Cerita Seks Model Baru : PKK 6

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Seks Model Baru : PKK 6
-Entah selang berapa lama, tiba2 telinganya yang
tajam samar2 seperti mendengar suara bentakan dari
jauh. Serentak ia berbangkit dan dengan gerakan yang
cepat, segera menghampiri ke bawah mulut guha yang
berada di puncak atas. Dengan kerahkan alat
pendengarannya, ia pasang telinga untuk mendengarkan
kelanjutan dari suara teriakan itu. Wut ..... tiba2 dari
mulut guha itu melayang sebuah benda, meluncur turun.
“Ih, apakah ada seseorang yang datang ke tempat
ini?” hampir ia tak percaya apa yang didengarnya saat
itu. Tiba2 ia melihat pada mulut guha yang gelap itu,
berkelebat segulungan bayangan putih yang tepat
melayang jatuh ke dalam mulut guha. Gak Lui terkejut
dan cepat2 menyanggapi tubuh orang itu. Serta berada
dalam tangannya, ia segera mencium bau yang harum.
Tubuh orang melekat di dadanya itu bukan saja halus
sekali kulitnya, pun napasnya yang berombak-ombakpun
membuat buah dadanya makin menonjol.
“Ah, kiranya seorang gadis ...” Gak Lui segera
menenangkan hatinya yang bergejolak. Buru2 ia
curahkan perhatian untuk memandang dara itu dengan
seksama. Dari cahaya yang remang, sayup2 ia melihat
rambut gadis itu amat lebat, matanya seperti lukisan ....
dari bibirnya yang bergetar lemah menghamburkan
napas lembut yang wangi, meniup ke lehernya sehingga
bulu kuduknya meremang tegang ..... Ah, cantik, cantik
sekali! Dan menyerbakkan bau harum laksana sekuntum
498
bunga mawar yang memikat jiwa.
Menghadapi hal itu mau tak mau perasaan hati Gak
Luipun goncang, darahnya mendebur keras. Buru2 ia
tenangkan gejolak hati dan letakkan tubuh dara itu ke
tanah. Beberapa saat setelah melakukan penyaluran
tenaga dalam, mulut dara cantik itu mengerang perlahan
dan kelopak matanyapun terbuka, dan bulu matanya
yang runcing menjungkat segera berkicup-kicup memain
499
pada gundu matanya yang bundar indah. Tak ubah
seperti bintang kejora yang berkelap-kelip di angkasa.....
“Siapakah engkau?” karena takut membuat sidara
terkejut, Gak Lui menegurnya dengan perlahan. Tiba2
tubuh dara itu menggigil. Tadi walaupun sudah membuka
mata tetapi ia belum melihat jelas. Kini setelah tahu
bahwa tubuhnya telah dijamah seorang pemuda, maka ia
segera merasa seperti terkena aliran stroom yang keras.
Cepat ia menggeliat duduk dan balas bertanya: “Engkau
.... engkau siapa?”
“Gak Lui !”
“O, kiranya engkau Gak siauhiap yang menggetarkan
dunia persilatan itu ....”
“Ah, sebutan siauhiap (pendekar muda) aku tak
berani terima. Tetapi siapakah nama nona?”
“Aku Lau Yan-lan.”
“Mengapa nona jatuh ke dalam guha ini? “
“Aku hendak ditangkap orang.”
“Siapa orang itu?”
“Kaki tangan si Maharaja !”
“Oh, nona juga mempunyai dendam permusuhan
dengan dia?”
“Tidak!”
“Lalu mengapa mereka hendak mencelakai nona ?”
“Aku sendiri juga tak mengerti ....”
“Hm .. ,” Gak Lui mendesus lalu merenung. Ia
mengangkat muka memandang ke mulut guha di sebelah
atas. Tetapi ia tak mendengar suara apa2, ia duga
500
karena Lau Yan-lan sudah terjatuh ke dalam guha
neraka, orang itu tentu tak mengejarnya lagi. Maka ia
segera mencekal lengan sidara lalu diajak duduk di
tempat yang bersih dan mulai menanyainya lagi: “Nona
Lau, murid perguruan manakah engkau ini? Apakah
nona mempunyai nama gelaran? Bagaimana nona dapat
memasuki barisan aneh dari keenam puncak gunung itu
?”
Dihujani pertanyaan bertubi-tubi oleh Gak Lui, nona
itu merenung sejenak lalu menyahut dengan tersekat:
“Orang memberi gelaran Burung-hong cantik dari Bu-san
kepadaku. Aku cucu perempuan dari ketua perguruan
agama Bu kau….”
“Bu-kau ? Konon kabarnya Bu-kau itu termasuk
golongan partai agama yang jahat tetapi sudah lama
lenyap dari dunia persilatan.”
“Benar, memang partai agama itu selamanya
dipimpin oleh wanita dan hanya menerima seorang murid
perempuan saja. Segala ilmu hitam yang ganas dan
berbahaya telah disimpan sehingga akupun hanya dapat
memiliki sedikit ilmu bela diri saja.”
Mendengar keterangan itu, diam2 Gak Lui bersyukur
dalam hati. Ia menganggukkan kepala lalu bertanya pula:
“Karena partai agama nona disebut Bu kau dan nona
sendiripun digelari Burung- hong cantik dari Busan,
apakah dengan perguruanku Pedang Busan ... eh,
bukan, apakah mempunyai hubungan dengan ke 12
puncak gunung Bu-san itu ?”
Tanpa disadari Gak Lui kelepasan omong,
mengatakan tentang partai perguruannya. Maka buru2 ia
beralih nada. Tetapi sidara sudah terlanjur mendengar.
Diluar dugaan dara itu malah tertawa girang: “Oh, kiranya
501
engkau ini dari Bu-san-pay, kalau... begitu kita termasuk
keluarga !”
“Keluarga? Keluarga bagaimana ?”
“Coba engkau katakan dulu bagaimana hubunganmu
dengan Bu- san It-ho?” kata sinona.
“Mendiang ayahku adalah murid luar dari beliau.”
“Ha, ha,” sidara tertawa girang, “kalau begitu engkau
ini adalah adik misanku.”
“O !” Gak Lui berseru dengan nada gentar. Ia tak
pernah menyangka bahwa ia mempunyai seorang taci
misan. Dan nona itu rupanya mempunyai hubungan yang
luar biasa dengan perguruan Bu-san-kiam-pay. Melihat
Gak Lui termenung diam, nona itu segera menegurnya
pula: “Adik Lui, seharusnya engkau menyebut cici
kepadaku ...eh, bagaimana, apakah engkau tak percaya
kalau aku lebih besar dari engkau? Walaupun belum
tahu tapi mendengar nada suaramu itu saja aku sudah
tahu kalau umurmu tentu lebih muda dari aku ....”
“Tidak, bukan soal umur. Tetapi bagaimanakah
hubungan yang sesungguhnya antara perguruanmu
dengan Bu-san-kiam-pay itu?”
“Hm, panjang sekali kalau diceritakan ...”
“Tak apa, saat ini kita nganggur, silahkan engkau
menerangkan sejelas-jelasnya.”
“Tetapi .... ini rahasia dari kedua partai perguruan kita
selama berpuluh tahun. Tak boleh diketahui orang luar
....”
“Jangan kuatir, kita akan memegang teguk rahasia itu
dan takkan membocorkan pada lain orang,” Gak Lui
memberi jaminan.
502
“Kalau begitu ...,” Lau Yan-Lan tak melanjutkan
bicara. Setelah terdiam sejenak, baru ia berkata lagi,
“Akan kuceritakan mulai dari Kedua belas puncak Bu san
itu. Sebenarnya puncak itu merupakan markas pusat dari
Bu-kau. Karena partai Bu-kau itu merupakan partai
agama yang rahasia pendiriannya maka pada kedua
belas puncak itu kami pasang alat2 rahasia yang ketat
dan ditambah pula dengan beberapa penjagaan ilmu
Hwat-sut. Oleh karena itu sejak 200 tahun ini, tiada
seorangpun yang mengetahui akan perguruanku...”
Mendengar itu Gak Lui tergopoh menukasnya: “O,
maka engkau dapat masuk kemari .... kiranya engkau
faham akan keadaan tempat ini. Kalau begitu engkau
tentu mengerti juga rahasia dari istana Bi-kiong itu !”
“Tidak !” sahut Yan-lan.
“Tidak ?” Gak Lui terbeliak heran.
“Aku memang faham akan keadaan keenam puncak
dari lapisan luar tetapi keenam puncak lapisan dalam
yalah tempat letaknya istana Bi-kiong itu, aku tak tahu!”
“Sungguh ?”
“Kalau mengerti masakan aku dapat terjerumus jatuh
ke dalam guha sini !” sahut sinona.
“Benar,” diam2 Gak Lui membenarkan. Walaupun
benaknya penuh dengan berbagai pertanyaan sehingga
kepalanya pusing dan tak dapat memberi jawaban. Si
Burung-hong-cantik melanjutkan berkata pula: “Pada
jamannya nenekku hidup, muncullah seorang pendekar
pedang yang datang menantang perguruan Bu-kau. Dia
adalah kakek-gurumu Bu-san It-ho. Keduanya bertempur
dengan taruhan yang luar biasa hebatnya!”
“Taruhan apa ?”
503
“Jika kakek-gurumu kalah, ia akan menyerah
memotong batang kepalanya.”
“Kalau menang ?”
“Bu-kau akan membubarkan diri dan takkan muncul
di dunia persilatan selama-lamanya.”
“Akhirnya kakek-guruku yang menang?”
“Benar, mereka bertanding dalam tiga babak. Babak
pertama, nenekku kalah setengah jurus. Tetapi beliau tak
puas dan pada babak kedua, dengan gunakan dua buah
ilmu istimewa dari partai Bu-kau, ia berhasil merebut
kemenangan dan menebus kekalahan setengah jurus itu.
Kemudian dalam babak ketiga, kakek gurumu
mengeluarkan pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam yang
hebat. Bukan saja dapat menang, pun…..”
“Pun bagaimana ?” seru Gak Lui.
“Karena pedang itu mempunyai daya-perbawa yang
luar biasa anehnya, sekali dilancarkan sukar dihentikan
lagi. Bahkan kakek- gurumu sendiri juga sukar sekali
untuk mengatasinya. Sebenarnya dikalangan Bu-kau ada
sementara murid yang tak setuju kalau pertandingan itu
dilangsungkan dengan cara yang adil.
Melihat kakek-gurumu melancarkan pedang Thian luikoay
kiam yang ganas dan liar itu, mereka tak dapat
mengendalikan diri lagi lalu serempak menyerbu.
Akhirnya pertandingan itu berakhir menyedihkan sekali.
Seluruh murid Bu-kau binasa semua tetapi kakekgurumupun
juga hampir rubuh binasa di bawah taburan
pedang.”
“O....!” desus Gak Lui.
“Untung dalam detik2 yang terakhir, kakek-gurumu
dapat menarik pulang pedang Thian lui-koay kiam itu dan
504
berhasil menyelamatkan jiwa nenekku.”
“Dengan begitu partai Bu-kau lalu mengundurkan diri
dalam gelanggang persilatan ?”
“Benar !” sahut sidara.
“Tetapi adakah nenekmu tak mendendam atas
peristiwa itu.... ?”
“Bukan saja tak mendendam, pun karena berterima
kasih atas jerih payah kakek-gurumu yang berusaha
untuk menganjurkan supaya partai Bu-kau kembali ke
jalan yang terang, serta karena mengagumi kepribadian
dan kepandaian kakek gurumu, nenekku telah jatuh hati
dan menjadi kakak beradik.”
“Engkau mengatakan, nenekmu jatuh hati dan
menjadi... kakak adik ?” Gak Lui mengulang tak mengerti
maksud kata2 sinona itu.
“Ya, mereka berdua telah menjadi kakak beradik lain
she!”
“Itu ... agaknya ... janggal,” kata Gak Lui.
Si Burung-hong-cantik yang lebih besar usianya,
cepat dapat menangkap maksud keheranan Gak Lui.
Maka buru2 ia memberi penjelasan lagi.
“Pada saat itu, nenekku baru berumur 20-an tahun
dan dipandang sebagai pendekar cantik dalam dunia
persilatan. Tetapi beliau sudah mempunyai seorang anak
perempuan yalah ibuku. Sedang kakek-gurumu
walaupun baru berumur 30-an tahun tetapi isterinya
sudah meninggal dan punya seorang putera lelaki. Maka
mereka berdua hanya dapat menjadi kakak-beradik saja.”
“O, kiranya begitu. Lalu siapakah kakekmu itu ?”
tanya Gak Lui.
505
“Ini...,” sidara berhenti merenung beberapa jenak
baru menyahut:
“Telah kukatakan tadi bahwa selamanya partai Bukau
itu selalu dipimpin oleh seorang ketua wanita. Dan
pula tak begitu mementingkan soal pernikahan ....” Kini
barulah Gak Lui menyadari. Partai Bu-kau itu semula
adalah partai yang beraliran Hitam. Dan selamanya
dipimpin oleh wanita. Maka iapun sungkan untuk
mendesak lebih jauh tentang kakek dari nona itu.
“Lalu bagaimana kelanjutannya?” cepat ia alihkan
pertanyaannya.
“Kemudian oleh karena menyadari kedahsyatan
pedang Thian- lui-koay-kiam terlalu ganas, maka kakekgurumu
lalu mendirikan istana Bi-kiong dan menyimpan
pedang itu di situ. Beberapa tahun kemudian kabarnya
dia telah menerima murid tetapi murid itu telah
melanggar peraturan sehingga diusir dari perguruan.
Oleh karena kuatir setelah kakek-gurumu meninggal,
murid murtad itu akan muncul mencelakai orang, maka
kakek-gurumu lalu menerima beberapa murid dari luar
kaum agama untuk menjaga kemungkinan itu. Adik Lui,
entah siapakah gurumu?” Karena melihat ternyata nona
itu mempunyai hubungan dengan para angkatan-tua Busan-
kiam-pay, maka Gak Lui pun segera menerangkan
nama ayahnya. Mendengar itu, si Burung hong-cantik
tertawa riang lalu menjamah bahu anak muda itu,
serunya: “Adik Lui, aku sungguh tak bohong, lekas
engkau menyebut aku taci.”
“Nanti dulu, aku masih ada beberapa pertanyaan
yang belum jelas ....”
“Eh, masih mau bertanya lagi?”
“Misalnya tentang nama dari kakek-guruku Bu-san It506
ho itu ....”
“Eh, beliau memang bernama It-ho dan orang she
Tio!”
“She Tio ?” Gak Lui terkejut. Cepat ia teringat akan
Tio Bik-lui yang menolong jiwanya itu. Tetapi di dunia
banyak sekali orang she Tio. Belum tentu Tio Bik lui itu
mempunyai hubungan dengan Busan It-ho.
“Siapakah anak keturunan beliau ?” tanyanya.
“Soal itu aku tak jelas. Ibukupun tak mengatakan hal
itu,” sahut sinona.
“Benar, jika menanyakan pada ibu nona tentu tahu.”
Tiba2 dara itu mengerang dan mengucurkan airmata.
Sudah tentu Gak Lui terkejut sekali dan cepat2 bertanya:
“Apakah ibumu .... tertimpa sesuatu yang tak diharap?”
“Almarhum ibuku ... menuju ke alam baka dengan
membawa dendam penasaran ...”
“Oh, mengapa?”
“Hal ini ... ini ... adik Lui, aku akan memberitahukan
kepadamu tetapi janganlah engkau mengejekku.”
“Ah, tak nanti aku mengejek.”
“Dan lagi engkaupun tak boleh karena ini lalu ...
memandang rendah padaku.”
“Seseorang harus dinilai dari sudut perbuatannya
sendiri, tak boleh disangkut-pautkan dengan orangtua
dan keluarga lainnya.”
“Baik,” nona itu menghela napas panjang lalu berkata
dengan nada rawan: “Dari nenek, mendiang ibuku hanya
mendapat pelajaran beberapa macam ilmu kepandaian.
Tetapi diantaranya terdapat apa yang disebut ilmu Im507
bwe-khik-yang (tenaga Im menundukkan Yang). Wanita
yang memiliki ilmu itu apabila menikah tentu tak ...
menguntungkan fihak lelaki. Oleh karena itulah maka aku
tak punya .... ayah. Dan lagi sejak nenek meninggal
dunia, ibu selalu patuh melaksanakan pesannya, tak mau
campur urusan dunia luar. Tetapi tiba2 pada suatu hari ia
berjumpa dengan seorang lelaki dan sejak itu tingkah
lakunya berobah aneh sekali ....”
“Siapakah lelaki itu?”
“Entah, aku tak tahu. Tetapi dari wajah ibu dapatlah
diduga bahwa lelaki itu tentu mempunyai hubungan yang
rapat dengan ibu. Demikianlah setengah tahun
kemudian, ibu makin berobah pendiam dan bermuram
durja. Setiap hari menangis lalu tiba2 membawa aku
pindah ke tempat yang tak pernah didatangi manusia
hingga sampai sekarang ini.”
“Tentulah orang itu .... menghianati cintanya kepada
ibumu.”
“Semula akupun menduga begitu. Tetapi sebelum
menutup mata, ibu telah membuka sebuah rahasia yang
mengejutkan hati !”
“Rahasia apa?”
“Beliau mengatakan bahwa mendiang nenek telah
meninggalkan sebuah kitab pusaka yang berisi dua buah
ilmu pelajaran yang teramat ganas dari perguruan Bukau.
Kitab itu telah dicuri orang. Oleh sebab itu maka
selain menderita luka hati, pun ibu masih sangat
menguatirkan orang itu akan mencelakai dunia
persilatan. Maka ibu ..meninggal dengan mengandung
dendam penasaran ....” Berkata sampai di sini airmata si
Burung-hong cantik itu membanjir turun, ia menangis
tersedu2. Gak Lui ikut bersedih. Setelah nona itu puas
508
menangis, barulah Gak Lui menasehatinya:
“Taci Yan, tiada guna bersedih. Kuharap engkau
suka menerangkan peristiwa itu dengan jelas agar dapat
merencanakan balas dendam.” Rupanya nona itu mau
menerima nasehat Gak Lui. Maka sambil mengusap
airmatanya, ia berkata pula: “Pergiku dari rumah kali ini,
memang justeru hendak mencari balas. Tetapi karena
kepandaianku tak cukup maka aku menurutkan apa yang
biasa dikatakan ibu tentang jalanan di daerah keenam
puncak Busan ini. Akhirnya aku tiba di sini dan hendak
mencari pedang pusaka Thian-lui-koay kiam itu untuk
membalas dendam.”
“Taci Yan, akupun hendak mengambil pedang itu
untuk membalas sakit hati. Tetapi sampai sekarang
masih menemui kesulitan tak dapat menemukannya,”
seru Gak Lui.
“Maksudmu engkau tak dapat masuk ke istana Bikong
itu?”
“Bukan hanya tak dapat masuk tetapi pun murid
hianat dari perguruanku itu berada dalam istana itu.
Dialah yang menggerakkan barisan alat2 rahasia
sehingga aku terjeblus di tempat ini.”
“Hai...,” dara itu berseru kaget, “aku ingat! Ketika aku
hendak memasuki barisan, aku bertemu dengan seorang
berkerudung muka yang menghadang jalan. Karena
merasa tahu jalan di sini, aku segera menyelinap masuk
ke dalam barisan. Tetapi orang itupun dapat menyusul
aku. Demikianlah kejar mengejar itu berlangsung sampai
dua hari lamanya barulah aku berhasil mencapai jalan
masuk pada puncak keenam itu.”
“Kemudian di puncak muncul orang yang
menanyakan padamu tentang kata-sandi. Karena engkau
509
tak mampu menyahut lalu engkau dijebluskan ke dalam
guha ini,” tukas Gak Lui.
“Benar,” seru sinona.
“Lalu orang berkerudung muka itu? Dan mengapa
engkau tahu kalau dia kaki tangan si Maharaja?”
“Pada saat orang di atas puncak itu muncul dan
bertanyakan kata sandi, kawanan orang yang mengejar
aku itupun tiba pada jarak 10-an tombak. Tetapi mereka
ketakutan mendengar bentakan orang di atas puncak itu.
Salah seorang mengatakan kepada kawan2nya lebih
baik melapor dulu pada Maharaja baru nanti melanjutkan
pengejaran kepadaku ....”
“Aneh !” teriak Gak Lui.
“Apa yang aneh ?” tanya sinona
“Menilik naga-naganya, si Maharaja datang sendiri.
Tio cianpwe tentu terancam bahaya!” kata Gak Lui
seorang diri. Lau Yan-lan tak mengerti apa yang
dikatakan. Ia segera meminta penjelasan. Gak Lui tak
mau mengelabuhi. Ia menuturkan kejahatan si Maharaja
dan bagaimana ia bertemu dengan Tio Bik-lui. Ketika
mendengar bahwa guha neraka itu tak mungkin diterobos
keluar, sinona agak putus asa. Sambil menepuk bahu
Gak Lui, ia berseru: “Lalu bagaimana ini, bukankah cita2
membalas dendam akan gagal ?”
“Jangan tergesa-gesa,” kata Gak Lui. “kalau kita
memikirkan dengan tenang, mungkin tentu bisa
mendapat jalan. Tetapi ada satu hal yang engkau harus
menurut padaku.”
“Segala apa aku akan menurut padamu. Bahkan aku
akan…”
“Tidak, tidak ! Bukan begitu maksudku !” buru2 Gak
510
Lui menukas karena orang salah terima, “kuminta
janganlah engkau mengambil pedang Thian-lui-koaykiam
itu. Biarlah aku yang mengerjakan semuanya.”
“Tetapi tanpa pedang pusaka, aku tentu tak dapat
melakukan pembalasan,” seru sinona.
“Sudah tiga turunan kita bersahabat, sudah tentu
semua aku yang bertanggung jawab!”
“Ah ... adik Lui,” seru sinona, “engkau sungguh
terlampau baik sekali. Entah bagaimana kelak aku dapat
membalas budimu ....”
“Tak usah memikirkan soal itu. Cukuplah kalau
engkau sebut nama musuhmu itu!”
“Aku tak tahu namanya !”
“Apakah ibumu tak mau menyebut nama orang itu ?”
“Sudah berulang kali kutanyakan tetapi beliau tetap
tak mengatakan.”
“Hm, kalau namanya saja tak mau mengatakan, jelas
tentu ada persoalan lain. Dan mencari musuh yang tak
diketahui namanya, tak ubah seperti orang buta yang
berjalan di kegelapan,” Gak Lui menggerutu. Tiba2
terlintas sesuatu dalam benaknya. Ia merenung dan
akhirnya memperoleh akal, katanya: “Taci Yan, tadi
engkau mengatakan musuhmu itu telah mencuri kitab
pusaka milik ibumu? Nah, apakah nama dari dua macam
ilmu istimewa itu?”
“Juga tak tahu !”
“Eh, apakah sedikit jejak saja engkau sama sekali tak
tahu? Misalnya, apabila dalam dunia persilatan terdapat
orang yang menggunakan ilmu itu, apakah engkau dapat
mengenalnya?”
511
Burung-hong-cantik dari Bu-san itu menundukkan
kepala merenung. Sesaat kemudian ia menyahut
perlahan: “Aku juga tak tahu. Tetapi kabarnya yang
sebuah yalah ilmu tutukan jari yang dapat menyebabkan
orang kehilangan kesadaran pikirannya. Dan yang
sebuah lagi yalah ilmu Suitan yang dapat membuat
pikiran orang kacau balau ....”
“Ilmu tutukan jari, ilmu suitan....benar! Aku ingat !”
tiba2 Gak Lui berteriak sambil menampar lututnya. Dia
seperti telah menemukan suatu jejak.
“Apa yang engkau ingat ?” teriak sinona dengan nada
tegang.
“Maharaja itu memang memiliki ilmu Suitan yang luar
biasa hebatnya. Dan mungkin diapun mempunyai ilmu
jari yang lihay dan telah digunakan untuk membunuh
orang yang mengetahui rahasianya !”
“Kalau begitu dialah orang yang telah mencelakai
ibuku. Tak heran kalau kaki tangannya hendak
menangkap aku ....”
“Benar, aku memang mempunyai anggapan begitu
juga.”
“Adik Lui, kalau begitu kita ini senasib!”
“Maka kita harus bersatu padu untuk membalas
musuh kita itu !”
“Baik, kita bersatulah!”
Kedua saling berpandangan dan berjabat tangan.
Karena tegang, mereka tak mengucap sepatah kata
apa2. Tetapi jelas dari pancaran mata, sepasang muda
mudi itu telah memancarkan luapan hati yang diselubungi
cinta dan kebencian. Beberapa saat kemudian, Lau Yan-
Lan tiba2 terengah-engah napasnya dan mandi keringat.
512
Gak Lui cepat menyadari keadaan nona itu. Buru2 ia
salurkan tenaga-dalam kearah jalan darah sinona seraya
bertanya dengan mesra : “Taci Yan, apakah engkau
merasa guha ini terlalu panas?”
“Ya,.... ya .... panas .... panas ....” sinona menyahut
tersendat- sendat. Tetapi sesungguhnya bukanlah semata2
disebabkan karena hawa panas, pun juga karena
baru pertama kali itu ia bersentuhan dengan seorang
pria. Sudah tentu ia sungkan mengatakan. Untunglah
karena guha gelap, Gak Lui tak dapat melihat perobahan
wajah nona itu. Demikian setelah menerima penyaluran
tenaga-dalam, barulah Lau Yan-Lan dapat menekan
ketegangan hatinya dan napasnya mulai normal lagi.
“Adik Lui, lekas engkau pikirkan daya agar kita lekas
dapat keluar dari sini. Kalau terlalu lama di sini, aku tentu
merepotkan engkau saja.”
“Sebenarnya aku memerlukan 4 batang pedang ....”
“Sayang aku tak punya dan engkaupun hanya punya
dua batang, bukankah masih kurang sekali?” tukas
sinona.
“Tidak !” tiba2 Gak Lui berkata setelah merenung
sejenak, “kita sekarang dua orang, dapat menggunakan
cara saling pinjam tenaga. Apalagi di hadapan kerangka
ayah, aku mendapat lagi sebatang pedang.”
“Ah, benar,” seru sinona, “hampir aku lupa untuk
mengunjuk hormat kepada beliau. Lekas bawa kesana.”
Dengan hati2 Gak Lui segera berbangkit. Tanah amat
licin dan ia harus memimpin Lau Yan-Lan yang tak faham
keadaan guha situ maka ia berjalan dengan hati2 dan
dengan langkah kaki yang kokoh. Sesaat Lau Yan-Lan
habis menjalankan penghormatan kepada tulang
kerangka ayah Gak Lui, pemuda itupun sudah bersiap.
513
Dengan gunakan pedang Pelangi ditancapkan ke tanah
untuk mendapat penerangan, ia segera berlutut dan
memberi hormat kepada tulang kerangka ayahnya.
Setelah itu ia ulurkan tangan, rencananya hendak
membawa keluar. Tetapi begitu menyentuh ia segera
dapatkan tulang kerangka itu mengepal seperti bubuk.
Hawa panas dalam guha itu menyebabkan tulang
kerangka menjadi abu yang keras. Terpaksa Gak Lui
batalkan niatnya. Kemudian bersama Lau Yan- Lan, ia
bersujud sekali lagi di hadapan kerangka ayahnya.
Tampak mulut sinona berkemak-kemik memanjatkan doa
dengan khidmat. Setelah itu baru ia bersama Gak Lui
bangun dan ayunkan langkah. Setelah agak jauh maka
bertanyalah Gak Lui:
“Taci Yan, apa sajakah yang engkau katakan dalam
doamu tadi ?” Nona itu bersenyum manis, sahutnya:
“Kumohon agar arwah beliau suka melindungi kita dalam
usaha untuk membalas dendam ini. Dan lagi .... suka
memberkahi kita agar selama- lamanya .... bisa
berkumpul.”
“Ini…..” baru mulut Gak Lui berseru begitu, tiba2 ia
mendengar bunyi dering senjata beradu. Cepat2 ia
pasang telinga, tetapi rupanya Lau Yan-Lan tak
mendengar bunyi itu maka dengan heran ia bertanya:
“Adik Lui, mengapa engkau ....”
“Stt !” cepat2 Gak Lui memberi isyarat supaya nona
itu jangan bicara. Tetapi dering senjata itu sudah
menghilang pada saat Yan-Lan bicara tadi.
“Mungkin salah dengar,” diam2 Gak Lui menimang
lalu melangkah menyusul sinona. Gak Lui tak sempat lagi
untuk menjelaskan perasaannya kepada Yan-Lan.
Sedang sinona itupun merasa telah kelepasan omong
dan malu untuk mengatakan lagi, sekalipun ia belum
514
melihat bagaimana wajah aseli dari Gak Lui yang ditutup
dengan topeng kulit kera itu, namun dari matanya yang
bundar dan bibirnya yang merah, dapatlah ia memastikan
bahwa Gak Lui itu tentu seorang pemuda yang tampan.
Bahwa pemuda itu telah mengucapkan kata2 menghibur
yang bernada ramah, menandakan bahwa pemuda itu
tentu diam2 telah menyambut cintanya.....
Saat itu mereka sudah tiba di bawah mulut guha.
Bayang2 batu menonjol di atas dinding guha itu merebah
ke bawah. Setelah memandang ke atas sejenak, Gak Lui
lalu gunakan ilmu lemparkan pedang. Ia lontarkan
pedang Pelangi untuk mencari tahu berapakah tingginya
mulut guha itu. Pada saat ia menyambuti lagi pedang itu,
segera ia lontarkan ke atas dinding karang setinggi lima
tombak. Lontaran itu diperuntukkan tempat pos pertama
dalam pendakiannya nanti. Kemudian ia lontarkan
pedang pemberian ayah-angkatnya dan yang terakhir
pedang berkarat peninggalan kerangka ayahnya. Melihat
cara Gak Lui mengatur langkah itu, berdebarlah hati Lau
Yan-Lan. Ia melihat pedang ketiga itu masih terlalu jauh
dari mulut guha. Dan lagi ia tak tahu bagaimana cara
untuk menggunakan ilmu penyambung tenaga itu.
“Marilah !” Gak Lui berpaling dan berseru dengan
nada yakin,
“Rangkullah bahuku erat2. Begitu aku berseru, kita
harus serempak kerahkan tenaga melambung ke atas
batang pedang yang ketiga itu ....”
“Lalu ?”
“Kerahkan tenagamu nanti kutarik engkau ke atas !”
“Tetapi di atas licin sekali ....”
“Kita merangkak dengan kaki dan tangan dan
515
lekatkan dada menyedot tanah itu.”
“Dan engkau ?”
“Harap engkau merobek lengan bajumu dan gunakan
sebagai tali, luncurkan ke bawah ...”
“Bagus !” seru Lau Yan-Lan setelah jelas akan
rencana pemuda itu. Segera dengan gembira ia rentang
sepasang lengan lalu memeluk bahu pemuda itu.
Kedengaran Gak Lui menggembor lalu tubuhnya
berputar deras, menyentuh tangkai pedang Pelangi.
Pedang pusaka itu agak tergetar. Lebih dulu melengkung
ke bawah lalu tiba2 balik melayang ke atas lagi. Dengan
cara itu, dapatlah Gak Lui dan Yan-Lan mencapai
pedang yang ketiga. Secepat kilat Gak Lui menyambar
kaki sinona akan didorong ke atas. Lau Yan-Lanpun
dapat mengimbangi gerakan Gak Lui. Dengan
mengempos semangat untuk meringankan tubuh, ia
dapat berdiri diatas sebuah telapak tangan Gak Lui.
Setelah keduanya saling kerahkan semangat, Gak Lui
terus hendak melontarkan sinona ke atas. Tetapi di luar
dugaan tiba2 kaki Gak Lui tergelincir dan tak ampun lagi,
keduanya segera melayang jatuh ke bawah. Untung
dalam saat berbahaya itu, Gak Lui tak gugup. Lebih dulu
ia dorongkan tangan ke bawah. Begitu ia menginjak
tanah dengan tak kurang suatu apa, ia segera ulurkan
sepasang tangan untuk menyanggapi tubuh si nona.
“Adik Lui, ini .... bagaimana,” seru Lau Yan-lan
dengan pucat.
“Pedang itu sudah terlalu karatan sekali sehingga
putus.”
“Ah, bukankah kita tak punya harapan lagi?”
“......”
516
Dalam keadaan seperti saat itu Gak Lui tak dapat
bicara apa2. Guha terasa panas sekali, jauh lebih panas
dari tadi. Kecuali napas Yan-lan yang memburu keras,
suasana penuh dicengkam kesunyian mati. Tiba2
terdengar suara mendering keras. Kali ini Yan-lanpun
mendengarnya. Ia segera bertanya kepada Gak Lui.
“Suara rantai besi,” sahut Gak Lui.
“Aneh !”
“Ih ...,” tiba2 suara bergerontangan itu terdengar pula
bahkan makin keras dan deras tak henti-hentinya. Selain
itu pun terdengar juga suara bentakan yang tak jelas.
Gemuruh berkumandang. Suatu pertanda bahwa orang
yang menggemborkan suara itu memiliki tenaga dalam
yang kuat. Dan lagi jumlah suara gemboran itu tak
sedikit. Lau Yan-lan terkejut dan menggigil. Buru2 ia
rapatkan tubuhnya ke dada Gak Lui. Pemuda itu sedang
menumpahkan perhatiannya untuk menghitung suara
orang yang menggembor itu dan derap kaki mereka.
Diam2 ia menghitung: “Tigapuluh delapan, tigapuluh
sembilan.....empatpuluh !”
“Uh, banyak benar, tentulah kawanan kaki tangan
Maharaja yang hendak memburu taci Yan...” diam2 Gak
Lui menimang. Segera ia mengajak nona itu
bersembunyi di tempat yang gelap seraya menghiburnya:
“Jangan takut, justeru kita bakal mendapat kesempatan.
Jangan engkau tampakkan diri ....”
“Uh, sekian banyak musuh engkau anggap suatu
kesempatan?”
“Mereka tentu membekal senjata dan pedang. Aku
memang justeru membutuhkan.”
“Orang gagah pada musuh yang berjumlah banyak,
517
apakah engkau....”
“Aku mempunyai rencana.”
“Harap yang hati2 saja,” kata Yan-lan tetapi Gak Lui
sudah mengisar beberapa langkah dan kembali ke
tempatnya semula tadi. Ia loncat menyambar sepasang
pedang di atas dinding. Wut ... keempat puluh orang
yang menyerbu guha itu telah menimbulkan deru angin
yang keras. Tetapi Gak Lui tegak berdiri dengan garang,
menunggu kawanan penyerbu dengan sepasang pedang
di tangan. Benar juga tak berapa lama, ditingkah oleh
sinar remang yang menerobos di mulut guha, tampak
kawanan orang yang berjalan cepat sekali sehingga tak
dapat diketahui jelas wajah mereka. Tangan mereka
membawa rantai besi, menyusur dinding karang terus
melorot ke bawah. Mereka tak mengetahui bahwa di
bawah telah menunggu malaekat elmaut yang berupa
Gak Lui. Ketika tubuh2 mereka berhamburan turun ke
tanah, Gak Lui segera menyambutnya dengan lontarkan
pedang-terbang, siut, siut….. pedang Pelangi itu
berhamburan memancar sinar yang menyurut wajah
mereka. Kerut wajah mereka yang seperti kawanan setan
itu, tampak terkejut ketakutan. Huak, huak ... terdengar
jerit teriakan yang ngeri disusul oleh muncratan darah
segar. Gak Lui mengamuk seperti kerbau gila. Kawanan
pendatang yang masuk ke bawah guha itu, laksana
kawanan anak-anak yang terbakar api. Mayat
bergelimpangan tumpang tindih dalam genangan darah
.... Tetapi kawanan orang itu datang dengan jumlah
banyak dan menyusup masuk seperti air bah. Betapapun
Gak Lui membabat mereka, karena diantara empatpuluh
orang itu terdapat juga tiga empatbelas yang
berkepandaian tinggi. Mereka beruntung dapat
menghindar dari babatan pedang Gak Lui dan berhasil
melayang turun ke tanah. Tetapi merekapun segera
518
mengeluh karena tanah amat licin sekali sehingga
mereka tak dapat berdiri tegak, lalu tergelincir jatuh.
Kembali tubuh Gak Lui berputar-putar dengan gerak
yang istimewa. Begitu mereka jatuh, cepat pedang Gak
Lui pun sudah mengantar jiwa mereka ke neraka.
Dalam beberapa kejab saja, tanah-pun penuh
dengan kutungan senjata dan mayat yang
bergelimpangan darah. Hanya ada seorang yang dengan
gunakan kaki dan tangan, jatuh bangun nekad hendak
melarikan diri. Melihat keadaan orang yang sudah seperti
setan kelaparan itu, Gak Lui tak sampai hati. Ia hentikan
pedangnya. Tetapi rupanya Lau Yan-lan yang pernah
merasakan penderitaan dari neraka, dengan hati2 ia
loncat menghampiri terus hendak menghantam tengkuk
orang itu.
“Tahan !” seru Gak Lui.
“Mengapa ?” seru sinona sambil hentikan tangan.
“Biarkan dia hidup agar dapat kita tanyai keterangan
!”
“Apa yang perlu ditanyakan lagi ?”
“Karena kawanan kaki tangannya datang, mungkin
Maharaja juga datang. Apabila dia menjaga di mulut
guha, kita harus berpikir lagi,” kata Gak Lui seraya maju
dua langkah dan secepat kilat menutuk jalan darah orang
itu, serunya: “Di mana si iblis Maharaja itu?”
“………….”
“Kalau tak mau bilang tentu akan kusiksa!”
“…………………”
Dua kali bertanya tak dijawab, marahlah Gak Lui.
Sekali ia salurkan tenaga dalam ke telapak tangannya,
519
orang itu segera menjerit ngeri.
“Ya, bilang....” baru mulut orang itu berkata begitu,
tiba2 ia tersentak berhenti. Gak Lui heran. Cepat ia
lepaskan tangan dan memeriksa wajah orang itu.
Ternyata wajahnya seperti sebuah mayat yang tak
memancar kerut2 perasaan dan sepasang matanyapun
seperti orang tolol.
“Aneh....”
“Apa yang aneh ?” tanya Yan-lan.
“Akan kuperiksa jalan darahnya dulu baru tahu
sebabnya,” kata Gak Lui seraya meraba ubun2 kepala
orang itu. Dalam sekejab saja, tangannya mengurut tiba
di jalan darah Nau-hu-hiat atau bagian otak. Serentak
Gak Lui tergetar hatinya.
“Aneh, mengapa jalan darah Nau-hu-hiatnya penuh
dengan hawa Im dingin. Terang tentu ditutuk orang. Ilmu
tutukan itu hampir sama dengan ilmu tutukan yang
diderita si Penjaga Neraka tempo hari. Jelas Maharaja
tentu datang ....” Tengah Gak Lui berpikir demikian,
sinona memandang dengan heran tetapi tak berani
bertanya.
“Apabila musuh menjaga di luar, jika menerobos
keluar aku dan taci Yan tentu celaka. Namun kalau tetap
berada di sini, taci Yan tak kuat bertahan hawa panas di
sini ...” kembali Gak Lui merenung. Akhirnya ia
mengambil keputusan, katanya: “Taci Yan, orang ini telah
kututuk terluka, percuma saja menanyainya. Lebih baik
kita pergi !”
Setelah mengempaskan tubuh orang yang sudah
setengah mati itu ke tanah, Gak Lui mengambil senjata
orang itu lalu mulai merayap ke atas. Dan karena
520
mendapat rantai besi dari kawanan orang itu. Gak Lui
dan Yan-lan dapat mendaki dengan lancar. Lau Yan-lan
tak menyadari bahwa saat itu masih terkurung dalam
bahaya maut. Ia merasa gembira bahagia karena
bersama dengan seorang pemuda yang dicintainya.
Tetapi Gak Lui tak mempunyai pikiran begitu. Ia ingin
sekali lekas2 dapat keluar dari guha neraka itu. Dan
apabila berjumpa dengan musuh, ia segera dapat
menempurnya.
Saat itu sinar dari atas makin terang dan anginpun
terasa berhembus menampar muka. Gak Lui
memperhitungkan bahwa dari mulut guha di sebelah
atas, hanya terpisah 20-an tombak. Maka ia segera
empos semangat dan pesatkan jalannya. Ia menarik
rantai itu kuat2. Tetapi makin menarik keras, rantai itu
bahkan makin malah menjulai ke bawah. Jelas bahwa
seorang sakti yang tengah menarik rantai itu.
“Celaka !” Gak Lui mengeluh. Keringat dingin
membasahi tubuhnya. Cepat ia lepaskan tangan kiri,
menunduk kepala ke bawah sembari mencabut pedang
Pelangi. Saat itu sinona berada di bawah kaki Gak Lui.
Melihat Gak Lui tiba2 berhenti dan menghunus pedang,
ia duga tentu terjadi sesuatu. Tetapi ia tak melihat barang
seorangpun juga dalam guha itu. Apa guna ia ikut
mencabut pedang ! Pada saat ia sedang meragu, Gak
Luipun sudah tancapkan pedangnya pada batu, lalu
ulurkan tangan menarik tubuh sinona ke tempatnya.
Sedang ia sendiripun lalu tegak berdiri dengan sebelah
ujung kakinya. Ia tak mau ngotot menarik rantai itu lagi
dan biarkan terkatung-katung ke bawah. Siasat Gak Lui
itu membuat orang yang berada di luar guha menjadi
bingung, tak dapat menduga apa yang berada di bawah
guha itu. Rantai tampak berayun-ayun. Rupanya orang di
atas itu sedang memancing mancing reaksi dari dalam
521
guha. Kini Lau Yan-lan dapat mengetahui jelas. Ia tak
berani buka suara apa-apa melainkan memandang Gak
Lui dengan pandang ketakutan. Gak Lui tetap tenang2
saja. Setelah mengerahkan tenaga-dalam maka
berserulah ia dengan nada dingin ke atas mulut guha:
“Hai, siapa yang main2 di atas itu ?”
“Hai, kiranya Gak Lui ... ?” tiba2 terdengar suara
orang berseru kaget di atas mulut guha.
“O, apakah Tio Bik-lui cianpwe ?”
“Benar, akulah !” Gak Lui menghembus napas
longgar. Walaupun hatinya lega tetapi tak urung diam2 ia
heran: “Apakah dia mengikuti aku saja?” Tiba2 rantai
bergoncangan dan dengan nada seruan yang ramah,
terdengar Tio Bik lui berteriak: “Lekas keluarlah !”
“Cianpwe, apakah diluar terdapat kaki tangan si
Maharaja ?” teriak Gak Lui.
“Ini....,” berhenti sejenak orang itu berseru: “ada
beberapa penjahat kecil tetapi sudah kuhalau pergi
semua !”
“Kalau begitu silahkan cianpwe mundur sepemanah
jauhnya, kami akan keluar.”
“Kami ? Apakah nona itu juga masih selamat?”
“Aku dapat menolong tepat pada waktu ia terjatuh.”
“Bagus, bagus... ,” jawab orang itu dengan nada
tegang dan agak jauh. Rupanya ia memang sudah
mundur belasan tombak. Gak Lui tak mau buang tempo
lagi. Ia segera bersama Lau Yan- lan kerahkan tenaga
dalam. Lebih dulu Gak Lui lemparkan rantai besi ke
tengah guha untuk menyelidiki. Ternyata batu2 karang
guha itu tetap seperti bermula, datar dan terpisah dari
mulut guha hanya setombak jauhnya. Saat itu Lau Yan
522
lan pun tiba di sampingnya lalu membisiki ke dekat
telinganya: “Adik Lui, ikut akulah. Aku tahu jalan singkat.”
“Jalan singkat? Apakah bukan ilmu berjalan Tigalangkah-
membiluk-kiri ?”
“Ah, itu kan cara untuk melalui barisan. Selain itu
memang masih terdapat jalan rahasia lagi. Kalau tidak,
masakan dengan kepandaian yang begini rendah aku
mampu lolos dari kejaran mereka dan masuk ke dalam
guha ini?”
“Tetapi aku perlu menemui Tio cianpwe.....” baru Gak
Lui berkata begitu, Tio Bik-lui tampak ulurkan tangan dari
balik batu dan melambai. Gak Lui segera menghampiri.
Akhirnya mereka bertiga berkumpul lalu bersama-sama
memimpin sinona lari menuju ke puncak lapisan luar.
Sejak mempelajari ilmu pukulan Menundukkan-iblis,
tenaga- dalam Gak Luipun bertambah maju pesat. Maka
dalam berjalan itu, ia mampu bertahan atas deru angin
yang mengandung tenaga kong-gi.
Setengah jam kemudian, mereka sudah keluar dari
gunung Bu-san. Memandang ke sekeliling dengan hati
gembira, lalu diam2 mengangguk: “Ah, apa yang kuduga
memang tepat. Tempat ini berbeda sama sekali dengan
tempat mulai aku masuk ke pegunungan ini...”
Dengan berbatuk-batuk, Tio Bik-lui menukas
kata2nya: “Gak siauhiap, sejak tiga hari engkau masuk
ke pegunungan ini, membuat aku bingung sekali. Apabila
terjadi sesuatu pada dirimu, aku sungguh tak enak sekali
terhadap sahabatku lama Empat- pedang Busan.”
Gak Lui serta merta menghaturkan terima kasih lalu
memperkenalkan Lau Yan-lan. Mata Tio Bik lui berkilatkilat
memandang sinona sejenak lalu tertawa nyaring:
“Ah, kalian benar2 merupakan pasangan yang sejoli
523
benar .... ha.....ha .... ha... ha, ha!”
Gak Lui tak memperhatikan ucapan itu. Sebaliknya
Yan-lan gembira sekali. Selebar wajahnya merah dan
hampir tak kuasa menahan senyum tawanya. Melihat itu
Tio Bik-luipun hentikan tertawanya.
“Kalian tadi terjerumus kedalam guha, apakah
melihat sesuatu yang aneh ?” tanyanya. Gak Lui tak mau
mengatakan tentang nasib ayahnya yang menemui
kematian ngeri dalam guha itu. Ia menyahut dingin:
“Memang tidak menemukan apa2, hanya ada
beberapa hal yang aku tak jelas.......”
“Silahkan bertanya.”
“Apakah selama tiga hari menunggu dalam barisan
itu, cianpwe pernah berjumpa Maharaja?”
“Ini ... tak pernah. Mungkin karena jalanan berlikuliku,
dia masuk dari lain tempat.”
“Lalu anak buahnya yang cianpwe bunuh itu?”
“Mereka ... sudah berada dalam barisan.” Mendengar
jawaban itu beralasan, Gak Lui maju selangkah,
tanyanya pula: “Apakah cianpwe melihat ke 40 orang
yang menyerbu ke dalam guha itu ?”
“Ini ... aku harus menceritakan dari permulaan
bertemu dengan Burung-hong cantik dari Bu-san. Saat
itu aku sedang duduk menyalurkan tenaga-dalam. Kulihat
bayangan tubuh nona Lau menyelinap masuk ke dalam
barisan. Sekalipun ada beberapa orang aneh
mengikutinya, saat itu aku tak jelas keadaannya dan tak
bertanya apa-apa ....”
“Hm, benar juga. Dia seorang pendekar yang
menyembunyikan diri, tentu tak suka campur tangan
524
urusan dunia,” pikir Gak Lui.
“Tetapi setelah itu, kulihat berpuluh-puluh orang
membawa rantai panjang. Kuduga beberapa orang yang
masuk lebih dulu tadi tentu mendapatkan sesuatu lalu
keluar dari jalanan lain dan memanggil kawan-kawannya.
Pada saat itu aku tak dapat berpeluk tangan lebih lama
lagi karena memikirkan keselamatanmu .....” kata Tio Biklui
lebih lanjut.
“Karena itu cianpwe lalu masuk kemari ?”
“Benar,” jawab Tio Bik lui, “semula aku hendak
memberi bantuan tetapi tak kira kalian sudah dapat
keluar sendiri.”
“Kalau begitu si Maharaja itu belum menampakkan
diri ?”
“Kurasa belum. Kalau memang sudah....ingin kujajal
kesaktiannya.”
“Hm ... aneh ?”
“Apa yang aneh ?”
“Ke 40 orang yang menyerbu kedalam guha itu
sebelumnya telah dirusak urat syarafnya. Apa sebabnya,
belum diketahui.”
“Kurasa…..” Tio Bik lui kerutkan sepasang alis dan
merenung beberapa saat, ujarnya: “Tentu si Maharaja
yang melakukan.”
“Menurut cianpwe, apa alasannya Maharaja merusak
anak buahnya sendiri itu ?”
“Misalnya, karena hendak menangkap nona Lau ia
telah menyuruh sekian banyak orang. Tetapi karena tak
mengetahui keadaan dalam guha, dan kuatir kalau gagal
kawanan anak buah itu akan dipergunakan lawan, maka
525
Maharaja lalu turun tangan lebih dulu.”
“Hm, beralasan juga...,” kata Gak Lui mengangguk,
pikirnya: “Dari kejadian itu makin meyakinkan bahwa si
Maharajalah orang yang menipu kitab pusaka orang Bukau
itu. Begitu melihat anak dari ketua Bu kau, maka ia
bernafsu sekali hendak membunuhnya.”
Tiba Tio Bik-lui berkata kepada Lau Yan-lan : “Nona
Lau, mengapa Maharaja hendak mencelakai engkau ?”
“Entah,” sahut Yan lan dengan dingin. Suatu hal yang
membuat Gak Lui heran. Tetapi Tio Bik-lui mendesak
pertanyaan lagi: “Apakah sedikit alasan saja nona tak
mengatakan? Misalnya apakah nona tak dapat
mengatakan tentang asal usul perguruan nona ?
Mungkin dari situ, aku dapat mempunyai gambaran agar
dapat memecahkan teka teki itu.”
“Terima kasih! Keluargaku berantakan dan aku sudah
sebatang kara. Tiada yang perlu kukatakan apa2 lagi ....”
“Ya, ya,” kata Tio Bik-lui dengan mata berkilat-kilat.
Kemudian ia bertanya kepada Gak Lui apa tindakannya
lebih lanjut. Gak Lui serentak teringat akan pesan
mendiang ayahnya, ia menghela napas.....
JILID 11
Gak Lui teringat akan pesan mendiang ayahnya. Ia
menghela napas dan menyahut: “Aku hanya mempunyai
sebuah cara.”
“Bagaimana?” tanya Tio Bik-lui.
“Mencari Kaisar-persilatan Li Liong-ci untuk meminta
ajaran ilmu Ngo-heng-tay-hwat terbalik.”
“Apakah engkau tahu tempatnya?”
526
“Tidak jelas.”
“Kalau begitu apakah bukan seperti memburu
bayangan saja?”
“Pernah aku ditolong oleh doa nyanyiannya ketika
aku berada di istana Lok-ong-kiong.”
“Rencana itu memang bagus. Tetapi mengingat
Tiong-goan itu negara yang begini luas, apabila hanya
mengandalkan pada kebetulan saja, adalah ibarat orang
menjolok rembulan dalam dasar laut.” Gak Lui tertawa:
“Masakan aku akan bekerja secara begitu.”
“Kalau begitu engkau sudah mempunyai jejak yang
dapat engkau ikuti?” tanya Tio Bik-lui.
“Menilik dari kumandang doa nyanyiannya itu,
kuperkirakan dia mungkin berada di daerah pegunungan
yang terkenal misalnya gunung Heng-san, gunung
Kosan,” jawab Gak Lui.
“Beralasan juga! Tetapi tempo hari engkau pernah
menyatakan kalau terlibat salah faham dengan fihak
Siau-lim-si......”
“Ah, salah faham dapat dijelaskan. Apalagi ketua
Siau-lim-si terkena racun, seharusnya aku menjenguk
keadaannya.”
“Kalau begitu, silahkanlah. Akupun hendak minta
diri,” kata Tio Bik-lui seraya memberi selamat tinggal lalu
tinggalkan tempat itu. Setelah orang itu pergi, Gak Lui
berpaling ke arah burung Hong- cantik dari Bu-san, Lau
Yan-lan, serunya : “Taci Yan, tadi engkau bersikap
dingin, apakah tidak kurang hormat?” Saat itu Yan-lan
masih memandang ke muka, cepat ia menyahut:
“Dengan orang yang belum kenal, tiada alasan untuk
ikut bicara .....”
527
“Dia pernah membantu aku, jadi tak dapat dianggap
orang asing.”
“Ini .... kurasa dia .... dia tak jujur bicaranya.”
“Dalam soal apa ?”
“Dia mengatakan Maharaja mengirim orang untuk
mengejar aku. Itu memang benar. Tetapi kiranya tak
perlu Maharaja mengirim sampai 40 orang.”
“Lalu maksudmu?”
“Dengan membesar-besarkan hal itu, seperti
Maharaja itu sudah menduga kalau akan berhadapan
dengan lain musuh yang tangguh.”
“Memang seharusnya tidak tahu. Karena ketika aku
jatuh dalam guha neraka itu, hanya Tio Bik-lui seorang
yang tahu.....”
“Di situlah letak kecurigaanku!” seru sinona.
“Hm.....” Gak Lui terkesiap. Setelah merenung
beberapa jenak, ia tertawa pula: “Kurasa Tio cianpwe
bukanlah orang semacam itu. Apalagi Maharaja itu
memang manusia yang banyak curiga. Tindakannya itu
memang sudah menjadi adat kebiasaannya. Selain itu
apakah engkau dapat menunjukkan lain2 yang
menimbulkan kecurigaan lagi ?”
“Lain2 bukti memang tak ada. Tetapi terhadap orang
itu aku memang mempunyai kesan yang tak baik.”
“Mengapa ?”
“Wanita memang punya naluri istimewa...”
“Terlalu perasa, maaf !”
“Benar !” sahut Yan-lan.
528
“Ha, ha, wanita memang suka memikir yang tidak2,
sering tidak menurut kenyataan....”
“Adik Lui, apakah engkau menertawakan aku ?” Yanlan
menyeringaikan hidung. Ia merasa kalau dirinya
ditertawakan Gak Lui.
“Tidak, tidak! Aku hanya bicara sekedarnya saja,
sekali-kali bukan kutujukan kepadamu,” buru2 Gak Lui
memberi penjelasan, “taci Yan, aku hendak lekas2
menuju ke Siau-lim, nah, kitapun terpaksa harus berpisah
sampai di sini.”
“Berpisah? Engkau tak membawa aku serta?”
“Ah, sebaiknya jangan ikut saja.”
“Eh, apakah engkau menganggap karena aku murid
perguruan Bu-kau lalu tentu ..... tak suci ?”
“Itu soal lain, harap jangan dicampur aduk!” kata Gak
Lui. Tetapi bagi sinona jawaban itu lain lagi artinya. Gak
Lui berkata menurut urusan yang hendak dilakukan.
Tetapi Lau Yan-lan menerimanya lain. Ia anggap Gak Lui
tak mempercayai kesuciannya maka diam2 ia telah
mengambil keputusan.
“Apapun yang hendak engkau lakukan, boleh saja.
Tetapi aku mempunyai sebuah syarat,” kata Yan-lan
dengan wajah berseri.
“Harap mengatakan.”
“Ijinkanlah kutemani engkau berjalan satu hari, baru
nanti kita berpisah.”
“Hanya sehari ?” Gak Lui menegas.
“Ya, artinya sehari semalam!”
“Bolehlah !” Mendengar Gak Lui menyetujui,
529
berserilah Yan-lan. Gadis itu tampak makin cantik.
Demikian kedua muda mudi itu segera berangkat menuju
ke gunung Ko-san tempat markas Siau-lim-si.
“Adik Lui, pandanglah aku !” kata sinona setelah
berjalan sehari, mereka berdua duduk di bawah
sebatang pohon dalam hutan. Saat itu rembulan bersinar
terang. Cahayanya menyusup di antara celah2 daun dan
tepat meningkah ke arah kedua muda mudi itu. Sekeliling
penjuru sunyi senyap. Ucapan Yan-lan yang merdu
merayu itu menambah suasana makin romantic. Gak Lui
menurut. Begitu memandang, hatinya berdebar keras.
Untunglah kesadaran pikirannya cepat mengilas dan
cepat pula berpaling lagi.
“Hm, mengapa engkau tak mau memandang aku?
Apakah engkau menganggap diriku jelek?”
“Tidak, engkau amat cantik.”
“Lalu mengapa engkau tak mau memandang?”
“Aku ... sudah memandang tadi.”
“Pandanglah sekali lagi!”
“Apa perlunya?” Yan-lan menggeliat dan merapatkan
tubuh ke hadapan Gak Lui. Gak Lui hendak menyurut
mundur. Tetapi ia terkesiap melihat pancaran mata Yan
lan yang penuh mengandung permohonan serta bibirnya
yang menghamburkan napas harum sehingga membuat
bibir Gak Lui gemetar.
“Adik Lui, pandanglah mataku, sekali saja!”
“Ya, kalau hanya sekali, tak apalah,” sahut Gak Lui
lalu menatapnya. Tetapi begitu empat mata saling
beradu, tiba-tiba ia terpikat pesona. Darah bergolak-golak
dan meluaplah nafsu berahinya. Memang Lau Yan-lan
telah mendapat pelajaran ilmu Memikat-hati dari ibunya.
530
Gak Lui terkena ilmu itu dan tak dapat menguasai diri
lagi. Saat itu sepasang tangan sinona mengulur ke
arahnya dan diluar kesadarannya iapun ulurkan tangan
menyambutinya. Awan berarak-arak menutupi sang Dewi
Rembulan agar dewi malam itu jangan tersinggung
perasaannya menyaksikan kedua muda mudi itu
tenggelam dalam buaian nafsu insani, nafsu yang dimiliki
setiap insan, pria maupun wanita. Beberapa saat
kemudian, setelah mereka terkulai lelah, terdengarlah
suara Yan-lan membisiki ke dekat telinga Gak Lui:
“Adik Lui, engkau harus percaya....aku....tak
membohongimu....”
“Tidak.....” sahut Gak Lui, tetapi kata itu tersekat oleh
mulutnya yang gemetar. Saat itu tersadarlah ia apa yang
telah terjadi. Segera ia mengemasi pakaiannya lalu
duduk. Dalam benaknya mulai melalu lalang beberapa
sosok bayangan dari: Gadis-ular Li Sau-mey.....The
Hong-lian .... Hi Kiam-gin ....Dan akhirnya terbayanglah ia
akan diri Permaisuri Biru pun mengilas dalam benaknya.
Masih terngiang dalam telinganya bagaimana Permaisuri
Biru itu dengan nada keibuan pernah memberi
peringatan: “Dalam kehidupanmu apabila muncul gadis
yang keempat, engkau tentu akan mengalami keakhiran
yang menyedihkan….”
Teringat akan hal itu tersentaklah Gak Lui seperti
disambar petir. Darahnya menyalur deras dan
terpukaulah ia tak dapat bicara. Melihat Gak Lui diam
seperti patung, Yan-lan segera bertanya dengan bisik2:
“Adik Lui, apakah engkau tak senang hati ....?”
“Bukan, aku tengah merenungkan sebuah hal, harap
jangan mengganggu dulu,” sahut Gak Lui. Yan-lan tak
berani bicara lagi dan Gak Lui pun sudah menetapkan
keputusan, pikirnya: “Ah, tak kira kalau gadis keempat itu
531
ternyata jatuh pada diri taci Yan. Oleh karena nasi sudah
menjadi bubur, biarlah aku yang bertanggung jawab.
Apalagi si Maharaja itu menjadi musuh kita berdua. Yang
penting sekarang ini aku harus berusaha untuk
mengambil kembali pedang pusaka Thian-lui koay-kiam.
Lebih dulu membalas sakit- hati. Lain2 urusan, besok
dipikir lagi ....” Merenung sampai disitu teringatlah ia akan
pesan mendiang ayahnya.
“Apabila keempat jurus ilmu pedang perguruan kita
itu digabungkan satu, dapatlah digunakan untuk
menghadapi pemilik pedang Thian-lui-koay-kiam. Pula
sebaiknya yang menjadi pewaris dari keempat ilmu
pedang itu adalah kaum wanita,” demikian pesan
mendiang ayahnya.
“Sekarang taci Hi Kiam-gim sudah dapat mempelajari
ilmu pedang itu. Jika kuajarkan ilmu pedang itu kepada
taci Yan ini, adik Siu-mey dan The Hong-lian, bukankah
tepat empat orang gadis? Walaupun mereka terpaut
20an tahun dalam pelajaran itu dengan musuh tetapi
sekurang-kurangnya mereka pasti dapat membela diri.
Pula apabila aku berhasil mendapatkan pedang pusaka
itu, kukuatir seperti halnya dengan kakek guru, aku tak
dapat mengendalikan kekuatan daya iblis dari pedang
itu. Apabila keempat gadis itu dapat mempelajari ilmu
pedang Bu-san-kiam-hwat, mereka tentu dapat
mengatasi aku....” demikian semakin jauh Gak Lui
menjelajah dalam renungan2nya.
“Taci Yan,” tiba2 ia mengakhiri renungannya, “jika
kuajarkan engkau ilmu pedang perguruanku, apakah
engkau mau mempelajari ?”
Hampir Yan-lan tak percaya apa yang didengarnya.
Dalam girangnya ia melengking nyaring: “Sudah tentu
mau! Sungguh tak kira apa yang kuikrarkan di depan
532
arwah ayahmu, benar-benar menjadi kenyataan...”
Setelah menentukan keputusan untuk mengajarkan
keempat jurus ilmu pedang Bu-san- kiam-hwat kepada
keempat gadis itu, maka Gak Lui segera memberikan
pelajaran jurus Hawa-pedang- menembus-malam kepada
Lau Yan-lan. Menilik kecerdasan nona itu, dalam waktu
yang singkat ia sudah dapat memahami. Dan setelah
berlatih serta diberi petunjuk seperlunya oleh Gak Lui,
akhirnya Yan-lan sudah dapat mengetahui jelas
intisarinya. Tetapi tepat pada saat pelajaran itu selesai,
berakhir jugalah waktu berkumpul mereka.
Betapapun berat hatinya namun karena sudah janji
maka Yan-lanpun tak mau ingkar. Ia menyadari bahwa
perjalanan hidup mereka berdua memang masih penuh
dengan lingkaran bahaya.
“Adik Lui, jurus ilmu pedang ini, aku tentu akan giat
berlatih. Kuharap engkau menjaga dirimu baik-baik
dalam perjalanan,” kata nona itu.
“Taci Yan, kemanakah rencanamu ?” tanya Gak Lui
dengan nada penuh perhatian.
“Aku hendak ke Bu-san.”
“Tujuannya.....?”
“Di samping menunggu kedatanganmu, pun untuk
menjaga apabila ada orang yang datang ke gunung itu.
Atau mungkin siapa tahu aku dapat menemukan sesuatu
jejak ....”
Tetapi Gak Lui tak begitu menyetujui rencana Yan-lan
itu. Ia kuatir Maharaja akan mengirim beberapa jago2
yang sakti lagi. Sudah tentu Yan-lan seorang diri tentu
tak mampu menghadapi mereka. Tetapi apabila ditinjau
dari sudut lain, Yan-lan faham akan jalan2 dan keadaan
533
keenam puncak gunung Bu-san itu. Apabila bertemu
musuh kuat, dapat menghindarkan diri. Akhirnya ia tak
menentang rencana nona itu. Begitu berputar tubuh,
sambil mengayun langkah ia memberi salam: “Harap
jaga diri baik2 !” Bagaikan segulung asap, Gak Lui terus
meluncur turun menuju ke gunung Ko-san.
Selama dalam perjalanan itu Gak Lui tak lepas dari
lamunan2. Tujuannya hendak mencari Kaisar Persilatan
Li Liong ci. Ia tahu bahwa tokoh itu sudah lama masuk ke
daerah Tiong-goan. Tetapi wilayah Tiong-goan amat luas
sekali, bagaimana mungkin ia dapat mencarinya dalam
waktu yang singkat. Karena pikirannya melayang, ia
lengah memperhatikan bahwa dari arah belakang,
sesosok bayangan tengah mengejarnya. Setelah orang
itu berteriak memanggilnya beberapa kali, barulah Gak
Lui berhenti dan berpaling. Kiranya orang itu bukan lain
yalah kenalannya lama, Sebun siangseng, tokoh sakti
dari Kun-lun-pay.
“Saudara Gak, baik sajakah engkau selama ini ?
Kepandaian maju pesat sekali rupanya, tentulah engkau
mendapat banyak hal2 yang luar biasa,” seru tokoh Kunlun-
pay itu. Gak Lui menghela napas: “Ah, sekalipun ada
kemajuan tetapi masih terpaut jauh sekali dengan lawan
!”
“Oh, apakah engkau sudah bertemu ?”
“Sungguh mengecewakan, kalau tiada Kaisar
Persilatan tak muncul dengan doa pujiannya, aku tentu
sudah mati ditangan Maharaja.”
“Ho, kedua datuk Hitam dan Putih itu kiranya sudah
bertempur. Lalu siapakah yang menang? Atau belum
diketahui kesudahannya...” dalam tegangnya Sebun
siangseng mencurah pertanyaan.
534
Karena merasa bahwa menuturkan cerita itu
memakan waktu panjang, maka Gak Lui lalu
menceritakan dari permulaan. Sejak digunung Pek-wansan
menemui Sin-kun The Thay untuk memesan
pembuatan pedang tetapi akhirnya pedang itu direbut
oleh tokoh Wi Cun dari partai Kong-tong-pay. Kemudian
bagaimana ia membunuh Pek Kat Mo kun dan seorang
anggauta Topeng Besi, lalu peristiwa kutungnya lengan
imam Ceng Ki dari Bu-tong-pay. Kemudian ia bertemu
dengan Permaisuri Biru dan Li Hud-kong sampai terakhir
tiba di istana Lok-ong kiong dan dikurung dalam
lingkaran suitan iblis si Maharaja .... setelah itu seorang
diri ia menempur Sam-ciat atau Tiga Algojo dari
Maharaja. Untunglah datang Tio Bik-lui memberi
memberi bantuan dan memberi petunjuk jalan-singkat ke
Bu-san. Akhirnya barulah ia mengetahui nama dari murid
hianat itu yalah Lengan-besi-hati-baik yang kini masih
bersembunyi di istana Bi- kiong .... Mendengar cerita itu
tak henti2nya Sebun Sianseng leletkan lidah dan
berulang-ulang mengangguk-angguk kepala.
“Kalau begitu, sekalipun sudah unjuk diri tetapi
Maharaja belum menampakkan wajahnya. Oleh karena
itu apakah dia itu sipembunuh dahulu, masih belum
dapat dipastikan,” kata Sebun siangseng.
“Kurasa tentu dia,” kata Gak Lui.
“Tetapi tadi engkau mengatakan bahwa hidungnya
masih utuh.”
“Soal itu setelah ketemu dengan si Lengan-besi-hatibaik
baru dapat diketahui jelas !”
“Kurasa ilmu kepandaiannya tentu lebih tinggi dari
Maharaja. Sekalipun Maharaja mampu masuk kedalam
istana Bi-kiong, mungkin .....”
535
“Tak ada yang dikata 'mungkin'. Apabila menunggu
sampai Maharaja melenyapkan partai2 persilatan besar,
tentu akan lebih sukar lagi,” kata Gak Lui. Sebun
sianseng tampak kerutkan alis, ujarnya: “Saudara Gak,
dalam usahaku untuk mengajak partai persilatan
bersama-sama menghancurkan maharaja, ternyata juga
menemui banyak kesulitan ...”
“O ...” desuh Gak Lui.
“Aku sudah pergi Bu-tong-san. Murid kepala, imam
Hwat Lui, sesungguhnya juga dapat mengerti
keadaanmu. Tetapi kemudian ia bersangsi lagi.”
“Kenapa ?”
“Kabarnya ada seorang cianpwe persilatan secara
diam2 telah mengirim batang kepala dari imam Ceng
Ki....”
“Tak mungkin ! Jelas Ceng Ki totiang telah lolos
dengan menderita luka saja,” seru Gak Lui dengan
tegang.
“Saudara Gak, engkau tentu salah sangka. Mungkin
karena sedang menghadapi pertempuran, sehingga
salah lihat....”
“Apakah engkau sendiri juga tak percaya kepadaku
?” tanya Gak Lui.
“Terus terang saja, aku memang kenal dengan Ceng
Ki totiang. Demi menyelidiki peristiwa itu, sengaja aku
naik ke gunung Bu- tong-san untuk mengenali kepala
orang itu. Dan kudapati memang benar2 kepala dari
imam itu sendiri !”
“Oh ...” kembali Gak Lui mendesuh terkejut dan
menyurut mundur selangkah. Ia memang tak mengetahui
sendiri bagaimana Permaisuri Biru telah mendapatkan
536
batang kepala itu. Maka diam2 iapun meragu dalam hati.
Tetapi secepat ia menggali ingatannya, ia berkata dalam
hati:
“Jelas mereka berdua selalu bersama. Sama2
muncul dan lenyap. Pula Topeng Besi itu seperti diberi
komando oleh suatu suitan misterius. Dan suitan itu
sama dengan suitan dari Maharaja. Dahulu dari ibunya
Lau Yan-lan, Maharaja telah berhasil secara licin
mempelajari ilmu suitan untuk menghancurkan
kesadaran pikiran orang ... !” Berpikir sampai kesitu,
awan yang menutupi kegelapan benak Gak Lui seperti
tersingkap terang. Ia dapat memecahkan beberapa teka
teki yang selama ini seperti diselubungi kabut gelap.
Pertama, dahulu mendiang ayahnya yakni Dewa-pedang
Gak Tiang-beng, pernah melihat murid perguruan Hengsan
mati dibunuh. Kabarnya murid Heng-san itu diajak
oleh paman gurunya yang bergelar imam Hwat Gong.
Sedang waktu murid Heng-san itu dibunuh oleh seorang
tak dikenal, peristiwa itu terjadi didepan hidung Hwat
Gong dan Hwat Gong hanya berpeluk tangan mengawasi
saja. Padahal Hwat Gong kala itu merupakan murid
kepala dari Heng- san, murid yang bakal menjadi
pengganti ketua Heng-san-pay.
Seharusnya dalam kedudukan itu, ia tak boleh
menghianat partai perguruannya dan masuk dalam
gerombolan kaum Hitam. Menilik hal itu jelas kalau Hwat
Gong telah dihapus kesadaran pikirannya oleh suitan
sihir dari Maharaja sehingga ia tak berkutik seperti
patung melihat murid Heng-san dibunuh orang. Tentang
sepak terjang Maharaja, Gak Lui mendapat gambaran
jelas: Maharaja takut kalau Keempat tokoh pedang dari
Bu-san itu akan bersatu untuk menyerangnya dan ia tak
mampu menguasai mereka. Karena ia tak berani terangterangan
menggunakan ilmu pedang dari perguruan Bu
537
san.
Demi untuk menghapus kemungkinan kalau Keempat
pedang dari Bu-san itu akan merajai dunia persilatan,
lebih dulu Maharaja hendak mencari pembantu.
Kemudian ia harus meyakinkan ilmu kepandaian yang
tersakti di dunia persilatan. Sekarang ia telah berhasil
memperbudak tokoh2 sakti dari lima buah partai
persilatan. Sekali mendayung dua tepian. Disatu fihak
mendapat pembantu yang boleh diandalkan, pun dilain
fihak ia dapat mencuri belajar beberapa ilmu sakti dari
partai2 persilatan itu.
Demikianlah kesimpulan yang dibuat Gak Lui dari
peristiwa penyerangan terhadap ayah-angkatnya dahulu
oleh seorang berselubung muka bersama tiga orang
Topeng Besi. Begitu pula mengapa Maharaja mampu
memiliki beberapa ilmu kepandaian dari beberapa partai
persilatan, kini mulailah ia dapat membayangkan jelas.
Kedua, menilik hal2 itu, dapatlah disimpulkan bahwa
Ceng Hi totiang itu bukanlah seorang murid hianat,
demikianpun dengan keempat anggauta Topeng Besi itu.
Mereka bertindak diluar kesadaran karena pikiran
mereka dilimbungkan oleh Maharaja. Oleh karena itu
tokoh2 dari partai persilatan yang diperbudak Maharaja
selalu mengenakan selubung muka warna hitam agar
jangan diketahui orang. Tiba pada kesimpulan pikiran itu,
diam2 Gak Lui kucurkan keringat dingin. Karena ia
menyadari kalau telah salah membunuh Ceng Ki totiang
yang walaupun menjadi pembantu Maharaja tetapi
karena pikirannya limbung disihir oleh Maharaja. Jadi
kesalahan imam Ceng Ki itu sebenarnya tak perlu
sampai harus mendapat hukuman mati.
“Ah.....” diam2 Gak Lui menghela napas panjang.
Hatinya gundah resah. Sebun sianseng tak mengerti
538
mengapa anak-muda itu tampak gelisah. Tanyanya:
“Orang yang mati tak mungkin hidup lagi. Lebih baik
engkau curahkan pikiran untuk berusaha
menghimpaskan hutang darah itu dari pada memikirkan
hal2 yang sudah lalu. Tetapi ... memang usaha itu tak
mudah.”
Dengan tandas, berkatalah Gak Lui: “Seorang lelaki
akan membedakan mana budi mana dendam. Salah
faham itu aku dapat menebusnya dengan balas jasa
yang bertubi-tubi !”
Mendengar ucapan Gak Lui itu, tiba2 Sebun sianseng
teringat akan pemandangan ngeri dalam Kaca ajaib
tempo hari. Diam- diam ia menggigil dan bertanya:
“Dengan cara bagaimana engkau hendak membalas jasa
itu? Apakah tak mungkin dirimu sendiri akan .... lenyap!”
“Rencana belum kupikirkan masak, tetapi-pun takkan
bertindak dengan serampangan ...”
Sebun sianseng menghela napas longgar, serunya:
“Bagus, memang seharusnya begitu. Kini hendak
kututurkan tentang sikap orang Ceng-sia-pay.”
“Apakah Thian Lok totiang yang terkena kabut
beracun itu sudah sembuh?” tukas Gak Lui.
“Ah, masakan begitu cepat. Mereka kekurangan obat
maka terpaksa menutup markas. Tetapi menurut
keterangan para muridnya, begitu Thian Lok totiang
sudah sembuh, dia tentu akan mencarimu !”
Gak Lui tertawa hambar lalu beralih pertanyaan: “Lalu
bagaimana Kong-tong-pay? Apakah sianseng sudah ke
sana?”
“Sudah,” sahut sianseng, “ketuanya, Wi Ih
mendendam kepadamu karena engkau telah membunuh
539
Wi Ti dan Wi Tun. Ketua Wi Ih itu hendak menuntut
balas…..”
“Bukan aku yang melakukan. Peristiwa itu kabarnya
suheng anda, yalah Tanghong sianseng menyaksikan
sendiri. Entah apakah anda sudah berjumpa atau belum
dengan Tanghong sianseng?”
“Sudah lama kami tak berjumpa. Sekarang ia ikut
Hwat Hong taysu dari perguruan Hengsan-pay berada di
gereja Siau-lim-si. Maka sengaja aku datang kemari
memberitahu, dan lagi ....”
“Dan lagi bagaimana?”
“Tek Yan tianglo dari Go-bi-san yang sudah lama tak
muncul, saat ini juga sudah berada disekitar tempat ini.
Aku harus lekas2 mencarinya untuk memberi penjelasan.
Kalau tidak dikuatirkan dia akan salah mendapat
keterangan dari orang sehingga salah faham kepadamu.”
Gak Lui amat berterima kasih atas kebaikan hati
Sebun sianseng: “Ah, bagaimana aku harus
mengucapkan terima kasih kepada anda yang sudah
begitu jerih payah lari sana sini ....”
“Ah, tak apalah,” sahut Sebun sianseng lalu bertanya:
“Saudara Gak, tampaknya engkau tergopoh2, hendak
kemanakah?”
“Siau-lim-si !”
“Tujuan ?”
“Pertama, hendak menjenguk sakitnya ketua Siaulim-
si. Dan kedua kalinya, menyelidiki jejak Kaisar
Persilatan.”
“Ah, tak benar. Belum tentu Hui Gong taysu tahu.
Dan kedua kalinya suhengku tentu sukar bicara. Kurasa
540
.... lebih baik ikut kepada kami ....”
“Ke tempat Tek Yan totiang itu ?”
“Lebih baik hal itu untuk sementara waktu
ditangguhkan dulu. Urusanmu lebih penting.”
“Tidak! Baiklah sianseng cari dulu Tek Yan totiang itu
dan biarlah aku sendiri yang pergi ke Siau-lim-si.”
Sebun sianseng sukar untuk melayani dua buah
masalah sekaligus, ia hendak menyetujui tetapi hatinya
tak tega. Melihat itu Gak Lui tertawa rawan ! “Apakah
anda lupa ? Bukankah dahulu anda pernah
menghadiahkan kepadaku sebuah kaca cermin ?
Dengan benda itu dapatlah kuberi penjelasan kepada suheng
anda. Sedang tentang Hwat Hong taysu dari Hengsan-
pay, pagi2 dia sudah mengetahui diriku. Sudah tentu
dia akan memberi penjelasan kepada fihak Siau-lim-si
....”
Sebun sianseng seperti disadarkan. Setelah
merenung sejenak, ia anggukkan kepala. Demikian
keduanya segera mengambil selamat berpisah dan
bergegas menempuh perjalanan masing2.
“Ah, Sebun sianseng, kelak apabila aku sudah
menunaikan dendam sakit hatiku, aku tentu akan
membalas budi kebaikanmu......” diam2 Gak Lui
mengantar kepergian orang itu dengan janji dalam hati.
Setiba didaerah gereja Siau-lim-si, Gak Lui tak
henti2nya pasang mata. Setiap orang yang dijumpai
dalam perjalanan tentu diawasi dengan seksama. Ia
mengharap mudah-mudahan diantara mereka itu
terdapat tokoh Kaisar Persilatan yang termasyhur itu.
Tetapi harapannya itu sia2 belaka. Karena makin dekat
gereja Siau-lim, orangpun makin sedikit. Jangankan
541
orang persilatan, bahkan tetamu yang hendak
bersembahyang ke gereja itu pun sudah jarang sekali.
Warung dalam daerah situ, penuh dengan tempelan
kertas yang bertuliskan “Urusan dalam belum selesai,
harap tetamu jangan singgah dulu”. Timbullah gagasan
dalam benak Gak Lui, pikirnya: “Menilik naga- naganya,
rupanya demi menyembunyikan jejaknya, Kaisar
Persilatan tentu takkan datang kemari.... tetapi menilik
kepandaiannya, orangpun sukar untuk mengenali dirinya.
Lalu bagaimana baiknya, ataukah aku lebih dulu masuk
ke gunung atau melakukan lain pekerjaan ?” Habis
berpikir, Gak Lui memandang kemuka.
Pada gerumbul hutan tampak menonjol genteng
gereja yang berwarna merah. Sedang dibawah kaki
gunung tampak berbondong-bondong sosok bayangan
orang. Jelas mereka itu sedang mengadakan penjagaan
keatas gunung. Melihat pemandangan itu, tergeraklah
hati Gak Lui. Ia segera memutuskan, “Walaupun tiada
sangkut pautnya, tetapi ketua Siau-lim si saat ini masih
belum terlepas dari bahaya. Aku harus menjenguknya....”
Cepat ia lanjutkan langkah. Tetapi baru berjalan satu li
jauhnya, tiba2 disebelah muka tampak sesosok tubuh
manusia berjalan menghampiri. Diam2 Gak Lui terkejut
heran karena tadi ia tak dapat melihatnya. Cepat sekali
orang itupun sudah tiba. Gak Lui memandangnya tajam2.
Tetapi karena melihat itu makin besarlah kecurigaannya.
Orang itu memakai rambut yang menjulai kebelakang.
Sepatu robek, pakaian butut. Langkah kakinya tidak
tangkas, sinar matanyapun tak tajam. Pendek kata,
seorang miskin yang sederhana sekali.
“Tolong tanya, apakah saudara baru kembali dari
gereja Siau-lim- si ?” Gak Lui berhenti dan bertanya
kepada orang itu. Rupanya orang itupun terkesiap kaget
542
melihat Gak Lui. Ia berhenti dan menyahut: “Benar!”
“Gunung dijaga ketat, bagaimana saudara dapat
bergerak bebas ?”
Orang itu tertawa : “Aku faham sekali akan jalanan
digunung ini. Aku mengambil jalan singkat.”
“Hm.....” orang itu mendesus dan merenung.
Beberapa saat kemudian baru berkata: “Selama ketua
sakit suasana disini amat perihatin. Tetapi tak lama
penyakitnya tentu sembuh. Kalau saudara akan
menyambangi, lebih baik lain hari saja.”
Gak Lui gelengkan kepala tertawa. Kembali di bawah
kaki gunung muncul beberapa bayangan dan berseru :
“Hai, berhenti dululah....” Orang miskin itu terperanjat.
Gak Lui cepat bergerak untuk melindungi orang itu.
“Harap jangan bergerak.....” seru pendatang yang
belakangan itu. Dan cepat sekali orangnya pun sudah
tiba. Seorang yang memiliki sepasang alis melengkung
bagus dan hidung lempang lurus. Sepasang matanya
berkilat-kilat tajam. Suatu pertanda bahwa dia tentu
memiliki ilmu tenaga-dalam yang tinggi.
Dengan tertawa, Gak Lui menyambut: “Tanghong
sianseng ketua Kun-lun-pay, tentulah anda ini bukan ?”
Tanghong sianseng tertegun: “Benar, dan kalau menurut
topeng mukamu itu sedemikian anehnya, engkau
tentulah Gak Lui.”
Gak Lui cepat mengeluarkan kaca cermin pemberian
Sebun sianseng : “Aku membawa kaca pemberian Sebun
sianseng. Silahkan anda memeriksa dulu agar kita dapat
bicara dengan leluasa.” Tanghong sianseng menerima
kaca cermin itu. Setelah diamat- amati beberapa jenak,
iapun menyerahkan kembali.
543
“O, kiranya engkau mempunyai hubungan baik sekali
dengan sute-ku. Kalau begitu apa yang tersiar dalam
dunia persilatan tentang dirimu itu, tentulah tak benar.”
“Ah, hal itu hanya suatu kesalahan faham saja,” sahut
Gak Lui.
“Bagaimana soal peristiwa pembunuhan terhadap
kedua totiang dari Kong-tong-pay itu ?”
“Sekali-kali bukan perbuatanku !”
“Maksudmu perbuatan dari anak buah Maharaja ?”
“Tentunya sudah mengerti sendiri?” Mata Tanghong
sianseng berkilat tajam lalu bertanya : “Ketika kedua
totiang itu hendak menghembuskan napas terakhir,
waktu kutanya siapa yang mencelakai mereka, mereka
menyebut namamu. Bagaimanakah hal itu ?”
“Ini ....”
“Ini bagaimana ?”
“Kurasa pada permulaan dan akhir keterangan dari
kedua totiang itu tentu masih terselip lain kata. Sayang
karena mereka berdua sudah menderita luka parah
sehingga tak sempat mengatakan lagi. Silahkan anda
merenungkan kembali keadaan saat itu, tentu anda akan
mendapat kesan lain,” kata Gak Lui.
Tanghong sianseng termenung diam2. Ia
membayangkan pula keadaan pada saat ia menyaksikan
kedua totiang itu menutup mata. Memang ada kesan
yang seperti dikatakan Gak Lui itu. Sambil mengusap
jenggot, ia mengangguk : “Baiklah, soal itu kelak pasti
akan tersingkap. Kemudian mengenai partai Ceng-siapay....”
“Harap jangan kuatir. Nanti setelah Thian Lok totiang
544
jelas akan persoalannya, keadaan tentu akan baik
kembali.”
Mendengar keterangan Gak Lui, wajah Tanghong
sianseng yang semula tegang, saat itu mulai ramah.
Kemudian setelah mendapat keterangan tentang maksud
kedatangan Gak Lui, tiba2 alis Tanghong sianseng
menjungkat pula.
“Karena kedatanganmu dengan maksud baik, aku
pun takkan merintangi. Tetapi siapakah yang engkau
ajak bicara tadi ?”
“Katanya seorang tetamu yang habis bersembahyang
....”
“Tidak !” cepat Tanghong sianseng menukas, “jika ia
sungguh turun dari Siau-lim-si, masakan aku tak dapat
melihatnya.”
“Dia faham akan jalanan digunung ini dan mengambil
jalan yang singkat.”
“Hm, pikiranmu terlalu singkat,” gumam Tanghong
sianseng, “sepanjang jalan keatas gunung, sekalipun
jalan singkat, tetap dijaga oleh murid Siau-lim. Jangan
lagi manusia, sedangkan seekor burung pun sukar untuk
melintasinya !”
“O, kapankah anda melihatnya ?” seru Gak Lui
terkejut.
“Pada saat dia sedang bicara dengan engkau!”
“Heran !” Gak Lui cepat berpaling kebelakang. Tetapi
orang itupun sudah lenyap. Pada semak rumput ditepi
jalan, terdapat bekas2 telapak kaki yang menuju kedalam
lembah, “ah, kiranya dia meluncur turun ....”
“Heh, heh, heh, heh!” Tanghong sianseng mengekeh
545
marah, “hm, besar sekali nyalimu berani mempermainkan
aku !”
“Akan kujelaskan ...”
“Jelaskan ? Aku dapat mewakilimu memberi
penjelasan. Engkau sengaja menahannya supaya aku
tak dapat melihat jelas. Dan engkau sengaja
menggunakan barang pertandaan dari suteku untuk
mengaburkan perhatianku ....”
Karena dituduh begitu, meluaplah kemarahan Gak
Lui, serunya dengan gemetar : “Jadi engkau mencurigai
aku membawa mata2 ?”
“Bukan hanya mata2 dari luar, pun mata2 dari
dalam!”
“Dari dalam ?” Gak Lui terkejut.
“Ha, ha, kembali berpura-pura tak tahu...”
“Aku tak pernah bohong, kalau hendak bicara harap
terus terang saja !” seru Gak Lui.
“Ya, baiklah, akan kukatakan dengan terus terang.
Tiga hari yang lalu, datanglah seorang gadis kegunung
ini. Katanya ia murid dari Empat Permaisuri dan
membawa obat untuk Hui Hong taysu. Mengingat ia
seorang dara, aku lengah untuk memeriksa dan
memberikan obat itu kepada Hui Hong taysu....”
“Setelah minum lalu bagaimana ?”
“Taysu terus tak sadarkan diri sampai sekarang ini !”
“Siapakah nama dari dara itu ?”
“Gadis-ular Li Siau-mey !”
“Hai... !” Gak Lui berteriak girang, “kiranya adik Siaumey
... dia .... berada dimana?”
546
“Ditahan dalam ruang Koan Im...”
“Kenapa ?” Gak Lui terkejut.
“Ia mengatakan bahwa dalam waktu tiga hari taysu
pasti tersadar. Hari ini sudah tiba waktunya. Jika taysu
tak dapat sadar, ia harus mengganti jiwa!”
Mendengar itu murkalah Gak Lui, serunya: “Ah, anda
memang keterlaluan. Lebih baik lepaskan dia !”
“Kalau tidak ?”
“Aku sendiri yang akan mengusahakan
kebebasannya.”
“Heh, heh,” Tanghong sianseng mengekeh. “rupanya
engkau memang harus diberi hajaran!”
“Apakah engkau mampu melakukan ?” ejek Gak Lui.
“Budak, engkau hanya mengandalkan sebatang
pedang pusaka dari perguruan Bu-tong-pay. Tetapi aku
tak memandang mata sama sekali!”
“Aku takkan mengunakan pedang tetapi hanya
sepasang tinju saja, bagaimana ?”
“Tidak ada pertanyaan semacam itu! Kalau aku
sampai salah lepas seorang, tentu takkan mengulangi
melepaskan dua orang. Maka akupun terpaksa harus
menangkapmu hidup !”
Waktu mengatakan kata 'menangkapmu' itu,
Tanghong sianseng sudah menghantam. Ilmu pukulan
tenaga Sian-ying-ki-kang yang menjadi kebanggaan
perguruan Kun-lun-pay, segera memancar dari tangan
Tanghong sianseng. Gelombang dahsyat berlambar
tenaga sakti Sin-ying-khi kang segera melanda dada dan
pinggang Gak Lui. Ganasnya bukan kepalang! Melihat
pukulan Tanghong sianseng mengandung tenaga yang
547
dahsyat, apalagi dalam jarak yang begitu dekat, diam2
Gak Lui terkejut. Cepat ia berputar tubuh dan balas
menyerang tiga kali. Bum .... bum .... bum .... terdengar
letupan keras ketika pukulan mereka beradu. Karena
termakan tenaga-penyedot lalu didorong oleh Gak Lui,
Tanghong sianseng terperanjat sekali. Dengan
menggeram marah ia lingkarkan tangannya.
Bagai gunung roboh, kelima jarinya menelungkupi
Gak Lui. Baru pertama kali itu Gak Lui berhadapan
dengan ilmu kepandaian perguruan Kun-lun-pay. Ia
benar2 tertarik akan ilmu kesaktian dari partai perguruan
itu. Terutama tenaga-dalam yang sekeras gunung
meledak dan tenaga-dalam halus bagaikan daun kering
rontok ke tanah..... Kemudian ketika teringat bahwa ia
harus lekas menolong Siu- mey yang ditahan di ruang
Koan im, Gak Lui makin terburu-buru. Dengan
menggeram ia segera dorong kedua tangan. Dengan
tenaga-dalam pukulan Menundukkan-iblis, ia menangkis
pukulan orang. Kembali dua buah pukulan sakti saling
menguji kekuatan. Perbawanya sedahsyat halilintar
memekik-mekik di angkasa..... Bermula tak percaya
Tanghong sianseng bahwa anak semuda itu memiliki
kepandaian sakti. Tetapi setelah bertempur 10 jurus
kemudian, barulah ia percaya bahwa memang Gak Lui
tak bernama kosong.
Demikianlah keduanya melanjutkan pertempuran
dengan jurus2 pukulan yang jarang tampak dalam dunia
persilatan. Jika Gak Lui menggunakan ilmu pukulan
Menundukkan-iblis, adalah Tanghong sianseng
mengeluarkan ilmu Liong-hou-sam-ciang atau tiga
pukulan Naga dan Harimau. Karena gerakan lawan itu
hendak menerkam lengannya, Gak Luipun berhenti. Ia
terkesiap menyaksikan ilmu aneh dari lawan itu. Sesaat
ia tertegun dan agak bingung bagaimana harus
548
menghadapinya. Kebalikannya Tanghong sianseng
diam2 gembira sekali. Cepat ia lancarkan tiga jurus
serangan istimewa lagi. Tetapi ternyata dia terlalu cepat
bergembira. Tiba2 tubuh Gak Lui bergeliatan, seperti ke
kanan seperti ke kiri. Dengan gerak yang aneh itu, ia
berhasil menghindarkan diri dari ketiga pukulan
Tanghong sianseng. Dan laksana sesosok iblis, tiba-tiba
ia menyelinap ke belakang orang. Gerakan itu benar2
membuat Tanghong sianseng tertegun. Cepat2 ia
menggelincirkan langkah dan balikkan tangan
menghalau. Tetapi baru bergerak setengah jalan, tibatiba
bum .... sebuah hantaman dari ilmu pukulan
Penakluk-iblis, mengenai tepat punggung Tanghong
sianseng. Untung Gak Lui masih mempunyai
pertimbangan, ia tak mau membunuh orang itu. Tetapi
sekalipun begitu, ketua Kun-lun-pay yang angkuh dan
congkak itu, mata berkunang-kunang dan kepalanyapun
terasa berbinar-binar gelap, kaki terhuyung-huyung dan
jatuhlah ia ke tanah.
Cepat Gak Lui menyambarnya terus dibawa masuk
ke dalam hutan. Kawanan murid Siau-lim-si tadi
menyaksikan pertempuran itu dengan terlongonglongong
kesima. Mereka begitu tertarik sekali
perhatiannya sehingga tak menyadari bahwa tahu-tahu
Tanghong sianseng sudah rubuh dan dibawa si anak
muda. Pada saat mereka menyadari, ternyata sudah
terlambat. Laksana seekor burung garuda, Gak Lui loncat
melayang ke arah mereka. Dengan taburkan jari2
tangannya, ke 8 murid Sian-lim-si itu mengerang dan
mengaduh dan sama rubuh ke tanah ..... Setelah melihat
kawanan paderi itu jerih, Gak Lui turunkan Tanghong
sianseng lalu berseru kepada kawanan paderi itu:
“Harap kalian jangan takut. Beritahukan kepadaku, di
manakah letak ruang Koan-im-khek itu?”
549
Salah seorang paderi karena melihat keadaan
Tanghong sianseng, timbul kekuatiran kalau orang itu
sampai dilukai Gak Lui. Maka ia segera memberitahu :
“Terus naik ke atas, di tepi jalan besar ....”
“Siapa yang menjaga di situ?”
“Hwat Hong taysu ketua perguruan Ceng-san-pay.....”
“Bagus !” seru Gak Lui. Tetapi diam-diam ia
menimang : “kalau benar Hwat Hong taysu, tentu mudah
kita berunding.” Maka ia segera menepuk jalan darah
Tanghong sianseng supaya sadar lalu berkata: “Maaf,
terpaksa kuminta anda rebah dulu di sini untuk
sementara waktu. Bila nanti aku sudah kembali
menolong orang, lain2 jalan darah anda yang tertutuk itu
tentu dapat terbuka sendiri. Dan kujamin bahwa obat
pemberian Gadis- ular Li Siau-mey itu pasti takkan
membahayakan ketua Siau-lim- si, janganlah kuatir !”
Habis berkata Gak Lui terus berputar tubuh dan melesat
ke jalan besar yang menuju ke atas gunung.
Karena jalan darahnya tertutuk, Tanghong sianseng
tak dapat berkutik. Karena marahnya wajah pucat lesi,
kaki tangannya dingin. Diam2 ia menimang : “Gak Lui,
engkau benar2 menghina aku sehingga namaku yang
sudah harum berpuluh tahun itu akan lenyap kelaut.
Hinaan ini pada suatu hari pasti akan kutagih. Kalau
engkau mengira paseban Koan im-khek itu dapat engkau
masuki dengan bebas, engkau hanya bermimpi. Nanti
apabila 500 anggauta barisan Lo-han-tin itu sudah
bergerak mengepungmu, aku pasti sudah dapat datang
untuk membekukmu ....”
Selagi ketua Kun lun-pay itu menghamburkan
sumpahnya dalam hati, adalah saat itu Gak Lui dengan
gunakan ilmu lari cepat Awan-berarak-seribu-li tengah
550
mendaki keatas gunung. Kawanan paderi yang tengah
mengadakan patroli disepanjang jalan, hanya melihat
sesosok bayangan hitam melanda datang. Mereka buru2
menyingkir kesamping. Yang agak lambat menyingkir,
sama terpelanting terdampar angin keras. Lebih kurang
sepeminum teh lamanya, tampaklah sebuah bangunan
tinggi yang bertembok merah. Dengan matanya yang
tajam dapatlah Gak Lui segera membaca papan nama
pada bangunan itu yang berbunyi Koam-im-khek atau
ruang paseban Dewi Koan Im.
Gak Lui girang sekali. Ia terus gunakan ilmu Burungelang-
pentang-sayap untuk melambung 10 tombak
tingginya kedalam hutan terus meluncur kemuka. Pada
saat ia meluncur kebawah itu, tiba2 ia tersirap kaget.
Ternyata disekeliling paseban Koan-im-khek itu penuh
dijaga oleh barisan paderi dalam bentuk barisan pat-kwa.
Dan pada tiap sudut, diam2 telah siap pula dengan
barisan pendam. Karena ia sedang melambung ke udara
maka sukarlah untuk menyembunyikan jejaknya lagi.
Serentak terdengarlah suitan melengking bertubi-tubi.
Dan menyusul berpuluh-puluh sosok tubuh dan sinar
pedang segera berhamburan menyongsong
kedatangannya. Gak Lui menyadari kesalahan
langkahnya tetapi sudah tak dapat menghindari lagi.
“Cepat! Hanya dengan kecepatan saja barulah aku
dapat terhindar dari kepungan mereka !” diam2 Gak Lui
berkata kepada hatinya sendiri. Kemudian ia kerahkan
tenaga dan meluncur lebih laju. Saat itu hanya terpisah
100-an tombak dari ruang paseban Koan- im. Tetapi
pada saat itu juga dari samping jalan terdengar suara
orang berseru O-mi-to-hud dan menyusul muncullah
seorang paderi berjubah kelabu menghadangnya.
“Taysu, harap memberi jalan !” seru Gak Lui yang
551
dengan matanya tajam segera mengenali bahwa yang
menghadang itu adalah Hwat Hong taysu, kepala dari
perguruan Heng-san-pay. Sambil berseru, iapun sudah
menyelinap kesamping hendak mengitari paderi itu.
“Berhenti !” bentak Hwat Hong taysu seraya kebutkan
lengan jubahnya menyapu. Tetapi gerak tubuh Gak Lui
yang istimewa itu, tak mungkin dapat ditahan Hwat Hong.
Padri ketua Heng-san-pay itu terkejut dan buru2 salurkan
Bu-ying-keng atau aliran tenaga tak kelihatan, untuk
menahan pemuda itu. Tetapi dengan mengempos
semangat, Gak Lui pun sudah melambung keudara dan
terus meluncur kearah paseban itu. Tetapi karena
dirintangi Hwat Hong itu maka Gak Lui sampai tak
sempat memperhatikan keadaan dalam ruang paseban.
Tiang dan jendela ruang itu penuh dengan lubang2 kecil.
Dan pada saat Gak Lui sedang melayang diudara itu,
terdengarlah berdetak detak dari 16 buah jendela yang
terpentang keluar. Menyusul berhamburanlah kabut dan
asap lalu tampak Gadis-ular Li Siau- mey tegak
diambang jendela dengan wajah yang ketakutan.
Ternyata disamping mendengar hiruk pikuk suitan
para paderi, iapun mendengar juga suara sang kekasih
datang. Karena tegangnya, ia terus mendorong jendela.
Tetapi begitu jendela terdorong maka berhamburan ke 16
jendela lainnya terbuka lebar2.... Siu-mey tak menduga
sama sekali bahwa ruang paseban Koam- im-khek itu
dilengkapi dengan alat2 rahasia semacam itu. Dan alat
pembuka dari pekakas rahasia itu ternyata daun jendela
yang direntangnya itu.
“Engkoh Lui, lekas putar kembali!” teriaknya cepat2.
Tetapi sayang teriakannya itu terlambat. Saat itu Gak Lui
sudah melayang kearah serambi. Dan ketika berpaling
kebelakang, dilihatnya Hwat Hong taysu sudah tegak
552
berdiri ditempatnya tadi. Sedang beratus-ratus paderi
Siau-lim-si pun sudah siap dengan senjata terhunus.
Ternyata mereka telah membentuk diri dalam barisan Lohan-
tin. Gak Lui terjepit dalam dua kesukaran. Kalau ia
menurut anjuran Siau-mey untuk kembali, ia tentu
terkurung dalam barisa Lo-han- tin. Apabila, masuk
kedalam Koan-im-khek ia tentu akan berhadapan dengan
taburan senjata rahasia. Gak Lui memilih maju terus.
Dengan lingkarkan sepasang lengan untuk
melindungi tubuh, ia terus cepat meluncur masuk
kedalam ruang paseban. Kira2 pada jarak tiga tombak, ia
segera disambut oleh benda2 yang mendesis-desis dan
mendengung-dengung tajam.
“Ah, senjata rahasia.....” serunya. Memang benar,
beribu-ribu senjata rahasia yang meluncur dengan
kekuatan hebat dan sederas hujan mencurah sedang
menyongsong kepadanya. Melihat itu, betapa besar nyali
dan kegalauannya, namun Gak Lui gentar juga. Ia
menyadari bahwa taburan senjata rahasia itu tak
mungkin dapat dihalau dengan tangan kosong. Maka
cepat ia memutar pedang untuk menghantam. Tetapi
hujan senjata rahasia itu terlampau deras dan cepat.
Beberapa biji telah lolos dari sabatan pedang dan
menyusup ke beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu.
Seketika ia rasakan tubuhnya kesemutan dan mulai
kaku. Saat itu baru ia menyadari bahwa senjata rahasia
itu mengandung racun. Karena terluka, terpaksa Gak Lui
meluncur turun. Melihat itu menjeritlah Siau mey. Gadis
itu tak tahan melihat kekasihnya terluka. Ia menutup
mukanya dan rubuh pingsan. Dalam kepungan beribu
senjata rahasia itu Gak Lui tak dapat menyerbu masuk.
Maka dengan mengempos semangat, ia terus apungkan
tubuh berjumpalitan ke arah barisan Lo-han-tin yang
terdiri dari 500 paderi Siau-lim-si itu. Hwat Hong taysu
553
yang berada di depan barisan segera berseru:
“Gak sauhiap, menilik keadaanmu engkau sudah
terkena jarum emas Pencabut Nyawa!” Sebenarnya saat
itu dengan mengerahkan tenaga-murni, Gak Lui sedang
menyedot jarum emas yang lembut itu pada tubuhnya
supaya masuk ke dalam saluran darahnya. Tetapi karena
sakit dan kejutnya, ia sampai gemetar.
“Hm, tak nyana kalau gereja suci semacam Siau-limsi
ternyata menggunakan alat2 rahasia yang dilumuri
racun!” serunya marah. Dampratan tajam itu membuat
Hwat Hong taysu menyurut mundur setengah langkah,
serunya gopoh: “Dalam gereja Siau- lim-si hanya ada
dua tempat yang dilengkapi pekakas rahasia, hal itu
setiap orang sudah tahu ....”
“Dua tempat yang mana ?”
“Sauhiap, waktu amat berharga. Harap suka
mendengarkan kata- kataku dulu..!”
“Tak apa, harap taysu suka mengatakan soal tempat
pekakas rahasia itu, baru nanti membicarakan lain2
soal!”
“Ini ....,” Hwat Hong taysu merenung sejenak, ia tahu
anak muda itu berhati keras, maka lebih baik
menerangkan saja kepadanya agar dapat menghemat
waktu.
“Yang satu di ruang Koan-im-khek sini dan yang satu
di paseban Lo han tong,” katanya.
“Hm....,” dengus Gak Lui.
“Karena sudah kuberi keterangan maka sekarang
harap sauhiap suka mendengar nasehatku.”
“Silahkan taysu mengatakan.”
554
“Sauhiap telah terkena senjata yang amat beracun.
Racun itu khusus untuk menghancurkan tenaga-murni
orang. Mengenai obatnya, hanya disimpan oleh ketua
Hui Hong taysu sendiri. Oleh karena itu, kurasa…”
“Bagaimana ?”
“Lebih baik sauhiap hentikan gerakan dan tunggu
sampai nanti Hui Hong taysu sadar agar dapat memberi
pertolongan.”
“Ini......” melihat kesungguhan sikap paderi itu,
terpaksa Gak Lui tahankan kemarahannya. Namun
tampaknya ia masih meragu.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Melihat itu Hwat Hong segera maju melangkah
menandaskan: “Tak usah sauhiap meragui. Setelah
makan obat dari kawanmu itu, tak lama Hui Hong taysu
tentu akan bangun. Aku yakin bahwa obat dari nona itu
tentu mujarab, kiranya engkaupun tentu beranggapan
begitu juga.”
“Baiklah,” kata Gak Lui. Memang ia percaya penuh
kepada Siu- mey. Setelah itu ia terus hendak
menyarungkan pedang. Tetapi sekonyong-konyong di
luar barisan Lo-han-tin terdengar suara orang
menggembur keras. Dan menyusul tampak sesosok
tubuh berkelebat menyusup dalam barisan paderi itu
terus menerjang maju.
Gak Lui dan Hwat Hong taysu terkejut dan cepat
berpaling. Ah, ternyata pendatang itu adalah Tanghong
sianseng, ketua perguruan Kun-lun-pay. Dengan wajah
pucat lesi, tokoh itu melesat dengan pedang melintang di
dada. Sikapnya perkasa, wajah bermuram kemurkaan.
555
Melihat itu Hwat Hong taysu segera dapat menduga.
Cepat ia maju menyambut. Dan Gak Lui pun lebih tahu
lagi sebabnya. Diam2 ia menindas perasaan hatinya:
“Sabar, sabar! Harus mengingat diri Hwat Hong taysu
dan Sebun sianseng. Jangan berkelahi dengan dia ....”
Saat itu Hwat Hong taysu dan Tanghong
siansengpun sudah saling berhadapan dan bicara
perlahan. Rupanya ketua perguruan Heng-san-pay itu
tengah memberi penjelasan kepada Tanghong sianseng
tentang diri Gak Lui. Lebih kurang sepeminum teh
lamanya, tiba2 kepala Gak Lui terasa pusing, tubuh
terhuyung seperti pohon kering tertiup angin. Ketika ia
dapat menguatkan diri untuk menahan penderitaan itu,
tampak ketua Heng-san pay dan Kun-lun-pay sudah
berdiri di hadapannya.
“Kudengar engkau sudah menerima perjanjian,” kata
Tanghong sianseng, “demi melihat hubungan baik
dengan Heng-san-pay dan Siau-lim-si, aku tak mau
memaksa orang dengan kesukaran. Kami hendak
menempatkan engkau di paseban Lo-han-tong, agar
menjaga lain2 kemungkinan yang tak diinginkan.” Kata2
itu tak sedap di telinga tetapi Gak Lui sudah memutuskan
untuk bersabar. Sahutnya: “Baik, akupun juga karena
mengingat hubungan baik dengan Heng-san dan
menjunjung gereja Siau- lim-si sebagai tempat yang suci,
setuju untuk menunggu di paseban Lo han-tong sampai
nanti Hui Hong taysu bangun dan memberi penjelasan
kepadanya!”
“Hm, engkau pandai melihat gelagat. Tetapi engkau
masih harus menyerahkan .....” tiba2 tokoh Kun-lun-pay
itu mendengus dingin. Dengus itu terasa menusuk tajam
perasaan Gak Lui dan marahlah ia. Luapan amarah itu
menyebabkan darahnya bergolak keras. Mata pudar,
556
telinga mendenging-denging sehingga ia tak dapat
mendengar jelas apa yang diucapkan Tanghong
sianseng lebih lanjut. Setelah ia dapat menenangkan diri,
barulah ia bertanya menegas:
“Toa ciangbun, engkau minta aku menyerahkan apa
?”
“Pedang pusaka.”
“Pedang pusaka?” Gak Lui menegas.
“Benar, pedang pusaka yang engkau suruh aku
mengatakan berulang kali itu!” sahut Tanghong sianseng.
“Toheng, itu agak keterlaluan!” tiba2 Hwat Hong
taysu menyelutuk seraya maju selangkah. Ia minta
Tanghong sianseng merobah permintaannya.
“Lalu bagaimana kalau menurut pendapat taysu?”
“Suruh dia menunggu di paseban Lo-han-tong saja.
Di situ penuh dengan pekakas rahasia, pedang
pusakapun tak mampu menahannya.”
“Tidak! Pedang pusakanya itu semula pusaka
perguruan Bu-tong- pay. Aku hendak mewakili perguruan
itu mengambilkannya!”
Gak Lui makin marah mendengar kata2 tokoh Kunlun-
pay itu. Walaupun tak ikut bicara tetapi diam2 ia tetap
menyalurkan tenaga-dalam bahkan lebih deras, ia
kembangkan tenaga- dalamnya untuk memaksa
menghalau keluar jarum2 emas dari dalam tubuhnya ...
Ucapan Tanghong sianseng itu benar2 mempesonakan
sekalian orang. Bahkan Hwat Hong taysu yang ramah
dan luhur budi itu, pun terdiam tak dapat bicara apa2
lagi. Sedang barisan 500 paderi Siau-lim-si itupun tegak
dalam sikap siap menerima perintah.
557
Dalam suasana yang penuh diliputi ketegangan itu
tiba2 terdengar suara melengking macam bunyi ketinting
bergemerincing: “Engkoh Lui, kedua ciang-bun jin, harap
jangan menuruti luapan perasaan sendiri2. Aku
mempunyai sebuah usul ....”
Kiranya yang berteriak itu yalah Gadis ular Li Siu mey
yang saat itu sudah siuman dari pingsannya. Gak Lui,
Tanghong sianseng dan Hwat Hong taysu serempak
mencurah pandang mata kearah nona. Berkata pula Siumey:
“Kedatangan ke Siau-lim-si ini memang atas
kemauanku sendiri masuk ke dalam paseban Koan-imtong
ini. Agar aku dapat membuktikan kebersihan hatiku.
Harap engkoh Lui jangan salah faham.....”
Gak Lui mengangguk: “Baiklah, aku takkan bertindak
sembarangan.”
Hati Siu-mey longgar mendengar pernyataan pemuda
itu. Ia tertawa lalu berkata kepada Tanghong sianseng:
“Soal engkoh Lui, kuharap ciang-bun-jin berdua suka
memaklumi. Harap jangan memaksanya supaya
menyerahkan pedang. Jika tak percaya, suruhlah dia
masuk ke dalam paseban Koan-im-tong sini sekali….”
“Ha, ha, ha…..” tiba2 Tanghong sianceng tertawa
gelak2 dan pada lain saat wajahnya berobah serius,
serunya, “ho, sungguh bagus benar rencanamu!
Bukankah engkau hendak bersatu untuk meloloskan diri
?”
Mendengar ucapan yang menyinggung perasaan Siumey
itu, Gak Lui tak kuat menahan kemarahannya,
serunya: “Tanghong sianseng, bahwa aku bersikap sabar
itu adalah karena menghormati kedudukan partai
perguruan Kun-lun-pay serta sute anda, Sebun sianseng.
Tetapi tampaknya anda tetap mendesak saja seperti
558
hendak membalas dendam. Rupanya pukulan yang
sebuah tadi masih belum memuaskan hati anda ....”
Tanghong siansengpun marah juga sehingga
tangannya gemetar: “Memang, lalu engkau mau apa?
Aku memang hendak memberi pelajaran padamu !”
Belum kata-katanya berakhir, tokoh Kun-lun-pay itupun
sudah lontar sebuah hantaman dari jarak tiga meter,
mengarah jalan darah Hiat-bun dan Gi hay. Mendengar
desus angin yang dahsyat, Hwat Hong taysu cepat
lindungkan sebelah tangan ke dada. Sedang Gak Lui
yang sudah siap, segera ayunkan tangan kanan untuk
balas menabas serangan lawan. Tiga gerakan dari ketiga
orang yang cepatnya hampir tak dapat diikuti oleh
pandang mata itu saling bertemu di tengah jalan, bum,
bum, bum ..... Angin berputar-putar macam lesus,
letupan sedahsyat gunung meledak. Dalam bayang2
berseliwernya tubuh dan tangan, dari telapak tangan Gak
Luipun berhamburan berpuluh batang jarum emas yang
menyusup ke punggung tangan Tanghong sianseng dan
Hwat Hong taysu. Hwat Hong taysu dan Tanghong
sianseng segera menyadari bahwa dirinya telah terkena
jarum maut Pencabut Nyawa. Karena kejut, kedua ketua
perguruan itu terus menyurut mundur ke dalam barisan.
Sekalipun sama2 mundur tetapi bedalah sikap mereka.
Hwat Hong taysu mencekal pergelangan tangannya
sendiri untuk menutup menjalarnya racun dari jarum
emas. Ia hendak mencari Hui Hong taysu agar dapat
menjernihkan ketegangan. Tetapi tidaklah demikian
dengan Tanghong sianseng. Ia segera mengeluarkan
aba2 agar barisan Lo-han-tin bergerak.
Mendengar komando itu, barisan Lo-han-tin pun
segera berhamburan bergerak menyerang. Dalam pada
itu setelah dapat menaburkan jarum emas yang berhasil
dikeluarkan dari telapak tangannya, Gak Luipun rasakan
559
tubuhnya kesemutan. Hal itu disebabkan karena racun
jarum emas yang masih tertinggal dalam tubuhnya. Ia
cepat memandang ke arah Siu-mey yang berada dalam
ruang paseban Koan-im-khek. Tampak nona itu sedang
bersiap membantu pertempuran.
Buru2 Gak Lui mencegah: “Jangan sembarangan
bergerak...!” Habis berseru, Gak Lui lingkarkan sepasang
tangannya untuk menghalau serbuan barisan paderi.
Tetapi 500 paderi itu, membentuk diri dalam barisan Lohan-
tin yang sakti. Ke 500 ratus paderi itu dibagi menjadi
25 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 20 orang.
Mereka menghunus pedang ditangan kanan. Gerak
langkahnya rapi sekali. Bukan saja perbawa barisan itu
amat seram, pun mereka dapat bergerak maju mundur
kanan kiri dengan teratur. Dan yang lebih mengherankan
pula yalah cara mereka bertempur. Mereka
menggunakan rantai hubungan satu sama lain sehingga
rapatnya bukan alang kepalang. Pada saat kelompok
pertama menerjang keluar, kelompok keduapun sudah
cepat menyusul.
Barisan itu amat rapat dan pelik. Menghadapi barisan
ketat itu, Gak Lui tetap gunakan kedua tangannya untuk
menghantam dan menghajar. Sepintas pandang mirip
dengan seekor naga yang tengah marah ditengah
samudera. Seorang diri ia harus menghadapi serbuan
limaratus orang paderi. Pada saat mencapai jurus ke
100, barisan Lo-han-tin itu makin lama makin perkasa.
Jumlah orangnyapun tampaknya lebih banyak. Makin
lama napas Gak Lui makin memburu keras, tubuh
bermandi keringat, mata tak henti-hentinya berkeliaran
kian kemari.
Tiba2 ia rasakan pandang matanya berbinar-binar.
Semua benda yang dilihatnya seperti pecah dua. Ia
560
menyadari kalau racun dalam tubuhnya mulai bekerja.
Tanghong sianseng yang memperhatikan keadaan
pemuda itu, hanya tertawa dingin lalu melesat kesamping
Gak Lui dan ayunkan tangannya. Rupanya ketua Kunlun-
pay itu tak menghiraukan dirinya kena racun jarum
emas. Dia hanya ingin menumpahkan balas dendam atas
pukulan yang diterimanya dari Gak Lui tadi. Sudah tentu
Gak Lui amat marah. Diapun terpaksa kerahkan seluruh
sisa tenaganya untuk membalas. Beberapa saat
kemudian ia rasakan Tanghong sianseng itu seperti
pecah berhamburan menjadi berpuluh sosok bayangan.
Dan kelima ratus paderi anggauta barisan Lo-han-tin itu
tampaknya bagai gelombang samudera yang
mendampar. Bumi berputar-putar, angin menderu dan
gempa melanda. Ia rasakan dirinya seperti berada dalam
sebuah perahu yang terombang-ambing di-tengah
samudera raya.
Pada saat antara sadar tak sadar itu tiba2 terdengar
pekik melengking dari sesosok tubuh ramping yang
melayang keluar dari Koan-im-khek. “Siu-mey ... !” keluh
Gak Lui dalam hati setelah mengetahui siapa pendatang
itu. Memang bermula Siu-mey tak mau keluar dari
paseban Koan-im- khek itu. Tetapi karena melihat
kekasihnya terancam bahaya, ia tak dapat berpeluk
tangan mengawasi lebih lanjut. Maka setelah alat2
rahasia dari dalam paseban itu muntah keluar semua, ia
segera melayang. Namun Tanghong sianseng tak
memandang mata kepada nona itu. Dengan tangan ia
meringkus Gak Lui lalu tangan kiri ditebaskan kearah
Siu-mey. Gadis-ular Li Siu-mey ketika ikut pada Dewi
Tong Thing telah mendapat beberapa macam ilmu
pelajaran. Begitu melihat musuh menyerang, ia pun
segera berputar-putar tubuh seraya ayunkan tangan, wut,
wut, wut.... setiup hawa dingin segera berhamburan
561
melanda Tanghong sianseng.
Dalam pertempuran itu sebenarnya Tanghong Giok
atau Tanghong sianseng itu sudah menderita luka
terkena jarum emas yang ditaburkan Gak Lui tadi. Sudah
tentu ia tak kuat menghadapi seorang lawan yang masih
segar tenaganya. Apalagi ilmu kepandaian gadis ular
Siu-mey itu setengahnya termasuk pelajaran silat sejati,
setengahnya termasuk ilmu Bi-hun-toa-hwat atau
semacam ilmu hitam. Maka setelah berlangsung 10 jurus
saja, tangan dan kaki Tanghong Giokpun melentuk,
tubuh menggigil dan rubuhlah ia ketanah. Gak Lui juga
serupa. Setelah menghela napas panjang pandang
matanyapun gelap dan lenyaplah kesadaran pikirannya.
Siu-mey tak gugup. Setelah mengangkat kedua orang itu,
ia berkata kepada rombongan paderi Siau-lim-si: “Berhati
semua ! Aku hendak masuk kedalam ruang besar untuk
mengobati luka kedua orang ini...”
Oleh karena Tanghong sianseng dikuasai, maka
kawanan paderi itupun tak berani berbuat apa2 terhadap
nona itu. Sekonyong-konyong dari dalam barisan tampil
murid kepala dari Siau-lim-si yalah paderi Hoan Gong.
Ketika Siu-mey masuk ke gunung Ko-san, ia sudah
melihatnya. Maka sambil pejamkan mata dan
rangkapkan kedua tangan ke dada, paderi itu berkata :
“Nona, sesungguhnya aku tak berani merintangimu.
Tetapi adalah karena dari pimpinan gereja sudah
memberi perintah, kecuali ketua gereja sendiri yang
datang, siapapun harus dibatasi kebebasan geraknya ...”
“Urusan jiwa itu amat penting, seharusnya dapat
diberi kelonggaran,” jawab Siu-mey.
“Harap maafkan, aku sungguh tak berani bertindak
sembarangan sendiri.”
562
“Lalu bagaimana ?”
“Soal ini... lebih baik nona kembali kedalam paseban
Koan-im- tong saja.” Sebenarnya Gadis-ular Siu-mey itu
baik budinya. Ia tak mau membikin susah orang. Tetapi
karena hal itu menyangkut jiwa kekasihnya, ia tak mau
bersangsi lagi.
“Kembali kedalam paseban Koan-im-tong tiada
gunanya. Baiklah engkau gunakan barisan Lo-han-tin
untuk merintangi aku,” serunya kemudian. Habis berkata
ia terus melesat beberapa tombak dan langsung menuju
ke paseban Tay-hiong-po-tian.
“Nona ....! Nona ….!” teriak Hoan Gong dengan
gemetar. Keringat dingin membasahi tubuh. Ia tak
berdaya lagi mencegah Siu-mey yang saat itu sudah
melesat seperti angin. Karena tertegun ia tak sempat
memberi komando kepada barisan Lo-han-tin supaya
merintangi nona itu. Mulutnya serasa terkancing. Hendak
mengucapkan komando rasanya amat berat sekali.
Tetapi akhirnya ia paksakan diri untuk berteriak
sekuatnya: “Mundur !”
Barisan dari 500 paderi Siau-lim itu serentak
berhamburan memecah diri bersembunyi di tempat
masing2. Maka dengan leluasa dapatlah Siu-mey
melintasi jalan. Tiba di paseban Tay-hiong-po-tian, tiba2
Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si sudah menyambut di
ambang pintu dengan ucapan yang ramah dan penuh
rasa terima kasih: “Nona, obatmu itu benar2 manjur
sekali. Terima kasih, terima kasih .....” Saat itu paderi
Hoan Gongpun menyusul tiba. Ia sudah melihat kalau
ketua gereja sembuh maka ia berani membubarkan
barisan Lo han-tin. Setelah itu ia bergegas menuju ke
paseban Tay- hiong-po-tian untuk menghadap Hui Hong
taysu. Ketika Gak Lui tersadar membuka mata, pertama563
tama ia dapatkan dirinya rebah di atas sebuah
pembaringan. Sedang di sampingnya Gadis-ular Siu-mey
tengah duduk memandangnya dengan penuh
kemesraan.
“Oh, terima kasih Tuhan! Engkau dapat siuman lebih
cepat dari yang diduga, sayang...” seru nona itu
kegirangan.
“Sayang? Sayang apa?” Gak Lui heran.
“Sayang Tanghong sianseng….”
“Dia bagaimana?”
“Mati ....!” Seperti mendengar halilintar berbunyi di
siang hari, serentak Gak Lui loncat bangun.
“Tak mungkin! Dia memiliki kepandaian yang sakti !”
serunya tak percaya.
“Jarum Pencabut Nyawa dari Siau-lim-si itu luar biasa
hebatnya. Dia tak seharusnya menggunakan tenagamurni
untuk menahan. Dengan begitu racun menyusup
ke dalam urat2 jantungnya!”
Gak Lui seperti disambar petir, seketika ia pejamkan
mata merunduk diam. Sikapnya seperti seorang jago
yang kalah bertempur. Hatinya penuh berkabut sesal.
Sekalipun ia tak senang atas sikap Tanghong sianseng
yang congkak tetapi ia berhutang budi kepada sutenya
yalah Sebun sianseng. Belum ia dapat membalas Sebun
Sianseng, sekarang ia malah salah membunuh
Tanghong sianseng, suheng dari Sebun sianseng itu.
Bukankah dengan begitu ia dapat dianggap sebagai air
susu dibalas dengan air tuba atau kebaikan dibalas
dengan kejahatan?
“Engkoh Lui, yang mati tak mungkin dapat hidup
kembali. Dan hal itupun tak dapat menyalahkan engkau
564
... terus terang, lukamu sendiri itu jauh lebih hebat dari
dia. Tetapi ternyata engkau tetap hidup. Benar2 memang
sudah suratan takdir !” Siu-mey menghibur.
“Bukan suratan nasib yang mujijat !” bantah Gak Lui
tertawa hambar. Ia segera menuturkan pengalaman
ketika dahulu pernah makan darah buaya raksasa yang
berumur seribu tahun. Siu-mey makin terpikat
perhatiannya. Ia menggunakan kesempatan itu untuk
bertanya tentang keadaan sang kekasih selama berpisah
ini. Sudah tentu Gak Lui menceriterakannya dengan
terus terang. Hanya soal bertemu dengan kedua The
Hong-lian dan Lau Yan- lan, tak diceritakan.
Siu-mey mendengarkan dengan penuh perhatian dan
perasaannyapun ikut tegang, rawan, sedih dan gembira.
Kemudian iapun menceritakan tentang pengalamannya
selama berpisah itu. Bagaimana ia ikut Permaisuri Biru
ke gunung Kun- san untuk belajar ilmu silat, bagaimana
ia mencari jejak ayahnya yalah si Tabib-sakti Li Kok-hwa
tetapi tak ketemu. Menuturkan peristiwa itu, Siu-meypun
kucurkan airmata.
“Tak usah berduka, adik Mey,” Gak Lui
menghiburnya. “Kelak pada suatu hari kita pasti dapat
berjumpa dengan beliau ....” tiba2 ia berhenti karena
membau asap dupa dan mendengar suara genta gereja
bertalu talu. Ia duga genta itu tentu berasal dari Siau-limsi
maka iapun melanjutkan pula kata-katanya: “Ah,
rupanya sudah terlalu lama, mari kita menjenguk ke
luar….”
“Tunggu !” Siu-mey cepat mencegah, “saat ini ketua
Siau lim-si dan Hwat Hong taysu tengah mengadakan
doa sembahyangan untuk Tanghong sianseng. Karena
kuatir engkau tak leluasa, maka beliau mengatakan nanti
saja akan mengundangmu.”
565
“Ini ... demi memandang Sebun sianseng kita berdua
seharusnya ikut bersembahyang juga,” kata Gak Lui
seraya melangkah keluar. Siu-mey cepat menarik baju
pemuda itu: “Ah, perlu apa ter- buru2? Aku masih
mempunyai suatu urusan penting yang belum sempat
kukatakan kepadamu !”
“O,” Gak Lui terkejut dan hentikan langkah, “urusan
apakah itu ?”
“Aku hendak bertanya kepadamu. Engkau kenal pada
sumoay-ku tetapi mengapa engkau tadi tak
mengatakannya !” Gak Lui menyahut gelagapan :
“Sumoay-mu yang mana ? Aku sungguh tak kenal !”
“Baiklah,” Siu-mey merajuk dan pura2 marah, “puteri
dari Pukulan-sakti The Thay yang bernama The Honglian
itu telah angkat saudara denganmu, mengapa
engkau mengaku tak kenal?”
Merah selebar muka Gak Lui ketika mendengar kata2
itu. Saat itu iapun seperti orang disadarkan. The Honglian
telah diterima menjadi murid oleh Permaisuri Biru,
sedang Permaisuri Biru tinggal serumah dengan Dewi
Tong-ting yang menjadi guru dari Siu-mey. Sudah tentu
Siu-mey kenal dengan gadis itu. Teringat pula Gak Lui
bahwa kedua kaki gadis Hong- lian itu sudah kutung.
Seketika timbullah rasa kasihan dalam hatinya.
“Karena dapat mempelajari ilmu pedang, tentu luka
pada kaki adik Lian itu sudah sembuh. Dimanakah
sekarang ia berada?” serunya gopoh. Siu-mey kerutkan
alis dan tertawa: “Ih, menilik engkau begitu tegang,
tentulah hubungan kalian sudah erat sekali....
sebenarnya akupun hanya mendengar penuturan suhu
tetapi belum pernah berjumpa sendiri.”
“O...!” Gak Lui menghela napas kecewa. Tiba2
566
matanya berkeliar dan menggumam: “Aneh...”
“Mengapa aneh ?” tanya Siu-mey.
“Kedua lututnya telah terpapas kutung dengan
pedang. Seharusnya sukar untuk mempelajari ilmu
pedang ...” Siu-mey yang faham akan ilmu obat-obatan,
setelah merenung sejenak lalu menyahut: “Kukira
.....mungkin Permaisuri Biru itu .... mereka ... pandai akan
ilmu obat-obatan.”
“Tidak !” bantah Gak Lui, “kala itu Permaisuri Biru
mengatakan kepadaku akan mengusahakan tabib sakti
untuk mengobati luka adik Lian. Dengan begitu jelas
beliau tak mengerti ilmu pengobatan. Dan ahli yang
dapat menyambung tulang dan urat, jarang sekali....”
“Ayahku termasuk salah seorang....” saking
tegangnya, Siu-mey segera menyebut nama ayahnya.
“Benar,” kata Gak Lui, “memang akupun berpendapat
demikian. Sekalipun bukan ayahmu sendiri yang
mengobati, tetapi ayahmu dapat memberi keterangan
tentang tabib sakti lain yang dapat menyembuhkan luka
adik Lian itu.” Siu-mey menghela napas beberapa kali,
katanya : “Kabarnya adik Lian sudah tinggalkan
perguruan. Kita harus lekas2 mencarinya. Tetapi dunia
begini luas, ah kemanakah kita akan menemukannya.”
“Ini.....,” Gak Lui tertegun sejenak lalu berkata dengan
tandas, “aku punya cara yang bagus!”
“Bagaimana?”
“Dahulu anak buah Maharaja menawan hidup
Pukulan-sakti The Thay, tujuannya tentulah supaya dia
dapat membuatkan pedang itu.”
“Hm ...”
567
“Dan setelah tinggalkan perguruan, adik Lian tentu
akan mencari ketempat ayahnya itu !”
“Benar, tetapi apakah hubungannya hal itu dengan
usaha kita mencarinya ?” tanya Siu-mey.
“Menilik kepandaian Permaisuri Biru, beliau tentu
faham akan ilmu petangan. Tentulah takkan menyuruh
adik Lian secara membabi buta. Dan tentu akan memberi
petunjuk di mana tempat tahanan ayahnya itu ....”
Mendengar itu tertawalah Siu-mey : “Benar, memang
beralasan juga. Kedatanganku ke Siau-lim-si kali ini
memang atas perintah suhuku Dewi Tong-thing. Beliau
mengatakan, siapa tahu nanti disini akan berjumpa
dengan engkau. Kalau begitu, kita pergi mencari tempat
penahanan ayah adik Lian, tentulah dapat bertemu
dengan adik Lian. Setelah itu kita mendatangi tabib sakti
yang ditunjukkan ayah adik Lian itu.”
“Uraianmu tepat sekali !” seru Gak Lui. Siu-mey
tertawa gembira. Tiba2 ia merenung lalu mengajukan
pertanyaan lagi: “Engkoh Lui, engkau belum tahu tempat
The Thay cianpwe, bagaimana engkau hendak
mencarinya ?”
Gak Lui tertawa gelak2, serunya nyaring: “Sudah
tentu caranya telah kupikir tetapi untuk sementara ini
belum dapat kuberitahukan kepadamu.”
“Mengapa harus main sembunyi ?”
“Eh, bukankah kita sama2 pergi. Tentu nanti engkau
akan tahu sendiri !”
“Tetapi apakah hal itu takkan mengganggu waktumu
untuk mencari Kaisar Persilatan?”
“Tidak,” sahut Gak Lui, “aku mempunyai suatu
perasaan bahwa beberapa masalah itu tentu dapat
568
kuselesaikan, hanya….”
“Hanya bagaimana ?” Berkata soal 'perasaan', tiba2
Gak Lui teringat akan perkataan Permaisuri Biru dahulu.
Bahwa apabila ia berjumpa dengan gadis keempat, tentu
akan mengalami kesudahan yang mengenaskan.
Ditambah pula dengan lukisan yang tertera pada Cermin
gaib dari si Raja-bengawan tempo hari, dan korban2
yang secara langsung maupun tak langsung jatuh akibat
perbuatannya itu...bahkan peristiwa matinya Tanghong
sianseng kemarin, benar2 membuat Gak Lui tak dapat
mengerti. Dan yang lebih mengerikan, yalah pedang
pusaka Thian-lui-koay-kiam dari perguruan Bu-san-pay
itu. Sudah jelas bahwa pedang itu senjata pembawa
maut yang ganas dan sukar dikendalikan. Tetapi demi
menuntut balas dan demi menyapu bersih kawanan
durjana dari dunia persilatan, terpaksa ia harus tetap
berusaha untuk mendapat pedang itu.
“Eh, mengapa engkau diam? Bagaimana kelanjutan
dari kata- katamu itu?” tiba2 Siu-mey menegurnya.
Diam2 Gak Lui telah menetapkan keputusan dalam
hati: “Jika memang akan mendapat kesudahan yang
buruk, aku sendiri yang menanggungnya. Aku tak mau
melimpahkan pada orang lain!” Maka ia mengangkat
muka dan tertawa: “Maksudku aku hendak mengajarmu
sebuah ilmu pedang dari perguruanku, setelah itu baru
kita bersama-sama berangkat ....”
“Hai, bagus sekali !” Siu-mey berseru girang, “dulu
kuminta engkau tak mau memberikan. Sudah tentu aku
senang sekali menerimanya.” Karena diluap
kegembiraan, Siu-mey sampai lupa untuk menanyakan
apa sebab pemuda itu berbuat demikian. Sudah tentu ia
tak tahu apa rencana Gak Lui. Pemuda itu menghendaki
agar keempat nona itu, setelah masing2 meyakinkan
569
sebuah ilmu pedang dari perguruannya, tentulah mereka
akan sanggup menghadapi Maharaja. Pula setelah kelak
ia sudah berhasil memperoleh pedang pusaka Thian-luikoay-
kiam yang ganas itu, apabila ia lupa diri, dapatlah
keempat nona itu menundukkannya .....
Demikianlah Gak Lui segera menurunkan pelajaran
ilmu pedang Menabas-emas-memotong-kuda, ilmu
istimewa untuk memapas pedang lawan dan ilmu gerak
meringankan tubuh Rajawali- rentang-sayap. Berkat
kecerdasan otak Siu-mey, setelah mengulang pelajaran
itu sampai 10 kali, ia sudah dapat mengetahui inti
pokoknya. Tepat pada saat Siu-mey sudah
menyelesaikan pelajarannya, terdengarlah derap kaki
orang tiba di muka pintu. Gelang penutup pintupun
diguncang tiga kali dan menyusul terdengar seseorang
berseru dengan nada menghormat: “Atas titah ciang-bunjin,
tuan berdua dipersilahkan datang ke paseban Tayhiong-
po-tian !”
Gak Lui dan Siu-meypun keluar. Tiba di paseban
Tay-hiong-po tian, keduanya bersembahyang di hadapan
jenazah Tanghong sianseng. Sikap dan tindakan kedua
muda mudi itu menimbulkan kesan baik di hati Hui Hong
taysu dan Hwat Hong taysu. Setelah habis melakukan
sembahyang, Gak Lui dan Siu mey dipersilahkan duduk
bersama kedua ketua perguruan itu.
“Nona Li,” Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si mulai
membuka pembicaraan, “berkat pemberian obat nonalah
maka jiwa kami dapat tertolong. Seluruh warga Siau-limsi
amat berterima kasih sekali kepadamu. Soal terpaksa
memintamu tinggal di dalam paseban Koan-im-khek tadi,
adalah karena sudah banyak tahun suhumu tak pernah
muncul di dunia persilatan. Karena takut termakan siasat
Maharaja, maka terpaksa kami harus berlaku hati2.
570
Dalam hal itu kami harap nona suka memaafkan.”
“Ah, taysu keliwat merendah,” sahut Siu-mey,
“memang hal itu sudah sewajarnya. Harap taysu jangan
sungkan.”
“Soal kematian Tanghong sianseng, kami merasa
berduka sekali,” kata ketua Siau-lim-si pula,
“maka...sedianya .... hendak kepada sutenya...” Berkata
sampai di situ, suara Hui Hong taysu tersekat-sekat.
Jelas ketua Siau-lim-si itu tengah menghadapi persoalan
yang amat pelik sehingga sukar untuk menyelesaikan.
Cepat Gak Lui menyelutuk: “Soal itu aku dapat
memberi penjelasan kepada Sebun sianseng. Harap
taysu jangan resah....” Tetapi walaupun mulut
mengatakan begitu, diam2 hati Gak Lui tetap gelisah.
Sampai saat itu ia belum menemukan cara yang sesuai
untuk menyelesaikan soal itu.
Hwat Hong taysu, ketua perguruan Heng-san-pay,
segera memecahkan kesunyian suasana pembicaraan,
ia alihkan pada lain soal: “Gak sauhiap, petunjuk apakah
yang hendak engkau berikan kepada Siau lim-si ?”
“Ah, berat sekali kalau dikata akan memberi petunjuk,
taysu,” jawab Gak Lui, “tujuanku kemari hanyalah dengan
harapan.....supaya berjumpa dengan Kaisar Persilatan.”
“O,” seru kedua paderi itu serempak, “adakah
sauhiap memastikan kalau dia akan datang ke gereja sini
?”
“Aku tak berani memastikan.”
“Lalu apakah sudah bertemu?”
“Ini ... ,” Gak Lui tertegun sejenak lalu berkata pula,
“rupanya belum. Tetapi ketika naik ke atas gunung
memang telah bertemu dengan seorang pengunjung
571
yang katanya habis bersembahyang di dalam gereja.”
“Tak mungkin,” seru Hwat Hong taysu terkejut,
“gunung ini telah dijaga ketat sekali. Orang biasa tentu
sukar masuk keluar .... tetapi silahkan sauhiap
menggambarkan wajah orang itu. Jika memang Kaisar
Persilatan, aku tentu mengenalnya.”
“Pakaiannya kedodoran, wajah biasa pun kedua
matanya tak bersinar. Tak mirip sama sekali dengan
orang yang berilmu silat tinggi,” kata Gak Lui.
“Kalau begitu, bukan!” seru Hui Hong taysu.
“Lalu bagaimanakah sebenarnya wajah Kaisar itu ?”
“Cukup dengan kata2 perumpamaan. Dia memiliki
tubuh yang lemah gemulai dan wajah berwibawa laksana
naga dan burung cenderawasih. Sekalipun sudah 20
tahun yang lalu aku ketemu padanya, tetapi begitu
melihat lagi pasti aku segera dapat mengenalinya!”
“Hm,” Gak Lui mendesis dan bertanyalah ia dalam
hati: “Masakan dia tak dapat menyamar? Tokoh setingkat
dia, tentu tak mau sembarangan unjuk diri. Maka aku
harus waspada ....”
“Ah, waktu sudah mendesak sekali. Pemberian obat
nona Li itu segera akan kukirimkan ke Ceng-sia-san. Bila
tak ada lain2 keperluan, aku hendak segera berangkat,”
tiba2 Hwat Hong taysu ketua perguruan Heng-san-pay
berkata.
“Harap tunggu dulu, taysu,” buru2 Gak Lui
mencegah, “kamipun juga hendak berangkat dan
sekalian mengantar taysu.”
“Ah, tak perlu sauhiap capekan diri. Aku membawa
serombongan murid, cukup untuk menjaga keselamatan
dalam perjalanan,” kata Hwat Hong.
572
“Bukan begitu,” kata Gak Lui, “sejak murid Hong-sanpay
yang berhianat itu mendesak taysu supaya
mengundurkan diri, memang sampai saat ini belum
mengunjuk gerakan apa2. Tetapi hal itu kurasa bukan
karena dia membatalkan rencananya melainkan tentu
berganti siasat. Mungkin secara diam2 mengadakan
gerakan rahasia. Oleh karena waktu yang dituntut itu
sudah tak berapa lama, sebaiknya taysu suka berhatihati
pula ....” Berkata sampai disitu, Gak Lui tekankan
nada ucapannya : “Pula sudah kuketahui bahwa terdapat
lima orang berkerudung muka yang pura2 menyaru jadi
murid penghianat. Mereka bergerak secara sembunyi
karena takut diketahui!”
Kata2 itu bagai halilintar berbunyi disiang hari
sehingga membuat kedua ketua partai perguruan itu
terbeliak kaget dan serempak berseru :
“Itu...itu....benarkah ?...Dan berada dimana ?”
“Memang benar! Mereka menjadi anggauta Topeng
Besi yang kesadaran pikirannya sudah dilenyapkan
Maharaja !” sahut Gak Lui.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
“Tidak.... tidak mungkin !” seru kedua ketua itu.
Mereka masih tak percaya atas keterangan pemuda itu.
“Kalau begitu Geng Ci totiang dari perguruan Butong-
pay itu engkau yang membunuhnya?” sesaat Hwat
Hong taysu bertanya tegang.
“Benar !” jawab Gak Lui, “bermula kukira dia itu
seorang anggauta Topeng Besi. Tetapi setelah
kulenyapkan ternyata baru ketahuan kalau Ceng Ci
totiang !”
573
“Ah,” seru kedua ketua itu. Mereka berbeliak dan
geleng2 kepala :
“Sungguh tak tersangka sama sekali. Demi
memulihkan keamanan dunia persilatan, sauhiap telah
mengikat sekian banyak dendam permusuhan dengan
berbagai fihak. Entah bagaimana kelak kita akan....
menjelaskan salah faham mereka itu !”
“Singkat saja,” sahut Gak Lui dengan geram, “untuk
melenyapkan dendam permusuhan yang berliku-liku itu,
aku dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi kuminta
partai persilatan, masing2 mentaati dua buah hal !”
“Dua buah hal apa ?”
“Pertama, semua partai persilatan harus bersatu
menjaga diri. Hati2 terhadap Maharaja !”
“Aku sanggup melakukan hal itu,” kata Hwat Hong
taysu.
“Yang kedua, gerombolan Topeng Besi itu biarlah
aku sendiri yang menghadapinya !”
“Ini.... karena kawanan Topeng Besi itu terdiri dari
murid2 kepala dari tiap2 partai persilatan, mengapa
sauhiap tak menyerahkan saja kepada kita yang turun
tangan ? Jika sampai terjadi salah faham lagi, bukankah
itu....lebih mendalam...”
Gak Lui tertawa rawan, lalu menukas: “Memang
salah faham tak dapat dihindari ! Apalagi pengaruh fihak
lawan amat besar. Maka masing2 partai perguruan harus
simpan tenaga. Atau dengan lain kata, apabila kalian
saudara seperguruan saling bertempur, tentu sukar untuk
turun tangan. Lebih baik aku sebagai fihak ketiga yang
keluar. Segala dendam salah faham, kelak kita bicarakan
lagi.”
574
Kedua paderi ketua partai perguruan itu terkesiap
dan tak dapat bicara apa2 lagi. Mereka bersikap diam.
Suatu sikap yang dapat diartikan tidak setuju, pun tidak
menentang. Diam2 Gak Lui menghela napas. Ia
berbangkit lalu minta diri: “Hwat Hong taysu, marilah kita
berangkat....”
Ketua perguruan gereja Siau-lim-si bersama seluruh
paderi Siau- lim-si mengantar sampai turun gunung.
Suatu pawai yang megah dan khidmat. Dalam saat
perpisahan, Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si masih
menyampaikan kata2: “Gak sauhiap, terhadap perguruan
Bu- tong, Ceng-sia, Go-bi dan lain2, aku dapat
mewakilimu memberi penjelasan. Sekurang-kurangnya
sebelum usaha membasmi Maharaja berhasil, tentu
mereka takkan membikin susah dirimu. Selamat jalan,
semoga terkabul segala cita-citamu ....”
Gak Lui percaya pada ucapan ketua Siau-lim-si itu.
Sekalipun kata2 paderi itu sukar ditafsirkan dengan jelas.
Karena setelah nanti Maharaja dapat ditumpas, tindakan
apakah dari partai2 persilatan itu terhadap Gak Lui,
masih belum diketahui jelas. Jadi masih ada ekornya
yang panjang. Demikian mereka segera berpisah. Gak
Lui dan Gadis-ular Li Siu- mey serta rombongan wakil
Hong-san-pay yang dipimpin oleh ketuanya sendiri yakni
Hwat Hong taysu, menuju ke Ceng-sia.
Berjalan berpuluh li kemudian, berkatalah Gak Lui
kepada Hwat Hong taysu : “Taysu, kita tak dapat
menempuh perjalanan dengan cara begini. Harus
dirobah caranya.”
“Berjalan bersama-sama dapat menyebabkan musuh
takut dan mengundurkan diri. Perlu apa harus dirobah
lagi....?”
575
“Justeru karena menyebabkan mereka mundur itulah
yang merusakkan acara. Aku justeru hendak membuat
mereka supaya unjuk diri !” kata Gak Lui.
“O, kiranya hendak menggunakan siasat memancing
musuh keluar,” seru Hwat Hong taysu tertawa. Diam2 ia
mengakui memang demikianlah adat orang muda. Suka
unjuk keberanian dan kegagahan. Tidak seperti orangtua
yang bertindak hati2 dan tak mau gegabah.
“Bagaimanakah rencana Gak sauhiap untuk
mengatur rombongan kita ? Aku menurut saja !”
“Ah, harap taysu jangan merendah diri. Aku pun
hanya sekedar mengatur sedikit. Silahkan taysu dan
rombongan berjalan lebih dulu. Apabila bertemu dengan
kawanan Topeng Besi, harap taysu jangan menindak
mereka,” kata Gak Lui.
“Diam saja?” Hwat Hong taysu terbeliak heran.
“Harap segera mundur dan kembali kearah tempatku.
Biarlah nanti aku yang menghadapi mereka !”
“Jika berjumpa dengan lain orang tetapi yang
mencurigakan ?”
“Tanyakan dulu asal usul orang itu. Apabila anak
buah Maharaja, harap taysu jangan turun tangan.”
“Baik,” Hwat Hong taysu mengiakan lalu memimpin
rombongannya berjalan lebih dulu. Setelah rombongan
Heng-san-pay itu pergi, barulah Siu-mey berbisik kepada
Gak Lui: “Engkoh Lui, apakah artinya tindakanmu itu ?”
“Mencari sumoay-mu The Hong-lian !”
Siu-mey geleng2 kepala: “Benar2 aku tak dapat
mengerti apa yang sedang engkau mainkan itu !”
“Sederhana sekali,” sahut Gak Lui, “untuk mencari
576
adik Lian, lebih dulu harus menemukan The Thay
cianpwe.”
“Benar!”
“Untuk mencari The cianpwe, harus mencari anak
buah Maharaja dan paling baik yalah kawanan Topeng
Besi yang mengaku sebagai murid hianat dari beberapa
partai perguruan itu!”
“Ih, kalau sudah dapat menemukan, apakah mereka
mampu menunjukkan kepadamu tempat tinggal The
cianpwe?”
“Tentu bisa!”
Mata Siu-mey berkeliaran sejenak lalu berseru tak
percaya: “Aneh sekali! Cobalah, andaikata bisa bertemu
dengan orang itu, dengan cara bagaimanakah engkau
hendak menanyainya?”
“Tak perlu ditanya!”
“Aneh! Dibunuh?”
“Juga tidak!”
“Tidak ditanya dan tidak dibunuh, habis diapakan ?”
tanya Siu- mey makin heran.
“Merusak pedang tetapi jangan melukai orangnya.
Kemudian diam2 mengikutinya ketat!” sahut Gak Lui.
Siu mey terkesiap tetapi pada lain saat ia tertawa
riang: “Hai, aku mengerti sekarang ! Mereka tentu akan
minta The cianpwe membikin betul pedangnya sehingga
dengan sendirinya menjadi petunjuk jalan kita!”
Dalam pada bercakap-cakap itu, ternyata rombongan
Hwat Hong taysu sudah tak tampak. Gak Lui dan Siumey
mengambil jarak yang cukup jauh mengikuti di
577
belakang mereka. Sampai beberapa lama menempuh
perjalanan, tetap tiada berjumpa dengan seorang
manusiapun jua. Rupanya Siu-mey sudah mulai goyah
pikirannya akan hasil rencana yang dilakukan Gak Lui itu.
Pada saat ia hendak membuka mulur, tiba2 Gak Lui
hentikan langkah dan memandang kemuka tajam2. Siumeypun
ikut berhenti dan memandang kearah pandang
mata kekasihnya itu. Apa yang dilihat Siu-mey pada saat
itu hampir membuatnya memekik kaget. Kiranya
disebelah muka telah muncul dua buah rombongan
orang. Yang serombongan berhamburan keluar dari
hutan dan yang satu rombongan adalah rombongan
Hwat Hong taysu yang berlari-lari kembali menyongsong
ketempat Gak Lui. Beberapa kejab mata, paderi itupun
sudah tiba dimuka Gak Lui. Wajahnya mengerut
keheranan dan tangannya mengunjukkan sehelai kertas
putih.
“Taysu, tentu tantangan bertempur!” seru Gak Lui
mendahului orang memberi keterangan.
“Benar,” sahut Hwat Hong seraya menyerahkan surat
itu. Setelah menyambuti, Gak Lui lalu membacanya:
Menjelang fajar, di puncak Hun-hong.
Gak Lui kerutkan alis lalu bertanya: “Taysu, surat ini
tiada tanda tangannya. Siapakah pengirimnya ?”
“Orang itu engkau sudah pernah tahu. Yalah si
Pengemis-jahat yang tempo hari hendak menghancurkan
partai Gelandangan !” sahut Hwat Hong.
“Hm, kiranya dia,” gumam Gak Lui, Segera ia teringat
akan peristiwa tempo hari dimana Pengemis-jahat itu
hendak membunuh ketua partai Gelandangan Gan Ke-ji
gelar Raja- sungai-Cekiang. Untung saat itu ia keburu
datang menolong. Melihat Gak Lui hendak menerima
578
tantangan itu, Hwat Hong segera menerangkan bahwa
yang ditantang itu adalah dirinya, bukan Gak Lui.
“Tidak, Gan Ke ji ketua partai Gelandangan
mempunyai hubungan baik dengan aku. Maka biarlah
aku yang menghadapi Pengemis-jahat itu !”
Hwat Hong menerangkan bahwa Pengemis-jahat itu
mempunyai seorang suheng Pengemis-Ular yang
memelihara beratus-ratus ular berbisa. Tetapi Gak Lui
tetap tak gentar......
JILID 12
Melihat Gak Lui dan Hwat Hong taysu saling berebut
hendak menghadapi tantangan si Pengemis Jahat, Gadis
ular Li Siu-mey tertawa.
“Jika membicarakan soal ular, aku lebih
berpengalaman. Daripada menghadapi bahaya serbuan
ular, biarlah aku saja yang mengatasinya,” kata nona itu
kepada Hwat Hong taysu.
“Benarkah ....?”
“Kalau tidak masakan aku diberi gelar Ratu-ular!”
sahut Li Siu- mey.
“Hm,” Hwat Hong taysu mendesuh seraya anggukkan
kepala. Suatu tanda ia dapat menyetujui pernyataan
nona itu. Melihat itu Siu-mey maju selangkah, ujarnya:
“Dan lagi engkoh Lui sudah mempunyai rencana. Jika
taysu yang pergi, dia tentu kecewa, karena sia2 jerih
payahnya. Hal itu bukan berarti memandang rendah
pada perguruan Heng san ...”
Ucapan itu kena sekali sehingga Hwat Hong taysu
tak dapat berkeras kepala. Ia menghela napas:
579
“Kepandaianku sesungguhnya memang tak seperti kalian
berdua. Mari kutunjukkan jalan, semoga kalian dapat
menang !”
Dinihari menjelang terang tanah, cuaca masih gelap.
Dalam cuaca gelap itu, Gak Lui melihat sebuah menara
yang puncaknya menjulang tinggi. Tetapi di sekeliling
menara itu tiada tampak barang seorangpun juga. Diam2
timbullah kecurigaannya.
“Adik Mey, kurasa keadaan menara itu agak aneh.
Mungkin mereka memasang perangkap,” katanya.
“Kita serang bersama-sama !” sahut Siu-mey.
“Tidak, engkau tunggu disini bersama Hwat Hong
taysu. Jika terjadi sesuatu dalam menara itu, aku segera
memanggilmu !” kata Gak Lui.
Sejak mendapat gemblengan dari Dewi Tong-thong,
Siu-mey memiliki kepandaian silat yang cukup. Saran
Gak Lui itu memang tepat maka iapun menyetujui. Gak
Lui segera kembangkan ilmu Cian-li-hun-liu atau Awahberarak-
seribu-li. Suatu ilmu kepandaian istimewa untuk
mempertajam mata, telinga dan hidung. Dengan lincah
mulailah ia berloncatan menuju ke bawah menara.
Memandang ke atas, dilihatnya menara itu terdiri dari
tujuh tingkat. Megah dan perkasa tetapi sudah penuh
lumut (pakis) dan rusak keadaannya. Papan nama yang
tergantung di atas pintu-pun sudah kabur tulisannya.
Bekas2 tulisannya berbunyi: “Hun Hong Tha” atau
menara Pencakar-langit.
“Sebuah tempat yang bagus, sayang tiada orangnya
!” diam2 Gak Lui memuji. Dengan perlahan ia dorong
pintu menara itu. Amboi .... pintu yang begitu besar dan
berat, sekali dorong saja, sudah terbuka. Dan serempak
dengan itu serangkum hawa beracun melanda hidung.
580
Apabila orang biasa, tentu sudah pening dan pingsan.
Tetapi Gak Lui malah mendengus dan bagaikan sesosok
setan, ia terus menyelundup masuk ke dalam menara
yang gelap gulita itu. Tiba2 ia merasa seuntai rambut
kasar dan panjang melanda daun telinganya. Betapa
besar nyalinya, tetapi pada saat dan tempat seperti itu
mau tak mau mereganglah bulu kuduknya.
Buru2 ia salurkan tenaga dalam untuk menenangkan
hati. Setelah memandang beberapa saat, barulah ia
dapat mengetahui bahwa yang menyentuh telinganya itu
bukan lain yalah sesosok Setan Gantung atau sebuah
mahluk tergantung di atas, kepala menjulai ke bawah.
Lidahnya menjulur keluar, mata melotot, hidung, mulut
dan telinga penuh berlumuran darah merah. Dan
tubuhnya masih bergelantungan kian kemari di udara !
“Setan....?” serentak berdirilah bulu kuduk Gak Lui.
Matanyapun berkeliaran memandang ke sekeliling.
Tampak seluruh tembok ruang disitu penuh dengan
berbagai pemandangan yang seram dan aneh. Gak Lui
terpukau dan tegak berdiri seperti patung. Beberapa saat
kemudian baru ia melangkah perlahan-lahan menuju ke
tangga tingkat kedua. Tetapi baru berjalan lima langkah,
sekonyong-konyong terdengar sebuah auman dahsyat.
Cepat ia berputar tubuh. Tetapi dalam ruang yang gelap
pekat itu tiada tampak suatu apapun kecuali desir angin
yang berhembus dari pintu. Dalam sekejab mata, ruang
itupun kembali sunyi senyap seperti sebuah kuburan di
malam hari. Tetapi di lantai telah tambah lagi dengan
beberapa sosok mayat. Dari ketujuh lubang indera
mereka, masih mengalir darah yang segar .... Gak Lui tak
menghiraukan hal itu. Cepat ia naik ke tingkat kedua. Di
situpun ia menghadapi pemandangan yang serupa
dengan ruang bawah tadi. Tetapi Gak Lui tabahkan nyali
dan tak mempedulikan kesemuanya itu. Ia terus lanjutkan
581
naik ketingkat ketiga dan keempat. Tetapi pada waktu ia
hendak naik ketingkat yang lebih atas, terdengarlah
suatu hembusan suara orang yang bernada kasar:
“Siapakah engkau ?” Gak Lui hentikan langkah.
Tetapi ia tak mau cepat2 menyahut melainkan menimang
dalam hati: “Uh, apakah ini bukan suara si Pengemis
Jahat.....”
Tiba2 serempak dengan suara orang itu, segulung
api memancar menerangi empat penjuru dinding. Begitu
melihat lantai penuh dengan mayat dan seorang pemuda
tegak berdiri di bawah tangga, orang itu bergemerutukan
giginya dan memekik dengan nada gemetar: “Engkau ...
engkau bukan paderi Heng san! Engkau .... engkau ini ....
siapa .... siapa ....?”
“Gak Lui !” sahut pemuda itu.
“Huah ....!” orang itu menjerit kaget dan terus lari naik
ke atas tingkat. Gak Lui mendongkol tetapi ia merasa
kasihan juga kepada orang itu. Belum ia sempat
bertindak, tiba2 terdengar serangkum ketawa aneh yang
menusuk telinga: “Heh, heh, heh... budak kecil, kalau
berani naiklah ke sini !”
Kali ini Gak Lui tak ragu lagi. Suara itu adalah suara
si Pengemis Jahat. Dengan nada dingin ia menyahut:
“Memang aku hendak ke situ....”
Serempak dengan derap langkah kaki lari naik ke
atas, serangkum anginpun melanda. Kawanan murid dari
Pengemis Jahat yang berada di-tingkat kelima dan
keenam hanya merasakan angin yang meniup datang
dan tahu2 obor yang mereka pasang di ruang tingkat itu
padam. Belum sempat mereka menyulut lagi, tahu2 Gak
Lui sudah tiba ditingkat yang tertinggi. Tetapi dalam
tingkat ketujuh itupun kosong melompong. Hanya ada
582
seorang penghuninya yalah si Pengemis Jahat sendiri.
Dia tegak berdiri dengan wajah gelap. Demi melihat Gak
Lui, ia cepat membentaknya: “Dimana si kepala gundul
Hwat Hong? Mengapa dia tak datang memenuhi janji ?”
“Taysu tak berapa jauh dari tempat ini. Sekali-kali dia
tak ingkar janji !” sahut Gak Lui.
“Kalau begitu pergilah. Yang kucari yalah Hwat Hong
!”
Gak Lui tertawa dingin: “Kita selesaikan dulu
perhitungan kita yang belum beres tempo hari!”
Pengemis Jahat gemetar, serunya tersendat: “Soal ini ....
belum bisa dibereskan sekarang.”
“Mengapa ?”
“Maharaja memerintahkan supaya engkau jangan
mati dulu.”
“Kalau begitu engkau tak berani turun tangan
kepadaku ?”
“Jangan bermulut besar ! Untuk membunuhmu,
adalah semudah membalikkan telapak tanganku. Tetapi
aku hanya menurut perintah saja.”
“Ha, ha, ha, ha !” Gak Lui tertawa sekeras-kerasnya
untuk menghamburkan kemarahannya.
“Mengapa engkau tertawa ?” tegur orang itu.
“Hm, aku tertawa karena lagakmu. Kematian sudah
didepan mata, tetapi engkau masih bertingkah sebagai
kawanan budak anjing kepada tuannya !”
Pengemis Jahat itu memang buruk wataknya.
Mendengar hinaan Gak Lui, bangkitlah amarahnya:
“Kalau begitu, engkau memang sengaja hendak mencari
aku!” bentaknya.
583
“Benar! Kalau engkau sudah sadar, lekaslah habisi
nyawamu sendiri. Kalau tidak, terpaksa aku akan turun
tangan. Dan sekali turun tangan, tak mungkin kulepaskan
seorang yang jahat. Mayat yang malang melintang di
tingkat bawah itu adalah contohnya!” Mendengar ucapan
itu, tergetarlah hati Pengemis Jahat.
Seketika ia memutuskan untuk tak mentaati perintah
Maharaja. Lebih dulu ia hendak turun tangan membasmi
pemuda yang dianggapnya sebagai musuh berat. Ia
menyeringai iblis, serunya: “Baiklah! Kalau engkau
hendak mewakili Hwat Hong jadi setan gentayangan,
akupun tak dapat mencegah. Di sini juga kita dapat adu
kepandaian!”
“Sambutlah pukulanku !” Gak Lui segera berseru
seraya hendak menyerang.
“Tunggu dulu !” tetapi Pengemis Jahat mencegah lalu
duduk bersila di bawah jendela.
“Eh, bagaimana ? Apakah engkau takut ?” Gak Lui
tak tahu apa yang hendak dilakukan pengemis itu. Tetapi
ia tak mau menyerang orang yang duduk. Pengemis
Jahat mengangkat muka dan menyahut : “Kita tidak
bertempur tetapi adu ilmu duduk!”
Gak Lui terkesiap. Ia menghadapi kesulitan. Jika tak
menerima tantangan itu, lawan tentu mempunyai dalih
untuk mengatakan aku kalah. Namun kalau menerima,
walaupun ia dapat melayani, tetapi akan makan waktu
lama. Beberapa saat kemudian, Pengemis Jahat berseru
pula dengan nada girang: “Kalau engkau tak setuju, lain
kali saja kita berhadapan lagi.”
Terpaksa dengan kertak gigi, Gak Lui menyahut:
“Engkau sudah tak mempunyai kesempatan lain kali lagi.
Duduklah!” Gak Lui serentak duduk di hadapan
584
Pengemis Jahat. Keduanya pejamkan mata dan
tenangkan napas. Pertandingan adu duduk, segera
berlangsung. Suasana dalam menara itu sunyi senyap.
Keduanya saling menyalurkan darah. Tetapi tiba2 Gak
Lui curiga, pikirnya: “Ilmu tenaga-dalam dari Pengemis
Jahat ini tak menang dari aku. Tetapi mengapa ia
menantang melakukan pertandingan begitu? Bukankah
berarti cari mati sendiri ? Ah, kemungkinan tentu suatu
siasat saja ....” Segera ia kerahkan alat pendengarannya.
Samar2 di bawah menara, terdengar suara derap kaki
kawanan pengemis. Rupanya mereka sibuk mengangkat
mayat2. Tak berapa lama mereka sudah tinggalkan
menara.
“Hm, mengangkati mayat untuk dikubur memang
sudah layak. Tetapi.... apakah mereka tak mungkin
mengangkat lain benda.... ?” pikirnya seraya kerahkan
indera pembauannya. Ia menyedot napas panjang.
Tetapi sayang, bau mayat2 di bawah itu campur baur tak
keruan sehingga ia tak dapat mengenal dengan jelas.
Ketika membuka mata, ia melihat Pengemis Jahat masih
duduk pejamkan mata dengan sungguh2. Diam2 ia
merasa pikirannya terlalu gelisah sehingga melanggar
pantangan orang yang tengah melakukan penyaluran
tenaga-dalam. Buru2 ia tenangkan pikirannya dan
menguasai penyaluran tenaga dalam. Tetapi tiba2
terdengar suara angin menderu. Ternyata Pengemis
Jahat melonjak bangun dan menyerangnya. Gak Lui
terkejut tetapi terlambat. Ternyata Pengemis Jahat itu
memang menggunakan siasat licik. Diam2 ia
memperhatikan gerak gerik Gak Lui. Pada saat Gak Lui
gelisah karena gangguan suara di bawah tadi, peredaran
darahnya bergolak. Dan pada saat pemuda itu hendak
menenangkan diri, sekonyong-konyong Pengemis
Jahatpun kerahkan seluruh tenaganya untuk
585
menghantam.
Pukulan yang dilancarkan Pengemis Jahat itu
menggunakan kedua tangan. Tetapi anehnya, pukulan
itu tak ditujukan kepada Gak Lui melainkan pada
ruangan di situ. Tangan kiri menghantam ke atas, tangan
kanan memukul ke bawah, tepat pada lantai di tengah
mereka berdua. Sudah tentu menara yang sudah tua dan
rusak itu tak dapat menahan pukulannya. Brak, bum ....
tiang penglari roboh, debu berhamburan memenuhi
ruang. Gak Lui terkejut dan cepat melonjak bangun.
Tetapi pengemis itu sudah lolos keluar dari jendela.
Sedang dinding tembok dan tiang penglari yang
berhamburan rubuh itu, menghalangi jalan. Tetapi Gak
Lui tak mau lepaskan pengemis jahat itu. Dengan
tangkas ia menyelinap keluar, Ia menghantam lantai
sehingga berlubang. Dari lubang itu ia meluncur turun ke
bawah. Tepat pada saat ia mencapai tingkat bawah,
Pengemis Jahatpun sudah lari sepuluh tombak jauhnya,
menuju sebuah parit di bawah pohon.
“Aneh, mengapa dia tak terus melarikan diri tetapi
bersembunyi dalam parit? Apakah dia masakan bisa
lolos ?” pikir Gak Lui. Namun ia tak peduli dan terus putar
pedangnya ke atas lalu diarahkan ke punggung si
Pengemis Jahat. Serempak dengan itu, kakinyapun
bergerak hendak menendang.
Sekonyong konyong terdengar ledakan yang
dahsyat. Gak Lui terkejut dan berpaling. Apa yang
disaksikan saat itu, benar2 membuat semangatnya
terbang. Ternyata menara itu telah meledak dan hancur
bertebaran keseluruh penjuru, saat itu ia berada empat
lima tombak jauhnya dari menara itu. Tak mungkin ia
terhindar dari robohan tembok. Gak Lui terlempar jatuh
berguling-guling. Badan berlumuran darah dan rebah di
586
samping si Pengemis Jahat. Gak Lui termakan siasat si
Pengemis Jahat. Tetapi pengemis itupun tak luput dari
kematian. Pedang yang dilontarkan Gak Lui dengan ilmu
Melontar-pedang tadi, tepat sekali menembus punggung
Pengemis Jahat, terus ke dada. Pengemis Jahat itu
rubuh, tubuhnya tersanggah pedang.
Setelah asap menipis, tak kurang dari tiga-puluh anak
buah Partai Pengemis segera menerobos keluar dari
tempat persembunyiannya. Mereka hendak menolong
Pengemis Jahat. Tetapi setelah melihat keadaan
pengemis itu, mereka menjerit kaget: “Hai, wakil ketua
mati !”
“Celaka ! Habis bagaimana ?”
“Lebih baik kita lekas lari !” Demikian hiruk pikuk
sekalian anak buah Partai Pengemis ketika mengetahui
wakil ketua mereka yalah si Pengemis Jahat telah mati.
“Diam!” tiba2 seorang pengemis berteriak keras. “kita
lihat dulu anak she Gak itu sudah mati atau belum!”
Ketika melihat yang bicara itu adalah Pengemis Kepala
besar, sekalian pengemis itu tak berani buka suara lagi.
Segera beberapa pengemis memeriksa Gak Lui dan
berseru: “Dia masih hidup !”
“Menyingkirlah !” seru Pengemis Kepala-besar itu,
“lihat saja bagaimana kuhantam pecah kepala bocah itu
!” Ia terus mengangkat tinju dan dilayangkan kepada Gak
Lui. Tetapi belum tinju mendarat di tubuh Gak Lui, tiba2
pengemis itu menjerit ngeri. Batang kepalanya telah
mencelat setombak jauhnya. Dari lehernya menyembur
darah segar..... Ketika sekalian orang memandang
kepadanya, ternyata di muka pengemis Kepala-besar itu
tegak seorang nona yang tak dikenal. Belum sempat
menegur siapa nona itu, tiba2 nona itu memutar pedang
587
dan tinju, mengamuk. Serentak terdengarlah jerit pekik
yang seram dari sekalian anak buah Partai Pengemis.
---oo~dwkz^0^Yah~oo---
Kutungan lengan, kaki dan jari serta anggauta2
badan orang, beterbangan menghambur darah.
Suasanya seperti dalam neraka. Sudah tentu kawanan
anak murid Partai Pengemis itu tak mampu melawan
amukan nona atau Ratu ular Li Siu-mey. Beberapa
pengemis yang agak jauh jaraknya segera melarikan diri.
Tetapi baru sepemanah jauhnya, muncullah Hwat Hong
taysu beserta delapan orang muridnya. Dan secepat kilat
mereka segera menyongsong anak buah pengemis itu
dengan serangan. Sesungguhnya sebagai anak murid
agama, murid2 perguruan gunung Heng-san itu
menjunjung welas asih dan peri- kemanusiaan. Tetapi
demi melihat menara ambruk dan Gak Lui tak muncul
keluar, mereka marah sekali. Kemarahan itu
ditumpahkan kepada anak buah Partai Pengemis,
sehingga mereka yang beruntung lolos dari amukan
pedang Siu-mey, akhirnyapun melayang jiwanya di
tangan murid2 Heng-san-pay.
Hwat Hong taysu cepat menghampiri ke tempat Siumey,
tanyanya: “ Nona Li, bagaimana dengan Gak
sauhiap ?” Saat itu Siu-mey tengah berjongkok untuk
mengangkat kepala Gak Lui. Airmata nona itu
bercucuran sebagai hujan dan menumpah menjadi satu
dengan darah di tubuh Gak Lui.
Melihat keadaan Gak Lui, Hwat Hong menyurut
selangkah dan berseru cemas: “Apakah lukanya
berbahaya?”
Siu-mey hanya terisak-isak. Beberapa saat kemudian
588
baru ia mengangkat muka tetapi mulutnya tetap
terkancing oleh rasa kedukaan yang hebat. Melihat itu
tahulah Hwat Hong bahwa keadaan Gak Lui tentu buruk
sekali, iapun berjongkok dan memeriksa pernapasan Gak
Lui. Dua butir airmata menitik dari pelupuk ketua Heng
san pay itu dan dengan suara yang rawan ia berkata:
“Denyut jantungnya tak keruan, napasnya lemah
kemampuan manusia tak dapat menolongnya...”
Ucapan itu makin menambah kesedihan Siu mey.
Dan serentak pecahlah tangis nona itu bagaikan seorang
anak yang ditinggal mati orang-tuanya. Sekalian orang
yang berada di situ sama terharu dan mengucurkan
airmata. Menyadari salah omong, buru2 Hwat Hong
menyusuli kata2 pula:
“Nona Li, engkau pandai sekali dalam ilmu
pengobatan. Apakah engkau mempunyai obat untuk
menolongnya ?”
“Tidak .... punya....”
“Kalau begitu .... tiada baik kalau dibiarkan di sini.
Bagaimanapun kita harus cari daya untuk menolongnya
!” kata Hwat Hong.
Siu-mey pejamkan mata dan gelengkan kepala:
“Paling banyak dia hanya dapat bertahan sehari saja,
aku tak mampu berdaya !”
Mendengar keterangan sinona, timbullah harapan
Hwat Hong. Diam2 ia menimang: “Bagaimana kalau
mengantarkannya ke Siau-lim-si ?” Tetapi pikiran itu
cepat dibantahnya sendiri. Perjalanan ke Siau- lim,
amatlah jauh. Andaikata dapat mendapat gereja itu,
belum tentu ada yang mampu menolong. Demikianpun
dengan partai persilatan Ceng-sia-pay dan Heng-sanpay,
percuma saja. Akhirnya ketua perguruan Heng-san
589
itu hanya menghela napas: “Ah, akulah yang bersalah.
Kalau aku yang menghadapi tantangan si Pengemis
Jahat, sekalipun terjadi sesuatu, tetap aku sendiri yang
memikul akibatnya ....”
Mendengar itu Siu-mey berkata terharu: “Tak dapat
menyalahkan taysu karena semuanya itu adalah menurut
rencana engkoh Lui sendiri ....” Tiba2 nona itu terkilas
sesuatu. Untuk menolong Gak Lui ia harus mencari dua
orang tokoh sakti. Bukan Siau-lim-si ataupun partai
Ceng-sia-pay. Asal bisa mendapat pertolongan salah
satu dari kedua tokoh itu, tentu ada harapan Gak Lui
dapat ditolong. Yang satu adalah gurunya sendiri yalah
Dewi Tong Thing. Dengan ilmu kepandaiannya yang
sakti, mungkin Dewi Tong Thing dapat menolong. Tetapi
sayang telaga Tong Thing di gunung Kun-san itu jauh
sekali. Sedang orang yang kedua bukan lain yalah
Kaisar-persilatan Li Liong ci. Apabila dapat bertemu
dengan tokoh itu, tentulah Gak Lui tertolong. Tetapi pun
sayang, bayangan tokoh itu saja, tak pernah ia melihat.
Apalagi orangnya… Kini Siu-mey mengarahkan
harapannya kepada tokoh ketiga yalah ayahnya sendiri,
Tabib-sakti Li Kok-hoa. Dan justeru rencana Gak Lui-pun
hendak mencari Tabib-sakti itu. Apabila Siu- mey
bertindak menurut rencana Gak Lui, kemungkinan tentu
dapat bertemu dengan ayahnya. Tentang tempat
beradanya sang ayah itu dimana dan berapa jauhnya
serta apakah dapat dicapai dalam waktu sehari, Siu-mey
tak sempat memikirkan dan memang ia tak berani
membayangkan hal itu.
“Taysu, walaupun engkoh Lui terluka tetapi rencana
kita tetap tak berobah....,” katanya kepada ketua
perguruan Heng-san.
“Mengapa ?”
590
“Karena rencana itu juga suatu usaha untuk
menolong jiwanya !”
“O .... apakah nona suka menerangkan rencana itu?”
“Rasanya tak perlu, tetapi caranya perlu dirobah yang
sesuai.” Karena tiada lain jalan lagi, Hwat Hong taysu
pun setuju: “Bagus, bagus! Tetapi bagaimanakah
caranya itu?”
“Harap taysu beserta kedelapan murid taysu
melindungi engkoh Lui. Ikutilah aku pada jarak tertentu.
Apapun yang terjadi, biarlah aku yang menghadapi!”
Hwat Hong taysu tak mau banyak bicara. Ia segera
suruh kedelapan muridnya membuka jubah untuk
dirangkai menjadi sebuah tempat tidur yang hangat lalu
meletakkan Gak Lui di situ. Setelah persiapan selesai,
Siu-mey segera mendahului berjalan dengan gunakan
ilmu meringankan tubuh. Secepat larinya secepat itu pula
matahari-pun terbenam di balik gunung. Hari pun malam.
Perjalanan itupun memang tak lancar. Disamping harus
hati2 untuk menjaga kemungkinan munculnya musuh,
pun setiap kali Siu-mey berpaling ke belakang untuk
melihat keadaan Gak Lui. Dan setiap kali memandang,
keadaan Gak Lui makin memburuk. Saat itu mereka
memasuki daerah pegunungan. Tubuh mereka basah
kuyup dengan peluh. Mereka berhenti sejenak untuk
memulangkan napas.
Tampak oleh Hwat Hong taysu bahwa empat penjuru
tempat itu hanyalah puncak gunung dengan lembahnya
yang luas. Tiada suatu jejak manusia yang tampak.
Bahkan biara tua yang berdiri di puncak gunung sebelah
muka, selain condong pun juga sudah rusak dan tak
terawat. Sesungguhnya dalam hati tak sabar berdiam diri
tetapi terpaksa Hwat Hong tak mau banyak bertanya.
591
Hanya diam2 ia memanjatkan doa, semoga kekuasaan
Buddha dapat menciptakan suatu keajaiban. Saat itu Siumey
sedang sibuk memeriksa denyut pergelangan Gak
Lui. Didapatinya denyut jantung pemuda itu seperti
berhenti. Begitu pula pernapasannya.
“Ah, terlambat ....” segera nona itu menangis terisakisak.
Mendengar itu, Hwat Hong mengira Gak Lui tentu
sudah putus jiwanya. Maka ketua Heng-san-pay itu
segera berseru dengan nada duka: “Omitohud !”
Kedelapan muridnyapun serempak mengikuti Hwat Hong
taysu untuk menyanyikan doa pengantar arwah. Saat itu
suasana pegunungan yang sunyi senyap seperti
tercengkam oleh kumandang doa pujian para anak murid
Heng- san-pay untuk mengantarkan kepergian arwah
Gak Lui. Dan tangis Siu-meypun makin keras.....
Tiba2 doa dan tangisan dari kesepuluh orang itu
tersusup oleh sebuah suara yang nadanya amat kuat
dan penuh ketenangan, sekalian orang terkesiap, suara
doa dan tangisanpun sirap seketika. Bahkan Gak Lui
yang masih belum sadar itu, dadanya tampak berombak
seperti menyedot napas. Peristiwa itu benar2 ajaib! Dan
sekalian orang itu, karena luapan rasa kejut2 girang,
sampai tak dapat bicara. Mereka menumpahkan
perhatian untuk mendengarkan lebih lanjut. Dan yang
makin mengherankan yalah, seruan pendatang yang tak
dikenal itupun bernada:
“Omitohud !”
Cepat Hwat Hong taysu melangkah maju tiga tindak.
Dengan nada yang sungguh2 dan hormat, ia berseru
nyaring ke arah puncak gunung: “Hwat Hong taysu dari
Heng san, mohon bertanya, apakah saudara ini bukan
Kaisar Persilatan ....”
592
Ucapan itu membuat Ratu-ular Siu-mey gemetar.
Karena apabila benar Kaisar Persilatan yang datang,
itulah suatu rejeki yang hampir tak dapat dipercayainya.
Tetapi ia tahu bahwa Hwat Hong tak mungkin salah
mengenal orang. Sesungguhnya memang Hwat Hong tak
salah kenal. Karena ia cukup faham akan suara Kaisar
Persilatan. Walaupun sudah 20 tahun lamanya namun ia
tetap tak lupa akan tokoh itu. Sebuah suara yang
nadanya bening segera terdengar: “Aku memang Li
Liong-ci. Adakah selama ini Hwat Hong taysu baik2 saja
?”
“Oh .... ,” seru ketua Heng san-pay dengan penuh
kegirangan. Ia kerutkan dahi, mengharap agar dapat
melihat tokoh itu. Sayang puncak itu terlampau tinggi dan
hutan amat lebat sehingga ia tak mampu melihat jelas.
Apalagi ilmu tenaga-dalam tokoh itu tinggi sekali
sehingga sukar diketahui orang dari arah mana ia
bersuara. Karena tak mampu menemukan sasaran, Hwat
Hong taysu tertegun. Melihat itu Siu-mey tak
menghiraukan segala apa lagi. Ia terus berlutut di tanah
menghadap ke puncak, serunya dengan gemetar:
“Paman guru, murid Li Siu-mey menghaturkan hormat…”
“Bangunlah, engkau tentu murid dari Dewi Tong
Thing !”
“Benar !” sahut Siu-mey. Tetapi diam2 nona itu heran.
Pada waktu suhunya menerima ia sebagai murid, paman
gurunya itu tak mengetahui, “memang dengan
kepandaiannya ia dapat melihat diriku tetapi mengapa
dia dapat mengetahui asal usulku juga....”
“Dari ilmu Menembus-hati, dapat kurasakan bahwa di
antara kalian ini tentu ada yang sedang menderita luka
parah....”
593
Kembali Siu-mey terkejut, sahutnya gopoh: “Benar,
engkoh Lui.... eh, tidak. Gak Lui... terluka parah sekali,
mohon supeh suka segera menolongnya !”
“Aku sudah terlanjur mengangkat sumpah. Saat ini
aku tak dapat berhadapan muka dengan kalian….”
“Tetapi supeh harus kemari, kalau tidak, dia tentu....”
seru Siu- mey gelisah. Sebenarnya kata2 yang terakhir
itu yalah „mati'. Tetapi Siu-mey tak sanggup
mengucapkan. Juga Hwat Hong taysu menyurut mundur
karena terkejut dan gelisah. Tetapi tokoh itu tetap berkata
dengan nada setenang lautan: “Tak perlu kuatir. Aku
hanya tak dapat berhadapan muka dengan kalian. Tetapi
bukan menolak untuk menolong.”
“Kalau tak berhadapan muka, bagaimana paman
dapat menolong ?” seru Siu-mey makin tegang.
“Akan kuminta seorang sahabat untuk mewakili…”
“Kalau begitu harap paman lekas suruh orang itu
turun kemari,” seru Siu-mey. Tetapi jawaban Kaisar Li
Liong-ci sungguh diluar dugaan:
“Sahabatku itu tak mengerti ilmu-silat. Silahkan kalian
membawa Gak Lui ke dalam biara, dia nanti akan ke
situ.” Walaupun heran tetapi apa boleh buat, Siu-mey
dan Hwat Hong taysu segera mengangkat Gak Lui ke
biara tua. Sesungguhnya biara tua yang rusak itu sudah
tampak oleh mereka sejak tadi. Tetapi mereka sama
sekali tak menduga bahwa Kaisar Li Liong-ci ternyata
berada dalam biara itu.
“Sampai ketemu lagi !” tiba2 terdengar tokoh itu
berseru. Sekalian orang terkejut. Namun karena sudah
mendapat janji dari tokoh itu merekapun tetap
mengangkut Gak Lui ke biara. Sepenanak nasi
594
kemudian, tibalah mereka di biara tua itu. Memang sudah
rusak sekali keadaan biara itu. Bahkan kedua
pintunyapun sudah hilang. Siu-mey dan rombongannya
terkejut ketika melihat sesosok tubuh berdiri diambang
pintu. Ingin sekali mereka segera mengetahui siapakah
gerangan sahabat yang disuruh mewakili Kaisar Li Liongci
itu. Mereka menduga orang itu tentu sakti. Tetapi apa
yang mereka dapatkan, hampir saja membuat mereka
putus asa. Ternyata orang itu hanya seorang lelaki
jembel, wajahnyapun biasa saja, tiada sesuatu yang luar
biasa pada dirinya. Diam2 Siu-mey meragu. Adakah
orang semacam itu mampu mewakili Kaisar Persilatan
untuk menolong jiwa Gak Lui ? Tetapi karena Kaisar
Persilatan sudah menaruh kepercayaan, tentulah dia
memiliki kemampuan itu. Cepat Siu-mey mendahului
maju memberi hormat. Demikianpun Hwat Hong taysu.
Setelah memberi hormat, ia segera bertanya:
“Mohon tanya siapakah nama anda yang mulia?”
Walaupun lahiriyah orang itu tampak rudin, tetapi
kata2nya bernada tinggi dan sopan. Setelah balas
memberi hormat, dengan tertawa ia menyahut: “Aku yang
rendah bernama Ke Bing mendapat permintaan dari
saudara Li Liong ci untuk mengobati seorang kawannya.
Silahkan kalian lekas mengangkut dia kedalam biara !”
Anak murid Heng san segera melakukan perintah itu,
membawa Gak Lui ke dalam biara.
“Letakkan di depan patung...,” Ke Bing memberi
perintah seraya suruh Hwat Hong taysu menunggu di
samping. Siu mey makin heran, Ia merasa keadaan
dalam biara itu lain dari luarnya. Walaupun ruang sudah
tua bangunannya tetapi keadaannya masih bersih sekali.
Bahkan sampai lantai pun berkilat-kilat. Setelah selesai
mengatur, Ke Bingpun duduk di samping Gak Lui.
Sekalian orang menumpahkan seluruh perhatiannya
595
untuk mengikuti cara orang itu hendak mulai mengobati
Gak Lui. Suasana sunyi senyap. Ke Bing merogoh ke
dalam baju dan mengeluarkan sebuah benda. Siu-mey
dan Hwat Hong menduga tentulah orang itu
mengeluarkan obat. Tetapi alangkah kejutnya ketika
mereka melihat benda yang dikeluarkan Ke Bing itu
bukan obat melainkan sebuah Kim-jiu atau Tangan-
Emas. Melihat itu Siu-mey serta merta berlutut memberi
hormat. Ia pernah mendengar suhunya bercerita tentang
benda itu. Benda itu yalah sebuah benda peninggalan
kakek gurunya dan kini merupakan yang keramat dalam
dunia persilatan. Begitu pula Hwat Hong yang luas
pengalaman, segera mengetahui asal usul benda itu.
Buru2 iapun pejamkan mata dan berseru: “Omitohud !”
Tetapi Ke Bing hanya tenang2 saja. Ia meletakkan
Tangan Emas itu di dada Gak Lui. Kelima jari tangan itu
tepat melekat pada kelima jalan darah di dada Gak Lui.
Kini Siu-mey dan Hwat Hong taysu baru mengetahui
khasiat dari Tangan Emas itu. Diam2 mereka mengagumi
sekali. Ke Bing mengangkat muka dan tersenyum :
“Dalam satu jam lagi Gak Lui tentu sudah sadar, harap
kalian berdua jangan kuatir.”
Siu mey mengiakan dengan girang sekali lalu dengan
nada menghormat ia bertanya: “Ke sian-seng, engkau
adalah sahabat dari paman guruku. Adakah engkau tahu
apa sebab paman guru tak mau mengunjukkan diri
kepada orang?”
Siu-mey menunggu jawaban dengan hati berdebar. Ia
kuatir orang tak mau menerangkan. Tetapi diluar dugaan
ternyata Ke Bing ramah sekali sikapnya. Sambil
mengangguk kepala ia tertawa : “Alasannya sederhana
sekali. Dia mendapat tugas dari guru untuk mengunjungi
arca2 yang dipuja dalam biara maupun gereja. Ia hendak
menyembahyangkan para arwah dari orang2 yang telah
596
mati dibunuhnya. Oleh karena di daerah Tionggoan
jumlah rumah suci tak terhitung banyaknya. Setiap gereja
harus sembahyang, setiap arca harus bersujut. Sekalipun
ilmu kepandaiannya sangat tinggi, pun tak mungkin
mampu melakukan muhibah itu dalam waktu yang
singkat. Dan selama dalam perjalanan muhibah itu dia
tak boleh melakukan pertumpahan darah lagi. itulah
sebabnya maka ia tak mau unjuk diri pada orang agar
jangan sampai mengganggu waktunya.”
---oo~dwkz^0^Tah~oo---
Mendengar itu Hwat Hong kerutkan alis, serunya :
“Ke sianseng, aku kenal lama dengan Kaisar Persilatan.
Akupun cukup jelas akan pribadinya yang sangat
membenci pada kejahatan. Tetapi kini si Maharaja telah
muncul dengan perbuatannya yang jahat. Jika Kaisar
Persilatan takut terganggu waktunya dalam perjalanan
dan tak bertindak apa2, apakah itu sesuai dengan
pribadinya ?”
“Ini.... akupun pernah mendengar ucapannya. Dia
mengatakan dunia persilatan akan tertimpa malapetaka
pembunuhan lagi dan ia pun berhasrat untuk membantu.
Justeru karena itu, ia harus cepat2 menyelesaikan
muhibahnya, baru nanti akan datang ....”
“Bilakah dia akan datang itu ?”
“Kalau tiada halangan suatu apa, kira2 dalam waktu
tiga bulan. Tetapi kalau ada aral melintang, ah, sukar
ditentukan ....”
“O...” seru Hwat Hong terkejut, “mengapa begitu
lama? Mungkin sudah tak keburu lagi !”
Siu-meypun berseru dengan nada putus asa:
597
“Sekalipun keburu waktunya, tetapi kalau beliau siorang
tua tak mau turun tangan, pun percuma juga.”
“Ah, tidak begitu !” seru Ke Bing.
“Mengapa ?”
“Dia mengatakan bahwa dalam dunia persilatan kelak
bakal muncul orang baru yang akan dapat melenyapkan
malapetaka itu !”
“Adakah yang dimaksud itu engkoh Lui ?”
“Benar! Memang dia.”
“Oh…” Siu-mey mendesuh tegang. Ia tersenyum
rawan seraya melirik ke arah Gak Lui yang masih belum
sadar. Suatu perasaan bahagia tersenyum bangga
menyerbak di hati nona itu. Tetapi Hwat Hong
mempunyai pemikiran lain, serunya:
“Walaupun kepandaian Gak sauhiap bukan kepalang
tetapi kalau bertanding lawan Maharaja, rasanya masih
terpaut jauh. Entah bagaimanakah cara untuk
meningkatkan kepandaian Gak sauhiap itu ?”
“Untuk meningkatkan, tentu bisa. Tetapi ilmu
kepandaian dari Maharaja itu mencangkum kedua aliran
Putih dan Hitam. Tak mungkin dalam setengah sampai
satu tahun dia dapat menyamainya.”
“Lalu bagaimana ?”
“Kelak Gak Lui bakal memperoleh sebuah senjata
yang amat sakti. Maharaja pasti akan terbasmi dengan
senjata istimewa itu !”
“Aneh !” gumam Siu-mey seraya berpikir dalam hati:
“Rencana engkoh Lui untuk mencari pedang pusaka
Thian-lui-koay-kiam, rupanya Ke Bing ini sudah
mengetahui. Tetapi dia hanya seorang biasa. Dengan
598
dasar apa ia dapat menerka hal itu ?”
Rasa heran mendorong Siu-mey mengarahkan
pandang matanya kepada orang yang mengaku bernama
Ke Bing itu. Dari sinar matanya jelas Ke Bing itu tiada
memiliki ilmu tenaga dalam tetapi memancarkan
kecerdasan yang tajam. Rupanya Ke Bing dapat
menduga isi hati si nona, serunya: “Nona Li, soal itu
saudara Li Liong-ci yang memberitahukan kepadaku. Aku
hanya menyampaikan saja.”
“Benarkah ?”
“Dia sudah meyakinkan ilmu Liok-to-sin-thong
(Menembus enam indera). Ilmu pelajaran dari perguruan
agama yang tinggi itu, termasuk juga ilmu Thian simthong
(menembus hati), Thian-gan- thong (menembus
mata), Thian-ji-thong .... enam macam. Tentang isi hati
orang dan kejadian yang akan datang, dapat menebak
dengan jitu sekali ....”
“Dan anda sendiri ?”
“Aku tetap hanya seorang biasa. Tetapi dia pernah
mengajarkan ilmu Thian-gan-thong kepadaku. Itulah
sebabnya maka aku mempunyai sedikit kepandaian.”
Mendengar uraian itu timbullah gairah Hwat Hong
taysu. Karena Liok-to-sin thong, memang sangat sukar
dipelajari. Maka bertanyalah ia dengan rasa heran: “Ke
sianseng, dengan rasa malu kepada diri sendiri karena
berpengetahuan dangkal, aku tak mengerti tentang ilmu
Liok-to-sin-thong itu. Maka mohon tanya, adakah aku
dapat berhasil mempelajari ilmu itu?”
“Ini.....,” Ke Bing terkesiap, “ah, taysu tentu akan
berhasil dan tak berapa lama lagi taysu tentu....akan
mendapat kesempatan untuk mengenyam penerangan
599
sari2 pelajaran agama.”
“Dan aku bagaimana?” Siu-mey menyeletuk.
“Nona? Kelak engkau tentu jadi seorang pendekar
wanita yang menggetarkan dunia persilatan.”
“Dan engkoh Lui ?” Ke Bing tak mau langsung
menyahut melainkan tertawa: “Tentang dia biarlah dia
sendiri yang menjawab !”
Rupanya Siu-mey menyadari kalau pertanyaannya
terlalu mesra maka merahlah wajahnya dan terus
tundukkan kepala, beralih memandang ke arah Gak Lui.
Saat itu tampak wajah Gak Lui berseri kemerah-merahan
dan napasnyapun sudah normal lagi. Jelas bahwa
pemuda itu sudah terlepas dari bahaya maut.
Tenaganyapun sudah pulih. Sekalian orang diam-diam
bersyukur atas peristiwa itu dan mereka menantikan
dengan penuh perhatian sampai pemuda itu akan
sadarkan diri.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan nyaring
memecah kesunyian. Ternyata Gak Lui sudah sadar dan
loncat bangun. Ia tak tahu dimana saat itu ia berada. Ia
memandang kepada sekalian orang yang berada di situ.
Begitu pandang matanya tertumbuk pada Ke Bing,
berserulah ia dengan suara tersendat:
“Engkau .... engkau bukankah .....yang muncul dari
gereja Siau- lim si itu !”
“Benar,” sahut Ke Bing seraya dengan hati-hati
mengemasi Kim- jiu.
“Mengapa tempo hari engkau pergi tanpa pamit
sehingga menimbulkan salah faham Tanghong sianseng
sehingga dia mendapat kecelakaan ?”
Melihat Gak Lui mendesak orang itu dengan
600
pertanyaan dan seolah-olah tak menghiraukan Siu-mey
serta Hwat Hong taysu, Siu-mey cepat menyelutuk dan
memberi keterangan apa yang telah terjadi pada diri
pemuda itu. Mendengar itu serta merta Gak Lui menjurah
menghaturkan terima kasih: “Ke cianpwe, mohon
cianpwe suka memaafkan keliaranku. Dan kumohon
cianpwe sudi menyampaikan terima kasihku kepada
Kaisar Persilatan atas budi pertolongannya kepada
diriku.”

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Seks Model Baru : PKK 6 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments