Cerita Dewasa Ngentot Artis Pendatang Baru : ITB 21 Tamat

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Ngentot Artis Pendatang Baru : ITB 21
Cerita Dewasa Ngentot Artis Pendatang Baru : ITB 21
-Lan Eng sebenarnya sama sekali tidak lemah.
Pek In Hoei terkesiap kembali pikirnya :
"Aku harus berusaha keras untuk melenyapkan lebih dahulu salah
satu di antara mereka, di antara ke-tiga orang ini ilmu silat yang
dimiliki Thian Goan paling lemah... Ehmm... ! Benar aku harus
musnahkan dirinya lebih dahulu, dengan begitu sisanya baru bisa
kuhadapi secara baik..."
Kembali dia lancarkan sebuah serangan gencar ke arah Lan Eng
dengan ilmu pedang penghancur sang surya-nya, tiba-tiba di tengah
jalan pedang itu menyeleweng dari arah yang sebenarnya dan
menyongsong datangnya tubuh Thian Goan yang kebetulan sedang
menerjang ke muka.
1292
IMAM TANPA BAYANGAN II
Serangan itu cepat dan ganas sekali, sama sekali sulit untuk
dihindari atau diegosi.
"Aaaah...!" di tengah udara berkumandang suara jeritan lengking
yang menyayatkan hati, diikuti darah segar berhamburan ke atas
tanah, membuat ruangan kuil yang sudah menyeramkan itu nampak
lebih mengerikan lagi...
Batok kepala Thian Goan yang berlumuran darah menggelinding
di atas lantai hingga beberapa tombak jauhnya dari tubuh kasarnya,
raut wajah yang penuh berdarah itu nampak menyeringai seram,
mendatangkan rasa muak bagi siapa pun yang melihat.
Ia dengan membawa rasa dendam dan benci yang belum sampai
dilampiaskan keluar telah pulang ke alam baka dan melapor ke
hadapan raja akhirat, ia tak dapat merasakan lagi kehangatan tubuh
perempuan, tak dapat menyaksikan gemerlapnya intan permata... tak
dapat menikmati arak dan sayur... sebentar lagi tubuhnya akan
berubah jadi seperangkat tulang belulang tanpa kepala...
Perubahan ini terjadi terlalu cepat dan membuat semua orang
sama sekali tak menyangka dan gelagapan, Mao Bong serta Lan Eng
sama-sama berdiri menjublak, dalam keadaan begini mereka tak tahu
apa yang mesti dilakukan oleh mereka...
Sedangkan Cui Tek Li merasakan hatinya amat sakit sebab
kembali ia telah kehilangan seorang pembantu yang diandalkan, ia tak
menyangka kalau Thian Goan bakal menemui ajalnya dengan begitu
cepat.
Hawa napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan air
muka berubah hebat bentaknya penuh kegusaran :
"Pek In Hoei, engkau sungguh kejam..."
Bagian 47
JAGO PEDANG BERDARAH DINGIN Pek In Hoei dengan pedang
penghancur sang surya di tangan berdiri angker di tengah ruangan
1293
Saduran TJAN ID
kuil, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apa pun,
sambil memandang kepada Mao Bong serta Lan Eng ujarnya ketus :
"Siapakah di antara kalian yang akan maju lebih dahulu?"
"Thian Goan berhasil kau bunuh mati, itu bukan berarti bahwa
kemenangan pasti berada di pihakmu," teriak Cui Tek Li dengan
gusar, "Pek In Hoei, jika aku turun tangan sendiri maka pada malam
ini engkau tak akan berhasil dapatkan keuntungan apa-apa..."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya
berdebar keras, ia telah mengetahui sampai di manakah
kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li, seandainya
berduel satu lawan satu kendati dirinya tidak berhasil merebut
kemenangan, sedikit banyak ia masih mampu untuk mempertahankan
keseimbangan, tetapi sekarang, kecuali Cui Tek Li seorang masih ada
Mao Bong serta Lan Eng dua orang jago lihay, dan ilmu silat yang
dimiliki ke-dua orang itu pun luar biasa sekali, gabungan dari tiga
orang jago pedang kenamaan bisa dibayangkan betapa luar biasanya
keadaan itu... dan tak usah diragukan lagi, dia pasti akan mati konyol
di tempat itu...
Berpikir akan untung ruginya,ia tarik napas panjang-panjang lalu
berkata setelah tertawa dingin :
"Toa Poocu, malam ini aku telah bertekad tak akan tinggalkan
tempat ini dalam keadaan hidup, tetapi jika kalian hendak berusah
untuk melenyapkan diriku maka pekerjaan tersebut bukanlah suatu
pekerjaan yang terlalu gampang, paling sedikit di antara kalian bertiga
ada dua orang di antaranya bakal mati konyol..."
"Hmmm!" Cui Tek Li mendengus dingin, "kau hendak beradu
jiwa dengan kami??"
"Sedikit pun tidak salah, berada dalam keadaan seperti ini
terpaksa aku harus beradu jiwa, aku percaya dengan kemampuan yang
kumiliki paling sedikit dapat menarik dua kali modal yang harus
kukeluarkan, Toa Poocu, bagaimana pendapatmu..."
1294
IMAM TANPA BAYANGAN II
Mao Bong jadi teramat gusar sehingga sekujur badannya gemetar
keras, ia getarkan pedang di tangannya dan maju dua langkah ke
depan, sambil melotot ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan
sinar mata penuh kebencian, serunya :
"Kami tak akan melepaskan dirimu pergi dari sini dalam keadaan
selamat, sekali pun kau bersiap sedia untuk beradu jiwa belum tentu
apa yang kau kehendaki bisa terwujud, Pek In Hoei! Ketahuilah
bahwa Komplotan Tangan Hitam bukanlah manusia-manusia yang
gampang diganggu, kau telah menyalahi kami maka partai Thiam
cong kemungkinan besar akan tersapu rata dengan tanah, itulah harga
yang harus kamu bayar karena sifatmu yang sudah mencampuri
urusan orang lain."
"Setelah lewat malam ini jika aku belum mati maka aku pasti
akan berkunjung kembali ke Benteng Kiam-poo," seru Pek In Hoei
nada menghina, "akan kubasmi kalian anggota dari Komplotan
Tangan Hitam dan meratakan Benteng Kiam-poo dengan tanah,
waktu itu kalian jangan salahkan kalau aku Jago Pedang Berdarah
Dingin tak kenal budi..."
Setelah berhenti sebentar, ditatapnya wajah Cui Tek Li dengan
pandangan geram, kemudian melanjutkan :
"Dan kau, aku tak akan mengingat semua hubungan kita untuk
membinasakan dirimu, Cui Tek Li! Engkau adalah otak dari peristiwa
pembunuhan terhadap ayahku, engkau adalah musuh besarku yang
terutama, Hoa Pek Tuo... telah menceritakan semuanya kepadaku."
"Ooooh...! Engkau telah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo..." seru
Cui Tek Li dengan wajah tertegun.
"Ehmmmm...! Bukan saja kami telah berjumpa, tetapi kami telah
bicarakan termasuk pula banyak rahasia yang menyelimuti hubungan
pribadi kalian berdua, ia telah memberitahukan kesemuanya
kepadaku. Pada mulanya aku masih tidak percaya tetapi malam ini
setelah kusaksikan dengan mata kepala sendiri semua tingkah lakumu
1295
Saduran TJAN ID
dan ternyata cocok dengan apa yang dia katakan, maka aku percaya
bahwa ia sama sekali tidak membohongi aku!"
Ia menghembuskan napas panjang, dengan wajah dingin dan
memancarkan rasa dendam lanjutnya :
"Dia pun telah memberitahukan pula kerja sama antara engkau
dengan Hoa Pek Tuo..."
Pengalaman yang dimiliki Pek In Hoei pada saat ini boleh
dibilang luas sekali, ia telah mengerti bagaimana caranya
menggunakan kesempatan yang baik untuk memberikan suatu
gertakan batin bagi musuhnya, asal hubungan antara Cui Tek Li dan
Hoa Pek Tuo terjadi keretakan karena kesalah-pahaman sehingga tak
dapat bersekongkol lagi, itu berarti suatu keuntungan yang amat besar
artinya.
Oleh sebab itu dipergunakan suatu siasat yang licik untuk
menciptakan rasa gusar, benci dan takut dalam hati Cui Tek Li, agar
secara diam-diam dia memaki Hoa Pek Tuo sebagai manusia rendah
yang tak tahu malu.
Sedikit pun tidak salah, setelah mendengar perkataan itu air muka
Cui Tek Li berubah hebat, ia nampak amat gusar bercampur dendam,
dengan sorot mata memancarkan hawa napsu membunuh ia tertawa
seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kurang ajar, ia berani mengkhianati
aku..." teriaknya, setelah memandang sekejap ke arah Mao Bong
tegurnya kembali :
"Mao Bong, kapan kau telah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo?"
"Kemarin malam, Hoa Pek Tuo datang mencari aku dan minta
Poocu dalam keadaan bagaimana pun jangan lepaskan Pek In Hoei, ia
bilang dirinya mau berangkat ke Benteng Kiam-poo untuk
merundingkan sendiri suatu masalah besar dengan Poocu!"
"Kenapa ia datang tidak mencari aku?" seru Cui Tek Li tertegun.
Mao Bong berpikir sebentar, lalu menjawab :
1296
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Ia tahu bahwa pada saat ini terjadi sengketa dari poocu dengan
Perkumpulan Bunga Merah, dia tidak ingin munculkan diri pada saat
ini sehingga mengganggu Poocu..."
Diliriknya sekejap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin,
kemudian melanjutkan lebih jauh :
"Lagi pula dia tidak ingin bertemu dengan Pek In Hoei dalam
keadaan begini..."
"Hmmm! Kurang ajar, ia berani main setan di hadapanku," seru
Cui Tek Li sambil mendengus dingin, "ia pasti takut berhadapan tiga
orang dengan kami berdua sehingga rahasianya terbongkar,
omongnya saja enak benar... bangsat... bangsat..."
"Poocu," seru Mao Bong sambil menggeleng, "tidak pantas kalau
engkau bentrok muka dengan Hoa Pek Tuo dalam keadaan seperti
ini!"
Cui Tek Li tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku tahu bahwa antara kamu
dengan dirinya mempunyai hubungan persahabatan yang erat, tetapi
engkau harus memandang lebih jelas lagi, Hoa Pek Tuo berani
meninggalkan kita tanpa memikirkan bagaimana akibatnya, hal ini
pastilah dikarenakan hendak mengatur manusia-manusia racunnya
yang berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung untuk
memusuhi kita dari Komplotan Tangan Hitam. Hmmm! Sedari dulu
aku sudah tahu kalau orang itu tidak bisa dipercaya, sedikit pun tidak
salah... ternyata secara diam-diam ia telah mengacau tindak tanduk
Komplotan Tangan Hitam kita..."
"Poocu lebih baik pertimbangkanlah dahulu keputusanmu itu
secara masak-masak..." ujar Lan Eng pula dengan alis berkerut, ia
memandang sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian menambahkan :
"Hati-hati... kalau musuh sedang menjalankan siasat mengadu
domba... jangan sampai poocu termakan oleh siasatnya..."
"Tidak mungkin!" jawab Cui Tek Li sambil menggeleng,
"seandainya Hoa Pek Tuo tidak memberitahukan segala sesuatunya
1297
Saduran TJAN ID
kepada Pek In Hoei, dari mana ia bisa tahu akan kesemuanya itu. Lagi
pula urusan itu hanya diketahui olehku dan Hoa Pek Tuo dua orang
belaka."
Teringat akan kelicikan Hoa Pek Tuo di mana semua rahasia
mereka telah dibeberkan kepada Jago Pedang Berdarah Dingin, hawa
amarah yang sukar dikendalikan segera membakar hatinya, saking
benci dan mendongkolnya hampir saja ia muntah darah.
Menggunakan kesempatan itulah Pek In Hoei berkata kembali :
"Mengenai rencana besar Poocu untuk melenyapkan pelbagai
partai dari dunia persilatan serta merajai kolong langit, Hoa Pek Tuo
telah mengutus orang pula untuk mengabarkan rahasia itu kepada
pelbagai partai, saat ini semua aliran sedang mempersiapkan kekuatan
intinya untuk bersedia melakukan pertarungan sengit melawan Poocu
dan kemudian hari."
Dengan andalkan dugaan hatinya yang jitu ia memberikan
kegugupan dan ketidak-senangan bagi Cui Tek Li, Poocu dari
Benteng Kiam-poo ini, itulah suatu siasat yang paling jitu di dunia
kangouw."
Selama hidupnya Cui Tek Li seringkali mengadu domba orang,
mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau pada malam ini bakal jatuh
kecundang di tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, adu dombanya
membuat hawa amarah yang berkobar dalam dadanya sukar
dikendalikan lagi, rasa bencinya terhadap Hoa Pek Tuo pun semakin
menjadi.
Dengan hati terkesiap Cui Tek Li segera berkata :
"Hoa Pek Tuo tidak akur dengan pelbagai partai dan aliran, mana
ia berani mengadakan hubungan dengan pelbagai partai..."
"Poocu jangan lupa bahwa mata-mata dari perkampungan Thay
Bie San cung tersebar di mana-mana," ujar Pek In Hoei dengan nada
dingin, "asal Hoa Pek Tuo menggunakan sedikit akal, maka para jago
lihay dari perkampungan Thay Bie San cung yang menyusup ke
1298
IMAM TANPA BAYANGAN II
dalam tubuh pelbagai partai itu akan menyebarkan kabar berita itu
kepada pelbagai aliran..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." saking gusarnya Cui Tek Li
dengan badan gemetar keras tertawa dingin tidak berhenti, "kurang
ajar, ternyata Hoa Pek Tuo berani mengkhianati aku, aku telah
dikhianati oleh Hoa Pek Tuo... bagus, bagus sekali.. Hoa Pek Tuo!
Kalau engkau berani datang ke Benteng Kiam-poo maka akan
kubunuh dan kucincang tubuhmu jadi berkeping-keping."
Ia depak-depakkan kakinya ke atas tanah dengan penuh
kemarahan, lalu teriaknya kembali :
"Mao Bong, lepaskan merpati dan perintahkan semua saudara
kita yang ada di Benteng Kiam-poo untuk menantikan kedatangan
Hoa Pek Tuo, asal ia berani memasuki Benteng Kiam-poo maka
tangkap dan jebloskan dia ke dalam penjara menunggu aku sudah
pulang akan melakukan perhitungan dengan dirinya..."
"Poocu, aku harap engkau suka bertindak dengan hati-hati!" kata
Mao Bong gelagapan.
Kontan Cui Tek Li melototkan matanya bulat-bulat.
"Aku saja sudah dikhianati olehnya, apa yang mesti kupikirkan
lagi..." teriaknya.
Ia tatap wajah Mao Bong dengan penuh kemarahan, senyuman
sinis tersungging di ujung bibirnya, lalu menambahkan :
"Apakah kau masih belum melupakan kebaikan yang pernah
diberikan Hoa Pek Tuo kepadamu?
"Poocu, apa maksudmu mengatakan demikian?" seru Mao Bong
dengan badan gemetar keras, "aku orang she Mao toh anak buahmu,
mana aku berani membangkang dan melawan atasan sendiri? Hanya
saja urusan ini luar biasa sekali, sekali salah bertindak maka akan
mengakibatkan pertempuran sengit antara Benteng Kiam-poo dengan
perkampungan Thay Bie San cung, pada waktu itu bukankah dunia
persilatan..."
1299
Saduran TJAN ID
"Hmmm! aku yakin pihak perkampungan Thay Bie San cung
tidak memiliki kemampuan untuk berbuat begitu. Mao Bong! Kalau
memang engkau tak sudi bentrok muka dengan Hoa Pek Tuo, aku tak
akan memaksa dirimu, sekarang perintahkan semua saudara dari
Komplotan Tangan Hitam untuk berkumpul di Benteng Kiam-poo,
aku ada urusan yang hendak disampaikan kepada mereka..."
"Poocu," kata Lan Eng dengan wajah tertegun, "apakah
Komplotan Tangan Hitam tidak jadi memburu Perkumpulan Bunga
Merah dan membasminya dari muka bumi..."
Cui Tek Li menggeleng.
"Sekarang semua rahasia dari Komplotan Tangan Hitam telah
disebar-luaskan oleh Hoa Pek Tuo dalam dunia persilatan, kita tak
bisa tancapkan kaki lagi dalam dunia persilatan, dan semua rencana
kita pun hancur berantakan sampai di sini saja. Aaaai... sungguh tak
nyana Hoa Pek Tuo bisa bertindak begitu!"
"Poocu, apakah engkau akan tinggalkan usaha yang dibangun dan
diperjuangkan dengan susah payah ini?" tanya Lan Eng kembali
dengan wajah termangu-mangu.
"Aaaa....! Apa yang bisa kulakukan lagi? Apa dayaku kecuali
berbuat demikian? Aku tak dapat membiarkan ke-dua orang anakku
mengetahui akan rahasia ini, dan aku pun tak ingin nama besar dari
Benteng Kiam-poo musnah karena peristiwa ini..."
Dia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei dan menambahkan :
"Untuk sementara waktu aku akan lepaskan dirimu, aku harus
pulang dulu membereskan sedikit persoalan, lain kali kalau engkau
sampai terjatuh kembali ke tanganku, maka tiada kebahagiaan dan
keuntungan seperti hari ini."
"Hmmm! Itu toh urusan di kemudian hari," seru Pek In Hoei
sambil mendengus dingin, "jika engkau berani melakukan kejahatan
lagi dengan Komplotan Tangan Hitam-mu, maka aku pun tak akan
melepaskan dirimu dengan begitu saja..."
1300
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kita lihat saja nanti," jengek Cui
Tek Li sambil tertawa dingin.
"Poocu!" tiba-tiba Mao Bong berteriak sambil ayun pedangnya,
"masa kematian dari Thian Goan kita biarkan dengan begitu saja?
Andaikata kita tidak melenyapkan bajingan cilik ini pada malam ini,
maka kesulitan yang akan kita temui di kemudian hari tentu akan lebih
besar..."
"Benar Poocu, jangan lepaskan dia," seru Lan Eng pula dengan
air muka serius, "aku hendak menagih nyawanya untuk membalas
kematian dari Thian Goan, kalau tidak kami dari Komplotan Tangan
Hitam merasa tak punya lagi muka untuk berjumpa dengan kawankawan
Bu-lim di seluruh kolong langit..."
"Tentang soal ini..." seru Cui Tek Li dengan alis berkerut, dengan
pandangan dingin ia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah
Dingin, kemudian melanjutkan :
"Baiklah, kalian berdua boleh segera turun tangan untuk
melenyapkan dirinya dari muka bumi, jangan biarkan ia lolos dari
sini..."
"Terima kasih Poocu," jawab Mao Bong sambil memberi hormat,
"hamba pasti akan berusaha sekuat tenaga."
Sambil tertawa Cui Tek Li mengangguk, sesudah melirik sekejap
ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin perlahan-lahan ia berjalan
keluar dari ruang tengah kuil itu.
Tindakan itu kontan membuat Lan Eng dan Mao Bong jadi
geregetan, mereka tetapi menyangka kalau secara tiba-tiba Cui Tek Li
bisa mengundurkan diri dari tempat itu.
Keadaan mereka pada saat ini bagaikan menunggang di atas
punggung harimau, mau turun tak bisa mau tetap duduk pun sungkan,
apalagi mereka tahu bahwa musuhnya adalah Jago Pedang Berdarah
Dingin, seketika itu juga membuat ke-dua orang jago lihay dari
kalangan hitam ini jadi serba salah, untuk beberapa saat lamanya
mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan.
1301
Saduran TJAN ID
Baru saja bayangan punggung dari Cui Tek Li lenyap dari
pandangan, terdengarlah suaranya berkumandang datang :
"Jika kalian berdua tidak berhasil memenggal batok kepala dari
Pek In Hoei, sejak hari ini tak usah datang menjumpai diriku lagi..."
Ucapan ini tentu saja berada di luar dugaan ke-dua orang jago
lihay itu sehingga mereka semakin tertegun.
Dengan hati tercekat Mao Bong berpikir dalam hatinya :
"Tindakan dari Poocu ini bukankah berarti hendak
mengorbankan jiwa kami berdua? Terang-terangan ia tahu kalau
dengan andalkan kekuatanku serta kekuatan Lan Eng tak mampu
menandingi Pek In Hoei, tapi sengaja ia berbuat begitu..."
Ia melirik sekejap ke arah Lan Eng, kemudian katanya :
"Lan-heng, terpaksa kita harus mengeluarkan segenap tenaga
untuk membereskan bajingan ini."
"Benar, kalau kita berdua tak mampu untuk menaklukkan keparat
cilik ini, maka mulai hari ini kita pun tak usah bertemu dengan orang
lagi..."
Ia tarik napas panjang-panjang lalu angkat pedang dengan penuh
keseriusan, dalam waktu singkat ke-dua orang itu dari arah yang
berlawanan telah menerjang ke arah Pek In Hoei.
"Hmmm...! Rupanya kalian berdua benar-benar sudah bosan
hidup..." seru si anak muda itu sambil mengegos ke samping.
Ia menyadari bahwa ke-dua orang jago lihay itu bukan manusia
sembarangan, untuk melenyapkan mereka berdua dalam waktu
singkat jelas bukan suatu pekerjaan yang gampang, diam-diam hawa
murninya disalurkan ke ujung pedang sehingga timbullah keluar
dengungan nyaring yang memekakkan telinga.
Dalam waktu singkat ke-tiga orang itu sudah saling bergebrak
sebanyak dua tiga puluh jurus banyaknya..."
Perlahan-lahan Cui Tek Li berjalan keluar dari kuil Toa-ong-bio
meninggalkan ke-tiga orang jago yang sedang bertempur sengit,
sekilas rasa bangga tersungging di ujung bibirnya...
1302
IMAM TANPA BAYANGAN II
Belum habis ia melamun, tiba-tiba air mukanya berubah hebat...
karena secara mendadak ia temukan seorang gadis berdiri di bawah
sebuah pohon sambil memandang ke arahnya dengan pandangan
penuh kegusaran.
Cui Tek Li tertegun, lalu katanya :
"It-boen lengcu, kenapa engkau pun datang kemari?"
"Hmmm...! Aku sedang menyaksikan permainan setan apakah
yang sedang dilakukan oleh manusia yang paling licik di kolong langit
pada malam ini..."
"Kau maksudkan diriku?"
It-boen Pit Giok mendengus dingin.
"Hmmm! Siapa yang licik dialah yang kumaksudkan, apakah toa
poocu adalah seorang manusia licik?" katanya.
Cui Tek Li jadi naik pitam, dengan gusar serunya :
"Apa yang telah kau lihat? Berani benar mengucapkan kata-kata
yang tidak senonoh..."
It-boen Pit Giok tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku saksikan kematian dari Thian
Goan, menyaksikan pula Mao Bong sera Lan Eng akan mati. Toa
Poocu! Bukankah beberapa orang itu adalah anak buahmu? Kenapa
engkau tidak membantu orang sendiri malahan lari keluar seorang
diri..."
"Hmmm! Itu urusan pribadiku..."
"Tentu saja urusan pribadi Komplotan Tangan Hitam kalian, dan
dengan diriku sama sekali tak ada hubungannya," jengek gadis itu
sinis, "cuma ditinjau dari urusan sekecil ini bisa terlihat betapa bahaya
dan liciknya engkau jadi manusia, orang seperti engkau mana mampu
untuk merajai kolong langit? Kau cuma pandai melampiaskan rasa
dendam pribadi, kau tak pernah menilai sampai di manakah kesetiaan
dari anak buahmu, asal seseorang berani membangkang perintahmu
maka engkau segera berusaha keras untuk melenyapkan dirinya..."
"Apa maksudmu?" Cui Tek Li semakin gusar.
1303
Saduran TJAN ID
"Hmmm! Gampang sekali, aku lihat engkau menginginkan Mao
Bong serta Lan Eng sama-sama menemui ajalnya di tangan Jago
Pedang Berdarah Dingin, perbuatanmu ini benar-benar
mengagumkan sekali..."
"Setelah engkau tahu mau apa..." jengek Cui Tek Li sambil
tertawa dingin.
Tiba-tiba It-boen Pit Giok menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja tak bisa apa-apa, Mao
Bong serta Lan Eng suka mati dengan cara bagaimana mereka boleh
mati dengan cara disukainya, apa sangkut pautnya dengan diriku?
Cuma, caramu membunuh orang ini dengan cepatnya akan tersiar di
kolong langit..."
"Tidak salah cara pembunuhanku ini akan segera tersiar di kolong
langit," kata Cui Tek Li setelah berpikir sebentar, "It-boen lengcu, aku
hendak membubarkan Komplotan Tangan Hitam, selamanya
organisasi itu tak akan muncul kembali dalam dunia persilatan..."
"Bukankah hal itu dikarenakan putra dan putrimu..."
"Dari mana engkau bisa tahu akan rahasia ini?" teriak Cui Tek Li
dengan hati terperanjat setelah mendengar perkataan itu.
Senyuman dingin tersungging di ujung bibir It-boen Pit Giok.
"Jangan lupa bahwa anggota Perkumpulan Bunga Merah tersebar
di seluruh kolong langit, semua tindak tandukmu ada orang yang telah
melaporkan kepadaku, aku pun tahu apa sebabnya engkau tak berani
menjumpai orang dengan raut wajah aslimu, hal ini disebabkan karena
engkau tak mau kalau sampai putrimu mengetahui bahwa mereka
punya seorang bapak yang suka melakukan kejahatan..."
"Hmmm...! Tebakanmu cuma benar separuh..."
"Kalau begitu biarlah kutebak pula separuh bagian yang lain..."
kata It-boen Pit Giok, setelah berpikir sebentar lanjutnya, "bukankah
disebabkan karena binimu?"
Sekujur badan Cui Tek Li gemetar keras saking kagetnya.
1304
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aaaah...! Semua rahasiaku telah engkau ketahui..." teriaknya.
It-boen Pit Giok tertawa dingin.
"Meskipun engkau sangat mencintai binimu, tetapi ia selalu tidak
puas dengan tingkah lakumu, karena ia telah dirampas dari tangan
suaminya dan karena engkau pernah membinasakan suaminya, di
hadapanmu ia memang menghormati dan menuruti dirimu tetapi di
dalam hati ia sangat membenci dirimu, apalagi sekarang putranya
yang berkelana dalam dunia persilatan telah mendatangkan ancaman
besar bagimu..."
"Ehmmm... aku pun tahu bahwa dia tidak cinta kepadaku, dan
tahu pula kalau ia sangat membenci diriku, peduli bagaimana pun
pandangannya terhadap aku, selama hidup aku tak akan menyusahkan
dirinya lagi, ketika berada di Benteng Kiam-poo ia mohon kepadaku
agar jangan membunuh Pek In Hoei."
"dia tidak tahu kalau engkau mengorganisasikan Komplotan
Tangan Hitam untuk menguasai kolong langit..?" sela It-boen Pit
Giok.
Cui Tek Li menggeleng.
"Tidak tahu, aku tak ingin dia mengetahui akan persoalan ini, aku
tak rela kehilangan segala-galanya dan tak rela melepaskan mereka...
hal ini aku berani membuktikannya di hadapanmu..."
"Hmmm! Tapi Pek In Hoei sudahtahu kala engkau adalah musuh
besar pembunuh ayahnya, meskipun engkau mencintai ibunya tetapi
setiap saat engkau berusaha untuk mencelakai jiwa pemuda itu, aku
tahu tujuanmu bukan lain adalah untuk mengangkangi ibunya, dan
melenyapkan ancaman yang membahayakan keselamatanmu..."
"Hmmm!" Cui Tek Li mendengus berat, dengan wajah penuh
napsu membunuh katanya :
"Aku tak akan jeri terhadap Pek In Hoei, asal dia punya
kemampuan untuk mencari aku maka pasti aku akan membinasakan
dirinya... Hmmm... bagaimanakah tindakanku? Aku rasa engkau pasti
mengetahui lebih jelas..."
1305
Saduran TJAN ID
Blaaaam....!
Dari tengah ruang kuil yang sedang berlangsung pertarungan
tiba-tiba berkumandang datang suara bentrokan keras, tanpa terasa Itboen
Pit Giok serta Cui Tek Li berpaling ke arah pintu kuil.
Tampaklah Lan Eng dengan badan sempoyongan lari keluar dari
kuil tersebut, tubuhnya basah kuyup bermandikan darah, rambutnya
kusut dan kacau tak karuan, pedang dalam genggamannya tinggal
separuh sementara matanya dengan penuh ketakutan melototo ke
angkasa, suara btuk tiada hentinya berkumandang memecahkan
kesunyian.
Setelah lari maju beberapa langkah lagi ke depan dengan
sempoyongan, tiba-tiba ia terjungkal dari atas undak-undakan dan
menggeletak tak berkutik lagi, rupanya jago lihay itu telah menemui
ajalnya.
"Aaaah...! Lan Eng telah mati..." bisik Cui Tek Li dengan air
muka berubah hebat.
"Kejadian ini bukankah berarti bahwa salah satu harapan hatimu
telah terpenuhi..." sambung It-boen Pit Giok dengan dingin.
Meskipun Cui Tek Li ada maksud membiarkan Lan Eng serta
Mao Bong menemui ajalnya di tangan Jago Pedang Berdarah Dingin,
tetapi bagaimana pun juga dia adalah anak buahnya yang telah banyak
tahun mengikuti dirinya, karena itu menyaksikan kematian dari Lan
Eng, timbullah rasa gusar yang tak tertahan dalam hati kecilnya.
"Siapa yang bilang..." teriaknya.
"Hmmm! Mau apa kau bersikap begitu galak terhadap diriku?"
kata It-boen Pit Giok dengan ketus, "Cui Tek Li ketahulah manusia
yang paling licik di kolong langit adalah engkau, setiap orang yang
tenaganya telah engkau pergunakan tentu kau usahakan pembunuhan
terhadap dirinya dengan meminjam tangan orang lain, dan malam ini
cara lama tersebut kau pergunakan lagi, apakah aku telah salah
bicara..."
1306
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Engkau sama sekali tidak salah, yang salah adalah mengapa
engkau bertemu dengan aku. Hmmm... hmmm... secara beruntun anak
buahku telah beberapa orang menemui ajalnya, bagaimana pun jug
aku harus carikan sedikit pokok untuk membeli peti mati bagi mereka.
Heeeeh... heeeeh... heeeeh... It-boen Pit Giok malam ini adalah
saatnya bagi kita untuk membereskan soal hutang piutang antara
Komplotan Tangan Hitam dengan Perkumpulan Bunga Merah."
"Ooooh! Jadi engkau hendak menantang aku untuk berduel?"
jengek It-boen Pit Giok sambil tertawa dingin.
Cui Tek Li segera ayukan tangannya ke depan, di atas telapak
kanannya tiba-tiba memancar keluar selapis cahaya terang berwarna
hitam, dengan wajah diliputi napsu membunuh ia melotot ke arah Itboen
Pit Giok dengan penuh kegusaran, serunya :
"Kau anggap aku tak berani melayani dirimu? Heeeeh... heeeeh...
heeeeh... It-boen Pit Giok, dahulu aku tak ingin bentrok muka dengan
dirimu, hal tersebut dikarenakan di belakang tubuhmu masih ada tiga
orang yang bertindak sebagai tulang punggungmu, dengan andalkan
kekuatan dari Benteng Kiam-poo kami masih belum mampu untuk
menghadapinya, akan tetapi sekarang... ketiga orang telur busuk tua
di belakangmu itu sudah tak perlu ditakuti lagi, kenapa aku mesti jeri
kepadamu?"
It-boen Pit Giok tertawa dingin.
"Kau anggap mereka benar-benar bersumpah tak akan
munculkan diri lagi di dalam dunia persilatan?"
Perkumpulan Bunga Merah pimpinannya berani menentang
Komplotan Tangan Hitam sebagian besar bukanlah dikarenakan
jumlah anggota Perkumpulan Bunga Merah jauh lebih kuat dari
orang-orang Komplotan Tangan Hitam, yang paling utama adalah
takutnya Cui Tek Li terhadap orang dari luar lautan, oleh sebab itu
Cui Tek Li selalu berusaha untuk menghindari gadis itu dan tak berani
bentrok langsung dengan dirinya, ia takut karena kejadian itu maka
akibatnya akan memancing kehadiran dari Hay gwa Sam-sian...
1307
Saduran TJAN ID
Tetapi bulan berselang secara tiba-tiba Tiga Dewa dari Luar
Lautan telah menyatakan bahwa selama hidup mereka akan
mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tak akan mencampuri
urusan dunia persilatan lagi, bahkan segera pulang ke luar lautan dan
bersumpah tak akan menginjakkan kakinya di daratan Tionggoan lagi,
hal inilah yang membuat rasa takut Cui Tek Li seketika lenyap tak
berbekas.
Setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya pemilik dari
Benteng Kiam-poo ini segera menukas :
"Apakah perkataan mereka ibaratnya kentut busuk..."
"Hmmm! Suhu dan supekku bukan manusia semacam itu,
meskipun mereka telah bersumpah tak akan menginjakkan kakinya di
daratan Tionggoan lagi, tetapi mereka tidak mengatakan bahwa anak
muridnya tak boleh munculkan diri dalam dunia persilatan. Selama
aku It-boen Pit Giok masih berada di sini, aku sama saja masih mampu
untuk menaklukkan dirimu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah..." Cui Tek Li tertawa seram, "dengan
andalkan kemampuan yang kumiliki, kenapa aku jeri terhadap budak
ingusan macam engkau? Hehhmm... Heehhmmm... kau jangan terlalu
pandang rendah diriku, dayang ingusan, perhitungan sie-poa mu kali
ini keliru besar... di kolong langit langit kecuali tiga orang tua bangka
yang tidak mati-mati dari luar lautan, tak ada orang yang kutakuti
lagi..."
Telapak kanannya berputar di udara dan segera muncullah
segulung angin pukulan yang santer dengan dahsyat angin serangan
tadi menerjang ke tubuh gadis tersebut.
"Rasakanlah pukulan Tui-hiat-ciang ku..." teriaknya.
Meskipun angin pukulannya yang dipancarkan amat dahsyat,
tetapi bila mengenai di tubuh orang sama sekali tidak menimbulkan
rasa sakit barang sedikit pun juga, akan tetapi hawa pukulan itu akan
memaksa bergolaknya darah dalam tubuh manusia hingga
menyebabkan pembekuan dan menggumpal jadi satu.
1308
IMAM TANPA BAYANGAN II
Namun kelihayannya bukan terletak pada hal itu saja, aliran darah
manusia dalam tubuhnya akan mengalir secara terbalik dan tidak
sampai setengah jam kemudian dari tujuh lubang inderanya akan
mengucur darah hingga akhirnya mati.
Kepandaian tersebut-lah merupakan ilmu telapak andalannya,
cuma saja tak pernah dipergunakannya secara sembarangan kecuali
telah bertemu dengan musuh tangguh.
Bagaikan selembar daun kering yang melayang di udara, dengan
lincah It-boen Pit Giok melayang di udara lalu berkata sambil tertawa
:
"Ilmu telapak semacam ini belum tentu lihay dan luar biasa..."
Di luar saja gadis itu bicara enteng, padahal dalam kenyataan
telapak lawan laksana sambaran kilat telah membabat keluar, tubuh
Cui Tek Li bagaikan sesosok sukma gentayangan menyusul ke depan,
dari telapak ia rubah jadi cengkeraman dan mencakar tubuh gadis itu.
Bagaikan seekor ular lincah It-boen Pit Giok berkelejit dan
menghindar ke samping.
"Poocu...!"
Tiba-tiba dari balik ruang kuil berkumandang keluar jeritan keras
yang mengandung rasa gelisah dan ngeri, Mao Bong dengan sepasang
mata memancarkan sinar merah serta wajah memancarkan rasa
ketakutan lari keluar dengan sempoyongan, darah segar mengucur
keluar dari atas dadanya.
"Hey, jangan lari!" teriak Jago Pedang Berdarah Dingin sambil
menyusul dari belakang.
"Mao Bong... Mao Bong..." teriak Cui Tek Li tertegun, dengan
cepat ia melayang turun ke atas tanah.
Sekujur badan Mao Bong gemetar keras, teriaknya :
"Poocu..."
Cepat Cui Tek Li maju menyongsong ke depan, tetapi baru saja
tubuhnya bergerak tiba-tiba Jago Pedang Berdarah Dingin sambil
1309
Saduran TJAN ID
ayun pedangnya telah menyerah ke arahnya, hal ini membuat jago
lihay dari Benteng Kiam-poo mundur ke belakang dengan ketakutan.
"Apa maksudmu?" bentaknya dengan gusar.
Napsu membunuh terlintas di atas wajah Pek In Hoei, bentaknya
:
"Mao Bong, apa yang kau katakan tadi apakah sungguh-sungguh
terjadi..."
"Mao Bong apa yang telah kau katakan kepadanya?" tegur Cui
Tek Li dengan wajah tertegun.
Dengan penuh penderitaan Mao Bong mengerang kesakitan,
sekujur badannya gemetar keras... tiba-tiba ia menubruk ke depan
sehingga pedang menembusi lambungnya hingga tembus ke
belakang, jawabnya dengan suara terpatah-patah :
"Poocu, aku... aku dippaa... dipaksa untuk mengatakan
bagaimana ayahnya mati..."
Weess...! Cui Tek Li ayun telapaknya menggaplok, Mao Bong
jatuh terjengkang ke atas tanah, makinya :
"Kau bajingan telur busuk..."
Sekujur badan Mao Bong gemetar keras, serunya dengan sedih :
"Poocu... poocu... kau..."
Belum habis dia berkata tiba-tiba jago lihay she-Mao itu muntah
darah segar, setelah melotot sekejap ke arah Cui Tek Li dengan
pandangan dendam, ia hembuskan napasnya yang terakhir dan
menyelesaikan perjalanannya yang singkat di alam dunia.
"Cui Tek Li," bentak Pek In Hoei dengan gusar, "sebenarnya
bagaimanakah ayahku bisa mati? Ayoh jawab..."
"Engkau toh sudah mengetahui kesemuanya, apa yang mesti
ditanyakan lagi..." sahut Cui Tek Li dengan hati bergidik.
"Serahkan nyawamu...! Aku tidak akan melepaskan dirimu
lagi..."
"Hmmm! Aku tidak percaya kalau engkau bisa membunuh
aku..."
1310
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pada saat ini seluruh benak Jago Pedang Berdarah Dingin telah
dibakar oleh hawa amarah yang sukar dikendalikan lagi, dengan
penuh kemarahan ia berteriak keras :
"Kentut busuk, aku bersumpah akan membinasakan dirimu..."
Pedang mestika penghancur sang surya bergeletar di tengah udara
menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang, lalu dibacoknya ke
atas tubuh Cui Tek Li, saat ini rasa bencinya terhadap pemilik dari
Benteng Kiam-poo ini sudah tidak terbendung lagi, serangannya sama
sekali tak kenal belas kasihan, jurus-jurus serangan yang ampuh dan
ganas dilancarkan berulang kali.
"Pek In Hoei, maaf, aku tak bisa menemani dirimu lagi..." seru
Cui Tek Li tiba-tiba sambil berpaling.
Tangannya diayun ke belakang, dan... Blaaam! Kabut tebal yang
menutupi seluruh jagad seketika menyelimuti sekeliling tempat itu
membuat bayangan tubuh mereka bertiga tertutup rapat di balik kabut
tersebut.
Suasana jadi gelap gulita dan apa pun tidak nampak termasuk
pula bintang yang bertaburan di langit, di tengah tebalnya asap ketiga
orang itu sama-sama menutup pernapasan dan sedikit suara pun tak
berani dikeluarkan...
Jago Pedang Berdarah Dingin merasa di balik asap hitam itu
tersiar bau harum yang sangat eneg, ketika dicium lebih keras
kepalanya seketika terasa jadi pening, sepasang matanya kontan
berubah jadi merah berapi, dengan penuh bernapsu ia mencari
bayangan dari musuhnya di balik tebalnya asap...
Tiba-tiba dari samping kiri terdengar suara dengusan napas yang
lirih. Pek In Hoei segera loncat ke depan sambil ayun pedangnya, ia
membentak keras :
"Cui Tek Li, engkau hendak lari ke mana..."
"Aaaaah!...."
Dari balik asap yang tebal berkumandang jeritan kaget dari Itboen
Pit Giok seolah-olah gadis itu telah berjumpa dengan setan,
1311
Saduran TJAN ID
jeritan itu membuat Pek In Hoei tersentak kaget dan segera tarik
kembali pedangnya.
"Nona It-boen, nona It-boen..." serunya.
"Oooh! Engkau telah mengejutkan diriku..." seru It-boen Pit Giok
sambil tarik napas panjang.
Perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya, Pek In Hoei yang
berada di balik asap tebal secara lapat-lapat mulai bisa melihat jelas
bayangan tubuhnya, ia segea loncat ke depan sambil bertanya :
"Ke mana larinya rase tua itu?"
It-boen Pit Giok tidak menjawab, tiba-tiba ia menjerit kaget
sambil serunya :
"Aduh celaka, ia melepaskan kabut pemabok cinta..."
Dari balik kabut yang tebal terdengarlah Cui Tek Li tertawa
terbahak-bahak, suara tertawanya begitu dingin dan mengerikan
bagaikan jeritan setan atau sukma gentayangan, ketika terdengar
dalam pendengaran terasa nyeri dan mengakibatkan bulu kuduk pada
bangun berdiri.
"Apakah yang engkau tertawakan?" teriak Pek In Hoei.
"Hmmm! Selamanya engkau tak akan berhasil mengejar diriku,
Pek In Hoei... Kabut pemabok cinta yang kubuat sendiri ini tak ada
yang bisa mempertahankan diri, baik-baiklah lewatkan malam yang
indah ini di sini serta nikmatilah sorga dunia yang belum pernah kau
cicipi..."
Perkataan itu makin lama semakin lirih dan akhirnya hilang dari
pendengaran, beberapa kali Jago Pedang Berdarah Dingin akan
melakukan pencarian atas tempat persembunyian dari Cui Tek Li,
akan tetapi setiap kali pula dia temu kegagalan, namun pemuda itu
tidak putus asa dicarinya sekeliling tempat itu dengan seksama."
"Aaaai..!" akhirnya terdengarlah It-boen Pit Giok menghela
napas panjang, "engkau tak usah membuang pikiran dan tenaga
dengan percuma, setelah kabut pemabok cinta dilepaskan maka
gampang sekali membuat perasaan orang jadi keliru, ia bersembunyi
1312
IMAM TANPA BAYANGAN II
di sebelah kiri maka engkau akan mengira di kanan, nasib kita berdua
telah ditentukan pada malam ini!"
"Apa maksudmu!" tanya Pek In Hoei tertegun.
"Maukah engkau mengawini diriku sebagai istrimu?" tanya Itboen
Pit Giok dengan suara sedih.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan?" seru Pek In
Hoei tertegun, "nona It-boen, mengapa secara tiba-tiba kau ajukan
pertanyaan seaneh itu? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang
hendak kau lakukan..."
"Aaaaaai...." kembali It-boen Pit Giok menghela napas sedih,
"sekali pun engkau tak mau juga tak bisa, kesemuanya ini Cui Tek Lilah
yang memberikannya kepada kita, kau mau pun aku tak dapat
menghindarkan diri lagi, sekali pun kita ada maksud untuk berbuat
begitu..."
Dari kabut hitam yang menyelimuti tempat itu, secara lapat-lapat
Jago Pedang Berdarah Dingin dapat menangkap rambut It-boen Pit
Giok yang hitam mulus, pakaiannya yang berwarna hijau serta biji
matanya yang bening serta memancarkan rasa cinta yang lembut itu.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya
berdebar keras, ia merasa segumpal hawa panas yang aneh muncul
dari pusarnya dan merambat naik ke atas.
Gejala yang sangat aneh ini membuat hatinya terperanjat, buruburu
ia mundur dua langkah ke belakang, pandangannya jadi gelap
akan tetapi raut wajah It-boen Pit Giok yang cantik tak dapat terhapus
dari benaknya.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya pada malam ini ada gejala
aneh yang melekat di benaknya, ia merasa golakan hawa panas dalam
tubuhnya berubah jadi suatu tenaga baru dan ia merasa dalam waktu
singkat membutuhkan sekali sesuatu untuk melampiaskan tenaganya
tadi.
Ia tertegun dan pikirnya di dalam hati :
1313
Saduran TJAN ID
"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Apa yang sebenarnya telah
terjadi?"
Pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa sadar
keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya, penderitaan yang
dialaminya pada saat ini sukar dilukiskan dengan kata-kata, dan
merupakan satu pengalaman aneh yang belum pernah dialami
sebelumnya, ia merasa dalam hatinya timbul suatu kebutuhan...
semacam gaya tarik menarik antara lawan jenis yang berbeda...
"Aaaai...! In Hoei kemarilah," It-boen Pit Giok berbisik sambil
menghela napas sedih.
Pada saat ini benak Pek In Hoei kosong melompong, ia merasa
sepatah kata yang diucapkan It-boen Pit Giok mendatangkan daya
tarik yang amat besar sehingga membuat pemuda itu tanpa sadar maju
ke depan.
Air muka It-boen Pit Giok berubah jadi bersemu merah, rasa cinta
dan birahi terpancar keluar dari balik matanya... begitu cantik dan ayu
mempesonakan hati membuat Pek In Hoei hampir saja tak mampu
menguasai diri...
"In Hoei, cintakah engkau kepadaku?" bisik gadis itu dengan
suara lembut.
"Aku..." Pek In Hoei termangu-mangu.
Pada saat ini benaknya sudah terpengaruh oleh kebutuhan aneh
yang mengganggu jalan pikirannya, ia tak tahu apa yang mesti
dijawab, ia memandang ke arah gadis itu dengan sinar mata penuh
birahi, ia berharap bisa temukan perbedaan yang menyolok antara pria
dan wanita... ia mengincar bagian terrahasia dari gadis itu.
Empat mata saling bertemu satu sama lainnya, ke-dua belah pihak
sama-sama membungkam dalam seribu bahasa...
Tetapi dari balik sorot mata itulah mereka temukan saling
pengertian, rasa cinta, saling membutuhkan serta birahi... ke-dua
belah pihak mulai menggeserkan tubuhnya serta berusaha
1314
IMAM TANPA BAYANGAN II
membongkar rahasia yang menyelimuti perasaan aneh dalam tubuh
mereka.
Dalam waktu singkat suasana yang diliputi cinta dan birahi
menyelimuti ke-dua orang muda mudi ini, mereka saling menyatakan
kebutuhan lewat pancaran sinar mata yang aneh...
Perlahan-lahan It-boen Pit Giok meletakkan tangannya yang
halus di atas bahu pemuda itu sambil menatap wajahnyaia berbisik :
"In Hoei... kekasihku..."
Bau harum yang semerbak berhembus lewat di atas wajah Pek In
Hoei dan masuk lewat lubang hidungnya, ia tarik napas panjangpanjang...
bau harum yang aneh dari dari gadis itu memberikan
dorongan yang lebih kuat pada tenaga panas dalam tubuhnya, ia
gelengkan kepala dan berseru :
"Ooooh! Harum sekali..."
Ketika rambut yang hitam menyampok wajahnya karena terbawa
angin malam, Pek In Hoei merasakan jantungnya berdebar keras, ia
jadi mabok oleh cinta dan tanpa sadar menggenggam tangan putih dan
halus itu... kelembutan dan kehalusan tangan gadis itu hampir saja
membuat Pek In Hoei jadi kalap dan memeluk tubuhnya erat-erat.
"Jangan berbicara," bisik It-boen Pit Giok dengan lirih, "marilah
kita nikmati kehangatan yang sedang kita rasakan sekarang..."
"Engkau mabok..." ujar pemuda itu.
It-boen Pit Giok membuka matanya dan tertawa ringan.
"Apakah engkau mendusin..." jawabnya.
Di tengah keheningan, ke-dua orang itu terbawa oleh arus cinta
serta birahi yang kian lama kian menebal... dengan cepatnya mereka
terseret ke alam yang lain, saat ini mereka saling membutuhkan,
saling memadu cinta...
Perlahan-lahan Pek In Hoei memeluk pinggangnya, It-boen Pit
Giok sambil memejamkan mata jatuhkan diri ke dalam pelukannya,
sepasang bibir yang merah dan mungil perlahan-lahan diangkat ke
atas menyongsong datangnya bibir dari pemuda itu...
1315
Saduran TJAN ID
Bibir bertemu bibir... hati bertemu hati... sepasang muda mudi itu
saling berpelukan dan saling berciuman melepaskan rasa cinta yang
tengah bergelora dalam dada mereka...
Pek In Hoei mendekap tubuh gadis itu makin kencang, bisiknya :
"Pit-Giok ku sayang.. aku butuh..."
"Kau butuh apa?"
"Aku butuh itu..." jawab Pek In Hoei tertegun.
"Itu... itu apa?" tanya It-boen Pit Giok sambil membuka matanya
dan pipi bersemu merah karena jengah.
"Kau..."
Tiba-tiba It-boen Pit Giok teringat sesuatu, ia merasa birahi yang
berkobar dalam dadanya tak dapat dikendalikanlagi, ia menjatuhkan
diri ke dalam pelukan Pek In Hoei serta ingin sekali cepat-cepat
melebur jadi satu dengan pemuda itu.
Pada saat ini dara ayu tersebut telah lupa segala-galanya,lupa
kalau dia adalah gadis... lupa kalau ia masih gadis perawan yang
belum pernah dijamah orang... saat ini kesombongan dan
keangkuhannya telah lenyap, pikirannya kosong melompong... yang
ada hanya napsu birahi serta keinginannya untuk sesuatu...
Pakaian satu demi satu ditanggalkan mulai dari pakaian luar...
gaun... penutup dada... celana dan akhirnya gadis itu berada dalam
keadaan telanjang bulat...
Pek In Hoei yang di hari-hari biasa selalu berwajah dingin, sinis
terhadap gadis, kini telah berubah sama sekali... bagaikan harimau
kelaparan diterkamnya gadis itu... dijamahnya sekujur badan dara
itu... mulai dari atas kepala... payudara, perut, lekukan antara paha
daam...daam.
Tidak berselang berapa saat, mereka berdua telah berada dalam
keadaan bugil... mereka saling tindih menindih... saling bergumul
dan.. saling bergoyang pinggul...
Gerakan tubuh mereka mula-mula perlahan-lahan lalu bertambah
kencang dan akhirnya memburu bagaikan larinya kuda...
1316
IMAM TANPA BAYANGAN II
Asap hitam yang tebal menutupi seluruh jagad... tubuh mereka
yang saling bergumul mulai lenyap ditelan kegelapan... yang
terdengar tinggal dengusan napas yang memburu...
Keluhan kesakitan... percikan darah membasahi lantai... rintihan
kenikmatan.. serta dengusan napas memburu bercampur aduk
menjadi suatu rangkaian peristiwa yang menghangatkan badan...
Kesemuanya tak bisa dicegah lagi, semuanya telah berlangsung
dengan cepat. Mabok... keletihan... kepuasan serta beberapa macam
perasaan bercampur baur di atas wajah ke-dua orang muda mudi itu.
Rambut It-boen Pit Giok jadi kusut, pakaiannya sudah tercecer di
atas tanah... ia tertidur dalam pelukan Pek In Hoei dengan penuh
kenikmatan serta kepuasan...
Jago Pedang Berdarah Dingin yang angkuh dan tinggi hati tak
dapat tertidur nyenyak... ia merasa seakan-akan baru saja mengalami
satu impian buruk dan sekarang baru saja mendusin dari impian
tersebut.
"Aku... mengapa aku begitu tolol? Mengapa kulakukan
kesemuanya ini?"
Siapa yang salah? Pertanyaan ini sulit untuk dijawab baik oleh
Pek In Hoei maupun gadis itu.
It-boen Pit Giok tersadar kembali dari tidurnya ketika mendengar
jeritan yang amat keras itu, tatkala ia menyaksikan segala sesuatu
yang terbentang di depan mata, sadarlah ia bahwa apa yang telah
terjadi... ia tahu bahwa kemarin malam kesucian dan seluruh tubuhnya
telah dipersembahkan untuk pemuda itu.
Dia... adalah kekasih yang dicintainya.
Gadis itu sama sekali tidak merasa menyesal, dia merasa bahwa
seorang gadis bilamana dapat memberikan kesucian dan tubuhnya
kepada orang yang dicintainya, hal ini merupakan sesuatu yang suci
dan murni...
"Kenapa engkau?" bisiknya lirih.
1317
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tak berani memandang ke arah gadis itu, sambil
tundukkan kepala ia menghela napas panjang.
"Kita semua telah bersalah..." katanya.
Air mata mengembang dalam kelopak mata It-boen Pit Giok,
katanya dengan sedih :
"Kejadian ini tak dapat salahkan dirimu, atau pun salahkan diriku.
In Hoei...! Tahukah engkau apa yang telah dilakukan Cui Tek Li
sebelum meninggalkan tempat ini? Kabut tebal yang menyelimuti
tempat ini bukan lain adalah bubuk obat pemabok cinta yang
mendatangkan birahi bagi siapa pun yang menciumnya, semua orang
tak dapat menghindarkan diri dan siapa pun tak akan kuat
mempertahankan diri. Ketika ketemu gejala tersebut, keadaan telah
terlambat... In Hoei, bila engkau benci kepadaku, aku tak akan
membuat dirimu malu jadi orang... aku bisa tinggalkan dirimu dan
pergi seorang diri."
"Tidak!" seru Pek In Hoei sambil menggeleng, "aku sama sekali
tidak membenci dirimu, aku sedang membenci pada diriku sendiri.
Pit-Giok! Peristiwa ini telah terjadi, menyesal pun tak ada gunanya...
aku adalah seorang yang berwatak terbuka, setelah berbuat salah
harus dirubah, aku tetap akan bertanggung jawab atas perbuatan ini,
aku tak akan membiarkan engkau malu hidup sebagai manusia."
"In Hoei!" karena terharunya It-boen Pit Giok melelehkan air
mata, "engkau agung... dan maha besar... selama hidup aku akan
selalu mencintai dirimu..."
"Criiing...!" tiba-tiba terdengar suara pekikan naga, diikuti
cahaya pedang memancar keluar dari pergelangan tangan Pek In Hoei,
dengan keren ia pegang pedang mestikanya dan memandang ke
angkasa.
"In Hoei, kau..." teriak gadis itu dengan terkejut.
Pek In Hoei menghela napas panjang.
"Aku hendak angkat sumpah di hadapan langit dan bumi, bila
tidak kubunuh Cui Tek Li dengan tangan sendiri aku bersumpah tak
1318
IMAM TANPA BAYANGAN II
akan berhenti berusaha. Pit-Giok, aku hendak menyusul ke Benteng
Kiam-poo dan menarik keluar ekor dari si rase tua itu..."
"Pergi ke Benteng Kiam-poo? Kau hendak mencari kematian
buat dirimu sendiri?" teriak It-boen Pit Giok dengan amat terkejut.
Pek In Hoei menggeleng.
"Tidak! Aku hendak mencabut nyawa rase tua itu, aku pergi ke
Benteng Kiam-poo untuk membalas dendam, sudah terlalu banyak
hutang Cui Tek Li terhadap keluarga Pek kami, ia telah
membinasakan ayahku, memperkosa ibuku dan sekarang mencelakai
pula dirimu."
Dengan sedih ia melanjutkan :
"Manusia semacam ini tak boleh dibiarkan tetap hidup di kolong
langit, sebab kalau tidak entah berapa banyak orang yang bakal celaka
di tangannya lagi?"
"Baiklah, mari kita berangkat bersama-sama..." ujar It-boen Pit
Giok dengan wajah serius, "tetapi engkau harus mendengarkan
perkataan, kalau tidak kita semua bakal jatuh kecundang di dalam
Benteng Kiam-poo... In Hoei aku minta engkau suka mendengarkan
perkataan, sekali ini saja..."
Sambil tertawa getir Pek In Hoei mengangguk.
"Engkau adalah istriku, tentu saja aku harus mendengarkan
perkataanmu," katanya.
Fajar telah menyingsing, ke-dua orang muda mudi itu berjalan di
jalanan yang sunyi... tinggalkan kabut yang tebal dan menuju ke
Benteng Kiam-poo... bayangan tubuhnya kian mengecil hingga
akhirnya lenyap di kejauhan...
******
Benteng Kiam-poo
Bangunan tersebut masih tetap berada di tempat semula, sungai
pelindung benteng, loteng pengamat serta jembatan penyeberang
masih tetap seperti sedia kala, sedikit pun tidak berubah.
1319
Saduran TJAN ID
Dipandang dari luar, bangunan benteng itu memang seperti sedia
kala dan sama sekali tak berubah, tetapi sejak Cui Tek Li kembali ke
dalam benteng dalam kenyataan Benteng Kiam-poo telah mengalami
perubahan yang amat besar, perubahan tersebut mempengaruhi
kehidupan dari seluruh anggota benteng tersebut.
Lima hari setelah Cui Tek Li kembali ke bentengnya, ia
melakukan persiapan dengan seksama kemudian seorang diri berdiam
dalam ruang tengah sambil berjalan mondar mandir seperti sedang
memutuskan suatu masalah yang amat besar.
Lama sekali... tiba-tiba dari balik biji matanya yang sadis terlintas
hawa napsu membunuh yang tebal, dia menengadah memandang
bunga di atas pot lalu berpikir :
"Bila seseorang selalu ragu-ragu untuk bertindak atau tidak tega
turun tangan secara kejam, maka sepanjang masa dia akan hidup
dalam kebimbangan, untuk segala sesuatunya terpaksa aku tak boleh
sangsi atau ragu-ragu lagi..."
"Pengawal..." akhirnya ia bertepuk tangan dan berteriak.
Kongsun Kie perlahan-lahan tampil ke depan, setelah memberi
hormat tanyanya :
"Poocu, ada urusan apa?"
"Undang Hoa Pek Tuo datang menemui diriku..."
"Baik!"
Tidak selang beberapa saat kemudian Kongsun Kie mengiringi
Hoa Pek Tuo yang licik munculkan diri dalam ruangan itu, Cui Tek
Li segera ulapkan tangannya mengundurkan Kongsun Kie.
Setelah dalam ruangan itu tinggal dua orang, Hoa Pek Tuo
tertawa mengakak dan berkata :
1320
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 51
"POOCU, ENGKAU SUDAH PULANG sebelum saatnya, mengapa
tidak beri kabar kepadaku? Aku sudah hampir setengah bulan
lamanya menanti di sini... Hmm... poocu, hasil yang dicapai
Komplotan Tangan Hitam dalam dunia persilatan mengagumkan
sekali bukan? Bagaimana akhirnya persoalan dengan pihak
Perkumpulan Bunga Merah..."
"Persoalan antara Komplotan Tangan Hitam dengan
Perkumpulan Bunga Merah telah beres..." jawab Cui Tek Li sedikit
pun tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Sudah beres?" seru Hoa Pek Tuo tertegun, "apa yang telah
terjadi? Dengan kemampuan poocu untuk memimpin jago, masa
urusannya dengan pihak Perkumpulan Bunga Merah bisa... Heeeeh...
heeeeh... heeeeh... Poocu, atau jangan-jangan nasib Komplotan
Tangan Hitam untuk kali agak jelek sehingga jatuh kecundang di
tangan pihak Perkumpulan Bunga Merah..."
"Bukan begitu," Cui Tek Li menggeleng, "dalam suasana yang
ramah tamah dan penuh kedamaian ke-dua belah pihak telah setuju
untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Heeeeh...
heeeeh... heeeeh... hasil dari perundingan itu memutuskan bahwa kedua
belah pihak tak akan munculkan diri kembali dalam dunia
persilatan..."
"Oooh...! Masa begitu..."
Jelas Hoa Pek Tuo merasa bahwa kejadian ini sedikit ada di luar
dugaan, ia merasa hatinya agak gemetar sebab tujuan kedatangannya
1321
Saduran TJAN ID
ke Benteng Kiam-poo kali ini adalah untuk menyelidiki secara diam
kekuatan dari Benteng Kiam-poo, terjadinya bentrokan antara pihak
Komplotan Tangan Hitam serta Perkumpulan Bunga Merah membuat
ia merasa bahwa rencana besarnya sudah hampir mencapai pada taraf
seperti yang diinginkan, maka ia pun bergirang hati karenanya...
"Poocu!" serunya kemudian sambil tertawa seram, "apakah
engkau telah mengesampingkan rencana besarmu untuk menguasai
seluruh dunia persilatan..."
"Aaaai...!" tiba-tiba Cui Tek Li menghela napas panjang, "aku
sudah tidak berani memimpikan cita-cita itu lagi..."
"Kenapa?"
Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Cui Tek Li,
jawabnya :
"Karena ada seseorang yang memiliki ambisi jauh lebih besar
daripada diriku, orang itu sudah lama sekali mengincar kedudukan
sebagai Bengcu yang menguasai seluruh dunia persilatan, sekali pun
aku berhasil mendapatkan kedudukan itu toh akhirnya harus
bertengkar dan adu kekuatan sendiri dengan dirinya, oleh sebab itu
daripada bermusuhan dengan orang itu terpaksa aku harus
melepaskan cita-cita tersebut.
Sambil tertawa getir ia gelengkan kepalanya, lalu menambahkan
:
"Apalagi di tempat ini masih terdapat banyak orang yang
mengkhianati diriku. Aaaai...! Sungguh tak nyana dengan andalkan
kekuatan yang kumiliki dalam dunia persilatan, masih ada juga orang
yang berani mengkhianati diriku, Aaaai...! Tahun ke belakang ini
memang kurang beruntung begitu, siapa suruh aku terlalu percaya
dengan perkataan teman..."
"Siapakah orang itu?" seru Hoa Pek Tuo dengan jantung berdebar
amat keras, "Siapakah orang yang mempunyai ambisi besar itu?
Berani benar ia adu kekuatan dengan poocu."
1322
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmm! Dengan ketajaman telinga dari engkau Hoa Pek Tuo,
masa tidak tahu siapkah orang itu?"
Hoa Pek Tuo benar-benar tidak tahu siapakah orang yang
mempunyai ambisi besar untuk menguasai seluruh dunia persilatan
kecuali poocu dari Benteng Kiam-poo ini, sebab dalam bayangan
kecuali Cui Tek Li boleh dibilang tiada orang lain yang memiliki
kekuatan sebesar itu.
Seketika itu juga rase tua yang lihay dan cerdik ini jadi
kebingungan setengah mati, lama sekali ia baru berseru :
"Poocu, aku benar-benar tak bisa menebak."
"Hmmm! Hoa heng, seandainya engkau yang menjumpai lawan
tangguh seperti ini, bagaimana kamu akan mengatasi masalah ini?"
tanya Cui Tek Li sambil tertawa seram, "aku sekali ini memohon
petunjuk dari Hoa heng."
"Tentang soal ini... tentang soal ini..." seru Hoa Pek Tuo dengan
alis berkerut, setelah mempertimbangkan sebentar ia meneruskan :
"Tiada jalan lain, kecuali melenyapkannya dari muka bumi..."
"Tepat sekali! Pendapatmu itu bagus sekali dan aku rasa memang
hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa dilaksanakan..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." Hoa Pek Tuo tertawa seram, "bila
musuh tidak dibunuh maka diri sendirilah yang akan rugi, Poocu!
Dalam melakukan segala macam pekerjaan kita harus bertindak cepat
sekali, makin cepat makin baik. Jangan lupa, perkampungan Thay Bie
San cung dengan Benteng Kiam-poo adalah satu keluarga..."
Cui Tek Li tertawa dingin tiada hentinya.
"Aku memang membutuhkan sekali bantuan dari Hoa heng untuk
menyelesaikan banyak persoalan!" katanya.
Hoa Pek Tuo mengangguk.
"Seperti ucapanku tadi, serahkan saja semua tugas itu kepada aku
orang she-Hoa..."
"Peduli pekerjaan apa pun apakah Hoa-heng bersedia membantu
diriku?" tanya Cui Tek Li dengan sinar mata berkilat tajam.
1323
Saduran TJAN ID
Hoa Pek Tuo tertegun, lalu jawabnya :
"Tentu saja, asal aku sanggup melakukannya tentu saja tiada
perkataan lain lagi. Hmmm... hmmm... Poocu, asal engkau tidak
menganggap aku sebagai orang luar, silahkan sampaikan perintahmu
itu..."
Cui Tek Li segera menepuk bahu kakek she-Hoa itu, ujarnya :
"Hoa-heng, tiada lain yang kuharapkan bantuan darimu, aku
cuma berharap agar engkau suka membiarkan anak buahku
membelenggu tubuhmu dengan kencang... dan segala sesuatunya aku
telah mengaturnya secara sempurna."
"Aku disuruh apa?" seru Hoa Pek Tuo dengan wajah tertegun.
Cui Tek Li tertawa dingin.
"Siasat menyiksa diri!" jawabnya.
Diam-diam Hoa Pek Tuo merasakan hatinya bergidik, ia merasa
tingkah laku dari Cui Tek Li pada hari ini jauh berbeda dengan
keadaan biasa, dia seorang yang licik pula tentu saja bisa menduga
hal-hal yang kurang beres, cuma ia tak tahu permainan apakah
sesungguhnya yang sedang disiapkan Cui Tek Li untuk beberapa saat
lamanya ia berdiri menjublak.
"Siasat menyiksa diri?" serunya, "poocu gunakan siasat untuk
ditunjukkan kepada siapa? Dan apa gunanya pula mengikat diri
diriku? Poocu, dapatkah engkau terangkan lebih jauh?"
"Untuk menghadapi orang itu terpaksa aku harus menyiksa
sebentar diri Hoa-heng, aku harap Hoa-heng suka melakukan suatu
tugas rahasia di pihak lawan, engkau boleh bilang saja aku telah
menghina dan menyiksa dirimu, maka orang itu pasti akan menerima
engkau sebagai pembantunya...Heeeeh... heeeeh... heeeeh..."
"Orang itu berada di mana?" tanya Hoa Pek Tuo setelah tertegun
sejenak.
"Orang itu berada dalam benteng ini, ilmu silatnya amat lihay dan
ia memaksa diriku untuk berunding secara terbuka, Hoa heng, jika
1324
IMAM TANPA BAYANGAN II
engkau bersedia membantu aku maka laksanakanlah tugas ini sebaikbaiknya...
bersedia bukan?"
"Kurang ajar, jadi ia berani datang ke Benteng Kiam-poo?" teriak
Hoa Pek Tuo dengan sorot mata tajam, "besar amat nyali bangsat itu,
aku orang she Hoa ingin melihat sendiri manusia macam apakah
dia..."
Ia berhenti sebentar dan melanjutkan :
"Poocu, aku bersedia untuk menjumpai orang itu, cuma saja..."
"Tentang persoalan lain yang lebih rumit aku bisa
menjelaskannya kepadamu," kata Cui Tek Li sambil tertawa ringan,
"tapi engkau mesti ingat bahwa orang itu sukar sekali untuk
dihadapinya, engkau harus berpura-pura secara serius hingga orang
itu sama sekali tidak menaruh curiga, Hoa-heng, sekarang aku hendak
menyiksa dirimu sebentar..."
Ia bertepuk tangan, Kongsun Kie sambil membawa seutas tali
masuk ke dalam. Hoa Pek Tuo yang cerdik mimpi pun tak pernah
menyangka kalau pembalasan bakal datang dengan begitu cepatnya,
apalagi kembalinya Cui Tek Li sama sekali tidak menimbulkan suara
apa pun, maka ia sama sekali tidak menaruh curiga ke soal yang lain.
"Hoa lo-sianseng," ujar Kongsun Kie sambil memberi hormat,
"kesemuanya terpaksa harus dibebankan pada kesuksesanmu..."
Hoa Pek Tuo tertawa seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kita latihan dulu, aku tak bisa
bermain sandiwara secara baik..." katanya.
Kongsun Kie sama sekali tidak menggubris perkataannya,dengan
cepat ia mengikat tubuh Hoa Pek Tuo erat-erat, menanti semuanya
telah beres Cui Tek Li ambil keluar seutas tali kulit dan menjeratnya
di atas leher kakek licik itu kemudian ditariknya keras-keras.
"Eeei... eeei... apa yang hendak kau lakukan?" teriak Hoa Pek
Tuo dengan wajah tertegun.
"Hmmm! Setelah bertemu dengan orang itu, katakan saja
kepadanya bahwa aku Cui Tek Li tidak menganggap engkau sebagai
1325
Saduran TJAN ID
manusia, tapi menjiratnya seperti anjing budukan... ia pasti akan
menerima dirimu, dan menyanggupi untuk balaskan dendam
bagimu... Pada saat itulah engkau boleh bumbui ceritamu dengan
pelbagai macam kata sehingga ia benar-benar mempercayai dirimu."
"Plooook...!" Cui Tek Li ayunkan telapaknya dan mengirim
sebuah gaplokan keras ke atas wajah Hoa Pek Tuo, membuat kakek
licik itu merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya
berkunang-kunang, sebuah bekas telapak tangan yang merah
membengkak segera tertera jelas di atas wajahnya.
"Poocu apa yang sedang dilakukan?" bentak Hoa Pek Tuo dengan
penuh kegusaran.
Cui Tek Li tertawa dingin.
"Agar siasat menyiksa diri ini bisa berjalan lebih sukses, terpaksa
Hoa Pek Tuo harus menahan diri. Hehhmm... heehhmmmm. Hoa
heng, aku hendak menggaplok mukamu sebanyak sepuluh kali,
menendang dirimu sebanyak tiga kali agar tubuhmu babak belur dan
mengucurkan darah kemudian baru pergi menjumpai orang itu..."
Hoa Pek Tuo ketakutan setengah mati, air mukanya berubah
hebat, teriaknya:
"Aku harus menjumpai siapa? Poocu beritahu dulu kepadaku
siapakah orang itu?"
"Hmmm! Orang itu bukan lain adalah Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei, orang itu tentu sudah tak asing lagi bukan
bagimu..."
"Poocu, rupanya engkau ada maksud untuk membereskan
jiwaku..." teriak Hoa Pek Tuo dengan tubuh gemetar keras.
Ketika ia menyadari bahwa masuk perangkap, untuk menolong
diri sudah tak sempat lagi. Sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo yang
seringkali bermain licik akhirnya terjebak pula di tangan orang,
bahkan masuk perangkap atas kerelaan dan kemauan sendiri.
Cui Tek Li tertawa dingin, katanya :
1326
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sebenarnya aku memang ingin sekali membinasakan dirimu,
tetapi berhubung engkau terlalu licik dan berbahaya maka aku merasa
sama sekali tak ada harganya untuk bergebrak melawan dirimu,
terpaksa kugunakan sedikit siasat untuk beradu kecerdikan dengan
dirimu."
"Rupanya engkau membohongi diriku?" teriak Hoa Pek Tuo
dengan penuh kegusaran.
"Hmmm! Untuk menipu dirimu adalah suatu pekerjaan yang
sulit, sungguh beruntung ini hari pun-poocu berhasil membohongi
dirimu sehingga masuk perangkap, Hoa heng! Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei adalah musuh bebuyutanmu, sebentar lagi ia tentu
akan berkunjung kemari,maka dari itu aku ingin mempersembahkan
dirimu kepadanya sebagai suatu barang hadiah..."
Hoa Pek Tuo jadi ketakutan setengah mati sehingga sukma terasa
melayang tinggalkan raganya.
"Engkau hendak menghadiahkan diriku kepada Pek In Hoei..."
serunya dengan suara gemetar.
"Kenapa engkau mesti tegang dan kaget?"jengek Cui Tek Li
sambil tertawa sinis, "toh engkau masih hutang satu nyawa dari
ayahnya? Dan sekarang ia datang menagih hutang lamanya, hal itu
merupakan suatu kejadian yang jamak dan lumrah sekali dalam
kolong langit. Hehmm... heehmmm... perbuatanku toh tidak lebih
cuma mendorong perahu mengikuti aliran air dan menghadiahkan
dirimu kepadanya..."
"Hmmm! Engkau jangan keburu bangga dan senang hati," teriak
Hoa Pek Tuo dengan wajah menyeringai bengis dan menyeramkan,
"Pek In Hoei tak akan lepaskan diriku, pun tak akan melepaskan
dirimu. Poocu! Seandainya engkau adalah orang cerdik maka
lepaskanlah diriku, mari kita berdua bersatu padu untuk menghadapi
dirinya, hanya berbuat begitu saja kita baru akan berhasil
membinasakan dirinya..."
1327
Saduran TJAN ID
"Tutup mulut anjingmu!" bentak Cui Tek Li dengan gusarnya,
"engkau si rase tua yang tak tahu diri. Hmmm... sekarang baru tahu
apakah yang disebut rasa ngeri dan ketakutan? Hmmm... apa yang
telah kau katakan sewaktu berada di hadapan Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei????"
Pucat pias selembar wajah Hoa Pek Tuo setelah mendengar
teguran itu, jawabnya :
"Itulah dikarenakan engkau mengkhianati diriku lebih dahulu..."
"Kentut busuk!"
Cui Tek Li ayunkan telapak tangannya dan secara beruntun
melancarkan tujuh delapan buah serangan berantai, kemudian dengan
penuh kebencian didepaknya tubuh Hoa Pek Tuo sampai jatuh
terjungkal di atas tanah, tali kulit yang berada di tangannya segera
ditarik keras-keras membuat tubuh Hoa Pek Tuo yang sudah
terlempar jauh segera tertarik balik ke tempat semula.
"Aaaauuh...!" Hoa Pek Tuo berteriak keras dan
memperdengarkan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, darah kental
mengucur keluar dari ujung bibirnya, ia membelalakkan matanya
lebar-lebar dan teriaknya dengan penuh kegusaran :
"Kau... kau sungguh kejam..."
"Hmmm! Aku menginginkan engkau mati..." teriak Cui Tek Li
dengan penuh kebencian pula.
Dia ulapkan tangannya dan Kongsun Kie segera menarik tali kulit
iut menuju ke arah luar.
Hoa Pek Tuo berpaling ke belakang, jeritnya keras-keras :
"Eeei... engkau hendak membawa aku pergi kemana?"
cl mendengus dingin.
"Hmmm! Kemana lagi? Tentu saja menggantung tubuhmu di
depan pintu gerbang Benteng Kiam-poo..." ia menjawab.
Dengan rasa takut bercampur jeri Hoa Pek Tuo memaki kalang
kabut, suaranya kian lama kian menjauh sehingga akhirnya sama
sekali tidak kedengaran lagi.
1328
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seekor rase tua yang licik dan berhati kejam, akhirnya ketemu
tandingannya juga, dalam keadaan begini bukan saja ia tak dapat
menunjukkan kelicikannya, keganasan serta kekejaman hatinya pun
tak dapat diperlihatkan lagi...
Senja telah menjelang tiba, sisa cahaya sang surya masih
terpancar di balik gunung dan menyoroti sebagian dari jagad dengan
sorot cahaya yang lemah, beberapa ekor burung terbang melintasi atas
kepala menuju ke dalam hutan.
Ketika cahaya terakhir dari sang surya telah lenyap di balik
gunung, pintu gerbang Benteng Kiam-poo perlahan-lahan terbuka di
atas tiang benteng yang kuno tergantung sesosok tubuh manusia
terhembus angin malam yang kencang, bayangan itu bergoyang tiada
hentinya.
Ketika sorot mata dialihkan ke sebelah barat dari sungai
pelindung benteng, tampaklah seorang manusia dengan menunggang
seekor kuda berlari mendekati dengan cepatnya, sewaktu tiba di depan
pintu benteng tiba-tiba pria itu menghentikan lari kudanya dan
goyangkan tangannya ke arah pria yang ada di atas benteng sambil
berteriak keras :
"Jago Pedang Berdarah Dingin telah datang..."
"Sudah tahu..." jawab pria yang ada di atas benteng sambil
ulapkan tangannya pula.
"Taaaaaang....! Suara lonceng yang nyaring bergeletar di udara
memecahkan kesunyian yang mencekam di senjata itu dan mantulkan
suara tersebut hingga ke tempat yang amat jauh... lama sekali suara
tersebut bergema di angkasa sebelum perlahan-lahan sirap dan lenyap
kembali dari angkasa...
Dengungan suara lonceng yang berat dan nyaring dengan
cepatnya pula menggema hingga suatu daerah sejauh setengah li dari
benteng tersebut, suara tersebut tertangkap oleh sepasang muda mudi
yang sedang melakukan perjalanan, membuat ke-dua orang itu segera
tersadar kembali dari lamunannya dan menyadari bahwa Benteng
1329
Saduran TJAN ID
Kiam-poo yang merupakan pusat kemaksiatan serta kejahatan sudah
berada di depan mata.
Sambil mengerutkan dahinya It-boen Pit Giok berkata :
"Sungguh cepat kabar berita kedatangan kita tersebar dalam
pendengaran mereka... baru saja kita melewati Kiam-bun-kwan,
orang-orang Benteng Kiam-poo sudah mengetahui akan kehadiran
kita. In Hoei! Nasib kita berdua akan ditentukan dalam pertemuan
pada hari ini..."
"Peduli betapa ketat dan kokohnya pertahanan serta persiapan
Benteng Kiam-poo, aku tetap akan menerjang masuk ke dalam,"
teriak Pek In Hoei dengan penuh kegusaran, "akan kubunuh Hoa Pek
Tuo serta Cui Tek Li, sebab aku tak bisa melepaskan ke-dua orang
bangsat tua itu."
"Apakah engkau tidak mempertimbangkan soal tentang ibumu..."
tanya It-boen Pit Giok dengan sedih.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasakan jantungnya
berdebar keras, masalah tersebut merupakan masalah yang paling
menyakitkan hatinya, ia benar-benar tak mampu untuk menentukan
apakah dia akan membunuh suami ibunya, juga antara Cui Tek Li
dengan ibunya pernah mempunyai hubungan dan cinta kasih antara
suami dan istri...
Untuk beberapa saat lamanya Pek In Hoei tak dapat menjawab
pertanyaan itu, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya,
dengan sedih ia menggeleng dan mulutnya tetap membungkam dalam
seribu bahasa...
"Aku sangat memahami keadaan yang sedang kau hadapi," Itboen
Pit Giok dengan sedih, "keputusan seperti ini tak dapat
ditetapkan oleh sembarangan orang, kecuali engkau melebihi orang
lain... sebab hanya orang yang luar biasa cerdiknya saja yang tahu apa
yang mesti dilakukan olehnya..."
"Orang cerdik..." gumam Pek In Hoei dengan suara lirih,
"dendam atas kematian ayahku tinggi melebihi bukit, aku tak sudi
1330
IMAM TANPA BAYANGAN II
biarkan musuh besarku tetap hidup di kolong langit, apa yang harus
kulakukan..."
Angin malam diiringi deruan tajam berhembus lewat
menggoyangkan rerumputan, derap kaki kuda dengan lirih berlarian
di atas tanah lapang melampaui jembatan panjang di atas bukit dan
tiba di depan Benteng Kiam-poo yang sunyi dan sepi itu...
Pintu gerbang terbentang lebar, dua sosok bayangan manusia
berdiri di sisi.
Pek In Hoei segera berpaling ke arah It-boen Pit Giok dan ujarnya
sambil tertawa getir :
"Rupanya Cui Tek Li kembali gunakan serombongan anggota
Komplotan Tangan Hitam-nya untuk menakut-nakuti kita..."
Bersama It-boen Pit Giok pemuda itu loncat turun dari atas kuda,
lalu dengan langkah lebar berjalan menuju ke arah pintu gerbang
Benteng Kiam-poo.
Kongsun Kie berdiri di samping pintu menantikan kedatangan
ke-dua orang itu, dengan pandangan dingin ia awasi terus musuhnya
hingga berada di depan mata.
Pada saat itulah ia baru maju ke depan dan menegur :
"Pek heng, kenapa hari ini engkau muncul lagi di Benteng Kiampoo?
Apakah tempo hari setelah berhasil keluar dari benteng dalam
keadaan selamat maka engkau tidak pandang sebelah mata pun
terhadap Benteng Kiam-poo???"
Dengan pandangan yang sinis ia melirik sekejap ke arah dua baris
lelaki kekar yang berdiri di ke-dua belah sisi pintu gerbang itu, lalu
sambil tertawa ewa ejeknya :
"Kongsun-heng, apakah ini hari aku harus masuk benteng secara
kekerasan pula?"
"Tidak usah..."
Dia ulapkan tangannya mengundurkan dua baris pria yang berada
di situ lalu putar badan dan menuju ke Benteng Kiam-poo dengan
langkah lebar.
1331
Saduran TJAN ID
It-boen Pit Giok serta Jago Pedang Berdarah Dingin segera
membuntutinya dari belakang.
Tiba-tiba Jago Pedang Berdarah Dingin tertarik oleh sesosok
bayangan tubuh yang tergantung di tengah udara, ia dekati orang itu
dan dipandangnya sekejap.
Dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun, air mukanya berubah
hebat, serunya :
"Hoa Pek Tuo, kiranya engkau..."
Hoa Pek Tuo membuka kembali matanya, siksaan selama dua
malam membuat rase tua yang paling suka mencelakai orang dengan
kelicikannya itu jadi layu, sinar matanya sama sekali tidak nampak
keren atau bengis lagi, dengan mata merah darah dan biji matanya
hampir saja melotot keluar, ia menyahut dengan suara serak :
"Kau... kau adalah Pek In Hoei..."
"Tidak salah!" jawab Pek In Hoei ketus, "sungguh tak nyana
engkau pun akan mengalami hari seperti ini, apa yang telah terjadi?
Apakah engkau dipecundangi oleh orang sendiri? Haaaah... haaaah...
haaaah... suatu peristiwa yang sangat memalukan..."
"Pek In Hoei, aku tahu bahwa engkau membenci diriku, benci
karena aku telah membinasakan ayahmu," ujar Hoa Pek Tuo dengan
nada gemetar, "sekarang aku harap engkau suka membinasakan
diriku, karena..."
Ia berhenti sejenak, dengan sedih hati yang pilu sambungnya :
"Aku mati tidak jadi soal, tetapi ada satu hal engkau harus ingat
baik-baik..."
Membunuh seseorang yang sama sekali tak mampu melakukan
pembalasan bukanlah pekerjaan dari manusia bangsa kami, Hoa Pek
Tuo! Kuberi satu kesempatan kepadamu... mari kita tentukan nasib
sendiri dalam suatu duel yang adil..." kata Pek In Hoei dingin.
Dalam bayangan benaknya seakan-akan ia terlihat kembali
keadaan dari ayahnya yang mati secara mengenaskan di puncak
gunung Cing-shia, hampir saja dari matanya menyembur keluar sinar
1332
IMAM TANPA BAYANGAN II
berapi-api... Criiing! Di tengah dentingan suara yang nyaring, pedang
mestika penghancur sang surya telah diloloskan dari sarungnya dan
berkelebat di angkasa.
Hoa Pek Tuo gemetar, pintanya :
"Aku mohon kepadamu... bila engkau hendak bunuh aku maka
turun tanganlah setelah kuselesaikan perkataanku."
Menyaksikan raut wajah lawannya yang begitu mengenaskan,
Pek In Hoei mendengus sinis.
"Hmm...! Aku selalu akan memberikan kesempatan kepadamu
untuk melangsungkan pertarungan yang adil, aku tetap akan memberi
kesempatan kepadamu..."
Pedang penghancur sang surya yang berkelebat di angkasa dan
tubuh Hoa Pek Tuo yang tergantung di tengah udara segera merosot
ke bawah dan jatuh terbanting di atas tanah, setelah mengatur
napasnya yang terengah-engah, kakek licik she Hoa itu berkata
kembali :
"Aku adalah seorang manusia yang sudah mendekati ajalnya, aku
harap engkau suka mendengarkan beberapa patah kataku, aku sudah
sepantasnya menerima nasib seperti ini karena sudah terlalu banyak
perbuatan jahat yang kulakukan, Pek In Hoei! Pusatkanlah perhatian
baik-baik, aku ada perkataan yang sangat penting hendak
disampaikan kepadamu..."
"Hmmm! Kau hendak bermain setan lagi di hadapanku?"
Hoa Pek Tuo menggeleng.
"Tidak, kali ini aku bersunguh-sungguh..."
"Hmmm! Memandang dirimu adalah seseorang yang sudah
hampir menemui ajalnya, aku bersedia mendengarkan
perkataanmu..."
Hoa Pek Tuo terengah-engah, setelah mengatur pernapasannya ia
menjawab lirih :
1333
Saduran TJAN ID
"Meskipun aku ikut ambil bagian di dalam peristiwa
pembunuhan terhadap ayahmu, akan tetapi otak dari pembunuhan
adalah lain orang."
Tiba-tiba ia muntah darah segar, sepasang matanya terbelalak
lebar-lebar dan tak mampu meneruskan kembali kata-katanya, napas
tiba-tiba jadi putus dan matilah kakek licik yang selama hidupnya
sudah terlalu banyak melakukan kejahatan ini.
"Kurang ajar, engkau si bajingan tua yang bikin gara-gara..."
bentak It-boen Pit Giok dengan gusar.
Dengan air muka diliputi hawa napsu membunuh gadis itu
menerjang ke arah Kongsun Kie, telapak tangannya bergerak cepat
dan dalam waktu singkat telah mengirim tujuh delapan buah serangan
ke depan.
Kongsun Kie jadi ketakutan setengah mati, ia mundur beberapa
langkah ke belakang sambil teriaknya dengan gusar :
"Eeeeei... apa maksudmu begini?"
"Sungguh tak nyana engkau bajingan tua pun mempunyai hati
yang sangat kejam, terhadap seseorang yang sudah menemui ajalnya
pun masih tega melancarkan serangan bokongan dengan jarum
beracun untuk membinasakan dirinya. Hmmm! Apakah engkau takut
kalau sampai rahasia kejelekan dari poocu kalian terbongkar..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." dari balik benteng yang gelap tibatiba
berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat
menyeramkan.
"Nona It-boen!" ujar Cui Tek Li sambil perlahan-lahan
munculkan diri dari balik pintu gerbang benteng itu. "Katakanlah!
Kejelekan apakah yang pernah aku lakukan sehingga malu bertemu
dengan orang? Ayoh jawab...!"
It-boen Pit Giok mendengus dingin.
"Hmmm! Mencelakai jiwa orang dengan cara yang keji, hal itu
merupakan suatu perbuatan yang sangat memalukan sekali. Toapoocu!
Engkau tak usah memperlihatkan wajahmu yang sok alim
1334
IMAM TANPA BAYANGAN II
lagi... sebab tiada seorang manusia pundi kolong langit yang akan
percaya dengan dirimu lagi.. semua orang sudah tahu dan kenal akan
kelicikanmu..."
"Heehhmmm... ketahuilah tempat ini merupakan daerah terlarang
dari Benteng Kiam-poo, aku tidak akan mengijinkan kalian untuk
berlagak sok di tempat ini..."
"Huuuh... kalau Benteng Kiam-poo lantas kenapa? Dalam
pandanganku Benteng Kiam-poo bukan sesuatu yang luar biasa..."
jengek It-boen Pit Giok sinis, "toa-poocu! Engkau jangan harap
dengan andalkan Benteng Kiam-poo mu itu maka kami berdua lantas
terkurung dan tak mampu meloloskan diri lagi, terus terang kukatakan
kepadamu, kalau bukan naga sakti tak akan menyeberangi sungai, asal
kulepaskan pemberitaan maka empat penjuru Benteng Kiam-poo
akan diserang dari empat penjuru hingga hancur berantakan, kalau
engkau tidak percaya maka akan kuperlihatkan sesuatu benda
kepadamu..."
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba-tiba ia lepaskan
sebuah bom udara ke atas angkasa, dengan diiringi suara ledakan yang
keras bom udara itu meletus di angkasa dan memancarkan asap warna
hitam yang segera menyebar di seluruh udara.
Bersamaan dengan munculnya asap hitam itu, maka dari empat
penjuru sekeliling Benteng Kiam-poo berkumandang pula suara
ledakan-ledakan secara berantai, tujuh delapan macam cahaya api
yang berwarna-warni berhamburan di angkasa membuat suasana di
malam hari itu jadi terang benderang dan menyilaukan mata.
Air muka Cui Tek Li berubah hebat, sambil memandang asap di
udara serunya :
"Ooooh...! Jadi anak buahmu telah ikut semua."
"Barang siapa masuk ke dalam Benteng Kiam-poo, ia bakal mati,
karena itu mau tak mau aku harus bikin persiapan," ujar It-boen Pit
Giok dengan dingin, asal engkau berani rebut kemenangan dengan
andalkan jumlah banyak maka aku akan mengajak kalian untuk
1335
Saduran TJAN ID
beradu jiwa... di bawah serangan gencar peluru-peluru api dari
Perkumpulan Bunga Merah kami, aku percaya tak seorang anggota
Benteng Kiam-poo yang berada di sini dapat lolos dalam keadaan
selamat..."
"Baik! Kita coba lihat saja mana yang akhirnya lebih lihay..." kata
Cui Tek Li dengan pandangan dingin.
Sorot matanya yang tajam bagaikan pisau dialihkan ke arah Pek
In Hoei kemudian menambahkan :
"Pembunuh ayahmu telah mati."
"Hmmm! Di luaran sana memang sudah beres, tetapi masih ada
satu hal masih belum beres!" jawab Pek In Hoei sambil mendengus.
"Hal yang mana????" tanya Cui Tek Li melengak.
"Masih ada engkau seorang, engkau baru merupakan musuh
besar pembunuh ayahku... Cui Tek Li! Sebenarnya aku masih belum
tahu kalau engkau begitu hina dan rendah, tetapi ini hari aku telah
membuktikan akan sesuatu!"
"Membuktikan apa?" seru Cui Tek Li sambil tertawa dingin tiada
hentinya.
Hawa napsu membunuh terlintas di atas raut wajah Pek In Hoei
yang tampan. Dengan penuh kebencian jawabnya :
"Aku berhasil membuktikan bahwa engkau adalah seorang telur
busuk tua yang jauh lebih rendah derajatnya daripada seekor binatang,
bukan saja engkau memiliki hati ular berbisa yang menakutkan
bahkan jauh lebih berbisa daripada ular macam apa pun, dunia
persilatan bisa porak poranda macam begini kesemuanya bukan lain
adalah hasil karyamu seorang..."
Setelah memaki pemilik dari Benteng Kiam-poo ini habishabisan,
pemuda itu rasakan hatinya jadi lega dan nyaman tetapi
sebaliknya membuat air muka Cui Tek Li berubah jadi tak sedap
dipandang, keadaannya jauh lebih parah daripada mulutnya ditampar
beberapa kali, wajahnya pucat bagaikan mayat...
1336
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kau berani memaki diriku secara begini kasar?" teriak Cui Tek
Li dengan marahnya.
Pek In Hoei menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... bukan saja aku hendak memaki
dirimu, aku pun hendak membinasakan dirimu. Cui Tek Li! Engkau
telah terlalu lama berhutang darah dengan keluarga Pek kami... hutang
tersebut telah kau biarkan berlarut-larut hingga banyak tahun..."
"Engkau tak akan kecewa Pek In Hoei," seru Cui Tek Li dengan
hawa napsu membunuh menyelimuti pula seluruh wajahnya, "ini hari
aku akan memberikan kepuasan bagimu, kita akan melangsungkan
duel secara adil dan terbuka... semua anak buah Benteng Kiam-poo
tidak akan munculkan diri untuk membantu aku, engkau boleh berlega
hati..."
"Criiing...!" desingan pedang yang amat tajam dan tinggi
melengking bergeletar di angkasa, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek
In Hoei menggoncangkan senjatanya membentuk gerakan setengah
lingkaran busur di udara, lalu ditujukan ke arah Cui Tek Li, musuh
besar pembunuh ayahnya.
"Bersiap-siaplah untuk turun tangan..." ia berkata sambil tertawa
sinis.
Cui Tek Li tertawa dingin.
"Legakanlah hatimu, aku tidak akan mencari suatu keuntungan
apa pun darimu, engkau gunakan pedang mestika penghancur sang
surya sedang aku gunakan pedang mestika bayangan emas, ke-dua
belah pihak sama-sama tidak rugi..."
"Tangannya digetarkan dan pedang aneh bayangan emas yang
tersoren di pinggangnya telah dicabut keluar, ia menggetarkan senjata
itu di udara, sekilas cahaya tajam bagaikan mengalirnya air sungai
memancar ke empat penjuru.
Ia tarik napas panjang-panjang, dua orang jago lihay itu saling
berhadapan sambil bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan
yang tidak diinginkan. Siapa pun tidak berani melepaskan setiap
1337
Saduran TJAN ID
gerakan dari pihak lawannya, sebab dalam pertarungan antara dua
tokoh maha sakti macam mereka, dalam satu jurus saja kemungkinan
besar menang kalah dapat terlihat jelas.
Tiba-tiba dari balik gedung Benteng Kiam-poo yang sunyi
berkumandang datang suara ketukan bok-hi yang amat nyaring...
suara ketukan tersebut kian lama kian bertambah nyaring dan kian
mendekat di sisi kalangan.
Air muka Cui Tek Li berubah hebat, dengan cepat ia berpaling ke
belakang, tampaklah seorang perempuan berusia setengah baya
dengan memakai kain berkabung warna putih belacu dan ikat kepala
berwarna putih pula dengan mengiringi empat orang hweesio yang
tiada hentinya mengetuk bok-hi lambat-lambat mendekati gelanggang
pertarungan.
"Hujin, kau..."
Pek In Hoei sendiri pun dibikin tertegun oleh kemunculan
perempuan setengah baya itu, teriaknya pula :
"Ibu!..."
"Aku sedang berkabung untuk kematian dari suamiku Pek Tiang
Hong..." bisik perempuan itu dengan air mata bercucuran.
"Apa? Kau sudah edan?"
"Aku sama sekali tidak gila, selama banyak tahun aku selalu
menantikan saat yang baik seperti sekarang ini, dan kini Hoa Pek Tuo
telah mati, itu berarti dendam dari Pek Tiang Hong telah terbalas..."
"Tetapi Cui Tek Li belum mati..." teriak Pek In Hoei sambil
menggertak giginya kencang-kencang.
Sekujur badan perempuan itu gemetar keras.
"Nak, kau..." serunya.
"Aku hendak membalas dendam..." teriak Pek In Hoei dengan
sepasang mata berapi-api.
"Aaaai...! Dengan sedih perempuan itu menghela napas panjang,
"Nak, apakah engkau tak dapat lepaskan dirinya?"
1338
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hujin, apa sebabnya engkau mintakan ampun bagiku?" sela Cui
Tek Li dan sedih, "Pun poocu bukanlah seorang manusia yang suka
dikasihani, maksud baikmu biarlah kuterima dalam hati saja.
Heeehhhmmmm... heehhmmm... Pek Tiang Hong bisa mempunyai
seorang putra macam ini, ia memang bisa beristirahat dengan tenang
di alam baka..."
Dengan pandangan dingin ditatapnya Pek In Hoei sekejap,
kemudian meneruskan :
"Kau memaksa aku untuk turun tangan?"
"Tentu saja!" jawab Pek In Hoei dengan tegas, "persoalan ini
merupakan persoalan yang kupikirkan siang malam..."
Dengan sedih perempuan setengah baya itu menghela napas
panjang, katanya :
"Nak, apakah engkau tak dapat melepaskan dirinya untuk kali ini
saja..."
"Ibu, mengapa kau ucapkan kata-kata seperti itu..." teriak Pek In
Hoei dengan badan gemetar keras.
Perasaan hati perempuan dewasa ini kacau dan tak menentu, ia
sangat berharap agar putra kesayangannya ini bisa membalaskan
dendam bagi suaminya yang telah mati Pek Tiang Hong tetapi
sebaliknya Cui Tek Li adalah suaminya selama banyak tahun, hal ini
membuat ia jadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Akhirnya ia gelengkan kepalanya.
"Nak, ibu..."
Ia tak dapat mengutarakan rasa sedih dan pedih yang mencekam
hatinya, dengan sedih ia gelengkan kepala, air mata bercucuran
membasahi pipinya, dengan pandangan nyeri ditatapnya wajah Jago
Pedang Berdarah Dingin...
"Ibu, kalau ada perkataan utarakanlah keluar," ujar Pek In Hoei
dengan air mata bercucuran.
Perempuan itu menggeleng.
1339
Saduran TJAN ID
"Sekali pun kukatakan, engkau pun tak akan mendengarkan
perkataanku... percuma saja kukatakan..."
Walaupun Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei amat
membenci Cui Tek Li pemilik dari Benteng Kiam-poo, akan tetapi dia
pun seorang anak yang berbakti, ia tak mau menyusahkan atau pun
menyedihkan hati ibunya di masa tua, setelah menghela napas
panjang katanya dengan wajah serius :
"Ibu, aku akan menuruti perkataan..."
"Ooooh...! Nak, sungguhkah itu..."
"Meskipun bukan engkau yang membesarkan diriku serta
merawat aku hingga dewasa, akan tetapi bagaimana pun juga kau
adalah ibuku aku tak bisa tidak harus menghormati dirimu. Ibu
utarakanlah perkataanmu itu... kuturuti permintaanmu itu."
Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah perempuan
setengah tua itu, saking terharunya segera ia menangis tersedu-sedu.
"Aku tak bisa memikirkan kebebasanku seorang sehingga
melupakan keadilan," katanya dengan sedih, "Nak, perbuatanmu itu
benar, karena tidak sepantasnya kalau ibu menghalangi perbuatanmu
itu..."
"Ibu! Ananda tak paham dengan perkataanmu itu," kata Pek In
Hoei dengan sedih.
"Nak, lakukanlah pembalasan dendam, sukma ayahmu di alam
baka pasti akan melindungi dirimu, dalam persoalan ini tiada orang
yang mampu menghalangi dirinya, aku pun berharap agar dendam
sakit hati dari ayahmu bisa segera dibalas."
"Ooooh...! Ibu, terima kasih banyak atas kebesaran jiwamu," seru
Pek In Hoei penuh rasa terharu.
"Hujin, kau..." teriak Cui Tek Li pula dengan wajah tertegun.
Perempuan setengah umur itu menghela napas panjang, katanya
dengan sedih :
"Engkau telah membinasakan suamiku, merebut pula diriku, Cui
Tek Li, selama banyak tahun kami dari keluarga Pek sudah cukup
1340
IMAM TANPA BAYANGAN II
bersabar terhadap dirimu, sudah banyak yang kulakukan untuk
keluarga Cui kalian, dan ke-dua orang putra-putrimu telah kurawat
pula hingga menjadi dewasa..."
"Hujin, aku sangat berterima-kasih kepadamu..." bisik Cui Tek
Li dengan wajah murung.
"Tek Li, meskipun anakmu bukan dilahirkan olehku, akan tetapi
aku tetap mencintai mereka... tetap menyayangi mereka... selama
banyak tahun antara mereka dengan aku sudah mempunyai hubungan
perasaan yang mendalam... tapi sekarang persoalan telah terjadi,
maafkanlah daku! Aku tak dapat merawat mereka lagi..."
"Aaaah! Jadi engkau akan pergi?" teriak Cui Tek Li dengan hati
terperanjat.
Perempuan itu mengangguk.
"Aku tak dapat berdiam lebih lama lagi dalam Benteng Kiam-poo
ini, aku tak ingin menyaksikan tempat yang penuh dengan kesedihan
serta kepedihan ini..."
Dalam keadaan seperti ini Cui Tek Li tak dapat berbuat apa-apa
lagi, setelah ditatapnya wajah perempuan itu dalam hati lalu ujarnya :
"Pergilah! Aku pun tak akan menahan dirimu lagi... anak-anak
kita pun telah tumbuh jadi dewasa semua, mereka tidak membutuhkan
perawatan serta perlindungan dari kita lagi... mereka telah dewasa
semua..."
Bicara sampai di sini dengan pandangan dingin ia melirik sekejap
ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei kemudian
menambahkan :
"Pek In Hoei, silahkan turun tangan..."
"Bersiap-siaplah," seru Pek In Hoei sambil menggetarkan
pedangnya, "aku hendak mengandalkan ilmu silat yang murni untuk
membinasakan dirimu..."
Pada saat ini raut wajah Pek In Hoei telah diliputi oleh hawa
napsu membunuh yang menggidikkan hati, ia menghembuskan napas
panjang-panjang, tubuhnya mendadak meluncur ke depan, pedang
1341
Saduran TJAN ID
mestika penghancur sang surya dalam genggamannya laksana kilat
dibacok ke muka.
Cahaya kilat berkilauan membumbung di angkasa itu, Cui Tek Li
pada saat yang bersamaan menggetarkan pula pedangnya...
"Pek In Hoei!" seru pemilik dari Benteng Kiam-poo itu secara
tiba-tiba, "hari ini kupenuhi semua harapan dan keinginanmu itu."
Tubuhnya bukan menyingkir ke samping, tiba-tiba ia
menyongsong datangnya ancaman tersebut.
Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sedang
merobah gerakan serangannya dari serangan membabat jadi serangan
tusukan, ujung pedang yang tajam langsung menembusi ulu hati Cui
Tek Li.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan
kesunyian.
Dengan wajah meringis menahan rasa sakit ia roboh terkapar di
atas tanah, kejadiannya sama sekali di luar dugaan semua orang, siapa
pun tidak mengira kalau orang she-Cui itu sama sekali tidak
menghindarkan diri terhadap ancaman maut itu, sebaliknya malah
memapaki dengan tubuhnya.
"Mengapa engkau tidak membalas?" teriak Pek In Hoei dengan
penuh kemarahan.
Dengan sedih sekali Cui Tek Li tarik napas panjang.
"Memandang di atas wajah ibumu, aku tidak ingin bergebrak
melawan dirimu, selama banyak tahun sudah terlalu banyak budi
pekerti dan kebaikan yang dia berikan untuk keluarga Cui kami..."
"Tek Li... Tek Li..." seru perempuan itu sambil menangis terisak.
Cui Tek Li melototkan matanya bulat-bulat, setelah memandang
sekejap ke arah perempuan setengah tua itu dengan pandangan
lembut, ia berkelejot sebentar dan menghembuskan napas yang
terakhir...
Pek In Hoei berdiri termangu-mangu di tempat semula,
memandang mayat dari musuh besar pembunuh ayahnya yang
1342
IMAM TANPA BAYANGAN II
terkapar di atas tanah, ia tak tahu apa yang mesti dilakukan segera...
dia pun tidak tahu mesti gembira atau sedih dengan keberhasilannya
ini...
Lama sekali ia tertegun... pada akhirnya didekatinya tubuh
ibunya, sambil membimbing ia bangun berdiri, bisiknya lirih :
"Ibu, kini semuanya telah selesai... sekarang mari kita pulang ke
rumah kita..."
Di atas tanah kini tertinggal tiga sosok bayangan manusia,
mereka adalah It-boen Pit Giok, Pek In Hoei serta ibunya...
perempuan setengah baya itu... dengan kesedihan mereka tinggalkan
Benteng Kiam-poo yang sunyi di dalam kegelapan...
Bayangan tubuh mereka bertiga kian lama kian mengecil hingga
akhirnya lenyap dari pandangan.
Dengan begitu maka saya pun mengakhiri cerita 'Imam Tanpa
Bayangan' ini sampai di sini saja, sampai jumpa di lain kesempatan.
T A M A T

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Ngentot Artis Pendatang Baru : ITB 21 Tamat ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments