Cerita Dewasa ABG : ITB 4

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Dewasa ABG : ITB 4
Baca JUga:
11 Jul 2011 ... Nembak 'Kumpulan Cerita Dewasa Sedarah Anak SMP' sudah. Dilanjut masih dengan tema yang hampir mirip2 yakni Kumpulan Cerita ...
aliafif.blogspot.co.id
10 Jul 2011 ... Cerita Dewasa Seks Oral adalah lanjutan dari 'Cerita Dewasa Seks Membuat Seksi tadi. Cerita Dewasa ini adalah pengalaman nyata Nyonya Helena yang ... Dulu Saat ngepost ' Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru ' yang ini ...
aliafif.blogspot.co.id
1 Mei 2011 ... Dulu Saat ngepost ' Kumpulan Cerita Dewasa Terbaru ' yang ini traffik blog ini lumayan banyak dengan keyword di atas meski cuman ber.
aliafif.blogspot.co.id
-
Tongan yaag putih halus itu diayun ke muka dan
sekeping uang perak segera meluncur keluar dari
genggamannya menggelinding kehadapan kaki Pek in Hoei.
Dari balik kain korden tadi, sekilas pandang Pek Io Hoei
dapat menemui selembar wajah yang cantik jelita, alisnya
yang indah, biji matanya yang bening hidungnya yang
mancung bibirnya yang kecil mungil dan berwarna merab
membara merupakao suatu perpaduan yang sangat
mempersonakan hati.
Seketika itu juga pemuda kita tertegun, dengan
pandangan termangu-mangu ia awasi gadis cantik itu
dengan mata terbelalak mulut melongo...... Ouwww, benar
benar seorang bidadari yang baru turun dari kahyangan.
Rupanya gadis itu sendiripun belum pernah menjumpai
tampang ketolol-tololan macam Pek In Hoei, tak tertahan
lagi ia tertawa cekikikan hingga kelihatan sebaris giginya
yang putih bersih, ia turunkan kembali kain hordennya dan
menggunakan tangan menutupi bibirnya yang mungil
Senyuman ini semakin mempersonakan hati pendekar
muda itu, ia rasakan sukmanya seolah olah sudah terlepas
dari raganya, dengan termongu mangu diikutinya tandu
tadi dari belakang.
"Hmmmm.... ada katak buduk sedang merindukan
bulan" tiba tiba terdengar dayang Coei Jie yang ada ditandu
keempat mengejek sambil mendengus sinis. Lebih baik
cepat cepat pungut kepingan uang perak diatas tanah itu
untuk beli baju, buat apa berdiri termangu-mangu macam
orarg goblok disitu"
Pek In Hoei tersadar kembali dari lamunannya, ia sama
sekali tidak memperdulikan ucapan dayang itu sebaliknya
memandang tandu yang semakin menjauh tadi dengan
termangu mangu.
Menanti iring iringan tandu tersebut sudah lenyap dibalik
tikungan tembok kota, Pek In Hoei baru menghembuskan
napas panjang dan memungut uang perak tersebut.
Sekarang dia baru merasakan betapa banyak orang yang
sedang menengok kearahnya, merah jengah selembar
wajahnya, sambil tertawa jengah buru2 ia masuk kedalam
kota
Sepanjang perjalanannya, bayangan gadis cantik itu
terbayang terus dalam benaknya, pikirnya didaiam hati:
Sungguh tak kusangka dikolong langil ternjata terdapat
gadis yang demikian cantiknya sehingga menyilaukan mata
setiap orang yang memandangi .. ."
Menengok sekejap kearah kepingan uang perak yang ada
ditangan, seo!ab2 dia merasakan betapa jari tangannya
membelai tangan gadis yang halus dan lembut.
Dengan pikiran yang kalut membayangkan kecantikan
wajah gadis yang baru di ditemuinya, Pek In Hoei
melangkah kedalam kota tenpa arah tujuan yang pasti,
menanti dia angkat kepalanya tahu2 tubuhnya telah berdiri
didepan sebuah rumah makan, segera pikirnya :
"Kenapa aku tidak pesan kamar dirumah penginapan ini
untuk mandi dan bertukar pakaian lebih dulu? Aaaaah,
lebih baik kucari tahu lebih dulu tandu itu berasal dari
keluarga mana"
Dengan langkah lebar ia berjalan masuk kedalam rumah
penginapan "Feng An" yang terletak disebelah kanan,
kepada ssorang pelayan serunya :
"Hey pelayan cepat kemari!".
Dari dalam pengirapsn muncul seorang Pelayan jang masih
picingkan matanya karena mengantuk, ketika menyaksikan
keadaan Pek In Hoei ia kelihatan tertegun, kemedian
teriaknya :
"Heu, mau apa kau darang kesini? jangan kau anggap
tempat ini tempat yang cocok untuk mengemis, ayoh enyah
dari sini sebelum pantatmu kugebuk"
"Kurang ajar, bajingan bermata anjing". Kontan Pek In
Hoei naik pitam, telapaknya menghajar permukaan meja
hingga berbekas sebuah telapak tangan sedalam tiga coen.
"Pentang mata bangsatmu lebar2, ccba tengok siapakah
aku? apakah tampangku adalah tampang orang kere?
Bangsat sialan".
Menyaksikan kelihayan orang, pelayan itu jadi kaget dan
ketakuan.sambil menahan badan yang gemetar keras ia
berjongkok kebawah dan berteriak minta ampun.
"Pelayan anjing bermata bangsat" Teriak pemuda she Pek
itu kembali sambil meugeluarkan sekeping uang emas dan
dibanting keatas meja "Pentang mata anjingmu dan libat
benda apakah yang ada dimeja itu! sialan, ayo cepat
siapkan sebuah kamar yang terbaik untukku, kemudian
siapkan air panas untuk cuci muka, sayur dan nasi yang
paling lezat untuk makan, ahli pangkas kenamaan untuk
membersihkan rambutku dan belikan dua stel pakaian
dalam, dua stel jubab luar berwarna perak"
Ia merandek sejenak, kemudian dengan traia me'o'.o:
tambahnya:
"Disamping itu siapkan pula seekor kuda putih yang bagus,
Ehmmm berapa jumlah uangnya semua?".
Pelayan itu berdiri menjublak sambil berkemak kemik,
matanya mendelong sepert orang tidak percaya, seraya
mienelan air liur lehernya terputua putus:
"Toa.... toaya....... kurang ..... kurang lebih membutuhkan!
lima tabil perak".
Dengan jarinya Pek In Hoei menjepit uang emas yang ada
dimeja hingga tergunting kurang lebih tiga tahil, lalu
ujarnya lagi:
"Aku mau menanyakan satu persoalan kepadamu, kau
tentu melihat iring Iringan tandu yang barusan lewat
didepan sana bukan? cepat betitahu kepalaku mereka
berasal dari keluarga mana? Hmmm disini semuanya ada
tiga tahil uang emas, cukup tidak untuk semua biaya
belanja".
"Cukup ... cukup... bahkan masih ada sisanya".
"Bagus, segera lakukan perintahku dan sisanya boleh kau
terima sebagai persenan, ayoh cepat pergi, tak usah
berterima kasih lagi".
Betapa gembiranya hati sipelayan itu, dengan wajah berseri
seri ia ambil uang tadi: tadi dan segera perasiapkan kamar
serta barang keperluan dari Pek In Hoei.
Sang surya telah condong kebarat menandakan sore hari
telah menjelang tiba, waktu itu sang pelayan sedang
menghitung uang masuk diluar dugaan yang diperolehnya
hari Itu, mendadak terdengar suara langkah manusia
berkumandang datang
Dengan cepat dia angkat kepala, tampaklah seorang
pemuda ganteng berjubah warna putih keperak perakan
dengan ikat kepala berwarna perak dan menyoren sebilah
pedang berwarna merah perlahan lahan berjalan keluar dari
dalam.
Wajah orang itu ssngat tampan, wajahnya putih dengan
bibir yang indah, hidungnya mancung tingkah lakunya
sopan dan penuh semangat.
Dengan mata terbelalak sang pelayan memperhatikan
pemuda itu beberapa saat lama, lama sekali dia memandang
... tiba tiba teringat olehnya bahwa jubah berwarna putih
keperak perakan adalah dia yang barusan pergi
membelinya, segera satu ingatan berkelebat dalam
benaknya.
"Siangkong, apakah kau adalah toaya yang tadi?"
tanyanya kemudian dengan suara tergagap.
Pek In Hoei tersenyum. "Kenapa kau sudah tidak kenali
diriku lagi?" setelah merandek sejenak tambahnya:
"Bagaimana dengan urusan yang kuperintahkan kepadamu
untuk diselidiki?"
"Siangkong, keadaan sekarang betul betul jauh berbeda
dengan keadaan tadi, kau seolah olah baru saja berganti
kulit" "waaaah.... ganteng dan mempesonakan puji pelayan
itu seraya tertawa kikuk, kemudian sambil garuk garuk
kepala terusnya :
„Ooouw.... persoalan yang kau perintahkan kepadaku
telah kulaksanakan dengan baik. Iring iringan tandu tadi
berasal dari Gedung Gubernur propinsi Su Czin sedang
orang yang ada didalam tandu adalah putri kesayangan dari
Gubernur Wie, menurut berita yang teraiar dilratan katanya
n: onya Gubernur sedang menderita sakit yang parah, maka
putrinya sengaja pergi kekuil San Hoa Sie yang terletak di
luar kota untuk mohonkan keselamatanya
"Diminakah letak kuil San Hoa Sie tersebut? kalau aku
mau kesitu harus melewati jalan mana?".
"Siangkong, kalau kau hendak keluar kota naik kuda
maka jalanlah kearah kanan, setelah melewati sebuah
jembatan batu maka akan terlihat sebuah hutan pohon Song
dibalik hutan Song itulah terletak kuil San Hoa Sie ..."
Pek In Hoei mengangguk, tanpa hendak bicara lagi ia
segera keluar dari rumah penginapan itu, dimana sudah
tersedia seekor kuda putih yang tinggi dsn gagah miliknya.
Suara derak kaki kuda bergema diatas jalan batu yang
memanjang keujung kota. kegagahan serta ketampanan
wajah sianak muda ini seketika memancing perhatian
banyak orang, sekarang sinar mata mereka memancarkan
rasa kagum yang tak terhingga
Orangnya cakep kudanya jemplan dan berjalan perlahan
lahan melewati jalan raya yang lebar, dalam sekejap mata
jendela jendela lonceng sama sama dibuka, berpuluh puluh
pasang sinar mata muncul dibalik horden... Namun Pek In
Hoei sama sekali tidak ambil perhatian bahkan matapun tak
melirik sekejap, ia meneruskan perjalanannja keluar dari
kota
Tiada bayangan lain yang memenuhi hatinya saat Ini
kecuali bayangan sigadis manis di balik tandu yang telah
menghadiahkan seketip perak kepadanya tengah hari tadi,
hanya gadis cantik semacam itulah yang berkenan dihatinya
sejak dia tahu urusan dan berkelana dalam dunia persilatan
Tanpa terasa ia meraba kepingan uang petak yang ada
dalam sakunya, ia tertawa hambar den pikirnya :
"Entah bagaimana perasaannya tatkala dia menyaksikan
aku mengembalikan kepingan uang perak ini kepadanya?..."
Kemudian ingatan lain berkelebat dalam benaknya, ia
berpikir lebih lanjut :
"Padahal aku sendiripun tidak tahu apa yang harus
kuucapkan terhadap dirinya aku banya ingin berjumpa
sekali lagi dengan wajahnya yacg cantik, sebab aku belum
pernah berjumpa dengan seorang gadis bfgitu menarik,
begitu cantik dan mempesonakan hatiku ..."
Kenangan lama berkelebat didepan matanya. ia teringat
kembali akan pemandangan sewaktu ada digunung Cing
Shia dimana dewi Khiem bertangan sembilao Kim In Eng
bermain khiem dibawah cahaya rembulan, ketika ini dia
merasa gadis she Kim ada1eb gadis tercantik yang pernah
ditemuinya, tapi sekarang dia merasakan betapa jauhnya
perbedaan antara kecantikan wajah Kim In Eng dengan
putri gubernur tersebut ....
"Oooouw, . I hal ini mungkin disebabkan usia Kim
cianpwee yang telah meningkat tua. dia kekurangan daya
tarik yang segar, kekuraegan sifat polos yang lincah dan
kekanak kanakan, lagipula wajahnya selalu murung, selalu
kesal tidak dihiasi Seyuman maka wajahnya kelihatan tidak
secantik nona Wie..."
Sambil memikirkan yang bukan bukan dia meneruskan
perjalanannya kedepan di mana akhirnya ia temui sebuah
jalan kecil yang menyabang dari jalan rasa, secara lapat
lepat terdengar suara aliran air sungai berkumandang
datang dari kejauhan.
Derap kaki kuda kembali menggema memecahkan
kesunyian, mengikuti suara yang berisik otaknya kembali
membayangkan pelbagai persoalan yang memenuhi becak
nya selama ini. ia teringat kembali akan ucapkan Ke Cian
Cian tengah hati tadi dimana ia disebut sebagai Leng Hiat
Khek atau si jago pedang berdarah dingin dengao alis
berkerut pikirnya : Entah siapa yang teleh menyaru dan
menggunakan namaku, entah perbuatan apa pula yang
telah dilakukan sehingga nama ku memperoleh sebuah gelar
sejelek itu Hmmmm ... jago pedang berdarah dingin, siapa
yang tahu aku sijtgo pedang berdarah dingin karena ingin
berjumpa dengan seorang gadis cantik sengaja telah
melakukan perjalanan jauh untuk datang kemari benarkah
aku berdarah dingin ".
Maka diapun lantas teringat pula akan persoalan Cia
Ceng Gak sipedang sakti dari parta! Tiam Cong yang
pernah dikisahkan Kim In Eng kepadanya tempo dulu,
ketika itu Cia Ceng Gak pun mempunyai gelar yang
bernama Thiat Sek Lang Koen, sipemuda ganteng berhati
batu. Mundadak hatinya bergidik, pikirnya :
"Tujuanku turun gunung kali ini adalah menyelidiki apa
sebabhnya dari sembilan partai sama sama keracunan dan
masuk kedalam gua tersebut pada masa yang lampau.
Sungguh aneh sekali, mengapa mereka tinggalksn segenap
kepandaian silat yang dimilikinya namun tidak
menceritakan peristiwa yang sebenarnya telah terjadi?
Aaaaeh... sungguh membuat orang jadi bingung dan tidak
habis mengerti."
Ia tarik napas panjang panjang lalu pikirnya lebih jauh:
"Aku tak bisa menghalangi rencanaku untuk membalas
dendam hanya disebabkan urutan seorang gadis cantik
seperti itu dua hari kemudian aku harus berangkat
keperkampungsn Tay Bie San cung untuk menemui sigolok
perontok rembulan, di samping itu jenasah ayahku hingga
kin! belum berhasil ketemukan, rupanya sidewi khiem
bertangan sembilan Kim In Eng telah menguburnja aku
harus temu dirinya!".
Teeeeng...! suara genta bergema lantang ditengah udara
menembusi hutan pohon Song yang lebat. Ditengah
dentuman suara genta, perlahan2 Pei. In Hoei menyebrangi
jembatan batu dan masuk kedalam hutan Pohon Song.
Angin terhembus sepoi sepoi menggoyangkan ranting dan
dedaunan dalam suasana yang hening dan sunyi hanya
kedengaran derap kaki kuda bergerak diatas jalan
beralaskan batu gunung. Selang beberepa saat kemudian
dari kejauhan terlihatlah aebuah bangunan kuil yanog
megah berdiri mentereng dari balik pepohonan, tembok
yang merah dan tinggi menambah keagungan ditengah
hutan tersebut.
Setelah melewati hutan maka terbentanglah sebuah
kebun bunga yang sangat indah rupanya Pek In Hoei tidak
mengira kalau dibelakang hutan tong disisi kuil itu terdapat
kebun yang begitu indah. ia tertegun dan berdiri melengak.
Akhirnya dia menyaksikan seorang dayang berkepang
dua yang memakai baju warna hijau sedang mengejar
kupu2 dalam kebun tadi.
Gerak gerik dayang itu sangat lincah dan enteng, kesana
kemari dia kejar knpu2 tadi, namun tak seekor pun berhasil
didapatkan.
Setelah berputar kesana kemari, akhirnya dayang tadi
mengejar kupu kupu itu hingga kedepan kuda pemuda kita,
dia kelibatan terperanjat dan segera berdiri merandek.
Dengan wajah herubah dan sinar mata tercengang ia
awasi wajah Pek In Hoei, lama sekali tak mengucapkan
sepatah katapun jua.
Menyaksikan keadaan orang, Pek Ia Hoei tertawa
hambar.
"Nona cilik. apakah kau tinggal disini?" tegurnya.
Merah jengah selembar wajah dayang berbaju hijau itu,
dia mundur dua jangkah kebelakang lalu geleng kepala.
Sekilas pandang Pek In Hoei segera kenali dayang ini
sebagai Coei Jie yang telah mengejek dia sewaktu ada
dipintu kota tadi, sekali lagi dia tertawa hambar.
"Kalau begitu kau tinggal didalam kota?"
Dengan wajah berubah menjadi merah padam, Coei jie
mengangguk.
Pek In Hoei tersenyum, biji matanya berputar beberapa
kali, mendadak sambil tertawa tegurnya:
„Bukankah kau bernama Coei jie?".
"Darimana kau bisa tahu?" dengan rada kaget dan mata
yang terbelalak lebar dayang itu berseru.
"Haaaah... haaaah... bukan begitu saja, bahkan akupun
tahu kalau nonamu sedang bersembahyang dalam kuil ini,
benar kan?"
))oo-dw-oo((
JILID 8
DENGAN SINAR mata tercengang Coei-jie mengawasi
pemuda ganteng diatas kuda jempolan berwarna putih itu
lalu ia berseru tertahan.
“Kalau kulihat dari dandananmu, jelas kau bukan
penduduk kota ini, tapi kenapa kau bisa tahu”
Pek ln Hoei tersenyum, sebelum dayang itu
menyelesaikan kata katanya dia telah menukas sambil
loncat turuti dari kudanya.
“Cayhe memang bukan penduduk kota ini, tetapi......”
Dia merandek, diawasinya wajah Goei jie tajam tajam
kemudian baru menambahkan:
“Darimana pula kau bisa tahu kalau aku. bukan
penduduk kota ini? Coba katakan!”
Sebab belum pernah kutemui manusia macam kau
didalam kota ini”
Habis bicara ia tutupi wajahnya dengan kipas dan segera
berlalu dari situ.
“Coei-jie tunggu sebentar, ada sesuatu benda yang
hendak kuperlihatkap kepadamu...”
Mendengar seruan itu Coei-jie berhenti dan segera
berpaling.
“Pernahkah kau jumpai benda seperti ini? “ tanya
pemuda kita sambil melangkah, maju kedepan.
Coei-jie lersenyum, sambil putar badan dan
menyingkirkan kipasnya dari wajah ia bertanya :
Benda apa sih yang hendak kau perlihatkan kepadaku?
Apakah....? “
Mendadak matanya terasa jadi silau, dengan sinar mata
penuh rasa kaget dan tercengang ia awasi tangan Pek In
Hoei dengan wajah termangu mangu, lama sekali tak
sanggup meneruskan kata katanya.
“Pernahkah kau saksikan perhiasan MaNau yang begini
indah”
Rupanya benda yang beraba ditangan Pek In Hoei saat
ini adalah sebuah perhiasan Manau yang berbentuk jadi
buah to, diatas buah to tadi terdapat dua lembar daun yang
hijau, buah to itu berwarna merah saga dan kelihatan
seakan akan merupakan benda sungguhan.
Coei-jie membelalakkan matanya lebar2.
“Oooouw... belum pernah kujumpai perhiasan MaNau
yang begini indah, begitu menarik seperti ini”
“Inginkah kau mendapatkannya? “
“Maksudmu kau hendak.....” seru Coei jie tertegun.
Pek In Hoei mengangguk. Aku hendak hadiahkan benda
itu kepa damu Nah, kemarilah dan ambillah benda ini!”
„Aduuuh ... yaaah mama! Kau beoar benar hendak
hadiahkan kepadaku Tetapi dengan cepat dia menggeleng.
“Aku tidak berani menerimanya”
“Eeesi aneh benar kau ini, coba lihat betapa indah dan
menariknya perhiasan Manau ini, kenapa kau tak mau? “
“Sekalipun sangat berharga sekali benda itu namun aku
tidak berani menerimanya? Aku takut nona tahu dan
mendamprat diriku.... “
“Haaah.... haaah.... haaah... soal itu sih kau tak usah
kuatir!” seru Pek In Hoei tersenyum hambar. “Bilamana
nonamu mendamprat, akulah yang akan menanggung.”
Dengan sinar mata tercengang Coei-jie mengawasi
wajah Pek In Hoei tajam tajam, Mengapa kau hadiahkan
benda berharga yang tak ternilai harganya itu kepadaku?
Apakah kau...? “
“Haaah... haaah... haaah ... Apakah kau takut aku
berbuat sesuatu yang tidak beres terhadap dirimu? “ Dengan
wajah serius tambahnya : “Aku berbuat demikian karena
aku tahu betapa baiknya liangsimmu, bahkan aku pernah
menerima budi kebaikanmu, maka kuhadiahkan perhiasan
ini sebagai tanda terima kasih yang tak terhingga
kepadamu...”
“Apa? Kau pernah menerima budi kebaikanku? “ Seru
Coei-jie. melegak, ia tidak habis mengerti duduknya
perkara. “Aku sama sekali tidak kenal dengan dirimu, mana
pernah kulepaskan budi kebaikan kepadamu? Apa kau
tidak salah melihat orang? “
Baru saja ia menyelesaikan kata katanya terdengar dari
belakang ada orang memanggil.
Dengan cepat Pek In Hoei alihkan sinar, matanya
kearah suara panggilan tadi, tampak seorang perwira mnda
yang pernah ditemui siang tadi munculkan diri dari balik
kebun bunga.
Air muka Coei-jie seketika itu juga berubah setelah
menjumpai kemunculan perwira tersebut, cepat bisiknya:
“Hey, cepat menyingkir Gak kongcu telah datang!” Pek
In Hoei tersenyum. “Cayhe kan bukan pencuri ataupun
pencoleng, kenapa harus takuti dirinya? “
Sementara itu perwira muda tadi telah membentak lagi
dengan wajah keren.
“Coei-jie. nona sudah mencari dirimu kemana mana,
apa yang kau kerjakan disitu? “
Menyaksikan Pek In Hoei sama sekali tidak mau
menyingkir dari situ bahkan memandang kearahnya sambil
tersenyum, Coei jie merasa amat gelisah bercampur cemas
sambil mendepak kakinya keatas tanah buru buru ia putar
badan dan menyahut : “Gak kongcu...”
“Siang Piauw-moay sudah memanggil dirimu berulang
kali namun belum juga kelihatan kau muncul. Hey,
sebenarnya apa yang sedang kau lakukan disini? “
Merah padam selembar wajah Coei-jie,
“Aku sedang mengejar kupu kupu... “
Belum sampai beberapa langkah dia berlalu, mendadak
dayang itu berhenti lagi seraya berseru:
„Aaaah, mungkin pembicaraan nona dengan Ci 1m Loo
Hong-tiang telah selesai, aku harus segera pergi kesitu ...”
“Tunggu sebentar!” bentak perwira muda itu dengan
wajah keren.
Sambil menatap wajah dayang itu tajam tajam serunya:
“Siapakah orang itu? “
“Dia.. dia adalah orang yang tersesat dan bertanya
jalan...”
“Heeeh ... heeeeh ... heeeh ... dia adalab orang yang
bertanya jalan jengek sang perwira muda sambil tertawa
dingin... Dengan amat jelas aku dengar dia sedang
menanyakan nama nona kita”
Ia berpaling kearah Pek In Hoei. ditatapnya wajah
pemuda itu dengan sinar mata sinis kemudian tambahnya
ketus :
“Setama dua tabun belakangan sudah terlalu banyak
kujumpai manusia manusia hidung bangor yang mendekati
pelayan pelayan keluarga wie hanya untuk alasan
mendekati nona Wie belaka, namun belum pernah
kujumpai manusia kedua yang menyuap dayang orang
dengan barang berharga macam dirimu. Hmmm! Dari sini
dapat kunilai betapa rendah dan bejadnya moralmu cisss...
sungguh memuakkan”
“Hey kawan, janganlah kau memfitnah orang dengan
kata kata seenak udelmu sendiri!” tegur Pek In Hoei dengan
alis berkerut.
“Haaaah... haaah... haaah “perwira muda itu segera
tertawa keras “Pelajar rudin yang lemah tak bertenaga
macam kau pun menggantung pedang pura pura berlagak
enghiong. Cuuuh! Keadaanmu benar benar mirip seekor
anjing yang menghiasi ekornya dengan bunga harum.
Hmmm jual lagak murahan!”
“Heeeh... heeeeh... heeeeh kau anggap aku seorang
sastrawan lemah lantas boleh dihina dan dicemoohkan
sekehendak hatinya? Tahukah kau bahwa seorang lelaki
sejati lebih baik dibunuh daripada dihina orang... “
Menyaksikan kegagahan Pek In Hoei di kala sedang
marah rasa dengki dan iri dalam bati perwira muda itu kian
lama bertambah tebal, dengan gemas teriaknya:
“Aku perintahkan kau segera enyah dari sini, kalau tidak
akan kubabat tubuhmu jadi dua bagian
“Jangan! Jangan! Gak kongcu, kau ...” teriak Coei-Jie
dengan hati terperanjat.
“Enyah dari sini dayang sialan, apa yang sedang kau
lakukan disitu? Mau apa kau berdiri terus disana? “
Mimpipun Pek In Hoei tidak mengira kalau dia harus
bentrok dan ribut dengan perwira muda ini banya
disebabkan karena dia ingin bertemu dengan gadis manis
dibalik tandu, terhadap sikap kurang ajar dan tidak pakai
aturan dari pihak lawan ia merasa tersinggung dan
mendongkol.
“Hey orang she Gak” ujarnya dengan menahan hawa
marah yang berkobar kobar “Antara diimu dengan aku
sama sekali tidak terikat oleh dendam permusuhan ataupun
sakit haii apapun jua mengapa dalam perjumpaanmu yang
pertama kali dengan diriku, kau lantas punya pikiran uotuk
mencabut jiwaku “
“Bajingan hidung bangor, kalau kau takut modar cepat
cepatlah sipat ekor anjingmu dan enyah dari hutan pohon
song ini, sejak kini bila kau berani memandang sekejap
kearah piauw-moayku lagi, akan kucongkel matamu!”
Sekarang Pek Sn Hoei baru tahu bahwa gadis cantik
dibaiik tandu yang pernah dijumpainya siang tadi bukan
lain adalah adik misan perwira muda ini maka dia segera
tertawa menghina.
“Ooouw ...! Aku kira kenapa saudara marah marah
kepadaku, kiranya kau sedang menaruh cemburu terhadap
diriku. Hmmm Sekalipun piauw-moaymu memiliki wajah
yang tercantik dikolong langit pada dewasa ini, tidak nanti
aku sudi korbankan sepasang mataku hanya untuk
menengok sekejap kearahnya... “
Air muka perwira muda itn kontan berubah hebat,
telapak tangannya diayun kedepan kemudian membabat
kebawah langsung menghajar jalan darah Hiat-cong biat
ditubuh Pek In Hoei
Melihat datangnya ancaman anak muda she Pek segera
kebaskan ujung bajunya dua Jari tangan kirinya menegang
dan langsung membabat urat nadi lawan.
Jurus “Giok-soh-yien-yauw” atau Pohon kumala
bergoyang pinggul yang digunakan perwira muda itu belum
sempat digunakan sampai habis, sekujur tubuhnya tahu
tahu sudah terbungkus dalam kurungan musuh kejadian ini
seketika menggetarkan hatinya, dengan cepat ia mundur
setengah langkah kebelakang dan lintangkan tangannya
melindungi dada.
Pek in Hoei tertawa hambar.
Ilmu Cian-sie-chiu dari partai Go-bie bukan termasuk
suatu ilmu silat yang amat sakti, namun terhadap seorang
yang baru saja kau kenal telah menggunakan ilmu serangan
mematikan yang demikian keji, boleh dibilang hatimu betul
betul telengas”
Ia maju selangkah kemuka dan menambahkan:
“Hey bocah keparat, kau adalah anak murid angkatan
keberapa dari partai Gobie? “
Sekilas rasa kaget berkelebat diatas wajah perwira muda
itu, dengan termangu mangu ditatapnya wajah Pek In Hoei
beberapa saat lamanya, kemudian ia baru menyahut:
“Cayhe adalab anak murid angkatan kedua puluh satu
dari partai Go-bie Leng-siang-kiam atau sipedang salju Gak
Heng. Sekarang aku ingin mohon petunjuk mengenai ilmu
pedang dari saudara”
Kembali Pek In Hoei lertawa dingin.
“Heeeh ... heeeh ... heeeh ... ilmu pedang Liuw-im-kiam
boat dari partai Go-bie mengutamakan kemantapan serta
kegagahan, bagi manusia berangasan yang berhati kasar
dan buas macam kau, sekalipun berlatih sepuluh tahun lagi
pun belum tentu bisa berhasil mencapai taraf yang paling
tinggi, aku lihat lebih baik kita tak usah bertanding lagi!
Percuma” Gak Heng meraung gusar, badannya bergeser
dan maju empat langkah kedepan, pedangnya berkelebat
menembusi angkasa, diantara titik titik cahaya tajam ujung
pedangnya mengancam sekujur badan lawan.
Pek In Hoei mendengus dingin, ia berkelebat masuk
kedalam kurungan cahaya pedang lawan, lengan kanannya
berputar kesamping dan langsung membacok iga kiri
perwira tersebut.
Gak Heng buang tubuh bagian atasnya kebelakang,
ujung ujung pedangnya berputar membentuk satu lingkaran
busur kemudian dari samping sekaligus melepaskan tiga
buah babatan berantai, gerakan ringan lincah dan mantap,
sedikitpun tidak membawa keragu raguan.
Melihat kehebatan orang, Pek In Hoei lantas berpikir
didalam hatinya ;
“Sungguh tak kusangka manusia yang gampang marah
dan terlalu tebal rasa curiganya seperti dia ternyata sanggup
melatih ilmu pedang Liauw-im Kiam-heat hingga mencapai
puncak kesempurnaan aaah, pekerjaan ini bukanlah suatu
pekerjaan yang gampang. Rupanya aku sudah terlalu
pandang rendah dirinya”
Kendati otaknya berputar namun gerakan tubuhnya
sama sekali tidak berhenti, lengan kanan segera
dipentangkan lurus kedepan. lima jari dipantangkan
bagaikan cakar dan menyapu menggunakan jurus “Pek inyoe-
yoe” atau awan putih memenuhi angkasa
Dalam gerakan barusan ia menggunakan lengannya
sebagai pedang, walaupun serangan yang dilancarkan rada
terlambat namun sasarannya tidak lebih duluan dari
lawannya dengan memakai gerakan yang sama serta
ancaman yang sama ia dahului serangan lawan.
Melihat perbuatan tersebut Gak Heng si perwira muda
itu kerutkan dahinya, sekilas rasa terperanjat berkelebat
dalam benaknya cahaya pedang berkilauan, dengan
memaka1 jurus yang tak berbeda ia babat tengkuk musuh.
Dari gerakan tubuh bagian atas lawan yang miring
kesamping ditambah pula getaran ujung pedang yang
mengancam keatas dalam sekali pandang saja Pek In Hoei
lantas bisa menebak maksud hati orang jelas ia hendak
menebas kutung lengannya lebih dahulu kemudian dengan
memakai jurus “in-siauw-boe-san” atau awan hilang kabut
buyar ujung pedangnya akan menusuk ulu batinya hingga ia
mati konyol.
Mengingat kekejaman orang, hatinya jadi panas,
makinya didalam hati :
“Bajingan keparat sungguh keji maksud hatimu” Karena
mangkel maka dia pura purs berlagak pilon, ditunggunya
hingga pedang Gak Heng berputar hendak menebas
lengannya saat itu tiba tiba Pek In Hoei unjuk gigi, lengan
kanannya digetarkan dan langsung menghajar punggung
pedang musuh.
Plaaaak ... Diiringi suara yang amat nyaring, senjata
pedang ditangan Gak Heng siperwira mude itu terpapas
kutung jadi dua bagian.
Pek In Hoei tidak berhenti sampai disitu saja, ia maju
semakin kedepan pergelangannya berputar dan menyodok
kedalam secara tiba tiba lima jarinya laksana kilat menotok
dada lawan.
Ditengah getaran sang telapak yang berpusing, hawa
murni memancar keluar bagaikan bendungan yang bobol,
tidak ampun seluruh tubuh Gak Heng terangkat ketengah
udara dan terlempar beberapa tombak jauhnya dari tempat
semula.
Bruuk... Diiringi suara keras, badannya tidak ampun
lagi mencium tanah.
Kutungan pedang yang berada ditangani Gak Heng pun
mengikuti gerakan terlemparnya sang badan keudara
mencelat keangkasa dan menancap diatas sebuah dahan
pohon Song.
Sambil menahan rasa sakit dipantat akibat bantingan itu,
perwira muda tadi tiada hentinya bergumam dengan wajah
kemimik°
“Awan Putih memenuhi angkasa... Awan lenyap kabut
buyar... “
“Sedikitpun tidak salah, Im-siauw-boe-san jurus yang
barusan kau gunakan” sambung Pek In Hoei dingin.
Gak Heng meraung keras, ia muntah darah segar dan
roboh menggeletak di tanah.
Sebagai murid terakhir dari Tay Hong siangjien itu
ciangbunjien dari partai Go-bie dia amat disayang dan
dimanja oleh gurunya, iimu pedang Go-bie Kiam-hoat yang
dikuasainya merupakan jago paling lihay dalam murid
angkatan kedua.
Siapa sangka sekarang dia harus menelan pil pahit
ditangan seorang pelajar rudin dengan menggunakan jurus
yang sama dari ilmu pedang Liauw im Kiam-hoat yang
dikuasainya, tidak mengherankan kalau dia muntah darah
saking kesal dan dongkolnya.
Dalam pada itu terdengar Pek In Hoei telah berkata lagi
dengan wajah serius :
“Pantangan yang paling besar bagi orang yang belajar
ilmu pedang adalah sombong tinggi hati dan terlalu
pandang enteng musuhnya kalau kau tak dapat mendalami
inti sari dari pelajaran silat tersebut, maka sebagai
akibatnya...”
Belum selesai dia berkata mendadak terdengar suara
raungan yang rendah tapi berat dan sangat memekikan
telinga berkumandang datang, membuat sianak muda itu
diam diam kaget dan merasakan kepalanya pening.
Alisnya kontan berkerut, mendadak matanya berkilat
terlihatlah serentetan cahaya bianglala yang pendek laksana
kilat meluncur datang kearah tubuhnya.
Terasalah hawa pedang dingin bagaikan salju, begitu
dingin hingga merasuk ke tulang sumsum, hawa pedang
menekan dan menggencet dadanya,
Pek 1n Hoei menggeram rendah, badannya mencelat
keangkasa sambil meloloskan pedangnya.
Sekilas cahaya merah yang sangat menyilaukan seketika
membumbung keangkasa, bersamaan dengan munculnya
segumpal hawa pedang, ancaman cahaya bianglala jadi
seketika lenyap tak berbekas.
Criiiing...! diirirgi suara bentrokan nyaring sebilah
pedang pendek rontok keatas tanah dalam keadaan
terkutung tiga bagian, diikuti munculnya seorang hweesio
tua berjenggot putih dari balik poLon Song.
Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat diatas
wajah Pek In Hoei, kemudian dengan wajah keren dan
ditatapnya hweesio tua itu tajam tajam.
“Omitohud!” terlihatlah hweesio itu merangkap
tangannya kedepan dada untuk memberi hormat. “Loolap
adalah Ci In. Tolong apakah siauw-sicu adalah Kiam Leng
koen tampan berpandangan sakti amat tersohor dalam
dunia persilatan.”
Pek In Hoei tidak menjawab pertanyaan orang,
perlahan-lahan ia angkat kakinya yang telah meninggalkan
dua bekas dalam diatas permukaan tanah, lalu pujinya :
“Hweesio tua, sungguh hebat ilmu pedang Tatmo Kiamhoat
dari partai Sauw-lim yang kau miliki”
“Pedang Poo-kiam milik siuaw-sicu pun luar biasa
tajamnya!” balas Ci In Tootiang dengan wajah jengah.
“Perlahan-lahan sinar mata berkisar keatas pedang sakti
penghancur sang surya yang tergantung dipinggang sianak
muda itu, alisnya terkerut kencang seolah-olah sedang
memikirkan sesuatu.
Pek In Hoei tertawa hambar.
“Hey hweesio tua, ujung bajumu hampir kutung...”
CI In Hong-tiaag tersentak kaget dan segera angkat
tangan kanannya, kini ia baru temukan bahwasanya ujung
bajunya telah terbabat robek oleh ketajaman pedang lawan,
kini ujung baju itu sedang berkibar tiada hentinya tertiup
angin.
Air mukanya kontan berubah hebat, seraya menyapu
sekejap kearah Gak Heng yang meog geletak diatas tanah
serunya :
“Siauw sicu, kau datang kemari untuk mengunjungi
Buddba, tidak sepantasnya kalau didepan pintu kuil
mengumbar napsu membunuh dan melukai orang lain “.
“Apa yang kau katakan? aku bukan datang kemari
untuk mengunjungi Buddha, aku tidak mengerti apa yang
kau maksudkan, cayhe datang kesini adalah disebabkan... “
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya,
mendadak sinar matanya berhenti bergerak dan
memandang terus kearah depan tanpa berkedip barang
sedikitpun jua.
Rupanya dari balik sebuah jalan kecil disisi kebun
muncul seorang gadis yang amat cantik.
Dibelakang dara ayu itu mengikuti Coei jie yang berbaju
hijau, ia berjalan dengan kepala yang tertunduk rendah? .
Kemunculan gadis ayu yang diharap-harapkan selama
ini kontan membuat Pek In Hoei berdiri termangu-mangu,
sinar matanya menatap wajah gadis tadi dengan cahaya
terpesona.
Dalam pada itu sinar mata gadis cantik itupun sedang
berkisar kearahaya, tatkala sepasang mata mereka saling
membentur, diatas wajah sang gadis yang dingin terlintas
rasa tercengang dan kaget yang tak tehingga? “, namun
sebentar kemudian dia sudah melengos kearah lain.
Pek In Hoei merasakan hatinya terjelos, sikap yang
dingin dan ketus dari gadis cantik itu hampir saja membuat
dia buang muka, putar badan dan berlalu.
Namun dengan cepat pelbagai pikiran berkelebat dalam
benaknya ia tarik napas panjang2 lalu dengan langkah lebar
berjalan menyongsong kehadirannya.
Dengan langkah menggiurkan gadis cantik berbaju
kuning itu berjalan maju beberapa langkah kedepan, setelah
melirik sekejap Gak Heng serta Ci In Hong tiang ia segera
berjalan balik kehadapan Pek in Hoei.
“Apakah kau yang bernama nona Wie? “ sianak muda
ini segera menegur dengan wajah serius.
Dengan pandangan dingin gadis cantik itu mengangguk,
seakan akan dia sama sekali tidak tertarik oleh ketampanan
wajah Pek In Hoei serta kegagahannya.
Melihat sikap dara ayu itu diam2 Pek In Hoei menghela
napas panjang, akhirnya ia gigit bibir dan berkata :
“Tengah hari tadi cayhe telah mendapat persenan
sekeping uang perak dari nona dibawah pintu kota sana,
dan kini aku sengaja datang kemari untuk mengembalikan
uang tersebut kepada diri nona!”
Seraya berkata ia ambil keluar kepingan uang perak tadi
dari dalam sakunya kemudian diserahkan ke tangan Coeijie,
setelah itu tanpa mengucapkan sepatah katapun ia
segera putar badan dan berlalu.
Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat diatas
wajah gadis cantik itu, akhirnya ia tak dapat menahan diri
dan berseru:
“Hey! kau...”
Perlahan-lahan Pek In Hoei berpaling “Cayhe bukan
lam adalah orang desa yang memakai jubah merah kumal,
berambut kusut daa berjenggot siang tadi.
“Aaaaah...!” dara ayu berbaju kuning!tu menjerit kaget,
cepat ia tutupi bibirnya sendiri dengan talapak tangan.
Sementara itu Coeijie pun sedang memandang kearah
Pek In Hoei dengan mata terbelalak lebar, mulut melongo
besar, seakan akan ia tidak percaya dengan apa yang
didengarnya barusan.
Melihat sikap dayang itu, pemuda kita segera
tersenyum, mula mula dia ambil keluar lebih dulu perhiasan
MaNau tadi untuk diletakkan keatas tangannya kemudian
baru berkata :
“Terimalah perhiasan Ini sebagai tanda terima kasihku”.
atas belas kasihan yang pernah kau perhatikan kepadaku
tengah hari tadi, sekarang kau tidak sepantasnya untuk
menampik bukan? “.
Kembali tangannya merogoh kedalam saku ambil keluar
sebutir mutiara sebesar buah lenkerg, dan sambungnya lebih
jauh :
“Mutiara Ek Seng Coe ini adalah tanda mata dariku
untuk nona kalian, anggaplah benda ini tebegai rasa terma
kasihku yang
mendalam terhadap dirinya”
Dengan pandangan mendelong dan kebingungan Coeijie
mengawasi diri Pek In Hoei, ia benar benar tidak habis
mengerti akan maksud kedatangan sianak muda itu.
Menanti mutiara yang dingin dan nyaman tersebut telah
disusupkan kedalam genggamannya, dia baru tersentak
kaget dan berseru gugup:
“Tidak | Tidak...”
Pek In Hoei tertawa getir. “Dapatkah kau katakan
kepadaku, siapakah nama siocia kalian itu? “
Coei Jie tertegun, ditatapnya wajab gadis berbaju kuning
itu dengan pandangan bodoh, untuk beberapa saat lamanya
ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dara ayu berbaju kuning itu sendiripun melengak,
mimpipun ia tidak menyangka kalau Pek In Hoei bisa
menanyakan namanya dihadapan dirinya sendiri, ia sangsi
sejenak, lalu sambil gigit bibir sahutnya : “Aku bernama
Wie Jien Siang!”.
“Terima kasih atas pemberitahuanmu”.
Setelah mengucapkan terima kasih pemuda kita putar
badan, loncat naik keatas kudanya dan berlalu dari situ.
Dalam sekejap mata suasana dalam hutan pohon Song
itu diliputi kesunyian, keempat orang itu sama-sama dibikin
tertegun dan melengak oleh tingkah lakunya yang aneh dan
serba diluar dugaan itu, untuk beberapa saat siapapun tak
Sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Suara derap kaki kuda berkumandang menjauh, disaat
itulah mendadak sipedang salju Gak Heng berteriak keras :
“Hey bangsat, siapa namamu? kalau punya nyali ayoh
tinggalkan namamu!”.
“Cayhe Pek in Hoei!” suara sahutan yang lantang
bergema dari balik hutan nun jauh disana.
“Apa? Pek ln Hoei? “ jerit Gak Heng dengan air muka
berubah hebat. “Dia... dia adalah sijago pedang berdarah
dingin Pek In Hoei.
Sementara itu sekujur badan Wie Jien Siang sidara ayu
berbaju kuning itupun gemetar keras, tiba2 teriaknya ;
“Pek In Hoei, tunggu sebentar “
Ujung bajunya bergetar keras, bagaikan burung walet
tahu tahu gadis itu meloncat keatas udara, dalam beberapa
kali jumpalitan saja tubuhnya sudah berada beberapa
tombak jauhnya, arah yang dituju bukan lain adalah arah
dimana Pek In Hoei melenyapkan diri tadi.
Selama hidupnya belum pernah Coei-jie menyaksikan
nonanya bisa meloncat dan melayang ditengab udara,
menyaksikan perbuatan nonanya ia menjerit ketakutan :
“Nona...”
Sebaliknya air muka Ci In Loo Hong-tiang pun berubah
hebat, ia berseru tertahan kemudian berdiri menjiiblak di
tempat semula.
Air muka sipedang salju Gak Heng pun berubah hebat
sekali.
“Piaw-moay... Piauw-moay... tunggu sebentar. tunggu...
kau hendak kemana? “ jeritnya lengking.
Tanpa memperdulikan yang lain lagi, ia loncat bangun
dari atas tanah kemudian mengepos tenaga mengejar dari
belakang.
Angin gunung berhembus lewat membuat daun dan
ranting pohon Song bergoyang tiada hentinya di tengah
kesunyian hanya tertinggal Ci In Hong-tiang serta Coei jie
yang masih ada disitu.
Terdengar Ci In hweesio bergumam seorang diri dengan
nada lirih :
“Aaaaaai... sungguh susah dipercaya ... sungguh
membuat orang tidak habis mengerti, tak kusangka nona
halus yang lembut dan lemah gemulai itu ternyata memiliki
ilmu silat ini yang demikian lihay... aaaai ... rupanya aku
sihweesio tua memang benar benar sudah terlalu tua
sehingga matapun jadi kabur dan rabun.... agaknya
sekarang memang sudah saatnya bagiku untuk mengundur
diri dari keramaian dunia persilatan.”
Suaranya penuh rasa duka dan sesal... ia tidak habis
mengerti apa sebabnya seorang nona yang lemah lembut,
seorang putri gubernur yang manja secara tiba-tiba bisa jadi
kosen dan lihaynya luar biasa.
Lama sekali dia berdiri tertegun disana, untuk kemudian
dengan perasaan apa boleh buat kembali kedalam kuilnya.
(Oo-dwkz-oO)
6
TENGAH malam telah tiba, kabut yang tipis melayang
diatas permukaan tanah menyelimuti seluruh jagad.
Bintang bertaburan diangksa mengeliling rembulan yang
memancarkan cahaya redup, ditengah malam yang sunyi
tak kedengaran sedikit suarapun berkumandang
Mendadak... muncul sebuah lampu lentera berwarna
marah menyinari kegelapan yang mencekam, suara
Ketukan kayu menggema memecahkan kesunyian.
Kentongan kedua tebal, kabut kian lama kian bertambah
tebal, seluruh jagat hampir terbungkus rata. Malam semakin
sunyi.
Dari balik kabut yang tebal, kembali muncul sebuah
lampu lentera berwarna merah menerangi kegelapan.
Pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda yang
rendah dan perlahan menggema dan balik kabut, perlahanlahan
bergerak menuju kearah lampu lentera merah itu.
Kabut yang tebal seakan akan membekukan seluruh
angkasa, oleh sebab itu suara derap kaki kuda tadi tidak
sampai bergema hingga ketempat jauhan.
Tokkkk... tooook... toook... di tengah derap kaki kuda
yang gencar, mendadak terdengar bentakan nyaring
menggema keangkasa:
“Siapa? “
“Aku sipedang naga terbang...? “ jawab orang yang ada
diatas kuda, belum habis ia berkata tiba tiba terdengar
jeritan ngeri berkumandang keangkasa diikuti desiran angin
tajam menyambar dari segala penjuru, dalam sekejap mata
hujan anak panah bermunculan dari mana2.
Ringkikan kuda teriakan gusar sipenunggang kuda
berkecambuk jadi satu, terdengar orang yang ada diatas
kuda itu menghardik penuh kegusaran :
“Siapa yang suruh kalian melepaskan anak panah? aku
adalah It Boen Liong”.
“Haaaah... fcaaaah... haaaah...” suara gelak tertawa
yang nyaring dan keras menggema dari arah sebelah kanan,
bersamaan itu pula dari balik kabut berkelebat keluar
serentetan cahaya tajam berwarna merah.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
tiada hentinya, hujan panah seketika terhenti.
It Boen Liong segera loloskan pedangnya dan loncat
kearah berasalnya cahaya tajam berwarna merah itu.
Namun dikala badannya mencapai permukaan bumi,
cahaya tadi segera lenyap tak berbekas, yang tertinggal
hanyalah baunya darah yang amis dan memuakkan.
Dengan cepat ia periksa keadaan sekitar sana, tampak
empat sosok mayat menggeletak diatas tanah, pada bagian
leher setiar korban yang mengeletak mati itu tebekas sebuah
babatan pedang yang mematikan kecuali tiada terlihat bekas
luka lainnya lagi.
“Hmmm! sungguh indah dan liay cara pembunuhan
yang dilakukan orang itu” pikirnya didalam hati.
Mendadak... pedangnya berputar putar. sambil berputar
seratus delapan puluh derajat bentaknya : “Siapa disana? “.
Suasana dibalik kabut tetap sunyi senyap kedengaran
sedikit suarapun, lama sekali ia baru tarik napas panjang
dan berpikir lebih jauh :
“Mungkinkah aku sudah salah dengar. Pada saat
pikirannya sedang berputar itu. kurang lebih dari enam
depa dihadapannya berkumandang datang suara beotakan
indah yang nyaring dan lantang :
“Kau sama sekali tidak salah mendengar akulah yang
berada disini.
“Siapa kau? “ bentak It Boen Liong pedang naga terbang
sambil geserkan badannya kesamping, dengan cepat
pedangnya dilintangkan didepan dada siap menghadapi
segala kemungkinan”
Sekilas cahaya mutiara yang redup muncul didepan
matanya, bersamaan dengan itu muncul pula seorang
pemuda ganteng baju putih keperak perakan, sikap gagah
dan keren sekali.
Ketika itu sambil mencekal sebutii mutiara sebesar buah
lengkeng pemuda berbaju putih keperak perakan tadi
menatap wajah It Boe Liong dengan pandangan dingin,
mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Diam diam It Boen Liong merasa terperanjat,
meminjam cahaya mutiara tersebut ia awasi tubuh orang
dari atas sampai kebawah kemudian baru tegurnya dengan
nada berat:
“Sebenarnya siapakah kau? “
Pemuda ganteng tadi tersenyum.
“Apa maksudmu datang keperkampungan Tay Bie Sancung?
ada urusan apa kau berkunjung kemari? “.
“Hmmm... Ehth musuhku tinggal dalam
perkampungan ini, apa salahnya kalau kau berkunjung
kemari? “
Tiba tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
segera bentaknya lagi :
“Apakah kau adalah si jago pedang berdarah dingin Pek
in Hoei”
“Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Pek In Hoei,
namun bukan sijago pedang berdarah dingin yang kau
maksudkan barusan”
It Boen Liong nampak tertegun, namun dengan cepat
hawa gusarnya telah berkobar,
“Apa dosa Kiong Hiante ku dengan dirimu? mengapa
kau tebas lengannya hingga kutung”.
“Hmmm terhadap manusia yang suka bikin onar dan
malang melintang dengan andalkan nama serta pengaruh
ayahnya, sudah untung kalau aku cuma tebas kutung
sebuah lengannya, toh selembar Jiwa anjingnya masib
utuh”
“Baiklah, kalau toh kau anggap ilmu pedang yang kau
miliki sangat lihay, sekarang aku ingin sekali mohon
petunjuk ilmu pedang, hati2”.
Pek In Hoei tidak langsung melayani tantangannya,
diam diam pikirnya didalam hati:
“Tadi, sebelum masuk kedalam perkampungan, kalau
bukan telah bertemu dengan Ouw yang Gong siuler asep
Sua itu dan dia bisa membuktikan bahwasanya hanya
sigolok perontok rembulan Ke Hong serta sijari bintang
kejora Kiong Thian Bong saja yang terlibat dalam
keroyokan terhadap ayahku sewaktu ada digunung Ceng
Shia tempo dulu, sejak tadi aku sudah lakukan
pembunuhan secara besar besaran, Aaaaaah sembari
menunggu kehadiran Ouw yang Gong. kenapa aku tidak
layani tantangannya untuk bermain main beberapa jurus
dengan dirinya... “
Maka secara tiba tiba ia berkata .
“Setiap kali pedang poo-kiam ku lolos dari sarung, dia
harus bertemu dulu dengan noda darah sebelum
dikembalikan kedalam sarungnya kalau memang kau tidak
suka mendengarkan nasehatku, baiklah, terpaksa aku harus
memenuhi harapanmu.”
It Boen Liong gusarnya buian kepalang, tanpa banyak
bicara lagi badannya bergerak maju kedepan, tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun pedangnya menebas tubuh
lawan.
Cahaya mutiara tiba tiba lenyap, tanpa mgeluarkan
suara badan Pek In Hoei pun ikut lenyap dibalik kabut.
It Boen Liong segera menggetarkan ujung pedangnya,
belum sampai badannya mencapai permukaan tanah
pedangnya telah ditusuk kembali kearah Barat.
Angin pedang menderu deru, kabut yang tebal segera
terbelah kesamping dan senjata tadi laksana kilat meluncur
kedalam.
Pek In Hoei putar lengannya, dengan suatu gerakan
yang aneh dia balas mengirim satu serangan balasan.
Mendengar datangnya ancaman It Boen Liong
membolang baiingkan pedangnya, serentetan bayangan
pedang seketika memenuhi angkasa dan mengurung tubuh
pemuda she Pek itu kedalam kepungan.
Walaupun Pek In Hoei selama ini tak dapat melihat
bagaimana pihak lawannya melepaskan serangan, namun
dari beberapa serangan yang mengancam tubuhnya dengan
begitu hebat, ia dapat menarik kesimpulan dimanakah letak
kelihayan serta kebagusan serangan musuh.
Tiba tiba ia melepaskan satu tendangan kilat sambil
membentak:
“Bagus! jurus serangan ilmu pedangmu memang tidak
jelek”
Belum sempat It Boen Liong menjawab, tahu tahu
tendangan musuh yang datang secara tiba tiba itu sudah
mengancam badannya dan berada tepat didepan jalan darah
Hiat Cong Hiat.
Buru buru lambungnya ditarik kebelakang gagang
ditekan kebawah dan membentur tumit lawan.
Pek In Hoei tertawa ringan, berada ditengah ancaman
ujung pedang lawan tahu-tahu ia berhasil ngeloyor pergi.
“Coba kau rasakan pula ilmu pedang angin puyuh
tengah gurunku ini!” Bentak It Boen Liong.
Secara beruntun dia melancarkan delapan buah
serangan berantai namun setiap kali berhasil dihindari
pihak musuh yang melayani dengan tangan kosong belaka,
keadaan seperti ini membuat dia jadi serba salah, maka
permainan pedangpun lantas dirubah, dengan hebat dan
gencarnya dia teter musuhnya habis habisan.
Angin pedanng menderu deru membuat kabut tebal
yang menyelimuti daerah sekitar beberapa tombak ditempai
itu tersapu bersih, begitu dahsyat serangan tersebut seakanakan
angin puyuh yang menyapu guruu pasir...
Hawa pedang menusuk ketulang sumsum, secara
beruntun Pek In Hoei meloloskan diri dari lima buah
tusukan pedang lawan, sementara badannya sudah mundur
dua tombak lebih dari tempat semula.
Diam diam ia terperanjat jaga menyaksikan kehebatan
lawan, pikirnya dalam hati :
“Sungguh tak kusangka ilmu pedang yang dimiliki It
Boen Liong demikian hebat dan luasnya, bukan saja ganas
bahkan telengas, tidak malu ia disebut sebagai manusia
yang berbakat bagus...
Sembari berpikir mendadak badannya meloncat empat
tombak kedepan, pedangnya menjungkat keatas, serentetan
cahaya pedang seketika menyebar keempat penjuru.
It Boen Liong tarik napas dalam dalam, ia berdiri
dengan sepasang kaki dibentangkan lebar, badan bagian
atas membungkuk kebelakang, senjata pedang menebus
ketengah udara mengirim tiga babatan maut.
Baru saja ketiga jalur hawa pedang itu menumpuk jadi
satu. It Boen Liong rasakan serentetan hawa serangan yang
tajam seakan akan hendak menembusi tubuhnya, menubruk
tiada hentinya diatas hawa pedang tersebut.
Dengan suara berat dia membentak keras, pedangnya
menjungkil keatas, sambil membuka satu lowongan
ditubuhnya ia terjang kedepan.
Dua bilah pedang bergesek menimbulkan suara
bentrokan yang tajam, nyaring dan memekikkan telinga,
seketika itu juga seluruh pedang yang ada ditangan It Boen
Liong melengkung bagaikan busur.
Dengan penuh kesakitan dia merintih. pergelangannya
gemetar keras dan sekati lagi ia menjungkit setengah coen
keatas.
Traaang pedangnya sebatas gagang pedang tahu tahu
patah jadi dua bagian.
Dengan lenyapnya tenaga tekanan tersebat maka tak
bisa ditahan lagi badannya terjengkang kebelakang, hampir
hampir saja ia roboh keatas tanah.
Pek In Hoei segera menggerakkan pedangnya membabat
lewat dari depan dadanya, mengikuti gerakan pedang
tersebut badannya meloncat dua tombak kesamping.
Bersama dengan berkelebatnya pedang, It Boen Liorg
rasakan dadanya panas dan sakit, bajunya segera robek dan
tampaklah kulit tubuhnya yang kekar.
Sebuah jalur luka pedang yang memanjang terbentang
didepan mata, darah segar mengucur keluar tiada hentinya
membasahi seluruh pakaian
“ilmu pedang apakah yang barusan kau gunakan? “
tegurnya sambil menggigit bibir menahan gusar.
“Jie Loen Jut Sian atau Sang Surya baru muncul jurus
kedua dan ilmu pedang penghancur sang surya “ jawab Pek
In Hoei serius sambil perlahan lahan memasukkan
pedangnya kedalam sarung.
“Ilmu pedang penghancur sang surys? “ gumam It Boen
Liong tercengang. “Terima kasih atas kebaikanmu yang
tidak membinasakan dinku.”
“Antara kau dengan diriku sama sekali tidak terikat oleh
dendam maupun sakit hati, kenapa aku harus
membinasakan dirimu? “
Ia merandek sejenak untuk tukar napas lalu sambungnya
:
“Kau adalah satu satunya jago pedang yang memiliki
ilmu pedang paling lihay di antara jago-jago yang pernah
kujumpai”
Ucapan ini segera disambut It Boen Liong dengan
senyuman getir yang memilukan.
“Bagi prajurit yang telah kalah perang seperti aku, ada
ucapan apa lagi yang bisa di utarakan keluar? “.
Sepasang alisnya berkerut, setelah tarik napas dalam
dalam terusnya :
“Satu bulan kemudian aku menantikan kedatanganmu,
disini aku ingin sekali lagi mohon petunjuk ilmu pedang
penghancur sang surya milikmu.”
“Ehmmm, sampai 9aatnya aku bisa menantikan
kehadiramu disini”. It Boen Liong se gera merangkap
tangannya menjura, kemudian putar badan dan berjalan
kebalik kabut yang sangat tebal.
Pek In Hoei tarik napas panjang panjang, perlahanlahan
dia angkat kepalanya, tampak kabut telah mulai
membuyar, tiga lentera merah yang terpancang ditengah
angkasa dapat terlibat dengan jelasnya.
Dalam hati lantas dia berpikir kembali :
“Sebenarnya ada kejadian apakah yang menimpa
perkampungan Tay Bie San Cung pada hari ini! kenapa
mereka sebar jebakan jebakan ditempat luar? lagi pula
segenap kekuatan perkampungan yang mereka miliki
dikumpulkan dalam ruang tengah semua Tidak mungkin
kalau mereka berbuat demikian karena mengetahui akan
kehadiranku”
Dengan termangu-mangu dia berdiri ditengah kabut
yang makin menipis, otaknya memikirkan kejadian
kejadian yang telah lampau, ia teringat kembali bagaimana
jenasah ayahnya tertinggal disamping tubuh si dewi khiem
bertangan sembilan Kim In Eng kemudian dirinya masuk
kedalam gua
Kembali pikirnya :
“Saat ini euiah sidewi bertangan sembilan Kim In Eng
cianpwee berada dimana? “
Air kabut membasahi wajahnya yang tampan, sambil
menyeka kelembaban yang membasahi pipinya dia berpikir
lebih jauh:
“Selama dua tahun terakhir aku selalu berada didalam
gua, kenapa sekarang ada orang munculkan diri dengan
menyaru namaku sehingga akhirnya memperoleh gelar
sebagai sijago pedang berdarah dingin, aku tidak percaya
kalau dikolong langit masih terdapat orang lain yang
bernama Pek ln Hoei pula”
Malam semakin kelam, suasana semakin sunyi teringat
akan Sucouwnya yang mati diracuni orang ia terbayang
kembali akan kematian ayahnya yang dikerubuti orang
banyak, dari situ pelbagai persoalan pun segera
menyelimuti benaknya ...
“Aaaai... Dunia persilatan benar benar terselubung oleh
pelbagai masalah yang aneh, misterius dan mencengangkan
hati, sekali aku terjun kedalam kangouw saat itu juga aku
akan terjerumus dalam kancah masalah yang memusingkan
kepala... “
Dengan hati hampa dia mengbela napas panjang.
Sekonyong-konyong ... sesosok bayangan manusia
meluncur datang, dari balik kabut terdengar suara Ouw
yang Gong yang serak serak basah berkumandang datang.
“Nenekrya cucu monyet, keparat cilik goblok, belum
sampai beberapa hari kau terjunkan diri kedalam dunia
persilatan, kenapa terhadap masalab dunia kangouw sudah
bosan? Aku siorang tua yang sudah reot dan pikunpun
masih lari kesana lari kemari bekerja buat dirimu apa kau
tidak malu dengan dirimu sendiri? “
Bersamaan dengan selesainya ucapan tadi Ouw-yang
Gong si manusia kukoay yang berambut awut awutan,
memakai kulit kambing dan lagak lagunya edan telah
berdiri tegak dihadapannya.
“Ulcr asep tua, bagaimana hasilnya? “ Pek In Hoei
segera maju menyongsong kedatangannya.
“Huuu... hampir saja aku siuler asep tua tak berbasil lari
keluar... “ omelnya sambil tarik napas panjang, ia sulut
tembakau dalam huncweenya dengan api, setelah
menyedotnya beberapa kali sambungnya lebih jauh :
“Dua setan tua dari Seng-sut-hay entah sejak kapan
telah berkumpul semua dalam perkampungan itu, mereka
menyelundup masuk kedalam perkampungan dan berlatih
semacam ilmu iblis yang maha sakti dibelakang telaga Liokjiet-
ouw. “Waduh... penjagaan yang diatur disekitar ruang
Liok jiet-teog pada malam ini benar benar sangat ketat,
hampir saja aku tak sanggup meloloskan diri”
“Hei, sebenarnya sudah ketemu belum? “
Dengan cepat Ouw-yang Gong mengangguk.
“Aku masih hutang dua buah syarat darimu, sekalipun
harus pertaruhkan selembar jiwa tuaku persoalan yang kau
perintahkan pasti akan kulakukan sampai selesai!”
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah buntalan
kain dan segera diserahkan ketangan Pek In Hoei. ujarnya
lebih jauh:
“Didalam buntalan ini terdapat surat dari delapan partai
besar yang bekerja sama menulis surat buat sigolok
perontok rembulan serta sijari bintang kejura, bagaimana
kejadian sebenarnya mengenai pengeroyokan terhadap
ayahmu bisa kau baca dengan jelas dalam surat surat itu”
Pek In Hoei terima buntalan tadi dan segera
disimpannya baik baik dalam sakunya.
Terdengar Ouw-yang Gong mengomel lebih jauh.
“Sejak dua tahun berselang aku kehilangan jejakmu, aku
telah berkelana kesana kemari mencari dirimu. Kemudian
aku pikir kau tentu telah berangkat keperkampungan Taybie-
san-cung, maka aku lantas menyusup kedalam
perkampungan ini. Eeeei... siapa tahu baru ini hari kau
sampai disini, dan tidak kusangka pula ini hari dalam
perkampungan telah terjadi peristiwa besar lain... “
Ia tepuk benak sendiri seraya menambahkan :
“Oooouw...! Aku telah melupakan satu urusan. Keparat
cilik, mari kita pergi dari sini”
“Ada apa? Begitu seriuskah persoalanmu itu? “
“Kemungkinan besar malam ini kedua setan tua itu
telah menyelesaikan latihannya, dan kemungkinan besar
pula pada malam ini ada musuh tangguh yang akan datang
mencari satroni dengan mereka, maka lebih baik kita jangan
ikut campur diair keruh malam ini... “
“Ada musuh luar yang datang mencari satroni dengan
mereka tanya Pek In Hoei semakin tercengang.
“Pernahkah kau mendengar kisah tiga buah pulau dewa
diluar lautan? Menurut kata orang diatas pulau pulau dewa
itu hiduplah tiga orang manusia yang berumur seratus
tahun lebih. Nah malam ini salah satu diantara anak
muridnya akan mendatangi perkampungan Tay-bie-san
cung ini untuk mencari balas.
“Apa sih yang sedang kau maksudkan? Siapa yang kau
katakan nanusia beurumur seratus tahun itu? Dan siapa
pula muridnya? Aku sama sekali tidak mengerti apa yaeg
sedang kau katakan? “ seru Pek ID Hoei dengan alis
berkerut.
Melihat sikap sianak muda itu, Ouw-yang Gong
menghela napas panjang.
00oodwoo00
Jilid 9
"SELAMA ratusan tahun belakang ini dalam dunia
persilatan telah tersiar berita yang mengatakan bahwa diluar
lautan terdapat tiga buah pulau dewa di atas setiap pulau
dewa itu terdapatlah keraton marmer yang sangat indah,
dan dalam keraton tadi hidup tiga orang kakek tua, mereka
telah berhasil melatih ilmunya hingga mencapai taraf seperti
dewa, api dan air tidak bisa menghancurkan tubuh mereka."
"Aku tidak percaya"
Belum habis sianak muda itu menyelesaikan kata
katanya, mendadak dati tempat kejauhan terdengarlah
suara keleningan yang merdu serta irama musik yang
merdu merayu berkumandang datang.
Dengan wajah melengak Pek in Hoei segera berpaling,
tampaklah dari balik kabut yang menyelubungi sekitar
tempat itu entah sejak kapan telah muncul dua baris lentera
merah yang perlahan lahan sedang bergerak mendakat.
Dalam sekilas pandang, ia dapat menghitung jumlah
lentera merah yang terbagi jadi dua barisan itu berjumlah
dua puluh empat buah
Mendadak air muka Ouw Yang Gong berubah hebat.
„Waduh .... celaka, mungkin permaianan yang barusan
kumaksudkan telah datang
Kabut putih laksana sutera, lampu lampu lentera itu
bermunculan dari balik kabut
tadi ditengah malam buta warna warni lampu lentera
tadi menambah kesetaraan dan kemisteriusan
Angin malam berhemnbus lewat membayarkan kabut
yang menyelibungi seluruh jagad, di tengah kesunyian
nampaklah kedua puluh empat buah lentera merah itu
dengan terbagi jadi dua barisan perlahan lahan bergerak
menuju kearah perkampungan Tay-bie san-cung.
Memandang lampu2 lentera merah yang bergerak secara
misterius itu, dengan rasa tercengang Pek in Hoei berbisik:
„Sungguh aneh sekali kemunculan kedua puluh empat
buah lentera merah ini, sedikitpun tak ada suara yang
kedengaran „Dilihat dari keanehan serta kemisteriusan
lampu lampu lentera merah ini, semakin jelas menunjukan
kalau mereka datang dari tiga pulau diluar lautan"
Belum habis ia berseru, mendadak manusia aneh ini
menjerit keras
„Aduh celaka dibalik irama musik itu ada setannya"
Dengan wajah tertegun Pek in Hoei berpaling.
Ditatapnya wajah Ouw-yang Gong dengan sinar mata
penuh tanda tanya.
„Coba kaudengar!" Ouw yang Gong berseru kembali.
„Irama musik itu seakan akan membetot isi peruiku, aduh
hatiku seperti diiris iris dengan pisau tajam......"
Mendadak ia tekan lambungnya dengan sepasang
tangan, sementara badannya berdiri termangu mangu
disitu. Sebentar saja seluruh wajah dan tubuh OuW-yang
Cong telah basah kuyup bermandikan keringat, badannya
berkerut tiada hentinya seolah2 sedang menahan rasa sakit
dan penderitaan.
„Eeeei ular asep tua, kenapa kau?"
segera tegurnya dengan nada kaget.
Ouw-yang Gong pejamkan matanya geleng kepala
berulang kali, mendadak ia jatuhkan diri duduk bersila
keatas tanah kemudian bersemedi dan mengerahkan
segenap tenaga lweekang yang dimilikinya untuk melawan
suara lembut yang menyerang hebat itu.
Pek in Hoei benar benar dibikin tercengang dan tidak
habis mengerti atas sikap ouw-yang Gong yang seakan akan
tersiksa hebat itu, pikirnya dalam hati:
„Kenapa irama musik itu lama sekali tidak
mempengaruhi diriku? Sedangkan si uler asep tua kelihatan
begitu tersiksa dan menderita? .... Aneh aneh sekali"
Otaknya telah diperas sedemikian rupa namun belum
berhasil juga meremukan sebab sebabnya, maka akhirnya ia
pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengar.
Namun disaat yang amat singkat itulah irama musik
yang lembut merdu tadi sudah tidak kedengaran lagi
suasana disekeliling tempat itu telah pulih kembali dalam
kesunyian.
Hatinya jadi bergidik, segera pikirnya lebih jauh:
„Suara irama musik jfu muncul tanpa suara pergi tanpa
gerakan, bahkan bisa melukai isi perut orang tanpa terasa...
oooh sungguh mengerikan sekali..."
Ketika ia berpaling lagi, terlihatlah kedua puluh empat
lampu lentera merah tadi sudah berada kurang lebih empst
tombak dihadapannya, lampu lampu itu bergoyang tiada
hentinya dari balik kabut yang menyelubunginya.
Sekarang, Pek In Hoei dapat melihat jelas bahwasanya
dari balik kabut muncul dua baris gadis gadis muda berbaju
putih berdandan dayang keraton yang membawa sebuah
ranting bambu berwarna keperak perakan ditangan kiri dan
sebuah lampu lentera merah ditangan kanannya.
Gerak genk gadis gadis cantik itu ringan dan enteng
seakan akan tidak menempel tanah, dipandang dari
kejauhan mereka mirip para bidadari yang baru turun dari
kahyangan.
Pek In Hoei merasa amat tercengang dengan
kemunculan dua baris gadis gadis cantik yang sargat
misterius ini, tanpa sadar rasa bergidik muncul dari dasar
hatinya, bulu kuduknya sama sama pada bangun berdiri.
Ia tarik napas panjang panjang, dengan mulut
membungkam ditatapnya kedua puluh empat lentera merah
itu muncul dari balik kabut, untuk beberapa saat lamanya
dia lupa untuk meninggalkan tempat itu.
Mendadak...... sisi telinganya berkumandang suara
teguran yang lembut dan merdu:
„Hei! Apakah Kau anggota perkampungan Tay-bie-sancung?.....
"
Ucapan itu amat lembut, halus dan enak didengar,
seakan akan bisikan mesrah sang kekasih membuat hati
tergoncang keras dan badan terasa nyaman
Pek In Hoei berseru tertahan, ia tidak temukan suara tadi
berasal dari mana, jika memandang sekelilingnya maka
kecuali terlihat kabut yang mulai buyar, Ouw-yang gong
yang masih duduk bersila ditanah serta dua baris gadis gadis
keraton itu
tidak tampak bayangan manusia lainnya ada disitu.
Ingatannya segera ditujukan kearah dua baris gadis yang
membawa lampu lentera itu.
Sedikitpun tidak salah, terdengar suara kembali
berkumandang disisi telinganya:
„Hei! Sudah kau dengar pertanyaanku tadi....?"
"Kau sedang berbicara dengan diriku" bentak Pek In
Hoei. „Sudah tentu dengan dirimu" berjalan didepan tadi
berhenti, di bawah sorotan dua puluh empat buah lentera
tampak dua orang lelaki kekar berjubah merah dan
berperawakan tinggi kekar sambil menggotong sebuah
tandu munculkan diri dari barisan.
Warna tandu itu putih keperak perakan diatas atap tandu
terdapat sebutir mutiara yang memancarkan cahaya kehijau
hijauan.
Dikala Pek ln Hoei masih berdiri termangu-mangu,
kedua orang lelaki kekar itu sambil menggotong tandunya
telah berada kurang lebih tiga depa dihadapannya.
Kain horden tersingkap dan dari balik tandu muncul
selembar wajah yang cantik jelita.
„Hanya kau seorang diri berdiri disitu kalau aku tidak
ajak kau bicara lalu dianggapnya aku lagi bicara dengan
siapa?" terdengar dara ayu itu menegur.
Begitu wajah gadis itu munculkan diri Pek In Hoei
segera pusatkan seluruh perhatiannya keatas wajah dara
tadi.
Ssbib ia merasa kecantikan wajah gadis itu benar benar
sukar dilukiskan dengan kata kita dibawah sorotan cahaya
mutiara wajahnya tampak begitu agung, begitu ayu dan
menawan seakan akan bidadari.
Sinar mata gadis itu tajam sekali, dalam suatu adu
pandangan Pek in Hoei merasa hatinya bsrdebar keras,
timbul perasaan rendah diri dalam hatinya hingga tanpa
sadar ia telah tundukkan kepalanya rendah rendah.
„Kau tidak berani adu pandang dengan diriku?" tegur
sang gadis sambil tersenyum tatkala menyaksikan sikap
sianak muda itu.
"Apa kau bilang?" darah panas segera bergolak dalam
dada Pek Ia Hoei, alisnya? berkeiut dan sinar matanya
kembali menatap wajah gadis itu tajam tajam.
Gadis itu tidak mengira kalau sianak muda itu bisa
memandang dirinya dengan cara begitu, ia merasakan
betapa tajam dan hebatnya sinar mata orang membuat hati
sendiri timbul suatu perabaan aneh yang sukar dilukiskan
dengan kata kata.
ia tertegun, sekilas rasa jengah berkelebat diatas
wajahnya, namun dengan cepat, air mukanya berubah jadi
dingin kembali, sepasang alis berkerut kencang dan
hardiknya nyaring:
„Hm! Kenapa kau melototi diriku?" "Hm Kau
mengatakan aku tak berani memandang dirimu, maka aku
pandang dirimu sekarang..... Eeeei......... sekarang kembali
kau melarang aku memandang dirimu. Hmmm, kurang
ajar! Sebenarnya bagaimana maksudmu? Suruh lihat
wajahmu arau tidak?"
"Sekali aku bilang tak boleh memandang ayoh cepat
berpaling kearah Iain"
Pek in Hoei melegak, ia tidak menyangka kalau sikap
gadis ini benar benar tak tahu aturan, dengan dingin ia
melirik sekejap kearah gadis itu lalu melengos kearah lain.
Sikap pemuda kita yang acuh tak acuh kontan
menggusarkan hati gadis itu, air mukanya berubah hebat,
tangannya yang berada dibalik jendela mendadak disentil
kedepan, serentetan angin totokan segera menyambar
kedepan.
Merasakan dirinya diserang laksana kilat Pek in Hoei
putar badannya meloloskan diri dari aacaman tersebut,
terasa jalan darah Ming-bun -hiat diafas pinggangnya
terhajar telak, namun untung bawa sinkangnya segera
melinduogi badan hingga isi perutnvg tidak sampai terluka,
Dengan cepat ia berpaling tampaklah gadis itu sedang
memandang kearahnya dengan mata terbelalak, sinar
matanya mengandung rasa heran dan tercengang yang tak
terhingga.
„Hei, apa yang telah kau lakukan?7" bentak pemuda kita
dengan nada gusar.
Gadis itu mengkerutkan alisnya. bibirnys yang kecil
terbuka sedikit, dengan termangu mangu ia menatap wajah
Pek In Hoei tak berkedip, untuk beberapa saat lamanya tak
sepatah katapun sanggup diutarakan keluar. „Hai, keparat
cilik kenapa kau meraung macam anjing kesakitan"
mendengar suara teriakan Ouw-yang Gong
berkumandang dari arah belakang
Dengan cepat Pek in Hoei berpaling ia lihat 0uwyarg
Gong mengerdipkan matanya berulang kali kepadanya. lalu
maju beberapa jangkah kedepan dsn menjura kearah gadis
itu.
"Nona, tolong tanya apakah kau datang dari tiga pulau
dewa didasar lautan?".
„Eeei... sungguh aneh, darimana kau bisa tahu kalau aku
berasal dari luar lautan?"
„Haah... haaah... haah meski pun sudah hampir enam
puluh tahun lamanya tiga dewa dari luar lautan tidak
tancapkan kakinya kembali didaratan Tionggoan, namun
ilmu sakti seruling baja sembilan lubang dari Thiat Tie
Thaysu masih tefap berkumandang dalam dunia persilatan
irama musik yang barusan noaa perdengarkan bukankah
merupakan irama penakluk iblis pembuyar sukma dari dia
orang tua?".
Mendengar manusia aneh itu menyanjung nyanjung
nama gurunya, wajah gadis itu segera benseri seri.
"Sungguh tak kusangka didaratan Tionggoan masih ada
orang yang mengenal ilmu kami milik suhuku sungguh luar
biasa•
Biji matanya berputar, kemudian tanyanya :
„Entah siapakah nama cienpwee?".
"Haaah... haaah... haaah... aku- bernama Owyang Gong,
orang tahu diriku sebayai si huncwee gede. Ooh yaah, dan
siapa nama nona..."
Gadis manis iiu melirik sekejap kearah huncwee gede
yang berada diitengah Ouw-yang Gong, kemudian
tersenyum dan menjawab:
"Boanpwee bcrnama It Boen Put Giok
Mendenger gedis ini she It Boen pula seperti halnyas It
Boen Liong yang baru saja berlalu, tanpa terasa Pek In Hoei
melirik sekejap kearahnya dalam dalam.
It Boen Put Giok pun melirik sekejap kearah Pek in
Hoei. kemudian bertanya „Cianpwe?, apskah dia adalah
muridmu?". „Oooh bukan bukan, aku tidak mempunyai
hokkie sebesar itu untuk menerima dirinya sebagai
muridku, dia bukan lain adalah sahabat kecilku.."
"Hmm, tidak aneh kalau lagaknya begitu congkak" sekali
lagi gadis itu melirik sekejap kearah Pek In Hoei" Meskipun
ilmu?silat yang dimilikinya sangat libay, namun itu saja tak
ada artinya sebab ia tak bakal bisa menerjeng keluar dari
barisan lampu morahku, karena kesombonganya dia tak
nanti bisa mendalami inti sari ilmu silat yang paling atas"
Pek In Hoei mendengus dingin, sebelum dia sempat
mengucapkan sesuatu Ouwyang Gong telah mengerdipkan
matanya berulang kali.
Sekalipun begitu. dengusannya tsdi telah cukup merubah
air muka It-boen Pit Giok jadi dingin dan kaku dengan
suara yang ketus ia berseru kembali :
„Hmmm ! kalau kau tidak percaya, ayoh ikutilah diriku
masuk kedalam perkampungan Tay Bie San cung, nanti kau
akan saksikan sendiri betapa liheynya Ang Teng Toa tin ku
itu......."
"Nona jangan kau rewelsi dirinya lagi, dia adalah
seorang bocah tolol...... " karena situasi semakin tidak
menguntungkan maka haru buru Ouw yang Gong
menimbrung
Dengan termangu mangu Pek in Hoei berdiri
membungkam disitu, suatu perasaan aneh berkelebat dalam
benaknya, dia merasa heran apa sebabnya Ouwyang Gang
yang pada hari hari biasa merupakan manusia yang berani
bicara berani berbuat, Tidak takut langit dan tidak takut
bumi namun terhadap It boen Pit Giok yang misterius dan
aneh ternyata sikapnya begini menghormat, ia tidak habis
mengerti apa sebabnya manusia kukoay itu bersikap
demikian.
Semeantara itu Ouwyang Gong sendiri sama sekali tidak
menduga kalau Pek In Host telah memandang rendah
dirinya, terdengar dia berkata lebih lanjut :
"Nona, kecuali Thiat Tie thaysu cianpwee, apakah Poh
Giok Ca Ko Ek loocianpwee serta Tay Chi Loo Seng Sian
masih....."
„Terima kasih atas perhatianmu, supek semuanya berada
dalam keadaan eehas walafiat.".
"Nenek kunyuk, anak monyet! panjang benar usia kura
kura setan tua itu" maki Ownyang Gong dalam hatinya.
Sampai sekarang belum juga modar modar, sudah seratus
dua puluh tahun mereka hidup di kolong langit... sudah
sepantasnya kalau
orang Orang itu masuk keliang kubur?".
Pada saat itulah mendadak Pek In Hoei maju selangkah
kedepan, lalu Ia berseru lantang
„Cayhe sudah ambil keputusan untuk mohon petunjuk
dalam ilmu barisan lampu merahmu itu, akan kulihat
sampai dimanakah kelihayan iimu kepandaian dari tiga
Dewa Hay Gwa Sam Sian".
It-hoen Pit Giok mencibirkan bibirnya menunjukkan
sikap memandang hina anak muda itu, ia singkap horden
dan dengan ringan loncat keluar.
Selama ini dua orang manusia raksasa itu bagaikan
pagoda baja berdiri kaku disitu dengan wajah adem
dan tidak menunjukkan perasaan apa2 terhadap kejadian
yang berlangsung disitu buksn saja tidak ambil gubris
melirikpun tidak.
Dalam pada itu It boen Pit Giok telah loncat kehadapan
Pek in Hoei, serunya dengan nada dingin:
"Sebentar lagi kau akan saksikan ilmu sakti ysng
manunggal dari Kay Gwa Sam Sian"
Bersamaan dengan seiesainya ucapan itu, dua orang
gadis yang membawa lanlera merah itu segera loncat
kebelakang It Boen Pit Giok.
Kabut telah buyar, udara malam tampak bersih tak
bermega, rembulan memancarkan cahayanya yang redup
menyinari tubuh gadis yang cgntik jelita itu.
pakaian putih yang ia kenakan entah buat dari apa,
terkena sorotan sinar rembulan memantulkan cahaya
keperakan yang sangat menusuk pandangan.
Dalam keadaan seperti ini walaupun dalam hati kecilnya
Pek In Hoei benci dengan sikapnya ysng dingin, angkuh
dan ketus, namun tak urung memuji pada kecantikan
wajahnya yang amat menawan hati itu
Pikirannya didalam hati :
„Walaupun Wajahnya febih cantik daripada Hee Siok
Peng maupun Wie Ghin Siang, namun kecantikan
wajahnya seolah2 berasal dari langit, tidak gampang
diterima oleh umat manusia, ditambah pula sikapnya yang
begitu dingin dan ketus, lebih2 membuat orang tidak berani
mendekatinya. Aaaaai., keadaan gadis ini jauh lebih sukar
dipahami daripada gsdis Wie Chin siang maupun Hee Siok
Peng..."
ketika teringat akan diri Hse Siok Peng, ia teringat
kembali betapa sedihnya gadis itu menangis tatkala ia
berlalu dari lembah seratus bisa, kesedihan ysng tercermin,
diatas wajahnya membuat sianak muda itu diam2 menghela
napas panjang.
"aaai...... kenapa dia adalah putri dari musuh besarku?"
Maka ia berusaha keras untuk menekan perasaan serta
pikirannya sendiri untuk tidak memikirkan dia lagi.
Mika diapun alihkan kembali sinar matanya kearsh It
boen Pit Giok yang berdiri dibadapannya, delam sekilas
pandang ini Intinya tanpa terasa jadi makin gusar, segera
teriaknya :
"Hmmmm, Luar lautan hanya merupakan tempat tinggal
manusia2 liar yang tidak beradab. kepandaian lihay mgcam
apalagi yang bisa kalian miliki? memandang wajahmu yang
sombong dan tinggi hati, aku rasa tidak ada kepandaian
apa2 lagi yang patut kau perlihatkan dihadapanku"
Sungguh hebat ucapannva kali Ini, kalau dibandingkan
makian dari It Boen Pit Giok tadi boleh dibilang laksana
langit dan bumi, kali ini bukan saja suaranya keras, ketus
dan dingin bahkan kata2nya pedas dan sangat menusuk
perasaan, membuat dua orang gadis keraton yang
membawa lampu lentera itupun berubah hebat mukanya.
Ouw yang Gong sendiri diam2. merasa tobat dalam
hatinya.
Aduuh celaka ! keparat cilik tolol ini kembali
mengumbar napsu kerbaunya, waaah... waaah ....kalau
sampai mengusarkan Pob Giok Cu Ko Ek si tua bangka itu
hingga muncul kembali dideretan Tionggoan, dunia
kangouw bakal tidak aman lagi! sialan..... goblok benar
keparat kunyuk ini".
Tatkala dilihatnya air muka It-boen Pit Giok telah
berubah jadi hijau membesi saking gusarnya, dalam hati
diam2 ia bergidik, buru buru tangannya berkelebet
menutupi mulut Pek In Hoei agar tak bisa berbicara lebih
lanjut.
"Kau.... kau..... kau berani memaki kami sebagai orang2
liar yang tak beradab... " teriak It boen Pit Giok dengan
suara gemetar.
Ouwyang Gong tidak ingin urusan makin kacau, buru2
ia tertawa terbahak-bahak dan menukas
"Nona It boen, kau tak usah marah semacam itu!
bukankah sejak permulaan tadi sudah kukatakan bahwa dia
adalah seorang kunyuk goblok? tak usah kau anggap
ucapanya sebagai kata yeng susungguhnuya"
"Apa yang cavhe ucapkan merupakan tanggung jawab
dari diriku sendiri.... " Sela Pek In Hoei sambil
melemparkan sebuah kerlingan menghina kearah orang tua
itu " Aku tidak akan jeri atau takut terhadap tiga dewa atau
empat setan dari luar lautan!"
"Kau... apa varg kau katakan? coba... coba kau ulangi
sekali lagi ?" saking gusarnya sekujur badan gadis she It
Boen ini gemetar keras
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Ham meskipun cayhe bukan seorang yang super luar
biasa, namon aku belum jeri terhadap tiga dewa empat
setan dari luar lautan
"Nenek, maknys.. cucu kura kura... anak sialan, tutup
bacot anjingmu, lekas kau kurangi perkataanmu yang sama
sekali tak berguna itu?.... " berkata 0uw Yang Gong dengan
gusarnya. Pek Ia Hoei melirik sekejap kearah Ouw yang
Gong, lalu meludah kelantai.
"Hey manusia edan, bukankah kau masih berhutang satu
syarat dariku?" "Benar! " sahut huncwee gede setelah
tertegun sesaat. "Tiga permintaan jang menyiksa baru
kulaksanakan dua buah"
"Bagus sekali! kalau begitu sekarang dengarkanlah baik
baik, sekarang juga aku minta agar kau jangan mencampur!
urusanku lagi, aku perintahkan dirimu segera tinggalkan
tempat ini".
Mula mula pemuda kita memandang Oowyang Gong
sebagai seorang locianpwee yang pegang janji dan setia
kawan, tetapi sekarang setelah terjadinya peristiwa ini, dia
anggap kakak tua she Oawysng ini sebagai tua bangka tolol
yang takut urusan, oleh sebab itulah dia usir orang tua ini
agar segera berlalu.
Ucapan iersebut benar benar menggusarkan hati uler
asep tua ini, airmukanya kontan berubah hebat.
"Nenek monyet, cucu kura kura...maknya" makinya
kalang kabut, namun sejenak kemudian dia telah menghela
napas panjang.
Memandang wajah Pek In Hoei yang diliputi kegusaran
dia menghela napas dan berpikir didelam hati.
"Aaai.... mana kau bisa memahami maksud hatiku...."
kiranya tujuh puluh tahun berselang diam diam dunia
persilatan amat kacau. setiap partai sama2 pada berdiri
sendiri ling unntuk berebut kekuasaan, oleh karena itusetiap
partai sama sama memperdalam ilmunya untuk
berusaha menonjolkan diri dalam Bulim.
Suatu musim gugur, dari samudra Seng It Hay tiba tiba
muncul sepasang suami istri yang masih muda, mereka
berdua dengan andalkan kepandaian silat yang sangat hebat
dan lihay dalam waktu yang singkat telah menjagal habis
semua ciangbunjien i «embilan partai besar, hingga nama
5eng Sut Hay Siang Mo atau sepasang sadis dari laut Seng
Sut Hay amar menggetarkan dunia persilatan.
Si iblis sakti Liong Pek ini tak lain adalah suhu dari Si
Rasul pembenci langit Ku Loei, sedang istrinya Pek Giok
Jien Mo atau siiblis, Khiem kumala hijau bukan lain adalah
suhu dari Xoe Thien Jien siau Kim In Eng.
Berhubung tindak tanduk serta perbuatan perbuatan
sepasang iblis dari lauy Seng Sut Hay ini, akhirnya
menggusarkan tiga orang pertama sakti yeng tinggal jauh
diluar lautan, dengan kepandaian saktinya mereka mereka
hendak mengusir kedua orang iblis itu dari atas daratan
tionggoan.
Akhirnya dalam pertemuan para jago di atas gunnng
Hoang san, dibawah kerjasama Thay Ghi Siansu serta Pob
Giok cu Ko Eng dalam jurus yeng kedua puluh delapan
mereka berhasil mengalahkan sepasang iblis dari laut Seng
Sut Hay ini, sedangkan Thiat Tay Sin nie dengan seruling
berlubang sembilannya memperdengarkan irama penakluk
iblis pembuyar sukma yang akhirnya memaksa khiem kuno
dari Pek Giok Jien Mo kehilangan ketujuh lembar senarnya.
Sejak kekalahan tersebut sepasang iblis kembali kelaut
Seng Sut Hay untuk mengasingkan diri, sedang Thay Chi
siansu bertiga pun lenyap tak berbekas dari muka bumi.
Sejak peristiwa itulah nama besar dari Hay Gwan Sam
Sian menggetarkan seluruh sungai telaga, walaupun orang
kangouw semua tahu bahwa diluar lautan terdapat tiga
buah pulau dewa namun tak seorang pun pernah
berkunjung kesitu. dan tak seorangpun yang pernah melihat
ketiga orang dewa tadi muncul kembali dalam dunia
periilatan, maka lama kelamaan kejadian itupun mulai
dilupakan orang.
Sungguh tak nyana enam puluh tahun kemudian, Hay
Gwaa Sam Sian telah mengutus seorang muridnya datang
kedaratan Tionggoan bahkan telah bertemu dengen anak
murid dari sepasang iblis Seng Sut Hay Siang Mo untuk
bertanding ilmu silat didalam perkampangan Thay Bie Sen
cung.
Seandainya kabar berita ini tersiar keluar, niscaya
seluruh dunia persilatan akan gempar dibuatnya.
Tatkala Ouwyang Gong pertama kali belajar ilmu silat
dahulu, ia sudah pernah mendengar tentang kisah
kegagahan tiga dews dari luar lautan mengalahkan sepssang
iblis didaratan Tionggoan. maka dia pun mengerti sampai
dimanakah kelihayan orang tidaklah aneh kaiau orang tua
ini tidak berani mencari gara2 dihadapan It boen Pit Giok.
Siapa sangka Pek In Hoei masih muda dan berdarah
panas, karena tidak senang menyaksikan sikap serta tingkah
laku It Boen Pit Giok yang jumawa den ketus telah bentrok
dengan dirinya, bahkan mengajukan pula satu2nya syarat
yang pernah dijanjikan dua tahun berselang untuk mengusir
dia pergi dari situ.
Memandang wajah sianak muda yang gagah dan penuh
semangat, orang tua itu menghela napas panjang, pikirnya:
"Siapa yene bilang aku jari kepadanya? aku takut dengan
robohnya gadis ini kemungkinan besar aksn memancing
kehadirannya kembali tiga manusia dewa dari luat lautan
iiu, seandainya dalam keadaan gusar merek telah
melakukan perbuatan2 yang tidak menguntungkan umat
Bulim hingga terbitkan gelombang badai dalam dunia
kangouw, siapa yang sanggup mengusir mereka? siapa ysng
sanggup memikul tanggung jewab ini? dalam dunia
persilakan dewasaa ini, kepandaian silat siapa yssg lebib
lihay dari mereka?"
Dalam sekejap mata itulah dalam benaknya tiba2
teringat kembali peristiwa dilembah seratus bisa tempo
dulu. teringat ,kembali akan ucapan dari Ke in Sin nie
sewaktu hendak mengobati Pek In Hoei yang keracunan
hebat.
Dibawah sorotan sinar rembulan yang redup, seakan2 ia
saksikan bekas merah darah yang ada diatai kening Pek In
Hoei kembali memancarkan cahaya aneh.
ekilas bayangan datang berkelebat d!depan metanya,
dengan wejah keren dan serius segera ujarnya
"Baiklah, aku segera akan angkat kaki dari sini, tapi aku
tetap berharap agar kau jaagao terlalu mengikuti psrasaan
sendiri hingga megakibatkan dunia persilatan jadi kacau
dan tidak tenteram"
It Boen Pit Giok yang mendengar ucapan tersebut dari
sisi kalangan segera tertawa dingin,
"Terhadap manusia bandel yang keras kepala macam
dia, buat apa kau bersikap begitu baik?" serunya. "Hinmm !
perbuatanmu tidak lebih bagaikan mementol khiem didepan
kerbau dungu"
Ouwyang Gong tidak menanggapi ucapan gadis itu,
sebaliknya dia segera menjura dan berpesan
"Nona. aku berharap setelah nona memenuhi janjimu
dengan anak murid dari sepasang iblis Ssng Sut Hay Siang
Mo janganlah melakukan perbuatan2 lain yang keterlaluan,
agar tindak tandukmu tidak sampai mencemarkan nama
baik ketiga
oang suhumu yang pernah datang kedaratan Tionggoan
dengan membawa misi yailu mengusir kaum iblis dari muka
bumi..." "Ehmmm!" It boen Pit Giok mengangguk.
"Maksud kedatanganku kedaratan Tionggoan kali ini tidak
lebih hanya yntuk memenuh janji kami dengan Sirasul
Pembenci langit Ku Loei serta si Rasul Pengtuk langit Chin
Tiong, aku datang kesini bukan untuk mencari musuh
dengan kawan2 dunia persilatan, harap cianpwee legakan
hati".
"Kalau memang nona sungguh berbuat begitu, akupun
bisa berlega hati".
Dia ayun huncwee gedenya kearah Pek In Hoei dsn
serunya:
"Kalau begitu kita sampai jumpa lagi lain kesempatan...."
Mendadak hatinya torasa sedih, bisiknya lirih.
Selama gunung tetap menghijau dan air sungai tetap
mengalir, aku harap bisa berjumpa lagi dengan dirimu
dikemudian hari, abu harap namamu dalam waktu singkat
dapat menggentarkan seluruh jagat"
Secara tiba tiba Pek In Hoei pum marasakan hatinya
sedih, dia segera menjura dan serunya;
"Terima kasih atas bantuan yang cianpwee berikan
kepadaku selama ini."
"Cucu kura kura... maknya" tiba2 Ouwyang Gong
memaki. Kau seharusnya sebut aku sebagai siuler asep tua,
kenapa kau panggil cianpwse kepadaku
Pek in Hoei tertegun, namun dengan cepat dia berseru :
"Uler asep tua selamat tinggal"
Ouwyang Gong tertawa terbahak bahak,- badannya
segara mencelat empat tombak keudara dan didalam
sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik
kegelapan.
Gelak tertawanya yang nyaring menggema tiada
hentinya diudara, namun Pek in Hoei tetap berdiri
termangu mangu ditempat semula, rasa menyesal tiba tiba
muncul dari dalam hati kecilnya.
"Hmmm sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia
yang begitu romantis" sindir It boen Pit Giok dengan nada
dingin. Manusianya entah sudah sampai dimana, kau masih
berdiri ketolol tololan disitu sambil memandang langit".
Ketika itu Pek In Hoei sedang murung dan kesalnya
bukan kepalang, kini setelah mendengar sindiran dari gadis
tersebut hawa gusarnya kontan memuncak, dengan cara
melotot ia menoleh kebelekang.
"Kalau aku tidak memandang dirimu sebagai seorang
perempuan, sejak tadi kau telah...." "Kau berani berani
berbuat apa terhadapku?"
„Kalau kau seorang lelaki, aku pasti akan cabut selembar
jiwamu"
Sekujur badan It Boen Pit Giok mendadak gemetar
keras, dari matanya memancar keluar cahaya murung dan
kesal yang bukan kepalang, terdengar gadis itu bergumam
seorang diri, Mengapa dia ucapkan kata kata semacam itu
kepadaku..."
Dalam waktu yang amat singkat itulah baru sadar bahwa
dia sengaja menyindir Pek In Hoei bukan lain adalah ingin
mendengar pemuda itu bicara lebih banyak lagi, agar dia
bisa memandangi wajahnya yang diliputi rasa gusar.
Ia teringat pula sebagaimana setiap hati dia hanya
memandang ombak yang memecah ditepi pantai sewaktu
masih ada dipulau Bong Lay to dilautan Timur, meskipun
di atas pulas itu terdapat pelbagai macam binatang yang
jinak, namun yang dipikirkan terus menerus waktu itu
hanyalah keadaan didaratan Tionggoan.
Beberapa kali dia hendak menunggang rakit untuk
menyebrangi samudra dan datang kedaratan Tionggoan
untuk melihat pemandangan disitu, berkenalan dengan
manusia yang ada disana
Karena sejak kecil dia dipelihara dan diambil murid oleh
Thiat Tie Sinnie, apalagi sangat dimanja oleh guru gurunya
maka terbentuklah tabiat yang sombong dan jumawa dalam
hati kecil gadis ini.
Tetapi.... siapa sangka ketika ia mendapat perintah untuk
datang kedaratan tionggoan guna mencari murid dari Seng
Sut Hay Sieng Mo serta mencari tahu asal usulnya. diluar
perkampungan Tay Bie San cung ia telah berjumpa dengan
Pek in Hoei yang sombong dan tinggi hati.
Selama hidnp belum pernah ia berjumpa dengan orang
yang berani menatap langsung wajahnya, lebih lebih
manusia yang berani mencari gara gara dengan dirinya oleh
sebab itu dia sangat memperhatikan pria ganteng yang ada
dibelakannya ini.
Tatkala dia menatapi wajahnya yang ganteng, dalam hati
tiba tiba muocul suatu perasaan yang sukar dilukiskan
dengan kata kata, membuat dia ingin sekali mengucapkan
beberapa patah kata dengan dirinya, memandang lebih
lama lagi wajahnya.
Namun ketika la melukai perasaannya, diapun dengan
kata kata yang tajam menusuk perasaannya.
Sekilas rasa menyesal dan sedih terlintas diatas
wajahnya. alisnya yang tebal perlahan lahan menjungkat
keatas, Sekarang dia baru meresa menyesal, tidak
seharusnya ia lukai perasaannya, tidak seharusnya dia
paksa si anak muda itu mengucapkan kata kata yang begitu
galak.
Sebaliknya Pek in Hoei sendiripun merasakan hatinya
bergetar keras tatkala melihat gadis itu menunjukkan sikap
sedih dan murung, tak tertahan timbul rasa sesal pula dalam
hatinya;
Diam diam ia menghela napas panjang pikirnya:
"Aaaai... buat apa aku cari gara gara dengan dirinya? dia
hanyalah tidak lebih seorang gadis yang sudah terbiasa
dimanja hingga akibatnya jadi sombong dan tinggi hati, apa
gunanya aku menyindir dan menyakiti hatinya? bukankah
aku sama eekali tidak kenal dengan dirinya? apa gunanya
mengucapkan kata kata sepedas itu!".
Hampir saja dia maju kedepan untuk minta maaf, namun
gengsi seorang pria memaksa dia tidak berbuat begitu,
hanya diliriknya sekejap wajah gadis itu kemudian perlahan
lahan berlalu
Belum sampai beberapa langkah dia berlalu mendadak
terdengar It been Pit Giok membentak keras:
"Kembali".
Matanya melotot bulat bulat, dengan penuh kegusaran
teriaknya
"Apskah hanya begini saja kau lantas hendak berlalu?".
"Lalu kau mau apa ?" tanya Pek in Hoei seraya berpaling
suaranya hambar.
"Asalkan kau dapat menahan sembilan jurus ilmu
seruling bajaku, akan kubiarkan kau berlalu dari sini dengan
leluasa".
"Kau benar benar hendak paksa aku untuk turun tangan"
ditatapnya wajah gadis itu dalam dalam lalu putar badan,
"Hmm! semua lelaki yang ada dikolong langit tak ada
seorangpun manusia baik baik terutama sekali kau, kau
adalah manusia ysng paling jelek, paling jahat malam ini,
kalau aku tidak berhasil mcmatikan kecongkakanmu itu,
kau pasti akau benar benar menganggap bahwa diluar
lautan benar benar tiada ilmu sakti yang bisa diandalkan
"Haaah.... haaah..... haaaah..... baiklah! akan kuberi
kesempatan kepadamu untuk melihat sampai dimanakah
kelihayan dari ilmu silat daratan Tionggoan.
Perlahan lahan It boen Pit Giok mengetarkan seruling
besinya yang panjang dan ramping itu hingga
memancarkan selapis Cahaya hitam yang menyilaukan
mata, serentetan suara aneh yang tinggi melengking
seketika membumbung keangkasa,
Mendadak lampu lentera berwarna merah itu mulai
bergerak, ditengah kegelapan lampu tadi menyebar keempat
penjuru dan mengurung Pek in Hoei ditengah kalangan.
Cahaya retak berkelebat lewat, it boen pit giok sambil
putar seruling besinya perlahan lahan menotok dada Pek In
Hoei Gerakan ini sepintas lalu nampak amat lambat namun
arah yang diserang bukan saja jitu bahkan aneh dan luar
biasa sekali.
dalam waktu singkat dia telah mengunci seluruh jalan
mundur pihak lawan.
Menyaksikan kehebatan lawsn pek in Hoei terkesiap.
berbagai jurus serangan berkelebat dalam benaknya, namun
ia merasai setiap jurus serangan yang ada dalam benaknya
terasa sulit untuk menyambut serangan seruling lawan,
kecuali mundur ke belakang rasanya tiada cara lain untuk
menghadapinya,
Meskipun sianak muda itu sadar, bilamana dia mundur
kebelakang maka serangan musuh pasti akan membanjir
datang bagaikan bendungan yang bobol, namun dia dipaksa
oleh ancaman seruling yang semakin mendekat, membuat
dia mau tak mau harus mundur selangkah kebelakang.
Melihat musuhnya mundur It boen Pit Giok tersenyum
manis, serulingnya menekan kebawah, serentetan suara
Jang rendah dan tidak enak didengar seketika
berkumandang diangkasa. mengikuti arah mundur lawan
kembali ia kirim satu serangan
mematikan.
Oleh irama seruling yang rendah dan tidak sedap
didengar itu Pek In Hoei merasakan pikirannya jadi kacau,
ia semakin
bingung harus menggunakan jurus serangan bagaimana
untuk menghadapi lawannya. Dalam keragu raguannya itu,
bayangan
asing bagaikan ambruknya gunung Thay san segera
meluruk keatas tubuhnya;
Ia jadi gugup den kaget, dalam keadaan terdesak pemuda
kita ini meraung keras, sepasang telapaknya dengan jurus
"Nuh cang Ku Tan" atau sampan terpencil tenggelam
kesungai dengan dahsyatnya membabat keangkasa.
"Hmmmm ilmu kepandaian aliran Hoa san" jengek It
boen Pit Giok, pergelangannya segera ditekan kebawah,
seruling besinya dengan membentuk satu lingkaran busur
segera menotok urat nadi diatas petgelangan lawan.
"Coba kau saksikan jurus serangganku ini" teriak Pek In
Hoei lagi sambilan langkah sepasang kakinya.
Telapak dikobarkan kemuka, telapak kanan mendadak
menegak, jari tengah laksana kilat menotok tubuh musuh.
Serentetan angin totokan dengan tajamnya menembusi
angkasa menghajar urat nadi lawan.
"Eeeei..... bukankah ilmu tersebut adalah ilmu jari Kim
Kongci dari partai Siauw~lim?" seru It boen Pit Giok.
Pek In Hoei meraung gusar, dengan tapak sebagai ganti
golok mendadak is membabat keluar, angin pukulannya
menderu dengan dahsyatnya segera menyapu telapak
musuh yang mencekal seruling.
Tubuh It boen Pit Giok bagaikan ranting pohon liuw
yang lemas, dengan enak ia melayang kesana kemari
melepaskan diri dari ancaman musuh, teriaknya kembali
"Hmm ! jurus serangan ini tidak lebih merupakan jurus
"Hong Na Tiap Coei" atau pohon rindang memenuhi bukit
dari ilmu telapak Cian-sau ciang hoat aliran Thian san Pay,
tidak mengherankan"
Menyaksikan setiap jurus serangan yang gunakan segera
berhasil ditebak sumbernya oleh gadis itu, dalam hati Pek
In Hoei merasa sangat terperanjat, buru2 ia mundur dua
langkah kebelakang, jurus "Hong Nia Tiap Coei" tersebut
belum sampai digunakan seluruhnya telapak tangan segera
ditarik kembali kemudian sekali tonjok ia kirim sebush
bogem mentah lagi ketubuh musuh,
"Aaaah..... bukankah gerakan ini adalah jurus kesebelas
dari Bu-tong Tiong Koen?..."
Dengau enteng badannya melesat kesamping,
serulingnya dilintangkan didepan dada lalu mengemplang
sejajar kemuka. diantara pekikan irama seruling yang kacau
terlintas sekilas cahaya hitam yang barsusulan.
"He sabenarnya kau anak murid partai mana ?" tegurnya
dengan nada tercengang.
Pek In Hoei bersuit lantang, sepasang kakinya menjejak
tanah dan dengan suatu gerakan secepat kilat meloncat satu
tombak kebelakang, dengan gerakan yang manis ia berhasil
meloloskan diri dari datangnya ancaman bayangan seruling
yang bersusunan
[a sadar musuhnya kali ini bukan saja memahami ilmu
silat berbagai aliran bahkan seruling besinya dapat
mengeluarkan berbsgai irama aneh yang bisa menyesatkan
pikiran musuh.
Ditambah lagi jurus serangannya yang kukoay dan
ampuh, bilamana ia kurang hati hati maka kemungkinan
besar badannya akan terkurung dibawah senjata lawan dan
roboh dalam lima jurus kemudian.
Oleh sebab itulah sebelum kejadian yang tidak
diharapkan berlangsung, ia gunakan ilmu meringankan
tubuh yang terkenal dari partai Kun lun untuk melepaskan
diri
It boen Pit Giok membentak njaring, seakan akan seekor
burung walet yang terbang diangkasa. dengan membsws
serentetan bsyacgan cahaya yang memanjang ia kejar si
anak muda itu.
Begitu mendengar irama musik yang kacau. Pek in Hoei
sadar bahwa pihak musuh telah mengejar datang, segera ia
bersuit panjang, sepasang telapak membentang kesamping,
badannya dengan sebat dan indah berputar saja lingkaran
ditengah udara, setelah berputar dua kali badannya telah
berada kurang lebih satu tumbak dari permukaan.
It been Pit Giok membentak nyaring, serulingnya
bergetar keras, sambil mengirim satu pukulan udara kosong
dengan telapak kirinya ia meluncur ketengah udara dan
mengejar dengan jurus serangan yang tak berubah.
Menyaksikan kelihayan lawan Pek In Hoei terperanjat,
buru buru ia tarik napas panjang, sepasang kakinya cepat
menjejak tanah kemudian melayang datar kesamping,
serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata,
segera melindungi seluruh tubuhnya.
Begitu pedang diloloskan dari sarung. segera
terdengarlah bentrokan nyaring berkumandang diangkasa,
dengan jitu dan tepat ia berhasil menyampok datangnya
serangan dari seruling besi tadi.
Percikan bunga api bermuncratan ditengah udara, tubuh
It Boen Pit Gfok segera tertekan kebawah den melayang
balik keates peremukaan tanah.
Sedangkan Pek In Hoei sendiri dengan tenang melayang
pula keatas tanah, ia berdiri kurang lebih tujuh depa
dihadapan
gadis tersebut dengab wajah serius, pedangnya
dilintangkan didepan dada dan menatap musuh dengan
pandangan dingin.
Buru feuru It boen Pit Giok memeriksa serulingnya. tiba
tiba ia jumpai seruling kesayangannya telah gumpil
kedalam setengah coen lebih oleh goresan pedang lawan.
Air mukanya seketika itu juga berubah hebat, hampir
hampir saja ia menangis saking dongkol dan sedihnya,
sebsb seruling besi berlubang sembilan yang panjangnya
mencapai empat depa ini merupakan senjata keseyangan
suhunya dikala berkelana dalam dunia persilatan tempo
dulu, sepanjang masa belum pernah cacat atau rusak, siapa
sangka kini gumpil dan tergores oleh pedang mustika Pek In
Hoei, tentu saja hatinya terasa amat sedih.
Sambil menggigit bibir segera teriaknya
"Benar benar nyalimu, berani merusak senjata seruling
milik suhuku, Ini hari aku bersumpah akan membinasakan
dirimu"
Serulingnya perlahan laban diangkat keatas udara,
dengan wajah serius dan keren ditatapnya wajah lawan tak
berkedip kemudian maju lima langkah kedepan.
Rasakanlah delapan belas jurus ilmu seruling penakluk
iblisku" serunya dengan suara yeng adem.
Hanya didalam lima langkah tersebut seruling baja
ditangan gadis itu telah berubah berulang kali jelas It boen
Pit Giok sudah menggunakan inti sari ilmu seruling
penakluk iblisnya yang paling lihay untuk mengalahkan
dirinya. Ia tarik napas dalam dalam, pelbagai ingatan
berkelebat dalam benaknya, terakhir ia ambil keputuoan
untuk menggunakan ilmu pedang penghancur sang surya
guna menghadapi gadis she It Boen ini.
"Sekalipun kepandaian silatku sejelek dan secetek
apapun, paling sedikit rasanya masih sanggup untuk
menahan lima jurus serangannya yang terakhir" pikirnya.
Belum habis dia berpikir, serangan seruling dari It boen
Pit Giok telah mendului tiba
Terasa cabaya hitam berkelebat lewat empat bagian
diluar tubuhnya tahu tahu sudah terbendung oleh cahaya
seruling tersebut, sekilas sinar tejam laksana kilat menghajar
jalan darah "Chiet Kun" diatas dadanya.
Cepat cepat pek In Hoei gerakan tangan kirinya, ujung
pedang bergetar keras menciptakan selapis cahaya tajam
yang menggidikkan, dengan jurus "Si Jiet Tong Seng"
s Sinar Surya terbit ditimur pemuda kita melancarkan
serangan balasan
Trang... untuk kesekian kalinya pedang dan seruling
saling bentrok satu sama lain, namun dengan cepat kedua
belah pihak sama sama tarik kembali senjatanya masing
masing, Pek In Hoei mundur setengah langkah kebelakang,
bedan bagian atasnya miring setengah coen kesamping
kemudian meraung keras, cahaya pedang berkelebat lewat,
secara beruntun ia melepaskan sebuah serangan berantai.
"Chit Liong Jut Seng" atau Sang Surya Muncul, "Hoo Ek
Haong Kiong" dan Hoo Ek menarik gendewa, "Kioe Chi
khiem Ti" atau Sembilan Irama miringkan pedang delam
sekejap mata tiga jurus serangan yeng maha dahsyat
membumbung menyelimuti angkasa, hawa pedang
menderu2 bagaikan gelungan ombak yang tiada putusnya
menggulung dan melanda kedepan tiada hentinya.
Tadi berhubung dia kehilangan posisi yang
menguntungkan maka keadaannya dipaksa keposisi yang
terdesak hingga ia tak sanggup melancarkan serangan
balasan. maka dari itu sekarang setelah memperoleh perisi
yang lebih baik, serangan gencar yang maha dahsyatpun
dilepaskan tanpa sungkan sungkan.
Didesak oleh gulungan bawa pedang ysng berlapis lapis
dan dahsyat laksana gulungan ombak yang tiada putusnya
itu, It boen Pit Giok tak sanggup berdiri tegak lagi, buru
buru ia mundur tiga langkah kebelakang, serulingnya
diputar kedepan mengirim dua serangan berantai, dengan
susah payah akhirnya ia berhasil juga menahan serangan
pedang lawan yang sangat hebat itu
Mimpipun dia tidak mengira kalau kepandaian ilmu
pedang lawan telah mencapai puncak kesempurnaan yang
begitu dahsyat, menggunakan kesempatan sedetik itu
serulingnya segera balas mengirim serangan gencar guna
membendung serangan pedang lawan yang saling susul
menyusul. Pek In Hoei yang melancarkan ilmu pedang
menghancur sang surya dengan pedang Sie Jie Kiam
kelihatan jauh lebih gagah lagi. selangkahpun ia tak berhasil
dipaksa hergeser dari tempat semula, semua serangan
balasan lawan berhasil ia patahkan setengah jalan.
It boen Pit Giok tidak mengira kalau pertahanan musuh
begitu ketat den kuat, menyaksikan serangan balasannya
berhasil dipatahkan semua oleh lawanya ditengah jalan, ia
jadi putus asa, serangannya jadi kendor dan tenaganya jauh
berkurang.
Melihat kesempatan baik ini Pek in Hoei segera
membentak nyaring pedangnya dengan ringan membabat
keluar diri sampirg dan bergerak maendekati tubuh lawan
dengan mengikuti gerakan serulieg itu.
Dalam melancarkan serangan ini dia telah
menggunakan, ilmu pedang Liuw in Klam Hoat dari partai
Go bie, gerak geriknya bukan saja enteng dan ringan
bahkan cepat dan mantap, jauh berbeda dengan gerakan
ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Tiam cong
Dalam suatu kesempatan pedangnya mendadak
nyelenong masuk kedalam dan tahu2 sudah berada didalam
pertahanan tubuh lawan
It boen Pit Giok menjerit kaget, sebelum dia sempat
bergerak, sesaat pedang musuh tanpa mengeluarkan sedikit
suarapun tahu2 sudah membabat iganya.
Untung diapun bukan seorang jagoan yang
berkepandaian cetek, kendati terancam mara bahaya
pikirannya tidak sampai jadi bingung, jari tangannya segera
disentil kedepan, serentetan tenaga serangan yang tajam
dengan cepat menggulung keluar.
Tring.... dalam suatu bentrokan pedang Sianak muda itu
tergetar keras dan miring empat coen kesamptng dengan
mengeluarkan suara yang amat nyaring.
Menggunakan kesempatan itu It been Pit Giok bergeser
kesamping, melalui lubang jarum yang amat sempit dia
meloloskan dari ancaman, sementara seruling bajanya
menjangkau dan menutul tepat menghantam jalan darah
"Ci Tong Hiat"didada . Pek in Hoei.
Tetapi dalam detik yang bersamaan itu pedang ditangan
kiri sianak muda itu telah bergerak, lima jaring dipentang
dan menyambar kemuka menggunakan jurus serangan
"Kim Liong Tan Jiauw" atau naga emas mementang cakar.
Semua gerakan ini merupakan serangan jarak dekat oleh
sebab itu dilakuksn dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam
sekejap mata Pek in Hoei telah membentak keras den loncat
mundur lima depa kebelakang.
-oo0dw0oo-
Jilid 10
Kelima jari tangan kirinya tepat mencengkeram pakaian
It boen Pit Giok, mengikuti gerakan mundurnya maka tidak
ampun lagi diiringi suara yang nyaring, pakaian putih gadis
itu tersambar robek.
lt-Boen Pit Giok tidak mengira kalau reaksi pihak lawan
jauh lebih cepat dari pada dirinya, sedikit ia ragu-ragu baju
bagian atasnya telah tersambar robek sehingga terlihatlah
pakaian dalamnya yang berwarna merah
Merab jengah selembar wajahnya, sambil menutupi
wajah sendiri buru2 gadis itu putar badan dan melarikan
diri,
Walaupun Pek ln Hoei mengenakan kutang lemas
pelindung badan dari perguruan seratus bisa, namun kena
gebukan dari It boen Pit Giok barusan mengakibatkan
darah dalam dadanya bergolak juga, hampir saja ia
muntahksn darah segar,
Dalam keadaan rerkejut buru2 badannya loncat lima
depa kebelakang, sambil menarlk napas panjang2 dia
berusaha menekan dan menenangkan pergolakan darah
dalam rongga dadanya.
Dia tahu, seandainya badannya tidak dilindungi oleh
kutang lemas pelindung badan tersebut, niscaya ia sudah
muntah darah terluka parah, bahkan urat nadinya munhkim
sudah pecah dan mati binasa.
Ilmu silat dari luar lautan benar benar lihay! inilah
ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya.
Ketika diangkatnya kepala maka ingatan kedua yang
berkelebat dalam benaknya adalah:
"It Boen Pit Giok merupakan gadis yang paling cantik
dikolong langit dswasa ini"
Hatinya bergolak keras karena rasa malu lemah lembut
yang diperlihatkan gadis itu
Kutangnya yang kelihatan terbentang didepan mata serta
wajahnya yang jengah menahan malu membuat hatinya
bergetar keras, sekarang dia baru sadar bahwa kejadian itu
tak akan terlupakan olehnya sepanjang masa.
Dikala ia masih berdiri tertegun itulah mendadak lampu
lentera itu mulai bergerak delam sekejap mata deruan angin
serangan yang maha dahsyat menggulung tiba dari empat
penjuru.
Sebelum ingatan ketiga berkelebat dalam benaknya, dari
empat penjuru sealah olah muncul selapis jepitan baja yaag
mengurung dirinya, hawa udara disekeliling tempat itu
seakan akan dipompa keluar semua hingga membuat dia
sesak dan dadanya jadi sakit.
Mendadak meraung keras, pedangnya dengan suara
payah diguratkan keatas tanah, hawa pedang laksana
hembusan taupan dan sambaran petir menyapu empat
penjuru.
Jurus ini merupakan jurus kesembilan dari ilmu pedang
penghancur sang surya yaitu. "Shia Yang Yauw-Yauw"
atau Sinar Surya Terang Benderang, daiam sekejap mata
dalam satu jurus pedangnya melepaskan enam gerakan
yang berantai mengakibatkan hembusan hawa pedang yang
tiada taranya, diiringi pekikan nyaring, cahaya pedang
memenuhi angkasa.
lampu lentera merah bergoyang dan melayang
kesamping, ditengah gulungan hawa pedang yang
medengung keenam gerakan pedang Pek In Hoei mengerat
tempat kesasaran
Ia menghembuskan nspas panjang, dengan cspat
pedangnya ditarik kembali kebelakang, badannya bergeser
dan berputar satu lingkaran.
Dua puluh empst orsng gadis berbaju putih yang ada
diluar kalangan lambat2 mulai menggerakkan tubuhnja,
lampu lentera merah saling tergetar dalam sekejap mata
bayangan manusiapun sukar dibedakan lagi dengan jelas.
Menyaksikan hal tersebut pemuda kita terperanjat, buru2
ia pejamkan matanya sambil berpikir:
"Tidak salah kalau ia begitu yakin dengan kehebatan
barisan iampu lentera merahnya barisan ini sungguh sangat
lihay, ternyata sanggup menimbulkan bayangan yang tak
genah dalam benak orang..."
"Aaaaai....." suara belaan napas panjang mendadak
bergema dari sisi tubuhnya membuat hatinya bergetar keras,
pikirannya yang mulai kalutpun mulai jadi tenang kembali.
Menanti dia membuka matanya kembali tampaklah
kedua puluh empat lentera merah tadi sudah berhenti
ditengah udara gadis gadis berbaju putih itupun telah
berbaris jadi dua barisan, tandu tersebut terletak diatas
tanah dan dua orang raksasa penggotong tandu itu sambil
silangkan tangannya didepan dada mendampingi It Boen
Pit Giok berjalan mendekati kearahnya.
Ketika itu It boen Pit Giok telah mengenakan katn
mantel warna abu2 untuk menutupi baju bagian dalamnva
air mata masih membasahi pipinya yeng halus.
Tiba jalan kehadapan sianak muda itu dan berhenti
kurang lebih empat depa dihadapannya, ditatapnya wajah
Pek In Hoei tanpa mengucapkan sepatah katapun,
wajahnyaa basah dan mengenaskan sekali. Melihat
kesedihan gadis cantik itu timbul rasa kasihan dalam hati
kecil Pek In Hoei, seraya membopong pedang mustikanya,
ia balas menetap pula wajah gadis itu.
Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun,
lama sekali mereka saling pandang tanpa mengucapkan
sesuatu. akhirnya pemuda kita tak sanggup menahan diri
dan segera melengos kesamping
"Kau adalah satu satunya lelaki sejati yang pernah
kujumpai seumur hidupku" ujar It boen Pit Giok tiba2
dengan suara yang lirih
Pek in Hoei mengerutkan alisnya dan segera berpaling
kearah gadis itu, ia tak mengerti apa sebabnya gadis tersebut
mengucapkan kata2 seperti itu.
Terdengar It-boen Pik Giok dengan suara sedih berkata
lebih jauh.
"Tetapi kaupun merupskao satu2nya laki2 yeng paling
kubenci....." ia merandek sejenak, lalu dengan suara keras
teriaknya:
"Aku benci dirimu"
Pek In Hoei gemetar keras, bagaikan di sambar petir
disiang hari bolong ia berdiri mendelong, telinganya
mendengar keras dsn benaknya dipenuhi ucapan itu
Air mata mengubur keluar dengan derasnya membasahi
pipi It-boen Pit Giok, namun matanya sama sekali tidak
berkedip, ia biarkan air matanya merembet kebawah
membasahi bajunva.
Dalam keadaan seperti ini Pek In Hoei tidak tabu
bagaimana perasaan hatinya sekarang, diapun menatap
wajah It Boen Pit Giok yang basah oleh air maia itu dengan
wajah tertegun selangkahpun ia tidak bergeser dari tempat
semula.
"Kau adalah satu2nya lelaki yang menyinggung perasaan
halusku sebagai seorang gadis, selama hidup aku akan
selalu membenci dirimu..... seru gadis itu kembali sambil
menahan isak tangis.
"Akan kuingat selalu ucapanmu itu" jawab Pek In Hoei
seraya menjura, kemudian ia mendongak memandang
angkasa yeng gelap, lalu bergumam seorang diri. "Selama
hidup, akupun tak akan melupakan ucapsnmu itu"
Perlahan lahan It boen Pit Giok angkat tangannya
membesut air mata yang menetes keluar, lalu tertawa sedih.
"Akupun berharap agar kau bisa selalu mengingat ingat
ucapanku itu. sepanjang masa aku akan selalu mambenci
dirimu!".
Pek In Hoei menghela napas panjang, ia pandang wajah
gadis itu dalam dalam kemudian putar badan berjalan
menuju kekegelapan,
Hatinya yang sedang risau dan bingung membuat
langkahnya terasa berat sekali, belum jauh ia melangkah
terdengar It boen Pit Giok telah berseru kembali: Tunggu
sebentar!". Dengan dingin ia tatap Wajah Pek In Hoei yang
berpaling, lalu tanyanya :
"Kau belum beritahu kepadaku siapakah namamu?".
Pek In Hoei melegak diikuti ia mendongak dan tertawa
terbahak bahak.
Alis It boen Pit Giok berkerut, namun diam2 dan dengan
tenang memandang sianak mada itu tak berkedip. Lama
sekali gelak tertawa itu bergema angkasa akhirnya sirap dan
suasanapun kembali dalam kesunyian.
"Apakah aku demikian gobloknya hingga mengakibatkan
kau tertawa begitu keras untuk mengejek diriku tanya gadis
itu sambil tertawa sedih.
"Aku sama sekati tidak menertawakan dirimu, aku hanya
menertawakan diriku sendiri
Sekilas rasa heran dan tidak habis meegerti berkelebat
diatas wajah gadis itu
"Apakah yang membuat kau menetawakan dirimu
sendiri?".
"Hingga kini aku baru merasa bahwa antara aku dengan
dirimu sama sekali tidak pernah terikat dendam sakit hati
ataupun permusuhan apapun juga, sebaliknya kau pun tidak
memahami kaadaan diriku, tetapi antara kita berdua telah
terjadi suatu ingatan saling mendendam dan napsu ingin
saling membunuh, sungguh membingungkan".
"Oooh, jadi kau sedang menertawakan diriku, namapun
tidak tahu namun bisa mengucapkan kata kata semacam
itu???". dia menghela napas panjang. Kau tentu mengerti
bukan akan sepatah kata yang mengatakan:
"Rambut telah beruban bagaikan baru, rambut baru
dicukur bagaikan telah lama?...."
Pek In Hoei mengangguk.
"Ehmm, itu artinya banyak orang yang sudah berkenalan
hampir puluhan tahun lamanya namun setiap kali berjumpa
mereka hanya anggukan kepala belaka, tetapi ada pula
sebagian manusia yang baru saja kenalan namun mereka
telah menganggap bagaikan sehabat lama yang berjumpa
kembali. tatoe sekali tidak canggung Canggung, tetapi apa
sangkut pautnya dengan dendam sakit hati....". "Nah, itulah
dia, sejak pertame kali aku berjumpa dengan dirimu dalam
hatiku segera timbul rasa benci yang tak terhingg, seakan
akan rasa benci yang terpendam dalam hatiku ini sudah
lama sekali tersimpan ia disana..."
Dengan pandangan tertegun Pek In Hoei awasi
wajahnya yang cantik, dafam hati timbul suatu perasaan
yeng sukar dilukis dengan kata kata, otaknya kosong
melompong bagaikan selembar kertas putih.
It boen Pit Giok tertawa sedih ujarnya lagi:
"Kau masih belum memberitahukan siapa namamu".
"Aku belum memahami ucapan itu" gumam pemuda kita
seraya menggeleng perlahan.
"Pikirkanlah perlahan lahan, Suatu hari kau akan
memahami dengan sendirinya".
Mendadak Pek In Hoei temukan suatu perasaan yeng
aneh muncul dari balik sinar matanya, namun dengan cepat
perasaan tadi lenyap tak berbekas.
"Suatu hari mungkin saja aku akan jadi paham dengan
sendirinya"
akhirnya diapun bergumam.
"Aaaai..... kentongan ketiga hampir tiba, malam ini
benar benar merupakan suatu malam yang amat
panjang......." ia berpaling. "Kau belum siap
memberitahukan namamu?".
"Cayhe she Pek bernama Pek In Hoei."
"Pek In Hoei! oooh nama yang indah dan penuh
mengandung arti kata syair yang mendalam".
Pek In Hoei tersenyum hambar, ia lirik sekejap kedua
puluh empat buah lentera merah itu lalu menyahut:
"Namamu pun tidak terlalu jelek, It boen Pit Giok" dia
mendongak keatas. "Akupun akan selalu mengingat
namamu..."
"Aku tidak butuh kau mengingat ingat namaku, aku
hanja berharap kau selalu ingat didalam hati bahwa
sepanjang masa aku selalu membenci dirimu".
Pek In Hoei tidak menyangka kalau watak pihak lawan
begitu cepat dapat berubah-ubah, ia lirik sekejap wajah Itboen
Pit Giok yang adem dan ketus, sekilas rasa bergidik
timbul dalam hatinya. Namun ia tidak mengucapkan
sesuatu lagi, setelah putar badan segera berlalu menuju
ketempat kegelapan.
Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang
mulai lenyap dari pandangan, It Boen Pit Giok menghela
napas panjang
(Oo-dwkz-oO)
7
SEBENARNYA apa yang sedang kulakukan? apa yang
sedang kupikirkan?" ingatan ini berkecamuk terus dalam
hatinya, membuat pikirannya terasa kalut dan tidak tenang.
Tanpa terasa ia teringat kembali sewaktu nasib berada
dipulau Dewa diluar lautan, rasa sedih dan kesal pada
waktu itu terbayang kembali dalam benaknya, terdengar ia
bergumam lirih:
"Ucapan suhu sedikitpun tidak salah, sekali injak daratan
Tionggoan pelbagai kemurungan akan berkecamuk dalam
pikiran, hanya diatas pulau Dewa diluar lautan saja kita
baru bisa peroleh ketenangan serta kebahagiaan.
Namun dengan cepat dia menggeleng kembali, pikirnya
lebih jauh
"Semua kemurungan dan kekesalan hatiku dialah yang
berikan kepadaku."
"Aaaaai...... kenapa aku tak dapat melupakan bayangan
tubuhnya? Oooh, betapa bencinya hatiku kepadanya"
Padahal iapun sadar bahwa bayargen Pek In Hoei yang
tinggi hati dan gagah itu tak dapat hilang dari benaknya.
Hanya saja selama hidup beium pernah dia alami
perasaan hati yang mirip cinta namun mirip pula benci
semacam ini.
Keadaan muda mudi selamanya memang demikian,
setiap kali mereka tak dapat membedakan cinta atau benci,
maka tatkala rasa bencinya mencapai pada puncaknya, rasa
cintapun akan ikut mencapai pada puncaknya.
Antara cinta dan benci tidak lebih hanya terpaut oleh
suatu penghalang yang amat tipis, asalkan dinding pemisah
itu berhasil disentuh maka cinta dan benci segera akan
bercampur aduk.
Oleh sebab itulah tatkala dalam benak it boen Pit Giok
tertera beyangan Pek In Hoei yang tinggi hati dan gagah,
dia selalu menganggap itulah sebabnya dia terlalu
membenci pemuda itu karena dia telah menyinggung
perasaan halusnya, merobohkan gengsinya, tetepi dalam
kenyataan rasa cinta telah bersemi dibalik kebenciannya
tersebut, hal ini membuat pikirannya mulai goyah dan
kegoyahan tersebut mengakibatkan dia kesal, murung dan
kebingungan.
Suasana amat sunyi... suara kentongan dibunyikan
sebanyak tiga kali bergema dari perkampungan Tay Bie
San-cung.
"Aaaaai.... kentongan ketiga telah tiba" mendadak It
boen Pit Giok angkat kepalanya, titik air mata jatuh
menetes dari matanya yang mulai memencarkan cehaya
tajam.
Lampu mulai menerangi seluruh perkampungan Tay Bie
San cung semua kegelapan terusir pergi dan sinar hiruk
pikuk manusia menggema ditengah kesunyian, pintu
perkampungan perlahan2 terbentang lebar.
It boen Pit Giok menyeka pipinya yang basah oleh air
mata, air mukanya berubah hebat den napsu membunuh
menyelimuti wajahnya yang ayu.
Dibawah cahaya rembulan tampaklah dari balik tembok
pekarangan perkampungan yang tinggi muncul dua orang
lelaki membawa lampu lentera berbentuk bulat, ia berjalan
terus hingga kepintu depan lalu berpisah dan membentuk
lingkaran setengah busur.
"Hmm! dua orang setan tua ftupun berani menggunakan
beberapa buah lampu lenteng tengah untuk menakuti
orang!" dengus It boen Pit G!ok mendongkol, ia ulapkan
tangannya den segera berseru keras :
"Atur barisan lentera marah!"
Diiringi bentakan nyaring, lentera merah sering
berkelebat memenuhi angkasa, dalam sekejap mata kedua
puluh empat buah lampu lentera merah itu telah menyebar
dibelakang tubuhnya, ditangan kiri gadis2 pembawa lentera
itupun telah bertambah dengan sebuah seruling pendek,
suasana seram den penuh wibawa.
Mendadak.... terdengar gelak tertawa yang amat nyaring
bergema diangkasa dari dalam perkampungan Tay Bie Sancung
melayang keluar dua sosok barengan manusia yang
tinggi besar.
Si Rasul pembenci langil Ku loei dengan mengunakan
jubah warna merah, sambil tertawa tergelak malayang
ketengah kalangan, sekejab itu tegurnya dengan suara keras
"Haaah.... haaaah..... haaaah.... ternyata arak murid tiga
dewa dari luar lautan adalah manusia yang benar2 pegang
janji, malam ini sesuai dengan saat perjanjian telah
berkunjung kemari, bilamana loolap rada terlambat
menyambut kadatangan kalian harap suka dimaafkan..."
Mendadak ia merendek, sinar matanya dari arah tubuh It
boen Pit Giok parlahan lahan beralih keatas tanah.
Mengikuti arah sinar matanya gadis it boen pun ikut
memandang kebawah, tampaklah mayat manusia
bergelimpangan dimana mana, darah warna hitam yang
telah membeku dimana keadaannya menyeramkan.
Ku Loei menyentil harpa kunonya berat berat hingga
menerbitkan suara getaran amat keras, teriaknya:
"Sungguh berbahagia kematian ketiga puluh orang ini,
sungguh tak nyana mereka bisa berpulang kealam baka
diiringi irama penukluk iblis pembuvar sukma dari Thiat
Tia Sinnie", wajahnya berubah membesi, terusnya lebih
jaub, "Atas nama mereka, loolap mengucapkan banyak
terima kasih kepadan ahli waris dan sin-nie."
Mereka sama sekali bukan mati dibawah irama musik
seruling bajaku...." tukas ft boen Pit Giok kembali melirik
sekejap kearah mayat mayat tersebut.
Kematian mereka tanpa meninggalkan bekas luka
dibadan, atau mungkin..."
"Siapa bilang mereka mati karena irama serulingku? coba
periksa, bukankah mereke mati karena termakan ilmu
telapak lembek dari Butong Pay...."
Sebelum Ku Loei sempat buke suara, kakek kurus kering
berjubah hijau yang ada disampingnya telah menyela
dengan suara dingin :
Orang2 itu sudah modar semua, apa gunanya kita urusi
mereka lagi? kalau memang mereka mati karena ilmu
pukulan Butong pay, hutang darah ini bisa kita tagih kepada
pihak partai Butong dikemudian hari"
ia maju setindak kedepan, lalu berseru
Loolap adalah Chin Tiong, tolong tanya siapa nama
nona?".
Dengan pandangan mendalam It boen Pit Giok
memandang sekejap wajah si Rasul Pengutuk Langit Chin
Tiong. kemudian lambat2 jawabnya:
"Aku bernama It boen Pit Giok, Saya Gwan Thiat Kie
Khek sipenunggang kuda baja dari luar perbatasan It boen
Cu Tok yang mati dipuncak Pek Long Hong gurun pasir
sebelah utara pada enam beias tahun berselang bukan lain
edalah ayahku"
Sekilas rasa keget berkelebat diatas wajah Chin Tiong,
Sementara air muka si Rasul Pembenci Langit Ku Loei
berubah hebat.
"Enam belas tahun berselang kalian telah bekerja sama
untuk membinasakan ayahku dan merampas peternakan
Pek Liong
beserta ketujuh belas cabangnya ini malam aku sengaja
datang kemari untuk menuntut dendam berdarah ini, aku
hendak membalaskan dendam darah ayah dan semua
keluargaku, oleh sebab itulah pada dua bulan berselang
dengan seruling baja aku telah memberi kabar kepada
kalian untuk berjumpa disini pada kentongan ketiga: "
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya. Sebab malam ini
pada kentongen ketiga, enam belas tahun berselang bukan
lain adalah saat kematian kedua orang tuaku".
Chin Tiong tertawa seraya,
"Heeh... heeeh.... heeeh.... tadinya aku mengira Thiat
Tie Sinnie tidak ingin menyaksikan perkampungan Tay Bie
San Cung tancapkan kaki dalam dunia persilatan maka
telah turunkan perintah Iblis Tit leng. tak tahunya hanya
disebabkan persoalan nona it boen"
Dengan wajah serius sambungnya
"Pada lima belas tahun berselang loolap serta suhengku
tidak pernah meninggalkan laut Seng Sut Hay barang
setapakpun, apa lagi mengunjungi puncak Pek Liong Hong
yang ada digurun pasir sebelah utara. Aku rasa persoalan
mengenai ayahmu..."
"Hmm, aku mengerti bahwasanya kalian tidak akan
mengakui perbuatan kalian yang terkutuk itu, tapi tahukah
kalian bahwa tepat disaat terjadinva peristiwa itu kebetulan
suhuku yeng sedang mencari bahan obat obatan digurun
pasir dapat menyaksikan semua peristiwa mengerikan
didalam peternakan Pek Liong dengan amat jelas apakah
dia orang tua bisa keliru mengenali ilmu silat aliran Seng
Sut Hay kalian? maka dari itu dalam sekilas pandang saja
beliau telah tahu siapakah orang yang melancarkan
serangan terkutuk itu
"Haaah..... haaaah... haaah... " Si Rasul pembenci Langit
Ku Loei tertawa seram." Seandainya pada saat itu Thiat Tie
Sinnie benar benar hadir disitu. kenapa ia tidsk turun
tangan nntuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut?".
Titik titik air mata jatuh berlinangan membasahi pipi It
Boen Pit Giok yang halus.
"Dari tempat kejauhan suhu menyaksikan terjidinya
suatu kebakaran hebat ditengah padaeg rumput, ketika
beiiau mengejar sampai keaitu, kalian telah membinasakan
seluruh orang yang ada dalam peternakan Pek Liong dan
sedang kabur dari situ. sebenarnya dia orang tua hendak
menyusul kamu sekalian, namun disebabkan ia jumpai
diriku yang ada didalam gentong ditengah reruntuhan puing
puing rumah, maka tidak sempat menyusui kalian beliau
menolong dinku lebih dahulu...
"Hmm, hanya berdasarkan petunjuk itu, kau lantas
menuduh kami yang membakar peternakan Pek Liong?"
Seru Ghin Tiong ketus, ia tertawa dingin "Perbuatan itu
tidak lebih hanya perbuatan perbuatan dari orang
gelandangan, apa sangkut pautnya dengan kami?".
"Benar Kami anggota perguruan Seng Sut Hay tidak anti
melakukan perbuatan rendah seperti membakar rumah,
membunuh orang seperti apa yang kau katakan barusan,
rupanya suhumu telah salah melihat".
"Jadi kalian tetap bersikeras tak mau mengaku??" seru It
boen Pit Giok sambil menatap wajab kedua orang itu tajam
tajam.
Sekalipun Ilmu silat kalian luar lautan sangat ampuh dan
lihay, belum tentu kami dari aliran Seng Sut Hay jeri,
kenapa tidak berani mengakui perbuatan semacam itu?".
"Heeeh... heeeh... heeeh... jadi kau telah mengaku".
Untuk sesaat Ku Loei dibikin bungkam oleh desakan
lawan yang tajam, tak sepatah katapun ranggup dia
ucapkan lagi.
Air muka Chin Tiong berubah hebat, tiba tiba serunya:
"Meskipun paluhan tahun betselang tiga dewa dari luar
lautan berhasil memaksa suhu kami hingga tak sanggup
tancapkan kaki dari daratan Tionggoan dan harus
mengasingkan diri, tapi hal mi,belum berarti bahwa ilmu
silat aliran luar iautan adalah nomor wahid dikolong langit,
aku lihat lebih baik kau jangan membolak balikkan
kenyataan dan memfitnah kami dengan tuduhan yang
bukan bukan karena andalkan pergaruh Thiat Tie sinnie...".
"Ooooh jadi kalian belum juga mau mengaku?".Teriak It
boen Pil Giok dengan gusarnya, tiba tiba dia ayunkan
tangan kirinya, Cobs lihat, benda apakah ini?".
Mengikuti gerakan tangan lawan Chin Tiong sagera
berpaling, tampaklah diatas telapak It boen Pit Giok yang
putih bagus terletak sebuah tanda pengenl besi yang
berwarna hitam perak
Begitu menyaksikan benda tadi, air muka si Rasul
Pengutuk langit ini kontan berubah hebat... Nama stepa
yang terukir diatas tanda pengenal itu? coba jawab!....
benda ini bukan milikku?". teriak sang gadis semakin
menjadi, tertawa dingin bergema tiada hentinya.
Air muka Cbin Tiong berubah semakin hebat, setelah
hening sesaat jawabnya:
"Tanda pengenal Seng-Gwat-Thiat Pay milikku itu sudah
hilang sejak dua puluh tabun berselang, darimana bisa kau
daoatkan?".
"Benda inilah' yang berhasil didapatkan suhuku ditengah
lapangan peternakan itu".
Ia tarik napas dalam dalam, lalu sambungnya:
"Kau tak usah mungkir lagi, malam ini akan kusuruh
kalian saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat
aliran Luar Lautan, kemudian jiwa kalian baru akan ku
cabut".
Seruling bajanya diayun ketengah udara dan
senandungnya lirih
"Lampu lentera meaciptakan selaksa bayangan, seruling
hitam muncul dipintu laksa
Seketika itu juga lampu merah mulai bergerak, gadis2
berbaju merah itupun bergerak silih berganti kesana kemari,
dan dalam waktu singkat dua tombak disekeliling kalangan
telah terkurung rapat.
Selangkah demi selangkah It boen Pit Giok melangkah
kedepan, ujarnya
"Sekarang kalian telah terkurung didalam lampu
merahku, tak nanti kalian bisa lolos dengan keadaan
selamat...
Ia tutul seruling baja ditangannya hingga menerbitkan
suara aneh yang membisingkan kepalam, cahaya tajam
berkilauan memenuhi angkasa membuat suasana jadi seram
"Sekarang, rasakanlah dahulu dua belas jurus ilmu
aeruling bajaku, kemudian nikmatilah irama penakluk iblis
pembuyar sukmaku" serunya dingin.
Ku loei terawa psnjang.
"Loo jie, sekarang adalah saatnya bsgi kita untuk
menjajal ilmu bintang dan rembulan berebut cahaya".
Ia sisipkan harpa kuno yang dipeluknya diatas
punggung, telapak kanan berputar, diiringi suara desiran
tajam serentetan angin teranpan bagaikan sabetan golok
membabat keluar.
Chin Tiong putar badannya, lima jari tangannya
dipentangkan bagaiken cakar, mengimbangi gerakan Ku
Loei dari kanannya,
bentuk gerskan satu lingkaran busur dan menyapu
keluar.
Dengan bergeraknya tubuh mereka maka terlihatkan
sautu kerjasama yang erat srangan msreka tergulung dsn
menyapu b»gaikan hembusan angin taupan, menembusi
tubuh It boen Pit Giok seketika itu juga terkurung rapat
Dalam pada itu gadis cantik dari luar lautan ini belum
melakukan sesuatu tindakan, tatkala dirasanya segulung
angin tajam meayambar datang dengan hebatnja dengan
cepat Kakinya bergeser kesamping, meoggunaksn ilmu
langkah Leng Pou Wie Poh ia hindari datangnya ancaman
ilmu pukulan golok perontok pukulan iawan.
Lengannya dipentangkan seruling baja tersebut diiringi
musik yang lembut menotok telapak kanan Ku Loei.
Chin Tiong mendengus dingin, lima jarinya
dipentangkan lebar2, laksana kaitan ia mencakar keluar,
kemudian diikuti telapak kirinya dengan menggunakan
jurus "Seng Lok Goan Yat" atau Bintang Rontok di padang
tandus menghantam punggung It boen Pit Giok
Dalam pada itu Ku Loe! sedang didesak mundur oleh
serangan lawan, tampaklah It boen Pit Giok mengayun
gaunnya hingga beterbangan, seruling bajanya diiringi
desiran ysng memekikkan telinga segera menyapu kearah
bawah.
Ketika itu sepuluh jari Chin Tiong baru saja dipentang
keluar, mendengar irama seruling yang begitu aneh dan
tajam itu seketika hatinya lergetar keras, sentilan kesepuluh
jarinya pun rada merandek sejenak
Cahaya hitam segera memenuhi angkasa, beribu ribu
batang cahaya seruling baja dengan memenuhi angkasa
menyapu datang.
Chin Tiong meraung keras, tubuh bagian atasnya
berjongkok kebawah, sepuluh jarinva menyentil berbareng,
desiran angin totokan yeng dingin dan tajam langsung
menyambar bayangan seruling yang memenuhi angkasa.
Perubahan ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan
kilat bayangan seruling seketika sirap dan tahu2 senjata
gadis itu telah berhasil dicengkeramnya.
It boen Pit Giok mendengus dingin pergelangannya
digelarnya seruling bajanya seketika membentuk tiga buah
lingkatan kecil yang dengan cepat membentur pergelangan
Chin Tiong dikala jari tangan lawan hampir menggenggam
Tiba2 Ku Loei membentak keras, telapak kanannya
diarak balik untuk melindungi diri, tangan kiri menyapu
keluar diikuti kakinya maju riga langkah kemuka, dengan
Gwat Hoen Lok" atau Sukma Rontok dibawah sinar
rembulan ia babat badan lawan.
Dalam sekejap mata Chin Tiong membentak, badannye
bergeser mundur enam depa kebelakang, sedangkan Ku
Loei menggetarkan sepasang lengannya dan ikut loncat
pula delapan depa kebelakang, wajahnya menunjukkan rasa
kaget bercampur gusar yang tak terhingga.
Tiga soiok bayangan manusia segera berpisah, It-boen Pit
Giok memutar jari telunjuk tangan kirinya membeniuk
gerakan setengah busur lalu ditarik melindungi dada,
wajahnya serius dan ia tatap seruling sendiri dengan
pandangan tajam.
Chin Tiong rangkap sepasang telapaknya, sepuluh jari
berbunyi gemerukan yang keras, oleh hantaman seruling
gadis sbe It Boen hampir saja sekujur badannya pada kaku.
"Loo toa. apakah kau menderita kerugian?" tegur Chin
Tiong.
"Loo jie, hati hati dengan budak ingusan ini dia mengerti
pula ilmu jari sakti "Tan Cie Saan Tiong" dari kalangan
budha".
"Hmmm, kepandaian kalian tidak jelek" jengek It boen
Pit Giok sambil melirik sekejap mantelnya yang terhantam
hingga robek, "Tenyata mantelku yang begitu lunak dan
halus pun berhasil kalian hantam sampai robek!".
Ku Loei tertawa dingin tiada hentinya, tidak gubris
ocehan orang sementara hawa murninya segera disalurkan
keseluruh badan guna siap siap menghadapi serangan
berikutnya.
Tiba tiba sebuah bentakan keras berkumandang
memecahkan kesunyian, seorang lelaki muda munculkan
diri dari balik barisan lampu lentera merah yang telah
menyebar diempat penjuru itu.
"Socouw, pil obat ini telah siap" terdengar orang itu
berteriak keras.
Mendengar seruan itu air muka Ku Loei maupun Chin
Tiong menunjukkan tanda tanda kaget bercampur girang.
Mereka saling bertukar pantangan sekejap, kemudian
terdengar Ku Loei bertanya
"Apakah Hoa Tuo mengatakan bawa obat ini harus
segera ditelan?"
"Hoa sucouw memerintahkan obat itu segera harus
ditelan, sebab sebentar lagi daya kerja obat itu akan
menunjukkan hasilnya.
Ku Loei segera menyambut sebuah botol porselen yang
ditempatkan kearahnya.
Ke Liat, cepat kau kembali kedalam perkampungan"
serunya.
Kcmudian dibukanya botol porselen tadi dan ambil
keluar dua butir pil yang segera ditelan kedalam perut,
setelah itu dia serahkan botol porselen tadi ketangan Chin
Tiong.
Tatkala menyaksikan Chin Tiong serta Ku Loei menelan
dua buah pil yang dikirim oleh seorang peronda, dalam hati
It Boen Pit Giok segera berpikir:
"Rupanya tadi mereka berdua memang sengaja sedang
mengulur waktu dengan tujuan hendak menantikan
kedatangan obat tersebut, Hmm aku tidak percaya kalau
obat tadi sanggup menahan gabungan irama penakluk iblis
pembuyar sukma serta barisan lampu merahku".
Maka dia lantas mendengus dingin den berseru:
"Barisan Icmpu merah hanya mengijinkan orang masuk
tak mengijinkan mereke keluar, sekarang kau masih ingin
melarikan diri?"
Jari jari tangannya yang halus dan putih ramping itu
segera bergerak, seruling ditempelkan dibiblr dan
berkumandanglah irama seruling yang tinggi melengking
bergema diseturuh angkasa.
Tubuh Ke Liat yang sedang lari kemuka seketika
merengek ditengah jalan, sepasang kakinya jadi lemas dan
tak ampun dia jatuhkan diri berlutut diatas tanah, wajahnya
berkerut kencang menahan penderitaan serta siksaan yang
hebat, sambil menjerit lengking dari mulutnya segera
menyembur keluar darah segar.
Menyaksikan keadaan cucu muridnya menderita sekarat,
buru buru Ku Loei lepaskan harpa kunonya dari panggung,
sepuluh jari bergerak cegat dan...... Cring! Cring! dua
rentetan irama keras segera menghalau gema irama seruling
yang berkumandang diangkasa.
It boen Pit Giok tertawa dingin.
"Hmmm kalau memang kalian begitu berminat untuk
mendengarkan irama Penakluk iblis Pembuyar sukmaku?
Nah! pentanglah telinga kelian lebar lebar dsn nikmatilah
Irama penghantar kealam baka ini!" jengeknya
"Aku harap kau suka lepaskan cucu muridku ini berlalu
dari sini" mohon Chin Tiong.
It been Pit Giok sama sekali tidak menggubris ucapan
orang lima jarinya bergerak cepat, irama serulingpun
seketika berkumandang kembali memenuhi angkasa.
Mengikuti bergemanya irama seruling tersebut, gadis
gadis berbaju putih yang membawa lentera merah itupun
mulai bergerak kelana kemari, maka dalam waktu singkat
irama seruling yeng rendah berat tadi telah memenuhi
setiap ruang kosong disekeliling sana.
Bergeraknya lampu lentera semakin mengaburkan
pandangan orang, seolah olah beribu ribu buah lampu
secara serentak bergerak berbareng menyumbat dan penuhi
setiap ruang kosong disekeliling sana
"Aduh celaka....." teriak Chin Tiong, tanpa
mempedulikan keselamatan Ke Liat lagi. ia tarik tangan Ku
Loei untuk kemudian sama sama duduk bersila diatas tanah
la pejamkan matanva rapat rapat, dari dalam saku
diambilnya due buak genderang yang segera dijepit diantara
kakinya dan mulai dipukul berlalu talu.
Ku Loei duduk dengan punggung bersandar punggung
dari Chin Tiong yang satu memeluk harpa kuno yang lain
menjepit ember kecil, mengikuti irama seruling lawan
berlangsunglah duel musik yang menegangkan urat saraf.
Beberapa saat telah berlalu dengan cepatnya. gabungan
irama musik yeng menggema diangkasa itu membuat
telinga siapapun yang mendengar teresa mau meledak. Tiba
tiba Ke Liat menjerit keras, sepasang matanya menekan
dada keras keras, matanya melotot besar dan menetap
wajah It boen Pit Giok tak berkedip.
Bibirnya bergema perlahan namun tak sepatah katapun
sanggup diutarakan keluar. sinar matanya memancarkan
penderitaan yang bukan kepalang, bslum sampai dua
langkah ia maju sempoyongan tubuhnya roboh kembali
keatas tanah.
Dan mulutnya menyembur keluar pancuran darah segar
yang segera muncrat keempat penjuru dan membasahi
seluruh tubuhnya, orang itu menjerit jerit dengan suara
serak, kemudian berkelejet beberapa kali dan akhirnya
badannya menegang, putuslah jiwanya.
It Boen Pit Giok mengerutksn sepasang alisnya, perlahan
lahan ia melengos kesamping. Sejak dilahirkan belum
pernah ia saksikan betapa menderita dan tersiksanya
eseorang yang sedang msnghadapi sekarat, tanpa terasa
timbul suatu perasaan yang aneh dan sukar dilukiskan
dangan kata2 dari dasar hatinya.
Pada saat itulah mendadak suara tambur dsn harpa
berubah, dari irama yang gencar dan cepat kini berubah jadi
lambat dan tenang bagaikan awan diangkasa.
Seketika itu juga irama seruling terbendung, irama harpa
yang bercampur dengan irama tambur parlahan laban
menggema dan menusuk telinganya.
Perasaan It boen Pit G!ok seketika bergoncang keras,
irama harpa lawan dengan cepat menyerang kedalam
hatinya, dalam sekejap mata paadangannya jadi kabur dan
muncullah suatu bayangan seseorang yang ganteng dan
gagah..
"Pek In Hoei" hatinya bergetar keras, ia merasa seakan
akan dihadapannya muncul bayangan pemuda itu yang
mana sambil tersenyum menghampiri dirinya. Tanpa sadar
ia turunkan serulingnya dari bibir.....
Dengan kacaunya irama seruling, maka irama
tamburpun semakin meninggi, sekeliling tempat itu segera
dipenuhi oleh gabungan irama harpa dan tambur
Ku Loei menyeka air keringat yang telah membasahi
wajabnya resa tegang yang menyelimuti wajahnya perlahan
menyusut hilang, ia berpaling memandang sekejap wajah It
boen Pit Giok yang masih termangu mangu, lalu pikirnya:
"Asalkan irama serulingnya dimainkan sampai tingkat
yang ketiga, tenaga kami niscaya akan terkuras habis dan
hawa darah dalam urat nadi akan kacau dan akhirnya
pecah dan mati Namun kenapa secara mendadak ia
menghentikan serangannya den memberi kesempatan
kepada kami untuk meloloskan diri dari maut..."
Dia tidak tahu apabila It boen Pit Giok sewaktu
menerima pelajaran irama penakluk iblis pembayar sukma
dari Thiat Tie Sinnie masih merupakan seorang gadis suci
yang tidak dibebani dengan pelbagai pikiran, lagi pula gadis
itupun tidak tahu bila irama sakti ini mempunyai daya
serang yang begitu hebat hingga sanggup menghancurkan
urat syaraf orang.
Maka dari itu tatkala menyaksikan betapa seram dan
ngeriuya Ke Liat di saat yang terakhir, hatinya jadi
melengak dan saat itulah pikirannya segera terpengaruh
oleh serangen irama harpa lawan.
Maka dari itu bayangan Pek In Hoei yang melekat terus
daiam benaknya segera muncul didepan mata, membuat ia
tak sanggup meneruskan permainan serulingnya dan
memberi kesempatan bagi Ku Loei serta Chin Tiong untuk
berganti napas.
Dengan tertegunnya gedis ini, maka gadis gadis diempat
penjurupun mulai kacau terpengaruh irama gabungan
lawan, barisan lampu merah yang ampuh dan kuat itupun
mulai kacau dan berantakan tidak karuan.
Menyaksikan keadaan pihak lawan, meskipun seluruh
tubuh Chin Tiong basah kuyup oleh keringat namun
wajahnya kelihatan amat bangga, ia pentangkan matanya
memandang kawanan gadis berbaju putih yang mulai
limbung den lari kesane kemari tidak karuan, pikirnja
dalam hati:
"Tidak sampai teperminum teh lagi mereka pasti akan
muntah darah dan modar.
Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam
benaknya, tiba tiba terdengar suara bentakan dahsyat
laksana guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggema diangkasa, sesosok bayangan manusia berwarna
keperak perakan dengan cepatnya meloncat masuk kedalam
barisan.
Chin Tiong tertegun, belum sempat pikiran kedua
berkelebat dalam benaknya, serentetan cahaya tajam yang
amat menyilaukan mata telah meluncur datang.
Si Rasul Pengutuk Langit ini jadi kaget, buru buru ia
menghindar kesamping, namun sayang gerakannya rada
terlambat satu langkah. tahu tahu tambur kecil yang dijepit
diantara kakinya telah hancur terpapas oleh sapuan senjata
lawan.
Melihat senjata kesayangannya hancur orang she Chin
ini naik pitam, ia balas membemak keras den kesepuluh
jarinya dengan membentuk bayangan yang menyilaukan
mata segera menyapu keluar.
Pek In Hoei atau sipemuda yang berusan munculkan dari
dalam kalangan Itu mendengus dingin, pedangnya diputar
membentuk gerakan setengah busur lalu membabat
kemuka.
Cahava pedang berkelebat menyilaukan meta, sacara
beruntun tiga lapis hawa pedang secara bersusun menyapu
tiba.
Chin Tiong berkelit kesamping, sebelum serangan dari
kesepuluh jarinya mencapai pada puncaknya, ia sudah
didesak balik oleh cahaya pedang lawan yang dahsyat.
"Breeecet.... tubuh hijau bagian dadanya segera
tersambar pedang lawan dan muncullah sebuah robekan
panjang.
Dengan menahan rasa sakit ia msraung keras, gerakan
tubuhnya tetap tak berubah, dengan punggung menempel
diatas punggung Ku Loei ia melayang empat depa kemuka.
nyaris sekali ia berhasil loloskan diri dari serangan berantai
lawan.
Perubahan yang terjadi secara tiba2 ini seketika
mengejutkan It-boen Pit Giok, ia mendusin dari
lamunannya dan segera menyadari bahwa girinya telah
terjerumus kedalam pengaruh orang.
Dalam pada itu Pek In Hoei sambit mencekal pedangnya
yang masih basah oleh darah lawan berdiri gagah
dibadapannya, dengan serius terdengar ia menegur;
"Apaksh kau terluka?"
It-boen Pit Giok berseru tertahan, merah jengah selembar
wajhnya, sambil menatap wajah Pek In Hoei tajam2
mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Menyaksikan wajahnya menampilkan rasa terperanjat,
sianak muda she Pek ini lantas mengira kalau gadis itu telah
terluka, buru-buru ia melangkah kedepan mendekatinya,
sekali lagi ia menegur:
"Apakah kau terluka?"
Bukannya berterima kasih, mendadak hawa gusar
bercampur malu muncul dari lubuk hati It-boen Pit Giok,
sambil ayunkan telapaknya kedepan, makinya kalang kabut:
"Kaulah yang mencelakai diriku, gara2 kau ini hari ini
aku menderita kekalahan total!"
Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau secara
tiba2 gadis itu bisa menampar wajahnya, disaat ia masih
tertegun
Ploook sebuah gaplokan keras telah mendarat dipipinya,
seketika Itu juga terbekaslah lima jari yang merah diatas
wajahnya yang ganteng.
Pek In Hoei makin tertegun, ia tatap wajab lawan
dengan mata terbelalak, sepatah katapun tak sanggup
diutarakan.
It boen Pit Giok sendiripun dibikin sadar kembali setelah
mendengar gaplokan yang nyaring itu. ia sendiri berdiri
tertegun dengan mulut melongo, matanya memandang
pemuda itu dengan mata terbelalak dan untuk beberapa saat
diapun tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Lama sekali akhirnva hawa gusar menyelimuti wajah
Pek In Hoei, tegurnya dengan rasa mendongkol:
"Mengapa kau gaplok pipiku? apakah aku sudah salah
menolong dirimu?..."
Ia tarik napas dalam2, kemudian dengan suara keras
ujarnya kembali:
"Coba libat barisanmu itu, dan lihat pula bajingan2 yang
membawa lampu putih diluar barisanmu. Hmm mereka
semua membawa tabung rahasia yang berisi cairan racun.
Asal selangkah saja aku datang terlambat cairan racun
dalam tabung rahasia mereka tentu sudah dimusnahkan
kedalam, seandainya sampai terjadi begitu kau anggap jiwa
kalian bisa selamat?"
Titik airmata jatuh berlinang membasahi wajah It boen
Pit Giok, lama sekeli ia berdiri tertegun sambil menatap
wajah Pek Ia Hoei, tiba2 ia tutup wajah sendiri dengan
tangan lalu sambil menangis terisak putar badan dan kabut
dari situ,
Dalam sekejap mata para gadis pembawa lentera
merahpun ikut berlalu dari situ.
Dengan termangu mangu Pek In Hoei memandang
bayangan punggung It Boen Pit Giok yang mulai menjauh
dari sana, dalam hati kecilnya timbul suatu perasaan sangsi
yang sukar dilukiskan dengan kata kata,
Rupanya sewaktu ia berlalu sambil melangkah perlahan
lahan tadi, sepanjang perjalanan bayangan dari It boee Pit
Giok selalu muncul dalam benaknya dan ucapan gadis Itu
selalu mendengung disisi telinganya, semakin ia berusaha
untuk menghilangkan bayangan gadis tadi. bayangan It
Boen Pit Giok semakin nyata membekas di hatinya.
Akhirnya ketika ia tiba ditepi tembok kota, pemuda she
Pek ini baru dapat memahami apa artinya cinta dan benci,
maka buru2 ia lari balik ketempat semula. disana
ditemuinya gadis dari luar lautan iru sedang berada dalam
keadaan bahaya.
Siapa sangka setelah ia berhasil menyelamatkan jiwanya,
bukan terima kasih yang didapatkan sebaliknya ia dipersen
sebuah tempelengan oleh gadis tersebut.
Maka pikiran yang mulai terbuka kini terbuka kini,
kembali. sebab ia tidak mengerti apa sebabnye wajahnya
ditampar olehnya.
"Kaulah mencelakai diriku, gara2 kau sku hampir saja
celaka..." Dengan hati tercengang ia membatin. "Kapan aku
celakai dirinya?"
Semakin dipikir kepalanya semakin pusing namun belum
juga didapatkan alasan untuk nemecahkan teka teki
tersebut, akhirnya ia menghela napas panjang dan berseru :
"Aaaai hati kaum gadis memang gampang berubah
bagaikan awan diangkasa, sukar dipahami oleh siapapun
juga."
Pada saat itulah, mendadak dsri tengah kalangan
terdengar suara orerg berseru kaget disusul suara Ku Loei
berkumendang memecahkan kesunyian:
"Aaaah dia, dia adalah putra sipedang penghancur sang
surya dari partai Tiam cong dia adalah anak dari Pek Tiang
Hong"
Dengan cepat Pek In Hoei putar badan ditatapnya wajah
Ku Loei yang tertampak dengan mata melotot,
pemandangan dikala manusia she Ku ini bertarung
melawan. Kim In Eng sewaktu ada digunung Cing Shia
tempo dulupun segera terbayang dalam benaknya.
"Tidak salah" dia mengangguk tanda membenarkan.
"Aku adalal Pek In Hoei putra dari Pek Tiang Hong"
"Pek Iin Hoei?" Seru Chin Tiong melengak,
dipandangnya sekejap luka didepan dadanya. "Jadi kau
yang disebut orang kangouw sebagai sijago pedang
berdarah di dingin Pek In Hoei?"
"Cayhe adalah Pek In Hoei, namun bukan sijago pedang
berdarah dingin yang kau maksudkan"
Ku Loei sambil membp ong harpa kunonya memandang
sekejap kearah Chin Tiong lalu katanya:
"Sedikitpun tidak salah, dia memang bukan sijago
pedang berdarah dingin Liong jie pernah berjumpa dengan
manusia itu sewaktu ada dikota Yong Shia bahkan pernah
minta petunjuk ilmu pedangnya pula, dalam pertarungan
itu kedua belah pihak tak ada yeng menang dan tak ada
yang kalah. waktu itu aku lantas berani ambil kesimpulan
bahwasanya sijago pedang herdarah dingin adalah murid In
Eng
Pak In Hoei mengerti yang dia maksudkan pastilah Kim
Lang Boen, maka dengan alis berkerut tanyanya:
"Mengenai jejak dari Kim in Eng Cianpwee....?"
"Keparat cilik jadi kau adalah sikeparat busuk yang
bersembunyi dibelakang In Eng malam jtu?" tiba2 Ku Loei
membentak keras, ia maju selangkah kedepan tambahnya:
"Aku sedang ada maksud mencari dirimu"
"Hmmm akupun sedang kemari untuk mencari dirimu"
"Keparat cilik ini rada2 lihay" bisik Chin Tiong sambil
menarik tubuh Ku Loei kesisinya. Dua serangan jari
bintang kejora yang kuhantam keatas dadanya tadi sama
sekaii tidak memberikan reaksi apapun juga, kemungkinan
besar dia adalah anak murid dan Thay Chi lang Jen, si setan
tua diluar lautan, dan telah berhasil melatih ilmu sinkang
yang kebal senjata serta pukulan...."
Dsogan pandangan yang tajam Pek In Hoei mengawasi
jubah yaag dikenakan Chin Tiong, tiba dari sakunya dia
ambil keluar secarik potongan kain, lalu bentaknya keras:
"Kau masih ingat dengan benda ini? sewaktu sda
dipuncak gunung Cing Shia..."
Begitu mendengar kata2 Puncak gunung Cing Shia, air
muka Rasul pengutuk langit ini seketika berubah hebat
dengan hati jeri dia mundur selangkah kebelakang.
Pek In Hoei tahu tindak tanduknya yeng ngawur barusan
kemungkinan besar akan berhasil mengetahui salah satu
dari pengerubut ayahnya waktu ada dipuncak gunung Cing
Shia tempo dulu darah panas dalam dadanva segera
bergolak, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.
Bekas tanda merah yang ada diantara sepasang alisnya
kian lama kian membara hingga akhirnya begitu merah
semakin akan darah tegar
Dari sekujur badannya memancar keluar suatu tenaga
misterius yeng maha dahsyat yang mana segera
mengejutkan hati Ku Loei maupun Chin Tiong. air muka
mereka berubah mengenaskan sekali.
-oo0dw0oo-
Jilid 11
MASIH ingatkah apa yang pernah kau ucapkan sewaktu
"mengerubuti ayahku diatas puncak gunung Cing shia
waktu itu? sepanjang masa takkan kulupakan kata-katamu
itu!"
Nadanya dingin dan ketus seakan akan udara yang
berhembus keluar dari gua salju berusia ribuan tabun,
seketika membuat tubuh Chin Tiong gemetar keras
Mendadak Pek In Hoei melangkah maju setindak
kemuka, pedang penghancur sang surya diayun kedepan
membentuk sekilas cahaya tajam yang menggidikkan hati.
Serunya lantang:
"Kau berkedudukan sebagai seorang Bulim cianpwee
ternyata dengan tindakan yang rendah dan bejat
menyembunyikan empat lima puluh orang untuk
mengeroyok ayahku sampai mati, seandainya ayahku
almarhum tidak memotong secarik kain jubahmu serta
suaramu hingga kini tidak berubah, dendam berdarah
sedalam lautan ini entah sampai kapan baru bisa kubalas
setan tua! serahkan jiwamu kepadaku"
Chin Tiong tarik napas dalam dalam, ia tenangkan lebih
dahulu rasa jeri dan takut yang berkecamuk dalam
dadanya,
kemudian sepasang lengannya digetarkan hingga sekujur
tubuhnya memperdengarkan suara gomerutuk yang amat
keras.
"Loojie! kiranya rencana malam itu kaulah yang susun"
bisik Ku Loei dengan nada lirih. "Jangan takut, pil sakti Pek
Loo Tay Wan dari Hoa Loo jie telah memperlihatkan
kehebatannya! mari kita turun tangan mencabut rumput
keakar akarnya, daripada meninggalkan bibit bencana bagi
kita dikemudian hari
Ia mendengus dingin, tulang belulang sekujur badannya
memperdengarkan suara gemerutuk yang amat nyaring,
ditengah suara krok... krook yang keras telapak tangannya
dilintangkan kemuka melindungi diri, sementara wajahnya
dengan serius mengawasi tingkah laku musuh. Dalam
sekejap mata telapak tangannya yang besar dan kaku itu
mulai berubah jadi warna abu2 tua.
Tempo dulu ketika Pek In Hoei masih belum mengerti
akan ilmu silat, ia pernah saksikan Ku Loei memotong
sebuah batu cadas yang besar dipuncak gunung Ching Shia
dengan ilmu sesat golok perontok rembulannya.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa ABG : ITB 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments