Cerita Dewasa Artis Anyar : ITB 19

AliAfif.Blogspot.Com -

 Cerita Dewasa Artis Anyar : ITB 19
-Tubrukan yang dilakukan dalam keadaan kalap dan mata gelap
itu benar-benar luar biasa sekali, setelah meleset menubruk
mangsanya ia lanjutkan terjangannya ke depan dan akhirnya
menubruk di atas tiang batu yang berdiri di sana, sepasang tangannya
mencengkeram tiang batu itu kencang-kencang sambil mencabutnya
dari atas tanah ia berteriak :
"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..."
Sesudah pikirannya kalut kembali, benda apa pun sudah tak
dikenal lagi olehnya, dalam waktu singkat tiang batu itu sudah
tercabut lepas, setelah dibanting ke tanah Hee Giong Lam menubruk
tiang batu itu lalu menghajarnya dengan penuh bernapsu.
Hoa Pek Tuo tertawa seram, dia tahu bahwa kesempatan baginya
untuk menyiksa musuhnya sudah tidak banyak lagi, ia bertepuk
tangan tiga kali.
Seorang pria kekar dengan wajah ketakutan segera maju ke
depan, ujarnya :
"Majikan, kau ada urusan?"
"Gusur kemari budak ingusan itu!" bentak Hoa Pek Tuo dengan
suara dingin.
"Baik!"
1111
Saduran TJAN ID
Pria kekar itu buru-buru putar badan dan berlalu, tidak lama
kemudian ia telah muncul kembali sambil membawa seorang gadis
yang cantik jelita dengan sifat yang masih polos.
Begitu melihat munculnya gadis itu Jago Pedang Berdarah
Dingin yang menyembunyikan diri di tempat itu jadi terperanjat,
tubuhnya gemetar keras sekali.
"Siok Peng," bisiknya lirih, "ternyata dia pun masih berada di
sini."
"Dia adalah kekasihmu yang pertama," kata Wie Chin Siang
dengan hati yang pedih.
Jago Pedang Berdarah Dingin sama sekali tidak menggubris
perkataan dari Wie Chin Siang itu, sorot matanya dengan tajam
menatap ke bawah, sikap ini tentu saja menjengkelkan hati gadis itu
sehingga tanpa terasa ia mendengus dingin dan tidak bicara lagi, air
mata tampak mengembang dalam kelopak matanya.
Sementara itu dengan langkah yang gemetar Kong Yo Siok Peng
telah berjalan masuk ke dalam gua yang lembab dan dingin itu, tibatiba
ia melihat seorang manusia aneh dengan rambut yang terurai dan
wajah penuh berdarah sedang berjingkrak-jingkrak di situ, hal ini
membuat dia jadi ketakutan dan segera mundur beberapa langkah ke
belakang.
"Siapakah dia?" serunya dengan suara gemetar.
"Masa engkau tak bisa mengenali siapakah orang itu?" dengus
Hoa Pek Tuo dengan suara dingin, "Hmmm... hmmm... masa ayah
angkatmu pun tidak kau kenali lagi?"
"Aaaah...!" Kong Yo Siok Peng menjerit keras, nadanya bagaikan
tertusuk oleh dua bilah pedang yang tajam membuat dia gemetar
keras, bagaikan kalap tubuhnya segera menerjang maju ke depan.
"Ayah... ayah... kenapa kau berubah jadi begini rupa..." teriaknya
dengan suara gemetar.
"Jangan maju, kau tak boleh ke situ!" mendadak Hoa Pek Tuo
menghadang di hadapannya.
1112
IMAM TANPA BAYANGAN II
Kong Yo Siok Peng tertegun, wajahnya telah basah oleh air mata,
saking gusarnya ia mengirim satu pukulan keras ke atas tubuh rase tua
she Hoa itu, namun tubuhnya segera tergetar keras hingga mundur
beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.
"Apa dosa ayah angkatku? Ada permusuhan apa antara dia
dengan engkau? Kenapa kau celakai dirinya sehingga menjadi begitu
rupa?" bentaknya penuh kegusaran.
Sambil tertawa Hoa Pek Tuo menggeleng.
"Aku sama sekali tidak mencelakai dirinya, dia sendirilah yang
menjadi gila. Siok Peng! Aku tahu bahwa engkau adalah seorang anak
baik, juga seorang anak yang sangat berbakti, sekarang aku ingin
bertanya kepadamu, kau berharap bisa menolong ayahmu atau tidak?"
Sikapnya pada saat itu berubah jadi lunak, halus dan hangat
sekali, seakan-akan seorang kakek tua yang berbaik hati.
Kong Yo Siok Peng yang sedang kebingungan karena melihat
ayah angkatnya berubah jadi gila, sama sekali tidak mempunyai
pendirian, mendengar kakek she Hoa itu mempunyai cara untuk
mengobati penyakit ayahnya, dia segera berhenti menangis dengan
biji mata yang jeli dan bulat ditatapnya wajah Hoa Pek Tuo tanpa
berkedip tapi dalam hati kecilnya masih tetap tidak percaya.
"Benarkah engkau mempunyai cara untuk menolong ayah
angkatku?" ia bertanya.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... tentu saja, asal aku Hoa Pek Tuo
sudah menyanggupi maka semua urusan akan menjadi beres dengan
sendirinya, percayalah kepadaku, penyakit edan yang diderita ayah
angkatmu itu pasti dapat kusembuhkan."
Kong Yo Siok Peng jadi teramat girang buru-buru serunya :
"Kalau engkau mampu menyembuhkan sakitnya ayah angkatku,
tolonglah dia, tolong sembuhkan penyakitnya."
"Tentu saja akan kutolong, tapi sebelum kutolong dirinya maka
ada beberapa pertanyaan ingin kuajukan lebih dahulu kepadamu,
1113
Saduran TJAN ID
persoalan ini menyangkut soal mati hidup dari ayah angkatmu, maka
engkau harus beritahu kepadaku dengan sejujurnya."
Dengan cepat Kong Yo Siok Peng mengangguk.
"Asal engkau sanggup menyembuhkan sakit gila yang diderita
ayah angkatku, maka persoalan apa pun akan kuberitahukan
kepadamu, sekarang silahkan engkau ajukan pertanyaanmu itu, asal
aku tahu tentu akan kuberitahukan kepadamu."
Hoa Pek Tuo termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya
:
"Bukankah sejak kecil kau dibesarkan oleh ayah angkatmu?
Banyak urusan yang diketahui ayah angkatmu tentu diketahui pula
olehmu bukan? Nah! Semua pertanyaan yang hendak kutanyakan
adalah dalam rangkaian persoalan yang menyangkut tentang ayah
angkatmu."
"Cepat ajukan pertanyaanmu itu," seru Kong Yo Siok Peng
sambil membelalakkan matanya bulat-bulat, "aku bisa berusaha keras
untuk memberitahukan kepadamu."
"Bagus sekali!" seru Hoa Pek Tuo sambil mengangguk, "ayah
angkatmu suka melatih pelbagai ilmu beracun dan suka pula
melakukan percobaan terhadap makhluk-makhluk beracun, tahukah
engkau tentang sejenis benda beracun yang disebut Jit-li-biau-hiang?"
Sayang usia Kong Yo Siok Peng masih terlalu muda, ia belum
tahu tentang kelicikan serta kepalsuan hati orang di dunia, mendengar
Hoa Pek Tuo mengajukan pertanyaan tentang Jit-li-biau-hiang, ia
menduga bahwa benda itu pastilah merupakan sejenis bunga atau
suatu macam barang pusaka, ia lantas termenung dan berpikir keras.
"Nak ketahuilah bahwa Jit-li-biau-hiang merupakan benda yang
penting sekali dan menyangkut tentang keselamatan ayah angkatmu,"
ujar Hoa Pek Tuo lagi dengan suara serius, "sakit edannya itu baru
bisa disembuhkan bila terdapat Jit-li-biau-hiang tersebut, coba
pikirlah baik-baik, pernahkah ayah angkatmu membicarakan tentang
hal tersebut dengan dirimu."
1114
IMAM TANPA BAYANGAN II
Yang dipikirkan Kong Yo Siok Peng pada saat ini hanyalah
bagaimana caranya menolong Hee Giong Lam dari sakit edannya, ia
tidak menduga kalau Hoa Pek Tuo mempunyai tujuan lain,
menyaksikan orang itu bicara dengan sungguh-sungguh, gadis itu
segera merasa bahwa urusan serius sekali.
Setelah termenung sebentar ia lantas berkata :
"Kalau begitu, biarlah aku pikir sebentar!"
Dia adalah seorang anak kecil yang masih polos dan kekanakkanakannya
belum hilang, apa yang dipikir segera dilakukan, sambil
berdiri di tengah kalangan ia termenung dan berpikir keras, seluruh
perhatiannya ditujukan pada kata Jit-li-biau-hiang tersebut.
Melihat keseriusan dan kesungguhan gadis itu berpikir, Hoa Pek
Tuo tidak berani mengganggu ketenangannya, ia tahu satu-satunya
harapan baginya untuk mendapatkan Jit-li-biau-hiang hanya terletak
di atas pundak gadis ini, sebagai seorang manusia licik yang pandai
melihat gelagat, Hoa Pek Tuo sadar bahwa inilah satu-satunya
kesempatan yang dia miliki, dengan pandangan tegang bercampur
kuatir ditatapnya wajah Kong Yo Siok Peng tanpa berkedip.
"Aaaah... aaaah... aaaah..."
Suara dari teriakan aneh yang keras tajam dan mengerikan
berkumandang keluar dari mulut Hee Giong Lam yang berada di
belakang Hoa Pek Tuo, teriakan aneh tersebut menggusarkan hati
kakek licik itu, dia takut teriakan-teriakan itu akan mengacaukan
pikiran Kong Yo Siok Peng.
"Eeei... apa yang kau teriakkan?" bentaknya penuh kegusaran
sambil berpaling.
Setelah mencak-mencak dan berteriak kalap tadi Hee Giong Lam
sudah kehabisan tenaga dan letih sekali, tetapi setelah beristirahat
sebentar sakit edannya kambuh kembali, sambil berteriak-teriak aneh
ia rentangkan tangannya dan menerjang ke arah kakek licik itu.
"Pembunuhan... pembunuhan..." teriaknya keras-keras.
1115
Saduran TJAN ID
Hoa Pek Tuo terperanjat melihat keadaan lawannya yang
mengerikan bagaikan setan itu, buru-buru telapak tangannya diputar
dan melancarkan satu pukulan ke depan.
"Orang edan," teriaknya dengan gusar, "masa terhadap putri
sendiri pun tidak kenal."
"Blaaam... ! Segulungan tenaga pukulan yang maha dahsyat
menghantam dada Hee Giong Lam membuat tubuhnya mundur ke
belakang dengan sempoyongan dan punggungnya menumbuk di atas
dinding, seluruh ruangan seketika bergetar keras, debu dan pasir
berguguran ke atas tanah, dan membentuk selapis kabut tipis.
Setelah terjadi benturan yang amat keras itu, Hee Giong Lam
terkapar di atas tanah sambil terengah-engah, seluruh otot hijaunya
pada menonjol keluar, dengan sekuat tenaga ia berteriak aneh,
tangannya mencakar di udara kosong dan tertawa terbahak-bahak.
"Jangan bergerak lagi," bentak Hoa Pek Tuo dengan suara dingin,
"hati-hati aku bisa menghajar dirimu sampai mati!"
Ia memandang sekejap ke arah Kong Yo Siok Peng, lalu ujarnya
:
"Nak, pernahkah ayah angkatmu memberikan semacam barang
kepadamu, seperti kitab catatan ilmu pukulan atau ilmu pedang, atau
juga kitab ilmu racun dari ciangbunjin Perguruan Selaksa Racun yang
lampau..."
"Aaaah! Sekarang aku teringat sudah!" tiba-tiba Kong Yo Siok
Peng berseru tertahan.
Air muka Hoa Pek Tuo berubah jadi amat tegang, tanya cepatcepat:
"Kau sudah teringat benda macam apakah itu?"
"Ayah angkatku pernah beritahu kepadaku bahwa di dalam
sebuah botol yang besar berisi catatan berbagai macam resep racun
sakti yang selamanya dirahasiakan dan tidak diturunkan kepada siapa
pun!"
1116
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Apakah di antaranya terdapat yang bernama Jit-li-biau-hiang,"
tanya Hoa Pek Tuo dengan wajah berseri-seri.
Kong Yo Siok Peng mengangguk.
"Ada. Di atas tiap resep tercatat nama dan tulisan, aku tidak
mengerti tulisan apa saja yang terdapat di situ, tapi aku masih teringat
sebagian di antaranya."
"Sekarang botol besar itu berada di mana?" tanya kakek licik
berhati keji itu dengan cepat.
Kong Yo Siok Peng tertawa.
"Botol itu berada di..."
Belum habis ia berkata tiba-tiba dari arah belakang muncul
sebuah tangan besar yang mencengkeram bajunya kencang-kencang,
cengkeraman yang dilakukan secara tiba-tiba itu membuat dara
tersebut jadi amat terkejut dan segera menjerit lengking.
"Aaaah..."
Sementara itu Hee Giong Lam sudah angkat tubuh Kong Yo Siok
Peng tinggi-tinggi, sepasang tangannya mencekik leher gadis itu
keras-keras, dengan mata memancarkan sinar liar dan wajah
mengerikan ia berteriak keras-keras :
"Kubunuh engkau! Kubunuh engkau!"
Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Hee Giong Lam bakal
melakukan tindakan seperti itu, hatinya tercekat. Ia takut Kong Yo
Siok Peng benar-benar mati tercekik oleh jepitan tangan Hee Giong
Lam yang sangat kuat itu, telapak kanannya segera diayun ke muka
mengirim satu pukulan, bentaknya keras-keras:
"Orang edan, lepaskan dia!"
Serangan itu dengan telak bersarang di tubuh Hee Giong Lam
membuat Rasul Racun itu terlempar ke belakang dan jatuh
terjengkang di atas tanah, meskipun begitu sepasang tangannya masih
mencekik leher Kong Yo Siok Peng kencang-kencang, teriaknya :
"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..."
1117
Saduran TJAN ID
"Aaaauuuh..." pekikan panjang berkumandang keluar dari mulut
Kong Yo Siok Peng yang kecil, setelah berkelejot sebentar tubuhnya
tak berkutik lagi.
Hoa Pek Tuo tidak mengira kalau peristiwa yang kemudian
terjadi sama sekali di luar dugaannya, sementara ia hendak
melancarkan serangan lagi, tiba-tiba dari balik goa di atas dinding
melayang turun sesosok bayangan manusia yang tinggi besar.
"Siapa kau?" bentak Hoa Pek Tuo dengan suara keras.
"Hmmm...!" dengusan dingin bergema memecahkan kesunyian.
Setelah bayangan hitam itu melayang turun ke atas tanah, ia
meluncur ke sisi tubuh Hee Giong Lam dan merampas Kong Yo Siok
Peng dari dalam cekalannya.
Dengan air mata jatuh berlinang pemuda itu memandang wajah
sang gadis yang mulai menguning dengan penuh kesedihan ia
menggoncang-goncang tubuh dara itu, teriaknya dengan suara
gemetar :
"Siok Peng! Siok Peng!"
Sungguh kasihan gadis yang begitu polos, begitu cantik dan
begitu menawan hati harus menemui ajalnya di tangan ayah
angkatnya sendiri, kejadian ini benar-benar di luar dugaan dan
merupakan suatu peristiwa yang sadis sekali, tapi takdir telah
menentukan demikian, siapa yang dapat merubah nasib manusia?"
Gadis yang begitu cantik, begitu polos untuk selamanya tak dapat
buka suara lagi, ia tak akan mengerti akan penderitaan lagi, ia tak akan
kenal kegembiraan dan kesedihan, tubuhnya bakal ditemani oleh
tanah liat serta bunga yang harum.
Dengan penuh kesedihan Jago Pedang Berdarah Dingin berteriak
keras, gadis itu adalah kekasihnya yang pertama, karena dia pemuda
itu tidak segan untuk lompat turun dari tempat begitu tinggi dengan
menempuh bahaya.
1118
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tapi terlambat, cuma terlambat satu langkah saja mengakibatkan
binasanya seorang gadis, benarkah takdir menentukan begitu. Hanya
dia seorang yang tahu.
Sementara itu Hee Giong Lam juga sedang berteriak, gelak
tertawanya begitu tajam dan mengerikan sekali, di samping tertawa
dia pun menangis, membuat siapa pun tak dapat membedakan, ia
sedang tertawa atau menangis? Sungguh kasihan Rasul Racun yang
maha hebat ini, karena kurang hati-hati merubah nasibnya jadi buruk,
mungkin inilah hukum karma yang harus ia terima, bukan saja
perbuatannya telah memusnahkan diri sendiri, dia pun telah
membinasakan putri angkatnya yang cantik dan menarik.
Hoa Pek Tuo rase tua yang licik dan ganas bagaikan serigala itu
akhirnya berhasil melihat jelas siapakah yang telah datang, hatinya
tercekat dan saking takutnya air muka kakek itu berubah sangat hebat.
"Oooh... kau!" bisiknya.
Mendadak ia berpaling, Jago Pedang Berdarah Dingin dengan
mata memancarkan cahaya yang menggidikkan hati dan penuh
kemarahan sedang melotot ke arahnya.
Ketika empat mata bertemu jadi satu, terpancarlah napsu
membunuh dan cahaya penuh dendam dari balik cahaya mata pemuda
itu.
"Hmmm! Bagus sekali perbuatanmu itu," seru Pek In Hoei
dengan suara ketus.
Hoa Pek Tuo tertawa getir.
"Akibat yang tragis ini bukanlah tanggung jawabku, kau tak bisa
menyalahkan diriku, siapa yang menduga kalau Hee Giong Lam bakal
melakukan tindakan brutal seperti itu, perbuatannya dilakukan terlalu
cepat, begitu cepat sampai kesempatan bagiku untuk melakukan
pertolongan pun tak ada."
"Hmmm!" dengusan dingin yang berat dan menyeramkan
berkumandang keluar dari balik hidung Pek In Hoei yang mancung,
1119
Saduran TJAN ID
sepasang matanya memandang wajah kakek licik itu dengan
pandangan tajam bagaikan pisau, tegurnya dengan penuh dendam :
"Siapa yang telah membuat Hee Giong Lam jadi gila."
"Eeeei... eeei... dari mana aku bisa tahu," jawab Hoa Pek Tuo
sambil putar biji matanya.
Rase tua ini benar-benar licik dan banyak akal, sewaktu biji
matanya sedang berputar itulah satu siasat baru telah diperoleh, dari
ucapannya barusan sudah bisa dinilai sampai di manakah rendahnya
tabiat dan perangai orang ini.
"Hmmm...! Bukankah engkau yang bikin dia jadi gila?" teriak
Pek In Hoei dengan suara menghina.
"Hei, apa maksudmu berkata begitu? Aku tidak mengerti!"
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak menyangka
kalau rase tua yang hendak dibunuhnya itu begitu tak tahu malu,
ternyata perbuatan yang berani dilakukan tak punya keberanian untuk
mengakuinya, dengan gusar ia meludah ke tanah dan membentak
keras :
"Kau tak usah mengingkar kalau bukan engkau yang paksa dia
untuk menelan obat gila itu, tidak mungkin Hee Giong Lam akan
berubah jadi begini rupa, dan dia pun tak akan mencekik putri
angkatnya sendiri sampai putus napas."
Setelah Jago Pedang Berdarah Dingin membongkar rahasia
kelicikannya, Hoa Pek Tuo yang licik dan cerdik ini jadi terkesiap
ketakutan setengah mati, ia tak menyangka kalau Pek In Hoei bukan
saja berhasil menemukan tempat itu bahkan menyaksikan pula
perbuatannya yang mencelakai jiwa Hee Giong Lam secara
memalukan.
Dia tahu kalau kabar berita ini sampai tersiar di tempat luaran
maka banyak jago di kolong langit pasti akan merasa tidak puas
terhadap dirinya, bahkan pelbagai partai akan memandang hina
terhadap dirinya, dalam keadaan begini bukan saja semua orang tak
1120
IMAM TANPA BAYANGAN II
akan sudi bekerja sama dengan dirinya, bahkan kemungkinan besar
dialah yang akan dikerubuti orang lain.
Jika sampai terjadi keadaan seperti itu berarti habislah sudah
riwayatnya, ia tak akan bisa tancapkan kaki lagi di kolong langit.
Teringat akan kesemuanya itu Hoa Pek Tuo jadi ketakutan
setengah mati sehingga keringat dingin mengucur keluar tiada
hentinya, dengan sinar mata buas ia tertawa seram.
"Jadi semua telah kau lihat?"
"Tidak salah, semua perbuatan yang kau lakukan hampir boleh
dibilang bisa kuhafalkan di luar kepala, Hoa Pek Tuo! Kau sebagai
seorang manusia yang tersohor di kolong langit ternyata mampu
melakukan perbuatan semacam ini, apakah engkau tidak takut
kehilangan pamormu sebagai seorang lelaki?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " Hoa Pek Tuo tertawa seram, "Pek
In Hoei setiap kali bertemu dengan engkau aku selalu menghindar dan
menjauhi dirimu, hal ini bukanlah disebabkan karena aku takut
kepadamu sebaliknya aku tidak ingin ribut-ribut dengan kau sebagai
angkatan yang lebih muda. Hmmm! Dan sekarang semua rahasiaku
telah engkau ketahui, itu berarti nasib jelekmu telah tiba, aku tak dapat
membiarkan engkau tetap hidup di kolong langit!"
"Ooooh... jadi kau hendak membunuh orang untuk melenyapkan
bukti," jengek Jago Pedang Berdarah Dingin sini, "jadi kau ingin
melenyapkan semua bukti tentang kejahatan yang telah kau lakukan?
Sahabat, sayang sekali perhitunganmu itu sama sekali meleset, ini hari
kau mungkin bisa menunjukkan kelihayanmu."
"Ooooh... sungguh tak kusangka ternyata kau bukan seorang
manusia yang sederhana," gumam Hoa Pek Tuo sambil gelengkan
kepalanya berulang kali, "beberapa hari saja tidak bertemu ternyata
sepasang bibirmu telah berubah jadi begitu lihai, ternyata berada di
hadapan aku pun berani jual kecap omong yang tidak karuan. Hmm
kau benar-benar tak tahu diri."
1121
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Hee Giong Lam yang pada
waktu itu sedang berdiri dengan wajah menyeringai seram, lalu
bentaknya :
"Ayoh, berikan obat penawar kepadanya."
Hoa Pek Tuo mendengus dingin.
"Hmm! Kau berani memerintah diriku?"
"Bukankah engkau pun pernah gunakan kekerasan untuk
memaksa Hee Giong Lam? Sekarang, terpaksa aku pun harus
meminjam caramu yang begitu bagus itu untuk menghadapi dirimu,
kalau kau tak mau serahkan obat penawar itu lagi..."
Ia tertawa dingin dan menghentikan perkataannya sampai
separuh jalan.
"Tak ada gunanya engkau memaksa diriku, sakit gila yang
diderita Hee Giong Lam sudah tak tertolong lagi, terus terang
kuberitahukan kepadamu, sebetulnya aku pun hendak menolong
dirinya, hanya tujuan kita berdua saja yang berbeda, kalau engkau
bertujuan menolong jiwanya sedang aku hendak menggunakan
tenaganya."
"Huuuh...! Sungguh tak nyana kau masih punya muka untuk
berkata begitu," hardik Jago Pedang Berdarah Dingin sinis.
"Hmm! apa salahnya kuutarakan keluar, meskipun watakku tidak
terlalu baik, tetapi setiap perbuatanku selalu terbuka dan jujur, setiap
persoalan yang kupikirkan di dalam hati, pasti akan kuutarakan keluar
tanpa ragu-ragu."
Bicara sampai di situ dia gelengkan kepalanya berulang kali.
"Huuh! Bermuka tebal," maki Jago Pedang Berdarah Dingin
dengan suara menghina, "orang yang paling tak tahu malu di kolong
langit mungkin adalah dirimu."
Hoa Pek Tuo menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus sekali, peduli apa pun
yang hendak kau katakan aku tetap setuju... coba lihatlah betapa besar
jiwaku, bagaimana kalau dibandingkan dengan dirimu."
1122
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pada saat itu hawa amarah yang berkobar dalam benak Jago
Pedang Berdarah Dingin sudah mencapai pada puncaknya, ia merasa
gemas sekali sehingga ingin sekali membinasakan rase tua yang
banyak akal dan berhati kejam itu seketika itu juga, tetapi dia pun
menyadari sampai di manakah kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya, untuk membunuh rase tua itu dalam beberapa
gebrakan jelas bukan suatu perbuatan yang terlalu gampang.
Alisnya yang tebal berkerut, ujarnya :
"Hoa Pek Tuo, ini hari boleh dibilang engkau telah mencelakai
dua lembar jiwa manusia, akhirnya yang tragis ini boleh dibilang
merupakan hasil ciptaanmu, karena itu tanggung jawab pun terjatuh
di atas pundakmu semua."
"Hmm... Hmmm... orang she Pek, lebih baik jangan membuang
kentut busuk di tempat ini, kau tokh mengetahui bahwa Kong Yo Siok
Peng mati di tangan orang she Hee tersebut, apa sangkut pautnya
dengan diriku? Selama hidup Hee Giong Lam suka bermain racun,
entah berapa banyak orang yang menemui ajal di tangannya, karena
kejahatannya itulah Thian telah melimpahkan hukum karma kepada
dia."
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmm! Kau tak usah memfitnah orang seenaknya sendiri, aku
tahu apa sebab kau bersikeras untuk munculkan diri, mengapa selalu
memusuhi diriku, bukankah perbuatanmu itu kau lakukan karena
memandang di atas wajah bocah perempuan itu? Siapa yang tidak
tahu kalau kekasih pertama dari Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei adalah Kong Yo Siok Peng? Ketahuilah sahabat, seorang pria
harus tahu diri dan bisa melihat gelagat, janganlah dikarenakan
seorang perempuan..."
"Omong kosong!" bentak Jago Pedang Berdarah Dingin keraskeras,
sepasang matanya berubah jadi merah dan seakan-akan hendak
memancarkan cahaya berapi, apalagi setelah teringat betapa kejinya
Hoa Pek Tuo di mana berulang kali dia akan dicelakai jiwanya, rasa
1123
Saduran TJAN ID
benci dan mendendam yang luar biasa berkobar dalam dadanya,
meskipun setiap saat ia berusaha untuk mengendalikan diri, tetapi ia
tidak mampu menenangkan hatinya yang sudah terlanjur terbakar oleh
rasa benci itu.
Dipandangnya sekejap wajah Kong Yo Siok Peng yang berada di
pelukannya, sepasang mata gadis itu terbelalak lebar bagaikan dua biji
gundu, bibirnya telah berubah jadi pucat kehijau-hijauan, dua buah
cekikan yang berwarna biru tua membekas di atas lehernya.
Kematian dara ayu itu benar-benar mengerikan sekali, begitu
mengerikan sehingga jago pedang yang masih muda belia ini masih
tidak tega untuk melihat lebih jauh.
Dengan air mata mengembang di kelopak matanya ia berseru
keras-keras :
"Hoa Pek Tuo, coba lihatlah, dia adalah seorang gadis yang
begitu halus, begitu baik hati, tetapi ia harus menemui ajalnya secara
mengenaskan di tangan ayah angkatnya sendiri, bukankah peristiwa
ini terlalu keji? Terlalu sadis dan tidak berperikemanusiaan? Engkau
toh seorang manusia juga, kau taruh di manakah liang-sim mu itu?"
"Engkau tak usah menegur diriku, juga tak usah marah kepadaku,
aku sendiri pun tak mengharapkan gadis itu menemui ajalnya dalam
keadaan yang begitu mengerikan, peristiwa ini hanya bisa dikatakan
sebagai suatu kecelakaan belaka, jika engkau ingin balaskan dendam
bagi kematiannya, maka bunuh sajalah ayah angkatnya yang terkutuk
itu, aku toh tak bisa menghidupkan dirinya kembali, bukankah
begitu?"
"Hmm! Enak amat kau berbicara," seru Pek In Hoei dengan
penuh kebencian, "kau anggap dengan mengucapkan beberapa patah
kata itu maka urusan bisa diselesaikan dengan begitu saja, "Aku
paling benci kepada seseorang yang tak berani mengakui
kesalahannya sendiri. Hoa Pek Tuo! Kita tak usah membicarakan
dahulu soal dendam kita di masa-masa yang lampau, kita bicarakan
1124
IMAM TANPA BAYANGAN II
saja peristiwa yang terjadi pada saat ini, ketahuilah aku tak bisa
mengampuni jiwamu."
Sementara itu Hoa Pek Tuo sedang putar sepasang biji matanya,
sambil otaknya berputar mencari akal bagaimana caranya mencelakai
jiwa si Jago Pedang Berdarah Dingin itu, ia tahu pemuda she Pek itu
sudah mengetahui bahwa dia adalah pembunuh yang telah
membinasakan ayahnya Pek Tiang Hong, karena itu muncullah satu
ingatan dalam hatinya untuk cepat-cepat lenyapkan bibit penyakit ini
dari muka bumi.
Dalam waktu singkat, satu ingatan telah berkelebat dalam
benaknya, ia berpikir :
"Dalam keadaan seperti ini, pada malam ini aku tak boleh
melepaskan barang seorang pun di antara mereka dalam keadaan
hidup, kalau tidak pasti peristiwa ini akan tersiar luas dalam rimba
persilatan, sekarang Hee Giong Lam sudah gila dan tidak usah aku
turun tangan sendiri, yang tersisa cuma Jago Pedang Berdarah Dingin
sendiri, tenaga dalam yang ia miliki saat ini sudah mendapat
kemajuan yang amat pesat, belum tentu aku bisa menangkan dirinya,
satu-satunya jalan yang bisa kutempuh sekarang adalah mengerahkan
segenap kekuatan yang ada di sini, dengan kerubutan para jago lihay
rasanya dia pasti dapat dirobohkan dan dicabut jiwanya."
Berpikir sampai ke situ sambil tertawa seram ujarnya :
"Pek In Hoei, kalau kau inginkan agar aku orang she Hoa yang
bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa berdarah ini, aku akan
memikul tanggung jawab tersebut, sekarang aku toh berada di sini
kalau engkau punya rencana keluarkanlah semua saat ini juga, aku
tidak nanti akan mengerutkan dahi barang sekejap pun!"
Setelah berhenti sebentar sambungnya kembali dengan suara
dingin.
"Aku percaya di kolong langit masih belum ada manusia yang
berani bertindak kasar terhadap diriku."
1125
Saduran TJAN ID
Satu senyuman sinis tersungging di ujung bibir Jago Pedang
Berdarah Dingin, senyuman itu merupakan suatu senyuman getir
yang mengandung rasa gusar bercampur dendam, ia tarik napas
panjang-panjang, seluruh perasaan kesal dan murung yang
berkecamuk dalam dadanya dilontarkan keluar.
"Aku pun percaya bahwa di kolong langit belum ada seorang
manusia pun yang berani bertindak kasar terhadap dirimu, tetapi
sahabat lama, bukannya aku tak pandang sebelah mata terhadap
dirimu, asal kuandalkan segumpal hawa murni di dalam dadaku, aku
sudah mampu untuk membinasakan dirimu."
"Ciiis..." Hoa Pek Tuo meludah ke atas tanah, "kau sedang
bermimpi di siang hari bolong, selama berkelana di dalam rimba
persilatan kapankah aku Hoa Pek Tuo pernah menderita kekalahan di
tangan orang? Bukannya aku sengaja bicara besar, dewasa ini engkau
sudah tak punya kesempatan untuk tinggalkan tempat ini dalam
keadaan hidup-hidup."
"Kau tak usah kuatir, sebelum aku berhasil membunuh dirimu,
aku pun tak akan meninggalkan tempat ini barang sejengkal pun."
Tiba-tiba terdengar suara pekikan aneh berkumandang datang,
Jago Pedang Berdarah Dingin serta Hoa Pek Tuo bersama-sama
menoleh ke belakang, tampak Hee Giong Lam dengan wajah
menyeringai seram selangkah demi selangkah sedang berjalan ke
depan, tubuhnya gontai dan bergoyang tiada hentinya.
Sambil melotot ke arah Hoa Pek Tuo serunya sambil mengertak
gigi :
"Sungguh keji engkau... engkau keji hatimu Hoa Pek Tuo... aku
telah kau celakai sampai menjadi begini rupa."
Hoa Pek Tuo jadi amat terperanjat, dengan tubuh gemetar keras
serunya dengan suara gemetar :
"Kau... kau..."
"Aku hendak menggigit tubuhmu, ingin kulihat sebenarnya kau
adalah manusia atau binatang?"
1126
IMAM TANPA BAYANGAN II
Hoa Pek Tuo semakin terperanjat, ia tidak menyangka kalau
dalam keadaan begitu tiba-tiba kesadaran Hee Giong Lam pulih
kembali seperti sedia kala, meskipun ia tidak jeri terhadap Rasul
Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini, tetapi ia merasa jantungnya
berdebar juga kalau disuruh berkelahi dengan seorang manusia
berwajah seram macam begitu, yang paling pokok adalah wajahnya
yang menyeringai begitu menyeramkan, membuat bulu kuduknya
tanpa terasa pada bangun berdiri.
Kakek tua yang licik dan berhati binatang itu merasa tercengang
bercampur keheranan, ia merasa heran apa sebabnya obat gila yang
dibuat dengan resep khusus serta diolah dengan tangan sendiri itu
secara tiba-tiba sudah kehilangan daya kemanjurannya, menurut
peraturan sakit gilanya akan makin menghebat mengikuti berlalunya
sang waktu.
Siapa tahu kenyataan membuktikan lain, bukan saja sakit
edannya mendadak lenyap bahkan kesabarannya telah pulih kembali
dan ia bisa mengenali dirinya kembali.
Suatu kejadian yang aneh dan mustahil, mungkinkah daya kerja
obat itu telah kehilangan kemampuannya?
Ia tidak tahu bahwa Hee Giong Lam bisa dengan cepat tersadar
kembali dari pengaruh obat edan itu berhubung pada dasarnya dalam
tubuh Rasul Racun itu sudah memiliki daya tahan pelbagai serum
racun yang banyak ragamnya, meskipun untuk sementara waktu
ingatannya jadi kabur setelah obat itu masuk ke dalam perutnya, tetapi
setelah waktu berlangsung agak lama dan dari tubuhnya terselip
keluar serum anti racun yang kuat, mak daya kerja obat gila itu segera
terdesak ke sudut badan.
Hanya saja, walaupun ia bisa sadar kembali, itu pun hanya
berlangsung dalam waktu singkat, lama kelamaan ia akan terkendali
kembali oleh daya kerja obat itu.
"Lo Hee, baik-baikkah engkau?" tegur Hoa Pek Tuo dengan suara
gemetar.
1127
Saduran TJAN ID
"Sungguh keji hatimu, kau telah mencelakai aku hingga menjadi
begini rupa," seru Hee Giong Lam dengan suara menyeramkan, "Hoa
Pek Tuo, hanya disebabkan rahasia resep Jit-li-biau-hiang kau telah
tega membuat diriku jadi begini rupa aku akan beritahu kepada setiap
jago Bu-lim yang kutemui, akan kuberitahukan kepada seluruh jagad
bahwa engkau adalah manusia berhati binatang, agar semua orang di
kolong langit tahu bahwa engkau telah mencelakai diriku dengan cara
yang paling rendah, cara paling terkutuk."
Ia tertawa seram, lalu tambahnya lebih jauh :
"Di manakah putriku? Cepat lepaskan dia keluar, aku hendak
beritahukan kepadanya bagaimana rendahnya engkau telah
mencelakai diriku, ayo cepat lepaskan, kalau tidak kau akan
kubunuh."
"Putrimu?" seru Hoa Pek Tuo tertegun.
"Kenapa dengan putriku?" jerit Hee Giong Lam dengan suara
amat keras.
Pada saat ini Hoa Pek Tuo sendiri pun tak tahu apa sebabnya ia
merasa begitu takut, ia merasa ketenangan yang dimilikinya di masa
lampau sekarang sudah lenyap tak berbekas, saking takutnya tanpa
terasa ia mundur beberapa langkah ke belakang, dengan pandangan
tegang ditatapnya wajah Rasul Racun itu tanpa berkedip.
Lama... lama sekali ia baru bisa menjawab.
"Dia telah mati!"
Sekujur badan Hee Giong Lam gemetar keras, ari mukanya
berubah sangat hebat.
"Dia telah mati? Siapa yang telah mencelakai jiwanya, cepat
jawab siapakah yang telah mencelakai jiwanya?"
Sungguh kasihan Rasul Racun ini, mimpi pun ia tak menyangka
kalau putri angkat yang dicintainya telah mati justru di tangan ia
sendiri, ketika itu dia merasa begitu sedih hati mengenang kematian
putrinya hampir saja kesadarannya punah kembali.
1128
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan langkah lebar ia maju beberapa langkah ke depan,
didekatinya Hoa Pek Tuo dengan wajah seram lalu bentaknya keraskeras:
"Ayoh cepat jawab... kenapa engkau tidak bicara?"
Hoa Pek Tuo tarik napas panjang-panjang dan mundur beberapa
langkah lagi ke belakang.
"Lo Hee, janganlah bersikap begitu galak terhadap diriku,
meskipun hubungan di antara kita pernah renggang karena pandangan
yang berbeda akan tetapi di antara kita toh tak mempunyai ikatan
dendam yang sangat dalam, putrimu begitu polos, lincah dan
menyenangkan hati, aku mana tega untuk mencelakai jiwanya."
"Lalu kenapa dia bisa mati?" teriak Hee Giong Lam dengan
penuh kegusaran.
"Setelah kau menjadi gila dan otakmu tidak waras, engkau telah
mencekik putrimu hingga napasnya putus, orang yang membinasakan
putrimu adalah engkau sendiri. Lo Hee, apakah kau tidak tahu
terhadap perbuatan yang telah kau lakukan?"
"Apa?"
Jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang keluar dari
mulut Hee Giong Lam, hampir saja ia tidak percaya dengan
pendengaran sendiri bahkan menganggapnya berada dalam impian.
Ia tidak percaya kalau dirinya berhati begitu kejam sehingga putri
kesayangannya bisa dibunuh mati olehnya sendiri, kerutan kencang
muncul di balik wajahnya yang menyeringai seram, suara gemuruh
yang keras terdengar dari balik tenggorokannya.
"Tak mungkin... tak mungkin membinasakan Siok Peng..."
jeritnya keras-keras, "aku tak mungkin mencekik mati Siok Peng!
Ooooh... putriku sayang, sungguh mengerikan kematianmu... oooh,
ayah tidak membunuh dirimu."
Dengan penuh penderitaan ia menatap sepasang tangannya
sendiri, karena benci hampir saja ia hendak menebas kutung ke-dua
1129
Saduran TJAN ID
belah tangannya itu, sekilas warna merah terlintas di antara biji
matanya, dengan suara keras ia berteriak :
"Aku harus mati... aku harus mati."
Jago Pedang Berdarah Dingin menghela napas panjang katanya :
"Dalam peristiwa ini engkau tak bisa disalahkan, Hee Giong
Lam! Di kala kesadaran seseorang hilang sama sekali maka perbuatan
apa pun dapat dilakukan olehnya, bila engkau ingin menuntut balas
maka kau harus berpikir kembali siapakah yang telah membuat
engkau berubah jadi gila seperti ini."
Bagian 42
MENDENGAR perkataan itu Hee Giong Lam segera berpaling, tibatiba
ia melihat Kong Yo Siok Peng yang berada dalam pelukan Jago
Pedang Berdarah Dingin, wajahnya menyeringai sambil memburu
maju ke depan teriaknya :
"Siok Peng... Siok Peng!"
Buru-buru ia merebut kembali jenazah putri angkatnya yang telah
tutup usia itu, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya dan
menetes di atas wajah putrinya yang telah mendingin, perlahan-lahan
ia mencium pipinya lalu berteriak dengan suara pilu :
"Oooh... anakku... anakku... bangunlah... bukalah matamu... dan
pandanglah ayahmu."
Tapi ia tahu teriakannya itu hanya sia-sia belaka, sebab putri
kesayangannya itu sudah tak akan sadar kembali, dengan penuh
penderitaan ia putar badan, hawa amarah yang tak terbendung
membakar dadanya, wajahnya yang sudah jelek kelihatan bertambah
seram.
"Hoa Pek Tuo," ia membentak keras-keras, "kesemuanya ini
engkaulah yang berikan kepadaku... engkaulah yang mendatangkan
bencana buat putriku."
1130
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Huuh...! Aneh sekali orang ini," seru Hoa Pek Tuo dingin, "toh
engkau sendiri yang membunuh dirinya, kenapa kau malah salahkan
diriku, apa kau tidak salah bertindak..."
"Kalau bukan gara-gara dirimu, tak mungkin bisa terjadi
peristiwa semacam ini, kalau bukan engkau yang paksa aku untuk
makan obat gila, aku tak akan jadi gila sampai putriku ini pun kucekik
sampai mati... gara-gara perbuatanmu itulah aku menjadi seorang
manusia yang paling jahat, paling hina di kolong langit... Oooh!
Sungguh keji hatimu... Hoa Pek Tuo, suatu hari aku pasti akan
membalas dendam berdarah yang sedalam lautan ini."
Hoa Pek Tuo mendengus dingin.
"Hmm! Kalau engkau punya kepandaian setiap saat aku akan
melayani dirimu."
"Hoa Pek Tuo, kalau aku biarkan engkau berhasil kabur dari
tempat ini maka selama hidup aku tak akan berkelana lagi dalam
dunia persilatan, kalau kau kejam aku akan bertambah kejam, kalau
ingin beradu kecerdikan maka Hee Giong Lam juga bukan seorang
manusia yang tolol."
Dengan pandangan penuh kasih sayang ditatapnya wajah Kong
Yo Siok Peng tajam-tajam, itulah pandangan terakhir yang berkesan
dalam hatinya, dengan suara serak ia berkata :
"Nak, tunggulah aku, ayah segera akan menyusul dirimu serta
menemani engkau sepanjang masa, anakku sayang, ayah akan
memetikkan berbagai macam bunga. Ayah akan menaburi tubuhmu
dengan bermacam-macam bunga indah, sampai peti mati pun akan
kubuat dari bunga, kau tak usah bersedih hati, bukankah di sisimu
masih ada ayah yang menemani engkau? Kau tak akan merasa
kesepian."
Perlahan-lahan ia merapatkan sepasang mata putrinya yang
melotot besar, kemudian mencium pipinya dengan penuh kasih
sayang dan menepuk bahu Pek In Hoei dengan ringan, katanya
dengan suara rendah :
1131
Saduran TJAN ID
"aku tahu bahwa engkau cinta dirinya."
"Aku tidak mengingkari!" jawab Pek In Hoei dengan pandangan
kosong.
"Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba-tiba Hee Giong Lam tertawa
keras, tertawa secara tak wajar, suaranya jauh lebih tak enak didengar
daripada isak tangis yang paling memilukan hati, membuat seluruh
ruang gua itu bergetar keras.
Setelah berhenti tertawa, Hee Giong Lam berkata lagi dengan
suara gemetar :
"Orang muda, Siok Peng bisa dicintai oleh seorang pria macam
dirimu, sekali pun mati ia akan mati dengan mata meram, sekarang
aku akan menyerahkan tubuhnya kepadamu, agar putriku bisa
menikmati rasa cinta yang dilimpahkan olehmu kepadanya sesaat
sebelum ia dikubur ke dalam tanah dan sepanjang masa berada
seorang diri."
Sambil geleng kepala ia tertawa getir, Pek In Hoei menghela
napas panjang dan bergumam :
"Sekali pun bicara lebih banyak juga tak ada gunanya, selembar
jiwanya tak mungkin bisa ditolong lagi."
Seakan-akan dadanya terhantam oleh martil yang amat berat,
sekujur tubuh Hee Giong Lam gemetar keras, dengan penuh siksaan
dia menengadah ke atas dan berseru lirih.
"Aku benci terhadap diriku sendiri."
Dengan amat berhati-hati dia serahkan jenazah Kong Yo Siok
Peng ke tangan Jago Pedang Berdarah Dingin, setelah itu memandang
lagi wajah putrinya untuk terakhir kalinya, kemudian dengan wajah
gusar ia baru putar badan, ditatapnya wajah Hoa Pek Tuo dengan
penuh kebencian.
"Kau telah mencelakai diriku sehingga aku sangat menderita..."
teriaknya.
"Apa yang hendak kau lakukan?" seru Hoa Pek Tuo dengan sikap
yang was-was.
1132
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aku hendak membunuh dirimu... aku hendak membinasakan
kau si iblis terkutuk yang lebih buas dari binatang ini..." bentak Hee
Giong Lam dengan suaranya yang dingin bagaikan es.
Terhadap jago lihay yang sudah mendekati setengah sinting
setengah sadar ini Hoa Pek Tuo tidak berani bertindak gegabah,
meskipun ia sadar bahwa ilmu silat yang dimilikinya sangat tinggi,
tetapi ia tak sudi beradu jiwa dengan seorang manusia yang sudah
mendekati gila.
Perlahan-lahan telapak kanannya diangkat ke atas, cahaya tajam
yang berkilauan memancar keluar dari balik telapaknya dan
membentuk satu lingkaran busur di tengah udara.
"Kau tak akan mampu untuk melaksanakan kehendak hatimu
itu," jengeknya sinis.
Hee Giong Lam mendengus ketus.
"Hmmm! Kalau engkau tidak percaya mari kita coba..."
Sementara itu kesadaran otaknya masih jernih dan ia tahu jelas
sampai di manakah taraf tenaga dalam yang berhasil dimiliki olehnya,
setelah melotot sekejap ke arah kakek licik she Hoa itu perlahan-lahan
jubahnya mulai bergelembung besar dan kian lama mengembang kian
besar, seakan-akan balon yang ditiup.
"Kau hendak beradu jiwa..." teriak Hoa Pek Tuo dengan suara
gemetar.
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak salah!" jawab Rasul Racun itu
sambil tertawa seram.
Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke tengah udara dan berputar satu
lingkaran busur di sekeliling tempat itu, kemudian ke-empat anggota
badannya direntangkan dan langsung menerjang ke atas tubuh Hoa
Pek Tuo, gerakan yang aneh ini sangat mencengangkan hati
lawannya, ia tak menduga kalau pihak lawan bakal menunjukkan
gerak yang begitu aneh, setelah berseru tertahan kakek licik berhati
keji itu buru-buru meloncat mundur ke belakang.
1133
Saduran TJAN ID
"Modar kamu...!" jerit Hee Giong Lam yang sudah nekad dan
siap mengadu jiwa itu.
Di kala lawan mengundurkan diri ke belakang, tiba-tiba telapak
kanannya dari serangan jari berubah jadi satu cengkeraman maut, dari
atas wajah Hoa Pek Tuo berhasil menyambar segumpal daging yang
berlepotan darah.
Darah segar memancar keluar dari mulut luka di atas wajah Hoa
Pek Tuo, saking sakitnya ia sampai menjerit keras dan mengeryitkan
dahinya rapat-rapat, teriaknya penuh kebencian :
"Bangsat,rupanya engkau memang sudah bosan hidup!"
Karena keteledoran sendiri mengakibatkan wajahnya terluka
parah, kejadian ini langsung membakar hatinya dan hawa amarah
berkobar memenuhi seluruh benaknya. Kakek she Hoa itu berteriak
keras... satu pukulan dahsyat dengan cepat dilancarkan ke depan.
"Mari kita beradu jiwa...!" jerit Hee Giong Lam setengah kalap,
telapaknya segera disorongkan ke depan menyambut datangnya
serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaam...! Ketika sepasang telapak bertemu satu sama lainnya,
terjadilah ledakan dahsyat yang menggeletar di udara, seluruh bumi
bergoncang dan debu serta pasir beterbangan memenuhi angkasa. Hee
Giong Lam merasakan tubuhnya bergetar keras, dengan kesakitan ia
menjerit keras dan darah segar muncrat keluar dari mulutnya... ia
mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.
Pukulan yang amat keras ini menggoncangkan seluruh tubuh Hee
Giong Lam, membuat otaknya mengalami goncangan keras dan
pikirannya menjadi kalut kembali, ia bergulingan di atas tanah lalu
mulai menyanyi, tertawa dan menangis dengan suara yang keras...
Hoa Pek Tuo teramat gusar, ia siapkan diri untuk melancarkan
tubrukan berikutnya, tetapi sebelum sang telapak siap dilancarkan ke
muka, tiba-tiba Pek In Hoei telah berseru dengan nada yang dingin :
"Jika engkau berani mengganggu seujung jarinya lagi, aku segera
akan membinasakan dirimu..."
1134
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... " dengan badan penuh berlepotan
darah Hee Giong Lam tertawa keras, sambil tertawa ia menjeritkan
nama Siok Peng tiada hentinya, suara itu begitu tak sedap didengar
membuat hati orang terasa bergidik dan bulu romanya pada bangun
berdiri.
"Siok peng... oooh! Siok Peng ku sayang... di mana engkau??...
Siok Peng ku sayang..."
Sambil menjerit-jerit ia mencak-mencak dan berlompatan dalam
gua itu, akhirnya dengan kaki telanjang ia lari keluar dari gua itu..
dalam gua hanya terdengar suara pantulan dari jeritan-jeritan
ngerinya...
Pantulan dari suara jeritan Hee Giong Lam lama sekali baru sirap
dari udara, suasana di sekeliing tempat itu pulih kembali dalam
kesunyian, di tengah kesunyian Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri
saling berhadapan muka dengan Hoa Pek Tuo, dari balik sorot mata
ke-dua belah pihak sama-sama memancarkan rasa benci dan dendam
yang amat sangat...
Suatu ketika Jago Pedang Berdarah Dingin berkata dengan suara
dingin :
"Semua tragedi yang amat tragis ini adalah hasil perbuatan dari
kau seorang.."
Hoa Pek Tuo tertawa dingin, dari balik sinar matanya yang penuh
kebencian terpancar rasa bangga dan dendam yang membara, ia
menjengek dan mencibirkan bibirnya.
"Tepat sekali pandanganmu itu..."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menunduk dan
memandang sekejap ke arah jenazah Kong Yo Siok Peng yang berada
di dalam pelukannya, rasa sedih dan perih muncul dalam hatinya, ia
mendendam terhadap dunia yang tak kenal kasihan itu, benci terhadap
kebengisan Hoa Pek Tuo... ia merasa gadis yang baik hati seperti
Kong Yo Siok Peng tidak seharusnya mati dalam usia yang muda...
tidak seharusnya gadis sebaik itu mengalami kejadian yang begitu
1135
Saduran TJAN ID
tragis... dengan sedih ia gelengkan kepalanya, air mata mengembang
dalam kelopak matanya.
"Beristirahatlah dengan tenang!" dengan sedih pemuda itu
menggerakkan bibirnya dan berbisik lirih, "Siok Peng, akulah yang
akan menagihkan hutang berdarah atas kematianmu itu..."
Hawa napsu membunuh yang tebal dan mengerikan terpancar di
atas wajahnya yang tampan, sorot mata yang tajam bagaikan pisau
belati perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah Hoa Pek Tuo, ujarnya
dengan suara dingin menyeramkan :
"Bangsat she Hoa! Tidak seharusnya engkau celakai dirinya
secara begitu keji..."
Hoa Pek Tuo terkesiap, rasa takut dan ngeri berkecamuk dalam
dadanya, dengan hati penuh ketegangan dan rasa was-was ia mundur
setengah ke belakang lalu tertawa seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... enak benar kalau bicara, toh bukan
aku yang membinasakan dirinya..."
1136
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 45
"HMMMM! Meskipun bukan kau yang turun tangan sendiri, tapi apa
bedanya kalau ia mati di tanganmu?"
"Tentu saja jauh berbeda," jawab Hoa Pek Tuo sambil gelengkan
kepalanya berulang kali, "meskipun nama dari aku Hoa Pek Tuo
dalam dunia persilatan tersohor sebagai seorang manusia yang berhati
hitam dan bertangan telengas, tetapi belum pernah kugunakan cara
yang paling keji untuk menghadapi seorang perempuan, kesemuanya
ini harus salahkan nasibnya yang kurang baik... siapa suruh ia
berjumpa dengan Hee Giong Lam yang edan..."
"Hehhmmm.... heeehhemmm... apa sebabnya Hee Giong Lam
bisa menjadi gila?... Ayoh jawab!"
Hoa Pek Tuo tarik napas panjang-panjang.
"Kau tak usah menyalahkan diriku..." serunya, "terus, terang saja
kukatakan bahwa aku pun tidak berharap gadis itu menemui ajalnya,
karena..."
Sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya, Jago Pedang
Berdarah Dingin telah menukas dengan suatu dengusan yang dingin
dan ketus yang begitu menyeramkan hatinya membuat kakek licik itu
buru-buru bungkam.
"Bukankah karena ia masih mempunyai nilai untuk kau
pergunakan tenaganya?" seru Pek In Hoei sinis.
Hoa Pek Tuo tertawa hambar.
"Tepat sekali perkataanmu itu," dia menjawab, "aku pun hendak
berkata demikian, selamanya aku selalu bertindak dengan cara yang
1137
Saduran TJAN ID
sama... asal aku merasa senang untuk mengerjakannya maka tanpa
tedeng aling-aling akan kuutarakan semua secara terbuka."
"Hmmm! Agaknya kau merasa amat bangga dengan hasil
kerjamu pada hari ini..." hardik Pek In Hoei ketus.
Mula-mula Hoa Pek Tuo nampak tertegun diikuti ia tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, meskipun
atas terjadinya peristiwa pada hari ini kurang memuaskan hatiku, akan
tetapi aku memang merasa agak bangga, karena hasil yang akan
kudapatkan pada hari ini ternyata jauh lebih banyak daripada apa yang
kuduga semula..."
Dengan perasaan sangsi Jago Pedang Berdarah Dingin menatap
rase tua itu tajam-tajam, ia temukan raut wajah Hoa Pek Tuo diliputi
hawa dingin yang menggidikkan hati.
Setelah termenung sebentar ia lantas menegur kembali.
"Aku rasa mungkin ada persoalan lain yang lebih membanggakan
hatimu."
"Haaaah... haaaah... haaaah... sedikit pun tidak salah, sekarang
aku telah mengalihkan tujuanku ke atas kepalamu."
"Persoalan apa?" tanya Pek In Hoei dengan wajah tertegun.
"Haaaah... haaaah... haaaah... aku menginginkan jiwamu... Pek In
Hoei! Aku telah mengincar jiwa anjingmu itu..."
Pek In Hoei mendengus, dengan sorot mata yang tajam ia
menjawab :
"Rase tua yang tak tahu diri... besar amat ambisimu itu...
semangkuk nasi belum habis dimakan sekarang sudah mengincar
mangsa yang lebih besar lagi... bagus! Aku Jago Pedang Berdarah
Dingin juga bukan seorang manusia yang berkepala tiga berlengan
enam, dalam pandanganmu mungkin dirimu menyerupai segumpal
daging yang gemuk, kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya."
Dengan sangat berhati-hati ia letakkan jenazah Kong Yo Siok
Peng di suatu sudut gua, setelah itu dipandangnya sekejap mayat sang
1138
IMAM TANPA BAYANGAN II
gadis yang baik hati itu, saking terharunya hampir saja ia tak mampu
mengendalikan air mata yang menetes keluar, pemuda itu menghela
napas panjang, satu senyuman dingin tersungging di ujung bibirnya
yang tipis, dengan penuh kebencian ditatapnya Hoa Pek Tuo tanpa
berkedip.
Criiingg...! Sekilas cahaya pedang yang menyilaukan mata
memancar keluar dari genggaman Jago Pedang Berdarah Dingin,
pedang mestikanya yang telah dicabut keluar perlahan-lahan diangkat
ke tengah udara, lalu sambil menatap wajah Hoa Pek Tuo dengan
sinar mata menggidikkan ia menegur :
"Hay rase tua, kau telah bersiap sedia?"
Tatkala menyaksikan pedang mestika penghancur sang surya
telah dicabut keluar, perasaan hati Hoa Pek Tuo seketika tercekat dan
bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia merasa pedang
mestika milik lawannya itu mendatangkan pengaruh yang amat besar
bagi dirinya, berulang kali dia bergebrak melawan si anak muda itu,
setiap kali hampir saja termakan oleh bacokan pedang tadi.
Setelah ragu sebentar, akhirnya dengan hati tegang ia berkata
dingin :
"Saudara...! Rasa benciku terhadap pedang mestika milikmu itu
jauh lebih tebal daripada rasa benciku terhadap engkau."
"Kau tiada beralasan untuk membenci pedangku ini... kalau ingin
membenci sepantasnya kalau benci terhadap diriku..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sedikit pun tidak salah," Hoa Pek
Tuo tertawa seram, "sejak engkau masuk ke dalam perkampungan
Thay Bie San cung aku sudah menyadari bahwa di kemudian hari
engkau akan merupakan musuh tangguhku dan engkau pula
merupakan satu-satunya orang yang akan saling merebut kekuasaan
dengan diriku... dalam pertarungan yang beberapa kali telah terjadi,
engkau selalu beruntung dapat melarikan diri dari cengkeramanku,
tapi malam ini... Hmmm... Hmmm... engkau tak akan menjumpai
1139
Saduran TJAN ID
nasib sebaik itu lagi, coba lihatlah tempat ini... engkau hanya dapat
masuk ke dalam dan tak mungkin bisa keluar lagi..."
"Aku sama sekali tidak ingin keluar dari sini," jawab Pek In Hoei
dengan nada sinis, "Hay rase tua, aku hendak membinasakan dirimu
karena berdasarkan akan dua alasan!"
"Coba kau katakan apa alasanmu?"
Raut wajah Jago Pedang Berdarah Dingin berkerut kencang,
dengan penuh kepedihan ia tarik napas panjang-panjang, matanya
berapi dan mukanya sinis, katanya dengan suara dingin :
"Pertama, engkau telah mencelakai jiwa seorang gadis yang tak
berdosa, dalam keadilan engkau mesti memberikan pertanggungan
jawab, kedua, ada permusuhan apa antara engkau dengan ayahku?
Mengapa kau himpun para jago lihay dari kalangan hek-to untuk
bersama-sama mengerubutinya di puncak gunung Cing Shia? Dari
dua hal tersebut di atas maka sudah sepantasnya kalau engkau
menerima kematian atas dosa-dosamu itu, bila aku orang she Pek
biarkan dirimu lolos dari keadilan ini, maka di kolong langit tentu tak
ada keadilan lagi..."
Dalam pandangannya seolah-olah dia melihat keadaan ayahnya
yang mati secara mengenaskan di puncak gunung Cing shia, rasa
dendam dan benci muncul dari dasar lubuk hatinya, seara lapat-lapat
air mata jago muda itu membuat pandangannya jadi kabur, seolaholah
dia melihat pula segumpal darah... darah yang menyiarkan bau
amis... kematian ayahnya dalam pandangannya, kian lama pandangan
itu kian jelas dan kian membesar...
Dengan sekujur badan gemetar keras Hoa Pek Tuo menjerit :
"Apa sangkut pautnya antara kematian ayahmu dengan aku?"
"Hmmm! Kau tak usah mungkir lagi, pemilik Benteng Kiam-poo
telah menceritakan kesemuanya kepadaku."
"Apa?" teriak Hoa Pek Tuo dengan badan gemetar, "apa yang ia
ceritakan kepadamu? Pek In Hoei, engkau jangan mengaco belo tak
karuan, persoalan ini dengan cepatnya sudah menjadi jelas... engkau
1140
IMAM TANPA BAYANGAN II
harus tahu, pemilik Benteng Kiam-poo mempunyai hubungan
persahabatan yang sangat erat dengan diriku..."
Pek In Hoei mendengus dingin, hawa napsu membunuh melintas
di atas raut wajahnya.
"Justru karena antara engkau dan dia punya hubungan
persahabatan yang erat maka aku baru percaya dengan apa yang telah
dikatakannya, Hoa Pek Tuo...! Buat apa engkau ingkari lagi perbuatan
yang sudah kau lakukan itu? Padahal sebelum pemilik Benteng Kiampoo
bercerita, aku sudah mencurigai akan dirimu, masih ingat bukan
dengan bekas robekan ujung jubah dari ayahku? Seandainya ayahku
bukan mati di tanganmu, kenapa engkau berusaha untuk merebut
kembali robekan jubah tersebut? Sekarang aku baru tahu mengapa
engkau berbuat begitu... Mengapa engkau berusaha keras untuk
merebut kembali robekan jubah itu, rupanya engkau hendak
melenyapkan bukti-bukti mengenai keterlibatanmu dalam persoalan
ini."
Semakin lama Hoa Pek Tuo merasa hatinya semakin tercekat,
satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :
"Rupanya segala sesuatu telah diketahui oleh bajingan cilik ini...
Hmmm! Cui Tek Li bajingan tua itu benar-benar bukan sahabat yang
baik, mak-nya... tak kusangka ia telah membocorkan rahasia itu
kepada dirinya... Hmmm! Ketahuilah aku Hoa Pek Tuo juga bukan
manusia yang gampang dipermainkan, aku harus berusaha untuk
memberikan pelajaran kepadanya."
Berpikir sampai di sini, ia lantas berkata dengan nada
menyeramkan :
"Aku tidak menyangkal kalau kematian ayahmu memang
melibatkan pula diriku, tetapi engkau pun harus tahu bahwa
persoalannya tidak sesempit itu, masih banyak orang yang terlibat
dalam peristiwa pengerubutan itu."
"Siapa saja mereka-mereka itu?" tanya Pek In Hoei sambil
menekan hawa membunuh yang berkobar dalam dadanya.
1141
Saduran TJAN ID
Sinar mata yang tajam memancar keluar dari balik mata Hoa Pek
Tuo, jawabnya :
"Pemilik Benteng Kiam-poo, Cui Tek Li merupakan tokoh yang
paling penting dalam peristiwa berdarah itu, Pek In Hoei! Ada satu
hal engkau harus bisa memahami, kedudukan Cui Tek Li dalam dunia
persilatan jauh lebih tinggi daripada diriku, semua peristiwa yang
terjadi dalam dunia persilatan tentu melibatkan pula dirinya, tempo
hari ketika ia sedang terikat oleh rasa dendam dengan ayahmu, ia
pernah bersumpah bahwa suatu ketika ayahmu akan dibunuh mati
dalam bacokan pedangnya, tentu saja orang yang merencanakan
pembunuhan terhadap ayahmu adalah dirinya, ia menyebarkan surat
undangan Bu-lim Tiap dan undang para jago lihay dari kalangan
hitam untuk bersama-sama kumpul di puncak gunung Cing-shia untuk
menantikan Pek Tiang Hong masuk perangkap, banyak orang jago
mengetahui akan persoalan ini..."
Manusia yang bernama Hoa Pek Tuo ini benar-benar sangat
lihay, ia sama sekali tidak mengingat tentang soal persahabatan,
setelah terdesak oleh keadaan maka semua tanggung jawab
dilimpahkan ke atas tubuh pemilik dari Benteng Kiam-poo, manusia
macam inilah yang disebut manusia rendah.
Dengan tenang Pek In Hoei mendengarkan kisah tersebut, lalu
ujarnya dengan nada sinis :
"Engkau benar-benar seorang manusia yang cerdik, sampaisampai
sahabat sendiri pun dijual!"
Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei bisa menyindir dan memperolok dirinya, air muka
kakek tua yang licik itu berubah hebat, sambil tertawa jengah katanya
:
"Siapa suruh Cui Tek Li mengkhianati diriku lebih dahulu, kalau
ia tidak membongkar rahasia lebih dahulu tak akan kuberitahukan
apa-apa kepadamu. Saudaraku, apa yang kuketahui telah
1142
IMAM TANPA BAYANGAN II
kuberitahukan semua kepadamu, apa rencanamu sekarang silahkan
diutarakan keluar!"
"Hmmm...! Beritahu kenapakah engkau ikut serta di dalam
gerakan pembunuhan terhadap ayahku..."
"Tentang soal ini..." Hoa Pek Tuo termenung sebentar lalu
meneruskan, "tentang soal ini sukar untuk dikatakan, ketika itu
keadaanku serba salah, kalau aku tidak ikut turun tangan maka orang
lain pasti akan menaruh kesalah-pahaman terhadap diriku, ketahuilah
musuh besar yang mempunyai rasa dendam dengan Pek Tiang Hong
bukan cuma aku seorang, yang ikut dalam pergerakan itu banyak...
banyak sekali..."
"Pernyataanmu itu sudah lebih dari cukup," tukas Pek In Hoei
sambil menggetarkan pedangnya, "kalau memang engkau termasuk di
antara salah satu pengerubut yang membinasakan ayahku, maka aku
tak bisa melepaskan dirimu lagi, Hoa Pek Tuo! Aku merasa amat
berterima kasih karena engkau telah membeberkan banyak rahasia
kepadaku, tapi sayang seribu sayang aku adalah seorang manusia
yang suka membedakan mana budi mana dendam, tak mungkin aku
lepaskan dirimu lagi dalam keadaan selamat..."
Sambil menyilangkan telapaknya di depan dada Hoa Pek Tuo
bergeser maju ke depan, ujarnya sambil tertawa seram :
"Aku belum pernah mengemis atau merengek kepadamu untuk
melepaskan diriku, saudara... oleh karena engkau sudah hampir mati
maka kubeberkan rahasia ini kepadamu, agar engkau sebelum
menemui ajalnya bisa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya,
dalam duduk perkara yang sebenarnya, dalam ketulusan engkau tahu
tentang rahasia ini atau tidak juga tak ada bedanya, malam ini aku
telah menyebarkan jaring langit yang tangguh di sekitar tempat ini,
tidak mungkin engkau bisa meloloskan diri dari tempat ini dalam
keadaan selamat. Hmmm... Hmmm... saudaraku, kau jangan salah
sangka, aku bukan sengaja menakut-nakuti dirimu dengan perkataan
seperti ini."
1143
Saduran TJAN ID
Air muka Jago Pedang Berdarah Dingin berubah amat ketus
bagaikan es, sedikit pun tiada perasaan, kecuali napsu membunuh dan
hawa kegusaran yang terpancar keluar dari balik matanya, masih ada
lagi suatu suara aneh tak berwujud yang mendengung di sisi
telinganya...
Suara itu bagaikan dipancarkan oleh seseorang yang dikenal
olehnya, seperti pula dipancarkan oleh seorang yang masih asing
baginya, suara itu serak dan berat se-akan memancar datang dari
neraka.
"Balaslah dendam! Balaslah dendam!"
Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan hatinya bergetar keras,
dengan pandangan penuh mendendam dia melotot ke atas wajah Hoa
Pek Tuo, dengan suara yang keras penuh bertenaga teriaknya :
"Hoa Pek Tuo, serahkan nyawamu!"
Bersamaan dengan bentakan tersebut, tubuhnya melayang maju
ke depan, pedang mestikanya laksana kilat berkelebat ke depan
melancarkan sebuah serangan hebat.
Dalam serangan ini dia telah menggunakan jurus serangan yang
paling ampuh dari ilmu pedang penghancur sang surya, bayangan
pedang terlihat memancar bagaikan gelombang, hawa pedang yang
dingin dan tajam mendesir dan membumbung di seluruh udara.
Hoa Pek Tuo seketika merasakan hatinya bergidik bercampur
ngeri tatkala menyaksikan datangnya serangan yang begitu cepat dan
lihaynya itu, karena itu tubuhnya buru-buru menyusut mundur ke
samping kiri, sedang telapak kanannya dengan cepat disodokkan ke
atas tulang iga musuhnya.
Ke-dua belah pihak sama-sama melancarkan serangan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, bukan saja mereka dibikin
terperanjat oleh keampuhan ilmu silat lawannya bahkan tak mengira
kalau kepandaian mereka masing-masing telah memperoleh
kemajuan yang demikian pesat.
1144
IMAM TANPA BAYANGAN II
Setelah melancarkan serangan telapak kanannya, Hoa Pek Tuo
mengirim pula satu tendangan kilat ke depan sambil serunya :
"Saudara, lihatlah serangan ini!"
Diam-diam Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa
terperanjat juga melihat kecepatan gerak musuhnya di dalam berganti
jurus, pedang mestika penghancur sang surya berputar seratus delapan
puluh derajat di tengah udara, ujung pedang yang tajam dingin
menciptakan sekilas cahaya yang tipis membacok Hoa Pek Tuo yang
sedang melancarkan tendangan itu.
Terancam oleh maut, buru-buru Hoa Pek Tuo tarik kembali
tubuhnya sambil berganti tujuh delapan jurus serangan di tengah
udara, setelah bersusah payah ia berhasil melepaskan diri dari
ancaman satu jurus tiga gerakan dahsyat dari lawannya.
Sekarang kakek licik yang berhati keji itu baru menyadari bahwa
kepandaian silat yang dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin benarbenar
telah peroleh kemajuan yang amat pesat sekali sehingga hampir
saja ia tak mampu mempertahankan diri, hatinya semakin tercekat dan
ditatapnya wajah Pek In Hoei dengan pandangan tajam sementara satu
ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :
"Sungguh tak kusangka kemajuan ilmu silat yang berhasil dicapai
keparat cilik ini jauh lebih lihay daripada diriku, tidak aneh kalau ia
berani menantang aku untuk berduel... rupanya ia memang benar
memiliki ilmu simpanan. Asal...! Tempo hari sewaktu aku bertarung
melawan Pek Tiang Hong ilmu silat yang dimiliki orang she Pek itu
belum berhasil mencapai taraf seperti apa yang berhasil diyakini oleh
anaknya... jangan putra dari Pek Tiang Hong ini benar-benar akan
memaksa diriku hingga tak dapat tancapkan kaki kembali di dalam
dunia persilatan..."
Kecerdikan orang ini memang luar biasa sekali, terutama
ketajaman perasaan hatinya setelah menyaksikan kemampuan yang
dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin itu, ia segera sadar bahwa
ambisinya untuk merajai dunia persilatan bakal buyar dan hancur
1145
Saduran TJAN ID
sampai di situ saja atau paling sedikit ia tak punya keyakinan untuk
merebut kemenangan selama berada di hadapan si anak muda itu.
Pukulan tersebut kalau dibicarakan terhadap diri Hoa Pek Tuo
boleh dibilang merupakan suatu pukulan batu yang sangat berat,
keadaan tersebut sama halnya dengan kaki yang dikait orang sesaat ia
hendak menduduki kursi kebesaran dunia persilatan hingga
mengakibatkan dirinya jatuh terjungkal ke atas tanah, sebelum
merasakan bagaimana nikmatnya menempati kursi kebesaran ia sudah
keburu jatuh terguling ke bawah.
Atas keadaan tersebut ia hanya bisa mendendam, membenci, iri
dengki dan ingin sekali menghancurkan si anak muda itu sehingga
rasa dongkol dan kesal yang menyelimuti benaknya dapat tersapu
lenyap, sebab kalau ia gagal melenyapkan pemuda tersebut maka
selama hidup tak mungkin lagi baginya untuk tancapkan kaki di
permukaan bumi.
Begitulah, dengan gemas dia ayun telapak kanannya sambil
membentak keras-keras :
"Saudara, aku sama sekali tak mampu untuk menahan dirimu!"
Hawa pukulan yang dilancarkan ke depan seakan-akan martil
berat yang menghantam ke atas tubuh Pek In Hoei, dalam waktu
singkat hawa pukulan yang amat tajam mengepung di sekeliling
tubuhnya, membuat daya tekanan kian lama kian bertambah berat, ia
menghembuskan napas panjang-panjang.
Suatu ketika pedang mestika penghancur sang surya-nya
menotok ke atas telapak tangan Hoa Pek Tuo yang sedang menyerang
itu, begitu mendadak dan hebatnya ancaman itu membuat Hoa Pek
Tuo jadi amat terperanjat dan buru-buru harus membuyarkan
ancamannya.
Kakek licik yang berhati keji itu tahu jika telapak kanannya tidak
segera ditarik kembali, maka andaikata sampai membentur dengan
ujung pedang lawan, kepandaian silat yang dimilikinya akan punah
1146
IMAM TANPA BAYANGAN II
dan musnah lama sekali, hatinya tercekat, buru-buru ia tarik kembali
pukulannya sambil ganti ayun telapak kirinya ke muka.
Bagian 43
PEK IN HOEI membentak keras, tubuhnya loncat maju ke depan
mengikuti kilatan cahaya pedangnya, setelah berputar satu lingkaran
di tengah udara pedang sakti membentuk gerak gelombang udara,
selapis demi selapis secara bertumpuk menekan tubuh Hoa Pek Tuo.
"Aaaah...! Jurus pedang sakti menembusi sang surya..." jerit Hoa
Pek Tuo dengan suara gemetar dan air muka berubah hebat.
Sampai di manakah keampuhan serta kedahsyatan dari jurus
serangan tersebut telah diketahui olehnya dengan hafal, karenanya
setelah menyaksikan Jago Pedang Berdarah Dingin melancarkan
serangan dengan jurus ampuh tersebut, saking kaget dan takutnya ia
menjerit keras tubuhnya secara beruntun mundur beberapa langkah ke
belakang lalu putar tubuh dan kabur dari tempat itu.
Sepasang mata Pek In Hoei berubah jadi merah berapi-api,
teriaknya penuh kegusaran :
"Bangsat tua, jangan melarikan diri!"
Hoa Pek Tuo telah menyadari bahwa kepandaian silat yang
dimilikinya tak mampu untuk melenyapkan si anak muda itu, ia tahu
bahwa tak ada gunanya untuk ribut terus dengan pemuda tadi sebab
kalau pertarungan dilanjutkan maka kemungkinan besar dirinya bakal
jatuh ke tangan musuh.
Oleh sebab itu sambil putar badan melarikan diri, teriaknya :
"Kau jangan keburu merasa bangga lebih dulu, kita lihat saja
bagaimana akhirnya nanti!"
Terlihatlah rase tua itu menggerakkan tubuhnya berulang kali,
bagaikan sesosok sukma gentayangan tubuhnya dengan cepat lenyap
di balik gua yang gelap.
1147
Saduran TJAN ID
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang tak sempat
melakukan pengejaran, terpaksa hanya bisa menghela napas panjang
sambil mendepak-depakkan kakinya belaka.
"Bangsat tua, kali ini engkau bisa lolos dari tanganku... tapi kau
jangan keburu senang hati... sekali pun engkau dapat terbang ke
langit, aku tetap akan mengejar dirimu sampai dapat."
Ia tahu bahwa Hoa Pek Tuo serta anak buahnya tak akan berlalu
dari sana dengan begitu saja, dia lantas mengambil keputusan setelah
mengubur jenazah dari Kong Yo Siok Peng, usaha pencarian itu baru
akan dilakukan.
Tatkala sinar mata si anak muda itu terlintas kembali di atas
wajah Kong Yo Siok Peng yang telah layu dan pucat mengerikan, rasa
sedih muncul dalam benaknya... dengan penuh kepedihan ia
menghela napas panjang kemudian perlahan-lahan mendekati mayat
gadis itu.
"Siok Peng!" bisiknya lirih, "setelah mati engkau akan
mendapatkan ketenangan yang benar-benar menyenangkan hatimu...
meskipun Hee Giong Lam yang mencekik dirimu sampai mati, akan
tetapi kau tak usah membenci atau mendendam terhadap dirinya,
karena dia hanya seorang gila yang tak waras otaknya, kau tentu tahu
bukan... setelah otaknya waras kembali dan mengetahui kalau engkau
mati tercekik di tangannya, betapa sedih dan perih hatinya sehingga
air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajahnya... ia membenci
terhadap dirinya sendiri. Oooh Siok Peng! Keadaan tersebut
merupakan suatu hukuman yang sadis terhadap diri, maka engkau
jangan menyalahkan ayah angkatmu, aku paling memahami perasaan
hatinya... Aaaai... engkau pun kasihan sekali..."
Jago Pedang Berdarah Dingin menghela napas dengan amat
sedihnya, dengan tangan gemetar keras ia peluk tubuh Kong Yo Siok
Peng ke dalam pelukannya, diciumnya pipi yang dingin dan pucat itu
lalu berdiri termangu-mangu di tempat semula tanpa mengetahui apa
1148
IMAM TANPA BAYANGAN II
yang hendak dilakukan olehnya, terdengar pemuda itu bergumam
seorang diri :
"Siok peng,kematianmu sungguh penasaran sekali... aku hendak
mengubur jenazahmu di suatu tempat yang indah dan tenang, bunga
yang segar dan beraneka warna akan selalu memenuhi kuburanmu,
burung kecil akan hinggap di atas kuburanmu sambil
memperdengarkan kicauannya yang merdu... kau tak akan merasa
kesepian, karena kau masih ada seseorang yang mencintai dirimu dan
hingga kini pun masih mencintai dirimu... semoga sukmamu di langit
bisa selalu mendampingi aku, melihat aku balaskan dendam bagimu."
Langkah kaki yang berat kian lama kian terdengar nyaring,
dengan penuh kepedihan Jago Pedang Berdarah Dingin membopong
jenazah kekasihnya yang pertama dan menggerakkan tubuhnya maju
ke depan dengan wajah yang bingung dan pandangan yang kosong...
Ia hanya tahu berjalan... dan berjalan terus... dari satu gua masuk
ke gua lain... ia sendiri pun tak tahu apakah bisa keluar dari situ atau
tidak karena banyak tikungan terdapat di sana seolah-olah semua jalan
bisa tembus ke tempat luaran, namun setelah berputar setengah harian
di sana ia masih tetap berkeliaran di tengah kegelapan.
"Uuuh... nguuuhh... nguuuh..."
Dari balik gua yang gelap tiba-tiba berkumandang datang suara
isak tangis yang amat lirih, Jago Pedang Berdarah Dingin amat
terperanjat, kesadarannya segera menjadi jernih kembali dan
diperhatikannya sekeliling tempat itu dengan hati-hati.
"Masa di tempat ini pun masih ada orang lain..." pikirnya di
dalam hati.
Setelah mendengar isak tangis seorang perempuan yang begitu
nyaring, pemuda itu baru teringat apa sebabnya sampai sekarang Wie
Chin Siang belum nampak juga munculkan diri? Apakah dia pun
terkurung dalam gua itu karena hendak menemukan jejaknya?
Tak mungkin! Kenapa Wie Chin Siang menangis terisak di situ?
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya tak mungkin dara itu bisa
1149
Saduran TJAN ID
terkurung di tempat seperti ini, jelas perempuan yang sedang
menangis itu adalah perempuan lain... tapi siapakah dia?
Persoalan ini dengan cepatnya berubah jadi satu pertanyaan di
dalam benak Jago Pedang Berdarah Dingin, dengan sangat hati-hati
ia mencari... dan memeriksa di sekitar tempat itu, di hendak
membuktikan benarkah di tempat itu terdapat seorang perempuan
sedang menangis?
Lama sekali dia mencari... tapi akhirnya kecewa, karena ia tidak
mendengar suara isak tangis itu lagi bahkan suara napas manusia pun
tak kedengaran.
Dengan ketajaman telinga serta kesempurnaan tenaga dalamnya,
mencari jejak seseorang bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu sulit,
tetapi perempuan itu sama sekali tidak meninggalkan sedikit suara
pun, inilah yang menyulitkan pemuda tersebut, sebab satu-satunya
petunjuk telah hilang lenyap pula.
Perlahan-lahan Pek In Hoei bergerak maju ke depan, kemudian
tegurnya dengan suara lirih :
"Siapakah engkau?"
Tiada jawaban yang terdengar dari balik gua yang gelap gulita
itu, yang terdengar hanya pantulan suara sendiri... Pek In Hoei jadi
kecewa dan putus asa, ia mulai mencurigai telinga sendiri.
"Hmmmmm...! Hmmmm...!"
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang datang suara
dengusan berat, terdengar seseorang berseru dengan suara yang
dingin menyeramkan.
"Perempuan rendah yang tak tahu diri, siapa suruh engkau
menangis terus...
Plooook...! Sebuah gaplokan nyaring berkumandang datang
dengan jelasnya, Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggerakkan
tubuhnya dan menerjang ke arah mana berasalnya suara tadi.
Di tengah kegelapan ia lihat ada sesosok bayangan manusia
sedang lari ke depan dengan cepatnya, bahkan terdengar pula suara
1150
IMAM TANPA BAYANGAN II
derap kaki yang keras, sepasang matanya kontan melotot bulat,
dengan penuh kegusaran pemuda itu menghardik :
"Jangan lari!"
Suara isak tangis seorang perempuan berkumandang datang dari
samping sebelah kiri, Pek In Hoei segera menghentikan langkahnya
dan berpaling, ia lihat seorang gadis baju hijau dengan pakaian yang
kusut dan wajah menampilkan rasa takut sedang bersembunyi di suatu
sudut gua, sepasang matanya yang memancarkan rasa ngeri dialihkan
ke atas wajahnya, seakan-akan gadis itu merasa takut kalau dirinya
bakal dianiaya.
"Siapa kau?" tegur Pek In Hoei sambil menghela napas ringan.
Perlahan-lahan gadis baju hijau itu menyeka air mata yang
membasahi wajahnya, lalu menjawab :
"Liok Hong!"
"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Jago Pedang Berdarah
Dingin dengan suara tercengang.
Liok Hong menggeserkan tubuhnya dan perlahan-lahan bangun
terduduk, jawabnya :
"Seperti pula engkau aku pun berada dalam kesulitan, bagaimana
caranya engkau masuk kemari begitu pula caraku masuk ke sini,
selam berada di tempat setan seperti ini, siapa pun akan datang kemari
secara otomatis..."
"Ooooh...! Jadi engkau tertawan oleh mereka..."
"Ditawan dan dirampas apa bedanya?" kata Liok Hong dengan
penuh kesedihan, "meskipun ayahku beruntung bisa lolos dari
cengkeraman maut, namun keadaannya tidak berbeda jauh dengan
kematian, tujuan mereka merampas aku datang kemari bukan lain
adalah untuk menghadapi ayahku..."
"Bukankah kau mengatakan bahwa ayahmu terluka..." seru Pek
In Hoei tertegun.
Liok Hong menggeleng.
1151
Saduran TJAN ID
"Keadaannya jauh lebih menyedihkan daripada terluka, karena ia
bakal kehilangan satu-satunya putri yang dia cintai, ayahku adalah
seorang lelaki yang terlalu menjaga gengsi, bila dia tahu kalau aku
dikurung di dalam suatu tempat seperti neraka ini, sudah pasti ayahku
akan mati karena mendongkol. Aaaaai...! Kesemuanya ini harus
salahkan nasibnya yang buruk..."
"Kenapa mereka kurung dirimu di sini?" tanya Jago Pedang
Berdarah Dingin lagi dengan tidak habis mengerti.
Liok Hong menghela napas panjang.
"Buat apa lagi? Tentu saja aku dijadikan sandera! Kalau aku tidak
ditangkap dan dilarikan ke sini, dari mana mereka bisa memaksa
ayahku untuk tunduk terhadap perintahnya? Aaaaai...! Entah
bagaimanakah kehidupanku di kemudian hari..."
"Kalau aku menjadi dirimu maka aku akan berusaha melarikan
diri dari tempat ini..."
Tiba-tiba Liok Hong menengadah ke atas dan tertawa terbahakbahak,
dengan tubuh gemetar keras katanya :
"Di tempat ini gua berhubungan dengan gua, satu tempat
bersambung dengan tempat lain dan keseluruhannya berjumlah tujuh
puluh dua gua, bagi mereka yang telah masuk ke dalam tempat yang
sangat gelap ini maka selamanya tak akan mampu menemukan jalan
keluar... aku sudah mencobanya beberapa kali, tapi setiap kali selalu
mengalami kegagalan total... sahabat senasib sependeritaan, aku lihat
lebih baik engkau duduk di sini saja dengan tenang! Kalau tidak
seperti juga diriku, walau sudah ribut sendiri dan lari ke sana kemari
dengan kebingungan akhirnya toh sama saja tak bisa keluar dari
tempat ini..."
"Aku tidak percaya..." seru Pek In Hoei sambil menggeleng.
Rupanya pemuda itu tidak habis mengerti apa sebabnya gadis itu
lebih suka terkurung di tempat yang gelap dan terpisah dari alam
bebas itu daripada harus mencari jalan keluar, dengan pandangan
tajam ditelitinya gadis itu dengan seksama, ia mengetahui bahwa dara
1152
IMAM TANPA BAYANGAN II
muda itu tidak mengerti akan ilmu silat, pemuda itu jadi semakin
tercengang, ia tak tahu apa sebabnya Hoa Pek Tuo mengurung pula
seorang gadis yang tak mengerti akan ilmu silat di tempat seperti ini...
Setelah berpikir sebentar pemuda itu menghela napas panjang,
ujarnya lirih :
"Katakanlah padaku, apa sebabnya mereka merampas dirimu dan
dijebloskan ke tempat ini?"
"Apa sih sangkut pautnya persoalan ini dengan dirimu? Sahabat
senasib sependeritaan, antara manusia dengan manusia selamanya
mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada orang
lain, ke-dua belah pihak selalu mempunyai kepentingan untuk
menghormati kedudukan pihak lawannya, bila aku merasa bahwa
urusan itu pantas diberitahukan kepadamu tentu saja akan
kuberitahukan kepadamu, sebaliknya kalau aku merasa tidak pantas
untuk mengatakannya keluar, sekali pun engkau paksa diriku pun
belum tentu aku mau bicara... jangan marah, apa yang kukatakan
adalah ucapan yang sejujurnya..."
Dengan termangu-mangu ditatapnya langit-langit gua itu sambil
termenung, rupanya ia sedang mengenang kembali akan sesuatu
peristiwa, kemudian dengan suara gemetar ujarnya :
"Siksaan serta penderitaan yang kualami selama ini telah
membuat nyaliku bertambah besar, aku pernah beberapa kali
merencanakan siasat untuk membujuk orang-orang yang membawa
aku masuk ke sini untuk membawa aku keluar lagi dari tempat ini,
akan tetapi usahaku itu setiap kali mengalami kegagalan total... aku
sudah merasa cukup hidup di tempat penuh siksaan bagaikan neraka
ini, aku ingin sekali menumbukkan kepalaku di atas dinding hingga
mati..."
Ia melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu
tegurnya kembali :
"Siapakah kau?"
1153
Saduran TJAN ID
"Aku adalah seorang manusia yang bersedih hati, nasibku hampir
sama dengan nasibmu...!"
Biji mata Liok Hong yang jeli tiba-tiba dialihkan ke atas tubuh
Kong Yo Siok Peng, lalu bisiknya kembali :
"Dan dia..."
"Seorang gadis yang telah mati..."
Dalam dugaan Pek In Hoei semula, Liok Hong tentu akan merasa
terperanjat setelah mengetahui bahwa Kong Yo Siok Peng telah mati,
atau dia akan menjerit ketakutan, siapa tahu gadis itu sama sekali tidak
menunjukkan sesuatu perubahan apa pun.
"Ooooh... kembali ada seorang mati!" ia berbisik.
"Eeei... rupanya kau sudah terbiasa menyaksikan keadaan seperti
ini, sehingga sama sekali tidak kelihatan kaget," seru Pek In Hoei
dengan hati bergetar keras.
Liok Hong sama sekali tidak marah atau menjadi gusar karena
perkataan Pek In Hoei yang mengandung sindiran itu, ia benahi
rambutnya yang kusut lalu tertawa hambar ke arah Pek In Hoei,
jawabnya :
"Kau bisa punya pendapat begitu berhubung engkau masih belum
dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar tempat ini,
seandainya tiap hari yang kau lihat adalah orang mati melulu maka
kau tak akan menjadi heran dengan sikapku itu..."
"Ooooh... sudah berapa lama engkau berada di tempat ini?"
Liok Hong tertawa.
"Tiga bulan lebih dua hari, kalau aku tidak berjumpa dengan
dirimu mungkin aku sendiri pun tak akan tahu sudah berapa lama aku
berada di sini. Aaaai... meskipun baru tiga bulan lamanya, namun aku
merasa bahwa diriku telah hidup selama satu tahun di dalam neraka..."
Bicara sampai di sini ia segera menutupi wajahnya kembali dan
menangis tersedu-sedu, suaranya berkumandang hingga memenuhi
seluruh ruang gua.
1154
IMAM TANPA BAYANGAN II
Meskipun Pek In Hoei adalah seorang pemuda tinggi hati yang
sombong dan suka menyendiri, namun ia merasa kasihan dan simpatik
sekali terhadap bencana yang dialami gadis itu, ia tahu selama hidup
di tempat itu pasti banyak penderitaan serta penghinaan yang dialami,
kalau tidak tak mungkin gadis itu merasa sedih sekali..."
Perlahan-lahan ia menepuk bahunya, dan berkata :
"Jangan terlalu sedih, aku akan berusaha membawa engkau
keluar dari sini dan mengantar dirimu pulang..."
"Aku sudah tak punya muka untuk bertemu dengan ayahku lagi,
karena aku sudah memalukan dirinya," seru Liok Hong sambil
menangis tersedu-sedu, "aku hendak membunuh manusia-manusia
terkutuk itu dengan tangan sendiri... kalau tidak maka aku tak dapat
mencuci bersih penghinaan serta rasa malu yang telah melekat pada
tubuhnya, tolong sudilah engkau membantu usahaku ini."
Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kau masih terlalu kekanak-kanakan, masih banyak urusan yang
tidak kau pahami..." katanya.
Hawa dingin yang menggidikkan hati berhembus lewat di dalam
gua yang gelap gulita itu, Liok Hong nampaknya seperti ketakutan...
dia tujukan wajahnya yang putih dan diliputi rasa ngerti tersebut
memandang ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin dengan sorot mata
memohon... air mata nampak mengembang dalam kelopak matanya...
bibir yang merah dan mungil bergerak lirih seperti mau mengucapkan
sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang diutarakan keluar.
"Kau kedinginan?" tanya Pek In Hoei sambil memandang ke arah
gadis itu.
Rupanya gadis itu merasa agak kedinginan, per-lahan ia
menggeserkan tubuhnya dan merapat di tubuh pemuda itu, bau harum
yang aneh tersiar kelua dari tubuhnya.
Perlahan-lahan Jago Pedang Berdarah Dingin menggeserkan pula
badannya ke belakang, lalu berkata :
1155
Saduran TJAN ID
"Jika engkau merasa kedinginan, aku akan melepaskan
pakaianku untuk dikenakan di atas tubuhmu.. nona! Engkau duduklah
sebentar di tempat ini... aku hendak mencari suatu tempat untuk
mengebumikan jenazah sahabatku ini terlebih dahulu!"
"Apakah dia adalah kekasihmu?" tanya Liok Hong dengan suara
dingin.
Pek In Hoei tertegun.
"Pertanyaan itu tak kuketahui mesti dijawab secara bagaimana,
tapi yang jelas di adalah gadis pertama yang kukenal... meskipun
hubungan kami boleh dibilang tidak begitu rupa dan merah, akan
tetapi aku tak dapat melupakannya..."
"Bagus sekali kalau ia bisa mati..." sela Liok Hong tanpa
perubahan di atas wajahnya.
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, tegurnya dengan suara
dingin :
"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata seperti ini?"
Di atas raut wajahnya tetap tidak menunjukkan perubahan apa
pun, hanya ditatapnya wajah Pek In Hoei yang sedang marah itu
dengan pandangan dingin, lalu tertawa-tawa.
"Kau marah karena perkataanku itu? Janganlah terlalu sedih, aku
berkata demikian karena bermaksud baik, coba pikirlah pada masa
hidupnya mungkin gadis itu merasa tidak terlalu bahagia, tetapi
setelah dia mati dan tiba-tiba ada seorang pria merasa sedih karena
kematiannya, bukankah hal itu memperlihatkan bahwa kematian jauh
lebih baik daripada kehidupan...? Kalau aku yang menghadapi
kejadian seperti ini, maka aku lebih rela mati daripada harus hidup
sebatang kara dan merasakan segala macam penderitaan serta
siksaan..."
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmmmm! Pandai amat engkau melukiskan kenyataan tersebut!"
jengeknya.
Liok Hong pun mendengus.
1156
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kau tak usah menggunakan kata-kata seperti itu untuk
menyindir diriku, walaupun sekarang keadaanku jelek dan dekil
sekali akan tetapi di masa yang silam aku pun seorang gadis kaya yang
agung, kalau engkau pernah datang ke rumahku maka kau tak akan
menertawakan keadaanku ini..."
"Aku rasa ayahmu tentulah seorang jago kenamaan dalam dunia
persilatan bukan?" seru Pek In Hoei.
Liok Hong tertawa bangga.
"Meskipun bukan keluarga kenamaan tetapi nama besarnya
diketahui pula oleh sebagian besar orang Bu-lim atau paling sedikit
selama berada di wilayah See-Lam, asal kita mengungkap tentang
rumah megah hijau daun maka semua orang segera akan acungkan
ibu jarinya..."
"Apa?? Jadi engkau adalah putri dari hartawan kaya raya di
wilayah See-Lam..." seru Pek In Hoei terperanjat.
Ketika masih kecil ia sering mendengar ayahnya bercerita bahwa
orang yang paling kaya raya di daratan Tionggoan adalah rumah hijau
di wilayah See-lam, terutama sekali gedung megah hijau dan yang
dibangun dengan segala kemegahan dan kemewahan boleh dibilang
merupakan bangunan terbagus di seluruh daratan.
Oleh sebab itulah ketika pemuda itu mengetahui bila Liok Hong
yang berada di hadapannya bukan lain adalah putri dari hartawan kaya
raya di wilayah See-lam, rasa kagetnya sukar dilukiskan lagi dengan
kata-kata.
Dengan pandangan dingin Liok Hong melirik sekejap ke arahnya,
lalu berkata :
"Ehmmm... rupanya tidak sedikit urusan yang engkau ketahui!"
Pek In Hoei tertawa getir.
"Nona!" serunya, "aku tak dapat menemani dirimu, aku harus
mengebumikan jenazah sahabat lebih dahulu, kalau tidak maka
mayatnya akan membusuk, aku tak punya waktu untuk menemani
1157
Saduran TJAN ID
dirimu lebih lama lagi, kalau nasib kita memang jelek maka kita
berdua akan bersama-sama terkurung di tempat ini."
Liok Hong menghela napas panjang.
"Aaaaai... kau tak usah buang tenaga dengan percuma, di tempat
ini kau tak akan menemukan jalan keluar untuk meloloskan diri..."
"Bagaimana pun juga aku harus memilih suatu tempat yang agak
baik untuk mengebumikan jenazahnya lebih dahulu, aku toh tak dapat
membiarkan mayatnya terlontang di udara terbuka untuk menerima
siksaan angin dingin yang berhembus di tempat ini... nasibnya sudah
terlalu malang, aku tak boleh membiarkan dia lebih tersiksa lagi!"
Liok Hong berpikir sebentar, tiba-tiba serunya :
"Ooooh...! Aku teringat akan suatu tempat yang bagus..."
"Di manakah letaknya?" tanya Pek In Hoei cepat dengan hati
kegirangan.
Namun Liok Hong segera menggeleng kembali.
"Tempat itu tak dapat kuberikan kepadanya, karena aku telah
mempersiapkan diri untuk kugunakan sendiri..."
"Aaaai...! Apakah kau juga ingin mati?" tanya Jago Pedang
Berdarah Dingin sambil menghela napas panjang.
"Ehmmm! Daripada hidup di kegelapan aku rasa jauh lebih enak
kalau aku mati saja, oleh karena itulah seringkali aku memikirkan
tentang soal kematian, setiap kali ingatan tersebut muncul dalam
benakku maka aku pun mencari tempat yang indah untuk mengubur
jenazahku, sungguh tak kusangka di dalam gua ini memang benarbenar
terdapat suatu tempat seperti itu, bukan pemandangannya saja
yang indah bahkan orang pun sulit untuk menemukan tempat itu..."
Sambil memandang ke arah wajah pemuda itu, ia tertawa getir
lalu melanjutkan :
"Tahukah engkau bahwa di tempat ini terdapat tujuh puluh dua
buah gua? Dari pengamatanku yang teliti, di antara sekian banyak gua
yang terdapat di sini hanya ada sebuah gua saja yang terang
benderang, di siang hari kita bisa melihat sinar matahari dan di malam
1158
IMAM TANPA BAYANGAN II
hari kita menyaksikan rembulan, tetapi satu-satunya yang kurang
bagus adalah empat penjuru merupakan dinding gua yang tinggi
hingga tak mungkin bisa keluar dari situ... sebab tempat itu terletak di
pusat paling tengah yang dikelilingi oleh ke-tujuh puluh dua gua
lainnya..."
"Ooooh yaaaah? Aku punya akal untuk keluar dari sini..."
"Hmmm! Kau tak usah berlagak sok pintar, selama jangka waktu
tiga bulan aku telah mencoba dengan segala cara untuk keluar dari
tempat itu, akan tetapi semua cara yang kupergunakan selalu gagal
dan tak sebuah pun yang berhasil."
Pek In Hoei tertawa rawan.
"Kau mengalami kegagalan karena kau masih belum paham
dengan keadaan situasi di tempat ini!"
Dia tarik napas panjang-panjang, setelah berhenti sebentar
lanjutnya lebih jauh:
"Orang bisa terkurung di tempat ini karena suasana di sini selalu
diliputi oleh kegelapan, agar orang masuk kemari tak jelas arah
tujuannya, kalau kita mau keluar dari sini maka pertama-tama harus
mencari tujuh puluh dua batang obor lebih dahulu, kemudian
memancarkannya di setiap gua, dengan begitu secara mudah kita akan
temukan jalan keluar dari gua ini..."
Dalam anggapan Jago Pedang Berdarah Dingin akalnya ini boleh
dibilang amat cerdik dan sempurna sekali tetapi bagi Liok Hong
bagaikan kepalanya diguyur oleh sebaskom air dingin, ia segera
tertawa dingin dan gelengkan kepalanya berulang kali.
"Enak amat jalan pikiranmu itu," serunya, "jangan dibilang sulit
bagi kita untuk menemukan ke-tujuh puluh dua batang obor,sekali
pun bisa kita peroleh kau pun tak mungkin bisa menancapkan tiap
obor tersebut pada mulut gua, sebelum kau selesai menancapkan
obor-obor itu mungkin api tersebut sudah dipadamkan lebih dahulu
oleh orang... engkau jangan mengira kalau orang-orang itu akan
melepaskan dirimu dengan gampang, aku lihat lebih baik engkau
1159
Saduran TJAN ID
jangan bermimpi di siang hari bolong, jangan dibilang mau melarikan
diri dari sini, kemungkinan besar gerak-gerik kita pada saat ini pun
berada di bawah pengawasan orang-orang ini..."
Atas kecerdikan dan ketelitian gadis muda itu, diam-diam Pek In
Hoei merasa amat kagum, dengan sedih ia menghela napas panjang
lalu memandang ke arah jenazah Kong Yo Siok Peng yang berada
dalam pelukannya dengan pandangan sedih.
Pada saat itulah... tiba-tiba ia merasa tidak jauh di tempati itu
berkumandang datang suara dengusan napas seseorang.
Dengan cepat ia gerakkan tubuhnya sambil melancarkan sebuah
serangan ke arah depan, hardiknya dengan suara berat :
"Sahabat, ayoh cepat keluar dari tempat persembunyianmu!"
"Blaaaam... ! Angin pukulan yang berat dan dahsyat itu
menghajar di atas tanah dan menimbulkan percikan dan debu dan
pasir beterbangan di angkasa...
"Aduuuuh...! Jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian,
seorang pria kekar sambil muntah darah segar jatuh terkapar ke atas
tanah.
Liok Hong menghela napas panjang, ujarnya :
"Orang ini pastilah dikirim oleh Hoa Pek Tuo untuk mencuri
dengar pembicaraan kita!"
Dengan pandangan dingin Pek In Hoei memandang sekejap ke
arah jenazah pria kekar itu, wajahnya sama sekali tidak menampilkan
rasa kasihan atau iba, senyuman sinis yang amat dingin tersungging
di ujung bibirnya.
"Hmmm! Mencari kematian buat diri sendiri..." serunya gemas.
Air muka Liok Hong berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dia
pun berbisik :
"Sungguh kuat dan dahsyat angin pukulan yang engkau lancarkan
itu..."
Tiba-tiba dari ruangan berkumandang datang jeritan lirih, Jago
Pedang Berdarah Dingin segera meletakkan jenazah Kong Yo Siok
1160
IMAM TANPA BAYANGAN II
Peng ke atas tanah, lalu cabut keluar pedang mestika penghancur sang
surya-nya dan memburu ke depan.
Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang lenyap dari
pandangan, satu senyuman sinis tersungging di ujung bibir Liok
Hong.
Tiba-tiba dari belakang tubuhnya berkumandang suara ketukan
batu yang amat lirih, ia segera putar badan dan loncat ke samping
dinding batu itu, setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia
singkirkan sebuah batu cadas yang menonjol di situ dan bertanya :
"Majikan, kau ada pesan apa yang hendak disampaikan
kepadaku?"
"Bagaimana hasil dari pekerjaanmu ini?" dari balik gua kecil di
atas dinding batu itu bergema keluar suara teguran yang dingin.
"Saat ini hatinya sedang sedih dan untuk beberapa saat lamanya
mungkin sukar untuk masuk jebakan, majikan! Harap engkau suka
memberi waktu kepadaku, karena kau pun mesti tahu bahwa
pekerjaan ini tak dapat segera mendatangkan hasil..."
"Ehmmm..." suara dari Hoa Pek Tuo bergema lagi dari balik
lubang gua, "engkau harus berusaha secepatnya untuk mendapat
jurus-jurus rahasia dari ilmu pedang penghancur sang surya, engkau
harus tahu sampai sekarang aku tak bisa membinasakannya dirinya
lantaran jurus pedang yang dimilikinya itu terlalu lihay, asal aku bisa
berlatih pula jurus-jurus serangan itu maka dengan cepat aku bisa
menaklukkan dirinya..."
"Aku mengerti!" jawab Liok Hong lirih.
"Inilah satu-satunya cara yang dapat kau lakukan untuk
membalas budi kepadaku, bila pekerjaan ini dapat kau lakukan
dengan baik dan sukses maka aku segera beri kebebasan kepadamu
untuk berlalu dari sini, sebaliknya kalau engkau gagal untuk mencapai
tujuan tersebut, maka aku pun mempunyai akal untuk menghadapi
dirimu."
"Aku tahu... aku tahu...!"
1161
Saduran TJAN ID
Hoa Pek Tuo tertawa seram dan tiada perkataan yang
berkumandang kembali, Liok Hong sendiri bagaikan pikirannya
ditindihi dengan suatu masalah yang amat berat ia berdiri menjublak
di depan gua.
Menanti didengarnya ada suara langkah kaki yang berkumandang
datang, ia baru tersentak bangun dari lamunannya, buru-buru ia
singkirkan kembali batu besar itu ke tempat semula lalu duduk
kembali di atas tanah.
Beberapa saat kemudian Pek In Hoei munculkan diri di tempat
itu, dengan suara lirih Liok Hong segera menegur :
"Berhasil kau kejar?"
"Tidak!" jawab pemuda itu sambil menggeleng.
Tiba-tiba dari balik mata Liok Hong memancar keluar sinar mata
yang mempesonakan hati, biji matanya bagaikan air bening yang
memandang ke arah pemuda itu dengan sorot aneh, hal ini membuat
Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan tubuhnya gemetar keras, ia
merasa sinar aneh yang terpancar keluar dari balik mata lawannya
belum pernah dijumpai sebelum ini, ia merasakan pikiran dan hatinya
seakan-akan terbetot oleh biji mata lawan membuat ia tak mampu
mengucapkan sepatah kata pun dan memandang ke arahnya dengan
pandangan aneh...
Liok Hong tersenyum manis, dengan suatu gerakan yang tak
disengaja dia lepaskan kancing baju pada bagian dadanya sehingga
terlihatlah kulit tubuhnya yang putih bersih bagikan salju, ia tertawa
jengah dan dari wajahnya terpancar keluar suatu sikap yang aneh tapi
mempesonakan hati orang.
"Ooooh...! Sakit amat lenganku ini..." bisiknya.
"Perlahan-lahan dia lepaskan pakaiannya dari atas badan lalu
menjulurkan lengan tangannya yang putih ke hadapan Pek In Hoei.
"
1162
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ehmmm... putih sekali lenganmu ini," bisik Jago Pedang
Berdarah Dingin dengan suara lirih.
"Kau suka dengan tanganku ini?" gadis itu bertanya sambil
tertawa merdu.
Jago Pedang Berdarah Dingin tidak bicara apa-apa, dia
memegang lengan yang putih itu dan menggenggamnya kencangkencang.
Liok Hong mengeluh lirih, ia jatuhkan diri ke dalam pelukan
pemuda itu dan berseru dengan nada manja :
"Asal engkau suka, maka aku akan menyerahkan seluruh tubuhku
kepadamu... terserah engkau mau berbuat apa saja dengan diriku..."
Tiba Jago Pedang Berdarah Dingin putar tangannya dan
mendorong tubuhnya keluar, kemudian menggaplok pantatnya keraskeras.
"Hmmm! Engkau pandai sekali bermain sandiwara, rupanya kau
berasal dari pemain panggung..." hardiknya sinis.
Liok Hong tertegun, ia tidak mengira kalau Pek In Hoei bakal
menghadiahkan sebuah pukulan ke arahnya di kala pemuda itu hampir
saja terjebak di dalam rayuannya, dengan suara gemetar serunya :
"Kau... kau berani memukul aku?"
"Hmmm! Engkau jangan mencoba untuk bermain sandiwara di
hadapanku," tegur Jago Pedang Berdarah Dingin dengan ketus,
"seandainya aku tidak memandang dirimu sebagai seorang gadis,
hmmmm! Pada saat ini kemungkinan besar tubuhmu sudah terkapar
di atas tanah dengan napas yang lemah..."
"Aku tidak mengerti apa maksudmu berbuat begitu kepadaku?"
seru Liok Hong sambil menangis tersedu-sedu, wajahnya pucat pias
bagaikan mayat, "aku toh sedang berada dalam kesulitan seperti
halnya pula dengan dirimu, aku hanya berharap bisa mendapat
seseorang kekasih, sungguh tak nyana engkau begitu tak tahu diri,
sedikit pun tidak memiliki perasaan untuk kasihan menyayangi
diriku... coba lihatlah betapa dingin dan sunyinya tempat ini, waktu
1163
Saduran TJAN ID
berlalu dengan lambat sekali... aku sengaja berbuat begitu tujuanku
bukan lain agar waktu bisa berlalu dengan cepatnya, aku ingin
memberikan sedikit warna dalam kehidupan ini... agar napsu berahi
melupakan diriku, tapi akhirnya... engkau sama sekali tak dapat
menikmati keindahan tersebut, bahkan malah..."
"Tak tahu malu!" maki Pek In Hoei dengan wajah sinis, "engkau
benar-benar seorang perempuan yang tak tahu malu, tak kusangka
engkau bisa menggunakan cara yang begini rendah untuk memancing
aku masuk perangkap... Hmm! Aku Pek In Hoei adalah seorang pria
sejati, aku tak nanti akan terperangkap oleh siasatmu itu!"
Sambil menangis terisak Liok Hong gelengkan kepalanya
berulang kali.
"Perkataanmu itu benar-benar membuat hati orang jadi
penasaran, sikapku terhadap dirimu kuperlihatkan karena dasar cinta
yang sejati, aku tidak mempunyai keinginan apa-apa, mengapa
engkau menganiaya diriku dengan kata-kata yang begitu menghina..."
Perempuan ini benar-benar sangat lihay sehingga membuat Jago
Pedang Berdarah Dingin merasa kewalahan untuk menghadapinya,
dari wajahnya yang murung serta perkataannya yang mempesonakan
sudah cukup membuat hati kaum pria jadi lemah, andaikata Pek In
Hoei tidak tahu asal usulnya yang sebenarnya, mungkin keadaannya
pada saat ini tak akan sesederhana ini.
"Hmmm! Tidak aneh kalau Hoa Pek Tuo menyerahkan tugas
yang berat ini kepadamu," seru Pek In Hoei lagi dengan suara dingin,
"rupanya engkau memang benar-benar pandai sekali memperlihatkan
wajah sedih serta patut dikasihani di hadapanku, sayang semua
perbuatanmu itu tak akan mendatangkan hasil apa-apa bagi diriku..."
"Demi langit dan bumi," teriak Liok Hong sambil angkat sumpah,
"jika aku Liok Hong bisa bohong dan benar-benar punya maksud
tertentu..." belum habis ia berbicara, tiba-tiba...
Ploook! Sebuah gaplokan keras telah bersarang di atas wajah
perempuan itu, membuat Liok Hong jadi terpukul sempoyongan ke
1164
IMAM TANPA BAYANGAN II
belakang dan lima jari merah yang membengkak besar tertera di atas
pipinya.
"Hmmm! Engkau tak usah membohongi diriku lagi," teriak
pemuda tersebut dengan nada dingin, "aku sudah tahu siapakah
engkau... aku tahu kau bukan Liok Hong melainkan Tang-Ci Hong-
Koh!"
Air muka gadis itu kontan berubah hebat, dengan tubuh gemetar
keras serunya :
"Dari mana engkau bisa tahu akan asal usulku??"
Pek In Hoei mendengus.
"Hmmm! Apa tugas yang dibebankan Hoa Pek Tuo di atas
pundakmu??" hardiknya.
"Membohongi dirimu sehingga rahasia jurus-jurus ampuh ilmu
pedang penghancur sang surya bisa diketahui olehnya."
"Huuuh...! Banyak amat akal busuknya, sayang sekali aku tak
bisa dijebak dengan begitu mudah."
Perlahan-lahan ia berjalan ke depan dinding gua, mencabut batu
tonjolan yang menutup gua kecil dan berteriak ke dalam keras-keras :
"Hoa Pek Tuo, aku ada perkataan yang hendak disampaikan
kepadamu!"
"Hmmm...!" Hoa Pek Tuo mendesis gusar, "pandai amat dirimu,
sampai-sampai rahasia ini pun engkau ketahui, Pek In Hoei! Beritahu
kepada perempuan rendah itu, dia berani membocorkan rahasiaku
maka aku pun hendak membereskan jiwanya."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kalau kau merasa punya
kepandaian ayoh unjukkan diri! Kalau tidak aku akan menyerbu ke
dalam," seru Pek In Hoei sambil tertawa dingin.
"Hehhhmm... heehhmm... kita lihat saja nanti, siapa yang lebih
tangguh di antara kita!"
Jago Pedang Berdarah Dingin tidak melayani perkataannya lagi,
mulutnya membungkam dan senyuman sinis tersungging di ujung
1165
Saduran TJAN ID
bibirnya, setelah membopong jenazah Kong Yo Siok Peng dia melirik
sekejap ke arah Tang-Ci Hong-Koh lalu berkata sinis :
"Hmmm! Hampir saja aku terjebak oleh siasatmu, kalau aku
bukan menemukan rahasia ini tanpa sengaja mungkin sebuah
tindakanmu itu akan tercapai seperti apa yang kau inginkan... sayang
Thian tidak merestui tindakanmu itu..."
Tang-Ci Hong-Koh meloncat bangun dari atas tanah lalu
mendengus dingin.
"Sekarang jejakku sudah ketahuan dan aku tak punya muka untuk
berjumpa dengan Hoa Pek Tuo kembali... Hmm! Dia melukiskan
engkau, Jago Pedang Berdarah Dingin, sebegitu lihaynya, tapi dalam
pandangan aku Tang-Ci Hong-Koh tidak percaya kalau engkau
memang begitu lihaynya..."
"Enyah dari sini!" bentak Pek In Hoei ketus, "jangan datang lagi
kemari untuk bertemu dengan aku..."
"Ciisss...!" Tang-Ci Hong-Koh meludah ke atas tanah, "banyak
pria yang lebih tampan dari dirimu pun jatuh bertekuk lutut di
hadapanku, hanya engkau saja yang berlagak sok...!" Malam ini aku
ingin melihat sampai di manakah kemampuan yang kau miliki."
Jago Pedang Berdarah Dingin berdiri tertegun mendengar
perkataan itu.
"Engkau hendak bertempur melawan aku..." serunya.
Tang-Ci Hong-Koh mengerutkan alisnya rapat-rapat, napsu
membunuh yang tebal menyelimuti wajahnya, bibir kecil mungil
mencibir ke atas lalu mendengus berat.
"Sedikit pun tidak salah! Kalau aku Tang-Ci Hong-Koh
melepaskan dirimu dengan begitu saja, orang-orang akan
mentertawakan diriku yang tak becus... agar di hadapan Hoa Pek Tuo
nanti aku bis mempertangung-jawabkan diri, aku harus berbuat
demikian terhadap dirimu."
"Aku rasa engkau masih bukan tandinganku...!" jengek Pek In
Hoei sinis.
1166
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tang-Ci Hong-Koh menengadah ke atas dan tertawa terbahakbahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... urusan itu gampang untuk
dibuktikan, ketika engkau sudah melihat ketelengasanku maka
engkau baru akan tahu bahwa apa yang aku ucapkan barusan bukan
mengibul atau omong besar belaka..."
Dia maju beberapa langkah ke depan, teriaknya :
"Looo-Liok!..."
Dari balik gua yang gelap gulita berkumandang suara dengusan
dingin, tiga sosok bayangan manusia tanpa menimbulkan sedikit
suara pun munculkan diri di tempat itu, mereka memegang senjata
semua dan melotot ke arah Pek In Hoei dengan pandangan dingin.
1167
Saduran TJAN ID
Jilid 46
SEORANG pria kekar berjalan menghampiri Tang-Ci Hong-Koh
tersebut, lalu berbisik :
"Ini pedangmu!"
Dari tangan pria tersebut perlahan-lahan Tang-Ci Hong-Koh
mengambil sebilah pedang, ketika senjata tersebut dicabut keluar dari
sarungnya maka terpancarlah sekilas cahaya dingin yang
menggidikkan hati.
Tang-Ci Hong-Koh tertawa dingin, ujarnya :
"Tahukah engkau siapakah ke-tiga orang ini? Mereka adalah
pembantu-pembantuku yang paling setia, di dalam rimba persilatan
mereka dikenal sebagai Jago-jago Tangan Setan, ketahuilah
mengerubuti dirimu di dalam goa ini merupakan suatu pekerjaan yang
paling digemari oleh mereka bertiga."
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmm! Sebenarnya aku ada maksud untuk melepaskan dirimu
dari tempat ini, akan tetapi setelah kutinjau da kusaksikan semua
tingkah lakumu selama ini terutama perbuatanmu mengundang
datang tiga buah lempengan besi rongsokan untuk mengerubuti
diriku, maka aku telah merubah pikiran, bila malam ini kubiarkan
engkau berhasil lolos dari tempat ini, aku akan jadi malu terhadap
pedang mestikaku ini!"
"Hmmm... hmmm..." pria kekar yang berada di sebelah kiri
tertawa seram, "sahabat, engkau tak usah pentang bacot anjingmu
terus menerus, selamanya aku paling tidak percaya dengan segala
1168
IMAM TANPA BAYANGAN II
macam permainan setan, kalau punya kepandaian silahkan
perlihatkan keampuhanmu, agar kami tiga bersaudara dapat ikut
mendapat petunjuk darimu."
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, wajahnya yang tampan
tersungging satu senyuman dingin yang menggidikkan hati, hawa
membunuh terlintas di antara kerutan alisnya, perlahan-lahan ia
memindahkan jenazah Kong Yo Siok Peng ke tangan kiri, sementara
tangan kanannya mencabut keluar pedang mestika penghancur sang
surya, katanya dingin :
"Kau benar-benar iblis bukan manusia, terhadap sesosok
mayatpun bersikap kejam."
"Hmm! Nenek anjingmu, kalau aku ingin memaki, kau mau apa?
Kalau punya kepandaian ayo maju."
Jago Pedang Berdarah Dingin teramat gusar setelah mendengar
perkataan itu, tiba-tiba pedangnya digetarkan keras-keras, pedang
mestika penghancur sang surya dengan menciptakan diri jadi sekilas
cahaya tajam membawa desingan angin yang tajam menyambar pria
yang bermulut usil itu.
Serangan pedang itu dilancarkan dalam keadaan mendadak dan
sama sekali tak terduga, pria kekar itu merasa pandangan matanya jadi
kabur dan tahu-tahu selapis cahaya tajam telah mengurung tiba.
"Aduuh...!" pria kekar itu mimpi pun tak pernah menyangka
kalau tenaga dalam yang dimiliki Jago Pedang Berdarah Dingin
begitu sempurna dan hebatnya, menanti ia merasa bahwa gelagat tidak
menguntungkan waktu sudah terlambat.
Ia menjerit kesakitan dengan suara yang menyayatkan hati, dada
bagian depannya tertusuk hingga tembus di belakang punggungnya,
darah segar memancar keluar dengan derasnya dari mulut luka itu,
tubuhnya mundur sempoyongan ke belakang dan teriaknya dengan
suara gemetar :
"Kau..."
1169
Saduran TJAN ID
Belum habis perkataan itu diucapkan tubuhnya sudah roboh
terjengkang ke atas tanah dan terkapar di atas genangan darah kental,
wajahnya menyeringai seram dengan mata melotot besar, sesudah
berkelejot sebentar akhirnya ia putus nyawa dan matilah seketika itu
juga.
Tang-Ci Hong-Koh jadi teramat gusar menyaksikan
pembantunya dibunuh dalam satu gebrakan saja, jeritnya dengan
suara tinggi melengking :
"Engkau berani melukai orangku?"
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Inilah peringatan berdarah yang kuberikan kepadamu, juga
memberi peringatan juga kepada kalian agar tahu diri, barang siapa
berani pentang mulut besar tanpa menilai dahulu sampai di manakah
kemampuan yang dimilikinya, inilah akibat yang harus diterima, jika
engkau cerdik maka janganlah membawa anak buahmu datang kemari
untuk mengantar kematian belaka."
Dua orang pria kekar lainnya ketika menyaksikan rekan mereka
mati secara mengenaskan di ujung pedang lawan, diam-diam hatinya
jadi bergidik, dengan penuh kemarahan mereka menerjang maju ke
depan, pedang diloloskan dari sarung dan selangkah demi selangkah
menghampiri tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin itu.
Tampak seorang pria dengan muka yang bercodet bekas bacokan
golok berkata sambil tertawa seram :
"Jika hari ini aku Lo-jit si Muka Bercodet, membiarkan engkau
berhasil lolos dari tempat ini dalam keadaan selamat, maka aku
bersumpah tak akan hidup sebagai manusia lagi, jangan menganggap
karena engkau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin maka aku tak
berani mengganggu dirimu. Hmm1 Di hadapan aku Loo-jit si Muka
Bercodet, engkau masih belum terhitung seberapa."
"Itukah pesan terakhirmu sebelum ajal merenggut nyawa?" ejek
Pek In Hoei dengan nada sinis.
1170
IMAM TANPA BAYANGAN II
Loo-jit si Muka Bercodet tertegun mendengar ucapan itu, hampir
saja ia tak percaya kalau mulut Pek In Hoei begitu lihaynya, hawa
amarah berkobar makin memuncak dalam benaknya tanpa
mempedulikan keselamatan sendiri dia putar pedangnya dan segera
menerjang ke depan.
Tang-ci Hong-Koh segera menggerakkan pergelangannya pula
sambil berseru lantang :
"Ayoh serbu, malam ini kita harus beradu jiwa dengan bajingan
keparat ini!"
Baru saja tubuhnya menerjang maju ke depan, pedang dalam
genggamannya dengan menciptakan selapis cahaya tajam telah
meluncur tiba.
Ke-tiga orang itu rata-rata merupakan jago Bu-lim kelas satu,
serangan gabungan yang mereka lancarkan ini benar-benar luar biasa
sekali hebatnya, tampak bayangan manusia berkelebat silih berganti,
dalam waktu singkat mereka bertiga telah mengepung tubuh Jago
Pedang Berdarah Dingin itu di tengah kepungan.
Pek In Hoei sendiri meskipun tidak jeri menghadapi kepungan
dari tiga orang jago silat itu, tetapi berhubung dalam pelukannya
bertambah dengan sesosok mayat, hal itu membuat gerak-geriknya
terganggu dan sama sekali tidak leluasa.
"Hong-koh, jangan bertempur!" tiba-tiba satu bentakan nyaring
berkumandang datang.
Tang-ci Hong-Koh memperlambat gerakannya dan segera loncat
keluar dari gelanggang pertarungan, ketika ia berpaling tampaklah
Wie Chin Siang telah berdiri di mulut gua.
Kemunculan dara itu seketika membuat air mukanya berubah
hebat :
"Ooooh... jadi engkaulah yang mengkhianati kami... jadi kamulah
yang membocorkan rahasiaku..."
"Hmmm!" Wie Chin Siang mendengus dingin, "inilah
kesempatan yang sangat baik bagimu untuk meloloskan diri, sekarang
1171
Saduran TJAN ID
tinggalkanlah tempat ini secepat-cepatnya. Diam-diam Hoa Pek Tuo
sudah kabur dari sini, apa gunanya engkau jual nyawa buat dirinya?"
"Apa?? Hoa Pek Tuo sudah kabur dari sini??" seru Tang-ci Hong-
Koh gemetar.
"Sedikit pun tidak salah, sebenarnya dia telah melimpahkan
semua pengharapannya ke atas pundakmu, tetapi setelah mengetahui
bahwa rahasiamu terbongkar maka ia merasa dirimu sudah tiada
berharga lagi baginya, maka seorang diri secara diam-diam ia kabur
dari tempat ini..."
Tang-ci Hong-Koh jadi mendongkol sekali hingga air mukanya
berubah jadi hijau membesi, serunya dengan penuh kebencian :
"Bangsat tua, rupanya ia berhati pengecut seperti babi... aku telah
salah menilai dirinya!"
Wie Chin Siang mendengus, ujarnya kembali :
"Engkau masih bisa membedakan dengan jelas mana yang jahat
dan mana yang benar, hal itu menandakan bahwa engkau masih bisa
ditolong dari lembah kenistaan, setelah keluar dari tempat ini aku
berharap agar engkau bisa hidup kembali dengan wajah baru,
bertobatlah dari segala dosa yang pernah kau lakukan dan baikbaiklah
hidup sebagai manusia..."
Air muka Tang-ci Hong-Koh berubah jadi amat sedih, perlahanlahan
dia menghela napas panjang dan berkata :
"Apakah kalian berdua juga mau lepaskan mereka berdua??"
Wie Chin Siang menggeleng.
"Selama ini tiga manusia bertangan setan selalu mengikuti
dirimu, hal ini dikarenakan mereka sedang menjalankan tugas dari
Hoa Pek Tuo untuk mengawasi dirimu, Hong-koh! Kematian dari
orang-orang ini tak usah kau sesali, mereka sudah pantas untuk
menerima kematian sebagai penebus dari dosa-dosanya. Nah!
Pergilah!"
1172
IMAM TANPA BAYANGAN II
Meskipun Tang-ci Hong-Koh dibesarkan dalam lingkungan yang
jahat dan banyak kelicikan yang telah dijumpai, akan tetapi pada
dasarnya ia mempunyai tabiat yang baik.
Sedari permulaan ia sudah tidak senang bergaul dengan manusia
sebangsa Hoa Pek Tuo, ditambah pula sering kali ia mendapat
petunjuk serta bimbingan dari Wie Chin Siang, hal ini membuat watak
baiknya yang selama ini terpendam perlahan-lahan terbuka kembali.
Begitulah selesai mendengar perkataan itu, dengan air mata
bercucuran dia melirik sekejap ke arah Wie Chin Siang kemudian
putar badan dan berlalu dari situ.
Sejak Tang-ci Hong-Koh mengundurkan diri dari gelanggang
pertempuran, Jago Pedang Berdarah Dingin merasa daya tekanan jauh
lebih berkurang, pada dasarnya ia memang punya kesan yang jelek
terhadap dua orang jago berwajah bengis ini, melihat kehadiran Wie
Chin Siang segera serunya :
"Chin Siang, bagaimana dengan kedua orang makhluk jelek ini?"
Setelah melepaskan Tang-ci Hong-Koh, keadaan Wie Chin Siang
nampak bertambah santai dan leluasa, seakan-akan dia telah
menyelesaikan satu pekerjaan besar, sambil membereskan rambutnya
yang terurai, sahutnya dengan hambar :
"Ke-dua orang makhluk jelek itu tak boleh dibiarkan tetap hidup
di kolong langit..."
"Nona Wie, engkau tidak seharusnya membantu orang luar..."
teriak Loo-jit si Muka Bercodet dengan gusar.
"Hmmm1 Lo-jit, sudah terlalu banyak manusia di kolong langit
ini jadi mati konyol di tanganmu," kata Wie Chin Siang dengan suara
dingin, "berapa banyak orang yang kau celakai dan kau bunuh?
Berapa banyak kejahatan yang telah kau lakukan? Malam ini mungkin
saja aku dapat melepaskan semua orang yang ada, tetapi kau tak dapat
kulepaskan dengan begitu saja... Ini hari juga kau harus mati!"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... perempuan lonte, sabar dulu aku
sudah tahu kalau engkau bukan manusia baik..."
1173
Saduran TJAN ID
Jago Pedang Berdarah Dingin menggetarkan ujung pedangnya
dan membacok ke arah tubuh Lo-jit si Muka Bercodet, orang itu jadi
terkesiap dan buru-buru mengundurkan diri ke belakang.
"Sudah kalian dengar semua perkataan itu?" jengek Pek In Hoei
dengan suara dingin.
Setelah berhenti sebentar dia menambahkan :
"Siapa pun di antara kamu sekalian tak ada yang bisa lolos dari
tempat ini dalam keadaan selamat..."
Pria kekar yang selama ini berdiri di sisi kalangan dengan mulut
membungkam itu, mendadak melotot dengan sorot mata berkilat,
tanpa mengucapkan sepatah kata pun tiba-tiba ia putar pedang dan
melancarkan tubrukan ke depan, pedangnya berputar langsung
menusuk ke depan.
"Hmmm! Rupanya engkau mencari mati..."
Pedang penghancur sang surya-nya laksana kilat disapu ke arah
depan, ujung senjata yang tipis dan tajam menerobos masuk lewat
tengah bayangan pedang lawannya kemudian laksana kilat membacok
iga bagian bawah orang itu.
Craaaap...! Tidak sempat mengeluarkan sedikit suara pun pria itu
terkapar ke atas tanah dan mati dengan dada berlubang.
Lo-jit si Muka Bercodet semakin naik pitam terutama sekali
setelah menyaksikan rekan-rekannya mati semua, ia meraung keras :
"Bangsat! Kau benar-benar amat keji, ke-dua orang saudaraku
telah mati semua di ujung pedangmu!"
"Dan sekarang akan tibalah giliranmu!" sambung Pek In Hoei
dengan suara menyeramkan, "aku tidak bersedia melepaskan seorang
iblis keji pun dari tempat ini..."
Lo-jit si Muka Bercodet tertawa dingin, serunya :
"Kau ingin menghabisi nyawaku?? Boleh saja tetapi engkau
harus mengeluarkan pembayaran yang paling besar dan paling mahal,
Pek In Hoei! Mungkin engkau belum mengenal akan tindakanku...
Selamanya aku tak sudi melakukan perdagangan yang rugi..."
1174
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pek In Hoei menggerakkan tubuhnya maju satu langkah ke
depan, jengeknya dingin :
"Berapa besar penghargaan yang harus kuberikan kepadamu?
Sahabat, silahkan menawar dan sebelum itu engkau harus menilai
dahulu siapakah yang sedang kau hadapi."
"Hmmm!" Lo-jit si Muka Bercodet mendengus dingin, "kau
anggap dirimu adalah manusia yang luar biasa? Saudara,
pandanganmu itu keliru besar, seandainya aku bermaksud untuk adu
jiwa, Hmm... Hmm... aku percaya engkau akan tahu bagaimanakah
akibatnya."
Sinar mata yang buas memancar ke depan, pedang panjangnya
tiba-tiba disilangkan di depan dada, dengan pandangan penuh
kebencian ia melotot sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin
sementara satu senyuman dingin tersungging di ujung bibirnya, wajah
orang itu tampak menyeringai begitu menyeramkan hingga
keadaannya ibarat setan iblis.
Pek In Hoei tertawa sinis, ia menggetarkan pedangnya dan
menjawab :
"Kau tak usah banyak bacot, ingatlah baik-baik! Aku akan
mencabut jiwa anjing dalam jurus Kiam-liok-ciu-yang."
"Hmmm...! Engkau terlalu percaya pada dirimu sendiri," teriak
Lo-jit si Muka Bercodet sambil tertawa dingin.
Tiba-tiba ia menerjang maju ke depan, pedangnya dengan suatu
gerakan yang cepat laksana sambaran kilat membacok ke tubuh Jago
Pedang Berdarah Dingin, serangan itu begitu ganas dan sadis
sehingga membuat hati si anak muda itu agak tergetar.
Pek In Hoei tertawa dingin, pergelangan tangannya digetarkan ke
depan dan jurus serangan pun dilancarkan keluar, jurus yang
dipergunakan adalah jurus 'Kiam-liok-ciu-yang' atau rontoknya
pedang di musim gugur.
1175
Saduran TJAN ID
"Aduuh..." di tengah kegelapan berkumandang suara jeritan yang
keras diikuti tubuh Lo-jit si Muka Bercodet terkapar ke atas tanah dan
selamanya tak berkutik lagi.
Perlahan-lahan Pek In Hoei cabut keluar pedang mestikanya, lalu
menghela napas panjang.
"Chin Siang, mari kita pergi dari sini!"
Di tengah kegelapan dua sosok bayangan manusia perlahan-lahan
berlalu dari situ dan lenyap di balik tikungan.
********
Impian adalah suatu kejadian yang dialami setiap manusia, dan
impian tersebut adalah impian yang sedih dan memilukan hati. Impian
itu bukan muncul dalam alam khayalan, tetapi merupakan suatu
kenyataan yang berada di depan mata, bukankah begitu? Seorang
gadis yang baik hati harus mati karena tercekik, kematian yang sama
sekali di luar dugaan.
Sebuah gundukan tanah baru muncul di sebidang tanah,
gundukan tanah itu bukan lain adalah kuburan, di mana seorang gadis
yang cantik dan baik hati terkubur untuk selamanya dengan tanah liat
sebagai teman dan bunga sebagai hiasan, tanah yang kuning menutup
tubuhnya yang lembut dan wajahnya yang cantik, menutup semua
kenangan yang pernah dialaminya selama hidup.
Di depan liang lahat tiada orang yang mengiringi, hanya sepasang
mata muda mudi berdiri kaku di situ, walaupun tiada orang yang
mengiringi upacara penguburannya, namun ia yang berada di alam
baka sudah cukup merasa puas, karena orang yang dicintainya telah
datang ke situ.
Dengan air mata mengembang di atas kelopak matanya Pek In
Hoei menghela napas panjang, gumamnya seorang diri :
"Untuk selama-lamanya dia tidak akan kembali lagi!"
Wie Chin Siang yang berdiri di samping pemuda itu tanpa sadar
ikut mengucurkan air mata karena terharu sekali, biji matanya yang
1176
IMAM TANPA BAYANGAN II
bening berputar di antara genangan air mata, ia memandang ke arah
pemuda she Pek itu lalu bertanya :
"Engkau cinta kepadanya?"
"Dia adalah gadis yang kucintai untuk pertama kalinya."
"Aaaai...!" helaan napas panjang bergema di udara yang sunyi,
rasa pedih dan pilu terlintas di atas raut wajah pemuda itu, ia
memandang awan di langit, merasa seolah-olah dirinya berada di
antara awan, rasa pedih yang menyelinap dalam tubuhnya seakanakan
ular berbisa yang memagut hatinya membuat ia sedih dan
murung sekali.
"Dia terlalu bahagia," kata Wie Chin Siang lagi dengan suara
yang gemetar, ucapan itu terpancar keluar di tengah kesedihan yang
menyelimuti pula benaknya.
"Dari mana kau bisa berkata begitu?" tegur Pek In Hoei setelah
tertegun sejenak.
Wie Chin Siang gelengkan kepalanya berulang kali.
"Siapa yang menyangkal kalau kalian pernah saling memupuk
cinta? Seorang gadis yang kematiannya bisa menerima isak tangis
dari pria yang dicintainya, bukankah hal itu merupakan suatu
kebahagiaan?"
Ia berhenti sebentar, lalu dengan wajah murung sambungnya :
"Di kemudian hari, entah aku bisa mendapat kebahagiaan seperti
itu atau tidak."
Jago Pedang Berdarah Dingin merasakan jantungnya berdebar
keras tatkala menyaksikan kesedihan yang terpancar di atas wajah
gadis itu, dalam benaknya segera terlintas kembali kenangan di kala
gadis itu menempuh bahaya, budi kebaikan serta cinta kasih yang
pernah ia berikan kepadanya benar-benar amat tinggi.
"Jika bukan engkau yang memberi kebahagiaan tersebut
kepadaku, aku percaya di kolong langit masih belum ada orang yang
mampu memberikan kesemuanya itu kepadaku, engkau harus
memahami perasaan hati seorang gadis."
1177
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei merasa terharu terhadap gadis yang sedang bersedih
hati itu, ia melirik sekejap ke arah Wie Chin Siang, dilihatnya air mata
sedang berlinang membasahi dirinya, diam-diam ia menghela napas
panjang.
"Chin Siang, aku bisa memahami keadaanmu," bisiknya.
Wie Chin Siang tertawa sedih.
"Asal engkau bisa memahami keadaanku hal itu sudah cukup
membuat hatiku jadi puas."
Sinar mata Pek In Hoei perlahan-lahan bergerak kembali
memandang ke atas gundukan tanah baru di depannya, setelah berdoa
sebentar bisiknya dengan suara lirih :
"Siok Peng, beristirahatlah di sini dengan hati tenang! Suatu
ketika aku pasti akan datang agi kemari untuk menengok dirimu."
Dengan perasaan hati berat diam-diam ia putar badan dan berlalu
dari situ.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Wie Chin Siang mengikuti
di belakangnya, satu ketika gadis itu menghela napas sedih dan
menegur :
"Kau hendak pergi kemana?"
Pek In Hoei terkesiap, ia tahu bahwa saat perpisahan telah tiba,
per-lahan ia berpaling dan memandang gadis itu, lalu balik bertanya :
"Dan kau sendiri? Engkau akan kemana?"
"Aku hendak pulang ke luar lautan, mungkin lama sekali baru
kembali lagi kemari, jika engkau ingin menjumpai diriku pergilah
kesana dan carilah aku di luar lautan, setiap hari aku akan menantikan
kedatanganmu, akan kutunggu terus sampai kau datang."
"Apakah kau tidak bisa tinggal di sini saja?" tanya Pek In Hoei
sambil tertawa getir.
Wie Chin Siang menggeleng.
"Kecuali engkau yang menahan diriku, aku tak bisa merubah
keputusanku ini lagi, engkau harus tahu di kolong langit pada dewasa
1178
IMAM TANPA BAYANGAN II
ini kecuali kau tak ada benda apa pun yang membuat aku berat hati,
tetapi aku tahu jelas akan dirimu, engkau tak akan menahan aku."
Pada saat ini dia sangat berharap agar Jago Pedang Berdarah
Dingin bisa menahan dirinya, tetapi sikap yang ditunjukkan
kekasihnya membuat ia kecewa, sebab pemuda itu tidak memberikan
tanggapan apa pun juga.
Terpaksa ia tertawa getir dan gelengkan kepalanya, dengan pedih
katanya :
"Aku tahu bahwa engkau tak suka kepadaku."
"Eeeei... dari mana engkau bisa berkata begitu?" seru Pek In Hoei
dengan cemas, "pendapatmu itu keliru besar, sekarang tanggung
jawabku masih berat, aku harus membalas dendam, dalam keadaan
begini aku tak berani memikirkan persoalan lain."
"Bila engkau dapat memahami perasaan hatiku, itu sudah lebih
dari cukup, sekarang aku hendak pergi."
Gadis itu tahu jika ia tidak berusaha untuk berlalu dari situ, maka
bila ia sudah tak dapat menahan pergolakan hatinya, kesemuanya
akan gagal dan berantakan.
Maka sambil menggigit bibir dia putar badan dan segera berlalu
dari situ secepat-cepatnya.
"Chin Siang... Chin Siang..." teriak Jago Pedang Berdarah Dingin
dengan hati cemas.
Kepergiannya secara mendadak membuat pemuda itu merasakan
hatinya kesepian, dengan termangu-mangu ia memandang bayangan
punggung gadis itu hingga lenyap dari pandangan, helaan napas sedih
berkumandang memecahkan kesunyian.
Dengan termangu-mangu ia berdiri di tempat semula, berapa
lama ia berada di situ pemuda itu sendiri pun tak tahu, ia baru sadar
kembali ketika telinganya sempat menangkap suara bentakan dan
teriakan gusar berkumandang memecahkan kesunyian.
1179
Saduran TJAN ID
Ia tersentak bangun dari lamunannya, dengan cepat ia berpaling
ke arah berasalnya suara itu dan tampaklah beberapa sosok bayangan
manusia sedang berlari mendekat dengan cepatnya.
Pek In Hoei tertawa ewa, pikirnya di dalam hati :
"Dari mana datangnya orang-orang itu? Kenapa di atas tubuh
mereka mengenakan sekuntum bunga merah?"
Dalam waktu singkat tujuh delapan orang pria baju hitam itu telah
menyebarkan diri dan mengepung Jago Pedang Berdarah Dingin
rapat-rapat, mereka bersenjata lengkap dan masing-masing
memandang ke arah pemuda tersebut dengan mata melotot. Tak
seorang pun di antara mereka yang buka suara seakan-akan orangorang
itu sedang berpikir bagaimana caranya menghadapi pemuda di
hadapannya itu.
Bagian 44
PEK IN HOEI tertawa, ujarnya :
"Sahabat, apakah kalian tidak salah melihat orang?"
"Saudara cilik," jawab seorang kakek tua yang kerempeng tapi
berwajah cerah di antara rombongan orang itu, "boleh kami tanya,
engkau adalah sahabat dari aliran mana?"
"Aku sebatang kara dan berdiri sendiri, tidak bergabung dalam
perguruan atau partai mana pun."
"Oooh...! Kalau begitu silahkan saudara menyingkir ke samping,
kami adalah sahabat-sahabat dari perkumpulan Hong-hoa-hwee atau
Bunga Merah, berhubung hari ini kami sedang mengejar seorang
buronan dari Kelompok Tangan Hitam maka tanpa sengaja telah
bertemu dengan engkau, di sini tak ada urusanmu dan silahkan engkau
jangan mencampuri urusan ini."
"Oooh... Perkumpulan Bunga Merah, belum pernah kudengar
nama perkumpulan ini."
1180
IMAM TANPA BAYANGAN II
Setelah ucapan itu diutarakan, pemuda itu baru merasa bahwa
perkataannya kurang sopan, peduli perkumpulan mereka punya nama
atau tidak, tidak pantas baginya untuk memandang rendah mereka.
Akan tetapi berhubung ucapan sudah diutarakan keluar dan tak
mungkin bisa ditarik kembali, terpaksa ia hanya bisa tertawa belaka.
Sedikit pun tidak salah, orang-orang itu segera menunjukkan rasa
gusar dan tidak senang hati setelah mendengar Jago Pedang Berdarah
Dingin begitu pandang rendah perkumpulan mereka, serentak orangorang
itu maju selangkah ke depan dan siap turun tangan.
Kakek kerempeng tadi dengan cepat melotot sekejap ke arah anak
buahnya sebagai peringatan agar mereka jangan turun tangan
kemudian setelah memandang sekejap ke arah si anak muda itu
ujarnya :
"Sahabat, kalau didengar dari nada ucapanmu agaknya engkau
adalah seorang manusia yang tak bernama, aku si Pertapa Nelayan
dari Lam beng mohon bertanya siapakah nama besarmu."
Menyaksikan rombongan orang-orang itu tidak mirip dengan
jago kangouw biasa, bahkan semangat mereka nampak segar dan jelas
memiliki serangkaian ilmu silat yang ampuh, ia segera memberi
hormat dan tertawa.
"Namaku kecil dan tak ada artinya, harap lo sianseng jangan
marah."
"Maksudmu aku tidak berhak untuk mengetahui nama besar
saudara?"
Pek In Hoei menggeleng.
"Harap engkau jangan salah paham," katanya, "antara aku dengan
perkumpulan kalian sama sekali tidak terikat oleh dendam atau
permusuhan apa pun juga, kita melakukan suatu pekeraan masingmasing
tanpa mengganggu pihak yang lain, siapa pun tidak
mencampuri urusan siapa-siapa, apa sih gunanya untuk mengetahui
asal usul orang."
1181
Saduran TJAN ID
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... pandai amat engkau menghindari
diri dari pertanyaanku," seru Pertapa Nelayan dari Lam-beng sambil
tertawa dingin.
Air muka Jago Pedang Berdarah Dingin berubah hebat, ia tertawa
dingin dan serunya :
"Menurut pendapat lo-sianseng apakah aku harus bertekuk lutut
dan mengaku kalah?"
"Hmmm! Walaupun Perkumpulan Bunga Merah kami belum
lama didirikan dalam dunia persilatan, akan tetapi kami semua
bukanlah manusia-manusia yang takut urusan, dengan maksud baik
aku ingin mengetahui nama besarmu, siapa tahu kau tak mau
memberitahukannya. Sahabat! Meskipun kami tak ingi mencari
urusan dan bikin keributan, akan tetapi kami pun tak sudi membiarkan
orang lain menginjak-injak kepala kami. Engkau masih begitu muda
sudah takabur dan jumawa apakah kau anggap ilmu silatmu yang
paling tinggi? Haaaah... haaaah... haaaah... kau jangan terlalu percaya
pada kekuatanmu sendiri."
"Kesalah-pahaman lo-sianseng sudah terlalu mendalam," ujar
Pek In Hoei dengan alis berkerut, "hampir saja membuat aku tak
punya kesempatan untuk memberi penjelasan terutama sekali
perkataanmu yang terakhir membuat aku serba salah."
"Hey orang muda," seru Pertapa Nelayan dari Lam-beng sambil
tertawa keras, "asal engkau unjukkan ilmu silatmu, maka aku punya
kemampuan untuk mengetahui berasal dari perguruan atau aliran
manakah dirimu itu, jika engkau menganggap bahwa ucapanku ini
telah melukai hatimu, maka tiada halangan untuk segera turun
tangan."
Pek In Hoei mengerutkan alisnya.
"Apakah lo-sianseng ada maksud untuk memaksa aku untuk
turun tangan?"
"Kami orang dari Perkumpulan Bunga Merah selamanya tak sudi
dihina dan dipandang rendah orang, pepatah kuno mengatakan :
1182
IMAM TANPA BAYANGAN II
kepala boleh kutung, darah boleh mengalir namun kami tak sudi
dihina, berada dalam keadaan seperti ini kendati engkau tak ingin
turun tangan pun tak mungkin..."
Jago Pedang Berdarah Dingin tertawa ewa.
"Apakah lo-sianseng pernah memikirkan bagaimana akibatnya
jika sampai terjadi pertarungan?" serunya.
Pertapa Nelayan dari Lam-beng berdiri tertegun.
"Ooooh...! Engkau sedang menggertak diriku..." serunya.
Jelas jago lihay ini sudah tak tahan mendengar ucapan Jago
Pedang Berdarah Dingin yang jumawa dan takabur itu, dengan wajah
masam ia awasi seluruh tubuh pemuda itu dengan tajam.
"Apa yang kuucapkan adalah suatu kenyataan," kata Pek In Hoei
sambil menggeleng, "lebih baik pertimbangkanlah persoalan ini
masak-masak... janganlah menyesal setelah kejadian..."
"Heehhmmm... heeehmmm. kalau begitu akulah yang pertamatama
akan mohon petunjuk darimu..."
Ia merasa yakin dengan keampuhan tenaga dalamnya, sepasang
telapak diayun dan sambil loncat ke depan ia pasang kuda-kuda,
ditatapnya wajah Pek In Hoei dengan tajam dan siap menghadapi
segala kemungkinan.
Melihat perbuatan orang itu, Pek In Hoei tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya lo-sianseng sudah punya
maksud untuk turun tangan, terpaksa aku harus minta beberapa jurus
petunjuk darimu dengan tangan kosong belaka!"
"Hmmm! Lebih baik jangan terlalu mempercayai kekuatanmu
sendiri, cabutlah pedangmu itu dan baik-baiklah melayani aku..."
Dengan cepat Pek In Hoei menggeleng.
"Pedang merupakan pemimpin di antara ratusan macam senjata,
kita toh cuma beradu silat belaka, apa gunanya mesti gerakkan senjata
main pedang? Lo sianseng aku harap engkau jangan marah..."
Pertapa Nelayan dari Lam-beng tarik napas panjang-panjang.
"Orang muda, engkau terlalu takabur dan jumawa..." katanya.
1183
Saduran TJAN ID
Jago Pedang Berdarah Dingin tidak banyak bicara lagi, ia
cibirkan bibirnya dan memperlihatkan satu senyuman yang amat
rawan, sambil bongkokkan badan tiba-tiba telapak tangannya disodok
ke depan mengirim satu pukulan ke tubuh Pertapa Nelayan dari Lambeng.
Air muka kakek tua kerempeng itu berubah hebat.
"Tidak aneh kalau engkau begitu takabur dan jumawa sekali!"
serunya keras, "ternyata ilmu silatmu lumayan juga, orang muda! Aku
bisa berjumpa dengan engkau, hal ini merupakan suatu
keberuntungan yang amat besar bagiku selama hidup..."
Bagaikan sukma gentayangan tubuhnya berkelit ke samping
menghindarkan diri dari ancaman maut Pek In Hoei, telapak tanganya
direntangkan membentuk gerakan busur di udara dan langsung diayun
pula ke depan.
"Haaaah... haaaah... haaaah... engkau berani menerima
pukulanku ini dengan keras lawan keras?" serunya sambil tertawa
tergelak.
"Baik," jawab Pek In Hoei sambil tarik napas panjang, "akan
kusambut serangan dari Lo sianseng ini dengan keras lawan keras..."
Dalam waktu singkat dia himpun segenap kekuatan yang
dimilikinya ke dalam telapak lalu sambil memandang datangnya
ancaman yang sedang menggulung tiba perlahan-lahan dia dorong
telapak kanannya untuk menyambut.
"Blaaam...!" ledakan dahsyat berkumandang memecahkan
kesunyian, udara di sekeliling tempat itu mendadak jadi dingin dan
berputar bagaikan pusaran angin puyuh, ke-dua belah pihak samasama
terkesiap dan kaget oleh kesempurnaan tenaga dalam yang
dimiliki lawannya.
Pertapa Nelayan dari Lam-beng tarik napas panjang-panjang lalu
serunya :
1184
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Waaah... hebat sekali! Engkau adalh orang ke-dua di antara
generasi orang muda yang dapat membuat hatiku merasa kagum dan
hanya engkau seorang yang mampu menyambut pukulanku ini..."
Pek In Hoei tertawa lantang.
"Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu lo-sianseng
pernah bertemu dengan orang pertama yang jauh lebih tangguh
daripada diriku..."
"Sedikit pun tidak salah," jawab Pertapa Nelayan dari Lam-beng
dengan wajah serius, "orang itu bukan lain adalah ketua dari
Perkumpulan Bunga Merah kami..."
"Apakah ketua kalian pernah datang kemari pada hari ini..." seru
Pek In Hoei dengan jantung berdebar keras.
Pertapa Nelayan dari Lam-beng mengangguk.
"Aku adalah komandan rombongan pertama yang datang
menguntit jejak Komplotan Tangan Hitam, setelah ketua menerima
surat tanda minta bantuan dariku pasti akan segera berangkat
kemari..."
"Ooooh... kiranya begitu, lalu termasuk manusia-manusia macam
apakah Komplotan Tangan Hitam itu?"
"Komandan, keparat cilik ini terang-terangan merupakan satu
komplotan dengan pihak Tangan Hitam, bahkan sengaja bertanya
sana bertanya sini, tujuannya pasti sedang mengulur waktu agar para
konco-konconya punya kesempatan yang banyak untuk melarikan diri
dari pengejaran kita!"
"Siapakah engkau??" seru Jago Pedang Berdarah Dingin dengan
wajah berubah hebat, "kenapa kalau bicara sama sekali tidak
dipikirkan dahulu??" Hmmm! Jangan asal keluar saja."
Pria itu ayunkan pedang dalam genggamannya.
"Aku adalah Pek In Hoei, kenapa aku mesti bicara secara baikbaik
dengan manusia macam engkau?" sahutnya.
"Hmmm! Berdasarkan perkataan yang kau ucapkan barusan
sudah lebih dari cukup bagi diriku untuk memberi satu pelajaran yang
1185
Saduran TJAN ID
setimpal kepada dirimu!" ujar Pek In Hoei dengan wajah berubah
dingin dan ketus.
Mendengar perkataan itu Hee Pek Li jadi naik pitam, karena
jengkelnya dia getarkan pedangnya lalu berputar membentuk gerakan
satu lingkar busur di tengah udara, tubuhnya maju selangkah ke depan
dan teriaknya dengan nada ketus :
"Ayoh turun tangan! Aku sedang menantikan dirimu..."
Pek In Hoei tidak menggubris tantangan orang, kepada Pertapa
Nelayan dari Lam-beng ujarnya sambil tertawa :
"Lo sianseng, anak buahmu ini terlalu jumawa dan takabur,
seandainya engkau merasa tidak keberatan, aku bersiap sedia untuk
minta pelajaran beberapa jurus ilmu pedang dari saudara itu..."
"Anak buahku ini memang terlalu kurang ajar, apabila bisa
memperoleh pelajaran dari saudara, tentu saja aku merasa amat
berterima kasih sekali, cuma saj... aku harap engkau jangan turun
tangan jahat terhadap dirinya..."
"Maaf!" seru Pek In Hoei ketus.
Perlahan-lahan dia cabut keluar pedangnya yang tersoren di atas
punggung, serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata
memancar ke empat penjuru, di tengah getaran tangannya
terpancarlah beberapa buah gelombang bunga di udara.
Tercekat hati Hee Pek-li menyaksikan hal itu, pujinya :
"Pedang bagus, sepantasnya kalau pedang mestika seperti seperti
itu dihadiahkan kepada ketua kami..."
Jago Pedang Berdarah Dingin tidak menyangka kalau Hee Pek li
bisa begitu pandang rendah dirinya, diam-diam ia tertawa dingin, air
mukanya menunjukkan rasa tidak senang hati sementara satu ingatan
berkelebat dalam benaknya :
"Engkau jangan keburu bangga lebih dulu, setelah bergebrak
nanti aku pasti akan suruh berteriak tiada hentinya."
Berpikir sampai di situ, dia pun berkata sambil tertawa ewa :
1186
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Asal engkau merasa punya kepandaian, silahkan untuk
merampas senjata ini dari tanganku, bila engkau memang maka
pedang ini kau hadiahkan buat ketua kalian..."
"Hehhmmm... aku rasa cara itu memang paling bagus..."
Tubuhnya menerjang maju ke depan, tangan kanannya bergetar
keras dan pedang dalam genggamannya dengan menggunakan suatu
gerakan yang aneh membacok ke arah samping.
Gerakan pedang semacam itu aneh sekali bentuknya dan baru
pertama kali terlihat di daratan Tionggoan, hal ini membuat hati Pek
In Hoei tercekat, pikirnya :
"Tidak aneh kalau dia jumawa sekali, rupanya ilmu pedang yang
dia miliki lumayan juga..."
Ilmu kepandaiannya dalam hal permainan pedang sudah
mencapai pada taraf yang paling tinggi, meskipun dalam keadaan
tidak siap dibikin terperanjat oleh gerakan pedang lawannya yang
aneh, akan tetapi permainan pedangnya sama sekali tidak kacau,
pedangnya segera diputar ke depan dan menangkis datangnya
serangan tersebut.
Hee Pek-li sendiri pun tertegun melihat kelihayan musuhnya,
serangan yang dilancarkan olehnya boleh dibilang cepat dan ganas
sekali, gerakan pun berlawanan sekali dengan gerakan pedang yang
umum dijumpai, dalam anggapannya semula serangan tersebut paling
sedikit pasti akan membingungkan atau membuat pihak lawan jadi
gelagapan, siapa tahu pemuda yang berada di hadapannya ini bukan
saja tidak menunjukkan tand-tand gelagapan, bahkan dengan
gampang sekali berhasil memunahkan datangnya ancaman tersebut,
dari kejadian itu bisalah ditarik kesimpulan bahwa kepandaian silat
yang dimiliki pihak lawan jauh lebih lihay daripada dirinya sendiri. Ia
meraung gusar, bentaknya kembali :
"Jangan keburu senang, terimalah lagi sebuah tusukan
pedangku..."
1187
Saduran TJAN ID
"Hmmm! Aku tak punya kegembiraan untuk melayani dirimu
terlalu lama..." jawab Pek In Hoei ketus.
Jago Pedang Berdarah Dingin sama sekali tidak memberi
kesempatan kepada musuhnya untuk melancarkan serangan balasan,
bagaikan sukma gentayangan tubuhnya menerjang maju ke depan,
setelah merebut kedudukan Yiong Kiong pedangnya segera
digetarkan dan langsung mencukil keluar.
"Aduuuuh...!" Hee Pek-li menjerit kesakitan, tiba-tiba pedangnya
terbabat hingga kutung jadi dua bagian, ia pegang pergelangan tangan
kanannya dan mengundurkan diri ke belakang, bentaknya dengan
suara gemetar :
"Ilmu pedang apakah yang engkau gunakan..."
Mendadak dari tempat kejauah berkumandang datang suara gelak
tertawa yang amat nyaring...
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalian benar-benar manusia yang
punya mata tak berbiji, masa ilmu pedang penghancur sang surya dari
partai Thiam cong pun tidak dikenali... andaikata orang lain tidak
turun tangan ringan sekarang kau anggap jiwamu masih selamat..."
Suara tertawa yang nyaring itu berkumandang datang mengikuti
hembusan angin, dari ucapan yang begitu tegas dan penuh bertenaga
bisa diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu amat
sempurna.
Pek In Hoei tercengang,ia tak mengira kalau dalam tubuh
Perkumpulan Bunga Merah terdapat seorang manusia yang begitu
lihaynya, diam-diam ia pasang mata dan menengok ke arah seorang
sastrawan berusia pertengahan yang sedang meluncur datang dengan
kecepatan bagaikan kilat itu.
Raut wajah sastrawan menunjukkan sikap keren dan penuh
kewibawaan, di belakangnya mengikuti beberapa orang pria yang
menyoren pedang, dari dandanan beberapa orang itu Pek In Hoei
segera mengetahui bahwa mereka adalah bala bantuan dari
Perkumpulan Bunga Merah.
1188
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ia lantas melirik sekejap ke arah Pertapa Nelayan dari Lam-beng,
kemudian tegurnya :
"Apakah dia adalah ketua kalian?"
Pertapa nelayan dari Lam-beng menggeleng.
"Bukan, dia adalah ketua ke-dua dari Perkumpulan Bunga Merah,
ketua kami belum tiba..."
Dengan wajah tersungging senyuman ramah perlahan-lahan
sastrawan berusia pertengahan itu maju mendekati, setelah memberi
hormat kepada Pek In Hoei, ujarnya sambil tertawa :
"Sahabat aku adalah Gan In... tolong tanya apakah engkau berasal
dari partai Thiam cong..."
"Sedikit pun tidak salah, aku adalah murid partai Thiam cong..."
jawab Pek In Hoei sambil balas memberi hormat.
Gan In menengadah dan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... engkau memang seorang jago
pedang yang sangat lihay, bilamana saudaraku itu tak tahu diri dan
telah membuat kesalahan terhadap diri saudara, aku harap engkau
suka memaafkannnya..."
Dia berpaling sekejap ke arah Hee Pek li, kemudian
menambahkan :
"Saudara li, harap engkau suka suka minta maaf kepadanya..."
Hee Pek li melengak, pikirnya :
"Sejak Perkumpulan Bunga Merah didirikan hingga kini yang
kujumpai adalah pria sejati yang membicarakan soal setia kawan serta
keadilan, meskipun aku secara otomatis menantang orang itu sendiri,
akan tetapi aku sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun juga,
dan kini ternyata Gan Ji Tong-kee merusak sendiri nama
Perkumpulan Bunga Merah, dan suruh aku tunduk kepala mengaku
salah, keadaan ini jauh lebih baik dibunuh daripada suruh aku tunduk
kepala... aku ingin lihat apa jawaban Gan Ji Tong-kee bila perintahnya
kubangkang..."
Berpikir sampai di situ, dia segera menggeleng dan jawabnya :
1189
Saduran TJAN ID
"Gan Ji Tong-kee, aku tak sudi minta maaf kepadanya..."
Jawaban ini seketika membuat Gan In jadi tertegun, serunya :
"Engkau berani membangkang perintahku??"
Dalam bati ia berpikir :
"Bagaimana pun juga kedudukanku adalah wakil ketua dari
Perkumpulan Bunga Merah, di hari-hari biasa perintahku selalu
dijalankan tanpa membantah, siapa tahu hari ini Hee Pek-li berani
membangkang perintahku di hadapan orang banyak, kalau ia tidak
ditindak niscaya pamorku akan merosot..."
Berpikir sampai di sini, air mukanya kontan berubah hebat dan
hawa napsu membunuh terlintas di atas wajahnya.
Rupanya Pertapa Nelayan dari Lam-beng pun merasa bahwa Hee
Pek-li sama sekali tidak memberi muka kepada wakil ketuanya,
dengan suara tajam ia membentak :
"Hee-tua apa yang sedang kau lakukan??"
Dengan sedih Hee Pek-li menggeleng ujarnya :
"Wakil ketua she Gan, aku Hee Pek-li menghormati dirimu
melebihi rasa hormatku terhadap orang tuaku, harap engkau jangan
marah, sejak Perkumpulan Bunga Merah didirikan hingga kini belum
pernah satu kali pun tunduk kepada orang ini, siapa nyana pada hari
ini engkau suruh aku... lebih baik bunuh saja diriku..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Pek In Hoei yang mendengar
sampai di situ segera tertawa terbahak-bahak, "urusan yang sudah
lewat tak usah kita bicarakan lagi, kita semua tetap adalah sahabat..."
Air muka Gan In pun perlahan-lahan berubah jadi lunak kembali,
ujarnya :
"Apakah engkau tidak puas karena pihak lawan jauh lebih muda
daripada dirimu? Hee-tua, perhatikanlah orang lain lebih teliti dan
lebih seksama lagi, demonstrasi kepandaian yang dia perlihatkan
sudah cukup untuk memaksa engkau harus berlatih diri tiga tahun
lagi..."
1190
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Gan-heng, engkau terlalu memuji!" kata Jago Pedang Berdarah
Dingin sambil menggeleng.
Gan In tertawa hambar.
"Saudara, bolehkah aku mengetahui siapakah namamu..."ia
bertanya dengan suara lirih.
Terhadap rombongan orang-orang itu rupanya Pek In Hoei punya
kesan yang sangat baik, dia segera menjawab :
"Aku adalah Pek In Hoei..."
"Aaaah! yaaah ampun... jadi engkau adalah Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei..." teriak Hee Pek-li dengan suara amat
terperanjat.
Rombongan orang-orang yang berkumpul di sana sebagian besar
merupakan kekuatan dari Perkumpulan Bunga Merah, setelah
mendengar bahwa pemuda yang berada di hadapannya adalah Jago
Pedang Berdarah Dingin, mereka segera tunjukkan sikap yang sangat
menghormat.
Dengan wajah menyesal bercampur malu, Hee Pek-li maju
mencengkeram tangan Pek In Hoei, serunya :
"Aku yang rendah benar-benar punya mata tak kenal gunung
Thay san, harap Pek heng suka memaafkan perbuatanku..."
Gan In yang berada di sisinya segera tertawa tergelak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... sekarang engkau baru tahu toh
kalau Pek-heng telah memberi muka kepadamu? Tadi saja engkau
masih berlagak sok sekali... seakan-akan dirimu adalah seorang enghiong
sejati, seorang jago besar... dalam kenyataan di hadapan Pekheng,
engkau tidak lebih cuma sekuku jarinya saja..."
Merah jengah selembar wajah Hee Pek-li, ia tertawa getir dan
gelengkan kepalanya berulang kali, mulut tetap membungkam dalam
seribu bahasa.
Pek In Hoei menggenggam tangan Hee Pek-li, serunya pula :
"Hee-heng, siau-tee juga mohon maaf kepadamu!"
1191
Saduran TJAN ID
"Aaaah... tidak berani, tidak berani..." teriak Hee Pek-li dengan
gelagapan, ia goyangkan tangannya berulang kali.
"Pek-heng!" ujar Gan In kemudian dengan wajah berseri-seri,
"seluruh anggota perkumpulan kami dari atas hingga ke bawah
semuanya pernah mendengar nama besar anda, bahkan sering kali
membicarakan kesaktian yang anda miliki, kali ini pihak
Perkumpulan Bunga Merah dapat berkenalan dengan Pek-heng, hal
ini boleh dibilang merupakan suatu keberuntungan bagi kami
semua..."
Ia tarik napas panjang-panjang, setelah berhenti sebentar
lanjutnya :
"Dalam melakukan pengejaran terhadap anggota Komplotan
Tangan Hitam kali ini, sepanjang jalan banyak saudara kami telah
menderita luka di tangan mereka, karena pihak lawan terlalu kejam
dan telengas dalam perbuatan dan sempurna dalam tenaga dalam,
tindak tanduk mereka cukup membuat kepala kami jadi pusing..."
"Ooooh... ! Manusia macam apa sih anggota Komplotan Tangan
Hitam itu???" tanya Pek In Hoei.
Gan In gelengkan kepalanya berulang kali.
"Komplotan Tangan Hitam merupakan suatu perkumpulan yang
paling misterius di kolong langit, siapakah pemimpin mereka yang
sebenarnya tak seorang pun yang tahu, mereka seringkali melakukan
pembunuhan, perampokan, pemerkosaan dan membakar rumah
penduduk, perbuatan jahat apa pun mereka lakukan. Jumlah korban
yang menderita akibat perbuatan mereka tak terhitung jumlahnya...
Oooh! Meskipun jumlah anggota perkumpulan kami amat minim,
tetapi kami semua merupakan lelaki sejati yang tidak jeri menghadapi
kematian, kali ini dengan mempertaruhkan keutuhan dari
Perkumpulan Bunga Merah kami berusaha keras untuk membasmi
serta melenyapkan Komplotan Tangan Hitam dari muka bumi..."
Pek In Hoei merasa setiap ucapan yang diutarakan Gan In
mengandung rasa keadilan dan kebenaran yang sejati, ia merasa
1192
IMAM TANPA BAYANGAN II
dirinya pantas untuk bersahabat dengan manusia-manusia sejati
macam mereka, sebab hal itu merupakan suatu kejadian yang
menggembirakan. Dengan wajah serius dia lantas berkata :
"Aku bersedia bekerja sama dengan Gan-heng untuk membasmi
Komplotan Tangan Hitam dari muka bumi..."
Gan In merasa berterima kasih sekali atas kesediaan pemuda itu,
ujarnya dengan cepat :
"Bilamana Pek-heng bersedia membantu usaha kami, niscaya
Komplotan Tangan Hitam dapat kita gulung sampai ke akarakarnya..."
Dengan sorot mata tajam ia melirik sekejap ke arah Pertapa
Nelayan dari Lam-beng, lalu tanyanya :
"Bagaimana dengan anggota Komplotan Tangan Hitam yang
kalian ikuti jejaknya terus itu???"
"Kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, anggota
Komplotan Tangan Hitam itu berhasil melarikan diri masuk ke dalam
sebuah hutan lebat, aku merasa agak repot untuk menggeledah seluruh
isi hutan itu maka atas anjuranku pencarian kami urungkan!"
Gan In gelengkan kepalanya berulang kali.
"Penjahat itu secara beruntun telah membinasakan tujuh lembar
jiwa, kita tak bisa melepaskannya dengan begitu saja..."
Perlahan-lahan dia alihkan sorot matanya ke arah depan, di mana
sebuah hutan yang lebat terbentang di depan mata, untuk melakukan
pencarian dalam hutan seluas itu memang merupakan suatu pekerjaan
yang menyulitkan, karena itu setelah termenung sebentar segera
ujarnya :
"Kepung seluruh kaki bukit ini, aku hendak melakukan
pemeriksaan sendiri ke atas..."
"Bagaimana kalau kutemani diri Gan-heng??" sambung Pek In
Hoei sambil tertawa ringan.
1193
Saduran TJAN ID
Sambil tertawa Gan In mengangguk, tubuhnya segera melesat ke
udara dan berputar satu lingkaran kemudian dengan cepat sekali
meluncur ke arah depan.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tersenyum, ia tahu
bahwa Gan In sengaja mempertunjukkan kelihayannya di hadapan
mukanya, ia segera getarkan pundaknya dan ikut meluncur ke muka
bagaikan bergeraknya awan di angkasa.
Walaupun ia lebih lambat menggerakkan tubuhnya, tiba di kaki
bukit tepat bersamaan waktunya dengan kedatangan Gan In, para jago
dari Perkumpulan Bunga Merah jadi semakin kagum lagi, dari
keadaan tersebut membuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki Pek In
Hoei jauh lebih tinggi daripada wakil ketua mereka.
Batu cadas berserakan di mana-mana, kabut tebal menyelimuti
seluruh angkasa, meskipun bukit itu nampaknya tidak begitu tinggi
tetapi setelah didaki ternyata luas sekali, untuk mencari seseorang
yang bersembunyi di atas tanah seluas itu tentu saja bukan suatu
pekerjaan yang gampang.
Gan In sendiri walaupun menguasai ilmu mencari jejak, akan
tetapi setelah menyaksikan keadaan medan ia mengerutkan dahinya
juga, dengan sorot mata tajam ia menyapu sekejap sekitar tempat itu,
dari atas sebuah jalan gunung yang sempit tiba-tiba ia temukan bekas
telapak sepatu yang amat tipis, bila tidak diperhatikan dengan
seksama sukar untuk diketahuinya...
"Pek-heng, agaknya ada orang yang pernah lewat dari tempat
ini..." segera serunya.
Warna darah yang merah terlintas di depan mata Pek In Hoei,
tiba-tiba ia temukan beberapa tetes noda darah tertera di antara semak
belukar di hadapannya, noda darah itu belum mengering dan jelas
baru saja menetes jatuh, hal ini membuktikan bahwa ada seseorang
baru saja lewat di situ. Dengan wajah serius Pek In Hoei segera
bertanya :
1194
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Apakah anggota Komplotan Tangan Hitam itu menderita
luka??"
Gan In tertegun, lalu jawabnya :
"Tidak begitu pasti tapi menurut laporan yang kuterima, katanya
anggota Komplotan Tangan Hitam itu telah tertusuk oleh Hee Pek li
sehingga terluka, kendati lukanya tidak begitu parah namun secara
beruntun dia masih mampu melukai tiga saudara dari perkumpulan
kami, dari sini bisa diketahui bahwa tenaga dalamnya cukup
lumayan."
"Noda darah yang ada di sini belum kering," ujar Pek In Hoei
sambil menuding noda darah yang ada di atas tanah itu, "jelas belum
lama berselang menetes di sana, menurut dugaanku anggota
Komplotan Tangan Hitam itu tentu sudah melarikan diri lewat sana."
"Lalu siapakah yang meninggalkan bekas telapak kaki di atas
tanah sebelah sana?" tanya Gan In tercengang.
"Mungkin bekas kaki itu hanya merupakan suatu siasat belaka
untuk melamurkan pandangan orang, agar usahanya untuk melarikan
diri bisa berjalan lancar, tentu anggota Komplotan Tangan Hitam itu
sengaja meninggalkan bekas telapak kaki yang kacau di sana agar kita
mengejar ke arah jalan yang keliru, coba lihat tanah berumput dan
bersemak di sekitar tempat itu merupakan tempat persembunyian
yang amat baik. Gan-heng lebih kita mengejar dari sini lebih dulu."
"Tepat sekali," seru Gan In sambil bertepuk tangan, "hampir saja
aku tertipu oleh siasat keparat itu!"
Rupanya dia mempunyai kepandaian yang cukup matang
mengenai ilmu mencari jejak setelah diberi petunjuk oleh Jago
Pedang Berdarah Dingin dan merasa bahwa keterangan orang itu
benar, tanpa berpikir panjang ia segera loncat ke depan dan menerjang
lebih dahulu ke dalam semak.
Ke-dua orang itu merupakan jago Bu-lim kelas satu, sepanjang
perjalanan mereka bergerak semakin jauh dan semakin banyak noda
1195
Saduran TJAN ID
darah yang mereka temukan, hal itu justru merupakan tanda petunjuk
yang jelas bagi mereka berdua.
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk
ke dalam hutan siong di sebelah depan, Gan In segera tertawa dingin,
sambil silangkan telapaknya di depan dada ia berseru :
"Sahabat, sulit amat mencari tempat ini."
Bagaikan segulung hembusan angin tubuhnya segera menerjang
masuk ke dalam hutan itu.
Blaaam... blaam... tiba-tiba desiran angin pukulan tajam
berhembus keluar dari balik pepohonan, begitu dahsyat angin pukulan
tersebut membuat Gan In terdorong mundur dengan sempoyongan
dan terdesak keluar lagi dari dalam hutan.
Peristiwa ini membuat wakil ketua dari Perkumpulan Bunga
Merah jadi naik pitam, dengan air muka hitam membesi teriaknya :
"Pek-heng, hampir saja kita terperangkap oleh jebakannya."
"Berapa banyak orang yang berada di dalam sana?" tanya Pek In
Hoei dengan alis berkerut.
Gan In tertawa getir.
"Tidak begitu jelas," jawabnya, "tetapi paling sedikit jumlahnya
mencapai dua puluh orang lebih, sungguh tak nyana tempat ini
merupakan suatu pusat pertemuan dari para Komplotan Tangan
Hitam. Hmmm... rupanya suatu pertarungan sengit tak bisa dihindari
lagi..."
Pek In Hoei melirik sekejap ke arah hutan tersebut, kemudian
katanya :
"Gan-heng, musuh ada di gelap sedang kita ada di tempat terang,
jangan memasuki hutan tersebut sekarang, kita berusaha untuk
memancing kemunculan mereka dari dalam hutan..."
Dengan wajah serius tambahnya :
"Gan-heng, mari kita bakar saja hutan ini agar mereka jadi..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... benar, sedikit pun tidak salah,
sedikit pun tidak salah," seru Gan In tertawa terbahak-bahak, "kita
1196
IMAM TANPA BAYANGAN II
bakar saja hutan ini untuk memanggang bebek, aku Gan In tidak
percaya kalau mereka mampu untuk bersembunyi di dalam api terus
menerus. Pek-heng! Lihatlah daya penghancur dari peluru Pek-lektan
ini..."
Rupanya orang itu pun mempunyai keahlian di dalam ilmu mesiu,
hal ini sama sekali berada di luar dugaan Jago Pedang Berdarah
Dingin.
Dalam pada itu Gan In telah mengambil keluar sebutir peluru
yang berbentuk bulat seperti telur ayam, bentaknya keras-keras :
"Anak monyet, cucu kura-kura... ayoh kalian segera
menggelinding keluar dari tempat itu...!"
Sreet! Di tengah desiran angin tajam, sekilas cahaya terang
meluncur di tengah kegelapan dan menerjang masuk ke dalam hutan
itu.
Blaaam... ! Ledakan dahsyat bergeletar memecahkan kesunyian,
menggetarkan seluruh bumi dan menggoncangkan pepohonan, asap
tebal membumbung tinggi ke angkasa...! Percikan api memancar ke
empat penjuru dan menimbulkan kebakaran besar dalam hutan tadi.
Di tengah kobaran api yang kian lama menjilat kian besar, sama
sekali tidak terdengar jeritan ngeri atau teriakan kaget, juga tak
nampak sesosok bayangan manusia pun yang melarikan diri dari
tempat itu, suasana tetap sunyi senyap...
Gan In jadi tertegun ujarnya :
"Apakah setan-setan alas itu sudah pada modar semua?"
"Kita berdua sudah tertipu oleh siasat mereka," kata Pek In Hoei
dengan wajah serius, "saudara Gan, kita sudah terlambat turun tangan,
rupanya manusia-manusia itu cukup cerdik dan cekatan... kita harus
menyia-nyiakan sebutir peluru Pek lek tan dengan percuma...
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh..."
Tiba-tiba dari sisi kiri ke-dua orang jago lihay berkumandang
keluar suara tertawa dingin yang rendah dan menyeramkan, Gan In
segera ayunkan telapaknya sambil membentak :
1197
Saduran TJAN ID
"Apa yang kalian tertawakan?"
Blaaammm! Angin pukulan yang dahsyat dengan berat
menghajar di atas batu cadas yang besar membuat batu karang itu
retak dan hancur terbengkalai, percikan pasir dan batu kerikil
berhamburan di angkasa.
Dari balik semak segera bermunculan bayangan manusia, dua
puluh orang pria baju hitam dengan mengenakan sarung tangan
berwarna hitam sama-sama munculkan diri dari persembunyian,
dengan senjata terhunus mereka segera kepung Pek In Hoei dan Gan
In rapat-rapat.
Wakil ketua dari Perkumpulan Bunga Merah itu segera tertawa
terbahak-bahak, serunya :
"Aku mengira kaliab semua telah modar dan tak ada yang hidup,
hemmm... hemmm... kalian memang benar-benar anak kura-kura
yang pandainya menyembunyikan diri, ledakan peluru Pek-lek-tan
tidak membinasakan kalian... eeeei, tahunya kalian bisa merangkak
keluar..."
Seorang pria berbadan kekar tertawa dingin, napsu membunuh
yang mengerikan terlintas di atas wajahnya, sambil tertawa seram
serunya :
"Wakil ketua she Gan, kau memang hebat sekali."
Gan In segera berpaling ke arah pria itu tetapi setelah mengetahui
siapa lawannya,ia merasa hatinya tercekat dan jantungnya berdebar
keras, dengan wajah serius segera tegurnya :
"Sungguh tak disangkat di tempat ini aku bisa menjumpai lagi
dengan engkau si keparat yang pandai mencuri barang. Haaaah...
haaaah... haaaah... Sun Giok Kun, apakah manusia-manusia berhati
hitam itu adalah anak buahmu semua?"
1198
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 47
"SEDIKIT PUN tidak salah, kami anggota Komplotan Tangan Hitam
sudah lama menantikan kehadiranmu!"
Gan In mengerutkan dahinya, lalu sambil ia berkata :
"Keparat cilik she Sun, ada apa engkau menantikan kedatangan
aku Gan lo toa di sini??"
"Heehhmm... heehhmm... heehhm..." Sun Gok Kun tertawa
dingin, "aku hendak menunggu engkau untuk memenggal batok
kepala anjingmu, agar bisa diserahkan kepada ketua kami, dalam
pertarungan di kota Lok-yang berpuluh-puluh orang anggota kami
terluka oleh ledakan peluru Pek-lek-tanmu, hutang berdarah ini harus
dituntut balas dan engkaupun harus memberi keadilan kepada kami..."
"Hmmm! Kau mesti tahu batok kepala dari aku orang she-Gan
tidak tampang dipetik orang, hey orang she Sun, pergilah mencari
berita dulu dari teman-temanmu, manusia manakah dari Perkumpulan
Bunga Merah bisa dianiaya dengan seenaknya..."
Sun Gok Kun melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah
Dingin kemudian tegurnya :
"Siapakah orang ini??"
Ia tertawa seram, setelah berhenti sebentar lanjutnya :
"Belum pernah kulihat manusia semacam ini dalam Perkumpulan
Bunga Merah..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... meskipun saudara ini bukan
anggota dari Perkumpulan Bunga Merah, akan tetapi dia adalah
sahabat karib yang berdiri pada garis serta pandangan yang sama
1199
Saduran TJAN ID
dengan kami, aku dengar pengetahuanmu luas sekali... apa salahnya
kalau engkau tebak sendiri siapakah sahabatku ini?"
"Hehhmm... heehhmm... heehhmm... setiap sahabat dari
Perkumpulan Bunga Merah harus dibunuh mati!"
"Kau maksudkan aku pun harus mati?" seru Pek In Hoei sambil
melangkah maju setindak ke depan.
Sun Gok Kun agak tertegun, kemudian jawabnya :
"Mungkin begitu..."
Jago Pedang Berdarah Dingin tertawa dingin, di atas raut
wajahnya yang tampan terlintas napsu membunuh yang tebal, ia tarik
napas panjang-panjang lalu menatap wajah Sun Gok Kun dengan
sinar mata tajam, serunya :
"Hmmm! Kau hendak bertempur melawan aku hanya
mengandalkan kekuatan dari kalian beberapa orang saja?"
Sun Gok Kun tercekat hatinya, ia merasakan suatu firasat yang
kurang menguntungkan buru-buru katanya :
"Siapa engkau? Aku rasa engkau pasti bukan seorang manusia
yang tak bernama bukan?? Antara kami Komplotan Tangan Hitam
dengan dirimu toh tak pernah terikat oleh dendam atau pun sakit hati,
buat apa kau mencampurkan diri dalam persoalan ini? Ketahuilah
campur tanganmu kemungkinan besar akan menghambat masa
depanmu dalam dunia persilatan..."
"Hmmm! Jika engkau sudah tahu siapakah sahabatku ini, maka
kau tak akan berani mengucapkan kata-kata yang sombong dan gede
seperti itu!" ujar Gan In dingin.
Sun Gok Kun menjengek sinis.
"Belum pernah Komplotan Tangan Hitam merasa jeri terhadap
orang lain, manusia she Gan! Engkau tak usah menggunakan katakata
yang gede untuk menggertakkami, setelah engkau melihat
tindakan yang akan kami lakukan terhadap dirimu, maka engkau baru
akan tahu sampai di manakah kelihayan dari anggota Komplotan
Tangan Hitam kami..."
1200
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Sahabatku ini she-Pek, orang kangouw pada menyebut
Jago Pedang Berdarah Dingin kepadanya, hey orang she Sun kalau
ingin mengunjukkan keganasanmu sekarang boleh engkau
perlihatkan..."
Sekujur badan Sun Gok Kun gemetar keras setelah mendengar
perkataan itu, setiap patah kata dari lawannya seakan-akan anak panah
yang menembusi ulu hatinya, ia tak menyangka kalau Jago Pedang
Berdarah Dingin yang tersohor karena kelihayannya serta
ketelengasannya itu adalah sahabat dari Perkumpulan Bunga Merah,
andaikata pihak lawan bisa memperoleh bantuan dari seorang jago
lihay itu, bukankah itu berarti bahwa pihak Komplotan Tangan Hitam
akan menemui seorang musuh tangguh lagi...
Dengan hati bergidik gumamnya :
"Jago Pedang Berdarah Dingin... Jago Pedang Berdarah
Dingin..."
"Hmmm! Apakah engkau merasa tidak terlalu lambat baru
mengetahui kalau dia adalah Jago Pedang Berdarah Dingin?" ejek
Gan In sinis.
Sun Gok Kun tidak melayani sindiran orang, sambil memberi
hormat kepada Pek In Hoei katanya :
"Antara Komplotan Tangan Hitam dengan saudara boleh dibilang
bagaikan air sumur tidak saling mengganggu air sungai, aku harap
Pek heng suka berpeluk tangan dan tidak mencampurkan diri dalam
persoalan ini, kalau engkau suka mengundurkan diri sekarang juga...
heeehhh... heeehhh... tentu saja aku merasa amat berterima kasih..."
"Boleh saja kalau engkau tidak inginkan aku mencampuri urusan
ini," jawab Pek In Hoei dengan nada dingin, "apakah engkau dapat
menyanggupi satu permintaanku?"
"apakah permintaanmu itu?" tanya Sun Gok Kun tertegun.
"Bubarkan Komplotan Tangan Hitam, dan hiduplah sebagai
manusia yang baru!"
1201
Saduran TJAN ID
Sun Gok Kun tertawa dingin, ia merasa permintaan yang diajukan
Jago Pedang Berdarah Dingin terlalu bersifat kekanak-kanakan,
bahkan menggelikan sekali.
"Maaf... seribu kali mohon maaf," katanya, "permintaan yang kau
ajukan sulit untuk kami sanggupi sebab kedudukanku di dalam
Komplotan Tangan Hitam tidak lebih hanya seorang ketua regu, di
atas kami masih atas yang memberi perintah, oleh sebab itu
maafkanlah aku jika permintaanmu itu tak dapat kuterima..."
"Hmmmm! Lalu siapakah pemimpin dari Komplotan Tangan
Hitam???" bentak Pek In Hoei sambil mendengus.
Sun Gok Kun kembali gelengkan kepalanya.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Artis Anyar : ITB 19 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments