Cerita Dewasa Ngeseks : ITB 13

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Dewasa Ngeseks : ITB 13
Cerita Dewasa Ngeseks : ITB 13
-Dengan kencang digengggamnya tangan Pek In Hoei, dan
serunya :
"Untuk membasi kaum pengkhianat ini dari muka bumi, terpaksa
aku harus meminjam kekuatan dari kongcu..."
"Soal ini... aku pasti akan membantu dirimu dengan segenap
tenaga..." sahut Pek In Hoei setelah tertegun sejenak.
Suara genta yang amat memekakkan telinga itu perlahan-lahan
lenyap di tengah udara, ruang besar itu seketika terselimut oleh napsu
membunuh yang berlapis-lapis. Song Ceng To serta Lie Ban Kiam
dengan memimpin para anak buahnya mengurung ruang tengah itu
rapat-rapat.
Perlahan-lahan Kiong cu berhasil juga menguasai keadaan,
hatinya jadi tenang kembali dan dengan pandangan dingin disapunya
sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berkata :
"Song Ceng To! Kau anggap orang-orang itu mampu untuk
membinasakan diriku?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... " kekuatan Kiong cu amat minim
dan tiada bantuan lain, andaikata kau ingin meloloskan diri dari
tempat ini aku rasa hal itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang!"
Kiong cu mendengus dingin, ia bolang-balingkan pedang tak
kenal budinya ke tengah udara dan berseru :
"Kalian boleh mulai turun tangan!"
Si Utusan Peronda Gunung dengan sinar mata berapi-api
membentak keras, dari pinggangnya ia loloskan sepasang senjata
palunya, kemudian sambil menubruk ke arah Kiong cu serangan
gencar dilancarkan bertubi-tubi.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... manusia pertama yang menghantar
kematiannya telah datang..." jengek Kiong cu sambil tertawa.
504
IMAM TANPA BAYANGAN II
Cahaya pedang yang dingin berkelebat di tengah udara, seketika
itu juga terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati
berkumandang memenuhi seluruh ruangan. Terlihatlah tubuh si
Utusan Peronda Gunung dengan kepala terpisah dari badan
menggeletak mati di atas genangan darah.
Serangan dengan jurus pedang yang maha dahsyat ini seketika
menggetarkan hati semua orang yang hadir di dalam kalangan,
walaupun mereka semua merupakan jago-jago lihay di dalam hal ilmu
pedang,tetapi siapa pun tak sempat melihat dengan cara
bagaimanakah Kiong cu mereka melancarkan serangannya itu.
Cahaya tajam hanya berkelebat lewat, sang korban sudah roboh
binasa tanpa kepala, kepandaian silat yang demikian lihay dan
ampuhnya ini benar-benar cukup menggetarkan hati setiap manusia.
Air muka Song Ceng To berubah hebat, tanyanya :
"Ilmu pedang apakah yang telah kau gunakan???"
"Gerakan pertama dari tiga jurus ilmu pedang pengejar nyawa..."
jawab Kiong cu dengan wajah dingin.
"Apa? Kau benar-benar menguasai ilmu pedang pengejar nyawa?
Hal ini tak mungkin terjadi..."
"Mengejar nyawa tiada bayangan, tiada bayangan
menghilangkan gelombang, apakah kau lupa bahwa ilmu pedang
aliran Tang hay antara satu keluarga dengan keluarga lain mempunyai
kelihayan yang berbeda. Sejak nenek moyang keluarga Song dan
keluarga Lie yang lalu secara sukarela takluk di bawah kekuatan
keluargaku, sejak itu pula tiga jurus sakti ilmu pedang pengejar nyawa
telah menaklukkan kalian semua..."
Lie Ban Kiam ganti sebilah pedang yang baru, lalu berkata :
"Song Loo toa, antara kita dengan perempuan rendah ini sudah
tiada persoalan yang bisa dibicarakan lagi. Turunkanlah komando
agar semua orang yang hadir di sini meluruk ke depan bersama-sama
dan beradu jiwa dengan dirinya, aku tidak percaya kalau ia sanggup
menandingi orang dalam jumlah yang begini banyaknya..."
505
Saduran TJAN ID
"Hmmm! Perhitungan sie poa kalian telah meleset jauh, kalian
punya orang apa dianggapnya aku tidak memiliki anggota pasukan
yang setia kepadaku sampai mati..."
Pedangnya dengan enteng disentilkan tiga kali di tengah udara,
suara pekikan naga yang nyaring segera berkumandang memenuhi
seluruh angkasa.
Terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari
balik horden, dua puluh empat orang gadis yang membawa lampu
lentera merah secara serentak munculkan diri dari belakang ruangan,
sementara si huncwee gede Ouw-yang Gong sambil membawa senjata
andalannya munculkan diri pula sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Pek In Hoei," tegurnya dengan
suara keras, "rupanya kau si keparat cilik belum mati di dalam kereta
itu..."
Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin tersenyum.
"Eeeei kau si ular asap tua, selama ini telah bersembunyi di
mana???"
"Aku selama ini bersembunyi di belakang sambil memelihara
semangat, seandainya kalian tidak ribut-ribut di tempat ini, mungkin
aku si ular asap tua telah menghabiskan sekantong tembakau dari laut
Tang hay..."
Dalam pada itu Song Ceng To serta Lie Ban Kiam yang secara
tiba-tiba menyaksikan munculnya ke-dua puluh empat dara pembawa
lampu lentera merah di tempat itu, air mukanya segera hebat, mereka
tak pernah menyangka kalau Kiong cu-nya telah mempersiapkan pula
sepasukan tentara jebakan di situ, bahkan barisan Ang Teng Toa tin
dari It-boen Pit Giok pun sudah dipindahkan kemari.
"Hmmm! Berada di dalam kepungan barisan lentera merah,
kalian masih belum juga mau menyerah..." hardik Kiong cu dengan
suara dingin.
"Perempuan lonte, kami akan beradu jiwa dengan kalian!" teriak
Song Ceng To dengan penuh kegusaran.
506
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sambil membentak keras ia segera mendahului menubruk ke arah
depan sedangkan kawanan pria berbaju hitam lainnya setelah melihat
pemimpin mereka mulai melancarkan serangan, mereka pun ikut
menyerbu ke depan.
Tetapi ke-dua puluh empat orang dara berlampu lentera merah itu
adalah jago-jago perempuan yang dididik langsung oleh It-boen Pit
Giok, melihat datangnya serbuan masal itu mereka segera
menyebarkan diri ke empat penjuru, barisan Lampu lentera pun
dengan cepat sudah tersusun rapi.
Dalam waktu singkat pula Song Ceng To sekalian telah
terkepung di dalam barisan lentera merah tersebut.
"Pek Kongcu," bisik Kiong cu kemudian setelah melihat
kawanan pengkhianat itu terkepung. "Mari kita berlalu dari sini, ada
seorang sahabat sedang menantikan kehadiranmu."
Ia tarik tangan Pek In Hoei dan diajak masuk ke ruang belakang,
si huncwee gede Ouw-yang Gong buru-buru menyusul dari belakang.
"Bagaimana dengan orang-orang itu???" tanya si anak muda itu
setelah tertegun sejenak.
Kiong cu tersenyum manis.
"Tentang soal ini kau tak usah kuatir, aku hendak menjatuhi
hukuman mati kepada mereka semua..."
Jari tangannya dengan ringan memencet sebuah tombol yang
berada di atas sebuah kayu, dari dalam ruang tengah secara mendadak
terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang
memecahkan kesunyian, terlihatlah empat bilah dinding bergoyang
kencang, dari tengah udara segera meluncur jatuh sebuah jaring yang
amat besar, seluruh jago lihay yang terkurung di dalam barisan
dengan cepatnya teringkus semua tanpa seorang pun berhasil
meloloskan diri.
"Jaring seribu muka milikku ini adalah sebuah alat rahasia yang
sangat istimewa," ujar Kiong cu dengan bangga. "Di atas jaring telah
dipolesi dengan racun yang amat keji, barangsiapa yang tertempel
507
Saduran TJAN ID
oleh racun tersebut maka sekujur badannya akan jadi lemas dan tak
bertenaga. Song Ceng To serta Lie Ban Kiam sedari dulu memang ada
maksud menentang kekuasaanku, kehadiranmu pada hari ini justru
merupakan sumbu yang terbaik untuk meledakkan peristiwa ini. Dan
sekarang keadaan sudah beres, mereka sudah cukup dilayani oleh para
dayang dari It-boen Pit Giok..."
Bicara sampai di situ ia pun memimpin Pek In Hoei serta Ouwyang
Gong berjalan melewati sebuah serambi panjang masuk ke
dalam sebuah bangunan rumah yang megah dan sangat mewah.
Baru saja Pek In Hoei hendak melangkah masuk ke dalam
ruangan itu, mendadak ia menyaksikan bayangan punggung seorang
gadis sedang menghadap ke arah jendela memandang tempat
kejauhan, hatinya jadi bergetar keras dan segera pikirnya :
"Aaaah! Itu toh bayangan punggung dari It-boen Pit Giok, kenapa
gadis yang kelihatannya tiada rasa cinta tapi dalam kenyataan ada
sesuatu dalam hati kecilnya bisa berada di sini? Ia pernah berkata
kepadaku bahwa sepanjang hidupnya ia akan selalu membenci diriku,
lebih baik aku tak usah bertemu muka dengan dirinya saja..."
Berpikir sampai di situ dia pun segera ambil keputusan untuk
angkat kaki dari situ, badannya buru-buru berputar dan siap
meninggalkan tempat itu.
Siapa tahu angin dingin berhembus lewat, It-boen Pit Giok
dengan wajah penuh kegusaran telah berdiri tegak menghadang jalan
perginya.
"Apakah kau tidak sudi bertemu dengan aku?" teriaknya dengan
nada ketus.
"Tidak...! Siapa yang bilang?"
Sekilas rasa sedih dan murung berkelebat lewat di dalam biji
matanya yang jeli, kemudian sambil tertawa dingin serunya kembali :
"Huuuh! Setiap kali kau selalu berusaha untuk menghindari
diriku, kau anggap aku benar-benar tidak tahu siapakah yang
sebenarnya kau pikirkan terus? Tentu saja kami gadis-gadis liar dari
508
IMAM TANPA BAYANGAN II
luar lautan tidak akan sehalus dan setulus hati seperti orang lain yang
mempertaruhkan jiwa dan raga untuk mendapatkan obat mujarab
guna mengobati sang kekasih tercinta..."
"Eeeei... eeeei... siap yang kau maksudkan?" tanya Pek In Hoei
melengak.
Rupanya It-boen Pit Giok merasa amat gusar sekali, dengan
wajah berangut serunya kembali :
"Begitu cepat kau telah melupakan orang itu. Hmmm! Itu
menandakan bahwa kau adalah seorang laki-laki yang tak berbudi,
seorang lelaki tak berperasaan dan berhati kejam, aku ikut menyesal
bagi jerih payah Wie Chin Siang, kenapa ia begitu sudi bersikap baik
terhadap dirimu..."
Ucapan ini terlalu tajam bagi pendengaran Pek In Hoei, sedikit
banyak ia dibikin marah juga mendengar perkataan itu.
"Kau jangan ngaco belo yang tidak keruan di sini..." teriaknya.
******
Bagian 25
PLOOOOK!!
Kehadiran It-boen Pit Giok di tempat itu pada hari tersebut
rupanya memang ada maksud untuk menghina dan mempermalukan
diri Pek In Hoei si Jago Pedang Berdarah Dingin, mendadak dia
ayunkan telapak tangannya dan menghadiahkan tempelengan yang
cukup keras ke atas wajah si anak muda she Pek itu.
Pek In Hoei melongo dan berdiri menjublak, ia sama sekali tidak
menghindarkan diri dari tabokan tersebut. Ketika telapak lawan
bersarang di atas pipinya segera terasalah panas, linu dan sakit, sebuah
bekas telapak tangan yang merah dan sebab tertera nyata di ats pipinya
yang putih.
"Kau... kau... mengapa kau tidak menghindar..." bisik It-boen Pit
Giok kemudian dengan suara gemetar.
509
Saduran TJAN ID
"Aku dapat mengingat-ingatnya selalu pembalasan yang telah
kau lakukan terhadap diriku pada hari ini," kata Pek In Hoei dengan
suara yang kaku dan ketus. "Kesombongan serta ketinggian hatimu
akan memberikan penderitaan serta sengsara bagi dirimu sendiri, di
dalam usiamu selanjutnya kau akan merasa menyesal atas perbuatan
yang telah kau lakukan saat ini atas diriku..."
Sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, setelah
ditampar satu kali sikapnya secara mendadak berubah jadi tenang dan
sama sekali tiada perasaan apa pun, dengan pandangan tajam
ditatapnya wajah It-boen Pit Giok dalam-dalam kemudian sambil
tertawa dingin putar badan berlalu dari tempat itu.
"In Hoei..." jerit It-boen Pit Giok sesenggukan. "Aku tidak...
tidak..."
"Cukup! Kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Pek In Hoei
semakin ketus, "aku sudah mengetahui segala-galanya..."
It-boen Pit Giok memburu beberapa langkah ke depan, serunya
kembali :
"Apakah kau tidak sudi mendengarkan penjelasanku???? In
Hoei!... dengarkan dulu perkataanku..."
Tetapi Pek In Hoei sama sekali tidak menggubris jeritannya lagi,
bersama-sama si huncwee gede Ouw-yang Gong tanpa berpaling lagi
ia berlalu dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, It-boen Pit Giok merasa putus asa dan sedih, rasa murung,
kesal dan malu bercampur aduk di dalam hatinya hingga akhirnya ia
tak tahan jatuhkan diri ke dalam pelukan Kiong cu dan menangis
tersedu-sedu.
Kiong cu menghela napas sedih, bisiknya :
"Toa-moay, kau pun keterlaluan... tidak semestinya kalau
sikapmu terlalu kukuh dan keras kepala..."
Dengan penuh kesedihan It-boen Pit Giok angkat kepalanya ke
atas titik air mata masih mengembang dalam kelopak matanya.
510
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengan pandangan kosong dan hampa ia memandang ke pintu luar
lalu dengan suara yang sangat rendah dan berat sahutnya :
"Entah apa sebabnya, setiap kali aku berjumpa dengan dirinya
timbul rasa benci di dalam hatiku tetapi aku pun merasa rindu
kepadanya. Setiap kali aku berjumpa dengan dirinya tak tahan ingin
sekali aku menghajar dirinya..."
"Tahukah kau apa sebabnya tindakanmu bisa demikian?" tanya
Kiong cu tenang. "Itulah sebabnya kau terlalu mencintai dirinya..."
"Aku mencintai dirinya... aku mencintai dirinya..." gumam Itboen
Pit Giok.
.......
Berkuntum-kuntum bunga rontok di atas permukaan air,
bergelombang dan bergerak terbawa arus... terombang-ambing
dimainkan ombak bagaikan kaum gelandangan yang berkelana ke
sana kemari.
Di balik permukaan air yang bergelombang muncul sesosok
bayangan manusia yang tinggi ramping, riak ombak yang bergetar
kian kemari kian bertambah lebar akhirnya permukaan air tenang
kembali seperti sedia kala...
Pluuuung! Sebutir batu disambit ke depan rontok ke dalam air,
gelombang kecil kembali muncul di atas permukaan membuyarkan
bayangan manusia yang terbias di air dan memecahkan pula lamunan
dari si manusia itu sendiri.
Tatkala Pek In Hoei siap menyambitkan batu yang ke-dua,
bayangan tubuh It-boen Pit Giok yang ramping kembali terlintas di
dalam benaknya, tingkah lakunya yang sombong, sikapnya waktu
gusar tertera semua dengan amat jelasnya...
"Aaaaai," Pek In Hoei menghela napas dalam-dalam.
"Bagaimana pun juga sulit bagiku untuk menghilangkan bayangan
tubuhnya, kadangkala aku merasa bahwa dirinya sama sekali bukan
seseorang yang amat penting dalam hati kecilku, tetapi setiap kali aku
511
Saduran TJAN ID
berada dalam keheningan, berdiri sebatang kara... tanpa sadar
bayangan tubuhnya serta potongan raut wajahnya selalu muncul di
dalam pandanganku."
Dengan penuh kesepian ia menghela napas panjang, kenangan
lama kembali terlintas di dalam benaknya, dalam bayangan saat ini
kecuali muncul bayangan tubuh dari It-boen Pit Giok, terlintas pula
raut wajah dari Wie Chin Siang serta Hee Siok Peng.
Gadis-gadis yang dikenalinya itu sama-sama berwajah cantik
jelita bagaikan bidadari, sama-sama menaruh rasa cinta kepadanya
tetapi selama ini ia tak sanggup untuk memilih satu di antaranya, atau
jatuh cinta kepada salah satu di antaranya, karena mereka di dalam
hatinya mempunyai kedudukan yang sama dan sederajat...
"Hmmm!" dengusan rendah si ular asap tua Ouw-yang Gong
memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh jagad. Ia loncat
menghampiri si anak muda itu lalu sambil menggerogoti ayam goreng
yang berada dalam cekalannya kakek konyol itu berkata :
"Ada makanan lezat tiada arak, kejadian ini benar-benar
merupakan suatu kekurangan yang tak sedap dipandang..."
Pek In Hoei mengerti bahwa si ular asap tua ini kecuali selama
hidupnya bersikap gila dan ugal-ugalan, ia adalah seorang kakek yang
berhati jujur dan setia kawan.
Menyaksikan tingkah lakunya yang konyol itu tak tahan lagi ia
tertawa geli, serunya :
"Di tengah gunung yang gersang dan jauh dari keramaian dunia,
dari mana datangnya bau arak? Hey, si ular asap tua, jangan-jangan
kau menyembunyikan arak di sini..."
Ouw-yang Gong tertawa terkekeh-kekeh.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... hey kucing rakus, tajam amat
penciumanmu, kau memang pandai menerka serta menantikan
kenikmatan datang dengan sendirinya..."
Dari punggungnya ia ambil keluar sebuah cupu-cupu arak yang
besar lalu diangkat ke tengah udara, mendadak wajah berubah hebat,
512
IMAM TANPA BAYANGAN II
dengan termangu-mangu ia berdiri kaku di tempat semula sambil
memandang ke arah cupu arak itu tanpa berkedip.
Bukan saja Ouw-yang Gong berdiri menjublak sampai Pek In
Hoei sendiri pun dibuat berdiri terbodoh-bodoh, sebab ujung cupucupu
arak entah sudah ditimpuk dengan benda apa, saat itu telah
berlubang dan isi araknya telah bocor keluar semua, saat ini hanya
tinggal sebuah cupu-cupu arak kosong belaka.
"Hey, ular asap tua!" seru Pek In Hoei setelah tertegun beberapa
saat lamanya. "Sungguh lihay selembar mulutmu, seutas ususmu
langsung berhubungan dengan pantat sampai aku pun kau ajak
bergurau, araknya sudah kau minum sampai habis, begitu masih bisabisanya
sengaja menawari diriku..."
"Eeeeei... nanti dulu," teriak si ular asap tua dengan panik,
tangannya digoyangkan berulang kali. "Kau jangan berbalik memaki
diriku yang bukan-bukan, aku ular asap tua angkat sumpah di
hadapanmu bahwa aku tak pernah mengajak kau bergurau..."
"Lalu apa yang sudah terjadi?" tanya Pek In Hoei dengan nada
tidak percaya.
Ouw-yang Gong berpikir sebentar, kemudian menjawab :
"Ini hari kita telah berjumpa dengan seorang tokoh silat yang
sangat lihay..."
Sinar mata Pek In Hoei dengan cepat menyapu sekejap sekeliling
tempat itu, namun tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak,
dengan pikiran tak habis mengerti segera tegurnya :
"Kau tak usah jual mahal lagi di hadapanku, sebenarnya apa yang
telah terjadi?"
"Hmmmm! rupanya manusia-manusia itulah yang ajak aku
bergurau... hati-hati saja nanti aku Ouw-yang Gong bisa kasih satu
pelajaran yang keras agar mereka tahu bahwa aku si ular asap tua
bukanlah seorang kakek peot yang gampang dipermalukan..."
Agaknya si kakek konyol ini merasa amat gusar sekali. Sambil
menggerutu tiada hentinya ia segera tarik Pek In Hoei untuk mengajak
513
Saduran TJAN ID
lari meninggalkan tempat itu, sepanjang perjalanan mereka berlari
dengan kencangnya, hal ini semakin membingungkan hati si anak
muda itu.
Namun sepanjang perjalanan tak sesosok bayangan manusia pun
yang nampak, makin dipikir si Jago Pedang Berdarah Dingin ini
merasa keadaan semakin tak beres, karena tak kuat menahan diri lagi
ia segera menegur :
"Hey ular asap tua, sebenarnya kau ingin berbuat apa?"
Saking mendongkolnya Ouw-yang Gong berkaok-kaok keras,
teriaknya :
"Tadi sewaktu aku pergi membeli barang di depan perkampungan
telah bertemu dengan serombongan manusia yang menghantar
hadiah, cupu-cupu arak ini pastilah manusia-manusia itu yang
menyambitnya sampai pecah..."
Sementara ia sedang berbicara sampai di situ dari depan
tampaklah debu mengepul membumbung tinggi ke angkasa dan
muncul empat ekor kuda besar di belakangnya mengikuti sebuah
kereta besar yang diatasnya ditancapi sebuah panji kecil berwarna
kuning, dua orang pria berpotongan wajah panjang duduk di atas
kereta dengan keren dan gagahnya.
"Dari manakah datangnya orang-orang itu?" bisik Pek In Hoei
dengan nada lirih.
"Hmmm bangsat anak jadah, dialah anak-anak dari Sak Kioe
Kong..."
Rupanya ia sangat membenci orang-orang itu, selesai berkata
tubuhnya segera menerjang ke arah empat orang penunggang kuda
yang berada di paling depan.
Menyaksikan datangnya terjangan itu, ke-empat orang pria
tersebut segera membentak nyaring, dengan cepat mereka tarik tali les
kudanya dan berhenti berjalan.
Salah seorang di antaranya segera membentak dengan suara keras
:
514
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kakek peot sialan! Buta rupanya sepasang matamu, apakah kau
tidak melihat jelas panji tersebut adalah panji kebesaran dari Hak Bin
Siuw Loo si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong..."
"Telur busuk milik nenekmu! maki Ouw-yang Gong sambil
ayunkan sepasang telapaknya ke tengah udara. "Peduli amat panji
bobrok itu milik cucu monyet anak jadah siapa..."
Termakan oleh angin pukulan yang keras, ekor kuda itu terkejut
dan segera meringkik panjang, sepasang kaki mereka diangkat tinggitinggi
melemparkan ke-empat orang penunggangnya ke atas tanah.
"Hoooore... bagus... bagus..." teriak Ouw-yang Gong sambil
bertepuk tangan. "Haaaah... haaaah... haaaah... inilah yang dinamakan
gerakan empat kaki menghadap langit..."
Sementara ia masih berteriak-teriak dengan penuh kegembiraan,
mendadak dari atas kereta itu meluncur datang sesosok bayangan
manusia, sambil tertawa dingin ia mengirim satu pukulan dahsyat
langsung menghantam tubuh Ouw-yang Gong.
Blaaaaam!... Dalam keadaan gugup dan tergopoh-gopoh Ouwyang
Gong segera ayunkan pula sebuah pukulan untuk menyambut
datangnya serangan tersebut, sepasang telapak saling beradu hingga
menimbulkan suara ledakan dahsyat.
Di tengah bentrokan keras itulah tubuh ke-dua belah pihak samasama
bergetar keras dan tak tahan masing-masing tergetar mundur
satu langkah ke belakang.
Orang yang barusan melancarkan serangan ini mempunyai
potongan wajah yang bengis dan seram, wajahnya persegi panjang
dengan sepasang alis yang tebal dan bibir yang amat tipis, potongan
macam itu memuakkan sekali bagi penglihatan siapa pun.
Sementara itu sambil tertawa seram sorot matanya dengan tajam
dan melotot besar sedang menatap wajah si kakek konyol itu tanpa
berkedip.
515
Saduran TJAN ID
"Hebat! Hebat!" serunya dengan wajah kaku. "Kau dapat
menyambut datangnya sebuah pukulanku, itu menandakan kalau kau
pun termasuk manusia yang tidak gampang!"
"Ciisss..." dengan pandangan menghina si ular asap tua Ouwyang
Gong meludah ke atas tanah. "Setan busuk, apanya yang hebat
dengan pukulanmu itu? Kalau punya nyali ayoh kirimlah beberapa
buah pukulan lagi untuk dicoba, tanggung kau bakal pulang dengan
merangkak..."
Pria itu tertawa dingin, serunya dengan wajah serius :
"Kau jangan anggap pukulan dari aku Sak Toa Bauw adalah suatu
perkara yang enteng, tempo dulu sewaktu aku bergebrak melawan
para enghiong dari Kwan Lok, tiada seorang pun yang betul-betul
sanggup menerima sebuah pukulanku..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak aneh kalau kau pandai
mengibul dan omong gede, rupanya kau bernama Toa Bauw si
Meriam Gede..." ejek Ouw-yang Gong sambil tertawa terpingkalpingkal.
"Aku si ular asap tua kecuali sepanjang hidupnya suka
menghisap tembakau huncwee, aku pun suka pula mengibul dan
ngomong bus-busan seperti kentut busuk makmu. Eeeei... anak kurakura
cucu jadah, apakah kau pengin adu kelihayan di dalam berbusbusan
macam kentut busuk makmu dengan aku si orang tua..."
Dalam bersilat lidah ia memang di atas angin, di satu pihak
merasa kegirangan di pihak lain Sak Toa Bauw jadi mencak-mencak
saking dongkol dan marahnya.
"Heeei... eeeei... jangan mencak-mencak... jangan loncat-loncat,"
kembali Ouw-yang Gong berseru sambil goyangkan tangannya
berulang kali. "Kalau mencak terus takutnya kau bisa mencret... dan
ampas baumu bisa menyembur keluar seperti tembakan meriam.."
"Keparat tua!" bentak Sak Toa Bauw teramat gusar. "Kau... kau...
rupanya pengin modar!"
Ia benar-benar tidak bisa menahan diri lagi atas ejekan serta
sindiran Ouw-yang Gong yang tajam serta amat menusuk
516
IMAM TANPA BAYANGAN II
pendengaran itu, pria itu meraung keras sambil ayunkan telapaknya
sang badan segera menubruk ke arah depan dan menyerang Ouwyang
Gong habis-habisan.
Jangan dilihat Sak Toa Bauw sudah naik darah hingga kepalanya
nanar, waktu bertempur ia sama sekali tidak kelihatan tolol atau
bodoh. Telapak kirinya berputar di tengah udara membentuk satu
lingkaran busur, di tengah kecepatan terkandung desiran tajam, di
tengah perubahan terselip gerakan aneh membuat si ular asap tua
Ouw-yang Gong tidak berhasil mendapat keuntungan apa pun.
Secara beruntun Ouw-yang Gong melancarkan tiga buah
serangan berantai, lalu sambil tertawa terbahak-bahak katanya :
"Eeei anak kura-kura cucu monyet, kau adalah pungutan ibu yang
mana..."
Sak Toa Bauw yang dimaki nampak tertegun menanti ia berhasil
memahami apa yang dimaksudkan, saking gusar dan dongkolnya
hampir saja ia muntah darah segar, sekujur badannya gemetar keras
dan rambutnya pada berdiri kaku laksana landak.
Dengan langkah lebar ia maju ke depan, telapak tangannya
diayun menyongsong ke hadapan tubuh lawan, hardiknya keras-keras
:
"Kau si kakek tua celaka, aku Sak Toa Bauw akan beradu jiwa
dengan dirimu..."
"Blaaam... Blaaam... Blaaam..." secara beruntun terdengar tiga
kali suara bentrokan keras, tubuh ke-dua orang itu sama-sama tergetar
mundur ke belakang.
Rupanya tenaga lweekang yang dimiliki ke-dua belah pihak
adalah seimbang, hingga di dalam bentrokan barusan siapa pun tidak
berhasil mendapatkan keuntungan apa-apa.
Pek In Hoei yang menyaksikan kejadian itu, sepasang alisnya
kontan berkerut, serunya :
"Hey ular asap tua, serahkan saja persoalan ini kepadaku... biar
aku saja yang bereskan..."
517
Saduran TJAN ID
"Tidak bisa jadi," sahut Ouw-yang Gong dengan mata mendelik.
"Keparat cilik ini telah menyambit lubang cupu-cupu arakku, aku
hendak petik batok kepalanya sebagai ganti cawan arak, ini hari juga
aku tak akan mengampuni dirinya..."
"Apa kau bilang?" balas Sak Toa Bauw marah-marah. "Kau telah
mencuri arak kami, sekarang masih punya muka untuk mencari garagara
dengan kami..."
Sembari berkata matanya melirik sekejap ke arah Pek In Hoei,
ketika dilihatnya si anak muda bergaya seorang sastrawan yang
sedang berpesiaran, maka ia telah salah menduga Ouw-yang Gong
sebagai pelayannya.
Maka dengan suara lantang serunya kembali :
"Kau si anak muda kelihatannya tidak mirip dengan seorang
pembegal yang kerjanya merampok kereta, kenapa suruh seorang
kakek tua celaka macam ini untuk bikin gara-gara? Apakah dalam
sesuatu hal keluarga Sak kami telah menyalahi diri saudara..."
"Perkataanmu terlalu tak enak didengar dalam telinga, cayhe Pek
In Hoei bukanlah manusia sebangsa itu..." sahut si anak muda itu
sambil tertawa.
Si huncwee gede Ouw-yang Gong pun tertawa keras,
sambungnya :
"Bagus sekali! Hey Sak Toa Bauw kau si anak monyet cucu kurakura...
berani benar kau menuduh kami hendak membegal barang di
dalam keretamu. Hmmmm! Ini hari aku Ouw-yang Gong pengin lihat
sebetulnya Sak Kioe Kong mempunyai barang berharga apa sih
hingga begitu berharga bagi kami untuk turun tangan..."
Dengan pandangan dingin Sak Toa Bauw melirik sekejap ke arah
si huncwee gede Ouw-yang Gong, lalu tertawa hina, sinar matanya
perlahan-lahan dialihkan ke arah tubuh si Jago Pedang Berdarah
Dingin Pek In Hoei, kemudian ujarnya dingin :
"Kiranya kau adlaah si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei, seorang jago muda yang baru saja munculkan diri di dalam
518
IMAM TANPA BAYANGAN II
dunia persilatan, tidak aneh kalau dalam pandanganmu sama sekali
tidak memandang sebelah mata pun kepada orang lain. Hmmm!... bila
orang kangouw mengetahui bahwa manusia yang bernama Pek In
Hoei sebetulnya bukan lain adalah seorang pembegal yang suka
merampok kereta, mungkin kawan-kawan Bu lim akan tertawa
terkekeh-kekeh hingga giginya pada rontok semua..."
"Kau berani menghina aku?" teriak Pek In Hoei dengan air muka
berubah hebat.
"Haaaah... haaaah... haaaah... coba lihat, kau sudah takut.
Hmmm! Apakah kejadian ini bukan merupakan suatu kenyataan..."
Si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei jadi naik pitam, ia
siap maju ke depan untuk memberi pelajaran kepada Sak Toa Bauw.
Tetapi sebelum ia sempat maju ke muka, si ular asap tua Ouwyang
Gong telah berkelebat ke hadapannya dan melarang dia untuk
turun tangan sendiri
"Serahkan saja persoalan ini kepada aku si ular asap tua," serunya
sambil tertawa. "Aku tanggung Sak Kioe Kong sendiri pun tak akan
mampu mengapa-apakan seujung rambut aku si Ouw-yang Gong.
Huuuh...! Sak Kioe Kong itu manusia apa? Nama besarnya cuma
kosong belaka, dalam dunia persilatan ia telah menipu nama, menipu
kedudukan selama banyak tahun, sekarang sudah tiba masanya untuk
keok dan jatuh kecundang di tanganku..."
"Jadi kalian sengaja datang untuk mencari gara-gara dengan
diriku?..." teriak Sak Toa Bauw marah-marah.
"Itu sih tidak! Meskipun aku si Ouw-yang Gong kalau bekerja
agak menuruti suara hati sendiri, itu pun ada batas-batasnya. Asal
orang lain tidak mengganggu diriku, aku pun tidak akan mengganggu
orang lain, sebaliknya si tua bangkamu itu bukan saja telah mencuri
nama dan jabatan bahkan menghirup darah segar dari orang-orang Bu
lim, karena itu aku hendak memberi sedikit peringatan kepadamu..."
"Sejak kapan kami orang-orang dari perkampungan Sak Kee
Cung menyalahi dirimu? Selama banyak tahun Hek Bin Siuw loo tak
519
Saduran TJAN ID
pernah menjumpai kejadian apa pun di tempat ini, sungguh tak nyana
di dalam perjalanan kami hendak mengirim hadiah telah bertemu
dengan kalian... Hmm! Andaikata ayahku sampai mengetahui akan
kejadian ini, mungkin persoalan tidak akan beres dengan gampang..."
"Sudahlah, lebih baik kau tak usah menggotong keluar nama tua
bangkamu untuk menggertak orang," seru Ouw-yang Gong sambil
ayunkan huncwee gedenya. "Cerminlah dahulu manusia macam
apakah dirimu itu, pantas atau tidak untuk meniup terompet dan
berlagak sok di tempat ini..."
Seolah-olah secara mendadak teringat akan sesuatu, si kakek
konyol itu bertanya lebih jauh :
"Toa Bauw, barang-barang itu hendak kau kirim ke mana?"
Dengan bangga Sak Toa Bauw tertawa keras :
"Kalau telah kuucapkan harap kalian jangan ketakutan hingga
jantung pun rontok, barang-barang ini hendak kami hantar ke
perkampungan Thay Bie San cung untuk dihadiahkan kepada Hoa
Pek Tuo. Setelah kau tahu kalau barang-barang ini milik Hoa Pek
Tuo, aku percaya kau tidak akan berani mempunyai ingatan untuk
membegal kereta ini lagi..."
Dalam anggapannya setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut,
si huncwee gede Ouw-yang Gong pasti akan ngeloyor pergi karena
ketakutan. Siapa tahu si kakek konyol itu bukan saja tidak jeri,
sebaliknya malah mendongak dan tertawa terbahak-bahak, sekilas
pandangan hina dan sinis terlintas di atas wajahnya.
"Haaaah... haaaah... haaaah... barang-barang yang dihadiahkan
untuk Hoa Pek Tuo, tentu tidak akan jelek!" serunya.
Bagaikan sedang mengigau, kembali ia bergumam seorang diri :
"Berharga... berharga... pekerjaanku kali ini memang sangat
berharga..."
Dalam pada itu Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu air
mukanya segera membeku sementara hatinya bergetar keras, pikirnya
:
520
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kenapa si Hek Bin Siauw loo Malaikat Berwajah Hitam Sak
Kioe Kong memberi hadiah kepada Hoa Pek Tuo? Sebagai seorang
tokoh sakti nomor wahid di kolong langit, Hoa Pek Tuo tak akan
pandang sebelah mata pun terhadap benda-benda biasa! Entah barang
apa yang dimuat di dalam kereta besarnya itu?"
Berpikir sampai di situ, ia segera mengejek dingin, serunya :
"Ular Asap Tua, kau ringkus dahulu bangsat ini..."
Si huncwee gede Ouw-yang Gong sendiri juga tertarik hatinya
oleh ucapan lawannya, mendengar perintah dari si anak muda itu
senjata huncwee gedenya segera diputar di tengah udara hingga
membentuk berpuluh-puluh bayangan huncwee, di tengah gelak
tertawa yang nyaring sang badan maju mendesak ke depan, bayangan
huncwee dengan sebuah gerakan yang sangat aneh langsung menotok
ke atas tubuh Sak Toa Bauw.
Majikan muda dari perkampungan Sak Kee-cung ini tak mengira
kalau serangan yang dilancarkan Ouw-yang Gong tiba begitu cepat,
dalam jarak demikian dekat tak mungkin lagi baginya untuk berkelit
maupun menghindar, terpaksa dari telapak berubah jadi kepalan, pada
saat yang paling akhir ia jotos jalan dari Tay yang hiat di atas kening
Ouw-yang Gong.
521
Saduran TJAN ID
Jilid 22
SERANGAN adu jiwa semacam ini tepat merupakan jurus
pemecahan dari serangan yang mematikan tersebut, dalam bayangan
Sak Toa Bauw kali Ouw-yang Gong kalau tidak mati pasti akan
terluka parah, kepalan ditonjol keluar segenap kekuatan yang
dimilikinya segera dikerahkan semua.
Siapa tahu kenyataan sama sekali tidak segampang dan
sesederhana apa yang dibayangkan dalam benaknya.
Si huncwee gede Ouw-yang Gong bukan saja merupakan seorang
ahli silat yang sangat berpengalaman, ia pun seorang jago kawakan.
Sewaktu dilihatnya bayangan kepalan disodok mendatang mendadak
ia tundukkan kepalanya ke bawah, sedang huncwee gedenya pada saat
yang bersamaan bagaikan sebatang pit menyodok ke atas.
Kraaak...! terdengar suara benturan yang amat memekakkan
telinga, disusul jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari Sak Toa
Bauw menggema di angkasa.
Sekujur badannya secara mendadak jadi tegang dan tak bisa
berkutik, tidak ampun lagi badannya bergelindingan di atas tanah,
sebuah jalan darah penting di atas badannya telah termakan ujung
senjata.
Menyaksikan Sak Toa Bauw roboh terjengkang dia tas tanah,
seorang pria yang lain di atas kereta serta empat pria kekar bersenjata
pedang sama-sama membentak keras, serentak mereka menubruk ke
arah Ouw-yang Gong.
522
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Mundur!" tiba-tiba terdengar Sak Toa Bauw membentak gusar,
"kalian jangan bergebrak lagi..."
Pria kekar yang duduk di sisi Sak Toa Bauw sewaktu masih
berada di atas kereta tadi nampak tertegun ketika mendengar bentakan
itu, wajahnya menunjukkan seolah-olah tidak rela tapi apa boleh buat,
terpaksa dengan wajah menyeringai seram mengundurkan diri ke
tempatnya semula.
"Toako," tegurnya dengan nada tidak paham, "kita mana boleh
memalukan serta menjual nama baik ayah?"
"Apa yang bisa kita lakukan lagi?" sahut Sak Toa Bauw sambil
tertawa sedih.
Saat itu si ular asap tua Ouw-yang Gong telah menuding ke arah
kereta sambil bertanya :
"Barang apa saja yang berada di dalam kereta itu?"
"Apakah kau tak bisa pergi melihat sendiri?" jengek Sak Toa
Bauw ketus.
Ouw-yang Gong tertawa dingin, ia segera meloncat naik ke atas
kereta dan menggeledah isi kereta tersebut. Tapi kecuali intan permata
serta benda-benda berharga lain sama sekali tiada benda istimewa lain
yang menyolok mata, maka sambil mendengus serunya :
"Huuuh! Kalau cuma benda macam itu aku tak sudi untuk meraba
apalagi memegang..."
Pek In Hoei yang selama ini berdiri di sisi kalangan
memperhatikan terus tingkah laku Sak Toa Bauw, ketika dilihatnya
sinar mata orang itu mengerling ke sana kemari dengan tidak
tenangnya, sang hati jadi tertegun, satu ingatan dengan cepat
berkelebat di dalam hatinya.
Perlahan-lahan ia periksa sekujur badan pria itu dengan seksama.
Sedikit pun tidak salah, pada bagian pinggang orang she Sak itu
nampak menonjol besar, seakan-akan di dalamnya disembunyikan
sesuatu barang.
Sambil tertawa dingin segera jengeknya :
523
Saduran TJAN ID
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... jangan-jangan masih ada benda
yang lebih berharga lain disembunyikan di badan saudara, bukankah
begitu?"
"Omong kosong!" bentak sb dengan penuh kebencian. "Dengan
andalkan nama Hek Bin Siuw loo kenapa aku mesti takut ada orang
datang membegal keretaku... aku tak akan berbuat demikian..."
Ouw-yang Gong tertawa sinis, dengan huncwee gedenya ia
segera menotok perlahan pinggang orang she Sak itu, suara dentingan
nyaring segera terdengar memecahkan kesunyian.
Ouw-yang Gong tarik napas dalam-dalam, satu ingatan secara
mendadak berkelebat di dalam benaknya, sesaat kemudian bentaknya
nyaring :
"Bawa keluar!"
Air muka Sak Toa Bauw berubah hebat, sorot mata ketakutan
memancar keluar dari balik matanya, setelah ragu-ragu sejenak
akhirnya sambil menggigit bibir dia ambil keluar sebuah kotak
panjang dari pinggangnya.
"Nih, kuberikan kepadamu," serunya, "bagaimana pun juga tak
nanti kau bisa mendapatkan benda ini..."
Tampaklah kotak itu terbuat dari kayu dengan ukir-ukiran yang
sangat indah, tetapi ada satu hal yang sangat aneh yaitu isi kotak
tersebut ternyata enteng sekali seolah-olah sama sekali tak ada isinya.
Dengan cepat Ouw-yang Gong membuka kotak tersebut, dari
balik kotak mendadak muncul secuil kain yang terpapas oleh pedang,
hancuran kain itu begitu terlihat di depan mata, sekujur badan Pek In
Hoei seketika bergetar keras.
Sebab potongan ujung kain tersebut sangat dikenal olehnya.
Kejadian itu untuk selamanya tak akan terlupakan, sebab setiap
kali melihat cukilan kain tersebut ia segera teringat kembali akan
ayahnya yang mati dalam keadaan mengenaskan. Cukilan kain itu
bukan lain adalah potongan dari ujung jubah yang dikenakan ayahnya
sewaktu menjumpai peristiwa tragis tersebut...
524
IMAM TANPA BAYANGAN II
Darah panas segera bergelora dalam hatinya, pandangan mata
jadi nanar, tanpa kuasa lagi ia membentak keras :
"Serahkan kepadaku!"
Dengan pandangan tidak mengerti Ouw-yang Gong serahkan
potongan kain jubah itu ke tangannya.
Pek In Hoei segera merasakan hatinya jadi kecut, hampir saja
titik-titik air mata mengucur keluar membasahi wajahnya. Sambil
mencekal robekan kain jubah itu seluruh badannya hampir terasa jadi
kaku, ia merasa begitu sedih, pedih dan terharu. Napsu membunuh
selapis demi selapis menyelimuti wajahnya, dengan alis berkerut ia
berseru :
"Kau..."
Senyuman sadis tersungging di ujung bibir Pek In Hoei,
selangkah demi selangkah ia maju mendekati tubuh Sak Toa Bauw,
siapa pun tak tahu apa yang hendak ia lakukan. Mereka hanya tahu
bahwa si anak muda itu dalam waktu yang amat singkat telah berubah
jadi seorang manusia yang lain, berubah jadi begitu sadis dan
menyeramkan, lagaknya serta tingkah lakunya yang begitu
mengerikan seolah-olah seseorang yang hampir mendekati ajalnya,
membuat semua orang diam-diam terkesiap dan bergidik...
"Dari mana kau dapatkan potongan kain jubah ini..." hardiknya
dengan sinar mata berapi-api.
Saking terkejutnya sekujur badan Sak Toa Bauw terasa gemetar
keras.
"Dari mana aku bisa tahu potongan kain jubah itu berasal dari
mana..." sahutnya. "Orang lainlah yang menyerahkan benda itu
kepada ayahku..."
"Siapakah orang itu?"
"Memandang dari pelbagai alasan yang kuat, aku tak dapat
memberitahukan kepadamu!"
"Hmmmm...!" Ouw-yang Gong mendengus dingin, "Serahkan
saja anak monyet cucu kura-kura ini kepadaku, asalkan aku si ular
525
Saduran TJAN ID
asap tua gunakan sedikit ilmu memisahkan otot merenggang tulang,
aku tidak percaya kalau tulang tubuhnya terdiri dari tulang besi otot
kawat..."
Mendengar ancaman itu air muka Sak Toa Bauw berubah sangat
hebat, teriaknya dengan gusar :
"Kau berani mengapakan diriku?"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... asl kau suka berterus terang dan
mengaku sejujurnya, tentu saja aku si ular asap tua akan melepaskan
dirimu..."
"Hmm, tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, aku sama
sekali tidak mengetahui tentang persoalan itu..."
Pek In Hoei keluarkan telapak tangannya dan menotok tubuh Sak
Toa Bauw satu kali serunya dingin :
"Saking gemas dan bencinya ingin sekali aku membinasakan
dirimu pada saat ini juga. Tabokan tersebut anggaplah sebagai satu
peringatan, cepat utarakan dari mana asalnya potongan kain jubah ini
kepadaku..."
Dengan wajah tanpa berubah Sak Toa Bauw gelengkan
kepalanya berulang kali.
"Jawabanku masih tetap seperti semula, sedikit pun aku tidak
mengetahui akan persoalan itu..."
"Kau betul-betul seorang manusia tak tahu diri," maki si huncwee
gede Ouw-yang Gong dengan gusar. "Mungkin kau masih belum tahu
bagaimanakah tindakan aku si ular asap tua untuk menghukum
orang..."
Dengan suara rendah ia tertawa seram, jari tangannya segera
berkelebat menotok jalan darah di atas tubuh Sak Toa Bauw.
"Huuuh, menghadapi seorang manusia yang tak mampu melawan
dengan cara begini rendah, kau terhitung seorang manusia macam
apa?" jengek Sak Toa Bauw sambil pejamkan matanya rapat-rapat.
Dengan demikian si ular asap tua Ouw-yang Gong jadi tak berani
untuk melanjutkan serangannya, ia melirik sekejap ke arah si Jago
526
IMAM TANPA BAYANGAN II
Pedang Berdarah Dingin dan untuk sesaat tak tahu apa yang mesti
dikerjakan.
Dengan wajah berat dan serius Pek In Hoei masukkan potongan
kain jubah itu ke dalam sakunya, Sak Toa Bauw yang menyaksikan
kejadian itu jadi cemas bercampur gelisah, mendadak ia meloncat
bangun dari atas tanah sambil teriaknya keras-keras :
"Kau tak boleh ambil pergi benda itu!"
"Kenapa?" sahut Pek In Hoei tertegun. "Benda itu adalah
potongan kain jubah dari ayahku, kenapa aku tak boleh untuk
mengambilnya kembali?..."
Kini sikapnya jauh lebih tenang dan kalem, ia tahu untuk
mengetahui siapakah pembunuh besar sebenarnya yang telah
membinasakan ayahnya, hanya dari mulut Sak Toa Bauw-lah bisa
diketahui, sebab itu ia tak mau bertindak terlalu tergesa-gesa.
"Benda itu adalah titipan dari seorang sahabat," seru Sak Toa
Bauw amat gelisah. "Kalau benda lain yang hilang masih mendingan,
benda itu sesekali tak boleh lenyap dari tanganku, hey, si Jago Pedang
Berdarah Dingin, lebih baik serahkanlah kembali benda itu
kepadaku..."
"Maaf seribu kali maaf, aku harus membawanya pergi..." sahut
Pek In Hoei ketus.
Sembari berkata ia mengerling sekejap ke arah Ouw-yang Gong
si huncwee gede itu, kemudian mereka berdua putar badan dan segera
berlalu dari situ.
"Hey, seperginya kalian berdua, aku mesti kemana untuk
menemukan kalian..." teriak Sak Toa Bauw gusar.
"Hmmm! mencari aku bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, di
kota paling depan sana aku bisa berdiam selama beberapa hari..."
Rupanya ia sudah mempunyai rencana lain dalam hatinya, selesai
berkata bersama-sama Ouw-yang Gong segera berlalu dari situ.
Menanti mereka sudah berada di suatu tempat yang jauh dari
pandangan Sak Toa Bauw, si anak muda itu baru berhenti berlari.
527
Saduran TJAN ID
Ouw-yang Gong yang tidak habis mengerti apa sebetulnya yang
telah terjadi tanpa sadar segera bertanya :
"Bocah cilik, sebetulnya permainan setan apa yang sedang kau
perankan???"
"Aku hendak berdiam selama dua tiga hari di tempat ini, ingin
kulihat siapakah yang bakal mencari aku untuk merampas kembali
potongan kain jubah tersebut," kata Pek In Hoei dengan nada sedih.
"Setelah itu aku akan berusaha untuk memancing keluar orang di
balik layar itu, bila persoalan telah berkembang jadi begitu maka
persoalan yang menyangkut kematian ayahku pun akan kian
bertambah cerah dan jelas..."
"Aaaai! Berapakah bagiankah keyakinanmu akan hal ini?" tanya
Ouw-yang Gong sambil menghela napas.
Pek In Hoei gelengkan kepalanya berulang kali.
"Apa yang barusan kuucapkan hanyalah suatu pendapat dari apa
yang kupikirkan barusan, berapa bagiankah keyakinanku akan hal ini
sulit untuk dikatakan. Andaikata jalan ini sukar ditembusi maka aku
akan berangkat ke perkampungan Sak Kee-cung untuk bertemu
dengan Hek Bin Siuw loo si Malaikat Berwajah Hitam, atau langsung
meluruk ke dalam perkampungan Thay Bie San cung dan tanyakan
persoalan ini kepada Hoa Pek Tuo pribadi..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... bocah keparat, rupanya kau betulbetul
seorang manusia latah yang pernah kujumpai selama ini," seru
Ouw-yang Gong sambil tertawa keras. "Hampir seluruh jago lihay
yang ada di kolong langit hendak kau jumpai untuk diajak berkelahi,
aku bisa mempunyai seorang sahabat macam kau benar-benar patut
merasa bangga dan gembira."
"Bagus! Mari kita isi perut dulu..."
Mereka berdua segera menggerakkan tubuhnya dan berkelebat
pergi dari situ.
******
528
IMAM TANPA BAYANGAN II
Butir hujan yang bulat bagaikan air mata kekasih menetes ke
bawah dari awan yang tebal di angkasa, membentur permukaan tanah
dan menimbulkan suara rintikan yang nyaring.
Senja yang gelap menyelimuti seluruh jagad, suara air hujan
berdenting memecahkan kesunyian yang mencekam dan kabut yang
tebal menambah suramnya pemandangan ketika itu...
Di tengah hujan deras setelah lohor ini, jalan raya jadi basah dan
becek, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak berlalu
lalang, seolah-olah semua pejalan kaki, para pedagang dan para
pelancong telah menyembunyikan diri semua di bawah atap rumah
takut basah kuyup oleh air hujan.
Di tengah jalan raya yang basah lembab serta becek itu tiba-tiba
berkumandang datang suara keleningan yang lirih tapi tajam, kian
lama suara keleningan itu kedengaran semakin nyata dan nyaring
diikuti nampaklah seorang pemuda berbaju biru dengan menunggang
seekor kuda putih yang tinggi besar perlahan-lahan berjalan di tengah
amukan hujan.
Dengan pandangan bimbang dan termangu-mangu ia
memandang awan hitam di angkasa, membiarkan titik air hujan
membasahi wajahnya, butiran air mengikuti bibirnya yang tipis
membasahi lidahnya dan menimbulkan perasaan hambar dalam
hatinya...
Keleningan yang tergantung di leher kuda bergoyang kian kemari
terhembus angin dan berbunyi nyaring di angkasa menandingi irama
hujan yang merdu...
Pemuda itu berjalan lambat di tengah hujan yang tak terhitung
kecil, kecuali seorang yang pandai mencari kesenangan di tengah
hujan, siapa pun tak akan sudi berjalan-jalan pada saat seperti ini
kecuali seorang tolol atau orang yang sedang putus asa...
Dia yang berada di tengah hujan dengan membawa pikiran yang
jenuh dan berat memandang permukaan jalan yang becek dan
529
Saduran TJAN ID
berlumpur dengan termangu-mangu, lama sekali ia baru menghela
napas panjang.
Suara helaan napas itu tiada berbeda jauh dari keadaan orangnya,
begitu murung, kesal dan sedih...
Mendadak... pada ujung bibirnya yang tipis tersungging satu
senyuman yang getir... hambar... suatu senyuman di tengah kesunyian
kesepian yang mencekam hati, pikiran dalam hati :
"Aku benar-benar seorang yang tolol, masa di tengah hujan
begini deras bisa berjalan seorang diri di tengah jalan raya,
membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhku, lebih-lebih lagi
yang menggelikan secara tiba-tiba aku bisa menyukai titik-titik air
hujan yang tertumpah dari langit...
Itulah disebabkan karena butiran air hujan bagaikan air mata
seorang kekasih, bagaikan awan yang indah permai secara mendadak
kehilangan bidadari yang cantik, bagaikan pula kekasih yang sedang
menangisi pacarnya... sedang dia, meskipun dalam benaknya pernah
timbul bayangan dari beberapa orang gadis, tetapi persoalan lain yang
lebih serius telah membebani hatinya, menekan dia hingga sukar
untuk bernapas, itulah dendam sakit hati atas kematian ayahnya serta
dendam termusnahnya partai Thiam cong di tangan Boo Liang
Tiong...
Kini dendam kematian ayahnya telah menunjukkan titik terang,
bagaikan cahaya kilat yang muncul di tengah kegelapan yang
mencekam, kilatan cahaya itulah seberkas harapannya, harapan yang
bergerak maju sambil meraba asalnya cahaya tersebut...
Tetapi tiga hari telah berlalu dengan cepatnya, jejak Hek Bin
Siuw loo belum nampak juga muncul di hadapannya bahkan orang
dari perkampungan Sak Kee cung pun tak ada yang nongol... selama
ini dengan hati gelisah ia berharap akan kehadiran Malaikat Berwajah
Hitam Sak Kioe Kong agar asal usul potongan kain jubah itu cepat
diketahui, tetapi ia kecewa, mau tak mau terpaksa ia harus mohon
bantuan Ouw-yang Gong untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya.
530
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sebatang kara Pek In Hoei berjalan di tengah hujan deras, tanah
lumpur yang kuning kecoklat-coklatan telah menodai celananya, ia
besut butiran air hujan yang membasahi wajahnya lalu menghela
napas panjang.
"Aaaaa...! si huncwee gede sudah berlalu begitu lama, kenapa
belum nampak ia kembali? Jangan-jangan ia sudah menemui
kesulitan..."
Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benak si
anak muda itu, mendadak ia merasa hatinya jadi tegang, satu
bayangan hitam memenuhi pandangan matanya, sekilas cahaya redup
memancar di atas wajahnya yang tampan membuat sepasang alisnya
yang lentik berkerut, senyuman seram tersungging makin nyata...
"Haaaah... haaaah... haaaah... "
Di saat Pek In Hoei masih duduk terpekur sambil melamun itulah,
tiba-tiba dari belakang punggungnya berkumandang datang suara
gelak tertawa yang amat nyaring, ia terkesiap dan segera berpaling ke
belakang.
Tengokan ini seketika menambah rasa ngeri dan seram di dalam
hatinya, untuk beberapa saat pemuda itu berdiri menjublak tanpa
sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Terlihatlah seorang kakek tua yang rambutnya telah beruban
sedang duduk di belakang punggung kuda putihnya, sejak kapan
kakek itu menunggang di satu kuda dengan dirinya dan dari mana
orang itu muncul Pek In Hoei sama sekali tidak merasa hal ini
membuat hatinya tercekat dan segera sadar bahwa tenaga lweekang
yang dimiliki kakek tua itu sudah mencapai taraf yang mengerikan.
Saat itu dia hanya bisa berdiri di atas tanah sambil memegang tali
les kudanya, apa yang harus dilakukannya? Ia sendiri pun tak
mengerti.
Derap kaki kuda makin lambat dan lirih, si kakek yang duduk di
atas punggung kuda bergoyang ke sana kemari mengikuti irama
kantuknya, suara dengkuran keras berkumandang keluar dari lubang
531
Saduran TJAN ID
hidungnya, begitu keras bagaikan gulungan ombak di samudra
membuat permukaan ikut bergetar dan kuda itu sempoyongan ikut
bergetar dan kuda itu sempoyongan hampir saja roboh ke atas tanah...
Diam-diam Pek In Hoei merasa terkesiap hatinya, terutama sekali
terhadap kedahsyatan serta kesempurnaan tenaga lweekang kakek tua
itu.
Setelah diliriknya sekejap sekujur badan orang tua itu, pemuda
kita menjulurkan lidahnya berulang kali dan hampir saja tidak percaya
kalau di kolong langit benar-benar terdapat kejadian seaneh itu.
Kiranya di tengah hujan yang demikian derasnya, bukan saja
butiran air telah membasahi wajahnya bahkan baju pun telah basah
kuyup, tetapi wajah kakek tua itu sama sekali tidak basah, setiap kali
ada butiran air hujan hampir mendekati tubuh kakek itu, segera
muncullah segulung hawa khie-kang yang menyampok miring butiran
air hujan itu hingga mencelat ke samping.
Pemandangan aneh ini bukan saja telah mendemonstrasikan
kesempurnaan tenaga dalamnya, bahkan menunjukkan pula atas
keberhasilannya untuk menggabungkan tenaga gwa kang dengan
tenaga lwee kang.
Bagaikan tertidur nyenyak saja si kakek tua itu tetap pejamkan
matanya sambil bergoyang ke kiri kanan mengikuti hembusan angin,
mendadak ia berseru :
"Loo Lauw, kenapa kau tidak lanjutkan kembali perjalananmu?
Kau suka menuntunkan kuda buat toa loo-ya itu namanya rejeki
nomplok bagimu, kalau hatiku lagi gembira mungkin saja akan
kucarikan seorang istri yang cantik untukmu, waktu itu... haaah...
haaah..."
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmmm! Kau tak usah berlagak seperti orang mati lagi, kalau
ada urusan utarakanlah dengan langsung dan terus terang..."
Masih tetap berlagak ngantuk si kakek tua itu tertawa terkekehkekeh.
532
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagus, Loo Lauw di hari biasa
pelayananmu terhadap loohu tidak jelek, kenapa sekarang main gertak
dengan nada begitu kasar? Apakah kau anggap hujan yang turun kali
ini terlalu deras maka aku jadi tak bisa pulang? Baik! anggaplah aku
sudah sia-sia memelihara dirimu, ini hari akan kutambahi ongkosnya
untukmu. Bagus! Entah nenek moyang loohu yang mana kurang luhur
budinya sehingga sekarang aku mesti menerima cercaan dan
penghinaan dari manusia sebangsa kalian..."
Pek In Hoei dibikin melongo dan termangu-mangu oleh ucapan
lawannya itu, ia tahu bahwa si kakek tua tersebut ada maksud
mempermainkan dirinya, maka dia pun tertawa dingin, mendadak tali
les kudanya disentak ke depan hingga membuat binatang itu kaget dan
meringkik panjang, kaki depannya segera terangkat ke atas membuat
si kakek yang ada di atas pelana jadi ketakutan dan menjerit keras.
"Loo Lauw! teriak si kakek tua itu dengan suara gemetar.
"Rupanya kau sedang mengincar hartaku yaah maka sekarang hendak
celakai jiwaku lebih dulu. Eeeei...! kau mesti tahu kalau hari ini
kecuali aku memmbawa sedikit uang receh tidak membawa barang
apa-apa lagi, mungkin kau sudah salah tafsir..."
"Hmmm! Saudara, lebih baik kurangilah lagak sinting dan
edanmu di hadapan aku orang she Pek aku..."
"Apa? Kau orang she Pek?" perlahan-lahan si kakek tua itu
membuka matanya dan memandang ke arah depan dengan pandangan
tercengang. "Aku masih mengira kalau kau adalah kusir kudaku yang
bernama Loo Lauw."
Ia mengucek-ucek matanya lalu menyapu sekejap ke sekeliling
tempat itu, mendadak, sambil menjerit keras teriaknya berkaok-kaok
:
"Aduuuh... celaka... aduuuh... celaka... tidak benar! Kenapa aku
bisa duduk di atas pantat kuda tungganganmu ini..."
Pek In Hoei tertawa dingin.
533
Saduran TJAN ID
"Hmmm... Hmmm... Hmmm... kurangilah sikap konyolmu di
hadapanku, kalau tidak jangan salahkan kalau aku tak akan bersikap
sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu..."
"Pek kongcu, kau jangan salah paham," seru kakek tua itu sambil
goyangkan tangannya berulang kali. "Aku toh cuma berkata bahwa
secara bagaimana aku bisa berada di atas pantat kuda tungganganmu
ini, kapan aku memaki dirimu? Pek Kongcu, berbuatlah baik dan
jangan salahkan diriku lagi... Aku toh tidak sengaja..."
Pek In Hoei mengerti bahwa si kakek tua yang berada di hadapan
matanya saat ini bukanlah manusia sembarangan, cukup ditinjau dari
tenaga lweekangnya yang begitu sempurna sudah cukup
menunjukkan bahwa dia adalah seorang musuh yang amat tangguh.
Maka dengan suara dingin segera bentaknya :
"Siapakah kau?"
Bentakan itu keras, berat dan penuh dengan tenaga membuat
seluruh angkasa bergetar dan mendengung keras, lama sekali pantulan
suara itu mengalun di angkasa sebelum akhirnya perlahan-lahan
membuyar...
Kakek misterius itu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... aku si siauw Loo jie tinggal di
dusun Boen Ya Cung dalam bilangan keresidenan Kwan Lok, sebut
saja diriku sebagai Boen Soe-ya!"
Terperanjat hati Pek In Hoei sehabis mendengar nama itu, satu
ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, ia berpikir :
"Kiranya kau adalah Boen Soe-ya dari Kwan Lok Tit It Kee, tidak
aneh kalau tenaga lweekangmu begitu dahsyat dan sempurna, aku toh
tak pernah mengikat tali permusuhan dengan keluarga Boen, entah
apa maksudnya ia sengaja mencari satroni dengan diriku?"
Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya,
dengan suara dingin segera ujarnya :
"Eeei...! Bukankah kau melancong di daerah sekitar Kwan Lok,
mau apa kau datangi wilayah Lam Ciang ini?"
534
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, nama besar si Jago
Pedang Berdarah Dingin sudah tersebar hampir meliputi lima telaga
empat samudra, aku si orang tua menyadari bahwa dengan usiamu
yang masih begitu muda tapi berhasil memiliki ilmu silat yang
demikian lihaynya, hal itu menunjukkan bahwa kau memang seorang
manusia aneh yang berbakat alam, ada pun kedatanganku kemari
pertama, disebabkan aku merasa gatal tangan dan kedua, ingin tahu
sampai di manakah taraf kepandaian sejati yang kau miliki hingga
dalam satu tahun yang singkat berhasil mendapatkan nama besar yang
demikian tersohornya..."
"Jadi kedatanganmu adalah bermaksud untuk menjajal
kepandaianku belaka...?" tegur Pek In Hoei dengan alis berkerut,
suaranya dingin lagi ketus.
Boen Soe-ya agak tertegun, kemudian segera jawabnya :
"Tentu saja masih ada satu urusan kecil hendak ajak Pek kongcu
untuk berunding..."
"Kenapa mesti mengajak aku untuk berunding? Asal kau sanggup
mengalahkan sepasang kepalan cayhe jangan dibilang urusan
gampang diselesaikan kendati kau inginkan batok kepalaku juga akan
kupersembahkan dengan tangan terbuka..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... ucapanmu terlalu serius, ucapanmu
terlalu serius... Pek Kongcu! Masa seberat itu kau ucapkan katakatamu
itu? Kedatangan aku si orang tua kali ini kecuali sedang
mewakili seorang sahabat untuk minta kembali benda miliknya aku
sih belum ada minat untuk bermusuhan dengan dirimu..."
"Hmmm! Sudah kau tak usah banyak bicara lagi," tukas Pek In
Hoei sambil tertawa dingin. "Kalau punya kepandaian rampaslah
benda itu dari genggamanku, kalau tidak punya kepandaian lebih baik
cepat-cepat enyah dari sini..."
Perkataan yang begitu ketus dan sama sekali tidak memberi muka
ini kontan menggusarkan hati Boen Soe-ya, dalam wilayah Kwan Lok
ia tersohor sebagai seorang jago yang sangat lihay, semua orang
535
Saduran TJAN ID
kangouw sama-sama menghormati dirinya sebagai Boen Soe-ya,
siapa tahu Pek In Hoei yang masih muda belia ternyata sama sekali
tidak memandang sebelah mata pun terhadap dirinya, hal ini
dianggapnya sebagai penghinaan.
Sambil tertawa dingin tubuhnya segera melayang ke depan,
bagaikan kapas yang enteng ia melayang turun tepat di hadapan si
anak muda itu.
"Bajingan cilik yang tekebur, rupanya kau cari modar?" teriaknya
keras.
Lengan kanannya diangkat ke atas, dari balik telapak segera
memancar keluar segulung hawa pukulan yang sangat hebat.
Pek In Hoei enjotkan badannya melayang mundur lima langkah
ke belakang, walaupun gerakannya cepat tak urung tubuhnya
sempoyongan juga terdesak oleh dorongan angin pukulan itu.
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak aneh kalau Toa Bauw jatuh
kecundang di tanganmu, rupanya kau masih punya simpanan juga..."
jengek Boen Soe-ya sambil tertawa tergelak.
Pek In Hoei mendengus dingin.
"Hmmm! Kau si telur busuk tua, kenapa tidak pentang matamu
lebar-lebar untuk melihat siapakah aku Pek In Hoei. Huuh...! dengan
andalkan kepandaian silat kucing kaki tigamu juga pengin wakili Hek
Bin Siuw loo untuk mencari satroni dengan diriku..."
"Hubungan persahabatan Sak Kioe Kong dengan Loohu paling
intim, kau berani mencari satroni dengan pihak perkampungan Sak
Kee cung berarti pula mencari satroni dengan aku si Boen Soe-ya ini
hari apabila aku tak berhasil memberi sedikit pelajaran kepadamu..."
Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu kontan naik darah,
tidak menunggu hingga ucapan lawan selesai diutarakan keluar,
pedang sakti penghancur sang surya yang tersoren di pinggangnya
segera dicabut keluar, dalam satu getaran enteng muncullah enam
buah kuntum bunga pedang yang berkilauan di angkasa, hawa pedang
yang dingin menusuk tulang menyebar di seluruh angkasa, getaran
536
IMAM TANPA BAYANGAN II
yang cepat dan lenyap dalam sekilas pandang itu dengan cepat
menggetarkan hati Boen Soe-ya.
"Aaaah pedang bagus," serunya memuji. "Sungguh tak nyana
pedang sakti penghancur sang surya bisa muncul di tanganmu..."
Kejadian yang di luar dugaan terlalu banyak di kolong langit,"
jengek Pek In Hoei sambil tertawa dingin. "Sekarang kau semakin tak
pernah mengira kalau aku hendak mencabut jiwa anjingmu, di ujung
pedangku tak pernah kuijinkan korbanku berhasil lolos dalam
keadaan hidup..."
"Hmm, sewaktu ada di kota Lok Swie loohu pernah menjumpai
para jago gagah dari tiga belas keresidenan baik di utara mau pun di
selatan, tapi belum pernah kujumpai manusia terkutuk yang pandai
membual dan jual bacot besar macam dirimu. Heeeeh... heeeeh...
heeeeh... bagus, bagus, sedari munculkan diri belum pernah kutemui
tandingan, semoga saja kepandaian silat yang kau miliki jauh lebih
ampuh belum kali lipat daripada kepandaianmu bersilat lidah, agar
dalam pertarungan nanti tidak sampai mengeewakan hatiku..."
"Kenyataan dengan cepat akan tertera di depan matamu, awas,
aku akan mulai turun tangan..."
Ia tarik napas panjang-panjang, di atas wajahnya yang tampan
mendadak terlintas selapis hawa dingin yang tebal, Pek In Hoei
getarkan pedangnya lurus ke depan, di tengah geletarnya cahaya tajam
di ujung pedang segeralah memancar ke seluruh udara.
Selama berkelana di dalam dunia persilatan Boen Soe-ya sudah
banyak menjumpai musuh tangguh, tapi belum pernah ia temui
seseorang yang sanggup mempergunakan pedangnya hingga sehebat
ini, sadarlah jago tua itu bahwa meskipun usia lawan masih muda tapi
kepandaiannya luar biasa sekali.
Diam-diam hatinya tercekat, menanti cahaya pedang yang dingin
itu sudah meluncur keluar, buru-buru badannya meloncat dan berkelit
ke samping.
537
Saduran TJAN ID
Menggunakan kesempatan di kala tubuhnya meloncat ke
samping, Boen Soe-ya segera mengibaskan tangannya dengan
menggunakan jurus Menyelam ke atas menyelidiki dasar, segulung
angin pukulan yang kuat dengan cepat meluncur keluar dari balik
bajunya dan menahan gerak maju si anak muda itu.
Pek In Hoei putar pedangnya sedemikian rupa sambil dengusnya
rendah. "Hmmm! Jangan keburu bersenang hati. Nih! Rasakanlah
jurus Enam Naga Menelan Matahariku ini!"
Bayangan pedang menyebar luas di seluruh angkasa. Blaaam!
Blaaam! Hawa pedang mengalir ke empat penjuru, di tengah
bergetarnya bayangan tajam Pek In Hoei membentak keras,
pedangnya membabat ke bawah laksana hembusan angin puyuh.
Boen Soe-ya jadi panik, keringat dingin mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya, setelah menghembuskan napas panjang
ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya ke atas sepasang
telapak, lalu laksana kilat dibabat ke depan.
"Haaaah... haaaah... haaaah... rupanya kau cari mati!" jengek Pek
In Hoei sambil tertawa dingin.
Ilmu pedangnya sudah berhasil dilatih hingga mencapai
kesempurnaan yang bisa digunakan sesuai dengan perasaan hati
sendiri, di tengah perputaran ujung pedang membentuk satu lingkaran
busur, senjata tajam itu berputar langsung membabat pergelangan
tangan Boen Soe-ya.
Si kakek tua itu tak menyangka kalau ilmu pedang musuhnya
telah mencapai taraf yang begini sempurna, untuk berkelit sudah tak
sempat lagi, dalam keadaan yang kritis dan terdesak ia mendehem
berat, tiba-tiba kaki kanannya melancarkan satu tendangan kilat
mengancam lambung Pek In Hoei.
Rupanya dalam keadaan kepepet, si kakek tua itu mengambil
keputusan untuk melakukan adu jiwa.
538
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sudah tentu Pek In Hoei tak sudi mengiringi kehendak lawannya,
dengan cepat badannya mundur ke belakang, ujung pedangnya
berputar langsung membabat lengan kanan lawan.
Mendadak... dari luar kalangan berkumandang datang suara gelak
tertawa yang amat keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Soe yang, jangan panik, aku datang
membantu dirimu!"
Segumpal tanah lumpur yang basah bercampur dengan dua butir
pecahan batu gunung meluncur datang diiringi desiran tajam. Pek In
Hoei terperanjat, ia mengira tubuhnya sedang diancam sejenis senjata
rahasia yang maha ampuh.
Tergopoh-gopoh badannya berputar kencang, di antara babatan
pedangnya ia berkelebat lewat di tengah udara, tahu-tahu tubuhnya
sudah lolos dari ancaman senjata rahasia tadi.
"Aaaa....!" sekalipun Boen Soe-ya nyaris lolos dari kematian, tak
urung lengannya robek juga termakan oleh goresan pedang lawan,
sambil menutupi mulut lukanya ia segera mengundurkan diri ke
belakang.
"Pek In Hoei, kau amat keji..." teriaknya sambil menahan
penderitaan.
Pek In Hoei tertawa dingin, sinar matanya perlahan-lahan
dialihkan ke arah seorang pria kekar berjenggot hitam dan memakai
topi kecil yang berdiri di sisi kakek tua itu, napsu membunuh
menyelimuti seluruh wajahnya da ia tatap orang tadi tanpa berkedip.
Pria itu terkejut, ia tak mengira kalau sorot mata pihak lawan
sedemikian tajam dan dinginnya.
"Siapa kau?" hardik Pek In Hoei dengan suara ketus.
"Haaaah... haaaah... haaaah... tidak berani... tidak berani, cayhe
she Cin..."
"Hmmm! Kiranya sang Poo cu dari benteng Kiem See Poo, maaf!
maaf!"
539
Saduran TJAN ID
Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo segera tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Benteng Kiem See Poo selamanya
hidup di wilayah Lam ciang tanpa ada minat untuk mencari nama atau
berebut kekuasaan di dalam dunia persilatan, tapi baru-baru ini aku
dengar dari orang lain yang mengatakan bahwa kedatanganmu kali ini
di wilayah Lam Ciang, kecuali hendak membangun kembali partai
Thiam cong, kau pun hendak mengusir semua jago yang ada di
wilayah Lam Ciang keluar dari daerah ini. Huuuh... belum pernah
kudengar ada orang yang berani bicara sesumbar ini, cayhe sebagai
salah satu anggota dari para jago di wilayah Lam Ciang, ingin sekali
menyaksikan dan minta pelajaran darimu..."
"Oooh, benarkah ada kejadian seperti ini?" seru si anak muda itu
melongo.
Ia tak tahu berita sensasi ini berasal dari mana tetapi ucapan yang
diutarakan oleh Cia Toa Hiong tak bakal salah lagi, apalagi sengaja
dibuat-buat sendiri, sebagai seorang Poo cu dari benteng Kiem See
Poo dia pasti tidak bohong, semakin tak mungkin mempercayai
ucapan orang lain tanpa disertai oleh dasar alasan yang kuat, hal ini
tentu saja sangat membingungkan Pek In Hoei pribadi.
Setelah menghela napas pikirnya di dalam hati :
"Sebetulnya apa yang sudah terjadi? Baru saja aku datang di
wilayah Lam Ciang dari aman bisa muncul kejadian seperti ini?
Apakah ada orang sengaja hendak merusak nama baikku dan mencari
tenaga gabungan para enghiong yang ada di wilayah ini untuk
mengusir diriku..."
Dalam pada itu ketika Cia Toa Hiong, Poo cu dari benteng Kiem
See Poo menyaksikan Pek In Hoei tetap membungkam dalam seribu
bahasa, segera tertawa dingin, jengeknya :
"Saudara, benarkah ada kejadian seperti ini?"
"Aku tak tahu!"
540
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Eeei... aneh amat, masa urusanmu sendiri pun tidak tahu," seru
Kiem See Poocu setelah tertegun sejenak. "Pek In Hoei, kau bukan
seorang bocah cilik lagi, tak mungkin kau bisa melupakan perbuatan
yang telah kau lakukan sendiri, penghadanganmu terhadap kereta
kawalan Sak Kioe Kong dari perkampungan Sak Kee cung
merupakan perbuatanmu yang pertama di wilayah Lam Ciang dan
merupakan peringatan pula darimu terhadap para jago di wilayah Lam
Ciang..."
"Tutup mulutmu, kau hendak menasehati diriku?" bentak Pek In
Hoei dengan gusar.
Air muka Kiem See Poocu Cia Toa Hiong berubah hebat, serunya
kembali :
"Walaupun aku Cia Toa Hiong bukan seorang manusia yang
tersohor di kolong langit, tetapi wilayah Lam Ciang adalah desa
kelahiranku, demi keutuhan wilayahku ini aku rela turun tangan
bergebrak lebih dahulu dengan dirimu..."
"Ucapanmu memang terlalu tajam, setajam sikapmu terhadap
diriku, bagus, mari kita adu kekuatan..."
Terhadap peristiwa yang muncul secara tiba-tiba ini si anak muda
itu tak habis mengerti bagaimana mengatasinya, tapi setelah kejadian
berlangsung jadi begini dengan cepat pelbagai ingatan pun dibuang
jauh-jauh dari dalam benaknya, pedang segera dihunus dan seluruh
perhatiannya dipusatkan ke atas wajah lawan, siap menghadapi segala
kemungkinan yang tak diinginkan.
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring
berkumandang datang.
Dengan wajah yang dingin kaku Boen Soe-ya maju ke depan,
tegurnya :
"Pek In Hoei, sungguhkah kau ada niat menjagoi wilayah Lam
Ciang..."
Pek In Hoei tertegun dan tidak menjawab.
"Jadi kau sudah mengakui?" seru Boen Soe-ya lagi.
541
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tarik napas panjang-panjang, ia merasa kemangkelan
serta kekesalan yang terhimpun dalam dadanya sukar dilampiaskan
keluar, ia tertawa dingin, dengan wajah tanpa menampilkan perasaan
ia berkata :
"Di dalam wilayah Lam Ciang ini, aku hanya mempunyai
permusuhan yang sedalam lautan dengan pihak Boe Liang Pay,
kecuali itu dengan partai lain aku tak mempunyai ganjalan apa-apa,
mengenai soal bangkitnya partai Thiam cong, cepat atau lambat hanya
tergantung pada waktunya saja, aku tidak ingin disebabkan persoalan
Thiam cong Pay hingga menyeret banyak partai di dalam kancah
persoalan itu..."
Ucapan yang cukup enak didengar ini dimaksudkan oleh si anak
muda itu agar Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya mengerti keadaan
dan mengundurkan diri, jangan mempercayai berita sensasi yang
tersiar di luaran dan hindari pertikaian-pertikaian yang tak berguna,
siapa sangka ucapanitu dalam pendengaran Boen Soe-ya serta Cia
Toa Hiong bukan saja dianggap sebagai peringatan, mereka malah
mengira Pek In Hoei sengaja sedang mengulur waktu...
Kiem See Poocu Cia Toa Hiong segera tertawa kering, serunya :
"Hmmm, di saat partai Thiam cong bangkit kembali, mungkin
saja merupakan saat yang paling sial bagi partai lain..."
"Hey, apa maksudmu?" tegur Pek In Hoei tertegun.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... setiap patah kata yang kuucapkan
merupakan kenyataan, aku rasa dalam perutmu jauh lebih mengerti
daripada pun poocu sendiri!"
"Haaaah... haaaah... haaaah... jadi kalau begitu kau hendak
memaksa aku untuk turun tangan juga..."
"Kecuali menempuh melalui jalan ini, pun Poocu rasa tiada cara
penyelesaian lain yang lebih baik lagi."
"Baik! Pertama-tama biarlah aku jumpa dahulu Lam Ciang Tit It
Toa Poo benteng nomor wahid di wilayah Lam Ciang, Cia Toa
Poocu..."
542
IMAM TANPA BAYANGAN II
Perlahan-lahan dia angkat pedang mestika penghancur sang
suryanya ke tengah udara, segulung cahaya pedang segera memancar
menghiasi seluruh angkasa.
Kiem See Poocu Cia Toa Hiong terkesiap, dengan tajam tanpa
berkedip dia mengawasi semua gerak-gerik Pek In Hoei.
Boen Soe-ya yang berada di samping kalangan tertawa seram dan
menimbrung : "Cia Poocu, menghadapi manusia semacam ini kenapa
kau mesti berlaku sungkan-sungkan lagi..."
Semula Cia Toa Hiong tertegun, segera ia tertawa dan menyahut
:
"Tepat sekali! Tepat sekali! Perkataan Boen Soe-ya sedikit pun
tidak salah."
Dia pun tidak sungkan-sungkan lagi, dari punggungnya lambatlambat
ia loloskan sepasang senjata roda Jiet Gwat Loen dan salurkan
hawa murninya ke dalam senjata roda tadi, mendadak roda Jiet Gwat
Loen itu berputar dan menyiarkan suara aneh yang amat nyaring.
Pek In Hoei terkesiap, ia merasakan darah panas dalam dadanya
bergolak kencang, suara aneh yang tajam dan melengking itu
membuat dia tak sanggup untuk memusatkan seluruh perhatiannya di
ujung pedang.
Dalam pada itu Kiem See Poocu Chee Thian Gak telah
membongkokkan tubuhnya, sepasang roda berputar membentuk
setengah lingkaran di tengah udara, diiringi desiran tajam yang
memekakkan telinga dari samping kiri dan kanan ia langsung
membabat ke depan.
"Senjata roda Jiet Gwat Loen yang bagus!" bentak Pek In Hoei
dengan suara berat.
Dengan mencekal pedangnya ia tetap bersikap tenang, walaupun
senjata roda Jiet Gwat Loen adalah senjata berat yang merupakan
tandingan dari pedang, tetapi dengan kepandaian ilmu pedangnya
yang maha sakti Pek In Hoei sama sekali tidak gentar, ia getarkan
lengannya dan ujung pedang laksana kilat meluncur ke depan.
543
Saduran TJAN ID
Triiiing... letupan bunga api bermuncratan di angkasa, tubuh
masing-masing pihak sama-sama tergetar dan mundur dua langkah ke
belakang, cepat-cepat Cia Toa Hiong memeriksa senjata rodanya, tapi
rasa bergidik seketika menyelimuti hatinya.
Ternyata di dalam bentrokan barusan senjata rodanya telah
gumpil satu bagian termakan oleh babatan pedang lawan,
menyaksikan senjata kesayangannya menderita cedera, ia jadi kalap,
sambil meraung keras tubuhnya segera menubruk ke arah depan.
Boen Soe-ya menyaksikan keadaan rekannya itu, sepasang
alisnya langsung berkerut, segera teriaknya :
"Cia Poocu,kau harus tenang dan pikiran jangan sampai kalut!"
"Aku harus beradu jiwa dengan bajingan cilik ini," teriak Cia Toa
Hiong penuh kegusaran, "ia sama sekali tidak pandang sebelah mata
pun terhadap para enghiong dari wilayah Lam Ciang. Coba lihat!
Sikapnya begitu jumawa dan mendongkolkan hati..."
Sembari putar pedangnya Pek In Hoei tertawa dingin, jengeknya
:
"Huuuh...! pikiranmu tidak tenang perasaanmu terpengaruh oleh
angkara murka, kau semakin bukan tandinganku, Cia Toa Poocu!
Perkataan dari Boen Soe-ya sedikit pun tidak salah, satu langkah salah
bertindak niscaya kau akan menderita kekalahan total, lebih baik
tenangkan dulu pikiranmu..."
Hampir saja meledak dada Cia Toa Hiong setelah mendengar
ejekan itu, di antara urutan nama para enghiong di wilayah Lam Ciang
ia pun termasuk seorang jago terkemuka yang belum pernah dihina
dan diejek orang seperti ini, sekarang dalam keadaan gusar yang sukar
terkendalikan lagi ia tidak memperhitungkan kelihayannya lagi,
sepasang senjata rodanya diputar sedemikian rupa melancarkan
serangan-serangan yang mematikan.
Rupanya Pek In Hoei memang ada maksud untuk memancing
kegusaran dari jago lihay ini, melihat pihak musuh sudah mulai kalap
544
IMAM TANPA BAYANGAN II
dan menyerang secara mengawur, ia segera tertawa dingin dan
mengejek :
"Bangsat! Tiga jurus lagi Pun Poocu bisa serahkan jiwamu secara
sukarela kepadaku..."
Serangannya makin gencar, memaksa Pek In Hoei harus mundur
ke belakang berulang kali, pedangnya berputar ke sana kemari
memerseni beberapa buah tusukan di tubuh Cia Toa Hiong hingga
membuat si jago lihay itu kesakitan dan meraung-raugn gusar tiada
hentinya.
Menyaksikan keadaan Kiem See Poocu Cia Toa Hiong, kian lama
kian tak mampu untuk bertahan lagi, Boen Soe-ya dengan mulut
membungkam dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun segera maju
dua langkah ke depan, kepalanya langsung disodokkan ke muka
menghantam punggung si anak muda itu.
"Huuuuh! Bajingan yang tak tahu malu..." maki Pek In Hoei
sambil putar badannya mengirim satu babatan.
Boen Soe-ya tertawa seram.
"Menghadapi manusia macam kau, kenapa aku mesti
menggunakan cara yang bijaksana dan terbuka..."
"Hiiiiaaat...! Menggunakan kesempatan di kala Boen Soe-ya
melancarkan satu pukulan, Cia Toa Hiong mempergencar pula
serangan sepasang rodanya dari arah kiri dan kanan, melihat dia
mendapat bantuan dari rekannya semangatnya segera berkobar,
serangan yang dilancarkan pun semakin mantap dan ganas, tidak
sekacau dan seburuk tadi lagi.
Dikerubuti oleh dua orang jago lihay, Pek In Hoei merasa tenaga
tekanan yang mengimpit tubuhnya makin lama semakin berat, ia sadar
bahwa ke-dua orang jago lihay itu secara tidak tahu malu hendak
mengerubuti dirinya hingga mampus, dari gusar napsu membunuh
yang berkobar dalam benaknya makin menebal, bayangan pedang
segera berlapis-lapis, dalam waktu singkat ia sudah kurung ke-dua
orang jago lihay itu di dalam lingkaran cahaya pedangnya.
545
Saduran TJAN ID
Pertarungan ini berlangsung dengan serunya, begitu seru hingga
siapa pun tidak merasa bahwa ketika itu ada seorang nona cilik sambil
membawa payung kecil perlahan-lahan mendekati kalangan
pertempuran itu di bawah hujan yang deras.
Gadis muda itu mengenakan pakaian berwarna hijau dengan
sepasang mata memancarkan cahaya dingin,ia berhenti di sisi
kalangan dan setelah mengamati jalannya pertarungan itu sambil
geleng kepala dan tertawa serunya :
"Hey, kalian jangan bergebrak lagi!"
Suaranya tak begitu keras tapi setiap orang yang ada di kalangan
pertempuran cepat menangkap dengan jelas bahkan di antara
beningnya suara itu terselip pula suatu kekuatan yang sukar dilawan.
Sementara itu keadaan dari Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya
sudah mendekati setengah kalap, setelah mendengar teriakan tadi
sebenarnya mereka ada maksud untuk mengundurkan diri, apa lacur
pedang Pek In Hoei membelenggu senjata mereka membuat ke-dua
orang jago itu saking cemasnya hanya bisa berteriak-teriak belaka.
"Sungguh besar nyali kalian!" terdengar gadis itu berseru sambil
angkat bahu. "Sampai seruan dari nonamu pun tak sudi dituruti..."
Ia benahi rambutnya yang terurai di depan wajah, kemudian
tambahnya lagi dengan nada dingin :
"Cia Toa Hiong! Mengapa kau bekerja sama dengan Boen Soeya
mengerubuti dia seorang?"
Sekalipun pada waktu itu Kiem See Poocu serta Boen Soe-ya tak
sanggup palingkan muka untuk memeriksa siapakah gadis muda itu,
tetapi dari seruan serta nada suara gadis itu mereka sadar bahwa dara
muda tadi bukanlah seorang manusia sembarangan.
546
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 23
SEAKAN-AKAN mereka berdua mempunyai pikiran yang sama,
masing-masing melancarkan sebuah serangan yang memaksa mundur
Pek In Hoei kemudian loncat keluar dari kalangan.
Pek In Hoei mengejar ke depan, sambil putar pedang, jengeknya
sinis :
"Eeei... kenapa kalian berdua tidak bergebrak lagi?"
Dengan napas terengah-engah Cia Toa Hiong mundur ke
belakang, sahutnya setengah gusar :
"Kesempatan masih banyak, tunggu saja saatnya."
Sementara itu dara muda tadi telah berada di antara mereka
bertiga sambil tertawa cekikikan sambungnya :
"Betul, kesempatan toh masih amat banyak, kenapa mesti cemas
di saat ini..."
Langkah tubuhnya enteng, pinggangnya ramping dengan wajah
yang manja serta senyuman menghiasi ujung bibirnya, kecantikan
wajah yang begini serasi menegunkan hati Pek In Hoei, ternyata ia
terpikat oleh kecantikan wajahnya.
Dalam pada itu setelah mengetahui siapakah yang telah datang,
baik kisp Cia Toa Hiong maupun Boen Soe-ya sama-sama tunjukkan
sikap yang sangat menghormat, setelah memberi hormat sapanya
berbareng :
"Nona Sang Kwan!"
547
Saduran TJAN ID
"Huuuh, kalian dua orang lawan satu orang, apakah tidak terlalu
menjual muka para enghiong dari wilayah Lam Ciang..." sindir Sang
Kwan Cing sinis.
Merah jengah selembar wajah Cia Toa Hiong.
"Tentang soal ini..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... Loohu adalah penduduk kota Kwan
Lok," seru Boen Soe-ya sambil tertawa terbahak-bahak. "Dengan
kalian jago-jago dari wilayah Lam Ciang sama sekali tiada
hubungan..."
"Oooh jadi kalau enghiong dari kota Kwan Lok lantas mencari
kemenangan dengan andalkan jumlah banyak?? Jadi kalau berasal
dari Kwan Lok lantas boleh main kerubutan..."
"Soal ini..." Boen Soe-ya tertegun, untuk beberapa saat lamanya
ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Pek In Hoei melirik sekejap ke arah Cia Toa Hiong serta Boen
Soe-ya, kemudian ujarnya pula dengan nada dingin.
"Manusia yang mencari nama dengan jalan paksaan, biasanya
kebanyakan merupakan manusia-manusia berpipi tebal yang tak tahu
malu..."
Bagian 26
MENDENGAR perkataan itu Sang Kwan Cing kerutkan alisnya
setelah mengerling sekejap ke arah pemuda itu serunya dingin :
"Aku menegur mereka bukanlah berarti membantu dirimu,
persoalan ini adalah urusan pribadi kami orang-orang dari wilayah
Lam Ciang, oleh sebab itu lebih baik janganlah bicara yang bukanbukan
dan kurangi perkataan yang tak berguna daripada mendapat
teguran yang pedas.
Pek In Hoei melongo, ia tak menyangka kalau sikap dara muda
itu jauh bertentangan dengan watak manusia biasa, sebagai seorang
pemuda yang sombong dan tinggi hati tentu saja Pek In Hoei tak mau
mandah ditegur.
548
IMAM TANPA BAYANGAN II
Setelah mendengus dingin katanya dengan nada sinis :
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu, lebih baik kau segera
enyah dari tempat ini..."
"Sungguh takabur kau ini!" bentak Sang Kwan Cing dengan
wajah berubah hebat. "Walaupun kami orang-orang dari selat Seng
See Kok tak pernah mencampuri urusan keduniawian, tetapi kami tak
akan berpeluk tangan belaka menghadapi manusia jumawa yang
sedikit pun tidak memandang sebelah mata terhadap orang lain
macam dirimu..."
Diam-diam Cia Toa Hiong bergirang hati melihat gadis itu sudah
mulai bersilat lidah dengan musuhnya, ia segera menimbrung :
"Nona Sang kwan, Pun Poocu atas nama beratus-ratus orang jago
dari wilayah Lam Ciang menyatakan salut yang setinggi-tingginya
kepada nona, di samping itu loohu pun siap mendampingi di sisi nona
untuk bertempur hingga titik darah penghabisan melawan si Jago
Pedang Berdarah Dingin..."
"Tentang soal ini sih aku tak berani menerimanya," tukas Sang
Kwan Cing dingin. "Masalah partai Thiam cong hendak mengusir
para jago keluar dari wilayah Lam Ciang sudah bukan merupakan
masalah pribadi seseorang lagi, bila pelbagai perguruan tidak bersatu
mulai sekarang mungkin wilayah Lam Ciang dalam waktu singkat
akan terjatuh ke tangan partai Thiam cong..."
Sinar matanya beralih melirik sekejap ke arah Pek In Hoei,
kemudian sambungnya lebih jauh :
"Bila kau ingin memusuhi beratus-ratus orang jago yang ada di
wilayah Lam Ciang hanya mengandalkan kekuatanmu seorang,
mungkin kekuatan itu terlalu miring dan tak masuk dalam bilangan,
terutama sekali anak murid partai Thiam cong dewasa ini tercerai
berai dimana-mana, aku rasa usahamu untuk menghidupkan kembali
partai Thiam cong hanya akan berubah jadi gelembung-gelembung
udara belaka..."
Pek In Hoei tertawa dingin.
549
Saduran TJAN ID
"Partai Thiam cong selamanya tak akan terhapus dari muka bumi,
sekali pun terhadap tenaga tekanan yang paling dahsyat pun tidak
akan menghalangi perjuangan partai Thiam cong untuk menduduki
posisinya kembali..."
"Huuuh! Posisi apa yang masih dimiliki partai Thiam cong di
dalam wilayah Lam Ciang? Gunung Thiam cong san saja sudah bukan
menjadi milik kalian, buat apa kau bicarakan tentang kebangkitan
partai itu kembali..."
"Hmmm! Direbutnya gunung keramat kalian oleh pihak musuh
sudah merupakan suatu peristiwa yang paling memalukan, tak nyana
kau masih bisa-bisanya untuk dibicarakan kembali..."
"Tutup mulut! bentak Pek In Hoei sangat gusar. "Sekali pun
partai Thiam cong telah runtuh tapi aku Pek In Hoei masih punya
kemampuan untuk menumbuhkan kembali semangat juang partai
kami, aku hendak membangun partai Thiam cong sebagai suatu partai
yang terbesar di langit wilayah sebelah selatan..."
"Aaaai... jadi kalau begitu kau sudah mengambil keputusan untuk
melakukan pertikaian dengan para enghiong dari wilayah Lam
Ciang..." bisik gadis itu sambil menghela napas.
Sekilas cahaya keemas-emasan menembusi langit yang mendung
menyoroti permukaan tanah yang berlumpur, hujan akhirnya berhenti
dan suasana menjadi hening kembali...
Sambil menghela napas panjang Sang Kwan Cing mendongak ke
atas memandang udara yang masih diliputi awan, rambutnya berderai
terhembus angin... tiba-tiba dia alihkan sinar matanya ke arah depan.
Di atas tanah yang berlumpur mendadak berkumandang datang
suara derap kaki kuda yang santer memecahkan kesunyian yang
mencekam seluruh jagad ketika itu.
Sang Kwan Cing tertawa hambar, bisiknya :
"Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong telah datang..."
Seorang kakek berwajah hitam pekat bagaikan pantat kuali
muncul di paling depan disusul oleh Sak Toa Bauw serta dua orang
550
IMAM TANPA BAYANGAN II
pria berbaju hitam, pedang panjang tersoren di punggung masingmasing
dengan wajah yang dingin kaku bagaikan es.
Begitu tiba di hadapan Pek In Hoei, beberapa orang itu segera
meloncat turun dari kudanya.
Terdengar Sak Toa Bauw tertawa seram, sambil menuding ke
arah Pek In Hoei serunya keras :
"Ayah, dialah si Jago Pedang Berdarah Dingin!"
Sak Kioe Kong mengiakan, setelah melirik sekejap ke arah si
Jago Pedang Berdarah Dingin itu dengan pandangan hambar dengan
langkah lebar ia menghampiri Sang Kwan Cing, lalu menjura dan
menegur :
"Nona Sang Kwan, rupanya kau pun sudah mengetahui akan
peristiwa ini???"
Sang Kwan Cing tertawa ewa.
"Di dalam dunia persilatan sudah terjadi peristiwa yang demikian
besarnya, semua perguruan yang termasuk dalam wilayah Lam Ciang
telah mengetahuinya, tentu saja pihak selat Seng See Kok kami pun
telah mendapat kabar, justru kedatanganku kemari adalah ingin
melihat macam apakah manusia paling latah yang hendak memasuki
wilayah Lam Ciang ini..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... selat Seng See Kok adalah
pemimpin dari pelbagai partai yang ada di wilayah Lam Ciang," ujar
Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong sambil tertawa seram. "Asalkan
nona Sang Kwan suka tampil ke depan, loohu percaya masalah ini
akan beres dengan gampangnya. Hmmm... sungguh tak nyana setelah
kemusnahan partai Thiam cong masih terjadi pula gelombang yang
begini besar, dan di antara pelbagai partai-partai dalam wilayah Lam
Ciang, perkampungan Sak Kee cung kamilah yang pertama-tama
kena musibah..."
"Tidak bisa jadi," sela Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo
sambil gelengkan kepala. "Kami dari benteng Kiem See Poo pun
sudah terseret pula di dalam persoalan ini..."
551
Saduran TJAN ID
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... kalau begitu anggap sajalah
peristiwa ini merupakan ketidakberuntungan dari kita berdua..."
Lambat-lambat ia mendekat Boen Soe-ya dan bertanya :
"Boen ya, bagaimana dengan urusannya?
Boen Soe-ya tertawa getir.
"Kepandaian silat yang loohu miliki terlalu cetek, persoalan dari
Sak heng mungkin tak sanggup aku kerjakan lebih jauh."
Wajah Hek Bin Siuw loo segera berkerut kendang, dengan gemas
ia melotot sekejap ke arah Pek In Hoei lalu mendongak dan tertawa
terbahak-bahak, seluruh jubahnya bergelembung besar dan bergetar
keras.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... sejak Hek Bin Siuw loo munculkan
diri di dalam dunia persilatan hingga kini sudah puluhan tahun
lamanya, berkat sanjungan serta bantuan sahabat Bu lim terhadap
loohu, banyak hal yang dilakukan oleh perkampungan Sak Kee cung
kami. Sungguh tak nyana dalam perjalanannya putraku menghantar
hadiah untuk Hoa Loo enghiong di perkampungan Thay Bie San
cung, belum sampai keluar dari wilayah Lam Ciang barang kawalan
kami telah dibegal oleh si Jago Pedang Berdarah Dingin, perbuatan
terkutuk semacam ini betul-betul membuat loohu merasa amat
menyesal..."
"Hmm, sungguh menarik hati perkataanmu itu," dengus Pek In
Hoei dengan nada sinis.
Sak Kioe Kong tertawa dingin, serunya kembali :
"Pek sauwhiap, dapatkah kau kembalikan dulu barang yang kau
begal itu kepada loohu?"
Selama ini yang diharap-harapkan oleh Pek In Hoei adalah
munculnya Hek Bin Siuw loo di tempat itu, agar dari mulut orang ini
ia bisa mendapat tahu asal mula datangnya potongan kain jubah
tersebut, justru karena persoalan ini menyangkut teka teki kematian
ayahnya Pek Tiang Hong maka ia memperhatikannya dengan serius.
552
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dan sekarang disinggung kembali oleh si Malaikat Berwajah
Hitam itu, pemandangan di masa lampau pun segera terbayang
kembali dalam benaknya, api dendam seketika berkobar memenuhi
seluruh dadanya...
Dengan penuh kebencian teriaknya :
"Potongan kain jubah itu adalah benda milik mendiang ayahku,
cayhe tak mungkin dapat mengembalikan kepadamu..."
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... dari mana Pek sauwhiap bisa
membuktikan bahwa benda itu adalah milik mendiang ayahmu..."
"Ketika dari gunung Thiam cong menuju ke gunung Cing Shia
ayahku mengenakan kain jubah dengan motif ini, tatkala aku berhasil
mengejarnya di gunung Cing Shia ayahku telah mati terbunuh orang,
jubah yang dikenakan terpapas oleh pedang, dan kini benda tersebut
muncul kembali di depan mata tentu saja aku dapat mengenalinya
kembali..."
"Hmm, bagimu hanya tahu bagaimana caranya merampas
kembali potongan jubah tersebut, tahukah bahwa loohu pun mendapat
titipan dari seseorang untuk menyerahkan potongan jubah ini kepada
Hoa Pek Tuo di perkampungan Thay Bie San cung?? Setelah kau
begal benda itu di tengah jalan, secara bagaimana loohu bisa
memberikan pertanggungan jawabnya terhadap sahabatku itu..."
"Aku justru sedang menantikan kemunculan orang itu..." sela Pek
In Hoei cepat.
"Hmmm! Aku rasa tidak nanti begitu gampang."
Pek In Hoei jadi naik pitam, sepasang matanya berapi-api dan
menatap wajah lawannya tanpa berkedip, teriaknya dengan nada
penuh kebencian :
"Kalau nama orang itu tak kau sebutkan maka seluruh isi
perkampungan Sak Kee Cung akan menemui ajalnya di ujung pedang
saktiku, ini bukan gertak sambal belaka! Aku rasa kau tentu mengerti
bukan mampukah aku melaksanakan ancamanku..."
553
Saduran TJAN ID
Si Malaikat Berwajah Hitam terkesiap, ia merasa begitu dingin
dan menyeramkan ucapan si anak muda itu, setiap patah katanya
seolah-olah mengandung satu kekuatan yang tak terbantahkan, ia
merasa di hadapan matanya seakan-akan terbentang suatu
pemandangan yang sangat mengerikan, seluruh isi perkampungannya
menggeletak di atas genangan darah...
Dengan hati bergidik dan penuh ketakutan segera serunya :
"Kenapa... kenapa kau hendak melakukan hal itu?"
"Gampang sekali! Secara bagaimana ayahku menemui ajalnya,
dengan cara itu pula aku hendak membalas dendam, seandainya setiap
orang yang telah membunuh orang dapat hidup sentausa dan bebas
tanpa hukuman, lalu apa gunanya manusia hidup di kolong langit..."
Sak Toa Bauw yang sedari tadi sudah tak kuat menahan sabar,
setelah mendengar perkataan itu sambil cabut keluar senjatanya
segera menerjang ke depan, teriaknya keras-keras :
"Ayah! Terhadap manusia seperti ini rasanya tak ada gunanya
kita ajak berunding, bagaimana caranya ia rampas benda itu kita
rampas kembali dengan cara yang sama. Siapa benar siapa salah siapa
hitam siapa putih akhirnya toh bakal ketahuan juga. Asal kita tidak
ikut serta di dalam peristiwa pengeroyokan terhadap diri Pek Tiang
Hong, kenapa kita mesti takuti dirinya..."
"Kau tak usah ikut campur!" bentak Sak Kioe Kong. "Ayoh
mundur dari sini!"
Dengan perasaan mendongkol dan tidak puas Sak Toa Bauw
melotot sekejap ke arah Pek In Hoei kemudian mengundurkan diri
dari kalangan.
Perlahan-lahan si Malaikat Berwajah Hitam maju ke depan
menghampiri si anak muda itu, langkah amat lambat tapi sangat
bertenaga, setiap tindakannya seakan-akan ayunan palu yang
menghantam hati.
"Hey orang she Pek!" serunya sambil tertawa ewa. "Jadi kau
hendak memaksa loohu untuk turun tangan?"
554
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aku tidak ingin bergebrak, tapi kau harus memberikan
penyelesaian terlebih dahulu mengenai potongan kain jubah itu!"
"Bangsat! Rasanya andaikata loohu tidak memberi sedikit
pelajaran kepadamu, kau masih mengira di dalam wilayah Lam Ciang
benar-benar tak ada orang pandai..."
Sambil mendengus telapak kanannya segera diangkat ke atas,
sekilas cahaya tajam berwarna hitam laksana kilat segera diayunkan
ke depan.
Air mka Pek In Hoei berubah hebat, serunya dengan nada terkejut
:
"Ah, ilmu pukulan Hek Sat Ciang!"
Si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong tertawa seram tiada
hentinya, tiba-tiba jubah yang ia kenakan bergelombang besar, sang
badan maju ke depan dan melancarkan satu babatan kembali ke atas
tubuh musuhnya.
Si Jago Pedang Berdarah Dingin segera menggeserkan badannya
menyingkir beberapa depa ke samping, dengan suatu gerakan yang
cepat ia masukkan kembali pedang mestika penghancur sang suryanya
ke dalam sarung, lalu dengan telapak kanan yang disertai tenaga
dahsyat mengirim pula satu pukulan ke depan.
Pertempuran sengit pun segera berlangsung dengan serunya,
bagaikan sambaran angin puyuh. Malaikat Berwajah Hitam meloncat
beberapa depa ke tengah udara dan bentaknya keras-keras :
"Kau berani menyambut sebuah pukulanku?"
Telapak kanan membentuk gerakan satu lingkaran di tengah
udara dengan jurus Bintang dan Rembulan berebut cahaya ia hantam
tubuh Pek In Hoei keras-keras.
Si anak muda itu segera tertawa dingin, jengeknya :
"Sekalipun ilmu pukulan Hek Sat Ciang amat beracun, belum
tentu bisa mengapa-apakan diriku..."
555
Saduran TJAN ID
Ia himpun segenap kekuatannya ke telapak sebelah kanan, setelah
menutup ke-tujuh puluh dua buah jalan darah penting dalam
tubuhnya, ia segera sambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaaam...! Di tengah udara terjadi suatu ledakan yang
menggetarkan seluruh jagad, pusaran angin memancar ke empat
penjuru memaksa tubuh ke-dua orang itu sama-sama mundur dua
langkah ke belakang.
Diam-diam si Malaikat Berwajah Hitam merasakan hatinya
tercekat, ia tak menyangka Pek In Hoei dengan usia yang begitu muda
ternyata memiliki tenaga dalam yang begitu sempurna hingga
sanggup menandingi pukulannya yang maha berat itu.
Ingatan jahat segera muncul dalam benaknya, ia berpikir :
"Dewasa ini Tiga partai dua selat serta enam benteng yang berada
di wilayah Lam Ciang telah bersatu padu hendak menghadapi
manusia she Pek ini, kenapa aku tidak gunakan siasat yang licik untuk
mencelakai jiwa bajingan ini, kenapa aku tidak gunakan... daripada
aku mesti turun tangan sendiri..."
Berpikir sampai di situ sambil tertawa seram segera ujarnya :
"Pek In Hoei , walaupun kau sanggup menerima sebuah pukulan
loohu, tetapi kau mesti tahu bahwa enghiong hoohan yang ada di
wilayah Lam Ciang banyak bagaikan pasir, bila kau ingin mendirikan
satu perguruan di tempat ini rasanya bukan suatu pekerjaan yang
gampang. Ambil contohnya saja dewasa ini masih ada satu orang
yang mampu menandingi dirimu..."
Dalam pada itu Pek In Hoei sendiri walaupun sanggup menerima
pukulan Hek Sat Ciang yang dilancarkan Sak Kioe Kong tanpa
terluka, namun ia merasakan darah panas dalam dadanya bergolak
kencang.
Mendengar perkataan itu ia tampak tertegun, lalu tanyanya
dengan nada dingin :
"Siapakah orang itu?"
556
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sebagai seorang pemuda yang berjiwa tinggi ia tak tahu kalau si
Malaikat Berwajah Hitam sengaja hendak mengadu domba dirinya
dengan orang lain, ketika didengarnya bahwa di antara mereka masih
terdapat seorang jago lihay, maka timbullah keinginannya untuk
mengetahui siapakah orang yang disanjung-sanjung Hek Bin Siuw loo
sebagai jagoan kosen.
Sementara itu si Malaikat Berwajah Hitam telah melirik sekejap
ke arah Sang Kwan Cing, kemudian sahutnya :
"Orang itu bukan lain adalah nona Sang Kwan dari selat Seng See
Kok..."
Sang Kwan Cing tertawa dingin, dengan pandangan yang
menghina, ia melirik sekejap ke arah orang itu.
Melihat gadis itu tidak mengaku pun tidak menampik, si Malaikat
Berwajah Hitam kembali merasakan bahwa gadis itu merupakan
seorang manusia berpikiran panjang yang sukar dilayani, ia segera
tertawa seram dan pikirnya lebih jauh :
"Peduli sampai di mana lihaynya kau si budak ingusan, jangan
harap kau bisa lolos dari siasat berantaiku. Kalau pihak selat Seng See
Kok ingin berpeluk tangan belaka di dalam persoalan ini maka harus
menanti dulu persetujuan dari aku orang she Sak."
Sebagai seorang manusia licik, sekali pun dalam benaknya telah
timbul ingatan jahat tetapi perasaan itu sama sekali tidak terlihat di
atas wajahnya.
Terdengar orang itu sambil tertawa seram kembali berkata :
"Pimpinan dari para enghiong yang ada di wilayah Lam Ciang
adalah Sang Kwan loo enghiong dari selat Seng See Kok, sekali pun
loohu memiliki sedikit kekuasaan di dalam wilayah Lam Ciang, tapi
kalau dibandingkan dengan selat Seng See Kok kekuatanku masih
terpaut sangat jauh..."
Ucapan ini memang benar kenyataannya, sejak partai Thiam
cong dibasmi oleh perguruan Boo Liang Tiong, maka para jago yang
557
Saduran TJAN ID
ada di wilayah Lam Ciang telah mengangkat Sang Kwan Im dari selat
Seng See Kok sebagai pimpinan para jago lainnya.
Terdengar Cia Toa Hiong dari benteng Kiem See Poo tertawa
keras dan menyambung :
"Sedikit pun tidak salah, sedikit pun tidak salah, benteng Kiem
See Poo kami adalah tetangga dari selat Seng See Kok dan setiap kali
kami selalu memperoleh bantuan dari Sang Kwan loo enghiong. Di
dalam wilayah Lam Ciang aku srasa memang tiada partai lain yang
bisa menandingi kehebatan dari selat Seng See Kok..."
Diam-diam si Malaikat Berwajah Hitam mendengus dingin,
pikirnya :
"Cia Toa Hiong! Kau tak usah terlalu menjilat pantat, kau mesti
tahu bahwa perkampungan Sang Kwan Cing kami bukanlah kekuatan
yang boleh kau anggap remeh. Hmm! Tunggu saja setelah urusan di
sini selesai, pertama-tama kaulah yang akan kulabrak lebih dahulu..."
Berpikir sampai di situ ia lantas berpaling ke arah Sang Kwan
Cing dan ujarnya sambil tertawa :
"Nona Sang Kwan, apakah kau menyetujui perkataan loohu?"
"Mengenai soal pimpinan para jago di wilayah Lam Ciang sih
kami tak berani menerimanya," sahut Sang Kwan Cing dengan mata
dingin. "Terutama sekali tindakan Sak toa cungcu di dalam
pertempuran yang secara tiba-tiba mengeluarkan ucapan seperti ini,
sungguh membuat hatiku jadi curiga dan tidak habis mengerti..."
"Nona Sang Kwan kau pun seorang gadis yang cerdik, masa tak
bisa kau tinjau keadaan situasi yang terbentang di depan mata saat
ini?" seru Malaikat Berwajah Hitam sambil menggeleng. "Selat Seng
See Kok sebagai pimpinan para jago yang ada di dalam wilayah Lam
Ciang tentu tak akan berpeluk tangan belaka bukan menghadapi
ambisi pein yang begitu besar dan hendak mengangkang seluruh
wilayah Lam Ciang..."
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku hanya berpeluk tangan
belaka?"
558
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagus, bagus, asal nona Sang Kwan
suka tampil ke depan maka kita pun tak usah jeri terhadap bajingan
cilik she Pek dari partai Thiam cong lagi. Nona Sang Kwan! Apakah
ayahmu ada maksud untuk munculkan diri kembali di dalam dunia
persilatan..."
Sang Kwan Cing memandang sekejap wajah Pek In Hoei, lalu
menjawab :
"Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu itu."
Dengan senyuman hambar tersungging di ujung bibir perlahanlahan
ia menghampiri si anak muda itu, tiba-tiba sambil menatap
wajahnya dengan pandangan aneh ia bertanya lirih :
"Apakah kau merasa tidak puas terhadap masalah selat Seng See
Kok dianggap sebagai perguruan nomor satu di dalam wilayah Lam
Ciang?"
"Pedang sakti menyelimuti langit selatan, hawa pedang
memenuhi bukit Thiam cong, di dalam wilayah selatan kecuali partai
Thiam cong cayhe belum pernah memikirkan persoalan lain. Nona
Sang Kwan! Mungkin kaulah yang tak puas dengan perkataanku ini,
tetapi dalam waktu singkat kau pasti akan mengetahui bahwa apa
yang kukatakan adalah suatu kenyataan..."
"Hmmm! Kau terlalu percaya pada diri sendiri."
"Nona, aku tidak mengerti akan maksudmu!"
"Sejak partai Thiam cong mengalami kemusnahan, nama itu
sudah terhapus dari muka bumi, para jago yang ada di wilayah selatan
tak pernah memikirkan lagi persoalan partai Thiam cong apalagi
mengaguminya, lebih baik urungkanlah niatmu untuk mendirikan
kembali partai tersebut di wilayah ini, sebab dengan kekuatanmu
seorang tak nanti cita-citamu itu akan terwujud..."
"Belum tentu begitu..."
"Kalau kau tidak percaya yaah sudahlah, tetapi aku hendak
memberitahukan lebih dahulu kepadamu, seluruh perguruan yang ada
di wilayah selatan telah mengangkat selat Seng See Kok kami sebagai
559
Saduran TJAN ID
pimipan dalam usaha menghadapi dirimu, apakah kau punya
keyakinan untuk menangkan seluruh jago lihay yang begini banyak
jumlahnya itu?"
"Silahkan nona berlalu, setiap saat cayhe siap menantikan
pelajaran dari pelbagai partai..."
"Bagus sekali!" seru Sang Kwan Cing sambil tertawa. "Aku
mewakili seluruh perguruan yang ada di wilayah selatan mengundang
kehadiranmu di selat Seng See Kok pada besok malam untuk
menyelesaikan persoalan ini..." selesai berkata ia putar badan dan
berlalu dari situ.
Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong buru-buru maju ke
depan sambil berseru :
"Nona Sang Kwan, harap tunggu sebentar!"
"Kau masih ada urusan apa lagi?" tanya gadis itu sambil menoleh.
"Pertemuan yang nona janjikan barusan, apakah telah mendapat
persetujuan dari ayahmu?"
"Kalau kau takut urusan besok malam boleh tak usah hadir di
dalam selat Seng See Kok kami. Hmmm! Pelbagai partai yang ada di
wilayah selatan kecuali perkampungan Sak Kee cung kalian, yang tak
pernah berhubungan dengan orang lain belum pernah kutemui ada
perguruan lain yang berani menentang perintahku!"
"Apa maksud ucapanmu itu?" teriak Sak Kioe Kong. "Aku
sebagai salah satu anggota kekuatan di wilayah selatan, sampai
waktunya tentu saja harus hadir untuk ikut bertarung melawan si Jago
Pedang Berdarah Dingin, besok malam loohu pasti akan datang..."
"Kalau mau datang tentu saja boleh-boleh saja, tetapi kau tidak
diperkenankan membawa orang lain, sebab dalam pertemuan ini aku
hanya memberi ijin kepada satu orang saja dari tiap partai di samping
itu jangan lupa bawa serta tanda perintah Hek Liong Leng
perguruanmu."
"Apa gunanya Hek Liong Leng itu?"
560
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Dalam pertarungan yang akan berlangsung besok malam, bukan
saja merupakan suatu pertarungan yang mempertaruhkan mati hidup
kita bahkan merupakan pula suatu perebutan kekuasaan, seandainya
pelbagai partai yang ada di wilayah selatan benar-benar tak sanggup
menghadapi di seorang, maka terpaksa kita harus serahkan tanda
kebesaran kita kepada pihak partai Thiam cong..."
Si Malaikat Berwajah Hitam yang mendengar perkataan itu
sepasang alisnya kontan berkerut.
"Baiklah! Loohu akan menuruti perintah dari nona..."
Sang Kwan Cing tertawa dingin, ia segera enjotkan badan dan
berlalu dari tempat itu, di tengah kesunyian terdengar gadis itu
berkumandang datang dari tempat kejauhan.
"Pek In Hoei, kita berjumpa lagi besok malam..."
Setelah kepergian gadis itu she Sang Kwan itu, si Jago Pedang
Berdarah Dingin mulai merasakan hatinya jadi berat, ia tahu bahwa
mati hidupnya akan ditentukan di dalam pertemuannya dengan para
jago dari wilayah selatan, perlahan-lahan sinar matanya dialihkan ke
tengah udara, memandang awan putih yang bergerak di angkasa,
tanpa terasa ia menghela napas dan berpikir :
"Demi kebangkitan serta kejayaan partai Thiam cong, terpaksa
aku harus melakukan pertaruhan yang terakhir bagi keselamatan
jiwaku, peduli bagaimana pun hasil dari pertemuan ini aku harus
membuat orang di dalam jagad menyadari bahwa partai Thiam cong
sama sekali belum musnah dari dunia persilatan..."
Belum habis dia berpikir, mendadak dari samping kiri terasa
segulung angin pukulan yang amat tajam meluncur datang.
Cepat-cepat ia geserkan badannya menghindar lima depa ke
samping, kemudian sambil mendengus dingin serunya :
"Hey manusia she Sak, kau adalah seorang manusia rendah!"
Merah padam selembar wajah Sak Toa Bauw, ia tertawa keras
dan berseru :
561
Saduran TJAN ID
"Kau membegal keretaku, menghancurkan nama baik ayahku,
dendam sakit hati yang demikian besarnya ini apa tidak pantas kalau
kutuntut balas..."
Kiranya sewaktu dijumpai Pek In Hoei sedang mendongak ke
angkasa memandang awan, ia menganggap inilah kesempatan yang
paling baik baginya untuk melancarkan serangan bokongan, maka
tanpa mengucapkan sepatah katapun ia lancarkan sebuah babatan kilat
ke muka.
Dalam anggapannya asal babatan tersebut berhasil
membinasakan Pek In Hoei maka bukan saja nama besarnya akan
menonjol di antara jago muda yang ada di wilayah selatan, bahkan
nama besar perkampungan Sak Kee cung pun akan tersiar ke seluruh
jagad.
Siapa tahu gerakan tubuh pihak lawan betul-betul amat gesit,
belum sampai serangannya mengenai sasaran pihak musuh sudah
menghindar ke samping.
"Sak Toa Bauw," teriak Pek In Hoei dengan sinar mata berkilat.
"Kau harus merasakan sedikit pelajaran agar tahu lihaynya orang..."
Selama hidup si anak muda ini selalu menghadapi musuhnya
secara terang-terangan dan jujur, kini setelah mengetahui bahwa Sak
Toa Bauw adalah seorang manusia rendah yang berhati licik, timbul
napsu membunuh di dalam hatinya.
Ia segera membentak keras, telapak kanannya laksana kilat
diluncurkan ke depan melancarkan sebuah serangan.
"Blaaaam...! Mimpi pun Sak Toa Bauw tidak pernah menyangka
kalau serangan dari Pek In Hoei dapat meluncur datang sedemikian
cepatnya, air mukanya berubah hebat, buru-buru ia tangkis serangan
tadi sedapat mungkin, namun sayang keadaan sudah terlambat,
sekujur tubuh Sak Toa Bauw gemetar keras, ia menjerit tertahan dan
segera muntah darah segar.
Wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat
dingin mengucur keluar tiada hentinya.
562
IMAM TANPA BAYANGAN II
Si Malaikat Berwajah Hitam yang menyaksikan putranya jadi
terkesiap, ia segera memburu ke depan sambil berseru :
"Nak, kenapa kau?"
"Aku sudah terluka!" jawab Sak Toa Bauw dengan nada gemetar.
Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, kembali ia muntah
darah segar, badannya mundur sempoyongan ke belakang dan roboh
tak sadarkan diri di atas tanah.
Si Malaikat Berwajah Hitam segera ulapkan tangannya, dua
orang pria buru-buru maju ke depan membopong tubuh Sak Toa
Bauw dan segera mengundurkan diri kembali ke belakang.
"Cepat bahwa Sauw ya pulang ke perkampungan untuk
beristirahat," perintah Sak Kioe Kong lebih lanjut, "Aku sebentar lagi
datang..."
Dengan wajah penuh kegusaran ia segera berpaling, sambil
menatap wajah si anak muda itu teriaknya dengan penuh kebencian :
"Manusia she Pek, sekali pu n putraku menyerang dirimu dengan
cara yang tidak pantas, tetapi tidak seharusnya kau melancarkan
serangan keji dengan cara yang begitu kasar. Hmmm! Rupanya
sebelum perjanjian besok malam kita harus melangsungkan lebih
dahulu suatu pertarungan sengit!"
"Ia bersalah dan harus menanggung dosanya sendiri!" jawab Pek
In Hoei ketus. "Seandainya aku tidak melihat susahnya ia melatih
ilmu silat hingga mencapai taraf yang begitu tinggi, huuuh...! Sekali
hantam tadi selembar jiwa anjingnya sudah sekalian kucabut..."
Sak Kioe Kong jadi teramat gusar hingga sekujur tubuhnya
gemetar keras, ia meraung keras :
"Bangsat! Kau cari mati..."
Tubuhnya laksana kilat menerjang ke depan, sebuah pukulan
yang maha dahsyat langsung menghajar tubuh Pek In Hoei.
Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang datang suara
dengusan rendah, sesosok bayangan hitam bagaikan sukma
563
Saduran TJAN ID
gentayangan tahu-tahu meluncur masuk ke dalam kalangan dan
melancarkan satu serangan ke tubuh Malaikat Berwajah Hitam.
Terdengar Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak sambil
berseru :
"Eeeei... anak monyet cucu kura-kura, sudah kau taruh ke mana
kegagahan serta kekerenanmu selama berada di dalam perkampungan
Sak Kee cung..." Rupanya kakek konyol ini pernah menderita
kerugian besar di tangan Sak Kee Cung maka begitu bertemu dengan
musuh lamanya, hawa amarah segera berkobar memenuhi hatinya,
segera ia kirim serangan mematikan yang ganas, memaksa Malaikat
Berwajah Hitam keteter dan mundur terus ke belakang.
"Hmmm... Hmmm... rupanya kau belum modar?" jengek Sak
Kioe Kong sambil tertawa seram.
"Ooooh kentut busuk nenekmu yang tujuh puluh dua kalinya!
Cuma andalkan barisan setan semacam itu, kau pikir aku Ouw-yang
Gong berhasil dikurung? Huuuh! Anak jadah peliharaan induk anjing,
kau mesti tahu aku si huncwee gede bukan manusia gampang
diganggu... barusan ketika aku sedang membakar habis
perkampungan Sak Kee Cung mu itu para anak murid cucu muridmu
pada berteriak memanggil yaya setiap kali bertemu aku..."
Air muka si Malaikat Berwajah Hitam Sak Kioe Kong segera
berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, hatinya terkejut dan
sekujur tubuhnya jadi dingin kaku seakan-akan terjerumus di dalam
liang salju.
"Apa?" teriaknya dengan suara gemetar, "Kau telah membakar
perkampungan Sak Kee cung..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... apa susahnya membakar sarang
tikus macam itu? Sejak dari mulut perkampungan hingga ke pintu
belakang aku telah melepaskan puluhan batang obor hingga tikusmu
itu bermandikan api, kau si anak jadah entah sudah bersembunyi di
mana, aku si huncwee gede sudah setengah harian lamanya menunggu
di situ tapi belum nampak juga bayanganmu..."
564
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sepasang mata Sak Kioe Kong segera berubah jadi merah berapi,
teriaknya keras-keras :
"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu!"
Setelah mengetahui bahwa perkampungan Sak Kee cung-nya
dibakar oleh kakek konyol tersebut, orang ini jadi kalap dan nekad, ia
membentak keras dan segera menerjang ke muka sambil melepaskan
serangan-serangan mematikan.
Rupanya si huncwee gede Ouw-yang Gong ada maksud
mempermainkan si Malaikat Berwajah Hitam, melihat ia nekad dan
menerjang secara kalap tanpa terasa segera tertawa terbahak-bahak,
dengan enteng ia menghindar ke samping dan godanya :
"Hey cucu monyet anak jadah... tubrukanmu ini lebih mirip
dengan kucing menangkap tikus... aku lihat lebih baik kau cepat-cepat
sipat telinga pulang ke kandangmu, coba periksa dulu apakah anjing
tua yang tertinggal di rumah sudah terbakar jadi abu atau masih ada
sisa-sisa tulang belulangnya..."
"Bajingan, kau sudah bunuh mati bini tua-ku?... teriak Sak Kioe
Kong semakin gusar.
"Huuuh! Setiap anggota perkampungan Sak Kee cung adalah
manusia-manusia bejat yang pantas dibunuh, seandainya aku si
huncwee gede tidak bermurah hati dan rela melepaskan putra
kesayangan yang terluka itu, mungkin sekarang kau sudah kehilangan
keturunan. Tapi... begini pun ada baiknya, keluarga Sak toh tidak
sampai putus turunan, ayoh kau berterima kasih dulu kepadaku."
Dalam keadaan bingung, sedih bercampur marah, seranganserangan
yang dilancarkan si Malaikat Berwajah Hitam sudah tidak
menuruti aturan, sekalipun gencar dan amat dahsyat tetapi terdapat
banyak titik kelemahannya. Ouw-yang Gong sendiri tiada maksud
untuk beradu jiwa, maka sambil lancarkan serangan untuk memaksa
Sak Kioe Kong melindungi keselamatannya ia mengolok-olok lagi
musuhnya agar bertambah kalap.
565
Saduran TJAN ID
Boen Soe-ya yang menyaksikan jalannya pertandingan itu,
sepasang alisnya kontan berkerut, teriaknya :
"Sak heng, lebih baik kau mundur lebih dulu!"
Sak Kioe Kong mendongak dan tertawa keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... perkampungan Sak Kee cung telah
musnah dan kabar ini telah kalian dengar sendiri... hari ini sekalipun
loohu harus korbankan selembar jiwaku pun aku harus bergebrak
melawan bajingan tua ini..."
"Sak heng, harap kau tenangkan dulu pikiranmu," Cia Toa Hiong
dari benteng Kiem See Poo ikut berteriak. "Soal adu jiwa tak usah
diributkan sekarang, bagaimana pun toh besok malam kita bakal
berjumpa lagi di dalam selat Seng See Kok, aku rasa ia tak bakal lari
dari sini..."
Setelah mendengar nasehat dari kiri kanan, akhirnya si Malaikat
Berwajah Hitam dengan paksakan diri menahan sedih mengundurkan
diri dari tengah kalangan sembari menyeka keringat yang membasahi
tubuhnya ia berseru :
"Boen ya, Cia Poocu, coba pikirlah apa yang harus kulakukan
sekarang?..."
Boen Soe-ya termenung berpikir sebentar, lalu menjawab :
"Lebih baik kita pulang dulu ke perkampungan Sak Kee cung,
seandainya perkampungan itu betul-betul sudah dibakar hingga
tinggal tulang yang berserakan, maka besok malam loohu dengan
kedudukan sebagai tamu akan memberikan kesaksian di hadapan para
enghiong hoohan dari seluruh kolong langit, pada waktu itu...
Hmmm... keadilan pasti kita tegakkan..."
Si Malaikat Berwajah Hitam sendiri pun menyadari bahwa
kekuatan di pihaknya masih belum sanggup menandingi pihak lawan
maka dalam keadaan apa boleh buat ia segera berseru dengan nada
benci :
"Ouw-yang Gong, kita tunggu saja sampai waktunya..."
566
IMAM TANPA BAYANGAN II
Karena ingin cepat-cepat mengetahui keadaan perkampungan
Sak Kee cung-nya begitu selesai berkata ia segera putar badan dan
berlalu dari situ disusul oleh Boen Soe-ya dan Kiem See Poocu di
belakangnya.
Menanti bayangan tubuh ke-tiga orang itu sudah berlalu, Pek In
Hoei baru menghembuskan napas panjang sambil mengomel :
"Eeei... ular asap tua, perbuatanmu barusan rada sedikit
keterlaluan, masa perkampungan orang kau bakar sampai ludes..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... omong kosong, aku si ular asap tua
bukan orang bejat yang suka melakukan perbuatan keji yang
merugikan orang lain, siap yang kesudian membakar kandang
ayamnya itu??. Cuma... Sak Kioe Kong jadi marah dan licik, maka
aku sengaja menakut-nakuti dirinya agar ia jadi marah dan
menyumpah-nyumpah..."
"Aaaai... tabiatmu yang suka bergurau dan suka menggoda orang
betul-betul bisa bikin kepala orang jadi pusing..." omel pemuda itu
sambil tertawa getir.
Ouw-yang Gong tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... watakku memang begini, mau
dirubah pun susah sekali..."
"Sudah... sudahlah jangan bergurau lagi, aku dengan pihak partaipartai
besar dari wilayah selatan sudah mengadakan perjanjian untuk
bertemu muka besok malam, dalam pertemuan kali ini aku rasa lebih
banyak bahayanya daripada keberuntungan, kemungkinan besar kau
maupun aku bakal terkubur di dasar selat Sak Kioe Kong..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... jangan kuatir... inilah kesempatan
yang paling baik bagimu untuk munculkan diri..."
Gelak tertawanya berkumandang hingga mencapai puluhan li
jauhnya... tapi Pek In Hoei tetap tertunduk. Apa yang harus ia lakukan
besok malam?..."
.......
567
Saduran TJAN ID
"Taaang...!" suara genta yang nyaring berkumandang memenuhi
seluruh selat Seng See Kok yang tersohor akan misteriusnya, Sang
Kwan Cing putri kesayangan dari Sang Kwan Im kokcu selat Seng
See Kok dengan memimpin empat orang pria berbaju hitam perlahanlahan
munculkan diri dari balik kegelapan.
Dengan sorot mata yang tajam Sang Kwan Cing menyapu
sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya :
"Apakah semua wakil dari partai besar telah hadir?"
Bayangan manusia di empat penjuru mulai gaduh dan suara
bisiknya mulai berkumandang memecahkan kesunyian, kiranya
semua partai yang menerima undangan telah hadir semua kecuali Go
Kiam Lam dari partai Boo Liang Tiong.
Terdengar Kiem See Poocu Cia Toa Hiong berseru lantang :
"Mumpung sekarang si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei belum datang, apakah cuwi sekalian mempunyai sesuatu
pendapat?"
Dari gerombolan manusia segera muncul seorang kakek tua
berbadan kurus sambil tertawa terbahak-bahak ia berkata :
"Sekalipun di antara perguruan yang ada di wilayah selatan sering
terjadi perebutan kekuasaan, tapi belum pernah ada satu partai yang
sesumbar hendak mengusir partai yang lain keluar dari wilayah
selatan. Pek In Hoei terlalu jumawa dan tak tahu diri, ia berani
memandang rendah kita semua bahkan hendak sepak kita semua
keluar dari sini... menghadapi manusia macam itu satu-satunya jalan
yang dapat kita tempuh hanyalah beradu jiwa dengan dirinya, kalau
tidak maka kitalah yang bakal diinjak-injak olehnya..."
Begitu ucapan itu selesai diutarakan keluar, semua orang serentak
menyahut hampir berbareng :
"Betul, ucapan dari Han Sim Poocu Kheng Kie sedikit pun tidak
salah!"
"Khong Poocu," Sang Kwan Cing segera berkata sambil tertawa
ewa, "lalu apakah rencanamu untuk menghadapi Pek In Hoei?"
568
IMAM TANPA BAYANGAN II
Han Sim Poocu Kheng Kie tertawa seram.
"Loohu bersiap-siap untuk menjagal Pek In Hoei, kemudian
memotong-motong tubuhnya jadi beberapa bagian setiap wakil partai
yang hadir di sini masing-masing pulang dengan membawa sepotong
daging dan digantungkan di depan rumah, agar benda tadi bisa
dianggap sebagai peringatan bagi sahabat-sahabat yang hendak
memasuki wilayah selatan, barang siapa berani punya maksud untuk
mendirikan perguruan baru di sini maka begitulah akhirnya, agar
semua jago di dunia mengetahui bahwa orang Bu lim di wilayah
selatan bukanlah manusia yang boleh dibuat permainan!"
"Betul, perkataan Khong Poocu memang sangat tepat!"
Itulah suara dari Hek Bin Siuw loo Sak Kioe Kong dari
perkampungan Sak Kee cung, perlahan-lahan ia munculkan diri dari
gerombolan manusia kemudian ujarnya lagi :
"Khong Poocu, kau memang tidak malu disebut sebagai
pemimpin dari suatu daerah, usulmu memang sangat bagus dan loohu
yang pertama-tama menyetujuinya, sekalipun kita jarang bergaul
rupanya pendapat kita selalu memang searah, setelah pertemuan pada
hari ini, aku baru yakin bahwa kecerdikanmu memang luar biasa
sekali..."
Disanjung dengan kata-kata yang begitu manis, Han Sim Poocu
Kheng Kie merasa amat nyaman sekali, tetapi bagi pendengaran para
jago yang lain, ucapan itu terlalu tengik dan memuakkan, beberapa
orang segera menunjukkan sikap yang tidak puas.
Sang Kwan Cing tertawa dingin, segera ujarnya :
"Khong Poocu, caramu itu memang bagus tetapi aku rasa terlalu
sadis dan kejam..."
"Tidak! Sedikit pun tidak keterlaluan," tukas Sak Kioe Kong
cepat sambil gelengkan kepalanya. "Menghadapi manusia macam Pek
In Hoei, cara itu aku rasa malah terlalu enteng, kalau mengikuti
usulku, loohu ingin sekali menghancurkan badannya hingga remuk
jadi abu..."
569
Saduran TJAN ID
"Tutup mulutmu!" maki gadis she Sang Kwan itu dengan suara
ketus. "Aku tidak bertanya kepadamu, harap kau segera
mengundurkan diri dari sini..."
Sak Kioe Kong tidak menduga kalau ia bakal disemprot oleh
Sang Kwan Cing di hadapan orang banyak tetapi dengan wataknya
yang licik berada dalam keadaan yang serba kikuk ia segera tertawa
terbahak-bahak dan masuk kembali ke dalam gerombolan manusia.
Tiba-tiba... dari luar selat Seng See Kok berkumandang datang
suara derap kaki kuda yang nyaring, suara itu mengalun di tengah
angkasa yang gelap dan mengetuk hati setiap jago, air muka orangorang
itu segera berubah jadi tegang.
"Dia sudah datang!" Sang Kwan Cing segera berseru. "Harap
kalian semua mengeluarkan tanda kebesaran perguruan kalian
masing-masing."
Begitu selesai berkata ia mengeluarkan terlebih dahulu sebuah
panji kecil yang bersulamkan huruf 'Seng See Kok' dan ditancapkan
ke atas tanah.
Partai lain buru-buru mengeluarkan pula tanda kebesaran mereka
dan menancapkan di belakang panji kecil dari selat Seng See Kok tadi.
Suara derap kaki kuda kedengaran makin lama semakin nyaring,
di bawah sorot cahaya rembulan tampaklah dua ekor kuda berjalan
mendekat, di atas punggung kuda tadi duduklah Pek In Hoei serta
Ouw-yang Gong dengan sikap yang agung.
Pek In Hoei masih tetap mengenakan pakaiannya semula, dengan
pedang tersoren di punggung dan wajah yang keren ia sapu wajah
setiap orang dalam selat itu dengan tajam, lalu tertawa hambar dan
menganggukkan kepalanya sebagai tanda menyapa.
Ouw-yang Gong sendiri sambil duduk bersila di atas kudanya,
sepasang mata dipejamkan rapat-rapat, huncwee yang berada di
dalam genggamannya dihisap berulang kali... sikapnya jumawa dan
sama sekali tidak memandang sekejap pun ke arah orang-orang di
sekitarnya.
570
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalian tentu sudah menunggu lama bukan? Apakah kalian sudah
hadir semua?" tegur pemuda itu.
"Semua jago yang punya nama dan kedudukan di wilayah selatan
telah berkumpul di sini," jawab Sang Kwan Cing dingin.
"Keberanianmu yang besar dan tidak gentar menghadiri pertemuan
para enghiong semacam ini, sungguh mengagumkan hati setiap
orang..."
"Terima kasih, terima kasih... di sini aku ucapkan banyak terima
kasih lebih dahulu atas perhatian dari cuwi sekalian..."
Mendadak sinar matanya berkilat, setelah merandek sejenak
ujarnya kembali :
"Di dalam wilayah Lam Ciang yang begitu luas, masa cuma
terdiri dari beberapa perguruan belaka?"
Sepasang alis Sang Kwan Cing segera berkerut, ia merasa ucapan
dari si anak muda ini terlalu takabur, dengan hati mendongkol segera
sahutnya :
"Kecuali partai Boo Liang Tiong semuanya telah menantikan
kedatanganmu di sini."
"Hmmm partai Boo Liang Tiong untuk selamanya tetapi akan
datang kemari lagi, sebelum aku tiba di sini Go Kiam Lam telah kuusir
pergi dari wilayah selatan, seandainya ia tidak berhasil melarikan diri
dengan cepat mungkin pada saat ini aku bisa menjumpai kalian sambil
membawa batok kepalanya..."
"Apa?" seruan kaget segera berkumandang memenuhi seluruh
kalangan, setiap jago yang hadir di situ rata-rata dibikin terkejut dan
tidak percaya terhadap apa yang diucapkan oleh Pek In Hoei barusan.
Han Sim Poocu Kheng Kie segera loncat keluar dari barisan,
teriaknya :
"Kau betul-betul seorang manusia yang paling latah di kolong
langit. Hmmm...! Kau anggap Go Kiam Lam itu manusia apa? Masa
ia merasa jeri terhadap seorang bocah keparat semacam dirimu?
Heeeeh... heeeeh... heeeeh... di kolong langit kecuali manusia tolol
571
Saduran TJAN ID
mungkin tak akan ada orang yang sudi mempercayai omongan
setanmu itu..."
Pek In Hoei tertawa hambar :
"Kalian tak usah pusing kepala untuk memikirkan masalah itu,
jawaban serta bukti yang nyata dengan cepat akan kalian ketahui,
sekarang aku pun tak mau terlalu ribut dengan dirimu, coba sebutkan
dahulu kau dari perguruan mana?"
572
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 24
"LOOHU adalah Khong Kie dari benteng Han Sim poo, mungkin kau
pernah mendengar namaku bukan?"
"Tidak tahu!" sahut Pek In Hoei sambil gelengkan kepalanya.
"Aku tidak kenal namamu itu... perguruan dalam rimba persilatan
terlalu banyak, mana aku bisa mengingat satu per satu... lagi pula
kebanyakan jago yang kutemui sebagian besar adalah manusia yang
bernama kosong belaka, sungguh membuat hati jadi kecewa."
Hampir saja Han Sim Poocu Kheng Kie muntah darah segar
saking gusarnya setelah mendengar ia dihina habis-habisan oleh pihak
lawan di hadapan para jago Bu lim, sekujur tubuhnya gemetar keras
teriaknya :
"Bajingan cilik, sampai di mana sih kepandaian silat yang kau
miliki sehingga begitu berani tak pandang sebelah mata pun terhadap
orang kangouw? Tahukah kau bahwa kedudukan loohu di wilayah
selatan..."
"Huuuh apa yang kukatakan adalah suatu kenyataan, dewasa ini
manusia macam dirimu tidak lebih hanyalah manusia..."
"Bangsat cilik, loohu akan menjajal lebih dahulu sampai di
manakah kelihayanmu..." jerit Han Sim Poocu Kheng Kie dengan
mata melotot.
Saking gusarnya seluruh badannya gemetar keras, sambil
menyeret sebuah toya baja dan dengan langkah kaki yang mantap ia
maju mendekati si anak muda itu.
573
Saduran TJAN ID
Pek In Hoei tertawa sinis, sinar matanya menyapu sekejap ke arah
urutan panji kebesaran di atas tanah, kemudian katanya :
"Ooooh...! Rupanya dalam wilayah selatan kau menduduki
urutan yang ke-empat, ehmmm! Mungkin saja kau memang punya
sedikit simpanan..." ia merandek sejenak, lalu sambil menoleh ke arah
Ouw-yang Gong ujarnya :
"Ular asap tua, coba kau ambil dulu panji kebesaran Han Sim
Leng itu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... sungguh tak nyana si ular asap tua
sekarang jadi tukang barang rongsokan," sambil mengomel Ouwyang
Gong meloncat ke depan dan tertawa cengar-cengir.
Han Sim Poocu Kheng Kie semakin naik pitam, ia putar senjata
toyanya menghalangi jalan pergi Ouw-yang Gong, kemudian
makinya keras-keras :
"Hey, kau mau apa?"
"Hiiih... hiiiih... hiiih... tentu saja mau mengambil panji Han Sim
Leng itu... Kenapa?"
"Menang kalah belum ditentukan, aku larang kau menyentuh
panji Han Sim Leng tersebut."
"Hmmm! Cepat atau lambat semua panji itu bakal kudapatkan
semua," jengek Pek In Hoei dengan suara dingin, "pada saat partai
Thiam cong didirikan kembali, semua panji itu akan menancap di
gunung Thiam cong sebagai hiasan..."
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua jago yang hadir
dalam kalangan jadi sama-sama jadi gusar , suasana jadi ramai dan
semua orang dengan wajah tidak puas sama-sama maju ke depan siap
mengerubuti si anak muda itu.
"Kau jangan bermimpi di siang hari bolong," bentak Khong Kie
dengan suara keras. "Sebelum benda itu berhasil kau dapatkan
kemungkinan besar jiwamu sudah melayang lebih dahulu..."
"Mungkin saja apa yang kau ucapkan tidak salah, tetapi aku pun
hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, aku si Jago Pedang
574
IMAM TANPA BAYANGAN II
Berdarah Dingin bukan hanya sehari dua hari saja berkecimpung
dalam Bu lim, gelombang besar macam apa pun sudah pernah
kujumpai, tidak nanti aku bakal jeri menghadapi sebuah benteng Han
Sim poo yang kecil..."
Kali ini Han Sim Poocu Kheng Kie benar-benar sudah tak
sanggup menahan diri lagi, ia putar toya bajanya di tengah udara
membentuk tiga kuntum bunga api, kemudian dengan jurus Naga
Hitam keluar dari samudra laksana kilat ia totok tubuh si anak muda
itu.
"Huuuh, kau masih terpaut jauh kalau dibandingkan dengan
diriku!..." jengek Pek In Hoei sambil putar telapak melancarkan
sebuah pukulan.
Di saat ujung toya hampir mengenai tubuhnya itulah mendadak
dengan cepat telapak ia babat senjata lawan.
Han Sim Poocu Kheng Kie segera merasakan sekujur tubuhnya
tergetar keras, tak tertahan lagi ia mundur lima enam langkah ke
belakang dengan sempoyongan.
Ketika itulah Sang Kwan Cing maju ke depan dan berseru sambil
ketawa lengking.
"Khong Poocu harap kembali, kita tak boleh membikin kacau
jalannya rencana..."
Han Sim Poocu segera meloncat mundur ke belakang, serunya :
"Bangsat, nanti kita bertemu lagi!"
Kesadarannya sudah mulai pulih kembali, otaknya sudah tidak
terlalu terpengaruh oleh emosi, orang ini sadar bahwa dia bukan
tandingan si anak muda itu maka sebelum Sang Kwan Cing
mengulangi kembali perkataannya, buru-buru ia sudah
mengundurkan diri ke belakang.
Pek In Hoei tertawa lantang.
"Apakah masih ada yang ingin maju lebih dahulu?"
Para jago yang hadir dalam selat Seng See Kok malam itu ratarata
adalah manusia licik, tentu saja yang menunjukkan reaksi setelah
575
Saduran TJAN ID
melihat kekalahan dari Khong Kie, sinar mata mereka segera
dialihkan ke arah Sang Kwan Cing.
"Kenapa kau terburu-buru?" seru Sang Kwan Cing dingin.
"Sebelum urusan dibikin jelas lebih dahulu, siapa pun dilarang
bertempur di dalam selat Seng See Kok..."
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan pisau ia menyapu
sekejap ke seluruh kalangan lalu tambahnya :
"Siapa yang berani melanggar peraturan yang sudah ditetapkan
dalam pertemuan ini, jangan salahkan kalau nonamu segera akan usir
kalian keluar dari selat Seng See Kok. Dan sekarang aku hendak
mewakili seluruh partai yang ada di wilayah selatan untuk berbicara
dan Pek In Hoei..."
"Apa yang ingin kau katakan kepadaku? Cepat katakanlah keluar,
aku akan mendengarkan dengan seksama..." sahut Pek In Hoei dingin.
Sang Kwan Cing tertawa dingin.
"Betulkah partai Thiam cong akan didirikan kembali di dalam
wilayah selatan?"
"Sudah tentu!" jawab si anak muda itu setelah melengak sejenak.
"Selamanya partai Thiam cong tak akan mengundurkan diri dari dunia
persilatan..."
"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, katanya
kedatanganmu ke wilayah selatan adalah untuk menghancurkan
semua partai yang ada di sini serta merampas seluruh wilayah selatan
untuk dijadikan daerah kekuasaan partai Thiam cong, betulkah kau
mempunyai ambisi yang begitu besar???"
"Hmmm! Apa yang mesti kau tanyakan lagi? Aku toh sudah
datang kemari rasanya sekalipun hendak berlalu belum tentu kalian
ijinkan, karena itu lebih baik kita cepat-cepat selesaikan urusan kita,
waktu sudah tidak pagi..."
"Hmmm! Baiklah sampai waktunya kau jangan menyesal..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... " tiba Pek In Hoei mendongak dan
tertawa terbahak-bahak, suaranya menjulang ke angkasa dan
576
IMAM TANPA BAYANGAN II
mengalun tiada hentinya dalam selat tersebut, dengan nada sinis ia
menjengek :
"Menyesal? Kalau menyesal aku tak bakal datang kemari!"
Sang Kwan Cing menghela napas sedih, untuk sesaat ia dibuat
tertegun oleh gelak tertawa lawannya yang jumawa dan sombong ini,
cahaya kilat memancar keluar dari balik matanya, kepada wakil dari
pelbagai partai kemudian serunya :
"Harap kalian siap-siap untuk turun tangan, wilayah selatan bakal
jadi wilayah kekuasaan siapa hal tersebut akan tergantung pada usaha
serta perjuangan kalian sendiri. Dan kini siapa yang ingin turun
tangan lebih dahulu untuk beradu kepandaian dengan si Jago Pedang
Berdarah Dingin..."
Para wakil partai saling berpandangan sekejap, siapa pun tak
berani maju ke depan untuk menerima tantangan tersebut, kejadian ini
betul-betul merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan.
"Aku lihat lebih baik kalian turun tangan secara serentak saja,"
ejek Pek In Hoei sambil tertawa sombong. "Dengan begitu aku tak
usah repot-repot dan waktu pun tidak terbuang dengan percuma.
Andaikata aku yang beruntung menang maka setelah mengambil
benda-benda itu aku akan segera berlalu, andaikata tidak beruntung
dan kalah aku tidak menyesali kenapa ilmu silatku tidak becus..."
"Hmmm..." dengusan berat berkumandang dari balik kegelapan,
Han Sim Poocu Khong Kie beserta seorang pria kekar meloncat
keluar dari barisan secara berbareng, mereka segera menghampiri si
anak muda itu.
"Oooh... bangsat nenek moyangmu, cucu kura-kura kalian ingin
dua lawan satu?" maki Ouw-yang Gong si huncwee gede dengan
marah. "Hati-hati... kugetok batok kepala kalian sampai hancur
lebur..."
Air muka Sang Kwan Cing pun ikut berubah, teriaknya :
"Khong Poocu harap segera kembali, kita sebagai jago dari
selatan tak boleh kehilangan pamor..."
577
Saduran TJAN ID
Han Sim Poocu Khong Kie mendengus dingin, dengan mulut
membungkam ia balik kembali ke dalam barisan, sementara pria
kekar itu menjemput sebilah pedang dan mendekati lawannya.
Pek In Hoei menjengek dingin, katanya :
"Laporkan dulu siapa namamu, aku ingin lihat dalam berapa jurus
sanggup mengalahkan dirimu!"
"Pek In Hoei, ingatlah baik-baik, aku adalah si pedang baja Loei
Peng dari partai Kilat," teriak pria itu dengan hati mendongkol, "Bila
kau sudah menghadap raja akhirat nanti jangan sampai lupa menyebut
namaku..."
Partai Kilat tersohor di kolong langit sebagai sebuah partai yang
mengandalkan ilmu pedang terutama sekali sembilan jurus ilmu
pedang gunturnya sudah merupakan kepandaian yang ampuh di
wilayah selatan.
Ketika wakil dari pelbagai partai lain menyaksikan Loei Peng
dari partai Kilat muncul dalam pertempuran babak pertama, mereka
bersorak sorai kegirangan, mereka tahu asal jago lihai ini turun tangan
lebih dahulu maka sedikit banyak akan menghancurkan pamor Pek In
Hoei dan merebut kembali gengsi para jago dari wilayah selatan.
Sambil meluruskan pedangnya di depan dada, Loei Peng tarik
napas panjang-panjang, pedangnya digetarkan di udara hingga
menimbulkan deruan angin dan guntur yang tajam, tidak malu ia
disebut sebagai seorang pimpinan suatu partai.
Pek In Hoei tertawa hambar, serunya :
"Oooh, sungguh tak nyana kau pun seorang jago lihai dalam
menggunakan ilmu pedang..."
"Cabut pedangmu! bentak Loei Peng.
"Huuuh...! Kalau cuma menghadapi beberapa jurus ilmu
pedangmu itu, sangat memalukan kalau aku harus gunakan pedang..."
ia bongkokkan badan mengambil sebatang batang kering dan
melanjutkan, "biarlah aku gunakan ranting ini sebagai ganti pedang
untuk menemani dirimu bermain beberapa jurus!"
578
IMAM TANPA BAYANGAN II
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, seruan kaget
berkumandang dari empat penjuru, semua orang menganggap si anak
muda itu terlalu jumawa dan takabur.
Loei Peng sendiri dibuat naik pitam atas penghinaan tersebut,
mukanya berubah jadi merah berapi, sambil menggetarkan pedangnya
di udara ia menghardik keras :
"Bangsat, kau cari mati..."
Seluruh kegusaran dan rasa mendongkolnya segera disalurkan ke
dalam serangan yang dilancarkan, ia membentak keras, pedangnya
laksana kilat menusuk ke arah lambung musuh.
Sungguh hebat serangan tersebut, di antara bergeletarnya cahaya
tajam disertai deruan angin puyuh dan ledakan guntur senjata itu
langsung meluncur ke depan.
Pek In Hoei terkejut, ia tak mengira kalau musuhnya telah
berhasil meyakini ilmu pedangnya hingga mencapai taraf itu,
meskipun ia tidak sampai terpengaruh oleh deruan angin serangan tadi
namun pemuda itu tak berani bertindak gegabah sebab serangan yang
dituju adalah suatu bagian tubuh yang amat penting.
Tenaga murninya dengan cepat disalurkan ke dalam ujung
ranting lalu disentilnya ringan ke atas ujung senjata lawan.
Triiiiing...!
Loei Peng seketika merasakan lengannya bergetar keras,
serangan pedangnya segera meleng beberapa depa ke samping.
Buru-buru ia putar pedangnya melancarkan kembali serangan
dahsyat ke arah depan, jurus yang digunakan adalah Pian Cung
menusuk harimau, meski suatu jurus serangan yang sederhana tapi
merupakan suatu perubahan serta penyerangan yang amat sempurna.
"Hmmm! Apakah kau cuma bisa mainkan sejurus serangan ini
saja?" jengek Pek In Hoei sambil mendengus.
Dengan ranting menggantikan pedang dalam hal senjata ia
menderita kerugian besar, tapi rupanya si anak muda itu ada maksud
untuk mendemonstrasikan kelihayannya, belum sempat jurus
579
Saduran TJAN ID
serangan Loei Peng digunakan sampai habis, tiba-tiba ujung ranting
itu bergetar di angkasa dan meluncurlah serentetan desiran angin
tajam ke arah depan.
"Triiiing...! kembali terjadi dentingan nyaring yang memekakkan
telinga, entah secara bagaimana tahu-tahu pedang dalam cekalan Loei
Peng sudah terlepas dan rontok di atas tanah, wajahnya pucat pias
bagaikan mayat, pakaian bagian badannya hancur terkoyak-koyak,
untuk beberapa saat lamanya ia berdiri menjublak di tengah kalangan
sambil menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.
Lama... lama sekali ia baru tarik napas panjang-panjang dan
bertanya, "Ilmu pedang apakah yang telah kau gunakan?"
"Jurus Tenaga sakti menghajar surya dari ilmu pedang
penghancur sang surya," jawab Pek In Hoei sambil tertawa ewa.
Dengan putus asa Loei Peng menghela napas panjang, ia tertawa
sedih lalu putar badan dan berlalu dari situ, dalam sekejap mata
bayangan tubuhnya telah lenyap di balik kegelapan.
"Ular asap tua, simpan panji guntur tersebut," seru pemuda she
Pek itu lantang.
"Baik, inilah partai pertama yang bertekuk lutut pada kita," sahut
Ouw-yang Gong dengan bangga. "Aku si ular asap tua harus
menghisap huncweeku dalam-dalam untuk merayakan kemenangan
ini..."
Ia sambar panji kecil berlukiskan kilatan guntur itu lalu ditaruh
di bawah pantatnya dan lantas diduduki.
Perbuatan yang konyol ini seketika menggusarkan wakil dari
partai-partai lain, mereka sama-sama menuding kakek itu sambil
memakinya kalang kabut.
Setelah kemenangannya yang pertama, semangat Pek In Hoei
makin berkobar, sambil tertawa keras serunya :
"Sekarang masih ada siapa lagi yang ingin maju?"
"Hmmm!.... Ku Lip dari benteng Leng Cian Poo ingin mohon
petunjukmu..." bersamaan dengan seruan itu dari balik barisan para
580
IMAM TANPA BAYANGAN II
jago muncul seorang kakek tua yang tinggi besar, sebuah gendawa
besar tergantung pada punggungnya, sikap serta gerak geriknya
sangat gagah...
Pek In Hoei melirik sekejap ke arah orang itu dengan pandangan
sinis, lalu sambil tertawa dingin jengeknya :
"Mampukah kau?"
Leng Cian Poocu Ku Lip melengak, air mukanya segera berubah,
sebagai seorang jago yang tersohor dalam dunia persilatan belum
pernah ia jumpai manusia yang begitu pandang hina terhadap dirinya,
dalam gusarnya ia segera mendongak dan tertawa keras.
"Bajingan cilik, kau terlalu tidak pandang sebelah mata terhadap
diriku..."
Ia loloskan gendewa besar yang tergantung di punggungnya lalu
cabut keluar sebatang panah panjang berbulu emas, setelah dipasang...
Sreet, anak panah itu dibidikkan ke atas sebuah batu cadas.
"Blaaam... hancuran batu bermuncratan di angkasa, di tengah
percikan bunga api tampaklah anak panah itu menembusi batu cadas
tersebut hingga tinggal bulunya saja yang tersisa di luar.
Dalam hati Pek In Hoei merasa tercekat, ia tak mengira kalau
orang ini memiliki tenaga murni yang begitu hebat, dalam sekali
bidikan sanggup menembusi batu cadas yang begitu keras.
Dengan andalkan kekuatan semacam ini, ia merasa bahwa
musuhnya yang satu ini tak boleh dipandang remeh.
"Sungguh luar biasa, sungguh luar biasa....!" serunya memuji,
setelah merandek sejenak tambahnya, "sayang kau cuma mampu
membidik mati seekor semut."
Ketika kedengarannya pihak musuh memuji kehebatannya Leng
Cian Poocu Ku Lip merasa amat bangga dan gengsinya terasa ikut
menanjak naik, siapa tahu Ouw-yang Gong telah menambahi ddg
mengatakan bahwa ia cuma mampu membidik mati seekor semut,
hawa amarahnya segera berkobar.
Dengan penuh kegusaran teriaknya :
581
Saduran TJAN ID
"Ular asap tua, kau tak usah menyindir orang dengan perkataan
yang tak sedap didengar, asal kau mampu untuk menirukan gerakanku
tadi maka benteng Leng Cian Poo ku akan kuserahkan kepadamu
tanpa syarat..."
"Huuuh... kau pengin ajak aku si ular asap tua bergurau?? Mari
biar kusuruh kau rasakan dulu ikan Lee hi goreng..."
Ia hisap huncweenya dalam-dalam kemudian secara tiba-tiba
melentikkan kobaran api yang membara ke arah tubuh Ku Lip.
Percikan api segera berkobar jadi besar dan membakar wajah
Leng Cian Poocu, membuat jago tua itu berkaok-kaok kesakitan dan
memaki musuhnya kalang kabut.
"Haaaah... haaaah... haaaah... bagaimana rasanya gorengan ikan
Leehi ini???" ejek Ouw-yang Gong sambil tertawa tergelak.
Seluruh wajah Leng Cian Poocu Ku Lip kotor oleh abu tembakau,
ujung bibirnya bengkak dan muncul gelembung-gelembung air, ia
meraung keras, dicabutnya sebatang anak panah lalu dipasang di atas
gendewanya.
"Hey ular asap tua, kau cobalah permainan membidik semutku
ini..."
Ku Lip tarik gendewanya keras-keras kemudian membidikkan
anak panah tadi mengarah tubuh Ouw-yang Gong.
Terhadap datangnya ancaman si kakek konyol itu sama sekali
tidak menggubris, bahkan ia malah menyulut tembakau baru di atas
huncweenya.
Sreet...! diiringi suara desiran tajam anak panah itu meluncur ke
depan bagaikan sambaran kilat.
Ouw-yang Gong tertawa terkekeh-kekeh, ditunggunya sampai
anak panah itu hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba huncwee dalam
genggamannya ditutulkan ke atas ujung anak panah itu.
"Kraaak...!" diiringi bentrokan nyaring anak panah itu tergetar
patah jadi dua bagian.
582
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sambil mencekal patahan panah itu Ouw-yang Gong mendengus
hina, dia buang kutungan tadi ke atas tanah dan serunya sambil
melirik sekejap ke arah Pek In Hoei :
"Huuuh! Kepandaian dari benteng Leng Cian oo tidak lebih cuma
begitu-begitu saja..."
Ku Lip jadi mencak-mencak kegusaran, bentaknya :
"Kau jangan banyak bacot dulu. Nih! Coba sekali lagi..."
******
Bagian 27
DALAM pada itu dengan pandangan dingin Pek In Hoei menyapu
sekejap wajah para jago yang hadir di tempat itu dan akhirnya
berhenti di atas wajah Sang Kwan Cing, jengeknya :
"Benarkah di wilayah selatan sama sekali tidak ada orang
pandai?"
Sekujur badan Sang Kwan Cing bergetar keras, ia merasa dari
balik sorot mata pemuda itu memancar keluar suatu kekuatan yang
aneh, ia melengos ke samping dan menyahut dengan nada dingin :
"Sebentar lagi kau akan tahu apa yang sebenarnya kami miliki,
mungkin saat ini kau merasa bangga tapi sesaat lagi mungkin kau
akan mengetahui bahwa kelihayan daripada enghiong di wilayah
selatan jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang..."
"Hmmm..." Leng Cian Poocu Ku Lip sambil putar gendewa
besarnya meloncat bangun dari atas tanah. "Pek In Hoei, kau masih
belum bergebrak melawan aku orang she Ku."
Orang ini benar-benar tak tahu diri, bahkan menantang si jago
pedang berdarah dingin untuk bertempur.
Perlahan-lahan Pek In Hoei menoleh, tanyanya :
"Apakah kau hendak menantang aku untuk beradu ilmu
memanah?"
"Hmmm! Omong kosong, aku ingin menantang dirimu untuk
bertempur ilmu pedang penghancur sang surya..."
583
Saduran TJAN ID
"Jumawa amat dirimu!" seru si anak muda itu sambil tertawa
dingin, napsu membunuh menyelimuti wajahnya.
Leng Cian Poocu Ku Lip tertawa seram, gendewa raksasanya
diayun di tengah udara dan memperlihatkan suatu gerakan yang
sangat aneh, disapunya tubuh pemuda itu dengan dahsyat.
Pek In Hoei melengak, pikirnya :
"Masa gendewa sebesar ini bisa digunakan sebagai pedang..."
Dengan enteng ia melayang ke samping, kakinya bergeser
membiarkan gendewa itu lewat dari bawah.
Merasakan sapuannya mengenai sasaran kosong, dengan cepat
Leng Cian Poocu Ku Lip putar badannya satu lingkaran dan
melancarkan satu bacokan kembali.
Pek In Hoei tak menyangka kalau perubahan jurus yang
dilakukan orang itu sedemikian cepatnya, menghadapi datangnya
bacokan yang begitu hebat kembali ia geser badannya ke samping,
telapak diputar menghantam punggung gendewa itu hingga berbunyi
nyaring.
Leng Cian Poocu Ku Lip merasakan satu tenaga dorongan yang
hebat menghajar tubuhnya lewat gendewa tersebut, tak tahan
badannya mundur dua langkah ke belakang dengan sempoyongan.
"Aku akan beradu jiwa dengan dirimu..." teriaknya.
Pergelangannya digetarkan keras, tiba-tiba gendewanya
menciptakan bunga serangan yang tajam. Sreet! Sreet! Sreet! secara
beruntun ia lancarkan tiga buah serangan berantai yang kesemuanya
tidak terlepas dari tempat berbahaya di sekeliling tubuh lawannya,
semua serangan dilancarkan dengan hebat dan mantap laksana bukit.
Pek In Hoei tertawa dingin, katanya :
"Kalau kau ingin menggunakan cara ini untuk beradu jiwa, maka
lebih baik gunakan untuk menakut-nakuti bocah berumur tiga tahun."
Badannya bergeser cepat, dalam waktu yang amat singkat ia
berputar ke belakang tubuh Ku Lip lalu mengetuk punggungnya
dengan ujung telapak, serunya :
584
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Sekarang kau boleh berlalu dari sini, tetap bertahan berarti
mencari kesulitan bagi diri sendiri!"
Bisikan itu diucapkan sangat lirih dan hanya Ku Lip seorang yang
mendengar, Leng Cian Poocu ini tertegun dan segera mengerti bahwa
si anak muda itu masih memberi muka baginya.
Ia menghela napas panjang, setelah memandang sekejap wajah
pemuda itu, ia putar badan dan berlalu.
Tindakan dari Leng Cian Poocu Ku Lip ini seketika menegunkan
hati para jago yang hadir di sana, siapa pun tidak sempat melihat
secara bagaimana jago itu menemui kekalahannya, melihat ia berlalu
semua orang cuma bisa berdiri melongo dan kebingungan saja.
"Ku heng, kau hendak pergi ke mana?" teriak Han Sim Poocu
Khong Kie dengan suara keras.
Ku Lip tertawa sedih.
"Ilmu silat yang siauw te miliki hanya biasa saja tetapi berada di
sini cuma akan memalukan orang-orang dari selatan saja..."
"Ku poocu harap tahan sejenak," seru Sang Kwan Cing pula
sambil tersenyum. "Menang kalah adalah suatu kejadian yang lumrah
bagi kita, mengapa kau mesti memikirkannya di dalam hati?? Lagi
pun dari pihak kita toh belum banyak yang turun ke dalam
gelanggang, siapa tahu ada orang lain yang sanggup membalaskan
sakit hati poocu..."
Ouw-yang Gong yang mendengar perkataan itu jadi tidak puas,
teriaknya :
"Hey budak ingusan, keras amat selembar bibirmu itu, siapa sih
yang mampu mengalahkan Pek In Hoei?? Coba katakanlah dulu
kepada aku si ular asap tua..."
"Banyak mulut!" maki Sang Kwan Cing dengan wajah adem.
"Hati-hati kalau kupotong lidahmu yang usil itu..."
"Aduuuh mak... aduuuh nenek moyang..." teriak Ouw-yang Gong
ketakutan. "Kau suruh aku lakukan pekerjaan apa pun aku mau,
cebokin pantatmu aku juga mau... tapi jangan kau potong lidahku ini...
585
Saduran TJAN ID
waduh! Kalau aku tak punya lidah bisa jadi aku si ular asap tua jadi
seorang bangsat bisu..."
Tingkah lakunya yang kocak membuat para jago tak dapat
menahan rasa gelinya dan tertawa terbahak-bahak sampai Sang Kwan
Cing sendiri yang berwajah adem pun segera tersungging satu
senyuman.
"Siapa sih nenek moyangmu..." hardiknya.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... anak monyet cucu kura-kura, kau
berani mengaku sebagai nenek moyangku..."
"Makhluk tua yang bermulut rongsok, hati-hati kalau kuhajar
mulutmu sampai gepeng!"
"Ouw-yang Gong masih ingin membanyol lebih jauh, tiba-tiba ia
lihat Pek In Hoei mengerdipkan matanya ke arahnya, cepat-cepat ia
membungkam mengundurkan diri.
"Siapa lagi yang hendak memberi petunjuk kepadaku?" seru si
anak muda itu kemudian setelah tarik napas dalam-dalam.
Setelah menyaksikan pemuda itu secara beruntun mengalahkan
dua jago lihay, sebagian besar para jago yang hadir di tempat itu sudah
merasa jeri, mereka semua tahu bahwa di situ kecuali Sang Kwan
Cing seorang siapa pun bukan tandingan dari si Jago Pedang Berdarah
Dingin itu.
Tetapi benarkah di antara begitu banyak jago yang hadir di situ,
tak seorang pun yang berani menghadapi tantangan dari Pek In Hoei?
Andaikan kejadian ini benar-benar terjadi maka peristiwa tersebut
benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan.
Maka dari para jago yang hadir dalam kalangan segera saling
berpandangan tanpa seorang pun berani tampil ke depan, sinar mata
semua orang secara tidak sadar sama-sama dialihkan ke arah wajah
Sang Kwan Cing...
Pek In Hoei tertawa dingin, serunya :
"Apakah tak seorang pun yang berani keluar? Hmm, baiklah,
terpaksa aku harus memilih satu per satu..."
586
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Tudinglah jago yang kau inginkan," dengus Sang Kwan Cing.
"Peduli siapa pun yang kau pilih, mereka tak akan membuat kau
merasa kecewa..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... baik, baik," sinar matanya segera
mengerling sekejap ke arah Han Sim Poocu Khong Kie. "Aku lihat
lebih baik Toa poocu itu saja yang melayani diriku. Khong Poocu, kau
suka memberi muka kepadaku bukan?"
Han Sim Poocu Khong Kie merasa hatinya tercekat, secara tibatiba
timbul rasa takut di dalam hatinya, tetapi setelah si Jago Pedang
Berdarah Dingin menjatuhkan pilihan kepadanya, tentu saja ia tak
bisa menampik.
Sambil tertawa tergelak segera serunya :
"Baik, baik... Hmm... Hmm... kalau memang kau ingin cepatcepat
modar, biarlah aku orang she Khong menghantar dirimu untuk
berangkat..."
Sambil mencekal toya bajanya erat-erat dan napsu membunuh
menyelimuti wajahnya, ia maju ke depan dengan langkah lebar,
tingkah lakunya tersebut segera mengerutkan dahi Pek In Hoei.
Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat :
"Khong Poocu, dapatkah kau berikan babak kali ini kepada siauw
te???"
Khong Kie melengak dan segera menoleh ke arah seorang pria
berusia pertengahan yang berdiri di hadapannya.
"Hooh, Seng jie ko, rupanya kau..."
Pria itu tersenyum.
"Khong poocu masih bisa ingat akan diriku, hal ini merupakan
suatu kehormatan bagiku. Poocu, bagaimana kalau kau serahkan
babak pertarungan kali ini kepada aku Seng Kong..."
"Apakah Seng Jie ko mempunyai ganjalan hati dengan si Jago
Pedang Berdarah Dingin?"
Seng Kong tertawa dingin.
587
Saduran TJAN ID
"Hmm... secara beruntun ia mengalahkan jago-jago dari wilayah
selatan, membuat jago kita jadi mengkret dan ketakutan semuanya,
cukup meninjau dari hal ini sudah cukup untuk membuat kita semua
jadi kehilangan muka dan tak bisa hidup lebih jauh di sini..."
"Benar! kejadian ini memang sangat memalukan..." sahut Khong
Kie sambil tertawa getir.
"Apakah Khong Poocu merasa amat sedih karena kejadian ini?"
"Benar!" untuk kesekian kalinya Khong Kie dibuat melengak.
"Kalau memang Khong Poocu merasa sedih, kenapa sedari tadi
kau tidak munculkan diri..."
"Bukankah aku sudah tampil ke depan?" teriak Han Sim Poocu
itu dengan gusar.
Seng Kong sama sekali tidak kasih hati kepada musuhnya, ia
berseru kembali :
"Seandainya Pek In Hoei tidak menantang dan menuding dirimu,
apakah Khong Poocu berani tampil ke depan?"
Khong Kie tidak mengira kalau kemunculan Seng Kong adalah
untuk menjelek-jelekkan namanya, dari malu ia jadi naik pitam,
sambil meraung keras toyanya segera dikemplang ke depan.
"Bagus sekali!" teriaknya keras-keras. "Rupanya kau mengajak
muncul untuk menjelek-jelekkan namaku. Hmmm! Aku ingin tahu
selat Leng In Kok mu itu mempunyai jago lihay andalan macam apa,
sehingga begitu berani pandang hina orang lain..."
Seng Kong gerakkan badannya menyingkir ke samping, sambil
tertawa dingin sahutnya :
"Persoalan di antara kita berdua lebih baik diselesaikan di
kemudian hari saja, kenapa kau mesti terburu-buru?"
Laksana kilat badannya menyingkir ke samping dan lepas dari
ancaman musuh, perbuatan lawannya ini membuat Han Sim Poocu
Khong Kie jadi semakin kalap, ia putar toyanya dan mengajar ke
depan, meski serangan-serangannya dahsyat namun tak mampu untuk
menyentuh tubuh Seng Kong barang sekali pun.
588
IMAM TANPA BAYANGAN II
Keonaran yang timbul secara mendadak ini jauh di luar dugaan
Sang Kwan Cing serta para jago lainnya, mereka tak mengira kalau
kejadian bisa berubah jadi begini. Musuh tangguh belum sempat
dipukul mundur, orang sendiri malah saling bergebrak duluan.
Dengan wajah membesi Sang Kwan Cing segera berseru :
"Tahan!" Khong Kie menghentikan gerakan tubuhnya dan
berteriak dengan penuh kegusaran :
"Nona Sang Kwan, coba kau nilai kejadian ini..."
"Huuuh! Apakah kau masih punya muka untuk berbicara?"
jengek Seng Kong sambil tertawa dingin. "Semua orang yang ada di
sini siapa pun tahu apa yang sedang kau pikirkan di dalam hati..."
"Khong poocu harap segera kembali!" seru Sang Kwan Cing
sambil maju ke depan dengan wajah dingin.
Kedudukan Han Sim Poocu Khong Kie di wilayah selatan tidak
rendah, tapi pada malam ini secara beruntun ia harus menelan rasa
mendongkol di tangan orang lain. Pertama kali di tangan Loei Peng
dari partai Kilat, dan kini di tangan Seng Kong dari selat Leng In Kok.
Seandainya Seng Kong bicara secara baik-baik dengan dirinya,
mungkin ia bisa memberi muka kepada orang itu, siapa tahu orang itu
seakan-akan mempunyai sakit hati dengan dirinya, bukan saja sudah
menjelek-jelekkan namanya, bahkan membuat pamornya merosot,
hal ini membuat hatinya jadi amat mendendam.
Ditambah pula saat ini Sang Kwan Cing memerintahkan dia
untuk mundur, kegusarannya makin memuncak.
Ia tatap gadis itu dengan pandangan membenci lalu serunya :
"Tidak sulit untuk memaksa aku mundur ke belakang, tapi kau
harus tanya dulu kepada toyaku ini maukah dia turuti perkataanmu..."
"Ooooh...! Jadi kau tak mau memberi muka kepadaku?"
Han Sim Poocu Khong Kie tertegun.
"Tentang soal ini..."
Ia tahu selat Seng See Kok adalah partai nomor wahid di wilayah
selatan dengan pengaruh yang paling luas, bilamana ia harus
589
Saduran TJAN ID
bermusuhan dengan selat Seng See Kok dan selat Leng In Kok secara
beruntun, sebagai seorang jago yang cerdik tentu saja ia tak
mempunyai keberanian itu.
Setelah berpikir sebentar, akhirnya ia tarik kembali toyanya dan
mengundurkan diri dari situ sambil melotot sekejap ke arah Seng
Kong dengan pandangan penuh kebencian.
"Setelah urusan di sini selesai, aku Seng Kong pertama-tama
yang akan berkunjung ke benteng Han Sim Poo untuk minta maaf..."
seru jago dari selat Leng In Kok itu dengan dingin.
Khong Kie mendengus berat.
"Hmmm! Bagus sekali, sampai waktunya aku pasti akan
menyambut kedatangan Seng jie ko..."
Ia seret toyanya maju dua langkah ke depan dan serunya kembali
:
"Nona Sang Kwan, aku ingin mohon diri lebih dahulu."
"Begitu pun boleh juga," jawab Sang Kwan Cing sambil tertawa
ewa. "Semakin banyak orang di sini malah semakin banyak urusan
yang terjadi..."
Khong Kie jadi amat mendendam sampai dia mesti gertak
giginya kencang untuk menahan emosi dalam dadanya, dalam hati ia
menyumpah :
"Budak setan, suatu hari aku pasti akan suruh kau rasakan
kelihayan dari aku orang she Khong..."
Ia tertawa dingin, sambil menyeret toyanya ia melotot sekejap ke
arah Pek In Hoei, kali ini rasa bencinya lebih tebal seakan-akan
berhadapan dengan musuh besarnya saja, sambil tertawa seram
serunya :
"Pek In Hoei, urusan di antara kita lebih baik dibicarakan lain hari
saja..."
"Hmmm! Sungguh bagus rejekimu hari ini, di tengah jalan ada
orang yang mewakili dirimu..." ejek Pek In Hoei.
590
IMAM TANPA BAYANGAN II
Han Sim Poocu Khong Kie pura-pura tidak mendengar, dengan
langkah lebar ia berlalu dari sana.
Tiba-tiba Ouw-yang Gong mendengus dingin, badannya
melayang maju ke depan, teriaknya :
"Tidak bisa jadi, monyet tua ini tak boleh pergi!"
"Kau mau apa?" hardik Khong Kie dengan bencinya.
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... mau pergi boleh saja tapi
tinggalkan dulu tanda perintah Han Sim Leng itu. Hmmm! Akal licik
dari kau si cucu kura-kura paling banyak, kalau kami biarkan kau
berlalu dengan begini saja, lalu apa gunanya kami datang ke sini?"
"Benteng Han Sim Poo kami toh belum kalah..." teriak Khong
Kie semakin gusar.
"Huuuh... tiada berharganya untuk membicarakan soal benteng
Han Sim Poo lebih baik tinggalkan dulu benda itu sebelum pergi."
Baru pertama kali ini Khong Kie mengalami penghinaan
sebanyak ini, saking gusarnya ia segera melotot sekejap ke arah Sang
Kwan Cing. Tapi akhirnya ia geleng kepala dan menghela napas
panjang.
"Aaai...! sudah sudahlah. Nih, ambillah..." habis berkata ia segera
berlalu dengan langkah lebar.
Dengan bangganya Ouw-yang Gong tertawa panjang, ia
cengkeram panji Han Sim Leng itu sambil mengomel.
"Huuuuh...! Kain dekil ini mirip sekali dengan popok bayi yang
penuh tahi... Ooooh...! Tidak aneh kalau masih tercium bau pesing...
mungkin kain bekas untuk cebokan..."
Perkataan ini benar-benar keterlaluan sekali, wakil dari semua
partai jadi gusar dan ingin sekali merobek mulutnya sampai hancur.
Di tengah kegelapan ucapan tersebut berkumandang sampai jauh
dan sampai terdengar oleh Han Sim Poocu Khong Kie, ia semakin
mendongkol lagi dan tak tahan jago tua ini muntah darah segar,
dengan sempoyongan buru-buru ia berlalu dari situ.
591
Saduran TJAN ID
Sang Kwan Cing sendiri pun mengerutkan dahinya, kepada Pek
In Hoei dia berseru :
"Ucapan dari pembantumu itu sungguh tak enak didengar!"
Pek In Hoei tersenyum.
"Pembantuku ini pekerjaannya setiap hari adalah membersihkan
kotoran manusia, saban hari kerjanya melulu di antara tumpukan
kotoran manusia maka perkataan macam apa pun sanggup dia
ucapkan. Nona! Lebih baik kau jangan mengusik dirinya..."
Sang Kwan Cing melirik sekejap ke arah Ouw-yang Gong, ia
benar-benar tak berani bersilat lidah lagi dengan kakek konyol itu,
sebab dia tahu mulut orang tua ini bagaikan jamban tahi, perkataan
macam apa pun sanggup diutarakan keluar, mengusik dia berarti
mencari penyakit buat diri sendiri...
Sementara itu Seng Kong telah cabut keluar sebilah pedang,
ujarnya :
"Nona Sang Kwan harap mundur ke belakang, aku hendak
memberi pelajaran kepada manusia latah ini..."
"Seng jie kokcu! Kau mesti berhati-hati," sahut Sang Kwan Cing
sambil tertawa. "harapan semua partai dari selatan telah dititipkan ke
atas pundakmu, dalam pertarungan ini kau harus menang sebab kalau
tidak maka pasukan kita bakal musnah sama sekali..."
Ucapan itu adalah perkataan yang sejujurnya, ia tahu Seng Kong
adalah jago nomor dua di dalam wilayah selatan, kecuali selat Seng
See Kok tak seorang pun yang sanggup menandingi ilmu silat dari
orang ini maka seandainya Seng Kong menderita kalah juga, berarti
ia sendiri pun tidak punya keyakinan untuk menang.
"Nona Sang Kwan tak usah kuatir," seru Seng Kong dengan
sombong. "Aku pasti akan berusaha dengan segenap tenaga..."
Dia aryunkan pedangnya ke depan, wajahnya berubah serius dan
sorot matanya memancarkan cahaya kilat.
592
IMAM TANPA BAYANGAN II
Kali ini si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei tak berani
bertindak gegabah, ia terkesiap dan menyadari bahwa dirinya telah
bertemu dengan jago yang sungguh lihay.
"Ehmmm! Kau memang lebih hebat kalau dibandingkan dengan
yang lain cuma sayang kemantapan hatimu masih belum cukup!"
"Dari mana kau bisa tahu?"
Sekali Pek In Hoei terkesiap, ia tak mengira kalau orang itu
sangat tenang, segera timbul niatnya untuk menggusarkan pihak
lawan, sambil mencibirkan bibirnya ia segera berseru :
"Napsu berangasanmu masih menguasai hati, pedangmu terlalu
enteng dan tidak mantap, hal ini menunjukkan bahwa kau cuma
mendapat sedikit kulitnya saja dari inti sari ilmu pedang maka itu aku
bilang bahwa saat ini kau belum pantas menggunakan pedang,
berlatihlah lebih dulu kepandaian itu matang-matang..."
Seng Kong terkesiap, ia merasa dibalik ucapan lawannya
mengandung arti yang mendalam. Dengan hati sangsi ujung
pedangnya segera diperiksa, sedikit pun tidak salah ia lihat senjatanya
agak gemetar dan tidak mantap...
Hatinya jadi terkesiap, teriaknya dengan hati gusar :
"Kau jangan omong kosong!"
Pedangnya digetarkan dan laksana kilat melancarkan tiga buah
serangan berantai yang secara terpisah menusuk tiga bagian tubuh Pek
In Hoei, gerakan itu dilakukan sangat cepat membuat wakil dari
pelbagai partai yang berada di sekeliling tempat itu bersorak memuji.
Pek In Hoei gerakkan kakinya ke samping, jengeknya :
"Hmmm! Kematian sudah di ambang pintu, kau masih saja
berkeras kepala..."
Tiba-tiba terasa sekilas cahaya perak yang amat menyilaukan
mata memancar di udara, cahaya pedang amat dingin itu segera
memaksa Seng Kong untuk mundur dua langkah ke belakang.
"Apakah pedang itu adalah pedang mestika penghancur sang
surya?..." tanya Seng Kong dengan hati bergidik.
593
Saduran TJAN ID
"Sedikit pun tidak salah, apakah kau merasa takut?"
Seng Kong jadi naik pitam pedangnya dipapas ke depan
serentetan cahaya pedang berkilauan melancar ke depan hingga
memaksa Pek In Hoei buru-buru harus berkelit ke belakang.
Pek In Hoei sendiri pun telah diliputi oleh kegusaran, hawa
kemarahan yang sudah tertanam dalam hatinya sejak tadi segera
disalurkan keluar semua, ia membentak keras, pedangnya dengan
gerakan mendadak menyapu keluar.
Menyaksikan datangnya sapuan pedang lawan Seng Kong pecah
nyali, tak sempat lagi baginya untuk berkelit, terpaksa dia ayun
pedangnya untuk menyambut datangnya serangan tersebut.
Trang...! terjadi benturan nyaring yang mengakibatkan letupan
cahaya api, Seng Kong merasakan tangannya jadi enteng dan tahutahu
pedang dalam genggamannya telah patah jadi dua bagian.
Sementara itu gerakan serangan dari pihak musuh belum berhenti
sampai di situ saja, daya tekanan semakin cepat mendekati tubuhnya.
Diam-diam ia berseru di dalam hati.
"Habis sudah riwayatku... kali ini jiwaku pasti lenyap di ujung
pedangnya..."
Ia segera pentang matanya lebar-lebar dan membentak :
"Ayoh cepat bunuh diriku!"
Siapa tahu Pek In Hoei tarik kembali pedangnya sambil berkata
dengan nada dingin :
"Kalau kubunuh dirimu dengan begini saja maka kau pasti akan
merasa tidak puas, sekarang aku akan memberi satu kesempatan lagi
kepadamu, kembali dan ambillah pedang lebih dahulu..."
Setelah berhasil menenangkan hatinya yang kaget, Seng Kong
menghembuskan napas panjang, sahutnya :
"Pedang saktimu amat tajam, sekalipun aku ganti seratus bilah
pedang juga tak ada gunanya!"
Pek In Hoei tertawa nyaring, ia tancapkan pedang mestika
penghancur sang surya-nya di atas tanah lalu berseru :
594
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau begitu mari kita coba dengan tangan kosong."
"Rupanya kau sudah bosan hidup," teriak Seng Kong kegirangan.
Ilmu silatnya di dalam kepandaian tangan kosong amat lihay dan
ia yakin jarang temui tandingan di kolong langit, mendengar Pek In
Hoei hendak melayani dirinya dalam ilmu tangan kosong,
semangatnya segera berkobar, kepalannya langsung ditonjolkan ke
depan.
Pek In Hoei rendahkan tubuhnya menghindar, sambil putar badan
melancarkan serangan balasan katanya :
"Ehmmmm... rupanya ilmu tangan kosongmu jauh lebih lihay
daripada ilmu pedang yang kau miliki..."
Baru saja ia hendak menggerakkan badannya, terasa dari
belakang menyambar lewat segulung angin dingin, cepat ia berpaling
tampaklah Ouw-yang Gong sambil tersenyum telah berdiri di sisi
tubuhnya.
"Hey ular asap tua..." seru pemuda itu.
"Haaaah... haaaah... haaaah... secara berurutan kau sudah
menangkan beberapa babak pertarungan, kali ini kau mesti kasih
kesempatan bagi aku si ular asap tua untuk unjukkan kelihayanku,
kalau tidak orang lain tentu mengatakan bahwa aku si pembantu
bisanya cuma mengibul dan omong gede kenyataan ilmu apa pun
tidak dimiliki..."
Mendadak ia merandek sebab pada saat itulah ia jumpai Seng
Kong tanpa mengeluarkan sedikit suara pun sedang melancarkan
serangan bokongan ke arah Pek In Hoei.
Ia membentak keras, telapaknya segera diayun ke depan. Blam!
bentrokan nyaring bergeletar keras, mengakibatkan pasir dan debut
beterbangan memenuhi angkasa.
Tubuh masing-masing pihak mundur tiga langkah ke belakang.
Ouw-yang Gong diam-diam merasa terkejut, pikirnya :
"Sungguh tak nyana kepalan dari bangsat cilik ini sangat lihay."
Ia segera tertawa terbahak-bahak.
595
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... eeei cucu kura-kura, kau sudah
punya bini belum?"
Seng Kong melengak, ia tak tahu apa maksud kakek tua itu
mengajukan pertanyaan tersebut, ia tertegun dan segera menjawab :
"Belum."
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau begitu kau adalah ayam
jejaka," menggunakan kesempatan di kala pikiran Seng Kong
bercabang telapaknya segera dibabat ke depan, segulung angin
pukulan segera meluncur keluar...
Seng Kong terkesiap, teriaknya penuh kegusaran.
"Kau main akal..."
Buru-buru telapaknya dirapatkan jadi satu dan menyambut
datangnya ancaman itu... Blaam, sekali lagi terjadi bentrokan nyaring,
tubuh Seng Kong segera mencelat ke udara.
Braaak, tidak ampun lagi tubuhnya terbanting mencium tanah,
darah segar muntah keluar dari mulutnya, keadaannya payah sekali
hingga tak sanggup untuk merangkak bangun.
"Kau adalah makhluk tua yang tak punya malu!" teriaknya sambil
memandang kakek itu dengan penuh kebencian.
"Anak monyet, cucu kura-kura... kenapa aku tak tahu malu?"
"Hmm...! Kau membokong diriku tatkala aku tidak siap, kau tak
punya malu..."
Ouw-yang Gong tundukkan kepala berpikir sebentar, lalu
menjawab :
"Aaaah, benar, bukankah tadi aku sedang bertanya kepadamu
apakah kau sudah punya bini, tapi... pukulanku itu tak bakal menyianyiakan
dirimu, binimu segera akan datang menengok dirimu..."
"Seng-heng harap mundur ke belakang," sementara itu Sang
Kwan Cing sudah melayang ke depan. "Biarlah aku yang menghadapi
setan usil mulut ini..."
"Ular asap tua, mulutmu terlalu kotor dan usil, kau harus diberi
pelajaran."
596
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aduuh... celaka... celaka... " teriak Ouw-yang Gong sambil
goyangkan tangannya berulang kali, "menantu perempuan mau pukul
mertua, aku harus lari dari sini..."
Ia segera loncat bangun dan kabur ke tengah kegelapan.
"Kembali," tiba-tiba terdengar suara bentakan keras
berkumandang di angkasa.
Pek In Hoei mendongak dan merasa terkejut, tampaklah Ouwyang
Gong ditangkap oleh seorang pria kekar bercambang yang
perkasa bagaikan sebuah pagoda, tengkuknya dicengkeram pria itu
hingga membuat si kakek konyol sama sekali tak berkutik.
Tampak pria kekar itu angkat tubuh Ouw-yang Gong ke udara
dan membantingnya ke depan.
Di tengah udara kakek konyol itu menjerit keras :
"Aduuuh mak... aduuuh nenek... tolong aku, kekuatan si raksasa
rudin ini hebat sekali..."
Begitu menginjak tanah ia segera tepuk-tepuk pantat sendiri dan
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... untung tidak sampai terbanting,
untung tidak sampai terbanting..."
"Kalau begitu kau boleh coba lagi!" seru pria itu sambil maju ke
depan.
Ia gunakan suatu gerakan aneh, tangan kanannya berkelebat
lewat dan tahu-tahu tengkuk si kakek konyol itu sudah dipelintir
kembali.
Berada di tengah udara Ouw-yang Gong sama sekali tak berkutik,
diam-diam ia tarik napas dingin, mendadak sambil cengkeram
cambang pria raksasa itu serunya sambil tertawa seram.
"Eeeei... anak kera cucu monyet, tahukah kau selama hidupku apa
yang paling kutakuti?"
Ouw-yang Gong perlihatkan muka setan, dan menyahut :
597
Saduran TJAN ID
"Aku paling takut kalau jenggot seseorang kena dicabut maka
setelah mati ia akan dijebloskan ke dalam neraka tingkat ke-sembilan
belas, Raja akhirat akan merubah dia jadi seekor kucing hitam. Hiii..."
"Kenapa???" tanya pria itu melengak.
Ouw-yang Gong jadi kegirangan, ia tahu kalau pria itu meskipun
memiliki tenaga yang amat sakti tapi dalam kenyataan adalah seorang
bodoh, tabiatnya suka menggoda orang segera muncul kembali.
Sambil mencengkeram jenggot pria kekar itu lanjutnya sambil
tertawa cengar-cengir :
"Dahulu ada seorang tukang jual jamu mati di dalam sungai,
ketika ia masuk ke istana Giam Ong tiba-tiba dilihatnya raja akhirat
mendeprak meja sambil berkata, "Hey, di mana jenggotmu??" Tukang
jual jamu itu ketakutan maka buru-buru jawabnya, "Jenggotku
dimakan ikan!" Raja akhirat yang mendengar ocehan itu jadi semakin
gusar, segera teriaknya :
"Kurang ajar, ikan tidak doyan jenggot. Hmmm, kau penipu.
Kepala kerbau muka kuda! Jebloskan keparat ini ke dalam neraka
tingkat sembilan belas, dan jelmakan dia pada penitisan selanjutnya
sebagai kucing, sebelum menghabiskan semua ikan yang ada di dunia
tak boleh kembali. Nah itulah dia kenapa kucing paling rakus kalau
melihat ikan..."
"Benar ada kejadian seperti itu?" seru pria itu sambil
mengendorkan cekalannya.
598
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 25
KESEMPATAN itu digunakan Ouw-yang Gong mencabut jenggot
laki-laki itu dan lari.
Pria itu gusar, cepat ia mengejar.
Ouw-yang Gong sambil lari menoleh ke belakang, ketika melihat
pria aneh itu mengejar ia jadi takut dan sukmanya serasa melayang
tinggalkan raganya. Tapi sebagai seorang cerdik dengan cepat ia
mendapat akal, sambil menoleh serunya :
"Kau tak boleh memukul aku!"
"Kenapa??" tanya pria itu sambil berhenti.
Sambil tunjukkan segenggam jenggot di tangannya Ouw-yang
Gong tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... kalau kau tidak punya jenggot
bagaimana caranya pergi menghadap raja Akhirat?? Giam Ong
berkata bahwa jenggot adalah sumber kehidupan yang diberikan
orang tuamu dan tinggalan nenek moyangmu; hanya orang yang
berjenggotlah yang pantas jadi orang tua...
Pria kekar itu tundukkan kepala berpikir sebentar lalu jawabnya :
"Ehmm, ucapmu memang masuk di akal, aku tidak memukul
dirimu lagi..."
Para wakil dari jago-jago selatan tak seorang pun yang kenali
siapakah pria kekar itu, melihat orang tersebut dipermainkan oleh
Ouw-yang Gong secara habis-habisan, dalam hati mereka merasa
amat geli.
599
Saduran TJAN ID
Sementara itu Sang Kwan Cing dengan wajah serius telah maju
ke depan, tegurnya :
"Toako ini, ada urusan apa kau kunjungi selat Seng See Kok
kami?"
Pria kekar itu melotot sekejap ke arah gadis itu, lalu menjawab :
"Aku tak mau beritahukan kepadamu, suhu sering bilang bahwa
kaum wanita tak seorang pun yang merupakan manusia baik, lidahnya
paling panjang dan sepatah kata bisa ditarik menjadi sepuluh li..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... betul, anggapanmu memang tepat
sekali," sambung Ouw-yang Gong sambil tertawa tergelak, "lidah
kaum wanita lebih panjang daripada lidah setan gantung...Hiiih...
kalau lidahnya menjulur terus di tepi bibir, setiap hari tentu akan
menakutkan orang yang melihat... engkoh cilik! Perkataanmu
memang betul, jangan kau dekati kaum perempuan nanti darahmu
bisa dihisap dan kepalamu bisa dililit oleh lidahnya..."
Sang Kwan Cing jadi sangat mendongkol sehingga hampir saja
ia muntah darah segar, dengan gusar teriaknya :
"Hey ular asap tua, kalau kau ngaco belo lagi, jangan salahkan
kalau aku tak akan berlaku sungkan lagi terhadap dirimu."
Ouw-yang Gong pura-pura berlagak pilon, seolah-olah tidak
pernah mendengar ucapan itu, ia julurkan lidahnya dan bertanya
kepada pria kekar tadi :
"Engkoh cilik, siapa sih namamu??"
"Soen Put Jie!" jawab pria itu setelah berpikir sebentar.
"Bagus!" seru Ouw-yang Gong sambil acungkan jempolnya.
"Jadi oncu memang tak boleh pakai dua she, namamu bagus sekali..."
Ouw-yang Gong adalah seorang manusia yang cerdik, setelah
menyaksikan kelihayan tenaga sakti orang itu ditambah pula
kemunculannya yang secara tiba-tiba, ia tahu bahwa kehadiran orang
ini pasti hendak menyusahkan Pek In Hoei, maka dari sakunya ia
segera ambil keluar kelereng kaca yang berhasil didapatkan dari
600
IMAM TANPA BAYANGAN II
gudang harta milik Hee Giong Lam, sambil diayunkan ke tengah
udara serunya menggapai ke arah Soen Put Jie.
"Engkoh cilik, kemarilah, ayoh kita main kelereng..."
Bagaikan bocah cilik Soen Put Jie berteriak kegirangan dan
segera lari ke depan,tapi baru berjalan beberapa langkah mendadak ia
berhenti dan geleng kepala.
"Jangan bermain sekarang, pekerjaan yang ditugaskan suhu
kepadaku belum selesai kukerjakan!"
"Tidak apa-apa, kita toh cuma bermain sebentar saja... ayohlah..."
sambil berkata kakek konyol itu segera menyentil kelereng itu
membidik kelereng yang lain.
Bagaimana juga Soen Put Jie adalah seorang pria tolol, lama
kelamaan ia tak tahan juga terpancing oleh permainan kelereng itu, ia
segera berjongkok dan ikut menyentil kelereng.
Demikianlah ke-dua orang itu segera berjongkok dan bermain
kelereng seperti anak kecil saja.
Kejadian ini bukan saja membuat para wakil pelbagai partai dari
wilayah selatan dibikin tertegun bahkan Pek In Hoei sendiri pun jadi
melongo termangu-mangu.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar selat berkumandang datang
suara berkeleningan yang berbunyi terhembus angin, mengikuti
keleningan tadi terdengar irama seruling mengalun seluruh angkasa...
Begitu mendengar suara itu air muka Sang Kwan Cing berubah
hebat, gumamnya dengan suara gemetar :
"Aaaah, dia... dia..."
Rupanya para jago yang hadir di situ rata-rata sudah tahu
siapakah yang telah datang, semua orang berdiri di tempat masingmasing
dengan sikap menghormat, siapa pun tidak berani buka suara
dan sinar mata sama-sama dialihkan keluar selat.
Di antara orang yang hadir di situ, hanya Ouw-yang Gong serta
Soen Put Jie dua orang saja yang tetap tenang, mereka berdua tetap
berjongkok sambil main kelereng.
601
Saduran TJAN ID
Sekalipun begitu si ular asap tua Ouw-yang Gong telah basah
kuyup oleh keringat dingin, satu ingatan berkelebat dalam benaknya,
tapi ia tetap berusaha untuk melayani Soen Put Jie bermain di sana.
"Aaaah, sudah, aku tak mau bermain lagi, suhuku telah datang,"
terdengar pria kekar itu berseru.
"Jangan terburu-buru... ayoh kita bermain sebentar lagi, mari
kuajari kau bermain kelereng menggelinding ke dalam lubang..."
Di atas tanah segara dibuatnya lima buah lubang kecil, lalu
kelereng itu disentilkan ke dalam lubang-lubang tadi.
Sifat kekanak-kanakan Soen Put Jie pada dasarnya memang
belum hilang, melihat permainan itu ia jadi tertarik dan urusan lain
pun segera dilupakan.
Suara keleningan serta suara seruling itu kian lama kian
mendekati, akhirnya tampaklah delapan orang pria berbaju putih
dengan menggotong sebuah tandu perlahan-lahan munculkan diri di
sana.
"Apakah Toan yaya di situ??" Sang Kwan Cing segera memburu
maju dan menegur.
"Hmm, di mana ayahmu?" sahut orang di dalam tandu sambil
mendengus dingin.
Air muka Sang Kwan Cing berubah hebat.
"Ayahku telah menutup diri dan tidak mencampuri urusan
keduniawian lagi, selama dalam selat tak ada urusan dunia persilatan
yang dicampuri olehnya."
Toan yang di dalam tandu kembali mendengus dingin, serunya
ketus :
"Pandai amat dia mencuci diri, apa dianggapnya urusan itu bisa
diselesaikan begitu saja? Pikirannya terlalu sederhana!"
Mendadak ia pertinggi suaranya dan berteriak :
"Soen Put Jie!"
Sekujur tubuh Soen Put Jie gemetar keras, buru-buru ia buang
kelereng kaca itu ke atas tanah dan lari menghampiri tandu tadi.
602
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ouw-yang Gong yang gagal menarik tangannya segera berteriak
:
"Heeei... nanti... dulu... nanti dulu, mari kita bermain lagi!"
Sementara itu Toan ya di dalam tandu telah mendengus berat,
pria kekar itu jadi ketakutan dan segera jatuhkan diri berlutut di atas
tanah, teriaknya berulang kali :
"Suhu... oooh, suhu... murid tidak berani lagi!"
"Heeeeh... heeeeh... heeeeh... bagaimana dengan tugas yang
kuserahkan kepadamu? Sudah kau laksanakan?"
Seolah-olah baru saja mendusin dari mimpi Soen Put Jie tepuk
kening sendiri dan berseru :
"Aaaaah aku tadi lupa!"
Ia segera meloncat bangun dan melancarkan satu pukulan dahsyat
ke tengah udara. Blaaam! Pasir dan debut beterbangan, di atas
permukaan segera muncullah sebuah liang besar.
Menyaksikan kehebatan musuhnya, para jago yang hadir di situ
jadi mengkeret dan tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang.
Soen Put Jie sambil berdiri di tengah kalangan teriaknya keraskeras
:
"Siapa yang bernama si Jago Pedang Berdarah Dingin Pek In
Hoei?"
Si anak muda itu melengak, ia tidak menyangka kalau pria tolol
itu hendak mencari satroni dengan dirinya, melihat tingkah lakunya
yang masih kekanak-kanakan itu timbul kesan baik dalam hatinya, ia
segera melayang keluar sambil menyahut :
"Akulah yang kau cari."
"Kujotos badanmu!" teriak Soen Put Jie sambil meloncat ke
depan, kepalannya langsung ditonjok ke depan.
Gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba ini hampir saja membuat
Pek In Hoei jadi kelabakan, badannya segera bergeser ke samping dan
melayang untuk menghindar.
"Hey, kenapa kau jotos badanku?" tegurnya.
603
Saduran TJAN ID
"Suhuku yang suruh aku jotos badanmu."
Sambil berseru kembali ia lancarkan satu jotosan kilat ke depan.
Baru untuk pertama kali ini Pek In Hoei menjumpai manusia
kukoay semacam Soen Put Jie, dalam hati ia rada mendongkol juga,
telapaknya segera berkelebat menghantam ke atas tubuh lawan.
"Bagus! Aku akan suruh kau merasakan ilmu Lay Bie Kang
ajaran suhuku...!" seru pria kekar itu sambil putar telapaknya ke
depan.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : ali afif ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Ngeseks : ITB 13 ini diposting oleh ali afif pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments