Cerita Cinta Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 1

Cerita Cinta Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 1
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Cinta Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 1
Baca Juga:
Cerita Cinta Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 1
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Karya : Khu Lung
Di upload di http://ecersildejavu.wordpress.com/
Ebook by Dewi KZ
http://kangzusi.com/
Prolog
Tiada bintang, tiada rembulan, tiada suara apapun. Gelap…
Apa pun tidak terlihat, pegunungan yang senyap, di tengah malam yang pekat.
Tiba-tiba sekilas cahaya melintas di atas langit. Daerah pegunungan yang sunyi tersorot
sekejap. Eh… apa itu? Sesosok bayangan hitam sedang merayap di tengah pegunungan!
Apa yang sedang dilakukannya di tengah malam sesunyi ini?
Tidak ada seorang pun yang tahu. Yang terdengar hanya suara hembusan angin yang
sepoi-sepoi diiringi suara nafas yang tersengal-sengal. Kedua macam suara itu lebih mirip
keluhan yang tragis, membayangkan gelombang badai yang akan melanda dunia
persilatan di kemudian hari.
Dari kilasan cahaya tadi, dapat terlihat bahwa usia orang itu paling banter baru
menginjak dua belasan. Di atas kepalanya terdapat sedikit jambul, wajahnya bersih dan
tampan. Dengan menggertakkan giginya, dia memanjat terus. Meski pun susah payah,
tapi tampaknya tekad bocah ini keras juga. Sedikit demi sedikit dia merayap ke atas.
Pegunungan ini sangat terjal. Banyak terdapat batu-batu yang tajam. Belum lagi jurang
yang dalam. Kalau melihat dari atas bebatuan yang runcing itu akan tampak bagai
bilahan-bilahan pedang. Bocah itu rasanya tidak mengerti ilmu silat. Baru sampai
pertengahan saja telapak tangannya sudah penuh dengan luka sehingga darah mengalir
dengan deras. Bahkan pada tempat di mana tangannya bertumpu, terlihat bekas jejak
darah yang ditinggalkannya. Betapa mengenaskan melihat kebulatan tekad bocah
tersebut!
Tapi dia sama sekali tidak menyerah. Giginya digertakkan semakin erat. Ia sampai
menggigit bibirnya sehingga berdarah. Dia mempertahankan diri sekuat kemampuannya.
Setindak demi setindak dia terus mendaki daerah alam yang berbahaya. Setiap waktu ada
saja kemungkinan maut mengintai. Didakinya terus pegunungan itu meskipun dia sendiri
tidak tahu apakah dirinya masih sanggup atau tidak.
Angin pegunungan berhembus kencang, membuat pakaiannya yang sudah koyak di
sana sini berkibaran. Terdengar suara dari kibaran bajunya yang terhempas-hempas. Dia
tidak merasa kedinginan. Keringat menetes dengan deras di keningnya. Nafasnya semakin
memburu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia masih seorang bocah cilik. Dia juga tidak mempunyai tenaga seperti sebuah mesin.
Baru setengah perjalanan dia sudah merasakan tubuhnya letih sekali, urat-uratnya terasa
seperti mengencang dan hampir putus. Namun demikian di dalam hatinya dia punya niat
besar yang mendukung apa yang dilakukannya, perasaan gentarnya pun sirna dan
tekadnya semakin membara.
Dia paham sekali bahwa masih banyak urusan yang harus diselesaikannya. Dia sadar
masih panjang perjalanan hidup yang harus ditempuhnya. Tanpa memperdulikan segala
bahaya yang mungkin akan dihadapinya, dia terus mendaki menuju puncak gunung
tersebut. Sebetulnya, apa yang hendak dilakukannya?
Rupanya puncak pegunungan ini merupakan tempat suci sebuah perkumpulan yang
bernama Ti Ciang Pang yang sangat disegani dunia Kangouw. Sebuah goa tua yang
terdapat di bagian paling puncak merupakan tempat bersemayamnya jenasah-jenasah
para leluhur perguruan tersebut.
Pada suatu hari, tanpa sengaja bocah ini menolong seorang tua tanpa nama yang
sedang terluka parah. Sebelum menutup mata, orangtua ini sempat memberikan sebuah
kitab yang mengandung pelajaran cara merias wajah. Orangtua ini juga memberitahukan
kepadanya tentang kuburan para leluhur Ti Ciang Pang ini.
Ternyata setiap pangcu generasi demi generasi, apabila sudah mengetahui bahwa
ajalnya telah dekat, harus mengikuti peraturan perkumpulan mereka, yaitu masuk ke
dalam goa tua tersebut untuk menunggu ke-matian. Meskipun ada pangcu-pangcu yang
mati dalam pertarungan atau pun musibah lainnya, mayat mereka juga harus dibawa oleh
beberapa orang murid Ti Ciang Pang tersebut dan dimasukkan ke dalam goa. Bahkan
beberapa murid yang terpilih untuk membawa mayat pangcu mereka ke dalam goa, juga
tidak boleh kembali dalam keadaan hidup-hidup. Ini merupakan peraturan Ti Ciang Pang
yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Tentu saja setiap pangcu yang mati pasti mempunyai benda-benda pusaka kesayangan
mereka yang dibawa sekalian agar dapat dikuburkan bersama jenasah mereka nanti.
Benda-benda pusaka tersebut terdiri dari berbagai macam jenis. Ada pedang pusaka, ada
senjata rahasia yang mereka gunakan semasa hidup. Tidak sedikit yang melukiskan ilmuilmu
andalannya di dinding goa sambil menunggu kematian.
Sejak Ti Ciang Pang didirikan, jumlah pangcu yang menjabat perkumpulan tersebut
seluruhnya sudah berjumlah enam puluh empat angkatan. Otomatis goa tua itu menjadi
semacam tempat harta pusaka perkumpulan tersebut. Akhirnya tempat itu juga menjadi
daerah terlarang bagi umat Bulim dan tempat suci yang tidak boleh diinjak oleh para
murid Ti Ciang Pang sendiri. Siapa pun yang ketahuan naik ke puncak gunung itu pasti
akan mendapat hukuman mati. Hal ini sudah menjadi ketentuan yang diketahui oleh
semua orang di dunia Kangouw.
Tetapi tujuan bocah ini naik ke atas puncak gunung tersebut justru untuk menyelinap
ke dalam goa dan mencuri belajar ilmu Ti Ciang Pang yang sakti. Dia tidak mengerti ilmu
silat sama sekali. Kalau dia datang secara terang-terangan tentu dalam sekejap saja dia
sudah ketahuan oleh para penjaga pegunungan itu, yang kebanyakan berilmu tinggi.
Itulah sebabnya dia memilih waktu malam hari dan mengambil jalan memutar yang jauh
lebih berbahaya agar jejaknya tidak sampai kelihatan. Dapat dikatakan bahwa sekarang ini
dia sedang mengadakan pertaruhan dengan nyawanya sendiri.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dia terus mendaki sedikit demi sedikit… Ketika tenaganya mulai terkuras habis,
matanya terasa berkunang-kunang dan keempat anggota tubuhnya bagai menjadi kaku,
dan dia merasa tidak sanggup meneruskan lagi, dia berhenti dahulu untuk beristirahat.
Angin malam masih menderu-deru. Di sekitar hanya ada kesunyian yang menemani.
Dalam kegelapan seperti ini, yang terdengar hanya nafasnya yang tersengal-sengal. Dia
tahu sekarang ini dia sudah meninggalkan kaki gunung sejauh ratusan depa. Apabila dia
menundukkan kepalanya unttuk melihat ke bawah, mungkin dia akan jatuh pingsan saking
takutnya. Oleh karena itu, dia tidak berani melirik sedikitpun. Dengan menggenggam eraterat
batu-batu yang bertonjolan, dia mengatur nafasnya sesaat sebelum mulai mendaki
lagi.
Setelah berdiam diri sekian lama, tiba-tiba terdengar suara gumaman yang tidak jelas
dari mulutnya…
“Tan Ki, oh Tan Ki…! Kau tidak boleh putus asa. Dakilah terus. Di atas puncak gunung
ini ada berbagai macam kepandaian yang kau dambakan. Semuanya dapat membuat citacitamu
terkabul. Kelak kau akan menjadi orang yang terkenal. Namamu akan
menggetarkan dunia Kangouw. Kau bisa belajar silat yang tinggi sehingga kau dapat
membalas dendam dengan kedua tanganmu sendiri…”
Teringat akan dendam kematian ayahnya tiba-tiba darah dalam tubuhnya seperti
menggelegak. Semangatnya bagai terpacu seketika. Rasa sakit pada telapak tangan dan
pegal-pegal di sekujur tubuhnya seperti sirna tertiup angin malam.
Betul! Dia ingin membalas dendam. Dia harus membunuh empat puluh delapan orang
musuhnya. Satupun tidak boleh dibiarkan hidup…! Maka dari itu, dia segera menghimpun
seluruh kekuatannya. Dengan tekad yang membara dia mulai mendaki lagi. Dengan susah
payah dia naik setindak demi setindak. Di dalam hatinya dia terus berseru! Naik! Naik!
Naik! Naik!
****
Bagian I
Sepuluh tahun kemudian…
Dunia Kangouw yang selama ini tenang dan damai tiba-tiba saja dilanda gelombang
badai yang dahsyat. Seorang algojo muncul entah dari mana. Persis seperti malaikat maut
yang mencabut nyawa orang-orang yang dipilihnya.
Siapa namanya, tidak ada seorang pun yang tahu. Asal-usulnya, terlebih-lebih tidak ada
yang tahu. Belum pernah ada seorangpun yang sempat melihat wajahnya yang asli. Ilmu
silatnya yang tinggi sulit diukur dan keahliannya dalam merias wajah disadari oleh setiap
orang. Tiba-tiba dia muncul sebagai seorang kakek-kakek tua. Kemudian beberapa hari
kemudian, dia berubah menjadi seorang pemuda belasan tahun. Datang tanpa bayangan,
pergi pun tidak meninggalkan jejak.
Orang yang berbentrok dengannya, mati satu per satu. Orang yang tidak ada urusan
apa-apa dengannya juga mengandung perasaan was-was. Tetapi setiap kali dia muncul, di
samping mayat yang telah dibunuhnya pasti terdapat tulisan yang berbunyi… Cian bin moong
alias Iblis Seribu Wajah.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam jangka waktu yang pendek, yakni tiga bulanan, tokoh-tokoh Bulim yang mati di
tangan Cian bin mo-ong sudah berjumlah dua puluhan orang. Jumlah ini sebetulnya tidak
dapat dibilang terlalu besar. Yang mengejutkan justru setiap korbannya merupakan tokoh
yang mempunyai nama besar di masa itu. Hal inilah yang membuat perasaan tokoh-tokoh
Kangouw lainnya menjadi kalut.
Ti Ciang Pang yang selama ini sangat disegani ikut terguncang mendengar kemunculan
orang ini. Belum lagi lima partai besar lainnya. Bahkan para tokoh yang bergerak sendirisendiri
tanpa ikatan dengan perguruan mana pun ikut ramai membicarakan kemunculan
orang ini yang sedemikian tiba-tiba. Mereka semua merasa was-was. Jangan-jangan besok
adalah giliran mereka untuk menerima kematian. Hal ini seperti hari-hari menjelang kiamat
bagi tokoh-tokoh dunia Kangouw.
Cian bin mo-ong! Cian bin mo-ong! Asal nama ini muncul, pasti ada mayat yang bergelimpangan.
Kehadiran orang ini bagaikan angin topan yang memporak-porandakan
seluruh Bulim, menyiutkan nyali setiap tokoh yang namanya agak terkenal. Dari setiap
korban yang jatuh, dapat dibuktikan bahwa sasarannya adalah orang-orang yang
mempunyai nama cukup besar di dunia Kangouw. Dalam waktu tiga bulan saja, dia sudah
membuat dunia Bulim menjadi sebuah tempat yang mengerikan dan seolah tiada lagi
wilayah yang aman untuk bersembunyi.
Sasarannya pun berbeda-beda. Kadang terdengar korbannya ada di daerah Selatan,
kemudian tiba-tiba di daerah Utara pun terjadi hal yang sama. Semua ini membuat orang
menduga-duga, apa sebetulnya alasan Cian bin mo-ong membunuh orang-orang yang
kadang-kadang tidak ada kaitannya sama sekali.
Akhirnya… Pada suatu malam yang berangin kencang dan tiada rembulan, gelombang
badai yang melanda dunia Bulim ini pun mencapai puncaknya…
***
Kota tua Lok Yang.
Di tengah malam yang mencekam, seharusnya orang-orang sedang terlelap dalam
mimpi. Tapi di Utara kota itu terdapat sebuah gedung yang megah dan saat ini tampak
dua buah lentera besar tergantung tinggi. Tampak bayangan manusia tidak henti-hentinya
memasuki gedung rumah tersebut.
Hal ini membuat orang menduga-duga.
Kalau keluarga ini bukan sedang berkabung atau mengadakan pesta besar-besaran,
tentu ada urusan penting yang sedang berlangsung. Tepat pada saat itu, tampak dua
sosok bayangan melesat bagai angin dan berhenti di depan pintu gerbang gedung megah
tersebut.
Meskipun di dalam gedung ini terlihat orang-orang hilir mudik dengan sibuk. Tetapi di
depan pintu gerbangnya justru sunyi seakan tidak sedang berlangsung apa-apa. Tidak
tampak seorang penjaga pun di depan pintu gerbang tersebut. Mata kedua orang ini
mengedar sekilas. Wajah keduanya langsung tertegun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di bawah cahaya lentera yang suram, tampak bahwa kedua orang ini merupakan
pasangan yang aneh, yang satu bertubuh tinggi sedangkan yang lainnya pendek sekali.
Mereka berdiri berendengan.
Orang yang berdiri di sebelah kiri berdandan seperti pelajar. Wajahnya agak pucat.
Tampangnya biasa-biasa saja, sulit menentukan berapa usia orang itu yang sebenarnya.
Tangan kanannya mengibaskan sebatang kipas dengan perlahan-lahan. Gayanya santai
sekali.
Sedangkan orang yang di sebelahnya sangat pendek. Tinggi kepalanya hanya mencapai
pinggang si pelajar tadi. Tubuhnya gemuk. Raut wajahnya bulat dan warnanya merah
sekali. Dari sepasang matanya yang sipit memancar sinar tajam seperti kilat.
Tiba-tiba dari dalam gedung terdengar suara teriakan, “Ciong San Suang-siu tiba!”
Kata-kata itu saling bersahutan sehingga sampai ke dalam gedung. Kewibawaan yang
diperlihatkan ternyata tidak dapat dipandang ringan juga. Tidak lama kemudian terdengar
suara sahutan dari dalam yang sambung menyambung sampai keluar seperti sebelumnya.
“Silahkan masuk!”
Melihat keadaan ini, alis kedua orang tersebut tanpa terasa terjungkit ke atas. Wajah
mereka menyiratkan perasaan kurang senang. Bukan saja kedua orang ini merupakan
tokoh yang sudah terkenal, bahkan nama mereka pun tidak berada di sebelah bawah tuan
rumah itu sendiri yakni Bu Ti Sin Kiam alias si Pedang Sakti tanpa lawan Liu Seng.
Orang itu sudah mengirimkan undangan kepada mereka berdua. Seharusnya tidak
perlu begitu banyak lagak sampai-sampai mempersilahkan mereka masuk hanya dengan
dua patah kata saja. Seandainya mereka masuk begitu saja, bukankah mereka akan
kehilangan pamor? Tetapi orang sudah mengirimkan undangan, biar bagaimana pun
niatnya baik. Untuk sesaat, kedua orang itu merasa bimbang. Masuk salah, tidak masuk
mereka sudah sampai di depan pintu. Sedangkan gengsi mereka mempertahankan diri
agar jangan masuk begitu saja.
Justru ketika mereka sedang diselimuti keraguan itulah, tampak seorang Lao Koan-ke
(Kepala Pelayan) keluar dengan tergopoh-gopoh kemudian membungkukkan tubuhnya
memberi hormat.
“Majikan hamba sedang melayani tamu sehingga tidak dapat menyambut dari jauh.
Harap jiwi toaya dapat memaklumi. Silahkan masuk! Silahkan masuk!” sapanya sambil
tersenyum simpul.
Terdengar suara dengusan dari hidung si gemuk pendek. Bibirnya mengulum seulas
senyuman dingin.
“Mungkin tamu yang di temani Liu Loji lebih terkenal dan mempunyai nama yang lebih
besar dari kami dua bersaudara,” sindirnya tajam.
Kata-kata ini sungguh blak-blakkan. Wajah Lao Koanke tadi sampai merah padam.
Dengan wajah ketakutan kembali ia membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak, tidak! Apabila jiwi toaya masuk ke dalam tentu akan mengerti sendiri,” dia
langsung mengulapkan tangannya mempersilahkan kedua tamu tersebut.
Orang gemuk pendek tadi mendengus sekali lagi. Dia melangkahkan kakinya lebar-lebar
berjalan ke dalam gedung. Setelah melewati tiga buah ruangan, mereka sampai di sebuah
aula yang besar sekali. Kedua orang itu memandang ke sekeliling sekejap. Tanpa sadar
keduanya menjadi tertegun.
Tampak di dalam aula tersebut telah di penuhi tamu-tamu sejumlah empat lima puluh
orang. Di antara orang-orang itu ada sebagian yang mereka kenal. Ada sebagian lagi yang
jumpa pun belum pernah. Tetapi sebagian besar yang mereka kenal merupakan tokohtokoh
ternama yang telah menggetarkan dunia persilatan pada jaman itu.
Setelah tertegun beberapa saat, tiba-tiba dalam hati keduanya segera merasa bahwa
urusan malam ini pasti genting sekali sehingga begitu banyaknya tokoh terkemuka yang
berkumpul di dalam gedung ini.
Hawa pembunuhan yang tebal bagai memenuhi seluruh aula tersebut. Pada wajah
setiap orang tampak ketegangan yang berusaha di tutup-tutupi. Suasananya juga sangat
mencekam. Tidak ada seorang pun yang bercakap-cakap dengan santai.
Tiba-tiba Bu Ti Sin Kiam Liu Seng yang duduk di kursi tuan rumah tampak berdiri dan
tertawa lebar.
“Jiwi pasti sudah menunggu agak lama. Silahkan duduk!” katanya.
Baru saja ucapannya selesai, dari luar berkumandang lagi suara sahutan yang sambung
menyambung seperti tadi. “Tian Tai Tiau-siu (Tukang pancing dari Tian Tai) tiba!”
“Cepat persilahkan!” kata Liu Seng segera berganti haluan.
Tenaga dalam orang ini cukup tinggi juga. Begitu suaranya keluar, terdengarnya seperti
gendang yang bertalu-talu dan bergema ke seluruh aula tersebut. Kemudian seorang lakilaki
bertubuh tegap yang berdiri di bagian pintu segera mengikutinya berteriak:
“Cepat persilahkan masuk!”
Suara sahutan itu pun kembali sambung menyambung sampai ke depan pintu gerbang.
Hal inilah yang membuat suasana yang tegang itu mengandung keseriusan dan
kewibawaan yang dalam. Saat itu Ciong San Suang-siu baru tahu, Liu Seng menemani
sekian banyak tamu. Otomatis dia tidak sempat menyambut setiap tamu dan
mengantarkannya ke dalam. Setelah tahu apa sebabnya Liu Seng tidak menyambut
mereka sendiri, keduanya tidak marah lagi.
Pada dasarnya kedua orang itu memang merupakan pendekar-pendekar yang gagah
dan berhati lapang. Mereka malah tertawa terbahak-bahak menanggapi kesalahpahaman
perasaan mereka sendiri.
Setelah tertawa-tawa Ciong San Suang-siu pun duduk di kursi yang masih kosong.
Sambil menyapa beberapa orang kenalan mereka, otak keduanya terus memikirkan
kejadian yang akan mereka hadapi malam ini.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Rupanya Bu Ti Sin-kiam Liu Seng adalah seorang tokoh tua di dunia persilatan. Nama
besarnya telah berkumandang di mana-mana. Tetapi selama belasan tahun ini, dia telah
mengasingkan diri dan tidak turut campur lagi dalam urusan dunia Kangouw. Tiba-tiba tiga
bulan yang lalu, dia mengirimkan surat undangan kepada para sahabat lamanya yang
sealiran agar berkumpul di. gedung rumahnya malam ini. Hal ini membuktikan bahwa ada
urusan penting yang ingin disampaikannya kepada mereka semua.
Sementara itu, dari halaman luar berjalan masuk seorang yang bertubuh tinggi kurus.
Kepalanya ditutupi sebuah topi pandan. Orang ini tidak asing bagi para hadirin yang ada
dalam aula tersebut. Karena dialah Tian Tai Tiau-siu yang tersohor. Nama asli orang ini
adalah Kok Hua-hong.
Sebagai tuan rumah, Liu Seng cepat-cepat bangkit dari tempat duduknya dan
menyambut.
“Kok heng telah menempuh jarak ribuan li untuk memenuhi undangan siaute. Tentunya
Kok heng sudah merasa lelah, silahkan duduk dan beristirahat.” sapanya sambil
tersenyum.
Kok Hua-hong mendengus dingin satu kali. Mimik wajahnya datar sekali.
“Tidak diundang pun, aku tetap akan datang.” nada suaranya begitu ketus sehingga
membuat para hadirin merasa di luar dugaan.
Liu Seng sendiri ikut tertegun. Para tamu yang hadir malam itu merasa heran.
Selamanya Kok Hua-hong adalah seorang manusia yang berjiwa besar. Sehari-harinya
murah senyum dan ramah terhadap siapapun. Sikapnya yang demikian ketus, belum
pernah ditemui oleh para kenalannya.
Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar mata para hadirin menjadi terpusat
pada dirinya. Kok Hua-hong sendiri tampaknya tidak memperhatikan orang lainnya.
Dengan sikap dingin ia berjalan menuju sebuah kursi yang kosong dan duduk menyendiri.
Matanya dipejamkan seakan sedang melepas lelah.
Sikapnya itu menunjukkan keangkuhan dan kesinisan yang tidak terkira. Orang yang
menatapnya merasa bergidik dan timbul kesan sebagaimana orang yang tidak mudah
didekati oleh orang lain.
Melihat sikap Kok Hua-hong, tanpa sadar sepasang alis Liu Seng terjungkit ke atas.
Kemarahan dalam hatinya mulai meluap. Diam-diam dia berpikir dalam hati. “Baru
beberapa tahun tidak bertemu, ternyata orang dapat berubah sedemikian banyak!”
Setelah merenung sesaat, terpaksa dia menelan kembali kemarahan dalam hatinya.
Urusan yang sedang mereka hadapi bukan masalah perorangan tetapi menyangkut keselamatan
seluruh Bulim. Bagaimana pun dia harus berpikir panjang sebelum mengumbar
emosinya. Apalagi kali ini dia sendiri yang bertindak sebagai tuan rumah yang
mengundang kedatangan tamu-tamu ini.
Tidak lama kemudian datang beberapa tamu tingkatan Cianpwe yang juga diundang
oleh Liu Seng. Tuan rumah segera mengedarkan pandangannya. Dia merasa para tamu
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang diundangnya sudah hampir semua hadir di tempat itu. Maka dari itu dia segera
berdiri dan menjura ke sekitarnya.
“Dunia Bulim yang sudah lama tenang, tiba-tiba dilanda badai yang dahsyat. Cuwi
hengte pasti sudah dapat menerka tujuan orang she Liu mengundang kedatangan kalian
malam ini. Padahal sebelumnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak
mencampuri lagi urusan dunia Kangouw. Tetapi apa yang terjadi saat ini demikian genting
sehingga aku terpaksa mengirimkan undangan pada saudara sekalian.”
“Tentu saja untuk menghadapi Cian bin mo-ong yang merupakan musuh para sahabat
dunia Kangouw!” sahut beberapa tamu serentak.
“Orang seperti itu tidak boleh dibiarkan merajalela!” teriak yang lainnya.
Liu Seng menganggukkan kepalanya.
“Tidak salah. Untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Kedatangan orang ini seperti angin
saja. Kekejiannya dalam turun tangan, boleh dibilang seumur hidup aku baru pernah
menemuinya…” berkata sampai di situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Dengan
wajah muram dia menarik nafas panjang. “Ilmu silat Cian bin mo-ong ini entah sudah
sampai taraf bagaimana tingginya. Kalau dibayangkan memang mengerikan. Para sahabat
sekalian, tetapi ada satu hal lagi yang membuat kita lebih-lebih penasaran. Yakni, adakah
orang-orang yang tahu asal-usul orang ini atau wajah asli orang ini?”
Mendengar ucapannya, para tamu yang hadir tertegun semua. Tidak ada seorangpun
yang dapat menjawab pertanyaan tersebut, karena mereka memang tidak ada yang tahu.
Riwayat hidup Cian bin mo-ong bagai sebuah teka-teki, bagai sebuah tempat yang
diselimuti kabut sehingga orang harus meraba-raba untuk mengetahui sekitarnya. Orang
yang pernah bertemu dengannya sudah mati. Orang yang tidak pernah bertemu
dengannya, meskipun Cian bin mo-ong berdiri di depannya, dia juga tidak akan mengenali.
Ilmu merias wajah Cian bin mo-ong sudah mencapai taraf yang sedemikian hebatnya
sehingga sulit diuraikan dengan kata-kata. Hanya dalam waktu beberapa detik, dia
sanggup merubah wajahnya.
Karena tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara, seluruh aula besar itu menjadi
hening seketika. Rupanya nama Cian bin mo-ong telah menanamkan ketakutan yang
dalam di hati setiap orang. Kemungkinan apabila ada orang yang mengetahui asal-usul
maupun wajah aslinya, orang itu juga tidak berani membuka mulut.
Terdengar suara berdehem dan terbatuk-batuk dari mulut si pendek gemuk yang
merupakan Loji dari Ciong San Suang-siu…
“Tiga hari yang lalu, hengte pernah bertemu sekali dengan Cian bin mo-ong, pada saat
itu…” baru berkata beberapa patah, di wajah Cu Mei, si gemuk pendek itu tersirat rasa
ketakutan yang dalam, tubuhnya bergetar. Setelah terdiam beberapa saat dia melanjutkan
kembali kata-katanya. “Pada saat itu, di puncak bukit Ciong San berkumpul kurang lebih
empat puluh enam orang jago-jago kelas tinggi. Orang-orang ini terdiri dari para murid
lima partai besar. Masing-masing mem-punyai keahlian dalam berbagai ilmu silat. Nama
mereka sudah terkenal di seluruh penjuru dunia. Tadinya hengte mengira telah terjadi
persengketaan di antara lima partai besar. Hati hengte terkejut sekali. Kemudian setelah
mendapat penjelasan dari Pun Bu Taisu yang berasal dari Siau Lim Pai, baru hente
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengerti duduk persoalan sebenarnya. Rupanya mereka sedang menantikan kedatangan
Cian bin mo-ong untuk mengadu kepandaian…”
Mendengar ucapan Cu Mei si pendek gemuk, di depan mata para tamu yang lainnya
seakan tampak bayangan Cian bin mo-ong yang menyeramkan. Tetapi bayangan orang ini
sedemikian samar sehingga tidak ada seorangpun yang sanggup melukiskan rupanya yang
jelas.
Pikiran merekapun ikut terpengaruh cerita Cu Mei tadi. Perasaan mereka menjadi
tegang karena ingin mengetahui cerita selanjutnya. Situasi dalam ruangan ini semakin
mencekam dan tanpa sadar mereka merasakan keseraman yang tidak terkatakan.
Terdengar lagi helaan nafas Cu Mei yang berat sebelum meneruskan kata-katanya…
“Para murid kelima partai besar menunggu kurang lebih satu keuntungan. Tetapi yang
datang bukan Cian bin mo-ong malah Ciang Bunjin Bu Tong Pai, Fei Wan Cu yang muncul
secara tidak terduga-duga. Fei Wan Cu tiba-tiba menyeruak di antara orang banyak dan
menghantamkan pukulannya secara kalang kabut. Secara berturut-turut delapan belas
orang dibunuhnya dalam waktu sekejap. Untuk sesaat, para murid lima partai besar
menjadi gempar. Hengte sendiri terkejut setengah mati. Mungkinkah Fei Wan Totiang tibatiba
kerasukan setan serta pikirannya kacau sehingga tidak mengenali rekan-rekannya
sendiri?”
Hati Liu Seng tercekat mendengar ceritanya.
“Itu tidak benar! Ciang Bunjin Bu Tong Pai itu mungkin samaran Cian bin mo-ong?”
katanya gugup.
“Siapa bilang bukan? Tetapi karena keahlian merias wajah orang ini sudah sedemikian
hebatnya sehingga hengte sendiri yang kenal baik dengan Fei Wan Totiang tidak berhasil
membongkar kedoknya. Sedikitpun tidak tampak perbedaan dengan yang aslinya…”
Wajah Liu Seng semakin kelam. Kepalanya tertunduk sesaat seakan sedang
merenungkan sesuatu yang pelik.
“Bagaimana dengan ilmu silatnya?”
Cu Mei menarik nafas panjang.
“Bukannya hengte memuji iblis itu. Ilmu silat yang dimiliki Cian bin mo-ong memang
tinggi sekali. Malah lebih hebat daripada Fei Wan Totiang yang asli. Hengte sudah terjun
dalam dunia Kangouw sejak empat puluh tahun yang lalu, meskipun ilmu silat tidak terlalu
hebat, tetapi pengalaman sudah dapat dikatakan lumayan. Mungkin saat ini orang yang
dapat menandinginya dapat dihitung dengan jari. Bayangkan saja, para anggota kelima
partai besar yang berkumpul saat itu ada empat puluh enam orang, tetapi mereka toh
tidak sanggup menahan seorang Cian bin mo-ong malah delapan belas orang diantara-nya
menjadi korban.”
Sebetulnya Cu Mei masih ingin melanjutkan kata-katanya, tetapi dia merasa bahwa
ucapannya hanya akan menjatuhkan pamor lima partai besar. Itulah sebabnya dia tidak
jadi meneruskan isi hatinya. Tetapi meskipun demikian, sebagian besar tamu yang hadir
sudah dapat menerka apa yang ingin diucapkannya. Wajah mereka tampak kusut dan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
kelam. Mereka sudah dapat membayangkan sampai di mana kehebatan Cian bin mo-ong
yang akan mereka hadapi itu.
Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Sepasang alisnya berkerut. Mulutnya menyiratkan
seulas tertawa yang sumbang.
“Kalau demikian, gedung keluarga Liu ini seakan menjadi ajang pengorbanan.”
Cu Mei menjadi tertegun mendengar ucapannya.
“Mengapa?” tanyanya bingung.
“Karena Cian bin mo-ong justru hendak menyambangi gedung rumahku malam ini,”
sahut Liu Seng.
Ucapan yang singkat tetapi sanggup membuat hati setiap tamu yang hadir menjadi
terkesiap. Seakan di dalamnya terkandung segulung kekuatan yang tidak berwujud dan
membuat wajah mereka berubah hebat. Tidak ada satupun yang tidak terkejut
mendengarkan keterangan tersebut.
Untuk sesaat, suasana dalam ruangan itu seperti diselimuti hawa pembunuhan yang
tebal. Empat huruf Cian bin mo-ong seperti mewakili para iblis yang gemar membunuh
manusia tanpa diketahui sebab musababnya. Nyali para pendekar menjadi ciut seketika…
Ilmu silat orang ini demikian tinggi, lagipula dia pandai ilmu merias wajah. Boleh
dibilang, ada saja kemungkinan bahwa saat ini dia sudah merias wajahnya menjadi salah
satu tamu di dalam aula tersebut. Namun tidak seorangpun yang menyadarinya.
Para tamu yang mempunyai pikiran demikian, tanpa terasa saling melirik satu dengan
yang lainnya. Mereka menjadi curiga setiap orang yang duduk di sampingnya. Janganjangan
orang itu adalah samaran Cian bin mo-ong si iblis pembunuh itu.
Justru ketika pikiran setiap orang sedang bertanya-tanya, terdengar kembali helaan
nafas berat Liu Seng, si tuan rumah.
“Sejak tiga bulan yang lalu, Cian bin mo-ong telah mengirim sepucuk surat yang isinya
menyatakan bahwa malam ini dia pasti akan hadir di dalam rumahku ini. Pertama-tama dia
ingin bertanya jelas tentang Am Gi (senjata rahasia) hengte, yakni Hek Hong Ciam (jarum
kumbang hitam), baru kemudian mencabut nyawa hente. Katanya untuk membalaskan
dendam ayahnya. Aih! Siaute sudah mengasingkan diri dari dunia persilatan selama
belasan tahun. Seandainya pada tempo dulu pernah terjadi persilisihan dengan seseorang,
rasanya juga tidak mungkin sekarang baru datang mencari siaute untuk membalaskan
dendamnya…”
Belum lagi ucapannya selesai, Tian Tai Tiau-siu yang duduk di sudut sendirian langsung
memperdengarkan suara dengusan dingin dari hidung.
“Maksudmu kau sudah menggantungkan pedang selama belasan tahun dan selama itu
tidak pernah mencampuri urusan dunia Kangouw lagi?” tanyanya dengan nada sinis.
“Tidak salah!” sahut Liu Seng tegas.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apakah kata-katamu itu bukan diucapkan karena keadaanmu yang sedang terdesak?”
tanya Tian Tai Tiau-siu kembali. Nada suaranya seakan tidak percaya. Dengan bibir
mencibir dia meneruskan ucapannya. “Seandainya Cian bin mo-ong benar-benar akan
datang malam ini untuk menanyakan perihal senjata rahasiamu, pasti dia mempunyai
alasan yang kuat. Jangan-jangan di balik hal ini ada sesuatu yang sengaja kau tutuptutupi!”
Terhadap kata-kata yang menyakitkan hati itu, Liu Seng benar-benar merasa di luar
dugaan. Wajahnya berubah hebat.
“Siaute harap kata-kata Kok heng jangan keterlaluan. Hek Hong Ciam memang senjata
rahasia andalan keluarga Lu. Selama ini hanya diwariskan kepada putera dan tidak pernah
kepada anak putri. Meskipun siaute mempunyai seorang putri, tapi ilmu ini belum pernah
diajarkan kepadanya!”
Wajah Kok Hua-hong dingin sekali. Dia terdiam sesaat. Seakan ada sesuatu yang
sedang direnungkannya. Perlahan-lahan kepalanya mendongak ke atas dan menatap
lentera-lentera yang tergantung di sana.
Pada waktu itu, para tamu dapat merasakan bahwa penampilan Kok Hua Hong ini
sangat lain dari biasanya. Sikapnya angkuh dan menyiratkan ketinggian hatinya. Kalau
dibandingkan dengan sikapnya dahulu, sungguh jauh berbeda. Tidak ada seorangpun
yang mengerti apa sebabnya orang ini dapat berubah demikian drastis!
Dengan demikian, dalam seketika Kok Hua-hong menjadi tokoh yang aneh dan menarik
perhatian. Pandangan setiap tamu yang hadir semuanya terpusat pada orang ini. Seakan
seluruh kesombongan, keanehan, kejanggalan yang ada di dunia ini sekarang tertumpu
pada diri orang tersebut.
Sinar mata Liu Seng juga tidak terlepas sedikit pun dari pada Kok Hua-hong. Tiba-tiba
tubuhnya menggigil. Dia merasa orang yang satu ini telah berubah menjadi orang lain
yang menyeramkan.
Apanya yang tidak sama? Justru dia tidak dapat mengatakannya. Hanya nalurinya yang
membisikkan sesuatu yang janggal pada diri orang itu. Tepat pada saat itu, Kok Hua-hong
mengeluarkan suatu benda dari balik pakaiannya dan kemudian meletakkannya di atas
meja. Mulutnya memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Kalau kau mengatakan Hek Hong Ciam hanya diturunkan kepada anak laki-laki dan
tidak kepada anak perempuan, di balik semua ini pasti ada apa-apanya. Tentunya sesuatu
yang mencurigakan. Kalau boleh aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Mengapa
benda ini dapat tertancap pada diri Tan Ciok-san sepuluh tahun yang lalu kalau kau
memang sudah mengundurkan diri dari dunia Kangouw selama belasan tahun? Hm… katakatamu
itu terlalu menganggap bodoh orang lain!”
Liu Seng mengedarkan matanya. Hatinya menjadi terkesiap. Benda yang tergeletak di
atas meja memang Hek Hong Ciam yang merupakan senjata rahasia andalan keluarganya.
Wajahnya berubah semakin kelam.
“Bagaimana Kok heng bisa mempunyai senjata ini?” tanyanya tanpa sadar..
Kok Hua Hong tertawa dingin. Wajahnya tetap tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bukankah aku sudah mengatakan bahwa Hek Hong Ciam tersebut tertancap pada
tubuh Tan Ciok-san? Senjata rahasia ini memang diambil dari tubuhnya dan sudah
tersimpan selama sepuluh tahun.”
Liu Seng sampai termangu-mangu mendengar kata-katanya. Hal yang sama sekali di
luar dugaan justru terjadi pada saat ini. Pikirannya langsung bekerja. Sebuah ingatan
melintas di benaknya. Dia sama sekali tidak percaya bahwa sepuluh tahun yang lalu dia
pernah menggunakan Hek Hong Ciam dan sekarang dia sudah melupakannya. Dia toh
belum terlalu tua untuk disebut pikun. Wajahnya semakin kelam.
“Kau berbohong! Tidak di sangka Tian Tai Tiau-siu yang namanya sudah menggetarkan
dunia persilatan dapat mengucapkan fitnahan yang sengaja hendak mengacaukan
pertemuan ini!” bentaknya marah.
“Maksudmu cayhe hanya mengada-ada?” tanya Kok Hua-hong tenang.
“Walaupun tidak demikian, pasti kau mengandung maksud tertentu. Siaute sudah
mengasingkan diri selama belasan tahun. Meskipun ilmu silat masih tidak dilupakan begitu
saja dan terus berlatih tetapi sama sekali belum pernah menyentuh Hek Hong Ciam.
Bagaimana mungkin membunuh orang dengan senjata rahasia tersebut apabila
menyentuhnya saja tidak? Lagipula, walau pun Tan Ciok-san merupakan tokoh Kangouw
yang tidak tergolong sesat maupun lurus, tetapi dengan aku orang she Liu selamanya
tidak ada permusuhan apa-apa. Bagaimana mungkin bisa terjadi perkelahian diantara
kami?” sahut Liu Seng tegas.
Wajah Kok Hua-hong berubah hebat mendengar ucapannya. Dia langsung bangkit dari
tempat duduknya dan menuding kepada Liu Seng.
“Kalau benar begitu, bagaimana Hek Hong Ciam ini bisa terjatuh ke tanganku? Tolong
kau jelaskan bagaimana senjata rahasia ini bisa tertancap di tubuh Tan Ciok-san?”
Pertanyaannya itu laksana tudingan langsung. Liu Seng sampai tertegun dan tidak
sanggup mengatakan apa-apa. Kenyataannya, dia memang tidak habis pikir bagaimana
senjata rahasia andalan keluarganya bisa terjatuh ke pihak lawan. Senjata rahasia ini pula
yang membuat namanya terkenal di dunia Kangouw berpuluh tahun yang silam. Ilmu yang
satu ini sangat khas dan unik. Tidak sembarang orang dapat melontarkan senjata rahasia
semacam itu.
Ucapan Kok Hua-hong juga membuat para tamu yang lainnya menjadi curiga dan
bertanya-tanya. Kemudian, tampak Kok Hua-hong melangkah setindak demi setindak
mendekati Liu Seng. Wajahnya menyiratkan hawa pembunuhan yang tebal.
Untuk sesaat, suasana yang mencekam seperti menunggu bom waktu yang akan
meledak setiap waktu. Para tamu yang lain mengerti bahwa Kok Hua-hong segera akan
turun tangan. Tetapi tidak seorangpun yang sanggup menghalangi. Karena urusan ini
termasuk masalah pribadi dan mungkin di dalamnya juga terkandung misteri yang belum
terungkapkan sehingga mereka merasa tidak enak hati untuk turut campur.
Dalam keadaan yang genting di mana hati para hadirin sedang tegang, terdengar
tarikan nafas Liu Seng yang berat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siaute mengundang kehadiran para sahabat sekalian, sebetulnya ingin mendapat
dukungan untuk menghadapi Cian bin mo-ong. Siapa sangka urusan Hek Hong Ciam ini
malah menimbulkan perasaan curiga kalian. Karena bukti nyatanya memang ada,
meskipun siaute terjun ke sungai Huang ho juga tidak dapat melepaskan diri dari masalah
ini. Tetapi, berdasarkan nama baik keluarga kami yang telah dipupuk selama ratusan
tahun. Siaute berani menjamin bahwa sepuluh tahun yang lalu siaute tidak merasa pernah
menggunakan Hek Hong Ciam ini untuk membunuh siapapun.”
Dalam keadaan terdesak, Liu Seng mengucapkan kata-kata yang asal- asalan saja.
tetapi justru menimbulkan manfaat yang besar. Ketika mengucapkan kata-kata yang
terakhir, pada wajahnya tersirat kepedihan yang tidak terkirakan.
Kok Hua-hong tertawa dingin.
“Di dunia ini terlalu banyak manusia licik yang pandai berpura-pura. Kata-kata yang
saudara ucapkan tadi mungkin dapat mengelabui anak kecil berusia tiga tahun, tetapi aku
sama sekali tidak mempercayainya!” sahutnya ketus.
“Jadi kau tetap ingin bergebrak denganku?”
Sekali lagi Kok Hua-hong mendengus dingin.
“Kalau tidak memaksa dengan kekerasan, mungkin Liu Lo Enghiong tidak bersedia mengatakan
yang sebenarnya!” terdengar suara angin berdesir, tahu-tahu dia melancarkan
sebuah serangan yang dahsyat.
Dapat dibayangkan bagaimana hebatnya serangan orang ini. Bahkan cawan-cawan teh
yang tergeletak di atas meja dan saat itu memisahkan mereka langsung jatuh berderai
karena hempasan angin yang kencang dan menimbulkan suara kerontangan yang bising.
Tenaga dalam orang ini rupanya juga tidak dapat dipandang enteng.
Hati Liu Seng terkesiap.
“Hebat sekali tenaga dalam orang ini!” serunya dalam hati.
Tangan kanannya langsung diangkat dan menyambut serangan Kok Hua- hong.
Hantaman ini dilancarkan dalam keadaan terdesak. Tiba-tiba terdengar suara Blamm!
Yang memekakkan telinga. Kedua rangkum tenaga yang dahsyat saling beradu. Tubuh
mereka terhuyung-huyung, tetapi kaki mereka tidak bergeser setengah langkah juga.
Kemudian terlihat dua bayangan berkelebat di mana kedua orang ini langsung
memisahkan diri ke samping, disusul berpuluh bayangan lainnya yang melintas ke sana
kemari.
Rupanya ketika kedua orang itu bergebrak, para tamu yang lainnya khawatir akan
terhempas oleh angin yang timbul dari pukulan mereka. Oleh karena itu mereka segera
menggeser serabutan dan keadaan pun menjadi gempar seketika.
Sinar mata Liu Seng terus tertumpu pada diri lawannya. Dia tidak berkedip sama sekali.
Tampaknya Liu Seng juga tidak berani memandang ringan lawannya. Setelah beradu
pukulan satu kali, dia segera menyadari bahwa kekuatan lawannya tidak berada di sebelah
bawah dirinya sendiri. Kali ini dia benar-benar bertemu dengan musuh yang seimbang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Di pihak satunya, Kok Hua-hong seperti mempunyai pikiran yang tersendiri. Sepasang
alisnya terjungkit ke atas. Dalam keadaan yang genting seperti itu, hidungnya mengendus
bau harum daging dan arak. Dalam waktu yang bersamaan, Liu Seng juga mendongakkan
kepalanya. Tampaknya dia juga sudah mempunyai perasaan yang sama. Sebab dia
langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Sementara itu, para tamu yang lainnya juga ikut tertegun. Mungkin mereka juga
sedang terheran-heran. Tiba-tiba terdengar suara tawa terbahak-bahak yang
berkumandang memenuhi seluruh ruangan tersebut. Suara itu demikian keras sehingga
menggetarkan gendang telinga setiap orang yang mendengarnya.
Tampak sesosok bayangan berkelebat. Kibasan lengan baju berkibar- kibar. Di tengahtengah
Liu Seng dan Kok Hua-hong telah berdiri seseorang. Perubahan ini benar-benar di
luar dugaan semua orang. Ketika mata mereka menatap orang tersebut, tidak ada satu
pun yang tidak menunjukkan perasaan terkejut. Tanpa sadar Liu Seng dan Kok Hua-hong
juga sampai mundur dua langkah. Gerakan mereka otomatis terhenti.
****
Bagian 2
Ketika mata mereka beralih, keduanya melihat di hadapan mereka telah berdiri seorang
laki-laki yang sudah tua sekali. Rambutnya sudah putih semua. Pakaiannya penuh
tambalan dan sikapnya sungguh menyebalkan. Tangan kanannya memegang sebuah paha
ayam yang hanya sisa tulangnya saja. Sedangkan tangan kirinya menggenggam sebuah
kendi arak. Mulutnya mengeluarkan suara tawa terkekeh-kekeh.
Melihat kehadiran orang ini, hampir sebagian besar para hadirin mengeluarkan suara
seruan terkejut.
“Po Siu-cu Cian Cong (si lengan koyak Cian Cong)!”
Wajah Liu Seng juga berubah hebat. Tetapi perubahan wajahnya bukan menunjukkan
ketakutan tetapi kegembiraan yang di luar dugaan. Tampang orang ini seperti pengemis,
raut wajahnya seperti monyet. Benar-benar membuat sebal siapapun yang
memandangnya. Tetapi sejak enam puluh tahun yang silam, namanya sudah
menggetarkan dunia Kangouw. Orang ini juga disebut sebagai salah satu dari tokoh
teraneh zaman itu.
Siapa sangka hari ini, enam puluh tahun kemudian, secara di luar dugaan dia bisa
memunculkan diri. Bagaimana hal ini tidak membuat para hadirin terkejut dan gembira?
Dengan tergesa-gesa Liu Seng maju ke depan dan menjura penuh hormat. Belum lagi dia
sempat membuka mulut, Cian Cong sudah mendengus berat, matanya langsung
mengerling ke arah lain.
“Pengemis tua paling benci segala peradatan, pergi sana!” katanya kesal.
Biar bagaimanapun, Liu Seng merupakan tokoh yang sudah berpengalaman. Dia
mengerti tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kongouw ini tidak menyukai
segala macam tata krama. Oleh karena itu dia hanya mengembangkan seulas senyuman
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dan menepi ke samping. Namun sikapnya tetap terlihat penuh hormat kepada Cianpwe
tersebut.
Begitu matanya memandang, dia melihat paha ayam di tangan orangtua ini hanya
tinggal tulangnya saja, tetapi tokoh tersebut masih menggerogotinya dengan nikmat.
Sampai rasanya sudah tidak ada lagi, dia baru rela memasukkannya kembali ke dalam
saku pakaian.
Sepasang matanya yang menyorotkan kilatan cahaya segera beralih kepada para hadirin
kemudian berhenti pada diri Tian Tai Tiau-siu.
“Apakah kau yang bernama Kok Hua-hong dan bergelar Tian Tai Tiau- siu?” tanyanya
dengan nada berat.
Kata-kata ini diucapkan dengan perlahan namun mengandung kewibawaan yang tidak
terkirakan. Hati Kok Hua-hong langsung berdebar-debar. Perasaannya menjadi tidak
tenang. Tetapi dia berusaha menenangkan hatinya yang kacau.
“Aku memang Kok Hua-hong. Entah Locianpwe ada petunjuk apa?”
Sepasang alis Cian Cong tampak berkerut. Tampaknya dia mempunyai masalah yang
berat yang tidak dapat dipecahkannya. Sejenak kemudian terlihat dia menyunggingkan
seulas senyuman.
“Mengherankan! Pengemis tua sudah lama sekali berkecimpung di dunia persilatan. Hal
aneh apapun sudah pernah aku jumpai. Tetapi tidak ada yang lebih aneh dari kejadian
malam ini!”
Mendengar ucapannya, hati Kok Hua-hong semakin kalut. Wajahnya berubah hebat
seketika. Tanpa sadar kakinya mundur dua langkah. Melihat gayanya, rasanya dia sudah
menghimpun tenaga dalam dan siap melancarkan serangan.
Sinar mata Cian Cong kembali beredar kepada para hadirin. Dia mengeluarkan suara
tertawa yang terbahak-bahak. Kepalanya menoleh ke arah dinding pekarangan yang
tinggi.
“Hei, turunlah!” teriaknya dengan suara lantang.
Baru saja ucapannya selesai, dari atas dinding pekarangan melayang turun seseorang.
Gerakannya sangat cepat. Tubuhnya mendarat di atas tanah tanpa menimbulkan suara
sedikitpun. Kepalanya ditutupi dengan sebuah topi pandan. Di pundaknya memanggul
sebatang kail yang panjang. Siapa lagi kalau bukan Tian Tai Tiau-siu Kok Hua-hong?
Begitu mata para hadirin memandang ke arah yang sama, tanpa sadar mereka mengeluarkan
suara terkejut dalam waktu yang bersamaan. Benar-benar mengherankan! Aneh
sekali! Kalau saja mereka tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu mereka
tidak akan percaya bahwa keanehan yang terlihat itu adalah kenyataan. Namun buktinya
sudah terpampang jelas di depan mata.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dua orang Tian Tai Tiau-siu yang persis sama. Sekarang mereka berdiri berhadapan.
Biarpun mereka membelalakkan mata selebar-lebarnya, tetap saja sulit menemukan
perbedaan di antara mereka. Entah yang mana yang asli dan mana yang palsu!
Untuk sesaat terjadi kegemparan di antara para hadirin. Puluhan pasang mata menoleh
ke kiri dan ke kanan. Semakin dilihat hati mereka semakin bingung. Wajah mereka pun
menyorotkan sinar tertegun. Sahabat lama Tian Tai Tiau-siu sekalipun, tetap merasa heran
dan tidak dapat membedakannya.
Suasana tidak mencekam seperti tadi lagi namun hati para hadirin masih menyimpan
ketegangan yang dalam. Tiba-tiba terdengar suara tawa yang dingin dari mulut Cian Cong.
“Siapa kau sebenarnya?” tokoh itu membentak dengan suara marah.
Yang ditudingnya tentu saja Tian Tai Tiau-siu yang tadi bergebrak dengan Liu Seng.
Tampak wajah orang itu beberapa kali berubah dalam waktu yang sekejap saja. “Aku
adalah aku, memangnya siapa lagi?”
sahutnya tenang. Di dalam nada suaranya tetap terkandung keangkuhan.
Tampaknya Cian Cong tidak menduga akan diberikan jawaban yang demikian. Dia
menjadi tertegun seketika. Tiba-tiba dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahakbahak.
“Meskipun si pengemis tua ini paling membenci kejahatan, tetapi lebih benci lagi
terhadap orang-orang yang suka menyembunyikan diri seperti kura-kura. Saudara bukan
saja menyembunyikan kepala memperlihatkan ekor, malah sikapmu itu demikian sombong.
Benar-benar membuat mata tua ini tidak sanggup melihatnya lebih lama!”
Orang itu hanya mendengus sekali. Tampaknya dia sedang berpikir bagaimana menjawab
perkataan tokoh tua tersebut. Cian Cong segera membuang muka dan mencibirkan
bibirnya.
“Kau tidak perlu memutar otakmu lagi. Lebih baik biarkan si pengemis tua ini yang
mengatakan identitas dirimu. Iblis nomor satu Cian bin mo-ong yang namanya
menggetarkan hati setiap sahabat dunia Kangouw, aku rasa tidak salah lagi pasti kau
adanya!”
Tampaknya orang itu terkejut sekali. Tanpa sadar kakinya sampai mundur satu langkah.
“Bagaimana kau bisa tahu?”
Cian Cong tertawa dingin.
“Kau sudah mengaku? Si pengemis tua ini mempunyai keahlian melihat raut wajah
orang. Urusan sekecil ini saja tidak mungkin dapat mengelabui mata tua ini!” dia
merandek sejenak. Hatinya seperti sedang diliputi kebimbangan. “Enam puluh tahun
sudah, bukan saja si pengemis tua tidak melanggar ketentuan dunia Bulim, si pengemis
tua ini juga pantang membunuh. Tetapi demi Cian bin mo-ong, terpaksa aku
berkecimpung lagi di dunia Kangouw dan membuka pantangan demi kesejahteraan orang
banyak…!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Belum lagi ucapannya selesai, tiba-tiba tampak Cian bin mo-ong mengangkat lengan
bajunya untuk menutupi bagian wajah. Dengan perlahan-lahan dia membalikkan tubuh
dan memutar satu kali. Ketika tubuhnya balik pada posisi semula, tangannya pun
diturunkan. Para hadirin terkejut setengah mati.
Dalam sesaat, dia bukan lagi seorang tua yang berwajah welas asih. Raut wajahnya
sudah berubah menjadi seorang laki-laki setengah baya yang bermata sipit. Wajahnya
garang menyeramkan.
Dalam sekejap mata, dia sudah merias wajahnya dan berganti rupa menjadi orang lain.
Keahlian merias wajah dan kecepatan gerakan tangannya sungguh mengagumkan.
Semuanya terjadi dalam waktu beberapa detik saja.
Tanpa sadar Cian Cong memandang dengan terpesona. Mulutnya langsung mengeluarkan
suara pujian.
“Sungguh ilmu merias wajah yang hebat! Kalau bukan secara kebetulan si pengemis
tua menolong Kok Hua-hong yang jalan darahnya tertotok sehingga tidak sadarkan diri.
Tentu sampai sekarang si pengemis tua masih belum berhasil membongkar kedokmu itu!”
Cian bin mo-ong tertawa sumbang.
Ilmuku yang satu ini, apabila mudah dibuka kedoknya oleh orang lain, tentu aku tidak
akan mendapat julukan “Iblis Seribu Wajah.”
Wajah Cian Cong agak kelam mendengar ucapannya.
“Untuk ilmu yang satu ini, si pengemis tua sudah berterus terang menyatakan
kekagumaan. Tetapi entah bagaimana dengan ilmu silatmu?” tantangnya secara halus.
Sepasang alis Cian bin mo-ong langsung mengerut. Diam-diam dia berpikir di dalam
hatinya…
“Ilmu silatku ini merupakan hasil curian dari kuburan para angkatan tua Ti Ciang Pang.
Selama sepuluh tahun aku telah berlatih tanpa mengenal lelah. Meskipun sejak
berkecimpung di dunia Kangouw, masih belum menemukan tandingan, tetapi sampai di
mana sebetulnya ketinggian ilmu silat yang kumiliki, aku sendiri tidak tahu. Mengapa aku
tidak menggunakan kesempatan ini untuk menguji diriku sendiri? Orang di hadapanku ini
disebut sebagai salah satu dari dua tokoh teraneh di dunia ini. Baik ilmu silat maupun
tenaga dalam pasti sudah mencapai taraf yang hebat sekali. Seandainya aku bisa
mengalahkan orang ini, tentu harapan untuk membalas dendam ayah akan mudah
terlaksana.”
Begitu pikirannya tergerak, dia langsung mengeluarkan seulas senyuman yang mantap.
“Boanpwe justru ingin mencoba meminta pelajaran dari Locianpwe. Tempat ini agak
sempit. Lebih baik kita mengadu kepandaian di luar pekarangan saja!”
Baru saja ucapannya selesai, tidak tahu bagaimana dia menggerakkan kakinya, tahutahu
tubuhnya sudah melesat keluar dari ruangan tersebut dan melayang turun di tengah
pekarangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cian Cong tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya pun menyusul melayang turun di
hadapan Cian bin mo-ong. Gerakan tubuhnya begitu cepat bagaikan kilat. Tidak ada
seorangpun yang melihat bagaimana dia menggerakkan tubuhnya. Hanya sekelebat
bayangan yang melintas di depan mata mereka.
Cian bin mo-ong tahu bahwa orang yang ada di hadapannya adalah salah satu dari dua
tokoh sakti yang telah menggetarkan dunia persilatan. Sinar matanya menatap lekat-lekat.
Dia sama sekali tidak berani memandang ringan lawannya ini. Secara diam-diam dia
menghimpun tenaga dalamnya yang kemudian disalurkan pada kedua belah tangan.
Mata Cian Cong sendiri juga mendelik lebar-lebar. Sinarnya yang tajam tertumpu pada
diri lawan. Dia malah tidak berkedip sama sekali. Sepenggal bulan dengan merayap
perlahan-lahan muncul dari balik awan kelabu. Sinarnya yang redup menyoroti dua sosok
tubuh yang berdiri berhadapan tanpa bergerak sedikitpun. Keduanya bagai dua patung
kayu yang baru saja dibuat oleh orang-orang yang berkumpul di sana.
Tampak kerumunan orang berbondong-bondong keluar dari dalam aula. Mereka
memencarkan diri di sekeliling pekarangan ini. Berpuluh pasang mata dalam waktu yang
bersamaan terpusat pada diri kedua orang yang berdiri berhadapan. Mereka seakan
merasa bahwa waktu berlalu dengan lama sekali dan mereka mulai penat menunggu.
Perlu diketahui bahwa si Lengan koyak Cian Cong merupakan tokoh yang sudah
menggetarkan dunia Kangouw sejak enam puluh tahun yang silam. Kebesaran namanya
maupun kehebatannya, tidak ada seorang ta-mu yang hadirpun dapat menandingi. Mereka
malah dapat dikatakan merupakan dua angkatan lebih muda dari padanya.
Sedangkan, Cian bin mo-ong belum lama muncul di kancah dunia persilatan. Kalau
dihitung-hitung mungkin belum ada setengah tahun. Tetapi tindakannya selama ini yang
tidak kenal ampun terhadap orang-orang yang dianggap sebagai musuhnya, sudah
diketahui oleh para hadirin.
Empat huruf Cian bin mo-ong saja sudah mewakili kericuhan yang terjadi di dunia Bulim
akhir-akhir ini. Kemunculannya bagai badai dahsyat yang melanda. Gelombang ke-kacauan
yang dibuatnya menimbulkan kekuatan yang mengerikan para tokoh dunia Kangouw
sendiri.
Sekarang kedua orang yang tidak tersangka-sangka berdiri berhadapan sebagai musuh.
Yang satu merupakan tokoh aneh yang sudah lama menghilang dari dunia Kangouw,
sedangkan yang satunya merupakan tunas baru tetapi sudah cukup menggemparkan. Saat
itu mereka berdua di hadapkan dengan duel antara hidup dan mati!
Siapa yang akan menang? Siapa yang akan kalah?
Hal ini justru merupakan pertanyaan yang jawabannya sedang dinantikan oleh para
hadirin. Juga merupakan masalah yang ingin segera diketahui oleh mereka semua.
Suasana semakin mencekam. Perasaan setiap orang tanpa terasa dilanda ketegangan.
Setelah terdiam beberapa saat, tampaknya Cian bin mo-ong tidak sabar. Mulutnya
mengeluarkan suara bentakan keras. Dengan gaya kedua tangan menahan di depan dada
dia melancarkan pukulannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Serangannya ini benar-benar dahsyat.
Walaupun gerakan Cian bin mo-ong sendiri tampaknya tidak terlalu gencar namun mengandung
segulung arus tenaga yang menimbulkan angin keras. Rasanya serangannya
kali ini lebih kuat satu tingkat dibandingkan dengan yang pertama ketika bergebrak
dengan Liu Seng tadi.
Cian Cong tertawa dingin. Kedua belah tangannya langsung direntangkan ke depan dan
menyambut datangnya serangan Cian bin mo-ong. Dua gulung tenagapun langsung saling
beradu. Yang satu mengandalkan kekerasan sedangkan yang lainnya menggunakan daya
yang lembut.
Cian bin mo-ong segera merasakan rangkuman tenaga dalamnya yang dahsyat seperti
tertelan oleh tenaga lembut pihak lawan. Tenaganya sendiri seakan buyar seketika.
Hatinya menjadi terkesiap.
“Entah ilmu apa yang digunakan pengemis tua ini. Mengapa tenaga dalamku seperti
buyar begitu menyentuh telapak tangannya dan tidak berwujud sama sekali?” tanyanya
dalam hati.
Meskipun pikirannya tergerak, tetapi dia tidak berhenti begitu saja. Cepat-cepat dia
melangkah mundur tiga tindak kemudian menghimpun tenaganya kembali dengan menarik
nafas dalam-dalam. Setelah itu dia melancarkan lagi sekaligus tiga buah pukulan. Ilmu
silat orang ini merupakan hasil curian dari kuburan para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang.
Kehebatannya benar-benar tidak dapat dibandingkan dengan sembarang orang. Begitu
serangannya dilancarkan, tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan selalu bertambah
kuat dibandingkan dengan yang sebelumnya.
Wajah Cian Cong semakin serius. Tampak tubuhnya berkelebat dan dia berhasil
menghindarkan diri dari dua pukulan Cian bin mo-ong. Kemudian mulutnya mengeluarkan
suara bentakan keras. Tangannya terangkat ke atas dan disambutnya serangan ketiga dari
lawannya. Pukulannya kali ini mengandung tenaga dalam yang telah dilatihnya selama
puluhan tahun. Dia memang sengaja mengadu dengan kekerasan. Maksudnya ingin
menguji sampai di mana kekuatan Cian bin mo-ong itu sebetulnya.
Kejadiannya hanya sekejap mata. Kecepatannya membuat mata para hadirin berkunang-
kunang. Begitu serangannya yang terakhir dilancarkan, Cian bin mo-ong segera
merasakan telapak tangannya seakan membentur lempengan baja. Getarannya membuat
pergelangan tangannya menjadi sakit. Serangkum tenaga tidak berwujud seperti menolak
dari pukulan Cian Gong. Hatinya terkejut sekali. Keringat menetes dari keningnya. Tibatiba
dia merasa hempasan angin yang terbit dari pukulan lawannya dengan perlahan
menyentuh bagian dadanya. Langkahnya menjadi goyah seketika. Tubuhnya terhuyunghuyung
tanpa dapat dikendalikan.
Begitu kedua telapak tangan saling membentur, mereka sama-sama menyadari tenaga
dalam siapa sebetulnya yang lebih tinggi. Terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Cian bin mo-ong yang menggetarkan dunia Bulim, toh tidak lebih dari sedemikian saja.
Coba sambut lagi tiga pukulan si pengemis tua ini!” bentaknya dengan suara keras.
Ucapannya selesai, tiga jurus langsung dilancarkan. Rupanya dari benturan tadi dia
sudah dapat memaklumi sampai di mana ketinggian ilmu silat orang tersebut. Tenaga
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dalam yang dilancarkan oleh Cian bin mo-ong memang dahsyat tidak terkirakan. Tetapi
sebetulnya hanya merupakan tong kosong yang nyaring bunyinya. Begitu membentur
tenaga yang lebih kuat, maka tenaga dalam orang itu pun melemah bagai semangka yang
hampir membusuk, dapat dilihat tetapi tidak enak dimakan. Tampaknya kekuatan tenaga
dalam orang ini tidak dilatih sebagaimana mestinya sehingga kekuatannya tidak dapat
menambal kelembutan tenaga dalam yang dilancarkan oleh Cian Cong tadi. Dia belum
mencapai tahap di mana kelembutan dan kekerasan dapat disatukan. Itulah sebabnya
Cian bin mo-ong tidak dapat mengendalikan keseimbangannya begitu terhantam pukulan
Cian Cong sehingga tubuhnya menjadi ter-huyung-huyung dan hampir terjatuh di atas
tanah.
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan yang riuh timbul dari kerumunan para penonton.
Mereka merasa kagum sekali terhadap ilmu silat yang dikuasai oleh Cian Cong.
Tanpa sadar mereka mengeluarkan suara pujian dan rasanya ingin sekali meminta tokoh
tua tersebut untuk sekali hantam dengan keras di mana Cian bin mo-ong akan terbunuh
seketika. Tentunya hal ini akan membuat perasaan mereka gembira tidak terkirakan.
Pertarungan ini sungguh sulit ditemui untuk kedua kalinya. Mereka yang sedang berhadapan
merupakan orang-orang yang namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw
meskipun dalam penilaian yang berbeda. Mata mereka sampai berkunang-kunang menyaksikannya.
Sedangkan perasaan dalam hati tetap dilanda ketegangan, ketakutan
bahkan kekaguman. Tingginya ilmu silat Cian bin mo-ong benar-benar di luar dugaan
mereka. Apabila malam ini tidak ada tokoh tua seperti Cian Cong yang menampilkan diri,
entah apa akibat yang akan mereka hadapi.
Dalam sekejap mata, lima puluhan jurus telah berlalu. Boleh dikatakan hal ini cukup
mengherankan. Meskipun Cian bin mo-ong kehilangan tenaga dalam untuk menghadapi
lawannya, namun setiap kali dalam keadaan terdesak dia langsung menjalankan sebuah
jurus yang aneh. Hal ini membuat tokoh tua Cian Cong terpaksa menarik kembali
serangannya dan kehilangan kesempatan melukai musuhnya.
Memang aneh sekali. Gerakan yang dilakukan orang itu tidak sama dengan umumnya.
Begitu melihat datangnya serangan, dia tidak mengulurkan tangan untuk menahan
maupun memukul. Bahkan bagian tubuh yang seharusnya dilindungi dibiarkan terbuka.
Hanya pergelangan tangannya yang bergerak sedikit namun mengandung kekuatan yang
aneh. Sehingga setiap kali Cian bin mo-ong melancarkan jurus tersebut, mau tidak mau
Cian Cong berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Dia tidak berani
mencoba-coba meskipun kekuatan orang itu meragukan. Dengan demikian serangannya
pun terpaksa ditarik kembali.
Rupanya Cian bin mo-ong memang merupakan bocah cilik yang dikisahkan pada awal
cerita ini, Tan Ki. Setelah mendapat petunjuk dari orangtua yang pernah ditolongnya, dia
langsung menempuh bahaya menyelinap ke goa di mana para Ciang Bunjin Ti Ciang Pang
dikuburkan.
Akhirnya dia memang berhasil masuk ke dalam goa tersebut bahkan sempat mencuri
belajar enam puluh empat jenis ilmu silat yang tersimpan di dalamya. Saat itu usianya
masih belia sekali. Melihat sebatang seruling kuno yang ada di sana, dia langsung
mengambilnya dan menyimpannya secara diam-diam, terhadap benda pusaka ataupun
harta benda lainnya dia tidak tertarik sama sekali. Selama puluhan tahun, dia melatih
semua ilmu itu satu per satu sampai berhasil. Hanya ada sebuah kitab pelajaran silat yang
membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Kitab itulah yang tidak berhasil dipelajarinya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Namun berkat kecerdasan otaknya dia dapat menghapalkan isi kitab tersebut secara luar
kepala.
Ti Ciang Pang sudah berdiri selama enam puiuh empat angkatan. Ciang Bunjin yang
sekarang, Lok Hong merupakan ketua angkatan keenam puluh empat. Dia masih hidup
dalam keadaan segar bugar dan otomatis tidak mungkin dibawa ke goa kuburan tersebut
untuk menanti kematian. Biasanya para tokoh di dunia Bulim selalu mengumpulkan semua
ilmu kepandaiannya di dalam satu jilid kitab. Jarang ada orang yang menuliskannya
sampai dua jilid.
Sekarang Ti Ciang Pang sudah berlangsung selama enam puluh empat generasi. Ketua
yang telah meninggal seluruhnya berjumlah enam puluh tiga orang. Tetapi terangterangan
Tan Ki mendapatkan enam puluh empat jilid kitab ilmu silat. Hal ini menandakan
bahwa di dalam goa kuburan itu sebenarnya telah kelebihan satu jilid kitab.
Kitab yang lebih itu, justru merupakan kitab ilmu pernafasan yang tidak dapat dipahami
oleh Tan Ki. Bukan anak muda itu saja yang tidak mengerti akan hal ini, bahkan Lok
Hong sebagai Ciang Bunjin generasi keenam puluh empat sendiri tidak mengetahuinya.
Kitab ini sebetulnya sangat tipis. Halamannya hanya berjumlah delapan belas lembar.
Delapan halaman yang di depannya merupakan ilmu pernafasan dari perut. Meskipun Tan
Ki mengerti membaca dan menulis. Tetapi karena tidak ada orang yang memberi petunjuk
kepadanya, maka dia tidak dapat memahami secara mendalam. Apalagi sepuluh lembar
belakangnya yang terdiri dari dua macam ilmu silat. Yang pertama bernama Tian Si Samsut
(Tiga jurus bentangan langit) dan yang kedua bernama Te Sa Jit-sut (Tujuh jurus
hamparan tanah).
Tampaknya kedua ilmu tersebut merupakan pelajaran silat tingkat tinggi. Meskipun
karena adanya gambar-gambar yang menerangkan cara menjalankan Tian Si Sam-sut,
maka dia bisa belajar sedikit-sedikit, tetapi terhadap Te Sa Jit-sut dia benar-benar buta
sama sekali. Hal ini bukan berarti dia tidak mencobanya. Selama sepuluh tahun entah
sudah beribu kali dia mencoba menguraikan ilmu tersebut, tetapi tampaknya dia tidak
mendapatkan hasil apa-apa.
Saat ini dia terdesak oleh pukulan yang dilancarkan oleh Cian Cong sampai kalang
kabut. Keadaannya sudah gawat sekali. Dia sadar apabila diteruskan, tentu dirinya akan
celaka. Berbagai macam ilmu yang pernah dipelajarinya tetap tidak berhasil melumpuhkan
serangan tokoh tua itu. sehingga tanpa sadar dalam keadaan terpaksa, tanpa perduli ada
manfaatnya atau tidak, secara serampangan dia menjalankan Tian Si Sam-sut tersebut.
Siapa sangka ketiga jurus bentangan langit itu justru merupakan ilmu perlindungan diri
tahap tertinggi. Walaupun asal tubruk, nyatanya hasilnya tepat sekali. Cian Cong
merasakan berpuluh jari tangan melintas di depan matanya. Dia sama sekali tidak
mendapat akal untuk memecahkan serangan tersebut. Dengan demikian dia terpaksa
menarik kembali pukulan yang dilancarkannya tadi. Biarpun dia berusaha menyerang
kembali, kejadiannya tetap menimbulkan hasil yang sama.
Meskipun ilmu yang dikerahkan oleh Tan Ki hanya terdiri dari tiga jurus, tetapi bolakbalik
dia tetap dapat menghindarkan diri dari serangan Cian Cong. Dengan demikian
ratusan jurus telah berlalu tanpa mereka sadari.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagi Cian Cong sendiri, semakin dilanjutkan hatinya semakin penasaran, semakin lama
dia semakin terkejut. Dengan nama besar yang telah dipupuknya selama ini dia telah
dijuluki salah satu dari dua tokoh tersakti di dunia Kangouw saat ini, tetapi tetap tidak
sanggup mengalahkan Cian bin mo-ong. Kemungkinan besar, di dalam dunia Kangouw
saat ini, kecuali beberapa tokoh yang sudah mengasingkan diri, tidak ada orang lagi yang
sanggup menandinginya.
Meskipun dia tahu bahwa ilmu silat Cian bin mo-ong cukup tinggi tetapi belum terlatih
secara sempurna, namun dia tidak tahu kalau orang ini masih mempunyai dua macam
ilmu simpanan yang merupakan gabungan yang dahsyat. Seandainya Tan Ki berhasil
mempelajari kedua macam ilmu tersebut. Kemungkinan besar di dunia Kangouw tidak ada
orang lagi yang sanggup menandinginya.
Sayangnya Tan Ki sendiri tidak tahu bahwa ilmu Te Sa Jit-sut adalah sejenis ilmu yang
sangat hebat. Malah terhadap Tian Si Sam-sut, dia hanya mengerti kulit luarnya saja.
Sementara itu, pikiran si pengemis sakti Cian Cong segera tergerak, hawa pembunuhan
pun memenuhi hatinya. Dia langsung mengangkat lengan kanannya. Dari mulutnya
terdengar suara bentakan yang keras dan sebuah pukulan pun dihantamkan ke depan.
Orang ini sudah hampir enam puluh tahun mengasingkan diri di pegunungan yang
sunyi. Setiap hari dia berlatih ilmu silat dan mencoba menyingkap setiap rahasia ilmu yang
ada di dunia ini. Serangannya kali ini dilancarkan dengan tenaga yang telah dilatihnya
selama ini sehingga kehebatannya bisa dibayangkan.
Dalam waktu yang singkat segera terdengar jeritan mengerikan yang berkumandang
memekakkan telinga. Tubuh Tan Ki langsung terpental hingga jauh dan memuntahkan
darah segar sebanyak dua kali sebelum menghempas tanah.
Dia sudah kalah. Namun kekalahannya dialami dengan kegemilangan. Pengemis sakti
Cian Cong sudah lama menggetarkan dunia Kangouw. Sebagai seorang anak muda yang
baru berkecimpung di dunia persilatan, kekalahan yang dialami Tan Ki sama sekali tidak
memalukan.
Pada wajah setiap tamu yang hadir malam itu, terlihat sinar kegembiraan. Bibir mereka
menyunggingkan seulas senyum kepuasan. Tampaknya kematian Tan Ki membawa ketenangan
dan keriangan yang luar biasa pada diri mereka.
Hanya wajah Cian Cong yang bertambah kelam. Dia berdiri di tempatnya tanpa bergeming
sama sekali. Hatinya sangat menyayangkan. Seorang tunas muda berilmu tinggi
harus mengorbankan nyawa di bawah telapak tangannya. Entah berapa banyak ilmu yang
harus hilang karena kematian orang ini.
Sekelompok awan kelabu tiba-tiba melintas di atas kepala para hadirin. Keadaan di
pekarangan tersebut pun menjadi gelap seketika. Dalam hati para tamu menyelinap
serangkum firasat yang tidak enak. Jangan-jangan Cian bin mo-ong masih belum mati,
pikir mereka di dalam hati.
Mata mereka segera beralih. Entah sejak kapan, dengan susah payah Tan Ki sudah
merangkak bangun. Di sudut bibirnya masih terlihat bekas darah yang mengalir. Dia sama
sekali tidak bermaksud menghapusnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Malam yang gelap menimbulkan perasaan yang mencekam di dalam hati. Tampang Tan
Ki saat itu malah menambah keseraman suasana malam itu. Tanpa sadar para hadirin
melangkah mundur tiga tindak. Tubuh mereka menggigil dan bulu kuduk mereka
meremang.
Biar bagaimana pun, nama Cian bin mo-ong masih juga membuat hati mereka tergetar,
meskipun pada saat itu dia sedang terluka parah. Dengan sebuah telunjuk saja sia-papun
dapat mendorongnya hingga terjatuh di atas tanah, tetapi kebesaran nama Cian bin moong
selama setengah tahun ini telah menanamkan semacam kengerian di dalam sanubari
mereka. Hal ini membuat mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa.
Tepat pada saat itu, Ciong San Suang-siu, Yi Siu dan si gemuk pendek Cu Mei tampak
melayang keluar dari kerumunan orang banyak. Sepasang alis Tan Ki langsung terjungkit
ke atas.
“Apa yang akan kalian lakukan?” tanyanya dengan nada dingin dan ketus.
Suaranya demikian lemah seakan tidak mengandung tenaga sama sekali, tetapi nadanya
tetap dingin dan angkuh. Mendengar kata-katanya, Yi Siu langsung tertawa lebar.
“Hengte tidak tahu diri, ingin meminta pelajaran barang beberapa jurus dari saudara.”
“Aku… aku sedang terluka parah…”
“Masa? Kalau begitu malah kebetulan sekali. Hengte tidak perlu mengeluarkan tenaga
banyak untuk membunuhmu. Hal ini malah memudahkan pekerjaanku, lagipula sejak hari
ini dunia Bulim akan tenang kembali.” selesai berkata, tangan kanan Yi Siu langsung
terangkat ke atas. Tenaga dalam sudah disalurkan pada telapak tangan dan dia
bermaksud melancarkan pukulannya.
Tiba-tiba sepasang mata Tan Ki membelalak lebar-lebar. Sinar matanya menyorotkan
cahaya kilat yang tajam dan mendelik ke arah Yi Siu. Di dalam matanya seakan
terkandung kewibawaan yang besar dan kekuatan yang aneh. Hati Yi Siu tergetar
dibuatnya. Tanpa sadar kakinya mundur satu langkah.
Tampak bibir Tan Ki menyunggingkan seulas senyuman yang dingin.
“Membunuh seseorang yang tidak sanggup memberikan perlawanan, termasuk pendekar
macam apa kau ini?”
Dalam keadaan emosi, Yi Siu sama sekali tidak memikirkan persoalan ini. Sekarang dia
menjadi tertegun.
“Betul! Lohu selalu menganggap diri sendiri sebagai pendekar yang menjunjung tinggi
keadilan. Sekarang Cian bin mo-ong sedang terluka parah. Biarpun dia seorang manusia
yang dosanya tidak terampunkan, Lohu juga tidak boleh membunuhnya begitu saja. Hal ini
tentu akan menjadi bahan tertawaan para sahabat dunia Kangouw lainnya.” katanya
dalam hati.
Pikirannya masih bergerak, hatinya sudah mulai bimbang. Tepat pada saat itu terdengar
kembali suara Tan Ki…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Seandainya saudara takut akan pembalasan dendam di hari nanti, lebih baik mencabut
rumput sampai ke akar-akarnya dari sekarang juga. Jangan sampai setiap malam
saudara di datangi mimpi buruk. Angin bertiup, rumputpun akan tumbuh kembali.”
Yi Siu merenung sesaat. Akhirnya dia tersenyum.
“Kau tidak perlu menggunakan tipu muslihat untuk memanas-manasi hatiku. Dilepaskan
atau tidaknya dirimu, ada Cian locianpwe yang akan menentukan. Juga ada Liu
heng sebagai tuan rumah yang lebih berhak memutuskan. Hal ini bukan hengte yang
dapat menentukan.” dengan perlahan-lahan dia menarik tangan Cu Mei dan mengajaknya
mengundurkan diri ke tempat semula.
Mendengar ucapannya, diam-diam Liu Seng mendengus di dalam hati.
‘Bagus benar, dengan beberapa patah kata saja kau mengelakkan diri dan menjatuhkan
tanggung jawab pada diriku.’ katanya membathin.
Setelah merenung sesaat, Liu Seng langsung menjura kepada Cian Cong.
“Bagaimana menyelesaikan masalah ini, boanpwe serahkan saja kepada locianpwe.”
katanya.
Begitu matanya memandang, dia melihat Tan Ki sudah membalikkan tubuh dan meninggalkan
tempat itu dengan langkah terhuyung-huyung. Kakinya seperti berat sekali
sehingga jalannya pun sangat lambat.
Para tamu yang menatap kepergiannya merasa kesal tapi tidak berani mengucapkan
sepatah katapun. Mereka harus memandang muka Cian Cong dan lagipula masih tergetar
akan kebesaran nama Cian bin mo-ong. Nyatanya tidak ada seorangpun yang berani turun
tangan menghalangi kepergiannya.
Berpuluh pasang mata menatap kepergiannya. Sesosok bayangan punggung yang tegar
menjauh dengan perlahan-lahan. Diam-diam hati Cian Cong merasa kesepian yang tidak
dapat dijelaskan. Dia menarik nafas dalam-dalam.
“Biarkanlah dia pergi. Orang ini sudah terhantam pukulanku. Isi perutnya sudah terluka
parah. Meskipun dia dapat merawatnya sampai sembuh. Dalam jangka waktu tiga bulan,
belum tentu ilmu silatnya dapat pulih seperti sedia kala. Untuk sementara ini tidak perlu
khawatir dia akan berbuat sesuatu yang menggemparkan…”
Sepasang alis Liu Seng tampak berkerut.
“Bagaimana kalau sudah lewat tiga bulan?” tanyanya penasaran.
Cian Cong tertawa bebas.
“Si pengemis tua sudah mempunyai pikiran tersendiri untuk mengatasi masalah ini.
Untuk sementara kalian tidak perlu banyak bertanya.” selesai berkata, dia tidak menunggu
jawaban dari Liu Seng lagi, orang-tua itu langsung membalikkan tubuh dan keluar dari
pekarangan tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liu Seng dan Ciong San Suang-siu saling lirik sekilas. Bibir mereka menyunggingkan
seulas senyuman pahit, tetapi langkah kaki mereka justru menuju ke dalam ruangan.
***
Di bawah cahaya rembulan yang redup, sesosok bayangan tampak bergerak perlahan.
Dia adalah Cian bin mo-ong, si anak muda Tan Ki!
Saat itu dia masih belum merubah wajahnya yang asli. Tampangnya masih jelek dan
menyeramkan. Sungguh membuat hati sia-papun yang melihatnya menjadi muak. Dalam
keadaan seperti itu dia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk merubah riasan
wajahnya.
Meskipun dia memiliki kepandaian yang tinggi dalam ilmu merias wajah, tetapi dia tidak
bisa menutupi rasa sakit yang diderita akibat luka dalamnya yang parah. Di bawah sorotan
cahaya rembulan, tampak keringat dingin menetes terus dari keningnya.
Tan Ki merupakan seorang manusia berhati baja. Dengan menggertakkan gerahamnya
erat-erat, dia terus mempertahankan diri melangkah. Hatinya terus mengeluh.
“Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh tumbang begitu saja. Masih banyak urusan
yang harus aku selesaikan…! Kalau aku sampai terjatuh, maka selamanya aku tidak akan
sanggup bangun lagi…”
Dengan membawa tekad yang membara, persis seperti sewaktu dia mendaki puncak
gunung yang menuju goa kuburan Ti Ciang
Pang, dia terus melangkah tanpa memperdulikan rasa sakit yang semakin terasa. Kakinya
limbung, tubuhnya gontai dan terhuyung-huyung. Dia sendiri tidak tahu arah mana
yang ditempuhnya. Dia hanya mengikuti langkah kakinya saja…
Perlahan-lahan dia mulai merasakan sepasang matanya berkunang-kunang. Pandangannya
menjadi tidak jelas. Benda-benda pada jarak tiga cun saja sudah tidak terlihat
lagi olehnya. Apa yang tertangkap oleh bola matanya hanya bayangan-bayangan.
Dewa kematian seakan telah menggapaikan tangan memanggilnya dan mendekatinya
dengan perlahan-lahan. Dia merasa tidak ada kekuatan lagi. Meskipun niatnya tetap
bergejolak, namun tenaganya sudah terkuras habis. Dia benar-benar tidak sanggup lagi…
Kakinya masih diseret selangkah demi selangkah. Dia menggertakkan giginya erat-erat.
Dia masih berusaha meneruskan langkah kakinya. Dicobanya membusungkan dada,
tubuhnya malah mengayun-ayun. Akhirnya
dia terjatuh juga di atas tanah. Dia jatuh tidak sadarkan diri!
****
Entah berapa lama sudah berlalu. Perlahan-lahan dia mulai sadar. Indera penciumannya
segera mengendus serangkum keharuman yang menyegarkan. Matanya mulai
membuka, lambat-lambat dia membiasakan diri. Akhirnya dia melihat dirinya berada dalam
sebuah kamar yang mewah. Saat itu dia sedang terbaring di atas tempat tidur dan ditutupi
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sehelai selimut yang tebal. Ruangan itu sendiri ditata dengan apik. Suasananya membuat
orang tidak ingin meninggalkan kamar tersebut.
Yang anehnya, di sebelah kiri meja ukiran terdapat pula sebuah meja rias. Tentunya
kamar ini milik seorang gadis. Tan Ki demikian terkejutnya melihat kenyataan ini.
‘Mengapa aku bisa berada di dalam kamar ini?’ tanyanya dalam hati.
Perlahan-lahan dia membangkitkan tubuhnya dan berusaha bangun. Namun serangkum
rasa nyeri yang tidak terkatakan langsung terasa olehnya. Seluruh tulang belulang dalam
tubuhnya bagai patah berserakan. Aliran darahnya terasa ngilu bagai dirayapi ribuan
semut. Tanpa tertahankan lagi, dia menjerit kesakitan.
Kejadiannya hanya sekejap mata. Namun keningnya langsung dibasahi keringat dingin
saking sakitnya. Nafasnya sampai tersengal-sengal. Tiba-tiba, telinganya menangkap nada
suara yang merdu…
“Kau sudah sadar?”
Kata-kata ini diucapkan dengan nada lembut. Orang yang mendengarnya serasa terbuai
dan mendapat perhatian yang besar. Perlahan-lahan Tan Ki mendongakkan
wajahnya. Orang yang berdiri di hadapannya ternyata seorang gadis yang cantik jelita!
Dandanannya tidak menyolok, bentuk alisnya indah, matanya bersinar lembut, begitu
cantiknya sampai sulit diuraikan menjadi kata-kata. Penampilan gadis itu begitu polos
sehingga membuat dirinya semakin menawan.
Hati Tan Ki menjadi terlonjak. Wajahnya menjadi merah padam. Dia menganggap
dirinya sebagai seorang pendekar sejati. Tetapi dia justru begitu tidak sopan memandang
seorang gadis dengan terpana. Dia merasa malu dengan sikapnya sendiri sehingga cepatcepat
memalingkan wajahnya dan tidak berani memandang lagi.
Gadis itu mencibirkan bibirnya. Terdengar suara tawanya yang halus.
“Rupanya kau ini pemalu juga,” katanya.
Tan Ki merasa telinganya menjadi panas. Kepalanya ditundukkan rendah-rendah.
“Di mana ini?” tanyanya lirih.
“Tentu saja rumahku. Siang tadi aku menemukan kau tergeletak pingsan di taman.
Cepat-cepat kupanggil pelayan untuk menggotongmu ke mari. Suhu pernah mengatakan
bahwa menolong orang adalah perbuatan yang baik…”
Tan Ki memaksakan seulas senyuman di bibirnya.
“Terima kasih atas bantuan kouwnio, kelak pasti akan kubalas.” baru berkata sampai di
situ, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu. Tanpa sadar bibirnya mengeluarkan
seruan, dia langsung mengangkat tangan dan meraba wajahnya.
Perbuatan yang tidak terduga-duga itu membuat sang gadis terkejut sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Apa yang tidak beres?” tanyanya gugup.
Tampak Tan Ki menghela nafas lega.
“Tidak apa-apa.”
Dia memang ahli sekali dalam ilmu merias wajah. Dia dapat merubah wajahnya hanya
dalam waktu beberapa detik saja. Tetapi obat itu hanya dapat dipergunakan dalam jangka
waktu dua belas kentungan. Selewatnya waktu itu, dia akan kembali pada wajah aslinya.
Sedangkan Tan Ki tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadarkan diri. Barusan
ingatan itu terlintas di benaknya, untung saja daya kerja obat itu masih belum luntur.
Wajahnya saat itu masih jelek dan menyeramkan seperti sebelumnya.
Terdengar suara tawa yang merdu dari mulut gadis itu.
“Mengapa kau bisa terluka?” Sikap gadis ini sangat wajar. Suara tawanya bagai irama
lonceng yang merdu. Keseluruhan dirinya sangat mempesona. Hati Tan Ki jadi berdebardebar.
Semacam perasaan yang sulit dilukiskan menyelinap di sanubarinya. Cepat-cepat
dia menenangkan perasaannya.
“Cayhe terluka oleh pukulan si Lengan Koyak Cian Cong,” sahutnya lirih.
“Aduh… memangnya kau anggap siapa Cian Locianpwe itu, mengapa kau sampai
berkelahi dengannya? Setahuku, dia paling membenci kejahatan dan selalu membela kebenaran.
Kalau begitu, tentunya kau ini orang jahat…”
“Di bilang terlalu baik, tidak, tetapi juga tidak terlalu jahat.” sahut Tan Ki.
Mendengar kata-katanya, gadis itu langsung tertawa cekikikan.
“Cara bicaramu lucu juga,” begitu tertawa, tampaklah dua baris giginya yang putih bersih.
Bentuknya juga indah dan di bawah sorotan cahaya lampu minyak yang terdapat di
atas meja malah tampak berkilauan.
Rupanya hari sudah menjelang malam. Sinar mata Tan Ki bertemu dengan pandangan
gadis itu. Perasaan yang aneh tadi kembali merayap dalam hatinya. Perasaannya menjadi
bergejolak, pikirannya seperti melayang-layang sehingga dia sendiri tidak tahu pasti apa
yang sedang melintas di benaknya.
Justru ketika dia sedang termenung-menung itulah, terdengar kembali suara tawa gadis
itu yang merdu.
“Aku ada sedikit urusan dan ingin keluar sebentar. Apabila kau menginginkan sesuatu,
kau boleh berteriak saja. Oh ya, namaku Mei Ling…” tiba-tiba dari luar terdengar suara
langkah kaki yang membuat kata-katanya terputus.
Angin yang berhembus membawa serangkum keharuman yang lain. Tahu- tahu di
dalam kamar itu sudah bertambah seorang gadis yang juga sangat rupawan. Sepasang
alisnya lebat dan hitam. Pinggangnya kecil sekali seperti bisa putus apabila dia melenggok
terlalu kencang. Penampilannya lebih lincah dan matanya berbinar-binar. Dia memakai
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
gaun panjang dengan motif kembang-kembang. Tampak dandanannya seperti seorang
hamba pelayan.
Mei Ling tersenyum-senyum, jari telunjuknya menuding ke arah gadis tersebut namun
wajahnya menatap Tan Ki.
“Dia bernama Cen Kiau-hun. Kedudukannya memang disebut pelayan, tetapi hubu-ngan
kami sudah seperti saudara kandung. Sejak kecil kami dibesarkan bersama-sama.” katanya
menjelaskan.
Tampaknya pelayan bernama Kiau Hun itu tidak suka melihat tampang Tan Ki yang
jelek. Sepasang alisnya mengerut ke atas.
“Dia toh sudah sadar, mengapa tidak disuruh pergi saja?” gerutunya sebal.
“Aku sudah mencekokinya dengan tiga butir pil Siau Fan-tan. Meskipun orangnya sudah
sadar, tapi luka dalamnya belum sembuh sama sekali. Walaupun dia dapat berjalan,
tetapi lukanya parah sekali. Di mana dia dapat mencari tempat peristirahatan yang tenang.
Apalagi tidak ada orang yang merawatnya. Bukankah sama saja kau menyuruh dia
menunggu kematian?” sahut Mei Ling.
Kiau Hun terlihat panik sekali mendengar kata-katanya.
“Aduh, Siocia… membiarkan dia di tempat ini bukan jalan yang baik. Nanti kalau Suhu
datang…” dia seperti teringat akan sesuatu yang tidak boleh dibicarakan. Kata-katanya jaili
terhenti seketika.
“Benar… mengapa aku sampai melupakan hal ini? Seumur hidupnya, Suhu paling benci
orang laki-laki. Kalau sampai dia melihat orang ini, tentu urusannya bukan main-main lagi.
Jadi… kita harus bagaimana?” sahu Mei Ling gugup.
Kiau Ilun merenung sejenak. Tiba-tiba matanya bersinar terang.
“Aku ada akal, tapi… terpaksa membiarkan dia menderita beberapa saat.” baru saja
ucapannya selesai, dia maju dua langkah, dengan mendadak tangannya terulur dan
menotok.
Gerakan tangan gadis ini sangat cepat. Tetapi kalau pada hari biasa, mungkin Tan Ki
masih bisa mengelakkannya, namun ke-adannya sekarang sedang terluka parah.
Tubuhnya tidak dapat digerakkan dengan leluasa.
Tiba-tiba dia merasa dua urat darah di bagian pinggangnya seperti kesemutan, belum
lagi sempat mulutnya mengeluarkan suara keluhan, orangnya sudah jatuh tidak sadarkan
diri. Kiau Hun telah menotok urat nadi bisu dan tidurnya. Dengan bekerja sama, mereka
berdua menggotong tubuh Tan Ki dan menyelusupkannya ke bawah tempat tidur. Setelah
itu alas tempat tidur tersebut dirapikan kembali sehingga tubuh Tan Ki tidak terlihat sama
sekali.
Kiau Ilun langsung tertawa terkekeh-kekeh.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Biar dia tidur dengan nyenyak. Lagipula dia juga tidak dapat bersuara. Meskipun
pendengaran Suhu sangat tajam, juga tidak mungkin mengetahui bahwa ada orang yang
disembunyikan di bawah kolong tempat tidur.”
Keduanya pun tersenyum dengan saling berpandangan.
***
Keesokan paginya, kedua gadis itu mengantarkan kepergian Suhunya sampai di depan
halaman. Setelah itu mereka masuk kembali ke dalam kamar dan menyeret Tan Ki keluar
dari kolong tempat tidur.
Begitu mata mereka memandang, keduanya langsung berseru terkejut. Bahkan mereka
sampai melangkah mundur beberapa tindak. Sesuatu yang aneh telah terjadi!
Yang dilihat oleh mereka bukan lagi laki-laki bertampang jelek dan menyeramkan tadi
malam, tetapi yang sekarang diseret keluar dari kolong tempat tidur justru seorang
pemuda yang tampan sekali. Alisnya berbentuk golok, hidungnya mancung dengan bibir
yang tampak indah dipandang.
Pakaiannya masih sama dengan laki-laki yang kemarin, tetapi kedua gadis itu hampir
tidak dapat percaya kalau dia merupakan orang yang sama. Untuk sesaat, keduanya tidak
dapat mengatakan apa-apa. Keduanya berdiri tertegun dengan mata saling pandang.
Sekian lama mereka terdiam.
Kejadian ini terlalu aneh. Mereka tidak tahu kalau Tan Ki menggunakan sejenis obat
untuk merias wajah. Setelah waktunya habis, wajahnya akan kembali seperti semula.
Lama… lama… sekali.
Akhirnya Mei Ling tertawa merdu.
“Orang ini benar-benar pintar membuat wajah setan untuk menakuti kita. Ayoh kita
angkat dia ke atas tempat tidur dan tanyakan masalah ini sampai jelas.” katanya.
Saat itu juga, rasa sebal dan benci di dalam Kiau Hun seperti sirna entah ke mana.
Malah ada semacam perasaan aneh yang menghinggapi hatinya, seperti jantungnya
berdegup dengan cepat dan perasaannya juga tersipu-sipu. Kalau anda adalah seorang
gadis, tentu anda tahu bagaimana perasaan Kiau Hun saat itu. Mungkin semacam gairah
yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Sejak kecil Kiau Hun dibesarkan bersama-sama Mei Ling. Hari demi hari, bulan demi
bulan, tahun demi tahun, yang mereka lakukan hanya membaca syair atau memetik harpa
di dalam kamar. Kadang-kadang mereka bermain di taman rumah itu, seperti berlari-larian
atau menangkap kupu-kupu. Mereka jarang bertemu dengan orang asing. Paling-paling
para pelayan laki-laki dalam gedung itu. Tetapi mereka semua adalah penduduk desa yang
tidak mampu dan kasar. Sedangkan Kiau Hun merasa dirinya cukup cantik dan
berpendidikan cukup, apalagi Mei Ling menganggapnya sebagai saudara sendiri, mana
mungkin dia memandang sebelah mata terhadap para laki-laki yang bekerja di dalam
gedung tersebut. Di tambah lagi Suhu mereka yang mempunyai adat aneh. Dia sangat
membenci kaum laki-laki. Sedangkan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mei Ling lebih suka menyendiri setelah menginjak remaja. Gadis itu tekun sekali berlatih
ilmu silat. Dia bahkan jarang bertemu dengan ayahnya sendiri. Hal ini membuat Kiau
Hun merasa kesepian.
Taman belakang di mana Mei Ling tinggal tidak pernah diinjak orang lain. Ketika mereka
masih kecil, mereka sering main bersama-sama. Saat itu Kiau Hun masih belum
merasakan apa-apa. Namun setelah menginjak usia dewasa, hatinya semakin bergejolak.
Seakan ada sesuatu perasaan yang terpendam di dalam hatinya. Namun karena dia giat
berlatih ilmu silat, perasaan itu masih dapat ditekannya. Gejolak dalam hatinya menjadi
samar-samar saja.
Tetapi begitu melihat Tan Ki, seluruh hatinya langsung terpaut pada anak muda tersebut.
Perasaan dalam hatinya yang terpendam selama ini seakan meledak seketika.
Sebetulnya keadaan ini tidak berbeda dengan perasaan Tan Ki ketika pertama kali melihat
Mei Ling.
Hanya bedanya, kalau yang laki-laki hampir sepuluh tahun berdiam di pegunungan
yang sunyi dan berlatih ilmu silat tanpa mengenal waktu karena memendam dendam bagi
ayahnya. Sedangkan yang perempuan seperti dipingit sehingga merasa hatinya hampa
dan kesunyian. Namun diantara kedua laki-laki dan perempuan tersebut, masing-masing
mempunyai kekaguman dan niat yang berbeda.
Di antara mereka bertiga, hanya Mei Ling yang paling lugu dan polos. Dia sama sekali
tidak mengetahui kalau dalam waktu semalam saja di dalam hati kedua orang telah
tumbuh benih asmara yang tujuannya berbeda.
Pertama-tama melihat Tan Ki, Kiau Hun memang terkejut setengah mati. Tetapi setelah
rasa terkejutnya hilang, hatinya dipenuhi perasaan kagum dan terpesona akan
ketampanan wajah anak muda tersebut.
Akhirnya kedua orang itu tersentak dari lamunan dan menggotong Tan Ki ke atas
tempat tidur. Meskipun Mei Ling adalah seorang gadis yang polos serta lincah, namun
dalam masalah hubungan antara laki-laki dan perempuan, dia tetap berpegang teguh pada
adat yang kolot.
“Hun moay, kau bebaskan dirinya dari totokanmu.” katanya dengan tersipu-sipu.
Kiau Hun tersenyum manis. Tangannya terulur perlahan dan dia menepuk dua kali pada
tubuh Tan Ki. Terdengar suara keluhan dari mulut anak muda tersebut. Lambat laun dia
tersadar. Sinar matahari yang terang membuat matanya silau. Hampir saja dia tidak dapat
membuka sepasang matanya.
Setelah lewat beberapa saat, dia baru mulai dapat melihat lebih jelas. Tampak dua
orang gadis yang cantik jelita berdiri di hadapannya. Yang satu lembut dan tersipu-sipu.
Sedangkan yang satunya lagi supel dan sikapnya agak terbuka. Pemandangan ini
membuat perasaan Tan Ki seakan masih terbuai di alam mimpi. Dia berusaha
menenangkan hatinya.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ” dia memberanikan diri membuka mulut.
“Di mana ini?” pertanyaannya tetap sama dengan tadi malam. Tetapi adanya sinar
mentari membuatnya sadar bahwa satu hari telah berlalu.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kiau Hun tertawa lebar.
“Lok Yang. Gedung keluarga Liu di Lok Yang.” sahutnya.
Mendengar kata-katanya, Tan Ki terkejut sekali. Badannya langsung bangkit tegak:
“Lok Yang? Apa hubunganmu dengan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng?” tanyanya cepat.
“Beliau adalah ayahku.” sahut Mei Ling.
Wajah Tan Ki berubah hebat mendengar keterangannya. Untuk sesaat dia menjadi
termangu-mangu bagai sebuah patung. Tampaknya dia seperti mendapat pukulan bathin
yang hebat. Mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar.
‘Dia adalah putri musuhku, bagaimana aku bisa membiarkan dia merawat luka dalamku
ini?’ pikirnya dalam hati.
Begitu pikirannya tergerak, entah mendapat tenaga dari mana, tiba-tiba dia melonjak
turun dari atas tempat tidur. Gerakannya yang tidak disangka-sangka itu benar-benar di
luar dugaan Mei Ling maupun Kiau Hun. Keduanya terkejut setengah mati.
“Apa yang akan kau lakukan?”
Kata-kata yang mereka ucapkan sama. Namun maksud hati mereka berbeda. Kalau Mei
Ling digugah oleh perasaan kependekarannya sehingga mencemaskan keadaan Tan Ki,
Kiau Hun malah menganggapnya sebagai kekasih hati.
Tan Ki tertawa sumbang.
“Tidak usah perdulikan aku!” sahutnya ketus.
Mei Ling menjadi panik sekali.
“Luka dalammu belum sembuh. Apabila banyak bergerak, kemungkinan akan menjadi
parah kembali.” katanya gugup.
Dengan gaya kenes, Kiau Hun segera menghadang di depan Tan Ki.
“Harap Siangkong naik kembali ke atas tempat tidur. Meskipun kami kakak beradik
tidak mengerti ilmu pengobatan, tetapi kami pasti akan mencarikan obat yang mujarab
bagimu…”
Sikap Tan Ki sangat keras kepala. Apa yang ia yakin tidak boleh dilakukan, tidak ada
seorangpun yang dapat mengubah niatnya. Melihat Kiau Hun menghadang di depannya,
hawa amarah dalam hatinya meluap seketika.
“Minggir!” kakinya melangkah, dan menerjang ke depan.
Kiau Hun tahu, apabila dia turun tangan, pasti Tan Ki akan berhasil tercekal olehnya.
Namun dia takut hal ini malah akan menimbulkan kesalahpahaman dalam hati anak muda
tersebut. Lagipula, apabila dia sampai kesalahan tangan, luka Tan Ki akan lebih parah lagi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Melihat Tan Ki menerjang ke arahnya, dia malah tidak berani sembarangan turun tangan,
hanya tubuhnya menggeser ke samping memberi jalan untuk anak muda itu. Dalam
sekejap mata saja tubuh Tan Ki sudah melesat keluar dari kamar tersebut.
Hati Kiau Hun panik sekali. Untuk sesaat dia tidak dapat menentukan apa yang harus
dilakukannya. Kelopak matanya membasah, tanpa terasa air matanya mengalir dengan
deras. Mei Ling hanya memandang punggung Tan Ki dengan termangu-mangu. Dia juga
tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Menghadapi
keadaan seperti ini, dia malah bertambah bingung. Dia juga mencemaskan keadaan Tan
Ki. Dia masih belum menyadari bahwa Kiau Hun sudah panik sampai mengeluarkan air
mata. Tampak bayangan tubuh Tan Ki terhuyung-huyung di ujung tangga. Hampir saja dia
terhempas jatuh di atas tanah.
Kedua gadis itu terkejut setengah mati, dalam waktu yang bersamaan keduanya
berserabutan menerjang keluar. Rupanya ketika Tam Ki menerjang keluar dari kamar
tersebut, dia hanya mengandalkan perasaannya yang dipenuh emosi. Juga karena hatinya
yang angkuh serta tidak sudi menerima pertolongan dari putri musuhnya. Tetapi karena
dia terhantam pukulan Cian Cong sehingga terluka parah, meskipun Mei Ling sudah
berusaha menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, tetapi lukanya masih belum
sembuh sama sekali. Karena sikapnya yang keras kepala, dia langsung menerjang keluar
dari kamar. Tiba-tiba tenaganya seperti membuyar. Kedua kakinya lemas dan tidak mau
diajak berkompromi. Setelah menge-luarkan suara jeritan, tubuhnya langsung terguling di
undakan tangga dan menggelinding sampai ke bawah.
Begitu terjatuh, kepalanya langsung terasa pusing tujuh keliling, matanya berkunangkunang.
Seluruh aliran darah dalam tubuhnya seakan bergejolak. Ketika Mei Ling dan Kiau
Hun sedang terkejut, dia sudah terguling jatuh ke lantai bawah. Terdengar suara seperti
orang muntah, tahu-tahu Tan Ki sudah menyemburkan segumpal darah segar. Biji
matanya bergerak-gerak. Dia jatuh tidak sadarkan diri lagi. Lukanya yang masih belum
sembuh menjadi parah kembali.
Perubahan mendadak ini, sejak semula memang sudah berada dalam dugaan kedua
gadis tersebut. Tetapi mereka tidak mengira terjadinya demikian cepat. Terdengarlah
suara seruan terkejut dari mulut mereka yang keluar dalam waktu bersamaan. Tanpa
bersepakat terlebih dahulu, keduanya langsung menghambur ke bawah.
Ilmu ginkang Mei Ling lebih tinggi. Dia yang sampai dahulu di sisi Tan Ki. Dia membungkukkan
tubuhnya dengan maksud membopong anak muda tersebut. Tiba-tiba sebuah
ingatan melintas di benaknya. Antara laki-laki dan perempuan ada batas tertentu yang
tidak boleh dilanggar. Dengan panik dia menyurutkan kembali tangannya yang sudah
terulur. Pada saat yang sama, wajahnya tampak merah padam. Dengan tersipu-sipu dia
menundukkan kepalanya dan tidak berani memandang ke arah Tan Ki.
Kiau Hun yang menyusul di belakang tidaklah demikian halnya. Dia langsung membopong
tubuh anak muda itu tanpa memperdulikan urusan lainnya. Perlahan-lahan dia
membawa anak muda itu kembali lagi ke atas loteng. Dia merasa pangkal lengan, tangan
dan dadanya menempel dengan tubuh anak muda itu. Ada semacam perasaan yang aneh
bergejolak dalam hatinya. Darahnya seakan berdesiran. Wajahnya menjadi merah
seketika. Perasaannya menjadi tidak tenang. Dia sendiri tidak mengerti apa yang
dirasakannya, namun perasaan itu sulit sekali dihilangkan.
***
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Bagian 3
Di bagian atas telah diceritakan tentang Tan Ki yang menerjang keluar dari kamar
dalam keadaan emosi sehingga bergulingan di atas tanah dan jatuh tidak sadarkan diri
lagi.
Dalam keadaan pingsan, tentu saja Tan Ki tidak dapat mengingat apapun. Entah
berapa lama dia tidak sadarkan diri, ketika matanya membuka, samar-samar dia melihat
sesosok bayangan yang duduk dihadapannya.
Dia adalah si gadis pelayan yang cantik, Kiau Hun. Keringatnya yang harum terus
menetes, nafasnya memburu, wajahnya merah padam. Di bawah sorotan lampu yang
remang-remang, wajahnya tampak jauh lebih cantik. Rupanya dia sedang menyalurkan
hawa murni ke dalam tubuh Tan Ki. Maksudnya tentu saja untuk membantu agar luka
dalam yang diderita pemuda itu dapat segera disembuhkan.
Mei Ling berdiri di sudut kamar. Sepasang tangannya meremas-remas sehelai sapu
tangan. Bibirnya digigit-gigit sendiri, tampaknya dia juga sangat mengkhawatirkan
keadaan Tan Ki.
Saat itu sudah menjelang malam, kegelapan mulai menyelimuti luar jendela. Lampu
minyak yang dipasang di atas meja bergerak-gerak, suasana yang sudah tegang menjadi
semakin menegangkan.
Lama sekali. Terdengar Kiau Hun menarik nafas panjang. Diangkatnya lengan baju
untuk menghapus keringat yang membasahi kening dan dahinya. Kemudian dia
menolehkan kepala dan berkata kepada Mei Ling…
“Siocia, mari, kau beri sedikit bantuan kepadanya.”
Mendengar ucapannya, Mei Ling menjadi serba salah. Untuk sesaat dia termangumangu.
“Ini… ini…”
Watak gadis ini masih seperti kekanak-kanakan. Tapi dia memegang teguh sekali
pendirian bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh bersentuhan, kecuali mereka suami
isteri. Dia merasa tidak pantas menempelkan tangan pada tubuh seorang pemuda yang
tidak dikenalnya meskipun untuk membantunya menyembuhkan luka dalam. Oleh karena
itu dia hanya berdiri termenung tanpa berani melangkahkan kakinya mendekati.
Kiau Hun tidak sabar melihat sikapnya. Terpaksa dia mengerahkan tenaga membantu
Tan Ki menyembuhkan luka dalam seorang diri. Sebetulnya dia sudah merasa lelah sekali.
Tetapi dia terus menempelkan telapak tangannya ke dada Tan Ki untuk membuyarkan
darah yang membeku di tempat tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara keroncongan dari perut Tan Ki. Seperti juga suara air yang
beriak-riak. Mei Ling seperti teringat sesuatu hal. Mulutnya mengeluarkan suara terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Aduh… dia sudah sehari semalam tidak mengisi perutnya dengan sebutir nasi pun.
Mungkin saking laparnya dia bisa jatuh pingsan!” teriaknya gugup.
Tanpa menunggu jawaban dari Kiau Hun, dia segera berlari keluar dari kamar dengan
tergesa-gesa. Tidak berapa lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan sebuah
mangkok keramik di kedua tangannya.
Saat itu, luka Tan Ki sudah sembuh seba-giannya. Meskipun dia sekarang
menggunakan wajah aslinya, tetapi kedua gadis di hadapannya tidak tahu kalau dialah
yang di sebut Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan hati setiap orang Kangouw.
Mei Ling meletakkan mangkok keramik tersebut di atas meja. Bibirnya mengembangkan
seulas senyuman yang manis.
“Sudah sehari semalam kau tidak makan apa-apa. Aku sengaja membuatkan
semangkok sup biji teratai untukmu. Makanlah selagi masih hangat. Dengan demikian
tubuhmu akan kuat kembali.”
Tan Ki mendengus dingin.
“Aku tidak mau makan!” sahutnya ketus.
Nada suaranya begitu datar, seolah dia adalah seorang manusia yang tidak mempunyai
perasaan sama sekali. Mendengar nada suara dan kata-katanya, kedua gadis itu jadi
tertegun.
“Kenapa?” tanya mereka serentak.
Tampang anak muda itu juga begitu dingin. Dia mengalihkan mukanya ke arah lain dan
tidak memandang kedua gadis itu sedikitpun. Perasaan Kiau Hun lebih peka. Dia segera
dapat menduga apa yang tersirat di dalam hati Tan Ki.
“Siangkong, tampaknya kau mempunyai anggapan yang buruk terhadap keluarga Liur’
tanyanya cepat.
Tan Ki hanya tertawa dingin. Belum lagi dia mengucapkan apa-apa, sudah terdengar
seruan terkejut dari mulut Mei Ling.
“Betul. Kemungkinan besar ada ganjalan yang tidak menyenangkan antara dirinya
dengan ayahku.”
“Urusan kemarin…” sebetulnya Tan Ki ingin mengungkapkan identitas dirinya, tetapi
tiba-tiba dia teringat dirinya sedang terluka parah dan sekarangpun belum sembuh sama
sekali. Kalau sampai kedua gadis itu mengeroyoknya, dia pasti tidak dapat menahan sekali
saja pukulan mereka. Maka begitu pikirannya tergerak, ucapannya pun dihentikan
setengah jalan.
Kiau Hun malah merasa penasaran. Dia langsung mendesak anak muda itu.
“Ada apa dengan urusan kemarin?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tidak tahu kedua gadis itu selalu dipingit di dalam rumah. Mereka tidak banyak
mengetahui urusan luar. Kehadiran Cian bin mo-ong yang menggemparkan tadi malam
pun, mereka tidak tahu sama sekali. Tetapi Tan Ki mengira mereka pura-pura bodoh. Oleh
karena itu, dia langsung tertawa dingin.
“Urusan kemarin boleh kau tanyakan saja pada orangtuamu.” selesai berkata, dia
langsung bangkit dari tempat tidur. Tetapi lukanya masih belum sembuh, di tambah lagi
perutnya sudah kosong sehari semalam, begitu kakinya mencapai tanah, dia langsung
merasa kepalanya pening. Anggota tubuhnya lemas sekali. Kakinya limbung, hampir saja
dia terjatuh kembali. Namun Tan Ki memang mempunyai sikap yang tinggi hati. Dia tidak
sudi menunjukkan kelemahannya di hadapan kedua gadis tersebut. Oleh karena itu, dia
menggertakkan giginya erat-erat. Dipaksakannya kakinya untuk terus melangkah. Dia
merasa bagian dadanya perih sekali. Kadang-kadang menghilang dan terkadang timbul
kembali. Tanpa sadar, sepasang alisnya mengerut menahan sakit. Keringat dingin menetes
dari keningnya.
Hati Kiau Hun panik sekali. Dia tidak memperdulikan tata krama lagi. Tangannya terulur
dan mencekal lengan Tan Ki.
“Kau tidak boleh pergi!” katanya gugup.
Pikiran Tan Ki sedang melayang-layang. Dia seakan tidak mendengar apa yang
dikatakan oleh Kiau Hun.
“Apa?”
Setelah berkata, Kiau Hun agak menyesal. Wajahnya merah padam. Siapa sangka Tan
Ki malah tidak mendengar dengan jelas sehingga menanyakan sekali lagi. Hal ini
membuatnya semakin malu. Hatinya berdebar-debar. Tanpa sadar dia melepaskan cekalan
tangannya pada lengan anak muda tersebut. Kepalanya tertunduk dan tidak sepatah
katapun terucap dari bibirnya.
Begitu cekalan Kiau Hun terlepas, Tan Ki langsung menerobos keluar dari kamar. Mei
Ling seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia memandangi bayangan punggung Tan Ki
dengan termangu-mangu. Tetapi dia tidak menghalanginya.
Kiau Hun semakin panik.
“Siocia, masa kau biarkan dia pergi begitu saja?” tanyanya bingung.
Mei Ling menarik nafas panjang.
“Kalau dia memang berniat meninggalkan tempat ini, biarkanlah dia pergi.” katanya
lirih.
Kiau Hun tertegun. Segulung perasaan yang pedih menyelimuti hatinya. Kelopaknya
membasah. Air matanya hampir mengalir. Dia sadar dirinya tidak ingin berpisah dengan
anak muda tersebut. Tetapi dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Tampaknya seluruh cinta kasih gadis itu ikut terbawa oleh kepergian Tan Ki. Begitu dia
menolehkan kepalanya, dia melihat Mei Ling masih tetap termenung. Dia tidak tahu apa
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
yang dipikirkan oleh gadis itu. Tapi dia menduga tentunya sebuah urusan yang penting
dan janggal baginya.
Suasana di dalam kamar terasa pengap. Kepedihan seakan tidak mau ketinggalan
mengiringi. Kedua gadis itu tidak ada sa-tupun yang membuka mulut. Dengan mata
terbelalak mereka memandang ke arah pintu.
Dia sudah pergi… dia sudah pergi… hati keduanya seakan tidak berhenti mengeluhkan
kata-kata yang sama.
Tiba-tiba terdengar suara Blamm! Yang keras, disusul dengan sesosok tubuh yang
terhempas masuk. Kemudian tubuh itu bergulingan dua kali dan menggelinding lagi ke
bawah tangga.
Perubahan ini membuat keduanya terkejut. Dalam waktu yang bersamaan, terdengar
seruan dari mulut mereka. Begitu mata memandang, rasa terperanjat semakin merayap di
hati mereka. Orang yang terhempas jatuh itu tidak lain dari pada Tan Ki yang baru
melangkah keluar tadi.
Tampak matanya mendelik lebar-lebar. Rahangnya digertakkan erat-erat. Mulutnya
membuka, segumpal darah segar langsung muncrat keluar. Sepanjang undakan tangga
terciprat semua. Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan!
Kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata. Kedua gadis itu masih merasa terkejut.
Belum lagi mereka mengerti apa yang telah terjadi, kembali sesosok bayangan berkelebat
dan satu orang lagi masuk ke dalam ruangan.
Rambutnya sudah memutih semua, panjang tergerai sampai ke bahu. Tubuhnya kurus
sekali. Dia mengenakan pakaian bermotif kembang-kembang berwarna hijau. Tangannya
membawa sebuah tongkat berbentuk aneh, wajahnya jelek sekali. Persis seperti burung
gagak yang dikatakan sebagai burung pembawa berita kematian.
Mei Ling dan Kiau Hun yang melihat munculnya nenek tersebut, terkejut setengah mati.
Keduanya langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapannya.
“Suhu!” panggil mereka serentak.
Nenek tua itu mendengus satu kali. Dia tidak menyahut panggilan mereka. Tangannya
malah menunjuk ke arah Tan Ki.
“Nenek kira kau mempunyai kehebatan yang tidak terkirakan. Tidak tahunya
kebisaanmu hanya sedemikian saja.”
Tan Ki marah sekali mendengar ucapannya.
“Mau bunuh, silahkan! Tidak perlu banyak omong. Kalau kau terus memaksa, aku akan
memaki-maki dirimu!”
Nenek tua itu tertawa dingin.
“Bagus sekali, aku Ciu Cang Po (Nenek kurus bertongkat) ingin melihat sampai di mana
kerasnya tulang belulangmu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tongkatnya yang aneh langsung diangkat ke atas. Terdengar suara hembusan angin
yang keras dan tongkatnya segera menyapu ke arah Tan Ki. Tenaga dalamnya sangat
hebat. Begitu melancarkan serangan, kecepatannya bagai kilat. Suara angin yang timbul
menderu-deru.
Mei Ling dan Kiau Hun melihat gurunya turun tangan dalam keadaan marah. Tanpa
sadar keduanya berseru terkejut. Mereka langsung berdiri. Tetapi gerakan tangan Ciu
Cang Po demikian cepat. Seadainya mereka berniat menolongpun pasti tidak keburu lagi.
Hati mereka tercekat. Tangan keduanya langsung terangkat ke atas dan tidak berani
melihat apa yang bakal terjadi. Mereka sadar serangan gurunya ini paling tidak
mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Biarpun tulang Tan Ki lebih keras lagi juga
tidak akan sanggup menahannya.
“Habislah… tamatlah riwayatnya kali ini…” kata mereka di dalam hati.
Dalam sekejap mata, suara angin yang timbul dari tongkat Ciu Cang Po memenuhi
seluruh ruangan tersebut. Dia melihat anak muda itu tetap memejamkan matanya dengan
tenang. Dia tidak berusaha mengelak atau menghindar. Hatinya penasaran sekali.
Pergelangan tangannya memutar, dengan panik dia menarik kembali serangannya.
Mei Ling dan Kiau Hun mengintip dari balik lengan baju. Melihat keadaan yang sudah
berubah, hati mereka menjadi agak lega. Keduanya menarik nafas dalam-dalam.
Kemudian sinar mata merekapun saling pandang.
Terdengar suara bentakan Ciu Cang Po yang memekakkan telinga.
“Mengapa kau tidak menghindar ataupun menyambut seranganku? Apakah kau benarbenar
tidak takut mati?”
“Kematian bagiku tidak ada yang perlu ditakuti.” sahut Tan Ki tenang.
“Benar?” tanya Ciu Cang Po kurang percaya.
“Kalau kau sanggup turun tangan terhadap seseorang yang tidak bisa melawan,
mengapa tidak coba-coba saja? Aku orang she
Tan mengaku diri sendiri sebagai laki-laki sejati. Apabila aku mengerutkan kening
sedikit saja, anggaplah aku sebagai binatang anjing yang paling menjijikkan.”
Watak Ciu Cang Po juga sangat sombong. Mendengar ucapan Tan Ki, hawa amarah
dalam dadanya meluap seketika.
“Bagus! Biar nenek tua lihat sampai di mana kekerasan hatimu!” bentaknya keras.
Terdengar lagi suara angin berhembus. Dengan sekuat tenaga Ciu Cang Po
menghantamkan tongkatnya. Kalau saja tongkat tersebut sampai mengenai tubuh Tan Ki,
anak muda itu pasti akan mati dengan kepala gepeng.
Dalam keadaan genting… tiba-tiba tubuh Kiau Hun melesat ke depan secepat kilat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Suhu, tunggu dulu!” teriaknya gugup.
Ciu Cang Po marah sekali. “Minggir!” bentaknya.
Telapak tangan kirinya menghantam. Tubuh Kiau Hun terdorong. Sedangkan tongkat di
tangan kananya terus meluncur mengancam kepala Tan Ki.
Jurang kematian semakin menganga lebar! Keadaan sudah sedemikian gawat! Untuk
sesaat, keadaan semakin menegangkan.
Kiau Hun yang terdorong oleh telapak tangan Ciu Cang Po merasa lengannya ngilu.
Tapi dia tidak mengalami luka sedikitpun. Matanya menatap suhunya yang sedang
menggerakkan tongkat untuk menghantam kepala Tan Ki. Hatinya terkesiap sekali. Dia
menggertakkan rahangnya erat-erat. Tanpa berpikir panjang lagi, dia langsung menerjang
ke depan. Gerakannya itu begitu cepat bagai sambaran kilat. Tepat pada saat itu juga,
hatinya telah mengambil sebuah keputusan.
Tampak gadis itu mengulurkan telapak tangannya dan menghantam pergelangan
tangan Ciu Cang Po. Serangannya ini mengandung seluruh kekuatan tenaga dalam yang
dimilikinya. Kehebatan maupun kecepatannya benar-benar mengagumkan.
Gerakannya yang tiba-tiba ini sama sekali di luar dugaan Ciu Cang Po. Bermimpi pun
dia tidak pernah kalau muridnya berani melakukan hal tersebut. Tiba-tiba dia merasa
pergelangan tangannya tergetar, tongkatnya pun melesat dari sasaran dan menghantam
tepat di atas tiang kayu di samping Tan Ki.
Praak! Terdengar suara gemuruh, pecahan kayu berhamburan. Tiang penyangga loteng
itu patah seketika. Beberapa orang langsung tertegun. Ciu Cang Po tidak pernah
membayangkan muridnya berani menentangnya secara terang-terangan. Bahkan
menghantam pergelangan tangannya. Meskipun tenaga dalamnya tinggi sekali, namun
pukulan yang tidak terduga-duga itu membuat tangannya menjadi sakit.
Bahkan Tan Ki juga ikut terpana. Dia tidak menyangka bahwa seorang gadis yang tidak
mengenalnya berani mengkhianati guru sendiri untuk menyelamatkan dirinya dari
kematian.
Perlu diketahui, bahwa di dunia Bulim ada sebuah peraturan yang amat keras, yakni
tidak boleh mengkhianati guru sendiri. Tidak perduli siapapun orangnya, hukumannya
tetap kematian. Dosa ini lebih berat dari pada membangkang terhadap orangtua sendiri.
Dalam keadaan panik, Kiau Hun langsung turun tangan menyelamatkan Tan Ki, namun
dirinya sudah melanggar dosa yang paling berat di mana dia harus menebusnya dengan
kematian.
Yang lainnya menjadi tertegun akan perubahan yang mendadak ini. Sebaliknya sikap
Kiau Hun justru demikian tenang seakan tidak pernah terjadi apapun. Penampilannya yang
acuh tak acuh membuat rasa amarah Ciu Cang Po semakin meluap.
Apa yang kau lakukan?” bentaknya kesal.
Tampaknya Kiau Hun agak menyesal juga. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya
dan tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Begitu marahnya Ciu Cang Po sampaiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
sampai rambutnya yang berwarna putih berjingkrakan ke atas. Mulutnya mengeluarkan
suara tertawa dingin.
“Bagus… muridku yang baik juga berani menentang aku sekarang.” katanya.
Hati Kiau Hun terasa pedih. Air matanya langsung mengalir dengan deras membasahi
pipi. Dalam keadaan terdesak, seseorang pasti akan membayangkan banyak persoalan.
Terlebih-lebih masa lalunya.
Saat itu juga, berbagai ingatan melintas di benak gadis itu. Sejak kecil, dia sudah yatim
piatu. Dia menjual dirinya kepada keluarga Liu sebagai seorang budak. Sejak kanak-kanak
dia sudah biasa mendengar omelan dan berbagai caci maki. Dia tidak mempunyai hak
untuk berbicara ataupun kebebasan sama sekali.
Setelah dewasa, Siocia menerimanya sebagai pendamping. Kehidupannya berubah lebih
layak. Mei Ling sangat baik kepadanya. Gadis itu juga menganggapnya seperti saudara
sendiri. Dari seorang budak yang bekerja serabutan, dia mengganti profesi menjadi
sahabat karib nonanya. Sebetulnya dia sudah harus merasa cukup puas. Hatinya menuntut
lebih. Dia masih terus merasa ti-dak ada sedikitpun kebebasan. Perasaan rendah diri
menyelimuti hatinya.
Entah pada tahun berapa, Ciu CangPo yang berwatak aneh dan keras menerima Mei
Ling sebagai murid. Dia mengatakan bahwa baik Mei Ling maupun Kiau Hun samasama
memiliki bakat yang tinggi untuk belajar silat.
Tetapi dia hanya menerima Mei Ling sebagai murid. Sedangkan dirinya tidak. Mengapa?
Mengapa harus pilih kasih?
Tentu saja. Dirinya hanyalah seorang pelayan yang berkedudukan rendah, sedangkan
Mei Ling adalah nona besar. Kedudukan mereka sudah jauh berbeda. Apalagi Mei Ling
merupakan putri tunggal Bu Ti Sin-kiam seorang pendekar yang namanya sudah terkenal
di mana-mana. Semuanya itu merupakan kelebihan sang nona. Dia sendiri, tidak ada yang
dapat dibanggakannya.
Setelah dia memohon terus menerus, akhirnya Ciu Cang Po bersedia juga menerimanya
sebagai murid yang tidak diangkat secara resmi. Hal ini justru membuat perasaan rendah
dirinya semakin mendalam. Tetapi selama ini dia memendamnya dalam hati. Dia tidak
menunjukkannya di hadapan siapapun.
Saat ini, hanya karena sepatah ucapan Ciu Cang Po yang membuatnya teringat akan
nasib dan riwayat hidupnya, untuk sesaat hatinya digelayuti keperihan yang tidak
terkirakan. Tanpa dapat di tahan lagi air matanya mengucur dengan deras.
Perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan kepalanya. Di pipinya masih terlihat bekas air
mata.
“Tecu belum mengenal orang ini secara mendalam. Tetapi hati Tecu tidak rela
melihatnya terluka ataupun mati di tangan Suhu. Hal ini disebabkan semacam perasaan
yang aneh. Tecu tidak dapat menerangkannya…”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mendengar ucapannya, Ciu Cang Po terkejut sekali. Hatinya tergetar. Diam-diam dia
berpikir: ‘Rupanya kau sudah jatuh cinta kepada orang ini, tapi dirimu sendiri masih tidak
menyadarinya? Tanpa sadar, dia mengangkat tangannya dan mengelus wajahnya sendiri.
Wajah yang sangat buruk dan menyebalkan…
Siapa yang sangka kalau tiga puluh tahun yang lalu, wajahnya itu tidak kalah cantiknya
dengan wajah Kiau Hun maupun Mei Ling sekarang? Siapa yang nyana kalau wajahnya
dulu pernah membuat puluhan laki-laki tergila-gila?
Memang benar, dahulunya dia adalah seorang gadis yang cantik jelita. Banyak sekali
tokoh-tokoh Bulim yang menaruh hati kepadanya. Kemudian, dia mencurahkan seluruh
cinta kasihnya kepada seorang pemuda. Tetapi pemuda itu mengkhianatinya.
Orang itu bukan saja merenggut kesucian dirinya, tetapi juga membuat wajahnya
menjadi rusak seperti sekarang ini. Dari seorang wanita yang cantik jelita, dia berubah
seperti seorang nenek sihir yang menyeramkan. Perasaan sakit dalam hatinya tidak
teruraikan oleh kata-kata!
Setiap kali teringat akan hal ini, ingin rasanya dia membunuh habis seluruh laki-laki
yang ada di dunia ini. Justru karena hal ini pula, ketika Tan Ki berjalan keluar sampai di
halaman dan tanpa sengaja membentur tubuhnya, dia menjadi kalap. Yang satu berwatak
keras dan tinggi hati. Yang seorang lagi menderita sakit di hati dan membenci kaum lakilaki.
Karena beberapa patah ucapan yang tidak menyenangkan, mereka langsung
berkelahi.
Ciu Cang Po merenungi masa lalunya. Dia seakan tidak mendengarkan kata-kata
selanjutnya yang diucapkan oleh Kiau Hun. Tiba-tiba terdengar suara Mei Ling yang
lembut…
“Hun moay, kau tidak boleh kurang ajar kepada Suhu. Cepatlah minta maaf kepada dia
orangtua.”
Kiau Hun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya masih terus mengalir.
“Tecu menolong orang ini sehingga tanpa sadar menyalahi Suhu. Biar bagaimanapun
Tecu menjelaskan, dosa ini sudah tidak terelakkan. Tecu bersedia menerima hukuman dari
Suhu.”
Wajah Ciu Cang Po dingin sekali. “Sejak hari ini, kau bukan muridku lagi. Pergilah!” Ciu
Cang Po mengangkat tongkat di tangannya dan mengarahkannya ke ubun-ubun Kiau Hun.
Tentu saja nenek itu bermaksud memusnahkan seluruh ilmu silat yang dimilikinya.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang memekakkan telinga. Serangkum tenaga yang
dahsyat menyusul setelah suara bentakan dan terhantam ke arah Ciu Cang Po. Perubahan
ini memang terjadi secara mendadak, tetapi Ciu Cang Po seakan telah menduganya.
Dengan marah dia membentak…
“Bocah busuk, kau benar-benar ingin mati?” tongkatnya segera bergeser dan disapukan
ke samping.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Kekuatan tenaganya mengandung kekejian yang tidak terkirakan. Tan Ki menarik
kembali jurus serangannya dan mundur beberapa langkah. Dia mengerti keadaannya
sekarang sangat lemah. Tenaga dalamnya hampir musnah. Mana mungkin dia berani
mengadu kekerasan dengan nenek tua itu?
Namun gerakannya tadi sudah menyelamatkan Kiau Hun dari kecacatan tubuh yang
akan dialaminya apabila ilmu silatnya dimusnahkan oleh Ciu Cang Po. Keadaan semakin
menegangkan.
Mei Ling melihat keadaan semakin lama semakin kacau. Ingin rasanya dia mencegah,
tetapi tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih berdiri di sudut dengan mata
jelalatan dan hati cemas.
Begitu pandangannya beralih, dia melihat Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai
bergebrak. Dalam sesaat, suara sapuan tongkat dan hantaman telapak tangan terdengar
silih berganti.
Tenaga dalam Tan Ki masih terpaut jauh dengan Ciu Cang Po. Dengan tangan kosong
menghadapi tongkat nenek kurus, dia semakin terjepit keadaannya. Setelah belasan jurus,
dia mulai terdesak dan kondisinya mulai membahayakan.
Waktu merayap dengan perlahan-lahan. Hawa kematian semakin terasa. Secara
menyolok dapat terlihat jelas, bahwa yang akan kalah dalam pertarungan ini pasti Tan Ki.
Air mata Kiau Hun mengalir semakin deras. Dia berdiri mematung tanpa bergerak
sedikitpun. Pikirannya seperti melayang-layang. Kadang-kadang bibirnya tersenyum.
Kadang-kadang wajahnya kembali muram. Ada kalanya dia mengangguk seorang diri.
Tampaknya dia masih belum menyadari bahwa Tan Ki dan Ciu Cang Po sudah mulai
bergebrak.
(Bersambung ke Jilid 3)
Jilid : 3
Dia sedang membayangkan kehidupannya di masa mendatang. Bencana?
Keberuntungan? Kesedihan yang menggerogoti seumur hidup? Atau kebahagian yang
abadi? Dia tidak tahu. Dia juga tidak dapat menduganya, tetapi dia rela
membayangkannya dengan khayalannya sendiri.
Hanya Mei Ling yang berdiri sambil meremas-remas jari tangannya. Matanya terpaku
memandangi perkelahian di antara kedua orang tersebut. Dia khawatir gurunya akan
dikalahkan, namun dia juga tidak ingin melihat pemuda itu terluka.
Tidak ada perasaan yang istimewa dalam hatinya. Dia hanya merasa siapapun yang
terluka atau berdarah, tetap bukan hal yang menyenangkan.
Tiba-tiba terdengar Ciu Cang Po mengeluarkan suara tertawa dingin. Tongkatnya
langsung dihantamkan ke depan. Kekuatannya, sapuannya, mengandung kekejian yang
dahsyat. Dia melihat Tan Ki tidak mempunyai kesempatan untuk menghindarkan diri lagi.
Dalam sekejap mata anak muda itu pasti akan terluka parah. Hatinya terkejut sekali.
Tanpa sadar Tan Ki mengeluarkan seruan terkejut… “Aduh…!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Suara teriakannya membuat Kiau Hun tersentak dari lamunannya. Cepat-cepat dia
menolehkan kepalanya memandang. Kejadiannya terlalu cepat!
Terdengar suara jeritan dari mulut Tan Ki. Lengan kirinya memutar di udara dan tibatiba
telapak tangannya menghantam. Jurus Tian Ping Tiang Ciang (Prajurit dan Jenderal
Langit) yang dikerahkan sangat aneh. Telapak tangannya meluncur dengan gerakan yang
berubah-ubah. Kadang-kadang seperti menepuk, kadang-kadang seperti mencengkram.
Ciu Cang Po merasa jurus yang dilancarkannya berbeda dengan orang lain. Seumur
hidup dia belum pernah melihat jurus seaneh ini. Bayangan tangannya berubah menjadi
puluhan. Dia sendiri tidak mengerti bagian tubuh sebelah mana yang diincar oleh anak
muda itu. Hatinya menjadi tercekat. Cepat-cepat dia menarik kembali serangannya.
Dia tidak tahu bahwa ilmu yang digunakan oleh Tan Ki adalah salah satu jurus dari Tian
Si Sam-sut. Dia hanya merasa kekuatan serangan ini kuat bukan main dan benar-benar di
luar dugaannya. Kenyataan ini membuatnya kebingungan bagaimana harus mengelakkan
diri ataupun menangkis.
‘Ternyata anak muda ini mempunyai beberapa macam kepandaian yang dapat
diandalkan,’ pikirnya dalam hati.
Begitu pikirannya tergerak, perasaan memandang ringan lawannya tersapu bersih
dalam hati. Dia memusatkan perhatian dengan sungguh-sungguh dan menyerang dengan
tongkatnya kembali.
Serangannya ini lebih hebat dari yang pertama. Dia telah melipatgandakan tenaga
dalamnya. Dalam sekejap mata saja Tan Ki sudah terdesak sampai mengucurkan keringat
dingin. Dia hampir kehabisan tenaga untuk membalas serangan. Dalam keadaan yang
genting, kembali dia melancarkan jurus Tian Si Sam-sut yang lain yakni Tian Lo-te Bang
(Jerat Langit dan Bumi). Jurus ini tidak kalah aneh dengan yang sebelumnya. Lagi-lagi Ciu
Cang Po menjadi kelabakan dan terpaksa menarik kembali serangannya.
Beberapa jurus berlalu lagi. Semakin lama hati Ciu Cang Po semakin cemas.
“Kalau begini terus, sampai kapan aku bisa mengalahkannya? Jangan kata
membunuhnya, untuk menyentuh ujung lengan bajunya saja tidak ada peluang sama
sekali.” katanya dalam hati.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benaknya. Dia seperti sudah menemukan akal
yang baik. Di wajahnya tersirat hawa pembunuhan yang tebal. Cepat-cepat dia himpun
tenaga dalamnya dan menanti kesempatan yang baik. Ketika telapak tangan Tan Ki
meluncur ke arahnya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke bagian punggung anak muda itu.
Sambil meraung terdengar raungan yang keras dan sebuah dengusan berat dalam waktu
yang hampir bersamaan.
Tampak Tan Ki memuntahkan darah segar dua kali berturut-turut kemudian tubuhnya
terhempas di atas tanah. Rupanya ketika Ciu Cang Po bergerak dengan cepat, hatinya
sudah curiga. Dia segera memutar tubuhnya dan menghantamkan telapak tangannya.
Dengan meraung keras, Ciu Cang Po menggerakkan tangannya dan telapak tangannya
menghantam dengan kekuatan penuh yang telah dihimpun sebelumnya. Tenaga dalam
kedua orang itu memang terpaut terlalu jauh. Dengan cara mengadu pukulan
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
mengandalkan keras lawan keras, otomatis Tan Ki yang mendapat kerugian besar. Itulah
sebabnya dia langsung memuntahkan darah segar sebanyak dua kali.
Baik Kiau Hun maupun Mei Ling terkejut setengah mati. Keduanya langsung menjerit
kaget. Kiau Hun terlebih-lebih tidak dapat menahan perasaan hatinya. Air matanya yang
sudah mengering mulai mengalir lagi.
Dikiranya Tan Ki sudah mati. Tanpa berpikir panjang lagi, dia berlari menghambur ke
samping anak muda itu dan memeluknya sambil menangis meraung-raung. Suara
tangisannya lebih mirip ratapan kepiluan hatinya.
Mei Ling tidak tahu bahwa cinta kasih Kiau Hun sudah tercurah pada anak muda
tersebut. Senjata atau golok yang setajam apapun tidak akan bisa memutuskan benang
kasih yang ada dalam hatinya. Dia malah mengira Kiau Hun merasa berhutang budi karena
anak muda itu tadi telah menolongnya.
Ciu Cang Po berdiri tanpa bergeming sedi-kitpun. Wajahnya kelam dan tidak enak di
lihat. Tiga puluh tahun yang lalu, dia juga pernah menangis meratap sedemikian rupa. Dia
tidak menyangka kalau tiga puluh tahun kemudian, dia akan menyaksikan pemandangan
yang serupa di depan matanya.
Malam semakin larut. Di luar jendela yang terlihat hanya kegelapan. Seakan sedang
meratapi nasib manusia yang demikian tragis dan menyayat hati. Tanpa sadar Ciu Cang Po
menarik nafas panjang.
‘Nasib yang dialami Hun Ji hampir sama dengan apa yang kualami tiga puluh tahun
yang lalu. Dia sudah cukup menderita. Mana boleh aku menepuk ubun-ubunnya untuk
memusnahkan ilmu silatnya. Bukankah hal ini berarti menambah penderitaan yang telah ia
rasakan sekarang?’ pikirnya dalam hati.
Sembari berpikir, matanya melirik ke arah gadis itu. Kiau Hun sudah menghentikan
ratapannya. Wajahnya yang cantik saat itu seperti tidak memiliki perasaan apa-apa. Dia
sudah memastikan apa yang akan dilakukannya dan tidak ada seorangpun yang bisa
menghalangi.
Kemudian, tampak gadis itu mengulurkan tangannya dan membopong tubuh Tan Ki.
Perlahan-lahan dia berjalan keluar dari ruangan tersebut. Langkah kakinya terasa demikian
berat. Lentera yang tergantung bergoyang-goyang. Seperti sedang menggelengkan kepala
melihat cinta kasih kedua pemuda-pemudi itu yang demikian mengenaskan…
****
Bagian 4
“Mau ke mana kau?” bentak Ciu Cang Po.
Kiau Hun yang baru sampai di depan pintu segera menghentikan langkah kakinya.
“Tecu akan mencari tabib yang sakti untuk mengobatinya…” kata-katanya berhenti.
Sinar matanya beralih sekilas ke arah Mei Ling. “Di dalam rumah Siocia, Tecu masih
merupakan murid engkau orangtua. Tetapi setelah melangkah keluar dari pintu ini, kita
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi… terhadap perhatian dan kasih sayang yang
telah Suhu curahkan, Tecu tidak akan melu-pakannya seumur hidup.”
Perlahan-lahan dia membalikkan badan dan melangkah pergi.
Kata-katanya itu diucapkan dengan nada yang datar, dia seolah sudah tidak perduli lagi
terhadap mati hidupnya sendiri. Meskipun Ciu Cang Po sudah cukup berpengalaman di
dunia Kangouw, tetapi menghadapi urusan seperti ini, dia juga tidak tahu bagaimana
harus menyelesaikannya.
Mei Ling segera maju beberapa langkah.
“Hun Moay, tunggu dulu!” panggilnya.
Kiau Hun memalingkan kepalanya. Bibirnya mengulum seulas tertawa yang sumbang.
“Suhu sudah tidak menginginkan aku, untuk apa lagi Siocia memanggilku?”
“Tidak, tidak. Suhu hanya sedang emosi karena perbuatanmu. Maka dia mengucapkan
kata-kata yang menyakitkan hatimu. Nanti kalau hawa amarahnya sudah padam, pasti dia
masih menganggap kau sebagai muridnya.” kata Mei Ling gugup.
“Maksud baik Siocia, budak hanya dapat mengenangnya dalam hati. Tapi watak Suhu
bukannya kau tidak tahu. Apa yang sudah diucapkannya, selamanya tidak pernah di tarik
kembali…”
Mei Ling menarik nafas panjang.
“Sebetulnya, kau tidak perlu memukul Suhu hanya untuk menolong orang itu.”
Kembali Kiau Hun tertawa sumbang.
“Demi dirinya, aku rela berkorban apa saja.”
Mei Ling jadi tertegun mendengar ucapannya. Dia merasa heran sekali.
“Kenapa? Kau toh tidak ada hubungan apa-apa dengannya?” nada suaranya seakan
tidak mempercayai kata-kata Kiau Hun.
Kiau Hun tertawa getir. Dia tidak mengatakan apa-apa. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuhnya dan meneruskan langkah kakinya. Tiba-tiba terlihat sesosok
bayangan berkelebat dan Ciu Cang Po sudah menghadang di depan pintu.
“Letakkan anak muda itu!” katanya tegas.
“Suhu, dia sudah terluka sedemikian parah. Apakah kau benar-benar menginginkan
kematiannya baru merasa puas?”
“Aku bilang letakkan!” bentak Ciu Cang Po.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Watak orang ini keras sekali. Kata-kata yang telah diucapkannya tidak pernah bisa
dirubah oleh siapapun. Mei Ling mengerti sekali sifat gurunya. Tampak dia menarik nafas
panjang.
“Hun Moay, letakkan orang itu.”
Kiau Hun merasa bimbang sejenak. Tadinya dia sudah hampir meletakkan tubuh Tan Ki
di atas tanah, tapi tiba-tiba dia menggertakkan giginya erat-erat.
“Tidak!” sahutnya tegas.
“Bagus sekali, kau juga berani membantah apa yang akan kulakukan!” kata Ciu Cang
Po. Di wajahnya mulai tersirat hawa pembunuhan.
Kiau Hun seakan sudah dapat menduga bahwa sebentar lagi pasti akan terjadi sesuatu
yang mengerikan, namun penampilannya demikian datar dan tenang. Tidak tampak
sedikitpun ketakutan menjelang kematian.
Begitu paniknya Mei Ling sampai-sampai dia terus menggigit bibirnya sendiri. Hatinya
terkejut sekali tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tendengar suara dengusan dingin dari hidung si nenek kurus. Tongkat di tangannya
langsung dikibaskan ke kepala Kiau Hun. Hati Mei Ling tercekat melihat keadaan itu.
Tanpa sadar mulutnya mengeluarkan suara seruan terkejut.
Kiau Hun sama sekali tidak menghindar. Dia hanya memejamkan sepasang matanya
rapat-rapat dan menunggu datangnya dewa kematian. Sebetulnya hati gadis ini sadar
sekali, biarpun dia berusaha menghindar, tetapi tetap saja dia bukan tandingan Suhunya.
Dari pada dia melanggar dosa melawan guru, lebih baik dia menghadapi kematian dengan
perasaan tenang.
Tampak tongkat Ciu Cang Po dengan gerakan yang cepat serta keji menyapu datang.
Tiba-tiba…
Terdengar suara tertawa yang panjang berkumandang memenuhi seluruh ruangan.
Sesosok bayangan berkelebat di depan mata dan melewati bahunya. Kumandang suara itu
datangnya begitu mendadak. Gerakan tubuh orang itu tidak terduga-duga. kembali
terdengar suara benturan yang tidak seberapa keras, dan tahu-tahu Ciu Cang Po bersuit
marah sambil mundur tiga langkah. Hatinya tergerak, dia tahu di tempat itu telah
kedatangan seorang tokoh berilmu tinggi.
Pandangan matanya beralih, di hadapannya telah berdiri seseorang, rambutnya riapriapan.
Sebelah lengan bajunya koyak sebagian. Dia adalah seorang pengemis, pakaiannya
penuh tambalan. Tetapi karena dia berdiri membelakangi Ciu Cang Po, nenek kurus itu
tidak dapat melihat bagaimana tampang orang itu.
Ciu Cang Po memperhatikan orang itu lekat-lekat. Hatinya terkejut sekali. Serangan
yang dilancarkannya tadi paling tidak mengandung kekuatan sebesar ribuan kati. Tetapi
dengan mudah orang ini dapat menahan serangannya sehingga buyar begitu saja.
Pengalamannya mengatakan bahwa orang ini bukan tokoh sembarangan dan bukan lawan
yang dapat dipandang ringan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Siapa kau?” bentaknya dengan suara keras.
“Pengemis tua! Orang-orang biasa memanggilku si lengan koyak. Lengan bajuku yang
koyak inilah yang menjadi lambang diriku.”
Timbul sedikit perasaan tegang dalam hati Ciu Cang Po.
“Rupanya salah satu dari dua tokoh sakti di dunia. Nenek tua benar-benar beruntung
dapat berjumpa denganmu di tempat ini!”
Cian Cong mengibas-ngibaskan tangannya.
“Sudahlah, sudahlah. Tidak usah berbasa basi…” dia memperhatikan sejenak tongkat
aneh di tangan si nenek kurus. “Apakah kau yang dipanggil Ciu Cang Po?”
“Tidak salah!”
“Sebetulnya apa kesalahan kedua bocah cilik ini sehingga kau ingin membunuh
mereka? Si pengemis tua sudah hidup sampai setua ini. Kecuali makan dan minum,
apapun tidak ada yang bisa kukerjakan. Tadi aku mendengar suara ribut-ribut, aku masih
mengira pasangan pengantin baru sedang bertengkar maka sengaja aku menyelinap ke
tempat ini untuk menyaksikan keramaian. Tidak tahunya seekor kucing tua sedang
menghina dua ekor tikus kecil. Malah tampaknya bangga sekali. Si pengemis tua paling
tidak biasa melihat pemandangan seperti ini. Oleh karena itu, aku terpaksa untuk
menanyakan persoalannya sampai jelas.” kata Cian Cong panjang lebar.
Ciu Cang Po tertawa dingin.
“Ini merupakan urusan pribadi keluarga kami, kau tidak perlu turut campur!” sahutnya
ketus.
“Biar bagaimanapun si pengemis tua tetap ingin mencampuri urusan ini. Tidak bisa
tidak, harus ikut campur!” teriak Cian Cong.
Tampaknya dia seperti mengerti sekali kebiasaan Ciu Cang Po yang aneh dan angkuh.
Sengaja dia mengeluarkan kata-kata yang membuat amarahnya meluap. Benar saja! Ciu
Cang Po sampai menjingkrakkan kakinya berkali-kali saking jengkelnya.
“Bagaimana kalau aku tidak mengijinkannya?”
“Kalau perlu, kita tentukan lewat perkelahian.” sahut Cian Cong.
Watak orangtua yang satu ini agak angin-anginan. Urusan main tinju atau pukul
baginya merupakan pekerjaan yang ringan. Atau mungkin semacam rekreasi yang
menyenangkan. Selesai berkata, wajahnya masih tetap tersenyum simpul seperti orang
yang tidak serius menantang lawannya. Tidak tampak sedikitpun kecemasan tersirat pada
mimik wajahnya.
Pandangan Kiau Hun terpusat pada diri orangtua tersebut. Sinar matanya menyorotkan
perasaannya yang kagum sekali.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
‘Kalau aku mempunyai setengah dari sikapnya yang tenang dan santai saja, apabila
bertemu dengan musuh tangguh kelak, berarti aku sudah menang satu langkah,’ pikirnya
dalam hati.
Baru saja pikirannya tergerak, tiba-tiba dia merasa tubuh yang digendongnya bergeliatgeliat.
Rupanya Tan Ki sudah siuman dari pingsannya. Tampaknya dia sama sekali tidak
membayangkan kalau dirinya tersadar dari pingsan bisa berada dalam bopongan seorang
gadis. Begitu matanya memandang, wajahnya merah padam seketika. Perlahan-lahan ia
berusaha memberontak dan kemu-dian turun dari gendongan Kiau Hun.
Dalam keadaan panik, dia terlupa akan luka dalam yang dideritanya. Ketika sepasang
kakinya menginjak tanah, dia merasa dadanya sakit sekali. Hampir saja dia terjungkal ke
atas tanah.
Untung saja jarak Mei Ling tidak jauh dengannya. Begitu melihat keadaan Tan Ki,
tangannya bergerak dengan cepat. Dia mengulurkan pergelangan tangannya dan
mencekal anak muda itu, meskipun demikian, Tan Ki sudah kesakitan sehingga
mengucurkan keringat dingin. Kepalanya berdenyutdenyut.
Tiba-tiba Mei Ling tersadar bahwa dirinya adalah seorang gadis suci, tentu tidak pantas
memeluk laki-laki seperti itu, wajahnya berona merah, cepat-cepat dia melepaskan
tangannya dan mundur setengah langkah.
Meskipun dia masih polos, tetapi segulungan perasaan jengah sebagaimana layaknya
seorang gadis tetap saja ada dan hal ini membuat wajahnya jadi tersipu-sipu.
Dengan santai Kiau Hun berjalan menghampiri. Dia memegang tangan Tan Ki dan
berdiri berendengan. Walaupun di sekitarnya terdapat beberapa orang tetapi dia tidak
merasa malu sedikitpun. Selamanya dia selalu beranggapan, seorang gadis atau wanita
juga mempunyai hak untuk menunjukkan rasa senangnya. Apa yang ingin dilakukan
kontan dilakukannya tanpa berpikir dua kali. Ia merasa tidak perlu berpura-pura, yang
akhirnya menyesal sendiri. Asal perbuatan yang tidak melanggar hukum Thian, boleh saja
dilakukan sesuka hati.
Kedua gadis itu tumbuh besar bersama sejak kanak-kanak, tapi cara dan sikap dalam
melakukan sesuatu jauh berlainan. Kalau Mei Ling pemalu dan takut-takut dalam
bertindak, maka Kiau Hun supel serta romantis.
Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar!
Di antara Cian Cong dan Ciu Cang Po telah beradu tenaga dalam. Begitu kerasnya
sehingga meja dan kursi dalam kamar itu beterbangan ke mana-mana. Kedua orang ini
telah beradu keras lawan keras. Ciu Cang Po merasa telapak tangannya menjadi panas,
lambat laun terasa nyeri yang berdenyut-denyut. Serangkum tenaga berarus deras
menerpa datang dan tanpa dapat menahan diri lagi, dia tergetar mundur setengah
langkah.
Sedangkan di pihak Cian Cong, sepasang alisnya mengerut. Tubuhnya bergoyanggoyang
sejenak. Begitu keduanya mengadu telapak tangan, kalah menang sudah dapat
ditentukan. Ilmu silat kedua orang ini sebetulnya hampir seimbang. Hanya Cian Cong lebih
tinggi segaris.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Untuk sesaat keduanya berdiri terpaku dengan mata saling pandang. Mereka tidak
bergeming sedikitpun. Keduanya terpana oleh kehebatan ilmu silat yang dikuasai masingmasing
lawannya.
Tentu saja mereka sadar telah bertemu dengan lawan yang setanding. Tampak kedua
pasang mata mereka menyorotkan sinar tajam bagai kilatan cahaya dan menatap lekatlekat
pada lawannya. Mata mereka mendelik tanpa berkedip sama sekali.
Apabila tokoh silat kelas tinggi saling bergebrak, kejadiannya berlangsung dengan
cepat. Begitu telapak tangan beradu, diri mereka segera berpencar kembali. Dalam
sekejap mata, mati hidup sudah dapat ditentukan.
Mereka berdua merupakan tokoh kelas tinggi yang sudah sulit dicari tandingannya di
dunia ini. Mereka sadar kelihaian masing-masing. Maka dari itu, setelah memencarkan diri,
mereka segera menghimpun tenaga kembali dan bersiap-siap untuk melancarkan
serangan.
Awan bergerak dan angin berhembus. Pertandingan yang hebat segera akan
berlangsung. Setelah gelombang tegang yang pertama, kali ini malah terasa suasana sunyi
mencekam. Tidak ada seorangpun yang membuka suara.
Waktu merayap perlahan-lahan…
Kedua tokoh kelas tinggi itu masih tidak bergerak sedikitpun. Siapapun di antara
keduanya tidak ada yang sudi mendahului lawannya melancarkan serangan. Mereka bagai
mengadu tingkat kesabaran dalam hati masing-masing.
Diam-diam Kiau Hun melirik Tan Ki. Pemuda itu sedang menatap Mei Ling dengan
terpesona. Matanya sampai tidak berkedip. Dari sinar matanya menyorot cahaya yang
aneh. Hati gadis itu menjadi tertegun. Harapannya yang bergairah menjadi mendatar
setengahnya.
Dia tidak habis mengerti, dia sudah dua kali menempuh bahaya untuk menolong
pemuda ini, tetapi mengapa perhatiannya kepada Siocia lebih besar dan kesannya lebih
dalam? Kenapa?
Apakah pemuda, ini juga belum paham, walaupun dia sudah mencetuskan perasaannya
lewat perbuatan dengan terang-terangan? Rasanya mustahil kalau dia tidak mengerti!
Kalau dikatakan bahwa pemuda itu merasa dia menyebalkan, mengapa dia membiarkan
tangannya dipegang?
Akh… betul, Siocia adalah keturunan orang yang berada dan tokoh terkenal, sedangkan
aku hanya seorang pelayan yang menjual dirinya pada keluarga tersebut…
Dengan membawa pikiran demikian, hatinya langsung merasa pedih dan hancur
seketika. Akhirnya dia mengerti, pandangan orang di dunia ini hanya berdasarkan kulit
luarnya saja. Dengan menempuh bahaya, Kiau Hun telah menyelamatkan Tan Ki sebanyak
dua kali. Tetapi kesan yang ditimbulkannya toh masih kalah dengan asal-usul Mei Ling.
Padahal kesohoran dan kekayaan baginya hanya merupakan nama kosong saja.
Riwayat hidup Kiau Hun sangat mengenaskan. Perasaan rendah diri di dalam hatinya
otomatis lebih hebat daripada orang lain. Dengan membawa pikiran demikian, tanpa sadar
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
dia melepaskan pegangannya pada tangan Tan Ki. Perlahan-lahan dia melangkah mundur
dua tindak.
Barusan dia sudah membayangkan hal-hal yang indah. Dia bersedia melewati hidup ini
dengan Tan Ki selama-lamanya. Berdua sampai tua dan tidak terpisahkan lagi…
Tetapi pada saat ini, ketika dia melepaskan genggaman tangannya dan melangkah
mundur, hatinya pun hancur berkeping-keping. Tan Ki tidak bergeming sedikitpun. Tadinya
dia bersandar pada diri Kiau Hun. Tetapi waktu ini, matanya sedang terpaku menatap Mei
Ling. Dia malah tidak merasakan ketika Kiau Hun melepaskan genggamannya.
Kiau Hun merasa hatinya dilanda serangkum kepedihan. Air mata sebesar kacang
kedelai menetes turun membasahi pipinya. Dia merasa kedudukannya lebih rendah
daripada orang lain. Nasib juga seakan dipermainkan oleh kedudukannya…
Otaknya melintas banyak penderitaan yang dialaminya, tanpa sadar dia tertawa
sumbang. Tawa di sudut bibirnya melambangkan ratusan kuntum bunga yang berguguran.
Pilu dan sendiri…
Perlahan-lahan dia mengangkat lengan bajunya untuk menghapus air mata yang
berderai di pipinya.
“Selamat tinggal, kekasih pujaanku…” ratapnya dalam hati. Pinggangnya yang kecil
melenggok, sebentar saja dia sudah menghambur keluar dari kamar tersebut. Dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah menghilang.
Seorang gadis yang malang telah pergi. Kepergiannya tanpa menimbulkan suara
sedikitpun. Juga tidak seorangpun yang menahan kepergiannya. Seumur hidup dia belum
pernah mencelakai siapapun. Tetapi, ketika dia pergi secara diam-diam, hatinya yang
hancur berkeping-keping pun mengikuti langkah kakinya yang berat.
Sementara itu, di dalam kamar berkumandang dua kali suara yang menggelegar!
Cian Cong dan Ciu Cang Po sudah mengadu pukulan lagi. Keduanya merupakan tokoh
kelas tinggi dunia Bulim. Kehebatan serangan maupun kekuatan tenaga dalam serta cara
memukul maupun menahan diri, tidak ada satu pun yang dapat dipandang ringan dan
semuanya mengandung kekejian yang mengerikan.
Suara pukulan menghempas-hempas. Bayangan tongkat membuat mata berkunangkunang,
tampak bayangan kedua orang itu kadang melesat ke udara dan kadang
melayang turun kembali. Kadang berputaran dengan cepat dan kadang berjungkir balik
membuat salto di udara. Mei Ling terpesona sekali memandang pertandingan tersebut.
Berkali-kali tanpa sadar dia bertepuk tangan dan berseru. Bagus!
Pandangan mata Tan Ki masih terpusat pada wajahnya. Seakan dia sedang mencari
sesuatu yang masih belum ditemukannya sejak tadi. Tiba-tiba Mei Ling memalingkan
wajahnya dan menatap ke arahnya. Saat itu juga dua pasang mata bertemu. Mereka
berdua merasa hatinya tergetar. Cepat-cepat keduanya memalingkan wajah ke arah yang
lain.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam waktu yang bersamaan, mereka berdua merasakan wajahnya menjadi panas dan
rona merah menjalar sampai ke leher. Mereka bagaikan baru meminum beberapa cawan
arak dan hatipun berdebar-debar.
Sampai saat itu, Tan Ki. baru menyadari kepergian Kiau Hun. Mulutnya mengeluarkan
suara seruan terkejut dan dia segera membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat
tersebut. Dia sadar isi perutnya terluka cukup parah. Itulah sebabnya dia tidak berani
berlari namun berjalan perlahan-lahan.
Mei Ling tidak tahu untuk apa dia keluar dari ruangan tersebut. Hatinya menjadi
penasaran dan dia pun membuntuti dari belakang. Toh Suhunya sedang bertanding
dengan Cian locianpwe. Ilmu silat keduanya hampir seimbang. Dalam waktu yang singkat,
tentu sulit menentukan siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan.
Di bagian depan, Tan Ki melangkah dengan perlahan-lahan. Dalam sekejap mata dia
sudah sampai di taman bunga. Tampak cahaya keperakan berkilauan, ratusan bintang
bertaburan di langit. Sungguh malam yang indah.
Segulungan angin yang lembut membawa keharuman bunga yang berlainan jenis. Di
dalam taman itu ditanami bermacam-macam jenis bunga yang indah. Pemandangannya
membuat orang terlena.
Tan Ki seperti tidak tertarik dengan keindahan pemandangan yang terbentang di hadapannya.
Dia hanya ingin menemukan Kiau Hun secepatnya. Dia berjalan lagi beberapa
depa. Ehem! Begitu matanya memandang, tampak sesosok bayangan hitam berdiri
mematung di bawah sebatang pohon yang rimbun. Dia adalah seorang gadis yang berdiri
memunggunginya. Badannya langsing. Tampaknya usia orang ini tidak lebih dari delapan
belas atau sembilan belas tahunan.
“Cen kouwnio…!” panggil Tan Ki sambil menghambur ke arahnya. Dia tidak berani
berteriak terlalu keras karena takut akan mengejutkan Bu Ti Sin-kiam Liu Seng. Kalau
sampai asal-usulnya terbongkar, tentu akan datang banyak kesulitan bagi dirinya. Oleh
karena itu sapaanya hanya lirih saja.
Mendengar panggilannya, gadis itu membalikkan tubuh. Begitu Tan Ki memandang, dia
menjadi tertegun. Pinggangnya memang ramping dan kecil. Pakaiannya berwarna hitam.
Di punggungnya terselip sebatang pedang panjang. Sepasang matanya menatap Tan Ki
dengan curiga. Tapi dia bukan Kiau Hun yang dicari oleh anak muda tersebut.
Setelah tertegun beberapa saat, lambat laun Tan Ki mengundurkan langkah kakinya.
“Tunggu dulu!” terdengar suara bentakan gadis itu yang dingin dan berat.
Hati Tan Ki tergetar. Namun dia segera menghentikan langkah kakinya. Tampaknya
nyali gadis berpakaian hitam itu sangat besar. Dia langsung melangkahkan kakinya
menghampiri. Dalam jarak kira-kira tiga empat cun, dia berhenti.
“Apa hubunganmu dengan keluarga Liu?” tanyanya ketus.
“Tidak ada hubungan apa-apa.” sahut Tan Ki.
Perlahan-lahan bibir gadis itu mengembangkan seulas senyuman.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Bagaimana caranya membuktikan bahwa kata-katamu itu bukan dusta belaka?”
Tan Ki menjadi termangu-mangu.
“Mengapa harus dibuktikan? Aku dan engkau toh tidak saling mengenal…” dia berhenti
sejenak, kemudian melanjutkan kembali. “Aku sedang mencari seseorang.”
Tiba-tiba gadis itu tertawa dingin.
“Seumur hidupku, paling jarang aku sembarangan berbicara dengan orang lain. Malam
ini aku melanggar pantangan dan berbicara agak banyak denganmu. Lebih baik kau
tinggalkan tempat ini secepatnya. Jangan sampai menempuh bahaya yang tidak
diinginkan. Aku lihat usiamu masih muda, tidak tampak seperti orang Kangouw. Itulah
sebabnya aku menasehatimu. Urusan malam ini sangat berbahaya dan lain dari
biasanya…”
“Benar?” mendengar ucapannya, Tan Ki terkejut sekali.
“Kemungkinan iblis yang gemar membunuh orang itu akan datang kembali. Aku justru
sedang menantikannya di sini.” sahut gadis itu.
“Apakah yang Kouwnio maksudkan adalah Cian bin mo-ong?”
“Tidak salah.”
Diam-diam Tan Ki menghela nafas lega. Mimiknya yang tegang pun rada mengendur.
‘Aku justru sedang berdiri di hadapanmu.’ katanya dalam hati.
Sementara itu, gadis berpakaian hitam mengibaskan tangannya perlahan-lahan.
“Cepat pergi, jangan mengoceh sembara-hgan di sini.”
Tampaknya watak gadis ini sangat tidak sabaran. Malah terkesan agak angkuh. Ketika
berbicara wajahnya sudah mulai tampak garang. Kalau saat itu Tan Ki masih tidak pergi
juga, kemungkinan akan mendapat gebukan darinya.
Oleh karena itu, Tan Ki segera mengembangkan seulas senyuman dan membalikkan
tubuh meninggalkan tempat tersebut. Tujuannya hanya ingin mencari Kiau Hun, dia tidak
ingin ada masalah lain yang timbul. Lagipula luka dalamnya masih belum sembuh.
Tenaganya pun masih belum dapat dikerahkan sepenuhnya.
Tampaknya dia masih belum sadar kalau Mei Ling masih membuntutinya dari belakang.
Setelah mencari kurang lebih sepeminuman teh lamanya, akhirnya dia melihat bayangan
hitam seorang gadis.
Gadis itu terus mondar-mandir di bawah tembok pekarangan. Dia memang Kiau Hun
adanya. Tampangnya mengenaskan sekali. Perasaannya bagaikan tertekan. Tiba-tiba Tan
Ki merasa jantungnya berdebar-debar. Hatinya tegang sekali. Setelah bimbang sejenak,
akhirnya dia melangkah perlahan-lahan mendekati.
“Cen Kouwnio.” panggilnya lembut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Mulut gadis itu mengeluarkan suara desahan dan tubuhnya seperti bergetar. Hatinya
merasa terharu. Banyak sekali kata-kata yang ingin diucapkannya, tetapi tidak ada
sepatahpun yang keluar dari mulutnya.
Tan Ki juga memandanginya dengan termangu-mangu. Dia tidak tahu harus bagaimana
memulai percakapan. Di bawah sorotan cahaya rembulan, dua bayangan tubuh rebah di
atas rerumputan tanpa bergeming sedikitpun.
Sinar mata keduanya saling tatap menatap. Mereka seakan sedang mengukir wajah
lawan jenisnya agar terlekat di dalam hati. Sampai lama tidak ada seorangpun yang
membuka suara. Dalam keheningan… saat ini suasana menjadi mencekam. Begitu
sunyinya sehingga terdengar desahan nafas dan degupan jantung kedua orang tersebut.
Perasaan kaum perempuan biasanya memang lebih peka. Mei Ling yang bersembunyi di
balik gunung-gunung buatan mendadak mengerti apa yang sedang berlangsung di
hadapannya. Dia merasa bergairah menghadapi situasi seperti ini. Juga merasa penasaran.
Tetapi hatinya sangat baik dan sifatnya polos, maka dia seperti samar-samar mengerti
tentang urusan hati laki-laki dan perempuan. Dia tidak pernah membayangkan yang
bukan-bukan.
Lama…! Lama sekali… Tan Ki mencoba membangkitkan keberaniannya.
“Cen Kouwnio, atas budi pertolonganmu tadi, suatu hari pasti akan kubalas…”
“Apakah hanya beberapa patah kata itu yang ingin kau ucapkan kepadaku?”
Tan Ki mendongakkan kepalanya. Dia tiba-tiba merasa bahwa dalam pancaran sinar
mata Kiau Hun terkandung perasaan yang hangat dan penuh harapan. Hatinya perlahanlahan
mulai tergetar. Cepat-cepat dia palingkan wajahnya ke tempat lain dan tidak berani
memandang lagi ke arah Kiau Hun.
Setelah hening sesaat lagi, tiba-tiba telinganya mendengar suara yang lembut namun
mengenaskan.
“Tan Siangkong, kau kira mengapa aku menempuh bahaya kematian untuk menolong
dirimu?”
“Atas perhatian Kouwnio yang dalam, Cayhe pasti akan membalasnya.” sahut Tan Ki.
Kiau Hun tahu dia sengaja mengalihkan diri dari pokok pertanyaannya. Yang
dijawabnya malah urusan yang lain. Tanpa sadar dia mengembangkan seulas senyuman
yang pilu. Perlahan-lahan dia menarik nafas panjang.
Dia mengerti bahwa Tan Ki tidak mempunyai perasaan apapun terhadap dirinya. Tentu
saja, hal ini karena riwayat hidupnya yang hina dan membuat orang lain menganggapnya
rendah. Tapi bagaimanapun dia tidak habis pikir mengapa dirinya bisa mencintai pemuda
itu demikian dalam? Kenapa?
Apakah percintaan antara seorang pemuda dan pemudi demikian rumitnya dan begitu
anehnya sehingga dia sendiri tidak sanggup memberi penjelasan kepada dirinya sendiri?
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
‘Orang dulu sering mengatakan jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin hal
inilah yang terjadi pada diriku sekarang.’ pikirnya dalam hati.
Mengingat hal itu, kembali dia tertawa getir. Tampangnya menjadi muram tanpa
semangat sedikitpun. Tiba-tiba dia seperti mengingat suatu hal, bibirnya tersenyum.
“Tan Siangkong, kau mengatakan bahwa kau kelak akan membalas budiku. Entah
bagaimana cara kau membalasnya?” tanyanya.
Tan Ki benar-benar merasa di luar dugaan bahwa dia akan mengajukan pertanyaan
seperti itu. Dia tertegun beberapa saat.
“Satu budi dibalas satu kali. Ini sudah pasti. Tetapi bagaimanapun harus dilihat dari
situasi yang akan dihadapi kelak. Sekarang ini apabila Cayhe disuruh menjelaskan, tentu
saja belum bisa.” sahutnya kemudian.
Kiau Hun tersenyum.
“Tidak usah menunggu sampai kelak. Sekarang juga sudah ada, asal kau bersedia
saja.” katanya.
“Cayhe bersedia mendengar penjelasan Kouwnio. Asalkan Cayhe dapat melakukannya,
tentu permintaan Kouwnio tidak akan ditolak.”
Kiau Hun mengangkat tangannya dan merapikan rambutnya yang terurai angin.
Tampak mimik wajahnya seperti tersipu-sipu.
“Aku tidak menginginkan apa-apa darimu. Hanya… hanya ingin meme…luk dirimu
sekejap.” katanya dengan suara lirih.
Wajah gadis itu menjadi merah padam, kepalanya tertunduk dalam-dalam dan seperti
orang yang kemaluan. Tan Ki sama sekali tidak membayangkan bahwa kata-kata seperti
itu dapat terucap dari mulut seorang gadis. Hatinya terkejut sekali. Untuk sesaat dia tidak
sanggup menyahut sepatah katapun.
Kiau Hun tetap menunggu. Lama sekali dia tidak mendapat jawaban dari Tan Ki.
Perlahan-lahan dia mendongakkan wajahnya dan bertanya dengan suara yang hampir
tidak terdengar.
“Tan Siangkong, apakah kau tidak bersedia memenuhi permintaanku?”
Suaranya demikian pilu, bagai ucapan syair seseorang yang sudah putus asa. Siapa pun
yang mendengarnya pasti turut merasa pilu. Sinar mata Tan Ki bertemu pandang
dengannya sekilas. Tiba-tiba dia menyadari bahwa sorotan matanya mengandung harapan
yang besar. Juga tersirat kepedihan yang tidak terkatakan, hatinya menjadi lemah, dia
tidak tega menyakiti perasaan gadis itu. Oleh karena itu cepat-cepat dia memejamkan
matanya dan menarik nafas panjang.
“Baiklah, aku bersedia memenuhi permintaanmu…” belum lagi ucapannya berhenti,
tiba-tiba dia mengendus keharuman yang terpancar dari rambut Kiau Hun.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Matanya dipejamkan rapat-rapat, dia tidak dapat melihat pemandangan apapun.
Namun dia tetap seorang manusia hidup yang mempunyai perasaan peka. Dia merasa di
dadanya menempel sesosok tubuh yang lembut. Yang mana dengan perlahan-lahan
bersandar padanya. Perasaannya bagai dihinggapi kegairahan yang panas dalam waktu
seketika.
Dikatupnya rahangnya erat-erat. Hawa murni ia himpun segera. Diam-diam dia
berusaha mengosongkan pikiran agar gairah yang tidak menentu dapat tersapu bersih.
Namun biar bagaimanapun Tan Ki juga seorang perjaka yang belum pernah berpelukan
dengan seorang perempuan. Meskipun dia sudah berusaha sekuat kemampuan, perasaan
aneh itu tidak dapat dihilangkan sampai tuntas. Dia merasa gadis itu memeluknya
demikian erat seperti takut sekali kehilangan dirinya.
Sambil memeluk anak muda itu erat-erat, perlahan-lahan Kiau Hun mendongakkan
wajahnya. Matanya menatap Tan Ki lekat-lekat dengan pandangan sayu dan kelopak
mengembangkan air mata. Dia seakan takut Tan Ki akan lenyap dari pandangannya…
Tetapi, apa yang diharapkannya, pada saat itu juga telah memberinya kepuasan yang
tidak terkirakan. Lambat laun, bibirnya mengembangkan seulas senyuman penuh
penderitaan. Hatinya sadar, kelak dia harus meninggalkan anak muda ini untuk selamalamanya.
Dia berharap dapat memperoleh kelembutan dan kasih sayang sesaat dari pelukan itu.
Kelak, dia tidak mungkin punya harapan dari permohonan lagi, dia ingin menggunakan
waktu yang singkat ini dan menjadikan kenangan yang tidak akan terlupakan olehnya
seumur hidup.
Cahaya rembulan yang terang menyoroti bayangan mereka. Satu panjang dan yang
satu pendek…
Mei Ling melihat apa yang sedang berlangsung di hadapannya dari tempat persembunyiannya.
Sepasang matanya yang indah membelalak lebar-lebar. Semacam perasaan
yang aneh seperti kehampaan tiba-tiba merasuki hatinya. Lambat laun dia merasa
wajahnya menjadi panas membara.
Dia sendiri tidak dapat menguraikan apa yang tersirat di hatinya saat itu. Dia hanya
merasa bahwa yang terpendam dalam hatinya pasti adalah sesuatu hal yang memalukan.
Kemudian, pandangan di depan matanya membuat hatinya berdebar-debar, jantungnya
berpacu dengan cepat. Dia merasa bergairah namun jengah.
Kurang lebih sepeminuman teh kemudian, perlahan-lahan Tan Ki mendorong tubuh
Kiau Hun.
“Cen Kouwnio, ke mana tujuanmu setelah ini?” tanyanya lembut.
Kiau Hun tertawa sumbang.
“Suhu sudah mengusir aku dari pintu perguruan. Aku sendiri juga tidak tahu ke mana
tujuanku. Pokoknya di mana aku sampai, di sanalah tujuanku.” sahutnya pilu.
“Di mana orangtuamu?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Mereka sudah meninggal.”
Tan Ki menarik nafas panjang.
“Meskipun kolong langit ini luas sekali, jalanan juga sangat panjang. Tetapi kau tidak
mempunyai rumah untuk kembali…”
Pada saat itu juga, perasaan ibanya terhadap Kiau Hun terbangkit seketika. Setelah
berhenti sejenak dia baru meneruskan kembali kata-katanya. “Sama halnya dengan diriku,
aku juga termasuk yatim piatu. Meskipun aku mempunyai seorang kakak misan yang
menikah di daerah Barat, sayangnya sudah lama sekali aku tidak berjumpa dengannya.
Entah sekarang dia masih hidup atau sudah mati.”
“Apakah Tan Siangkong bermaksud mencarinya?” tanya Kiau Hun.
“Betul.”
Hati Kiau Hun menjadi gembira.
“Bagaimana kalau kita jalan bersama?” tukasnya segera.
Watak gadis ini sangat terbuka. Apa yang dipikirkannya dalam hati langsung
dicetuskannya keluar. Lagipula, Tampaknya dia masih belum putus asa mendekati Tan Ki.
Cintanya yang dalam kemungkinan sudah mencapai titik akhir.
Siapa kira, sikapnya yang berani dan terus terang justru membuat Tan Ki merasa tidak
tenang. Dia menggelengkan kepalanya berkali-kali.
“Urusan ini boleh sih boleh saja, tetapi di daerah ini aku masih ada beberapa macam
urusan yang harus diselesaikan…”
Kiau Hun tidak membiarkan dia melanjutkan kata-katanya.
“Aku bisa menunggu.” tukasnya cepat.
Mendengar ucapannya, Tan Ki merasa serba salah. Biar bagaimana dia merupakan
wujud asli dari Cian bin mo-ong, mana mungkin dia membiarkan orang tahu identitas
dirinya. Apabila dia berjalan bersama-sama gadis itu, ada kemungkinan rahasianya bisa
terbongkar. Namun melihat tampangnya yang mengenaskan dan penuh harapan, dia
merasa tidak sampai hati menolaknya. Di tundukkannya kepala dalam-dalam sambil
berpikir. Akhirnya dia menarik nafas panjang.
“Boleh juga, sementara ini kau cari penginapan di tengah kota dan tunggu di sana.
Setelah urusanku selesai, aku akan menemuimu di tempat itu.”
Kiau Hun segera tersenyum manis.
“Baik, aku akan menunggumu. Sehari kau tidak datang, aku menunggumu satu hari.
Sepuluh hari kau belum datang, aku akan menunggumu sepuluh hari. Seumur hidup kau
tidak datang, aku akan menunggumu seumur hidup.” sahutnya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Air matanya yang sebesar kacang kedelaipun menetes turun dengan deras. Tan Ki
mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut mengusap air mata di pipinya.
“Jangan curiga, aku bukan manusia semacam itu.” katanya menghibur.
Sembari menangis, Kiau Hun mengembangkan seulas senyuman.
“Aku pergi sekarang, aku akan menunggu di sebelah barat kota setiap hari.” dia
membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi. Sekejap saja bayangannya sudah
menghilang dari pandangan.
Orangnya memang sudah pergi, tetapi cinta kasihnya yang dalam masih tertinggal. Tan
Ki memandangi bayangan punggungnya sampai menghilang di kejauhan. Dia berdiri
termangu-mangu sesaat. Kemudian dia melangkahkan kakinya yang berat dan kembali ke
rumah Mei Ling.
Dia masih tidak sadar bahwa Mei Ling sudah mendahuluinya beberapa saat. Sekejap
mata dia sudah sampai di kamar gadis itu. Begitu mata memandang, dia melihat Cian
Cong dan Ciu Cang Po masih bertarung dengan sengit.
Ini merupakan pertarungan kelas tinggi di antara dua tokoh yang namanya sudah
menggetarkan dunia persilatan!
Meskipun dalam hal tenaga dalam Cian Cong masih menang setingkat dari Ciu Cang Po,
tetapi mengenai jurus pukulan ataupun tendangan, sulit membandingkan siapa yang lebih
hebat diantara keduanya.
Sampai saat ini, ribuan jurus telah berlalu, namun masih belum tampak pihak mana
yang akan tumbang terlebih dahulu.
“Bertarung dengan cara seperti ini, sampai kapan baru ada penyelesaiannya?” kata Tan
Ki dalam hati.
Pikirannya masih bertanya-tanya, tiba-tiba…
Ciu Cang Po mengeluarkan suara suitan panjang. Tongkatnya yang aneh melancarkan
tiga jurus berturut-turut, Cian Cong sampai terdesak mundur sejauh dua langkah. Nenek
itu pun segera melesat keluar dari arena.
“Tunggu dulu!’ bentaknya.
Cian Cong mendelikkan sepasang matanya lebar-lebar.
“Teriak apa, si pengemis tua masih belum puas berkelahi!” sahutnya kesal.
Wajah Ciu Cang Po semakin kecut. Dia menunjuk ke arah luar jendela.
“Coba kau lihat, sekarang sudah waktu
apa?”
Cian Cong mengikuti arah telunjuknya. Tanpa sadar mulutnya berseru terkejut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Akh… rupanya sudah pagi. Masa bodoh! Pokoknya kita harus bertarung lagi sebanyak
tiga ratus jurus!” sepasang telapak tangannya memutar, dia sudah bersiap-siap
melancarkan sebuah serangan.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang lantang…
“Locianpwe, harap berhenti sebentar!” kumandang suaranya masih belum sirap, dari
luar kamar telah terdengar suara derap langkah kaki.
Tampak bayangan berkelebat, secara berturut-turut masuk tiga orang ke dalam kamar
itu. Tan Ki menolehkan kepalanya. Pertama-tama masuk Bu Ti Sin-kiam Liu Seng ke dalam
kamar dengan tergesa-gesa. Ciong San Suang-siu, Cu Mei dan Yi Siu mengikuti di
belakangnya.
Tenyata Cian Cong mempunyai sikap yang ugal-ugalan. Dia tidak pernah
memperdulikan segala tata krama atau etiket. Seorang diri dia berjalan ke taman bunga
dan kemudian duduk terkantuk-kantuk di tempat tersebut. Tadi malam secara berturutturut
Ciu Cang Po memukul hancur tiang penyangga loteng dan beberapa pot bunga serta
pajangan di dalam kamar Mei Ling. Kegaduhan itu membuat si pengemis sakti yang paling
benci segala macam kejahatan jadi tergugah. Oleh karena itu, dalam keadaan yang
membahayakan, dia keburu muncul sehingga jiwa Kiau Hun dan Tan Ki sempat tertolong
olehnya.
Tetapi, meskipun dia sudah lama menggetarkan dunia persilatan serta dikagumi orang
banyak, namun dia mempunyai semacam kebiasaan yang menyebalkan. Yaitu gaya
hidupnya yang santai. Dia boleh tidak tidur atau berkelahi selama tiga hari tiga malam.
Tetapi kalau suruh orangtua ini tidak makan setengah harian saja, dia merasa lebih baik
dibunuh mati. Belum lagi seleranya yang tinggi. Dia tidak dapat makan kalau tidak ada
daging ayam, ataupun arak bagus. Setiap hari menjelang pagi, selera makannya justru
bertambah besar. Secara diam-diam dia menyelinap ke dalam dapur dan makan serta
minum sepuasnya. Dengan demikian dia baru dapat mempertahankan diri dan tidur
nyenyak. Kalau tidak, entah rumah makan besar atau kedai arak mana yang akan tertimpa
kesialan karena dapur mereka kebobolan. Pemilik rumah makan atau kedai tersebut malah
mengira kalau tempat mereka telah digerayangi siluman serigala.
Liu Seng paham sekali kebiasaan orangtua ini, itulah sebabnya setiap malam dia
menyuruh para pelayannya menyiapkan hidangan yang lezat serta arak yang harum di
dapur. Siapa tahu pagi ini ketika dia melongok ke dapur, hidangan dan arak masih belum
tersentuh sedikitpun. Berdasarkan pengalamannya yang luas, Liu Seng segera merasa
telah terjadi sesuatu yang tidak beres. Dengan tergesa-gesa dia mengajak Ciong Sang
Suang-siu mencari ke taman bunga. Kebetulan dia mendengar suara perkelahian dan
segera menuju kamar Mei Ling.
Ciu Cang Po melihat pihak lawannya telah kedatangan bala bantuan, langsung tertawa
dingin. Tapi dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
****
BAGIAN V
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Hayo jawab, hayo jawab! Nenek pengemis, si pengemis tua sedang menunggu kau
membuka mulut emasmu!”
Cian Cong memalingkan wajahnya sambil mendelik lebar-lebar. “Urusan si pengemis
tua kalian jangan ikut campur!” bentaknya.
Sekali lagi Ciu Cang Po tertawa dingin.
“Kentungan ketiga malam ini, aku akan menantikanmu di sebelah Barat kota, tepatnya
di rumah makan Cui Sian Lau!”
Mata nenek itu segera beralih pada diri Tan Ki.
“Terlalu enak membiarkan kau hidup sehari lagi!” gumamnya sambil melotot. Tubuhnya
berkelebat dan dalam sekedipan mata dia sudah menghilang dengan menerobos
jendela kamar.
Kegesitan dan kecepatan gerakannya membuat para hadirin meleletkan lidah saking
kagumnya. Terdengar Cian Cong bersin satu kali. Dia mengelus-elus perutnya dan
bergumam seorang diri,
“Kalau tidak berkelahi, cacing arak si pengemis tua ini mulai bertingkah lagi.”
Tentu saja Liu Seng mengerti bahwa ucapan itu ditujukan kepadanya. Dia segera
menjura dalam-dalam.
“Sekarang juga Boanpwe akan menyuruh para pelayan menyiapkan.” dia langsung
membalikkan tubuh dengan maksud menepati ucapannya. Tiba-tiba terdengar Cian Cong
berkata…
“Bagus sekali, si pengemis tua kalau sudah datang malasnya, rasanya sudah tidak
kepingin bergerak sedikitpun. Suruh saja pelayanmu mengantarkan makanan dan arak ke
mari.”
Liu Seng langsung tertegun mendengar ucapannya. Tingkahnya jadi serba salah. “Ini…
ini kamar peristirahatan putri…” Cian Gong langsung mendelik lebar-lebar.
Dengan tampang tidak senang dia berkata…
“Apa sih kamar peristirahatan atau kamar tidur, kalau si pengemis tua hatinya senang,
mungkin bocah perempuan ini akan diterima sebagai murid.” tanpa memperdulikan yang
lainnya, dia langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur Mei Ling.
Tempat tidur itu indah dan kasurnya lembut dengan kelambu yang terbuat dari kain
sulaman yang mahal. Tanpa memperdulikan pakaiannya yang kotor dan koyak, seenak
perutnya dia rebah dan memejamkan mata, kenikmatan. Liu Seng menundukkan
kepalanya sambil merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Perlahan-lahan Cu Mei
menjawil ujung lengannya sembari memberi isyarat dengan kedipan mata. Akhirnya ketiga
orang itu keluar dari kamar tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Cian Cong melepaskan kendi arak dari selipan ikat pinggangnya. Mula-mula dia meneguk
arak sebanyak dua tegukan dan kemudian ditutupnya kembali, lalu diletakkan di
belakang kepala sebagai bantal.
“Bocah perempuan, ke mari dan tonjokkan paha si pengemis tua yang terasa pegal ini!”
teriaknya.
Mendengar permintaannya, Mei Ling segera menghampiri. Dia duduk di tepi tempat
tidur dan memukul paha Cian Cong dengan kepalan tangannya yang mungil secara bergantian.
“Bocah busuk, apakah lenganmu tidak patah terkena pukulan si nenek pengemis tadi?”
teriak Cian Cong dengan nada menggerutu.
Tan Ki mengiakan dengan suara lirih. Dengan tergesa-gesa dia menghampiri. Tapi karena
Mei Ling menghalangi jalannya, dia terpaksa melepaskan sepatu dan naik ke atas
tempat tidur.
Dia mengendus serangkum bau harum yang samar-samar. Keletihannya sepanjang
malam bagai sirna dan pikirannya jadi ikut tergetar. Sudah tentu bau harum itu terpancar
dari tubuh Mei Ling.
Cian Cong memperhatikan dirinya dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Tiba-tiba
sepasang alisnya menjungkit ke atas.
“Bocah cilik, usiamu masih begitu muda, mengapa memakai jubah semacam itu? Mana
lebar mana kedodoran, seperti yang biasa dikenakan oleh orangtua. Ketika pertama kali
melihat dirimu, si pengemis rasanya tidak asing, tetapi sekarang malah lupa siapa yang
memakai jubah seperti ini.”
Hati Tan Ki tercekat.
‘Orangtua ini tampaknya ugal-ugalan, tetapi sikapnya teliti seekali. Sekali lihat saja dia
sudah tahu bahwa pakaian ini bukan milikku. Untung saja dia masih belum menyadari
bahwa aku yang menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu. Saat itu aku juga mengenakan
pakaian yang sama.’ pikirnya dalam hati.
Hatinya tergerak, mulutnya malah tidak berani menyahut sepatah katapun. Dia tidak
ingin Cian Cong sampai memperpanjang masalah itu yang akhirnya rahasia samarannya
mungkin akan terbongkar.
Terdengar Cian Cong menghembuskan nafas panjang.
“Si pengemis tua sudah bertahun-tahun tidak pernah merasakan kesenangan seperti
ini. Ah… rasanya nyaman sekali…” tiba-tiba sepasang alisnya mengerut kembali. Dia
seperti teringat akan sesuatu hal. Cepat-cepat dia melanjutkan kata-katanya. “Tadi malam
ketika kau menyelinap pergi, apakah kau bertemu dengan seorang gadis berpakaian hitam
yang dipunggungnya terselip sebatang pedang panjang? Kalau si pengemis tua tidak salah
menerka, kau pasti kena caci makinya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tidak menyangka bahwa Cian Cong yang sedang bertarung dengan sengit tadi
malam masih sempat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sekitarnya. Hatinya terkejut
sekali.
“Apa? Locianpwe telah menyaksikan semuanya?”
Cian Cong tertawa lebar.
“Kalau si pengemis tua sudah menyaksikan terlebih dahulu baru berbicara, namanya
bukan kepandaian lagi.”
Tan Ki menganggukkan kepalanya berkali-kali.
“Ketemu sih memang benar, tetapi tidak terkena caci makinya.”
“Gadis berpakaian hitam itu, di daerah Utara, Barat dunia Kangouw paling terkenal
sebagai manusia yang tidak kenal aturan. Siapapun yang bertemu dengannya berarti di
timpa kesialan, kalau hanya memaki beberapa patah kata saja masih tidak aneh.”
“Kalau mendengar ucapan Locianpwe, tampaknya kena caci maki gadis itu beberapa
patah kata adalah hal yang lumrah. Kalau Boanpwe tidak melihat dia seorang gadis, ingin
rasanya memberi pelajaran sedikit biar jera.”
“Gadis itu paling susah dihadapi, lebih baik kau jangan mencari gara-gara dengannya.”
kata Cian Cong.
“Apakah Locianpwe mengenalnya?”
Cian Cong mengambil hiolo araknya kembali dan meneguk setegukan besar. Bibirnya
tersenyum.
“Si pengemis tua tidak takut langit dan bumi, tapi terhadap bocah perempuan ini justru
kepala selalu pusing. Aku saja tidak berani mencari perkara dengannya, kau terlebih-lebih
tidak boleh. Kalau tidak, pasti akan ketemu batunya…”
Sikap Tan Ki pada dasarnya keras kepala dan angkuh. Mendengar nada bicaranya yang
begitu hebat menggembar-gemborkan kegalakan si gadis berpakaian hitam, semangatnya
malah terbangkit dan semakin penasaran.
“Kalau begitu, apabila kelak bertemu dengannya lagi, Boanpwe justru ingin meminta
pelajaran darinya.”
Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Emosi si bocah busuk ini cepat juga terbangkitnya… oh ya, kita sudah bicara panjang
lebar, si pengemis tua masih belum tahu siapa namamu dan nama gurumu yang mulia?”
“Boanpwe She Tan dengan nama tunggal Ki. Sedangkan nama Suhu… nama Suhu…”
Tan Ki menjadi gagap gugup menjawab pertanyaannya.
Ilmu silat Tan Ki secara keseluruhan didapatkan dari hasil curian di kuburan para ketua
Ti Ciang Pang. Mana mungkin dia mempunyai guru atau nama perguruan yang dapat
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
disebutkannya? Kalau dia di suruh asal sebut sebuah nama saja, tentunya kebohongannya
pasti bisa terbongkar seketika.
Cian Cong hanya mengucapkan sepatah ‘Oh…’ dan tidak mendesaknya lebih lanjut.
Kemudian tampak orangtua itu menundukkan kepalanya seakan ada suatu pikiran rumit
yang melintas di benaknya.
Mimik wajahnya itu malah membuat perasaan Tan Ki semakin tidak tenang.
‘Beberapa malam yang lalu aku menyamar sebagai Tian Tai Tiau-siu, pakaian inilah
yang kukenakan malam itu. Apakah dia tiba-tiba teringat siapa yang mengenakan pakaian
ini?’ tanyanya dalam hati.
Pikirannya melayang-layang. Semakin direnungkan rasanya semakin benar. Tanpa
terasa tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sebelum dirinya terluka saja, dia sudah
bukan tandingan Cian Cong. Saat ini apabila terjadi perkelahian tentu dia tidak bisa
melepaskan diri lagi dari maut.
Tiba-tiba terdengar lagi suara langkah kaki yang riuh. Tiga orang pelayan masuk ke
dalam kamar dengan membawa berbagai hidangan. Liu Seng dan Ciong San Suang Siu
mengiringi dari belakang.
Tan Ki memperhatikan situasiyang dihadapinya. Diam-diam hatinya berpikir lagi.
“Kalau si pengemis tua itu sudah mengetahui atau curiga dengan identitas diriku, atau
terus mendesak aku dengan berbagai pertanyaan, kemungkinan lama-lama rahasiaku akan
ketahuan juga. Waktu itu apabila aku berniat meloloskan diri, tentu tidak sempat lagi.”
Karena mempunyai pikiran seperti itu, cepat-cepat dia berdiri dan menjura dalam-dalam,
“Boanpwe mohon diri.”
Cian Cong segera meletakkan cawan arak di tangannya dan mendongakkan wajahnya.
“Kau hendak ke mana?”
Wajah Tan Ki merah padam. Hatinya tetap merasa tidak tenang, tetapi dia berusaha
untuk tidak menunjukkannya.
“Di sebelah Barat kota ada seorang teman yang sedang menunggu aku. Boanpwe
sudah sepanjang malam tidak kembali, tentunya teman itu akan tidak tenang memikirkan
aku…”
Cian Cong tertawa lebar. “Rasanya yang tidak tenang bukan temanmu itu.”
Hati Tan Ki berdebar-debar. Dia semakin yakin Cian Cong sudah mengetahui identitas
dirinya. Dia mana tahu kalau Cian Cong yang mempunyai mata awas melihat Kiau Hun
pergi dan tidak kembali lagi. Kemudian dia juga melihat Mei Ling yang mengikuti di
belakangnya, kembali dengan wajah, bermuram durja. Orangtua yang berpengalaman luas
itu segera dapat menduga bahwa terjadi sesuatu diantara ketiga orang itu bukan karena
dia telah berhasil mengungkap identitas diri Tan Ki.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, tampak Tan Ki membalikkan tubuh dan bergegas meninggalkan kamar
itu. Liu Seng serta rekan-rekannya mengira dia saling kenal dengan Cian Cong, maka dari
itu mereka tidak menghalangi kepergiannya, malah memberi jalan dengan bergeser agar
dia dapat melewati pintu kamar.
Tiba-tiba tubuh Tan Ki yang menghambur keluar dengan tergesa-gesa tadi, mendadak
surut kembali seakan melihat sesuatu yang di luar dugaannya. Orang-orang yang ada di
dalam kamar itu jadi tertegun.
Begitu mata memandang, di ambang pintu, entah sejak kapan telah berjalan masuk
seorang gadis berpakaian hitam. Dengan mimik wajah yang datar dan dingin, dia menghampiri
Cian Cong. Bibirnya langsung tersenyum mengejek.
“Hm, sebagai seorang tokoh angkatan tua dunia Bulim, ternyata bisa mengeluarkan
ocehan yang bukan-bukan dengan menceritakan keburukan diriku. Benar-benar orangtua
yang tidak waras!” makinya.
Mendengar ucapannya, si pengemis sakti langsung menoleh ke arah Tan Ki dan
menjungkitkan sepasang alisnya. Gadis berpakaian hitam itu juga menoleh ke arah Tan Ki
serta menggerak-gerakkan bibirnya bagai berkata kepada dirinya sendiri, “Sudah sebesar
ini, di belakang punggung orang masih berkicau terus. Seperti tidak rela mengalah kepada
generasi yang lebih muda. Kalau disiarkan keluar, tentu akan menjadi bahan tertawaan.”
Kata-katanya ini diucapkan dengan santai dan wajar, tapi orang yang bersangkutan
tentu akan merasa sakit hati. Perlahan-lahan Tan Ki melirik Cian Cong sekilas. Tampak
orangtua itu malah mengalihkan wajahnya ke tempat lain seakan tidak mendengar apa
yang dikatakan oleh gadis berpakaian hitam itu. Melihat keadaannya, Tan Ki segera sadar
bahwa orangtua ini benar-benar enggan berurusan dengan si gadis.
Diam-diam hatinya tergerak.
‘Dengan kedudukan si pengemis tua sebagai tokoh kelas tinggi dan sikapnya yang ugalugalan,
mengapa terhadap gadis berpakaian hitam ini malah demikian segan dan
mengalah?’ pikirnya bingung.
Apakah kata-kata Cian Cong tentang gadis ini bahwa dia merupakan orang yang paling
sulit dihadapi benar adanya? Hatinya rada kurang percaya. Tanpa sadar dia menoleh
beberapa kali ke arah gadis tersebut. Tampaknya gadis berpakaian hitam itu juga sangat
memperhatikan Tan Ki. Begitu pemuda tersebut menoleh, dia langsung mendelikkan
matanya lebar-lebar.
“Apa yang kau lihat?” bentaknya dengan nada marah.
Mendengar bentakannya, tanpa terasa wajah Tan Ki menjadi merah saking jengahnya.
Tapi dia memang merupakan seorang manusia yang tinggi hati. Kata-kata gadis itu
membuat amarahnya meluap seketika.
“Apapun yang ingin kulihat, rasanya tidak ada hubungannya dengan dirimu.” sahutnya
ketus.
Rupanya si gadis tidak menyangka Tan Ki akan memberi jawaban seperti itu. Dia jadi
tertegun beberapa saat…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tentunya kau belum tahu siapa aku sehingga berani berbicara dengan aku dengan
nada membentak seperti tadi. Kalau kau sudah tahu, pasti kau tidak akan seberani itu…”
Tan Ki tertawa dingin.
“Lihat tampangmu yang begitu sombong dan tidak sopan terhadap angkatan yang lebih
tua. Kalau saja kau seorang laki-laki, aku pasti akan memberi pelajaran yang keras
untukmu.”
Gadis berpakaian hitam itu seperti tidak percaya. Wajahnya menyiratkan mimik seperti
orang yang sedang tertawa tapi tidak bisa.
“Kau berani?”
“Mengapa tidak berani?” bentak Tan Ki kembali.
Gadis berpakaian hitam itu menarik nafas perlahan-lahan. Dia menatap wajah Tan Ki
sampai lama sekali.
“Sejak keluar dari rahim ibu, aku belum pernah menerima hinaan apapun. Di seluruh
dunia ini, orang yang berani memaki aku secara terang-terangan, aku rasa kaulah orang
yang pertama…”
“Kalau begitu aku malah harus merasa bangga.” sahut Tan Ki tenang.
Gadis berpakaian hitam itu mengedarkan pandangannya ke orang-orang di dalam kamar.
Kemudian dia memalingkan wajahnya.
“Kau berani memaki aku secara terang-terangan, mungkin karena kau anggap ada
beberapa orang yang dapat kau andalkan. Aku justru ingin melihat sampai di mana
kehebatanmu itu!” begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kecil dan langsing langsung
melesat ke udara dan ketika pergelangan tangannya memutar, secara berturut-turut dia
melancarkan tiga buah serangan dan delapan buah totokan.
Sebetulnya serangan ini berjumlah empat jurus. Kecepatannya bagai cahaya kilat. Meskipun
dia melancarkan serangannya satu per satu, namun begitu cepatnya sehingga
tampak dikerahkan dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak tangan
yang sedang mengincar diri Tan Ki.
Hati anak muda itu sampai tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa penasaran.
Usianya masih begitu muda, namun kungfunya sudah demikian hebat. Benar-benar suatu
hal yang jarang terdengar maupun dijumpai. Kalau ia belum terluka, tentu tidak ada hal
yang perlu ditakutinya. Tapi kenyataan yang terpampang di depan mata, justru lukanya
masih belum sembuh. Tentunya dia belum bisa menggunakan anggota tubuh maupun
tenaga dalamnya dengan leluasa. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia mundur
beberapa langkah.
Diam-diam dia merasa heran.
‘Mengapa ilmu silat gadis ini hampir mirip dengan ilmu yang aku pelajari?’ tanyanya
dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampak di wajahnya tersirat perasaan yang tidak tenang. Sementara Cian Cong sedang
merasa cemas sekali. Sepasang alisnya mengerut erat-erat. Mulutnya tidak mengeluarkan
sepatah katapun. Dia takut Tan Ki tidak memperdulikan cara turun tangannya sehingga
gadis berpakaian hitam itu akan terluka. Tapi dia juga sadar bahwa gadis ini sangat licik
serta keji. Sedikit-sedikit selalu main bunuh. Ada kemungkinan Tan Ki yang akan terluka di
tangannya.
Matanya perlahan-lahan mengedar, dia melihat Liu Seng dan Ciong San Tiau Siu bertiga
juga menyiratkan perasaan khawatir yang sama dengan dirinya. Wajah mereka tampak
tegang.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan gadis itu…
“Jangan lari!” pergelangan tangannya bergerak, sekaligus dia melancarkan dua belas
pukulan. Tampak bayangan telapak tangan yang banyak seperti ombak yang
menghempas-hempas. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya berderu-deru. Seluruh
ruangan itu sampai dipenuhi terpaan angin dari telapak tangannya.
Tan Ki menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba dia melangkah mundur tiga langkah. Dia
mengerti luka dalamnya masih belum sembuh. Kalau bisa dia tidak ingin menyambut
serangan gadis itu dengan kekerasan.
Siapa tahu sikap gadis itu sungguh bera-ngasan. Dia tidak senang melihat Tan Ki
seakan menghindarkan diri dari serangannya. Secara mendadak dia menarik kembali
sepasang tangannya. Dengan posisi menahan di depan dada, tahu-tahu dia melancarkan
sebuah pukulan.
Serangan ini mengandung tenaga yang sepenuhnya. Begitu dilancarkan, kekuatannya
bukan alang kepalang. Terpaan angin yang timbul dari pukulannya bagai badai yang
melanda dan sulit dibendung.
Meskipun kamar Mei Ling ini cukup luas, namun besarnya paling-paling dua depaan.
Sedangkan Tan Ki sudah mundur dua kali berturut-turut. Punggungnya sudah menempel
pada meja rias yang terdapat dalam kamar tersebut. Melihat datangnya serangan yang
hebat itu, dia tidak mempunyai tempat untuk melindungi diri lagi. Hawa amarah dalam
hatinya jadi meluap. Dengan menggertakkan gigi erat-erat, dia melancarkan sebuah
pukulan.
Dalam sekejap mata… waktu yang sesaat itu begitu cepatnya sehingga mata para
hadirin menjadi berkunang-kunang. Telinga mereka mendengar suara dengusan sebanyak
dua kali yang saling susul menyusul. Bayangan manusia berpencaran ke kiri dan kanan, di
susul dengan sebuah suara yang menggelegar. Gadis berpakaian hitam yang pertamatama
terhem-pas ke atas lantai kamar.
Wajah Tan Ki pucat pasi. Di sudut bibirnya terlihat tetesan darah. Tampangnya kusut.
Seperti orang yang sudah tidak tidur selama tiga hari tiga malam. Dia berdiri dengan
tubuh bersandar pada meja rias.
Perubahan yang mendadak ini, benar-benar di luar dugaan setiap orang. Penglihatan
Cian Cong sangat tajam. Meskipun dengan jelas dia melihat keduanya beradu pukulan,
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
tapi walaupun hatinya berniat menolong, namun sudah terlambat. Dia terkejut sekali
melihat kenyataan yang terpampang di depannya.
“Celaka!” serunya sambil menggerakkan tubuh dan melesat ke depan.
Tiba-tiba terlihat wajah Tan Ki berubah hebat. Begitu mulutnya terbuka, dua kali
berturut-turut dia memuntahkan darah segar. Sepasang matanya membelalak dan diapun
terkulai jatuh entah dalam keadaan masih hidup atau sudah mati.
Perubahan yang saling susul menyusul ini terjadinya begitu cepat sehingga sulit diuraikan
dengan kata-kata. Hal ini membuat orang-orang tidak sempat memberi pertolongan.
Walaupun Cian Cong yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi juga menjadi kalang kabut
menghadapi situasi seperti ini. Dia tidak tahu pihak mana yang harus ditolongnya terlebih
dahulu.
Untuk sesaat, Liu Seng beserta rekannya juga menjadi termangu-mangu. Untung Cian
Cong lebih sigap. Setelah rasa terkejutnya hilang, dia mengatur nafasnya sejenak dan
berpikir matang-matang. Pertama-tama dia menghambur ke arah gadis berpakaian hitam.
Dia membungkukkan tubuh dan mengulurkan tangannya ke arah dada gadis berpakaian
hitam tersebut. Belum lagi tangannya sempat menjamah ke arah yang ditujunya,
tiba-tiba gerakannya terhenti. Tampaknya dia teringat sesuatu hal dan membatalkan
niatnya.
Sepasang alisnya bertaut erat. Setelah tertegun sesaat, akhirnya dia menolehkan
kepala dan menggapai ke arah Mei Ling.
“Bocah perempuan, coba kau ke mari dan tempelkan telapak tanganmu pada dadanya.
Lihat apakah jantungnya masih berdenyut atau tidak?” perintahnya.
Mei Ling tersenyum simpul.
‘Begitu baru benar. Aku kira saking paniknya kau ingin menolong orang sehingga bagian
terpenting dari tubuh seorang gadis juga akan kau jamah begitu saja…!’ pikirnya
dalam hati.
Tiba-tiba wajahnya menjadi merah padam. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri lalu
bergegas berjalan menuju ke tempat si gadis berpakaian hitam seperti yang diperintahkan
oleh Cian Cong. Dia mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke dada gadis itu.
“Masih berdenyut, namun sudah lemah sekali.” sahutnya.
Mendengar ucapannya, Cian Cong sampai menghentak-hentakkan kakinya sambil
menggerutu panjang lebar.
“Bocah bagus, tidak perduli pukulan tangan sendiri ringan atau berat malah berani
melukainya sedemikian parah. Nanti kalau kakek moyangnya datang, kita terpaksa harus
mengadu tinju sampai puas!” mendengar nada bicaranya, dia seperti pusing sekali
menghadapi masalah ini. Kepalanya digelengkan berkali-kali.
Baru saja ucapannya selesai, tiba-tiba sebuah suara yang dingin berkumandang dari
depan pintu…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Rupanya Cian Cong masih mempunyai gairah sehebat itu?”
Suara ini datangnya mendadak sekali. Tanpa sadar Cian Cong berseru terkejut. Cepatcepat
dia membalikkan tubuhnya dan mengalihkan pandangan ke depan pintu…
Di ambang pintu, entah sejak kapan telah berdiri seorang laki-laki yang tua dan bertubuh
kurus. Dia mengenakan jubah berwarna hijau, wajahnya bersih dan tenang. Tetapi
penampilannya menimbulkan kesan bahwa dia bukan orang yang mudah didekati, bahkan
agak angkuh.
Tampak di ujung lengan baju sebelah kiri, tersembul sebuah telapak tangan yang mengeluarkan
kilauan cahaya yang menyolok mata. Pertama-tama Cian Cong tertegun agak
lama. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
“Lok Laotao (bapak tua) jangan bergurau, kita sudah lama sekali tidak berjumpa lho!”
Orangtua berjubah hijau itu tertawa dingin.
“Masih lumayan, hengte masih belum masuk liang kubur, akhir-akhir ini Cian heng
rasanya…” begitu matanya beredar, dia langsung mengeluarkan seruan terkejut. Tidak
terlihat bagaimana caranya bergerak, tahu-tahu orangnya sudah sampai di samping gadis
berpakaian hitam.
Ketinggian ilmu ginkang yang diperlihatkannya, membuat wajah Liu Seng beserta Ciong
San Tiau Siu berubah hebat. Pandangan mereka sampai berkunang-kunang. Begitu
penglihatan dialihkan kembali, tampak tubuh orangtua berjubah hijau itu bergetar keras.
Dia seperti baru saja mendapat pukulan bathin yang hebat.
Terdengar suara ratapannya yang pilu dengan suara parau dan tersendat-sendat.
“Ingji, oh Ingji, kau pergilah. Setelah kau mati, Kong kong pasti akan membunuh seratus
tokoh Bulim sebagai korban untukmu dan teman di saat penguburanmu.”
Hati Cian Cong tercekat sekali.
“Hei, Lok laotao, masa nyawa cucu perempuanmu bernilai begitu tinggi?” teriaknya
kesal.
Begitu kesal dan sedihnya orangtua berjubah hijau sampai mengeluarkan suara tertawa
yang panjang.
“Kau kira siapa dan apa kedudukan cucu perempuanku ini. Biarpun seratus atau seribu
lembar nyawa tokoh Bulim juga hanya pantas dibandingkan dengan selembar bulu kakinya
saja!”
Cian Cong ikut-ikutan tertawa dingin.
“Nyawa cucu perempuanmu begitu berharga, apakah nyawa orang lain bukan nyawa
juga, tapi sampah?” sahutnya kesal.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tampaknya kesedihan orangtua berjubah hijau sudah mencapai puncaknya. Emosi
yang meluap-luap dalam hatinya tiada tempat untuk disalurkan. Oleh karena itu, dia
mengangkat telapak tangannya dan menghantam meja bundar di tengah ruangan yang
terbuat dari kayu. Terdengar suara geprakan yang keras, meja itu pun sompal bagian
ujungnya.
Matanya mendelik lebar-lebar. Sinar matanya mengandung api yang berkobar-kobar.
“Siapa yang membunuh cucu perempuanku yang baik?” tanyanya marah.
Nada suaranya melengking tinggi. Bagai ratapan dan tangisan setan-setan di malam
hari. Orang yang ada di dalam ruangan kecuali Cian Cong, tidak ada satupun yang tidak
tergetar. Bulu kuduk mereka seakan merinding semua.
Cian Cong malah tertawa lebar.
“Kau datang-datang langsung marah-marah seperti orang gila, bukannya lihat dulu
keadaan dengan jelas. Apakah kau yakin cucu perempuan kesayanganmu itu benar-benar
sudah mati? Hm, tindakanmu yang membabi buta itu, apa pantas menjabat sebagai
pangcu dari Ti Ciang Pang yang tersohor itu?” sindirnya tajam.
Kata-katanya yang terakhir, membuat Liu Seng serta rekan-rekannya terperanjat. Hati
mereka tergetar…
Diakah pangcu dari Ti Ciang Pang? Tokoh yang gerak-geriknya bagai naga sakti?
Perlu diketahui bahwa Ti Ciang Pang adalah sebuah perkumpulan yang menjunjung
tinggi keadilan. Beberapa tahun ini kebesaran nama mereka benar-benar ibarat matahari
yang terbit di pagi hari.
Kekuasaan mereka sudah tersebar luas. Kehebatan mereka menjadi buah bibir di mana-
mana. Kebesaran nama perkumpulan ini boleh dikatakan malah lebih hebat dari lima
partai besar.
Sedangkan pangcu dari Ti Ciang Pang, dalam pandangan tokoh-tokoh Bulim lainnya,
seperti seorang tokoh yang misterius, berwibawa, angker… membuat mereka berperasaan
seakan suatu benda pusaka yang hanya boleh dilihat namun tidak boleh tersentuh.
Justru pada saat ini, ketiga orang itu melihat wajah asli pangcu Ti Ciang Pang ini. Tentu
saja mereka merasa terkejut dan penasaran. Tanpa sadar mereka malah melihat terus
berkali-kali.
Sementara itu, tampak pangcu Ti Ciang Pang yang bernama Lok Hong itu membungkukkan
tubuhnya dan memeriksa hembusan nafas dari hidung si gadis berpakaian hitam.
Setelah agak lama, akhirnya dia menghela nafas lega. Tampangnya yang tadi tegang juga
sudah jauh mengendur. Bibirnya tersenyum.
“Kalau bukan disadarkan oleh kata-kata Ciang heng, hengte hampir saja berbuat kesalahan
besar.”
Cian Cong ikut-ikutan menarik nafas panjang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Lok Laotoa, apapun yang kau perbuat selama ini, selalu menerbitkan kekaguman di
hati si pengemis tua ini. Tapi terhadap-cucu perempuanmu ini, tampaknya kasih sayangmu
agak berlebihan. Seandainya dia kehilangan selembar rambutnya saja, mungkin lebih baik
kau kehilangan seluruh janggutmu yang panjang itu.” gerutunya.
Lok Hong hanya tersenyum simpul. Dia tidak memperdulikan ocehan Cian Cong. Pa-da
dasarnya sikap orang ini berjiwa lapang. Kalau marah hanya sebentar. Sesudahnya dia
akan kembali seperti biasa lagi. Sekarang tampak dia mengangkat sebelah telapak
tangannya kemudian menempelkannya pada punggung si gadis berpakaian hitam.
Setelah lewat beberapa saat, mula-mula terdengar suara keluhan dari mulut si gadis
berpakaian hitam, perlahan-lahan matanya membuka dan sadarkan diri. Sedangkan luka
yang diderita Tan Ki lebih parah. Oleh karena itu, sadarnya lebih lama daripada sang
gadis.
Lok Hong menggendong si gadis berpakaian hitam dan berdiri. Tangannya diselusupkan
ke balik pakaian, lalu dikeluarkannya sebutir pil yang lalu dimasukkan ke dalam mulut si
gadis, bibirnya tersenyum.
“Anak baik, yang pintar ya. Biar Yaya menyayangimu.” katanya. Tangannya terulur
untuk mengelus-elus kepala gadis itu. Sikapnya lembut sekali, tak terlihat lagi tampangnya
yang garang seperti pembunuh tadi.
Gadis berpakaian hitam menatap ke arah kakeknya. Pertama-tama dia agak tertegun
sampai tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Setelah mendengar ucapan kakeknya
yang menyentuh hati, dia langsung membuka mulut dan menangis meraung-raung.
Tangannya menuding Tan Ki yang baru merangkak bangun.
“Dia… dia menghina aku…” katanya.
Lok Hong tersenyum simpul.
“Nyali bocah ini sungguh besar. Beraninya dia menghina cucu perempuanku yang baik.
Coba kau lihat, Yaya akan mengajar adat padanya!” begitu kata-katanya selesai, sebelah
tangannya bergerak dan menghantamkan sebuah pukulan.
Kecepatannya bagai kilat…
Tan Ki sedang memperhatikan tanya jawab antara kakek dan cucu tersebut. Tiba-tiba
dia merasa pipinya ditempeleng dengan keras. Baru saja dia hendak mengangkat
tangannya untuk menangkis, telapak tangan Lok Hong sudah mendarat di pipi kirinya dan
tahu-tahu orangtua itu sudah kembali mengelus-elus kepala si gadis berpakaian hitam.
Benar-benar datang tanpa wujud, pergi tanpa jejak. Kecepatannya membuat orang
terkesiap. Pukulannya ini menimbulkan suara keras. Tetapi tenaga yang terkandung di
dalamnya justru lembut. Tan Ki meraba pipinya dan termangu-mangu. Dengan adatnya
yang tinggi hati dan keras kepala, ternyata dia tidak berani maju dan melawan orangtua
itu.
Rupanya, dia sudah melihat telapak tangan kiri Lok Hong yang mengeluarkan cahaya
berkilauan, dia tahu lambang itu merupakan ciri khas Ti Ciang Pang!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ilmu silat yang dimilikinya merupakan hasil curian dari perkumpulan orangtua itu. Kalau
sampai dia bergerak, tentu asal-asul ilmunya akan diketahui oleh orangtua tersebut. Kalau
sampai membuat Lok Hong kalap, biarpun Tan Ki mempunyai sepuluh lembar nyawa juga
tidak akan bisa menahan diri terhadap satu hantamannya!
Oleh karena itu, meskipun pukulan telapak tangan Lok Hong tadi membuat hawa
amarah di dalam dadanya meluap, tapi dia tetap berusaha menahan emosinya dan tidak
berani mengambil tindakan apa-apa.
Melihat kedua kakek dan cucu itu saling menyayangi dan tampak begitu berbahagia,
tiba-tiba hatinya merasa hampa dan pedih. Kenyataannya, dia hanya seorang anak yatim
piatu. Seorang pemuda yang malang!
Ayahnya yang baik hati dan mengasihinya telah dibunuh oleh empat puluh delapan
tokoh persilatan dengan senjata rahasia yang berbeda. Kematiannya begitu mengenaskan
dan penuh penderitaan.
Sedangkan ibunya…
Dia adalah seorang perempuan yang… akh! Dia tidak berani memikirkan lebih lanjut.
Hal itu merupakan peristiwa yang menyakitkan hati!
Tiba-tiba terdengar Cian Cong tertawa terbahak-bahak.
“Lok Laotoa, cucu perempuanmu ini benar-benar berangasan sekali. Si pengemis tua
tidak pernah takut terhadap langit dan bumi tetapi justru pusing kepala kalau menghadapinya.”
hatinya seperti mempunyai pertimbangan sendiri sehingga tidak mengatakan
mengapa cucu perempuan Lok Hong sampai berkelahi dengan Tan Ki.
Lok Hong tersenyum lembut. “Cian Heng menyalahkan hengte memang tidak salah.
Tetapi kau juga tahu, sejak kedua orangtuanya menghilang, dia jadi sebatang kara tanpa
tempat berlindung. Sungguh kasihan. Hente sudah hidup sampai setua ini, juga tidak tahu
kapan akan kembali ke sisi-Nya. Kalau tidak menyayanginya, siapa lagi yang akan
menaruh perasaan iba kepadanya?”
Sebetulnya Cian Cong masih ingin berbicara lagi, tapi tiba-tiba dia berpikir.
‘Orang ini mempunyai perasaan kasih yang dalam. Hal itu merupakan ungkapan yang
wajar dan sikap seseorang tidak mudah diubah. Untuk apa aku berkata panjang lebar?’
Berpikir demikian, perlahan-lahan dia menarik nafas dalam-dalam. Mulutnya pun tidak
mengeluarkan sepatah kata lagi. Sementara itu, Tan Ki berjalan menghampiri Cian Cong
serta mengucapkan terima kasih atas pertolongannya. Sekalian dia memohon diri.
Tepat sekali dia membalikkan tubuh dan bermaksud meninggalkan ruangan itu, mendadak
terdengar panggilan gadis berpakaian hitam.
“Yaya, suruh dia berhenti dulu.”
“Kenapa? Yaya tadi sudah menempelengnya dengan keras, apa kau masih belum merasa
puas?”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Tidak mau, pokoknya aku tidak akan membiarkan dia pergi sekarang.” sahut si gadis
berpakaian hitam.
Lok Hong tersenyum simpul.
“Hati anak perempuan paling sulit ditebak. Tiba-tiba kau ingin menahan seorang
pemuda, sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu?” mulutnya menggerutu tetapi
dia tetap menoleh kepada Tan Ki dan berkata. “Kalau cucu perempuanku sudah berkata
demikian, lebih baik kau jangan pergi dulu untuk sementara. Berdirilah di situ diam-diam.”
Nada bicaranya seperti sebuah perintah yang tidak boleh dibantah. Terdengar suara
dengusan dari hidung Tan Ki, namun dia menuruti juga kata-kata Lok Hong dan
menghentikan langkah kakinya. Luka yang dideritanya cukup parah, sedangkan tadi Cian
Cong belum menyembuhkannya sampai tuntas. Oleh karena itu, dia pasti sulit melarikan
diri dari tempat itu. Lagipula dia juga takut kartunya terbuka oleh Lok Hong. Akhirnya dia
terpaksa menahan rasa amarah dan berdiri tanpa bergeming sedikitpun.
Terdengar suara si gadis berpakaian hitam yang datar dan ketus.
“Terimalah, ini adalah obat penyembuh luka dalam. Dengan meminumnya, lukamu
akan lebih cepat sembuh.”
Sambil berbicara, dia melemparkan sesuatu benda kecil berwarna kehitaman ke arah
Tan Ki. Watak anak muda itu sangat keras. Setelah menyambut obat tersebut, tadinya dia
bermaksud membuangnya agar hati gadis itu menjadi mangkel. Tetapi pikirannya segera
tergerak. Keadaannya sekarang kurang menguntungkan apabila dia tetap berkeras. Oleh
karena itu, setelah tertawa dingin dua kali, dia memasukkan obat itu ke dalam mulut dan
menelannya.
Tampang gadis berpakaian hitam sepertinya kurang senang.
“Aku sudah memberikan obat kepadamu, tetapi kau malah kurang senang.”
“Tidak salah. Aku memang membencimu, benci sekali!”
“Apa yang kau katakan? Coba ulangi sekali lagi!” bentak si gadis berpakaian hitam.
“Benci!”
Si gadis berpakaian hitam marah sekali.
“Bagus! Kau berani memaki aku. Mari kita ulangi lagi perkelahian kita tadi!”
Lok Hong tersenyum simpul.
“Lahir sebagai orang dari keluarga Lok, mana boleh menerima hinaan orang begitu
saja. Anak baik, pukullah dia beberapa kali biar hatimu puas. Yaya justru ingin lihat sampai
di mana kehebatan anak muda ini dan berasal dari perguruan mana dia.”
Mendengar ucapannya, hati Tan Ki tergetar. Dalam keadaan terkejut, tiba-tiba dia
mendengar suara keplakan sebanyak dua kali. Tahu-tahu kedua belah pipinya telah ditempeleng
oleh si gadis berpakaian hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Watak gadis ini sungguh berangasan dan adatnya juga keras kepala. Pertama dia kesal
terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Tan
Ki, kedua dia mengira keberanian anak muda itu karena merasa mempunyai tulang
punggung yang kuat. Padahal dia sendiri yang mengandalkan kakeknya sehingga berani
berbuat semena-mena.
Sekaligus dua tamparan dia hadiahkan kepada Tan Ki, namun tampaknya dia masih
belum puas. Tangannya bergerak dan dia menampar Tan Ki sekaligus empat lima kali.
Pada saat itu juga, tampak wajah Tan Ki membengkak satu kali lipat. Tampangnya jadi
lucu namun mengenaskan. Bekas-bekas jari tangan tertera nyata di kedua belah pipinya.
Namun Tan Ki tidak mengumpat maupun mendengus sedikitpun. Diam-diam dia berkata
dalam hati: ‘Baiklah, kau boleh pukul sepuas hatimu. Kelak apabila kau terjatuh ke
tanganku, aku akan menagih hutang ini berikut bunganya sekalian!
Setelah memukul beberapa kali, rasa amarah dalam hati gadis itu agak berkurang, dia
melihat Tan Ki tidak menghindar atau menangkis pukulannya dan wajahnya sudah
menjadi bengkak dan merah. Hatinya terasa tidak tega melanjutkan lagi. Perlahan-lahan
dia menarik nafas panjang.
“Kau harus tahu sifatku, lain kali jangan sengaja memanas-manasi hatiku lagi.” katanya
menasehati.
Tan Ki mendengus dingin. Dia tetap tidak mengucapkan sepatah katapun. Kekerasan
adatnya benar-benar jarang ditemui pada orang lain.
Sementara itu, terdengar Cian Cong bertanya kepada Lok Hong.
“Mengapa kau bisa datang ke tempat ini?”
Lok Hong memperdengarkan segulungan suara tawa yang getir.
“Tidak khawatir ditertawakan oleh Cian Heng, hengte menempuh jarak sejauh ribuan li,
tujuan utamanya adalah untuk mencari cucu perempuanku ini.”
“Apa? Jadi dia itu kabur dari rumah?”
“Justru itulah. Sepanjang hari sepanjang malam dia terus ribut ingin mencoba ilmu silat
yang dimiliki oleh Cian bin mo-ong yang namanya menggetarkan rimba persilatan.
Hengte takut terjadi sesuatu di luar dugaan pada dirinya, maka terpaksa melindungi
secara diam-diam. Juga sekalian menggunakan kesempatan ini untuk menjajal kepandaian
Cian bin mo-ong yang katanya hebat sekali itu.”
Mendengar sampai di sini, hati Tan Ki merasa terkejut sekaligus senang. Dia tidak
menyangka namanya akan terkenal sampai daerah barat daya di mana terletak pusat
markas Ti Ciang Pang.
“Kalau Tia (ayah) sampai tahu urusan ini, di alam baka dia pasti akan merasa bangga
sekali.” pikirnya dalam hati.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sayang sekali ayahnya sudah meninggal. Bahkan mati terbunuh dengan cara yang demikian
mengenaskan serta menyayat hati!
Begitu pikirannya tergerak ke masalah itu, tanpa terasa kelopak matanya membasah
dan air mata pun hampir menetes turun. Dia menggertakkan giginya erat-erat. Dia tidak
sudi meneteskan air mata di tempat itu. Dia mempunyai kekerasan hati yang hampir tidak
dimiliki oleh orang lain. Baginya orang yang gampang menguraikan air mata adalah orang
yang rendah dan lemah serta tidak sanggup melakukan pekerjaan besar.
Sementara itu, Lok Hong sedang berpamitan kepada Cian Cong. Tan Ki memang berharap
agar kakek dan cucunya itu segera meninggalkan tempat tersebut. Namun tiba-tiba
telinganya mendengar kembali suara Lok Ing.
“Yaya, ajak orang ini pergi dengan kita.”
Mendengar ucapannya, sukma Tan Ki seperti melayang setengahnya. Tanpa sadar
tubuhnya gemetar. Dia merasa marah sekali.
“Sebetulnya apa yang terkandung dalam hatimu? Mengapa kau memaksa dan mendesak
aku sedemikian rupa?” teriaknya kesal.
Lok Hong tersenyum lebar.
“Dia ingin mengajak engkau, tentu tidak bermaksud mencelakaimu. Mengapa harus
takut? Aku rasa Cian Locianpwe juga setuju dengan usul ini, bukankah demikian Cian
Heng?”
Cian Cong cepat-cepat menganggukkan kepalanya.
“Betul, betul. Kau bocah cilik ini ikut dengan Lok Kouwnio, pasti akan memperoleh
manfaat yang besar. Pasti tidak mengalami kerugian apapun.”
Dengan demikian, kakek dan cucu She Lok itupun meninggalkan tempat tersebut
dengan menyeret Tan Ki. Ketika hendak berangkat, berkali-kali Tan Ki menoleh ke arah
Mei Ling seakan berat berpisah dengan gadis itu. Mei Ling hanya tersenyum simpul dan
tidak menunjukkan reaksi apapun.
Tentu saja dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Tan Ki, hanya kesan pemuda
tersebut dalam hatinya tidak terlalu buruk. Diam-diam Tan Ki menarik nafas
panjang. Dia juga tidak mengatakan apa-apa. Dia merasa gadis itu bagai rembulan di atas
langit. Demikian cemerlang dan indah tapi manusia hanya dapat memandang namun tidak
dapat menyentuhnya… sambil berpikir, ketiga orang itu pun meninggalkan gedung
keluarga Liu.
Kurang lebih satu kentungan telah berlalu, mereka sampai di sebuah bukit yang tidak
berapa tinggi. Di sana terdapat sebuah pondok yang atapnya dialasi dengan daun rumbia.
Kemungkinan besar merupakan tempat tinggal sementara. bagi kakek dan cucu dari
keluarga Lok tersebut.
Gadis berpakaian hitam Lok Ing berusaha memancing pembicaraan dengan Tan Ki sepanjang
perjalanan. Tidak tahunya, pemuda itu tetap berdiam diri. Dia tidak menyahut
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
sepatah katapun. Saking kesalnya, gadis yang keras hati ini sampai memalingkan
wajahnya ke arah lain dan tidak mau melayani Tan Ki lagi.
Setelah masuk ke dalam pondok tersebut, Lok Ing turun tangan sendiri ke dapur menyiapkan
sarapan pagi untuk Tan Ki. Tampaknya hati gadis itu sedang merencanakan
sesuatu sehingga sikapnya terhadap pemuda itu berubah menjadi lembut dan penuh
perhatian. Gaya bicara maupun tingkah lakunya jauh berbeda dengan tadi malam.
Sudah dua hari satu malam Tan Ki tidak mengisi perutnya dengan air ataupun makanan.
Oleh karena itu dia tidak sungkan lagi. Cepat-cepat dihabiskannya sarapan yang
disediakan oleh Lok Ing. Gadis itu juga menyediakan kamar tidur untuknya bahkan
membawakan sebaskom air hangat untuk membasuh muka.
Benar-benar sebuah penampilan yang meyakinkan. Begitu lembut dan penuh perhatian!
Diam-diam Tan Ki merasa geli, dia tahu gadis itu pasti mempunyai rencana tertentu
atau ada suatu hal yang diinginkan Lok Ing dari dirinya. Tapi dia tidak habis pikir apa itu
dan mengapa?
Yang aneh justru sikap Lok Hong terhadap gerak-gerik yang dilakukan oleh cucu
perempuannya seperti orang yang masa bodoh. Kadang-kadang dia malah sengaja keluar
dari pondok tersebut dan membiarkan mereka berdua. Pada saat tengah hari, Lok Hong
mengatakan bahwa ada urusan yang harus diselesaikannya. Dengan tergesa-gesa dia
keluar dari pondok tersebut.
Lok Ing juga tidak menanyakan maksud kepergiannya. Dia menunggu sampai Tan Ki
tertidur pulas baru bersedia meninggalkannya. Karena dia sendiri yang memaksakan
kehendaknya agar Tan Ki ikut mereka. Maka dari itu dia khawatir Tan Ki akan melarikan
diri apabila dia tidak menjaga dengan ketat.
Satu hari telah berlalu, akhirnya tiba saat bagi para manusia untuk masuk ke dalam
peraduan. Malam ini kembali tidak terlihat cahaya rembulan, bintang-bintang menjauhkan
diri sehingga yang tampak hanya bekas yang samar-samar. Pemandangan di sekeliling
terselubung oleh kegelapan. Benda-benda yang jaraknya lebih dari tiga depa sudah tidak
tertangkap oleh penglihatan lagi.
Dari jauh terdengar suara kentungan diketuk. Hanya berbunyi satu kali. Saat ini berarti
sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam, dengan kegesitan seekor
kucing mengendap-endap ke arah kamar tidur Tan Ki. Potongan badan orang itu kecil dan
langsing. Tidak usah ditanya sudah pasti ia seorang perempuan.
Angin malam berhembus semilir, keadaan di sekeliling tetap sunyi.
Di tempat ini, ternyata sedang berlangsung peristiwa Fan Jai Hwa. Biasanya kaum lakilaki
yang mengendap-endap ke kamar seorang gadis untuk merusak kesuciannya. Orang
ini umumnya disebut Jai Hwa Cat alias maling pemetik bunga. Tetapi yang akan terjadi
saat ini justru kebalikannya. Seorang perempuan yang mengendap-endap ke kamar
seorang pemuda untuk memperko-sanya. Maka dari itu disebut Fan Jai Hwa yang berarti
kebalikannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Seorang perempuan mencari kesenangan dari laki-laki dengan cara seperti ini. Sungguh
memalukan! Benar-benar perbuatan yang rendah!
Tidak seharusnya Lok Ing menotok urat darah tidur Tan Ki ketika meninggalkannya.
Sekarang dia jadi pulas tidak sadar apapun. Tentu saja dia juga tidak bisa memberikan
perlawanan.
Siapa perempuan itu? Mungkinkah Lok Ing yang pura-pura keluar dari kamar dan
masuk lagi dengan mengendap-endap? Mungkinkah dia yang melakukan perbuatan
serendah itu?
Tidak! Kakek moyangnya merupakan salah satu dari tokoh sakti di dunia Bulim.
Namanya direndengkan dengan Cian Cong. Kewibawaannya sebagai pangcu dari Ti Ciang
Pang sudah menggemparkan dunia Kangouw. Walaupun ada kemungkinan Lok Ing bisa
melakukan perbuatan demikian, tapi Lok Hong tidak mungkin membiarkan cucu
perempuannya ini merusakkan nama baik keluarga Lok yang telah dipupuk dengan susah
payah selama ini.
Kalau begitu siapa? Apakah Mei Ling yang polos dan kekanak-kanakan? Apakah Kiau
Hun yang cintanya berkobar-kobar?
Memang betul, siapapun di antara mereka, kemungkinannya ada. Tetapi kalau ditilik
dari latar belakang kehidupan mereka dan pendidikan yang mereka kenyam selama ini,
rasanya tidak mungkin mereka melakukan perbuatan yang demikian tidak tahu malu.
Siapakah orangnya? Siapa? Hal ini seperti sebuah permainan teka-teki yang membutuhkan
jawaban.
BAGIAN VI
Malam semakin larut. Di sekitar hening mencekam. Beberapa buah pondok yang
terdapat di daerah itu begitu sunyinya bagai areal pekuburan.
Tampak gerakan perempuan itu begitu lincah dan cepat luar biasa. Begitu kakinya
mendarat di tanah, tidak terdengar suara sedikitpun. Tapi nyalinya juga sangat besar.
Krek! Jendela kamar dibuka, diapun menyelinap ke dalam.
Ketika Lok Ing meninggalkan Tan Ki, sebelumnya dia sudah menotok urat darah tidur
dan gagu pemuda itu. Suara deritan jendela yang didorong oleh perempuan itu cukup
jelas. Tapi tetap saja Tan Ki tidak sadarkan diri.
Sepasang mata perempuan itu jelalatan ke sana ke mari. Dia memperhatikan isi
ruangan tersebut. Dia menyalahkan lampu minyak yang tergantung di dinding. Ruangan
kamar yang tadinya gelap gulita itu, lambat laun menjadi agak terang.
Di bawah sorotan lampu yang remang-remang, masih tertampak raut wajah perempuan
tersebut. Usianya sekitar dua puluh empat tahunan. Tampangnya cantik jelita. Di antara
kedua alisnya terdapat sebuah andeng-andeng berwarna hitam.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tanda itu seperti melambangkan kegenitan, kegairahan yang bergelora. Ketika dia
melihat Tan Ki, kakinya maju lagi dua langkah, kemudian dia duduk di sisi tempat tidur,
matanya bersinar terang, dia menatap Tan Ki lekat-lekat. Diperhatikannya mulut, hidung,
mata, alis… seluruh raut wajah Tan Ki dengan pandangan yang tidak bosan-bosannya.
Tiba-tiba, terdengar suara tertawanya yang ringan, dia mengulurkan tangannya dan
mengusap wajah Tan Ki sebanyak dua kali. Gerakannya santai, seperti tidak ada perasaan
jengah ataupun malu sedikitpun. Suara tertawanya yang bebas malah membuat hati orang
yang mendengarnya jadi berdebar-debar. Mendadak tangannya menepuk, dia telah
membebaskan urat darah Tan Ki yang tertotok.
Lambat laun, dia tersadar dari totokannya. Begitu mata memandang, ternyata di
hadapannya adalah seorang perempuan, tentu saja dia merasa hal itu di luar dugaan dan
terkejut sekali.
“Siapa kau?” bentaknya.
Perempuan itu tertawa dengan santai.
“Orang yang datang untuk menolongmu.” sahutnya tenang.
“Menolong aku? Kau tidak takut tertangkap basah oleh Lok Locianpwe?”
“Mereka sedang tidak ada.”
Tiba-tiba Tan Ki teringat, kentungan ketiga malam ini, Cian Cong dan Ciu Cang Po telah
berjanji untuk bertemu di Cui Sian Lau. Mereka akan bertarung sekali lagi. Tentunya kakek
dan cucu dari keluarga Lok itu ikut menyaksikan keramaian tersebut. Mulutnya segera
mengeluarkan suara, “oh!” satu kali kemudian menundukkan kepalanya merenung.
Kemudian telinganya menangkap lagi suara perempuan itu yang lembut.
“Hengte, kau diringkus oleh Lok Laotao ke tempat ini, mengapa kau tidak berusaha
untuk melarikan diri?”
Panggilan Hengte yang keluar dari mulutnya, terdengar demikian mesra. Tampaknya
perempuan ini sangat terbuka dan tidak malu-malu. Tetapi dalam pendengaran Tan Ki
justru menyeramkan dan membuat wajahnya menjadi merah padam. Hatinya menjadi
tidak tenang.
Dia tertegun beberapa saat. “Isi perutku terluka sehingga sulit menggerakkan anggota
tubuh dengan leluasa.” sahutnya kemudian.
“Hengte, aku mempunyai akal untuk menyembuhkan luka dalammu, tetapi…” dia
sengaja menghentikan kata-katanya di tengah jalan dan membungkam.
“Tetapi apa?” tanya Tan Ki cepat.
Perempuan itu tersenyum misterius.
“Aku akan menyembuhkan luka dalammu. Tetapi setelah dirimu sembuh kau harus
melakukan sesuatu hal sebagai imbalannya.”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki termenung sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, asal bukan perbuatan membunuh orang atau mencelakakan orang, tetapi
urusan yang masuk akal, aku tentu akan melakukannya dengan sekuat kemampuan.”
Baru saja ucapannya selesai, hidungnya mengendus serangkum keharuman yang
samar-samar. Perlahan-lahan membuai perasaannya. Ternyata gadis itu sedang
menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Tan Ki.
Pada saat itu, musim panas sudah mencapai pertengahannya. Udara memang agak
panas. Perempuan itu mengenakan pakaian tanpa lengah dan agak tipis. Tampak
sepasang lengannya yang putih dan indah. Gulungan angin yang membawa keharuman
langsung menerpa indera penciuman Tan Ki.
Tan Ki merasa kulit tubuh perempuan itu menempel dengan tubuhnya. Sejuk dan
lembut. Sekumpulan perasaan yang sulit diuraikan memenuhi hatinya. Pikirannya seperti
bergelora, wajahnya terasa panas dan dia langsung mengerutkan sepasang alisnya
dengan pikiran yang tidak tenang.
‘Mengapa urusan yang terjadi beberapa hari ini, selalu ada kaitannya dengan kaum
perempuan dan selalu yang bukan-bukan saja?’ pikirnya dalam hati.
Tiba-tiba terlihat perempuan itu tersenyum lembut. Tangannya bergerak dan secara
berturut-turut dia menepuk tiga puluh enam urat nadi Tan Ki. Gerakannya ini tentu saja
mengandung maksud tertentu. Ketika dia selesai menepuk ketiga puluh enam urat nadi di
tubuh Tan Ki, wajahnya langsung menjadi merah padam dan keringatnya yang harum
mengalir dengan deras.
Dia mengeluarkan tiga butir pil dari balik sakunya yang kemudian disuapkan ke mulut
Tan Ki. Setelah itu dia mengatur nafasnya sejenak dan tersenyum.
“Hengte, kau boleh menarik nafas beberapa kali. Coba lihat apakah masih merasakan
sesuatu di dalam tubuhmu?” katanya.
Tan Ki menuruti kata-katanya dan menarik nafas beberapa kali. Dia merasa hawa
murninya beredar dengan lancar, begitu pula aliran darah dalam tubuhnya. Ternyata luka
dalamnya sudah sembuh secara tuntas. Hatinya gembira sekali. Dia cepat-cepat turun dari
tempat tidur dan menjura dalam-dalam kepada perempuan tersebut.
“Terima kasih atas budi pertolongan Toa-ci, Siaute tidak tahu bagaimana harus membalasnya.”
Perempuan itu mengangkat lengan bajunya untuk menutupi mulutnya. Dia tertawa
terkekeh-kekeh.
“Jangan gembira dulu, meskipun pengobatanku ini sangat manjur, tetapi bukan berasal
dari aliran yang lurus. Dalam dua belas kentungan kau tidak boleh sembarangan
menggerakkan hawa murni dalam tubuhmu ataupun bergebrak dengan orang. Kalau tidak,
luka lama akan kambuh kembali bahkan lebih parah dari yang pertama. Kalau sampai hal
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
ini terjadi, walaupun si tabib sakti Huo To hidup kembali, dia juga tidak dapat memberikan
pertolongan apa-apa.”
Tan Ki tertegun mendengar ucapannya.
“Benar?”
Perempuan itu tersenyum simpul.
“Buat apa aku membohongimu?” matanya menyiratkan cahaya yang penuh gairah.
“Udara panas sekali.” katanya kemudian.
Terdengar suara, Bret! Tahu-tahu dia telah membuka kancing bajunya. Sesaat
kemudian terlihatlah kutangnya yang berwarna merah menyolok mata. Rupanya dia
benar-benar membuka pakaiannya yang sebelah atas. Wajahnya menghadap cahaya
lampu, terang berkilauan. Membuat gairah dalam hati jadi terbangkit.
Hati Tan Ki berdebar-debar melihatnya, wajahnya yang tampan jadi merah padam.
Sejak dilahirkan, dia belum pernah melihat tubuh seorang perempuan. Bahkan kali ini,
mungkin merupakan pemandangan yang baru baginya.
Serangkum bau yang harum terendus lewat hembusan angin. Dengan berani
perempuan itu mengulurkan tangannya dan memeluk leher Tan Ki. Kulit tubuh saling
bersentuhan, pelukan yang lembut dan menyegarkan. Perasaan di hatipun terasa aneh.
Tan Ki jadi terbuai.
Pandangan yang tertangkap oleh matanya hanya semacam kehangatan dan selembar
wajah yang cantik. Dia merasa hampir tidak dapat mempertahankan diri lagi. Segulung
arus birahi seperti mengalir ke atas otaknya.
Nafasnya mulai memburu, matanya mulai memancarkan sinar yang membara!
Telinganya kembali menangkap suara tawa perempuan itu yang genit. Bagai irama
pembetot sukma. Tiba-tiba dengan gerakan yang mendadak dia memeluk pinggang
perempuan tersebut, matanya yang membara menatap wajah perempuan itu lekat-lekat.
Tepat pada saat itu, dia merasa perempuan itu demikian menawan hati dan mempunyai
keistimewaan yang tidak dapat diuraikan dengan katakata.
Dia merasa setiap tetes keringat yang membasahi wajah perempuan itu bagaikan
puluhan bunga yang bermekaran. Hal mana membuat orang yang melihatnya jadi jatuh
hati. Dia jadi termangu-mangu seketika.
Lama-lama sekali, tidak ada sepatah ucapanpun yang keluar dari bibir mereka. Kamar
itu menjadi senggang, tiada suara yang terdengar, udara bagai diselimuti semacam
kegairahan yang tidak terkendalikan!
Tan Ki sudah terbuai oleh pemandangan indah di depan matanya. Pikirannya mulai
kacau. Dia hampir tidak dapat mengendalikan gelombang ombak yang menghempashempas
perasaannya.
Tiba-tiba dia mengencangkan pelukannya. Seluruh tubuh perempuan itu yang lembut
dan mungil otomatis terjerembab dalam pelukannya. Gulungan hawa yang harum terus
menerpa hidungnya. Dia merasa aliran darahnya berdesir. Jantungnya memacu lebih
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
cepat. Ini merupakan suasana yang panas serta merangsang, seorang pemuda yang
masih hijau dan seorang gadis yang kesepian saling berpelukan dengan erat di dalam
kamar. Jurang dosa tengah mengincar keduanya agar jatuh ke dalam perangkap!
Bibir Tan Ki bergerak-gerak seakan sedang bergumam seorang diri… “Siapa kau
sebetulnya? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?” nada suaranya tidak
mengandung kebencian, malah kegembiraan. Perempuan itu tertawa merdu. “Cici adalah
Siau Yau Sian-li (Dewi pecinta kebebasan) Liang Fu Yong…”
Mendengar keterangannya, Tan Ki terkejut sekali. Pikirannya yang melayang-layang
agak tersentak.
“Benar?” serunya dengan hati tergetar. “Benar, Cici tidak ingin membohongimu!”
Mendengar nada suaranya yang tegas, dengan panik Tan Ki mendorong tubuh perempuan
itu. Gairah panas yang memenuhi hatinya langsung surut separuh. Keterangan yang di
luar dugaannya malah membuat dia sedemikian terkejut sehingga untuk sesaat dia
terdiam tanpa sanggup mengeluarkan sepatah katapun.
Setelah tertegun beberapa saat, dia membentak dengan nada marah…
“Perempuan jalang, lihat pukulan!” baru saja ucapannya selesai, tinjunya sudah
melayang ke depan. Tiba-tiba dia merasa serangkum rasa nyeri menyerang dadanya.
Tulang belulang tubuhnya bagai patah berserakan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Dengan panik dia menarik kembali pukulannya kemudian memejamkan mata mengatur
pernafasan.
Meskipun kejadiannya berlangsung dengan cepat, namun dia sudah kesakitan sampai
meneteskan keringat dingin. Tampaknya dewi pecinta kebebasan Liang Fu Yong sudah
biasa melihat perubahan seperti ini. Dia tidak tampak terkejut malah mencibirkan bibirnya
dan tersenyum mengejek.
“Sejak semula aku sudah mengatakan bahwa kau tidak boleh menggerakkan hawa
murni dalam tubuhmu atau bergebrak dengan orang. Kau malah seperti sengaja mencari
kesusahan untuk dirimu sendiri.”
Dia segera menghampiri Tan Ki. Tangannya terulur dan mengusap keringat yang
membasahi dahinya. Kemudian dengan gerakan yang lembut dia meraba dada Tan Ki
seakan ingin membantu anak muda itu meringankan penderitaannya.
Tan Ki memandangnya dengan mata menyiratkan hawa amarah.
“Minggir, kau…” dadanya kembali terasa sakit sekali. Dengan panik dia menghentikan
kata-katanya. Matanya dipejamkan kembali untuk mengatur pernafasan.
Liang Fu Yong tersenyum simpul. “Ada apa dengan Cici?”
“Kau lebih rendah dari pelacur-pelacur yang menemani tamu di rumah mesum!” maki
Tan Ki.
Dia sadar apa yang dikatakan perempuan itu memang benar. Apabila dia
menggerakkan hawa murninya, kemungkinan lukanya akan bertambah parah. Tetapi dia
tetap mengucapkan kata-kata itu dengan nada penuh emosi.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Wajah Liang Fu Yong berubah hebat. “Kau menganggap apa yang dilakukan Cici tidak
benar bukan?” tanyanya tetap dengan suara lembut.
Tan Ki mendengus satu kali. Mulutnya mengeluarkan suara tertawa yang dingin.
“Orang-orang mengatakan bahwa kau Sia Yau Sian-li tidak tahu malu dan seorang perempuan
rendah. Ungkapan ini ternyata tidak salah. Aku sudah berkeliaran di seluruh
Kangouw, di mana-mana hanya ada laki-laki yang menjadi Jai Hwa Cat. Tapi seumur hidup
belum pernah mendengar ada perempuan yang melakukan hal yang hina ini…” dia merasa
kata-kata selanjutnya yang hendak diucapkan terlalu kasar, maka dari itu, dia segera
membungkam dan tidak melanjutkan kembali.
Liang Fu Yong tersenyum simpul.
“Apapun yang dikatakan oleh orang lain, biarkan saja. Asal Cici tidak mendengarnya
sendiri.” sahutnya santai.
“Apakah kau benar-benar tidak tahu malu?”
“Tidak tahu malu? Kalau aku memperdulikan cemoohan itu, tentu aku tidak akan
mendapat julukan perempuan rendah, dan digelari dewi pecinta kebebasan yang setiap
hari bebas bercinta dengan laki-laki manapun.”
Mendengar ucapannya, hati Tan Ki jadi kesal sekaligus marah. Untuk sesaat dia jadi
termangu-mangu tanpa tahu apa yang harus dicacinya lagi. Akhirnya dia memejamkan
sepasang matanya dengan gaya acuh tak acuh.
Telinganya mendengar lagi nada suara perempuan itu yang seperti irama pembetot
sukma itu.
“Baik-baiklah kau rebah di atas tempat tidur. Cici tidak akan membuatmu kecewa.”
lengannya yang lembut meraba-raba kemudian menggendong Tan Ki dan membopongnya
ke atas tempat tidur.
Kali ini perasaan Tan Ki menjadi bimbang. Ingin rasanya dia menghentakkan tangan
perempuan itu atau memberontak, tetapi mengingat luka yang dideritanya, dia tidak
berani bergerak sembarangan untuk menjajal. Tapi kalau dia mendiamkan saja, peristiwa
selanjutnya yang bakal terjadi sudah dapat dibayangkan!
Begitu pikirannya tergerak, beberapa saat lamanya dia tidak dapat mengambil keputusan.
Sementara itu, saking malunya, selembar wajah Tan Ki yang tampan sudah berubah
merah padam. Persis seperti orang yang baru menenggak beberapa cawan arak yang
keras sekaligus.
Tiba-tiba dia merasa punggungnya menyentuh sesuatu yang lembut. Rupanya dia
sudah dibaringkan di atas tempat tidur. Di bawah sorotan lampu yang remang-remang.
Tan Ki melihat sebuah bayangan yang sedang melepaskan pakaian bahkan celana
panjangnya.
Hati Tan Ki tercekat tidak kepalang.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
‘Celaka!’ serunya dalam hati.
Cepat-cepat dia memejamkan matanya kembali dan tidak berani melihat pemandangan
yang ada dihadapannya. Hatinya bagai tertekan sesuatu benda yang berat sehingga
nafasnya tersendat-sendat.
Perasaan hatinya saat ini lebih kacau dari sebelumnya. Pikirannya semakin kalut dan
mulai lupa akan dirinya sendiri. Dia bagai seekor domba yang terkejut juga takut serta tak
sanggup memberikan perlawanan!
Perasaan terkejutnya belum sirna, dia merasa sesosok tubuh yang lembut telah
menindihnya dari atas. Nafasnya jadi memburu, hatinya semakin tegang. Matanya yang
dipejamkan erat-erat semakin tidak berani dibuka.
Dia merasakan serangkum bau harum yang lain terpancar dari tubuh Liang Fu Yong.
Malah lebih mempesona dari hawa harum yang terpancar dari rambut maupun mulutnya.
Hatinya benci tidak kepalang kepada perempuan yang rendah ini. Namun pada saat
demikian, mau tidak mau gairah kelaki-lakiannya tergerak juga.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia bersentuhan dengan tubuh seorang perempuan.
Apalagi dalam keadaan yang demikian merangsang dan mendebarkan hati. Perasaannya
mulai tidak dapat dikendalikan!
Terdengar nada suara Liang Fu Yong yang diiringi nafasnya yang tersengal-sengal.
“Siaute, kau tidak boleh membuat aku kecewa dan membiarkan aku terhempas-hempas
seperti ini…” suaranya lirih sekali namun mengandung pengaruh yang kuat.
Diam-diam Tan Ki menarik nafas panjang.
‘Habislah aku kali ini.’ keluhnya dalam hati.
Segulung angin yang dingin menerpa masuk lewat jendela. Tanpa terasa hatinya
menggidik. Begitu mata memandang, entah sejak kapan Liang Fu Yong sudah melepas
jubah luarnya. Rasa terkejutnya jangan dikatakan lagi. Dalam benaknya tiba-tiba terlintas
bayangan dua orang gadis.
Juga entah dari mana dia mendapat keberanian, mulutnya mendadak meraung keras
dan kesadarannya segera tergugah. Dia menggelindingkan tubuhnya sehingga terjatuh
dari atas tempat tidur. Liang Fu Yong terkejut sekali melihat hal yang diluar dugaannya.
“Siaute, apa yang terjadi dengan dirimu?”
Tan Ki mendelikkan matanya dengan marah.
“Benar-benar perempuan yang tidak tahu malu. Siapa yang sudi menjadi adikmu?”
cepat-cepat dia mengaitkan kancing jubahnya kemudian melangkah keluar dari kamar
tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Gerakannya yang spontan ini membuat Liang Fu Yong menatapnya dengan tertegun.
Tiba-tiba tubuhnya melesat dan menghadang di depan pintu. Gerakan tubuhnya demikian
cepat sehingga benar-benar mengejutkan.
Hati Tan Ki tercekat. Dengan sendirinya dia mundur dua langkah.
“Apa yang kau inginkan?” bentaknya kesal.
“Kau lupa syarat yang kuajukan ketika akan menyembuhkan lukamu?”
Tan Ki terkejut sekali.
“Syarat apa, cepat katakan!”
“Aku ingin kau menemaniku malam ini.’ sahut Liang Fu Yong.
Sekali lagi Tan Ki tertegun. Setelah lewat beberapa saat, tampaknya dia baru dapat
mencernakan arti ucapan perempuan tersebut. Hawa amarah dalam dadanya jadi meluap
seketika.
“Apa-apaan? Kau memiliki kepandaian, si-lahkan paksa aku melakukannya. Tetapi kalau
kau berharap aku akan melayanimu dengan suka rela, kau hanya mimpi di siang bolong!
Biarpun luka dalamku ini akan bertambah parah, aku juga akan mencoba beberapa jurus
ilmu silatmu itu!”
Baru saja ucapannya selesai, kakinya tiba-tiba maju dan menerjang ke depan.
Serangkum gelombang angin yang dahsyat menerpa ke depan. Dalam waktu yang sekejap
mata, dia sudah melancarkan lima enam jurus serangan.
Melihat serangannya yang hebat dan keji, Liang Fu Yong tidak berani menyambut
dengan kekerasan. Dia menggeser tubuhnya ke samping, bayangan tubuh Tan Ki yang
tinggi dan panjang menerobos dari sisinya. Dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah
mencapai jarak beberapa puluh depa. Wajah Liang Fu Yong menjadi datar seketika. Di
wajahnya tersirat juga hawa pembunuhan yang tebal.
“Jangan lari!” bentaknya.
Dengan tergesa-gesa dia mengejar. Tiba-tiba dia teringat bahwa tubuhnya belum mengenakan
pakaian. Meskipun saat itu baru memasuki kentungan kedua, malam larut dan
jarang ada penduduk yang berlalu lalang, tetapi dia juga tidak enak telanjang bulat seperti
itu mengejar seorang laki-laki.
Cepat-cepat dia kembali lagi ke kamar dan mengenakan pakaian. Ketika keluar lagi, Tan
Ki sudah berada dalam jarak kurang lebih empat lima li jauhnya. Anak muda itu seperti
mempertahankan diri dalam keadaan terluka dan tetap ingin terlepas dari cengkeraman
Liang Fu Yong. Caranya berlari benar-benar seperti orang yang melihat setan.
Liang Fu Yong memperdengarkan dengusan dari hidung dan mempercepat langkahnya
mengejar. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah melihat bayangan punggung Tan Ki.
Rupanya, anak muda tersebut tidak mengenal seluk-beluk jalanan di daerah tempat itu.
Dia hanya terus berlari sekuat tenaga tanpa arah yang tepat. Dia sendiri tidak tahu dirinya
sudah sampai di mana.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sedangkan Liang Fu Yong hapal sekali jalanan di daerah itu. Lagi pula saat ini ilmu
ginkangnya jauh lebih tinggi daripada Tan Ki. Oleh karena itu dalam waktu yang tidak
berapa lama dia sudah berhasil menyusul anak muda tersebut.
Ketika Tan Ki melihat Liang Fu Yong, dia terkejut setengah mati. Dia tahu tempat itu
hanya berjarak setengah li dari Lok Yang. Asal dia dapat masuk ke dalam kota dan
menemukan Cian Cong maupun Lok Hong, tentu dia tidak perlu takut lagi terhadap
perempuan ini.
Begitu pikirannya tergerak, dia memacu langkahnya lebih cepat dan terus berlari ke
depan. Tetapi lambat laun dia merasakan dadanya mulai nyeri kembali. Keringat dingin
mulai menetes di keningnya. Dia tahu apabila dia berlari terus, luka dalamnya pasti akan
kambuh kembali. Namun wataknya keras kepala membuat Tan Ki tidak menghentikan
larinya.
Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuh Liang Fu Yong melesat maju
beberapa langkah kemudian menghadang di depannya. Perubahan yang mendadak ini
terjadinya begitu cepat. Saat itu Tan Ki sedang berlari seperti orang kalap. Tiba-tiba dia
melihat Liang Fu Yong menghadang di depan. Dengan panik dia menghentikan langkah
kakinya, namun dia tetap tidak dapat mengimbangi gerakan kakinya dengan baik. Setelah
menjerit satu kali, tubuhnya terjatuh ke dalam pelukan lawan.
Dengan lembut Liang Fu Yong memeluknya. Tampangnya aneh sekali, entah apa yang
sedang dipikirkannya dalam hati. Tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya sambil menarik
nafas panjang.
“Adik yang tampan, mengapa kau begitu keras kepala dan sengaja mencari kesulitan
untuk dirimu sendiri?”
Tan Ki segera memberontak dan melepas diri dari pelukannya. Mulutnya
memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
“Siapa yang meminta belas kasihan da…” tiba-tiba dadanya terasa sakit, kata-kata
selanjutnya tidak sanggup diucapkan lagi.
Sepasang mata Liang Fu Yong yang berbinar-binar menatap Tan Ki dari atas kepala
sampai ke ujung kaki. Dia seperti ingin menemukan sesuatu yang entah apa pada wajah
anak muda tersebut. Beberapa saat berlalu lagi…
“Meskipun Cici sudah bertemu dengan ratusan atau ribuan laki-laki, tetapi belum ada
satu pun yang seperti dirimu ini.” katanya dengan nada perlahan.
“Seperti apa?”
“Menyenangkan namun keras kepala.”
Tan Ki mendengus dingin. Dia memalingkan kepalanya ke arah lain. Mulutnya malah
memaki lagi.
“Perempuan rendah yang tidak tahu malu!”
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Liang Fu Yong tersenyum simpul. Dia sama sekali tidak ambil hati terhadap makian Tan
Ki. Justru dia maju ke depan dan mengeluarkan sehelai sapu tangan yang kemudian
digunakan untuk menghapus keringat yang membasahi keningnya. Gerak-geriknya mesra
dan lembut serta penuh perhatian.
Tiba-tiba hati Tan Ki jadi tergerak. Di benaknya melintas sebuah pemikiran yang aneh…
‘Apakah sikap perempuan ini benar-benar demikian rendah dan memuakkan? Apabila
menasehatinya baik-baik, apakah dia dapat berganti haluan menjadi orang yang benar?’
Dengan membawa pikiran seperti itu, tanpa sadar dia jadi termenung.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Liang Fu Yong.
“Memikirkan engkau.”
Liang Fu Yong terpana mendengar jawabannya. Kemudian terlihat dia mengembangkan
seulas senyuman yang kenes.
“Tampaknya suasana hatimu berubah dengan cepat juga. Apakah kau sedang
memikirkan bahwa sebetulnya aku cukup cantik?”
Wajah Tan Ki tampak serius.
“Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku ingin bertanya kepadamu, setiap kau
memaksakan kehendakmu pada seorang laki-laki, apakah kau pernah memikirkan suatu
hal?”
“Tentang apa?”
“Cinta!”
Mendengar kata-katanya, mula-mula Liang Fu Yong tertegun. Kemudian dia malah
tertawa terkekeh-kekeh.
“Berapa sih nilai benda tidak berwujud itu? Kaisar sekarang boleh mempunyai tiga isteri
dan enam selir, dan malah dianggap sebagai sesuatu hal yang wajar. Tetapi, kalau
perempuan, biarpun suaminya mempunyai simpanan di luar, sang isteri tetap tidak boleh
menyeleweng. Ini… ini benar-benar tidak adil, apakah karena terlahir sebagai seorang
perempuan, kami-kami ini tidak ada harga-nya sama sekali?”
“Jadi, karena pikiran demikian, kau anggap tidak ada cinta dalam kamus seorang
perempuan?” tanya Tan Ki dengan penampilan yang tenang.
“Tidak salah, aku justru mempunyai pikiran seperti itu. Makanya aku merubah
pandangan hidupku dan berbuat sesuka hati.”
“Tapi, coba pikir, apa yang kau dapatkan? Kehampaan diri, kerinduan akan cinta,
semuanya tetap tidak terselesaikan.”
Pertanyaan ini, membuat Liang Fu Yong menjadi termangu-mangu. Mulutnya
membungkam tanpa tahu apa yang harus dikatakannya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Betul! Apa yang didapatkannya? Tidak ada.
Apa yang diperoleh hanya kesenangan yang diperoleh dengan cara memaksa. Setelah
semuanya berlalu, hatinya tetap terasa hampa bagai sebuah perahu kecil di tengah
samudera yang terhempas-hempas ombak tanpa tujuan yang pasti. Juga bagai sekuntum
bunga yang layu dan tidak mendapat perhatian dari siapapun…
Siapa yang dapat menambal kekosongan dalam hatinya? Tidak ada.
Dia ingat ketika melakukan perjalanan, pada suatu hari dia terserang penyakit yang
parah. Pada saat itu, siapa yang datang menjenguknya? Siapa yang mengasihani dirinya?
Siapa yang menghiburnya? Tidak ada, tidak ada yang diperolehnya…
Berpikir sampai di sini, segulung kesedihan menyelinap di dalam hatinya. Air matanya
berderai dengan deras. Perlahan-lahan dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tan Ki melihat hati perempuan ini mulai tergerak oleh kata-katanya. Diam-diam dia
merasa gembira. Sengaja dia mengujinya kembali.
“Apakah kata-kata yang kuucapkan tidak benar?”
Liang Fu Yong merasa rendah diri dan iba terhadap dirinya sendiri.
“Tidak, lanjutkanlah kata-katamu. Meskipun salah, aku tetap tidak akan menyalahkan
engkau.” sahutnya lirih.
Tan Ki tersenyum lembut.
“Baiklah. Kalau begitu kau ikut denganku!”
“Untuk apa?”
“Aku akan memperlihatkan keajaiban kepadamu, yakni mencari cinta yang sejati.
Dengan demikian kau tidak akan menyimpan perasaan kecewamu dan pandanganmu
terhadap hidup ini akan berubah. Kalau tidak kau akan semakin terjerumus dalam lembah
kenistaan yang kau sendiri tidak sadari selama ini.”
Liang Fu Yong merenung sejenak. Dengan perasaan curiga dia bertanya…
“Benarkah cinta mempunyai kekuatan yang demikian besar? Sehingga dapat membuat
aku berganti haluan dan menjadi orang baik-baik?”
“Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencobanya saja? Tetapi, gerak-gerikmu sejak
sekarang harus mengikuti perkataanku. Kalau tidak, malam-malam kau akan menyelinap
keluar dan mengulangi lagi perbuatan terkutuk itu. Apabila demikian halnya, biarpun dewa
turun dari langit juga tidak dapat menyembuhkan penyakit kejiwaanmu itu.”
Sepasang alis Liang Fu Yong mengerut ketat. Dia merenung beberapa saat kemudian
menganggukkan kepalanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baiklah, Cici akan mendengar perkataanmu. Tetapi kau harus memberi sebuah batas
waktu. Kalau tidak, apabila seumur hidup aku tidak mendapatkan jawaban, bukankah Cici
harus mendengar perintahmu seumur hidup?”
Tan Ki tidak menduga dia akan mengeluarkan permintaan seperti itu. Diam-diam dia
berpikir beberapa saat.
“Bagaimana kalau tiga bulan?”
“Ucapan seorang laki-laki sejati…”
“Seperti kuda yang berlari cepat.” sahut Tan Ki segera.
Kedua orang itu mengangkat telapak tangan kanannya dan saling menepuk satu kali.
Semacam isyarat terkukuhnya sebuah perjanjian. Hal ini biasa dilakukan oleh para tokoh
Bulim.
BAGIAN VII
Dari musuh, kedua orang itu berubah menjadi sepasang sahabat. Malam semakin larut.
Tidak terdengar suara sedikitpun. Keduanya berdiri saling bertatapan dan tidak
mengucapkan sepatah katapun untuk sekian lama.
Lama, lama sekali… akhirnya Liang Fu Yong menarik nafas panjang
“Adik, siapakah namamu?”
“Tan Ki.”
“Orangtuamu?”
Pertanyaan ini menerbitkan rasa sakit di dalam hati Tan Ki. Wajahnya tampak berubah
hebat.
“Jangan tanya persoalan ini!” bentaknya keras.
Perasaan hati Liang Fu Yong sangat peka. Setelah tertegun sekian lama, akhirnya dia
dapat menduga bahwa riwayat hidup Tan Ki pasti penuh liku-liku dan tidak mudah
mencetuskan penderitaan hatinya. Oleh karena itu dia tersenyum lembut dan mengalihkan
pokok pembicaraan.
“Baik, jangan tanya ya sudah. Tetapi ke mana tujuan kita, seharusnya kau boleh
jelaskan bukan?”
Tan Ki mendongakkan kepalanya menatap langit.
“Kita menuju sebelah Barat kota. Lihat pertarungan antara dua tokoh yang berilmu
tinggi.” katanya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Baik.” tampaknya Liang Fu Yong sudah menaruh kepercayaan yang dalam terhadap
Tan Ki. Bibirnya hanya mengucapkan sepatah kata ‘baik’ dan tidak menanyakan hal
lainnya.
Sekali gerak tubuhnya langsung melesat. Kedua orang itupun berlari bersama-sama ke
depan. Tiba-tiba terdengar Tan Ki mengeluarkan suara aduhan yang lirih. Alisnya langsung
bertaut dengan erat. Liang Fu Yong terkejut sekali melihatnya.
“Adik, ada apa?”
“Dada. Dadaku masih terasa sakit.”
Liang Fu Yong mengeluarkan suara seruan. Dia langsung tertawa bebas.
“Hampir saja aku lupa.” dia mengulurkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan
empat butir pil. Disodorkannya ke mulut Tan Ki. “Setelah menelan obat ini, luka dalam
sudah terhitung sembuh secara keseluruhan. Sebetulnya, tiga butir obat yang kuberikan
sebelumnya daya kerja obatnya lambat sekali karena dosisnya rendah. Tidak cukup untuk
membuyarkan darah yang membeku, itulah sebabnya kau tetap merasa sakit.”
“Kalau begitu, kau mengatakan aku tidak boleh menggerakkan hawa murni dan
bergebrak dengan orang selama dua belas kentungan hanya bohong belaka?” tanya Tan
Ki.
“Betul, kalau tidak demikian, mana mungkin kau membiarkan aku menggerayangimu?
Yang lucu justru para tokoh Bulim lainnya yang mengalami kejadian serupa. Setelah
mendengar perkataanku, mereka tidak berani bergerak sedikipun, tampang mereka pada
ketakutan. Hanya engkau yang tidak berhasil kukelabui. Hal ini karena watakmu yang
keras sehingga lolos dari cengkeraman Cici.”
Tan Ki hanya tersenyum simpul. Dia tidak marah. Diam-diam dia menggerakkan hawa
murninya melewati seluruh urat nadi dalam tubuhnya. Dia tidak merasakan adanya
sesuatu kelainan.
“Mari berangkat!” katanya segera. Tubuhnya melesat dan dengan kecepatan tinggi dia
menghambur ke depan.
Di bawah cahaya rembulan yang redup, yang tertampak hanya dua sosok bayangan.
Keduanya berkelebat dengan cepat. Dalam waktu tidak berapa lama, mereka sudah
memasuki kota Lok Yang.
Tan Ki mengajak Liang Fu Yong menuju ke sebelah Barat kota di mana terletak Cui Sian
Lau. Tujuannya untuk menyaksikan pertarungan antara Cian Cong dan Ciu Cang Po. Dia
ingin sekali lihat siapa yang lebih unggul diantara keduanya.
Ketika sedang berjalan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat, sesosok bayangan
hitam berdiri di depan pada jarak kurang lebih tujuh depa. Gerakan orang ini demikian
cepat. Sekali melesat tahu-tahu dia sudah menghentikan langkah kaki dan berdiri tegak di
depan sana. Melihat keadaan itu, diam-diam Tan Ki merasa terkejut.
“Siapa?” bentaknya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Terendus serangkum bau harum mengiringi semilirnya angin, Orang itu perlahan-lahan
menghampirinya. Begitu mata memandang, Tan Ki segera mengeluarkan suara kejutan.
“Kiau Hun!” panggilnya.
Tidak salah, orang yang mendatangi itu memang dayang Mei Ling yang cantik, Kiau
Hun adanya. Pertama-tama wajahnya menunjukkan kegembiraan. Ketika matanya
beredar, dia melihat Siau Yau Sian-li yang berdiri di samping Tan Ki. Tampangnya yang
riang langsung berubah menjadi dingin.
Dalam waktu yang singkat, wajahnya berubah dua kali berturut-turut. Tan Ki masih
belum menyadarinya. Dia menghambur ke depan dan mencekal sepasang tangan Kiau
Hun.
“Rupanya kau juga sudah dalang ke tempat ini.” katanya.
Siapa tahu Kiau Hun malah menepis tangannya dengan kasar.
“Tentunya urusanmu sudah selesai!” ucapannya dingin sekali.
Tampaknya, untuk sesaat Tan Ki tidak paham maksud ucapannya. Mendengar katakata
gadis itu dia malah tertegun. Kiau Hun tertawa dingin.
“Apa? Kau tidak bisa mengatakan apa-apa lagi?”
“Aku… aku tidak ingat urusan apa yang kau maksudkan?”
“Ketika aku hendak pergi, bukankah kau mengatakan agar aku menunggumu di sini,
karena kau mempunyai beberapa macam urusan yang harus diselesaikan. Itulah sebabnya
kau tidak bisa mengajak aku serta…” dia berhenti sejenak, kemudian telunjuknya
menuding Liang Fu Yong. Dengan suara tajam dia berkata, “Apakah urusan penting yang
kau katakan itu adalah mencarinya?”
Tan Ki menggelengkan kepalanya.
“Kouwnio jangan salah paham, urusan yang aku katakan tidak ada hubungannya
dengan dia.”
Kiau Hun tertawa dingin satu kali. Tawanya itu mengandung kepiluan yang tidak
terkirakan.
“Aku mengerti sekarang, kau pasti menganggap aku tidak pantas bersanding
denganmu, maka kau sengaja membawanya untuk mengesalkan hatiku!” tiba-tiba hatinya
menjadi perih dan air matanya pun mengalir dengan deras.
Meskipun hati gadis ini panas bagai api yang berkobar-kobar, tetapi terhadap masalah
cinta kasih, dia justru memandangnya dari sudut yang pesimis. Begitu kecurigaannya
timbul, penjelasan apapun tidak masuk lagi ke telinganya. Dia hanya mempertimbangkan
urusan ini dengan keyakinan hatinya saja.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Pengalaman Liang Fu Yong lebih luas. Sekali lihat saja dia sudah dapat menduga apa
yang sedang terjadi. Dia tidak ikut campur dalam masalah ini melainkan hanya berdiri di
samping dan memperhatikan dengan pandangan datar.
Tan Ki berdiri di sudut satunya. Begitu paniknya dia sampai seperti orang linglung.
Kesannya terhadap Kiau Hun hanya perasaan kasihan saja, sama sekali tidak memendam
perasaan cinta kasih. Tetapi, pada saat ini, bagaimana dia harus mengatakannya.
Tentunya kata-katanya akan menambah perasaan antipati di kedua pihak.
Dia tidak berani mengatakannya, juga tidak sanggup mengucapkannya. Biar
bagaimanapun, dia merupakan wujud asli dari Cian bin mo-ong. Di bahunya masih
terpanggul beban dendam ayahnya. Mana mungkin dia mendahulukan urusan cinta kasih
antara muda-mudi?
Begitu pikirannya tergerak, dia membangkitkan rasa berani dalam hatinya.
“Cen Kouwnio, kau tidak boleh salah paham terhadapku.” katanya.
“Salah paham? Apakah semua ini hanya kesalahpahaman saja?”
Untuk sesaat Tan Ki benar-benar tidak tahu bagaimana harus memberi penjelasan
kepada Kiau Hun. Dia berdiri termangu-mangu dengan mulut membungkam.
Begitu matanya memandang, dia melihat wajah Kiau Hun basah oleh air mata.
Tampangnya sungguh mengenaskan. Diri gadis itu bagai sekuntum melati yang diterpa
hujan sehari semalam. Tan Ki merasa dirinya agak bersalah. Perlahan-lahan dia
menundukkan kepalanya. Perasaan gadis ini terhadapnya bagai api yang membara,
memangnya dia tidak tahu? Tetapi, dia masih menanggung beban dendam sedalam
lautan. Untuk saat ini dia belum ingin membicarakan soal cinta. Lagipula, orang yang
menawan hatinya, justru gadis yang lainnya…
Tetapi kata-kata ini, dia tidak berani mengutarakannya. Karena dia sendiri tidak tahu
apakah gadis itu juga mencintainya? Kadang-kadang urusan di dunia ini demikian aneh
dan kebetulan!
Kiau Hun mencintainya sepenuh hati sehingga menyeretnya ke lembah kasih yang
mana dia hanya bertepuk sebelah tangan. Sedangkan dia juga mencintai seorang gadis
yang lain, bahkan merindukannya setiap saat.
Kiau Hun tidak tahu kalau Tan Ki mempunyai kesulitan yang tidak dapat
dikemukakannya. Melihat dia membungkam seribu bahasa, dia bertambah yakin bahwa
dugaannya memang benar. Hatinya semakin pedih. Perasaannya menjadi hancur seketika.
Dia menangis terisak-isak.
Dia melampiaskan perasaannya yang tertekan dan gundah dengan air mata. Suara
tangisannya begitu rendah. Di malam yang sesunyi ini, mirip dengan ratapan seorang
wanita yang kehilangan suaminya. Orang yang mendengarnya akan ikut merasa tertekan
dan sedih.
Lama, lama sekali… terdengar suara Kiau ,Hun yang tersendat-sendat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Rupanya kau juga memandang rendah diriku. Malah sengaja berpura- pura serta
mendustai perasaanku.” suaranya begitu pilu. Di dalamnya terselip penderitaan yang tidak
terkatakan. Ucapannya selesai, air mata sebesar kacang kedelai terus mengalir membasahi
pipinya.
Mendengar makian itu, Tan Ki semakin termangu-mangu. Dia membungkam sekian
lama. Perlu diketahui bahwa gadis ini terlahir sebagai orang yang tidak mampu dan
terpaksa menjadi dayang keluarga Liu. Keberhasilannya hari ini, semua berdasarkan kasih
sayang Mei Ling yang sudah menganggap dia seperti saudara sendiri. Tetapi, di dalam
hatinya, terkandung perasaan rendah diri yang kuat. Dia selalu menganggap orang lain
demikian mulia dan hidup dalam keme-wahan. Sedangkan dirinya adalah seorang gadis
yang papa dan hina.
Justru karena mempunyai perasaan demikian, dia semakin yakin Tan Ki melihat dia
hanya sebagai seorang dayang dan memandang rendah dirinya. Dia membenci nasibnya
sendiri! Dia juga membenci Tan Ki! Perasaan cinta di dalam hatinya telah berubah menjadi
benci!
Seandainya dia tidak menolong Tan Ki, dia juga tidak terusir dari perguruannya.
Sehingga sekarang dia menjadi terlunta-lunta tanpa tempat bernaung diri? Lagipula, dia
menganggap cinta sucinya telah dikhianati oleh Tan Ki.
Sungguh seorang laki-laki yang memuakkan! Seorang laki-laki yang tipis budinya! Oleh
karena itu, diapun memperdengarkan suara tawa yang memilukan. Perlahan-lahan dia
membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
Seorang gadis yang malang telah pergi.
Dia tidak membawa apa-apa. Hanya sekeping hati yang hancur dan perasaan benci
yang terpendam mengiringi kepergiannya. Angin malam berhembus lembut seperti
mengantarnya. Bayangan pungguk yang mengenaskan, menghilang dengan perlahanlahan…
Langkah kaki yang berat tidak memperdengarkan suara lagi. Tan Ki memandang
bayangan punggungnya yang menghilang di kejauhan dengan termangu-mangu. Lama
sekali dia tidak membuka suara. Bahkan tubuhnya pun tidak bergerak sedikit juga.
Sebetulnya, dia tahu, menghalangi kepergian Kiau Hun hanya perbuatan yang sia-sia
saja. Dalam waktu yang bersamaan, dia juga sadar bahwa dirinya telah melukai hati
seorang gadis. Dia telah menghancurkan impian indah seorang dara! Dia merasa, jauh di
dalam sanubarinya, dia seperti menanggung semacam hutang yang membuat hatinya
tidak tenang. Dia berhutang cinta kasih kepada Kiau Hun. Berpikir sampai di sini, dia
menarik nafas panjang. Perasaannya menjadi gelisah dan tertekan.
Tiba-tiba terdengar suara keluhan dari mulut Liang Fu Yong.
“Adik, aku tidak jadi ikut denganmu.” katanya.
Tan Ki terkejut setengah mati. “Kenapa?”
Sepasang alis Liang Fu Yong mengerut dengan erat.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Rupanya inilah yang disebut cinta, begitu menyayat hati dan pilu. Semuanya hanya
merupakan penderitaan. Apabila Cici ikut denganmu, rasanya tidak mungkin mendapatkan
manfaat apa-apa. Malah kalau aku yang mengalaminya, setiap hari aku akan berurai air
mata dan meraung-raung seperti orang gila.” setelah berhenti sejenak, dia meneruskan
lagi kata-katanya. “Apakah kau tidak lihat, ketika hendak pergi, tampang gadis tadi begitu
kusut dan patut dikasihani. Kalau aku yang mengalami hal serupa, bukankah berarti sudah
tahu malah mencari kesulitan untuk diri sendiri?”
Tan Ki tertawa getir.
“Rasa simpati diantara seorang laki-laki dan perempuan, harus terbit dari perasaan
kasih diantara keduanya. Dengan demikian, baru ada kebahagian kelak di kemudian hari.
Kalau hanya cinta sebelah pihak, namanya bertepuk sebelah tangan dan otomatis
penderitaan yang akan diterimanya. Mana bisa kau membandingkan kedua hal itu dengan
pandangan yang sama?”
Liang Fu Yong memalingkan wajahnya dan bertanya, “Benarkah demikian?” nada
suaranya seperti masih kurang percaya.
Tan Ki tersenyum simpul.
“Maka dari itu, kau ikut aku dan mencobanya sendiri. Pada saat kau menyadari betapa
mulianya arti kata cinta itu, kau pasti akan berterima kasih kepadaku. Tetapi ingat, aku
melakukan semua ini sebagai imbalan karena kau telah membantuku menyembuhkan luka
dalam.”
Liang Fu Yong menarik nafas perlahan-lahan.
“Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini. Bencana atau keberuntungan, semuanya
tentu dapat diketahui dalam jangka waktu tiga bulan.”
Mendadak tubuhnya berkelebat! Sekali melesat dia sudah mencapai jarak sekitar tiga
depa.
Dalam waktu yang singkat mereka sudah sampai di depan Cui Sian Lau yang sangat
terkenal itu. Pada saat itu, waktu kurang lebih baru lewat kentungan ketiga. Di sekitar
hanya kesenyapan semata, tanpa suara sedi-kitpun.
Bulan sabit menyorotkan cahayanya yang remang-remang menyinari jalanan tersebut.
Tidak ada satu orangpun. Perlahan-lahan Tan Ki menarik ujung lengan baju Liang Fu Yong
dan mengajaknya ke toko tahu yang ada di sebelah kiri jalan.
Saat ini, tenaga dalamnya sudah pulih kembali. Gerakannya begitu cepat sehingga
tampaknya tidak kalah dengan Liang Fu Yong. Perempuan itu tersenyum melihat
kenyataan ini.
“Adik, tampaknya ilmu silatmu lumayan juga.” katanya.
Tan Ki hanya tersenyum-senyum. Dia tidak berkata apa-apa. Dengan tampang serius,
dia mengajak Liang Fu Yong bersembunyi di bawah atap toko tahu tersebut.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Waktu merayap dengan perlahan, satu menit, satu jam… setelah lewat agak lama,
masih belum tampak ada kejadian apa-apa. Liang Fu Yong adalah seorang perempuan
yang tidak bisa diam. Hatinya mulai tidak sabar. Tiba-tiba terdengar Tan Ki mendehem.
“Hati-hati, ada orang datang.” katanya.
Begitu mata memandang, dari kejauhan terlihat setitik bayangan yang berlari dengan
pesat. Gerakan orang itu bagai hembusan angin melayang datang. Kecepatan gerakannya
membuat hati tercekat. Dalam sekedipan mata, dia sudah sampai di bawah gedung Cui
Sian Lau.
Tampak jubahnya yang berwarna hijau berkibar-kibar. Bagian belakang kepalanya
diikat dengan sehelai pita. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Wajahnya putih bersih.
Matanya menyorotkan sinar tajam bagai naga sakti. Alisnya tebal bak alis harimau.
Penampilannya mengesankan kewibawaan seorang yang gagah.
Dengan seksama dia memperhatikan daerah sekitarnya. Tiba-tiba tubuhnya berkelebat
dan tahu-tahu dia sudah melayang ke atas. Sungguh gerakan yang mencengangkan!
Dua pasang mata dari Tan Ki dan Liang Fu Yong tidak sempat melihat bagaimana orang
itu menggerakkan tubuhnya. Yang terlihat oleh mereka hanya kelebatan bayangan dan
tahu-tahu orang itu sudah hilang dari pandangan.
Diam-diam hati mereka tercekat. Tanpa sadar keduanya saling memandang tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Tan Ki sudah pernah melihat gerakan tubuh Cian Cong.
Ketinggian ilmu silatnya, kalau ditilik dari keadaan sekarang, mungkin sudah sulit mencari
tandingannya. Tetapi gerakan orang yang barusan, tampaknya masih lebih tinggi lagi dari
Cian Cong.
Siapa orang itu? Seorang tokoh yang misterius.
Kedua orang itu masih tergetar hatinya. Tiba-tiba terdengar suara siulan yang panjang
dan suara teriakan yang keras berkumandang dalam waktu yang bersamaan. Dari arah
Barat dan Timur mendadak muncul dua sosok bayangan. Gerakan tubuh kedua orang ini
sama cepatnya dan dalam sekejap mata sudah tiba dia atap Cui Sian Lau.
Begitu mata memandang, hati Tan Ki terkejut juga gembira. Yang datang ternyata
memang Cian Cong si pengemis sakti dan Ciu Cang Po yang merupakan tokoh nomor satu
di dunia Kangouw zaman ini.
Terdengar Cian Cong mengeluarkan suara tawa yang bebas.
“Nenek pengemis, kau juga sudah datang?”
Ciu Cang Po tertawa dingin.
“Jangan kata Cui Sian Lau. Meskipun gunung golok maupun lautan berapi, aku juga
akan menepati janji.”
Baru saja dia berkata sampai di situ, tiba-tiba Tan Ki menyadari sesuatu hal. Di
seberang jalan, berdiri Pangcu dari Ti Ciang Pang, yakni Lok Hong. Jenggotnya melambaiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
lambai dan bibirnya tersenyum. Cucu perempuan kesayangannya Lok Ing malah tidak tabu
ke mana perginya. Gadis itu pun tidak terlihat di sekitar tempat tersebut.
‘Orang-orang yang datang malam ini, mungkin banyak juga.’ pikir Tan Ki dalam hatinya.
Ketika benaknya sedang bekerja, tiba-tiba dia merasa di atas kepalanya berkelebat
beberapa bayangan. Semuanya berjumlah tiga orang. Dari atap toko tahu mereka melesat
ke seberang jalan dan menghilang di kegelapan malam.
Mata dan perasaan Siau Yau Sian-li Liang Fu Yong lebih peka serta awas. Begitu
melihat ketiga orang itu semuanya berkepala gundul dan mengenakan (jubah) abu-abu
yang longgar, dia segera menarik tangan Tan Ki.
“Mereka adalah para Hwesio. Kemungkinan dari Siau Lim Pai.” kata- katanya terhenti
sejenak, dia mendongakkan wajahnya dan melanjutkan kembali. “Lihat, di sana ada
beberapa orang tojin!”
Sinar mata Tan Ki mengikuti arah yang ditunjuknya. Ternyata dia melihat orang
bertampang pendekar dan dengan mengendap-endap menyelinap ke bagian belakang Cui
Sian Lau. Meskipun orang-orang ini jumlahnya lebih banyak, namun masing-masing dari
mereka mempunyai gerakan yang gesit dan lincah. Langkah kaki mereka tidak
menimbulkan suara sedikitpun. Hal ini membuktikan bahwa mereka tentunya Tosu Bu
Tong Pai yang memiliki ilmu tinggi. Hatinya tergetar.
‘Tampaknya urusan malam ini, bukan lagi masalah kalah menangnya pertandingan
antara Cian Cong dengan Ciu Cang Po. Di balik semua ini pasti ada persoalan yang lain…’
pikirnya dalam hati.
Begitu perasan seperti itu menyelinap di dalam kalbu, tanpa sadar tubuhnya
menggelinjang seperti orang yang kedinginan. Dia terus merasa bahwa dalam
pertandingan malam ini mungkin terselubung rencana yang keji!
Tiba-tiba, di benaknya juga terlintas suatu ingatan.
‘Mungkinkah orang-orang ini sedang memasang perangkap untuk menjebak Cian bin
mo-ong? Hm, hm… aku justru berada di sini, apakah kalian dapat menangkapku? Sayang
sekali, kalian bahkan tidak tahu wajah asliku…’ ejeknya dalam hati.
Berpikir sampai di sini, dia tersenyum penuh kebanggaan. Tindak-tanduknya selama
setengah tahun belakangan ini dengan nama Cian bin mo-ong, telah menggetarkan hati
para tokoh Bulim. Dia sudah menjadi bagian tertentu dalam tindak-tanduk tokoh-tokoh
kelas tinggi dunia Bulim.
Tiba-tiba segumpal awan besar berwarna hitam menyelubungi rembulan yang sedang
bersinar. Sekitar tempat itu menjadi gelap gulita. Tetapi terdengar suara bentakan dan
siulan panjang yang memecah keheningan malam. Angin yang timbul dari pukulan tangan
malah membisingkan telinga.
Rupanya, dalam waktu yang singkat, Cian Cong dan Ciu Cang Po sudah mulai
bergebrak. Tan Ki segera memusatkan perhatiannya. Begitu seriusnya dia memperhatikan
jalan pertarungan sehingga tubuhnya tidak bergerak dan matanya hampir tidak pernah
berkedip. Hanya terasa angin malam yang menghembus mengibar-ngibarkan lengan
bajunya.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Sementara itu, tampak juga beberapa orang sedang bergerak. Mereka rupanya berganti
posisi persembunyian. Sejenak kemudian, awan hitam tadi pun mulai berarak.
Cahaya rembulan kembali bersinar. Kesenggangan yang ada di jalanan pun pulih
kembali.
Ini merupakan malam yang sunyi mencekam. Dalam keheningan, juga terselip marabahaya
yang mengintai. Begitu mata memandang, di atas atap Cui Sian Lau, bayangan
tubuh manusia masih berkelebat ke sana ke mari. Pertarungan masih berlangsung dengan
sengit.
Si pengemis sakti Cian Cong tahu bahwa lawannya jarang berkeliaran di dunia
Kangouw. Tetapi ilmu silat yang dikuasainya sudah mencapai taraf yang tinggi sekali. Oleh
karena itu, dia tidak berani memendam perasaan memandang ringan lawannya. Telapak
tangannya yang besar bak kipas itu mengibas, serangkum angin yang dahsyat pun
terpancar keluar.
Tampaknya dalam hati Ciu Cang Po juga mengerti bahwa orang yang ada di depan
matanya mempunyai tenaga dalam yang dahsyat. Kibasan tangannya itu seakan tidak
terlalu istimewa tetapi sebetulnya mengandung kekuatan tenaga dalam yang telah
dilatihnya selama ini tak boleh dianggap enteng.
Untuk sesaat dia tidak berani menyambut dengan kekerasan. Pinggangnya meliuk dan
tahu-tahu tubuhnya berputar serta mundur tiga langkah. Tiba-tiba dia merasa bagian
bawah kakinya licin sekali. Tubuhnya menjadi tidak seimbang dan bergoyang-goyang
seperti orang mabuk. Hampir saja dia tergelincir ke bawah.
Rupanya atap genting dari Cui Sian Lau terbuat dari bahan kaca keluaran Su Couw
yang sangat terkenal. Benda ini keras dan licin. Orang yang berdiri di atasnya, terasa
bagai menginjak kumparan minyak, maka tubuhnya akan semponyongan. Justru karena
hati Ciu Cang Po terlalu yakin akan dirinya sendiri, dia hampir saja tidak menyadari bahaya
tersebut, nyaris saja tubuhnya tergelincir ke bawah.
Hatinya tercekat, cepat-cepat dia menggeser ke samping sejauh dua langkah kemudian
mengangkat tongkat ke depan untuk melindungi bagian dadanya. Sikap Cian Cong
meskipun ugal-ugalan, tetapi pada dasarnya dia adalah seorang pendekar berjiwa mulia.
Dia tidak menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Ciu Cang Po. Hanya mulutnya
saja yang mengeluarkan suara tawa terbahak-bahak.
Tampak wajah Ciu Cang Po menjadi merah padam. Dari malu dia menjadi marah.
Mulutnya meraung murka dan tongkatnya yang anehpun bergerak menimbulkan ribuan
bayangan yang bergelombang-gelombang menghempas datang!
Dalam satu jurus, enam buah urat darah penting di depan dada sudah terkurung
bayangan tongkat si nenek kurus tersebut. “Ilmu tongkat yang bagus!” teriak si pengemis
sakti Cian Cong. Tubuhnya menghentak dan tiba-tiba mencelat ke atas. Meskipun dia
sedang mengelakkan serangan, tetapi dia tetap tidak lupa menyerang musuhnya.
Orangnya masih di tengah udara, saling susul menyusul dia melancarkan empat buah
pukulan dan tiga kali tendangan.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Ciu Cang Po melihat Cian Cong menyerang dengan gencar, dengan kalang kabut
tubuhnya mencelat mundur sembari diamdiam mengagumi ketinggian ilmu silat si
pengemis sakti yang tinggi sekali. Di samping itu dia juga merasa penasaran.
Watak nenek ini pada dasarnya memang picik dan tinggi hati. Kalau tidak demikian, dia
tidak mungkin menantang Cian Cong malam ini untuk pertarungan sengit hanya karena
urusan Tan Ki yang sepele.
Maka dari itu, persoalan yang membuatnya semakin penasaran, pandangan pun
menjadi semakin picik. Dia tidak sudi mengalah. Walaupun ilmu silat si pengemis sakti
lebih tinggi lagi, dia juga ingin bertarung sampai ada penentuan siapa yang kalah serta
siapa yang menang baru hatinya merasa puas.
Begitu mencelat mundur, nenek kurus itu langsung menghimpun tenaga dalam dan
mengatur hawa murni di dalam tubuhnya kemudian sekali lagi mengibaskan tongkat ke
depan. Dalam waktu yang singkat dia telah melancarkan delapan belas jurus berturutturut.
Serangan yang gencar ini membuat Cian Cong terdesak sehingga dia terpaksa mundur f
tiga langkah kemudian memaksakan diri menyambut serangan itu. Ketika pukulannya
datang, terdengar angin menderu-deru. Hal ini membuat Ciu Cang Po menahan dari
sebelah kanan dan menghindar ke sebelah kiri. Berturut-turut kakinya mundur ke tempat
semula.
Kedua orang itu hilir mudik, maju mundur saling menyerang serta menangkis dengan
sengit. Perkelahian diantara kedua orang itu merupakan pertarungan yang sengit di antara
dua tokoh berilmu tinggi yang mengeluarkan segenap kemampuannya!
Hal ini membuat Tan Ki yang menyaksikan pertandingan itu menjadi terpesona dan
terpaku. Bahkan orang-orang yang bersembunyi di dalam kegelapan juga hampir
kelepasan mulut berseru memuji. Tetapi karena mereka mempunyai rencana tertentu,
maka tidak berani berteriak dengan suara keras. Kentungan ketiga sudah berlalu. Menang
atau kalah di antara kedua orang itu masih sulit ditentukan.
Kentungan keempat… kentungan kelima, juga segera berlalu.
Di batas langit, lambat laun tersembul cahaya kuning keemasan. Hari yang baru telah
datang. Namun, kedua orang yang bertarung di atap genting Ciu Sian Lau masih belum
berhenti.
Mereka sudah bertarung sebanyak ribuan jurus. Sampai sekarang masih belum dapat
menentukan siapa yang lebih unggul di antara keduanya. Hal ini tampaknya membuktikan
bahwa ilmu silat mereka setali tiga uang alias seimbang. Siapapun diantara mereka sulit
merubuhkan lawannya.
Tan Ki mengalihkan pandangannya, dia melihat ke sekeliling. Tampak orang-orang yang
sedang bersembunyi di kegelapan sedang memusatkan perhatiannya menyaksikan
jalannya pertarungan. Tetapi mimik wajah mereka agaknya sudah mulai tidak sabar.
Beberapa kali mereka menegakkan tubuh dan memperhatikan sekitar. Kadang-kadang
mereka berbincang-bincang beberapa patah kata dengan rekannya kemudian
menggelengkan kepala sambil tertawa getir.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Tan Ki tidak tahu apa yang sedang mereka nantikan. Tetapi kalau ditilik dari mimik
wajah mereka, kemungkinan orang yang mereka tunggu tidak akan muncul malam ini.
Ketika benaknya sedang merenung, tubuh Liang Fu Yong yang kecil dan mungil entah
sejak kapan telah menyelusup ke dalam pelukannya. Saat ini pikiran Tan Ki sedang
bekerja keras, dia tidak memperdulikan tingkah perempuan itu.
Tetapi tampang perempuan itu kelihatannya agak aneh. Seperti seorang yang sedang
mengkhayal, juga seperti sedang menyimpan sesuatu rahasia. Di wajahnya tersirat mimik
yang kadang tertawa tetapi ka-dangkala malah cemberut.
Padahal dia sendiri merasa bingung. Mengapa hatinya bisa berdegup-degup sehebat
itu? Indera penciumannya, mengendus serangku m bau yang terpancar dari tubuh Tan Ki.
Bau itu menunjukkan desah nafas dari seorang laki-laki yang gagah. Dia merasa hatinya
menjadi gelisah dan pikirannya melayang-layang.
Bernaung di dalam pelukan Tan Ki yang bertubuh kekar dan berotot, dia dapat
mendengar denyut jantung anak muda itu. Dak!
Duk! Dak! Duk! Bagai irama musik yang mengiringi degup jantungnya sendiri.
Hatinya sendiri, entah mengapa timbul semacam perasaan yang aneh. Tetapi dia
sendiri tidak dapat menjelaskannya. Dia hanya merasa perasaan ini amat ajaib, membuat
hatinya terlena.
Dia teringat beberapa tahun yang lalu, ketika dia menyerahkan sesuatu yang paling
berharga dari diri seorang gadis kepada seorang pemuda yang dicintainya. Dia juga
mempunyai perasaan seperti sekarang ini… kemudian, perasaan seperti ini tidak
dirasakannya lagi… bagai sesuatu terombang-ambing di tengah lautan dan sulit ditemukan
lagi. Ingin sekali rasanya dia mencari kem-bali perasaan yang hilang itu. Walaupun hanya
sedikit kenangannya saja. Oleh karena itu, diapun memaksakan kehendaknya kepada
setiap laki-laki yang ditemuinya, dia berharap laki-laki itu dapat mengajaknya naik ke
puncak gunung yang tinggi dan beterbangan di awan biru…
Tapi, dia selalu gagal. Setiap kali gelombang birahi sudah berlalu, dia merasakan
kehampaan yang membingungkan. Hatinya menjadi kosong melompong. Padahal dia
sadar, apabila dia mengulangi perbuatan itu, yang didapatinya hanyalah penyaluran
sesaat, kesenangan sekejap. Dia tidak mungkin memperoleh ketenagan bathin. Tetapi
setiap gairah dalam hatinya bergejolak, kembali bara api di dalam dadanya berkobarkobar.
Hal ini membuat dia tidak sanggup mempertahankan diri.
Sekarang, dia bergelayutan di pelukan Tan Ki. Kembali dia mengendus bau nafas yang
istimewa pada diri seorang laki-laki. Wajahnya menjadi merah padam. Dia merasa hatinya
berdebar-debar.
Seluruh tubuhnya terkulai lemas seperti tidak mempunyai tenaga sedikitpun. Dia tidak
tahu mengapa, tapi dapat merasakan bahwa hal ini merupakan peristiwa yang aneh.
Karena setiap kali dia berhubungan dengan seorang laki-laki, dia belum pernah
mempunyai perasaan yang seaneh ini.
Tepat pada saat hatinya sedang gundah, tiba-tiba segulungan angin yang dingin
menghembusi wajahnya. Tanpa sadar tubuhnya menggigil.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Adik, aku merasa kedinginan.” katanya dengan suara lirih.
Sepasang mata Tan Ki sedang terpaku ke atap genting. Dia malah tidak berkedip
sekalipun. Tetapi setelah mendengar ucapannya, dia segera mengulurkan lengannya dan
memeluk pinggang perempuan itu.
Sebetulnya, seluruh perhatian Tan Ki sedang terpusat pada pertarungan yang terjadi
antara Cian Cong dengan Ciu Cang Po. Dia mengulurkan lengannya memeluk pinggang
Liang Fu Yong hanya bertujuan agar perempuan itu mendapat sedikit kehangatan. Dia
tidak mempunyai maksud lain sedikitpun. Hanya semacam gerakan refleks pada saat
tertentu.
Liang Fu Yong tertawa lebar. Tawanya mengandung kegenitan dan kejalangan yang
dinyatakan secara menyolok. Dia merasa lengan Tan Ki begitu kekar, juga mengandung
tenaga yang kuat seakan sanggup meremukkan setiap bagian dari tubuhnya.
Tentu saja apa yang dipikirkan dalam hatinya, orang lain tidak mungkin bisa tahu.
Sementara itu, pertarungan di atas atap genting telah mencapai puncak
ketegangannya. Suasana terasa semakin mencekam.
Tampak gerakan Cian Cong dan Ciu Cang Po berdua berubah menjadi lambat sekali.
Setiap kali tangan diangkat dan kaki menginjak seakan membawa beban ribuan kati
sehingga sulit digerakkan.
Tapi tenaga yang terkandung dalam setiap pukulan ataupun kibasan tongkat,
tampaknya mengandung kekuatan dahsyat yang tidak berwujud sehingga atap genting Cui
Sian Lau itu pecah berhamburan.
Untung sebelumnya Bu Ti Sin-kiam Liu Seng sudah menyuruh orang berjaga di dalam
Cui Sian Lau. Maksudnya pertama untuk melindungi setiap tamu yang berkunjung ke
penginapan itu, sekaligus menyatakan bersedia mengganti kerugian apabila terjadi
kerusakan. Kalau tidak diberitahukan terlebih dahulu, kemungkinan para pelayan maupun
tamu-tamu yang datang akan terkencing-kencing ketakutan mengetahui adanya
pertarungan di atap genting rumah makan sekaligus dengan datangnya berbagai tokoh
yang ingin menyaksikan keramaian.
Terdengar suara bentakan nyaring dari mulut Ciu Cang Po. Seluruh rambutnya yang
telah memutih seakan berjingkrakan ke atas. Sepasang matanya menyorotkan sinar api
yang berkobar-kobar. Tampangnya garang menyiutkan nyali orang yang memandangnya.
Meskipun marah, tapi penampilan si pengemis sakti Cian Cong lebih tenang. Justru
setelah pihak lawan meraung nyaring, dengan dahsyat dia melancarkan sebuah pukulan
untuk menyambut datangnya serangan tongkat Ciu Cang Po yang keji.
Dua gulungan tenaga yang kuat langsung beradu. Timbul suara yang menggelegar
seperti genderang yang ditabuh dengan keras. Kemudian terlihat dua sosok bayangan
mereka berpencar. Kedudukan tetap seimbang.
Tiba-tiba… setelah berhenti sejenak, keduanya mengeluarkan suara teriakan dan saling
menerjang lawannya. Kejadiannya hanya sekejap mata!
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
Dalam waktu yang singkat itu, kedua orang tersebut kembali beradu pukulan!
Mendadak sesosok bayangan melesat ke atas dan menerjang ke depan. Dia adalah
pangcu Ti Ciang Pang, Lok Hong. Gerakan orang ini cepat tidak terkira. Ketika dia melesat
ke atas genting, matanya langsung mengedar. Tanpa terasa dia jadi termangu-mangu.
Tampak si pengemis sakti Cian Cong sedang memegang dada dengan tangan kirinya.
Tubuhnya tetap berdiri tegak. Mimik wajahnya menyiratkan bahwa dia sedang menahan
rasa sakit. Sedangkan Ciu Cang Po terbaring di atas genting tanpa bergerak sedikitpun.
Matanya terpejam rapat-rapat. Kalau tidak sampai mati, paling tidak menderita luka yang
sangat parah.
Perlahan-lahan Lok Hong menarik nafas panjang.
“Cian heng, bagaimana keadaanmu?” tanyanya.
Si pengemis tua Cian Cong masih dapat tertawa terbahak-bahak.
“Si pengemis tua termakan tendangan nenek pengemis itu satu kali. Tapi dadanya juga
terkena serangan pukulan si pengemis tua. Kedua-duanya tidak ada yang rugi…” tiba-tiba
mulutnya terbuka dan ‘Hoakkk!’ diapun memuntahkan darah segar. Tubuhnya
semponyongan beberapa saat kemudian terkulai jatuh.
Lok Hong terkejut sekali. Dengan panik dia mengulurkan tangan dan segera memapah
orangtua itu. Tampak Cian Cong menghembus nafas panjang-panjang. Bibirnya masih
juga tersenyum.
“Ilmu silat si nenek pengemis ini benar-benar membuat si pengemis tua kagum
kepadanya. Tetapi watak orang ini benar-benar terlalu picik, tidak dapat diajak
bersahabat…”
Mendadak rasa sakit di dadanya terkena tendangan Ciu Cang Po semakin sakit. Cepatcepat
dia menutup mulutnya dan tidak berani berbicara lagi. Saking sakitnya, keringat
dingin telah membasahi kening orangtua tersebut.
Lok Hong tersenyum simpul.
“Membiarkan orang seperti dia hidup di dunia sama sekali tidak ada manfaatnya. Biar
hengte yang membereskannya saja…”
Dalam pandangan tokoh-tokoh Bulim, Cian Cong dianggap sebagai salah satu dari dua
tokoh sakti yang masih hidup di dunia ini. Hal ini bukan kebetulan, tetapi selain ilmu
silatnya yang tinggi, hatinya juga welas asih dan adil dalam memutuskan sesuatu.
Mendengar kata-kata Lok Hong, dia jadi panik sekali. Orangtua itu segera mencegah.
“Tidak boleh, ilmu silat yang dimiliki orang ini, mungkin telah menghabiskan separuh
usianya, baru ia mencapai tingkat setinggi ini. Kalau kau membunuhnya begitu saja,
benar-benar patut disayangkan. Apalagi, aku dengar tindak-tanduk orang ini sebetulnya
tidak terlalu…”
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang dingin menukas…
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Perbuatannya tidak terlalu apa? Cian Cong, kau anggap perbuatanmu seumur hidup
selalu benar dan tidak pernah ada terkandung niat busuk sedikitpun?”
Mendengar ucapan itu, Cian Cong benar-benar merasa di luar dugaan. Untuk sesaat dia
jadi termangu-mangu. Begitu mata memandang, dia melihat seseorang sedang melangkah
dengan santai di atap genting, ilmu ginkang yang dimilikinya, mungkin malah lebih tinggi
daripada dirinya sendiri. Hatinya langsung tercekat.
Setelah di perhatikan baik-baik, dia melihat orang ini mengenakan jubah hijau dengan
rambut disanggul ke atas. Tangannya memegang sebatang kipas yang terbuat dari sejenis
tulang yang keras. Tampangnya biasa-biasa saja. Namun penampilannya seperti playboy
kawakan. Tetapi membuat orang yang menatapnya menjadi sebal.
Sepasang alis Cian Cong langsung terjungkit ke atas.
‘Entah di mana aku pernah berjumpa dengan orang ini… benar-benar kurang ajar,
justru pada saat diperlukan aku selalu tidak bisa mengingatnya….’ katanya dalam hati.
Tampaknya Lok Hong sudah dapat melihat bahwa orang yang baru muncul ini
mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali. Dia segera merangkapkan sepasang tangannya
menjura.
“Entah siapa nama Saudara yang mulia. Harap maafkan kalau pandangan hengte sudah
kurang jelas.” katanya.
Meskipun Lok Hong adalah seorang pang-cu, tetapi seumur hidup dia sibuk berlatih
ilmu silat dan mengurusi tetek bengek di perkumpulannya. Oleh karena itu dia jarang
berkelana di dunia Kangouw. Kecuali dua tiga orang sahabat lamanya, tokoh yang lain dia
hanya pernah mendengar namanya saja dan belum pernah bertemu muka. Apalagi kalau
orang berjubah hijau ini sudah lama mengasingkan diri dan baru muncul kembali.
Tampak laki-laki berjubah hitam itu melirik Lok Hong sekilas dengan sinar matanya
yang datar. Bibirnya tersenyum. Tatapannya beralih kepada Cian Cong.
“Pengemis tua, jurus seranganmu yang dinamakan “Hui Siu Jut Lim” (Lengan baju
terbang memasuki hutan) tampaknya boleh juga!”
Tampaknya watak orang ini sulit dimengerti. Ketika berbicara dan tertawa, rasanya
tidak terselip rasa permusuhan. Tetapi entah mengapa, Cian Cong yang mendengar suara
tawanya, tanpa sadar jadi menggidik.
Mata manusia berjubah hijau itu beredar lagi. Kali ini berhenti pada diri Lok Hong.
Mulutnya kembali memperdengarkan suara tertawa yang nyaring.
“Apakah saudara tetap ingin membunuh Ciu Cang Po?”
Nada bicaranya tajam sekali meskipun diucapkan dengan bibir tersenyum. Lok Hong
yang mendengarnya menjadi tidak tenang. Wajahnya merah padam. Dia sampai tidak
sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sengaja dia membuang muka dan melihat ke
tempat lain. Tampaknya dia tidak ingin bertemu pandang dengan orang ini.
Orang berjubah hijau itu tersenyum simpul.
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
“Nenek ini mempunyai hubungan yang erat denganku. Kalau kalian berdua tidak
senang melihatnya, bagaimana kalau kubawa pergi saja?” tanpa menunggu jawaban, dia
langsung membungkukkan tubuhnya memondong Ciu Cang Po.
Tindak tanduknya ini seperti menyatakan, “Biarpun kalian tidak setuju, aku tetap akan
membawanya. Lihat apa yang dapat kalian lakukan terhadap diriku?”
Wajah Lok Hong langsung berubah hebat. Baru saja dia hendak meluapkan perasaan
amarahnya, dia merasa ujung lengan bajunya telah dijawil oleh Cian Cong. Dia segera
mengalihkan tatapannya. Dia melihat mimik wajah si pengemis tua itu mengandung
kecurigaan yang berat. Sepasang alisnya terjungkit ke atas. Hatinya seakan sedang
menghadapi masalah yang rumit, dan tidak dapat dipecahkannya.
Padahal dia tahu sikap Cian Cong biasanya sangat bebas. Bibirnya selalu tersenyum.
Kalau tidak menghadapi masalah yang serius, tampangnya tidak pernah seperti itu. Lok
Hong menjadi terpana. Tetapi dia melihat orangtua itu mengerutkan sepasang alisnya.
Cian Cong sedang merenung tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia merasa tidak enak
untuk mengajukan pertanyaan pada saat seperti itu. Akhirnya dia terpaksa menahan emosi
dalam dadanya dan mendelik lebar kepada manusia berjubah hijau seperti menunjukkan
bahwa hatinya merasa kurang senang.
Hal ini karena kedudukannya sebagai pangcu sebuah perkumpulan yang namanya telah
menggetarkan dunia persilatan. Apabila dia sampai disudutkan oleh seorang tokoh tidak
dikenal dan tidak berani mengambil tindakan apa-apa, tentu dirinya akan dicemooh orang.
Manusia berjubah hijau itu melihat kedua orang itu saling lirik beberapa kali. Tetapi
mereka tidak memberikan jawaban. Setelah menunggu sekian lama, hatinya mulai kurang
sabar. Oleh karena itu dia langsung memperdengarkan suara tawa yang dingin.
“Apakah kalian tidak ingin mengatakan apa-apa? Kalau begitu aku akan membawa
orang ini. Selama gunung masih menghijau dan air masih mengalir, kelak kita pasti akan
berjumpa kembali!” tubuhnya berkelebat dan orangnya sudah mendarat di atas tanah.
Gerakannya sungguh cepat dan indah.
Tanpa menolehkan kepala sekalipun, dia langsung melesat ke depan. Dalam waktu
yang singkat, bayangannya pun sudah tidak terlihat lagi. Dari kejauhan, tiba-tiba
berkumandang suara orang itu yang diucapkan dengan sungkan…
“Si pengemis tua harap menunggu dengan sabar. Tiga bulan kemudian, aku akan mengajarkan
kepada nenek ini mengembalikan jurus serangan Hui Siu Jut Lim milikmu itu!”
Meskipun suara itu terpancar dari jauh dan di telinga Cian Cong maupun Lok Hong
terdengar lirih sekali, namun kata-katanya sangat jelas. Pengalaman maupun pengetahuan
kedua orang ini sangat luas. Begitu mendengar suaranya, mereka segera sadar bahwa
pihak lawan menggunakan semacam ilmu tingkat tinggi dan mengumpulkan ucapannya
menjadi gabungan yang kemudian dikirimkan dari jarak jauh. Tanpa terasa keduanya
saling pandang sambil tertawa getir. Tidak sepatah katapun terucap dari bibir mereka.
Ilmu semacam ini kedua orang itu otomatis juga bisa. Tetapi kalau dibandingkan,
ucapan yang terdengar tidak sejelas manusia berjubah hijau tersebut. Begitu manusia
Tiraikasih Website http://kangzusi.com/
berjubah hijau itu membawa pergi Ciu Cang Po, hawa pembunuhan yang tadi memenuhi
tempat itu juga buyar seketika.
Tetapi… di dalam hati orang-orang yang ada di sekitar daerah itu, timbul sebuah
pertanyaan.
Siapa dia? Siapa kiranya tokoh yang misterius itu? Siapa?
Tidak ada seorangpun yang dapat menjawabnya. Pertanyaan itu bagai teka teki
terselubung dan harus dicari dulu pemecahannya.
Sekian lama Cian Cong dan Lok Hong termenung memikirkan pertanyaan yang sama.
Kadang-kadang mereka saling lirik dengan harapan rekannya dapat memberi keterangan
tentang masalah yang rumit ini.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Cinta Romantis : Dendam Iblis Seribu Wajah 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Kamis, 20 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments