CERITA DEWASA kETIDURAN : ITB 11

AliAfif.Blogspot.Com - CERITA DEWASA kETIDURAN : ITB 11
-Terlihatlah wajah Tauw Meh telah berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat, darah segar muntah keluar terus dari mulutnya.
Lie Peng si pangeran kedua segera menepuk-nepuk bahunya
seraya menghibur :
"Kau berjasa besar karena melindungi pun Thay cu dari bahaya
ancaman musuh, aku pasti akan menaikkan pangkatmu..."
Tauw Meh jadi teramat girang mendengar janji tersebut, seketika
itu juga ia lupa kalau luka dalam yang sedang dideritanya amat parah,
sembari membesut darah kental yang menetes keluar di ujung
bibirnya buru-buru ia menjura menyatakan rasa terima kasihnya.
"Terima kasih atas anugerah dari Thay Cu..."
Perlahan-lahan Lie Peng alihkan kembali sinar matanya ke
tengah kalangan, pedang dalam genggamannya digetarkan keras
sehingga mendengung nyaring, setelah membentuk lingkaran cahaya
yang amat besar terpancarlah suara pekikan naga yang memekakkan
teling.
Ia tertawa keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... aku akan membinasakan dirinva
dengan tanganku sendiri, agar sakit hatimu bisa terbalas..."
300
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tubuhnya segera meloncat ke depan, setelah melewati bayangan
tubuh Song Kim Toa Lhama serta Tok See pedangnya laksana kilat
membabat ke arah tubuh lawan.
Sementara itu Hee Giong Lam di bawah serangan gencar dari
Song Kim Toa Lhama serta Tok See sudah mulai keteter hebat dan
menunjukkan tanda-tanda tidak kuat menahan diri, sekarang setelah
bertambah pula dengan hadirnya Lie Peng dalam pertarungan,
keadaannya semakin payah.
Akhirnya ketika melihat Ouw-yang Gong tidak ada maksud
membantu, dengan hati penasaran segera teriaknya dengan penuh
kegusaran :
"Ouw-yang Gong, kau sudah modar?"
Sebaliknya Ouw-yang Gong sendiri merasa amat bergirang hati
setelah dilihatnya Hee Giong Lam dipukul sampai keteter hebat, ia
hisap huncweenya berulang kali lalu perlahan-lahan menyemburkan
asapnya ke udara.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Hee Giong Lam!" jengeknya
sambil tertawa tergelak. "Aku si ular asap tua tak dapat membantu
dirimu..."
Matanya segera melirik sekejap ke arah si Telapak naga Goei
Peng yang bersandar di tubuh Cho Ban Tek kemudian tertawa ringan.
Melihat lirikan tersebut si telapak naga Goei Peng segera
mendongak dan menghardik dengan penuh kegusaran :
"Kau mau apa?"
"Neneknya!..." maki Ouw-yang Gong dengan mata mendelik.
"Siapa suruh matamu memandang kemari dengan melotot besar
seperti jengkol? Kalau aku si ular asap tua tidak merasa kasihan
karena melihat keadaanmu yang mengenaskan sebetulnya dan sudi
untuk memberitahukan kepadamu, kalau pengin selamat cepatlah
bopong suhengmu itu dan pergilah ke lembah selaksa racun mencari
Hee Siok Peng, hanya dia yang dapat menyelamatkan jiwa
suhengmu..."
301
Saduran TJAN ID
Si telapak naga Goei Peng sangsi sebentar, kemudian tanpa
mengucapkan sepatah katapun segera membopong tubuh Cho Ban
Tek dan keluar dari ruangan.
"Hey si ular Asap Tua, aku sudah tak kuat..."
Hee Giong Lam benar-benar keteter hebat, napasnya sudah
tersengkal-sengkal dan tubuhnya sudah tak kuat bertahan lebih jauh,
asalkan waktu berlangsung lebih lama lagi niscaya ia bakal mati di
ujung pedang gabungan tiga orang jago lihay itu.
Ouw-yang Gong tertawa mengejek, sementara ia hendak
menyindir Hee Giong Lam dengan beberapa kata pedas, tiba-tiba
terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari luar
ruangan.
"Tahan..."
Bentakan yang keras dan berat bagaikan guntur membelah bumi
di siang hari bolong ini menggetarkan seluruh permukaan bumi dan
menggoncangkan bangunan rumah itu, begitu dahsyat suaranya
sampai menghentikan pertarungan sengit yang sedang berlangsung di
tengah kalangan.
Hee Giong Lam bagaikan ayam jago yang kalah bertarung buruburu
tarik napas dalam-dalam, hawa murni yang tersisa dalam
tubuhnya berusaha dipulihkan kembali secepat mungkin, agar
bilamana perlu ia dapat mempergunakannya untuk menerjang keluar
dari ruangan tersebut.
Bersamaan dengan bergeletarnya suara bentakan tadi, seorang
pemuda berwajah dingin laksana sukma gentayangan melayang
masuk ke dalam, begitu melihat siapakah orang itu semua jago yang
hadir dalam ruangan tersebut kontan merasakan hatinya bergetar
keras, suasana pun untuk sesaat menjadi hening.
Hanya Ouw-yang Gong seorang yang dapat tertawa terbahakbahak,
terdengar ia berseru :
"Pek In Hoei, hampir saja aku si ular asap tua dibikin mati karena
gelisah menantikan kedatanganmu!"
302
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pek In Hoei tertawa hambar.
"Ular asap tua, rupanya manusia-manusia yang menjemukan ini
kembali mencari gara-gara terhadap dirimu. Hmmm! Ini hari aku si
Jago Pedang Berdarah Dingin pasti akan menghajar dan memberi
pelajaran kepada manusia-manusia yang tak tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi ini, agar mereka tahu bahwa sahabat dari Jago Pedang
Berdarah Dingin bukanlah manusia yang bisa dianiaya serta
dipermainkan dengan seenaknya..."
Air muka Lie Peng si pangeran kedua kontan berubah hebat.
"Kau benar-benar hendak memusuhi diriku..." serunya.
"Di dalam dunia persilatan yang dibicarakan hanya perbedaan
antara budi dan dendam, berulang kali kau mengejar dan menganiaya
si ular asap tua Ouw-yang Gong sudah tentu hutang ini harus kutuntut
balas terhadap dirimu..."
Pangeran kedua Lie Peng tertawa sedih, dalam sorot matanya
yang mendalam tiba-tiba terpancar rasa benci yang amat sangat,
tertawa seram terdengar memecahkan kesunyian.
Setelah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei munculkan
diri di tempat itu bagaikan sukma gentayangan,si Rasul Racun Hee
Giong Lam pun terbebas dari teteran musuh yang hampir saja
merenggut selembar jiwanya tanpa terasa ia terbayang kembali
keadaan di saat Pek In Hoei untuk pertama kalinya memasuki lembah
seratus racun, dimana ketika itu dia masih seorang anak kecil, siapa
tahu dalam waktu singkat pemuda itu telah bangkit menjadi seorang
jago Bu lim yang lihay bahkan berhasil memperoleh julukan sebagai
si Jago Pedang Berdarah Dingin.
Kemajuan ilmu silat yang demikian pesatnya ini membuat si
gembong iblis tua yang selama hidupnya suka bermain racun ini
merasa takut bilamana kedatangannya Pek In Hoei ke situ adalah
untuk mencari balas terhadap dirinya...
Dengan cepat ia berpikir dalam hatinya :
303
Saduran TJAN ID
"Aku harus berusaha untuk mendapatkan persesuaian pendapat
dengan si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei agar dapat
bersama-sama menghadapi rombongan Lie Peng si pangeran kedua
ini, setelah itu baru berusaha untuk melenyapkan Pek In Hoei dari
muka bumi...
Ingatan ini berkelebat dengan cepatnya dalam benak gembong
iblis tua itu, tatkala pikiran kedua baru saja meluncur keluar, tiba-tiba
ia merasakan ada dua sorot pandangan mata yang dingin sedang
menatap ke arahnya tanpa emosi.
Hatinya bergetar keras, tanpa sadar ia berpaling ke samping.
Terlihatlah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei sedang
memandang ke arahnya dengan penuh napsu membunuh, sedikit pun
tiada perasaan bersahabat atau simpatik.
"Sungguh tajam pandangan mata orang ini..."
Itulah bayangan pertama yang berkelebat dalam benaknya,
dengan hati terkesiap Rasul Racun she Hee ini segera berseru :
"Pek In Hoei, kenapa kau memandang aku dengan cara begitu?"
Pek In Hoei maju selangkah ke depan kemudian tertawa dingin.
"Aku ingin menemukan raut wajah kejam di atas wajahmu itu,
bagi manusia tanpa rasa perikemanusiaan barang sedikitpun semacam
kau setiap saat bisa muncul pelbagai raut wajah yang berbeda dan di
mana pun terdapat senyuman manis yang menyembunyikan kedok
kekejian hatimu..."
Dimaki kalang kabut oleh seorang pemuda di hadapan orang
banyak, hawa amarah dalam hati Hee Giong Lam segera berkobar.
Dengan hati jengkel telapak tangannya diayun ke depan melancarkan
satu pukulan.
Blaaaam! terdengar suara ledakan bergeletar memecahkan
kesunyian, di atas permukaan tanah segera muncul sebuah liang besar
yang amat dalam, debu dan pasir beterbangan menutupi mata.
"Pek In Hoei, apa maksudmu?" teriaknya gusar.
Dengan nada menghina Pek In Hoei tertawa terbahak-bahak.
304
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... di antara kita berdua masih terdapat
hutang piutang yang belum diselesaikan, tunggu sajalah setelah
kugebah pergi manusia-manusia latah yang mengaku sebagai jago
lihay kelas satu dari dunia persilatan ini, kita selesaikan hutang
piutang tersebut..."
"Heeeh... heeeh... heeeeh... mungkin tidak segampang itu..." seru
Hee Giong Lam sambil tertawa dingin.
Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei mendengus dingin,
perlahan-lahan ia cabut keluar pedang sakti penghancur sang surya
yang tersoren di atas punggungnya,dalam sekali getaran muncullah
berpuluh-puluh cahaya kilatan pedang.
Dengan pandangan gagah ia menyapu sekejap sekeliling
kalangan lalu teriaknya keras-keras:
"Siapa yang hendak mencari satroni dengan si ular asap tua?"
Ouw-yang Gong sudah dua kali pernah ditolong oleh Pek In
Hoei, setiap kali ia menjumpai mara bahaya si anak muda itu pasti
akan munculkan diri bagaikan sukma gentayangan, kecuali dalam hati
ia merasa berterima kasih, terhadap kegagahan dari pemuda ini pun
merasa takluk dan kagum seratus persen.
Begitu mendengar teguran dari Pek In Hoei, dengan huncwee
gedenya ia segera tuding ke arah Song Kim Toa Lhama sambil
berkata:
"Anak jadah cucu monyet itu yang paling menjemukan hati..."
Pek In Hoei melirik sekejap ke atas wajah Song Kim Toa Lhama
dalam-dalam lalu bentaknya ketus :
"Song Kim, ayoh gelinding keluar!"
Song Kim Toa Lhama si jago lihay nomor satu dari daerah Tibet
ini semenjak muncul di daratan Tionggoan belum pernah dimaki
orang demikian kasar dan hinanya, air muka padri itu kontan berubah
hebat sambil tertawa terbahak-bahak tubuhnya bergerak maju ke
depan sejauh lima langkah.
"Saudara jangan terlalu jumawa," serunya sambil tertawa dingin.
305
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei mendengus dingin, pedang mustika penghancur sang
suryanya dilintangkan di depan dada, sementara di atas wajahnya
yang dingin kaku tersungging satu senyuman yang menggidikkan
hati.
"Kalau kau sanggup melewatkan sepuluh jurus serangan di ujung
pedangku, mulai ini hari aku si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei tak akan mencampuri urusanmu lagi," serunya menghina.
"Sebaliknya kalau kau tak sanggup menerima barang sepuluh jurus
serangan pun dari tanganku, silahkan kau angkat kaki dari daratan
Tionggoan dan segera enyah pulang ke Tibet, sejak itu untuk
selamanya jangan masuk kembali ke wilayah Tionggoan, kalau tidak
aku akan membabat dirimu sampai mati tanpa sungkan-sungkan..."
Ucapannya tepat dan mantap setiap perkataannya berat tapi
bertenaga...wajahnya dingin kaku membuat ucapan itu seolah-olah
muncul dari mulut sesosok mayat hidup membuat hati setiap orang
kaget dan bergidik.
Song Kim Toa Lhama segera merasakan hatinya bergetar keras
oleh pengaruh kata-kata yang tak berwujud itu, keringat sebesar
kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya membasahi jidatnya,
suatu perasaan takut yang tak pernah timbul dalam hatinya kali ini
menyelimuti seluruh benaknya membuat sang badan gemetar keras.
Tapi di samping itu muncul pula hawa amarah yang amat sangat
bergelora dalam rongga dadanya, ia meraung keras, tulang belulang
di seluruh tubuhnya bergemerukkan keras, jubah yang dikenakannya
menggembung besar!
"Pek In Hoei!" teriaknya, "kau terlalu menghina orang lain...
kau... kau..."
Saking gusarnya sampai kata-kata itu tak sanggup diteruskan
lebih lanjut, dengan hati marah bercampur benci segenap hawa murni
yang dimilikinya dihimpun jadi satu dalam tubuhnya, hawa pukulan
yang maha dahsyat pun disiapkan di telapak kanan.
306
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ujung telapak menggetar di angkasa membentuk gerakan busur
beserta segulung tenaga yang besar laksana titiran air bah
menggulung ke atas tubuh Pek In Hoei laksana tindihan bukit besar.
Pek In Hoei segera menggetarkan pedangnya sambil menghardik
:
"Baiklah, untuk kali ini aku akan mengalah satu jurus
kepadamu..."
Badannya mencelat ke angkasa dan mumbul beberapa tombak
jauhnya, dengan begitu angin pukulan maha dahsyat yang sedang
mengancam ke arahnya itu pun segera beralih sasaran menuju ke arah
Lie Peng si pangeran kedua dari Kerajaan yang berkuasa dewasa itu.
Menyaksikan kehebatan gerakan tubuh dari pemuda itu, Lie Peng
terkesiap sekali, mendadak satu ingatan jahat berkelebat dalam
benaknya.
Ia segera mengerling sekejap ke arah Tok See yang ada di
sekeliling situ, kemudian mendengus berat.
Tok See manggut tanda mengerti, di tengah dengusan berat yang
menggema di angkasa itulah pedang tajam yang berada dalam
genggamannya dengan kecepatan tinggi segera menusuk ke belakang
punggung Pek In Hoei.
Serangan ini bukan saja sadis dan kejam, bahkan luar biasa hebat,
sebilah pedang laksana tombak segera menghunjam ke depan.
"Hmmm! Bangsat tukang main bokong..." seru Pek In Hoei
sambil mendengus berat.
Tiba-tiba ia putar tubuhnya... Kraaak! Pedang panjang Tok See
yang tepat bersarang di atas tubuhnya itu mendadak patah menjadi
dua bagian dan rontok ke atas tanah.
Setelah itu sambil putar tubuh ujarnya ketus :
"Aku si Jago Pedang Berdarah Dingin selama hidupnya paling
benci terhadap orang yang suka main bokong dari belakang tubuh
orang seperti sampah masyarakat seperti kau... Hmmm, akupun harus
307
Saduran TJAN ID
membiarkan dirimu untuk ikut merasakan bagaimanakah kalau
seseorang kena dibokong..."
Ia tinggalkan Song Kim Toa Lhama yang telah siap bertempur itu
dan berbalik menubruk ke arah Tok See, pedang sakti penghancur
sang suryanya dengan menciptakan diri jadi selapis cahaya tajam
segera mengancam tiga buah jalan darah penting di tubuh jago pedang
muda itu.
Setelah serangan bokongnya tidak mendatangkan hasil, Tok See
tahu bahwa ia bakal celaka. Kini menyaksikan keajaiban serta
kesaktian ilmu silat yang diperlihatkan pihak lawan ia jadi kesemsem
dan terpesona, sewaktu babatan pedang Pek In Hoei meluncur datang
ia sama sekali tak bertenaga untuk melawan, bukannya menghindar
atau menangkis jago pedang she Tok ini hanya berdiri sambil
memandang ke arahnya dengan pandangan mendelong.
Pangeran kedua Lie Peng yang menyaksikan Tok See berdiri
melongo sambil menanti kematian, dalam hati merasa amat
terperanjat, sambil ayunkan pedangnya dengan gerakan adu jiwa ia
loncat ke depan, senjatanya bergetar dan segera menangkis datangnya
ancaman dari pedang penghancur sang surya itu.
Traaaaang...! getaran nyaring yang amat memekikkan telinga
berkumandang di seluruh ruangan, Pangeran kedua merasakan
tangannya jadi kaku dan linu, pedangnya tahu-tahu sudah terbabat
putus jadi dua bagian, sementara Tok See sendiri karena dihalangi
ancamannya oleh tangkisan pedang Lie Peng, jago muda ini pun lolos
dari bahaya kematian.
"Pek In Hoei!" terdengar Song Kim Toa Lhama membentak
keras, "Jangan lukai Jie Thaycu..."
Dalam pada itu Pek In Hoei sedang mempersiapkan diri
melancarkan satu serangan maut yang merobohkan Jie Thaycu serta
Tok See dalam waktu yang bersamaan, ketika mendengar bentakan
Song Kim Toa Lhama berkumandang datang disusul tubrukan maut,
308
IMAM TANPA BAYANGAN II
dengan cepat ia memutar tubuhnya sambil menjengek dengan nada
menghina :
"Menang kalah di antara kita belum berhasil ditentukan, apakah
kau ingin berduel satu lawan satu dengan diriku..."
Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat.
"Aku tahu kalau ilmu silat yang kau miliki sangat lihay dan aku
bukanlah tandinganmu," sahutnya. "Sejak ini hari aku Song Kim Toa
Lhama tidak akan mencari gara-gara atau satroni dengan diri Ouwyang
Gong lagi, asalkan kau jangan melukai diri Jie Thaycu..."
"Anak kura-kura, kau anggap aku jeri kepadamu..." teriak Ouwyang
Gong marah-marah, badannya segera menubruk ke depan.
Pek In Hoei ulapkan tangannya, Song Kim Toa Lhama buru-buru
mengajak Pangeran kedua Lie Peng, Tok See serta Tauw Meh
mengundurkan diri dari ruangan itu dengan wajah penuh kebencian.
Menyaksikan rombongan jago-jago kerajaan itu telah
mengundurkan diri semuanya, diam-diam Hee Giong Lam pun
ngeloyor pergi dari ruangan itu dengan kecepatan tinggi.
"Kembali!" hardik Pek In Hoei dengan amat gusarnya. "Aku
belum memberi ijin kepadamu untuk meninggalkan tempat ini."
Sementara itu Hee Giong Lam baru melangkah dua tindak dari
tempat semula, ketika mendengar suara bentakan keras bergema dari
belakang tubuhnya, ia jadi amat terperanjat kaki yang sudah
melangkah ke depan tanpa terasa ditarik kembali.
"Kau panggil kembali diri loohu, sebenarnya ada urusan apa?"
tegurnya keras.
Selapis hawa napsu membunuh yang tebal terlintas di atas wajah
Pek In Hoei yang dingin, sepasang alisnya berkerut kencang, di ujung
bibirnya yang tipis tersungging satu senyuman yang menggidikkan
hati.
"Aku inginkan selembar jiwa anjingmu..." sahutnya sepatah demi
sepatah.
309
Saduran TJAN ID
Sekali lagi Hee Giong Lam merasakan hatinya bergetar keras,
ucapan yang dingin dan kaku bagikan es itu terasa menembusi ulu
hatinya membuat rasul ini dengan pandangan terbelalak penuh rasa
ketakutan memandang ke arah Pek In Hoei tanpa berkedip.
"Kau bilang apa?" serunya. Di antara kau dengan diriku toh tiada
ikatan dendam atau pun sakit hati, kenapa kau hendak membinasakan
diriku?"
Air muka Pek In Hoei berubah sangat hebat, dalam benaknya
segera terbayang kembali kenangan lama, seolah-olah ia menyaksikan
kembali terbasminya partai Thiam Cong di tangan musuh besarnya,
di tengah kobaran api yang mengganas serta daya kerja racun yang
keji, di bawah kilatan cahaya senjata tajam tiga ratus orang lebih anak
murid partai Thiam cong pada menggeletak mati di ujung senjata anak
murid perguruan Boo Liang Tiong Boen..."
Ia maju selangkah ke depan dengan tindakan lebar, lalu berseru :
"Hee Giong Lam, mungkin kau masih ingat bukan pemandangan
ketika untuk pertama kalinya aku berjalan masuk ke dalam perguruan
seratus racunmu! Dari seorang bocah yang sama sekali tidak mengerti
akan ilmu silat kini aku menjadi seorang jago dunia persilatan kelas
satu, tahukah kau apa sebabnya aku berjuang sampai menjadi begini?"
"Aku tidak tahu," sahut Hee Giong Lam dengan nada tertegun.
Pek In Hoei tertawa hambar.
"Tujuanku berlatih ilmu silat bukan lain adalah untuk menuntut
balas bagi pertumpahan darah yang terjadi di partai Thiam cong, aku
hendak membalaskan dendam ke-tiga ratus orang anak murid partai
Thiam cong yang mati terbunuh serta membalas dendam bagi
kematian ayahku, dan kini kalian Perguruan Selaksa Racun adalah
salah satu musuh besar yang hendak kutuntut hutang darah tersebut..."
"Apa?" bentak Hee Giong Lam keras-keras. "Apa yang kau
katakan? Apa sangkut pautnya antara kematian ayahmu dengan
Perguruan Selaksa Racun kami? Pek In Hoei aku Hee Giong Lam
310
IMAM TANPA BAYANGAN II
bukanlah seorang manusia pengecut yang takut mencari urusan, tapi
kau jangan memfitnah kami dengan kata-kata seperti itu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... ," Ouw-yang Gong putar huncwee
gedenya hingga asap tipis menguap dari dalam mangkok huncwee
gedenya itu, kemudian menghisap beberapa kali dan terbahak-bahak.
"Hee Giong Lam!" jengeknya dengan nada menghina. "Ternyata
kau tidak punya keberanian untuk mengaku..."
"Ular asap tua, kau suruh aku mengaku soal apa?" bentak Hee
Giong Lam dengan mata mendelik.
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Aku ingin kau mengakui persoalan partai Thiam cong yang
kalian basmi, bukankah anak murid perguruan seratus racun banyak
yang ikut serta di dalam perbuatan brutal itu? Kalau pada waktu itu
kalian pihak perguruan seratus racun tidak melepaskan racun, tidak
nanti partai Thiam cong kami mengalami nasib yang demikian buruk
dan mengenaskannya..."
"Omong kosong!" seru Hee Giong Lam dengan wajah berubah
hebat. "Dalam peristiwa berdarah itu kami dari pihak perguruan
seratus racun sama sekali tidak ikut serta."
"Anak kura-kura, kembali kau berbohong!" bentak Ouw-yang
Gong dengan gusarnya. "Sampai aku si Ular Asap Tua pun tahu kalau
kau mengutus anak muridmu untuk ikut serta dalam pembasmian
terhadap anak murid partai Thiam cong, masa di hadapan aku si ular
asap tua kau masih pura-pura berlagak pilon..."
"Ular asap tua..." mendadak Hee Giong Lam mengayunkan
kepalannya, "Rupanya kau ada maksud menyusahkan diriku..."
Pukulan ini dilancarkan dengan menghimpun segenap kekuatan
yang dimilikinya, begitu pukulan meluncur segulung hawa desiran
yang aneh berkumandang di angkasa bercampur baur dengan deruan
angin yang tajam.
Buru-buru Ouw-yang Gong meloncat ke samping untuk
menghindar, bentaknya keras :
311
Saduran TJAN ID
"Waaah... waaaah... rupanya kau hendak membunuh orang untuk
menghilangkan bukti..."
Kakek konyol ini bukanlah manusia yang gampang dipecundangi
orang, sebelum ujung pukulan Hee Giong Lam meluncur tiba
huncwee gedenya telah menotok ke depan mengancam iga bawah si
Rasul Racun tersebut.
"Hmmmm....!" Hee Giong Lam mendengus dingin, telapak
kirinya diayunkan ke depan melancarkan satu pukulan hebat
mengancam huncwee gede lawan yang sedang menghalau datang,
kekuatannya benar-benar mengerikan sekali.
Ouw-yang Gong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kau si cucu monyet anak jadah
rupanya mau merusak huncwee gedeku ini..."
Sementara ia bersiap sedia menarik kembali senjata huncwee
gedenya, mendadak si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei
telah meloncat ke depan, ia tahu-tahu muncul di antara ke-dua orang
jago pedang yang sedang bertempur itu, membuat Ouw-yang Gong
jadi melengak dan cepat-cepat mengundurkan diri ke belakang.
"Pek In Hoei!" seru kakek she Ouw-yang itu dengan nada kurang
mengerti, "Apa yang hendak kau lakukan?"
Pek In Hoei tersenyum.
"Ini adalah urusan pribadiku, harap kau jangan turut campur..."
Hee Giong Lam sendiri ketika menyaksikan si Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei berjalan menghampiri ke arahnya
dengan wajah penuh napsu membunuh, dalam hati diam-diam merasa
terperanjat, cepat-cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya
untuk bersiap sedia, kemudian dengan pandangan bergidik
memperhatikan wajah si anak muda itu tanpa berkedip.
"Aku minta kau mengaku terus terang, benarkah si ketua
perguruan Boo Liang Tiong yang bernama Go Kiam Lam itu sebelum
melakukan pembasmian terhadap anak murid partai Thiam cong telah
melakukan perundingan terlebih dahulu dengan dirimu tentang
312
IMAM TANPA BAYANGAN II
bagaimana caranya membasmi perguruan besar tadi? Dan benarkah
sewaktu Go Kiam Lam si ketua perguruan Boo Liang Tiong
melakukan gerakan pembasmian tersebut secara diam-diam kau telah
mengutus anak muridmu untuk ikut serta dalam peristiwa berdarah
itu..."
"Peristiwa berdarah itu adalah perbuatan dari Go Kiam Lam,"
sahut Hee Giong Lam ketus. "Mengapa kau tidak pergi mencari
dirinya..."
Cahaya bengis berkilat di atas wajah Pek In Hoei.
"Sesudah kubunuh dirimu, tentu saja kucari Go Kiam Lam
bajingan besar itu untuk membuat perhitungan..."
Nguuuung...! Nguuuuung...!
Menggunakan kesempatan di kala Jago Pedang Berdarah Dingin
Pek In Hoei masih berbicara itulah tiba-tiba Hee Giong Lam angkat
lengan kanannya ke atas, dari balik ketiak segera meluncur keluar
seekor tawon raksasa berwarna hitam yang langsung menubruk ke
atas tubuh si anak muda itu.
Dengan gusar Pek In Hoei segera membentak :
"Hmmm! Hanya mengandalkan tawon racun berekor tiga saja
kau hendak mencoba membokong diriku..."
Pedang mustika penghancur sang surya yang berada dalam
genggamannya segera diayunkan ke tengah udara, tergulung di balik
cahaya pedang yang amat tajam, tawon raksasa berwarna hitam tadi
segera terbabat putus oleh ketajaman pedang itu hingga menjadi
beberapa bagian.
Bergidik sekali hati Hee Giong Lam setelah menyaksikan tawon
beracun raksasa yang dilepaskannya dalam sekejap mata telah hancur
lebur termakan oleh pedang mustika penghancur sang surya itu, ia
tidak punya keberanian untuk mengeluarkan makhluk beracun
lainnya untuk mencelakai si anak muda itu.
Bayangan pedang bagaikan awan tersebar meliputi seluruh
angkasa, segulung cahaya pedang yang tajam dan dingin mendadak
313
Saduran TJAN ID
bergeletar ke depan, bagaikan seutas rantai berwarna perak langsung
menotok ke arah dada si Rasul Racun dari perguruan seratus racun ini.
Hee Giong Lam meraung keras, secara beruntun ia lepaskan dua
buah pukulan berantai untuk memunahkan datangnya ancaman.
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmmm, kalau aku berhasil melepaskan dirimu dari kurungan
pedang mustika penghancur sang surya ini, sia-sia belaka aku berlatih
ilmu pedang selama ini..."
Bentakan nyaring yang serius dan keren bergeletar di angkasa
dari tubuh pedang itu segera terpancar keluar bayangan cahaya dingin
yang menggidikkan hati, menggunakan jurus Kioe Jiet Teng Seng
atau sang surya muncul di ufuk Timur, ia babat tubuh Rasul Racun
itu.
hg tak pernah menyangka kalau pihak lawan dengan usia yang
sedemikian mudanya ternyata telah berhasil menguasai intisari ilmu
pedang tingkat tertinggi, dalam satu jurus yang amat sederhana
terkandung daya tekanan dahsyat yang memaksa seorang jago lihay
yang tersohor dalam dunia persilatan sama sekali tak ada tenaga untuk
melakukan pembalasan.
Dalam benak manusia beracun she Hee ini segera terpenuhi oleh
pelbagai pikiran bagaimana caranya memunahkan jurus serangan
tersebut, di tengah tertegunnya ternyata ia tak sanggup melepaskan
diri atau pun menghindarkan diri dari ancaman pedang lawan yang
begitu tajamnya itu.
Criiing!
hg tidak malu disebut seorang jago Bu lim yang sudah memiliki
nama besar dalam dunia persilatan, pada detik terakhir di saat jiwanya
terancam mara bahaya itulah laksana kilat badannya meloncat ke
samping menghindarkan diri.
Walaupun begitu ilmu pedang yang dimiliki Pek In Hoei
bukanlah hasil yang diperoleh dalam latihan satu hari, sekalipun Hee
Giong Lam berhasil menghindarkan diri dari babatan pedang yang
314
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengancam keselamatannya, tak urung sebuah luka babatan yang
amat panjang muncul pula di atas lengan kirinya, dengan rasa penuh
kesakitan ia berseru tertahan kemudian memandang ke arah si anak
muda itu dengan rasa kaget bercampur ketakutan.
"Aku pernah bersumpah akan membasmi semua anggota
perguruan seratus racun yang ada di kolong langit,"kata Pek In Hoei
ketus. "Dan kau akan merupakan orang pertama dari perguruan
seratus racun..."
"Kenapa?" jerit Hee Giong Lam dengan wajah ketakutan.
"Apakah disebabkan ada anak murid perguruanku yang membantu Go
Kiam Lam..."
Ia menyadari bahwa ancaman dari si pemuda ini terhadap
perguruan seratus racunnya sehari lebih lihay dari hari berikutnya,
berada dalam pandangan sorot matanya yang dingin Hee Giong Lam
seolah-olah melihat beratus-ratus orang anak murid perguruannya
mati konyol di ujung pedangnya semua...
"Hmmmm!" Pek In Hoei mendengus dingin. "Kalau tiada
bantuan dari anak murid perguruan kalian, aku percaya pihak
perguruan Boo Liang Tiong tak nanti mempunyai kekuatan yang
demikian besarnya sehingga dalam semalam berhasil memusnahkan
partai Thiam cong dari muka bumi..."
Sementara itu ujung pedangnya telah menempel di atas
tenggorokan Hee Giong Lam, asal ia kerahkan sedikit tenaga lagi
niscaya ujung pedangnya yang tak kenal kasihan itu akan menembus
tenggorokan si Rasul Racun sang ketua dari perguruan seratus racun
ini.
Suatu perasaan ngeri dan takut yang tak pernah diperlihatkan
sebelumnya terlintas di atas wajah Hee Giong Lam, keringat dingin
mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuh serta
pakaiannya, dalam keadaan begini ia benar-benar tidak berani
berkutik.
"Singkirkan dahulu pedangmu..." pintanya dengan suara gemetar.
315
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Aku minta kau mengaku terus terang, kecuali perguruan Boo
Liang Tiong serta perguruan seratus racun kalian yang ikut serta di
dalam peristiwa pembasmian terhadap partai Thiam cong, masih
terdapat manusia-manusia mana lagi yang ikut serta dalam peristiwa
tersebut..." gertaknya.
Hee Giong Lam mundur satu langkah ke belakang dan menjawab
dengan penuh penderitaan :
"Aku tidak tahu..."
Pek In Hoei tertawa sini, ujung pedangnya yang dingin dan tajam
didorong beberapa coen ke depan, Hee Giong Lam segera merasakan
tenggorokannya jadi sakit dan hampir saja tak sanggup
menghembuskan napas.
"Asal kudorong maju dua coen lagi maka pedang ini akan
menembusi tenggorokanmu serta mencabut jiwa anjingmu," ancam si
anak muda itu dengan wajah menyeramkan. "Sekarang kau berada di
ujung kehidupan di antara mati dan hidup, mau bicara atau tidak itu
terserah pada dirimu sendiri..."
Dalam benak Hee Giong Lam dalam waktu singkat muncul
pelbagai ingatan yang berbeda, ia berpikir bagaimana caranya
melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tapi kalau ditinjau dari
situasi yang tertera di hadapannya jelas tak mungkin baginya untuk
meloloskan diri dari tempat itu dengan aman dan damai...
Pikirnya lebih jauh :
"Kenapa aku tidak berusaha menggunakan kesempatan di kala
pihak lawan berusaha mencari tahu musuh-musuh besarnya untuk
meninggalkan tempat ini,kemudian baru membalas sakit hati pada
saat ini di kemudian hari..."
Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya,
maka ia lantas berkata :
"Tidak sulit bila kau menghendaki aku berbicara, tapi kau harus
melepaskan diriku..."
316
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Tentu saja..." Pek In Hoei menyahut dan tertawa nyaring.
"Haaaah... haaaah... haaaah... asalkan aku merasa bahwa ucapanmu
betul dan bisa dipercaya, tentu saja akan kulepaskan dirimu dalam
keadaan selamat..."
Hee Giong Lam tundukkan kepalanya berpikir sebentar,
kemudian berkata :
"Peristiwa pembantaian partai Thiam cong sebenarnya
merupakan peristiwa pembalasan dendam pihak perguruan Boo Liang
Tiong terhadap terbunuhnya tujuh puluh orang anak murid perguruan
Boo Liang Tiong dalam semalam pada enam puluh tahun berselang,
berhubung Go Kiam Lam sang ketua baru dari perguruan Boo Liang
Tiong merasa bahwa kekuatan perguruannya masih belum cukup,
maka ia segera mengutus anak muridnya untuk mengundang para jago
di perguruan-perguruan besar untuk ikut serta dalam peristiwa
berdarah itu, tapi dalam kenyataan perguruan yang betul-betul ikut
menyokong dalam kejadian itu hanyalah Dua benteng besar dari Bulim
serta perguruan kami..."
"Dua benteng mana yang kau maksudkan?" tanya Pek In Hoei
dengan sinar mata yang menggidikkan.
"Benteng Liong Hoen Poo serta benteng Thian Seng Poo!"
sekilas kelicikan terlintas di antara sorot mata Hee Giong Lam, ia
tertawa seram. "Heeeeh.... heeeh... heeeh... kedua buah benteng itu
merupakan pembantu kepercayaan dari Go Kiam Lam, kalau kau
ingin membalas dendam terhadap mereka, hmmm! aku rasa tidak
akan sedemikian gampangnya..."
Sambil tertawa seram mendadak tubuhnya meloncat mundur ke
belakang, setelah meloloskan diri dari tudingan pedang si anak muda
itu dengan langkah lebar ia segera berlalu dari ruangan tersebut.
"Kembali!"
Bentakan berat yang nyaring dan keras bergeletar keluar dari
mulut Pek In Hoei, begitu keras suaranya sampai menggetarkan
bangunan rumah itu dan menggoncangkan permukaan bumi.
317
Saduran TJAN ID
Hee Giong Lam terkesiap, dengan cepat ia menoleh.
"Apakah ucapanmu hendak kau ingkari?" tegurnya dengan
perasaan sangsi, rasa kaget bercampur bergidik terlintas di atas
wajahnya.
"Hmmmm! Walaupun hukuman mati bisa dihindari, hukuman
hidup tak akan terlepas dari tubuhmu, memandang di atas budimu
yang mau memberi keterangan kepadaku, aku cuma akan
memusnahkan ilmu silatmu..."
"Apa?" jerit Hee Giong Lam. "Kau betul-betul manusia yang
tidak tahu malu..."
Belum habis ia berkata si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei telah meloncat ke depan.
Cahaya tajam berkilauan di depan mata, tahu-tahu pedang
mustika penghancur sang surya itu sudah mengunci ke sekeliling
tubuhnya, sekilas kilatan cahaya dengan cepatnya mengancam jalan
darah 'Chiet Kan' di atas dadanya.
Dalam waktu singkat air muka Hee Giong Lam telah berubah
beberapa kali, ia mengerti asalkan ujung pedang lawan berhasil
menotok di atas jalan darah 'Chiet Kan' tersebut niscaya ilmu silat
yang dilatihnya dengan susah payah selama ini bakal musnah sama
sekali.
Hatinya jadi bergidik, ia meraung keras dan tubuhnya dengan
cepat mundur dua langkah ke belakang pada detik-detik yang terakhir.
"Pek In Hoei!: makinya sangat marah. "Ucapanmu sama baunya
dengan kentut busuk..."
"Coba kau ulangi sekali lagi..." seru Pek In Hoei dengan sikap
tertegun.
Sambil ayunkan telapaknya ke depan mengirim satu pukulan
dahsyat, Hee Giong Lam berteriak keras :
"Kau terlalu mendesak diriku, jangan salahkan aku kalau aku
akan beradu jiwa dengan dirimu!"
318
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ia mengerti si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tidak
nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, asal dirinya
terjatuh ke tangan pemuda ini niscaya ilmu silatnya bakal dipunahkan.
Haruslah diketahui bagi seorang jago Bu lim yang memiliki ilmu
silat, ia menyayangi ilmu silat yang dilatihnya dengan susah payah itu
melebihi sayang terhadap jiwa sendiri, ketika ia tahu bahwa dirinya
dari seorang jago yang memiliki ilmu silat akan berubah jadi manusia
biasa yang sama sekali tak dapat menggunakan kepandaian silatnya
lagi, penderitaan yang dirasakan dalam hatinya jauh lebih berat dan
hebat daripada penderitaan di kala ia hendak dibunuh.
Hee Giong Lam menyadari sedalam-dalamnya penderitaan yang
sedemikian beratnya itu tak akan bisa dirasakan olehnya, walau dalam
keadaan apa pun jua, maka diambilnya keputusan untuk melakukan
perlawanan hingga titik darah penghabisan, ia lebih rela mati terbunuh
di tangan musuh daripada menanggung sengsara selama hidup.
Demikianlah, dengan cepatnya kedua jago Bu-lim itu sudah
terlibat dalam suatu pertempuran sengit, dalam sekejap mata dua
puluh gebrakan telah berlalu.
Ouw-yang Gong sendiri setelah menyaksikan pertarungan adu
jiwa yang sedang berlangsung di tengah kalangan, dalam hati pun
merasa teramat gelisah,ia hisap huncweenya berulang kali sementara
sepasang matanya memperhatikan ke tengah kalangan tanpa berkedip.
319
Saduran TJAN ID
Jilid 14
"WAAAAAAH... tenaga lweekang yang dimiliki Pek In Hoei makin
lama semakin hebat," pikirnya sambil menghembus segumpal asap
huncwee. "Dahulu aku si Ouw-yang Gong masih punya pikiran
hendak mengangkat orang sebagai anak muridku, sekarang kalau
dipikirkan lagi betul-betul menggelikan sekali, bukan saja aku tak
sanggup memberi pendidikan kepada orang lain malahan sebaliknya
berulang kali aku harus dilindungi keselamatanku olehnya..."
Tiba-tiba terlihat tubuh Pek In Hoei meloncat mundur ke
belakang, kemudian membentak :
"Hee Giong Lam, kau keras..."
Bluuuum...! di tengah sebuah ledakan dahsyat, tubuh Pek In Hoei
serta Hee Giong Lam saling berpisah dan masing-masing lima enam
langkah ke belakang, darah segar tampak mengucur keluar
membasahi ujung bibirnya, napas tersengkal-sengkal hebat
sedangkan air mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat...
Pek In Hoei sambil mencekal pedang mustika penghancur sang
surya selangkah demi selangkah maju mendekat, sepasang matanya
dengan sorot tajam bagaikan pisau menatap wajah Hee Giong Lam
tanpa berkedip.
Dengan penuh penderitaan Hee Giong Lam berseru :
"Pek In Hoei, kau betul-betul kejam..."
Pek In Hoei ayunkan pedang penghancur sang suryanya hingga
membentuk selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata, ujarnya
ketus :
320
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Partai Thiam cong mengalami bencana hingga musnah dari
permukaan bumi, tiga ratus anak muridnya mati binasa dalam keadaan
konyol, kalian boleh turun tangan sedemikian kejinya terhadap
manusia-manusia lemah itu, apakah aku tak boleh kejam terhadap
dirimu..."
Ia merandek sejenak lalu tertawa panjang.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Hee Giong Lam kau dengan
tindakan yang rendah serta memalukan menganiaya orang lain,
sekalipun kubunuh dirimu juga tidak mengapa..."
Kembali ia tertawa panjang, mendadak cahaya pedang berkilauan
membelah angkasa dan segera menghunjam ke atas dada si Rasul
Racun.
"Pek In Hoei, tahan..."
Bentakan nyaring tapi merdu berkumandang memecahkan
kesunyian, Pek In Hoei tersentak kaget, pedang yang telah meluncur
ke depan segera ditarik kembali dan meloncat mundur ke belakang,
setelah itu putar badan dan memandang ke arah mana berasalnya
suara tadi.
Sesosok bayangan tubuh yang kecil ramping muncul dari balik
pintu, begitu melihat siapakah gadis itu sekujur otot dalam tubuh Pek
In Hoei menjadi kencang, hampir saja ia berseru memanggil...
Sedangkan Hee Giong Lam sendiripun tergetar saking kagetnya,
ia segera berseru :
"Ooooh Siok Peng, anakku sayang..."
Dengan pandangan murung Kong Yo Siok Peng melirik sekejap
ke arah si anak muda itu kemudian perlahan-lahan mendekat Hee
Giong Lam, dengan sedih ia menghela napas panjang,sambil
memandang wajah Rasul Racun itu sepatah kata pun tak sanggup
diucapkan keluar.
"Anakku, kenapa kau?" tegur Hee Giong Lam sambil menyeka
darah yang meleleh keluar dari ujung bibirnya.
Kong Yo Siok Peng tertunduk sedih, sahutnya :
321
Saduran TJAN ID
"Aku bukan anakmu, dan kau pun bukan ayahku..."
"Kau bilang apa?" teriak Hee Giong Lam sangat terperanjat.
"Siapa yang memberitahu kepadamu..."
Hatinya seakan-akan terpukul oleh martil yang sangat berat,
hampir saja hancur berkeping-keping, suatu rahasia yang tidak ingin
diketahui orang lain akhirnya terbongkar juga, membuat Hee Giong
Lam dengan pandangan tersiksa menatap gadis itu tanpa berkedip.
"Kau tak usah membohongi diriku lagi..." bisik Kong Yo Siok
Peng dengan sedih. "Ayahku adalah Kong Yo Leng..."
"Omong kosong! Jelas ada orang yang sengaja meretakkan
hubungan kita berdua, jelas ada orang tidak suka melihat hubungan
ayah dan anak di antara kita, Siok Peng kau adalah seorang anak yang
baik, janganlah kau percayai omongan-omongan setan itu..."
Kong Yo Siok Peng merasa amat sedih sekali, ketika dilihatnya
orang tua itu sedemikian gelisah dan cemasnya hingga sulit untuk
menutupi perasaan tersebut, ia merasa semakin sedih...
Sambil gelengkan kepalanya berulang kali ujarnya :
"Peduli kau benar atau tidak sebagai ayah kandungku, aku tetap
akan menghormati dirimu serta mencintai dirimu seperti sedia kala,
karena itu pada hari ini aku tak akan membiarkan Pek In Hoei melukai
dirimu..."
Titik-titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya yang
halus, dengan pandangan murung dan sayu diliriknya sekejap wajah
si anak muda itu.
Terlihatlah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei ketika
itu sedang memandang pula ke arahnya dengan pandangan bimbang...
Kong Yo Siok Peng tersentak kaget, perlahan-lahan ia maju ke
depan menghampiri si anak muda itu.
"Pek In Hoei!" pintanya sambil menghela napas sedih. "Aku
minta agar kau suka melepaskan ayah angkatku..."
"Apa? Kau sebut aku sebagai Gie hu..." bisik Hee Giong Lam
melengak.
322
IMAM TANPA BAYANGAN II
Rupanya ia tak menyangka kalau secara tiba-tiba Kong Yo Siok
Peng dapat mengubah sebutannya, rasa bergidik segera muncul dari
dasar lubuk hatinya, ia tahu gadis manis yang selalu disayang
dimanjanya ini telah bukan menjadi miliknya lagi...
Kong Yo Siok Peng berpaling dan ujarnya dengan suara gemetar
:
"Walaupun kau bukan ayah kandungku tapi sudah memelihara
serta mendidik aku selama belasan tahun lamanya, aku memanggil
dirimu sebagai Gie hu pun rasanya pantas dan semestinya..."
"Ooooh..." dengan hati hancur luluh Hee Giong Lam berseru
tertahan, ditatapnya wajah Kong Yo Siok Peng dengan pandangan
aneh, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan keluar...
Perlahan-lahan Kong Yo Siok Peng tarik kembali pandangannya
lalu dialihkan ke atas tubuh Pek In Hoei, ujarnya perlahan :
"In Hoei, kau tentu mengabulkan permintaanku bukan..."
"Hmmm..." Pek In Hoei mendengus dingin. "Kenapa aku harus
mengabulkan permintaanmu..."
"Aaaaah..." dengan hati terperanjat Kong Yo Siok Peng mundur
dua langkah ke belakang suaranya gemetar :
"In Hoei, kau... kau..."
"Hatiku sedang dibakar oleh api dendam yang membara serta rasa
gusar yang memuncak, peristiwa tragis yang menimpa partai Thiam
cong seolah-olah baru saja berlangsung, aku hendak mencari
bajingan-bajingan terkutuk itu untuk membalas dendam, peduli siapa
pun yang mintakan ampun bagi musuh besarku ini, tak nanti
kukabulkan..."
Begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, ia segera
berkata dengan nada :
"Siok Peng, persoalan ini adalah persoalan pribadi antara aku
dengan dirinya, harap kau menyingkir ke samping, di kemudian hari
kau akan mengerti apa sebabnya aku tak dapat melepaskan dirinya
dengan begitu saja..."
323
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Ouw-yang Gong ikut tertawa
terbahak-bahak. "Hey budak cilik, rupanya kau bisa mintakan ampun
bagi si makhluk beracun tua itu..."
"Ular Asap Tua, tenteram betul hatimu, kau..." bentak Hee Giong
Lam keras-keras.
"Inilah pembalasan bagi perbuatanmu yang terkutuk, siapa pun
tak dapat menyelamatkan jiwamu..."
Dalam pada itu si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei telah
mendesak pedang penghancur sang suryanya ke depan, ujung pedang
dengan memancarkan cahaya tajam yang berkilauan segera meluncur
ke depan...
"Hee Giong Lam, sekarang kau boleh mulai turun tangan!"
serunya dingin.
Pada saat ini Hee Giong Lam benar-benar mengenaskan sekali
keadaannya, dari sedih ia jadi marah dan timbullah napsu membunuh
yang berkobar-kobar dalam hatinya, sekalipun begitu tapi ia sendiri
dibikin bergidik oleh pancaran mata lawan yang bengis dan
menggidikkan hati, memaksa ia tak berani sembarangan bertindak.
"Heeeeh.... heeeeh... heeeeh... Pek In Hoei," serunya sambil
tertawa seram, "kau terlalu memaksa orang lain... Kalau aku tidak
berada dalam keadaan terluka parah, loohu tak nanti bakal jeri
terhadap dirimu..."
Pek In Hoei mendengus dingin,ia maju selangkah ke depan,
cahaya pedang yang dingin menggidikkan hati laksana kilat
berkelebat ke depan, mengiringi desiran tajam segera meluncur
keluar.
Bentaknya dengan wajah penuh napsu membunuh :
"Hukuman mati bisa kau hindari, tapi hukuman hidup tak akan
terlepas dari pundakmu..."
Ketika itulah Kong Yo Siok Peng membentak nyaring, tiba-tiba
badannya meloncat ke depan, setelah berganti tiga gerakan di tengah
udara telapaknya segera dibabat ke arah bawah.
324
IMAM TANPA BAYANGAN II
Angin pukulan menderu-deru, di tengah gulungan taupan yang
maha dahsyat sebuah pukulan dahsyat telah dilancarkan mengarah ke
atas tubuh Pek In Hoei.
Si anak muda itu tidak menyangka kalau Kong Yo Siok Peng
secara mendadak telah melancarkan satu babatan maut ke arahnya, ia
melengak sejenak kemudian buru-buru meloncat mundur ke belakang
sejauh lima depa lebih.
"Siok Peng, kau... kau sudah gila!" tegurnya dengan rasa
tercengang bercampur kaget.
Seluruh wajah Kong Yo Siok Peng telah basah oleh air mata, ia
kelihatan sangat menderita sekali, bibirnya bergetar keras namun tak
sepatah katapun yang meluncur keluar, keadaannya mengenaskan
membuat orang yang melihatnya jadi sedih dan ikut menjadi
kasihan...
Lama... lama sekali, ia baru tertawa sedih dan berkata :
"In Hoei, kau jangan memaksa diriku, sekalipun sampai di mana
besar dan beratnya dosa yang telah dilakukan Gie-huku kau tak akan
mengijinkan kau untuk membinasakan dirinya di hadapanku..."
"Siok Peng..."
Si Rasul Racun Hee Giong Lam meraung gusar, dengan perasaan
kaget Kong Yo Siok Peng berpaling memandang sekejap ke arah ayah
angkatnya, tampaklah ketua dari perguruan seratus racun ini dengan
dilapisi hawa berwarna hijau menatap ke arah pemuda itu dengan
penuh kebencian.
"Gie hu, kenapa kau?" teriak Kong Yo Siok Peng dengan hati
terkesiap.
Dengan sikap yang dingin dan penuh kebencian Hee Giong Lam
berseru :
"Aku hendak mengeluarkan racun sakti tanpa bayanganku untuk
beradu jiwa dengan dirinya..."
325
Saduran TJAN ID
Sekujur badan Kong Yo Siok Peng gemetar keras, sekilas rasa
ngeri dan takut terlintas di atas wajahnya, ia mohon dengan suara
gemetar :
"Gie hu kau tak boleh menggunakan ilmu tersebut..."
Si huncwee gede Ouw-yang Gong pun berubah hebat selembar
wajahnya,senjata huncweenya diayunkan ke tengah udara
menciptakan berpuluh-puluh lembar bayangan tajam, kemudian
sambil membentak keras buru-buru tubuhnya maju tiga langkah ke
depan.
"Hee Giong Lam!" teriaknya. "Asal kau berani menggunakan
racun keji tanpa bayangan yang sangat mengerikan itu, mulai detik ini
juga aku si huncwee gede bersumpah akan membasmi seluruh anak
buah perguruan seratus racunmu, akan kubinasakan semua anak cucu
murid racunmu, agar perguruan seratus racun kalian mulai detik ini
lenyap dari permukaan Bu Lim..."
Hee Giong Lam tidak gubris ancaman orang, ia melirik sekejap
ke arah kakek konyol itu kemudian mendengus dingin, telapak
tangannya tiba-tiba direntangkan ke samping lalu diangkat ke atas.
"Pek In Hoei!" serunya sambil tertawa dingin. "Asal sepasang
telapakku ini kuayunkan ke tengah udara, maka kau akan mati
keracunan..."
Pek In Hoei mendengus dingin lalu menjengek hina, perlahanlahan
pedang mustika penghancur sang suryanya dimasukkan
kembali ke dalam sarung, sedangkan hawa sin kang perguruannya
dihimpun dan disalurkan ke seluruh tubuh, dalam waktu singkat baju
yang dikenakan olehnya segera menggelembung besar.
Ia tarik napas panjang-panjang dan berpikir dalam hatinya :
"Aku harus menggunakan ilmu sakti Thay Yang Sam Sie untuk
melenyapkan Hee Giong Lam dari muka bumi, dengan begitu aku
baru bisa mencegah bajingan tua ini mengeluarkan racun sakti tanpa
bayangannya..." berpikir sampai di situ, ia lantas mengancam.
326
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau kau benar-benar berani mengeluarkan ilmu racun sakti
tanpa bayanganmu, maka detik ini juga akan kubunuh dirimu..."
"Heeemm... hmmmm... " Hee Giong Lam mendengus sinis, lalu
tertawa tergelak, "Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei, kau telah
salah perhitungan..."
"Gie hu..." dengan nada terperanjat Kong Yo Siok Peng berteriak
keras, dengan cepat tubuhnya menubruk ke arah Hee Giong Lam
kemudian mencekal sepasang lengannya erat-erat.
"Gie hu..." pintanya setengah merengek. "Kau tak boleh
bertindak tanpa memikirkan keselamatanmu sendiri..."
Seolah-olah tergetar oleh suatu pukulan yang berat, di atas raut
wajah Hee Giong Lam yang tua terlintas rasa sedih yang mendalam,
dengan sedih ia gelengkan kepalanya lalu membelai rambut Kong Yo
Siok Peng dengan penuh kasih sayang, ujarnya berat :
"Anakku, aku berani bersumpah bahwa kau adalah anak
kandungku, dalam kolong langit dewasa ini hanya kaulah yang hidup
semati dengan diriku, dan kini entah kau telah mendapat hasutan dari
siapa yang menginginkan perpecahan di antara hubungan kita
berdua... Aaaaai..."
Ia menghela napas sedih... tiba-tiba dengan keraskan hati ia
dorong tubuh Kong Yo Siok Peng ke belakang sepasang telapak
tangannya diayunkan ke tengah udara dan selapis hawa kabut
berwarna hijau tersebar di seluruh angkasa...
Ouw-yang Gong yang menyaksikan peristiwa itu jadi amat
terperanjat, buru-buru teriaknya :
"Hati-hati... hati... racun tanpa bayangan..."
Sedari tadi Pek In Hoei telah salurkan hawa murninya
mengelilingi seluruh badannya, tatkala ia saksikan di kala Hee Giong
Lam mengayunkan sepasang telapaknya di tengah udara tadi segera
tersebar keluar selapis kabut berwarna hijau, diam-diam ia berseru
tertahan.
"Aduuuuh celaka!"
327
Saduran TJAN ID
Mendadak ia geserkan badannya ke samping, telapak kanan
bagaikan kilat didorong ke arah depan, segulung cahaya tajam
berwarna merah membara dengan cepat meluncur keluar langsung
menghantam tubuh Hee Giong Lam.
"In Hoei, jangan bunuh ayah angkatku..."
Kong Yo Siok Peng menjerit lengking, dengan wajah sedih
bercampur isak tangis yang memilukan ia maju ke depan, suaranya
sedih dan mengenaskan membuat siapa pun yang mendengar ikut
beriba hati...
Pek In Hoei terkesiap, tenaga pukulan yang dilepaskan segera
mengendor, diam-diam ia menghela napas panjang, sementara
pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya.
"Aku tak boleh membinasakan Hee Giong Lam, sehingga
menyebabkan Kong Yo Siok Peng selama hidupnya membenci aku..."
"Aaaaah..." jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
di angkasa, tubuh Hee Giong Lam yang tinggi besar mendadak
mencelat ke belakang dan roboh terjengkang di atas tanah, darah
kental mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibirnya.
"Gie hu..." teriak Kong Yo Siok Peng dengan hati terkesiap, ia
tubruk tubuh Rasul Racun itu dan menangis tersedu-sedu.
"Ia tak bakal mati!" bisik Pek In Hoei dengan muka murung.
"Berada di hadapanmu aku tidak tega turun tangan keji..."
"Aku tak mau mendengarkan perkataanmu lagi, kau jahat... kau
jahat sekali..." teriak Kong Yo Siok Peng dengan benci.
Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei menghela napas
panjang,bersama-sama dengan Ouw-yang Gong ia segera berlalu dari
ruangan itu.
******
Gunung Thiam cong di bawah sorot cahaya sang surya,nampak
lebih keren dan mengerikan, secara tiba-tiba Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei merasa hatinya lagi tegang.
328
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan pandangan bimbang ditatapnya rentetan pegunungan
yang menjulang tinggi ke angkasa, tiba-tiba timbul rasa sedih dalam
hatinya, ia teringat kembali perguruan Thiam cong yang musnah di
tangan orang, entah bagaimana keadaan puing-puing peninggalan
partai tersebut...
Ia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri :
"Akhirnya aku kembali lagi kesini!"
Si huncwee gede Ouw-yang Gong ketika menjumpai si anak
muda itu dalam waktu singkat telah berubah jadi demikian sedihnya,
tanpa terasa ia ikut jadi murung setelah menghisap huncweenya
beberapa kali ia berseru :
"Hey bocah cilik, ayoh kita naik ke atas!"
Kedua orang itu segera mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya meluncur ke atas bukit, tidak selang beberapa saat mereka
sudah mulai mendaki gunung itu.
Makin mendaki mereka semakin tinggi berada di gunung itu,
puncak hampir terjamah dan terasalah angin gunung berhembus
sepoi-sepoi menggoyangkan pohon siong yang lebat...
Taaaang... suara genta yang nyaring berkumandang nun jauh dari
atas puncak, di mana dahulu merupakan kuil Sang Ching Koan, pusat
kekuasaan partai Thiam cong.
Pek In Hoei mendadak berhenti dan berbisik :
"Di dalam ada orang."
Sambil mengelus jenggotnya Ouw-yang Gong pun lantas berpikir
:
"Orang kangouw semua berkata bahwa sejak partai Thiam cong
dibasmi dari muka bumi tak seorang anak muridnya masih hidup, dan
kini suasana di atas gunung masih tetap seperti sedia kala, tapi
lonceng berbunyi nyaring... apakah benar anak murid partai Thiam
cong masih ada yang hidup..."
Belum habis ia berpikir mendadak tampaklah sesosok bayangan
manusia berkelebat lewat di dalam kuil Sang Ching Koan, gerakan
329
Saduran TJAN ID
tubuh orang itu enteng dan cepat, seandainya bukan manusia lihay
sebangsa Ouw-yang Gong jelas sulit untuk menemukannya.
Dengan wajah tercengang dan penuh tanda tanya Pek In Hoei
meluncur ke depan, serunya :
"Ayoh kita masuk ke dalam!"
Tubuh mereka berdua berjumpalitan beberapa kali di tengah
udara kemudian melangkah masuk ke dalam ruang tengah kuil Sang
Ching Koan, nampaklah ruangan itu bersih sekali dari debu, seolaholah
sering kali ada orang yang berlalu lalang di sana.
Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong menyapu sekejap sekeliling
tempat itu, ketika tak ditemuinya sesuatu jejak apa pun dalam hati
mereka mulai sangsi dan tak habis mengerti.
"Aneh...! Sungguh aneh sekali..." gumam Ouw-yang Gong
sambil garuk-garuk kepalanya. "Barusan dengan amat jelas sekali
kujumpai seseorang bayangan manusia berkelebat lewat, kenapa
sekarang lenyap tak berbekas?..."
Pek In Hoei sendiri pun tak habis mengerti apa yang sebenarnya
telah terjadi, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu. Tiba-tiba satu
senyuman tersungging di ujung bibirnya, sambil membawa Ouwyang
Gong mereka berjalan menuju ke pelataran.
Di sisi pelataran terdapat sebuah tiang batu setinggi enam depa,
di atas tiang batu tadi terukirlah sebuah gambar Pat Kwa yang amat
besar, Pek In Hoei yang mengetahui kegunaan dari Pat Kwa besar itu
segera berjalan mendekati gambar tadi kemudian ditekannya keraskeras
ke arah bagian Soen serta Kian di atas lukisan tadi.
Kraaak...! diiringi suara yang nyaring, batu besar tadi secara tibatiba
bergeser ke arah belakang dan muncullah sebuah lubang gua yang
besar.
Menyaksikan hal itu Ouw-yang Gong segera menjulurkan
lidahnya sambil berseru dengan nada tercengang :
"Neneknya... tak nyana kalian partai Thiam cong masih
mempunyai suatu tempat yang rahasia sekali letaknya..."
330
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hati-hati... di dalam ada orang!" bisik Pek In Hoei memberi
peringatan, sinar matanya berkilat tajam.
Ouw-yang Gong adalah seorang manusia berwatak berangasan,
mendengar di dalam gua tersembunyi jago Bu lim yang lihay, hawa
amarah dalam dadanya kontan berkobar, sembari putar huncwee
gedenya ke tengah udara ia maju dua langkah ke depan.
"Anak kura-kura dari mana yang bersembunyi di dalam, ayoh
cepat menggelinding keluar..." teriaknya.
"Lihat serangan..."
Dari balik gua yang hitam dan gelap pekat muncul suara bentakan
nyaring disusul tiga titik cahaya bintang yang berkilauan laksana kilat
meluncur keluar dalam posisi segi tiga.
Ouw-yang Gong segera ayunkan huncweenya untuk ke depan
menangkis, makinya :
"Maknya... rupanya kau berani makan tahu buatan loocu..."
Tiiiing...! Tiiiing...! Tiiiing...! ketiga buah titik cahaya bintang
yang berkilauan itu segera tersapu rontok oleh jangkauan huncwee
gede dan menggeletak di atas tanah.
Setelah senjata rahasia dilepaskan dari dalam gua, kembali
berkumandang keluar suara bentakan keras laksana guntur membelah
bumi, terlihatlah tiga orang toosu muda sambil mencekal pedang
tajam menyerbu keluar dari tempat persembunyiannya bagaikan
kalap.
"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kalian anakan kura-kura
yang bikin keonaran di sini," jengek Ouw-yang Gong sambil tertawa
tergelak.
Dengan cepat senjata huncwee gedenya diputar kencang,
memakai satu gerakan jurus yang aneh tahu-tahu ia sudah totok jalan
darah di atas pergelangan ke-tiga orang toosu muda itu sehingga detik
itu juga tiga bilah pedang sama-sama terlepas dari cekalannya.
Betapa terkesiapnya hati ke-tiga orang toosu mudah itu setelah
menyaksikan kelihayan orang, air muka mereka berubah hebat
331
Saduran TJAN ID
sementara matanya memandang ke arah si orang tua berhuncwee
besar itu dengan sinar mendelong, sikap mereka seolah-olah masih
sangsi kalau seorang kakek tua bangka ternyata memiliki kepandaian
silat yang demikian lihaynya.
"Siapakh kalian?" hardik Pek In Hoei dengan suara dingin,
"mengapa kamu sekalian bersembunyi di sini..."
Air muka ke-tiga orang toosu muda ini berubah semakin hebat,
sambil menunjukkan ketakutan yang tak terhingga mereka pejamkan
matanya rapat-rapat, terhadap teguran serta pertanyaan dari Pek In
Hoei, bukan saja tidak menggubris bahkan seakan-akan mereka sudah
tidak memikirkan tentang mati hidupnya lagi.
Pek In Hoei ulangi lagi pertanyaan itu sampai beberapa kali, tapi
ke-tiga orang toosu muda itu tetap tidak ambil peduli dan berlagak
pilon, lama kelamaan Ouw-yang Gong tidak kuat menahan diri, ia jadi
gusar dan segera memerseni sebuah tempelengan keras ke atas pipi
masing-masing toosu muda itu.
"Plooook!... Plooook!... Plooook!"
Suara gaplokan nyaring berkumandang memecahkan kesunyian,
setelah ditampar keras ke-tiga orang toosu muda itu mendadak
membuka matanya dan melotot ke arah Ouw-yang Gong dengan sinar
mata penuh kebencian.
Terdengar orang-orang itu berkata hampir berbareng :
Kami anak murid partai Thiam cong bukanlah manusia yang
takut diancam atau disiksa, sekaligus kau bajingan tua hendak
membinasakan diri kami pun, tak nanti kami buka suara barang
setengah kejap pun untuk menjawab pertanyaanmu..."
"Apa? Kalian adalah anak murid partai Thiam cong?" seru Pek In
Hoei dengan hati terperanjat, "Aku pun anak murid partai Thiam
cong..."
Dengan pandangan sangsi ke-tiga orang toosu itu menatap wajah
Pek In Hoei tajam-tajam, jelas mereka tidak percaya kalau si Jago
Pedang Berdarah Dingin adalah anak murid partai Thiam cong, serta
332
IMAM TANPA BAYANGAN II
merta ke-tiga orang itu meludah ke lantai dengan pandangan
menghina.
Sikap mereka yang pasrah dan sama sekali tidak takut
menghadapi kematian ini justru malah mencengangkan hati Pek In
Hoei serta Ouw-yang Gong, untuk beberapa saat lamanya mereka
berdiri termangu-mangu.
Terdengar salah satu di antara ke-tiga orang toosu itu berkata
dengan suara dingin :
"Kau tak usah membohongi kami dengan pengakuan tersebut,
partai Thiam cong kecuali tinggal kami bertiga yang masih hidup,
belum pernah kami dengar ada anak murid lain yang berhasil
meloloskan diri dari pembunuhan sadis malam itu..."
Pek In Hoei tahu bahwa mereka tak akan percaya kalau dirinya
adalah anak murid partai Thiam cong, maka sepasang tangannya
segera bergerak meloloskan pedang mustika penghancur sang surya
yang tersoren di atas punggungnya, kemudian diayunkan di hadapan
mereka bertiga.
Babatan kilat ini mengejutkan ke-tiga orang toosu muda itu,
saking kaget dan takutnya wajah mereka jadi pucat pias bagaikan
mayat, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan keluar.
Sembari merentangkan pedang tadi ke depan, kembali pemuda
she Pek itu berkata :
"Pedang ini adalah pedang mustika dari partai Thiam cong kita,
sekarang kalian tentu sudah percaya bukan kalau aku adalah anak
murid partai Thiam cong..."
Menyaksikan pedang mustika penghancur sang surya secara tibatiba
muncul di hadapan mereka, ke-tiga orang toosu muda itu dengan
wajah terperanjat buru-buru jatuhkan diri berlutut di atas tanah,
kemudian melakukan penghormatan besar sebanyak tiga kali terhadap
senjata tersebut.
Toosu muda yang berbicara tadi segera berkata kembali :
333
Saduran TJAN ID
"Tecu Im Hong, Ching Hong serta Wong Ching tidak tahu
kalau..."
Si anak muda itu segera memperkenalkan diri.
"Susiok..." dengan wajah tercengang ke-tiga orang toosu muda
itu segera berseru, senyuman lega yang enteng dan riang tersungging
di atas wajah beberapa orang itu, buru-buru mereka membawa Pek In
Hoei serta Ouw-yang Gong menuju ke ruang tengah.
Ching Hong segera mempersiapkan beberapa macam masakan
serta seguci arak, mereka berlima pun duduk di atas lantai dan mulai
bersantap.
Pek In Hoei tiada niat untuk minum-minum arak, sambil
meneguk setegukan ujarnya :
"Maksud tujuanku kembali ke atas gunung Thiam cong kali ini
adalah hendak mengumpulkan anak murid partai kita yang
berkeliaran dalam dunia persilatan tanpa pimpinan untuk membangun
kembali partai baru, agar dendam sakit hati terbunuhnya anak murid
kita dapat dituntut balas..."
"Aaaaai...! Sejak partai kita dibasmi dari muka bumi," kata Im
Hong dengan nada murung, "Banyak sekali anak murid kita yang
berkeliaran di luaran pada menyembunyikan diri, banyak pula yang
menyembunyikan nama serta mengasingkan diri, tak seorang pun
yang pernah membicarakan soal partai Thiam cong lagi..."
"Maknya... benar-benar tidak becus dan tak punya semangat,"
maki Ouw-yang Gong sambil meneguk arak berulang kali, "Sungguh
tak nyana partai Thiam cong terdapat pula anak murid semacam itu..."
Belum habis ia berkata mendadak air mukanya berubah hebat,
dengan gusar ia meraung keras kemudian sambil putar senjata
huncwee gedenya ia sapu tubuh Ching Hong, Im Hong serta Wong
Ching.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak sampai di tengah jalan,
mendadak rontok kembali ke bawah, sedang keringat sebesar kacang
kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuh.
334
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bocah cilik, kita tertipu!" teriaknya dengan suara gemetar.
Sebenarnya Pek In Hoei tidak mengerti apa yang telah terjadi, ia
ada maksud menghalangi tindakan Ouw-yang Gong yang berangasan
itu, tapi pada saat itulah ia merasakan ke-empat anggota badannya
sama sekali tak bertenaga, kepalanya jadi pusing dan matanya
berkunang-kunang.
Sementara itu ke-tiga orang toosu muda tadi segera menyebarkan
diri dan masing-masing mundur lima enam langkah ke belakang,
sambil memandang ke arah Ouw-yang Gong serta Pek In Hoei ke-tiga
orang itu tertawa terbahak-bahak.
Pek In Hoei terkesiap, satu ingatan dengan cepat berkelebat
dalam benaknya :
"Aduuh.. bodoh amat diriku ini, kenapa aku tidak ingat kalau
tingkatan murid dalam partai Thiam cong terbagi jadi angkatan Hian,
Song serta Ching?? Ke-tiga orang toojien ini sama sekali bukan anak
murid partai Thiam cong, berhubung aku gelisah dan tidak cermat
sekarang mengakibatkan aku terjatuh ke tangan mereka..."
Buru-buru ia salurkan hawa murninya untuk melawan daya kerja
racun keji yang bersarang dalam tubuhnya, sedang sepasang matanya
dengan memancarkan cahaya tajam melotot ke arah ke-tiga orang
toosu yang sedang bangga itu dengan pandangan menggidikkan,
begitu tajam dan mengerikan sinar matanya membuat ke-tiga orang
itu seketika jadi tersurut mundur dengan hati ketakutan.
Ouw-yang Gong sendiri walaupun tubuhnya lemas tak bertenaga,
namun mulutnya sama sekali tak mau membungkam, setelah
menggerutu beberapa saat lamanya mendadak ia berteriak keras :
"Anak jadah cucu monyet, kalian adalah peliharaan anjing
betina... bangsat kamu semua..."
Wong Ching maju ke depang menghampiri si kakek konyol itu
kemudian digaploknya wajah Ouw-yang Gong keras-keras sambil
bentaknya :
335
Saduran TJAN ID
"Tadi kau paling dan jumawa sekarang aku jauh lebih gagah
daripada dirimu..."
Ploook...! Ouw-yang Gong seketika merasakan pipinya jadi
panas dan linu, dengan gusar ia meraung keras :
"Anak jadah peliharaan anjing betina, aku bersumpah akan
menjagal dirimu..."
Dengan sekuat tenaga ia coba menghimpun segenap sisa tenaga
yang dimilikinya ke dalam telapak kanan, setelah itu ditubruknya
tubuh Wong Ching sebisa-bisanya, tapi serangan itu sama sekali tak
bertenaga dan segera terkulai kembali ke atas tanah.
Im Hong tertawa seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... ayoh kita segera kabarkan kepada
sucouw kalau kita berhasil menangkap dua orang lagi..."
Ching Hong mengiakan, dari sakunya dia segera ambil keluar
sebuah tabung bambu.
Serentetan cahaya terang berwarna merah meluncur keluar dari
dalam tabung bambu tadi dan meledak di tengah angkasa, tampaklah
cahaya terang memenuhi seluruh angkasa... lama sekali baru sirap dan
lenyap.
Taaang! Taaang...! Taaang...!
Suara genta yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian
yang mencekam seluruh jagad, begitu keras suara genta tadi sampai
mengalun jauh ke dalam lembah sempit.
"Hmmm... Hmmm..."
Dalam kuil Sang Ching Koan berkumandang suara dengusan
berat, ke-tiga orang toosu muda itu segera menghadap keluar dengan
sikap yang sangat menghormat.
"Sudut langit Selatan perguruan Boo Liang Tiong!"
Seruan nyaring bergema memenuhi seluruh ruangan, sekilas rasa
girang setelah terlintas di atas wajah ke-tiga orang toosu muda itu
buru-buru mereka menyahut :
"Anak murid Boe Liang membasi partai Thiam cong!"
336
IMAM TANPA BAYANGAN II
Di tengah seruan-seruan nyaring yang gegap gempita memenuhi
seluruh ruangan itulah tampak dari luar ruangan muncul enam orang
lelaki kekar yang bertubuh tegap berjalan masuk mengiringi seorang
siucay berjubah biru.
Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei merasa hatinya
bergetar keras, ia merasa sangat kenal sekali dengan wajah siucay
berusia pertengahan itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam
benaknya, tanpa terasa ia lantas berpikir :
"Aaaaah! Dia adalah Hian Pak dan sekarang menjadi Go Kiam
Lam sang ketua dari perguruan Boo Liang Tiong..."
Begitu berjumpa muka dengan musuh besar pembasmi partai
Thiam cong yang paling dibencinya selama ini, Go Kiam Lam ketua
perguruan Boo Liang Tiong, darah panas dalam rongga dadanya
seketika itu juga bergolak keras, suatu perasaan gusar yang tak
terkirakan berkobar dalam hatinya membuat ia pengin sekali
menubruk ke depan dan menghancurlumatkan tubuh orang itu.
Sepasang matanya berkilat tajam, dengan dingin dan
menyeramkan ia tatap wajah Go Kiam Lam tanpa berkedip.
Go Kiam Lam sendiri dengan wajah terkejut bercampur
tercengang memandang pula ke arah ke-dua orang itu, dari atas wajah
Ouw-yang Gong ia segera pusatkan semua perhatiannya di atas wajah
Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin.
"Kau adalah..."
"Hmmm! Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei bukan
lain adalah diri cayhe, kalau daya ingatanmu tidak jelek semestinya
bisa mengingat kembali siapakah aku..."
Go Kiam Lam segera tertawa seram.
"Haaaah... haaaah... haaaah... aku telah menduga bahwa suatu
saat kau pasti akan kembali kemari, maka kuperintahkan anak murid
perguruan Boo Liang Tiong untuk berjaga di sini siang malam,
sungguh tak nyana begitu cepatnya kau masuk jebakan..."
337
Saduran TJAN ID
Seolah-olah merasa sangat bangga dengan hasil yang
diperolehnya saat ini, satu senyuman licik tersungging di atas
wajahnya, ia berkata kembali dengan nada dingin :
"Sejak kau terjunkan diri ke dalam dunia persilatan,anak murid
perguruan Boo Liang Tiong kami setiap saat selalu memperhatikan
gerak-gerikmu, nama besar si Jago Pedang Berdarah Dingin yang kau
peroleh dianggap sebagai bibit bencana yang terbesar bagi perguruan
kami, karena itu kami telah bersumpah untuk mendapatkan dirimu.
Hmmm!..."
Setelah tertawa dingin berulang kali, mendadak ujarnya lagi
dengan suara ketus :
"Kau telah menelan obat 'Lio Hong Lok' buatan perguruan kami,
meskipun racun ini tidak akan sampai melukai orang tapi seluruh
tubuhmu menjadi lemas tak bertenaga, kekuatan hawa murni pun tak
akan bisa kau himpun kembali. Sebelum lima jam keadaanmu tetap
akan seperti sekarang ini..."
"Hmmm... Hmmm...rupanya kau merasa sangat bangga dengan
hasil yang berhasil kau peroleh..." jengek Pek In Hoei sambil tertawa
dingin.
Diam-diam ia telah memaksa racun 'Liok Hong Lok' berkumpul
di satu sudut badan dan untuk sementara waktu cairan racun itu tak
akan berkembang lebih lanjut, kendati begitu lama kelamaan ia harus
kerahkan hawa murninya juga untuk melawan.
Dengan cepat otaknya berputar kencang, pikirnya di dalam hati :
"Menggunakan kesempatan sebelum racun Liok Hong Lok itu
mulai bekerja, kemungkinan besar aku masih dapat melarikan diri dari
gunung Thiam cong ini, tapi bagaimana dengan Ouw-yang Gong..."
Teringat akan si huncwee gede itu tanpa teras ia berpaling dan
memandang sekejap ke arah kakek konyol itu, tampaklah pada saat
itu Ouw-yang Gong sedang memandang ke arah Go Kiam Lam
dengan penuh kegusaran.
338
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Anjing buduk anak jadah!" terdengar ia memaki kalang kabut,
"kalian anakan kura-kura hanya bisa mempecundangi orang dengan
cara yang rendah dan memalukan, sekalipun aku si huncwee gede
terjatuh ke tangan kalian,tapi aku tidak puas..."
"Hmmm! Kau si ular asap tua lebih baik sedikitlah tenang dan
jangan ribut melulu," seru Go Kiam Lam memperingatkan. "Kalau
kau tidak tahu diri... Hmmm! siksaan yang bakal kau rasakan nanti
bukanlah siksaan biasa yang dapat kau tahan..."
Ia sapu sekejap seluruh ruangan dan perintahnya :
"Gusur mereka pergi dari sini!"
"Sucouw, kedua orang ini akan dikurung di mana?" tanya Wong
Ching sambil maju beberapa langkah ke depan.
Go Kiam Lam sebagai seorang ketua dari perguruan Boo Liang
Tiong, mempunyai cara berpikir yang lebih mendalam daripada siapa
pun jua, dia tahu baik Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin
maupun Ouw-yang Gong adalah jago-jago lihay kelas satu dalam
dunia persilatan, bila mana penjagaan tidak dilakukan dengan ketat,
niscaya mereka akan berhasil melepaskan diri dari kurungan.
Ia berpikir sebentar lalu berkata :
"Tempat manakah yang paling sesuai di sini?"
Wong Ching segera menuding ke arah sebuah sumur kering di
luar ruang tengah dan segera sahutnya :
"Tecu berani menjamin tak akan ada orang yang bisa
menyelamatkan mereka dari sini, karena sumur kering itu..."
"Baik!" tukas Go Kiam Lam sambil kibaskan tangannya. "Aku
hendak menggunakan batok kepala ke-dua orang itu untuk
bersembahyang bagi arwah-arwah anak murid perguruan Boo Liang
Tiong kami yang telah mati, sampaikan perintah agar malam ini juga
semua anak murid Boo Liang Tiong berkumpul di sini..."
Wong Ching, Im Hong serta Ching Hong segera memberi hormat
dan mengiakan sambil menggusur Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong
mereka mengundurkan diri dari ruangan itu.
339
Saduran TJAN ID
"Hmmm! pada saat itulah dengusan dingin berkumandang
memecahkan kesunyian, dengan kecepatan laksana sambaran kilat
tahu-tahu Pek In Hoei telah menggerakkan tubuhnya melancarkan
serangan dahsyat ke arah ke-tiga orang itu.
Blaaaam...! Aduuuuh...
Angin puyuh menyapu lewat, di tengah jeritan ngeri yang
menyayatkan hati ke-tiga orang toosu muda itu mencelat ke angkasa
dan menumbuk patung arca di tengah ruangan besar, darah segar
muncrat berhamburan di atas lantai.
Bruuuk! Bruuuk! Bruuuuuk! tiga kali bentrokan keras, dengan
kepala hancur remuk ke-tiga orang toosu muda itu mati binasa di atas
tanah, otaknya berceceran di mana-mana dengan genangan darah
yang kental dan berbau amis.
Air muka Go Kiam Lam berubah hebat, bentaknya penuh
kegusaran :
"Pek In Hoei, kau cari mati!"
Badannya bergerak maju ke depan kemudian laksana kilat
melancarkan satu babatan maut, segulung hawa pukulan yang maha
dahsyat dengan cepatnya menggulung ke depan menghajar tubuh Pek
In Hoei yang sedang berada di tengah udara.
Buru-buru Pek In Hoei mengigos ke samping serunya gelisah :
"Ular asap tua, apakah kau masih mampu?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... terlalu banyak arak yang telah
kuminum, kau pergilah lebih dulu..."
Pek In Hoei segera mencabut keluar pedang mustika penghancur
sang suryanya, kemudian dengan menciptakan serentetan cahaya
pedang yang dingin dan tajam ia membentak keras, senjatanya
langsung diayunkan membabat tubuh para jago yang sedang mengejar
datang.
Menyaksikan betapa dahsyatnya serangan itu, para jago lihay itu
jadi ketakutan, buru-buru mereka mengundurkan diri ke belakang.
340
IMAM TANPA BAYANGAN II
Go Kiam Lam segera menggerakkan pedangnya melancarkan
serangan berantai, bentaknya :
"Jangan lepaskan barang seorang pun di antara mereka, keparat
cilik itu tak akan bisa bertahan terlalu lama."
Sebagai ketua dari perguruan Boo Liang Tiong, kekuatan
lweekang yang dimiliki Go Kiam Lam sudah tentu luar biasa sekali,
di tangan bergetarnya sang pedang segera meluncurlah cahaya kilat
yang menggidikkan hati, dengan mengeluarkan jurus 'Hwie Gong Cap
Sam Cian' atau tiga belas babatan memenggal udara kosong ia
ciptakan tiga belas jalur cahaya pedang yang segera mengurung tubuh
lawan.
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, satu ingatan dengan cepat
berkelebat di dalam benaknya :
"Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang dimiliki Go Kiam
Lam sedemikian sempurna dan lihaynya, kepandaian ilmu pedang
pun sangat mengerikan hati..."
Seluruh kekuatan tubuhnya segera dihimpun ke ujung
pedangnya, cahaya kilat menyambar sambil menciptakan selapis
hawa kabut berwarna hijau ia balas melancarkan satu babatan.
Criiing...! Sepasang pedang saling beradu satu sama lainnya
menimbulkan suara dentingan nyaring, Go Kiam Lam segera
merasakan tangannya jadi enteng dan tahu-tahu pedang di dalam
genggamannya telah patah jadi dua bagian.
"Aaaaah...!" dengan perasan tercengang bercampur kaget ia
menyusut mundur beberapa langkah ke belakang dan serunya dengan
hati terkesiap. "Pedang mustika penghancur sang surya... pedang
mustika penghancur sang surya..."
Menggunakan kesempatan di kala Go Kiam Lam sedang berdiri
tertegun itulah,dengan cepat si Jago Pedang Berdarah Dingin
melayang mundur ke belakang, berada di tengah udara ia berputar
membentuk satu lingkaran kemudian sambil menyambar tubuh Ouwyang
Gong segera menerjang keluar dari ruangan tersebut.
341
Saduran TJAN ID
Enam orang lelaki kekar yang muncul bersama-sama dengan Go
Kiam Lam tadi segera membentak berbareng masing-masing sambil
merentangkan pedangnya berdiri menghadang di depan pintu.
Sepasang mata Pek In Hoei berkilat, bentaknya :
"Siapa berani tidak menyingkir, jangan salahkan kalau aku
bertindak telengas."
Cahaya pedang bergetar kencang, secara beruntun tiga orang jago
lihay itu kembali terluka di ujung pedangnya.
Menyaksikan betapa lihay dan ampuhnya ilmu pedang yang
dimiliki pihak lawan, para jago itu jadi terkesiap, mereka bersamasama
meloncat mundur ke belakang dan bertahan di satu sudut.
"Hmmm!" Go Kiam Lam mendengus dingin. "Pek In Hoei, kau
tak bakal bisa lolos dari sini!"
"Heeeh... heeeh... heeeh... belum tentu..."
Segulung angin pukulan yang berat dan mantap mendadak
menggulung datang dari belakang punggungnya, ia membentak keras
pedangnya segera diputar mengirim babatan ke belakang,
menggunakan kesempatan itu badannya segera menerjang kembali ke
depan.
"Hiaaat...!" seorang lelaki kekar melancarkan sebuah tusukan
dari samping kalangan.
Pek In Hoei segera menangkis datangnya ancaman itu, kakinya
melayang mengirim satu tendangan... dan... jeritan ngeri segera
bergema memenuhi seluruh ruangan, lelaki tadi seketika juga
menemui ajalnya di ujung kaki pemuda tersebut.
Bagian 21
MENYAKSIKAN beberapa orang anak buahnya telah jatuh korban,
Go Kiam Lam benar-benar naik pitam dibuatnya, ia segera berteriak
keras :
342
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Pek In Hoei, sejak hari ini kami anak murid dari perguruan Boo
Liang Tiong bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan
dirimu..."
Dengan penuh kemarahan ia lancarkan beberapa buah pukulan
gencar, angin serangan yang amat dahsyat pun segera menyapu
seluruh kalangan.
Pek In Hoei mendengus berat, ia geserkan badannya meloloskan
diri dari ancaman lawan, setelah lolos dari ke-tiga serangan
mematikan itu tubuhnya mencelat ke angkasa dan meluncur turun dari
bukit Thiam cong san.
Go Kiam Lam jadi luar biasa mendongkolnya, ia berkaok-kaok
keras memaki kalang kabut :
"Pek In Hoei, sekalipun kau melarikan diri ke ujung langit atau
ke dasar samudara, aku bersumpah akan menangkap dirimu kembali."
Bentakan-bentakan berat berkumandang datang menggetarkan
seluruh bukit Thiam cong, Pek In Hoei tanpa mempedulikan keadaan
di sekelilingnya lagi segera berlari kencang menerjang masuk ke
dalam hutan. Entah berapa jam ia sudah lari, mendadak tubuhnya
mulai sempoyongan dan keringat sebesar kacang kedelai mengucur
keluar tiada hentinya.
Dengan penuh penderitaan ia mendengus, lalu gumamnya
seorang diri :
"Sungguh tak nyana daya kerja racun Liok Hong Lok begini cepat
kambuhnya, aaaa....! Rupanya ini hari aku bakal terkurung di atas
gunung Thiam cong san ini... sungguh tak nyana partai Thiam cong
bakal menderita kalah sedemikian hebatnya, sampai untuk kembali ke
atas gunungnya sendiri pun tak mampu..."
Gelak tertawanya mengenaskan sekali membuat seluruh daun
dan ranting dalam hutan bergetar keras.
"Bocah keparat, kau..." seru Ouw-yang Gong dengan wajah
berubah hebat.
343
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tidak menjawab, ia cuma tertawa keras dengan suara
yang sangat mengenaskan...
344
IMAM TANPA BAYANGAN II
JILID 15
DALAM pada itu Go Kiam Lam si ketua perguruan Boo Liang Tiong,
tatkala menyaksikan Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong melarikan diri
masuk ke dalam sebuah hutan, hawa gusarnya seketika berkobar,
sambil menerjang keluar dari ruangan bentaknya keras-keras:
"Tangkap dan hadang jalan pergi ke-dua orang bangsat itu,
jangan pedulikan mati hidup mereka lagi..."
Anak murid perguruan Boo Liang Tiong menyahut berbareng dan
segera gerakkan tubuh masing-masing untuk melakukan pengejaran.
Mendadak... Di tengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad
berkumandang datang suara pekikan irama khiem yang panjang dan
tajam... Ting... tiing... suara itu begitu tajam dan indah membuat para
jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong segera menghentikan
gerakan tubuhnya dan berdiri termangu-mangu sambil menikmati
merdu serta indahnya suara khiem tersebut.
Go Kiam Lam sendiri pun dibuat tertegun oleh kejadian yang
berlangsung secara tiba-tiba itu, pikirnya dengan cepat :
"Irama khiem ini muncul secara tiba-tiba dan aneh sekali, entah
siapakah yang dapat memetik khiem memainkan irama lagu yang
begini mempersonakan..."
Ia memandang jauh ke depan, terasalah irama lagu yang begitu
merdu serta empuknya itu seakan-akan muncul dari delapan penjuru,
kecuali irama yang menggema di angkasa sama sekali tidak nampak
sesosok bayangan manusia pun yang muncul di sana..."
345
Saduran TJAN ID
Bayangan tubuh Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong dengan
cepatnya lenyap di balik pepohonan yang luas, ia jadi terperanjat dan
segera bentaknya gusar :
"Kalian semua pengin mati? Ayoh cepat kejar ke-dua orang itu..."
Bagaikan tersadar dari satu impian yang sangat indah, para jago
dari perguruan Boo Liang Tiong itu segera sadar kembali dari
lamunan mereka, diiringi teriakan-teriakan keras, mereka pun
melakukan pengejaran kembali.
Belum sampai para jago lihay itu melangkah masuk ke dalam
hutan, dari balik pepohonan mendadak terdengar suara helaan napas
panjang, seorang perempuan berbaju serba hitam perlahan-lahan
munculkan diri di hadapan mereka.
Dalam pangkuannya memeluk sebuah khiem kuno, wajahnya
tertutup oleh selapis kain kerudung berwarna hitam, kecuali sepasang
matanya yang bening dan tajam sedang mengawasi kawanan jago
lihay itu, tak nampak anggota badan lainnya.
Ketika itu ke-lima jari tangannya yang runcing dan halus sedang
menarik-narik di antara senar khiemnya.
Tiiiing...! Tiiiing...! Tiiiing...! irama merdu berkumandang tiada
hentinya membuat anak murid dari perguruan Boo Liang Tiong itu
berdiri termangu-mangu, perhatian mereka semua telah terhisap oleh
kehadiran perempuan misterius berbaju hitam itu.
Terdengar wanita berkerudung itu menghela napas sedih, lalu
berkata :
"Aaaai...! kalian adalah orang yang punya kepandaian semua,
sejak aku berlatih main khiem hingga kini belum pernah kujumpai ada
banyak orang yang mendengarkan irama kasar yang dimainkan
seorang perempuan..."
Suaranya halus dan ucapannya merdu enak didengar, membuat
setiap orang merasakan hatinya jadi enteng dan segar.
Anak murid perguruan Boo Liang Tiong yang pada hari biasa
selalu mendapat pengawasan serta pendidikan yang keras oleh Go
346
IMAM TANPA BAYANGAN II
Kiam Lam, setelah menghadapi kejadian seperti ini, sembilan puluh
persen dari mereka jadi leleh oleh keayuan serta kehalusan orang,
tanpa sadar mereka dibikin kesemsem oleh perempuan ini.
Dengan cepat Go Kiam Lam enjotkan badannya melayang ke
depan lalu bentaknya keras :
"Siapa kau? Tahukah kau bahwa gunung Thiam cong san ini..."
Dengan pandangan dingin perempuan berkerudung hitam itu
melirik sekejap ke arahnya kemudian menjawab :
"Saudara jien heng ini kenapa begitu tak tahu sopan santun?
Gunung Thiam cong san toh bukan istana emas yang tidak boleh
dikunjungi orang lain, kalian boleh datang kemari kenapa kami tak
boleh datang ke sini pula..."
Go Kiam Lam tertegun, untuk beberapa saat lamanya ia tak
sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ditatapnya perempuan ini
dengan lebih seksama, dengan cepat ia telah menyadari bahwa
kehadiran yang secara mendadak oleh perempuan ini pasti
mengandung sesuatu maksud tertentu.
Ia segera mendengus dingin dan kembali menegur :
"Kau jangan sengaja main licik di hadapanku, tempat ini
bukanlah tempat yang baik untuk kau kunjungi..."
Mendadak perempuan berkerudung hitamitu tertawa merdu.
"Apa gunanya disebabkan karena satu persoalan kecil di antara
kita harus terjadi suatu bentrokan yang tak berguna ? Anggap sajalah
kesalahan siauw li yang telah mengganggu ketenangan kalian semua.
Di sini aku memberi hormat terlebih dahulu..."
Setelah menjura ke arah semua orang, ia berkata lagi diiringi
senyuman manis :
"Gunung sepi kuil terpencil menyedihkan hati, bagaimana kalau
siauw li mainkan sebuah lagu indah untuk menghibur hati cuwi
sekalian..."
347
Saduran TJAN ID
Tanpa menunggu apakah pihak lawan setuju atau tidak, ia mulai
menggerakkan jari tangannya memetik senar tali khiem dan
memainkan sebuah lagu yang amat sedih...
Go Kiam Lam segera menyentilkan ujung jarinya ke arah tubuh
perempuan itu, bentaknya :
"Sungguh lihay kepandaian yang nona miliki!"
Perempuan berbaju hitam itu menggeserkan badannya ke
samping meloloskan diri dari ancaman, setelah itu sahutnya merdu :
"Ruas jari-jari tanganmu terlalu kasar, bukan bakat yang bagus
untuk belajar memetik khiem..."
Gerakan tubuhnya untuk menghindar amat lincah dan gesit,
dengan suatu kelitan yang manis tahu-tahu ia telah melepaskan diri
dari ancaman jari Go Kiam Lam, hal ini membuat hati gembong iblis
itu jadi amat terperanjat.
"Ooooh... sungguh tak kusangka ternyata kau pun seorang jago
silat yang lihay..."
Secara beruntun ia melancarkan tujuh delapan buah serangan
berantai meneter pihak lawannya,tapi kembali ia dibikin terkesiap
oleh gerakan orang yang ternyata dapt menghindarkan diri dari semua
ancaman tersebut, buru-buru ia melayang mundur ke belakang seraya
menegur dengan suara dingin :
"Nona, apa sebabnya kau mencari permusuhan dengan kami,
orang-orang dari perguruan Boo Liang Tiong? Silahkan kau segera
menyingkir dari sini, kami harus segera mengejar buronan penting
dari perguruan kami..."
"Siapa sih yang sedang kau kejar? Mungkin aku tahu jejaknya..."
seru perempuan itu.
Melihat perempuan berkerudung hitam ini selalu menghadang
jalan pergi mereka untuk memasuki hutan belantara itu, Go Kiam
Lam segera sadar bahwa perempuan yang tidak diketahui asal usulnya
ini memang ada maksud menyusahkan dirinya, sebuah pukulan
dahsyat segera dilancarkan.
348
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Ayoh menyingkir!"
"Kalian dilarang untuk melewati tempat ini!" sahut perempuan
berkerudung hitam itu sambil menutulkan khiem kunonya ke depan.
Merasakan urat nadi penting di atas pergelangan tangannya
terancam oleh totokan lawan, dengan hati terkesiap cepat-cepat Go
Kiam Lam tarik kembali tangannya sambil meloncat mundur ke
belakang.
"Rupanya kau pengin modar!" ia menghardik.
Sementara ia bersiap-siap melancarkan serangan mematikan,
mendadak perempuan itu mengundurkan diri ke belakang seraya
berkata :
"Di tempat ini tiada orang yang sedang kalian kejar, di depan sana
merupakan tempat sembahyang bagi lelayon mendiang leluhur siauw
li, kalian berani mengganggu orang tua kami yang telah meninggal
itu... Hmmm! Jangan salahkan kalau aku bakal mencari kalian untuk
mengadu jiwa..."
Go Kiam Lam tertegun, untuk sesaat lamanya ia berdiri
menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Ia tak
menyangka kalau perempuan itu secara tiba-tiba bisa mengutarakan
kata-kata seperti itu. Sebagai seorang ketua dari suatu perguruan besar
sudah tentu ia tak mau mempercayai perkataan orang dengan begitu
saja.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, dengan alis berkerut
ia segera tertawa dingin.
"Seratus li di sekeliling gunung Thiam cong san tiada rumah
penduduk, nona, lebih baik kau jangan mengajak kami untuk
bergurau..."
"Hmmm! Kalau kalian tidak percaya silahkan pergi
memeriksanya, kalau ucapanku tidak salah maka kau harus berlutut
di depan layon mendiang orang tuaku untuk mohon maaf kalau tidak
aku tak akan mengampuni dirimu..."
349
Saduran TJAN ID
Go Kiam Lam mendengus dingin, dengan memimpin anak
muridnya ia segera masuk ke dalam hutan itu.
Dari balik hutan yang gelap dan lebat secara lapat-lapat tersiar
bau busuk yang memuakkan, tidak selang beberapa saat kemudian
sampailah mereka di tengah hutan, di situ tampaklah sebuah rumah
gubuk yang terang di bawah sorot cahaya lampu lentera.
Go Kiam Lam tertawa dingin, sambil mendorong pintu ia segera
melangkah masuk ke dalam. Tapi dengan cepat senyuman yang
semula menghiasi bibirnya lenyap tak berbekas, ia berdiri termangumangu
tanpa sanggup berbuat sesuatu apa pun.
Tampaklah di balik horden kain putih yang menutupi ruangan
membujurlah dua buah peti mati berwarna merah, peti-peti mati itu
terletak di tengah ruangan dihiasi lampu lilin serta asap hio yang tebal,
suasana terasa serius dan diliputi kesedihan.
Di depan meja lelayon duduk seorang gadis berbaju putih, waktu
itu dengan pandangan termangu-mangu sedang menatap sebuah huruf
besar yang terpasang di tengah meja sembahyang, terhadap kehadiran
para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong ini ternyata sama
sekali tidak menggubris.
Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya, ia siap
mengundurkan diri dari situ. Mendadak terasa segulung desiran angin
tajam menyebar lewat di belakang tubuhnya, Go Kiam Lam
terperanjat buru-buru ia berkelit ke samping untuk menghindarkan
diri.
Menanti ia berpaling ke belakang, tampaklah perempuan
berkerudung hitam itu sambil memeluk khiem antiknya telah berjagajaga
di depan pintu dengan sikap dingin.
"Hmmm...! sekarang kau sudah percaya bukan?" tegurnya ketus.
Go Kiam Lam jadi gelagapan dan tak sanggup memberi jawaban,
mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, sambil menuding
ke arah peti-peti mati itu ia bertanya :
"Mayat siapakah yang berada di dalam peti mati itu?"
350
IMAM TANPA BAYANGAN II
Perempuan berkerudung kain hitam itu tertawa dingin.
"Mendiang orang tuaku! Hmmm! Secara gegabah kau telah
memasuki ruang layon kami sehingga membuat sukma mendiang
orang tua kami tidak senang di alam baka, mulai detik ini juga kau
adalah musuh besarku, ayo cepat berlutut dan minta ampun..."
Dengan sepasang alis berkerut Go Kiam Lam maju menghampiri
kedua buah peti mati itu, tangan kiri serta tangan kanannya masingmasing
ditekankan ke atas peti mati tadi, dan serunya hambar :
"Maaf, cayhe telah mengganggu kalian."
Melihat perbuatan orang itu, baik dara berbaju putih itu maupun
perempuan berkerudung hitam sama-sama berubah air mukanya, dara
berbaju putih itu segera membentak gusar, tubuhnya menerjang maju
ke depan sambil melancarkan satu pukulan dahsyat.
"Kau berani!" hardiknya.
Cepat-cepat Go Kiam Lam meloncat ke samping meloloskan diri
dari ancaman.
"Cayhe mohon diri terlebih dahulu," katanya. "Bila mana kami
telah mengganggu ketenangan kalian, di kemudian hari pasti akan
mohon maaf..."
Selesai berkata ia segera ulapkan tangannya, para jago lihay dari
perguruan Boo Liang Tiong dengan cepat mengikuti di belakang
ketuanya berlalu dari hutan tadi dan dalam sekejap mata telah lenyap
dari pandangan mata.
Berdiri di depan pintu perempuan berkerudung hitam itu
membentak keras :
"Go Kiam Lam, hutang yang kita perbuat hari ini kami catat atas
namamu..."
Suara yang amat nyaring menggema hingga ke tempat kejauhan
membuat daun dan ranting bergetar keras, lama sekali baru sirap.
Memandang bekas telapak lima jari di atas peti mati itu, dua titik
air mata jatuh berlinang membasahi pipi dara berbaju putih itu, sikap
351
Saduran TJAN ID
serta wajahnya yang sedih dan mengenaskan itu membuat perempuan
berbaju hitam yang menyaksikan dari samping pun ikut beriba hati.
Terdengar perempuan berkerudung hitam itu menghela napas
panjang, lalu berkata :
"Chin Siang, kau tak usah sedih, walaupun ilmu Toa Lek Im Jiaw
dari Go Kiam Lam tersohor karena kekejian serta kehebatannya, tak
nanti kepandaian itu berhasil melukai diri Pek In Hoei..."
Perlahan-lahan ia berjalan ke depan peti mati itu, membuka
penutupnya dan tampaklah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei dengan wajah kuning keemas-emasan menutup matanya rapatrapat
dan berbaring dalam peti mati tersebut.
Perempuan berbaju hitam itu melepaskan kain kerudungnya yang
berwarna hitam hingga terlihat raut wajahnya yang cantik jelita,
setelah menyapu sekejap wajah Pek In Hoei, dengan sikap serius
katanya sedih :
"Sungguh tak nyana tenaga lweekang yang dimiliki Go Kiam
Lam telah mencapai pada taraf 'Meminjam benda menyalurkan
tenaga'. Pek In Hoei sudah terkena obat pemunah tenaga 'Liok Hong
Lok' sudah tentu ia tak dapat menggunakan kekuatan tubuhnya untuk
menahan serangan Toa Lek Im Jiauw kang tersebut. Kalau dilihat raut
wajahnya yang kuning keemas-emasan jelas luka yang dideritanya
tidak ringan..."
Wie Chin Siang yang mendengar ucapan itu bergetar keras
hatinya seakan-akan guntur membelah bumi di siang hari bolong,
dengan sempoyongan ia mundur lima langkah ke belakang lalu
serunya sedih :
"Suhu, kau harus mencari akal untuk menyelamatkan jiwanya..."
Perempuan berbaju hitam yang bukan lain adalah Kiem In Eng si
Dewi Khiem Bertangan Sembilan, tampak ia termenung berpikir
sebentar lalu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aaaai... ilmu cakar sakti Toa Lek Im Jiauw kang termasuk salah
satu di antara lima macam kepandaian paling keji di kolong langit,
352
IMAM TANPA BAYANGAN II
setelah Pek In Hoei terkena serangan ilmu beracun itu, aku rasa untuk
sesaat memang sulit untuk menolongnya..."
Perkataan yang diucapkan dengan nada rendah dan perlahan ini
menggelisahkan hati Wie Chin Siang hingga membuat wajahnya
berubah hebat dan butir air mata jatuh berlinang membasahi pipinya
dengan pandangan mendelong ia awasi gurunya tanpa mengucapkan
sepatah kata pun.
Kembali Kiem In Eng menghela napas panjang.
"Aaaai...! kesemuanya ini adalah gara-gara kedatangan kita yang
terlambat, hingga mengakibatkan ia dicelakai oleh Go Kiam Lam
sedangkan aku... karena tidak leluasa untuk unjukkan diri sulit pula
untuk mencegah peristiwa ini..."
Wie Chin Siang tidak bicara, mendadak ia cbut keluar pedangnya
dan diayunkan ke tengah udara sehingga membentuk sekilas cahaya
tajam yang menyilaukan mata, wajah yang murung dan sedih seketika
lenyap tak berbekas diganti dengan wajah bening yang penuh diliputi
hawa napsu membunuh.
"Aku akan pergi mencari Go Kiam Lam untuk beradu jiwa,"
serunya. "Akan kupaksa dirinya untuk serahkan obat penawar racun
pukulannya, kalau tidak maka akan kubunuh semua orang yang ada
di gunung Thiam cong agar darah segar membasahi seluruh jagad..."
"Chin Siang kau tak boleh berbuat begitu," cegah gurunya seraya
menggeleng. "Walaupun perbuatanmu itu bisa membalas dendam
sakit hatinya tetapi sama sekali tidak berguna bagi Pek In Hoei,
perbuatanmu itu hanya akan mempercepat kematiannya belaka, lagi
pula perguruan yang dipimpin Go Kiam Lam mempunyai hubungan
yang erat sekali dengan sucouwmu, di sinilah letak ketidakleluasaan
gurumu untuk bertindak secara terang-terangan, maka satu-satunya
jalan yang dapat kita tempuh sekarang adalah mencari akal lain untuk
mendapat obat pemunah..."
Mendadak ia tertawa dan menggape ke arah gadis itu.
"Nak, masuklah kemari!"
353
Saduran TJAN ID
Dengan pandangan tidak mengerti Wie Chin Siang memandang
ke arah suhunya kemudian perlahan-lahan maju ke depan dan berdiri
di hadapan gurunya dengan sikap hormat.
"Suhu, ada urusan apa?" tanyanya.
Kiem In Eng menatap wajah muridnya tajam-tajam lalu bertanya
:
"Anakku, terus terang mengakulah kepadaku, betulkah kau
mencintai Pek In Hoei?"
Wajah Wie Chin Siang yang semula pucat pias dirundung
kemurungan seketika berubah jadi merah padam selesai mendengar
perkataan itu, dengan tersipu-sipu ia tundukkan kepalanya rendahrendah.
"Suhu!" katanya, "kenapa kau bertanya lagi kepadaku?"
Perlahan-lahan Kiem In Eng menghela napas panjang.
"Tahukah kau bahwa Pek In Hoei mempunyai masalah cinta yang
amat banyak...? Tahukah kau bahwa banyak gadis yang mengejar
dirinya, menggunakan siasat macam apa pun untuk mendapat dirinya,
tapi banyak pula kaum gadis yang bakal kecewa di tangannya..."
Wie Chin Siang tundukkan kepalanya rendah-rendah, jantung
terasa berdebar sangat keras, ia merasa masa depannya kosong dan
mengambang, apakah keputusan hatinya ini akan membawa
keberuntungan atau kesialan ia sendiri pun tak tahu.
Titik air mata meleleh keluar membasahi wajahnya, sambil
geleng kepala ia menghela napas panjang.
"Apa yang ananda pikirkan serta harapkan hanya satu, peduli
bagaimanakah sikapnya di kemudian hari terhadap diriku, rasa cinta
aku terhadap dirinya sepanjang masa tak akan berubah. Nasehat suhu
akan tecu ingat selalu di dalam hati..."
"aaaai....! semoga kau dapat berpikir yang lebih luas dalam
menghadapi setiap persoalan, janganlah seperti gurumu yang harus
menyia-nyiakan masa remajanya karena terbelenggu oleh cinta, dan
354
IMAM TANPA BAYANGAN II
akhirnya apa pun tak berhasil didapatkan kecuali kesunyian serta
kekosongan..."
Ia melirik sekejap ke arah Pek In Hoei yang berbaring di dalam
peti mati, lalu sambungnya lebih jauh.
"Dalam pencariannya apabila Go Kiam Lam tidak berhasil
menemukan mereka berdua, gembong iblis itu kemungkinan besar
bisa kembali ke sini, ia telah bersumpah untuk menangkap ke-dua
orang ini dalam keadaan apa pun, mumpung mereka belum balik
kemari dan para jago lihay dari perguruan Boo Liang Tiong belum
terkumpul semua, lebih baik kita sembunyikan dahulu mereka
berdua..."
Berbicara sampai di sini, tanpa menantikan jawaban lagi ia segera
mengempit tubuh Pek In Hoei serta Ouw-yang Gong dari dalam peti
mati kemudian melayang keluar dari dalam gubuk itu dan meluncur
ke dalam hutan.
Memandang bayangan punggung suhunya yang mulai lenyap
dari pandangan, Wie Chin Siang berdiri termangu-mangu, secara
mendadak ia rasakan suatu kekosongan yang belum pernah dirasakan
sebelumnya terlintas di atas wajahnya.
Walaupun ia telah berpikir ke sana berpikir kemari tapi tak
pernah ia berhasil menghilangkan bayangan wajah Pek In Hoei yang
tampan serta mempersonakan hati itu, rasa kuatir muncul di atas
wajahnya... bayangan tubuhnya yang tampan gagah dan tegap selalu
terbayang dengan jelas di depan mata...
"Aaaai...!" ia sendiri pun tak tahu kenapa menghela napas begitu
panjang dan berat... ia hanya tahu dadanya terasa tersumbat oleh
kesedihan serta kekesalan yang membuat ia pengin menghela napas
panjang agar rasa kesalnya sedikit berkurang.
Lama sekali gadis itu berdiri termangu-mangu memandang ke
tempat kejauhan lalu gumamnya seorang diri :
355
Saduran TJAN ID
"Aneh sekali... kenapa dalam hati kecilku selalu merindukan
dirinya, sejak pertama kali kujumpai dirinya... dalam benakku setiap
saat selalu muncul bayangan tubuhnya, terutama sekali sewaktu..."
Teringat akan peristiwa dalam lorong rahasia perkampungan
Thay Bie San cung, di mana ia berada dalam keadaan telanjang bulat
saling bertindihan dan saling berpelukan dengan Pek In
Hoei,wajahnya kontan berubah jadi merah padam... jantungnya
berdebar deras dia terduduk sambil memainkan ujung bajunya, ia
merasa seolah-olah ada banyak orang yang sedang mengintip ke
arahnya.
Di saat ia sedang merasa jengah dengan sendirinya itulah
mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, Kiem In Eng bagaikan
sukma gentayangan tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya, Wie Chin
Siang yang sedang berdiri dengan rasa jengah merasa makin
mengenaskan lagi keadaannya.
kim jadi tercengang bercampur heran setelah melihat keadaan
muridnya, segera ia menegur :
"Nak, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku..." Wie Chin Siang jadi kelabakan setengah mati.
"Nak, sekarang waktu sangat mendesak, aku hanya dapat
menerangkan kepadamu sesingkatnya saja. Pergilah cari si Tangan
Sakti Berbaju Biru dan mintalah dua butir pil mujarab berusia seribu
tahun."
Ia merandek sejenak, lalu tambahnya :
"Setelah turun dari bukit Thiam cong, berangkatlah ke arah timur
sejauh empat puluh li, di situ ada sebuah sungai kecil dan di depan
sungai terdapat sebuah kebun bunga, pergilah ke situ dan jumpailah
si Tangan Sakti Berbaju Biru dengan membawa benda
kepercayaanku, mungkin dia tak akan menyulitkan dirimu. Tapi orang
itu aneh dan wataknya kukoay, kau harus hadapi dirinya dengan hatihati,
begitu mendapatkan obat tadi segeralah pulang ke sini..."
356
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seraya berkata dari dalam sakunya Kiem In Eng segera ambil
keluar sebuah sapu tangan berwarna merah dan diserahkan ke tangan
muridnya.
Wie Chin Siang segera menerima sapu tangan tadi dan disimpan
ke dalam sakunya, lalu ia berseru :
"Suhu, aku berangkat duluan!"
"Tunggu sebentar!" sekilas rasa murung terlintas di atas wajah
Kiem In Eng. "Si Tangan Sakti Berbaju Biru bukan terhitung manusia
dari kalangan lurus, ia berdiam di pesisir Pek Sah Than dan menurut
apa yang aku ketahui sedang melaksanakan satu rencana besar,
kepergianmu kali ini walaupun tiada mara bahaya yang mengancam
tapi kau harus baik-baik menjaga diri..."
Mendadak suasana jadi penuh emosi, terusnya :
"Berhubung antara aku dengan dia pernah terikat suatu persoalan
maka aku tidak ingin berjumpa dengan dirinya, bilamana kau telah
bertemu dengan dirinya berusahalah sedapat mungkin menghindari
pertanyaan yang menyangkut soal diriku, daripada mengundang
kedatangan pelbagai kerepotan..."
Pada saat ini hati Wie Chin Siang terasa amat gelisah sekali, dia
ingin cepat-cepat tiba di pesisir Pek Sah Than serta mendapatkan pil
mujarab berusia seribu tahun untuk menyelamatkan jiwa kekasihnya
maka ia mengangguk berulang kali dan segera lari masuk ke dalam
hutan.
Sepanjang perjalanan dilakukan dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat, baru saja gadis itu akan tinggalkan kaki bukit Thiam
cong mendadak terdengar serentetan bentakan nyaring bergema
memecahkan kesunyian, tampaklah dua orang lelaki berbaju hitam
meloncat keluar dari balik jalan gunung dan menghadang jalan
perginya dengan pedang dilintangkan di depan dada.
"Hey, apa yang hendak kalian lakukan?" kontan dara she Wie ini
menegur dengan suara dingin, sekilas rasa gusar terpancar di atas
wajahnya yang berkerut kencang.
357
Saduran TJAN ID
Ke-dua orang lelaki itu merupakan anak murid dari perguruan
Boo Liang Tiong, mereka menyapu sekejap wajah Wie Chin Siang
lalu dengan wajah tercengang sang pemimpin menegur sambil tertawa
dingin.
"Kau hendak pergi ke mana?"
"Enyah kalian dari sini! Aku tidak ingin membinasakan kalian
berdua..." seru Wie Chin Siang dingin.
Dengan sikap yang ketus pandangan yang dingin serta wajah
yang penuh napsu membunuh, dara itu melanjutkan perjalanannya ke
arah depan, ia sama sekali tidak melirik ke arah mereka berdua bahkan
sebelah mata pun tak dipandang olehnya.
Cahaya tajam berkilauan memenuhi seluruh angkasa, sambil
ayunkan sepasang pedangnya menghalau di depan mata gadis itu, kedua
orang lelaki berbaju hitam tadi kembali menghalangi jalan
perginya, jelas mereka tak ingin melepaskan gadis ini berlalu dengan
begitu saja.
Sambil tertawa dingin si lelaki pertama berseru :
"Ketua kami telah turunkan perintah, peduli siapa pun yang ada
di atas gunung dilarang turun atau naik bukit Thiam cong ini, kecuali
kami berhasil menangkap kembali ke-dua orang buronan tersebut..."
Wajahnya berubah sejenak, kemudian dengan pandangan
tercengang tambahnya :
"Nona pun seorang manusia yang cerdik, aku percaya kau tak
akan menyusahkan kami berdua..."
"Hmmm! Ketua kalian manusia macam apa? Berani betul dia
melarang setiap manusia naik turuni bukit ini..."
Gadis ini sangat menguatirkan keadaan luka dari Pek In Hoei, ia
tak berani membuang waktu terlalu lama, setelah mendengus
tubuhnya mendadak menerjang ke depan dan melancarkan satu
pukulan dahsyat ke arah dua orang lelaki yang menghalangi jalan
perginya itu.
358
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ke-dua orang lelaki itu merupakan anak murid angkatan ke-dua
dari perguruan Boo Liang Tiong, pada hari-hari biasa terlalu
mengunggulkan kepandaian silatnya sendiri. Kini setelah
menyaksikan kecepatan gerak dari gadis itu dalam melancarkan
serangannya, diam-diam mereka merasa bergidik dan kaget, cepatcepat
tubuhnya menyebarkan ke kiri dan kanan sejauh lima depa dari
tempat semula.
"Kau berani menerjang dengan kekerasan!: bentak pemimpin itu
sambil memutar pedangnya.
Tetapi setelah dilihatnya dara muda berwajah cantik ini sama
sekali tidak memandang sebelah mata pun terhadap ketua mereka,
saking gusarnya tubuh mereka jadi bergetar sangat keras, sembari
membentak keras pedangnya dan menciptakan selapis cahaya
berkilauan segera menerjang ke depan.
Wie Chin Siang tertawa dingin, tubuhnya bergeser ke samping
sementara telapak kirinya dengan membentuk gerakan busur sedang
telapak kanannya berputar satu lingkaran langsung membabat ke arah
depan.
Terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
memecahkan kesunyian, batok kepala lelaki itu terhantam sampai
hancur berantakan dan roboh binasa di atas tanah.
Lelaki yang lain jadi sangat terperanjat setelah menyaksikan
peristiwa ini, pedangnya dibabat keluar memaksa musuhnya meloncat
mundur kemudian ia sendiri pun berkelebat mundur ke belakang
sembari meraung gusar diambilnya sebuah seruling pendek dari
sakunya dan segera ditiupkan berulang kali.
Dalam sekejap mata suara seruling bermunculan dari empat
penjuru dan saling susul menyusul, tiupan suara tiga pendek satu
panjang itu dengan cepatnya telah berkumandang sampai tempat
kejauhan.
Menyaksikan tiupan seruling berkumandang saling susul
menyusul disusul munculnya bayangan manusia dari empat penjuru,
359
Saduran TJAN ID
Wie Chin Siang benar-benar merasa amat gusar, sorot mata penuh
napsu membunuh berkelebat lewat dan segera hardiknya :
"Bangsat, kau ingin modar!"
Diiringi bentakan keras tubuhnya meluncur ke depan, telapak
tangannya disertai tenaga pukulan yang maha dahsyat segera
dihantamkan ke atas tubuh lelaki peniup seruling tadi.
Blaaaam...! lelaki itu menjerit ngeri, tubuhnya mundur tujuh
delapan langkah ke belakang dan segera muntahkan darah segar,
seruling bambu hitamnya seketika patah jadi beberapa bagian dan
rontok ke atas tanah.
Dalam gusarnya secara beruntun Wie Chin Siang telah turun
tangan dengan hebatnya, sebelum lewat dua jurus serangan dua orang
musuhnya telah berhasil dibinasakan.
Sinar matanya segera dialihkan ke sekeliling tempat itu, tiba-tiba
ia terkesiap tampaklah Go Kiam Lam si ketua dari perguruan Boo
Liang Tiong dengan wajah dingin telah berdiri di situ.
"Hmmm, kiranya kau!" tegur orang she Go itu sambil mendengus
dingin. Di belakang ketua perguruan Boo Liang Tiong ini mengikuti
dua orang lelaki yang membawa empat ekor anjing besar, ketika itu
anjing tadi menggonggong tiada hentinya membuat Wie Chin Siang
dalam gugup dan kagetnya segera berpikir :
"Anjing besar yang berasal dari Tibet ini pandai sekali mengejar
jejak manusia, entah suhu telah menyembunyikan Pek In Hoei di
mana? Mungkinkah tempat pesembunyiannya ditemukan oleh daya
penciuman anjing-anjing lihay ini?"
Ia segera tertawa dingin dan menegur :
"Kaukah yang melarang aku turun dari bukit Thiam cong ini?"
"Sedikit pun tidak salah!"
"Hmmm! Kau dapatkan peraturan ini dari mana?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, ke-empat ekor
anjing itu mencium-cium terus sekeliling tubuhnya kemudian
menggonggong keras.
360
IMAM TANPA BAYANGAN II
Lama kelamaan gadis ini jadi jemu dan mendongkol juga, ia
angkat kakinya dan segera menendang anjing tersebut hingga
terpental ke belakang.
Anjing tadi menggonggong semakin menjadi, bahkan siap
melakukan tubrukan kembali.
Sementara itu Go Kiam Lam si ketua dari perguruan Boo Liang
Tiong sama sekali tidak menjawab pertanyaan Wie Chin Siang secara
langsung, ia menyapu sekejap ke-dua sosok mayat anak buahnya yang
menggeletak di atas tanah lalu bertanya :
"Apakah mereka mati di tanganmu?"
Wie Chin Siang mengerti Go Kiam Lam sebagai ketua suatu
perguruan pasti memiliki ilmu silat yang sangat lihay dan sukar
ditandingi, diam-diam ia salurkan hawa murninya ke dalam telapak
dan siap menghadapi segala kemungkinan.
"Hmmm! Membinasakan dua ekor anjing yang goblok dan tolol
bukan terhitung suatu pekerjaan besar," sahutnya.
"Budak sialan, jumawa benar ucapanmu itu!" teriak Go Kiam
Lam dengan wajah berubah hebat, "Mau ap kau turuni bukit Thiam
cong?"
"Hmmm, itu urusanku, mau apa kau turut campur?"
Mendadak serentetan bisikan lembut berkumandang masuk ke
dalam telinganya, terdengar Kiem In Eng berkata :
"Kau berusahalah sedapat mungkin turun dari bukit ini, kenapa
mesti ngoceh tiada gunanya dengan manusia itu?" Aku telah
bersembunyi di sekeliling tempat ini, diam-diam akan kubantu
dirimu..."
Wie Chin Siang melongo, ia tak menyangka kalau gurunya Kiem
In Eng telah bersembunyi di situ, pikirannya segera ditenangkan dan
senyuman congkak tersungging di ujung bibirnya.
"Aku harus mencari satu kesempatan yang paling baik untuk
turun tangan terhadap diri Go Kiam Lam..." pikirnya.
361
Saduran TJAN ID
Sementara itu Go Kiam Lam sendiri pun sudah dibikin gusar oleh
kejumawaan orang, ia mendengus dan berseru :
"Budak ingusan, kau betul-betul tidak tahu tingginya langit dan
tebalnya bumi..."
Belum sampai badannya bergerak, Wie Chin Siang dengan
menggunakan kesempatan di kala pihak lawan tidak menaruh
perhatian penuh itulah mengirim satu pukulan dahsyat dari tempat
kejauhan, serangan ini dilancarkan dan sukar dibayangkan dan katakata.
"Kurang ajar, kau berani turun tangan terlebih dahulu!" teriak
manusia she Go itu dengan hati mendongkol.
Sebagai seorang ketua perguruan besar, ia merasa sungkan untuk
merasakan serangan mematikan terhadap seorang nona kecil,
badannya dengan cepat bergeser ke samping, ke-lima jarinya
bagaikan cakar burung elang mencengkeram tubuh darah tersebut.
Siapa tahu di kala lengannya dijulurkan sampai setengah
jalan,dan jaraknya dengan tubuh Wie Chin Siang tinggal setengah
depa, mendadak lengannya jadi kaku dan segera terkulai lemas ke
bawah.
Cepat-cepat tubuhnya meloncat mundur ke belakang dan
bentaknya :
"Jago lihay dari mana yang bersembunyi di situ?"
Suasana di atas bukit itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suara pun, dengan wajah tercengang bercampur keheranan Go Kiam
Lam mendengus dingin, lalu menegur sekali lagi.
Melihat suhunya secara diam-diam memberi bantuan, semangat
Wie Chin Siang kontan berkobar, menggunakan kesempatan sewaktu
Go Kiam Lam tidak menaruh perhatian ia menerjang maju ke depan
dan melancarkan enam buah pukulan dahsyat.
Ke-enam buah pukulan itu kesemuanya telah menggunakan
segenap tenaga yang dimilikinya, Go Kiam Lam sebagai jago yang
362
IMAM TANPA BAYANGAN II
lihay tak urung dibikin terkesiap juga sehingga terdesak mundur
beberapa langkah ke belakang.
Dengan gusarnya ia tertawa keras lalu membentak :
"Budak ingusan, rupanya kau memang kepengin modar!"
Setelah timbul keinginan jahat dalam hatinya, serangan-serangan
yang dilancarkan pun tidak mengenal rasa kasihan, badannya
berkelebat ke depan, jari dan telapak menyerang berbareng diiringi
desakan tubuh yang menerjang ke muka, dalam waktu singkat
beberapa puluh jurus telah dilepaskan.
Bagaimana pun juga Wie Chin Siang masih kekurangan
pengalaman dalam melakukan pertarungan, ia tak sanggup menduga
datangnya serangan-serangan lawan dan di dalam gugupnya sang
telapak kanan segera disapu ke arah depan.
Bluuuum...! di tengah bentrokan keras tubuh Wie Chin Siang
tergetar mundur tujuh delapan langkah ke belakang, dengan susah
payah ia baru berhasil mempertahankan tubuhnya tidak sampai ke
tanah, walau begitu dadanya sudah naik turun dengan napas
tersengkal-sengkal, keringat dingin mengucur keluar membasahi
seluruh tubuhnya.
"Hmmm... Hmmm..." Go Kiam Lam tertawa dingin. "Bocah
cilik, lebih baik kau menyerah saja..."
Tubuhnya bagaikan seekor burung rajawali segera berputar satu
lingkaran di tengah udara sambil merentangkan lengannya segera
menubruk ke atas tubuh Wie Chin Siang.
Criit...! di saat yang kritis itulah mendadak muncul suara desiran
tajam berkumandang membelah angkasa, sesosok bayangan hitam
meluncur ke arah tubuh Go Kiam Lam dan kecepatan penuh dan
nampaknya segera akan bersarang di tubuhnya.
Go Kiam Lam terkesiap, ia putar telapaknya melancarkan satu
pukulan ke depan, sebatang ranting kering segera terpental ke arah
samping.
363
Saduran TJAN ID
Di saat tubuhnya agak merandek itulah Wie Chin Siang telah
berkelit ke samping dan sambil mencabut keluar pedangnya segera
menerjang turun ke bawah gunung.
"Manusia kawanan tikus dari mana yang melancarkan serangan
bokongan terhadap orang?" teriak Go Kiam Lam penuh kegusaran.
Ia tahu jago lihay yang menyembunyikan diri di tempat
kegelapan itu mempunyai kepandaian yang sangat lihay dan sulit
untuk menemukan jejaknya, ia segera mendengus dingin.
Sewaktu dilihatnya Wie Chin Siang dengan menggunakan
kesempatan itu telah lari sejauh empat tombak, dan marah segera
teriaknya :
"Hadang jalan perginya, kalau ingin menangkap kembali Pek In
Hoei hanya bisa didapatkan kabar beritanya dari mulut gadis itu..."
Tubuhnya bergerak dan segera mengejar ke bawah.
Wie Chin Siang sama sekali tidak menggubris bentakan-bentakan
dari Go Kiam Lam, sambil memutar pedangnya menciptakan selapis
cahaya tajam ia terjang dua orang lelaki yang hendak menghalangi
jalan perginya, di dalam sekali gebrakan ke-dua orang itu segera
terjungkal dengan tubuh terluka parah.
Mendadak terdengar suara gonggongan anjing berkumandang
dari arah belakang, tampaklah anjing besar yang galak dan buas itu di
bawah petunjuk dua orang lelaki sedang menerjang ke arahnya.
Wie Chin Siang jadi amat gusar, ia putar pedangnya ke samping
lalu menusuk anjing tadi hingga mati binasa, kemudian sambil
melewati batok kepala orang banyak bagaikan segulung asap ia lari
ke bawah gunung dan lenyap di balik pepohonan.
Terlihatlah tiga ekor anjing lainnya mengejar terus dengan
kencangnya, suara gonggongan bergema memecahkan kesunyian...
Go Kiam Lam mendengus dingin, tiba-tiba ia hentikan gerakan
tubuhnya lalu menyapu sekejap ke arah anak muridnya dengan
pandangan dingin.
364
IMAM TANPA BAYANGAN II
Para jago dari perguruan Boo Liang Tiong segera menyebarkan
diri dan mencari jago lihay yang menyembunyikan diri itu.
"Kalian tak akan bisa lolos dari cengkeramanku..." gumam Go
Kiam Lam dengan wajah sinis.
Begitu ucapan tersebar di angkasa, terasalah gunung Thiam cong
seolah-olah terlapis oleh bayangan hitam membuat orang jadi seram
dan bergidik...
Setelah melakukan perjalanan sepanjang empat puluh li,
sampailah di pesisir Pek Sah Than.
Sebuah selokan membujur di depan mata, air yang bening
mengalir di atas permukaan pasir yang putih di hadapan selokan
adalah serentetan pepohonan liuw...
Angin berhembus sepoi-sepoi, Wie Chin Siang merasakan
hatinya jadi lega dan nyaman, sambil memandang jembatan kecil di
atas selokan ia berdiri termangu-mangu.
Beberapa saat kemudian perlahan-lahan ia menyeberangi
jembatan kecil itu dan memasuki pepohonan liuw.
Tiba-tiba dari balik pepohonan muncul dua orang bocah lelaki
berbaju biru yang menyoren pedang,mereka langsung menyongsong
kedatangan gadis ini.
Usia ke-dua orang bocah itu hanya dua tiga belas tahunan, dengan
pandangan dingin dan sama sekali tidak memperlihatkan sifat
kebocah-bocahannya menatap gadis itu tajam-tajam, biji matanya
yang dingin menunjukkan berapa luasnya pengalaman ke-dua orang
bocah ini.
Tampaklah bocah yang di sebelah kiri mendadak ulurkan
tangannya sambil berseru :
"Bawa kemari!"
"Apanya yang bawa kemari?" karena tak tahu apa yang diminta
Wie Chin Siang balik bertanya dengan nada tertegun.
"Surat undangan!" jawab bocah itu dengan mata melotot.
365
Saduran TJAN ID
Walaupun hanya dua patah kata, tapi dingin dan ketusnya
membuat orang jadi sangsi dan tercengang apabila ucapan itu
diucapkan oleh seorang bocah cilik.
Wie Chin Siang melengak dan segera berseru tertahan, lalu
gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tak punya surat undangan!"
"Keluar!"
Kedua orang bocah ini betul-betul lain daripada bocah biasa,
begitu bocah yang ada di sebelah kiri menyelesaikan kata-katanya
kedua orang itu segera mendongak memandang ke angkasa sambil
bergendong tangan, sekejap pun mereka tak memandang lagi ke arah
tetamunya.
Wie Chin Siang tidak menyangka kalau dirinya bakal dipandang
enteng oleh dua orang bocah cilik di tempat itu, hawa gusarnya segera
berkobar, tapi teringat akan maksud tujuannya datang ke situ adalah
untuk mohon bantuan orang lain, terpaksa ia tekan hawa gusar serta
rasa mendongkolnya itu di dalam hati.
"Tolong saudara berdua suka melaporkan ke dalam, katakan saja
aku hendak menjumpai si Tangan Sakti Berbaju Biru..."
Gadis yang sedang gelisah dan membutuhkan pertolongan ini
sudah ulangi perkataannya sampai beberapa kali, tapi selalu
didiamkan oleh ke-dua orang bocah itu, mereka tetap pura-pura
berlagak tidak mendengar dan tidak ambil gubris, hal ini membuat
Wie Chin Siang lama kelamaan jadi tak kuat menahan diri dan
meledaklah hawa gusarnya.
"Hey, perkataan yang kuucapkan telah kalian dengar belum?..."
bentaknya.
Kebetulan ke-dua orang bocah yang jumawa itu sedang
memandang ke arahnya, mendengar bentakan tersebut dengan gusar
mereka melotot sekejap ke arah gadis she Wie ini dan menjawab
hampir berbareng :
"Tidak boleh!"
366
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeh... heeeh... heeeeh... kalau kalian benar-benar berkeras
kepala, terpaksa nonamu akan mencari sendiri..."
Karena pada dasarnya ia memang sudah mendongkol, begitu
ucapannya selesai diucapkan tubuhnya segera meloncat ke angkasa
dan menerjang masuk ke dalam melewati sisi tubuh ke-dua bocah itu.
"Kau berani!" bentak ke-dua orang bocah itu hampir berbareng.
Gerakan tubuh mereka berdua ternyata tidak lemah, di antara
bergetarnya sang pundak mereka dengan memisahkan diri dari kiri
dan kanan segera menubruk ke arah tubuh Wie Chin Siang, kecepatan
serangannya tidak berada di bawah kepandaian seorang jago kelas
satu, membuat gadis itu terkesiap dan segera dipaksa mundur kembali
ke tempat semula.
Melihat pihak lawannya telah berhasil dipaksa mundur, ke-dua
orang bocah itu pun tidak turun tangan lagi, sambil berdiri sejajar dan
tangan meraba gagang pedang mereka tatap wajah Wie Chin Siang
dengan pandangan dingin.
Kejadian ini tentu saja mencengangkan serta mengejutkan hati
gadis she Wie ini, sejak kecil ia berada di sisi Kiem In Eng boleh
dibilang kerjanya setiap hari hanya berlatih silat, hasil latihannya
selama belasan tahun ternyata seimbang dengan kekuatan dua orang
bocah berusia dua, tiga belas tahunan, lalu apa gunanya jerih
payahnya selama ini?
Tapi gadis ini tidak mau menyerah dengan begitu saja sambil
mendengus dingin segera serunya :
"Hmmm! Sungguh tak nyana dua orang bocah penjaga pintu pun
mempunyai beberapa jurus ilmu simpanan, tidak aneh kalau kalian
memandang kosong dunia jagad dan sama sekali tidak pandang
sebelah mata pun terhadap rekan sesama kangouw..."
"Cepat enyah dari sini!" bentak bocah sebelah kanan dengan
wajah gusar.
367
Saduran TJAN ID
Wie Chin Siang tertawa menghina, mendadak ia lancarkan dua
buah serangan berantai yang mana secara terpisah menyerang dada
ke-dua orang bocah itu secara berbarengan.
Ia dua setelah terancam oleh pukulan itu, niscaya ke-dua orang
bocah itu bakal mengundurkan diri ke belakang untuk berkelit, siapa
tahu kejadian ternyata berada di luar dugaan orang.
Dengan gerakan tubuh yang cepat laksana kilat ke-dua orang itu
telah mencabut keluar pedangnya di saat telapak lawan hampir
mengenai sasarannya, kemudian dengan menciptakan dua kilatan
cahaya tajam segera membabat ke arah pergelangan tangan lawannya.
Wie Chin Siang membentak nyaring :
"Kalau untuk menghadapi kalian dua orang setan cilik pun tak
mampu, sia-sia saja aku berkelana selama banyak tahun di dalam
dunia persilatan..."
Dari serangan telapak mendadak berubah jadi serangan totokan,
dengan cepat ia lepaskan dua sentilan kilat.
Ke-dua orang bocah berbaju biru itu tertegun, mendadak lengan
mereka terasa jadi kaku dan senjata mereka segera terlepas dari
cekalannya.
Wie Chin Siang tertawa dingin, ia berjalan menuju ke depan
tanpa menggubris lawan-lawannya lagi.
Ke-dua orang bocah itu pun tidak mengejar lebih lanjut,
memandang bayangan punggungnya yang lenyap di tempat kejauhan
mereka hanya berdiri termangu-mangu.
Setelah melewati dua baris pepohonan liuw sampailah gadis itu
di dalam sebuah kebun bunga dengan pelbagai tanaman bunga yang
indah, bau harum bunga yang semerbak tersiar ke angkasa menusuk
penciuman Wie Chin Siang, ia tarik napas panjang dan mendongak ke
depan.
Terlihatlah sebuah jalan kecil yang berasal batu menghubungkan
kebun bunga itu dengan sebuah bangunan loteng yang megah, sebuah
368
IMAM TANPA BAYANGAN II
papan emas tergantung di depan bangunan dan bertuliskan 'Coei Hoe
Loe' tiga huruf besar.
"Aaaah, tempat ini pastilah loteng yang biasa digunakan si
Tangan Sakti Berbaju Biru untuk menikmati bunga memandang
rembulan," pikir Wie Chin Siang dalam hati. "Kalau dilihat keadaan
di tempat ini, semestinya dia adalah seorang seniman yang mengerti
menikmati ketenangan dengan menanam bunga sebagai
kegembiraan..."
Ia teruskan langkah kakinya ke dalam, suasana tiba-tiba
dipecahkan oleh langkah kaki manusia yang ramai disusul munculnya
seorang dayang berbaju hijau dari balik lorong Coei Hoa Loo, sambil
memandang Wie Chin Siang dengan pandangan tercengang, rupanya
ia kesemsem oleh kecantikan wajah dara ini.
Sesaat kemudian dengan mata terbelalak besar dayang berbaju
hijau itu menegur :
"Apakah kau adalah teman majikan kami?"
"Betul!" sambil tersenyum Wie Chin Siang mengangguk.
"Majikan kalian tinggal di mana??"
369
Saduran TJAN ID
Jilid 16
"DI ATAS LOTENG!" sahut dayang itu dengan sikap hormat, ia
segera menyingkir ke samping.
Wie Chin Siang tersenyum ringan, dengan cepat ia melangkah
masuk ke dalam loteng Coei Hoa Loo. Di bawah sorot cahaya lampu
tampaklah sebuah permadani merah menutupi lantai dari depan pintu
hingga atas loteng, di sisi pintu berdirilah empat orang dayang berbaju
hijau yang menyoren pedang menghalangi jalan perginya.
Wie Chin Siang tetap melangkah naik dengan sikap tenang,
melihat kehadiran gadis cantik ini ke-empat orang dayang itu
tunjukkan sikap tercengang, delapan sorot mata menatap wajah
tetamunya tanpa berkedip, rupanya mereka merasa terpesona oleh
kecantikan orang.
"Tolong berilah laporan kepada majikan kalian, katakan saja
boanpwee Wie Chin Siang ada persoalan hendak menjumpai
dirinya..." kata gadis itu sambil tersenyum.
"Majikan kami tidak suka menemui tamu," tolak seorang dayang
yang berdiri di sisi Wie Chin Siang dengan nada ketus. "Kecuali kalau
kau adalah satu-satu dari dua jenis manusia, maka dia baru akan
menjumpai dirimu..."
"Dua jenis manusia? Dua jenis yang bagaimana?" tanya gadis itu
dengan wajah tertegun.
Dayang tadi tertawa dingin.
370
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Pertama adalah sahabat yang mendapat kartu undangan, dan
kedua adalah gadis cantik yang datang kemari karena memperoleh
pilihan! Kau termasuk jenis yang pertama atau kedua?"
"Kedua-duanya bukan!"
Begitu mendengar pihak lawan bukanlah rekan sealiran yang
diundang datang oleh majikannya, air muka ke-empat orang dayang
itu seketika diliputi oleh napsu membunuh, terdengar dayang yang
buka suara tadi segera mendengus dingin dan menegur :
"Bagaimana caramu memasuki tempat ini?"
Setelah merandek sejenak ia berpaling ke arah rekannya dan
menambahkan :
"Coen Lan, cepat keluar dan periksa bocah penjaga pintu itu,
kalau mereka berdua berani secara pribadi memasukkan orang luar ke
dalam loteng Coei-Hoa-Loo ini, bunuh lebih dahulu kemudian baru
laporkan kepada majikan..."
Seorang dayang menerima perintah dan segera meloncat turun
dari atas loteng, sebelum Wie Chin Siang sempat mengambil
keputusan apakah ia akan menerjang masuk ke dalam secara
kekerasan atau memancing kemunculan si Tangan Sakti Berbaju Biru
dengan akal, dari kejauhan terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan
hati berkumandang datang, rupanya ke-dua orang bocah lelaki tadi
sudah mati di tangan Coen Lan.
Diam-diam Wie Chin Siang menghela napas panjang, ia tidak
menyangka kalau peraturan dari si Tangan Sakti Berbaju Biru
demikian ketatnya, hanya disebabkan memasukkan seseorang ke
dalam wilayah mereka, ke-dua orang yang tidak bersalah itu telah
dibinasakan.
Dalam hati segera pikirnya :
"Pada saat ini sekeliling tempat ini sudah tersebar jago lihay yang
amat banyak, jejak mereka begitu rahasia dan misterius, jelas si
Tangan Sakti Berbaju Biru bukanlah manusia dari kalangan lurus,
371
Saduran TJAN ID
sungguh tak nyana suhu bisa mengadakan hubungan dengan manusia
semacam ini."
Belum habis ia berpikir, tampaklah Coen Lan telah balik ke atas
loteng, setelah melirik sekejap ke arah Wie Chin Siang dengan
pandangan dingin dengan sikap yang sangat hormat ia menjura
kepada pemimpinnya yakni si dayang berbaju hijau tadi, lapornya :
"Menurut laporan dari para boach penjaga pintu, perempuan ini
menerjang masuk ke dalam dengan andalkan kepandaian silatnya.
Aku benci mereka berdua di hari-hari biasa terlalu lalaikan ilmu silat
yang telah diwariskan kepada mereka, maka kupenggal sebuah lengan
mereka..."
Ucapan ini diutarakan dengan enteng dan seenaknya, sama sekali
tidak ada perasaan di dalam hatinya bahwa memotong lengan orang
adalah suatu perbuatan yang melanggar peri kemanusiaan, hal ini
membuktikan bahwasanya ke-empat dayang ini sudah terbiasa
menyaksikan perbuatan-perbuatan menyeramkan semacam itu
sehingga lama kelamaan timbul pendapat dalam hati mereka bahwa
berbuat demikian bukanlah suatu perbuatan yang melanggar peri
kemanusiaan.
Darah panas yang bergolak dalam dada Wie Chin Siang kontan
bergelora dengan hebatnya, hawa napsu membunuh terlintas di atas
wajahnya, bibir yang kecil segera tersungging satu senyuman dingin
yang menggidikkan hati.
Ia tertawa dingin lalu berkata :
"Terhadap dua orang bocah yang tidak tahu urusan pun kalian
begitu tega untuk turun tangan keji. "Hmmm1 Sungguh memalukan
kalau kalian disebut kaum wanita. Aku betul-betul tidak mengerti,
hati kalian sebenarnya hati manusia ataukah hati serigala..."
"Heeeeh... heeeh... heeeh... kalau kami kaum wanita semuanya
mempunyai perasaan belas kasih serta lemah lembut seperti kau,
kaum pria yang ada di kolong langit tentu sudah menunggang di atas
kepala kita semua. Justru kami berbuat demikian agar semua orang
372
IMAM TANPA BAYANGAN II
tahu bahwa kaum wanita bukanlah makhluk lemah yang bisa
dipermainkan serta diinjak-injak seenaknya, sebaliknya masih
mempunyai banyak bagian yang jauh lebih kuat dari kaum pria
lainnya..."
Didahului dengan perkataan yang masuk di akal seperti ini untuk
beberapa saat lamanya Wie Chin Siang jadi gelagapan, ia tidak tahu
bagaimana harus menjawab perkataan orang. Tapi ia pun tahu bahwa
keadaannya pada hari ini sangat berbahaya sekali, bahaya jauh lebih
banyak dari kemujuran maka gadis ini pun bersiap sedia untuk
melakukan penyerangan.
Tapi sebelum ia sempat bergerak mendadak terdengar suara
irama musik yang merdu berkumandang datang dari tempat kejauhan,
sungguh tak nyana si Tangan Sakti Berbaju Biru bukan saja adalah
seorang seniman yang suka akan ketenangan serta keindahan bunga,
bahkan merupakan seorang ahli pula di dalam permainan kecapi.
Wie Chin Siang segera pusatkan perhatiannya untuk
mendengarkan irama musik itu, kemudian tanyanya :
"Apakah majikan kalian sedang menjamu tetamu?"
Coen Lan mendengus dingin.
"Asal kau bisa menerjang keluar dari penjagaan kami, majikan
kami dengan sendirinya akan menjumpai dirimu."
Wie Chin Siang tertawa dingin.
"Bagus, kalau demikian adanya terpaksa aku harus menyusahkan
kalian semua!" serunya.
Sang badan segera bergerak ke depan, pedangnya bergetar
kencang menciptakan selapis cahaya dingin, yang menggidikkan hati,
diiringi desiran angin tajam senjata tersebut langsung menyerang ke
arah empat orang dayang itu memaksa ke-empat orang tadi terdesak
mundur dua langkah ke belakang.
Air muka Coen Lan kontan berubah hebat.
373
Saduran TJAN ID
"Aaaaah! Tidak salah kalau kau berani mencari gara-gara di atas
loteng Coei Hoa Loo ini, kiranya kau pun seorang jago silat yang
sangat terlatih!"
Mereke semua merupakan jago-jago lihay yang telah
memperoleh didikan yang sangat keras, setelah terdesak mundur oleh
serangan kilat dari Wie Chin Siang tadi dengan cepat ke-empat orang
itu telah membenahi diri sendiri.
Dalam waktu singkat sebuah barisan yang kokoh dan kuat telah
terbentuk, empat kilas cahaya pedang yang tajam dan menyilaukan
mata dengan menciptakan beribu-ribu jalur cahaya yang kuat dan
kokoh segera membentuk selapis dinding pertahanan yang kuat di
hadapan mereka berempat.
Dalam posisi yang demikian ketat serta kuatnya ini, bukan
masalah yang gampang bagi Wie Chin Siang untuk menyerang masuk
ke dalam barisan itu, apalagi untuk bertemu dengan si Tangan sakti
berjubah biru pemilik dari loteng Coei Hoa Loo ini.
Bagian 22
MASING-masing pihak saling bergebrak puluhan jurus banyaknya,
tetapi menang kalah masih susah untuk ditentukan.
Mendadak Wie Chin Siang membentak keras :
"Tahan!"
Mendengar bentakan itu dayang yang memiliki kepandaian silat
paling lihay itu tampak tertegun dan tanpa sadar telah menghentikan
serangannya, di saat ia masih melengak itulah Wie Chin Siang
menggerakkan tubuhnya menerobos masuk ke dalam.
Seraya membalingkan pedangnya di tengah udara ia berseru :
"Kalian sudah menderita kalah!"
Ke-empat orang dayang itu semakin tertegun, saat itulah ujung
pedang lawan telah menyapu tiba.
374
IMAM TANPA BAYANGAN II
Untuk menghindar sudah tak sempat lagi, diiringi bentakan gusar
di atas pakaian masing-masing orang telah bertambah dengan sebuah
babatan panjang yang merobekkan baju mereka.
"Hmmm, kau gunakan akal licik..." teriak Coen Lan dengan nada
gusar bercampur penasaran.
"Dalam suatu pertarungan, siasat licik paling diutamakan, aku
tahu bahwa untuk menangkan kalian bukanlah suatu pekerjaan yang
gampang, oleh karena itu terpaksa aku harus gunakan sedikit siasat
kecil membohongi kalian, dan sekarang kalian tertipu, hal ini harus
disalahkan kalau pengalaman kalian di dalam menghadapi musuh
terlalu cetek, siapa suruh kalian terlalu mempercayai perkataan
lawan!"
Walaupun ke-empat dayang itu merasa bahwa cara yang
digunakan lawannya kurang jujur dan terlalu licik, tapi setelah
merasakan bahwa ucapan dara itu memang merupakan suatu
kenyataan yang tak bisa dibantah, maka mereka berempat hanya bisa
saling berpandangan tanpa sanggup melakukan sesuatu perbuatan.
Sebuah kain horden yang panjang dan berwarna hijau tergantung
hingga menjuntai lantai, dari balik horden tersebut Wie Chin Siang
merasa bahwa cahaya lampu menerangi seluruh ruangan.
Di tengah sebuah ruangan yang luas, empat batang lampu lilin
memancarkan cahaya terang, di balik dinding tembok terlihat
pantulan cahaya yang memperlihatkan beberapa sosok bayangan
manusia sedang berbicara dan tertawa dan suara yang keras.
Seorang Siucay berusia pertengahan yang memakai jubah
berwarna biru duduk dengan gagahnya di depan meja, waktu ia
sedang minum arak dengan lahapnya, di kedua belah sisinya masingmasing
mendampingi seorang gadis cantik yang berwajah genit.
Pakaian sutera berwarna merah yang tipis memperlihatkan
sepasang paha mereka yang putih bersih, membuat orang yang
memandang terasa ikut terpesona.
375
Saduran TJAN ID
Wie Chin Siang hampir saja dibikin gugup dan tidak tenang
hatinya setelah menyaksikan tingkah pola yang genit yang
merangsang dari ke-dua orang gadis jalang itu, buru-buru ia berusaha
menenangkan hatinya kemudian perlahan-lahan maju ke depan
menghampiri siucay berbaju biru itu.
Ketika merasakan ada orang asing yang muncul di dalam ruangan
itu, ke-dua orang gadis jalang tadi segera menghentikan tingkah
polanya dan bersama-sama alihkan sinar matanya ke arah tubuh Wie
Chin Siang, dibalik sorot matanya yang tertera jelas sikap permusuhan
yang tebal, seolah-olah mereka telah memandang gadis she Wie ini
sebagai musuh besarnya yang terikat dendam sedalam lautan.
"Kau kemarilah!" tampak si Tangan Sakti Berbaju Biru
menggape ke arah dara she Wie itu.
Ketika ke-dua orang gadis jalang itu menyaksikan majikan
mereka secara tiba-tiba memanggil dara berbaju putih itu menghadap,
wajah mereka segera berubah hebat, dengan wajah penuh napsu
membunuh gadis gemuk yang ada di sebelah kiri segera meloncat
bangun, kemudian sambil tertawa terkekeh-kekeh ujarnya kepada
Wie Chin Siang :
"Eeei kenapa? Adik kecil, apakah kau pun ada maksud berebutan
majikan dengan kami Siang Bong Jie Kiauw..."
Sembari berkata badannya melayang ke depan, jari tangannya
dengan menciptakan selapis bayangan tajam langsung menyodok ke
arah dada Wie Chin Siang diikuti segulung bau harum yang amat
menusuk penciuman menyebar ke dalam hidungnya membuat dara itu
merasa tersentak kaget.
Mimpi pun Wie Chin Siang tak pernah menyangka kalau ia bakal
diserang dengan cara yang begitu keji dan berat oleh seorang gadis
yang baru saja ditemuinya untuk pertama kali.
Dengan sebat Wie Chin Siang mengigos ke samping lalu sambil
melancarkan satu serangan balasan serunya :
"Eeei... sebenarnya apa maksudmu?"
376
IMAM TANPA BAYANGAN II
Perempuan itu tertawa terkekeh-kekeh, suaranya keras dan
membetot sukma, terhadap pertanyaan yang diajukan Wie Chin Siang
bukan saja tidak dijawab sebaliknya serangan yang dilancarkan makin
lama semakin dahsyat dan hebat, semua gerakannya merupakan
serangan mematikan yang mana tentu saja memaksa Wie Chin Siang
jadi keteter dan hanya bisa menghindar ke sana berkelit kemari.
Dalam pada itu ketika perempuan jalang tadi menyaksikan tujuh
delapan buah serangannya berhasil dihindari semua oleh lawannya,
napsu membunuh yang terlintas di atas wajahnya semakin menebal,
suara tertawanya makin lama makin keras, sambil merangsek lebih ke
depan jengeknya seraya tertawa dingin :
"Ayoh balas, kenapa kau tidak membalas seranganku? Kalau
cuma bisanya menghindar bukan terhitung seorang enghiong yang
patut dikagumi..."
Bahunya bergerak cepat, mendadak telapak kirinya mengirim
satu pukulan kilat yang maha dahsyat.
Sejak memasuki loteng Coei Hoa Loo tadi Wie Chin Siang sudah
merasakan hatinya mangkel, mendongkol bercampuran penasaran,
sekarang setelah dilihatnya perempuan jalang itu meneter dirinya
terus menerus tanpa memberi kesempatan baginya untuk
berbicara,hawa amarahnya kontan memuncak dan sukar dikendalikan
lagi.
Sambil mendengus gusar serunya :
"Hmm, kau jangan anggap aku betul-betul jeri kepadamu. Nah,
rasakanlah sebuah pukulan mautku!"
Dengan menghimpun segenap tenaga lweekang yang dimilikinya
ia segera sambut datangnya serangan lawan dengan keras lawan keras.
Bluuum...!
Suatu ledakan yang amat dahsyat segera menggeletar di dalam
ruangan itu membuat tubuh mereka berdua sama-sama tergetar
mundur tiga langkah ke belakang masing-masing pihak sama-sama
merasa terkejut akan kesempurnaan tenaga lweekang orang.
377
Saduran TJAN ID
Sejak pertarungan mati-matian itu berlangsung hingga berakhir,
si Tangan Sakti Berbaju Biru hanya menonton jalannya pertempuran
itu dari samping, tak sepatah kata pun yang diucapkan. Kini secara
tiba-tiba ia bangkit berdiri dan ujarnya sambil tersenyum :
"Harap kalian berdua segera berhenti bertarung!"
Ia merandek sejenak, kemudian sambil berjalan menghampiri
Wie Chin Siang katanya lagi :
"Siapa pun yang berada di loteng Coei Hoa Loo, dia terhitung
sahabat karib loohu!"
Sambil menarik tangan gadis she Wie itu ujarnya lagi seraya
menuding ke arah gadis jalang yang baru saja bergebrak dengan
dirinya :
"Dia adalah loo toa dari Siang Beng Jie Kiauw, sepasang gadis
ayu pembuat impian So Siauw Yan, sedang yang itu adalah sang Loo
jie So Leng Yan, nona, dan kau sendiri siapa namamu?"
Siang Bong Jie Kiauw tertawa dingin tiada hentinya, mereka
tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Boanpwee bernama Wie Chin Siang!" dara itu memperkenalkan
diri.
Dengan pandangan mata tajam laksana sebilah pisau belati si
Tangan Sakti Berbaju Biru menatap wajah Wie Chin Siang tajamtajam,
lalu tanyanya lagi.
"Siapakah gurumu? Kalau dilihat dari gerakan ilmu silat yang kau
pergunakan di dalam pertarungan tadi rupa-rupanya mirip dengan
kepandaian seorang sahabat karibku..."
Wie Chin Siang tersenyum.
"Maafkanlah diri boanpwee apabila tak bisa mengutarakan nama
besar suhuku berhubung hal itu merupakan pantangan bagi kami..."
"Hmmm! Sungguh besar amat bacotmu..." jengek So Leng Yan
yang duduk di kursi sambil tertawa dingin.
Dengan pandangan dingin dan hina Wie Chin Siang melirik
sekejap ke arahnya, lalu ujarnya kembali sinis :
378
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Meskipun kepandaian silat yang boanpwee miliki amat cetek,
sebelum mendatangi loteng Coei Hoa Loo tadi dalam pandanganku
tempat ini pastilah merupakan suatu tempat yang merupakan sarang
naga dan harimau, penuh dengan manusia-manusia pandai yang
berilmu, siapa tahu... heeeeeh... kenyataan jauh merupakan
kebalikannya, sungguh membuat hati orang jadi kecewa..."
Air muka Siang Bong Jie Kiauw berubah hebat, pada saat yang
bersamaan mereka berdua siap menggerakkan tubuhnya untuk
menyerang diri Wie Chin Siang.
Si Tangan Sakti Berbaju Biru segera ulapkan tangannya, ke-dua
orang gadis jalang itu segera mengundurkan diri kembali ke tempat
semula.
Terdengar So Siauw Yan tertawa ringan dan menyindir :
"Majikan! Toh di sini aa tamu agung yang sedang datang
berkunjung, biarlah kami sekalian mohon diri terlebih dahulu!"
"Tidak mengapa!" Si Tangan Sakti Berbaju Biru gelengkan
kepalanya lalu sambil tersenyum ujarnya kepada Wie Chin Siang :
"Nona manis, apakah kau adalah gadis yang dipilih putraku untuk
melayani diriku?"
"Bukan!" sahut dara she Wie itu sambil gelengkan kepalanya.
Sepasang alis si Tangan Sakti Berbaju Biru kontan berkerut
kencang, wajah yang semula berseri-seri pun seketika berubah jadi
kecut, mendadak dengan wajah dingin kaku bagaikan es katanya :
"Kalau begitu sungguh aneh sekali, kalau nona memang bukan
termasuk gadis cantik yang dipilih putraku untuk datang melayani
diriku, juga bukan merupakan sahabat dari loohu, lalu apa maksud
tujuanmu datang berkunjung ke loteng Coei Hoa Loo ini?..."
Nada suaranya mulai kedengaran ketus, tajam dan bersifat
menegur, sementara sepasang matanya dengan memancarkan cahaya
tajam bagaikan sayatan pisau menatap wajah gadis itu tanpa berkedip.
379
Saduran TJAN ID
Sikapnya yang ketus, dingin dan tak sedap dipandang ini
mendatangkan suatu perasaan aneh bagi gadis she Wie, ia ragu-ragu
dan tidak habis mengerti atas kehendak lawannya.
Bibir Wie Chin Siang segera bergetar seperti mau mengucapkan
sesuatu tapi niat tersebut kemudian dibatalkan, sikapnya jelas
menunjukkan bahwa ia mempunyai banyak persoalan yang hendak
diutarakan keluar tanpa diketahui oleh pihak lain, sinar matanya
dengan dingin melirik sekejap ke arah Siang Bong Jie Kiauw.
Sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman di
dalam dunia persilatan sudah tentu si Tangan Sakti Berbaju Biru dapat
menangkap maksud hati gadis itu, ia segera mendengus dingin dan
ulapkan tangannya memerintahkan sepasang gadis ayu buat impian
itu mengundurkan diri dari dalam ruangan.
"Teng cu, apakah kau bisa mempercayai perempuan ini??" seru
So Leng Yan sambil maju ke depan.
"Heeeh... heeeh... heeeh. kau tak usah kuatir," sahut si Tangan
Sakti Berbaju Biru sambil tertawa dingin.
Wie Chin Siang yang mendengar pembicaraan itu, kontan naik
pitam teriaknya dengan penuh kegusaran :
"Hey sebenarnya apa maksudmu?? aku Wie Chin Siang bukanlah
seorang manusia durjana yang berhati keji dan bermaksud jahat, aku
pun bukan seorang gadis yang termasuk dalam manusia tak genah
tukang memikat hati orang dengan andalkan kecantikan wajah..."
Siang Bong Jie Kiauw yang kenan disindir air mukanya berubah
hebat, mereka melirik sekejap ke arah si Tangan Sakti Berbaju Biru
dengan sorot mata ketakutan kemudian buru-buru mengundurkan diri.
Sambil menoleh terdengar So Leng Yang mendengus gusar dan
mengancam :
"Perempuan sialan, kau berani bicara tidak karuan dan ngaco belo
menghina kami, hati-hatilah ancaman kematian setiap saat bisa
menimpa dirimu..."
380
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sudahlah, kalian mengundurkan diri lebih dahulu," tukas si
Tangan Sakti Berbaju Biru sambil ulapkan tangannya. "Nanti kita
baru merundingkan masalah besar lagi..."
"Tang cu! Asal kau memanggil kami, dengan cepat kami kakak
beradik akan muncul di sini untuk menemani diri Teng cu!" sahut So
Leng Yan dengan wajah kegirangan.
Selesai berkata bersama-sama saudaranya mereka segera berlalu
dari situ, di tengah udara hanya tertinggal bau harum semerbak yang
merangsang hidung.
Sepeninggalnya ke-dua orang gadis ayu pembuat impian itu, si
Tangan Sakti Berbaju Biru baru menoleh dan menatap wajah Wie
Chin Siang lagi dengan sinar mata tajam, beberapa saat kemudian ia
baru berkata dengan suara ketus :
"Nona, sekarang kau boleh mengutarakan persoalan hatimu!"
Wie Chin Siang tidak langsung berbicara, dari sakunya dia ambil
keluar selembar kain selendang berwarna merah, kemudian sambil
diserahkan ke tangan lelaki berbaju biru itu katanya :
"Tangcu, apakah kau kenal dengan benda ini?"
Sekilas perasaan hati yang bergolak terlintas di atas wajah si
Tangan Sakti Berbaju Biru yang dingin dan ketus, ia tidak menyambut
kain selendang tersebut sebaliknya sambil tertawa dingin tegurnya :
"Nona, apakah kedatanganmu ke sini karena hendak memohon
sesuatu kepada loohu?"
"Benar, dua orang sahabat boanpwee karena kurang hati-hati
telah termakan ilmu pukulan Toa Lek Im Jiauw Kang, oleh sebab itu
mohonlah agar supaya cianpwee bisa beringan tangan dengan
menghadiahkan dua butir Som Wan berusia seribu tahun untuk
menyelamatkan jiwa ke-dua orang sahabatku itu."
"Tentang soal ini..." Si Tangan Sakti Berbaju Biru nampak berdiri
tertegun.
381
Saduran TJAN ID
Sesaat kemudian dengan cepat ia rampas kain selendang merah
itu lalu digenggam kencang-kencang, setelah dicium beberapa kali
sepasang matanya dipejam rapat-rapat.
Waktu detik demi sedetik berlalu di tengah keheningan serta
kesunyian yang mencekam seluruh jagad, walaupun hanya beberapa
waktu tapi dalam perasaan Wie Chin Siang bagaikan setahun
lamanya, ketika dilihatnya si Tangan Sakti Berbaju Biru hanya
memegangi kain selendang merah itu tanpa mengucapkan sepatah
kata pun hatinya kian lama kian bertambah gelisah, tanpa sadar ia
mulai menguatirkan keselamatan Pek In Hoei.
Serunya dengan hati cemas :
"Cianpwee! Apakah kau sudi mengabulkan permintaan
boanpwee? Apabila kau merasa keberatan untuk menghadiahkan pil
mujarab itu untuk menolong orang, terpaksa boanpwee akan mohon
diri terlebih dahulu, sebab aku harus mencari akal lain untuk
menyelamatkan jiwa mereka, sebaliknya kalau kau rela..."
Setiap perkataannya itu diucapkan dengan keras dan tegas seolaholah
martil yang menggeletar di angkasa, tetapi si Tangan Sakti
Berbaju Biru tetap tidak menggubris ucapannya itu, seorang diri ia
berdiri melamun, tangannya mencekal kain selendang merah itu
kencang-kencang sedang air mukanya menunjukkan perasaan
bergolak yang amat hebat, tapi nampak pula kepucat-pucatan seakanakan
secara mendadak menemui suatu peristiwa yang menyulitkan
hatinya.
Menyaksikan kesemuanya itu Wie Chin Siang merasa terkesiap,
satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya :
"Sebenarnya kain selendang berwarna merah itu mengandung
kekuatan ajaib apa sih? Ternyata benda itu sanggup menjerumuskan
seorang jago lihay di dalam dunia persilatan ke dalam lembah
penderitaan serta siksaan batin yang begitu hebat..."
Tiba-tiba si Tangan Sakti Berbaju Biru membuka matanya lalu
menegur dengan suara keras :
382
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sekarang dia berada di mana?"
"Siapa yang cianpwee tanyakan?"
"Orang yang memberikan kain selendang merah ini kepadamu!"
kata lelaki berbaju biru itu sambil menunjukkan kain selendang di
tangannya.
Sementara Wie Chin Siang hendak mengatakan jejak dari
suhunya, tiba-tiba ia teringat kembali akan pesan dari Kiem In Eng
sesaat ia hendak berangkat, gurunya melarang dia untuk mengatakan
perguruan sendiri serta jejak dari suhunya daripada mendatangkan
banyak kesulitan serta kerepotan bagi mereka.
Karena itu Wie Chin Siang segera menghela napas panjang.
"Jejak orang itu tak menentu, sebentar ada di Barat dan sebentar
lagi sudah pindah ke Timur, lebih baik tak usah kukatakan saja."
Ucapan ini sebenarnya merupakan suatu alasan penampikan yang
luwes dan enak didengar, tetapi bagi pendengaran si Tangan Sakti
Berbaju Biru seolah-olah sebuah martil besar yang menghantam
lubuk hatinya keras-keras.
Dengan hati amat sedih dia menghela napas panjang, perawakan
tubuhnya tinggi kekar nampak gemetar keras, wajahnya berubah
hebat dan pucat pias bagaikan mayat, seakan-akan secara mendadak
ia terserang sejenis penyakit yang parah.
Sekali lagi ia tundukkan kepalanya, terdengar suara napasnya
tersengkal-sengkal, dadanya naik turun dengan memburu, titik air
mata membasahi kelopak matanya, kesemuanya ini menunjukkan
bahwa ia meras tertekan jiwanya.
Wie Chin Siang yang menjumpai kesemuanya ini jadi
tercengang, tanpa sadar ia mundur beberapa langkah ke belakang.
Pada saat itulah terdengar suara langkah kaki manusia
berkumandang datang dari luar ruangan diikuti kain horden disingkap
ke samping.
Seorang pemuda dengan wajah dingin kaku dan senyuman
menghiasi ujung bibirnya perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam.
383
Saduran TJAN ID
Ia menyapu sekejap wajah Wie Chin Siang dengan pandangan
tajam, sekilas perasaan tercengang menyelimuti wajahnya.
Buru-buru gadis itu melengos ke samping dan menghindarkan
diri dari pandangan pemuda tersebut.
Mendadak pemuda itu menyaksikan air muka si Tangan Sakti
Berbaju Biru yang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat itu, hatinya
jadi amat terperanjat, sambil maju tiga langkah ke depan teriaknya
dengan hati cemas :
"Ayah!"
Si Tangan Sakti Berbaju Biru tidak menunjukkan suatu reaksi,
pemuda itu segera menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi itu pun
tidak mendatangkan reaksi apa pun, kejadian ini tentu saja membuat
hati pemuda itu jadi sangat terperanjat, ia segera tergetar mundur dua
langkah ke belakang.
Sambil tertawa dingin serunya :
"Sungguh tak disangka loteng Coei Hoa Loo yang selamanya tak
pernah bersengketa dengan dunia persilatan, tidak tamak untuk
memperebutkan nama serta pahala dan jarang berhubungan dengan
orang Bu lim, hari ini ayahku bisa mendapat celaka di tangan seorang
gadis semacam kau..."
Ia mendengus marah, sambil menatap wajah Wie Chin Siang
tajam-tajam, jubah luar berwarna birunya segera dilepaskan,
serentetan sorot mata penuh mengandung napsu membunuh
memasuki benaknya, seraya tertawa rendah sepasang telapaknya
segera bergerak melancarkan serangan.
"Tunggu sebentar!"
Wie Chin Siang dengan sebat meloncat mundur satu langkah ke
belakang, serunya lagi dengan nada dingin :
"Kau harus bikin terang dulu duduknya persoalan kemudian baru
turun tangan!"
384
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmm! Ayahku menderita luka dalam yang demikian parahnya,
bukankah kejadian ini adalah hasil perbuatanmu?" teriak pemuda itu
dengan wajah sedih bercampur gusar.
Wie Chin Siang tertegun, kemudian bentaknya :
"Ayahmu adalah seorang cikal bakal dari suatu perguruan besar,
kau anggap manusia selihay itu bisa jatuh kecundang dan terluka di
tangan seorang boanpwee seperti aku? Coba periksalah dengan
seksama, kau lihat dulu apakah dia betul-betul terluka akibat pukulan
seseorang..."
"Hmmmm! Aku pun tahu bahwa kau tidak nanti mempunyai
kemampuan sedahsyat ini," jengek sang pemuda.
Tapi dalam sekejap mata itulah, dari ujung bibir si Tangan Sakti
Berbaju Biru kembali mengucurkan darah segar, wajahnya yang pucat
pias bagaikan mayat kelihatan semakin mengerikan lagi.
Melihat kesemuanya itu, pemuda tadi segera berteriak keras :
"Tak usah dilihat lagi, di tempat ini kecuali kau seorang tidak
mungkin ada orang yang bisa melukai ayahku! Hmmm! Sungguh
membuat hati orang tidak percaya, seorang gadis cilik yang masih
muda ternyata begitu tega untuk turun tangan keji yang demikian
beratnya terhadap seorang tua yang sama sekali tak pernah terikat
dendam sakit hati apa pun dengan dirinya... Manusia rendah dan
perempuan adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya, perkataan
ini ternyata sedikit pun tidak salah."
Begitu selesai berkata mendadak terdengarlah seluruh persendian
tulang si anak muda itu memperdengarkan suara gemerutukan yang
nyaring,diikuti pakaian yang dikenakan pun menggelembung jadi
sangat besar, serunya dengan nada seram :
"Seandainya aku membiarkan kau lolos dari loeng Coei Hoa Loo
ini dalam keadaan selamat, maka sejak hari ini nama si Jago Pedang
Bertangan Sakti akan hapus dari dalam dunia persilatan, loteng Coei
Hoa Loo ini pun akan menjadi milik pribadimu..."
385
Saduran TJAN ID
Ia menjengek dingin, sambil meloncat maju ke depan sebuah
pukulan yang maha dahsyat segera dilontarkan ke arah Wie Chin
Siang.
Sungguh mati gadis she Wie ini tak pernah menyangka kalau
perjalanannya menuju ke loteng Coei Hoa Loo bakal menemui
perubahan yang jauh di luar dugaannya semula, saat ini ia tak mampu
untuk membantah tuduhan lawan sedangkan si Tangan Sakti Berbaju
Biru pun tidak menunjukkan reaksi apa pun, hal ini semakin
mencemaskan serta mengelisahkan hati si dara muda ini.
Obat mujarab yang diharapkan tidak berhasil didapatkan,
bencana telah mengancam keselamatannya. Wie Chin Siang sadar
bahwa kesalahpahaman ini sudah terjalin terlalu mendalam, tak
mungkin persoalan itu bisa diselesaikan di dalam dua tiga patah kata
ucapan saja.
Sambil menahan cucuran air matanya yang telah memenuhi
kelopak mat, ia membentak keras :
"Kau betul-betul tolol dan konyol..."
Segulung angin desiran tajam yang maha dahsyat meluncur tiba,
terpaksa ia harus goyangkan badannya untuk menghindarkan diri dari
ancaman angin pukulan yang maha dahsyat itu, tetapi pihak lawannya
walaupun nampak masih muda belia ternyata kesempurnaan tenaga
dalamnya benar-benar luar biasa sekali, suatu jurus serangan yang
sederhana ketika digunakan olehnya bukan saja mantap bahkan
kecepatannya betul-betul jauh di luar dugaan siapa pun.
Sementara itu ketika menyaksikan serangan pertamanya tidak
berhasil mengenai sasaran, si Jago Pedang Bertangan Sakti segera
melancarkan serangan berikutnya.
Desiran angin pukulan segera menderu-deru memenuhi seluruh
angkasa, bayangan manusia saling menyambar, dalam sekejap mata
mereka berdua telah saling bergebrak puluhan jurus banyaknya.
386
IMAM TANPA BAYANGAN II
Mendadak... serentetan gelak tertawa yang nyaring dan bernada
jalang berkumandang memecahkan kesunyian diiringi suara teguran
seseorang yang merdu dan nyaring menggema datang.
"Sauw Tangcu, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Bayangan manusia berkelebat lewat, Siang Bong Jie Kiauw pada
saat yang bersamaan telah munculkan diri di dalam ruangan.
"Coba kalian lihatlah sendiri!" sahut si Jago Pedang Bertangan
Sakti sambil melemparkan satu pukulan dahsyat.
"Aaaah! Loo Tangcu menderita luka!" teriak So Leng Yang
sambil menjerit kaget.
Seakan-akan si Jago Pedang Bertangan Sakti merasakan suatu
pukulan batin yang sangat berat, secara beruntun ia melancarkan
enam buah serangan yang maha dahsyat memaksa Wie Chin Siang
mundur ke belakang berulang kali sementara jidatnya telah dibasahi
oleh butiran keringat sebesar kacang kedelai.
So Leng Yang tiba-tiba meloncat ke depan, teriaknya :
"Sauw Tangcu, tunggu sebentar aku ada perkataan hendak
diutarakan keluar."
"Apa yang hendak kau katakan lagi," seru si Jago Pedang
Bertangan Sakti dengan suara gemas bercampur marah, tapi badannya
meloncat ke belakang juga untuk mengundurkan diri. "Dosa-dosa
yang dilakukan orang ini sudah terbukti jelas, kalau bukan dia yang
mencelakai ayahku masih ada siapa lagi?... Sejak hadirnya ke dalam
loteng Coei Hoa Loo, secara beruntun melukai anak buahku, aku telah
menduga kalau budak sialan ini mengandung maksud tidak baik..."
So Siauw Yan tertawa dingin.
"Heeh... heeeh... heeeh... ia berani turun tangan keji secara brutal
terhadap Tangcu kita. Hmmm! Hari ini kita jangan kasih kesempatan
baginya untuk keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!"
Sementara itu Wie Chin Siang sendiri hampir saja tak sanggup
bertukar napas setelah didesak dan diteter terus oleh si Jago Pedang
Bertangan Sakti dengan serangan gencarnya, kini setelah musuhnya
387
Saduran TJAN ID
mundur ke belakang dia pun memperoleh sedikit kesempatan untuk
bertukar napas.
Setelah mendengar ucapan So Siauw Yan yang tak sedap
didengar itu, kontan ia tertawa menghina.
"Kenapa aku mesti melarikan diri?" jengeknya ketus. "Asalkan di
dalam hati aku merasa bahwa tak ada urusan salah yang pernah
kulakukan, kenapa aku mesti jeri dan takut terhadap omongan ngaco
belo dan tidak karuan dari kalian..."
"Bangsat, sampai detik ini pun kau masih berani bersilat lidah
dengan kami?" maki So Leng Yang gusar. "Tunggu saja nanti, bila
kau sudah terjatuh ke tangan kami, maka... lihat saja, apakah kau
bakal merasa keenakan atau tidak."
"Sudah, kalian tak usah banyak bicara lagi, sekarang aku sudah
terjatuh ke tangan kalian, mau diapakan terserah kepada kamu semua,
bagaimana pun juga aku sudah pasrahkan nasibku. Tetapi... Ingat,
seandainya dalam penyelidikan selanjutnya membuktikan kalau
peristiwa ini bukan hasil perbuatan nonamu, maka kemungkinan
loteng Coei Hoa Loo kalian ini akan diratakan bumi. Saat itu
janganlah salahkan kalau aku tidak memberi peringatan terlebih
dahulu."
So Leng Yan segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak,
suaranya tajam dan amat jalang.
"Haaaah... haaaah... haaaah... meskipun loteng Coe Hoa Loo
adalah tanah datar, tempat ini pun bukan suatu tempat yang takut
menghadapi segala urusan, sebentar akan kujagal dirimu kemudian
menggantung batok kepala anjingmu di atas loteng Coei Hoa Loo,
akan kulihat manusia macam apakah yang akan datang balas
bagimu..."
Wie Chin Siang pun bukan seorang gadis yang pantang menyerah
dengan begitu saja, ia balas berseru :
388
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Selembar jiwaku akan ditukar dengan puluhan jiwa kalian, lihat
saja nanti pihak Coei Hoa Loo kalian bakal merasa rugi besar atau
tidak..."
"Jadi kalau begitu kau tidak mau mengaku?" hardik si Jago
Pedang Bertangan Sakti.
Wie Chin Siang tertawa sedih dan gelengkan kepalanya.
"Alasan tidak tepat, terpaksa aku cuma menerima segala sesuatu
yang bakal menimpa diriku..."
"Jadi kau rela menyerah dan biarkan kami membelenggu
dirimu?" tanya So Siauw Yan tertegun.
Wie Chin Siang segera mendengus dingin.
"Sejak dilahirkan nasibku memang selalu jelek, tidak sampai
detik terakhir aku tak akan melepaskan kesempatan untuk mencari
kembali modalku, dengan andalkan sebilah pedang tajam yang
menggembol di atas punggungku, rasanya tidak terlalu sulit bagiku
untuk mencari satu dua orang teman di dalam melakukan perjalanan
jauh nanti."
Ia sadar bahwa peristiwa ini tidak nanti bisa diselesaikan secara
damai, karena itu pedangnya segera dicabut keluar dari sarungnya,
cahaya merah berkilauan memenuhi angkasa, di antara getaran ujung
pedang yang keras terbiaslah cahaya warna merah bagikan darah.
Siang Bong Jie Kiauw segera melayang ke depan, masing-masing
merebut sebuah posisi yang menguntungkan dan siap melancarkan
serangannya.
Ke-dua orang gadis binal ini termasuk juga salah seorang jago Bu
lim yang mempunyai nama besar, kerja sama yang dilakukan oleh
mereka berdua pada saat ini betul-betul merupakan suatu kejadian
yang tak pernah ditemui sebelumnya.
"Tong Gie!" si Jago Pedang Bertangan Sakti segera berteriak
keras setelah merandek sejenak, ujarnya kepada sepasang gadis ayu
pembuat impian.
389
Saduran TJAN ID
"Dendam sakit hati mencelakai ayah dalam melebihi samudra,
pembalasan dendam seperti ini tidak pantas dilakukan oleh orang lain,
aku minta kalian berdua segera mengundurkan diri, aku akan
bertarung sampai titik darah penghabisan dengan perempuan rendah
ini, hati-hatilah menjaga keselamatan ayahku..."
Seorang dayang berbaju hijau mengiakan dan berjalan masuk
sambil membawa sebilah pedang antik yang amat indah bentuknya,
setelah mengangsurkan senjata tersebut ke tangan majikannya dayang
tadi segera mengundurkan diri dari situ.
Si Jago Pedang Bertangan Sakti pun menekan tombol di atas
gagang pedang, ujung senjata segera tercabut separuh bagian,
perlahan-lahan ia pegang senjata tadi dan diloloskan semua dari
sarungnya, cahaya tajam segera memencar memenuhi seluruh
ruangan, begitu tajam cahayanya hingga terasa amat menusuk
pandangan, siapa pun yang menyaksikan hal ini segera akan
mengetahui kalau senjata itu bukanlah senjata sembarangan.
Setelah membuang sarung pedang ke samping kalangan, senjata
tadi segera digetarkan sehingga di tengah angkasa muncullah enam
buah kuntum bunga pedang yang tajam dan dingin, begitu dingin
sehingga menusuk tulang sumsum setiap orang.
Dengan suara yang berat, rendah tapi bertenaga pemuda itu
berseru :
"Seorang jago mencabut pedang membuang sarung merupakan
pertanda akan kebulatan tekadnya, sebelum aku berhasil
membinasakan dirimu dengan tanganku sendiri aku bersumpah tidak
akan berhenti menyerang, kecuali kau sanggup membinasakan diriku
terlebih dahulu..."
"Terserah kepadamu!" sahut Wie Chin Siang tanpa perasaan,
pedangnya pun segera dikebaskan ke udara. "Bagaimana pun juga aku
pun tidak ingin pulang dari sini..."
Si Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun.
390
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Eeeei... kita akan berduel secara sungguhan dan bukan suatu
permainan belaka, kau mesti berhati-hati!" peringatnya.
Pemuda ini tersohor di dalam dunia persilatan sebagai si Jago
Pedang Bertangan Sakti, kendati dalam hati kecilnya merasa
mendongkol dan mangkel terhadap Wie Chin Siang karena
dianggapnya gadis itu telah mencelakai ayahnya secara keji, tapi
setelah dilihatnya kebasan pedang dara ayu itu sama sekali tidak
disertai dengan tenaga, ia tak ingin membunuh seseorang yang tidak
bersungguh hati melayani serangan mautnya.
Sejak permulaan tadi Wie Chin Siang telah tidak memikirkan
soal mati hidupnya lagi, ia lantas menjawab dengan suara hambar.
"Aku hanya berharap bisa cepat-cepat memperoleh kematian
yang utuh, daripada hatiku merasa kesal dan murung terus menerus..."
Sementara itu si Jago Pedang Bertangan Sakti sudah
mempersiapkan serangannya untuk melancarkan satu babatan, tapi
setelah mendengar ucapan tersebut buru-buru ia tarik kembali
serangannya yang hampir saja dilancarkan itu, setelah tarik napas
dalam-dalam katanya :
"Kalau kudengar dari pembicaraanmu barusan, rupanya kau
masih ada suatu persoalan yang belum sempat diselesaikan? Tiada
halangan kau sebutkan persoalanmu itu, asal cayhe bisa
melaksanakannya aku pasti takkan membuat hatimu jadi kecewa..."
Wie Chin Siang gelengkan kepalanya dan tertawa getir.
"Dibicarakan pun tak ada gunanya, lebih baik kau segera turun
tangan saja!"
Sekali lagi si Jago Pedang Bertangan Sakti dibuat tertegun.
"Katakanlah dulu persoalan hatimu itu, aku bisa memberi suatu
kepuasan bagimu," katanya.
Wie Chin Siang tundukkan kepalanya dan berpikir sejenak, tibatiba
air matanya bercucuran membasahi wajahnya yang halus, dengan
sedih ia berbisik lirih :
"Aku memang ada persoalan gy belum sempat kuselesaikan!"
391
Saduran TJAN ID
Ia menghela napas panjang lalu sambungnya :
"Aku ada seorang sahabat yang hampir menghembuskan
napasnya yang terakhir, apabila kau benar-benar suka mengabulkan
permintaanku ini maka biarkanlah aku menjumpai wajahnya untuk
terakhir kalinya, setelah itu tanpa melawan aku akan kembali ke sini
lagi untuk menerima kematian..."
So Leng Yang yang ikut mendengarkan pembicaraan itu dari
samping kalangan segera tertawa dingin.
"Heeeh... heeeh... heeeh... pandai amat kau menggunakan akal
bulusmu untuk membohongi orang, ucapanmu kedengarannya jauh
lebih merdu dari nyanyian indah.Hmmm! Kau sih penginnya molor
dari sini, setelah kau ngeloyor pergi lalu kita mesti cari siapa?"
Terdengar si Jago Pedang Bertangan Sakti pun berkata sambil
gelengkan kepalanya.
"Maaf, permintaanmu itu sulit untuk dikabulkan!"
"Heeeh... heeeh... heeeh... aku tahu bahwa kau tidak akan
mengabulkan permintaanku itu, lalu apa maksudmu suruh aku
mengutarakannya keluar?..."
Dengan gemas ia getarkan pedangnya sehingga menciptakan
gelombang serangan yang tajam, teriaknya keras-keras"
"Lebih baik kau cepat turun tangan! Kali ini aku akan beradu jiwa
dengan dirimu!"
Untuk beberapa saat lamanya si Jago Pedang Bertangan Sakti
merasa mulutnya seolah-olah tersumbat, ia tak pernah menyangka
kalau gadis cantik yang berada di hadapannya saat ini bisa
memberikan persoalan yang amat sulit baginya.
Setelah gelagapan sendiri beberapa saat lamanya, ia pun berkata
:
"Baik! Mari kita beradu jiwa. Di antara kau dengan aku sudah
bagaikan air dengan api yang selamanya tak pernah akan
bersahabat..."
392
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tampaklah ia ayunkan pergelangan tangannya, sekilas cahaya
pedang yang tajam segera meluncur keluar mengancam jalan darah
Hian Kie hiat di atas dada Wie Chin Siang, begitu cepat datangnya
serangan itu hingga terasa seolah-olah berkelebatnya sekilas cahaya.
Dengan sebat Wie Chin Siang berkelit ke samping, bunga pedang
menggabung menjadi satu dan secara mendadak membabat ke arah
pergelangan tangan si Jago Pedang Bertangan Sakti, kali ini
babatannya mantap dan tepat, mengandung beberapa bagian unsur
kekuatan yang hebat.
Suaru pertarungan sengit pun segera berkobar dengan hebatnya,
masing-masing pihak melancarkan serangan-serangan yang
mematikan, siapa pun tidak memberikan kesempatan atau pun
menunjukkan belas kasihannya terhadap pihak lawan. Tampak
cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa, desiran angin tajam
menderu-deru memekikkan telinga, sedemikian hebatnya
pertempuran itu sehingga bagi penonton yang ada di samping
kalangan sulit untuk membedakan mana pedang dan mana manusia.
Tiiiing...! Traaaang...! Tiiiing...! Traaang...!
Di tengah udara tiba-tiba berkumandang tiga kali suara bentrokan
nyaring yang memecahkan kesunyian, berpuluh-puluh titik cahaya
putih meluncur keluar dari tengah kurungan bayangan pedang dan
langsung meluncur ke atas dinding batu, begitu keras pantulan tadi
sehingga titik-titik cahaya putih tadi hampir sebagian besar
menembusi dinding dan bersarang di dalamnya.
Cahaya pedang seketika menjadi sirap dan bayangan tubuh kedua
orang itu pun saling berpisah.
"Ayoh! Gantilah dengan sebilah pedang yang betul!" seru si Jago
Pedang Bertangan Sakti,sambil menyilangkan senjatanya di depan
dada.
Kiranya senjata pedang yang dipergunakan Wie Chin Siang telah
terbabat putus jadi tiga bagian oleh getaran senjata mustika milik si
anak muda itu, memandang kutungan pedang di dalam
393
Saduran TJAN ID
genggamannya lama sekali ia berdiri termangu-mangu, kemudian
sambil menghela napas sedih katanya :
"Kau mempunyai banyak kesempatan baik untuk membinasakan
diriku, mengapa kau lepaskan setiap kesempatan baik itu untuk
memberi kepuasan bagiku? Apakah kau lupa bahwa di antara kita
berdua sedang melangsungkan pertarungan adu jiwa dan bukan lagi
memperdalam ilmu atau pun mengadakan Pie-bu untuk mengikat tali
persahabatan..."
394
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 17
"AKU telah berubah pendapat, aku tidak bermaksud sekaligus
membinasakan dirimu!" sahut si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan
napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.
So Siauw Yan yang tidak mengerti maksud hati majikan
mudanya jadi amat gelisah sehabis mendengar perkataan itu, cepatcepat
serunya :
"Sauw Tangcu, kau jangan lupa bahwa di adalah pembunuh yang
telah mencelakai Loo Tangcu kita..."
"Aku tahu!" tukas si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan suara
ketus. "Justru karena dia adalah musuh besar dari Loo Tangcu, maka
aku ingin membunuh dirinya secara perlahan-lahan, agar dia
merasakan segala penderitaan terlebih dahulu baru mati..."
Mendengar ancaman itu Wie Chin Siang jadi bergidik, teriaknya
:
"Kau hendak membuat malu diriku?"
Dalam pada itu seorang dayang telah berjalan menghampiri ke
hadapannya sambil mengangsurkan sebilah pedang, tanpa
mengucapkan sepatah kata pun gadis cantik she Wie ini menyambut
senjata tajam itu kemudian dengan hebatnya mengirim satu serangan
kilat ke arah si Jago Pedang Bertangan Sakti.
Pada saat ini ia sudah nekad maka dengan segala daya
kemampuannya ia berusaha untuk berebut melancarkan seranganserangan
mematikan.
395
Saduran TJAN ID
Setelah gadis itu nekad tanpa sadar kekuatan serangannya
semakin bertambah hebat lipat ganda, si Jago Pedang Bertangan Sakti
sendiri walaupun sudah banyak tahun memperdalam kepandaian ilmu
pedangnya dan tenaga lweekang pun jauh di atas lawannya, tetapi
belum pernah ia jumpai pertarungan semacam ini, tanpa sadar
tubuhnya terdesak mundur ke belakang berulang kali...
Dengan susah payah akhirnya ia berhasil merebut kembali
posisinya yang terdesak, sambil mengirim satu babatan ke depan
serunya :
"Aku tidak akan memberikan pengampunan terhadap dirimu
lagi!"
Ilmu pedangnya telah berhasil mencapai pada taraf penyatuan
antara tubuh dan pedang, mendadak ia tarik napas panjang-panjang,
sambil putar telapak tangannya sang pedang dari gerakan membabat
berubah jadi gerakan menotok langsung bagaikan sebatang pit
menyodok ke tubuh bagian atas Wie Chin Siang.
Jurus serangan ini mempunyai perubahan campur baur yang sakti
dan dahsyat, arah yang dituju sama sekali di luar dugaan orang.
Rambut Wie Chin Siang yang panjang buyar dan awut-awutan,
suatu kepandaian untuk menyelamatkan diri membuat badannya
tanpa sadar bergeser ke samping, pedangnya berkelebat menciptakan
selapis cahaya pedang yang rapat dan kuat untuk membendung
datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.
"Traaaang...!"
Di tengah suara bentrokan nyaring yang memekakkan telinga,
letupan bintang api memancar ke empat penjuru.
Tubuh Wie Chin Siang secara beruntun mundur beberapa
langkah ke belakang, pakaian yang ia kenakan telah hancur termakan
babatan senjata lawan hingga terlihatlah pakaian dalamnya yang
berwarna merah,sementara senjata pedangnya termakan oleh gerakan
menotok dari pihak lawan patah jadi dua bagian, wajahnya pucat pias
bagaikan mayat.
396
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan sedih gadis itu menghela napas panjang, katanya lirih :
"Aku tidak akan memberikan perlawanan lagi, sekarang kau
boleh membinasakan diriku."
Habis berkata dengan kepala tertunduk dan wajah suram ia
jatuhkan diri duduk mendeplok di atas lantai, rambutnya yang terurai
menutupi bahunya serta tubuhnya yang hampir telanjang, keadaan
gadis itu nampak mengenaskan sekali.
Si Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun, kemudian sambil
menggetarkan pedangnya ia berseru :
"Ayoh bangun, jangan berpura-pura jadi orang mati!"
Wie Chin Siang sama sekali tidak menggubris terhadap
ucapannya, ia berlagak pilon dan duduk di lantai bagaikan seorang
padri.
So Leng Yang segera meloncat ke depan, sambil tertawa ringan
katanya :
"Sauw Tangcu, kalau kau tidak tega untuk turun tangan, biarlah
budak yang mewakili dirimu!"
I rampas pedang mestika dari tangan si Jago Pedang Bertangan
Sakti, lalu sambil menuding ke arah Wie Chin Siang katanya :
"Kau tidak bajik terlebih dulu dan aku tidak setia kawan
belakangan, jangan salahkan kalau aku berbuat kejam terhadap
dirimu!"
Ujung pedang bergeletar di tengah udara, secara mendadak ia
tusuk ulu hati dara ayu she Wie ini.
Tiba-tiba... terdengar bentakan keras menggema memekakkan
telinga, dengan mata melotot besar si Tangan Sakti Berbaju Biru
menghardik :
"Tahan!"
Bentakan ini keras bagaikan guntur yang menggeletar membelah
bumi, sekujur badan So Leng Yang segera gemetar keras, tanpa sadar
pedang yang berada digenggamannya terlepas dan jatuh ke atas lantai.
397
Saduran TJAN ID
"Tangcu!" teriaknya sambil mundur ke belakang dengan wajah
ketakutan setengah mati.
Air muka si Tangan Sakti Berbaju Biru perlahan-lahan putih
kembali seperti sedia kala, wajahnya tidak sepucat tadi lagi. Sambil
membesut noda darah yang mengotori ujung bibirnya ia tarik napas
dalam-dalam.
"Aaaai... hampir saja kalian sudah melakukan suatu tindakan
yang keliru besar!"
"Ayah, apakah kau orang tua tidak terluka?" tanya si Jago Pedang
Bertangan Sakti dengan wajah melengak.
Tangan Sakti Berbaju Biru menghela napas dan gelengkan
kepalanya.
"Aku hanya merasa napasnya tersumbat untuk beberapa saat
hingga membuat darah yang menggumpal dalam dadaku sukar
dimuntahkan keluar. Siapa bilang aku telah terluka? Kalian telah
menaruh salah paham terhadap nona ini..."
Lambat laut ia berjalan menghampiri gadis she Wie itu, sambil
menarik bangun dirinya diamati wajah Wie Chin Siang dengan
seksama, lalu tanyanya halus :
"Nak, kau tidak sampai terluka bukan?"
"Tidak!" jawab gadis manis itu sambil gelengkan kepalanya.
Si Tangan Sakti Berbaju Biru melirik sekejap ke arah pakaiannya
yang compang-camping tidak karuan, lalu dengan hawa gusar ia
mendelik ke arah putranya.
"Binatang, bagus amat perbuatanmu yah?" makinya sambil
mendengus dingin.
"Ayah!" seru Jago Pedang Bertangan Sakti tertegun.
Dengan sedih si Tangan Sakti Berbaju Biru gelengkan kepalanya,
seakan-akan ia mempunyai suatu persoalan hati yang amat berat dan
sulit untuk diutarakan keluar, dengan termangu-mangu ia menatap
langit-langit rumahnya tanpa berkedip.
398
IMAM TANPA BAYANGAN II
Suasana untuk beberapa saat lamanya berubah jadi hening...
sunyi... tak seorang pun yang berani buka suara untuk berbicara.
Lama... dan lama... sekali, akhirnya Wie Chin Siang menghela
napas panjang memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh
ruangan itu, katanya lirih :
"Loocianpwee, boanpwee segera akan pergi!"
Sekujur badan Tangan Sakti Berbaju Biru gemetar keras.
"Apakah kau tidak inginkan pil Som Wan berusia seribu tahun
itu?..." serunya.
"Cianpwee merasa keberatan untuk menghadiahkan kepada
kami, dengan sendirinya boanpwee pun tidak berani terlalu
memaksa," sahut Wie Chin Siang dengan sedih. "Cuma... aaai,
dengan begitu sahabatku jadi tak tertolong lagi, sayang sekali ia tak
bisa mencicipi ketenaran namanya yang baru saja membumbung
tinggi... sayang bakatnya yang bagus untuk selamanya bakal
terpendam di dalam tanah... dalam usia yang semuda itu dia harus
menutup mata..."
"Oooouw...! Begitukah? Tapi... toh aku tak pernah mengatakan
bahwa aku menolak permintaanmu itu?" seolah-olah ia merasa
teramat girang hati, tanya lagi dengan suara lirih :
"Siapakah nama sahabatmu itu?"
"Kalau dikatakan sahabatku itu bukanlah seorang manusia yang
tidak punya nama di dalam dunia persilatan, tetapi dalam pandangan
loocianpwee dia masih belum terhitung seberapa. Dia adalah si Jago
Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang belum lama munculkan
diri di dalam dunia persilatan, mungkin di antara kalian ada yang
pernah mendengar namanya.
Si Tangan Sakti Berbaju Biru tidak memberikan komentar apaapa,
hanya sambil mengangkat kain selendang merah itu ujarnya :
"Beribu li menghantar selendang merah, karena kesulitan mohon
obat mujarab, nona! Jago lihay muda belia itu pastilah bukan seorang
sahabat biasa dengan dirimu, bukankah begitu?"
399
Saduran TJAN ID
Walaupun berada dalam keadaan sedih dan kuatir, tak urung air
muka Wie Chin Siang berubah juga jadi merah padam saking
jengahnya, ia tundukkan kepalanya rendah dan merasa kagum atas
ketepatan dugaan si orang tua itu.
Terdengar si Tangan Sakti Berbaju Biru tepuk tangan beberapa
kali, kemudian berseru :
"Yauw Hong berada di mana?"
Horden disingkap dan seorang dayang perlahan-lahan berjalan
masuk ke dalam, wajah dayang ini cantik jelita dan mempunyai
pandangan yang sangat agung.
Setelah menjura, tanyanya :
"Tangcu, kau ada perintah apa?"
"Ambil dan bawa kemari kotak seratus pusaka milikku!"
Nona Yauw Hong mengangguk dan segera berlalu diiringi
senyuman manis.
Dalam pada itu Siang Bong Jie Kiauw yang mendengar bahwa si
Tangan Sakti Berbaju Biru memerintahkan dayangnya untuk
mengambil kotak wasiat, sepasang mata ke-dua orang itu segera
berkilat, setelah saling bertukar pandangan sekejap So Leng Yan
segera berkata sambil tertawa :
"Tangcu, kau hendak mengambil benda mestika, lebih baik
budak sekalian mohon diri terlebih dahulu."
"Ooooh, tidak apa-apa, tetaplah berada di situ!" sahut si Tangan
Sakti Berbaju Biru sambil tertawa.
Sesaat kemudian Yauw Hong dengan membawa sebuah kotak
perlahan-lahan munculkan diri di dalam ruangan.
Semua orang segera merasakan pandangan matanya jadi silau,
sebuah kotak panjang yang bertaburkan intan permata serta mutiara
berada di tangannya, Siang Bong Jie Kiauw segera menunjukkan
mimik yang aneh, tanpa sadar mereka telah menggeserkan badannya
maju ke depan, sedang si Jago Pedang Bertangan Sakti pun
menjulurkan lidahnya karena kaget bercampur kagum, ia tidak
400
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengira kalau ayahnya memiliki kotak wasiat yang demikian tak
ternilai harganya.
Setelah menerima kotak wasiat tersebut, si Tangan Sakti Berbaju
Biru menghela napas panjang, ujarnya :
"Pil Som Wan berusia seribu tahun ini adalah sejenis obat
mujarab yang luar biasa khasiatnya, sepanjang hidupku loohu pun
hanya memiliki tiga biji saja. Nona! Aku harap kau suka baik-baik
menyimpan obat ini..."
Lambat-lambat ia membuka penutup kotak itu, terlihatlah dalam
kotak tadi kecuali terdapat sebuah botol porselen putih tiada benda
lain yang nampak, Cian Nian Som Wan empat huruf kecil tertera di
depan mata Wie Chin Siang membuat jantungnya secara tiba-tiba
berdebar keras.
Si Tangan Sakti Berbaju Biru segera angsurkan botol porselen itu
ke tangan Wie Chin Siang, katanya :
"Obat mujarab memang kegunaannya untuk menolong orang.
Nah, ambillah..."
"Tapi... cianpwee, aku hanya membutuhkan dua butir saja..." seru
Wie Chin Siang ragu-ragu.
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Tangan Sakti Berbaju Biru
tertawa terbahak-bahak, sambil ayun selendang merah di tangannya
ia berseru :
"Obat itu walaupun tak ternilai harganya, tetapi tak bisa
dibandingkan nilainya dengan kain selendang perlambang jodoh ini,
sisanya sebutir anggap saja hadiah perkenalan loohu bagimu. Aaaa...!
Kenangan manis di masa lampau sulit untuk dilupakan, pikiranku
terasa amat kacau..."
"Tangcu, kau harus pertimbangkan kembali keputusanmu itu..."
tiba-tiba So Siauw Yan berseru dengan nada cemas.
"Kau tak usah turut campur," tukas Tangan Sakti Berbaju Biru
dengan cepat. "Persoalan ini adalah urusan pribadi loohu sendiri..."
401
Saduran TJAN ID
Habis berkata ia segera pejamkan matanya dan terjerumus
kembali di dalam lamunannya.
Buru-buru Wie Chin Siang menghaturkan rasa terima kasihnya,
sesaat kemudian ia seperti mau mengucapkan sesuatu tapi akhirnya
dibatalkan dan badan pun perlahan-lahan berputar siap meninggalkan
tempat itu.
........
"Nona, harap tunggu sebentar!" tiba-tiba si Tangan Sakti Berbaju
Biru membuka matanya kembali dan berseru.
Dengan wajah melengak Wie Chin Siang menoleh.
"Cianpwee, apakah kau masih ada perkataan yang belum selesai
kau utarakan keluar?"
Si Tangan Sakti Berbaju Biru tertawa getir.
"Nona! Loohu masih ada beberapa persoalan ini kutanyakan
kepada dirimu," ia merandek sejenak, mendadak sambil ulapkan
tangannya ia berseru :
"Aaaai! lebih baik kau pergi saja, aku tidak ingin terlalu melukai
perasaan hatimu..."
Wie Chin Siang tertegun, tapi ia segera putar badan dan berlalu.
Sepeninggal gadis itu So Leng Yang segera gelengkan kepalanya
dan berseru lantang :
"Tangcu, apakah kau benar-benar hendak menghadiahkan pil
Som Wan berusia seribu tahun itu kepada budak tersebut?"
"Kenapa? Apakah aku hanya pura-pura saja?"
Siang Bong Jie Kiauw menghela napas panjang dan tidak
berbicara lagi, mendadak tubuh So Siauw Yan terhuyung-huyung ke
belakang seolah-olah terserang angin duduk, keringat sebesar kacang
kedelai mengucur keluar tiada hentinya.
Dengan napas terengah-engah segera serunya :
"Tangcu, aku merasa badanku kurang enak, karena itu ingin
mohon diri terlebih dahulu."
402
IMAM TANPA BAYANGAN II
So Leng Yang buru-buru maju memayang tubuhnya dan ke-dua
orang itu dengan cepat mengundurkan diri dari dalam ruangan.
"Aaah!" seru si Jago Pedang Bertangan Sakti dengan wajah
kebingungan sepeninggalnya ke-dua orang gadis jalang tadi.
"Kau tak usah banyak bertanya lagi," tukas ayahnya sambil
geleng kepala dengan wajah sedih. "Dia adalah adik perempuanmu!"
"Apa? Adik perempuanku?" seru si Jago Pedang Bertangan Sakti
dengan sepasang mata terbelalak besar. "Ayah kau sebenarnya sedang
mengatakan apa?"
"Aaaai...! Duduknya persoalan tak dapat diterangkan dalam dua
tiga patah kata saja, pokoknya kedatangan kita kali ini dari luar
perbatasan memasuki daratan Tionggoan antara lain juga ada sangkut
pautnya dengan dia..."
Ia merandek sejenak, kemudian seperti menyadari sesuatu
ujarnya lagi:
"Selama ini Siang Bong Jie Kiauw selalu mengikuti ayahmu
tanpa berpisah barang selangkah pun, tujuan mereka bukan lain
adalah mengincar ke-tiga biji pil mujarab Som Wan berusia seribu
tahun ini, kau cepat-cepatlah kejar mereka dan coba periksa, mungkin
saja mereka sedang turun tangan mendesak adikmu..."
Si Jago Pedang Bertangan Sakti tidak berani berayal lagi, ia
segera meloncat keluar dari ruangan. Tersebarlah angin dingin
berhembus kencang, bintang telah bertabur di angkasa, entah sedari
kapan udara telah jadi gelap.
Ilmu meringankan tubuhnya dengan cepat dikerahkan pada
puncaknya, dari tempat kejauhan ia saksikan ada bayangan manusia
sedang bergerak di hadapannya, dugaan si Tangan Sakti Berbaju Biru
ternyata tidak salah, waktu itu Siang Bong Jie Kiauw telah
menghadang jalan pergi Wie Chin Siang dan memaksa lawannya
untuk menyerahkan obat mujarab itu.
Dengan tangan kanan mencekal botol porselen itu kencangkencang,
Wie Chin Siang mengancam :
403
Saduran TJAN ID
"Kalau kalian berani maju lagi ke depan, aku segera akan beradu
jiwa dengan kalian, obat mujarab berusia seribu tahun yang langka ini
pun akan ikut kumusnahkan. Hmmm! Baik kalian maupun aku jangan
harap bisa mendapatkannya..."
Mendengar ancaman tersebut, sepasang dara ayu pembuat impian
itu benar-benar tak berani maju mendekat.
Haruslah diketahui pil Som Wan berusia seribu tahun itu adalah
obat mujarab yang diidam-idamkan oleh setiap orang Bu lim, bagi
orang biasa jangan dikata untuk mendapatkan sebutir di antaranya,
untuk melihat pun mungkin susah, karena itu setelah timbul perasaan
was-was dengan sendirinya Siang Bong Jie Kiauw tidak berani
sembarangan turun tangan mendesak lawannya.
So Leng Yan segera tertawa hambar, katanya :
"Asal kau suka menyerahkan obat itu kepada kami tanpa
melawan, maka selembar jiwamu akan kuampuni!"
"Ciiissss!" teriak Wie Chin Siang dengan gusar. "Aku rela
menghadiahkan obat itu kepada orang lain, dan tidak akan sudi
menyerahkan kepadamu..."
si Jago Pedang Bertangan Sakti yang menyaksikan kejadian itu
kontan naik pitam, ia mendengus dingin dan munculkan diri di tengah
kalangan.
Siapa tahu Siang Bong Jie Kiauw sama sekali tidak
menggubriskan kehadirannya, malah sambil menjengek sinis katanya
:
"Huuuuh.... manusia telur busuk pun mau ikut campur dalam
urusan ini..."
"Kalian mau apa?" teriak si anak muda itu semakin gusar.
So Siauw Yan mendengus ketus, sahutnya :
"Sejak tadi aku telah memperhitungkan kehadiranmu di tempat
ini. Hmmm! Jago Pedang Bertangan Sakti, kepandaian kucing kaki
tiga yang kau miliki meskipun bisa ditonjolkan kedahsyatannya di
404
IMAM TANPA BAYANGAN II
hadapan anggota perguruanmu, tapi dalam pandangan kami sama
sekali tak ada harganya..."
Si Jago Pedang Bertangan Sakti semakin senewen, matanya
kontan mendelik besar, teriaknya :
"Bangsat! Rupanya kalian benar-benar mau memberontak?"
Dalam keadaan marah yang tak terkendalikan lagi, pedangnya
segera digetarkan kencang-kencang dan mengirim satu babatan
dahsyat ke depan.
"Huuuh, kepandaianmu masih terpaut sangat jauh!" jengek So
Siauw Yan sinis, tangannya dengan enteng segera dikebaskan ke
depan.
Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan diiringi
desiran tajam segera menyapu ke depan.
Braaaak..."
Satu kejadian yang tak terduga sama sekali dengan cepat
berlangsung di depan mata, ternyata sepasang dara ayu pembuat
impian she So adalah jago-jago lihay yang sengaja menyembunyikan
kepandaian aslinya.
Si Jago Pedang Bertangan Sakti segera menjerit kesakitan,
pedangnya terpental dan mencelat ke tengah udara, sementara
tubuhnya sendiri mundur beberapa langkah ke belakang dengan
sempoyongan.
"Bagus!" suatu bentakan keras berkumandang datang dari tempat
kejauhan.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu si Tangan Sakti
Berbaju Biru sambil tertawa terbahak-bahak telah munculkan diri di
hadapan mereka.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kiranya kalian adalah mata-mata
yang sengaja dikirim partai See Liang untuk menyusup ke dalam
perguruan kami, oooh, hampir saja sepasang loohu jadi melamur
dibuatnya."
405
Saduran TJAN ID
Serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata segera
menyapu datang dari tengah udara dan langsung membabat ke arah
tubuh ke-dua orang gadis pembuat impian tersebut.
Dengan hati terkesiap So Leng Yang mencelat ke udara untuk
meloloskan diri dari serangan maut, teriaknya :
"Awan ilmu pukulan Hwee Gan Ciang, ayoh lari!..."
Seakan-akan jeri terhadap sesuatu, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun ke-dua orang gadis jalang tadi segera melarikan diri dari
tempat itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka telah lenyap
di balik kegelapan.
Sepeninggalnya ke-dua orang dara tadi si Tangan Sakti Berbaju
Biru segera menoleh ke arah Wie Chin Siang sambil pesannya :
"Cepatlah berlalu dari sini, partai See Liang tidak akan lepas
tangan begitu saja!"
Di tengah kegelapan ke-tiga orang itu berdiri kaku di tempat
masing-masing dengan mulut membungkam,beberapa saat kemudian
mereka merundingkan sesuatu dengan suara lirih diikuti mereka
berpisah dan berangkat ke arah Timur dan Barat.
Siapa pun tidak tahu apa yang barusan mereka rundingkan tetapi
mereka tahu bahwa perjalanan Wie Chin Siang dilakukan jauh lebih
cepat lagi langsung menuju ke arah gunung Thiam cong.
Angin malam yang dingin berhembus lembut menggoyangkan
ranting dan daun hingga menimbulkan suara yang gemerisik, cahaya
bintang di angkasa yang remang menembusi dahan dan pepohonan
menyinari permukaan jagad...
Gonggongan anjing yang ramai sayup-sayup berkumandang dari
kejauhan, membuat suasana di dalam hutan yang lebat itu terasa
makin tercekam dalam keseraman.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia bergema
memecahkan kesunyian, suara langkah kaki itu amat lembut dan
lamban di mana akhirnya berhenti.
406
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sesosok bayangan manusia muncul di balik pepohonan yang
lebat dan berdiri termangu di situ.
Di bawah sorot cahaya bintang Kiem In Eng nampak masih
begitu cantik dan muda belia, walaupun di atas wajahnya sudah tertera
bekas-bekas keriput yang dimakan usia tapi ia masih begitu
mempesonakan... begitu menggiurkan bagi setiap pria.
Biji matanya yang bening dan jeli menyapu sekejap sekeliling
tempat itu dengan pandangan dingin, tiba-tiba ujung bibirnya
tersungging suatu senyuman hambar. Angin malam berhembus lewat
mengibarkan ujung bajunya... perempuan itu nampak begitu
mengenaskan... begitu menyedihkan.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan CERITA DEWASA kETIDURAN : ITB 11 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments