Cerita Dewasa Nyata Terjadi : ITB 15

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Nyata Terjadi : ITB 15
-Si Bu Mo semakin keheranan lagi hingga untuk beberapa saat
lamanya ia berdiri termangu-mangu.
"Bala bantuan? aneh benar, aku toh tidak pernah mengundang
pembantu ? dari mana datangnya bala bantuan ?" gumamnya seorang
diri.
Baru saja perkataan itu sirap dari pendengaran, dari luar hutan
tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia yang berat dan nyaring
berkumandang datang, disusul dari balik pepohonan munCul seorang
pria buta yang memakai ikat kepala berwarna hitam serta membawa
tongkat warna hitam pula selangkah demi selangkah jalan mendekati.
Terdengar si buta itu berseru dengan suara karas :
"Eeei... eeei... numpang tanya, kalau akan pergi ke istana
negeri Tayli aku mesti lewat mana?"
Bagian 31
JAGO pedang berdarah dingin segera terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... hey si buta kau memang pintar
mencari orang, sungguh kebetulan sekali Si toaya yang kau tanyai
berasal dari istana negeri Tayli, kalau kau ingin pergi ke situ ada
baiknya kalau tempeli dulu si pincang tersebut, nanti ia tentu akan
menuntun kau pergi ke tempat tujuan..."
705
Saduran TJAN ID
Rupanya sejak tadi ia sudah tahu bahwa si buta ini bukan manusia
sembarangan, sebab walaupun matanya buta tapi sepasang keningnya
menonjol amat tinggi, asal diperhatikan lebih seksama lagi maka siapa
pun akan tahu bahwa dia adalah seorang jago yang tersembunyi.
Dalam pada itu si buta telah menegur dengan suaranya yang
nyaring :
"Si-toaya, apa jabtanmu di dalam istana negeri Tayli ? apakah aku
boleh numpang tanya?"
Sejak kemunculan si buta, dalam hati Si Bu Mo sudah merasa
amat kenal dengan orang ini, hanya untuk beberapa saat dia tidak
ingat siapakah gerangan orang itu.
Mendengar pertanyaan tersebut, dengan suara dingin ia balik
bartanya :
"Siapa yang kau cari dalam istana negeri Tayli ?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau dibicarakan memang sangat
kebetulan, orang yang kucari itupun memakai she-Si!"
Si Bu Mo terkesiap dan tanpa terasa mundur beberapa langkah ke
belakang, sejak ia melarikan diri dari wilayah See Ih masuk ke dalam
wilayah Tionggoan, sepanjang tahun hidupnya hanya bersembunyi di
dalam istananya Toan Hong In, jarang sekali orang kangouw kenal
dengan dirinya, dan lagi orang yang berada di situ cuma tahu dia she
Si.
Kini si buta tersebut datang-datang lantas berkata hendak mencari
seorang she Si pula dalam istana negeri Tayli, tidak aneh kalau
hatinya langsung tercekat. Segera pikirnya di dalam hati :
"Jangan-jangan si buta ini memang sedang mencari aku?"
Berpikir demikian ia pun lantas bertanya:
"Dalam istana negeri Tayli terdapat beberapa orang yang
menggunakan she Si, tolong tanya Si mana yang sedang kau cari?"
Si Buta itu termenung sejenak, kemudian tanyanya :
"Apa kau kenal dengan orang yang bernama Si Bu Mo?"
706
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Si Bu Mo tersentak kaget, ia tak menyangka kalau orang itu
benar datang mencari dirinya, tapi di luaran ia tetap bersikap tenang
sambil tertawa dingin tegurnya :
"Ada urusan apa kau mencari dirinya?"
"Ooh cuma urusan kecil... cuma urusan kecil........."
Jago Pedang Berdarah Dingin yang selama ini membungkam
segera tertawa terbahak-bahak, serunya :
"Too heng kalau begitu memang sudah tepat menemukan
orangnya, sebab sahabat itu pun she Si dan kebetulan dia pun bernama
Bu Mo, apa betul dialah yang sedang kau cari..."
"Ooh... iya??"
Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, orang
buta itu mendadak ayun toya hitamnya dan dengan gencar menyerang
sekujur tubuh Si Bu Mo.
"Eeei... eeei... apa maksudmu?" teriak Si pincang kelabakan.
Tubuhnya miring ke samping menghindarkan diri dari kemplangan
toya lawan, pedangnya dengan sebat membacok punggung si buta itu
dengan jurus Sin Kiem In Eng leng in atau Tombak sakti
membuyarkan arwah.
Si buta segera menggearkan toyanya membentuk berlapis-lapis
bayangan yang tebal, sang badan maju selangkah ke muka berbareng
itu pula toya hitamnya menyodok ke arah lambung musuh.
"Si heng!" terdengar orang itu berseru dengan suara dalam,
"Kenapa kau tidak menggunakan Long Heng Pat Kiam?"
Begitu mendengar ucapan 'Long Heng Pat Kiam' atau ilmu
delapan pedang bayangan serigala, Si Bu Mo tersentak kaget,
bagaikan dadanya dihantam oleh sebuah martil yang amat berat
wajahnya seketika berubah jadi pucat pasi, keringat dingin mengucur
keluar membasahi seluruh tubuhnya, hampir saja ia terluka di ujung
senjata lawan.
Sepanjang perjalanannya melarikan diri ke dalam wilayah
Tionggoan, dia selalu berusaha merahasiakan jejaknya sebaik-
707
Saduran TJAN ID
baiknya, ia takut musuh tangguh yang paling disegani olehnya itu
berhasil menyusul dirinya, karena itu ilmu pedang 'Long Heng Pat
Kiam' yang merupakan ciri khasnya itu tidak pernah diperlihatkan di
hadapan sembarangan orang.
Sekarang, ia dengar lawannya yang sama sekali tak dikenal
olehnya itu sanggup mengungkap tentang ilmu pedang andalannya
itu, tentu saja bisa dibayangkan sampai di mana kaget dan takutnya.
Dengan wajah berubah hebat teriaknya :
"Hey, apa yang sedang kau katakan?? Apa itu delapan pedang
bayangan srigala?? Aku sama sekali tidak kenal dengan ucapanmu
itu."
Setelah menyadari bahwa si buta mengenali ilmu pedangnya, Si
Bu Mo semakin tak berani mengeluarkan ilmu pedang Long Heng Pat
Kiamnya, sebab ia tahu asal jurus pedang itu dipergunakan maka
dengan cepat orang itu akan kenali dirinya sebagai Si Bu Mo yang
sedang dicari.
Sementara itu jurus serangan yang dilancarkan si buta kian lama
kian bertambah gencar, sambil menyerang teriaknya kembali :
"Si heng, ilmu pedang Long Heng Pat Kiam adalh ilmu pedang
nomor satu di kolong langit, banyak jago lihay dalam wilayah See Ih
terluka di ujung pedangmu itu. Setelah perjumpaan kita hari ini
mengapa kau malahan sembunyikan jurus tersebut?..."
Si Jago Pedang Berdarah Dingin yang berada di sisi kalangan
segera mengejek sambil tertawa tergelak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... dia adalah seorang pedagang
dengan modal cukong, sebelum tahu barang yang berharga, tentu saja
ia tak akan tertarik untuk menunjukkan kekayaannya. Hey sahabat
kalau kau ingin tahu kekayaannya, maka kau sendiri pun harus
tunjukkan pula barang dagangan yang jitu..."
"Oooo, kiranya begitu," sahut si Buta sambil mengangguk,
"kenapa tidak kau katakan sedari tadi?"
708
IMAM TANPA BAYANGAN II
Permainan toyanya bagaikan titiran air hujan, dengan rapat dan
dahsyatnya bayangan tersebut mengurung sekujur tubuh Si Bu Mo.
Seketika itu juga si pincang terdesak hebat, ia keteter mesti
kerahkan segenap tenaganya untuk mempertahankan diri, diiringi
teriakan-teriakan gusar tujuh buah serangan berantai telah
dilancarkan.
"Hey sahabat, di antara kita toh tak pernah terikat dendam atau
pun sakit hati, mengapa selalu desak diriku? Apa sebenarnya
maksudmu?" jerit orang she Si itu gusar.
"Tiada maksud lain kecuali ingin membuktikan benarkah kau
adalah orang yang sedang kucari... sudah habis bagaimana? Kau
sudah tahu bahwa mataku buta tidak bisa melihat dirimu, dari mana
bisa membuktikan bahwa kau adalah Si Bu Mo..."
"Ada urusan apakah mencari dirinya?"
"Tentu saja ada urusan penting, kalau tidak kenapa aku mesti
mencari dirinya..."
Pada saat itu Si Bu Mo telah menganggap orang buta di
hadapannya adalah salah satu di antara musuh-musuh besarnya,
karena takut pikirannya mulai kacau dan kepercayaannya pada diri
sendiri semakin goyah, pedangnya dibabat semakin dahsyat lagi
dengan harapan dapat memaksa mundur musuhnya ini.
Tapi sayang tenaga lweekang yang dimiliki orang itu luar biasa
dahsyatnya, jangan dikata mendesak mundur dirinya, kesempatan
bagi diri sendiri untuk melarikan diri pun tak ada.
Bayangan tongkat si Buta mengurung tubuh orang she Si itu
semakin rapat, hal ini membuat napas Si Bu Mo tersengkal-sengkal,
ia terdesak hebat dan mulai tak sanggup mempertahankan diri,
agaknya bila pertarungan diteruskan maka tidak sampai beberapa
jurus lagi dia pasti akan roboh binasa.
Ketika itulah si buta membentak kembali :
"Si heng, benarkah kau tak sudi mengeluarkan ilmu pedang Long
Heng Pat Kiam-mu itu?"
709
Saduran TJAN ID
Dalam pada itu keadaan Si Bu Mo sudah benar-benar
mengenaskan, ia tak bertenaga lagi untuk melakukan perlawanan, si
pincang itu mulai sadar bila ia tidak pergunakan ilmu pedang 'Long
Heng Pat Kiam' maka jiwanya pasti akan melayang di ujung toya
lawan.
Diam-diam ia menghela napas pikirnya :
"Aaaai... apa boleh buat, ya sudahlah, kalau memang rejeki tak
bisa diraih, kalau memang bencana tak bisa dihindari bila aku berhasil
membinasakan si buta dengan ilmu pedang Long Heng Pat Kiam,
mungkin bencana ini bisa kuhindari, sebaliknya kalau aku harus
menemui ajalnya di tangan si buta, yaaah... mungkin itulah nasibku..."
Dengan cepat ia ambil keputusan, segera bentaknya :
"Buta sialan, aku akan beradu jiwa dengan dirimu..."
Badannya meloncat dari atas permukaan, pedangnya tiba-tiba
digetarkan menciptakan tujuh buah kuntum bunga pedang yang dalam
waktu singkat berubah jadi sekilas cahaya tajam, ia langsung tusuk
dada orang.
Inilah jurus pertama dari ilmu pedang 'Long Heng Pat Kiam' yang
disebut 'Hay long hui sut' atau tikus meloncat di tengah ombak,
desiran angin tajam mengiringi kilatan bayangan pedang seketika
tersebar memenuhi angkasa.
Sungguh tajam pendengaran si buta itu, mendengar ancaman
pedang ia segera tertawa terbahak-bahak, permainan toyanya ikut
berubah, dengan pergunakan gerakan keras lawan keras ia tangkis
datangnya ancaman tersebut.
"Si heng!" ujarnya sambil tertawa, "jurus tikus meloncat di
tengah ombak sudah dua puluh tahun lamanya tak pernah muncul di
wilayah See Ih meskipun hari ini Siauw te tak dapat menyaksikan
kehebatannya dengan mata terbuka, tapi aku yakin kehebatannya jauh
melebihi keadaan dulu, ini membuktikan bahwa Si heng tak pernah
melalaikan ilmu silatnya selama banyak tahun belakangan ini..."
Ia berhenti sebentar, lalu sambil tertawa sambungnya kembali :
710
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Si heng, bagaimana pula dengan ilmu jari Hwe Gan Ci mu itu?
Apakah juga peroleh banyak kemajuan...?"
Air muka Si Bu Mo berubah sangat hebat, kejut di antara rasa
takut yang menghebat, dengan jantung berdebar ia perketat serangan
pedangnya, sementara dalam hatinya berpikir :
"Aaah...! Dugaanku tak meleset, ternyata kedatangannya
memang disebabkan oleh peristiwa itu..."
Ia meraung gusar, bentaknya :
"Sahabat, kau tak usah berpura-pura bodoh lagi, ayoh kita
buktikan kelihayan kita di ujung senjata."
"Si heng, harap kau jangan turun tangan lebih dulu," seru si buta
secara tiba-tiba sambil tarik kembali toyanya. "Karena ada kesulitan
yang tak bisa dikatakan, terpaksa siauw te harus menjajal
kepandaianmu, sejak perpisahan kita dua puluh tahun berselang di
wilayah See Ih, masa Si heng benar-benar telah melupakan diriku..."
"Siapa kau?" seru Si Bu Mo sambil mundur ke belakang. "Aku
merasa tidak pernah kenal dengan manusia macam kau."
Si buta tertawa sedih.
"Perpisahan yang memutuskan hubungan kita memang
berlangsung terlalu lama, tidak aneh kalau Si heng sudah melupakan
siauw te tetapi kalau kau teringat kembali akan perjalananmu di
tengah malam buta melewati gurun pasir, mungkin kau akan ingat
kembali siapakah diriku."
Ia berhenti sebentar, lalu tambahnya :
"Aku adalah si anak buangan In Pat Long."
"Haaah...? Kau adalah Pat Long? Kenapa matamu jadi buta?
Tidak heran aku tak kenali dirimu lagi..."
Kiranya di masa masih muda dulu si buta ini adalah seorang begal
yang amat tersohor, suatu hari dia membegal seorang perempuan yang
sedang melakukan perjalanan seorang diri di tengah gurun, akibatnya
ia dihajar sampai luka oleh seorang pendekar yang kebetulan lewat di
711
Saduran TJAN ID
sana, jiwanya jadi terancam dan seorang diri ia harus menanti
datangnya maut di tengah gurun yang sunyi.
Pada saat yang kritis itulah kebetulan Si Bu Mo lewat di situ dan
menyembuhkan lukanya, sejak itulah In Pat Long jadi sahabat
karibnya.
Dalam pada itu terdengar si buta menghela napas dengan nada
yang amat sedih, lalu berkata :
"Kita tak usah memperbincangkan urusan itu lagi, bagaimana
dengan ilmu Hwe Gan ci yang kau dapatkan dari Loo Hian? Sejak
peristiwa itu Loo Hian menyebar orang di empat penjuru untuk
mencari jejakmu, suatu ketika aku berhasil ditemukan, aku dipaksa
untuk menunjukkan jejakmu tapi sewaktu aku menjawab tak tahu Loo
Hian si bangsat tua itu memaksa aku untuk bertempur, dalam satu
jurus saja aku kena dihajar keok..."
"Aaai...! Akulah yang menyebabkan kau ikut menderita..." bisik
Si Bu Mo sedih.
Si Buta segera menggeleng.
"Si heng, perkataan yang tak berguna lebih baik tak usah dikatan,
kedatangan siauw te malam ini adalah hendak menyampaikan satu
berita buruk bagimu, bila kau tidak menghadapinya secara cepat,
maka suatu bencana besar telah menanti di hadapanmu..."
"Urusan apa??" tanya Si Bu Mo tegang.
"Loo Hian ayah dan anak sudah tahu kalau kau berada di sini,
ketika aku hendak tinggalkan wilayah See Ih, aku dengar mereka
berdua sudah berada di wilayah Tionggoan bahkan katanya seringkali
muncul dan sekitar tempat ini..."
"Kalau sudah datang lantas mau apa?" jengek Si Bu Mo, "Ilmu
jari Hwee Gan Ci telah kuyakini hingga mencapai sembilan bagian,
sekalipun mereka berhasil temukan diriku juga tak ada gunanya,
sembilan belas tahun sudah aku menyembunyikan diri, rasanya
sekarang aku tak perlu takut kepada mereka lagi..."
712
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Si heng kau masih bukan tandingan mereka berdua," seru si buta
sambil menggeleng, "lebih baik hindarilah perjumpaan dengan
mereka lagi pula kalau dibicarakan seharusnya kaulah yang salah, kau
tidak patut mencari belajar ilmu silat milik orang lain!"
"Pat Long kita singkirkan dahulu persoalan itu setelah Loo Hian
mereka datang baru dibicarakan lagi," ia melotot sekejap ke arah Pek
In Hoei, lalu meneruskan, "dia adalah jago pedang kelas satu di dalam
wilayah Tionggoan, lebih baik kita sikat dulu manusia ini..."
Selama ke-dua orang itu bercakap-cakap, Jago Pedang Berdarah
Dingin hanya berdiri membelakangi mereka sambil bergendong
tangan, menanti Si Bu Mo telah mengucapkan kata-kata tersebut, ia
baru mendengus dan putar badan.
"Bagaimana? Pembicaraan kalian berdua apa sudah selesai?"
tegurnya.
"Fui! Kau lagi berbiara dengan siapa?" teriak In Pat Long atau si
buta itu sambil putar toyanya.
"Orang buta, lebih baik kau jangan mencampuri urusan di sini,"
kata Pek In Hoei dengan wajah penuh diliputi napsu membunuh, "aku
menanti dirimu, lebih baik cepat-cepatlah enyah dari sini."
Sejak sepasang matanya menjadi buta, In Pat Long paling benci
kalau ada orang mengejek dirinya sebagai si orang buta, sekarang
mendengar si anak muda itu memaki dirinya, hawa amarah kontan
berkobar dalam dadanya, senjata toya dalam genggamannya bagaikan
segulung asap hitam langsung diayun ke depan.
"Bangsat cilik," teriaknya, "kau berani memaki aku? Huuuh...
ketika aku Pat Long masih bekerja sebagai begal, mungkin kau masih
berada dalam perut anjing."
Criiing! Sekilas cahaya tajam berkilauan di angkasa, hawa
pedang yang dingin dengan membentuk kabut tebal mengurung tubuh
In Pat Long dalam kepungan.
"Cukup dengan sepatah katamu itu, aku tak akan melepaskan kau
dengan begitu saja!" seru Pek In Hoei gemas.
713
Saduran TJAN ID
Sementara itu napsu membunuh telah menyelimuti pula seluruh
wajah In Pat Long, sambil memperketat serangannya ia berteriak :
"Si heng, siapakah bajingan cilik ini?"
"Jago Pedang Berdarah Dingin."
Pek In Hoei sendiri pun sudah naik pitam dibuatnya, jurus pedang
yang dilancarkan semakin dahsyat, begitu ketat kepungannya pada
tubuh si buta itu membuat In Pat Long jadi keteter hebat, keringat
dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tujuh
delapan bagian ujung bajunya telah tersayat dimakan senjata lawan.
Tercekat hati Si Bu Mo melihat kelihayan pemuda itu, pikirnya :
"Sungguh lihay bangsat cilik ini, agaknya ilmu pedang yang dia
yakini jauh lebih lihay daripada ilmu pedang Long Heng Pat Kiam
ku..."
Berpikir sampai di sini, ia segera loloskan pedangnya sambil
berseru :
"Pat Long, jangan kuatir, aku datang membantu dirimu..."
Setelah Si Bu Mo ikut terjun ke dalam kalangan perempuran
maka situasi dalam kalangan pun mengalami perubahan besar, In Pat
Long merasa tidak terlalu berat lagi menghadapi tekanan-tekanan
musuh.
Sebalik si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang
dikerebuti oleh dua orang jago kenamaan, permainan pedangnya
masih tetap mantap seperti semula, bahkan sambil tertawa panjang ia
sempat mengejek :
"Nah, begitulah baru dinamakan suatu perdagangan besar,
kenapa kalian tak mau bekerja sama sedari..."
Cahaya pedang yang dingin dan tajam memancar keluar tiada
hentinya dari ujung senjata, desiran angin tajam tiba-tiba membacok
ke arah lengan In Pat Long.
"Bangsat, kau berani pandang rendah diriku?" teriak si buta
teramat gusar, "Aku akan beradu jiwa dengan dirimu."
714
IMAM TANPA BAYANGAN II
Toya besinya dibacok langsung ke atas dada lawan, sedang Si Bu
Mo dengan menggunakan kesempatan itu mengirim satu tusukan kilat
ke arah punggung pemuda itu.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus, ia
keluarkan jurus 'Liok Jit In Hui' atau Pantulan cahaya di kala senja.
Pedangnya meleset ke tengah udara menciptakan satu gerakan
busur, dalam satu gerakan yang sama ia tumbuk dua senjata lawan
secara berbareng.
Traaang! Percikan bunga api bermuncratan di tengah udara
mengiringi suara dentingan yang memekakkan telinga, In Pat Long
tiba-tiba merasakan tangannya jadi enteng, tahu-tahu toya bajanya
telah patah jadi dua bagian.
"Aaaah...! Pedangmu adalah sebilah pedang mestika..." jeritnya
dengan suara tertahan.
Karena sepasang matanya buta, ia tak sempat melihat kalau
pedang yang dipergunakan lawannya adalah sebilah pedang mestika,
menanti toya bajanya terlanggar patah ia baru menyadari akan
ketajaman senjata musuhnya, karena terkejut dan ketakutan tubuhnya
segera berguling di atas tanah sejauh beberapa tombak.
"Pedang mestika penghancur sang surya!" seru Si Bu Mo pula
dengan suara gemetar.
Rupanya ke-dua orang itu sama-sama menyadari akan kehebatan
senjata mestika itu, mengetahui bahwa sulit bagi mereka untuk
menandinginya, terpaksa dengan keringat dingin masih mengucur
keluar mereka mengundurkan diri ke belakang.
"Si Bu Mo!" seru Pek In Hoei kemudian, "Kau berani merusak
nama baikku, ayoh jawab sendir, bagaimanakah aku harus sudahi
permusuhan ini..."
Si Bu Mo tertawa dingin, ia balas berseru pula :
"Bagaimana pula dengan perbuatanmu membunuh Toan Hong
ya?"
715
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... apa hubungan serta sangkut
pautnya antar kematian Toan Hong ya dengan diriku? Kau sudah
salah mencari orang..."
Dengan wajah menyeramkan dia ayun pedangnya di tengah
udara, kemudian melanjutkan :
"Selama aku si Jago Pedang Berdarah Dingin melakukan
perjalanan di dalam dunia persilatan, belum pernah aku salah
membunuh seorang manusia pun tetapi setelah bertemu dengan
manusia kurcaci semacam kalian aku pun segan untuk melepaskan
dengan begitu saja. Kamu berdua sebagai sampah masyarakat dari
kalangan hitam, mesti kubunuh kamu berdua rasanya perbuatanku ini
bukan terhitung satu tindakan yang keterlaluan... bukankah begitu?"
Tiba-tiba... dari tengah udara berkumandang datang suara
keleningan yang amat nyaring, suara itu begitu merdu dan menarik
hati membuat siapa pun yang mendengarkan merasakan tubuhnya jadi
nyaman.
In Pat Long segera pasang telinga dan mendengarkan suara
keleningan itu dengan seksama, kemudian teriaknya :
"Si heng coba dengar! Bukankah suara ini adalah keleningan
cabut nyawa..."
"Apa?" sekujur badan Si Bu Mo tiba-tiba gemetar, seakan-akan
tersambar geledek di siang bolong badannya lunglai dan tak bertenaga
lagi, "Betul... betul suara itu adalah suara keleningan pencabut
nyawa... Loo Hian bangsat tua itu telah datang..."
"Si heng, ayoh kita lrai..." teriak In Pat Long sambil putar badan
dan coba merat.
"Pat Long!" teriak Si Bu Mo pula dengan sorot mata
memancarkan cahaya ketakutan, sambil melirik sekejap ke kanan kiri
ujarnya kembali, "mampukah kita untuk melarikan diri? Rajawali
salju milik Loo Hian adalah binatang tercepat di kolong langit
sekalipun kita sudah merat satu jam berselang, jejak kita bakal
tersusul juga..."
716
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Tiiing... tiiing... tiiing..."
Suara keleningan yang merdu dan nyaring berkumandng semakin
dekat, disusul seseorang tertawa keras dan munculkan diri dari balik
pepohonan.
Orang itu adlah seorang pria kekar dengan topi lebar berwarna
hitam, kuda yang ditunggangi adalah seekor kuda Mongol yang tinggi
besar.
Sambil melayang turun dari atas kuda, pria tadi lepaskan topi
lebarnya, dan menyapu sekejap wajah Si Bu Mo serta In Pat Long
kemudian mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
Gelak tertawanya dingin bercampur dengan rasa gusar serta
mendongkol yang tebal.
Sekujur tubuh Si Bu Mo gemetar keras, tanyanya dengan suara
terpatah-patah :
"Loo Hong di mana ayahmu??"
Gelak tertawa Lo Hong kian lama kian bertambah sirap sambil
menatap wajah orang itu dia bungkam dalam seribu bahasa.
Sesaat kemudian setelah melirik sekejap ke arah Jago Pedang
Berdarah Dingin katanya :
"Si Bu Mo, sejak perpisahan kita di wilayah See Ih tanpa terasa
dua puluh tahun sudah lewat, selama banyak tahun ini aku dengar kau
pandai sekali menyesuaikan diri sehingga di antara keluar Toan dari
negeri Tayli ada yang sudah angkat dirimu sebagai guru..."
"Aaaah... kau terlalu memuji... kau terlalu memuji..." jawab Si Bu
Mo dengan wajah merengek, "Aku berbuat demikian demi isi perutku
setiap hari..."
"Hmmm! Kau bisa hidup senang tapi kami berdua harus hidup
menderita karena perbuatanmu, selama banyak tahun mereka yang tak
tahan hidup di wilayah See Ih kebanyakan telah lari ke negeri
Tionggoan, yang masih bisa bertahan tetap di situ..."
Ia merandek sejenak lalu sambil tertawa datar terusnya :
717
Saduran TJAN ID
"Untuk mencari jejakmu itu, aku serta ayahku berdua terpaksa
harus mengobrak-abrik seluruh wilayah gurun pasir serta See Ih,
alhasil bayanganmu sama sekali lenyap ak berbekas, pandai amat kau
menyembunyikan diri..."
Sementara itu Si Bu Mo dapat menenangkan hatinya setelah
mengetahui hanya Lo Hong seorang yang datang, raas jeri dan takut
yang semula tercermin di atas wajahnya kini telah banyak berkurang.
"Ada urusan apa kalian berdua membuang banyak tenaga dan
pikiran untuk mencari jejakku??" serunya sambil tertawa seram.
"Persoalan yang telah terjadi banyak tahun kenapa mesti diangkatangkat
kembali?? Lebih baik kalau dilupakan saja bukan..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Lo Hong segera tertawa terbahakbahak,
"masa kau lupa dengan hubungan kita berdua?? Sejak kami
mendapatkan pembalasan budi dirimu itu, setiap hari kami kenang
terus dirimu, kami telah berjanji suatu saat budi kebaikanmu itu pasti
akan kami balas..."
"Tidak berani... tidak berani..." seru Si Bu Mo dengan sorot mata
ngiris, "Masa kalian ingat terus perbuatan baikku yang tidak seberapa
itu?? Sungguh tak kusangka kalian ingat baik-baik kejadian itu,
baiklah... aku orang she Si harus mempersiapkan diri untuk menjamin
kedatangan kalian berdua..."
"Nah, begitulah baru pantas disebut tuan rumah yang baik, waktu
kami masih tetap seperti sedia kala, ada sayur ada arak kita sikat terus,
setelah saing bertemu muka memang sepantasnya kalau kami
merepotkan dirimu..."
"Aaaah! Jadi... jadi ayahmu juga ikut datang??" seru Si Bu Mo
tiba-tiba dengan badan gemetar keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... ada kesempatan untuk bikin
keramaian di sini, siapa bilang ayahku tidak ikut datang? Apalagi
setelah berjumpa dengan sahabat karib semacam kau, saking rindunya
ayahku sampai jatuh sakit..."
718
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm kalau begitu kalian berdua menaruh perhatian besar
terhadap diriku..."
In Pat Long yang selama ini membungkam diri, ketika itu maju
ke depan, ujarnya :
"Lo Hong, masih ingat dengan aku orang she In??"
"Oooh... tak kusangka In Pat Long si mata buta juga hadir di sini,
sungguh menggembirakan sekali... bukankah pertemuan ini adalah
pertemuan yang amat besar? Semua sahabat lama kini berkumpul jadi
satu inilah yang dikatakan orang sebagai jodoh, haaaah... haaaah...
haaaah... bagus, bagus!"
"Sahabat, kau pasti belum melupakan perbuatanmu bukan??"
"Haaaah... haaaah... haaaah... tentu saja aku masih ingat, aku
dengar orang berkata katanya suatu malam kau mengintip gadis orang
sedang kencing, akhirnya kau keburu ketangkap oleh nona itu,
benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"
Setiap kali teringat akan sepasang matanya yang buta di tangan
Loo Hian ayah dan anak, hawa amarah yang berkobar dalam dada In
Pat Long seketika memuncak.
Ia mendengus dingin dan serunya :
"Lo Hong, di depan mata orang jangan pura-pura berlagak pilon,
kita adalah kenalan lama, kau tentu tak akan bersikap bodoh tentu
bukan..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... masa aku bodoh? Sahabat lama,
jangan membohongi diriku aah."
Jago Pedang Berdarah Dingin yang mengikuti tanya jawab itu tak
dapat menahan rasa gelinya lagi, dia ikut tertawa terbahak-bahak.
Perbuatannya ini semakin menggusarkan hati In Pat Long,
dengan nada uring-uringan tegurnya :
"Hey, apa yang kau tertawakan?"
Pek In Hoei pura-pura berlagak tidak mendengar, ia melengos
dan memandang ke arah lain, sikapnya yang tenang dan jumawa ini
seketika menggusarkan hati Lo Hong maupun Si Bu Mo.
719
Saduran TJAN ID
"Tolong tanya siapakah saudara?" Lo Hong segera maju ke depan
dan menyapa sambil tertawa.
"Jago Pedang Berdarah Dingin!"
"Oooh... kiranya sahabat Pek, keadaan kita bagaikan satu benang
dengan dua kepala, bagaimana dengan penyelesaian urusan ini? Mau
bekerja sama ataukah kerja sendiri-sendiri?"
"Satu celana tak dapat dipakai dua orang, selesaikan dulu
urusanmu kemudian aku pun akan menyelesaikan urusanku..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, kalau begitu aku
ucapkan banyak terima kasih terlebih dulu..."
Melihat Lo Hong sudah berhubungan dengan Pek In Hoei, dalam
hati In Pat Long serta Si Bu Mo jadi tergetar keras, terdengar si buta
itu membisik dengan suara ketakutan :
"Si heng, habislah sudah riwayat kita hari ini..."
"Pat Long," sahut Si Bu Mo sambil cabut pedangnya, "akan
kutahan ke-dua orang itu untuk sementara, angkat kaki dan kaburlah
lebih dulu, setelah ilmumu berhasil kau latih hingga sempurna,
balaslah dendam sakit hati ini..."
Dengan sedih In Pat Long menggeleng.
"Si heng, seandainya sepasang mataku belum buta, mungkin
dengan andalkan sepasang kakiku masih bisa lari sejauh tujuh delapan
li, tapi sekarang.... aaaai! Kakiku sudah tidak kuat digunakan untuk
lari... maksud baikmu biarlah aku terima di hati..."
Ia berhenti sejenak, kemudian tambahnya lagi :
"Mari kita sikat dulu Lo Hong!"
"Betul!" sambung Lo Hong sambil tertawa tergelak, "setelah
menyikat diriku baru melarikan diri."
In Pat Long tak dapat menahan emosinya lagi, ia putar toyanya
yang tinggal separoh dan menghantam kepala orang she Lo itu dengan
jurus 'Kankun To Coan' atau jagad berputar balik.
"Huuuh...! Cuma andalkan sedikit kepandaian macam begitu, kau
hendak menakut-nakuti aku..." ejek Lo Hong dengan suara keras.
720
IMAM TANPA BAYANGAN II
Lengannya diangkat ke atas, ke-lima jarinya tiba-tiba menyambar
ujung toya yang sedang menghantam tiba, gerakan ini sama sekali di
luar dugaan In Pat Long, sementara hatinya masih tertegun tahu-tahu
potongan toya itu sudah berpindah tangan.
"Aaaah, kau..." seru In Pat Long tergagap.
"Hmm! Mengingat kau adalah seorang buta, untuk sementara
waktu kuampuni jiwamu..."
"Pat Long, pergilah dari sini..." bisik Si Bu Mo pula dengan suara
sedih.
Tapi In Pat Long manusia buta itu menggeleng.
"Si heng, aku bisa hidup sampai detik ini adalah berkat
pertolonganmu, kalau tiada dirimu mungkin sejak dulu aku sudah
mati di tengah gurun pasir, saat ini sukmaku mungkin gentayangan
dimana-mana. Sekarang kau sedang kesusahan, masa aku tega
melarikan diri tinggalkan kau seorang? Kalu mau mati, biarlah kita
mati bersama-sama..."
Dengan nada sedih ia tertawa panjang, lanjutnya :
"Si heng, kita belum tiba pada saat yang benar-benar kritis dan
tiada harapan untuk hidup, bukankah ilmu pedang Long Heng Pat
Kiam mu tiada tandingan selama berada di wilayah See Ih?
Disamping itu bukankah ilmu jari Hwee Gan Ci yang kau latih telah
mencapai sembilan bagian kesempurnaan?"
"Ehmmmm, ucapanmu tidak salah, kita memang belum tentu
harus menemui ajalnya di tangan orang itu..."
Sebaliknya air muka Lo Hong berubah hebat, bentaknya :
"Ilmu jari Hwee Gan Ci adalah ilmu silat sakti dari keturunan
keluar Lo kita, sungguh tak tahu malu kau bangsat she Si telah
mencuri belajar secara diam-diam. Hmmmm! Tahukah kau
disebabkan karena peristiwa itu ayahku telah memutuskan sebuah jari
tangan sendiri dan bersumpah selamanya tak akan berlatih ilmu jari
lagi? Kesemuanya ini tidak lain adalah hasil dari perbuatanmu..."
721
Saduran TJAN ID
"Memotong sebuah jari sendiri..." bisik Si Bu Mo dengan suara
tertegun.
"Sedikit pun tidak salah. Sekarang seharusnya kau menyadari
bahwa mencuri belajar ilmu silat milik orang adalah suatu perbuatan
yang amat rendah dan sangat memalukan, mula-mula ayahku
menerima kau dengan maksud baik, siapa tahu justru secara diamdiam
kau telah curi belajar ilmu silat keluarga kami. Hmmm! Bangsat
hampir kau bikin ayahku muntah darah karena jengkelnya..."
"Hong..." tiba-tiba dari tengah udara berkumandang datang suara
panggilan yang amat nyaring.
Sekujur badannyasbm gemetar keras, dengan penuh ketakutan
dia mundur satu langkah ke belakang, ia takut bertemu dengan Loo
Hian, takut melihat raut wajah si orang tua yang telah memotong
sebuah jari tangannya sendiri...
Derap kaki kuda yang nyaring bergeletar di angkasa memecahkan
kesunyian yang mencekam seluruh jagad, dari balik pepohonan
muncullah sesosok bayangan putih.
Seekor kuda berwarna putih salju perlahan-lahan muncul dari
pepohonan mendekati kalangan, di atas punggungnya duduk seorang
kakek tua bermantel hitam, ia melirik sekejap ke arah Si Bu Mo yang
sedang ketakutan, lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kesempatan yang begini baik
memang susah didapat, aku tak pernah menyangka kalau di tempat ini
dapat bertemu pula dengan si buta In Pat Long. Haaaah... haaaah...
haaaah... aku pun tak menyangka ke-dua shaabat karibku ini masih
bisa hidup dalam keadaan segar bugar di hadapanku... haaa... sejak
perpisahan tempo dulu, tanpa terasa dua puluh tahun sudah lewat, aku
mengira sahabat-sahabat karibku ini tak bakal bisa kutemui lagi, siapa
tahu keadaan kalian masih tetap gagah seperti semula, cuma hawa
bajingan kalian masih juga belum berubah..."
722
IMAM TANPA BAYANGAN II
Air muka Si Bu Mo berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
hatinya tercekat dan untuk beberapa saat ia hanay dapat mengucapkan
beberapa patah kata saja.
"Lo heng, sehat-sehat saja bukan selama ini!"
"Ciss! Lagak tengik," maki Loo Hian dengan mata mendelik,
"Siapa sih yang kesudian mengaku saudara dengan dirimu? Besar
amat nyalimu sekarang... Hmmm... Hmmm... apa aku sudah
melupakan sebutanmu di masa yang lampau? Haaaah... haaaah...
haaaah... ataukah karena ilmu Hwee Gan Ci tersebut sudah berhasil
kau latih hingga mencapai kesempurnaan, maka sekarang kau tidak
anggap sebelah mata pun terhadap orang lain..."
"Lo cianpwee... boanpwee mengakui bahwa kesalahan terletak di
tanganku..." rengek Si Bu Mo dengan suara gemetar, "bukankah
urusan telah lewat banyak tahun? Mana yang dapat dilepaskan
seharusnya kau lepaskan... bagaimana kalau kita sudahi persoalan ini
sampai di sini saja..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... " gelak tertawa Loo Hian semakin
keras tapi ia tidak memberikan tanggapan.
Si Bu Mo bukanlah seorang manusia bodoh, setelah melihat
gelagat kurang baik, sebutannya dari 'Lo heng' segera dirubah menjadi
'Lo cianpwee', sebab ketika Loo Hian menerima dirinya dahulu, dia
masih seorang anak kecil dan sudah terbiasa menyebut dengan
panggilan 'cianpwee' dan kini Si Bu Mo merasa dirinya merupakan
seorang jago lihay, ia tidak ingin memperendah kedudukan sendiri.
Sekarang, setelah melihat LooHian hanya tertawa saja tanpa
menggubris permintaannya, wajah yang telah memerah kini berubah
semakin merah padam bagaikan kepiting rebus, hawa gusar berkobar
dalam dadanya, sambil tertawa seram ia berseru :
"Lo cianpwee, apakah kau tidak sudi berbicara dengan diriku?"
Senyuman yang menghiasi wajah Loo Hian seketika lenyap tak
berbekas, sebagai gantinya ia mencibir sinis, sepasang matanya
memancarkan cahaya tajam, jawabnya ketus :
723
Saduran TJAN ID
:Aku tidak sudi berbicara dengan manusia macam kau tahu?"
"Kenapa?"
"Hmmm! Kenapa aku mesti berhubungan dengan segala macam
manusia kurcaci kurang ajar semacam kau ini, terhadap tuan
penolongnya sendiri pun membalas air susu dengan air tuba, buat apa
kita mesti berkawan dengan bajingan seperti kau..."
Keadaan Si Bu Mo betul-betul runyam, wajahnya berubah jadi
merah padam, keberanian untuk membantah sama sekali lenyap,
saking mendongkolnya ia hanya bisa berseru :
"Kau... kau..."
"Hmm! Aku kenapa? Sudah salah berbicara?"
Sementara itu In Pat Long yang berada di samping kalangan
walaupun tak dapat menyaksikan kejengahan dari Si Bu Mo, tapi dari
suara pembicaraan tersebut dia tahu bahwa rekannya tak sanggup
menjawab sendirian lawanya itu, dia segera maju dua langkah ke
depan sambil ujarnya dingin :
"Loo Hian, jangalah kau paksa orang secara keterlaluan,
sekalipun Si toako bersalah, toh kesalahannya tidak sampai terlalu
berat sehingga harus dijatuhi hukuman mati. Sebaliknya aku In Pat
Long ada permusuhan dengan dirimu, kau telah membutakan
sepasang mataku, bila dibicarakan lebih jauh seharusnya di antara kita
adalah satu sama, apa salahnya kalau urusan kita sudahi sampai di sini
saja?"
"Pat Long!" bentak Lo Hong sambil maju ke depan, "di sini tak
ada urusanmu, ayoh cepat enyah dari tempat ini!"
Sejak kemunculan Loo Hian serta Loo Hong, kegusaran yang
berkobar dalam dada In Pat Long sudah memenuhi seluruh benaknya,
terutama setiap kali teringat bahwa sepasang matanya buta di tangan
mereka berdua. Kini mendengar dirinya diusir kegusarannya segera
meledak, ia maju ke muka dan berteriak dengan penuh kemarahan :
"Enyah?? Haaaah... haaaah... haaaah... selama berada di wilayah
See Ih aku si manusia buta belum pernah tunduk kepada siapa pun,
724
IMAM TANPA BAYANGAN II
walaupun kepandaian silat yang kumiliki tidak hebat tetapi aku punya
darah panas yang tidak jeri menghadapi kematian. Bagus... bagus...
tidak sulit kalau kau ingin mengusir diriku, tapi... langkahi dahulu
mayatku..."
"Bangsat, kalau aku tidak memandang matamu telah buta sedari
tadi aku telah suruh kau berbaring di atas tanah. Si mata buta yang tak
tahu diri kau harus tahu keadaan, daripada mati konyol di sini lebih
baik cepatlah enyah..."
Si Bu Mo yang berada di samping pun menghela napas sedih,
sambil geleng kepala ujarnya :
"Pat Long ucapan dari Loo Hong sedikit pun tidak salah, lebih
baik berdirilah di luar kalangan dalam persoalan ini, karena diriku
seorang apa gunanya kau ikut mengorbankan jiwamu?? Bukankah
perbuatanmu tersebut adalah perbuatan dari orang goblok???"
"Si heng, kau terlalu pandang hina aku si orang buta," seru In Pat
Long sambil tertawa seram, "meskipun mataku buta tapi hatiku sama
sekali tidak buta, kalau mau mati biarlah kita mati bersama, kalau
ingin hidup mari kita hidup bersama, urusanmu adalah urusanku juga.
Si heng! Kau tak usah banyak bicara lagi, aku In Pat Long bukanlah
seorang pengecut yang takut menghadapi kematian!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... seorang sahabat yang amat setia
kawan..." seru Loo Hian sambil tertawa tergelak.
"Hingga detik ini aku Loo Hian belum pernah menjumpai
manusia gagah semacam kau di kolong langit, In Pat Long! Benarkah
kau tidak takut mati? Aku lihat lebih baik kurangilah ocehanmu yang
terlalu sesumbar itu!"
"Fui! Berapa banyak manusia yang telah menemui ajal di
tanganku, selama ini aku In Pat Long belum pernah mengerutkan
dahi!"
725
Saduran TJAN ID
Jilid 30
RUPANYA manusia buta ini adalah seorang lelaki dengan jiwa
panas, berhubung Si Bu Mo pernah menyelamatkan jiwanya maka ia
rela berkorban demi tuan penolongnya ini, apalagi setelah sepasang
matanya menjadi buta, ia makin segan hidup di dalam kolong langit,
ia merasa tiada berharga hidup dalam dunia kegelapan....
Sementara itu Loo Hian telah tertawa terbahak-bahak, serunya :
"Baiklah, kalau memang kau mencari kematian buat diri sendiri
maka jangan sesalkan kalau aku berhati keji."
Sorot matanya melirik sekejap ke arah jago pedang berdarah
dingin, kemudian tambahnya :
"Apakah kau bisa menyatakan pula pendirianmu?"
"Hmmm! Pentingkah itu bagiku?" sahut Pek In Hoei ketus.
Sebagai seorang pemuda tinggi hati, ia merasa tidak terbiasa
menyaksikan kesombongan serta kejumawaan Loo Hian ayah dan
anak, karena itu tanpa ia sadari sikapnya telah berubah jadi dingin,
ketus dan memandang amat rendah.
"Bocah cilik sialan!" maki Loo Hian, "kau seorang manusia yang
tak tahu diri, wajahmu lebih bau dari kencing anjing buduk."
Tertegun hati Pek In Hoei mendengar makian dari Loo Hian, ia
tak mengira kalau makian kakek tua itu demikian kotor dan
rendahnya, hawa amarah segera berkobar, serunya dengan suara
ketus.
"Tua bangka yang dungu dan takabur, aku Jago Pedang Berdarah
Dingin paling memandang hina tua bangka tak tahu diri macam kau,
726
IMAM TANPA BAYANGAN II
jika kau ada kesenangan untuk unjuk kelihayan, aku akan layani
keinginanmu itu sampai di mana pun juga!"
"Pek In Hoei...? Pek In Hoei..." gumam Loo Hian ulangi nama
tersebut berulang kali, mendadak ia maju ke depan, tanyanya lebih
lanjut :
"Jago Pedang Berdarah Dingin benarkah kau she Pek?"
"Heeei, apa maksudmu? Meskipun aku si jago pedang berdarah
dingin bukan keturunan ningrat, tapi aku tak akan mencatut she orang
lain, bila kau ingin mempermalukan aku orang she Pek, kunasehati
dirimu lebih baik ukur dulu sampai dimana kekuatan yang kau miliki,
coba takar dulu apakah kemampuanmu itu sanggup untuk menandingi
aku."
"Hmmm ! Baiklah, aku akan bekerja menurut rencana semula,"
ujar Loo Hian kemudian, "akan kubereskan dulu manusia she Si itu,
kemudian baru berurusan dengan kau orang she Pek, mumpung kita
sudah saling bertemu, ada baiknya kalau urusan sekalian dibereskan!"
Lo Hong mengangguk tanda menyetujui, kepada Pek In Hoei
serunya kemudian :
"Harap kau minggir dulu ke samping, setelah kami selesaikan
urusan kami dengan orang she Si itu, persoalan keluarga Lo dan
keluarga Pek baru kita bicarakan."
"Haaaa... haaa... haa... bagus... rupanya daganganku kian lama
kian bertambah besar, sampai-sampai jago dari See-In pun tertarik
kepadaku. Lo-heng kau tak perlu sungkan-sungkan, mau dagang
berapa jauh pun akan kulayani terus keinginanmu itu."
"Hmm.... Hmm.... pandai sekali kau cari hubungan, dan pandai
pula kau selami hati manusia, tunggu saja sampai nanti!"
Dalam pada itu In Pat Long serta Si Bu Mo merasa bergirang hati
ketika menyaksikan jago pedang berdarah dingin ada ganjalan hati
dengan Lo Hian ayah dan anak, si mata buta segera berseru dengan
suara dalam:
727
Saduran TJAN ID
"Pek enghiong, keadaan kita bagaikan dua jembatan yang
menghubungkan satu jalan, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk
menghadapi manusia she Lo itu?"
"Terima kasih In toa-ya," tukas Pek In Hoei ketus, "Aku tiada
kegembiraan untuk berbuat demikian."
In Pat Long jadi sedih, tapi di luar ia berkata dengan nada gusar:
"Manusia bodoh, kalau kau merasa punya kehebatan untuk
menanggulangi mereka secara sendirian, terserahlah."
Sementara itu Lo Hian sudah tertawa dingin, melihat kelicikan In
Pat Long hendak mengajak Pek In Hoei bekerja sama, napsu
membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya, sorot mata yang
tajam menatap wajah orang buta itu tak berkedip, kemudian ejeknya
sinis :
"Mata buta, perhitunganmu kali ini salah besar!"
Dengan gesit dia maju tiga langkah ke depan, telapaknya
langsung berkelebat mencakar tubuh orang she In tersebut.
Walaupun sepasang matanya buta, pendengaran In Pat Long
tidak kalah tajamnya dengan penglihatan manusia biasa, dengan cepat
tubuhnya bergeser lima depa ke samping telapaknya laksana kilat
bekerja balas membabat dada Lo Hian."
"Bangsat, kau cari modar!" bentak Lo Hian gusar.
Tiba-tiba telapaknya dibalik ke atas segulung tenaga kekuatan
yang maha dahsyat memancar keluar dari tubuhnya, terhadap
datangnya ancaman musuh ia sama sekali tidak menggubris.
Blaaaam.... ! dua gulung tenaga pukulan saling membentur satu
sama lainnya menimbulkan suara ledakan yang sangat dahsyat, pasir
debu beterbangan di angkasa, daun ranting berguguran ke tanah. Pada
saat yang bersamaan sepasang tubuh manusia saling berpisah ke
belakang.
In Pat Long merasakan lengannya jadi kaku wajahnya berkerut
kencang dan dadanya naik turun tersengkal-sengkal, dengan
kesakitan ia merintih.
728
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Manusia she Lo kau jangan mendesak orang keterlaluan... "
teriaknya.
Jago lihay kalangan Hek-to yang berasal dari wilayah See Ih ini
meski tidak memiliki ilmu silat yang lihay, tapi rasa setia kawannya
amat besar. setelah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki Loo
Hian jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya sendiri,
bukan saja ia tidak menjadi putus asa, malahan semangat
bertempurnya semakin berkobar.
Ia semakin bertekad untuk menahan serangan maut musuhnya ini
demi keselamatan Si Bu Mo.
Begitu badannya tergetar mundur ke belakang ia segera
menerjang kembali ke depan, dalam waktu singkat tujuh buah
serangan berantai dan tiga buah tendangan kilat telah dilancarkan.
Lo Hian memang lihay, ia tidak gentar menghadapi serangan
tersebut, dalam satu gerakan yang enteng dan manis tahu-tahu seluruh
serangan lawan berhasil dipunahkan semua.
Dengan kejadian ini, hawa amarah dalam dada kakek tua itu
segera berkobar, serangan-serangan balasan yang dilancarkan
semuanya merupakan jurus-jurus mematikan, hal ini membuat In Pat
Long keteter hebat dan terjerumus dalam posisi yang sangat
berbahaya, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi
seluruh tubuhnya.
Si Bu Mo menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan
jadi teramat gelisah dari situasi yang terbentang di hadapan nya ia
semakin sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan
lawan, walaupun demikian setelah sahabat karibnya In Pat Long
terancam bahaya, bagaimanapun juga ia harus turun tangan.
Sambil membentak keras ia menerjang ke depan, sambil
melancarkan sebuah babatan teriaknya:
"Lo Hian! Bukankah aku yang sedang kau cari? Ada urusan
bereskan saja dengan diriku pribadi!"
729
Saduran TJAN ID
Begitu merasakan datangnya desiran angin tajam yang
menghantam punggung, Lo Hian segera mengetahui bahwa Si Bu Mo
telah turun tangan, ia segera tertawa terbahak-bahak, telapaknya
laksana kilat berputar balas mengirim satu pukulan.
"Ucapanmu memang tepat sekali," serunya sambil tertawa
dingin, "Si-enghiong, kalau kau merasa seorang lelaki memang sudah
sepantasnya kalau urusan di antara kita diselesaikan oleh kita sendiri,
bila sampai teman pun terseret dalam persoalan ini, keadaan memang
kurang nyaman...."
"Si heng, kau jangan urusi diriku" teriak In Pat Long pula dengan
napas tersengkal-sengkal, "Aku hendak beradu jiwa lebih dulu dengan
dengan bajingan ini..."
"Maksud baik In-heng biarlah aku terima dalam hati," kata Si Bu
Mo sedih. "Aku tidak ingin kau menderita karena urusanku, apalagi
seandainya kau sampai terjadi suatu kecelakaan, bagaimana tanggung
jawabku terhadap keluarga In yang lain??"
Ia berhenti sebentar, kemudian sambil menatap wajah Lo Hian
berdua dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau belati, serunya
kembali:
"Apakah kalian berdua dapat mengabulkan sebuah
permintaanku??"
"Katakan dulu apakah permintaanmu itu, kalau kami merasa
cocok tentu saja aku orang she Lo akan mengabulkan permintaanmu
itu..."
"Bagus! Kau orang she Lo memang seorang lelaki sejati," seru Si
Bu Mo sambil acungkan jempolnya.
"Hmmm... turun temurun keluarga Lo kami belum ada seorang
manusia pun yang melupakan budi, apalagi membalas air susu dengan
air tuba, bila seseorang pernah melepaskan budi maka kami
sekeluarga akan menghormati dirinya, tapi sebaliknya bila ada orang
mengingkari janji maka kami orang she Lo akan berdaya upaya untuk
membasmi manusia terkutuk itu..."
730
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pada saat saat itu Si Bu Mo sudah bulatkan tekad untuk
menghadapi persoalan itu seorang diri, terhadap sindiran yang
diucapkan Lo Hian ia sama sekali tidak ambil peduli, sambil melirik
sekejap ke arah si buta In Pat Long ujarnya:
"Saudara In sama sekali tiada hubungan atau pun sangkut pautnya
dengan persoalan ini aku harap kalian berdua suka melepaskan
dirinya dalam keadaan hidup dan jangan menyusahkan dia lagi.
Hanya ini saja permintaan dari aku orang she Si, harap kalian suka
mengabulkan!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... itu sih satu urusan kecil, sedari tadi
aku memang tiada maksud untuk mencabut jiwanya. Bukan aku aku
orang she Lo omong besar, seandainya dalam hatiku sudah ada niat
membunuh, jangan dibilang jiwanya cuma selembar, sekalipun ada
serep rangkap tiga juga akan habis semua di tanganku!"
Perkataan ini cukup jelas artinya, ia maksudkan bila dirinya ada
maksud membunuh, maka sejak tadi In Pat Long sudah roboh binasa.
Si mata buta jadi naik pitam mendengar perkataan itu, teriaknya:
"Si toako, aku tak sudi menyerah kepada orang itu dan kau pun
tak usah mintakan ampun bagiku !"
"Aku tidak mintakan ampun bagimu, aku cuma tidak ingin
menyaksikan kau berkorban tanpa sebab!"
Hubungannya dengan orang buta ini bukan berlangsung baru
setahun dua tahun saja, ia tahu tabiat sahabatnya ini keras kepala,
karena itu bersamaan dengan selesainya perkataan tadi, pedangnya
sudah digetarkan ke muka.
"Sekarang kita boleh selesaikan urusan pribadi kita berdua..."
katanya.
"Haaaaa... haaaah... haaaaah... bagus sekali, Si Bu Mo! Selama
berada di dalam dunia persilatan kau pun terhitung seorang pria sejati,
aku orang she Lo pernah menolong dirimu, siapa tahu kau balas air
susu dengan air tuba, secara diam-diam kau curi belajar ilmu rahasia
keluarga kami Hwee Gan ci. Karena peristiwa itu aku jadi malu
731
Saduran TJAN ID
menghadapi leluhurku, maka sebuah jari tangan kananku kupotong
dan aku bersumpah tak akan berlatih ilmu Jari itu lagi sekalipun
putraku aku pun melarang dia berlatih ilmu kepandaian itu lagi,
tahukah kenapa sebabnya aku berbuat demikian?"
"Aku tidak tahu!" jawab Si Bu Mo dengan suara gemetar.
Lo Hian acungkan tangan kanannya di mana sebuah jari
tangannya telah lenyap, dengan suara pedih serunya kembali :
"Lihatlah! Inilah hasil karyamu."
"Urusan itu tokh sudah lama berlalu, apa gunanya diungkap
kembali? Lebih baik kita selesaikan persoalan ini dalam ilmu silat
saja!"
"Tidak bisa, masih ada beberapa urusan aku hendak selesaikan
dulu secara jelas!"
Orang tua yang berwajah murung ini seakan-akan sedang
membayangkan kembali satu persoalan, air mukanya berubah
menjadi mat sedih, lama sekali ia pandang wajah orang she Si itu
tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Urusan apa lagi yang kau hendak selesaikan?" seru Si Bu Mo
ketus. "Asal aku tahu semua penjelasan pasti akan kuberitahukan
kepadamu! Ayoh cepat mulai bertanya..."
Lo Hian tertawa dingin.
"Setelah kau curi belajar ilmu jari Hwee Gan Ci tersebut,
pernahkah gunakan di dalam wilayah See Ih?"
"Tidak pernah!" sahut Si Bu Mo dengan wajah berubah hebat.
"Omong kosong!" bentak Lo Hian dengan napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya, sepasang mata yang tajam bagaikan
dua bilah pisau belati menatap wajah Si Bu Mo tanpa berkedip
membuat orang itu mundur dua langkah ke belakang dengan wajah
ketakutan.
"Manusia she Si!" teriak Lo Hian kembali setelah merandek
sebentar, "Benarkah ucapan itu muncul dari hati sanubarimu? Dahulu
aku tak pernah mengikat tali permusuhan dengan dirimu, dan
732
IMAM TANPA BAYANGAN II
sekarang aku pun tak pernah mengikat persengketaan dengan kau,
walaupun tiada hubungan yang erat di antara kita berdua, tapi
terhitung kita pernah saling kenal satu sama lainnya. Aku tidak
mengerti apa sebabnya kau gunakan ilmu jari Hwee Gan Ci itu satu
malam sebelum kau tinggalkan wilayah See Ih? Tahukah kau lantaran
peristiwa berdarah tadi, orang Bu lim menuduh aku orang she Lo lah
yang telah melakukan perbuatan terkutuk ini?"
"Kau dengar peristiwa ini dari siapa?" bisik Si Bu Mo dengan
wajah pucat pias.
"Hmmm! Kau sendiri yang melakukan seharusnya kau mengerti
sendiri benar atau tidak pernah terjadi peristiwa semacam ini, aku
orang she Lo tidak akan ambil peduli seandainya kau gunakan ilmu
jari itu untuk menghadapi orang lain, tapi kau... kau betul-betul kejam,
orang yang kau bunuh dengan ilmu tersebut justru adalah para
penderma yang paling tersohor di kolong langit, si malaikat welas
kasih Kong yo san dari See Ih, malaikat berwajah dingin berhati
Budha Liok Ing Cu serta Sim Kiauw si nenek susah, bila mereka
mengerti ilmu silat itu masih mendingan, tahukah kau bahwa ke-tiga
orang penderma yang suka menolong manusia itu sama sekali tidak
tahu ilmu silat? Dengan ilmu jari Hwee Gan Ci keluargaku, kau bunuh
tiga orang dermawan, karena peristiwa itu hampir saja aku bentrok
dengan kawan-kawan Bu lim..."
Dengan sedih ia menghela napas panjang, terusnya :
"Untung aku masih mempunyai beberapa orang sahabat Bu lim
yang masih suka mempercayai diriku, setelah aku memberi
penjelasan dan alasan yang kuat akhirnya persoalan ini bisa
diselesaikan. Meskipun demikian aku sudah tak punya muka untuk
muncul kembali di dalam dunia persilatan, di hadapan para jago aku
pernah bersumpah akan mengorek keluar jantungmu, kemudian
kugunakan isi perutmu untuk bersembahyang di depan kuburan ketiga
orang dermawan itu..."
Sepasang matanya melotot besar, teriaknya :
733
Saduran TJAN ID
"Ayo jawab, mengapa kau bunuh mereka bertiga?"
"Aku..."
Untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup melanjutkan
perkataan itu, wajahnya gugup dan matanya terbelalak lebar.
"Si heng!" terdengar In Pat Long berseru keras, "Benarkah ketiga
orang dermawan itu mati di tanganmu?"
Si Bu Mo mengangguk.
"Aku silaf... yaah... aku mengaku salah... aku tak pernah
menduga kalau aku telah melakukan perbuatan gila semacam itu."
"Si Bu Mo!" In Pat Long berteriak kembali dengan gusar, "Kalau
orang lain yang kau bunuh, aku tidak akan ambil peduli, tapi ke-tiga
orang dermawan itu tidak seharusnya kau bunuh. Coba bayangkan
sendiri, bila kawan-kawan Bu lim ada yang kesusahan, tanpa buka
suara mereka bertiga pasti akan berusaha keras untuk memberi
bantuan, mau berapa diberi berapa, bahkan sampai aku pun berhutang
budi kepadanya... Si Bu Mo! Kau bisa membunuh mereka bertiga
menandakan kalau otakmu sudah tidak waras... mungkin kau sudah
edan dan tidak beres otaknya... kau benar-benar bukan seorang
manusia..."
Si Bu Mo yang dimaki cuma bisa menunduk dengan mulut
membungkam, ia tahu sejak detik ini tiada harapan baginya untuk
hidup tenang dalam wilayah See Ih lagi, terutama setelah semua orang
Bu lim tahu bahwa dialah yang membunuh ke-tiga orang dermawan
itu.
In Pat Long adalah seorang pria berdarah panas, setelah
mengetahui rekannya sebagai pembunuh ke-tiga orang dermawan
tersebut, hawa gusarnya segera berkobar, ia tuding hidung Si Bu Mo
sambil makinya kalang kabut :
"Kau telur busuk anak jadah... kau harus mati... dulu aku masih
mengira kau sebagai lelaki sejati, karena itu jauh-jauh dari ribuan li
aku datang kemari untuk menyampaikan kabar kepadamu, siapa tahu
kau adalah bajingan terkutuk di kolong langit, kau adalah manusia
734
IMAM TANPA BAYANGAN II
rendah berwajah manusia berhati srigala, kau pengecut dan kejam...
manusia she Si... aku benci kepadamu dan mulai detik ini akan
membenci dirimu hingga akhir zaman, hubungan kita hanya sampai
di sini saja, mulai sekarang kita sudah tak ada hubungan lagi, aku tak
sudi bertemu dengan manusia semacam kau..."
Jago berhati kasar ini tak bisa menahan emosinya lebih jauh,
selesai berkata tanpa menoleh dia lantas putar badan dan lari menuju
ke dalam hutan.
Si Bu Mo tertegun, lalu teriaknya keras-keras :
"In-heng, tunggu sebentar..."
"Hmm!" Lo Hong mendengus dingin, meskipun tabiat orang itu
berangasan dan keras, ia belum kehilangan sifat jantannya, kau bisa
berhubungan dengan seorang sahabat yang begitu setia kawan hal ini
merupakan suatu rejeki bagimu... kau boleh mati dengan hati lega..."
"Kentut busuk makmu..." jerit Si Bu Mo. "Lo Hong! Kau tiada
hubungan dengan urusan ini, peduli amat hubunganku dengan In Pat
Long... lebih baik tutup saja bacot anjingmu yang bau itu, tak usah
jual tampang tengik di hadapanku..."
Rupanya kebencian telah berkecamuk di seluruh benaknya,
segera timbul niat untuk beradu jiwa dalam hati orang ini, dia tarik
napas panjang-panjang, segenap kekuatannya dihimpun jadi satu lalu
bentaknya keras-keras :
"Lo Hian! Ayoh kita mulai bertempur... selembar jiwa aku orang
she Si berada di sini, kalau kau merasa punya kepandaian ayoh maju...
jangan pentang bacot jual suara terus..."
"Bangsat! Kejahatan yang kau lakukan udah terlalu banyak," ujar
Lo Hian dengan alis berkerut, "sampai sekarang pun sifatmu itu masih
menyelimuti jiwamu, baiklah! Kalau memang kau tak kenal bertobat,
bukan saja aku orang she Lo akan balaskan dendam kematian ke-tiga
orang dermawan itu akan kubasmi pula bibit bencana bagi seluruh
umat dunia..."
735
Saduran TJAN ID
"Kentut busuk nenekmu! Kalian ayah dan anak pun bukan
manusia baik-baik..." teriak Si Bu Mo sambil ayun pedangnya.
Lo Hong yang berada di sisi kalangan tak dapat menahan sabar
lagi, dengan wajah hijau membesi karena mendongkol serunya :
"Ayah, buat apa kita bersilat lidah lebih jauh dengannya?
Terhadap manusia yang tak kenal budi seperti dia, lebih baik kita
bunuh saja habis perkara..."
Lo Hian menggeleng.
"Tunggu sebentar, keluarga Lo kita turun temurun boleh dibilang
tak pernah melakukan perbuatan yang memalukan, sekarang ia
menuduh kita orang jahat, biarkan kita tunggu dulu apa yang hendak
dikatakan olehnya..."
Dengan sorot mata yang tajam ia melotot ke arah Si Bu Mo,
kemudian tanyanya :
"Si Bu Mo, begitu benci kau terhadap keluarga Lo kami, apakah
dari keluarga kami pernah melakukan kesalahan terhadap dirimu?
Meskipun aku hendak membunuh dirimu, asal kau bisa mengutarakan
sebab-sebabnya mungkin aku bisa memberikan keadilan
kepadamu..."
"Lo Hian, tahukah kau apa sebabnya timbul niatku untuk mencuri
belajar ilmu Hwee Gan ci dari keluar kalian?" teriak Si Bu Mo penuh
kebencian, "Kesemuanya ini bukan lain adalah hasil karya adikmu
yang tersayang itu, ia meminjam nama besar serta kekuasaan keluarga
Lo di wilayah See Ih memaksa engkohku Si Seng tak bisa tancapkan
kaki lagi di situ, karena kejadian ini engkohku lantas mengadu
kepadaku, aku tahu tiada harapan bagiku untuk menuntut balas,
karena itu kucuri belajar ilmu silat kalian agar bisa digunakan
menghadapi kalian berdua, sayang hasil latihanku belum memadai
kehebatan yang berhasil kau capai..."
"Oooh... jadi Si Seng adalah engkohmu??"
736
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Benar, meskipun engkohku tidak mempunyai nama baik di
wilayah See Ih, tidak semestinya kalau kalian buru dirinya terus
hingga tiada jalan lain kecuali mati di tengah gurun pasir!"
"Oooh... jadi karena urusan sekecil ini kau lantas merusak nama
baikku dengan lakukan pembunuhan-pembunuhan sadis tersebut?
Kenapa tidak kau selidiki dulu bagaimanakah perbuatan serta tabiat
engkohmu semasa hidupnya? Tahukah kau bahwa engkohmu telah
membunuh Sam Si kongcu sekeluarga hanya disebabkan sebutir batu
permata? Tahukah kau bahwa dia sudah memperkosa istri Sam Si
kongcu serta adik perempuannya? Coba bayangkan! Seandainya
adikku mengetahui peristiwa ini, sukakah dia lepaskan dirinya dengan
begitu saja? Sebagai seorang Bu lim kau tak boleh mendengar
tuduhan dari sepihak saja, sebelum tahu duduk perkara yang
sebenarnya tak usahlah menuduh orang lain dengan tuduhan yang
bukan-bukan!"
Si Bu Mo tertegun mendengar ucapan itu, lama sekali ia baru
berkata :
"Engkohku tidak pernah mengatakan bahwa dia sudah
memperkosa istri Sam Si kongsu serta adik perempuannya!"
"Tentu saja ia tak mau mengakui kesalahannya di hadapanmu,
tapi mengapa tidak kau selidiki tingkah lakunya selama berada di
wilayah See Ih? Bila kau tinjau dari kejahatannya yang sudah
tersohor, kau mesti bisa berpikir sampai ke situ..." seru Lo Hong.
"Si Bu Mo," ujar Lo Hian pula, "sekarang duduknya perkara
sudah jelas, keadilan apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " Si Bu Mo tertawa seram, "aku tak
mau tahu bagaimana duduk perkara yang sebenarnya, aku hanya tahu
membalaskan dendam bagi engkohku. Lo Hian! Serahkan jiwa
anjingmu..." pedang tajamnya disertai kilatan cahaya yang
menyilaukan mata segera membacok tubuh Lo Hian setelah
membentuk gerakan lingkaran busur di depan dada.
737
Saduran TJAN ID
"Manusia yang tak tahu diri, kau benar-benar sudah bosan
hidup?? bentak Lo Hian gusar.
Telapaknya berkelebat menembusi bayangan pedangnya yang
rapat, segulung daya tekanan yang maha dahsyat segera menggulung
keluar menghantam tubuh orang itu.
Bruuuk... Si Bu Mo menjerit kesakitan, tubuhnya mencelat ke
tengah udara dan muntah darah segar, senjatanya terlepas dari
cekalan.
"Kau... kau..." seru Si Bu Mo gemetar.
"Hmmm! Siapa berdosa dia harus terima hukumannya, jangan
salahkan kalau aku berhati keji!"
"Lo Hian, jangan terlalu mendesak diriku, aku Si Bu Mo pasti
akan membalas dendam sakit hati ini walaupun hal ini baru akan
kulakukan setelah dua puluh tahun kemudian... Hmmm! Saat
penitisanku kembali di dunia, berarti bagi kita untuk selesaikan
hutang darah ini!"
Ia sambar pedang yang menggeletak di atas tanah lalu ditusuk ke
atas dada sendiri, darah segar menyembur keluar bagaikan pancuran
air, diiringi teriakan nyaring tubuhnya berkelejot dan menemui
ajalnya.
"Ehmmm... ternyata kau masih patut disebut seorang pria
sejati..." bisik Lo Hian dengan wajah murung.
Sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah pin, lalu
ujarnya :
"Sahabat Pek, mari kita cari tempat untuk baik-baik berbicara!"
"Terserah, akan kuiringi kemana pun juga kau pergi..."
Derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian yang
mencekam hutan tersebut, di atas permukaan tanah hanya tertinggal
sebercak darah kental serta sesosok mayat yang tak bernapas lagi.
Ia adalah mayat dari Si Bu Mo yang mati sekarat di tangan
sendiri.
********
738
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seekor burung rajawali terbang rendah dan hinggap di atas
permukaan, dua sosok bayangan manusia loncat turun dari punggung
burung itu.
Lo Hong menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu bertanya :
"Ayah, mungkinkah Jago Pedang Berdarah Dingin datang
memenuhi janji?"
Lo Hian tertawa dingin.
"Aku rasa bocah keparat itu tak nanti bisa meloloskan diri,
kecepatan terbang rajawali kita nomor satu di kolong langit, aku
percaya kita masih mampu mengejar dirinya. Hmm... Hong-jie,
bagaimana kesanmu terhadap manusia yang menamakan dirinya Jago
Pedang Berdarah Dingin ini?"
Bagian 32
LO HONG nampak tertegun, kemudian menjawab :
"Orang itu tinggi hati dan berwatak keras, ilmu silat yang
dimilikinya luar biasa, kenapa sih ayah menanyakan soal ini?"
"Emm betul dia seorang pemuda berbakat baik, aku hanya tidak
mengerti apa sebabnya ia dibiarkan berkelana seorang diri dalam
dunia persilatan, kenapa ayahnya tidak suruh ia baik-baik
mempelajari ajaran nabi..."
"Ayah kenapa kau suka urusi orang lain," tegur Lo Hong dengan
alis berkerut. "Jago Pedang Berdarah Dingin adalah putra Pek Tiang
Hong, mungkin saja sejenak lagi kita bakal bermusuhan, apa gunanya
kita membicarakan tentang orang itu?"
"Hong ji, kau tak tahu rumitnya persoalan ini..."
"Urusan apa ayah?" tanya Lo Hong tercengang, "biasanya kau
selalu terbuka, mengapa sikapmu pada malam ini aneh sekali? Bicara
pun ragu-ragu..."
"Nak, aku hendak mengatakan sesuatu kepadamu, sebetulnya kau
bukan putraku!"
739
Saduran TJAN ID
Sekujur badan Lo Hong gemetar keras, peluh dingin membasahi
seluruh tubuhnya, dengan hati terkejut ia berseru :
"Ayah, kau kenapa sih? Makin lama pembicaraanmu semakin
melantur? Kalau aku bukan anakmu lantas anak siapa? Jangan
bergurau ah, kalau sampai terdengar orang lain kita kan malu!"
"Nak, aku tidak melantur... kejadian sesungguhnya adalah
demikian," ujar Lo Hian serius. "Kau betul-betul bukan keturunan
dari keluarga Lo kami..."
Seakan-akan si orang tua ini menyadari sesuatu, mendadak
perkataannya terhenti sampai di tengah jalan, dengan pandangan
sedih ditatapnya pemuda di depan mata yang dididik dan dipelihara
dengan susah payah itu, dia merasa dalam waktu yang singkat
hubungan mereka berdua seakan-akan telah berpisah oleh suatu
jurang yang amat dalam.
"Ayah!" seru Lo Hong kembali. "Mungkin kau mabuk... mungkin
kau terlalu banyak minum tuak, kenapa sih pembicaraanmu melantur
tak ada juntrungnya? Kalau ingin bergurau janganlah bergurau yang
bukan-bukan... Ayah! Sejak masuk ke daratan Tionggoan, aku lihat
pikiranmu mulai kabur... kau seperti kehilangan semangat, apa yang
sebenarnya telah terjadi?"
"Aaah! Tak ada urusan... tak apa-apa..." sahut Lo Hian sambil
menggeleng.
"Mungkin aku memang mabuk... mungkin aku sudah terlalu
banyak minum arak sehingga omelanku tak karuan. Nah! Kau jangan
marah dengan ucapanku yang tidak karuan tadi. Aaaai... setiap malam
bulan purnama aku selalu ingat akan ibumu, sebab sewaktu dia
menghembuskan napas yang terakhir tepat bulan sedang bersinar
dengan terangnya... yaaah! Dalam keadaan sedih aku memang sering
mengucapkan kata-kata yang konyol, maafkanlah diriku nak..."
"Ayah! Mengapa kau ucapkan kata-kata semacam itu? Masa aku
bisa menyalahkan ayah? Cuma perkataanmu malam ini memang rada
aneh, hal ini membuat aku jadi bingung dan tak habis mengerti."
740
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... "Lo Hian tertawa terbahak-bahak,
dengan gelak tertawa tersebut ia berusaha menguasai rasa kikuk dan
jengah yang menyelimuti dirinya, sambil berpaling memandang
rembulan di angkasa ujarnya, "makin tua aku memang semakin
konyol, apa yang telah kuucapkan pun tak kumengerti sendiri,
mungkin pikiranku sudah sinting karena pengaruh arak..."
"Benar!" Lo Hong mengangguk, "Sejak memasuki daerah
Tionggoan, baru pertama kali ini ayah minum arak begitu banyaknya,
sampai-sampai si pemilik rumah makan pun sepanjang tahun belum
pernah ia jumpai orang dengan takaran arak sedemikian besarnya..."
"Aaah...! Kalau cuma itu sih masih terlampau sedikit, di kala
masih muda aku selalu minum sampai betul-betul mabuk, sebelum
mabuk aku tak pernah berhenti minum, sampai-sampai jago minum
arak yang begitu banyak terdapat di wilayah See Ih sama-sama kagum
dan tunduk kepadaku, tapi sekarang... aaaai! Aku memang sudah tua
dan tak berguna lagi..."
Plook... Plooook... Ploook... derap kaki kuda yang ramai
berkumandang memecahkan kesunyian, kian lama suara itu kian
mendekat.
Air muka Lo Hong berubah hebat, segera serunya :
"Ayah, Jago Pedang Berdarah Dingin telah datang!"
Di bawah cahaya rembulan terlihatlah jago pedang berdarah
dingin dengan jubahnya yang lebar, wajahnya yang tampan dan mata
yang tajam bagaikan sepasang belati muncul dari balik kegelapan.
Lo Hian segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagua! bagus! Ternyata kau datang
untuk memenuhi janji."
Pek In Hoei mendengus dingin, sambil melayang turun dari
punggung kuda ia menjawab :
"Setelah diundang oleh cianpwee, tentu saja aku harus datang
memenuhi janji."
741
Saduran TJAN ID
"Oooh! Kau malah berlaku sungkan terhadap diriku," kata Lo
Hian agak tertegun, "walaupun usiaku telah lanjut tetapi aku tak
berani membahasai diri sebagai cianpwee, apalagi berada di hadapan
jago pedang nomor satu di daratan Tionggoan, aku tak berani berjual
lagak."
"Kau terlalu merendahkan diri, entah ada urusan apa kalian
undang kehadiranku kemari? Apakah kalian bisa segera
menjelaskan?"
Lo Hong melirik sekejap ke arah ayahnya, lalu berkata :
"Ayah, lebih baik kau saja yang mengatakan!"
Lo Hian mengangguk, air mukanya berubah membesi dengan
suara dalam ia bertanya :
"Di antara keluarga Pek yang melakukan perjalanan di daratan
Tionggoan, adakah seseorang yang bernama Pek Tiang Hong?"
Pek In Hoei terkejut tak mengira kalau orang yang dicari Lo Hian
berdua adalah ayah sendiri, rasa curiga segera berkelebat memenuhi
benaknya.
"Dia adalah ayahku!" ia menyahut dengan hormat.
Jawaban itu seketika itu juga menyedihkan wajah Lo Hian,
sampai Lo Hong yang bersikap dingin pun berubah hebat,
pemandangan semacam ini semakin mencengangkan hati Pek In
Hoei, pikirnya dalam hati :
"Ada urusan apa mereka cari ayahku?"
"Sekarang di berada di mana?" terdengar Lo Hian bertanya
kembali.
"Katakan dulu sikapmu yang sebetulnya, ada urusan apa kau cari
ayahku? Kalau aku merasa penting untuk memberitahukan
kepadamu, aku pasti akan mengatakan sebenarnya!"
"Persoalan ini tak bisa ditanggulangi olehmu, lebih baik undang
keluar bapakmu!" ujar Lo Hong ketus.
Pek In Hoei jadi tak senang hati, ia tertawa dingin.
742
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau ayahku ada hutang, aku sebagai putranya wajib untuk
memikul hutang tersebut, bila ayahku ada persoalan maka sedikitnya
aku pun bisa mengatasinya, kau tak usah memanasi hatiku dengan
kata-kata, bila ada urusan, aku si Jago Pedang Berdarah Dingin pasti
akan memberikan keputusan yang memuaskan hati."
"Perkataan anakku sedikit pun tidak salah," kata Lo Hian secara
tiba-tiba sambil menghela napas sedih. "Urusan ini baru akan selesai
bila ayahmu muncul sendiri, Pek sau-enghiong, kau tak akan mengerti
rumitnya persoalan ini."
"Haaaah... haaaah... haaaah... seandainya ayahku tidak berada di
sini, apakah kalian juga akan menemui dirinya?"
"Kurang ajar, wilayah See Ih dengan Tionggoan terpisah begitu
jauh pun kami ayah dan anak bersusah payah datang kemari,
sekalipun dia tak ada di sini, asal masih terbatas di wilayah
Tionggoan, kami tentu akan menemukannya hingga dapat," seru Lo
Hong dengan sangat gusar.
Pek In Hoei sendiri juga agak naik pitam melihat kekasaran
lawannya, ia bergerak satu langkah ke depan lalu menjawab :
"Selamanya kau tak bakal temukan ayahku, dengan wataknya
yang jelek dan perbuatanmu yang menjemukan, kau masih belum
berhak untuk menjumpai ayahku!"
"Bangsat cilik, rupanya kekurangajaranmu persis seperti
bapakmu tempo dulu," maki Lo Hong sangat marah, "Aku orang She
Lo paling benci dengan manusia bangsa kurcaci semacam kau. Bila
malam ini aku tak mampu memberi pelajaran kepadamu, aku
bukanlah keturunan dari keluarga lo!"
Watak orang ini terlalu berangasan setelah kemarahannya
meledak seluruh kesadaran otaknya tak terkondisikan lagi,
bersambung dengan selesainya perkataan itu sang badan segera
menerjang ke muka, telapak kanannya diayun melancarkan sebuah
pukulan geledek.
743
Saduran TJAN ID
Segulung hawa pukulan yang sangat kuat memancar keluar dari
balik telapak tangannya, inilah ilmu 'Sin Lo Ciang' suatu kepandaian
yang paling ampuh di antara ilmu pukulan lain asal wilayah See Ih.
"Huuh! Keturunan keluarga Lo masih belum terhitung seberapa
bagi orang-orang Tionggoan," maki Pek In Hoei pula tak kalah
gusarnya, "Kalau kau ingin menggunakan nama besar keluarga Lo
untuk menakut-nakuti orang Tionggoan, maka lebih baik bawalah
semangatmu itu pulang ke negeri asalmu!"
Dari gerakan pukulan yang sangat aneh itu, ia menyadari bahwa
pemuda she Lo itu pun seorang jago lihai, ia tak berani gegabah,
diawasinya seluruh gerakan tersebut dengan seksama.
Menanti ujung telapak lawan sudah tinggal satu depa di depan
tubuh, tubuhnya baru bereaksi, telapaknya dengan gerakan yang cepat
dan ganas langsung membacok pergelangan musuh.
"Hong ji!" sementara itu terdengar Lo Hian telah menegur dengan
suara dalam, "sebelum urusan dibikin jelas, siapa yang suruh kau
turun tangan?"
Lo Hong jadi kaget, walaupun ia ada maksud menjajal
kepandaian yang dimiliki si Jago Pedang Berdarah Dingin, tapi
setelah ditegur oleh ayahnya ia tak berani membangkang.
Sambil loncat keluar dari kalangan ditatapnya wajah si anak
muda itu dengan mata melotot.
"Tunggu saja nanti, kupuntir batang lehermu sampai patah!"
teriaknya dengan geram.
"Hmmm! Kalau kau merasa mampu untuk berbuat begitu, setiap
saat akan kulayani keinginanmu!"
Air muka Lo Hian berubah semakin seram ketika dilihatnya kedua
orang itu tak mau saling mengalah, ia mendelik sekejap ke arah
putranya lalu tarik napas panjang-panjang.
"Pek kongcu, benarkah ayahmu tak ada di sini?" ia bertanya.
"Sudah kukatakan sedari tadi, ayahku tak ada di sini, ada urusan
apa sih kok ayahku harus tampil sendiri?"
744
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aaai...! Pek Tiang Hong mempunyai hubungan yang sangat
dalam dengan keluarga Lo kami, bila ia tidak munculkan diri kembali
maka ada kemungkinan besar para jago dari wilayah See Ih akan
menyerbu daratan Tionggoan secara besar-besaran; Bila sampai
terjadi begini maka ke-dua belah pihak tentu akan jatuh korban,
seorang lelaki sejati berani berbuat dia harus berani menanggung, bila
ayahmu tahu bahwa aku telah datang maka dia pasti akan munculkan
diri untuk menemui diriku."
Jago Pedang Berdarah Dingin semakin tertegun, ia tak mengira
kalau urusan begitu serius, tidak banyak yang ia ketahui mengenai
urusan ayahnya dan ia tak tahu karena urusan apa ayahnya sampai
bentrok dengan jago-jago dari See Ih tetapi setelah ayahnya
meninggal ia merasa dialah yang harus bertanggung jawab atas semua
perbuatan ayahnya, maka dengan wajah serius ujarnya :
"Dapatkah kau menerangkan lebih jauh mengenai urusan
tersebut?"
Lo Hian termenung sejenak, kemudian mengangguk :
"Baiklah," katanya, "lima belas tahun berselang, ayahmu Pek
Tiang Hong mendapat perintah dari jago pedang sakti Cia Ceng Gak
untuk menjumpai manusia sakti Lei Hun Cin Kun, ia mendapat tugas
untuk pelajari ilmu 'Lei Hun Sin Kang' yang maha sakti dari jago lihay
itu. Lei Hun Cin Kun sebagai sahabat karib dari Cia Ceng Gak tentu
saja bersedia memenuhi keinginannya itu."
"Pada malam berikutnya kepandaian tadi siap diwariskan kepada
Pek Tiang Hong, tapi kebetulan sekali See Ih Sam Hong sedang
berkunjung di rumah kediaman Lei Hun Cin Kun, mereka merasa
keberatan bila ilmu silat aliran See Ih diwariskan orang asing bahkan
dalam pembicaraan tadi memandang rendah ilmu silat aliran
Tionggoan..."
Ia berhenti sejenak untuk mengenang kembali kenangan di masa
lampau beberapa saat kemudian ia tarik napas panjang dan
melanjutkan :
745
Saduran TJAN ID
"Pek Tiang Hong yang punya ambisi untuk menjagoi wilayah See
Ih, tentu saja tak mau mengalah terhadap ucapan dari See Ih Sam
Hong tadi, akhirnya ke-dua belah pihak saling bentrok dan bertempur.
"Lei Hun Cin Kun ada maksud membantu Pek Tiang Hong, apa
lacur dengan See Ih Sam Hong dia pun punya hubungan erat, dalam
keadaan begini ia cuma bisa berpeluk tangan belaka."
"Dalam pertarungan itu ptk unjukkan kelihayannya yang benarbenar
hebat, ia tidak gentar menghadapi kerubutan tiga jago dari See
Ih itu bahkan berhasil mengimbangi permainan musuh-musuhnya, hal
ini bukan saja membuat Lei Hun Cin Kun merasa kagum, See Ih Sam
Hong sendiri pun kagum dengan kehebatannya, lama kelamaan dalam
malunya Sam Hong jadi gusar, mereka segera keluarkan ilmu Lian
Kiam Hoat, suatu kepandaian maha sakti dari wilayah See Ih untuk
menggempur musuhnya, dalam jurus ke-seratus lima puluh, Pek
Tiang Hong keteter hebat dan terpaksa harus terjang keluar dari
kepungan untuk melarikan diri..."
"Ayahku lari ke mana?" tanya Pek In Hoei terkejut.
"Ayahmu mengatakan hendak membalas dendam atas sakit hati
tersebut, hal ini memancing napsu membunuh bagi tiga jago dari See
Ih, walaupun mereka berjanji akan hidup damai di hadapan Lei Hun
Cin Kun, tapi secara diam-diam ke-tiga orang itu melakukan
pengejaran terus menerus, Pek Tiang Hong jadi terdesak hebat, suatu
ketika dia telah lari masuk ke dalam perkampungan keluarga Lo
kami."
"Aaah... Ayahku lari ke dalam rumahmu?"
Lo Hian mengangguk.
"Saking gugupnya Pek Tiang Hong telah lari masuk ke dalam
kamar seorang putri angkatku, ketika itu putriku sedang membaca
buku di kamar, sewaktu melihat ada seorang pria yang berlumuran
darah lari masuk ke dalam kamarnya, ia sangat terperanjat, Pek Tiang
Hong sendiri pun tertegun, setelah menerangkan maksud
746
IMAM TANPA BAYANGAN II
kedatangannya ia minta tolong putriku untuk membantu dirinya lolos
dari bencana..."
"Ayah! Kau mengatakan cici bukan anakmu??" seru Lo Hong.
"Benar!" Lo Hian mengangguk, "Dia juga putri angkatku, jangan
lupa bahwa ibumu adalah seorang mandul yang tak bisa punya anak
karena setiap hari murung dan tak senang hati, maka... aaaai!" ia
menghela napas panjang sambil memandang wajah Pek In Hoei
ujarnya kembali :
"Putriku adalah seorang perempuan yang dapat menyelami
perasaan orang, dalam keadaan begini ia sembunyikan Pek Tiang
Hong di bawah kolong ranjangnya, dengan demikian ayahmu pun
berhasil loloskan diri dari pengejaran See Ih Sam Hong. Siapa tahu...
aaaai! Kejadian itu pun muncul karena persoalan ini, ternyata putriku
telah jatuh hati kepada ayahmu bahkan mengatakan hendak
menyerahkan kesucian kepadanya, dalam keadaan begini Pek Tiang
Hong jadi serba salah, akhirnya dia mengatakan bahwa dirinya telah
berkeluarga..."
"Betul!" Pek In Hoei membenarkan. "Tindakan ayahku memang
tepat sekali."
"Aaaai... sungguh kasihan putriku yang jatuh cinta kepadanya,
saat itu dia mengatakan bahwa ia rela jadi istri mudanya, Pek Tiang
Hong tak dapat menolak permintaannya dan terpaksa menyanggupi,
atas prakarsaku maka mereka berdua kunikahkan bahkan kepada sism
pun kukatakan bahwa Pek Tiang Hong adalah menantu keluarga Lo
kami, karena memandang wajahku, sejak itu pula mereka tidak
mencari balas terhadap diri ptk lagi."
"Jadi ayahku telah menerima tawaran itu?"
"Benar, di saat hari pernikahannya hampir seluruh orang ternama
di wilayah See Ih telah diundang datang, siapa tahu pada detik yang
terakhir tiba-tiba Pek Tiang Hong lenyap tak berbekas, kejadian ini
membuat aku orang she Lo jadi malu dan ditertawakan oleh semua
orang."
747
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tertegun, ia tak mengira kalau ayahnya bakal kabur
di saat hari perkawinannya, dari air mata yang jatuh berlinang
membasahi wajah Lo Hian, ia tahu bahwa kejengahan serta kerikuhan
yang dihadapi orang she Lo pada waktu itu benar-benar susah diatasi.
Ia menghela napas karena kasihan, tak sepatah kata pun sanggup
diucapkan keluar kecuali memandang kakek itu dengan mata
mendelong.
Lo Hian menghela napas panjang, ujarnya kembali :
"Yang paling merasa sedih bukanlah aku melainkan putriku,
setelah mengalami pukulan batin yang demikian berat ia jadi bodoh
dan tak sadarkan diri, keesokan harinya ia jadi gila karena tak kuasa
menghadapi kenyataan, kejadian ini membuat aku jadi menyesal
sepanjang hidup..."
"aaah... apa? Putrimu jadi gila?" jerit Pek In Hoei.
"Lo Hong mendengus.
"Hmm! Dalam sedihnya enciku tentu saja jadi gila, huuh... Pek
Tiang Hong itu manusia apa? Dia tak kenal budi, bukan saja keluarga
Lo kami kehilangan muka, bahkan seluruh jago See Ih pun merasa
pipinya bagaikan ditampar, bila kali ini kami gagal menemukan Pek
Tiang Hong, seluruh jago wilayah See Ih akan menyerbu kemari
sebelum berhasil membunuh mati bajingan yang lupa budi itu, kami
bersumpah tak akan berhenti!"
"Tutup mulut!" bentak Pek In Hoei dengan wajah berubah,
"meskipun ayahku pernah berbuat salah, tetapi aku larang kau
memaki dirinya dengan kata-kata yang tak karuan, lagi pula dalam
persoalan ini kesalahan terletak pada ke-dua pihak, kalian tak dapat
menyelami kesulitan yang dialami pihak lain, jika kalian adalah orang
cerdik, semestinya kalian bisa berpikir mengapa ayahku menolak
perkawinan tersebut, jika urusan dipikirkan secara masakmasak,
aku percaya tak nanti bakal terjadi peristiwa ini."
"Kentut busuk! Kalian manusia dari keluarga Pek adalah orangorang
yang tak kenal budi," jerit Lo Hong penuh kebencian.
748
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Apa? Kau bilang apa ?" hardik Pek In Hoei amat gusar, "Kalau
tidak teringat bahwa keluarga Lo kalian pernah menyelamatkan jiwa
ayahku, hmm ! Kupuntir batang lehermu sampai patah dua bagian!"
"Bangsat, kau berani menghina orang ?"
"Kami orang-orang dari keluarga Pek, belum pernah menghina
orang!"
"Urusan toh sudah berlangsung, apa gunanya ribut dengan
percuma ?" ujar Lo Hian sambil goyangkan tangannya. "Kita harus
mencari akal untuk menyelesaikan persoalan ini. Sayang putriku jadi
gila, semua keluarga Lo telah diutus ke pelbagai daerah untuk mencari
tabib pandai, atas pemeriksaan Atoli seorang dukun tersohor di
wilayah See Ih dikatakan bahwa penyakit yang diderita putriku adalah
sakit rindu, kecuali kedatangan Pek Tiang Hong pribadi tak mungkin
penyakitnya dapat diobati lagi. Oleh sebab itulah maka aku segera
datang ke daratan Tionggoan. Pertama untuk menyelesaikan masalah
Si Bu Mo dan kedua untuk mencari Pek Tiang Hong agar bisa diajak
menemui putriku.... "
Diam-diam Pek In Hoei mengeluh di dalam hati segera pikirnya
:
"Sungguh tak kusangka urusan berubah jadi begini dan yang
lebih parah lagi kejadian ini justru terjadi setelah ayahku mati apa
yang harus kulakukan sekarang? Kalau kukatakan tentang kematian
ayahku, Lo Hian tentu semakin sedih."
Diam-diam ia menghela napas panjang, ujarnya:
"Urusan ini memang sulit untuk diselesaikan."
"Pek kongcu," kata Lo Hian kemudian setengah memohon,
"Sekarang katakanlah kepadaku, di manakah ayahmu berada ?"
"Tentang soal ini..."
Lo Hong yang pada dasarnya sudah amat gusar, sekarang makin
meluap hawa amarahnya setelah menyaksikan keragu-raguan Pek In
Hoei, teriaknya setengah menjerit:
"Kenapa kau tidak berani menjawab?"
749
Saduran TJAN ID
"Oooh ! Kau ingin main gertak ? Haaa... haaa... selama berkelana
di dalam dunia persilatan belum pernah aku si jago pedang berdarah
dingin tunduk kepada orang lain. Lo Hong! Kemampuanmu masih
terpaut jauh kalau dibandingkan dengan diriku."
"Ayah!" teriak Lo Hong marah, "Apa gunanya kita mesti berlaku
sungkan-sungkan dengan manusia semacam ini? Aku sudah ak dapat
menahan diri lagi, walaupun nanti aku bakal kau marahi, sekarang
akan kulampiaskan rasa mengkal dan mendongkolku yang sudah tak
tertahan lagi."
Ia cabut pedangnya yang tersoren di punggung diiringi kilatan
cahaya tajam yang membentuk setengah lingkaran di tengah udara, ia
tusuk tubuh pemuda itu.
"Hmm! Kau cari penyakit buat diri sendiri, jangan salahkan kalau
aku bersikap keji padamu," seru Pek In Hoei dengan wajah berubah
hebat.
Laksana kilat tubuhnya bergeser ke samping, pedang sakti
penghancur sang surya dikebaskan ke muka menyongsong datangnya
senjata lawan, lalu ia kirim satu bacokan dahsyat.
Traaang... percikan bunga api meletup di angkasa, tubuh kedua
belah pihak sama-sama tergetar mundur ke belakang.
Tercekat hati Lo Hong merasakan kelihayan lawannya, ia
berpikir:
"Sungguh luar biasa pemuda ini, rupanya ilmu pedang yang
berhasil ia yakini sudah mencapai puncak kesempurnaan. Andaikata
aku tidak belajar ilmu pedang sedari kecil mungkin saat ini juga aku
sudah jatuh kecundang di tangannya."
Seluruh kekuatannya segera dihimpun di dilam senjatanya,
sambil meraung keras, selapis kabut bayangan yang tajam segera
mengurung tubuh Pek In Hoei.
"Hong ji !" tegur Lo Hian dengan wajah berubah, "Kau telah
menggunakan ilmu pedang Lo-kong Kiam-hoat ?"
750
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan terlalu hebat, terpaksa
aku harus menggunakan kepandaian ini untuk menghadapinya,"
Berada di tengah kepungan kilatan cahaya pedang lawan, Pek In
Hoei tak sanggup menggeserkan tubuhnya secara leluasa, diam-diam
ia terkejut juga menghadapi kelihayan ilmu tersebut.
Walaupun begitu serangan Lo Hong yang bertubi-tubi sama
sekali tak mampu menempel seujung rambut pun, hal ini membuat Lo
Hong semakin gusar.
Ia tertawa seram, dengan jurus Bong-bong-thay-khek pedangnya
langsung membabat jalan darah Ci-Ti di tubuh lawan.
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Huuuh.......... jurus seranganmu itu bagi kami orang Tionggoan
merupakan suatu gerakan yang paling rendah."
751
Saduran TJAN ID
Jilid 31
DENGAN sebat badannya berkelit ke samping, tubuhnya enteng
bagaikan segumpal kapas, secara manis dan tepat ia berhasil lolos dari
antara bayangan pedang, kejadian ini membuat Lo Hian pun secara
diam-diam merasa terkejut.
"Omong kosong !" teriak Lo Hong marah. "Kalau kau punya
kepandaian gunakan dulu jurus seperti itu."
Jago Pedang berdarah dingin menyadari akan sempurnanya
tenaga dalam yang dimiliki lawan, ia ada maksud menggusarkan
musuhnya itu agar banyak kesempatan baginya untuk pukul roboh
orang itu.
Sekarang setelah menyaksikan Lo Hong amat gusar, dalam hati
ia merasa sangat geli, ia tahu pada saat inilah merupakan kesempatan
yang baik untuk mengacaukan pikiran lawan.
Sambil tertawa tergelak tubuhnya lompat ke tengah udara, lalu
serunya :
"Apa sih susahnya melakukan serangan dengan gerakan tadi ?"
Ujung pedangnya menyambar dari bawah menuju ke atas, dengan
gerakan langkah yang persis sama dengan jurus Bong bong bu kek
tadi ia tirukan gerakan tersebut.
Lo Hian berdua jadi tercekat hatinya, sekarang mereka baru mau
mengakui akan kelihayan musuhnya yang mampu meniru jurus
serangan orang hanya dalam sekali pandangan belaka.
"Bagaimana?" ejek Pek In Hoei dingin.
752
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Huuh! Secara paksa sih boleh dibilang lumayan, tapi siapa pun
tahu bahwa ilmu itu hasil curian!"
"Bajingan, kuberi muka padamu kau tak mau, sekarang
rasakanlah kelihaian ilmu pedang penghancur sang surya ku !"
Agaknya ia ada maksud menyusahkan Lo Hian berdua, serangan yang
kemudian dilancarkan sama sekali tak kenal ampun, di kala Lo Hong
masih terkejut, tahu-tahu ujung pedang lawan sudah mengancam di
depan dadanya.
Air muka orang she Lo itu berubah hebat katanya:
"Aku akan adu jiwa denganmu !"
Timbul tekadnya setelah merasa jiwanya terancam, secara
beruntun pedangnya melancarkan tujuh buah serangan berantai
dengan harapan dapat melumpuhkan serangan lawan, apa lacur
kepandaian musuhnya terlalu lihay, ia rasakan lengannya jadi kaku
dan tahu-tahu pedangnya sudah terlepas dari genggaman.
"Kau... kau... mengapa kau tidak bunuh diriku ?" seru Lo Hong
dengan suara gemetar.
"Anggaplah perbuatanku ini sebagai pembalasan budi atas
pertolongan keluarga Lo terhadap ayahku," jawab Pek In Hoei dingin,
"Sekarang di antara kita sudah tiada ikatan budi lagi, bila kau tidak
puas pungut kembali pedangmu itu, tapi aku hendak peringatkan lebih
dulu, serangan yang bakal kulancarkan nanti adalah serangan
mematikan, aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi seperti
barusan."
"Siapa yang sudi menerima kebaikanmu itu ?" teriak Lo Hong
sambil pungut kembali pedangnya.
"Hong ji!" cegah Lo Hian sambil maju ke depan, "Ilmu silatmu
masih terlampau jauh ketinggalan dari kepandaian lawan, ayo segera
mundur ke belakang! Ilmu pedang penghancur sang surya adalah ilmu
pedang nomor satu di kolong langit, kau tak nanti bisa menangkan
dirinya!"
753
Saduran TJAN ID
"Ayah! Masa urusan cici akan kita sudahi sampai di sini saja?"
teriak Lo Hong marah.
"Ilmu silat kita tak mampu menangkan lawan, apa yang mesti kita
katakan lagi ?" sahut Lo Hian sedih, "bila persoalan masih bisa
dirundingkan, lebih baik kita bicarakan persoalan ini secara baik baik,
seandainya perundingan tak mendatangkan hasil, terpaksa kita
harus kembali dulu ke wilayah See-ih untuk mengundang bala
bantuan !"
Ia memandang sekejap ke arah Pek In Hoei dengan pandangan
dingin, titik air mata nampak meleleh dari matanya, hal ini membuat
Pek In Hoei ikut merasa terharu.
"Pek kongcu!" kembali Lo Hian berkata dengan nada sedih, "Aku
hanya mempunyai dua anak angkat, satu putra dan satu putri, kini
putriku sudah hampir lima belas tahun lamanya mengidap penyakit
gila, setiap hari ia meneriakkan nama ayahmu terus menerus, siksaan
badan dan batinnya sukar kubayangkan dengan kata-kata. Aku
berharap kau jangan terlalu kukuh pada pendirianmu, katakanlah
kepadaku di mana ayahmu berada aku pasti akan bertindak seadiladilnya."
Jago pedang berdarah dingin menghela napas sedih dan
menggeleng jawabnya:
"Locianpwee, aku pun tak tahu bagaimana harus membuka
mulutku untuk menjawab pertanyaanmu itu."
"Apakah Pek Kongcu mempunyai kesulitan yang tak dapat
mengatakannya keluar?"
"Aku takut setelah cianpwe mengetahui kejadian ini, maka
kesedihanmu akan semakin bertambah..."
"Apa yang berharga bagi kita untuk sedihkan?" jengek Lo Hong
sambil tertawa dingin, "Asal Pek Tiang Hong bisa ditemukan, itu
berarti penyakit yang diderita ciciku ada harapan untuk sembuh........."
"Hm! jangan terlalu percaya pada keyakinanmu sendiri, aku tak
mau mengatakannya adalah demi kebaikan ke-dua belah pihak,
754
IMAM TANPA BAYANGAN II
mungkin kau bisa menahan diri tetapi ayahmu tak mungkin bisa
tahan...."
"Kongcu kau tak usah pedulikan terhadap diriku, beritahulah
kepadaku..."
"Yah... kalau memang begitu apa boleh buat? ayahku telah
meninggal dunia..."
"Apa?" hampir pada saat yang bersamaan Lo Hian serta Lo Hong
berteriak kaget, mereka berdiri menjublak dan tak sanggup
mengucapkan sepatah kata pun...
"Ia benar-benar sudah mati.... oooh dia benar-benar sudah mati...
jerit Lo Hian dengan penuh kesedihan... Putriku... ooh putriku... Pek
Tiang Hong telah mati... itu berarti penyakitmu tak bakal sembuh
lagi... ooh jelek benar nasibmu... kau hanya bisa menantikan ajalmu
saja...
Sambil berseru penuh kepedihan orang tua itu putar badan dan
berlalu dengan sempoyongan.
"Ayah! kenapa kau?" jerit Lo Hong dengan suara gemetar.
"Mari kita kembali ke See Ih, di sini tak ada urusan yang perlu
kita selesaikan lagi..."
Kegelapan menelan bayangan tubuh mereka berdua... yang
tertinggal hanya kesedihan yang tak terhingga....
Fajar baru saja menyingsing, kabut yang tebal menyelimuti
seluruh permukaan hingga susah bagi manusia untuk memandang
benda yang berada di hadapannya.
Dengan termangu-mangu Pek In Hoei berdiri seorang diri di
tengah gumpalan kabut, ia termenung dan memikirkan nasib sendiri...
ia merasa lelah untuk melakukan perjalanan terus menerus dalam
dunia persilatan... suatu ketika ia ingin mencari tempat yang sunyi dan
tenang untuk melanjutkan sisa hidupnya dengan aman dan bahagia.
Suara langkah kaki yang lirih berkumandang dari kejauhan,
begitu lirih suara itu seolah-olah hembusan angin Barat yang kencang,
755
Saduran TJAN ID
seandainya bukan seorang jago dengan pendengarannya yang tajam,
niscaya suara langkah kaki itu tak akan kedengaran.
Pek Ia HoeI tersentak bangun dari lamunannya. ia perhatikan
sejenak suara lirih tadi kemudian berpikir :
"Siapakah orang itu? sepagi ini sudah ada orang datang kemari,
sungguh aneh!"
Dari balik gumpalan kabut yang tebal secara lapat-lapat bergerak
mendekat sesosok bayangan tubuh yang langsing dan kecil, Jago
pedang berdarah dingin semakin tercengang, segera tegurnya :
"Siapa di situ?"
"Aku!" jawab bayangan manusia itu sambil menghentikan
langkah kakinya, "Pek In Hoei, aku minta kau segera tinggalkan
tempat ini, bila kau tak mau pergi dari sini sebelum kabut yaug tebal
buyar, maka keadaan itu tidak akan mendatangkan keberuntungan
bagimu!"
Suara itu sangat dingin dan seakan-akan sedang menekan suatu
perasaan kaget dan takut yang tak terhingga, Pek In Hoei tertegun, ia
merasa suara itu seakan-akan pernah dikenal olehnya, hanya ia lupa
di manakah ia pernah mendengar suara tersebut.
"Siapa kau?" kembali ia menegur, "Mengapa aku harus
tinggalkan tempat ini?"
"Aku hanya seorang perempuan yang tak perlu kau ingat,
mungkin bayanganku telah lenyap dari benakmu dan aku harap kau
pun tak usah memikirkan lagi siapakah daku. Pek In Hoei!
kehadiranmu di sini hanya akan menimbulkan ketidaktenangan bagi
banyak orang, dengarlah nssehatku dan segera tinggalkanlah tempat
ini daripada kau ketimpa bencana yang akan mencelakai dirimu
sendiri..."
"Aaah... haah... nona perkataanmu itu sangat membingungkan
hati orang, kehadiranku di tempat ini toh tidak mengganggu sama
sekali, aku toh sedang mencari angin di sini... Tapi, kalau kau
756
IMAM TANPA BAYANGAN II
memang inginkan kepergianku bolehlah, asal kau jelaskan dulu alasan
yang sebenarnya!"
Gadis itu mendengus dingin.
"Janganlah kau anggap setelah mencapai sukses besar di wilayah
selatan maka kau berani pandang rendah setiap orang, terus terang
kukatakan kepadamu tempat ini sangat berbahaya sekali bagi
keselamatanmu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... masa iya ?" di tengah gelak
tertawanya yang amat nyaring, mendadak ia loncat ke tengah udara
kemudian bagaikan seekor burung elang ia meluncur ke arah
bayangan manusia tadi.
"Nona, aku ingin tahu siapakah sebenarnya dirimu ?"
"Jangan kemari!" bentak gadis itu. Telapak tangannya yang putih
berputar di tengah udara, sebuah pukulan yang maha dahsyat segera
dilancarkan menghantam tubuh jago pedang berdarah dingin.
Dengan tangkas si anak muda itu berkelit ke samping, ke-lima
jari tangannya bagaikan cakar setan mencengkeram pergelangan dara
itu.
Terdengar ia menjerit kaget lalu berteriak:
"Eei... lepaskan aku !"
Pek In Hoei tertegun, kemudian berseru:
"Hee Siok Peng, kiranya kau!"
"Sekarang aku bernama Kong-yo Siok Peng," sela gadis itu
dengan gelisah, "Apa sih gunanya kau berbuat demikian? Sekarang
aku jadi kehabisan akal untuk menolong dirimu!"
Dengan gugup dan penuh ketakutan matanya berkeliaran
memandang sekeliling sana lalu bisiknya lirih :
"Aku sudah bukan orang yang bebas, Hoa Pek Tuo telah
menangkap diriku, ia suruh aku mengusir dirimu karena pada saat ini
dia sedang melatih suatu kepandaian beracun. Ayah angkatku Hee
Giong Lam sudah ditangkap oleh Hoa Pek Tuo, ia dipaksa untuk
menemukan beberapa macam obat beracun."
757
Saduran TJAN ID
Dalam waktu singkat ia mengutarakan begitu banyak perkataan,
hal ini membuat Pek In Hoei melengak, ia tak menyangka kalau
banyak perubahan yang telah terjadi, segera bisiknya:
"Hoa Pek Tuo sekarang berada di mana?"
Di sekitar sini, cuma aku tak tahu ia menyembunyikan diri di
mana. Cepatlah pergi dari sini, ia telah mengundang beberapa orang
jago lihay khusus untuk menghadapi dirimu!"
"Aku tidak takut," sahut Pek In Hoei sambil tertawa dingin,
"bawalah aku pergi temui ayah angkatmu!"
"Tidak... tidak boleh... tidak boleh... " seru Kong Yo Siok Peng
dengan wajah berubah hebat.
"Mengapa? Apakah kau tidak ingin menolong ayah angkatmu?
Meskipun ia sangat kejam dan hidupnya agak condong ke arah sesat,
bagaimana pun ia pernah memelihara dirimu selama banyak tahun,
asal kau berhasil menyelamatkan jiwanya itu berarti bahwa kau telah
menunjukkan baktimu sebagai seorang anak!"
"Bukan... bukan... bukan begitu maksudku, aku bukannya tak
mau menolong ayah angkatku, tapi aku merasa bahwa tiada
kemampuan bagiku untuk melakukan tindakan semacam itu, selama
ini ayah angkatku dijaga oleh empat orang jago lihay, siapa pun
dilarang mengunjungi dirinya. Bila kita lakukan pergerakan maka ada
kemungkinan ayah angkatku bakal menemui bencana, lebih baik
cepatlah kau pergi dari sini!"
"Meskipun hubunganku dengan Hee Giong Lam tdak baik,
namun aku pun tidak ingin menyaksikan tokoh beracun itu jatuh ke
tangan Hoa Pek Tuo dan dipergunakan tenaganya, apalagi tujuan yang
terutama dari Hoa Pek Tuo adalah menghadapi diriku, bila kita
biarkan ilmu beracunnya berhasil dilatih, maka di kolong langit tiada
orang lain yang bisa menaklukkan dirinya lagi..."
"Kabut sudah hampir buyar, cepatlah pergi... kalau tidak maka
kau akan kehilangan kesempatan!" seru Kong Yo Siok Peng kembali
dengan wajah pucat pasi.
758
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Siok Peng!" kata Pek In Hoei kemudian dengan wajah
sungguh?, "sebelum kabut membuyar, kita harus pergi
menyelamatkan jiwa Hee Giong Lam, inilah kesempatan baik yang
diberikan Thian kepada kita kalau kabut telah byar maka sulitlah bagi
kita untuk turun tangan."
"Kau tidak takut dengan Hoa Pek Tuo?"
Jago Pedang Berdarah Dingin terasa naik pitam setiap kali
teringat penghinaan yang pernah diterima olehnya dari Hoa Pek Tuo
sewaktu berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo
dulu, dalam hati ia telah bersumpah akan membalas penghinaan tadi.
Maka mendengar pertanyaan itu, ia segera tertawa dingin
sahutnya :
"Aku takut kepadanya? Hmm! Sungguh menggelikan..."
Kong Yo Siok Peng tidak percaya, ia berkata kembali :
"Hoa Pek Tuo pernah berkata bahwa kau adalah seorang bocah
yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, seandainya ia tak ada
maksud melepaskan dirimu tatkala berada di perkampungan Thay Bie
San cung tempo dulu mungkin kau sudah mati konyol di tangannya..."
"Hm! Mungkin saja begitu, tapi itu bukan berarti ia ada maksud
melepaskan diriku, sebaliknya akulah yang berhasil melarikan diri
dengan cepat, waktu aku membuktikan semuanya ketika itu ilmu silat
yang kumiliki memang masih belum mampu untuk menandingi
dirinya..."
"Jadi kalau begitu kau masih bukan tandingannya..."
"Mungkin saja benar, tapi aku bisa mencobanya! Siok Peng, kau
harus percaya kepadaku, aku akan mengerahkan segenap tenaga serta
kekuatan yang kumiliki untuk membantu dirimu, kali ini aku punya."
"Tidak... tidak... aku tak mau kau menempuh bahaya lantaran
urusanku," seru Kong Yo Siok Peng ketakutan. "Sekalipun sekarang
aku telah kehilangan kebebasanku, tapi Hoa Pek Tuo tak berani
membunuh diriku, dan beberapa macam resep ramuan racun yang dia
butuhkan akan diberikan kepadanya oleh ayah angkatku!"
759
Saduran TJAN ID
"Kalau begitu pandanganmu, maka kau keliru besar," ujar Pek In
Hoei dengan nada dingin, "Ayah angkatmu berbuat demikian karena
ia tahu bahwa kau tertawan oleh Hoa Pek Tuo, seandainya kau biarkan
ilmu beracunnya berhasil dilatih maka bukan saja dia akan bunuh
dirimu, Hee Giong Lam pun tak akan dilepaskan dengan begitu saja,
dia pasti tak ingin orang kangouw mengetahui bahwa ia telah berhasil
melatih suatu ilmu pukulan beracun terutama sekali diriku!"
Ia tepuk paha gadis Siok Peng dan menambahkan :
"Tak usah kuatir, aku tak bak l mengalami bencana!"
Dengan pandangan sangsi dan penuh keragu-raguan Kong Yo
Siok Peng memandang sekejap ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin,
dalam pandangannya itu ia menunjukkan rasa sedih dan murungnya
yang amat tebal, dari balik biji matanya yang bening secara lapat-lapat
ia pun menemukan titik air mata yang mulai mengembang.
Lama sekali gadis itu berdiri tertegun, akhirnya ia berbisik, "Hatihatilah
mengikuti di belakangku, lebih baik janganlah biarkan Hoa
Pek Tuo mengetahui akan kehadiranmu..."
Di tengah gumpalan kabut putih yang tebal Kong Yo Siok Peng
menggerakkan tubuhnya tinggalkan tempat itu disusul Pek In Hoei di
belakang tubuhnya.
Beberapa saat kemudian tampaklah di tempat kejauhan muncul
sebuah bangunan besar yang amat gelap, suasana sepi dan tak nampak
sesosok bayangan manusia pun...
Kong Yo Siok Peng mengetuk pintu tiga kali, serunya :
"Hey buka pintu!"
"Siapa? Apakah budak sialan?"
Kong Yo Siok Peng mengerling sekejap ke arah Pek In Hoei,
pemuda itu mengangguk dan segera menyembunyikan diri di balik
semak belukar depan pintu.
Menanti pintu sudah terbuka, gadis itu kembali bertanya :
"Di manakah ayahku?"
760
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dari balik pintu muncul seorang pria berbaju serba hitam, sambil
tertawa seram sahutnya :
Di dalam, mau apa kau datang kemari?"
"Aku ingin mengunjungi ayahku!"
"Tidak boleh, di tempat ini tak boleh dikunjungi orang lain, lagi
pula ayahmu belum bangun dari tidurnya, kalau kau ingin bertemu
mintalah ijin khusus dari Hoa Lo sianseng, kalau tidak... tak usah
yah!..."
"Sst... kemarilah!" bisik Kong Yo Siok Peng kemudian sambil
menggape pria itu, "Cepatlah kemari, ada satu urusan aku hendak
memberitahukan kepadamu!"
"Urusan apa?" tanya pria itu tertegun, ia tak menyangka gadis
secantik itu bisa main mata dengan dirinya, melihat sekeliling situ tak
ada orang dia segera lari keluar dari balik pintu.
"Eei... bocah perempuan, kau ada urusan apa?" tanyanya.
"Aku inginkan jiwamu!" jawab Kong Yo Siok Peng sambil
unjukkan muka setan.
"Haaaah... haaaah... haaaah... mati di bawah bunga Botan, jadi
setan pun setan romantis..."
Siapa tahu bersamaan dengan selesainya perkataan itu, mendadak
wajahnya berkerut menahan rasa sakit yang tak tertahankan,
senyuman yang menghiasi bibirnya lenyap tak berbekas, tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun ia roboh binasa di atas tanah.
Pek In Hoei cengkeram tubuh mayat itu dan dilempar ke dalam
semak, lalu serunya :
"Ayoh kita cepat pergi!"
"Kau harus berhati-hati..." kembali Kong Yo Siok Peng
memperingatkan, "yang kau bunuh barusan tidak lebih cuma seorang
penjaga pintu, keadaan di dalam jauh berbeda, di situ kita mesti
ditanyai sandi-sandi rahasia, padahal aku tak tahu apa sandinya, kau
mesti bertindak menurut keadaan!"
761
Saduran TJAN ID
Jago Pedang Berdarah Dingin tertawa hambar, dengan enteng ia
menyerobot masuk ke dalam bangunan itu.
Suasana di tengah ruangan senyap tak nampak sesosok bayangan
manusia pun, hal ini membuat Kong Yo Siok Peng tertegun, segera
bisiknya lirik :
"Kenapa di sini tak nampak seorang manusia pun?"
Jago Pedang Berdarah Dingin tidak menjawab, ia pasang
telinganya baik-baik, dia periksa keadaan di sekeliling tempat itu, dari
balik pintu dinding ruangan secara lapat-lapat ia dengar suara napas
manusia, segera didekatinya tempat itu dan mengetuk perlahan.
Rupanya orang yang ada di balik pintu terkejut oleh ketukan tadi,
ia segera menegur :
"Apa Lo Liok di situ? Sepagi ini kau telah pergi kemana?"
"Bukalah pintu!" bisik Pek In Hoei lirih.
Kembali orang itu tertegun, ia segera berseru :
"Bintang bertaburan di tengah malam yang sunyi, apa kelanjutan
dari kata sandi ini?"
"Angin kencang membuyarkan awan putih di angkasa."
"Siapa kau?" seru orang itu, rupanya tercengang. "Kata sandi itu
sama sekali tidak benar!"
"Goblok!" maki Pek In Hoei sambil tertawa, "Barusan Hoa lo
sianseng merubah kata-kata sandi tersebut, rupanya dia belum sempat
memberitahukan kepadamu!"
Sambil berkata hawa murninya disalurkan keluar. Blaam! Pintu
kecil itu terpental dan hancur berantakan, tubuhnya dengan cepat
meloncat masuk ke dalam.
Di bawah sorot cahaya lampu, tampak tiga orang pria berbaju
hitam berdiri berjejer menghadang jalan perginya, enam buah sorot
mata yang tajam menatap wajah Pek In Hoei tanpa berkedip.
"Sahabat!" setelah suasana hening beberapa saat lamanya, pria
berjenggot hitam yang berada di ujung kiri maju dua langkah ke depan
sambil menegur, "Siapakah sebenarnya kau? Kalau ada urusan cepat
762
IMAM TANPA BAYANGAN II
katakan, sekarang ini, kau hendak masuk ke pintu akhirnya, hal ini
merupakan suatu kejadian yang tak enak bagimu..."
"Di manakah Hoa Lo sianseng?" seru Pek In Hoei sambil tertawa
terbahak-bahak, "Kenapa ia tidak munculkan diri untuk menyambut
kedatangan sahabat karibnya?"
"Oooh! Kiranya kau adalah sahabat karibnya Hoa Lo sianseng,
kalau begitu aku Goan Toa Hong minta maaf terlebih dahulu,
sekarang kebetulan sekali Hoa Lo sianseng sedang berlatih ilmu, bila
kau ada urusan harap tunggulah sebentar di sini, biar aku orang she
Goan menyampaikan kabar ke dalam!"
Habis berkata orang itu siap berlalu dari situ.
"Tak perlu!" tampik Pek In Hoei sambil menghadang jalan pergi
orang itu, "Goan lo enghiong lebih enak kita bercakap-cakap lebih
dulu di sini..."
"Kau..."
"Aku adalah raja akhirat yang mencabut jiwa manusia, saat
kematian bagi Hoa Lo sianseng telah tiba, maka kalau setan-setan liar
yang gentayangan lebih baik berangkat dulu untuk buka jalan
baginya. Nah! Serahkan jiwamu!"
Tercekat hati ke-tiga orang jago lihay itu sehabis mendengar
perkataan itu, tapi sebagai jago-jago lihay yang khusus diundang Hoa
Pek Tuo untuk menjaga keamanan di situ, hanya sebentar saja mereka
tercengang kemudian sambil membentak keras mereka segera
menyebarkan diri dan mengepung rapat-rapat si anak muda itu.
"Sahabat, siapakah kau?" tegur Goan To Hong sambil tertawa
seram.
"Kami adalah See Pak Su Hong empat manusia ganas dari Say
Pak, bila kau adalah seorang manusia yang sering melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan, maka kamu pasti tahu manusia
macam apakah See Pak Su Hong tersebut!"
763
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu selamat berjumpa
kuucapkan bagi kalian bertiga, tolong tanya kemanakah seorang
rekanmu yang lain? Mengapa tidak tampak?"
"Karena ada urusan To Liok sedang keluar, bila kedatanganmu
ke sini dalam untuk mencari gara-gara dengan kami, jangan kuatir,
kami pasti akan melayani keinginanmu itu sehingga kau tak akan
merasa kecewa!..."
"Bagus, bagus sekali, kalau begitu serahkan Hee Giong Lam
kepadaku..."
"Tak mungkin," sahut Goan Toa Hong seraya menggeleng, "Hee
Giong Lam adalah sahabat karib majikan kami Hoa Lo sianseng,
tanpa perintah khusus dari Hoa Lo sianseng siapa pun tak akan berani
melepaskan dirinya, aku lihat lebih baik batalkan saja niatmu itu, hatihati
kalau sampai kaki anjingmu dipukul patah oleh Hoa Lo
sianseng!"
"Huuuh! Hoa Pek Tuo itu manusia macam apa?" maki Pek In
Hoei dengan gusar, "Aku sedang kesal karena tak dapat menemukan
jejaknya, eeei... tak tahunya kalian malah mengibul dan membanggabanggakan
dirinya setinggi langit. Haaaah... haaaah... haaaah...
sahabat, suruh saja manusia itu menggelinding keluar, kalau tidak
maka pertama-tama yang akan mati binasa adalah kalian semua!"
"Toako!" pria yang berada di ujung kanan berteriak dengan gusar.
"Selama kita See Pak Sam Hong berkeliaran dalam dunia persilatan,
belum pernah ada orang yang berani kurang ajar terhadap kita orang.
Hmmm! Bajingan tengik yang belum hilang bau susu ibunya ini
berani betul takabur di hadapan kita, apa yang mesti kita tunggu lagi?
Kasih saja peringatan yang pahit kepadanya..."
"Criiing... di tengah udara terpancar cahaya pedang yang amat
menyilaukan mata, masih tetap berdiri di tempat semula tahu-tahu Pek
In Hoei telah meloloskan pedang saktinya.
"Aaaah... pedang sakti penghancur sang surya..." ucapan itu
terlontar keluar dari mulut Goan Toa Hong membuat dua orang
764
IMAM TANPA BAYANGAN II
rekannya ikut terkesiap dan mundur enam langkah ke belakang
dengan badan gemetar keras.
"Kau... kau adalah Jago Pedang Berdarah Dingin? tegur Goan
Toa Hong cemas.
"Sedikit pun tidak salah, nama Jago Pedang Berdarah Dingin
rasanya tidak terlalu asing bagi kalian bertiga bukan? Bila kalian suka
memandang di atas wajahku dan melepaskan Hee Giong Lam, maka
aku tak akan beradu senjata dengan kalian bertiga."
"Sahabat, pentang lebar-lebar sepasang matamu," seru Goan Toa
Hong dengan suara dingin. "Kami See Pak Sam Hong bukan bocah
yang baru berusia tiga tahun, kau anggap dengan andalkan gertak
sambal tersebut kami lantas ketakutan setengah mati? Huuuh! Orang
yang kau inginkan berada di sini, kalau kau punya kemampuan ayoh...
serbulah ke dalam dan ambillah sendiri orang itu!"
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Bagus sekali... kalian bertiga boleh siap-siap menerima
seranganku...!"
Tubuhnya secara mendadak meloncat ke muka, pedangnya
laksana kilat membabat ke muka secara gencar.
Air muka See Pak Sam Hong berubah hebat, cepat-cepat mereka
cabut keluar senjatanya dan mundur tujuh delapan langkah ke
belakang.
"Maju serentak!" seru Goan Toa Hong.
"Aduuuh..." jeritan kesakitan muncul dari arah belakang, sebutir
batok kepala diiringi semburan darah segar muncrat membasahi
permukaan,membuat semua orang jadi tertegun.
"Aaaah Lo Liok!" jerit Goan Toa Hong tiba-tiba.
Terdengar Pek In Hoei mendengus lalu berkata :
"Inilah akibatnya bagi setiap orang yang suka main bokong dari
belakang, sahabat ke-tiga, Lo Liok telah pulang ke rumah neneknya
dan mungkin saat ini masih menanti di depan pintu, bagaimana kalau
kalian bertiga pun segera ikut berangkat?"
765
Saduran TJAN ID
Sesosok bayangan manusia berkelebat keluar dari arah kanan,
sambil ayunkan pedangnya orang itu langsung membacok tubuh Pek
In Hoei.
Dengan tangkas Jago Pedang Berdarah Dingin mengigos ke
samping, kemudian putar pedang dan balas membabat.
Orang itu tanpa mengeluarkan sedikit suara pun segera roboh
terjengkang di atas tanah, jiwanya putus pada detik itu juga.
Peristiwa itu mengejutkan hati dua orang lainnya, kengerian serta
rasa takut menyelimuti wajahnya, membuat mereka hanya bisa berdiri
kaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Lama sekali Goan Toa Hong baru membentak keras :
"Pek In Hoei aku akan beradu jiwa denganmu..."
"Tahan!" serentetan suara bentakan keras berkumandang datang
dari tengah angkasa, Goan Toa Hong segera angkat kepala, ia lihat
Hoa Pek Tuo sambil melototkan sepasang matanya yang tajam
bagaikan pisau belati sedang menatap wajah Pek In Hoei dengan
penuh kegusaran.
"Pek In Hoei, rupanya kau belum pergi dari sini?" serunya sambil
tertawa dingin.
"Hmmm! Setelah aku tahu bahwa seorang sahabat karibku berada
di sini, kenapa aku mesti pergi? Bila aku pergi bukankah itu berarti
bahwa aku tidak menghormati sahabat sendiri? Betul tidak?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... beberapa hari tidak berjumpa
dengan dirimu, rupanya kian hari kau kian bertambah hebat," seru
Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram, "setelah kau unjuk gigi di wilayah
selatan, aku merasa semakin tertarik kepadamu, rupanya di antara
kalangan jago muda hanya kau saja yang cocok bersahabat dengan
aku, mari... mari.. ini hari kita harus rayakan pertemuan ini!"
"Tentu saja, sulit bagi kita untuk bertemu muka, kau harus ambil
sedikit barang sebagai tanda mata bagi pertemuan ini..."
766
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Baik," sahut Hoa Pek Tuo, "kepada Goan Toa Hong segera
serunya, "dia adalah sahabat karibku, Goan Toa Hong! Ayoh cepat
layani sahabatku ini!"
"Hoa... ini..."
"Hmmm! Manusia yang tak berguna, sampai pada waktunya
untuk mempergunakan tenagamu, kalian malah bersembunyi
bagaikan cucu kura-kura... huuuuh, sungguh menyebalkan..."
Ia tertawa seram dan menambahkan :
"Waaah... maaf, mungkin aku tak dapat melayani keinginanmu
itu."
"Hoa Pek Tuo, kau tak usah main sandiwara lagi, lebih baik kita
bereskan dulu hutang lama kita!"
"Hmmm... benar... ucapanmu memang benar, hutangmu sedari
pertemuan di perkampungan Thay Bie San cung hingga kini belum
kau bayar, sekarang kau harus selesaikan berikut rentenya, mungkin
malam ini kau tak bisa tinggalkan tempat ini lagi dalam keadaan
hidup-hidup."
Napsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan wajah yang
menyeramkan ia tatap wajah Pek In Hoei, sorot matanya
memancarkan sinar berapi-api, di mana membuat Kong Yo Siok Peng
menjerit kaget dan segera merapat tubuhnya di sisi pemuda itu.
"In Hoei... In Hoei... aku takut..." bisik gadis itu dengan wajah
pucat dan badan gemetar.
Dalam pada itu Hoa Pek Tuo telah tertawa seram menyaksikan
tingkah laku gadis itu segera serunya sinis :
"Bocah perempuan, kemarilah!"
"Tidak! Kau lepaskan dulu ayah angkatku..." jerit Kong Yo Siok
Peng.
Sinar mata Hoa Pek Tuo berkilat, senyuman yang mengerikan
tersungging di ujung bibirnya membuat Kong Yo Siok Peng semakin
ketakutan dibuatnya.
767
Saduran TJAN ID
Ia pandang sekejap wajah si anak muda itu, kemudian sambil
menggoncangkan lengan pemuda itu serunya :
"In Hoe, mari kita pergi dari sini!"
"Tidak!" jawab Jago Pedang Berdarah Dingin sambil
menggeleng. "Aku akan menyelamatkan ayah angkatmu dari
cengkeramannya..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei, mampukah kau untuk
melakukan rencanamu itu?" ejek Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram.
"Hmmm! Jadi kau ingin mencoba?"
"Saudaraku, aku lihat lebih baik kau batalkan saja rencanamu itu,
sepasang kepalanmu belum dapat memadai sebuah jari tanganku, kau
ingin mengandalkan apa untuk menolong orang? Hmmm! Hmmm!
Janganlah bermimpi di siang hari bolong!"
"Tidak aneh kalau orang lain sebut dirimu sebagai rase tua!
Rupanya kulitmu memang tebal dan tak tahu malu..."
Hoa Pek Tuo sendiri benar-benar amat benci terhadap pemuda
tersebut, terutama kehadirannya di tempat yang sangat rahasia ini
sehingga mengacau waktu latihannya, ia benci dan ingin sekali
menghajar tubuh pemuda itu hingga hancur lebur.
"Manusia she Pek!" ia berseru kembali sambil tertawa seram,
"Ketika masih berada dalam perkampungan Thay Bie San cung
dahulu au selalu menganggap bahwa sepasang kakimu memang luar
biasa, lebih pandai lari daripada kaki anjing, tapi ini hari... Hmmm!
Sekalipun kau ingin lari, belum tentu kesempatan itu kau miliki..."
"Sudah, kau tak usah banyak bacot lagi, ini hari aku si Jago
Pedang Berdarah Dingin akan suruh kau rasakan betapa enaknya
berlari-lari bagaikan anjing, lihatlah!"
Cahaya pedang berkilauan di angkasa, bayangan senjata yang
tajam dan rapat segera membabat tubuh Hoa Pek Tuo dengan
kecepatan luar biasa.
Hoa Pek Tuo terkejut melihat datangnya ancaman yang begitu
hebatnya, cepat-cepat ia berkelit ke samping, telapak kanannya
768
IMAM TANPA BAYANGAN II
berputar membentuk gerakan setengah busur di tengah udara
kemudian menghantam tubuh lawannya dengan gencar.
Tercekat hati Pek In Hoei setelah mencium bau amis yang
memancar keluar dari angin pukulan itu, segera teringat olehnya
bahwa kakek tua she Hoa ini sedang berlatih ilmu pukulan beracun.
Tentu saja ia tak berani menghadapi datangnya serangan itu
dengan keras lawan keras, buru-buru badannya bergeser ke samping,
pedang saktinya berputar dan langsung menusuk ke arah iga lawan.
Creeet... Hoa Pek Tuo merasa desiran angin tajam menyerang
tubuhnya, sebagian baju yang ia kenakan terbabat kutung jadi
berkeping-keping, hal ini membuat hatinya tertegun.
Ia tak menyangka kalau kemajuan ilmu silat yang diperoleh Pek
In Hoei sedemikian pesatnya, dalam terkejutnya ia membentak keras,
secara beruntun empat buah serangan berantai dilancarkan ke muka.
Bayangan telapak berlapis-lapis bagaikan bukit, memaksa Pek In
Hoei terpaksa harus mundur tujuh langkah ke belakang.
"Pek In Hoei, lepaskan senjatamu!" teriak Hoa Pek Tuo sambil
tertawa dingin.
"Hmmm! Kau anggap gampang bagiku untuk melepaskan
senjata? Kau terlalu pandang rendah diriku..."
Ia himpun segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya ke dalam
ujung pedang, sekilas cahaya tajam seketika menyelubungi sekeliling
tubuhnya.
Hoa Pek Tuo bukan orang bodoh, dia adalah seorang jago yang
bisa menilai barang, dari pantulan cahaya pedang yang memancar
keluar dari senjata musuh, ia tahu bahwa kelihayan musuhnya telah
mencapai pada taraf kesempurnaan.
Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba ia putar
badan dan kabur ke dalam rumah.
"Hoa Pek Tuo, kau hendak lari ke mana?" bentak Pek In Hoei
sambil mengejar ke dalam.
769
Saduran TJAN ID
"Bangsat she Pek, kita bertemu di dalam saja," sahut Hoa Pek
Tuo seram. "Tapi kau mesti ingat, di dalam cuma ada jalan masuk
tiada jalan keluar, kalian bakal menemui ajalnya di situ..."
Ia kerling sekejap ke arah Goan Toa Hong sekalian, kemudian
mereka bersama-sama kabur ke dalam.
Menanti beberapa orang itu telah lenyap dari pandangan, Kong
Yo Siok Peng baru menghembuskan napas lega, katanya :
"Aku benar-benar merasa amat kuatir, kalau bukan kau berhasil
membuatnya lari, entah bagaimana akibatnya nanti."
"Apa yang kau temui hanya suatu permulaan belaka," jawab Pek
In Hoei sambil geleng kepala. "Hoa Pek Tuo tidak mau menghadapi
diriku tapi justru lari ke dalam, jelas dia telah mengatur satu rencana
busuk. Siok Peng! Mari kita cari jejak ayah angkatmu, hati-hatilah
mungkin Hoa Pek Tuo sudah melakukan sesuatu di atas tubuh
ayahmu."
Bangunan rumah yang terbentang di hadapan mereka terasa gelap
lagi lembab, meskipun sang surya telah muncul tapi keadaan di situ
seakan-akan suatu dunia yang lain.
Ia gandeng tangan Kong Yo Siok Peng secara halus, sedang
tangan lain dengan pedang terhunus selangkah demi selangkah
berjalan masuk ke dalam.
Kong Yo Siok Peng merasa hatinya jadi hangat, bau pria yang
tajam melayang masuk ke dalam penciumannya membuat wajah
berubah jadi merah, rasa yang menyelimuti wajah yang cantik,
sementara jantungnya berdebar keras, ia rebahkan diri dalam pelukan
Pek In Hoei dan menikmati kemesraan itu dengan mata terpejam.
Pek In Hoei sendiri pun merasakan sesuatu perasaan yang sangat
aneh, dengusan napas yang harum merangsang pikirannya, tanpa
sadar dia peluk tubuh Kong Yo Siok Peng erat-erat, napasnya terasa
semakin berat seakan-akan ada sesuatu benda yang menindih tubuh
mereka.
770
IMAM TANPA BAYANGAN II
"In Hoei!" bisik Kong Yo Siok Peng dengan suara lirih, begitu
hangat dan mesra panggilan itu membuat mereka lupa akan napsu
membunuh yang baru saja menyelimuti sekeliling mereka.
"Ehmmm..." jawab Jago Pedang Berdarah Dingin dengan napas
berat.
"Siok Peng, apa yang hendak kau ucapkan?"
"Aku..." getaran keras yang terpancar dari mata lawan jenisnya
memaksa gadis itu harus menunduk dengan wajah tersipu-sipu.
Apa yang hendak dia katakan tidak dilanjutkan oleh gadis itu,
hanya tubuhnya menempel semakin rapat di dada lawan.
"Apa yang hendak kau ucapkan kepadaku? Katakanlah..." bisik
Pek In Hoei sambil tertawa ewa.
Hampir saja Kong Yo Siok Peng menyembunyikan diri saking
malunya, buru-buru ia berseru :
"Jangan kau tanyakan lagi... jangan kau tanyakan lagi..."
Dari sudut ruangan yang gelap mendadak berkelebat seberkas
cahaya lampu yang bergoyang, hanya sekilas saja untuk kemudian
lenyap tak berbekas...
Pek In Hoei meloncat ke depan, pedangnya berkelebat di tengah
udara dan langsung menusuk ke arah dinding kayu yang menghalangi
pemandangan luar dengan keadaan di dalam.
"Aduuuh..." jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
keluar dari balik dinding kayu, Pek In Hoei tertawa dingin, dengan
ilmu pukulannya yang ampuh dia hantam dinding tebal itu sehingga
ambrol dan terwujud sebuah lubang besar.
Dari balik dinding yang ambruk terlihat sesosok mayat terpantek
di atas dinding, darah kental mengalir keluar membasahi seluruh
lantai, dadanya telah berlubang tertembus ujung pedang penghancur
sang surya yang tajam.
Kematian yang mengerikan, wajah yang ketakutan tertera jelas di
atas raut muka pria itu membuat Kong Yo Siok Peng yang berada di
sisi pemuda itu menjerit keras karena ketakutan.
771
Saduran TJAN ID
"Toooong...! tuuuung...!"
Suara gendang yang berat bergeletar dari balik bangunan rumah
yang gelap, suara tadi sayup-sayup sampai untuk kemudian lenyap
kembali tak berbekas.
Dalam sekejap mata seluruh ruangan telah dipenuhi oleh suara
langkah kaki yang berat, tampak dua baris pria bersenjata lengkap
perlahan-lahan munculkan diri dari balik dua pintu rahasia di sisi
ruangan tersebut, Goan Toa Hong sambil membawa sebuah panji
kecil selangkah demi selangkah mendekati ke arah pemuda Pek In
Hoei.
"Pek sauhiap, Hoa Lo sianseng mengundang kau masuk ke
dalam," ujar orang she Goan itu dengan suara dingin.
Jago Pedang Berdarah Dingin agak tertegun, ia tidak mengira
Hoa Pek Tuo bakal melakukan tindakan tersebut, wajahnya segera
berubah jadi amat serius, dengan pandangan berkilat tegurnya :
"Sekarang dia berada di mana?"
"Hoa Lo sianseng menantikan kedatanganmu di istana bawah
tanah, silahkan sauhiap..."
Tidak sampai menyelesaikan kata-katanya ia putar badan dan
berlalu lebih dahulu, sedangkan dua baris pria berbaju hitam tadi
segera mengepit Pek In Hoei serta Kong Yo Siok Peng di tengah
kepungan, dalam suatu pertanda yang diberikan Goan Toa Hong
berangkatlah mereka menuju ke depan.
Bagian 33
BAU busuk dan hawa lembab berhembus keluar memuakkan dada
siapa pun yang mencium, Pek In Hoei berdua di bawah pimpinan
Goan Toa Hong telah memasuki sebuah goa bawah tanah yang amat
dingin.
Anak tangga dibuat dari batu, dibangun sangat teratur jauh
menjorok ke dalam, sekali lagi Goan Toa Hong ulapkan tangannya,
pria pelindung yang berjalan di kedua belah sisi secara tiba-tiba
772
IMAM TANPA BAYANGAN II
membalikkan tubuhnya dan segera menyumbat pintu masuk lorong
tersebut.
'Istana bawah tana'"
Tiga buah huruf besar itu terasa amat menyolok mata, di bawah
sorot cahaya lampu, Pek In Hoei tertawa dingin, dengan wajah yang
tetap tenang ia lanjutkan langkahnya menuju ke arah dalam,
sebaliknya Kong Yo Siok Peng telah dibikin ketakutan sehingga air
mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.
"Hoa Lo sianseng berada di dalam, silahkan masuk ke situ!" ujar
Goan Toa Hong tiba-tiba sambil menuding sebuah pintu batu.
"Temanilah aku masuk ke dalam," kata Pek In Hoei dingin,
"Sahabat, masa kau telah melupakan hubungan persahabatan di antara
kita berdua? Ayoh jalan!"
Diiringi suara tertawa dingin, pedang saktinya segera diayun ke
arah dada lawan.
Air muka Goan Toa Hong berubah hebat.
"Ini... ini..."
Tapi setelah merasakan bahwa ujung pedang lawan telah
menempel di atas punggungnya, dengan perasaaan apa boleh buat ia
dorong pintu batu itu dan masuk ke dalam dengan langkah lebar.
"Sreeeet... sekilas cahaya putih meluncur keluar dari balik pintu,
Goan Toa Hong menjerit lengking dengan suara yang mengerikan,
tahu-tahu badannya sudah termakan oleh timpukan pisau belati dan
roboh binasa seketika itu juga.
Dengan penuh kegusaran Pek In Hoei tertawa lantang, ia dorong
mayat Goan Toa Hong ke samping lalu dengan gerakan tubuh yang
amat cepat ia menyusup masuk ke dalam gua.
Hoa Pek Tuo dengan menggunakan sebuah jubah panjang sambil
menggoyangkan kipasnya duduk menyeramkan di atas pembaringan.
Ketika menyaksikan Pek In Hoei menerobos masuk ke dalam
ruangan, ia segera tertawa terbahak-bahak, serunya :
773
Saduran TJAN ID
"Nasibmu memang terlalu bagus dan usiamu memang diberkahi
umur panjang, tak kunyana yang modar ternyata bukan kau!"
"Hmmm! Tempat ini sungguh indah sekali, aku rasa suatu tempat
yang paling cocok bagimu untuk beristirahat untuk selama-lamanya!"
ejek Pek In Hoei dengan suara dingin.
"Hmmm... hmmm... perkataanmu keliru besar, istana bawah
tanahku ini hanya memperkenankan orang masuk ke dalam,
selamanya belum ada yang bisa keluar dalam keadaan hidup.
Sekarang kau telah berada di sini, itu berarti untuk selama-lamanya
kau tak akan berhasil keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!"
Pek In Hoei segera segera tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagaimana dengan kau sendiri?
Apakah kau pun tidak ingin keluar dari tempat ini dalam keadaan
hidup?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... saudaraku, kau benar-benar
bagaikan si setan gantung yang melihat hong swie," seru Hoa Pek Tuo
sambil tertawa terbahak-bahak, "Sebelum mati kau juga ingin mencari
teman... hmm... hm... sahabat, rembulan di tengah kegelapan kurang
sedap dipandang, ucapanmu itu terlalu jauh..."
"Bangsat tua, memandang tampangmu yang begitu jelek seperti
kera, aku lihat kau lebih cocok jadi seorang kuli kasaran."
Perkataan ini mengandung nada penghinaan yang amat tebal,
seketika itu juga Hoa Pek Tuo naik pitam, saking gusarnya rambut
dan jenggotnya pada berdiri kaku semua, sambil berteriak keras
tubuhnya loncat bangun dari atas pembaringan, serunya dengan penuh
kebencian :
"Saudara, kalau bicara sedikitlah berhati-hati, hati-hati kalau ada
geledek yang menyambar putus lidahmu..."
Menyaksikan jago lihay yang berhati licik itu sudah dibikin naik
pitam oleh ejekan-ejekannya, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei segera menggetarkan pedang penghancur sang surya-nya ke
774
IMAM TANPA BAYANGAN II
tengah udara dan menciptakan berkuntum-kuntum bunga yang amat
tajam.
Dengan ketakutan Hoa Pek Tuo cepat-cepat meloncat mundur ke
belakang, serunya berulang kali :
"Tunggu sebentar... tunggu sebentar... sekarang masih belum tiba
saatnya untuk mencabut jiwa anjingmu."
"Kenapa? Apakah kau masih ada pesan-pesan terakhir yang kau
tinggalkan?" ejek Pek In Hoei dengan suara ketus.
"Ketika menghadapi para jago lihay di wilayah selatan tempo
dulu, kegagahanmu betul-betul mengagumkan," kata Hoa Pek Tuo
dengan sikap yang amat misterius, "banyak sekali sahabat dari
angkatan muda yang berharap bisa berjumpa muka dengan dirimu,
oleh sebab itulah sebelum kita berdua menyelesaikan urusan pribadi
yang sudah terikat antara kita berdua, terlebih dahulu aku ingin
memperkenalkan beberapa orang sahabat kepadamu..."
"Hmm! Jadi kau telah mengundang bala bantuan? Kenapa tidak
kau undang keluar?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... " dari sisi sebelah kiri tiba-tiba
berkumandang keluar suara gelak tertawa yang menyeramkan,
disusul dari balik pintu muncullah seorang pemuda berbaju biru.
"Dia adalah kongcu berbaju biru Lu Kiat!" ujar h pt
memperkenalkan.
Diam-diam Pek In Hoei merasa terperanjat, ia tidak menyangka
kalau kongcu berbaju biru yang nama besarnya telah menggetarkan
wilayah sebelah selatan sungai Huang-hoo itu tidak lebih adalah
seorang jago yang masih muda, hatinya tercekat. Segera serunya :
"Selamat berjumpa... selamat berjumpa..."
"Terima kasih!" sahut Lu Kiat ketus.
Kembali Hoa Pek Tuo menuding ke arah belakang sambil berseru
"Dan yang ini adalah si golok kilat Bu-san!"
Seorang hweshio berkepala gundul dengan langkah lebar
munculkan diri dari balik pintu, di tangannya membawa sebuah golok
775
Saduran TJAN ID
Kui-tau-to yang amat besar, pada punggung golok tergantung
beberapa rantai gelang besi, setiap langkah kakinya segera
menggetarkan gelang besi itu hingga berbunyi gemerincingan.
Waktu itu dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh
dan senyum mengejek menghiasi bibirnya ia memandang ke arah Pek
In Hoei dengan sikap sombong.
Menjumpai hweshio gundul itu dalam hati Jago Pedang Berdarah
Dingin segera berpikir :
"Golok kilat Bu Sam adalah murid murtad dari gereja Siau-limsi,
setelah diusir dari perguruan ia seringkali berbuat kejahatan, bukan
saja membunuh bahkan seringkali memperkosa anak istri orang,
banyak kejahatan yang ia telah lakukan. Sungguh tak nyana Hoa Pek
Tuo telah mengumpulkan pula manusia semacam ini sebagai
pembantunya. Hmm! Bila sampai terjadi pertarungan nanti, pertamatama
aku harus berusaha keras untuk melenyapkan padri bengis ini
terlebih dahulu..."
Berpikir demikian, ia lantas berkata dengan dingin :
"Masih ada siapa lagi? Kenapa tidak sekalian kau undang
keluar?"
Golok kilat Bu Sam yang menjumpai Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei sama sekali tak pandang sebelah mata pun
terhadap dirinya, napsu membunuh dan watak bengisnya segera
muncul, dengan suara seram serunya :
"Belum pernah toaya mu Bu Sam menjumpai manusia angkuh
dan takabur semacam ini. Hmm... hmm... Hoa Lo sianseng, buat apa
kau biarkan manusia semacam ini tetap hidup di kolong langit?
Biarlah ia rasain dahulu sebuah bacokanku!"
Sementara ia siap hendak turun tangan, tiba-tiba Hoa Pek Tuo
mendekati hweshio itu lalu membisikkan sesuatu ke sisi telinganya,
meskipun kemudian Bu Sam menunjukkan sikap kurang senang
namun secara suka rela ia mundur pula ke belakang.
776
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pek In Hoei berlagak tidak melihat akan semua gerak-gerik itu,
dengan sombong ia berdiri kaku di tempat semula.
Dalam pada itu Hoa Pek Tuo telah menepuk kembali tangannya,
seorang pemuda berdandan Mongol dengan mata yang sipit sekali
berlari keluar dari balik pintu, senyuman mengejek menghiasi
bibirnya.
"Dia adalah Korlea, jago pedang nomor wahid dari wilayah
Mongolia!" seru Hoa Pek Tuo dengan nada bangga.
"Hmmm... hmmm... mana, mana," kata Korlea.
Dalam hati Pek In Hoei terperanjat juga setelah mengetahui
begitu banyak jago lihay yang bermuncul di situ, dengan ali berkerut
dan nada dingin ejeknya :
"Hmm! Sungguh tidak sedikit pembantu yang kau undang
datang!"
"Saudaraku, hanya kau seorang yang mampu mengangkat nama
besarmu hingga mencapai puncak yang tertinggi hanya dua tiga tahun
sejak kemunculan pertama di dalam rimba persilatan, keadaanmu ini
membuat banyak orang merasa sedih hati, bila kami biarkan kau
hidup terus di kolong langit maka bagi kita angkatan yang lebih tua
jadi sulit untuk berkelana lagi di dalam dunia persilatan. Oleh karena
itulah aku harap saudara bisa tahu diri dan cepat-cepat mengundurkan
diri."
"Hmm!" Pek In Hoei mendengus dingin, "buat apa kau
mengucapkan kata-kata yang begitu manis didengar? Terus terang
saja katakan maksud tujuanmu, aku Jago Pedang Berdarah Dingin
bukan satu dua hari berkecimpung di dal dunia persilatan, semua tipu
muslihatmu itu telah kuketahui semua."
"Hoa heng, kenapa sih kau masih punya kegembiraan untuk jual
bacot dengan monyet kecil yang masih bau tetek itu," teriak golok
kilat Bu Sam sembari ayunkan senjatanya, "Aku lihat lebih baik kita
tak usah buang banyak waktu lagi, biarlah kuhadiahkan sebuah
bacokan manis ke atas tubuhnya."
777
Saduran TJAN ID
Lu Kiat melirik sekejap ke arah golok Kilat Bu Sam dengan
pandangan menghina, agaknya pemuda baju biru itu menaruh rasa
muak dan benci terhadap padri murid murtad dari gereja Siau-lim-si
itu.
Kepada Pek In Hoei ia tertawa hambar dan menegur :
"Saudara, benarkah sewaktu berada di wilayah selatan tempo
dulu, kau telah mengatakan kata-kata sesumbar?"
"Perkataan apa?" tanya pemuda itu melengak.
"Kau pernah kata bahwa dengan pedang sakti di tangan, kau
hendak taklukkan semua jago yang ada di kolong langit, benarkah kau
pernah berkata begitu?"
778
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 32
PEK IN HOEI segera tertawa dingin.
"Hmmm... dan kau percaya aku telah mengucapkan kata-kata
tersebut? Lu-heng, dengan kedudukan serta nama baikmu di dalam
dunia persilatan, aku rasa tidak sepantasnya kalau kau ikut bergaul
dengan manusia-manusia sesat seperti itu bukan!"
Meskipun dalam dunia persilatan Lu Kiat tidak memiliki nama
yang baik tetapi dia pun bukan jagoan dari kalangan sesat, pertanyaan
dari Jago Pedang Berdarah Dingin ini segera menimbulkan rasa sesal
dalam hati kecilnya, sekilas rasa malu muncul di atas wajahnya.
Hoa Pek Tuo yang menyaksikan gejala kurang menguntungkan,
dengan cepat tubuhnya loncat ke depan, ia takut urusan bila dilarutlarutkan
terlalu lama maka akan mengakibatkan timbulnya hal-hal
yang tidak diinginkan, segera hardiknya dengan suara keras :
"Kau maki siapa yang termasuk jago-jago kalangan sesat? Pek In
Hoei kalau bicara sedikitlah tahu diri, kalau kau mengacu balau terus
dengan kata-katamu yang usil, jangan salahkan kalau aku tak akan
berlaku sungkan lagi terhadap dirimu."
"Huuh...! Kau adalah seorang pentolan golongan Hek-to yang
membunuh orang tidak melihat darah, ayoh mengaku! Bukankah kau
punya ambisi besar untuk mengangkangi dunia persilatan? Bukankah
kau sendiri yang punya niat untuk menundukkan seluruh partai besar
dan memperbudak seluruh jago yang ada di kolong langit."
"Omong kosong!" teriak Hoa Pek Tuo penuh kebencian, "Hmm!
Rupanya kau telah bosan hidup!"
779
Saduran TJAN ID
Kepada Lu Kiat, Korlea dan Bu Sam ia melotot sekejap, serunya
:
"Apa yang kalian nantikan lagi? Selama orang ini masih tetap
hidup dan dalam kolong langit, kita jangan harap bisa hidup di dalam
dunia persilatan dengan aman dan damai, sekarang mumpung jumlah
kita banyak, mari kita keroyok dia sampai mati, kita tidak usah lagi
membicarakan soal peraturan Bu lim atau tidak."
Sambil tertawa terbahak-bahak, telapak kanannya segera
diangkat ke atas, segulung angin pukulan yang luar biasa dahsyatnya
dengan cepat meluncur keluar dari telapaknya dan langsung
menghantam tubuh Jago Pedang Berdarah Dingin.
Dengan tangkas Pek In Hoei meloncat ke samping, dia silangkan
pedangnya di depan dada, dengan wajah serius dan penuh kegusaran
pemuda itu tarik napas panjang dan berkata :
"Hoa Pek Tuo, bagaimana pun juga kau adalah seorang jago
kenamaan di dalam dunia persilatan, sebelum pertarungan dimulai
terlebih dahulu, asal kau menyanggupi aku baru suka turun tangan
menghadapi dirimu, kalau tidak..."
"Baik! Katakanlah apa permintaanmu itu," seru Hoa Pek Tuo
berlagak besar jiwa.
"Gampang sekali permintaanku itu, aku harap kau suka
memandang di atas wajahku melepaskan Hee Giong Lam dari tempat
ini, di samping itu turunkanlah perintah agar orang-orang mu tidak
menyusahkan mereka ayah dan anak lagi!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... saudaraku kau benar-benar
bagaikan raja akhirat yang mengemis... sudah hampir mati pun
mencari uang," ejek Hoa Pek Tuo sambil tertawa tergelak-gelak.
"Sekarang untuk mempertahankan selembar jiwamu sendiri pun kau
tak mampu, malah masih bisa-bisanya mintakan ampun buat orang
lain... Hmmm! Betul-betul manusia yang tak tahu diri..."
Dengan wajah dingin kaku serunya lebih jauh :
780
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Mudah saja kalau kau menginginkan agar aku lepaskan budak
cilik itu, tapi suruh aku lepaskan Hee Giong Lam... Hehh... heeh...
maaf, seribu kali maaf, aku tak dapat mengabulkan permintaanmu itu
sebab aku masih ada dua resep obat yang belum selesai ia buatkan
bagiku!"
"Lepaskanlah dia!" seru Lu Kiat pula sambil melangkah maju ke
depan, "Hoa heng bila sedikit permintaan ini tak kau kabulkan
bukankah pamormu akan merosot sekali? Lagi pula Rasul Racun Hee
Giong Lam toh bukan seorang manusia yang luar biasa apa sih
salahnya melepaskan dia berlalu dari sini?"
Hoa Pek Tuo tertegun, dengan cepat satu ingatan berkelebat
dalam benaknya, sambil tertawa ia lantas berkata :
"Baiklah, memandang dia wajah Lu-heng terpaksa aku harus
melakukannya."
Ia tepuk tangannya keras-keras, seorang pria baju hitam berjalan
masuk ke dalam, kepada orang itu Hoa Pek Tuo berkata :
"Segera lepaskan Hee Giong Lam dari kurungan!"
Sambil tersenyum pria itu mengangguk dan mengundurkan diri
dari situ.
Kong Yo Siok Peng yang selama ini bersembunyi di sudut
ruangan segera merasa hatinya jadi lega ketika mengetahui ayah
angkatnya tidak cedera, dengan suara gemetar serunya :
"In Hoei, mari kita bersama-sama tinggalkan tempat ini!"
"Tidak bisa," sahut Pek In Hoei sambil gelengkan kepala, "kau
dan ayah angkatmu harus cepat-cepat berlalu dari sini, setelah
kuselesaikan persengketaanku dengan sahabat-sahabat yang begini
banyak, aku akan segera menyusul dirimu, mungkin sebelum senja
hari nanti aku telah berhasil menyusul dirimu..."
"Tidak!" bantah Kong Yo Siok Peng dengan suara keras, "kalau
mau mati biarlah kita mati bersama!"
Pada saat ini gadis tersebut tidak merasa takut lagi, dengan wajah
basah oleh air mata ia meloncat ke sisi pemuda itu.
781
Saduran TJAN ID
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi amat gelisah
diam-diam sambil menggertak gigi ia membentak dengan penuh
kegusaran.
"Kalau kau tidak segera berlalu dari sini, jangan salahkan kalau
aku tak mau kenali dirimu lagi!"
Rupanya pemuda itu telah menyadari betapa bahayanya situasi
yang terbentang di depan mata dewasa itu, untuk mundur dari tempat
itu dalam keadaan selamat bukanlah suatu pekerjaan yang gampang,
oleh sebab itu untuk menghindari pengorbanan jiwa yang tak berguna
terpaksa pemuda itu harus keraskan hati dan mengusir Kong Yo Siok
Peng dari sana.
Gadis she Kong yo itu sendiri kontan merasakan hatinya tercekat
dan dingin bagaikan tercebur ke dalam liang es, dengan penuh
penderitaan ia menjerit lengking, teriaknya :
"In Hoei kau..."
Ucapan selanjutnya tak mampu diteruskan, sambil menutup
wajah sendiri gadis itu segera lari keluar dari ruangan tersebut.
Memandang bayangan punggungnya lenyap dari pandangan
mata, dengan sedih Pek In Hoei tundukkan kepalanya hampir saja ia
melelehkan air mata karena sedih, sambil menghela napas panjang
segera pikirnya :
"Siok Peng, maafkanlah daku, aku tidak seharusnya bersikap
demikian kasar kepadamu, Aaiii...! Adakah kau masih belum dapat
memahami perasaan hatiku?? Apa boleh buat, mau tak mau terpaksa
aku harus bersikap demikian demi kebaikanmu sendiri!"
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sebilah pisau, perlahanlahan
pemuda itu menyapu sekejap ke sekeliling ruangan, lalu serunya
dengan suara ketus.
"Ayoh, turun tanganlah, urusan di antara kita sudah sepantasnya
cepat-cepat diselesaikan..."
Dengan pandangan berat ditatapnya wajah para jago lihay yang
telah bersiap sedia di depan mata, pedang mestika penghancur sang
782
IMAM TANPA BAYANGAN II
surya diangkat tinggi di depan dada sementara segenap hawa
murninya dihimpun pada ujung senjata tersebut, keangkeran serta
kegagahannya yang melebihi seorang pendekar ulung itu membuat Lu
Kiat diam-diam merasa terkesiap, rasa pandang enteng musuhnya
seketika lenyap tak berbekas dari dalam ingatannya.
Sementara itu Golok Kilat Bu Sam sudah tak dapat menahan diri
lagi, sembari putar golok raksasanya di tengah udara ia berteriak keras
:
"Bangsat cilik, rasain dulu sebuah bacokan golokku!"
Jago lihay berkepala gundul yang sejak kecil mendapat pelajaran
langsung dari gereja siau lim si ini benar-benar luar biasa sekali,
goloknya diiringi deruan angin tajam laksana titiran hujan badai
membacok ke arah depan dengan dahsyatnya.
Setelah Bu Sam menunjukkan aksinya, Korlea dari Mongolia itu
juga tak dapat menahan diri lagi, ia loloskan pedangnya sambil
menerjang ke depan.
Rupanya jago dari Mongolia ini ingin sekali mendemonstrasikan
kelihayannya di hadapan Hoa Pek Tuo, serangan-serangan yang
dilancarkan amat gencar dan luar biasa sekali, seakan-akan dalam
sekali bacokan ia hendak binasakan lawannya di ujung senjata sendiri
karena itu serangan pedangnya bukan saja ganas bahkan keji dan
rapat.
Demikianlah bersama-sama bacokan golok dari Bu Sam mereka
pada saat yang berbareng membacok dari kiri serta kanan pinggang
musuh.
Namun Pek In Hoei cukup tangkas, sebelum serangan yang
dilancarkan ke-dua orang itu berhasil mengenai sasarannya tahu-tahu
ia sudah melayang pergi dari tempat semula.
Bu Sam meraung keras tatkala ia kehilangan sasarannya, sambil
putar badan goloknya laksana kilat kembali lancarkan sebuah bacokan
maut.
Teriaknya sambil tertawa seram :
783
Saduran TJAN ID
"Korlea, kau serang dari sisi sebelah kiri biar aku yang
menyerang dari samping kanan!"
Berada di bawah kerubutan dua orang jago yang maha lihay itu,
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei masih tetap maju mundur
sekehendak hatinya, bukan saja menyerang dan bertahan dilakukan
dengan sangat teratur, bahkan gerakan tubuhnya amat lincah sekali,
jurus-jurus pedang yang dilancarkan cepat laksana kilat hingga
membuat Lu Kiat yang menonton jalannya pertarungan itu dari sisi
kalangan dengan mata terbelalak dan mulut melongo, ia semakin
mengagumi akan kehebatan dari ilmu silat musuhnya ini.
Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau Lu Kiat yang diundang
datang untuk membantu pihaknya itu sama sekali tiada maksud untuk
turun tangan memberi bantuan, diam-diam ia merasa teramat gusar
namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, dengan
suara yang tenang dan wajah masih dihiasi senyuman katanya :
"Lu heng, aku harap kau segera menggabungkan diri dengan
mereka dan mulai turun tangan melancarkan serangan!"
Lu Kiat segera menampik, serunya sambil gelengkan kepalanya
berulang kali :
"Dengan jumlah yang banyak mengerubuti musuh dalam jumlah
sedikit, apalagi bertempur macam roda kereta yang bergilir seperti ini,
aku sebagai seorang murid keturunan keluarga yang besar tidak sudi
untuk melakukannya!"
"Tapi kesempatan baik seperti ini sukar didapatkan, lagi pula
sebentar lagi kesempatan ini akan lenyap tak berbekas, bila ini hari
kita gagal untuk melenyapkan bangsat cilik ini, sulitlah bagi orang Bu
lim untuk menandingi dirinya lagi bila sampai demikian..." makin
berseru Hoa Pek Tuo semakin gusar hingga akhirnya ia tertawa seram.
"Hmmm! Bisa dilawan atau tak bisa dilawan itu bukan urusanku,
maaf! Aku tak dapat menemani dirimu lebih jauh..."
Jago muda ini tidak malu disebut sebagai keturunan keluarga
yang besar, setelah menyaksikan perbuatan Hoa Pek Tuo yang tak
784
IMAM TANPA BAYANGAN II
tahu malu, bukan saja telah mengerahkan empat orang jago untuk
mengerubuti seseorang bahkan memancing musuhnya dengan cara
yang licik, timbullah rasa gusar dan muak dalam hati kecil Lu Kiat,
sambil tertawa dingin ia segera meloncat keluar dari ruangan tersebut.
"Aduuuh...! Belum lama Lu Kiat berlalu dari situ, sebuah tusukan
kilat yang dilancarkan Jago Pedang Berdarah Dingin bersarang telak
di tubuh Golok Kilat Bu Sam, sebuah lengannya seketika terpapas
putus jadi dua bagian, darah segar muncrat keluar menggenangi
seluruh permukaan tanah, karena kesakitan padri murtad dari gereja
siau lim si ini segera roboh tak sadarkan diri di atas tanah.
Hoa Pek Tuo semakin naik pitam menyaksikan peristiwa itu,
jeritnya keras-keras :
"Bila aku biarkan kau lolos dari sini dalam keadaan selamat, aku
bersumpah tak mau jadi manusia..."
Secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan berantai yang
mana dengan susah payah untuk sementara waktu berhasil
membendung jalan pergi dari Pek In Hoei.
Korlea yang menyaksikan ada kesempatan bagus baginya untuk
turun tangan, segera menerjang maju ke depan, pedangnya laksana
kilat lancarkan sebuah tusukan bokongan ke arah punggung lawan.
Pek In Hoei tertawa dingin, sambil putar pedangnya laksana kilat
menebas ke belakang bentaknya :
"Modar kau..."
Darah segar muncrat keluar bagaikan pancuran air, sungguh
kasihan Korlea yang masih berusia muda, belum sempat menjerit
kesakitan tahu-tahu jiwanya sudah melayang tinggalkan raganya.
Blaaam...! Pada saat itulah sebuah pukulan dahsyat dilancarkan
Hoa Pek Tuo secara diam-diam, Pek In Hoei tak sempat untuk
menghindarkan diri lagi, tubuhnya seakan-akan dihantam oleh sebuah
martil yang sangat berat segera bergetar beberapa kali dengan
kerasnya, hampir saja ia roboh terjengkang ke atas tanah.
785
Saduran TJAN ID
Tetapi pemuda itu tidak sampai roboh terjengkang ,dengan tubuh
yang tegak ia masih tetap berdiri gagah di tempat semula.
Hoa Pek Tuo jadi terkesiap hatinya melihat Pek In Hoei sama
sekali tak terluka oleh pukulan yang ia lancarkan, melihat sikap
lawannya yang begitu mengerikan, bahkan pedangnya telah diangkat
ke udara siap melancarkan serangan balasan pecahlah nyalinya, tanpa
mempedulikan keadaan di sekelilingnya lagi ia putar badan dan kabur
dari situ.
"Aaaah...!" belum lama bayangan tubuh Hoa Pek Tuo lenyap dari
pandangan Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei berseru
tertahan ia muntah darah segar lalu mundur ke belakang dengan
sempoyongan, akhirnya roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak
sadarkan diri.
********
Suara derap kaki kuda yang santer bergema memecahkan
kesunyian yang mencekam di seluruh jagad, seekor kuda berwarna
abu-abu dengan langkah yang tetap bergerak menuju ke arah benteng
keluarga Lu yang jauh terbentang di depan mata...
Memandang benteng Lu Kee cay yang sudah makin mendekat,
Lu Kiat merasa hatinya jadi amat lega, ia tarik napas panjang-panjang
lalu menepuk kepala kudanya sambil berbisik :
"Sahabat tua, sepanjang perjalanan kau pasti amat menderita
bukan?? Seandainya kau tidak lari dengan cepat mungkin paling cepat
besok siang kita baru akan tiba di rumah, waktu itu semuanya akan
jadi terlambat..."
Ia memandang sekejap Pek In Hoei yang jatuh tak sadarkan diri
dalam pelukannya, senyuman lega menghiasi bibirnya, sambil tertawa
gumamnya seorang diri :
"Nasibmu terlalu baik, bila satu jam lebih lambat aku tiba di sana
mungkin kau telah menyusul arwah jago muda dari Mongolia itu
786
IMAM TANPA BAYANGAN II
menuju ke alam baka, untuk selamanya tak akan bisa memandang
dunia yang indah ini lagi..."
Ia sendiri pun tak tahu mengapa dia bisa menaruh perhatian yang
khusus tentang mati hidup seorang jago yang masih asing baginya,
bahkan suatu ketika orang ini pernah dipandangnya sebagai musuh
yang hendak dilenyapkan, tapi sekarang bukan saja ia tak jadi
membunuh dirinya alahan menyelamatkan jiwanya dari ancaman
bahaya maut. Peristiwa semacam ini bagi Lu Kiat yang namanya
sudah tersohor di seluruh kolong langit boleh dibilang merupakan
suatu kejadian yang luar biasa...
Derap kaki kuda bergema memecahkan kesunyian dan mengetuk
dalam-dalam di hati kecilnya, dengan alis berkerut Lu Kiat
memandang sekejap awan yang kelabu kemudian berpikir di dalam
hati :
"Apa yang harus kukatakan setibanya di rumah?? Ayah dan ibu
pasti akan menanyakan asal usul dari Pek In Hoei, bila kukatakan dia
adalah sahabatku, ayah serta ibu pasti akan menegur diriku karena aku
membawa orang asing pulang ke rumah... Ayah dan ibu paling benci
melihat orang lain yang tak dikenal oleh mereka berkunjung ke
rumah... lalu apa yang mesti kukatakan...??"
Baru saja ingatan itu berkelebat lewat dari dalam benaknya,
pohon kecil di depan rumahnya telah nampak di depan mata, di
belakang pohon itu adalah sebuah bukit kecil, meskipun bukit itu
tidak angker tapi rumahnya didirikan tetap di bawah kaki bukit
tersebut, berhubung mereka semua dari keluarga Lu maka orangorang
menyebut tempat itu sebagai Lu kee cay benteng keluarga Lu.
"Oooh... Lu kongcu telah pulang?" pelayan tuanya A-Hok yang
berdiri di bawah pohon berteriak kegirangan, dengan langkah lebar
orang tua itu segera lari masuk ke dalam rumah untuk mewartakan
kedatangannya.
787
Saduran TJAN ID
Bagian 34
SETELAH melewati sebuah jembatan kecil, akhirnya tibalah pemuda
itu di depan pintu rumahnya, dua orang pria baju hitam dengan sikap
yang tegap berdiri di depan pintu, Lu Kiat segera membopong Pek In
Hoei dan loncat turun dari kudanya, lalu serahkan binatang itu pada
dua orang pria tadi.
Sebelum pemuda itu melangkah masuk ke ruang, seorang nona
cilik dengan mata yang jeli dan pipi yang merah dengan rambut
dikepang dua lari menyongsong kedatangannya.
"Toako, apa yang hendak kau lakukan??" terdengar gadis cilik itu
menegur dengan nada tercengang, "Kau toh sudah tahu bahwa ayah
serta ibu paling benci melihat orang asing? Kenapa kau pulang dengan
membopong pria ini? Apa kau tidak takut dicaci maki oleh ayah dan
ibu..."
"Adikku, orang ini sudah terkena pukulan beracun, jiwanya
terancam bahaya dan kemungkinan besar bakal menemui ajalnya,"
kata Lu Kiat sambil tertawa getir, "Aku sebagai sahabat karibnya
masa tega melihat ia mati tanpa ditolong..."
"Waaah kalau begitu keadaannya maka lebih sulit lagi," ujar
gadis cilik itu sambil tertawa ringan, "obat penawar racun dari
keluarga Lu kita selamanya tidak bisa dibagi-bagikan untuk orang
luar, bila kau berani masuk ke rumah dengan tingkah laku yang
demikian gegabah, kemungkinan besar kau bakal dimaki habishabisan..."
"Aku tak mau ambil peduli urusan yang tak berguna seperti itu,"
kata Lu Kiat sambil gelengkan kepalanya, "keselamatan jiwa orang
ini terancam mara bahaya, bila aku tak berhasil menyelamatkan
dirinya dari cengkeraman elmaut, bukankah sia-sia belaka aku hidup
di kolong langit sebagai manusia..."
Gadis cilik ini bukan lain adalah Lu Siau Hun adik kandung Lu
Kiat yang paling dimanja oleh orang tua mereka, ketika melihat
788
IMAM TANPA BAYANGAN II
kakaknya bersikeras hendak membawa masuk Pek In Hoei ke dalam
ruangan, ia segera perlihatkan muka setan sambil berseru :
"Kalau memang begitu masuklah untuk beradu nasib, aku sih tak
mau mencampuri urusanmu!"
Lu Kiat melanjutkan kembali perjalanannya masuk ke dalam
ruangan, setelah melewati sebuah serambi panjang sampailah dia di
sebuah ruangan yang amat besar, seorang perempuan tua yang
rambutnya telah beruban semua berdiri di depan pintu dengan wajah
serius, ketika melihat pemuda itu melangkah masuk ke dalam
ruangan, ia segera menegur :
"Anak Kiat kenapa kau telah melupakan peraturan keluarga..."
"Mak inang, di mana ibuku?? Dapatkah undang dia orang tua
keluar..." seru Lu Kiat cepat.
Pelayan tua yang sejak kecil sudah merawat Lu Kiat bagaikan
putranya sendiri ini diam-diam menghela napas setelah menyaksikan
sikapnya yang gugup, setelah termenung sebentar akhirnya ia berkata
:
"Baiklah, akan kuundang majikan untuk keluar..."
Lama sudah perempuan tua itu masuk ke dalam namun belum
juga muncul kembali, lama kelamaan Lu Kiat tak kuasa menahan diri,
hampir saja ia hendak menerobos masuk sendiri ke dalam ruangan.
Ketika ia sedang membaringkan tubuh Pek In Hoei di atas sebuah
kursi, suara langkah kaki berkumandang datang, ketika pemuda itu
berpaling tampaklah ibunya di bawah iringan dua orang dayang kecil
perlahan-lahan munculkan diri dari balik pintu.
Perempuan berusia setengah baya itu mempunyai dandanan yang
sangat agung dengan pandangan mata yang tajam.
Lu Kiat buru-buru maju memberi hormat sambil sapanya :
"Ibu!"
Lu Hujin mendengus dingin, ia melirik sekejap Pek In Hoei yang
jatuh tak sadarkan diri itu, kemudian menegur :
"Siapakah orang itu?"
789
Saduran TJAN ID
"Dia adalah sahabat karibku, meskipun baru pertama kali kita
saling bertemu tetapi sikapnya yang gagah dan jujur tidak mirip
kawanan sesat ini membuat aku jadi kagum kepadanya, lagi pula di
dalam dunia persilatan orang ini mempunyai nama besar yang amat
disegani orang!"
"Hmmm! Aku sedang tanya siapakah dia? Berasal dari perguruan
mana?" seru Lu Hujin dengan suara ketus, "Anak Kiat mengapa kau
begitu tak tahu diri? Kita keluarga Lu sengaja hidup mengasingkan
diri di tempat ini bukanlah tidak lain karena ingin menghindari
berhubungan dengan orang Bu lim? Apakah kau tak tahu kesusahan
serta penderitaan ibumu selama banyak tahun? Sekarang aku harap
kau segera juga menghantar ia keluar dari tempat ini..."
"Ibu! Hal ini mana boleh jadi?" seru Lu Kiat dengan hati cemas,
"Jiwanya sedang terancam mara bahaya dan sebentar lagi mungkin
saja jiwanya bakal melayang, kita keluarga Lu toh suatu keluarga
yang hidup berdasarkan peri kemanusiaan, kenapa kita tak mau
ulurkan tangan menolong orang yang sudah hampir mati ini..."
"Hmmm! Kau hanya tahu bertindak sebagai seorang pendekar,
menolong yang lemah menindas yang kuat, tapi kau tak memahami
liciknya hati manusia dalam dunia persilatan, kau tak kenal kebuasan
serta kekejaman hati manusia... terhadap asal usul dari orang ini toh
kau tidak tahu sama sekali? Kenapa kau tolong dirinya? Siapa tahu
kalau orang ini adalah mata-mata yang sengaja dikirim pihak lawan
untuk menyusup ke dalam keluarga kita..."
"Tentang soal itu ibu boleh berlega hati," sahut Lu Kiat sambil
menggeleng, "kali ini aku mendapat undangan dari Hoa Pek Tuo
ketua perkampungan Thay Bie San cung untuk bersama-sama
menghadapi seorang jago lihay dari kalangan hitam, semula aku
terpikat oleh pancingannya yang manis dan memikat hati itu sehingga
hampir saja aku hendak bergebrak melawan saudara ini, kemudian
aku segera merasakan bahwa Jago Pedang Berdarah Dingin
mempunyai wajah yang gagah dan sedikit pun tidak mirip orang jahat,
790
IMAM TANPA BAYANGAN II
sampai di tengah jalan aku segera menghindarkan diri dari kalangan
pertarungan... tak tahunya dalam pertempuran tersebut saudara ini
telah kena dihantam oleh Hoa Pek Tuo hingga terluka parah..."
"Apa?? kau bergaul dengan Hoa Pek Tuo?" seru Hujin dengan
wajah berubah hebat.
Lu Kiat tertegun lalu menjawab:
"Aku sama sekali tidak mempunyai ikatan persahabatan dengan
dirinya, aku tidak lebih hanya kenal saja?"
"Hmmmm! Makin lama kau semakin tak becus!" maki Lu Hujin
sambil mendengus, "tahukah kau bahwa Hoa Pek Tuo adalah seorang
manusia licik yang berhati keji? selamanya ia bunuh orang tanpa
kelihatan darah mengalir, sudah banyak tahun ia bikin keonaran di
dalam dunia persilatan, dengan aku pun pernah terjadi bentrokan yang
sengit, sungguh tak nyana kau bisa bergaul dengan manusia macam
itu, ditinjau dari sini aku bisa menarik kesimpulan bahwa selama
banyak tahun berkelana di dalam dunia persilatan, kau pasti tidak
memiliki pamor yang baik. Aaai...! aku tak pernah menyangka kalau
dari keluarga Lu kita bakal muncul seorang keturunan yang tolol dan
tak berguna macam dirimu itu."
"Ibu!" teriak Lu Kiat dengan wajah berubah hebat karena
ketakutan, "Aku mengaku salah, lain kali aku pasti tak akan
berhubungan dan bergaul dengan manusia semacam ini."
Air muka Lu Hujin perlahan-lahan berubah jadi lunak kembali,
sambil menghela napas panjang katanya:
"Kalau kau sudah mengerti salah itulah bagus sekali kau mesti
tahu banyak jebakan yang terdapat di dalam dunia persilatan, asal
kurang berhati-hati bertindak niscaya akan terjerumus ke dalam siasat
licik orang lain. Nah sekarang urusan sudah jadi jelas, hantarlah
dahulu orang ini keluar dari perkampungan, ibu akan menantikan
dirimu disini!"
Lu Kiat tertawa getir.
791
Saduran TJAN ID
"Ibu, sekalipun kita tak dapat menahan dirinya untuk berdiam
disini, sedikit banyak kita pun tak dapat menghantar dia keluar dari
kampung dalam keadaan begini, ananda tiada permintaan lain kecuali
berikanlah orang ini sebutir pil pemunah racun, setelah orang ini sadar
kembali dari pingsannya aku pasti akan menghantar dia keluar dari
Sini!"
"Oooh.... hal ini semakin tak dapat kita lakukan," kata Lu Hujin
sambil menggeleng lagi," obat mujarab dari keluarga Lu kita sejak
dahulu kala hingga kini selamanya tak pernah dihadiahkan untuk
orang luar, orang ini toh tiada hubungan sanak atau keluarga dengan
dirimu, mana boleh kau obati orang lain secara sembarangan dengan
obat mujarab tersebut..."
"Tapi Pek In Hoei toh bukan orang luar... " seru Lu Kiat amat
gelisah.
"Air muka Lu Hujin berubah hebat, seakan-akan dadanya
terhantam oleh martil yang amat berat tiba-tiba sekujur tubuhnya
gemetar keras dan ia berdiri menjublak di tempat semula tanpa
berkata-kata.
Menyaksikan keadaan dari ibunya itu Lu Kiat mengira
perkataannya telah melukai hati ibunya, karena ketakutan tubuhnya
jadi gemetar keras, dengan ketakutan segera serunya:
"Ibu! Ananda tahu salah, aku tidak seharus membuat ibu jadi
demikian gusarnya..."
Namun Lu Hujin tetap berdiri kaku seolah-olah ia tak mendengar
sama sekali terhadap ucapan dari putranya itu, dengan bibir yang
putih tak berdarah gumamnya seorang diri:
"Angin taupan berhembus kencang awan putih terbang di
angkasa..." dengan suara gemetar ia bertanya:
"Anak Kiat apakah dia she Pek??"
"Sedikit pun tak salah, julukannya adalah Jago Pedang Berdarah
Dingin namanya adalah Pek In Hoei!"
792
IMAM TANPA BAYANGAN II
Lu Hujin berdiri termangu-mangu sambil memandang tempat
kejauhan tanpa berkedip di depan pandangan seakan-akan terlintas
suatu pemandangan yang aneh, lama sekali ia baru bergumam lagi:
"Mungkinkah kesemuanya ini sungguh-sungguh terjadi??"
Ketika ia menyadari akan sikapnya yang salah itu air mata telah
mengembang di ujung kelopak matanya buru-buru ia hapus air mata
yang menetes membasahi pipinya, lalu kepada yang kecil yang berdiri
di sisinya ia berkata:
"Siao Ing, ambillah kotak obatku dan bawalah kemari!"
"Ibu kau hendak menolong jiwanya??" seru Lu Kiat dengan nada
tertegun.
"Benar aku harus menyelamatkan jiwa orang ini," jawab Lu hujin
dengan sedih, "sebab ia mempunyai hubungan yang erat sekali
dengan keluarga kita!"
"Ibu, aku tidak mengerti akan perkataanmu itu!"
Lu Hujin tertawa getir.
"Sekarang mungkin kau tak akan mengerti, di kemudian hari
suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya..."
Tidak selang beberapa saat kemudian ke-dua orang dara yang
cilik itu telah balik kembali sambil membawa sebuah kotak obat yang
mungil dan indah sekali bentuknya. Lu Hujin segera membuka
penutup kotak tadi dan ambil keluar sebutir pil berwarna merah darah
kemudian dijejalkan ke dalam mulut Pek In Hoei. Setelah itu dengan
sikap yang tegang ia memeriksa keadaan luka yang diderita si anak
muda itu, helaan napas panjang berkumandang memecahkan
kesunyian yang mencekam sekitar tempat itu.
"Ibu apakah dia masih ada harapan untuk selamat??" bisik Lu
Kiat dengan suara yang amat lirih.
"Ehmmm... ! Ilmu pukulan Jit-tok-ciang yang dipelajari Hoa pek
Tuo belum berhasil dikuasai sepenuhnya, sehingga dalam serangan
yang ia lancarkan itu belum berhasil memaksa racun pukulannya
menyusup ke dalam urat nadinya, oleh karena itulah daya kerjanya
793
Saduran TJAN ID
agak terlambat, sedang dalam pengobatan pun kita tak usah
membuang tenaga terlalu banyak. Untung Pil penolak racun dari
keluarga Lu kita adalah nomor satu di kolong langit, seandainya tiada
bantuan dari obat mujarab ini niscaya ia bakal jadi cacad untuk
selamanya."
"Ooooh.....! Waktu itu aku merasa muak dan tak senang hati
karena Hoa Pek Tuo hendak mencari kemenangan dengan andalkan
jumlahnya yang amat banyak, diam-diam aku menyusup masuk
kembali ke istana bawah tanah dan menolong dirinya keluar dari situ,
mungkin Hoa Pek Tuo mengira dia sudah mati, kalau tidak tak
mungkin bajingan tua itu akan membiarkan dirinya tetap berbaring di
situ."
"Tahukah kau Pek In Hoei berasal dari mana??" tanya Lu Hujin
kemudian dengan suara hambar.
Lu Kiat tertawa:
"Anak murid partai Thiam cong, hanya dia seorang yang berani
berkelana di dalam dunia persilatan, menurut berita yang sempat
kudengar katanya di dalam pertemuannya dengan para jago lihay dari
pelbagai partai besar yang ada di wilayah selatan, ia berhasil
membangun kembali partai Thiam-congnya yang telah runtuh
sehingga dihormati dan disegani orang lagi, karena itulah nama besar
jago pedang berdarah dingin dianggap sebagai jago pedang nomor
dua di kolong langit setelah urutan nama besar dari Cia Ceng Gak..."
"Jago pedang nomor dua?" seru Lu Hujin dengan nada bangga,
"tidak aneh kalau Hoa Pek Tuo terpaksa harus mengumpulkan jago
lihay yang begitu banyaknya untuk bersama-sama menghadapi
dirinya, rupanya ia takut meninggalkan bibit bencana baginya di
kemudian hari. Aaai . . . tetapi dalam kenyataan ia memang seorang
jago berbakat aneh yang jarang sekali ditemui dalam kolong langit..."
Dengan penuh kasih sayang dan rasa kasihan, Lu Hujin melirik
sekejap ke arah Pek In Hoei, nampaklah ketika itu ia telah
menggerakkan tubuh dan perlahan-lahan membuka matanya kembali.
794
IMAM TANPA BAYANGAN II
Melihat Lu Kiat berdiri berdampingan dengan seorang
perempuan setengah baya yang berwajah ramah di hadapan mukanya
Pek In Hoei yang baru saja mendusin dari pingsannya kelihatan agak
tertegun kemudian sambil bangkit untuk duduk tegurnya:
"Lu-heng di manakah ini?"
"Pek-heng, harap jangan sembarangan bergerak dulu," seru Lu
Kiat sambil membimbing tubuhnya, tempat ini adalah rumahku,
memandang kau sebagai sesama sahabat Bu-lim, ibuku telah
menghadiahkan sebutir pil penolak racun kepadamu... di tempat ini
kau dapat beristirahat dengan tenang sambil merawat lukamu itu..."
"Ooooh... terima kasih atas budi kebaikan Lu-heng serta Lu
Hujin..."
Lu Hujin tetap membungkam dalam seribu bahasa, biji matanya
memancarkan serentetan cahaya yang sangat aneh, ia menatap wajah
jago pedang berdarah dingin tanpa berkedip, ia merasa bocah itu
banyak kemiripannya dengan Pek Tiang Hong, kegagahannya mirip
sekali dengan bapaknya di kala masih muda.
"Nak, apakah ibumu masih hidup dalam keadaan sehat
walafiat?..." tegurnya dengan suara terharu...
Jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei berdiri tertegun, ia tak
mengira kalau Lu Hujin bakal mengajukan pertanyaan seperti itu,
sejak ia tahu urusan belum pernah pemuda itu bertemu dengan ibu
kandungnya karena itu setelah menginjak dewasa dalam benaknya
belum pernah terlintas bayangan mengenai ibunya, hatinya jadi sedih
dan luka yang pernah membekas dalam sanubari sewaktu kecil segera
muncul kembali...
Ia pernah bertanya kepada ayahnya kemana perginya ibu yang
tercinta, setiap kali ia ajukan pertanyaan itu Pek Tiang Hong selalu
menunjukkan sikap serba salah, bila terdesak hingga kehabisan akal
setiap kali ayahnya berkata bahwa ibunya mati sewaktu melahirkan
dirinya...
795
Saduran TJAN ID
Air mata tanpa terasa jatuh berlinang membasahi pipi Pek In
Hoei, katanya dengan nada sedih :
"Ibuku telah meninggal dunia..."
"Ayahmukah yang memberitahukan berita tersebut kepadamu?"
seru Lu hujin dengan badan gemetar keras.
Pek In Hoei tertegun, setelah termenung sejenak katanya:
"Cianpwee, rupanya banyak urusan tentang keluarga Pek kami
yang kau ketahui?"
"Aaai... nak, aku dengan ayah ibumu adalah sahabat karib, semua
kejadian yang menimpa keluargamu sebagian besar kuketahui dengan
jelas... tahukah kau bahwa ibumu masih hidup dalam keadaan sehat
walafiat di kolong langit..."
"Apa?" jerit Pek In Hoei dengan nada terperanjat, "ibuku masih
hidup di kolong langit???"
Kabar ini munculnya terlalu tiba-tiba membuat Pek In Hoei
hampir saja tidak percaya bahwa apa yang didengar merupakan suatu
kenyataan, dengan pandangan bimbang ia awasi wajah Lu Hujin,
bibirnya bergetar keras namun tak sepatah kata pun yang mampu
diucapkan keluar.
Lama... lama sekali ia baru bertanya dengan suara gemetar:
"Dimana cianpwee, katakanlah kepadaku sekarang ibuku berada
di mana?"
"Nak, sebenarnya aku tak pantas memberitahukan persoalan ini
kepadamu..." ujar Lu hujin sambil menggeleng, "tetapi persoalan itu
sudah belasan tahun lamanya mengganjal dalam hatiku, kalau tidak
kukatakan rahasia tersebut aku merasa amat berdosa dengan ibumu..."
"Cianpwee, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa ayahku
belum pernah memberitahukan soal ini kepadaku???"
Lu hujin menghela napas panjang, ia seakan-akan sedang
mengenang kembali peristiwa yang telah lampau... kemudian sambil
membereskan rambutnya yang kusut ia berkata :
796
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Peristiwa ini harus diceritakan sejak ayahmu kawin dengan
ibumu, setelah menikah orang tuamu hidup dalam suasana yang
penuh bahagia, mereka saling cinta mencintai satu sama lainnya,
membuat hingga banyak pasangan muda merasa iri, mungkin thian
memang ada maksud untuk membubarkan hubungan mereka berdua
kendati sudah kawin tiga tahun tetapi ibumu masih belum juga
mengandung, ketika itu ibumu telah mengunjungi banyak tabib
kenamaan untuk peroleh pengobatan, ia berusaha untuk mendapat
tahu penyakit apakah yang sedang diderita, setelah mendapat
pemeriksaan dari beberapa orang tabib sakti akhirnya barulah
diketahui bahwa ibumu mandul, ia tak mungkin bisa melahirkan anak
untuk selamanya..."
"Mandul? Tak bisa punya anak?" tanya Pek In Hoei tercengang,
"kalau ibuku tak dapat melahirkan anak, lalu bagaimana mungkin aku
bisa dilahirkan..."
Lu Hujin melirik sekejap ke arahnya, lalu menjawab :
"Urusan ini hanya diketahui oleh ibumu seorang, ia terlalu
mencintai ayahmu dan ia tak tega menyaksikan ayahmu menderita
siksaan batin karena tak punya anak, seringkali ia berusaha keras
untuk memancing kegembiraan dari ayahmu... ketika itu Pek Tiang
Hong masih belum tahu kalau istri kesayangannya tak mungkin bisa
melahirkan lagi, dalam hati kecilnya masih terlintas satu harapan,
mungkin harapan yang muncul dalam hati kecilnya terlalu besar maka
akibatnya pukulan batin yang dirasakan olehnya amat berat pula..."
Ia berhenti sejenak, kemudian terusnya :
"Ketika ibumu melihat Pek Tiang Hong sangat berharap bisa
mempunyai anak, ia jadi tak berani mengatakan bahwa dirinya
mandul dan tak mungkin bisa punya anak lagi, dalam keadaan hati
yang tertekan akhirnya ia berhasil menemukan satu akal bagus, ia
pura-pura berlagak seakan-akan dirinya sedang mengandung, waktu
itu ayahmu benar-benar nampak kegirangan, setiap hari ia selalu
muncul dengan wajah berseri-seri... mimpi pun ia tak pernah
797
Saduran TJAN ID
menyangka kalau ada seseorang yang secara sembunyi-sembunyi
merasa sedih hati, orang yang patut dikasihani itu bukan lain adalah
ibumu, ia menyadari bahwa rahasia ini tak bisa dikelabui terlalu
lama... dalam keadaan pusing kepala akhirnya ia mengusulkan kepada
ayahmu untuk hidup berpisah, alasannya ibumu takut kandungannya
goncang hingga mengalami keguguran, Pek Tiang Hong yang sangat
berharap bisa mendapat putra tentu saja segera menyanggupi
permintaannya itu..."
"Ibu!" sela Lu Kiat dengan nada tak mengerti, "persoalan apa pun
bisa dipalsukan, tetapi urusan punya anak tak mungkin bisa
dipalsukan, seandainya sudah sampai waktunya dan ia belum berhasil
juga melahirkan anak, bukankah waktu itu..."
"Perkataanmu sedikit pun tidak salah," kata Lu Hujin sambil
menghela napas panjang, "dalam sedih dan murungnya adikku itu
segera berangkat kemari menggunakan kesempatan di kala Pek Tiang
Hong sedang kembali ke dalam perguruannya, diam-diam mengajak
aku merundingkan persoalan ini serta berusaha untuk mencari jalan
keluar untuk memecahkan kesulitan ini, sungguh kebetulan sekali di
tempat ini ada seorang perempuan sedang mengandung tua, karena
anaknya sudah terlalu banyak dan kehidupannya amat sengsara ia rela
menyerahkan putra yang bakal dilahirkan itu kepada orang lain!"
Berbicara sampai di sini ia berhenti sebentar dan melirik ke arah
Pek In Hoei, lalu terusnya :
"Untuk memenuhi dari ayahmu itu maka ibumu lantas mengajak
perempuan itu untuk berunding, ia berharap setelah anak itu
dilahirkan se era dikirim ke rumah Pek. Tentu saja perempuan itu
menyanggupi dengan senang hati, lewat tiga bulan kemudian
perempuan itu benar-benar telah melahirkan seorang anak lelaki dan
bayi itu segera diserahkan kepada ibumu. Maka ibumu pun segera
berpura-pura melahirkan, ternyata sandiwaranya itu berhasil
mengelabui ayahmu, waktu itu Pek Tiang Hong segera mengadakan
798
IMAM TANPA BAYANGAN II
perjamuan besar untuk merayakan kejadian yang maha besar itu
bahkan memberi pula nama Pek In Hoei kepada bayi lelaki tadi!"
"Aah...! Jadi bocah lelaki itu adalah aku?" seru Pek In Hoei
tertahan.
"Sedikit pun tidak salah!" jawab Lu Hujin sambil tertawa getir,
"bila kau akan merasa pula bahwa siksaan batin yang terberat bagi
seorang perempuan adalah kemandulan yang membuat ia tak dapat
melahirkan anak, penderitaan semacam ini tak dapat dirasakan oleh
siapa pun juga..."
"Sebenarnya rahasia ini tak diketahui oleh siapa pun jua, ibumu
mengira perbuatannya sanggup mengelabui ayahmu untuk
selamanya, siapa sangka bencana muncul dari langit, sepatah katakata
yang muncul tanpa sengaja membuat mereka berdua jadi cekcok
sehingga akhirnya terjadilah persoalan ini..."
"Aaaah... kenapa? Apakah Pek Tiang Hong mengetahui akan
rahasia ini??" seru Lu Kiat tertahan.
"Tidak, sebenarnya Pek Tiang Hong tak tahu akan rahasia ini,
suatu malam ketika sepasang suami istri itu sedang bercakap-cakap di
dalam kebun bunga, adikku itu merasa bahwa perbuatannya amat
tidak pantas, ia anggap di antara suami istri seharusnya tak boleh ada
urusan yang saling merahasiakan, akhirnya ia pun lantas
menceritakan duduk perkara yang sebenarnya, setelah Pek Tiang
Hong mengetahui akan peristiwa ini hawa amarahnya seketika
berkobar, malam itu juga terjadi percekcokan yang sangat ramai
membuat adikku itu akhirnya meninggalkan rumah dan untuk
selamanya tidak kembali lagi..."
Pek In Hoei berdiri menjublak mendengar kisah cerita tersebut,
bagaikan disambar petir di siang bolong ia berdiri menjublak tanpa
berkutik barang sedikit pun jua, air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya, ia tak berani mempercayai kejadian itu, ia pun tidak percaya
kalau asal usulnya begitu rumit dan di luar dugaan, tetapi kenyataan
sudah di depan mata, tak mungkin Lu Hujin menceritakan kisah
799
Saduran TJAN ID
tersebut tanpa didasari alasan yang kuat, maka kendati ia tak mau
percaya pun terpaksa harus mempercayainya juga.
"Sekarang ibuku berada di mana?" bisik Pek In Hoei sambil
menahan air mata yang jatuh bercucuran.
"Setelah ibumu berlalu dalam kesedihan, ia cuku rambut jadi
nikouw dan akan mengasingkan diri dari pergaulan dunia ramai, Pek
Tiang Hong jadi menyesal hati setelah mengetahui kejadian ini, ia
merasa tidak sepantasnya persoalan kecil yang sama sekali tak ada
artinya itu diurusi, maka pada malam itu juga ia berangkat mencari
ibumu, tetapi ibumu keburu sudah ditangkap pergi oleh seorang
musuh besar dari ayahmu, sejak peristiwa itulah hingga kini kabar
beritanya lenyap tak berbekas..."
"Siapakah orang itu?" tanya Pek In Hoei dengan hati bergetar
keras.
Lu Hujin tertawa getir.
"Setelah aku melakukan penyelidikan yang seksama selama
banyak tahun dengan susah payah perbuatan itu ternyata adalah hasil
perbuatan dari pemilik Kiam poo, berhubung tingkah laku orangorang
benteng pedang di dalam melakukan tugasnya sangat rahasia
dan jarang sekali berhubungan dengan orang-orang kangouw maka
jarang sekali jago Bu lim yang mengetahui tentang manusia pemilik
dari benteng Kiam poo ini, sebaliknya aku meski ada niat pergi
menolong jiwa ibumu, sayang sekali tenagaku masih tak cukup untuk
bertindak secara gegabah... maka aku pun terpaksa membungkam
diri..."
"Benteng Kiam poo...! benteng Kiam poo..." bisik Lu Kiat
dengan wajah tertegun, "rasanya aku pernah mendengar akan nama
ini... tapi kapan? Dan di mana????"
"Lu heng!" seru Pek In Hoei dengan penuh emosi, "tolong
selidikilah di mana letaknya benteng Kiam poo itu? Aku ingin
menolong ibuku dalam waktu yang sesingkat-singkatnya... aku rasa
dia orang tua sudah cukup lama hidup dalam kesengsaraan..."
800
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Nak kau tak boleh bertindak secara gegabah," hibur Lu Hujin
sambil gelengkan kepalanya berulang kali, "orang-orang di dalam
benteng Kiam poo memiliki rangkaian ilmu silat yang sangat lihay
dan ampuh sekali, meskipun Pek Tiang Hong memiliki keberanian
yang luar biasa pun hampir boleh dibilang ia tak berani menyerbu ke
dalam benteng secara gegabah, aku lihat lebih baik nantikanlah
hingga kesempatan yang sangat baik telah tiba!"
"Oooh... apakah ayahku tidak tahu kalau ibuku berada di dalam
benteng Kiam poo?"
Lu hujin menghela napas panjang.
"Aaai... kabar berita ini pernah tersiar ke dalam telinganya, tetapi
ia tak punya jalan yang baik untuk membuktikan kebenaran dari berita
tersebut, berhubung ilmu silat yang dimiliki pihak lawan terlalu lihay,
maka Pek Tiang Hong sendiri pun tak berani menerjang masuk ke
dalam benteng yang serba misterius itu secara gegabah."
Sorot matanya dengan tajam menatap pemuda itu, setelah
berhenti sebentar, tanyanya kembali:
"Apakah ayahmu masih hidup dengan sehat walafiat?"
Sekujur tubuh Pek In Hoei gemetar keras, dalam benaknya
terlintas kembali bayangan pemandangan di kala ayahnya mati secara
mengerikan di puncak gunung Cing-shia, ia menggenggam
kepalannya kencang-kencang kemudian sahutnya dengan sedih:
"Ayahku teluh meninggal dunia."
"Apa?" jerit Lu Hujin terperanjat, "ayahmu telah menemui
ajalnya?"
Sorot mata berapi-api memancar keluar dari balik mata jago
pedang berdarah dingin Pek In Hoei, titik air mata jatuh berlinang
membasahi pipinya, dengan penuh kepedihan ia merintih :
"Benar ayahku telah menemui ajalnya."
Lu Hujin menghela napas sedih, rasa pedih muncul dalam hati
kecilnya, setelah termangu-mangu sesaat lamanya ia berbisik:
801
Saduran TJAN ID
"Kejadian di dalam kolong langit memang sukar untuk diduga,
sungguh tak nyana seorang jago lihay yaug tersohor namanya di
kolong langit demikian cepatnya telah tutup usia, aaai... nak ilmu silat
yang dimiliki Pek Tiang Hong merupakan intisari dari pelajaran ilmu
silat partai Thiam cong tak mungkin ia tutup usia tanpa suatu
peristiwa..... "
"Aaaaai..." suara elahan napas berat bergema memenuhi seluruh
ruangan; dengan sedih Pek In Hoei mengangguk, "benar ayahku telah
dikerubuti banyak orang sewaktu ada di puncak gunung Cing-shia, ia
mati karena tak mampu menghadapi kerubutan orang yang jumlahnya
amat banyak."
"Oooh, apakah kau sudah selidiki siapa-siapa saja yang terlibat
dalam pengeroyokan itu ?"
Pek In Hoei menggeleng.
"Meskipun boanpwe berhasil merebut nama kosong di dalam
dunia persilatan tetapi terhadap teka teki yang menyelimuti soal
kematian ayahku hingga kini masih belum juga menemukan suatu
pertanda apa pun, kejadian ini kalau dibicarakan memang
menyedihkan, tetapi cara kerja yang dilakukan orang-orang itu amat
bersih dan rapi ternyata tiada jejak barang sedikit pun yang
tertinggal...."
"Hmmm !" Aku sih bisa menduga perbuatan siapakah itu..." seru
Lu Hujin sambil mendengus dingin.
"Siapa?" dengan emosi yang meluap-luap Pek In Hoei mencekal
lengan perempuan itu erat-erat, "cianpwe, beritahukanlah kepadaku
perbuatan siapakah itu ?"
Dengan pandangan dalam Lu Hujin menatap sekejap wajah
pemuda itu... kemudian menjawab dengan suara sedih:
"Benteng Kiam po, pastilah perbuatan dari mereka... In Hoee!
Ditinjau dari peristiwa ini kau harus melakukan suatu kunjungan ke
Benteng Kiam-poo, temukan dahulu ibumu... aku percaya dia pasti
802
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengetahui akan persoalan ini... Nak ! Perlihatkanlah keberanianmu
untuk menghadapi kenyataan yang terbentang di depan mata."
"Aku tak peduli pukulan batin macam apa pun aku tetap akan
pergi ke sana."
"Nak! Sekarang pergilah beristirahat sejenak menanti lukamu
telah sembuh, berangkatlah mengunjungi Benteng Kiam-poo !"
"Baik... baik..." jawab jago pedang berdarah dingin dengan bibir
gemetar.
Dengan suara berat ia menghela napas panjang lalu geleng kepala
dengan penuh kepedihan, perlahan-lahan ia putar badan dan bergeser
dari situ... di bawah bimbingan seorang dayang berlalulah pemuda itu
dari ruangan tersebut.
Hanya di dalam beberapa menit yang singkat, jago muda yang
penuh kegagahan ini secara mendadak telah berubah jadi makin tua,
perasaan membuat ia jauh lebih loyo dan lunglai.
"lbu !" ujar Lu Kiat kemudian setelah bayangan punggung
Pek In Hoei lenyap dari pandangan, "dari mana kau bisa tahu
duduknya perkara demikian jelas ?"
Lu Hujin tak dapat membendung rasa sedihnya lagi dan menangis
tersedu-sedu, "Nak, akulah perempuan yang telah melahirkan
dirinya... Akulah ibu kandungnya," ujar nyonya iiu dengan suara
gemetar, "Anak Kiat, apakah kau masih belum tahu bahwa Pek In
Hoei sebetulnya adalah saudara kandungmu sendiri? Aaai...! Nak apa
yang harus kulakukan dalam persoalan ini !"
Dengan air mata bercucuran Lu Hujin mengangguk.
"Sekarang kau tentu sudah paham bukan? Setelah ia dilahirkan di
kolong langit maka aku memberi nama Pek In Hoei, sengaja
kucantumkan kata In agar aku selalu ingat padanya, tentang peristiwa
ini ayahmu mengetahui dengan jelas."
"Ibu kalau begitu sepantasnya kau beritahukan hal ini
kepadanya!" seru Lu Kiat dengan nada tegang.
803
Saduran TJAN ID
Namun Lu Hujin gelengkan kepala, "Tentang peristiwa ini aku
tak dapat memberitahukan kepadanya, ia sudah cukup menderita dan
tersiksa, anak Kiat kau adalah toakonya dalam urusan apapun juga
kau harus baik-baik merawat dirinya, dalam perjalanan menuju ke
benteng Kiam poo kali ini aku serahkan dirinya kepadamu, bila ia
mengalami suatu kejadian yang tidak diingini, aku akan minta
pertanggungan jawab darimu..."
804
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 32
LU KIAT mengangguk, baik... ibu, legakanlah hatimu, aku pasti tak
akan membiarkan adik In Hoei menderita kerugian......."
Dari dalam saku baju Lu Hujin ambil keluar sebilah pedang kecil
berwarna kuning emas yang panjangnya mencapai enam cun dan
diserahkan ke tangan Lu Kiat, pesannya:
"Benda ini merupakan benda tanda kepercayaan dari Benteng
Kiam-poo, bawalah benda itu siapa tahu suatu ketika akan
memberikan bantuan kepada kalian, setelah luka yang diderita Pek In
Hoei sembuh kalian boleh segera berangkat!"
Dengan perasaan berat Lu Kiat memeriksa pedang emas itu,
perasaannya tiba-tiba berubah tenang dan serius, dengan hati tak
tenang ia mengangguk.
********
Di bawah sorot cahaya sang surya yang amat panas, Lu Kiat serta
Pek In Hoei melakukan perjalanan dengan gerakan yang amat lambat,
waktu itu perasaan hati mereka berdua teramat berat den masinglmasinglmemikirkan
persoalan hatinya sendiri-sendiri.
Sejak diberitahu oleh Lu Hujin, maka Lu Kiat telah mengetahui
bahwa Pek In Hoei adalah adik kandungnya sendiri sebaliknya Pek In
Hoei masih tetap bingung dan tidak tahu duduk perkara yang
sebenarnya, ia merasa asal usulnya masih tetap merupakan suatu
tanda tanya yang amat besar.
805
Saduran TJAN ID
Sepanjang perjalanan Pek In Hoei hanya berharap bisa cepatcepat
tiba di benteng Kiam poo serta berkumpul kembali dengan
ibunya, agar dari mulut ibunya ia berhasil menyelidiki sebab-sebab
kematian yang menimpa ayahnya, oleh sebab itu sepanjang perjalanan
ia selalu memaksa Lu Kiat untuk mempercepat langkah kakinya.
Sedangkan Lu Koat sendiri karena mengetahui betapa ketatnya
penjagaan di sekitar Benteng Kiam-poo dan mengetahui bahwa untuk
menyusup ke dalam benteng itu bukan suatu pekerjaan gampang,
sepanjang perjalanan selalu putar otak mencari cara yang baik untuk
memasuki benteng lawan, di samping mencari tahu pula kabar berita
tentang itu di sepanjang perjalanan.
Untung Lu Hujin telah memberi petunjuk yang cukup berharga
bagi mereka, hingga selama perjalanan mereka tidak sampai tersesat
salah ambil jalan.
Sepanjang jalan kabar berita yang mereka dapatkan semakin
banyak, ternyata di sekitar daerah situ sering muncul manusiamanusia
misterius yang amat aneh, mereka sering kali nampak kepala
tak nampak ekornya, meskipun sering kali muncul secara mendadak
tapi dengan cepat lenyap kembali secara tiba-tiba, hal ini membuat
orang merasa sulit membayangi jejaknya.
Tetapi ada satu hal yang cukup menggembirakan hati Lu Kiat,
yakni di atas dada orang-orang misterius itu ternyata bersulamkan
sebuah simbol pedang kecil berwarna perak bentuk serta besar
kecilnya persis seperti pedang pendek yang diserahkan Lu Hujin
kepadanya, dari tanda-tanda tersebut bisalah ditarik kesimpulan
bahwa Benteng Kiam-poo pasti terletak di sekitar daerah ini, atau
paling sedikit di tempat itu terdapat orang dari benteng Kiam poo.
Yang paling menggembirakan lagi bagi Lu Kiat adalah
terdapatnya sebuah tempat yang disebut Kiam-bun-kwan, katanya
dalam sebuah ruangan sembahyang khusus terdapat sebuah bilik
pedang yang terbuat dari batu granit yang keras.
Dalam hati kecilnya pemuda she Lu itu lantas berpikir :
806
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau kudengar dari nama Kiam-bun-kwan tersebut agaknya
mengandung hubungan yang erat sekali dengan benteng Kiam poo,
mungkin saja setelah tiba di sana dengan gampang pula aku bisa
temukan tempat benteng tersebut."
Karena berpendapat demikian ia segera usulkan kepada Pek In
Hoei untuk berkunjung ke kiam-bun kwan lebih dahulu, siapa tahu di
tempat itu mereka akan berhasil menemukan suatu pertanda yang
mencurigakan.
"Lu toako, kalau memang demikian adanya ayolah kita percepat
perjalanan kita," seru Pek In Hoei sambil menyeka keringat yang telah
membasahi tubuhnya.
Lu Kiat tertawa hambar.
"Kenapa kita mesti terburu-buru? Kalau mau terburu-buru
rasanya juga tidak pantas dilakukan pada saat ini..."
Melihat sikapnya yang tenang-tenang saja itu Pek In Hoei tahu
sekalipun gelisah juga tak ada gunanya, terpaksa ia pun
mengendorkan pikirannya dan membuang seluruh ingatan dari dalam
benak.
Tetapi ketika ia teringat kembali bahwasanya ibunya sedang
menderita di dalam benteng Kiam poo, rasa kesal muncul kembali
dalam benaknya.
"Lu toako," serunya kemudian sambil menghela napas panjang,
"tahukah kau betapa sedih dan susahnya perasaan hatiku pada saat ini,
seandainya kau jadi diriku aku percaya sikapmu juga tak akan
seenteng dan seringan dirimu itu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... adik In Hoei, persoalan ini tak
dapat diselesaikan dengan kegelisahan hati," sahut Lu Kiat sambil
tertawa terbahak-bahak, "Bila kita terlalu gelisah, maka bukan saja
hal itu sama sekali tak ada gunanya bahkan malahan akan menggebuk
rumput mengejutkan ular..."
Ia memandang sekejap jalan raya yang terbentang di depan mata
kemudian melanjutkan :
807
Saduran TJAN ID
"Kiam-bun kwan segera akan kita capai, lebih baik kita
rundingkan kembali persoalan ini di tempat ini..."
"Biarlah... " ujar Pek In Hoei kemudian sambil diam-diam
menghela napas panjang, "kesemuanya baiklah Lu toako yang aturkan
buat diriku..."
Dua ekor kuda bergerak kembali ke arah depan meninggalkan
debu yang beterbangan di angkasa, di tempat kejauhan tampak
muncul sebuah loteng batu yang amat besar, loteng batu itu entah
didirikan sejak kapan, nampak tiang-tiangnya sudah lapuk semuanya,
di atas bangunan tertera tiga huruf yang amat besar dan nyata, tulisan
itu berbunyi, Kiam bun kwan.
Lu Kiat angkat kepalanya memandang sekejap ke-tiga huruf
besar itu, kemudian bergumam seorang diri.
"Di sinilah yang disebut Kiam bun kwan setelah lewat tempat ini
entah kita akan tiba di mana?"
Di tengah-tengah bangunan loteng tadi terdapat sebuah ruangan
terbuat dari batu granit yang bentuknya mirip sekali dengan sebuah
kursi, di atas batu berbentuk kursi itu tercantum beberapa huruf yang
berbunyi :
'Kursi kebesaran malaikat pedang'
Lu Kiat serta Pek In Hoei segera loncat turun dari atas kudanya,
setelah melihat-lihat sejenak keadaan di tempat itu mendadak timbul
niat Jago Pedang Berdarah Dingin itu untuk menempati batu
berbentuk kursi kebesaran itu, katanya :
"Toako, coba lihatlah bila aku duduk di sini mirip tidak dengan
seorang malaikat pedang."
Lu Kiat yang menyaksikan kejadian itu segera tertawa terbahakbahak,
sahutnya :
"Bagus sekali... bagus sekali... kau memang mirip sekali dengan
seorang malaikat pedang..."
Gelak tertawa yang amat keras ini dengan cepat mengejutkan
orang yang berada di dalam sebuah rumah makan tidak jauh dari
808
IMAM TANPA BAYANGAN II
bangunan batu itu, sorot mata mereka semua segera dialihkan ke arah
ke-dua orang pemuda itu, ada di antaranya yang menunjukkan sikap
tak senang hati tapi ada pula yang segera keluar dari ruang rumah
makan dan mendekati mereka berdua.
Orang pertama yang mendekat adalah seorang petani yang
membawa cangkul, usianya sudah lanjut dengan jenggot terurai
sepanjang dada, sambil menghampiri ke-dua orang itu serunya sambil
tertawa terbahak-bahak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... kursi kebesaran raja pedang sudah
hampir lima puluh tahun lamanya didirikan di tempat ini, namun tak
ada seorang manusia pun berani menempatinya, sungguh tak nyana
selama aku masih hidup ternyata masih mempunyai kesempatan juga
menyaksikan ada orang yang berani menempatinya, peristiwa ini
benar-benar merupakan suatu kejadian yang luar biasa sekali..."
Lu Kiat yang menyaksikan petani tua itu berwajah ramah dan
aneh tidak mirip manusia kurcaci yang berniat jelek, buru-buru
memberi hormat kepadanya sambil berseru :
"Maafkanlah kami loo tiang, saudaraku ini masih terlalu muda
dan suka bergurau, sekaligus ia sudah duduk sebentar di kursi
kebesaran itu namun sama sekali tidak bermaksud apa-apa, aku harap
loo tiang suka memandang di atas wajahku..."
Perkataan yang halus dan penuh mengandung kata-kata sopan ini
dalam anggapan Lu Kiat pasti akan berhasil menyelesaikan persoalan
itu, siapa tahu air muka petani tua itu tiba-tiba berubah hebat, serunya
dengan nada dingin :
"Aku lihat kalian berdua sama-sama menggembol pedang,
sikapnya gagah dan pastilah seorang ahli di dalam permainan ilmu
pedang, kalau tidak tak mungkin kalian berani memandang enteng
orang lain dan menduduki kursi kebesaran tersebut..."
"Loo tiang, ucapanmu itu terlalu berlebihan," bantah Lu Kiat lagi
setelah tertegun sejenak, "saudaraku ini tidak lebih hanya seorang
sastrawan, kali ini aku mengajak ia keluar rumah maksudnya bukan
809
Saduran TJAN ID
lain agar ia mendapat tambahan pengetahuan... siapa bilang kami
adalah jago-jago yang ahli dalam permainan ilmu pedang? Sedang
aku sendiri... aku pun sama sekali tak mengerti akan ilmu silat, pedang
yang sengaja kami gembol ini bukan lain hanya sebagai perhiasan saja
agar kami nampak jauh lebih keren... Loo tiang! Kau tok seorang yang
bijaksana, aku harap janganlah menyusahkan kami berdua lagi..."
"Mendengar perkataan itu, air muka petani tua itu perlahan-lahan
berubah jadi tenang kembali, ia mengangguk dan berkata :
"Kursi kebesaran bagi malaikat pedang adalah suatu kursi
kebesaran yang amat terhormat sekali, kalau memang saudaramu itu
berbuat silaf karena kurang pengalaman, baiklah untuk kali ini
perbuatannya bisa kami maafkan tetapi pedang panjang yang tersoren
pada punggung kamu berdua itu harus dilepaskan dan ditinggalkan di
atas kursi kebesaran tadi, setelah itu berlututlah di depan kursi itu dan
jalankan penghormatan sebanyak tiga kali, maka urusan pun boleh
dianggap beres..."

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Nyata Terjadi : ITB 15 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments