Cerita Dewasa Baru :ITB 5

AliAfif.Blogspot.Com -  Cerita Dewasa Baru :ITB 5



Waktu itu dia anggap kepandaian silat semacam itu
merupakan auatu ilmu yang maha sakti dan menggidikkan
hati, maka dalam hati kecilnya selalu menganggap Ku Loei
sebagai seorang musuh yang tangguh.
Oleh sebah itulah seluruh perhatian dipusatkan kearah
Ku Loei, sedang Chin Tiong tidak dipandangnya walau
sebelah matapun.
Perlahan lahan Chin Tiong maju beberapa langkah
kedepan, wajahnya berubah cerah membara, sepuluh
jarinya bagaikan kaitan dipentang lebar2 tiap merobek
tubuh lawan,
Mendadak Ku Loei membentak keras, badannya
menubruk kedepan, telepaknya disertai desiran angin tajam
bagaikan sebilah golok segera membabat keluar
Pek In Hoei tertawa dingin, ujung pedangnya digetar
manciptakan dua coen hawa tajam berwarna kemerah
merahan. dalam stiatu kebasan hawa pedang seketika
memenuhl angkasa.
Criiiit.. tubuh Ku Loei berkelit ke Kanan, telapak kirinya
laksana kilat dihsntam kedepan menutupi kekosongan
akibat tiba2 hawa pedang sianak muda itu.
Dalam pada itu Chin Tiong tanpa mengeluarkan sedikit
auarapun melancarkan satu serangan bokongan dengan
kelima jarinya, angin dingin menderu deru mengancam tiga
buah jalan darah penting didada kanan P«k In Hoei.
Merasakan datangnya ancaman pemude she Pek
busungkan dadanya kemuka. mendadak ia bersuit rendah
pedang penghancur sang surja diputar setengah lingkaran,
dengan jurus "Sip-Jit Tong Thian" atau Sepuluh Hari siang
melulu dalam sekejap mata ia lancarkan sepuluh buah
tusukan kilat.
Criiiit ! Criiit hawa pedang membumbung keangkasa,
sekilas cahaya yang amat tajam mendadak menjungkit
keudara, diiringi sepuluh desiran tajam mengurung tubuh
lawan rapat rapat.
Serangan pedang ini benar2 mempunyai kekuatan
bagaikan menyapu selaksa prajurit begitu sepuluh jalur
hawa pedang menguasai daerah sekeliling delepan depa
segera terkurung rapat. badan Ku Loei serta Chin Tiong
pun tertahan delapan depa disisi kalangan.
Melihat kelihayan sianak muda itu, air muka Chin Tiong
berubah hebat, badannya beruntun mundur empat langkah
kebelakang, sekali jumpalitan badannya loncat satu tombak
keudara, lima jari tangan kirinya bagaikan bayangan setan
meluncur kebawah mencengkeram belakang tengkuk Pek In
Hoei.
Ku Loei meraung keras, beruntun ia mundur empat
langkah kebelakeng, kakinya merandek dan bagaikan
terpantek diatas tanah ia berdiri tak berkutik, sepasang
telapak dirapatkan jadi satu kemudian perlahan lahan
membabat kemuka
Telapak tangan yang berwarna keperak perakan dengan
membawa sekilas bayangan cahaya yang tajam menembus
hawa pedang lawan yang kuat dan dahsyat.
Ujung pedang bergetar keras, Pek In Hoei segera
merasakan adanya segulung tenaga tekanan yang maha
kuat menembusi lingkaran hawa pedangnya dan langsung
menghantam kearah dada.
Alisnya kontan berkerut, jurus pedang dirubah, kaki
bergeser satu lingkaran busur, dari arah sisi ia kirim satu
serangan balasan.
Dengan adanya sapuan ini maka gabungan serangan Ku
Loei yang barusan ia kirim kemuka seketika mengenai
sasaran kosong.
Matanya melotot bulat2, cambang yang memenuhi
wajahnya berdiri tegak bagaikan kawat, dengan cepat ia
tarik kembali telapaknya kebelakang, bagian bagian atas
meneguk, secara tarpisahia kirim lagi dua buah serangan
berantai,
Ngoooag... ngooong... desingan tajam menggema
diangkasa, deri antara getaran ujung pedang musuh muncul
sebuah lingkeran cahaya tepat didepan matanya,
"Duuuuk...." Ku Loei kirim lagi satu babatan kilat
kemuka, namun matanya segera jadi silau oleh bayangan
cahaya yang muncul didepan matanya itu, begitu silau
pandangannya oleh cahaya tajam tadi hingga ia tak sanggup
memandang dimanakah Pek in Hoei berada,
Detik itu juga berbagai ingatan berkelebat dalam
benaknya, ia teringat kembali bagaimana dia patahkan
pedang dan angkat sumpah untuk tidak akan menggunakan
pedang lagi setelah mengalami kekalahan diujung pedang
Cia Ceng Gek sipedeng sakti deri partai Tiam cong dalam
jurus yang kesebelas
Cahaya tajam yang memancar keluar dari ujung sebilah
pedang ini dirasakan seolah olah sebatang tongkat iblis yang
muncul dari balik cahaya sang surya.
"Jurus apakah itu ? belum pernah kutemui jurus serangan
semacam ini didalam ilmu pedang penghancur sang
surya!..."
Pelbagai Ingatan kembali berkelebat dalam benaknya,
namun sayang ia tidak menyadari bahwa lingkaran cahaya
yang menyilaukan mata itu adalah hasil gabungan dari
pengaruh tiga serangan sebelumnya, jurus ini memang
merupakan salah setu jurus dari ilmu pedang penghancur
seng surya dari partai Tiam cong.
Mendadak ia meraung keras, telapak kanannnya ditarik
kebelakang diikuti telapak kirinya menyapu datar
kesamping, sambil menahan penderitaan dan siksaan
dibadan ia loncat dari kalangan.
Rupanya Pek In Hoei telah menggunakan jurus ketiga
belas dari ilmu pedang Si Jiet Kiam Hoat yang disebut
"Kiam Coan Liat Yang" atau Pedang menembusi teriknya
sang Surya jurus ini merupakan jurus ciptaan dari Cia Ceng
Gak sewaktu terkurung didalam gua batu.
Kendati sianak muda itu telah salurkan segenap
kemampuan dan kekuatannya dalam jurus serangan ini, tak
urung dia masih sempat merasakan pula betapa sakit batok
kepalanya ketika terjepit oleh kelima jari tangan lawan,
Pada detik itu juga dia segara menyadari, sekalipun
serangan pedangnya akan berhasil membinasakan Ku Loei
namun kelima jari musuhpun akan mencengkeram lehernya
serta mematahkan batok kepalanya.
Dalam saat yang kritis dan sangat berbahaya ini, otaknya
dengan cepat mengambil keputusan,
Dia meraung keras, badannya maju empat inci kemuka,
sedang ujung pedang ditekuk tiga coen kebawah dan tepat
meluncur kemuka dengan gerakan yang sama
Mendadak ujung pedang diantara lingkaran cahaya yang
menyilaukan mata Itu menembusi hawa pukulan Ku Loei
yang sedang menggulung tiba dan merobek dahinya yang
lapang....
Ku Loei menjerit keras, badannya gemetar keras, sambil
menahan sakit yang lak terkirakan ia loncat keluar,
Pada saat itulah ilmu jari bintang kejora dari Chin Tiong
telah bersarang telak lima coen dibawah leher Pek In Hoei.
Breeet! bajunya segera tersambar robek.
Pek In Hoei bersuit nyaring ujung pedangnya berputar
kebelakang, seluruh badan bergeser tujuh depa ditengah
udara, setelah berjumpalitan dua kali sambil membawa
pedang ia sapu kedepan,
Ditengah kegelapan malam tampaklah ujung pedangnya
meluncur dengan membawa sekilas cahaya warna merah
yang tawar.
"Coba rasakanlah serangan Lek Liong Hwie Jiet atau
enam Naga memandang sang suryaku ini!" hardiknya.
Chin Tiong ysng ada ditengah udara segera merasakan
pandangannja jadi kabur, bunga pedang bermunculan
didepan mata, ia meraung keras wajahnya seketika berubah
jadi hijau membesi, perlahan lahan tangan kanannya diulur
kemuka
Karena seluruh perhatian serta kemampuannya harus
dipusatkan keatas tangan kanannya yang sedang meluncur
ketepi, maka badannya yang masih ada diudara segera
anjlok kebawak.
Pek In Hoei membentak keras, mengikuti gerakan tubuh
lawan yang merosot kebawah pedangnya segera meluncur
kedepan.
Ditengah getaran pergelangannya, ujung pedang telah
bergeser tiga coen lebih kebawah.
Dikala ujung pedangnya masih bergetar keras itulah, tiba
tiba Chin Tiong mementangkan kelima jarinya, laksana
kilat ia cengkeram senjata tajam,
Menyaksikan pihak lawan dengan kelima jarinya vang
berwarna kehijau hijauan berani mencengkeram kearah
pedangnya, Pek In Hoei tertawa dingin, pedangnya segera
di dorong kedepan dan laksana kilat membabat keatah
bawah.
Ujung pedang dengan cepat menggurat telapak Chin
Tiong hingga muncul sebuah guratan panjang berwarna
putih, babatan tadi gagal memasung seluruh
pergelangannya Karena kesakitan Chin Tiong mengatup
kelima jarinya, dengan begitu pedang Si-Jiet-Kiam pun
berhasil ia cengkeram.
Meminjam tenaga dari pedang tersebut, ia tukar napas,
badannya melengkung dan seluruh tubuhnya tergantung
diatas pedang.
Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau pihak
lawan mampunya! jurus kepandaian yang begitu aneh dan
tidak takut akan ketajaman senjatanya, karena
tercengkeram maka pergelangannya segera menekuk
kebawah dan seluruh badannya tertarik kebawah.
Chin Tiong tertawa seram. tubuhnya yang melengkung
diangkasa mendadak mencelat keudara, sepasang kakinya
menendang berbareng menyepak dada sianak muda itu
Pek In Hoei mendegus, lengan kirinya berputar
membentuk gerakan satu lingkaran busur, menggunakan
jurus "Leng Bwee Kwe Cu" atau Bunga Bwee bergelatung
didepan pinggiran telapaknya langsung membabat
persendian kaki lawan, sementara jarinya mencengkeram
jalan darah Yong-Gwan-Hiat ditelujuk kaki musuh.
Sepasang kaki Chin Tiong yang lagi menendang cepat2
ditarik kembali, kemudian sambil menggepit ujung kakinya
tiba tiba melayang lima coen lebih keatas mengancam
tenggorokan sianak muda itu.
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, tangan kirinya
segera merendah kebwah lalu dipukul sejajar dengan dada,
jurus yang digunakan adalah jurus "Peng Kong Hoe Hauw"
atau menundukkan harimau ditebing datar dari ilmu
pukulan Hoe Hauw Koen aliran Go bie Pay, dari telepak ia
rubah Jadi kepalan dan langsung menjotos ujung tumit
lawan yang mengancam tiba,
Bruuuuk! kaki kanan Chin Tiong yang tak sempat ditarik
balik segera termakan oleh jotosan lawan, seketika
tulangnya patah dan dia menjetit kesakitan, buru buru
sepasang kakinya ditarik kembali kebelakang.
Dengan masing masing pihak mencekal salah satu ujung
pedang, dari udara hingga keatas bumi masing masing
pihak telah saling bertukar dua jurus serangan kilat.
Begitu ujung kakinya menempel diatas permukaan
tanah, tangan kanan Pek in Hoei sekuat tenaga segera
ditarik kebelakang, sementara tangan kirinya berbareng
diayun keluar, jari telunjuknya menyedok menotok leher
Chin Tiong
Serentetan desiran angin serangan segera meluncur
keluar.
Merasakan datangnya ancaman Chin Tiong memantek
sepasaag kakinya diatas tanah, tubuh bagian atas menekuk
kebelakang ia pasang tangan sambil mencengkeram ujung
pedang musuh meraung keras, tangannya cepat cepat
diangkat keatas.
Sekujur badannya perdengarkan suara gemerutuk yeng
nyaring badannya makin membesar, sambil kerahkan
tenaga ia berusaha mengangkat tubuh sianak muda itu
keangkasa.
Sambil mencengkeram gagang pedangnya Pek In Hoei
memantek kakinya kuat kuat diatas tanah, namun ia tak
sanggup berdiri tegak, dalam tarikan serta sentakan lawan
yang disertai dengan tenaga angkatan sebesar ribuan kati
ini, kuda kudanya gempur, seketika badannya terangkat
ketengah udara,
"Suatu jurus Pa Ong Kie Teng atau Raja buas
mengangkat Hioloo yang sangat indah" Puji Ku loei keras.
Loo jie, aku segera menyusul datang".
Sambil menahan rasa sakit ditelapak kirinya ia melayang
kedepan, telapaknya dengan kerahkan ilmu golok perontok
rembulan melenturkan satu babatan kebawah, serentetan
cahaya tajam berwarna keabu abuan seketika menyapu
keatas senjata pedang itu.
Bruuuuk.... pedang Si Jiet Kiam bergetar keras dan
memperdengarkan bunyi dengungan yang amat nyaring.
Pak In Hoei segera merasakan pergelangannya jadi kaku,
ia kaget dan tak mengira kalau tenaga hantaman Ku Loei
yang disalurkan lewat senjata pedangnya bisa menghasilkan
daya tekanan yang demikian dahsyatnya.
"Loo toa cepat menyingkir" terdengar Chin Tong
berteriak lantang dengan suaranya ysrg keras bagaikan
geledek.
Lengannya bergetar lalu memutar, badan Pek In Hoei
yang ada ditengah udara segara diputarnya satu lingkaran
kemudian dibanting keras keatas tanah.
Dalam banting seperti ini, apabila sianak muda itu tak
mau lepas tangan niscaya badannya akan hancur
berantakan.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak Pek In Hoei
bersuit nyaring, dia lepas tangan lalu loncat keatas dan
berdiri diatas gagang pedang Si Jiet Kiemnya itu.
"Hmmm" ia mendengut dingin, seluruh badannya
menekan kebawah, kakinya bagaikan melekat diatas pedang
mengikuti daya bantingan Chin Tiong semakin menekan
kebawah.
Rasul Pergutuk Langit Chin Tiong merintih kesakitan,
lengannya melengkung den sekuat tenaga diangkatnya
senjata itu lima coen lebih keatas.
Sinar meta Pek In Hoei berkilat, kaki tanannva
mendadak melangkah satu tindak lebih kedepan, seketika
gagang pedangnya melengkung lima coen lagi kebawah.
Sambil tertawa dingin jengeknya:
"Dengan andalkan ilmu sesatmu yang tak mempan
dibacok senjata lantas kau ingin coba2 mencengkeram
pedang penghancur sang suryaku? ..Hmmm sekarang akan
kusuruh kau rasakan betapa tajamnya senjata mustikaku
ini...."
Chin Tiong mendengus berat, tangannya diangkat keatas
dan kembali ia angkat pedang itu tiga coen lebih keatas.
Pek In Hoei tidak ingin memberi kesempatan bagi
musuhnya untuk berganti napas, kakinya kembali bergeser
setengah langkab kesamping. dengan demikian pedang yeng
telah terangkat kini tenggelam kembali dua coen kebawah.
"Kau anggap dengan andalkan kemustajaban pil tenaga
Pek Loo Tay Lek Wan lantas bisa rebut kemenangan
dengan gampang" kembali sianak muda itu menjengek.
"Kau anggap pedang mustika peoR hancur sang suryaku ini
bisa kau rebut tanpa buang banyak tenaga..."
Saking beratnya sekujur badan Chin Tiong telah basah
kuyup oleh keringat, air mukanya makin lama berubah
semakin menghijau, kakinya setengah melengkung
kebawah dan telapaknya telah masuk ke dalam tanah
hingga bekas tumit.
Oleh ejekan ejeken Pek In Hoei yang sengaja
memanaskan hati musuhnya ini, hampir saja membuat
dada rasul Pengutuk Langit ini meledak saking dongkolnya,
namun ia tetap tak sudi lepas tangan, dengan ngotot dan
keras kepala ditahannya terus posisi tersebut.
Ku Loei sendiri yeng ada disisi kalangan juga kaget
setelah menyaksikan rekannya dipencundangi oleh pihak
lawan kerena kurang berhati hati, ia sadar meskipun
rekannya tidak jeri akan senjata tajam karena andalkan ilmu
sakti "Jan Seng Cie"nya. namun berhadapan dengan senjata
mustika yang terkena! akan ketajamannya ini dia tak nanti
bisa bertahan lama.
Ia tarik napas dalam dalam, dengan langkah sebat segera
maju kedepan, telapak kanan diangkat keatas siap
membabat punggung sianak muda itu.
"Hmmm manusia she Ku." seru Pek In Hoei sambil
mendengus. Seandainya kau gunakan ilmu pukulan golok
perontok rembulanmu, maka saat ini juga Chin Tiong akan
mati konyol"
Mendengar ancaman itu Ku Loei terkesiap, mengerti Pek
in Hoei hendak meminjam tenaga pukulannya untuk
disalurkan ketubuh pedang dan menghantam Chin Tiong
yang ada dibawah, dengan adanya tekanan ini maka sirasul
pengutuk langit pasti akan terluka parah dan kemungkinan
besar mati konyol.
Hatinya jadi sangsi dan telapak kananpun segera
diturunkan kembali.
Sekilas senyum sinis menghiasi ujung bibir Pek In Hoei.
"Malam ini kalau aku tidak membiarkan kau jumpai
kelihayan dari tenaga murni partai Tiam-cong, tentu
selamanya kau akan beranggapan bahwa partai Tiam cong
benar benar telah lenyap dari dunia persilatan..."
Kulit wajah Chin Tiong berkerut kencang menahan
siksaan dan rasa sakit yang makin menjadi, rasa gusar,
mendongkol, jeri dsn takut memancar keluar dari balik
cahaya matanya, ia mendengus berat, ia palang lengannya
dengan gunakan segenap tenaga yang dimilikinya
mangangkat pedang bersama tubuh sianak muda itu dua
coen lebih keatas.
Psk In Hoei angkat kaki kirinya den melangkah lagi
setengah tindak kemuka, seketika pedang Sang surya
terangkat tenggelam legi tiga coen kebawah.
Dengan penuh kesakitan Chin Tiong meraung keras,
ujung kaki kanannya yang patah oleh hajaran sianak muda
itu melesak kedalam tanah, darah segar segera muncrat
membasahi tubuhnya, begitu sakitnya sampai sekujur
badannya menggigil keras.
Sekilas cahaya tajam menyorot keluar dari mata Pak In
Hoei, serunya dengan suara berat:
"Kalian pernah dikalahkan oleh pedang penghancur sang
surya. maka setiap berjumpa dengan pedang mustika ini
dalam hati akan timbul rasa jeri, karena itu kalian berusaha
hendak merampas pedang ini. Sekarang kau harus rasakan
dulu bagaimana menderitanya kalau tulang yang lepas dari
tempatnya dan harus menancap dalam tanah
Sembari bicara tenaganya dikerahkan semakin besar,
dengan segenap tenaga ia tekan pedangnya kebawah
Senjata mustika itu segera melengkung kebawah,
diantara berkilaunya cahaya kemerah merahan Chin Tiong
berteriak keras tangannya robek oleh tekanan senjata itu
dan darah segera mengucur keluar dengan derasnya.
Karena benturan hawa murni ini sepasang kakinya
terbenam tiga coen lebih dalam diatas tanah.
Hawa darah dalam dadanya kontan berontak keras,
seakan akan dihantam dengan martil sebesar ribuan kati ia
tak dapat menguasai diri lebih jauh. sambil menjerit
kesakitan ia muntah darah segar, pedangnya dilepaskan dan
badannya segera roboh keatas tanah.
Menyaksikan rekannya roboh, Ku Loei membentak
keras, tenaga lweekang yeng telah dihimpunnya selama ini
begaikan bendungan yeng jebol segera dilepaskan keluar,
sekilas cahaya putih dengan dahsyat menghantam dada Pek
In Hoei.
Sianak muda itu tertawa lantang, badannya mundur
kebelakang, berbareng kaki kanannya menjungkil lalu
menjangkau, dalam waktu yang singkat pedang Si Jiet
Kiam tadi, sudah dicekal kembali dalam genggamannya.
Dengan senjata ditangan kehebatannya semakin
meningkat, pedangnya diayun kemuka, hawa pedang segera
berkelebatan memenuhi angkasa
Beruntun Ku Loei lancarkan beberapa serangan untuk
memunahkan dua tusukan kilat lawan, kemudian la tarik
napas dalam dalam dan mengirim kembali emoat buah
serangan berantai.
Cahaya tajam berkilauan menusuk pandangan. deruan
angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra
menyapu dan menghantam dengan hebatnya.
Seketika itu juga Pek In Hoei rasakan ujung pedangnya
seakan-akan membentur lapisan dinding baja yang kuat,
hatinya jadi kaget pikirnya:
"Sungguh aneh, apa sebabnya tenaga serangan mereka
kadangkala nampak lemah kadang kala nampak kuat
kembali.
Secara beruntun empat buah serangan golok perontok
rembulan dari Ku Loei telah memaksa pihak lawan mundur
lima langkah kebelakang, diapun berpikir:
"Walaupun keparat cilik ini berhbasil melatih ilmu
pedang penghancur sang suryanya hingga mencapai puncak
kesempurnaan namun masih banyak terdapat intisari
kepandaian itu belum berhasil dipahami, kalau
dibandingkan dengan permainan Cia Ceng Gak tempo
dulu, benar benar ketinggalan."
ia tarik napas dalam dalam, sambil maju dua langkah
kedepan telapaknya kembali mengirim empat buah
serangan berantai.
Menyaksikan sikap Pek In Hoei tatkala terdesak mundur
kebelakang, ia lantas berpikir:
Semula aku mengira dengan pedang sakti Si Jiet Sin
Kiamnya keparat cilik ini bisa mengerebkan hawa pedang
hingga mencapai pada puncaknya, maka delapan jurus
golok perontok rembulanku tak berani kugunakan, kalau
memang terbukti ia belum berhasil mencapai ketingkat
tersebut, kenapa aku harus jeri lagi?"
Sementara itu Pek In Hoei yang menyaksikan enam jurus
serangannya terbendung semua oleh permainan lawan,
hatinya pun dibikin, terkesiap segera pikirnya:
"Rupanya dia sudah tahu kalau inti sari dari ilmu pedang
Si Jie Kiam Hoat belum bsrbesil kukuasai semua, maka
ilmu golok perontok rembulannya dilancarksn secara
berantai..."
Sambil mundur dua langkah kebelakang permainan ilmu
pedangnya segera berubah secara beruntun diapun
mengirim tiga buah serangan berantai yang tak kalah
hebatnya.
Didalam tiga jurus serangan tersebut ia telah gabungkan
intisari serta gerakan gerakan aneb dari tiga partai paling
terkemuka saat itu yaitu partai Go-bie; Hoa san serta partai
Bu torg
Kalau dibandingkan dengan permainan pedangnya yang
mengutamakan kekerasan serta kecepatan, permainannya
sekarang jauh berbeda dan sama sekali diiuar dugaan Ku
Loei, maka darl itu semua serangannya berhasil
mengalutkan pikiran lawan.
Dengan hati terperanjat Ku Loei segera berpikir:
"Sungguh luar biasa asal usul keparat cilik ini, bukan saja
aliran permainan pedangnya kalut dan beraneka ragam,
diapun ulet den gagah. rupanya aku harus bertarung sampai
ratusan jurus bila ingin mengalahkan dirinya".
Dengan cepat matanya melirik kearah Chin Tong, ia
saksikan air muka rekannya telah berubah jadi hijau
membesi, meskipun sepasang kaki masih terbenam dalam
tanah namun orangnya telah berada dalam keadaan tidak
sadar.
Sambil menggertak gigi pikirannya dengan cepat
berputar, pikirnya :
"Bila Loojie tidak cepat2 diberi obat penyembuh luka.
dia pasti akan mati konyol, buat apa kau barus bcrtarung
percuma dengan bajingan ini,
Karena berpikir begitu maka ia lantas membentak keras,
senara betuntun ia lepaskan tiga buah serangan maut.
Menanti pihak lawan terdesak mundur kebelakang
badannya segera loncat kebelakang, disambarnya tubuh
Chin Tiong dan segera dibawa kabur kembali
keperkampungan Tay Bie San cung.
Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau secaaa
mendadak Ku Loei kabur balik kedalam perkampungannya,
la jadi sangsi dan segera pikirnya:
"Orang yang menjadi dalang dari rencana pengeroyokan
terhadap ayahku waktu itu kecuali Chin Tiong masih ada
seseorang lagi, tadi aku telah lupa mencari tahu nama orang
itu, kalau tanda terang isi sampai putus bukankah aku akan
kehilangan jejak yang mengetahui siapakah musuh besarku
yang satunya lagi"
Ia egera membentak, badannya loncat kedepan dan
bagaikan kilat yang menyambar disusul Ku Loei dengan
kencang.
Baru saja melewati pagar kayu, didepannya telah
terbentang sebuah benteng penjagaan yang sangat tinggi,
dibelakang benteng penjagaan merupakan hangunan rumah
yang bersusun susun.
Seluruh perkampungan tercekam dalam kegelapan. tak
ada lampu yang menyala dan tak ada suara yang terdengar,
seakan akan perkampungan itu berada dalam kesunyian
yang tak terhingga.
Mendadak matanya menangkap berkelebatnya bayangan
manusia. dengan cepat ia berpaling, tampaklah Ku Loei
sambil mengempi! Chin Tiong telah melayang kearah
depan dan dalam sekejap mata lenyap dibalik pepohonan
yang lebat.
Tanpa ragu2 atau curiga barang sedikitpun juga Pek In
Hoei segera menyusul kedalam hutan belukar itu.
Angin malam herhembus kencang menggerakan daun di
sekeliling sana, suasana dalam hutan itu gelap gelita dan
tiada nampak sesuatu benda apapun.
Sambil mencekal pedang Psk In Hoei mengerling
keadaan disekeliling tempat itu, dengan cepat ia dapat
saksikan situasi hutan tadi.
Sebuah jalan kecil yang beralaskan batu cadas
membentang jauh kedalam menembusi hutan rimba yang
lebat tadi.
Dengan alis berkerut sianak muda kita berpikir:
"Rupanya perkampungan ini luas sekali hanya saja
kenapa disini tak kujmpai seorang manusiapun...?"
Perlahan lahan dia melangkah masuk kedalam hutan,
berjalan keatas lorong terbuat batu dan laksana kilat
menerobos terus kedalam. -
Setelah berputar kesana kemari beberapa saat lamanya,
pandangan berubah.. kini setelah berada dihadapan sebuah
telaga yang sangat besar
Tadi sewaktu menerobos hutan suasana gelap gulita
susah melihat sesuatu apapun kini setelah keluar dari
pepohonan terlihatlah udara bersih sekali, rembulan serta
bintang bertaburan diangkasa.
Memandang pemandangan alam yang indah, ia
menghembuskan napas panjang, gumamnya:
"Sungguh tak nyana disini terdapat sebuah telaga yang
begini indah dan menawan".
Sinar matanya perlahan lahan menyapu permukaan
telaga yang tenang. mendadak matanya menemui sorotan
cahaya lampu memancar keluar dari lobang bangunen
rumah ditengah telaga.
Diikuti sesosok bayangan hitam berkelebat lewat dari
tepi telaga menuju karah jembatan panjang yang
membentang ketengah, bayangan tadi langsung bergerak
menuju kebangunan tersebut.
"Aaaah!" Dengan hati kaget Pek 1n Hoei berseru
tertahan. "Apa maksud Ku Loei dengan membopong Chin
Tiong lari menuju kebangunan ditengah telaga itu? apakab
disitulah letak bangunan rahasia mereka untuk berlatih ilmu
silat?"
[a termenung sejenak kemudian mundur selangkah
kebelakang dan berdiri dibawah kegelapan, dengan cermat
diperiksanya keadaan disekeliling tempat itu.
Suasata disitu sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suarapun, hanya hembusan angin malam yang
menggetarkan ranting menimbulkan gemerisikan yang
1irih...
Ia tarik napas dalam dalam, pedang mustika Sie Jiet
Kiamnya dimasukan kembali kedalam sarung, lalu sebarang
lengan bergetar dan ia melayang empat tombak kedepan.
bereda ditengah udara badannya berjumpalitan satu kali,
seolah olah seekor burung elang dengan enteng dan ringan
melayang keatas jembatan tersebut.
Baru saja kakinya menginjak diatas jembatan. segera
terlihatlah pintu ruangan di tengah telaga itu terbentang
lebar dan seseorang munculkan diri dari dalam.
"Keparat! kau berani datang kemari ?" terdengar Ku Loei
membentak keras.
Pek Hoei miringkan tubuhnya kesamping dan
melangkah maju dua tindak kedepan dari sisi tubuh Ku
Loei yang tinggi kakar ia dapat melihat dengar, jelas
keadaan dalam bangunan air itu.
Dalam ruangan terbentang sebuah pembaringan, diatas
pembaringan duduklah seorang kakek tua berambut putih,
dihadapannya terletak sebuah hioloo kuno terbuat dari
tembaga, asap hijau perlahan lahan mengepul keluar dan
menyebar ke empat penjuru.
Berhubung Ku Loei berdiri tepat didepan pintu maka
Pek Ia Hoei tak dapat melihat lebih jelas lagi apa yang
sedang dilakukan sikakek tua yang ada didalam ruangan
itu.
Ia bungkam dalam seribu bahasa, ditatapnya wajah Ku
Loei dengan pandangan dingin sementara otaknya berputar
memikirkan apa sebabnya pihak lawan mengucapkan kata2
seperti iiu.
"Hmmm ! mungkinkah dia hendak andalkan kekuatan
sikekek itu maka sengaja memancing aku masuk kedalam?".
Belam lenyap ingatan itu diri dalam benaknya, tiba2
terdengar suara rintihan berkumandarg keluar dari
bangunan air iiu. Ku Loei segera berpaling dan bertanya
dengan suara kaget ;
"Bagaimana dengsn Loo-jie ?".
"Dia tak akan mati." jawab kakek berjenggot panjang itu
tanpa berpaling.
Ku Loei tidak bicara lagi, is segera berpaling menatap
kembali sianak muda she Pek ini.
Tiba2 kakek yang sedang bersila itu menoleh lalu berkata
:
"Didalam bangunan air ini telah kupasang alat rahasia
yang kuciptakan sendiri dengan susah payah. aku yakin kau
tak nanti berani maju tiga langkah lagi kedepan!". "Pek 1n
Hoei, sudah kau dengar perkataan itu?" sambung Ku Loei
sambil tertawa dingin.
Pek In Hoei tetap bungkam dalam seribu bahasa, ia
berusaha menahan keinginannya untuk menerjang masuk
kedalam bangunan air itu, seraya memandang wajah kakek
tua itu pikirnya :
"Entah siapakh manusia itu? rupanya Ku Loei telah
menghormati dia sebagai seorang tamu agung dan
memeliharanya dalam bangunan air ini!".
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
segera pikirnya lebih jauh :
"Mungkinkah dia adalah guru dari Ku Loei, si iblis sakti
berkaki telanjang dar Cing Hay ?".
Sebaliknya tatkala Ku Loei menyaksikan Psk In Hoei
hanya berdiri ditepi jembatan tanpa ada maksud untuk
maju kedalam lebih jauh segara mendengus dingin.
"Hmmm ! sungguh tak nyana Cia Ceng Gak yang dahulu
pernah malang melintang dengan gagahnya tanpa takut
terhadap langit dan bumi bisa mempunyai cucu murid kere
macam kau. Hmmm...1 sungguh memalukan nama besar
partai Tiam cong!" Pek Ia Hoei tertawa dingin:
"Seandainya kau menganggap dirimu sebegai seorang
enghiong tidak nanti bersembunyi terus didepan pintu
macam kura2. kalau berani ayoh kita ketepi sana !".
Dengan gusarnya Ku Loei meraung keras badanny
bergerak siap loncat kemuka.
Tiba kakek tua dalam ruangan itu mendehem ringan lalu
menegur dengan suara berat.
"Ku Loei, sampai tuapun watak berangasmu masih
belum bisa hilang kemanakah hasil latihanmu selama ini?
masa dengan kesabaran seorang pemuda pun tak mampu
menandingi."
Rupanya Ku Loei sangat jeri terhadap orang itu,
mendengar teguran tadi ia tidak membantah bahkan
mundur selangkah kebelakang dengan wajah tersipu.
"Ucapan kau si orang tua tepat sekali," jawabnya cepat,
"Seandainya pada masa yang lalu aku tidak bertabiat kasar
dan berangasan semacam ini tidak nanti aku bisa terluka
ditangan Cia Ceng Gak."
"Babatan pedang Cia Ceng Gak tepat mematahkan urat
urat It Meh membuat latihanmu selama dua puluh tahun
tidak mendatangkan hasil yang diinginkan seandainya tak
ada pil mustajab Pek Loo Tay Lek Wan yang kubuat
khusus untukmu, mungkin ilmu silatmu telah punah sama
sekali?"
Setelah mendengar ucapan sikakek tua itu, Pek In Hoei
baru mengerti epa sebabnya ilmu silat dari Ku loei kadang
kala lemah kadangkala kuat kiranya urat penting im
mehnya telah dilukai oleh sucouwnya pada pertarungan
tempo dulu maka itu ilmu silatnya tak bisa berkembang
lebih jauh dengan andalkan obat yang khusus dibuat kakek
itu baginya ia baru bisa menekuni ilmu Sim-hoat aliran
Liauw-sat Boen.
Otaknya memang cerdik, ia lantas teringat kembali akan
pertarungan Ku Loei melawann Kim In Eng sewaktu ada
dipuncak gulung Hoasan tempo dulu, segera pikirnya
dengan hati tercengang:
"Rupanya paristiwa ini tidak diketahui siapapun
termasuk sumoaynya sendiri, lalu apa sebabnya kakek itu
sengaja mengatakannya kepadaku?"
Sejak terjadinya perubahan besar diatas gunung Tiamcong
diikuti mengalami pula perbagai pengalaman pahit,
boleh dikata selurub keadaan sianak muda ini telah
berubah, kejujuran serta kepolosannya dahulu kini telah
lenyap tak berbekas. terhadap siapapun dan apapun dia
telalu menaruh curiga. otaknya terlalu berputar mencari
tahu sebab sebabnya persoalan yang sedang dihadapi.
Maka dari itu dengan hati sangsi dia penuh curiga
ditatapanya wajah kakek tua itu tajam tajam. ita tak mau
maju kedalam lebih jauh dengan gegabah.
Sementara itu kakek tadi melirik sekejap kearah Pek in
Hoei yang berdiri disisi jembatan kemudian katanya:
"Ku Loei, masuklah kedalam, pil Tiang coen wan
didalam tungku ini telah masak, sudah waktunya kau
berikan kepada Chin Tiong !"
"Hoa Loo!" kata Ku Loe sambil angkat telapak kirinya.
"0bat yang ada diatas telapakku sudah boleh diambil
bukan?"
"Hmmmm setengah jam kemudian telapak tangan yang
kubalut akan sembuh kembali seperti sedia kala, aku
tanggung keparat cilik yang masih bau tetek itu tak akan
berani maju tiga langkah kedepan"
Menyaksikan Ku Loei melangkah masuk kedalam
bangunan air itu, Pek In Hoei mendengus, pikirnya :
"Dengan pelbagai macam hasutan dari ucapan kau
hendak memancing aku maju tiga langkah kedepan.
Hmmm dianggapnya aku lantas ikuti ucapanmu dan benar
benar maju tiga langkah? justru aku mau sengaja maju
sampai kelangkah yang keempat...!"
Ia tarik napas dalam dalam, hawa murninya disalurkan
keseluruh badan kemudian maju dua langkah kedepan dan
enjotkan badsn melayang enam depa kemuka.
Siapa tahu ketika ujung kakinya menginjak papan
jembatan disebelah depan, tiba2 jembatan itu roboh dan
tenggelam kedalam telaga hingga tinggal separuh jembatan
yang ada didekat bangunan air itu saja yang masih berdiri
seperti semua.
Ia mendengus dingin, sepasang lengannya bergetar keras
den badannya melayang sembilan depa keatas, bagaikan
seekor burung alap alap kembali dan lewati dua tombak
jauhnya dan melayang keatas jembatan yang masih tersisa.
Siapa sangka jembatan itupun seakan akan makhluk
hidup, belum sampai ujung kakinya menginjak papan
jembatan mendadak jembatan tadi tenggelam pula kedasar
telaga hingga kakinya menginjak tempat kosong.
Sekaleng dia baru merasa kaget, badannya segera
melengkung membentuk gerakan busur seteiah itu meloncat
sekuat tenaga kearah depan.
Daiam perkiraannya dengan jurus "Cing Liong Hoan"
atau Naga Hijat berjumpalitan diawan ia pasti bisa
melewati permukaan telaga tadi dan melayang balik ke atas
daratan, aiapa sangka air telaga itu dinginnya luar biasa,
baru seja kakinya menyentuh air tersebut seketika itu juga
terasa adanya segumpal hawa dingin yang luar biasa
dahsyatnya menyusup kedalam tubuhnya lewat kaki,
membuat seluruh kakinya jadi kaku dan mati rasa.
Baru saja badannya meloncat lima depa keatas, hawa
murni daiam tubuhnya telah buyar dan badannya segera
anjlok kebawah, Pek In Hoei benar benar merasa amat
terperanjat, sinar matanya berputar cepat mengawasi
sekelilingnya namun dengan cepat ia dapat melihat dengan
jelas keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Sekarang jarakku dengan bangnnan air itu masih
beberapa tombak sedangkan untuk kembali kedaratan
masih ada empat tombak jauhnya, bawa murniku tak akan
bisa memantulkan tubuhku kembali kesitu."
Disaat yang amat kritis itulah satu ingatan berkelebat
dalam benaknya, segera ia bersuit nyaring, keempat anggota
badannya dipentingkan lebar lebar, dengan jurus ketiga dari
, Im Liong Pat Sih" aliran Kun lun Pay yaitu "Yoe Liong
Swe In" atau Naga sakti Bermain diawan, tubuhnya
berputar setengah busur diudara kemudian meluncur kearah
bangunan air itu.
Laksana kilat badannya meluncur kearah bangunan
tersebut, meskipun akhirnya ia tiba disisi jembatan gantung,
namun dengan pengalaman yang sudah pemuda kita tak
berani langsung melayang keatas tangan kenannya dengan
cepat menjangkau mencengkeram wuwungan bangunan air
itu
"Hmm" jengekan dingin berkumandang memecahkan
kesunyian, mendadak muncul sesosok bayangan manusia
dari balik atap dan tahu2 Ku Loei telah muncul disitu
sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat
dengan ilmu pukulan golok perontok rembulan.
Dslam pada itu kelima jari Pek in Hoei baru saja
menyentuh dinding wuwungan, atau secara tiba tiba
sesosok bayangan putih berkelebat lewat dihadapan
matanya segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera
menyapu keatas dadanya.
Seakan2 dibabat dengan sebuah kampak raksasa, sianak
muda itu merasakan napasnya sesak dan badannya segera
merandek.
Pek In Hoei terkejut, ia membentak nyaring, telapak
kirinya langsung menyapu keluar mengirim satu pukulan
dengan jurus "Im Hoa Ciat Bok? atau memindahkan bunga
menyambang ranting.
(Oo-dwkz-oO)
8
SIKUTNYA menekan kebawah lalu menggetar,
maksudnya dia hendak memotong datangnya angin
pukulan musuh yang kuat dan berhawa dingin itu, namun
gerakannya terlambat, telapak lawan tahu-tahu sudah
menghajar telak dadanya.
Bruuk pukulan golok perontok rembulan yang tajam dan
ampuh itu bersarang telak diatas dadanya.
Dengan penuh rasa sakit ia mendengus, kelima jarinya
mencengkeram semakin keras hingga membuat atap
wuwungan patah dan seluruh tubuhnya. tercebur kedalam
sungai.
Percikan air muncrat keempat penjuru, permukaan teia?a
yang tenang segera mucul ombak yang keras dan
menggoncangkan seluruh bangunan air tersebut.
Ku Loei yang berdiri diatap rumah, sambil memandang
gulungan ombak diatas permukaan telaga tertawa seram
tiada hentinya :
"Haaah.... haaaah....... haaaaah....sekalipun kau
memiliki ilmu silat yang bagaimana lihaypun, jangan harap
bisa loloskan diri dari dasar telaga Lok Gwat Ouw dalam
keadaan hidup hidup".
Bayangan manusia berkelebat lewat, si kakek tua itupun.
munculkan diri dari balik bangunan air, katanya pula ::
"Kalau ia tidak mati karena kedinginan. tubuhnya tentu
akan hancur oleh tekanan air yang maha dahsyat didasar
telaga ini."
"Hoa loo, kau benar benar tidak malu disebut sebagai
Cukat Liang kedua, ternyata keparat Cilik ini telah
terjerumus ke dalam siasatmu yang lihay." puji Ku Loei
tiada hentinya.
Kakek tua itu tertawa hambar.
"Terhadap manusia yang berotak panjang seperti dia.
bila tidak kugunakan siasat yang palsu adalah sungguh dan
yang sungguh adalah palsu, mana mungkin ia terjerumus
kedalam jebakan yang telah kuatur?"
"Haaaah... haaaah... haaah... sekarang kita hanya tunggu
tenaga sinkang suhu berhasil mencapai pada puncaknya
maka seluruh kolong langit akan menjadi milik kita"
"Dewasa ini sembilan partai besar didataran Tionggoan
telah kehabisan jago jago lihaynya" ujar kakek tua itu
sambil mengelus jenggotnya, rencana kita yang sudah diatur
sejak dua puluh tahun berselangpun segera akan terlaksana,
waktu itu seluruh dunia persilatan yang ada dikolong langit
akan tunduk dibawah telapak laki perguruan Liauw sat
Boen kita......."
"Kesemuanya ini bisa berjalan lancar, tidak lain berkat
jasa Hoa Loo cianpwee yang tak terhingga besarnya."
Kakek tua itu mengulurkan lengannya menekan sebuah
tombol didekat pintu, maka jembatan kosong yang
tenggelam kedasar telaga tadipun perlahan lahan muncul
kembali keatas permukaan dan beserta dengan satu sama
lainnya.
Ia angkat kepalanya memandang rembulan yang
tergantung diwuwungan, ujarnya:
"Dewasa ini kita harus berusaha untuk meaghadapi tiga
dewa dari luar lautan, agar mereka tidak sanggup tancapkan
kakinya kembali didaratan Tionggoan."
Ia menghela napas panjang gumamnya lebih jauh :
"Susah payahku selama enam puluh tahun akhirnya
mendatangkan hasil juga, Hoo Mong Chin kau akan
menyaksikan betapa lihaynya rencanaku!"
Ia membelai jenggot sendiri yang panjang, seakan akan
mengeluh bisiknya kembali :
"Seluruh enam puluh tahun bidup berdampingan dengan
awan mega diangkasa, hidupku terasa hampa dan kosong
Aai
.... dunia kangouw.... dunia kangouw...."
Perlahan dia putar badan dan berjalan masuk, dibawah
sorotan sinar rembulan tampak perawakannya yang tinggi
besar berjalan rada pincang, rupanya dia adalah seorang
manusia yang berkaki pincang sebelah.
Ku Loei menoleh keatas permukaan telaga yang telah
menjadi tenang kembali: sambil tertawa dingin jengeknya:
"Kali ini Partai Tiam cong benar2 telah lenyap dari
permukaan bumi."
Air telaga yang dingin dan membekukan tubuh
menyusup kadalam tulang, begitu Pek In Hoei tercebur
kedalam telaga Lok Gwat Ouw, sekujur badannya seketika
jadi kaku.
Berteguk teguk air telaga telah terlelan kedalam
perutnya, paru parunya mulai jadi sesak membuat
badannya menggigil keras, dalam keadaan yang kritis
terpaksa sianak muda itu tutup seluruh pernapasannya.
Dengan susah payah dan penuh penderitaan ia meronta,
sepasang tanganaya tanpa sadar mendayung kesana kemari,
dalam sekejap mata golakan air telaga disekeliling tak
ubahnya seolab olah berubah jadi selembar jaring yang kian
lama membelenggu tubuhnya semakin kencang.
Deburan ombak yang kuat laksana berpuluh puluh buah
martil besar menghantam badannya, untung ia kenakan
kutang mustika pelindung badan yang segera menolak
sebagian besar tekanan tersebut, kalau tidak mungkin
badannya sudah hancur lebur termakan daya tekanan air
yang maha berat dan maha dahsyat itu.
Ia meronta terus tiada hentinya, sambil menahan napas!
tangannya mendayung kesana kemari, sianak muda itu
bernafas untuk munculkan diri keatas permukaan telaga.
Nsmun deburan ombak yang kuat dan dahsyat tiada
hentinya menumbuk tubuhnya, membuat badannya bukan
timbul keatas sebaliknya makin lama semakin tenggelam
kedasar air.
Dadanva terasa sakitnya bukan kepalang beberapa kali
mulutnya hendak dipentungkan untuk muntahkan barang
barang yang ada dilambung namun kesadarannya belum
hilang, sekuat tenaga ia gertak gigi kencang kencang agar
air telaga yang dingin membekukan tubuh itu tidak sampai
masuk kedalam perutnya.
Mula2 kesadarannya masih bisa dipertahankan, namun
lama kelamaan ia mulai kabur dan saking dinginnya
seluruh badannya jadi mati rasa.
Keempat anggota badannya mulai berhenti mendayung,
ia biarkan tubuhnya terseret oleh aliran diatas telaga
menuju ke arah bawah.
Mendadak..
Sekujur badannya gemetar keras, sepasang tangannya
dengan penuh penderitaan memutar kesana kemari,
membuat pakaian diiuar kutang wasiatnya robek2 dan
terlepas semua.
Air darah mulai mengucur keluar dari ujung bibirnya,
didasar air telega yang berwarna biru air darah tadi kian
menyebar kemana mana.....
Ketika itulah badannya telah tenggelam didasar telaga
dan bergelinding kedalam batu batu cadas yang memenuhi
dasar telaga itu.
Sebuah batu cadas yang runcing bagaikan pedang
merobek kantong kulit dipinggangnya dan beberapa butir
mutiara segera tercerai-berai.
-oo0dw0oo-
Jilid 12
DALAM SEKEJAP MATA AIR telaga yang biru
kegelap-gelapan jadi terang benderang, mutiara mutiara
yang jatuh diatas tanah tadi memberikan penerangan atas
daerah sekeliling tujuh depa disana.
Pek In Hoei masih belum sadar, mengikuti tonjolan batu
cadas tadi ia menggelinding kedalam selokan didasar telaga
tadi.
Akhirnya ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri... lama...
lama sekali tiba2 satu cahaya tajam membuat dia mendusin
kembali, darah yang mengucur keluar dari ujung bibirnya
semakin deras, dadanya naik turun dengan cepat dan sianak
muda itu kembali munstahkan darah segar.
Ingatan yang mulai kabur kian lama kian jsdi terang, ia
mulai teringat secara bagaimana dadanya dihantam Ku
Loei dengan ilmu pukulan golok perontok rembulannya
hingga menyebabkan dia terjerumus kedalam telaga.
Segera pikirnya didalam hati:
"Kenapa air telaga ini begitu dingin dan membekukan
tubuh? Walaupun begitu mengapa tidak sampai beku air air
disini? apa sebabnya demikian?"
Urat2 nadi syarafnya makin menyusut, rasa kaku
semakin menjadi dan tubuhnya gemetar semakin keras.
Hatinya jsdi terkejut. buru2 hawa murninya
dikumpulkan dipusar dan coba salurkan tenaga
lwaekangnya keseluruh tubuh, namun baru saja ia tarik
napas tiadanya
dadanya terasa sakit, begitu sakit hingga hampir saja ia
jatuh pingsan,
"Aaaai....!" akhirnya dia menghela napas. "Tak kusangka
ilmu pukulan golok perontok rembulan dari Ku Loei
mendatangkan kekuatan yang begitu dahsyat, bukan saja
kutang wasiatku bisa ditembusi isi perutku pun terluka
parah, ditambah lagi telaga yang mencekam, rupanya ajalku
telah akan tiba..."
matanya beralih kesamping, setelah memandang pusaran
air telaga dilingkaran luar, Pek In Hoei jadi paham, segera
pikirnya:
"Tidak aneh kalau aku meresa menderita luka dalam
yang sangat parah, rupenva hal itu disebabkan oleh karena
tumbukan gelombang air dalam TELAGA air. Kalau begitu
aku telah merusak keseimbangan takaran air telaga Leng
Gwat Ouw yang biasanya tak pernah disentuh oleh
siapapun jua, dengan terceburnya aku maka pusaran air
membuat aku harus merasakan tumbukan2 dahsyat
gelombang air ini..."
Kesadarannya kian jsdi tenang, pikirnya lebih jauh:
"Kenapa aku tak bisa mendapatkan pengertian mengenai
munculnya lingkaran cahaya berbentuk payung dalam air
telaga
ini..."
Sepasang tangannya meraba kesamping mencengkeram
beberapa butir mutiara yang bergelindingan dari tubuhnya,
muncul rasa sedih dalam hatinya Kembali dia berpikir:
„Apa gunanya Thian Liong Taysu meninggalkan begitu
banyak mutiara berlian bagiku? Hmm. Pek Swie, Ciat
Seng.... Yu Bing. apa gunanya semua benda itu? sekalipun
dengan membawa mutiara Pek Swie Coo aku bisa naik
keatas permukaan telaga, api gunanya kalau aku tak kuai
menahas dinginnya air telaga yang sangat membekukan
badan ini, bagi orang yang hampir mati macam aku,
sekalipun ditimbuni dengan mustika yang bagaimanapun
banyaknya juga percuma, benda itu seakan akan barang tak
berharga didalam pandangannya".
„Aaaaaa dia menghela nafas panjang.
Mendadak dari sisi tubuhnya muncul pula helaan nafas
yang amat pangjang.
Helaan napas itu seakan akan muncul dari neraka tingkat
sembilan, begitu sedih pedih dan menggugah perasaan
membuat siapapun yang mendengarkan jadi duka dan
mengucurkan airmata.
Walaupun begitu, bagi pendengaran Pek In Hoei suara
itu amat menakutkan hati ia jadi bergidik dan bulu pada
bangun berdiri. wajahnya yang telah pucat jadi berubah
semakin hijau, sinar matanya mencerminkan betapa kaget
dan terkejut dengan penuh seksama didengarnya lagi suara
tadi....
Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun. helaan napas yang penuh
kesedihan dan kegukaan tadi seakan akan lenyap tak
berbekas, tak kedengaran lagi
Ia gigit bibirnya keras2 lalu berpikir:
"mungkinkah urat syarafku sudah tidak normal? Kecuali
aku seorang mana mungkin ada manusia lain tinggal
didalam telaga ini dan mengehela napas."
Ia menertawakan diri sendiri. Gumamnya lebih jauh:
" Aku harus mati didasar telaga boleh dibilang
merupakan suatu peristiwa yang sukar ditemui sepanjang
masa, siapa yang menyangka aku Pek In Hoei tidak mati
karena terbakar, tidak mati karena keracunan, tidak mati
karena bacokan senjata sebaliknya harus mati kedinginan
didasar telaga yang begini membekukan badan!"
Pada saat itulah secara tiba2 kembali ia mendengar suara
benturan besi berkumandang datang. Air mukanya kontan
berubah hebat, ia pusatkan seluruh perhatiaannya untuk
mendengar.
Sedikitpun tidak salah suara itu memang suara
beradunya besi bahkan muncul tepat dibawah dasar telaga
dimana ia berada sekarang.
Hampir saja Pek In Hoei tidak percaya dengan telinga
sendiri, dengan gemetar tangannya meraba lumpur yang
basah didasar telaga memegang ganggang yang tumbuh
disisinya, sekarang ia baru percaya bila tubuhnya benar
benar berbaring didasar telaga.
"Didasar telaga ini apakah masih ada dasarnya lagi?"
Dengan hari kaget bercamput tercengang ia membatin:
"Tekanan didasar telaga begini besar dan berat tidak
mungkin dibawa dasar telaga masih ada dasarnya lagi....
tetapi bagaimana dengan suara beradunya rantai rantai besi
tadi?.... jelas suara itu muntul dari bawah dasar telaga...."
Saking tegang dan tercenganggnya ia sampai lupa
dengan rasa dingin yang merasuk ketulang sumsumnya,
seluruh perharian tenaga serta kemampuannya dipusatkan
jadi satu untuk mendengarkan suara beradunya rantai besi
itu.
Namun sekalipun ia sudah pertajam pendengarannya
dan pusatkan semua perhatiaanya,suara tadi tak
kedengaran lagi suasana kembali pulih dalam kesunyian...
Suasana didasar telaga hening bagaikan semuanya telah
mati. tak ada gema tak ada suara yang nampak hanya air
yang berwarna hijau serta bening bagaikan kaca, indah dan
menawan hati.
Pemandangan Aneh yang terbentang didepan matanya
saat ini membuat dia seolah olah berada disebuah gua.
"Didalam gua.... didalam gua...." Ucapan ini diulangi
sampai beberapa kali, dalam benakpun segera terlintas
gambaran sebuah gua yang penuh dengan tiang batu cadas.
Mayat bergelimpangan memenuhi permukaan gua itu,
setiap mayat telah berwarna hitam pekat.....
Dalam sekejap mata muncul delapan sosok mayat
didepan matanya, raut wajah mayat mayat itu
menampilkan rasa sedih dan menderita yang tak terhingga
terutama seorang lelaki berusia pertengahan . tangan
kanannya menggapai gapai ketengah udara seperti mau
mengambil sesuatu namun tak sesuatu apapun berhasil ia
ambil.
"Pedang penghancur sang surya." serunya kemudian
dengan nada terkejut. "Kiranya Sucouw Hendak mengambil
pedang mustika Su Jiet Kiam bukankah ia sudah
keracunan, apa gunanya ia ambil pedang pusaka tersebut?"
Dalam Benaknya dipenuhi dengan pelbagai persoalan
yang memusingkan kepalanya, masalah ini sudah
dipikirkannya selama setahun sejak ia masih berada
didalam gua diatas gunung hoasan tempo dulu, namun
hingga kini belum ada jawaban yang berhasil dipecahkan.
Mengapa mereka keracunan bersama sama? kenapa
mereka serentak melarikan diri kedalam gua? kenapa
mereka tinggalkan dahulu kepandaian silat andalannya
sebelum mati? mereka adalah ketua dari partai partai besar,
bagaimana mungkin keracunan berbareng? Siapakah yang
telah meracuni meereka?".
Serentetan pertanyaan berkelebat memenuhi benaknya,
namun kendati sudah dipikir bolak balik belum berhasil
juga dipecahkan.
sekujur badannya sudah mulai membeku, perasaannya
telah mati dan anggota badannya tak sanggup bergerak lagi.
satu satunya yang masih segar hanyalah ingatannya. disaat
saat menjelang kematiannya ia tetap tenang dan tidak
gugup.
"Oooh, sungguh dingin sekali." jeritnya didalam
hati,Aku tak boleh mati....... Aku tak boleh mati dulu
banyak persoalan yang harus aku kerjakan, ilmu pedang
penghancur sang surya tak boleh lenyap dari mukan bumi."
Mendadak..... ia tersentak kaget. otaknya tiba tiba
teringat akan sesuatu..... maka semua perhatiannya segera
dipusatkan keatas pedang Si Jiet Kiam tersebut.
Ia masih ingat, ketika pedang mustika itu diambilnya
tempo dulu secara tidak sengaja tangannya telah
menyentuh mutiara diujung gagang pedang, dalam
pandangannya ketika itu ia seolah olah menemukan tiga
lukisan manusiadan dua baris tulisan.
Setiap kali matanya dipejamkan, dua barisan tulisan tadi
segera tertera dengan jelas didepan mata, tanpa sadar
gumamnya:
"Liat Yng Sin kang, kepandaian maha sakti dari kolong
langit."
Diulangnya kata2 tersebut sampai beberapa kaii, sekian
harapan untuk hidup muncul dalam batinya, segera ia
mengengos napas dan dengan susah payah digerakkannya
tangan yang telah kaku itu untuk mencabut mutiara diujung
gagang pedangnya,
Sekilas cahaya merah merah memancar keempat
penjuru. tatkala tangan kanannya berhasil mencekat
mutiara tadi, tiba2 terasalah adanya suatu aliran hawa
panas memancar keluar dari benda tadi, menembus urat
uratnya yang kaku dan mengalir ke seluruh tubuhnya,
seketika lima jarinya yang kaku dapat digerakan kembali.
Dengan penuh rasa gembira ia cekal pedang mestika itu
kencang kencang, Kliiik....! diiringi suara nyaring. mutiara
pada ujung gagang pedang segera tenggelam kebawah,
tatkala benda tadi ditekan dengan jari tangannya,
muncullah tiga buah gambar manusia yang sangat kecil
sekali,
Disisi lukisan manusia tadi, tertera beberapa patah kata
yang berbunyi :
"Liat-Yang Sin Kang, Kepandaian Maha Sakti dari
Kolong langit".
Ia tarik napas panjang2. hati yang berdebar berusaha
ditenangkan kembali, semua perhatiannya dipusatkan
keatas dua baris kalimat tadi dimana ia dapat membaca
beberapa baris kata yang berbunyi demikian:
"Bencana besar melanda negeri Tayii, ketika Kaisar Aje
duduk dalam pemerintahan kaisar keluarge kita Toan Seng
mati ditangan penghianat, putra mahkota Toan To segera
melarikan diri jauh di negeri Thian Tok, disitu dengan
Susah payah ia berhasil melatih suatu kepandaian sim hoat
aliran Thian Tok paling atas yang bernama Thay Yang Sin
kang dalam tujuh tahun kemudian ia berhasil menguasai
kepandaian tadi, membasmi kaum penghianat dan pulihkan
kembali kejayaan kita.
Kepandaian silat ini kemudian turun temurun hingga
kini, ketika Cing Coe Cu dari partai Tiam cong dengan
membawa pedang Si Jiet Sin Kiamnya datang berkunjung,
dengan sembilan jurus ilmu pedangnya ia mendapatkan
ilmu tadi diubahnya menjadi Liat Yang Sin-kang".
Membaca sampai disini dangan hati kaget bercampur
tercengang Pek In Hoei segera berpikir:
"Cing Cioe-cu adalah couwsu pendiri partai Tiam-cong
kami, entah secara begaimana ia bisa mendapatkan ijin dari
kaisar keluarga Toan dari negeri Tayli untuk mengukir
kepandaian maha sakti dari negeri Thian-Tok itu diatas
gagang pedangnya, apakah hanya sembilan jurua Si-Jiet
Kiam hoat saja yang bisa ditukar dengan tiga macam
kepandaian bersemedi ini?".
Hatinya segera dibikin kaget dan tercengang oleh
penemuan yang tak terduga ini, rasa dingin jang menusuk
ketulang sama sekali tak dirasakan lagi.
Maka dibacanya tulisan itu lebih lanjut.
"Ilmu Sakti Liat Yang Sin kang atau Surya kencana serta
ilmu pedang penghancur sang surya sama sama
mengutamakan Hawa yang2 panas dan keras, cara
berlatihnya hampir sama dan peredaran hawa nyaris sama,
tatkala Kaisar angkatan kesebelas dari kerajaan kami
menemukan kejadian ini maka bersama sama Cing Cioe Cu
dilakukan penyelidikan selama belasan hari lamanya dalam
istana negeri Tayli, akhirnya tarciptalah satu kepandaian
gabungan yang maha sakti antara kedua macam ilmu
tersebut.",
Dibawahnya terukir beberapa kata lagi:
"Tulisan ini dibuat oleh ahli ukir nomor: WAHID
dikolong langit Toan Leng kaisar kesebelas negeri Tayli".
Selesai membaca tulisan tersebut, sianak muda she Pek
ini kembali berpikir didalam hatinya:
"Aaaai..... sungguh tak nyana seorang kaisar dari sebuah
negeri kecilpun tak bisa melepaskan diri dari keinginannya
untuk memiliki sebuah nama kosong.... walau begitu,
ditinjau dari ukirannya yang lembut dan halus, dia memang
tidak malu disebut ahli ukir nomor wahid dikolong langit."
Dengan pusatkan seluruh perhatian ia segera awasi
ketiga buah lukisan manusia itu dengan seksama, tampak
diatas gambaran tadi terukir jelas garis garis serta
kerutan kerutan lembut yang menandakan bagaimana
cara mengerahkan tenaga, menghimpun tenaga serta
melancarkan serangan.
Berada didasar telaga yang dingin, ingatannya jau lebih
jernih daripada ada didaratan, hanya dipandang beberapa
Kali ketiga buah lukisan tersebut telah hapal diluar kepala.
Begitulah sambil memeluk pedangnya ia duduk kaku
disitu, dalam benaknya terbayang terus ketiga buah lukisan
tadi, dengan mengikuti garis garis dalam lukisan tersebut
dicobanya untuk melatih kepandaian tadi, namun dengan
cepat ia temukan betapa dalam dan tukarnya untuk
mempelajari ilmu Liat Yang Sin kang tembus semakin
kedalam semakin sulit dipahami hingga pada akhirnya ia
tidak mengerti sama sekali.
Matanya segara dipejamkan rapat rapat, pikirnya:
"Waaaah.... sulit benar untuk mempelajari kepandaian
ini, jikalau dalam sekali tarikan hawa murni aku harus
menerjang tiga buah jalan darah sekaligus dan harus pula
segera kumpulkan kembali hawa murninya dipasar..... lama
kelamaan urat nadiku bisa pecah dan mati konyol...."
Tetapi pada saat itulah seluruh urat nadi dalam tubuhnya
telah membeku, satu satunya yang masih tersisa hanyalah
sedikit hawa murni yang berkumpul di Tan Thian atau
pusar,
Ia tertawa getir, dalam hati pemuda ini mengerti bila
dalam setengah jam kemudian tak ada bantuan maka hawa
murninya itu akan buyar dan jiwanya akan melayang.
Menghadapi bayangan maut yang setiap saat
mengancam keselamatannya, ia peluk pedang Si Jiet Sinkiamnya
erat2. mutiara psda gagang senjata ditekan diatas
lambungnya agar daerah sekitar puear terasa hangat dan
nyaman.
Sambil membelai pedang mustikanya Ia menghela napas
panjang, pikirnya didalam hati.
"Beginilah manusia yang hidup dikolong langit, terhadap
benda yang ada dikolong langit terlalu sayang dan terlalu
banyak meninggalkan kenangan, walaupun begitu apa
gunanya kalau benda tadi dipegangnya kencang2.
Ia tertawa sedih, pikirnya lebih jauh :
"Berhadapan dengan tantangan maut siapa yang bisa
melampaui nasib yang telah ditetapkan dan menangkan
suatu kematian? siapa pula yang bisa membawa
kehidupannya menuju kealam baka."
Memandang aliran didasar telaga yang perlahan2
bergerak, hatinya bergetar keras.
"Manutia dikolong langit ada siapa yang bisa
menyerupai diriku, sambil memeluk benda mustika
menikmati pemandangan aneh didasar telaga, bahkan aku
berhasil mendapatkan pula pelajaren sakti, pedang
mustika... kenapa aku harus tunduk begitu saja dengan
kematian? sekalipun nasibku memang ditakdirkan
demikian, kenapa aku harus melepaskan setiap kesempatan
untuk hidup yang kumiliki?"
Dengan cepat ia mengambil keputusan daiam hati
kecilnya.
"Bagaimanapun juga, sebelum ajalku tiba, aku harus
menguasai lebih dahulu ketiga macam lukisan tersebut.
perduli Thay Yang Sam Si dapat digunakan untuk mengusir
hawa dingin atau tidak, akan kucoba terus hingga detik
yang terakhir, aku tidak mau membuang setiap kesempatan
untuk hidup yang kumiliki."
Maka ia segera pejamkan matanya dan mulai berlatih
sesuai dengan petunjuk lukisan pertama.
Suasasa hening... sunyi... lama dan lama sekali. akhirnya
Pek la Hoei buka matanya, sekilas rasa kecewa.... putus
asa... terlintas diatas wajahnya.
Ia mendongak memandang air telaga yang hijau, dengan
rasa sedih gumamnya:
"Aaaai..... hari sudah terang tanah, kesempatan beberapa
jam telah kubuang dengan percuma."
Haruslah dikelabui sim-hoat dari lukisan itu sama sekali
berbeda dengan cara orang Tionggoan mempelajari simhoat
tenaga dalamnya, apalagi dengan aliran Tiam-cong
yang dipelajarinya, oleh sebab itu walaupun Pek In Hoei
telah berlatih satu jam lamanya, ia belum berhasil juga
mengerahkan hawa murninya mengikuti petunjuk yang
aneh dan kukoay dari ajaran itu.
Dengan mulut membungkam ia tatap air telaga yang
hijau, pikirnya :
„Sungguh tak kunyana dasar telaga begini tenang, begini
indah dan menarik bagaikan dalam alam impian..."
Tiba tiba ia teringat kembali akan satu masalah, dengan
hati sangsi pikirnya lebih jauh:
"Eeei.... kenapa di dasar telega tidak nampak seekor
ikanpan yang berenang kian kemari?"
Namun dengen ccpai ia berhasil mendapatkan
jawabannya, segerompok ikan kecil berwarna putih
berenang lewat didepannya.
Ikan ikan kecil itu mempunyai sisik berwarna putih
keperak perakan, kepalanya lancip dan badannya sempit
lagi panjang, ekornya halus lagi lembut seakan2 gemas tapi
yang bergerak dalam air.
Dengan bati kaget sianak muda itu membatin:
"Sungguh tak nyana didalam telaga yang dingin
bagaikan salju dan penuh dengan tekanan air yang kuat bisa
terdapat jenis ikan yang begitu aneh. ikan2 itu sempit dan
panjang bagaikan tali namun ia bisa bergerak kian kemari
tanpa mati terkena tekanan air yang berat, sungguh
merupakan suatu keajaiban... seandainya mereka tidak
memiliki badan yang sempit den panjang serta bisa
mengimbangi godakan ombak yang berat.
Tiba tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, sekujur
tubuhnya segera gemetar keras.
"Aaah, kenapa aku luapa.... bukankah dia bergerak ikuti
aliran ombak tersebut?"
Setelah menyadari bahwa ia berbasil memecahkan kunci
penting untuk mempelajari ilmu Tay Yang dengan
hati penuh
kegirangan bisiknya didalam hati:
"Asal kulupakan semua pelajaran Sim-Hoat yang pernah
kupelajari. bukankah otakku akan bersih bagaikan selembar
kertas putih? mau diberi Warna apapun bisa tertera dengan
gampang...
Maka Pek In Hoei segera buang semua pikirannya dari
dalam benak dan pusatkan segenap semangt serta
kemampuannya untuk mempelajari ilmu Tay Yang Sam
Sih.
Entah berapa saat sudah lewat, wajahnya yang pucat
makin lama berubah semakin merah, asap putih yang tipis
perlahan2 menyebar dari batok kepalanya.
Sepasang kakinya yang kaku kini bisa digerakkan
kembali, maka dari berbaring pemuda itupun bisa duduk
bersila.
Kabut putih kian lama berkumpul kiam memebal,
seluruh badannya hampir boleh dibilang terbungkus rapat,
Mendadak.....
Ia mendengus rendah, sepasang lengannya menyapu
kesamping, kabut putih disekeliling tubuhnya berubah jadi
butiran air dan menyebar kemana mana.
Hawa murni yang berada dalam tubuhnya dari jalan
darah Wie Liu segera menerjang jalan darah Ming boen, Gi
Kiong dan langsung mendesak masuk kedalam Ihian To
Hiat.
Mendadak... mulutnya bergetar keras, bagaikan ledakan
guntur menggoncangkan air dalam telaga,
Segumpal hawa panas muncul dari Tan Thian laksana
kilat menyebar keseluruh badan dan mengisi setiap jalan
darahnya.
Wajah Pek In Hoei berubah jadi merah membara,
keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dari
jidatnya, begitu panas hawa murni yang mengalir dalam
tubuhnya membuat tulang terasa dipanggang di bawah api
yang berkobar kobar
Suatu tekanan hawa dalam tubuhnya membuat kulit
serta dagingnya seperti merekah dan hangus. dengan penuh
kesakitan ia meraung keras kemudian loacat bangun.
Sepasang telapaknya diayun kemuka, tangan yang putih
halus dalam sekejap mata berubah jadi marah membara,
serentetan cahaya merah menyambar lewat air telaga
menggulung dahsyat dan menggetar bagaikan dilanda
gempa bumi.
Bumi bergoyang air te!aga mengguncang dahsyat,
seakan2 bumi akan kiamat.... permukaan tanah dimana
terkena hantaman tersebut seketika berubah jadi hitam
hangus.
Dengan pandangan tertegun Pek In Hoei memandang
ombak telaga yang menggulung daksyat dialas kepalanya, ia
tak mengerti genangan tersebut diakibatkan karena pukulan
"Yang Kong Bu Cau" atau cahaya Sang Surya Bersinar
terang atau bukan.
Ia tidak percaya bila dalam waktu yang amat singkat
bukan saja ia berhasil mempelajari tiga jurus ilmu Sang
Surya bersinar dari Liat Yang Sin kang bahkan dapat pula
mengusir hawa dingin yang telah membekukan tubuhnya,
dari rasa takut menghadapi maut ia jadi kegirangan
setengah mati.
Untuk sesaat ia berdiri tertegun ditempat itu, ia lupa
kalau tubuhnya masih berada didasar telaga Lok Gwat
Leng
"Aaaai...!" mendadak suara helaan napas yang amat
sedih berkumandang datang dari sisinya.
Pek In Hoei terperanjat, dengan cepat ia berpikir:
"Aku tidak pernah menghela napas panjang darimana
datangnya helaan napas yang begitu berat dan penuh
kepedihan Itu?".
Pedang Si Jiet Sin Kiam dicekalnya kencang-kencang,
dengan wajah penuh rasa terkejut ia memandang keatas
tanah, dimana ia jumpai tanah lumpur yang basah telah
berubah jadi hitam. bahkan batupun hangus seakan akan
baru saja terjadi kebakaran. Ia tidak akan menyangka kalau
ilmu Liat
Sin kang yang mengutamakan hawa Yang kang berhasil
ia pelajari dengan begitu cepat kerena saat itu badannya
berada di dasar telaga Lok Gwat Ouw yang dinginnya luar
biasa.
Disaat ia masih terkejut dan diliputi rasa heran itulah,
suara helaan napas panjang yang berat dan sedih tadi
berkumandang kembali diikuti suara beradunya rantai besi
dari dasar tanah.
Dalam keadaan yang segar, sekarang ia berani
memastikan bila helaan napas serta suara beradunya rantai
besi itu benar benar muncul dari dasar tanah.
Dibalik kesemuanya ini tentu ada hal yang tidak beres,
kalau tidak mengapa tiang batu itu bisa berdiri tegak didasar
telaga bagaikan sebilah pedang?".
Ditelitinya keadaan sekeliling tempat itu dengan
seksama, didasar telaga kecuali ganggang serta batu cadas
tidak tampak ada tiang batu setinggi tujuh depa macam itu
lagi.
Maka segera bentaknya keras keras :
"Siapa yang menghela napas dibawah?"
Serentetan suara beradunya rantai besi berkumandang
nyaring diikuti seruan kaget seseorang dengan nada yang
serak dan berat.
Sekarang Pek In Hoei semakin yakin kalau tiang batu itu
jauh menembusi dasar telaga, dan didasar telaga tentu ada
guanya.
Sambil mencekal pedangnya kencang kencang ia
salurkan hawa murninya keujung senjata, setelah itu ia
gurat satu tiang batu besar tadi.
Cahaya pedang berkilat, tiang batu tadi sebatas tanah
terpapas putus jadi dua bagian dan terlihatlah dasar
daripada tiang tadi.
Suara beradunya rantai kedengaran semakin nyata,
seakan akan suara itu muncul didepan mata. Serentetan
suara manusia yang serak dan berat dengan penuh rasa
kaget berseru ;
"Siapa yang tenggelam didasar telaga Lok Gwat Ouw?
jangan sekali kali kau patahkan tiang batu itu."
"Siapa kau ?" seru Pek In Hoei temaViu kaget. "Kenapa
kau berada didasar telaga?".
Orang yang ada didasar tanah itu rupanya tidak
menyangka kalau ucapan, lawan bisa terdengar begitu jelas,
ia merandek sejenak kemudian menjawab:
"Apakah air dalam telaga sudah kering cepat beritahu
kepadaku apakah air telaga telah mengering?".
"Apakah didasar situ tidak ada tanah kering ? Hey, apa
yang sedang kau kerjakan disitu ?".
"kalau air telaga belum mengering, siapa yang dapat
berdiri didasar telaga?" kembali orang itu berteriak teriak.
Pak In Hoei tidak menggubris ucapannya lagi, ia maju
satu langkah kedepan, kakinya menginjak tanah keras keras
kemudian dengan sekuat tenaga ditendangnya keatas tiang
tersebut.
"Kraaaak......!" sungguh hebat tenaga himpunan yang
disalurkan pemuda she Pek pada kakinya, diiringi suara
yang amat nyaring tiang batu itu patah jadi dua bagian
lumpur disekitar situ jadi gugur dan muncullah sebuah
lubang besar.
Pek In Hoei tidak ambil pusing siapakah penghuni gua
itu, sambil mencekal pedang pusakanya ia loncat masuk
kedalam gua tadi.
Mulai mulai air masih memenuhi gua tadi. namun
semakin bergerak kedepan permukaan tanah kian lama kian
meninggi hingga akhirnya muncullah sianak muda to dari
permukaan air.
Dihadapannya sekarang terbentang satu lorong yang
amat panjang, suasana diliputi gelap gulita, batu cadas
berserakan dimana mana . setelah berputar satu lingkaran
tibalah dia disebuah ruangan, disana terdapat seorang
manusia aneh berambut panjang sedang memandang
kearahnya dengan pandangan terperanjat.
Pek In Hoei sendiripun terkejut ketika berjumpa dengan
orang itu, pedangnya segera dilintangkan didepan dada siap
menghadapi segala kemungkinan ynng tidak diharapkan,
Manusia aneh itu mengenakan baju warna hitam yang
telah koyak koyak tidak karuan, sepasang tangan serta
kakinya diborgol deogan rantai besi, sementara ujung
rantainya terikat pada sebuah tiang batu yang sangat kuat,
sehingga mengingatkan anjing kita yang sedang dirantai
didepan rumah,
Pek in Hoei tarik napas daiam dalam, ia merasa hawa
dalam gua itu sangat apek dau lembab, membuat dada jadi
sesak dan perut jadi mual.
"Siapa kau ?" setelah hening sejenak, ia menegur dengan
sepasang alis berkerut, "Kenapa kau dikurung dalam gua
didasar telaga ini ? siapa yang mengurung dirimu ?"
Sepasang mata manusia aneh itu menatap wajah Pek In
Hoei tajam tajam, wajahnya masih menampilkan rasa kaget
dan tercengang yang tebal, setelah membungkam beberapa
saat lamanya ia mulai jadi tenang, bibirnya bergetar keras
dan meluncurlah beberapa kata:
:Siapakah kau?"
Bersama dengan selesainya ucapan tadi, darah segar
muncrat keluar dari mulutnya.
Pek in Hoei kerutkan alisnya, dengan pandangan minta
maaf dia melirik sekejap rantai besi yang mambelenggu
tubuh orang itu, sedang dalam hati pikirnya:
"Entah orang ini telah melanggar dosa apa, ternyata
badannya dirantai dengan rantai besi sebesar itu dan
dikurung dalam gua batu selembab ini, tentu disebabkan
aku mematahkan tiang batu tersebut barusan
mengakibatkan dia tarluka."
Maka dengan suara lirih segera ujarnya:
"Maaf... aku benar benar tidak tahu kalau kau terikat
diatas tiang batu itu...?"
Manusia aneh itu tidak menggubris ucapan Pek In Hoei,
sepasang matanya menatap pedang penghancur sang surya
tak berkedip, diantara sinar matanya jelas memancarkan
suatu keinginan yang membara.
Pek in Hoei bukanlah manusia goblok begitu melihat
keadaan lawan ia lantas dapat menebak keinginan orang itu
yang mengharapkan dirinya bisa mematahkan rantai besi
tadi dengan pedangnya.
Sskilas cahaya merah berkelebat lewat, Traug.... diiringi
letupan bunga api, ramai besi yaug kasar dan kuat tadi
segera kutung jadi dua bagian dan rontok keatas tanah.
Melihat rantainya telah putus napas manusia aneh itu
memburu keras, dari tenggorokannya perdengarkan suara
raungan lirih yang serak dan berat, sepasang lengannya
diayun kesana kemari bagaikan orang gila.
"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..." serunya sambil tertawa
kalap... Kau tak akan berhasil membelenggu diriku lagi!"
"Siapa kau?" kembali Pek In Hoei menegur. "Mengapa
Hoa Pek Too mengurung dirimu dalam gua batu ini?".
Manusia aneh itu tidak mengubris ucapan sianak muda
she Pek ini, bagaikan setengah gila ia lari menuju kearah
lorong.
Sekali lagi Pak In Hoei berteriak memanggil. orang itu
merandek dengan hati sangsi, namun akhirnya dengan
terhoyong hoyoag dia lari balik kehadapannya.
Dengan sekujur badan gemetar keras, ia tatap wajah Pek
In Hoei tajam tajam, bibirnya gemetar serunya:
"Orang muda terima kasih atas bantuanmu?"
Kembali dari mulutnya muntahkan darah segar,
sepasang tangannya menekan dada kencang kencang,
setelah menjerit badannya roboh kembali keatas tanah.
Menyaksikan keadaan orang itu Pek In Hoei berseru
tertahan, buru buru dia masukkan pedangnya kedalam
sarung, lalu berjongkok dan memasang bangun manusia
aneh tadi seraya bertanya :
"Kenapa kau ?"
Manusia aneh itu tertawa sedih.
"Selama dua puluh tahun aku terkurung didalam gua
yang gelap, lembab dan apek seperti ini, tiada harapan lagi
bagiku untuk berlari keluar, dengan badan yang diborgol
dengan rantai besi! ini paling jauh hanya satu tombak aku
bisa mancangkan, setiap hari aku hanya mengharap
harapkan kedatangan orang yang mengirim nasi begitu."
"Selama ini kau terkurung disini. apakah sama sekali tak
ada kesempatan bagimu untuk meloloskan diri...?"
Napas orang aneh itu sedikit memburu, dengan suara
gemetar jawabnya.
"Semua urat serta otot2 kaki dan tanganku telah
dipotong, tiga lembar urat nadiku sudah disayat2 lagi pula
dibelenggu diatas tiang batu yang begitu kuat, seandainya
kupatahkan tiang batu itu dengan kekuatanku sendiri, maka
kemungkinan besar dinding gua ini bakal bobol dan air
telaga akan menenggelamkan diriku, apa gunanya aku
berbuat hal yang tidak menguntungkan?"
Sekujur badannya gemetar keras, gumamnya seorang diri
:
"Hoa Pek Tuo, kau benar2 berhati keji. kau benar2 tidak
memberi kesempatan hidup bagi diriku..."
Mendadak ia cengkeram lengan kanan Pek In Hoei,
kemudian dengan suara serak sambungnya.
"Aku hendak minta pertolonganmu untuk mambunuh
seseorang, untuk bantuanmu itu aku pasti akan memberi
balas jasa kepadamu."
Ucapan ini membuat Pek In Hoei jadi kebingungan, ia
tidak menyangka kalau manusia aneh tersebut bisa
mengucapkan kata kata seperti itu, setelah sangsi sebentar
katanya:
"Aku..... kepandaianku sudah terlalu banyak."
"Aku mohon kepadamu." jerit orang aneh tadi dengan
menahan penderitaan.
Dari sinar matanya yang memancarkan permohonan
serta biji matanya yang mula2 pudar seakan akan manusia
yang hampir mendekati ajalnya, timbul rasa kasiban dalam
hati pemuda kita, terpaksa ia mengangguk.
"Baiklah, kukabulkan permintaanmu."
"Aku minta kau mewakili diriku untuk membuilah Hoa
Pek Tuo..."
"Hoa Pek Tuo?" bayangan kakek tua yang sedang duduk
bersila didepan bangunan air segera terbayang didepan
matanya. "Kenapa aku harus membinasakan dirinya?"
"Membasmi bibit bencana bagi dunia persilatan, dan
memberi kehidupan bagi para jago kang ouw".
"Apa maksud ucapan itu?".
Orang aneh itu membuka mulutnya lebar lebar namun
tak sepatah ketapun yang meluncur keluar, keringat dingin
mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya;
Pek In Hoei terperanjat, ia tarik napas panjang panjang,
telapak kirinya segera ditempelkan keatas lambung orang
itu dan salurkan hawa murninya melalui Tan Thian.
Mendapat bantuan tenaga dari luar, sekujur badan
manusia aneh itu gemetar keras, semangatnya segera
bangkit lagi, dan katanya:
"Karena dia sudah bersongkel dengan Cia Ku Sia Mo si
iblis sakti berkaki telanjang dari seng Sut Hay, Kioe Boen
Teh Sin Wu si Dukan sakti berwajah seram dari Lam Ciang
serta Ay Sian Pouw sat si malaikat suci berbadan cebol dari
negeri Thian Tok untuk bersama2 merampas daratan
Tionggoan dari tangan orang orang Bulim kemudian
membagi baginya menjadi daerah kekuasaan mareka."
Belum pernah Pek In Hoei mendengar beberapa nama
orang sakti itu, ia melengak dan segera bertanya :
"Bagaimana kalau orarg orang itu dibandingkan dengan tiga
dewa dari luar lautan ? apakah....."
"Tiga dewa dari luar lautan?" sekilas rasa girang
berkelebat diatas wajah manusia sneh itu. "Apakah kau
adalah anak murid dari tiga orang dewa sakti itu?"
Dengan hati tercergang Pek In Hoei menggeleng.
"Bukan. aku adalah anak murid partai Tiam cong".
Air muka manusia aneh itu segera berubah bebat, darah
panas bergolak dalam dadanya dan kembali ia
memuntahkan darah segar.
Melihat keadaan orang Itu kian lama makin bertambah
parah:, muramlah wajah pemuda kita, dengan cepat ia
tempelkan telapak kanannya keatas jalan darah "Ming Boen
Hiat" dipinggang orang itu, hawa murninya segera
disalurkan keluar dan beru aba mengendalikan golakan
bawa darab dalam dadanya.
Nsmun sayang tiga urat urat Im Mehnya telah disayat
orang sampai putus, setelah mengalami golakan batin yang
amat besar hawa darah yeng bergolak sukar untuk
dikendalikan lagi, hawa murni yang disalurkan dari luar
segera tercerai berai begitu tiba didada, jelas jiwanya sudah
tiada harapan untuk diselamatkan lagi.
Sepasang alis Pek In Hoei segera berkerut kencang, lima
jarinya bekerja cepat, dalam sekejap mata dua belas buah
jalan darah penting ditubuh manusia aneh itu telah ditotok,
dengan susah payah dia berusaha untuk mengumpulkan
hawa murni yang telah buyar itu.
Sayang usahanya sia sia belaka, kendati segala
kemampuan serta tenaganya telah dukerahkan, namun
hawa murni yang telah jadi lemah dan tinggal satu satunya
itu sukar dikumpulkan.
Ia seka keringat yang membasahi wajahnya. tarik napas
panjang panjang dan dengan wajah sedih menundukkan
kepalanya.
Hawa murni yang disalurkan kedalam tubuhnya pun
sedikit demi sedikit ditarik kembali, dalam keadaan seperti
ini percuma berusaha melindungi detak jantungnya belaka
agar jangan sampai putus.
"Apakah partai Tiam Cong dalam keadaan baik baik?"
tanya orang aneh itu dengan suara serak.
Pek In Hoei tertawa sedih.
"Apakah cianpwee kenal dengan anak murid partai Tiam
cong?"
"Aaah..... kejadian masa lampau telah berlalu bagaikan
asap yang buyar diudara, lebih baik tak usah diungkap
kembali".
Ia tarik napas panjang panjang setelah meronta ujarnya
lagi:
"Waktu yang ksmiliki sudah tidak banyak lagi, sekarang
juga akan kuberitahu kau semuanya kepadamu."
Napasnya memburu, dengan tersengal sengal ia
sambungnya lebih jauhL
"Kepandaian yang paling kuandalkan adalah ilmu
menyaru diri, sering kali aku muncul didalam dunia
persilatan dengan Pelbagai macam corak serta kedudukan,
oleh karena itu orang orang sebut diriku sebagai Cian Hoan
Lang Koen atau silelaki ganteng berwajah seribu.
Disebabkan oleh kehebatanku inilah aku bisa muncul dan
berada dalam kalangan yang berbeda, mengikuti rapat serta
persidangan orang lain yang sedang merencanakan siasat
busuk untuk mencelakai orang."
Sekilas warna merah menghiasi wajahnya yaag kusut,
setelah mengatur napasnya sejenak ia melanjutkan :
"Dua puluh tahun berselang, ketika aku berada dipuncak
Mong-Yong Hong digunung Hoa-san dengan tanpa sengaja
telah berjumpa dengan Cia Ku Sin Mo si iblis sakti berkaki
telanjang dari laut Seng Sut-Pay bersama istrinya Pek Giok
Jien Mo iblis khiem kumala hijau. Waktu itu dia sedang
berlatih main khiem diatas gunung, setiap pagi burung
burung yang ada disekitar sana esma sama beterbangan
kepuncak sana untuk mendengarkan irama khiemnya yang
merdu dan menawan hati.
"Benarkah dikolong langit terdapat kepandaian main
khiem yang begitu tinggi dan lihay ?" pikir Pek in Hoei
dengan alis berkerut. "Entah bagaimanakah permainan
khiemnya kalau dibandingkan dengan dewi Khiem
bertangan sembilan Kim Ie Eng? siapa yang lebih unggul
diantara mereka?"
Ia tidak tahu kalau iblis Khiem kumala adalah guru dari
Kim
In Eng. hanya saja sang garu suka menggunakan
kepandaian permainan khiemnya untuk orang, sedang sang
murid
mencampur adukkan perasaan cintanya kedalam irama
khiemnya antara kedua orang itu memperoleh julukan yang
bertentangan satu sama lain yaitu si iblis khiem serta si dewi
khiem,
Terdengar Cian Hoa Long koen melanjutkan kembali
kata2nya:
"pada waktu itu aku merasa heran dan tercengang, sebab
irama kbiem yang bisa menjinakan kawanan burung sudah
pasti bukan irama khiem biasa yang bisa dilatih oleh
manusia biasa apalagi didaratan Tionggoan belum pernah
ada orang yang berhasil mencapai tinggka begitu tinggi,
maka dari itu aku lantas teringat akan diri si iblis Khiem
kumala hijau dari laut Seng Sut Hay."
"Waktu itu belum sampai seperminum teh lamanya
irama khiem itu berkumandang diankasa, beribu ribu ekor
burung telah memenuhi angkasa membuat udara jadi gelap
dan semua pepohonan dipenuhi oleh burung burung tadi..."
"Begitulah makin mendengar aku semakin terpengaruh
akibatnya seluruh kesadaranku terpengaruh oleh irama
khiem tadi hampir saja aku tak sanggup menguasai diri dari
bergerak menuju kehadapannya, bila mana waktu itu aku
sampai munculkan diri niscaya dia akan bunuh diriku
sampai mati." Pek In Hoei terbelalak, ia bungkam dalam
seribu bahasa sementara otaknya membayangkan betapa
ngerinya kalau seluruh puncak sebuah bukit dipenuhi
dengan beribu ribu ekor burung.
Cian Hogn long Koen pejamkan matanya sejenak dan
meneruskan.
"Untung disaat yang paling kritis itulah dari tengah
udara berkumandang suara suitan panjang yang amat
nyaring dimana irama khiem saling lembut dan merdu tadi
seketika terdesak, akupun segera sadar kembali dari
lamurnya yang hampir menghampiri diriku kelembah
kehancuran."
"Suara suitan itu nyaring laksana guntur membelah bumi
disiang hari bolong, suaranya bergema diseluruh penjuru
menggetarkan semua bukit dan mengagetkan burung
burung yang telah memenuhi bukit dan suasana segera jadi
kacau, suara burung yang telah memenuhi bukit tadi
bergema memusnahkan kesunyian.
"Melihat kegembiraannya diganggu orang dengan wajah
penuh kegusaran si iblis khiem kumala hijau angkat
kepalanya memandang empat penjuru, saat itulah dari
tengah udara malayang datang sesosok bayangan manusia,
munculnya bayangan Jadi seolah olah seekor burung
raksasa yang terbang diiringi beratus ratus ekor burung,
dalam waktu singkat dia telah tiba dipuncak Mong Yong
Hong."
"Apakah orang itu adalah si iblis sakti berkaki telanjang
dari laut Seng Sut Hay?" sela Pek In Hoei,
Dsngan napas memburu Cian Hoan Long koen
mengangguk.
"Iblis sakti berkaki telanjang mempunyai kepala yang
botak, tinggi badannya mencapai sembilan depa dan tidak
memakai sepatu. Begitu tiba diatas puncak dia lantas
terbahak bahak aku mengerti betapa lihaynya sepasang iblis
dari laut Seng Sut Hay ini, maka begitu melihat munculnya
si iblis sakti berkaki telanjang tubuhku semakin
kusembunyikan dibalik sekumpulan, bergerak sedikitpun
tidak berani.
"Hubungan antara suami istri sangat aneh sekali, begitu
saling berjumpa segera meluncurlah kata kata makian yang
sangat Kotor, Setelah cekcok mulut mereka berduduk
bermesraan, membicarakan urusan rumah tangga dan
keadaan situasi didaratan Tionggoan."
Air mukanya berubah semakin merah, dengan penuh
emosi katanya.
"Sejak menderita kekalahan didaratan Tionggoan pada
enam puluh tabun berselang dan diusir balik kelaut Seng
Sut Hay, sepasang suami istri ini segera merencanakan
usahe pembalasan dendam dengan menghubungi jago jago
lihay disekitar perbatasan untuk bersama2 menghadapi tiga
dewa dari luar lautan dan menjajah dunia persilatan..."
"Tatkala aku mendapat tahu bahwasanya mereka telah
bekerja sama dengan 8 dewa cebol dari negeri Thian Tok
serta Tay Sauw Sin koen dari suku Oo can di Mongolia,
maka akupun lantas menarik kesimpulan pasti ada
seseorang dibelakang layar yang merencanakan kesemua itu
untuk membasmi semua partai besar".
Ia merondek sejenak, air mata jatuh berlinang2
membasahi wajahnya, sambil menahan isak tangis katanya.
Tatkala aku mengetahui rencana keji tersebut betapa
terkejutnya hatiku ketika itu, aku baru bersiap siap
mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk
menyelidiki siapakah orang yang mengatur rencana besar
itu. Maka akupun menyusup kedalam perkampungan Tay
Bie San Cung dan bercampur baur dengan mereka. Disitu
akupun berhasil mengetahui rencana busuk mereka yang
lebih mendalam Tapi sayang pada saat aku hampir
memahami sebagian besar dari rencana mereka, pada saat
itulah dalam dunia persilatan tiba-tiba tersiat berita yang
mengatakan aku telah menjadi anak buah si dukun sakti
berwajah seram dari Lan ciang dan membunuh anak murid
pelbagai partai besar.
OoodwooO
Jilid 13
MAKA ketika aku kembali keperguruan dan
membeberkan kejadian ini kepada suhu, ciangbun suhu
telah menurunkan perinlah untuk menangkap diriku serta
menjatuhi hukuman mati kepadaku. Karena itulah begitu
aku tiba digunung Tiam cong, mereka segara meringkus
diriku. Untung engkohku dengan memandang hubungan
persaudaraan secara diam dia telah lepaskan diriku dari
kurungan, maka dalam keadaan kecewa, putus asa dan
gusar aku kembali lagi keperkampungan Tay Bie San cung
dengan harapan bisa membinasakan otak dari semua
rencana pembasmian terhadap orang Bulim ini yaitu
manusia latah Hoa Pek Tuo......"
"Jadi Cianpwee pun anak murid partai Tiam Cong ?"
sela Pek In Hoei dengan hati terperanjat.
Dengan wajah penuh air mata silelaki tampan berwajah
seribu gelengkan kepalanya.
"Sejak dulu! aku telah diusir dari perguruan, aku telah
bukan menjadi anak murid partai Tiam Cong lagi."
Dia menghela napas panjang.
ketika aku telah kembali keperkempungan Tay Bie San
cung, sebelum mendapat kesempatan untuk membinasakan
Hoa Pek Tuo, mereka telah meracuni diriku lewat santapan
yang dihidangkan kepadaku. menanti aku sadar dari
pingsan tubuhku telah dikurung ditempat ini. Selama tiga
puluh tahun setiap detik setiap saat aku berusaha mencari
jalan keluar namun semua usahaku sia2 belaka, sebab aku
tahu bahwa diluar dinding gua ini merupakan air telaga."
sangat dingin, asal kupatahkan ruang itu maka tubuhku
akan kedinginan dan mati kutu".
Air mata yaog mengalir keluar semakin deras terusnya :
"Hoa Pek Tuo adalah manusia licik yang puava banyak
akal, untung dengan adanya peristiwaku maka terpaksa dia
harus bekerja dengan- hati hati lagi, rencana pembasmian
umat Bulim didaratan Tioinggoan pun telah diundurkan
lebih dari dua puluh tahun.
"Aaaai.... tetapi aku ......."
Pek In Hoei ikut terharu oleb pengalaman pahit yang
dialami Cian Huan Lang koen demi menyelamatkan umat
Bulim dari kehancuran tanpa terasa airmata jatuh berlinang
membasahi pipinya, sambil menggigit bibir ujarnya :
"Cianpwee, perduli bagaimanakah pandangan semua
orang dikolong langit terhadap dirimn, perduli kau pernah
diusir dari perguruan Tiamcong aku dapat memahami
kesulitanmu. aku pasti akan umumkan jasa jasamu yang tak
ternilai besarnya ini kepada semua orang dijagad, agar
orang orang Bulim dikolong langit memuji dirimu dan
menyanjung dirimu."
Lelaki tampan berwajah seribu menghela napas panjang.
Sejak pertama kali aku berjumpa dengan dirimu, aku
lantas tahu bahwa hanya kau seorang yang sanggup
melenyapkan bencana besar ini, pedang Sie Jiet Kiam yang
kau cekal sekarang bukan lain adalah pedang milik
suhengku yang lenyap sewaktu ada digunung Hoa-san, dan
kini kau berhasil mendapatkannya kembali, dlkemudian
hari kau pasti akan berhasil menjabat kedudukan
ciangbunjien dari partai Tiam cong...." Susiok couw partai
Tiam cong telah dibasmi orang hingga hancur berantakan."
bisik Pek In Hoei sedih.
"Apa? sungguhkah ucapanmu itu?" Teriak Cian Hoan
Long koen dengan mata melotot besar, darah segar muncrat
keluar dari mulutnya.
Pek In Hoei kaget setengah mati ketika menyaksikan
sikap susiok couwnya yang penuh diliputi emosi ini, hawa
murni yang disalurkan lewat tangan kanannya hampir tak
sanggup menguasai golakan hawa darah didalam tubuhnya.
Melihat jantungnya berdebar semakin keras dan telah
menunjukkan tanda tanda hendak mati, dengan cepat ia
membentak keras:
"Hei.... kalau kau tidak menceritakan latar belakang
kejadian ini, mana mungkin aku bisa balaskan dendam sakit
hatimu? cepat tenangkan hatimu...."
Sekujur badan lelaki tampan berwajah seribu gemetar
keras, seakan akan telah bartemu dengan malaikat ia tarik
napas dalam dalam.
"Aku pasti akan beritahukan seluruh latar belakang
kejadian ini kepadamu, kalau tidak aku tak akan mati."
"Susiok couw, maafkanlah kekasaran cucu muridmu
barusan."
Cian Hoa Lang koen mengangguk, giginya terkatup
kencang. sambil menahan lelehan air mata yang membanjir
keluar katanya:
"Dalam sepatuku ada sejilid kitab pelajaran bagaimana
caranya menyaru muka, ambilah dan pelajarilah dengan
seksama kemudian gunakanlah cara itu untnk mengubah
wajahmu dan berkelana didalam dunia persilatan, hanya
dengan cara ini dendam sakit hatiku bisa terbalas dan
semua usahamu bisa berjalan dengan lancar."
"Cucu murid pasti akan munculkan diri didalam dunia
persilatan sebagai Si Lelaki tampan berwajah seribu,
dendam sakit hati susiok couw sedalam lautan pasti akan
kutuntut balas."
Cian Hoan Lang koen menghembuskan napas panjang.
"Hoa Pek Tuo adalah manusia yang cerdik dan
mempunyai akal yang sangat banyak, bukan saja dia pandai
ilmu pertabiban, ilmu racun, ilmu barisan ilmu jebakan dan
kepandaian mencari berita, orangnya juga licik, kejam dan
sangat berbahaya, kalau berjumpa dengan dirinya kau harus
bertindak dengan sangat hati hati."
Mendadak hati Pek Ia Hoei bergerak, ia teringat kembali
akan keadaan didalam gua pada puncak gunung Hoa san,
dimana semua jari sembilan ketua partai besar serta Cia
Ceng Gak sipedang sakti dari partai Tiam Cong ditemukan
mati keracunan.
Didalam hati segera pikirnya:
"Mungkinkah mereka terjebak oleh siasat Hoa Pek Tuo
yang licik dan mati keracunan? kalau tidak rencana apa lagi
yang bisa berjalan dengan begitu rahasia dan sempurna
seperti itu hingga mengakibatkan ketua dari sembilan partai
besar mati bersama sama ?".
Dengan hati bergidik segera serunya:
"Cucu muridpun terkena siasatnya yang licik hingga
tercebur kedalam telaga Lok Gwat Oauw...?"
Cian Hoan Lang koen tidak memberi komentar atas
ucapan si anak muda itu barusan, diapun tidak menanyakan
apa sebabnya dia tidak mati oleh hawa dingin yang luar
biasa dalam air telaga itu, semua perhatian, tenaga maupun
pikirannya telah di pusatkan jadi satu untuk
memberitahukan seluruh peristiwa serta kejadian yang
diketahuinya pada masa lampau sebelum ajalnya tiba.
Dengan suara gemetar dan kurang jelas ia berkata
kembali
"Seluruh tubuh Hoa Pek Tuo merupakon racun yang
keji, disamping ia pandai menjebak orang terjerumus
kedalam perangkapnya, diapun pandai ilmu pertabiban
hingga dalam dunia kangouw dia dikenal orang sebagai
tabib tskti yang suka menolong orang. setiap penyakit yeng
diobatinya pasti sembuh dengan cepat, maka nama
harumnya tersebar dimana mana menutupi kebusukan hati
yang jahat terkutuk itu......
Berhubung wajahnya bersih dan penuh welas kasih,
sikapnya ramah tamah dan berbudi mulia maka orang
dikolong langit tidak nanti akan percaya kalau dia adalah
manusia paling keji dikolong langit. dialah olak daripada
rencana pembunuhan terhadap umat Bulim.
Dengan lengannya yang kurus kering Cian Hoan Lang
koen mencengkeram baju Pek In Hoei, teriaknya:
"Kau harus menggunakan akal serta kepintaranmu untuk
membongkar kebusukan serta kejahatannya, agar setiap
manusia dikolong langit tahu kalau dia adalah manusia
yang paling busuk didunia ini, kalau kau tidak berbuat
demikian maka dengan tenagamu seorang tak nanti bisa
melakukan banyak hal, ingat! ingatlah! jangan sampai kau
mengalami nasib seperti diriku."
Dengan air mata bercucuran Pek In Hoei mengangguk.
"Akan cucu murid ingat selalu pesan susiok couw ini,
aku tidak akan mengbaikan nasehatmu dan bertindak
seperti apa yang telah ditunjuk."
(Oo-dwkz-oO)
9
Cian Hoan Lang Koen menghembuskan napas panjang.
"Hanya sayang aku tak dapat membantu dirimu, aku
hampir mati."
Pek In Hoei tak dapat menahan air matanya yang
mengalir keluar bagaikan bendungan yang bobol, ia
bungkam dalam seribu bahasa dan tidak mengucapkan
sepatah katapun, sebab setelah mengucapkan kata kata
sebanyak itu maka masa terang sebelum padam yang
dialami Cian Hoan lang koenpun mencapai pada akhirnya,
setelah seluruh tenaga badannya musnah, jiwanyapun tak
akan tertolong lagi.
"Setelah aku mati....." kata lelaki tampan berwajah seribu
sambil pejamkan matanya. Janganlah kau bawa pergi
mayatku, tenggelamkan saja kedasar telaga, sebab dengan
demikian maka ada kemungkinan jejak lelaki tampan
berwajah seribu akan muncul kembali dalam dunia
persilatan. Aaaai... selama tiga puluh tahun..."
Mendadak ia pentang matanya lebar lebar.
"Dapatkah kau berikan pedang mustika penghancur sang
surya itu agar kulihat sejenak? sudah puluhan tahun
lamanya aku tak pernah melihat mustika perguruan, ooh
betapa rindunya batiku."
Pek In Hoei tidak membantah, ia lepaskan pedangnya
dan serahkan ketangan orang aneh itu, yang mana segera
diterima oleh lelaki tampan berwajah seribu dengan tangan
gemetar.
Sambil membelai sarung pedang itu, kata Cian Hoan
Lang koen dengan suara lirih,
"Setelah lenyap berpuluh puluh tahun lamanya sungguh
beruntung pedang pusaka perguruan kita berhasil
ditemukan kembali, Aaaai.... teringat ketika aku masih
muda memandang pedang penghancur sang surya yang
digantung diatas dinding kamar suhu, tak tahan ingin
kulihatnya sebentar.
Mendadak ucapannya putus dan badannya terkulai
kebawah.
Melihat keadaan itu Pek In Hoei berseru tertahan,
dengan cepat dia meraba pernapasan orang tua itu, ternyata
denyutan jantungnya telah berhenti dan jiwanya telah
melayang.
Air mata segera mengucur keluar dengan detilnya,
dengan suara lirih bisiknya :
"Beristirahatlah dengan tenang, aku akan muncul
kembali didalam dunia persilatan sebagai si lelaki tampan
berwajah seribu, akan kugemparkan seluruh Bulim dengan
perbuatan perbuatan yang luar biasa."
Perlahan lahan ia letakkan jenasah Cian Hoan Lang
koen keatas tanah, kemudian melepaskan sepatunya dan
mengambil keluar Sejilid kitab yang disembunyikannya
disitu.
Kemudian setelah mengikat baik pedangnya, ia jatuhkan
diri berlutut dihadapan jenasah susiok couwnya dan
memberi hormat dengan penuh rasa iba, doanya:
"Sosiokcouw, beristirahatlah dengan tenang dialam baka,
cucu murid pasti akan laksanakan perintahmu, Nah selamat
tinggal."
Tiba tiba... dari ujung lorong sebelah dalam
berkumandang datang suara genta yang amat lirih,
walaupun perlahan sekali suaranya namun cukup
mengejutkan hati pemuda kita. ia segera berpaling,
tampaklah cahaya apu muncul diujung lorong sebelah sana
dan perlahan bergerak mendekat.
Dengan ai!s berkerut buru buru Pek in Hoei membesut
air mata yang membasahi wajahnya, kemudian sambil
membopong -jenasah Cian Hoan Lang koen mengundurkan
diri ketempat kegelapan.
Dsngan punggung menempel diatas dinding, ia awasi
terus cahaya api yang kian lima kian mendekat, dengan
cepatnya sesosok bayangan manusia telah muncul disitu,
ditangan kirinya orang itu membawa sebuah lampu lentera
sedang tangan kanannya membawa sebuah pedang,
wajahnya serius dan gerak geriknya sangat berhati hati.
Meminjam sorotan cahaya lampu lentera yang
menerangi kegelapan, Pek In Hoei dapat melihat raut wajah
orang itu. Dia adalah seoraeg pemuda yang berwajah
ganteng. sepasang alisnya panjang melentik keatas
hidungnya mancung dan gagah sekali.
Dalam hati segera pikirnya:
"Walaupun dia berwajah ganteng. namun sayang terlalu
dingin dan ketus, seakan akan dalam pandangannya tak
seorang, manusia dikolong langit yang dipandang olehnya."
Sementara ia masih termenung, pemuda tadi telah tiba
didepan tumpukan batu cadas.
"Aaah. dimana orangnya?" terdengar ia berseru kaget,
Tatkala dirasakan cahaya lampu lenteranya sacara tiba
tiba berubah jadi redup dengan bati melengak ia
mendongak segera matanya tertumbuk dengan sebutir
mutiara.
Pek Swie Coe yang menggeletak disana.
"Aaaai. mutiara Pek Swie Coe. Bukankah mutiara itu
adalah mutiara Pek Swie Coe." serunya dengan rasa kaget.
"Tidak salah, mutiara itu adalah mutiara Pek Swie Coe."
Tanpa mengeluarkan ssdikit suarapun tahu tahu Pek In
Hoei telah munculkan diri dari tempat persembunyiannya.
Orang itu terperanjat, dengan cepat ia loncat mundur
satu langkah kebelakang sambil silangkan pedangnya
didepan dada, siap menghadapi segala kemungkinan yang
tak diinginkan.
"Siapa?" hardiknya.
"Aku."
Ketika orang itu berhasil melihat jelas wajah Pek In Hoei
yang tampan serta mengenakan kutang mustika pelindung
badan yang memancarkan cahaya gemerlapan, untuk sesaat
ia dibikin tertegun dan berdiri melongo.
"Siapakah kau ?" tegur Pek In Hoei sambil tersenyum.
"Pak In Hoei..." jawab pemuda tadi dengan wajah
dingin, ditatapnya pihak lawan dengan pandangan tajam.
"Apa? kau adalah sijago pedang berdarah dingin Pek In
Hoei?" seru pemuda kita terperanjat.
Pemuda yang menamakan dirinya jago pedang berdarah
dingin itu mengangguk sombong.
"Tidak salah." ia lirik sekejap Pek In Hoei lalu balik
bertanya:
"Dan siapakah kau?"
"Sekarang, aku sendiripun tidak tahu siapakah
sebenarnya diriku ini?"
"Apa maksud ucapanmu itu ?"
"Sebab namaku hanya satu tetapi sering kali digunakan
orang lain uatuk gagah gagahan coba pikirlah, dalam
keadaan seperti itu apakah aku bisa memahami siapakah
sebenarnya diriku?"
"Heeeee.... heeeeh....... heeeeh....... rupanya kau adalah
seorang kenamaan hingga ada orang yang memalsukan
namamu untuk gagah gagahan.
"Heeeeh.... heeeeeh....heeeeh..... sebenarnya aku hanya
seorang prajurit tanpa nama yeng tak dikenal oleh orang,
kangouw. tetepi dalam hatiku benar benar merasa
tercengang, kenapa dikolong langit bisa terdapat menusia
goblok yang memalsukan namaku untuk menjagoi kolong
langit?...."
Air muka pemuda itu kontan berubah hebat.
"Kau sedang memaki siapa?" tegurnya.
"Aku sedang memaki orang yang telah menggunakan
namaku, kenapa sih? toh aku tidak lagi memaki dirimu?"
kemudian dengan wajah menunjukkan rasa tercengang
tambahnya. "Apakah kaupun seringkali menggunakan
nama orang lain....."
"Hmmmmm... pandai benar kau bersandiwara
"Ooooh. cerdik benar kau hey pemuda ganteng aku
memang pandai sekali bersandiwara!"
"Kau ingin merasakan sebuah tusukanku?" tanyanya
dengan wajah meringis.
"Haaaaaah... haaaaaaa..... haaaaaa....... Pek In Hoei
tertawa terbahak bahak, ia maju selangkah kedepan.
kebetukan sekali aku memang ingin mengetahui dengan
dasar apa saudara menggunakan nama Pek in Hoei malang
melintang dalam dunia persilatan sehingga memperolej
julukan sebagai sijago pedang berdarah dingin."
Orang itu bungkam dalam seribu bahasa.
Padangnya dibabat kemuka dan melancarkan sebuah
serangan dengan jurus yang sangat aneh.
Merasakan datangnya ancaman Pek in Hoei geserkan
kakinya menyingkir dua langkah kesamping lima jarinya
dipentang dan segera menyambar jalan darah pek Jie Hiat
ditubuhnya.
Serangan ini datangnya cepat diluar dugaan dikala
berganti jurus sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda
apapun. terasa cahaya pedang menyambar lewat tahu tahu
ujung pedangnya telah mengancam diatas siku si anak
muda itu.
Pek in Hoei tetkesiap, lengan kirinya buru buru ditekuk
kebawah, jari tangannya secara tiba tiba menyebar kedepan
menutul kcarah gagang pedang musuh.
Totokan jarinya barusan telah menggunakan Imu jari
kim Kong cie yang ampuh dari partai Siauw lim. angin
serangan menderu dero dengan hebatnya,
Triing...... dengan telak totokan tadi bersarang digagang
pedang lawan, membuat terlempar beberapa coen
kesamping.
Melihat senjatanya disentil sampai mencelet, orang itu
berseru kaget. buru buru pedangnya diobat ablikan
keseluruh perjuru, dalam sekejap mata hawa pedang
melanda dahsyat cabaya tajam mengelilingi seluruh
angkasa dan mengurung Pek [n Hoei ditengah kalangan,
"Hmm." jari serta telapak Pek In Hoei dilancarkan
berbareng mengirim lima serangan berantai, setelah
membendung ancaman musuh, sepasang telapaknya
kembali disodok kedepan dengan jurus "Lak hoo Mong
Mong" atau Enam Berpadu dunia kosong, seluruh jalan
maju pihak lawan segera terkunci.
"Hey, ilmu pedang apakah yang kau gunakan?" segera
teriaknya dengan suara keras.
"Hmm." sambil bungkukan badan orang itu loncat
kesamping, mendadak ujung pedangnya berputar dan
menusuk dari samping. Inilah ilmu pedang Liuw sat Kiam
Hoat dari gunung pasir!"
"Liuw Sat Kiam hoat " tanya Pet In Hoei tertegun. "Jadi
kau adalah anak murid partai Liauw sat Boen yang ada
dilaut Seng sut hay?"
Ia tarik napas dalam dalam, kakinya dengan cepat
mundur lima langkah, pergelangan diputar pedang mustika
penghancur suryapun diloloskan dari sarungnya.
Dalam pada itu pemuda tadi sedang melancarkan tiga
buah serangan berantai, jurus demi jurus ia mendesak terus
kedepan, namun secara tiba tiba pandangannya jadi kabur.
cahaya tajam disertai hawa pedang yang menggidikan hati
tahu tahu mendesak tubuhnya.
Ia terkesiap, sambil tarik kembali pedangnya buru buru
mengundurkan diri kebelakang, pedangnya diputar
membentuk satu lingkaran. dengan sekuat tenaga
dicobannya untuk melepaskan diri dari pengaruh lawan
yang kuat dan tiada bertepi itu.
Pek in Hoei mendengus dingin, ombak pedang
menggulung kembali, dengan memakai jurus "Hoo Ek Si
Jiet" atau Ho Ek memapah matahari ia serang lawannya.
Dalam sekejap mata cahaya tajam yang memancar
keluar dari ujung pedangnya mencapai dua coen
panjangnya, mengikuti gerakan tersebut ia babat senjata
lawan sehingga patah jadi beberapa bagian.
Setelah itu sambil tertawa tergelak, pedang Si Jiet Kiam
menggulung dan menyapu kukungan pedang yang sedang
berhamburan keatas tanah tadi segera hancur berkeping
keping.
Cahaya tajam menyebar ketengah udara bagaikan hujan
gerimis dikala orang tadi sedang berdiri tertegun dengan
hati kaget, pedangnya kembali menyapu kemuka
menyambar batok kepala lawan, kopiah yang dikenakan
orang tadi segera terlepas,
Mendadak cahaya tajam sirap kembali, dan pedangnya
telah disarungkan kembali dipinggangnya.
Tatkala ia mendongak kembali, tampaklah rambut orang
itu panjang lagi hitam, bagaikan air terjun terurai diatas
pundaknya.
"Aaaah...... kau..... kau adalah seorang wanita?" jeritnya
terperanjat.
Mimpipun Pek In Hoei tidak pernah menyangka kalau
orang yang memalsukan namanya dan berkelana dalam
dunia persilatan sehingga mendapatkan julukan sebagai
sijago pedang berdarah dingin bukan lain adalah seorang
wanita, bahkan seorang gadis yang cantik jelita.
Dikala Pek in Hoei sedang menikmati kecantikan
wajahnya dengan sinar mata tertegun gadis itu berseru
tertahan kemudian sambil menutupi wajahnya putar badan
dan melarikan diri lorong tersebut.
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benak si anak
muda itu. bagaikan disambar petir disiang hari bolong ia
memandang bayangan punggung gadis yang sedang berlalu
itu dengan mata mendelong, suatu bayangan yang serasa
pernah dikenal muncut dalam matanya.
"Aaaaah. dia adalah Wie Chin Siang," akhirnya ia
berseru tertahan. "Hey....... Wie Chin Siang tunggu
sebentar."
Suaranya memantul dalam lorong yang panjang itu,
namun tak kedengaran suara jawaban dari gadis itu,
Dalam sekejap mata pelbagai persoalan yang
memusingkan kepala memenuhi benaknya.
"Bukankah dia adalah putri kesayangan dari Gubernur?
darimana bisa memiliki ilmu silat."
"Kenapa ia berkelana didalam dunia persilatan dengan
memalsukan namaku?"
"Kenapa ia bisa muncul didalam perkampungan Tay Bie
San Cung dan muncul didalam lorong rahasia dibawah
dasar telaga?"
"Kenapa ia hendak mencari Cian Hoan Lanh Koen? dan
darimana pula bisa tahu kalau aku terkurung disini?"
Pelbagai persoalan itu bagaikan benang ruwet
menyelimuti benaknya, membuat ia bingung dan tidak
habis mengerti.
Ia menghembuskan napas panjang, angkat kepalanya
memandang mutiara Pek Swie Coe didinding gua dan
akhirnya berkelebat keluar dari lorong itu.
Lorong tertebut amat panjang sekali, bukan saja gelap
gulita bahkan lembab dan bau busuk sekali.
"Wie Chin Sang." teriak Pek In Hoei keras keras.
Suaranya memantul kembali dari tempat kejauhan
kemudian bergema dan mengalun , tiada hentinya dalam
lorong tadi.
Mendadak.. badannya yang sedang bergerak cepat itu
merandek ditengah jalan kemudian miringkan badan dan
menoleh kekanan.
Ternyata dari kedua belah dinding lorong yang gelap dan
luasnya mencapai delapan depa itu memancarkan cahaya
terang berwarna hijau, warna itulah yang membuat si anak
muda she Pek ini jadi melengak.
Ia tidak mengerti apa sebabnya dalam lorong yang
panjang dan pada dinding bagian tanah dipelesi dengan
bubuk belerang.
Ia tak bisa memecahkan teka teki ini namun ia bisa
memahami sampai dimanakah kegunaan benda itu sebagai
bangunan yang dibangun sendiri oleh Hoa Pek Tuo untuk
mengurung si lelaki tampan berwajah seribu, tentu dia
sudah bikin persiapan persiapan seperlunya untuk
mencegah orang Itu melarikan diri.
Dalam hati pikirnya:
"Entah bagaimana Wie Chin Siang bisa berlalu dari
lorong ini dengan gampang dan leluasa disekitar tempat ini
tentu ada lorong rahasia lain......."
Ia tidak berhenti lebih lama lagi disitu, badannya
bergerak dan segera lari menuju ketempat yang terang
didepan sana.
Di kala ia sedang berderak itulah. ditemui di dinding
lorong yang telah ditaburi dengan bubuk belerang itu
menindak bergerak keatas akhinya kini miring kesamping,
samentara sebuah pintu batu muncul diujung lorong, dari
balik pintu tadi memancar masuk cahaya yang amat terang.
Hatinya jadi girang. cepat cepat dia lari maju kedepan
pintu batu tersebut.
Seluruh pintu batu itu tersebut dari batu granit, diantara
keripan sinar posfor tampak empat huruf besar yang
berwarna merah terpancang disana.
Pek In Hoei mendongak, terbaca olehnya tulisan itu
berbunyi demikian.
"Jangan sentuh pintu ini."
Segera pikirnya:
"Entah benar tidak peringatan itu? apakah bencana aneh
segera akan kutemui bila kusentuh pintu itu?".
Ia gigit bibirnya menahan emosi. kembali pikirnva lebih
jauh.
"Asalkan, pintu batu itu kutarik maka badannya dengan
cepat dapat loncat keluar, sekalipun didalam loteng ini
benar benar sudah dipasang alat rahasia yang sangat lihay,
rasanya tidak nanti bisa lukai badanku!",
Suatu keinginan yang meluap luap berkobar dalam
dadanya membuat si anak m uda kita beberapa kali hendak
membuka pintu baja itu, namun setiap kali pula ia berhasil
menahas keinginannya yang berkobar kobar tadi.
Walaupun begitu ingatan tersebut selalu berkecambuk
dalam benaknya, baru saja ia mundur selangkah dengan
hati sangsi kembali badannya maju satu langkah kedepan.
"Apakah aku harus mengundurkan diri hanya
disebabkan oleh empat huruf yang terpancang diatas pintu
itu? kalau cuma h
karena soal kecil aku lantas lari, apa gunanya aku jadi
keturunan keluarga Pek yang gagah perkasa? buat apa aku
jadi seorang lelaki sejati yang berhati jantan?......"
Secara tiba tiba ingatan itu berkelebat dalam benaknya,
pemandangan tatkala ia digandeng oleh ayahnya berangkat
kegunung Tiam cong pun segera terbayang kembali didepan
mata.
"Aku sama sekali tidak suka belajar silat tetapi sekarang
aku telah terjerumus ke dalam kancah masalah dunia
kangouw, sudah sepantasnya kalau aku harus melupakan
kesukaan serta ketidaksenangan diri pribadi!" gumamnya
seorang diri, Ayah apa yang kulakukan sekarang semua
adalah demi dirimu, demi partai Tiam cong dan kini aku
harus memikirkan pula bagi keselamatan seluruh umat Bu
lim yang ada dikolong langit."
Ia merasa tanggung jawab yang berada dipundaknya
kian lama kian bertambah berat, saking beratnya sampai dia
harus bertindak dengan hati hati dalam menghadapi segala
persoalan, dia harus waspada dan teliti agar dirinya tidak
sampai terluka lebih dahulu.
Sambil termenung ia tarik napas dalam dalam, telapak
kanannya mendadak diulur kedepan tiap mendorong pintu
itu,
Tetapi baru sampai ditengah jalan, mendadak satu
ingatan berkelebat dalam benaknya.
"Mungkinkah diatas piutu batu ini telah diolesi dengan
racun keji dengan bubuk belirang itu sebagai kamuflase?
tetapi karena takut orang tak berani meraba bubuk belirang
itu maka ditulisnya empat huruf besar itu untuk memancing
rasa ingin menang bagi yang melihat hingga terjerumus
kedalam perangkapnya ?"
Setelah berpikir demikian maka tungannyapun cepat
cepat ditarik balik, pedang muitika pecghancur sang surya
yang berada dipunggungnya dicabut keluar, dengan
memakai ujung senjata itulah ia siap membuka pintu batu
itu.
Mendadak...... terdengar suara jeritan kaget
berkumandang datang dari belakang tububnya.
Dengan menengok ia menoleh kebelakang, terlihat
olehnya entah sejak kapan Wie Chin Siang telah berdiri
kurang lebih setombak dibelakangnya, wsktu itu ia sedang
menutupi mulutnya dengan tangan kanan dan memandang
kearahnya dengan mata penuh rasa kaget.
"Ooooh, ternyata kau belum pergi dari sini." tegurnya
dengan nada tercengang.
"jangan tarik pintu itu..." teriak gadis itu sambil
menuding kearahnya.
"Ooouw. aku masih menduga karena urusan apakah
sehingga membuat dia terperanjat dan kaget, kiranya dia
takut aku mendorong pintu batu ini." pikir Pek In Hoei,
sambil tersenyum segera jengeknya:
"Apakah kau takut aku mendorong pintu besi itu
sehingga membuat semua yang ada didalam perkampungan
Tay bie San Chung pada tahu kalau dikolong langit masih
ada juga orang yang memalsukan nama Pek In Hoei...?"
Wie Chin Siang tidak menggubris sindiran sianak muda
itu, ujarnya dengan wajah berkerut:
"jangan sekali kali kau sentuh pintu batu itu, kalau tidak
maka selama lamanya kita tak akan bisa keluar lagi dari
sini."
Pek in Hoei tertegun dari sikap serta wajahnya yang
menunjukkan keseriusan ia yakin bahwasanya gadis itu
bukan sedang berbohong, pedang sakti penghancur sang
surya yang teiah berada didalam celah pintu baru itupun
segera dicabut keluar.
"Haaaah..... haaaaah...... haaaaah......sungguh tak nyana
kau sebagai anak murid seng sut hay ternyata takut
terkurung disini, sungguh menggelikan masa terhadap
orang sendiripun mereka tega turun tangan keji.
Wie Chin Siang gigit bibitnya kencang kencang, dari
wajahnya jelas terlihat bahwa ada meksud meninggalkan
tempat itu.
"Suhuku berkata bahwa pintu batu itu merupakan kunci
penggerak yang mengunakan selutuh alat rahasia dalam
lorong ini, jangan sekali kali pintu itu disentuh atau digeser.
terdengar ia berkata.
"Siapakah suhumu itu? darimana dia bisa tahu akan
rahasia lorong dalam perkampungan Tay bie San cung
ini?".
"Sudah amat lama suhuku mencari dirimu nssi itu tidak
tahu siapakah dia?"
"Siapakah suhumu itu ?" dengan tercengang dan tidak
habis mengerti Pek in Hoei bertanya,
"Kenapa aku harus bcritahukan kepadamu ?",
Pek In Hoei tertegun, sebenarnya diapun ingin buka
suara menegur gadis itu. apa sebabnya berkelana dalam
dunia persilatan dengan menggunakan namanya, tatapi
sebelum ucapannya sempat diutarakan keluar, mendadak
dari balik pintu gua itu berkumandang datang suara tertawa
dingin yang seram dan mengerikan.
Sekalipun kalian hendak andalkan bantuan dewa atau
malaikat, jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan
selamat."
"Siapa disitu?" hardik pemuda she Pek sambil berpaling.
Dari balik celah pintu batu munculah seorang kakek tua
berbadan kurut kering dengan jenggot kambing menghiasi
jenggotnya. ketika itu dia sedang memandang kearah
mereke berdua demgan wajah penuh nafsu membunuh.
"Tak seorang manusiapun dapat melarikan diri dari
Lorong Pengurung naga ini." terdengar kakek itu
menjengek dengan suara seram Sekalipun kau tahu akan
namaku juga percuma. tak ada artinya."
Ia bergeser kedapan empat langkah. mendadak telapak
kanannya diangkat tinggi tinggi sehingga tampaklah kulit
telapaknya perlahan lahan berubah jadi putih keperak
perakan.
Tatkala menyaksikan orang inipun menggunakan ilmu
golok perontok rembulan yang sangat lihay, bahkan cahaya
perak yang terpancar kelaur dari telakpak yang jauh lebih
cemerlang dan tajam daripada sewaktu Ku Loei yang
menggunakan, hatinya bergetar keras, tanpa sadar serunya:
"Kau adalah sigolok perontok rembulan Ke Hong."
"Haaa.... haaaa.... haaaa... sedikitpun tidak salah, akulah
Ke Hong".
"Sungguh aneh sekali," diam diam Pek in Hoei berpikir.
Bukankah Ke Hong adalah murid dari Ku Loei si Raiul
Pembenci langit dari laut Seng Sut Hay? kenapa ilmunya
jauh melebihi suhunya sendiri?".
Desiran angin tajam berkelebat lewat disisi. tubuhnya,
tahu tabu Wie Chia Siang telah loncat kesisi tubuhnya
sambil bertanya dengan suara kaget
"Siapa yang ada disana?".
Pek In Hoei merasakan bau harum semerbak yang aneh
berhembus lewat. ketika ia menoleh maka tampaklah Wie
Chin Siang yang cantik dengan biji mata yang jeli telah
berdiri disisi tubuhnya, jantungnya kontan berdebar keras,
beberapa saat kemudian dia baru menjawab serius:
"Sigolok perontok rembulan Ke Hong." Rupanya Ke
Hong tidak menyangka kalau dalam gua itu masih ada
orang lain mul mula ia tampak melengak diikuti segera
tertawa seram.
"Hemm tak kunyana orang yang hendak mengantar
kematiannya bukan hanya seorang saja”
Ia meraung rendah, telapak tangannya dengan membawa
desiran angin tajam disapu keatas pintu batu itu.
"Jangan biarkan dia mendorong pintu." jerit Wie Chin
Siang dengan suara lengking
Pek In Hoei tertegun, menyaksikan wajahnya yang
gelisah den penuh diliputi rasa ngeri dan takut, tanpa
berpikir panjang ia membentak nyaring, pedangnya bergetar
dan segera mengirim satu tusukan kilat menutul celah celah
diatas pintu,
Messs... pintu batu terhantam hingga berbunyi
gemericikan perlahan lahan bergeser kesamping,
Pek in Hoei tidak menyangka kalau Ke hong
mengundurkan diri eetelah melancarkan serangan tadi,
dengan sendirinya tusukan pedsngnya segera mengenai
sasaran yang kosong.
Mendadak pintu batu itu terbentang lebar, ia tarik napas
dalam dalam, badannya melengkung dan siap loncat keluar.
"Pek In Hoei..." tiba tiba Wie Chin Siang berteriak keras
sambil menarik tangan kenannya." Kau tak boleh keluar."
Belum habis dia berkata, mendadak dari kedua belah
dinding diluar pintu batu itu meluncur keluar dua baris
tombak yang amat tajam, bagaikan pagar besi dengan
rapatnya saling menancap pada dinding dihadapanya,
Diam diam sianak muda itu bergidik setelah
menyaksikan kekejian lawan, pikirnya :
"Seandainya tubuhku melayang keluar pintu ini dikala
terbuka tadi, tentu dadaku sudah berlubang tertusuk oleh
dua baris tombak yang amat tajam itu, kendati dengan cara
apapun rasanya sukar untuk menghindarkan diri....."
Sementars itu Wie Chin Siang pun sedang memandang
dua bsris tombak tajam diluar dinding batu dengan wajah
termangu mangu, air mukanya mendadak berubah hebat
seakan akan teringat akan sesuatu sambil menarik tangan
Pek In Hoei teriaknya,
"Cepat mundur kebelakang....."
Sianak muda itu tidak bersiap sedia, kena ditarik kuda
kudanya segera tergempur dan mundur selangkah
kebelakang. Dengan alis berkerut ia segera menoleh
"Kau......."
Namun ketika sinar matanya membentur alitnya yang
tebal, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil
merekah serta biji matanya yang jeli dan memancarkan rasa
kaget itu, jantungnya kontan berdebar kerss, untuk beberapa
saat lamanya sepatah katapun tak sanggup diutarakan
keluar.
Karena tak terdengar susra sianak muda itu Wie Chin
Siang segera mendongak, namun ketika ditemuinya sianak
muda itu sedang memendang kearahnya dengan terkesime,
merah padam selembar wajahnya buru buru ia melengos
kesamping.
"Nona...." Pek In Hoei merasa jantungnya berdebar
semakin keras, hatinya terasa semakin tertarik dengan gadis
ini hingga tanpa terasa ia memanggil.
Wie Chin Siang menoleh, kali ini wajahnya telah
berubah serius, katanya:
"Hoa Pek Tuo telah memasang alat jebakan yang lihay
diatas pintu batu itu.........."
Belum selesai dia berkata terdengar suara gemerutukan
yang nyaring menggema diangkasa, pintu batu yang sangat
berat tadi seakan akan didorong oieh seseorang, dengan
cepatnya telah menutup kembali.
Setelah piatu tersebut menutup rapat dengan sendirinya,
tiba tiba dari atas dinding batu diatas lorong tersebut
membentang lebar sebuah lubang diikuti sebuah lampu
gantung terbuat dari tembaga kuning perlahan lahan
dikerek kebawah seketika itu juga cahaya yang terang
benderang menerangi seluruh ruangan.
"Aaah... lihat api itu..." tiba tiba Wie Chin Siang
menjerit dengan wajah terkesiap.
"Aduuuh celaka." pikir Pek In Hoei dia sadar seandainya
letupan api di dalam lampu gantung tembaga kuning yang
diturunkan dari atas itu mencapai permukaan bumi, maka
bubuk belerang yang telah dipoleskan disekeliling dinding
lorong itu pasti akan terbakar, jika demikian keadaannya
niscaya dia akan mati dipanggang hidup hidup dalam
lorong tersebut.
Dengan cepat dia membentak keras, pedangnya diputar
kencang kemudian menyambitnya kearah depan.
Sekilas cahaya pelang menyambar lewat laksana bintang
yang meluncur diangkasa ...Creeeet... menghantam
tembaga tadi dan menembusinya...
Sungguh hebat tenaga serangan yang terhimpun didalam
sambitan pedang itu, seketika itu juga tembaga kuning tadi
tersampuk miring kesamping, letupan api di dalamnya
beterbangan seakan akan mau terlempar keluar dari
Mangkuk tembaga tersebut.
Pek In Hoei tarik napas dalam dalam, sepasang
telapaknya sekuat tenaga dihantamkan kemuka dengan
jurus "Yang-Kong Pau-Cau" atau Cahaya sang surya
memancar terang.
Dalam sekejap mata terlihatlah telapak tangannya yang
putih seketika berubah jadi merah darah, segulung hawa
panas yang sangat menyengat badan memancar keluar dari
tubuhnya, seketika itu juga suhu dalam lorong tersebut
berubah jadi sangat panas.
Sungguh luar biasa dahsyatnya tiga jurus ilmu sakti
Surya Kencananya ini, terdengar suara gemerincingan yang
amat nyaring rantai baja yang menggantung mangkuk
tembaga tadi seketika merekah dan patah jadi beberapa
bagian, mangkuk tembaga tadi terbakar hancur hingga
meleleh dan menggumpal jadi satu, dengan membawa
pedang sakti penghancur sang suryanya rontok keatas
tanah.
Selama hidup belum pernah Wie Chin Siang
menyaksikan kepandaian silat yeng demikian saktinya,
seketika itu juga air mukanya berubah hebat saking
kagetnya, sepasang matanya melotot bulat bulat sementara
dengan mulut melongo diawasi telapak tangan sianak muda
yang merah itu tanpa herkedip.
Pek In Hoei sendiripun berdiri kaku ditempat semula,
diawasinya belahan mangkuk tembega yang sedang
melayang kearah lorong kemudian perlahan lahan ia tarik
kembali sepasang telapaknya.
Bruuuk.... mangkuk tembaga itu terjatuh keatas tanah,
setitik gumpalan api meloncat keluar dari lelehan tembaga
tersebut dan seketika itu juga sekeliling tempat tadi terjilat
api dan berkobar dengan hebatnya....
"Aduuuh celaka!" teriak Pek In Hoei terperanjat
"Sungguh tak kusangka isi mangkuk lembaga itu adalah
minyak."
Dalam keadaan seperti ini tak sempat lagi baginya untuk
berpikir panjang, sepasang lengannya bekerja cepat,
disambarnya pinggang Wie Chin Siang kemudian sekali
jejak laksana anak panah terlepas dari busurnya meluncur
ke muka melewati dinding atap kolong itu.
Pada detik terakhir itulah seluruh dinding bata tersebut
telah terbakar hebat jilatan api bagaikan ular menyapa
bubut belerang yang memolesi dialas dinding tersebut.
kebakaran hebatpun terjadi dalam lorong tersebut.
Suhu udara dalam lotong yang panas menyengat badan
serta jilaten api yang menari kian kemari mengagetkan Wie
Chin Siang, dia menjerit keras, matanya dipejamkan rapat
rapat, seluruh wajahnya disusupkan kedalam dada Pek In
Hoei tanpa berani berkutik.
Sungguh hebat Pek In Hoei, dalam sekejap mata dia
sudah berhasil melewati lautan api yang telah menjalar
sampai tiga tombak jauhnya itu, setibanya ditepi tiang batu
yang dihantam roboh olehnya tadi baru berhenti dan
beristirahat.
Ditaruhnya Wie Chin Siang keatas batu, lalu
menghembuskan napas panjang panjang dan gumamnya:
"Aaaaah.... nyaris benar kejadian yang baru saja
berlangsung, satu langkah aku terlambat bertindak niscaya
diriku bakal terkurung didalam lautan api itu." Wie Chin
Siang sendiri sementara itu sudah hilang rasa kagetnya, ia
periksa tubuh sendiri, dijumpainya kecuali celananya reda
hangus terbakar badannya sama sekali tidak terluka, tanpa
sadar ia hembuskan napas panjang.
“Kau tidak sampai terluka bukan?" terdengar Pek In
Hoei menegur. "Bila aku salah setindak lancang barusan
harap...." Merah padam selembar wajah Wie Chin Siang,
teringat dirinya yang telah bersandar didada orang, rasa
jengah yang muncul dari lubuk hatinya sungguh sukar
dilukiskan dengan kata2.
-ooo0dw0ooo-
JILID 14
JANTUNGNYA berdebar keras, cepat cepat ia tarik
kembali rasa malunya, sambil mundur dua langkah
kebelakang ujarnya dengan nada dingin :
"Seandainya kau tidak berdiam terlalu lama didepan
pintu batu tadi, tidak nanti Ke Hong berhasil menemukan
jejak kita yang ada didalam lorong..... dan akupun pasti
berhasil lolos dari lorong rahasia ini....semuanya ini gara
gara kau yang ceroboh."
Pek in Hoei tak menyangka kalau si gadis cantik jelita
macam Wie Chin Siang bisa berubah ubah dalam waktu
yang amat singkat, dia jadi melongo dan terkesima
ditatapnya raut wajah yeng dingin kaku itu beberapa saat
lamanya.
Kemudian timbul rasa sedih dalam hatinya. dia lantas
mendengus dingin dan menyahut:
"Hmm ! apa aku yang suruh kau berlarian didalam
lorong rahasia ini? kalau memang kau hendak salahkan
diriku, lebih baik masuklah kembali sendirian."
Wie Chin Siang sebagai seorang putri Gubernur yang
sepanjang masa selalu disayang, dimanja dan dihormati,
belum pernah ia dimaki orang lain dengan cara yang begitu
kasar. sekarang terbentur batunya ditangan Pek In Hoei
maka dapat dlbayangkan betapa sedih hatinya, hampir saja
titik air mata jatuh berlinang.
Namun ia berusaha menahan lelehan air mata itu,
bibirnya gemetar keras. lama sekali.... akhirnya ia berseru
"Kau.... kau...."
Pek In Hoei mendengus, ia berpaling memandang jilatan
api yang berkobar tiada hentinya dalam lorong itu, bibirnya
terkatup rapat sementara dalam hati pikirnya: "Begini
hebatnya kobaran api yang membakar lorong tersebut, aku
rasa dalam waktu yang singkat tak mungkin dapat padam
Aaaaai.... entah bagaimana nasib pedang mustika Si-Jiet-
Kiam ku sekarang?"
"Pek In Hoei, bagus sekati perbuatanmu...." mendadak
terdengar Wie Chin Siang berteriak dengan suara gemetar,
bibirnya yang merah digigit kencang2,
Pek In Hoei kaget. la rasakan nada suaranya yang penuh
dengan kesedihan kegusaran serta kebenciannya itu seakan
akan martil besar yang menghantam lubuk hatinya,
membuat jantungnya berdebar keras sukar ditahan.
Dengan cepat ia berpaling, ditatapnya wajah sang gadis
yang penuh penderitaan itu dengan sinar mata sayu.
Sekujur badan Wte Chin Siang gemetar keras, ujarnya
lagi dengan suara berat :
"Kau adalah manusia yang paling sombong kau anggap
eemua gadis yang ada dikolong langit bakal tundukkan
kepala semua dengan dirimu? sekalipun Ilmu silat yang kau
miliki sangat lihay, wajahmu ganteng dan menawan hati
tetapi kau tidak mempunyai kelebihan lain yang patut kau
sombongkan, jangan dikata keselamatanmu berada didalam
genggaman orang, untuk menjaga dan merawat jenasah
ayahmu sendiripun kau tidak mampu...."
"Kau.... kau adalah....." jerit Pek in Hoei sangat
terperanjat, sekilas ingatan berkelebat dalam benaknya,
teriaknya lagi dengan suara keras :
"Kau tahu dimanakah jenasah ayahku berada....?"
Wie Chin Siang tartawa dingin.
"Walaupun saat ini kau tahu dimanakah jenasah ayahmu
berada, tapi apa gunanya? sebentar lagi kita bakal modar
semua di tempat ini?"
"Apa? apa maksud ucapanmu itu?
Selapis hawa dingin yang membakukan hati terlintas
diatas wajah dara ayu itu, jawabnya dingin!
"Diatas dinding batu ini telah dilapis dengan bubuk
racun rumput penghancur hati "Coen Sim Tok Cau" yang
dihasilkan disamudra Seng Sut Hay, bila bubuk belerang itu
telah terbakar habis maka suhu panas yang menyengat
badan akan menyebarkan daya kerja racun Coen Sim Tok
Ciu itu keseluruh ruangan kita berada didalam lorong yang
tersumbat. Hmm, kau anggap dalam keadaan begitu kita
masih dapat hidup dalam keadaan segar bugar....
"Kau.... darimana kau bisa tahu kesemuanya ini...."
"Kenapa aku tidak mengetahui kesemuanya ini? suhuku
adalah putri angkat dari Hoa Pek Touw?"
Pek In Hoei dibikin semakin bingung,
"Siapakah suhumu ? kenapa dia suruh kau memasuki
lorong rahasia ini ?"
"Hmm, suhu perintahkan aku berkelana didalam dunia
persilatan dengan menggunakan namamu, maksud
tujuannya bukan lain untuk berusaha mencari tahu
dimanakah kau berada siapa sangka kau malah tidak tahu
siapakah dia orang tua?"
Gadis itu angkat kepalanya memandang mutiara
pemisah air yang ada diatas dinding batu lalu menghela
napas. sambungnya!
"Oooh suhu.... suhu..... dengan susah payah dan tidak
kenal marabahaya kau orang tua melindungi keselamatan
Pek in Hoei, siapa tahu orang yang kau lindungi dengan
mati matian bukan lain adalah seorang manusia yang tidak
kena budi, membuat jiwa muridmupun harus berkorban
ditangannya. Aaai ! kalau dia kenal siapakah suhu masih
mendingan. siapa sangka ia tak tahu siapakah kau dan siapa
pula namamu, buat apa melindungi keselamatannya lagi?
manusia yang tak kenal budi dan berhati kejam seperti dia
tidak sepantasnya kalau cepat2 mati..."
Sungguh hebat mskian dari dara ayu itu hingga membuat
anak muda kita jadi mendelik dan kerutkan alisnya rapat
rapat namun ia tidak membantah sebab ia tidak tahu
siapakah suhu dari dari Wie Chin Siang.
Pelbagai pertanyaan yang membingungkan hati
berkelebat dalam benaknya, ia merasa dirinya toh tak
pernah kenal dengan putri angkat dari Hoa Pek Touw.
maka sesudah putar otak beberapa saat lamanya kambali
dia bertanya:
"Coba tebaklah sendiri!" jawab Wie Chin Siang tanpa
berpaling, matanya masih tetap menatap mutiara diatas
dinding itu.
"Suruh aku menebaknya sendiri?" diam2 Pek In Hoei
tertaws getir. "Berada dalam keadaan yang begini
bahayanya kau masih punya kegembiraan untuk mengajak
aku main tebak tebakan. bukankah hal ini sama artinya
menggunakan jiwa kita sebagai bahan gurauan?".
Ia gigit bibirnya kencang lalu memaki di dalam hati
kecilnya :
"Huuu. dasar oreng perempaan. Sedikitpun tak mengerti
akan berat entengnya persoalan, yang diketahui cuma
berpura pura manja den jual mahal... Hmmm sialan."
Biji matanya berputar, dipandangnya jilatan api yang
kini telah berubah jadi hijau gelap, rupanya sebentar lagi api
bakal padam hawa panas yeng menyengat badan mulai
berkurang dan tak begitu menyiksa lagi.
Sepasang kepalannya digenggam kencang hingga
berbunyi gemerutukan, dengan hati cemas pikirnya:
"Seandainya ia bukan sedang membohongi aku. maka
aku harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat ini
kalau tidak seandainya rumput racun penghancur hati itu
sampai lerbakar maka aku bisa kehabisan akal dan mati
konyol disini."
Dalam pada itu tatkala Wte Chin Siang mendengar suara
gemerutuknya jari tangan tanpa sadar telah melirik sekejap
kearah Pek In Hoei.
Tatkala dijumpainva sianak muda itu sedang berdiri
dengan wajah cemas dan tidak tenang, dalam hati diam2 ia
tertawa dingin, dengan wajah yang kaku ejeknya:
"Katanya saja seorang lelaki sejati tidak takut langit dan
bumi, tak tahunya punya nyali sekecil tikus Hmm, manusia
macam kau bisa mengaku sebagai cucu muridnya Tiam
Cong Siu Kiam, sungguh memalukan.".
Dengan pandangan dingin Pek in Hoei melirik sekejap
gadis itu. ia tidak gusar sebaliknya menyahut dengan suara
berat:
"Katau kau tidak takut mati berdiri saja disitu dan jangan
bergerak, aku sih harus mencari akal untuk keluar dari sini
karena aku tak ingin mati konyol dengan cara yang bodoh,
tentu saja bagi manusia goblok yang setiap harinya makan
kenyang tak ada kerjaan dan tahunya cuma bersenang
senang belaka, kematian merupakan tempat tinggalnya
yang tarakhir."
Air muka Wie Chin Siang berubah beberapa kali,
mendadak ia menoleh dan membentak:
"Siapa yang sedang kau maki?".
"Aku memaki manusia2 ymg goblok seperti telur busuk
itu." ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum
penuh arti balik tanyanya.
"Apakah kau mengakui bahwa dirimu adalah seorang
manusia goblok seperti telur busuk?".
Dapat dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya
hati Wie Chin Siang mendengar pertanyaan yang
mengandung makian itu, untuk beberapa saat lamanya dia
tak tahu bagaimana harus menjawab, sementara sekujur
badannya gemetar keras menahan emosi.
"Bagus." teriaknya sambil nendepakkan kekinyi keatas
tanah. "Akan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri,
bagaimana caranya manusia yang mengaku cerdik itu
menemukan hidupnya".
Selesai berkata itu sambil menggigit bibir dia putar badan
dan lari menuju kearah lorong.
Sementara itu kobaran api yang maha dahsyat tadi sudah
mulai padam, yang tersisa diatas kedua belah dinding
lorong itu hanyalah cahaya lampu yang berwarna kehijau
hijauan, membuat lorong tadi kelihatan bertambah seram
dan mengerikan.
Memandang bayangan punggung Wie Chin Siang yang
sedang berlari menjauh, pelbagai ingatan berkelebat
didalam benaknya, tiba2 sekilas ingatan terang berkelabat
dalam otaknya.
Segera pikirnya:
"Asalkan kucabut mutiara penampik air itu dari atas
dinding. maka air telaga diatas gua ini akan segera
membanjiri lorong api. dalam keadaan begitu, kendati Hoa
Pek Tou masih mempunyai pelbagai jebakan pun juga
percuma saja. setelah digenangi air jebakan tersebut tidak
nanti bisa tunjukkan kelihaiyannya. pada saat itu bukankah
aku bisa berusaha meloloskan diri dari sini?".
Ingatan itu laksana kilat berkelebat didalam benaknya, ia
segera tepuk kepala sendiri sambil berpikir lebih jauh:
"Kenapa tidak kupikirkan hal ini sejak tadi? sebaliknya
malah buang waktu dengan perempuan untuk cekcok
dengan dia, aaaai.... kalau dipikir kembali, apa sebabnya
ribut dengan gadis binal seperti dia itu?."
Ia menertawakan kebodohannya sendiri lalu barpalirg
kearah lorong, dimana sianak muda ini ada maksud melihat
apakah gadis itu sudah lenyap dari situ atau belum.
Tetapi sewaktu dia angkat kepala, kebetulan sekali
dilihatnya Wie Chin Siang entah dengan cara apa meraba
dingin lorong sehingga muncullah sebuah lubang besar
diatas dinding itu.
Sembari melangkah masuk kedalam gua tadi, mendadak
dara itu berpaling dan menjerit lengking :
"Kalau aku tidak takut mati, ayoh masuklah lewat gua
ini."
"Kalau kau hendak pergi berangkatlah seorang diri
jangan kau perdulikan diriku.° Wie Chin siang tertawa
dingin.
"Disamping itu aku hendak memberitahukan sesuatu
kepadamu, suhuku adalah Kim In eng..."
"Si Dewi Khiem berjari sembilan Kim In Eng?" Sekarang
pahamlah sudah Pek In Hoei. "Kenapa tidak kuingat diri
Kim loocianpwee sejak tadi..."
Sementara dia sedang menyesal dan berduka, terdengar
Wie Chin Siang kembali menjerit lengking. Kali ini
suaranya penuh dengan penderitaan serta rasa sakit yang
luar biasa.
"Rumput racun penghancur hati...."
Pek In Hoei terperanjat, dilihatnya Wie Chin Siang
sedang memegangi tenggorokan sendiri dengan penuh
penderitaan, kemudian badannya terjengkang kebawah dan
robob tak berkutik lagi.
Sadarlah sianak muda ini bahwa marabahaya sedang
mengancam jiwanya, sebelum dia sempat bertindak sesuatu
mendadak hidungnya mencium bau harum yang tawar
diikuti segumpal hawa uap berwarna merah menyebar
kesegala pelosok ruangan.
Sewaktu untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan
Hee Siok Peng tempo dulu, pernah dilakukan olehnya
dengan mata kepala sendiri pelbagai macam makhluk
beracun yang aneh aneh bentuknya serta lihaynya bubuk
racun serta ilmu pukulan beracun.
Oleh karena Itu tatkala hidungnya mengendus bau
harum yang tersiar keluar dari balik gua tadi, cepat cepat
dia tutup semua pernapasannya.
Meskipun dia cukup waspada namun sayang
tindakannya terlambat satu langkah.
Terasa bau harum semerbak tadi menyerang kedalam
paru parunya membuat dia merasakan kepalanya jadi
pening dan berkunang kunang, sekujur badannya jadi lemas
dan hampir saja ingin pejamkan matanya untuk tidur
nyenyak.
Ia mendengus berat, lima jadinya baru dipantangkan
keluar, dengan segenap tenaga dia melawan keinginannya
untuk tidur itu, kemudian sekali jambret dicengkeramnya
mutiara penampik air tadi dari atas dinding batu.
Cahaya mutiara berkilat memenuhi angkasa, sambil
membawa mutiara tersebut badannya meluncur kearah
lorong.
Suara air telaga terdengar menggulung dibelakang
tubuhnya, bagaikan bendungan yang ambrol air telaga
menyapu tiba dan seketika memenuhi seluruh lorong
tersebut.
Dengan sempoyongan dia lari tujuh delapan langkah
kedepan, seraya membungkuk kebawah disambarnya
pedang penghancur sang surya yang menggeletak diatas
tanah itu.
Air telaga menerjang kebawah laksana air terjun, seluruh
lorong dipenuhi dengan air bagaikan selaksa prajurit
berkuda meluncur datang dengan hebatnya membuntuti
dibelakang sianak muda itu.
Da!am pada itu sewaktu Pek In Hoei memegang pedang
Sie Jiet Kiamnya tadi, dia merasakan matanya jadi berat
dan sukar dipentangkan lebar2. rasa mengantuk semakin
menyerang dirinya membuat dia merasa ogah untuk
bergerak dari tempat semula.
Sekalipun begitu dia masih sadar akan mara bahaya yang
mengancam keselamatan jiwanya, asal ia tak kuat menahan
diri dan roboh keatas tanah maka Wie Chin Siang pasti ikut
mati tenggelam didasar telaga itu.
Oleh sebab itulah dia meraung keras bibirnya digigit
kencang kencang sehingga terluka den darah segar
mengucur keluar membasahi bajunya -
Rasa sakit yang menyengat hati membuat rasa
ngantuknya jadi berkurang. sekuat tenaga ia genggam
mutiara itu dan lari secepat cepatnya meninggalkan tempat
itu.
Beruntun puluhan langkah berlalu dilewati dan tibalah
dia dipintu masuk lorong rahasia itu. ia sambar tubuh Wie
Chin Siang lalu dengan mati matian ia lari kencang didalam
lorong tadi.
Disaat kesadarannya semakin kabur dan ingatannya
makin menghilang, secara lapat2 ia dengar dari dinding
batu dibelakang tubuhnnya secera otomatis menutup sendiri
suara air tenaga yang menghantam dinding meniggalkan
dengungan yang keras, apa yang terjadi selanjutnya dia
tidak tahu.
Sebab pada saat itulah badannya terjungkal dan roboh
keatas tanah kesadaran punah sama sekali dan diapun jatuh
pingsan....
-odwo-
Kegelapan yang mencekam malam hari kian lama
bertambah luntur, sinar sang surya yang terang perlahan2
muncul sebelah timur, beberapa butir bintang masih
tertinggal disebelah barat dan menyorotkan sinarnya yang
lemah.
Permukaan air telaga Leng Gwat Ouw tenang bagaikan
cermin angin pagi berhembus sepoi meninggalkan reak kecil
diatas permukaan... suasana amat sunyi dan sepi
Pada saat itulah dari telaga melayang datang seorang
kakek tua berperawakan kurus kering, badannya bergerak
bagaikan terbang. seolah mengitari pepohonan ditengah
telaga sampailah orang itu ditep1 jembatan batu .
Memandang sang surya yang muncul di ufuk Timur dia
tarik napas dalam2, kemudian teriaknya dengan suara
keras:
"Sisa Rembulan mengampungkan golok perak. Sisa
bintang membuatkan badik emas!"
Ditengah kesunyian pagi hari yang mencekam seluruh
jagad, seruan itu berkumandang hingga ditempat kejauhan,
dari balik pendopo air yang ada ditengah telaga segera
terdengar suara sahutan disusul seorang dengan suara yang
serak tua menegur.
"Siapa yang ada diluar?"
"Tecu Ke Hong".
Suara batuk berkumandang keluar dari pendopo air,
diikuti pintu depan terbuka dan muncullah Ku Loei dari
balik ruangan tersebut.
Sepasang alisnye yang putih, panjang dan lebat itu
nampak berkerut, kemudian terdengar ia menegur.
"Apakah Hong jie yang berada disitu? kenapa sampai
sekarang baru kembali? apakah dipihak Siauw lim telah
terjadi perubahan?"
Dengan penuh rasa hormat Ke Hong si golok perontok
rembulan menjura dalam2:
"Lapor suhu, kemari malam tecu baru saja pulang dari
gunung Siong-san ,baru saja hendak melaporkan kejadian
didalam partai Siauw lim kepada suhu, mendadak di dalam
lorong rahasia sebelah Selatan kutemui ada orang terjebak
disitu"
"Ouw. disana ada orang?"
"Benar eubu, didalam lorong itu terkurung dua orang
manusia, satu pria dan satu wanita, namun tecu telah
menggerakkan alat rahasia yang dipasang disitu, tecu rasa
mereka pasti sudah mati terbakar disana".
Sebelum Ku Loei sempal menjawab terdengar Hoa Pek
Tou yang ada didalam ruangan telah menyela :
"Panggil dia masuk kadalam !"
Ku Loei mengiakan: "Masuklah kedalam!".
Ke Hong mengangguk, dia melayang melewati jembatan
mengapung kemudian meluncur kearah pendopo air.
Ke Hong segera masuk kedalam ruangan, baru saja
kakinya melangkah masuk hidungnya segera mendengus
bau obat yang sangat tebal, diikuti tampaklah Chin Tiong
menggeletak dialas pembaringan, dia jadi terperanjat dsn
segera tanyanya;
"Apa yang telah terjadi dengan diri susiok?"
"Tidak mengapa. dia cuma menderita sedikit luka"
Sekilas rasa kaget dan curiga terlintas diatas wajah Ke
Hong. naenun ia tak berani bertanya maka sinar matanya
lantas berputar memandang seluruh ruangan itu, disatu
sudut disisi hioloo besar ditemuinya seorang manusia aneh
berkerudung hitam berjubah lebar duduk bersila disana.
Belum lagi ia menanyakan asal usul orang itu, kembali
Ku Loei telah berseru, dengan suara berat :
"Coba ceritakanlah hasil dari perjalananmu menuju
kepartai Siauw-lim..."
"Sejak ciangbun Hong-tiang pertai Siauw ]im yang
lampau lenyap secara misterius, ciangbunjin yang sekarang
Hoei Kok Taysu telah melarang anak muridnya
mencampuri pelbagai persoalan yang menyangkut urusan
dunia persilatan, tetapi sejak dua puluh orang anak murid
pertai Siauw lim kembali lenyap secara misterius pada
tahun berselang, pihak Siauw-lim mulai mengirim orang
orangnya terjun keutara dunia kangouw untuk menyelidiki
peristiwa tersebut..."
"Aku sudah mengetahui akan kejadian itu karena
semuanya itu adalah hasil karya dari susiokmu, coba kau
ceritakan peristiwa apa lagi yang telah terjadi disitu baru2
ini?"
Sekilas ras ragu dan curiga berkelebat diatas wajah Ke
Hong, namun ia tak berani bertanya, ujarnya lebih jauh:
"Belum lama berselang, ketua dari perkumpulan Kaypang
yang telah lama lenyap dari keramaian dunia
kangouw dan bernama Hong jie Kong dengan gelar Loo Ie
Koay Kie atau pengemis aneh berbaju dekil secara tiba tiba
telah muncul diatas gunung Siong san seorang diri,
beruntun selama tiga hari tidak nampak ia turun dari
gunung tersebut dan pada hari keempat tiba tiba partai
Siauw lim telah mengutus keempat belas Loo Hannya
dengan menyebarkan tanda perintah Giokr im Leng Pay
telah mengundang para ciangbunjin dari pelbagai partai
untuk berkumpul digunung Siong san."
"Aaah! benarkah telah terjadi peristiwa seperti ini?" seru
Ku Loei amat terperanjat.
"Coba ceritakan kisah yang sejelasnya kepadaku."
Terdengar kakek berkerudung hitam itu menyela.
Dengan hati kaget bercampur tercengang Ke Hong
menoleh kearah Ku Loei, lalu bertanya :
"Tecu rasa dia adalah..."
"Dia edalah susiok cuowmu."
Dengan pandangan kaget dan tercengang Ke Hong
berpaling memandang sekejap kearah Hoa Pek Touw.
rupanva dia tidak menyangka kalau SUCOUWnya si Iblis
sakti berkaki telanjang Cia Ku sin masih mempunyai
seorang adik seperguruan, buru buru dia maju memberi
hormat seraya sapanya :
"Susiokcouw...." -
"Duduklah lebih dahulu, aku hendak menanyakan
sesuatu kepadamu!" ujar manusia berkerudung itu sambil
memandang Ke Hong dengan sinar mata tajam, "Setelah
pengemis aneh berbaju dekil Hong jie Kong naik keatas
Siauw lim apakah dia tidak turun gunung lagi?"
Ke Hong mengangguk,
"Sebelum cucu murid berangkat pulang, tidak kulihat
pengemis aneh berbaju dekil turun dari gunung siong san".
"Ehm aku sudah memahami peristiwa itu" mendadak
terdengar Hoa Pek Touw menimbrung setelah sejenak.
"Coba kau ceritakan dahulu kejadian apa yang telah. kau
alami didalam lorong rahasia daerah terlarang kita"
"Pada malam hari itu juga cucu murid berangkat dari
Sauw lim langsung pulang kerumah, siapa sangka suasana
didalam perkampungan sunyi senyap hingga sedikit
suarapun tak kedengaran" bicara sampai disitu dengan mata
sangsi ia melirik sekejap kearah Ku Loei.
Buru buru orang she Ku itu mendehem dan
menyambung;
"Berhubung tujuh dewa dari luar lautan telah mengutus
muridnya untuk datang kemari dan aku takut terjadi
peristiwa yang ada diluar dugaan, maka kuperintahkan
semua orang yang ada didalam perkampungan untuk
menyembunyikan diri didalam ruang bawah tanah..."
"Ooouw tidak aneh kalau susiok terluka...."
"Perkataan yang tak berguna lebih baik tak usah
dibicarakan" tukas Hoa Pek Touw sambil melototkan
matanya. "Cepat katakan peristiwa apa yang sudah terjadi
didalam lorong bawah tanah".
Ke Hong berpaling. tatkala dilihatnya sorot mata Hoa
Pek Touw yang memancar keluar dari balik kain kerudung
hitamnya begitu sadis dan mengerikan dia jadi bergidik,
buru buru sambungnya :
"Berhubung suasana dalam perkampungan sunyi senyap
tak kedengaran sedikit suarapun dan tidak kujumpai sosok
bayangan manusia yang ada disitu maka aku merasa
keheranan setengah mati. segera kuperiksa sekeliling
perkampungan dengan teliti dan seksama. Tatkala aku tiba
didaerah terlarang sebelah selatan mendadak kusaksikan
sekilas cahaya merah yang sangat tajam berkelebat lewat
dimulut lorong, dibawah sorotan sinar rembulan secara
lapat lapat kurasakan cahaya itu mirip dengan sebilah
pedang."
"Ooouw" Ku Loei berseru tertahan. dia lantas berpaling
kearah Hoa Pek Touw dan berseru :
"Jangan jangan cahaya merah itu adalah pedang
penghancur sang surya dari Pek In Hoei?"
Hoe Pek Touw mengangguk.
"Biarlah dia lanjutkan kembali kata katanya?"
Ke Hong tidak berani banyak bertanya, ia lanjutkan
kembali kisahnya :
"Karena curiga maka cucu murid segera menerobos
masuk kedalam daerah terlarang disebelab selatan itu, saat
itulah aku baru merasakan bahwa orang itu
menghubungkan tempat luar dengan lorong rahasia dimana
kita kurung Cian Hoan Long koen. Pada saat itu bisa
dibayangkan betapa kaget dan herannya hatiku karena
selama tiga puluh tabun belakangan kecuali penghantar nasi
yang masuk melewat lorong rahasia balum pernah ada
orang lain yang pergi kesitu. tapi kali ini telah muncul
seieorang disana... hatiku makin curiga...
Dia merendek sejenak, kemudian tambahnya:
"Sewaktu aku tiba didepan lorong rahasia itulah,
kujumpai seorang pemuda yang sangat ganteng dengan
mencekal sebilah pedang mustika sedang berdiri dibalik
pintu, pedang yang berada ditangannya radaan mirip
dengan pedaDg mustika penghancur sang suryu dari partai
Tiam cong".
"Nah, itulah dia. tak bakal salah lagi" saru Ku Loei
sambil bertepuk tangan. "Orang itu pastilah Pek in Hoei,
sungguh tak nyana dia berhasil meloloskan diri dari tekanan
air yang berpusar didasar telaga Lok Gwat Ouw serta
dinginnya air telaga yang membekukan darah...
"Ucapan suhu sedikitpun tidak salah, jurus serangan
yang dia gunakan bukan lain adalah jurus pedang partai
Hoa san. disamping itu tecupun mendengar ada seorang
gadis sedang memanggil dirinya dari dalam dengan sebutan
Pek In Hoei tiga patah kata!".
"Apakah kau tidak salah mendengar?" Sela Hoa Pek
Touw mendadak sambil menegakkan badannya. "Benarkah
orang itu bernama Pek In Hoei?...
Ke Hong berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Sadikitpun tidak salah, orang itu memang dipanggil
dengan sebuian Pek In Hoei tiga patah kata".
"Hmm, suugguh tak kusangka ternyata ada orang
berhasil meloloskan diri dari dasar telaga Lok Gwat ouw.
sungguh membuat orang merasa tidak percaya.".
Ke Hong sendiri diam2 merasa tercengang dan tidak
habis mengerti siapakah sebenar sih manusia yang bernama
Pek In Hoei itu, semakin tak dapat menebak pula mengapa
Susiok couwnya yang dingin dan sadis itu sekarang bisa
menunjukkan emosinya yang meluap luap sehingga kini
kerudung hitamnya pun gemetar keras
Dengan hati sangsi dan diliputi tanda tanda pikirnya.
"Sekalipun pedang yang berada ditangan Pek In Hoei
benar benar adalah pedang mustika penghancur sang surya,
toh belum tentu dia adalah anak murid partai Tiam cong.
aaasach jangan jangan dia adalah anak murid dari Hay
Gwa Sam Sian tiga dewa diri luar lautan?".
Berpikir sampai disitu tak tahan lagi segera tanyanya.
"Walaupun Pek In Hoei sangat lihay dan luar biasa,
namun setelah terjebak didalam lorong pengurung naga,
tecu rasa dia pasti telah mati terbakar hangus disitu!"
Hoa Pek Touw tarik napas dalam dalam, sekuat tenaga
dia berusaha menekan golakan perasaan dalam hatinya,
setelah itu perlahan lahan ujarnya :
"Dia berhasil menembusi gua didasar telaga Lok Gwat
0uw. hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki mutiara
penolak air dalam sakunya, kalau tidak air telaga tentu
sudah memenuhi lorong pengurung naga sejak tadi,
mungkinkah dia akan menunggu sampai kau menggerakkan
alat alat rahasia tersebut."
Dia bangun bardiri dan menambahkan;
"Aku rasa pastilah gadis itu sudah mengetahui rahasia
jalan lorong dibawah tanah itu, kalau tidak, tak nanti dia
berhasil memasuki lorong pengurung naga itu tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun" Dia menghela napas
panjang, terusnya ;
"Aku cuma berharap Cian Hoan Long Koen telah modar
lebih dahulu sebelum mereka berhasil memasuki gua
tersebut kalau tidak maka rencanaku terpaksa batal
dilaksanakan sebelum saat yang telah ditetapkan"
"Tapi bukankah didalam lorong pengurung naga telah
kita pasang pelbagai alat rahasia " seru Ku Loei tercengang
"Apakah mereka sanggup melarikan diri dari situ..."
"Aku sendiripun berharap agar mereka tak sanggup
melepaskan diri dari jilatan api serta serangan racun, tapi
serangan api dan air tak dapat bekerja sama. seandainya dia
lepaskan air telaga sehingga memenuhi lorong, bukankah
semua alat rahasia yang telah kupersiapkan disitu tak akan
sanggup menunjukkan daya kerjanya?".
"Aneh... sungguh aneh..." gumam Ku Loei sambil
menggaruk garuk rambutnya "Kenapa dia sanggup
melawan dinginnya air telaga bahkan sanggup pula
melubangi dasar telaga..."
"Apakah kau lupa bahwa dia memiliki pedang mustika
penghacur sang surya?" Seru Hoa Pak Touw. Ia merandek
sejenak untuk melirik sekejap Chin Tiong yang berbaring
diatas pembaringan, lalu tambahnya -
"Kalian tunggulah disini merawat dia, aku mau pergi
kelorong rahasia untuk melakukan pemeriksaan."
Perlahan lahan ia berjalan keluar dari pendopo air itu
melalui jembatan gantung, selangkah demi selangkah
berangkat menuju ketepi telaga diseberang sana.
Memandang langkahnya yang terpincang pincang,
dengan perasaan heran dan tercengang Ke Hong barkata :
"Suhu, mengapa selama tiga puluh tahun belakangan ini
aku belum pernah mengetahui kalau masih mempunyai
seorang susiok couw macam dia. kalau dipandang rupa
serta keadaannya seakan akan orang yang sama sekali tidak
mengerti akan ilmu silat."
Ku Loei mendelik hardiknya
"Tutup mulutmu, jangan kau membicarakab soal dia
orang tua dibelakangnya. Haruslah kau ketahui bahwa
kecerdasan serta kapintarannya tiada tandingan dikolong
langit dan semua orang mengenali dirinya serta
mengaguminya, jangan dikata suhumu meski sucouwmu
pun menaruh beberapa bagian rasa hormat kepadanya,
Hmmm kau manusia macam apa, berani benar
membicarakan soal dia orang tua dibelakangnya."
Merah jengah selembar wajah Ke Hong dia tidak
menyangka setelah berusia lima puluh tahun dan selama
berkelana dalam dunia persilatan telah memperoleh nama
besar sehingga bernama sipedang penghancur sang surya
serta bintang kejora manuding langit disebut Tionggoan
Sam Sut kiam kini harus ditegur pedas oleh gurunya

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Baru :ITB 5 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments