Cerita Dewasa Asli Terjadi : ITB 16

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Asli Terjadi : ITB 16
Cerita Dewasa Asli Terjadi : ITB 16
-Air muka Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat sama-sama
berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, mereka tidak
menyangka kalau petani tua itu begitu tak tahu diri.
Pertama-tama Pek In Hoei yang tak kuat menahan diri, ia siap
mengumbar hawa amarahnya tetapi Lu Kiat segera mengedipkan
matanya dengan sikap yang sangat aneh..."
"Waaah...kalau itu permintaan loo tiang urusan jadi bertambah
sulit," katanya sambil maju ke muka, pedang mestika yang kami
miliki adalah pedang mestika pemberian orang tua kami, jangan
dibilang tinggalkan di tempat ini, sekali pun disuruh lepaskan pun tak
berani kami lakukan secara sembarangan. Sianseng! Permintaan yang
kau ajukan itu bukankah sama artinya sengaja hendak menyusahkan
kami berdua..."
"Berbuat demikian bukankah jauh lebih baik daripada jiwa kalian
berdua melayang dengan percuma??" hardik petani tua itu dengan
penuh kegusaran, "peduli pedang mestika yang kalian gembol itu
810
IMAM TANPA BAYANGAN II
pemberian dari siapa, pokoknya ini hari harus ditinggalkan di tempat
ini, di samping itu kalian pun harus berlutut dan minta maaf.. salah
satu saja di antara ke-dua syarat ini tidak kalian lakukan... Hmmm..."
dengan suara berat ia mendengus berat, lalu tambahnya:
"Kalian mesti tahu sikapku ini sudah terhitung cukup sungkan
bagi kalian berdua kalau berganti orang lain mungkin sejak tadi mayat
kalian sudah menggeletak di atas tanah dengan darah segar
menggenangi seluruh permukaan..."
"Waaah... waaah... syaratmu itu terlalu menyulitkan kami
berdua..." kata Lu Kiat kembali sambil gelengkan kepalanya,
"menyerahkan pedang serta berlutut minta maaf merupakan pekerjaan
yang paling sulit bagi kami berdua... sebab bagi kami berdua ke atas
hanya menyembah langit, ke bawah menyembah bumi, di rumah
menyembah orang tua, di tempat luaran kami tak sudi kalau disuruh
menyembah sebuah batu yang sama sekali tak punya otak..."
Diam-diam petani tua itu tertegun juga menyaksikan kekerasan
kepala ke-dua orang pemuda itu, meskipun di luaran ucapannya amat
serius dan bersungguh-sungguh namun di mukanya sama sekali tidak
menunjukkan perasaan jeri barang sedikit pun jua, segera katanya :
"Meskipun menyembah kepada batu bukan pekerjaan yang
enteng, tetapi toh hal itu lebih gampang daripada jiwa kalian berdua
melayang di ujung senjata..."
"Kami lihat lebih baik urusan ini diselesaikan dengan cara lain
saja, sebab kedua syaratmu itu tak mungkin bisa kami laksanakan..."
"Tidak bisa jadi," ngotot petani tua bersikeras dengan
pendiriannya, "syarat itu bisa bebas asal kamu sanggup
mendemonstrasikan sedikit kepandaian yang kalian miliki sehingga
kami merasa yakin bahwa kalian memang berhak untuk menduduki
kursi kebesaran tersebut..."
Sambil berkata napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh
wajahnya, melenyapkan raut wajahnya yang saleh dan ramah itu.
811
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei melirik sekejap ke arah petani tua itu dengan
pandangan sinis, lalu tegurnya dengan nada mengejek :
"Apa yang harus aku lakukan hingga bisa dikatakan berhak? Dan
bagaimana pula dikatakan tak berhak?"
Sorot mata petani tua itu berkilat tajam, dengan nada misterius
sahutnya :
"Gampang sekali, di sini terdapat banyak orang yang pandai
menggunakan pedang, asal kalian sanggup memukul roboh semua
orang yang berada di sini, maka peristiwa itu kami sudahi sampai di
sini saja..."
Dengan pandangan tercengang ia melirik sekejap ke arah wajah
Jago Pedang Berdarah Dingin, lalu katanya kembali :
"Kalau kulihat potonganmu, rupanya kau punya sedikit simpanan
juga..."
Air muka Pek In Hoei berubah jadi amat dingin lagi ketus,
sahutnya :
"Soal belajar ilmu pedang, aku sih pernah belajar satu dua hari,
hanya saja pelajaran yang kudapat hanya berupa kembang biasa saja,
indah dipandang tak bagus dipergunakan, bila kau memang ingin
menyaksikan kebagusan kembangan tersebut, baiklah aku akan minta
petunjuk dari sianseng saja..."
Lu Kiat takut rahasia asal usul Jago Pedang Berdarah Dingin
ketahuan orang sehingga memancing datangnya kesulitan yang tidak
diinginkan, dengan perhitungan yang lain ia segera loncat maju ke
depan, serunya :
"Adikku, kita sedang berpesiar dan bukan keluar rumah untuk
bikin keonaran, dengan kepandaian silat yang kita miliki mana
sanggup untuk menandingi sianseng ini, aku lihat lebih baik
pertarungan ini dibatalkan saja..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... enak amat perkataanmu itu," ejek
sang petani tua itu sambil tertawa seram, "kau anggap hanya cukup
mengucapkan sepatah dua patah kata lantas urusan bisa diselesaikan
812
IMAM TANPA BAYANGAN II
dengan begitu saja? Hmmm... saudara cilik, Kiam bun kwan jauh
berbeda dengan rumahmu. Kalau kau ingin berlalu dari tempat ini
dengan begitu saja... lebih baik janganlah bermimpi di tengah siang
bolong..."
"Siapa sih nama besar sianseng ini?" tegur Lu Kiat sambil
memberi hormat, "kalau didengar dari ucapanmu, agaknya kau mirip
sekali dengan seorang Bu lim cianpwee."
"Sebutan Bu lim cianpwee sih tak berani kuterima, aku si orang
yang kerjanya bertani pernah beberapa waktu lamanya belajar
kembangan silat, orang-orang di tempat ini panggil aku si Cau cu Lia,
orang tua she Lie si tukang kayu, dan pernah pula berdagang kecilkecilan
di tempat ini..."
Terkesiap hati Lu Kiat mendengar jawaban itu, dalam benaknya
terbayang kembali akan seseorang, diam-diam ia amati sejenak
bentuk tubuh orang itu, kemudian serunya :
"Cianpwee sungguh tak nyana sebutanmu yang khas pun telah
kau rubah sama sekali... seringkali aku dengar ayahku berkata bahwa
di dalam dunia persilatan terdapat seorang jago yang bernama Lie Ji
Liong, meskipun dandanannya juga dandanan seorang tukang
penebang kayu, tetapi sebenarnya dia adalah seorang jago pedang
kenamaan..."
Air muka penebang kayu she Lie itu kontan berubah hebat.
"Siapakah ayahmu? Bolehkah aku mengetahuinya?" ia berseru.
Lu Kiat segera menggeleng.
"Aku hidup sebagai putra seorang manusia tak berani secara
kurang ajar menyebut nama orang tuaku, lebih baik namanya tak usah
diungkap saja!!!" katanya.
"Hmmm! Sekalipun kau tak mau mengatakannya, aku juga punya
cara untuk mengetahui siapakah kau?" jengek penebang kayu she Lie
dengan suara dingin, "saudara cilik, aku si penebang kayu she Lie
bukan lain adalah Lie Jie Long, sekarang cabutlah pedangmu! Aku
813
Saduran TJAN ID
hendak paksa kau untuk memperlihatkan wujudmu yang sebenarnya
dalam tiga jurus..."
"Eeei... eiii.. hal ini mana boleh jadi," seru Lu Kiat sambil
goyangkan tangannya berulang kali, "aku betul-betul tak pandai
mempergunakan pedang!"
"Telur busuk! Ngaco belo tak karuan," bentak penebang kayu she
Lie dengan suara keras, "kalau kalian tak bisa bermain pedang apa
gunanya menggantungkan pedang di atas pinggang? Bukankah
dengan sengaja kalian sedang membohongi aku si orang tua? Saudara
cilik, aku tak ingin menggunakan kedudukanku yang lebih tua
menekan kalian yang lebih muda, lebih baik kau saja yang turun
tangan lebih dahulu..."
Air muka Pek In Hoei berubah hebat karena mendongkol setelah
mendengar desakan-desakan lawannya, dengan suara lantang ia
segera berseru :
"Toako, tua bangka sialan ini terlalu memuakkan hati, biar aku
yang memberi sedikit pelajaran kepadanya!"
Sreet... sekilas cahaya tajam bergeletar keluar dari ujung
pedangnya, setelah bergetar sebentar di tengah udara bayangan
pedang menggetar menembusi angkasa lalu... Creet! Pedang tadi
berkilat dan balik lagi ke dalam sarung pedang, ia tatap wajah petani
tua itu dengan pandangan yang menggidikkan hati.
"Hmmm... hmmm...kenapa tidak jadi turun tangan?" seru
penebang kayu she Lie sambil tertawa seram.
"Huuuh... kau suruh aku turun tangan apa lagi?" ejek Jago Pedang
Berdarah Dingin dengan pandangan mengejek, "sahabat, selembar
jiwamu telah lolos dari ujung pedangku, andaikata aku tidak teringat
bahwa di antara kita belum pernah terikat dendam sakit hati apa-apa,
mungkin pada saat ini kau sudah menggeletak di atas tanah..."
Penebang kayu she Lie merasa terperanjat, tiba-tiba ia
menemukan ada suatu benda melayang jatuh dari atas tubuhnya,
ketika ia sambut benda itu hatinya kontan terkesiap.
814
IMAM TANPA BAYANGAN II
Terlihatlah segumpal alis matanya telah rontok dari tempat
semula dan tersebar ke atas tanah, dengan terperanjat ia mundur tujuh
delapan langkah ke belakang, peluh dingin membasahi tubuhnya,
sungguh cepat gerakan lawan, begitu cepat hingga tak sempat baginya
untuk mengikuti gerakannya.
Ucapan pihak lawan sedikit pun tidak salah, andaikata pihak
lawan bukan sengaja mengampuni selembar jiwanya, mungkin pada
ini ia sudah menggeletak di atas tanah.
"Kau..." serunya dengan suara gemetar.
"Apakah kau masih berniat menahan pedang milikku ini?" ejek
Pek In Hoei dengan suara dingin, "aku lihat kau masih belum
memiliki kemampuan sehebat itu..."
Sambil tertawa hambar ia putar badan dan bersama-sama Lu Kiat
berlalu dari situ.
Mimpi pun penebang kayu she Lie tak pernah menyangka kalau
dirinya bakal jatuh kecundang di tangan lawan sebelum ia sempat
untuk turun tangan, dengan hati mendongkol segera hardiknya keraskeras
:
"Sahabat, harap berhenti sebentar!"
"Hmmm! Kau masih ingin menantang diriku untuk berduel?"
dengus Pek In Hoei sambil memutar badan.
Penebang kayu she Lie tertawa dingin, ia sobek jubah luarnya
hingga nampak pakaian ringkas warna hitam yang dikenakan dalam
tubuhnya, pada bagian dada pakaian ringkas tadi tersulamkan sebuah
simbol berbentuk pedang kecil berwarna perak, bentuk pedang itu
persis seperti pedang yang diberikan Lu Hujin kepada Lu Kiat itu.
"Sahabat!" teriaknya, "periksa dulu siapakah aku, setelah itu
kalau mau bikin keonaran silahkan untuk siap-siap..."
"Hmmm!" dengusan dingin kembali berkumandang keluar dari
balik ruang rumah makan, seorang kakek tua berwajah dingin dan
berjenggot hitam munculkan diri dari kerumunan orang, dengan gusar
815
Saduran TJAN ID
ia melotot sekejap ke arah penebang kayu she Lie itu, kemudian
tegurnya :
"Lo Lie, sungguh besar nyalimu..."
"Ciu heng..." seru penebang kayu she Lie dengan suara tertegun.
"Hmmm! Siapa yang suruh kau perlihatkan asal usulmu," tegur
kakek berjenggot hitam itu dengan suara ketus, "Ehmmmm... ingatlah
bagaimanakah pesan Poo cu kepadamu??? Ia toh menyerahkan tugas
kepadamu untuk menjaga Kian bun kwan ini? Siapa yang suruh kau
unjukkan asal usulmu setelah bertemu dengan orang lain?"
Sekujur tubuh penebang kayu she Lie itu gemetar keras, dengan
ketakutan sahutnya :
"Ciu heng, aku mengerti salah..."
"Sekali pun mengaku salah urusan juga tak dapat selesai dengan
begitu saja," ejek kakek berjenggot hitam itu sambil tertawa dingin,
"lebih baik pulanglah ke benteng dan berilah penjelasan sendiri
kepada poocu, aku tak dapat mengambilkan keputusan bagimu,
sekarang asal usulmu sudah diketahui orang, bagaimanakah
tindakanmu selanjutnya terhadap ke-dua orang ini, aku rasa kau tentu
mengerti jelas bukan?"
"Aku tahu, Ciu heng! Harap kau suka membantu diriku dengan
beberapa patah kata yang enak didengar..." pinta penebang kayu she
Lie dengan suara gemetar.
Ia amat membenci diri Jago Pedang Berdarah Dingin, lengannya
segera diangkat dan ayunkan cangkulnya ke tengah udara, sambil
mengerdipkan matanya ke arah beberapa orang pria kekar di belakang
tubuhnya ia berseru :
"Tangkap mereka berdua!"
"Sahabat, aku rasa kalian tak perlu menggunakan tenaga yang
begitu banyaknya untuk menghadapi kami..." jengek Lu Kiat dengan
suara dingin.
Ketika dilihatnya ada beberapa orang pria sambil ayun pedang
menyerbu ke arahnya, napsu membunuh seketika berkelebat di atas
816
IMAM TANPA BAYANGAN II
wajahnya, ia putar telapaknya dan sekaligus merobohkan tiga orang
di antaranya.
"Haduh!" jeritan kesakitan yang memilukan hati berkumandang
memecahkan kesunyian, tiga orang pria itu roboh terjengkang ke atas
tanah lalu muntah darah segar dan mati tak berkutik lagi...
Penebang kayu she Lie serta kakek berjenggot hitam itu jadi amat
terkejut menyaksikan kehebatan lawannya, air muka mereka berubah
hebat, mereka tak menyangka kalau Lu Kiat pun seorang jago lihay
yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, cukup di dalam satu jurus
belaka tiga orang jago lihay pihak mereka berhasil dibereskan
jiwanya, bila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut jelaslah sudah
bahwa semua jago lihay yang hadir di situ bakal mati di tangan dua
orang pemuda asing yang tidak diketahui asal usulnya ini.
"Sahabat, dengan kepandaian silat yang kau miliki itu tak
mungkin kamu berdua adalah manusia yang tak bernama," seru kakek
berjenggot hitam itu dengan suara berat, kami manusia-manusia dari
Kiam bun kwan selamanya tak pernah mengadakan hubungan dengan
para jago dari dunia persilatan, kedatangan kalian berdua untuk
berlagak jadi jagoan di tempat ini aku rasa pasti bukan tanpa alasan.
Jika kalian adalah sahabat-sahabat kangouw tak ada halangannya
untuk perlihatkan asal usul kalian, aku Ciu Toa Keng pasti akan
melayani kalian sebaik-baiknya..."
Lu Kiat mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Aaah... haaah... Ciu-heng apa maksudmu berkata begitu? Kami
dua bersaudara hanya secara kebetulan saja lewati tempat ini dan
sama sekali tiada maksud untuk bentrok dengan sahabat-sahabatmu
itu, bila Ciu-heng suka melepaskan kami berdua berlalu dari sini,
kami tentu akan merasa berterima kasih sekali..."
"Hmmm... hmmm... kalau memang sahabat tak sudi unjukkan
diri dan perkenalkan nama kalian, tentu saja aku tak berani memaksa
lebih jauh," ujar Ciu Toa Keng sambil tertawa seram, "sedang
mengenai peristiwa pada hari ini? Heeh... heeh... sebetulnya bukan
817
Saduran TJAN ID
termasuk suatu urusan yang amat besar, cuma kalian berdua telah
membunuh mati tiga orang sahabatku, bila urusan kita sudah sampai
di sini saja bagaimana tanggung jawabku nanti dengan atasan kami?
Karena itu andaikata kalian berdua suka tinggalkan nama sehingga
aku orang she Ciu dapat memberikan pertanggungan-jawaban nanti,
tentu saja kalian berdua boleh segera berangkat untuk melanjutkan
perjalanan!"
"Kau cukup mengingat-ingat bahwa aku she Lu, sedangkan
kalian mau lepaskan kami atau tidak aku percaya Ciu-heng juga
seorang manusia yang cerdik, dengan andalkan kemampuan yang kau
miliki masih belum tentu sanggup menahan kami berdua, bagaimana
menurut pendapatmu, betul bukan?"
"Tentu saja, tentu saja..." sahut Ciu Toa Keng berulang kali, "bagi
orang yang melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan biasanya
yang paling diutamakan adalah kepandaian silat yang sebenarnya,
dengan kelihayan yang kalian berdua miliki tentu saja kami semua tak
mampu untuk menghalanginya, tetapi aku pun hendak
memberitahukan sesuatu terlebih dahulu kepada kalian berdua, kami
semua tidak lebih hanyalah prajurit-prajurit kecil yang bertugas di
garis depan, dengan kepandaian yang kami miliki untuk melangkah
masuk ke dalam pintu bangunan majikan kami pun masih belum
berhak, maka bila kalian berdua ingin berlalu dengan begitu saja,
mungkin urusan juga tak akan segampang itu."
"Kami tiada maksud berlalu dengan begitu saja," seru Pek In Hoei
sambil tertawa dingin, kalau kurang puas, silahkan kau undang
kembali bala bantuanmu, tapi aku nasehati dirimu lebih baik carilah
yang rada mampu sehingga tidak sampai memalukan semacam
kejadian yang baru saja berlangsung ini."
"Kami toh tak pernah kenal dengan diri tootiang, dengan dirimu
juga tak pernah terikat dendam sakit hati apa pun juga. Kenapa
tootiang sengaja mencari gara-gara dengan kami? Apakah kau
pandang kami berdua mudah dipermainkan? heeeh... heeeh... heeh....
818
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tootiang, bila kau beranggapan demikian maka pandanganmu keliru
besar."
"Secara beruntun kalian berdua telah membinasakan tiga orang
yang tak berdaya di tempat ini, bagaimana pula penjelasan kalian
terhadap peristiwa ini? seru Yu Tootiang dengan suara dingin,
"Apakah kalian anggap setelah ilmu silat yang kamu miliki nomor
satu di kolong langit maka kalian boleh sembarangan membunuh
orang sekehendak hati!"
"Kurang ajar, rupanya kau memang sengaja datang untuk
mencari gara-gara dariku?" bentak jago pedang berdarah dingin
dengan suara nyaring.
"Hmmm! Sedikit pun tidak salah, bersiap-siaplah kalian berdua
menerima seranganku ini!"
Lu Kiat maju ke depan, loloskan pedangnya yang tersoren di
pinggang dan berkata:
"Baiklah Tootiang, biar aku yang mohon pelajaran darimu!"
Yu Tootiang yang melihat pedang di tangan Lu Kiat
memancarkan cahaya tajam, lagi pula kuda-kudanya sangat ampuh,
sadarlah dia bahwa pemuda di hadapannya ini meski berusia muda
tetapi ilmu pedangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, cukup
dipandang dari gayanya mempersiapkan serangan sudah cukup
membuktikan bahwa ia telah berjumpa dengan seorang musuh
tangguh.
"Kau anak murid dari perguruan mana??" bentaknya dengan
sorot mata berkilat.
"Kepandaian silat yang kami miliki merupakan ajaran keluarga,
kami tidak termasuk dalam perguruan atau partai mana pun juga.
Tootiang toh seorang ahli di dalam permainan ilmu pedang, masa kau
tak dapat melihat asal usul kami...."
"Hmmm... bangsat, sombong dan takabur amat dirimu!" bentak
Yu Tootiang sambil mendengus gusar.
819
Saduran TJAN ID
"Hmmmm ! aku lihat kau pun bukan seorang manusia tolol, di
dalam sekali gerak tangan kuda tunggangan kami berdua berhasil kau
robohkan, dengan kepandaian semacam itu memang sudah cukup
mengejutkan hati orang, betul bukan Tootiang?"
Merah padam selembar wajah Yu Tootiang, dengan penuh
kegusaran ia membentak keras. Sekali bayangan pedang lolos dari
dalam sarung, tubuhnya menerjang ke depan dan langsung membacok
tubuh pemuda she Lu itu.
Ilmu pedang yang dimiliki Yu totang sangat lihay lagi sempurna,
jurus serangannya mirip sekali dengan ilmu pedang aliran Bu-tongpay.
Setelah terjadi pertarungan, untuk beberapa saat lamanya Lu Kiat
tidak berhasil mendapat keuntungan apa-apa, mereka berdua bergerak
dengan cepat gesit, serangan dilancarkan laksana kilat dan
gerakannya ganas lagi sadis.
Menyaksikan permainan pedang orang makin lama semakin
mirip dengan ilmu pedang aliran Bu Tong Pay, satu ingatan segera
berkelebat dalam benak Lu Kiat, ia loncat keluar dari gelanggang
pertarungan dan mengundurkan diri ke belakang.
"Yu Tootiang" serunya dengan tercengang, "aku lihat ilmu
pedangmu berasal dan partai Bu-tong..."
"Sedikit pun tidak salah!" jawab Yu Tootiang sambil
menghentikan gerakannya, "rupanya kepandaian silat yang kau miliki
cukup hebat juga..."
Lu Kiat adalah saudara angkat dari Lan Hong Seng Jin seorang
jago muda dari partai Bu Tong, setelah mengetahui bahwa Yu
Tootiang adalah anak murid Bu-tong-pay, ia jadi sungkan untuk
meneruskan kembali pertarungan itu, ujarnya dengan nada sopan:
"Totiang, kenalkah kau dengan seorang jago muda yang bernama
Lan Hong Seng Ju dari perguruan anda..."
820
IMAM TANPA BAYANGAN II
Lan Hong Seng Ju adalah murid partai yang paling menonjol
namanya di antara angkatan muda, ia disebut jago muda yang sangat
lihay di dalam dunia persilatan.
Yu Tootiang agak tertegun mendengar ucapan itu, dan balik
bertanya :
"Apakah kau kenal dengan Lan Hong?"
"Dia adalah saudara angkatku " jawab Lu Kiat sambil memberi
hormat.
Air muka Yu Tootiang memperlihatkan suatu sikap yang sangat
aneh, ia melirik sekejap ke arah penebang kayu she Lie serta Ciu Toa
Keng, lalu sambil putar pedangnya ia maju beberapa langkah ke
depan, katanya:
"Andaikata persoalan ini terjadi karena persengketaan pribadi,
memandang di atas wajah Lan Hong sute tentu saja pinto dapat
mengampuni kalian untuk kali ini, tetapi persoalan ini menyangkut
soal dinas, maaf bila mana pinto tak dapat menjual muka buat kalian?"
"Tootiang apa guna kau memaksa kami untuk bertempur??" seru
Lu Kiat tertegun.
Pada waktu itu Yu Tootiang mempunyai kesulitan yang tak dapat
diutarakan keluar, ketika itu dirinya sudah bukan seorang yang bebas
lagi, gerak geriknya berada di bawah pengawasan para jago lihay
benteng Kiam poo yang berada di sekitar tempat itu, ia harus
bertindak sangat hati-hati, sehingga tidak sampai dituduh
mengadakan persekongkolan dengan musuh.
Karena itulah walaupun dia ada minat untuk melepaskan Pek In
Hoei dan Lu Kiat, apa daya penebang kayu she Lie serta Ciu Toa
Keng berada di situ, terpaksa sambil masamkan muka ia berkata
dengan suara dingin:
"Tiada perkataan lain yang dapat dikatakan lagi, kalian telah
membinasakan tiga orang sahabat dari benteng kami di tempat ini,
persoalan tak dapat disudahi dengan begitu saja, maka lebih baik
kamu berdua bersiap-siaplah untuk melangsungkan pertempuran!"
821
Saduran TJAN ID
"Jadi kalau begitu Tootiang juga merupakan jago dari benteng
Kiam poo... " seru Lu Kiat dengan suara dingin.
Yu Tootiang mengetahui akibatnya terlalu fatal bila ia mengakui
pertanyaan itu, maka air mukanya berubah beberapa kali, dengan
badan gemetar keras ia menggeleng.
"Bukan!" jawabnya.
Setiap anggota dari Benteng Kiam-poo bukan saja tak boleh
sembarangan memberitahukan asal usulnya di hadapan orang, mereka
pun mempunyai peraturan yang melarang siapa pun mengakui dirinya
sebagai anggota dari Benteng Kiam-poo.
Lu Kiat segera tertawa dingin.
"Tootiang, kalau kau memang bukan anggota dari Benteng Kiampoo
mengapa kau membelai pihak Kiam-poo......" tegurnya.
"Itu urusanku sendiri, aku rasa tiada sangkut pautnya dengan
dirimu... maka lebih baik kau tak usah ikut campur..."
Mendengar perkataan yang ketus dan tak enak didengar itu jago
pedang berdarah dingin Pek In Hoei jadi naik pitam dia ada maksud
untuk memperlihatkan kelihayaannya di hadapan orang, pedangnya
segera digetarkan sambil melangkah maju ke depan.
"Toosu rudin, apa sih gunanya kau jual lagak di hadapannya???"
bentaknya.
Dalam pada itu Yu Tootiang sedang merasa serba salah dan hawa
gusarnya tiada dapat penyaluran, melihat jago pedang berdarah dingin
maju ke depan sambil memutar senjata, ia segera membentak keras:
"Bangsat keparat, rupanya kau sudah bosan untuk hidup..."
Dalam perguruan Ba-tong Pay toosu ini termasuk salah seorang
jago kenamaan, pedangnya diayun seketika itu juga, terciptalah
sekilas bayangan tajam yang amat menyilaukan mata langsung
mengurung sekujur badan si anak muda itu.
Walaupun toosu itu sedang gusar, tetapi ia tiada maksud untuk
membinasakan Pek In Hoei, dalam hati ia bermaksud hanya akan
822
IMAM TANPA BAYANGAN II
melukai musuhnya belaka sehingga dapat mempertanggungjawabkan
diri di hadapan atasannya nanti.
Siapa tahu perhitungannya kali ini telah meleset jauh, kepandaian
silat yang dimiliki Pek In Hoei saat ini sudah jauh berbeda dengan
kepandaian dari jago-jago biasa, baru saja gerakan pedang Yu
tootiang dilancarkan ke depan, tubuh sang pemuda itu sudah bergeser
ke arah samping kalangan.
"Hmmm... tidak semudah itu sahabat!" ejek Pek In Hoei sambil
tertawa dingin.
Pedangnya berputar membentuk gerakan satu lingkaran busur di
tengah udara, mendadak senjata itu berputar, angin pedang mengiringi
kilatan cahaya tajam langsung menggulung ke arah depan, perubahan
dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa ini membuat Yu tootiang
silau dan hampir saja lupa untuk menyerang musuhnya.
Criit...! Diiringi suara dentingan nyaring, bayangan pedang yang
berkilauan di seluruh angkasa itu mendadak sirap dan lenyap dari
depan pandangan.
Yu Tootiang berdiri termangu-mangu di tempat semula dengan
wajah pucat pias bagaikan mayat, pedang panjang dalam
genggamannya tinggal separuh bagian, sedang separuh bagian yang
lain entah sudah mencelat sampai di mana.
"Dengan kepandaian yang kau miliki itu, aku yakin dirimu
pastilah bukan manusia tanpa nama!" serunya dengan badan gemetar
keras karena ketakutan.
"Tebakanmu keliru besar," sahut Pek In Hoei dengan suara
dingin, "dengan kepandaian yang kumiliki sekarang, dalam keluarga
kami masih belum terhitung seberapa, atau berbicara dengan katakata
yang kurang enak didengar, kepandaian silat kacung penjaga
pintu dalam keluarga kami pun jauh lebih lihay dari kepandaian kami
berdua..."
Ucapan yang diutarakan dengan nada bergurau ini ternyata
ditanggapi Yu tootiang sebagai suatu kejadian yang sungguhan,
823
Saduran TJAN ID
hatinya terkesiap dan otaknya dengan cepat berputar memikirkan
ucapan dari Pek In Hoei barusan, keluarga manakah yang
dimaksudkan? Kalau bukan keluarga yang tersohor tak mungkin
perkataannya begitu bebas...
"Apakah kau adalah kongcu dari An Tay hujia..." tiba-tiba ia
berseru.
Rupanya secara tiba-tiba toosu itu teringat akan perguruan Mie
Liong kun yang amat misterius itu, menyaksikan gerakan pedang ph
sangat lihay yang mirip sekali dengan ilmu silat dari An Tay hujia
pimpinan perguruan itu maka ia menduga lawannya adalah putra jago
lihay tersebut.
Dengan cepat Pek In Hoei gelengkan kepalanya, ia menyahut :
"Seandainya kau bisa berpikir dan menduga dari permainan jurus
pedang yang barusan kupergunakan itu, mungkin kau akan tahu
siapakah sebenarnya diriku ini!"
Teguran ini seketika menyadarkan Yu Tootiang dari lamunannya,
dengan pandangan cermat dia awasi pedang dalam genggaman lawan,
lama sekali dia mengamati... mendadak satu ingatan berkelebat dalam
benaknya membuat hatinya tercekat, dengan nada gemetar ia segera
berseru lirih :
"Pedang mestika penghancur sang surya...! Pedang mestika
penghancur sang surya... kau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin
Pek In Hoei..."
"Begitu ucapan ini terlontar keluar dari mulut toosu tersebut, para
jago yang berada di sekeliling tempat itu segera sama-sama berseru
tertahan tanpa terasa mereka mundur dua langkah ke belakang.
Pek In Hoei tertawa hambar, jawabnya :
"Hmmm! Ternyata pengetahuanmu lumayan juga, sekilas
memandang saja segera dapat dikenali siapakah aku. Tootiang!
Dengan andalkan ketajaman matamu itu kau tak malu disebut seorang
jago lihay keluaran partai Bu tong jadi begitu pengembaraanmu
824
IMAM TANPA BAYANGAN II
selama banyak tahun di dalam dunia persilatan bukanlah perjalanan
yang sia-sia belaka..."
Merah jengah selembar wajah Yu Tootiang, ia menunduk dengan
tersipu-sipu lalu tertawa getir, sekilas rasa hormat muncul di atas
wajahnya, sambil menjura katanya :
"Maaf... maaf... Pek sauhiap, harap kau suka maafkan diri pinto
yang punya mata ternyata tak berbiji, aku tak tahu kalau sebetulnya
bukan lain adalah jago pedang berdarah dingin..."
Meskipun mereka baru berjumpa untuk pertama kalinya, namun
rasa hormat yang muncul dalam hati toosu ini benar-benar ikhlas dan
sejujurnya, hal ini mungkin disebabkan karena sepak terjang Pek In
Hoei yang sudah dikenal oleh setiap jago membuat ia dipandang
sebagai suatu lambang kegagahan serta kesaktian seorang pria sejati.
Sementara itu Lu Kiat telah tertawa terbahak-bahak dan bertanya
:
"Tootiang, apakah kami boleh berlalu dari sini?"
"Ilmu silat yang kalian berdua miliki merupakan kepandaian
yang sangat kukagumi," jawab Yu Tootiang dengan wajah serius,
"bila kalian berdua hendak berlalu dari sini, tentu saja pinto tak
mampu untuk menghalanginya, tetapi pinto hendak memperingatkan
diri kalian, dengan kepandaian yang kalian miliki mungkin sulit untuk
melalui daerah sekitar tempat ini sejauh sepuluh li..."
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan :
"Menurut pengamatan pinto dari samping, kemungkinan besar
kedatangan kalian berdua adalah untuk menyatroni benteng Kiam
poo..."
"Sungguh tajam pandangan mata tootiang," seru Lu Kiat sambil
mengangguk, "tidak salah kami memang sengaja datang kemari untuk
mengunjungi benteng Kiam poo!"
Air muka Yu Tootiang berubah hebat.
"Tahukah kalian berdua benteng Kiam poo terletak di mana???"
serunya cepat.
825
Saduran TJAN ID
"Tentang soal ini terpaksa kami harus mohon petunjuk dari
tootiang, menurut apa yang kami dengar katanya benteng Kiam poo
terletak di sekitar sini, jalan yang kami berdua tempuh bukankah jalan
penasaran, aku percaya dengan cepat tempat itu dapat kami
temukan..."
Sekalipun Yu Tootiang tak tahu apa sebabnya ke-dua orang jago
muda ini hendak mengunjungi benteng Kiam poo tetapi ia dapat
menduga bahwa kepergian Pek In Hoei berdua ke tempat itu pastilah
hendak menyelidiki rahasia dari benteng Kiam poo maka ia segera
bertanya :
"Jauh dari ribuan li kalian berdua datang kemari serta mencari
letak benteng Kiam poo, entah ada urusan apa..."
Tidak malu Yu Tootiang disebut sebagai seorang jago kawakan,
meskipun perkataannya diucapkan sangat enteng namun sepasang
matanya dengan tajam mengawasi terus perubahan wajah Pek In Hoei
serta Lu Kiat, rupanya ia hendak mencari tahu tujuan mereka dari
perubahan wajahnya itu.
"Kami dengar poocu dari benteng Kiam poo adalah seorang
pendekar sejati yang gemar bersahabat dengan umat Bu lim, dia
adalah seorang pemimpin dari para jago di kolong langit, sudah lama
kami mengagumi akan nama besarnya, maka menggunakan
kesempatan yang sangat baik ini kami bermaksud untuk
menyambangi dirinya..."
"Oooh apa yang kau harapkan itu sukar untuk dilaksanakan," seru
Yu Tootiang, "meskipun kami sekalian punya hubungan yang sangat
dekat dengan benteng Kiam po, namun sebetulnya kami bukanlah
termasuk anggota benteng tersebut, siapakah sebenarnya poocu dari
benteng Kiam poo sampai sekarang pinto sendiri pun belum pernah
menjumpainya..."
"Hmmm... sungguh licik selembar mulutmu itu..." seru Pek In
Hoei sambil tertawa dingin.
826
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Apa ya kau katakan??? seru Yu Tootiang dengan wajah berubah
hebat.
Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris dirinya lagi, sambil
putar badan ujarnya kepada Lu Kiat:
"Toako mari kita pergi dari sini..."
Berulang kali dihina dan dipandang enteng oleh musuhnya, tak
urung hawa amarah berkobar juga dalam dada Yu Tootiang, tetapi dia
adalah seorang toosu yang beriman tebal, setelah berpikir sebentar
akhirnya ia bersabar kembali melihat Jago Pedang Berdarah Dingin
serta Lu Kiat hendak berlalu dari situ, buru-buru serunya kembali :
"Saudara berdua, harap tunggu sebentar..."
"Tootiang, apakah kau ada maksud untuk menahan kami
berdua???" tegur Lu Kiat sambil menoleh.
Buru-buru Yu Tootiang goyangkan tangan berulang kali.
"Tidak! Tidak! Harap kalian berdua jangan salah paham,
sebenarnya pinto ada urusan yang hendak diberitahukan kepada
kalian berdua."
"Katakanlah, kami akan mendengarkan dengan seksama..."
"Meskipun pinto tidak begitu memahami tentang seluk beluk dari
benteng Kiam poo, tetapi aku kenal beberapa orang anggota dari
benteng tersebut..." ujar Yu Tootiang dengan wajah agak berubah,
"harap kalian berdua tunggu sebentar, biarlah pinto mengadakan
kontak lebih dahulu dengan beberapa orang sahabatku itu..."
Dia ulapkan tangannya ke arah Ciu Toa Keng serta penebang
kayu she Lie, serunya :
"Lepaskan tanda peringatan ke tengah udara, ke-dua orang
sahabat ini tak boleh kita tahan lagi..."
Ciu Toa Keng nampak agak sengit, setelah termangu-mangu
beberapa saat lamanya ia berseru :
"Tootiang, kejadian ini luar bias sekali!"
"Hmmm! Tentang soal ini kau tak usah turut campur, aku yang
mempertanggung-jawabkan kejadian ini...!"
827
Saduran TJAN ID
Ciu Toa Keng tak berani banyak bicara lagi, dari dalam sakunya
dia ambil keluar sebuah tabung kecil berwarna hitam dan dilemparkan
ke tengah udara...
Bluuum...! Asap hijau yang amat tebal segera mengepul di tengah
udara dan memercikkan tujuh cahaya tajam yang beraneka ragam,
meskipun di siang hari bolong namun cahaya itu cukup menyilaukan
mata...
Cahaya tajam perlahan-lahan sirap dan suasana pulih kembali
dalam kesunyian, dari tengah jalan raya tiba-tiba terdengar suara
derap kaki kuda yang amat ramai, tiga orang penunggang kuda
berbaju hitam laksana sambaran kilat cepatnya meluncur datang.
Kepada diri Lu Kiat, Yu Tootiang berkata sambil tertawa :
"Mereka bertiga adalah tiga orang sahabat dari benteng Kiam
poo, tugas mereka adalah khusus untuk menyambut kedatangan para
enghiong hoohan dari pelbagai daerah..."
Belum habis dia berkata, ke-tiga orang berbaju hitam itu sudah
meloncat turun dari atas punggung kuda, orang pertama yang
menghampiri mereka berdandan siucay, usianya pertengahan dan
langkahnya gagah sekali.
Menjumpai kehadiran orang itu, Yu Tootiang buru-buru maju
menyongsong ke depan.
"Siang heng..." sapanya sambil menjura.
Dengan pandangan dingin siucay berusia pertengahan itu
menyapu sekejap sekeliling kalangan, Ciu Toa keng serta penebang
kayu she Lie sekalian buru-buru tundukkan kepalanya rendahrendah,
mereka tak berani mengucapkan sepatah kata pun juga.
Tampak orang itu tertawa seram dan berpaling ke arah Yu
Tootiang, tegurnya :
"Apa yang telah terjadi sehingga kau lepaskan tanda peringatan
tersebut? Ehm! Tahukah kau gampang untuk melepaskan tanda
peringatan ini, sulit untuk menariknya kembali, bila tiada kejadian
yang terlalu istimewa..."
828
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Siang-heng, keadaan pada hari ini jauh berbeda, ke-dua orang
sahabat ini perlu disambut kedatangannya," seru Yu Tootiang dengan
wajah serius.
Dengan pandangan hambar siucay berusia pertengahan itu
melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat, kemudian katanya
:
"Siapa mereka? Hmmm! Tindakanmu itu bukankah sama artinya
dengan memperbesar suatu masalah yang kecil..."
Nada ucapan itu mengandung pengertian bahwa ia pandang
enteng musuh-musuhnya itu tetapi hal ini tak dapat disalahkan
kepadanya sebab dengan kedudukan Hui sian hong si angin puyuh
Siang Tek Sam dalam dunia persilatan, tentu saja ia tak akan pandang
sebelah mata pun juga terhadap jago-jago Bu lim biasa, terutama
sekali Pek In Hoei serta Lu Kiat adalah pemuda-pemuda ingusan yang
masih muda belia.
829
Saduran TJAN ID
Jilid 34
MELIHAT sikap lawannya yang jumawa itu, Lu Kiat tertawa dingin
tiada hentinya, sedang Pek In Hoei angkat kepalanya memandang
awan di angkasa.
sikapnya yang sombong dan takabur ini kontan membuat si angin
puyuh Siang Tek Sam tak kuasa menahan diri, saking gusarnya air
muka berubah hebat, tegurnya :
"Siapa mereka berdua?"
"Mereka adalah..."
Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei melotot sekejap ke arah
lawannya, kemudian menjawab dengan suara dingin :
"Aku she Pek ...."
Selesai berkata sorot matanya di alihkan kembali ke ujung langit
yang jauh terbentang di depan mata kesombongan serta kejumawaan
itu mencerminkan sikapnya yang seakan-akan tidak memandang
sebelah mata terhadap siapa pun juga.
Si angin puyuh Siang Tek Sam tak tahan menyaksikan
kejumawaan serta kesombongan lawan, diam-diam ia putar otak dan
memikirkan siapakah gerangan pemuda she Pek itu, ia berasal dari
partai mana?
Sambil tertawa seram ia lantas berkata:
"Kau she Pek? Belum pernah aku dengar orang menggunakan she
tersebut... "
830
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Itulah dikarenakan pengetahuanmu terlalu picik dan
pengalamanmu masih amat cetek..." sambung Pek In Hoei sambil
tetap memandang angkasa.
"Mungkin perkataanmu itu benar," sahut Siang Tek Sam dengan
alis berkerut, "kalau ditinjau dari gayamu itu kau mirip sekali dengan
seorang manusia sungguhan, tetapi dalam dunia persilatan banyak
sekali terdapat manusia yang pandai sekali berpura-pura, di luar
berlagak gagah padahal isinya kosong melompong, sahabat Pek aku
percaya kau tentu bukan manusia semacam itu bukan..."
Senyuman serta nada ucapan yang penuh mengandung sindiran
membuat orang susah untuk menahan diri, tetapi jago pedang
berdarah dingin bukanlah manusia sembarangan, dalam menghadapi
sikap mengejek dari lawannya ia mampu untuk bersabar diri, ia tidak
berubah air muka pun tidak gusar oleh sindiran tersebut, sebaliknya
senyuman yang lebih dingin dan menggidikkan hati menghiasi
bibirnya, membuat siapa pun yang memandang akan tercekat
hatinya...
Menyaksikan keadaan musuhnya yang mengerikan itu, Siang Tek
Sam jadi kaget, tanpa terasa ia mundur beberapa langkah ke belakang
hingga tiba di sisi kedua orang rekannya, telapak tangannya tanpa
terasa mulai meraba gagang pedang yang tersoren di atas pinggang...
Pek In Hoei tertawa dingin, serunya:
"Gentong nasi? Haaaah... haaaah... haaaah... sahabat Siang,
apakah kau adalah manusia semacam itu, aku rasa kau tak mungkin
manusia semacam itu, atau paling sedikit kau masih punya sedikit
keberanian, sebab kau masih berani meraba gagang pedangmu...
mungkin kau tidak tahu, banyak sekali orang yang tak punya
keberanian untuk meraba gagang pedangnya setelah bertemu dengan
aku, setiap kali berjumpa dengan diriku tanpa sadar mereka cepat
jatuhkan diri berlutut di atas tanah...
Dengan senyuman mengejek ia kerling sekejap wajah orang itu,
lalu ujarnya kembali:
831
Saduran TJAN ID
"Dan aku percaya kau tak akan berbuat demikian bukan? kau tak
akan ketakutan setengah mati hingga jatuhkan diri berlutut setelah
berjumpa dengan diriku bukan?"
Air muka Siang Tek Sam berubah hebat, ia tertawa seram dan
maju selangkah ke depan, serunya :
"Hm! Sahabat Pek apakah kau tidak takut ucapanmu itu akan
membuat lidahmu tersambar kutung oleh sambaran petir...
"Aku yakin sekarang peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi,
sedang di kemudian hari dilihat dulu perkataan yang hendak
kuucapkan..."
Ia tarik napas panjang-panjang, senyuman mulai menghiasi
bibirnya, dengan hambar ia berkata, "Sababat Siang sudah cukupkah
kau perlihatkan kegagahanmu itu?..."
"Toako!" pria yang berada di samping kanan Siang Tek Sam buka
suara dan maju ke depan dengan wajah penuh kegusaran, "bajingan
cilik ini terlalu tidak beri muka kepada kita semua, aku Bwee Tong
Hay paling tidak percaya dengan segala permainan setan, ini hari aku
ingin lihat sampai di manakah kegagahan dari sahabat itu..."
Ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian tegurnya :
"Hey, kau merangkak keluar dari perut ibumu yang mana?"
Pek In Hoei balas melotot sekejap ke arah lawannya, kemudian
menyahuti:
"Cukup meninjau dari perkataanmu itu, kau harus dihadiahkan
sebuah gaplokan mulut yang keras!"
Plooook! bersamaan dengan selesainya perkataan itu sebuah
gaplokan nyaring tahu-tahu sudah bersarang di atas wajah lawan.
Bwee Tong Hay mundur dengan sempoyongan, pipinya terasa panas,
sakit dan linu saking gusarnya darah segar muntah keluar dari
mulutnya, dua biji giginya patah jadi dua bagian, hawa gusar seketika
berkobar membakar hatinya.
Tetapi ada satu hal yang cukup mengejutkan hati orang, yakni
siapa pun tak sempat melihat jelas dengan cara apakah jago pedang
832
IMAM TANPA BAYANGAN II
berdarah dingin ayunkan telapaknya, bayangan telapak baru saja
menyambar lewat tahu-tahu Bwee Tong Hay sudah mundur dengan
sempoyongan, gerakan yang demikian cepatnya ini betul-betul luar
biasa sekali.
"Kau... " teriak Bwee Tong Hay dengan suara gemetar.
"Anggaplah gaplokan tersebut sebagai peringatan atas mulutmu
yang usil dan bau itu," ujar Pek In Hoei dengan suara dingin, "lain
kali bila siau-ya mendengar kau maki orang lagi dengan kata-kata
yang tidak senonoh. Hmmm akibatnya harus kau tanggung sendiri!
Aku percaya hukuman yang bakal kujatuhkan kepadamu tak akan
seenteng kejadian hari ini lagi..."
Meskipun di dalam Benteng Kiam-poo Bwee Tong Hay masih
belum memiliki kedudukan apa-apa tetapi derajat serta tingkat
kedudukannya jauh lebih tinggi berpuluh-puluh kali jika
dibandingkan dengan orang-orang yang berada di Kiam-bun-kwan itu
karena kurang waspada dan terlalu gegabah pipinya kena gaplok satu
kali, penghinaan tersebut amat menyiksa hatinya, ia merasa tak punya
muka untuk hidup sebagai manusia lagi, ia berusaha mencari jalan
untuk mengembalikan gengsinya.......
Dengan penuh kegusaran segera hardiknya:
"Kau.... kau..... kalau kau punya kepandaian, lihat saja nanti!
Akan kukasih pelajaran kepadamu..."
Sebetulnya dia hendak mencaci maki lagi dengan kata-kata yang
kotor, tetapi secara mendadak ia teringat kembali akan pukulan dari
Pek In Hoei yang begitu cepat laksana sambaran kilat itu, maka
hatinya jadi ketakutan dan kata-kata yang sudah hampir meluncur
keluar itu segera ditelan kembali....
Bwee Tong Hay cabut keluar pedangnya lalu dibabat keras-keras
di tengah udara, dengan gerakan itu dia hendak menunjukkan kepada
lawannya bahwa dia bukanlah seorang manusia yang bisa
dipermainkan seenaknya.
Pek In Hoei segera tertawa ringan.
833
Saduran TJAN ID
"Kau tak usah kuatir, asal di situ ada permainan yang menarik
hati, aku orang she Pek pasti akan datang untuk melihat keramaian.
Bwee-toa-eng-hiong! Babatan pedangmu itu sungguh luar biasa
sekali cuma sayang kemantapannya baru mencapai beratnya empat
kati kacang goreng..."
"Kentut busuk" teriak Bwee Tong Hay dengan gusarnya, "toa-ya
tidak percaya bacokan tersebut tak mampu untuk membinasakan
dirimu..."
"Kalau tidak percaya tanyakanlah kepada tootiang ini"
kata Pek In Hoei dengan alis berkerut, "ia dapat memberitahukan
kepadamu..."
"Apa???" teriak Bwee Tong Hay dengan suara keras. "kau suruh
aku bertanya kepada Yu Tootiang? Dia itu manusia macam apa?
Apakah ia bisa lebih hebat daripada diriku cis... aku sih tak akan
percaya permainan setan...."
Akhirnya ia tak kuasa juga menahan diri, sambil menoleh ke arah
Yu Tootiang tanyanya:
"Lo Yu, kau yang suruh keparat cilik itu menahan diriku?"
Ucapan yang sama sekali tak kenal sopan ini, bagi setiap orang
yang mempunyai perasaan tentu tak akan kuat menahan diri,
meskipun air muka Yu Tootiang berubah hebat tetapi dengan imannya
yang tebal serta terutama sekali ia agak jeri terhadap ke-tiga orang itu,
segera jawabnya:
"Tidak, kau jangan mendengarkan ocehan orang lain..."
Bwee Tong Hay mendengus dingin, sambil mencekal pedangnya
ia maju menghampiri pemuda itu, bentaknya keras-keras:
"Bajingan cilik she Pek, kau terlalu jahat... kau harus dikasih
pelajaran!"
"Dan bagaimana dengan kau sendiri? Aku lihat kau lebih jahat
lagi, saking jahatnya sampai anjing pun tak sudi menggubris dirimu!"
"Hmmm!" dengusan berat bergema di angkasa, bayangan pedang
diiringi suara desiran tajam bergeletar menembusi udara menerjang
834
IMAM TANPA BAYANGAN II
ke depan, tubuh Bwee Tong Hay dengan cepat menerjang maju ke
depan.
Berbintik-bintik bunga pedang mengumpul jadi satu di udara,
lalu menyebar dan secara terpisah mengurung tempat-tempat penting
di seluruh tubuh Pek In Hoei.
Jangan dilihat serangan itu dilancarkan dalam keadaan gusar,
ternyata kehebatannya jauh lebih dahsyat berkali-kali lipat daripada
Yu Tootiang dari partai Bu tong, meskipun hanya satu jurus belaka
tapi sudah jelas menunjukkan kesempurnaan tenaga dalamnya.
Pek In Hoei segera tertawa dingin, serunya:
"Hmmm! Rupanya kau mencari kematian buat diri sendiri, tak
akan ada orang yang menaruh kasihan kepadamu..."
Tubuhnya tiba-tiba menciptakan diri jadi segulung asap tipis lalu
menerobos lewat di antara ujung senjata lawan, dengan suatu gerakan
yang manis tahu-tahu pemuda itu sudah terhindar dari ancaman
pedang pria she Bwee itu.
"Sekarang lihatlah pula kelihayanku!" seru pemuda sambil
tertawa terbahak-bahak, pedang sakti penghancur sang suryanya
perlahan-lahan dicabut keluar dari dalam sarung.
Ilmu silat yang dimiliki jago pedang berdarah dingin termasuk
kelas satu di dalam dunia persilatan, tampaklah ia loncat maju ke
depan dengan gerakan yang sangat enteng pedangnya berputar dan
segera lancarkan satu tusukan kilat ke depan.
Bwee Tong Hay merasa pandangan matanya tahu-tahu jadi kabur
dan tubuh musuhnya lenyap tak berbekas, menanti ia berhasil
temukan jejak lawannya, ujung pedang dari pihak lawan telah muncul
di depan mata.
Hatinya jadi terkesiap, tubuhnya gemetar keras dan buru-buru dia
ayunkan pedangnya untuk menyambut kedatangan serangan tersebut.
Traaaaang....! percikan bunga api berhamburan di angkasa
mengiringi terjadinya suara dentingan nyaring, dengan ketakutan
835
Saduran TJAN ID
Bwee Tong Hay menjerit keras, tubuhnya secara beruntun mundur
tujuh delapan langkah ke belakang dengan ketakutan.
"Siapakah kau?" teriaknya dengan suara gemetar.
"Apa sangkut pautnya urusan itu dengan dirimu? jawab Pek In
Hoei dengan suara ketus, "sahabat Bwee, apakah masih akan
melanjutkan pertarungan ini, setiap saat aku akan mengiringi
kehendak hatimu itu..."
Begitu dingin dan menyeramkan ucapan tersebut, membuat Bwee
Tong Hay tak berani mengucapkan kata-katanya lagi.
"Sahabat!" ketika itulah si Angin Puyuh Siang Tek Sam berseru
sambil tertawa seram, "kalian datang kemari apakah bertujuan untuk
bikin keonaran di dalam benteng Kiam poo....."
"Bikin keonaran sih tidak! cuma kami ingin sekali pergi
mengunjungi benteng nomor satu yang amat tersohor namanya di
kolong langit itu, sahabat Siang! Apakah kami mempunyai
kehormatan tersebut??"
Air muka si Angin Puyuh Siang Tek Sam berubah beberapa kali,
setelah hening sejenak ia menjawab :
Sahabat Pek, pintu depan benteng Kiam poo kami selalu terbuka
dan setiap saat menyambut kedatangan para enghiong hohan dari
seluruh kolong langit cuma... untuk memasuki benteng itu kalian
harus patuhi dahulu tiga buah syarat, apakah kau pernah
mendengarnya..."
Pek In Hoei mengerutkan alisnya yang tebal lalu tertawa.
"Tentang soal itu aku sih belum pernah mendengarnya..."
Si Angin Puyuh Siang Tek Sam tertawa seram.
"Hmm..." meskipun pintu besar benteng Kiam poo kami selalu
terbuka bagi kunjungan setiap jago Bu-lim tetapi setelah masuk ke
dalam sulit untuk berjalan keluar kembali, setiap orang yang telah
masuk ke dalam Benteng Kiam-poo paling sedikit ia harus bekerja
bagi benteng selama tiga tahun, setelah itu ia bari bisa berlalu dari
tempat ini. Sahabat Pek! bila kau suka berdiam selama tiga tahun
836
IMAM TANPA BAYANGAN II
dalam Benteng Kiam-poo kami, maka dengan senang hati pula aku
akan mengajak kalian masuk ke dalam benteng Kiam poo..."
"Waah soal itu terlalu sulit bagiku," jawab Pek In Hoei sambil
gelengkan kepalanya berulang kali, "Watakku suka bergerak aku tak
senang tinggal terlalu lama di suatu tempat tertentu, syaratmu yang
pertama ini sulit untuk aku laksanakan..."
"Syarat yang ke-dua adalah khusus ditujukan bagi sahabatsahabat
yang sengaja diundang oleh benteng Kiam poo kami, tentang
soal ini aku sudah tahu bahwa kau bukan sahabat benteng kami, maka
lebih baik tak usah dibicarakan lagi... " kata Siang Tek Sam dengan
suara dingin alisnya berkerut kencang kemudian teriaknya dengan
suara keras :
"Syarat terakhir adalah khusus ditujukan bagi mereka yang
sengaja datang ke Benteng Kiam-poo kami untuk menuntut balas,
andaikata sahabat Pek termasuk dalam golongan yang terakhir maka
urusan semakin gampang lagi, asal punya kepandaian maka benteng
Kiam poo kami setiap saat dapat menantikan kedatanganmu!"
"Huuuh.... sungguh banyak peraturan dari Benteng Kiam-poo
kalian..."
Si Angin Puyuh Siang Tek Sam mendengus dingin.
"Peraturan itu sudah berlaku semenjak dahulu kala. Dan kini kau
hendak mengunjungi benteng Kiam Poo pada detik ini juga ataukah
nanti saja? biar kau menyadari bahwa ilmu silat yang kamu miliki
masih terlalu cetek, aku nasehati kalian berdua alangkah baiknya
untuk membatalkan niatmu itu dan pulanglah ke rumah untuk berlatih
lagi selama beberapa tahun..."
"Apa kedudukanmu di dalam benteng Kiam poo ??"
"Kami sekalian tidak lebih hanya manusia kecil yang bertugas
untuk menyambut kedatangan para sahabat kangouw yang hendak
berkunjung ke Benteng Kiam-poo, dalam soal kedudukan kami masih
belum berhak untuk melangkah masuk ke dalam pintu tingkat ke-dua.
Sahabat Pek! Apa maksudmu mengajukan pertanyaan itu ?"
837
Saduran TJAN ID
"Harap bawa jalan buat kami," sahut Pek In Hoei dengan wajah
dingin menyeramkan.
"Apa yang hendak kau lakukan ?" seru si Angin Puyuh Siang Tek
Sam dengan wajah berubah hebat.
Pek In Hoei mendongak dan tertawa terbahak-bahak, sahutnya
dengan suara lantang:
"Kalau memang benar di dalam Benteng Kiam-poo terdapat
begitu banyak jago lihay aku Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei merasa sudah sepantasnya untuk melakukan kunjungan. Sahabat
Siang, dengan merek namaku ini apakah aku berhak untuk melakukan
kunjungan? eebm?"
"Ini..." sekarang Siang Tek Sam si angin puyuh baru mengenali
siapakah sebenarnya pemuda yang berada di hadapannya itu, saking
terkejutnya sekujur tubuh nampak gemetar keras, setelah berpaling
dan melotot sekejap ke arah Ya Totiang, katanya:
"Aku akan segera menyiapkan kuda bagi kalian berdua!"
Sekarang ia baru menggerutu kepada Yu Tootiang kenapa tidak
memberitahukan siapakah pihak lawannya sejak tadi, dengan hati
mendongkol ia segera loncat naik ke atas punggung kudanya diiringi
ke-dua orang rekannya, dengan tenang mereka menunggu Pek In Hoei
serta Lu Kiat naik ke atas punggung kudanya, setelah itu lima ekor
kuda dengan cepatnya meluncur di tengah jalan raya.
Bayangan Kiam-bun-kwan kian lama kian menjauh dan akhirnya
lenyap dari pandangan, seakan-akan di kolong langit tidak terdapat
tempat semacam itu... lima ekor kuda berlarian dengan gencarnya di
tengah jalan menimbulkan debu dan pasir yang beterbangan
memenuhi angkasa....
Sepanjang perjalanan Bwee Tong Hay serta seorang pria yang
lain dengan kencang mengikuti di belakang Lu Kiat atau tegasnya saja
mereka sedang mengawasi gerak-gerik pemuda itu, sebab dari balik
sorot mata mereka berdua terpancar keluar sinar permusuhan yang
838
IMAM TANPA BAYANGAN II
amat tebal, seringkali sorot mata itu ditujukan ke atas tubuh pemuda
she Lu.
Sedangkan Si angin puyuh Siang Tek Sam dengan ketat
mengawasi gerak-gerik dari Jago Pedang Berdarah Dingin, tiada
hentinya ia mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan
yang tidak diinginkan, sebab ia takut pihak lawannya secara tiba-tiba
melancarkan serangan mematikan, karena itu mau tak mau dia harus
membuat perhitungan bagi keselamatannya sendiri....
Perjalanan dilakukan lama dan jauh sekali, siapa pun merasa
pikirannya tegang dan kalut sepanjang perjalanan.... tetapi baik Pek
In Hoei mau pun Lu Kiat masih tetap tenang-tenang saja, sikapnya
yang tenang sama sekali tidak nampak gugup ini mendatangkan
perasaan tak tenang bagi Siang Tek Sam bertiga...
"Dimana letaknya??" tegur Pek In Hoei suatu ketika sambil
memandang ke depan, "kenapa belum sampai juga di tempat tujuan..."
"Setelah melewati tikungan bukit sebelah depan, kita akan
sampai di tempat tujuan..."
Dengan pandangan ketakutan ia melirik sekejap ke arah
lawannya, ia takut secara tiba-tiba pihak lawan melancarkan serangan
ke arahnya sebab sikapnya yang dingin dan sama sekali tiada
berperasaan itu membuat ia mempunyai perasaan seolah-olah sedang
mendampingi seekor harimau, setiap saat jiwanya mungkin terancam
bahaya.
Siang heng, sungguh tidak pendek perjalanan ini," sindir Lu Kiat
dengan suara dingin.
Dalam hati kecilnya si angin puyuh Siang Tek Sam mempunyai
perhitungan, ia tertawa jengah dan sahutnya:
"Bukit di sebelah depan situ namanya Hoan bun po, setelah
melewati tempat itu berarti kalian berdua sudah tidak mendapatkan
jalan untuk balik lagi!"
Setelah menuruni bukit yang terjal itu, di atas tanah lapang
dengan rumput yang tumbuh subur nampak bekas kaki simpang siur
839
Saduran TJAN ID
tertera di atas tanah, jelas sering kali tempat itu dilewati orang.
Mereka berlima dengan cepat melalui tanah lapang itu dan berhenti di
depan sebuah hutan yang sangat lebat.
"Hmmm !" dari balik hutan yang lebat berkumandang datang
suara dengusan berat yang amat mendalam, seorang kakek tua
berjubah serba merah munculkan diri dari balik pepohonan, sambil
tertawa seran ia berseru nyaring:
"Siang Tek Sam, siapa yang suruh kau tanpa urusan lari datang
kemari... "
"Malaikat penjaga sukma, hamba datang kemari untuk
menghantar tamu agung masuk benteng..." jawab Siang Tek Sam
dengan sikap yang sangat hormat.
"Ooooh...... tamu dari mana yang mau datang menghantar
kematiannya??"
Pria she Siang itu melirik sekejap ke arah Pek In Hoei lalu
menjawab: "Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei..."
Air muka malaikat penjaga sukma berubah dingin menyeramkan,
setelah melirik sekejap ke arah Pek In Hoei serta Lu Kiat ujarnya:
"Harap kalian berdua suka turun dari atas kuda, perjalanan
selanjutnya menjadi tanggung jawabku, bila aku telah menghantar
kalian berdua tiba di depan pintu benteng maka berarti pula tugasku
telah selesai..."
Meskipun perkataan itu diucapkan dengan nada sungkan, tetapi
dalam hati merasa amat tidak puas dengan kehadiran dua orang
pemuda itu.
Pek In Hoei mencibirkan bibirnya dan tertawa nyaring.
"Kalau memang demikian adanya, harap Lo sian-seng suka
menghantar perjalanan kami... " katanya.
Bersama-sama dengan Lu Kiat ia menyingkap jubah luarnya, lalu
bagaikan segumpal kapas dengan enteng sekali loncat turun ke atas
tanah, sikapnya yang santai dan rileks seakan-akan tak pernah terjadi
sesuatu kejadian apa pun ini membuat malaikat penjaga sukma
840
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengerutkan dahinya, diam-diam ia merasa terkesiap juga oleh
kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua jago
muda itu.
"Sahabat Pek, aku hanya bisa menghantar kalian berdua sampai
di tempat ini saja," ujar Siang Tek Sam si angin puyuh sambil tertawa
seram , "setelah masuk ke dalam benteng, semoga sepanjang
perjalanan selamat selalu, aku tetap berharap agar pada suatu hari bisa
berjumpa kembali dengan kalian berdua keluar dari benteng dalam
keadaan selamat tanpa kekurangan sesuatu apa pun jua, tapi kalian
mesti ingat bahwa kesempatan itu kecil sekali...."
"Kita lihat saja nanti bagaimana akhirnya..." sahut Pek In Hoei
dengan suara dingin, "mungkin pada waktu kita berjumpa muka kau
telah berubah jadi sesosok mayat tanpa betok kepala, waktu itu...
haah... haaah... haaah... kau jangan salahkan diriku bila sudah tak
kenali terhadap sahabat lama lagi..."
Dengan hati mendongkol si angin puyuh Siang Tek Sam
mendengus dingin, dia ulapkan tangannya dan bersama dua orang
rekan lainnya segera berlalu melewati jalan semula.
Menanti bayangan tubuh mereka bertiga sudah lenyap dari
pandangan, malaikat penjaga sukma baru berkata dengan suara seram
:
"Tamu terhormat, silahkan kalian berdua mengikuti aku, untuk
masuk ke dalam benteng..."
Sembari berkata dia enjotkan badannya dan laksana kilat
berkelebat masuk ke dalam hutan.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei serta Lu Kiat
mengetahui bahwa pihak lawan hendak menguji tenaga dalam yang
mereka miliki, buru-buru mereka mengepos tenaga dan segera
menyusul dari belakangnya.
Setelah menembusi hutan yang amat lebat itu, di depan mata
terbentanglah sebuah sungai yang amat panjang sekali, air yang
mengalir dalam sungai itu sangat deras... meskipun demikian sebuah
841
Saduran TJAN ID
jembatan besi terbentang di atas sungai tadi dan menghubungkan tepi
sebelah sini dengan tepi seberang.
Sebuah benteng kuno yang amat besar dan angker berdiri tepat di
seberang sungai, dinding bukit yang terjal dan curam mengelilingi
sekeliling benteng tersebut, pada setiap jengkal dinding benteng
berdiri seorang jago melakukan penjagaan, mereka menghadap ke
arah luar dan melakukan pengawasan dengan kerennya.
'Benteng Pedang Sakti'
Tiga huruf besar yang amat menyolok terukir di atas dinding
pintu benteng tersebut, pada ke-dua belah pintu besar yang terbuat
dari baja murni masing-masing tergantung sebilah pedang panjang
berwarna keperak-perakan, di bawah sorot cahaya sang surya senjata
itu memantulkan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata.
"Inilah benteng Kiam poo," seru Malaikat Penjaga Sukma sambil
tertawa dingin, "harap kalian berdua suka mengikuti diriku masuk ke
dalam benteng..."
Dengan enteng ia melangkah di atas jembatan besi itu lalu
meluncur ke dalam dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat. Jago
Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertawa dingin, bersama Lu Kiat
dia segera menyusul ke arah dalam.
"Siapa di situ? Sandi mulut..." teriak pria yang berada di atas
benteng sambil mengawasi ke-tiga orang yang berada di luar benteng
itu dengan pandangan tajam.
Malaikat Penjaga Sukma segera angkat tangannya dan
menunjukkan tiga jari, sahutnya dengan suara keras :
"Menyeberangi sungai hendak bertemu dengan nelayan tua..."
"Hmm! Kembali manusia-manusia tak tahu diri yang datang
mengantar kematian buat diri sendiri..." jengek pria itu sambil tertawa
dingin.
Dalam pada itu setelah mereka berdua saling bertukar sandi,
Malaikat Penjaga Sukma segera membawa ke-dua orang itu berjalan
menuju ke arah pintu benteng.
842
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tampaklah ke-dua belah pintu baja yang amat besar itu perlahanlahan
membentang ke samping, dari dalam benteng muncullah dua
orang pria penjaga pintu.
"Ong toako," Malaikat Penjaga Sukma menyapa, "harap kau
laporkan kepada pengurus benteng, katakanlah Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei serta Lu Kiat datang untuk mengunjungi
benteng..."
"Hmm! Tidak bisa, sekarang tidak diperkenankan untuk
masuk..." sahut pria yang berada di sisi kiri sambil mendengus.
Malaikat Penjaga Sukma jadi tertegun.
"Ong toako, sebenarnya apa yang telah terjadi??" serunya.
"Kau betul-betul tolol dan makin tua makin bertambah pikun,"
jawab pria itu dengan sikap yang amat sombong, "apakah kau lupa
sekarang adalah hari apa? Toa kongcu dan toa siaocia sebentar lagi
akan keluar dari benteng..."
"Oooh... aku betul-betul sangat bodoh... aku memang sangat
tolol, ternyata urusan itu sudah aku lupakan!" kata Malaikat Penjaga
Sukma dengan tubuh gemetar keras.
Kepada Pek In Hoei ia tertawa getir dan melanjutkan :
"Sahabat Pek, kongcu serta siocia dari benteng kami sebentar lagi
akan keluar benteng untuk menikmati pemandangan alam, dalam
keadaan seperti ini biasanya poocu kami tak pernah menemui tamu,
terpaksa kalian berdua harus kembali dulu.. Inilah rejeki yang paling
bagus buat kalian berdua untuk melanjutkan hidup, sebab meneruskan
perjalanan ke depan hanya berarti mencari kematian bagi diri
sendiri..."
"Sungguh tidak sedikit peraturan dari benteng kalian ini..." ejek
Lu Kiat dengan suara dingin.
Air muka Malaikat Penjaga Sukma agak berubah sedikit, buruburu
serunya memperingatkan :
"Kalau berbicara harap sedikitlah berhati-hati, kalian mesti tahu
Benteng Kiam-poo jauh berbeda dengan perguruan biasa lainnya,
843
Saduran TJAN ID
barang siapa yang terjatuh ke tangan kami belum ada seorang pun di
antaranya yang berhasil lolos dalam keadaan hidup..."
Dengan sorot mata tajam Pek In Hoei melirik sekejap ke arah
Benteng Kiam-poo yang besar dan menyeramkan itu, tiba-tiba sekilas
napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, ia tarik napas panjangpanjang
dan berkata :
"Lu toako, mari kita serbu sendiri ke dalam benteng..."
"Ehmm... aku lihat terpaksa kita harus berbuat demikian..." jawab
Lu Kiat sambil mengangguk.
Traang...! Di kala ke-dua orang itu secara diam-diam sedang
berunding untuk melakukan penyerbuan secara kekerasan, tiba-tiba
dari balik Benteng Kiam-poo yang menyeramkan itu berkumandang
datang suara genta tersebut sehingga bergema menembusi angkasa...
kemudian pantulan suara tadi menyebar di udara dan perlahan-lahan
sirap kembali...
"Menyingkir..." dua orang pria yang berdiri di depan pintu
benteng itu segera membentak keras.
Malaikat Penjaga Sukma tahu bahwa toa kongcu serta nona
mereka akan keluar dari benteng, saking takutnya buru-buru ia
berseru :
"Kalian berdua harap segera menyingkir dari sini..."
Agaknya ia merasa amat takut terhadap putra serta putri dari
poocunya itu, dengan wajah berubah hebat buru-buru ia putar badan
dan kabur dari jembatan penyeberangan.
Dengan sikap yang sangat hormat dua orang pria yang berdiri di
sisi pintu benteng itu segera bongkokkan tubuhnya dan tunduk kepala
memandang ke atas lantai, sorot mata mereka tak berani berkeliaran
secara sembarangan dan gerak-geriknya ketakutan sekali.
Bagian 35
LU KIAT yang menyaksikan kejadian itu diam-diam mengerutkan
dahi, dan berseru :
844
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Besar amat lagak kongcu serta siocia dari Benteng Kiam-poo
ini..."
Mereka berdua sama-sama merupakan jago muda yang tinggi
hati, meskipun menyadari bahwa lawannya bukan manusia
sembarangan, tetapi mereka berdua tetap bersikeras hendak melihat
macam apakah gerangan ke-dua orang muda mudi itu, maka dengan
lagak pilon dan sikap yang jumawa mereka angkat kepala
memandang ke udara.
Dua baris pria berpakaian perak yang bersisik perak dengan
pakaian yang menyolok serta pedang tersoren di pinggang, perlahanlahan
muncul dari balik pintu benteng, sikap mereka amat teratur dan
rapi, jelas merupakan sepasukan busu berbaju perak yang sudah lama
mendapat pendidikan keras.
Di belakang sepasukan busu itu muncullah seorang pemuda
berjubah hijau bertopi model jagoan dengan sebilah pedang pendek
berbentuk aneh dan antik tersoren di pinggangnya, sepasang matanya
memancarkan sorot mata dingin, wajahnya tiada perasaan, sikapnya
yang sombong dan jumawa itu cocok sekali dengan kuda
tunggangannya yang berwarna putih bersih.
"Hey, siapakah kau?" tiba-tiba ia membentak keras, "berani benar
mencuri lihat raut wajah kongcumu!"
Dua barisan busu berbaju perak itu segera menyebarkan diri dan
mengurung Pek In Hoei serta Lu Kiat rapat-rapat, sikap mereka jelas
menunjukkan rasa permusuhan yang amat tebal.
Sambil loncat ke depan pemuda itu kembali membentak keras :
"Ciss... siapakah kalian berdua? Kenapa aku belum pernah
berjumpa dengan kalian berdua? Eeei... kenapa kalian tidak
menjawab? Bisu atau tuli kamu berdua?"
Perlahan-lahan Pek In Hoei tarik kembali sorot matanya dan
balas menatap wajah pemuda itu, sahutnya pula dengan suara ketus :
"Siapa kau? Kenapa aku pun belum pernah berjumpa
denganmu?"
845
Saduran TJAN ID
"Hmmm... itulah disebabkan kau tak punya mata, sepasang
matamu buta dan otakmu terlalu goblok!" teriak pemuda itu sambil
mendesis penuh kegusaran, "kalau kau belum pernah berjumpa
dengan enghiong yang sebenarnya dari kolong langit, maka kau tak
kenal dengan kongcumu, bila kau sudah tahu siapakah aku, hmmm...
hmmm... kau tak akan berani berbicara dengan sikap begitu kurang
ajar terhadap diriku."
Pek In Hoei mengerutkan dahinya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu, kau benar-benar
adalah seorang manusia lihay!" ejeknya.
Sikap pemuda itu semakin sombong dan jumawa, wajahnya
dingin ketus menyeramkan, matanya memancarkan cahaya bengis
yang meliputi napsu membunuh, jawabnya :
"Sedikit pun tidak salah, atau paling sedikit aku Cui Kiam Beng
jauh lebih ampuh daripada kamu..."
Dengan sorot mata memancarkan cahaya bengis ia tertawa
dingin, lalu ujarnya kembali :
"Kenapa kalian berdua belum juga jatuhkan diri berlutut dan
menunggu hukuman yang akan kujatuhkan terhadap diri kalian
berdua."
"Kau keliru besar sahabat," jengek Lu Kiat dengan alis berkerut,
"tak ada orang yang jeri kepadamu!"
Cui Kiam Beng adalah putra kesayangan dari pemilik Benteng
Kiam-poo, sejak kecil ia sudah terbiasa dimanja sehingga tanpa terasa
terdidiklah watak yang sombong tinggi hati dan jumawa pada dirinya,
ketika menyaksikan sikap Pek In Hoei serta Lu Kiat bukan saja tidak
jeri seperti sikap orang-orang benteng Kiam poo terhadap dirinya,
malah sebaliknya ia sendiri yang disindir dan diejek-ejek, hawa
amarahnya kontan berkobar dan napsu membunuh seketika
menyelimuti seluruh wajahnya...
Ia menyapu sekejap ke sisi kiri dan kanannya, lalu menegur :
"Tahukah kalian berdua di manakah sekarang kalian berada?"
846
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Benteng Kiam-poo... suatu tempat yang penuh kenistaan serta
kejahatan," jawab Pek In Hoei dengan nada dingin, "Huuuuh...! Kau
menggunakan tempat bejat seperti ini sebagai kebanggaan terhadap
diri sendiri, aku pun jadi ikut malu melihat sikapmu yang memuakkan
itu."
"Tutup mulut!" bentak Cui Kiam Beng penuh kegusaran,
"bangsat terkutuk, kau berani bersikap kurang ajar terhadap
kongcumu!"
Dia ulapkan tangannya dan para jago pedang berbaju perak yang
mengepung di sekeliling tempat itu segera loloskan pedangnya dan
menyilangkan senjata di depan dada, dengan pandangan gusar mereka
tatap ke-dua orang itu tajam-tajam.
"Hmm! Kalian mau coba-coba turun tangan?" ejek Jago Pedang
Berdarah Dingin dengan napsu membunuh menyelimuti pula seluruh
wajahnya.
Cui Kiam Beng tertawa dingin.
"Tak seorang manusia pun diperkenankan bikin keonaran dalam
benteng Kiam poo, bajingan cilik! Pentang lebar-lebar sepasang biji
matamu, tempat ini bukan tempat sembarangan, dan sekarang kau
berani mencuri lihat rahasia dari benteng kami, untuk dosamu itu
paling sedikit tubuh kalian harus dihancur-lumatkan jadi berkepingkeping."
Sambil menoleh ke arah anak buahnya, ia membentak keras :
"Tangkap semua!"
Bersamaan dengan lenyapnya suara bentakan itu, dua orang pria
berbaju perak menerjang datang dari samping kiri dan kanan, pedang
mereka digetarkan menciptakan dua baris bunga pedang yang
menyilaukan mata, laksana kilat cahaya tajam itu menyerang dua
orang pemuda tersebut.
Pek In Hoei serta Lu Kiat serentak melayang ke samping sambil
masing-masing kirim satu pukulan ke depan, karena terlalu gegabah
menilai lawan ke-dua orang pria itu segera mendengus berat dan
847
Saduran TJAN ID
terpental kembali ke belakang oleh angin pukulan yang sangat berat
itu.
Menyaksikan kelihayan lawannya, air muka Cui Kiam Beng
berubah hebat, serunya :
"Sungguh tak nyana kalian berdua adalah jago-jago lihay yang
punya sedikit simpanan."
Haruslah diketahui, barisan jago pedang berbaju perak ini adalah
barisan pengawal yang dilatih dan dididik sendiri olehnya, meskipun
belum terhitung jago pedang yang teramat lihay tapi mereka pun
bukan termasuk manusia-manusia tolol yang sama sekali tak berguna,
siapa tahu dalam penyerangan yang dilancarkan barusan, bukan saja
serangannya gagal total bahkan sebaliknya di dalam satu gebrakan
saja anak buahnya kena dipukul mundur dalam keadaan luka.
Peristiwa semacam ini bagi Cui Kiam Beng boleh dibilang belum
pernah ditemuinya.
Oleh sebab itu dengan wajah berubah hebat, sekilas senyuman
menyeramkan menghiasi bibirnya.
"Saudara, bila kau ada minat, tak ada halangannya untuk turun
tangan sendiri!" dengus Lu Kiat dengan suara ketus.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dengan andalkan sedikit
kepandaian semacam itu kalian berdua berani datang ke benteng
malaikat pedang untuk bikin keonaran. Kamu sekalian terlalu
pandang enteng jago-jago yang ada di tempat ini," seru Cui Kiam
Beng sambil tertawa seram, "kalian harus tahu bahwa jago lihay
dalam benteng kami tak terhingga jumlahnya, mereka yang memiliki
kepandaian silat semacam apa yang kalian miliki itu tak terhitung
banyaknya... sahabatku setelah kalian bertemu dengan kongcumu
maka itu berarti pula kesempatan untuk hidup bagi kalian berdua telah
lenyap, selamanya aku tidak akan membiarkan setiap korbanku lolos
dalam keadaan hidup, dan selamanya aku tak pernah membiarkan
korbanku untuk mendapat kesempatan guna meneruskan hidupnya..."
848
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak menyangka kalau
kejumawaan serta kesombongan pemuda yang berada di hadapannya
ini jauh melebihi dirinya, ia tercekat dan segera mengetahui bahwa
benteng Kiam poo dapat memimpin dunia persilatan, hal ini
menunjukkan bahwa pihak mereka pastilah memiliki suatu
kemampuan yang jauh melebihi orang lain, terutama sekali Cui Kiam
Beng berani omong besar, tentu di belakang punggungnya
mempunyai jaminan kekuatan yang mengerikan sekali dan sedikit
banyak ia sendiri pun pasti mempunyai simpanan.
Berpikir demikian, Pek In Hoei segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kau bisa berkata begitu karena
selama ini kau belum pernah bertemu dengan jago lihay, oleh sebab
itu belum pernah merasakan pula bagaimana rasanya dikalahkan
orang!"
"Ooooh... jadi kalau begitu kau adalah seorang jagoan yang
sangat lihay?" sindir Cui Kiam Beng.
"Jago lihay sih tak berani dikatakan, cuma di dalam hal
kepandaian ilmu pedang aku pernah melakukan penelitian serta
penyelidikan!"
Air muka Cui Kiam Beng agak berubah, tubuhnya tanpa terasa
melayang turun dari atas punggung kudanya, sambil tertawa seram
perlahan-lahan ia cabut keluar pedang pendeknya yang berbentuk
aneh itu.
"Hmmm... hmm.... kongcumu ingin sekali menyaksikan sampai
taraf yang setinggi apakah ilmu pedang yang berhasil diteliti oleh jago
lihay semacam dirimu itu," ujarnya dengan serius, "sahabat, sekarang
kau boleh cabut keluar pedangmu... dan ingat! Sewaktu bertempur
nanti kau harus bersikap sangat hati-hati..."
Cahaya pedang bergetar kencang, dari ujung pedang pendek
berbentuk aneh itu segera memancar keluar segulung hawa pedang
yang amat tebal dan menggidikkan hati, cahaya pedang yang dingin
membuat siapa pun akan menyadari bahwa pedang yang berada di
849
Saduran TJAN ID
dalam genggaman lawan itu adalah sebilah pedang mestika yang
jarang sekali dijumpai di kolong langit.
"Ehmm... pedang bagus," puji Pek In Hoei dengan wajah serius,
"aku Jago Pedang Berdarah Dingin baru pertama kali ini berjumpa
dengan pedang mestika macam itu!"
Rupanya ia pun menyadari bahwa lawannya adalah seorang jago
muda yang amat sukar dilayani, setelah tarik napas panjang-panjang
dengan gerakan yang lambat ia loloskan keluar pedang mestika
penghancur sang suryanya dari dalam sarung, kemudian ujung pedang
ditudingkan ke tengah udara.
"Jago Pedang Berdarah Dingin!" seru Cui Kiam Beng dengan
suara keras, "Apakah kau adalah Pek In Hoei yang pernah
mengadakan pertemuan besar sewaktu ada di wilayah selatan..."
"Sedikit pun tidak salah, dan seandainya pada saat ini kau hendak
membatalkan pertarungan ini, maka waktu masih belum terlambat..."
"Aku merasa amat kagum terhadap keberanian serta
kesuksesanmu itu, menggunakan kesempatan yang sangat baik seperti
hari ini, aku harus baik-baik minta petunjuk darimu... Pek In Hoei!
Kuhormati dirimu sebagai seorang jago lihay di dalam penggunaan
ilmu pedang, silahkan kau turun tangan sendiri..."
Sikapnya pada saat ini mengalami perubahan besar sekali,
sementara pada ucapannya juga bertambah sungkan, hal ini
menunjukkan bahwa pemuda she Cui itu telah menyadari bahwa
lawan yang sedang dihadapinya ini adalah seorang lawan yang amat
tangguh.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mengerutkan alisnya
sambil mencukil pedangnya ke udara ia tertawa hambar.
"Tamu tidak akan mendahului tuan rumah, lebih kau saja yang
turun tangan duluan..."
Cui Kiam Beng segera membentak keras, pedang pendek dalam
genggamannya digetarkan ke muka, sekilas bayangan pedang
berkilauan menembusi angkasa, desiran pedang yang tajam dan
850
IMAM TANPA BAYANGAN II
menggetarkan hati berkelebat menembusi udara dan meluncur ke
depan.
Sekarang Jago Pedang Berdarah Dingin baru menyadari bahwa
lawannya bukan manusia sembarangan, cukup ditinjau dari
serangannya yang begitu ganas dan dahsyat laksana gulungan ombak
di tengah samudra ini, sudah cukup membuktikan bahwa lawannya
adalah seorang jago yang amat lihay.
Dengan serius ia pusatkan seluruh perhatiannya pada ujung
pedang sendiri, secara beruntun ia bergantian menyerang sebanyak
tujuh delapan jurus dengan lawannya, sebagai jago-jago kelas satu
dalam dunia persilatan, setiap kali terjadi benturan dengan cepat
mereka tarik kembali pedangnya masing-masing, siapa pun tidak
melakukan penyerangan dengan jurus serangan yang sama sekali
tidak meyakinkan.
Dengan tegang Lu Kiat mengikuti jalannya pertarungan itu dari
sisi kalangan, ia tahu ke-dua belah pihak telah menyerang dengan
mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, satu kali salah
bertindak berarti jiwa akan melayang pada detik itu juga, perhatiannya
sama sekali terhisap oleh jalannya pertarungan itu sehingga untuk
beberapa saat ia lupa terhadap keadaan di sekelilingnya.
"Lu-heng..." suara sapaan yang nyaring dan merdu
berkumandang datang memecahkan kesunyian yang mencekam.
Lu Kiat tercengang dan segera berpaling ke arah mana berasalnya
suara panggilan tadi, tampak seorang nona cantik bersanggul tinggi
perlahan-lahan berjalan mendekati ke arahnya, baju merah yang
terhembus angin membuat dara muda itu nampak bertambah cantik,
seakan-akan bidadari yang baru turun dari kahyangan.
"Nona Im..." seru Lu Kiat dengan nada tertegun.
Dara muda yang cantik jelita itu gelengkan kepalanya berulang
kali, kemudian berkata :
"Tidak, aku she Cui bernama Tiap Tiap... dahulu ketika kita
saling berjumpa di kota Siang cu nama yang kugunakan adalah nama
851
Saduran TJAN ID
palsu... Lu-heng! Kenapa kau bisa datang kemari, kenapa sebelum
datang kau tidak memberi kabar lebih dahulu kepadaku..."
Lu Kiat merasa hatinya jadi hangat dan benaknya segera
terbayang kembali pemandangan tatkala ia berkenalan dengan gadis
itu di kota Siang-ciu, ia merasa hatinya jadi kosong ketika kemudian
gadis itu berlalu tanpa pamit.
Ia menghela napas panjang, katanya dengan wajah serius :
"Aku serta Jago Pedang Berdarah Dingin secara kebetulan lewat
di Benteng Kiam-poo dan tanpa sengaja telah bentrok dengan Cui sau
poocu, sungguh tak nyana dalam keadaan seperti ini aku telah
berjumpa kembali dengan dirimu... aai..."
"Tapi toh ini namanya jodoh..." ujar Cui Tiap Tiap sambil
mengerlingkan biji matanya dan tersenyum.
Lu Kiat tertawa getir.
"Dan jodoh ini datangnya terlalu mendadak sehingga berada di
luar dugaan orang..." tambahnya.
Dengan pandangan mesra, Cui Tiap Tiap mengerling sekejap ke
arah pemuda itu, lalu berkata :
"Lu-heng, sebelum kau lanjutkan langkahmu untuk memasuki
Benteng Kiam-poo lebih baik ajak sahabatmu untuk cepat-cepat
berlalu dari sini. Kau tak akan paham terhadap tabiat dari ayahku,
peduli siapa pun juga asal berani memasuki Benteng Kiam-poo maka
jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan hidup, kecuali kau mati
tak mungkin kau bisa tinggalkan benteng ini lagi. Saudara Lu!
Kendati aku adalah separuh tuan rumah di tempat ini namun berbicara
tentang kedudukan serta kekuasaan aku masih belum dapat memadai
adikku, karenanya walaupun aku ingin sekali membantu dirimu
sayang sekali tiada tenaga bagiku untuk melakukannya..."
Diam-diam Lu Kiat menghela napas panjang, dengan suara berat
katanya :
"Terima kasih buat maksud baikmu itu, sayang sekali menyerbu
ke dalam Benteng Kiam-poo merupakan cita-cita serta tujuan kami..."
852
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Tempat ini bukan suatu tempat yang baik," nasehat Cui Tiap
Tiap lagi dengan wajah sedih, rasa murung dan kesal terlintas di atas
wajahnya, "ayahku telah mendengarkan ucapan manusia laknat,
perbuatannya sangat melanggar kebiasaan orang Bu lim, walaupun
aku ada maksud untuk menasehati dia orang tua, sayang tenaga serta
kemampuanku amat terbatas, aku tak dapat menolong situasi ini
lagi..."
Ia melirik sekejap pertarungan yang sedang berlangsung antara
ke-dua orang pemuda itu, kemudian bentaknya keras-keras:
"Tahan! Kiam Beng, ayoh kembali..."
Dalam pada itu seluruh jidat Cui Kiam Beng telah basah kuyup
oleh air peluh, ia mulai merasa keteter hebat dan mulai tak sanggup
mempertahankan diri, ketika mendengar suara bentakan dari encinya,
dengan cepat ia dorong pedangnya ke belakang lalu bagaikan
segulung angin meloncat keluar dari gelanggang.
"Eeei... kenapa secara tiba-tiba kau hentikan pertarungan ini?
Apakah sudah tak diteruskan lagi..." ejek Pek In Hoei dengan suara
dingin lagi ketus.
Cui Kiam Beng terengah-engah, sambil mengatur pernapasan
sahutnya, "ilmu silatmu memang lihay sekali, sebentar akua pasti
akan minta petunjuk lagi darimu..."
Cui Tiap Tiap menggerakkan tubuhnya yang ramping dan
perlahan-lahan maju ke depan, raut wajahnya yang cantik jelita
bagaikan sekuntum bunga tiba tertutup oleh sikap yang dingin
menggidikan hati, tegurnya dengan nada tidak senang hati :
"Siapa yang suruh kau bergebrak lagi dengan orang lain..."
"Cici!" sahut Cui Kiam Beng dengan alis berkerut, "dalam
keadaan seperti ini kenapa kau tampil pula ke depan?? Apa pesan ayah
kepadamu? Seorang gadis perawan masa secara sembarangan
munculkan diri untuk berjumpa dengan orang asing..."
"Hmm! Makin lama kau semakin tak tahu aturan, aku pun hendak
kau urusi???" bentak gadis itu dengan nada dingin.
853
Saduran TJAN ID
"Mengurusi sih aku tak berani... cuma ayah berpesan begitu
kepadaku..."
Cui Tiap Tiap melirik sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah
Dingin, ketika menyaksikan wajahnya yang begitu tampang dengan
perawakan tubuh yang sangat gagah, hatinya seketika terasa bergetar
keras, pikirnya di dalam hati :
"Lu Kiat sudah termasuk salah seorang pria tampan yang jarang
ada di kolong langit, sungguh tak nyana setelah dibandingkan dengan
Jago Pedang Berdarah Dingin ternyata di atas tubuh Lu Kiat seakanakan
kekurangan sesuatu benda... tidak aneh kalau begitu banyak
gadis muda yang terpikat dan tergila-gila kepadanya... ia memang
tampan dan menawan hati...
Sambil tertawa jengah ujarnya :
"Pek tayhiap, benteng kami merasa mendapat kehormatan untuk
menerima kunjungan dari seorang jago lihay yang nama besarnya
sudah tersohor di seluruh kolong langit serta berkepandaian tinggi
macam dirimu... kami merasa amat bangga sekali dengan
kehadiranmu ini..."
"Nona terlalu memuji, kalau berbicara tentang ilmu silat maka
semestinya kepandaian silat yang dimiliki adikmu itulah baru pantas
disebut luar biasa sekali..." sahut Pek In Hoei.
Merah jengah selembar wajah Cui Kiam Beng, hawa gusar
seketika berkobar dalam dadanya, ia salah mengira Pek In Hoei
mengatakan bahwa ilmu silatnya tak becus dan hanya begitu-begitu
saja, sambil ayunkan pedang pendeknya ia maju mendesak ke muka,
serunya :
"Kau jangan takabur dan jumawa lebih dahulu, pun kongcu toh
belum kalah benar-benar di tanganmu!"
"Eeeei... sebenarnya apa maksudmu??" seru Pek In Hoei dengan
nada tertegun.
"Hmm! Gampang sekali, asal kau sanggup menangkan
permainan pedang di tangan kongcumu maka dari pihak Benteng
854
IMAM TANPA BAYANGAN II
Kiam-poo pasti akan muncul orang untuk menyambut kedatanganmu
itu, sebaliknya kalau kongcumu yang beruntung mendapat
kemenangan... maaf, terpaksa batok kepalamu itu harus berpindah
tempat..."
Pek In Hoei sama sekali tidak menyangka kalau putra kandung
pemilik Benteng Kiam-poo Cui Kiam Beng begitu tak tahu aturan.
Tadi ia tak mau melukai orang karena pemuda itu merasa belum
sempat berjumpa dengan pemilik benteng, seharusnya Cui Kiam
Beng tahu diri dan segera mengundurkan diri.
855
Saduran TJAN ID
Jilid 35
SIAPA tahu pemuda itu tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi,
ternyata ia menantang kembali untuk berduel.
Jago Pedang Berdarah Dingin bukanlah manusia suka diganggu,
napsu membunuh seketika menyelimuti wajahnya, dengan suara
ketus serunya :
"Cui Sau poocu, ada pepatah kata aku ingin beritahukan
kepadamu lebih dahulu kata-kata itu yakni : tidak naik ke atas puncak
gunung, orang tak akan tahu tingginya gunung, tak masuk ke dalam
samudra tak akan tahu dalamnya lautan. Hingga detik ini mungkin
kau masih belum berjumpa dengan jago silat yang betul-betul lihay,
suatu hari kau akan merasakan bagaimana rasanya seorang yang
menderita kekalahan, waktu itu kau baru akan merasa betapa luasnya
pelajaran ilmu pedang yang terdapat di kolong langit."
"Aku tak sudi mendengarkan nasehatmu itu," tukas Cui Kiam
Beng sambil putar pedangnya.
"Adikku, kau tak boleh berbuat demikian!" bentak Cui Tiap Tiap
dengan wajah berubah hebat.
"Cici kenapa kau begitu tak tahu diri," seru Cui Kiam Beng
sambil memberi hormat kepada kakaknya, "berhadapan muka dengan
seorang jago pedang macam dia, hal ini merupakan satu kesempatan
yang terbaik bagiku untuk menjajal ilmu silat keluarga kita, aku
percaya di kolong langit tiada ilmu pedang lain yang mampu
mengalahkan ilmu pedang keluarga kita."
856
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Perkataan dari Pek sauhiap sedikit pun tidak salah," bentak Cui
Tiap Tiap dengan gusar, "di luar gunung masih ada gunung, di luar
manusia cerdik masih ada manusia cerdik, sekali pun keluarga kita
mendapat julukan sebagai keluarga nomor wahid di kolong langit, kita
pun tak berani mengunggulkan ilmu silatnya sebagai nomor satu di
seluruh dunia, karena banyak sekali terdapat jago-jago pedang pandai
yang lebih suka mengasingkan diri daripada ikut memperebutkan
nama kedudukan."
"Aku tak mau mendengarkan perkataanmu yang menggelikan
telinga itu," seru Cui Kiam Beng sambil tertawa dingin, "mencapai
kedudukan yang tertinggi merupakan cita-cita dari setiap jago yang
belajar ilmu pedang, cici kau tak usah mencampuri urusanku lagi..."
Pedang pendeknya digetarkan keras-keras dan serunya kembali :
"Manusia she Pek! Mari kita tetapkan menang kalah kita di ujung
senjata!"
Pada saat itu hawa murninya yang sudah banyak hilang akibat
pertarungan sengit yang barusan berlangsung telah pulih kembali
seperti sediakala, ia menghembuskan napas panjang-panjang lalu
berteriak keras, pedang pendek dalam genggamannya bergerak
membentuk satu gerakan busur yang berwarna kehijau-hijauan,
setelah berhenti sejenak di tengah udara laksana kilat segera
menyusup ke depan.
"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin tubuhnya loncat maju
ke depan meloloskan diri dari serangan tersebut, pedangnya
digetarkan keras dan segera membabat masuk ke dalam lewat sisi kiri
musuhnya.
Cui Kiam Beng putar pedangnya sambil maju ke depan, tiba-tiba
langkahnya memanjang satu kali lipat dari keadaan biasa.
Traaang... sepasang pedang segera saling bentur satu sama lain,
menyebabkan percikan bunga api berhamburan ke seluruh udara,
suara pekikan nyaring menggeletar di udara dan lama sekali baru
membuyar kembali.
857
Saduran TJAN ID
Rambut di atas kepala Cui Kiam Beng berguguran ke atas lantai,
rambut yang kusut menutupi hampir seluruh wajahnya, dengan sorot
mata berapi-api ia putar pedang pendeknya, dengan buas dan bengis
ditatapnya wajah lawan dengan pandangan tajam, seakan-akan ia
sedang menunggu suatu kesempatan baik untuk melancarkan
serangan mautnya.
Pek In Hoei dengan hambar angkat kepala memandang ujung
pedang di angkasa, terhadap sikap menyeringai Cui Kiam Beng yang
menyeramkan itu ia tidak memandang atau pun menggubris, sikapnya
tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apa pun jua, hanya
saat ini wajahnya lebih keren dan sama sekali tidak dihiasi senyuman.
"Hmmm..." suara tertawa seram meledak dari balik bibir Cui
Kiam Beng, pedang pendeknya dengan membentuk sekilas cahaya
keperak-perakan berkelebat menembusi angkasa dan meluncur ke
atas batok kepala Jago Pedang Berdarah Dingin.
Pek In Hoei mendengus dingin, ia geser tubuhnya ke samping,
pedangnya dengan membentuk segumpal bayangan tajam yang amat
menyilaukan mata meluncur keluar...
Dua gulung cahaya putih segera saling bertemu satu sama lainnya
di tengah udara... Tiiing! Dentingan nyaring bergema di udara
kemudian semuanya pulih kembali dalam kesunyian, begitu hening
seolah-olah dunia telah kiamat...
"Aaah...!" Cui Kiam Beng memandang kutungan pedang pendek
kesayangannya dengan pandangan kosong, kemudian ia menjerit
sekeras-kerasnya, bagaikan kalap ia meraung gusar :
"Aku hendak membunuh dirimu... aku hendak membinasakan
dirimu..."
Sambil mencekal kutungan pedang pendeknya Cui Kiam Beng
menuding Jago Pedang Berdarah Dingin, teriaknya dengan suara
keras :
"Dia telah merusak pedang mestikaku... ia telah mengutungkan
pedang mestika kesayanganku... cici! Peristiwa ini merupakan suatu
858
IMAM TANPA BAYANGAN II
penghinaan bagi keluarga Cui kita, pedang itu adalah hadiah dari ayah
ketika aku berulang tahun delapan belas tahun..."
Dengan perasaan sakit hati karena pedangnya rusak, ia berseru
kembali dengan suara gemetar :
"Cici, kau harus balaskan dendam bagiku... rampaskan pedang
mestika penghancur sang surya itu untukku..."
"Adikku, ilmu silatmu tak dapat menangkan orang, hawa
murnimu tidak sesempurna tenaga dalam yang dimiliki Pek sauhiap
maka pedangmu kutung dan rusak," ujar Cui Tiap Tiap sambil
menggelengkan kepalanya. "Untung ayah kita memiliki pelbagai
macam pedang mestika yang tak ternilai harganya, biarlah ayah
menghadiahkan lagi sebilah pedang yang lain untukmu..."
"Omong kosong!" bentak Cui Kiam Beng setengah menjerit,
"pedang adalah rohku, senjata adalah mata dari seorang jago pedang,
bila pedang itu lenyap berarti aku kehilangan jiwaku, aku tak akan
kuat menahan pukulan batin yang demikian beratnya ini..."
"Aaai..." suara helaan napas panjang berkumandang dari balik
pintu benteng, seorang kakek tua berjenggot hitam dengan pandangan
dingin menatap sekejap wajah Pek In Hoei, kemudian sambil
berpaling ke arah Cui Kiam Beng ujarnya :
"Kiam Beng, apa yang diucapkan cicimu sedikit pun tidak salah,
ilmu silatmu masih terlalu cetek, seandainya kau tidak lalai berlatih
ilmu silatmu dengan tekun dan rajin tidak mungkin kau akan
mengalami akhir seperti yang kau alami pada saat ini."
"Paman Sam siok!" seru Cui Kiam Beng dengan suara sedih.
Sementara Lu Kiat yang menyaksikan kemunculan orang itu,
hatinya segera terkesiap, ia tidak menyangka jago kalangan hekto
yang pernah tersohor namanya pada dua puluh berselang, Kongsun
Kie dapat dijumpainya di tempat itu, pelbagai ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benaknya namun untuk sesaat ia tak tahu apa yang
mesti dilakukan.
859
Saduran TJAN ID
Kongsun Kie sudah banyak tahun lenyap dari dunia persilatan,
sebagian besar jago Bu-lim mengira ia sudah mati, sungguh tak nyana
jago kosen itu ternyata bersembunyi di dalam Benteng Kiam-poo.
Dengan suara lantang Lu Kiat segera menyapa :
"Hmm... hmm... tak nyana Benteng Kiam-poo kami telah
kedatangan dua orang sahabat karib yang begini kosen, kunjungan ini
sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami..." kata Kongsun
Kie dengan suara dingin, ia segera membentak keras :
"Terima tamu!"
Bersamaan dengan meledaknya suara bentakan dari Kongsun
Kie, dari balik pintu benteng yang mengerikan itu dengan cepat
bermunculan sebaris pria berbaju hitam, pria itu membawa tambur
dan alat tetabuhan lainnya yang beraneka ragam, sambil munculkan
diri, alat-alat bunyian itu dipukul bertalu-talu hingga suasana seketika
berubah jadi gaduh dan ramai sekali...
Pek In Hoei serta Lu Kiat yang menjumpai kejadian ini jadi
melengak, mereka tak tahu dengan permainan setan apakah pihak
benteng Kiam poo menyambut kedatangan tamu terhormatnya.
Lu Kiat segera berbisik kepada Cui Tiap Tiap yang berada di
sisinya :
"Apa yang sedang mereka lakukan?"
Rupanya Cui Tiap Tiap sangat takut ucapannya itu sampai
didengar orang lain, setelah melirik sekejap ke arah Cui Kiam Beng
serta Kongsun Kie, dengan suara lirih ia menjawab :
"Benteng Kiam-poo kami paling menghormati jiwa ksatria para
jago yang berani menyerbu ke dalam benteng, berhubung setiap orang
yang berani masuk ke dalam benteng berarti kematian bagi dirinya,
maka terhadap keberanian setiap orang yang berani datang kemari
baik itu jago dari kalangan hek-to maupun Pek-to sudah sepantasnya
kalau disambut dengan segala macam alat tetabuhan, di samping
sebagai tanda hormat di samping itu dengan bunyi-bunyian tersebut
mereka memberi kabar pula kepada ayahku yang berarti ada orang
860
IMAM TANPA BAYANGAN II
datang, mereka peringatkan setiap pos penjagaan untuk siap-siap
menghadang kedatangan musuh tangguh, serta tidak
memperkenankan melepaskan orang itu keluar dari benteng dalam
keadaan hidup..."
"Hmm... sungguh besar amat lagak benteng kalian..." seru Lu
Kiat sambil tertawa hambar.
Dalam pada itu seorang pria kekar berbaju merah dengan
mencekal golok terhunus telah maju ke depan, sesudah memberi
hormat kepada Kongsun Kie ujarnya :
"Kongsun sianseng, terhadap mereka berdua apa yang kita
pergunakan???"
"Permadani merah..." jawab Kongsun Kie tanpa berpikir lagi.
Cui Tiap Tiap yang mendengar ucapan itu sikapnya segera
nampak aneh sekali, bisiknya dengan suara lirih :
"Rupanya pengurus benteng kami memandang serius atas
kehadiran kalian berdua, ternyata ia sudah perintahkan untuk
menggunakan permadani merah yang jarang sekali dipergunakan itu
untuk menyambut kedatangan kalian, dari permadani yang digelar di
atas tanah kita bisa menilai tingkatan ilmu yang dimiliki sang tetamu,
di samping itu memberi peringatan pula kepada seluruh anggota
benteng bahwa orang yang datang memiliki ilmu silat amat lihay,
permadani merah berarti suatu tingkatan yang paling tinggi, mereka
diperingatkan untuk menghadapi secara hati-hati!"
Sementara itu dengan cepatnya ke-empat orang pria tadi sudah
mengatur permadani merah di atas pintu masuk benteng.
Kongsun Kie segera mempersilahkan ke-dua orang tamunya
untuk masuk ke dalam benteng, katanya :
"Silahkan kalian berdua masuk ke dalam benteng kami, semua
anggota Benteng Kiam-poo dengan senang hati menyambut
kedatangan kalian berdua."
"Peraturan dari benteng kalian terlalu banyak, aku tidak berani
untuk mohon banyak petunjuk," sreu Lu Kiat dingin.
861
Saduran TJAN ID
Kongsun Kie mendengus dingin, ia berjalan lebih dahulu menuju
ke dalam benteng sedang Pek In Hoei serta Lu Kiat menyusul dari
belakang, sementara Cui Kiam Beng serta Cui Tiap Tiap mengiringi
dari samping kiri dan kanan, berjalan di atas hiasan permadani merah
menuju ke arah sebuah bangunan besar.
Dalam benteng terdapat sebuah tanah lapang yang luas sekali,
sekeliling tanah lapang itu berdiri berpuluh-puluh buah bangunan
rumah, beberapa orang itu dengan mulut membungkam maju terus ke
depan dan naik ke atas undakan batu.
Traaang...! Tiba-tiba dari balik ruangan besar itu berkumandang
datang suara benturan besi yang amt berat, Kongsun Kie segera
menghentikan langkah kakinya dan angkat kepala.
Seorang nenek tua berwajah merah dengan rambut telah beruban
semua tahu-tahu sudah merintangi jalan masuk mereka dengan toya
besi yang amat besar menyilang di tengah jalan.
Melihat perbuatan orang, Kongsun Kie nampak agak tertegun,
dengan cepat ia menegur :
"Soat Hoa Nio Nio, apa yang hendak kau lakukan?"
"Dan kau sendiri mau apa?" Soat Hoa Nio Nio balik bertanya
dengan suara dingin.
Rupanya Kongsun Kie sangat kenal dengan tabiat aneh nenek tua
tersebut, sambil tertawa terpaksa jawabnya :
"Aku mendapat tugas untuk menyambut kedatangan dua orang
sahabat yang hendak masuk ke dalam benteng."
Soat Hoa Nio Nio mendengus dingin :
"Hmm! Aku ingin sekali menyaksikan manusia macam apakah
yang begitu berani tak pandang sebelah mata terhadap siau poocu kita,
apakah dia tidak tahu kalau siau poocu adalah putra angkat dari aku
si nenek tua."
Kiranya Cui Kiam Beng adalah putra angkat Soat Hoa Nio Nio,
juga merupakan muridnya. Ketika terjadi bentrokan kekerasan antara
Cui Kiam Beng dengan Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei
862
IMAM TANPA BAYANGAN II
sewaktu ada di luar benteng tadi, segera ada orang lari melaporkan
kejadian ini kepada sang nenek tua yang amat membelai putra
angkatnya ini.
Ketika mendengar putra angkatnya menderita kekalahan total,
nenek tua ini jadi naik pitam, ia segera minta persetujuan dari sang
poocu untuk memberi pelajaran lebih dahulu kepada Pek In Hoei
sebelum berjumpa dengan dirinya.
Sementara itu Cui Kiam Beng telah memburu maju ke depan
sambil berseru keras :
"Ibu angkat!"
"Kiam Beng, beritahu ibu angkatmu, anak jadah mana yang telah
menganiaya dirimu!" seru Soat Hoa Nio Nio dengan suara dingin dan
ketus.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sama sekali tidak
menyangka nenek tua berwajah dingin dan berbicara ketus itu punya
mulut usil yang kotor, tanpa ikatan dendam atau pun permusuhan
begitu buka mulut dirinya lantas dimaki sebagai anak jadah.
Sambil tertawa dingin tubuhnya segera melangkah maju ke
depan, makinya dengan suara sinis :
"Huuh! Kau ini manusia macam apa? Berani benar memaki orang
dengan kata yang tidak senonoh!"
Soat Hoa Nio Nio berpaling dan melirik sekejap ke arah si anak
muda itu, kemudian kepada Cui Kiam Beng tanyanya :
"Kiam Beng, apakah anak jadah ini yang menganiaya dirimu?"
"Sedikit pun tidak salah, dia adalah Jago Pedang Berdarah Dingin
Pek In Hoei!"
"Jago Pedang Berdarah Dingin?" Soat Hoa Nio Nio tertawa
mengejek dengan suara yang amat sinis, "Huuuh! Jago Pedang
Berdarah Dingin itu manusia macam apa? aku si nenek tua sudah
hidup berpuluh-puluh tahun lamanya di kolong langit, belum pernah
ada orang yang berani berlagak congkak semacam anak jadah ini."
863
Saduran TJAN ID
"Oooh... Jadi kau ingin lihat? Mungkin aku tak akan membuat
kau jadi kecewa..." seru Pek In Hoei dengan gusarnya.
Dengan penuh kemarahan Soat Hoa Nio Nio mengetukkan toya
besinya keras-keras ke atas lantai, serunya :
"Cuuuh! Bajingan cilik kau betul-betul seorang manusia yang tak
tahu adat."
Kongsun Kie yang selama ini berada di sisinya tidak tahu kalau
nenek tua yang tak kenal aturan ini sudah minta ijin lebih dahulu dari
poocu mereka, menyaksikan tingkah polahnya kian lama kian
bertambah kasar dan tidak memakai aturan, hatinya jadi sangat
gelisah, buru-buru serunya :
"Nio-nio! Harap kau mengundurkan diri dari sini, setelah
bertemu dengan poocu nanti, belum terlambat bukan bila kau hendak
bikin perhitungan dengan Jago Pedang Berdarah Dingin."
"Tidak bisa jadi," tukas Soat Hoa Nio Nio sambil mendengus
dingin, "urusan pribadi dari aku si nenek tua lebih baik kau tak usah
ikut campuri."
Air muka Kongsun Kie berubah hebat.
"Kau..." serunya.
"Kenapa? Kalau tidak terima laporkan saja peristiwa ini kepada
poocu!" teriak Soat Hoa Nio Nio sambil melototkan sepasang
matanya bulat-bulat.
Setelah nenek tua ini mengumbar napsu amarahnya, kepada siapa
pun ia tidak memberi muka. Kendati kedudukan Kongsun Kie dalam
Benteng Kiam-poo tidak rendah namun ia pun tak mampu mengusik
kebiasaan dari nenek tua ini.
Terpaksa sambil tertawa getir ia gelengkan kepalanya berulang
kali dan mengundurkan diri dari tempat itu.
Soat Hoa Nio Nio tertawa seram, serunya kemudian :
"Kiam Beng! Beri hadiah dua gablokan keras untuk bajingan cilik
itu."
864
IMAM TANPA BAYANGAN II
Cui Kiam Beng tertegun, ia tidak menyangka kalau ibu angkatnya
bakal mengusulkan ide tersebut kepadanya, tetapi pemuda itu
mengerti akan kekuatan diri sendiri, ia sadar bahwa kepandaian silat
yang dimiliki masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan
lawannya, jangan dibilang suruh ia menampar wajah lawannya, sekali
pun suruh menyerang secara jitu pun belum tentu ia mampu.
Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, ia lantas
berseru :
"Ibu angkat!"
"Kenapa?? Aku toh berada di sini? Apa yang mesti kau takuti
lagi?" bentak Soat Hoa Nio Nio sambil melototkan matanya bulatbulat,
"Kalau bajingan cilik itu berani turun tangan membalas, maka
aku si nenek tua segera akan menghancur-lumatkan tubuhnya jadi
bola daging... Hmm! Bila aku tak mampu kasih pelajaran yang
setimpal kepadanya, aku bukanlah Soat Hoa Nio Nio..."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang disindir dan
diejek terus menerus oleh lawannya, lama kelamaan tak kuat menahan
diri lagi. Meskipun ia tidak ingin turun tangan di dalam keadaan
seperti ini tetapi keadaan memaksa dirinya tak dapat berpeluk tangan
belaka.
Sambil bergerak maju beberapa langkah ke depan, serunya
dengan suara penuh kemarahan :
"Nenek sialan, sebetulnya apa yang kau kehendaki?"
Selama hidup Soat Hoa Nio Nio paling benci kalau ada orang
memaki dirinya sebagai seorang nenek sialan, mendengar Pek In Hoei
memaki dirinya dengan kata-kata yang tak tahu sopan, ia jadi naik
pitam, sekujur badannya gemetar keras karena menahan rasa gusar
yang meluap-luap.
Sambil memutar toya besinya ke tengah udara ia berteriak keras
:
"Bajingan cilik, siapa yang kau sebut sebagai nenek sialan??"
865
Saduran TJAN ID
"Siapa lagi kalau bukan kau! Di sini tak ada nenek lain kecuali
kau seorang nenek sialan!" sahut Pek In Hoei ketus, "nenek bangkotan
yang sudah hampir masuk ke liang kubur bukan saja kau sudah tua
bangkotan, lagi pula jelek dan keriputan, di kolong langit belum
pernah kujumpai seorang nenek jelek yang tua lagi sialan semacam
dirimu ini..."
Weesss...! Di tengah udara segera berkelebat lewat segumpal
bayangan toya disertai desiran angin tajam, bayangan itu langsung
menumbuk ke arah tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin dengan
hebatnya.
Dalam keadaan gusar yang tak tertahankan, Soat Hoa Nio Nio
tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera ayunkan toyanya
mengemplang tubuh lawan, dia ingin dalam sejurus saja berhasil
memukul mati Pek In Hoei yang dibencinya itu.
"Hmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin, "nenek tua sialan yang
hampir masuk liang kubur, akan kusuruh kau rasakan kelihayan dari
aku Jago Pedang Berdarah Dingin..."
Ia benci kepada Soat Hoa Nio Nio karena sikapnya yang congkak
serta tidak pakai aturan itu, karenanya dalam melancarkan serangan
ia tidak ragu-ragu dan sama sekali tak kenal ampun, sambil loncat
maju ke depan pedang mestika penghancur sang surya dicabut keluar,
setelah menghindar diri dari ancaman lawan ia balas menyerang dari
samping sebelah kiri.
Rupanya Soat Hoa Nio Nio tidak menyangka kalau ilmu silat
yang dimiliki lawannya begitu tinggi dan sempurna, sebelum jurus
serangannya dilancarkan tahu-tahu bayangan tubuh lawan sudah
lenyap tak berbekas. Menanti ia merasakan datangnya ancaman
pedang dari lawannya, tahu-tahu bayangan pedang yang amat
menyilaukan mata telah mengurung di sekeliling tubuhnya.
"Aaaah...! Ilmu simpanan dari partai Thiam cong... ilmu pedang
penghancur sang surya...!"
866
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan perasaan tercekat dan bergidik nenek tua itu berseru
tertahan, lalu mundur beberapa langkah ke belakang, tanyanya
kembali :
"Apakah kau anak murid partai Thiam cong??"
"Sedikit pun tidak salah, aku memang anak murid partai Thiam
cong..."
Air muka Soat Hoa Nio Nio berubah jadi hijau membesi, serunya
kembali dengan suara lantang :
"Siapa yang wariskan ilmu pedang tersebut kepadamu??"
"Pertanyaan yang kau ajukan terlalu banyak! Aku merasa tidak
punya keharusan menjawab pertanyaanmu itu!"
Sepasang mata Soat Hoa Nio Nio melotot besar, sorot mata tajam
memancarkan cahaya yang menggidikkan hati dengan suara keras ia
berteriak :
"Apakah Cia Ceng Gak yang wariskan ilmu pedang tersebut
kepadamu???"
"Boleh dibilang begitu," kata Pek In Hoei, sambil ayunkan
pedang mestinya, "sucouku adalah seorang jago pedang yang tiada
taranya di kolong langit, sedang aku hanya berhasil mempelajari
sepersatu atau seperdua kepandaiannya belaka, kalau kau tahu bahwa
dirimu bukan tandinganku lebih baik mulai sekarang juga
bergelinding pergi dari sini, mengingat usiamu yang telah lanjut dan
sebentar lagi bakal masuk liang kubur, mungkin aku bisa
mengampuni selembar jiwa tuamu itu..."
"Omong kosong!" bentak Soat Hoa Nio Nio dengan penuh
kegusaran, "setan cilik, usiamu belum gede tapi kau berani benar tidak
pandang sebelah mata pun terhadap umat Bu lim yang ada di kolong
langit, selama hidup belum pernah aku si nenek tua menjumpai
manusia yang jumawa dan takabur macam dirimu itu. Mari...! mari...!
mari... ini hari aku ingin lihat seberapa banyak kepandaian yang
berhasil ditinggalkan Cia Ceng Gak di kolong langit, sehingga anak
murid partai Thiam cong-nya begitu sombong dan tak tahu diri..."
867
Saduran TJAN ID
Sambil memutar toya besinya di tengah udara, ia membentak lagi
dengan sura berat :
"Hati-hatilah kau si bangsat cilik, kemplangan toya yang
kulancarkan ini kemungkinan besar akan mencabut selembar jiwa
anjingmu..."
Weeeesss...! Diiringi desiran angin tajam toya baja yang amat
berat di tangan Soat Hoa Nio Nio itu laksana seekor ular yang lincah
menggeletar ke udara dan langsung diayun ke atas tubuh Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei.
Dengan sikap yang tenang pemuda she Pek itu tetap berdiri kaku
di tempat semula, perlahan-lahan pedang mestika penghancur sang
surya-nya diulurkan ke depan, lalu disilangkan di depan dada, tubuh
bagian atasnya agak membongkok ke muka sementara pedangnya
membabat lurus ke depan, bentaknya keras-keras :
"Kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri..."
Berhubung Soat Hoa Nio Nio selalu mendesak lawannya untuk
turun tangan, lama kelamaan napsu membunuh dalam hati Pek In
Hoei berkobar juga, serangan yang dilancarkan walaupun kelihatan
sederhana dan biasa sekali namun di balik kesederhanaannya itu
terkandunglah perubahan yang luar biasa, di tengah keringanan
terdapat kemukjizatan...
Soat Hoa Nio Nio adalah seorang jago kawakan yang mengerti
akan kelihayan dari gerakan pedang yang dilancarkan lawannya, ia
segera menyadari bahwa jago muda dari partai Thiam cong ini benarbenar
memiliki ilmu silat yang dapat diandalkan keampuhannya.
Sebagai seorang jago yang ahli pla di dla kepandaian silat, begitu
menyaksikan keadaan tidak menguntungkan, ia segera tarik kembali
serangannya sambil loncat mundur ke belakang, toyanya diputar dan
menyodok ke depan dengan suatu gerakan yang manis langsung
menyodok jalan darah Mie-bun-hiat di tubuh lawan.
Tiba-tiba Pek In Hoei membentak keras :
"Enyah kau si nenek sialan..."
868
IMAM TANPA BAYANGAN II
Menggunakan kesempatan sangat baik yang cuma terdapat dalam
beberapa detik saja itu, tubuhnya loncat maju ke depan menggunakan
peluang tatkala pihak lawan menyodokkan toya besinya ke atas jalan
darah Mie-bun-hiat sendiri, tubuhnya menerjang maju ke depan
sedang pedangnya laksana kilat membabat ke arah bawah.
"Aduuh...!" tampak bayangan pedang berkilauan memenuhi
seluruh udara, tiba-tiba Soat Hoa Nio Nio berseru tertahan dan loncat
mundur ke belakang, toya baja dalam genggamannya terpapas kutung
jadi dua bagian dan rontok ke atas tanah.
"Aaah... jurus Kiam Kie-koan jit hawa pedang menyelimuti sang
surya!" serunya dengan suara gemetar.
"Tidak salah, dan kau berhasil loloskan diri dari ancaman bahaya
maut ini, berarti pula bahwa kau bukanlah seorang manusia yang
sederhana..." ujar Pek In Hoei dengan suara dingin.
Air muka Soat Hoa Nio Nio berubah jadi pucat pias bagikan
mayat, dengan wajah menunjukkan rasa terkejut bercampur ketakutan
ia berdiri menjublek di tempat semula, lama sekali ia tak
mengucapkan sepatah kata pun juga kecuali memandang wajah Pek
In Hoei tanpa berkedip.
"Ibu angkat!" jerit Cui Kiam Beng tiba-tiba sambil maju beberapa
langkah ke depan, suaranya kedengaran gemetar keras, "rambutmu..."
Beberapa untai rambut yang putih beruban melayang jatuh dari
atas batok kepala Soat Hoa Nio Nio, dengan penuh ketakutan ia
berteriak keras, tangannya segera meraba ke atas batok kepal sendiri,
ia merasa kepalanya gundul dan licin seakan-akan sudah tak ada
rambutnya lagi, rasa kejut dan ngeri yang bukan alang kepalang ini
kontan membuat air muka nenek tua itu berubah hebat, ia sambar
beberapa untai rambutnya yang rontok itu dan mendongak tertawa
keras dengan wajah menyeringai seram teriaknya :
"Pek In Hoei, suatu saat aku si nenek tua pasti akan
membinasakan dirimu!"
869
Saduran TJAN ID
Rasa gusar dan mendongkol yang berkecamuk dalam dadanya
saat ini benar-benar sukar dilukiskan dengan kata-kata, dengan
pandangan penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei, kemudian ia putar badan dan lari
menuju keluar...
Menunggu bayangan punggung dari nenek tua itu sudah lenyap
dari pandangan Kongsun Kie baru tarik napas panjang-panjang
ujarnya :
"Pek sauhiap, silahkan masuk! Poocu kami pasti akan memberi
keterangan mengenai peristiwa yang tidak menyenangkan hati itu..."
"Oooh... kejadian itu sih belum merupakan hal yang tidak
menyenangkan, mari kita masuk ke dalam!" sahut Pek In Hoei
hambar.
Setelah menembusi serambi yang amat panjang, sampailah
mereka di dalam sebuah ruangan yang sangat besar, tetapi ruangan itu
kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusia pun,
Kongsun Kie segera menepuk tangannya satu kali sambil berseru :
"Hidangkan air teh..."
Dua orang bocah lelaki baju hijau yang berusia antara dua tiga
belas tahunan munculkan diri sambil membawa nampan berisi cawan
air teh, setelah meletakkan cawan itu di hadapan masing-masing
orang mereka segera mengundurkan diri kembali dari ruangan itu.
Perlahan-lahan Lu Kiat menyapu sekejap sekeliling ruangan itu,
ia lihat ruangan tadi diatur sangat rajin dan rapi sekali, kecuali satu
stel meja kursi terbuat dari kayu merah pada dinding sekeliling tempat
itu penuh bergantungan lukisan-lukisan serta coretan syair orang
kenamaan, alisnya segera berkerut serunya :
"Kenapa poocu kalian belum nampak juga munculkan diri..."
Kongsun Kie segera tertawa paksa, sahutnya :
"Poocu kami sejenak lagi pasti akan munculkan diri, harap kalian
suka menanti sejenak lagi..."
870
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dalam pada Cui Tiap Tiap dengan sorot mata penuh perhatian
dan rasa kuatir melirik sekejap ke arah Lu Kiat, lalu berpesan :
"Lu heng, harap kau jangan bertengkar dengan ayahku, di adalah
seorang yang baik hati..."
"Aku mengerti akan kesulitan hatimu," sahut Lu Kiat sambil
geleng kepalanya, "tetapi keadaan ini terpaksa harus dilakukan..."
Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba dari luar
pintu berkumandang datang suara teguran berat :
"Poocu tiba..."
Seorang kakek tua berwajah bentuk kuda dengan alis yang
panjang, mata yang jeli serta jenggot hitam terurai sepanjang dada
perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu.
Kongsun Kie buru-buru bangkit berdiri dan menyongsong
kedatangan majikannya.
"Poocu!" ia berseru, "Jago Pedang Berdarah Dingin serta Lu Kiat
sudah menanti agak lama..."
"Hmm aku sudah tahu," sahut pemilik benteng Kiam poo sambil
mengangguk, "Kiam Beng! Tiap Tiap! Kalian boleh segera undurkan
diri dari sini."
"Ayah! Ananda tak mau keluar dari sini," teriak Cui Kiam Beng
dengan hati gelisah, "aku ingin lihat dengan cara bagaimana ayah
hendak menjatuhkan hukuman terhadap manusia jumawa ini. Ayah!
Ananda ingin menyaksikan sendiri kematian menjemput
kehidupannya, aku hendak membacok sendiri bajingan itu dengan
golok!"
"Omong kosong!" bentak pemilik Benteng Kiam-poo dengan
sura keras, "tahukah tempat ini adalah tempat apa? Siapa suruh kau
usil mulut dan banyak bicara??"
Walaupun Cui Kiam Beng serta Cui Tiap Tiap tidak ingin
tinggalkan tempat itu dalam keadaan demikian tetapi sorot mata
ayahnya yang mengandung hawa kegusaran serta sikapnya yang
871
Saduran TJAN ID
dingin kaku bagaikan es memaksa mereka berdua terpaksa harus
tinggalkan tempat itu.
Demikianlah, dengan mulut membungkam terpaksa kakak
beradik itu mengundurkan diri dari ruangan.
Sepeninggalnya ke-dua orang muda mudi itu, pemilik Benteng
Kiam-poo alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah Pek In Hoei
serta Lu Kiat, lalu berkata :
"Ada urusan apa kalian berdua datang berkunjung ke Benteng
Kiam-poo kami ini..."
"Sudah lama aku dengar tentang kemisteriusan Benteng Kiampoo
di kolong langit, di samping itu kami pun dengar ilmu pedang
dari Benteng Kiam-poo merupakan nomor satu di kolong langit,
karena itu ketika secara kebetulan kami lewati daerah sekitar sini,
sekalian kami berdua datang berkunjung kemari, sahut Lu Kiat
dengan suara dingin.
"Hmmm...! Aku rasa persoalannya tidak akan segampang serta
sesederhana ini!"
"Apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?? seru Lu Kiat
dengan gelisah.
Dengan pandangan dingin pemilik Benteng Kiam-poo melirik
sekejap ke arah Pek In Hoei lalu menjawab :
"Menurut hasil penyelidikan dari Benteng Kiam-poo kami, dapat
diketahui bahwa Jago Pedang Berdarah Dingin Pek sau-hiap adalah
putra tunggal Pek Tiang Hong dari partai Thiam cong, kedatangannya
ke dalam Benteng Kiam-poo kali ini adalah... hmmm... hmmmm..."
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... apakah kalian takut ada orang
sengaja datang kemari untuk menghancurkan Benteng Kiam-poo
ini?? ejeknya.
Pemilik Benteng Kiam-poo mendengus dingin.
"Hmmm! Buat benteng kami gampang untuk dikunjungi sukar
untuk dilalui, bila kalian tidak ingin keluar dari benteng ini lagi maka
872
IMAM TANPA BAYANGAN II
tidak seorang manusia pun yang akan menghalangi gerak gerik kalian
berdua, tetapi seandainya ingin keluar dari benteng ini secara diamdiam,
maka... itu seperti mencari kematian buat diri sendiri..."
"Hmmm! Dengan andalkan kekuatan apa benteng kalian ajukan
peraturan semacam itu?" jengek Pek In Hoei dengan pandangan
menghina.
Pemilik Benteng Kiam-poo pun tak mau mengalah, dia berseru
pula :
"Kenapa kau berkunjung ke Benteng Kiam-poo?? Bukankah
ingin mencari ibumu?? Hmm... hmmm... Pek In Hoei! Asal usulmu
sudah berhasil kuketahui dengan amat jelas, selama berada di dalam
Benteng Kiam-poo, kau Jago Pedang Berdarah Dingin tak akan
mampu menunjukkan keganasanmu lagi..."
Terkesiap hati Pek In Hoei mendengar ucapan itu, tanpa sadar ia
berseru lantang :
"Apakah ibuku benar berada di dalam Benteng Kiam-poo??"
Pemilik Benteng Kiam-poo mendengus dingin.
"Hmmm! Dia bukan ibu kandungmu!" serunya.
Baik Pek In Hoei mau pun Lu Kiat sama-sama tercengang setelah
mendengar perkataan itu, mereka tidak menyangka kalau pemilik
Benteng Kiam-poo adalah seorang manusia yang lihay, sehingga
rahasia asal usul diri Pek In Hoei pun berhasil diselidiki hingga begitu
jelas.
Jago Pedang Berdarah Dingin merasa hatinya amat sakit seperti
diiris-iris dengan pisau belati, bentaknya dengan suara gemetar :
"Siapa yang bilang begitu?? Kau jangan ngaco belo tak
karuan...hati-hati dengan mulut usilmu itu!"
Pemilik Benteng Kiam-poo tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mungkin hati kecilmu memahami
akan persoalan itu dan aku rasa pun-poocu tiada maksud untuk
membohongi dirimu atau mungkin kau merasa heran dan tidak habis
873
Saduran TJAN ID
mengerti, kenapa aku bisa mengetahui persoalan ini sedemikian
jelasnya..."
Ia berhenti sebentar, kemudian sambil tertawa seram lanjutnya :
"Ibumu telah menceritakan seluruh kejadian yang sebenarnya
kepadaku..."
"Apa??" jerit Pek In Hoei semakin gelisah, "ibuku telah
memberitahukan rahasia ini kepadamu..."
Dengan hati bingung bercampur gelisah serunya kembali :
"Sekarang ibuku berada di mana?? Harap ia suka munculkan diri
untuk bertemu dengan diriku..."
"Huuuuh...! Kau anggap persoalan ini bisa kupenuhi dengan
begitu gampang...??" ejek pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa
dingin, "Pek In Hoei, janganlah kau anggap persoalan ini bisa
diselesaikan dengan begitu mudah dan sederhananya. Hmmm...
hmmm..."
Ia tertawa seram berulang kali, napsu membunuh menyelimuti
seluruh wajahnya, dengan pandangan seram ditatapnya sekejap wajah
Jago Pedang Berdarah Dingin.
Senyuman yang amat sinis tersungging di ujung bibirnya, sorot
mata yang tajam bagaikan pisau serta perubahan wajah yang sinis
menyeramkan mendatangkan pandangan yang jelek terhadap dirinya,
membuat siapa pun yang bertemu dengan dirinya segera mempunyai
perasaan bahwa pemilik Benteng Kiam-poo bukanlah manusia baikbaik...
Dengan pandangan penuh kegusaran Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei meloto ke arah kakek tua itu, ia berharap agar
pemilik dari Benteng Kiam-poo ini suka menyebutkan tempat tinggal
dari ibunya, tetapi kemudian ia merasa kecewa dan sedih, sebab sikap
pemilik Benteng Kiam-poo yang dingin menunjukkan bahwa ia telah
menampik permintaannya, untuk sesaat jago muda yang tersohor
namanya di kolong langit ini merasa tak tahu apa yang mesti
dilakukan...
874
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Poocu!" ujarnya kemudian dengan sorot mata berkilat,
"Mengapa kau tidak memperkenankan aku untuk berjumpa dengan
ibuku..."
Pemilik Benteng Kiam-poo mengerutkan dahinya, dalam hati ia
merasa pedih tetapi perasaan tersebut tak mau diutarakan keluar,
cuma sambil tertawa paksa katanya dengan suara dingin :
"Kau tak dapat berjumpa dengan dirinya, inilah perintahku!
Tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu bahwa sekarang ia
berada dalam keadaan baik-baik, bila kau berjumpa dengan dirinya
maka perbuatanmu itu hanya akan mengganggu ketenteraman hatinya
belaka, dan mungkin kau akan menghancurkan hidupnya atau bahkan
menghancurkan dirimu sendiri..."
"Bukankah kau takut aku mencari dirimu untuk membalas
dendam??" ejek Jago Pedang Berdarah Dingin sambil tertawa sinis.
Raut wajah pemilik Benteng Kiam-poo bergetar keras menahan
rasa siksaan batin yang amt hebat, keteguhan hati serta sikapjumawa
yang diperlihatkan pemuda itu membuat dia merasa sukar untuk
mempertahankan diri, terutama sekali desakan Pek In Hoei yang kian
lama kian menggencet posisinya ini membuat dia merasa hampir saja
tak dapat bernapas membuat napsu membunuhnya timbul kembali...
karena itu air mukanya perlahan-lahan berubah... berubah jadi amat
mengerikan.
Ia angkat kepala dan tertawa seram, serunya :
"Selama aku masih berada di dalam Benteng Kiam-poo apa yang
perlu kutakuti? Kau anggap aku takut menghadapi dirimu yang datang
untuk menuntut balas? Heeeeh... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei,
mungkin kau belum pernah menyaksikan kekuatan dari Benteng
Kiam-poo kami maka kau tak tahu sampai di manakah kelihayan dari
benteng kami, kalau tidak tak nanti kau akan mengucapkan kata-kata
yang bernada kekanak-kanakan serta menggelikan hati itu..."
"Hmm! Poocu, apakah kau sedang memuji-muji kekuatanmu
sendiri?..." ejek Lu Kiat sambil mendengus.
875
Saduran TJAN ID
Pemilik Benteng Kiam-poo angkat kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... memuji kekuatan sendiri sih tidak
perlu, sejak pertama kali aku berkelana dalam dunia persilatan hingga
detik ini belum pernah kusanjung atau puji kekuatanku sendiri, sebab
semakin besar kupuji kekuatan sendiri berarti kemungkinanku untuk
menderita kekalahan semakin besar. Hey orang muda! Bila kau ingin
membuktikan bahwa apa yang kuucapkan tidak bohong, maka
silahkan lihat sendiri kekuatan dari benteng kami... mungkin setelah
membuktikannya sendiri maka kau akan menilai lain kekuatan yang
sesungguhnya dari benteng kami ini..."
Ia tepuk tangannya keras-keras, lalu berkata kembali :
"Cukup berbicara tentang bangunan loteng ini pun sudah
merupakan tempat yang paling berbahaya di kolong langit, asal aku
bertepuk tangan maka anak muridku yang berada di tempat luaran
akan menggerakkan alat rahasia yang ada di sini dan seketika akan
mengurung orang yang ada di dalam ruangan ini hingga mati semua."
Baru saja kata-katanya selesai diucapkan, mendadak dari dinding
empat penjuru berkumandang suara getaran mesin yang amat nyaring
disusul suara gemuruh yang memekakkan telinga, empat dinding di
sekeliling tempat itu secara tiba-tiba lenyap dari pandangan disusul
dari dinding tebal yang kemudian munculkan diri dengan cepat
bermunculan pisau-pisau belati yang sangat tajam, pisau itu bukan
saja tajam luar biasa bahkan memancarkan cahaya yang menggidikan
hati.
Yang lebih aneh lagi, ketika dinding-dinding raksasa di sekeliling
ruangan itu bergerak maju ke depan, ternyata tak nampak sedikit
ruang kosong pun yang tersisa, semua orang yang berada dalam
ruangan itu tergencet sama sekali di tengah ruangan.
Lu Kiat yang menyaksikan kejadian itu jadi bergidik hatinya, ia
segera berseru :
876
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Poocu benar-benar merupakan seorang jago sakti yang tiada
tandingannya di kolong langit, tak kusangka kau mampu mendirikan
alat jebakan yang begini lihaynya di tempat ini, cukup meninjau dari
ruang berpisau ini kami yakin bahwa dengan kekuatan yang kami
miliki masih belum mampu untuk mengatasinya..."
Poocu dari Benteng Kiam-poo segera angkat kepala dan tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... dinding raksasa berpisau tajam ini
merupakan salah satu bangunan luar biasa hasil karya dari seorang
tokoh sakti yang sekarang bermukim dalam benteng kami, orang ini
pandai sekali di dalam hal ilmu bangunan serta ilmu jebakan, sebagian
besar alat jebakan yang terdapat di dalam benteng ini kebanyakan
adalah hasil karyanya."
Diam-diam Lu Kiat merasa terperanjat, pelbagai ingatan
berkelebat di dalam benaknya, ia ada maksud menyelidiki sampai di
manakah kekuatan yang sebetulnya dari Benteng Kiam-poo, maka
sambil sengaja tertawa katanya :
"Hmm... memang suatu hasil karya yang sangat lihay... Poocu!
Dalam ruang tamu pun kau pasangi alat rahasia yang demikian
lihaynya, aku rasa tentu ada suatu nama tertentu yang kau berikan
untuk ruangan ini bukan..."
Poocu dari Benteng Kiam-poo tertawa seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... tentu saja ada namanya, pada saat
hari peresmian tempat ini aku telah menyaksikan kelihayan serta
kesempurnaan dari ruangan ini, maka segera kusebut tempat ini
sebagai 'Sip-bin May Hu' atau jebakan di sepuluh penjuru..."
"Bagus... suatu sebutan yang tepat sekali," puji Lu Kiat sambil
bertepuk tangan, "ruang raksasa ini setelah diperlengkapi oleh dinding
baja berpisau tajam memang merupakan suatu tempat yang kokoh
sekali, siapa pun sulit untuk lolos dari tempat ini... ehm suatu tempat
yang bagus dengan sebutan yang tepat pula..."
877
Saduran TJAN ID
Air muka poocu dari Benteng Kiam-poo ini berubah jadi dingin
menyeramkan, dengan suara seram terusnya :
"Kelihayan dari ruangan ini tidak terletak pada bagian itu saja,
pada saat ke-empat buah dinding tersebut merapat satu sama lainnya,
asal alat rahasia digerakkan maka ke-empat buah dinding ini akan
saling bertumbuk satu sama lainnya, karena itu bukan saja orang yang
terkurung dalam ruangan ini tak mungkin berhasil untuk meloloskan
diri bahkan mereka pun kemungkinan besar akan mati secara
mengerikan dengan tubuh ditembusi berpuluh-puluh bilah pisau
tajam..."
Baik Lu Kiat mau pun Pek In Hoei sama-sama terkejut dibuatnya
setelah mendengar perkataan itu, jantung mereka berdebar keras dan
perasaan hatinya tercekat, ketika sorot mata mereka dialihkan ke
sekeliling tempat itu maka tampaklah dinding berpisau itu masih
bergerak maju dengan lambatnya membuat ruangan di tengah
kalangan kian lama kian bertambah sempit, untung poocu dari
Benteng Kiam-poo hadir pula di tempat itu sehingga pada waktu itu
mereka tak usah kuatir jiwanya terancam.
Pek In Hoei mencibirkan bibirnya dan berkata :
"Dengan susah payah poocu menyediakan alat jebakan selihay
ini, apakah tujuanmu adalah khusus hendak digunakan untuk
menghadapi kami berdua..."
"Hmm! Itu sih tidak," sahut poocu dari Benteng Kiam-poo sambil
mendengus dingin, "orang yang sebenarnya kuincar adalah ayahmu,
sayang seribu kali sayang ia tak berani datang menjumpai diriku di
tempat ini, membuat alat jebakan yang kurencanakan serta kubangun
selama banyak tahun ini sama sekali tak ada kesempatan untuk
dipergunakan..."
Ucapan yang diutarakan dengan nada sedih dan seolah-olah ia
sedang menyesali kegagalan dari rencananya itu lain artinya dalam
pendengaran Jago Pedang Berdarah Dingin, dadanya bagai terhantam
878
IMAM TANPA BAYANGAN II
oleh sebuah martil yang amat berat, ia berseru tertahan dan berdiri
termangu-mangu untuk beberapa saat lamanya.
"Hmm...! Jadi kau hendak menggunakan alat rahasia ini untuk
menghadapi ayahku," serunya sambil mendengus gusar.
"Ada apa?" ejek Kiam-poo poocu sambil tertawa dingin,
"Apakah kau tidak tahu bahwa antara aku dengan ayahmu telah terikat
dengan sakit hati sedalam lautan."
Ketika menyaksikan dinding berpisau tajam itu bergerak maju ke
depan, baru ia kirim dua pukulan yang berbeda ke arah samping kiri
dan kanan, pukulan itu menggunakan peraturan yang tertentu serta
enteng berat yang berbeda satu sama lainnya.
Blaaam...! Alat rahasia itu segera berhenti bekerja, dan empat
dinding berpisau itu segera mundur kembali ke arah sudut ruangan,
keadaan ruangan tengah itu pulih kembali seperti sedia kala dan
lukisan-lukisan orang kenamaan pun bermunculan kembali dalam
pandangan.
Pek In Hoei tertawa dingin, ujarnya :
"Ayahku toh sudah mati. Bagi orang yang telah meninggal maka
berarti semua persoalan telah selesai baik itu dendam atau pun
permusuhan seharusnya sudah dapat dianggap selesai sampai di sini
saja, kenapa kau masih begitu mendendam dan benci kepadanya?
Sebenarnya karena apa kau bersikap begitu?"
Poocu dari Benteng Kiam-poo tertawa seram, napsu membunuh
yang sangat mengerikan terlintas di atas wajah yang licik, dengan
termangu-mangu ia menatap wajah Jago Pedang Berdarah Dingin
beberapa saat lamanya, kemudian berkata :
"Urusan tak akan kuselesaikan dengan begitu gampang, waktu itu
ia telah mencelakai aku sehingga hampir saja aku tak mempunyai
keberanian untuk melanjutkan hidupku di kolong langit, penderitaan
serta siksaan batin yang kualami pada waktu itu tak akan bisa ditahan
oleh setiap insan manusia di kolong langit... oleh sebab itu sekali pun
dia sudah mati tetapi rasa benciku terhadap dirinya masih belum
879
Saduran TJAN ID
lenyap, selama aku masih hidup di kolong langit, setiap hari aku akan
menyumpahi dirinya, agar sukmanya yang sudah gentayangan itu
selamanya tak akan mendapat ketenangan."
"Hey, rupanya kau sudah edan?" bentak Pek In Hoei dengan air
muka berubah hebat.
"Aku sama sekali tidak edan! jawab poocu dari Benteng Kiampoo
dengan suara dingin, "Pek In Hoei, tahukah kau betapa jahat dan
kejinya bapakmu itu? Karena perbuatannya hampir saja hidupku
hancur berantakan tak karuan, karena dia maka aku telah..."
"Tutup mulut!" bentak Pek In Hoei dengan suara nyaring, "Aku
tidak memperkenankan kau mengolok-olok ayahku."
"Kau anggap ayahmu jantan? Ayahmu seorang yang luar biasa?
Huuh... tak usahlah mengharapkan yang muluk-muluk," seru poocu
dari Benteng Kiam-poo dengan suara sinis, "Pek Tiang Hong adalah
seorang lelaki mandul... bahkan mungkin dia menderita sakit
impoten... manusia impoten mana bisa mengadakan senggama? Dan
mana dia mampu untuk melahirkan dirimu?"
Pek In Hoei merasa hatinya sangat perih, rasa sedih yang sukar
dilukiskan dengan kata-kata muncul dalam benaknya, sorot mata yang
tajam bagaikan kilat memancarkan napsu membunuh yang amat tebal,
dengan nada berat tapi penuh bertenaga ia berkata :
"Sekali pun aku bukan dilahirkan karena bibitnya, sekali pun dia
bukan ayah kandungku, tetapi ia telah merawat serta mendidik diriku
hingga dewasa, bagaimana pun juga ia tetap merupakan ayahku, kalau
kau berani pandang hina pula diriku... Poocu, aku harap bicaralah
yang agak hati-hati, jangan sampai ada telapak melayang di atas pipi."
"Hmm... terhadap kalian ayah dan anak aku tiada perkataan
menarik lain yang bisa diutarakan, selama hidupnya Pek Tiang Hong
sudah terlalu banyak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan
diriku, aku bersikap demikian terhadap dirinya boleh dibilang
merupakan suatu sikap yang bijaksana."
880
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm... " Pek In Hoei mendengus dingin, "untuk sementara
waktu lebih baik kita jangan membicarakan dulu persoalan mengenai
dendam atau budi antara ayahku dengan dirimu, aku ingin bertanya...
kau sebagai seorang pemimpin suatu benteng yang terhormat kenapa
menculik ibuku dan kemudian mengurungnya di tempat ini?"
Sepasang mata dari pemilik Benteng Kiam-poo berubah jadi
merah darah, napsu membunuh dan ras benci bercampur aduk jadi
satu, dengan penuh kebencian ia bertepuk tangan satu kali, lalu
serunya dengan suara menyeramkan :
"Pek Tiang Hong terlalu keji, ia sudah mencelakai hidupku
dengan cara yang paling mengerikan agar pembalasan dendam yang
kulancarkan bisa mengenai jitu dalam lubuk hatinya, terpaksa aku
harus menculik lebih dahulu istrinya kemudian menunggu ia datang
untuk masuk perangkap, sayang umurnya terlalu pendek dan nasibnya
terlalu jelek, sebelum ia sempat kemari jiwanya sudah keburu
melayang lebih dahulu."
"Kau anggap dengan kedudukanmu sebagai seorang pemilik
benteng maka kau pasti mampu membinasakan ayahku?"
"Hmmm! Itulah satu-satunya persoalan yang kuyakini dengan
sepenuh hati, bukankah barusan kau telah menyaksikan sendiri semua
peralatan gy kuatur dalam benteng ini? Cukup dengan alat jebakan
'Sip-bin-may-hu' ini aku rasa Pek Tiang Hong sudah kehabisan akal
untuk menghadapinya."
881
Saduran TJAN ID
Jilid 36
JAGO Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus :
"Huuh...! Sekali pun alat jebakan atau ngo-heng suatu alat
jebakan yang luar biasa dan memiliki perubahan yang amat banyak,
namun tidak lebih kesemuanya itu adalah benda mati, benda semacam
itu tak mungkin bisa menangkan perubahan akal manusia, lagi pula di
tengah kesempurnaan pasti terdapat pula keteledoran, apakah kau
berani jamin bahwa persiapanmu itu pasti tiada keteledoran???"
Pemilik Benteng Kiam-poo berdiri tertegun, ia tak menyangka
kalau Jago Pedang Berdarah Dingin dengan usianya yang masih
muda, ternyata memiliki pengetahuan yang sangat luas dan jauh
melebihi pandangan orang lain, hatinya tercekat dan tanpa sadar
muncullah suatu perasaan takut serta bergidik dalam hati kecilnya, ia
merasa seolah-olah segala tindakan serta perbuatannya cukup untuk
melenyapkan rencana yang telah disusun secara matang itu, maka
dalam hati kecilnya segera timbul keragu-raguan, ia curiga dan
merasa goyah pendiriannya... mungkinkah alat rahasia yang
dimilikinya itu mampu untuk membelenggu musuh-musuhnya.
"Hey Orang muda!" ujar kemudian sambil tertawa seram,
"perkataanmu memang tepat sekali, aku tidak membantah bahwa
pendapat yang kau miliki jauh lebih hebat dan lebih sempurna
daripada pendapat kebanyakan orang, tetapi sejak aku mendirikan
benteng ini hingga sekarang belum pernah terjadi peristiwa semacam
ini... aku berharap kau bisa menumbangkan sejarah baru, agar aku
kehilangan kepercayaanku terhadap segala macam permainan ini
882
IMAM TANPA BAYANGAN II
hingga timbul ide lain untuk menyusun rencana baru... tetapi kau
harus tahu anak muda, pekerjaan itu bukanlah suatu pekerjaan yang
terlalu gampang, aku percaya kau masih belum memiliki kemampuan
untuk berbuat demikian..."
"Lihat saja nanti bagaimana akhirnya," sahut Pek In Hoei dengan
nada congkak, "siapa yang akhirnya berhasil menangkan pertarungan
ini nanti toh akan ketahuan, waktu itu kau baru akan tahu bahwa jago
lihay yang lebih lihay daripada dirimu masih banyak sekali dalam
dunia persilatan..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh menarik, sungguh
menarik..." seru pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa terbahakbahak,
"Aku akan menantikan dirimu semoga tindak tandukmu jauh
lebih keras dan tajam daripada selembar mulutmu itu, jangan sampai
apa yang kau ucapkan hanya kentut busuk yang berhembus lewat,
cuma baunya saja yang menusuk hidung namun sama sekali tak ada
wujudnya... bila sampai demikian keadaannya bukankah keadaan jadi
mengenaskan sekali.
Pek In Hoei sama sekali tidak ambil peduli terhadap ucapan sang
pemilik Benteng Kiam-poo yang sama sekali tidak pandang sebelah
mata pun terhadap orang lain ini, ketika dilihatnya jago lihay yang
liciknya melebihi rase tua ini menyindir dirinya terus menerus,
wajahnya seketika berubah jadi dingin menyeramkan, sambil tertawa
dingin serunya :
"Huuuuh...! Keadaaanmu itu persis bagaikan orang buta meraba
tulang... dan rabaanmu tepat sekali. Toa poocu! Kecuali segala
permainan tetek bengek yang sudah bau basi ini apakah kau masih
mempunyai permainan lain yang jauh lebih segar??? Kalau ada tak
ada halangannya bila kau perlihatkan semua sehingga kami dapat
membuka sepasang mata kami yang buta..."
"Hmmm! Apa yang kau ributkan??? Sekarang kau sedang berada
dalam perjalanan menuju ke alam baka, kau akan merasakan
kesemuanya itu satu persatu... pokoknya kau tak usah kuatir, aku tak
883
Saduran TJAN ID
akan membiarkan dirimu melakukan perjalanan yang sia-sia... aku tak
akan membiarkan kau merasa kecewa karena belum sempat
menyaksikan raut wajah Benteng Kiam-poo yang serba rahasia dan
penuh diliputi kemisteriusan ini..."
Pada saat itulah Lu Kiat maju satu langkah ke depan ujarnya :
"Poocu, apakah tujuan dari kedatangan kami aku rasa kau pasti
sudah tahu, saudaraku dengan susah payah melakukan perjalanan
sejauh beribu ribu li untuk datang kemari, maksud serta harapannya
bukan lain adalah untuk berjumpa dengan ibunya, aku ras sebagai
seorang putra sudah sewajarnya kalau ia menyayangi ibu kandungnya
sendiri... aku rasa poocu pasti tak akan menyia-nyiakan perjalanannya
yang jauh dan susah payah itu bukan?? Asal saudaraku ini dapat
berjumpa muka dengan ibunya, maka kendati kau akan
menyelesaikan pertikaian di antara kami dengan cara apa pun jua pasti
akan kami iringi..."
"Hmm...! Sayang seribu kali sayang aku tidak mempunyai hati
begitu welas asih seperti hati sang Budha!"
"Kenapa?" tanya Lu Kiat dengan hati mendongkol. "Bagaimana
pun juga kau toh tidak sepantasnya kalau sama sekali tidak memberi
muka kepada kami."
Hingga detik itu Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak
berani banyak berkutik, bukan lain karena disebabkan ia belum
sempat bertemu muka dengan ibunya ia tak ingin bentrok lebih dulu
dengan orang-orang dari Benteng Kiam-poo karena ia memahami
benar-benar situasi yang terbentang di hadapannya, asal ia tak
sanggup mempertahankan diri maka sepanjang masa ia akan
kehilangan kesempatan untuk berjumpa dengan ibunya, selama hidup
dalam benaknya tak akan terlintas bayangan wajah dari ibunya lagi.
Setelah pemilik dari Benteng Kiam-poo mengusik serta
menyindir dirinya terus menerus perasaan pemuda itu bagaikan kayu
kering yang terjilat oleh kobaran api, ia tak sanggup menguasai napsu
884
IMAM TANPA BAYANGAN II
membunuh yang berkobar dalam dadanya, senyuman yang
menggidikan hati mulai tersungging di ujung bibirnya.
"Kau hendak paksa aku untuk turun tangan?" bentaknya dengan
penuh kegusaran.
Pemilik Benteng Kiam-poo agak tertegun, rupanya ia dibikin
tercengang oleh sikap Pek In Hoei yang mengerikan itu, sejak ia jadi
pemilik benteng seingatnya belum pernah ada orang yang berani
menantangnya untuk berduel, tetapi sikap jumawa yang diperlihatkan
lawannya membuat ia tak sanggup mempertahankan diri lagi.
********
Bagian 36
'HUUUH! Kau anggap dengan kedudukanmu itu sudah pantas untuk
bertempur melawan diriku?" teriak pemilik Benteng Kiam-poo
dengan penuh kegusaran, "Pek In Hoei pentang matamu lebar-lebar
dan periksa dulu sekarang kau berada di mana? Pantaskah kau
unjukkan sikap kejumawaanmu di tempat seperti ini? Hmm dengan
kepandaian silat yang kau miliki itu, untuk menghadapi budakbudakku
kelas tiga masih belum mampu, aku harap kau jangan
memaksa diriku untuk membunuh kau terlebih dahulu."
Ia berhenti sebentar kemudian dengan suara dingin ujarnya
kembali :
"Apakah kedudukan ibumu di dalam benteng ini pun belum
sempat kau ketahui dengan jelas, kau sudah begitu berani bersikap
kurang ajar dan tak tahu sopan kepada diriku, hal ini menunjukkan
bahwa kau sebetulnya sama sekali tak pandang sebelah mata pun
terhadap ibumu."
"Kedudukan ibuku?" seru Pek In Hoei dengan wajah tertegun.
"Ehmm... selama beberapa tahun terakhir kau dapat
mempertahankan hidup boleh dibilang kesemuanya itu adalah berkat
jasa-jasa dari ibumu, andaikata kau tidak memandang di atas
885
Saduran TJAN ID
wajahnya, hmmm aku yakin sedari dulu kau sudah menggeletak mati
jadi mayat."
Makin mendengar perkataan lawannya Pek In Hoei merasa
semakin kebingungan, ia hampir saja tak mampu mengartikan katakata
yang diucapkan oleh pemilik Benteng Kiam-poo ini, tetapi secara
lapat-lapat ia berhasil memahami satu persoalan yakni pernah ada
orang yang hendak membinasakan dirinya tetapi ibu kandungnya
keburu mendapat kabar berita ini terlebih dulu sehingga ia mohon
bantuan orang lain untuk mencegah pembunuhan itu tidak sampai
terjadi.
"Aku... aku tidak memahami apa yang sedang kau maksudkan,"
serunya dengan suara gemetar.
"Hmmm! Tentu saja kau tak akan mengerti," sahut pemilik
Benteng Kiam-poo dengan suara dingin, "dengarkan dulu
perkataanku hingga selesai maka segera akan kau pahami maksud
yang sebenarnya, Pek In Hoei! Kau cuma tahu bahwa kau ingin
bertemu dengan ibumu, tahukah kau bahwa dia tidak menginginkan
perjumpaan ini?"
"Pertemuan antara ibu dan anak sudah sewajarnya terjadi, aku
percaya di kolong langit tak ada seorang ibu yang tak menyayangi
putranya sendiri," bentak Pek In Hoei dengan suara keras, "tentu saja
kecuali kalau dia bukan seorang perempuan dan ia ia sudah
kehilangan cinta kasihnya sebagai seorang ibu."
"Ucapanmu tepat sekali, ibumu adalah termasuk perempuan
semacam itu," kata pemilik Benteng Kiam-poo sambil tertawa seram.
Tergetar keras hati Pek In Hoei setelah mendengar ucapan itu,
suatu perasaan sakit hati dan siksaan batin yang amat sangat membuat
pemuda itu hampir saja muntahkan darah segar, titik air mata
mengembang di ujung kelopak matanya, ia menggeleng dan berseru :
"Aku tidak percaya! Aku tak akan mempercayai perkataanmu itu,
kau tak usah ngaco belo."
886
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sepasang matanya memancarkan cahaya berkilat, dengan suara
keras bentaknya :
"Kau mengurung ibuku di mana?"
Sikap pemilik Benteng Kiam-poo aneh sekali, seakan-akan ia
sudah tak kenal apa artinya peri kemanusiaan lagi, Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei semakin tersiksa batinnya oleh
ucapannya, ia merasa semakin bangga, senyuman yang menyeramkan
dan memuakkan tersungging di bibirnya, ia mendongak dan tertawa
seram.
"Kau anggap ibumu menderita siksaan batin yang hebat selama
berada di dalam Benteng Kiam-poo? Terus terang kuberitahukan
kepadamu, dugaanmu itu keliru besar, bukan saja ia tak kenal apa
artinya kepedihan bahkan selama ini dia merasakan apa artinya
kebahagiaan hidup sebagai seorang manusia di mana pun ia berada,
kedatangannya selalu disambut dengan sikap hormat dan sopan,
setiap orang menghormati dirinya sebagai nyonya besar."
"Pek In Hoei berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak
keras, dengan suara gemetar ujarnya :
"Bila kau benar-benar melayani serta menghormati ibuku dengan
cara yang baik, suatu saat aku orang she Pek pasti akan membalas
budi kebaikanmu itu, tapi aku harap apa yang kau ucapkan merupakan
suatu kenyataan, janganlah sengaja kau ucapkan untuk mencari muka
di hadapanku, aku harap apa yang kau katakan bukanlah suatu katakata
bohong yang sengaja kau ucapkan untuk membohongi aku."
"Kau anggap aku adalah seorang manusia macam apa?? Buat apa
sih aku mesti membohongi anak kecil macam kau?? Tetapi ada satu
hal kau mesti ingat, ibumu berbuat demikian kesemuanya adalah atas
dasar kerelaan, aku sama sekali tiada maksud untuk memaksa dirinya
berbuat demikian..."
"Sebenarnya kenapa dengan ibuku itu??" tanya Pek In Hoei
dengan nada tercengang.
887
Saduran TJAN ID
"Ia sudah kawin lagi dengan diriku, dan sekarang jadi nyonya
Benteng Kiam-poo!" jawab pemilik benteng itu dengan suara bangga.
Bagikan disambar guntur di siang hari bolong, Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa telinganya berdengung keras,
sekujur tubuhnya gemetar keras dan ia mulai ragu-ragu benarkah
peristiwa itu merupakan suatu kenyataan??
Perasaan sakit hati membuat hawa darah yang bergolak dalam
dadanya menyusup naik ke atas, tak ampun lagi ia muntah darah
segar...
"Sungguhkah ucapanmu itu..." bisiknya dengan suara gemetar.
Sebelum mendapat berita mengenai ibunya ia pernah
membayangkan ibunya itu sebagai seorang perempuan yang saleh dan
amat mencintai dirinya, bayangannya ketika itu indah sekali... tetapi
sekarang bayangan tersebut telah hancur berantakan, semua
harapannya ikut musnah bersama dengan indahnya lamunan yang
pernah terwujud dalam benaknya...
Mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau ibunya adalah seorang
perempuan yang tak tahan diuji, perempuan berhati lemah yang
ternyata sudah kawin lagi dengan orang lain... kalau kawin dengan
orang lain mungkin keadaan masih agak mendingan, ternyata ia sudah
kawin dengan musuh besar ayahnya... ia merasa gusar dan kecewa
atas kenyataan tersebut... diam-diam ia merasa sedih bagi kematian
ayahnya...
Lu Kiat sendiri diam-diam ikut merasa pedih hatinya setelah
mendengar perkataan itu, ketika menyaksikan Jago Pedang Berdarah
Dingin muntah darah segar serta wajahnya menunjukkan penderitaan
yang luar biasa hatinya jadi terkesiap, segera tegurnya :
"Adikku, kenapa kau??"
"Aku sangat baik," jawab Pek In Hoei sambil tertawa sedih,
"toako, kau tak usah bersedih hati karena aku..."
"Dalam menghadapi persoalan apa pun pandanganmu harus
terbuka dan memandang ke arah depan yang luas, janganlah karena
888
IMAM TANPA BAYANGAN II
satu persoalan membuat badanmu hancur berantakan..." seru Lu Kiat
memperingatkan dengan hati gelisah.
"Terima kasih atas nasehatmu itu, toako. Aku bisa merawat diriku
baik-baik..." kata Pek In Hoei dengan suara penuh penderitaan.
Tetesan air mata mengembang pada kelopak matanya yang hitam
dan jeli itu, kendati pun ia sudah berusaha keras untuk menahan air
matanya sehingga tidak sampai menetes keluar, tetapi rasa sedih yang
sukar dikendalikan itu membuat air matanya tanpa bisa dicegah lagi
mengucur keluar dengan derasnya...
Menyaksikan pemuda lawannya tersiksa, pemilik Benteng Kiampoo
merasa semakin bangga, serunya :
"Hey orang muda, sekarang kau tentu sudah paham bukan??"
Sorot mata berapi-api yang amat mengerikan memancar keluar
dari balik mata Pek In Hoei, dengan penuh kegusaran ia membentak
keras :
"Enyah kau dari sini, hati-hatilah kamu... aku akan membunuh
dirimu..."
"Perkataan semacam itu tidak pantas diucapkan olehmu,
semestinya akulah yang berkata demikian kepadamu..." ejek pemilik
Benteng Kiam-poo dengan suara yang dingin.
Pek In Hoei meraung semakin gusar.
"Kau adalah manusia yang paling kubenci selama hidupku, aku
harap kau tahu diri dan segera enyah dari tempat ini, bilamana kita
sampai bentrok muka maka sulit bagimu untuk lolos dari
cengkeramanku..."
Pemilik Benteng Kiam-poo segera angkat kepala dan tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... apakah disebabkan karena ibumu
kawin lagi dengan aku, maka kau hendak membinasakan diriku??"
"Sedikit pun tidak salah," jawab Pek In Hoei dengan suara ketus,
"aku merasa sedih dan pedih karena dia telah memilih manusia
macam kau sebagai suaminya dan aku pun merasa kecewa karena
889
Saduran TJAN ID
nasibnya yang begitu jelek, kau bukanlah seorang pria yang dapat
bertanggung jawab... sahabat! Kau mengawini dirinya karena bukan
muncul dari hati yang tulus bukan?? Kau kawini dirinya bukan
dikarenakan rasa cinta bukan..."
"Kau cuma menebak benar separuhnya saja," kata pemilik
Benteng Kiam-poo sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "Aku
memang benar-benar mencintai ibumu, tetapi aku jauh lebih benci
kepada ayahmu, hubungan yang demikian anehnya ini mungkin bisa
kau pahami, disinilah dia letaknya alasan kenapa aku harus berbuat
demikian..."
"Jadi kau berbuat demikian karena hendak membalas dendam
terhadap ayahku...??" seru Pek In Hoei setengah menjerit.
"Boleh dibilang begitulah..."
Dengan penuh kemarahan Pek In Hoei menuding ke arah pemilik
Benteng Kiam-poo, kemudian teriaknya setengah menjerit :
"Sekarang aku baru tahu bahwa kau adalah manusia yang paling
jahat, manusia yang berhati binatang... aku benci kepadamu... aku
dendam kepadamu dan ingin sekali membinasakan dirimu, karena kau
adalah seorang manusia rendah yang tak tahu malu..."
Air muka pemilik Benteng Kiam-poo berubah hebat, napsu
membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan muka menyeringai
mengerikan ia berseru dingin :
"Kenapa kau sampai sekarang kau belum juga turun tangan??"
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei perlahan-lahan
menggerakkan tangan kanannya meraba gagang pedang penghancur
sang surya yang tersoren pada pinggangnya tetapi ia tidak langsung
meloloskan senjat tersebut melainkan melotot ke arah pemilik
Benteng Kiam-poo dengan pandangan penuh kegusaran, pandangan
itu penuh mengandung rasa permusuhan... sedikit pun tiada hawa
persahabatan yang melintasi wajahnya...
890
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tetapi lama sekali kedua belah pihak tetap saling berpandangan
tanpa seorang pun yang mulai melancarkan serangan, perlahan-lahan
Pek In Hoei turunkan kembali telapaknya dan menghela napas sedih...
Menyaksikan tingkah laku pemuda itu, pemilik Benteng Kiampoo
jadi tertegun, segera tegurnya :
"Kenapa?? Kenapa kau tidak jadi turun tangan?? Apakah kau
tidak berani??..."
"Kau jangan keliru melihat orang," jawab Pek In Hoei dengan
rasa penuh kebencian, "sekarang aku belum ingin membinasakan
dirimu, menanti saatnya telah tiba tanpa kau suruh, aku bisa turun
tangan sendiri untuk membinasakan dirimu, untuk sementara waktu
aku akan biarkan kau hidup beberapa hari lagi di kolong langit."
"Kenapa? Apakah kau anggap aku sedang membutuhkan belas
kasihanmu?" teriak pemilik Benteng Kiam-poo dengan penuh
kegusaran.
Dalam pada itu Pek In Hoei telah berusaha mengendalikan
perasaan yang bergolak dalam dadanya, pelbagai ingatan berkelebat
dalam benaknya, ia tidak percaya bahwa apa yang terjadi merupakan
kenyataan, dengan suara dingin ujarnya :
"Memandang di atas wajahnya, untuk sementara waktu
kulepaskan dirimu."
"Siapa yang kau maksudkan dengan dia?" tanya pemilik Benteng
Kiam-poo setelah tertegun sejenak.
"Nyonyamu tentu saja!" jawab Pek In Hoei sambil tertawa
dingin.
Ketika ia mengucapkan kata-kata tersebut, hatinya terasa sakit
bagaikan ada dua bilah pedang tajam yang menusuk lubuk hatinya.
Lama sekali pemilik Benteng Kiam-poo berdiri tertegun,
kemudian ujarnya :
"Kau maksudkan ibumu yang maha agung dan maha tercinta itu."
"Perkataan itu boleh kau buang dari sebutan tersebut," tukas si
anak muda itu sambil menyeka darah yang menodai ujung bibirnya.
891
Saduran TJAN ID
"Masa kau sudah tak sudi mengenal ibumu lagi," bentak pemilik
Benteng Kiam-poo dengan penuh kegusaran.
"Terhadap ibu semacam ini ada atau tidak bagiku sama saja,"
jawab Pek In Hoei dengan air mata bercucuran, "tanpa dirinya aku toh
tetap tumbuh jadi dewasa, lagi pula aku bukan dilahirkan olehnya,
dalam sebutan saja dia adalah ibuku, tetapi perasaan cinta kasih di
antara kami sama sekali tidak ada, ia tak pernah merawat atau pun
mendidik aku walau hanya satu hari pun."
Pek In Hoei menghela napas panjang, air mata jatuh berlinang
semakin deras, kejadian ini memang menyedihkan sekali hatinya.
Ujarnya dengan suara yang memedihkan hati :
"Sebelum aku tiba di sini, dalam bayanganku terlintas ingatan
bahwa ibuku tidak jauh berbeda dengan ibu orang lain, seorang
perempuan agung yang dapat menjaga martabatnya sebagai seorang
wanita, tetapi setelah aku berjumpa dengan dirimu, aku baru tahu
bahwa kedatanganku ke tempat ini sebenarnya adalah keliru besar,
aku tak menyangka kalau ia sudah jadi nyonya poocu, ia sudah
melupakan diriku yang menjadi putranya, hal yang paling
memedihkan hatiku adalah perbuatannya kawin denganmu, kawin
dengan seorang..."
"Kenapa dengan diriku?" sela Poocu dari Benteng Kiam-poo itu
sambil tertawa seram.
"Hatimu terlalu kejam dan perasaanmu paling sadis di kolong
langit, kau tidak memiliki peri kemanusiaan dan kau tidak kenal budi
sebagai seorang manusia terutama sekali rasa dendammu terhadap
ayahku sudah demikian mendalam, bila ia tahu tata cara maka tidak
semestinya kalau dia kawin dengan musuh besar suaminya sendiri,
agar musuh besarnya dapat mengejek serta mempermalukan
putranya, membuat aku sepanjang masa tak sanggup untuk angkat
kepala kembali, paling sedikit di dalam hal ini, aku tak dapat
mengampuni dirinya."
892
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sungguh tak kusangka kau masih
mempunyai sedikit semangat jantan," ejek pemilik Benteng Kiampoo
sambil tertawa seram, "Pek Tiang Hong boleh merasa bangga
karena dia mempunyai putra macam dirimu, tetapi sayang seribu kali
sayang putranya itu terpaksa harus mengorbankan selembar jiwanya
di dalam Benteng Kiam-poo karena berani menyalahi diriku."
Pek In Hoei merasa amat gusar, ia hendak mengumbar hawa
amarahnya, tetapi Lu Kiat segera maju ke depan, serunya :
"Adik In Hoei tunggu sebentar!"
Kepada pemilik Benteng Kiam-poo serunya kemudian :
"Poocu, bolehkah aku ajukan beberapa persoalan kepadamu?"
"Selama pertanyaanmu itu berada dalam lingkungan yang
memungkinkan, aku dapat memberikan jawaban atas pertanyaanmu
itu!"
"Baik..." seru Lu Kiat sambil tertawa dingin, "setelah kutinjau
semua gerak gerik yang kau perlihatkan tadi, aku dapat menilai bahwa
kau adalah seorang pria yang pandai sekali menggunakan otak serta
kecerdikanmu, aku ingin tanya padamu, benarkah ibu dari adik In
Hoei dengan sungguh hati dan kerelaan dirinya suka menikah dengan
dirimu?"
"Kenapa? Apakah kau tidak percaya?" seru pemilik Benteng
Kiam-poo dengan wajah berubah hebat.
"Paling sedikit aku punya kecurigaan yang mengarah pada suatu
perkawinan yang dipaksakan, aku percaya seorang perempuan tak
akan suka dengan seorang suami yang pandai mempergunakan akal
licinnya untuk menipu serta menjebak orang, mendampingi harimau
sama artinya dengan mendampingi suatu kematian, setiap saat
kemungkinan besar dirinya bakal dipermainkan oleh suaminya,
andaikata kau adalah seorang perempuan, bisakah kau mencintai
seorang pria macam ini?"
"Cisss...! Sebenarnya apa maksudmu berkata demikian?"
893
Saduran TJAN ID
"Gampang sekali," jawab Lu Kiat sambil tertawa dingin, "bila ia
benar-benar sampai menikah dengan dirimu, maka kau pasti telah
menggunakan suatu permainan setan untuk memaksa atau menipu
dirinya, aku orang she Lu yakin bahwa keinginannya itu pasti bukan
muncul dari kerelaan hatinya."
"Hmmm!" pemilik Benteng Kiam-poo mendengus gusar,
"bajingan cilik, sudah terlalu banyak yang kudengar, bila aku tidak
memandang usiamu yang masih muda dan tak tahu urusan mungkin
selembar jiwamu telah kucabut sejak semula, kini kalian berdua telah
memasuki pintu neraka, tidak mungkin lagi kalian tinggalkan tempat
ini dalam keadaan hidup, sekarang aku tak mau ribut-ribut dahulu
dengan kalian berdua, tiga hari kemudian aku baru akan membereskan
kamu berdua."
Dengan bangga ia tertawa keras, lalu ujarnya lagi :
"Hilangkan ingatan untuk melarikan diri dari tempat ini, setiap
saat pasti ada orang yang membuntuti gerak gerik kalian, dan aku
harap di dalam waktu tiga hari ini kalian dapat mempergunakan baikbaik
sisa hidupmu untuk bermain hingga puas di dalam benteng ini..."
"Aku akan membinasakan dirimu tiga hari kemudian..." seru Pek
In Hoei dengan suara dingin.
"Mampukah kau berbuat demikian, lihat saja nanti apakah
usiamu cukup panjang atau tidak..."
Dengan penuh rasa bangga ia tertawa terbahak-bahak lalu pula
badan dan berlalu dari situ, di tengah udara hanya tertinggal suara
gelak tertawanya yang nyaring...
Benteng Kiam-poo nampak begitu tenang dan hening... sedikit
pun tidak dihiasi napsu membunuh atau pun bau anyir darah... ketika
malam menjelang tiba, lampu lentera bergantungan di setiap sudut
tempat membuat seluruh benteng jadi terang benderang bagaikan di
siang hari belaka...
Meskipun Pek In Hoei serta Lu Kiat datang berkunjung ke
benteng Kiam-poo dengan membawa rasa permusuhan, tetapi semua
894
IMAM TANPA BAYANGAN II
anggota benteng itu tidak seorang pun yang memandang istimewa
terhadap mereka berdua, dua orang pemuda itu bebas bergerak
kemana pun juga selama mereka tidak berusaha untuk berjalan
menuju keluar benteng, kendati demikian setiap gerak-gerik mereka
selalu dibayangi dan diawasi oleh seorang secara diam-diam...
Bintang bertaburan di angkasa, dengan perasaan kesal bercampur
murung Jago Pedang Berdarah Dingin munculkan diri dari ruang
tamu dan berjalan-jalan menuju ke tepi sebuah selokan tidak jauh
letaknya dari benteng tersebut.....
"Aaai... ia menghembuskan napas panjang, " kejadian ini benarbenar
berada di luar dugaan, sebenarnya aku hidup dalam
kesederhanaan serta ketenangan... tetapi ketika aku berjuang demi
masa depanku, ternyata dalam hal asal-usulku telah terjadi perubahan
yang begitu besarnya...."
Dengan sedih ia geleng kepala, gumamnya kembali :
"Aku ingin sekali melupakan semua persoalan ini, tetapi semakin
aku berusaha untuk melupakannya, pikiran tersebut semakin
menerobos masuk ke dalam ingatanku, seakan-akan ulat sutera yang
yang tiada hentinya menyemburkan liurnya.
Dengan pandangan termangu-mangu ia menatap gelombang
kecil yang muncul di atas permukaan air selokan... pikiran melayanglayang
melamunkan nasibnya yang begitu jelek....
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia
berkumandang datang... Namun Jago Pedang Berdarah Dingin tetap
tidak berpaling, sorot matanya yang dingin dan hambar mendongak
ke angkasa memandang bintang yang bertaburan di udara...
Suara langkah manusia kian lama kian bertambah dekat dan
akhirnya berhenti tepat di belakang tubuhnya, kemudian terdengarlah
seseorang berseru dengan suara yang merdu :
",Oooh...! kiranya kau berada disini."
895
Saduran TJAN ID
Dari nada ucapan tersebut, Jago Pedang Berdarah Dingin segera
mengenalinya sebagai suara dari Ciu Tiap Tiap, putri
kesayangan pemilik benteng Kiam-poo.
Pemuda itu tetap membungkam, ia tidak berpaling pun tidak
menunjukkan reaksi apa pun kecuali mendengus dingin.
Tertegun hati Cui Tiap Tiap menyaksikan sikap lawannya yang
dingin dan ketus itu, dengan suara tercengang ia berseru tertahan lalu
ujarnya :
"Hey, kenapa sih sikapmu begitu tak bersahabat terhadap
diriku....."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak sanggup
mengendalikan perasaan hatinya lagi, tiba-tiba ia angkat kepala dan
tertawa terbahak-bahak, suaranya nyaring dan penuh mengandung
sindiran, hal ini membuat Cui Tiap Tiap merasa malu dan terhina,
sepasang matanya yang besar bulat hampir saja dibasahi oleh air mata
yang jatuh bercucuran.
„Eeei....apa yang kau tertawakan ?" tegurnya dengan suara
gemetar, "kau mentertawakan aku karena di tengah malam buta
datang mencari dirimu ?..."
Setelah tertawa nyaring Pek In Hoei merasakan dadanya jadi
lapang dan jauh lebih segar, ia berhenti tertawa dan menjawab :
"Kalian orang-orang dari keluarga Cui memang terlalu gemar
mencampuri urusan orang lain, sehingga orang yang sedang tertawa
pun pinginnya diurusi... nona besar ! peraturan dari benteng kalian
terlalu banyak....."
"Kau tak usah menggunakan sikap semacam itu untuk
menghadapi diriku," seru Cui Tiap Tiap dengan suara dingin,
"Andaikata aku bukan sedang menjalankan perintah dari ibuku, tidak
nanti aku sesinting itu untuk datang menemui dirimu di tengah malam
buta."
"Siapakah ibumu? Ada urusan apa datang mencari aku?" seru Pek
In Hoei dengan nada tertegun.
896
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Siapakah ibuku aku rasa kau tentu lebih paham daripada diriku
sendiri, hubungannya dengan diriku tidak jauh berbeda seperti kau
dengan dirinya, sekali pun bukan dilahirkan olehnya tapi dalam
sebutan tetap merupakan ibuku, Pek In Hoei ! Sekarang kau mengerti
bukan ?"
Ia bereskan rambutnya yang terurai ke bawah itu, kemudian
ujarnya kembali :
"Sekarang tugasku telah kulakukan dengan baik, mau pergi atau
tidak terserah pada keputusanmu sendiri !"
"Ada urusan apa ia datang mencari diriku ?" tanya Pek In Hoei
sambil tertawa dingin.
"Hmmm! Tentang persoalan ini semestinya akulah yang bertanya
kepadamu, apa pula sebabnya kau datang ke benteng Kiam-poo untuk
mencari dirinya?? Pek In Hoei! Aku rasa alasannya tentu saja dan
sekarang aku ingin bertanya, sebetulnya kau ingin pergi atau tidak....
"Aku tidak ingin pergi!" jawab pemuda itu lirih.
Cui Tiap Tiap jadi tertegun, ia tak tahu apa sebabnya pemuda itu
bersikeras untuk menampik pertemuannya dengan sang ibu, dengan
perasaan tak mengerti ditatapnya wajah pemuda itu lalu bertanya :
"Kenapa? Kenapa kau tak mau berjumpa dengan ibumu?"
"Ibuku adalah seorang perempuan yang suci, seorang wanita
yang lemah lembut, agung dan mengerti akan sifat kewanitaannya, tak
mungkin ia kawin dengan seorang manusia takabur yang tak kenal
tingginya langit dan tebalnya bumi, aku tak sudi bertemu dengan
seorang ibu macam begitu... aku tak sudi bertemu dengan seorang ibu
yang kawin lagi dengan lelaki takabur...
"Apa katamu?" bentak Cui Tiap Tiap penuh kegusaran, "kau
mengatakan ayahku adalah seorang lelaki yang takabur?"
„Huuh! Rupanya perkataanku ini telah melukai hatimu? Kalau
kau merasa gengsimu tersinggung oleh ucapanku ini, kau tak usah
menegur atau menyalahkan diriku, pergilah temui ayahmu dan
salahkan sendiri perbuatannya yang tak tahu diri itu...."
897
Saduran TJAN ID
Cui Tiap Tiap merasa sakit hati dan tak tahan menyaksikan orang
lain memandang rendah serta memandang hina ayahnya yang
dihormati, dalam pikirannya ia anggap sang ayah adalah seorang jago
sakti yang luar biasa ampuhnya karena dengan kekuatan seorang diri
dia mampu mendirikan suatu usaha yang besar, dapat mendirikan
benteng Kiam poo yang angker dan disegani orang, karena itu ia tak
memperkenankan orang lain menghina atau memperolok-olok
ayahnya.
Mimpipun gadis itu tidak pernah menyangka kalau ayahnya telah
mengorbankan berpuluh-puluh lembar jiwa untuk tancapkan kakinya
dalam dunia persilatan, untuk berdiri dan muncul sebagai suatu
benteng yang disegani setiap orang, ayahnya telah menggunakan
cara-cara yang paling rendah dan paling keji untuk mewujudkan citacitanya
itu....banyak kejahatan telah dilakukan ayahnya dalam
benteng Kiam-poo yang misterius dan mengerikan itu, hanya saja
gadis itu sama sekali tidak mengetahuinya.
„Pek In Hoei, sebenarnya apa maksudmu ? Kenapa kau menuduh
ayahku melakukan perbuatan yang tidak senonoh...." tegur Cui Tiap
Tiap dengan nada gusar.
Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang dan menjawab :
"Lebih baik tanyakan langsung persoalan ini kepada ayahmu
sendiri, dia bakal memberi jawaban yang memuaskan bagimu, kau
harus tahu di antara kebaikan kejahatan suatu ketika pasti akan tiba
waktunya untuk di sebelah... karena perbuatan-perbuatan jahat yang
telah dilakukan oleh ayahmu itulah, dia harus menerima suatu akibat
yang menyedihkan, suatu akhir yang mengerikan sekali..."
Air muka Cui Tiap Tiap berubah hebat saking gusarnya, ia
membentak nyaring :
"Kau tak usah mengajak aku untuk membicarakan persoalan
yang sama sekali tak ada gunanya itu kepadaku, selama berada di
hadapanku aku larang kau mencaci maki serta menghina ayahku,
898
IMAM TANPA BAYANGAN II
kalau kau bersikeras untuk mengatakannya juga, maka terpaksa aku
akan beradu jiwa dahulu dengan dirimu..."
Dengan penuh kegusaran ia berkata kembali :
"Bagaimana? Kau jadi atau tidak? Ibumu masih menantikan
kedatanganmu!"
Pek In Hoei menggeleng.
"Kau tak tahu betapa pedih dan menderitanya aku, aku benarbenar
tidak ingin bertemu dengan dirinya... nona besar, terima kasih
atas kesediaanmu datang mencari aku, tolong sampaikanlah
kepadanya lain kali saja aku berkunjung kepadanya..."
Dengan sedih Ciu Tiap Tiap menghela napas panjang pula.
"Meskipun dia adalah ibu tiriku, tetapi cinta kasihnya terhadap
aku melebihi kasih sayang seorang ibu kandung terhadap anaknya
sendiri," ia berkata, "tahukah kau, setiap kali ia berbicara dengan aku
sering kali ia sebut-sebut tentang dirimu... Pek In Hoei! Peduli
tindakannya betul atau salah, kau harus pergi menjumpai dirinya atau
paling sedikit kau harus menghilangkan kekosongan hidup yang telah
menyelimuti masa tuanya, kau harus menghilangkan siksaan batin
yang selama ini membuat ia menderita... seringkali aku menemukan
ia sedang menangis terisak dan bibirnya menyebutkan namamu..."
Pek In Hoei merasakan sekujur tubuhnya gemetar keras, suatu
perasaan aneh timbul dalam benaknya. seolah-olah ia saksikan di
hadapannya muncul seorang perempuan tua yang kusut dan
menyedihkan, panggilan yang mesra hampir mendekati jeritan itu
membuat perasaan hatinya bertambah iba... tanpa sadar pemuda itu
mengucurkan air matanya...
Dengan sedih ia menunduk ke bawah pikirnya :
"Benarkah ibu sangat mencintai diriku seperti apa yang dikatakan
Cui Tiap Tiap?? Aku toh bukan anak kandungnya kenapa ia bersikap
begitu sayang dan mesra terhadap diriku??"
899
Saduran TJAN ID
Pelbagai ingatan aneh berkecambuk dalam benaknya... membuat
pemuda itu terpekur dengan wajah mendelong... perasaan hatinya
yang bergolak perlahan-lahan jadi tenang kembali.
Ia tarik napas panjang-panjang, lalu bertanya :
"Ibuku sekarang berada dimana?"
"Sudah tembuskah jalan pikiranmu?" jengek Cui Tiap Tiap
sambil tertawa dingin, "Pek In Hoei! Sebelum kau berjumpa muka
dengan ibumu, terlebih dahulu aku hendak memperingatkan dirimu,
meskipun ibumu telah bertindak salah, kau sebagai puteranya harus
bertindak sopan dan tunjukkan kebaktianmu... aku harap kau jangan
bertindak gegabah tanpa berpikir panjang...."
"Cukup! Luka yang menggores dalam hatiku sudah cukup
parah," tukas Pek In Hoei sambil geleng kepala, "aku dapat
memahami maksud hatimu itu, terima kasih, aku dapat pergi
menjumpai dia orang tua dengan sikap yang hormat..."
Mendengar pemuda itu telah berjanji, perasaan hati Cui Tiap Tiap
pun lambat laun berubah jadi lega, katanya :
"Karena kau bukan seorang perempuan maka kau tak akan
memahami perasaan hati dari seorang wanita, aku harap kau bisa
menyelami pula perasaan menderita pada tubuh orang lain, janganlah
mengungkap-ungkap urusan yang sebenarnya sama sekali tak
berguna...."
Ia melirik sekejap ke samping kiri dan kanannya, lalu berseru :
"Mari kita berangkat! Kali ini ibu akan bertemu dengan kau tanpa
sepengetahuan ayahku, ia tidak mengharapkan orang lain pun
mengetahui akan persoalan ini, ia cuma berharap agar bisa bercakapcakap
dengan dirimu secara baik-baik, nanti sewaktu kita berangkat
ke situ aku harap kau suka bertindak hati-hati...."
"Ehmmm! Ibuku bersiap-siap hendak bertemu dengan diriku
dimana ?....."
"Tuh, di dalam ruangan sebelah depan sana," sahut Ciu Tiap Tiap
sambil menuding ke arah depan, "ikutilah aku dengan hati-hati, aku
900
IMAM TANPA BAYANGAN II
kuatir ayahku mengetahui akan peristiwa ini maka dalam tindak
tandukmu nanti bersikaplah waspada dan hati-hati."
Perlahan-lahan ia menggerakkan tubuhnya dan bergeser menuju
kegelapan yang mencekam di seluruh jagad, Pek In Hoei mengikuti
dari belakangnya, menyaksikan sikap sang gadis diam-diam ia
tertawa dingin, senyuman dingin menghiasi ujung bibirnya....
Ketika tiba di depan sebuah bangunan, tiba-tiba Ciu Tiap Tiap
menghentikan gerakan tubuhnya, ia menyapu sekejap sekeliling
tempat itu lalu bisiknya kepada jago pedang berdarah dingin dengan
suara lirih :
"Ibumu berada di dalam bangunan tersebut, sekeliling tempat ini
penuh dengan penjagaan yang ketat, tunggulah sebentar disini! Akan
kuusir dahulu para penjaga itu kemudian kau baru masuk ke dalam."
Ia memerintahkan si anak muda itu untuk bersembunyi di
belakang sebuah pohon besar, ia sendiri perlahan-lahan bergerak
menuju ke arah pintu depan.
Belum jauh ia berjalan, dari tempat kegelapan meloncat keluar
dua orang pria baju hitam, sambil menghadang jalan pergi gadis itu
tegurnya :
„Siapa ??"
Suasana yang gelap gulita membuat pihak lawan tak jelas
menyaksikan lawan, begitu teguran itu diutarakan keluar, Cui Tiap
Tiap segera mendengus dingin.
"Hmm! Loo Ma, masa aku pun tidak kau kenal?" tegurnya.
Kedua orang pria itu terkesiap, lalu bongkokkan badan memberi
hormat. „Oooh kiranya nona!"
„Hmm ! Malam ini akulah yang akan menemani loo-hujin, kalian
boleh pergi beristirahat, bila poocu telah kembali berilah kabar cepatcepat
kepadaku... "
"Baik!" sahut pria yang ada di sebelah kiri dengan sikap hormat,
"pesan nona pasti akan hamba laksanakan sebaik-baiknya."
901
Saduran TJAN ID
Menanti Cui Tiap Tiap ulapkan tangannya, kedua orang pria itu
dengan ketakutan segera mengundurkan diri dari sana.
Setelah bayangan punggung kedua lenyap dari pandangan, Cui
Tiap Tiap baru menggape ke arah Pek In Hoei sambil ujarnya :
"Masuklah ke dalam, kedua orang manusia yang memuakkan itu
sudah kuusir pergi!"
"Terima kasih atas bantuanmu," sahut Pek In Hoei sambil
meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, "bila kau tidak
menunjukkan jalan bagiku, mungkin aku tak akan mendapatkan cara
untuk tiba ditempat ini...."

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Asli Terjadi : ITB 16 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments