Cerita Dewasa Ngentot : ITB 14

AliAfif.Blogspot.Com -
 Cerita Dewasa Ngentot : ITB 14
-Blaaam...! sepasang telapak segera saling membentur satu sama
lainnya, di tengah bentrokan nyaring Soen Put Jie berteriak kesakitan
dan mundur dua langkah dengan keheranan kemudian sambil lari
balik ke arah tandu teriaknya :
"Suhu! Ilmu Lay Bie Kang mu tidak mempan untuk menandingi
ilmu tulang keras miliknya, aku si Loo soen sudah tak sanggup."
Toan Hong ya yang berada di dalam tandu mendengus dingin:
"Hmmm! Manusia yang tak berguna, ilmu silat dari keluarga
Toan kami tiada tandingannya di kolong langit, mengerti kau??"
Tampak horden di depan tandu bergoyang dan muncullah
seorang pria berusia pertengahan yang memakai jubah kuning
bersulamkan benang emas, dengan memakai kopiah kaisar.
Sinar matanya yang tajam segera menyapu sekejap ke atas wajah
Jago Pedang Berdarah Dingin, dengusan sinis bergema memecahkan
kesunyian.
Ouw-yang Gong yang berada di sisi Pek In Hoei segera berbisik
:
"Dia adalah Tong Hong ya dari Tay li dalam wilayah selatan,
tidak termasuk dalam perguruan mana pun tetapi kepandaian silatnya
merupakan pemimpin di antara partai lain, asal kita sebut nama Toan
Hong ya dari negeri Tay li, siapa pun mengenali dirinya, orang ini
sangat hambar terhadap urusan dunia dan jarang mencampuri urusan
dunia persilatan, kemunculannya kali ini sungguh mencurigakan
sekali..."
604
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Ooooh, kiranya dia adalah seorang kaisar tanpa mahkota!" sahut
Pek In Hoei.
Ia segera perhatikan wajah orang itu tajam-tajam, tampaklah
olehnya bukan saja raut wajahnya dingin dan agung bahkan gerak
geriknya gagah sekali, tidak malu disebut sebagai seorang kaisar.
Dalam pada itu Tong Hong ya pun sedang mengamati wajah Pek
In Hoei tajam-tajam, lalu menegur :
"Apakah kau adalah si Jago Pedang Berdarah Dingin??"
"Sedikit pun tidak salah!"
"Ehmmmm...! seorang diri menyerbu ke daerah selatan,
keberanianmu memang patut dihargai..."
"Apa maksudmu?" seru Pek In Hoei tertegun.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kolong langit demikian luasnya,
tahukah kau bahwa jago lihay tiada tara banyaknya? Benarkah
kepandaian silatmu itu sanggup untuk menaklukkan para jago yang
ada di wilayah selatan?..."
"Hmmm! Di antara tiga partai dua selat enam benteng sudah ada
separohnya yang keok dan bertekuk lutut, apakah kau juga punya
kegembiraan untuk ikut serta di dalam pertemuan ini..."
"Hmmm! Urusan sekecil ini tidak berharga bagiku untuk
mencampurinya, setelah mendapat laporan kemarin malam dan
mengetahui tujuanmu menjelajahi wilayah selatan kali ini,
sebenarnya aku tidak ingin datang kemari, tapi aku merasa tidak lega
hati membiarkan kau bikin onar di sini, maka sengaja aku datang
kemari untuk ikut menyaksikan jalannya pertemuan ini..."
"Kedatanganmu untuk menonton keramaian memang tepat pada
waktunya..." jengek Pek In Hoei tertawa dingin.
Air muka Toan Hong ya berubah hebat.
"Caramu bertanding satu lawan satu sungguh terlalu buang
waktu, sekarang aku akan mewakili seluruh partai yang ada di
wilayah selatan untuk memberi kesempatan bagimu guna merebut
kemenangan, asal kau sanggup melayani aku sebanyak lima puluh
605
Saduran TJAN ID
jurus maka semua partai yang ada di wilayah Lam Ciang akan
mengundurkan diri ke dalam keresidenan In Lam, selamanya tak akan
menginjakkan kaki di wilayah selatan lagi. Coba lihatlah bagaimana
dengan cara ini?"
"Hmmmm! Aku rasa kau belum tentu sanggup untuk mewakili
mereka?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... itu soal gampang!" Sinar matanya
menyapu sekejap para wakil seluruh padri, lalu tegurnya :
"Sampai di manakah kelihayannya ilmu silat yang dimiliki si
Jago Pedang Berdarah Dingin aku rasa kalian sudah melihatnya
sendiri, dapatkah kalian menangkan dirinya aku percaya bahwa dalam
hati kalian mengerti jelas, sekarang adalah saat bagi kalian untuk
menentukan nasib, bagaimana seandainya aku orang she Toan
mewakili seluruh partai dalam wilayah selatan untuk bertanding
melawan dirinya..."
Semua jago yang hadir di situ mengetahui bahwa ilmu silat yang
dimiliki Toan Hong ya tiada tandingnya di kolong langit, asal ia suka
tampil ke depan maka urusan pasti akan beres.
"Maka tanpa terasa semua orang segera berseru :
"Baik, Toan Hong ya! Kami titipkan tugas berat ini kepadamu..."
Waktu itu hanya Sang Kwan Cing dari selat Seng See Kok saja
yang nampak murung dan tidak senang hati, dengan alis berkerut ia
segera melangkah maju ke depan.
"Apakah kau tidak setuju?" tegur Toan Hong ya tertegun. "Aku
tahu bahwa ayahmu selamanya tinggi hati dan tak mau tunduk kepada
aku orang she Toan. Hmmm... Hmmm... urusan sudah lewat begitu
lama, apakah dia masih belum dapat melupakan akan kekalahannya
di tangan aku orang she Toan..."
"Apa? Ayahku pernah kalah di tanganmu?" seru Sang Kwan Cing
dengan wajah berubah hebat. "Aku belum pernah mendengar akan
cerita kau ini..."
606
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... peristiwa yang memalukan
semacam itu tentu saj ayahmu tak akan memberitahukan kepadamu,
seandainya pada saat ini ayahmu mengetahui bahwa aku sudah
memasuki selat Seng See Kok, kemungkinan besar dia akan ajak
diriku untuk berduel lagi..."
"Hmm, meskipun keluarga Toan dari negeri Tay li dihormati
orang sebagai suatu kekuatan besar, tapi belum tentu kau mampu
untuk mengapa-apakan selat Seng See Kok kami," sahut Sang Kwan
Cing dengan nada dingin. "Bila kau hendak mewakili partai yang ada
di wilayah selatan, maka aku akan membantu Pek In Hoei untuk
memusuhi dirimu..."
Toan Hong ya melengak, tapi ia segera tertawa :
"Tabiat dari ayahmu pun demikian, ia paling suka mengambil
jalan yang bertolak belakang dengan diriku. Baiklah mari kita saling
membantu salah satu pihak, coba kita lihat selat Seng See Kok yang
lebih mampu atau keluarga Toan dari negeri Tay li yang lebih hebat!"
Persoalan secara tiba-tiba berubah jadi begini serius, hal ini jauh
di luar dugaan siapa pun. Sekarang masalahnya bukan melulu
perebutan antara Pek In Hoei dengan para partai dari wilayah selatan
saja, juga merupakan perebutan antara Toan Hong-ya dengan selat
Seng See Kok.
Dari sakunya Sang Kwan Cing segera ambil keluar sebuah
tabung dan melepaskan tabung tersebut ke tengah udara, asap warna
pun menyebar ke empat penjuru dan berhembus ke dalam selat.
Toan Hong ya melengak, ia segera menegur :
"Hey, apa yang sedang kau lakukan?"
"Aku sedang memberitahukan kepada ayahku bahwa kau telah
datang, asap itu merupakan hio minta tolong dari selat Seng See Kok
kami, asal tanda ini sudah dilepaskan maka ayahku segera akan tiba..."
"Hmm... Hmm... banyak amat permainan setanmu," jengek Toan
Hong ya sambil tertawa dingin.
607
Saduran TJAN ID
Ia menoleh dan memandang sekejap ke arah si Jago Pedang
Berdarah Dingin, lalu dengan langkah lebar ia maju ke depan.
"Hey, apa hubunganmu dengan Cia Ceng Gak?" tegurnya.
Pek In Hoei terkejut, segera pikirnya :
"Sungguh tak nyana ia kenal sucouwku, entah ia kenal tidak
dengan ayahku?"
Ia segera memberi hormat dan menjawab :
"Dia adalah sucouw kami, ayahku bernama Pek Tiang Hong..."
"Ooooh... kau maksudkan Pek Tiang Hong? Tempo dulu ketika
aku sedang bertanding ilmu pedang melawan sucouw-mu Cia Ceng
Gak, ayahmu masih seorang anak kecil, waktu itu ia selalu
mendampingi sucouw-mu dan besarnya juga sebanding dengan kau
sekarang..." ia menghela napas panjang.
"Aaaai... dalam sekejap mata tiga puluh tahun lebih sudah lewat,
angkatan yang lebih tua sudah banyak yang mengundurkan diri atau
pulang ke alam baka..."
"Kurang ajar, berapa sih usiamu? Berani betul mengatakan
ayahku sebagai anak kecil..."
"Sekarang aku berusia delapan puluh delapan tahun, apakah usia
sebesar itu belum dianggap tua?"
Pek In Hoei melongo, ia tak mengira kalau usia Toan Hong ya
sudah setua itu, tetapi kalau dilihat wajahnya yang masih berusia
empat puluh tahunan serta badannya yang gagah, ia tak percaya kalau
orang itu sudah berumur setua itu, pikirnya di dalam hati :
"Seringkali aku dengar orang berkata bahwa di kolong langit
terdapat ilmu awet muda, dan aku selalu tidak percaya, kalau dilihat
keadaannya mungkin Toan Hong ya ini betul-betul menguasai ilmu
awet muda..."
Berpikir sampai di sini, ia segera ulangi kembali perkataannya
dengan nada agak sangsi.
"Benarkah kau telah berusia delapan puluh delapan tahun..."
608
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kau tak usah sangsi, seandainya sucouw-mu masih hidup di
kolong langit maka keadaannya tidak akan berbeda dengan
keadaanku..." wajah tiba-tiba berubah jadi dingin. "Ayoh, kita boleh
mulai bertempur..."
Pek In Hoei terkesiap.
"Kau adalah sahabat sucouw-ku, aku tak berani turun tangan
melawan dirimu..."
"Hmmm! Bagaimana pun juga kau harus turun tangan bergebrak
melawan diriku, persoalan ini menyangkut wilayah selatan bakal
menjadi milik siapa, asal kau bisa menangkan aku maka partai Thiam
cong baru akan sanggup berdiri lagi di wilayah selatan..."
"Baik...! Kalau begitu terpaksa aku harus pertaruhkan selembar
jiwaku untuk bergebrak melawan dirimu!" Perlahan-lahan ia cabut
keluar pedang mestika penghancur sang surya lalu diluruskan ke
depan, cahaya tajam yang dingin segera memancar keluar dari ujung
pedang tersebut.
Ketenangan serta kemantapan si anak muda itu diam-diam
mengejutkan hati Toan Hong ya, ia tidak mengira kalau dengan
usinya yang semuda itu ternyata sudah berhasil mencapai taraf yang
begini tinggi.
"Oooh...! Bukankah pedang itu adalah pedang mestika
penghancur sang surya?" seru Toan Hong ya tercengang. "Tempo
dulu ketika sucouw-mu bertanding ilmu silat melawan diriku di istana
belakang negeri Tay li, pedang yang dipergunakan juga pedang
mestika ini, sungguh tak nyana senjata ini telah jatuh ke tanganmu..."
Ia tertawa terbahak-bahak dan melanjutkan :
"Apakah kau sudah mempelajari ilmu pedang penghancur sang
surya?..."
"Ilmu silat yang dimiliki sucouw-ku tiada taranya di kolong
langit, aku sebagai seorang manusia yang bodoh mana sanggup
menandingi kehebatan sucouw-ku? Kalau boleh dibilang berhasil
kupelajari, itu pun hanya kulitnya saja..."
609
Saduran TJAN ID
"Bagus! Itulah jiwa besar pendekar pedang," puji kaisar dari
negeri Tay li ini sambil acungkan jempolnya.
Dari dalam saku ia segera ambil keluar sebilah pisau belati,
setelah diayunkan ke tengah udara, ujarnya lagi sambil tertawa :
"Pedang mestikamu amat tajam dan luar biasa, biarlah aku
gunakan badik Han Giok ini untuk melayani dirimu!"
Semangat Pek In Hoei segera berkobar, ia merasa bahwa dirinya
bisa bergebrak melawan Toan Hong ya dari negeri Tay li yang
namanya amat tersohor di kolong langit, kejadian itu pasti akan
menggemparkan seluruh jagad, pedangnya segera dibabat ke depan,
cahaya tajam memancar keluar memenuhi seluruh jagad.
Toan Hong ya terkejut, badannya dengan cepat bergerak, badik
Han Giok dalam genggamannya dibabat tiga kali ke depan, desiran
tajam segera menderu-deru mengelilingi seluruh tubuhnya.
Pek In Hoei memandang pertempuran kali ini jauh lebih penting
dari jiwa sendiri, ia tahu menang kalah dari pertarungan ini
menyangkut kehidupan selanjutnya dari dirinya.
Menghadapi musuh yang amat tangguh ia tak berani maju
menyerang secara gegabah, pedang mestika penghancur sang suryanya
diputar melindungi keselamatan badan, ia cuma berharap lima
puluh jurus dengan cepat berlalu dan pertempuran diselesaikan secara
baik.
"Ehmmm, ilmu silat tidak jelek..."
Pek In Hoei merasakan pedangnya bergetar keras, seolah-olah
termakan oleh suatu benturan yang hebat, hampir saja ia tak sanggup
menguasai diri, hatinya bergidik, cepat-cepat ia keluarkan jurus "Liat
Jiet Bun Ciong atau panas terik ke bumi untuk membabat kaisar.
"Oooo... rupanya kau sudah mewarisi seluruh kepandaian silat
milik Cia Ceng Gak..." seru Toan Hong ya.
Seakan-akan ia mengetahui bahwa dirinya tak memiliki
kekuasaan untuk bertanding menghadapi serangan tersebut, tiba-tiba
610
IMAM TANPA BAYANGAN II
badannya melayang ke tengah udara, tangannya digetarkan dan badik
Han Giok secara tiba-tiba meluncur ke depan.
"Aduuuh...!" teriak Pek In Hoei menjerit kesakitan dan tubuhnya
segera terjatuh ke atas tanah.
Para jago yang hadir di situ tak seorang pun yang melihat jelas
apa sebenarnya yang telah terjadi, mereka hanya melihat Pek In Hoei
memegangi pinggangnya dengan kesakitan, gagang badik muncul di
luar dan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh
tubuhnya.
"Kau...!" jerit Ouw-yang Gong dengan wajah berubah.
Tubuhnya segera meloncat maju ke depan dan mencengkeram
gagang badik itu untuk dicabut keluar.
Siapa tahu lengannya mendadak jadi kaku dan tak sanggup
meneruskan gerakan itu.
Terdengar Sang Kwan Cing berseru :
"Jangan sentuh dia!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Toan Hong ya ia
menambahkan :
"Sungguh tak nyana kau gunakan ilmu Hoei San Jiu untuk
membunuh dirinya!"
"Hmmm...! hanya luka sekecil itu dalam pandangan ayahmu
tidak terhitung seberapa..."
"Bagus! Kiranya memang kau sengaja meninggalkan kesulitan
bagi ayahku, aku sungguh tak pernah mengira kalau seorang Toan
Hong ya yang terhormat bakal menggunakan tubuh seorang
boanpwee untuk mewujudkan cita-citanya..."
Toan Hong ya sama sekali tidak menggubris ucapan itu, sambil
putar badan serunya :
"Kembali ke istana!"
Delapan orang pria berbaju putih itu segera menggotong tandu
dan siap untuk berangkat.
611
Saduran TJAN ID
Ouw-yang Gong merasa amat gusar, ia tidak rela membiarkan
musuhnya berlalu dengan begitu saja, jari tangannya segera
berkelebat siap menotok ketiak kaisar itu.
"Kau mau apa??" bentak Toan Hong ya secara tiba-tiba sambil
menoleh ke belakang.
Ouw-yang Gong melongo, ia merasa hatinya tercekat dan tak
berani melanjutkan kembali serangannya, tangan yang masih berada
di tengah udara tetap berhenti kaku di situ, untuk beberapa saat ia tak
tahu jari tangannya mesti ditarik balik atau melanjutkan kembali
serangannya.
"Biar aku yang minta pelajaran darimu..." bentak Sang Kwan
Cing sambil maju ke depan.
"Sayang kekuatanmu masih terpaut amat jauh, aku tak sudi turun
tangan melawan dirimu!" sahut Toan Hong ya sambil geleng kepala.
Sang Kwan Cing tertawa dingin.
"Hmm, lebih baik kau tak usah jual lagak aku tidak percaya
segala tahayul..."
Badannya menerjang ke depan dan jari tangannya segera
berkelebat menotok tubuh kaisar itu.
Dengan enteng Toan Hong ya mengigos ke samping, sambil
mendengus dingin serunya :
"Put Jie, hajar dia!"
Soen Put Jie adalah seorang bodoh, mendapat perintah ia segera
meloncat ke depan sambil berteriak :
"Suhuku suruh aku menghajar kau..."
Kepalan yang amat besar itu bagaikan titiran air hujan segera
melepaskan pukulan-pukulan yang gencar.
Sang Kwan Cing teramat gusar, ia membentak keras dan
melancarkan pula sebuah serangan :
"Manusia goblok, kau cari mati rupanya..."
Blaaam... serangan tersebut dengan telak bersarang di tubuh Soen
Put Jie, tapi musuhnya cuma gontai sebentar dan sama sekali tidak
612
IMAM TANPA BAYANGAN II
terluka, bahkan sambil meraung keras ia maju ke depan sambil
meninju.
Sang Kwan Cing berkelit ke samping ketika jotosan musuh
hampir mengenai tubuhnya, telapak kanan berkelebat laksana kilat
dan segera menghajar wajah Soen Put Jie.
Plooook... terdengar benturan nyaring memecahkan kesunyian,
Soen Put Jie mundur dengan sempoyongan dan hampir saja roboh
terjengkang ke atas tanah, sambil berteriak kesakitan dan memegang
pipi kirinya yang bengkak ia berseru :
"Suhu bajingan perempuan ini menggaplok pipiku..."
"Tidak mengapa, hajar lagi dirinya."
"Aku tidak berani!" seru Soen Put Jie ragu-ragu.
"Kurang ajar! Aku suruh kau gampar pipi kirinya, ayoh cepat
gampar pipinya..."
Soen Put Jie meraung keras, dia segera putar telapaknya dan
menggaplok pipi kiri Sang Kwan Cing.
Baru saja gadis itu akan gerakkan lengan untuk menangkis, tibatiba
tangannya jadi kaku dan tak sanggup diangkat lagi.
Ploook...! dengan telak gaplokan itu bersarang di atas pipinya.
Sang Kwan Cing meraung dan menangis, sambil memegang pipinya
ia lari menuju ke dalam selat.
Tiba-tiba... dari tengah udara berkumandang datang suara gelak
tertawa yang mengundang nada gusar :
"Toan Hong ya kau berani datang kemari menganiaya orangku..."
belum habis ia berkata tampak sesosok bayangan manusia munculkan
diri di situ.
Tampaklah seorang kakek tua berjenggot putih sambil menarik
tangan Sang Kwan Cing muncul di sana,ia melirik sekejap ke arah
Pek In Hoei lalu dengan wajah berubah hebat tertawa dingin.
Badannya berkelebat ke depan, sekali hantam Soen Put Jie
menggeletak di atas tanah, gerakan yang demikian cepatnya ini
membuat Toan Hong ya yang ada di situ jadi terperanjat.
613
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... Sang Kwan In, ilmu silatmu hebat
juga," serunya.
"Hmmm! Apakah kau juga ingin turun tangan?" tantang Sang
Kwan In sinis.
Senyuman yang menghiasi bibir Toan Hong ya seketika lenyap
tak berbekas.
"Lebih baik lain kali saja. Sekarang aku tak ada waktu," ia tertawa
bangga dan masuk ke dalam tandunya, di tengah tepukan nyaring
delapan orang pria berbaju putih itu segera angkat tandu itu dan
berlalu dari sana.
Menyaksikan berlalunya kaisar itu, Sang Kwan In menghela
napas panjang, katanya :
"Ceng jie, cepat bopong Pek In Hoei masuk ke dalam kamar
obatku, kalau terlambat darah yang mengalir akan semakin banyak
dan aku tak akan mampu menyelamatkan jiwanya lagi."
"Ayah..." seru gadis itu tertegun.
"Aku hendak menyelamatkan dirinya, kau tak usah banyak
bertanya lagi..."
Badannya berkelebat pergi, dan lenyaplah tubuh si jago tua itu.
.....
Asap dupa mengepul ke angkasa... dalam ruangan tampak
bayangan manusia bergerak ke sana kemari.
Dengan tenang si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei
berbaring di sisi tungku, badik tajam itu masih menembusi
pinggangnya, sementara wajahnya masih pucat pias bagaikan mayat,
bibirnya hijau membiru, kematian menyelimuti wajahnya...
Di antara semua orang yang hadir, Ouw-yang Gong lah yang
paling tegang, bibirnya bergetar namun tak sepatah kata pun sanggup
diucapkan, ia genggam tangan Pek In Hoei erat-erat sedang air mata
mengucur keluar membasahi pipinya.
614
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bagaimana keadaannya kongcu? Tolong beritahulah
kepadaku..."
"Lebih baik kau keluar dulu, aku pasti akan berusaha keras untuk
menyelamatkan jiwanya..." sahut Sang Kwan In dengan wajah serius.
"Tidak!" seru Ouw-yang Gong sambil geleng kepala. "Aku ingin
mendampingi dirinya asal ia menemui suatu celaka maka aku si ular
asap tua segera akan bunuh diri di hadapannya..."
"Aku minta kau segera keluar dan jaga di depan pintu..." ujar
Sang Kwan In lagi dengan alis berkerut, "sebelum memperoleh ijin
khusus dariku, siapa pun dilarang masuk kemari termasuk pula semua
orang yang ada di dalam selat Seng See Kok ini."
Ouw-yang Gong si ular asap tua ragu-ragu sejenak, akhirnya ia
menghela napas panjang.
"Baiklah! Kokcu, aku serahkan keselamatan jiwanya kepadamu!"
Bagaikan seorang yang menderita sakit parah, dengan langkah
yang hebat ia berjalan keluar dari ruangan itu dan lenyap di balik
pintu.
Sang Kwan In menghela napas panjang, serunya sambil menoleh
:
"Anak Cing!"
"Ayah, kita akan mulai sekarang juga?" tanya Sang Kwan Cing
sambil masuk dengan membawa sebuah bungkusan.
"Bersiap-siaplah dengan obat penahan darah, aku segera akan
turun tangan mencabut keluar pisau belati ini..."
Sebagai seorang ahli dalam ilmu pertabiban, dia menyelami arti
pentingnya obat penahan darah, sedikit salah saja dalam tindakannya
mencabut pisau belati itu berarti kematian yang mengerikan bagi Pek
In Hoei, maka dengan wajah serius ia tarik napas panjang, tangannya
perlahan-lahan menggenggam gagang pisau belati itu lalu dicabut
keluar.
Begitu pisau belati itu tercabut, darah segar segera menyembur
keluar bagaikan pancuran air, Sang Kwan Cing bertindak cepat, ia
615
Saduran TJAN ID
tutup mulut luka itu dengan tangan kanan lalu dibubuhi selapis serbuk
halus untuk menghentikan pendarahan.
Sekujur badan si anak muda itu bergetar keras setelah ia jatuh tak
sadarkan diri.
"Ayah... kenapa kau?" mendadak Sang Kwan Cing menjerit
kaget.
Air muka Sang Kwan In berubah hebat, sekujur tubuhnya
gemetar keras dan ia mengeluh penuh penderitaan, dicekalnya gagang
pisau belati itu lalu ditatap tajam-tajam, gumamnya dengan suara
gemetar :
"Thian Seng See... Thian Seng See."
"Ayah, apa yang kau maksudkan dengan pasir bintang langit itu?"
jerit sang dara.
Sang Kwan In tertawa getir :
"Sungguh keji hati Toan Hong ya, ia tahu bahwa aku telah
berhasil meyakini ilmu cakar Jit Ciat Jiau, itu berarti ia tak akan bisa
menandingi diriku lagi, maka di atas gagang pisau belati itu ditaburi
dengan selapis serbuk beracun yang berasal dari wilayah See Ih...
meskipun serbuk pasir bintang langit ini tidak sampai mematikan
diriku, tapi benda beracun itu membuat aku tak bisa berlatih silat
paling telat selama tiga tahun, padahal janji kami untuk berduel
tinggal satu tahun..."
"Ooooh, jadi ayah telah berjanji untuk duel dengan Toan Hong
ya setahun kemudian..."
"Aaaai...!" Sang Kwan In menghela napas sedih, "ayahmu telah
beberapa kali bertempur melawan tanpa berhasil menentukan siapa
menang siapa kalah, oleh sebab itu setiap lima tahun kami bertanding
satu kali, sekarang waktunya hingga hari pertandingan itu tinggal
setahun, sungguh tak nyana ia telah menggunakan cara yang begini
rendah untuk membokong diriku..."
616
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bukankah tenaga dalam yang dimilikinya amat tinggi? Mengapa
ia gunakan cara yang begini tak tahu malu..." tanya Sang Kwan Cing
dengan nada tercengang.
Sang Kwan In menggeleng.
"Sebetulnya orang ini ramah dan berhati bajik, sayang ia terlalu
gila hormat dan kedudukan hingga akhirnya amat membenci diriku,
setiap saat dia ingin membinasakan diriku... tapi... aaaai! kalau
dibicarakan yang sebetulnya kesalahan memang terletak pada diriku
sendiri!"
"Sebenarnya apa yang telah terjadi??"
"Tentang peristiwa ini akan kuceritakan di kemudian hari saja,
sekarang cepatlah undang datang ke-empat pelindung hukum dari
selat kita, kemungkinan besar si nenek berhati keji itu segera akan
datang kemari..."
Air muka Sang Kwan Cing berubah hebat, buru-buru ia keluar
dari ruangan itu. Tidak selang beberapa saat, kemudian dari luar
muncul empat orang kakek berbaju abu-abu dan masing-masing
segera menempati satu sudut dalam ruangan itu.
"Aaaaai....! Aku sudah terkena serbuk pasir Bintang Langit yang
amat lihay dari wilayah See Ih, terpaksa janji pada setahun kemudian
harus kubatalkan, Liuw Koei hui mungkin sebentar lagi akan muncul
di sini, aku tak mungkin bertempur sendiri melawan dirinya karena
itu harap untuk sementara waktu kalian berempat berjaga-jaga di sini,
jangan sampai membiarkan nenek kejam itu bikin keonaran lagi..."
Ia merandek sejenak, kemudian sambil mencabut keluar pedang
mestika penghancur sang surya milik Pek In Hoei, katanya lagi :
"Inilah pedang mestika penghancur sang surya, benda keramat
dari partai Thiam cong kalian. Dahulu karena aku sudah membantu
suhu kalian Cia Ceng Gak lolos dari jebakan permaisuri Liuw, maka
sejak itulah Toan Hong ya serta Liuw Kui hui amat mendendam
terhadap diriku..."
617
Saduran TJAN ID
Kiranya ke-empat orang kakek tua itu adalah anak murid dari Cia
Ceng Gak, murid tertua Lio Heng, murid ke-dua Tan Po Ceng, murid
ke-tiga Gan Hay Beng serta murid ke-empat Tiong Yan.
Berhubung Sang Kwan In pernah menyelamatkan jiwa guru
mereka Cia Ceng Gak, maka sejak suhunya itu lenyap tak berbekas,
mereka segera menggabungkan diri dengan pihak Seng See Kok
sambil secara diam-diam mengadakan penyelidikan atas kematian
guru mereka.
Setelah partai Thiam cong terbasmi dari muka bumi, ke-empat
orang ini merasakan tenaga bantuan yang mereka butuhkan semakin
minim ditambah pula sebab-sebab kematian Cia Ceng Gak belum
ketahuan, terpaksa sambil menahan diri, mereka bersembunyi di
dalam selat Seng See Kok, setiap kali ada waktu luang segera
digunakan oleh beberapa orang itu untuk membicarakan soal
pembalasan dendam.
Kali ini Pek In Hoei muncul di wilayah selatan sambil menentang
para partai persilatan yang ada di sekitar situ untuk bertemu di dalam
selat Seng See Kok, Sang Kwan In merasa inilah kesempatan baik
untuk mengadakan hubungan dengan si anak muda ini maka di situlah
suatu rencana untuk mendatangkan pemuda itu di dalam selatnya.
Dalam pada itu, ke-empat orang tua tadi telah jatuhkan diri
berlutut dan menjalani penghormatan besar setelah menjumpai
pedang sakti penghancur sang surya.
"Kok cu!" terdengar Tiong Yan bertanya, "Benarkah Pek In Hoei
adalah putra Pek Tiang Hong susiok kecil kami..."
"Sedikit pun tidak salah," sahut Sang Kwan In membenarkan,
"sejak partai Thiam cong dibasmi orang, hanya dia seorang yang
bersumpah untuk membalas dendam sakit hati itu, Pek Tiang Hong
bisa mempunyai seorang putra macam dia, arwahnya di alam baka
pun bisa beristirahat dengan tenang..."
Pada saat itulah tiba-tiba dari tempat kejauhan berkumandang
datang suara suitan panjang yang tinggi melengking, suitan itu
618
IMAM TANPA BAYANGAN II
bergeletar membelah bumi, dalam sekejap mata telah berada di depan
mata dan menggoncangkan seluruh ruangan.
"Aaah! Dia datang lagi," gumam Sang Kwan In, "Cia Ceng Gak
bisa mendapat rasa cinta dari seorang perempuan semacam ini,
hidupnya boleh dibilang patut merasa bangga...! cuma sayang pikiran
Liuw Koei hui (permaisuri) terlalu picik dan jiwanya sempit, rasa
kesal dan dendamnya malahan ditumpukkan semua ke atas tubuhku,
kejadian ini jauh berada di luar dugaan Cia Ceng Gak..."
Suara suitan mendadak sirap di luar ruangan, terdengar suara
bentakan keras bergema di angkasa :
"Siapa di situ?"
Liuw Koei hui tertawa dingin.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dan kau sendiri siapa? berani
mencampuri urusan dari Liuw Koei hui itu berarti mencari kematian
bagi diri sendiri."
"Ooooh... jadi kau toh yang bernama Liuw Koei hui?? Hii... kok
menggelikan sekali haaaah... haaaah... haaaah..."
Di luar ruangan segera terjadi suara bentrokan-bentrokan yang
amat nyaring, angin pukulan menderu-deru, bentakan nyaring
menggema di angkasa, makin bertarung semakin sengit sehingga
seluruh permukaan bergetar keras.
Sang Kwan In gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya :
"Ilmu silat yang dimiliki Liuw Koei hui makin lama semakin
tinggi, rupanya kepandaian silat yang ia miliki telah memperoleh
kemajuan yang amat pesat!"
Dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara dengusan berat, suara
perempuan mendadak berhenti dan agaknya salah seorang di
antaranya terluka parah.
Lewat beberapa saat kemudian terdengar Ouw-yang Gong
meraung gusar teriaknya :
"Perempuan bajingan, rupanya kau sealiran dengan bangsat she
Toan itu."
619
Saduran TJAN ID
"Hmmm! Aku adalah gundiknya, kau mau apa?" jawab Liuw
Koei hui sambil tertawa dingin.
Blaaam! Pintu ruangan terpentang lebar, Liuw Koei hui dengan
rambut terurai sepanjang dada menyusup masuk ke dalam ruangan,
sementara Ouw-yang Gong dengan pakaian menggelembung besar
mengejar dari belakang.
Perempuan itu menyapu sekejap keadaan di seluruh ruangan, lalu
ejeknya sinis :
"Sang Kwan In, rupanya kau telah mengundang begitu banyak
jago pembantu??"
Sang Kwan In tertawa getir.
"Kau mendesak diriku terus menerus, sebenarnya mau apa?"
"Mau apa? Di mana Cia long ku?" teriak Liuw Koei hui sambil
tertawa dingin, "kalau kau tidak serahkan keluar, aku pasti akan
membinasakan dirimu."
"Cia Ceng Gak sudah mati!"
"Aku tidak percaya, kecuali ada orang membuktikan bahwa ia
benar-benar sudah tiada. Aku tidak percaya kalau orang yang
memiliki ilmu silat begitu tinggi bisa mati..."
Tiba-tiba wajahnya menunjukkan rasa penuh penderitaan, dua
butir air mata mengucur keluar membasahi pipinya, dengan jari
tangan yang kuat ia tarik rambut sendiri sekeras-kerasnya tapi air
mukanya tidak nampak kesakitan, malahan sambil tertawa terbahakbahak
ia menari-nari di dalam ruangan itu.
"Ceng Gak...! Ooooh Cia Long..." teriaknya, "bila kau benarbenar
mati berilah kabar kepadaku, jangan biarkan aku menderita
seorang diri... biarlah aku mengikuti dirimu kembali ke alam baka..."
Dengan sorot mata penuh kegusaran ia melirik sekejap ke arah
Sang Kwan In lalu hardiknya kembali :
"Tempo dulu kalau bukan kau yang bikin gara-gara, Cia Ceng
Gak tak akan meninggalkan diriku. Kematian Cia long pasti ada
620
IMAM TANPA BAYANGAN II
sangkut pautnya dengan dirimu, ini hari aku bersumpah akan
membinasakan dirimu untuk membalas sakit hati ini..."
"Cia Ceng Gak adalah seorang jago pedang yang amat lihay," ujar
Sang Kwan In sedih, "tapi karena dibodohi oleh Toan Hong ya, ia
telah kesemsem untuk hidup royal di istana negeri Tay li, setiap hari
kerjanya hanya bersenang-senang dengan dirimu sehingga hampir
saja masa depannya hancur. Coba pikirkan baik-baik, ketika Toan
Hong ya mempersembahkan dirimu untuk Cia Ceng Gak tempo dulu
sebenarnya karena persoalan apa? Bukankah kau berusaha keras
untuk mengurung Cia Ceng Gak di dalam istana dan melarang dia
untuk berlatih silat hingga seluruh tenaga murninya hampir punah?
Kalau kau mencintai dirinya dengan segenap hati, tidak semestinya
kau bersikap demikian terhadapnya!"
"Aku serta Cia Ceng Gak rela mengorbankan diri sampai titik
darah penghabisan, asal kami berdua dapat hidup berdampingan
secara harmonis, apa salahnya kalau kami mati pula secara
bersama..."
"Bujuk rayu memang tempat yang ideal untuk bersenang-senang
tapi justru karena perbuatanmu itu, tenaga dalam hasil latihannya
selama sepuluh tahun telah musnah..."
"Omong kosong! Selama manusia dapat bersenang-senang kita
harus puaskan diri, peduli amat dengan tenaga dalam atau tidak..."
Tanpa terasa dalam benaknya terbayang kembali raut wajah Cia
Ceng Gak yang tampan, ia teringat kembali ketika mereka bermain
petak di dalam kebun, menikmati rembulan di gardu... berjalan-jalan
di atas jembatan... satu demi satu terlintas kembali dalam benaknya.
Kiranya ketika Cia Ceng Gak serta sutenya Pek Tiang Hong
berpesiar ke negeri Tay li, dalam suatu kesempatan ia telah
berkenalan dengan Toan Hong ya, maka di dalam istana negeri Tay li
mereka selalu membicarakan soal ilmu silat.
621
Saduran TJAN ID
Waktu itu usia Toan Hong ya masih muda, ia menganggap ilmu
silat yang dimilikinya nomor wahid di kolong langit, ketika melihat
kelihayan Cia Ceng Gak, timbullah rasa dengki dalam hati kecilnya.
Sebagai seorang yang cerdik dan licik, setelah berpikir beberapa
saat lamanya muncullah satu akal dalam benaknya, dia ingin
menggunakan perempuan untuk melemahkan tubuh lawannya.
Maka sambil menahan rasa sayang ia berikan selir
kesayangannya untuk jago lihay ini.
Menjumpai raut muka Liuw Koei hui yang begitu cantik
jelita,Cia Ceng Gak jadi kesemsem dibuatnya, sedang Liuw Koei hui
sendiri juga terpikat hatinya oleh ketampanan orang, maka setiap hari
kerja mereka pun hanya bersenang-senang belaka, Pek Tiang Hong
disuruh pulang ke gunung sedang ia sendiri hidup di istana negeri Tay
li dengan penuh kesenangan.
Setahun telah lewat dengan cepatnya, dalam waktu selama ini
ilmu silatnya tak pernah dilatih, tubuhnya jadi kurus dan kisut.
Suatu ketika Sang Kwan In sahabat karib Cia Ceng Gak
mendengar akan berita ini, ia segera berangkat ke negeri Tay li dan
memaki sahabatnya itu habis-habisan. Cia Ceng Gak mendusin dari
kesilafannya dan malam itu pula berlalu dari istana mengikuti
sahabatnya.
******
Bagian 28
TOAN HONG YA setelah mendapat laporan mengenai peristiwa ini
jadi amat gusar, diam-diam ia mendendam terhadap diri Sang Kwan
In yang telah menghancurkan rencana besarnya, sedangkan Liuw
Koei hui membenci karena orang itu telah melarikan kekasihnya.
Dalam keadaan sedih bercampur dendam berangkatlah
perempuan ini tinggalkan istana untuk mencari jejak Cia Ceng Gak,
siapa tahu jago pedang ini telah insyaf akan kesalahannya, setiap kali
622
IMAM TANPA BAYANGAN II
berjumpa dengan Liuw Koei hui ia tentu berusaha menghindar atau
main bentak, tak perlu diajak perempuan itu bercakap-cakap.
Dalam gusarnya entah dari mana dia pelajari ilmu silat aneh,
setelah tidak berhasil menemukan jejak Cia Ceng Gak maka tiap
setengah tahun ia pasti datang ke selat Seng See Kok untuk
menantang Sang Kwan In berduel.
Dalam pada itu Sang Kwan In menghela napas panjang ketika
menyaksikan perempuan itu menunjukkan rasa sedih dan murungnya,
sambil geleng kepala ia berkata :
"Liuw Koei hui, manusia hidup di kolong langit hanya sekejap
mata, kau berhasil mendapatkannya juga jadi tanah, kehilangan
dirinya juga jadi tanah, apakah kau tak dapat melupakan diri Cia Ceng
Gak?"
Sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras, ia mendusin dari
sintingnya dan berdiri termangu-mangu, sejenak kemudian dengan
wajah gusar teriaknya :
"Sang Kwan In, kau suruh aku lepas tangan?"
"Aku hanya menasehati dirimu cepat-cepatlah mendusin, jangan
selalu terjerumus dalam kenangan manis yang telah berlalu, sebab itu
hanya akan menyusahkan dirimu sendiri, mau percaya atau tidak
terserah dirimu sendiri..."
"Hmmm! Kentut busuk..." dengus Liuw Koei hui.
Sambil berseru tubuhnya bagaikan sukma gentayangan
menubruk ke depan.
Ouw-yang Gong membentak keras, dari belakang tubuh
perempuan itu dia lancarkan sebuah totokan kilat. Liuw Koei hui
sama sekali tidak gentar, bukannya mundur dia malah maju ke depan,
telapaknya berputar menghantam tubuh kakek konyol itu.
Serangan ini amat luar biasa, Ouw-yang Gong segera merasakan
bayangan telapaknya laksana runtuhnya bukit menerobos masuk ke
dalam, dengan tiada kenal belas kasihan ia hantam dadanya.
623
Saduran TJAN ID
Si ular asap tua jadi terperanjat, cepat hunweenya ditotok ke arah
sikut Liuw Koei hui, sama sekali tidak gentar kemudian menggunakan
kesempatan di kala perempuan itu menarik kembali lengannya ia
meloncat mundur lima langkah ke belakang.
Tujuan Liuw Koei hui memang bukan Ouw-yang Gong, setelah
kakek konyol itu terdesak mundur dengan tangkas ia menyusup ke
depan menghampiri Sang Kwan In.
Empat orang kakek dari partai Thiam cong yang duduk di empat
penjuru sudut ruangan jadi terperanjat ketika melihat kehebatan ilmu
pukulan orang. Lio Hong segera meloncat ke depan, sambil
melancarkan babatan hardiknya :
"Liuw Koei hui, harap segera mundur!"
Walaupun mereka sudah tua tapi beberapa orang itu tahu bahwa
Liuw Koei hui adalah bekas pacar suhunya, maka tak seorang pun
yang berani bersikap kurang ajar terhadap perempuan itu.
Tapi Liuw Koei hui tidak mengetahui akan hal ini, melihat Liok
Hong mengirim serangan babatan ke arah tubuhnya, ia segera
mendengus dingin.
"Hmmm! Apakah kalian berasal dari partai Thiam cong?"
tegurnya.
"Benar!" jawab Gan Hay Beng sambil menyodok kepalan
kanannya ke arah perut lawan. "Memandang di atas wajah mendiang
guru kami, harap Liuw Koei hui suka mundur dari selat Seng See
Kok!"
Liuw Koei hui menjengek dingin.
"Hmmm! Kalian belum mampu menandingi diriku, memandang
di atas wajah Cia Long kuampuni jiwa kalian semua. Hmmm! Apa
kau masih berani turun tangan keji kepadaku diriku..."
624
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 26
LENGAN kiri dan kanan dipentang berbareng sambil melancarkan
dua pukulan gencar, Gan Hay Beng serta Liok Hong segera
merasakan sekujur tubuhnya gemetar, mereka terhajar sampai
mundur dua tindak ke belakang.
Tiong Yan meraung gusar, teriaknya :
"Datang-datang kau lantas menganiaya Sang Kwan kongcu,
sebenarnya apa maksudmu..."
Terdorong oleh angin pukulan yang sangat berat Liuw Koei hui
terdesak mundur satu langkah ke belakang, hatinya tercengang, ia tak
tahu apa sebabnya ilmu silat yang dimiliki Tiong Yan jauh lebih lihay
daripada tiga orang kakek yang lain.
Haruslah diketahui ketika ke-empat orang kakek itu sedang
belajar ilmu silat dahulu, Cia Ceng Gak mendidiknya secara dari
bawah menuju ke atas, makin kecil semakin sempurna tenaga
dalamnya. Tiong Yan adalah murid yang paling disayang di antara keempat
orang itu, lagi pula dia paling rajin berlatih, maka dari itu
kepandaian silatnya jauh lebih hebat setengah tingkat daripada yang
lain.
Sementara itu Liuw Koei hui mencak-mencak karena kegusaran,
teriaknya :
"Bagus sekali, kalian orang-orang dari partai Thiam cong pun
hendak menganiaya diriku..."
625
Saduran TJAN ID
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah angkin yang
ditengkuk-tengkuk, dalam suatu getaran yang ringan ikat pinggang itu
segera menari di tengah udara...
Terkesiap hati Thiam cong Su Loo empat kakek tua itu tatkala
dilihatnya ikat pinggang yang di tangan perempuan itu bergetar lurus
bagaikan tongkat sakti, mengertilah beberapa orang itu bahwa tenaga
lweekang yang dimiliki Liuw Koei hui telah mencapai kesempurnaan.
Ouw-yang Gong selama ini membungkam tiba-tiba mencaci
maki dengan nada keras :
"Nenek bajingan... perempuan jelek... wajahmu betul-betul lebih
jelek dari kentut busuk..."
Berkerut sepasang alis Liuw Koei hui mendengar makian itu,
wajahnya berubah jadi sedih sambil menoleh tanyanya :
"Benarkah aku sangat jelek?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... wajahmu begitu jelek hingga persis
seperti burung gagak... kalau dibandingkan dengan perempuan lain
yang begitu cantik jelita...Oooh... wajahmu nampak lebih peyot dan
lebih jelek hingga melebihi ibunya siluman babi..."
"Omong kosong," hardik Liuw Koei hui nyaring, "mulutmu
sangat kotor, kuhajar remuk mulutmu yang usil itu..."
Sambil putar badan ikat pinggangnya dengan cepat berubah jadi
sekilas cahaya merah langsung membelenggu tubuh Ouw-yang Gong
dan disentaknya ke belakang.
Tidak ampun tubuh kakek tua itu tertarik dan terbelenggu hingga
sama sekali tak dapat berkutik.
Dengan hati terkejut Ouw-yang Gong berteriak keras :
"Aduh... nenek moyangku.. ilmu siluman apa yang kau miliki..."
Plook! Liuw Koei hui menggaplok pipi kakek konyol itu keraskeras,
bentaknya :
"Coba ulangi kata-katamu barusan, katakan kalau aku jelek."
"Nenek peyot yang jelek dan tak punya lubang pantat kau berani
memukul diriku..."
626
IMAM TANPA BAYANGAN II
Liuw Koei hui tiba-tiba berdiri tertegun, lalu sahutnya :
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku tak punya...?" Nah! Coba
lihatlah sendiri..."
Dasar otaknya memang tidak waras, terutama setelah
ditinggalkan Cia Ceng Gak, dalam sedihnya perempuan ini semakin
sinting dan perbuatan apa pun dapat dilakukan olehnya.
Kadangkala ia mendusin seperti orang biasa, kadangkala sinting
melebihi orang gila. Setelah dimaki oleh Ouw-yang Gong barusan, ia
jadi amat gusar hingga kesadarannya mulai mengabur, dalam
sintingnya ia benar-benar lepas celana dan perlihatkan lubang
pantatnya kepada semua orang.
Empat kakek dari partai Thiam cong belum pernah menjumpai
pertarungan semacam ini, melihat perempuan itu lepas celana mereka
jadi ketakutan dan masing-masing berebut untuk kabur dari dalam
ruangan itu.
Ouw-yang Gong sendiri pun jadi amat gelisah, teriaknya sambil
goyangkan tangannya berulang kali :
"Jangan lepas celana... Jangan lepas celana..."
"Apa?? Kau tidak jadi melihat lubang pantatku???..." seru Liuw
Koei hui dengan mata melotot.
Ouw-yang Gong semakin gelisah, dalam keadaan begini ia
kehabisan daya dan cuma bisa berdiri dengan mulut melongo.
Sang Kwan In bisa merasakan situasi yang semakin kalut, tibatiba
menghardik keras :
"Liuw Koei hui, kau sudah edan..."
Bentakan ini menggunakan ilmu raungan singa yang amat hebat,
suara bentakan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang
bolong. Sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras dan sadarlah ia
dari sintingnya. Liuw Koei hui tertegun lalu dengan gusar membentak
:
"Bangsat, kesemuanya ini gara-gara kau si telur busuk tua..."
627
Saduran TJAN ID
Dalam malu dan gusarnya cepat-cepat pakaiannya dikenakan
kembali, lalu melemparkan tubuh Ouw-yang Gong ke depan hingga
menumbuk di atas dinding tembok keras-keras.
Tidak berhenti sampai di situ saja, ikat pinggangnya kembali
berkelebat menyambar sepasang kaki Ouw-yang Gong, sekali sentak
tubuh kakek tua itu kembali melayang di tengah udara.
Si kakek konyol itu tak menyerah dengan begitu saja,
huncweenya segera berkelebat langsung dihantam ke atas batok
kepala Liuw Koei hui.
Perempuan itu tertawa dingin, ejeknya :
"Aku mau bunuh dirimu hingga mati... aku mau siksa tubuhmu
lebih keji daripada digorok dengan pisau..."
Ikat pinggangnya berputar beberapa kali, dalam waktu singkat ia
sudah gulung seluruh tubuh Ouw-yang Gong kencang, sekali
menyentak badannya mencelat ke udara.
"Sungguh lihay... " teriak Ouw-yang Gong.
Rupanya Liuw Koei hui memang menyiksa kakek tua itu habishabisan,
ikat pinggangnya diputar sedemikian rupa sehingga tubuh
Ouw-yang Gong berputar di udara dengan kencangny...
"Oooh..." Ouw-yang Gong mendengus berat, tiba-tiba ia muntah
darah segar, begitu pening kepalanya hingga kakek ini jadi bingung
di manakah ia berada saat itu.
"Lepaskan dia..." mendadak terdengar bentakan yang keras
berkumandang di angkasa.
Cahaya pedang yang tajam dan menyilaukan mata melintas
lewat. Creet! Ikat pinggang di tangan Liuw Koei hui putus jadi dua
bagian sementara badan Ouw-yang Gong meluncur keluar dari
ruangan itu.
Liuw Koei hui terperanjat, ia angkat kepala dan memandang ke
arah mana berasalnya cahaya pedang tadi. Terlihatlah seorang
pemuda berwajah dingin dengan mencekal sebilah pedang berdiri di
hadapannya,air muka orang itu pucat pias tak bercahaya, sekilas
628
IMAM TANPA BAYANGAN II
memandang siapa pun tahu bahwa pemuda ini baru saja sembuh dari
sakit.
"Siapa kau??" tegur Liuw Koei hui dengan nada tercengang.
"Pek In Hoei!" jawab orang itu sambil tertawa. "Ilmu silat yang
kau miliki mirip sekali dengan kepandaian yang dimiliki Toan Hong
ya..."
Dalam pada itu air muka Liuw Koei hui berubah hebat, ia
bergumam seorang diri :
"Pedang penghancur sang surya... pedang penghancur sang
surya...pedang itu miliki Cia long ku!"
Sejak munculnya pedang mestika itu, wajah Liuw Koei hui
berubah hebat bibirnya jadi pucat pias sementara air mata jatuh
bercucuran membasahi pipinya, ia merintih penuh penderitaan,
rambutnya berdiri kaku bagaikan jarum.
Dengan wajah murung bercampur sedih ia maju selangkah ke
depan, teriaknya keras :
"Kekasih Cia... Kekasih Cia... pedangmu..." mendadak ia
berteriak kalap, "pedang itu milik kekasih Cia, Pek In Hoei! Dari
mana kau dapatkan pedang itu?"
Pek In Hoei tertegun, dengan pandangan tercengang ditatapnya
wajah Liuw Koei hui yang sinting dan tidak waras otaknya itu,
kemudian jawabnya dingin :
"Pedang itu milik Su-couw-ku!"
"Sekarang... sekarang dia berada di mana?" tanya Liuw Koei hui
dengan badan gemetar keras.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tertegun, ia tak
mengira orang itu mengajukan pertanyaan semacam itu, bagaikan
hatinya tergodam oleh martil besar tubuhnya yang kekar gemetar
keras, terbayang kembali pemandangan di kala ia temukan pedang
mestika itu.
629
Saduran TJAN ID
Ditariknya napas panjang-panjang untuk menekan golakan hati
yang kencang, serentetan sorot mat yang dingin dan tajam memancar
keluar dari balik matanya.
"Aku sendiri pun tak tahu sekarang ia berada di mana!" jawab
pemuda itu kemudian sambil menggeleng.
Dengan amat sedih Liuw Koei hui menghela napas panjang, ia
memandang wajah Pek In Hoei yang tampan dengan terpesona lalu
menangis tersedu-sedu, rasa sedih yang tertumpuk dalam dadanya
selama banyak tahun dilampiaskan keluar semua.
Beberapa saat kemudian ia berhenti menangis, suasana berubah
jadi hening dan tak kedengaran sedikit suara pun...
Lama...lama sekali... akhirnya Ouw-yang Gong pertama-tama
yang tak sanggup menahan diri, ia mendengus dingin lalu dengan
telapaknya yang besar menyeka noda darah yang mengotori ujung
bibirnya, wajah Liuw Koei hui ditatap dengan penuh kemarahan,
begitu sorot matanya terbentur dengan mata perempuan itu ia berseru
tertahan dan segera melengos kembali ke arah lain seolah-olah kakek
itu telah melihat sesuatu yang mengerikan.
Liuw Koei hui mendengus gusar, tegurnya dengan suara benci :
"Apa yang kau dengusi??"
Ouw-yang Gong tertegun lalu tertawa paksa :
"Aku... aku..."
Mendadak kakek itu teringat kembali bahwa barusan ia hampir
mati di tangan perempuan gila ini, hawa gusar serta rasa bencinya
segera muncul kembali dalam hatinya, kontan ia memaki :
"Nenek jelek sialan, kau adalah barang rongsokan dari mana yang
dibuang oleh orang lelaki... bangsat! Kenapa amarahmu mesti
dilampiaskan kepada aku si ular asap tua?? Perempuan bajingan kali
ini kau sudah tepat menemukan pasanganmu, aku tak punya apa-apa
kalau kau suka kawin dengan diriku berarti siap-siaplah menahan
lapar!"
630
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan pandangan benci Liuw Koei hui melotot sekejap ke
arahnya, kalau Ouw-yang Gong adalah sebatang besi mungkin sedari
tadi sudah ditelan bulat.
Ouw-yang Gong terperanjat, teriaknya :
"Oooh... nenekku! kau jangan cabut jiwa tuaku ooo..."
Ia sendiri pun tidak tahu apa sebabnya Liuw Koei hui bisa begitu
menakutkan bagi dirinya, membuat ia tak kuasa menahan diri, sambil
berteriak kakek itu putar badan dan tiba-tiba kabur keluar.
"Kembali! bentak Liuw Koei hui.
Ouw-yang Gong gemetar keras, tanpa sadar ia menghentikan
langkah tubuhnya dan berdiri kaku.
"Apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku melarang kau untuk keluar dari sini."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... perempuan siluman rupanya kau
benar-benar hendak menelan aku si ular asap tua..." seru Ouw-yang
Gong sambil tertawa seram.
Liuw Koei hui tertawa dingin, sorot matanya yang tajam
bagaikan pisau belati menatap wajah Pek In Hoei tak berkedip
sementara Ouw-yang Gong betul-betul tak berani keluar dari ruangan
itu.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei serahkan pedang
mestika penghancur sang surya itu kepadaku," seru Liuw Koei hui
sambil ketawa keras.
"Kau mau apa?" tanya Pek In Hoei.
"Pedang itu milik kekasihku, harap kau suka kembalikan
kepadaku..."
Pek In Hoei merasa agak kasihan melihat keadaan orang yang
begitu tergila-gila oleh sucouwnya, diam-diam ia menghela napas
gelengkan kepalanya.
"Pedang mestika dari partai Thiam cong selamanya tak akan
dibiarkan terjatuh ke tangan orang lain..."
631
Saduran TJAN ID
"Aku toh istrinya Cia Ceng Gak, masa juga dianggap sebagai
orang luar?..." seru Liuw Koei hui tertegun.
"Aaaa..." Sang Kwan In menghela napas panjang. "Liuw Koei
hui, kenangan manis selama dua puluh tahun telah berlalu bagaikan
impian, yang sudah lalu biarlah lalu, kenapa kau mesti mengenangkan
terus di dalam hati...""Maksudmu aku bukan istrinya Cia Ceng Gak..."
Sang Kwan In menggeleng.
"Cinta kasih yang bukan muncul dari hati yang suci hanya mirip
telaga yang tenang, meskipun sebutir batu bisa mengakibatkan riak
yang keras tapi itu hanya akan berlangsung sebentar saja menjadi
tenang kembali dan kenangan tetap tinggal kenangan, sedikit pun tak
akan meninggalkan bekas apa pun jua!"
"Jadi kalau begitu kau maksudkan Cia long sama sekali tidak
mencintai diriku?" tanya Liuw Koei hui dengan badan gemetar.
Sang Kwan In menghela napas panjang.
"Napsu birahi hanya akan membakar badan, ketika itu Cia Ceng
Gak hanya ingin melampiaskan napsu birahinya belaka, dalam hati
kecilnya benar-benar tiada rasa cinta yang mendasari. Waktu itu
kalian berdua memang tiap hari terjerumus dalam permainan cinta
yang hangat dan mesra tetapi setelah salah satu pihak menemukan
bahwa dirinya sama sekali tidak mencintai pihak lawan, maka
hubungan cinta yang tidak sempurna ini segera akan berantakan..."
Liuw Koei hui terkesiap.
"Aku percaya bahwa aku benar-benar mencintai dirinya, aku rasa
kau tentu mengetahui bukan semua peristiwa dari permulaan hingga
akhirnya??? Aku bisa tergila-gila kepadanya itu membuktikan bahwa
aku betul-betul mencintai dirinya dengan setulus hati..."
"Kau sama sekali tidak mencintai dirinya dengan setulus hati,"
kata Sang Kwan In sambil tertawa getir. "Tapi cintamu muncul karena
kau membutuhkan sesuatu darinya, atau lebih tegasnya lagi kau hanya
membutuhkan birahi! Napsu birahi telah membakar hangus
hatimu,Liuw Koei hui, bukankah ucapanku tidak salah???"
632
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aku..." seru Liuw Koei hui tertegun.
Kembali Sang Kwan In geleng kepala.
"Selama hidup di istana negeri Tay li, setiap hari kau hanya
dirundung oleh kesepian, lama kelamaan dalam hati kecilmu timbul
suatu kebutuhan yang merangsang hatimu, maka setiap hari kau
berharap bisa memperoleh seorang pria yang dapat memberi
kegembiraan serta hiburan bagimu. Sejak Cia Ceng Gak masuk ke
dalam istana Tay li, kau mulai kehilangan martabatmu serta gengsimu
sebagai seorang perempuan, kau berusaha keras untuk mendapatkan
hatinya, karena itu kecuali kau gunakan badanmu serta daya pikatmu
untuk merangsang orang, kau sama sekali tidak mengerti akan arti
cinta yang sebenarnya, yang kau butuhkan hanya napsu birahi dan
bukan cinta yang senjati..."
"Apakah birahi bukan satu bagian dari penghidupan?" tanya
Liuw Koei hui tercengang.
"Oooh... antara cinta murni dan napsu birahi tentu saja bedanya
amat jauh, meskipun di dalam perjalanan hidup seorang manusia
membutuhkan ke-dua-duanya tetapi cinta yang murni keras bagaikan
batu emas yang sukar dibelah sebaliknya napsu birahi lebih banyak
kerugiannya daripada keberuntungan, kerugian yang bisa
memusnahkan diri sendiri..."
"Hmmm!" tiba-tiba Liuw Koei hui mendengus. "Pandangan yang
picik! Andaikata setiap orang mempunyai jalan pikiran semacam kau,
suami istri yang ada di kolong langit bisa pensiun dari pekerjaan rutin
mereka! Mungkin ucapanmu itu bisa membohongi seorang gadis yang
tak tahu urusan, untuk menakuti diriku... Ooooh salah alamat..."
Sang Kwan In menghela napas panjang.
"Aaai... hubungan antara suami dan istri hanya dilakukan
secukupnya, dalam kitab Thian Li Keng pernah dikatakan : 'Kalau
istri mencintai sang suami maka mereka harus saling hormat
menghormati, saling percaya mempercayai, dalam setiap tindakan
harus dipikirkan dulu matang-matang, jaga baik-baik kesehatan sang
633
Saduran TJAN ID
suami, terlalu mengumbar napsu birahi hanya akan menghancurkan
tubuh sendiri, ingat... ingat...' oleh sebab itu, bila seseorang betul amat
mencintai suaminya, maka tidaklah pantas kalau yang diburu setiap
harinya hanya hubungan seks di atas ranjang..."
Seolah-olah baru mendusin dari impian, mendadak Liuw Koei
hui dapat memahami sampai di manakah kesucian dari cinta sejati,
dengan penuh penderitaan dia memandang atap ruangan, lama sekali
tertegun lalu baru bergumam seorang diri :
"Jadi kalau begitu aku telah mencelakai dirinya..."
"Tentu saja," jawab Sang Kwan In sambil tertawa dingin.
"Hampir saja kau hancurkan seluruh kekuatan tubuhnya, andaikata
secara diam-diam aku tidak menempuh bahaya menyusup ke dalam
istana Tay li, saat itu mungkin Cia Ceng Gak sudah hancur di
tanganmu tanpa kau ketahui!"
Dalam hati kecil Liuw Koei hui tiba-tiba muncul kembali rasa
bencinya walau ia mengerti bahwa perkataan dari Sang Kwan In amat
tepat, tetapi setelah ia teringat kembali bahwa kepergian Cia Ceng
Gak adalah lantaran bujukan Sang Kwan In, seluruh kegusaran serta
kemurungan yang bertumpuk dalam hatinya selama banyak tahun ini
segera dilampiaskan ke tubuh orang itu, dia ingin sekali hantam
membinasakan orang she Sang Kwan tersebut.
Liuw Koei hui berteriak keras, ancamnya :
"Sang Kwan In, kau anggap aku tak dapat membinasakan
dirimu?"
Sekujur tubuh Sang Kwan In gemetar keras, sahutnya :
"Tentu saja kau sanggup, dan sedari dulu aku telah menduga
sampai di sini..." dia tarik napas dalam-dalam, "Cuma kali ini...
mungkin aku akan mengecewakan dirimu..."
Dalam pada itu Liuw Koei hui telah dapat melihat bahwa
semangat tubuh Sang Kwan In amat lemas dan layu, sinar matanya
pudar dan seakan-akan sedang menderita luka yang amat parah, dalam
hati ia merasa terkejut, sambil maju ke depan tegurnya :
634
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kenapa kau?"
"Aku sudah terkena pasir Thian Seng See, sekarang sudah tak ada
kekuatan untuk bertempur dengan dirimu..."
"Oooh... serbuk pasir Bintang Langit adalah benda milik keluarga
Toan dari negeri Tay li, siapa yang telah menggunakan benda beracun
itu untuk mencelakai dirimu?"
"Toan Hong ya takut aku mengalahkan dirinya dan merebut
kedudukan sebagai jago nomor satu di wilayah selatan, karena itu
secara diam-diam ia telah menggunakan siasat licik untuk
membuyarkan hawa murniku, agar aku tak dapat menggunakan
tenaga dalamku selama tiga tahun..." seru Sang Kwan In dengan
gusar.
Ucapan itu sangat mengejutkan Liuw Koei hui.
"Aaah masa perbuatan Toan Hong ya?" serunya tidak percaya.
"Dia bukanlah manusia semacam itu..."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang selama ini
membungkam diri, tiba-tiba mendengus dingin dan berkata :
"Toan Hong ya adalah seorang manusia yang rendah dan tak tahu
malu, ketika bergebrak melawan diriku ia telah mengeluarkan ilmu
berpusingnya yang mana hampir saja merengut selembar jiwaku, aku
tahu tujuan orang ini tidak terletak padaku, pada gagang pisau Han
Giok tersebut telah ia bubuhi selapis serbuk pasir bintang langit yang
tak berwujud dan tak berbau. Waktu itu Sang Kwan Kokcu tidak
siaga, ketika badik tadi dicabut keluar dari badanku, tanpa sadar ia
telah keracunan..."
Dengan pandangan penuh kebencian Liuw Koei hui melotot
sekejap ke arah Pek In Hoei, lalu ejeknya dengan suara dingin :
"Dengan kedudukan apa kau hendak berbicara dengan diriku..."
Pek In Hoei tertegun, kemudian dengan penuh kegusaran
teriaknya :
"Sekalipun kau adalah sahabat sucouwku tapi maaf aku tak dapat
menghormati dirimu lagi. Liuw Koei hui sekarang juga harap kau
635
Saduran TJAN ID
enyah dari sini, kalau tidak jangan salahkan kalau aku tak akan
bersikap sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu..."
"Bocah cilik, kau berani bersikap kurang ajar terhadap diriku..."
hardik Liuw Koei hui penuh kegusaran.
Saking marahnya ikat pinggang yang berada di dalam
genggamannya segera diayun ke muka, sementara telapak kanannya
ditabok ke tubuh musuh.
Dengan tangkas Pek In Hoei meloncat ke samping, pedangnya
berkelebat ke atas lalu membabat di tengah udara.
Dalam pada itu telapak tangan Liuw Koei hui sedang
menyongsong ke muka, melihat ancaman yang datang dari ujung
pedang lawan ia terkesiap, cepat-cepat perempuan itu tarik kembali
tangannya sambil mundur ke belakang.
"Hmmm," Pek In Hoei mendengus dingin. "Rupanya ilmu silat
yang kau miliki cuma begitu saja..."
Meskipun luka parah yang dideritanya belum sehat benar-benar
dan hawa murninya tak berani disalurkan, tetapi ilmu pedang
penghancur sang surya telah dikuasai benar-benar, walau cuma
kebasan yang enteng tetapi mendatangkan kelihayan yang ada di luar
dugaan.
Ilmu silat yang dimiliki Liuw Koei hui memang lihay dan ampuh,
tetapi setelah berjumpa dengan serangan yang begitu mengerikan,
tanpa sadar perempuan ini dibikin kelabakan juga.
Pedang di tangan Pek In Hoei bagaikan seribu ular yang licin
berkelebat maju ke depan di kala tubuh Liuw Koei hui mundur ke
belakang, perempuan ini semakin ketakutan hingga secara beruntun
ia mundur beberapa langkah ke belakang.
Dengan hati tercekat bercampur gusar, Liuw Koei hui
membentak keras :
"Bajingan cilik, kau berani menganiaya diriku..."
Kesadarannya saat itu telah pulih kembali, ia tahu bahwa luka
parah yang diderita Pek In Hoei belum sembuh dan ia tak dapat
636
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengerahkan tenaga dalamnya, sambil tertawa dingin sepasang
telapaknya segera bergetar melancarkan serangan secara berbareng.
Angin pukulan menggulung bagaikan bukit, tajam bagaikan
pisau. Pek In Hoei merasakan mulut lukanya amat sakit, pedang
dalam genggamannya tak bisa digunakan sehebat semula lagi, hatinya
tercekat dan di dalam hati pikirnya :
"Ilmu telapak yang dimiliki Liuw Koei hui amat aneh
serangannya yang amat kuat, dalam keadaan luka parah seperti ini aku
tak akan bisa bertahan terlalu lama, setiap saat mulut lukaku bisa
pecah kembali..." berpikir sampai di situ ia membentak keras,
pedangnya laksana kilat berkelebat ke arah depan.
Liuw Koei hui terkesiap tanpa terasa ia teringat kembali akan diri
Cia Ceng Gak tatkala masih berada di dalam istana negeri Tay li,
begitu gagah dan keren, pemuda di hadapannya sekarang tidak kalah
dengan kegagahan kekasihnya dahulu.
Sedikit pikiran bercabang, lengannya telah terkena satu tusukan
yang telak, darah segar mengucur keluar membasahi tubuhnya.
"Ooooh..." Liuw Koei hui berseru tertahan, "Kau... kau..."
"Aku harap kau segera enyah dari sini!" hardik Pek In Hoei ketus.
Liuw Koei hui memeriksa mulut luka di atas lengannya, setelah
tahu bahwa luka yang dideritanya hanya luka kulit luar yang amat
enteng, ia tertawa seram, serunya dengan penuh kegusaran :
"Sucouw-mu pun tak berani bersikap begini kurang ajar terhadap
diriku, kau sebagai seorang angkatan muda berani tak pandang
sebelah mata terhadap diriku... kurang ajar!"
Rupanya ia merasa amat sedih, dengan benci tambahnya :
"Sebelum kuhancur-lumatkan tubuhmu jadi beberapa bagian,
rasa dendam dan benciku terasa belum terlampiaskan."
Tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang datang suara gelak
tertawa yang amat nyaring, bergema di tengah malam suaranya
mengguncangkan seluruh dinding ruangan, air muka Sang Kwan In
637
Saduran TJAN ID
seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, dengan sinar mata
ketakutan ia melongok keluar ruangan.
"Oooh... Toan Hong ya telah datang!" bisik Liuw Koei hui lirih.
Sedikit pun tidak salah, bersamaan dengan sirapnya gelak tertawa
itu sesosok bayangan manusia muncul di depan pintu, tampak Toan
Hong ya dalam pakaian kebesarannya dengan senyum licik menghiasi
bibirnya selangkah demi selangkah berjalan masuk ke dalam.
Buru-buru Liuw Koei hui jatuhkan diri berlutut di atas tanah,
serunya :
"Yang Mulia ban swie... ban ban swie."
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, rupanya kau masih belum
melupakan diriku," ujar Toan Hong ya sambil tertawa tergelak.
"Budi kebaikan Yang Mulia kepada kau yang rendah sudah
banyak tak terhingga, mana berani hamba melupakan diri Yang
Mulia..."
"Ehmm, kau boleh bangkit berdiri!"
"Terima kasih Yang Mulia!" sahut Liuw Koei hui sambil bangkit
berdiri, dengan tangan lurus ke bawah dan kepala tertunduk ia mundur
ke samping.
Haruslah diketahui meski negeri Tay li punya nama tak
berkekuasaan, tapi peraturan dalam keluarga Toan amat ketat,
hubungan antara junjungan dengan bawahan masih dipertahankan
hingga kini. Sekali pun Liuw Koei hui ketika itu telah bebas dari
belenggu keraton, namun setelah kemunculan Toan Hong ya di situ,
tanpa sadar ia pun memberi penghormatan sebagaimana layaknya.
Dalam pada itu Toan Hong ya telah melirik ke arah Liuw Koei
hui, lalu tegurnya :
"Mau apa kau berada di sini??"
"Aku..." mendadak sekujur badan Liuw Koei hui gemetar keras.
Toan Hong ya tertawa seram.
"Apakah mereka telah menganiaya dirimu??"
638
IMAM TANPA BAYANGAN II
Berada di hadapan Toan Hong ya ternyata Liuw Koei hui tak
sanggup mengucapkan sepatah kata pun, penghidupannya selam
banyak tahun di dalam istana Tay li tanpa terasa telah menciptakan
rasa jeri dan takut yang tak terhingga terhadap junjungannya ini,
setiap kali perempuan itu bertemu dengan Toan Hong ya, ia tentu
merasa dirinya rendah dan tak berani memandangnya secara
langsung.
Dengan suara dingin terdengar Toan Hong ya berkata kembali :
"Keluarga Toan kami turun temurun hidup dalam kemegahan,
belum ada suatu partai dalam dunia persilatan yang berani
memandang enteng keluarga Toan kami. Sekarang kau mendapat
penghinaan di tempat ini, tentu saja aku Toan Hong ya aku..."
"Hey manusia she Toan, rupanya kau hendak merampok di kala
terjadi kebakaran..." sindir Sang Kwan In sambil tertawa dingin.
"Hmmm! Kematianmu sudah berada di ambang pintu, kau masih
berani menyindir diriku... benar-benar manusia tak sadar diri..."
Ia mendengus dingin, sorot matanya dialihkan ke atas wajah
Liuw Koei hui dan menambahkan :
"Apakah kau inginkan aku yang mengambil keputusan bagimu..."
"Terserah kepada Yang Mulia, aku yang rendah mengucapkan
banyak terima kasih atas budi kebaikan Hong ya..."
Kembali ia hendak jatuhkan diri berlutut tapi dengan cepat Toan
Hong ya telah berseru mengucapkan terima kasihnya lalu
mengundurkan diri ke belakang.
Sementara itu Toan Hong ya telah alihkan sinar matanya ke atas
Pek In Hoei, sambil tertawa dingin jengeknya :
"Hmmm... kau belum modar?"
Dengan penuh kebencian Pek In Hoei melotot sekejap ke arah
Toan Hong ya, lalu jawabnya :
"Hmmm...! Badik Han Giok mu masih belum mampu untuk
mencabut jiwaku..." hawa amarah bergelora di dalam dadanya,
telapak kanan segera didorong ke muka sambil menggetarkan ujung
639
Saduran TJAN ID
badannya. "Aku ingin minta petunjuk darimu, ayoh silahkan turun
tangan!"
Toan Hong ya melengak, ia tidak menyangka kalau watak si anak
muda ini begitu keras kepala, dalam keadaan terluka parah ia masih
menantang dirinya bertempur.
Sambil tertawa terbahak-bahak segera katanya :
"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah keparat, takabur amat kau
ini! Dalam keadaan luka kau masih berani keras kepala main tantang,
hmm! Kau anggap aku orang she Toan adalah manusia apa, aku tak
akan menggunakan kesempatan seperti ini untuk turun tangan
terhadap dirimu. Haaah... haaah... menunggu kesehatanmu sudah
pulih kembali seperti sedia kala, aku pasti akan mencari dirimu..."
Ia maju ke depan dengan langkah lebar kepada Sang Kwan
Kokcu tegurnya :
"Sang Kwan In bagaimana dengan urusan kita berdua?"
"Coba kau lihat, apakah aku mampu untuk turun tangan?"
Toan Hong ya pura-pura menunjukkan wajah kaget, dengan suara
keheranan tanyanya lebih jauh :
"Kenapa? Apakah Sang Kwan heng sedang menderita sakit?"
"Hmmm! Pada gagang badik Han Giok kau telah membubuhkan
serbuk pasir bintang langit, siasat licik semacam ini sungguh jauh di
luar dugaanku. Mulai detik ini selama tiga tahun wilayah selatan tak
akan ada orang yang sanggup memperebutkan kedudukan jago nomor
wahid lagi dengan dirimu..."
"Ooooh... Toan Hong ya berseru keheranan. "Betulkah telah
terjadi peristiwa semacam ini? Meskipun serbuk pasir Thian Seng Soe
adalah benda pusaka milik keluarga Toan kami, tapi aku Toan Hong
ya tidak nanti akan melakukan perbuatan semacam itu... Ehmmm
sekarang aku telah teringat, perbuatan ini pastilah hasil karya dari
muridku yang goblok itu, beberapa hari berselang ia pernah
menggunakan badik Han Giok-ku untuk membakar pasir bintang
langit... pastilah begitu."
640
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... apa gunanya kau bermain
sandiwara di hadapanku? Jalan pikiranmu mungkin bisa mengelabui
orang lain, tapi jangan harap bisa mengelabui sepasang mataku..."
"Jadi kalau begitu Sang kwan heng benar percaya bahwa
perbuatan ini adalah suatu kesengajaan..."
"Aku percaya dengan ketajaman mataku, apa yang pernah kulihat
dan kudengar sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau berbuat
demikian..." jawab Sang Kwan In dengan wajah sinis.
"Apa yang pernah kau lihat?" bentak Toan Hong ya.
"Dengan mata kepala sendiri aku pernah melihat kau gunakan
Liuw Koei hui untuk mencelakai Cia Ceng Gak, aku masih ingat
ucapanmu terhadap Liuw Koei hui pada saat itu..."
Air muka Toan Hong ya berubah hebat :
"Urusan yang kau ketahui terlalu banyak, aku tak boleh
membiarkan dirimu hidup terlalu lama di kolong langit..."
Diam-diam Sang Kwan In merasa hatinya tercekat, tetapi di
luaran tetap ia bersikap tenang, sambil mendengus dingin katanya :
"Aku sudah tahu bahwa kau tak akan membiarkan aku tetap hidup
di kolong langit, cuma usahamu itu sia-sia belaka. Sebab sejak aku
mengetahui akan peristiwa itu, maka semua kejadian yang kuketahui
telah kucatat di dalam sejilid kitab ilmu silat, asal kau berani turun
tangan terhadap diriku maka kejadian itu akan diumumkan oleh
seseorang kepada khalayak ramai, agar semua orang kangouw
mengetahui akan tabiatmu dan keluarga Toan selamanya dicemooh
orang..."
"Siapakah orang itu?" tanya Toan Hong ya dengan wajah serius.
"Orang itu bukan lain adalah orang yang ingin kau celakai, coba
pikirkanlah kecuali Cia Ceng Gak siapa lagi yang hendak kau
lenyapkan? Mungkin dalam hati kecilmu sudah mengerti..."
"Dia belum mati?" teriak Toan Hong ya dengan sepasang mata
terbelalak lebar.
641
Saduran TJAN ID
"Meskipun dia masih hidup keadaannya tidak jauh berbeda
dengan keadaan orang mati..."
Toan Hong ya menghela napas panjang, hatinya terasa agak lega,
katanya seram :
"Sekarang aku sudah mendapatkan satu akal untuk menghadapi
dirimu, Sang Kwan In! Lima puluh ribu orang yang berada di dalam
selat Seng See Kok, malam ini jangan harap ada yang bisa keluar dari
sini, bila aku orang she Toan tidak berhasil melenyapkan dirimu,
malam ini aku betul-betul akan merasakan makan tak enak tidur tak
nyenyak..."
Ia tertawa tergelak, kepada Liuw Koei hui ujarnya :
"Sekarang kau boleh membalas dendam waktu itu andaikata tiada
Sang Kwan In maka Cia Ceng Gak tak akan meninggalkan dirimu,
kalau kau hendak mencari bibit penyakitnya maka keparat tua inilah
yang paling menjemukan..."
"Benar! Aku harus membinasakan dirinya untuk membalas
dendam..." sahut Liuw Koei hui sambil menggertak gigi.
Sesudah menjerit lengking bagaikan orang kalap, perempuan itu
meloncat ke muka, sepasang lengannya direntangkan dan langsung
mencengkeram tubuh Sang Kwan In.
"Hmmm, lebih baik tenangkan dulu hatimu!" dengus Pek In Hoei
dengan suara dingin.
Pemuda ini menyadari bahwa ketika itu Sang Kwan In sama
sekali tak bertenaga untuk angkat tangannya, jelas serangan kalap dari
Liuw Koei hui susah untuk dihindari. Pedangnya segera berkelebat
membabat punggung perempuan itu secara sadis.
Sreeet...! Sepasang lengan Liuw Koei hui hampir saja mengenai
tenggorokan dari Sang Kwan In, pada saat yang amat kritis itulah
desiran angin tajam menyapu datang dari belakang punggungnya,
membuat perempuan itu tercekat hatinya dan buru-buru menyingkir
ke samping.
642
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pek In Hoei tak mau memberi kesempatan bagi lawannya untuk
pergi ganti napas, lengannya kembali bergerak cepat, tiba-tiba ujung
pedangnya dari arah bawah menyusup ke atas dan langsung menotok
telapak tangan lawan.
Serangan macam ini sungguh berada di luar dugaan Liuw Koei
hui, ia tarik telapaknya sambil menyusup mundur lagi ke belakang,
tapi waktu sudah tak mengijinkan, telapaknya tahu-tahu tertusuk telak
dan darah segar mengucur keluar membasahi seluruh lengannya.
"Hmmm!" setelah dua kali beruntun Liuw Koei hui terluka di
ujung pedang lawan, hawa gusar yang bergelora di dalam hatinya
sukar tertahan lagi, sambil memandang telapak tangannya yang
berlumuran darah ia berteriak keras.
Air muka Toan Hong ya berubah hebat, serunya :
"Kau boleh mundur dari sini, sakit hati ini biarlah aku yang
membalaskan bagimu."
Liuw Koei hui gelengkan kepalanya, "andaikata aku tak bisa
membunuh sendiri bajingan ini, hamba bersumpah tak akan keluar
dari selat Seng See Kok ini lagi. Tadi ia telah melukai lengan kiriku
dan sekarang ia lukai lagi telapakku, sakit hati ini selamanya tak akan
beres sebelum aku berhasil menghancur-lumatkan tubuhnya..."
"Perempuan edan!" maki Pek In Hoei dengan gusarnya, "kalau
kau masih saja tak tahu diri, jangan salahkan kalau aku akan turun
tangan keji terhadap dirimu..."
Liuw Koei hui betul-betul sudah dibikin gusar bercampur
mendongkol hingga sukar untuk mengendalikan diri lagi, sekujur
badannya gemetar keras, sambil meraung kalap ia memandang
sekejap ke arah Toan Hong ya tanyanya :
"Bolehkah aku membinasakan dirinya??"
"Kau tak akan sanggup!" jawab Toan Hong ya sambil geleng
kepala.
Sorot matanya beralih ke atas wajah pemuda itu, dengan wajah
dilapisi napsu membunuh, kaisar she Toan ini tertawa dingin, telapak
643
Saduran TJAN ID
kanannya perlahan-lahan diangkat ke atas lalu berjalan menghampiri
si anak muda itu.
Pek In Hoei tercekat hatinya, sambil mencekal pedang ia berdiri
tegak tak berkutik, katanya :
"Bagus sekali, mari kita berduel untuk menentukan siapa bakal
hidup dan siapa bakal mati..."
"Hmmmm! Dalam seranganku ini akan kucabut selembar
jiwamu..." bentak Toan Hong ya dengan wajah menyeramkan.
Telapak kanannya diayun ke tengah udara, serentetan cahaya
tajam yang amat menyilaukan mata segera meluncur ke depan
membuat Pek In Hoei tak sanggup untuk membuka matanya.
"Aaaah... ilmu pukulan penembus awan!" seru Sang Kwan In
dengan wajah berubah hebat.
Blaaam...! Pek In Hoei segera merasakan tenggorokannya jadi
anyir badannya mundur tujuh delapan langkah ke belakang dengan
sempoyongan, ia mendengus kesakitan dan berteriak :
"Sungguh licik perbuatanmu!"
Belum habis ia berseru, darah segar telah muncrat keluar dari
mulutnya, tidak ampun lagi tubuhnya roboh tak sadarkan diri di atas
tanah.
Belum sampai satu jurus Pek In Hoei telah roboh tak sadarkan
diri, kejadian ini amat mengejutkan hati Sang Kwan In sehingga air
mukanya berubah hebat, saking gelisahnya ia ikut muntah darah
segar.
"Aaaai... takdir... takdir... Thian rupanya memang sudah akan
mencabut jiwaku..." gumamnya dengan wajah sedih.
Sementara itu Ouw-yang Gong yang selama ini membungkam
diri ikut mengucurkan air mata ketika menyaksikan si anak muda itu
roboh terluka, serunya keras-keras :
"In Hoei... In Hoei... ayoh bangkit dan pertahankan diri!"
Dengan wajah penuh penderitaan ia menarik lengan Pek In Hoei,
tapi pemuda itu sudah jatuh tak sadarkan diri, wajahnya pucat
644
IMAM TANPA BAYANGAN II
bagaikan mayat, darah kental masih mengucur keluar membasahi
bibirnya, keadaan pemuda ini tidak jauh berbeda bagaikan orang mati.
"Aku akan membalaskan dendam bagimu," teriak si kakek
konyol itu dengan badan gemetar keras, "Pek In Hoei, aku akan mati
bersama-sama dirimu..."
Dengan sedih ia tertawa keras, huncwee gedenya dicabut keluar
dari pinggangnya, dengan sepasang mata melotot besar ia lancarkan
sebuah totokan ke atas tubuh kaisar itu.
"Huuh... setan mulut usil, kau masih bukan tandinganku... lebih
baik tak usah mencari penyakit bagi diri sendiri," ejek Toan Hong ya
sambil geserkan badannya ke samping.
Serangan yang dilancarkan Ouw-yang Gong semakin gencar,
makinya kalang kabut.
"Kentut busuk ibumu yang ke-tujuh puluh dua kalinya. Huuh...
kau sendiri kaisar apa? Kaisar yang lebih bau dari kentut anjing, sejak
dilahirkan aku sudah mempunyai jiwa bajingan, aku paling suka
mencari gara-gara dengan orang berpangkat macam dirimu!"
Tokoh sakti yang usil mulut ini adalah seorang jago yang amat
setia kawan, selama hidupnya ia hanya merasa amat cocok dengan
Pek In Hoei seorang, setelah dilihatnya sahabat karibnya ini terancam
bahaya ia jadi lupa keadaan, ia lupa kalau musuhnya amat lihay. Yang
terpikir olehnya hanyalah adu jiwa dengan Toan Hong ya.
Apa daya kekuatan mereka tak seimbang, sekalipun serangan
yang dilancarkan amat dahsyat namun setiap kali Toan Hong ya
berhasil menghindarinya, cukup dengan kelitan yang amat enteng.
Lama kelamaan Ouw-yang Gong jadi penasaran juga, bentaknya
dengan marah :
"Eeei... bangsat yang dipelihara anjing, kenapa kau tidak
melancarkan serangan balasan?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... asal aku turun tangan, maka
jiwamu bakal melayang!"
645
Saduran TJAN ID
"Aaaai... sudah, sudahlah!" mendadak Ouw-yang Gong
menghentikan gerakan tubuhnya di tengah udara dan menghela napas
panjang. "Aku toh bukan tandinganmu, kenapa mesti bertempur lebih
jauh? Lebih baik aku mati di hadapanmu saja."
Ia pandang sekejap ke arah Pek In Hoei dalam-dalam dan
menambahkan :
"Pek In Hoei, aku berangkat duluan!"
Watak si ular asap tua yang amat setia kawan ini terlalu
berangasan, habis berkata dia segera ayunkan huncweenya
menghantam ke atas batok kepala sendiri.
"Hmm," tiba-tiba Toan Hong ya mendengus dingin. "Aku tak
akan membiarkan kau terlalu keenakan."
Jari tangannya laksana kilat menotok ke tengah udara, segulung
desiran angin tajam tanpa menimbulkan sedikit suara pun langsung
menghajar jalan darah penting di atas lengan Ouw-yang Gong, begitu
cepat dan tepat serangan itu membuat orang sama sekali tak
menyangka.
Sementara itu si ular asap tua hanya merasakan lengannya
mendadak jadi kaku, sebelum ingatan ke-dua sempat berkelebat di
dalam benaknya huncwee gede itu sudah terjatuh ke atas tanah.
Dengan penuh kebencian ia melotot sekejap ke arah Toan Hong ya
lalu katanya :
"Kau mau apa?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... aku hendak suruh kau memandang
sepasang mataku."
Ouw-yang Gong melengak, tanpa sadar dialihkan sorot matanya
ke atas sepasang mata pihak lawannya, mendadak sekujur tubuhnya
gemetar keras, sikap sedih, gusar serta takut matinya lenyap tak
berbekas dan sebagai gantinya rasa girang menghiasi seluruh
wajahnya.
Dari sorot mata lawannya yang amat tajam itu, Ouw-yang Gong
merasa seakan-akan telah menemukan sesuatu yang sudah lama
646
IMAM TANPA BAYANGAN II
hilang dari pandangannya dan kini ia muncul kembali di depan
matanya, selangkah demi selangkah tubuhnya maju ke depan, ia
menyebut lirih nama seorang perempuan, nama yang selamanya tak
akan dilupakan olehnya. Ia semakin mendekati lawannya agar bisa
melihat lebih jelas lagi benda di balik sorot mata lawannya itu.
"Di dalam mataku terdapat 'dia', dalam matamu terdapat aku, kau
dapat menemukan 'dia' bila kau masuk ke dalam sini, marilah..." bisik
Toan Hong ya dengan suara tenang. "Malaikat yang agung akan
memberikan apa yang kau inginkan..."
Keadaan Ouw-yang Gong pada saat ini jauh lebih mirip sesosok
mayat hidup yang tak bernyawa lagi, tubuhnya selangkah demi
selangkah maju ke depan semakin menghampiri tubuh Toan Hong ya.
"Ular asap tua!" Sang Kwan In segera menghardik, "Kau telah
terkena ilmu pembetot sukmanya!"
Tapi Ouw-yang Gong sudah tidak mendengar lagi suara bentakan
dari Sang Kwan In, sepasang matanya terpusat di atas mata lawannya,
sementara sang lawan bergerak kian mendekat.
Di atas wajahnya sudah tak nampak kesedihan, kegusaran atau
pun penderitaan, yang ada tinggal senyuman. Senyuman yang terlalu
dipaksakan.
Toan Hong ya tertawa terbahak-bahak, katanya :
"Dalam kerajaan yang dikuasai malaikat ketenangan kau akan
melupakan semua kebencian, kejahatan serta rasa dendam, yang aku
butuhkan hanyalah peristirahatan yang tenang tenang... peristirahatan
yang kekal..."
"Benci... dendam... budi... ketenangan..." gumam Ouw-yang
Gong dengan suara lirih.
Ketika tubuhnya tiba pada jarak dua langkah di hadapan Toan
Hong ya, tiba-tiba tubuhnya gemetar semakin keras.
Toan Hong ya tahu bahwa daya ingatannya telah kabur, tanpa
terasa sambil tertawa katanya lagi :
647
Saduran TJAN ID
"Semua benda-benda seperti itu sudah tak ada gunanya lagi
bagimu, hanya hidup tenang di dalam kebun kegembiraanlah yang
akan memberikan kepuasan serta kehangatan dalam hidupmu, di sana
kau akan mendapatkan wanita cantik, intan permata, emas perak, arak
wangi serta makanan lezat yang tak akan didapat di tempat lain..."
"Hmmm..." mendadak Ouw-yang Gong mengerang keras, di saat
Toan Hong ya berada dalam keadaan tidak bersiap sedia itulah
mendadak ia meloncat ke depan, sepasang telapaknya laksana kilat
melancarkan serangan babatan ke depan.
Blaaaam.... di tengah udara terjadi ledakan dahsyat yang
menggetarkan seluruh permukaan, tubuh Toan Hong ya mencelat
sejauh setengah tombak lebih dan roboh di atas tanah, sedang Ouwyang
Gong sendiri pun jatuh di atas tanah.
"Hmmm!" ke-dua orang itu sama-sama mendengus dingin lalu
muntah darah segar, sesaat kemudian Toan Hong ya perlahan-lahan
bangkit berdiri dan melotot sekejap ke arah Ouw-yang Gong dengan
penuh kegusaran.
Sekujur tubuh si kakek konyol itu gemetar keras, diam-diam
hatinya merasa tercekat, bisiknya :
"Kau... kau masih sanggup berdiri?"
Toan Hong ya tertawa dingin, sambil menyeka noda darah yang
membasahi ujung bibirnya ia berseru :
"Aku terlalu menilai rendah dirimu, aku tak menyangka kau bisa
berlagak seolah-olah terkena ilmu pembetot sukmaku dan
membokong diriku di kala aku tidak siap. Untung reaksiku sangat
cepat... kalau tidak dua pukulan dahsyatmu barusan pasti telah
menyelesaikan jiwaku..."
"Maknya, kau betul punya jiwa seperti kura-kura bangsat! Aku si
ular asap tua mengira perbuatanku ini pasti akan berhasil
membalaskan sakit hati Pek In Hoei, tak nyana kau si anak kura-kura
mempunyai nasib yang begitu mujur, sudah terkena dua pukulan pun
hanya menderita luka enteng, agaknya usahaku cuma sia-sia belaka,
648
IMAM TANPA BAYANGAN II
takdir telah menetapkan bahwa aku tak bisa membalas sakit hati ini
lagi! Aaai... ke-dua pukulan itu pun merupakan takdir, seandainya
Sang Kwan Kokcu tidak menghardik sehingga pikiranku sadar
kembali, dari mana aku bisa menghadiahkan dua buah bogem mentah
kepadamu? Sayang kekuatan tubuhku masih belum cukup untuk
membinasakan dirimu, kesempatan yang baik ini harus dibuang
dengan percuma!"
"Huuh... peristiwa itu hanya bisa dianggap sebagai keteledoranku
hingga terkena bokonganmu, cuma kesempatan baik seperti itu hanya
ada satu kali saja, sekarang kau tak akan mampu untuk menciptakan
kesempatan sebaik itu lagi!"
********
Bagian 29
TENTANG soal itu aku sendiri pun tahu," sahut Ouw-yang Gong
sambil tarik napas dalam-dalam, "Aku pun tahu bahwa ilmu
kepandaianku belum dapat menandingi dirimu, bila turun tangan lagi
berarti aku mencari penyakit buat diri sendiri. Nah! Sekarang kau
boleh mulai turun tangan, aku tak akan memberikan perlawanan."
"Hmmm! Rupanya kau masih tahu akan diri sendiri, tapi... kau
mesti tahu bahwa serangan yang akan kulancarkan sebentar lagi
bukan permainan kanak-kanak, aku bisa membinasakan dirimu dalam
sekali pukulan dan kau pun jangan menganggap aku hendak
melampiaskan rasa mendongkolku, aku hanya ingin memberi sedikit
kelihayan padamu!"
"Apa yang hendak kau lakukan?" seru Ouw-yang Gong dengan
mata terbelalak lebar.
649
Saduran TJAN ID
Jilid 27
"HAAA... haaa... haaa.... acara bagus masih ada di belakang,
perlahan-perlahan kau akan mengetahui sendiri," sorot matanya
mengerling sekejap ke arah Liuw Koei hui dan menambahkan.
"Totoklah dahulu jalan darah Kie-kan, Cie-ti serta Ci-Hu tiga buah
jalan darahnya."
Liuw Koei hui mengiakan dan segera meloncat maju ke depan,
sepasang tangannya bergerak cepat, dalam sekejap mata beberapa
buah jalan darah di atas tubuh si kakek konyol itu sudah tertotok.
Toan Hong ya memandang wajahnya dengan sorot mata
mengerikan, ia berkata :
"Untuk sementara waktu bangsat tua itu aku serahkan kepadamu,
setelah kubunuh semua orang yang ada di sini, bawalah bangsat tua
ini ke dalam keratonku, aku hendak baik-baik mendidiknya."
"Hamba terima perintah!" sahut Liuw Koei hui sambil memberi
hormat.
Toan Hong ya alihkan sinar matanya memandang sekejap wajah
Sang Kwan In, lalu katanya :
"Sekarang apa yang hendak kau katakan lagi?"
"Hmmm! Kau hendak bacok silahkan bacok, mau bunuh silahkan
bunuh, aku orang she Sang Kwan sama sekali tidak gentar, tapi aku
hendak memberitahu dulu kepadamu, dalam selat Seng See Kok ini
jago lihay amat banyak dan tersebar di empat penjuru, gampangan kau
datang kemari dan belum tentu bisa tinggalkan tempat ini dengan
650
IMAM TANPA BAYANGAN II
seenteng mungkin sebelum berhasil keluar dari sini kau telah mati
dulu di atas genangan darah."
"Haaaah... haaaah... haaaah... kiranya kau masih ingin
mengandalkan empat orang kakek tua dari Partai Thiam cong itu
untuk melindungi dirimu, hmmm, Sang Kwan In! Terus terang
kuberitahukan kepadamu, ketika aku datang tadi putrimu serta keempat
orang kakek tua tadi sudah mengalami nasib yang sama,
mungkin pada saat ini mereka masih tertiup angin di tempat semula."
"Kau telah turun tangan keji terhadap mereka?" tanya Sang Kwan
In dengan nada sedih.
Toan Hong ya gelengkan kepalanya.
"Sewaktu datang kemari tadi aku tidak mempunyai rencana
demikian, maka hanya kutotok jalan darah mereka, tetapi keadaan
yang terbentang di depan mata saat telah memaksa diriku untuk
merubah semua rencanaku, karena engkau kemungkinan besar semua
orang akan mati terbunuh konyol!
"Orang she Toan, sekalipun aku telah berubah jadi setan pun akan
mencekik dirimu sampai mati!" sumpah Sang-kwan In dengan penuh
kemarahan.
"Hmm.... Hmm.... mungkin kau tak akan memiliki kemampuan
sampai sebesar itu !"
Dengan pandangan licik ia menatap wajah Sang-kwan In lalu
tertawa terbahak babak tapi ketika sampai di tengah jalan mendadak
suara tertawanya sirap, wajahnya berkerut kencang dan memandang
atas wuwungan rumah dengan mata terbelalak, dengan kaget
bercampur gugup ia mundur selangkah ke belakang.
Di atas tiang penglari tampaklah sesosok bayangan hitam berdiri
disitu, meskipun hanya bayangan punggungnya saja yang kelihatan
secara, tetapi bayangan itu amat dikenal oleh Toan Hong ya.
Sekujur tubuhnya gemetar keras, bisiknya lirih :
"Kau... kau... Cia..."
651
Saduran TJAN ID
Tiba-tiba orang itu menoleh, selembar wajah yang mengerikan
terbentang nyata di depan mata, sorot mata orang itu tajam seakanakan
baru datang dari akhirat, dengan suara yang dingin bagaikan
sukma gentayangan orang itu berkata:
"Orang she-Toan, kau tak akan menyangka bukan kalau aku
masih hidup di kolong langit?"
"Siapa kau?" bentak Toan Hong ya setelah menenteramkan
hatinya. ' -
"Aku adalah malaikat sukma.. seorang manusia yang telah
terbuang dari dunianya, aku pun sesosok sukma yang penuh dengan
hutang darah, aku datang ke dunia ini untuk menagih hutang-hutang
darahku dengan beberapa orang, kau adalah manusia pertama yang
akan kucari"
Suara itu terlalu dikenal olehnya, meskipun sudah terpaut banyak
tahun tetapi Toan Hong ya segera kenali siapakah orang itu setelah
mendengar suaranya. Dengan penuh ketakutan ia mundur satu
langkah ke belakang, bisiknya:
"Kau... kau masih hidup?"
"Aaa... kau... adalah Ceng Gak! tiba-tiba Liuw Koei Hui menjerit
lengking... Cia Ceng Gak, kau benar-benar belum mati!'
Dengan pandangan dingin orang itu menyapu sekejap ke arahnya,
kemudian berkata:
"Badan kasar Cia Ceng Gak telah binasa, yang ada hanyalah
sukmanya yang selalu akan gentayangan di kolong langit, kejadian
yang menimpa dirimu memang patut dikasihani tapi sayang cinta
sepihakmu hanya suatu impian belaka, akhirnya toh nihil yang kau
peroleh!"
"Ceng Gak! kau masih ingat akan diriku??"
Cia Ceng Gak menghela napas panjang.
"Terhadap siapa pun aku masih ingat dengan jelas, terutama
sekali terhadap kau dan Toan Horg ya, tiap hari aku selalu terkenang
dan tak pernah melupakannya...."
652
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sungguh?" jerit Liuw Koei Hui kegirangan, "Jadi kalau begitu
penantianku selama beberapa tahun tidaklah sia-sia belaka!"
"Kau telah menunggu dengan sia-sia" tukas Cia Ceng Gak ketus.
"Cia Ceng Gak yang ada sekarang sudah bukan pemuda tampan pada
masa yang silam lagi, wajahku memuakkan hati setiap orang, siapa
yang berani hidup bersama dengan diriku lagi."
"Aku....."
Ketika sorot matanya bertemu dengan raut wajah lawannya yang
begitu mengerikan, ucapan selanjutnya tak sanggup diteruskan lagi.
Walaupun orang jelek banyak terdapat di kolong langit tetapi tak
seorang manusia pun yang mempunyai raut wajah sejelek Cia Ceng
Gak saat ini.
Tatkala dilihatnya Liuw Koei Hui jadi ketakutan sehingga tak
berani meneruskan kembali kata-katanya, Cia Ceng Gak segera
tertawa dingin dan berkata :
"Huuh... yang kau sukai hanyalah raut wajah yang tampan, dan
kini raut wajah tampan yang selama ini kau idam-idamkan telah
musnah berantakan, aku tiada berharga untuk kau cintai lagi..."
Mendadak ia menghela napas panjang, tambahnya :
"Siapa yang tahu bagaimana kejadian hingga wajahku jadi hancur
dan musnah hingga berubah jadi begini?"
Toan Hong ya tersentak kaget dan menunduk dengan penuh
ketakutan, keringat dingin mengucur keluar menghabisi seluruh
tubuhnya, meskipun batinnya suruh ia berusaha untuk tenangkan
hatinya, tetapi jantungnya tetap berdebar dengan amat keras.
"Beritahukan kepadaku, siapa yang telah menghancurkan raut
wajahmu... terdengar Liuw Koei Hui berseru dengan nada sedih.
"Setelah kuberitahukan kepadamu, apa yang hendak kau
lakukan? Apakah kau dapat membalaskan sakit hatiku...
"Tentu saja, sekalipun orang yang paling akrab dengan diriku aku
pasti akan membinasakan dirinya di hadapanmu juga..."
653
Saduran TJAN ID
"Oooo. Kalau begitu kau benar-benar masih mempunyai rasa
cinta terhadap diriku..." seru Cia Ceng Gak, ia melirik sekejap ke arah
Toan Hong-ya lalu menambahkan, "Orang itu bukan lain adalah
manusia yang berada di depan matamu..."
Dengan hati terkesiap Toan Heng-ya angkat kepalanya, saking
takut dan kedernya tak sepatah yang sanggup diucapkan keluar.
Sedang Liuw Koei Hui sendiripun merasa kejadian ini sedikit
berada di luar dugaannya ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang
mesti dilakukan.
"Orang she Toan," seru Cia Ceng Gak dengan suara berat.
"Beranikah kau mengakui akan kejadian ini?"
"Kenapa aku mesti takut untuk mengakuinya?" balas Toan Hongya
dengan suara gemetar.
Dalam pada itu Liuw Koei Hui telah berhasil menenangkan
hatinya, dengan sinar mata penuh keheranan ia memandang wajah
Toan Hong ya tajam-tajam, perasaan hatinya jadi kalut dan sukar
dilukiskan dengan kata-kata mendadak sambil berlutut ia berkata :
"Sri Baginda, kenapa kau mencelakai Ceng Gak dengan cara
begitu keji?..."
Toan Hong-ya menghela napas panjang.
"Sejak aku berikan dirimu kepada Cia Ceng Gak, dalam hati
kecilku telah mengambil keputusan untuk menjodohkan kalian berdua
hingga bisa hidup rukun hingga akhir tua nanti, siapa tahu Sang-kwan
In keparat tua ini telah menghasut Ceng Cak hingga hubungan kalian
jadi berantakan tak karuan, dalam sedih dan sakit hatiku akhirnya aku
bersumpah untuk menemukan kembali Cia Ceng Gak guna
diserahkan kembali kepadamu, bila ia tak mau kembali ke sisimu
terpaksa akan kumusnahkan raut wajahnya yang tampan itu, dalam
keadaan demikian terpaksa aku harus bertindak keji..."
"Ku« berbuat demikian memang demi kebaikanku," kata Liuw
Koei Hui hambar, "Mana mungkin aku menyalahkan dirimu dan
menganggap budi sebagai dendam, Hong ya! Hamba tiada sesuatu
654
IMAM TANPA BAYANGAN II
apapun yang bisa kuberikan kepadamu untuk membalas budi
kebaikanmu itu, maka harap kau suka menerima tiga buah
penghormatanku sebagai tanda rasa baktiku terhadap dirimu..."
"Tak usah banyak adat!" buru-buru Toan Hong-ya maju
mencegah.
Baru saja tangannya menyentuh lengan perempuan itu. Tiba-tiba
Liuw Koei Hui dengan menggunakan gerakan tangan yang cepat dan
aneh mencengkeram tengkuk Toan Hong-ya lalu dicekiknya dengan
sekuat tenaga...
"Kau... jerit Toan Hong-ya dengan suara gemetar.
Begitu kencang cekikan itu hingga membuat pernapasan kaisar
dari negeri Tayli ini terhenti sejenak, di saat yang kritis itulah timbul
sesuatu kekuatan dalam tubuhnya untuk menyelamatkan diri, sekuat
tenaga dia hantam tubuh Liuw Koei Hui.
Blaam...! dalam jarak yang begitu dekat, pukulan tersebut dengan
telak bersarang di atas tubuh lawannya.
Dengan penuh kesakitan Liuw Koei Hui menjerit ngeri, darah
segar muncrat keluar dari ujung bibirnya, ia mendengus penuh
kebencian, serunya :
"Hong-ya, sikapmu terhadap diriku terlalu baik, tetapi aku tak
bisa menerima kebaikanmu itu, kau berani menghancurkan hidup
Ceng Gak maka terpaksa akupun harus mencekik dirimu sampai
mati!"
Mati-matian ia cekik tengkuk kaisar itu membuat tubuh Toan
Hong-ya jadi sempoyongan, matanya jadi berkunang-kunang dan
dadanya terasa amat sesak, akhirnya ia tak tahan dan roboh ke atas
tanah.
Tetapi sesaat sebelum menghembuskan napasnya yang
penghabisan, rupanya Toan Hong-ya merasa tidak rela mati dengan
begitu saja, telapaknya direntangkan lebar, ke-lima jarinya bagaikan
pisau belati ditusuk ke atas dada Liuw Koei hui hingga tembus pada
punggungnya.
655
Saduran TJAN ID
Perempuan itu menjerit ngeri, badannya kejang dan darah segar
muncrat keluar membasahi seluruh lantai, melayanglah jiwa selir dari
negeri Tayli ini dalam keadaan mengerikan.
Air muka Toan Hong-ya sendiri pun berkejut kencang, sepasang
matanya melotot bulat-bulat, kakinya menjejak lantai dan kaisar dari
negeri Tayli inipun menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Sang-kwan in diam-diam menghela napas panjang, sambil
menggeleng katanya :
"Hukum alam selalu akan menimpa mereka yang bersalah,
sungguh tak nyana seorang kaisar dari suatu negeri harus menemui
ajalnya dalam keadaan yang begini mengenaskan... Ceng Gak-heng
sakit hatimu akhirnya terbalas juga..."
"Dia telah mati...." ujar Cia Ceng Gak sedih.
Tiba-tiba terdengar Liuw Koei Hui merintih rupanya ia belum
putus nyawa, dengan wajah dihiasi senyuman ia nampak mendongak
lalu berbisik dengan air mata bercucuran:
"Ceng Sak, aku telah membalaskan sakit hatimu..."
"Benar kau terlalu mencintai diriku, aku merasa menyesal
terhadapmu..."
Liuw Koei Hui menghembuskan napas panjang, katanya lagi :
"Sekarang aku baru tahu arti sebenarnya dari cinta, cinta dapat
menimbulkan keberanian bagi seseorang, dapat pula menghilangkan
kejantanan seseorang, aku bisa melakukan suatu pekerjaan yang
menggirangkan hatimu, sekalipun harus ditukar dengan kematian
bagiku..."
Dengan suara mirip mengigau ia melanjutkan :
"Mungkin aku akan berangkat lebih dahulu daripada mu, aku
akan mengakhiri perjalananku di dalam dunia ini, aku akan
menantikan kedatanganmu di tempat yang jauh, di situ akan kubangun
sebuah kebun bunga yang indah, seindah kebun bunga di istana negeri
Tayli, setelah kau menyusul diriku nanti, kita akan tinggal di tempat
itu, selamanya tak akan keluar lagi.... benar, akan kucarikan pula
656
IMAM TANPA BAYANGAN II
beberapa orang dayang keraton untuk melayani dirimu, agar kau bisa
merasakan kehidupan yang penuh kebahagiaan."
Ditatapnya wajah Cia Ceng Gak dengan sorot mata penuh rasa
cinta, lalu tambahnya :
"Sekarang aku tidak takut lagi dengan raut wajahmu, apa
salahnya wajah yang bagus atau jelek? Yang kubutuhkan hanya
hatimu, asal hatimu baik...."
"Kau sangat baik..."
Tiba-tiba Liuw Koei Hui tertegun sejenak seperti telah teringat
akan suatu persoalan, ia tertawa sedih dan berkata kembali :
"Kau? kenapa tidak memanggil namaku? Bukankah kau paling
suka dengan namaku..."
Ucapannya terputus dan napasnya mendadak memburu, sikap Cia
Ceng Gak nampak sangat gelisah hingga keringat dingin mengucur
keluar hingga membasahi tubuhnya, ia tetap tak menjawab.
Liuw Koei Hui semakin tertegun, dengan napas terengah-engah
serunya :
"Paa... panggillah aku...."
Tapi ia putus asa, sebelum ia mendengar jawaban diri pihak
lawan napasnya telah putus. Sesaat sebelum menghembuskan
napasnya yang penghabisan wajahnya nampak terkilas beberapa buah
pertanyaan yang mencurigakan hatinya, tapi pertanyaan itu selamanya
tak akan terjawab, sebab ia telah mati/
Memandang jenazah Liuw Koei Hui yang membujur di atas
lantai, Cia Ceng Gak berkata dengan suara gemetar :
"Maafkan daku! terpaksa aku harus berbuat demikian, kalau tidak
maka seluruh penghuni selat Seng See Kok bakal musnah.... Aaai!
aku tahu bahwa perbuatanku menipu cinta kasihmu adalah suatu
perbuatan yang salah..."
Secara beruntun Toan Hong ya serta Liuw Koei hui telah
meninggal dunia, kejadian ini membuat suasana dalam ruangan
berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
657
Saduran TJAN ID
Lama sekali.... Sang-kwan In baru buka suara dan berkata :
"Saudara Ceng Gak, kau tak usah bersedih hati! Liuw Koei Hui
bisa mati dalam keadaan tenang sudah merupakan suatu kejadian
yang membahagiakan dirinya. Siapa yang bisa menghindari
kematian? cuma waktunya saja yang berbeda..."
"Ayah!" mendadak orang itu berseru.
Sang-kwan In hampir saja berdiri kaku, ia tak percaya ucapan itu
bisa muncul dari mulut Cia Ceng Gak, dengan penuh kecurigaan ia
berpaling keluar pintu kemudian berkata :
"Saudara Ceng Gak, kau..."
"Ayah... aku adalah Cing Cing..."
Mendadak Cia Ceng Gak putar badan dan menarik wajahnya,
segera muncullah raut wajah Sang-kwan Cing yang cantik.
Sang-kwan In semakin melengak, ia berseru :
"Cing-jie, dari mana bisa kau?..."
Dengan air mata bercucuran Sang-kwan Cing menjawab :
"Setelah jalan darah ananda tertotok oleh Toan Hong-ya, diamdiam
aku kerahkan tenaga untuk membebaskan pengaruh totokan
tersebut. Untung Toan Hong-ya agak ringan turun tangan terhadap
diriku. Setelah jalan darahku bebas, tanpa sengaja di atas lantai aku
telah menemukan sejilid kitab kecil yang jatuh dari saku Toan Hongya,
dalam kitab tersebut tercatat semua kisah kejadiannya dengan Cia
Ceng Gak.
"Karena keadaan ayah amat berbahaya, aku segera membebaskan
Thiam-cong Su Loo dan ajak mereka berunding, tiba-tiba kami
mendapat satu akal, dengan cara ini aku hendak menakuti Toan Hongya,
maka segera kucari sebuah topeng kulit..."
"Bocah durhaka!" damprat Sang-kwan In dengan wajah berubah
hebat, "Tahukah kau bahwa perbuatanmu itu sudah mencelakai dua
lembar jiwa manusia..." hingga suara pun bisa kau tirukan sedemikian
tepat, aku tidak habis mengerti sedari kapan kau pelajari begitu
banyak kepandaian..."
658
IMAM TANPA BAYANGAN II
Yang berbicara bukan aku, empek Tiong Yan lah melayani tanya
jawab itu sambil bersembunyi di atap rumah, karena itulah aku tak
berani meloncat turun ke bawah. Kemunculan aku yang mendadak
rupanya sangat mengejutkan hati Toan Hong ya serta Liuw Koei Hui
hingga mereka sama sekali tidak mengetahui akan penyaruanku... "
Diam-diam Sang kwan In menghela napas panjang, katanva
kemudian :
"Kematian dari Toan Hong ya tak usah kita sesalkan, yang patut
dikasihani adalah Liuw Koei Hui, kehidupannya selama ada di dunia
amat payah dan penuh penderitaan, meskipun pikirannya terlalu picik
tapi selama hidupnya amat jarang melakukan kejahatan, perbuatanmu
yang telah membohongi dia tentu akan membuat sukmanya di alam
baka jadi tak tenteram..."
"Ananda tahu bahwa perbuatan ini amat bersalah terhadap Liuw
Koei Hui... " sahut Sang kwan Cing sambil tundukkan kepalanya.
"Aku tidak pantas menggunakan cara seperti ini untuk membohongi
cinta kasihnya, untuk menebus dosaku ini ananda rela jadi anak
angkatnya, akan kukubur jenazahnya secara layak dan menjaga
pusaranya... "
Sang kwan In masih ingin mengucapkan sesuatu lagi, pada saat
itulah empat kakek tua dari partai Thiam cong telah melangkah masuk
ke dalam ruangan, Tiong Yan langsung minta maaf kemudian ujarnya
dengan gelisah :
"Sang kwan Kokcu, apakah Pek In Hoei bisa mati?"
Sang Kwan In tidak menjawab, ia periksa nadi si anak muda itu
lalu menghela napas panjang, katanya kemudian setelah memandang
jenazah dari Toan Hong ya.
"Jarang sekali ada orang yang sanggup menerima pukulan
penebus awan itu, dalam lukanya Pek In Hoei harus menerima pula
sebuah pukulan berat dari ilmu sakti itu. Sebenarnya ia bakal mati
binasa, tapi menurut denyutan nadinya barusan aku rasa ia berada
dalam keadaan normal, mungkin tiada persoalan atas dirinya..."
659
Saduran TJAN ID
Thiam cong su loo sama-sama menghembuskan napas lega,
kerutan dahi yang semula menghiasi wajah mereka kian lama kian
bertambah tawar, ketegangan pun semakin mengendor.
"Ayah," tiba-tiba Sang Kwan Cing berseru, "bagaimana caranya
untuk memunahkan serbuk racun pasir bintang langit..."
"Tad ada cara lain kecuali menelan obat penawar khusus dari
serbuk racun itu..." jawab Sang Kwan In sambil geleng kepala.
Sang Kwan Cing segera lari ke sisi mayat Toan Hong ya dan
menggeledah sakunya, tidak lama kemudian dari dalam saku kaisar
itu ia temukan sebuah botol porselen serunya :
"Ayah, coba lihat apakah ini?"
Sang Kwan In menerimanya dan dicium sebentar, kemudian
menjawab :
"Nak, inilah obat pemunah dari pasir bintang langit, ilmu silat
yang kumiliki tak akan punah lagi!"
Ia merandek sejenak, lalu sambungnya :
"Su loo, tolong bimbinglah Pek In Hoei masuk ke dalam
kamarku, di situ aku memiliki beberapa macam obat mujarab yang
bisa memulihkan kesehatannya dengan cepat..."
Bicara sampai di situ dari dalam botol porselen tadi diambilnya
beberapa butir pil berwarna hijau dan segera ditelan, setelah
bersemedi beberapa waktu hingga keringat dingin membasahi seluruh
tubuhnya, sambil meloncat bangun ia berseru :
"Aku sudah sembuh!"
Sang Kwan Cing menghembuskan napas lega, katanya :
"Ayah, betulkah kau akan membangun kembali partai Thiam
cong di dalam wilayah selatan..."
"Tentu saja! Antara partai Thiam cong dengan selat Seng See
Kok kita mempunyai hubungan yang sangat erat, bagaimana pun juga
aku harus bantu mereka untuk membangun kembali partai Thiam
cong yang telah musnah..."
660
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Waaaah... kalau begitu nasib selat Seng See Kok kita jadi amat
mengenaskan..."
"Kenapa?"
"Bangkitnya partai Thiam cong di wilayah selatan berarti
punahnya selat Seng See Kok kita, julukan sebagai partai nomor
wahid di wilayah selatan pasti akan terjatuh ke tangan orang lain..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... kau betul-betul bocah dungu yang
belum tahu keadaan, ayoh berangkat! Aku harus segera
menyembuhkan luka yang diderita Pek In Hoei, bila terlambat
mungkin ilmu silatnya bakal punah!"
******
Pagi yang cerah menyelimuti bukit Thiam cong yang megah,
sinar matahari yang berwarna keemas-emasan memancar ke seluruh
pelosok bukit tersebut.
Berita tentang bangkitnya kembali partai Thiam cong di wilayah
selatan akhirnya tersebar pula di seluruh dunia persilatan, walaupun
pelbagai partai telah memperoleh surat undangan tapi tak seorang
wakil pun yang hadir dalam perayaan tersebut, kejadian ini
mencemaskan hati semua orang yang tergabung dalam partai Thiam
cong...
Murid partai Thiam cong yang telah menyembunyikan diri tak
seorang pun yang hadir pula saat itu, sepanjang jalan gunung menuju
ke kuil Sang Cing Koan dipenuhi oleh jago-jago lihay selat Seng See
Kok yang pada waktu itu di bawah pimpinan Sang Kwan In telah
menggabungkan diri dengan pihak partai Thiam cong.
Atas permohonan dari Pek In Hoei, akhirnya Sang Kwan In
menjabat sebagai wakil ketua dari partai tersebut, sedang Thiam cong
Su Loo menjabat sebagai empat pelindung hukum, hanya Pek In Hoei
seorang yang tidak ikut menduduki jabatan berhubung persoalannya
masih menumpuk.
661
Saduran TJAN ID
Taaaang...! suara genta bergema memenuhi angkasa membelah
jalan gunung yang sunyi...
Dengan wajah sedih Pek In Hoei berdiri di sisi meja abu
Sucouwnya, ia merasa kecewa bercampur kesal karena tak seorang
wakil pun dari pelbagai perguruan yang diundang ikut hadir di dalam
upacara besar ini.
"Tak usah dipikirkan lagi," kata Sang Kwan In dengan wajah
serius. "Kita tetap melangsungkan upacara ini tepat pada waktunya..."
Pek In Hoei mengangguk.
"Bila partai yang mendapat undangan tidak hadir dalam upacara
ini, itu berarti bahwa mereka tidak pandang sebelah mata pun
terhadap partai Thiam cong kita, mulai hari ini mereka pun bukan
sahabat dari partai Thiam cong..."
"Setiap partai semuanya tahu sampai di manakah kesukarannya
untuk mendirikan partai, tak ada suatu perguruan pun yang tidak
mengalami kesulitan di kala membangun perguruannya. Apa yang
mesti kita pikirkan tentang sedikit penghinaan ini?" kata Sang Kwan
In sambil tertawa getir, "Aku percaya dengan mengandalkan wajahku
ada beberapa perguruan pasti akan hadir dalam upacara ini."
"Aku rasa itu terlalu dipaksakan, yang kuharapkan adalah
kehadiran mereka secara sukarela."
"Haaaah... haaaah... haaaah... mungkin saja mereka tidak datang
karena merasa malu sebab mereka pernah menderita kekalahan di
tanganmu, tapi aku percaya jiwa mereka tak akan sesempit itu, lagi
pula di kemudian hari mereka masih membutuhkan kita..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, dari luar pintu terdengar
suara teriakan keras berkumandang datang :
"Loei Peng dari partai Kilat telah tiba..."
Buru-buru Pek In Hoei munculkan diri untuk menyambut
kehadiran orang itu, terlihat Loei Peng dengan wajah dihiasi
senyuman muncul di depan pintu didampingi dua orang jago lihaynya,
662
IMAM TANPA BAYANGAN II
sikap serta tingkah laku orang ini wajah dan sedikit pun tidak
memikirkan masalah yang telah lampau.
"Pek sauwhiap, ini hari aku harus memberi selamat kepadamu!"
terdengar Loei Peng berseru sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aaaah, mana... mana... " jawab Pek In Hoei sambil tersenyum,
"Siauw te bisa mendapat kunjungan dari Loei heng, hal ini sudah
cukup membuat hatiku merasa amat berterima kasih..."
Dari luar kembali terdengar seorang anggota partai Thiam cong
berseru lantang :
"Ku Lok dari benteng Leng Cian Poo tiba..."
"Sheng Kong dari selat Leng In Kok..."
Sesaat kemudian hampir separuh dari partai besar di wilayah
selatan telah hadir di atas gunung Thiam cong, semua tamu segera
dipersilahkan masuk ke dalam ruang tengah.
Selama ini tak seorang pun di antara para jago itu yang
mengungkap kembali peristiwa bentrokan mereka dengan Pek In Hoei
bahkan menganggapnya tak pernah terjadi peristiwa semacam itu.
Tentu saja hal ini disebabkan mereka memandang di atas wajah
Sang Kwan In, sebagai seorang jago lihai dalam dunia persilatan,
meskipun terhadap orang ini mereka merasa mendongkol dan benci
namun di luaran mereka bersikap ramah dan berkawan, karena
mereka tahu memusuhi Sang Kwan In berarti mencari penyakit buat
diri sendiri.
Taaang! Taaang! Taaang! kembali terdengar suara genta dipalu
nyaring... suasana di tengah ruangan segera berubah jadi amat hening.
Diiringi nyanyian doa, dari ke-dua belah sisi ruangan muncullah
dua puluh empat orang toosu dengan membawa obor besar, di
belakang barisan toosu itu muncullah Sang Kwan In diiringi Thiam
cong Su loo dengan membawa sebuah hioloo.
Setibanya di tengah ruangan, orang-orang itu berhenti dan
menghadap ke meja sembahyang.
Terdengar seorang menghardik keras :
663
Saduran TJAN ID
"Pasang Hio!"
Dengan sikap yang amat hormat Sang Kwan In
mempersembahkan hioloo tadi ke meja abu sucouw mereka kemudian
jatuhkan diri berlutut dan menjalani penghormatan besar sebanyak
tiga kali, ujarnya :
"Anak murid angkatan ke-tiga puluh empat partai Thiam cong
pay, Sang Kwan In untuk sementara waktu akan menjabat sebagai
ketua, sejak kini tecu rela mengabdi dan menyumbang tenaga serta
pikiran demi kejayaan partai Thiam cong..."
Haruslah diketahui meskipun Sang Kwan In bukan murid Thiam
cong, tapi ia menaruh budi yang besar terhadap partai tersebut. Sejak
Thiam cong pay dimusnahkan secara diam-diam ia seringkali
berunding dengan Thiam cong Su loo untuk melakukan pembalasan
dendam, ia rela melepaskan perguruannya demi menuntut balas bagi
kematian anak murid partai Thiam cong yang terbunuh.
Oleh sebab itulah Thiam cong Su Loo lebih penuju kalau Sang
Kwan In untuk sementara waktu menjabat sebagai ketua partai.
Walau begitu, kejadian ini segera mengemparkan seluruh hadirin
yang mengikuti jalannya upacara tersebut, tak seorang pun di antara
mereka yang tahu secara bagaimana Sang Kwan In menjabat sebagai
ketua partai Thiam cong.
Dalam pada itu selesai Sang Kwan In berdoa, serentetan suara
kembali berkumandang di angkasa :
"Persembahkan korban!"
Empat orang murid partai menggotong seekor kambing putih
berjalan masuk ke dalam ruangan setelah meletakkan binatang itu di
depan meja abu Sang Kwan In segera cabut keluar pedang penghancur
sang surya dari sarungnya, sekali tebas laksana kilat ujung pedang
telah menembusi perut kambing korban tadi.
Darah segera muncrat ke empat penjuru dan cahaya pedang itu
segera sirap kembali di balik sarung...
664
IMAM TANPA BAYANGAN II
Taaang...! Untuk ke-tiga kalinya genta dibunyikan, pertanda
ucapan pembukaan partai Thiam cong telah mendekati akhir.
Mendadak... dari pintu bawah bukit itu berkumandang datang
suara bentakan keras.
"Empat orang Nio Nio dari keraton keluarga Toan di negeri Tayli
datang berkunjung!"
Mendengar seruan itu, semua hadirin dalam ruangan jadi
tertegun, sebab menurut peraturan Bu lim pembalasan dendam
macam apa pun tidak diperkenankan dilakukan di saat orang lain
sedang melakukan upacara hikmat, tapi sekarang pihak keluarga Toan
dari negeri Tayli telah melanggar peraturan tersebut, itu berarti bahwa
pihak mereka telah bersumpah untuk membasmi partai Thiam cong
dari muka bumi.
Air muka Sang Kwan In berubah hebat, katanya :
"In Hoei, hadapi mereka!"
Pek In Hoei tertawa dingin dan mengangguk, sahutnya :
"Barang siapa berani bikin onar di bukit Thiam cong pada hari
ini, maka aku si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei terpaksa
akan gunakan selembar jiwaku sebagai taruhan untuk menghancurkan
orang itu."
Badannya laksana kilat meluncur keluar dari ruangan dan menuju
ke kaki bukit, di situ ia jumpai empat orang wanita cantik berpakaian
berkabung dengan air mata bercucuran berdiri angker di sana, keempat
orang itu adalah para selir dari Toan Hong ya.
Ketika menjumpai kehadiran Pek In Hoei di hadapan mereka, keempat
orang perempuan itu segera maju selangkah ke depan.
"Ada urusan apa kalian berempat datang mengunjungi gunung
Thiam cong kami??" tanya Pek In Hoei sambil menahan hawa
gusarnya.
Perempuan cantik yang berdiri di tengah menyahut sambil
menyeka air mata yang membasahi pipinya :
"Tentu saja untuk menyampaikan ucapan selamat kami!"
665
Saduran TJAN ID
"Huuuh, sialan!"
Air muka perempuan itu segera berubah hebat :
"Aaaaa...! sombong amat partai Thiam cong kalian, baru saja
meresmikan diri dalam dunia persilatan sikap kalian sudah begitu tak
pandang sebelah mata terhadap orang Bu lim, aku adalah Nio Nio
keraton tengah In Cioe Sim, untuk membalas dendam suamiku
terpaksa kami datang berkunjung dengan mengenakan pakaian
berkabung!"
"Kalau begitu silahkan menunggu di kaki bukit sana, besok kita
bicarakan lagi!" kata Pek In Hoei sambil tertawa dingin.
"Hmmm... Hmmm... kau anggap urusan bisa beres dengan begitu
gampang? Hanya dua tiga patah kata saja maka kami lantas bisa diusir
pergi?"
"Lalu apa yang kau kehendaki?" hardik Pek In Hoei dengan
wajah berubah hebat.
"Aku hendak membalas dendam bagi kematian Sri Baginda,"
jawab In Cioe Sim dengan suara penuh kebencian.
"Hmmm! Toan Hong ya modar di tangan Liuw Koei hui, kalau
kalian mau balas dendam cari saja perempuan itu, kenapa mesti
datangi bukit Thiam cong kami?"
"Enak benar ucapanmu," bentak In Cioe Sim dengan gusar,
"Siapa tidak tahu kalau Liuw Koei hui adalah orang dari keluarga
Toan kami? Cintanya terhadap Sri Baginda melebihi cinta kami
semua, mana mungkin ia celakai junjungannya? Sekarang kucari
adalah Pek In Hoei, sebab dialah pembunuh sebenarnya dari Toan
Hong ya!"
"Hmmm! Aku tak ingin menyusahkan kalian, di saat upacara
pembukaan partai Thiam cong baru dilangsungkan, aku tak ingin
menodai tanah suci sini dengan genangan darah, aku pun mengerti
akan maksud hati kalian..."
Perempuan yang memakai pakaian berwarna putih itu mendadak
membentak keras :
666
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Suami pun kami sudah tak punya, apa artinya tetap hidup di
kolong langit? Lebih baik kau menyingkir saja, ini hari bila kami tak
berhasil membunuh Pek In Hoei, aku bersumpah tak akan pulang..."
Sambil melancarkan sebuah serangan ke depan, bentaknya :
"Minggir!"
Dengan gesit si anak muda itu bergeser ke samping, serunya
marah :
"Kalau kalian pengin mati, aku Jago Pedang Berdarah Dingin
pasti akan penuhi keinginan kalian itu!"
"Kau..."
Rupanya ke-empat orang perempuan itu tak pernah menyangka
kalau Jago Pedang Berdarah Dingin yang tersohor akan kelihayannya
di wilayah selatan bukan lain adalah pemuda tampan di hadapan
mereka, seketika ke-empat orang itu mundur dua langkah ke
belakang, dengan pandangan gusar mereka menatap wajah pemuda
itu tanpa berkedip.
Sesaat kemudian In Cioe Sim cabut keluar pedangnya dan
berseru :
"Adik-adikku sekalian mari kita turun tangan, dialah yang sedang
kita cari..."
Empat bilah pedang segera bergeletar di angkasa bagaikan
sambaran kilat, sebagai selir kesayangan Toan Hong ya, ilmu silat
yang mereka miliki amat lihay, begitu pedang dicabut dengan tangkas
ke-empat orang itu segera mengurung musuhnya rapat-rapat.
Pek In Hoei gerakkan badannya melancarkan sebuah pukulan ke
depan, katanya :
"Sikap kalian begitu kurang ajar dan tak tahu diri, jangan
salahkan kalau aku akan usir kalian turun gunung!"
Baru saja Pek In Hoei hendak turun tangan, mendadak dari
tengah udara berkumandang datang suara dengusan berat, sesosok
bayangan manusia meluncur masuk ke dalam kalangan dengan
cepatnya.
667
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... In Hoei!" seru orang itu, "serahkan
saja ke-empat nenek busuk itu kepada aku si ular asap tua."
Ouw-yang Gong sambil menghisap huncweenya dalam-dalam
melirik sekejap ke arah empat perempuan itu katanya lagi :
"Perempuan sialan dari mana yang berani mengacau di sini?
Waaah... kebetulan sekali, memangnya aku si ular asap tua sedang
merasa gatal tangan tak sangka kalian datang menghantar diri...
Hmmm ayoh, siapa duluan yang hendak maju?"
Mendadak air muka In Cioe Sim berubah hebat, serunya tertahan
:
"Aaah, kau!"
Agaknya Ouw-yang Gong sendiri pun menjadi tertegun setelah
menatap wajah perempuan itu, dengan wajah terharu ia tuding In Cioe
Sim sambil menegur :
"Bukankah kau she In?"
Sekujur badan In Cioe Sim gemetar keras, biji matanya yang
hitam bulat memancarkan cahaya yang sukar dimengerti oleh orang
lain, bibirnya berubah jadi pucat, sambil mundur dua langkah ke
belakang serunya :
"Kau... kau adalah engkoh Ouw-yang."
"Oooh... adik Cioe Sim... adik Cioe Sim..." ia tarik napas
panjang-panjang.
"Bukankah kau telah lenyap tak berbekas? Kenapa bisa berada di
sini..."
"Engkoh Ouw-yang, kau masih ingat dengan diriku..."
"Aaaai... mana bisa aku lupakan dirimu?" sahut Ouw-yang Gong
sambil menghela napas, "Apakah kau sudah lupa ketika kita berdua
duduk di kebun tembakau? Kau petikkan daun tembakau terbaik
bagiku lalu memanggangnya di atas api unggun, kemudian masukkan
ke dalam mangkok huncweeku, waktu itu aku belum punya kantong
huncwee, setiap hari aku tentu mencuri huncwee ayahku untuk
mengisap..."
668
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bagus betul daya ingatmu," ujar In Cioe Sim dengan badan
gemetar keras. "Aku sendiri pun sudah lupa akan kejadian itu,
ternyata kau masih ingat dengan begitu jelas, aku ingat waktu itu kau
lebih besar empat tahun dariku..."
"Betul! Haaaah... haaaah... haaaah... aku masih ingat, ketika
celanamu terlepas tempo dulu, di atas pantatmu terdapat sebuah tahi
lalat warna merah, ayahku pernah bilang kau punya Hok-Kiem In Eng
besar di kemudian hari, dan mungkin punya rejeki untuk jadi selir
kaisar..."
Walaupun usia In Cioe Sim sudah mendekat setengah abad,
namun ketika didengarnya Ouw-yang Gong secara terang-terangan
menceritakan perbuatannya membuka celana ketika masih kecil dulu,
tak urun merah jengah juga seluruh wajahnya, sambil tersipu
menunduk serunya :
"Keadaanmu masih juga seperti dulu..."
Ouw-yang Gong adalah seorang kakek yang periang, ia tak
pernah mengindahkan tata susila atau pun aturan, setelah terjerumus
di dalam kenangan lama ia tak ambil peduli apakah di situ ada orang
lain atau tidak, apalagi terhadap ucapan dari In Cioe Sim barusan,
lebih tak diperhatikan lagi, terdengar ia kembali bergumam :
"Aku masih ingat ketika masih kecil kau seringkali berkata
bahwa kau ingin kawin dengan aku tapi ayahmu tidak pandang
sebelah mata terhadap kami yang kerjanya hanya bertani, ketika
ayahku menggoda kita ternyata kau menangis dan berkata bahwa
selama hidup kau akan menantikan diriku, aaai... waktu itu kita
memang masih terlalu kecil, kita hanya tahu main bersama, tapi tak
tahu suka dukanya manusia hidup di dunia..."
Ia melirik sekejap ke arah In Cioe Sim dengan pandangan penuh
rasa cinta, kemudian sambungnya lagi :
"Aku masih masih ingat ketika suatu hari diam-diam kau berkata
kepadaku dengan suara setengah berbisik, "Engkoh Ouw-yang,
setelah kita dewasa nanti kau jangan kawin gadis lain yaah!" ketika
669
Saduran TJAN ID
itu aku merasa amat senang bermain dengan dirimu, maka aku lantas
menjawab 'tentu saja', aku hanya akan mengawini adik Cioe Sim!"
kenangan ini terbayang dalam benakku setiap kali suasana sedang
tenang dan hening, aku selalu terbayang kembali kenangan manis di
kala kita masih kecil..."
In Cioe Sim merasa amat terharu, katanya dengan suara gemetar
:
"Tapi menanti kita telah dewasa semua, malahan hubungan kita
terasa lebih asing..."
"Tidak jadi soal, suatu hari secara diam-diam aku merangkuk ke
jendela kamar tidurmu, aku ingin panggil kau untuk keluar bermain,
tapi aku tahu secara diam-diam kau sedang menangis," dengan sedih
kakek konyol itu menghela napas, "Siapa tahu keesokan harinya kau
dikabarkan lenyap tak berbekas, ayahmu bersikeras menuduh akulah
yang telah menyembunyikan dirimu, memaksa aku secara diam-diam
harus minggat dari rumah..."
"Aku tahu malam itu ayah menghajar dirimu habis-habisan," ujar
In Cioe Sim sambil menangis terisak, "dalam sedihnya diam-diam aku
minggat dari rumah dan menanti dirimu dalam ruang kuil di ujung
dusun, di situ kita sering bermain maka aku pikir kau tentu ke situ,
siapa tahu sampai malam ke-dua kau belum juga datang, dalam lapar
dongkolnya aku tak berani pulang ke rumah, seorang diri
bersembunyi dalam kuil sambil menangis tersedu, akhirnya Toan
Hong ya lewat di situ, ia bawa aku pulang ke negeri Tayli, menanti
aku sudah dewasa maka aku lantas dikawini sebagai Nio Nio istana
tengah..."
Walaupun kejadian itu hanya serupa kenangan masa silam, tapi
diucapkan oleh dua orang tua yang telah lanjut usia hal ini cukup
menggetarkan hati semua orang, tiga orang perempuan yang lain
segera jadi murung dan ikut sedih oleh kejadian tersebut.
Terdengar In Cioe Sim menghela napas panjang, lalu berkata
kembali :
670
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Walaupun aku sudah menikah dengan Toan Hong ya tapi hatiku
sama sekali tidak mencintai dirinya. Pengalaman yang menimpa kami
beberapa orang sama mengenaskannya, kini tak ada orang yang bisa
kami tumpang lagi, dalam sedihnya menggunakan kesempatan di kala
dalam istana sedang dilangsungkannya rapat, diam-diam kami
ngeloyor datang kemari..."
"Toan Hong ya benar-benar bukan mati di tangan kami..." seru
Ouw-yang Gong sambil gelengkan kepalanya.
"Aaaai... tapi orang dari keluarga Toan bersikeras menuduh Pek
In Hoei lah yang telah melakukan pembunuhan ini, sebab tenaga
dalam yang dimiliki Liuw Koei hui masih terpaut jauh kalau
dibandingkan dengan kepandaian silat dari Toan Hong ya, bila Liuw
Koei hui ingin membinasakan dirinya hal ini merupakan suatu
kejadian yang tak mungkin terjadi..."
Ouw-yang Gong menghela napas panjang.
"Adik Ciow Sim, lebih baik pulanglah dulu ke rumah, di
kemudian hari aku pasti datang menemui dirimu untuk menerangkan
persoalan ini."
"Baiklah, kami akan berlalu lebih dulu!"
Sebelum perempuan-perempuan itu sempat berlalu, mendadak
dari arah belakang kembali terdengar seseorang berseru keras :
"Toan Hong Ing tiba!"
"Aaaah, adiknya Toan Hong ya telah datang," seru In Cioe Sim
dengan badan gemetar keras.
Mendengar ucapan itu, Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei
segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau ini hari dia berani bikin
keonaran di sini, terpaksa aku harus turun tangan keji terhadap
dirinya."
Jauh di kaki bukit muncullah serombongan pria berbaju hitam
yang mengiringi seorang pria berusia pertengahan yang memakai
671
Saduran TJAN ID
pakaian perlente, air muka pria itu dingin dan sinis, napsu membunuh
menghiasi wajahnya sedang sorot mata memancarkan cahaya tajam.
"Siapa yang datang?" Pek In Hoei segera menegur sambil tertawa
dingin.
"Aku datang untuk mencari Jago Pedang Berdarah Dingin."
"Akulah orangnya."
Toan Hong In tertawa seram.
"Manusia she Pek serahkan kembali jiwa kakakku, dia adalah
seorang kaisar dari suatu wilayah tapi sungguh tak nyana kau berani
turun tangan keji untuk membinasakan dirinya. Sekarang kami dari
keluarga Toan bersumpah akan menghancur-lumatkan tubuhmu!"
Para jago yang ikut datang saat ini kebanyakan merupakan
panglima-panglima yang masih setia terhadap keluarga Toan, melihat
sikap Pek In Hoei yang jumawa mereka jadi gusar dan sama-sama
meluruk ke depan.
"Bajingan cucu monyet, kalian berani maju ke depan?" hardik
Ouw-yang Gong dengan suara keras.
Bentakan ini keras bagaikan guntur yang membelah bumi,
seluruh permukaan segera bergetar keras bagaikan ketimpa gempa
bumi.
Diam-diam Toan Hong In tercekat juga ketika dilihatnya dari
balik batu muncul seorang manusia raksasa, segera tegurnya sambil
tertawa dingin :
"Siapa kau? Sebut dulu nama!"
"Anak kura-kura dengarkan baik-baik, yayamu she Ouw-yang
bernama Gong dengan julukan si huncwee gede si ular asap tua.
Dengan sebuah lengan aku pernah membunuh sembilan ekor kerbau,
sepuluh ekor harimau dan delapan ekor kumbang, kalau kamu semua
anak kura-kura cucu monyet berani maju ke depan...! akan
kupersilahkan dia untuk menikmati dahulu sebuah kemplangan
huncweeku!"
Toan Hong In mendengus dingin.
672
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Hmmm! Ular asap tua? h gede? makhluk macam apakah itu?..."
Ouw-yang Gong tidak menggubris sindiran orang, dengan sikap
yang angker bagaikan malaikat ia tetap berdiri tegak di atas batu
cadas.
Toan Hong In mengerutkan dahinya, diam-diam ia tertawa
dingin, kepada seorang pria kurus kering beralis tebal dan berjenggot
lebat yang berada di sisinya ia segera bertanya :
"Suya, siapakah orang itu??"
Kakek kurus kering berjenggot hitam itu adalah Kun su dari
keluarga Toan, meskipun dahulu ia lama sekali berkelana dalam dunia
persilatan namun orang ini tidak kenal juga siapakah Ouw-yang
Gong. Mendapat pertanyaan itu ia jadi gelagapan :
"Aku... aku sendiri pun tidak tahu."
Mendengar ucapan itu Ouw-yang Gong segera mendongak dan
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... anak kura-kura kau tidak tahu
siapakah aku si ular asap tua tapi aku tahu kau si anjing kuncu
menerobos keluar dari lubang yang mana, kau kira sesudah ganti kulit
tukar otot lantas tak ada orang yang bisa kenali dirimu lagi?? Hmmm!
Sekalipun kau menciptakan diri jadi telur kura-kura pun aku tetap
akan kenali dirimu."
"Kau kenal siapakah aku??" tanya kakek berjenggot hitam itu
agak tercengang.
"Haaaah... haaaah... haaaah... dahulu ibumu telah nyeleweng
dengan pria lain hingga akhirnya lahir dirimu, tapi kau tetap
menggunakan she ibumu, tiap hari tiada pekerjaan yang tetap,
kerjanya melulu judi, main pelacur dan mabuk-mabukan, semua
orang bilang anak jadah selamanya memang tak ada anak yang genah.
Suatu hari k untuk main judi dan kalah hingga ibumu pun kau jualkan
kepada orang lain, karena tak bisa hidup lebih lanjut di desa maka kau
melarikan diri. Heeeeh... heeeeh... heeeeh... siapa nyana sekarang kau
telah menjabat sebagai kunsu anjing...
673
Saduran TJAN ID
Mimpi pun kakek berjenggot hitam itu tak pernah menyangka
kalau ia bakal berjumpa dengan orang semacam ini hingga kejelekan
keluarganya pun dibeberkan keluar. Dari malunya ia jadi gusar,
bentaknya :
"Tutup mulut, kalau kau berani bicara tak genah lagi jangan
salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap
dirimu..."
Ouw-yang Gong tertawa dingin.
"Huuuh... lagakmu semakin tahun semakin gede... sesungguhnya
menyebalkan..."
Rupanya kakek tua ini mengetahui amat jelas seluk beluk
keluarga Lauw Seng Han ini, badannya dengan cepat meloncat ke
depan menghampiri kuncu itu, bentaknya lagi :
"Lauw Seng Han, cepat enyah dari sini!"
"Sebetulnya siapakah kau?" tanya Lauw Seng Han tertegun.
Ouw-yang Gong tidak menjawab, huncwee gedenya langsung
disodok ke depan menghajar dada kakek itu, serangan ini di luar
dugaan orang she Lauw itu, dengan ketakutan buru-buru dia mengigos
ke belakang.
Toan Hong In jadi naik pitam ketika dilihatnya Kunsu dari negeri
Tayli-nya ini dihajar orang sampai kalang kabut, sambil tertawa seram
serunya :
"Lebih baik kau beristirahat dulu."
Sambil berseru jari tangannya segera dikebaskan ke muka
melancarkan satu serangan dengan menggunakan ilmu 'Hwie Yan-ci'
yang telah lama punah dari dunia persilatan.
Cahaya merah membara yang menyilaukan mata memancar
keluar dari ujung jari, serentetan gelombang hawa panas yang amat
menyengat badan seketika meluncur ke arah tubuh Ouw-yang Gong.
Criit...! Si ular asap tua merasakan tubuhnya jadi amat sakit,
dadanya bagaikan dipukul dengan sebuah tongkat yang panas
membara membuat ia menjerit kesakitan.
674
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aduuuh... anak monyet, kau menggunakan ilmu silat apa?"
jeritnya keras-keras.
Toan Hong In sendiri pun merasa agak tercengang ketika
dilihatnya pihak lawan yang terkena serangan ilmu jari Hwie Yan-Ci
sama sekali tidak cedera atau pun terluka, ia terkejut dan segera
mendengus.
"Pentang matamu lebar-lebar, inilah ilmu Hwie Yan-Cie yang
lihay."
"Hwie Yan-Cie?" ulang Ouw-yang Gong dengan mata terbelalak,
satu ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, "Apakah
ilmu Hwie Yan Kim Cie yang dimiliki Loo Hian dari wilayah See
Ih?"
675
Saduran TJAN ID
Jilid 28
TOAN HONG IN tertegun, ia tak mengira kalau pengetahuan si kakek
tua itu begitu luas, sambil menatap wajahnya tajam-tajam ia
mengangguk.
"Sedikit pun tidak salah, rupanya tidak sedikit yang berhasil kau
ketahui."
Ouw-yang Gong tarik napas panjang-panjang, setelah
menghening sejenak ia berkata kembali :
"Ilmu jari Hwie-Yan-Kim-Ci dari Loo Hian hanya diwariskan
kepada anak laki-laki dan tidak diwariskan anak perempuan, dalam
dunia persilatan hanya Loo Hong serta Loo Hian saja yang sanggup
menggunakan ilmu ampuh tersebut, tidak mungkin Loo Hong
mewariskan ilmu ampuhnya ini kepada orang lain. Hmm...! Kau
manusia macam apa? Masa ia rela mewariskan ilmunya kepadamu..."
"Tentang soal ini, lebih baik kau tak usah ikut campur..." tukas
Toan Hong In dengan wajah berubah.
"Kenapa aku tak boleh mengurusi persoalan ini?" seru Ouw-yang
Gong lagi dengan wajah serius, "ketika aku angkat saudara dengan
Loo Hian tempo dulu, ia pernah bercerita kepadaku katanya ada
seorang kurcaci she Si yang telah mencuri belajar ilmu jari Hwie-Yan-
Ci-nya, kemudian peristiwa itu ketahuan dan kurcaci she Si itu segera
melarikan diri terbirit-birit, sejak itu ia tak pernah muncul kembali di
dalam dunia persilatan. Sekarang terbukti kau dapat menggunakan
ilmu jari tersebut.... Hmm! Ayoh jawab, apakah ilmu itu kau peroleh
dari kurcaci she Si itu..."
676
IMAM TANPA BAYANGAN II
Bagian 30
"KAU jangan ngaco belo tak karuan!" bentak Toan Hong In dengan
hati terkejut. "Ilmu jari itu aku dapatkan langsung dari Loo Hian
sendiri..."
"Hmmm! Aku tidak percaya, selamanya Loo Hian tak pernah
terima murid, dari mana ia bisa turunkan ilmu sakti itu kepadamu?
Sudah mencuri, sekarang kau berani membantu kurcaci she Si itu
untuk merahasiakan kejadian ini... Huuh! Selama hidup aku si ular
asap tua paling benci terhadap orang yang tidak jujur, hari ini aku
bersumpah akan bekuk batang lehermu untuk diserahkan kepada Loo
Hian untuk dijatuhi hukuman..."
Perjalanan Toan Hong In kali ini mengunjungi gunung Thiam
cong, kecuali untuk membalas dendam atas kematian dari Toan Hong
ya, dia pun ingin menaklukkan semua jago lihay yang sedang
berkumpul di gunung Thiam cong itu agar takluk kepada keluarga
Toan.
Siapa tahu di tengah perjalanan Ouw-yang Gong telah bikin
keonaran, hal ini sangat menggusarkan hatinya, dia ingin
menghancurkan kakek konyol itu di tangannya.
Sayang walaupun pihak lawan sudah tua ilmu silatnya sama
sekali tidak lemah, suatu ingatan segera berkelebat dalam benaknya.
"Untuk sementara lebih baik kita jangan membicarakan dulu
persoalan mengenai Loo Hian serta ilmu jari Hwie-Yan-Ci," katanya
kemudian, "menunggu urusan di sini sudah beres, silahkan kau
berkunjung ke negeri Tayli, saat itu... hmmm..."
Ia tertawa dingin tiada hentinya, sorot mata yang dingin dialihkan
ke atas wajah Pek In Hoei lalu tegurnya :
"Kaukah yang bernama si Jago Pedang Berdarah Dingin?"
"Hmm, kau masih belum kenal dengan diriku?"
Toan Hong In tertegun, lalu menjawab :
"Kalau aku kenali dirimu kenapa mesti ajukan pertanyaan lagi
kepadamu? Bukankah perbuatanku ini mirip copot celana untuk
677
Saduran TJAN ID
lepaskan kentut? Hey, orang she Pek, tahukah kau bahwa membunuh
pembesar berarti ada maksud hendak memberontak? Dalam wilayah
selatan kau berani bunuh kaisar dari negeri Tayli, setiap rakyat yang
ada di wilayah sini tak akan melepaskan dirimu dalam keadaan
hidup..."
Dari sorot mata orang yang bengis dan berkilat tajam, Pek In Hoei
menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki pihak lawan amat
sempurna, ia tak berani memandang enteng musuhnya, mendengar
tuduhan itu langsung ia membantah :
"Apa sangkut pautnya antar kematian Toan Hong ya dengan aku
orang she Pek?"
"Apakah saudaraku bukan mati di tanganmu?"
"Kurang ajar, kalau menuduh orang jangan seenaknya sendiri,"
maki Pek In Hoei sangat gusar, "kakakmu menemui ajalnya di tangan
Liuw Koei hui, mau percaya atau tidak terserah pada dirimu sendiri,
kalau kau tidak cepat-cepat enyah dari gunung Thiam cong, Hmmm!
terpaksa aku si Jago Pedang Berdarah Dingin harus mengusir dirimu
secara paksa..."
"Apa? Kau hendak usir diriku..." saking gusarnya Toan Hong In
melengak dan tertawa terbahak-bahak, "Haaah... haaah... baik, akan
kupenggal batok kepalamu untuk membalaskan dendam atas
kematian dari Toan Hong ya..."
Penyerbuannya ke gunung Thiam cong saat ini adalah merupakan
keputusan dari hasil rapat para kerabat istana negeri Tayli, Toan Hong
In punya ambisi besar untuk menduduki tahta kerajaan negeri Tayli,
dia ingin melenyapkan Pek In Hoei terlebih dahulu kemudian dengan
menggunakan jalan ini sebagai perintis untuk mencapai cita-citanya.
Maka setelah timbul niat jahatnya di dalam hati, dia segera ulapkan
tangannya, dua orang pria kekar segera meloncat keluar dari barisan
dan langsung menubruk ke arah Jago Pedang Berdarah Dingin.
"kedua orang pria berbaju hitam itu tersohor karena paling kuat
dalam negeri Tayli, kekuatan mereka luar bias dan masing-masing
678
IMAM TANPA BAYANGAN II
memiliki ilmu silat yang sangat lihay, maka dari itu begitu munculkan
diri senjata tajam mereka segera menyambar tiba dari arah kanan mau
pun kiri.
Pek In Hoei tertawa dingin ketika dilihatnya ada dua orang pria
kekar mengayunkan pedangnya menyerang dia, telapak kanan tibatiba
meluncur keluar, setelah membentuk satu lingkaran busur di
tengah udara muncullah segulung angin pukulan yang maha dahsyat
menghantam ke muka.
Merasakan datangnya desiran angin pukulan yang menderu-deru,
kedua orang pria itu merasakan hatinya tercekat, seketika itu juga
mereka terpukul mundur sejauh tujuh delapan langkah ke belakang
dengan sempoyongan.
"Aaaah...!" sebelum kedua orang pria itu sanggup berdiri tegak,
tiba-tiba mereka menjerit kesakitan dan darah segar mengucur keluar
dari ujung bibir mereka, ditinjau dari keadaan tersebut jelas
membuktikan bahwa mereka berdua telah menderita luka yang amat
parah.
Terkesiap hati Toan Hong In menyaksikan kejadian itu, mimpi
pun ia tak pernah menyangka kalau Jago Pedang Berdarah Dingin Pek
In Hoei sanggup merobohkan dua orang jago lihaynya tidak sampai
satu jurus serangan, ilmu silat yang demikian dahsyatnya itu seketika
menggidikkan hati para jago lainnya, untuk sesaat tak seorang
manusia pun berani maju ke depan untuk menyerang pemuda itu.
Mendadak... dai antara gerombolan manusia terdengar seorang
membentak keras :
"Kembalikan jiwa guruku!"
Bersamaan dengan suara teriakan itu muncullah seorang pemuda
yang tinggi kekar, Pek In Hoei yang segera alihkan sinar matanya ke
arah mana berasalnya suara itu seketika mengerutkan dahinya, dalam
hati ia membatin :
"Soen Put Jie adalah seorang pria polos yang jujur, aku tak ingin
bertarung melawan orang seperti ini..."
679
Saduran TJAN ID
Belum habis ingatan tersebut berkelebat di dalam benaknya, Soen
Put Jie sambil membentak keras bagaikan geledek telah meloncat ke
muka sambil ayunkan kepalannya.
Bagaimana pun juga Soen Put Jie adalah seorang bodoh yang
sama sekali tak berotak, tatkala ia berjumpa dengan Pek In Hoei
mendadak tubuhnya merandek dan berteriak :
"Eeei... bocah muda berpipi licin, bukankah kau sudah mati
dibunuh oleh ilmu angin berpusing dari guruku?"
Orang ini benar-benar bodoh, ia anggap Pek In Hoei pasti mati
setelah terkena badik Han Giok milik gurunya, melihat pemuda itu
masih dapat berdiri di hadapannya dalam keadaan segar bugar, ia jadi
tidak percaya dan keheranan.
"Tidak salah," terdengar Ouw-yang Gong menanggapi dengan
cepat, "keparat cilik berpipi licin ini memang benar-benar sudah mati
terbunuh oleh suhumu si anak kura-kura yang telah modar, yang
berdiri di hadapanmu sekarang adalah sukmanya, eei.... bocah muda."
"Aaah! Masa sukma bisa berbicara?" teriak Soen Put Jie dengan
hati tertegun.
Ouw-yang Gong semakin girang setelah mengetahui bahwa
pemuda itu gobloknya tak ketolongan, satu ingatan dengan cepat
berkelebat di dalam benaknya :
"Bocah goblok ini luar biasa bodohnya, kebetulan aku si ular asap
tua sedang menganggur, biar kugoda dirinya lebih jauh..."
Ia tertawa seram, dengan nada menakut-nakuti ancamnya :
"Eeei... bocah, sukma dapat berbicara itu berarti kau si bocah cilik
tak akan lama lagi hidup di kolong langit..."
"Sungguh?" jerit Soen Put Jie semakin terperanjat.
"Tentu saja sungguh, aku lihat lebih baik kau sedikitlah berhatihati,
mati dalam usia muda benar-benar amat disayangkan..."
Ia sengaja geleng kepala sambil termenung seakan-akan sedang
mencarikan akal baik baginya.
680
IMAM TANPA BAYANGAN II
Hal ini semakin mencemaskan hati Soen Put Jie, ia garuk
kepalanya yang tidak gatal sambil menengok ke sana kemari,
mulutnya bungkam dalam seribu bahasa karena takut bila ia
mengganggu maka pikiran orang jadi buyar...
Lama kelamaan Soen Put Jie tidak sabar untuk menunggu lebih
lanjut, segera teriaknya :
"Eeei... cepat pikirkan satu akal bagus bagiku, wah... kalau
sampai mayat hidup itu menganiaya diriku... Hiiih... aku bisa
merinding..."
Toan Hong In jadi amat mendongkol ketika dilihatnya pria kekar
itu dipermalukan pihak lawan habis-habisan, wajahnya kontan
berubah hebat tapi disebabkan Soen Put Jie memang sudah tersohor
akan kedunguannya di negeri Tayli maka ia jadi kehabisan akal,
akhirnya ia menghardik :
"Enyah kau dari sini!"
Soen Put Jie kontan naik pitam, dengan mata melotot penuh
kegusaran teriaknya :
"Kuberitahukan kepada guruku..."
Tapi belum habis ia berkata tiba-tiba orang tolol ini teringat bila
Toan Hong ya sudah mati, saking gelisahnya ia sampai garuk-garuk
kepala sambil tertawa jengah.
"Ooooh... bodoh amat kau ini, suhuku toh sudah mati mana bisa
beritahukan kepadanya lagi..."
"Aduh celaka..." pada saat itulah mendadak Ouw-yang Gong
berteriak keras, teriakan itu kontan membuat sekujur badan Soen Put
Jie gemetar keras karena ketakutan.
Sambil menatap wajah kakek konyol itu dengan sorot mata
mohon belas kasihan, ia bertanya :
"Ada urusan apa?"
Sebenarnya aku telah mendapatkan satu cara yang bagus untuk
menyelamatkan jiwamu, akhirnya gara-gara bentakan bentakan
bajingan itu maka pikiranku jadi buyar dan akal bagus itu lenyap
681
Saduran TJAN ID
kembali," seru Ouw-yang Gong sambil menuding ke arah Toan Hong
In. "Waaah... waaah... kalau begitu selembar jiwamu sudah tak bisa
diselamatkan lagi!"
Ucapan itu diutarakan dengan nada yang iba dan mengenaskan,
ditambah pula helaan napas yang lebih membuat Soen Put Jie jadi
ketakutan setengah mati.
"Aduuuu mak... tolonglah aku... coba carikan lagi satu akal bagus
untukku..." teriaknya.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... boleh, cuma kau mesti hantam dulu
orang itu, nanti kupikirkan lagi satu akal bagus..."
Pada dasarnya Soen Put Jie memang seorang pria yang bebal
otaknya, mendengar Ouw-yang Gong suruh ia hajar Toan Hong In
lebih dahulu tanpa mempedulikan apakah orang itu angkatan yang
lebih tua darinya atau bukan ia langsung ayun kepalannya dan
ditonjok kepada Toan Hong In.
Pria kekar itu jadi amat gusar sekali, melihat datangnya ancaman
ia mengigos ke samping, jari tangannya langsung berkelebat menotok
tubuh Soen Put Jie.
"Aduuuh celaka..." jerit pria goblok itu kesakitan, "ujung jarinya
memancarkan cahaya api..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu cepat lari ke arah
selatan sejauh tiga li, di situ carilah sebuah liang kotoran manusia dan
rendamkan seluruh tubuhmu di situ, jangan biarkan api setan itu
menyerang hatimu, kalau tidak kau bisa modar... cepat..." seru Ouwyang
Gong sambil tertawa tergelak.
Setelah termakan oleh totokan jari itu, Soen Put Jie merasakan
sekujur tulangnya jadi sakit seperti remuk, ia tidak berpikir panjang
lagi setelah mendengar ucapan itu.
"Aduuuh mak..." teriaknya, tanpa banyak bicara orang itu putar
badan dan langsung kabur dari situ.
Toan Hong In tak pernah menyangka di tengah jalan bisa terjadi
peristiwa semacam ini, ia merasa dirinya kehilangan muka. Seluruh
682
IMAM TANPA BAYANGAN II
hawa amarahnya segera dilampiaskan ke tubuh Pek In Hoei, teriaknya
dengan nada benci.
"Bajingan she Pek, pahlawan macam apakah dirimu itu??"
"Hmmm, orang itu toh kau yang bawa datang, ia jual kejelekan
atau tidak apa sangkut pautnya dengan diriku? Bila kau merasa tidak
terima silahkan cabut senjatamu dan mari kita bergebrak, setiap saat
aku pasti melayani keinginanmu..."
"Aku hendak melepaskan api membakar gunung, akan ku
musnahkan gunung Thiam cong rata dengan tanah..." teriak Toan
Hong In setengah kalap.
Pek In Hoei segera tertawa dingin.
"Hmmm... ! aku rasa kau belum memiliki kemampuan untuk
berbuat begitu!"
Ucapan itu segera mengingatkan kembali peristiwa yang terjadi
beberapa waktu berselang, di kala perguruan Boo Liang Tiong
membasmi partai Thiam cong hingga ludes sama sekali, rasa benci
dan dendamnya segera berkecamuk dalam dadanya dengan sorot mata
tajam dan napsu membunuh pemuda itu menatap lawannya tajamtajam.
Bergidik hati Toan Hong In ketika saling bentrok pandangan
dengan pemuda itu, ia merasa ketajaman mata lawannya bagaikan
pisau belati yang menusuk dadanya.
"Ayoh kita segera mulai bertempur," serunya kemudian.
Tangannya segera diulapkan, lelaki kekar yang berada di
belakang tubuhnya sama-sama membentak keras dan cabut keluar
senjata mereka, kemudian siap menerjang ke arah kuil Sang-cingkoan.
Para anak murid partai Thiam cong yang bertugas menjaga
gunung jadi amat terperanjat menyaksikan kejadian itu, mereka samasama
mengundurkan diri ke kuil Sang cing koan dan melaporkan
kejadian ini kepada ketua mereka Sang Kwan In.
683
Saduran TJAN ID
Taaaang....! bunyi lonceng bergema memecahkan kesunyian
yang mencekam seluruh jagad, diiringi seruan memuji keagungan
sang Budha tampaklah empat kakek tua Thiam cong Su loo dengan
memimpin dua puluh orang murid partai munculkan diri dari balik
pintu kuil kemudian menyebarkan diri ke dua belah sisi jalan.
Sang Kwan In diiringi para wakil pelbagai partai besar serta
seluruh anak murid partai Thiam cong perlahan-lahan berjalan
menuruni bukit, air mukanya dingin tiada senyuman, dengan sorot
mata tajam ia menyapu sekejap wajah Toan Hong In kemudian
mendengus.
"Sang Kwan Heng," Toan Hong In segera menyapa sambil
menjura, "Ketika Jago Pedang Berdarah Dingin mengadakan
pertemuan dengan para jago dari wilayah selatan berhubung siaute
ada sedikit urusan hingga tak sempat ikut hadir di selat Seng See Kok,
entah bagaimana dengan hasil pertemuan itu?"
Dalam hati Sang Kwan In dapat menangkap maksud yang
sebenarnya dari ucapan itu, segera tertawa dingin dan berpikir :
"Adik dari Toan Hong ya ini benar-benar bukan seorang manusia
yang gampang, cukup mengandalkan sepatah katanya barusan ia
dapat memancing perpecahan di antara tubuh para jago dari wilayah
selatan... Hmmm lebih baik aku tidak menanggapi ucapannya itu..."
Berpikir sampai di situ ia lantas menegur dengan suara dingin :
"Ada urusan apa kau datang ke gunung Thiam cong ini?"
Toan Hong In tertawa seram, pikirnya :
"Seng See Kokcu ini sungguh amat lihay, ia hindari pertanyaan
yang kuajukan sebaliknya malah menanyai diriku, bukankah itu
namanya sudah tahu pura-pura bertanya??"
Air mukanya berubah jadi dingin, dengan gusar jawabnya :
"Aku hendak menuntut balas bagi kematian kakakku!"
"Apa sangkut pautnya antara kematian dari Toan Hong ya dengan
partai Thiam cong kami??? Di saat partai Thiam cong sedang
melangsungkan upacara peresmian kami tak ingin melakukan banyak
684
IMAM TANPA BAYANGAN II
persengketaan dengan orang lain, memandang di atas hubungan kita
selama banyak tahun, ini hari aku pun tak mau terlalu banyak bersilat
lidah dengan dirimu, cepat bawa semua orangmu dan turun gunung..."
Ucapan ini kedengarannya lunak tapi kenyataannya keras sekali,
air muka anak buah keluarga Toan seketika berubah jadi hijau
membesi.
"Hmmm..." Toan Hong In sendiri pun saking gusarnya sampai
mendengus ketus.
"Sang Kwan heng, apakah kau tidak merasa bahwa ucapanmu itu
terlalu enteng..."
"Kenapa?" tukas Sang Kwan In marah, "Apa kau anggap aku bisa
dipermainkan seenaknya? Toan heng kau telah salah melihat orang,
setelah partai Thiam cong berani munculkan diri kembali di wilayah
selatan, kami tak akan jeri untuk menghadapi segala macam gangguan
dari kaum kurcaci seperti kau. Bila kau berani membikin keonaran
lebih jauh di tempat ini, jangan salahkan kalau aku Sang Kwan In akan
melupakan hubungan kita di masa yang silam dan menjatuhkan
hukuman berat kepadamu."
"Bangsa kurcaci?" dengan penuh kemarahan Toan Hong In
mendongak dan tertawa terbahak-bahak, "Sang Kwan heng, kau
sudah menilai diriku begitu rendah dan sama sekali tak ada
harganya..."
"Aku selalu menganggap bahwa kebanyakan orang kangouw
adalah manusia pikun yang tak bisa membedakan mana yang benar
dan mana yang salah, ambil contohnya saja, bukankah kau belum
mengadakan penyelidikan sebab-sebab kematian dari Toan Hong ya?
Dari mana kau bisa bersikeras menuduh bahwa perbuatan ini adalah
hasil karya dari Jago Pedang Berdarah Dingin? Tolong tanya kau nilai
persoalan ini dari mana????"
Toan Hong In mendengus dingin.
"Apakah Sang Kwan heng ingin mengetahui alasannya? Bila aku
utarakan keluar, mungkin alasanku itu akan meninggalkan kejelekan
685
Saduran TJAN ID
yang tak terhingga bagaimana baik Sang Kwan heng, aku orang she
Toan pun bukan baru sehari dua hari berkelana di dalam Bu lim, aku
masih tahu apa artinya persahabatan bila kita saling membuka kedok,
aku rasa hal ini tidak akan mendatangkan banyak manfaat bagimu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu Toan heng masih
memandang tinggi diriku..."
"Tentu saja!" jawab Toan Hong In sambil maju ke depan satu
langkah, terusnya dengan suara menyeramkan, "engkohku adalah
seorang jago kosen di wilayah selatan, andaikata cuma mengandalkan
kekuatan si Jago Pedang Berdarah Dingin seorang tidak nanti
engkohku bisa menemui ajalnya dengan begitu gampang; maka dari
itu bila dugaanku tidak salah, engkohku bisa mati dalam keadaan
mengenaskan paling sedikit pasti ada tiga orang jago lihay yang
mengerubutinya secara bersama, atau kalau tidak ia terbunuh karena
terperangkap oleh suatu siasat yang licin..."
Sinar matanya dengan tajam menyapu air muka Sang Kwan In,
lalu sambil tertawa licik terusnya :
"Siapa tahu di antara pengeroyok itu termasuk juga Sang Kwan
heng sendiri? Tapi itu hanya menurut dugaanku saja, bila aku salah
berbicara harap Sang Kwan heng suka memaafkan!"
"Bagus sekali!" seru Sang Kwan In sambil tertawa dingin,
"memang benar Toan Hong ya mati di dalam selat Seng See Kok
kami, bila dibicarakan memang aku orang she Sang kwan tak bisa
terlepas dari persoalan ini, terserahlah kau mau menuduh aku dengan
tuduhan macam apa pun..."
"Ooooh... kalau begitu kau telah mengaku..."
Pek In Hoei yang mengikuti jalannya pembicaraan dari sisi
kalangan, kian mendengar ia merasa semakin gusar, tanpa terasa
sambil mendengus dingin tubuhnya meloncat maju ke sisi tubuh Toan
Hong In hardiknya :
"Mengaku apa?"
686
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pertanyaan ini diajukan dengan nada yang amat sombong,
sikapnya ketus dan jumawa sekali membuat adik dari Toan Hong ya
ini mengerutkan alisnya.
"Aku tidak bertanya kepadamu, aku harap kau tak usah ikut
menimbrung di dalam pembicaraan ini."
"Oooh begitu?" ejek Pek In Hoei dengan suara dingin, "jadi kalau
begitu kau adalah tuan rumah tempat ini?"
Pertanyaan tersebut segera membuat Toan Hong In jadi
melengak, setelah tertegun beberapa saat lamanya ia menjawab :
"Itu sih bukan, tetapi berdiri dalam tata cara dunia persilatan
paling sedikit ucapanmu haruslah sedikit sopan dan tahu diri..."
"Hmmm! Meskipun aku seringkali melakukan perjalanan di
dalam dunia persilatan, tapi terhadap tata cara dunia kangouw tidak
banyak yang kupahami, jadi kalau begitu aku sudah dianggap telah
melakukan kesalahan terhadap Toan enghiong? Tapi tolong tanya
entah bagaimana caranya kalau aku ingin minta maaf terhadap Toan
enghiong..."
Perkataan tersebut benar-benar amat jumawa dan sombong, Toan
Hong In bukan patung tentu saja hawa amarahnya langsung
memuncak. Sreeet! Ia cabut keluar senjata Jie Sang Ki yang tersoren
di punggungnya, lalu sambil maju ke depan teriaknya :
"Partai Thiam cong bukanlah sebuah partai besar yang punya
nama gede, aku berlaku sungkan terhadap dirimu karena kuhormati
dirimu sebagai tuan rumah tempat ini, tapi kalau memang kau tak tahu
diri terpaksa aku harus mohon petunjuk darimu."
Pek In Hoei tertawa mengejek.
"Mohon petunjuk sih tak berani, cuma aku pasti akan mengiringi
dirimu untuk bermain-main."
Toan Hong In tertawa dingin, ia membentak keras bagaikan suara
geledek, tiba-tiba badannya bergerak maju ke depan bagaikan
hembusan angin, senjata Jit Seng Ki dalam genggamannya langsung
dihantamkan ke atas tubuh si anak muda itu.
687
Saduran TJAN ID
Bayangan senjata berkelebat di depan laksana kilat, Pek In Hoei
tidak menyangka kalau kepandaian Toan Hong In di dalam permainan
senjata Jit Seng Ki mencapai tingkat begitu dahsyatnya, melihat
datangnya ancaman telapaknya diiringi tenaga pukulan yang maha
dahsyat bagaikan sebuah payung segera didorong ke muka.
Ujung senjata lawan segera terbabat miring ke samping dan
meleset dari sasarannya.
Melihat serangannya tidak mengenai sasaran, Toan Hong In
mendengus dingin, tubuhnya sekali lagi mendesak ke depan, senjata
Jit Seng ki-nya dengan menciptakan enam jalur bayangan secara
terpisah mengancam enam buah jalan darah penting di tubuh si anak
muda itu, gerakannya aneh serangannya ganas dan hebat membuat
orang tak berani menilainya sebagai musuh biasa.
Dengan tangkas Pek In Hoei mengigos ke samping, lalu ejeknya
dengan suara dingin :
"Hanya mengandalkan beberapa macam gerakan yang begitu
sederhana, kau berani-beraninya cari gara-gara dengan pihak Thiam
cong??"
"Kenapa??" teriak Toan Hong In melongo, "kau sungguhsungguh
tak sanggup untuk menyelesaikan jawabmu??"
Jurus serangannya tiba-tiba berubah sepenuh tenaga ia lancarkan
serangan yang mematikan.
Pek In Hoei terperanjat juga menyaksikan kelihayan orang, ia tak
mengira kalau musuhnya berhasil melumerkan jurus pedangnya di
dalam permainan senjata Jit Seng Kiem In Eng.
Untuk beberapa saat ia jadi terkurung dan harus menerobos ke
sana menyusup kemari dengan segenap tenaga, walaupun ia tidak
sampai terluka namun untuk mempertahankan diri secara sempurna
bukanlah suatu urusan yang gampang.
Toan Hong In segera tertawa terbahak-bahak ejeknya :
688
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Manusia she Pek, aku mengira kau punya kepandaian yang
maha hebat sehingga berani pentang bacot lebar-lebar, tak tahunya
kemampuanmu melulu cuma begini."
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang berada di dalam
kepungan senjata orang jadi naik pitam setelah mendengar ejekan
tersebut, sekuat tenaga ia lancarkan dua serangan berantai memaksa
gerakan tangan orang she Toan itu agak mengendor, teriaknya :
"Huuuh! Kematian sudah berada di ambang pintu, kau masih juga
tak tahu diri..."
Dengan susah payah Pek In Hoei berhasil merebut posisi di atas
angin, tentu saja ia tak akan membiarkan musuhnya memperbaiki
posisi yang makin terdesak itu, ia membentak nyaring telapak
tangannya diayun ke tengah udara, seketika itu juga muncullah
segulung angin pukulan yang maha dahsyat menerjang tubuh orang
she Toan itu.
"Blaaam..." Toan Hong In tidak pernah menyangka kalau tenaga
lweekang yang dimiliki pihak lawan telah mencapai puncak
kesempurnaan, menyaksikan datangnya ancaman yang begitu
dahsyat, ia mendengus, senjata Jie Seng ki-nya dengan menciptakan
diri jadi selapis cahaya tajam langsung menusuk ke arah telapak
tangan Pek In Hoei.
Di tengah suatu benturan keras, Toan Hong In berteriak
kesakitan, tubuhnya yang tinggi besar mencelat ke tengah udara
kemudian terbanting keras-keras di atas tanah.
Darah segar muntah keluar dari ujung bibirnya, dengan wajah
pucat pias bagaikan mayat ia merangkak bangun dari atas tanah.
Sementara itu senjata Jit Seng ki dalam genggamannya telah
hilang, wajahnya mengenaskan dengan darah menodai tubuhnya,
seraya menyeka bibir ia berseru penuh kebengisan.
"Pek In Hoei, permusuhan telah terikat di antara kita, selamanya
aku tak sudi hidup berdampingan dengan dirimu lagi..."
689
Saduran TJAN ID
"Jie ya, beristirahatlah dulu..." Lauw Seng Han buru-buru
menyusul ke depan.
"Hmmm! Terserah apa yang kau inginkan," terdengar Pek In
Hoei menjawab dengan nada ketus. "Aku si Jago Pedang Berdarah
Dingin sudah mengikat permusuhan di mana-mana, bertambah satu
dua orang manusia semacam kau pun masih belum terhitung seberapa,
keramaian di kemudian hari masih teramat banyak..."
Ketika itu Lauw Seng Han sedang menguruti dada Toan Hong In
tapi junjungannya segera mendorong tangannya sambil berteriak :
"Suya, turunkan perintah! Basmi habis seluruh partai Thiam
cong! Jangan biarkan seorang manusia pun tetap hidup di sini..."
Sang Kwan In ketua partai Thiam cong yang mendengar perintah
itu, segera berpaling ke arah Thiam cong su loo sambil menitahkan :
"Turunkan perintah, semua oran gy ini hari datang kemari untuk
mengacu jangan dibiarkan terlepas dari sini dalam keadaan hidup,
hancurkan mereka semua tanpa ampun..."
Rupanya pihak partai Thiam cong telah menduga bahwa pada
hari itu pasti ada orang yang akan datang mengacau, maka sejak
semula anak murid mereka telah disebarluaskan di tempat-tempat
yang strategis sekitar bukit itu, asal komando diturunkan maka para
jago lihay itu akan menyerbu keluar secara serentak.
Begitu perintah ketua mereka diturunkan, teriakan keras segera
bergema memenuhi seluruh angkasa, dari tepi jalan muncullah
beratus-ratus orang jago dengan senjata terhunus, asal perintah
penyerbuan diturunkan serentak mereka akan menyerbu ke depan.
Memandang sekeliling tubuhnya, air muka Lauw Seng Han
seketika berubah jadi pucat pias, buru-buru serunya :
"Jie ya situasi sangat tidak menguntungkan pihak kita!"
"Kenapa??" tanya Toan Hong In tertegun.
"Coba lihatlah sendiri, pihak lawan menduduki posisi, lagi pula
semua daerah yang strategis sudah mereka duduki, sedang jago yang
kita miliki ada batasnya, mungkin sebelum kuil Sang cing koan
690
IMAM TANPA BAYANGAN II
berhasil diserbu, jumlah korban yang berjatuhan di pihak kita sudah
terlalu parah, menurut dugaan hamba lebih baik lain kali saja kita
lakukan serbuan secara mendadak, biar mereka jadi kelabakan dan
musnah dengan sendirinya..."
Perkataan itu diucapkan dengan suara yang amat lirih kecuali
Toan Hong In seorang, yang lain sama sekali tidak mendengar apa
yang ia ucapkan.
Dengan sedih Toan Hong In menghela napas panjang,
kegagahannya ketika datang tadi seketika hilang bagaikan uap,
teringat akan kegagahannya memimpin penyerbuan ini rasa sedih
yang mencekam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Ia geleng kepala sambil menggerutu :
"Sudah... sudahlah... mari kita pulang saja!"
Dengan keraskan hati Lauw Seng Han melangkah maju ke depan,
ujarnya kepada Pek In Hoei :
"Antara kau dengan Toan jie ya kami telah terikat tali
permusuhan bila kita saling bertemu lagi di kemudian hari, persoalan
ini akan kita selesaikan lagi, ini untuk sementara waktu kami akan
mengundurkan diri, tapi kau mesti ingat baik-baik, gunung Thiam
cong bukan dari dinding baja yang sukar ditembusi, suatu hari kami
pasti akan bakar sarangmu itu hingga musnah jadi abu..."
Pek In Hoei mendengus sinis, selangkah demi selangkah ia maju
dan menghampiri ke depan.
Lauw Seng Han jadi pecah nyali ketika dilihatnya jago lihai yang
tersohor sebagai Jago Pedang Berdarah Dingin menghampiri dirinya,
dengan ketakutan buru-buru ia berseru :
"Aduuuh... yayaku... kau jangan anggap sungguhan..."
Ingin sekali Pek In Hoei menghabisi jiwa penjilat ini, ia maju dan
menampar pipinya keras-keras, bentaknya :
"Enyah! Penjilat yang tak tahu malu... cepat enyah dari tempat
ini..."
691
Saduran TJAN ID
Lauw Seng Han tak berani berbicara lagi setelah menerima satu
gablokan sambil mengulapkan tangannya, bersama Toan Hong In
serta para kawanannya buru-buru mereka berlalu.
Walaupun suatu pertumpahan darah yang sengit untuk sementara
waktu bisa dielakkan tapi karena kejadian hari itu, permusuhan antar
partai Thiam cong dengan keluarga Toan dari negeri Tayli kian lama
kian bertambah mendalam.
*******
Langit biru terbentang meliputi seluruh angkasa, angin gunung
berhembus sepoi-sepoi, pemandangan alam yang indah menambah
semaraknya suasana pada saat itu...
Di tengah jalan raya yang membentang jauh ke ujung langit
tampak seorang pemuda sedang melakukan perjalanan, dia adalah Pek
In Hoei.
Kali ini seorang diri ia tinggalkan gunung Thiam cong untuk
membereskan masalah pribadinya, tak seorang pun yang mengiring
perjalanannya termasuk juga sahabat karibnya Ouw-yang Gong...
Suatu ketika... mendadak dari tempat kejauhan ia dengar suara
dentingan yang amat nyaring berkumandang datang.
Tiiing...! Tiiing...! Tiiing...!
Pemuda itu tercengang, itulah suara senjata yang berdenting,
belum sempat ingatan ke-dua berkelebat lewat kembali terdengar
dengusan berat memecahkan kesunyian yang mencekam.
Dengan cepat Pek In Hoei menoleh ke arah mana berasalnya
suara itu, tapi kecuali hutan belantara yang lebat tiada sesuatu apa pun
yang terlihat olehnya.
Si anak muda itu semakin tercengang bercampur curiga, ia segera
enjotkan badannya menerobos hutan belantara itu dan mendekati dari
mana asalnya suara itu.
692
IMAM TANPA BAYANGAN II
Tampak seorang pria tinggi kekar dengan golok terhunus dan
wajah menyeringai seram sedang membentak empat orang pelancong
yang berlutut di atas tanah ketakutan.
Terdengar para pelancong itu pada berseru :
"Ooooh... toako, ampunilah jiwa kami."
"Toako... berbuatlah kebajikan, di rumah aku masih ada seorang
ibu tua yang telah berusia delapan puluh tahun, kalau kau inginkan
hartaku ambillah semua tapi selembar jiwa hamba bisa diampuni..."
"Hmmm! Tida bisa, harta mau pun nyawa aku inginkan semua,
tapi... sebelum itu tahukah kalian siapakah aku?"
"Aku tahu, kau adalah bajingan tengik!" jawab salah seorang di
antaranya yang bernyali besar.
Pria itu tertawa seram.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... toaya mu bukan lain adalah si Jago
Pedang Berdarah Dingin yang barusan mengadakan pertemuan
dengan para jago di wilayah selatan, selamanya aku bekerja tak
pernah meninggalkan korbannya dalam keadaan hidup, setelah modar
nanti kalian boleh laporkan perbuatanku itu kepada raja akhirat..."
Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei yang bersembunyi
di tempat kegelapan jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu ia
tidak menyangka kalau di dalam dunia persilatan terdapat seorang
manusia yang berani menyaru namanya untuk melakukan
pembegalan, hawa amarahnya segera berkobar, sambil tertawa dingin
tubuhnya perlahan-lahan munculkan diri dari tempat persembunyian.
Dalam pada itu pria kekar itu sudah ayunkan goloknya siap
memenggal tubuh beberapa orang itu, ketika melihat munculnya
seorang pemuda sambil bergendong tangan tanpa terasa ia jadi
tertegun.
Tapi sejenak kemudian sambil ayunkan goloknya ia membentak
kembali :
"Hey kau datang dari mana? Ayoh cepat serahkan semua harta
kekayaanmu!"
693
Saduran TJAN ID
"Oooh... tay ong! Kau datang dari gunung mana?"
Pria itu tertawa dingin, lalu menjawab :
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... toa ya mu adalah si Jago Pedang
Berdarah Dingin Pek In Hoei yang berasal dari gunung Thiam cong.
Eeeei! Kunyuk muda, setelah berjumpa dengan aku si Jago Pedang
Berdarah Dingin, kenapa kau tidak jatuhkan diri berlutut..."
Ucapannya yang ngaco belo tak karuan itu semakin
menggusarkan hati pemuda kita :
Pek In Hoei diam-diam tertawa, pikirnya :
"Biar aku lihat dulu obrolan apa saja yang akan dikatakan oleh
bocah keparat ini, kemudian baru kubereskan dirinya..."
Dengan wajah pura-pura terkejut bercampur tercengang ia
berseru :
"Oooh... jadi tay ong adalah Pek In Hoei yang tersohor itu?"
"Hmmm! Sedikit pun tidak salah," sahut pria itu dengan bangga.
"Waaah... Tay ong, kalau begitu aku sudah tukar pekerjaan?"
"Apa maksudmu?"
Sambil pura-pura ketakutan Pek In Hoei mundur dua langkah ke
belakang, sahutnya:
"Menurut kabar yang tersiar di dalam dunia persilatan, sewaktu
Pek In Hoei terjun ke dunia kangouw hingga punya julukan sebagai
si Jago Pedang Berdarah Dingin senjata yang dipergunakan adalah
sebilah pedang mestika yang disebut pedang mestika penghancur sang
surya dan sekarang secara tiba-tiba kau telah tukar dengan sebilah
golok bukankah itu berarti bahwa kau sudah tukar pekerjaan..."
Pria semakin melengak, ia tak pernah menyangka kalau pemuda
tampan di hadapannya mempunyai pengetahuan yang begitu luas
mengenai kejadian di dalam Bu lim, sambil ayun goloknya ia segera
membentak :
"Ayoh keluar... Oo...! Siapakah kau si bocah cilik?? Kalau
ngomong saja ngaco belo tak karuan!"
694
IMAM TANPA BAYANGAN II
Air muka Pek In Hoei berubah jadi keren, dengan napsu
membunuh menyelimuti seluruh wajahnya ia tatap wajah pria itu
tajam-tajam, katanya :
"Jago Pedang Berdarah Dingin adalah sahabat karibku, selama
hidup ia tak pernah melakukan perbuatan jahat, bangsat! Mengapa
kau berani mencatut namanya untuk melakukan perbuatan terkutuk..."
Traaang...! Saking tercekatnya hati pria itu, mendadak sekujur
badannya gemetar keras, golok kepala setan dalam genggamannya
segera terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai, tanyanya dengan
suara tersendat-sendat :
"Kau... kau... kau adalah sahabat karib si Jago Pedang Berdarah
Dingin?"
Orang ini pun cukup cerdik setelah mengetahui bahwasanya
orang itu adalah sahabat karib Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah
Dingin, sadarlah dia bahwa orang yang berada di hadapannya pasti
memiliki ilmu silat yang lihay, mengetahui bahwa kepandaian sendiri
tak seberapa tentu saja dia jadi ketakutan setengah mati, setelah
mendengar gertakan lawannya, begitu takutnya sampai tanpa sadar ia
terkencing-kencing.
Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris dirinya lagi, kepada
ke-empat orang pelancong yang nyaris dirampok itu serunya :
"Kalian boleh segera pergi dari sini, bangsat keparat ini bukan
Jago Pedang Berdarah Dingin..."
Ke-empat orang pelancong itu jadi kegirangan tanpa
mengucapkan sepatah kata pun mereka sambar barang milik sendiri
dan kabur dari hutan tersebut.
Sepeninggalnya pelancong-pelancong tadi, Pek In Hoei baru
berpaling dan menatap kembali wajah pria tadi, perlahan-lahan ia
cabut keluar pedang mestika penghancur sang surya sambil berkata :
"Bangsat cilik, kau berani mencatut nama orang untuk berbuat
kejahatan, dosamu tak bisa diampuni lagi, akan kucabut selembar jiwa
anjingmu!"
695
Saduran TJAN ID
"Yaaah... ampun... ooh! Toa ya, ampunilah jiwaku... aku tobat...
lain kali aku tak berani melakukan perbuatan ini lagi... oooh Toa ya..."
rengek pria itu sambil berteriak-teriak keras.
"Hmmm! Sayang moralmu sudah terlalu bejat, aku tak dapat
mengampuni dirimu lagi..."
"Oooh Toa ya asal kau mengampuni jiwaku, hamba akan
beritahukan satu urusan kepadamu!"
"Cepat katakan! Tapi aku akan memperingatkan dirimu lebih
dahulu, kalau kau berani bermain curang atau bermain setan di
hadapanku, itu sama artinya mempercepat kematianmu sendiri..."
"Sekali pun nyali hamba lebih besar pun tak akan berani mencatut
nama Jago Pedang Berdarah Dingin untuk melakukan pembegalan,"
lapor pria itu dengan badan gemetar. "Kemarin malam aku didatangi
seorang pincang yang mengaku she Si, ia suruh hamba melakukan
perbuatan ini, katanya selain ia tak akan menerima emas atau perak
hasil begalanku, bahkan setiap hari dia akan menggaji dua tahil perak
bagiku..."
Dari perkataan tersebut Jago Pedang Berdarah Dingin segera
menyadari bahwa peristiwa ini bukan suatu kejadian biasa, di
belakang pria tersebut pasti ada orang yang jadi dalangnya, tapi
siapakah orang itu? Untuk beberapa saat lamanya ia tak berhasil
mengetahuinya, seingatnya di antara sederet nama musuh-musuh
besarnya, sama sekali tidak tercantum nama seorang she Si yang
pincang.
"Siapakah orang itu?" tegur pemuda itu kemudian setelah
termenung dan berpikir beberapa saat lamanya.
"Aku!"
Jawaban itu muncul secara mendadak dan sama sekali tak
terduga.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei terperanjat, laksana
kilat dia berputar ke belakang dan siap siaga menghadapi segala
kemungkinan.
696
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seorang pria berusia pertengahan yang memakai jubah warna
abu-abu tampak berdiri bersandar di atas pohon, kaki orang itu
pincang sebelah sedang matanya lebih banyak putihnya daripada
hitam, sepintas lalu nampak bengis dan mengerikan.
Pek In Hoei bukan terkejut karena wajahnya yang mengerikan,
tapi ia kaget akan kelihayan ilmu meringankan tubuhnya. Dia percaya
dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, siapa pun yang
mendekati dirinya pasti akan diketahui dengan cepat.
Tapi nyatanya kehadiran orang itu sama sekali tak diketahui
olehnya, apalagi orang itu adalah seorang pincang, dari ini dapat
ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang itu
kemungkinan besar jauh melebihi dirinya.
"Siapa kau?" pemuda she Pek itu segera menegur dengan alis
berkerut.
"Aku bernama Si Bu Mo, belum pernah berkelana di dalam dunia
persilatan, mungkin kau belum pernah mendengar nama itu..."
Sementara itu melihat kemunculan Si Bu Mo di tempat itu,
bagaikan bertemu dengan bintang penolong pria tadi segera berteriak
keras :
"Oooh... Si toa ya, akhirnya kau datang juga..."
"Hmmm! Orang yang kutunggu telah datang, di sini sudah tak
ada urusanmu lagi," seru Si Bu Mo sambil melemparkan sekeping
uang perak ke atas lantai, "pergilah sana, yang dia cari adalah aku, tak
mungkin kepergianmu dihalangi. Nah! Ayoh cepat pergi!"
Seolah-olah mendapat pengampunan besar, pria itu cepat-cepat
serobot uang perak itu dari atas tanah, kemudian setelah melirik
sekejap ke arah Pek In Hoei, dia kabur dari situ.
Perlahan-lahan Pek In Hoei alihkan pandangannya ke arah orang
itu, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa
gemas ia berseru :
697
Saduran TJAN ID
"Manusia berhati rendah, mengapa kau gunakan cara yang
demikian rendah dan hinanya untuk merusak nama baikku? Apa
maksudmu yang sebenarnya..."
"Nama besar Jago Pedang Berdarah Dingin dalam dunia
persilatan terlalu besar dan tersohor, untuk mengundang dirimu
bukanlah satu pekerjaan yang gampang, bila aku tak menggunakan
cara ini dari mana kau bisa kutemui..." sahut Si Bu Mo sambil tertawa
dingin.
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei semakin murka
sehabis mendengar ucapan itu, bentaknya :
"Hmmm! Kau hanya tahu memenuhi keinginan pribadimu, tapi
lupa bahwa perbuatanmu itu justru akan mengorbankan manusia yang
tak berdosa, seandainya aku tidak tega untuk turun tangan
membinasakan pria itu, bukankah sedari tadi ia sudah mati konyol di
tanganku..."
"Apa salahku? Bila sampai terjadi pembunuhan maka kejadian
ini harus disalahkan dirinya sendiri, siapa suruh dia terlalu kemaruk
akan harta..."
Nadanya dingin, ketus dan sama sekali tidak disertai emosi,
diam-diam Pek In Hoei bergidik juga menghadapi manusia semacam
ini, banyak jago Bu lim yang pernah ia jumpai tapi belum pernah
menemukan manusia seram macam Si Bu Mo.
Setelah suasana hening beberapa waktu, pemuda itu kembali
tertawa dingin, katanya :
"Ada urusan apa kau datang mencari diriku?"
"Gampang sekali, aku datang untuk membalas dendam."
"Membalas dendam...?" Pek In Hoei merasa belum pernah
bertemu atau pun berkenalan dengan manusia yang mengaku bernama
Si Bu Mo ini, dari mana permusuhan bisa terjadi?"
Pemuda itu segera tertawa dingin.
"Hey! Kalau kau belum edan, mari kita bicarakan persoalan ini
sebaik-baiknya, sekalipun aku si Jago Pedang Berdarah Dingin
698
IMAM TANPA BAYANGAN II
selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan telah banyak
mengikat permusuhan dengan orang, seingatku belum pernah aku
bermusuhan dengan manusia macam kau. Kita toh tak pernah
mengenal satu sama lain, bahkan bertemu pun baru pertama kali ini,
dari mana kau bisa mengatakan bahwa kedatanganmu adalah hendak
menuntut balas..."
"Heeeh... heeh bagus, bagus sekali, aku orang she Si bisa
berkenalan dengan manusia semacam kau, hidupku memang boleh
dibilang semakin semarak, kau tak usah mungkir lagi, dalam
catatanku sudah tertulis jelas hutangmu setiap sen setiap ketip, kau
mesti ingat hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa, masa
begitu cepat kau telah melupakan peristiwa yang terjadi dalam selat
Seng See Kok?"
"Oooh... iya? Kenapa aku tidak ingat kalau dalam selat Seng See
Kok pernah hutang kepadamu?"
"Tiba Si Bu Mo mendengus dingin, tegasnya :
"Mau bayar atau tidak, yang penting aku orang she Si sudah
penuju dirimu, bagaimana pun juga hutang itu harus dibayar berikut
rentenya."
Bagaikan segulung angin puyuh ia terjang ke depan secepat kilat,
cakar mautnya langsung mencengkeram bahu pemuda itu, ke-lima
jarinya yang tajam terasa amat sakit sewaktu menempel di kulit.
Pek In Hoei segera meloncat ke samping sindirnya sambil tertawa
dingin.
"Huuuh... ! Cakarmu itu lebih kotor dan bau daripada cakar
anjing, lebih baik simpan saja untuk garuk-garuk badanmu sendiri
yang banyak kutu... "
Di luar ia mengejek, gerakan tubuhnya tidak mengendor, secara
beruntun ia bergeser sebanyak tiga kali, dengan gampangnya pula tiga
buah serangan berantai orang she Si itu berhasil dihindari.
699
Saduran TJAN ID
"Bangsat cilik, mulutmu terlalu bau, aku harus sikat dulu
bacotmu itu agar bisa memperdengarkan suara yang lebih merdu,"
teriak Si Bu Mo sambil tertawa seram.
Kali ini Jago Pedang Berdarah Dingin betul-betul sudah
ketanggor batunya, ilmu silat yang dimiliki pihak lawan bukan saja
sangat lihay, gerakan tubuhnya amat gesit bahkan mulutnya pun
pandai berbicara.
Untuk beberapa saat lamanya ia merasa hatinya tercekat, tak
teringat olehnya jago lihay dari manakah yang sedang dihadapinya
saat ini.
Secara beruntun ia lancarkan dua serangan dahsyat, dengan susah
payah akhirnya dia berhasil juga memaksa Si Bu Mo mundur dua
langkah ke belakang.
Sungguh lihay orang pincang she Si ini, setelah terdesak mundur
ke belakang ia segera unjukkan kehebatannya dengan suatu gerakan
tubuh yang aneh, tiba-tiba badannya menerjang ke depan dan merebut
posisi baik lima jarinya bagikan kaitan langsung menyambar dada si
anak muda itu.
"Sahabat karibku," ejeknya, "kenapa tidak undang keluar sahabat
yang telah membantu mempopulerkan dirimu itu?"
"Aku rasa tak perlu mencari bala bantuan," jawab Pek In Hoei
sambil bacok pergelangan lawan. "Bukankah sahabatmu juga belum
kau undang untuk tinggalkan sarangnya?"
Lengan kanannya tiba-tiba membalik mencengkeram senjata
lawan yang tersembul di balik bahu, sementara kakinya dengan cepat
menghadiahkan sebuah tendangan kilat.
Dalam keadaan begini terpaksa Si Bu Mo harus mundur enam
langkah ke belakang, diam-diam ia kagum atas kehebatan lawannya
yang masih muda belia itu.
"Tidak aneh kalau muridku masih bukan tandinganmu, rupanya
kepandaian silat yang kau miliki hebat juga..." serunya kemudian
700
IMAM TANPA BAYANGAN II
sambil tertawa seram. "Hmm... Jago Pedang Berdarah Dingin, ini hari
aku orang she Si akan membagi keuntungan bagimu!"
"Siapakah muridmu?" tanya Pek In Hoei melengak.
"Hmm.. hmm.. kau betul-betul seorang pelupa yang pikun, masa
muridku juga sudah kau lupakan... " sinar mata bengis berkilat tajam,
sambil tunjukkan jari tangannya ia menambahkan :
"Sekarang mungkin kau sudah tahu siapakah aku!"
Cahaya tajam yang memancarkan sinar membara menyorot
keluar dari ujung jarinya, begitu merah membara jarinya itu hingga
menyerupai tongkat besi yang membara. Pek In Hoei seketika berdiri
terkesiap, dalam benaknya terbayang kembali olehnya akan wajah
Toan Hong In, adik Toan Hong ya yang pernah menggunakan pula
ilmu jari semacam itu.
Ia segera berseru :
"Oooh...! Rupanya kau adalah tulang punggung Toan Hong In
yang disebut sebagai suhu, waah... kalau begitu maaf yaah kalau aku
kurang hormat padamu, Eei... pincang kenapa dari tadi kau tidak mau
bilang bahwa kau bermodal cukong? Tahu begini sedari tadi aku
orang she Pek sudah layani permintaanmu, mari.. mari.. mari kita
mulai sekarang juga?"
701
Saduran TJAN ID
Jilid 29
"HEEEH... heeeh... heeeh... modalku sih modal cukong, apalagi ilmu
jari Hwee_yan-ci ini luar biasa hebatnya, aku ingin tahu kau hendak
pakai modal dengkul apa untuk melayani diriku."
"Jangan kuatir, modalku adalah modal atas jeri payahku sendiri,
aku tidak doyan dengan modal asal curian."
"Bangsat! Kau jangan kuatir, wilayah selatan masih amat luas,
bahan dasar berlimpah limpah kenapa aku mesti mencuri?"
Sebagai penutup kata ujung jarinya diiringi kilatan cahaya merah
yang membara segera menerjang tiga bagian tubuh Pek In Hoei secara
dahsyat, hawa panas segera terasa menyengat badan.
Jago pedang berdarah dingin tak berani menghadapi datangnya
serangan hawa panas itu secara gegabah, ia loncat ke samping
menghindarkan diri sementara telapaknya mengirim satu babatan
kearah musuhnya.
"Huuh ! Kalau cuma ilmu jari Hwee yan-ci sih aku sudah pernah
minta petunjuk, paling banter juga cuma begitu-begitu saja," ejeknya
sinis.
"Bangsat, kau harus tahu ilmu jari Hwee yan-ci ini dinamakan
pula panggang ayam, jauh berbeda dengan ilmu jari biasa, bagi siapa
yang kena serangan paling enteng bakal patah tulang nadi kita, paling
berat akan menimbulkan kematian, hutangmu sudah bertumpuktumpuk
maka sekalian jiwa anjingmu akan kuringkus ... "
Tenaga dalam yang dimiliki Pek In Hoei memang diakui
kehebatannva, apa lacur ilmu jari yang dimiliki pihak lawan sangat
702
IMAM TANPA BAYANGAN II
dahsyat, desiran angin pukulan yang begitu memaksa tubuhnya susah
untuk mendesak lebih mendekat.
Lama kelamaan ia jadi rada mendongkol, sambil membentak
keras telapaknya segera diputar aneh dan mengirim satu babatan
keluar.
Si Bu Mo sendiri juga menyadari akan kesempurnaan tenaga
lweekeng yang dimiliki lawannya, ia tidak berani bertindak gegabah.
Melihat datangnya ancaman, buru-buru serangan totokan berubah jadi
serangan telapak, sambil membentuk gerakan satu lingkaran busur
laksana kilat dia songsong datangnya ancaman tersebut.
"Blaam.....!" ledakan dahsyat bergeletar di angkasa, seluruh bumi
bergetar keras, pasir dan batu beterbangan memenuhi udara, daun
ranting berhamburan di atas tanah, bentrokan dua gumpal tenaga yang
maha dahsyat itu secara tiba tiba menerjang sebuah pohon siong yang
tumbuh di sekitar sana, begitu hebat bentrokan tadi menyebabkan
pohon tersebut tumbang jadi dua bagian dan mencelat sejauh setengah
tombak lebih.
Dengan sempoyongan Si Bu Mo mundur tujuh delapan langkah
ke belakang, setiap langkah dia mundur, di atas permukaan tanah
segera tertinggallah sebuah bekas telapak kaki sedalam kurang lebih
tiga cun lebih.
Bukan begitu saja, pada akhir langkahnya orang itu muntah darah
segar dan berdiri dengan badan gemetar keras.
"Bejingan cilik!" teriaknya kemudian dengan suara penuh
kebencian meluap-luap, "Kau betul-betul hebat, orang bilang ada
pinjam harus ada kembali. Setelah kau memberi hadiah kepadaku
sudah selayaknya kalau kubalas dengan sedikit hadiah pula untukmu,
bersiap-siaplah kau menerima hadiah itu."
Sekalipun orang ini adalah seorang pincang, tapi gerak geriknya
jauh lebih gesit dan enteng dari pada orang biasa, bersamaan dengan
selesainya ucapan itu ia segera loloskan sebuah pedang dari atas
punggungnya.
703
Saduran TJAN ID
Pedang digetarkan menimbulkan percikan cahaya yang
berkilauan, sambil menatap si anak muda itu dengan sorot mata yang
bengis teriaknya :
"Cabut keluar pedang penghancur sang suryamu !"
Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tarik napas panjangpanjang,
air mukanya sama sekali tidak menunjukan perasaan apa
pun, dalam hati ia menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak
lawan sangat lihay dan orang itu bukan musuh sembarangan,
karenanya ia lantas mendengus dingin dan perlahan-laban cabut
keluar pedang mestika Penghancur sang surya.
"Sahabat karibku.... " ejeknya sambil tertawa hambar, "Setelah
kau undang keluar sababat karibmu, akupun akan undang pula rekan
sekerjaku ini......"
Sudah terlalu banyak Si Bu Mo mendengar cerita mengenai
kehebatan serta kelihayan ilmu pedang lawan. sekarang menjumpai
wajahnya berubah amat sadis dan diliputi napsu membunuh, hatinya
jadi bergidik saking tegangnya sampai-sampai gagang pedang
dipegang kencang-kencang.
Suasana hening untuk beberapa saat lamanya, kedua belah pihak
sama-sama tidak bergerak atau pun bergeser dari tempat semula. Tapi
lama-kelamaan Si Bu Mo tak dapat menahan diri lagi, ia membentak
keras pedangnya disertai sambaran cahaya kilat langsung membacok
tubuh si anak muda itu.
Jago pedang berdarah dingin sama sekali tidak melayani
datangnya ancaman itu tiba-tiba badannya meloncat keluar dari
kalangan, sambil putar pedangnya di udara dan menyapu sekejap luar
hutan ejeknya sambil tertawa tergelak.
"Hah... haah.... sahabatku, bukankah kau telah membawa bala
bantuan? Kenapa tidak kau undang keluar? Aku si jago pedang
berdarah dingin bukanlah seorang manusia berjiwa sempit,
persilahkan saja teman-temanmu untuk ikut hadir dalam perayaan ini,
mereka pasti akan kulayani dengan sebaik-baiknya........"
704
IMAM TANPA BAYANGAN II
Si Bu Mo tertegun, pedang yang telah siap melancarkan serangan
segera dihentikan kembali, kemudian sambil celingukan ke empat
penjuru pikirnya dalam hati :
"Aneh benar, dalam rencanaku mengajak bangsat ini berduel
belum pernah kubawa bala bantuan, jangan dikata pembantu murid
sendiripun tidak kuajak, masa ada yang datang tanpa diundang ?"
Karena tercengang ia segera balik bertanya:
"Bala bantuan ? Siapa yang mengundang pembantu ?"
"Heeh... heeh... heeh... tak usah berlagak pilon kawan, masa aku
mesti menunjukkan kepadamu ?"

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Ngentot : ITB 14 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments