Cerita Selingkuh Dosen : ITB 10

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Selingkuh Dosen : ITB 10
Baca Juga :
-
Pek-li Cien Cien yang menyaksikan keadaan itu dalam hati
merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau tenaga lweekang
yang dimiliki lelaki berjubah merah itu demikian dahsyatnya. Gadis
itu segera berpikir :
"Mimpi pun aku tak pernah menyangka setelah tubuhnya terkena
racun ulat emas dari suhu, dia masih mampu untuk mengerahkan
tenaga dalamnya... ia betul-betul hebat..."
Beberapa saat kemudian dari atas batok kepalanya mengepul
kabut berwarna putih, makin lama makin menebal hingga akhirnya
seluruh batok kepalanya terlapis oleh kabut berwarna putih itu.
"Siaocia," seru Sioe To dengan nada terkesiap. "Dia jauh lebih
hebat dari loo-ya kita..."
"Sstt, jangan bicara!" seru Pek-li Cien Cien sambil merapatkan
jari tangannya di atas bibir.
Kemudian dengan wajah penuh napsu membunuh selangkah
demi selangkah ia maju mendekati tubuh si anak muda itu, jari
tangannya dipertegang siap-siap melancarkan totokan.
Andaikata totokan tersebut bersarang di tubuh si anak muda itu,
maka niscaya Chee Thian Gak bakal mengalami jalan api menuju
neraka, hawa murninya seketika akan buyar dan tubuhnya jadi Panswie.
199
Saduran TJAN ID
Desiran angin tajam menderu-deru ujung jari gadis itu telah
merobek jubah merah yang dikenakan Chee Thian Gak dan menotok
jalan darah Beng-bun hiat di atas punggung lawan.
Pada detik terakhir sebelum jarinya mengenai sasaran mendadak
pemuda she Chee itu menggeser sedikit tubuhnya ke samping, tanpa
menunjukkan reaksi apa pun ia meneruskan semedinya mengatur
pernapasan.
Air muka Pek-li Cien Cien berubah hebat, ia merasakan kedua
jari tangannya seakan menotok di atas papan baja yang keras
membuat tangannya jadi linu dan kaku.
Dengan hati terkesiap ia mundur satu langkah ke belakang,
pikirnya :
"Tidak aneh kalau suhu terpaksa harus melepaskan racun ulat
emas untuk menghadapi dirinya, dalam mengatur pernapasan untuk
menyembuhkan lukanya pun ia masih mampu untuk melindungi diri
sendiri, kepandaian dahsyat seperti ini boleh dibilang jauh melebihi
kemampuan suhuku sendiri..."
Ia gigit ujung bibirnya lalu berpikir lebih jauh :
"Andaikata aku berhasil menangkap dirinya, betapa senang dan
gembiranya suhu, waktu itu dia pasti akan memuji diriku jauh lebih
mengerti akan urusan."
Dalam pada itu Chee Thian Gak telah berhasil menyudutkan
racun ulat emas yang dilepaskan si Dukun sakti berwajah jelek di dlm
jalan darah Ci Tong hiat dengan andalkan hawa murni aliran
panasnya, setelah itu semua jalan darahnya ditutup rapat-rapat.
Ia menghembuskan napas panjang dan siap meloncat bangun.
Menggunakan kesempatan itulah Pek-li Cien Cien tiba-tiba
meloncat ke depan, telapaknya segera ditekankan ke atas batok kepala
si anak muda itu.
"Jangan berdiri!" bentaknya dengan wajah penuh napsu
membunuh.
Chee Thian Gak melengak, segera tegurnya :
200
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Eeeei... apa yang hendak kau lakukan?"
******
Bagian 18
"APAKAH KAU bermusuhan dengan si Dukun sakti berwajah jelek
dari wilayah Biauw sehingga ia melepaskan racun ulat emas ke dalam
tubuhmu?" tegur Pek-li Cien Cien.
Dalam hati Chee Thian Gak sadar bahwa ia telah bertemu lagi
dengan musuh tangguh, ia hanya heran bahwa dirinya sama sekali
tidak kenal dengan dara berdandan aneh ini, apa sebabnya sekarang
ia malah diancam?
Maka sahutnya :
Sedikit pun tidak salah, siapa kau ?"
"Kau tak usah mengurusi siapakah aku!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... sudah lama cayhe berkelana di
dalam dunia persilatan, tapi belum pernah kujumpai ada orang berani
mengancam keselamatanku dengan cara begini."
"Sekarang akan kusuruh kau rasakan bagaimanakah rasanya
kalau diancam orang..." sahut Pek-li Cien Cien sambil tertawa dingin.
Chee Thian Gak tersenyum.
"Sebenarnya apa yang hendak kau lakukan terhadap diriku?"
"Putar wajahmu menghadap kemari!"
"Seandainya aku tidak mau mendengarkan perkataanmu?" jengek
Chee Thian Gak diam-diam merasa geli.
"Kalau kau berani membangkang maka sekali tepuk kuhajar jalan
darah 'Pek Hoei hiat'mu, kau tentu tahu bukan bagaimana akibatnya?"
"Hingga detik belum pernah aku diancam orang dengan cara
seperti ini," pikir pemuda she Chee ini di dalam hati. "Pengin kulihat
siapakah sebenarnya orang ini?"
Perlahan-lahan ia menoleh, tampaklah seraut wajah yang amat
cantik terpancang di depan matanya, meski ayu rupawan sayang
matanya membawa napsu membunuh dan bibirnya tersungging
201
Saduran TJAN ID
senyuman yang amat dingin, membuat hati orang yang melihat
merasa bergidik.
Pek-li Cien Cien sendiri diam-diam mengerutkan dahinya
sewaktu menyaksikan cambang serta rambut Chee Thian Gak yang
awut-awutan, tegurnya dengan nada jengkel :
"Hey, sudah berapa lama sih kau belum mandi?"
Pertanyaan ini bukan saja lucu bahkan menunjukkan wataknya
yang polos da bersifat kekanak-kanakan, membuat Chee Thian Gak
yang mendengar mau tertawa tak bisa mau menangis pun sungkan, ia
tertawa getir :
"Apa maksudmu mengajukan pertanyaan seperti ini? Apakah kau
hendak ajak dirimu mandi bersama?"
"Sebelum kukirim dirimu menghadap suhu, kau pasti akan
kumandikan lebih dahulu!"
Haruslah diketahui sejak kecil gadis ini telah dibawa si dukun
sakti berwajah seram pindah ke wilayah Biauw, pergaulannya dengan
bangsa Biauw membuat dara ini terbiasa pula mengikuti tata cara
mereka untuk mandi tiga kali setiap harinya.
Kini menyaksikan keadaan tubuh Chee Thian Gak yang dekil dan
kotor, badannya tanpa terasa jadi ikut gatal hingga timbul niatnya
untuk memandikan tubuh si anak muda itu.
Sebaliknya bagi Chee Thian Gak sendiri, ketika dilihatnya sifat
kekanak-kanakan gadis itu belum hilang, bahkan bicara pun blakblakan
tanpa tedeng aling-aling, niatnya untuk menusuk telapak
tangan gadis itu dengan rambutnya kemudian menawan dirinya segera
dibatalkan.
Setelah hidup dalam ketegangan selama beberapa tahun, timbul
keinginan dalam hati si pemuda ini untuk mencari sedikit hiburan.
Ia mendehem lalu bertanya :
"Sungguhkah kau hendak memandikan diriku?"
202
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Apakah kau merasa keberatan untuk menghilangkan kotoran
serta dekil yang melekat tubuhmu?" Pek-li Cien Cien balik bertanya
dengan mata terbelalak besar.
"Kau hendak mandikan diriku, apakah tidak takut dimarahi
gurumu?"
Untuk sesaat Pek-li Cien Cien tak dapat menangkap makna
sebenarnya dari ucapan itu, dengan nada serius sahutnya :
"Suhuku dia orang tua paling suka akan kebersihan, tentu saja dia
tak akan memarahi diriku."
"Haaaah... haaaah... haaaah... dengan keadaan suhumu yang dekil
dan kotor masa ia suka akan kebersihan?"
"Kau berani memaki suhuku? Hati-hati, kubunuh dirimu!" ancam
Pek-li Cien Cien dengan mata melotot.
Chee Thian Gak berhenti tertawa, tanyanya :
"Benarkah suhumu adalah si dukun sakti berwajah seram?"
"Sedikit pun tidak salah, kali ini aku telah mengikuti dia orang
tua kembali ke daratan Tionggoan."
Chee Thian Gak melirik sekejap ke arah gadis berbaju hijau yang
berdiri di samping itu, kemudian katanya lagi :
"Kalau begitu rumahmu pastilah berada di sekitar sini?...
Siapakah ayahmu?"
Pek-li Cien Cien tidak menjawab, sebaliknya menatap sepasang
mata si anak muda itu pujinya :
"Ooooh, sungguh indah sepasang matamu!"
Sioe To yang berdiri di samping, ketika dilihatnya secara tibatiba
nona majikannya memegang batok kepala lelaki setengah baya
itu dengan tangan telanjang kemudian bergurau dan bercakap-cakap
dengan bebasnya, dalam hati segera berpikir :
"Sungguh besar nyali siaocia ini, bukan saja tangan dan kakinya
telanjang bahkan bergurau dan bercakap-cakap seenaknya dengan
seorang pria asing... tidak aneh kalau orang bilang manusia-manusia
dari wilayah Biauw adalah manusia-manusia liar..."
203
Saduran TJAN ID
Ketika ia mendengar pujian dari siaocia-nya barusan, tanpa terasa
gadis itu ikut alihkan sinar matanya ke arah sepasang mata Chee
Thian Gak, tapi begitu sorot matanya terbentur dengan sorot mata
lawan, jantungnya kontan berdebar keras, buru-buru ia melengos ke
samping.
Tampak Chee Thian Gak tersenyum, ujarnya :
"Eeei... aku toh sedang bertanya siapakah nama ayahmu,
mengapa kau alihkan pembicaraan ke situ?"
"Looya kami adalah setengah kilat Pek li Sie yang amat tersohor
namanya di daerah sekitar Su cuan," buru-buru Sioe To menjawab.
"Hey," tiba-tiba terdengar Pek-li Cien Cien berseru lagi dengan
nada kesemsem, "Secara mendadak kutemukan bahwa gigimu rapi
dan putih, waktu tertawa nampak sangat indah dan menarik. Hey,
seandainya cambangmu dicukur mungkin wajahmu kelihatan
semakin menarik!"
Chee Thian Gak mengerutkan alisnya.
"Apakah ayahmu juga tidak mengurusi dirimu?" serunya. "Hey,
Pek-li Cien Cien, apakah ia setuju kalau kau mandikan diriku?"
Rupanya pada saat itulah Sioe To baru menyadari maksud lain
dari ucapan Chee Thian Gak barusan, ia segera berteriak :
"Siaocia, kau tertipu, ia sudah mengejek dan menghina dirimu!"
Pek-li Cien Cien termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia
pun menyadari akan maksud lain daripada ucapan itu, merah jengah
selembar wajahnya.
"Ciiss, berani benar kau bermaksud jelek terhadap diriku,"
makinya kalang kabut.
Hawa murninya segera disalurkan ke dalam telapak, dalam gusar
dan malunya ia telah himpun segenap kemampuannya untuk
melancarkan sebuah tabokan.
Chee Thian Gak sendiri baru menyesal setelah ucapan itu
meluncur keluar, ia merasa tidak sepantasnya kalau mengucapkan
204
IMAM TANPA BAYANGAN II
kata-kata serendah itu, tapi ia tak pernah menyangka kalau Pek-li Cien
Cien secara tiba-tiba bisa melancarkan serangan.
Dalam keadaan tidak bersiap sedia, hawa murninya segera buyar,
kepalanya terasa pusing tujuh keliling dan seketika itu juga pemuda
tersebut jatuh tak sadarkan diri.
Andaikata peristiwa ini diketahui oleh Song Kim Toa Lhama atau
Hoa Pek Tuo sekalian jago-jago lihay, mereka pasti tak akan percaya
dengan kemampuan silat yang dimiliki Chee Thian Gak ternyata
berhasil dihajar pingsan oleh seorang gadis cilik, andaikata Oorchad
mengetahui akan hal ini maka ia pasti tak akan mempercayai
pandangan matanya sendiri.
Melihat musuhnya roboh tak sadarkan diri, Pek-li Cien Cien
segera berseru sambil tertawa dingin :
"Hmmm, aku masih mengira dia punya kemampuan yang begitu
hebat sehingga berani mengucapkan kata-kata semacam itu terhadap
diriku. Hmmm! Sekarang akan coba kulihat perkataan apa lagi yang
sanggup dia utarakan keluar!"
"Siaocia, apa yang hendak kau lakukan terhadap dirinya?"
"Boyong di pulang ke rumah, kemudian cari orang suruh
mandikan dirinya, setelah itu menunggu sampai suhu pulang. Akan
kuserahkan keparat ini pada suhu."
"Tapi siaocia... bagaimana caranya kita boyong lelaki ini pulang
ke dalam perkampungan?" Sioe To merengek kesulitan.
"Goblok, gotong saja dia keatas kuda kemudian kita masuk
melalui pintu belakang perkampungan, bukankah beres sudah
persoalannya?"
Bicara sampai di situ sinar matanya dialihkan ke atas wajah Chee
Thian Gak, di antara bibirnya yang terbungkam terlintas rasa
penyesalan yang tebal, apakah ia sedang menyesal karena telah
melakukan perbuatan salah?
.....
205
Saduran TJAN ID
Entah berapa saat lamanya telah lewat, Chee Thian Gak
mendusin kembali, ia merasa dirinya berada di sebuah taman bunga
yang sedang mekar dan menyiarkan bau harum...
Mendadak... ia mendengar ada orang memanggil dirinya, suara
itu seolah-olah datang dari suatu tempat yang sangat jauh tapi terasa
dekat pula di sisi tubuhnya.
Ia lari menuju ke tengah kebun, mencari sumber asal mulanya
suara tadi... akhirnya dia benar-benar mendusin.
"Thian... terima kasih atas kemurahanmu, akhirnya aku sadar
kembali!"
Serentetan suara yang merdu berkumandang dari sisi telinganya,
si anak muda itu terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa dirinya
bukan berada dalam impian.
Mengikuti arah berasalnya suara tadi, ia saksikan Pek-li Cien
Cien sedang berdiri di sisi pembaringan sambil memandang ke
arahnya dengan wajah berseri-seri, dua buah lampu lentera tergantung
di kedua belah samping menyoroti wajahnya yang cantik.
Hanya sekejap saja, ia segera teringat bagaimana mungkin
dirinya bisa berbaring di atas pembaringan yang menyiarkan bau
wangi ini, pemuda itu berseru tertahan kemudian meloncat bangun
dari atas ranjang.
Ketika selimut tersingkap, pemuda itu bertambah kaget lagi
sebab ditemuinya ia berbaring hanya memakai celana dalam dan
pakaian dalam saja, baru ia tarik kembali selimut itu untuk menutupi
tubuhnya.
Menyaksikan tingkah lakunya yang gugup dan lucu, Pek-li Cien
Cien tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa cekikikan.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" tegur Chee Thian Gak
dengan nada mendongkol bercampur gusar.
Sinar matanya berkelebat, ia temukan sebuah cermin besar
tergantung di situ dan dari cermin ia dapat menyaksikan wajahnya
yang telah berubah memerah.
206
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aaaah...!" kembali pemuda itu berteriak kaget, ia temukan
jenggot dan cambangnya entah sejak kapan telah dicukur orang
hingga bersih, rambutnya yang awut-awutan telah disisir pula dengan
rapi.
"Eeeei... dimanakah cambangku?" jeritnya.
"Hiiih... hiiiih... hiiih... cambangmu sudah dicukur sampai licin!"
Chee Thian Gak jadi mendongkol bercampur kecewa... ia tak
mengira kalau janggut dan cambang yang dipeliharanya selama
banyak tahun dengan harapan bisa digunakan untuk menyaru sebagai
Chee Thian Gak dan merusak rencana busuk dari Hoa Pek Tuo untuk
merajai Bu lim telah dicukur habis oleh orang lain sewaktu ia tak
sadarkan diri.
Teringat bahwa raut wajahnya telah pulih kembali seperti sedia
kala, Pek In Hoei menghela napas panjang dan menggeleng tiada
hentinya.
"Heeeei.... sungguh aneh kau ini," seru Pek-li Cien Cien sambil
tertawa. "Rupamu begitu tampan dan menarik, kenapa sih malah suka
berdandan begitu kotor dan dekil? Kalau dilihat dari gerak gerikmu,
rupanya kau sedang menyesal dan kecewa karena jenggotmu kucukur
licin..."
pin tertawa getir, pikirnya :
"Mana kau bisa tahu akan kesulitanku?"
Pek-li Cien Cien tanpa malu dan sungkan-sungkan segera duduk
di sisi tubuhnya, ia menegur sambil tertawa :
"Hey siapa sih namamu?"
Melihat gadis cantik ini bukan saja berlengan dan berkaki
telanjang bahkan tanpa sungkan-sungkan dan malu duduk di sisi
tubuhnya, Pek In Hoei jadi kaget, buru-buru ia menyingkir lebih ke
dalam.
Menyaksikan tingkah laku si anak muda itu Pek-li Cien Cien
tertawa cekikikan, saking gelinya sampai tak tahan lagi ia menubruk
ke atas tubuh pemuda itu.
207
Saduran TJAN ID
"Eeeei... nona... kau... kau..." teriak pin kelabakan.
"Kau ini... sungguh menyenangkan sekali!" seru Pek-li Cien Cien
sambil menowel pipi pemuda itu.
"Menyenangkan?" pin betul-betul dibikin menangis tak bisa
tertawa pun susah, dengan wajah serius serunya, "nona, aku minta kau
sedikit tahu diri,haruslah kau ketahui bahwa hubungan antara pria dan
wanita ada batasnya."
"Apa itu batas-batas antara kaum pria dan wanita?" jengek Pek-li
Cien Cien. "Bagi kita yang biasa hidup di wilayah Biauw, tarik
menarik tangan, rangkul merangkul adalah suatu kejadian yang umum
dan biasa, apakah kau tidak tahu setiap tahun di kala orang menari di
bawah sinar rembulan, acara pasti diakhiri dengan masuknya
pasangan pria dan wanita ke dalam gua atau semak belukar yang
gelap, toh mereka tidak apa-apa dan tidak dianggap kelewat batas?"
Diam-diam Pek In Hoei dibikin terkejut juga oleh keberanian
gadis manis ini, segera tanyanya :
"Siapakah yang kau maksudkan dengan mereka?"
"Suku Pay I, suku Lolo, dan suku Biauw, mereka semua berbuat
demikian!..."
"Hmmm, tidak aneh kalau mereka berbuat begitu tak tahu diri,
rupanya kau maksudkan suku-suku liar yang belum beradab itu.
Hmmm... mana bisa adat istiadat mereka dibandingkan dengan tata
kesopanan dari daratan Tionggoan kita?"
Pek-li Cien Cien mengerutkan dahinya dan mendengus dingin.
"Andaikata seseorang telah menyintai pihak yang lain, kenapa
mereka harus sembunyikan rasa cinta dan kasih mereka satu sama
lain? Apakah saling jatuh cinta adalah suatu perbuatan yang keliru?
Hmmm, adat istiadat, tata cara kesopanan kolot yang ditetapkan oleh
setan-setan tua bangka yang sudah mendekati liang kubur, di luarnya
saja mereka suruh orang pegang adat dan jaga diri, padahal dalam
kenyataannya mereka sendiri toh main kasak kusuk dan melanggar
kesusilaan..."
208
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Nona, seandainya di kolong langit tiada peraturan serta tata cara
kesopanan yang mengikat satu sama lainnya, maka perbuatan tiap
manusia tentu akan jadi liar tak tahu malu dan brutal, akan berubah
jadi apakah jagad kita ini? Bagaimanapun juga toh manusia tak bisa
kau samakan dengan binatang liar! Bukan begitu?" seru Pek In Hoei
dengan wajah serius.
Sorot mata yang tajam mendadak memancar keluar dari balik
kelopak matanya, ia berkata lebih jauh :
"Sedangkan mengenai tuduhan nona yang mengatakan
penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan para pujangga... hal
ini harus diingatkan pula bahwa manusia bukanlah makhluk yang
super sempurna, suatu saat mungkin saja seseorang melakukan
kesalahan, karena itu aku minta agar kau jangan sembarangan
mencerca atau pun menghina para cianpwee dan pujangga besar..."
"Aduuuh mak! Sungguh tak nyana dengan usiamu yang masih
begini muda, ternyata otaknya telah dipenuhi dengan segala macam
peraturan yang kolot dan kuno," seru Pek-li Cien Cien sambil tertawa
merdu.
Ia merandek sebentar kemudian katanya lagi :
"Bukankah Khong Coe pernah berkata bahwa Cinta adalah
perasaan yang dimiliki setiap insan manusia? Apakah rasa cinta antara
seorang pria terhadap seorang wanita adalah suatu perbuatan yang
melanggar susila?..."
Diam-diam Pek In Hoei tarik napas dingin, ia tak menyangka
sama sekali kalau gadis cili yang datang dari wilayah Biauw ini
ternyata mengerti banyak akan urusan, untuk beberapa saat lamanya
ia tak sanggup membentak atau pun mengucapkan sepatah kata pun.
Akhirnya setelah termenung beberapa saat lamanya terpaksa ia
berkata :
"Sudah... sudahlah... anggap saja apa yang kau ucapkan barusan
adalah benar. Tetapi bagaimanapun juga kau toh harus memberi
kesempatan bagiku untuk bangun!"
209
Saduran TJAN ID
Merah padam selembar wajah gadis manis itu.
"Beritahu dulu kepadaku, siapa namamu? Setelah itu aku akan
melepaskan dirimu untuk bangun."
Pek In Hoei tidak langsung menjawab, ia termenung dan berpikir
beberapa saat lamanya, kemudian baru jawabnya :
"Baiklah, akan kuberitahukan siapa namaku, tapi kau harus janji
jangan katakan kepada suhumu lho!"
"Suhu dan ayah sedang keluar rumah, mungkin tiga empat hari
lagi baru akan pulang ke sini..." kata Pek-li Cien Cien, dengan
lidahnya ia membasahi ujung bibirnya yang kering lalu terusnya,
"Hayo cepat toh beritahu namamu, kemudian aku akan lenyapkan
racun ulat emas yang mengeram dalam tubuhmu kalau tidak... awas,
tak akan kupedulikan lagi mati hidupmu!"
"Cayhe Pek In Hoei bukanlah manusia yang takut akan mati!"
kata pemuda itu sambil tertawa hambar. "Sekarang tolong nona keluar
dahulu sebab aku mau berpakaian, masa kau suruh aku berada dalam
keadaan telanjang terus?"
"Pek In Hoei? Ooooh...! Sungguh indah dan menarik namamu
itu!... Hey, Pek In Hoei, coba katakanlah apakah namaku pun enak
didengar dan menarik??"
"Menarik, menarik sekali," jawab si anak muda tak sabaran,
"Nah! Sekarang harap nona keluar dahulu!"
"Huuh... kenapa aku mesti keluar?? Pakaianmu toh aku yang
lepaskan semua... rasanya kau pun tak usah malu-malu lagi terhadap
diriku, sebab seluruh badanmu sudah kulihat semua ketika aku
melepaskan pakaianmu tadi..." ia tatap wajah pemuda itu tajam-tajam
dan menambahkan, "Hey, halus amat kulit badanmu... aduh... bukan
saja putih bersih bagaikan salju bahkan keras berotot... waah dipegang
dan diraba... syuuur nikmat sekali!"
Merah padam selembar wajah Pek In Hoei mendengar perkataan
itu, batinya di dalam hati :
210
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Eeei... eei... eei... perempuan macam apakah orang ini? Kalau
dilihat rupa serta gerak-geriknya semestinya dia sudah mengerti akan
hubungan antara laki dan perempuan, kenapa sih tingkah lakunya
begitu tak tahu malu dan tebal muka?? Huuuh! tidak sepantasnya
kalau aku anggap perbuatannya ini karena sifatnya yang masih polos
dan lincah..."
Sementara ia masih membatin mendadak pintu terbuka dan
muncullah seorang gadis berbaju hijau yang membawa sebuah
nampan di tangannya, tatkala sorot matanya terbentur dengan raut
wajah Pek In Hoei yang ganteng tanpa sadar merah jengah pipinya,
sorot mata cinta dan sayang terpancar keluar dari balik matanya.
"Sioe To!" tegur Pek-li Cien Cien dengan nada tidak senang.
"Bukankah aku melarang kau masuk kemari? Kenapa tanpa mengetuk
pintu kau langsung nyelonong masuk ke dalam kamar?"
"Nona, bukankah tadi kau suruh aku yang buatkan kuah bunga
teratai untuk sauw ya ini menangsal perut? Nih, aku bawakan kuah
bunga teratai..."
"Hmm, letakkan saja di atas meja!" perintah Pek-li Cien Cien
ketus.
Sementara itu Pek In Hoei sedang duduk di balik selimut dengan
wajah tersipu-sipu ketika sinar matanya menyapu sekejap wajah Sioe
To tadi, diam-diam hatinya merasa terkejut, pikirnya :
"Aduuuh celaka! Rupanya dayang cilik ini pun sudah ikut
kesurupan setan..."
Ia sadar bahwa wajahnya terlalu tampan dan terlalu menarik bagi
pandangan kaum gadis, apabila ia tak sanggup merahasiakan perasaan
hatinya dan baik-baik menjaga diri, maka sedikit meleng saja akan
mengakibatkan banyak gadis cantik tergila-gila kepadanya.
Ia telah memperoleh banyak pengalaman dari gadis-gadis yang
pernah dijumpainya pd masa lampau, seperti Kong Yo Siok Peng,
Wie Chin Siang, It-boen Pit Giok... ia berhasil mengetahui perasaan
kagum dan cinta mereka dari sorot mata yang jeli itu...
211
Saduran TJAN ID
Dan kini dari sorot mata Pek li Cian Cian serta Sioe To kembali
ia temukan pancaran sinar cinta yang sama seperti yang lain...
Timbul perasaan gentar dalam hati kecilnya, diam-diam ia
membatin :
"Dendam kesumat sedalam lautan yang masih kutanggung sama
sekali belum berhasil dituntut balas, mana boleh aku terjerumus ke
dalam belaian kasih serta pelukan mesra kaum gadis muda? Malam
ini bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk melarikan diri dari
sini."
Sinar matanya berkilat, setelah merandek beberapa saat ia
bertanya : "Eeeei! Kau simpan di mana itu kapak sakti serta kutang
pelindung badanku?"
Sementara itu Sioe To sedang memandang wajah Pek In Hoei
dengan termangu-mangu, tatkala mendengar pertanyaan tersebut,
buru-buru ia letakkan sebuah kotak ke atas meja sembari ujarnya :
"Kutang pelindung badan serta kapak saktimu itu telah kusimpan
semua dalam almari..."
"Sioe To siapa suruh kau ikut usil disini? Ayoh cepat enyah dari
dalam kamar ini!" hardik Pek li Cian Cian semakin mendongkol.
Dengan perasaan berat dan tidak rela serta bibir yang dicibirkan
terpaksa dayang berbaju hijau itu mengundurkan diri dari kamar,
sesaat sebelum meninggalkan pintu ruangan dengan pandangan
mendalam dan berat kembali ia lirik sekejap wajah si anak muda.
Pek li Cian Cian bukanlah seorang gadis yang bodoh, dari gerakgerik
yang ditunjukkan Sioe To ia telah berhasil menebak isi hatinya,
maka seraya mendengus dingin tegurnya :
"Hey budak sialan, kalau kau berani berebutan lelaki ini dengan
diriku... awas! Selembar jiwamu bisa kucabut tanpa mengenal
kasihan."
Berbicara sampai di situ ia lantas berpaling kembali dan tertawa
merdu. "In Hoei!" serunya. "Kau tak usah bangun, biarkanlah aku
yang menyuapkan kuah teratai itu untukmu..."
212
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Selama hidup belum pernah kujumpai perempuan yang
tak tahu malu seperti dia..." pikir Pek In Hoei dengan alis berkerut,
wajahnya segera berubah membesi, serunya :
"Terima kasih atas maksud baik dari nona, cayhe tidak ingin
mendahar makanan apa pun juga."
"Apakah racun ulat emas itu kembali sudah kambuh?"
pin menggeleng.
"Selama beberapa hari ini cayhe merasa luar biasa lelahnya,
sekarang aku kepengin sekali tidur dengan nyenyaknya... lagi pula
kepala cayhe terasa rada pening, oleh sebab itu aku berharap agar
nona jangan mengganggu diriku lagi."
"Aduuuh... ! Apakah badanmu panas? Coba... coba biar kuraba
keningmu..."
Sembari berkata ia lantas ulurkan tangannya bermaksud meraba
kening si anak muda itu, tetapi Pek In Hoei telah mengingos ke
samping dengan perasaan jemu.
Melihat rabaannya dihindari, Pek li Cian Cian melengak, pikirnya
:
"Jangan-jangan ia benci dan muak kepadaku karena gerakgerikku
yang terlalu bebas?"
Pada dasarnay ia memang seorang gadis yang cerdik, hanya
cukup meninjau dari sikap serta perubahan wajah si anak muda itu
saja ia lantas mengerti dimanakah letak kesalahan dirinya. Setelah
termenung berpikir sejenak batinnya :
"Baiklah mulai besok pagi, aku harus menarik kembali sikap
serta tingkah lakuku yang terlalu bebas ini, aku tak boleh
menggunakan tata cara yang biasa berlaku di wilayah Biauw untuk
menghadapi dirinya, karena bagaimanapun juga dia tetap seorang
bangsa Han dan bukan orang dari suku Biauw..."
Sebaliknya ketika Pek In Hoei melihat gadis itu membungkam
dan tidak berbicara lagi timbul rasa menyesal dalam hati kecilnya. Ia
lantas mendehem dan berkata :
213
Saduran TJAN ID
"Cayhe merasa tidak enak badan dan ingin tidur..."
Pek li Cian Cian tertawa hambar.
"Sekarang sudah malam, memang sudah waktunya bagimu untuk
beristirahat..." ia bangkit berdiri dari atas pembaringan. "Apakah kau
tidak habiskan dulu kuah teratai ini sebelum pergi tidur?"
"Aku rasa tak perlu, terima kasih atas perhatianmu," jawab
pemuda itu sembari menggeleng, setelah merandek sejenak
tambahnya :
"Aku... apakah aku tidur disini?"
"Apa salahnya kau tidur di situ? Kamar ini adalah kamar
pribadiku, siapa pun tak akan berani nyelonong masuk kemari secara
sembarangan."
"Hmm, peduli amat ini adalah kamar pribadimu atau bukan,"
pikir Pek In Hoei dalam hati, "asal kau sudah pergi dari sini aku segera
akan bangun dan berpakaian lalu melarikan diri lewat jendela,
bagaimanapun juga aku toh tak akan terlalu lama tidur disini, apa
salahnya kalau sekarang berpura-pura dulu?"
Karena berpikir demikian maka dengan mulut membungkam dia
lantas tarik selimut dan merebahkan diri.
Dengan mesra dan penuh kasih sayang Pek li Cian Cian
membongkokkan badannya membetulkan ujung selimut yang
tergulung, lalu ujarnya halus :
"Mulai besok pagi aku akan berusaha untuk memusnahkan racun
ulat emas yang mengeram dalam tubuhnya, sekarang tidurlah dengan
nyenyak dan jangan berpikir yang bukan-bukan."
"Huuh! mana ada hari esok bagimu?" jengek Pek In Hoei di
dalam hati. "Sebentar lagi aku bakal kabur dari sini!"
Tetapi sebelum ingatan tersebut selesai berkelebat dalam
benaknya, menggunakan kesempatan di kala membetulkan selimut
yang menggulung itulah Pek li Cian Cian telah menotok jalan darah
tidurnya.
214
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seketika itu juga Pek In Hoei merasakan pandangannya jadi
kabur dan keadaannya makin berkurang, jeritnya di dalam hati :
"Aduuuh celaka, aku sudah terkena tipu muslihat setan cilik ini!"
Tetapi ia tak sempat mengerahkan tenaga dalamnya lagi untuk
membebaskan diri dari pengaruh totokan, tahu-tahu si anak muda itu
sudah tertidur pulas.
Memandang Pek In Hoei yang tertidur dengan nyenyaknya di
atas pembaringan, rasa bangga tertera di atas wajah Pek li Cian Cian,
pikirnya :
"Peduli kau adalah si jago pedang berdarah dingin atau bukan,
aku pasti akan berusaha untuk memeluk dirimu ke dalam
rangkulanku!"
Ia menghembuskan napas panjang dan berjalan ke depan cermin,
di situ perlahan-lahan ia lepaskan baju luarnya, melepaskan gelang
emas yang dikenakan di lengannya dan unjukkan senyuman manis ke
hadapan cermin gumamnya dengan suara lirih :
"Mulai besok, kau telah menjadi Pek hujien!"
Dari atas meja ia mengambil seutas kain tipis untuk mengikat
rambutnya yang panjang dan lebar, kemudian melepaskan gaun dan
pakaian hingga akhirnya tinggal kutang berwarna merah serta celana
dalamnya yang tipis.. Diikuti ia menguap keras, memadamkan lampu
lentera dalam kamar hingga suasana jadi gelap gulita...
Di tengah kegelapan terdengar kelambu diturunkan serta suara
gemericitan di atas pembaringan, setelah itu suasana pulih kembali
dalam kesunyian...
Malam itu adalah suatu malam yang lembut dan hangat...
kelembutan yang membawa kemesraan serta keharuan... membuat
orang susah melupakan kenangan manis itu...
.....
Sambil berpangku tangan Pek In Hoei berdiri termangu-mangu
di pinggir sungai yang membentang di sisi perkampungan Hong Yap
Sancung, hatinya terasa amat risau dan diliputi oleh kesedihan.
215
Saduran TJAN ID
"Mungkin selama hidupku tak akan kujumpai suatu percintaan
yang betul-betul kekal dan abadi... semua kelembutan, kemesraan
serta kehangatan selamanya tak akan bisa berdiam terlalu lama di sisi
tubuhku..." pikir di dalam hati.
Kong Yo Siok Peng, Wie Chin Siang serta ibpt semua pernah
membakar api cinta yang tersembunyi dalam hatinya, tetapi kobaran
api cinta itu hanya kobaran sebentar saja, tidak lama kemudian padam
dan musnah dengan sendirinya, kini ia harus berdiam dalam
perkampung Hong Yap Sancung dan menerima perawatan serta cinta
kasih dari Pek li Cian Cian.
Nasib telah menentukan setiap gerak-geriknya, hidup yang
terombang-ambing bagaikan daun kering terhembus angin memaksa
dia harus muncul dalam dunia persilatan dan menghadapi pelbagai
peristiwa dan kejadian dengan raut wajah yang berbeda.
"Aaaa...! Inilah kesedihan yang terbesar dalam kehidupan
seorang manusia," gumamnya dengan kepala tertunduk rendahrendah.
"Pekerjaan yang paling disukai tak bisa dilakukan, orang yang
dicintai tak bisa didapatkan..."
Suara gemerincingan merdu berkumandang datang dari arah
belakang, tanpa berpaling lagi ia telah mengetahui siapa yang telah
datang, tetapi ia pura-pura berlagak pilon, sorot matanya segera
dialihkan ke atas mega putih yang melayang-layang di tengah udara.
"Hey!" suara teguran merdu berkumandang datang dari arah
belakang diikuti bau harum semerbak berhembus lewat menusuk
penciuman, sebuah tangan yang lembut dan halus menepuk bahunya.
Pek In Hoei mengerutkan alisnya dan perlahan-lahan menoleh ke
belakang.
"Hey, apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau berdiri
termangu-mangu di sini?" tegur Pek li Cian Cian dengan senyuman
manis menghiasi bibirnya.
"Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa!" sahut si anak muda itu
sambil menggeleng.
216
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sudahlah kau tak usah membohongi diriku, aku tahu apa yang
sedang kau pikirkan!"
"Kau tahu apa yang sedang kupikirkan?" Pek In Hoei tertawa
hambar.
"Bukankah kau sedang membenci diriku?"
"Membenci dirimu?" si anak muda itu gelengkan kepalanya
berulang kali. "Tidak... tak nanti aku membenci kepada orang lain,
aku hanya membenci kepada diriku sendiri!"
"Kenapa?... Hmmm! sekarang aku tahu sudah, kau tentu sedang
memaki diriku, kau maki aku tidak sepantasnya mendapatkan dirimu
dengan menggunakan tipu muslihat, bukankah begitu?"
Pek In Hoei tidak menjawab, memandang awan putih yang
bergerak di tengah udara, otaknya berputar ke sana kemari dengan
kacaunya, ia merasa semua jalan yang ditempuh adalah buntu dan ia
gagal untuk melepaskan simpul mati yang membelenggu pikirannya.
Dalam waktu yang amat singkat sudah amat banyak... banyak
sekali yang dipikirkan, semua persoalan yang belum pernah ia
pikirkan pada masa yang silam atau persoalan yang pernah dipikirkan
tetapi belum berhasil diselesaikan, saat ini berkumpul dan
berkecamuk semua jadi satu dalam benaknya.
Dengan perasaan penuh penderitaan ia berpikir :
"Aku tidak sepantasnya belajar ilmu silat... sejak aku mengerti
persoalan dan tahu urusan aku sudah tidak berminat untuk belajar
silat, sungguh tak kusangka saat ini aku bisa menjadi anggota dunia
persilatan, aku harus menanggung banyak resiko dan kerepotan..."
Dengan tajam ia menyapu sekejap wajah Pek li Cian Cian,
kemudian pikirnya lebih jauh :
"Kalau tidak tak nanti aku bisa berjumpa dengan dirinya, dan
terjebak ke dalam tipu muslihatnya..."
Ia gelengkan kepalanya berulang kali dan berpikir kembali.
217
Saduran TJAN ID
"Sungguh tak kusangka kecerdikanku selama ini ternyata
percuma saja, akhirnya aku masih juga terjerumus ke dalam
jebakannya!"
Ketika dilihatnya si anak muda itu tidak berbicara, Pek li Cian
Cian segera berkata :
"meskipun aku tahu bahwa perbuatan aku itu salah besar, tetapi
hati kecilku mengatakan bahwa aku benar-benar telah jatuh cinta
kepadamu, aku tidak ingin kehilangan dirimu lagi!"
"Tetapi... benarkah perbuatanmu itu? Apakah cinta kasih bisa
didapatkan dengan akal dan tipu muslihat?" seru Pek In Hoei tertawa
getir.
Dengan mata terbelalak Pek li Cian Cian memandang wajah si
anak muda itu tak berkedip, sepatah kata pun tak sanggup diucapkan.
"Tahukah kau? Meskipun kau telah berhasil mendapatkan
badanku tetapi kau tak akan memperoleh hatiku," ujar Pek In Hoei
lagi dengan gemas bercampur mendongkol. "Andaikata aku tidak
cinta kepadamu, bagaimanapun juga kau tak akan berhasil memaksa
aku jatuh cinta kepadamu!"
Titik air mata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Pek li
Cian Cian, dengan wajah termangu-mangu ia menatap wajah Pek In
Hoei, bibirnya bergetar keras dan air mata bercucuran semakin
deras...
Melihat gadis itu menangis, Pek In Hoei menghela napas
panjang.
"Aaaai...! sudah, sudahlah, anggap saja aku yang tidak benar,
tidak sepantasnya kuucapkan kata-kata semacam ini kepadamu!"
"Kau... kalau aku... aku tidak berbuat demikian... aku... aku tak
akan berhasil mendapatkan dirimu," seru Pek li Cian Cian dengan
suara sesenggukan. "Pek In Hoei, kau tak tahu betapa cintanya aku
terhadap dirimu, aku rela mengorbankan apa pun juga yang kumiliki
demi dirimu... aku rela mengorbankan jiwa ragaku..."
218
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau begitu mulai sekarang janganlah kau berdandan semacam
ini!" tukas si anak muda itu dengan alis berkerut.
"Baik! Aku pasti akan menuruti perkataanmu, aku pasti akan
melakukan perbuatan yang menyenangkan hatimu!"
"Aaaai...! Aku harus melakukan perjalanan lagi di dalam dunia
persilatan, aku masih mempunyai banyak persoalan dan pekerjaan
yang belum selesai kulakukan, apakah kau rela mengikuti diriku
untuk berkelana dan menjelajahi seluruh penjuru dunia?? Bukankah
kau masih punya suhu dan ayah?? Apakah kau tega meninggalkan
mereka semua?"
"Aku tidak akan mempedulikan mereka lagi, aku tak akan
memikirkan mereka lagi, aku bersumpah akan turut serta dirimu
walau kau hendak pergi kemana pun juga."
"Tapi... apa gunanya kita berbuat demikian?" seru Pek In Hoei
sambil geleng kepala dan tertawa getir.
"Bukankah ilmu silat yang kau miliki sangat lihay? Apakah
dengan kemampuan yang kau miliki kau masih jeri terhadap mereka?"
pin terkesiap, dengan rasa kaget ia angkat kepala dan menatap
tajam wajah gadis itu, mimpi pun ia tak pernah menyangka kalau Pek
li Cian Cian bisa memiliki keteguhan imam serta kebulatan tekad
yang begitu kukuh.
Pikirnya dalam hati :
"Belum pernah kujumpai di kolong langit ini terdapat manusia
yang berani menghianati guru dan ayahnya semacam perempuan ini...
ia betul-betul seorang wanita yang berbahaya!"
Sementara itu Pek li Cian Cian telah berkata lagi dengan nada
sedih : "Aku mengerti kau tak akan mencintai diriku!"
Pek In Hoei merasa tidak enak untuk menanggapi perkataan itu
maka ia cuma tertawa getir dan membungkam dalam seribu bahasa,
dalam hatinya mulai timbul rasa jemu yang tak terkirakan.
Air mata bercucuran dengan derasnya membasahi wajah gadis
itu, terdengar ia bergumam kembali :
219
Saduran TJAN ID
"Andaikata kau mencintai diriku, maka kau pasti dapat berkorban
demi diriku!"
"Sayang harapanmu itu hanya kosong belaka," sambung Pek In
Hoei ketus. "Selama hidup belum pernah aku mencintai seorang
gadispun!"
"Aku tidak pernah," jerit Pek li Cian Cian dengan badan bergetar
keras, ia tatap wajah pemuda itu tak berkedip.
Pek In Hoei tertawa dingin.
"Bukan saja dahulu tak pernah, mulai detik ini aku pun tak akan
mencintai gadis atau perempuan macam apa pun juga, termasuk
dirimu, kau boleh legakan hati."
Sekujur tujuh Pek li Cian Cian gemetar keras, tanpa sadar ia
mundur satu langkah ke belakang dengan nada gemetar serunya :
"Kau... kau... hatimu betul-betul kejam, aku bersikap begitu baik
terhadap dirimu, tapi sebaliknya kau... kau..."
"Apa salahnya? Toh kau sudah tahu bahwa aku adalah si jago
pedang berdarah dingin, aku adalah manusia yang tak kenal apa
artinya cinta!"
Pek li Cian Cian tak pernah menyangka hubungan mereka yang
baru saja berlangsung hangat tiba-tiba telah berubah jadi dingin dan
renggang, bahkan Pek In Hoei menunjukkan sikap begitu ketus dan
hambar, Ia gigit bibirnya keras-keras dan berseru :
"Apakah kau sudah melupakan sama sekali perbuatanmu kemarin
malam..."
"Kemarin malam!" Pek In Hoei teringat kembali, ketika pagi tadi
ia bangun dari tidurnya telah ditemukan dirinya berbaring dalam
keadaan telanjang bulat...
Meskipun Pek li Cian Cian begitu cantik tetapi ia sama sekali
tidak tertarik atau pun terangsang olehnya.
Ia masih ingat ketika ia menemukan dirinya berbaring dalam
keadaan telanjang bulat di sisi sang gadis yang berada dalam keadaan
polos pula, tiada napsu yang merangsang dirinya, tetapi sewaktu
220
IMAM TANPA BAYANGAN II
selimut yang menutupi badan mereka mereka disingkap, terasa segera
ditemukannya titik noda darah di atas pembaringan..."
Ia menghela napas panjang, gumamnya :
"Siapa tahu apa yang telah kulakukan kemarin malam?"
"Hmmm, kau betul-betul manusia berhati keji," teriak Pek li Cian
Cian penuh kebencian.
Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak muncul
seorang lelaki berusia setengah baya lari menghampiri mereka.
"Hey, apa yang telah terjadi?" tegur gadis itu segera sambil
menyeka air mata.
Dengan wajah hijau membesi lelaki itu jatuhkan diri berlutut di
atas tanah dan menjawab :
"Di luar perkampungan telah kedatangan seorang sastrawan yang
mengaku berasal dari luar lautan, ia paksa hamba untuk melaporkan
kedatangannya kepada cung-cu..."
"Kenap tidak kau katakan kepadanya bahwa Cung cu tidak
berada di dalam perkampungan?" maki Pek li Cian Cian gusar.
"Dia... dia bilang apa pun yang terjadi, Cung-cu kami harus
ditemui juga..." setelah menelan air ludah tambahnya, "Ia menyebut
dirinya Poh Giok cu."
"Poh Giok cu?" seru Pek In Hoei terperanjat. "Apakah tiga dewa
dari luar lautan telah datang semua?"
"Benar, disamping itu terdapat pula seorang nikouw tua serta
seorang dara berbaju merah yang menanti di samping."
Pek In Hoei semakin terperanjat dibuatnya, ia segera bertanya :
"Apakah kau melihat sesuatu benda yang dicekal nikouw tua
itu?"
"Hamba melihat di tangannya membawa sebuah seruling yang
terbuat dari besi baja."
"Ooooh Thiat-Tie Loo-nie telah datang," gumam pemuda she Pek
itu. "Kalau begitu dia pun tentu ikut datang."
221
Saduran TJAN ID
"Apa? Tiga dewa dari luar lautan telah datang?" sementara itu
terdengar Pek li Cian Cian berseru kaget.
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, pikirnya :
"Andaikata sekarang It-boen Pit Giok menemukan aku berada
disini, entah apa yang ia pikirkan, aku rasa lebih baik untuk sementara
waktu bersembunyi saja di dalam kalau tidak..."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya,
mendadak dari tengah udara melayang datang sesosok bayangan
manusia.
Dari jarak kurang lebih lima tombak di hadapannya dengan sebat
dan cepat meluncur datang seorang pelajar berusia pertengahan dan
melayang turun tepat di hadapannya.
Dalam pada itu sambil bergendong tangan Pek In Hoei masih
berdiri di sisi sungai yang membujur dalam perkampungan Hong Yap
San-ceng ketika memandang kehadiran pelajar berusia pertengahan
itu hatinya bergetar keras, pikirnya :
"Siapakah pelajar berusia pertengahan ini?? Begitu gagah dan
agung wajahnya..."
222
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 10
HAMPIR-HAMPIR saja ia tidak percaya kalau pelajar berusia
pertengahan yang berdiri di hadapannya sekarang adalah salah satu di
antara tiga dewa dari luar lautan yang namanya telah menggetarkan
seluruh sungai telaga, menurut kabar yang tersiar dalam Bu lim orang
mengatakan bahwa Poh Giok cu telah berusia lanjut, tapi dalam
kenyataan keadaannya tidak lebih bagaikan seorang pelajar berusia
pertengahan, sudah tentu Pek In Hoei merasa amat terperanjat.
Sebaliknya Poh Giok cu sendiri pun merasa tertegun ketika
menyaksikan kegagahan serta keagungan Pek In Hoei, dengan sorot
mata berkilat ia awasi wajah pemuda itu sekejap kemudian tegurnya :
"Hey bocah cilik, apakah kau adalah anggota perkampungan
Hong Yap San cung..."
Pek In Hoei melengak, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu
Pek li Cian Cian telah membentak nyaring :
"Huuh! berapa besar sih usiamu, berani betul menyebut orang
lain sebagai bocah cilik!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Poh Giok cu mendongak dan
tertawa terbahak-bahak. "Nona cilik, kalau usia loohu dibandingkan
dengan umur ayahmu, jauh lebih tua, rasanya menyebut kalian
sebagai bocah cilik pun tidak terlalu merendahkan derajat kalian
bukan..."
Pek li Cian Cian semakin gusar dibuatnya, sejak kecil ia
dibesarkan dalam wilayah Biauw yang kehidupan serta adat
istiadatnya jauh berbeda dengan daratan Tionggoan, pergaulannya
223
Saduran TJAN ID
dengan suku liar mengakibatkan sifatnya pun banyak terpengaruh
oleh mereka.
Dengan wajah berubah hebat segera bentaknya :
"Kau berani bicara lagi!"
Badannya bergerak maju empat langkah ke depan, sang telapak
berkelebat membelah angkasa dan langsung membabat tubuh Poh
Giok cu.
"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah cili yang tak tahu sopan
santun," seru Poh Giok cu sambil tertawa tergelak, cepat ia kebaskan
ujung bajunya ke depan. "Ayoh cepat panggil keluar orang tuamu..."
Baru saja angin pukulan dari gadis itu meluncur keluar,
mendadak terasalah segulung tenaga yang tak berwujud menghapus
seluruh kekuatan tenaga serangannya hingga lenyap tak berbekas, hal
ini membuat hatinya sangat terperanjat. Sebelum ia sempat menarik
kembali telapaknya tahu-tahu segulung tenaga pukulan yang tak
berwujud kembali menggulung tiba melontarkan badannya meluncur
ke belakang.
Cepat-cepat Pek In Hoei maju memayang tubuhnya sehingga
tidak sampai jatuh terjengkang ke atas tanah, serunya :
"Kau tidak terluka bukan..."
Pek li Cian Cian merasa hatinya jadi manis bercampur hangat,
seketika itu juga ia melupakan peristiwa terjengkangnya dia oleh
dorongan tenaga tak berwujud dari Poh Giok cu, bibirnya bergetar dan
sahutnya dengan manja :
"Aku sudah dipermainkan orang... ayoh cepat gebah pergi tua
bangka yang suka mencari kemenangan di antara kaum muda itu...
Huuh! aku jemu sekali melihat tampangnya..."
Walaupun ia sudah memiliki watak kejam, telengas dan tak kenal
budi dari si Dukun Sakti Berwajah Seram, tetapi bagaimanapun sifat
kekanak-kanakannya masih belum hilang, kini setelah menjumpai si
anak muda itu turun tangan membantu dirinya, seketika itu juga sikap
Pek In Hoei yang ketus dan tak berbudi sudah dilupakan sama sekali.
224
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aku bukan menolong dirimu," terdengar Pek In Hoei berkata
sambil tertawa getir. "Aku hanya tidak ingin kau bertindak liar seperti
itu..."
Setelah merandek sejenak, ujarnya lagi dengan nada ketus :
"Kau tak akan berhasil mendapatkan diriku, karena aku tak akan
mencintai kaum wanita macam apa pun..."
Pada saat itu Pek li Cian Cian sedang dimabokkan oleh
kehangatan pelukan si anak muda, terhadap apa yang dikatakan sama
sekali tidak didengar olehnya, bahkan masih sengaja menggoyanggoyangkan
pinggulnya memperlihatkan kepandaiannya untuk
menghadapi kaum pria yang paling jitu, sayang Pek In Hoei adalah
lelaki nomor satu di kolong langit yang tidak doyang menelan rayuanrayuan
semacam itu, terhadap tingkah laku gadis tersebut ia cuma
tertawa getir belaka.
Poh Giok cu yang berdiri di sisi kalangan dapat menangkap setiap
perkataan pemuda itu dengan jelas, dengan pandangan tercengang ia
awasi si anak muda itu, orang tua ini merasa rada tidak percaya kalau
seorang pemuda yang masih muda belia ternyata memandang benci
terhadap kaum wanita di kolong langit, hingga terhadap gadis cantik
macam Pek li Cian Cian pun tidak tertarik.
Ia gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam :
"Bocah cilik boleh dibilang betul-betul berhati keji sampai dalam
perkampungan pun ia tak sungkan-sungkan dan mengerti akan belas
kasihan..."
Sorot mata Pek In Hoei berkilat.
"Kenapa? Apakah ucapanku telah salah kuutarakan keluar?"
tegurnya.
Poh Giok cu terkejut, tiba-tiba ia temukan munculnya bekas
telapak merah di antara sepasang alis pemuda itu, kian lama bekas
merah itu kian bertambah jadi jelas, dengan kaget orang itu berseru
tertahan.
225
Saduran TJAN ID
"Sungguhkah di kolong langit terdapat manusia semacam ini..."
gumamnya.
Manusia aneh dari luar lautan ini boleh dibilang merupakan
seorang jago sakti yang bisa meramalkan kejadian yang akan datang
maupun yang bakal terjadi, ia sadar bahwa bekas merah darah di
antara sepasang alis Pek In Hoei menandakan bahwa dia adalah lelaki
nomor satu di kolong langit yang tidak kenal apa artinya 'cinta'.
Kebanyakan orang semacam ini mempunyai bakat yang bagus serta
kecerdikan yang luar biasa, tetapi terhadap persoalan yang
menyangkut dendam atau pun sakit hati biasanya teristimewa
hapalnya, barangsiapa yang pernah melakukan kesalahan terhadap
dirinya maka sebagian besar akan menemui ajalnya di ujung senjata
orang itu juga.
Dengan pandangan tertegun orang tua itu berdiri menjublak,
sementara otaknya berpikir lebih jauh :
"Seandainya bocah ini bertemu dengan guru kenamaan maka ia
akan menjadi pendekar paling kosen di kolong langit, sebaliknya
andaikata ia salah jalan maka dunia akan diobrak-abrik hingga tiada
kehidupan yang tenang setiap harinya, banjir darah bakal melanda di
mana-mana, pembunuhan kesadisan serta kebrutalan akan merajalela
di seluruh kolong langit..."
Berpikir demikian, senyuman yang semula menghiasi bibirnya
seketika lenyap tak berbekas, tegurnya :
"Hey bocah cilik, siapa namamu?"
"Hmmm, apakah kau tidak merasa terlalu cerewet untuk
mengajukan pertanyaan semacam itu??" jengek pemuda kita ketus.
"Pek In Hoei..." mendadak dari tempat kejauhan berkumandang
datang suara teriakan nyaring, tampak bayangan merah berkelebat
lewat, It-boen Pit Giok laksana bianglala yang membelah bumi tahutahu
sudah melayang turun di sisi tubuh Poh Giok cu.
Tetapi ketika dilihatnya Pek li Cian Cian sedang menyandarkan
diri di dalam pelukan Pek In Hoei, air muka It-boen Pit Giok seketika
226
IMAM TANPA BAYANGAN II
berubah hebat, seolah-olah terkena gempuran keras untuk beberapa
saat lamanya ia berdiri menjublak dan tak sanggup mengucapkan
sepatah kata pun.
Perlahan-lahan Pek In Hoei mendongak, memandang sekejap ke
arahnya dengan pandangan dingin dan berseru ketus :
"Ooooh, ternyata kau..."
"Kau... kau... aku benci dirimu sampai mati!" jerit It-boen Pit
Giok dengan suara gemetar, ia tarik ujung baju Poh Giok cu dan
serunya lebih jauh, "Supek, ayoh kita pergi saja..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... yang ajak datang kemari juga kau,
sekarang ajak pergi juga kau, waaah... sampai aku pun dibikin
bingung dan tak habis mengerti oleh sikapmu ini!" omel Poh Giok cu
sambil tertawa terbahak-bahak.
Diserobot dengan kata-kata yang tajam seperti itu merah jengah
seluruh wajah It-boen Pit Giok yang dingin, sekalipun ia sangat
membenci diri Pek In Hoei, tapi sebagai seorang gadis tak urung
merasa malu juga setelah rahasia hatinya dibongkar di hadapan orang.
Tanpa sadar ia tundukkan kepalanya rendah-rendah dan
mengomel sambil mempermainkan ujung baju :
"Supek... kembali kau mentertawakan diriku..."
Menyaksikan gerak-gerik It-boen Pit Giok yang diliputi
kesedihan dan kemurungan, suatu bayangan hitam berkelebat dalam
benak Poh Giok cu, wajahnya kontan berubah jadi dingin dan
perlahan-lahan ia alihkan sinar matanya ke atas tubuh Pek In Hoei.
Dalam pada itu si anak muda tadi sedang mendorong tubuh Pek
li Cian Cian dari pelukannya, ia tarik napas dalam-dalam dan suatu
perasaan bimbang melintas di atas wajahnya, seakan-akan ia sedang
melamunkan kembali kejadian-kejadian yang telah lampau.
Rupanya Pek li Cian Cian tidak mengerti akan maksud pemuda
itu mengesampingkan tubuhnya, ia lantas menegur :
"Pek In Hoei, mengapa kau tidak peluk tubuhku lagi?"
227
Saduran TJAN ID
"Ciss, tak tahu malu," maki It-boen Pit Giok sambil meludah ke
atas tanah.
Setelah makian itu terlontar keluar, gadis itu baru sadar bahwa ia
sudah buka suara padahal dalam hatinya ia sama sekali tidak mengerti
apa sebabnya perasaan hatinya segera berubah jadi sangat tak enak
setiap kali ia saksikan Pek In Hoei berada bersama-sama perempuan
lain, dalam hatinya ia sangat membenci si anak muda itu, tetapi rasa
benci itu ternyata bisa bercampur baur dalam rasa cintanya.
"Eeeei... eeei... kau sedang maki siapa?" bentak Pek li Cian Cian
dengan mata melotot.
"Hmm di tempat ini kecuali kau seorang siapa lagi yang berbuat
tak tahu malu..."
Pek li Cian Cian yang dibesarkan di wilayah Biauw sama sekali
tidak memahami akan peraturan yang membatasi atas pergaulan kaum
pria dan wanita, ia hanya tahu asalkan seorang pria telah jatuh cinta
kepada wanita dan sebaliknya pun demikian maka tiada pantanganpantangan
lagi yang membelenggu hubungan mereka apakah mereka
mau hubungan senggama atau pun tidak orang lain tiada berhak untuk
mencampurinya.
Dengan wajah yang berubah hebat karena menahan gusar, gadis
itu berteriak kembali :
"Apa salahnya kalau aku bermesraan dengan dirinya? Kau tahu?
Setiap bulan tanggal lima belas di wilayah Biauw pasti diadakan pesta
bulan purnama, dalam pesta tersebut kalau seseorang telah tertarik
pada lawan jenisnya maka mereka boleh langsung melakukan
perbuatan tersebut di dalam gua atau pun di balik semak belukar
setelah itu berarti pula secara resmi telah disahkan sebagai suami
istri..."
Ia merandek sejenak, kemudian dengan gusar bentaknya :
"Dan kini kenapa kau maki aku? Hmm! kau berani memaki aku
berarti menghina diriku. Nah rasakanlah sebuah bogem mentahku...!"
228
IMAM TANPA BAYANGAN II
Diiringi bentakan keras tubuhnya menubruk ke depan, telapak
tangannya yang putih halus bergetar membentuk tiga lingkaran busur
di tengah udara kemudian membabat ke bawah menghajar tubuh Itboen
Pit Giok.
Melihat datangnya ancaman gadis cantik yang berasal dari luar
lautan ini buru-buru menghindar ke samping, makinya :
"Perempuan yang tak tahu malu, rupanya kau memang harus
diberi sedikit pelajaran..."
Pada saat itu ia memang berada dalam keadaan gusar, maka
sewaktu dilihatnya Pek li Cian Cian menerjang datang sambil
lancarkan babatan, ia segera tertawa dingin, badannya maju tiga
langkah ke depan dan menyambut datangnya serangan tersebut
dengan keras lawan keras.
Blaaam... suara ledakan dahsyat bergeletar membelah permukaan
bumi, sekujur tubuh Pek li Cian Cian bergetar keras, badannya rontok
dari tengah udara dengan wajah pucat pias bagaikan mayat, dengan
pandangan mendelong ditatapnya wajah gadis she Ie boen itu tanpa
berkedip, rupanya ia tidak percaya seorang gadis yang sebaya usianya
dengan dia ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu tinggi.
Mendadak tubuhnya meloncat mundur ke belakang, teriaknya
setengah menjerit :
"Aku mau kau mati konyol disini hingga tak seorang pun berani
menolong dirimu..."
Seraya berkata perlahan-lahan dia angkat telapak kirinya ke
tengah udara kemudian sentilkan ujung jarinya ke muka. Mengikuti
sentilan jari tangannya tadi segulung asap kabut berwarna merah
segera menyebar ke seluruh udara.
Mendadak air muka Poh Giok cu berubah hebat, sembari maju ke
depan bentaknya :
"Kalau kau berani melepaskan ilmu jari Ang Hoa Cie dari
wilayah Biauw maka akan kutebas kutung jari tanganmu itu, kau
229
Saduran TJAN ID
harus tahu bahwa ilmu jari Ang Hoa Cie dari dukun sakti berwajah
seram masih belum terhitung ilmu maha sakti di kolong langit..."
Ancaman itu ternyata manjur sekali, Pek li Cian Cian benar-benar
tidak berani mengeluarkan ilmu simpanannya.
"Kau kenal dengan suhuku?" serunya dengan wajah termangumangu.
"Hmm, Dukun Sakti Berwajah Seram terhitung manusia macam
apa?? Ia belum pantas untuk menjadi sahabatku..."
Pek li Cian Cian tidak tahu sampai di mana kelihayan dari tiga
dewa tersebut, mendengar pelajar berusia pertengahan itu berani
menghina dan memandang rendah suhunya, timbul rasa gusar dalam
hatinya, sambil membentak marah teriaknya :
"Kau berani memaki suhuku..."
Bayangan jari berkelebat lewat, di tengah udara segera berkelebat
selapis kabut merah yang memanjang bagaikan bianglala diiringi
desiran tajam bianglala merah tadi langsung menerjang tubuh Poh
Giok cu.
Dengan tindakan cepat si orang tua dari luar lautan ini menarik
tubuh It-boen Pit Giok mundur ke belakang, seluruh jubah bajunya
mendadak menggembung jadi besar, sambil maju selangkah ke depan
ia ayunkan telapak tangannya yang segera memancarkan cahaya putih
ke empat penjuru.
"Bocah yang tak tahu diri," jengeknya sambil tertawa dingin,
"kau benar-benar terlalu jumawa..."
Ketika kabut merah yang menggulung tiba itu berjumpa dengan
cahaya putih yang meluncur ke udara seketika buyarlah kabut tadi
berubah jadi kerlipan-kerlipan cahaya yang menyebar ke empat
penjuru kemudian lenyap di tengah udara, bukan begitu saja bahkan
desiran angin tajam pun lenyap tak berbekas.
"Kepandaian apakah itu?" jerit Pek li Cian Cian dengan hati
terperanjat. "Sungguh tak bisa mempercayai, sampai ilmu jari Ang
230
IMAM TANPA BAYANGAN II
Hoa Cie yang lihay dan sukar dicarikan tandingannya pun bisa
dihancurkan dengan begitu gampang."
Sebelum gadis sempat menarik kembali serangannya Poh Giok
cu sudah merangsek ke depan, tangannya berkelebat dan tahu-tahu
jari tangan Pek li Cian Cian sudah terjepit di tengah udara.
Seketika itu juga murid Dukun Sakti Berwajah Seram ini tertarik
maju ke depan oleh sentakan tenaga lawan.
Dengan wajah adem bagaikan salju Poh Giok cu mendengus
dingin hardiknya :
"Kau perempuan yang tak tahu diri dan berhati keji,
bagaimanapun jari tanganmu ini akan kukutungkan untuk diserahkan
kepada gurumu si Dewi Khiem Bertangan Sembilan..."
Ia mengerti sampai dimanakah kelihayan dari ilmu jari Ang Hoa
Cie atau ilmu jari bunga merah yang berasal dari wilayah Biauw ini,
kepandaian tersebut adalah hasil latihan dari hisapan inti sari pelbagai
kabut racun yang ada di wilayah Biauw, setelah ke-sepuluh jarinya
direndam di dalam racun kemudian mengisap sari-sari racun itu ke
dalam jari tangannya, maka setiap kali kepandaian tersebut digunakan
maka korbannya pasti akan mati konyol dengan seluruh tubuh hancur
lebur karena membusuk, di samping itu dari mayat sang korban akan
menyiarkan bau aneh yang dapat membinasakan setiap orang yang
mencium bau itu.
Bukan saja manusia segera mati konyol, sekalipun binatang kecil
pun sama-sama nasibnya, boleh dibilang kepandaian ini merupakan
kepandaian yang terkeji di kolong langit.
Dalam pada itu Poh Giok cu telah mengambil sebilah pedang
kecil berwarna merah keperak-perakan, setelah berkilat di angkasa
perlahan-lahan menebas jari tangan Pek li Cian Cian yang terjepit itu.
Waktu itu gadis she Pek-li murid dari Dukun Sakti Berwajah
Seram ini sudah ketakutan setengah mati di bawah kekuasaan orang,
beberapa kali ia berusaha meronta dan coba melepaskan diri dari
jepitan tangan lawannya, namun usahanya selalu gagal saking gelisah
231
Saduran TJAN ID
bercampur lemasnya keringat dingin mengucur keluar membasahi
seluruh tubuhnya, kekuatan untuk melawan pun lenyap tak berbekas.
"Pek In Hoei..." jerit Pek li Cian Cian dengan suara keras.
"Apakah kau rela melihat jari tanganku dipotong orang..."
Dari balik biji matanya yang sayu Pek In Hoei berhasil
menangkap sinar keputusasaan yang dipancarkan gadis itu, hatinya
bergetar keras, pelbagai ingatan segera berkelebat dalam benaknya, ia
berpikir :
"Meskipun aku tidak menaruh rasa senang atau cinta terhadap diri
Pek li Cian Cian, rasanya tidak semestinya kalau aku berpeluk tangan
belaka menyaksikan ia harus menderita karena jari tangannya ditebas
orang, andaikata gadis cantik dan menarik semacam Pek li Cian Cian
betul-betul harus kehilangan sebuah jarinya, aku rasa penderitaan
yang dideritanya akan jauh lebih hebat daripada jiwanya dicabut.
Biarlah! Memandang di atas budi pertolongannya yang sudah
mencabut bibit racun ulat emas dari dalam tubuhku, aku harus cegah
perbuatan Poh Giok cu untuk mencelakai dirinya..."
Berpikir sampai disini ia lantas meloncat ke depan, bentaknya
keras-keras "
"Ko loocianpwee, aku minta kau segera melepaskan dirinya..."
"Aku rasa lebih baik kau tarik kembali ucapanmu itu," tukas Poh
Giok cu Ko Ek dengan suara ketus. "Tak nanti aku jual muka untuk
dirimu..."
"Hmmm! Kalau memang begitu maaf kalau boanpwee terpaksa
harus berbuat kurang ajar!"
Ia tahu Poh Giok cu salah seorang di antara tiga dewa drai luar
lautan tak akan memberi kesempatan kepadanya, maka sembari
meloncat ke depan secara tiba-tiba telapak kirinya melancarkan
sebuah serangan dahsyat menghantam tubuh lawan, sementara
telapak kanannya laksana kilat mencengkeram urat nadi orang tua itu.
Poh Giok cu menjengek sinis mendadak ia mengirim satu
tendangan kilat untuk memunahkan datangnya ancaman itu.
232
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aaaah..." begitu dahsyat serangan ini membuat Pek In Hoei
tiada kesempatan untuk menghindarkan diri.
Si anak muda itu membentak keras, badannya berjumpalitan
beberapa kali di tengah udara kemudian meloncat ke bawah dan sekali
lagi meluncur ke depan.
It-boen Pit Giok yang menyaksikan si anak muda itu terpental ke
udara karena serangan si orang tua itu wajahnya seketika berubah
hebat, buru-buru tegurnya :
"Supek, kau..."
"Kau tak usah kuatir," jawab Poh Giok cu sambil tertawa ewa.
"Tak nanti kulukai dirinya..."
Sementara kedua orang itu masih bercakap-cakap, Pek In Hoei
bagaikan sesosok bayangan telah menubruk kembali, sebelum Poh
Giok cu sempat mengeluarkan jurus serangan untuk menghadapi mara
bahaya, sebuah serangan telapak si anak muda itu sudah bersarang di
atas bahunya.
Sekalipun ilmu silat yang dimiliki Poh Giok cu sangat lihay
namun ia tak berani menyambut datangnya serangan dahsyat itu
dengan keras lawan keras, tetapi serangan itu datangnya terlalu cepat,
tidak sempat lagi bagi Poh Giok cu untuk menangkis dengan memakai
jurus gerakan, dalam keadaan kepepet terpaksa ia harus melepaskan
Pek li Cian Cian dan memutar telapaknya menerima datangnya
serangan itu.
Blaaam...! di tengah suara ledakan dahsyat yang menggetarkan
seluruh jagad, tubuh Poh Giok cu bergetar keras tiada hentinya
sedangkan Pek In Hoei terpukul mundur tiga langkah ke belakang
baru berhasil berdiri tegak.
Setiap langkah mundurnya telah meninggalkan bekas telapak
kaki sedalam beberapa coen, hal ini membuktikan sampai dimanakah
taraf tenaga dalam yang dimiliki kedua belah pihak.
233
Saduran TJAN ID
Poh Giok cu berdiri melengak, rupanya ia tak pernah menyangka
kalau Pek In Hoei si pemuda yang lemah lembut itu ternyata sanggup
menerima kedahsyatan pukulannya tanpa roboh.
"Hmmm! rupanya kau lihay juga!" seru si orang tua itu dengan
suara dalam. "Dalam kolong langit dewasa ini hanya tiga orang saja
yang sanggup menerima pukulanku, sungguh tak nyana kau si bocah
cilik pun mempunyai kepandaian sampai ke taraf yang demikian
lihay, tidak aneh kalau Pit Giok menggambarkan sedemikian
lihaynya!"
Ketika itu It-boen Pit Giok sedang mengawasi jalannya
pertarungan antara kedua orang itu dengan mata terbelalak, tetapi
setelah mendengar ucapan terakhir dari supeknya ini ia lantas
tundukkan kepalanya tersipu-sipu, gadis itu tak berani menengok lagi
ke arah Pek In Hoei barang sekejappun.
Si anak muda itu sendiri pun melirik sekejap ke arah It-boen Pit
Giok, mendadak dalam hatinya timbul perasaan murung, kesal dan
kesunyian, ketika ia menangkap setiap lirikan It-boen Pit Giok yang
selalu ditujukan kepadanya itu, dengan perasaan termangu-mangu
pikirnya :
"Kenapa sorot matanya begitu sayu... begitu murung? Apakah hal
ini disebabkan karena aku berada bersama-sama Pek li Cian Cian...
sewaktu berjumpa dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo
dulu, teringat betapa bencinya dia kepadaku, tapi sekarang ..."
Ia tarik napas panjang-panjang lalu ujarnya :
"Mungkin nona It-boen terlalu membesar-besarkan diriku dalam
kenyataan cayhe masih ketinggalan jauh sekali kalau dibandingkan
dengan diri Ko Loocianpwee!"
"Hmmm... " Poh Giok cu mendengus dingin. "Bocah sekecil kau
sudah berani jumawa dan jual aksi, rupanya kalau aku tidak memberi
sedikit pelajaran kepadamu, selamanya kau tak akan gunakan otakmu
yang jernih untuk berpikir, jauh-jauh dari luar lautan datang kemari
234
IMAM TANPA BAYANGAN II
aku Poh Giok cu bukan cuma ingin mendengar perkataan semacam
itu..."
Pek In Hoei segera tertawa dingin.
"Kalau kau menganggap perkataan yang kuucapkan keluar
adalah kata-kata yang terlalu congkak atau jumawa, maka aku harap
kau sekarang juga meninggalkan perkampungan Hong Yap San cung,
di tempat ini tak ada orang yang sedang kau cari..."
"Pek In Hoei, kau hendak mengusir kami pergi..." jerit It-boen Pit
Giok semakin murung.
Sejak Pek In Hoei tampil ke depan menangani persoalan itu
wajah Pek li Cian Cian sudah tidak kelihatan begitu kaget atau takut
seperti semula lagi, ia telah melupakan peristiwa yang baru saja
berlangsung di mana dirinya terjatuh ke tangan orang dan jari
tangannya nyaris dipapas orang sampai putus.
Saat ini dengan bibir tersungging senyuman mengejek serunya
ketus :
"Kalau kami hendak usir kalian pergi, terus kalian mau apa? Kau
harus tahu Pek In Hoei adalah suamiku, perkataan yang diucapkan
olehnya sama pula artinya dengan perkataan yang keluar dari
mulutku..."
Ucapan ini diutarakan dengan nada sungguh-sungguh, seolaholah
dia benar-benar sudah mengikat diri jadi suami istri dengan pin,
mendengar ocehan yang kacau balau tidak karuan ini kontan pemuda
itu jadi mendongkol, dengan wajah berubah jadi merah padam ia
melotot sekejap ke arah gadis itu.
Sementara ia hendak membantah, mendadak dari tempat
kejauhan berkumandang datang suara teguran :
"Siapa yang bernama Pek In Hoei?"
Ucapan itu merdu bagaikan genta, mengalun di angkasa dan
menggema tiada hentinya mengikuti datangnya suara tersebut Pek In
Hoei menoleh ke samping, tampaklah seorang nikouw tua berjubah
abu-abu dengan membawa tasbeh berwarna hitam dan pandangan
235
Saduran TJAN ID
yang tajam bagaikan pisau belati menatap wajah Pek In Hoei tak
berkedip.
Nikouw tua ini meskipun karena dimakan usia, wajahnya telah
berkeriputan tetapi kecantikan wajahnya di masa yang lampau masih
jelas tertera di atas mukanya, hal ini bisa membuktikan bahwa pada
masa mudanya nikouw ini pastilah seorang perempuan yang cantik
dan menarik.
Dengan air mata bercucuran membasahi pipi It-boen Pit Giok
segera berjalan menghampiri sisi nikouw tua itu, serunya :
"Suhu!"
Sejak kecil belum pernah Pek In Hoei bertemu dengan seorang
nikouw yang berwajah penuh welas kasih seperti ini, begitu agung
dan penuh kasih sayang seolah-olah Kwan Im Pouwsat dari Lam Hay.
Diam-diam ia menghela napas panjang dan berpikir :
"Nikouw tua ini pastilah Thiat Tie Sin Nie dari luar lautan, kalau
dipandang sikapnya yang agung dan penuh wibawa, semestinya tiada
angkara murka yang terpendam dalam hatinya... sungguh aneh sekali!
Mengapa begitu berjumpa dengan dirinya napsu marah dan kobaran
api berangasan yang terpendam dalam dadaku seketika lenyap tak
berbekas..."
Dalam pada itu sambil membelai rambut It-boen Pit Giok yang
hitam pekat, Thiat Tie Sin Nie berkata lembut :
"Anakku, sudah kujelajahi seluruh perkampungan Hong Yap San
cung ini tetapi sama sekali tak kutemui bayangan tubuh dari si
Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, ditinjau dari
keadaan tersebut membuktikan pula kalau Chee Thian Gak bukanlah
melarikan diri kemari..."
"Aku bukan mencari dirinya," sahut It-boen Pit Giok sambil
gelengkan kepalanya berulang kali. "Menurut kabar dunia kangouw
yang tersiar luas, Chee Thian Gak adalah Pek In Hoei, tetapi kalau
ditinjau dari bukti yang ada di depan mata sekarang Pek In Hoei dan
Chee Thian Gak mungkin adalah dua orang yang berbeda..."
236
IMAM TANPA BAYANGAN II
Thiat Tie Sin Nie alihkan sinar matanya melirik sekejap ke arah
Pek In Hoei kemudian menghela napas panjang, ujarnya :
"Pit Giok, antara kening bocah ini terdapat bekas telapak darah,
ujung bibirnya menunjukkan ia tak kenal budi dan cinta, urusanmu
dengan dirinya di kemudian hari sulit untuk diramalkan mulai
sekarang, aku hanya berharap janganlah kau meniru keadaan suhumu
sekarang..."
Berbicara sampai disini ia tertunduk dengan sedih, di atas
wajahnya yang agung dan penuh cinta kasih itu terlintas rasa murung
yang tebal.
Dengan sedih It-boen Pit Giok gelengkan kepalanya dan
membungkam dalam seribu bahasa.
Dalam benak gadis ini kembali terlintas sikap dingin, ketus,
angkuh dan jumawa yang diperlihatkan Pek In Hoei sewaktu ada di
depan perkampungan Thay Bie San cung, dia pernah menusuk
perasaan halusnya dan menyinggung gengsinya sebagai seorang
gadis, ia pernah pula mengacaukan pikiran serta perasaan hatinya
yang semula tenang bagaikan permukaan telaga. Sebelum ia
menginjakkan kakinya di daratan Tionggoan belum pernah ada
persoalan yang merisaukan hatinya, tapi sekarang ia mulai merasakan
penderitaan dan siksaan.
Kesemuanya ini Pek In Hoei lah yang memberikan kepadanya,
oleh karena itu ia sangat membenci diri si anak muda itu, tetapi ia pun
mencintai dirinya...
Pek li Cian Cian melirik sekejap ke arah nikouw tua itu,
mendadak tegurnya :
"Hey nikouw tua, benarkah barusan kau telah memasuki
perkampungan kami?"
"Benar, aku hendak mencari ayahmu karena ada suatu urusan
penting..."
Belum habis ia berkata, dari dalam perkampungan telah berlari
datang seorang lelaki kekar.
237
Saduran TJAN ID
Di belakang lelaki itu berjalan mengikuti seorang kakek tua
beralis tebal berjenggot hitam serta seorang nenek tua yang membawa
tongkat hitam terbuat dari baja.
Lelaki tadi segera menuding kemari sementara kakek beralis
tebal serta nenek tua itu laksana kilat meluncur datang.
"Hoooree... ayahku datang!" teriak Pek li Cian Cian kegirangan.
Mendengar seruan itu pin terperanjat, sorot cahaya buas memancar
keluar dari balik matanya, di ujung bibirnya yang tipis tersungging
senyuman dingin dan sadis, diam-diam pikirnya :
"Si kakek tua itu mungkin adalah cung cu dari perkampungan
ini... hmmm! si Dukun Sakti Berwajah Seram hampir saja mencabut
selembar jiwaku, tunggu saja saatnya, aku pasti akan memberikan
sedikit kepadanya..."
Sementara itu terdengar Hong Yap cung cu telah menegur sambil
tertawa seram :
"Siapa yang sedang mencari aku Pek li Khie..."
"Omihtohud!" Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji
keagungan Buddha lalu sahutnya, "Pek li sicu, apakah kau masih ingat
dengan diri Pin-nie..."
Begitu melihat nikouw tua itu, air muka Pek li Khie seketika itu
juga berubah hebat.
"Kau... kau adalah Thiat Tie Sin Nie... "
Thiat Tie Sin Nie menghela napas panjang.
"Kedatangan Pin-nie jauh-jauh dari laut timur menuju ke daratan
Tionggoan semuanya ada tiga persoalan yang akan kuselesaikan,
persoalan yang pertama adalah persoalan yang menyangkut peristiwa
pembunuhan terhadap It-boen Kiat pemilik peternakan naga putih di
wilayah Say-pak pada lima belas tahun berselang..."
Begitu disebutkannya peristiwa itu mendadak sekujur badan Pek
li Khie gemetar keras, dengan suara bergetar serunya :
"Apa sangkut pautnya antara peristiwa berdarah itu dengan
perkampungan Hong Yap San cung kami?"
238
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sewaktu kau bersama It-boen Kiat mengusahakan peternakan
Naga putih di wilayah Say pak dahulu ia pernah menyerahkan
sebatang 'Pek Sioe Poo Pit' kumala pusaka gajah putih kepada dirimu.
Pin-nie berharap sicu suka memandang atas hubungan persahabatan
kalian dengan It-boen Kiat selama banyak tahun suka menyerahkan
batang kumala itu kepadaku..."
Makin mendengar Pek li Khie semakin terkejut, sambil meloncat
mundur dua langkah ke belakang serunya berulang kali :
"Tidak ada, tidak ada..."
"Sicu, kalau kau berbuat demikian maka tindakanmu itu adalah
keliru besar," kata Thiat Tie Sin Nie dengan nada kurang senang,
"batang kumala Pek Siok Poo Pit tersebut mempunyai sangkut paut
yang amat besar atas asal usul kelahiran muridku It-boen Pit Giok,
meskipun benda itu termasuk suatu jenis benda mustika tetapi..."
"Hmmm! Sama sekali tak ada kejadian seperti ini," tukas si
Dukun Sakti Berwajah Seram secara tiba-tiba sambil mendengus
dingin. "Pek li cung cu sama sekali tidak mengambil kumala pusaka
gajah putih itu, kau suruh ia dapatkan benda itu dari mana untuk
diserahkan kepadamu..."
Pek In Hoei yang segera teringat kembali atas perbuatan si dukun
sakti yang hampir saja mencabut jiwanya dengan racun ulat emasnya,
mendengar dia ikut buka suara hawa amarahnya segera berkobar
hebat, mendadak ia maju beberapa langkah ke depan lalu bentaknya
keras-keras :
"Kioe Boan Toh! Ayo cepat bergelinding kemari..."
Dukun Sakti Berwajah Seram melengak, rupanya ia tak
menyangka kalau seorang pemuda yang masih muda belia berani
membentak dirinya secara kasar sebagai seorang jago yang merajai
wilayah Biauw, suku-suku liar di situ pun sama-sama menaruh hormat
kepadanya apalagi seorang pemuda macam dia, mendengar teriakan
yang begitu jumawa amarahnya seketika memuncak.
Dengan badan gemetar keras saking gusarnya ia berseru :
239
Saduran TJAN ID
"Keparat cilik yang tak tahu diri, rupanya kau sudah bosan hidup
di kolong langit..."
Sekali enjot badan ia meloncat ke muka, toya baja berwarna
hitamnya langsung diayun ke depan diiringi suara desiran tajam yang
membelah bumi, dengan suatu gerakan yang mengerikan dia babat
tubuh si anak muda itu.
Buru-buru Pek In Hoei menekuk badannya dan loncat ke udara
dengan gerakan cepat bagaikan kilat, dengan suatu gerakan yang
manis ia berhasil menghindarkan diri dari ancaman tersebut.
"Kioe Boan Toh!" teriaknya setengah menjerit. "Dengan racun
ulat emas kau telah membinasakan Chee Thian Gak, kau harus tahu
aku Pek In Hoei adalah sahabat sehidup semati dengan dirinya, ini
hari aku akan menuntut balas bagi kematian sahabatku Chee Thian
Gak..."
Telapak kirinya laksana kilat meluncur ke depan mengirim satu
babatan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat seketika
menggulung keluar memaksa tubuh si Dukun Sakti Berwajah Seram
itu terdesak miring dan harus meloncat mundur ke belakang.
Melihat kehebatan lawannya Dukun Sakti Berwajah Seram itu
segera mendongak dan tertawa keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... setelah Chee Thian Gak mati, kini
muncul lagi seorang Pek In Hoei. Andaikata aku si Dukun Sakti
Berwajah Seram tak berhasil menahan dirimu di dalam
perkampungan Hong Yap San cung ini, mulai ini hari aku tak akan
muncul lagi di dalam dunia persilatan..."
Watak berangasan dari jago kelas satu yang berasal dari wilayah
Biauw ini tidak kalah dengan kaum pemuda, setelah menjerit aneh
toya bajanya segera diputar di tengah udara hingga menimbulkan
kilatan cahaya yang amat tajam, kemudian langsung menghajar ke
muka.
Pek In Hoei tarik napas dalam-dalam, ia hendak menggunakan
kesempatan di kala ia belum sempat mengeluarkan segala macam
240
IMAM TANPA BAYANGAN II
ilmu beracunnya untuk mencabut selembar jiwanya dengan
menggunakan ilmu sakti Thay Yang Sam Sie, sebab kalau tidak...
Hawa sakti surya kencana dikerahkan mengelilingi badan satu
kali, kemudian dihimpun semuanya ke dalam telapak kanan itu
perlahan-lahan diangkat tinggi ke tengah udara.
Pek li Cian Cian adalah orang yang paling gelisah di antara semua
yang hadir di situ, ia tak menyangka kalau Pek In Hoei segera turun
tangan setelah berjumpa dengan gurunya.
Dalam cemasnya ia takut gurunya si Dukun Sakti Berwajah
Seram telah melukai si anak muda itu, segera teriaknya :
"Pek In Hoei, kau bukan tandingan suhu ku.. ayoh cepat
kembali..."
Ia merandek sejenak, kemudian sambil menoleh ke arah gurunya
ia berteriak lagi :
"Suhu... dia adalah... dia adalah... janganlah kau melukai
dirinya..."
Pek In Hoei terkesiap, hampir saja tenaga murni yang telah
dihimpun itu buyar kembali, ia segera keraskan hatinya dan
mendengus dingin, hawa murni disalurkan keluar mengikuti suatu
gerakan serangan yang aneh, hawa panas yang amat menyengat badan
berbarengan dengan kilatan cahaya yang menyilaukan mata segera
menggulung keluar.
"Aaaah..."
Mimpi pun si Dukun Sakti Berwajah Seram tak pernah
membayangkan Pek In Hoei berhasil menguasai Thay Yang Sin Kang
ilmu maha sakti dari negeri tayli, ia merasakan gelombang hawa
panas yang luar biasa hebatnya menghantam sekujur badannya
membuat ia menjerit ngeri... dadanya terhajar hangus oleh kilatan
cahaya merah yang membara itu dan tak ampun lagi jiwanya
melayang meninggalkan raganya.
Dengan wajah amat terperanjat bercampur tercengang, Thiat Tie
Sin Nie berseru keras, ia tak percaya kalau seorang pemuda yang
241
Saduran TJAN ID
masih demikian mudanya ternyata berhasil melatih ilmu ganas yang
maha sakti itu hingga mencapai taraf yang begitu sempurna.
Sementara itu Pek li Cian Cian telah menjerit ngeri dengan penuh
kesedihan :
"Pek In Hoei, kau betul-betul amat kejam..."
Si anak muda itu hanya merasakan darah panas bergolak dalam
dadanya, rasa penasaran dan mangkel yang semula menyumbat
dadanya segera membuyar dan lenyap, ketika ia saksikan kesedihan
serta kesengsaraan dari Pek li Cian Cian timbul rasa sedih dalam hati
kecilnya, buru-buru ia melengos kemudian enjotkan badan berlalu
dari situ.
Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang kian menjauh
dari pandangan, It-boen Pit Giok yang selama ini hanya
membungkam saja tiba-tiba merasakan golakan perasaan yang sukar
dikendalikan; segera dia pun enjotkan badannya menyusul, teriaknya
keras-keras :
"Pek In Hoei..."
Dalam sekejap mata bayangan tubuh kedua orang itu sudah
lenyap di balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad.
Pada waktu itu Poh Giok cu maju merangsek dan mencengkeram
tangan Pek li Khie, serunya :
"Kalau kau tidak serahkan kumala pusaka 'Pek Sioe Poo Pi'
kepada kami, perkampungan Hong Yap San cung ini akan kami
ratakan dengan tanah..."
Dengan penuh penderitaan Pek li Khie berteriak keras :
"Bukan aku yang mengambil benda itu... benda itu betul-betul
tidak berada disini... ketika It-boen Kiat menyerahkan benda itu
kepadaku tempo dulu Hoa Pek Tuo telah merampasnya dari
tanganku..."
"Aaaah, jadi kalau begitu kematian dari It-boen Kiat pun ada
sangkut pautnya dengan Hoa Pek Tuo..." seru Thiat Tie Sin Nie
dengan hati terkejut.
242
IMAM TANPA BAYANGAN II
Air muka Poh Giok cu pun berubah hebat, sambil melepaskan
Pek li Khie dari cekalannya ia membentak :
"Ayoh berangkat, andaikata Hoa Pek Tuo benar-benar tersangkut
dalam kasus pembunuhan terhadap pemilik peternakan naga putih di
wilayah Say Pak, sekalipun aku harus keluarkan ilmu 'Poh Giok Chie
Sie' dia pasti akan kubunuh sampai mati..."
Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji keagungan
Buddha, kemudian bersama-sama Poh Giok cu berlalu dari situ dan
lenyap di balik kegelapan...
.....
Angin malam berhembus lembut membelah kesunyian yang
mencekam, di tengah malam yang gelap dua belas buah lampu lentera
dengan dibagi dalam delapan sudut bergelantungan di sekeliling
sebuah telaga besar, membuat permukaan telaga jadi terang
benderang.
Di tepi telaga pada saat itu telah dipenuhi oleh para jago yang
berdatangan dari seluruh penjuru kolong langit, mereka berdiri dalam
suasana yang hening tak seorang pun yang buka suara atau pun
bercakap-cakap, semua pandangan mata tercurahkan pada sebuah
pagoda di tengah telaga.
Traaaang...! suara lonceng yang nyaring mendadak
berkumandang di tengah udara dan mengalun di sisi telinga para
jago... lama sekali suara itu baru sirap kembali... suasana mulai gaduh
dan suara berbisik mulai terdengar menggema dari antara para jago.
Setelah suara lonceng tadi sirap, dari dalam bangunan pagoda di
tengah telaga perlahan-lahan berjalan keluar Chin Tong serta Ku Loei
dua orang, setibanya di tepi telaga mereka saling berpisah ke kiri
kanan dan memandang sekejap ke arah para jago yang hadir di sana.
Terdengar Ku Loei berkata sambil tertawa :
"Saudara-saudara sekalian tentu sudah lama menunggu bukan?
Dalam pertemuan para enghiong yang diselenggarakan di tepi telaga
243
Saduran TJAN ID
malam ini, entah para jago dari delapan perguruan tiga partai lima
lembah serta sepuluh benteng sudah pada berkumpul semua atau
belum..."
Suasana di empat penjuru hening dan sunyi untuk beberapa saat
lamanya, tiba-tiba terdengar seorang kakek tua dengan suaranya yang
serak :
"Kecuali orang-orang dari partai Sauw-lim, partai Bu-tong serta
partai Thiam cong, boleh dikata semua anak murid perguruan lain
telah hadir disini."
Bagian 19
MENDENGAR ucapan itu Ku Loei jadi naik pitam, teriaknya dengan
penuh kemarahan :
"Apa? Ada anak murid perguruan yang tidak ikut menghadiri
pertemuan ini? Bukankah di atas surat undangan sudah kami jelaskan
bahwa kecuali ciangbunjien-nya sendiri yang hadir orang lain tidak
diperkenan ikut datang kemari."
Teriakannya yang disertai oleh hawa amarah ini kontan disambut
dengan sikap tidak puas oleh para jago lihay dari pelbagai partai serta
perguruan, terdengar dengusan dingin berkumandang simpang siur
dari antara gerombolan hadirin, seorang pemuda loncat keluar dari
barisan adalah segera berteriak keras :
"Apa maksud ucapanmu itu? Ciangbunjien kami toh bukan
manusia penganggur yang punya banyak waktu luang, apa salahnya
kalau dari partai kami diutus para anak muridnya untuk mewakili?
Apakah kecuali ciangbunjien sendiri orang lain tak boleh mewakili?"
"Hmmm! Siapa kau?"
"Anak murid partai Tiong-lam Loe Liang Jien..."
"Aku perintahkan kau saat ini juga enyah dari perkampungan
Thay Bie San cung, di tempat ini kekurangan satu partai Tiong Lam
masih terhitung seberapa, kalau ciangbunjien kalian di dalam tiga hari
tidak datang kemari, mohon maaf, Hmmm... jangan salahkan kami
244
IMAM TANPA BAYANGAN II
kalau partai kalian secara mendadak menemui bencana kehancuran
total."
Dengan diucapkannya perkataan semacam ini sudah jelas
kemanakah maksud tujuan orang she Chin ini.
Saking gusarnya air muka Loe Liang Jien seketika berubah jadi
hijau membesi, ia melangkah maju setindak ke depan, sambil
menuding ke arah Chin Tiong makinya :
"Partai Tiong-Lam kami sama sekali tidak butuh menjilat pantat
kalian orang-orang dari perkampungan Thay Bie San cung, siapa pun
tahu sampai dimanakah ambisi kalian untuk mengundang semua
partai ini. Hmmm! Bukankah kamu hendak mengangkangi dunia
persilatan? Huuh! Anak murid partai Tiong Lam kami nomor satu
yang tidak setuju dan akan selalu menentang maksud kalian itu."
Selesai berkata dingin, ia putar badan dan segera berlalu.
Mengikuti tindakannya tersebut lima enam orang jago lihay dari
pelbagai partai segera ikut berlalu pula dengan wajah penuh
kegusaran.
Melihat tingkah laku orang-orang itu, Chin Tiong segera
mendongak dan tertawa terbahak-bahak "
"Haaaah... haaaah... haaaah... siapa yang berani berlalu dari sini
mengikuti jejak anak murid dari partai Tiong-Lam itu, berarti pula
menjadi musuh dari perkampungan Thay Bie San cung kami, asal
sesudah melewati malam ini kalian akan tahu sampai dimanakah
kelihayan dari kami perkampungan Thay Bie San cung..."
Sebagian besar para jago yang diundang untuk menghadiri
pertemuan para jago pada malam ini boleh dikata menaruh rasa jeri
terhadap pengaruh serta kekuasaan Perkampungan Thay Bie San
cung, meskipun di dalam hati mereka merasa tidak puas tetapi teringat
akan kelihayan dari sepasang iblis yang berasal dari samudra Seng Sut
Hay, terpaksa semua orang harus menekan kobaran hawa amarah
serta rasa tidak puas itu di dalam hati saja, tak seorang pun yang buka
suara atau pun membantah.
245
Saduran TJAN ID
"Ngaco belo! ngaco belo!"
Dari dalam bangunan pagoda air di tengah telaga berkumandang
suara bentakan nyaring, dengan ketakutan Chin Tiong serta Ku Loei
tundukkan kepalanya dengan sikap menghormat, mereka tak berani
mendongak lagi...
Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan tadi, Si Iblis
Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng beserta istrinya si Iblis Khiem
Kumala Hijau Mie Liok Nio munculkan diri dari balik ruangan.
Ciak Kak Sin Mo menjura lebih dulu ke para jago yang hadir di
sisi telaga, kemudian teriaknya dengan suara keras :
"Harap saudara-saudara sekalian suka memaafkan diri muridku
yang terlalu angseran serta berangasan itu, bilamana sudah menyalahi
saudara sekalian mohon dimaafkan sebesar-besarnya, mengenai
persoalan diselenggarakannya pertemuan para jago pada malam ini,
mungkin sudah terjadi kesalahpahaman di antara kalian..."
Ia merandek sejenak, kemudian terusnya :
"Ada pun tujuan siauw te mengundang saudara sekalian untuk
jauh-jauh berkumpul di dalam perkampungan Thay Bie San cung
pada malam ini bukan lain adalah untuk mengajak saudara-saudara
sekalian merundingkan satu masalah yang cukup serius, kalian tentu
tahu bukan bahwa di dalam tubuh partai besar yang bercokol di dalam
dunia persilatan seringkali terjadi pertumpahan darah hanya
disebabkan satu persoalan kecil saja, pertumpahan darah itu seringkali
menggoncangkan ketenteraman serta ketenangan dunia kangouw,
untuk menghindarkan diri dari kekacauan-kekacauan yang tidak
diharapkan itu maka sengaja siauwte undang saudara sekalian untuk
berkumpul disini membicarakan masalah tersebut, aku berharap agar
cuwi sekalian dapat memilih seorang pemimpin untuk menduduki
kursi Beng cu khusus untuk menangani masalah yang menyangkut
soal pertumpahan darah tersebut."
246
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 11
"UCAPAN Kong-yo heng sedikit pun tidak salah," sahut seseorang di
antara para jago yang hadir dengan suara serak bagaikan tong bobrok.
"Aku rasa di daratan Tionggoan dewasa ini tiada seorang pun yang
cocok untuk menduduki kursi jabatan tertinggi itu kecuali kalian
suami istri berdua..."
Ucapan orang ini terlalu terang-terangan dan menyolok sekali,
seketika itu juga memancing rasa benci dan tidak puas di kalangan
sebagian besar para jago.
Ketika semua orang menoleh ke arah si pembicara tadi, maka
segera dikenalilah orang itu sebagai si tangan kilat Im Boe Kie dari
partai Khong-tong pay, seorang lelaki kekar berwajah penyakitan
segera mendengus dingin, sambil berjalan menghampiri Im Boe Kie
si tangan kilat tersebut tegurnya dengan suara keras :
"Manusia macam apakah kau ini Hmmm! Berani betul
sembarangan kentut disini..."
Si Tangan Kilat Im Boe Kie menoleh dan memandang ke atas
wajah berwajah penyakitan itu, tapi sedetik kemudian ia sudah
gemetar keras karena ketakutan, ia merasa betapa tajam dan seramnya
pandangan mata orang itu sehingga membuat jantungnya berdebar
keras.
Tapi ia pun tak mau unjuk kelemahan di hadapan orang, segera
dengusnya dingin.
"Siapa kau? Berani betul mengutarakan perkataan yang begitu
tak tahu diri terhadap diriku?"
247
Saduran TJAN ID
"Hmmm, terhadap manusia hina seperti kau rasanya aku tak usah
tahu diri atau sungkan-sungkan lagi..."
Si tangan kilat Im Boe Kie meraung gusar, sebuah telapak
tangannya segera dibabat datang.
Dengan julukannya sebagai si tangan kilat, serangannya ini boleh
dibilang dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa, sekali
berkelebat tahu-tahu angin pukulan sudah melanda datang.
Siapa sangka lelaki kasar yang membungkam selama ini
memiliki tenaga lweekang yang amat tinggi, sedikit badannya
mengigos tahu-tahu bayangan telapak lawan sudah berhasil dihindar,
tangannya menyambar dan kali ini tubuh Im Boe Kie si tangan kilat
itulah yang tersambar dan terlempar ke tengah udara, bentaknya :
"Enyah kau dari sini..."
Di bawah sorot cahaya lampu, tampaklah tubuh si tangan kilat Im
Boe Kie meluncur sejajar di tengah udara dan langsung meluncur ke
arah bangunan pagoda di tengah telaga itu persis melayang turun di
hadapan sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay.
"Im Heng, jangan gugup aku segera datang menolong," bentak
Ciak Kak Sin Mo Kong Yo Leng dengan suara keras.
Kakinya bergeser selangkah ke depan diikuti telapak tangannya
menyambar ke tengah udara, terhisap oleh segulung tenaga yang
maha hebat seluruh tubuh Im Boe Kie si tangan kilat itu sudah
meluncur ke arah tangannya.
Dalam pada itu air muka Im Boe Kie telah berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat, sepatah kata pun tak sanggup ia utarakan keluar.
Sambil menurunkan tubuh si tangan kilat Im Boe Kie ke atas
tanah, Kong Yo Leng tertawa seram dan berkata :
"Sungguh lihay ilmu silat yang dimiliki Heng-thay ini!
Hmmm...hmmm... kau berani menimbulkan gara-gara di dalam
perkampungan Thay Bie San cung kami, bukankah hal itu berarti pula
tidak memandang sebelah mata pun terhadap orang-orang yang ada di
dalam perkampungan Thay Bie San cung?... sekarang mumpung
248
IMAM TANPA BAYANGAN II
berada di hadapan para jago dari kolong langit aku hendak menuntut
keadilan dengan dirimu..."
"Ciis...! perkampungan Thay Bie San cung terhitung manusiamanusia
macam apa?" jengek lelaki kekar itu dengan suara ketus,
sedikit pun tidak nampak rasa jeri di atas wajahnya. "Seandainya toaya
jeri terhadap kalian sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay,
tidak nanti aku bisa datang kemari..."
"Criiing... criiiing..."
Dua rentetan sentilan irama khiem bergema memenuhi angkasa,
sambil mendengus dingin si Iblis Khiem Kumala Hijau maju dua
langkah ke depan, ke-lima jarinya mencekal di atas senar khiem
sementara matanya dengan sorot cahaya tajam mengawasi lelaki itu
tanpa berkedip serunya :
"Siapa kau? Kalau kau berani mencari gara-gara di dalam
perkampungan Thay Bie San cung ini berarti kau mencari penyakit
buat diri sendiri..."
"Kepandaian permainan khiem yang kau miliki dan disebut-sebut
sebagai maha sakti dari kolong langit itu sudah lama pernah kucoba
kelihayannya," ujar lelaki dengan wajah dingin. "Huuuh! kalau hanya
ingin mengandalkan kekuatan dari kalian sepasang iblis dari samudra
Seng Sut Hay, tak nanti bisa mengapa-apakan diriku."
Ia merandek sejenak, kemudian hardiknya keras-keras :
"Cepat panggil Hoa Pek Tuo suruh keluar..."
Sikap serta tingkah lakunya yang sombong serta jumawa ini
kontan membuat Chin Tiong yang berdiri di belakang Ciak Kak Sin
Mo Kong Yo Leng mencak-mencak saking gusarnya, sambil berkaokkaok
marah teriaknya :
"Keparat Cilik, kau anggap nama Hoa Pek Tuo pun bisa kau
sebutkan dengan seenaknya..."
Sembari berseru badannya menerjang ke depan, dengan
melangkah di atas gulungan ombak pada permukaan telaga ia
langsung menyerbu tubuh lelaki kekar itu. Sebuah pukulan diiringi
249
Saduran TJAN ID
deruan angin serangan yang amat tajam kontan dilancarkan
menghajar dada lawan.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Chin Tiong, kalau aku tidak
membiarkan kau mati disini, maka aku tak akan terhitung manusia
berdarah dingin," seru lelaki itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Tampak tubuhnya berkelit dengan enteng ke samping lalu
mundur lima depa ke belakang sambil mendengus dingin telapaknya
membabat keluar, segulung hawa desiran yang luar biasa dahsyatnya
dengan cepat menyapu ke arah depan.
Chin Tiong sama sekali tidak memandang sebelah mata pun
terhadap lelaki ini, ketika dilihatnya angin pukulan lelaki tersebut
kendati sangat dahsyat namun tidak lebih hanya terbatas sebagai
seorang jago kelas satu segera tertawa dingin tiada hentinya.
Mendadak tubuhnya menjongkok ke bawah, dari kepalan
serangannya berubah jadi pukulan telapak, menyongsong datangnya
gulungan angin pukulan itu ia sambut dengan keras lawan keras.
"Blaaam...!
Di tengah udara terjadi suara ledakan amat dahsyat yang
menggetarkan seluruh permukaan bumi, para jago yang memenuhi
tepi telaga itu seketika merasakan telinganya mendengung keras,
begitu dahsyat hasil bentrokan tersebut sehingga membuat ujung baju
semua orang tertiup kencang dan berkibar tiada hentinya.
Chin Tong mundur dengan sempoyongan, namun sambil tertawa
tergelak segera serunya kembali :
"Keparat cilik, seranganku kali ini akan mencabut selembar jiwa
anjingmu..."
Ia tarik napas dalam-dalam, mendadak telapak kanannya
diangkat ke tengah udara.
Segera lapat-lapat dari atas telapak tangannya itu muncul selapis
hawa hitam yang tebal, kemudian perlahan-lahan ditabokkan ke atas
tubuh lelaki tersebut.
250
IMAM TANPA BAYANGAN II
Air muka lelaki itu berubah membesi, selintas pikiran dengan
cepat berkelebat dalam benaknya,ia berpikir :
"Seumpama kata aku hendak membinasakan diri Chin Tiong
maka aku harus menggunakan kesempatan di kala ia belum tahu
siapakah diriku, melancarkan serangan dengan ilmu Thay Yang sam
Sie dengan demikian sebelum ia sadar siapakah aku tubuhnya sudah
hangus termakan oleh serangan dahsyatku itu..."
Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat cepatnya berkelebat
dalam benaknya, buru-buru ia himpun segenap tenaga dalam yang
dimilikinya ke atas telapak kanannya, kemudian hawa murni yang ada
di dalam tubuh diatur mengelilingi badan sebanyak satu kali,
tubuhnya maju tiga langkah ke depan dan telapak kanannya dibabat
ke bawah secepat kilat.
Mendadak sekilas cahaya merah membara yang amat
menyilaukan mata memancar keluar dari balik telapak lelaki kekar itu,
begitu tajam pukulan cahaya merah membara itu sampai membuat
pandangan Chin Tiong terasa kabur, ia tak tahu kepandaian apakah
yang sedang dipergunakan pihak lawannya.
Kedua belah pihak sama-sama menghimpun segenap kekuatan
yang dimilikinya ke atas telapak, kemudian pada saat yang bersamaan
mendorongnya ke arah depan.
"Blaaam...!"
Segulung aliran hawa panas yang menyengat badan meluncur ke
depan menghapuskan gulungan angin serangan Chin Tiong yang
dahsyat dan langsung menerjang ke atas dadanya...
Ia menjerit ngeri... suaranya seram menyayatkan hati, tubuhnya
yang tinggi besar berkelejotan beberapa kali di atas tanah bagaikan
ayam yang baru disembelih kemudian menggeletak tak berkutik dan
melayanglah selembar jiwanya menghadap Raja Akhirat.
Segumpal darah kental berwarna merah kehitam-hitaman
meleleh keluar dari tujuh lubang inderanya, sebuah bekas telapak
tangan yang nyata tertera tepat di atas dadanya, pakaian yang hangus
251
Saduran TJAN ID
terbakar menyiarkan bau sangit yang memualkan, ditinjau dari tandatanda
tersebut jelas sekali menunjukkan bila kematiannya adalah
disebabkan karena terbakar oleh hawa panas yang luar biasa.
Kematian Chin Tiong dalam keadaan mengerikan ini
menggetarkan hati seluruh jago lihay dari pelbagai partai yang hadir
di tempat itu, siapa pun tak bisa menduga kepandaian silat apakah
yang telah dipergunakan lelaki itu untuk melakukan pembunuhan
tersebut, bahkan tak seorang pun yang tahu lelaki kekar itu berasal
dari perguruan atau partai mana.
Tapi dalam hati kecilnya pada saat bersamaan mempunyai satu
pendapat yang sama, mereka pada berpikir :
"Sejak kapan di dalam dunia persilatan telah muncul seorang jago
lihay seperti ini..."
Baik si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng maupun si
Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio pada saat yang bersamaan
sama-sama dibikin tertegun dan melengak oleh peristiwa yang terjadi
di luar dugaan ini, mimpi pun mereka tak pernah menyangka kalau
lelaki kekar yang selalu membungkam dan jarang berbicara itu
ternyata memiliki kepandaian silat yang maha dahsyat dan maha sakti.
Bibir Kong Yo Leng bergetar tiada hentinya, terdengar ia
bergumam seorang diri dengan suara lirih :
"Thya Yang sinkang... Thay Yang Singkang..."
"Hey tua bangka sialan, apa kau bilang?" bentak Mie Liok Nio
dengan nada gusar.
"Kepandaian tersebut adalah ilmu silat Thay Yang Sam-sie... "
sahut Kong Yo Leng dengan wajah berubah hebat.
"Apa?" Iblis Khiem Kumala Hijau maju selangkah ke depan.
"Kepandaian tersebut adalah ilmu sakti Thay Yang Sam-sie..."
Ia tak habis mengerti dan tak dapat menduga manusia kangouw
manakah yang sanggup menggunakan ilmu Thay Yang Sin Kang
yang tersohor karena keganasan serta kedahsyatannya itu, biji
252
IMAM TANPA BAYANGAN II
matanya langsung berputar dan dialihkan ke atas tubuh lelaki kekar
itu.
Dalam pada itu ketika Ku Loei menyaksikan Chin Tiong
menemui ajalnya dalam keadaan mengerikan di tangan kekar itu,
bagaikan orang sinting segera berteriak-teriak keras, tanpa berpikir
panjang ia segera menerjang ke arah tepi telaga.
"Keparat cilik serahkan nyawamu..." raungnya dengan penuh
kegusaran.
Si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng jadi sangat
terperanjat ketika menyaksikan perbuatan Ku Loei, buru-buru
hardiknya dengan suara berat :
"Ku Loei, ayoh cepat kembali ke sini!"
Jago lihay dari laut Seng Sut Hay ini tidak malu disebut gembong
iblis yang tersohor di kolong langit, ia tahu kemunculan lelaki kekar
secara mendadak di tempat itu pastilah bukan disebabkan oleh karena
suatu persoalan yang sederhana, karena itu sambil menekan hawa
amarah serta kobaran napsu membunuh yang berulang kali memancar
ke dalam benaknya, dengan gesit meloncat ke muka.
Karena dibentak oleh iblis tersebut terpaksa Ku Loei mundur dua
langkah ke belakang, sementara sorot matanya dengan penuh diliputi
napsu membunuh menatap lelaki kekar itu tanpa berkedip.
"Ku Loei," terdengar lelaki kekar itu menjengek sambil tertawa
dingin tiada hentinya. "Apakah kau pun ingin coba menjajal
kepandaian silatku?"
Kong Yo Leng segera tertawa dingin, serunya ketus :
"Dengan andalkan kepandaian silat yang kau miliki sekarang,
tidak sulit bagimu untuk angkat nama di pelbagai tempat, tapi
seandainya kau ingin menjual lagak di dalam perkampungan Thay Bie
San cung ini... Hmm... hmmm... maka perhitungan sie-poamu itu
merupakan suatu kesalahan yang amat besar..."
"Cuuuuh!..." lelaki kekar itu meludah ke atas lantai. "Kong Yo
Leng! terus terang kuberitahukan kepadamu, aku adalah toa suheng
253
Saduran TJAN ID
dari si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak, setelah
menemui ajalnya terkena tangan keji dari Hoa Pek Tuo serta Kioe
Boan Toh si dukun sakti berwajah seram, maka ini hari sengaja aku
datang kemari untuk menuntut balas..."
Kong Yo Leng melengak, ia tidak menyangka setelah kematian
dari Pek In Hoei muncul seorang jago yang bernama Chee Thian Gak,
dan sekarang muncul lagi seorang kakak seperguruan dari Chee Thian
Gak, di balik peristiwa ini sebenarnya apa yang telah terjadi?
Dengan wajah tercengang segera tegurnya :
"Kau adalah kakak seperguruan dari Chee Thian Gak..." iblis ini
segera tertawa dingin. "Sekalipun maksud kedatanganmu kemari
adalah untuk menuntut balas, sudah semestinya kalau kau datang
secara terang-terangan dan blak-blakan, tindakanmu membunuhi
manusia yang ada di dalam perkampungan Thay Bie San cung
termasuk tindakan dari seorang enghiong hoohan macam apa?
Mumpung berada di hadapan para jago dari seluruh kolong langit, aku
akan menuntut keadilan dari dirimu..."
Mendengar ucapan tersebut lelaki kekar tadi segera mendongak
dan tertawa terbahak-bahak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... Kong Yo Leng, siapa pun tahu
bahwa kau serta Hoa Pek Tuo mempunyai ambisi besar untuk
menguasai seluruh dunia persilatan, ini hari kecuali aku datang untuk
menuntut balas di samping itu akan kubeberkan pula semua niat busuk
serta rencana busuk kalian kepada seluruh umat Bu-lim..."
Sekujur badan Kong Yo Leng bergetar keras, segera pikirnya :
"Aaaaah, rupanya persoalan kami yang berhasil diketahui
bangsat ini terlalu banyak, malam ini andaikata ia berhasil
membeberkan semua rahasia dan rencana besar perguruan Liuw-sah
Boen kami ke seluruh dunia, kerja susah payahku selama hampir dua
puluh tahun lamanya ini bukankah akan sia-sia belaka? Bahkan
mungkin saja malah akan memancing rasa permusuhan dari orangorang
pelbagai partai terhadap diriku. Bagaimanapun juga aku tak
254
IMAM TANPA BAYANGAN II
boleh melepaskan keparat cilik ini berlalu dari sini dalam keadaan
hidup, tapi aku pun tak dapat membinasakan dirinya di hadapan orang
banyak... lalu... lalu... apa yang harus kulakukan demi menyelamatkan
karierku ini..."
Sementara gembong iblis ini masih berputar otak untuk mencari
jalan bagaimana caranya melenyapkan lelaki kekar ini, mendadak di
tengah kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad
berkumandang datang suara tertawa dingin yang menggidikkan hati,
diikuti munculnya seorang manusia berkerudung hitam meluncur ke
dalam kalangan.
Begitu munculkan diri manusia berkerudung hitam itu langsung
ayunkan telapak tangannya mengirim satu babatan dahsyat ke arah
lelaki kekar tersebut.
Menyaksikan munculnya manusia berkerudung itu, Kong Yo
Leng jadi sangat kegirangan, pikirnya :
"Hoa Pek Tuo benar-benar seorang manusia luar biasa, ia tahu
kalau aku tak dapat turun tangan secara terang-terangan, ternyata ia
bisa muncul dengan jalan menyaru untuk melenyapkan bangsat sialan
ini..."
Sementara itu pertarungan di tengah kalangan berlangsung
dengan serunya, dalam sekejap mata lelaki kekar itu telah saling
bertukar pukulan sebanyak sembilan belas jurus dengan manusia
berkerudung hitam itu, tapi untuk beberapa saat lamanya siapa pun
tak sanggup untuk membinasakan pihak lawannya.
Mendadak lelaki kekar itu menghindar lalu mundur ke belakang,
bentaknya keras :
"Kau adalah Hoa Pek Tuo!"
Sinar mata manusia berkerudung hitam itu berkilat bengis,
sekujur tubuhnya bergetar keras tapi sambil tertawa seram serunya :
"Hmmmm... hmmmmm.... siapakah Hoa Pek Tuo itu?"
"Hmmm! Bukankah kau takut aku membongkar niat busuk kalian
di hadapan umum maka sekarang berusaha untuk melenyapkan diriku
255
Saduran TJAN ID
dari muka bumi? Hoa Pek Tuo! dari sorot matamu aku sudah tahu
akan perasaan hatimu saat ini..."
"Hmm... keparat cilik, tiada gunanya banyak bacot di tempat
ini..."
Rupanya manusia berkerudung hitam itu merasa teramat gusar
oleh tingkah laku lawannya, sambil membentak keras tubuhnya
segera meloncat ke depan, telapak kirinya sambil berputar
membentuk satu lingkaran busur segera dihantamkan ke depan,
sementara telapak kanannya dengan jurus 'Ngo Teng Kay San' atau
Ngo Teng membuka gunung membabat tubuh lawan.
Dengan sebat dan gesit lelaki kekar itu berkelejit ke tengah udara,
setelah berhasil menghindarkan diri dari dua buah serangan lawan,
tubuhnya berjumpalitan di tengah udara kemudian kaki kiri dan kaki
kanannya secara mendadak melancarkan tendangan berantai.
"Aaaah dia..." mendadak si Iblis Khiem Kumala Hijau menjerit
lengking. "Dia adalah Pek In Hoei..."
Mendengar jeritan itu lelaki kekar yang sedang melangsungkan
pertarungan sengit di kalangan itu seketika bergetar keras tubuhnya,
seakan-akan ia merasa terkejut oleh teriakan itu. Tapi hanya sejenak
saja sebab secara tiba-tiba sambil tertawa terbahak-bahak tubuhnya
berkelebat ke samping dan mengundurkan diri ke belakang,
tangannya dengan cepat menggosok ke atas wajah sendiri dan
muncullah raut wajahnya yang tampan menawan hati itu.
Sedikit pun tidak salah, dia bukan lain adalah si Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei adanya.
Sambil menarik kembali gelak tertawanya Pek In Hoei berteriak
keras :
"Seandainya sejak tadi kalian sudah tahu akan kehadiranku, maka
tak nanti suasana sedemikian hening dan tenangnya..."
Pada saat itulah seorang lelaki berlari datang dengan cepatnya
dan membisikkan sesuatu ke sisi telinga Ku Loei dengan suara lirih.
256
IMAM TANPA BAYANGAN II
Air muka Ku Loei seketika berubah hebat, dengan wajah penuh
kegusaran serunya :
"Apa? Tiga dewa dari luar lautan telah datang..."
Dalam pada itu manusia berkerudung hitam itu sedang saling
menyerang dengan serunya melawan Pek In Hoei ketika secara
mendadak bahwasanya Tiga dewa dari luar lautan telah datang,
sekilas perasaan aneh muncul dari balik sorot matanya.
Dengan gugup dia melirik sekejap keluar perkampungan,
kemudian sambil mengirim satu pukulan memaksa mundur Pek In
Hoei serunya :
"Hey manusia she Pek, hutang piutang di antara kita baiknya
diperhitungkan di kemudian hari saja..."
Habis berkata tubuhnya berkelebat melarikan diri dari ke tempat
kegelapan, bagaikan suka gentayangan saja dalam waktu singkat
bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas, siapa pun tak berhasil
melihat jelas dengan cara apakah dia berlalu dari situ.
Serentetan senyuman hambar tersungging di ujung bibir Pek In
Hoei, sorot mata penuh napsu membunuh terpancar dari balik
matanya sambil memandang wajah Ku Loei yang diliputi hawa
amarah jengeknya :
"Hey manusia she Ku, bukankah suhengmu telah modar? Apa arti
kau hidup seorang diri di kolong langit? Aku lihat lebih baik kau
segera menyusul dirinya saja!"
Dengan pandangan dingin Ku Loei melirik sekejap ke arahnya
tapi sikapnya seolah-olah sama sekali tidak mendengar jengekan
tersebut bahkan perlahan-lahan menarik kembali pandangan matanya.
Sikap yang aneh dan di luar dugaan ini seketika membuat Pek In
Hoei jadi tertegun, ia tidak menyangka kalau Ku Loei bakal tidak
menggubris dirinya.
Sudah tentu si anak muda itu tak pernah menyangka kalau pada
saat yang bersamaan orang she Ku ini sedang menggunakan akal serta
kecerdikannya untuk membuat suatu rencana keji guna
257
Saduran TJAN ID
membinasakan dirinya serta membalas dendam bagi kematian Chin
Tiong.
Perlahan-lahan Pek In Hoei alihkan sinar matanya menyapu
sekejap para jago dari pelbagai partai yang berkumpul di tepi telaga,
ia lihat berpuluh-puluh pasang mata saat itu telah tercurahkan semua
keluar pintu perkampungan.
Diam-diam ia menghela napas panjang, pikirnya :
"Aaaai...! Bagaimanapun juga nama besar dari Hai Gwan Sam
San tiga Dewa dari luar lautan jauh berbeda dari siapa pun, terbukti
dari sikap para jago lihay ini, begitu mendengar kehadiran dari ketiga
orang dewa tersebut seluruh perhatian mereka segera dicurahkan ke
situ..."
Belum habis berpikir, tampaklah Thiat Tie Sin Nie serta Poh
Giok cu di bawah pimpinan seorang lelaki yang membawa jalan
perlahan-lahan munculkan diri di tempat itu.
Ketika tiba di tepi telaga, sambil memandang si Iblis Sakti
Berkaki Telanjang Kong Yo Leng terdengar Poh Giok cu menegur :
"Hey kau si bocah keparat yang tidak suka memakai sepatu, ayoh
cepat undang keluar Hoa Pek Tuo,katakanlah aku si Poh Giok cu
datang menjenguk dirinya..."
Sepanjang hidupnya si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo
Leng selalu bersikap jumawa dan tinggi hati, belum pernah ada orang
yang berani memaki dirinya dengan kata-kata seperti itu, tapi setelah
menjumpai kehadiran dari Poh Giok cu serta Thiat Tie Sin Nie sikap
bengis dan sombongnya itu seketika lenyap tak berbekas, seolah-olah
ia berjumpa dengan tandingan yang paling ditakutinya.
Terdengar ia menjawab dan sikap sangat menghormat :
"Boanpwee tidak tahu kalau Sian jien berdua telah berkunjung
kemari, atas penyambutan kami yang rada terlambat harap Sian Jien
berdua suka memaafkan!"
258
IMAM TANPA BAYANGAN II
S Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio merasa sangat tidak
puas dengan sikap suaminya yang lemah dan tunduk menghormat, ia
segera mendengus dingin sambil tegurnya dengan nada aneh :
"Tua bangka sialan,siapa suruh kau bersikap jeri macam cucu
kura-kura begitu..."
Sinar mata Thiat Tie Sin Nie berkilat, ia memandang sekejap
perempuan iblis itu lalu serunya sambil menghela napas :
"Mie Liok Nio, ternyata hingga kini tabiatmu yang angseran
sama sekali tidak berubah!"
"Heeeh... heeeh... heeeh... usiaku sudah begini tuanya, kenapa
mesti berubah?"
"Taaaang..."
Serentetan suara genta yang nyaring dan berat berkumandang di
angkasa memecahkan kesunyian yang mencekam malam itu, dari
sudut sebelah barat perkampungan Thay Bie San cung tiba-tiba
muncul enam bayangan lampu lentera, barisan lampu lentera itu
perlahan-lahan bergerak mendekat dan tidak lama kemudian telah tiba
di tepi telaga.
Enam orang bocah berbaju putih dengan masing-masing
membawa sebuah lentera merah berjalan di paling depan, di belakang
mereka adalah sebuah tandu besar yang digotong oleh empat orang
lelaki kekar, Hoa Pek Tuo sambil duduk di dalam tandu dengan
pandangan dingin melotot sekejap ke arah Thiat Tie Sin Nie.
"Omihtohud... " Nikouw tua itu segera merangkap tangannya
memuji keagungan Buddha, senyuman manis tersungging di atas
wajahnya, dan ia segera mengangguk perlahan ke arah manusia she
Hoa itu.
Hoa Pek Tuo mendengus dingin, ia tidak menggubris atau
menegur, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Sedangkan Poh Giok cu segera mendengus dingin, di atas
wajahnya yang tenang tiba-tiba muncul suatu perubahan aneh yang
259
Saduran TJAN ID
tidak bisa dipahami oleh orang lain, seakan-akan ia menunjukkan
kesedihan yang tak terhingga.
Hoa Pek Tuo mencibirkan bibirnya, kepada Pek In Hoei
jengeknya ketus :
"Hmm, rupanya kau belum modar?"
Ucapan ini seketika membuat hawa amarah yang terpendam
dalam dada Pek In Hoei terasa hendak menerjang keluar, ia tarik
napas panjang-panjang untuk menekan gejolak jiwanya itu,
sedangkan pelbagai ingatan terutama pemandangan di kala ia disiksa
dan dianiaya oleh Hoa Pek Tuo satu demi satu muncul kembali dalam
benaknya.
Si anak muda itu segera mendengus dingin :
"Hmmm! Aku si Jago Pedang Berdarah Dingin selamanya tak
akan mati, kau pasti merasa amat kecewa bukan..."
Hoa Pek Tuo tidak menyahut, ia cuma tersenyum lalu ulapkan
tangannya, tandu ia pun segera berhenti di hadapan Poh Giok cu.
Perlahan-lahan kakek she Hoa itu melangkah turun dari dalam
tandunya.
Kepada Poh Giok cu sembari menjura memberi hormat, ujarnya
sambil tertawa seram :
"Suheng, semenjak berpisah di laut Tang Hai hingga kini..."
Pek In Hoei terperanjat, ia tidak menyangka Hoa Pek Tuo yang
sudah banyak melakukan kejahatan serta perbuatan terkutuk itu
ternyata bukan lain adalah saudara seperguruan dari Poh Giok cu,
diam-diam ia merasa gelisah sendiri, pikirnya :
"Aduuuh celaka, seandainya Poh Giok cu bekerja sama dengan
Hoa Pek Tuo untuk menghadapi diriku, malam ini aku pasti akan
menemui ajalnya di dalam perkampungan Thay Bie San cung ini..."
Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, Poh
Giok cu telah mendengus dingin :
"Hmmm! Kau masih ingat dengan aku yang menjadi kakak
seperguruanmu ini?"
260
IMAM TANPA BAYANGAN II
Hoa Pek Tuo tertawa seram.
"Haaaah... haaaah... haaaah... perkataan apakah ini? Kendati aku
Hoa Pek Tuo sudah melepaskan diri dari perguruan Ciat It-boen, tapi
atas budi kebaikan yang pernah Toa suheng limpahkan terhadapku,
hingga kini tak pernah kulupakan barang sekejappun, setiap saat aku
selalu mengingatnya terus..."
Pek In Hoei dapat memahami kelicikan, kekejian serta kesadisan
hati Hoa Pek Tuo, mendengar sampai di situ dengan nada menghina
segera timbrungnya :
"Benar, setiap saat kau selalu teringat bagaimana caranya
membinasakan orang-orang yang tidak tunduk kepadamu, agar paku
di depan mata bisa cepat-cepat dilenyapkan, bukankah begitu hey
manusia she Hoa? Haaaah... haaaah... haaaah... "
Kontan Hoa Pek Tuo melototkan matanya bulat-bulat dan
memancarkan cahaya bengis dengan gusar bentaknya :
"Kau tahu tempat apakah ini? Hmmm jangan dianggap kau punya
hak untuk ikut berbicara..."
Pek In Hoei mendengus dingin teriaknya :
"Hoa Pek Tuo, aku hendak membinasakan dirimu..."
Sembari berbicara... wwesss! sebuah pukulan dahsyat segera
dilontarkan ke arah kakek tua itu.
Dengan enteng Hoa Pek Tuo berkelit ke samping, serunya ketus
:
"Lebih baik kau segera enyah dari sini, suatu ketika utang piutang
di antara kita berdua pasti akan kubereskan..."
"Lebih baik sekarang juga kita bereskan hutang piutang di antara
kita berdua itu," seru Pek In Hoei sambil melangkah maju ke depan
dengan tindakan lebar.
Si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng segera
mendengus dingin, ia geser badannya dan menerjang ke depan
menghadang jalan pergi si anak muda itu, tapi Hoa Pek Tuo keburu
261
Saduran TJAN ID
goyangkan kepalanya maka terpaksa Iblis Sakti Berkaki Telanjang itu
menghentikan gerakan tubuhnya.
Terdengar Poh Giok cu berkata lagi sambil tersenyum :
"Sute, setelah bertemu dengan suhengmu, kenapa kau tidak
menyambut kedatanganku dengan menuruti adat istiadat perguruan
kita..."
Air muka Hoa Pek Tuo berubah hebat, buru-buru jawabnya :
"Aku telah melepaskan diri dari perguruan Ciat It-boen,
menyebut dirimu sebagai Suheng tidak lain karena aku tak pernah
melupakan budi kebaikanmu pada masa yang silam, tapi kalau kau
hendak maksa diriku untuk menuruti peraturan perguruan... Hmmm!
Hmmm! terpaksa aku pun tak akan mengakui dirimu sebagai Toa
Suheng lagi..."
Air muka Poh Giok cu berubah menjadi dingin, bentaknya :
"Kau hanya diusir dari laut Tang Hay dan belum pernah
melepaskan diri dari ikatan perguruan Ciat It-boen, apabila kau
bersikeras mengatakan bahwa dirimu sudah bukan anak murid dari
perguruan Ciat It-boen lagi, maka terpaksa aku akan mewakili suhu
untuk menarik kembali ilmu silat yang telah diwariskan kepadamu
dari perguruan kami..."
Sinar mata bengis memancar keluar dari balik mata Hoa Pek Tuo,
ia melirik sekejap ke arah Thiat Tie Sin Nie kemudian secara tiba-tiba
mendongak dan tertawa terbahak-bahak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... Toa Suheng," serunya sinis,
"keadaanku pada hari ini jauh berbeda dengan keadaan pada masa
lampau, aku takut kau belum mempunyai kemampuan sehebat itu..."
"Kau terlalu jumawa!" bentak Poh Giok cu gusar.
Kepergiannya meninggalkan luar lautan kali ini tujuan yang
terpenting baginya adalah menyelesaikan persoalan pribadi dalam
perguruannya, kini setelah menyaksikan Hoa Pek Tuo sama sekali
tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hawa amarah
262
IMAM TANPA BAYANGAN II
kontan memuncak, sambil membentak gusar dari tempat kejauhan ia
lancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Air muka Hoa Pek Tuo berubah serius, ia mendengus berat :
"Toa suheng, apakah kau benar-benar hendak memusuhi diri
siauw te??..."
Dia mengerti ilmu pukulan 'Poh Giok Chiet Sih' dari Toa
suhengnya adalah kepandaian hawa sakti dari dunia persilatan,
manusia yang ada di kolong langit tak ada beberapa orang banyaknya
yang sanggup menahan tujuh pukulan berantainya ini, maka ia tak
berani bertindak gegabah.
Sambil tarik napas dalam-dalam ia mundur selangkah ke
belakang, kemudian ayunkan telapak tangannya melancarkan pula
sebuah pukulan!
"Blaaam...!" di tengah suara bentrokan yang amat dahsyat, para
jago lihay dari pelbagai partai yang ada di sekeliling tempat itu
merasakan dadanya seakan-akan terhantam oleh martil besar,
beberapa orang jago yang rendah tenaga lweekangnya kontan muntah
darah segar saking tak kuat menahan goncangan dahsyat itu.
"Omihtohud!" Thiat Tie Sin Nie merangkap tangannya memuji
keagungan sang Buddha, kemudian teriaknya keras-keras :
"Para enghiong hoohan dari seluruh kolong langit, inilah ilmu
pukulan Poh Giok Chiet Sih yang dapat melukai orang tanpa
berwujud. Bagi mereka yang tak ada urusan di tempat ini segeralah
mengundurkan diri dari perkampungan Thay Bie San cung daripada
terkena bencana besar yang mengakibatkan kematian."
Walaupun dalam hati kecilnya para jago dari pelbagai partai itu
ingin sekali menyaksikan kepandaian maha sakti dari luar lautan, apa
lacur tenaga lweekang dari kedua belah pihak terlalu sempurna dan
hebat bagi mereka, maka setelah mendengar peringatan tersebut
sambil menghela napas panjang karena kecewa orang-orang itu segera
mengundurkan diri dari situ dan berlalu dari perkampungan Thay Bie
San cung.
263
Saduran TJAN ID
Sementara itu setelah Poh Giok cu melancarkan sebuah pukulan
maut dengan ilmu Poh Giok Chiet Sih yang memakan banyak
kekuatan hasil latihan selama ratusan tahun itu, dari atas ubunubunnya
segera mengepul keluar selapis asap kabut yang tipis,
telapaknya perlahan-lahan diangkat kembali dan dihantamkan ke arah
dada Hoa Pek Tuo.
Sebaliknya Hoa Pek Tuo sendiri setelah menerima sebuah
pukulan ampuh dari Poh Giok Chiet Sih yang tak berwujud itu,
mendadak wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
rambutnya pada berdiri tegak semua bagaikan landak sedang rasa
kaget dan ngeri jelas tercermin di atas raut wajahnya.
Buru-buru ia keluarkan jari tangannya, dari ujung jari yang
runcing segera meluncurlah serentetan cahaya berkilauan yang
berwarna putih bersih bagaikan susu, sambil membelah angkasa
kilatan cahaya itu langsung menotok ke atas tubuh Poh Giok cu.
Kali ini serangan dari kedua belah pihak sama sekali tidak
menimbulkan sedikit suarapun, hanya terlihat tubuh mereka berdua
bergetar pada saat yang bersamaan.
Hoa Pek Tuo segera muntah darah segar, tapi sambil tertawa
terbahak-bahak ia sempat berseru :
"Suheng ternyata kau menang!"
Selapis hawa hijau membesi terlintas di atas wajah Poh Giok cu,
hardiknya :
"Sungguh keji perbuatanmu..."
Nada suaranya rada gemetar, sambil berpaling ke arah Thiat Tie
Sin Nie katanya lagi :
"Aku berhasil melukai isi perutnya tetapi ia pun berhasil melukai
ginjalku, Hoa Pek Tuo telah berhasil melatih ilmu Gien Ciu Ci ilmu
jari perak, manusia di kolong langit tak ada yang berhasil
menaklukkan dirinya lagi..."
264
IMAM TANPA BAYANGAN II
Rupanya si orang tua dari luar lautan ini mengerti akan parahnya
luka dalam yang diderita, selesai berkata ia putar badan segera berlalu
dari tempat.
Thiat Tie Sin Nie menghela napas panjang terhadap diri Hoa Pek
Tuo serunya :
"Tidak sepantasnya kau turun tangan yang begitu kejinya
terhadap toa suhengmu sendiri..."
"Nikouw bau! Dengan andalkan apa kau berani mengucapkan
kata-kata semacam itu kepadaku?" bentak Hoa Pek Tuo dengan
gusarnya.
Thiat Tie Sin Nie gelengkan kepalanya berulang kali.
"Rupanya kau masih membenci pada diriku karena kau pernah
kuusir dari istana Hoei-Coe Kiong? Aaaaai...! dari mana kau bisa tahu
perasaan hatiku pada waktu itu? Sekarang coba kau pikirkan lagi,
kenapa pada waktu itu aku berbuat demikian?"
"Tak ada yang perlu dipikirkan lagi..." tukas Hoa Pek Tuo sambil
menyeka darah kental yang membasahi ujung bibirnya, mendadak
sambil mencabut keluar pedang penghancur sang surya milik Pek In
Hoei bentaknya keras-keras :
"Apabila tak ada kau yang mengacau, tak nanti aku bisa berpisah
dengan Hoo Bong Jien. Hmmm! Nikouw bau, malam ini masih ada
perkataan apa lagi yang hendak kau ucapkan? Aku hendak
membinasakan dirimu untuk melenyapkan rasa dendam dan rasa sakit
dalam hati..."
Pedang sakti itu digetarkan keras-keras sehingga mengeluarkan
suara dengungan keras yang memekikkan telinga.
Pek In Hoei segera maju selangkah ke depan, hardiknya :
"Hoa Pek Tuo! kembalikan pedang pusaka penghancur sang
surya ku..."
Thiat Tie Sin Nie melirik sekejap ke arah Pek In Hoei, tiba-tiba
tanya dengan suara lembut :
265
Saduran TJAN ID
"Ooooh, apakah pedang mustika itu milikmu? Baiklah! Akan
kurampaskan kembali..."
Tampaklah jago sakti dari laut Tang Hay ini menggerakkan
pundaknya dan secara tiba-tiba menggunakan ketiga jari tangannya
menjepit pedang mustika penghancur sang surya itu, seketika itu juga
terasalah segulung tenaga tekanan yang maha dahsyat menerjang ke
arah tubuh Hoa Pek Tuo.
Kendati tenaga lweekang yang dimiliki Hoa Pek Tuo telah
mencapai puncak kesempurnaan, apa daya Thiat Tie Sin Nie adalah
seorang jago sakti dari luar lautan, bukan saja gerakannya
dilaksanakan dengan kecepatan melebihi suara lagi pula Hoa Pek Tuo
dalam keadaan terluka tak berani menyambut datangnya hawa
pukulan yang sangat hebat itu dengan keras lawan keras.
Wajahnya berubah hebat, sambil melepaskan cekalan pada
pedang itu dengan ketakutan ia mengundurkan diri ke belakang.
"Huuuh! Nikouw bau, kau benar-benar tak tahu malu!" maki Hoa
Pek Tuo amat gusar.
Thiat Tie Sin Nie sama sekali tidak menggubris makian orang,
perlahan-lahan ia serahkan kembali pedang mustika penghancur sang
surya itu ke tangan Pek In Hoei sambil pesannya :
"Lain kali jangan sampai hilang lagi, senjata tajam mustika
semacam ini apabila tidak digunakan pada tempatnya kemungkinan
besar malah akan mengakibatkan banjir darah..."
"Cianpwee, kau..." seru Pek In Hoei terharu.
Thiat Tie Sin Nie tersenyum. "Pergilah dengan cepat dari sini!
Tempat ini bukan tempat yang cocok bagimu untuk berdiam lebih
lama..."
Pek In Hoei sendiri pun tahu bahwa ia tak bisa berdiam terlalu
lama di situ maka setelah menerima pedang mustikanya ia melirik
sekejap ke arah Hoa Pek Tuo dengan pandangan dingin kemudian
baru putar badan berlalu dengan langkah lebar.
266
IMAM TANPA BAYANGAN II
Menanti pemuda itu sudah berlalu, dengan wajah dingin Thiat Tie
Sin Nie baru berpaling ke arah Hoa Pek Tuo sambil tegurnya :
"Dengan kedudukanmu ternyata hanya berani merampas senjata
tajam milik seorang boanpwee, apakah kau tidak takut memalukan
kita orang-orang dari Tang Hay? Aku mengerti betapa benci dan
mendendamnya dirimu kepadaku, tapi sekarang aku tak akan
bergebrak melawan dirimu di kala kau sedang terluka. Tiga hari
kemudian aku akan menantikan kedatanganmu di puncak Soe Sin
Hong, aku rasa pada saat itulah semua persoalan di antara kita berdua
boleh diselesaikan..."
Berbicara sampai di situ tanpa menantikan jawabannya lagi ia
segera berkelebat pergi dari situ, tak seorang pun tahu bagaimana
caranya ia berlari dari sana.
******
Cahaya sang surya yang lembut dan hangat memancar di dalam
sebuah kuil bobrok yang tinggal puing berserakan, di tengah ruangan
kuil yang penuh debu Ouw-yang Gong sambil mencekal huncwee
gedenya menyedot tiada hentinya, segulung demi segulung asap putih
mengepul ke udara dan menyebar di angkasa...
Di belakang tubuhnya duduk dua orang kakek tua yang
mengawasi gerak-geriknya dengan sorot tajam, ditinjau dari tindak
tanduk mereka berdua rupanya mereka kuatir kalau si kakek tua ini
melarikan diri.
Tampak Ouw-yang Gong menggoyang-goyangkan huncwee
gedenya, lalu ia memaki dengan suara gemas :
"Hey kamu dua orang bangsat cecunguk ngapain melotot terus ke
arahku dengan pandangan bajingan? Sudahlah, tak usah punya pikiran
jahat, aku si huncwee gede tidak punya uang barang sepeserpun..."
Si kakek tua berperawakan kurus kering yang ada di sebelah kiri
segera mengerutkan alisnya setelah mendengar perkataan itu,
sahutnya ketus :
267
Saduran TJAN ID
"Ouw-yang Gong, lebih baik tenang-tenanglah duduk di sana.
Tempo dulu masih ada seorang pendekar jantan berkapak sakti Chee
Thian Gak yang datang menolong dirimu, kali ini tak nanti ada
panglima penolong yang datang menyelamatkan jiwamu..."
"Maknya edan! Rupanya kalian cucu murid dari perguruan Thian
Liong Boen pun sudah menjadi prajurit pengawal dari keluarga
Kaisar? Hmmm! Anak jadah kumal! Pekerjaan lain yang lebih baik
tak sudi dikerjakan, dagangan sepi yang tiada untung malah kalian
kerjakan, kalau kalian Ciang Kiam Siang Kiat tiada jalan keluar lagi,
lebih baik ikut aku si Ouw-yang Gong saja mencari sesuap nasi..."
Kakek tua yang ada di sebelah kanan adalah seorang kakek
berbadan gemuk serta memelihara jenggot kambing pada janggutnya,
jubah yang dikenakan adalah kain sutera berwarna hijau, pada
pinggangnya tersoren sebilah pedang panjang.
Ketika mendengar ocehan dari Ouw-yang Gong barusan, alisnya
kontan berkerut, dengan sorot mata berapi-api ia melotot sekejap ke
arah kakek tua itu dengan penuh kebencian.
"Hmmm... Hmmm... hey huncwee gede! Kalau berbicara harap
berbicaralah yang rada enakan didengar," peringatnya dengan suara
dingin. "Aku Cho Ban Tek dari perguruan Thian Liong Boen aliran
Utara bukan manusia lemah yang bisa dipermainkan seenaknya kalau
bacotmu bicara kotor dan tidak genah lagi, hati-hati kuhajar mulut
anjingmu itu sampai bonyok dan remuk..."
Ouw-yang Gong segera mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Cho Ban Tek, sungguh indah
kedengarannya namamu itu, kenapa kau si anak jadah kumat tak mau
ganti nama menjadi Cho Jiak Tek? Kalau dilihat dari tampangmu
yang jelek sudah pasti perangai serta akhlaknya telah bejat..."
Disindir dan diolok-olok dengan ucapan seperti ini, Cho Ban Tek
si jago pedang dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara ini jadi
tak tahan, ia meraung gusar kemudian ayun telapaknya mengirim satu
babatan ke atas bahu kakek she Ouw yang itu.
268
IMAM TANPA BAYANGAN II
Buru-buru Ouw-yang Gong berkelit ke samping menghindar,
kemudian ejeknya lagi :
"Anak jadah kumal! Kau betul-betul punya keberanian, sampai
bapakmu sendiri pun berani kau gebuk, bagus... bagus sekali.
Sekalipun aku tak bisa menangkan dirimu, untuk lari rasanya masih
sanggup. Jangan sampai kau bangkitkan amarahku yang belum
sampai aku jadi nekad dan lari dari sini, akan kulihat kalian mau
apakah diriku..."
Begitu mendengar si kakek konyol itu mau melarikan diri, dua
orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen aliran Utara ini jadi
amat gelisah, buru-buru mereka loncat bangun dari atas tanah dan
memencarkan diri masing-masing menjaga di salah satu sudut
ruangan untuk menghalangi kepergian kakek tersebut.
Suheng dari Cho Ban Tek yaitu Long Heng Ciang atau si telapak
naga Goei Peng dengan wajah berubah hebat serunya :
"Ouw-yang Gong, kau punya rasa malu atau tidak..."
"Maknya, anak jadah kumal! Duduk dulu, duduk dulu, jangan
emosi dan jangan marah dulu," sahut Ouw-yang Gong setelah
menghisap beberapa kali huncweenya. "Kalau aku si huncwee gede
benar-benar mau minggat dari sini, tak nanti kuberitahukan dulu
kepada kalian. Hey! Buat apa kamu bersitegang seperti kunyuk
jelek..."
Tingkah laku yang konyol dari kakek tua ini tentu saja membuat
dua orang jago dari perguruan Thian Liong Boen ini jadi mewek
saking mendongkolnya, mereka saling bertukar pandangan sambil
tertawa getir kemudian perlahan-lahan duduk kembali di atas lantai.
"Asal kau tidak pergi, persoalan apa pun bisa kita rundingkan
secara baik-baik..." kata si jago pedang Cho Ban Tek dengan wajah
berkerut sedih.
"Sungguh...??" jerit Ouw-yang Gong tiba-tiba dengan mata
melotot gede. "Hey anak jadah kumal yang bulukan, kalau punya arak
bawa sini dulu, kalau suruh aku huncwee gede duduk nongkrong terus
269
Saduran TJAN ID
disini sambil biarkan pantatku jadi kering, lama kelamaan aku bisa
tidak kerasan... mana araknya? Bawa sini, tenggorokanku sudah mulai
kering kerontang..."
Dari dalam buntalannya buru-buru si telapak naga Goei Peng
ambil keluar sebuah cupu-cupu arak kemudian diangsurkan ke depan,
menerima cupu-cupu arak tersebut Ouw-yang Gong langsung
meneguknya beberapa tegukan, setelah itu sambil tertawa terbahakbahak
menyeka mulutnya. Biji mata berputar dan rupanya ia sedang
mencari akal lagi untuk menggoda dan mempermainkan dua orang
jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen ini.
Ia ketukkan huncwee gedenya ke atas lantai, semua ampas
tembakaunya dibuang ke situ, setelah itu sambil putar huncwee gede
itu di tengah udara serunya lagi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Hey, bukankah kamu berdua
menyebut dirinya datang dari perguruan Thian Liong Boen yang ada
di propinsi Liauw Tang...? Sepanjang jalan entah sudah berapa kali
kalian menjual lagak di hadapanku, katanya perguruan Thian Liong
Boen kalian bagaimana... bagaimana lihaynya, sekarang hatiku si
huncwee gede sedang gatal, pengin sekali aku melihat sampai di
manakah kepandaian silat yang dimiliki perguruan kalian. Coba kamu
dua orang anak jadah kumal masing-masing berlatihlah semacam
kepandaian untuk dipertontonkan kepadaku..."
"Apa?? Jangan ngaco belo terus menerus..." teriak Cho Ban Tek
sambil meraung gusar.
"Nenek bermata codet, edan rupanya semua nenek moyangmu,"
maki Ouw-yang Gong dengan mata melotot, "kalau kau berani tidak
menuruti perkataanku..."
Melihat Ouw-yang Gong hendak pergi, saking gelisah dan
cemasnya air muka si telapak naga Goei Peng sampai berubah hebat,
mereka berdua mendapat tugas dari Song Kim Toa Lhama untuk
menjaga Ouw-yang Gong, sepanjang jalan entah sudah berapa banyak
rasa dongkol yang harus mereka telan begitu saja, berhubung mereka
270
IMAM TANPA BAYANGAN II
takut Ouw-yang Gong secara mendadak mengingkari janji dan
ngeloyor pergi maka kedua orang itu terpaksa harus bersabar terus
menerus, mereka hanya berharap Song Kim Toa Lhama cepat-cepat
datang hingga tugas mereka selesai.
Dengan gemas ia mendepakkan kakinya keras-keras, pikirannya
di dalam hati :
"Menanti Song Kiem Toa Koksu telah datang, aku harus baikbaik
memberi pelajaran kepadanya..."
Maka dengan wajah setengah mewek karena mendongkol yang
tak tersalurkan katanya :
"Cho suheng, siapa suruh kita mendapatkan tugas konyol seperti
ini? Anggap saja kita lagi sial, mari kita turuti saja permintaannya..."
Selesai berkata ia segera mempersiapkan gerakan permulaan dari
ilmu telapak Liong heng ciang kemudian sejurus demi sejurus
dimainkan dengan teratur.
Si jago pedang Cho Ban Tek mendengus dingin, ia cabut keluar
pedangnya dan mulai berlatih pula sejurus demi sejurus.
Menyaksikan kedua orang itu benar-benar mulai berlatih silat,
Ouw-yang Gong mengerutkan alis, timbullah niatan untuk
memperolok-olok mereka sejadinya.
271
Saduran TJAN ID
Jilid 12
MAKA sambil tertawa terbahak-bahak serunya :
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak cukup kalau hanya begitu
saja, ayoh kalian saling berjotosan secara sungguh-sungguh..."
Dalam hati walaupun si jago pedang Cho Ban Tek serta di telapak
naga Goei Peng merasa kheki bercampur mendongkol tetapi perasaan
tersebut tak berani mereka utarakan di luaran, setelah mendengus
dingin mulailah mereka berdua saling bergebrak dengan serunya.
Kepandaian silat yang dimiliki ke-dua orang ini pada dasarnya
memang tidak lemah,maka setelah saling bergebrak terdengarlah
suara gedebukan dalam ruangan itu.
Memandang pertarungan yang dilakukan ke-dua orang itu Si
huncwee gede Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak, kembali ia
meneguk beberapa tegukan arak, setelah itu menjatuhkan diri
berbaring di atas lantai dan tidur, terhadap pertarungan di kalangan
tak sekejap pun dipandangnya.
Menanti si kakek konyol itu sudah mulai mendengkur keras, Cho
Ban Tek serta Goei Peng segera berhenti untuk mengaso. Siapa
sangka Ouw-yang Gong memang ada maksud mempermainkan
mereka, baru saja kedua orang itu berhenti bergebrak ia segera
meloncat bangun sambil memaki :
"Anak jadah sialan, rupanya kamu dua orang cecunguk jelas
malasnya bukan main.. suruh latihanmu tidak bersungguh-sungguh...
ayoh cepat mulai bergebrak lagi..."
272
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan adanya kejadian ini, bukan saja Cho Ban Tek serta Goi
Peng tidak berani berhenti bergebrak, bahkan mereka sengaja
bergebrak semakin menyaring, saat ini apa yang dipikirkan ke-dua
orang ini adalah sama yaitu berharap agar orang yang menggantikan
tugas mereka cepat-cepat datang, daripada mereka harus menahan
rasa dongkol terus menerus.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara derap kaki kuda
berkumandang di luar kuil, terdengar kuda itu mendadak berhenti
disusul berkumandangnya suara langkah manusia yang berat.
Tampak bayangan manusia berkelebat, seorang kakek berwajah
kering perlahan-lahan berjalan masuk ke dalam ruangan.
Ia menyapu sekejap ke seluruh ruangan itu, ketika menemukan
Ouw-yang Gong tidur di atas lantai sedang dua orang lainnya sedang
bertempur di hadapannya, orang tua itu terkejut dan segera bentaknya
:
"Berhenti semua!"
"Neneknya cucu monyet, Hey Hee Giong Lam siap suruh kau
mencampuri urusanku..." maki Ouw-yang Gong sambil ulapkan
tangannya berulang kali.
hgs Si Rasul beracun mendengus dingin.
"Ouw-yang Gong,aku sedang risau karena tidak berhasil
menemukan dirimu, sungguh tak nyana kiranya kau bersembunyi
disini."
Ouw-yang Gong tidak menggubris ucapan orang, ia segera
bangun dari tidurnya dan berteriak :
"Heeei... kamu berdua jangan bertarung lagi, cepat kalian usir
dulu tua bangka sialan ini dari sini..."
Dalam pada itu Cho Ban Tek serta Goei Peng sedang merasa
mendongkol hingga mencapai pada puncaknya, mendengar Ouwyang
Gong secara tiba-tiba memerintahkan mereka untuk mengusir
Hee Giong Lam dari situ, dengan cepat mereka saling berpisah
kemudian berbareng menubruk ke arah Rasul Racun itu dengan
273
Saduran TJAN ID
gerakan ganas, semua rasa dongkol dan kheki yang menekan dada
mereka selama ini ditumpahkan semua ke atas tubuh manusia She-
Hee ini.
Sembari melancarkan sebuah serangan dahsyat, si telapak naga
Goei Peng membentak gusar :
"Aku perintahkan kau segera mengundurkan diri dari sini, tempat
ini adalah daerah kekuasaan dari Jie Thay coe kami..."
"Kau sendiri yang segera enyah dari sini..." bentak Hee Giong
Lam pula sambil mendengus.
Rupanya kakek beracun ini sudah naik pitam pula, sambil
membentak tubuhnya menerjang ke depan, telapaknya langsung
disambar ke muka menggaplok pipi Goei Peng.
Plooook! Terdengar suara yang amat nyaring, sambil menahan
kesakitan Goei Peng segera mengundurkan diri ke belakang, lima
bekas jari yang merah berdarah tertera jelas di atas pipinya.
Melihat saudara seperguruannya kena digaplok orang, si jago
pedang Cho Ban Tek jadi teramat gusar, pedangnya berputar bagaikan
baling-baling kemudian laksana kilat membabat ke depan, bentaknya
:
"Bangsat keparat, rupanya kau sudah bosan hidup..."
Serangan tersebut merupakan gerakan 'Sin Kie Sit Seng' atau
Badik sakti membidik bintang dari ilmu pedang 'Liok Seng Kiam
Hoat' aliran perguruan Thian Liong Boen, begitu pedangnya bergetar
segera tampaklah kilatan cahaya dingin yang amat menyilaukan mata
meluncur ke depan mengurung seluruh tubuh Hee Giong Lam.
Si telapak naga Goei Peng sendiri sejak munculkan diri di dalam
dunia persilatan belum pernah mengalami penghinaan sebesar ini,
saking gusar dan mendongkolnya sampai-sampai sekujur badannya
gemetar keras, bibirnya kontak bersemu ungu sedang wajahnya merah
membara, dengan hati penasaran bercampur mendendam sekali lagi
ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu, bangsat!"
274
IMAM TANPA BAYANGAN II
Berhadapan dengan dua orang jago lihay dari perguruan Thian
Liong Boen ini, si Rasul Racun Hee Giong Lam tak berani bertindak
gegabah, dengan menggunakan suatu gerakan yang aneh ia
melepaskan diri dari kejaran serangan pedang dan telapak musuhmusuhnya,
mendadak dari pinggang ia melepaskan seutas tali lunak
kemudian digetarkan ke udara hingga berdiri lurus kaku bagaikan
sebatang pit...
Begitu menyaksikan senjata 'istimewa' yang digunakan pihak
lawannya, kedua orang jago dari perguruan Thian Liong Boen ini
sama-sama merasa terkejut, sambil menghembuskan napas dingin
buru-buru mereka mengundurkan diri sejauh tujuh dlepan depa ke
belakang, kemudian memandang benda di tangan Hee Giong Lam
dengan pandangan termangu-mangu.
Kiranya senjata yang digetarkan di tengah udara oleh Hee Giong
Lam barusan bukan lain adalah seekor ular kecil berwarna hijau,
bukan saja ular itu sekujur badannya berwarna hijau mengkilap
bahkan lencir tipis dan panjang seakan-akan seutas tali panjang,
terutama sekali lidahnya yang merah dan tajam, sambil memandang
tubuh ke-dua orang jago lihay dari perguruan Thian Liong Boen
menjulur keluar tiada hentinya, jelas setiap saat kemungkinan besar
binatang itu akan melancarkan patukan mautnya.
Dengan sekujur badan gemetar keras, Cho Ban Tek si jago
pedang itu berseru keras :
"Kau... apakah kau adalah si orang tua dari Perguruan Selaksa
Racun?..."
"Hmmm, kematian kalian berdua sudah di ambang pintu, buat
apa banyak bertanya lagi..."
Cho Ban Tek mengerti andaikata mereka berani mengikat tali
permusuhan dengan si orang tua dari Perguruan Selaksa Racun ini,
maka tak akan ada hari yang aman lagi bagi mereka, teringat
kesemuanya ini adalah hasil gara-gara dari Ouw-yang Gong, dengan
hawa amarah yang berkobar-kobar tanpa terasa kedua orang itu
275
Saduran TJAN ID
berpaling ke arah si kakek konyol itu dan melotot penuh kebencian ke
arahnya.
Siapa tahu ketika sorot mata mereka sebentar di atas wajah Ouwyang
Gong, sambil mengerdipkan matanya si kakek konyol itu
berlagak seolah-olah tak pernah terjadi suatu peristiwa apa pun.
"Anak jadah gombal yang berbau busuk," terdengar ia
menggembor dengan suara keras... "Apa yang bagus dilihat? Hanya
melihat ular hijau di tangan Hee Giong Lam si cucu monyet itu pun
kalian sudah ketakutan setengah mati, begitu masih bisanya berlagak
sok dan mengatakan sampai di mana lihaynya perguruan Thian Liong
Boen kalian? Hmmm! Kenapa sekarang setelah berhadapan dengan
musuh kalian jadi pucat dan terkencing-kencing saking takutnya?
Sungguh tak punya semangat, sungguh tak becus... manusia dogol..."
Dimaki kalang kabut oleh Ouw-yang Gong, hawa amarah dalam
dada Cho Ban Tek seketika berkobar kembali, ia mendengus berat
kemudian putar pedangnya melancarkan sebuah tusukan kilat ke arah
dada Hee Giong Lam.
Si Rasul Racun dari Perguruan Selaksa Racun ini segera tertawa
terbahak-bahak, mendadak ia getarkan ular hijau di tangannya untuk
menggulung senjata pedang yang sedang mengancam ke arahnya.
Berada di tengah udara ular itu berputar satu lingkaran kemudian
membelenggu senjata pedang itu tajam-tajam, kepala ular dalam
waktu yang amat singkat secara tiba-tiba mengikuti tajamnya tubuh
pedang itu meluncur ke depan dan memagut pergelangan tangan Cho
Ban Tek keras-keras.
"Aduuuh...!" terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati,
sambil membuang senjata pedangnya ke atas tanah Cho Ban Tek
buru-buru meloncat mundur ke belakang, keringat sebesar kacang
kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya,
sebuah lengannya seketika jadi bengkak besar sekali, air mukanya
berubah hebat.
276
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sambil memandang lengannya yang mulai berubah jadi semu
kehitam-hitaman serunya sedih :
"Goe sute, aku telah terluka..."
Rupanya si telapak naga Goei Peng sama sekali tidak mengira
kalau toa suhengnya Cho Ban Tek bakal terpagut ular berbisa sebelum
satu jurus serangannya habis digunakan, saking terkejutnya ia sampai
berdiri termangu-mangu tanpa bisa berbuat sesuatu apa pun.
Beberapa saat kemudian ia baru mendusin dari rasa kagetnya,
buru-buru ia loncat ke depan mendekati tubuh suhengnya kemudian
dengan gerakan yang cepat menotok tiga buah jalan darah di atas
tubuh manusia she Cho dari perguruan Thian Liong Boen ini.
"Suheng, kau tak usah takut," serunya dengan hati bergidik.
"Sebentar lagi Song Kiem toa koksu pasti akan tiba disini, dan kau
pasti bakal tertolong..."
Berbicara sampai di situ dengan cepat ia putar badan kembali,
seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun ke atas telapak
kanan, tapi sebelum serangan itu sempat dilontarkan untuk kesekian
kalinya jago dari propinsi Liau Tang ini dibikin berdiri tertegun.
Tampaklah ular hijau yang berada di tangan Hee Giong Lam pada
waktu itu sedang menggeliat dengan kencangnya di atas senjata
pedang suhengnya, termakan oleh gerakan tadi mendadak pedang
tersebut patah jadi beberapa bagian dengan menimbulkan suara
nyaring, patahan-patahan pedang itu berserakan di atas lantai dalam
bentuk yang amat kecil, sedang ular tadi selesai melakukan tugasnya
bergerak kembali lagi ke atas lengan majikannya.
"Suhengnya sudah tidak tertolong lagi," terdengar Hee Giong
Lam berkata sambil tertawa dingin. "Siapa pun di dalam dunia
persilatan mengetahui sampai dimanakah kelihayan dari ular hijauku
ini, di dalam tiga jam apabila tiada obat pemunah dariku untuk
memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhnya maka selembar
jiwanya pasti akan melayang..."
277
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kau si cucu monyet
berwajah kunyuk sedang mengibul gede-gedean di situ," seru Ouwyang
Gong sambil tertawa terbahak-bahak, "Aku si huncwee gede
justru tidak percaya kalau ular hijaumu yang begitu kecil bisa
demikian lihaynya. Mari...mari... mari... tak ada halangannya kalau
kita mencoba-coba..."
Bicara sampai di situ ia sedot huncweenya dalam-dalam,
kemudian huncwee gede tadi dengan menciptakan diri dari selapis
bayangan hitam yang tebal menotok ke atas batok kepala ular
tersebut, serangan ini dilancarkan sedemikian cepatnya sehingga
tahu-tahu huncwee tersebut sudah meluncur ke depan.
Siapa tahu ular kecil itu ternyata memiliki gerakan tubuh yang
amat gesit, ketika merasakan datangnya ancaman dengan sebat ia
miringkan badannya ke samping kemudian secara tiba-tiba meloncat
ke depan, lidahnya yang berwarna merah langsung menggigit ke atas
wajah Ouw-yang Gong.
Melihat datangnya pagutan sang ular, Ouw-yang Gong tetap
bersikap tenang, mendadak ia buka mulut dan menyemburkan asap
huncwee yang tebal itu ke hadapan mukanya.
Rupanya ular hijau itu merasa sangat takut dengan kabut
huncwee yang amat tebal itu, badannya dengan cepat menyusut
mundur ke belakang dan kembali ke atas lengan Hee Giong Lam,
sementara sepasang matanya yang kecil dan bersinar merah itu
berkedip-kedip lirik, rupanya ia tak berani meluncur ke muka lagi.
Melihat ular itu berhasil dipukul mundur dengan amat bangga
Ouw-yang Gong segera tertawa terbahak-bahak.
Haaaah... haaaah... haaaah... anjing buduk anak kunyuk,
bagaimana dengan jurus seranganku ini?"
Air muka Hee Giong Lam berubah hebat, sebentar jadi pucat
sebentar lagi berubah jadi hijau membesi, hardiknya :
"Ouw-yang Gong, kalau ini hari aku gagal mencabut selembar
jiwa anjingmu, aku bersumpah tak akan berlalu dari sini."
278
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aaah,kentut bau nenekmu yang ketujuh puluh dua kalinya,"
maki Ouw-yang Gong dengan mata melotot. "Kalau aku si huncwee
gede jeri terhadap kau monyet Hee Giong Lam, tak nanti aku berani
bergelandangan di dalam dunia persilatan..."
"Heeeh... heeeh.... heeeh... Ouw-yang Gong kurangilah banyolan
busukmu itu, coba pikirlah sudah berapa tahun lamanya kau terkurung
di dalam lembah selaksa racunku? Apakah kau sudah lupakan
kejadian tersebut? Hmm, seandainya bukan Pek In Hoei si keparat
cilik itu yang datang menolong..."
"Cuuuh!" dengan gemas kakek Ouw yang meludah di atas lantai.
"Kalau kau tidak ungkap persoalan lama mungkin masih mendingan,
sekarang setelah kau sebut-sebut kembali peristiwa tersebut hatiku
jadi semakin kheki, kau si anak kura-kura kalau tidak menggunakan
siasat busuk, dari mana aku Ouw-yang Gong bisa terjebak di dalam
perangkapmu..."
Waktu berbiar ludahnya muncrat-muncrat ke empat penjuru,
setelah menghisap huncweenya beberapa kali ia segera enjotkan
badannya meluncur ke depan, senjata huncwee gedenya laksana petir
yang menyambar permukaan bumi menotok ke arah iga si Rasul
Racun Hee Giong Lam.
Merasakan datangnya ancaman, cikal bakal dari perguruan
seratus racun ini segera loncat ke samping untuk menghindar, serunya
sambil tertawa seram :
"Huncwee gede, kau harus tahu bahwa aku Hee Giong Lam
bukanlah manusia yang bisa dipermainkan seenaknya..."
Di kala ia sedang melancarkan pukulan untuk balas menyerang
lawannya itulah, mendadak dari luar kuil berkumandang datang suara
langkah manusia yang amat berat, langkah manusia itu bukan saja
perlahan bahkan ketika menginjak genteng yang berhamburan yang
nyaring, jelas yang datang bukan seorang saja.
Hee Giong Lam adalah manusia licik yang berakal cerdik, biji
matanya segera berputar, pikirnya :
279
Saduran TJAN ID
"Entah siapakah yang berdatangan itu? Mungkinkah manusiamanusia
sekomplotan dengan si huncwee gede Ouw-yang Gong?
Kalau yang datang benar-benar adalah para pembantu dari manusia
konyol itu, aku seorang she Hee bakal menderita kerugian besar..."
Begitu ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, buruburu
ia menghindarkan diri dari sebuah serangan kilat dari Ouw-yang
Gong dan mundur lima enam langkah ke belakang tegurnya :
"Hey si huncwee gede, kau sudah mengundang datang berapa
banyak orang pembantu?"
Mula-mula Ouw-yang Gong tertegun, kemudian segera makinya
dengan gusar :
"Nenek anjing... anak monyet, sejak kapan aku Ouw-yang Gong
pernah memanggil pembantu?..."
Mendengar jawaban itu legalah hati Hee Giong Lam, sebab ia
tahu belum pernah Ouw-yang Gong bicara bohong, maka sambil
ulapkan tangannya ke arah kakek konyol itu melarang dia berbicara,
perhatiannya segera dipusatkan jadi satu untuk memeriksa gerakgerik
di luaran.
Terdengarlah suara langkah manusia itu makin lama semakin
mendekat, secara lapat-lapat ia dapat mendengar suara pembicaraan
manusia.
Terdengar seorang dengan suara yang kasar dan kaku sedang
berkata :
"Toa Koksu, menurut pandanganmu mungkinkah Ouw-yang
Gong bisa melarikan diri?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak mungkin," sahut Song Kim
Toa Lhama sambil tertawa terbahak-bahak. "Cho Ban Tek serta Goei
Peng adalah jago kelas satu dari perguruan Thian Liong Boen aliran
Utara, andaikata Ouw-yang Gong hendak satu lawan mereka berdua,
pasti ia bukan tandingan dari kedua orang itu..."
Ketika si telapak naga Goei Peng mendengar suara dari Song Kim
Toa Lhama berkumandang datang, segera teriaknya keras-keras:
280
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Toa Koksu cepat datang, toa suhengku menderita luka parah..."
"Hey anak jadah kumal! Siapa suruh kau ngebacot dan berteriakteriak
seperti monyet kelaparan..." bentak Ouw-yang Gong dengan
mata melotot.
Baru saja bentakan itu sirap, dari balik ujung tembok secara
beruntun berjalan keluar tiga orang, Song Kim Toa Lhama berjalan
duluan disusul oleh Tauw Meh serta Tok See dua orang di
belakangnya.
Menyapu sekejap suasana dalam ruangan kuil, ketiga orang itu
nampak terkejut dan tidak habis mengerti.
Song Kim Toa Lhama melirik sekejap ke arah tubuh si jago
pedang Cho Ban Tek yang menggeletak di atas tanah, kemudian
tegurnya :
"Siapa yang telah melukai dirimu?"
"Aku!" Sahut Hee Giong Lam ketus, ia segera melangkah maju
setindak ke muka.
Dengan sorot cahaya tajam Song Kim Toa Lhama mengawasi
wajah si Rasul Racun Hee Giong Lam, kemudian sambil tertawa
dingin ujarnya :
"Ooooh, kiranya dirimu, Perguruan Selaksa Racun hanya suatu
perkumpulan kecil, berani betul kau menentang dan melawan kami!"
Penghinaan tersebut segera diterima Hee Giong Lam dengan
luapan hawa gusar yang tak terkirakan, seluruh tulang belulang dalam
tubuhnya bergemerutukan keras, jubah pakaiannya menggelembung
besar dan sorot cahaya buas memancar keluar dari matanya.
"Hey hweesio bau," serunya sambil tertawa seram, "rupanya kau
tidak pandang sebelah mata pun terhadap Perguruan Selaksa Racun
kami..."
"Hmmm! Hmmm! manusia di kolong langit dewasa ini siapa
yang berani menentang dan melawan kekuasaan Sri Baginda pada
masa ini? Walaupun Perguruan Selaksa Racun kalian merupakan
281
Saduran TJAN ID
sebuah partai di dalam dunia persilatan, tapi dalam pandangan kami
keluarga Baginda Raja..."
"Hmmm!..." dengan amat gusarnya Hee Giong Lam mendengus
keras-keras, pergelangannya diputar dan sang telapak dengan
membentuk gerakan busur melancarkan sebuah babatan maut ke arah
depan.
Song Kim Toa Lhama segera geserkan badannya berkelit ke
samping, kemudian sambil mundur ia balas mengirim pula satu
pukulan.
Mendadak Tauw Meh mencabut keluar pedangnya dari dalam
sarung, sambil mengirim satu tusukan kilat bentaknya :
"Serahkan saja bajingan she Hee ini kepadaku!"
"Kemungkinan besar manusia she Hee dari Perguruan Selaksa
Racun ini adalah komplotan dari Ouw-yang Gong, kalian cepat kirim
si huncwee gede itu berlalu dari sini, sedang jago lihay dari Tok-boen
ini biarlah aku yang layani..."
Selesai berbicara secara beruntun dia lepaskan dua buah babatan
maut memaksa Hee Giong Lam mundur dua langkah ke belakang,
Tauw Meh serta Tok See mengerti akan masuk hati dari Song Kim
Toa Lhama, secara serentak mereka segera menubruk ke arah Ouwyang
Gong.
Merasakan dirinya ditubruk dengan hebatnya, kontan Ouw-yang
Gong memaki kalang kabut :
"Song Kiem bajingan keledai gundul,kalau berbicara mulutmu
disikat dulu agar tidak bau! Aku si huncwee gede kenal dengan semua
manusia yang ada di kolong langit, tapi tidak kenal dengan cucu
monyet anak kura-kura she Hee tersebut, kalau tidak percaya
tanyakanlah sendiri kepadanya..."
"Huncwee gede!" seru Tok See dengan suara dingin sambil
menyusup mendekati, "Toa Koksu ada perintah untuk mengundang
kau pergi menghadap Jie Thaycu kami..."
282
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Nenek anjing monyet jelek! Walaupun aku si huncwee gede
sudah menyanggupi untuk tidak ngeloyor pergi, tapi aku tak pernah
menyanggupi untuk pergi menjumpai pangeran anak monyet jelek
itu," bentak Ouw-yang Gong dengan mata melotot bulat. "Tok See!
Kalau kau hendak menggunakan kekerasan terhadap diriku, maka kau
sudah salah memilih orang..."
Ketika dilihatnya secara tiba-tiba air muka si huncwee gede itu
berubah bersungut, baik Tok See maupun Tauw Meh segera mengerti
bahwa urusan telah terjadi perubahan, sebagai dua jago pedang
terbaik di kolong langit, mereka segera menggetarkan senjatanya
masing-masing menciptakan berkuntum-kuntum bunga pedang yang
dingin dan tajam untuk mengurung seluruh tubuh kakek konyol itu.
Dengan ketakutan Ouw-yang Gong mundur selangkah ke
belakang, makinya penuh kegusaran :
"Aduuh celaka... rupanya kalian dua orang anak monyet jelek
yang borokan hendak mencabut selembar jiwaku... hey! Jangan kasarkasar
terhadap aku tahu?..."
Mendadak tubuhnya mencelat ke angkasa, berada di udara
dengan lincah ia berjumpalitan beberapa kali lalu dengan gerakan
tegak lurus bagaikan sebatang tombak ia meluncur naik ke atas tiang
wuwungan bangunan kuil itu.
Baik Tok See maupun Tauw Meh tak pernah menyangka kalau si
kakek konyol itu bakal mengeluarkan jurus serangan seaneh itu,
saking mendongkol dan khekinya mereka segera berkaok-kaok dan
menyumpah-nyumpah.
Bersandaran di atas tiang penglari Ouw-yang Gong menghisap
huncweenya beberapa kali, dua gulung asap hitam disemburkan
perlahan-lahan lewat kedua buah lubang hidungnya, lalu sambil
memandang Tok See serta Tauw Meh yang sedang mencak-mencak
di bawah ia tertawa terbahak-bahak, sikap mengejek sekali.
283
Saduran TJAN ID
Tauw Meh segera enjotkan badannya meluncur ke tengah udara,
berbareng dengan gerakan tersebut cahaya pedang berkilauan
mengirim satu tusukan kilat, bentaknya marah :
"Huncwee gede! Sedari kapan kau telah mempelajari kepandaian
ngeloyor pergi ini?"
Huncwee gede Ouw-yang Gong menggerakkan senjatanya
memukul balik cahaya pedang yang mengancam dirinya...
Traaaang! Seketika itu juga tubuh Tauw Meh yang sedang
mumbul ke atas terpukul pental dan melayang turun kembali ke atas
lantai.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kau tanya aku pelajari ilmu
ngeloyor ini sedari kapan?" seru kakek itu sambil tertawa terbahakbahak.
"Baiklah kuberitahukan kepadamu, aku belajar kepandaian ini
sedari nenekmu yang burikan itu dilahirkan di kolong langit.
Haaaah... haaaah... haaaah... kenapa kalian dua ekor monyet jelek
tidak sekalian naik bersama-sama?..."
Tok See serta Tauw Meh mengerti bahwasanya kepandaian silat
Ouw-yang Gong yang sebenarnya tidaklah berada di bawah mereka,
melihat si kakek itu menggantungkan diri di tengah udara tentu saja
kedua orang jago pedang itu dibikin apa boleh buat.
Setelah saling bertukar pandangan sekejap kedua orang itu
serentak bersama-sama menubruk ke arah Hee Giong Lam.
Dalam pada itu Hee Giong Lam setelah saling beradu kekuatan
sebanyak beberapa jurus dengan Song Kim Toa Lhama, ia mulai
merasa tidak tahan dan keteter hebat, melihat Tok See serta Tauw
Meh secara tiba-tiba menyerang pula ke arahnya, ia jadi semakin
gelisah, buru-buru teriaknya :
"Hey Ouw-yang Gong! Asal kau suka membantu diriku untuk
pukul mundur mereka dari sini, sejak ini hari aku Hee Giong Lam
berjanji tak akan mencari satroni dengan dirimu lagi, persoalan yang
menyangkut dirimu di kemudian hari akan kuanggap sebagai
persoalanku pula..."
284
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak bisa jadi, persoalan yang
menyangkut kau si anak kura-kura aku tak sudi mencampuri..."
Dalam keadaan terdesak yang dipikirkan Hee Giong Lam dalam
hatinya adalah bagaimana caranya memukul ketiga orang jago lihay
dari dunia persilatan ini, walaupun makian dari Ouw-yang Gong
cukup mengobarkan hawa amarahnya tapi ia tetap sabarkan diri untuk
menahan gelora angkara murkanya dalam dada.
Setelah menghembuskan napas panjang, secara beruntun si Rasul
Racun dari perguruan Pak Tok Boen ini melancarkan tujuh buah
serangan berantai, teriaknya kembali :
"Hey, Ouw-yang Gong! Asal kau mau turun ke bawah untuk
membantu diriku, aku Hee Giong Lam akan menyanggupi satu
permintaan yang kau ajukan kepadaku..."
Song Kim Toa Lhama yang ikut mendengarkan teriakan-teriakan
itu segera tertawa, katanya sambil melepaskan satu pukulan :
"Si huncwee gede sendiri pun tak sanggup melindungi
keselamatan jiwanya sendiri, dari mana ia mampu membantu
dirimu..."
Sementara itu ketika Ouw-yang Gong melihat Hee Giong Lam
berhasil didesak oleh tiga orang jago lihay itu sehingga kesempatan
untuk melepaskan makhluk-makhluk berbisanya pun tak sempat, ia
jadi kegirangan setengah mati, sambil tertawa terbahak ia bertepuk
tangan tiada hentinya.
Dan kini setelah mendengar Hee Giong Lam menyanggupi untuk
memenuhi sebuah permintaannya, dengan otaknya berputar, pikirnya
:
"Hee Giong Lam telah mengurung aku si ular asap selama hampir
tujuh belas tahun lamanya, sekarang setelah ada persoalan mohon
bantuanku, lebih baik aku terima saja, kemudian aku pun akan
mengurung dirinya selama dua puluh tahun..."
Berpikir demikian ia lantas gerakkan badannya melayang turun
ke bawah, huncwee gedenya digetarkan menotok pinggang Song Kim
285
Saduran TJAN ID
Toa Lhama. Jurus serangan ini dilancarkan dengan cepat sementara
di udara bergema suara desiran tajam.
"Hey anak kura-kura," teriaknya, "setelah kau mengatakan
demikian, maka kau harus pegang janji lho..."
Setelah merasakan daya tekanan yang mengurung tubuhnya rada
kendur, Hee Giong Lam tarik napas dalam-dalam dan menyahut :
"Tentang soal ini kau si ular asap boleh berlega hati, aku Hee
Giong Lam bukanlah seorang manusia yang suka mengingkari janji
sendiri!"
Menggunakan kesempatan di kala Ouw-yang Gong sedang
bertempur melawan Song Kim Toa Lhama itulah badannya segera
mundur ke belakang, ular hijau kecilnya dengan cepat meluncur
keluar dari sakunya dan langsung mematuk pedang panjang dari Tok
See yang sedang mengancam ke atas tubuhnya.
Si telapak naga Goei Peng yang berada di samping kalangan,
begitu menyaksikan Hee Giong Lam telah mengeluarkan kembali ular
beracunnya yang maha sakti itu, sekujur badannya seketika bergetar
keras saking takutnya, buru-buru ia berteriak keras memperingatkan :
"Tok heng, hati-hati! Ular itu sangat beracun..."
Tok See putar gerakan pedangnya ke samping, dari balik gerakan
senjatanya segera muncullah pancaran cahaya dingin yang
menggidikkan, menyongsong kehadiran ular hijau itu ia babat tubuh
binatang tersebut.
Babatan ini datangnya amat cepat dan tajamnya sukar dilukiskan
dengan kata-kata"
Ciiit...! Ular hijau itu mencilit aneh, lidah merahnya yang tajam
memuntir di tengah udara, meminjam gerakan tubuhnya yang
menyungkit ke atas secara tiba-tiba ia alihkan ancamannya mematuk
tubuh Tauw Meh.
Rupanya Tauw Meh tidak menyangka kalau ular hijau itu dapat
meluncur ke arahnya dengan gerakan yang begitu cepat, sebelum
pedangnya sempat digerakkan untuk menyerang, mendadak kakinya
286
IMAM TANPA BAYANGAN II
terasa disambar angin dingin diikuti sebuah benda menyusup masuk
lewat lubang celananya dan merangkak naik ke atas.
Makhluk dingin dan licin lunak itu bergerak terus menyusup ke
atas paha, ia jadi kaget dan ketakutan sehingga tubuhnya bergulingguling
di atas tanah, teriaknya dengan amat ketakutan :
"Tok See benda apakah itu..."
Dengan cepat Tok See alihkan sinar pandangannya ke arah benda
yang sedang bergerak-gerak menyusup ke dalam celana sahabatnya,
tapi dengan cepat wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat,
dengan suara gemetar karena ketakutan teriaknya :
"Aaaaah, ular... ular..."
Kendati Tauw Meh mempunyai nyali yang amat besar dan tidak
takut langit atau pun bumi, tapi sejak kecil ia paling takut dengan ular.
Kini setelah mendengar makhluk dingin, licin dan lunak yang
sedang merangkak dalam celananya adalah ular ia jadi gemetar keras
karena ketakutan, seraya membuang pedang dalam genggamannya ia
berteriak-teriak keras :
"Tolong... tolong... ada ular... tolong singkirkan ular dalam
celanaku..."
Sambil berteriak ia lari ke sana kemari dengan takutnya, dalam
waktu singkat jago pedang she-Tauw itu sudah mengelilingi ruang
kuil tersebut sebanyak dua kali.
Rupanya ular hijau itu ada maksud untuk menggoda korbannya,
dari kaki perlahan-lahan binatang tadi merangkak naik ke bawah
kemudian muncul dari sisi leher dan menjilat-jilat wajahnya.
Menyaksikan anak buahnya dibikin ketakutan karena seekor ular,
Song Kim Toa Lhama segera loncat ke depan, serunya :
"Cepat tangkap bagian tujuh coen-nya..."
Suasana dalam kuil bobrok itu untuk beberapa saatnya berubah
jadi hening dan sunyi karena tingkah laku Tauw Meh yang
mengenaskan itu. Siapa pun tak pernah menyangka kalau gara-gara
seekor ular hijau ternyata membuat seorang jago pedang dari
287
Saduran TJAN ID
angkatan muda dibikin ketakutan setengah mati sampai berlarian ke
sana kemari sambil berteriak-teriak histeris...
Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat, laksana kilat
tubuhnya meluncur ke depan, berada di tengah udara ia berputar
dengan suatu gerakan manis kemudian melayang ke hadapan Tauw
Meh.
Ketika tubuhnya masih berada di tengah udara, pendeta itu segera
membentak lagi :
"Cepat cekal bagian tujuh coen-nya..."
Walaupun Tauw Meh memiliki kepandaian silat yang maha sakti,
tetapi terhadap makhluk lunak yang mengerikan itu ia paling merasa
takut, pada saat itu dengan badan gemetar keras dan wajah hijau
membesi ia berdiri mematung tanpa berani bergerak barang sedikit
pun jua.
"Toa Koksu!" terdengar ia berseru dengan suara gemetar.
"Tolong bantulah diriku..."
Wajahnya mengenaskan sekali, dari sorot matanya jelas terlihat
betapa besarnya harapan jago muda ini untuk memperoleh bantuan
dari Koksunya ini.
Menyaksikan keadaan Tauw Meh yang begitu mengenaskan serta
bernyali kecil, tanpa terasa Song Kim Toa Lhama tertawa dingin, ia
ada maksud mendemonstrasikan kelihayannya di depan orang,
telapak tangannya laksana sambaran kilat segera meluncur ke depan
melakukan penangkapan.
"Heeeh... heeeeh... heeeeh. makhluk sialan, kau pun berani bikin
keonaran di sini.
Di mana jari telapaknya meluncur datang, desiran angin tajam
yang memekakkan telinga membelah angkasa, tampak bayangan
telapak menyambar lewat dan tahu-tahu ular kecil tadi sudah tercekal
dalam genggamannya.
288
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmm! Makhluk jelek seperti ini pun berani kau gunakan untuk
menakut-nakuti orang..." kembali Song Kim Toa Lhama mengejek
sambil tertawa seram.
Hawa lweekang yang dimilikinya segera dihimpun ke dalam
tubuh, sepasang telapaknya mencengkram kepala serta ekor ular tadi
kemudian ditariknya ke samping.
Ular hijau itu mencuit nyaring, mendadak tubuhnya menyusut
menjadi semakin kecil, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kekuatan
ular tersebut.
Hee Giong Lam yang menyaksikan perbuatan pendeta gundul itu
dengan cepat tertawa dingin, jengeknya :
"Kalau kau sanggup membetot ular itu hingga patah jadi dua
bagian, anggap saja aku Hee Giong Lam yang menderita kalah!"
Rupanya Song Kim Toa Lhama tak pernah mengira kalau ular
hijau itu mempunyai kekuatan yang demikian besarnya, ia mendengus
dingin, segenap kekuatan yang dimilikinya dihimpun ke dalam
telapak kemudian sekali lagi dibetotnya keras-keras.
Seketika itu juga ular hijau tadi tertarik hingga lurus bagaikan
pena, namun makhluk tadi belum berhasil juga dibetot putus.
"Hmmm..."
Mendadak Song Kim Toa Lhama mendengus rendah, segumpal
bau amis yang menusuk hidung tersebar di angkasa, titik darah kental
berceceran di atas permukaan tanah, dalam suatu sentakan yang amat
dahsyat tubuh ular hijau itu tersentak putus jadi beberapa bagian dan
rontok ke bawah.
Air muka si Rasul Racun Hee Giong Lam berubah hebat, kembali
ayunkan tinjunya ke depan hardiknya :
"Bajingan gundul, kau harus dibunuh..."
Angin pukulan menderu-deru, pukulan ini disodokkan langsung
ke arah dada musuh dengan kekuatan hebat.
289
Saduran TJAN ID
Song Kim Toa Lhama geserkan badannya ke samping untuk
berkelit, dengan suatu gerakan manis tahu-tahu ia telah meloloskan
diri dari ancaman tersebut.
Kemudian sambil tertawa dingin ejeknya :
"Kalau terlalu sombong, jumawa dan tidak pandang sebelah mata
pun terhadap orang lain, bahkan mau cari gara-gara dengan pihak
keluarga Kaisar... Hmmmm! Hmmmm...! itulah artinya mencari
kesulitan bagi diri sendiri!"
Ouw-yang Gong yang ikut mendengarkan pembicaraan itu dari
samping kalangan mendadak jadi naik pitam sembari sapukan
huncwee gedenya ke arah lawan makinya :
"Anak jadah cucu monyet...! Kau si bajingan botak pun berani
sembarangan melepaskan angin busuk disini..."
Tok See segera ayunkan pedangnya dari samping, cahaya tajam
yang berkilauan berkelebat memenuhi angkasa, di mana ujung pedang
itu bergetar seketika terciptakan berbintik-bintik kilatan cahaya di
mana langsung meluncur ke arah Ouw-yang Gong.
"Hey ular asap tua!" serunya sambil tertawa dingin, "kau berani
memaki toa Koksu kami dengan kata-kata kotor..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... neneknya! kau si anak kura-kura
pun berani kurang ajar kepadaku..." Ouw-yang Gong tertawa
terbahak-bahak.
Huncwee gedenya mendadak digetarkan keluar, sekilas cahaya
tajam menyapu lewat langsung menghajar tubuh musuh.
"Traaaaang...!"
Tok See merasakan pergelangannya bergetar keras, percikan
bunga api muncrat ke empat penjuru, termakan oleh totokan senjata
lawan pedangnya tersampok miring sehingga hampir saja terlepas dari
genggamannya.
Dengan hati terkesiap tercampur ngeri buru-buru badannya
mundur lima enam langkah ke belakang lalu menatap wajah si orang
tua itu dengan mata mendelong.
290
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dalam pada itu setelah si huncwee gede Ouw-yang Gong berhasil
memukul mundur Tok See dalam sejurus, ia segera mendongak
tertawa terbahak-bahak dan menghisap huncweenya berulang kali,
asap putih mengepul keluar lewat lubang hidungnya sedang sepasang
mata menatap Song Kim Toa Lhama tajam, senyuman mengejek
tersungging di ujung bibirnya.
Kiranya pada waktu itu Song Kim Toa Lhama sedang berdiri di
tengah kalangan dengan wajah berkerut kencang, kemudian ia
meraung keras dengan penuh rasa kesakitan, telapak yang sedang
direntangkan secara tiba-tiba menyambar ke atas kakinya sendiri.
"Bangsat..." teriaknya dengan penuh kegusaran. "Ular sialan,
sudah modar pun kau masih tidak terima..."
Dalam genggamannya tercekal potongan ular yang barusan
dibetot putus itu, sedangkan pada moncong ular yang telah putus tadi
tergigit segumpal daging yang berlumuran darah.
Semua orang dalam ruangan itu jadi amat terperanjat, terlihatlah
kaki Song Kim Toa Lhama telah terluka lebar, segumpal dagingnya
copot tergigit ular tadi sehingga darah segar mengucur keluar tiada
hentinya membasahi seluruh celana dan permukaan tanah.
Pendeta itu gusar bercampur mendongkol, dengan rasa penuh
kebencian digenggamnya kepala ular yang telah terpotong tadi lalu
dipencet sekeras-kerasnya hingga hancur berhamburan di atas tanah,
setelah itu cepat-cepat ia ambil keluar sebutir pil dan dimasukkan ke
dalam mulutnya, hawa murni disalurkan mengelilingi seluruh tubuh
berusaha melawan cairan racun ular yang telah menyusup ke dalam
badannya itu.
Melihat Song Kim Toa Lhama terluka, Hee Giong Lam segera
tertawa terbahak-bahak dengan hati gembira, serunya :
"Ular hijauku adalah termasuk salah satu makhluk paling beracun
yang ada di kolong langit, meskipun ilmu silatmu sangat lihay, jangan
harap hawa murnimu sanggup melawan daya kerja racun keji yang
291
Saduran TJAN ID
sangat dahsyat itu. Haaaah... haaaah... haaaah... hidupmu tak akan
lebih lama dari lima jam lagi..."
Sekujur tubuh Song Kim Toa Lhama gemetar keras setelah
mendengar ancaman ini, tergopoh-gopoh ia duduk bersila di atas
tanah dan menggunakan sim hoat tenaga lweekangnya ia berusaha
memaksa keluar racun ular yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya
itu.
Dalam pada itu Tauw Meh yang menyaksikan Song Kim Toa
Lhama menderita luka racun yang begitu parahnya lantaran hendak
menolong dirinya, dalam hati merasa teramat sedih, ia segera
menenteramkan hatinya dan selangkah demi selangkah berjalan
mendekati tubuh Rasul Racun Hee Giong Lam dengan wajah penuh
napsu membunuh.
"Makhluk racun tua!" serunya sambil tertawa dingin, pedangnya
diangkat menghadap ke angkasa. "Cepat serahkan obat pemunahnya
kepadaku..."
"Hmmm! Tidak semudah itu kawan..."
Tauw Meh membentak gusar, pedangnya sambil bergetar maju
dua langkah ke depan. Dalam sekejap mata tampaklah cahaya tajam
yang berkilauan mengelilingi seluruh tubuhnya.
Di tengah kerlipan cahaya berkilauan itulah kembali ia
menghardik :
"Rupanya kau pengin modar..."
Criiiit....! Criiiit.....!
Cahaya pedang membumbung ke angkasa, sekilas cahaya tajam
menembusi udara mengancam tubuh lawan. Di tengah desiran tajam
laksana kilat ujung pedangnya menusuk ulu hati Hee Giong Lam.
Si Rasul Racun ini meraung keras, telapak kirinya didorong ke
depan, segumpal hawa pukulan yang amat dahsyat bagaikan guntur
membelah bumi meluncur ke muka menyongsong kedatangan titik
cahaya pedang musuh.
292
IMAM TANPA BAYANGAN II
Telapak tangan yang diluncurkan ke muka tadi secara mendadak
berubah jadi merah membara, bagikan sebuah jepitan baja yang
membara diiringi hawa panas yang menyengat badan segera
menggulung ke arah muka.
Cahaya pedang yang dipancarkan Tauw Meh setelah termakan
oleh pukulan 'Hiat Chiu Eng' yang amat berat itu seketika tak sanggup
menahan diri, badannya mundur empat lima langkah ke belakang
sementara pedangnya hampir saja terlepas dari genggamannya.
Sekalipun begitu pantulan cahaya kilat yang terpancar keluar
diiringi suara desiran tajam itu masih tetap meneruskan daya
luncurnya ke arah depan...
Melihat pukulan 'Hiat Chiu Eng' yang ia pancarkan hanya
sanggup menahan sebentar bayangan pedang lawan, Hee Giong Lam
merasa amat terperanjat.
Ujung jubahnya segera dikebaskan keluar, bagaikan bayangan
setan ia meluncur ke angkasa, di tengah udara ia membentak keras,
telapak kirinya diayun mengirim satu pukulan sementara lima jari
tangan kanannya dengan memancarkan lima buah jalur hawa hitam
menyebar ke seluruh kalangan.
Tauw Meh terkesiap, satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam
benaknya :
"Hee Giong Lam tersohor di kolong langit karena pukulanpukulan
beracunnya, hawa hitam yang dipancarkan dari jari tangan
tersebut pasti mengandung hawa racun yang hebat, kalau aku harus
beradu kekerasan dengan dirinya perbuatan ini boleh dibilang terlalu
menempuh bahaya..."
Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat berkelebat di dalam
benaknya, buru-buru Tauw Meh tarik kembali pedangnya sambil
meloncat mundur ke belakang, teriaknya :
"Tok heng, mari kita bereskan dahulu bangsat ini!"
Sementara itu tubuh Tok See laksana busur yang melengkung
berkelebat menembusi angkasa, pedang di dalam genggamannya
293
Saduran TJAN ID
dengan menciptakan selapis cahaya hijau segera membabat ke atas
batok kepala Rasul beracun itu.
Menghadapi serangan dua orang musuh dari arah yang
bertentangan, Hee Giong Lam segera membentak gusar :
"Bangsat yang tidak tahu malu..."
Tubuhnya yang tinggi besar mendadak meloncat ke tengah udara,
berada di angkasa ia merandek sejenak, dengan gerakan yang manis
itulah ia berhasil melepaskan diri dari ancaman kedua bilah cahaya
pedang itu tanpa mengalami cedera apa pun.
******
Bagian 20
TETAPI Tok See serta Tauw Meh adalah sepasang jago pedang yang
punya pengalaman luas dalam pertarungan, tubuh mereka tiba-tiba
merandek sementara sepasang pedang itu segera berubah posisi dan
mengejar ke atas, cahaya pedang berkilauan dari dua arah yang
berbeda segera menggulung ke satu sasaran yang sama.
Kendati Hee Giong Lam adalah seorang ketua dari perguruan
seratus racun, apa daya kepandaian silat dari kedua orang pemuda ini
memang lihay sekali,ia jadi terkesiap dan satu ingatan dengan cepat
berkelebat dalam benaknya.
Ia berpikir di dalam hati :
"Menyaksikan aku diserang oleh dua orang musuh tangguh si
Ular asap tua sama sekali tiada bermaksud membantu diriku, jelas ia
ada maksud menyusahkan diriku. Rasanya tak ada gunanya aku
berdiam terlalu lama disini, lebih baik di kemudian hari saja kutuntut
balas atas hutang piutang pada hari ini..."
Mendadak ia melancarkan empat buah serangan berantai diikuti
dilepaskan pula beberapa pukulan dengan kekuatan yang berbeda,
memaksa Tauw Meh serta Tok See terdesak mundur beberapa
langkah ke belakang, menggunakan kesempatan itulah ia melayang
ke udara kemudian meluncur keluar ruangan.
294
IMAM TANPA BAYANGAN II
Si Huncwee gede Ouw-yang Gong segera mengerutkan dahinya,
ia memaki :
"Anak jadah cucu monyet, kau mau ngeloyor kemana..."
Pada saat ini Hee Giong Lam telah mengambil keputusan untuk
melarikan diri dari situ, ia mendengus dingin, tubuhnya yang berada
di tengah udara secara beruntun berganti beberapa gerakan, meskipun
kepandaian Tauw Meh serta Tok See cukup ampuh, tak urung
kecepatan mereka rada terlambat setindak.
Sambil membabatkan pedangnya ke tengah angkasa, Tok See
membentak keras :
"Kau pengin lari dengan begini saja?" Tidak gampang..."
Baru saja ucapan itu selesai diutarakan mendadak terlihatlah
tubuh Hee Giong Lam yang sedang meluncur di angkasa melayang ke
atas tanah, diikuti sebilah pedang menerobos masuk dari luar pintu,
hampir saja menyayat wajah Rasul Racun itu.
295
Saduran TJAN ID
Jilid 13
BAYANGAN manusia berkelebat lewat, seorang pemuda tanpa
mengeluarkan sedikit suara pun munculkan diri dalam ruang tengah,
di tangan kanannya mencekal sebilah pedang sedang matanya dengan
pandangan dingin menatap wajah Rasul Racun itu tajam-tajam.
Terdesak balik oleh babatan pedang orang hingga tubuhnya
terpaksa kembali ke tempat semula, Hee Giong Lam merasa amat
terperanjat, tetapi setelah dilihatnya pemuda itu sedang menatap ke
arahnya dengan pandangan dingin, hawa gusarnya kontan berkobar.
"Siapa kau??" tegurnya sambil mendengus dingin.
Pemuda itu tidak menjawab, hanya dengan pandangan dingin ia
melirik sekejap ke arah Song Kim Toa Lhama yang sedang duduk
bersila di atas tanah, sinar matanya menunjukkan perasaan tidak
percaya.
Buru-buru Tok See tarik kembali serangannya sambil meloncat
mundur ke belakang, sapanya dengan hormat :
"Jie Thay-cu..."
Lie Peng mengangguk.
"Song Kiem-toa Kok-su, bagaimana keadaan lukamu??"
tegurnya.
Pada saat itulah Song Kim Toa Lhama membuka matanya dan
menyapu sekejap ke arah Hee Giong Lam dengan pandangan
membenci, perlahan-lahan ia bangun berdiri dari atas tanah.
296
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Seandainya aku tidak memiliki ilmu Ga Lan Thay Hoat dari
Tibet, mungkin sedari tadi jiwaku sudah melayang! serunya dengan
hati penasaran.
Dengan pandangan gusar Lie Peng melirik sekejap ke arah Hee
Giong Lam, lalu ujarnya :
"Orang ini berani melukai toa Kok-su, Hmmm! ini hari aku Jie
Thay-cu bersumpah akan mencabut jiwanya. Ayoh! Siapa di antara
kalian yang mau menangkap keparat ini..."
Tauw Meh serta Tok See bersama-sama menggerakkan tubuhnya
maju ke depan dan mengepung Hee Giong Lam rapat-rapat.
Sementara itu Hee Giong Lam sendiri setelah mendengar pemuda
yang berada di hadapannya bukan lain adalah keturunan dari dari
Kaisar dewasa ini, pangeran kedua Lie Peng, hatinya merasa bergetar
keras sekalipun dia adalah seseorang dedengkot dalam ilmu racun
tetapi berada di hadapan pangeran tingkah lakunya tak berani
keterlaluan.
"Siapa yang berani maju ke depan, aku segera akan melepaskan
racun tanpa bayangan..." ancamnya dengan nada dingin.
Ouw-yang Gong yang berada di samping segera berkaok-kaok
keras, teriaknya :
"Anjing sialan anak monyet, kau apa tak bisa menghajar
dirinya..."
"Hmmmm, kembali kau si ular asap tua bikin gara-gara..." maki
Lie Peng sambil melotot ke arah kakek konyol.
"Maknya!" kontan Ouw-yang Gong memaki kalang kabut sambil
melototkan matanya bulat-bulat. "Aku ular asap tua masa dikatakan
tukang bikin gara-gara..."
Pangeran kedua Lie Peng ini walaupun dalam dunia persilatan
tidak punya nama, tapi dalam kerajaan dan terutama dalam keraton
mempunyai kekuasaan yang amat besar, melihat si huncwee gede
Ouw-yang Gong memaki orang seenaknya sendiri, seketika itu juga
hawa amarahnya berkobar.
297
Saduran TJAN ID
Dengan wajah berubah hebat bentaknya penuh kegusaran :
"Ouw-yang Gong, kau lagi ngaco belo apaan???"
Song Kim Toa Lhama mengerti Ouw-yang Gong jago untuk
bersilat lidah, untuk menghindari si kakek konyol itu mengucapkan
kata-kata yang lebih tak enak didengar, buru-buru meloncat ke arah
depan.
Makinya dengan wajah berubah jadi dingin :
"Hey si ular asap tua, kau jangan lupa dengan perjanjian di antara
kita..."
Selama hidupnya Ouw-yang Gong paling takut dikata orang tidak
pegang janji, setelah ilmu silatnya kalah di tangan pendeta tersebut ia
pernah menyanggupi untuk menantikan hukuman dari Song Kim Toa
Lhama kecuali kalau dalam perjalanan menghadap Jie thay-cu, ada
orang berhasil mengalahkan padri itu, maka perjanjian tadi kan
dianggap batal.
Mendapat teguran dengan hati sedih dan badan lemas Ouw-yang
Gong kontan membungkam dalam seribu bahasa dan tundukkan
kepalanya rendah-rendah.
Tentu saja Hee Giong Lam tidak tahu akan persoalan antara Ouwyang
Gong dengan Song Kim Toa Lhama, melihat ada kesempatan
baik yang bisa digunakan senyuman gembira segera terlintas di atas
wajahnya yang adem dan kaku itu.
Ia tertawa seram dan berseru :
"Ouw-yang Gong, ayoh kita berdua sama-sama menerjang keluar
dari tempat ini kemudian baru mencari kesempatan untuk membalas
dendam terhadap mereka..."
"Hmmmm... Hmmmm... terlalu polos jalan pikiranmu," jengak
Song Kim Toa Lhama dingin. "Sayang persoalan tidak akan
segampang seperti apa yang kau pikirkan..."
Lengannya direntangkan, segulung bayangan telapak laksana
tindihan sebuah bukit membabat keluar.
298
IMAM TANPA BAYANGAN II
Hee Giong Lam segera menggeserkan tubuhnya berkelit ke
samping, teriaknya dengan nada gusar:
"Kaa anggap aku jeri terhadap dirimu..."
Pada saat ini ia telah sadar bahwa untuk menerjang keluar dari
kepungan bukanlah satu persoalan yang gampang, karena itu segera
timbullah ingatan untuk untung-untungan melakukan pertarungan adu
jiwa.
Demikianlah tanpa menyahut atau mengeluarkan sedikit suara
pun sepasang telapaknya mendadak direntangkan ke kiri dan kanan,
dengan kecepatan laksana sambaran kilat ia serang Song Kiem Toa
Lhama serta pangeran kedua Lie Peng pada saat yang bersamaan.
Air muka Padri itu kontan berubah hebat.
"Kau berani!" teriaknya.
Dengan menggunakan ilmu 'Thian Liong Ciang' suatu
kepandaian sakti aliran Tibet ia lancarkan satu pukulan yang cepat dan
berat. Tapi... walaupun reaksi serta gerakannya dilakukan dengan
kecepatan yang luar biasa, namun gagal juga maksudnya untuk
menghalangi serangan telapak yang ditujukan ke arah tubuh Lie Pang
tersebut, hal ini membuat padri ini saking cemasnya segera meraung
gusar.
Ketika itu Tauw Meh berdiri paling dekat dengan Jie Thay cu,
ketika menyaksikan Lie Peng terancam mara bahaya tanpa
memikirkan keselamatan sendiri lagi ia segera meloncat ke depan,
seluruh tubuhnya menghadang di hadapan Jie Thay cu sementara
pedangnya laksana kilat membabat keluar...
Bluuuk ! di tengah benturan keras, Tauw Meh merasakan
kepalanya pusing tujuh keliling dan matanya berkunang-kunang,
tubuhnya yang bsar terpental beberapa langkah ke belakang setelah
termakan oleh pukulan yang maha dahsyat itu, tidak ampun lagi darah
segar muncrat keluar dari mulutnya.
Dalam pada itu Hee Giong Lam sendiri pun terpaksa harus
menarik banyak kekuatan serangannya berhubung menghadapi
299
Saduran TJAN ID
serangan adu jiwa yang dilancarknn oleh Song Kim Toa Lhama,
walaupun ia berhasil menyarangkan kepalannya di atas tubuh Tauw
Meh, tapi dia sendiripun terbabat tubuhnya oleh sabetan pedang Tauw
Meh sehingga menimbulkan mulut luka yang panjang.
Ia menjerit kesakitan kemudian meraung gusar, tubuhnya buruburu
meloncat ke arah samping meloloskan diri dari ancaman
berikutnya yang hampir menempel di badannya, dengan demikian
pukulan Song Kim Toa Lhama segera mengenai sasaran yang kosong.
Dengan sempoyongan tubuh Tauw Meh maju beberapa langkah
ke depan kemudian roboh terjengkang, tapi Jie Thay cu Lie Peng yang
berada di dekatnya dengan cepat menyanggah badannya kemudian
memayang bangun.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Selingkuh Dosen : ITB 10 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments