Ia tidak lihat
Hauw Yan ditangannya pria itu. Ia melihat ke kiri dan kanan,
tak juga ada puteranya itu. tiba-tiba ia menjadi sangat
berkuatir, hingga ia lantas menangis !
"Mana Hauw Yan ?" teriaknya. "Lekas kembalikan anakku !"
Mendengar disebutnya nama anak itu, Hong Kun bingung
bukan main, dia kaget dan malu tanpa merasa tubuhnya
menggigil, peluhnya membasahi tubuhnya, dia berdiri diam
saja, matanya mendelong terhadap si nona. Memang selagi
pikirannya kacau itu, tak dapat berbicara.
Pek Thian Liong tidak turut berbicara tetapi ia sudah lantas
memencar semua pengikutnya akan mencari Hauw Yan
disekitar tempat itu. Ia menyangka Hong Kun
menyembunyikan keponakannya itu.
Giok Peng berhenti menangis. Ia insyaf bahwa itulah bukan
waktunya. Ia menghadapi pula si anak muda.
"Hong Kun !" bentaknya. "Kalau kau tidak kembalikan
Hauw Yan kepadaku, akan aku adu jiwaku denganmu !"
Meski begitu ia maju lebih jauh untuk menikam. Kali ini
dengan jurus pedang "Anak panah menyerang sasarannya."
Hong Kun berkelit pula. Tak berani ia menangkis atau balas
menyerang.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Aku tengah mencari Hauw Yan !" sahutnya kemudian.
"Sudah satu malam dan setengah harian aku mencarinya !"
oooOooo
Giok Peng mengawasi. Ia mendapat kenyataan anak muda
itu mirip orang linglung hingga timbul kekuatirannya, janganjangan
ditengah jalan pemuda telah membinasakan
puteranya. Ia bingung dan berkuatir sekali.
"Kakak" kata ia kepada Thian Liong. "Jangan-jangan Hauw
Yan sudah mendapat kecelakaannya di tangan manusia busuk
ini ! Mari kita bereskan dia !"
Kembali si nona menyerang, dalam kuatir dan bingung,
tangannya bergemetar.
Hong Kun berkelit lagi. Kali ini ikat kepalanya kena ditebas
ujung pedang, hingga rambutnya terlepas dan awut-awutan.
Masih ia tidak berani melakukan perlawanan. Dia merangkap
kedua tangannya memberi hormat seraya berkata : "Adik
Peng, jangan berduka ! Hauw Yan tidak kurang suatu apa, dia
cuma... dia cuma..."
Ketika itu semua pengikut sudah kembali, laporannya ialah
kosong.
Thian Liong bingung juga dari bingung ia menjadi gusar.
Maka ia menghunus pedangnya menuding anak muda itu.
"Hong Kun, dimanakah kau sembunyikan Hauw Yan ?"
tanyanya bengis. "Jangan kau tidak memberikan
keteranganmu, jangan harap kau bisa berlalu dari sini dengan
masih hidup."
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Kata-kata itu diikuti dengan satu loncatan untuk datang
dekat pada si anak muda, untuk mengancam hendak
menyerang.
Empat orang pengikut turut bergerak juga, mereka maju
mengurung.
"Cuma... cuma apa ?" tanya Giok Peng. "Kau mau katakan
atau tidak ?"
Muka Hong Kun pucat, lalu menjadi merah. Ia berkuatir
dan menyesal, dia mulai mendongkol. Dia merasa orang
memaksanya, hal itu membuatnya tidak puas.
"Menyesal adik, aku lalai." katanya kemudian. "Lantas lalai,
selagi berada diatas loteng rumah makan di Thian kee tin, aku
telah membuat Hauw Yan lenyap.."
Berkata begitu, si anak muda lantas menangis mengerunggerung
dan memukul juga dadanya.
"Aku menyesal, adik " katanya pelan. "Aku telah membikin
anakmu itu hilang ! Memang Gak Hong Kun harus mati ! Nah,
kau bunuh !"
Pek Thian Liong heran.
"Benarkah katamu ini ?" tanyanya. Ia mau cari
keponakannya bukan buat membunuh orang.
"Kakak, jangan percaya dia !" teriak Giok Peng. "Jangan
kita percaya ocehannya !"
Lagi-lagi si nona menyerang !
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun tidak berkelit atau menangkis, dia berdiri tegak.
Dia cuma mengawasi si nona dan selanjutnya berkata : "Aku
puas mati ditangannya orang yang aku cintai.."
Thian Liong menangkis pedang adiknya.
"Tenang, adik !" ia kata. "Kalau dia dibunuh mati, mana
mungkin kita mencari Hauw Yan ?" terus ia menoleh kepada
Hong Kun untuk menanya, "kalau kau benar mencintai adikku,
lekas bilang Hauw Yan terjatuh ke dalam tangan siapa ? Lekas
!"
Hong Kun mengangkat kepalanya, dia berpikir keras.
Sekian lama dia membungkam, kemudian baru dia berkata :
"Ke dalam tangannya si nona berbaju hitam..."
"Apakah kau bilang ?" Giok Peng tegaskan.
"Seorang wanita muda berpakaian baju hitam." sahut Hong
Kun pelan.
"Siapa wanita itu ?" Thian Liong tanya menegaskan.
"Apakah kau kenal dia ? Habis merampas Yan, dia lari kemana
?"
Selagi kakaknya menanya itu, Giok Peng menatap si anak
muda. Ia mendapat kenyataan orang seperti sadar dan tidak.
"Ambil air !" Ia memerintahkan orang, maka dilain saat ia
telah membanjur pemuda yang bicaranya selalu tak tegas dan
sikapnya seperti orang linglung.
Basahlah pakaiannya Hong Kun karena banjuran dia, tetapi
justru karena disiram itu dia sadar seketika. Dia terus menatap
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
si nona, habis menarik napas panjang diapun lantas berkata :
"Adik, lantaran aku terlalu mencintaimu hingga aku putus asa
dan menderita karenanya, dua kali sudah aku melakukan
perbuatan-perbuatannya yang memalukan itu, hingga aku
membikin kau turut bercapek lelah dan bersusah hati
karenanya..."
"Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Hauw Yan, kau
harus mengganti jiwa !"
"Hong Kun !" Thian Liong turut bicara, "lekas kau jelaskan
bagaimana caranya kau membuat Hauw Yan hilang !"
Hong Kun mengusap mukanya yang masih basah.
"Aku membuat Hauw Yan hilang di dalam rumah makan di
Thian kee tin." sahutnya. "Aku membujuki Hauw Yan makan,
aku sendiri minum arak buat melegakan hati yang pepat dan
kacau...." Ia berhenti akan mengawasi si nona baru ia
melanjuti : "Tengah aku minum itu jongos datang
membawakan makanan katanya itulah makanan yang disuruh
si nona baju hitam untukku. Bertepatan dengan itu, Hauw Yan
hilang, waktu aku menoleh nona itu juga sudah tidak ada. Aku
lantas pergi keluar akan mencari dan satu malam suntuk aku
mencarinya secara sia-sia. Demikian aku mencari terus sampai
sekarang aku berada disini, tengah mencari terlebih jauh.
Tidak kusangka disini aku bertemu dengan kalian..."
"Nona berbaju hitam itu berusia berapa kira-kira dan dia
membekal senjata apa ?" Giok Peng tanya.
Hong Kun berpikir sebelumnya dia menjawab.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Kira-kira dua puluh empat atau dua puluh lima tahun"
sahutnya sejenak kemudian. "Dia membawa senjata atau tidak
itulah aku tidak perhatikan.."
Giok Peng dan Thian Liong saling mengawasi. Mereka pun
tunduk untuk berpikir guna menduga-duga. Siapakah nona
berbaju hitam itu ? Dia golongan mana ? Kenapa dia
merampas Hauw Yan ?
Mendadak Giok Peng bagaikan terasadar. Ia mengangkat
kepalanya dengan cepat dan mengawasi si anak muda dengan
tajam.
"Hong Kun !" katanya keras. "Kau mengarang cerita !
Apakah kau sangka dengan demikian dapat kau mengelabui
aku ? Sebenarnya kau perbuat apakah atas diri Hauw Yan.
Bilang secara terus terang ! Ingat, akan aku bikin darahmu
muncrat !"
Masih si nona mengawasi dengan tajam, matanya
berkilauan karena air matanya mulai mengembang pula. Ia
pun mengancam dengan pedangnya.
Hong Kun menarik nafas panjang, ia tunduk.
"Karena asmara Hong Kun sudah roboh" sahutnya
perlahan. "Karena itu dimata kau adik, dia menjadi seorang
yang tak tahu malu ! Apa yang aku bisa bilang lagi ? Tapi buat
melakukan pemeriksaan bagaimana kalau kita pergi bersama
ke Thian kee-tin ?"
"Gak Hong Kun !" menegur Thian Liong. "Kau bisa
mengungguli diri cerdas kenapa sekarang karena seorang
wanita kau menjadi begini roboh tak berdaya ? Ya, kanapakah
?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hong Kun berdiam, terus ia tunduk, mukanya merah.
"Adik, " tanya Thian Liong pada saudaranya. "Kau banyak
mengembara, ingatkah kau di dalam dunia Kang Ouw, wanita
siapakah yang gemar mengenakan pakaian hitam ?"
"Mereka yang gemar pakaian hitam banyak jumlahnya."
sahut si adik, "jadi untuk mengenalinya lebih penting
andiakata kita tahu senjata yang dipakainya..."
Thian Liong berpikir.
"Apakah dia bukannya Teng Hiang ?" tanyanya. "Cuma
Teng Hiang yang kenal Hauw Yan..."
"Tak mungkin !" berkata Giok Peng. "Mustahil Hong Kun tak
kenal dia."
Karena terkaan buntu, rombongan ini jadi saling berdiam di
tengah jalan itu. Tak dapat mereka menerka siapa perampas
atau penculiknya Hauw Yan itu.
Ketika itu sudah mendekati magrib, burung-burung mulai
pulang kesarangnya, beberapa orang Thian Liong menjadi
tidak sabaran maka yang satu kata pada majikan mudanya itu
: "Tuan muda, kita berdiri diam saja disini buat apakah ? Buat
apa kita membiarkan saja orang she Gak yang setengah gila
itu ? Lebih baik kita bereskan dahulu dia kemudian baru kita
pergi mencari tuan kecil Hauw Yan ! Sekarang ini langit sudah
mulai gelap...."
Thian Liong mengawasi orang itu, ia melihat langit.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
"Adik" katanya kemudian pada saudaranya, "baik kita
kembali dahulu ke Hong bwe atau terus ke Thian kee tin ?"
Giok Peng berpaling, ia berpikir. Kemudian dia menuding
dengan pedangnya kepada Hong Kun seraya berkata bengis :
"Sebelum Hauw Yan dapat kutemukan, jangan kau lari dari
kami walaupun sejauh setengah tindak !" Kemudian ia
berpaling kepada kakaknya untuk meneruskan : "Kakak, aku
pikir kita pergi dahulu ke Tian kee tin, akan minta
keterangannya jongos rumah makan di sana."
Mendengar itu, Hong Kun turut bicara.
"Pikiranku sudah kacau sekali, " berkata ia, "tetapi buat
pergi ke Tiankee tin, itulah paling baik ! Di sana adik bersama
kakakmu, kau minta keterangannya jongos hotel, mungkin dia
dapat memberi keterangan penting. Di sanapun kau akan
dapat bukti bahwa aku tidak bicara dusta ! Nah, marilah !"
Lantas pemuda ini mendahului bertindak pergi, dia terus
lari.
Giok Peng terkejut. Ia mengira orang mau kabur, lantas ia
berlompat mengejar sampai ia menggunakan lari ringan tubuh
Tangga Mega. Selekasnya ia menyandak, ia samber leher baju
anak muda sambil berkata keras :" Kau hendak menggunakan
akal bulus ya ? Apakah dengan begini kau dapat lolos dari aku
?"
Thian Liong sekalianpun dapat menyusul, lantas dua orang
ditugaskan mengiringi pemuda yang nampaknya sudah habis
daya itu. Mereka berjalan terus. Pada jam dua lewat, mereka
sudah duduk bersantap di rumah makan yang ditunjuki Hong
Kun, dimana Hong Kun kehilangan Hauw Yan.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Menurut keterangan si jongos itu, senjatanya si nona yang
dia layani berupa semacam ruyung mengkilat seperti berbahan
beling. Pakaian dan potongannya nona itu, cocok dengan
lukisannya Hong Kun.
Giok Peng berpikir keras akan ketahui senjata itu senjata
apa. Ia menerka pada sanho pang. Masih lama ia mengasah
otaknya, lantas ia menduga pada Tan Hong dari Hek Keng To,
pulau Ikan Lodan Hitam.
"Kalau benar dia, Hauw Yan tidak dalam bahaya jiwa." pikir
ibu yang muda itu, "Hanya aneh, apa perlunya Tan Hong
merampas anakku itu dari tangannya Hong Kun ? Oh,
bukankah inipun soal asmara ? Kalau benar, di jurusan itu,
penghidupanku masih ada kesulitannya..."
Nona ini tidak mau memberitahukan Hong Kun tentang
nona yang ia terka itu. Ia kuatir si anak muda juga
terasangkut soal asmara. Buat ia ialah, selama ia belum
menemukan Hauw Yan, Hong Kun ini tak akan dibiarkan
bebas...
Malam itu Giok Peng semua bermalam di rumah makan
merangkap hotel itu. Besoknya pagi habis bersantap mereka
berangkat. Hong Kun dipaksa turut bersama. Maka bersamasama
juga mereka pergi mencari Hauw Yan ke segala tempat
atau arah.
Sementera itu Tan Hong seperti yang telah dipikirnya sudah
membawa Hauw Yan langsung ke Kiu Kiong San. Karena ada
bersama bocah, ia tidak dapat berjalan cepat, bahkan
terpaksa diperlahankan. Begitulah di Kay Pay, mereka dapat
dilihat rombongannya Siauw Houw. Paman itu sudah lantas
mengenali keponakannya. Tapi Tan Hong lihai, dia melihat
gerak gerik orang, sebelum sempat Siauw Houw menegurnya
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
atau menegur Hauw Yan, ia mendahului kabur. Siauw Houw
penasaran, dia menyusul. Selang dua puluh lie, ia telah
bermandikan peluh dan nafasnya tersengal-sengal, sedangkan
delapan pengikutnya ketinggalan jauh di belakang.
"Hebat ilmu ringan tubuh wanita ini" pikir pemuda she Pek
ini yang memaksakan diri mengejar terus.
Dari Kay pay, Siauw Houw menyusul terus sampai di Sintan
Po. Di sini Tan Hong memasuki sebuah rumah makan. Siauw
Houw menyusul ke rumah makan itu, sesudah ditengah jalan
ia meninggalkan tanda untuk orang-orangnya.
Rumah makan itu tidak besar, tetamunya cuma beberapa
orang. Hauw Yan lagi dibujuki Tan Hong untuk bersantap.
Dengan lantas bocah itu melihat pamannya, lantas juga ia
memanggil "Paman ! Paman !"
"Hauw Yan !" menyambut sang paman yang terus
menghampiri bahkan dia mengulur tangannya guna
memegang keponakan itu.
Tan Hong menghadang. Ia menolak orang hingga
terpelanting.
"Siapakah kau ?" tegurnya. "Kenapa kau hendak merampas
anak orang ?"
Alis Siauw Hoaw terbangun.
"Bagus benar ya !" ia balik menegur. "Bagaimana dan
berani mengakui anak orang sebagai anakmu ? Apakah kau
seorang nona tak tahu malu ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Muka Tan Hong menjadi merah. Dia memang keliru omong,
Tapi dia pun tidak senang.
"Kau jangan usil !" bentaknya.
"Hm !" Siauw Houw mengasi suara dinginnya. Suaranya
pun keras. "Aku tak dapat usil ? Kau tahu siapakah aku ?
Akulah Pek Siauw Houw, pamannya anak ini ! Dialah Hauw
Yan keponakanku yang lagi cari. Aku justru mau membekuk
penculiknya !"
Tan Hong tidak mau mengalah. Diapun tertawa dingin.
"Penculik itu adalah kau bukannya aku" teriaknya. "Kau
memalsukan diri sebagai paman. Dapatkah kau mengelabui
nonamu ?"
Tepat itu waktu kedelapan orangnya Houw tiba, mereka
lantas mengurung.
Siauw Houw mengambil keputusan. Dia maju dekat.
"Budak, tak sudi tuanmu mengadu lidah denganmu !" katanya
keras.
Terus dia bertindak. Dengan tangan kanan, dia menyampok
muka si nona, dengan tangan kiri dia menyambar
keponakannya.
Tapi dia tidak berhasil. Di dalam sekejap dia kehilangan si
nona dan si anak.
Luar biasa cepat Tan Hong berkelit, sambil menyambar
Hauw Yan. Dia pindah ke meja yang lain. Tak sudi dia
berkelahi. Dia tahu sekarang Pek Siauw Houw ialah
saudaranya Pek Giok Peng.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Hanya dia tak ingin menyerahkan keponakan itu kepada
lain orang kecuali kepada Tio It Hiong. Maka ia memutar otak
memikirkan jalan untuk dapat menyingkirkan diri.
"Eh, orang tak tahu malu !" kata dia pula. "Dengan
mengandalkan jumlah yang banyak kau hendak memperhina
seorang perempuan ! Tak takutkah orang nanti tertawakanmu
?" Berkata begitu dia maju menerobos. Tapi dua orang Lek
Tiok Po menghadang. Dia batal.
"Hai, budak bau !" seru Siauw Houw, "jika kau tidak
serahkan Hauw Yan keponakanku itu, jangan harap kau bisa
meninggalkan tempat ini !"
Parasnya Tan Hong merah, dia gusar sekali.
"Hm !" ia kasih dengar suara dingin. "Karena aku
memandang adikmu, Nona Pek Giok Peng, suka aku
mengalah. Tapi kau mendesak aku ! Apakah kepandaianmu
hingga kau berani menghadang nonamu ini ?"
"Kau coba saja Tiat See Ciang dari Lek Tiok Po !" kata
Siauw Houw singkat. "Tiat See Ciang" yaitu pukulan tangan
pasir besi. Habis berkata dia maju pula niat menyerang.
Justru itu dari pojok kamar terdengar satu suara nyaring.
"Kalian dari Lek Tiok Po, kalian pernah apakah dengan Nona
Pek Giok Peng ?" Menyusul itu orangnya berlompat maju
menghalang diantara si anak muda dan si pemudi. Dia
bertubuh besar, alisnya tebal, matanya gace. Dipunggunggnya
dia menggendol sebatang golok. Menghadapi muda mudi itu
dia memberi hormat.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong mengawasi orang itu, ia berkemak kemik tetapi
tidak mengatakan sesuatu.
Tidaklah demikian dengan Siauw Houw. "Aku yang rendah
adalah Pek Siauw Houw dari Lek Tiok Po." dia berkenalan.
"Mohon tanya tuan adakah kau sahabat kaum Kang Ouw dari
adikku Giok Peng itu ?"
Orang bertubuh besar itu nampak terkejut.
"Aku yang rendah ialah Whie Hoay Giok" dia
memperkenalkan diri. "Aku sekarang singgah disini sebab aku
ini mewakilkan adik seperguruanku Tio It Hiong menantikan
tibanya Nona Pek Giok Peng, supaya kita berangkat bersamasama
ke Kiu Kiong San. Tuan apakah adikmu itu turut tiba
disini ?"
Siauw Houw tidak lantas menjawab pertanyaan orang itu,
ia hanya menunjuk Hauw Yan ditangannya Tan Hong sambil
berkata : "Anak ini adalah anaknya adik seperguruanmu itu,
dia dibawa lari oleh budak ini ! Kakak Whie, maukah kau
bekerja sama denganku merampas pulang anak ini ?"
Hoay Giok memperlihatkan tampang heran. Ia mengawasi
Tan Hong dan Hauw Yan dan Siauw Houw juga otaknya
bekerja : "Apa yang aku lihat tunangannya Tio sute ialah nona
Cio dan mereka belum lagi menikah ! Kenapa anak ini
bolehnya anak sute ? Dan kenapa anak ini didapatnya dari
Nona Pek Giok Peng ? Kalau tidak demikian kenapa Pek Siauw
Houw mengaku dirinya sebagai paman dari anak itu ?"
Lagi-lagi ia mengawasi ketiga orang itu bergantian.
Tan Hong tertawa dingin. Kata dia berani : "Di dalam dunia
Kang Ouw kalau ada manusia-manusia yang tak menghendaki
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
lagi mukanya itulah kalian berdua ! Yang satu mengaku diri
sebagai kakak seperguruannya Tio It Hiong dan yang lain
sebagai pamannya Hauw Yan ! Tak lain tak bukan kalian cuma
memikir menculik anak ini ! Kepandaian semacam ini mana
dapat dipakai menipu nonamu ini ?"
Hoay Giok jujur dan keras hati, tak dapat dia perhina
secara demikian. Lantas saja ia menunjuki kegusarannya.
"Budak hina, jangan sembarangan ngoceh !" bentaknya.
Tan Hong tertawa dingin.
"Apa yang nonamu bilang ada buktinya !" katanya berani.
"Kau tidak dapat menipuku lantas kau buka suara keras-keras
! Apakah dengan begitu kau hendak membikin kaget dan takut
nonamu ini !"
Hoay Giok makin gusar.
"Budak berlidah tajam !" teriaknya. "Apakah kau hendak
mencari usahamu sendiri ?"
Menuruti hawa amarahnya Hoay Giok berlompat maju
sambil melancarkan sebelah tangannya yang terbuka
menyampok tangannya si nona !
Tan Hong mundur setengah tindak dengan begitu amanlah
pipinya. Ia tidak gusar hanya tertawa dan kata : "Lihat, lihat !
Sang rase telah memperlihatkan ekornya !"
Hoay Giok menahan tubuhnya sebab ia melihat orang
berkelit itu, ia heran.
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Tan Hong melirik, dia tertawa dan kata : "Barusan kau
menyerang aku dengan satu jurus dari Lohan Ciang hoat dari
Siauw Lim Pay ! Kau pula menggendol golok pada
punggungmu ! Toh kau menyebut dirimu sebagai kakak
seperguruan dari Tio It Hiong ! Tek Cio Totiang dari Pay In Nia
mana dapat mengajari murid dengan ilmu silat semacam yang
dimilikimu ini ? Maka juga aku kata ekormu tampak ! Benar
atau tidak ?"
Hoay Giok melengak, memang ilmu silatnya ilmu silat Siauw
Lim Pay. Gurunya ialah Tiat Pit Tin Pat Hong Beng Kauw dan
kakek gurunya adalah Siauw In, adik seperguruan dari Siauw
Lim Pay itu. Memang ilmu silatnya beda daripada ilmu silatnya
Tek Cio Siangjin. Kalau ia dan It Hiong menjadi saudara
seperguruan satu dengan lain, itu ada sebab lainnya. Tentu
saja hubungan itu tak dapat dan tak perlu ia beritahukan Tan
Hong. Karenanya ia cuma bisa mendongkol sekali.
Siauw Houw mengawasi orang she Whie itu. Dia pun heran
mengetahui orang adalah kakak seperguruannya It Hiong.
Tapi dia mempunyai urusannya sendiri, tak dapat dia usil
urusan lain orang. Maka selagi Hoay Giok berdiam saja, dia
menuding Tan Hong sambil kata bengis : "Budak bau, lidahmu
tajam ! Tapi aku tak perduli itu ! Lekas kau serahkan Hauw
Yan padaku ! Kalau tidak..."
Tan Hong tertawa geli.
"Kau juga orang Kang Ouw," katanya, "sekarang aku minta
kau tenangkan dirimu. Kau tahu, bukankah banyak orang
berbahaya dalam dunia Kang Ouw ? Kau menyebut diri
sebagai pamannya Hauw Yan, lantas aku dengan mudah saja
harus menyerahkan darah dagingnya Tio It Hiong kepadamu ?
Nonamu tak setolol kau, mengerti ?"
Kang Zusi website http://cerita-silat.co.cc/
http://kang-zusi.info/ http://kangzusi.com/
Siauw Houw bungkam, hingga dia berdiam bersama Hoay
Giok. Karena mereka berdiam itu, yang lain-lain berdiam juga.
Dengan demikian sejenak itu sunyilah ruang rumah makan itu
yang barusan ramai berisik. Walaupun demikian, Nona Tan
telah terkurung.
Sampai sebegitu jauh, Hauw Yan tidak berdiam saja
sebagaimana biasanya. Dia mencoba meronta dari pelukannya
Tan Hong.
"Mama ! Mama !" katanya berulang-ulang.
"Hauw Yan anak baik !" berkata Tan Hong membujuki,
"anak baik dengar aku ! Mari kita pergi bersama kepada ibumu
! Kau mau bukan ?"

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cersil Cerita Romantis Sedih: Iblis Sungai Telaga 6 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Rabu, 26 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments