Cerita Dewasa Aktris Filipina : ITB 20

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Aktris Filipina : ITB 20
-"Pertanyaanmu itu juga tak dapat kujawab!" sahutnya.
"Criiinng...!" di tengah dentingan nyaring sekilas cahaya tajam
yang menyilaukan mata terpancar keluar dari tangan Gan In, sambil
mencekal pedang yang terhunus ia melotot ke arah Sun Gok Kun
sambil bentaknya gusar :
"Bajingan she Sun, kalau engkau tak mau menjawab maka aku
akan memaksa dirimu dengan kekerasan!"
"Kalau ingin berkelahi sih gampang sekali," seru Sun Gok Kun
sambil ulapkan tangannya, "lagi pula tugas yang kubawa kali ini
adalah untuk memetik batok kepala anjingmu, karena itulah kami
sengaja pasang jerat untuk memancing engkau berada di sini, tak
mungkin bisa turun lagi dengan selamat. Gan In! Lebih baik kita
selesaikan persoalan ini di ujung senjata..."
Di kala dia ulapkan tangannya, enam orang pria dengan
membentuk lingkaran busur telah bergerak maju ke depan, bayangan
pedang berkilauan dan sama-sama mengurung tubuh orang she Gan
itu.
Melihat dirinya dikepung oleh enam orang jago lihay dari
Komplotan Tangan Hitam, Gan In segera tertawa dingin, jengeknya :
"Sahabat, aku orang she Gan tak akan membuat kalian jadi
kecewa..."
1202
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pedangnya berputar di angkasa menciptakan sekilas bayangan
pedang yang tajam, walaupun Gan In berada di tengah kepungan
enam orang jago lihay akan tetapi ia sama sekali tidak kelihatan jeri,
dengan suara keras orang itu membentak, pedangnya menekan ke
bawah dan didorong lima cun ke depan, dalam waktu singkat ia sudah
mengirim satu serangan kilat ke arah musuh-musuhnya.
Jurus serangan yang dia pergunakan aneh sekali, dalam satu
gerakan yang sama ternyata ke-enam orang itu sama-sama sudah
terserang olehnya pada bagian tubuh yang berbeda.
Namun ke-enam orang jago lihay dari Komplotan Tangan Hitam
bukanlah manusia sembarangan, tubuh mereka segera bergerak
menghindarkan diri dari ancaman pedang Gan In yang tajam, diikuti
bentakan keras bergema di udara dan enam bilah pedang dengan
menciptakan diri jadi sekilas cahaya langsung mengurung tubuh Gan
In.
Wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ini jadi tertegun, dia
tak mengira kalau anggota Komplotan Tangan Hitam yang
dijumpainya pada saat ini merupakan jago-jago yang berkepandaian
tinggi, hatinya tercekat dan segera bentaknya dengan gusar :
"Sun Gok Kun sungguh luar biasa para pembantu yang kau bawa
pada hari ini!"
Sun Gok Kun tertawa bangga, jawabnya :
"Semua anggota Komplotan Tangan Hitam adalah jago-jago
kangouw yang punya pengalaman luas. Gan In! Jika hari ini engkau
dapat meloloskan diri dari tempat ini, maka aku Sun Gok Kun tak
akan memakai she Sun lagi..."
Gan In jadi teramat gusar, secara beruntun dia lancarkan enam
buah bacokan ke depan, makinya dengan gusar :
"Engkau si anak kura-kura cucu monyet... she apa yang hendak
kau gunakan aku tak ambil peduli, aku hanya ingat bahwa engkau dan
ayahmu pernah menggunakan satu bini yang sama, bukankah
begitu??"
1203
Saduran TJAN ID
"Kentut busuk nenekmu...! Sun Gok Kun berkaok-kaok marah.
Hampir saja ia muntah darah saking mendongkolnya, dia ulapkan
tangannya dan dua orang pria segera melangkah maju dengan
tindakan lebar, sambil putar pedang mereka terjun pula ke dalam
gelanggang hingga posisinya saat ini menjadi delapan lawan satu.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak ingin rekannya
dikerubuti, dengan suara dingin ia segera berseru :
"Kalian andalkan jumlah banyak mengerubuti satu orang, apakah
hendak menggunakan sistem roda berputar ??"
Sun Gok Kun jadi tertegun, sahutnya :
"Selamanya Komplotan Tangan Hitam tak pernah
memperhitungkan jumlah orang dalam bertempur..."
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Hmmm... selamanya aku orang she Pek pun tak pernah takut
membunuh orang dalam jumlah yang banyak..."
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu sekilas bayangan
pedang berkelebat dari tangannya, sambil berputar senjata ia
lancarkan sebuah bacokan ke arah salah seorang di antara enam jago
lihay yang sedang mengerubuti Gan In itu.
"Aduuuh...!" darah segar muncrat ke tengah udara mengikuti
berkelebatnya cahaya pedang, jeritan ngeri yang rendah dan serak
seakan-akan dipancarkan oleh seekor makhluk aneh yang terluka
parah, dengan darah berceceran orang itu terkapar ke atas tanah.
Setelah kehilangan seorang musuh tangguh yang mengerubut
dirinya, Gan In merasa tekanan yang mengepung dirinya makin
ringan, semangat dari jago ini seketika bangkit kembali, sembari
tertawa terbahak-bahak serunya :
"Luar bias, Pek heng! Ayoh seorang lagi..."
Pada saat perkataan dari Gan In baru saja lenyap dari
pendengaran, tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin sudah menerjang
ke udara dan menubruk ke dalam gelanggang sambil lancarkan tiga
buah tusukan berantai.
1204
IMAM TANPA BAYANGAN II
Darah segar menyembur ke angkasa dan berhamburan di atas
tanah, kembali ada tiga orang anggota Komplotan Tangan Hitam
roboh terkapar di atas tanah.
Dalam kejutnya tahu-tahu Gan In sudah kehilangan empat orang
musuh tangguh, hal ini membuat semangatnya segera bangkit, dengan
tubuh berlepotan darah ia meneter dua orang musuh lainnya.
Bagaikan sukma gentayangan Pek In Hoei melayang kembali ke
atas tanah, ujarnya :
"Sun Gok Kun, terus terang kuberitahukan kepadamu... orang
banyak dalam pandanganku sama sekali tak ada gunanya, kalau
engkau cerdik maka buanglah senjatamu dan menyerah kepada
Perkumpulan Bunga Merah..."
Sun Gok Kun berdiri menjublak di tempat semula dengan tubuh
kaku, sambil memandang anak buahnya yang terkapar di atas tanah
dalam genangan darah, rasa ngeri terlintas di atas wajahnya, jelas ia
sedang merasa ketakutan karena menjumpai musuh yang tangguh...
Dengan tubuh gemetar dan bulu kuduk pada bangun berdiri,
pikirnya :
"Sungguh cepat gerakan pedang orang ini, seingatku orang inilah
merupakan jago yang paling cepat dalam menggunakan pedangnya...
dalam satu gerakan empat orang telah dibunuh secara konyol... nama
besar manusia berdarah dingin ini benar-benar bukan nama kosong
belaka..."
Dengan wajah diliputi hawa napsu membunuh teriaknya :
"Pek In Hoei, kau berani membunuh anak buah Komplotan
Tangan Hitam kami itu berarti bahwa engkau adalah musuh besar
kami... mulai detik ini semua jago pedang dari Komplotan Tangan
Hitam akan memburu dirimu siang mau pun malam... agar engkau
merasa tidak tenteram... makan tak enak hidup pun tak tenang... agar
setiap hari hidupmu kau lewatkan dalam kesengsaraan..."
1205
Saduran TJAN ID
"Cuuuh....! Kalau cuma andalkan beberapa orang barang
rongsokan macam kalian lebih baik tak usahlah mencari kematian
bagi diri sendiri..." seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin.
Sun Gok Kun jadi semakin gusar, hardiknya :
"Seandainya engkau tahu sampai di manakah kehebatan
Komplotan Tangan Hitam, maka engkau tak akan berani
mengucapkan kata-kata segede itu."
"Aduuuh!" baru saja perkataannya selesai diucapkan, dari tengah
gelanggang kembali berkumandang satu jeritan ngeri yang
menyayatkan hati, seorang pria kekar dengan sempoyongan dan tubuh
bermandi darah mundur sempoyongan dari kalangan pertempuran,
kemudian roboh terjengkang ke atas tanah dan menemui ajalnya
seketika itu juga, usus mengalir keluar dari perutnya dan kematian
orang itu benar-benar mengenaskan sekali.
Setelah berhasil melenyapkan seorang musuh, Gan In putar
pedangnya menerjang ke arah pria terakhir yang masih hidup.
Lelaki itu jadi ketakutan setengah mati, sambil terkencingkencing
dia buang senjatanya ke atas tanah lalu kabur ke arah hutan
yang sedang terbakar itu.
Gan In tertawa terbahak-bahak, ia segera meloncat maju ke depan
dan siap melakukan pengejaran.
"Saudara Gan, sudah lebih dari cukup modal yang kau peroleh...
biarkanlah di kabur," cegah Pek In Hoei sambil tertawa ringan.
"Membunuh beberapa orang lagi berarti keuntungan bagi kita,
Pek heng! Engkau benar-benar hebat sekali... dalam sekali gebrakan
empat orang sudah kau lenyapkan, jika dibandingkan dengan dirimu...
aku masih terpaut jauh sekali, andaikata bukan engkau yang
menemani aku... Hmm... Hmm... ini hari selembar nyawa aku orang
she Gan telah musnah di tempat ini..."
Sun Gok Kun merasa keder dan ngenes sekali, baru pertama kali
bertempur enam orang jago lihaynya sudah musnah tak berbekas, hal
ini membuat ia jadi gusar sekali, dengan mata melotot teriaknya :
1206
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bangsat kalian benar-benar berhati kejam!"
Gan In mendengus dingin, katanya :
"Kalau kami dibandingkan perbuatan-perbuatan Komplotan
Tangan Hitam, maka keadaannya bagaikan langit dan bumi. Enam
belas lembar jiwa di dalam perkampungan Nyo kee cung, sembilan
nyawa di lembah Hek-see-kok... Hmm... Hmmm Sun Gok Kun!
Hutangmu sudah bertumpuk-tumpuk dan tak terhitung jumlahnya,
kalau dibandingkan dengan jumlah yang begitu sedikit sebenarnya
masih belum terhitung seberapa..."
Karena marahnya sepasang mata Sun Gok Kun berapi-api,
serunya dengan benci :
"Karena peristiwa ini Perkumpulan Bunga Merah bakal musnah
dari permukaan bumi, di dalam tiga jam kemudian saudara-saudara
kami dari Komplotan Tangan Hitam akan menagih hutan ini beberapa
kali lipat. Gan In! Engkau harus ingat terus hutang berdarah pada hari
ini..."
"Kami akan ingat selalu," jawab Gan In sinis, "kalau engkau
merasa punya kepandaian boleh dikeluarkan semua..."
"Gan-heng," ujar Pek In Hoei sambil mencekal pedang
mestikanya, "kita harus mencari akal untuk menyelesaikan orangorang
ini..."
"Kejar saja mereka turun gunung," kata Gan In sambil ayun
pedangnya, "di bawah sana ada orang-orangku yang sudah siap
menantikan kehadiran mereka, ini hari paling sedikit kita harus
memberi peringatan kepada orang-orang dari Komplotan Tangan
Hitam agar tahu bahwa masih ada sekelompok kekuatan yang masih
mampu untuk menundukkan mereka..."
Air muka Sun Gok Kun berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
buru-buru serunya :
"Bangsat... kita akan bertemu lagi di lembah Hek-Lan-Tian!"
Rupanya ia sadar bahwa pertarungan yang terjadi pada saat ini
tidak menguntungkan pihaknya, sekali pun bertempur lebih jauh
1207
Saduran TJAN ID
akhirnya yang rugi tetap pihaknya, maka orang itu lantas ambil
keputusan untuk membawa anak buahnya kabur turun gunung.
Dengan cepat Pek In Hoei mengejar dari belakang, serunya :
"Saudara Gan, cepat beritahu kepada saudara-saudara yang
berada di bawah gunung agar menghadang mereka, jangan biarkan
seorang pun di antara orang-orang itu berhasil meloloskan diri..."
Gan In segera bersuit nyaring, dari bawah berkumandang pula
suitan sautan... yang mana berarti bahwa orang-orang di bawah bukit
telah mengetahui maksud wakil ketuanya.
Begitulah Gan In dan Pek In Hoei segera mengejar dari belakang
sambil ayunkan pedangnya terus menerus hal itu membuat anggota
Komplotan Tangan Hitam jadi ketakutan dan segera kabur
secepatnya.
Sementara itu para anggota Perkumpulan Bunga Merah yang
menanti di bawah bukit jadi gelisah dan tidak tenang, setelah
ditunggunya selama hampir satu jam baik Gan In maupun Jago
Pedang Berdarah Dingin tidak memberikan kabar beritanya, terutama
sekali Hee Pek-li, sambil berjalan bolak balik dengan pikiran kusut
gumamnya :
"Mungkinkah sudah terjadi peristiwa di sana??"
Pertapa Nelayan dari Lam-beng gelengkan kepalanya.
"Aaah! Tidak mungkin, Ji tongkee kami cerdik dan cekatan lagi
pula pengalamannya luas sekali, tak mungkin ia bisa terjebak oleh
perangkap orang-orang dari Komplotan Tangan Hitam, lagi pula Jago
Pedang Berdarah Dingin adalah seorang jago lihay dalam dunia
persilatan, dengan kerja sama ke-dua orang itu meskipun jumlah
musuh lebih banyak pun tak akan bisa mengapa-apakan mereka..."
"Yang paling menguatirkan hatiku adalah adanya perangkap di
sana," ujar Hee Pek-li dengan alis berkerut, "meskipun kepandaian
silat yang mereka miliki sangat lihay tak urung kadangkala agak
teledor juga, asal mereka bertindak gegabah dan terjermus ke dalam
1208
IMAM TANPA BAYANGAN II
perangkap musuh... maka... Hmmm... pamor Perkumpulan Bunga
Merah kita niscaya akan merosot..."
Pertapa Nelayan dari Lam-beng adalah seorang jago yang
berpengalaman dan punya pandangan yang luas, mendengar
perkataan itu dia segera menggeleng.
"Mari kita tunggu sebentar lagi, kalau belum juga ada kabar
beritanya maka kita utus dua orang saudara untuk menengok ke
atas..."
Dia angkat kepala ke atas, tiba-tiba ditemuinya kebetulan asap
tebal dari atas bukit dengan hati yang lega segera ujarnya :
"Ooooh...! Gan Ji-tongkee telah menggunakan peluru Pek-lektan-
nya, mungkin di atas bukit sudah terjadi pertarungan..."
"Bagaimana kalau kita kirim beberapa orang saudara untuk naik
ke atas memberi bantuan..." kata Hee Pek-li gelisah.
Kembali Pertapa Nelayan dari Lam-beng menggeleng.
"Meskipun bukit ini tidak terlalu tinggi, akan tetapi untuk pulang
balik paling sedikit membutuhkan waktu selama dua jam, sekali pun
kau berhasil mencapai tempat kejadian mungkin pertarungan sudah
berakhir... legakanlah hatimu, kalau ada urusan wakil ketua pasti akan
memberi kabar kepada kita, lebih baik kita atur diri secara baik-baik,
siapa tahu kalau ada anggota Komplotan Tangan Hitam yang
melakukan serbuan secara tiba-tiba..."
Mendengar ucapan itu, pria kekar yang berdarah panas itu tak
bisa berbuat lain kecuali berdiri tegak di tempat semula, pada waktu
itulah dari atas bukit terdengar suitan nyaring, mendengar suitan itu
semua anggota Perkumpulan Bunga Merah merasakan semangatnya
bangkit kembali.
"Siapkan jaring!" seru Pertapa Nelayan dari Lam-beng dengan
suara nyaring, "wakil ketua Gan memerintahkan kita untuk
menangkap orang... cepat bersiap-siap!"
Di hari-hari biasa semua kekuatan ini dari Perkumpulan Bunga
Merah sudah memperoleh didikan yang ketat, begitu menghadapi
1209
Saduran TJAN ID
masalah besar tak seorang pun di antara mereka yang kelihatan gugup
atau kacau, setelah perintah diturunkan maka semua orang segera
siapkan jaring dan menyebarkannya di balik semak yang lebar,
dengan tenang mereka menanti musuh-musuhnya masuk jaring.
"Semua orang sembunyikan diri!" perintah Pertapa Nelayan dari
Lam-beng sambil ulapkan tangannya.
Baru saja jago-jago lihay itu menyembunyikan diri, dari atas
bukit berkumandanglah suara bentakan nyaring, terlihatlah puluhan
sosok bayangan hitam sedang melarikan diri terbirit-birit turun ke
bawah gunung.
Di belakang mereka mengikuti Jago Pedang Berdarah Dingin
serta Gan In, dengan senjata terhunus mereka mengejar dari belakang,
siapa saja di antara anggota Komplotan Tangan Hitam terlambat
sedikit larinya, sebuah tusukan menghantar mereka pulang ke rumah
neneknya.
Dengan tenang Pertapa Nelayan dari Lam-beng menunggu
hingga para anggota Komplotan Tangan Hitam menginjak ke dalam
jaring, kemudian bentaknya keras-keras"
"Jerar jaring..."
Para jago dari Perkumpulan Bunga Merah berlompatan keluar,
tiba-tiba jaring raksasa itu merapat dan para anggota Komplotan
Tangan Hitam yang tidak menyangka kalau mereka masuk perangkap
tak sempat meloloskan diri lagi, mereka semua tertawan dalam jaring
itu.
Melihat jebakannya berhasil, Gan In tertawa terbahak-bahak
serunya :
"Hay nelayan tua, berapa ekor yang luput terjaring..."
"Jangan kuatir, tak seekor pun yang lolos..."
Para anggota Komplotan Tangan Hitam yang sedang melarikan
diri mimpi pun tidak mengira kalau pihak Perkumpulan Bunga Merah
telah mempersiapkan diri menanti, mereka sadar bahwa dirinya
1210
IMAM TANPA BAYANGAN II
terjebak, untuk menyelamatkan diri sudah tak sempat lagi terpaksa
dengan mulut membungkam mereka pasrahkan diri untuk dibekuk.
Gan In menyapu sekejap ke arah musuh yang berhasil ditangkap
itu kemudian tanyanya :
"Eeeei...! Di manakah Sun Gok Kun si keparat cilik itu?"
"Keparat tersebut licik dan banyak akalnya sebelum tiba di kaki
bukit ia sudah membelok ke jalan lain dan melarikan diri," jawab Pek
In Hoei sambil gelengkan kepalanya.
Dalam pergerakan pihak Perkumpulan Bunga Merah kali ini
boleh dibilang telah berhasil merebut kemenangan besar ketika
jumlah tawanan yang berhasil ditangkap dihitung ternyata jumlahnya
ada sembilan orang.
Tentu saja para anggota Perkumpulan Bunga Merah jadi
bergirang hati, sebab selama berlangsungnya pertarungan baru ini hari
mereka berhasil membekuk tawanan dalam jumlah yang banyak,
hanya Pertapa Nelayan dari Lam-beng seorang tetap bermuram durja
sambil gelengkan kepala dengan wajah sedih.
"Eeeei... nelayan tua, mengapa kau tidak senang hati?" tegur Hee
Pek-li dengan hati tercengang.
Pertapa Nelayan dari Lam-beng gelengkan kepalanya berulang
kali.
"Kemenangan yang berhasil kita rebut pada saat ini hanyalah
suatu kemenangan kecil di tengah pertarungan yang kecil pula, kita
tak boleh merasa terlalu puas dan bangga diri. Ketahuilah para
anggota Komplotan Tangan Hitam adalah manusia lihay yang bisa
menerobos setiap lubang kecil yang ada, mungkin saja di kala kita
sedang gembira karena kemenangan ini, mereka lakukan penyergapan
secara tiba-tiba... pada saat itu kita akan jadi gugup dan gelagapan,
dan korban yang berjatuhan di pihak Perkumpulan Bunga Merah pasti
akan besar sekali..."
"Dugaan nelayan tua tepat sekali, kita harus berhati-hati... "
sambung Gan In dengan wajah serius.
1211
Saduran TJAN ID
Hee Pek-li yang kebetulan berada di sisi mereka segera
memandang sekejap ke arah anggota komplotan itu, kemudian
tanyanya :
"Wakil ketua she Gan, bagaimana kita bereskan manusiamanusia
itu?"
Gan In tercengang, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu
bagaimana mesti membereskan para tawanannya, dalam
Perkumpulan Bunga Merah orang ini tersohor sebagai orang yang
cerdik, tetapi ketika itu ia jadi serba salah juga dibuatnya.
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan ia pun berpikir :
"Apa yang harus kulakukan terhadap tawanan-tawanan itu,
haruskah ku bunuh mereka..."
Meskipun ia benci terhadap kejahatan dan orang-orang yang
berhati kejam, akan tetapi Gan In merasa tak tega untuk menjatuhi
hukuman yang setimpal terhadap mereka, kalau suruh ia lepaskan
orang itu sudah tentu dia tak sudi, karena kesulitan akhirnya ia
bertanya :
"Bagaimana pendapat dari nelayan tua?"
Pertapa Nelayan dari Lam-beng tersenyum.
"Semua anggota Komplotan Tangan Hitam merupakan manusiamanusia
kejam yang berhati ular kalau kita bunuh mereka semua
rasanya tak tega, menurut pendapatku lebih baik kita musnahkan saja
ilmu silat yang mereka miliki, daripada di kemudian hari mereka
lakukan perbuatan-perbuatan jahat lagi yang mengganggu
ketenteraman masyarakat..."
"Usulmu memang amat bagus," kata Gan In sambil mengangguk,
"baiklah, kita jatuhi hukuman tersebut kepada mereka semua, di
manakah pos kita selanjutnya???"
"Hek-Lan-Tian! Tempat itu merupakan markas besar Komplotan
Tangan Hitam, mungkin saja di tempat itu kita bakal melangsungkan
satu pertarungan yang seru, sampai waktunya kita harus berhatihati..."
1212
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau begitu kita segera berangkat ke Hek-Lan-Tian!" kata Gan
In kemudian sambil ulapkan tangannya.
Para jago dari Perkumpulan Bunga Merah benar-benar
mempunyai pendidikan yang keras, setelah perintah diturunkan maka
berangkatlah rombongan itu secara teratur.
Gan In menjura kepada Pek In Hoei dan tanyanya :
"Pek-heng, apakah engkau bersedia untuk ikut kami menuju Hek-
Lan-Tian..."
"Komplotan Tangan Hitam adalah bibit bencana bagi umat
manusia," ujar Pek In Hoei sambil tertawa, "apabila aku bisa gunakan
kesempatan ini untuk melenyapkan bencana dari permukaan bumi,
hal itu merupakan suatu pekerjaan yang sangat baik. Gan-heng! Ayoh
kita berangkat..."
"Kesetia-kawanan Pek-heng terhadap kami benar-benar luar
biasa, aku mewakili seluruh sahabat dari anggota perkumpulan kami
ucapkan banyak terima kasih atas kesediaan Pek heng, di kemudian
hari bila engkau butuhkan tenaga bantuan dari Perkumpulan Bunga
Merah asal Pek-heng katakan maka kita semua pasti akan bersedia
menyumbang tenaga..."
Buru-buru Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.
"Tolong menolong sudah merupakan suatu kejadian yang lumrah
dalam dunia persilatan harap saudara Gan tak usah pikirkan di dalam
hati, cuma aku merasa agak heran apa sebabnya Komplotan Tangan
Hitam selalu memusuhi perkumpulan kalian? Permusuhan apakah
yang terikat di antara ke-dua perkumpulan ini..."
"Aaaaai...!" dengan sedih Gan In menghela napas panjang,
"tujuan dari perkumpulan kami adalah melakukan perjuangan yang
bermanfaat serta menguntungkan pihak dunia persilatan, tidak lama
setelah perkumpulan kami berdiri, Komplotan Tangan Hitam pun
munculkan diri, mereka berulang kali mengutus orang untuk
mengundang perkumpulan kami menggabungkan diri dengan pihak
mereka, tentu saja kami tak sudi berkomplot dengan manusia-manusia
1213
Saduran TJAN ID
semacam itu, maka sejak itulah anggota Komplotan Tangan Hitam
melakukan pembunuhan-pembunuhan sadis terhadap anggota kami,
dalam persoalan apa pun mereka selalu memusuhi kami..."
"Ooooh...! Apakah kalian gagal untuk menyelidiki siapakah
pemimpin dari Komplotan Tangan Hitam?"
"Kalau dibicarakan sungguh memalukan sekali, di hari-hari biasa
anggota mereka berdandan seperti orang biasa, membuat kami sama
sekali tak tahu apakah mereka anggota Komplotan Tangan Hitam atau
bukan, kadangkala di waktu mereka berdiri di sisimu nampak seperti
orang jujur, tetapi dalam suatu serangan yang mendadak justru orang
itulah yang menghabisi jiwa kita, mengenai pemimpin mereka... aaai!
lebih misterius lagi orang itu bagaikan naga yang nampak ekor tak
nampak kepalanya!"
Bicara sampai di sini dia menghela napas panjang dan
membungkam dengan wajah kesal.
Sepanjang perjalanan menuju Hek-Lan-Tian, anggota
Komplotan Tangan Hitam tak nampak munculkan diri lagi, ketika
mereka hampir memasuki wilayah musuh, Gan In segera
menginstruksikan para anggotanya untuk bertindak lebih berhati-hati
sebab dalam keadaan begitu pihak lawan setiap saat mungkin
munculkan diri.
Suatu ketika Hee Pek-li munculkan diri dan bertanya :
"Wakil ketua Gan, kita akan bermalam di mana??"
"Pasang tenda di depan Hek-Lan-Tian!"
"Apakah kita tidak masuk kota..." tanya Hee Pek-li tertegun.
Dengan alis berkerut Gan In menggeleng.
"Sebagian besar orang yang ada di Hek-Lan-Tian merupakan
anggota Komplotan Tangan Hitam yang menyaru, kalau kita masuk
ke sana maka kemungkinan besar akan mendapat serangan atau
sergapan dari mereka, untuk menghindari jatuhnya korban yang tak
berguna, lebih baik kita berkemah di luar kota saja..."
1214
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tiga jam km kota Hek-Lan-Tian sudah berada di depan mata,
kota ini tersohor karena nama sebuah kedai yang bernama Hek lanjian,
sebagian besar penduduknya berdagang dan suasana di dalam
kota ramai sekali.
Gan In segera memerintahkan anak buahnya mendirikan kemah
di luar kota tersebut, para anggota Perkumpulan Bunga Merah yang
sudah biasa hidup dalam pengembaraan segera mengerjakan tugasnya
masing-masing dengan lancar. Sementara mereka sedang sibuk
bekerja, tiba-tiba dari dalam kota Hek-Lan-Tian muncul
serombongan manusia, di antaranya terdapat para pekerja kasar yang
memikul bahan makanan dan minuman, dua orang berdandan majikan
memimpin mereka di paling depan.
Salah seorang di antaranya berdandan kakek bermuka putih
berjenggot lebat, ia mengaku sebagai salah seorang hartawan dari kota
Hek-Lan-Tian yang sengaja datang untuk menjumpai Gan In.
Dengan cepat wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ini
munculkan diri, ujarnya :
"Lo sianseng, ada urusan apa engkau mencari diriku??"
Hartawan itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... nama besar dari komandan Gan
sudah tersohor sampai di man-man, sudah lama aku mengaguminya,
terutama sekali perjuangan Perkumpulan Bunga Merah yang
memberantas Komplotan Tangan Hitam membuat semua pedang di
kota Hek-Lan-Tian merasa amat gembira, aku diajukan sebagai wakil
di antara mereka untuk menyampaikan sedikit hadiah untuk kalian
semua..."
"Memberantas kejahatan dari muka bumi adalah kewajiban dari
kita semua, harap Lo sianseng jangan sungkan-sungkan," sahut Gan
In sambil tertawa hambar, "perkumpulan kami tidak ingin
mengganggu ketenangan kota kalian, maka kami tidak bersedia
masuk kota..."
1215
Saduran TJAN ID
"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih dahulu..."
hartawan itu ulapkan tangannya dan para pekerja kasar pun
menurunkan barang bawaannya.
"Lo sianseng, harap engkau bawa pulang barang-barang itu,
pihak kami..."
"Aaaah, cuma sedikit barang bawaan sebagai tanda hormat kami,
jika Gan Ji tong-kee tak mau menerima, bagaimana aku bisa
mempertanggung-jawabkan diri..."
Habis berkata ia segera memberi hormat dan buru-buru berlalu
dari tempat itu.
Gan In jadi gelengkan kepalanya karena kehabisan akal.
"Lo sianseng, terima kasih atas pemberianmu..." serunya.
Dengan sorot mata tajam ia melirik sekejap ke arah barangbarang
hadiah itu, sebagai seorang jago yang berpengalaman dari
kemunculan sang hartawan yang mendadak kemudian berlalu dengan
tergesa-gesa timbullah kecurigaan dalam hatinya.
Kepada Hee Pek-li segera perintah :
"Cobalah barang-barang itu, apakah beracun atau tidak??"
Hoa Pek Tuo ambil keluar sebatang jarum perak dan memeriksa
semua barang bawaan itu namun sama sekali tidak menunjukkan
gejala racunnya, hal ini membuat jago tersebut gelengkan kepalanya
dengan wajah tercengang bercampur bingung.
"Malam ini perketat penjagaan di sekitar sini," ujar Gan In
dengan wajah serius, "lebih baik barang-barang itu disingkirkan saja,
ketahuilah permainan setan pihak Komplotan Tangan Hitam paling
banyak, setiap saat kita harus selalu waspada..."
Hee Pek-li berlalu untuk menjalankan perintah, Gan In sendiri
sudah melakukan perondaan setiap kemah ia memberi pesan khusus
kepada para penjaga malam...
Suasana sunyi dan hening... udara cerah dan angin malam
berhembus sepoi-sepoi, ketika kentongan ke-tiga sudah lewat,
sebagian besar anggota Perkumpulan Bunga Merah sudah tertidur
1216
IMAM TANPA BAYANGAN II
sementara beberapa orang penjaga malam pun mulai merasakan
matanya amat berat...
Pada saat itulah dari balik semak belukar muncul beberapa sosok
bayangan hitam, setelah memadamkan lampu di sekitar situ mereka
cabut pedang dan menyerbu ke dalam kemah.
Sungguh cepat gerakan tubuh orang-orang itu, di tengah
kegelapan malam jeritan ngeri berkumandang memecahkan
kesunyian, disusul suara bentakan gusar dari Pek In Hoei
memecahkan ketenangan :
"Gan heng, ada sergapan..."
Dengan lincah tubuhnya menerjang ke muka, pedang mestika
penghancur sang surya berkilauan memancarkan cahaya tajam, ketika
para penyergap menyaksikan bahwa di antara anggota Perkumpulan
Bunga Merah ada yang tidak mabok oleh obat pemabok, mereka
nampak tertegun kemudian sambil membentak segera menerjang ke
arah Pek In Hoei.
Cahaya pedang berkilauan, semburan darah membasahi seluruh
permukaan... dengan perkasa Pek In Hoei membinasakan dua orang
musuh yang sedang menerjang ke muka itu... kelihayannya ini kontan
mengejutkan musuh yang lain hingga mereka mundur kembali ke
belakang.
Pada saat itulah Gan In sudah menerjang datang, bentaknya
dengan penuh kegusaran :
"Jangan lepaskan seorang pun di antara mereka..."
Dalam perkiraan Komplotan Tangan Hitam, usaha mereka kali
pasti akan berhasil dan para anggota Perkumpulan Bunga Merah bisa
dibunuh sampai ludes, siapa tahu di tengah jalan muncul tokoh sakti
yang segera membabat rekan-rekannya, hal ini membuat mereka jadi
ketakutan dan segera melarikan diri terbirit-birit.
Pertapa Nelayan dari Lam-beng dengan bersenjatakan pancingan
secara beruntun membinasakan empat orang musuh, sedang Pek In
Hoei serta Gan In membinasakan enam orang, kerugian yang diderita
1217
Saduran TJAN ID
pihak Komplotan Tangan Hitam kali ini besar sekali, namun pada
pihak Perkumpulan Bunga Merah sendiri kerugian yang diderita
boleh dibilang cukup parah juga..."
Menyaksikan kesemuanya itu Gan In menghela napas panjang,
ujarnya :
"Kita sudah terkena tipu muslihat dari hartawan keparat itu..."
"Aku akan pergi menghitung jumlah anggota kita yang selamat,"
kata Pertapa Nelayan dari Lam-beng sambil menggigit bibir, "Ji tongkee,
engkau tak usah bersedih hati..."
Memandang bayangan punggung Pertapa Nelayan dari Lambeng
yang berlalu Gan In merasa matanya mengembang air mata, ia
tak ingin merasakan kekalahan yang mengenaskan itu dan tak ingin
menyaksikan wajah-wajah para korban yang mati dalam keadaan
mengenaskan itu...
"Undang kemari Hee Pek-li..." teriaknya kemudian dengan suara
mendongkol.
Akhirnya Hee Pek-li disadarkan oleh Pertapa Nelayan dari Lambeng
dengan guyuran sebaskom air dingin, dengan wajah ketakutan
ia lari menghadap, mukanya pucat dan badannya gemetar.
"Ji tongkee..." serunya.
"Hmmm! Mengapa para anggota kita bisa jatuh tak sadarkan
diri?? Ayoh jawab..." bentak Gan In dengan suara keras.
"Ketika kulihat barang-barang yang diberikan hartawan itu tak
mengandung racun dan merasa sayang kalau dibuang, maka aku telah
bagikan kepada mereka..." Hee Pek-li dengan suara gemetar,
"sungguh tak nyana makanan itu mengandung obat pemabuk yang tak
berwujud..."
"Hmmm! Tahukah kamu berapa banyak anggota kita yang jadi
korban akibat keteledoranmu itu?"
"Delapan orang meninggal dan enam orang terluka," ujar Pertapa
Nelayan dari Lam-beng, "sebagian besar dibunuh pada saat tak
1218
IMAM TANPA BAYANGAN II
sadarkan diri, Ji tongkee... harap engkau suka memberi petunjuk
dalam mengurusi layon mereka..."
"Aturlah sendiri..."
Pertapa Nelayan dari Lam-beng menghela napas panjang.
"Aaaaai...! Inilah pelajaran berdarah bagi kita semua, kita harus
balaskan dendam untuk para anggota kita yang mati, Ji tongkee harap
engkau suka mengutus seorang anggota untuk menemui ketua kita,
bagaimana juga kita harus melangsungkan suatu pertempuran terbuka
melawan Komplotan Tangan Hitam..."
"Benar! Terpaksa kita harus undang kehadiran dari ketua..."
jawab Gan In dengan sedih, setelah melotot sekejap ke arah Hee Pekli
dengan pandangan gemas, serunya lagi dengan gusar :
"Hmmm! Semuanya ini adalah gara-gara keteledoranmu... coba
lihat begitu banyak anggota kita yang mati... menurut peraturan
perkumpulan atas dosamu itu kau bisa dijatuhi hukuman mati..."
Peraturan Perkumpulan Bunga Merah ketat sekali, peduli siapa
pun yang melanggar kesalahan maka dia akan dijatuhi hukuman
sesuai dengan peraturan, Hee Pek-li sebagai kepala regu tentu saja
mengetahui jelas tentang peraturan itu, dengan badan gemetar buruburu
sahutnya :
"Tecu bersedia menjalankan hukuman sesuai dengan peraturan,
tapi tecu harap agar pelaksanaan hukuman bisa diundur lebih dahulu,
aku hendak balaskan dendam lebih dahulu untuk para saudara yang
telah meninggal kemudian baru melaksanakan hukuman..."
Saking sedihnya ia mengucurkan air mata, lanjutnya kembali :
"Hamba bukanlah seorang pengecut yang takut mati, tetapi
hamba merasa penasaran kalau tidak membunuh bangsat-bangsat itu
dengan tangan sendiri, aku ingin balaskan dendam bagi saudarasaudara
kita lebih dahulu, agar sukmaku di alam baka nanti bisa
peroleh ketenangan, dengan begitu hamba tak usah malu menjumpai
saudara kita yang berada di sana, rasa sedih dalam hatiku pun akan
jauh berkurang..."
1219
Saduran TJAN ID
"Ji tongkee, aku ada satu permintaan..." tiba-tiba Pertapa Nelayan
dari Lam-beng berkata.
"Nelayan tua, kau ada urusan apa???"
Haruslah diketahui meskipun di hari-hari biasa para jago perkasa
ini sering kali bergurau dan tak pernah membedakan tentang tingkatan
usia, akan tetapi setelah terjadinya suatu persoalan mereka semua
bersikap serius sekali.
Dalam Perkumpulan Bunga Merah kedudukan Pertapa Nelayan
dari Lam-beng jauh di bawah kedudukan Gan In, maka dari itu dalam
melakukan sesuatu apa pun ia tak berani berlaku gegabah dan
semuanya menurut aturan.
Terdengar nelayan tua itu menghela napas panjang dan berkata :
"Sekarang adalah saat bagi kita membutuhkan orang lebih
banyak, satu orang berarti tenaga kekuatan kita bertambah besar,
menurut pendapatku hukuman bagi Hee Pek-li tidak pantas kalau
dilaksanakan pada saat ini..."
"Lalu menurut pendapatmu???"
"Menurut pendapatku lebih baik untuk sementara waktu kita
pertahankan jiwa Hee Pek-li, jika Komplotan Tangan Hitam telah kita
musnahkan barulah saat itu hukuman dilaksanakan, bila selama ini
Hee Pek-li banyak melakukan pahala maka sudah sepantasnya kalau
kita memberi kesempatan hidup baginya..."
"Baik!" ujar Gan In kemudian setelah berpikir sebentar, "untuk
sementara waktu kukabulkan permintaan itu, tetapi engkau harus
ingat bahwa selama penundaan pelaksanaan hukuman ini kau si
nelayan tualah yang bertanggung jawab atas segala-galanya,kalau
sampai terjadi keonaran maka engkau pun akan kujatuhi hukuman!"
"Aku bersedia memikul tanggung jawab..."
Dengan penuh kesedihan berlalulah Hee Pek-li dari situ, mereka
sibuk mempersiapkan penguburan bagi rekan-rekannya hingga tanpa
terasa fajar telah menyingsing...
1220
IMAM TANPA BAYANGAN II
Di tengah munculnya cahaya sang surya yang menerangi seluruh
jagad, para anggota Perkumpulan Bunga Merah dengan wajah
murung memandang delapan buah gundukan tanah baru di hadapan
mereka, di situlah ke delapan orang rekan mereka bersemayam.
Selesai melakukan upacara penguburan Gan In mengutus seorang
anggota untuk menyelidiki gerak gerik Komplotan Tangan Hitam lalu
mengutus pula seorang anggota untuk menghubungi ketua mereka,
sesudah itu dengan wajah uring-uringan mereka kembali ke dalam
kemahnya masing-masing.
Siangnya setelah bersantap, baru saja Gan In hendak mengajak
Pek In Hoei untuk menyelami keadaan lawan di kota Hek-Lan-Tian,
tiba-tiba dari depan muncul tiga ekor kuda, dengan cepatnya ke-tiga
ekor kuda itu meluncur datang.
Dalam waktu singkat di hadapannya telah berdiri tiga orang pria
kekar, sambil angsurkan sebuah kartu merah yang besar katanya :
"Nah, terimalah surat tantangan bertempur dari kami!"
Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali :
"Kami mendapat perintah dari pemimpin kami untuk
mengundang para saudara dari Perkumpulan Bunga Merah untuk
berjumpa di bukit Siau-In-San kurang lebih sepuluh lie dari sini..."
Kemudian ia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei dan
menambahkan :
"Mungkin engkaulah yang disebut Jago Pedang Berdarah Dingin
Pek toa enghiong???"
"Sedikit pun tidak salah," jawab Pek In Hoei sambil mendengus,
"ada urusan apa..."
"Hemmmm... aku Mao Bong sudah lama mengagumi nama besar
Pek toa enghiong..."
Diam-diam Pek In Hoei dan Gan In merasa terkejut mendengar
nama itu, mereka tak menyangka kalau Lak Ci Kiam atau Pedang
Enam Jari Mao Bong yang tersohor di wilayah Kam-siok merupakan
utusan dari Komplotan Tangan Hitam, jika ditinjau dari perbuatannya
1221
Saduran TJAN ID
yang jahat serta namanya yang tersohor kejadian ini benar-benar ada
di luar dugaan.
Bagian 45
"OOOOH! Kiranya Mao toa-enghiong," seru Pek In Hoei, "Mao-heng
hidup makmur di wilayah Kam-siok sebagai raja, mau apa engkau
datang kemari sebagai utusan orang? Apakah sudah ganti pekerjaan
sebagai penyamun..."
Mao Bong tertawa dingin.
"Aku sendirilah yang mengajukan diri secara suka rela untuk
menghantar surat tantangan tersebut, tujuanku bukan lain adalah
untuk menyaksikan manusia macam apakah Jago Pedang Berdarah
Dingin yang amat tersohor namanya di wilayah selatan itu, Hehmm...
heeehhmmm... orangnya sih lumayan, cuma sayang terlalu lembut..."
Rupanya ia merasa curiga atas ketenaran nama Pek In Hoei yang
dianggapnya masih terlalu muda itu, sedikit banyak hatinya merasa
agak kecewa juga setelah bertemu dengan orangnya sesudah jauhjauh
dari wilayah Kam-siok datang kemari dengan tujuan bertemu
dengan jago muda itu.
"Hmmm! Meskipun usia Pek sau-hiap masih muda namun ilmu
silatnya tidak muda lagi," seru Gan In dengan suara dingin, "janganlah
menganggap setelah engkau menempati kursi pertama di wilayah
Kam-siok lantas dalam pandanganmu tiada orang pintar lagi,
ketahuilah jago lihay yang ada dalam Bu-lim banyak sekali, dan
engkau Mao Bong masih belum terhitung seberapa..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " Mao Bong tertawa seram,
"perkataanmu enak benar kalau dinikmati, aku orang she Mao
memang belum pernah menjumpai keadaan seperti ini saudara Gan,
kedatanganku kemari bukanlah untuk menengok dirimu, karena itu
lebih baik tutup saja mulut anjingmu itu..."
"Ooooh! Jadi kalau begitu Mao-heng sangat memandang tinggi
diriku!..." seru Pek In Hoei sambil tertawa hambar.
1222
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Memandang tinggi apa? Sungguh mengecewakan
sekali..."
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Engkau sendiri pun tak terhitung seberapa hebat, aku rasa tidak
lebih engkau cuma seorang jago bayaran..."
"Apa kau bilang???" teriak Mao Bong sambil melototkan
matanya bulat-bulat, "engkau anggap aku orang she Mao cuma
seorang jago bayaran? Hmmm... Pek In Hoei, kau jangan terlalu
pandang rendah diriku, selama berada di wilayah Kam-siok asal aku
Mao Bong berteriak maka semua orang akan memanggil diriku
sebagai Mao toako, kau ini cuma manusia apa?? Bocah cilik yang
masih ingusan dan paling banter baru belajar ilmu pedang beberapa
hari, berani betul engkau tak pandang sebelah mata kepadaku...
hmm... hmmm... engkau terlalu halus sahabat..."
"Haaaah... haaaah... haaaah...... kiranya begitu, maaf... maaf... "
seru Gan In secara tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" tanya Mao Bong dengan wajah tertegun.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau engkau berteriak maka orang
akan sebut dirimu sebagai Mao toako, tahukah engkau jiwa Pek toako
kami ini yang berteriak, apa sebutan orang kepadanya..."
"Orang sebut dia sebagai apa??"
"Ooooh... bapakku..."
Mao Bong tidak menyangka kalau Gan In sedang memperolokolok
dirinya, apalagi ketika diingat betapa keras gelak tertawa orang
itu, saking mendongkolnya dia segera membentak keras, cambangnya
pada berdiri semua bagaikan landak, teriaknya dengan amat gusar :
"Beranikah engkau berduel melawan aku orang she Mao..."
"Selama berlangsung konfrontasi antara dua negara, selamanya
utusan ke-dua belah pihak tak berani diganggu, aku tak sudi bertarung
melawan dirimu pada saat ini, jika Mao-heng punya kegembiraan
maka silahkan mencoba waktunya berada di gunung Siau-in-san
1223
Saduran TJAN ID
nanti, lebih baik sekarang simpanlah tenagamu dan pamerkan saja
kemampuan di bukit Siau-in-san nanti..."
"Hmmm! Aku sudah tahu kalau engkau tak berani..."
"Huuuh...! Engkau toh cuma seorang jago bayaran.. ketahuilah
aku adalah seorang wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah, aku
tak sudi ribut-ribut dengan jago bayaran macam dirimu itu... Maoheng
sekarang kamu boleh berlalu dari sini..."
"Hmmm! Manusia yang ada di sini tidak lebih hanya
serombongan gentong nasi..." teriak Mao Bong dengan gemas.
"Apa yang kau katakan??" tegur Pek In Hoei sambil melangkah
maju ke depan.
Mao Bong melirik sekejap ke arah Pek In Hoei dengan
pandangan dingin, lalu teriaknya :
"Aku bilang manusia yang berkumpul di sini tidak lebih cuma
serombongan gentong nasi!"
Plaaak! Ploook!
Dengan suatu gerakan yang amat cepat Jago Pedang Berdarah
Dingin ayunkan telapaknya memerseni dua gablokan keras ke atas
wajah Mao Bong, begitu keras gablokan tersebut membuat tubuh sang
jago dari wilayah Kam-siok ini mundur beberapa langkah ke belakang
dengan sempoyongan.
Pek In Hoei tertawa dingin, serunya :
"Anggaplah gablokan tersebut sebagai suatu peringatan bagi
kamu si keparat yang bermulut anjing, lain kali kalau berani bicara
sembarangan lagi... Hmmmm jangan salahkan kalau mulutmu akan
kurobek sampai telinganya..."
Meminjam kesempatan baik itu Gan In pun mengejek tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... sahabat Mao, andaikata engkau
mencari diriku maka akibatnya tak akan separah itu, siapa suruh kamu
cari gara-gara dengan Pek-heng, Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dia sih
tak suka bicara seperti diriku ini..."
1224
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kamu berani memukul aku??" bentak Mao Bong dengan penuh
kebencian... "Hmmm... Hmmm... rupanya kamu memang benar-benar
sudah bosan di kolong langit..."
Selama berada di wilayah Kam-siok ia menduduki kursi pertama,
selama hidup hingga kini boleh dibilang belum pernah mengalami
peristiwa memalukan seperti ini, kontan hawa amarah berkobar
hingga seluruh ototnya pada menonjol keluar, matanya berapi-api dan
air mukanya berubah jadi merah padam...
"Apa salahku?" jawab Pek In Hoei dengan nada menghina, "aku
toh cuma menggablok gentong nasi yang sesungguhnya..."
"Bajingan... aku hendak cabut jiwa anjingmu..." jerit Mao Bong
dengan kalap.
Criiing...! Sekilas cahaya pedang bergetar dari tangannya, setelah
menggetar sebentar kemudian berputar membentuk gerakan lingkaran
busur di udara, laksana kilat ia bacok tubuh pemuda itu.
"Hmmm! Bagus sekali," jengek Pek In Hoei dengan hawa napsu
membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, "aku hendak memberi
suatu tanda mata di atas tubuhmu, agar semua anggota Komplotan
Tangan Hitam tahu bahwa Mao Bong dalam pandanganku tidak lebih
cuma seorang badut cilik, seorang kerbau tua yang pandainya cuma
mengibul..."
Tubuhnya meloncat maju ke depan dan menerobos lewat di
bawah sambaran pedang lawan, gerakan tubuh yang begitu hebat
benar-benar mengerikan hati orang yang melihat, sekalipun meluncur
lewat di bawah senjata musuh namun tubuhnya sama sekali tidak
terluka.
Criiing...! Pek In Hoei meloloskan pedang penghancur sang
surya-nya dari dalam sarung, bayangan senjata meluncur ke muka dan
memaksa Mao Bong tak mampu membuka matanya kembali.
"Itukah pedang mestika penghancur sang surya??" bisiknya
dengan suara gemetar.
1225
Saduran TJAN ID
"Sedikit pun tidak salah, engkau dapat mencicipi bagaimana
rasanya pedang mestika dari partai Thiam cong ini, boleh dikata
perjalananmu kali ini sama sekali tidak sia-sia belaka..."
Sambil berkata pedang mestika penghancur sang surya-nya
menggetarkan tiga titik cahaya tajam di udara, di tengah getaran yang
enteng ke-tiga titik cahaya tersebut dengan mengandung desiran angin
tajam segera menggulung ke muka.
Air muka Mao Bong berubah hebat, pikirnya :
"Ooooh... rupanya ilmu pedang yang dia miliki luar biasa juga..."
Dia sendiri pun merupakan seorang ahli pedang maka barang
siapa pun memainkan satu jurus serangan dengan cepat dia akan
mengetahui sampai di manakah taraf tenaga dalam yang dimiliki
lawannya. Karena itulah meskipun Pek In Hoei cuma mengayunkan
pedangnya akan tetapi Mao Bong sudah menyadari bahwa hari ini dia
telah menjumpai musuh tangguh.
Ia tak berani melawan serangan musuh dengan kekerasan,
pedangnya secara beruntun melancarkan tiga bacokan ke tengah
udara, tubuhnya bergerak maju dan membentak keras, pedangnya dari
bacokan berubah jadi suatu tusukan mengancam pinggang si anak
muda itu.
Pek In Hoei tertawa ewa katanya :
"Hmmm! Perhitungan sie poa mu ternyata lumayan juga..."
Sang badan maju ke muka dan berada di bawah serangan musuh
yang sangat aneh itu, bukannya mundur tiba-tiba dia maju ke depan,
laksana kilat pedangnya dilancarkan ke muka menyongsong
datangnya serangan lawan...
Triiing...! Sepasang pedang saling membentur satu sama lainnya
menimbulkan suara dentingan yang sangat nyaring, tiba-tiba Jago
Pedang Berdarah Dingin menarik kembali pedangnya di saat ia putar
badan sang pedang kembali diayun ke muka.
"Aduuuh..." Mao Bong menjerit kesakitan, sambil mencekal
lengannya ia mundur ke belakang, saking sakitnya keringat dingin
1226
IMAM TANPA BAYANGAN II
sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, memandang
darah segar yang mengucur keluar dari lengannya ia menggertak
kencang-kencang, teriaknya dengan penuh kebencian :
"Sungguh kejam engkau..."
"Hmmm! Anggaplah tusukan pedangku itu sebagai pelajaran
bagimu," kata Pek In Hoei dengan suara dingin, "lain kali kalau ingin
bicara berhati-hati sedikit..."
"Kentut busuk!" bentak Mao Bong dengan gusar, "belum tentu
aku kalah dengan dirimu orang she Pek, kalau engkau punya
keberanian ayoh kita bertemu lagi di atas bukit siau-in-san, aku Mao
Bong pasti akan menuntut balas atas sakit hati ini..."
Buru-buru dia mengajak dua orang pria lainnya untuk loncat naik
ke atas kuda, kemudian mendeprak kudanya dan kabur secepatcepatnya
dari tempat itu diiringi gelak tertawa dari para anggota
Perkumpulan Bunga Merah...
******
Di bawah kaki gunung Siau-in-san para anggota Perkumpulan
Bunga Merah mendirikan kemahnya, selama akan berlangsungnya
pertemuan itu para anggota dari Komplotan Tangan Hitam tak
seorang pun yang munculkan diri, hal ini membuat pikiran Gan In jadi
amat kalut, ia menitahkan seluruh anggotanya untuk tidak naik
gunung secara sembarangan kemudian berpesan pula bila terjadi
pertemuan yang tak terduga dengan pihak lawan maka janganlah
melakukan pertarungan.
Dengan wajah yang tegang Pertapa Nelayan dari Lam-beng
berkata :
"Mungkinkah ketua kita bisa ikut hadir di dalam pertemuan ini
masih merupakan suatu pertanyaan besar, kali ini rupanya kehadiran
para Komplotan Tangan Hitam disertai dengan persiapan yang cukup
sempurna, sebaliknya jumlah kekuatan yang kita miliki terlalu minim
1227
Saduran TJAN ID
sekali, berhasilkah kita rebut kemenangan masih merupakan suatu
pertanyaan yang tak bisa dijawab."
"Nelayan tua, kau tak usah terlalu bersedih hati," jawab Gan In
dengan wajah serius, "mereka berani menantang kita untuk bertemu
di tempat ini tentunya disebabkan mereka sudah menduga kalau ketua
kita pasti tak bisa hadir sedang mereka hendak menggunakan siasat
ikan besar menelan ikan kecil untuk menyikat kita semua. Sampai
waktunya asal kita berjuang dengan segala kemampuan yang kita
miliki, aku percaya pihak Komplotan Tangan Hitam pun tak akan
mendapat keuntungan apa-apa..."
Pada saat itulah Jago Pedang Berdarah Dingin kebetulan sedang
berjalan mendekat, setelah memandang sekejap sekeliling bukit itu
tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, kepada Gan In dia
segera berkata :
"Saudara Gan, aku ada satu persoalan yang hendak dirundingkan
dengan dirimu..."
"Katakanlah saudara Pek," jawab Gan In sambil tertawa, "kita toh
orang-orang sendiri, ada persoalan utarakanlah agar bisa kita
rundingkan secara baik-baik."
Pek In Hoei berpikir sebentar, lalu berkata :
"Bentuk dari bukit Siau-in-san ini tegak lurus dan curam sekali
batu karang berserakan di mana-mana, asal Komplotan Tangan Hitam
berjaga di sekitar tempat itu lalu menyerang kita dengan batu serta
senjata rahasia niscaya kita tak mampu untuk menerjang ke atas.
Menurut pendapat siau-te, apa salahnya kalau kita berdua memutar ke
bukit sebelah belakang sana kemudian menyerbu ke atas hingga bikin
mereka jadi kalang kabut dan gelagapan sendiri, setelah pertahanan
serta jebakan-jebakan yang mereka siapkan berhasil kita singkirkan,
menggunakan kesempatan yang sangat baik itu bukankah saudarasaudara
kita dan Perkumpulan Bunga Merah bisa menyerbu ke atas..."
"Betul!" teriak Gan In sambil bertepuk tangan, "akal ini memang
bagus sekali..."
1228
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dia serta Pek In Hoei secara diam-diam segera melakukan
persiapan, setelah meninggalkan pesan kepada Pertapa Nelayan dari
Lam-beng ke-dua orang itu segera memutar ke gunung sebelah
belakang.
Para Komplotan Tangan Hitam yang berjaga-jaga di bukit
sebelah depan dan menghimpun kekuatannya di situ tentu saja tak
pernah menyangka kalau pihak lawan bisa menyergap dari arah
belakang.
Sepanjang perjalanan Pek In Hoei serta Gan In bergerak dengan
sangat berhati-hati, ternyata tiada seorang manusia pun yang
menghalangi jalan pergi mereka, ketika mencapai lambung bukit
dijumpainya para jago dari Komplotan Tangan Hitam ada yang
melakukan perondaan di situ.
Tiga orang anggota Komplotan Tangan Hitam duduk berjejer di
belakang sebuah batu besar, waktu itu mereka sedang merokok
sehingga asap tembakau membocorkan jejak orang-orang itu.
Pek In Hoei segera memberi tanda kepada Gan In, dua orang jago
lihay itu dengan gerakan tubuh bagaikan dua gulung asap meluncur
ke tengah udara, setelah berputar satu lingkaran busur tiba-tiba
mereka melayang turun di sisi ke-tiga orang musuhnya itu.
1229
Saduran TJAN ID
Jilid 48
PERCIKAN DARAH SEGERA memancar ke empat penjuru dua
orang jago lihay dari Komplotan Tangan Hitam, sebelum sempat
melihat jelas raut wajah musuhnya tahu-tahu jiwa mereka telah
melayang tinggalkan raganya, sedang ke-tiga dengan mata terbelalak
dan mulut melongo duduk dengan badan gemetar keras, dengan sorot
mata penuh ketakutan ditatapnya wajah Jago Pedang Berdarah Dingin
itu, lalu serunya dengan suara gemetar:
"Oooh... kau!"
"Hmm! Berapa banyak orang yang ada di atas bukit ini?" hardik
Pek In Hoei dengan nada ketus.
"Hamba tidak tahu," jawab pria itu sambil menggeleng, "kami
hanyalah para petugas yang berjaga di lingkaran paling depan,
terhadap semua urusan yang terjadi di atas sana tak boleh ikut tahu,
tapi aku lihat hari ini banyak sekali yang telah berdatangan!"
"Bagaimanakah persiapan di bukit sebelah depan sana?" tanya
Gan In dengan alis berkerut.
Pria itu ketakutan setengah mati sehingga tubuhnya gemetar
keras, jawabnya :
"Semua kekuatan yang kami miliki telah dihimpun di bukit
sebelah depan, di sekitar tempat itu telah disiapkan batu cadas,anak
panah dan balok-balok kayu, bila kalian naik ke atas bukit maka
semua alat serangan itu akan dilancarkan ke bawah, dalam keadaan
begini tentu saja sebagian besar kekuatan yang kalian miliki akan
1230
IMAM TANPA BAYANGAN II
ludes sama sekali, pada waktu itulah dari atas bukit batu akan muncul
para jago lihay untuk melangsungkan pertarungan dengan kalian."
"Hmm! Sempurna amat rencana kalian itu..." seru Gan In sambil
mendengus dingin.
Dengan hati mendongkol ia tendang tubuh pria itu ke atas,
sehingga membuat orang tadi terjengkang dan roboh tak berkutik di
atas tanah, kemudian sambil berpaling ke arah Pek In Hoei katanya :
"Lebih baik kita bertindak hati-hati," jawab Pek In Hoei sambil
gelengkan kepalanya, "tujuan dari kedatangan kita saat ini adalah
melenyapkan jebakan-jebakan yang telah dipersiapkan oleh pihak
lawan, kalau kita bisa bertindak cermat hingga tidak sampai diketahui
oleh mereka hal itu jauh lebih baik lagi, asal kita berdua..."
Ia menengadah ke atas dan tiba-tiba menyaksikan sesosok
bayangan manusia sedang lari ke arah mereka dengan kecepatan
bagaikan kilat, Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggenjot
tubuhnya menyerang ke muka, telapak kanannya disilangkan di depan
dada siap menghadapi segala kemungkinan sedang tangan yang lain
siap melakukan penangkapan.
Sungguh cepat gerak tubuh manusia itu, dalam sekali gerak badan
ia telah meloloskan diri dari kejaran Pek In Hoei, setelah saling
berhadapan muka Jago Pedang Berdarah Dingin baru berdiri tertegun,
sebab orang yang berada di hadapannya saat itu ternyata adalah
seorang gadis muda.
"Pek-heng, tunggu sebentar," tiba-tiba Gan In berseru sambil
goyangkan tangannya, "dia adalah orang sendiri..."
"Orang sendiri..." ujar Pek In Hoei dengan wajah tertegun dan
tidak habis mengerti.
Sementara itu tampaklah gadis tadi sudah tersenyum ketika
ditemuinya Gan In berada di situ, ia berkata :
"Engkoh In, kenapa engkau muncul di tempat ini?"
Gan In tertawa hambar.
1231
Saduran TJAN ID
"Adik Hoa, aku serta Pek-heng sedang bersiap-siap untuk
melakukan peninjauan lebih dahulu ke atas bukit, aku dengar di
sekitar tempat ini sudah dipersiapkan jebakan-jebakan maut..."
Ia melirik sekejap ke arah gadis cantik itu, kemudian
menambahkan :
"Dan engkau sendiri mau apa?"
"Secara diam-diam aku hendak menyusup turun ke bawah bukit
dan memberitahukan keadaan di tempat ini kepada kalian, ini hari
sebagian besar anggota Komplotan Tangan Hitam telah berkumpul di
sini, dan sekarang mereka sedang melakukan perundingan rahasia."
"Tentang soal itu sih tak usah kau kuatirkan," jawab Gan In
sambil tertawa dingin, "sekarang engkau harus berusaha untuk
melindungi kami, dan kita hancurkan lebih dahulu semua jebakanjebakan
yang telah dipersiapkan pihak lawan, setelah semua
penjagaan di situ berhasil kita patahkan maka para saudara dari
Perkumpulan Bunga Merah akan menyergap naik ke atas bukit dalam
keadaan yang tiba-tiba..."
"Tindakan semacam ini terlalu menempuh bahaya," sahut gadis
itu sambil menggeleng, "aku telah berhasil mengetahui sebuah jalan
rahasia di tempat ini, jalan tersebut bisa langsung mencapai atas
puncak bukit ini tanpa menjumpai rintangan apa pun, asalkan saudarasaudara
dari Perkumpulan Bunga Merah dapat menghindari bukit di
sebelah depan sana, maka tak usah dihancurkan semua jebakan itu
pun akan tak berfungsi lagi..."
"Ooooh...! Benarkah terdapat jalan seperti itu..." seru Gan In
tercengang.
Sambil tertawa dara ayu itu mengangguk.
"Aku telah meninggalkan tanda rahasia di jalan rahasia tersebut,
pada setiap sepuluh batang pohon terdapat sekuntum bunga merah,
asal engkau mencarinya dengan teliti di sekitar bawah bukit maka
jalan itu akan kau temukan dengan mudah, sekarang lebih baik kalian
1232
IMAM TANPA BAYANGAN II
tak usah menggebuk rumput mengejutkan ular kesemuanya dan
berjalan menurut rencana..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " tiba-tiba dari belakang batu
karang berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat
menyeramkan, begitu suara tertawa dingin itu berkumandang keluar,
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei segera menggerakkan
tubuhnya menerjang ke muka, telapak tangannya langsung diayun
melancarkan sebuah babatan.
Anggota Komplotan Tangan Hitam yang bersembunyi di tempat
kegelapan itu tertawa dingin, sambil ayun telapaknya ia lompat keluar
dari tempat persembunyiannya.
Ternyata dia adalah seorang kakek tua bermata segi tiga,
berhidung lebar dan bermulut besar, sambil memandang ke arah gadis
ayu itu ia tertawa dingin dan berkata :
"Ong Li Hoa, rupanya telah bersekongkol dengan orang-orang
dari Perkumpulan Bunga Merah..."
Air muka Ong Li Hoa berubah hebat, saking takutnya sekujur
tubuhnya gemetar keras, ia tak menyangka kalau rahasianya bakal
terbongkar dalam keadaan seperti ini, dengan wajah pucat pias
bagaikan mayat dia mundur dua langkah ke belakang, serunya :
"Thian Goan, mau apa engkau bersembunyi di situ?"
Gan In sendiri pun merasakan hatinya tercekat setelah
mengetahui siapakah musuh yang munculkan diri itu, ia tak
menyangka kalau kakek tua di hadapannya adalah si Pendekar Setan
Thian Goan yang amat tersohor namanya di wilayah See-Ih, sebagai
seorang jago yang berpengalaman dan berpengetahuan luas, setelah
menyaksikan kemunculan orang itu hatinya langsung tercekat,
katanya dingin :
"Oooooh...! Jadi kau adalah Thian Goan dari wilayah See-Ih,
Thian sianseng."
"Sedikit pun tidak salah!" jawab Thian Goan sambil tertawa
seram, wakil ketua she Gan, aku sudah lama sangat mengagumi akan
1233
Saduran TJAN ID
nama besarmu... sungguh beruntung hari ini kita bisa saling
berjumpa..."
Gan In mengerutkan dahinya, hawa napsu membunuh terlintas di
atas wajahnya, ia berkata :
"Thian sianseng, engkau bukannya hidup makmur di wilayah
See-Ih, mau apa engkau kunjungi tempat seperti neraka ini..."
"Hmmm! Tutup mulutmu!" bentak Thian Goan sambil
mendengus, "aku datang kemari atas undangan dari pemimpin
Komplotan Tangan Hitam, ia minta aku menggabungkan diri dengan
kekuatannya untuk menelan semua partai yang ada di kolong langit
dan merajai dunia persilatan. Hmmm! Kalian manusia-manusia
kurcaci dari Perkumpulan Bunga Merah berani berlagak sombong dan
coba menentang kekuatan kami... Hmmm... hmmm... lebih baik
cepat-cepatlah menyerah..."
"Cuuuh...!" Gan In meludah dengan penuh penghinaan, lalu
membentak gusar :
"Selamanya kami orang-orang dari Perkumpulan Bunga Merah
tak sudi hidup berdampingan dengan Komplotan Tangan Hitam..."
Thian Goan tertawa sinis.
"Aku dengar katanya di pihak perkumpulan kalian telah
kedatangan seorang jago lihay yang menyebut dirinya sebagai Jago
Pedang Berdarah Dingin. Hmmm...! Besar amat nyali bajingan itu, ia
berani melukai Mao Bong saudara seanggota kami...
Heehmmm...heehmmm... aku sangat berharap pada hari ini bajingan
cilik itu bisa ikut munculkan diri untuk menjumpai aku orang she
Thian, akan kusuruh dia rasakan sampai di manakah kelihayan dari
ilmu pedang aliran See-Ih ku ini..."
Pek In Hoei segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... akulah si Jago Pedang Berdarah
Dingin yang kau cari!"
Secara beruntun Thian Goan mundur beberapa langkah ke
belakang, dengan wajah sangsi bercampur ragu ia menatap wajah
1234
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jago Pedang Berdarah Dingin beberapa saat lamanya, kemudian
menegur :
"Benarkah engkau adalah Pek In Hoei?"
"Sedikit pun tidak salah," jawab pemuda itu sambil tertawa
dingin, "Thian sianseng, ada urusan apa engkau mencari diriku?"
"Aku ingin sekali memohon petunjuk dari jurus ilmu pedang
yang terampuh dari daratan Tionggoan," sahut Thian Goan sambil
meloloskan pedangnya, "aku sangat heran sekali, kenapa seorang
pemuda yang masih bau tetek macam dirimu bisa mempunyai
kesempurnaan yang luar biasa dalam permainan ilmu pedang, lebih
heran lagi apa sebabnya Mao Bong bisa terluka di ujung pedangmu..."
Pek In Hoei mendengus dingin, ia tidak melayani perkataan orang
itu sebaliknya berpaling ke arah Gan In sambil tanyanya :
"Apakah orang ini boleh dibiarkan hidup atau tidak?"
Gan In tertegun, lalu jawabnya dengan cepat :
"Kau harus turun tangan cepat-cepat, lebih baik lagi kalau tidak
sampai diketahui oleh seorang manusia pun yang ada di atas bukit ini,
kalau tidak maka kedudukan Ong Li Hoa di sini akan hancur
berantakan, Pek-heng dalam keadaan seperti ini kita tak bisa bertindak
bijaksana dan lemah lagi, kalau tidak maka puluhan lembar jiwa
anggota Perkumpulan Bunga Merah akan musnah di tempat ini
juga..."
Thian Goan sama sekali tidak menyangka kalau dua orang
pemuda yang berada di hadapannya sama sekali tidak memandang
sebelah mata pun terhadap dirinya, karena gusar bercampur
mendongkol sekujur tubuhnya gemetar keras, hawa amarah berkobar
dalam dadanya dan memuncak dalam benak, sambil ayunkan
senjatanya ia berteriak :
"Bajingan cilik, engkau jangan terlalu takabur..."
Ilmu pedang aliran See-Ih tersohor karena jurus-jurus
serangannya yang aneh serta arah serangan yang jauh berlawanan
dengan ilmu pedang pada umumnya, setelah Thian Goan melancarkan
1235
Saduran TJAN ID
serangannya maka arah yang dituju membingungkan sekali, untuk
beberapa saat lamanya Jago Pedang Berdarah Dingin itu tak tahu
bagian tubuh yang manakah yang sedang diancam oleh lawannya.
Diam-diam Pek In Hoei terkesiap, pikirnya :
"Ilmu pedang aliran See-Ih rupanya benar-benar luar biasa dan
tak boleh dipandang enteng..."
Ia sadar bahwa waktu pada saat ini sangat berharga sekali dan
mempengaruhi setiap lembar nyawa yang ada di bawah bukit, asal ia
bersikap mengendor niscaya puluhan lembar nyawa akan lenyap tak
berbekas, setelah terbayang akan seriusnya situasi ketika itu, pedang
mestika penghancur sang surya segera dilancarkan ke muka dengan
hebatnya.
"Thian sianseng, maafkanlah daku!" serunya dengan suara berat.
Setelah pedang dilancarkan, di tengah udara berkumandanglah
suara dengungan yang sangat nyaring, serentetan cahaya pedang yang
menyilaukan mata memancar keluar mengiringi gerakan 'Lak-lionghui-
jit' atau Enam Naga Menghadap Sang Surya, selapis hawa pedang
yang kuat seketika menyelimuti seluruh tubuh Thian Goan.
Jurus serangan itu merupakan salah satu jurus paling ampuh di
antara ilmu pedang penghancur sang surya, dan merupakan jurus
serangan yang paling cepat pula untuk menyelesaikan satu
pertarungan. Thian Goan sama sekali tidak menyangka kalau ilmu
pedang yang dimiliki lawannya selihay itu, dalam kejutnya ia jadi
ketakutan dan buru-buru jatuhkan diri bergelinding di atas tanah.
Darah segera memancar keluar dari lengan jago lihay tersebut, air
mukanya berubah hebat dan senyuman pedih tersungging di ujung
bibirnya dengan suara mendendam ia berteriak :
"Bagus, rupanya engkau memang sangat hebat..."
Sambil ayun pedangnya Pek In Hoei mendesak maju lebih ke
depan, ujarnya dengan suara dingin :
"Engkau dapat meloloskan diri dari sejurus seranganku, hal ini
menandakan kalau engkau masih lumayan juga."
1236
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tiba-tiba Thian Goan putar badan dan kabur dari situ, teriaknya
keras-keras :
"Keparat cilik, nantikan pembalasanku."
Jago Pedang Berdarah Dingin segera enjotkan badan siap
melakukan pengejaran, akan tetapi Gan In yang berada di sisinya telah
menghalangi kepergiannya sambil berseru :
"Mari kita turun gunung saja, rupanya pihak lawan sudah
mengetahui gerakan kita..."
"Bagaimana dengan aku?" seru Ong Li Hoa dengan hati gelisah
hingga air mata jatuh bercucuran, "mereka sudah tahu kalau aku
bekerja untuk Perkumpulan Bunga Merah, aku pasti akan dibunuh
oleh mereka... engkoh In, katakanlah apa yang harus kulakukan
sekarang?"
Gan In gelengkan kepalanya.
"Apa daya lagi? Kejadian ini adalah suatu tindakan yang
terpaksa, sekarang engkau hanya bisa berlalu mengikuti kami, kau tak
bisa kembali ke situ lagi... meskipun para anggota Komplotan Tangan
Hitam lihay akan tetapi mereka tak akan berani mengganggu dirimu
secara sembarangan..."
Dengan air mata bercucuran Ong Li Hoa menghela napas
panjang, terpaksa ia harus mengikuti Gan In serta Jago Pedang
Berdarah Dingin untuk turun ke bawah bukit, ke-tiga orang itu
bergerak bagaikan hembusan angin, dalam waktu singkat mereka
sudah kembali ke induk pasukan.
Dalam pada itu Pertapa Nelayan dari Lam-beng sedang
mempersiapkan anak buahnya untuk melakukan sergapan ke atas
bukit, ketika menyaksikan Gan In sekalian tiba kembali, ia nampak
tertegun.
Dengan cepat Gan In memberikan perintahnya, kemudian
memerintahkan seluruh pasukan bergerak ke atas gunung.
Di bawah pimpinan Ong Li Hoa, berangkatlah para jago lihay
dari Perkumpulan Bunga Merah yang tak jeri menghadapi kematian
1237
Saduran TJAN ID
ini menuju ke atas bukit lewat jalan rahasia yang tidak dipasang
jebakan tersebut.
Para anggota Komplotan Tangan Hitam tidak menyangka kalau
musuh-musuhnya dapat menemukan jalan rahasia tersebut, menanti
mereka menyadari akan hal tersebut di atas, persiapan sudah tak
sempat lagi dilakukan lagi. Kejadian ini membuat para jago dari
Komplotan Tangan Hitam jadi amat mendongkol sekali.
Blaaam...! Dari atas puncak Siau-in-san tiba-tiba terjadi ledakan
dahsyat, diikuti munculnya satu rombongan jago lihay berbaju hitam
di bawah pimpinan Mao Bong.
Ketika sampai di tengah bukit, Mao Bong segera berseru dengan
suara lantang :
"Sahabat-sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah dipersilahkan
naik ke atas bukit."
Gan In agak tertegun melihat kemunculan orang-orang itu, tapi
sebentar kemudian ia telah berkata :
"Rupanya pihak lawan telah tinggalkan jebakan-jebakannya serta
mengutus orang untuk mengundang kehadiran kita ke atas bukit.
Haaaah... haaaah... haaaah... mereka tahu bahwa siasatnya tidak jalan
maka secara suka rela mengadakan penyambutan..."
Menanti para jago Perkumpulan Bunga Merah sudah naik semua
ke atas, berangkatlah Mao Bong memimpin jalan di paling depan,
walaupun bukit Siau-in-san curam dan berbahaya sekali letaknya akan
tetapi di atas puncak merupakan sebidang tanah datar, di sana meja
perjamuan telah dipersiapkan, dan dua baris anggota Komplotan
Tangan Hitam dengan senjata tersoren menyambut kedatangan
mereka di sepanjang jalan.
Menyaksikan kekuatan musuh yang rupanya sengaja dipamerkan
itu, Gan In mendengus dingin, ujarnya :
"Mao heng, apakah ketua kalian sudah tiba?"
"Saudara Gan tak usah gelisah atau pun terburu napsu,"jawab
Mao Bong dengan ketus, "Komplotan Tangan Hitam berani
1238
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengundang kehadiran kalian di tempat ini, tidak nanti kami akan
bikin hati kalian jadi kecewa, silahkan kalian menanti..."
"Hmmm, Komplotan Tangan Hitam berani mengundang
kehadiran kami, kenapa ketua kalian tak berani hadir sedari tadi..."
sindir Gan In dengan nada sinis.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... saudara Gan, coba lihatlah!
Bukankah ketua kami telah tiba..."
Mengikuti arah yang ditunjuk, terlihatlah tiga orang kakek
berjubah merah sedang berjalan menuju ke puncak mengiringi
seorang pria kurus yang berjubah dengan sulaman naga serta
memakai kain kerudung hitam di atas wajahnya.
Gan In tertegun, segera pikirnya di dalam hati :
"Apakah manusia berkerudung itu ketua Komplotan Tangan
Hitam...? Ia mengerudung wajahnya dengan kain hitam dan cuma
perlihatkan sepasang matanya belaka, apa maksudnya berbuat begitu?
Apakah ia tak berani menjumpai orang dengan wajah asli ataukah
sengaja berlagak sok misterius hingga menimbulkan kesan yang luar
biasa dalam hati kami semua..."
Perlahan-lahan ke-tiga orang kakek berjubah merah itu naik ke
atas puncak dan berhenti di depan sebuah meja, manusia berkerudung
itu sendiri setelah melirik sekejap ke arah Gan In serta Jago Pedang
Berdarah Dingin segera menempati kursinya dengan sombong.
Tak sepatah kata pun yang diucapkan, ia cuma ulapkan tangannya
belaka.
Seorang kakek jubah merah segera maju ke depan, setelah
menyapu sekejap wajah Gan In sekalian dengan pandangan dingin,
katanya :
"Ketua kami mempersilahkan wakil ketua she-Gan untuk
menempati kursi utama..."
Gan In mendengus dingin.
"Hmmm! Bukan dia yang buka suara, kenapa engkau yang
banyak mulut..." serunya.
1239
Saduran TJAN ID
Kedudukan kakek jubah merah itu rupanya tidak rendah, setelah
mendengar perkataan dari Gan In yang begitu jumawa dan sama
sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya itu, kontan ia
naik pitam, dengan penuh kegusaran ditatapnya Gan In sekejap lalu
teriaknya :
"Wakil ketua Gan, kalau berbicara aku harap engkau bisa sedikit
tahu diri..."
"Aku lihat lebih baik engkau menyingkir saja dari situ, apa sih
kedudukanmu di dalam Komplotan Tangan Hitam? Berani benar
mewakili atasanmu untuk berbicara dengan aku, apakah Komplotan
Tangan Hitam memang tak kenal akan tata kesopanan?"
Kakek jubah merah itu tertegun, sekilas rasa ngeri terbentang di
atas wajahnya, dengan cepat ia berpaling dan memandang sekejap ke
arah ketuanya, namun pada waktu itu sang ketua sedang memandang
ke atas sambil memandang awan di angkasa, terhadap kejadian yang
berlangsung di tempat itu sama sekali tidak menaruh perhatian.
Ia segera menenangkan hatinya dan berkata :
"Wakil ketua she-Gan, anggap saja engkau lebih hebat... Aku Lan
Eng akan selalu mengingatnya di dalam hati."
Gan In sert Pek In Hoei sama sekali tidak memandang sebelah
mata pun terhadap kakek jubah merah yang mengaku bernama Lun
Eng itu, dengan langkah lebar ia maju ke depan dan duduk di kursi
tepat berhadapan muka dengan kakek berkerudung hitam itu,
sedangkan para anggota Perkumpulan Bunga Merah sama-sama
ambil tempat duduk pula di samping pemimpinnya.
"Hay ketua dari Komplotan Tangan Hitam," seru Gan In dengan
suara dingin, "kemarilah dan mari kita berbicara..."
Perkataan ini amat sombong dan sama sekali tidak memandang
sebelah mata pun terhadap para jago dari Komplotan Tangan Hitam,
hal ini membuat para jago yang hadir di situ jadi naik pitam dan segera
melotot bulat-bulat, sikap mereka sangat mengancam dan suatu
pertarungan rupanya segera akan berlangsung.
1240
IMAM TANPA BAYANGAN II
Melihat gelagat yang kurang baik, para anggota Perkumpulan
Bunga Merah di bawah pimpinan Pertapa Nelayan dari Lam-beng pun
melakukan persiapan untuk menghadapi segala kemungkinan yang
tidak diinginkan.
Ketua dari Komplotan Tangan Hitam itu sama sekali tidak
berkutik dari tempat semula, dia tidak memberi komentar apa pun,
tidak menunjukkan reaksi apa pun juga, seakan-akan kejadian
tersebut sama sekali tak ada hubungannya dengan dia.
"Gan In," teriak Mao Bong dengan sangat gusar, "berani benar
engkau bersikap kurang ajar terhadap ketua kami?"
Gan In tidak menjawab, dia hanya melirik sekejap ke arah Mao
Bong dengan pandangan dingin, sama sekali tidak menggubris ucapan
dari lawannya.
Melihat ucapan tidak diambil peduli, Mao Bong semakin naik
pitam, ia mencak-mencak dan berkaok-kaok kegusaran, teriaknya :
"Hey, kenapa kamu tidak bukan suara? Apakah tidak pandang
sebelah mata pun terhadap aku orang she Mao?"
Berada dalam keadaan seperti ini, wakil ketua Gan jadi serba
salah. Untunglah Pertapa Nelayan dari Lam-beng segera menjawab :
"Kami merasa tiada kepentingan untuk mengajak engkau
berbicara," jawab Pertapa Nelayan dari Lam-beng dengan suara
dingin, "sebab di dalam Komplotan Tangan Hitam engkau tidak lebih
hanya seorang badut kecil yang sama sekali tak ada artinya, berbicara
dengan manusia seperti dirimu tidak lebih hanya merosotkan derajat
sendiri."
"Hmmm...!" Mao Bong berteriak gusar, "kentut busuk nenekmu,
meskipun dalam Komplotan Tangan Hitam aku tidak mempunyai
kedudukan apa-apa, akan tetapi aku pun bukan manusia yang
gampang dihina dan dipermainkan dengan begitu saja, siapa yang
berani pandang rendah aku orang she Mao, maka aku akan mengutuk
nenek moyangnya..."
1241
Saduran TJAN ID
"Mao Bong, mundur..." mendadak manusia berkerudung itu
membentak dengan mata melotot.
Hanya beberapa patah kata saja namun mendatangkan daya
pengaruh yang amat besar, Mao Bong jadi ketakutan setengah mati
dan buru-buru memberi hormat.
"Baik ketua!"
Dengan hati mendongkol ia segera mengundurkan diri ke
belakang.
Angin dingin berhembus lewat menimbulkan suara berisik pada
daun dan ranting pohon, para jago dari Perkumpulan Bunga Merah
dengan senjata siap di tangan berdiri teratur di kedua belah sisi tempat
itu, sedang para jago dari Komplotan Tangan Hitam bersiap-siap pula
di sekitar tempat itu, pertarungan setiap saat mungkin akan
berlangsung.
"Plaaak...!" tiba-tiba ketua dari Komplotan Tangan Hitam
menghantam meja dengan keras membuat perhatian semua orang
ditujukan ke arahnya.
"Saudara Gan," terdengar ia berkata dengan suara dingin,
"permusuhan yang terjadi antara Perkumpulan Bunga Merah serta
Komplotan Tangan Hitam bukan baru berlangsung selama satu dua
hari saja, ke-dua belah pihak sama-sama kukuh dalam pendiriannya
masing-masing dan sulit dilakukan penyelesaian secara damai, oleh
sebab itulah hari ini sengaja kami undang kehadiran Gan-heng ke atas
puncak Siau-in-san untuk menyingkirkan segala perbedaan paham
yang ada di antara kita..."
Gan In mendengus dingin.
"Hmmm! Kalau engkau memang berniat sungguh-sungguh, apa
sebabnya tidak menemui kami dengan raut wajah aslimu?"
Diam-diam wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ini
merasa malu, karena pihak lawan mengetahui dirinya amat jelas
sebaliknya dia sama sekali tak tahu siapakah lawannya, karena itu
1242
IMAM TANPA BAYANGAN II
dalam pembicaraan pun ia berusaha untuk membongkar rahasia dari
ketua Komplotan Tangan Hitam itu.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." ketua dari Komplotan Tangan
Hitam itu segera tertawa seram, "mungkin Gan-heng masih belum
tahu akan peraturan dari komplotan kami, maka tidak bisa memahami
pula keadaan kami yang sebenarnya, ketua dari organisasi hanya
merupakan suatu lambang belaka maka bukan saja orang lain tak
boleh tahu, sekali pun saudara-saudara dari organisasi kami pun tak
boleh mengetahuinya pula, barang siapa yang melihat raut muka
ketuanya berarti kematian sudah tiba di depan mata, Gan-heng, dalam
keadaan begini engkau pasti tak akan menuduh bahwa aku tak sudi
memenuhi harapanmu bukan..."
"Hmmm! Sok rahasia..." jengek Gan In.
"Bukan, bukan aku sok rahasia... ketika aku mendirikan
organisasi ini tempo hari, peraturan ini telah kutetapkan lebih dahulu,
siapa pun tak boleh tahu siapakah ketua mereka, karena itu pada
dasarnya Komplotan Tangan Hitam adalah suatu perkumpulan
rahasia maka kata sok rahasia sebelumnya sudah tak pantas untuk
digunakan lagi!"
Gan In mendengus dingin.
"Hmmm! Ketua lebih baik kita tak usah membicarakan tentang
soal itu lagi, untuk mempermudah kita dalam berbicara, sebutan
apakah yang harus kupergunakan untuk menyebut dirimu?
Bagaimana pun juga toh tak bisa kalau aku tak tahu siapakah namamu
bukan? Engkau harus tahu, bahwa aku adalah seorang manusia yang
tidak sudi bercakap-cakap dengan seorang manusia yang tidak jelas
asal usulnya, sebab hal itu telah menghilangkan rasa persahabatan di
antara ke-dua belah pihak.."
Ketua dari Komplotan Tangan Hitam termenung sebentar,
kemudian sambil menatap wajah Gan In dengan pandangan tajam
katanya :
1243
Saduran TJAN ID
"Heehmmm...! Engkau memang seorang musuh yang amat lihay,
sehingga membuat aku pun merasa kagum terhadap dirimu...
berhubung alasanmu tepat sekali, terpaksa aku harus memberikan
pula satu jawaban kepadamu, begini saja... sebutlah aku sebagai Samciat
sianseng..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus sekali, Sam Ciat sianseng...
tolong tanya tiga kelihayan apakah yang kau andalkan sehingga
bernama Sam ciat?" ejek Gan In sambil tertawa terbahak-bahak,
"dapatkah engkau memberi keterangan kepadaku sehingga semua
anggota perkumpulanku dapat mengetahuinya..."
"Kau sedang mentertawakan aku?"
"Kalau engkau tak mau bicara, tentu saja aku pun tak akan
memaksa dirimu. Bukit Siau-in-san adalah engkau yang usulkan itu
berarti engkau adalah setengah tuan rumah di tempat ini, bila kau ada
urusan sekarang boleh diutarakan keluar..."
"Hmmm... bagus sekali," sahut Sam Ciat sianseng sambil tertawa
seram, "aku tak ingin begitu cepat bentrok muka dengan dirimu, tapi
rupanya keadaan telah memaksa dirimu untuk membicarakan juga
masalah tersebut dengan engkau saudara Gan! Sebelum kita lakukan
perundingan secara terbuka maka terlebih dahulu aku ingin mohon
bantuan dari dirimu."
"Kuil kami terlalu kecil," jawab Gan In sambil menggeleng, "aku
takut tempat kami tak muat untuk menerima engkau si malaikat
besar..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mana...mana... bicara
sesungguhnya persoalan ini sebenarnya amat sederhana sekali, asal
Gan-heng anggukan kepala maka semua telah beres... bersediakah
engkau?..."
Gan In mengerutkan dahinya, ia tak tahu apakah yang
dimohonkan oleh Sam Ciat sianseng tersebut, sebagai orang yang
berhati-hati ia tak mau menyanggupi dengan begitu saja, sebab ia tahu
1244
IMAM TANPA BAYANGAN II
asal ia telah menyetujui maka sebagai seorang lelaki sejati segala apa
pun yang diminta harus dipenuhi.
Karena itu setelah termenung sebentar, ujarnya dengan wajah
serius :
"Sam Ciat sianseng, coba katakan dahulu apakah permintaan itu,
asal persoalan itu dapat dilakukan maka dalam hubungan pribadi tentu
saja aku bersedia untuk membantu dirimu, tetapi kalau dalam urusan
dinas maka maafkan saja diriku sebab Perkumpulan Bunga Merah
bukan dikuasai olehku... Nah sekarang katakanlah dahulu apa
permintaanmu itu..."
Diam-diam Sam Ciat sianseng mendengus dingin, ia tak nyana
kalau Gan In adalah seorang manusia yang teliti, meskipun usianya
masih muda namun pengalaman serta pengetahuannya sudah begitu
luas, sambil tertawa dingin segera pikirnya :
"Hmmm...! Sekarang kau tak usah berlagak sok, nanti aku akan
suruh engkau menangis..."
Berpikir sampai di situ segera ujarnya dengan dingin :
"Gan-heng, pelbagai perguruan atau partai yang berada di dalam
dunia persilatan paling membenci dan mendendam terhadap manusia
yang disebut pagar makan tanaman, sejak Komplotan Tangan Hitam
didirikan baru kali ini aku merasa amat gusar dan amat tidak terima,
oleh karena itu aku harap Gan-heng suka menyerahkan perempuan
rendah itu kepada kami."
Ong Li Hoa yang mendengar perkataan itu jadi ketakutan
setengah mati sehingga tubuhnya gemetar keras, air mata jatuh
bercucuran membasahi wajahnya, ia tundukkan kepala rendah-rendah
dan menyembunyikan diri di belakang para jago lainnya.
Gadis itu menyadari bahwa sampai di manakah keganasan serta
ketelengasan orang dari Komplotan Tangan Hitam, membayangkan
nasibnya setelah hari ini tanpa terasa gadis itu jadi semakin sedih.
Gan In berpaling dan memandang sekejap ke arah Ong Li Hoa,
kemudian berkata :
1245
Saduran TJAN ID
"Sam Ciat sianseng, perkataan itu keliru besar... nona Ong adalah
salah satu di antara mata-mata yang telah kami susupkan ke dalam
tubuh organisasimu, orang-orang itu sengaja kami susupkan ke tubuh
organisasi kalian untuk menyadap pembicaraan serta rencana-rencana
besar kalian, oleh sebab itu gadis tersebut tak dapat dihitung sebagai
salah seorang anggota dari Komplotan Tangan Hitam. Sungguh
menggelikan sekali kalian-kalian yang tak mampu mengawasi anak
buahnya sendiri... kenapa sekarang malah marah kepadaku? Dalam
keadilan kalian tak pantas untuk meminta kembali dirinya dari tangan
kami..."
"Hmmm...!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "ia pernah
bersumpah untuk masuk menjadi anggota perkumpulan kami, itu
berarti ia sudah merupakan salah seorang anggota dari Komplotan
Tangan Hitam, sekarang aku telah mengambil keputusan untuk
menjatuhi hukuman yang setimpal kepadanya, sebelum ia
menjalankan hukuman, pembicaraan apa pun tak akan kami
lakukan..."
"Jika aku tidak akan mengabulkan permintaan mu itu? Apa yang
hendak kau lakukan?"
"Hmmm! Aku rasa engkau tak akan mampu melindungi
perempuan rendah itu...?" sahut Sam Ciat sianseng, ia berpaling dan
memandang sekejap ke arah Mao Bong, kemudian melanjutkan,
"Mao Bong, tangkap perempuan rendah itu dan gusur kemari!"
"Baik, ketua!" jawab Mao Bong sambil memberi hormat.
Diiringi empat orang anggota Komplotan Tangan Hitam mereka
segera berjalan menuju ke arah rombongan para jago Perkumpulan
Bunga Merah dengan langkah lebar, rupanya jago nomor satu dari
wilayah Kam-siok ini sama sekali tak pandang sebelah mata pun
terhadap lawan-lawannya, ia dorong anggota Perkumpulan Bunga
Merah ke samping dan berusaha menerobos masuk ke dalam.
Tentu saja para jago dari Perkumpulan Bunga Merah tak mau
menyingkir dengan begitu saja, sebelum mendapat perintah mereka
1246
IMAM TANPA BAYANGAN II
pun tak berani turun tangan secara gegabah, maka semua orang berdiri
tegak tanpa berkutik.
Dalam keadaan begini, tentu saja Mao Bong jadi repot juga untuk
menyeret Ong Li Hoa dari tengah kurungan para jago dari
Perkumpulan Bunga Merah itu...
"Ayoh menyingkir... menyingkir..." bentak Mao Bong dengan
amat gusar, "kalian orang-orang dari Perkumpulan Bunga Merah
tidak berhak untuk melindungi pengkhianat tersebut, barang siapa
berani menghalangi pekerjaanku... Hmmm! Jangan salahkan kalau
ujung pedang dari aku orang she-Mao tak kenal belas kasihan..."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei gerakkan tubuhnya
dan loncat maju ke depan, senyuman sinis tersungging di bibirnya,
dengan langkah lebar ia mendekati Mao Bong.
Jago lihay dari wilayah Kam-siok ini jadi tertegun, rupanya ia
dibikin keder oleh sorot mata lawannya yang begitu tajam, setelah
berdiri menjublak beberapa saat lamanya, dengan wajah diliputi hawa
napsu membunuh tegurnya :
"Apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku harap engkau segera enyah dari sini, sudah dengar belum
perkataanku ini?" hardik Pek In Hoei.
Mao Bong semakin naik pitam teriaknya :
"Aku sedang mengurusi masalah pribadi Komplotan Tangan
Hitam kami, apa hubungannya dengan dirimu? Sahabat Pek, kalau
ingin mencampuri urusan orang, engkau harus lihat dulu siapakah
lawanmu. Hmmm... hati-hatilah kalau mau campur tangan secara
ngawur, jangan sampai menyengat tanganmu..."
Tiba-tiba di ujung bibir Pek In Hoei yang tipis dan kecil
tersungging satu senyuman dingin yang amat sinis, air mukanya yang
sama sekali tidak berperasaan itu perlahan-lahan menengadah ke atas,
memandang awan putih di angkasa katanya dengan dingin :
"Selama aku Jago Pedang Berdarah Dingin masih berada di sini,
siapa pun tak boleh mengganggu nona Ong barang seujung rambut
1247
Saduran TJAN ID
pun, jika berani menentang perkataanku ini maka akan kucabut jiwa
anjingnya sebagai ganti dari perbuatannya itu. Mao Bong! Aku telah
memperingatkan dirimu lebih dahulu, mau percaya atau tidak terserah
dirimu sendiri, siapa pun boleh mencoba kalau sudah bosan hidup..."
"Hmmm! Sambil menunggang keledai membaca buku
nyanyian... kita lihat saja nanti..." seru Mao Bong dengan gemas.
Pada saat ini keadaannya bagaikan gendewa yang sudah ditarik
kencang-kencang, kalau tidak dilepaskan pun tak bisa, terpaksa
sambil keraskan kepala ujarnya kepada ke-empat orang pria itu :
"Pergi! Pergi ke situ dan seret keluar budak sialan itu... ini hari
aku orang she Mao ingin melihat siapakah yang berani berlagak jadi
enghiong di hadapan Komplotan Tangan Hitam. Hmmm... siapa yang
berani..."
Dalam pada itu ke-empat orang pria kekar tadi telah
menyebarkan diri dan segera menerjang ke arah kumpulan para jago
Perkumpulan Bunga Merah yang berada di situ.
Tiba-tiba Gan In berteriak :
"Sam Ciat sianseng, kalau anak buahmu berani menyentuh tubuh
orang-orangku maka itu berarti bahwa perkumpulan kalian yang telah
turun tangan lebih dahulu kepada kami, tanggung jawab atas
terjadinya pertarungan pada hari ini pun harus kau pikul..."
"Ooooh... itu cuma urusan kecil," jawab Sam Ciat sianseng ketus,
"urusan di antara kita lihat saja bagaimana akhirnya..."
Tiba-tiba sesosok bayangan manusia meloncat ke angkasa,
bagaikan sukma gentayangan meluncur ke arah ke-empat pria itu dan
segera melancarkan sebuah cengkeraman maut.
Orang itu bukan lain adalah Jago Pedang Berdarah Dingin, dalam
sekali sentakan tahu-tahu ke-empat orang pria baju hitam itu sudah
terlempar ke udara dan menggelinding ke bawah bukit.
Melihat anak buahnya sudah roboh, Mao Bong segera cabut
keluar pedangnya dan membentak keras :
1248
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Pek In Hoei, selama berada di gunung Siau-in-san kau berani
bersikap kurang ajar..."
"Hmmm, tak usahlah berlagak sok jagoan atau sok pahlawan di
hadapanku..." kata Jago Pedang Berdarah Dingin dengan nada sinis,
"tak ada orang yang doyang dengan lagakmu itu, Mao Bong! Kalau
punya kepandaian ayoh keluarkan semua, melulu berteriak sama
sekali tak berguna..."
Ketika sinar mata Mao Bong terbentur dengan sorot mata
lawannya yang tajam ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar
keras, ia merasa di balik biji matanya yang tak kenal belas kasihan itu
terkandung hawa napsu membunuh yang menyeramkan, ia genggam
tangan kanannya kencang-kencang dan hatinya terasa amat gelisah,
diam-diam diliriknya Sam Ciat sianseng sekejap namun ketuanya itu
berlagak pilon dan sama sekali tidak memandang ke arahnya...
"Pek In Hoei!" teriaknya, "aku akan suruh engkau menyaksikan
bagaimana akibatnya kalau seseorang suka mencampuri urusan orang
lain..."
Pedangnya bergetar di angkasa lalu membentuk gerakan lingkar
busur, tiba-tiba desiran angin tajam menderu-deru dan serentetan
bayangan pedang langsung meluncur ke depan.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tahu bahwa jago lihay
dari wilayah Kam-siok ini mempunyai kesempurnaan yang
mengagumkan dalam permainan ilmu pedang, meskipun ia tak
pandang sebelah mata pun terhadap orang ini tetapi ia pun tak berani
berbuat gegabah.. tubuhnya segera loncat ke udara dan melancarkan
sebuah bacokan ke arah depan.
Angin pukulan yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah
bukit menumbuk ke depan, Mao Bong merasakan tubuhnya jadi kaku,
di tengah hembusan angin pukulan yang tajam, terasalah bacokan
pedangnya seakan-akan membentur di atas sebuah dinding hawa yang
tak berwujud, sekali pun dipaksakan untuk membacok lebih jauh
namun usahanya tetap gagal.
1249
Saduran TJAN ID
Hal ini membuat hatinya semakin bergidik, teriaknya dengan
gusar :
"Ayoh, cabut keluar pedangmu!"
"Hmmm...! Kau masih belum pantas untuk memaksa aku
menggunakan senjata..." jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin,
secara beruntun dia lancarkan dua buah pukulan dahsyat ke depan.
Ke-dua buah pukulannya ini membawa desiran angin tajam yang
luar biasa, begitu dahsyatnya sampai menggoncangkan ujung pakaian
para jago yang menonton jalannya pertarungan di sisi kalangan.
Mao Bong semakin gemetar hebat, saking lelahnya keringat
dingin sampai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, diamdiam
ia menggertak gigi untuk melanjutkan pertarungan tersebut,
namun langkah kakinya sudah mulai kacau dan kehebatan permainan
pedangnya pun tidak sehebat dan sedahsyat tadi lagi.
"Hmmm...!" akhirnya Sam Ciat sianseng buka suara, tertawa
dingin yang menyeramkan berkumandang keluar dari ujung bibirnya,
dengan pandangan dingin ia melotot sekejap ke arah musuhnya, lalu
berseru :
"Mao Bong, ayoh kembali!"
Secara beruntun Mao Bong melancarkan dua bacokan berantai,
kemudian dengan napas yang memburu bagaikan kerbau dia loncat
keluar dari kalangan, serunya :
"Ketua, hamba patut dibunuh... aku telah memalukan engkau
orang tua..."
"Dalam peristiwa ini engkau tak bisa disalahkan," sahut Sam Ciat
sianseng sambil menggelengkan kepalanya, "musuh yang kau hadapi
memang terlalu kuat buat dirimu, Aaaai...! Jago Pedang Berdarah
Dingin yang tersohor namanya di seluruh dunia persilatan ternyata
adalah sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah, kejadian ini benarbenar
merupakan suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga.
Aaaai...! Manusia berbakat seperti ini harus terpendam di dalam
Perkumpulan Bunga Merah... sungguh sayang... sungguh sayang!"
1250
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ia menghela napas berulang kali, meskipun kata-katanya
menunjukkan penyesalan namun ketika terdengar oleh semua orang
terasalah suatu perasaan yang aneh sekali.
"Hmmm...! Engkau tak usah bicara yang bukan-bukan," tukas
Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "aku bukanlah sahabat dari
Perkumpulan Bunga Merah..."
Sengaja Sam Ciat sianseng pura-pura tertegun.
"Loo... jadi kamu bukan sahabat dari Perkumpulan Bunga
Merah? Waaah... kau aneh sekali ini," serunya, "dengan andalkan
ilmu silat serta ketenaranmu dalam dunia persilatan apakah pihak
Perkumpulan Bunga Merah telah memberikan kebaikan kepadamu?"
Bagian 44
"TUTUP MULUT!" bentak Pek In Hoei dengan gusar, "aku adalah
sahabat karib dari wakil ketua she-Gan, kali ini sengaja aku datang
untuk membantu dirinya!"
"Hmmm! Kalau engkau bukan sahabat dari Perkumpulan Bunga
Merah, siapa suruh engkau datang..."
Gan In segera bangkit berdiri, ujarnya dingin:
"Jago Pedang Berdarah Dingin Pek sauhiap adalah sahabat dari
perkumpulan kami, Sam Ciat sianseng tak usah mencari tulang dalam
telur ayam, sengaja mencari kerepotan bagi kami..."
"Heeehhmm... heehmmm... heemmmm... Perkumpulan Bunga
Merah serta Komplotan Tangan Hitam sama-sama merupakan
perkumpulan rahasia di dalam dunia persilatan, perebutan antara dua
perkumpulan tidak pantas kalau dicampuri orang luar, kalau memang
Pek In Hoei bukan anggota dari perkumpulan kalian, mau apa ia
datang kemari?"
"Sam Ciat sianseng," jawab Pek In Hoei sambil maju beberapa
langkah ke depan, "kedatanganku kemari adalah untuk melenyapkan
bibit bencana bagi dunia persilatan, dengan tingkah lakumu serta
1251
Saduran TJAN ID
perbuatanmu yang melanggar norma-norma kebenaran, sudah cukup
alasan bagiku untuk memusuhi dirimu..."
"Kurang ajar, engkau berani bikin gara-gara dengan aku..."
bentak Sam Ciat sianseng amat gusar.
"Hmmm! Engkau toh tiada sesuatu apa pun yang luar biasa, Sam
Ciat sianseng! Meskipun sekarang aku belum bisa menduga siapa
dirimu, tetapi dalam perasaanku aku merasa bahwa engkau adalah
salah satu di antara orang-orang yang pernah kukenal, jika engkau
tidak pelupa maka aku rasa kita pernah bertemu muka..."
Pemuda itu merasa bahwa nada suara dari Sam Ciat sianseng
seakan-akan pernah didengar olehnya di suatu tempat, hanya saja ia
tak bisa menebak siapakah dia karena sahabat-sahabatnya dalam
dunia persilatan banyak sekali.
Mendengar ucapan itu Sam Ciat sianseng sekujur badannya
gemetar keras, ia segera tertawa dingin dan membantah :
"Aku tidak kenal dirimu!"
"Lepaskan kain kerudung hitam itu, aku ingin melihat siapakah
engkau?"
Sam Ciat sianseng segera mendengus dingin:
"Hmmm, apakah engkau tak takut kubunuh dirimu? Pek In Hoei!
Raut wajahku tak boleh diketahui oleh siapa pun, sekarang kupandang
karena kita baru saja berkenalan maka silahkan engkau segera enyah
dari bukit Siau-in-san ini."
"Tak dapat kupenuhi harapanmu itu," tukas Pek In Hoei sambil
menggeleng, "aku toh datang bersama-sama para jago dari
Perkumpulan Bunga Merah, maka kalau suruh aku berlalu dari sini,
kami akan berlalu bersama-sama, Sam Ciat sianseng... aku lihat lebih
baik engkau bubarkan diri saja."
"Membubarkan diri?" tiba-tiba Sam Ciat sianseng tertawa
terbahak-bahak, "Haaaah... haaaah... haaaah... kau begitu
gampangkah kupenuhi perintahmu itu? Aku toh belum berunding
dengan wakil ketua she Gan, kenapa kau mesti turut campur?
1252
IMAM TANPA BAYANGAN II
Baiklah... urusanmu dengan Mao Bong tak akan kutarik lebih jauh,
tetapi aku melarang engkau mencampuri urusan tentang Ong Li Hoa
si perempuan rendah itu, kalau tidak... Hmmm... engkau akan
merasakan sampai di manakah kelihayanku..."
"Sam Ciat sianseng, kalau ada urusan mari kita bicarakan..." kata
Gan In dengan nada dingin.
Sam Ciat sianseng tarik napas panjang-panjang, lalu berkata :
"Di antara perkumpulan kita berdua seringkali terjadi bentrokan
dan pertarungan sengit hingga banyak korban yang berjatuhan, aku
rasa bila keadaan ini dibiarkan berlarut maka korban yang berjatuhan
di ke-dua belah pihak kian lama akan bertambah parah... demi
kebaikan serta keuntungan ke-dua belah pihak maka kuanjurkan
kepada wakil ketua she Gan untuk melepaskan diri dari ikatan
Perkumpulan Bunga Merah serta menggabungkan diri dengan
Komplotan Tangan Hitam..."
"Apa?" jerit Gan In dengan wajah tertegun, "kau tak usah
bermimpi di siang hari bolong...!"
Sam Ciat sianseng gelengkan kepalanya.
"Selama hidup aku tak pernah melakukan pekerjaan yang tidak
meyakinkan, sebelum kuundang kehadiranmu untuk mengadakan
pertemuan telah kususun suatu rencana yang amat cermat, jika aku tak
punya keyakinan untuk berhasil tak nanti kuutarakan hal ini
kepadamu..."
Dia melirik sekejap ke arah jago perkumpulannya yang berada di
sekeliling tempat itu, kemudian melanjutkan :
"Saudara Gan, engkau harus tahu bahwa di seluruh bukit Siau-insan
telah berkumpul jago-jago lihay dari pihakku, asal kuturunkan
perintah maka darah segar akan menggenangi seluruh permukaan,
puluhan lembar jiwa anggota perkumpulanmu segera akan musnah
dan lenyap di tempat ini juga."
"Engkau sedang menggertak diriku?" seru Gan In sambil tertawa
dingin tiada hentinya.
1253
Saduran TJAN ID
Sam Ciat sianseng tertawa dan segera menggeleng.
"Aku tak berani menggertak Gan heng, aku hanya menerangkan
situasi yang tertera di depan mata kepada dirimu. Hmmm... hmmm...
aku harap saudara Gan suka mempertimbangkannya secara baikbaik."
"Tiada persoalan yang perlu kupertimbangkan lagi, lebih baik
matikan saja niatmu itu!"
"Hmmm!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "apakah kau
sudah tidak maui lagi beberapa pulu lembar jiwa anak buahmu itu?"
"Tepat sekali! Sam Ciat sianseng, puluhan lembar jiwa orangorangku
telah kuserahkan semua kepadamu, cuma engkau pun harus
memberi ganti rugi yang cukup besar, mungkin sepuluh kali lipat
daripada kerugian yang kami derita."
"Saudara Gan, mulutmu janganlah terlalu keras..." teriak Sam
Ciat sianseng, tiba-tiba dia ulapkan tangannya dan seorang nenek tua
yang rambutnya telah beruban perlahan-lahan munculkan diri di
tempat itu, di belakang nenek tua tadi mengikuti dua orang anggota
dari Komplotan Tangan Hitam.
"Subo!" seru Gan In dengan wajah berubah hebat setelah melihat
kemunculan nenek tua itu.
Sam Ciat sianseng segera tertawa seram.
"Haaaah... haaaah... haaaah... mungkin subo mu mempunyai cara
untuk memaksa engkau berubah pikiran."
Sementara itu nenek tua tadi sudah tertawa dan berkata :
"In-ji, apakah Sam Ciat sianseng telah memberitahukan
kesemuanya kepadamu?"
"Subo, In-ji lebih rela mati secara mengerikan di hadapanmu
daripada mengabulkan permintaannya, ketika suhu mewariskan ilmu
silatnya kepadaku tempo hari, beliau berpesan agar tecu banyak
melakukan kebajikan dan tidak diperkenankan melakukan perbuatan
yang melanggar norma-norma hukum Thian, tecu harap subo bisa
memahami keadaan dari In-ji."
1254
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Engkau tak usah mengungkap lagi tentang suhumu
yang sudah modar itu, aku In Sam-nio paling jengkel kalau
mendengar orang lain menyebut tentang dirinya... Hmm! Toan Seng
Ci berambisi besar dan tidak pandang sebelah mata pun kepada orang
lain, dianggapnya dia paling luar biasa... Huuuh! Kakek tua sialan..."
Kiranya guru dari Gan In yang bernama Toan Seng Gan
beristrikan In Sam-nio akan tetapi tabiat mereka jauh berbeda,
seringkali mereka cekcok dan bertengkar sehingga akhirnya ke-dua
orang itu memutuskan untuk menempuh jalannya sendiri-sendiri.
Yang satu menjadi pendekar dari kalangan putih sedang yang lain
menjadi malaikat dari kalangan hitam, sejak Gan In belajar silat
dengan gurunya ia selalu dibikin pusing kepala oleh tingkah pola ibu
gurunya ini, apalagi ikut serta In Sam-nio dalam Komplotan Tangan
Hitam, membuat pemuda ini setiap hari selalu berada dalam
kesedihan.
Gan In tertawa sedih dan berkata :
"Subo, aku harap engkau jangan berkata demikian..."
"Hmmm... engkau berani menasehati aku? Hmmm! Sekarang
juga aku perintahkan dirimu untuk menyerah kepada Komplotan
Tangan Hitam, kalau tidak maka selamanya jangan datang menjumpai
diriku lagi..."
"Tecu tak dapat memenuhi keinginan subo!" Gan In tetap
gelengkan kepalanya.
In Sam-nio jadi naik pitam, dengan air muka berubah hebat
ujarnya kepada Sam Ciat sianseng :
"Tuan Sam-cat, aku si nenek tua tak mampu menasehati dirinya
lagi, sekarang engkau boleh gerakkan pasukan... kalau bocah ini tidak
dibiarkan untuk merasakan sampai di manakah kelihayan dari
Komplotan Tangan Hitam, ia tak akan tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi..."
1255
Saduran TJAN ID
"Sedikit pun tidak salah," sahut Sam Ciat sianseng sambil
mengangguk, "In Sam-nio, aku akan segera melakukan permintaanmu
itu..."
Dia ulapkan tangannya dan para jago lihai dari Komplotan
Tangan Hitam yang berada di atas puncak Siau-in-san segera
meloloskan senjata mereka dan mengepung para jago dari
Perkumpulan Bunga Merah rapat-rapat.
Jumlah anggota Komplotan Tangan Hitam yang hadir di sana
pada waktu itu mencapai jumlah dua ratus orang lebih, sedangkan
jago dari Perkumpulan Bunga Merah hanya berjumlah lima enam
puluhan orang belaka, kalau dibandingkan jumlahnya maka
tampaklah suatu perbedaan yang amat besar.
"Sam Ciat sianseng," teriak Gan In sambil tertawa dingin,
"engkau jangan harap bisa merebut kemenangan dengan andalkan
jumlah yang banyak..."
Dengan cepat ia mengambil keputusan dan memerintahkan anak
buahnya untuk bertempur dengan punggung menghadap ke dinding
bukit, para jago yang sudah terbiasa mendapat pendidikan ketat
berada dalam keadaan begini segera melaksanakan perintah dengan
teratur, dalam waktu singkat mereka semua telah bersiap sedia.
Sam Ciat sianseng tertawa terbahak-bahak, serunya :
"Lepaskan anak panah!"
Desiran angin tajam dalam waktu singkat berkumandang
memenuhi seluruh angkasa, dari balik batu cadas yang tajam
bermuncullah berpuluh-puluh orang pembidik jitu, hujan anak panah
dengan cepat berhamburan ke arah para jago dari Perkumpulan Bunga
Merah.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergeletar memecahkan
kesunyian, meskipun para anggota Perkumpulan Bunga Merah
memiliki kepandaian yang luar biasa, namun di bawah serangan hujan
anak panah yang begitu rapat tak urung keteter juga dengan hebatnya,
dalam waktu singkat tujuh delapan orang sudah terkapar di atas tanah.
1256
IMAM TANPA BAYANGAN II
Gan In jadi sakit hati, sepasang matanya memancarkan cahaya
berapi-api, dengan sedih ia berteriak lalu mencabut pedangnya dan
menerjang ke muka, bentaknya :
"Saudara-saudara sekalian, terjang keluar!"
"Gan-heng," teriak pula Jago Pedang Berdarah Dingin dengan
wajah penuh napsu membunuh, "terjang ke bawah bukit tempat ini
tak dapat dipertahankan lebih jauh..."
Ia serta Gan In turun tangan lebih dahulu, mereka serbu ke dalam
gelanggang dan bayangan pedang seketika berkilauan memenuhi
angkasa, dalam waktu singkat berpuluh-puluh orang jago dari
Komplotan Tangan Hitam roboh binasa di ujung senjata mereka.
Para anggota dari Perkumpulan Bunga Merah dengan cepat
mengikuti di belakang ke-dua orang jago lihay itu dan menerjang
keluar.
"Hentikan panah, kepung semua musuh dengan ketat," bentak
Sam Ciat sianseng dengan gusarnya.
Hujan panah segera berhenti, para jago dari Komplotan Tangan
Hitam sambil membawa senjata terhunus menerjang ke depan, suatu
pertarungan yang amat sengit pun segera berlangsung.
Jumlah para jago dari Komplotan Tangan Hitam jauh lebih
banyak dari musuhnya, di bawah kepungan yang begitu ketat para
jago dari Perkumpulan Bunga Merah keteter hebat dan berada dalam
posisi yang sangat berbahaya.
Sam Ciat sianseng tertawa terbahak-bahak, ejeknya :
"Nah, sekarang baru tahu rasa... Haaaah... haaaah... haaaah...
kalau kalian mau buang senjata dan menyerah aku akan mengampuni
jiwa kaian semua..."
Tiba-tiba dari bawah bukit berkumandang datang suara bentakan
keras, para jago dari Komplotan Tangan Hitam sama-sama roboh
terjungkal di atas tanah, tampaklah serombongan jago dipimpin oleh
seorang dara baju hijau menyerbu naik ke atas puncak.
Gan In tarik napas panjang, segera teriaknya :
1257
Saduran TJAN ID
"Saudara-saudara sekalian, pertahankan diri sekuat tenaga, ketua
kita telah datang..."
Sam Ciat sianseng sendiri pun agak tercekat hatinya melihat bala
bantuan dari pihak Perkumpulan Bunga Merah telah berdatangan, ia
tahu bahwa lawannya sangat tangguh dan kekuatannya tak mungkin
bisa membendung serangan mereka, dengan nada mendongkol
teriaknya :
"Mundur! Untuk sementara waktu kita mundur dulu..."
Para jago dari Komplotan Tangan Hitam bersuit nyaring, mereka
sama-sama kabur dari kalangan dan mencari selamatnya sendiri.
Pek In Hoei amat membenci terhadap kekejaman hati Sam Ciat
sianseng, dengan pedang terhunus ia mengejar dari belakang, serunya
sambil tertawa dingin :
"Sam Ciat sianseng, aku hendak minta petunjuk dari dirimu..."
Dalam pada itu Sam Ciat sianseng sedang mengundurkan diri di
bawah perlindungan Mao Bong, Thian Goan serta Lan Eng, ketika
menyaksikan Jago Pedang Berdarah Dingin menyusul datang,
beberapa orang itu segera memisahkan diri dan melancarkan sebuah
tusuk ke belakang.
Sam Ciat sianseng tertawa dingin, serunya :
"Kalian mundur semua..."
Dari sakunya ia cabut keluar sebilah pedang pendek berbentuk
aneh yang memancarkan cahaya emas, dengan wajah penuh napsu
membunuh ditatapnya wajah pemuda itu kemudian tegurnya dengan
suara dingin:
Kau benar-benar mau menantang aku untuk bertempur?"
"Sedikit pun tidak salah," jawab Pek In Hoei sambil tertawa
dingin, "aku ingin sekali mohon petunjuk darimu."
"Engkau bukan tandinganku," kata Sam Ciat sianseng sambil
gelengkan kepalanya, "Pek In Hoei, ilmu pedang penghancur sang
surya dari partai Thiam cong meskipun terhitung kepandaian paling
1258
IMAM TANPA BAYANGAN II
dahsyat di dalam dunia persilatan, akan tetapi di dalam pandanganku
masih belum terhitung sesuatu yang luar biasa!"
"Hmmm! Jadi kalau begitu kepandaian silat ya kau miliki jauh
lebih hebat daripada diriku? Sam Ciat sianseng! Aku sangat
mencurigai asal usulmu, kalau engkau berani bertempur beberapa
jurus melawan aku, maka aku dapat menebak asal usulmu yang
sebenarnya!"
"Pentingkah asal usulku itu bagimu?" seru Sam Ciat sianseng
dengan wajah tertegun.
"Tentu saja, engkau mirip sekali dengan seseorang, selama ini
aku tak punya akal untuk membuktikan dugaanku itu. Sam Ciat
sianseng! Tentu saja aku berharap agar engkau bukanlah dirinya,
tetapi banyak bagian dari tubuhmu yang mirip sekali dengan dirinya!"
"Hmmm! aku tak punya banyak waktu untuk berbicara dengan
dirimu, sekarang aku harus segera pulang untuk mempersiapkan
langkah selanjutnya. Pek In Hoei! Maafkanlah kalau aku tak dapat
menemani dirimu lebih lanjut..."
Ketika dilihatnya Gan In serta dara berbaju hijau itu telah
memburu ke arahnya, ia tak panik ingin cepat-cepat kabur dari tempat
itu.
Pek In Hoei mengobat-abitkan pedangnya dan berseru :
"Kalau engkau tidak memperlihatkan kepandaianmu, ini hari
jangan harap bisa tinggalkan tempat ini, harap..."
"Hmmm! Keparat cilik, kau anggap aku jeri kepadamu...
terimalah seranganku ini..."
Dia tertawa dingin, pedangnya tiba-tiba ditusukkan ke arah luar
dengan suatu gerakan yang luar biasa sekali, hampir boleh dibilang
sama sekali tidak menunjukkan suatu bekas apa pun dalam serangan
itu, akan tetapi kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Pek In Hoei berkelit ke samping dan meloncat lima depa dari
tempat semula, serunya dengan terperanjat :
1259
Saduran TJAN ID
"Aaaaah... jurus ini adalah gerakan Kiam-ki-leng-in hawa pedang
membumbung ke awan dari partai Hoa-san!"
Sam Ciat sianseng mendengus dingin, secara beruntun dia
lancarkan pula dua serangan berantai, meskipun ke-dua buah
serangan itu dilancarkan pada waktu yang bersamaan akan tetapi jurus
serangan yang digunakan sama sekali berbeda.
Jurus yang dipergunakan berikutnya adalah Pat-hong-tang-in
atau bayangan tajam di delapan penjuru, salah satu jurus ampuh dari
ilmu pedang Hu-lo-kiam-hoat aliran Khong-tong pay, kemudian Tuihong-
bu-tiong atau mengejar angin tanpa jejak dari aliran Siau-limpay.
1260
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 49
SAM-CIAT SIANSENG BISA MELANCARKAN tiga jurus
serangan dengan mempergunakan tiga jurus serangan dari tiga partai,
hal ini membuat Pek In Hoei jadi terkesiap, ia tak mampu menebak
asal usul dari jago lihay yang sedang dihadapinya ini.
"Tiga jurus sudah lewat dan asal usul boleh kau tebak sendiri,"
ujar Sam Ciat sianseng dengan dingin, "Pek In Hoei, maaf kalau aku
tak punya kegembiraan untuk melayani dirimu lebih lanjut, tetapi
kalau engkau ingin membongkar teka teki mengetahui asal-usulku,
datanglah besok malam pada kentongan ke-tiga di kuil Toa-ong-bio,
tetapi kau harus datang seorang diri..."
Ia tertawa dingin, tiba-tiba orang itu putar badan dan kabur turun
dari atas puncak.
Ketika Gan In menyaksikan Pek In Hoei masih tetap berdiri
menjublak di tempat semula, segera tegurnya :
"Pek-heng, kenapa kamu?"
"Ooooh...!" Pemuda itu berseru tertahan dan segera menengadah
ke atas, tampaklah seorang gadis baju hijau sedang berdiri di
hadapannya dengan muka jengah, ia semakin melongo dan tanpa
terasa serunya :
"Nona It-boen..."
Mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau ketua dari
Perkumpulan Bunga Merah bukan lain adalah It-boen Pit Giok,
jantungnya berdebar amat keras dan kenangan lama pun terlintas
kembali di dalam benaknya.
1261
Saduran TJAN ID
"Eeei... jadi kalian sudah saling mengenal?" terdengar Gan In
berseru heran.
It-boen Pit Giok tertawa sedih jawabnya :
"Kami sudah berkenalan lama. Pek In Hoei! Kau tentu tidak
melupakan diriku bukan?"
"Tidak, aku tak akan melupakan dirimu!" jawab si anak muda itu
dengan hati kecil.
Air muka It-boen Pit Giok berubah jadi merah jengah, di tengah
kepedihan ia merasa agak lega... setelah memandang wajah Pek In
Hoei beberapa saat lamanya ia menghela napas panjang.
"Aku dengar katanya Kong Yo Siok Peng telah meninggal..."
"Sedikit pun tidak salah, dia mati di tangan ayah angkatnya.
Aaaai...! Seorang gadis yang baik hati harus mempunyai kisah hidup
yang tragis dan menyedihkan, sungguh membuat orang sama sekali
tidak mengiranya..."
"Apakah kau belum bisa melupakan dirinya?"
"Benar, selamanya aku tak akan melupakan dirinya, Nona Itboen!
Ia masih hidup dalam hatiku bagaikan sekuntum bunga yang
bersemi, bau harum yang ia tinggalkan selalu membekas dalam
kenangan..."
Perlahan-lahan It-boen Pit Giok putar badan, air mata
mengembang di atas kelopak matanya, dengan suara gemetar bisiknya
:
"Ooooh... dia sungguh berbahagia..."
Segulung hawa dingin berhembus lewat memadamkan api cinta
yang membakar dalam hatinya... ia kecewa dan putus asa...
******
Malam telah menjelang tiba... tampaklah seorang pria dengan
menunggang seekor kuda berjalan di tengah kegelapan yang
mencekam seluruh jagad, memandang bintang yang bertaburan di
1262
IMAM TANPA BAYANGAN II
angkasa ia menghela napas panjang, sambil menggeleng gumamnya
seorang diri :
"Ketua dari Perkumpulan Bunga Merah ternyata bukan lain
adalah nona It-boen... kejadian ini benar-benar sama sekali tak pernah
kuduga. Aaaai! Di kolong langit memang seringkali terjadi hal yang
berada di luar dugaan..."
Ketika teringat kembali akan rasa cinta It-boen Pit Giok terhadap
dirinya, suatu perasaan sedih muncul dalam hatinya, ia tak ingin
dirinya berada bersama seorang perempuan yang tidak disukainya,
dengan sedih ia tinggalkan Perkumpulan Bunga Merah dan
melakukan perjalanan seorang diri... mungkin hatinya selalu akan
dirundung kesepian, sebab kecuali Kong Yo Siok Peng yang telah
mati hanya Wie Chin Siang saja yang berkenan di hatinya...
Ia tertawa pedih dan bergumam kembali :
"Dapatkah kucintai It-boen Pit Giok?? Tidak... hal ini tak
mungkin terjadi, ketika berjumpa di depan perkampungan Thay Bie
San cung tempo hari, dia begitu sombong dan tinggi hati, ia pernah
menghancurkan gengsiku, aku tak dapat hidup berdampingan dengan
seorang perempuan yang begitu berambisi untuk menjadi seorang
pemimpin, sebab aku bisa ditekan terus olehnya..."
Maka pemandangan di saat pertemuan dengan It-boen Pit Giok
di depan perkampungan Thay Bie San cung pun terlintas kembali
dalam benaknya, dua puluh empat orang gadis dengan barisan
lenteranya serta pakaian merah yang menyolok mata itu selalu
meninggalkan kesan yang mendalam dalam hatinya... ia teringat
kembali sikap congkak perempuan itu ketika ia dikurung oleh barisan
tentaranya, setelah ia perlihatkan kepandaian yang sejati gadis itu baru
berhenti mentertawakan serta mencemooh dirinya...
Ingatan tersebut tiada hentinya berkecamuk dalam benak pemuda
itu, ia mendongak memandang awan di angkasa lalu bergumam :
"Mengapa ia selalu nampak begitu sombong dan tinggi hati??"
1263
Saduran TJAN ID
Ia tak habis mengerti apa sebabnya gadis itu selalu ingin dirinya
lebih menonjol dari kaum pria... dia ingin dirinya selalu berada di atas
yang lain, agar semua orang menyanjung dirinya... menghormati
dirinya... sayang ia paling benci dengan perempuan semacam itu,
tentu saja ia tak sudi mencintai perempuan seperti itu.
Angin malam yang dingin menampak mukanya dan
menyadarkan pemuda itu dari lamunannya, memandang padi yang
menguning di sawah ia tertawa geli sendiri, katanya :
"Buat apa kupikirkan dirinya lagi? Apakah dalam hatiku masih
terkesan oleh dirinya? Aaaah, aku tak bakal mencintai perempuan
semacam ini..."
Ketika ia sedang mentertawakan dirinya sendiri, mendadak
pemuda itu merasa bahwa di belakang tubuhnya ada seseorang sedang
menguntil dengan langkah yang hati-hati, dengan cepat ia berpaling
dan hatinya tertegun.
Rupanya It-boen Pit Giok sedang menguntil terus di belakang
tubuhnya dengan langkah yang lirih, sekali pun gadis itu tidak
mengucapkan sepatah kata pun namun dari balik biji matanya telah
terkandung kesemuanya... termasuk pula rasa cintanya."
Pek In Hoei tertegun dan segera loncat turun dari atas kuda,
serunya :
"Nona It-boen, kenapa engkau pun datang?"
"Mengapa engkau pergi tanpa pamit?" tanya It-boen Pit Giok
pula dengan nada sedih.
Ketika Pek In Hoei meninggalkan Perkumpulan Bunga Merah
tadi, hanya Gan In seorang tahu, karena dia tak ingin berjumpa lagi
dengan It-boen Pit Giok maka secara diam-diam pemuda itu telah
berlalu tanpa pamit.
Menanti It-boen Pit Giok tahu bahwa pemuda itu sudah berlalu
maka seorang diri secara diam-diam ia menguntil datang, dia hanya
berharap bahwa pihak lawan bisa merasakan pancaran cintanya...
meskipun dia tahu apa sebabnya pemuda itu berlalu tanpa pamit, akan
1264
IMAM TANPA BAYANGAN II
tetapi gadis itu merasa tak kuasa menahan diri untuk menguntil di
belakangnya.
"Aku tak berani mengganggu nona..." kata Pek In Hoei sambil
tertawa getir.
"In Hoei," ujar It-boen Pit Giok dengan sedih, "kenapa kau
bersikap begitu terhadap diriku? Apakah raut wajahku kurang cantik
dan menarik bagimu? Ataukah aku kurang lemah lembut? Beritahulah
kepadaku bagian manakah dariku yang memuakkan engkau? Asal kau
suka mengatakannya maka aku akan berusaha keras untuk
merubahnya..."
Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau terlalu cantik dan selama hidup baru pertama kali kutemui
gadis secantik dirimu, tetapi aku... Aaaai! Nona It-boen, lebih baik
kita tak usah membicarakan persoalan itu."
"Aku hendak berterus terang kepadamu bahwa aku sangat
mencintai dirimu..." ujar It-boen Pit Giok dengan hati kecut, "aku tak
jeri kalau engkau mengatakan aku terlalu bernyali atau aku terlalu
genit, peduli apa pun pandanganmu terhadap diriku, aku hendak
menyatakan rasa cintaku kepadamu secara terus terang. In Hoei!
Tahukah engkau apa sebabnya aku begitu terpesona terhadap dirimu?
Karena kesan yang kau berikan kepadaku terlalu dalam."
Bagaikan sedang mengigau dia melanjutkan :
"Masih ingatkah engkau, ketika untuk pertama kalinya kita
berjumpa di depan perkampungan Thay Bie San cung? Sejak itulah
aku tak dapat melupakan dirimu, waktu itu aku memang merasa agak
benci terhadap dirimu, tetapi setelah lewat sekian lama aku baru
merasakan bahwa sebenarnya aku sangat mencintai dirimu..."
"Engkau tidak seharusnya mencintai aku, aku tidak berharga
untuk menerima cintamu itu!" seru Pek In Hoei sambil menggeleng.
Hatinya terasa ditusuk oleh dua bilah pedang yang tajam,
membuat hatinya terasa amat sakit, pikirnya di dalam hati :
1265
Saduran TJAN ID
"Mengapa kau ungkap kembali peristiwa di depan perkampungan
Thay Bie San cung? Aku tidak sudi mendengarkan kejadian itu lagi,
engkau harus tahu bahwa kejadian itu telah melukai hatiku..."
Air mata tampak mengembang di balik kelopak mata It-boen Pit
Giok, ujarnya dengan nada gemetar :
"Aku tahu bahwa engkau tak suka kepadaku, aku hanya berharap
agar aku bisa hidup bersama dirimu, aku hanya berharap agar engkau
bisa memahami bahwa aku bukanlah seorang perempuan rendah yang
tidak genah, sepanjang masa aku tak akan mencintai orang ke-dua,
asal aku tahu bahwa aku sangat mencintai dirimu itu sudah lebih dari
cukup, aku tidak berani mengharapkan yang lain lagi..."
"Mengapa engkau harus bersikap begitu?" seru Pek In Hoei
sambil berdiri termangu-mangu.
"Mencintai orang atau dicintai orang sama-sama merupakan
suatu kejadian, engkau akan mentertawakan kebodohanku, mungkin
juga pikiranmu itu benar... kalau aku tidak kenal dengan dirimu, maka
aku tak akan begitu kesemsem kepadamu..."
"Nona It-boen, harap engkau jangan berbuat begitu..."
"Kenapa engkau harus bersikap begitu kepadaku? Apakah kau
tidak mengijinkan aku untuk ikut menikmati sisa kebahagiaan yang
tercecer itu?? In Hoei, janganlah kau terlalu menampik rasa cinta
seorang gadis terhadap dirimu, sebab tindakanmu itu akan membuat
kau sengsara di sepanjang masa, aku tidak ingin mendengarkan
sebutan nona It-boen lagi... aku minta engkau sebut aku sebagai Pigiok..."
Pek In Hoei menghela napas panjang.
"Apa yang harus kukatakan untuk menjelaskan persoalan ini??"
serunya kemudian.
Sambil tertawa getir It-boen Pit Giok menggeleng.
"Engkau sama sekali tak perlu memberi penjelasan, aku tahu apa
yang hendak kau katakan... sedikit pun tidak salah watak kita berdua
1266
IMAM TANPA BAYANGAN II
memang sama-sama angkuh dan tinggi hati... keangkuhan tersebut
membuat jarak di antara kita berdua kian lama kian bertambah jauh..."
Ia tarik napas panjang-panjang, setelah berhenti sebentar
sambungnya kembali :
"Beranikah engkau menyangkal bahwa engkau tidak cinta
kepadaku? Pek In Hoei kita tak usah membelenggu diri karena soal
gengsi atau martabat sehingga tidak berani saling bercinta, gengsi
yang kosong dan martabat yang palsulah membuat kita jadi menderita
dan sengsara... kekerasan hatiku selalu berharap agar engkau tunduk
kepala kepadaku, sebaliknya kesombonganmu dan keangkuhanmu
berharap agar aku mengejar dirimu, sekarang kita tidak butuh untuk
tetap mempertahankan diri lagi, sebab kesemuanya itu
menghancurkan kita sendiri..."
"Jalan pikiranmu itu memang bagus dan tepat sekali, sedikit pun
tidak salah kesombonganmu serta pandanganmu yang sama sekali
tidak memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang lain sangat
menyakitkan hatiku tetapi sekarang semuanya telah terlambat..."
"Sindiranmu serta ejekanmu apakah tidak menyakitkan pula
hatiku? Ketika seorang gadis sedang mencapai masa mudanya untuk
bercinta, ia mempunyai sebuah hati yang mulus dan halus... tetapi
ketika berada di perkampungan Thay Bie San cung tempo hari,
engkau telah mengoyak gengsi serta martabatku..."
"Oleh sebab itu engkau membenci aku...?" sambung Pek In Hoei
sambil menghela napas.
It-boen Pit Giok menggeleng.
"Semua rasa benci telah berubah jadi cinta, Pek In Hoei, sekarang
kita tak usah berpura-pura lagi... kita harus tunjukkan perasaan sendiri
dengan raut muka yang asli..."
Sekilas kelembutan mulai terpancar keluar dari balik mata Pek In
Hoei, dia menghembuskan napas panjang.
"Sedikit pun tidak salah, dahulu secara diam-diam aku pernah
mencintai dirimu, tetapi setiap kali terbayang olehku akan
1267
Saduran TJAN ID
kesombongan dan keangkuhanmu, maka aku pun mengambil
keputusan untuk tidak mempedulikan dirimu lagi, menunggu sampai
engkau mau mengaku salah di hadapanku..."
"Kau terlalu kejam..." bisik It-boen Pit Giok sambil tertawa sedih.
Diam-diam Pek In Hoei menghela napas panjang, katanya lagi :
"Sekarang semuanya telah berlalu, nona It-boen masa remajamu
masih panjang dan masa depanmu cemerlang... urusan muda mudi
sudah tidak terlalu penting lagi bagi kita semua, sekarang aku masih
ada urusan penting yang harus diselesaikan. Nah, selamat tinggal..."
"Kau hendak pergi ke mana?" tanya It-boen Pit Giok tertegun.
"Sulit untuk dikatakan, dewasa ini aku tak mampu untuk
memberikan suatu jawaban yang meyakinkan!"
Semua anggota Perkumpulan Bunga Merah selalu menyambut
kedatanganmu dengan hati gembira dan tangan terbuka, terutama
sekali Gan In ia memandang dirimu bagaikan malaikat, Pek In Hoei!
Asal engkau mau kembali maka aku serta seluruh anggota
Perkumpulan Bunga Merah akan menyambut kedatanganmu dengan
senang hati..."
"Aku bisa datang kembali untuk menengok dirimu!" kata Pek In
Hoei sambil meloncat ke atas kudanya.
Derap kaki kuda yang berkumandang di tengah kesunyian
bagaikan martil yang menggodam hati It-boen Pit Giok, membuat air
matanya tak dapat dikendalikan lagi dan mengucur keluar dengan
deras, memandang bayangan punggungnya yang menjauh dia
merintih :
"Aku berharap engkau bisa datang kembali ke sisiku, peduli
bagaimana pun sikapmu terhadap diriku, aku tetap berharap akan
kembalinya engkau ke sisiku, In Hoei! Aku hendak mengikuti
dirimu... secara diam-diam engkau akan kuikuti terus..."
Dalam pada itu Jago Pedang Berdarah Dingin dengan membawa
hati yang kacau berlalu dari tempat itu, pelbagai ingatan memenuhi
1268
IMAM TANPA BAYANGAN II
benaknya, ia merasa setiap patah kata dari It-boen Pit Giok terukir
dalam hatinya, dengan sedih ia menghela napas dan berkata :
"Seorang gadis yang terlalu dimabukkan oleh cinta, aku terlalu
bersalah kepadanya."
Memandang kegelapan serta kesunyian yang membentang di
depan mata, dia menggeleng dan tarik napas panjang-panjang.
"Aaaah! Tak usah kupikirkan lagi persoalan itu, aku harus
membongkar kedok dari Sam Ciat sianseng..."
Di tengah kegelapan kuil Toa-ong-bio bagaikan seorang kakek
peyot yang terkapar di tanah sambil terengah-engah, cahaya lampu
yang redup memancar keluar dari balik kuil....
Pek In Hoei loncat turun dari atas kuda, menaiki tangga dan
masuk ke dalam kuil, setelah melewati ruang yang sempit sampailah
di ruang yang besar yang penuh dengan sarang laba-laba, sebuah
lentera terletak di meja sembahyang, bekas telapak kaki memenuhi
ruangan itu, hal tersebut menunjukkan bahwa pernah ada orang yang
berkunjung ke situ.
Suasana dalam kuil sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara
pun, tinggal keseraman yang mencengkeram sekeliling tempat itu.
"Apakah Sam Ciat sianseng telah berkunjung kemari..." pikir Pek
In Hoei dengan wajah tertegun.
Dengan pandangan serius diperiksanya setiap sudut ruang kuil
itu, tiba-tiba ia temukan beberapa sosok mayat pria baju hitam
menggeletak di bawah meja sembahyang, tenggorokan orang-orang
itu termakan sebuah tusukan dan sudah mati lama sekali, Jago Pedang
Berdarah Dingin semakin tertegun pikirnya di dalam hati :
"Sebelum aku tiba di tempat ini, suatu pertarungan seru pasti
telah berlangsung di tempat ini..."
"Hmmm..." tiba-tiba dengusan dingin berkumandang dari tengah
ruang kuil itu.
Jago Pedang Berdarah Dingin terperanjat, tubuhnya mencelat ke
angkasa dan silangkan telapaknya di depan dada, bentaknya:
1269
Saduran TJAN ID
"Siapa di situ?"
Dari balik sudut tembok menggema keluar tertawa rendah, lalu
seseorang menegur :
"Engkau adalah anggota Komplotan Tangan Hitam atau bukan?"
Pek In Hoei alihkan sorot matanya ke sudut tembok, dari situ ia
lihat seorang kakek tua yang kurus perlahan-lahan munculkan diri,
sekujur tubuh kakek tua itu penuh luka dan pakaiannya sudah hancur
terkoyak, dengan suara berat segera serunya :
"Siapa engkau?"
"Hmmm! Kau telah merampas Pat-giok-ma mestika dari keluarga
kami, membunuh pula tujuh orang muridku... Hmmm... kalian
kawanan Komplotan Tangan Hitam yang tak punya liang-sim...
malam ini aku Ngo-kong Beng sengaja menantikan kedatanganmu ke
sini untuk menjagal kalian semua!" seru kakek itu dengan wajah
sedih.
"Eeei... apa yang engkau katakan? Aku sama sekali tidak
mengerti," teriak Pek In Hoei sambil berdiri tertegun.
Ngo-kong Beng mendengus dingin, sambil cabut keluar
pedangnya ia berteriak :
"Kembalikan nyawa muridku, keparat cilik! Kau anggap aku
sudah mati bukan? Terus terang kukatakan kepadamu bukan saja aku
Ngo Kong Beng belum mati bahkan akan kubasmi kalian sampah
masyarakat dari permukaan bumi, sekarang putraku sudah pergi
siapkan orang, sebentar akan kubasmi kalian manusia-manusia
terkutuk. Keparat cilik! Nasib kurang mujur, ternyata berani masuk
kemari seorang diri!"
Pedangnya berkelebat ke depan dan membacok tubuh Jago
Pedang Berdarah Dingin, ilmu pedang yang dimiliki kakek tua itu
ternyata sempurna sekali, jurus serangan yang dilancarkan juga ganas
serta telengas, memaksa Pek In Hoei mundur terus ke belakang.
"Eeeei... sianseng, engkau salah paham!" teriak Pek In Hoei
sambil goyangkan tangannya berulang kali.
1270
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aku salah paham? Apa yang kusalah paham?" kata Ngo Kong
Beng sambil berdiri tertegun, "sebelum kalian angkat kaki tadi
bukankah sudah mengatakan suruh aku menunggu? Kau anggap aku
tak berani menunggu ? Kau anggap aku tak berani menunggu?
Hmmm... keparat cilik, kuda Pat giok-ma milikku pun sudah lenyap,
apa yang harus kutakuti lagi?"
"Aku bukan anggota Komplotan Tangan Hitam, sebelum ngaco
belo lihat dulu dengan jelas siapa yang sedang kau hadapi!"
Ngo Kong Beng menggetarkan pedangnya lalu tertawa seram,
teriaknya :
"Bukankah engkau she Pek?"
"Tidak salah," jawab Pek In Hoei, "apakah lo sianseng kenal
dengan diriku..."
"Kalau memang begitu tak bakal salah lagi, sebelum para
Komplotan Tangan Hitam tinggalkan tempat ini, mereka telah
beritahu kepadaku bahwa ada seorang keparat cilik she Pek akan
datang membereskan hutang tersebut, mereka bilang asal aku punya
keberanian silahkan menunggu!"
Pek In Hoei sama sekali tidak menyangka kalau maksud Sam Ciat
sianseng mengundang kedatangannya ke kuil Toa-ong-bio adalah
untuk memancing dirinya masuk perangkap serta turun tangan
melawan seorang kakek tua yang barang berharganya dirampok lebih
dahulu.
Saking gusarnya ia tertawa dingin, serunya sambil tertawa
tergelak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh tak kusangka Sam Ciat
sianseng adalah seorang manusia licik..."
"Kembalikan kuda Pat-giok-ma ku..." bentak Ngo Kong Beng
sambil menerjang ke depan.
Pada saat ini kakek tua tersebut sudah mempunyai niat untuk
mengadu jiwa, dia sama sekali tidak ambil peduli atas penjelasan yang
diberikan Pek In Hoei, pedangnya berkelebat melancarkan tujuh
1271
Saduran TJAN ID
tusukan maut, ke-tujuh buah serangan itu berkelebat begitu cepat
hingga merobek ujung pakaian dari si anak muda.
"Kurang ajar, engkau benar-benar seorang tua bangka yang
tolol..." bentak Pek In Hoei dengan gusarnya.
Hawa amarah telah berkobar dalam dadanya, membuat napsu
membunuh pun seketika menyelimuti wajahnya, ia membentak keras,
pedang mestika penghancur sang surya-nya dicabut keluar dan
bergeletar di angkasa membentuk gerakan satu lingkaran busur, hawa
pedang yang hijau meninggalkan udara yang dingin dan tajam,
membuat Ngo Kong Beng berdiri menjublak.
Sebilah pedang mestika yang amat tajam," serunya dengan suara
gemetar, "sungguh tak nyana di antara Komplotan Tangan Hitam
terdapat seseorang yang memiliki senjata selihay itu..."
"Ayah!" tiba-tiba dari luar ruangan kuil berkumandang datang
suara teriakan nyaring, "ananda telah berhasil mengundang datang
Siok-tiong Siang-hiong!"
Tampak tiga orang pria kekar bagaikan sukma gentayangan
meloncat masuk ke dalam ruangan, kemudian mereka sebarkan diri
dan mengepung Pek In Hoei di tengah kalangan.
"Ayah!" terdengar pemuda berjubah abu-abu yang ada di sisi kiri
itu berseru, "apakah dia adalah keparat cilik she-Pek dari Komplotan
Tangan Hitam?"
Dia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin,
kemudian ujarnya dengan ketus :
"Sahabat, kami keluarga Ngo tidak pernah mengikat dendam
permusuhan apa-apa dengan organisasi kalian, mengapa kau
merampok barang mestika dari keluarga kami, kuda Pat giok-ma?
Kemudian membinasakan pula tujuh orang suheng kami? Sahabat,
aku Ngo Sian Cing ingin sekali minta petunjuk beberapa jurus darimu,
aku ingin tahu sampai di mana sih kehebatan dari Komplotan Tangan
Hitam sehingga berani tak pandang sebelah mata pun terhadap semua
orang..."
1272
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalian semua telah salah paham, aku sama sekali bukan anggota
dari Komplotan Tangan Hitam..."
"Hmmm!" Wan Toa Kun sang lo-toa dari Siok-tiong Siang-hiong
tertawa dingin, "bukankah engkau she-Pek?"
"Tidak salah, aku memang she-Pek," jawab Pek In Hoei sambil
mendengus dingin, "aku harap mulutmu bisa bicara lebih bersih lagi,
barang siapa berani bicara tak karuan di hadapan aku Jago Pedang
Berdarah Dingin, hati-hatilah... akan kuberi pelajaran yang setimpal
kepada kalian."
"Jago Pedang Berdarah Dingin!"
Empat patah kata itu bagaikan lonceng yang bergema di tengah
udara membuat air muka semua orang yang ada di ruangan itu
berubah hebat, rasa kaget yang bukan kepalang terlintas dalam hati
mereka.
"Bagus sekali!" seru Ngo Kong Beng sambil tertawa seram,
"sungguh tak nyana Jago Pedang Berdarah Dingin yang namanya
tersohor di seluruh jagad tidak lebih adalah anggota Komplotan
Tangan Hitam. Heehheemm... heehhmmm... ini hari boleh dibilang
aku orang she-Ngo sudah terbuka mataku..."
"Hmmm! Engkau si tua bangka tolol yang matanya buta, sebelum
melihat jelas duduknya persoalan sudah mengaco belo tak karuan...
kalau aku Pek In Hoei adalah engkau, hmmm! Sedari tadi aku sudah
tumbukkan kepalaku ke atas dinding untuk bunuh diri," seru Pek In
Hoei dengan nada sinis.
Wan Toa Peng Lo-ji dari Siok-tiong Siang-hiong tertawa seram.
"Heemmm... kamu keparat cilik itu manusia macam apa? Berani
benar berlagak di hadapan kami Siok-tiong Siang-hiong... Hmmm...
Lo toa, benarkah Ngo Sian Cing akan serahkan mestika Pat-giok-ma
tersebut kepada kita?"
"Kalian tak usah kuatir," buru-buru Ngo Sian Cing berseru, "asal
ke delapan ekor kuda mestika itu berhasil kita rampas kembali, aku
1273
Saduran TJAN ID
pasti akan membagi empat untuk kalian, tapi syaratnya kalian harus
membunuh bajingan she Pek ini lebih dahulu..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... empat ekor saja tidak cukup, kami
minta enam ekor!"
Wan Toa Peng maupun Wan Toa Kun berbicara dengan logat
propinsi Sucuan, hal ini membuktikan bahwa ke-dua orang itu adalah
jago-jago luar daerah.
Sementara itu Ngo Sian Cing telah tertegun setelah mendengar
perkataan itu, serunya tercengang.
"Kenapa begitu?"
Wan Toa Peng tertawa dingin.
"Jago Pedang Berdarah Dingin adalah seorang jago yang sangat
lihay dalam permainan ilmu pedang, untuk memetik batok kepalanya
bukanlah suatu perkara yang terlalu gampang, kalau engkau berani
bayar enam ekor kuda pualam sebagai pembayaran dari batok
kepalanya maka kami akan segera kerjakan, toh jumlah segitu tidak
terhitung terlalu mahal..."
"Seekor kuda giok-ma sudah bernilai satu kota, sungguh tak
kusangka kalau kamu berdua begitu kemaruk harta," seru Ngo Kong
Beng dengan wajah berubah hebat. "Aaaai...! Kalau delapan ekor
kuda Giok-ma itu tak bisa dicari kembali..."
"Hmmm! Mau atau tidak terserah padamu sendiri," dengus Wan
Toa Kun dengan dingin, "kalau bukan kami yang turun tangan, aku
percaya ke-delapan ekor kuda Giok-ma itu tak akan berhasil kalian
rampas kembali dari tangan Komplotan Tangan Hitam, waktu itu
kalian seekor pun tidak dapat, akan kulihat bagaimana keadaanmu..."
Saking gusarnya Ngo Kong Beng tertawa keras, serunya :
"Baik kukabulkan permintaan kalian, malam ini hitung saja aku
orang she-Ngo yang sial..."
Sepasang jago dari wilayah Siok-tiong itu saling berpandangan
lalu tertawa terbahak-bahak, memisahkan diri dan melotot ke arah
1274
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jago Pedang Berdarah Dingin dengan pandangan benci, sementara
senyuman bangga tersungging di ujung bibirnya.
"huuuh...! Dengan andalkan kalian dua besi rongsokan juga ingin
merebutkan kembali barang antik orang," jengek Pek In Hoei sinis,
"sahabat, kalau tahu diri cepatlah enyah dari sini, di hadapan kami tak
nanti kalian bisa berlagak..."
"Nenek anjingmu!" maki Wan Toa Peng, "aku tak percaya kalau
kamu si Jago Pedang Berdarah Dingin adalah seorang berkepala tiga
berlengan enam, malam ini aku harus bunuh kamu si bangsat sampai
mati..."
Pek In Hoei tertawa sinis, sinar mata tajam berkilat dan
bentaknya dengan gusar :
"Kau si makhluk yang berpikir tak berbulu, aku akan suruh kau
bertekuk lutut dan minta ampun di hadapanku."
Cahaya pedang tiba-tiba memancar ke empat penjuru, pada saat
yang bersamaan Siok-tiong Siang-hiong membentak keras, mereka
putar senjata dan menerjang maju ke depan, sebagai jago pedang yang
berpengalaman serangan tersebut benar-benar luar biasa sekali.
Dua rentetan cahaya pedang membentuk selapis kabut pedang
yang tebal dan mengurung Jago Pedang Berdarah Dingin di tengah
kepungan.
Pek In Hoei membentak keras, serunya :
"Tidak aneh kalau kalian begitu sombong dan takabur, rupanya
kepandaian silat yang dimiliki hebat juga..."
Pedang mestika penghancur sang surya di tangannya bergeletar
di udara membentuk sekilas bayangan pedang, sambil menekan lima
cun di bawah tiba-tiba senjata tersebut melejit dan langsung menusuk
ke arah tenggorokan Wan Toa Peng.
"Aaaaauuh...!" Siok-tiong Siang-hiong sama sekali tidak
menduga kalau ilmu pedang yang dimiliki Jago Pedang Berdarah
Dingin begitu dahsyatnya, di tengah getaran pergelangannya sang
1275
Saduran TJAN ID
pedang telah menembusi kabut pedang yang diciptakan oleh mereka
segera menusuk ke dalam.
Wan Toa Peng tak bisa meloloskan diri lagi dari serangan
tersebut, ia menjerit lengking lalu mundur ke belakang dengan
sempoyongan, darah segar memancar keluar dari tenggorokannya dan
berteriak dengan penuh kengerian :
"Kau... kau... kauuuu..."
Tubuhnya gemetar keras lalu terkapar ke atas tanah, tanpa
menjerit tanpa mendengus tahu-tahu sukmanya sudah melayang
tinggalkan badan kasarnya.
Wan Toa Kun jadi gusar, sedih bercampur kalap menyaksikan
adik kandungnya mati konyol di ujung pedang lawan, seperti orang
gila ia membentak :
"Bangsat she Pek, aku bersumpah akan membunuh dirimu..."
Dia putar pedangnya dan segera menerjang ke arah Jago Pedang
Berdarah Dingin, ujung pedang yang tajam memancarkan hawa
dingin yang menggidikkan hati, ketika ujung pedang masih ada satu
depa di depan tubuh musuhnya, tiba-tiba senjata itu menyeleweng ke
samping.
Jago Pedang Berdarah Dingin memutar tubuhnya sambil
membentak :
"Enyah dari sini kalau tidak engkau akan terkapar di atas tanah
seperti adikmu..."
"Kentut busuk!" bentak Wan Toa Kun dengan gusar, "setelah
membunuh orang apakah urusan disudahi sampai di situ saja? Aku
tidak percaya dengan segala permainan setan!"
Secara beruntun dia lancarkan lima buah jurus serangan yang
berbeda, di antaranya terdapat pula jurus-jurus mematikan yang amat
ganas.
Pek In Hoei loncat ke tengah udara, pedangnya membabat ke
bawah sambil teriaknya :
"Hmm! Kamu sudah bosan hidup."
1276
IMAM TANPA BAYANGAN II
Di tengah dengungan kesakitan, dengan sempoyongan Wan Toa
Kun mundur beberapa langkah ke belakang, darah segar mengucur
keluar dari tubuhnya yang gempal, teriaknya dengan sedih :
"Pek In Hoei, suatu ketika aku bisa datang untuk menuntut balas."
Dengan wajah sedih Wan Toa Kun kabur keluar dari ruang kuil,
percikan darah segar menodai seluruh lantai, hal ini membuat Ngo
Kong Beng dan putranya hanya bisa berdiri menjublak di tempatnya
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dengan pandangan dingin Pek In Hoei melirik sekejap ke arah
ke-dua orang itu lalu serunya :
"Apakah kalian berdua juga siap untuk bergerak?"
"Hmmm! Kau anggap setelah Siok-tiong Siang-hiong kalah maka
urusan akan kusudahi sampai di sini saja?" teriak Ngo Kong Beng.
Pek In Hoei jadi semakin gusar, ujarnya :
"Rupanya sebelum melihat peti mati kalian tak akan
mengucurkan air mata, kalau kau anggap urusan tak bisa disudahi
dengan begitu saja, maka apa rencanamu selanjutnya? Ayoh
katakan... Aku Pek In Hoei tak akan membuat kalian jadi kecewa!"
"Kuda pusaka Giok-ma barang pusaka dari keluarga kami," kata
Ngo Sian Cing dengan marah, "aku harap engkau suka
mengembalikannya kepada kami, aku tahu engkau Jago Pedang
Berdarah Dingin bukan copet atau begal, tak mungkin liang-simnya
jadi hilang lantaran ke-delapan ekor kuda Giok-ma tersebut..."
"Bagaimana sih kalian berdua ini?" bentak Pek In Hoei dengan
gusar sekali, "aku sama sekali tidak membegal ke-delapan ekor kuda
Giok-ma kalian, dari mana bisa kukembalikan kepada kamu berdua?
Apakah kau masih belum bisa membedakan bahwa aku bukan
anggota dari Komplotan Tangan Hitam..."
"Hmmm! Meskipun ke-delapan ekor kuda Giok-ma itu bukan
dibegal olehmu sendiri, tetapi perbuatan ini pasti atas perintahmu,
saudara... kalau berani berbuat tentu berani bertanggung jawab,
janganlah setelah berhasil lantas cuci tangan seenaknya..."
1277
Saduran TJAN ID
Saking mendongkolnya Pek In Hoei tertawa terbahak-bahak.
"Kalian benar-benar manusia yang amat tolol..."
"Cuuuh...! Meskipun aku Ngo Sian Cing bukan tandinganmu,
tetapi aku tak sudi melepaskan dirimu dengan begitu saja, suatu hari
engkau akan mengetahui sampai di manakah kelihayan dari keluarga
Ngo kami... " kepada Ngo Kong Beng tambahnya :
"Ayah, mari kita pulang dulu!"
Ngo Kong Beng melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu
tegurnya kembali dengan suara lantang "
"Benarkah engkau bukan anggota dari Komplotan Tangan
Hitam?"
"Kalau aku adalah anggota dari Komplotan Tangan Hitam maka
tidak nanti aku bersikap sungkan kepada dirimu berdua, bicara terus
terang aku sendiri pun mempunyai persengketaan dengan pihak
Komplotan Tangan Hitam, seandainya sudah merampas ke-delapan
ekor kuda Giok-ma milik kalian, buat apa kami datang lagi ke sini..."
Ngo Kong Beng berdua berdiri tertegun kemudian bersama-sama
melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, akhirnya
dengan wajah ragu-ragu dan penuh tanda tanya mereka berjalan
keluar ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan mereka berdua telah
lenyap di balik kegelapan.
Ruang kuil yang penuh sarang laba-laba kini tinggal Jago Pedang
Berdarah Dingin seorang yang masih berada di situ mendampingi
mayat Wan Toa Peng yang terkapar di atas tanah, pelbagai ingatan
berkelebat dalam benaknya, rasa sedih dan sepi mencekam hatinya
membuat dia tertawa sedih, satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
ia berpikir :
"Kurang ajar, ternyata Sam Ciat sianseng telah mempergunakan
diriku, dia yang membajak ke-delapan ekor kuda Giok-ma milik Ngo
Kong Beng, sebaliknya memberikan pertanggungan jawabnya ke atas
pundakku. Aaaai...! Bajingan itu benar-benar pandai sekali
menggunakan kesempatan..."
1278
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan gemas dia mendepakkan kakinya ke atas lantai, lalu
berseru :
"Bajingan itu benar-benar seorang manusia yang licik, lain kali
kalau aku sampai bertemu lagi dengan dirinya, pasti akan kubinasakan
bangsat yang pandai memfitnah orang itu hingga lenyap dari
permukaan bumi, kalau tidak entah permainan setan apa lagi yang
bakal ditimpakan kepadaku..."
Tiba-tiba ia menengadah ke atas, tampak olehnya di balik meja
sembahyang berkumandang suara dengusan napas, hal itu membuat
hatinya tercengang, pikirnya :
"Apakah para jago dari Komplotan Tangan Hitam
menyembunyikan diri di belakang meja sembahyang itu?"
Rasa curiga yang mencekam hatinya kian lama kian bertambah
besar, dalam waktu singkat dia merasa bahwa di dalam ruang kuil
yang sudah bobrok itu terdapat banyak hal yang mencurigakan serta
aneh, setelah menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba
telapaknya disapu ke depan melancarkan sebuah pukulan ke arah
patung arca di tengah kuil.
Blaaaam...! Baru saja telapak kanan Pek In Hoei didorong ke
muka, tiba-tiba ia merasa ada segulung angin pukulan menerjang ke
arahnya... dua gulung angin pukulan dengan cepat membentur jadi
satu di tengah udara, diikuti bergeletarnya ledakan keras yang
mengakibatkan beterbangannya debu dan pasir ke tengah udara.
Lampu lentera jadi bergoyang kencang membuat suasana jadi
redup, di tengah kegelapan itulah suara tertawa dingin bergema
memecahkan kesunyian disusul munculnya sesosok bayangan
manusia langsung menerjang ke tengah ruangan.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..." suara tertawa dingin dari Sam Ciat
sianseng berkumandang datang, "Pek In Hoei, aku ucapkan banyak
terima kasih lebih dahulu karena engkau telah menyingkirkan dua
orang musuh tangguh dari Komplotan Tangan Hitam, meskipun Sioktiong
Siang-hiong bukan terhitung apa-apa dalam pandanganku,
1279
Saduran TJAN ID
tetapi daripada akulah yang turun tangan sendiri maka jauh lebih baik
kalau engkaulah yang turun tangan mewakili diriku..."
Pek In Hoei tertegun, dia tidak menyangka kalau dirinya bakal
dijadikan alat pembunuh oleh Sam Ciat sianseng, rupanya secara licik
sekali pihak lawan telah mempersiapkan suatu jebakan yang sangat
lihay untuk memancing dirinya masuk perangkap, dengan meminjam
kekuatannya untuk menyingkirkan Siok-tiong Siang-hiong yang
sudah mereka ketahui pula akan kelihayannya, dari kejadian ini bisa
ditarik kesimpulan bahwa kelicikan dari orang itu benar-benar luar
biasa sekali.
Saking gemas dan mendongkolnya, Jago Pedang Berdarah
Dingin berteriak sekeras-kerasnya :
"Kau licik dan banyak akal, aku tak dapat melepaskan dirimu
dengan begitu saja..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... apa yang kau alami cuma sebagian
dari pekerjaan kami," kata Sam Ciat sianseng sambil tertawa
terbahak-bahak, kami pihak Komplotan Tangan Hitam yang paling
diutamakan adalah hati yang hitam, kulit yang tebal, tangan yang
telengas, kaki yang ganas serta mulut yang tajam, asal pekerjaan itu
menguntungkan bagi pihak kami maka dengan segala cara apa pun
akan kami lakukan untuk menyukseskan usaha tersebut.. sebelum
berhasil kami tak akan berpeluk tangan..."
"Kau benar-benar tak tahu malu, kecuali engkau di kolong langit
boleh dibilang tiada orang kedua yang selicik dan tak tahu malu
seperti engkau... Sam Ciat sianseng, silahkan engkau lepaskan kain
kerudung yang menutupi wajahmu itu, aku ingin lihat macam apakah
raut wajah dari manusia yang berhati hitam seperti kamu itu..."
"Aku rasa lebih baik engkau tak usah menempuh bahaya ini,"
seru Sam Ciat sianseng dengan mata tajam, "barang siapa pernah
melihat raut wajahku yang sebenarnya maka tak seorang pun yang
bisa hidup di kolong langit. Ketika wajahku kuperlihatkan kepada
orang, itu berarti umurnya sudah tidak berapa lama lagi."
1280
IMAM TANPA BAYANGAN II
Perkataan dari jago lihay berkerudung hitam ini dingin sekali
bagaikan hembusan angin dari kutub utara, membuat setiap orang
yang mendengar menjadi bergidik dan menggetar keras.
Lain halnya dengan Jago Pedang Berdarah Dingin, dengan sorot
mata berapi-api dia melotot ke arah musuhnya dengan penuh
kebencian.
"Aku tidak percaya!" serunya sambil menggertak gigi.
"Hmmm!" Sam Ciat sianseng mendengus dingin, "malam ini di
sini tiada orang lain, hal ini merupakan satu kesempatan yang sangat
baik bagi kita untuk berbicara sebaik-baiknya... engkau si Jago
Pedang Berdarah Dingin bagaimana pun merupakan suatu kekuatan
manunggal dalam dunia persilatan, selamanya tidak pernah
berhubungan dengan partai mana pun, kenapa sekarang engkau
berhubungan dengan Perkumpulan Bunga Merah, apakah kau sengaja
hendak memusuhi diriku?"
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Para anggota yang tergabung dalam Perkumpulan Bunga Merah
semuanya merupakan jago-jago lihay yang berdarah panas, mereka
kaya akan rasa keadilan dan persahabatan, khusus berjuang demi
menegakkan keadilan dan kebenaran di dalam dunia persilatan,
sebaliknya kalian para jago dari Komplotan Tangan Hitam yang bisa
dilakukan hanyalah menerbitkan ombak dan angin... membunuh
orang membakar rumah penduduk, asal seseorang masih mempunyai
rasa peri kemanusiaan maka dia pasti akan berhubungan dengan
Perkumpulan Bunga Merah..."
"Hmmm!" dengusan dingin berkumandang keluar dari mulut
Sam Ciat sianseng, dari balik biji matanya yang dingin terpancar
keluar sorot mata yang ganas dan bengis, katanya :
"Engkau tak usah bicara dengan kata-kata yang begitu indah,
siapa yang tidak tahu kalau antara engkau dengan It-boen Pit Giok,
ketua dari Perkumpulan Bunga Merah, mempunyai hubungan yang
sangat akrab? Kalau engkau bukan kesemsem oleh kecantikan
1281
Saduran TJAN ID
wajahnya, dari mana kamu bersedia untuk jual nyawa baginya?
Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei, buat apa engkau bicara yang
indah-indah? Tak usah dikatakan pun dalam hati kami sudah
mengetahui jelas..."
"Kau benar-benar sedang mengaco belo..." seru Pek In Hoei
sambil gelengkan kepalanya, dengan gemas dia melanjutkan, "kedelapan
ekor kuda Giok-ma milik Ngo Kong Beng apakah engkau
yang curi? Sekarang berada di mana?"
"Nih berada di sini," jawab Sam Ciat sianseng tenang, "coba
lihatlah rupanya engkau pun tertarik oleh ke-delapan ekor kuda
mestika itu, apakah kau juga menginginkannya? Jika suka maka aku
bisa menghadiahkan sebagian kepadamu..."
"Aku harap engkau suka mengembalikannya kepada Ngo Kong
Beng," kata Pek In Hoei sambil tertawa dingin, "demi ke-delapan ekor
kuda Giok-ma itu, mereka mengira akulah yang melakukan
pembegalan. Sam Ciat sianseng, perbuatanmu yang begitu rendah
benar-benar telah menurunkan derajatmu, suatu ketika orang
kangouw pasti akan mengetahui rahasia kebusukanmu itu..."
Sam Ciat sianseng sama sekali tidak gusar mendengar perkataan
itu, katanya :
"Kejadian itu pun merupakan satu hasil kerjaku yang gemilang.
Hehmm... heehmmm... kalau tidak kucuri ke-delapan ekor kuda Giokma
dari keluarga Ngo, dari mana orang kangouw bisa tahu kalau
engkau Pek In Hoei punya hubungan dengan Komplotan Tangan
Hitam? Hanya dengan membegal ke-delapan ekor kuda itulah aku
baru bisa memaksa engkau untuk terdesak da tak dapa tancapkan
kakinya lagi di kolong langit... hanya berbuat begitulah terpaksa
engkau harus bergabung dengan Komplotan Tangan Hitam... heehh...
heeehh..."
Criiing...! Tiba-tiba terdengar suara gemerincingan nyaring
berkumandang memecahkan kesunyian, sekilas cahaya pedang yang
tajam memancar ke empat penjuru dan hawa pedang yang
1282
IMAM TANPA BAYANGAN II
menggidikkan hati menyelimuti seluruh angkasa, sambil mencekal
pedang telanjang Jago Pedang Berdarah Dingin berkata :
"Bagaimana pun juga aku bersumpah akan membinasakan
dirimu, engkau telah menyumbat banyak jalanku, kalau aku tidak
bunuh dirimu dari muka bumi maka dunia persilatan entah akan kau
rubah jadi bagaimana keadaannya... mungkin, karena engkau seorang
seluruh kolong langit jadi kacau balau tak karuan..."
"Jangan turun tangan lebih dahulu," cegah Sam Ciat sianseng
sambil goyangkan tangannya berulang kali, "kalau ada urusan mari
kita bicarakan secara baik-baik, engkau tak perlu terburu napsu,
malam ini bukan saja aku akan membuat dirimu tunduk seratus persen
bahkan dalam ilmu silat pun aku tak akan mengecewakan dirimu, aku
percaya engkau akan merasa beruntung dapat berkenalan dengan
diriku."
"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus berat, "aku tak akan
melepaskan dirimu."
"Haaaah... haaaah... haaaah... itu toh urusan di kemudian hari,"
kata Sam Ciat sianseng sambil tertawa bangga, "dewasa ini aku sangat
membutuhkan bantuanmu... hehmmm...heehmmm asal engkau
bersedia untuk bekerja sama dengan aku maka bukan saja patung kuda
pualam yang ada delapan buah jumlahnya itu akan kuhadiahkan
kepadamu di samping itu akan kuberikan pula seorang gadis yang
cantik jelita untuk hiburanmu, aku tanggung kecantikan wajahnya
tidak akan kalah dari It-boen Pit Giok si kuda liar tersebut."
"Omong kosongmu terlalu banyak," seru Pek In Hoei sambil
menggetarkan pedangnya di tengah udara, "aku sudah bersiap-siap
untuk minta petunjukmu..."
"Ooow...! Jadi kalau begitu engkau tidak bersedia untuk bekerja
sama dengan aku?"
"Hmmm! Siapa yang sudi bekerja sam dengan dirimu? Sam Ciat
sianseng aku lihat lebih baik engkau buang jauh-jauh ingatan seperti
itu."
1283
Saduran TJAN ID
"Heehmm...! Rupanya terpaksa aku harus musnah engkau dari
muka bumi, ketahuilah bahwa semboyanku adalah berusaha
mendapatkan bila masih bisa dipergunakan, musnahkan apabila tidak
bisa didapatkan. Pek In Hoei, tidak akan menjadi masalah engkau
menampik kerja sama dengan diriku..."
Sambil tertawa dingin ia cabut keluar pedang aneh yang
memancarkan cahaya emas itu, setelah dikebaskan di tengah udara
dengan sepasang mata yang tajam bagaikan pisau ia tatap wajah Pek
In Hoei, lalu ujarnya dingin :
"Silahkan turun tangan Pek In Hoei, sudah tidak berapa lama lagi
engkau dapat hidup di kolong langit..."
Jago Pedang Berdarah Dingin menggerakkan pergelangan
tangannya, pedang mestika penghancur sang surya laksana cahaya
tajam langsung membabat ke atas tubuh Sam Ciat sianseng, ketika
senjata yang tajam itu berkelebat lewat tersiarlah warna perak yang
menusuk pandangan.
Sam Ciat sianseng rendahkan tubuhnya ke bawah, dengan cepat
pedang aneh di tangannya didorong keluar, cahaya emas segera
menyebar ke empat penjuru. Harus diketahui ke-dua jago yang sedang
bertempur ini sama-sama memiliki kepandaian yang tinggi dalam hal
ilmu pedang, maka dalam pertarungan hanya jurus-jurus yang ampuh
dan ganas saja yang dipergunakan, ke-dua belah pihak sama-sama tak
berani bertindak gegabah.
Secara beruntun tujuh jurus serangan telah lewat, ke-dua orang
itu mulai mempertahankan satu jarak yang tertentu, siapa pun tak
berani maju ke muka dan siapa pun tidak berhasil merebut keuntungan
dari bentrokan tersebut.
"Hmmm...! Keyakinanmu di dalam permainan pedang ternyata
memang luar biasa sekali," ujar Sam Ciat sianseng dengan nada keras,
"Pek In Hoei, hampir saja aku menilai dirimu terlalu rendah, sungguh
tak nyana kalau engkau dapat mengimbangi permainan pedangku!"
1284
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Beberapa jurus seranganmu itu masih belum sampai
kupikirkan di dalam hati, Sam Ciat sianseng, engkau harus berhatihati
sebab dalam jurus serangan berikutnya aku hendak mengancam
sepasang kakimu, dan jurus itu ganas sekali..."
"Hmmm! Coba saja untuk dilontarkan..."
Sekilas cahaya tajam bagaikan sorotan surya memancar ke tengah
udara, Jago Pedang Berdarah Dingin menekuk tubuhnya dan
melancarkan serangan gencar ke arah Sam Ciat sianseng.
Menyaksikan betapa dahsyatnya ancaman yang menyerang tiba,
Sam Ciat sianseng sangat terperanjat, teringat olehnya bahwa Jago
Pedang Berdarah Dingin akan mengancam kakinya, maka dengan
cepat hawa murninya disalurkan ke kaki untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Siapa tahu rupanya gerakan itu hanya merupakan siasat licik dari
Pek In Hoei, setelah dilihatnya pihak lawan mempertahankan diri
pada bagian kaki, tiba-tiba pedangnya berkelebat ke muka dan
mencukil kain kerudung yang menutupi wajah Sam Ciat sianseng.
Sreeet...! Di tengah desingan angin tajam, ujung kerudung yang
menutupi wajah Sam Ciat sianseng sudah tersambar hingga
tersingkap, Jago Pedang Berdarah Dingin berseru lalu teriaknya :
"Ooooh...! Ternyata engkau... ternyata engkau..."
"Sudah kau lihat semua?" seru Sam Ciat sianseng sambil tertawa
seram, dengan cekat dia lepaskan kain kerudung yang menutupi
mukanya.
Walaupun di luaran ketua dari organisasi Komplotan Tangan
Hitam ini masih bersikap tenang, tetapi hatinya merasa amat
terperanjat, dia tak mengira kalau Pek In Hoei berhasil membongkar
rahasianya, hawa napas memburu seketika memancar keluar dari
balik matanya.
Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang, kemudian ujarnya :
"Sungguh tak kusangka pemilik Benteng Kiam-poo Cui Tek Li
adalah pemimpin dari Komplotan Tangan Hitam!"
1285
Saduran TJAN ID
Setelah Sam Ciat sianseng melepaskan kain kerudung yang
menutupi wajahnya maka muncullah raut wajah dari Cui Tek Li
pemilik Benteng Kiam-poo, sambil tertawa seram terdengar ia berkata
:
"Pek In Hoei, setiap kali memandang di atas wajah ibumu aku
tidak bersedia membunuh engkau, siapa tahu engkau selalu sama
berusaha untuk memusuhi dan menghalang-halangi pekerjaanku,
membunuh anggota Komplotan Tangan Hitam ku...
Hmmm...Hmmm... malam ini kalau aku tidak cabut jiwa anjingmu ini
maka persoalan tentang Komplotan Tangan Hitam pasti akan tersebar
di seluruh kolong langit!"
"Tidak aneh kalau Benteng Kiam-poo tidak memperkenankan
kawanan Bu-lim untuk mengunjunginya, ternyata di balik
kesemuanya itu masih tersembunyi rahasia yang begitu banyak...
Poocu, benarkah markas besar dari Komplotan Tangan Hitam adalah
Benteng Kiam-poo?"
"Sedikit pun tidak salah!"
"Nama besar bentengmu itu sudah cukup tersohor di kolong
langit, aku rasa kau tidak butuh untuk mendirikan satu kekuatan lagi
dalam dunia persilatan, aku benar-benar tak habis mengerti dengan
kedudukanmu sebagai seorang poocu, apa sebabnya mendirikan pula
suatu organisasi yang bertujuan keji dan jahat seperti ini..."
Cui Tek Li mendengus dingin.
"Hmmm! Bukan saja aku hendak merajai seluruh kolong langit,
aku pun hendak mengumpulkan barang-barang berharga yang ada di
dalam jagad, delapan ekor kuda pualam merupakan salah satu di
antara barang berharga yang kuincar..."
"Sekarang rahasiamu sudah terbongkar dan tak mungkin bisa
mengelabui orang lain, akan kuberitahukan persoalan ini ke seluruh
kolong langit, agar semua kekuatan yang ada di Bu-lim bersama-sama
memerangi dirimu serta melenyapkan Benteng Kiam-poo dari muka
1286
IMAM TANPA BAYANGAN II
bumi, waktu itu engkau pasti akan menyesal terhadap perbuatanmu
pada hari ini..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... engkau tak akan menjumpai
kesempatan seperti itu, sebab sebentar lagi kau bakal menemui ajalmu
di tanganku..."
Tiba-tiba ia membentak keras, tubuhnya loncat ke udara dan
pedang anehnya dilancarkan ke muka, dalam waktu singkat ia sudah
mengirim tujuh delapan buah serangan yang maha dahsyat dan secara
terpisah mengancam bagian tubuh Pek In Hoei yang berbeda.
Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan hatinya tercekat, ia tak
mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li pemilik
Benteng Kiam-poo ini begitu dahsyat dan sempurna, kesempurnaan
dalam permainan jurus luar biasa sekali, dia gerakkan pedang mestika
penghancur sang surya-nya dan secara beruntun lancarkan pula tiga
serangan berantai, setelah bersusah payah akhirnya serangan yang
aneh dan sakti itu berhasil juga dihindari.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia berpikir
:
"Ketika bertempur waktu masih berada dalam Benteng Kiam-poo
tempo hari, tenaga dalam yang dimiliki Cui Tek Li hanya satu kali
lipat lebih tinggi dari kepandaianku, apakah waktu itu dia memang
sengaja menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya?Dan sekarang
di kala aku tidak bersiap segera mengeluarkan kekuatan yang
sebenarnya untuk membinasakan diriku, seandainya demikian
keadaannya maka kelicikan orang ini benar-benar tak boleh
dipandang enteng..."
Dengan hati tercekat pedang mestika penghancur sang surya-nya
membabat ke depan, di kala tubuhnya sedikit merandek itulah tibatiba
pedangnya menerjang ke tubuh Cui Tek Li.
Jurus serangan ini sangat ganas dan telengas, sama sekali berada
di luar dugaan Pemilik dari Benteng Kiam-poo itu.
Cui Tek Li tertegun, kemudian serunya :
1287
Saduran TJAN ID
"Engkau benar-benar luar biasa sekali, ternyata masih
mempunyai kemampuan untuk melancarkan serangannya seperti
ini...!
Bagaikan hembusan angin puyuh tubuhnya menerobos keluar
lewat kurungan bayangan pedang dari Pek In Hoei, menggunakan
kesempatan itu pedang anehnya berputar dan membacok punggung si
anak muda itu.
"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu..." bentak Pek In Hoei.
Sementara ia bersiap-siap untuk melancarkan tiga jurus pencabut
nyawanya, tiba-tiba Cui Tek Li memperdengarkan teriakan yang
sangat aneh diikuti tubuhnya mundur ke belakang, ujarnya :
"Pek In Hoei, menang kalah di antara kita berdua tak dapat
ditetapkan dalam seratus jurus belaka, sekarang aku tak punya waktu
untuk ribut-ribut denganmu lebih jauh, terpaksa akan kusuruh keempat
orang kepercayaanku untuk melayani engkau...!"
"Hmmm! Kembali engkau akan gunakan cara yang paling rendah
dan tak tahu malu dari Komplotan Tangan Hitam!" seru Pek In Hoei
sambil tertawa dingin.
"Terserah apa yang hendak kau katakan, aku sih tak akan ambil
peduli dengan ucapan-ucapan itu, bagaimana pun juga pada malam
ini engkau tak akan lolos dari cengkeramanku, sekali pun aku tak tahu
malu juga tak ada yang tahu..."
Belum habis ia berkata, Mao Bong telah berteriak dari luar
ruangan kuil itu:
"Hey orang she-Pek, kau tak pernah menyangka bukan akan
menjumpai keadaan seperti hari ini?"
Mao Bong, Thian Goan serta Lan Eng perlahan-lahan munculkan
diri dari balik pintu, mereka tertawa dan memandang ke arah si anak
muda itu dengan pandangan menghina.
"Mao Bong!" seru Pek In Hoei sambil ayunkan pedang mestika
penghancur sang surya-nya, "malam ini engkau pun ak akan lolos dari
ujung pedang mestikaku..."
1288
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kentut busuk!" teriak Mao Bong marah-marah, rambutnya
berdiri semua bagaikan landak, "kalau aku orang she Mao tidak
mampu untuk bereskan seorang bocah cilik macam dirimu, buat apa
aku berkeliaran lagi dalam dunia persilatan untuk mencari makan?
Heehmmm... heeeehhmm... Pek In Hoei, kemungkinan besar pada
malam ini di kuil Toa-ong-bio bakal bertambah lagi dengan sesosok
roh penasaran yang bergentayangan di sini..."
"Mao-heng," kata Thian Goan sambil putar pedangnya, "mari kita
petik batok kepala keparat cilik ini untuk digunakan sebagai bola
sepak... hanya berbuat demikianlah rasa dendam yang terpancar
dalam tubuhku bisa dilenyapkan... bukankah begitu Mao heng?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, sedikit pun
tidak salah... aku memang bermaksud begitu!"
Dia berpaling dan memandang sekejap ke Cui Tek Li, kemudian
tanya dengan cepat :
"Ketua, bila kita berhasil melenyapkan keparat cilik ini apakah
ada ang-pao untuk kami bertiga?"
"Masih seperti sedia kala, siapa yang berhasil memetik batok
kepala keparat cilik ini dialah yang akan mendapatkan barang yang
diinginkannya, kalian bertiga boleh berusaha untuk memperebutkan
hadiah pertama."
"Ketua!" seru Lan Eng tiba-tiba sambil tertawa keras, "aku harap
di samping hadiah khusus engkau pun sudi kiranya untuk menambah
dengan sebuah barang lain, pedang mestika penghancur sang surya
yang dimiliki keparat ini bagus sekali, bagaimana kalau seandainya
kita berhasil membinasakan dirinya maka bukan saja mendapat angpao,
pedang itu pun boleh kita miliki..."
"Pedang itu tak boleh kalian miliki..." tampik Cui Tek Li sambil
geleng kepala.
"Mengapa?" tanya Lan Eng tertegun.
"Akan kubawa pedang itu untuk diserahkan kepada ibunya,
kemudian meletakkannya dalam peti selaksa mestika sebab pedang
1289
Saduran TJAN ID
itu cocok sekali kalau disimpan jadi satu dengan ke-delapan patung
kuda Giok-ma itu!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... baiklah ketua, kalau memang
engkau bermaksud begitu, tentu saja kami tak akan berkata apa-apa
lagi."
Jago Pedang Berdarah Dingin yang dikepung oleh empat orang
jago lihay dalam kalangan dan diolok-olok dengan nada mengejek
serta tidak pandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hawa amarah
kontan berkobar dalam dadanya, hampir saja ia muntah darah saking
jengkelnya... dengan menahan rasa benci tiba-tiba pemuda itu
menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
Setelah berhenti tertawa, serunya dengan penuh kemarahan :
"Ayoh main, siapa yang merasa punya kepandaian silahkan
merebut sendiri pedang ini dari tanganku."
"Hmmm! aku akan menjajal dirimu lebih dahulu..." dengus Thian
Goan dengan gusar.
Orang ini benci sekali terhadap si anak muda ini karena sewaktu
berada di bukit Siau-in-san dirinya telah dilukai, bersamaan dengan
selesainya perkataan itu sang tubuh ikut menerjang ke muka,
tangannya bergeletar dan pedang panjang memutar di udara kemudian
menusuk ke tubuh si anak muda itu.
Melihat Thian Goan telah melancarkan serangan, Mao Bong ikut
melancarkan pula serangan gencar, serunya kepada Lan Eng :
"Jangan biarkan keparat itu punya waktu luang untuk berganti
napas, sekali bacok kita bereskan saja keparat ini..."
"Huuuh...! Andalkan jumlah banyak untuk merebut kemenangan,
kalian bukan terhitung seorang enghiong..." ejek Pek In Hoei sinis.
Berada di bawah kepungan tiga orang jago lihay itu kendati ia
sama sekali tidak merasa jeri, akan tetapi daya tekanan yang
mendesak dirinya membuat pemuda itu sukar untuk bernapas, ia
merasa andaikata pada malam ini seluruh tenaganya tidak
1290
IMAM TANPA BAYANGAN II
dipergunakan maka untuk melarikan diri bukanlah suatu pekerjaan
yang gampang.
Apalagi ketika itu Cui Tek Li masih mengawasi jalannya
pertarungan dari sudut ruangan, sepasang matanya dengan tajam
mengawasi tubuh Pek In Hoei tanpa berkedip, seakan-akan ia hendak
telan pemuda itu bulat-bulat.
Setelah meninjau sebentar keadaan situasi yang terbentang di
depan matanya, dengan cepat dia mengambil satu keputusan di dalam
hati, pikirnya :
"Aku harus menggunakan waktu yang paling cepat untuk
melancarkan serangan berantai, salah satu di antara ke-tiga orang jago
lihay tersebut harus kumusnahkan salah seorang lebih dahulu, dengan
begitu posisi yang menguntungkan baru berada di pihakku..."
Berpikir sampai di sini ia segera membentak keras :
"Sahabat, malam ini aku hendak suruh kalian saksikan sesuatu
yang luar biasa..."
Cahaya pedang berkilauan dan dari atas langit menerjang ke arah
bawah.
Air muka Mao Bong berubah hebat, teriaknya :
"Dia mau adu jiwa... saudara-saudara, perketat serangan, peduli
bagaimana pun juga kita tak boleh membiarkan keparat itu merebut
posisi yang baik, kalau tidak...Hmmm... Hmmm... kita bakal
terjungkal di tangannya..."
1291
Saduran TJAN ID
Jilid 50
DALAM PERMAINAN ILMU PEDANG rupanya ia memiliki
keyakinan yang lumayan, maka sekali memandang ia sudah dapat
menebak rencana serta tujuan dari Jago Pedang Berdarah Dingin, oleh
sebab itulah buru-buru ia peringatkan Thian Goan serta Lan Eng
untuk memperketat serangannya sehingga tidak memberi kesempatan
bagi lawannya untuk melancarkan serangan balasan.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Aktris Filipina : ITB 20 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments