Cerita Mesum ITB 3

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Mesum ITB 3


Baca Juga:

11 Jul 2011 ... Nembak 'Kumpulan Cerita Dewasa Sedarah Anak SMP' sudah. Dilanjut masih dengan tema yang hampir mirip2 yakni Kumpulan Cerita ...
aliafif.blogspot.co.id
10 Jul 2011 ... Cerita Dewasa Seks Oral adalah lanjutan dari 'Cerita Dewasa Seks Membuat Seksi tadi. Cerita Dewasa ini adalah pengalaman nyata Nyonya Helena yang ... Nembak ' Kumpulan Cerita Dewasa Sedarah Anak SMP ' sudah.
aliafif.blogspot.co.id
1 Mei 2011 ... Nembak ' Kumpulan Cerita Dewasa Sedarah Anak SMP ' sudah. Dilanjut masih dengan tema yang hampir mirip2 yakni Kumpulan Cerita ...
aliafif.blogspot.co.id
-
Siauw Hong sudah mati" tukas nyonya itu dengan cepat
"Gelarku sekarang adalah Ko In, harap kau sebut aku
dengan gelar ini aja".
Ia tarik napas panjang, setelah merandek sejenak
tambahnya :
Dengan membawa peluruh Pek Lek-cu dari Dewa Peluru
Hong Loei kau telah menciptakan pembunuhan yang sadis
dan kejam, apakah Giong Lam dia "
Hmmm ! sejak aku mendapatkan tiga butir peluru Pek
Lek-cu dan Hong Loei pada tiga puluh tahun berselang,
belum pernah sekalipun kugunakan benda tersebut, tapi
sekarang akan kugunakan peluru sakti ini untuk
meledakkan seluruh lembah seratus racun hingga rata
dengan tanah, aku hendak membalas dendam bagi sakit
hatiku, Siauw Hong! harap kau jangau nasehati diriku
lagi!".
Ia berhenti sejenak, kemudian pentang mulutnya lagi dan
mulai memaki :
Bukan saja semua cucu buyut kunyuk kunyuk itu yang
kubunuh sampai ludus, terutama sekali Giong Lam bangsat
tua, bajingan tengik dan anak haram itu akan kuremas
badannya hingga gepeng bagaikan perkedel
Sepasang alis Ko In Nikouw kontan berkc rut kencang.
„Baiklah, kita jangan bicarakan soal Giong Lam. Aku
mau tanya kepadamu dendam permusuhan apakah yaug
telah terikat antara kau dengan anggota anggota perguruan
seratus racun? apa sebabnya kau hendak mem basmi
mereka semua ?".
,Coba kau pikir, toh mereka sudah tahu kalau bocah itu
tidak mengerti akan ilmu silat" Teriak Ouw yang Gong
sambil menuding Pek In Hoei yang menggeletak diatas
tanah„Tapi apa yang mereka lakukan? mereka siksa bocah
itu, aniaya bacah itu dengan kejam. apakah perbuatanmu
semacam ini tidak patut dibasmi? apakah manusia keji
seperti itu tak boleh dibunuh?
„Aaaaaaaai! dari dulu aku sudah tahu, jika angkat nama
dengan andalkan makhluk ?makhluk beracun, tentu tidak
akan terhindar banyak korban berjatuhan ditangannya,
maka diri itu sering aku perintahkan Siok Peng untuk pergi
mencari bahan obat obatan dan membuat pilpenawar racun
sebanyakbanyaknya .
Dari dalam saku nikouw itu ambil keluar sebuah botol
porselen kemudian lambat2 maju kedepaa terusnya
„Thian Go, maukah kau memandang diatas
perhubungan kita pada masa silam untuk simpan kembali
peluru Pek Lek-cu itu dan berlalu dari selat Seratus
Racun?".
Ouw yang Gong mengerutkan sepasang alis nya dalam
benaknya terbayang kembali kenangan kenangan pada
masa yang silam, lama sekali ia termenung kemudian
sambil menghela napas kakek aneh ini mengangguk.
„Aaaaaaaai baiklah! Memandang diatas wajibmu, kau
kuampuni jiwa cucu buyut kunyuk ini".
Omitohod siancay... siancay! Dimana bisa mengampuni
jiwa manusia, ampunilah sebanyak banyaknya mari,
akupun akan coba menyembuhkan luka yang diderita bocah
itu !'.
Perlahan-lahan Ko In Nikouw berjalan men dekati Pek
ln Hoei lalu berjongkok dan ambil keluar sebutir pil Leng
Botan dari da lam saku.
Tapi sebelum ia sempat masukkan pil tadi kedalam
mulut sianak muda itu, mendadak sinar mukanya berubah
hebat, dengan cepat dia bangun berdiri.
Apa yang sudah terjadi?" tanya Ouw yang Gong dengan
nada terperanjat.
Apakah orang itu adalah muridmu?".
Ouw yang Gong menggeleng.
Bukan ! apakah itu keracunan hebat dan tidak terlolong
lagikah jiwanya ?
Aaaaaaai... mimpipun aku tak peroh menyangka kalau
di kolong langit bisa terdapat seorang mauusia yang begini
aneh gumam Ko In Nikouw sambil menghela napas
panjang, ia melirik sekejap kearah Ouw yang Gong dan
tambahnya. Dipandang dari garis wajahnya. orang ini
mempunyai napsu membunuh yang sangat tebal namun
banyak pula terlihat garis garis budiman, sepintas lalu
kelihatannya dia punya kecerdasan yang luar biasa tapi
tampak juga sangat bodoh sungguh aneh
„Soal itukah yang mengejutkan hatimu?
„Coba kau lihat bekas merah yang terlihat diatas alisnya,
sungguh menakutkan sekali sambung Ko ln Nikouw lagi."
Dengan adanya bekas merah diatas jidatnya itu, membuat
napsu membunuhnya bertambah tebal, kecerdasan otaknya
yang .luar biasa akan melebihi semua orang pun tertera
semakin nyata, dikemndian hari dia pasti akan jadi seoraog
gembong iblis yang paling kejam, membunuh orang paling
banyak dan menjadi penerbit keonaran didalam dunia
persilatan"
„Bekas merah itu bukan bskas alami yang dibawa sejak
dia lahir, barusan jidatnya digigit oleh seekor kadal beracun,
hisapan binatang terkutuk itulah yang meninggalkan bekas
tersebut, apa yang kau kageti dan takuti? apalagi kejadiankejadian
yang akan datang, darimana kau bisa tahu ?"
Sekali lagi Ko In Nikouw memperhatikan wajah Pek In
Hoei tajam-tajam, namun dengan cepat ia geleng kepala
kembali.
„Omintohud! aku tidak dapat meoyaksikan dunia
persilatan dilanda lagi oleh bencana hebat tanpa bisa
mencegah, aku tidak ingin banyak manusia menemui
ajalnya diujung golok dan melihat darah manusia
berceceran diatas permukaan tanah.
„Tadi maksudmu kau tidak sudi menyelamatkan
jiwanya?"
Dengan wajah serius ko In Nikouw mengangguk ia
masukkan kembali kotak porselennya kedalam saku
kemudian angkat kepala dan memandang angkasa yang
penuh berawan.
Siauw Hong, jadi kau benar-benar tidak sudi menolong
jiwanya dan kau ingin menyaksikan dia mati konyo! " teriak
Ouw-yang Gong dengan nada tertegun.
Ko In Nikouw tidak ambil perduli omongan orang, ia
lepaskan tasbehnya dari atas leher dan mulai membaca doa.
Melihat perkataannya tidak digubris, Ouw yang Gong
mendongak dan tertawa seram.
„Aku tertalu dipengaruhi oleh kejadian masa silam,
sedang kau kesemsem oieh kejadian yang akan datang,
rupanya kita berdua memang tidak bisa bekerja sama!"
Ia merandek sejenak, lalu teriaknya: „Bagus, kau tidak
sudi menolong jiwanya akupun akan mulai turun tangan
lagi untuk meledakkan lembah kunyuk ini hingga rata
dengan bumi"
„Kau boleh meratakan lembah ini dengan tanah, tapi
pertama-tama bunuhlah aku terlebih dulu"
„Siauw Hong, tindakanmu ini bukankah berarti ada
maksud memusuhi diriku?" maki Ouw-yang Gong penuh
kegusaran setelah ia dibikin melengak oleh jawaban lawan.
„Thian Go kalau kau hendak bertindak melawan
perintah Thian, aku akan berusaha menghalangi2mu terus .
„Haaah .... haaaaah .... haaaah . . . berbuat melawan
perintah Thian? justru aku hendak berbuat kejam, bertindak
kejam bertindak jahat, kau mau apa?
Wajahnya berubah jadi serius. "Memandang diatas
wajahmu, untuk kali ini aku bisa memberi jalan bidup buat
mereka, tapi ingat lima tahun kemudian aku pasti akan
kembali lagi kesini untuk menuntut balas bagi sakit hati ini,
waktu itu aku akan bssmi semua orang yang ada disini,
meledakkan seluruh bukit hingga rata dengan tanah"
„Omintohtid"
Dengan gemas dan dongkol Ouw-yang Gong yang mulai
lenyap dibalik bukit, Ko In Nikouw angkat kepalanya
perlahan-lahan dan menghela napas panjang.
Aaaaaai............ rupanya dunia persilatan tidak akan
aman lagi, lebih baik aku kembali dulu kedalam kuil"
Dia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah
lambat cahaya sang sarya menyoroti tubuhnya
meninggalkan bayangan yang suram.....
Angin berhembus lewat....... bau amis darah tersebar
kemana mana membuat suasana jadi seram dan
meugerikan.
Senja telah menjelang tiba, cahaya matahari yang lemah
mulai redup dan bergeser kebalik gunung, bunyi cengkerik
bargema disegala penjuru menambah kejemuan di suasana
yang tidak sedap itu....
Bangsat cengkerik cengkerik itu betul-betul terkutuk,
bunyinya sudah tidak enak, gerak terus tiada hentinya....
Hmmmm1 kalau kegusaran aku sioraug tua sudah
memuncak, akan kubakar seluruh bukit ini hingga jadi abu
Ouw-yang Gong sambil berdiri disebuab lekukan !embah
mencaci maki kalang kabut dengan gusarnya, begitu
mendongkol hati siorang tua itu akhirnya semua
kemangkelan dihatinya disalurkan keluar dengan
menghantam sebuah batu cadas disisinya.
Dibelakang batu cadas tadi terbentang sebuah selokan
kecil dengan air gunung yang jernih gan segar, bunyi aliran
air yang tiada hentinya menambah kejemuan hati siorang
tua itu.
Sekujur badan Pek In Hoei telah dibenam kau kedalam
air, kini hanya tinggal wajahnya yang pucat pias dengan
bekas merah darah diatas jidatnya saja yang tertinggal
diluar, hawa hitam mulai menyelimuti wajahnya..........
„Aaaaii . . . kalau aku sendiri yang terluka, aku bisa
menggunakan racun lain memunahkan racun yang
mengeram dalam tubuhku." Gumam Ouw-yang Gong
sambil menghisap huncweenya dalam dalam lalu
menyemburkan segumpal asap tebal „Tapi bocah ini... dia
sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, obatpun tak ada
disekkar sini, bagaimana aku bisa punahkan racun yang
mengeram dalam badannya?"
Dengan alis berkerut tangan kirinya garuk garuk kepala
yang tidak gatal, lama sekal ia gigit bibir dau akhirnya
berseru
„Baiklah, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh pada
saat ini adalah mengerahkan tenaga murni untuk menotok
keseratus delapan buah jalan darahnya dan coba paksa
racun itu mengalir keluar. Seandainya dia punya nasib yang
mujur mungkin saja Jien dan tok dua urat pentingin bisa
sekalian kutembusi, sebaliknya kalau dia nasib jelek....
yaaah sudahlah, paling-paling jiwanya tidak tertolong!"
Ia hembuskan asap huncwee-nya keras-keras, kemudian
putar badan tarik napas dalam-dalam dan mulai duduk
bersila.
Badan Pek In Hoei yang masih terbenam didskm air
selokan diseretnya keatas darat tangannya bekerja cepat
melepaskan baju tameng mustika yang masih dikenakan
pemuda itu, hawa murnipun dipersiapkan guna mengusir
racun dari tubuh sianak muda tadi Belum sempat ia turun
tangan, tiba-tiba
„Disirii Disini " terdengar merdu lagi nyaring
berkumandang datang dari arah depan.
Mendengar suara itu Ouw-yang Gong segera
mendongak, tampaklah diatas sebuah tonjolan balu cadas
pada tebing seberang berdiri seekor burung beo berwarna
putih dengan paruhnya berwarna merah darah waktu itu
burung tadi meoggerakan sayap tiada hentinya sehingga
menggerakan genta kecil yang tergantung diatas leher
burung itu.
Ia be seru tertahan laksana kilat tangannya berkelebat
menyambar, burung beo tadi segera berseru lagi :
„Nona tolong aku? nona, tolong aku "
„Burung cilik cerdik betul kau ! puji Ouw-yang Gong
sambil tertawa.
Dalam pada itu burung beo tadi tiada hentinya
menggerakkan sepasang sayap sehingga genta kecil itu
berbunyi terus dengan nyaring
„Nona, tolong aku nona tolong aku."
„Heeeh . heeeeh aku kan tidak melukai dirimu, buat apa
kau panggil nonamu untuk datang menolong"
Hei sihuncwee gede jangan lukai Pek Leng
kesayanganku!" mendadak terdengar teguran nyaring
berkumandang dari belakang.
Begitu mendengar teguran tersebut Ouw yang Gong
segera mengerti siapakah yang telah datang, dengan cepat ia
berpaling.
Heei setan cilik yang pintar, darimana kau bisa datang
kesini?"
,,Heeei huncwee gede, jangan kau lukai Pek Leng
kesayanganku !" kembali gadis .u berseru.
Ouw-yang Gong tidak membangkang lagi ia lepaskan
burung beo tadi yang mana segera terbang keudara dan
hinggap dibahu Hee Siok Peng.
„Setan cilik yang pintar, sejak kapan kau pelihara burung
beo itu ? Kenapa aku tak pernah menjumpai burung beo
itu?"
Selamanya Pek Leng ada didaiam kuil suhuku" jawab
Hee Siok Peng sambil membelai burung beo tadi dengan
penuh kasih sayang. Kalau tidak ada urusan penting dia
jarang diajak keluar. Ooh yaah! Suhu perintahkan aku
datang kemari untuk menyerahkan lima butir pil Leng Wutan
kepadamu". „Suhumu adalah Ko In nikouw" Hee Siok
Peng mengangguk biji matanya berputar, tiba tiba ia jumpai
Pek In Hoei menggeletak diatas tanah, air mukanya kontan
berubah hebat
„In Hoei....... Pek Ia Hoei " teriaknya sambil memburu
dalang lebih dekat.
Tatkala menjumpai air muka Pek In Hoei pucat pias
bagaikan mayat, hatinya semakin terkesiap buru buru
teriaknya: „Huncwee gede, kenapa dia?" „Dia dicelakai
oleh beberapa tongcu perguruan Seiatus Racun sehingga
keracunan hebat" jawab Ouw-yang Gong,
„Justru karena itulah suhumu perintahkan kau datang
menghantar pil Leng-wu tan untuk menyelamatkan
jiwanya."
Buru buru Hee Siok Pcug berjongkok ia menjejalkan pil
Leng wu-tan tadi kedalam bibir Pek In Hoei, kemudian
dengan -pasang tangannya ia ambil air selokan untuk
diminumkan kepada sianak muda itu. Setelah menelan pil
tadi, dengan penuh kasih sayang kembali ia belai
rambutnya dan menggosok bekas merah diatas jidat In
Hoei, tetapi sekalipun digosok ber ang kali, bekas itu tetap
tertampak jdas.
Sekarang kau boleh pulang dan lapor kejadian ini kepada
suhumu .... ujar Ouw yang Gong dengan serius sambil
melepaskan serangan untuk menepuk bebas jalan darah Pek
In Hoei yang tertotok. „Katakan padanya bahwa aku
mengerti apa yang ia harapkan, sejak hari ini aku pasti akan
menjagaa diri Pek In Hoei baik baik dan tidak membiarkan
dia melakukan perbuatan yang keliwat batas
Ia merandek sejenak lalu tambahnya: "Lima tabun
kemudian dia pasti kcmbali lagi kelembah Pek-tok-kok. . ."
Dengan hati sedih Hee Siok Peng tundukkan kepala
rendah rendah.
„Benarkah kau hendak suruh dia datang kemari untuk
menuntut balas? Tali permusuhan apakah yang terikat
antara dia dengan a yahku?"
,,Aku sendiripun tidak kenal asal usulnya tapi kau tak
usah kuatir, sebelum dia mendatangi lembah seratus racun,
aku pasti akan suruh dia pergi menemui gurumu terlebih
dahulu
Dengan pandangan termangu mangu Hee Siok Peng
memperhatikan wajah Pek In Hoei, lama sekali ia baru
menghela napas panjang.
„Pertama kali aku tolong jiwanya, fajar baru ssja
menyingsing dan sinar matahari baru saja memancarkan
cahaya keemas emasannya, waktu itu rambutnya kusut dan
badannya penuh dengan lumpur dan dia keracunan hebat.
Sekarang senja baru menjelang tiba, keadaannyapun tiada
berbeda, bajunya basah kuyup daa badannya keracunan
pula. Aaaai" perlahan lahan ia berjalan kemuka, terusnya.
„Benarkah antara dia dengan perguruan Seratus Racun
terikat dendam sakit hati sedalam lautan? Benarkah ah dia
adalah anak murid Tiam-cong-pay?
Dengan pandangan sayu dan pikiran bimbang Ouw-yang
Gong memandang wajah Siok Peng tajam tajam, diapun
sedang memikirkan banyak persoaian, peristiwa yang elah
dialaminya pada masa silam ....
Dalam benaknya terbayang kembali senyuman
kegembiraannya dikala masih muda kekesalan hati yang
sedih dikala dewasa dan kehampaan dikala tua, diam diam
ia mengbela napas panjang, pikirnya:
..Gadis cilik ini mirip sekali dengan Siauw Hong dikala
masih muda, kelembutan hatinya, kecantikan keramahan
seita perhatiannya terhadap orang lain tak satupun yang
berbeda tapi semua orang yang dicintainya ternyata punya
dendam sakit hati dengan keluarganya .... aaaai sungguh
jelek nasib mereka ...
Dalam pada itu terdengar Hee Siok Peng sedang
bergumam seorang diri:
„kenapa antara dia dengan aku terkait dendam
permusuhan? Kenapa begitu? Kenapa?"
Pek Leng siburung beo ygog bertengger diatas bahu
majikannya segera ikut menirukan pula kata-kata itu :
„Kenapa antara dia dengan aku terikat dendam
permusuhan? kenapa begitu? kenapa?...."
Ouw-yang Gong mendongak dan menjawab :
Dalam kehidupan setiap manusia didalam jagad, ada
dendam tentu ada cinta, dendam pada suatu saat bisa
lenyap, namun cinta tak akan bisa bersemi lagi. Dendam
bisa lenyap, cinta sukar bersemi lagi" bisik Hee Siok Peng
dengan wajah tertegun.
Mendadak sinar matanya berkilat, dengan perasaan
terima kasih ia pandang wajah Ouw-yang Gong, namun
sejenak kemudian butiran air mata sudah mengucur keluar
membasahi wajahnya.
„Aku tidak tnfau apa yang harus kuperbuat ? bisiknya
lirih.
„Kalau kau tidah coba berbuat sesuatu, darimana bisa
tahu bisa diperbuat atau tidak?"
Hee Siok Peng mengerdipkan matanya, titik air mata
meaetes keluar dari balik alis matanya yang tebal.
Tatkala suasana diliputi kesedihan itulah mendadak Pek
In Hoei merintih dan membalikkan badannya.
Cepat-cepat Hee Siok Peng membesut airmata yang
membasahi pipinya dengan ujung baju.
Dipandangnya wajah Pek In Hoei dengan penuh rasa
cinta, lalu bisiknya sedia:
Sebelum dia sadar kembali, lebih baik aku pulang dulu
untuk melaporkan kejadian ini kepada suhu!"
Dimanakah suhumu tinggal? dalam kuil apa ?". Kuil Ko
In io disebelah barat selat!" Sekali lagi ia pandang wajah
Pek In Hoei dengan sinar mata yang lembut dan penuh rasa
cinta, kemudian putar badan, menghela napas panjang dan
berjalan pergi
Memandang bayangan punggungnya yang langsing dan
menawan hati itu, Ouw-yang Gong ikut menghela napas
sedih.
Perlahan-lahan Hee Siok Peng menjulurkan jari
tangannya yang runcing dan halus lalu membelai bulu
burung beonya yaug berwarna putih, bisiknya lembut :
,,Pek Leng, hari sudah malam, mari kita pulang!"
„Hari sudah malam, nona mari kita pulang!" sahut
burung beo putih itu seraya mengebaskan sayapnya.
Bunyi keliningan kian lama kian menjauh bayangan
tubuh Hee Siok Peng yang tinggi semampai itupun lenyap
dibalik tebing yang terbentang jauh disana.
„Aaaaaai..... !" Ouw-yang Gong menghela napas
panjang. ..Seorang gadis yang lincah dan polos, satu kali
terjerumus dalam lembah percintaan sikap maupun gerak
geriknya telah berubah jadi begitu murung, kesa! dan sayu
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya: „Dia telah
dewasa... dia memang telah dewasa."
Suasana jadi sunyi.... sepi... tak kedengaran sedikit suara
pun kecuali tetesan air gunung yang mengalir didalam
selokan
Angin gunung berhembus sepoi tiba-tiba Pek In Hoei
merintih diikuti ia pentang mulutnya lebar-lebar dan
muntahkan cairan kuning kehitam-hitaman yang bau dan
amis.
Seketika itu juga keadaan disekeliling tempat itu berubah
jadi memuakkan, bau amis yang menusuk hidung
berhembus lewat tidak hentinya membuat orang jadi ikut
mual.
Ouw yang Gong tersadar kembali dari lamunannya, ia
berseru tertahan kemudian mendorong tubuh Pek In Hoei
masuk kedalam selokan Sesudah direndam beberapa saat
badan sianak muda itu baru diseret kembali keatas daratan.
„Aku tidak mau mati.... aku tidak mau mati....."
Terdengar Pek In Hoei menjerit-jerit sambil meronta kesana
kemari.
„Hey bocah cilik! kau belum mati, coba bukalah
sepasang matamn dao perhatikanlah keadaan
disekelilingmu!"
Dengan perasaan kaget dan tercengang- Pek In Hoei
mementangkan sepasang matanya lebar-lebar
„Kau belum mati ?" tegurnya bimbang.
Bocah keparat, bau betul kentut yang kau lepaskan" maki
Ouw-yang Gong gusar „Ayoh cepat bangun, coba kau teliti
apakah aku sikambing tua sudah modar atau belum? kurang
ajar! rupanya kau harap kao aku cepat-cepat mati konyol?"
Kena ditegur Pek In Hoei melengak, akhirnv» ia tertawa
geli dan merangkak bangun.
„Cianpwee, kau yang telah menolong jiwaku?"
„Bocah edan, sudahlah, jangan terus-terusan
mengucapkan kata-kata yang tak berguna.
Kau sudah lepaskan aku dari kurungan, masa aku tega
menyaksikau kau mati konyol tanpa menolong?"
Ia merandek sejecak, kemudian tambahnya :
„Ooouw yaah, aku mau beritahu sesuatu kepadamu,
mulai sekarang kau tidak boleh sebut aku dengan panggilan
cianpwee... cianpwee segala, lain kali kau harus panggil aku
si huncwee gede atau sisetan asep tua mengerti?"
Pek In Hoei membesut air yang membasahi wajahnya
lalu tertawa getir.
„Cianpweekah yang membenamkan badan ku kedalam
air selokan? coba kau lihat bajuku sekarang basah kuyup
dan aku tidak punya pakaian lain apa yang harus
kuperbuat?"
„Eeeeei.... bukankah aku suruh kau jangan banyak
omong yang fak berguna siapa suruh kau sengaja ngoceh
terus?" Bentak Ouw-yang Gong dengan sepasang mata
melotot besar. „Bocah keparat ! seandainya aku tidak
membenamkan badanmu kedalam air, darimana kau bisa
mendusin dari pingsan?
Ia tabok paha sendiri, sambil bangkit berair? terusnya .
„Aku siorang tua sudah mulai merasa lapar, biasanya
pada waktu sekarang putra bisa cucu racun itu sudah
menghantarkan nasi dan sayur buatku. Aaaaai ... kini
setelah bebas, waaah malah tambah susah, perut
keroncongan tak ada yang memberi makan, agaknya aku
harus melanjutkan perjalanan sambil menahan perut yang
kosong"
Mengungkap soal makan, Pek In Hoei seketika itu juga
merasakan perutnya ikut jadi lapar, segera tanyanya :
„Cian... eeeeei... si ular asep tua, masih jauhkah jarak
dqri sini sampai kekota yang terdekat? perut cayhepun
terasa agak lapar
„Tempat ini masih terletak diatas gunung, paling sedikit
kita harus berlarian selama satu jam untuk mendapatkan
makanan untuk menangsal perut. Tapi... bocah cilik! jangan
keburu kita bicarakan soal makanan, kau harus jawab
beberapa buah pertanyaanku lebih dahulu ".
Seraya menatap sianak muda itu tajam2 tegurnya :
„Apakah kau adalah anak murid partai Tiam-cong?".
Cayhe belum pernah belajar ilmu silat, tapi ayahku
memang anak murid dari partai TIam-cong ...
Teringat akan kemusnahan partai Tiam-cong ditelan
lautan api yang berkobar dengan dahsyatnya, dengan sedih
ia berbisik :
Tapi sayang......... sejak kini partai Tiam-cong sudah tak
dapat menancapkan kakinya lagi didalam dunia persilatan"
„Bocah cilik apakah kau ingin belajar ilmu silat dan aku
siorang tua lalu beruaha menuntut balas bagi kemusnahan
partai Tiam cong?"
Dengan cepat Pek In Hoei menggeleng.
Aku ingin belajar ilmu silat darimu, aku hendak
menemukan ayahku terlebih dahulu
Hmrnai l Saking kekinya Ouw yang Gong mendengus
berat „Banyak orang ingin
belajar silat dengan diriku, tapi kutolak semua
permohonan mereka, sedang kau sekarang mendapat
tawaran dariku bahkan telah mengalami bencana besar
yang berubah penghidupanmu, sebaliknya kau tolak
tawaranku untuk belajar silat. Hmmm... Hmmm... rupanya
gelar si manusia aneh dari daratan Tionggoan yang kumiliki
terpaksa harus dihadiahkan kepadamu"
Maksud cayhe bukan begitu, aku ingin menemukan
ayahku lebih dahulu kemudian minta diajari ilmu pedang
Tiam-cong Kiam Hoat
Dengan nada kukuh dan gagah tambah nya :
Aku bersumpah hendak membalas dendam sakit hati
segenap anggota partai Tiam-cong dengan ilmu pedang
Tiam-cong Kiam Hoat
Punya semangat" puji Ouw yang Gong sambil acungkan
jempolnya, tapi dengan alis berkerut segera terusnya. "Tapi
dengan adanya kejadian itu bukankah kesanggupanku
untuk mengabulkan tiga buah keinginanmu tak bisa
dijadikan kenyataan untuk selama nya? tidak... tidak bisa!
kau harus belajar ilmu silat dariku.
Ia harus ulapkan tangannya mencegah Pek In Hoei
berbicara, lalu terusnya :
„Bocah cilik! sekalipun kau belajar ilmu silat dengan aku
siasep tua, namun kau tak usah panggil aku dengan sebutan
suhu. sebab aku mengajari ilmu silat kepadamu hanyalah
untuk menenteramkan hatiku belaka, kalau kau tidak
menyanggupi penawaranku ini mungkin untuk makanan
aku merasa tidak enak
„Uler asep tua kau tak usah berbuat begitu!
bagaimanapun juga aku tidak nanti di belajar ilmu silatmu
Tetapi kau boleh nenghantar aku pergi kepuncak gunung
Cing sia, anggap saja inilah permintaanku yang pertama".
Mendengar perkataan itu Ouw yang Gong di sangat
mendongkol, dia mencak mencak dan berteriak keras :
Baik! malam ini juga akan kuhantar kau kepuncak
gunung Cing Shia, akupun tak mau tahu apa sebabnya kau
hendak ke..... begitu cukup bukan?"
Aku
Tak usah banyak bicara lagi" tukas Ouw yang Gong
goyang tangannya. "Cepat kenakan baju tameng mustika itu
didalam jubahmu kita segera lanjutkan perjalanan".
Tanpa banyak bicara lagi ia lantas berjalan I keluar dari
balik tebing curam.
Pek ln Hoei tak berani banyak bicara, ia kenakan baju
tameng mustika tadi dan ikut menyusul dibelekang siorang
tua itu.
Sang surya telah lenyap dibalik gunung, kegelapan
malam mulai mencekam seluruh jagad bintang bintang
bertaburan diangkasa memancarkan cahayanya yang redup.
Ditengah kegelapan malam, Ouw yang Gong tarik
tangan sianak muda itu loncat turun ke bawah gunung dan
dalam sekejap mata telah lenyap dibalik hutan yang lebat
Sehari lewat dengan cepatnya, kini senja menjelang
kembali, sinar mata hari yang sudah condong kebarat
memancarkan sisa cahayanya menerangi gunung Cing-shia
yang sunyi.
(Oo-dwkz-oO)
3
„OOOOOO senja yang sangat Indah puji Pek In Hoei
sambil menghela napas panjang
Ouw yang Gong menggeleng.
"Orang bilang gunung Go-bie adalah puncak vang
Iembut, sedang gunung Cing Shia adalah puncak yang
indah, ucapan ini sedikitpun tidak salah setelah penuhi
semua permintaanmu, seorang diri akan kujelajahi seluruh
tempat yang indah dikolong langit, aku tak sudi
mencampuri persoalan dunia persilatan lag !".
„Aaaaaasaai kau bisa melepaskan diri dari
keramaian dunia kangouw, tapi sebaliknya aku, sejak kini
aku sudah terjerumus ke kancah dunia persilatan, sejak kini
aku ikut terombang ambing diantara perbuatan bunuh
membunuh yang memuakkan
Ouw yang Gong melirik sekejap kearah Pek Ia Hoei,
tampaklah dari sinar mata si anak muda itu memancar
keluar cahaya tajam yang menggidikan bati setiap orang,
begitu keren dan berwibawa cahaya matanya sehingga ia
jadi tertegun dan berdiri melongo.
Suatu ingatan berkelebat daiam benaknya ia teringat
kembali akan ucapan yang pernah diutarakan Ko In
Nikouw, tanpa sadar ia perhatikan bekas merah darah
diatas jidat Pek In Hoei tajam-tajam.
Mendadak matanya terasa jadi kabur, ia merasa seolah
olah bekas merah darah yang ada dijidat pemuda itu kian
lama berkembang kian meluas, segera gumamnya:
„Aaaaaah......... tidak salah dalam dunia persilatan bakal
dilanda kembali oleh badai pembunuhan yang luar biasa,
banjir darah akan mengenangi seluruh jagat dan mayat
bergelimpangan dimana mana
Dengan perlahan Pek In Hoei melirik sekejap kearah
orang tua itu, menyaksikan cahaya matanya diliputi rasa
ngeri dan ketakutan, dengan perasaan tercengang segera
tegurnya:
„Kenapa kau ?"
„Aaah, tidak mengapa !" buru buru Ouw yang Gong
menenteramkan hatinya, ia alihkan sinar mata yang sayu
keatas puncak nun jauh disana, sambungnya:
„Ayoh cepat naik keatas gunung, hari sudah mulai gelap
Sambil mengempit tubuh Pek In Hoei ia lari menaiki
undak undakan batu dan berkelebat menuju keatas puncak.
Baru beberapa puluh tombak mereka berjalan tiba tiba
sinar mata kedua orang itu terbentur dengan noda darah
yang berceceran diatas undak undakan batu, bau amis
darah tercium amat menusuk hidung, tanpa sadar Ouwyang
Gong berseru tertahan:
"Aaaaaah ! Mungkin disini ada orang" Beberapa sosok
mayat tampak bergelimpangan dipinggir jalan, sepintas
pandang terlihatlah bahwa mayat mayat itu roboh karena
bacokan pedang yang tajam, bahkan letak luka dari mayat
mayat itupun tak ada bedanya, yaitu bagian dada terbacok
dalam dalam sehingga menembusi tulang iga
Alisnya langsung berkerut serunya: "Suatu ilmu pedang
yang sangat lihai, pembunuhan yang rapi dan sempurna,
hanya seorang jago pedang kelas utama saja yang sanggup
mencabut jiwa seseorang dalam sekali bacokan"
Mungkinkah orang orang itu mati ditangan ayahku"
suatu ingatan berkelebat dalam benak Pek In Hoei, segera
serunya:
"Aku ingat segenap serangan yang menggunakan jurus
sang surya kehilangan cahayanya letak lukanya pasti ada
diatas dada!"
"Oooow! Kalau begitu ayahmu pasti sudah diserang
orang banyak, ayoh lekas berangkat, kita segera naik keatas
gunung!"
Laksana kilat ia loncat naik keatas, tampak pada undak
undakan batu sebelah atas menggeletak mayat yang jauh
lebih banyak sekilas pandang semua mayat itu menggeletak
mati karena iganya tertusuk, jelas semua itu hasil perbuatan
satu orang. Dalam hati dia lantas berpikir:
"Sejak kapan partai Tiam-cong muncul seorang jago
pedang yang begini Ubinnya bukan saja cara menyerangnya
sangat istimewa bahkan lihaynya luar biasa, tapi apa
sebabnya dia dikerubuti oleh orang yang begitu banyak
musuh? Mungkin orang itu ada sangkut pautnya dengan si
Pedang sakti dari Tiam-cong yang lenyap pada beberapa
puluh tahun berselang"
la teringat kembali kepada si pedang sakti dari Tiamcong
yang berangkat ke gunung Cing-shia pada beberapa
tahun berselang untuk menghadiri suatu penemuan besar
ciangbunjien delapan partai besar, akhirnya mereka semua
lenyap tak berbekas.
Selama puluhan tahun peristiwa ini telah menjadi suatu
peristiwa Bulim yang tiada akhirnya, anak murid partai
partai besar yang kehilangan ketuanya sama sama
mengutus orang untuk menemukan jejak ketua mereka,
namun hasil mereka tetap nihil.
Akhirnya setelah lewat empat puluh tahun lamanya,
karena latar belakang peristiwa ini tak berhasil juga
diungkap maka orangpun mulai melupakannya.
Dalam pada itu meski dalam hati Ouw yang Gong coba
menghubung hubungkan peristiwa yang disaksikannya
dengan mata kepala sendiri saat itu dengan kejadian
puluhan tahun berselang, namun gerakan tubuhnya sama
sekali tidak berhenti, malahan ia semakin mempercepat
gerakannya menuju keatas puncak. Rupanya dia ada
maksud membuktikan jalan pikirannya dia ingin
menyaksikan sandiri sampai dimanakah rahasia yang
menyelimuti ilmu pedang penghancur sang surya dari partai
Tiam-cong.
Sebaliknya Pek In Hoei sendiri jauh lsbih gelisah hatinya
setelah tercium bau amis darah yang menusuk hidung serta
mayat mayat orang Bu-lim yang bergelimpang an distsi
jalan, ia ingin cepat cepat tiba di atas puncak untuk melihat
nasib ayahnya.
Sepanjang perjalanan tumpukan mayat yang
bergelimpangan disisi jalan makin lama semakin banyak,
potongan baju yang dikenakan mayat2 itu pun makin
campur aduk, bahkan diantara mereka terdapat pula kaum
hweeshio serta toosu.
Darah manusia berceceran dimana mana diatas undakan
batu diatas rumput dibawab lembah maupun d atas teoing
... . merah nya darah membuat rumput yang hijau beruban
warna suasana amat mengerikan sekali.
Kian keatas mayat yang mereka jumpai makin banyak,
dengan sinar mata Ouw-yang Gong yang tajam. Ia dapat
saksikan bahwa sebab kenapa orang orang ini tidak terbatas
pada bagian dada saja, banyak di antaranya terluka pada
bagian lain, lagipula kacau dan tidak menentu. Jelas orang
yang menggunakan pedang itu sudah terluka parah
sehingga seranganya makin ngawur.
Diam diam makinya didalam hati:
"Nenek maknya.. keturunan monyet semua! Masa tiga
puluh orang banyaknya mengerubuti satu orang, bahkan
menyediakan pula jebakan jebakan yang begitu banyak.
Hmmm ! Rupanya bajingan bajingan itu berasal dari
berbagai partai besar atau mungkin peristiwa besar yaivg
pernah terjadi puluhan tahun berselang telah terulang
kembali
Ia mengempas tenaga lalu loncai naik keatas dahan
pohon, meminjam daya pental ranting tadi badannya
melesat enam tombak kemuka.
Batu cadas dilaluinya dengan cepat, angin gunung
berhembus kencang, dalam sekejap mata Ouw yang Gong
sudah melewati sebuah tanah rerumputan yang luasnya tiga
tombak dan berdiri diatas sebuah batu adas, dari situ ia
dapat menangkap suara beradunya senjata tajam . . .
(Oo-dwkz-oO)
JILID 5
DENGAN CEPAT sinar matanya dipasang tajam tajam,
nun jauh depan sana, dialas sebidang tanah datar melihat
tiga sosok bayangan manusia sedang adu tenaga dalam
dengan serunya. Ouw-yang Gong ingin loncat kearah situ
tapi sacara tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang
menyayatkan hati berkumandang diangkasa, ketiga sosok
bayangan manusia itu segera saling berpisah.
Satu diantara ketiga orang itu terdengar menjerit keras
lalu berteriak :
“Hoei-jie, aku tak dapat berjumpa lagi dengan dirimu,
kau harus balaskan dendam sakit hati ini !"
Orang itu meraung keras, sebilah pedang panjang dengan
berubah jali sekilas cahaya tajam segera meluncur kearah
dinding tebing dihadapan mukanya.
Dua sosok ba>angan manusia yang ada disisinya
mendadak bergabung jadi satu dan tertawa seram.
".Pek Tian Hong akhirnya kau modar jugal"
„Aduh cetaki !" seru Ouw ycng Gong didaiam hati.
Rupanya kedatanganku terlambat satu langkah" Segera ia
turunkan Pek Ia Hoei keatas tanah. Huncweenya
digetarkan, sambil membentak keras badannya meluncur
kedepan.
Dua sosok bayangan manusia tadi kelihatan rada
tertegun tatkala menjumpai ada orang lalu berkelebat maju
kearah barat. Dua orang itu segera memencarkan diri dan
lenyap di balik kegelapan.
Pek In Hoei menjerit keras, tanpa memperdulikan
keadaan disekelilingnya lagi ia lari kedepan, sementara air
mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Raga manusia yang tertinggal tadi masih berdiri tenang
ditempat semula, sedikitpun tidak berkutik, menanti Pek In
Hoei menghampirinya, perlahan lahan roboh di atas tanah
tak jauh Pek In Hoei sudah dapat mengenali bahwasanya
bayangan manusia itu bukan lain adalah ayahnya yang
tercinta sipedang Penghancur sang surya Pek Tian Hong,
ketika itu seluruh badannya bermandikan darah segar,
mulut luka bekas bacokan senjata tersebar dimana mana,
bajunya compang camping tidak keruan dia mati dengan
mata tidak meram
Menjumpai ayahnya mati dalam keadaan mengenaskan
Pek In Hoei tak dapat menahan diri lagi, ia menjerit keras
dan menangis tersedu sedu
„Ayah ! Ooooh . . . . !"
Air mata bagaikan bendungan yang jebol mengalir keluar
dengan derasnya membasahi seluruh wajah.
Rembulan telah muncul diatas awan, bintang bertaburan
dimana mana menambah semaraknya suasana dimalam
yang sunyi, angin gunung berhembus sepoi sepoi
menerbangkan rangkai daun serta rerumputan.
Pek In Hoei masih berlutut dihadapan jenasah ayahnya
ia tidak bergerak maupun berkutik, seakan akan dia sudah
melupakan segala sesuatu yang ada didaiam jagad ia tak
mau tahu lagi dengan kejadian kejadian disekeliling
tubuhnya.
Bibirnya terkancing amat rapat, air muka nya berubah
jadi keren dan serius.
Lama .... lama sekali .... akhirnya bibir yang terkancing
rapat mulai bergetar ia mulai berbicara ... ia bergumam
seorang diri :
"Aku harus membalas dendam sakit hati. Aku harus
membasmi orang orang jahanam itu . tapi ... tapi..... aku
tidak tega membunuh orang
Suaranya serak tapi dingin sedih seolah olah baru datang
dari kutup yang dingin dan kaku membuat samudra
disekeliling sana seakan akan ikut membeku.
Sekujur badannya bergetar keras, hampir saja ia tidak
percaya kalau suara itu berasal dari mulutnya, tapi tatkala
teringat olehnya bahwa disini hanya dia seorang diri maka
mau tak mau dia harus percaya juga
Aaaaaai........... ! Sianak muda itu menghela napas
panjang, sinar matanya yaog sayu perlahan-lahan dialihkan
ke tubuh Pek Tian Hong yang telah berubah jadi mayat.
Sekali lagi ia memperhatikan ayahnya yang mau dengan
mata tidak meram, memperhatikan sekujur badan ayahnya
yang penuh dentan mulut luka . . .
Tanpa terasa ia bergumam kembali dengan nada lirih.
„Dia adalah ayahku, ayahku yang selalu sayang kepadaku,
memanjakan aku tapi selalu memberi pelajaran dan
peringatan keras kepadaku. Dia suruh aku balajar silat luk
melindungi diri sendiri, tapi dia sendiri ... akhirnya mati
dikerubuti
Aaaaai .... siapa yang belajar silat ia akhirnya mati juga
diujing golok..."
Rasa sedih berkelebat dalam benaknya, perubahan yang
menimpa dirinya telah merubah sianak muda ini jadi
bertambah murung
"Barang siapa belajar silat pada akhirnya ia mati juga
diujung senjata" pikiran tersebut beberapa kali berkelebat
dalam benaknya dengan rasa sedih la berpikir lebih
"Selama hidup aku paling benci belajar silat, aku tidak
ingin menyaksikan peristiwa saling bunuh membunuh yang
mengerikan tapi selama dua hari aku harus bergelimpangan
terus diantara bau amisnya darah segenap anggota partai
Tiam-cong dibasmi sampai mati ."
Ia gigit bibir dan meneruskan berpikir: "Dendam
berdarah partai Tiam cong harus dituntut balas, dan kini
ayahku sudah mati, semua tanggung jawab dan tugas berat
ini terjatuh keatas pundakku, aku harus menuntutnya satu
demi satu, maka aku tak bisa menghindarkan diri lagi dari
tugas pembunuhan ini"
Wataknya yang halus, ramah, welas kasih dan budiman
saling berbentrokan dengan sakit hati yang berkobar kobar,
hal ini mem buat hatinya terasa amat tersiksa, seakan akan
dua bilah pisau belati yang menusuk hatinya.
Sejenak kemudian ia mulai menjerit keras teriaknya :
"Akan kubunuh semua orang orang itu, akan
memoleskan darah segar mereka diatas tanah."
Sepasang tangannya dikepal kencang kencang, air mata
bercucuran bagaikan hujan gerimis, membasahi peluruh
pipinya. Dia mendongak memandang rembulan yang
tergantung jauh diawan, serunya dengsn rasa amat sedih:
"Aku bersumpah akan mempelajari ilmu silat yang
paling jempolan dikolong langit lu harus menjadi jagoan
yang paling lihai didalam jagat, kemudian akan kubunuh
semua orang yang belajar silat.......". "Akan kubinasakan
mereka semua dibawah pedangku ...."
Dari balik air mata yang mengembang dimatanya
terpancar keluar sorot mata yang kukuh dan keras hati,
membuat sianak muda ini kelihatan sangat menyeramkan.
Angin malam berhembus lewat disisinya tubuhnya,
mengibarkan rambutnya yang kusut dan awut-awutan,
perlahan-lahan dia angkat tangan kanannya membesut air
mata yang menggenangi pipinya, kemudian berjongkok
untuk membopong mayat ayahnya. Setelah itu bangun
berdiri dan berjalan turun gunung.
Setelah melewati tanah rerumputan setinggi pinggang, ia
berjalan masuk kedalam sebuah hutan.
Malam semakin larut, narnun pemuda itu berjalan
berjalan terus tidak berhentinya, gemerciknya daun kering
terpijak kaki kedengaran begitu nyaring ditengah kesunyian
yang mencekam.
Tiba tiba ia berhenti dan berdiri tertegun ditengah
kesunyian telinganya secara lapat lapat menangkap
tetabuhan suara khiem yang merdu merayu.
Begitu merdu suara itu sampai ia terpesona, kepedihan
yang telah terpendam dalam hatipun kini terungkap
kembali dia merasa kesedihan yang sedang dirasakan
seirama dengan suara khiem tersebut ...
Lama sekaii Pek In Hoei berdiri termangu-mangu disini,
entah sejak kapan dua baris air mata membasahi pipinya,
tanpa sadar kakinya bergerak menuju kearah mana
berasalnya suara khiem itu, sebab dia ingin tahu siapakah
yang sudah memainkan irama lagu yang begitu sedih
sehingga membangkitkan kedukaan orang
Makin jauh berjalan makin jauh ia meninggalkan hutan,
suara khiem tadipun kedengaran makin dekat, kini ia sudah
memutari sebuah tebing curam yang menjulang keangkasa
dan tiba di depan sebuah gua batu berbentuk aneh
Mendadak ia berhenti, dengan sinar mata ragu ragu
ditatapnya sebuah batu besar disebelah kiri.
Batu itu datar lagi licin bagaikan sebuah cermin, diatas
batu tadi duduk seorang perempuan berambut panjang yang
memakai baju serba hitam. Dibawah sorotan sinar
rembulan tampak gadis itu seakan akan duduk ditengah
kabut, potongan badannya yang ramping dan menggiurkan
menandakan bahwa dia adalah seorang dara yang cantik
jelita.
Dihadapan gadis itu terletak sebuah khiem, angin malam
berhembus lewat menggoyangkan jubahnya yang hitam
menambah kecantikan serta keagungan orang itu.
Dengan termangu mangu Pek In Hoei awasi jubah hitam
sang gadis yang berkibar tiada hentinya, tanpa terasa ia
bergumam seorang diri:
„Gadis berbaju hitam duduk dibawah cahaya rembulan
yang cerah, kesedihan yang mencekam serta irama khicm
yang lembut merupakan suatu perpaduan yang sangat serasi
Tiba2 gadis berbaju hitam itu angkat kelima jarinya
membentuk gerakan setengah lingkaran diudara kemudian
menghentikan permainan khiem nya ia tertunduk dan
menghela napas panjang.
Berat sekali helaan napas itu seolah olah nembentur hati
Pek In Hoei yang mana segera ikut menghela napas tanpa
sadar.
Setelah msnghela napas tadi, gadis ua mulai menangis
terisak, bahunya goncarg keras, rambutnya yang panjang
bergetar dan mengombak, hal ini mempertandakan bahwa
ia menangis sejadi jadinya karena sesuatu yang amat
menyedihkan hatinya.
„Persoalan sedih apakah yang menimpa gadis itu?
Kenapa ia menangis tcrsedu-sedu begitu dukanya?" pikir
Pek In Hoei didala, hati. "Apakah dikolong langit yang luas
ini benar benar tiada sedikit kegembiraanpun? Benarkah
segala penjuru dunia hanya ada kepedihan serta kedukaan
belaka?"
Belum habis ia termenung, mendadak hatinya
dikagetkan kembali oleh suara suitan yang amat nyaring.
Dia cepat cepat angkat kepala, begitu . gadis berbaju
hitam yang sedang menangis terisak itu, kapalanya
didongakkan keatas dan memandang kearah Barat-laut.
Mengikuti arah sorotan mata gadis tadi, Tampak sesosok
bayangan manusia berwarna abu abu laksana sambaran
kilat berkelebat datang.
Dikala sianak muda itu masih terperanjat dan berdiri
melengak, bayangan manusia tadi akan2 sehelai daun
kering tahu tahu sudah layang turun dihadapan perempuan
itu.
“Hmmmm!” gadis berbaju hitam itu segera mendengus
dingin "Apa maksudmu datang kemari?”
Orang yang barusan datang tadi adalah seorang pemuda
berpakaian ringkas warna abu dengan sebilah pedang
tersoreng diatas punggungnya. Mendengar teguran tadi, ia
segera menjura dan menjawab :
Keponakan murid Pay Boen Hay mendapat perintah dari
suhu untuk datang kemari mengundang sukouw
Tutup mulut" hardik gadis berbaju hitam itu dengan
suara keras, ia lantas duduk dan melanjutkan :
„Suhumukah yang suruh kau mengucapkan kata kata
semacam itu. Hmmm. Perguruan Seng Sut Hay kami tidak
terdapat murid macam kau ! ayoh cepat berlutut
Pay Boen Hay tertegun, segera bantahnya :
„Suhu dia orang tua segera akan.........
„Berlutut" tukas gadis berbaju hitam itu.
Pay Coen Hay kelihatan ragu ragu. namun akhinya ia
jatuhkan diri berlutut
Gadis beibaju hitam itu segera mendengus.
Hmmmm! pantangan pertama dari perguruan kita adalah
dilarang bersikap kurang hormat terhadap angkatan yang
lebih tua, apa berani melanggar dia harus dihukum mati.
Kau anggap setelah mempelajari ilmu ilat perguruan lantas
boleh malang melintang dengan sombong dan jumawa?
"Keponakan murid tidak berani" sahut Pay Boen Hay
dengan serius, keangkuhannya ketika lenyap tak berbekas.
"Ehmm..! pergilah kau dari sini". "Sukouw, suhu dia
orang tua sudah datang perkampungan Thay Bie san cung
harap sukouw
Aku mengerti, kau boleh segera pergi dari sini!"
Perlahan lahan Pay Boen Hay bangun berdiri kemudian
sekali lagi memberi hormat dengan penuh sungguh
sungguh, tapi tatkala dia putar badan sinar matanya segera
terbentur dengan tubuh Pek In Hoei yang sedang berdiri
kurang lebih tiga tombak dari situ.
Pek In Hoei sendiri pun merasa kaget sewaktu
berbenturan dengan sinar mata orang itu ia rasakan betapa
tajam dan bengisnya Orang tadi sebelumnya ia sempat
bertindak sesuatu terasa angin tajam berhembus lewat tahu
tahu orang she-pay tadi satu sudah berdiri dihadapannya.
"Siapa kau?" hardik orang itu dengan suara dingin,
tatkala sinar matanya terbentur dengan mayat yang ada di
tangan Pek In Hoei ia kelihatan kaget bercampur
tercengang.
Pek In Hoei bungkam dalam seribu bahasa, ia merasa
pemuda ini bukan saja ganteng dan gagah perkasa, sayang
bibirnya terlalu tebal dan senyumannya terlalu menghina,
hal membuat dia sungkan untuk berhubungan denganl
orang tadi.
Melihat Pek In Hoei tidak menjawab Pay Boen Hay
mendengus dingin lalu maju selangkah kedepan, tangannya
bergetar kencang, pedang berkelebat lewat membentuk
kuntum bunga pedang, ujung pedangnya menyambar robek
baju yang dikenakan sianak muda itu.
Sungguh dahsyat serangan orang ini, hawa pedang yang
tajam merasa menyayat badan membuat Pek In Hoei tidak
tahan dan mundur selangkah kebelakang. Pay Boen Hay
putar pedangnya masukkan kembali senjata itu kedalam
sarung lalu jengeknya sinis :
"Hmmmm kiranya kau adalah manusia bisu"
Sewaktu menyaksikan dari balik pakaian Pek In Hoei
yang robek tersambar pedang sama sekali tidak
mengucurkan darah, kembali orang itu berseru tertahan.
Ia tercengang sebab tadi ia merasa bahwa ujung
pedangnya sudah menembusi badan lawan sedalam dua
coen lebih, namun pihak lawan sama sekali tidak
mengeluarkan suara sebaliknya hanya mundur sambil
membuka sedikit mulutnya, dia lantas mengira Pek In Hoei
adalah bisu.
Tapi kini setelah menemukan pemuda itu tidak terluka,
air mukanya kontan beiubah hebat
"Siapa kau?" segera bentaknya.
"Pek In Hoei!" sahut pemuda itu hambar mendadak
suatu ingatan aneh berkelebat dalam benaknya, segera
serunya dengan nada berat:
"Pek In Hoei dari partai Tiam-cong"
Pek In Hoei dari partai Tiam-cong? diantara partai Tiamcong
masih ada orang??".
Partai Tiam-cong tidak akan musnah dari muka bumi
untuk selamanya partai Tiam-cong selalu ada orang"
Sepasang biji mata Psy Boen Hay berputar, seraya
memandang mayat yang ada ditangan anakk muda itu
tegurnya:
"Siapakah mayat yang ada ditanganmu"
Tatkala menjumpai begitu banyak mulut luka yang
membekas diatas tubuh Pek Tian Hong serta kematiannya
yang mengerikan, terasa ia kerutkan sepasang alisnya, Pek
In Hoei dapat melihat semua perubahan orang itu dengan
cepat, ia melirik sekejap kearahnya dengan pandangan
benci, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
"Keparat cilik aku dengar dari partai Tiam-cong terdapat
seorang jago yang disebut orang si pedang sakti penghancur
sang surya Pek Tian Hong..." ia maju kemuka. "Apakah
mayat yang ada ditarganmu adalah mayatnya?"
Sekujur badan Pek In Hoei gemetar keras tiba tiba ia
teringat kembali akan perkataan ayahnya yang mengatakan
ia diundang sigolok perontok rembulan Ke Hong serta si
Bintang kejora menuding langit Boen Thian Bong untuk
menaiki gunung Cing Shia.
Teringat pula akan ucapan Pay Boen Hay yang
mengungkap soal perkampungan Tay Bie san-cung, tanpa
terasa segara tanya nya :
Perkampungan Thay Bie San cung yang maksudkan tadi,
apakah tempat tinggal sigolok perontok rembulan Ke
Hong?"
Dengan sinar mata bengis dan sinis Pay Boen Hay
memandang wajah Pek In Hoei, jengeknya berat :
"Sungguh tak nyana sipedang sakti penghancur sang
surya telah menemui kematiannya dengan begitu
mengenaskan sampai sampai mayatnya tak ada tempat
untuk mengubur!"
"Tutup mulutmu aku mau bertanya kepadamu, apakah
Ke Hong pada hari ini anak gunung bersama-sama kau?"
Bajingan cilik yang tak tabu tingginya langit tebalnya
bumi, Ke suheng sedang murung karena takut tak bisa
membasmi rumput sampai seakan akarnya, aku lihai
terpaksa cayhe harus mewakili dirinya untuk turun tangan
melenyapkan dirimu !"
"Oooooouw..... jadi ini hari merekalah yang sudah
menyusun rencana husuk untuk mancelakai ayahku disini!"
raung Pek In Hoei dengan amarah yang berkobarz.
Dengan pandangan dingin Pay Boen Hiy melirik sekejap
Pek In Hoei.
"Bocah keparat, tak ada gunanya kau mengetahui
kejadian itu terlalu banyak, sebab kau bakal modar diujung
pedangku"
Sambil tarik napas dalam dalam pedangnya dicabut
keluar dari dalam sarung, diikuti cahaya tajam meluncur
kedepan laksana sambaran kilat, tahu tahu ia tusuk
tenggorokan Pek In Hoei.
Dalam pada itu pemuda she Pek tadi sedang bersiap siap
menanyakan kejadian yang telahh menimpa ayahnya,
mendadak pandangan matanya jadi kabur, cahaya pedang
lawan telah menyambar tiba dengan hebatnya.
Tidak sempat melihat jelas datangnya, ancaman, dengan
tergopoh gopoh pemuda itu menggerakkan badannya
kesamping dengan maksud menghindari cahaya pedang
yang menyorotinya.
Pay Boen Hay yang melibat pihak lawan buang
badannya kesamping sehingga bagian iga sebelah kanannya
terbuka sebuah lubang kelemahan tak mau membuang
kesempatan ini dengan sia sia. pergelangan secara ditekan
bawah, ujung pedang berkilat membentuk sebuah jaiur yang
sangat indah menusuk jalan darah Suo-sim-hiat ditubuh
lawan.
"Bieeeeet..... diiringi suara robekan baju, ujung pedang
itu dengan telak menusuk kedada Pek In Hoei.
Pemuda she-Pek itu mendengus dingin, ia merasakan
dadanya amat sakit sehingga badannya terdorong satu
langkah kebelakang oleh tenaga dorongan lawan.
"Aaaaaaa......I" Pay Boen Hay berseru kaget, dalam
sangkaannya pihak musuh pasti akan mati terkapar keatas
tanah setelah termakan tusukan kilat itu, siapa sangka Pek
In Hoei hanya mundur selangkah kebelakang tanpa
menunjukkan perubahan apapun jua.
Dengan hati terperanjat, pedangnya kembali didorong
kemuka dengan gerakan kota genting terlanda salju, ujung
pedang dengan berubah jadi serentetan cahaya tajam
langsung menusuk kembali dada musuh.
Breeeeet....... sekali lagi baju Pek In Hoei robek
tersambar senjata musuh dan bef kibaran tertiup angin.
Dengan adanya serangan terakhir, badannya tak kuasa
menahan diri lagi, ia jatuh terjengkang keatas tanah dan
mayat Pek Tian Hong yang berada dalam pelukanyapun
ikut terlempar jatuh.
Sinar mata Pay Boen Hay berkilat tiba2 ia mendongak
dan tertawa terbahak-bahak:
Haaah...haaah...haaaah... semula ake mengira kau telah
berhasil melatih ilmu weduk yang tidak mempan terhadap
bacokan senjata, sehingga hawa pedang serta tusukanku
tidak berhasil membinasakan dirimu, kiranya kau telah
memakai tameng mustika. balik bajumu
Air mukanya kontan berubah hebat, pedangnya diayun
kembali siap membabat batok kepala sianak muda itu
Mendadak.
"Criiiing.. criiing... dua sentilan irama khiem menggema
diangkasa, sentilan khiem itu nyaring bagaikan pukulan
martil yang mengena dalam lubuk hatinya, seketika itu juga
seluruh tubuh Pay Boen Hay gemetar keras, jantungnya
berdebar dan peredaran darah dalam nadinya bergolak,
hampir hampir saja ia muntahkan darah segar.
Bukan begitu saja, bahkan pedangnya yang telah
dipersiapkan untuk melancarkan babatan ikut bergetar dan
akhirnya rontok ketanah.
Air mukanya segera berubah hebat, dengan cepat ia
angkat kepala. Tampaklah bibi gurunya Kioe Thian Jien
Sian atan sidewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng
telah mempersiapkan kembali kelima jari tangan kanannya.
"Kau masib coba ingin turun tangan?" tegur gadis itu
sambil menoleh.
Pay Boon Hay tarik napas dalam dalam.
Toa suheng mendapat perintah dari suhu untuk
membinasakan sipedang penghancur surya Pek Tian Hong,
sedang keparat ini adalah putra dari Pek Tian Hong!".
"Perduli siapakah dia, kau sudah tak dapat
membinasakgn dirinya lagi",
"Kenapa?".
Kalau kau adalah anak murid yang berasal dari
perguruan Seng Sut Hay dalam tiga buah tusukan jika tak
bisa mencabut nyawanya terutama sekali terhadap
seieorang yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat apakah
kau tidak merasa malu"
Dengan hati mendongkol Pay Boen Haj menyimpan
kembali pedangnya kedalam sarung, lalu ujarnya kepada
diri Pek In Hoei.
"Bajingan c.lik! hitung hitung anggap saja nasibmu masih
mujur, malam ini kuampuni selembar jiwa anjingmu.
Hmmm apabila lain kali kau sampai berjumpa lagi dengan
diriku, aku pasti akan mencabut jiwa anjingmul"
"Kalau kau punya nyali, ayoh laporkan namamu!"
Teriah Pek ln Hoei pula dengan penuh kebencian, hawa
nalsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya.
"Apabila dikemudian hari aku berjumpa pula dengan
dirimu, aku tidak akan lupa untuk menghadiahkan pula
beberapa bacokan keatas tubuhmu".
"Haaaah...... haaaah.......... . Haaah.........".
Setan cilik, dengarkan baik baik. Sam-ya adalah
sipemuda ganteng berpedang sakti Pay Boen Hay"
Pek In Hoei mendengus dingin, tiba-tiba merah darah
yang ada diaias jidatnya memancarkan cahaya darah yang
tajam dan gerikan sekali.
Gelak tertawanya kontan sirap, dengan pandangan
terbelalak dan penuh rasa takut ia awasi bekas merah darah
diatas jidatnya.
Hendak . . . suara tetabuhan irama khiem berbunyi
kembali, begitu tajam suara itu sampai serasa menusuk
kedalam tulang sum sum
"Kau masih belum pergi juga dari sini" hardik Kim In
Fng dengan penuh kegusaran. Kau masih punya muka
untuk tetap beradadisini? perguruan Seng Sut Hay tidak
terdapat anak murid yang tidak tahu malu macam kau"
Pay Boen Hay jadi jeri, dengan sikap menghormat buruburu
ia menjura.
"Terima kasih atas nasebat serta petunjuk dari Sukouw !"
"Hmmm ! kau merasa tidsk puas?"
"Sutit tidak berani !"
Kim In Eng mendengus dingin, jari tangannya menyentil
diatas khiem dan berkumandanglah serentetan suara yang
tajam dan nyaring
"Aaaaah !...." Pay Boen Hay menjerit kesakitan urat
nadinya tergetar keras seakan-akan tertumbuk oleh irama
khiem yaug tak berwujud tidak ampun lagi muntah darah
segar.
"Sungguh tak kunyana ilmu permainan yang sukouw
miliki telah mencapai yang begitu tinggi" Serunya
kemudian berhasil menenangkan golakan darah dadanya.
"Sutit merasa sangat beruntung bisa memperoleh pelajaran
darimu!"
"Hmmm! jadi kau anggap aku sudah membela orang lain
dan memusuhi anggota perguruan sendiri?"
"Tentang soal ini aku rasa dalam hatimu sudah merasa
jelas sekali, tak usah diungkap lagi !"
"Haah... haaaah.... haaah....." menadak Kim In Eng
tertawa seram." pun aku sudah membantu pihak partai
Tiam-cong, suhumu bisa berbuat apa terhadap diriku?"
Ia tarik kembali gelak tertawanya yang sedap didengar
itu, dan terusnya :
"Dua puluh tahun berselang, karena persoalan sipedang
sakti dari gunung Tiam-cong Cia Ceng Gak dia sudah tidak
memperdu!ikan lagi hubungan persaudaraan diantara kita,
apakah sekarang aku tidak boleh. melindungi anak murid
partai Tiam-cong?" Kembali ia merandek, setelah tukar
napas. terusnya dengan nada dingin :
"Keponakan muridnya telah kalian celak, sampai mati,
cucu muridnya sudah sepantasnya kalau kulindungi
keselamatannya, katakan saja kepada suhumu, barang siapa
yang berani mengganggu Pek In Hoei, dia harus mencari
aku lebih dahulu"
Pay Boen Hay tidak berani membangkan. Ia memberi
hormat kemudian dengan mulut membungkam berlalu dari
situ. Dengan termangu-mangu Pek In Hoei awasi bayangan
punggung Pay Boen Hay yang lenyap dibalik kegelapan, ia
lantas memberi hormat dan berkata
"Cianpwee, terima kasih atas budi pertolonganmu
kepada diri boanpwee! budi ini takkan kulupakan untuk
selamanya!" Dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng
bungkam dalam seribu bahasa, ia tak menjawab maupun
berpaling, dengan pandangan dan sayu berdiri diatas tebing
sambil awasi rembulan nun jauh diawang2. Lama sekali
baru kedengaran ia menghela napas panjang dan bergumam
seorang diri:
"Aiiiiiii Cia-lang, dapatkah kau mendengar jeritanku?
dapatkah kau baca pikiran serta kepedihan hatiku? nafanya
sedih dan penuh kepiluan membuat Pek in Hoei tidak tega
untuk meninggalkan gadis itu seorang diri. dengan bimbang
dan pikiran kosong ia ikut berdiri tertegun disitu, matanya
awasi tubuh Kim In Eng dengan sinar mendelong.
Perlahan-lahan Kim In Eng tundukkan kepalknya, lima
jari mulai menari kembali memainkan tali senar khiem
dalam pangkuannya.
Irama merdu berkumandang keangkasa, lagu yang
dimainkan bernadakan sedih...... seolah-olah ia sedang
menumpahkan segala isi hatinya kedalam irama lagu itu
Lama ......... lama sekali ia mainkan lagu itu, Pek In
Hoei yang ikut mendengarkan lagu tadi tanpa terasa ikut
meogucurkan air mata, ia ikut merasa sedih dan bayangan
ayahnya yang tercintapun ikut muncul dalam benaknya
"Aaaaaaai!" ditenggah helaan napas yang panjang,
permainan khiem berhenti dan suasana pun kembali diliputi
oleh kesunyian.
Pek In Hoei makin tertagun, dalam benaknyaa masih
terbayang kembali irama lagu sedih yang baru saja
dimainkan gadis itu, lama sekali akhirnya ia ikut menghela
napas. "Kau masih belum pergi?" terdengar gadis she Kim
itu menegur. "Cayhe terpengaruh oleh irama khiem
Cianpwee yang begitu merdu menawan hati, sampai sampai
aku lupa keadaan sekelilingku, apabila ada hal-hal yang
kurang harap cianpwee suka memaafkan"
"Aku tidak merapunyai banyak waktu untuk bicara tak
berguna dengan dirimu, ayoh cepat enyah dari sini"
Pek In Hoei melengak, ucapan yang amat kasar itu
kontan menimbulkan perasaan kurang senang didaiam
hatinya, segera ia berpikir :
"Hmmm! berhubung kau saling mengenal dengan supekcouw-
ku lagi pula sudah menolong jiwaku maka aku
bersikap sangat menghormat kepadamu. Siapa kira
sekarang kau bersikap becitu sinis kepadaku, dianggapnya
aku lantas merengek-rengek ?"
Sambil tundukkan kepalanya Pek In Hoei melepaskan
jubah luar yang dikenakan-, lalu membungkus jenasah
ayahnya baik-baik dan berlalu dari tempat itu.
Baru saja ia berjalan empat langkah dari sana tiba-tiba
Kim In Eng berteriak kembali!"
In Hoei melengak dan segera putar dengan sorot mata
keheranan diawasinya gadis tadi.
"Apakah kau anak murid partai Tiam-Cong?" tegur Kim
In Eng sambil bangkit, perlahan-lahan ia bereskan
rambutnya yang panjang. "Tentu kau kenal bukan pedang
sakti dari partai Tiam Cong, Cia Ceng Gak?"
"Cio Ceng Cak adalah supek ayahku, telah lenyap sejak
dua puluh tahun."
"Aku mengerti bahkan tahu juga kalau Dia sudah lenyap
tak berbekas. Aaaaa.... diatas gunung Cing Shia Inilah
mereka lenyapkan diri hingga sekarang"
Gadis itu merandek sejenak nenghela napas, lalu
terusnya:
"Kalau didengar dari ucapanmu barusan seolah olah kau
maksudkan bahwa dirimu bukanlah anak murid partai
Tiam-cong?"
"Cayhe sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, tentu
saja tak bisa dianggap sebagai anak murid partai Tiam-cong
sebetulnya, namun"
Dengan sedih ia menghela napas. "Partai Tiam-cong
sudah lenyap dari muka bumi sejak kini nama besarnya
terhapus dala. dunia persilatan"
"Aaaaaah......!" rupanya Kim In Eng merasa amat
terperanjat dengan kabar tadi sehingga dia berseru kaget,
sesudah termenung beberapa saat ujarnya :
"Sedikit ilmu silatpun tidak kau miliki, mana mungkin
kau bisa balaskan dendam sakit hati partai Tiam-cong?"
"Dengan andalkan semangat serta kemauan yang
kumiliki, aku bersumpah akan belajar ilmu silat nomor
Wahid dikolong langit, aku pasti akan membalaskan sakit
hati dari anak murid partai Tiam-Cong"
"Punya semangat....jenasah yang berada dalam
pangkuanmu?"
In Hoei tundukkan kepalanya dengan sedih:
"Ini adalah jenasah ayahku tercinta, menemui ajalnya
ksrena dikerubuti kurang lebih tiga puiuh orang jago
Buliml"
"Aaaaai dendam serta budi yang ditinggalkan generasi
berselang rupanya telah dituntut balas oleh generasi akan
datang, saling dendam mendendam saling bunuh
membunuh entah sampai kapan baru akan berakhir"
"Aku tahu, kesemuanya ini adalah hasil karya dari
sigolok perontok rembulan Ke Hong yang bercokol
diperkampungan Tay Bie San-cung"
Kim In Eng termenung sebentar lalu katanya :
"Kau naiklah kemari, aku ada perkata yang hendak
disempaikan kepadamu"
Pek In Hoei rada sangsi, namun akhirnya sambil
membopong jenasah ayahnya ia bertindak naik keatas
tonjolan batu dati tadi dengan langkah lebar. Baru saja ia
maju dua tombak jauhnya terdengar Kim In Eng
nembentak :
"Hati-hati"
Bersamaan dengan ucapan tadi seutas ikat pinggang
berwarna hitam meluncur datang laksana kilat, kemudian
bagaikan ekor ular membelilit pinggang sianak muda
kencang-kencang.
(Oo-dwkz-oO)
4
DALAM pada itu Pek In Hoes merasakan pinggangnya
mengencang, diikuti sisi telingnnya mendengar deruan
angin kencang, tahu tahu sekujur badannya sudah ditarik
naik keatas batu oleh tarikan ikat pinggang berwarna hitami
tadi.
Begitu tiba diatas batu, sianak muda itu merasa kaget,
dalam hati pikirnya :
"Dia adalah kcnalan dari Supek-couw, nengapa usianya
masih begitu muda?"
Kiranya perempuan yang berdiri dihadapanya saat itu
bukan saja berwajah cantik, bahkan masih muda belia.
Alisnya yang tipis lagi panjang, bibirnya yang kecil
mungil serta hidungnya yang mancung merupakan suatu
perpaduan yang sangat serasi, mencerminkan kecantikan
wajah seorang bidadari.
Dengan termangu-mangu pemuda itu berdiri melongo
disana, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun
yang berhasil diutarakan.
Menjumpai keadaan sianak muda itu, Kim In Eng
meraba wajah sendiri dan menghela napas.
"Asaaaai ..... I aku makin bertambah tua"
"Tidak! Cianpwee..... kau masih tampak muda '
Kim In Eng geleng kepala dan menghela oapaj kembali.
"Pada usia lima belas tahun aku telah berjumpa dengan
dirinya, hingga kini dua puluh tiga tahun sudah lewat,
setiap hari tiap malam aku selalu memikirkan dia,
menangisi nasibnya yang jelek dan terjerumus dalam
lembah kedukaan, siapa bilang aku tidak bertambah tua"
"Cianpwee, aku tidak bohong, kau benar-benar masih
kelihatan sangat muda." seru Pek In Hoei dengan wajah
merah padam,
"Ulat sutera akan berhenti mengeluarkan seratnya bila
dia sudah mati, api lilin akan padam setelah sumbunya
habis, aka tetap mempertahankan selembar jiwaku tidak
lebih untuk perlahan2 mengenang kembali ke masa silam!
Aaaaai . . . makin kini hatiku terasa makin pedih....." Ia
melirik sekejap kearah Pek In Hoei katanya :
"Kau duduklah nak"
Pek In Hoei mengiakan dan duduk keatas tanah.
Perlahan-lahan Kim In Eng pun duduk diatas tanah,
dengan tangan kanan ia peluk dan tangan lain menyentil
senarnya? Rentetan irama merdu menggema diangkasa.
la berpaling memandang sianak muda itu, tegurnya :
Apakah kau ingin belajar ilmu silat?" Anak muda itu
mengangguk, aku ingin belajar silat, sebab aku harus
memmbalas dendam sakit hati ini"
"Maukah kau belajar ilmu silat dengan diriku ? Jadi anak
muridku"
"Cianpwee, tolong tanya apakah ilmu silatmu
merupakan ilmu silat yang paling lihay dikolong langit?"
Kim ln Eng tertegun, dengan cepat ia menggeleng.
Dalam kolong langit tidak akan ada ilmu silat yang
paling lihay, siapa berani berkata bahwa ilmu silatnya
nomor satu di dalam jagat?"
Kalau begitu aku tidak ingin belajar silat darimu !"
Aku adalah anak murid dari perguruan Seng Sut Hay,
kepandaian silat partai kami mengutamakan kelunakan,
kelincahan serta bersumber pada tenaga lunak, meskipun
belum bisa disebut sebagai ilmu silat nomor satu dida!am
dunia, tapi jarang sekali ada jago didaratan Tionggoan
yang dapat menandingi, kenapa kau tidak ingin belajar
kepadaku?"
Aku telah tersumpah mempelajari ilmu silat yang paling
lihay dikolong langit kalau tidak maka aku harus belajar
ilmu penghancur sang surya dari partai Tiam-cong
mengutamakan kekerasan, setiap digunakan hawa pedang
menjelimuti rasa, kekuatannya luar biasa " mendadak sinar
matanya redup bisiknya dengan suara lirih:
Ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Cialang,
dimana menggunakan ilmu pedang penghancur sang
surya beradu kepandaian dengan toa suhengku Ku Loei,
waktu itu dia berusia tiga puluh dua tahun, bukan saja
ganteng dan gagah iapun berhasil mendapatkan gelar
sebagai sipedang sakti.
Sinar matanya terang kembal ia menyapu sekejap
sekeliling tempat itu lalu terusnya :
Aku dengan cinta kasih yang paling suci dari seorang
gadis mencintai dirinya, kelembutanku akhirnya
memperoleh balasan cinta yang setimpal darinya, setelah ia
berhasil menangkan ilmu pedang Liuw Sah Kiam-hoat dari
perguruan kami, aku lantas diajak berpesiar kemana-mana,
kami berdua melewatkan suatu musim gugur yang amat
panjang. Waktu itu merupakan musim gugur yang tak
terlupakan selama hidupku, kami sama-sama menghitung
daun kering yang gugur, bersama-sama menangkap
kunang2, waktu malam membicarakan impian indah
dimasa mendatang.
Wajahnya bersemu merah, dengan halus manja ia belai
rambut sendiri yang panjang dan hitam, sambungnya :
Ketika itu dia paling suka dengan rambutku yang hitam
dan panjang terurai ini, ia bilang dibalik rambutku yang
panjang tersembunyi suatu rahasia yang dalam membuat
dalam hatinya timbul banyak lamunan dan kenangan
Dari perubahan sikap serta air muka yangg diperlihatkan
Kim ln Eng, pemuda kita bisa membayangkan betapa
bahagianya perempuan ini bersama sipedang sakti Cia Ceng
Gak dikala muda dahulu, waktu itu mereka berdua tentu
saling sayang menyayangi dan melewatkan suatu hidup
yang penuh kebahagiaan sehingga membuat Cia Ceng Gak
akhirnya merasa berat untuk kembali ke Tiam cong .
Tiba tiba nada ucapan Kim In Eng berubah jadi gelisah
ia meneruskan :
"Pada bulan ssembilan musim gugur tahun itu juga,
delapan partai besar dari daratan Tionggoan dengan
dipelopori oleh partai Sauw lim, Bu-tong, Hoa son serta Go
bie mengundang jago jago dari lima partai lainnya untuk
mengadakan pertemuan dipuncak gunung Cing-shia pada
saat itula dengan menggembol pedangnya pergi"
„Sebenarnya dia berkata kepadaku bahwa besok sorenya
dia akan balik lagi, tapi sampai musim salju yang amat
dingin dan panjang itu sudah berakhirpun dia belum juga
kembali hingga sekarang?"
air mata mulai membasahi matanya
Dengan sedih ia menyambung sejak dia pergi, aku
merasakan kekosongan kehampaaa serta kesunyian yang
tak terkira, setiap malam telah tiba dan aku pejamkan mata,
bayangan tubuhnya selalu muncul didepan mata dia datang
sambil membawa kegembiraan serta kebahagiaan yang tak
terkirakan bagiku. Setiap kali kubuka mataku dia lenyap tak
berbekas. Sambil meninggalkan kehampaan serta kesunyian
yang makin menebal mata jatuh berlinang makin deras
membasahi wajahnya dan menetes diatas wajahnya.
Malam semakin kelam embun makin tebal. . Aaaai
Kabut telah tiba, bergerak mengikuti hembusan angin
gunung." In Hoei berdiri termangu mangu bagaikan patung
arca, ia awasi Kim In Eng dengan sorot mala melongo,
dalam hatinya timbul pula rasa duka yang tebal
Diam-diam ia berpikir :
Seandainya suatu hari aku berhasil pula menemukan
gadis yang benar-benar mencintai diriku, aku tidak nanti
meninggalkan dirinya sehingga mendatangkan kesedihan
serta kepedihan yang tak terhingga baginya
Tiba-tiba..... serentetan suara dengusan yang berat lagi
nyaring hingga menggetarkan telinganya berkumandang
datang.
Dengan terperanjat dia mendongak, sementara air muka
Kim In Eng pun berubah hebat, ia awasi tempat kejauhan
dengan wajah serius.
"Siapa yang telah datang?" sianak muda itu segera
bertanya.
"Toa suhengku". " Couw suhunya Pay Boen"
"Benar" Kim In Eng mengangguk dengan wajah berat.
"Dia adalah si Rasul pembenci Langit Ku Loei"
"Rasul Pembenci Langit...... Rasul Pembenci Langit ?"
"Haaa --- haaaah .... haaaaah.... "
Suara tertawa yang amat mengerikan berkumandang
keluar dari balik kabut menggetar seluruh lembah bukii
tersebut.
Bocah, cepat bersembunyilah dibelakang tubuhku seru
Kim ln Eng seraya menghampiri sianak muda itu. "Watak
Toa suheng kurang baik, bukan saja ia kasar bahkan
berangasan sekali, hati hati terhadap dirinya jangan sampai
isi perutmu terluka oleh alunan irama harpanya
Kendati didalam hati Pek In Hoei merasa tidak begitu
jelas apa sebabnya irama suara yang diperdengarkan dapat
melukai orang, namun mau tak mau dia harus mem
percayai akan kenyataan dari kejadian itu.
Sebab tadi, dengan mata kepala sendu ia saksikan isi
perut Pay Boen Hay diluka oleh irama khiem sehingga
muntah darah maka diapun percaya bahwa irama harpa
dari sirasul pembenci langit bisa meluka puia isi perutnya.
Meski begitu, pemuda kita masih keliha an sangsi, untuk
beberapa saat dia masih berdiri ditempat semula.
"Cepat bopong jenasah ayahmu dan se bunyikan
kebelakang tubuhku" seru Kim In En g dengan nada cemas.
"Sekarang dia masih berada lebih duapuluhtombak dari si
kalau dia sudah ada tiga tombak jauhnya maka kau pasti
akan teriuka ditangannya"
Pek ln Hoei tidak ragu ragu lagi, ia bowa jenasah
ayahnya dan berjalan kebelakang Kim In Eng lalu duduk
keatas tanah. "Bocah, kenapa kau tidak mengubur saja
jenasah ayahmu disini? Daripada kau kerepotan sendiri?"
tegur perempuan itu sen alis berkerut.
"Tidak, ayahku mati diatas gunung Cing-Shia aku tidak
ingin mengebumikan jenasah ditempat ini."
"Aaaai bocah, kenapa kau ingin cari susah buat dirimu
sendiri?"
"Ih dimanapun saja, apa bedanya dikubur disini atau
ditempat lain ?"
"Sumoay! bentakan keras laksana guntur disiang hari
bolong bergetar diseluruh angkasa, dibalik buyarnya kabut
muncul seorang kakek tua berjubah merah yang penuh
cambang diwajahnya, matanya bulat gede seperti mata
harimau perawakannya tinggi besar bagai raksasa.
Begitu tiba ditempat itu, dia lantas mengawasi baju
hitam yang dikenakan Kim In Fng kemudian sambil
menghela napas tegurnya:
"Sumoay, hingga kini kau masih berkabung untuk
kematiannya?"
"Selama hidup aku cuma mencintai dia seorang, dia
telah mati dicelakai kalian semua tentu saja aku harus
terkabung baginya. Sepanjang hidupku tak nanti kukenakan
pakaian dengan warna lain. Selama hidupku akan selalu
berkabung bagi kematiannya"
"Sumoay, bukankah pandanganmu itu sempit bagaikan
pandangan seorang bocah cilik? Coba katakan, apa sangkut
pautnya antara lenyapnya Cia Ceng Gak beserta ketua
delapan partai besar dengan diriku? Apakah kau anggap aku
benar benar mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk
membinasakan mereka semua?"
"Diam. Kau jangan menganggap aku , seperti bocah cilik
lagi, tahun ini umurku sudah hampir mendekati empat
puluh, kau anggap aku masih sudi mempercayai obrolanmu
itu.
Ku Lui mengerutkan alisnya "Coba kau lihat, selama
banyak tahun kau telah ngambek dan tidak mau pulang ke
Seng Sut-Hay, tidak mau mengikuti aku sebagai toa
sukomu, bahkan mengecat khiem kuno hadiah suhu dengan
warna hitam, apakah tingkah lakumu tidak mirip buatan
seorang bocah cilik?"
"Hmmmm I Sejak dulu kan aku sudah bilang, aku sudah
bukan anggota perguruan Seng Sut Hay lagi, kenapa aku
harus kembali kesana ?"
"Perbuatanmu benar benar keterlaluan sekali, selama
enam belas tahun kau selalu menghindari pertemuan
diantara kita. Hay-jie yang kuutus untuk mencari dirimu,
kau usir pergi bahkan ketika aku perintahkan Hay jie untuk
mengundang kau mendatangi perkampungan Tay Bie San
cung, isi perutnya kau lukai dengan irama khiem sehingga
muntah darah"
"Dia tidak menghormati angkatan yang lebih tua, apa
salahnya kalau kuberikan kepahitan buat dirinya ?"
"Tapi tidak seharusnya kau lindungi orang lain "
seru Ku Loei lalu tarik napas dalam dalam.
Sinar matanya beralih dari wajah Kim ln Eng menyorot
Pek In Hoei yang bersembunyi dibelakang.
Tatkala matanya terbentur dengan tameng mustika diatas
badan sianak muda itu, kakek berewok ini menunjukkan
sikap tercengang dengan cepat perhatiannya dikumpulkan
keatas wajah pemuda itu.
))00oodwoo00((
JILID 6
SUNGGUH tebal napsu membunuh bajingan cilik ini!"
pikirnys da!am hati dengan perasaan kaget. "Sungguh
cerdik pula otaknya, dia punya tulang dan bakat yang bagus
tidak enak kalau dilindungi keselamatan jiwanya"
Karena berpikir begitu, segera tanyanya :
"kenapa kau lindungi keselamatan bajingan cilik yang
berada di belakangmu? dia anak murid partai Tiam-cong . .
. ."
"Justru karena dia berasal dari partai Tiam-cong mska
kutolong jiwanya!" lalu dengan wajah serius tegurnya.
"Mengapa kan hendak membasmi habis seluruh anggota
partai Tiam cong?"
"Kapan aku pernah membasmi seluruh anggota partai
Tiam-cong?" Ku Loei balik bertanya dengan nada
melengak.
"Hmmmm! tiga puluh tahun berselang ilmu pedangmu
menderita kekalahan total ditangan Cia Ceng Gak, sejak itu
dalam hatimu selalu membenci orang-orang partai Tiamcong.
Bukankah sekarang kau telah mengutus Ke Hong
beserta tiga puluh orang lebih untuk membinasakan Pek
Tian Hong dsrl Tiam-cong-pay ?
"Hmmm! apa yang hendak kau katakan lagi?"
"Apa?" teriak Ku Loei dengan mala melotot. "Sejak
Couwsu mendirikan perguruan Liuw-sah-boen dilaut Seng
Sut Hay selama dua ratus tahun rasanya tidak pernah ada
anggota perguruan kita yang melakukan perbuatan terkuiuk
serendah itu, kau sebagai anak murid perguruan ternyata
berani menghina perguruan ternyata berani menghina
perguruan, merendahkan nama Couwsu, tahukah kau
bahwa kau telah melanggar dosa yang sangat besar?"
"Sudah lama aku bukan anak murid perguruan lagi,
kenapa aku harus terikat oleh peraturan perguruan?".
"Sumoay, benarkah kau tidak sudi kembali kedalam
perguruan? apakah kau sudah melupakan semua pesan dsri
suhu?"
Kim In Eng gelengkan kepalanya.
"Keputusanku sudah bulat, sekalipun kau hendak
mengucapkcan kata kata seperti itu tidak nanti aku akai
kembali ke Ssng sut Hay"
Ku Loei meraung gusar, cambanguya pada berdiri semua
bagaikan landak, dengan keadaan yang menyeramkan
bentaknya:
"Kim In Eng, aku hendak menggunakan kedudukanku
sebagai toa suhengmu menjatuhkan hukuman kepadamu!"
Kim In Eng tertawa dingin, terhadap tingkah laku Ku
Loei yang sedang diliputi kemarahan ia tidak ambil gubris.
Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei makin gusar,
matanya melotot bulat bagaikan kelereng, mendadak ia
angkat tangan kanannya memperlihatkan sebilah pedang
pendek berwarna emas.
"Anak murid angkatan kedelapan dari perguruan Liuwsah
Boen Kim In Eng harap dengar perintah" serunya
sambil melangkah maju setindak.
Serentetan cabaya aneh memancar keluar dari balik msta
Kim In Eng, ia cuma melirik sekejap kearah pedang emas
itu kemudian tidak ambil gubris, bukan begitu saja, bahkan
ia malah berpaling dan berkata kepada Pek In Hoei :
"Bocah, apakah kau ingin tahu sebab sebab yang
menyebabkan kematian supek cauwmu sipedang sakti dari
partai Tiam-cong, Cia Ceng Gak?"
Pek In Hoei mengangguk.
Aku bersumpah akan membalaskan dendam sakit hati
setiap anggota partai Tiam cong yang mati terbunuh"
Seakan-akan sedang mengisahkan satu Kim In Eng
mulai berkata:
"Dengan membawa pedang sakti penghancur sang surya
Cia Ceng Gak terjunkan diri
kedalam dunia persilatan. Waktu itu Ku Losi beserta
murid kedua Cfciu Tiong dan siauw sumoay mereka Kim
In Eng sama-sama berkelana pula dalam dunia kangouw,
dalam waktu singkat Cia Ceng Gak berhasil merebut gelar
sipedang sakti dalam Bulim Sebagai pemimpin dari partai
Tiam cong, disambali pula ilmu silatnya lihay dan
wajahnya sangat ganteng, banyak gadis cantik sama2 jatuh
cinta padanya, tetapi sayang Cia Ceng Gak bukan seorang
yang romantis bukan saja ia tidak menggubris gadis2 itu
bahkan pura2 berlagak pilon...... oleh sebab itulah, dalam
kangouw dia pun mempunyai satu gelar yang kurang sedap
didengar silelaki tampan yang tidak romantis".
"Apakah pada saat itu supek-couw berkelana sambil
menggembel pedang sakti penghancur sang surya?" tanya
Pek Ia Hoei.
Kim In Eng melirik sekejap kearah sianak muda itu, lalu
mengangguk. "Hmmm! Seandainya ia tidak mengandalkan
kemisteriusan dari pedang itu, tidak nanti aku menderita
kalah ditangannya" Jengek sirasul pembenci langit dengan
suara bengis
Kim In Eng mendengus, ia lirik sekejap suhengnya
dengan pandangan dingin lalu menyahut:
"Hatimu kejam, licik dan buas. Mana mungkin bisa
melatih ilmu pedang terbang yang merupakan suatu ilniu
pedang tingkat atas? Sekalipun umpama kata Cia-lang tak
mati, ilmu pedangmu tidak nanti bisa menandingi dirinya !"
"Perempuan yang tidak tahu malul" teriak Ku Loei
penuh kegusaran. "Hmmm Aku tidak pernah mencelakai
orang lain dengan siasat busuk, tidak pernah memperkosa
anak gadis orang, tidak peraah menggunakan akal licik
untuk mengangkangi siauw sumoaynya sendiri, kenapa aku
tidak tahu malu"
Si Rasul Pembenci Langit meraung keras ujung jubahnya
dikebut kedepan dan serentetan desiran angin tajam
berhawa dingio segera meluncur keluar.
Pek In Hoei menggigil ia rasakan suhu udara disekeliling
tubuhnya mendadak merendah dengan cepatnya," dalam
sekejap mata dis rasakan tubuhnya seolah olah terjerumus
kedalam gudang es yang amat dingin, giginya saling beradu
keras karena tak tahan sianak muda itu bersin beberap« kali.
Terhembus desiran angin tajam tadi, ujung baju Kim In
eng yang berwarna hitam berkibar kencang, namun ia sama
sekali tidak terluka, sambil tersenyum menghina jengeknya :
"Heeeh...... heeeeh........heeeh........kepandaian silaimu
tidak lebih cuma begitu saja?"
Sambil berkata lima jari tangan kanannya diayun keluar,
lima rentetan desiran angin serangan meluncur keluar dari
ujung kelima jarinya menghantam kemuka. Meski desiran
itu halus bagaikan hembus angin malam, namun
mengakibatkan jubah yang dikenakan Ku Loei
bergelombang, bagaikan tertusuk lima bilah pedang tajam,
desiran angin serangan itu menembusi pukulannya hingga
melubangi pakaian yang ia kenakan.
Kontan air mukanya berebah hebat.
"Hmmm Sungguh tak nyana ilmu totok Lan Hoa-ci dari
subo berhasil kau latih"
"Ilmu telapak Han Pang-ciang dari suhu yang kau
milikipun tidak jelek, cuma sayang heeeh...... heeeh......
heeeeh...... semua ilmu silat dari Seng Sut Hay
mengutamakan tenaha Im yang lunak. Sekalipun kaliau
kaum pria berlatih giatpun tidak nanti bisa peroleh hasil
yang lebih baik daripada kaum wanita !"
Ia berpaling kembali kearah Pek In Hoei dan
menyambung:
"Kau harus perhatikan baik baik, semua ilmu silat dari
Seng Sut Hay mengutamakan tenaga Im-kang yang bersifat
lunak, hanya tenaga Yang-kang yang bersifat keras dan
panas saja bisa menaklukan, kalau tidak maka kau harus
benar benar menguasai kelincahan serta kelunakan dari
tenaga Im-kang, kalau tidak ingin dikecundangi olehnya ...
"
Perempuan itu menghela napas panjang setelah
merandek tambahnya:
"Semula aku memang ada maksud menerima kau
sebagai muridku, tetapi sekarang setelah kupikir lagi,
meskipun kau berlatih selama hiduppun tidak nanti bisa
mengalahkan dirinya, maka sekalipun kau tidak sudi anak
muridku, akupun tidak akan merasa sedih" Dengan hati
mendongkol rasul pembenci langit mendengus berat.
"Walaupun kau berhasil melatih ilmu jari Lan Hoa-cie, aku
masih punya cara untuk menaklukkan dirimu Sumoay! Kau
jangan keburu senang. Lihat saja nanti... Dewi Khiem
bertangan sembilan Kim In Eng tidak menggubris ancaman
orang kepada Pek Ia Hoei ujarnya lagi dengan suara halus
"Kau harus perhatikan baik baik ilmu pukulan salju yang
ia lepaskan tadi bisa membekukan cairan darah dalam
tubuh seseorang, seandainya darah dalam tubuh iawan
sudah membeku maka dia akan kehilangan daya
perlawanan, pada saat itulah serangannya dengan dahsyat
akan menghancurkan badan musuh Oleh sebab itu bila
dikemudian hari kau berjumpa dengan dirinya, pertama
tama hindarilah lebih dahulu hawa dingin, yang tcrpencar
keluar dari serangan tersebut
"Lonte tengik !" teriak Ku Loei sangat gusar. "Sekalipun
kau beberkan semua rahasia ilmu silat perguruan kita
kepadanya tidak nanti ia bisa lolos dari tanganku dalam
keadaan hidup"
Kim In Eng tidak menggubris, ia pejamkan matanya dan
berkata lagi: "Tahun itu aku baru berusia lima bela tahun,
sebenarnya tidak pantas bagiku untuk berkelana kedalam
Bulim Tetapi berruntung aku disayang oleh subo dia ia
tidak merintangi keinginanku untuk berpesiar didaerah
Kanglam, maka setelah ribut beberapa kali permintaanku
dikabulkaanya
"Sepanjang jalan kedua orang suhengku lu berusaha
menyenangkan hatiku, setiap tiba disuatu daerah maka
dipilihnya tempat tempat yang paling baik untuk ajak
pesiar, memilih makanan yang paling untuk aku makan,
mereka berdua takut aku tidak senang hati"
"Hmmm...! Rupanya kau masib ingat bahwa kami
bersikap sangat baik kepadamu" dengus Ku Loei. "Aku kira
hatimu sudah digondol anjing"
Kim In Eng tidak gubris sindiran suhengnya, kembali ia
lanjutkan kisahnya ;
".Pada masa itu partai partai besar dalam Bulim saling
tidak akur, saling curiga mencurigai, pada hari hari biasa
jarang berhubungao satu sama lainnya. Tetapi sejak anak
murid Seng Sut Hay munculkan diri tanpa sadar mereka
bersama sama bersatu padu untuk memusuhi kami, dan
perjalanan kamipun seringkali mendapat gangguan. Sayang
sekaii partai Sauw-Iim, Bu-tong, Go- bie serta Hoa san yang
dianggap sebagai partai lurus dalam dunia kangouw tidak
memiliki ilmu silat yang lihay maka dari itu satu demi satu
jago jago mereka keok semua ditangan kedua orang
suhengku"
"Hasaah .... haaaah.......... haaah........."
Rasul Pembenci Lsngit tertawa terbahak-bahak. "Jago
jago tahu dan tempe dari berbagai partai mana bisa
menandingi kehebatan perguruan kami?". Mendengar
suhengnya menimbrung terus dari samping, Kim In Eng
kerutkan alisnya dan menjerit:
"Tutup bacot onjingmu, enyah jauh dari sini!".
Si Rasul Pembenci Langit membungkam dengusan
dingin menggema tiada hentinya. Untuk sesaat suasana
diliputi kesunyian.
Setelah merandak beberapa saat perempuan itu
melanjutkan:
"Jago pedang yang ternomo pada seat kecuali sipedang
naga terbang dari Kunloen Pay hanyalah sipedang sakti Cia
lang seoorang. Ketika kami tiba dikota Siok-Chlu, sipedang
naga terbssg dengan merubungi wajahnya malam itu telah
mendatangi kuil Han san-sie dan mencari kami untuk diajak
beradu ilmu silat"
"Kuil Han-sao sie ? apakah kuil Han san sie yang
dimaksudkan Pujangga Thio Sie dalam syairnya Jambatan
Hong-Kiau ditengah malam?".
"Sedikitpun tidak solah, justru karena aku pernah
membaca syair itu maka aku bersikeras untuk menginap
dikuil Han-san- sie. Siepa sangka pada malam pertama
tidurku telah dibangunkan oleh kehadiran orang manusia
bekerudung yang mencari Hay-thian Siang-Kiam untuk
diajak Pibu Bocab tahukah kau bahwa bilamana seorang
telah mendapatkan sedikit nama seandainya ia bertindak
kurang hati hati maka kemungkinan besar nama besamya
akan hancur dalam waktu singkat? Peda waktu itu tujuan
Hwie Lioag Kiam menyatroni Han san sie dengsn wajah
berkerudung bukan lain untuk menghindari ejekan orang
banyak seondainya dia menderita kekalahan....."
Perempuan itu menghela nopas panjang sambungnya:
"Tetapi akhirnya dia menderita kalah, kalah diujong
pedang toasuhengku.
"Benar" sela Ku Loei dengan bangga, pada jurus yang
keenam pUub tujuh, pedangku berbasil melepaskan kain
kerudung yang ia kenakan
"Fui.... tak tahu malu. meski kau mengatakan Hwie
Liong Kim pada jurus yang enam puluh tujuh, namun kau
sendiri juga dipaksa keok dengan pedang terlepasdari
tangan oleh Cia Ceng Gak sebelum jurus yang kelima
puluh*.
"Hmmm ! kalau dia tidak curang, mana mungkin aku
bila kalah? dia menyerang aku tatkala aku baru saja
menyelesaikan pertarunganku melawan sipedang naga
tebang dari Kun-loen Pay, waktu itu tenagaku sudah habis
dan badanku lelah"
"Ooouw......... begitu? keospa tidak sekalian kau
ceritakan bahwa kalian suhengte berdua telah mengerubuti
orang lain dengan ilmu pedang Liuw-sah Kiam-hoat?"
"Lonte buauk! sebenarnya kau masih menganggap
dirimu sebagai anggota perguruan Liuw sah Boen atau
tidak? mengapa keu selalu membantu oraog lain?"
"Hmm! bukankah sejak tadi aku sudah bilang bahwa aku
telah melepaskan diri dari keanggotaan perguruan Liuw Sah
Boen?"
Ku Loei semakin mendongkol, dengan penuh rasa benci
teriaknya:
"Kau sendiri yang berkata begitu, nanti kalau lerpaksa
aku harus menghukum dirimu menurut peraturan
perguruan, jangan salahkan aku terlalu kejam"
"Kenapa harus tunggu sampai nanti? sekarang saja
tunjukkan kelihayanmu"
"Akan kulihat sampai dimanakah ketebatan mukamu
untuk mengungkap kembali peristiwa lampau yang
memalukan itu, agar kudengar sampai dimanakah baunya
peristiwa memalukan yang psrnah kau perbuat".
Pek in Hoei mendengus berat. "Hmmml macam
begitulah sepak terjang seorang ketua perguruan? bila bisa
mengucapkan kata kata sekotor don serendah itu. Hmmm
aku lihat perbuatanmu tidak lebib seperti seekor anjing dan
babi yang hina"
.
Ucapan tersebut terlalu menghina, air muka Ku Loei
kontan berubah hebat sambil loncat bangun teriaknya
penuh kemarahan :
"Bajingan cilik, anjing kecil kau berani memaki diriku?".
Telapaknya diputar lantas dibabat keluar dengan
kecepatan bagaikan ki1st. Sreeet... dalam sekejap mata
serentetan babatan tajam menyapu kearah tubuh Pek In
Hoei.
Kim In Eng tidak ambil diam dengan datangnya
serangan itu, dia membentak nyaring, badannya
melengkung bagaikon busur lalu meletik bangun, liua
juinye di pentang lebar lebar lalu meayapu kedepan.
Bruuuk .... I gerakan tubuhnya terbendung, sekilas rasa
kaget borkelabat di atas wajahnya. laksana kilat telapak
kirinya didorong kemuka mengirim sebuah pukulan lagi.
Bluuuum........ kembali perempuan itu tertahan ditebgoh
jalan bahkan terdorong setengah langkah kebelakang, diatas
batu munculah sebuah bekas telapak kaki sangay nyata.
"Haaa.... haaaah.... haaaah...... bagaimana dengan
seranganku ini?" jengek rasul pembenci langit nambil
tertawa terbahak bahak dengan seramnya.
"Ilmu silat apakah itu?"
Kitab ilmu golok perontok rembulan yang ditinggalkan
oleh suhu dahulu dalam kitab
pusaka Ku Thian Pit Kipnya"
"Ilmu golok perontok rembulan?"
Si Rosul Pambenci Langit menjengek dingin, hawa
murninya segera dikumpulkan keatas telapak. Dalam
sekejap mata seluruh angkasa telah dipenuhi dengan selapis
cahaya tajam bewarna keperak perakan yang memancar
keluar dari telapak tersebut.
Criiiilt ! seakan akan membelah suhu, sebuah batu cadas
yang berat lagi keras telah terbabat putus jadi dua bagian
oleh babatan telapek tangannya.
Pek In Hoei sendiri tertegun dibuatnys setelah
menyaksikan kepandaian silat yang didemonstrasikan
lawan, dengan hati terkesiap diam diam pikirnya:
"Iimu silat apakah itu? kenapa telapaknya bisa lebih
tajam daripada sebilah golok?"
Sementara itu Si Rasul Pembenci Langit tertawa dingin
tiada hentinya.
"Heeeh... heeeh.... inilah kepandaian silat tandingan
yang diciptaken suhu untuk membalas dendam sakit
hatinya terhadap subo ia sengaja menciptakan ilmu ini
untuk menghancurkan kepandaian Hoei Koo- Chiu dari
subo"
Kim In Eng tertegun, lalu dengan benci serunya:
"Sekalipun ilmu s:latmu dianggap nomor wahid dikolong
langit, tidak nanti bisa menutupi kejelian dalam hatiku,
tidak mungkin bisa melenyapkan kejelekan yang pernah kau
lakukan"
"Apa? kau bilang aku takut kepada siapa? perbuatan jelek
apa yang pernah kulakan?"
"Kau pernah menderita kekalahan total ditangan seorang
jago pedang dari partai Tiam Cong, maka kau takut dari
partai Tiam Cong akan muncul kembali seorang jago lihay
yang akan mengalahkan dirimu sekali lagi....."
Dengan sinis dan pandangan hina ia mendengus,
kemudian terusnya:
"Tahukah kau apa sebabnya pada hari itu Cia Ceng Gak
telah muncu! dikuil Hon san sie setelah kehadiran Hwie
Liong Kiam dari partai Kunlun? ternyata dia tehah
menemukan banyak anak gadis dalam kota Siok Chiu mati
telanjang ditanah malam setelab diperkosa orang secara
paksa, dan semua perbuatan terkutuk itu ada lah hasil
karyamu".
Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei mengerutkan
sepasang alisnya yang tebal, tiba tiba ia meraung keras,
telapak tangannnya dengan ilmu golok perontok rembulan
segera dibabat kedepan.
Kim In Eng berkelebat kesamping, dengan suatu gerakan
yang lincah lima jarinya disentil keluar diikuti secara
beruntun ia kirim beberapa serangan berantai secepat
sambatan kilat.
Ku Loei enjotkan badannya bcrkelabat keatas gerakan
telapaknya berubah, ditengah desiran tajam kembali ia
kirim tiga buah babatan dahsyat. Saat ini tubub Kim In Eng
terus berada ditengah udara, kesepuluh jarinya secara
bergantian mengirim serangan serangan kilat. seketika itu
juga seluruh angkasa ditutupi oleh bayangan jari yang tajam
dan meyilaukan mata.
Pek In Hoei yang menonton jalannya pertempuran dari
samping berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo.
Hampir saja ia tidak percaya kalau ada orang yang bisa
bergerak sedemikian cepatnya, bahkan melayang ditengah
udara.
Detik itulah ia baru mulai menyadari bahwa menariknya
ilmu silat, kalau dibandingkan belajar syair dan sastra, ilmu
silat jauh iebih menyenangkan. Maka dalam hati ia lantas
berpikir:
Kepandaian silat sehebat dan sedashyat inipun tidak bisa
dianggap sebagai ilmu silat nomor wahid dikolong langit,
lalu ilmu silat macam apakah baru dapat dikatakan nomor
satu? Aaoaai... kiranya belajar silat bukan suatu pekerjaan
enteng"
Otaknya berputar dan ia teringat kembali akan cerita
Kim in Eng yang mengatakan bahwa dahulu Ku Loei
pernah di kalahkan Cia Ceng Gak, maka pikirnya lebih jauh
:
"Asalkan aku dapat mempelajari ilmu pedang
penghancur sang surya dari perguruan, bukankah dengan
gampang pula kupukul keok dedongkot dari perguruan
Liuw Sah Boen ini? Seketiko otaknya masih memikirkan
berbagai persoalan tiba tiba ia mendengar Ku Loei berteriak
keras, begitu keras suaranya sampai sampai gendang
telinganya terasa sakit dan ia tak sanggup mendongak.
Sementara Kim In Eng telah duduk bersila ditanah, kedua
tangannya diangkat sejajar dada.
Setelah berteriak si Rasul Pembenci langit maju
selangkah kedepan berdiri didepan sumoaynya, telapak
kanan diangkat sejajar dada dan saling merapat dengan
telapak Kim In Eng, sedang tangan kirinya mencekal harpa
kunonya kencang kencang
"Eeeei... apa yang sedang mereka lekukan?" pikir Pek in
Hoei dengan hati tercengang.
Tiba2 ia berseru tertahan. ternyata kedua kaki Ku Loei
yang berdiri diatas batu mengikuti gerak tubuhnya perlahan
lahan amblas kedalam batu, sebaliknya sekujur badan Kim
In Eng gemetar keras, jubah hitamnya berkibar tiada
hentinya walaupun tidak ditiup angin, bukan begitu saja
bahkan seolah olah rambut serta bahunya ikut gemetar
semua.
Pemuda ini jadi heran, perlaben lahan ia maju mendakati
perempuan itu untuk melihat apa yang sebenar telah terjadi.
Siapa sangka baru saja dua langkah ia berjalan, sambil
melolotkan matanya bulat selat Ku Loei berpaling
kearahnya, selurub cambang diatas wajabnya berdiri kaku
bagaikan landak, keadaannya betul betul mengerikan.
"Cepat2 menyingkir!" tiba tiba Kim in eng merjerit,
Pemuda itu tertegun, belum sampat ia menghindarkan
diri, dua gulung angin puyuh maha dahsyat telah meluncur
datang dengan cepatnya, menubruk dadanya tanpa bisa
ditahan, ia mencelat dua kaki dari tempat semula.
Blumm ... batu cadas itu membelah dua bagian, batu
kerikil bergelinding, debu pasir beterbangan memenuhi
angkasa..... sambil loncat ketengah udara teriak Ku Loei
dergan napas terengah-engah
"Kau anggap dengan menggunakan akal bisa menangkan
pertandingan tenaga ini?"
Sinar matanya berkilat, mendadak la jumpai tubuh Pek
In Hoei sedang melayang ditengah udara sekilas bayangan
berkelebat dalam benaknya.
Senar harpa yang ada ditangan kanannya dengan cepat
disentil. Ting! Serentetan suara harpa yang berat dan
menusuk pendengaran menggema diangkasa.
Pek In Hoei menjerit kesakitan, sesudah bergulingan
beberapa kali ditengah udara badannya terjatuh tiga tombak
dari tempat semula.
Ku Loei mendengus dingin.
"Hmmm, urat nadiaya telah putus, jangan harap dia bisa
hidup lebih jauh"
Sekilas rasa sedih berkelebat diatas wajah Kim Ib Eng, ia
tarik napas dalam2. dua jarinya menyentil senar Khiem dan
kemudion irama Khiem yaog lembut pun berkumandang
Begitu mendengar irama Khiem, sekujur badan Ku Losi
gemetar keras, lalu ia himpun tenaga dalamnya dan duduk
bersila diatas tanah.
Irama khiem yong berkumandang itu memiliki nada
yang sangat sedih, tapi di balik kepedihan mengandung pula
nasu membunuh yang membara baraa Ku Loei tidak berani
gegabah dan harus menghadapinya denga serius.
Kiranya dia tahu Kim Ia Eng sudah meyakini permainan
Khiem itu sejak lama. Kepandaian dalam ilmu tersebut luar
biasa sekait, mokin tenang irama yang diperdegarkan makin
semakin gampang memecahkan perhatian orang satu kali
pikirannya berlubang maka ia akan terpengaruh irama dan
perutnyaterluka.
Lama Khiem berkumandang bagaikan kabut yang
menyelimuti sekeliling tempat itu, makin lama tubuh Ku
Loei makin terkurung seolah2 sekujur badannya hendak
dibelenggu.
Mendadak Ku Loei membuka matanya, dengan serius ia
letakkan harpanya keatas lutut kemudian tarik napaa
dalam2.
Criiing ...criiiing. . . dua sentilan diatas harpanya
menghasilkan dua rentetan tajam yang menembusi irama
khiem lawan bagaikan tusukan dua bilah pedang tajam.
Irama Khiem tetap berkumandang bagaikan mengalirnya
air, meski kena tertusuk oleh irama harpa namun tetap
mengalir keluar tiada hentinya. . .
Air muka Ku Loei amat serius den berat, tiada hentinya
ia menyentil harpa untuk melawan suara khiem
Malam semakin kelam. Kabut telah nembuyar ..
rembulan hilaog dibaiik awan bintang mulai
menyembunyikan diri
Peraduan irama Khiem serta irama harpa berlangsung
dengan serunya mengalun keseluruh penjuru gunung Ciog
Shia.
Angin malam berhembus lewat menggoyangkan ranting,
daun serta rerumputan. Pek In Hoei yang terbanting
kedalam semak mulai merintih, mulai bergerak dan
akhirnya merangkak bangun.
Ia merasakan seluruh persendian tulangnya amat sakit
bagaikan pecah semua, kepala pusing tujuh keliling dan
hampir saja ia tak sanggup bangun berdiri, namun dengan
berusaha sekuat tenaga. Setelah itu barsusah payah
akhirnya berhasil juga ia bangun berdiri.
Angin malam kembali berhembus lewat, sianak muda itu
tarik napas dalam2 lo merasa kesadarannya mulai jernih
dan pengalaman yang baru dialamipun terbayang kembali.
Selangkah demi selangkah ia barjalan menembusi hutan.
Ia mendengar pertarungan irama Khiem dan harpa masih
berlangsung dengm serunya diatas tebing. iram« tadi
membuat darah segar dalam dadanya bergelora kembal. ia
menjerit menutupi telinganya dsn mulai berlari menjauhi
tempat itu.
Lama.. lama sskali la berlari, akhirnya sianak muda itu
berhenti disisi sebuah, pohon besar, ketika itu irama khiem
dan irama harpa sudah tak ksdengaran lagi dadanya terasa
nyaman dan segar
Suasana disekeliling tempat itu sunyi.. yang terdengar
hanyalah dengusan napasnya sendiri yang memburu, tanpa
terasa dia tertawa getir, pikirnya :
"Aaaai tak kusangka Irama harpa bisa digunakon untuk
melakai orang. untung luka yang kuderita tidak terlalu
parah."
Belum habis ia berpikir; tbia tiba berkelebat sesosak
bayangan manusia, potongan orang itu sangat dikenalnya
membuat Pek In Hoei segera mengenalinya.
"Bukankah dia adalah si Uler a«ep tua"
Sedikitpun tidsk talah, dari tempat kejauhon masih
kedengaran teriakan aneh dari Ouw ycog Goag
berkumandang dalang : "Cucu monvet kemana dia
perginya?" terak Ouw yang Gong.
"Uler asep Tua aku ada disini" Pek Ia Hoei segera
berteriak. Sambil berseru ia lari kearah hilangnya bayangan
orang aneh itu dalam sekejap mata ia sudah kehilangan
jejak dan tersesat ditengah hutan tebing suram .yang penuh
dengan tumbuhan rotan.
"Kemana perginya Siuler asep tua itu? atau mungkin dia
tidak dengar teriakanku?"
Dari manusia aneh she Oow-yang, pemuda ini teringat
kembali akan dendam sakit hati perguruanuya, terutama
sekali kematian Pek Tian Hong ayahnya dalam keadaan
sangat mengenaskan . . . "
"Ayah mati korena dikerubuti orang banyak.... pikirnya,
"Tapi dia melawan terus dengan segenap tenaga meski
dikerubuti orang banyak. Aku harus mencontoh kegagahan
serta kejantanan ayah. Akan kubunuh semua orang yang
terlibat dari peristiwa pengeroyokan itu, aku hendak
memaksa mereka hadapi diriku dalam keadaan ketakutan,
setelah itu kutusuk perut mereka dengan jurus serangan
yang mereka andalkan... aku bersumpah hendak
mempelajari ilmu silat nomor wahid dikolong langit, aku
harus mempelajari ilmu silat yang ada dikolong langit.."
Saking borsemangatnya sianak muda itu berpikir, tanpa
sadar ia memungut sebutir batu cadas lalu dia sambit keatas
diading tebing disisinya.
Tiba tiba..... suatu kejadian aneh berlangsung didepan
mata. dinding tebing dimana kena sambit oleh batunya tadi
mulai longsor, pasir yang ada diatasbya berguguran
kebawah sehingga akhirnya munculah sebuah lubang gua
yang cakup besar. Ruponya lubang yang sebenarnya
terdapat diatas dinding tebing dan tertutup oleh timbunan
rotan serta pasir itu segera gugur karena terkena sambitan
bata dari Pek in Hoei yaog cukup besar itu.
Dengao pandangan tercengang sianak muda itu
melongok kedalam gua, bau apek dan amis yang
memuakkan segera berhembus keluar dari balik lubang gua
tadi.
Bau busuk yang berhembus keluar dari dalam gua
hampir hampir saja memuakkan pemuda kita, buru buru
dia bangun berdiri dan tarik napas dalam dalam, setelah itu
dengan rasa ingin tabu ia menerobos masuk kedalam goa
tadi.
Gua itu dalam sekali, hawanya lembab dan dingin, angin
kencang yang entah datang berasa! darimana berhembus
keluar tiada hentinya.
Tiba tiba ia temukan sskilas cahaya emas diatas tanah,
dengab cepat dijemputnya benda itu.
"Aaaai...... " Pek In Hoei berseru kaget, kiranya benda
emas yang dia jemput itu bukan lain adalah sebatang
peluru berbentuk naga kecil yang terbuat dari emas.
Ukiran diatas senjata rahasia itu sangat hidup dan indah,
bahkan sampai sisik dan ekot dari naga tadi diukirnya
dengan rata.
Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya:
Gua ini lembab lagi gelap, datimana muncul cahaya dari
dalam sana?" Dengan perasaan heran dan ingin tabu, Pek in
Hoei melanjutkan kembali perjalanonnya masuk kedalam
gua
Siapa sangka batu saja ia maju tiga langkah, sekali lagi ia
temukan cahaya emas diatas tanah, waktu ia jemput benda
itu ternyata bukan lain adalah senjata rahasia berbetuk naga
kecil seperti apa yang ditemukan semula.
Beginilah secara beruntun ia sudah temukan sepuluh
bataeg senjata rahasia berbentuk naga kecil sepanjang
lorong gua itu sebelum akhirnya dia tiba disuatu tempat
ysng diterangi oleh cahaya terang.
Dengan tercengeng sianak muda itu mendongak,
tampaklah didalam sebuah ruang batu yang luas bertebaran
intan permata dalam jumlah besar, beberapa butir mutiara
besar memancarkan cahaya yang menerangi seluruh
tempat.
"Tempat apakah Ini?" pemuda iiu kontan bergumam.
"Sungguh royal pemilik gua ini, rupanya dia sudah boyong
semua intan permata serta mutiara yang ada dikolong langit
untuk menerangi tempat ini..."
Dengsn sinar mata tercengang ia awasi lagi sekeliling
tempat itu kemudian ia berfikir :
"Tapi apa sebabnya ia tempelkan semua intan permata
serta mutiara itu diatas dinding ruangan ini. sebaliknya
mengguna kan cahaya emas senjata rahasia berbentuk naga
kecil itu sebagai penunjuk jalan bagi orang yaog tersesat?
Apakah dia ingin tinggalkan harta kekayaan ini bagi orang
yang menemukannya?"
Serentetan pertanyaan yang mencurigakan berkelebat
dalam benaknya, ia memandang sekitar sana hingga
akhirnya sinar mata sianak muda itu berhenti diatas
sebatang ma nau cerah yang ada disebelah kanan.
Seluruh dinding ruangan ditaburi giok wirna bijau, hanya
Ma Nau itu saja yang berwarna merah, penonjolan secara
menyolok ini segera mengingatkan Pek In Hoei akan satu
persoalan. Ia maju menghampiri memandang dengan
seksama dan segera ditemui bahwasanya Ma Nau tadi
menonjol keluar tiga coeo dari dinding seakan sebuah anak
kunci yang telah dimasukkan kedalam lubang kunci
Ia berpikir sejenak, kemudian menekan batu Ma Nau
merah todi den didorongnya kedalam kuat-kuat.
Seketika itu juga terdengar bunyi tri. ,1 cuit yang nyaring
berkumandang memecahkan kesunyian, dinding berlapis
batu giok hijau dibelakangnya tiba2 berputar kesamping dan
tak dikuasai lagi badannya ikut tertarik masuk kedalam.
Baru ia silangkan tangannya didepan dada siap
menghindarkan diri dari segala ancaman yang mungkin saja
menimpa dirinya.
Tetapi.... tiada sesuatu apapun yarg terjadi, menanti ia
berdiri tegak, tampaklah sebuah batu dinding warnaputih
berdiri tegak dihadapnnya, diatas dinding batu tadi terukir
beberapo buah huruf dalam ukuran besar.
Tulisan tadi kira2 berbunyi demikian:
Barang siapayang masuk kedalam gua harap segera
berlutut.
"Berlutut??" berpiklr sianak muda itu, kenapa aku harus
berlutut dihadapan dinding batu putih ini?"
Dengan sepasang mata berkerut ia berjalan kesisi dinding
tadi dan masuk kedalam sebuah Ruang batu lain.
Ruang itu luasnya lumayan, dari belakang ruangan
terdengar bunyi gemuruh air yang amat memekikkan
telinga, hembusan angin dingin melanda datang tiada
hentinya membawa hawa yang amat menusuk tulang
Sebuah tiang salju yang amat besar dan teba! berdiri
tegak didalam dinding batu yang cekung keatas, seketika itu
juga sianak mula itu berdiri tertegun dengan mata melotot
dan mulut melongo, hampir saja ia tidak percaya dengan
apa yang dilihatnya saat ini.
Rupanya Pek Ia Hoei telah menjumpai sesuatu yang
aneh didalam tiang salju yang amat besar tadi duduk bersila
seorang hweesio berjubah warna merah darah, hweesio itu
pejamkan maunya rapat rapat dan seoiah olah sedang
bersemedi.
Lama sekali Pek In Hoei berdiri melongak disitu, ia tidak
mengerti apa sebabnya hweesio itu bisa terbungkus didalam
tiang salju sebesar daa setebal itu, lama sekali ia putar otak
namun gagal juga mendapatkan jawaban.
Akhirnya la tinggalkan tempat itu dia mulai nenyapu
sekeliling ruangan, kecuali tiang salju tadi dalam ruangan
tadi terdapat sebuah meja yang terbuat dari batu, diatas
batu terletak sebilah kapak besar warna hijau pekat, sejilid
kitab, beberapa batang pit dan sebuah hioloo kaki tiga.
Perlahan lahan ia menghampiri meja batu itu. dimana
pada permukaan meja yang dapat terukir pula beberapa
kata kata yang berbunyi :
"Pincerg adalah Thian Liong Toa Lhama, Pelindung
Hukum Kerajaan pada jaman ini yang berasal dari Tibet.
Sudah lama pinceng kagumi kebudayaan bangsa Han, jauh
ketika aku masih menjabat ketua kuil Thian Liong Sie telah
mendapat perintah dari Buddha hidup untuk tinggalkan
gurun mendatangi daratan Tionggoan, dimana aku telah
berdiam dalam istana serta menjabat kedudukan pelindung
Hukum yang dibelakang Kaisar kepadaku, meski begitu
seringkali aku berkelana dalam dunia persilatan dengan
menyaru
Pada suatu musim gugur sampailah pinceng diatas
gunung Cing Shia, darimans sayup sayup berkumandang
irama khiem yang merdu merayu, aku jadi tertarik dan
segera naik keatas gunung, disana tanpa sengaja aku telah
bertemu dengan Dewi Khirm bertangan sembilan Kim In
Eng :
Membaca sampai disini Pek in Hoei berdiri tertegun,
diam diam pikirnya dalam hati "Sungguh aneh sekali,
sebelum aku tiba didalam gua dan berjumpa dongan
hweesio ini, aku tehah bertemu lebih dahulu dengan dewi
Khiem bertongan sembilan Kim cianpwse. Heei siapa
sangka hweesio inipun telah bertemu pula dengan Kim
cianpwee sebelum tiba disini.
Berpikir sampai disitu, iapun melanjutkan membaca
tulisan tadi
"Sejak kecil aku telah cukur rambut jadi pendeta dikuil
Thian Liong Sie, sepanjang hari berdoa dan berdoa terus,
sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh pikiran tentang
gadis. Siapa tahu setelah berjumpa dengan Kim In Eng rasa
cinta dalam dadaku bergelora sukar ditahan, selama tiga
hari tiga malam aku telah duduk dipuncak gunuag Cing
Shia sambil menikmati kecantikan wajahnya.
Irama Khiem telah buyar gadis cantik lenyap tak
berbekas namun pinceng belum sadar kembali, kujelajahi
seluruh gunung untuk menemukao kembali jejak gadis
cantik itu, tapi sia sia belaka. Akhirnya dengan hati sedih
aku turun gunung".
Membaca sampai disini Pek in Hoei temukan tulisan tadi
makin lama makin kusut dan tidak karuan, maka dibacanya
sepintas lalu.
Dalam tulisan berikutnya hweesio itu menceritakan
bagaimana setelah dia kembali ke ibukota. siang malam
selalu memikirkan dan membayangkan Kim In Eng, setiap
saat tak dapat melupakan bayangan tubuh serta irama
Khiemnya yang merdu merayu hati terasa sedih dan
tersiksa.
Maka pada suatu hari dia lari masuk ks dalam gudang
harta den memboyong benda benda berharga itu kegunung
Cing Shia dengan maksud mempersembahkan benda benda
berharga itu kepada Dewi Khiem Bartangan sembilan Kim
In Eng sambi! memohon kepadanya agar suka menemani
dia berpesiar kemana mana.
Siapa tahu Kim In Eng telah melimpahkan rasa cinta dan
sayngnya kepada lain orang, permintaan serta
permohonannya iiu ditolak mentah mentah.
Karena ditolak Thian Liong Hweesio merasa gemas
sedih dan perih bagaikan dipagut ular, dengan hati putus
asa dan sedih ia membawa benda benda berharga itu turun
gunung, dimana ia temukan gua tersebut dan mengurung
diri disana sambil bertobat untuk menebus dosa. Tapi ia tak
sanggup menahan birahi yang bergolak terus menerus,
akhirnya ia tak kuat menahan diri dan mati"
"Napsu birahi sukar dilenyapkan dari dada, aku musnah
karena cinta" Baca Pek ln Hoei berulang kali.
Dia angkat kepala memandang kearah hweesio dalam
tiang solju tadi, tampaklah diatas dadanya secara lapat lapat
terlihat cahaya bekas luka berwa na hitam pekat, ketika
dipandang lebih seksama ia merasa luka itu memang sangat
mirip dengan seekor ular.
Sekilas perasaan aneh berkelebat dalam otaknya, ia
berpikir kembali:
"Luka yang disebabkan oleh karena napsu birahi ternyata
jauh lebih hebat daripada luka karena senjata, seorang padri
macam diapun bisa mati karena tak kuasa menahan napsu
birahi yang berkobar dalam dadanya, bukankah hal ini
sama artinya menunjukkan bahwa setiap msnusia sukar
untuk menahan diri dari pengaruh nafsu. Birahi...."
Kembali sinar matanya menyapu keatas meja, disana
masih tertinggal dua baris tulisan kecil yang berbunyi
demikian:
"Pincecg tinggalkan sebilah kapak sakti yang tajam dan
terbuat dari baja berusia selaksa tahun serta sejilid kilab
ilmu silat Sembilan Kapak Pembuka langit, sembilan belas
perubahan dari ilmu sakti sembilan belas merubah naga
langit bagi siapa saja yang masuk kedalam gua ini".
Dibawab kapak besar itu, tercatat pula beberapa huruf
yang berbunyi begini :
"Tatkala elmaut hampir mencabut jiwaku, pinceng
dengar dari dinding gua sebclah daiam barkumandang
datang suara manusia. Barangsiapa yang beruntung masuk
kedalam gua ini, harap suka meabelah dinding belakong
gua ini dengan kapak, selidikilah asal mulanya suara
nanusia itu
Menulis sampai disitu, rupanya ajal sudah tiba maka
Thian Liong Toa Lhnma mengakhiri kelimat yasg belum
selesai itu sampai ditengah jalan saja.
Pek In Hoei menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri
memandang dinding batu dibelakang tiang salju dan
berpikir :
"Entah sudah berapa puluh tahun hweesio isi mati disini,
sekalipun dibelakang dinding batu benar2 terdapat ruang
kini satelah lewat banyak tahun kendati ada oraog pernah
masuk kedalam sana mereka tentu sudah keluar lagi.
Tapi ia berpikir kembali:
"Aku benar benar tidak percaya, masa sebilah kapak
hitam yang jelek dan kecil ini mampu membelah dinding
batu yarg tebal?"
Dengan perasaan ingin tahu ia ambil kapak sebesar tiga
depa itu dan berjalan ke belakang liang salju.
Dinding beton dibelakaag liang salju itu berwarna hijau
karena tumbihan lumut yang tebal dan subur, Pek In Hoei
angkat kapaknya dan segera membabat keatas dinding batu
itu.
"Bruuuuk........" sebuah batu cadas yang sangatbesar
rontok kebawah setelah terima babatan itu, begitu lunak
dan gampang seolah2 sedang membabat tahu.
Dengan perasaan kaget dan tercengang Pek in Hoei
angkat kapaknya lagi dan meneruskan babotannya keatas
dinding.
Dalam sekejap mata batu cadas berguguran diatas tanah,
dimana saja kapak itu mampir batu segera rontok kebawsh,
dalam sekejap mata munculah sabuah lubang yang amat
besar diatas dinding tersebut.
Pek In Hoei segera melongok kedalam, ia temui bahwa
dibalik dinding tadi munculah sebuah ruang batu yang
penuh dengan tiang batu diatas tanah menggeletak pula
beberapa sosok mayat.
Ia berseru tertahan, rasa ingin tahunya semakin
bertombah delam hati, kapaknya segera bekerja cepat
membabat dinding batu sebingga dalam waktu singkat ia
dapat menerobos kedalam.
Bau apek dan amis berhembua keluar menusuk hidung,
disepanjang tiang batu dalom ruang itu menggeletak
delapan sosok mayat. Dandanan mereka acak2on dan
perawakan tubuh merekapun berbeda, namun ada satu
yang sama yaitu wajab mereka menunjukkan penderitaan
yang hebat serta diatas badannya tidak ditemui bekas luka.
Pek Ia Hoei berjalan masuk kedalam, ia jumpai diantara
mayat itu ada yang berdandan hwesio, ada yang berdandan
toosu dan ada pula yang berdandan sebagai manusia biasa,
tetapi yang aneh temyata menunjukkan sikap yang aneh,
badan mereka bangkok dan melengkung. Jelas sebelum ajal
mereka tiba telah terjadi suatu pertarungan yang maha seru.
Menyaksikannya itu, pemuda she Pek ini menghela
napas panjang.
"Aaaai mereka semua mati didalam suatu pertempuran
yang amat sengit, justru karena hawa dingin yang membeku
dalam ruang batu ini maka jenasah mereka tetap utuh dan
tidak sampai membusuk. Tetapi-- apa sebabnya mereka
saling bunuh membunuh? apa yang sedang mereka
rebutkan?"
Tiba2 suatu ingatan berkelebat didalam benaknya.
"Mungkinkah mereka adalah mayat dari kedelapan ketua
partai besar yang sudah lenyap puluhan tahun lamanya"
Sekujur badannya gemetar keras, ia segera minghitung
jumlah mayat diatas tanah sedikitpun tidak salah semuanya
berjumlah delapan orang.
Rasa tegang yang menyelimuti benaknya segera ditahan
lagi, disebabkan karena ia akan segera mengetahui rahasia
kematian dari kedelapan ketua partai besar yang lenyap
dipuncak gunung Cing shia sejak puluhan tabun berselang,
pemuda itu nengucurkan keringat dingin.
Ia segera tundukkan kepalanya memeriksa mayat
seorang hweeiio tua yang menggeletak paling dekat dengso
dirinja, ia jumpai tangan kanan hwesio itu menuding kearah
tiang batu den ia mati dalam keadaan kaku.
Mengikuti arah yang dituding jari lengan mayat hwesio
tua tadi, ia temukan bebarapa huruf terukir diatas tiang,
tulisan yang berbunyi:
"Ilmu jari Kim Kong Ci dari partai Siauw lim"
Dibswah tulisan itu terukirlah bagaimana cars melatih
ilmu jari itu dan bagaimana cara bersemedi dan bagaimana
cara mengerahkan tenaga. Pek In Hoei berseru tertahan,
buru2 ia menengok keetas tiang batu lainnya, disana ia
jumpai pada setiap tiang batu terukirlah ilmu sakti berbagai
partai serta cara untuk melatihnya.
Ia menghembuskan napat panjang, pikirnya:
"Ooouw........ Ilmu meringankan tubuh otau Ginkang
dari partai Kunlun, ilmu pukulan penakluk harimau dari
partai Gobi, ilmu pedang Siuw Cing Kiam hoat, ilmu
pedang Lak-Koo Kiam Hoat dari Parti Hoasan. ilmu
pedang penakluk iblis dari partai Khong tong, ilmu pedang
Kan san Kiam host dari partai Tiang Poy, ilmu pedang Poo
Hong Kiam Hoat dari portai Butong, ilmu pukulan Leng
Bwee ciang dari partai Thian san. begilu banyak ilmu sakti
yang terdapat di sini. kesemuanya ini sudah cukup untuk
menciptakon diriku sebagai jago sakti . . . "
Ia tertegun kemudian berpikir kembali :
"Tapi. . . bukankah Supek couw sipedang sakti dari Tiam
cong pun ikut serta dalam pertemuan besar ini? kenapa
hanya dia ia orang yang tidak kelihatan?",
Ia bangkit berdiri dan siap mencari jenasah dari Cia Ceng
Gak, dan secara tiba tiba ia teringat kemhaii akan sumber
cahaya yang menyoroti seluruh ruang batu itu.
Kembali ia berpikir :
"Kenapa aku tidak pernah berpikir darimana datangnya
cahaya sehingga aku dapat membaca tulisan tulisan kecil di
tiang batu itu ?"
Belum hilang pikiran itu, dia telah menemukan
datangnya cahaya itu kiranya berasal dari balik beberapa
buah tiang batu nun jauh disana, begitu tajam cahayanya
sehingga seluruh ruangan jadi terang benderang,
Pek In Hoei maju menghampiri sumber cohaya tadi, ia
lihat sebilah padang mustika yang panjang tertancap diatas
tiang batu, pada gagang pedang tadi terdapatlah sebutir
intan bewarna merah darah, cahaya terang tadi bukan lain
adalah sinar yang tcrpancarkan dari batu intan tersebut:
Dengan mata yang silau oleh cahaya, ia maju lebih dekat
lagi kemudian cabut pedang tersebut dari atas tiang.
Mendadak kakinya tersangkut sesuatu hingga hampir
saja terjungkal keatas tanah, kiranya benda itu bukan lain
adaiah sesosok mayat.
Orang itu berwajah persegi berwarna merah kehitam
hitaman, janggotnya panjang dan bercabang tiga, tangan
kanannya berada ditengab udara seolah olah sedang
mendorong sesuatu sedang pada tangan kirinya mencekal
sebuah sarung pedang berwarna merah yang memancarkan
cahaya gemerlapan.
Kambali satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru
buru dia angkat pedang mustika itu dan diporiksa dengan
seksama diatas tanah pedang yang berwarna biru kehitam
hitaman terukirlah beberapa patah kata.
"Pedarg sakti Penghancur Sang Suryal",
"Apa pedang sakti penghancur sang surya?" Gumam Pek
In Hoei dengan nada kurang percaya. "Kalau begitu... kalau
begitu.... mayat yang menggeletak diatas tanah bukan lain
adalah supek couwku sipe dang sakti dari Tiam-cong, Cia
Csng Gak adanya?"
Dengan pandangan mcndelong diawasinya wajah supekcouwnya
yang telah mati puluhan tahun berselang,
bayangan Kim in eng yang merana karena ditinggal Cia
Ceng gak berkelabat pula dalam benaknya
Begitulah, sejak hari itu Pek in Hoei lantas menetap
didalam gua sambil mempelajari dan mendalami semua
ilmu silat maha sakti yang ditinggalkan para ketua delapan
partai besar itu.
Ia berlatih giat dan rajin, tiap malam dengan tak
mengenal lelah dilatih dan diyakini terus ilmu silat tersebut,
dalam hati ia hanya punya satu cita2 setelah menyelesaikan
pelajarannya yaitu mambalas dendom bagi kematiao
ayahnya serta menuntut balas bagi kemusnahan anak murid
partai Tiam-cong
))oodwoo((
JILID 7
5
HEMBUSAN angin Barat laut yang dingin dan
membekukan badan telah berlalu, musim semipun
menjelang tiba. Daun yang hijau mulai bersemi diatas
pohon Liuw dan rerumputan nan hijau mulai tumbuh
diatas permukaan tanah ya»g basah
Angin musim semi berhembus lewat menyegarkan
suasana diatas gunung Cing Shia, awan putih bergerak
diangkasa memperlihatkan puncak gunung yang secara
lapat-lapat masih berselimutkan salju. Tanah nan hijau yang
membentang dipunggung bukit menunjukkan bahwa musim
semi telah tiba.
Pagi itu udara sangat cerah, sinar matahari
memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia
dengan langkah lebar berjalan turun dari atas puncak
gunung Cing Shia.
Orang itu memakai jubah panjang berwarna merah,
diatas punggungnya tergantung sebuah buntalan, disisi
pinggang tergantung sebuah kapak hitam dan ditangannya
membawa sebuah bungkusan kain yang panjang. Gerakgeriknya
aneh dan mencengangkan hati.
Manusia aneh berjubah merah itu dengan memakai
sepasang sepatunya yang usang dan rusak selangkah demi
selangkah berjalan melewati tanah lumpur yang becek,
memandang puncak gunung nun jauh disana, dengan alis
berkerut ia bergumam: "Selamat tinggal, gunung Cing-shia
!" Sambi berjalan, kembali ia berpikir:
"Berkumpul selama dua tahun membuatku berubah jadi
seorang manusia yang kosen meski aku pernah cuourkan air
mata disini namun aku berharap pada kunjunganku yang
akan datang aku telah menjadi seorang jago nomor wahid
dikolong langit, semoga aku kembali dengan membawa
kebanggaan serta kegembiraan."
Dengan langkah lebar ia melanjutkan perjalanan menuju
kearah kota, dandanannya aneh tentu akan menarik
perhatian banyak orang seandainya jalan raya itu penuh
dengan orang yang melakukan perjalanan nanun untung
waktu itu jarang orang bepergian maka jalan raya sunyi sepi
hanya dia seorang.
Langkah manusia aneh berjubah merah ini sangat
enteng, setiap langkah ia dapat melalui satu tombak lebih
lima depa lebih, begitu enteng dan gesit dia berjalan seolaholah
capung yang terbang diangkasa.
Siang hari telah menjelang tiba, tatkala orang aneh itu
masih melanjutkan perjalanan tiba-tiba terdengar dari arah
belakang berkumandang datang suara keleningan kuda,
disusul seekor kuda berlari mendatang dengan cepatnya.
la segera menyingkir kesamping memben jalan buat kuda
itu lewat, kuda pertama berlari kencang disusul kuda
berikutnya lari lebih kencang lagi lumpur segera
beterbangan mengotori seluruh badannya.
Orang itu mengerutkan alisnya yang tebal dan angkat
kepala memandang kedepan.
Ditemuinya kedua orang penunggang kuda itu adalah
dua orang nona berbaju hijau yang mempunyai kuncir
panjang diatas kepalanya.
Semula manusia aneh itu sudah siap mengumbar
amarahnya, namun setelah menyaksikan bahwasanya
kedua orang penunggang kuda itu adalah dua orang gadis
manis, ia batalkan niatnya dan tidak bicara apa2 lagi.
Dengan hati mendongkol, ia menyeka lumpur yang
menempel diatas bajunya dan meneruskan kembali
perjalanannya. Suara derap kaki kuda mendadak
berkumandang kembali dari arah belakang, kali ini kuda
tersebut lari dengan kencangnya, sebelum manusia aneh
berjubah merah itu membentak dengan kasar :
"Bangsat, ayoh cepat menyingkir, apa kau cari mati?"
"Sreeet....! serentetan desiran angin tajam segera
menyapu datang berbareng dengan bentakan tadi.
Merasakan datangnya sambaran dengan sepasang kening
berkerut manusia aneh berjubah merah itu angkat tangan
kirinya keatas, lima jari laksana kilat mencengkeram ujung
cambut dan membetotnya kebawah.
Deruan angin tajam menyambar lewat diiringi suara
ringkikan panjang kuda tersebut berkelebat melewati diatas
kepalanya.
Berhubung sentakan keras dari dua tenaga yang saling
berlomba cambuk kuda tadi putus jadi dua bagian dan
rontok ketanah.
Sebaliknya sekujur badan manusia tadi basah kuyup lagi
kotor oleh cipratan kaki kuda , melihat badannya kotor ia
membentak gusar, tangan kirinya bergerak memhentuk
gerakan lingkaran lalu menyambsr kemuka, ia cengkeram
ekor kuda yang masih ada diteogah udara, sementara
tangan kirinya meraup kepinggaog binatang itu dan
menyentaknya kebelakang.
Kraaaaak ... ekor kuda itu mentah mentah terbetot patah,
knda itu meringkuk kesakitan dan segera meloncat tujuh
depa ketengah udara.
Oleh loncatan tadi penunggang kuda itu berseru tertahan
dengan rasa kaget kemudian melotot kearah orang berjubah
merah, dengan sorot mata gusar.
Sebaliknya orang aneh berjubah msrabpun dengan penuh
kegusaran loncat meju empat tombak kemuka, sebelum
tubuh kuda yang meloncat ketengah udara tadi hampir
menginjak permukaan bumi, ia sambar pinggangnya lalu
diangkat keatas dan dibanting keatas tanah.
Kuda itu meringkik panjang, ia lemparkan ke
penunggangnya keatas udara kemudian berkelejit sejenak
dan akhirnya tak berkutik lagi. mati dengan kspala remuk.
Demonstrasi kepandaian sakti dari manusia aneb itu
mengagetkan semua orang, dua orang gadis pertama tsdi
segera berubah air muka dan berdiri dengan mulut
melongok.
Sebaliknya penunggang ketiga yang merupakan seorang
pemuda gantengpun berdiri menjublek diatas tanah,
rupanya tidak mengira kalau pihak lawan mempunyai
kekuatan sedemikian hebatnya.
Dengan sorot mata gusar manusia aneh berjubah merah
itu awasi sekejap wajah pemuda itu, kemudian menegur
dengan suara berat:
".Orang muda, usiamu masih amat kecil namun sepak
terjangmu kasar dan jumawa. Hmmm seandainya aku tidak
memiliki sedikit ilmu kepandaian bukankah sejak tadi aku
sudah mati terpijak kudamu? maka dari itulah sekarang aku
hendak meghukum dirimu untuk meneruskan perjalanan
dengan berjalin kaki, agar dikemudian hari lebih berhati
hati kau dalam menunggang kuda".
Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu dergan
langkah lebar.
Melihat dirinya ditegur dan dimaki didepan kedua orang
nona !tu, merah padam selembar wajah pemuda itu saking
mendongkolnya, menjumpai manusia aneh itu hendak
pergi, segera Ia loncat kedepan sambil membentak:
"Tunggu sebentar!"
"Koko...... " hampir bersamaen waktu nona yang ada
desebelah depan berseru.
"Kau tidak usah ikut campur " hardik sang pemuda
sambil menoleh "Ini hari aku harus memberi sedikit
pelajaran kepada manusia jadah itu."
Dalam pada itu manusia aneb berjubah merah tadi baru
saja melangkah tiga tindak, mendengar makian itu segera
putar badan dan bertanya:
"Kan makin siapa manusia jadah?"
"Sauwyamu memaki dirimu sebagai manusia jadah, kau
mau apa... ?" sahut sang pemuda sambil tepuk dada sendiri.
Setelah merandek sendiri sejenak, dengan alis berkerut
serunya kembali :
"Jangan kau anggap dengan andalkan tenaga kasarmu
sebesar dua kati itu lantas bisa jual tampang didepanku.
Akan kurobek bacot anjingmu itu..... "
Orang aneh tersebut tertawa dingin
"Hammm... pada masa yang silam, entah kedua orang
tuamu sudah bikin dosa apa sehingga memperoleh putra
jempolan semacam kau. Tadi aku ampuni dirimu karena
memandang diatas wajah kedua adikmu itu, sekarang..
Hmm..... Hmm.... akan kulihat dengan andalkan
kepandaian apakah kau hendak tunjukkan kelihayanmu"
"Bangsat tak usah banyak bacot lagi, lihat serongan lihay
dari sauwyamu"
Seraya membentak badannya dengan lincah berkelebat
kemuka, lima jari dipentang dan seketika itu jaga selurub
angkasa dipenuhi efek bayangan jari.
Rupanva manusia aneh berjubah merah itu tidak
meogira kalau pemuda perlsnte semavam diapun
mempunyai kepandaian silat yang demikian dahsyat, in
berseru tertahan, tubuh bagian atas segera bergeser lima
coen kesamping sementara telapak klrinya membabat keluar
mengunci tubuh bagian luar, sedang lima bagian jari
tangannya menyerang bagian laksana sebuah jepitan
mencengkeram urat nadi musuh.
Lelaki muda itupun diam2 merasa terperanjat tatkala
menyaksikan penjagaan musuh yang ketat, berada ditengah
udara tubuhnya merandek sejenak.
Dan dikala badannya merandek itulah, lima jati tangan
kanan manusia aneh berjubah merah itu telah menyapu
tiba.
Dia mendengus dingin. mendadak jart tangannya
menutu! ke!uar membabat urat nadi dltangan lawan,
Serentetan napsu membunuh bersemi diatas wajahnua,
tangan kiri digetarkan pula tanpa mengeluarkan sedikit
usahapun kelima jarinya yang penuh mengandung hawa
sinkang menerobos masuk lewat titik kelemahan dibawah
lengan kanan lawan.
Ancaman ini datangnya sangat berbahaya disamping keji
jnga ganas, manusia aneh berjubah merah itu segera
kebutkan jubah merahnya dan loncot mundur delapan
langkah kebelakang. dengan suatu gerakan yang manis ia
bcrhasil melepaskan din dari totokan maut itu
"Kemana kau hendak lari?" hardik pemuda iiu, dengan
gerakan yang tak berbeda ia menyusul kedepan"
Manusia aneh berjubah merah itu segera bersuit nyaring,
mendadak badannya berputar dua lingkaran dltengah
linkaran dan !oncay lima tombak keluar kalangan, untuk
kesekian kalinya dia berhasil meloloskan diri dari serangan
musuh-
"Siapa yang mengajarkan ilmu jari ini kepadamu?"
Tegurnya dengan alis berkerut "apakahi Kun Thian Jien
Sian?" Pamuda itu tertawa seram.
"Aka mengira kau betul betu! m«mi!iki ilmu silat yang
maka sakti, Hmmm tak tahunya cuma seorang prajurit
tanpa nama dari partai Kun Iun ..."
Mendadak sir mukanya berubah keren, serunya :
"Cuma ilmu jari dari Kiong squwya pun tidak mengerti,
buat apa kau tampil didalam dunia persilatan untuk
menjual kejelekan? siapa itu Dewi Khiem bcrtangan
sembilan atau bcrtangan sepuluh? pun sauw-ya sama sekali
tidak kenal!"
Karena menyaksikan ilmu jari lawan sengat aneh, sakti
dan mirip dengan kepandaian dari Kys Thian Jien Sian.
maka ia ajukan pertanyaan tersebut, siapa tahu pemuda itu
amat sombong hal ini seketika itu juga menimbulkan
kegusarannya.
Secara tiba tiba sekilas cahaya merah berkelebat diatas
dahinya, kian lama warnanya kian membara.... Ia
melangkah satu tindak kemuka, lalu tegurnya dengan nada
berat :
"Kau adalah putra dari Kiong Thian Bong?"
"Sedikitpun tidak salah, pun sauwya adalah Kiong Ci
Yu" sahut pemuda itu jumawa. "Berani benar kau sebut
nama besar ayahku?"
"Haaah.... haaah...... haaah....... Kiong Thian Bong
adalah manusia macam apa.... tidak sejeriji dalam
pandanganku . . . "
Mendengar ayahnya dihina Kiong Ci Yu meraung gusar,
sepulub jarinya diputar kedepan, laksana sepuluh buah
pedang kecil secara serentak menusuk ketubuh musuh.
Manusia aneh berjubah merah itu mendengus dingin,
menunggu hingga serangan itu hampir mengenaitubuhnyn
mendadak ia berputar kencang, laksana kilat tangan
kanannva bergerak kemuka mencengkeram jalan darah Pit
Sie Hiat dilengan kiri pemuda she Kiong itu.
"Enyah dari sini!" bentaknya, Begitu jalan darah dilengan
kirinya terpegang, Kiong Ci Yu meratasan separuh
badannya jadi kaku, tanpa memiliki daya untuk bertahan
lagi badannya segera dilemparkan enam tombak jauhnya
oleh manusia aneh berjubah merah itu.
"Bluuuum... " Tidak ampun badannya tercebur kedalam
kolam lumpur disisi jalan.
Dua bentakan nyaring tiba tiba kerkumandang
memecahkan kesunyion disusul menyambar datangnya dua
desiran angin tajam.
Dengan cepat manusia aneh itu miringkan badan bagian
atas kesamping, lengan kanannya berputar membentuk satu
gerakan bujur dan menyerang dengan jurus Liauw Koan
Seng Gwat atau Memandang Bintang menikmati rembulan.
Weeess....Sreeet... l sebuah kuncir besar mengiringi
sepasaog telapak yong halus dengan cepatnya meluruk
datang. Manusia aneh itupun putar sepasang telapaknya
menyambut datangnya ancaman lawan.
Bruuuk.. walaupun berada dalam keadaan tidak siap,
namun dalam bentrokan barusan manusia eneh it dapat
menilai sampai dimanakah taraf tenaga kepandaian yang
dimiliki gadis ini.
Badannya segera bekelebat menyingkir kesamping,
namun dara itu tak mau kasih kesempatan baginya sambil
membentak kuncinya kembali dikebaskan keluar. Manusia
aneh berjubah merah itu terus mundur kebelakang. Suatu
saat tiba tiba ia kabulkan ujung jubahnya kearah depan,
gumpalan angin serangan yang maha dahsyat. segera
menggulung kedepan.
Nona berbaju hijau itu mendengus dingin badannya
merandek lalu berjongkok dan melitik keatas. Bagaikan
seekor ikan belut yang berkelejitan diatas lumpur. dengan
manis ia berhasil menerobos angin serangan tersebut.
Kejadian yang sangat aneh ini segera membuat manusia
aneh itu berdiri tertegun sebelum ingatan kedua berkelebat
lengan baju bagian dadanya sudah kena dicengkeram
lawan.
la mendengus, sepasang telapak diputar kencang lalu
mengayun kemuka membabat persendian lawan.
Gadis itu membentak nyaring, sepasang telapak balas
berputar pula kearah yang berlawanan, seketika itu juga
muncul segulung angin berputar yang mencoba
inembanting tubuh lawan kedalam lumpur.
Manusia aneh berjubah merah itu tidak mengira kalau
sepasang telapak lawan bisa menghasilkan tenaga putaran
yang begitu aneh, badannya tak sanggup berdiri tegak
seketika itu juga dia terjengkang keatas tanah.
Tampaknya ia akan segera tercebur pula kedalam
lumpur, mendadak sepasang lengan
dikemas kesamping badannya meluncur kembali lima
depa ketengah udara, setelah berputar satu lingkaran
dengan tenang dan selamat badannya melayang turun dua
tombak dari tempat semula:
"Apakah kau putrinya Kiong Thian Bong sibintang
kejura?" Tegurnya kemudian dengan wajah penuh diliputi
rata kaget.
Sementara itu gadis tadipun merasa kaget bercampur
tercengang melihat kegesitan orang pikirnya didalam hati:
"Seja kapan partai Kun lun rnuncul seorang jago sakti
semacam ini? ternyata ilmu meringankan tubuh memotong
angkasa berputar kayun dari pertai tersebut berhasil dilatih
hingga sedemikian sempurna
Saking tercengangnya, hingga untuk bsberapa saat
lamannya ia lupa untuk menjawab pertanyaan orang,
"Hmmmn...!" terdengar orang aneh itu mendengus.
"Bukankah Kepandaian silatmu itu sjssan dari Ouw-yang
Gong?"
"Siapa kau ?" bentak sang dara dengan vvajah berubah
hebat.
"Siapakah aku lebih baik kau tak usah tahu!"
"Kurang ajar jawab dulu pertanyaan yang kuajukan
tadi!" dengar gusar gadis itu pentang kelima jarinya dan
menubruk kembali kemuka.
"Budak ingusan yang tak tahu diri"
Dengan hati dongkol simanusia aneh moju
menyongsong kedatangan lawan, kelihatannya suatu
pertarungan sengit segera akan berlangsung lagi.
Sebelum pertarungan itu meletus, mendadak gadis kedua
yang berada diatas kudanya loncat turun dan melayang
ketengah kalangan, kepada rekannya dia berseru:
"Yan Yan, kau bukan tandingannya" kemudian sambil
menjura dia menambahkan "Tolong tanya siapakah nama
besar cianpwee"
Sikap yang manis dari gadis kedua ini melunakkan pula
wajah manusia aneh berjubah merah itu
"Kau datong bersama sama dia, tentu kalian kenal bukan
dengan diri Ouw-yang Gong?".
"Dia orang tua adalah snhu kami"
"Cia Cia, buat apa banyak bicara dengan bajingan itu! "
hardik Kiong Ci Y u dari samping dengan wajah penuh
kegusaran. Dengan badan berlepotan lumpur ia melangkah
mendekat bentaknya lagi penuh kebencian. "Kalau kau
punya nyali teriamalah sembilan jurus ilmu jari bintang
kejoraku!"
".Heeeh...... heeeeh...... heeeh..... dengan andalkan
bakatmu yoag bobrok semacam itu, lebih baik berlatihlah
sepuluh tahun lagi sebelum menghadapi diriku" serentetan
cahaya aneh berkelebat dalam wajahnya, lalu ia
menyambung:
"Tidak lama kemudian akan kucari orang tuamu Kiong
Thian Bong, dendam ini hari biarlah kuperhitungkan
sekalian"
Ucapan ini membuat Kioog Ci Yu melengak, namun
dengan cepat ia tertawa seram:
"Setiap saat pun sauwya akan menantikan kehadiranmu
dalam perkampungan".
"Keparat cilik kalau kau punya nyali ayoh sebutkan
namamu!"
Manusla aneh berjubah merah itu sama kali tidak
menggubris ucapnn orang, perlahan2 dia alihkan
pandangannya kearah gadis Cia Cia yang sedang
mengawasi dirinya dengan wajah gelisah, seakan akan dara
itu kuatir bila dia turun tangan keji terhadap pemuda
tersebut.
Dia melengak, diikuti sinar matanya membentur dengan
eebilah golok lengkung berwarna perak yang menyoren
diatas punggungnya, seketika serentetan cahaya aneh
berkelebat aalam pandangannya...... "Kau adalah keturunan
dari sigolok perontok rembulan Ke Hong?" . Tegurnya,
"Benar Ke Hoog sigo!ok perontok rembulan adalah
ayahku " sebut dara itu mengangguk.
"Apakah cicnowee datang dari perbatasan?"
Bslum sempat orang itn menjswab, dua rentetan desiran
angin tajam telah menyerang datang mengancam
punggungnya.
Dia sama sekali tidak memperdulikan datangnya
ancaman, begitu merasa desir angin sudah berada
dibelakang punggungnya ia baru balik telapak tangan
kebelakang, kepada Ciong Yan Yan serunya :
"Inilah mutiara milikmu sendiri, nah ambilah kembali".
Sebutir mutiara yang kecil segera meluncur keluar dari
telapaknya melayang kearah Kiong Yan Yan.
Dalam pada itu serangan pit dari Kiong Ci Yu yang
melancarkan bokongan di belakang telah tiba.
Seketika itu juga air muka dara tersebut berubah hebat,
jeritnya :
"Koko...... "
Sebelum ia sempat mengutarakan kata2nyai, kedua
batang senjata poan koan pit ditangan pemuda the Kiog itu
sudah mendekati titik diatas punggung manusia aneh
berjubah merah itu.
"Keparat, modar kau... " jerit Kiong Ci Y u sambil
tertawa seram.
Belum habis dia tertawa, mendadak orang an.eh itu putar
badan sambil mencengkeram kebelakang.
Melihat serangan barusan itu air muka kiong Ci Ya
berubah hebat, tangan kanannya segera bergetar coba
meoarik kembali
Sayang dia kalah cepat dari pada lawan tahu2 seutas
rantai perak telah mencengkeram sepasang senjatanyaa
hinggs tak berkutik.
"Selama hidup aku paling benci terhadap manusia
kurcaci yang suka main bokoog"
Creet.... sekilas cahaya tajam berkelebat lewat, terdengar
Kiong Ci Yu menjerit ngeri, lengan kanannya seketika
terpapas putus oleh senjata kapak lawan dan darah segar
muncrat keempat penjuru.
Kiocg Yan Yan meojarit keras, badonnya segera
menubruk kedepan.
Manusia aneh berjubah merah itu tidak mau melayani
tubrukan orang badannya segera berkelejat kesamping
uatuk meloloskan diri.
"Apa permusuhanmu dengan dirinya?" jerit Ke Ciang
Ciang dengan airmata membasahi wajahnva, "Kenapa kau
begitu keji memapas putus sebuah lengannya hingga dia
jadi caead seumur hidup?"
"Berapa kali aku sudah memberi ampun kepadanya
namun dia berkeras kepala juga untuk mencari kematian
buat diri sendiri hal ini janganlah salahkan kalau aku
berbuat kelewat kejam, sebab kalau aku tidak
membinasakan dirinya, dialab yang akan membunuh
diriku. Hmm! tindakanku benar2 boleh dibilang sudah
terlalu sungkan kepadanya. Sedang mengenai dendam
permusuhan, Hmm.... mempunyai ikatan desdam sedalam
lautan dengan kalian. Ini hari pulanglah dengan
memandang diatas wajah Ouw Yang Gong aku tak ingin
ribut lagi dengan kalian Nahi pulanglah dan beri tahu
kepada Ke Hong, dalam lima hari mandatang suruhlah dia
berhati batil".
Ke Cian Cian tertegun, belum sempat dia berpikir lebih
jauh tampaklah Kioag Yan Yen bagaikan kalap telah
menubruk kembali kedepan.
"Kau bunuhlah pula diriku" jeritan sambil menangis.
Manusia aneh berjubah merah itu ayunkan tangan
kanannya kedepan. rabtai perak beserta dua batang senjata
poan koan pit itu segara meluncur kedepan menghadang
jalan pergi dari gadis ske Kiong.
"Janganlah kalian paksa diriku untuk melakukan
pembunuhan lagi" Bentaknya keras keras
Dari sikap Kiong Yan Yan yang kalap, Ke Cian Cianpun
lantas mengira Kiong Ci Yu telah mati terbunuh, maka
sambil meoggigit bibir ia cabut keluar golok lengkungnya
lalu membacok dari sebelah kanan.
Mendengar desiran angin serangan dari arah samping,
manusia aneh berjubab merah itu membentak keras,
sepasang bahunva bergerak tahu tahu ia sudsh berada
dihadapan gadis Cang Ciang sementara tangannya
menyapu keluar.
Ke Cian Cian terperanjat, tanpa berpikir panjang lagi ia
perkencang genggamanya dan membabat kebawah.
Manusia aneh berjubah merah itu mendengus dingin,
kampak kecilnya diputar keacang dan dengan satu gerakan
yang sangat aneh dia ayun keluar.
Gerakan ini cepat laksana kilat, jaraknya pun dekat maka
tanpa ampun lagi....... Criing golok lengkung ditangan
gadis itu terpapas kutung.
Ke Cian Cian tidak mengira kalau kampak kecil Lawan
yang jelek dan tak terpandang itu ternyata begitu tajam,
melibat goloknya kutung, telapak kiri segera dipukulkan
kedepan.
Gerakan ini dilancarkan dengan menempuh bahaya dan
sama sekali tidak mempedalikan jiwa sendiri, maka dari itu
dengan telok serangan tadi bersarang didadai manusia aneh
berjubah merah itu.
Plaaak ..... orang aneh itu meraung gusar, ia
melangkah setengah tindak kedepan sikut kanannya
langsung disodok.
Tatkala menyaksikan serangannya sama sekali tidak
berbasil mengapa apakan pihak lawan Ke Cian Cian
kelihatan amat terperanjat terutama sekali setelah
menjumpai sikut musuh telah mengancam jalan darah Hian
Kie Hiat ditubuhnya, ia nampak jauh lebih ketakutan.
Tampaknya sebentar lagi dia bakal mati konyol ditangan
lawan, atau secara tiba tiba orang aneh berjubah merah itu
miringkan sikutnya kebawah, ia cengkeram lengan kanan
gadis itu seraya membentak :
"Ayoh berhenti tidak kau?".
Tangan diayun, tubuh Ke Cian Cian dilemparkan
keudara danterbanting diatas pelana kuda kuda kurang
lebih tiga tombak dari tempat semula.
"Memandang diatas wajahi Ouw yang Gong sekali lagi
kuampuni selembar jiwa kalian" Serunya keren. "Aku harap
kalian segera pulang kerumah dan bawa serta keparat cilik
mustika kalian itu. Kalau tidak dia akan modar tak
ketolongan lagi".
"Dia belum mati?" Tanya Ke Cian Cian melegak sambil
membelalakkan matanya.
"Jalan darahnya telah kutotok, untuk sementara waktu
dia tidak akan modar Ayo cepat gusur orang ini pulang
kerumah!" Ke Cian Cian melegak. akhirnya ia berseru
"Yan Yan, msri kita pergi".
"Hey bangsat, kalau kau punya nyali sebutkan namamu
kepada kami?" Teriak Kiong Yan Yan sambil menggigit
bibir
Lima hari kemudian aku pasti akan muncul dalam
perkampungan Tay-Bie San Cung untuk mencari Ke Hong,
sampai waktunya kau akan tahu sendiri siapakah diriku".
"Hmmm.... sungguh memalukan kau memiliki
kepandaian silat yang sangat lihay, ternyata takut menyebut
nama sendiripun tak berani rupanya kau adalah sebangsa
manusia kercaci yang sukanya bermain sembunyi. Cisss ..
msnyebalkan".
Ucapan ini membuat orang aneh itu mengerutkan
sepssaeg alis.
"Balklah, setelah sampai dirumah katakan bahwa
keturunan dari Pek Tiang Hong pedang penghancur sang
surya, Pek In Hoei dalam beberapa hari kemudian akan
berkunjung keperkampungas kalian untuk minta seberapa
petunjuk dari Ke Hong siGolok perontok rembulan serta
Kiong Thian Bong jari Bintaog kejora".
„Apa ? jadi kau adatab Leng-Hiat Kiam Khek sijago
pedang berdarah dingin Pek in Hoei?.. Seru Ke Cian Cian
serta Kiong Yan Yan hampir berbareag dengan wajah
terperanjat, matanya terbelalak lebat.
Rupanya Pak in Hoei sendiripun merasa tercengang atas
julukan itu, dengan alis berkerut pikirnya dalam hati :
"Ini hari aku baru pertama kali turun daii gunung,
kenapa mereka sebut aku sebagai jago pedang berdarah
dingin? apakah mereka tidak aalah lihat?"
Sementara itu terdengar Kiong Yan Yan mendengus
dingin.
Sijago pedang berdarah dingin Pek In Hoei adaleh
seorang pemuda perlente yang gagah, dia tidak mirip
dirimu yang compang camping macam pengemis budukan"
jsngeknya.
"Haah .... haaaah . . . haaaah..... sungguh tak kunyana
aku Pek In Hoei telah dituduh orang sebagai manusia gagoh
tatkala untuk pertama kalinya turun dari gunung, peristiwa
aneh yang terdapat dikolong langit benar benar tak
terhingga banyaknya"
rambutnya yang kusut bergetar keras, tiba tiba nada
suaranya berubah jadi sangat dingin, sambungnya :
Perduli aku adalah sijago pedang berdarah dingin Pek In
Hoei yang tulen atasi bukan, dalam lima hari mendatang
diperkampungan Tay Bie San cung pasti akan terlihat ilmu
pedang penghancur sang surya deri partai Tiam Cong
menunjukkan kesaktiannya".
Sinar mata berkilat, perlahan lahan gantungkan kampak
baja itu keatas pinggang, kemudian sambil melepaskan
bungkusan. panjang dari pungungnya ia berguman seorang
diri:
"Sekarang juga akan kusuruh kailan saksikan kehebatan
dari pedaog sakti Penghancur Sang Surya, agar kalian bisa
bedakan mana yang tulen dan mana yan gadungan......"
Bersama dengan selesainya ucapan tersebut serentetan
suara desiran tajam yang amat memekikkan telinga
berkumandang membelah angkasa disusul berkelebatan
serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata
memenuhi seluruh jagad.
Mendadak Pek In Hoei menggetarkan tangannya .....
Criiing l bagaikan pe kikan naga yang membelah angkasa,
sarung pedang itu meluncur keangkasa msnciptakan sekilas
cahaya yang amat tajam.
Cahaya tajam tadi berkilauan diudara berputar dua kali
diangkasa kemudian meluncur kearah Barat Laut dengan
menciptakan serentetan bekas cahaya yang amat tajam,
dalam sekejap mata bersama tubuhnya lenyap tak berbekas
Dengan termangu-mangu Ke Cian Cian memandangi
angkasa, lama sekali dia baru menghembuskan napas
panjang.
"Ilmu pedang penghancur saag surya..... ilmu pedang
penghancur sang surya..." gumamnya.
"Aaaaah, ilmu pedang Itu merupakan ilmu pedang
terbang yaag merupakan bersatunya senjata serta batin!"
bisik Kiong Yan Yan pula dtengah napas bergidik.
"Yan Yan cepat pulang dan laporkan kejadian ini kepada
ayahmu, seandainya Pek In Hoei benar benar datang
ayahku pasti bukan tandingannya"
"Percuma meskipun Susiok hadir pula disitu, belum
tantu mereka adalah tandingannya
Ke Cian Cian termenung daa berpikir sebentar, akhirnya
dia berkata:
"Aku akan pulang kerumah mencari suhu, mungkin dia
kenal dengan manusia yang bernama Pek In Hoei,
sedangkan kau berangkatlah kegunung Gobie dan
undanglah in Coen Liong sipedang naga datang membantu,
ilmu pedang Kun Lun pay juga dipelajarinya mungkin
dapat digunakan untuk menandingi ilmu pedang
penghancur sang surya ari partai Tiam cong.
"Sekarang hanya inilah satunya2 jalan yang bisa kita
tempuh . gadis she Kiong ini menghela napas panjang lalu
sambungnya. Semuanya ini engkohkulah yang bikin gara2,
mengapa dia ajak kita bertanding lari kuda sehingga
menimbulkan bencana besar yang memusingkan kepala
ini".
"Aaaai..... bagaimanapun juga, antara sipedang
penghancur sang surya dengan kita memang terikat dendam
sakit hati, akhirnya dia akan berhasil juga menemukan kita,
rupanya setelah hilang dua tahun badai pertumpahan darah
akan melanda kita lagi.
Klong Yan Yan tidak banyak bicara lagi; dia bopong
tubub Kiong Ci Yu dan loncat naik keatas kuda.
"Enci Cian, mari kita berangkat" serurya.
Tanpa menuggu kawannya lagi ia larikan kudanya segera
msninggalkan tempat itu.
Tengah hari sudah tiba, sinar sang surya dengan
panasnya yaag menyengat menyinari seluruh kota Seng Tok
Hoe.
Pada saat seperti itulah Pek In Hoa sambil membopong
buntalannyaa dengan langkah lebar masuk kcdalam kota.
Rambutnya kusut lagi kacau, jenggotnya menutupi
seluruh janggut dan ditambah pula jubahnya yang merah
dan penuh noda lumpur, menambah keseraman serta
kedengkilannya.
Banyak penduduk kota yang melirik kearahnya dengan
sinsr mata mengejek, sebentar mereka melirik kearah
sepatunya yang kotor oleh lumpur, kemudian memandang
jubah merahnya yang dekil dan akhirnya melirik rambutnya
yang kusut juga kator .
Jelas. dalam kota tersebut belum pernah dijumpai
manusia aneh semacam ini maka semua orang memandang
kerahnya dengan sinar mata tercengang, kendati begitu tak,
seorangpun berani menertertawakannyaa.
Sebaliknya Pek In Hoei sendiri sama sekali tidak
menggubris tingkah laku orang, ia meneruskan langkahnya
taapa menoleh kekiri kanan.
Ketika tiba tiba dipintu kota dan menyaksikan pintu
gerbaag yang hancur berantakan, pemuda she Pek ini
menghela napas panjang.
"Aaai....... kota kuno ini mengapa bisa hancur
berantakan jadi begini? sampai2 pintu gerbangpun tak
terawat. Propinsi ini terkenal dengantanahnya yang kaya.
kenapa uang untuk ganti pintu gerbangpun tak punya ... "
gumamnya seorang diri.
Jelas para pembesar tidak ada yang menaruh perhatian
sampai kesitu, setiap hari kerja mereka melulu berpesta pora
belaka
Dalam pada itu terdengar suara tambur yang ramai
diiringi detak kaki kuda berkumandang dari belakang,
diikuti para penduduk yang ada disekitar sana sama2
menyingkir kesamping.
Seorang perwira muda yang berpakaian perang warna
merah dengan menunggang seekor kuda putih yang gagah
per!ahan2 jalan mendekat, dibelakangnya mengikuti
prajurit bersenjata tombak.
Dan pada barisan yang paling belalang merupakan
empat buah tandu yang digotong orang.
Dengan termangu-mangu Pek Io Hoei berdiri ditepi
pintu kota, dijumpainya tandu tandu itu bergerak cepat
melewati hadapannva, tandu itu mewah semua, para kuli
tandupun memakai baju seragam yang bersih dan
gemerlapan,
Tiba tiba..... dari balik tandu keempat berkumandang
keluar suara tertawa yang amat merdu diikuti seseorang
berseru:
".Nona, coba lihat simanusia aneh berjubah merah yang
berdiri ditepi pintu kota sungguh dekil sekali"
Ucapan ini menyinggung perasaan Pek In Hoei, alisnya
kontan berkerut, dengan sinar mata tajam ia awasi tandu
tadi dimana secara lapat2 terlihatlah seorang nona
berkepang dua dengan dandanan seorang dayang sedang
memandang kearahnya sambil tertawa.
Dia tahu keadaan dirinya yang dekil lagi ku>ut telab
menggelikan hati orang, maka ejekan tadi dia tidak ambil
perduli.
Ketika itulah dari balik tandu ketiga berkumandang
suara teguran yang lembut
lagi merdu :
"Coei-jie, jangan menertawakan orang! kau lihat pintu
kota kita, bukankah kotor lagi kusut hal itu bukanlah
disebabkan pemerintah tak punya uang untuk memperbaiki
belaka, hal itu bukanlah satu hal yang patut dimalukan.
Nah, lain kali janganlah kau menghina orang, kita harus
kasihan terhadap keadaan orang yang rudin."
"Siapa dia ?" pikir Pek In Hoei didalam hati dengan hati
bergetar keras, "Begitu merdu suaranya lagi pula simpatik
sekali
"sungguh sukar ditemui orang kaya yang berhati mulia
seperti dia...."
Mendadak kain horden tersingkap dan dari balik tandu
ketiga itu muncul sebuah tangan yaag halus, putih dan
menarik hati.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Mesum ITB 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments