Cerita Silat Dewasa: ITB 6

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Silat Dewasa: ITB 6



Ku Loei melirik sekejap kearah muridnya meyaksikan air
muka Ke Hong menampilkan rasa malu bercampur gusar
kembali dia mendengus dingin;
"Hmm ! mungkin kau mesih belum puas, haruslah kau
ketahui bahwa perkampungan Tay Bie San-cung serta
Banteng Bintang Kejora adalah hasil karya dirinya, sedang
sidewa kate dari negeri Thian Tok serta Sin-Koen bertenaga
raksasa sudi menggabungkan diri dengan Liuw Sah Boen
kita adalah berkat undangan dari dia orang tua. Hmm !
dikolong laneit dewasa ini masih ada manusia manakah
yang sanggup mengundang kehadiran "Kioe Boen Toh Sin
Wa" sidukun sakti berwajah seram dari propinsi Lam
Ciang? hanya dia orang saja yang mampu melakukan
kesemuanya itu, cukup layangkan sepucuk surat mereka
segera berangkat kemari, Hmm kau berani pandang hina
dirinya? dalam waktu singkat seluruh dunia persilatan bakal
terjatuh didalam cengkeramannya!"
Ke Hong melongo dan berdiri terbelalak, mimpipun dia
tidak menyangka selama puluhan tahun dia harus berkelana
ditempat luar maksud tujuannya bukan lain adalah berjuang
agar perguruannya menjagoi dunia persilatan, semakin tak
menduga lagi kalau semua rencana tersebut bukan lain
adalah hasil pemikiran dari sikakek pincang tadi.
Dengan rasa kaget segera tanyanya;
"Suhu, kau perintahkan kami sekalian menyusup
kedalam pelbagai partai besar, ternyata maksudnya bukan
lain adalah untuk menjagoi seluruh dunia kangouw?"
Ku Loei mengangguk penuh kegirangan.
"Tidak lama kemudian segenap dunia kangouw bakal
terjatuh didalam cengkraman perguruan Liuw Sah Boen
kita, segenap jago yang ada didalam dunia persilatan bakal
jadi anak buah perguruan kita. kesemuanya ini bukan lain
adalah cita cita yang selalu diimpi impikan sucouw mu dan
kini apa yang dahulu selalu diimpi impikan sekarang
hampir terlaksana didepan mata"
Ia merandek sejenak, lalu dengan serius tambahnya;
"Sebenarnya rahasia besar ini tak boleh kukatakan
kepadamu, tetapi berhubung saat yang dinanti nantikan
selama ini sudah hampir terlaksana maka rasanya tiada
halangan bagiku untuk memberitahukan kepadamu'.
'Kalau begitu, apakah lenyapnya para ciangbunjien dari
sembilan partai besar pada dua puluh tahun berselang juga
merupakan hasil karya dari rencana besar susiok cuow kita
ini?" tanya Ke Hong sambil menggigit bibirnya.
"Sedikitpun tidak salah, itulah rencana bersama dari
sucouw serta susiok-couw mU sewaktu ada di gunung Cing
shia."
Belum selesai dia berbicara tiba tiba terdengar suara
bentakan yang amat dahsyat. berkumandang datang
memecahkan kesunyian disusul jeritan kaget seorang gadis.
"Ada orang menyerang perkampungan kita.." teriak Ke
Hong sambil melompat bangun.
Ku Loei tidak banyak bicara tangannya segera mendekati
punggung kursi kemudian laksana panah yang terlepas dari
busurnya meluncur kedepan, ujung kakinya menutul
dijembatan gantung dan dalam dua tiga kali loncatan dia
sudah tiba ditepi telaga.
Ke Hong tak berani banyak buang tempo lagi, dia tarik
napas dalam dalam. badannya berputar loncat keluar dari
pendopo air, setelah menutup pintu depan diapun loncat
ketepi telaga menyusul dibelakang subunya Ku Loei.
Berada ditapi telaga Ku Loei merandek sajenak.
kemudian badannya langsung menerobosi hutan lebat dan
berlari menuju kearah barat daya, sambil berlarian pikirnya,
"Kalau didengan dari suara bentakan keras tadi rupanya
mirip sekal dengan suara dari Hoa Loo jie. jangan jangan
dia telah berjumpa dengan musuh tangguh?'
Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, dangan
amat terperanjat pikirnya lebih jauh:
"MungkinIt Boen Pit Giok telah datang lagi?"
Baru saja ingatan itu berkelebat lewat, terdengar jeritan
kaget dari It Boen Pit Giok berkumandang datang lagi :
"Hey setan tua, benarkah kau berasal dari perguruan
Liuw sah Boen?..."
Hoa Pek Touw tertawa seram.
"Heee... heee.... heee.... janganlah kau anggap setelah
mempelajari permainan kucing kaki tiga dari Hoo Beng jien
lantas bisa berbuat sewenag wenang dihadapanku. Ini hari
sengaja kulepaskan dirimu pulang agar kau bisa beritahu
kepada suhumu si setan tua itu bahwa sahabat lamanya
tempo dulu hingga kini masih belum mati. Cepat atau
lambat aku pasti akan datang mencari balas kepadanya"
Ku Loei terparanjat, badannya dengan cepat berkelebat
menyembunyikan diri dibelakang pohon besar, meminjam
dahaan pohon yang lebat dia mengintip kearah muka.
Tampaklah Hoa Pek Touw dengan seram berdiri tegak
ditengah kalangan, kurang lebib satu tombak dihadapannya
berdiri seorang dara cantik yang menutupi dadanya dengan
tangan, rasa kejut dan tercegang dengan jelas masih tertera
diatas wajahnya.
Dalam sekilas pandang saja ia dapat melihat dengan jelas
bahwa dara cantik yang berada disitu bukan lain adalah it
Boen Pit Giok yeng telah dijumpainya kemarin malam,
entah sejak kapun dia telah menyusup kembali kedalam
perkampungan Tay Bie San Cung.
Perawakan tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi besar itu
tiba tiba memanjang satu kali lipat, dia mendongak dan
tertawa seram.
"Haaah... haaah... haaah... Hoo Bong Jien... Hoo Bong
Jien meskipun kau telah mensucikan diri jadi pendeta,
namun aku tetap akan membikin malu dirimu sehingga kau
tak punya muka lalu mati penasaran..."
Mendengar ocehan itu air muka It Boen pit Giok
seketika berubah hebat, dengan darab yang meluap luap
bentaknya:
"Kurang ajar, bajingan kau herani menghina dan
memaki maki suhuku? rupanya kau sudah bosan hidup?"
"Heeh... heeeeh... heeh... seandainya aku tidak ingin
berjumpa dengan Hoo Bong Jien, ini hari juga akan
kusuruh kau mati kelejetan diatas genangan darah!".
Dalam mengutarakan kata kata tersebut kerudung hitam
yang dikenakan Hoa Pek Touw nampak bergetar keras,
sorot matanya yang tajam dan menggidikkan hati
memancar keluar.
Kiranya didalam perjumpaannya dengan Hoa Pek Touw
tadi, dalam sekali gebrakan saja It Boen Pit Giok telah kena
dihantam sehingga darah panas dalam rongga dadanya
bergolak keras, nadinya berdenyut cepat dan dan hampir
saja muntahkan darah segar.
Mimpipun dia tak pernah meagira kalau didalam
perkampungan Tay Bie san Cung masih terdapat seorang
jagoan lihay yang memiliki ilmu silat sedemikian tingginya,
oleh karena dia tidak percaya kalau Hoa Pek Touw adalah
anggota perguruan Liuw Sah Boen.
Sebab sebelum dia menyebrang lautan Timur berangkat
menuju kedaratan Tionggoan. Thiat Tie Sin Nie sitabib
sakti seruling baja telah memberitahukan kepadanya Bahwa
sapasang iblis dari samudra Seng 5ut Hay telah binasa
semua dan didaratan Tionggosn tak nanti akan tardapat
manusia yang dapat menendingi kepandaian silatnya.
Namun sekarang fakta membuktikan lain, bukan saja
didalam dunia persilatan masih terdapat manuaia yang
berkepandaian jauh melebihi dirinya, bahkan kakek
berkerudung hitam yang kini berdiri dihadapannya dapat
memukul mundur dirinya hanya dalam sekali gebrakan
saja. bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kepandaian silat
yang dimiliki orang itu?.
Hal lain yang lebih mengherankan hatinya adalah
kenapa dia bisa tahu akan nama asli suhunya sebelum
mencukur rembut jadi nikouw ? apa sebenarnya hubungan
antara suhunya dengan kakek tua ini?
It Boen Pit Gok termenung berpikir sejenak, lalu
tanyanya kembali :
"Sebenarnya kau adalah si iblis sakti berkaki telanjang
dari samudra Seng Sut Hay atau bukan?"
-odwo-
10
HOA Pek Touw tertawa dingin.
"Apa matamu buta Hee budak dungu? coba periksa
apakah kakiku telanjang ataukah memakai sepatu
"Kalau kau memang bukan iblis itu lalu apa sebabnya
wajahmu kau kerudungi dengan kain hitam? apakah
Wajahmu jelek hidungmu hilang atau mungkin bibirku
sumbing?"
Dengan seramnya Hoa Pek Touw mendengus.
"Hmm tak ada artinya kau menggunakan cara tersebut
untuk memanasi hatiku, cepat pulang kesarangmu sana dan
katakan kepada Hoo Bong Jien, sahabat karibnya yang
telah dia usir dari istana Hoei Coei Kiong pada waktu yang
silam, kini telah hidup kembali.
"Hidup kembali?" Rupanya It Boen pit Giok tidak habis
mengerti akan penggunaan satu patah kata itu, tidak sempat
berpikir panjang lagi dia segera tertawa dingin dan
mengejek."
"Ooouw rupanya kau pernah diusir dari istana Hoei Coei
Kiong bagaikan seekor anjing budukan. Hmm! tidak aneh
kalau kau tak berani menjumpai diriku dengan wajah
aslimu. Huuu sialan tak tahu malu"
Hoa Pek Touw mendengus dingin, dia tetap berdiri tegak
ditempat semula tanpa kerkutik. hanya saja dengan suara
yang dingin dan menyeramkan ancaman.
"Rupanya kau ingin dilukiskan sebuah tato diatas
wajahmu itu, kau harus tahu bahwa loohu adalah ahli Tato
yang paling lihay dikolong langit dewasa ini".
Ancaman ini sungguh manjur sekali, seketika itu juga it
Boen Pit Giok dibikin ketakutan setengah mati, sampai
sampai air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan
mayat. Mula mula dia memang ada maksud untuk
mengundurkan diri dari perkampungan Tay Bie San Cung,
namun setelah teringat kembali akan msksud tujuannya
mendatangi perkampungan tersebut dengan menempuh
perjalanan siang malam, diam-diam dia lantas gertak
giginya dan berpikir.
"Karena persoalanku Dia telah menyusup masuk
kedalam perkampungan Tay Bie San Cung, hingga kini
kabar beritanya lenyap tak berbekas kutanyakan kepada
sisetan tua ini namun dia tak mau bicara, mana boleh
kutinggalkan tempat ini demikian saja? baik atau buruk aku
harus lawan bajingan tua ini!".
Berpikir demikian maka hatinya jadi mantap, tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun dia cabut keluar seruling
berlubang sembilannya dari dalam saku, kemudian dendan
serius katanya;
"Apabila kau sanggup menandingi sembilan jurus
seruling bajaku serta dua belas jurus ilmu penunjuk iblisku,
maka saat itulah kau baru berhak untuk mengusir aku dari
daratan Tionggoan untuk kembali kegunung tiga dewa
diluar lautan"
Menyaksikan It Boen Pit Giok mengeluarkan seruling
baja berlubang sembilannya dari saku, Hoa Pek Touw
segera mendongak dan tertawa seram, seraya mengepal
sepasang tinjunya kencang kenoang selangkah demi
selangkah dia maju kedepan,
Diam diam It Boen Pit Giok terkejut dan jeri
menyaksikan sikap sang kakek yang amat menyeramkan
itu. terutama sekali sinar matanya yang berubah jadi merah
dan begaikan seekor binatang liar, tanpa sadar dia mundur
selangkah kebelakang
"Seruling bsja berlubang sembilan?... seruling baja
berlubang sembilan..." Gumam Hoa Pek Touw kembali dia
tertawa seram.
"Haah... Haaaah... haah.... sungguh tak kusangka
seruling yang kubuat dengan susah payah hingga
membuang banyak tenaga dan pikiran, kini malahan
mengangkat nama Hoo Bong Jien sehingga berkibar
didalam dunia persilatan. Haah... haaah... haah... haaah....
Thiat Tie Sin Nie....?"
Mendadak matanya malotot gusar, dengan suara
setengah meraung teriaknya:
"Ciiss... Nikouw sakti seruling baja macam apakah dia...
Hmm tidak lebih cuma seorang lonte busuk,"
It Boen Pit Giok benar benar tak perneh menyangka
kalau pihak lawan bisa memaki suhunya dengan kata kata
yang demikian kotor, tanpa sadar jantungnya berdebar
debar keras, merah padam selembar wajahnya.
Dia membentak nyaring, tidak sampai menantikan Hoa
Pek Touw menubruk. datang lengannya telah dipentangkan
lebar, badannya secara beruntun maju tiga langkah
kedepan, seruling baja berlubang sembilannya diputar
kencang dan mengirim satu serangan dahsyat dengan jurus
"Thian Gwa Lay Hong" atau Belibis sakti luar langit.
Seruling panjang yang berwarna hitam pekat dengan
memancarkan serentetan cahaya tajam berwarna hitam
bagaikan air bah menggiring keluar, irame seruling yang
tajsm dan tinggi melengking hingga menembusi awan
bagaikan hendak merobek robek jantung manusia
mengiringi dibelakang gulungan angin serangan tersebut.
Tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi besar bergerak
mengigos kesamping bagaikan selembar daun kering
mengikuti datangnya sambaran seruling baja itu melayang
kedepan kemudian bergerak seolah olah menempel diantara
cahaya hitam tadi.
Dengan hati bergidik It Boen Pit Giok menggeser
badannya kesamping, tiba tiba serulingnya menikung
kesamping lalu menekan kebawah. laksana kilat menotok
jalan darah Hoe Ciat serta Hiat Hay" dibawah lambung
Hoa Pek Touw.
Sungguh cepat dan lincah perubahan jurus yang dia
lakukan barusan ini, irama aeruling seketika lenyap dan
tahu tahu suara tajam tadi telah menotok keatas lambung
Hoa Pea Touw dan nampaknya perut siorang tua itu segera
akan tertembusi,
Siapa sangka disaat yarg paling kritis dan detik yang
terakhir itulah sekonyong konyong Hoa Pek Touw tertawa
dingin mendadak badannya berputar kencang bagaikan
sebuah gangsingan, dengan cepat dan lincah dia telah
berputar kalian arah.
Mengikuti pergesekan jubah bajunya dikala berputar
itulah seruling baja tadi kehilangan arah sasaran dan gagal
menotok jalan darahnya.
Air muka It boan Pit Giok berubah hebat, seruling
bajanya diayun kembali kedepan, jar! telunjuk dan jari
tengah lengan kirinya dijulurkan kedepan, sesudah berputar
satu lingkaran dia sentil kemuka teriaknya:
“Aku tidak percaya kalau kau betul betul telah berhasil
melatih Ilmu khie-kang pelindung badan".
Oooo-dw-oooO
Jilid 15
SERENTETAN angin serangan yang tajam laksana
titiran air hujan meluncur kedepan langsung menyodok
jalan darah Thian Toh Hiat diatas tenggorokan kakek
berkerudung hitam itu.
Sentilan jari yang diiringi dengan babatan seruling baja
ini bukan lain adalah jurus "Ngo Hoed Ci Pay" atau
Buddha sakti maha pengasih, suatu jurus serangan yang
maha sakti.
Tampaklah beribu-ribu buah jalur bayangan seruling
segera mengepung dan membabat batok kepala lawan.
Gerakan perputaran tubuh Hoa Pek Touw yang gencar
laksana ganjsingan itu mendadak berhenti kemudian
badannya roboh kearah belakang, kembali dia berhasil
meloloskan diri dari dua buah ancaman lawan yang tajam
dan maha ampuh tadi.
Dia meraung rendah, seluruh badannya bagaikan
sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur
keangkasa, berada ditengah udara badannya kembali
berputar, sepasang lengannya diputar keda!am dan
melayang turun keatas permukaan dalam sikap yang lurus.
Kendati kakinya pincang tetapi beberapa jurus serangan
itu dapat dilakukan dengan sempurna, badannya bagaikan
seekor naga sakti menari dan menerobos kesana kemari -
antara kurungan beribu-ribu buah bayangan seruling.
Tatkala menyaksikan dua buah jurus serangannya
mengenai sasaran yang kosong, It boen Pit Giok segera
tarik kembali serulingnya untuk melindungi badan, setelah
itu badannya loncat mundur tiga langkah kebelakang takut
musuhnya dengan menggunakan kesempatan yang sangat
baik itu melancarkan bokongan lagi kepadanya.
Namun Hoa Pek Touw tidak berbuat demikian, dia tetap
berdiri serius ditempat semula sambil melingkarkan
lengannya.
Air muka gadis cantik dari luar lautan berubah hebat,
diam-diam pikirnya dengan hati terperanjat :
"Mana mungkin?... darimana dia bisa menguasai pula
ilmu sakti Pouw Giok Cioe?"
"Heeeh.... heeeeh..... heeeh.... apakah kau ingin menjajal
pula bagaimana lihaynya tujuh jurus Pouw Giok Chiet Sin
ku ini?" terdengar kakek itu menjengek sambil tertawa
seram.
"Sebetulnya siapakah kau? kenapa kaupun bisa
menguasai ilmu Pouw Giok Chiet Sih dari Ko Supek ku?"
Hoa Pek Touw cuma mendengus dingin tanpa
menjawab, mendadak sepasang lengannya diputar, tangan
kiri mengayunkan satu pukulan keluar sementara telapak
kanan menekan kedalam, satu berputar yang lain membalik
dalam sekejap mata munculkan satu tenaga pukulan yang
maha dahsyat menggulung kearah depan.
It-boen Pit Giok tarik napas dalam2, seruling baja
ditangan kanannya digetar sejajar dengan dada, dengan
menciptakan beribu-ribu bayangan seruling yang
menggabung jadi satu lapisan cahaya, dia berusaha
melindungi dada sendiri.
"Bruuuuk!" tubuh It-boen Pit Giok mundur dengan
sempoyongan, angin pukulan yang maha dahsyat laksana
gulungan ombak ditengah samudra itu dengan telak
mengenai senjata seruling bajanya hingga seketika ia
mundur dua langkah kebelakang.
Hoa Pek Touw mendengus dingin, sepasang telapaknya
berpisah kedua belah samping, laksana kilat mencengkeram
senjata seruling itu.
Belum sempat It boen Pit Giok berdiri tegak, kesepuluh
jari lawan telah tiba didepan mata, seketika itu juga tak
sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, senjata
seruling baja dalam genggamannya kena dicengkeram oleh
lawan.
Dalam keadaan gelisah bercampur gusar gadis ayu ini
jadi nekad, mendadak ia lancarkan satu tendangan kilat
dengan kaki kanannya.
Hoa Pek Touw membuang tubuh bagian atasnya
kebelakang, kaki kanan maju menyilang satu langkah
kedepan, setelah menghindarkan diri dari datangnya
tendangan tersebut sikut kanan bekerja cepat, dalam satu
gerakan yang manis tahu-tahu dia sudah berhasil merampas
seruling tersebut dari tangan lawan.
Langkah kaki It-boen Pit Giok jadi mengambang, kena
dibetot oleh tenaga musuh yang lebih besar daripadanya
tanpa dikuasai lagi dia ikut maju dua langkah kedepan.
"Lepas tangan!" bentak Hoa Pek Touw ketus.
Sikut kanannya disodokan kebelakang diikuti
dengkulnya ikui bekerja, mengiringi satu desiran dahsyat
dihajarnya lengan kiri It boen pit Giok keras keras
Kreeetak..! sungguh jitu datangnya sodokan sikut
tersebut, belum sempat gadis dari luar lautaun ini
melancarkan serangan balasan, tahu tahu persendian tulang
tangan kirinya telah patah.
Rasa sakit yang tak terhingga segera menyerang kedalam
ulu hatinya membuat sekujur badan gadis ini gemetar keras,
keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh
jubahnya, buru buru ia lepas tangan dan loncat mundur
kebelakang.
Hoa Pek Touw mendengus dingin.
"Hmm ! Loohu sanggup menciptakan seruling ini, maka
kini akupun sanggup pula untuk memusnahkan senjata
terkutuk ini dari mula bumi"
Sepasang telapaknya diremas, perlahan-lahan
menpgencet dan merapatkan bagaikan mesin pres.
Diantara menonjolnya otot o!ot tangan yang berwarna
hijau, seluruh badan senjata seruling itu bagaikan dibuang
kedalam tungku yang berapi dahsyat segera berubah jadi
merah padam, asap hijau membumbung ketengah udara
dan perlahan lahan besi tadi meleleh dan membengkok.
Dalam waktu singkat seruling baja berlubang sembilan
tadi telah ditekuknya hingga jadi satu lingkaran gelang,
diikuti tangan kanannya diayun kemuka kakek tua she Hoa
ini menyodorkan senjata yang sudah berubah bentuknva itu
kepada diri It boen Pit Giok, ujarnya:
"Bawalah lingkaran baja ini pulang ke istana Hoei Coei
kiong mu dipulau Bong Lay To, aetelah melihat benda ini
Hoo Bong Jien akan segera mengetahui siapakah diriku"
It boen Pit Giok menerima seruling bajanya yang kini
telah bernbah jadi gelang lingkaran itu, teringat akan
musnahnya senjata mustika kesayangannya ini tanpa sadar
air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang ayu.
Dengan termangu mangu dia pandang wajah Hoa Pek
Touw tanpa berkedip, beberapa saat kemudian dia baru
berkata:
"Seandainya kau manguasai ilmu Pouw Giok Chiet Sah
maka ilmu Poh Giok Kang pun pasti telah kau kuasai.
Kalau tidak maka kau tak akan bisa menandingi supekku
dan pada saat itu suhuku pun tak usah turun tangan sendiri
untuk membereskan kau"
Mendengar ucapan itu Hoa Pek Touw mendongak dan
tertawa terbahak bahak.
"Haah... haaah... haaah.... apa hebatnya Ko Ek? Hmm !
ilmu Poh Giok Kang..."
Tiba tiba tangannya diluruskan kemuka, sambil
menggenggam kepalanya kencang kencang dia ayunkan
satu pukulan ketengah udara.
Terdengar suar ledakan yang amat dahsyat dan
memekikkan telinga berkumandang memecahkan
kesunyian, sebuah pohon besar yang berada kurang lebih
empat tombak dihadapannya tahu tahu tumbang dan roboh
keatas tanah.
Pasir dan debu segera beterbangan memenuhi angkasa,
suara patahnya ranting dan dahan mengiringi gemerisiknya
dedaunan yang mencium tanah.
Ilmu pukulan yang maha dahsyat ini bukan saja
mengejutkan It boen Pit Giok sidara ayu dari luar Lautan
ini, bahkan Ku Loei yang bersembunyi dibelakang
pohonpun dibikin terkesiap sehingga untuk beberapa saat
lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun,
matanya terbelalak lebar dan mulutnya melongo.
Mimpipun tidak menyangka kalau Hoa Pek Touw yang
selamanya tak pernah membicarakan soal ilmu silat dan
seharian penuh selalu menyelidiki soal pertabiban. ilmu
barisan, ilmu alat rahasia serta ilmu jebakan itu sebetulnya
bukan lain adalah seorang jagoan Bulim yang maha sakti
dan maha lihay.
Terdengar Ke Hong yang bertiarap dibelakang tubuhnya
berseru dengan nada kaget bercampur ngeri.
"Suhu, bukankah ilmu yang barusan merupakan ilmu
Khie kang tingkat tinggi dari aliran Hian Boen? sungguh tak
nyana tenaga lwekangnya sedemikian dahsyat dan
hebatnya..."
"Akupun tak pernah menyangka kalau Hoa Loo jie
sebetulnya berasal dari luar lautan dan berasal dari satu
perguruan dengan "Poh Giok cu" Ko Ek sang Loo jie dari
tiga dewa bahkan semakin tak mengira kalau dia masih
mempunyai ikatan dendam dengan Thiat Tie Sin Nie!" seru
Ku Loei pula dengan suara lirih.
Belum habis dia berkata, tampaklah batang pohon besar
yang tumbang keatas tanah dan tersisa satu batang dahan
sepanjang tiga depa itu tatkala terhembus angin, ternyata
bagaikan bubuk tepung saja segera tersebar kemana mana
dan dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.
Air mukanya berubah semakin hebat, dengan hati
terkesiap dia melototi dahan pohon yang lenyap bagaikan
bubuk tepung itu, meski ia sendiri adalah seorang jagoan
lihay dari perguruan Seng Sut Hay namun sepanjang
hidupnya belum pernah ia jumpai kepandaian sedahsyat ini.
Tampaklah It Boen Pit Giok tertawa sedih.
"Aku tak pernah mengira kalau kau berasal dari
perguruan Hian It Boen di luar lautan dan merupakan
saudara seprguruan dari Ko supek, Hmm demikianpun
boleh juga, dengan begitu akupun bisa memberikan
pertanggungan jawab dihadapan guruku nanti.”
Ia merandek sejenak, kemudian sambil menahan rasa
sakit tambahnya lagi:
"Dalam tiga bulan mendatang, tiga dewa dari luar lautan
pasti akan muncul kembali didaratan Tionggoan. aku harap
kau masih tetap menanti kedatangan kami disini"
"Selama tiga puluh tahun terakhir belum pernah loohu
merasa gembira dan puas seperti hari ini. Nah pergilah dari
sini, sebelum aku berubah ingatan untuk membinasakan
dirimu, lebih haik kau sedikit mengerti gelagat"
It boen Pit Giok tidak banyak bicara lagi, sambil
memegangi lengan kirinya yang terasa amat sakit dia putar
badan dan berjalan menuju keluar hutan,
Mendadak..
Satu bentakan nyaring berkumandang datang, Ku Loei
dengan langkah lebar munculkan diri dari balik pepohonan.
"Tunggu sebentar!" serunya. "Kau anggap aku bisa
memberikan peluang baik bagimu untuk meninggakan
tempat ini?"
"Ku Loei!" sela Hoa Pek Touw sambil menegur. "Apa
yang kau katakan?"
Kena ditegur Ku Loei terperanjat dan segera berpaling,
tampaklah Hoa Pek Touw dengan sepasang mata yang
merah .membara bagaikan binatang membara bagaikan
binatang liar sedang mengawati wajahnya dengan buas dan
menyeramkan.
Dia jadi ngeri, pikirnya :
"Selama lima puluh tahun belakangan belum pernah
kujumpai dirinya menunjukkan sikap gusar, kenapa pada
hari ini dia bisa berubah dari keadaan biasanya Aach!
rupanya kalau aku tetap membangkang maksud hatinya,
dia pasti akan menyusahkan diriku! lebih baik aku sedikit
tahu diri..."
Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat didalam
benaknya, dia segera tertawa jengah dan berseru.
"Baiklah akan kuturuti maksud hati dari Hoa Loo jie.
Nah! pergilah dari sini!"
"Ku Loei, apakah kau masih mempunyai pesan lain?"
jcngek It boen Pit Giok dingin.
"Cepat enyah dari sini!" Sekilas rasa sakit hati, pedih dan
sedih terlintas diatas wajah It boen Pit Giok yang cantik, dia
angkat tangannya untuk menyeka air mata yang membasahi
wajahnya, lalu sambil gertak gigi serunya. "Didalam tiga
bulan aku pasti akan menghancur leburkan perkampungan
Tay Bie San cung jadi rata dengan tanah,"
"Hmm... Hum... akan kunantikan kedatangan kalian"
sahut Hoa Pek Touw dingin.
Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa seram
katanya lagi.
"Hoo Bong jien... Hoo Bong Jien... akan kulihat kau bisa
hidup sampai kapan lagi?"
Diiringi tertawanya yang serem, dengan tubuh
sempoyongan dia berjalan menuju kearah tanah
rerumputan disebelah selatan.
It Boen Pit Giok bungkam dalam seribu bahasa, diapun
putar badan dan masuk kedalam hutan.
Melihat gadis itu hendak berlalu, Ku Loei sgera
mengerling memberi tenda kepada Ke Hong, setelah itu
diapun ikut berlalu mengintil dibelakang Hoa Pek Touw.
Ke Hong tidak segera bertindak,ditunggunya lebih dahulu
sehingga bayangan tubuh Ku Loei serta Hoa Pek Touw
lenyap dibalik pepohonan, setelah itu dia baru enjotkan
badannya berkelebat mengejar kearah mana perginya It
boen Pit Giok tadi.
Baru saja badannya membumbung tinggi ketengah udara
terdengar Hoa pek Touw telah membentak dengan nada
menyeramkan.
"Ke Hong, kau pingin modar?".
Air muka Ke Hong berubah hebat, buru2 dia melayang
turun keatas permukaan dan tidak berani mengejar lagi.
"Kau cepat kembali ketelaga Lok Gwat Ouw, mungkin
Chin Tiong telah siuman dari pingsannya!".
Kemudian terdengar gelak tertawa Hoa pek Touw yang
menyeramkan bergema keluar dari balik pohon, diiringi
suara senandung yang nyaring dan lantang mendengungkan
diangkasa tiada hentinya.
"Dilautan Timur ada gugusan pulau,
Bong Lay namanya
Ditengah gugusan pulau dewa Bong Lay.
terdapat satu gunung.
Puncak gunung tinggi menjulang keangkasa.
istana dewa berdiri disana,
Kumala sebagai tiangnya,
jamrud sebagai atapnya,
emas sebagai penglarinya
dan kumala putih sebagai ubinnya.
Dalam istana hidup seorang gadis cantik,
Bong jien namanya
Bening matanya manis senyumnya cantik
melebihi seluruh negeri
Aku sayang aku kagum kepadanya,
kuingat kurindukan siang dan malam
Kian lama suara senandung itu kian menjauh hingga
akhirnya hanya alunan euara yang lirih saja masih
mengalun ditengah udara terbawa hembusan angin.
Cahaya sang surya yang berwarna keemas2an
menembusi awan diangkasa menyoroti seluruh permukaan
telaga Lok Gwat Ouw yang tenang, riak kecil menggulung
kian kemari mengiringi hembusan angin yang sepoi sepoi
basah
Lorong Koen Liong To didasar telaga tetap gelap gulita
dan lembab, tiada sinar terang yang memancar keluar lagi
dari bilik dinding batu yeng berdiri kokoh di situ.
Air telaga perlahan lahan mengalir masuk lewat celah
dinding yang retak, air membanjiri lorong dan memenuhi
lorong rahasia disekelilingnya.
Pek In Hoei yang menggeletak diatas tanah mulai basah
tergenang air, lengan kirinya masih merangkul tubuh Wie
Chin Siang erat erat sementara pedang penghancur Sang
surya berada ditangan kanannya,
Sebiji mutiara yang memancarksn cahaya hijau
menerangi seluruh lorong. Benda itu berada didalam
genggaman pemuda tadi bukan lain adalah mutiara penolak
air.
Entah berapa saat lamanya telah lewat, mendadak
tubuhnya bergetar keras diikuti dia menghembuskan napas
panjang.
"Aaaach !" dia rasakan seluruh tubuhnya panas seperti
dibakar sementara punggungnya dingin membekukan
darah, panas dan dingin yang bersamaan ini membuat
badannya seperti disiksa. sangat tidak enak dirasakan.
Baru saja badannya meronta, dia temukan sesosok tubuh
manusia menindihi badannya membuat separuh tubuhnya
bagian kanan jadi linu dan kaku.
Dibawah sorot cahaya mutiara yang suram, Pek in Hoei
melihat jelas bahwa saja orang itu bukan lain adalah Wie
Chin Siang. bulu matanya yang panjang, hidungnya yang
mancung, bibirnya yang kecil serta rambatnya yang hitam
menambah kecantikan wajah gadis itu,
Perlahan lahan dia menghembuskan napas panjang, bau
harum semerbak tersiar keluar dari tubuh dara itu
menyerang lubang hidungnya, lama sekali akhirnya ia gigit
bibir dan berpikir :
"Bagaimanapun juga aku tak boleh tidur terus ditempat
ini sambil memeluk tubuhnya. kalau dia sampai mendusin
dan melihat keadaan ini tentu hatinya akan jadi malu. dan
akupun jadi merasa tidak enak hati terhadap dirinya.....
Sementara dia masih melamun tidak keruan, mendadak
terdengar suara senandung yang tinggi melengking
berkumandang datang dari luar lorong rahasia itu,
Meskisun tidak begitu jeias senandung tadi mengalun
datang, namun ia dapat merasakan betapa dalamnya kasih
sayang serta perasaan cinta yang terkandung dibalik
senandung tersebut.
Sepasang alisnya berkerut, diam diam pikirnya:
"Sangguh aneh... kenapa didalam satu baik syair
senandung tersebut bisa mengandung begitu banyak
perasaan? bukan saja mengandung perasaan sedih, gembira,
penderitaan dan siksaan batin bahkan secara lapat lapat
terkandung pula ejekan terhadap diri sendiri.
Rasa ingin tahu membuat sianak tanda itu pusatkan
segenap perhatiannya untuk mendengarkan irama nyanyian
yang kian lama kian bertambah dekat itu, setelah suara itu
semakin dekat maka tiap bait syair itupun dapat
didengarnya dengan sangat nyata.
Akhirnya dia pejamkan, mata dan menghapalkan bait
nyanyian tersebut,
Dilaut Timur ada Gugusan Pulau,
Bong Lay namanya
Ditengah gugusan pulau Bong Lay,
terdapat satu gunung
Puncak gua yang tinggi menjulang
keangkasa, istana dewa berdiri disana
Kumala sebagai tiang, jamrud sebagai atap, emas sebagai
penglari dan kumala putih sebagai ubin
Dalam istana hidup seorang gadis cantik, Bong Jien
namanya
Bening matanya manis senyumnya,
cantik melebihi seluruh negeri
Aku sayang, aku kagum kepadanya,
kuingat, kurindukan siang dan malam
Namun semuanya tinggal kenangan,
Ooh betapa pedih dan sedih hatiku"
"Aaaah, kiranya sebuah lagu cinta...." gumam pemuda
she Pek itu. Untung aku tak pernah merindukan seorang
gadis hingga menyerupai orang itu,
Suatu ingatan mendadak berkelebat diatas benaknya, ia
berpikir lebih jauh:
"Kalau ditinjau dari bait syair nyanyian rupanya dia
sedang membayangkan pulau dewa Bong lay dilautan
Timur, bukankah It Been Pit Giok pun berasal dari situ luar
lautan? lalu siapakah gadis yang bernama Bong Jien itu?
tapi aku rasa dara itu tentu cantik jelita bagaikan bidadari,
kalau tidak tak nanti orang itu demikian kagum dan cinta
kepadanya...
Ia buka matanya menatap wajah Wie Chin Siang
kemudian pejamkan matanya kembali membayangkan
wajah It boen Pit Giok, namun untuk sesaat sukar baginya
untuk membedakan mana yang lebih cantik diantara kedua
orang gadis itu. Kembali dia berpikir:
"Entah bagaimanakah kalau kedua orang gadis ini
dibandingkan dengan gadis yang hidup distana Hoei Coei
Kiong itu? siapa yang lebih cantik diantara mereka,"
Baru saja ingatan itu berkelebat didalam benaknya,
segera terdengarlah suara langkah kaki manusia yang berat
berkumandang dari dalam lorong rahasia itu.
Langkah kaki tersebut yang sebelah terdengar berat
sedang yang lain ringan, seakan akan seorang pincang
sedang berjalan perlaban lahan.
"Tidak salah, jelas orsng itu pincang kaki sebelahnya"
pikir Pek In Hoei dengan hati terkesiap. "Jangan jangan
Hoa pek Tonw sirase tea yeng licik dan lihay itu telah
datang"
Cepat cepat dia genggam mutiara penolak air semakin
semakin kencang, dia berusaha agar cahaya mutiara itu
Jangan sampai memancar keluar namun usahanya percuma
sebab cahaya hijau itu masih sempat menerobo5 keluar dari
celah celah jari tangannya dan menerangi seluruh ruangan.
Dalam keadaaan gugup dan gelisah pemuda kita tak
sempat untuk berpikir panjang segera dia susupkan mutiara
mutiara tadi kedalam tubuh Wie Chin Siang.
Baru saja tangannya disusupkan kedalam tubub gadis itu,
terdengar Wie Chin Siang merintih lirih, putar badan dan
menyandarkan kepadanya diatas dadanya yang bidang.
Pek In Hoei jadi gugup, tanpa sengaja tangannya yang
berada di dalam baju gadie itu menekan diatas sebuah
gumpalan daging yang empuk dan mengkal, rasa hangat
dan halus segera menyerang batinnya lewat permukaan
telapak tangan.
Pikirannya jadi kacau dan jantung berdebar semakin
keras, hampir hampir saja dia peluk tubub Wie Chin Siang
semakin kencang,
Namun, bagaimanapun juga Pek In Hoei bukanlah
seorang pemuda yang rendah martabatnya sekalipun dia
merasakan birahi yang melonjak lonjak namun imannya
masih cukup teguh untuk mempertanhankan kesadarannya,
dia angkat kepala dan tarik napas dalam dalam, ingatan
menuju kebirahi dihilangkan dan segenap perhatiannya
dipusatkan untus mencari akal bagaimana caranya
melepaskan diri dari pencarian Hoa Pek Touw.
"Aach, bukankah ditempat ini terdapat banyak sekali
pintu pintu lorong akupun aku tidak mengerti apa kegunaan
dari pada pintu yang demikian banyak jumlahnya itu
namun asalkan aku menerobos kedalam salah satu diantara
pintu pintu itu maka untuk menemukan jejakku dia harus
membuang waktu yang sangat banyak. Bukankah ketika
yang sangat baik ini dapat kugunakan untuk meloloskan
diri dari sisi?"
Setelah ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam
benaknya, tanpa berpikir panjang lagi dia putar badan
memasuki kembali pedang Si Jiet Kiamnya kedalam sarung
kemudian memeluk tubuh Wie Chin Siang dan berlalu dari
situ.
Suara langkah kaki yang berat dan datang itu secara tiba
tiba berhenti bergerak diikuti terdengar suara pintu yang
dibuka orang:
Diintipnya kearah lorong rahasia itu, secara lapat lapat
tampaklah bayangan tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi
besar sedang bergerak dibawah sorot cahaya lampu.
Dengan cepat ia barkelebat kesamping sambil bersandar
diatas dinding tangan kanannya meraba pintu disekitar sana
lama sekali akhirnya tombol pintu teraba juga olehnya,
menggunakan ketempatan dikala Hoa Pek Touw menutup
pintunya hingga mengeluarkan senjata karas, dia
menerobos kedalam pintu tadi dan menyelinap masuk.
Sekilas cahaya yang lembut mengikuti gerakan tubuhnya
yang menyelinap kedalam ruangan berkelebat didepan
matanya.
Ia menghembuskan napas panjang setelah debaran
jantung agak berkurang matanya mulai memeriksa keadaan
di sekeliling tempat itu.
Terlihatlah dimana ia berada saat ini merupakan sebuah
ruang besar, didalam ruangan itu terdapat beberapa buah
meja yang terbuat dari kayu cendana, tetapi sangat aneh
ternyata disitu tidak nampak sebuah kursipun.
Tepat ditengah ruangan tergantung sebuah tempat lilin
yang sangat besar, ditengah tempat lilin tadi terletak tiga
buah mutiara yang memancarkan cahaya menerangi
permadani merah diatas lantai, cahaya yang suram tadi
menambah cantik serta semaraknya tempat itu.
Kembali sinar mata pek in Hoei berputar dari permadani
merah ia mulai gerakan pandangannya menatap sebuah
pintu kecil yang setengah terbuka disebelah kiri ruangan itu.
Pikirnya didalam hati:
"Entah didalam tanah ada penghuni atau tidak?
seandainya disitu ada orang hingga kini Wie Chin Siang
belum sadar sedang aku sendiripun harus berusaha keras
menahan daya kerja racun yang membakar tubuhku, tak
nanti aku bisa bertahan terlalu lama".
Beberapa saat dia sangsi, tetapi akhirnya Pek In Hoei
mengambil kepuutusan untuk masuk kedalam ruangan itu.
Dalam pada itu suara laugkah kaki dari Hoa Pek Touw
telah tiba didepan pintu, rupanya sebentar lagi dia akan
masuk kesitu.
Keadaan yang semakin mendesak dirinya itu membuat
Pek In Hoei tak dapat berpikir lebih jauh, bagaikan
hembusan angin dia peluk tabuh Wie Chin Siang kemudian
menerobos masuk kedalam ruangan tadi.
"Aaaaah... " mendadak pemuda itu menjerit kaget,
sepasang matanya terbelalak lebar dan menatap diatas
dinding dalam ruangan itu tak berkedip.
Sorot matanya yang terpancar keluar dari balik matanya
menunjukkan kekaguman rasa tegang dan kaget yang tak
terhingga sepasang kakinya seolah olah terpantek diatas
tanah. badannya sedikinpun tidak berkutik.
Lama sekali.... dia baru dapat menghembuskan napas
panjang dan pujinya.
"Oooh sungguh cantik wajahnya..."
Sambil membopong Wie Chin Siang selangkah demi
selangkah dia berjalan mendekati lukisan yang tergantung
diatas dinding tembok itu, kurang lebih delapan langkah
kemudian ia baru berhenti dsn kembali memuji :
"Sungguh cantik wajah oreng itu! sungguh cantik lukisan
tersebut...."
Rupanya ruangan tersebut adalah kamar tidur seorang
gadis, tepat diatas ruangan itu kecuali sebuah toilet, sebuah
pembaringan besar serta beberapa buah kursi. seluruh
dinding dipenuhi dengan gantungan lukisan,
Tetapi diantara lukisan lukisan tersebut hanya sebuah
lukisan yang tergantung di atas pembaringan itu saja yang
terbesar, maka dari itu setiap orang yang masuk ke dalam
ruangan segera akan melihat lebih dahulu lukisan gadis
cantik itu.
"Aaai benar benar sangat indah" kembali Pek In Hoei
bergumam seorang diri "Entah siapakah yang melukis
lukisan ini",
Dia melangkah dua tindak lebih kedepan, terlihatlah
disebelah kiri lukisan tersebut tsrtera sebuah cap nama
sipelukis, cuma warna merah cap tadi sudah hampir luntur,
sekalipun begitu tulisan yang tertera masih kelihatan nyata
sekali.
"Aaaah. Hoa pek Touw yang melukis lukisan ini?"
dengan segera ia membatin. "Sungguh lihay orang itu,
kepandaian apapun berhasil dia kuasai"
Dalam sekejap mata otaknya telah dipenuhi dengan
pelbagai pikiran:
"Manusia yang berbakat seni den memiliki banyak
macam ilma, macam dia itu sebenarnya merupakan seorang
yang sangat cerdik, entah apa sebabnya telah bersekongkol
dengan sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay untuk
menaklukkan dunia persilatan"
Ia mendongak memandang kembali lukisan gadis cantik
diatas dinding, lalu pikirnya lebih jauh:
"Rupanya lukisan gadis ini bukan lain adalah gambar
dari gadis bernama Bong Jien yang dipuja dan dicintainya
itu. tidak aneh kalau dia bisa begitu kegila gilaan serta
merindukannya siang dan malam. kecantikan wajah dara
ini memang luar biasa sekali."
Ia geleng2 kepala dan menghela napas panjang.
"Asaai entah apa sebabnya dia telah melepaskan diri dari
cinta kasih sang gadis yang begitu mendalam, sebaliknya
malah melakukan perbuatan perbuatan sadis dan terkutuk
terhadap umat Bulim”
Sepasang alisnya berkerut, pikirnya lebih jauh:
"Atau mungkin gadis itu telah terbunuh oleh jago Bulim
dari daratan Tioaggoan maka sekarang Hoa Pek Touw akan
membalaskan dendam berdarah itu dan disebabkan
peristiwa inilah muncul keinginannya untuk
mempersatukan seluruh dunia kangouw dibawah
kekuasaannya?"
Pelbagai ingatan tersebut dengan cepatnya memenuhi
banek sianak muda itu. sementara dia masih berusaha
mencari sebab sebab yang mengakibatkan Hoa Pek Touw
hendak menguasai seluruh Bulim dengan andalkan
kecerdikannya, mendadak terdengar pintu besar didorong
orang.
Diikuti terdengar suara langkah yeng sempoyongan
bergerak menuju keruang tidur tersebut, langkahnya berat
dan kedengarannya seolah olah hendak menerjang masuk
kedalam.
Pek In Hoei terperanjat, ia mendusin dari lamunannya,
dengan cepat sinar matanya bergerak memeriksa keadaan
disekitar ruangan itu untuk coba mencari tempat yang dapat
digunakan untuk menyembunyikan diri.
Suara teriakan keras Hoa Pek Touw yang berada diluar
ruangan kedengaran semakin nyata, dan apa yang
diteriakan pun hanya beberapa patah kata yang sama
"Bong Jien.... Ooooh, Bong Jien..."
Pek in Hoei makin terkesiap, ia sadar bahwa sejenak lagi
kekek she Hoa itu pasti akan tiba didalam ruangan itu.
maka akhirnya tanpa berpikir panjang lagi menerobos
masuk kebawah pembaringan.
"Braaaak...!" pintu kayu terbentang lebar kena dorongan
yang keras, Hoa Pek Touw dengan langkah sempoyongan
menerjang masuk kedalam ruangan.
Dia lari terus hingga tiba ditepi pembaringan. disana
badannya kembali sempoyongan dan akhirnya jatuh
berlutut keatas tanah, serunya berulang kali
"Bong Jien.... Oooh Bong Jien ku sayang...!"
Suaranya rendah dan mendatar penuh diliputi rasa cinta
yang meluap-luap, seakan akan kekasihnya berdiri
dihadapannya dan ia sedang memeluk gadis pujaan hatinya
itu.
"Bong Jien... Oooh... Bong Jienku sayang!" serunya
dengan suara gemetar. lni hari aku telah berjumpa dengan
anak murid perempuan rendah itu, meskipun selama
puluhan tahun ini aku telah bersumpah untuk tidak
berjumpa kembali dengan parempuan rendah itu dan aku
tak akan menggunakan ilmu silatku lagi, tetapi... tetapi...
akhirnya aku tak dapat menahan diri..."
ia terbatuk batuk, setelah merandek sejenak terusnya :
"Aku telah melukai dirinya, aku suruh dia kembali kelaut
Timur den beritahu kepada Ho Bong Jien siperempuan
rendah itu. Bahwa didalam tiga bulan mendatang mereka
pasti akan tinggalkan luar lautan untuk datang kedaratan
Tionggoan. Bong jien sukmamu berada tidak jauh dari sini,
sampai waktunya kau dapat menyaksikan sendiri
bagaimana kubalaskan dendam sakit hatimu itu..."
Beberapa patah perkataannya ini segera membuat Pek In
Hoei yang bersembunyi dibawah kolong pembaringan jadi
bingung setengah mati, dengan rasa tercengang dia tidak
habis mengerti pikirnya:
"Kalau didengar dari teriakannya Bong Jien, Bong Jien
terus terusan aku masih mengira dia rindu dan sayang
terhadap kekasihnya, sekarang.... kembali dia sebut sebut
Hoo Bong jien dari lautan Timur... Huuu...! sebenarnya dia
mau mengangkangi dunia persilatan dan memperbudak
jago jago kangouw adalah disebabkan dia mencintai Bong
jien ataukah benci terhadap gadis yang bernama Bon Jien?
Pertanyaan itu merupakan satu tanda tanya yang sangat
besar baginya, dan untuk sesaat dia tak sanggup
memecahkan teka teki ini.
Suara gumaman Hoa Pek touw yang samar dan rendah
lapat lapat masih kedengaran berkumandang disisi
telinganya, namun apa yang sedang diucapkan sianak muda
ini tak dapat memahaminya.
Pek In Hoei yang berada dikolong pembaringan hanya
dapat saksikan sepasang lutut Hoa Pek Touw yang berlutut
diatas tanah. dan sama sekali tak dapat menyaksikan
perubahan air mukanya, oleh sebab itu diapun tidak tahu
apa yang sedang dia lakukan pada saat ini.
Nsmun hal yang paling menyiksa batin Pek In Hoei
adalah tubuh Wie Chin Siang yang masih dipeluknya
dengan kencang itu, bau harum semerbak tubuh seorang
gadis perawan tiada hentinya menusuk lubang hidung
pemuda ini ditambah lagi dengan tubuhnya yang panas dan
bersandar rapat ditubuhnya, dadanya yang empuk dan
menempel didada sendiri membuat darah panas dalam
tubuhnya bergolak hebat, denyutan nadinya bermbah lebih
cepat dan lapat lapat napsu birahi mulai bangkit.
Sianak muda ini sadar akan saat ini dia tak kuasa
menahan diri maka satu peristiwa yang hebat pssti akan
berlangsung, maka dari itu dia berusaha untuk membuang
jauh pikiran yang menunjukkan bahwa tubuh Wie Chin
Siang yang halus, empuk dan merangsang itu berada
didalam pelukannya.
Tetapi tubuhnya yang panas tetap menggetarkan hatinya.
bahkan napasnyapun terasa kian lama kian bertambah
panas.
Ia basahi bibirnya yang kering dengan lidah, terasa
kobaran api dalam tubuhnya semakin membara, keringat
sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya
membasahi pipinya dan jatuh ketanah...
Dengan hati gelisah pikirnya:
"Rumput racun penghancur hati itu entah termasuk
dalam jenis apa? walaupun hawa racun yang kuhisap tidak
banyak ditambah pula dengan pengerahan hawa murni
untuk mencegah perluasan racun itu kedalam tubuh, tetapi
rasanya tubuhku seakan akan dibakar hangus Sebaliknya
dia berada sangat dekat dengan tempat kejadian, hawa
racun yang dihisapnya tentu jauh lebih banyak daripada
diriku, kobaran hawa panas dalam tubuhnya pasti sukar
ditahan, kalau tidak cepat kuperiksa keadaannya sehingga
racun itu menyusup kcdalam jantung... waah bisa jadi
jiwanya tak akan tertolong lagi..."
Saking cemasnya, hampir saja ia cabut pedangnya untuk
menerjang keluar..
Mendadak....terdengar Hoa Pek Touw menangis tersedu
sedu, bagaikan orang edan teriaknya dengan suara setengah
menjerit :
"Kalau aku tidak membinasakan tiga orang setan tua dari
lautan timur, dan seandainya aku tidak membunuh serta
menginjak injak semua orang kangouw yang pandai bersilat
dibawah kakiku, aku bersumpah tidak mau jadi orang"
Teriakan itu menggidikkan hati Pek in Hoei, terasa bulu
kuduknya pada bangun berdiri, sekujur badannya gemetar
keras, segera pikirnya:
"Latah benar orang ini dan benar besar ambisinya, belum
pernah didalam dunia persilatan terdapat manusia
sesombong dan sepongah dia. seandainya dia adalah
seorang manusia biasa masih mendingan, tetapi
kecerdikannya melebihi orang lain, kepandaian silatnya luar
biasa... Aaaaai tampaknya pembunuhan besar besaren tak
akan terhindar dari dunia persilatan."
Dua rentetan cahsya mata yang sangat tajam memancar
keluar dari balik matanya, bekas merah darah diantara,
jidatnya kelihatan semakin nyata, mengikuti golakkan
hatinya yang berkobar kobar hampir saja dia merangkak
keluar dari tempat pensembunyiannya untuk
membinasakan Hoa Pek Touw sikakek tua itu.
Tetapi ketika itulah bagaikan seguluag hembuean angin
puyuh, Hoe Pek Touw telah menerjang keluar dari pintu
ruangan, diiringi dengan suara raungannya yang keras dia
berlalu dari pintu.
Dalam sekejap mata suara raungan itu telah menjauh
dan akhirnya tak kedengaran lagi. yang tertinggal hanyalah
kesunyian serta kesepian yang mencekam seluruh ruangan,
membuat keadaan disitu seolah olah kosong dan hampa....
Satelah dia yakin bahwa Hoa Pek Touw tak bakal balik
lagi Pek In Hoei menghembuskan napas panjang, sambil
mengendorksu hatinya yang tegang perlahan lahan dia
merangkak keluar dari tempat persembunyiannya.
Saat inilah dia baru merasakan betapa bahayanya
keadaan yang mencekam dirinya barusan, karena pada
detik itulah ia telah teringat kembali akan perkataan dari
Cian Hoan Lang Koen silelaki tampan berwajah seribu
yang berkata:
"Hoa Pek Touw adalah manusia yang paling licik, paling
berbahaya dan paling kejam dikolong langit dewasa ini,
kecerdasannya, kelihayannya mengatasi lawan serta
kehebatannya menggunakan racun tiada tandingannya
didalam jaged..."
Sambil membaringkan tubuh Wie Chin Siang diatas
pembaringan, pikirnya lebih lanjut:
"Apa yang dilakukannya tadi siapa tahu kalau cuma
sandiwara belaka? terhadap manusia yang berakal licik dan
sukar diraba perasaan hatinya macam dia harus dihadapi
pula dengan kecerdasan serta sikap yang waspada dan hati
hati. Kini setelah dia berlalu dari sini, aku rasa tak nanti dia
balik lagi kemari"
Ia besut keringat yang membasahi tubuhnya, tundukkan
kepala memandang Wie Chin Siang yang sedang tidur
dengan nyenyak terasalah betapa cantik wajah gadis itu
pipinya yang merah, hidungnya yang mancung serta
bibirnya yang mungil membuat jantung terasa berdebar
keras.
Tenaga tekanan atau golakan hatinya tadi, saat ini
seakan akan bendungan yang ambrol sukar dipertahankan
lagi, golakan hawa panas dalam dadanya bagaikan
gulungan ombak segera mempengaruhi seluruh pikiran.
Suatu keinginan untuk menubruk keatas pembaringan,
menindih tubuh gadis itu dan melampiaskan napsu
birahinya meluap dalam benaknya, tetapi ia masih coba
mempertahankan diri. digigitnya ujung bibir keras keras
sehingga terasa amat sakit sekali ingin dia berhasil menekan
golakkan nafsu birahi tersebut
Hingga darah segar menetes keluar dari mulut luka
diatas bibirnya ia baru sadar kembali, pandangan matanya
segera coba dialihkan ketempat, lain dan sebiasanya
menghindari bentrokan dengan tubuh gadis yang padat
berisi dan menawan hati itu.
Menahan napsu birahi adalah suatu perbuatan yang
amat sulit dilaksanakan, dan juga merupakan suatu
pekerjaan yang amat menyiksa batin, suatu penderitaan
yang benar benar luar biasa.
"Akhirnya eku berhasil juga menguasai golakkan nafsu
dalam tubuhku..." gumam peronda itu sambil tertawa getir,
"Tapi dengan demikian aku tak sanggup melakukan
pemeriksaan ditubuhnya umuk mencari tahu dibagian
manakah dari tubuhnya yang keracunan...."
Sementara dia merasa serba salah, mendadak terdengar
Wie Chin Siang berseru
"Air .... aku minta air".
Pek In Hoei jadi sangat girang, cepat cepat dia berpaling
sambil bertanya:
"Nona Wie, apa yang kau minta?"
"Air... aku minta air...”
"Air" Pek Ia Hoei celingukan kesana kemari dan
akhirnya tertawa getir. "Disini mana ada air?".
Rupanya Wie Chin Siang merasa sangat tersiksa
sepasang tangannya mengurut urut dada sendiri, bibirnya
yang terus bergerak tiada hentinya.
Pek In Hoei mengerti pastilah seluruh tubuh gadis itu
terasa panas bagaikan dibakar karena daya kerja dari racun
rumput penghancur hati yang mengeram ditubuhnya karena
kekeringan maka dia ingin minum air, tetapi... darimana ia
bisa dapatkan air?
Sementara dia merasa serba salah, mendadak sepasang
tangan Wie Chin Siang yang sedang mengurut dadanya itu
mencengkeram pakaian yang dikenakan dan kemudian
ditariknya hingga robek.
"Breeet...” baju luarnya terkoyak koyak sehingga
tampaklah pakaian dalamnya yang berwarna merah.
Pek In Hoei terperanjat, terlihatlah olehnya dibalik
pakaian dalamnya yang berwarna merah nampak kulit
tubuhnya yang putih bersih bagaikan salju.. getaran
tubuhnya yang menawan membuat pikiran orang terasa
melayang entah kemana.
Perasaan hatinya kembali bergolak. buru buru dia
melengos kesamping, namun satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benaknya, bila ia selain berbuat demikian
maka gadis itu pasti akan msti keracunan, oleh sebab itu
dengan berat hati dia berpaling kembali.
Sambil gigit bibirnya kencang kencang, tangan kanannya
segera ditempelkan keatas pusar gadis itu, maksudnya ia
hendak mengucurkan hawa lweekangnya untuk memaksa
keluar racun yang mengeram didalam tubuhnya.
Tetapi baru saja telapaknya menempel dibawah pusar
gadis itu, mendadak sekujai badan Wie Chin Siang gemetar
keras, sepasang lengannya bagaikan dua ekor ular dengan
cepat merangkul tubuhnya, segulung bau harum ysng
memabukkan memancar keluar dari mulutnya dan
menusuk lubang hidung pemuda kita.
Rangsagan ini betul betul luar biasa, goncangan hati
sianak muda itu sukar dipertahankan lagi, sepasang
lengannya segera balas memeluk tubuh gadis itu diikutinya
tubuhnya pun menubruk keatas pembaringan dan
menindihi tubuh gadis she Wie itu. Terutama sekali
bibirnya yang panas segera saling menempel dengan bibir
gadis tadi, diciumnya tubuh dara itu. dihisapnya. digigit
dan ditempelkannya dengen penuh bernapsu.
Suatu perasaan aneh muncul didalam tubuhnya, ia
rasakan bibir Wie Cbin Siang begitu lunak, empuk dan
merangsang hingga membuat Pek in Hoei seolah olah
sedang menghirup isi cawan arak yang lezat dan menawan
hatinya....
Makin lama lengannya yeng memeluk tubuh gadis itu
semakin kencang, seakan akan dia hendak peras seluruh isi
madu ditubuh dara itu dan dihisapnya hingga habis....
"Ehmmm...." Wie Chin Siang perdengarkan rintihannya
yang lirih dan rendah tubuhnya yang halus dan lunak
bagaikan seekor ular menggeliat kesana kemari dalam
pelukannya, sang badan ikut bergerak kesana kemari
menggesekkan setiap pori tubuhnya diatas tubuh pemuda
itu..,
Pak In Hoei menghembuskan napas panjang, ia
kendorkan lengannya yang memeluk tabuh dara ayu itu,
bibirnya pun meninggalkan bibir lawan yang lembut, dari
alam impian dia telah balik lagi kealam kenyataan.
Matanya dipantang kembali memandang bulu matanya
yang halus, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang
merekah bagaikan bunga mawar, jantungnya terasa
berdebar keras.
Kobaran hawa panas dalam tubuhnya membakar isi
perutnya semakin hebat, ia hembuskan napas panjang,
terasa olehnya api dalam badannya seakan akan hendak
melumerkan seluruh tubuhnya.
"Kalau mau melumer, biarkanlah kami melumer
bersama!" gumamnya seorang diri.
Rupanya pemuda ini sudah tak dapat menguasai diri
lagi, dia angkat wajah gadis itu kemudian dicium bibirnya
seakan akan lebah yang sedang menghisap madu diatas
bunga mawar...
Rangsangan yang bangun membuat sekujur badan Wie
Chin Siang gemetar keras, ia merintih rintih kegirangan
sepasang lengannya memeluk leher Pek in Hoei kencang
kemudian perlahan lahan bergeser meraba punggungnya...
Gerakan yang seperti sengaja dan seperti pula tidak
disengaja ini memancing golakkan napsu birahi yang
semakin hebat dari Pek in Hoei. darah panas bergolak
makin kencang dan ia rasakan tububnya seakan akan
semakin menggelembung besar...
Napasnya makin berat, sepasang tangannya dengan
kasar mencengkeram rambutnya...
"Ehmm..." Wie Chin Siang goyangkan kepalanya
memperdengarkan rintihan sakit, lengannya ditekuk dan
coba mendorong tubuh sang pemuda yang menindih
tubuhnya itu
Tetapi Pek In hoei sedang berada dalam kekuasaan
birahi, dia sama sekali tidak merasakan akan dorongan
tersebut
Kembali Wie Chin Siang gerakkan kepalannya.
melepaskan bibirnya dari hisapan lawan.
Bibir Pek in Hoei yang panas berkobar tergeser dari
bibirnya keatas pipi, diapun menciumi leher dan tengkuk
gadis itu.
Wie Chin Siang merintih semakin menjadi, tiba2 ia buka
mulutnya dan menggigit telinga pemuda itu...
"Aduuh..." Pek In Hoei menjerit kesakitan. cepat ia
lepaskan pelukannya dan meloncat bangun.
Birahinya seketika berkurang beberapa bagian, dengan
pandangan bingung diawasinya wajah gadis itu, dalam hati
dia tak mengerti apa yang telah terjadi.
Senyuman manis menghiasi bibir Wie Chin Siang yang
basah, wajahnya bersemu merah dadu, sambil pejamkan
matanya gadis Itu berseru tiada hentinya :
"In Hoei... Oooh, in Hoei..."
Ooo-dw-ooO
Jilid 16
"Kau . . kau . . . mengapa kàu gigit telingaku ?" tanya
Ðåk In Hoei tertegun sambil meraba telinganya yang sakit.
Bulu mata Wie Chin Siang yang tebal berkedip, bibirnya
yang merekah membuka sedang napasnya berhembus
perlahan, sambil membuka matanya dia pandang wajah Ðåk
In Hoei termangu-mangu.
Dari balik biji matanya yang hitam seolab-olah terdapat
kobaran api yang sedang membakar hatinya, meminjam
cahaya mutiara yang tajam menyorot masuk kelubuk hati
sianak muda ltu.
“Kau . . . . . kau . . . . . mengapa kau gigit diriku ??"
kembali terdengar Ðåk In Hoei berseru sambil pegang
telinganya.
Wie Chin Siaog tidak menjawab, bibirnya bergetar terus
menggumam seorang diri :
“In Hoei . . . . In Hoei . . . . "
Suaranya serak lagi rendah dan berat dibalik kerendahan
tadi mengandung tenaga rangsangan yang membetot hati.
Mendengar seruan itu sekujur badan Ðåk In Hoei
mengembang, darah panas mengalir semakin deras,
tenggorokannya terasa kering, bibirnya merekah, sambil
menggigit bibirnya ia balas berseru dengan suara bergetar :
“Chin Siang . . . . kau . . sedang memanggil aku . ..."
Wie Chin Siang menggeliat hebat, seraya menjulurkan
tangannya yang putih keataa bisiknya lembut
“In Hoei, . . kau . . . kau . . . kemari lah, aku . . aku
minta kau datanglah kemari ...."
Panggilan itu bagaikan seruan malaikat ðånñàbut nyawa
membuat sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya,
tanpa sadar dia maju dua langkah kemuka, matanya dengan
tajam tanpa berkedip melototi pakaian dalam sang gadis
yang merah serta tubuh dibalik celana dalamnya yang
menonjol keluar .
Gerakan tangan Wie Chin Siang yang balus makin lama
semakin kencang, napasnyapun ikut tersengkal-sengkal.......
„In Hoei . . In Hoei Ðåk In Hoei ...... '
Seruan yang berkumandang tiada hentinya ini bagaikan
besi sembrani yang menghisap tubuhnya bergerak makin
dekat dengan pembaringan, bajunya hampir saja kena di
renggut tangan Wie Chin Siang yang telah berada didepan
mata itu.
Namun pada detik yang terakbir pikirannya yang kacau
sedikit menjadi jernih, tiba tiba dia mundur kembali
setengah langkah kebelakang.
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga tanpa
terasa ia berseru tertahn :
„Aaaah! àðà yang sedang kulakukan ??? kenapa pula
dengan nona Wie ?? jangan2 didalam rumput racun
penghancur hati itu
( Halaman 7-12 Hilang )
Ketika itu Ðåk In Hoei sedang membenamkan wajahnya
diatas dada Wie Chin Siang, bibimya sedang mengisap
puting gadis itu dengan penuh bernapsu, namun setelah
mendengar panggilan itu gerak geriknya yang sadis dan
kasar itupun reda merandek sejenak.
Dari luar ruangan terdengar suara pintu dibuka orang,
disusul suara Hoa Pek Touw yang rendah berat
berkumandang datang.
”In Eng, kenapa kau tidak mau menpercayai perkataan
ayahmu ??".
Pek In Hoei melengak, dengan wajah bimbang dia
angkat kepala. “In Eng" dua patah kata seakan akan
geledek yang menyambar disiang hari bolong mendengung
tiada hentinya dalam benak pemuda itu.
“In Eng??.... . . In Eng??? - · " gumamnya dengan suara
lirih, sepasang alisnya berkerut kencang “Kenapa tak dapat
mengingat-ingat siapakah sebenarnya In Eng itu??".
Bau harum seorang gadis perawan mengalir keluar
mangikuti cucuran keringat ditubuh Wie Chin Siang,
seketika membuat Pek In Hoei tercekam kembali dalam
angkara birahi, sekali lagi la benamkan kepalanya didada
gadis itu dan menghisap puting susunya.
”Braaaaak . . . . ! " pintu besar diluar ruangan didorong
orang, diikuti suara langkah kaki yang santar menggema
memecahkan kesunyian.
„In Eng ! " suara Hoa Pek Touw berkumandang lagi
dengan berat.
„Telah kukatakan berulang kali, di dalam ruangan ini tak
ada orang yang sedang kau cari!"
Suaranya rendah dan berat namun nyaring dan jelas
didengar, seakan akan menggema disisi telinga pemuda itu,
sekujur badan Pek in Hoei bergetar keras. dengan cepat
kesadarannya jernih kembali.
Sekilas memandang tubuh Wie Chin Siang yang
telanjang bulat, merah padam selembar pipinya. buru buru
dia melengos dan memandang kearah lain.
“Gie hu!" jeritan lengking bergema di luar pintu.
„Dengan mata kepala sendiri kusaksikan orang itu
membawa muridku datang kedalam perkampungan ini,
kenapa setelah berada disini mendadak bisa lenyap tak
berbekas ...... ???"
“Tiada seorang manusiapun akan berhasil menyusup
masuk kedalam perkampungan ini tanpa diketahui penjaga.
mana mungkin orang itu bisa sampai disini ? coba
katakanlah siapakah manusia yang telah menculik muridmu
ïtu ? "
“Eeeii ...... sungguh aneh ! " dengan perasaan kaget dan
tercengang Pek In Hoei membatin. “Mengapa jeritan
lengking perempuan itu terasa sangat kukenal ? suara Itu
mirip sekali dengan suara Kim In Eng loocianpwee .... "
Sementara itu Kim In Eng yang ada di ruang tengah
telah berseru kembali dengan suara keras :
„Orang itu muda sekali usianya, kalau didengar dari
pengakuannya mungkin dialah sijagoan pedang berdarah
dingin Pek In Hoei yang pada beberapa saat belakangan ini
amat tersobor didalam dunia persilatan!"
Mendergar perkataan itu Ðåk ln Hoei terperanjat kembali
dia berpikir ;
„Kapan sih aku telah menculik muridnya dan kubawa
masuk kedalam perkampungan ini ??"
Belum lenyap ingatan tersebut dari dalam benaknya, Wie
Chin Slang yang menggeletak disisi tubuhnya telah
mendesis lirih, såðàsang ular merangkul tengkuknya
kencang.
Sekujur badannya bergetar keras, pikirnya :
„Aaaach, kenapa aku melupakan sesuatu hal ??
bukankah Wie Chin Siang adalah anak murid dari Kim
Loceianpwee ?? aduuh .... kenapa aku bisa melakukan
perbuatan serendah ini ??"
Tatkala disaksikannya Wie Chin Siang berbaring disisi
tubuhnya dalam kcadaan telanjang bulat, saking cemas dan
gelisah nya keringat dingin sampai mengucur keluar tiada
hentinya membasahi seluruh tubuh pemuda itu, buru buru
dia lepaskan rangkulan gadis itu dan loncat turun dari atas
pembaringan.
Belum sampai sepasang kakinya mencapai permukaan
tanah, terdengar Hoa Ðåk Touw telah meraung gusar sambil
berteriak :
„Omong kosong, kemarin malam Ðåk In Hoei telah
menyusup masuk kedalam perkampungan kami dan
sekarang dia sudah mati terkurung didalam lorong Koen
Liong To, mana mungkin bajingan muda itu bisa keluar
dari perkampungan untuk menculik muridmu ??"
Pek In Hoei enjotkan badannya, bagaikan sebelai daun
kering dia melayang kesisi pintu kemudian dengan
pandangan terkejut bercampur bergidik diintipnya keadaan
luar lewat celah2 diatas pintu.
Tampakiah ditengah ruangan besar Hoa Ðåk Touw
berdiri disisi sebuah meja besar yang terbuat dari kayu
cendana, sementara dihadapannya berdirilah seorang
perempuan yang memakai baju serba hitam dengan kepala
memakai kain kerudung hitam .
Dibawab sorotan cahaya mutiara yang samar samar
tampak air muka perempuan itu pucat pias bagaikan mayat,
kalau di tinjau dari lekukan mata serta potongan tubuhnya,
orang itu bukan lain adalah Kim In Eng yang pernah
dijumpainya sewaktu ada digunung Ging Shia tempo dulu.
Setelah berpisah dua tahun lamanya ternyata raut wajah
Kim In Eng sama sekali tidak berubah.
Diatas raut wajahnya yang bersih dan cantik, kini
tergores kepedihan serta kemurungan yang jauh lebih
banyak daripada dahnlu.
“Tetapi dengan mata kepalaku sendiri aku lihat dia
memasuki perkampungan ini ..” " terdengar perempuan itu
berseru dengan napas ter-putus2.
Hoa Ðåk Touw jadi naik pitam.
„Selama lima puluh tahun belakangan belum pernah aku
naik darah terhadap orang Iain walau satu kalipun, tapi In
Eng ......... "
Dia terbatuk-batuk sejenak .
„Kau harus tahu bahwa sepanjang hidupku semua
tenaga serta pikiranku telah kubuang untuk menyelidiki
ilmu pertabiban serta ilmu barisan, terhadap setiap
persoalan yang kuhadapi pasti kuketahui dahulu sebabsebabnya
setelah itu baru kucari pengertiannya dalam
masalah tersebut, dan kini kaupun tak usah
menyembunyikan sesuatu rahasia dihadapanku, sebenarnya
apa maksudmu mengirim muridmu memasuki lorong Koen
Liong To ini? apakah kau hendak memusuhi diriku ??"
„Íoa Ðåk Touw benar-benar seorang yang sangat lihay"
batin Ðåk In Íîåi dengan hati terperanjat..„Ternyata dia
bisa menebak dengan jitu bahwasanya Wie Chin Siang
telah diutus untuk memasuki lorong rahasia didasar telaga
ini, cuma entah àðà maksudnya Kim cianpwe dengan
mengutus muridnya untuk mencari Cian Hoan Lang
Koen??"
Dalam pada itu sekujur badan Kim In Eng telah gemetar
dengan kerasnya, dia coba membantah :
“Gie-hu, putrimu sama sekati tiada maksud untuk
memusuhi dirimu ...... "
“Hmmmm ! terus terang kuberitahukan kepadamu .
’Cian Hoan Lang Koen’ silelaki tampan berwajah seribu
Coa Kie Giok telah mati didalam lorong Koen Liong To
tersebut" dengus Hoa Pek Touw. ”Kau jangan mimpi bisa
...... "
Baru saja dia berbicara sampai disitu mendadak
terdengar Wie Chin Siang yang berbaring diatas ranjang
merintih lirih, seketika itu juga pembicarannya terputus
laksana kilat kakek she Hoa itu menoleh kearah ruangan
tersebut.
(Oo-dwkz-oO
11
MENJUMPAI kakek tua itu telah berpaling sambil
memandang ke arahmya dengan sinar mata tajam, Ðåk in
Hoei sadar bahwa keadaan sangat tidak menguntungkan
dirinya, buru-buru dia melayang balik kesisi pembaringan,
jarinya laksana kilat berkelebat menotok jalan darah bisu
ditubuh dara àyu itu .
Diikuti badannya berputar kencang bagaikan pusaran
angin, lengan kirinya bergerak cepat, tiga biji mutiara yang
berada diatas kelambu telah berhasil di sambarnya sekali
gencet hancurlah mutiara mutiara itu.
”Ðåk in Hoei ayoh keluar dari sana !" terdenger Hoa Pek
Tauw yang ada diluar pintu telah meraung gusar.
Dengan tangan kanannya Pek In Hoei menekan diatas
kelambu sekali putar badan dia melayang keatas
pembaringan, sinar matanya berputar dengan cepat mutiara
penolak air tersebut dimasukkan kambali kedalam sakunya.
Dengan disimpannya mutiara itu suasana dalam
ruanganpun jadi gelap gulita, menggunakan selembar
selimut dia lantas bungkus tubuh Wie Chin Siang yang
telanjang,
“Pek In Hoei !" suara Íîa Ðåk Touw kembali
barkumandang diluar ruangan. “Kau tak akan berhasil
melarikan diri dari sini, ayoh keluar .......".
Ðåk In Hoei tarik napas dalam dalam ilmu aasti surya
kencana dihimpun kedalam telapak, sepasang mata
menatap pintu kayu tajam tajam, la bersiap sedia bilamana
Hoa Pek Touw buka pintu menerjang masuk kedalam maka
dia akan sambut ke datangannya dengan sebuah pukulan
mematikan,
”Chin Siang, ayoh kaupun keluar dari situ!" Kim ln Eng
ikut berteriak keras.
“Sucouw tak akan melukai dirimu !".
“Mungkin Kim locianpwe masih belum mengetahui
kalau akupun berada disini” Pikir Ðåk In Heoi. ”Dia
mengira Wie Chin Siang masih menyaru sebagai diriku
bersembunyi disana, rupanya kalau aku menerjang keluar
hingga dia sampai tahu akan keadaan dari Wie Chin Siang,
sekali pun aku terjun kedalam sungai Hoang Koo untuk
mandi sepuluhkalipun tak nanti bisa membebaskan diri dari
kecurigaannya!".
Sekarang dia baru menyasal mengapa tak sanggup
menahan kobaran napsu birahi dalam tubuhnya sehingga
mengakibatkan terjadinya peristiwa yang tak diinginkan ini,
sementara dikala mengatur pernapasannya barusan secara
lapat lapat dia merasa kan pula racun yang mengeram
dalam tubuhnya dengan mengikuti peredaran hawa murni
perlahan lahan berhasil dipaksa ke luar dari badannya .
Dalam hati segera pikirnya.
“Sungguh tak kusangka rumput racun penghancur hati
adalah sejenis racun yang membangkitkan napsu birahi,
aaai .... hampir saja aku terjerumus kedalam lembah
kenistaan".
Saking kagetnya keringat dingin kembali mengucur
keluar membasahi seluruh badan.diam diam ia bersyukur
karena bagaimana pun juga ia berhasil sadar dari pengaruh
napsu birahi.
“Untung Kim In Eng cianpwee muncul diruang tengah
tepat pada waktunya" pikir pemuda itu sembari menyeka
keringat .
“Kalau tidak perawan seorang gadis bakal kulalap tanpa
sadar, seandainya sampai terjadi begitu bagaimana
mungkin aku bisa hidup jadi orang lagi dikemudían hari ? . .
lagi pula dendam berdarah sedalam lautan belum berhasil
kutuntut balas, tanggung jawab untuk membangun kembali
perguruan belum kulaksanakan seandainya sampai salah
langkah sehingga mempengaruhi langkah langkahku
selanjutnya akan kutaruh kemana wajahku ini ? ".
Teringat akan dendam ayahnya yang belum dibalas
hatinya jadi tercekat, pikirnya lebih jauh :
“Jenazah ayahku telah ketinggalan digunung Ciang Shia
tempo dulu, entah Kim cianpwee telah mengebumikannya
atau bèlum ? ini hari aku harus menanyakan dimanakah
letak makam ayahku. kalau tidak aku bakal dikutuk orang
sebagai anak yang put Hauw"
Mendadak. ..... Braaak ! pintu kayu ditendang orang
hingga berbunyi nyaring.
Dengan cepat ia langkahkan kaki kirinya maju kedepan,
telapak kanan diayun kemuka, dengan jurus “Yang Kong
Phu Cau" atau cahaya matahari memancar terang dari Tay
Yang Sam Sih ia siap malancarkan pukulan maut.
Pada detik yang terakhir sebelum serangan mautnya
dilepaskan, matanya yang tajam berhasil menangkep wajah
Kim In Eng yang berdiri didepan pintu.
Buru buru pemuda kita tarik napas dalam dalam,
pergelangannya diputar melindungi dada, mentah mentah
ia tarik kembali serangannya yang hampir dilepaskan itu.
Suasana dalam ruangan gelap gulita, lama sekali Kim In
Eng berdiri didepan pintu.rupanya ia tidak menjumpai diri
Pek ln Hoei yang berdiri dihadapannya .
Setelah lama ditunggu belum kadengaran juga suara
sahutan, perempaan itu segera berteriak :
“Chin Siang, cepat keluar !".
”Cianpwee, aku yang berada disini ! " jawab Pek In Hoei
seraya tarik napas dalam dalam,
Kim In Eng terkejut, rupanya dia tidak menyangka kalau
didalam ruangan masih terdapat seorang pria, dengan rasa
tercengang segera tanyanya :
“Siapa kau ? ".
”Aku. Pek in Hoei ........ ! "
“Pek In Hoei, kau ? ......... " karena goncangan batin
yang keras, kain kerudung diatas wajah perempuan itu
berkibar tiada hentinya.
“Cianpwee, baik baikkah selama kita berpisah ? "
“Ooob bocah. sungguh payah kucari dirimu ....... "
Tampak bayangan manusia berkelebat,dengan gusar Hoa
Pek Touw telah membentak :
“Jangan masuk kedalam kamarku !".
Ujung bajunya segera dikebas kemuka, diiringi satu
hembusan angin puyuh yang maha dahsyat tubuh Kim In
Eng terdorong enam depa dari tempat semula,
menggunakan kesempatan itu badannya meluncur kemuka
menerobos masuk kedalam kamar.
“Keparat cilik !" teriaknya penuh kegusaran.
“Kau berani menerobos masuk kedalam kamar Bong
Jien kesayanganku ? akan kuhancur lumatkan dirimu jadi
perkedell ".
Pek ln Hoei mendengus dingin, tanpa mengucapkan
sepatah katapun lengannya digetarkan kedepan, dalam satu
ayunan telepak kanannya yang dahsyat, hawa panas yang
menyengat badan segera menggulung kemuka.
Sepasang pundak Hoa Pek Touw bergerak, badannya
maju dua langkah kedepan tangan kirinya diayun kemuka
sementara tangan kanan menekan kedalam, didalam
gerakan yang berlawanan itu angin pusaran yang hebat
menyambut datangnya ancaman itu .
“Buuuuum . . . . ! " ledakan dahayat menggoncangkan
seluruh permukaan.
Pek In Hoei membentak keras, mendadak telapak
kanannya melancarkan kembali satu pukulan.
Setelah jurus “Yang Kong Phu Cau" digunakan
sepenuhnya, segulung hawa panas yang maha dahsvat
menggulung keluar dari dalam ruangan menahan
datangnya terjangan dari Hoa Pek Touw.
Tetapi mengikuti tenaga perputaran yang menggulung
datang itu jantungnya terasa bergetar pula sehingga darah
segar dalam dadanya bergolak kencang, badannya tak tahan
mundur satu langkah kebelakang.
Meskipun ilmu sakti “Thay Yang San Sie" adalah
kapandaian yang maha sakti, namun sayang pertama, ia tak
sanggup mengerahkan segenap tenaga murni yang ada
didalam tubuhnya untuk melancarkan serangan tersebut
dan kedua, baru saja la dimabuk napsu birahi sehingga
banyak tenaga serta semangatnya yang hilang. maka ilmu
tadi masih belum sanggup menandingi ilmu “Poh Giok
Cioe" dari Hoa Pek Touw.
Masih untung dia mengenakan kutang mustika
pelindung badan, kalau tidak mungkin isi perutnya telah
terluka termakan hantaman dahayat itu.
Dia tarik napas dalam dalam, dengan cepat hawa
murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuhnya satu
kali. kemudian dengan hati bergidik pikirnya :
“Sungguh tak kunyana kecuali pandai didalam ilmu
pertabiban. ilmu jebakan, ilmu barisan serta ilmu mengatur
alat rahasia, kepandaian silat yang dimiliki Hoa Pek Touw
pun luar biasa lihaynya, kalau dibandingkan dengan si
Rasul Pembenci langit Ku Loei boleh dikata jauh lebih lihay
beberapa kali lipat Ehmmm ..... mula mula aku masih
mengira “Tay Yang Sin Kang" ilmu sakti Surya Kencana
dari negeri Tayli ini tiada tandingan dikolong langit, tak
tahunya masih juga tak mempan untuk mengalahkan
manusia aneh dari perguruan Liuw mah Boen ini ....... "
Dalam pada itu Hoa Pek Touw sendiri pun terperanjat
atas keliheyan lawannya,segera ia membentak :
“Keparat cilik, aku tidak mengira kalau kau telah
berhasil melatih kepandaian panas yang begini hebatnya . . .
. ''.
Ia merandek sejenak. “Manusia berbahaya semacam kau
tak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi dikolong langit !".
Sambil berseru badannya bekelebat kemuka, bagaikan
sesosok bayangan setan dia mendekati lawannya, jari dan
telapak bekerja sama dengan hebatnya,dalam sekejap mata
ia telah mengirim tiga buah serangan berantai.
Sungguh dahsyat serangan dari kakek tua ini, laksana
gulungan ombak ditengah amukan badai, dengan hebatnya
menyerang dan menerjang pada pemuda itu.
Pek ln Hoei tak berani bertindak gegabah, buru buru
kakinya bergeser kesamping.. dalam keadaan gugup dan
cemas secara beruntun dia lancarkan tujuh buah serangan
berantai, satelah bersusah payah beberapa saat lamanya
ancaman maut dari pihak lawanpun berhasil juga diatasi.
Dalam melancarkan tujuh buah serangan berantai itu,dia
telah memasukkan kepandaian lihay dari partai Sauw lim,
Hoa san, Bu tong serta Tiam cong, diantara
berkelebatannya sepasang telapak, kepala, jari, kaki serta
sikut bekerja keras menyodok kesana menghantam kemari.
Meski demikian badannya kena didesak mundur juga
sejauh setengah langkah.
Air mukanya seketika berubah hebat pikirnya :
„Aku tak boleh memberì kesempatan kepadanya
sehingga bangsat tua ini berhasil mendahului diriku, kalau
tidak dalam dua satu jurus mendatang badanku bakal babak
belur kena gebukannya ..... "
Begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya,
dengan cepat kakinya bergerak. dia melangkah maju tiga
tindak kemuka kemudian telapaknya diayun melancarkan
sebuah serangan dengan jurus “Liat Yang Hian Tian" atau
Terik sang surya menyengat badan.
“Gie-hu !" saat itulah Kim ln Eng teriak keras dan
menubruk masuk kedalam.
“Keluar ! " bentak Hoa Ðåk Touw.
Badannya miring kesamping. laksana kilat kaki
kanannya Melancarkan sebuah tendangan, Sementara itu
Kim In Eng sedang menerjang masuk kedalam. dia tidak
menyangka kalau Hoa Pek Touw dapat melancarkan
tendangan kilat pada saat itu. seketika badannya merandek,
cepat kakinya melangkah kesamping dengan suatu gerakan
yang manis dia menghindarkan diri dari datangnya
tendangan tersebut.
Tanpa berpaling Hoa Pek Touw menekuk ujung kaki
kanannya kemudian dari suatu sudut yang aneh dan tak
disangka mengirim satu tendangan lagi.
Tendangannya ini sama sekali tidak ditarik kembali
sebaliknya malah bergeser tiga coen lagi kedepan,Dalam
keadaan seperti ini tak mungkin bagi Kim In Eng untuk
menghindarkan diri lagi, kakinya jadi kaku dan seluruh
badannya terpental hingga mencelat keluar dari pintu.
“Aduuuuh. . . . !" dia berseru tertahan, kebetulan sekali
tangan kananya membentur diatas pintu kayu . . . . . .
Bruuuk ! terkena tenaga sambaran itu, pintu tadi segera
menutup keras.
Susana dalam ruangan seketika berubah jadi gelap gulita,
saking gelapnya sampai lima jaripun sukar dilihat.
Tatkala Pek In Hoei melancarkan serangannya tadi
mandadak pandangannya jadi gelap diam diam ia merasa
keadaan tidak menguntungkan, segera tenaga murni yang
dimilikinya dihimpun semua. badannya bergerak dengan
cepat ia bergeser lima langkah kesisi pintu.
Terasalah desiran angin tajam menyambar ditengah
kegelapan, begaikan sambaran kilat angin serangan tadi
menembusi ruangan menghantem diatas dinding.
Buuuum . . . ! pasir dan debu beterbangan memenuhi
angkasa.suara dengungan yang amat keras hingga menusuk
pendengeran menggema disemua penjuru ......
“Pek ln Hoei, kau hendak lari kemana?" bentak Hoa Pek
Touw sambil tertawa dingin.
Seakan akan dia dapat mengetahui bahwasannÿa Pek In
Hoei telah bergeser dari tempatnya semula, bersamaan
dengan selesainya ucapan itu badannya segera menubruk
kembali kearah mana sianak muda itu berada sekarang.
Walaupum berdiri ditempat kegelapan namun sejak
semula Pek In Hoei sudah mampersiapkan diri menghadapi
segala kemungkinan yang tidak di inginkan, merasakan
datangnya serangan dahsyatnya dari Hoa Pek Touw ia jadi
sangat terperanjat.
Angin pukulan bagaikan sebuah jala besar mengurung
seluruh tubuhnya,bukan saja tenaga tekanan menyesakkan
dada bahkan sama sekali tidak memberi peluang barang
sedikitpun baginya untuk menghindar, empat penjuru
seolah olah dikelilingi oleh pisau tajam yang membabat
kearahnya bagaikan badannya hendak dibabat mentah
mentah ......
Dengan hati bergidik pemuda kita balas mengirim satu
serangan. menggunakan kesempatan dikala berdesingnya
angin tajam diapun balas melancarkan tujuh buah serangan
berantai.
„Bluumm ......... Bluumm ......... ! "
Bluumm ......... ! " ditengah bentrokan nyaring kedua
belah pihak telah saling bertukar tiga buah pukulan
ditengah angkasa.
Napas Pak ln Hoei mulai tersengkal kakinya terhuyung
mundur dua langkah ke belakang.
“Hemm! cobalah lagi tujuh buah seranganku ini !"
Jengek Hoa Pek Touw dengan suara yang menyeramkam.
Dengan sempoyongan Pek In Hoei mundur kebelakang,
ia bermaksud menyingkir kesebelah kanàn tetapi setelah
mundur beberapa langkah dia baru merasakan bahwa
dirinya telah tiba disisi dinding, tiada jalan lagi baginya
untuk mengundurkan diri .
Dengan parasaan kaget bercampur terperanjat, pikirnya.
“Untuk menghadapi tujuh buah serangan nya itu aku
harus berusaha menjebolkan dinding tembok ini lebih
dahulu kemudian baru bisa dilawan, kalau tidak isi perutku
pasti akan terluka parah ......
Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam keadaan seperti
iní tíada kesempatan baginya untuk berpikir panjang,
pedang mustika penghancur sang suryanya segera dicabut
keluar dari dalam sarung.
Tampak cahaya pedang berkelebat lewat sebelum pedang
itu sempat lolos dari sarungnya, sebuah serangan maut dari
Hoa Pek Touw telah menghantam dengan telak nya diatas
dada pemuda itu.
Datangnya serangan tersebut sama sekali tidak
membawa suara atau getaran menanti telapak lawan
menempel diatas dadanya ia baru merasai .
Menanti ia sadar akan bahaya yang mengancam jiwanya
tenaga pukulan Hoa Pek Touw telah disalurkan keluar,
dengan telak dadanya kena dihantam keras keras.
Dengan menaban rasa sakit yang bukan kepalang sianak
muda itu meraung keras, darah seger muncrat keluar dari
mulutnya.telapak kanan dirapatkan dan segera bales
mengirim satu babatan.
Babatan ini dilancarkan didalam keadaan kacau dan
cemas, sama sekali tidak termasuk jurus serangan dari
aliran manapun apalagi di lancarkan dalam jarak yang
sangat dekat dan ditengah kegelapan ---- Bruuuk ! dengan
telak babatan itu bersarang pula di atas bahu kakek tua itu,
Dalam pada itu Hoa Pek Touw sedang miringkan
kepalanya untuk menghindarkan diri dari cipraan darah
segar yang ditumpahkan dari mulut Pek In Hoei, dia tidak
mènyangka kalau pemuda itu masih sempat melepaskan
serangan balasan dikala isi perutnya telah terluka, apalagi
jarak diantara mereka terlalu dekat, serangan tadi tak
sempat dihindari lagi.
Ia mendengus berat, badannya mundur selangkah
kebelakang dimana kakinya berlalu ubin yang kena diinjak
segera hancur dan merekah.
Sekilas cahaya pedang mendadak berkelebat diangkasa,
meminjam kesempatan yang sangat baik itulah Pek In Hoei
mencabut keluar pedang mustika Si Jiet Kiamnya .
Tampak pedang itu digetarkan keras, cahaya tajam
segera berkilatan memenuhi angkasa mengikuti bergeser
langkah kaki, cahaya pedang mendadak sirap dan tahu2
sudah dilintangkan didepan dada .
Hoa Pek Touw tidak mengira tenaga lwekang yang
dimiliki Pek In Hoei sedemikian sempuma meskipua
usianya masih sangat muda, kendati dadanya sudah kena
dihantam namun sama sekali tidak roboh terjungkal keatas
tanah
Dalam hati kakek tua ini merasa bergidik, sambil tarik
napas menahan rasa sakit diatas bahunya ia tatap wajah
sianak muda itu tajam tajam .
Tetkala dijumpainya Pak In Hoai berdiri serius
dihadapannya sambil menyilangkan pedang mustikamya
didepan dada, segera ia mendengus dingin.
“Hmmm ! isi perutmu sudah terluka parah, kalau tidak
cepat cepat kau obati luka dalammu itu dalam satu jam
mendatang jiwa mu bakel melayang. Heeeh ... heeeh ....
heeeh . . . . apa kau anggap aku tak dapat melihat bahwa
gayamu memegang pedang saat ini hanya gertak sambal
belaka ? ... aku lihat lebih baik buang saja senjatamu itu ! "
Pek In Hoei sendiri diam diam merasa terperanjat, ia
kagum atas ketajaman mata pihak lawannya yang telah
berhasil mengetahui akan kekosongan gaya pedangnya itu.
Hatinya jadi bergidik, sambil menahan Pergelangannya
yang gemeter keras pikirnya didalam hati ;
“Saat ini paling banter aku cuma sanggup menghadapi
tiga jurus serangannya belaka, setelah itu urat nadiku bakal
pecah dan jiwaku bakal melayang, apa yang harus
kulakukan sekarang ? menerjang keluar dari ruangan ini ?
jelas tak mungkin !".
Hoa Pek Touw bukanlah manusia sembarangan, sebagai
orang Yang berhati licik sekilas memandang cahaya tajam
diujung senjata lawan, dia segera mengetahui kalau pemuda
itu sedang bertahan sebisa bisanya, maka dengan suara
dingin kembali jengeknya ;
“Dalam kendaan seperti ini loohu hanya cukup
menggunakan tiga jurus serangan saja sudah sanggup untuk
membinasakan dirimu ! .
Mendadak . . . . Pintu depan didorong orang diikuti Kim
In Eng menerjang masuk kedalam ruangan.
“In Hoei" serunya dengan hati cemas,
“Kau tidak terluka bukan ?....."
“Aku tidak apa apa !"
“In Eng, ayoh cepat enyah dari sini !? " hardik Hoa Pek
Touw,
“Gie-hu (ayah angkat) ! ampunilah jiwanya dan
lepaskanlah dia pergi dari sini!"
Hoa Pek Touw tertawa seram.
“Aku peras keringat puter otak dan banting tulang
selama lima puluh tahun sebenarnya apa tujuannya ? kalau
ini hari kulepaskan keparat cilik ini maka dikemudian hari
jagoan Bu-lim manakah yang sanggup menaklukkan dirinya
...... "
Mandadak ia menoleh dan menghardik :
“Pek In Hoei, jangan bergerak !"
Perlahan lahan Pak in Hoei tarik kembali kakinya yang
sudah melangkah kedepan, sahutnya lirih :
“Hoa Pek Touw .... janganlah kau terlalu memakan
diriku !". ia merandek sejenak kemudian tambahnya ketus.
“Kau harus tahu binatangpun mempunyai semangat
untuk bertempur hingga titik darah penghabisan, kau
anggap aku sudi takluk dan menyerah dengan begini saja,
??? "
“Hmmm ! rupanya Cian Hoan Lang Koen telah
membeberkan semua rencana besarku kepadamu, heeeh .....
heeeeh .... heeeh .... kalau memang demikian adanya, kau
semakin tak boleh kulepaskan lolos dari perkampungan Tay
Bie San cung ini. Keparat cilik ! ini hari kau harus mati
disini !".
Keadaan dari Pek In Hoei saat ini benar2 amat kritis,
setiap saat kemungkinan besar jiwanya bisa melayang
ditangan jago tua itu, mendadak sinar matanya beralih
keatas lukisan yang tergantung diatas pembaringan satu
ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya.
Meskipun dia punya tujuan kesitu namun pemuda kita
cukup cendik, sinar matanya justru malahan ditujukan
kepintu luar.
Melihat sianak muda itu memperhatikan kearah pintu,
Hoa Pek Touw mangira día akan meloloskan diri dengan
menggunakan kesempatan itu, sambil mendengus dingin
badannya segera bergeser empat langkah kesamping dan
berdiri tepat didepan pintu .
Setelah itu sambil memandang kearah Pek In Hoei
ejeknya :
“Akan kulihat bagaimana caramu menirukan binatang
yang akan bertahan hingga titik darah penghabisan, akan
kulihat apakah kau sanggup memaksa aku hingga mundur
selangkah kebelakang ".
“Setan tua kau tertipu !" seru Pak In Hoei, badannya
dengan cepat bergerak, bukan pintu depan yang dituju
sebaliknya malah meloncat naik keatas pembaringan.
Menyaksikan perbuatan sianak muda Itu,air muka Hoa
Pek Touw berubah hebat, diam diam ia berseru tertahan
lalu dengan penuh kegusaran makinya:
“Keparat cilik2, licin benar akal bulus mu !"
Dengan jurus “Pouw Giok Sheng Than" atau Berpeluk
tangan Menenggelamkan sampan telapaknya segera
menyamber kemuka meaghantam Pek In Hoei yaog ada
diatas pembaringan.
“Tahan !" bentak Pek ln Hoei sambil membetulkan
posisinya.
Hoa Pek Touw melengak, dilihatnya si anak muda itu
telah tudingkan senjatanya diatas lukisan gadis di atas
dinding itu, air mukanya segera berubah, dengan menahan
perasaan batin yang tersiksa bentaknya penuh kegusaran ;
“Pak la Hoei, kalan kau berani merusak lukisanku itu
maka semua manusia she Pek yang ada dikolong langit
akan kubunuh hingga habis !”
Sambil berdiri tegak Pek ln Hoei menatap Hoa Pek
Touw yang sedang marah marah, terhadap makiannya dia
tidak menggubris dan tetap berlagak pilon.
“Apakah kau masih membutuhkan lukisan ini ?"
tanyanya.
“Sekalipun aku tidak membutuhkan lagi lukisan itu.
jiwamu tetap akan kucabut !"
“Sungguh ? kau benar benar tidak membutuhkan lukisan
ini lagi ? .... "
Saking gusar dan mendongkolnya sepasang mata Hoa
Pek Touw berubah jadi merah berapi api, dengan gemas
dan penuh kebencian teriaknya :
“Kalau kau berani menggores lukisan itu seketika itu jaga
Kim In Eng akan kubinasakan lebih dahulu !"
Dengan pandangan bergidik Kim ln Eng menatap wajah
Hoa Pek Touw, bagaimana pun juga dia tidak mengira
kalau ayah angkatnya begitu kejam dan berhati keji, hatinya
jadi dingin dan bulu kuduk pada bangun berdiri ....
“Hmm ! kalau memang kau sudah tidak ingini lukisan
ini lagi, baiklah akan kuhancurkan lumatkan jadi berkeping
keping ",ancam Pek In Hoei sambil mendengus dingin.
Hoa Pek Touw merasa sangat mendongkol, selama
hidup dia cuma tahu menjebak orang lain siapa sangka ini
hari harus jatuh kecudang ditangan orang bahkan orang itu
adalah seorang pemuda yang masih muda belia.
Saking khekinya hampir saja dia muntah darah, dalam
hati iapun merasa tetcengang dan tidak habis mengerti,
darimana pemuda itu bisa tahu kalau lukisan tersebut
adalah benda yang paling disayanginya melebihi jiwa
sendiri.
Berpuluh puluh macam akal berkelebat memenuhi
benaknya, tetapi sayang tak satupun bisa digunakan untuk
memaksa Pek In Hoei menggeserkan pedangnya dari atas
lukisan itu.
Akhirnya dia menyerah dan berkata :
“Baiklah ! untuk kali ini akan kulepaskan dirimu pergi
dari sini dan aku berjanji tak akan membinanakan dirimu
pada hari ini ! " .
Pek ln Hoei mendengus dingin
“Masa dikolong langit benar benar terdapat persoalan
yang begini gampang bisa diselesaikan ??? keluarkan dulu
obat pemunah dari rumput racun penghancur hati !".
“Bangsat ! jangan terlalu besarkan pentang mulut
anjingmu, kalau sampai melampaùi batas permintaan itu,
aku bisa korbankan lukisan itu detik ini juga: Hmm.....
kalau sampai aku berbuat nekad hati hati selembar jiwa
bangsatmu, tak nanti ku ampuni !".
“Sekalipun aku ajukan penawaram setinggi langit,
bukankah kaupun punya kesempatan untuk menawar ? "
jengek sianak muda she Pek itu sambil tertawa hambar.
“Asal kan kedua belah pihak sudah setuju, maka dagangan
Itupun boleh dikatakan telah jadi".
“Heeeeh...heeeeeh. heech.. sekarang kau jangan keburu
merasa bangga dulu, suatu saat aku berhasil menangkap
dirimu ...... Hmm ! saat itulah kau tak akan bisa tertawa lagi
!".
“Itu sih urusan belakangan, buat apa sekarang kita
membicarakannya lebih dahulu ? "
Senyuman yang menghiasi bibirnya mendadak
membeku, rasa sakit yang luar biasa segera tertera jelas
diates wajahnya, kembali pemuda itu muntahkan darah
segar.
Melihat kesempatan baik yang sukar ditemukan telah
tiba Hoa Pek Touw tak mau sia siakan dengan begitu saja,
pundaknya segersabergerak siap loncat kedepan merampas
pedangnya atau bila mungkin sekalian membinasakan
pemuda itu.
“Tahan " bentak Pek In Hoei dengan alis berkerut
kencang.
“Criiiit . . " segulung angin desiran tajam meluncur
keluar.
Tubuh Hoa Pek Touw yang, sedang menubruk tiba
seketike tertahan dicengah udara, terpaksa in harus
melayang turun keatas permukaan tanah.
Walaupun begitu kakek tua ini tak mau begitu saja
melepaskan mangsanya dari tangannya segera diayun
mengirim satu serangan balasan.
Bruuunk ....... ! angin pukulan itu dengan telak
menghantam diatas pergelangan tangan Pek In Hoei yang
mencekal pedang.
Sianak muda itu membentak nyaring,sambil ayun tangan
kirinya ia mengancam :
“Apakah kau hendak menyaksikan dengan mata kepala
sendiri kuhancurkan lukisan ini ?"
Tangan kanan bergetar kencang. diantara berkelebatnya
cahaya pedang ia perlihatkan sikap hendak manggurat
lukisan gadis cantik itu.
Hoa Pek Touw jadi lemas, ancaman tersebut tepat
mengenai hati kecilnya, sambil menunjukkan sikap yang
sangat menderita bisiknya lirih :
“Kalau kau memang jantan, sekarang juga goreslah
lukisanku itu !, . . . . ,
Mula mula Pek In Hoei melengak namun segera dia
tertawa dingin.
“Apa susahnya berbuat demikian ?"
Sinar matanya berkelebat menyapu sekejap wajah Hoa
Pek Touw, kemudian tambahnya :
“Ooooh, betapa indah serta bagusnya lukisan yang luar
biasa serta susah dicari keduanya dikolong langit dewasa
ini, terutama sekali senyuman manis dari gadis dalam
lukisan itu serta pandangan mesrah penuh cinta kasih yang
dia perlihatkan, benarkah kau sudah tidak
membutuhkannya dan rela kuhancurkan lukisan yang
demikian luar biasanya ini ..... aaaah ..... aku merasa
radaan sayang ...."
“Tutup mulut anjingmu !" teriak Hoe Pek Touw. titik air
mata mulai membasahi kelopak matanya “Baiklah, ini
adalah pil penolak racun, ambillah pergi ! .
Dari sakunya kakek tua itu ambil keluar dua butir pil
yang terbungkus dalam lilin dan dilemparkan keatas
pembaringan, setelah itu dengan sedih ia tundukkan
kepalanya rendah rendah,
Walaupun Pek In Hoei telah menggunakan titik
kelemahan dari Hoa Pek Touw untuk memaksa dia
menyèrahkan pil pemunàh racun itu, namun dalam hati
kecilnya dia merasa sangat kagum atas kesetiaan serta
kesungguhan cintanya yang telah berlungsung puluhan
tahun lamanya tanpa berubah sedikitpun itu,
Pikirnya didalam hati ;
“Sekalipun dia adalah seorang manusia durjana yang
paling kejam, paling telengas dan paling licik dikolong
langit, namun kesetiaannya serta kesunguhan cintanya
terhadap kekasih yang pernah dicintainya puluhan tahun
berselang sukar dicari keduanya Aaaaii . . . . entah dapatkah
aku meniru kesunguhan cintanya terbadap kekasihku
kemudian hari ? . . . "
Tanpa menunjukkan pandangan mengejek atau pandang
rendah lawannya, la segera berkata serius :
“Aku telah menderita luka dalam yang amat parah, aku
berharap kaupun bisa menghadiahkan pula sebutir pil
“Tiang Coen Wan" yang baru saja kau buat itu kepadaku,
dengan demikian dalam perjumpaan kita yang akan datang
aku tidak sampai kau tundukkan dengan begitu mudah"
Dengan penuh rasa mendongkol Íîa Ðåk Touw melotot
sekejap kearah pemuda itu, rasa gusar dan gemasnya tanpa
terasa ikut tersalur keluar lewat pandangan tadi.
Menyaksikan betapa benci dan gusarnya kakek itu
memandang dirinya, diam-diam Ðåk In Hoei sendiripun
merasa bergidik sehingga bulu kuduknya pada bangun
berdiri.
(Oo-dwkz-oO)
Jilid 17 (edit by Sumahan)
DARI dalam sakunya Hoa Pek Tuo ambil keluar sebuah
botol porselen berwarna hijau, kemudian mengeluarkan
sebutir pil bewarna merah darah.
Sambil melemparkannya keatas pembaringan serunya
tertawa dingin: “Suatu saat kau terjatuh ditanganku, kalau
tidak kusuruh kau rasakan siksaan dikerubuti berlaksa-laksa
ekor binatang yang paling berbisa dikolong langit, aku
bersumpah tidak mau jadi orang!"
“Seandainya ilmu silat yang kumiliki telah punah,
kendati kau berhasil menangkap dirikupun percuma seja,
tiada artinya sama sekali. Begini saja, bila kiia bertemu
muka lagi dikemudian hari mari kita saling beradu
kecerdasan lagi! Aku sih ingin sekali berhasil kau tangkap
dikemudian hari sehingga dapat merasakan bagaimana
penderitaan seseorang yang dikerubuti berlaksa-laksa ekor
binatang beracun, tetapi aku takut tidak demikian
gampangnya kau bisa memenuhi keinginanmu itu!”
Dia ulapkan tangannya, kemudian tambahnya lagi
“Sekarang, silahkan kau keluar dari ruangan ini!"
Lama sekali Hoa Pek Tuo menatap wajah Pek In Hoei,
akhirnya dengan suara berat dia mengancam: “Bilamana
kubiarkan kau berhasil tinggalkan tempat ini sejauh tiga
puluh li, sejak ini hari aku tidak akan she Hoa lagi!"
Pek In Hoei tertawa dingin, tanpa mengucapkan sepatah
katapun dia awasi wajah kakek tua itu tanpa berkedip.
Bagaikan dua ekor binatang buas yang saling berhadapan
kedua orang itu saling berpandangan beberapa waktu
lamanya.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya sambil tertawa
hambar Pek In Hoei berkata: “Kalau aku tak sanggup
tinggalkan daerah sejauh tiga puluh li dari sini dan keburu
kena kau tangkap lagi, mulai ini hari juga aku pun tak sudi
she Pek lagi”
“Bagus! perkataan seorang lelaki sejati berat laksana
gunung Thay-san, setelah diucapkan tak akan diingkari
kembali”.
Hoa Pek Tuo mendengus dingin, tanpa mengucapkan
separah kata lagi segera putar badan berlalu dari ruangan
itu.
Pek In Hoei termenung berpikir sejenak, tiba-tiba
tanyanya lagi: “Berapa lama waktu yang kau berikan
kepada kami?"
“Dua jam!” sahut Hoa Pek Tuo sambil menoleh dan
tertawa, kemudian dengan cepatnya ia berlalu dari ruangan
tersebut.
Mendengar waktu yang disebutkan itu sepasang alis Pek
In Hoei kontan berkerut kencang” pikirnya didalam hati:
“Kurang ajar.... kembali aku tertipu, waktu selama dua
jam hanya cukup bagiku untuk melakukan perjalanan
sejauh tiga puluh li.... bukankah terang-terangan aku bakal
kalah taruhan lagi”
Ia merandek sejenak, lalu pikirnya lebih jauh: “Aku
masih mengira dalam pertarungan ini dirikulah yang pasti
peroleh kemenangan siapa sangka ucapanku yang terakhir
justru telah terjatuh kedalam perangkap orang. Aaaiiii.....
rupanya aku harus lebih banyak berlatih diri lagi, dengan
demikian dikemudian hari baru tidak sampai tertipu lagi
oleh manusia licik yang banyak akalnya seperti dia....”
Dia hanya pusatan semua perhatiannya untuk mencari
akal bagaimana caranya melepaskan diri dari pengejaran
Hoa Pek Tuo dan telah melupakan bahwasanya Kim In
Eng masih berada disitu.
Dalam pada itu sidewi khiem sendiri sejak memasuki
ruangan itu hingga kini hanya berdiri bersandar disisi
dinding saja. menyaksikan Pek In Hoei dalam keadaan
yang kepepet dan terdesak ternyata masih sanggup
menolong dirinya dengan kecerdikan otaknya, diam-diam
ia jadi kagum dibuatnya.
Sambil tersenyum segera pikirnya didalam hati: “Kini
dia telah mulai bergerak menuju keposisi kursi singgasana
nomor wahid di kolong langit, suatu saat ia akan berhasil
melenyapkan semua rintangan didepan matanya dan
menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling kosen
dikolong langit.....
Tapi.... belum lama senyuman girangnya menghiasi bibir
perempuan itu, tiba tiba ia saksikan sekujur badan Pek In
Hoei gemetar keras, dengan menahan rasa sakit tak
terhingga dia mendengus berat kemudian roboh terjungkal
dari atas tiang pembaringan.
Cahaya pedang berkelebat lewat, senjata Si Jiet Kiam
yang tajam seketika merobek kain kelambu berwarna merah
itu dan membawa tubuh Pek In Hoei yang berat roboh
terjengkang diatas ranjang.
Air muka Kim In Eng berubah hebat, cepat cepat dia
maju kedepan memayang bangun tubuh sianak muda itu,
tampaklah air mukanya telah berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat, keringat sebesar kacang kedelai
membasahi sekujur tubuhnya, sambil menggigit bibir ia
telah jatuh tidak sadarkan diri.
Dengan perasaan penuh kasih sayang dan kasihan
perempuan itu mengeluarkan saputangan untuk menyeka
air keringat yang telah membasahi wajah pemuda itu,
bagaimana pun juga dia merasa kagum dan memuji akan
kegagahan serta keberanian yang telah diperlihatkan sianak
muda itu barusan.
Tanpa berpikir panjang lagi diambilnya dua butir pil
yang berada diatas ranjang itu kemudian
menghancurkannya dan dijejalkan ke dalam mulut Pek In
Hoei, selelah itu tangannya berkerja keras menguruti dada
serta lambung pemuda itu agar peredaran darah tubuhnya
bisa berjalan kembali dengan lancar.
Memandang raut wajahnya yang tampan dan menarik
hati, muncul perasaan kasihan serta sayang dari mata
perempuan itu, bisiknya dengan suara yang lirih: “Selama
dua tahun belakangan ini kau tentu sudah menelan banyak
pahit getir yang menyiksa tubuhmu, kalau tidak dari mana
mungkin dari seorang bocah cilik yang tak pandai ilmu silat
kini telah berubah jadi seorang pendekar muda yang cerdik,
berani serta memilki kepandaian silat maha sakti”
Tanpa terasa bayangan dari Cia Ceng Gak sijago pedang
sakti dari Tiam Cong Pay di kala masih mudanya terbayang
kembali dalam benak perempuan she Kim ini. Waktu itu
diapun sedang menginjak masa mudanya, bukan saja
ganteng, gagah dan berani, bahkan di masa mudanya telah
berhasil menduduki jabatan sebagai seorang ketua partai.
Senyuman sedih dan pedih tersungging di ujung
bibirnya, diam diam pikirnya kembali “Ketika itu meskipun
Cia lang dengan membawa pedang sakti kepandaian lihay
menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan, namun
berhubung dia sudah masuki perguruan To boen maka
terhadap gadis gadis cantik yang ada didalam dunia sama
sekali tak memandang sebelah matapun. Oleh sebab itulah
orang orang sampai menyebut dirinya sebagai pemuda
yang tidak romantis....”
Ia menghela napas panjang, pikirnya lebih jauh:
“Aaaaai! meskipun ia telah menjabat sebagai ciangbunjin
dari partai Tiam Cong, namun cinta kasihnya terhadap
diriku tetap mendalam dan merasuk hingga ke tulang
sumsum. Ia rela tinggalkan segala galanya untuk menemani
aku berpesiar kesemua tempat yang indah dan menawan
hati. Cinta yang demikian dalamnya bukankah melebihi
dalamnya samudra? tapi aku sendiri.... sama sekali tidak
mengetahui dimana tulang belulangnya dipendam....".
Tetes air mata menetes keluar dari balik biji matanya
yang hitam, gumamnya: “Cia-lang, kau sebagai seorang
ciangbunjin sebuah partai besarpun dapat tinggalkan tata
kesopanan serta derajatmu sebagai ketua. Aaaai.... tapi
siapakah dikolong langit yang mengetahui bahwa kaulah
bianglala dan partai Tiam Cong”
Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh ruangan
itu, pikirannya jadi melayang layang entah kemana,
bayangan Cia Ceng Gak yang gagahpun segera memenuhi
seluruh benaknya.
Perlahan-lahan ia cabut pedang Si Jiet Kiam itu, meraba
sarung pedang yang terbuat dari kulit ikan hiu itu ia
pejamkan matanya rapat rapat.
Ia merasakan dirinya seakan akan berada dalam pelukan
kekasihnya, seakan akan ia sedang membelai dadanya yang
bidang dan kekar....
“Aaaai....” dia menghela napas panjang. “Tingginya
langit lamanya waktu ada batasnya, namun sampai kapan
cinta kasihku bisa terpenuhi...."
Ia gelengkan kepalanya berulang kaii, kemudian dengan
tangannya yang putih halus dipunggutnya mutiara penolak
air yang menggeletak diatas selimut itu.
Hawa pedang, cahaya mutiara memancar di atas raut
wajahnya yang segar membuat perempuan itu kelihatan
lebih cantik, seolah-olah sebuah patung arca yang terbuat
dari baru pualam.
Mutiara yang besar dan bulat bergelindingan diatas
tandannya, sambil tersenyum cengang pikirnya:
“Mengapa perasaan hatiku pada hari ini bisa melayang
sampai begitu jauhnya? kenapa aku sudah melupakan
bahwa usiaku hampir mencapai angka empat puluh?
Aaaai.... kenangan lama apa gunanya dipikirkan
kembali....".
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia
berpikir lebih jauh: “Chin Siang adalah seorang bocah yang
halus dan menawan hati, untuk mencari kabar berita dari
Pek In Hoei aku pernah suruh ia berkelana didalam dunia
persilatan dengan menggunakan namanya sehingga
memperoleh sebutan sebagai jago pedang berdarah dingin
kenapa aku tidak jodohkan sama gadis manis itu dengan
diri Pek In Hoei?”
Teringat akan Wie Chin Siang, diapun lantas teringat
kembali bahwasanya kemarin malam ia telah mengutus
muridnya ini untuk menyusup kedalam lorong rahasia dan
berusaha untuk menjumpai Cian Hoan Lang Kosu guna
menanyakan nasib dari Cia Ceng Gak.
Dengan cepat ia meloncat bangun, pikirnya dengan hati
cemas. “Aaaah! kenapa aku telah melupakan dirinya? Sejak
kemarin malam masuk ke dalam perkampungan hingga kini
belum ada kabar beritanya sama sekali mengenai nasibnya.
Aaaiii.... kenapa setelah bertemu dengan Pek In Hoei
saking gembiranya aku telah melupakan dirinya....”
Sambil menggigit ujung bibirnya dia masukkan kembali
padang penghancur sang surya itu kedalam sarung,
kemudian putar badan dan loncat keluar dari ruangan itu.
Tiba tiba terdengar Pek In Hoei merintih, diikuti
matanya dibuka dengan memandang keempat penjuru
dengan sikap tertegun, akhirnya dia loncat bangun dari atas
pembaringan.
Mendengar suara rintihan itu, Kim In Eng menoleh,
menyaksikan Pek In Hoei loncat turun dari pembaringan
dengan penuh kegirangan segera teriaknya: “Bocah, apakah
kau telah sehat kembali?".
“Cianpwee, Hoa Pek Tuo ada dimena?"
Kim In Eng tidak langsung menjawab, perlahan lahan ia
dekati sianak muda itu kemudian sambil memandangnya
dengan penuh kasih sayang pujinya. “Sungguh tak
kusangka setelah berpisah dua tahun, kau telah berhasil
mempelajari ilmu silat yang demikian lihaynya, terutama
sekali didalam situasi yang amat berbahaya kau masih
sanggup memaksa ayah angkatku mundur....”
Merah jengah selembar wajah Pek In Hoei. “Sebetulnya
aku tidak pantas menggunakan cara yang demikian
rendahnya untuk paksa dia keluar dari sini, tetapi kalau aku
tidak berbuat demikian maka jiwaku bakal terancam....”
“Tidak!” kata Kim In Eng sambil gelengkan kepalanya.
“Seseorang bilamana menghadapi situasi yang mengancam
keselamatan serta jiwanya, maka tindakan serta perbuatan
apapun yang dilakukan tak bisa di anggap sebagai suatu
perbuatan yang rendah dan memalukan....”
Ia tertawa getir, lalu tambahnya: “Seandainya kau tidak
berhasil menangkap titik kelemahan dari ayah angkatku,
mungkin akupun tidak punya harapan untuk tinggalkan
tempat ini dalam keadaan hidup. Selamanya dia paling
pantang kalau ada orang memasuki kamarnya...."
Kendati dalam hati Pek In Hoei merasa heran dari mana
Kim In Eng bisa jadi putri angkat dari Hoa Pek Tuo, tetapi
ia merasa kurang enak untuk menanyakannya.
Setelah terenung sebentar ujarnya dengan serius: “Kim
cianpwee, maaf kalau boanpwee akan bicara blak blakan
dengan dirimu. Berhubung Hoa Pek Toew mempunyai
sangkut paut yang amat besar dengan partai Tiam Cong
kami serta seluruh umat bu lim yang ada dikolong langit,
maka bilamana dikemudian hari boanpwee terpaksa harus
bertempur melawan dirinya, aku harap cianwee...."
“Tidak usah kau teruskan perkataanmu itu. Aku sudah
mengetahui apa yang kau maksudkan!” tukas Kim In Eng.
Ia menghela napas sedih. “Usiaku sudah hampir mencapai
empat puluh tahun. Sejak Cia leng mati hatiku telah
berubah jadi tawar bagaikan air. Nanti akan kuberitahukan
kepadamu dimana jenasah ayahmu aku kubur. Setelah itu
aku akan masuk menjadi pendeta dan selama hidup aku tak
mau mencampuri urusan keduniawian lagi. Janganlah kau
mengira aku akan mencampurkan diri didalam urusan ini
hingga menyulitkan dirimu”
Semua persoalan yang semula memurungkan hati Pek In
Hoei kini telah lenyap bagaikan asap diangkasa. Perlahanlahan
ia menarik nafas dalam2.
“Pada dua tahun berselang, boanpwee telah berbuat
Puthauw terhadap orang tua sehingga merepotkan
cianpwee lah yang harus menguburkan jenasah ayah ku.
Atas bantuan serta kebaikan hati cianpwee terimalah
sekarang sebuah hormat dari aku Pek In Hoei”
Ia bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut dihadapan
Kim In Eng untuk menjalani sebuah penghormatan besar.
Buru buru Kim In Eng membimbingnya bangun “Pek
hian-tit kau tak usah berbuat begitu, nanti akupun masih
ada sedikit persoalan yang ingin mohon bantuanmu".
Satelah merandek sejenak, katanya dengan nada sedih
“Selama hidup hanya satu persoalan yang mencemaskan
hatiku, yaitu hingga kini aku merasa belum mengetahui
bagaimana nasib Cia-leng. Apakah dia masih hidup atau
sudah mati? teringat dikala ia berpisah dengan diriku tempo
dulu, mustika penghancur sang surya ini ada bersama sama
dirinya, dan kini kau....”
“Supek-couw telah mati di kaki gunung Ching Shia....”
seru Pek In Hoei dengan suara berat.
Belum habis ia berkata, sekujur badan Kim In Eng telah
gemetar keras, Ia mundur selangkah kebelakang sementara
air matanya jatuh berlinang bagaikan hujan deras. Sambil
memegang pinggiran ranjang, tanyanya lagi dengan suara
terpatah patah “Bagai.... bagaimana mungkin.... apa.... apa
sebabnya dia.... dia mati dan bagaimana.... bagaimana pula
dengan ciangbungjin delapan partai lainnya?”.
“Dia orang tua mati karena terkena racun yang maha
dahsyat, sedang ciangbunjin dari delapan partai lainnya pun
telah mati semua di dalam satu gua yang sama....”.
Pucat pias selembar wajah Kim In Eng, sambil menggigit
kencang bibirnya ia tatap wajah Pek In Hoei dengan tajam,
air matanya mengucur keluar makin deras....
“Siapa.... siapakah yang telah membinasakan mereka
semua? Siapakah yang mempunyai kepandaian sedemikian
lihaynya hingga dapat meracuni mereka semua....?”
gumamnya.
“Mereka semua dibokong dengan cara yang paling
rendah, perbuatan ini bukan dilakukan oleh orang yang tak
berkepandaian silat....” kata Pek In Hoei dengan nada
sedih.
“Sebenarnya siapa yeng telah mencelakai mereka?" teriak
Kim In Eog, suaranya parau dan serak.
Pek In Hoei menjadi ragu, sebelum ia sempat mengambil
keputusan untuk memberitakan kerja sama antara Hoa Pek
Tuo dengan Cia Ka Sin-mo untuk mencelakai sembilan
partai besar di gunung Cing Shia, mendadak pintu digedor
orang disusul suara dari Hoa Pek Tauw yang dingin
menyeramkan berkumandang keluar: “Hey orang she Pek,
waktu satu jam telah lewat!”.
Pek In Hoei tergetar keras, dengan hati bergidik ia
melongok ke pintu luar, sekarang ia pun ingat bahwa ia
telah berjanji dengan Hoa Pek Tuo, dimana dirinya hanya
diberi kesempatan selama dua jam untuk meninggalkan
perkampungan Tay Bie San cung.
Dengan hati bergidik segera pikirnya: “Seandainya
kuceritakan perbuatan terkutuknya yang telah mencelakai
ketua dari sembilan partai besar, kemungkinan besar ia
akan mengingkari janji. Bukan saja aku tidak dibiarkan
hidup, bahkan Kim cianpwee pun kemungkinan besar bakal
menemui ajalnya di tangan bajingan tua ini."
Berpikir demikian, ia lantas berseru lantang “Aku harap
kaupun bisa menepati janji yang telah kau ucapkan dan
segera mengundurkan diri dari lorong rahasia ini, kalau
tidak akupun bisa mengingkari janjiku”
“Bangsat cilik, sekarang baiklah kubiarkan kau berlagak
jumawa, nanti kalau aku tidak beset kulit anjingmu lalu
suruh kau merasakan disiksa oleh lima jenis racun yang
terkeji dikolong langit, agar kau menderita siksa selama tiga
hari tiga malam baru mati, jangan panggil namaku Hoa Pek
Tuo".
Suara itu makin lama semakin lirih dan makin jauh
hingga akhirnya lenyap dari pendengaran.
Pek In Hoei mendengus dingin pikirnya: “Walaupun
sekarang aku tak bisa menangkan dirimu, tetapi aku bisa
menghancurkan kekuatanmu, agar kalian tak dapat bersatu
padu untuk mewujudkan rencana besar kalian untuk
merajai dunia persilatan".
“Aaaaah, sungguh tak nyana begitu kejam dan
telengasnya hati bangsat tua itu" seru Kim In Eng dengan
nada terperanjat. “Selama hampir dua puluh tahun lamanya
aku masih mengira dia adalah seorang tabib sakti yang
berhati penuh welas kasih dan suka menolong sesamanya
dikolong langit”
Bibir Pek In Hoei bergerak ingin menguutarakan pula hal
hal kekejian serta kelicikan Hoa Pek Tuo, tetapi akhirnya ia
batalkan maksud hatinya itu.
Kembali pikirnya didalam hati: “Sekarang adalah
saatnya bagiku untuk melarikan diri dari perkampungan
Tay Bie San cung ini, pertama tama aku harus berusaha
untuk memancing perhatian Hoa Pek Tuo agar seluruh
kekuatan dan pikirannya ditujukan kepadaku, dengan
begitu, Kim cianpwee dapat melarikan diri dengan leluasa".
Dalam pada itu Kim In Eng telah berhasil menguasai
golakan hatinya, sambil membesut air mata katanya: “In
Hoei, sekarang aku hendak memberi tahukan sesuatu
kepadamu, yakni jenasah ayahmu telah kubakar hingga
tinggal abu....”
Dengan perasaan terperanjat, Pek In Hoei mendongak,
lalu menatap wajah Kim In Eng dengan pandangan
mendelong.
Perempuan itu tertawa getir, ujarnya lebih lanjut: “Pada
malam itu aku harus bergebrak sebanyak dua ratus jurus
dengan Ku Loei, walaupun akhirnya dengan irama khiem
ku, aku berhasil mengalahjan dirinya, tetapi akupun
menderita luka parah, dalam keadaan seperti itu aku benar
benar tak bertenaga sama sekali untuk membawa jenasah
ayahmu turun dari gunung Cing Shia”
Ia merandek sejenak kemudian terusnya: “Oleh sebab itu
setibanya dilereng gunung Cing Shia, maka jenasah ayahmu
segera kuserahkan kepada Hoei Kak Loo Nie untuk dibakar
dan hingga kini abu dari ayahmu mauh berada didalam kuil
Hoei Kak An dibelakang hutan bambu, bila suatu saat kau
datang kesana carilah Hoei Kak Loo nie, maka dia akan
serahkan kembali abu orang tuamu itu kepadamu"
“Terima kasih atas bantuanmu, cianpwee....” seru Pek In
Hoei dengan amat terharu hingga titik air mata tanpa terasa
jatuh bercucuran.
Kim In Eng sendiripun dibuat sangat terharu oleh sikap
Pek In Hoei yang lugu itu, ia menghela napas panjang.
“Anakku, aku merasa amat menyesal karena tak dapat
mengubur jenasah ayahmu di puncak gunung kenamaan itu
agar sukmanya yang ada di alam baka memperoleh
ketenangan serta ketenteraman, maka dari itu, setelah turun
gunung siang malam, aku berusaha menemukan dirimu,
dan mohon kepadamu....”
Pak In Hoei berdiri termangu-mangu. Teringat kembali
olehnya bayangan tatkala sambil memboyong jenasah
ayahnya, per-lahan2 turun gunung, ketika itu tubuhnya
penuh dengan luka, hampir boleh dikata tak sebahagianpun
berada dalam keadaan utuh.
Air matanya jatuh bercucuran, hampir saja ia tak
sanggup menahan kepedihan hatinya, namun ia genggam
sepasang kepalannya kencang2 dan menekan penderitaan
serta siksaan batin itu dalam hatinya “Aku harus menuntut
balas terhadap orang orang itu. Perduli pada saat apapun,
dimanapun juga, ujung pedangku pasti akan menembusi
tubuh mereka”
Diam diam ia berdoa kepada ayahnya yang berada
dialam baka, agar memperoleh ketenangan dan
ketenteraman.
Perlahan-lahan Kim In Eng berpaling kearah lain,
menyeka air matanya dan berkata: “Menurut apa yang
kuketahui Hwie Kak Loo nie berasal dari partai Go-bie.
tetapi entah sejak kapan ternyata la berhasil mendapatkan
sejilid kitab pusaka ilmu silat yang telah lama lenyap dari
peredaran Bu-lim. Kitab tersebut adalah salinan asli kitab
"Ie Cin Keng" karangan Tat Mo Couwsu yang dibawa
kedaratan Tionggoan dari negeri Thian Tok...."
Wajahnya tiba tiba berubah jadi serius, sambungnya
lebih jauh: “Tetapi watak Hwie Kak Loo nie sangat aneh.
Bagaimanapun juga ia tak mau serahkan kitab pusaka
tersebut. katanya hanya sebiji Si Lek-cu dari Tong Sem
Chong Hoat-su saja yang dapat ditukar dengan salinan kitab
pusaka Ie Cin Keng tersebut”
Pek In Hoei tidak mengerti apa sebabnya secara tiba tiba
Kim In Eng mengungkap soal kitab pusaka "Ie Cin Keng"
dari Tat Mo Couwsu. Dengan pandangan tercengang ia
memandang kearahnya dan mencari tahu apakah
sebenarnya maksud perempuan itu.
“Kelemahan dari ilmu pedang Thiam Cong Kiam Hoat
terletak pada terlalu kerasnya tenaga serangan, segala
sesuatu yang terlalu keras gampang dipatahkan. Karena itu
bila ilmu pedang itu bertemu dengan jagoan kenamaan,
maka kau tak akan bisa peroleh keuntungan dibawah
serangan tenaga dalam yang lembek dan dan panjang”
kembali Kim In Eng menerangkan.
“Boaopwee pun tahu bahwa tenaga lweekang dari partai
Sauw lim panjang tetapi...."
“Tenaga sim-hoat partai Sauw-lim dewasa ini tidak lebih
hanya kulit luarnya belaka. bukan sim hoat siaulim itu yang
kau butuhkan” tukas Kim In Eng. “Kalau kau tidak ingin
seperti halnya dengan Cia Lang yang mati keracunan, kau
harus melatih tenaga dalam semacam itu"
Tatkala dilihatnya wajah sianak muda menunjukkan rasa
terkejut bercampur melengak, dengan nada lirih katanya
lagi: “Karena terlalu menguatirkan dirimu dan
memperhatikan dirimu, maka aku harus memberi petunjuk
kepadamu dengan suara keras. Aku berharap pada suatu
hari kau berhasil jadi manusia nomor satu dikolong langit.
Anakku, bukankah kau selalu berharap demikian?".
Dengan mulut membungkam Pek In Hoei mengangguk.
“Aku pasti akan mempelajari isi kitab Ie Cin Keng. Aku
pasti tak akan menyia-nyiakan harapan cianpwee."
“Sekarang akan kuberitahukan kepadamu dimanakah Si
Lak Cu tersebut disimpan”
Perempuan itu menengok dulu ke kiri ke kanan,
kemudian tangan kiri angkat mutiara penolak air tinggi
tinggi, tangan kanannya menulis beberapa patah kata
ditengah udara.
“Aaah. Kiranya berada di Ci Im...”
“Sssst....” cepat cepat Kim In Eng gunakan jari
telunjuknya diatas bibir larang si anak muda itu bicara lebih
lanjut, bisiknya lirih: “Aku telah berulang kali
memerintahkan Chin Siang dengan alasan hendak pasang
hio untuk membicarakan soal agama dengan hwesio tua itu,
tapi ia cuma berhasil meyakinkan bahwa Si Lak Cu betul
betul berada di tengah patung arca. Benarkan Si Lak Cu
tersebut adalah peninggalan dari Tong Sam Cong Hoatsu,
hal ini terpaksa harus tergantung pada kecerdikannya”
Mendengar perkataan ini, Pek in Hoei lantas teringat
kembali akan kejadian di luar kota Sang Tok Hoe dua hari
setelah ia turun dari gunung Cing Shia, dimana ia
menjumpai Wie Chin Siang sedang pergi pasang hio dikuil
luar kota.
Begitu teringat akan bayangan dari Wie Chin Siang,
pemuda inipun terbayang kembali segala tingkah lakunya
ketika ia dipengaruhi oleh napsu birahi belum lama
berselang hingga seluruh pakaian gadis itu dilepaskan.
Sekujur badannya gemetar keras, tanpa sadar ia bersin
berulang kali. Rupanya Kim In Eng masih belum
menyadari apa yang sedang dipikirkan sianak muda itu,
terdengar ia masih bergumam seorang diri: “Chin Siang ku
amat cantik jelita bagaikan bidadari dari kahyangan. Bukan
saja menawan hati bahkan cerdas dan lincah. Dia
merupakan pasangan yang paling ideal bagimu. Sayang kau
belum pernah menjumpai dirinya”
“Cianpwee” tukas Pek In Hoei. “Dimanakah kedua butir
pil yang baru saja kuminta dari Hoa Pek Tuo?”.
“Eeeei? bukankah sudah kuberikan kepadamu?” sahut
Kim In Eng melengak. “Ku tahu betapa dahsyatnya daya
kerja dari racun Rumput Penghancur hati itu...”
Keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dengan
derasnya, cepat cepat sianak muda itu lari kesisi
pembaringan, kemudian menyingkap selimut yang
menutupi badan gadis she Wie.
Rambut yang panjang dan hitam terurai dari balik
selimut. Air muka Wie Chin Siang merah padam seperti
semula, sedang matanya terpejam rapat rapat.
Ia gigit bibirnya kencang kencang. Urat nadi tangan
kanan dara itu dengan cepat disambar dan dicekalnya. tapi
hatinya segera jadi lega karena denyut nadi dara ayu itu
tetap normal seperti sedia kala.
Sementara itu Kim In Eng merasa terperanjat sewaktu
dilihatnya Pek In Hoei lari ketepi pembaringan bagaikan
kalap kemudian menemukan pula seseorang dibawah
selimut yang menutupi pembaringan tersebut.
Ia tidak mengira kalau sienak muda itu
menyembunyikan seorang gadis didalam kamar itu, alisnya
kontan berkerut dan muncullah keinginan untuk memeriksa
siapakah gerangan gadis itu didalam benaknya.
“Aaaaah!” jeritan tertahan berkumandang memecahkan
kesunyian. “Chin Siang kau....?”
Ia maju semakin dekat lalu menatapnya makin tajam dan
kini ia benar benar merasa yakin bahwa perempuan yang
berbaring disitu bukan lain adalah muridnya Wie Chin
Siang.
Tatkala dilihatnya wajah Wie Chin Siang merah padam
dan matanya terpejam rapat rapat, perempuan ini semakin
terperanjat lagi.
“Chin Siang, kenapa kau?" teriaknya
Pek In Hoei semakin kelabakan “Cianpwee, dia....
dia....”
“Aaaah” ketika Kim In Eng membuka selimut yang
menutupi badan muridnya dan temukan gadis itu berbaring
disana dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai
benangpun yang menempel ditubuhnya, jeritan yang tinggi
melengking segera menggema dalam ruangan itu.
Wajah Pek In Hoei berubah semakin merah padam.
“Dia.... dia terkena....”
“Ploook” tanpa berpikir panjang, sebuah tempelengan
keras mendarat diatas wajah Pek In Hoei, makinya penuh
kegusaran. “Sungguh tak nyana kau adalah seorang
bajingan tengik yang berhati binatang!”
“Plook!” sebuah gaplokan kembali mendarat dipipi
sianak muda tatkala ia masih berdiri melengak tanpa sadar
air mata bercucuran membasahi pipinya.
Pek In Hoei jadi penasaran, rasa dongkol dan gelisah
bercampur aduk jadi satu dalam benaknya dan terakhir
meledak satu amarah yang meluap luap, ia cabut
pedangnya lalu bagaikan orang kalap menerjang keluar
pintu ruangan keras keras.
“Hoa Pek Tuo. ayoh keluar kau bangsat tua....”
Pintu kayu diterjangnya kerai keras hingga hancur
berantakan. Bagaikan banteng yang terluka Pek In Hoei
menerjang keluar dari ruangan meninggalkan Kim In Eng
yang sedang gusar, kaget bercampur melengak serta Wie
Chin Siang yang masih tertidur nyenyak!
“Aaaai.... Sungguh tak kusangka ia bisa melakukan
perbuatan serendah ini.... sungguh tak kunyana...”
terdengar perempuan itu bergumam seorang diri.
Bentakan gusar dan teriakan kalap dari Pek In Hoei
terdengar berkumandang datang dari luar ruangan, tiada
hentinya ia meneriakkan nama dari Hoa Pek Tuo.
Setelah mengetahui peristiwa tersebut, Kim In Eng
merasa kecewa sekali dengan diri pribadi Pek In Hoei,
sudah tentu ua tidak sudi memikirkan pula nasib dari si
anak muda itu itu serta apa yang bakal menimpa dirinya
setelah berjumpa dengan Hoa Pek Tuo nanti, bukan saja ia
kecewa terhadap pemuda itu, iapun kecewa buat impian
serta khayalannya barusan....
Ia merasa dirinya tertipu mentah mentah, karena sejak
masuk kedalam ruangan itu ternyata hingga detik terakhir
sama sekali tidak tahu kalau dibawah selimut ternyata
disembunyikan seseorang, dan orang itu ada!ah muridnya
sendiri.
“Huuuh....! anggap saja mataku buta” teriaknya penuh
kebencian. “Ternyata aku sudah anggap dia seperti halnya
Cia lang, seoreng lelaki sejati yang benar benar jantan dan
hebat. Sungguh tak nyana dia cuma seorang siauw jien yang
punya pikiran sesat. Hmmmm Untung aku belum
menjodohkan Chin Siang kepadanya”.
Makin dipikir ia semakin benci akhirnya mutiara penolak
air yang ada ditangannya diangkat tinggi tinggi dan siap
ditsimpukkan kearah dinding
Cahaya mutiara berkilat membentuk satu lingkaran
busur dihadapannya mendadak satu ingatan berkelebat
didalam benaknya. “Chin Siang menyusup kemari dengan
jalan menyaru, darimana dia bisa tahu kalau dia adalah
seorang perempuan? lagi pula pakaian yang ia kenakan tadi
rajin dan masih lengkap. Seandainya dia hendak menodai
kesucian Chin Siang, semestinya pakaian kutang pelindung
badan yang di kenakan harus dilepaskan...”
Mutiara penolak air itu digenggamnya semakin erat,
pikirnya leblh jauh: “Kalau Chin Siang sudah dinodai
olehnya, diatas pembaringan pasti ada bekas noda darah,
agaknya aku tidak temui noda darah disitu”.
Merah padam air mukanya, buru buru ia singkap selimut
yang menutupi tubuh muridnya dan diperiksa dengan
seksama, kini ia baru temukan bahwa perawan Wie Chin
Siang masih utuh dan belum sampai ditembusi oleh milik
kaum lelaki.
Ia menghembuskan nafas panjang, pikirnya: “Tak
kusangka berhadapan dengan tubuh seorang gadis yang
begini indah merangsang, Pek In Hoei sama sekali tak
tergerak hatinya. Ia sedikitpun tiada minat untuk menodai
kesuciannya”
Sikap serta pandangannya terhadap Pek In Hoei pun
dengan cepat berubah seratus persen, karena itu iapun
mulai menguatirkan keselamatannya. Sambil menutupi
kembali kain selimut itu keatas tubuh Wie Chin Siang, ia
pandang gadis itu dengan pandangan sayang bercampur
kasihan.
Kini, ia merasa rada mendongkol terhadap Pek In Hoei,
sebab berhadapan dengan gadis yang demikian cantiknya
ternyata ia tidak bertindak lebih jauh, sebaliknya malah
dibiarkan merana begitu saja. Apalagi gadis itu adalah
murid kesayangannya.
“Aku tidak percaya In Hoei tidak tergerak hatinya oleh
kecantikan wajah Chin Siang serta keindahan tubuhnya
yang bugil. Apakah ia benar benar sanggup menahan
godaan serta rangsangan yang berada di depannya. Aneh....
sungguh aneh....”
Tak bisa disalahkan kalau ia mempunyai pikiran
demikian, sebab barang siapapun yang mengetahui
peristiwa tersebut tentu akan berpendapat demikian. Siapa
yang sanggup menahan diri bila dihadapannya berbaring
seorang gadis yang amat cantik jelita dalam keadaan bugil
tanpa sepotong busanapun yang melekat ditubuhnya?
Dalam kenyataan ia tidak menyadari bahwa Pek In Hoei
beberapa kali sudah terpengaruh oleh kobaran napsu berahi
yang menggelora dalam dadanya, berulang kali kesadaran
serta kejernihan pikirannya harus bertentangan dengan
bisikan iblis.... dan akhirnya hampir saja ia terjerumus
kedalam lembah kehinaan.
Seandainya ia tidak muncul pada saat yang bersamaan
sehingga gelora birahi dalam dada pemuda itu berhasil di
lenyapkan, mungkin Pek In Hoei telah melakukan
perbuatan tersebut.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Kim In Emg,
akhirnya dia menghela napas panjang.
“Aaaaai....! bagaimanapun juga Chin Siang adalah putri
seorang pembesar, setelah tubuhnya dilihat Pek In Hoei
dalam keadaan polos dan bugil seperti itu, dia harus
dikawinkan dengan pemuda itu!”
Cahaya mutiara berkelebat, ia letakkan mutiara penolak
air itu ke atas rambut Wie Chin Siang yang hitam pekat dan
bisiknya lirih: “Semoga dikemudian hari kau memperoleh
kehidupan yang bahagia, Jangan seperti aku harus
merasakan siksaan batin yang luar biasa karena kesepian,
selama dua puluh tahun tak dapat melupakan rinduku yang
telah merasuk kedalam tulang dan terukir didalam hati”.
Belum habis ia berkata, tiba tiba dari belakang tubuhnya
berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring:
“Tutup mulut!”
Dengan rasa kaget bercampur melengah, perempuan itu
berpaling, tampaklah entah sejak kapan Hoa Pek Tuo telah
masuk ke dalam ruangan itu dan bagaikan sesosok
bayangan setan ia telah berdiri kurang lebih enam depa
dibelakang tubuhnya.
Dengan wajah penuh kepedihan Hoa Pek Tuo angkat
kepalanya memandang lukisan gadis sedang tersenyum
yang tergantung di atas pembaringan, lalu gumannya
seorang diri: “Rindu yang terukir dalam hati, cinta yang
membetot usus, kesepian yang sukar dijauhi, penderitaan
yang panjang dan tiada taranya....”.
Dengan hati yang sakit seperti ditusuk tusuk dengan
beribu ribu jarum ia meraung keras, seraya menjejakkan
kakinya ketanah teriaknya keras keras: “Sebenarnya apakah
cinta itu?”.
Selama hidup belum pernah Kim In Eng menyaksikan
Hoa Pek Tuo menunjukkan penderitaan semacam ini, dan
iapun belum pernah melihat begitu gusarnya sikekek tua itu
semacam hari ini.
Dengan pandangan terkesiap bercampur ngeri ia
memandang bekas telapak kaki yang membekas lima coen
di atas tanah pikirnya: “Selama dua puluh tahun belum
pernah ia tunjukkan ilmu silatnya dihadapan orang lain.
Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang berhasil ia miliki
jauh melebihi suhu maupun subo. Kepandaiannya untuk
merahasiakan diri serta menyimpan kepandaiannya baik
baik sungguh sukar dicarikan tandingannya dikolong langit.
Tapi.... ternyata iapun terbelenggu oleh soal cinta asmara”
Ingatan tersebut bagaikan kilat berkelebat dalam
benaknya, tatkala ia saksikan betapa menderitanya Hoa Pek
Tuo, lama kelamaan Kim In Eng tidak tega, segera
tegurnya: “Gie hu, sebenarnya kau....”
“Tutup mulut!” bentak Hoa Pok Tuo dengan penuh
kegusaran, wajahnya berubah hebat.
Serentetan cahaya mata yang amat buas dan mengerikan
terpancar keluar dari balik kelopak matanya, dengan mata
yang dingin menyeramkan ia berkata lebih jauh: “Siapapun
yang ada di kolong langit tidak diperkenankan masuk ke
dalam ruangan ini. Karena barang siapa yang telah
menyaksikan iukisan tersebut maka dia harus kubunuh
sampai mati. In Eng! Walaupun kau adalah anak angkatku,
tetapi akupun tidak terkecualikan peraturanku ini. Nah kau
boleh segera bunuh diri!”
Kim In Eng tertawa sedih. “Berapa banyaknya kisah
pedih yang di alami umat manusia? Aku adalah orang yang
bersedih hati. Sungguh tak nyana Gie hu pun seorang
manusia yang bersedih hati, sejak Cia Lang mati tinggalkan
diriku, sejak itu pula hatiku sudah mati, sekalipun kau
hendak membinasakan diriku, akupun tak akan jeri”.
Mula mula Hoa Pek Tuo rada tertegun. Diikuti
badannya bergerak kedepan kelima jari tangan kanannya
dipentangkan langsung menyambar lengan kiri Kim In Eng.
“Apa yang kau katakan!?" hardiknya
Kim In Eng sadar bahwa percuma baginya untuk
menghindarkan diri, karena itu dia ini sekali tidak berkutik
dari tempatnya ia biarkan Hoa Pek Tuo mencengkeram
lengan kirinya.
Seakan akan sebuah gelang baja yang mencengkeram
lengannya, kian lama jepitan tersebut kian mengencang
hingga membuat lengannya seolah olah hendak merekah
dan patah.
Saking sakitnya sekujur tubuh perempuan itu mulai
gemetar keras. Keringat sebesar kacang kedelai mengucur
keluar tiada hentinya, namun ia tetap gertak gigil menahan
diri, ujarnya hambar: “Walau apapun hendak kau lakukan
terhadap diriku, aku tidak akan mendendam atau merasa
sakit hati kepadamu, karena hatimu benar benar tersiksa
den sangat menderita, perasaan tereebut bagaimanapun
juga memang sudah sepantasnya kalau kau lampiaskan
keluar”.
Sorot mata Hoa Pek Tno yang buas bagarikan serigala
liar dengan tajam menatap wajah Kim In Eng tanpa
berkedip, seolah olah dia hendak menembusi lubuk hatinya
Beberapa saat kemudian baruia kendorkan cekalannya
sambil berkata dengan suara berat: “Bagaimanapun juga
tetap kau harus mati, tak ada seorang manusiapun yang
dapat menyelamatkan jiwamu!”
“Bagaimana dengan Pek In Hoei?” tanya Kim In Eng
sambil tarik napas panjang panjang, “Bagaimana
keadaannya?...”
“Hmmmm aku hendak suruh dia rasakan siksaan yang
paling sadis dariku, agar dia mati daiam keadaan yang
mengerikan dia mengenaskan”.
Ia tertawa seram setelah merandek sejenak terusnya:
“Sekarang dia telah terkurung didalam barisan Pak To
Ghiet Seng Tin ka yang lihay. Sebelum seluruh tenaga serta
kekuatannya habis tidak nanti kutangkap dirinya. He....
he.... he.... kau mengerti bukan kalau dalam barisan itu
masih tersedia tujuh jenis makhluk beracun? barangsiapa
yang memasuki barisan tersebut berarti dialah yang akan
menjadi "Chiet Seng Tiauw Goen" atau Kaisar daripada
tujuh bintang itu, ha.... ha.... ha....”
Air muka Kim In Eng berubah hebat: “Kau.... kau.... kau
benar benar amat keji....” makinya dengan penuh
kemarahan. “Kau adalah binatang liar yang tak mempunyai
peri kemanusiaan, Kau adalah binatang berkaki empat yang
berkedok manusia....”.
“Hee.... hee.... hee.... In Eng, selama hampir dua puluh
tahun lamanya hanya kau saja yang sering kumaki dan
kutegor, belum pernah kau balas memaki atau menegur
diriku. Sekarang kau kuberi kesempatan bagimu untuk
memaki diriku sepuas puasnya!”.
Kim In Eng mengerti bahwa barisan “Pek To Chiet Seng
Tin" adalah sebuah barisan yang telah dilatih oleh Hoa Pek
Tuo dengan susah payah selama banyak tahun dengan
mengambil tujuh jenis makhluk berbisa untuk menjaga
setiap pintu barisan.
Berhubung begitu hebat dan saktinya perubahan barisan
tersebut, maka barangsiapa yang memasuki barisan itu dia
akan kehilangan arah dan tersesat. Dalam keadaan seperti
itulah serangan bokongan dari tujuh jenis makhluk berbisa
sukar untuk dihindari.
Yang paling lihay adalah sebuah barisan Siauw Chiet
Seng Tin kecil yang dijaga oleh tujuh jenis makhluk beracun
tersebut. Barangsiapa yang masuk kedalam barisan itu
maka pada saat yang bersamaan diatas tubuhnya akan
muncul tujuh buah mulut luka yang akan menghantar
sukma orang itu kembali kealam baka.
Perasaan Kim In Eng pada saat ini bagaikan selaksa
kuda yang berlari kencang, ia merasa gemas dan Ingin
sekali menghantam roboh Hoa Pek Tuo kemudian lari
keluar untuk menolong Pek In Hoei.
Air mukanya berubah berulang kali, mendadak serunya
dengan nada dingin: “Hoa Pek Tuo, manusia kejam dan
berhati binatang semacam kau memang pantas dijauhi
orang, tidak aneh kalau tak seorang perempuan yang
mencintai dirimu”
“Kau bilang apa?” seru Hoa Pak tuo tertegun.
“Hmmmm. sekalipun kau gantungkan lukisan gadis itu
diatas pembaringan, kendati kau puja puja dia setiap hari
bagaikan malaikat, iapun tak nanti akan melirik kepadamu
barang sekejappun".
Hoa Pek Tuo meraung keras, ia lepaskan Kim In Eeg
lalu meloncat naik keatas pembaringan.
Mimpipun Kim In Eng tidak menyangka kalau
ucapannya ini bisa menghasilkan kebebasan bagi dirinya,
sementara ia masih tertegun tampaklah Hoa Pek Tuo sudah
loncat naik keatas pembaringan.
Perempuan itu tarik napas dalam dalam, kelima jarinya
dipentangkan ke muka lalu menghajar jalan darah penting
di atas punggung Hoa Pek Tuo, sementara tangan kirinya
dengan jurus "Hoei Hoa Gwat Lok” atau Bunga Terbang
Merontokkan Rembulan” membabat tekukan lutut si kakek
tua berhati keji itu.
Mengikuti serangan tersebut, tubuh Kim In Eng tidak
berhenti belaka, laksana anak panah yang terlepas dari
busurnya dia ikut meloncat naik keatas pembaringan....
12
SEMENTARA itu, begitu Hoa Pek Tuo meloncat naik
keatas pembaringan, kelima jarinya bagaikan cakar burung
elang segera menyambar kearah lukisan gadis yang
tergantung diatas dinding. Tetapi begitu ujung jarinya
menyentuh dasar lukisan, seeolah olah dipagut oleh ular
berbisa dengan wajah ngeri dan ketakutan cepat cepat ia
tarik kembali tangannya.
Sorot matanya yang buas dan mengerikan dalam sekejap
mata berubah jadi halus dan lunak. Dengan nada hampir
mendekati memohon teriaknya:
(Oo-dwkz-oO)
(bersambung ke jiiid 18)
Jilid 18 (edit by Sumahan)
“BONG JIEN! Aku percaya kau tak akan berbuat
demikian terhadap diriku.... katakanlah kepadaku, bahwa
kau sangat mencintai diriku!"
Waktu iiu serangan jari serta telapak Kim In Eng sudah
hampir mengenai tubuh lawan tetapi tatkala secara tiba-tiba
ia mendengar pancaran suara kasih yang begitu hangat dan
mesra, seolah-olah sebatang batu semberani yang
menghantam hatinya seketika membuat sekujur tubuhnya
gemetar keras dan gerakannyapun berubah jadi perlahan.
Pada saat itu semua semangat, pikiran serta kesadaran
Hoa Pek Tuo telah terjerumus dalam lamunan, ia sama
sekali tidak menduga kalau Kim In Eng yang berada
dibelakang tubuhnya melancarkan serangan bokongan, tapi
di kala pancaran cintanya di utarakan itulah gerakan
perempuan tersebut mendadak jadi perlahan.
Perubahan yang halus dan kecil inilah membuat kekek
kejam tadi seketika menyadari akan datangnya serangan
bokongan itu, dengan gerakan yang tercepat ia putar
badannya, ujung jubah segera dikebaskan keluar.
Seakan-akan sebuah papan baja yang sangat kuat
menghadang dihadapannya, jari tangan serta telapak Kim
In Eng yang sedang meluncur kemuka mendadak terpental
dan terasa amat sakit.
“Aaaaaah....!” ia berseru tertahan, buru-buru sikutnya
ditekuk dan pergelangannya diputar, sebuah tendangan
terbang laksana kilat menghajar perut pihak lawan.
Hoa Pek Tuo membentak nyaring, ujung bajunya segera
digulung keluar, telapak kanannya yang kurus kering
muncul dari balik jubah dan langsung membabat lutut Kim
In Eng.
Angin serangan tajam bagaikan pisau, ganas melebihi
babatan goiok, air muka Kim In Eng seketika itu jaga
berubah hebat, ia membentak nyaring. Kesepuluh jarinya
direntangkan tegak kaku, bagaikan sebuah senjata garpu ia
sodok tenggorokan orang.
Jurus serangan ini lebih mengutarakan serangan
daripada pertahanan, ganasnya luar biasa, bukan saja tidak
memperdulikan keselamatan diri pribadi, bahkan hampir
mendekati suatu serangan adu jiwa bersama lawannya.
Sepasang alis Hoa Pek Tuo mengerut kencang, dari
tenggorokannya ia perdengarkan raungan rendah, sepasang
pundaknya bergetar dan tubuhnya segera membubung
empat coen dari tempat semula.
Dengan menggunakan tempat peluang yang amat
pendek itulah sepasang ujung jubahnya dikebaskan keluar
secara berbareng, hawa serangan segera meluncur keluar
bagaikan gulungan ombak, desiran tajam dan angin dingin
berkumandang memekikkan telinga.
“Aaaah, ilmu Poh Giok Kang....." jerit Kim In Eng
dengan wajah amat terperanjat bercampur ngeri.
Berada dalam keadaan seperti ini tak sempat lagi baginya
untuk berpikir panjang, segenap hawa murni yang
dimilikinya segera di salurkan keluar, sepasang telapak
menyerang senara berbareng sementare kakinya mundur
satu langkah lebar ke belakang untuk menghindari
datangnya serangan musuh.
Namun jarak antara masing pihak sangat dekat kendati
ia menghindar dengan gerakan yang cukup sebat dan cepat,
tak urung kena dihantam juga oleh gulungan hawa murni
yang maha dahsyat itu.
“Bluuuuumm....” Ditengah ledakan dahsyat, sekujur
badannya seolah olah di hajar oleh martil raksasa. Ia
menjerit keras karena kesakitan, tubuhnya mencelat
delapan depa dari tempat semata dan menumbuk diatas
dinding dengan diiringi suara nyaring rontok di atas tanah.
Darah segar menyembur keluar dari mulutnya, bagaikan
berkuntum-kuntum bunga merah berserakan diatas tanah....
Tubuh Hoa Pek Tuo bergetar keras, hawa murninya
segera disalurkan ke kaki dan ditekan ke bawah.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Silat Dewasa: ITB 6 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments