Cerita Ngentot Model Cantik : PKK 5

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Ngentot Model Cantik : PKK 5
-“Engkau tak perlu takut !” sahut pemuda itu.
“Heh..., heh.....! Boleh juga kegarangamu itu, budak!
Bukankah namamu Gak Lui !”
“Bukan ...!”
“Bukan....?”
“Siapa sudi membohongimu ...!” Orang aneh itu
terbeliak. Matanya berkilat-kilat memancar api. Kemudian
ia berseru memberi perintah : „Sam-coat, dengarlah
perintah..!”
“Ya.... !” ketiga orang berkurudung yang memburu
pemuda itu tadi serempak berseru. Nadanya amat
menghormat. Mereka bertiga disebut Samcoat atau
lengkapnya Hong-ke-sam-coat atau Tiga Algojo dari
istana Maharaja.
“Apakah kalian sudah mengetahui aliran perguruan
budak itu ?”
“Hatur bertahu kepada Maharaja, bahwa kami belum
......”
“Hm ...,” orang aneh itu mendengus gemuruh lalu
membentak :„Coba seranglah lagi !”
“Baik !” Ketiga Algojo itu serempak ayunkan tangan
menghantam pemuda itu. Keganasan pukulan ketiga
Algojo itu benar2 membuat orang leletkan lidah. Pemuda
398
tak dikenal itupun tak berani menangkis. Dengan gerak
yang aneh ia berputar kaki seraya mencabut pedangnya
yang berbentuk aneh. Pedang berwarna kebiru-biruan
tetapi sinarnya memancar burat2 merah datang macam
lidah ular. Sret ....... pedang menerobos pukulan lawan
dan ujung pedang dapat menusuk pecah kayu salah
seorang Algojo itu. Jurus serangan pedang itu benar2
luar biasa sekali. Diam2 Gak Lui menghela napas
longgar. Karena tak berhasil menyerang, ketiga Algojo
itupun menyurut mundur tiga langkah. Diluar dugaan
orang aneh tadi tak marah karena tiga Algojonya gagal,
kebalikannya ia malah tertawa seram dan puas : „Ho....,
kiranya engkau ini anaknya Li Leng-ci, ha..., ha...., ha,
.....”
Munculnya putera dari Kaisar Persilatan Li Liong-ci,
benar-benar mengejutkan sekalian anak buah Maharaja
yang hadir disitu. Diam-diam mereka terbeliak kaget dan
kucurkan keringat dingin. Juga Gak Lui terkejut seperti
disambar petir.
“Ah...., kiranya Li Hud-kong! Ibunya permaisuri Biru
telah menolong adik Hong-lian Sedang Dewi Tongtingpun
telah menolong adik Siu-mey. Budi itu harus
dibalas sepenuhnya ......” Serentak Gak Luipun bersuit
dan laksana seekor burung rajawali, ia gunakan gerak
Rajawali merentang-sayap untuk melayang diudara dan
terus meluncur turun dimuka pemuda Li Hud-kong. Dan
serentak mencabut kedua pedangnya, ia berseru garang
: “lnilah Gak Lui, hayo, serahkanlah jiwamu, Maharaja
durjana !”
Gerakan Gak Lui itu makin menambah kejut sekali
anak buah Maharaja yang berada disitu. Tring..., tring....,
tring...., mereka berhamburan mencabut senjata masingmasing.
Suasana penuh dengan ketegangan yang
399
menyala-nyala. Tetapi diluar dugaan, orang aneh yang
diduga Maharaja itu malah makin gembira. Maju
selangkah ia tertawa mengekeh : „lnilah yang dikata,
pucuk dicinta, ulam tiba. Dicari kemana-mana tak dapat,
kiranya malah datang sendiri. Dua orang budak yang
hendak kucari, malam ini muncul bersama sama ......”
“Yang hendak, mencari kepadamu untuk
menyelesaikan perhitungan, adalah aku. Dan saudara Li
ini ...... sama sekali tiada sangkut pautnya! bentak Gak
Lui lantang. Sambil kebutkan lengan jubahnya, orang
aneh itu menjahut dengan nada iblis : „Aku hendak
mencari bapaknya .......”
“Tutup mulut! Kalau engkau memang berani, carilah
Kaisar. Cara-cara yang engkau gunakan untuk
menangkap puteranya, sungguh hina dan pengecut !”
bentak Gak Lui.
Maharaja itu tertegun sejenak, Diam2 ia mengatur
siasat, ujarnya : „Kalau begitu, engkau menginginkan aku
supaya melepaskannya ?”
“Hm.......”
“Anggaplah engkau hati ksatrya. Dapat kulepasnya
tetapi harus menjawab sebuah pertanyaan !”
Karena hati merangsang, seketika Gak Lui berseru
menyambut: “Pertanyaan apa.....?”
“Jika ehgkau hendak menolongnya, engkau harus
menjawab pertanyaanku itu. Kalau tak mau pun tak
memaksa dan tiada perundingan lagi !”
Gak Lui terdesak dalam kesulitan. Jika ia tak mau
memberi jawaban tentu akan melihat pada pemuda Li
Hud-kong itu. Tetapi kalau menjawab, ia kuatir orang
akan menanyakan tentang perguruannya Dengan begitu
400
berarti ia melangar sumpahnya ........ Ia merenung
beberapa saat. Tiba2 wajahnya berobah cerah dan
dengan lantang ia berseru : „Baik, aku bersedia
menjawab pertanyaanmu. Lepaskan ia pergi dulu.....!”
Orang berkerudung hitam itu tertawa mengekeh lalu
berseru memberi perintah kepada anak buahnya supaya
memberi jalan kepada pemuda Li Hud-kong. Kawanan
anakbuah Maharaja itu segera menyisih kesamping
untuk memberi jalan kapada pemuda itu.”
Tetapi diluar dugaan Li Hud-kong bukan ngacir pergi,
melainkan malah maju kemuka dan tertawa nyaring :
„Maksudmu melepas aku pergi. supaya aku tak dapat
saling berhubungan dengan dia, bukan ?”
“Hm ...... “
“Kalau begitu aku tetap tinggal disini untuk
menyaksikan ramai2 disini !”
“Oh ...!” kawanan anak buah Maharaja serempak
mendesah kaget.
Seorang Gak Lui saja sudah cukup merepotkan
apalagi tambah putera dari Kaisar Persilatan. Benar2
menyulitkan sekali. Kalau sampai Kaisar dan Empat
Permaisuri akan minta pertanggungan jawab, akibatnya
tentu sukar dibayangkan. Tetapi Maharaja sudah siap
dengan lain rencana. Segera ia tertawa seram : „Baik
....!”
Gak Lui gugup sampai kucurkan keringat dingin,
serunya dengan berbisik : „Saudara Li, aku telah
menerima permintaan ayahmu. Aku tak dapat
membiarkan engkau dalam bahaya. Maka kuminta
engkau lekas tinggalkan tempat ini !”
Sejenak Li Hud-kong menatap Gak Lui lalu
401
memandang kedalam gedung. la sengaja melantangkan
suaranya : „Saudara Gak, engkau terlalu jujur. Sekalipun
meluluskan aku pergi, tetapi sebenarnya dia hendak
menipumu dengan mengajukan pertanyaan. Setelah itu
dia tentu tetap akan mengejar aku lagi. Maka tetap
tinggal disini atau pergi, sama saja artinya .......”
“Ngaco!” bentak Maharaja, “kata2ku sekokoh gunung.
Masakan aku sudi menipu kalian anak yang belum hilang
ingusnya!”
Li Hud-kong menyeringai: „Kalau begitu, omonganmu
itu selalu menepati maksudnya?”
“Sudah tentu...!”
“Saudara Gak,” seru Li Hud-kong, seraya berpaling,
situa itu menyatakan kalau akan menepati janji. Kalau
begitu sekalipun aku tinggal di sini, dia tentu takkan
mengganggu aku. Harap engkau jangan kuatir.......”
Gak Lui gelengkan kepala: „Tidak, orang itu tak boleh
dipercaya!“`
“Uh, takut apa? Kalau dia berani menganggu
selembar rambutku saja, berarti dia seorang manusia
hina yang tak punya moral” Tanya jawab kedua pemuda
yang bermaksud menelanjangi akal bulus Maharaja,
telah membuat Maharaja marah bukan buatan sehingga
pakaiannya sampai gemetar.
“Tutup mulut, dengarkan aku hendak mengumumkan,
bahwa kali ini aku takkan mengganggu padamu budak
liar. Hayo, Gak Lui, lekas engkau bersiap menjawab
pertanyaanku!”
“Baik, silahkan bertanya! Aku pasti akan merjawab...!”
sahut Gak Lui.
Maharaja itu menundukkan kepala.... Setelah jerpikir
402
beberapa jenak ia mulai bertanya: „Dimanakah sekarang
...... gurumu?” Pertanyaan itu tak pernah diduga Gak Lui.
Seketika Gak Lui tertegun. Walaupum sederhana
kedengarannya pertanyaan itu, namun lingkupannya
cukup luas, meliputi asal usul perguruannya, serta
tempat beradanya guru dan para angkatan tua dari
perguruannya. Dengan begitu ia harus menerangkan
dengan jelas. Tetapi dari lain segi, pertanyaan itu jugamembuktikan
beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa
Maharaja yang belum pernah kenal padanya tetapi
dalam pertanyaannya tidak menyebutkan nama
perguruannya melainkan terus langsung menanyakan
tentang gurunya. Jelas hal ini menunjukkan bahwa
Maharaja itu sudah kenal pada perguruan Bu-san.
Bahkan kemungkinan memang ada hubungannya!
Kedua, tidak menanyakan dirinya melainkan gurunya.
Kemungkinan orang itu adalah yang mencelakai orang
tuanya dahulu. Dalam pertanyan itu, rupanya Maharaja
hendak menyelidiki jejak Pedang Bidadari dan Pedang
Iblis. Tempo hari pembunuh itu tak sempat membunuh
ayah-angkat Gak Lui. Dan setelah ayah angkat Gak Lui
mengajarkan ilmu pedang Memapas-emas-memotongmustika,
maka Gak Lui telah menggemparkan dunia
persilatan karena tindakannya memapasi pedang tokoh2
persilatan. Dengan begitu dapatlah Maharaja menduga,
bahwa si Pedang Aneh atau, ayah angkat Gak Lui itu
bukan saja masih hidup pun malah punya murid.
Kemungkinan Maharaja masih ingin mencari tahu
anggauta Empat-pedang-Bu-san yang masih hidup.
Dengan pertanyaan itu dapatlah diduga bahwa Maharaja
itu memang mempunyai rasa ketakutan terhadap Empatpedang-
Bu- san.
Setelah membayangkan dugaan2 itu, maka Gak Lui
segera menarik kesimpulan: „Mengapa kakek guru
403
khusus mengajar 4 muridnya untuk menghadapi musuh,
tentulah bermaksud bahwa ilmu pedang itu harus
dilakukan oleh keempat orang baru benar2 memancar
kedahsyatan dan kesaktian untuk menumpas-musuh.
Andaikata aku dapat mewakili ayah, tak mungkin
Maharaja itu begitu ketakutan ...... apakah .... apakah
ayahku masih hidup dan menyembunyikan diri di gunung
yang sepi ...... ?
RUPANYA Maharaja tak sabar menunggu jawaban
Gak Lui yang tak kunjung datang itu : „Engkau sudah
dapat menjawab atau belum?”
Gak Lui terbeliak dan cepat menjawab: „Jangan
terburu-buru! Aku sedang berpikir!”
Dipandangnya orang aneh itu dengan tajam, pikirnya:
„Huh..., siapakah engkau ini sesungguhnya? Apakah
engkau ini murid pertama dari kakek guru yang diusir dari
perguruan itu? Apakah kecuali takut kepada Empatpedang-
Bu-san, engkau mempertalikan namaku dengan
ilmu Pedang Kilat itu? Sampai dimanakah
pengetahuanmu tentang soal itu........? Tiba2 Gak Lui
mendapat akal. Ia akan menjawab dengan terus terang
tetapi takkan menyinggung tentang keadaan Empatpedang-
Bu-san. Maka menyahutlah ia dengan lantang :
„Hm...., dengarkanlah, aku hendak menjawab .......”
“Bagus......! Bagus........!” seru Maharaja lalu mulai
bertanya :
“Katakanlah mulai dari suhumu !”
“Aku tak punya guru....!”
“Hah........!”
“Kuulangi lagi, aku tak punya guru!”
“Engkau ...... engkau hendak menyangkal .......?”
404
“Tutup mulutmu.......!” teriak Gak Lui, „aku tak pernah
bohong.....! sekalipun kepada orang semacam engkau,
akupun tak mau bohong...........!”
Karena marahnya, Maharaja sampai gemetar.
Seketika timbul pikiran hendak turun tangan menghajar
anak itu. Tetapi pada lain saat, hatinya tenang lagi.
“Tak mungkin.....! Lalu dari mana engkau belajar ilmu
silat kalau tak punya guru ?” katanya.
Melihat sikap orang begitu tegang, Gak Lui geli dalam
hati. Maka menyahutlah ia dengan dingin: „Sekalipun aku
belajar silat pada beberapa paman, tetapi tiada
seorangpun yang kuangkat menjadi guru!”
Kata2 itu memang benar, baik ayah angkatnya si
Pedang lblis maupun bibi gurunya Pedang Bidadari, telah
memberinya pelajaran silat. Tetapi mereka bukanlah
gurunya yang resmi. Dengan setengah kurang percaya,
Maharaja menegas lalu ayah bundamu.......... ?”
“Itu soal lain lagi. Aku tak perlu menjawabnya! “ kata
Gak Lui.
“Mengapa?”
“Yang engkau tanyakan adalah para angkatan tua
dari perguruanku, bukan menanyakan tentang asal usul
orangtuaku!”
“Uh ........!” rupanya Maharaja tak menduga kalau
pemuda itu akan memberi jawaban yang begitu rupa
sehingga tergetarlah hati dan badannya.
“Tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu
tentang peristiwa lampau yang dialami oleh para
angkatan tua perguruanku .......” Gak Lui menyusuli
kata2.
405
“Peristiwa apakah itu?” seru Maharaja dengan nada
tergetar tegang.
“Dalam perguruan, dari halangan angkatan tua
pernah ada seorang yang diusir dari perguruanku!”
“Hm......, siapakah dia?” dengan nada tak mengunjuk
keheranan, Maharaja menegas.
“Sudah tahu mengapa bertanya pula?” kata Gak Lui
setengah mengejek.
“Apakah maksudmu?” Maharaja hendak menutupi diri
dengan balas bertanya tetapi ternyata malah ketahuan
belangnya.
“Maksudku, da!am hati engkau sudah tahu mengapa
pura2 masih tak mengerti! “
Maharaja tak berkata lagi melainkan berdiri tegak
dengan mata berkilat-kilat. Suasana hening lelap, tegang
regang. Sekalian orang termasuk Li Hud-kong, tak
mengerti apa yang dimaksud dalam pembicaraan Gak
Lui dengan Maharaja. Hanya Gak Lui yang dapat
mengetahui jelas dan makin yakin dalam kesimpulannya
bahwa Maharaja itu memang asalnya dari Bu-san.
Sekarang tinggal menyelidiki adakah Maharaja itu benar
murid Bu-san yang diusir dari perguruan itu? Jika benar,
orang itu adalah paman gurunya yang tertua sendiri.
Adakah hidungnya cacad? Atau apakah ia mempunyai
hubungan dengan si Hidung Gerumpung itu? Belum ia
sampai melaksanakan, rencana penyelidikannya, tiba2
orang itu tertawa ringan: „Soal2 sekecil itu, kiranya tak
perlu kujawab ........”
“Adakah engkau tak ingin menanyakan tentang
angkatan tua dari perguruanku?” tukas Gak Lui.
“Heh..., heh..., heh...!” orang itu tertawa mengekeh,
406
„tetapi beberapa kali engkau telah merusakkan urusanku
yang penting. Dosamu tak berampun lagi. Kecuali
engkau dapat menerangkan alasannya yang kuat,
barulah dapat kupertimbangkan lagi. Kalau tidak, istana
Yok-ong itu bakal menjadi tempat kuburmu !”
Diam2 Gak Lui geli dalam hati karena melihat sikap
Maharaja itu. Ia memutuskan untuk memberitahukan
tentang keputusannya hendak menuntut balas kepada
Maharaja itu agar dia kaget.
“Hidupmu penuh berlumuran darah. Dosamu
menumpuk setinggi gunung. Setiap orang persilatan
yang menjunjung Kebenaran dan Keadilan, tentu berhak
membasmimu. Dan ketahuilah, bahwa aku memang
mengemban tugas dari sebuah perguruan untuk
membasmi seorang muridnya yang murtad !” seru Gak
Lui.
“Heh..., heh..., heh...!” orang itu mengekeh,
„bukankah engkau tadi mengatakan tak pernah berguru
pada seseorang ? Atas hak apa engkau berani
mencampuri urusan perguruan orang ?”
“Sungguh mengecewakan sekali kalau engkau
berkata begitu. Tindakanku itu adalah melaksanakan
pesan dari angkatan tua perguruanku!”
Mendengar itu meluaplah hawa pembunuhan di
wajah Maharaja. Ia tertawa iblis: „Baik, hari ini juga aku
hendak menawanmu. Masakan para angkatan tua
perguruanmu itu takkan datang menanyakan kemari.
Tiga Algojo, dengarkan perintahku !”
“Tutup mulutmu...!” bentak Gak Lui seraya mainkan
sepasang pedangnya, “kalau engkau memang berani,
mengapa tak engkau sendiri yang akan menerima
kematian !”
407
Maharaja sejenak merenung lalu tertawa iblis :
„Baik....! Akan kulihat sampai dimana kepandaianmu itu
....!” Dalam berkata itu, Maharaja sudah melesat
menerobos kedalam kepungan. Sudah tentu rombongan
anakbuahnya terkejut sekali. Mereka merasa heran
mengapa dalam kedudukan sebagai Maharaja. harus
turun tangan sendiri. Li Hud-kongpun terkejut juga. Ia
heran meagapa Gak Lui tak mau tinggalkan tempat ini
dan bahkan menantang pada Maharaja. Maharaja
sesungguhnya tak mengetahui jelas apakah Empatpedang-
Bu-san itu masih hidup dan dimana tempat
tinggalnya. Ia hendak menyelidiki hal itu dari ilmupedang
yang dimainkan Gak Lui nanti. Gak Lui tahu juga hal itu.
Tetapi ia tak peduli.
Dalam pertandingan dengan Maharaja ia hendak
menggunakan kesempatan untuk membalas dendam.
Diam2 ia kerahkan tenaga-dalam dan memandang
Maharaja dengan beringas. Maharaja dingin dan angkuh
sikapnya. Sedikitpun ia tak memandang mata kepada
anakmuda itu. Dengan bersembunyi dibawah kerudung
muka warna hitam, ia gunakan tenaga-dalam yang sakti
untuk menutup pernapasannya sehingga hidung Gak Lui
yang tajam itu dapat mencium suatu ciri pengenal dari
lawannya. Li Hud-kong gugup. Tiba2 ia tertawa dan
loncat ke tengah untuk menghadap Maharaja, serunya :
„Sebelum bertanding aku mempunyai saran.”
“Bukan urusanmu! Jangan ikut campur!” bentak
Maharaja dengan deliki mata.
“Heh..., heh..., heh...!” Li Hud-kong tertawa
menghina, engkau selalu memandang rendah pada
orang tetapi anehnya engkau takut setengah mati
kepada Gak Lui. Engkau telah mengunjukkan
kelemahanmu sendiri dan sedikitpun tak punya wibawa!”
408
Maharaja tak mau melayani pemuda itu dan segera minta
Gak Lui supaya mengatakan bagaimana cara
pertandingan, itu akan dilakukan.
“Sungguh kecewa engkau memakai gelar Maharaja!”,
kembali Li Hud-kong nyeletuk, „Ayahku, diberi gelar
kehormatan Kaisar oleh kaum persilatan. Beliau tak
pernah membanggakan gelar itu dan tak pernah
menghina pada orang .....”
Kata2 Li Hud-kong itu benar2 membangkitkan
rangsangan kemarahan Maharaja. Seketika ia meraung
keras: „Cukup...!”
“Tetapi aku belum selesai bicara,” masih Li Hud-kong
tak mau diam, „Jika engkau sungguh2 hendak pegang
gengsi, engkau harus mengalah menerima serangan!”
“Tak perlu”, tukas Gak Lui penuh dendam, „kita akan
adu pukulan dan pedang secara berimbang. Siapa sudi
menerima kemurahannya ......!”
“Baik!” seru Maharaja dengan tertawa sinis, „kalau
begitu, biarlah aku yang lebih dulu menerima tiga jurus
serangan pedangmu. Setelah itu baru aku balas
menyerang dengan 3 jurus ilmupedang. Hal itu untuk
menjaga mulut iseng yang menuduh aku orangtua
menindas seorang anak muda !”
“Kalau pertandingan itu tiada yang kalah dan menang
?” Li Hud- kong berseru gopoh.
“Ini ... , akan kubebaskan ia pergi !” Sekalipun belum
tahu sampai dimana kepandaian Gak Lui, tetapi Li Hudkong
menimang bahwa dapat kesempatan untuk
menyerang lebih dulu sampai tiga kali, sudah merupakan
kemurahan bagi Gak Lui. Andaikata tak berhasil dalam
penyerangan itu, Gak Luipun masih ada harapan untuk
409
terhindar dari tiga serangan Maharaja.
Setelah mempertimbangkan hal itu, Li Hud-kong pun
segera menyingkir ke samping agar mereka dapat mulai
bertanding. Gak Luipun segera mainkan pedang. Dengan
gerak yang luar biasa cepatnya, ia lancarkan ilmu
pedang tiga jurus dari perguruan Bu-san .... Tetapi setiap
kali pedang Gak Lui menyambar, lawan tentu sudah
menghindar. Dengan begitu jelaslah bahwa Maharaja itu
memang faham akan ilmupedang itu. Kalau tidak
masakan ia mampu menghindar dengan tepat sekali.
Bukan melainkan Gak Lui, pun Li Hud-kong terkejut
sekali menyaksikan kelihayan Maharaja. Bermula ia kira
ilmu pedang yang dimainkan Gak Lui itu luar biasa
hebatnya. Dilengkapi dengan pedang Pelangi, tentulah
Gak Lui akan mampu mengalahkan lawan. Wajah Gak
Lui merah padam terbakar oleh dendam kesumat yang
menyala-nyala. Saat itu seluruh semangat dan
perhatiannya hanya tertumpah untuk membunuh musuh.
Saat itu tiga buah serangan Gak Lui sudah selesai tanpa
mendapat hasil suatu apa. Maharaja tak mau banyak
bicara lagi. Ia segera mencabut pedang dan terus
menyerang dengan hebat.
Tiga buah serangan Gak Lui tadi memberi Maharaja
suatu pengertian akan asal usul pemuda itu. Diam2 ia
terkejut atas kelihayan Gak Lui. Anak itu harus lekas
dihancurkan atau kalau tidak kelak tentu merupakan
bahaya besar.
Sret..., sret..., sret...! Maharajapun segera lancarkan
tiga jurus ilmupedang. Cepatnya bukan kepalang dan
setiap jurus merupakan ilmu simpanan dari tiap partai
persilatan besar. Li Hud-kong menjerit tertahan. Ia
benar2 terkejut-mencemaskan keselamatan Gak Lui.
Tetapi yang dicemaskan itu ternyata tak kurang sesuatu.
410
Pemuda itu bergerak aneh. Walaupun gerakannya
lamban tetapi ternyata suatu ilmu gerak- tubuh yang
mengagumkan sekali. Dalam beberapa kejap, ketiga
serangan pedang Maharajapun sudah selesai. Ternyata
Gak Lui masih segar bugar iak kurang suatu apa.
“Bagus !” Li Hud-kong berteriak memuji. Tetapi baru
ia mengucap pujan, Gak Lui yang sudah tak dapat
menguasai diri, tiba2 bergerak menusuk muka lawan. Ia
hendak mengetahui siapakah sesungguhnya muka
dibalik kerudung hitam itu. Karena tiga jurus serangannya
dengan pedang tak mampu melukai Gak Lui, Maharaja
terpesona kaget. Ia tak tahu bahwa pemuda itu telah
diberi pelajaran oleh Permaisuri Biru ilmu Berjalan
menyongsong Lima Unsur atau Ni-co-ngo-heng.
Oleh karena sudah tak boleh membalas serangan
Gak Lui, maka Maharajapun mencari akal untuk
menyelesaikan pemuda itu. Serangan mendadak dari
Gak Lui itu malah memberi dalih untuk bertindak
terhadap anakmuda itu. Sungguh suatu keuntungan yang
tak pernah diharapkan. Maharaja mengisar diri ke
samping lalu mendengus ejek:
“Engkau sendiri yang cari mati .....” serentak ia
hantamkan tangan kirinya ke arah Gak Lui. Pukulan yang
dilambari tenaga-sakti itu hebatnya bukan olah-olah.
Sambil masih memutar pedang, Gak Lui mengisar ke
samping lalu gunakan pukulan Algojo Dunia untuk
menyedot tenaga pukulan lawan. Tetapi tenaga dalam
Maharaja itu luar biasa kuatnya.
Bum .......! terdengar letupan. Dada Gak Lui termakan
pukulan itu. Tubuhnya bagai layang2 putus tali,
melayang sampai 2 tombak jauhnya.
Mata Gak Lui berkunang-kunang penglihatannya.
411
Kepalanya berputar-putar seperti menghambur ribuan
bintang. Untunglah ia dapat menggunakan pedang untuk
menahan diri dari kerubuhan.
“AH..., aku terlalu emosi dan melanggar pesan gihu
.....seharusnya aku mencari ilmu pedang dari ayahku
dulu. Jurus ilmu pedang itu, kemungkinan baru dapat
412
membunuhnya ....., jika tenagaku masih belum memadai,
aku harus mengeluarkan pedang Kilat. Walaupun
pedang itu benda ganas tetapi terhadap musuh, memang
perlu digunakan .......” dalam kekalahan Gak Lui
menimang- nimang. Tetapi setelah mendapat hasil,
Maharaja tak mau memberi ampun lagi. Segera ia
menyambar dengan ilmu Kin-na-jin dari partai Siau-lim-si.
Gak Lui hendak ditawan hidup. Tetapi seketika itu Li
Hud-kong membabat pergelangan tangan Maharaja.
Betapa tinggi kesaktian Maharaja, namun ia kenal juga
akan pedang pusaka milik Kaisar Persilatan. Hatinya
tergetas dan cepat2 ia menarik pulang pedang.
“Omonganmu berlaku atau tidak ....!” bentak Li Hudkong.
“Aku tak pernah mungkir janji, tetapi dia sendiri yang
cari gara2!” sahut Maharaja.
“Cari gara2? Bukankah engkau sudah setuju untuk
melepaskannya apabila pertandingan itu tiada yang
kalah dan menang?”
“Setelah tiga jurus, tak seharusnya dia menyerang
aku lagi !”
“Dan engkaupun tak boleh memukul lagi !” sahut Li
Hud-kong tak kalah tangkasnya.
“Apakah engkau menghendaki supaya aku diam saja
menerima tusukannya? “
“Ha... ha..., ha..., ha”
“Engkau menertawakan apa? “ teriak Maharaja.
“Kutertawakan sikapmu yang masih kekanakkanakan
itu!”
“Apa maksudmu?”
413
“Bukankah engkau menganggap kepandaian Gak Lui
itu setingkat dengan engkau?”
“Budak hina itu masakan mampu menandingi aku!”
teriak Maharaja.
“Benar!” seru Li Hud-kong, „dengan mengandalkan
ketuaanmu engkau hendak membanggakan diri sebagai
Maharaja Persilatan. Tetapi apabila bertempur engkau
berkaok-kaok minta untung. Menurut penilaianku .....”
“Hm........,!”
“Jelas engkau mengerahkan anak buahmu untuk
menyerang tetapi engkau masih berlagak garang!”
“Heh..., heh...., heh...., heh....!” Maharaja mengekeh
marah, “panjang lebar engkau bicara itu tak lain minta
supaya kulepaskan dia bukan?”
“Itupun kalau engkau masih menghormati janjimu !”
“Baik, kali ini aku hendak memberi kelonggaran.
Tetapi ........”
“Tetapi apa? Apakah masih hendak engkau berikuti
dengan perjanjian lain lagi?”
“Tidak, bukan perjanjian melainkan suatu keterangan”
sahut Maharaja.
“Katakanlah !”
“Akan kulepas kalian pergi dan takkan kuperintah
anakbuahku untuk merintangi. Akupun takkan
menyerang lagi. Tetapi kalau kalian tak mampu pergi dari
sini, janganlah menyalahkan aku !”
Diam2 Li Hud-kong merasa heran, pikirnya: „Tidak
suruh orang merintangi dan tidak menyerang. Dengan
kepandaian kami berdua, masakan tak dapat tinggalkan
414
tempat ini. Tentulah dia mempunyai rencana lain lagi.....,
harus dijaga kemungkinan itu ..........”
Tepat pada saat itu Gak Luipun sudah selesai
melakukan pernapasan dan berjalan menghampiri.
Melihat itu Li Hud-kong cepat mengambil keputusan. Ia
menyurut mundur seraya diam2 ulurkan jari menutuk
jalan darah Gak Lui, terus dirangkul pinggangnya:
„Sudahlah, mari kita pergi. Lihatlah saja mereka hendak
gunakan siasat apa lagi ....”
Karena ditutuk jalandarahnya, Gak Lui tak dapat
barkutik. Ia hanya dapat memandang orang2 yang hadir
di situ dengan penuh dendam amarah. Tiba2 Li Hudkong
berseru: „Naiklah......!” Tubuh Gak Lui diangkatnya
dan dibawa melambung sampai tiga tumbak ke udara,
lalu meluncur keluar dari gedung Yok-ong-kiong. Tetapi
tiba2 terdengar suitan aneh, makin lama makin
melengking tinggi. Nadanya macam burung kukuk-beluk
merintih-rintih atau setan menangis pilu. Li Hud-kong
yang saat itu tengah melayang diudara. Segera ia
merasakan tubuhnya menggigil dingin sehingga terpaksa
meluncur turun. Untunglah dalam saat genting itu ia
mendapat pikiran. Dengan sisa tenaganya ia menutuk
terbuka jalan darah Gak Lui. Bum...., bum.... kedua
pemuda itu susul menyusul jatuh ketanah. Mukanya
penuh berlumuran debu dan tulang2 nya terasa sakit.
Bagi Gak Lui suitan itu sudah tak asing lagi.
Teringatlah ia bagaimana kawanan anak buah Maharaja
seperti Ceng Ci, Thian Wat, Wi Cun dan gerombolan
Topeng Besi itu tak pernah menggunakan kata2 untuk
bicara. Segala perintah tentu menggunakan suitan.
Bahwa ternyata dari mulut Maharajapun mengeluarkan
suitan semacam itu, Gak Lui benar2 terkejut sekali.
Cepat ia hendak kerahkan tenaga-dalam, tetapi, ah ......
415
sedikitpun ia tak dapat menggerakkan tenaga itu. Ia meronta2
bergeliatan hendak merangkak bangun, tetapi, ah
.... benar2 ia tak punya tenaga untuk bangun! Dengan
paksakan diri Gak Lui memungut kembali sepasang
pedangnya tadi. Setelah itu ia memandang kearah Li
Hud-kong dan berkata dengan ter-putus2 : „Maaf ........
aku telah melibatkan engkau ..... terutama ..... aku telah
........ mengabaikan ........ pesan ayahmu !”
Li Hud-kong gelengkan kepala. Dibalik kerudung,
tampak sepasang matanya yang ber-kilat2. Tiba2 ia
ulurkan tangan kirinya yang gemetar dan merogoh
kedalam baju, pada lain saat tangannya telah
menggenggam sebuah batu mustika berhias tanda
Swastika emas. Benda symbol dari kaum Buddha itu
ternyata mempunyai daya khasiat yang hebat. Dengan
benda itulah Li Hud-kong dapat menyilaukan mata
Penjaga Akhirat sehingga ia dapat bebas masuk kedalam
gedung Yok-ong-kiong. Dan saat itu begitu Li Hud-kong
mengeluarkan benda mustika itu, tiba2 semangat kedua
pemuda itu timbul lagi, Serentak mereka loncat bangun.
Memang suitan iblis itu berasal dari Maharaja. Ia hendak
menggunakan suitan yang disebut Suitan-iblis-penawanjiwa
untuk menangkap Gak Lui dan Li -Hud-kong.
Dengan menawan Li Hud-kong, ia tentu dapat memberi
tekanan kepada Kaisar dan Keempat Permaisuri. Dan
dapat pula menekan Gak Lui supaya memberi
keterangan mengenai tempat beradanya Empat-pedang-
Bu-san
Setitikpun ia tak menyangka bahwa rencananya itu
akan gagal. Kedua pemuda itu ternyata mampu bangun
lagi setelah rubuh. Maharaja terkejut sekali. Segera ia
menghambur suitan-iblis lebih keras. Tenaga-dalam yang
memancar dari suitan itu, menimbulkan hawa dingin yang
menggigit tulang. Bum..., bum ..... kedua pemuda itupun
416
rubuh lagi. Keduanya cepat2 memandang kearah benda,
mustika Swastika itu lagi. Tetapi pandangan mata kedua
pemuda itu makin lama makin kabur.
Serasa benda mustika dan keadaan disekelilingnya
makin gelap dan makin jauh....... Maharaja yang tegak
berdiri pada jarak berpuluh langkah, tampak menggagah
laksana sebuah gunung. Beberapa saat lagi, ia tentu
berhasil memberantakkan semangat dan jiwa kedua
pemuda itu. Maka tanpa kenal ampun pula, ia terus
hamburkan suitannya mautnya.
Pada saat Maharaja tengah mengumbar nafsu
melancarkan suitan mautnya, tiba2 dari arah puncak
bukit disebelah muka terdengar suara orang berseru
nyaring : „ O mi ...... to ........ hud......!” Nadanya yang
amat dan ramah tetapi kumandangnya bergema hebat
sekali. Sebagai seorang tokoh berilmu, cepat Maharaja
dapat menyadari bahwa pendatang itu seorang manusia
yang sakti. Cepat ia tumpahkan seluruh tenaga dalamnya
untuk menghapus suara orang itu dengan Suitan-iblispenawan-
jiwanya. Tetapi suara doa itu laksana
gelombang samudera yang dahsyat. Kumandangnya
makin lama, menyelubungi udara dan seluruh bumi. Dan
....... Suitan iblis dari Maharaja terdesak.....!
Adu tenaga-dalam melalui hamburan suara diudara.
itu benar2 suatu peristiwa yang jarang terjadi di dalam
dunia persilatan. Beberapa saat kemudian, kawanan
anak buah Maharaja itupun tercengkam dalam
kumandang doa itu. Mereka lepaskan tangan yang
menutup telinganya dan mulai terkena pengaruh
kumandang doa itu.
Pada saat Maharaja sedikit demi sedikit mulai
menarik pulang suitannya, diam2 hatinya terkejut sekali.
Kumandang doa itu, benar-benar mempunyai kekuatan
417
yang luar biasa sehingga suitannya tertekan lenyap
Dengan pandangan mata yang penuh kecemasan,
dilihatnya kedua pemuda tadi bangun dari tanah lalu
ayunkan langkah menuju kearah sumber suara
kumandang doa itu.
“Kalah....!, Kalah.....!” hati Maharaja menghambur
putus asa. Suitannya pun segera menyurut tinggal
setombak luasnya. Nafsu pembunuhan yang memenuhi
dadanyapun mulai lenyap. Aneh..., benar2 aneh....!
Begitu nafsu pembunuhan dalam hati Maharaja itu
lenyap, kumandang doa itupun serempak berhenti juga.
Saat itu suasana gedung Yok-ong-kiong sunyi
senyap. Kawanan anakbuah Maharaja itupun tundukkan
kepala. Hati mereka terkejut, nyalipun berhamburan
..........
Diufuk timur tampak memburat merah. Fajar mulai
menyingsing. Dan pada lain saat, bayangan kedua
pemuda itupun lenyap.
“Siapakah dia.......? Apakah Kaisar Li Liong-ci.........?”
tiba2 Maharaja bertanya dalam hati „kalau benar dia,
ah....., tak mungkin aku dapat menjagoi dunia......!”
Benak Maharaja penuh dilingkari rasa kecemasan
dan kebingungan. Kemunculan orang dengan
kumandang puji do'a keganasan itu, benar2
membuyarkan impiannya........! Tiba2 ia teringat pada diri
Gak Lui. Serentak ia teringat akan Pedang Kilat.
“Pedang Kilat....! Pedang ganas yang tiada
tandingan. Kecuali dengan ilmu sakti Liok-to-sin-thong,
tak mungkin dapat melawan....! Kalau orang yang
mengucap doa Omitohud itu bunar2 faham akan ilmu
sakti Liok-to-sin-thong, tak mungkin, ia mau mengampuni
jiwaku ! Benar, dia tentu tak menguasai ilmu sakti itu !
418
Jika demikian, apabila aku dapat memperoleh Pedang
Kilat, tentulah orang itu dapat kubasmi. Dan akan
terkabullah keinginanku menjagoi dunia persilatan .........“
Memikirkan hal itu, sepasang mata Maharaja kembali
memancar sinar berkilat-kilat. Ia tahu dimana beradanya
pedang ganas itu. Dan cara bagaimana ia dapat
mengambilnya dari tempat penyimpanan pun ia sudah
mempunyai rencana. Maka ia segera menengadah
memandang ke langit dan tertawa nyaring. Apabila
Maharaja sedang merayakan rencana kemenangannya
dengan tertawa sepuas-puasnya, adalah saat itu Gak Lui
yang sedang mengikuti daya kumandang doa Omitohud,
tiba2 terkejut girang karena mendapatkan Li Hud-kong
berada di sampingnya.
“Mari kita berangkat ....!” tiba2 Li Hud-kong berseru
pelahan. Saat itu Gak Lui sudah tenang kembali. Ia
anggukkan kepala. Setelah menyarungkan pedang
kepunggung, ia segera mengikuti Li Hud-kong menyusup
kedalam hutan. Tetapi ternyata Li Hud-kong tak menuju
ketempat orang yang melantangkan doa Omitohud itu
melainkan melesat kesamping. Dengan lari seperti orang
kejar-kejaran, dalam beberapa saat saja, mereka sudah
tiba dibagian dalam hutan. Saat itu Li Hud-kong berhenti
dan lepaskan jubah hitam yang terlalu besar bagi ukuran
badannya. Kalau tak salah, menurut keterangan
Permaisuri Biru, Li Hud-kong itu masih mengenakan kain
penutup muka.
“Maaf .....” baru Gak Lui berkata begitu, Li Hud-kong
sudah membuka: „Saudara Gak, aku tak punya banyak
waktu untuk bicara. Aku harus lekas2 pergi.....!”
“Ah...., mengapa terburu-buru?”
“Ayahku sudah tiba. Jika tahu aku berani gegabah
419
menyelidiki Maharaja, beliau tentu marah ......!”
“Oh..., orang yang melantang doa Omitohud untuk
menindas tindakan Maharaja itu, ayahmu Kaisar
Persilatan sendiri ?”
“Tak mungkin salah!”
“Kalau begitu apabila aku berjumpa beliau, takkan
kuceritakan tentang dirimu, “
Li Hud-kong tertawa riang: „Mungkin engkau ketemu
tetapi tak mungkin engkau mengenalnya.”
“Apakah ayahmu juga menyaru?”
“Ini ....., aku tak dapat mengatakan......” kata Li Hudkong.
Kemudian setelah sejenak bersangsi, ia
melanjutkan bicaranya dan berkata pula: „Tetapi aku
bermaksud hendak angkat saudara dengan engkau.
Bagaimana pendapatmu?”
Gak Lui tertawa nyaring: „Bagus sekali!, hanya aku
telah mengabaikan perintah ayahmu. Suruh aku
membantumu, kebalikannya malah menyangkut dirimu
dalam kesulitan .......”
“Ah, jangan berkata begitu. Apabila saudara Gak tak
muncul, aku tentu kalah melawan Tiga Algojo itu. Hal itu
kalau diketahui ayah, beliau tentu marah!” Kedua
pemuda itu saling tertawa. Setelah itu mereka segera
melakukan upacara mengangkat saudara. Habis itu Li
Hud-kong berbangkit memberi hormat: „Engkoh Lui aku
harus pergi sekarang. Di sekeliling tempat ini banyak
jago2 sakti. Silahkan engkau berjalan ke muka saja........”
pemuda itu terus loncat beberapa tombak jauhnya. Gak
Lui tak sempat mengucapkan pesan, kecuali
menanyakan siapakah yang dimaksud dengan jago sakti
itu.
420
“......... Thian Lok totiang”, seru Li Hud-kong! yang
sudah masuk ke dalam hutan. Gak Lui terkejut. Apabila
benar Thian Lok totiang berada di sekitar tempat situ, jika
sampai bertemu tentu akan timbul salah faham. Diam2 ia
kerahkan hawa murni dan lalu gerakkan urat2 tubuhnya.
Tetapi ia merasa bagian belakang kepalanya masih agak
sakit.
“Ah, suitan Maharaja itu benar2 hebat sekali.
Nyatanya masih meninggalkan bekas sakit di kepalaku.
Aku harus melakukan pernapasan dengan
sungguh2.........”
Gak Lui memutuskan untuk mencari tempat guna
beristirahat. Tiba2 ketika memandang ke hutan di
sebelah muka, ia terkejut dan mundur selangkah. Dua
sosok tubuh melesat keluar dari hutan itu. Yang seorang
adalah Thian Lok totiang, ketua partai Ceng-sia- pay.
Dan yang satu seorang paderi tua berjubah kelabu,
entah siapa. Karena menyadari tenaganya belum pulih,
Gak Lui tak ingin bentrok dengan mereka, tetapipun tak
leluasa untuk melarikan diri. Pada saat itu Thian Lok
totiang dan paderi tua itupun sudah melesat ke muka.
Disusul oleh munculnya 18 orang paderi yang segera
mengepung Gak Lui. Kemunculan 18 paderi itu
menyadarkan pikiran Gak Lui. Partai Siau-lim-si memiliki
barisan Cap-pe-lo-han-tin yang termasyhur.
PADERI TUA itu jelas tentulah Hui Hong taysu, ketua
partai Siau- lim-si! Gak Lui menghela napas. Buru2 ia
memberi hormat. Tetapi belum sempat berkata apa2,
Thian Lok totiangpun segera mendengus marah dan
berseru : „Ketika digunung Pek-wan-san, engkau
beruntung mampu lolos. Tetapi bagaimanapun akhirnya
engkau takkan terlepas dari jaring kematian.........”
“Harap totiang suka bersabar.........”
421
“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi ! Sekarang Hui
Hong taysu telah memimpin 18 anak-murid Siau-lim-si.
Jangan harap engkau mampu lolos lagi !” seru Thian Lok
totiang. Gak Lui menatap ketua Ceng-sia-pay tajam2 lalu
berpaling menghadap Hui Hong taysu: „Taysu kali ini
turun gunung sendiri tentulah disebabkan peristiwa murid
Siau-lim-si si Pedang Api itu. Saat ini aku belum dapat
memberi penjelasan. Harap dimaafkan !”
Hui Hong taysu kerutkan alis, ujarnya : „Soal itu soal
kedua .......”
“Lalu apakah taysu mencurigai diriku ?”
“Bukan karena aku menduga sembarangan. Tetapi
tadi aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri
engkau menghancurkan jubah hitam. Terpaksa aku
harus menarik kesimpulan begitu !”
Habis berkata ketua Siau-lim-si itu memandang
kearah robekan jubah yang tadi di-robek2 Gak Lui.
Melihat sikap paderi itu, Gak Lui terpaksa menuturkan
peristiwa yang dialami malam tadi.
“Apakah engkau melihat sendiri suteku Hui Ki itu ?”
tanya Hui Hong taysu.
“Hui Ki ? Apakah saudara seperguruan taysu yang
lenyap ?”
“Benar, kami sudah berpisah selama belasan tahun.
Tak nyana tiba2 dia muncul dan mendesak aku supaya
menyerahkan kedudukan ketua !”
Tiba2 Gak Lui teringat sesuatu, serunya : „Apakah
taysu telah memeriksa tulisannya ?”
“Memang benar2 tulisannya, tetapi ......”
“Mengapa ?”
422
“Aku tak percaya kalau dia berhaianat........!”
Gak Lui merenung sejenak, lalu berkata : „Kali ini
yang hadir dalam pertemuan dengan Maharaja, semua
mengenakan kain kerudung muka sehingga tak dapat
dikenal mukanya. Tetapi memang dari kalangan partai
Siau-lim-si terdapat seorang anggotanya. Dan Thian Wat
totiang dari Ceng-sia-pay memang benar2 hadir dalam
pertemuan itu ........” Mendengar itu Thian Lok totiang
cepat nyeletuk : „Taysu, betapapun halnya, keterangan
Gak Lui itu tak dapat dipercaya.......!”
“Maksudmu ... ?” tanya Hui Hong taysu.
“Dia sendiri adalah anakbuah Maharaja !” sahut Thian
Lok totiang..
“Aku tak memaksa engkau harus percaya !” teriak
Gak Lui dengan gemetar karena marah, „tetapi gedung
Yok ong-kiong itu dekat dari sini. Apabila sampai
diketahui oleh anakbuah Maharaja, mungkin ... kita akan
terjaring semua !”
“Heh..., heh..., heh...! Jangan menggertak orang,
jangan engkau pura2 menjadi orang baik. Omonganmu
tadi tentu bohong semua....!”
Sikap kedua ketua partai itu masing2 berbeda. Oleh
karena sudah mempunyai prasangka jelek maka Thian
Lok totiang tak mau mengerti semua alasan yang
dikatakan Gak Lui tadi. Sedang Hui Hong taysu masih
meragu. Oleh karena mencemaskan kedatangan orang2
Maharaja sehingga urusan akan menjadi lebih runyam
maka berkatalah Gak Lui dengan nada bersungguh
kepada ketua Siau-lim-si :
“Taysu, harap jangan mendengarkan ucapannya.
Jika taysu menyangsikan diriku, silahkan bertanya
423
kepada Hwat Hong taysu. Dia tentu dapat memberi
kesaksian bahwa aku bukan golongan Hitam. Pula
mengingat taysu dengan Hwat Hong taysu itu sesama
kaum agama, kiranya taysu pasti percaya penuh kepada
keterangannya.”
Thian Lok totiang mengekeh. Karena marahnya ia
sampai pucat lalu berkata kepada Hui Hong taysu :
„Cobalah dengarkan. Bukankah dia hendak mengadu
domba sesama murid agama. Jelas kalau dia bermaksud
jahat.........”
Jawab Hui Hong taysu : „Bukan tak percaya pada
totiang. Tetapi omongannya itu memang beralasan juga.”
“Beralasan !” teriak Thian Lok totiang, apakah engkau
benar2 hendak bertanya ke Heng-san ?”
“Sudah tentu ......”
Kemarahan Thian Lok totiang makin meluap. Dengan
deliki mata ia segera mencabut pedang dan berseru :
„Kuundang engkau ber-sama2 menangkapnya. Siapa
tahu setelah mendengar sepatah dua patah kata2-nya,
taysu terus berobah pendiriannya. Baiklah....! Hubungan
antara partai Ceng-sia-pay dengan Siau- lim-si hari ini
juga kuputuskan. Aku tak percaya kalau tak mampu
menangkapnya sendiri.........!”
Ucapan dari ketua Ceng-sia-pay itu memang serius
sekali. Karena hal itu menyangkut hubungan kedua
partai yang sudah berjalan ratusan tahun lamanya, Hui
Hong taysupun tidak tak berani menganggap remeh.
Tubuhnya berputar dan sambil mencekal pedang ia
berdiri di samping Thian Lok totiang. Gak Lui tak mudah
cepat2 terangsang. Ia menghela napas dingin lalu
memberi penjelasan kepada Thian Lok totiang lagi:
„Mengapa totiang masih mencurigai diriku. Wi Ti dan Wi
424
Tun kedua lo-cianpwe dari partai Kong-tong-pay, pernah
bertemu aku di gedung Leng-koan-tian. Keduanya
adalah imam yang bermartabat tinggi. Merekapun dapat
memberi kesaksian tentang diriku .......”
“Heh..., heh..., heh!....” sambil mengekeh, tanpa
menunggu sampai Gak Lui habis bicara, Thian Lok
totiang tertawa mengejeknya. Gak Lui tertegun heran.
“Ho..., engkau masih berani menyinggung nama
partai Kong- tong-pay? Ketua Kong-tong-pay Wi Ih
totiang sudah turun gunung bersama ketiga saudara
seperguruannya dan 49 murid2 Kong- tongpay angkatan
kedua!”
“Aneh....!” Gak Lui tertegun. Pikirnya: „Mengenai
jumlah orangnya, dia salah mengatakan. Pihak Kongtong-
pay itu terdiri dari Tujuh Pedang Kong Tong.
Dikurangi dengan Wi Ih ketua Kongtong-pay dan seorang
marid yang berhianat yakni Wi Cun, maka seharusnya
ketujuh tokoh pedang Kong-tong-pay itu masih berjumlah
lima orang. Mengapa dia mengatakan hanya tiga
orang.....!”
Maka bertanyalah Gak Lui dengan berani: „Wi Ti
totiang pernah meluluskan aku hendak menghadap dan
memberitahukan keadaan diriku kepada ketua Kongtong-
pay. Agar Kong-tong-pay waspada menjaga
muridnya yang berhianat. Mengapa..... ketua partai itu
malah memimpin rombongan jago2 Kong-tong-pay turun
gunung....”
“Apakah Wi Ti totiang berdua itu ....”
“Apakah engkau tak tahu?”
“Tidak! “
“Mereka di tengah jalan telah dibunuh oleh anakbuah
425
Maharaja .....”
“Ah ...” Gak Lui mengeluh kaget sehingga tubuhnya
gemetar, “apakah engkau mencurigai aku?”
“Aku bukan manusia yang mudah mencurigai orang
dengan semena- menanya. Sekarang ada saksi yang
boleh dipercaya....l”
“Siapa? Apakah dari golongan Ceng-pay .... ?”
“Dia adalah Tanghong Giok ketua partai Kun-lun-pay!
Coba katakan, apakah dia tak cukup digolongkan
sebagai orang Ceng- pay .... ?”
“Ah .........” untuk kedua kalinya Gak Lui mendesuh
kaget, “silahkan menerangkan yang jelas!”
“Hm .....” Thian Lok totiang mendengus. Ia anggap
Gak Lui itu sudah tahu tetapi masih pura2 bertanya.
Diam2 ia kerahkan tenaga murni, siap dilancarkan.
Mendengar peristiwa itu, marahlah ketua Siaulim- si.
Serentak ia maju selangkah dan berkata dengan dingin :
„Wi Ti totiang berdua telah dicegat dan dibunuh oleh
segerombolan penyerang yang berkerudung muka. Pada
saat Tanghong Giok tiba, keadaan Wi Ti totiang sudah
payah sekali. Ketika ditanya siapa pembunuhnya, Wi Ti
totiang mengatakan kalau engkau .........”
“Tak mungkin!” teriak Gak Lui.
“Itu suatu kenyataan yang berbicara!”
“Aku hendak bertanya kepada Tanghong cianpwe
tentang peristiwa yang dijumpai saat itu!” seru Gak Lui.
“Hm..., baiklah. Mari engkau ikut kami untuk dipadu
bertiga agar dapat diketahui engkau bersalah atau
tidak?”
426
“Aku sendiri dapat menanyakan tak perlu harus
bersama taysu!”
“Apakah engkau tak takut pada barisan pedang Lohan-
tin Siau- lim-si? “
“Maaf, ini bukan soal takut atau tidak!”
Keduannya makin lama makin berdebat seru. Melihat
itu Thian Lok totiang nyeletuk dingin: „Taysu, dia tentu
sedia pembantu yang lihay di belakangnya, silahkan
taysu menyisih kesamping .......!” ia cepat menutup kata
dengan sebuah serangan yang luar biasa ganasnya.
Serangan pedang itu termasuk ilmu istimewa dari partai
Ceng-sia-pay.
Dalam kemarahan, ia hendak menggunakan
kesempatan selagi Gak Lui tak bersiap, menusuknya
mati. Tetapi dia tak tahu bahwa Gak Lui telah minum
darah buaya purba sehingga tenaganya bertambah kuat.
Cepat ia loncat menghindar sehingga serangan
mendadak itu tak berhasil melukainya.
Pada saat Gak Lui masih melambung di udara, ia
marah melihat keganasan orang. Maka iapun segera
balas menyerang dengan tiga gerakan pedang. Tring...,
tring..., tring....... Terdengar dering gemerincing senjata
becadu keras dan saat itu tampak Thian Lok totiang
tergetar kesemutan tangannya. Ia terhuyung mundur
beberapa langkah...... Melihat itu Gak Lui tak mau terlibat
dalam pertempuran dengan kedua ketua partai
persilatan. Ia hendak melayang keluar dan meloloskan
diri. Tetapi tiba2 Hui Hong taysu lepaskan pukulan, Kekgong-
ciang. Suatu pukulan dari jarak jauh yang dilambari
tenaga dalam hebat,.
427
JILID 9
Tring, tring, tring ... terdengar suara orang mencabut
pedang dari empat penjuru. Delapan belas paderi Siaulim-
si, berjajar-jajar dalam barisan Lo-han-tin yang
terkenal. Gak Lui berjumpalitan untuk menghindari
serangan pukulan Biat- gong-ciang dari Hui Hong taysu.
Setelah melayang turun dan tegak di tanah, pemuda itu
berseru dengan nada sarat: “Taysu, totiang! Mengapa
kalian selalu mendesak aku saja? Siapakah yang
bertanggung jawab akibatnya nanti ?”
Paderi Siau-lim itu kerutkan dahi dan deliki mata.
Pada saat ia hendak menyahut, tiba2 terdengar suara
orang berseru dalam nada yang aneh: “Heh, heh, heh!
Gak sauhiap tak perlu takut, aku berada di sini
melindungimu !”
Dan muncullah orang yang berteriak itu. Sekalian
orang terkejut berpaling. Pendatang itu seorang tua
berambut merah hidung besar dan mulutnyapun merah.
Wajahnya menyeramkan sekali. Gak Lui seperti pernah
dengar nada suara orang itu tetapi ia lupa. Maka
berserulah ia: “Siapakah engkau ?”
Rambut merah itu tertawa seram: “Masakan siauhiap
lupa kepadaku ?”
“Aku tak kenal padamu !”
“Hi, hi, tak perlu siauhiap kuatir mengunjuk diri,
Ketiga Algojo Maharaja berada di sekitar tempat ini !”
“O, Tiga Algojo dari Maharaja ?” serempak Gak Lui,
Thian Lok totiang dan Hui Hong taysu berseru kaget.
“Benar, aku Malaekat Rambut-merah Lau Ih-jiang,
telah menerima titah dari Maharaja untuk membantu
siauhiap !” orang itu memperkenalkan diri. Imam dan
428
Paderi ketua dari partai persilatan itu tampak berobah
wajahnya. Karena mereka kenal Malaekat Berambutmerah
itu seorang tokoh kelas satu dalam golongan
Hitam. Jarang orang itu muncul di dunia persilatan. Maka
sungguh mengherankan bahwa diapun menjadi anak
buah Maharaja yang diangkat menjadi salah seorang dari
Tiga Algojo. Dan dengan keterangannya bahwa dia
disuruh membantu Gak Lui, menandakan bahwa pemuda
itu jelas juga kaki tangan Maharaja.
Hui Hong taysu kecewa sekali karena tadi hampir
saja ia dikelabuhi anak muda itu. Sedangkan Thian Lok
totiang marah dan mempertimbangkan langkah untuk
menghadapi musuh.
“Seorang Gak Lui masih mudah diatasi. Tetapi
dengan munculnya si Rambut-merah, keadaannya
berlainan. Apalagi kedua Algojo Maharaja juga berada di
sekeliling tempat ini,” demikian imam itu menimangnimang.
Gak Luipun marah sekali sehingga tangan dan
kakinya terasa dingin. Tetapi justeru dingin itu
menyebabkan hatinya tenang. Ia tahu bahwa si Rambut
Merah itu memang diperintah Maharaja. Tetapi sebelum
kedua kawannya yang lain datang, dia tentu tak berani
turun tangan. Tetapi ternyata kedatangan Rambut Merah
itu kebetulan dalam situasi yang keruh sehingga dengan
cerdik sekali Rambut Merah itu menggunakan
kesempitan untuk memojokkan Gak Lui.
Dengan beberapa perkataan itu, dapatlah ia
mengadu Gak Lui dengan ketua Ceng-sia-pay dan Siaulim-
pay. Apabila kedua fihak sama2 terluka, barulah ia
turun tangan untuk menindak mereka. Dengan mata
menyala kemarahan, Gak Lui melirik si Rambut Merah
tetapi dengan cerdik orang itu tertawa tawa : “Heh, heh
429
siauhiap, kutahu perangaimu. Engkau tak suka dibantu
dalam hal ini akupun dapat memaklumi dan hanya akan
melihat saja di samping, bagaimana nanti engkau akan
menjagal kawanan imam hidung kerbau dan paderi
gundul !”
Ucapan itu cukup beracun dan licik sekali. Sekaligus
ia dapat mengadu domba kedua belah fihak dengan ia
sendiri bebas melihat di samping. Thian Lok totiang
tertawa nyaring: “Apakah kata2mu itu dapat kami anggap
berlaku?”
Rambut Merah melirik dan menyahut: “Menghadapi
kawanan calon2 mayat seperti kalian, rasanya Gak
siauhiap sudah kelebihan tenaga...”
“Yang kutanyakan, apakah engkau ...”
“O, aku membantu atau tidak, terserah kehendakku
sendiri ! Tetapi demi memandang muka Gak siauhiap,
rasanya aku tak mau sembarangan turun tangan !”
“Bagus !” seru Thian Lok totiang menggeram, “akan
kulenyapkan kalian satu demi satu...”
Anak ketua Ceng-sia pay itu menutup kata2nya
dengan sebuah serangan pedang yang hebat kepada
Gak Lui. Gak Lui terpaksa mengisar tubuh lalu mainkan
pedangnya bagaikan naga bercengkerama di laut.
Ditambah pula dengan pancaran tenaga-dalam yang
menyedot, dapatlah ia memaksa ketua Ceng-sia-pay itu
mundur dua langkah, setelah itu tangan kiri Gak Lui
mencabut pedang Pelangi. Pedang pusaka yang telah
ditempa baru itu, dalam tangannya yang disaluri dengan
tenaga-murni penuh, berhamburan laksana petir
menyambar-nyambar.
Dengan mencabut pedang pusaka itu, tujuan Gak Lui
430
supaya lekas2 dapat menerobos ke luar dari kepungan.
Dengan demikian ia segera dapat membekuk si Rambut
Merah. Tetapi Hui Hong taysu yang sudah keracunan
kata2 si Rambut Merah, mempunyai prasangka jelek
terhadap Gak Lui. Ia anggap dengan mencabut pedang
Pelangi itu, jelas Gak Lui hendak melakukan
pembunuhan secara kejam. Dengan mendengus marah,
ketua Siau-lim-si segera memberi perintah. Ke-18
paderipun segera bergerak cepat sehingga perbawa dari
barisan Lo-han-tin itu makin mendahsyat. Baik
menyerang maupun bertahan, barisan Lo-han tin itu amat
ketat sekali.
Hui Hong taysu yang pemimpin barisan itu-pun
menyerang dengan bengis. Tangan kiri melancarkan
pukulan maut, tangan kanan mainkan pedang dalam
jurus ilmu pedang Tat-mo kiam. Begitu melangkah maju,
ujung pedang ditusukkan ke dada dan bawah ketiak Gak
Lui.
Sambil memperhatikan gerak gerik si Rambut Merah,
Gak Lui mainkan pedang untuk menang dan balas
menyerang. Gak Lui memang menghadapi tekanan
berat. Dia diserang oleh Thian Lok totiang yang berada di
sebelah kiri. Ketua Ceng-sia- pay itu mahir dalam ilmu
pedang Tui-hong kiam dan memiliki tenaga-dalam Tunyang-
cin-gi yang tinggi. Sedang di sebelah kanan ia
diancam oleh Hui Hong taysu, ketua Siau-lim-si yang
memiliki tenaga-dalam Pancha-sin-kang dan ilmu pedang
Tat-mo- kiam yang sakti. Kedua-duanya merupakan ilmu
yang jarang tandingannya dalam dunia persilatan.
Sedang di sekelilingnya ia dikepung oleh barisan Lo-hantin
yang termasyhur. Untunglah ilmu pedang yang
dimainkan Gak Lui itu termasuk jurus2 yang aneh. Ilmu
meringankan tubuh Awan-berarak-seribu- li yang
dimilikinya itu dapat membuat gerakannya secepat angin
431
meniup. Dan ilmu pedangnya dalam jurus Burung-hongmerentang-
sayap, dapat ditebarkan suatu sinar pedang
yang seolah-olah membungkus tubuhnya. Dengan
demikian dapatlah ia bertahan diri dan bahkan apabila
ada kesempatan, ia dapat juga melakukan serangan
balasan. Dan ketambahan pula dengan pedang pusaka
semacam pedang Pelangi yang dapat memapas segala
logam seperti memapas tanah liat, dapatlah ia
memperoleh keleluasaan.
Rambut Merah terlongong menyaksikan kehebatan
ilmu pedang. Tring .... terdengar dering tajam sekali.
Thian Lok totiang menyurut mundur tiga langkah.
Pedangnyapun hanya tinggal separoh saja. Dan pada
saat ketua Ceng-sia-pay itu mundur, terbukalah sebuah
lubang. Dengan kecepatan kilat menyambar, Gak Lui
terus menyelinap ke luar dan tiba di samping barisan Lo
han-tin. Ketiga tokoh itu terkejut sekali. Cepat mereka
memasuki barisan dan ayunkan pedang serta pukulan
untuk menghadang. Menghadapi barisan pedang itu,
tiba2 Gak Lui berhenti. Dan saat itu tiga buah tabasan
pedang dan tiga pukulan memburu kepadanya. Tak
boleh tidak, anak itu tentu binasa. Bahkan Rambut Merah
yang menyaksikan keadaan itu sampai mendesus kaget
dan terus hendak bergerak menolongnya. Dalam saat2
maut hendak merenggut, entah dengan tata gerak
bagaimana, dalam dua tiga kali geliatan tubuh, Gak Lui
sudah dapat menerobos ke luar. Rambut Merah masih
tegang dan belum dapat memikirkan daya untuk
menolong, tahu2 wut, wut, dua batang pedang
menyambar ke arahnya.
“Celaka !” ia hendak menjerit tetapi tak sempat lagi.
Dalam bingung ia terus jatuhkan diri bergelundungan.....
Cret, cret .... dua batang pohon kecil di belakangnya,
telah terbabat kutung. Malaekat Rambut Merah terlepas
432
dari ujung jarum. Dan begitu lolos, timbullah segera
pikirannya yang jahat. Ia hendak mempergunakan
kesempatan jarak dekat dengan Gak Lui, untuk merebut
pedang Pelangi. Tetapi baru ia loncat bangun dari tanah,
Gak Lui sudah gunakan pukulan tenaga-sedot Algojodunia.
Malaekat Rambut Merah terkejut karena merasa
tersedot. Dalam gugup ia hendak berputar tubuh dan
balas menyerang. Tetapi baru ia berputar tubuh, sebuah
hantaman dahsyat tepat menghantam dadanya, duk ....
Terdengar lengking jeritan ngeri disusul hamburan darah
segar. Tetapi selekas jeritan ngeri itu sirap, terdengar
pula suara tertawa mengejek. Ternyata dalam beberapa
kejab itu telah terjadi serangan yang hebat. Begitu
menyedot, Gak Lui terus taburkan pedang tetapi masih
dapat dihindari oleh Rambut Merah, ia susuli lagi dengan
pukulan Algojo dunia dan berhasil menghantam dada
iblis itu. Tetapi Gak Lui terkejut karena Rambut Merah itu
setelah menjerit lalu tertawa mengejek. Ternyata iblis itu
dalam keadaan terdesak, rangkapkan kedua tangannya
untuk melindungi dadanya. Malaekat Rambut Merah itu
juga bukan tokoh sembarangan. Ia seorang iblis
golongan Hitam yang memiliki tenaga-dalam hebat
sekali.
Walaupun pukulan Algojo-dunia itu termasuk jurus
yang luar biasa, tetapi tak sampai meremukkan dada iblis
itu. Rambut Merah memang seorang iblis tua yang julig
dan licik. Dengan tahankan sakit ia tertawa mengejek.
Siasat itu berhasil mempesonakan Gak Lui. Pada saat
pemuda itu tertegun, secepat kilat iblis itu sudah loncat
masuk ke dalam hutan. Gak Lui tak mau mengejar. Ia
simpan sepasang pedangnya lalu berputar tubuh hendak
memungut pedang Pelangi yang masih di tanah. Tetapi
anak muda itu tak memperhatikan bahaya yang
433
mengancam di belakangnya. Ia kira setelah menghajar
Rambut Merah, tentulah salah faham Thian Lok totiang
dan Hui Hong taysu akan terhapus. Tetapi karena
kejadian itu berlangsung amat cepat sekali, sukarlah
untuk menjernihkan suasana kemarahan kedua ketua
partai persilatan itu.
Pada saat Gak Lui sedang menghantam Rambut
Merah tadi, Thian Lok totiang pun bergegas memburu
datang. Dan pada saat Gak Lui memungut pedang, ketua
Ceng-sia-pay itu sudah berada dua meter di
belakangnya. Bum .... imam itu sudah lepaskan sebuah
hantaman dengan tenaga-dalam Tun-yang-cin-gi ke
punggung pemuda itu. Seketika Gak Lui rasakan
pandang matanya gelap, kepala berputar-putar dan
tubuh mencelat sampai dua tombak jauhnya serta
beberapa kali muntah darah ! Setelah mendapat hasil,
Thian Lok totiang tak mau memberi ampun lagi. Pada
saat Gak Lui limbung, ia memburu dan hendak
menghantamnya lagi.
“Siauhiap, awas!” tiba2 dari dalam hutan terdengar
suara si Rambut Merah. Dan peringatan itu memang
tepat sekali waktunya. Serentak Gak Luipun gelagapan
dari limbungnya dan pedang segera dihamburkan bagai
kilat menyambar-nyambar. Thian Lok totiang yang
pedangnya sudah kutung, saat itu hanya menyerang
dengan tangan kosong. Sudah tentu ia tak berani
menangkis taburan pedang itu. Ia cepat2 mundur. Tetapi
saat itu Hui Hong taysu dengan 18 muridnyapun
memburu tiba, terus mengembangkan barisan pedang.
Gak Lui terkurung sinar pedang dari delapan penjuru.
“Siauhiap, cepat mengisar ke samping satu tombak,
lekas !” terdengar pula si Rambut Merah berteriak. Saat
itu mata Gak Lui masih kunang2. Ia belum dapat melihat
434
jelas barisan lawan. Tetapi mengisar ke samping satu
tombak, memang satu2nya jalan menghindar yang paling
tepat. Maka iapun segera melintang ke samping dan
menghindari taburan 9 pedang.
“Maju dua meter.... mundur tiga langkah ....!” kembali
si Rambut Merah yang bersembunyi di balik pohon,
memberi petunjuk. Karena masih dalam keadaan tak
sadar, terpaksa Gak Lui menuruti petunjuk itu. Yang
penting ia harus dapat terhindar dari pedang maut
barisan pedang Lo han kiam-tin. Saat itu Thian Lok
totiang dan Hui Hong taysu tak dapat berpikir lain kecuali
makin yakin bahwa kedua orang itu memang sekomplot.
Mereka tak dapat memikirkan mengapa tadi Gak Lui
menyerang si Rambut Merah.
Karena terpecah perhatiannya memikirkan keadaan
Gak Lui dan si Rambut Merah, serangan kedua imam
dan paderi itu agak lambat dan kesempatan itu dapat
memberi napas kepada Gak Lui untuk merebut kembali
situasi pertempuran. Kini pemuda itu dapat pula
mengembangkan sepasang pedangnya dengan lancar.
Dan apabila ada kesempatan, tentulah ia dapat
menerobos pula dari kepungan barisan musuh. Pada
saat kesempatan itu hampir tiba, tiba2 si Rambut Merah
mengoceh dari belakang pohon: “Ah, siauhiap,
pukulanmu tadi terlalu berat, tidak seperti bermain
sandiwara. Tulangku terluka sehingga memberi
kemurahan kepada kawanan paderi kepala gundul itu....”
“O, kiranya tadi mereka hanya pura2 saja !” baik
Thian Lok maupun Hui Hong segera menarik kesimpulan.
Dan serangan merekapun segera menggencar lagi.
“Siauhiap, saat inipun engkau juga menderita luka.
Tak baik kalau bertempur terlalu lama. Jika mengijinkan
aku membantumu, pasti engkau lebih cepat keluar dari
435
kepungan....”
Sungguh licin dan licik sekali iblis Rambut Merah itu.
Nadanya memberi nasehat dan minta ijin hendak
membantu tetapi sesungguhnya ia memberi tahu kepada
Thian Lok dan Hui Hong akan keadaan Gak Lui yang
sudah terluka itu agar barisan pedang Lo han-kiam tin
mengadakan penjagaan yang ketat, jangan sampai
pemuda itu dapat lolos. Ternyata tipu muslihat iblis itu
termakan rombongan orang2 Siau- lim dan Ceng-sia,
mereka segera menyerang makin gencar.
Kini Gak Lui hanya mempunyai sebuah cara untuk
menghadapi mereka. Ialah tata gerak yang diajarkan oleh
Permaisuri Biru kepadanya, segera ia gunakan langkah
istimewa itu dan dengan gerakan yang cepat ia berusaha
keluar dari dinding sinar pedang. Dengan susah payah
akhirnya ia melihat suatu kesempatan.
“Siauhiap, di sebelah kiri ada lubang, lekas engkau
terobos !” belum Gak Lui bertindak, si Rambut Merah
sudah mendahului berseru. Tetapi ternyata musuh juga
bergerak cepat. Baru Gak Lui bergerak, Hui Hong taysu
sudah mendahului melangkah maju setindak dan
menutup lubang itu dengan 6 buah serangan pedang.
Gak Lui seperti meledak dadanya. Karena teriakan si
Rambut Merah itulah maka jalan-keluar telah ditutup Hui
Hong taysu. Nadanya seperti memberi petunjuk kepada
Gak Lui tetapi sesungguhnya Rambut Merah itu memberi
peringatan kepada musuh supaya menutup lubang
kelemahan itu.
Memang siasat Rambut Merah hendak mengadu
domba kedua belah fihak agar sama2 remuk. Setelah itu
barulah ia turun tangan untuk menyelesaikan kedua
fihak. Gak Lui tak dapat berbuat apa2 kecuali lontarkan
pandang kemarahan ke arah pohon tempat bersembunyi
436
si Rambut Merah. Tiba2 Rambut Merah munculkan
kepala dari balik batang pohon dan tertawa sinis: “Heh,
heh, tak perlu siauhiap gelisah. Sekalipun barisan
pedang Lo han-kiam-tin itu lihay, tetapi karena si-imam
jahat ikut menyelundup di dalam, menyebabkan paderi
kepala gundul tak leluasa bergerak ....”
Kata2 itu sebenarnya hendak diucapkan Hui Hong
taysu kepada Thian Lok totiang. Barisan Lo-han-kiam-tin
itu hanya berisi 18 orang dengan dia sendiri (Hui Hong)
yang berada di tengah atau poros barisan untuk memberi
komando. Dengan bertambahnya Thian Lok totiang
dalam barisan itu, memang mengganggu jalannya
barisan itu. Tetapi Thian Lok totiang itu seorang ketua
partai persilatan. Dan juga bertujuan hendak membantu,
sudah tentu Hui Hong taysu sungkan untuk memintanya
keluar. Maka betapalah girang paderi Siau-lim itu ketika
si Rambut Merah sudah mengatakan hal itu kepada Gak
Lui.
Mendengar itu, wajah Thian Lok totiang berobah dan
segera ia menyadari kedudukannya. Tanpa diminta Hui
Hong, ia sudah terus melepas keluar dari barisan. Dan
memang benar. Selekas imam itu keluar, barisan Lo hankiam-
tin segera tampak lebih hebat perbawanya. Tiba2
Gak Lui mendapat pikiran. Kalau berkali2 ia dicelakai
Rambut Merah dengan lidahnya yang tajam, mengapa ia
tak mau membalas juga. Maka sambil memutar pedang
untuk menghalau serangan Lo han-kiam-tin, ia segera
berseru ke arah pohon :
“Rambut Merah! Thian Lok totiang sudah keluar dari
barisan, engkaupun harus berhati-hati juga....” Walaupun
licin dan liciknya si Rambut Merah namun setitikpun ia
tak menyangka kalau akan menerima serangan belasan
kata2 yang tajam dari Gak Lui.
437
Pada saat ia tertegun, imam ketua partai ketua Cengsia
pay pun sudah menyerbunya! Terdengar pekik
bentakan dan deru angin pukulan menyambar- nyambar
dalam hutan itu. Dan tersenyumlah Gak Lui: “Hm,
sekarang aku bisa lolos. Dengan tenaga kedua partai
persilatan dan barisan Lo-han kiam-tin, tentulah dapat
melenyapkan si Rambut Merah itu....” pikirnya. Dengan
kemantapan pikiran itu, ia segera mengembangkan
jurus2 istimewa.
Sepasang pedangnya makin menghebat. Pada saat2
yang genting, tiba2 Hui Hong taysu gunakan jurus Tatmo
kiam untuk menusuk dada Gak Lui. Tetapi pemuda
itu menangkisnya dengan jurus Menjolok-bintang
memetik-rembulan. Lalu pedang Pelangi di tangan kiri
ditaburkan ke udara untuk menabas leher lawan. Jika
kena, tak ampun lagi kepala ketua Siau-lim si itu tentu
akan terpisah dari tubuhnya. Jaraknya begitu dekat
sekali. Jangankan ke 18 anggauta barisan Lo han-kiamtin
itu, bahkan Hui Hong taysu sendiri juga tak berdaya
untuk menghindar lagi. Tetapi untuk menyelamatkan diri,
adalah sudah menjadi sifat manusia pada umumnya.
Demikian dengan Hui Hong taysu. Di bawah pekik jeritan
kaget dari sekalian murid2 Siau-lim-si, Hui Hong taysu
tak mau mundur malah maju sembari pejamkan mata
dan tundukkan kepala. Ketua Siau-lim-si itu keluarkan
seluruh kepandaiannya, untuk menghantam pundak
lawan dengan sekuat tenaganya. Tetapi pukulan yang
luar biasa itu hanya menemui angin kosong saja. Dan
pedang pusaka Pelangi yang membawa hawa dingin itu
pun hanya menyambar di atas kepalanya. Ketua Siaulim-
si itu tercengang. Sesungguhnya tadi ia sudah
bersedia mati tetapi mengapa bisa lolos ?
Dengan napas terengah-engah sekujur tubuhnya
basah kuyup dengan keringat dingin. Dan serentak
438
dengan itu, ia mulai tahu apa yang telah terjadi. Jika
pemuda itu benar anak murid Maharaja, tak mungkin dia
mau memberi ampun kepadanya ! Kepalanya tentu akan
menggelinding di tanah....
Tiba2 ia tersentak kaget dari longongnya. Anak murid
barisan Lo- han-kiam tin berteriak kaget dan berseru
nyaring. Buru2 Hui Hong taysu membuka mata untuk
melihat apa yang terjadi. Dilihatnya dengan gerak
langkah yang aneh Gak Lui sudah lolos dari kepungan
anak murid Siau-lim si yang masih tercengkam rasa kejut
melihat ketua mereka hampir putus kepalanya tadi.
Belum Hui Hong taysu sempat berbuat apa2, tiba2
Gak Lui dari jauh berseru nyaring: “Taysu harap jangan
mengejar aku. Lekas bantulah Thian Lok totiang saja....”
Gak Lui dapat lolos dengan tak kurang suatu apa sambil
memberi pesan. Hui Hong terkejut. Tetapi ketika ia
mengangkat memandang ke muka, ternyata pemuda itu
sudah berada lima enam puluh tombak jauhnya. Tiba2
pemuda itu berpaling lagi dan berseru:
“Sampai jumpa!”
“Sampai jumpa ? Bukankah kita belum pernah
bertemu muka....!” tiba2 Gak Lui dikejutkan oleh sebuah
suara bernada sinis dari sebelah muka.
Gak Lui terkejut sekali. Dua tiga meter di hadapannya
tampak seorang manusia raksasa. Tingginya lebih dari
dua meter, mukanya hitam seperti pantat kuali. Dan
masih ada seorang kawannya lagi yang juga
menyeramkan. Seorang manusia bertubuh kurus kering
seperti tulang terbungkus kulit. Jari2 tangannya runcing
seperti cakar burung garuda. Tulang- tulangnya yang
kurus itu, mengandung kekuatan yang mengejutkan
sekali.
439
“Enyah!” teriak Gak Lui sambil tudingkan ujung
pedang.
“Enyah ya enyah !” orangtua kurus kering itu
menyahut dengan nada sedingin es, lalu mengitar separo
lingkar terus melesat maju. Tetapi ternyata dia menuju
kepada Hui Hong taysu.
Gak Lui terkejut. Ia hendak mencegah sikurus kering
itu tetapi tiba2 sitinggi besar cepat membentaknya:
“Tetapi aku tak mau enyah!” Nada suara orang itu persis
seperti salah seorang gerombolan yang menyerang ke
gunung Pekwan-san dahulu! Kala itu ia hendak mengejar
tetapi dicegah oleh Permaisuri Biru. Dan Permaisuri Biru
itu menilai kepandaian orang itu lebih tinggi dari Gak Lui.
“Apakah engkau bukan anggauta Tiga Algojo dari
Maharaja ?” Gak Lui tidak menyahut melainkan balas
bertanya.
“Benar!”
“Beritahukan namamu!”
“Setan Angin-hitam !”
“Dan kawanmu tadi ?”
“Garuda-sakti cakar-emas!”
“Apakah engkau juga ikut dalam penyerangan pada
Pukulan-sakti The Tay di gunung Pekwan-san tempo
hari?”
“Ya.”
“Di manakah The lo-cianpwe sekarang ini?”
“Akhirnya nanti engkau tentu akan tahu sendiri !”
Dalam pada bertanya jawab itu, Gak Lui mendengar
suara pukulan menderu deru di belakang hutan. Ia tahu
440
bahwa Cakar emas tentu sudah bertempur dengan ketua
Siau-lim si.
Diam2 ia menimang: “Saat ini Thian Lok totiang
sedang berhadapan dengan Rambut Merah. Menilik
Rambut Merah itu menderita luka dan kepandaian ketua
Ceng-sia-pay itu juga hebat, tentulah ia dapat
mengatasinya. Kurasa tak ada persoalannya. Begitu pun
Hui-Hong taysu juga sakti dalam ilmu tenaga-dalam.
Ditambah pula dengan barisan Lo-han-kiam tin yang
termasyhur. Kiranya tentu masih ada kelebihan tenaga
untuk menghadapi Cakar- emas. Baiklah kugunakan
kesempatan ini untuk menggali keterangan dari Iblis
Angin-hitam. Setelah itu akan kubereskan ketiga Algojo
itu semua untuk membalas sakit hati dari The Thay
cianpwe dan adik Lian.”
Setelah menentukan keputusan, Gak Lui segera
melangkah setindak maju, serunya: “Lebih baik berlaku
terus terang agar jangan engkau menderita lebih parah !”
Iblis Angin-hitam itu sebenarnya seorang angkuh.
Tetapi ketika digedung Yok ong-kiong tempo hari, ia
sudah pernah menyaksikan kelihayan Gak Lui. Dan lagi
Maharaja memerintahkan supaya menangkap anak
muda itu hidup2. Sebenarnya sejak tadi ia harus
menekan perasaan. Tetapi melihat kecongkakan pemuda
itu, timbullah kembali keangkuhannya dan menyahutlah
ia dengan nada kasar: “Jangan omong yang tak berguna!
Apa engkau kepingin mati !” habis berkata ia menyusuli
dengan gerakan tangan kiri untuk mencengkeram.
Gak Lui cepat gunakan jurus Memapas-emasmemotong-
kumala untuk menabas pergelangan tangan
lawan. Keduanya telah sama2 menggunakan jurus yang
luar biasa. Dan pada saat itu ujung pedang Gak Luipun
sudah tinggal tiga inci dari lengan lawan. Tetapi
441
walaupun bertubuh gemuk, Iblis Angin- hitam itu amat
tangkas sekali. Dengan tertawa iblis, ia menarik pulang
tangannya dan loncat mundur lalu tiba2 taburkan
sebatang pedang perak! Pedang perak itu luar biasa
tajamnya. Ujung pedang yang setipis kertas, ketika
melayang diudara tiba2 dapat melengkung untuk
mengarah jalan-darah pada bahu dan pinggang Gak Lui.
Gak Lui terkesiap. Ia terkejut juga melihat pedang
yang istimewa itu. Diperhatikannya dengan seksama. Ah,
ternyata hanya sebatang pedang saja. Pedang itu amat
tipis dan terbuat daripada emas putih. Tetapi karena
ditaburkan dengan tenaga-dalam yang tinggi, pedang
tipis itu berobah kaku dan keras seperti pedang biasa.
Gak Lui cepat loncat mundur tiga tombak lalu memutar
pedang Pelangi untuk menyabat pedang emas putih itu.
“Heh! Engkau berani memapas pedang Ular-emasputih?”
Iblis Angin-hitam tertawa mengejek. Ia gencarkan
tenaga-dalam dan pedang aneh itu-pun segera berputar
putar deras membentuk lingkaran sinar pedang yang
berlapis-lapis.
Pedang Pelangi terkepung didalam lingkaran sinar.
Sedang ujung pedang Ular- emas-putih itu menusuknusuk
kearah jalan darah berbahaya ditubuh Gak Lui.
Pemuda itu terkejut bukan kepalang. Cepat ia empos
semangat lalu melambung keudara, memapas leher
lawan. Sedang pedang ditangan kiri menyabat
pergelangan tangan kanan iblis itu. Serangan Gak Lui itu
hebat sekali. Tetapi tangan kiri Iblis Angin- hitam tiba2
dibalikkan dan terdengar deru angin keras berwarna
hitam menyambar keudara. Tring .... ekor dari Ular-emasputih
itu membentur pedang ditangan kiri Gak Lui. Dan
serempak itu diudarapun terdengar letupan dari anginhitam
tadi.
442
Dengan mengandalkan pada pedangnya yang luar
biasa anehnya itu, Iblis Angin-hitam dapat menangkis
jurus Gunung-tay-san- menindih kepala dari lawan lalu
dengan habiran tenaga angin hitam tadi ia berhasil juga
untuk mendorong tubuh lawan yang meluncur turun itu
melayang keudara lagi.
Gak Lui benar2 terkejut karena serangannya tak
berhasil. Ia berjumpalitan dan turun kebumi sejauh tiga
tombak. Tetapi begitu kaki menginjak tanah, ia segera
rasakan kepalanya pening dan beberapa kali tubuhnya
menggigil. Pikirnya: “Celaka, angin pukulan berwarna
hitam itu tentu mengandung racun! Ah, dia bergelar Iblis
sakit si Angin-hitam, adakah pukulannya itu mengandung
penyakit…”
Ia merenung lebih lanjut. “Kalau iblis yang disini
dapat menghamburkan angin penyakit, tentu kedua
kawannya yang disana itu juga mampu melakukan hal
itu. Dengan demikian halnya jelas ketua Siau lim dan
Ceng-sia-pay itu tentu akan terkena penyakit ....”
Memikir hal itu, tanpa disadari Gak Lui tegak
terpukau. Dan tepat pada saat itu juga pedang Ularemas-
putihpun kembali melingkar- lingkar diudara dan
terus meluncur kebawah mengurung Gak Lui.
Gak Lui gelagapan. Cepat juga ia segera putar
pedang membentuk lingkaran sinar untuk melindungi
tubuhnya. Lingkaran sinar pedang musuh dapat
ditahannya. Menggunakan kesempatan bertahan itu, Gak
Lui mencuri lirik kearah hutan. Ah, celaka! Ternyata
situasi pertempuran dalam hutan telah berobah tak
menguntungkan. Tampak Hui Hong taysu dan Thian Lok
totiang terhuyung-huyung dan barisan Lo-han- kiam-tin
itupun juga kacau.
443
“Budak, tak usah engkau melihat kesana! Engkau
sendiripun segera akan terkapar ditanah. Heh, heh, heh,
heh...!” Iblis Angin- hitam itu tertawa mengekeh. Gak Lui
marah mendengar tertawa iblis itu. Tetapi karena marah,
penyakit yang hinggap dalam tubuhnya itupun cepat
bekerja.
“Ah, aku harus cepat2 membereskan ketiga Algojo
ini,” pikirnya lalu kerahkan seluruh tenaga-murni dan
lancarkan jurus kelima. Pertama, ia gunakan tenagadalam
penyedot untuk melekat pedang Ular-emas-putih,
diputar dengan cepat untuk menahan ujung pedang.
Kemudian pedang Pelangi secepat kilat memapas
pinggang lawan.
“Ho, datang lagi !” si iblis tertawa congkak seraya
hamburkan asap beracun dari telapak tangannya. Tetapi
kali ini jurus serangan Gak Lui itu lain dari yang lain.
Jurus yang mengandung perubahan luar biasa. Begitu
tangan kiri dikendorkan, pedang Pelangipun laksana
naga keluar dari guha terus meluncur kemuka. Tring ....
terdengar dering nyaring dan percikan sinar kemilau.
Tahu2 pedang emas putih yang panjangnya hampir
setombak itu kutung menjadi dua. Kejut Iblis Angin-hitam
bukan kepalang. Ia berduka sekali karena pedangnya
putus. Belum lagi ia sempat menyurut mundur, tiba2
pukulan jurus Algojo dunia dari Gak Lui telah melanda
dadanya. Bum .... huak, Iblis Angin-hitam menguak ngeri
dan menyembur darah segar. Bluk, ia jatuh terduduk
ditanah.
Gak Lui cepat menarik pedangnya lalu melesat ke
tempat Hui Hong taysu. Tampaknya pemuda itu tak
menderita luka. Tetapi sesungguhnya hanya karena
mengandalkan tenaganya sebagai seorang pemudalah
maka ia tahankan darah yang hendak muntah dari
444
mulutnya..... Memang pada babak permulaan, Hui Hong
taysu dan Thian Lok totiang masih dapat mengimbangi
serangan lawan. Tetapi setelah si Rambut Merah
beberapa kali menghamburkan telapak beracun, kedua
tokoh itupun menderita luka. Pada saat Gak Lui bergegas
menghampiri, kedua ketua partai persilatan itupun sudah
limbung keadaannya. Mereka hanya mengandalkan ilmu
kepandaiannya yang tinggi untuk memaksa bertahan.
“Harap kalian menyingkir!” bentak Gak Lui seraya
menyerang musuh dan melindungi rombongan paderi itu
mundur. Kali ini Thian Lok totiang dan Hui Hong taysu
serta ke 18 anggauta barisan Lo-han-kiam tin, mau
menurut perintah Gak Lui. Mereka dapat mundur ke
sebuah puncak. Kedua iblis itu hendak mundur juga
tetapi dirintangi oleh hamburan sinar pedang Gak Lui.
Tetapi diam2 pemuda itu terkejut melihat keadaan
rombongan murid Siau-lim-si dan Ceng- sia-pay. Karena
wajah mereka tampak merah membara semua dan
napasnyapun terengah-engah. Mata mereka
memandang ke muka tak berkedip seperti orang yang
sudah kehilangan kesadaran pikiran. Mereka hanya
menjalankan perintah menurut suara tetapi tak
mengetahui siapa orangnya yang memberi perintah itu.
Tak berapa lama kemudian, rombongan orang2
itupun sudah terlepas dari lingkaran bahaya. Tetapi kini
Gak Luilah yang terbenam dalam bahaya itu. Dari kiri ia
diserang oleh Iblis Rambut Merah. Dari kanan Garudasakti
cakar-emas menaburnya dengan jari2 yang aneh.
Bahkan jari2 iblis itu berani juga untuk merebut pedang.
Dan mendadak dengan menahan luka, Iblis Anginhitampun
lari menghampiri sambil bolang balingkan
pedangnya yang kutung. Tiga Algojo dari Maharaja telah
menyerang dari tiga jurusan, Gak Lui bertempur dengan
mati-matian.
445
Beberapa puluh jurus kemudian, ketiga Algojo dari
Maharaja itu berhias dengan luka2 berdarah. Tetapi
keadaan Gak Luipun lebih payah. Racun yang
dideritanya makin hebat dan lukanyapun makin banyak.
Betapapun kuat tenaganya dan keras kemauannya
namun dia tetap seorang manusia yang terdiri dari darah
dan daging.
Pada saat tenaga-murninya bergolak, darah kental
yang semula dapat ditahannya itu, tak dapat ditekannya
lagi. Dan anak muda itu muntahkan segumpal darah.
Dan tenaganyapun mulai berkurang sehingga gerakan
pedangnya mulai lambat, tubuh terhuyung. Melihat itu
ketiga Algojo itu tersenyum iblis. Mereka hanya tinggal
menantikan pemuda itu kehabisan tenaga baru nanti
akan menyelesaikannya. Saat yang ditunggu itu akhirnya
tiba juga. Keempat sosok tubuh itu berlingkar-lingkar
dengan cepat. Bluk, tiba2 Gak Lui yang lebih dulu jatuh
ke-tanah. Tetapi ketiga Algojo dari Maharaja itupun
secara tak dapat dimengerti, telah mencelat sampai tiga
tombak jauhnya.
Ternyata pusaran angin hebat itu bukan berasal dari
hamburan tangan ketiga iblis itu melainkan dari seorang
sakti yang muncul secara tak terduga-duga ditempat itu!
Kedatangan orang itu memang mengejutkan sekali.
Datangnya secepat angin. Dalam terhuyung-mundur itu,
ketiga Algojo tak sempat lagi melihat jelas wajah
pendatang itu. Cepat sekali orang itu menyambar tubuh
Gak Lui terus dibawa pergi ...
“Habis ... habis ... semua dendam permusuhan
selesai semua...” Gak Lui menghela napas putus asa.
Tiba2 suatu aliran tenaga-murni telah menyalur keulu
hatinya sehingga kesadaran pikirannya yang sudah
limbung itu memancar lagi. Hawa murni itu mengalir
446
kedada lalu keurat-urat nadinya diseluruh tubuh.
Buru2 ia kerahkan tenaga murni untuk menyambut
sehingga penyaluran itu makin cepat memancar
keseluruh tubuhnya. Dalam tiga kali perputaran, racun
dalam tubuh Gak Lui itupun lenyap dan tenaganya pulih
tiga bagian. Begitu orang itu menarik tangannya, Gak Lui
pun sudah tersadar dari pingsannya. Pertama-tama, ia
dapatkan dirinya berada di puncak gunung. Memandang
ke kiri, lebih kurang satu li jauhnya, tampak sebuah biara
kecil. Dan memandang ke kanan, didapatinya seorang
lelaki berumur 50-an tahun tengah duduk di sampingnya.
Sepasang matanya yang memancar terang dinaungi
sepasang alis berbentuk seperti pedang. Mulut lebar
berhias jenggot panjang. Telinganya memanjang
mengimbangi hidungnya yang besar. Teristimewa tulang
pipinya yang menonjol, makin memantulkan keangkuhan
dan kewibawaan.
“Terang, tentu dialah yang menolongku !” Gak Lui
terus berbalik tubuh hendak bangun. Tetapi orang itu
cepat2 mendahului ulurkan telunjuk jari seperti hendak
menekan. Setiup angin segera memancar dan Gak Lui
pun tak dapat berdiri melainkan hanya duduk saja.
“Tak usah banyak peradatan, duduk sajalah!” seru
orang itu dengan nada agak heran.
“Terima kasih atas pertolongan cianpwe. Mohon
tanya siapakah nama yang mulia ...”
“Sudah lama aku tak pakai nama....”
“Cianpwe telah melepas budi besar, jika tak
mengetahui nama cianpwe, hatiku tentu tak tenteram.”
“Engkau ingin mengetahui ?”
“Ya, agar kelak aku dapat membalas budi.”
447
“Aku tak pernah minta pertolongan pun tak
mengharap balas orang. Tetapi demi menghormati
keinginanmu, dapatlah kuberi pengecualian,” kata orang
itu. Gak Lui memandang orang itu dengan sungguh2.
Orang itu merenung beberapa saat lalu berkata : “Tio Bik
lui !”
“Tio Bik lui !” diam2 Gak Lui mencatat dalam hati. Ia
tertawa: “Aku bernama Gak Lui, maaf, salah sebuah
namaku itu telah menyamai nama cianpwe...”
“Didunia banyak terdapat nama yang kembar.
Apalagi hanya salah sebuah huruf saja. Tak perlu
engkau sungkan,” kata orang itu.
“Maaf, mohon tanya gelaran cianpwe?”
“Aku ... tak punya gelaran apa2.”
“Ah, tak mungkin. Kesaktian cianpwe dengan sekali
pukul saja sudah dapat mengundurkan ke Tiga Algojo itu,
dunia persilatan tentu memberi gelaran.”
“Dunia persilatan? Sudah berpuluh tahun aku tak
muncul didunia persilatan. Mungkin orang sudah tak
ingat namaku lagi.”
“O....!” Gak Lui mendesus kejut.
“Eh, mengapa engkau heran ?” beberapa saat
kemudian orang itu bertanya.
“Kepandaian cianpwe sungguh sakti sekali. Sekalipun
tak setenar Maharaja atau Kaisar Persilatan, tetapi
kurasa cianpwe pasti mempunyai nama yang
menggetarkan dunia persilatan.”
“Ha, ha ... dunia persilatan penuh dengan naga tidur
harimau bersembunyi. Tokoh2 sakti tak terhitung
jumlahnya. Seperti Kaisar Persilatan itupun juga tak ada
448
hal yang pantas diherankan .. tentang diri Maharaja
Persilatan, namanya asing sekali bagiku ....”
“Apakah cianpwe tak kenal orang itu?” Gak Lui
menegas.
“Sudah lama sekali aku beristirahat.”
“O...” desuh Gak Lui terkejut heran. Diam2 ia
menimang. Kalau benar2 orang itu sudah lama
menyembunyikan diri mengapa mendiang ayahangkatnya
tak pernah bercerita tentang diri orang itu?
Karena rasa heran itu, Gak Lui memandangnya lekat2.
Tampak lelaki itu berwajah angkuh sekali. Sikapnya acuh
tak acuh terhadap persoalan dunia persilatan.
“Hm, mungkin dia telah mengalami sesuatu dalam
dunia persilatan yang menyebabkan dia jemu. Baiklah
aku tak usah mempercakapkan pergolakan dunia
persilatan lagi karena mungkin mengganggu pikirannya,”
akhirnya Gak Lui memutuskan.
Kemudian dengan hormat ia bangun lalu memberi
hormat kepada tokoh itu: “Budi pertolongan cianpwe,
kelak dikemudian hari tentu akan kubalas. Dan sekarang
aku hendak mohon diri ....”
Orang itupun tak mau menahan: “Baiklah, kuharap
engkau baik2 menjaga diri.” Satu-satunya jalan dipuncak
itu hanyalah sebuah. Maka Gak Lui memilih sebuah jalan
kecil disebelah timur. Tetapi baru ia hendak ayunkan
langkah orang itupun sudah berseru meneriakinya:
“Tunggu dulu, sauhiap !”
“Apakah cianpwe hendak memberi pesan lagi ?”
“Jika berjumpa dengan Empat-pedang-Bu-san, tolong
engkau sampaikan salamku!” seru orang itu. Orang itu
berkata dengan wajar dan penuh nada bersahabat.
449
Tetapi bagi telinga Gak Lui, hal itu seperti halilintar
menyambar. Cepat ia mundur dua langkah dan bertanya:
“Cianpwe kenal akan.....”
“Bukankah tadi engkau mengatakan tentang Tiga....”
“Tiga Algojo, atau ketiga algojo dari Maharaja !” seru
Gak Lui.
“Waktu bertempur dengan ketiga orang itu, ilmu
pedang yang engkau gunakan itu jelas ilmu pedang dari
kaum Busan !”
“Kalau begitu cianpwe kenal akan ayahku dan ayahangkatku....”
“Kita bersahabat baik pada dua tigapuluh tahun yang
lalu. Karena engkau orang she Gak, tentulah engkau ini
putera dari Dewa- pedang Gak Tiang-beng, benar atau
tidak?”
“Tepat sekali cianpwe menduga. Tetapi apakah
cianpwe tak mendengar tentang bencana yang menimpa
Empat-pedang-Bu- san itu?”
“Bencana ?” orang itu berseru kaget, “kudengar kalau
mereka berempat telah tercerai berai dan menderita
luka... tetapi karena hal itu sudah lama sekali, dan
kupercaya bahwa orang yang baik tentu dilindungi Allah,
merekapun kembali bersatu lagi....”
Pada saat orang itu bicara, diam2 Gak Lui
mengadakan penilaian dalam hati: “Ah, rupanya dia
benar sahabat dari para angkatan tua termasuk ayahku.
Tetapi perlukah kuceritakan kepadanya secara jujur
semua?”
Seketika teringatlah ia akan peristiwa yang lalu.
Ketika turun dari gunung, ayah-angkatnya suruh dia
mengunjungi seorang sahabat lama ialah Ceng Ki
450
totiang. Tetapi adalah karena urusan itu maka paderi itu
sampai mengorbankan jiwanya .... di samping itu juga
terdapat beberapa korban lain antaranya pandai besi
Kiam-su Bok Thiat-san. Tokoh itu sudah tenang2
menyembunyikan diri di pegunungan tetapi karena
ditemuinya, maka dia sampai hilang nyawanya. Dan
apabila saat itu ia menceritakan juga kepada Tio Bik-lui
ini, ah ... kemungkinan dia juga tentu akan tertimpa
malapetaka...
“Di manakah Empat Pedang itu sekarang? Lekas
engkau ceritakan....” tiba2 Tio Bik-lui berseru. Gak Lui
gelagapan. Setelah tenangkan diri ia bertanya dengan
ramah: “Menilik cianpwe begitu memperhatikan mereka,
apakah cianpwe hendak membantu?”
“Sudah tentu,” sahut Tio Bik-lui, “aku tak gentar
melintasi gunung golok hutan pedang dan menerjang
lautan api....”
Gak Lui makin terkejut. Tidak ! Jika orang itu turun
tangan, bukankah semua peristiwa yang terpendam
dalam dunia persilatan akan mengalir keluar semua.
Maka setelah menghela napas, ia menyahut tertawa:
“Terima kasih atas budi kebaikan cianpwe, tetapi ayahku
dan mereka ...”
“Bagaimana?”
“Semua sudah terhindar dari kesulitan dan takkan
mendapat kesukaran selama-lamanya!”
“Sungguh?”
“Masakan aku berani bohong kepada cianpwe.”
Sesungguhnya yang dikatakan Gak Lui itu memang
hanya suatu kiasan. Orang yang sudah mati tentu saja
sudah terbebas dari segala kesulitan dan kesusahan
451
dunia. Tetapi orang itu menafsirkan lain.
“Lalu di manakah tempat tinggal mereka?” tiba2
orang itu mendesak pula.
“Ah, wanpwe tak leluasa mengatakan.”
“Mengapa ?”
“Cianpwe sudah lama mengasingkan diri dari
keramaian dunia persilatan. Maka akupun tak
mengajukan dendam peribadi untuk mengacau
ketenangan cianpwe.”
“Hm,” dengus Tio Bik-lui seraya kicupkan mata.
“memang aku tak suka mencampuri urusan orang. Tetapi
tentang keadaan sahabat lama, mau tak mau aku harus
bertanya .... tetapi...”
“Tetapi bagaimana ?”
“Apakah Empat-pedang tinggal diam saja terhadap
urusan dendam darah itu?”
Gak Lui tertawa dingin dan menyahut tegas: “Hutang
darah bayar darah. Setiap kejahatan tentu akan berbuah
kejahatan. Masakan tinggal diam saja!”
“Habis bagaimana? Jika tak mendapat pelajaran dari
mereka dan hanya mengandalkan kecerdasanmu sendiri,
mungkin…” rupanya orang itu menganggap kepandaian
Gak Lui belum masak tetapi sungkan untuk mengatakan.
Gak Lui menyahut dengan nada yakin: “Hal itu tak perlu
diresahkan. Aku percaya mampu mengatasi.”
“Dapat mengatasi ?” kata orang itu lalu merenung
lama. Pada lain saat baru ia bertepuk tangan, serunya:
“Yang engkau yakin dapat mengatasi itu apakah bukan
soal ilmu pedang Halilintar ?”
Gak Lui tergetar hatinya. Benar2 ia tak menduga
452
kalau orang itu tahu soal ilmu pedang Halilintar. Tetapi
teringat bahwa orang itu adalah sahabat dari Empatpedang
Busan, redalah keheranannya. Sahutnya:
“Cianpwe dapat menduga jitu beberapa bagian.”
“Mengapa hanya beberapa bagian ? Adakah pedang
itu sungguh masih berada.... di tempatnya semula ?”
“Oh...” Gak Lui terhuyung dua langkah. Dia benar2
kaget tak terkira. Dengan ucapan itu, jelas kalau orang
yang berada di hadapannya ini tahu akan tempat
penyimpanan pedang. Seketika bertanyalah ia dengan
wajah serius: “Karena cian-pwe tahu tempat pedang itu,
mohon sukalah memberitahu...”
Tio Bik-lui pun terkejut juga, tanyanya dengan curiga:
“Engkau tak tahu ? Adakah Empat-pedang itu juga tak
tahu...atau apakah mungkin mereka hendak
mengambilnya sendiri ...”
Nada dan kerut wajah orang itu membuat Gak Lui
berpikir dalam hati: “Tempat penyimpanan pedang
pusaka Pedang Halilintar itu, memang tiada seorangpun
yang tahu. Jika sekarang dia tahu, aku harus
menanyainya sampai jelas.”
Setelah menetapkan keputusan, berkatalah Gak Lui
dengan memohon: “Tio cianpwe, jika cianpwe seperti
turun tangan sendiri. Gak Lui takkan lupa selamalamanya!”
Walaupun tak diberitahu jelas tentang keempat jago
pedang dari Bu-san itu namun dari nada dan sikap
pemuda itu, dapatlah Tio Bik Hui menduga bahwa
pemuda itu telah menghianati perintah guru dan
angkatan tua untuk melakukan pembalasan dendam
sendiri. Atau mungkin memang disuruh oleh Empat tokoh
pedang dari Bu-san.
453
Diam2 orang itu menimang bagaimana ia harus
menjawab pertanyaan Gak Lui. Baik diberitahu
sejujurnya atau tidak. Sampai lama barulah ia berkata:
“Pedang pusaka itu luar biasa perbawanya. Dapat
membunuh orang seperti membabat rumput. Orang yang
menggunakan pedang itu mungkin tak dapat
mengendalikannya. Jika engkau berkeras hendak
menanyakan tempatnya, engkau harus lebih dulu
mengatakan nama dari musuhmu.”
“Akan kukatakan tetapi harap cianpwe jangan
menolak.”
“Baik.”
“Dia adalah Maharaja Persilatan yang kukatakan
tadi!”
“O, apakah kepandaiannya tinggi sekali? Apakah
kejahatannya besar sekali ?”
“Segala-galanya cukup layak untuk dibasmi oleh
pedang Halilintar!”
“Baik, akan kuberitahukan kepadamu. Tetapi engkau
tak boleh membocorkan kepada siapapun juga, termasuk
Empat Pedang Bu-san itu juga...”
“Pasti kulaksanakan.”
“Dan lagi tempat itu luar biasa berbahayanya.”
“Aku tak takut!”
“Dan lagi tempat itu jalannya ruwet sekali, penuh
dengan alat perangkap. Benar2 tak mudah dimasuki....”
“Sekalipun barisan istimewa, aku tentu dapat
mengatasinya.”
“Pambek yang hebat,” Tio Bik-lui memuji, “pedang
454
pusaka itu kabarnya disimpan di istana rahasia Bu-san
bi-kiong dipuncak Cap ji hong gunung Busan. Dijaga oleh
seorang tokoh yang berilmu sakti....”
“Siapa ?”
“Murid pertama dari Bu-san It ho yang diusir dari
perguruan Bu- san, ialah si Lengan-besi-baik-hati Lim Ihhun
!”
“Oh !” teriak Gak Lui dengan tubuh gemetar. Saat itu
barulah ia mengetahui nama murid perguruan Bu san
yang murtad itu.
Hatinya terasa pilu dan kepalanyapun pening. Ia
terlongong dalam pertanyaan: “Mengapa pedang itu
dijaga oleh murid Bu san yang murtad?” Pertanyaan itu
segera dijawabnya sendiri: “Ah, mungkin dia tentu takut
kalau Empat-Pedang yang menjadi adik seperguruannya
itu akan mengambil pedang dan mewakili gurunya untuk
melakukan hukuman kepadanya....”
“Ah, benar,” makin mantaplah pikiran Gak Lui, “kakek
guru telah memberi peringatan kepada Empat Pedang
supaya hati2 terhadap suhengnya yang pertama itu.
Jelas kalau murid pertama itu tentu memiliki kepandaian
yang amat sakti. Tetapi jika keempat tokoh pedang Bu
san itu bersatu padu, sudah tentu Lim Ih-hun itu tak
berani menghadapi. Kemungkinan dia tentu akan
berusaha untuk merebut pedang pusaka itu.”
Tiba2 pikiran Gak Lui terbentur pada kecurigaan :
“Kalau begitu apakah orang itu bukan yang menjelma
menjadi Maharaja Persilatan itu? Dan apakah bukannya
sipembunuh yang berhidung gerumpung itu?” Ia cepat
menyimpulkan kesan dan bertanyalah ia kepada orang
sakti penolongnya itu, “Pernahkah cianpwe melihat orang
itu ?”
455
“Per .... nah.”
“Adakah ujung hidungnya tak terluka?”
“Soal ini ....” orang itu tampak tertegun kaget, mau
bicara lagi tetapi tak jadi. Rupanya ia menghadapi
kesulitan untuk menjawab pertanyaan Gak Lui.
“Bagaimana, apakah dia berhidung atau tidak?” Gak
Lui mendesak pula. Setelah mendeham, orang itupun
menyahut: “Aku ketemu padanya tigapuluh tahun yang
lalu, pada masa itu belum....”
Diam2 Gak Lui dapat menerima penyahutan itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke puncak Cap-jihong
agar dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Maka ia segera memberi hormat dan minta diri lagi.
Sambil membalas hormat, Tio Bik lui bertanya: “Bu-san
jauh sekali dari sini. Perjalanan yang berbahaya. Jika
engkau merasa tenaga-murnimu masih belum cukup,
akan kuberi penyaluran ...”
“Tak perlu,” sahut Gak Lui serentak, “dalam setengah
hari saja, tenagaku tentu sudah pulih lagi.” Tiba2 orang
itu tertawa sambil mengurut jenggot. Sekali tubuhnya
bergeliat, ia sudah melambung ke udara dan meluncur
lenyap ke dalam hutan.
“Hebat, sungguh kepandaian yang hebat sekali!”
teriak Gak Lui memuji. Iapun segera lari masuk ke dalam
biara. Di bawah arca, ia bersemedhi melancarkan
tenaga-dalam Algojo dunia. Tak berapa lama ia rasakan
darahnya tenang lagi. Tenaga- murninya berangsurangsur
pulih kembali.
Setengah jam kemudian dari jalan yang sunyi senyap
itu terdengar derap langkah orang berjalan menghampiri
sambil bercakap cakap: “Celaka, budak Gak Lui yang
456
sudah hampir kita tangkap itu dapat lolos lagi !” Gak Lui
tak asing lagi dengan nada suara itu. Itulah si Rambut
Merah, salah satu dari Tiga Algojo anak buah Maharaja.
Rambut Merah geram sekali dan ber-ulang2 menghela
napas.
“Benar, bahkan ketua dari Siau lim-si dan Ceng-siapay
itupun dapat melarikan diri juga,” kawannya ikut
bersungut-sungut.
“Uh, siapakah orang yang menolong itu? Mengapa
ilmu kepandaiannya begitu tinggi...” kata Garuda-sakticakar-
emas. Mendengar mereka bertiga jumlahnya, Gak
Lui mengeluh. Tenaga-murninya baru pulih enam-tujuh
bagian. Tentu sukar untuk menghadapi ketiga iblis itu.
Ah, lebih baik ia tunggu beberapa saat lagi baru keluar.
“Apakah saudara bertiga dapat melihat jelas muka
orang itu....terdapat cirinya ?” tiba2 terdengar suara
orang lain kepada Tiga Algojo. Gak Lui benar2 tergetar
hatinya. Yang bicara itu jelas bukan ketiga Algojo
Maharaja tetapi si Utusan-berwajah-buruk dan si Penjaga
Neraka. Utusan-berwajah-buruk itu hanya seorang tokoh
golongan Hitam. Tetapi Penjaga-Neraka itu jelas kaki
tangan dari Maharaja. Pada waktu di istana Yok ongkiong
tempo hari, Gak Lui memang bemiat hendak
membekuk orang itu tetapi karena saat itu jumlah kaki
tangan Maharaja banyak sekali, maka ia tak dapat turun
tangan. Sekarang tak terduga-duga berjumpa di situ.
Pada saat Gak Lui mempertimbangkan langkah, ke Tiga
Algojo Maharaja itu sibuk membicarakan tentang dugaan
mereka terhadap wajah orang yang telah menolong Gak
Lui. Gak Lui tak dapat mendengar jelas tetapi tiba2
didengarnya si Penjaga Neraka tiba2 berhenti.
“Eh, apakah engkau kenal pada orang itu?”
457
“Ya, kalau kenal harap lekas katakan !” demikian
ketiga Algojo Maharaja itu mendesak kepada si Penjaga
Neraka. Beberapa saat kemudian barulah kedengaran si
Penjaga Neraka itu berkata: “Aku hanya menduga
seseorang.....”
“Tak apa, katakanlah !”
“Tidak bisa sembarangan mengatakan,” jawab
Penjaga Neraka dengan suara gemetar, “hal ini harus
kulaporkan pada Maharaja dulu…”
“Aneh,” diam2 Gak Lui heran dalam hati, “rupanya
Penjaga Neraka itu kenal akan ciri2 Tio Bik-lui tetapi
mengapa ia mengatakan hendak memberi laporan dulu
kepada Maharaja. Adakah di antara mereka terdapat
ikatan apa2 ?”
Gak Lui makin tertarik. Ia tumpahkan seluruh
perhatian untuk mendengarkan lagi. Setelah berdiam diri
beberapa saat, Penjaga Neraka berkata pula: “Sekarang
kita lebih baik berpisah dulu. Tiga Algojo dan saudara
Wajah-buruk supaya memburu jejak budak hina Gak Lui
itu. Bayangi dia dari jauh saja, jangan turun tangan....”
“Mengapa ?”
“Apa sebabnya, tak perlu kukatakan dulu. Tunggu
saja nanti aku menghadap Maharaja, tentu ada
keputusannya.”
“Dan engkau ?”
“Sudah tentu aku akan mencari kalian lagi.” Tiga
Algojo itu mengiakan. Merekapun segera turun gunung.
Dan saat itu hanya tinggal si Penjaga Neraka seorang.
Tiba2 ia bersuit nyaring tiga kali. Rupanya ia duga
Maharaja tentu berada di sekitar tempat situ. Tindakan
Penjaga Neraka itu makin membuat tegang hati Gak Lui.
458
Jika Maharaja benar2 muncul ke situ, memang sukar
untuk turun tangan. Rupanya kecemasan Gak Lui itu tak
membawa akibat apa2. Suitan Penjaga Neraka itu seperti
terbenam dalam lautan besar. Tiada penyahutan sama
sekali. Karena diulang sampai beberapa kali tidak ada
hasilnya, Penjaga Nerakapun berhenti bersuit lalu
menuju ke biara....
Saat itu tenaga Gak Luipun sudah pulih delapan
bagian. Maka ia makin mempergiat penyaluran tenagamurninya.
Untuk melindungi diri dari penglihatan lawan,
ia segera beringsut kebalik pintu. Tetapi entah
bagaimana, tiba2 ketika tiba di-pintu biara, si Penjaga
Neraka itupun hentikan langkah. Rupanya ia seperti
melihat orang.
“Celaka, apakah dia mengetahui diriku? Atau apakah
Maharaja datang ?” diam2 Gak Lui menduga duga.
“Heh, heh, heh .... budak Gak, kiranya engkau berada
disini !” tiba2 Penjaga Neraka tertawa mengekeh.
“Aneh! Mengapa teraling dinding tembok dia dapat
melihat diriku?” Gak Lui terkejut sekali. Karena sudah
dipergoki, lebih baik ia menyelinap keluar saja. Tetapi
belum tubuhnya bergerak, tiba2 terdengar suara seorang
anak perempuan melengking bertanya kepada Penjaga
Neraka: “Ih, apakah engkau ini anak buah Maharaja ?”
Penjaga Neraka tertawa iblis. Bukannya menyahut ia
malah membentak: “Budak perempuan, siapakah
engkau? Mengapa engkau berani tak menghormat
kepadaku ?”
Walaupun tak menjawab, tetapi kata2 Penjaga
Neraka itu sudah mengunjuk siapa dirinya. Dan anak
perempuan tak dikenal itu bukan menjawab dengan
kata2 lagi melainkan dengan taburan pedang yang
459
menerbitkan angin menderu-deru. Mendengar nada
suara perempuan itu walaupun penuh dengan kesedihan
tetapi Gak Lui dapat menduga siapa orangnya.
Girangnya bukan kepalang. Tetapi ketika mendengar
deru angin gerakan pedangnya, Gak Lui tertegun kaget.
Ia tak asing lagi dengan gerak permainan pedang
semacam itu. Tanpa melihat saja dan cukup dengan
memperhatikan sambaran angin, tahulah dia bahwa
pedang itu dimainkan dalam jurus Memotong emas
memapas kumala. Ilmu pedang itu tiada seorangpun
tokoh persilatan yang mampu menggunakannya. Dan
teringatlah seketika ia akan pesan Bu-san It-ho. Barang
siapa menggunakan ilmu pedang itu, harus dibunuh.
Belum Gak Lui memutuskan langkah, tiba2 diluar biara
terdengar angin sambaran pedang menderu deru. Anak
perempuan itu melancarkan jurus Menjolok bintangmemetik-
rembulan dan jurus Burung hong rentangsayap.
Gak Lui tak dapat bersabar lagi. Dengan sebuah
gerakan istimewa, ia sudah melesat di belakangnya
Penjaga Neraka. Dan sebelum Penjaga Neraka itu tahu
apa yang terjadi, tiba2 tengkuk kepalanya sudah tertutuk
dan bluk ... rubuhlah ia ke tanah. Gadis berpakaian putih
yang menyerang dengan pedang pada Penjaga Neraka
itupun terkejut dan cepat menarik pulang pedangnya.
Tetapi ketika pandang mata gadis itu terbentur pada
wajah Gak Lui yang mengenakan kedok, gadis itu seperti
melihat setan. Ia menyurut mundur setengah langkah
seraya berseru girang: “Adik Lui ...engkau?”
“Engkoh Gim, eh..salah, taci Gim, aku memang Gak
Lui....”
“Engkau ... belum ... mati ...”
“Belum !” sambil menjinjing tubuh Penjaga Neraka,
460
Gak Lui berkata: “Sejak berpisah di gunung Thian-gansan,
siang malam aku selalu terkenang padamu.
Sungguh tak nyana kalau kita dapat berjumpa di sini.
Mari, kita ke dalam biara untuk beristirahat dan bercakapcakap
!”
Gadis berpakaian putih itu bukan lain memang Hi
Kiam-gim. Saat itu keangkuhannya sebagai seorang
pendekar lenyap. Yang tampak hanya sifatnya sebagai
seorang gadis yang pemalu.
“Mari, kita duduk di dalam biara,” Gak Lui mengulangi
ajakannya lagi. Sejenak merenung, Hi Kiam gimpun
segera ikut masuk ke dalam biara, Gak Lui lemparkan si
Penjaga Neraka di sudut, serunya:
“Taci Gim, dia kaki tangan Maharaja Persilatan. Dia
tentu tahu jelas tentang diri Maharaja. Aku hendak
menanyainya lebih dulu baru nanti kita bercakap-cakap
lagi, setuju?”
“Tanyailah! Akupun akan pergi lebih dulu!” seru nona
itu.
“O....” desus Gak Lui terkejut sekali mendengar
pertanyaan yang tak bersahabat itu, “taci Gim, mengapa
engkau begitu terburu- buru sekali hendak pergi? Adakah
engkau sudah tak ingin mengetahui tentang asal usul
musuh yang telah membunuh orangtuamu?”
“Ini ....”
“Mengapa ?”
“Asal usul musuh tak berguna. Yang penting yalah
membalas dendam kepadanya!”
“Apakah engkau sudah mempunyai rencana?”
“Mengundang seluruh orang gagah dalam dunia
461
persilatan untuk bersama-sama menumpas iblis itu!”
“Mengandalkan bantuan orang lain, bukanlah cara
yang tepat. Dan lagi menurut nada ucapanmu itu, seolaholah
engkau sudah tahu asal usul musuh itu !”
“………”
Gak Lui makin curiga. Dia tak mengacuhkan si
Penjaga Neraka lagi lalu menghampiri Kiam-gim:
“Adakah engkau mempunyai rahasia lain yang tak boleh
kuketahui ?”
Tergetar tubuh nona itu. Namun ia tetap bungkam.
Gak Lui maju merapat dan mendesak pertanyaan lagi:
“Taci Gim, sejak berpisah di gunung Thian-gan-san, ke
manakah engkau? Berjumpa dengan siapa sajakah? Dari
mana engkau mempelajari ilmu pedang Bu-san-kiamhwat
itu ....”
“Aku tak dapat mengatakan apa2”
“Sebabnya ?”
“Aku telah bersumpah takkan mengatakan hal itu
kepada siapapun juga!”
“Termasuk aku?”
“Tidak ... tidak salah!” seru nona itu dengan tersendat
dan dua butir air mata menitik dari pelupuknya. Gak Lui
putus asa dan tegang sekali. Dicekalnya tangan nona itu
dan berkatalah ia dengan serius: “Engkau tak boleh
mengelabuhi aku. Apakah engkau melupakan hubungan
kita dan dendam sakit hati dari orangtua kita?”
Dengan nada penuh haru kerawanan, Hi Kiam-gim
menyahut: “Adik Lui, apakah engkau ingin mendesak aku
supaya berbohong....melanggar sumpah...? Yang dapat
kuberitahukan kepadamu hanyalah....lekas undang
462
seluruh jago-jago sakti di dunia persilatan, untuk
bersama-sama….”
“Tidak! Mereka sendiri tentu sudah sibuk dengan
urusan masing2. Dan lagi kalau jumlahnya makin
banyak, makin banyak pula pendapatnya sehingga sukar
melaksanakan pekerjaan besar. Sekalipun tidak begitu,
pun aku tak suka meminta bantuan orang. Karena itu
engkau....”
“Bagaimana ?”
“Harus mengatakan dengan terus terang !”
“Kalau tidak mengatakan ?”
“Takkan kubiarkan engkau pergi,..” dalam tegangnya
Gak Lui lupa diri. Dicengkeramnya lengan nona itu
keras2 hingga Kiam- gim sampai mengerang kesakitan
tetapi ia tetap bertahan. Dengan berlinang-linang, nona
itu maju selangkah dan berseru:
“Bagaimanapun juga aku tak dapat mengatakan.
Kalau engkau marah, silahkan bunuh sajalah aku ini....”
“Membunuhmu ?”
“Ya, aku rela mati di tanganmu !”
“Engkau tak menghiraukan dendam kepada musuh
lagi ?”
“Kepandaianku tak seperti engkau. Asal engkau
masih hidup saja, tentu kelak dapat membasmi Maharaja
itu dan membalaskan sakit hatiku.”
“Mengapa engkau yakin kalau Maharaja itu
musuhmu. Kalau begitu engkau tentu tahu akan...”
“Aku tak pernah mendengar namanya yang aseli.
Tetapi bahwa dia itu musuh kita, memang tak salah lagi !”
463
“Siapa yang bilang ?”
“Ini ... ini ... engkau sendiri yang sering mengatakan
begitu.”
“Heh, heh, heh, heh....” meluaplah amarah Gak Lui
dan dihamburkannya dengan tertawa iblis, “benar, aku
memang pernah mengatakan begitu. Tetapi soal itu
memang berbelit-belit. Selain dia, mungkin masih ada
orang lain lagi.”
“Siapa ?”
“Perguruan Busan mempunyai seorang murid yang
berhianat. Dia telah menguasai pedang pusaka Halilintar.
Diapun salah seorang yang patut dicurigai....”
“Tidak ! Tidak !” tiba2 Hi Kiam-gim membantah keras
tetapi tak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Gak Lui
makin curiga, tanyanya: “Engkau berani mengatakan
bukan, tentulah sudah pernah bertemu dengan orang itu
!”
“Adik Lui...”
“Jangan panggil aku adik Lui lagi, bila engkau tak
mau mengatakan terus terang....”
Tiba-tiba nada Hi Kiam-gim berobah sedingin es,
serunya: “Tidak mengakui hubungan kakak adik jauh
lebih baik. Tetapi kuberitahu kepadamu sebuah hal.
Musuh kita hanya Maharaja seorang. Tak ada lainnya
lagi. Tentang pedang pusaka Halilintar, juga tiada orang
yang menguasainya. Tetapi....”
“Tetapi bagaimana?”
“Engkaupun tak perlu mengambilnya.”
“Apa sebabnya ?”
464
“Engkau takkan tahu tempatnya.”
“Hm, pedang itu disimpan di istana Bikiong dipuncak
Cap ji-hong gunung Busan. Aku sudah tahu.”
“Tahupun tiada berguna. Tanpa mengetahui tandarahasianya,
tak mungkin dapat masuk.”
“Tanda rahasia? Aku dapat menduganya.”
“Tak dapat menduga, ada lebih baik. Jika dapat
menduga tepat, berarti mati!”
“Ho, engkau berani menakuti aku....”
“….Lui, bukan aku menakuti engkau tetapi demi
memikirkan keselamatan dirimu.”
“Ngaco belo! Engkau benar2 menghina. Tiada
berperasaan. Aku akan bertanya kepadamu, bagaimana
engkau telah pergi ke gunung Busan dan mengangkat
seorang murid hianat sebagai guru ....”
“Apa alasanmu mengatakan begitu ?”
“Ilmu pedang yang engkau mainkan itu, merupakan
bukti yang nyata!” Saat itu Hi Kiam-gimpun marah. Ia
membantah : “Pergi ke Busan itu adalah atas petunjuk
tulisan darah dari bibi gurumu....”
“Oh !” Gak Lui berseru kaget. Seketika
kecurigaannyapun berkurang dan dilepaskannya tangan
sinona yang dicekalnya itu lalu memintanya: “Berikan
kepadaku !”
“Apa ?”
“Tulisan darah dari bibi guruku itu !”
“Baik,” Hi Kiam-gim terus merogoh ke dalam bajunya
tetapi tiba2 ia teringat bahwa tulisan darah itu terdapat
petunjuk rahasia masuk ke dalam istana Bik-kiong. Demi
465
keselamatan jiwa pemuda itu, ia tak jadi
mengeluarkannya.
“Eh, mengapa engkau tak mengeluarkan ?”
“Per....cuma.”
“Tentu sudah tak ada, bukan ?”
“Engkau menjunjung kepercayaan atau tidak?”
“Uh, tahu dengan segala kepercayaan! Sungguh tak
nyana sejak berpisah engkau telah berobah menjadi
seorang berhati ular. Akan kusingkap kerudung mukamu
agar kuketahui apakah wajahmu juga sudah berobah !”
Secepat kilat tangan Gak Luipun menyambar. Tetapi
ternyata Hi Kiam-gim sudah waspada. Ia memang sudah
menduga pemuda itu akan berbuat begitu. Maka ia
mendahului berputar tubuh dan melesat ke pintu seraya
berseru: “Jangan coba melihatnya......”
“Hm, engkau benar2 berobah !”
“Berobah?” nada Hi Kiam-gim lebih rawan dari orang
menangis,
“ya, benar. Memang sudah berobah !”
“Mengapa ?”
“Engkau .... engkau ... tak perlu mengurusi !” sahut
nona itu. Kali ini nadanya seperti putus asa. Sikap sinona
yang tak mau mengatakan tentang keadaan gunung
Busan dan nada bicaranya yang tak mengunjuk
keramahan itu, benar2 menyalakan kemarahan Gak Lui.
Dan akhirnya jawabannya yang terakhir itu, makin
meluapkan kemarahan Gak Lui sehingga pemuda itu tak
henti2nya tertawa mengekeh yang menyeramkan.
Akhirnya Gak Lui maju selangkah dan dengan geram
berkata:
466
“Engkau bilang tak perlu kuurusi, sebaliknya aku
malah hendak mengurusi !”
“Atas hak apa ?”
“Atas dasar ilmu pedang Busan yang engkau
mainkan tadi, cukuplah memberi hak kepadaku untuk
mewakili ayah, menjatuhkan hukuman.”
“Lui, engkau benar2 limbung....”
“Jangan banyak omong !” bentak Gak Lui, “tadi
engkau mengatakan kepingin mati. Sekarang aku
hendak meluluskan dan menyempurnakan keinginanmu
itu. Lekas cabutlah pedangmu !” Melihat pemuda itu
diliputi hawa pembunuhan, Hi Kiam-gin terkejut menyurut
mundur setengah langkah dan menggigil.
“Jangan takut kenyataan yang menyedihkan ini.
Mengingat pada kedua tokoh Hay lan-song-kiam, aku
hanya akan menggunakan jurus ilmu pedang Sam ciaukiam-
hwat dan tenaga dalam lima bagian saja untuk
menghadapi engkau secara adil!”
“Baik !” mendengar janji itu, Hi Kiam gim menyahut.
Tetapi beberapa kali mata nona itu berkilat kilat. Rupanya
ia tengah menimang sesuatu dalam hati. Akhirnya ia
berseru: “Sebelum bertempur, aku mempunyai sebuah
permintaan.”
“Bilang !”
“Harap engkau jangan pergi ke istana Bu-san-bikiong
karena itu hanya mengantar kematian saja....”
“Hm, tak perlu engkau menggertak aku. Betapapun
juga, aku tetap hendak mengambil pedang pusaka
Halilintar itu dan akan mencincang tubuh murid hianat
Lim Ih-hun.”
467
“Tutup mulutmu! Jangan menghina guruku,” karena
marah dan tegang, secara tak disadari Hi Kiam-gim telah
membocorkan rahasia dirinya. Gak Lui makin marah
sekali sehingga tangannya gemetar, serunya: “Tadi
kukatakan engkau berguru pada seorang jahat, ternyata
benar !”
Hi Kiam-gim terbeliak kaget setelah menyadari
kelepasan omong. Cepat ia bertanya: “Engkau ...engkau
ini bagaimana.... apakah engkau tahu nama dari beliau?
Siapa yang bilang kepadamu ?”
“Heh, akupun sudah berjanji kepadanya, takkan
mengatakan hal itu kepada siapapun juga!”
“Aneh...orang ini benar2 mencurigakan....” gumam Hi
Kiam-gim. Mendengar itu Gak Lui makin marah. Serentak
ia mencekal tangkai pedangnya dan membentak:
“Sudahlah, tak perlu ngaco belo ! Lebih dulu aku hendak
mewakili Hi Hui-liong cianpwe untuk memberi hajaran
kepada anak perempuan yang tak berbakti seperti ini.
Setelah itu, aku akan menuju ke Busan untuk membunuh
murid murtad itu. Hayo, lekas engkau mulai menyerang !”
Kata2 Gak Lui itu tegas dan bernada dingin sekali. Hi
Kiam-gim yang sudah tahu bagaimana keras watak
pemuda itu, tahu bahwa percuma saja ia hendak
membantah.
“Karena nyata-nyata engkau tak sayang pada
jiwamu, terpaksa akupun harus hidup agar ada yang
akan menuntut balas dendam darah itu !” seru Hi Kiamgim
dengan mata berkilat-kilat. Ia menutup kata dengan
sebuah gerakan menggentakkan pedang. Ah, memang
dia telah bersiap mainkan ilmu pedang dari perguruan
Busan. Saat itu, kedua pemuda yang semula berbahasa
kakak beradik, saling berhadapan sebagai lawan. Gak
Luipun sudah bersiap dengan pedang terhunus. Tetapi
468
karena mengingat hubungan mereka yang pernah akrab
seperti saudara, keduanya tak mau menyerang lebih
dulu. Setelah saling berhadapan sampai beberapa
waktu, akhirnya Gak Lui yang pecahkan ketegangan saat
itu, serunya: “Tadi aku sudah bilang akan menggunakan
tiga jurus ilmu pedang dari perguruanku. Serta
menggunakan lima bagian tenaga dalam saja. Tetapi
apapun kepandaian yang engkau miliki, silahkan engkau
mengeluarkan semua !”
Di luar dugaan ucapan pemuda itu telah membuat Hi
Kiam-gim seperti disadarkan dari mimpi. Ia tahu pemuda
itu seorang yang keras kepala. Dicegahpun tak mungkin
mau menurut. Mengapa tak ia biarkan saja pemuda itu
menuju ke Busan untuk adu nasib? Tentang urusan sakit
hati, ia sendirilah yang akan menyelesaikannya. Dengan
kesimpulan itu, Hi Kiam-gim memutuskan supaya
keduanya jangan sampai ada yang terluka .... Tetapi hal
itu memang sukar dilaksanakan.
“Jika kugunakan pedang pusaka Hi-jong-kiam untuk
memapas pedang lawan, dikuatirkan pedang pusaka
Pelangi dari pemuda itu dapat menahan. Karena pedang
Pelangi itupun pedang pusaka yang mampu memapas
kutung sehelai rambut. Apabila ia gunakan pelor asap
hitam buatan keluarga Hi, ia kuatir akan menimbulkan
salah faham. Kalau ia gunakan api Cek-yan-sin- hwe,
pemuda itu tentu terancam jiwanya, ah .... tak boleh....”
Tengah Hi Kiam gim sulit mencari akal untuk
menghadapi Gak Lui, tiba2 ia seperti mendapat ilham
dari ucapan Gak Lui itu. Tak ayal lagi, ia segera
melangkah maju dan gunakan jurus Menjolok- bintangmemetik-
bulan untuk memapas pedang Gak Lui. Gak Lui
faham sekali akan tiga jurus ilmu pedang dari perguruan
Busan. Salah satu jurus itu yalah jurus yang dimainkan Hi
469
Kiam- gim itu. Dengan mendengus dingin, secepat kilat ia
gentakkan tangannya dan laksana angin menyambar, ia
segera balas memapas. Kedua-duanya sama-sama
menggunakan ilmu-pedang dari satu perguruan. Seketika
memancarkan dua gulung sinar pedang yang saling
melingkar dan melibat. Tak ubah seperti sepasang naga
yang sedang bercengkerama di lautan. Setelah tiga jurus
ilmu pedang itu selesai, mereka mengulang lagi. Dengan
cara bertempur semacam itu, cepat sekali lima puluh
jurus telah berlangsung tanpa ada yang kalah dan
menang. Dan cepat pula seratus jurus hampir
berlangsung. Gak Lui benar2 merasa sulit. Pertama, dia
menggunakan tenaga-dalam lebih sedikit dari sinona.
Sama sekali tak pernah diduganya bahwa dalam
perpisahan yang sangat singkat itu, tenaga-dalam Hi
Kiam- gim telah mencapai kemajuan yang luar biasa
pesatnya. Dengan menggunakan lima bagian tenagadalam
itu, jelas Gak Lui tak mungkin menang. Kedua,
ternyata ia kalah dalam ilmu meringankan tubuh dari
sinona. Padahal ia telah mendapat pelajaran dari tiga
tokoh sakti. Sedang Hi Kiam-gim hanya dari seorang
tokoh saja. Dari kenyataan itu jelas mengunjukkan bahwa
murid murtad Lim Ih- hun benar-benar sakti
kepandaiannya. Dan tokoh murtad itu benar-benar telah
mencurahkan seluruh kepandaiannya kepada Hi Kiamgim.
Merenungkan hal itu, perhatian Gak Lui terganggu
sehingga tangannya mengucurkan keringat deras.
Diliriknya nona itu, ah, ternyata wajahnya tenang sekali.
“Salah !” tiba-tiba Gak Lui tersadar, “jika pertempuran
berlangsung cara begini, entah sampai kapankah akan
selesai? Ah, untunglah tenaga-dalam Algojo-dunia itu
merupakan ciptaan dari paman guru si Pedang Iblis
sendiri, baiklah kucobanya lima bagian saja.” Setelah
menetapkan rencana, secepat kilat ia balikkan tangan
470
kanan, wut......bagaikan gunung rubuh, pedang menabas
Hi Kiam-gim. Sesungguhnya hati Hi Kiam-gim sudah
tenang sekali. Ia yakin sekali walaupun sampai ratusan
jurus, pertempuran itu tidak mungkin selesai. Dan
tercapailah rencananya agar supaya pertempuran itu
jangan sampai mengucurkan darah. Tetapi diluar
dugaan, ia tak menyangka Gak Lui akan lancarkan
serangan jurus Algojo-dunia yang hebat. Terpaksa ia
terhuyung huyung menyurut mundur. Sambil mengertak
gigi, ia loncat sampai tiga tombak jauhnya. Ia sudah
pernah menyaksikan kedahsyatan dari ilmu pedang
Algojo-dunia yang dilancarkan Gak Lui. Maka tak
beranilah ia adu kekerasan menangkisnya. Ia tahu
apabila menangkis pemuda itu akan meminjam tenaga
untuk menyusuli dengan serangan berikutnya yang lebih
dahsyat. Hi Kiam-gim gunakan jurus Burung-hongrentang-
sayap, taburkan pedang dalam gulungan sinar
yang melindungi tubuhnya. Serangannya berhasil
mendesak lawan, Gak Lui tak mau menyia-nyiakan
kesempatan sebagus itu. Ia maju merapat untuk
menyerang lagi. Tetapi sekonyong-konyong pedang Hi
Kiam-gim memancarkan lingkaran sinar pedang yang
aneh. Dari lingkaran sinar pedang itu menghambur
beribu ribu percikan sinar dingin yang menyerangnya dari
segala penjuru. Sambaran anginnya mendengungdengung
bagai ribuan tawon keluar dari sarang.
Gak Lui terkejut bukan kepalang. Walaupun cukup
banyak pengalaman dalam pertempuran senjata tetapi
Gak Lui benar2 tak mengetahui ilmu pedang apa yang
dimainkan Hi Kiam-gim saat itu. Dalam gugup ia hanya
putar pedangnya untuk melindungi diri. Tetapi menyusul
terjadilah hal yang lebih membuat Gak Lui terkejut lagi.
Ketika terjadi benturan pedang, tiba2 terdengar suara
kres, kres, macam rambut terkupas. Apa yang terjadi
471
benar membuat Gak Lui kucurkan keringat dingin.
Ternyata ujung pedang Hi Kiam-gim dapat menerobos ke
dalam lingkaran sinar pedang Gak Lui, terus digeliatkan
menggurat bentuk silang. Tepat sekali, tidak lebih pun
tidak kurang ujung pedang nona itu telah mencukur alis
Gak Lui. Untung pemuda itu mengenakan topeng kulit
binatang kera yang tak tembus senjata. Sekalipun tak
sampai terluka tetapi tenaga ujung pedang itu cukup
membuat Gak Lui terhuyung mundur tiga langkah.
Gerakan pedang Hi Kiam-gim itu benar2 luar biasa
cepatnya, setelah Gak Lui mundur, iapun tertegun. Gak
Luipun terkesiap. Tetapi cepat ia dapat menyadari apa
yang menimpa dirinya. Ia yakin ilmu pedang Hi Kiam gim
itu tentulah jurus istimewa yang digunakan mendiang
ayahnya dahulu untuk menghadapi musuh. Benar2 suatu
jurus yang hebat bukan kepalang. Dalam terhuyung
mundur itu, Gak Lui dapat mencuri kesempatan untuk
balas menyerang. Cret .... terdengar suara kain kerudung
muka Hi Kiam-gim pecah dan menyusul kedua sosok
tubuh itupun loncat mundur. Ketika berdiri tegak, Gak Lui
menjerit kaget. Karena saat itu setelah kain kerudung Hi
Kiam-gim robek, dapatlah ia melihat wajah nona itu.
Wajah Hi Kiam-gim yang semula cantik mulus, ternyata
kini berhias dengan gurat2 bekas ujung pedang. Dan
berobahlah menjadi sebuah wajah yang menyeramkan.
Wajah itu penuh dengan warna tutul2 biru, seperti luka
yang baru sembuh.
Pemandangan itu benar2 menggoncangkan hati Gak
Lui. Bagai terguyur oleh air dingin, gemetarlah bibir Gak
Lui tanpa dapat mengucap apa-apa .... Baru setelah
nona itu melesat sampai seratusan tombak jauhnya, Gak
Lui tersadar gelagapan dan terus memburu seraya
berteriak seperti orang gila: “Taci Gim ....taci Gim...!”
472
Gak Lui berseru kalap dan lari mengejar sepesat
angin. Tetapi ilmu lari cepat dari Hi Kiam-gim jauh lebih
hebat. Apalagi ia malu karena wajahnya yang rusak
hendak dilihat pemuda itu. Maka berlarilah ia seperti
terbang. Tampak dua sosok tubuh saling berkejaran
bagaikan bintang jatuh diangkasa. Yang satu hendak
mengejar, yang satu hendak melarikan diri. Akhirnya
dapat juga Gak Lui memperpendek jaraknya tinggal dua
tigapuluh tombak.
“Taci Gim, tunggulah dulu. Aku hendak bicara....”
Sret, sret, sret ... yang menyahut bukan mulut sigadis
tetapi dua larik pelor yang mendesis desis diudara. Larik
yang dimuka berwarna hitam gelap. Sepintas seperti
burung belibis terbang. Sedang larik di belakang,
berwarna merah. Melihat itu Gak Lui terkejut dan cepat
enjot tubuh melambung keudara sampai lima tombak
tingginya. Tetapi sekonyong-konyong pelor itu meletus
dan menghamburkan asap hitam membubung keudara.
Dalam gugup Gak Lui cepat lontarkan hantaman untuk
menghalaunya. Tetapi menyusul dengan itu, dua tiga
puluh butir pelor melayang pula kearahnya .... Dengan
susah payah, Gak Lui berhasil menghindarkan diri dari
taburan asap hitam tetapi ketika meluncur kebumi,
ternyata Hi Kiam-gim sudah lenyap. Nona itu pergi
dengan membawa hati yang patah ....
“Ah, aku salah faham kepada taci Gim, sehingga dia
pergi dengan patah hati,” kata Gak Lui sambil
menengadah memandang langit. Ia menghela nafas:
“Untung dia masih mempunyai rencana untuk
menghubungi partai2 persilatan. Kepergiannya tentulah
hendak melaksanakan rencananya itu. Tentang
wajahnya yang rusak itu tentulah atas tindakannya
sendiri. Ia tentu mengira kalau aku sudah mati lalu
meniru tindakan bibi guruku yang merusak wajahnya
473
sendiri. Menilik kenyataan itu jelas hatinya belum
berobah. Karena salah faham itulah maka ia kena
diperalat oleh Lengan-besi hati-baik Lim Ih hun....”
Teringat akan murid murtad dari perguruan Busan itu,
seketika meluaplah kemarahan Gak Lui. Tetapi
disamping itu, iapun mempunyai beberapa kecurigaan.
Maharaja Persilatan itu jelas mempunyai hubungan
dengan perguruan Busan. Menurut keterangan Hi Kiam
gin tadi, Lim Ih- hun juga mengatakan bahwa Maharaja
itulah yang membunuh orang tua Gak Lui. Diam-diam
dalam hati Gak Lui bersangsi. Adakah keterangan Lim Ihhun
itu dapat dipercayainya? Dan apakah Lim Ih-hun
dengan Maharaja itu tiada hubungan apa2 ? Juga tokoh
Tio Bik-lui yang menolongnya itu mengatakan bahwa Lim
Ih-hun menguasai pedang pusaka Halilintar. Menilik
bahwa Maharaja berada didunia persilatan dan Lim Ihhun
bersembunyi di-gunung Busan, seharusnya kedua
orang itu bukan orang yang sama. Teringat ia akan
keterangan mendiang ayah-angkatnya bahwa pembunuh
itu tak punya hidung dan pedangnya terdapat gurat tanda
silang empat. Dengan begitu jelas bahwa pembunuh
orangtuanya itu tentulah hanya seorang saja. Ah...
namun ia masih belum berani memastikan hal itu.
Adakah pembunuh itu hanya seorang saja atau memang
dua orang ....
Soal itu selalu menjadi teka teki dalam hati Gak Lui.
Dan setiap kali ia berjumpa dengan sesuatu jejak, dia
malah makin bingung. Tanda silang empat pada pedang
pembunuh itu sudah dihapus oleh ahli pembuat pedang
Bok kiam su yang telah dibunuh oleh iblis Pek-kut Mokun.
Dan Pek-kut Mo-kunpun telah dibunuhnya tanpa
sempat ia tanyakan keterangannya.
“Jejak yang menuju kearah penyingkapan tabir
474
rahasia pembunuh itu sudah lenyap. Sekarang hanya
tinggal dua kemungkinan yang terbagi pada tempat yang
jauh yalah di istana Bu san bi-kong untuk mencari Lim Ihhun.
Menurut keterangan, di guha gunung Busan itu
memang terdapat seorang tua yang berhidung
gerumpung. Dia tentulah Lim Ih-hun simurid murtad itu.
Jejak yang dekat tak lain berada pada diri si Penjaga
Neraka. Dia tentu tahu asal usul Maharaja....” memikir
sampai disitu, Gak Lui cepat berputar tubuh dan lari
kembali ketempat biara tadi. Ketika tiba di muka pintu
biara, dilihat Penjaga Neraka itu masih terkapar disudut
ruang. Segala sesuatu dalam biara itupun masih seperti
beberapa saat tadi. Gak Lui menarik napas longgar. Ia
segera menghampiri orang itu dan menutuk tengkuknya.
“Uh…” ia terkejut ketika rasakan ujung jarinya
membentur batok kepala yang empuk. Cepat ia
mempunyai kecurigaan. Dibalikkan tubuh Penjaga
Neraka itu dan ah...ternyata dia sudah mati ! Gak Lui
kaget seperti dipagut ular. Dilihatnya wajah Penjaga
Neraka itu mengerikan sekali. Dari mulut dan hidungnya
mengalirkan darah kental campur cairan otak.
Pancainderanya tengeng semua. Tentulah ketika mati,
dia melihat pembunuhnya yang berwajah seram.
“Tadi kugunakan tutukan ringan untuk menutuk jalan
darahnya. Tak mungkin dapat menghancurkan benaknya
sampai berhamburan keluar begini. Tentulah ada
seorang lain yang datang kemari. Orang itu dengan
kejam telah menghancurkan urat urat nadinya. Suatu
bukti bahwa pembunuh itu lebih sakti dari kepandaianku.
Tokoh persilatan yang memiliki kepandaian sesakti itu
dapat dihitung jumlahnya.....lalu siapakah pembunuh itu?
Kawan atau lawan? Sengaja membunuh atau hanya
secara kebetulan saja? Jika orang itu tokoh aliran Putih,
tentu tak mungkin mau mencelakai orang yang sudah tak
475
dapat berkutik. Tetapi kalau dari golongan Hitam, orang
itu tentu akan menolong Penjaga Neraka ini.....” Kini
bukan saja membunuh, pun pembunuh itu telah
meninggalkan suatu teka teki yang sulit. Rasanya dia
hendak mengejek Gak Lui ....
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia
gunakan ketajaman hidungnya untuk menyelidiki bekas
yang ditinggalkan pembunuh itu. Tetapi gagal. Sama
sekali ia tak dapat mencium sesuatu bau yang baru dan
aneh.
“Ah, menilik kepandaiannya, kemungkinan tentu
Maharaja sendiri yang datang. Karena kuatir Penjaga
Neraka itu akan memberi keterangan, maka segera
dilenyapkan sendiri… tetapi mengapa ketika Penjaga
Neraka bersuit memberi tanda tadi, Maharaja tak
muncul? Oh, apakah mungkin Tio Bik-lui yang datang
kembali lalu membunuh iblis ini? Tetapi mengapa dia tak
mau unjuk diri?” Tiba2 pula ia teringat akan ucapan Hi
Kiam gim bahwa peribadi Tio Bik lui itu memang
mencurigakan. Tetapi atas dasar apakah nona itu
mencurigainya? Oh, Penjaga Neraka sendiri juga merasa
heran kepada diri Tio Bik-lui itu. Tetapi apakah yang
diherankan itu ?”
Benak Gak Lui penuh dengan tanda tanya yang tak
dapat dipecahkannya.....
JILID 10
Gak Lui menghela napas dan geleng2 kepala. Nah,
rasanya semua jawaban, hanya dapat diperoleh di istana
Bi-kiong gunung Busan.
Keputusannya mantap dan menujulah ia ke gunung
476
Busan.
Gunung Busan mempunyai 12 puncak. Alamnya
indah tetapi berbahayanya bukan buatan. Dari jauh
tampak enam dari keduabelas puncaknya itu berderet di
barisan luar, sedang enam puncak yang di dalamnya,
menjulang tinggi seperti menembus awan.
Berhadapan dengan pemandangan gunung yang
sedemikian perkasa itu, mau tak mau orang tentu
termenung. Merasa dirinya kecil menghadapi kebesaran
alam yang penuh rahasia itu.
Tubuh Gak Lui tampak seperti setitik benda hitam
ketika ia mendaki lereng gunung yang penuh dengan
hutan belantara itu. Ketika tiba di muka puncak, ia
hentikan larinya. Ia tertegun menyaksikan kehebatan dari
gunung yang berlapis tujuh buah puncak itu. Di mulut
jalan yang memasuki pegunungan itu, merupakan
sebuah hutan batu yang berbentuk rupa2. Setengahnya
memang berasal dari alam, setengahnya dibuat oleh
manusia. Mulut jalan itu mempunyai belahan jalan yang
tak terhitung jumlahnya. Jalanan2 itu rupanya dapat
mencapai semua puncak. Tetapi bagi Gak Lui yang
sudah berpengalaman menempuh badai pergolakan,
tahulah bahwa puluhan jalanan yang aneh itu tentu
merupakan sebuah barisan susunan. Dan tak beranilah
ia gegabah memasukinya.
“Apa yang dikata Tio Bik-lui cianpwe itu memang
benar,” diam2 ia berkata seorang diri, “ke 12 puncak ini
memang mengandung kegaiban yang hebat. Dan
sayangnya aku memang tak begitu mengerti akan
barisan Kiu-kiong-pat-kwa. Sedang diapun tak
menerangkan di manakah letaknya istana Bikiong itu ....”
Sejenak termenung mengatur langkah, akhirnya ia
477
memutuskan untuk menggunakan cara menyelidiki. Jika
murid penghianat si Lengan-besi Lim Ih-hun itu keluar
masuk melalui jalanan itu, tentulah dia meninggalkan
jejak berupa telapak kaki.
“Baiklah aku mengitari gunung ini untuk mencari
sesuatu jejak,” akhirnya ia mengambil ketetapan. Segera
ia mulai gerakkan sang kaki untuk lari mengitari
pegunungan Bu san yang luasnya beratus ratus li itu.
Mataharipun mulai terbenam, malampun tiba. Kemudian
rembulan silam, bintang2 pun lenyap lagi. Dan mentari
pagi kembali muncul. Ah, sudah sehari semalam ia
berlari. Saat itu ia kembali tiba di tempat semula yalah di
muka hutan batu. Jerih payahnya itu tak menghasilkan
suatu apa. Baik jejak telapak kaki maupun bau orang,
sama sekali ia tak mendapatkannya. Rupanya sudah
bertahun-tahun lamanya, tiada seorang manusia yang
masuk ke dalam pegunungan itu.
“Bagaimana ini...?” akhirnya bertanyalah ia kepada
dirinya. Tiba2 ia busungkan dada dan gelorakan
semangat lalu membentak keras: “Serbu!” Sekali enjot
kaki, tubuhnyapun melayang setombak tingginya. Tetapi
tepat pada saat itu terdengarlah sebuah suara teriakan:
“Jangan ....!” Sesosok tubuh melayang tiba di
belakangnya, Gak Lui tak asing dengan nada suara itu.
Cepat ia bergeliatan berputar tubuh ke belakang. Pada
saat ia turun ke tanah, cepat ia memberi hormat kepada
orang itu: “Ah, kiranya Tio cianpwe! Kapankah cianpwe
tiba di sini?” Ternyata yang muncul itu bukan lain adalah
Tio Bik-lui. Gak Lui tak tahu apa maksud kedatangan
orangtua itu. Sambil membalas hormat, Tio Bik-lui
menyahut: “Aku sudah tiba lama di sini ....”
“O, apakah cianpwe kemarin…”
478
“Benar, kemarin aku memang melihatmu tetapi tak
mengapa,” tukas Tio Bik-lui.
“Mengapa ?”
“Kukira engkau telah mendapat petunjuk dari
Keempat Pedang dan dapat mencapai istana Bi-kiong
maka akupun tak mau mengganggumu. Tetapi karena
ternyata engkau kembali, terpaksa kutegurmu.”
“Kalau begitu, cianpwe tentu dapat memberi
petunjuk?”
“Benar, karena terburu-buru maka dalam pertemuan
tempo hari aku tak sempat bicara banyak. Oleh karena
itu maka sengaja aku menyusul kemari.”
Gak Lui merasa berterima kasih: “Entah dalam soal
apakah maka cianpwe begitu menaruh perhatian kepada
diriku?”
Tio Bik-lui mengangguk: “Benar, kedatanganku
kemari perlu menasehati engkau agar engkau pulang
saja.”
“Pulang ?” Gak Lui heran.
“Ya, pulanglah !”
Gak Lui makin heran dan goyangkan tangan:
“Cianpwe, jangankan saat ini aku sudah berada di depan
gunung ini. Sekalipun belum, tetapi aku memang sudah
mempunyai rencana untuk datang kemari. Maka sukarlah
aku menerima nasehat cianpwe untuk pulang itu. Aku
bersedia untuk menghadapi segala macam kesulitan !”
“Ah, tak perlu,” kata Tio Bik-lui seraya maju setengah
langkah, “karena nyata engkau tak mengerti barisan
Bikiong, maka pulang dan suruh saja Empat Pedang
yang datang !”
479
“Tidak ! Tidak !” seru Gak Lui, “aku lebih suka
menerjang maju dari pada harus pulang !”
“Ih...” Tio Bik-lui mendesis napas, “memang kutahu
watakmu keras, sukar diberi nasehat. Kalau begitu….”
matanya berkilat melirik ke arah deretan puncak gunung.
Memperhatikan kerut wajah dan arah yang dilirik orang
tua itu, Gak Lui segera berseru sambil tertawa: “Benar,
kumohon lebih baik cianpwe memberi petunjuk jalan
masuk ke gunung ini.”
“Ah, memberi petunjuk sih aku tak berani. Kalau
mampu, aku tentu sudah mengambil pedang pusaka
Thian-lui-koay-kiam itu untukmu ....”
“Harap cianpwe jangan merendah diri dan suka
memberi petunjuk.” Tio Bik lui menunjuk ke arah gunung
dan berkata: “Yang dimaksud dengan istana Bi-kiong
gunung Busan itu, yalah keenam puncak yang berada di
sebelah atas itu. Tetapi jalanan menuju keenam puncak
itu, sukarnya bukan kepalang, dapat membuat orang
tersesat. Kabarnya hanya si Burung Bangau dari Busan
saja yang mampu keluar masuk ....”
“Tak ada orang yang lain lagi ?” Gak Lui menegas.
“Kecuali dia ....si Lengan-besi Lim Ih-hun dan
ayahmu serta Empat Pedang itu, mungkin dapat juga.”
“Oh, harap cianpwe suka menerangkan lebih lanjut.”
“Memang aku mengerti sedikit2 tentang ilmu Ngoheng-
seng-khik dan Pat kwa-kiu-kiong. Tetapi
perobahan2 dari pintu Ki, Ceng, Sun, Li dari barisan
keenam puncak itu, benar2 hebat sekali. Paling banyak
aku hanya tahu satu dua puncak saja. Kalau tahu
tentang ilmu Ni-coan-heng-tay-hwat…..”
Bicara sampai di sini Tio Bik-lui berhenti dan
480
merenung. Pada lain saat tiba2 ia bertanya: “Ya, apakah
engkau mengerti akan ilmu berputar menyungsang Ngo
heng ?”
Mendengar pertanyaan itu, seketika Gak Lui teringat
akan petunjuk Permaisuri Biru yang memberinya
pelajaran tiga jurus gerak-langkah yang aneh. Maka
tanpa ragu2 ia anggukkan kepala: “Yang kuketahui
hanya kulitnya saja. Harap lo-cianpwe suka lanjutkan
keterangan cianpwe itu.”
Mendengar jawaban itu, Tio Bik-lui agak terkejut,
serunya dengan tertawa girang. “Bagus! Akan kuringkas
saja keteranganku ini. Keenam puncak yang berada
dilapis dalam itu, dalam ilmu Pat- kwa disebut Thian-luibu-
ong, tak begitu berbahaya. Sedang keenam puncak di
lapisan luar, disebut Lui-cek-kui-moay, amat berbahaya
sekali. Lebih dulu engkau boleh masuk melalui jalan
Seng-bun (pintu hidup). Ingatlah selalu: bila hitungan tiga
supaya ke kiri, tentu selamat. Tetapi ... yang penting
harus bertindak hati2 menurut gelagat. Sekali salah
langkah tentu akan terjerumus dalam jaring jebakan, tak
mungkin akan dapat ke luar. Mengertikah engkau?”
“Ya, mengerti.”
“Itupun baru keadaan pada keenam puncak lapisan
luar. Sedang keenam puncak lapisan dalam, karena
jaraknya terlalu jauh, akupun tak dapat melihat jelas ....”
“Tak mengapa, nanti setelah masuk ke sana aku
dapat mengira- ngira,” kata Gak Lui.
“Baiklah, karena engkau berkeras tetap hendak pergi.
Akupun tak dapat mencegahmu. Yang penting, setiap
saat engkau harus waspada dan bertindak hati2. Jika
sampai terjerumus dalam kesukaran, aku juga tak
mampu menolongmu.” Gak Lui tertawa nyaring.
481
Setelah memberi hormat ia lalu ayunkan langkah
lebar menuju ke barisan puncak itu. Namun Tio Bik lui
tetap kuatir. Ia segera menyusul. Ketika sampai di tempat
yang berbahaya, barulah ia berhenti. Gak Lui pesatkan
larinya dan tanpa banyak keraguan lagi, terus menuju ke
pintu Seng-bun. Sebelum masuk ia masih sempat
berpaling dan melambaikan tangan kearah Tio Bik-lui.
Setelah itu ia terus melesat masuk ke dalam hutan batu.
Tio Bik lui tertawa gelak2 sambil mengurut jenggotnya.
Tetapi saat itu Gak Lui sudah menyusup jauh ke sebuah
tempat yang aneh sehingga tak dapat mendengarkan
suara tertawa itu. Begitu memasuki barisan aneh dari
gunung Bu-san itu, seketika Gak Lui rasakan dadanya
sesak seperti ditindih oleh suatu kekuatan yang dahsyat.
Dan beberapa saat kemudian, angin dan awanpun
berobah warnanya. Gelap gulita sekeliling tempat. Kaki
tangan dan kelima inderanya serasa kehilangan daya
gerak. Bahkan bernapaspun rasanya sukar sekali. Sudah
tentu dalam keadaan begitu, ia tak dapat mendengar
suara tertawa Tio Bik-lui tadi. Sepeminum teh kemudian,
barulah pandang matanya mulai dapat melihat dengan
samar. Ia paksakan diri untuk melakukan pernapasan
beberapa kali barulah pikirannya mulai sadar. Tetapi apa
yang disaksikan saat itu, benar2 membuatnya kaget
setengah mati.....
Gunduk2 batu yang aneh tadi tiba2 berobah
merupakan karang melandai yang menjulang keatas.
Dan diatas gundukan batu2 itu, bertebaran awan kelabu,
berarak- arak kian kemari karena dihembus angin.
Pemandangan itu benar2 membuat Gak Lui tercengang
heran. Dia merasa dirinya amat kecil sekali berhadapan
dengan kedahsyatan alam. Sekalipun begitu, ia tetap
pantang mundur. Segera ia berputar-putar tubuh dan
menerjang kearah angin yang bertenaga kuat itu. Tetapi
482
begitu ia bergerak, dinding2 karang di sekeliling dan
bawah jalanan yang diinjaknya itupun ikut berputar. Ia
merasa dunia seperti berputar-putar sehingga kepalanya
pening dan tak tahu lagi membedakan keempat arah.
Setelah dapat menenteramkan hatinya, Gak Lui pun
mengatur langkah. Dengan kerahkan ilmu meringankan
tubuh, ia terus melesat maju. Satu, dua, tiga ... terus
berkisar ke sebelah kiri. Sambil berjalan diam2 ia
menghitung setiap melintasi tiga buah simpang jalan, ia
terus membelok ke sebelah kiri. Ah, apa yang dikatakan
Tio Bik-lui tadi memang benar. Sepanjang jalan, ia tak
menemui kesulitan suatu apa. Tetapi hamburan angin
yang mengandung tenaga kong gi itu, makin lama makin
membuat tenaganya lemah. Keringat mengucur deras
membasahi tubuhnya .... Entah berselang berapa lama,
mulailah langkahnya sempoyongan. Tenaganya hampir
habis. Dan jalanan yang berada di sebelah muka, seperti
tiada ujungnya. Maka dengan kuatkan diri dan keraskan
semangat, ia terus berjalan. Akhirnya tubuhnya condong
ke samping dan rubuhlah ia berguling-guling beberapa
kali sampai beberapa tombak jauhnya. Cepat2 ia
pancarkan tenaga-dalam penyedot, untuk menahan
keseimbangan diri.
“Celaka! Angin begitu kuat, apabila tenaga dalamku
habis, tentu akan terseret angin ....” ia mengeluh putus
asa. Ketika rentangkan mata memandang ke sekeliling,
ia melihat pula sebuah pemandangan yang aneh. Pada
jarak berpuluh tombak jauhnya, memancarlah selarik
sinar matahari dan gumpalan awan. Begitu sinar
matahari itu mencurah tiba maka angin yang
mengandung hawa kong-gi itupun segera berhamburan
keempat penjuru dan berputar-putar di luar lingkaran
sinar matahari itu. Di tengah lingkaran angin yang seluas
tiga tombak itu, tampak sebuah tangga batu. Di atasnya
483
amat bersih dan berukir sebuah Pat-kwa yang aneh.
“Oh….” diam2 Gak Lui terkejut, “apakah ini yang
disebut gambar Thian-lui-bu-ong, pintu masuk ke istana
Bi-kiong itu ....”
Rangsangan hati, membuat semangat pemuda itu
menggelora lagi. Ia kuatkan diri untuk melangkah dua
langkah menuju ke kisaran angin itu. Tetapi begitu
kakinya menginjak tanah, dari puncak istana Bi- kiong
yang tertutup awan itu, seperti terdengar letusan halilintar
dan suara bentakan yang menggeledek : “Hai, siapakah
yang bernyali besar berani menginjak tempat terlarang ini
!”
Gak Lui gelagapan kaget sehingga tubuhnya
gemetar, pikirnya : “Ah, tentulah si Lengan-besi Lim Ihhun….”
Seketika meluaplah dendam kesumat didada Gak
Lui. Dengan menggertak gigi, ia ingin secepatnya
mencapai puncak itu untuk berhadapan dengan si
Lengan-besi. Tiba2 matanya tersilau oleh sinar
berkelebat. Dan lingkaran hawa kong-gi yang berada di
luar tadi segera berpusat menggunduk seperti sebuah
dinding yang tak kelihatan. Ia seolah2 dikurung dalam
lapisan dinding besi. Dan karena di luar lingkaran tenaga
dahsyat itu gelap gulita, maka ia tak dapat melihat jalan
keluar. Dalam pada waktu ia masih belum dapat
menentukan langkah, rupanya orang diatas puncak itu
tak sabar menunggu lagi. Kembali terdengar suara
bentakan yang seram : “Kata sandi !”
“Kata sandi ?” Gak Lui terkejut. Jelas ia tak tahu, apa
yang dimaksud orang itu. Dalam marahnya, ia kerahkan
seluruh tenaga dalam dan berteriak sekuatnya : “Aku
Gak Lui ...”
484
“Apa ?” tukas orang itu.
“Gak…..Lui…..!”
“Heh, heh, heh, heh….” terdengar orang itu tertawa
mengekeh. Nadanya penuh dendam pembunuhan.
Tetapi Gak Lui pun tak kurang sengitnya. Dadanya
terasa terbakar oleh dendam pembunuhan juga.
Serentak ia hendak maju menerjang. Tetapi orang itu
lebih cepat. Ia segera menyimpan kembali sinar yang
memancar diatas kepalanya, sehingga gelap. Dan
serempak dengan itu anginpun mengencang lagi. Bumi
se- olah2 dilanda gempa, batu dan pasir berhamburan
keempat penjuru. Gak Lui rasakan bumi yang dipinjaknya
itu seperti amblong dan tubuhnya terdampar melayang.
Walaupun ia gunakan pukulan Algojo-dunia untuk
melawan tetapi tubuhnya tetap melayang seperti
selembar daun ...
“Celaka !” ia mengeluh dan bergeliatan memandang
sekeliling. Tampak tak jauh dari tempatnya, terdapat
sebuah gua yang tenang dan bebas dari serangan angin
prahara itu. Maka tanpa banyak sangsi lagi ia terus
meluncur ketempat itu. Rencananya ia hendak
menggelandot pada tepi gua. Tetapi begitu kakinya
menginjak, ternyata yang diinjaknya itu kosong sehingga
tubuhnya meluncur jatuh kebawah. Ia melorot turun
sepanjang dinding gua. Ia empos semangat dan
berjumpalitan. Tetapi tindakan itu bahkan menyebabkan
daya-luncurnya makin keras sehingga ia gugup sekali.
Cepat ia bergeliatan melambung keatas.
“Ah, tentu sudah, tiba didasar….” pikirnya. Buru2 ia
kerahkan napas lalu meluncur kebawah seraya
dorongkan kedua tangannya. Bum, bum, bum ....
terdengar kumandang letupan keras dan saat itu
kakinyapun sudah merasa menginjak tanah. Tetapi tanah
485
itu luar biasa licinnya sehingga baru kakinya menyentuh,
ia sudah terpelanting keras. Seketika Gak Lui tak ingat
diri lagi.
Entah berapa lama ia pingsan itu, ketika tersadar lagi
ia rasakan tubuhnya panas seperti terbakar api. Dari
sinar remang2 yang mencurah ke-tempatnya itu, ia
dapatkan dirinya rebah disebuah gua besar. Dari lubang2
kecil yang bertebaran di-permukaan tanah itu
mengeluarkan sumber air yang teramat licin. Sekalipun
sumber air itu tiada berbau apa2 tetapi karena licin,
sukarlah Gak Lui untuk bergerak. Apalagi tenaganya
lemah sehingga setelah berulang kali berusaha untuk
bergeliat, akhirnya ia hanya dapat duduk. Kemudian ia
mulai tenangkan pikirannya.
“Masakan gua ini terpisah dari atas bumi, ada seribu
meter jaraknya. Mengapa gelapnya bukan main. Ah,
lebih baik melakukan pernapasan dulu untuk
mengumpulkan tenaga, baru nanti kupikirkan rencana
lagi…..”
Lebih kurang dua jam lamanya, barulah ia berhasil
mengumpulkan tenaga-dalam Algojo-dunia. Setelah itu ia
segera mencabut sepasang pedangnya. Dengan
bantuan pedang yang ditancapkan ditanah itu, ia segera
berbangkit bangun. Dan berkat pedang Pelangi yang
memancarkan sinar terang itu, dapatlah ia melihat jelas
keadaan pada jarak setombak jauhnya. Setelah
tenangkan diri beberapa saat, mulailah ia ayunkan
langkah perlahan2 dengan bantuan sinar pedang itu.
Tetapi sampai beberapa saat menyelidiki, tetap ia tak
menemukan sesuatu. Kecuali kegelapan yang
menyelubungi, hanyalah desir air sumber yang
mengalirkan air licin itu.
“Ah, tak perlu kulanjutkan berjalan kemuka, lebih baik
486
mencari jalan keluar saja ... ,” akhirnya ia menetapkan
rencana.
Seorang diri berada dalam tempat yang seperti
Neraka hitam itu, tak urung Gak Lui merasa seram juga.
Dan hawa panas yang menyesakkan napas itu hampir
membuat Gak Lui tak kuat bertahan lagi. Untunglah
berkat kesalahan makan obat Penyurut- tubuh di Lembah
Maut tempo hari, membuat tubuhnya mempunyai daya
tahan yang hebat. Namun sekalipun begitu, ia tetap
resah. Tiba2 ia mendapat pikiran. Dengan tekankan
ujung pedangnya ke tanah dan melambunglah ia di
udara lalu berputar putar dan meluncur kembali ke
tempatnya semula. Tetapi disitupun juga gelap.
Sekalipun jalanan masuk ke tempat itu sudah tak berapa
jauh, namun dia tetap tak dapat melihat suatu apa. Tiba2
matanya tertumbuk akan sinar pedang Pelangi. Segera ia
mendapat akal lagi. Dengan kerahkan tenaga ia segera
lontarkan pedang pusaka itu keatas. Pedang
membubung tinggi tetapi pada lain saat, cahayanyapun
padam dan tring.....pedang itu membentur langit guha
dan jatuh ke tempatnya lagi. Untunglah pada saat
pedang itu meluncur ke atas tadi, ia sempat
memperhatikan bahwa pada puncak langit guha itu
terdapat dinding karang yang curam. Di atas puncak
karang terdapat sebuah batu tajam yang menonjol. Dan
samar2 di belakang batu menonjol itu terdapat sebuah
mulut guha yang luasnya 3 meter.
“Celaka....” Gak Lui mengeluh. Benar ia dapat
menemukan jalan keluar. Tetapi dinding karang itu amat
tinggi sekali dan tiada tempat berpijak kaki. Tak mungkin
ia dapat mencapainya. Dan jelas mulut guha di sebelah
atas itu gelapnya bukan kepalang.
“Ujung bumi ! Tak mungkin aku dapat keluar dari
487
ujung bumi ini !” ia mengeluh putus asa. Gak Lui seperti
orang kalap.
“Mengapa di tempat neraka ini tiada barang
sesuatu...?” dengan penasaran ia memandang ke
sekeliling. Namun sia2 saja. Saking marahnya ia
mengertak gigi. Dengan geram ia taburkan pedang
Pelangi ke tanah. Cret....
“Hai, apakah itu?” tiba2 ia berteriak kaget.
Memandang kearah pedang Pelangi yang tertancap di
tanah itu, melalui cahayanya dapatlah ia melihat bahwa
di atas tanah terdapat beberapa bekas guratan pedang.
Dan ketika ia membungkukkan tubuh untuk
memeriksanya, diam2 ia kerutkan alis: “Benar, memang
bekas2 ini berasal dari ujung pedang. Menilik bekasnya
tentu sudah belasan tahun lamanya..... Kalau begitu
orang itu juga dicelakai oleh murid penghianat itu ? Dan...
apakah ia sudah dapat keluar atau masih terkurung
dalam guha neraka situ ....?”
Ia segera mencabut pedang Pelangi dan menimang.
Jika orang itu masih berada ditempat situ, jelas tentu
sudah mati. Tetapi kalau mati tentu meninggalkan
kerangka. Serentak timbullah hasratnya untuk mencari
orang misterius itu. Dengan menurutkan bekas2 guratan
pedang, ia segera mulai menyelidiki. Ternyata ia dapat
menemukan bekas2 guratan pedang itu lagi. Makin lama
makin banyak jumlahnya. Suatu pertanda bahwa dahulu
orang itu juga seperti dirinya sekarang, berjalan keliling
mengitari tempat itu. Dan menilik bekas2nya, jelas orang
itu hanya membekal sebatang pedang saja. Jadi dia
berjalan dengan bantuan sebatang pedang. Hampir
setengah hari Gak Lui melakukan penyelidikan dengan
cermat dan tekun. Akhirnya tibalah ia diujung guha.
Betapa kejutnya ketika ia melihat sebatang pedang
488
menggeletak di tanah. Batang pedang sudah karatan.
Cepat ia mengambil pedang itu lalu meneruskan berjalan
ke muka dengan bantuan cahaya pedang Pelangi.
“Uh ....” Gak Lui melonjak kaget dan berhenti. Pada
jarak beberapa meter di sebelah muka, di bawah dinding
batu, tampak sesosok kerangka manusia tengah duduk.
Tulang2nya putih halus seperti batu kumala dan sikapnya
berwibawa. Walaupun sudah menjadi kerangka, namun
masih dapat menimbulkan rasa penghormatan orang.
Entah bagaimana, Gak Lui seperti melihat seorang
keluarganya. Segera ia menjura memberi hormat dan
berkata: “Cianpwe, aku tak sengaja telah terjeblus ke
dalam tempat ini sehingga mengganggu ketenangan
cianpwe. Maka harap cianpwe memaafkan.” Habis
berkata dengan hati2 ia segera mengitari ke belakang
kerangka itu. Pedang Pelangi diangkatnya ke atas kepala
untuk mencari tahu apakah di atas dinding itu terdapat
sesuatu jejak. Dilihatnya dinding guha yang berlapis-lapis
itu penuh dengan huruf2 yang ditulis dengan guratan
pedang. Gak Lui kerutkan alis, pikirnya: “Rasanya aku
sudah tiada harapan untuk keluar dari guha neraka ini.
Tak apalah kuikuti tulisan dari cianpwe yang
sependeritaan dengan nasibku ini. Sekedar unntuk
menghabiskan waktu di sini dan menambah pengalaman
....”
Dengan pemikiran itu mulailah ia mencari bab
permulaan dari tulisan di dinding itu. Akhirnya ia berhasil
juga menemukannya. Baris pertama dari tulisan itu
berbunyi demikian: “Tulisan terakhir pada detik2 terakhir
dari Empat-pedang-Bu-san Pedang-malaekat Gak Tiangbeng.”
“Gak Tiang-beng !” serentak gemetarlah bibir Gak Lui
dikala membacanya. Mulutnya terasa tersumbat dan
489
berdirilah ia terlongong seperti patung. Dua butir airmata
menitik turun dari pelupuknya. Sepeminum teh lamanya,
barulah mulutnya menguak. Gak Lui muntah darah.
“Ayah ... !” menjeritlah ia dengan suara yang amat
duka. Ia lemparkan pedang lalu menjatuhkan diri
menelungkup di hadapan tengkorak itu dan menangis
tersedu sedan..... Tangisan itu merupakan luapan dari
hatinya yang serasa remuk redam. Ia tumpahkan seluruh
kesedihannya sehingga guha itu seolah olah
berkumandang tak henti-hentinya. Seolah-olah ikut
berduka atas nasib malang yang menimpa kedua ayah
dan puteranya itu. Gak Lui menangis sampai kering airmatanya
dan parau tenggorokannya. Kemudian ia
mengertak geraham, memungut pedang dan berbangkit
lagi: “Lebih dulu akan kubaca habis pesan terakhir dari
ayah. Apakah yang beliau katakan dalam soal dendam
darah ini.”
Setelah bulatkan hati, ia segera mulai membaca. Dan
tulisan pada dinding itu berbunyi demikian :
“Aku Empat-pedang-Busan, telah melaksanakan
perintah suhu untuk bersatu padu menjalankan tugas,
menjaga jangan sampai murid hianat itu muncul lagi.
Sudah bertahun tahun dia tak muncul keluar. Karena
suatu persoalan, aku telah berselisih faham dengan
saudara2 seperguruan, lalu kuputuskan untuk
kembali pulang ke kampung halaman. Tetapi
beberapa bulan kemudian, dalam biara tua di
pegunungan terpencil, kudapatkan lima orang murid
dari perguruan Heng-san, yang seorang terluka dan
yang empat mati. Keadaannya mengejutkan sekali.
Menilik bekas lukanya, jelas telah terkena pukulan
perguruan Busan. Saat itu kuberusaha untuk
menolong yang terluka itu. Untung ia dapat tersadar
490
dan bicara. Dia memberi keterangan yang amat
mengejutkan. Paderi itu ikut pada paman gurunya
Hwat Kong taysu turun gunung. Kedua belah fihak
berjanji akan bertemu di tempat itu.
Pada saat pertemuan, kecuali Hwat Kong, pun masih
terdapat seorang berpakaian warna hitam dan
mukanyapun ditutup dengan kain hitam. Tanpa bicara
apa2, orang aneh itu terus mencabut pedang dan
menyerang kelima paderi murid perguruan Heng-san.
Anehnya, Hwat Kong sama sekali tak mencegah dan
membiarkan orang aneh itu membunuh dengan
kejam kelima murid keponakannya. Segera kudapat
menduga bahwa orang yang suhu perintahkan kami
berempat untuk membunuhnya itu, telah muncul di
dunia persilatan lagi. Segera kukirim berita
mengundang ketiga saudara seperguruanku supaya
datang merundingkan rencana untuk membasmi
orang itu. Tetapi suteku si Pedang Aneh telah cari
alasan untuk mengulur waktu. Sedang sumoay
Pedang Bidadari yang mengunjungi Pedang Iblis,
juga tiada kabar beritanya. Kuingat pesan suhu:
“Diantara ke 12 puncak Busan, terdapat sebuah
istana Bi-kiong. Tempat itu merupakan tempat
terlarang karena dijadikan tempat penyimpanan
pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam dari perguruan
kita. Tempat itu penuh dengan alat2 rahasia yang
berbahaya. Semua anak2 murid kita dilarang datang
ke tempat itu. Tetapi apabila mempunyai alasan yang
istimewa, kamu berempat boleh datang ke sana dan
meneriakkan dua buah kata Thian-lui ke arah istana
itu. Kata itu merupakan kata sandi untuk masuk ke
dalam istana. Mungkin kalian akan mendapat rejeki
yang tak terduga.”
491
Berdasar pesan suhu itu, maka aku segera menuju
ke Busan. Sebelum berangkat, karena menjaga
kemungkinan yang tak diharap akan menimpa
keluargaku, maka kuberi nama pada puteraku
tunggal Gak Thian-lui atau Gak Lui. Bila aku
mendapat kecelakaan, mungkin kelak ia bisa
memperoleh jejak melakukan pembalasan !”
“Oh...” membaca sampai di situ, Gak Lui mendesuh.
Seketika teranglah pikirannya. Kini ia tahu bahwa
namanya itu sebenarnya merupakan kata sandi untuk
masuk ke dalam istana Bi-kiong. Iapun melanjutkan baca
lagi:
“Dengan menurutkan susunan Ngo-heng-seng-khek,
aku melintasi keenam puncak sebelah luar. Setelah
itu aku dihalangi oleh angin yang mengandung hawa
kong-gi. Segera kuberteriak melantangkan kata sandi
Thian Lui. Tetapi di luar dugaan, sama sekali tiada
sambutan apa2. Bahkan kebalikannya aku telah
diputar-putar sedemikian rupa sehingga terjeblus ke
dalam Neraka Hitam di sini...”
“Aneh !” desus Gak Lui. Ia menimang, “ayahku
meneriakkan kata sandi malah dijebak dalam tempat ini.
Sedang aku yang berteriak mengatakan namaku, juga
dijebluskan ke sini oleh murid penghianat Lim lh-hun itu.
Apakah pesan kakek guru itu salah ?”
“Ah, tidak, tidak mungkin !” bantah Gak Lui kepada
dirinya sendiri, “tentulah murid hianat itu dapat
mengetahui rahasia kakek guru maka ia segera
bertindak. Orang yang mengucapkan kata sandi itu,
malah akan dijebluskan ke dalam neraka sini. Tetapi ....
mengapa taci Gim yang mendapat keterangan dari bibiguru
tentang kata sandi itu, dapat masuk keluar dengan
selamat dari istana itu? Bukankah itu janggal? Hm,
492
kupercaya taci Gim tentu tak bohong. Tentulah murid
hianat itu yang main gila. Tak tepat kalau ia memakai
gelar Lengan-besi-hati-baik, lebih sesuai kalau
dinamakan si Hati ular.” Demikian setelah habis
membahas, kembali ia melanjutkan membaca
peninggalan pesan ayahnya.
“Setelah masuk ke dalam guha dan memeriksa
keadaannya, kudapatkan guha itu terlalu tinggi dan
tak mungkin aku dapat loncat ke atasnya. Sekalipun
aku dapat merayap naik dengan gunakan pedang
yang kutusukkan pada batu karang. Tetapi setelah
mencapai batu menonjol itu tentu harus berdiri
dengan kaki empat. Dengan begitu harus
memerlukan 4 batang pedang. Dan aku hanya
memiliki sebatang pedang saja! Dalam tiga hari ini,
keadaanku makin payah, panasnya bukan main,
hausnya mencekik tenggorokan dan tiada makanan
apa2. Kutahu tak lama aku tentu mati di tempat ini.
Maka hendak kutinggalkan ilmu pedang dan ilmu
pukulan dari suhu pada guratan pedang di dinding ini.
Kuberikan kepada pendatang yang mempunyai jodoh
padaku .... !”
“Bagus, kini aku bakal dapat mempelajari seluruh
ilmu pelajaran pedang dan pukulan dari Empat pedang,”
serunya dalam hati. Saking girangnya, Gak Lui sampai
melupakan keadaannya pada saat itu. Ia terus membaca
dengan teliti kelanjutan dari tulisan pada dinding guha itu.
Ternyata terdapat dua baris syair yang berbunyi: Hawa
pedang menembus kabut, bergurat tanda palang. Ilmu
pukulan Menundukkan-iblis akan mengubur hawa
siluman Ditambah dengan 3 jurus yang telah
dipelajarinya dahulu, kini tergabunglah serangkai syair
yang amat dalam sekali. Menilik kepandaian yang
diyakinkan selama ini, ditambah pula pada waktu ia
493
menyaksikan Hi Kiam-gim pernah memainkannya satu
kali, maka cepat sekali ia segera dapat mengetahui inti
dari pelajaran yang ditulis pada dinding guha itu. Habis
membaca, iapun sudah dapat menyelami maksudnya.
Tetapi pada syair itu terdapat tambahan serangkai kata2
singkat, demikian:
“Mendiang suhu Busan It ho, telah menurunkan
keempat jurus ilmu pedang istimewa itu masing2
dibagikan kepada kami empat orang murid tak resmi.
Keempat jurus itu yalah Menyanggah, Membabat,
Menjaga dan Menyerang. Apabila keempat jurus itu
bersama-sama digunakan, hebatnya bukan alang
kepalang. Khusus untuk menundukkan ilmu
kepandaian perguruan kita. Menurut keterangan
suhu, keempat jurus itu apabila dapat diberikan
kepada empat murid perempuan yang berkepandaian
tinggi, kedahsyatannya makin hebat. Sekalipun orang
akan dapat mengambil pedang Thian-lui koay-kiam,
tetapi tetap dapat mengatasinya. Sayang suhu hanya
berhasil mendapat seorang murid perempuan
Bidadari-pedang Li Siok-gim. Karena terpaksa beliau
menerima lagi tiga orang murid lelaki. Maka
beliaupun paling menyayangi si Bidadari pedang.
Sedang ilmu tenaga dalam dari Iblis Pedang yang
disebut Algojo dunia itu mampu meminjam tenaga
lawan untuk menghantam lawan. Itulah yang disebut
tenaga dalam lunak untuk menindas tenaga-dalam
keras. Oleh karenanya, suhupun sayang juga
kepadanya. Dan kedua orang itupun oleh suhu telah
ditetapkan .... ?
Kepada orang yang terjerumus kedalam guha ini dan
beruntung masih hidup, jangan sekali-kali hanya
mengandalkan keberanian dan kegagahan untuk
menerobos keluar dan istana Bi-kiong ini. Harus
494
minta petunjuk kepada kaisar-persilatan Li Liong-ci
tentang pelajaran Ni-coan-ngo-heng-tay-hwat, baru
boleh masuk kemari. Ingat dan camkanlah hal ini
baik2! Demikianlah pesanku ini berakhir sampai di
sini.”
Gak Lui mendapatkan pula sebaris kata2 yang sudah
digurat pada dinding tetapi kemudian dihapus lagi.
Seolah-olah tak ingin dibaca orang Namun Gak Lui dapat
menduga bahwa baris kata2 itu tentulah menceritakan
tentang diri Pedang Bidadari dan Pedang Iblis yang telah
ditunangkan oleh suhunya. Serta romans yang terjadi
dan membatalkan pertunangan itu. Dan tentang keempat
pedang yang kemudian terpecah-belah. Sudah tentu
ayah Gak Lui tak mau menuliskan peristiwa itu. Gak Lui
menghela napas panjang. Ilmu pedang dan ilmu pukulan
yang dahulu belum diketahui, sekarang ia sudah dapat
mempelajarinya semua. Dan banyak pula soal2 yang tak
dimengerti kini ia sudah jelas. Segala hal itu setelah
dipadu dengan omongan Tio Bik-lui, makin menambah
keyakinan Gak Lui bahwa murid yang berhianat itu
tentulah si Lengan-besi-hati-baik Lim Ih-hun. Setelah
mengusir Lim Ih-hun, gurunya tetap menguatirkan kalau
murid murtad itu kelak kemudian hari akan membikin
huru hara di dunia persilatan. Serta takut kalau dia akan
mengambil pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam, maka
Bu-san It-ho segera mempersiapkan empat orang murid
untuk menindas si hianat itu. Tetapi sayang sekali
keempat murid itu tercerai berai sendiri. Murid hianat Lim
Ih-hun menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai
mereka dan menguasai istana Bi-kiong. Tetapi Gak Lui
anggap tafsiran itu masih kurang lengkap. Karena ia
masih belum jelas akan asal usul Maharaja. Jika momok
itu memang sama orangnya dengan murid hianat Lim Ihhun,
memang persoalannya mudah. Tetapi jelas kalau
495
Maharaja dan Lim Ih-hun itu ternyata dua orangnya.
Inilah yang benar2 merupakan teka-teki yang sukar
dipecahkan!
Demikian tak terasa 3 hari telah lewat. Selama itu
dalam guha neraka yang gelap, tiap hari tentu tampak
berkelebatan sinar pedang yang berhamburan luar biasa.
Dan ada kalanya terdengar pula deru sambaran angin
pukulan yang dahsyat. Dan tak henti-hentinya terdengar
juga suara Gak Lui melantangkan kata-kata yang
bernada seperti syair. Hawa pedang menembus kabut
bergurat tanda palang. Pukulan Menundukkan-iblis
menimbun hawa siluman. Menjolok bintang memetik
bulan, salju bertebaran senjata Algojo dunia mengejutkan
iblis dan malaekat Menabas emas memotong kumala
tanpa bersuara Rajawali pentang sayap membenci bumi
Burung hong kibaskan sayap menutup bulan matahari
Awan berarak-arak beribu li tanpa meninggalkan bekas.
Selama tiga hari itu Gak Lui telah curahkan seluruh
semangat dan pikirannya untuk meyakinkan ilmu pedang,
pukulan dan meringankan tubuh. Makin lama ia makin
mendapat inti sari yang luar biasa dan makin mengerti
akan segala gerak perobahannya. Selama tiga hari itu,
bukan saja ia makin biasa dengan kegelapan tempat itu.
Pun tanahnya yang amat licin sehingga tak dapat dibuat
berdiri tegak, saat itu ia sudah tak mengalami kesulitan
apa-apa lagi. Dia dapat berjalan menurut sekehendak
hatinya.
Sesungguhnya ia tak perlu heran, karena hal itu
adalah berkat kemajuan ilmu kepandaian yang telah
dicapainya saat itu. Karena tak dapat keluar dari guha
neraka, terpaksa ia curahkan seluruh perhatian untuk
mempelajari ilmu kepandaian. Untuk menambah maju
kepandaian dan sekalian untuk menghibur kesepian.
496
Demikian setelah berhasil meyakinkan semua ajaran
dan pesan ayahnya itu, ia segera duduk bersimpuh di
hadapan kerangka ayahnya. Dengan bisik2 ia berdoa:
“Yah, ilmu kepandaian yang ayah wariskan itu telah
kupelajari semua. Apabila berhasil keluar dari guha ini,
aku tentu akan melaksanakan segala pesan ayah untuk
mencari ilmu pelajaran Ni-coan-ngo-heng-tay-hwat, agar
dapat membasmi si hianat !”
“Tetapi ayah mengatakan,” bisik Gak Lui lebih lanjut,
“untuk dapat keluar dari guha ini harus memerlukan 4
batang pedang. Anak sekarang hanya punya dua batang
dan ditambah dengan pedang yang ayah tinggalkan itu,
masih kurang sebatang lagi. Yang sebatang itu, benarbenar
anak tak berdaya untuk mencari di tempat ini.”
Habis berdoa, Gak Lui lalu duduk bersemedhi di
hadapan kerangka ayahnya. Ia menyadari takkan dapat
keluar dari guha itu maka terpaksa ia pasrah nasib
menunggu apapun yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Nasib memang suatu hal yang aneh dan sukar
diduga oleh manusia. Merekapun suatu teka-teki rahasia
hidup yang tak diketahui manusia sebelum menjadi
kenyataan. Betapapun panas hati Gak Lui dan
amarahnya meluap-luap tetapi pada saat dan tempat
seperti itu, ia terpaksa harus gelisah menunggu sang
nasib. Pikirannya melayang-layang. Ia teringat akan
segala peristiwa yang menimpa pada dirinya. Budi,
dendam dan kesalahan faham .... Iapun teringat akan
ramalan dari si Raja Sungai bahwa si Hidung Gerumpung
yang bersembunyi dalam guha di gunung belantara,
tentu akan dapat dibunuh. Pendekar pedang yang
bertopeng itupun tentu akan mati juga. Dan ia sendiri
seharusnya sudah tiba pada ujung nasibnya di Pasebanagung
Yau-san. Tetapi ternyata sekarang ia harus mati di
guha neraka itu. Jika begitu, adakah ramalan itu hanya
497
omong kosong belaka.... ?
Dalam cengkaman lamunan itu, lupalah Gak Lui akan
tempo. Seluruh hati dan pikirannya penuh dengan
keresahan ... kegelisahan ...... Satu2nya daya hanyalah
menunggu, dan menunggu, entah sampai kapan dan
berapa lama...

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Ngentot Model Cantik : PKK 5 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments