Cerita Mesum Dewasa : ITB 9

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Mesum Dewasa : ITB 9



"Apakah kau adalah murid dari Thian Liong Toa Lhama si
Pendekar Jantan Berkapak Sakti..."
Chee Thian Gak tidak langsung menjawab, sebaliknya dalam hati
kecilnya diam-diam merasa geli, ia teringat kembali perbuatannya
yang telah menipu Hoa Pek Tuo dengan pelbagai macam logat di
bawah perlindungan asap hitam yang tebal, sehingga kakek tua itu
mengira Thian Liong Toa Lhama telah berkunjung diikuti para
muridnya, di mana bukan saja kakek she Hoa telah dibikin kalang
kabut bahkan dia pun memperoleh kesempatan untuk melarikan diri.
Maka ia lantas mengangguk.
"Sedikit pun tidak salah, cayhe adalah anak murid dari Thian
Liong Toa Lhama!" sinar matanya berputar, lalu terusnya, "setengah
bulan berselang cayhe dengan mengikuti guru pernah berkunjung ke
perkampungan anda untuk menolong Pek In Hoei, apakah Hoa Loo
sianseng telah melupakan peristiwa ini?"
Hoa Pek Tuo berseru tertahan, kemudian teriaknya :
"Jadi hari itu kalian benar-benar telah datang berkunjung ke
dalam perkampunganku? Sampai sekarang Loohu masih mengira
kejadian itu adalah perbuatan dari Pek In Hoei yang sengaja hendak
menipu aku, sungguh tak nyana..."
Chee Thian Gak mendengus dingin, pikirnya dalam hati :
"Hmmmm, tak akan kau sangka bahwa aku Chee Thian Gak
bukan lain adalah Pek In Hoei, sedang si pjbk tidak lain adalah
jelmaan dari si Pendekar Pedang Berdarah Dingin!"
Biji matanya berputar, kemudian ujarnya :
"Hey orang she Hoa, saat ini Pek In Hoei berada di mana? Suhu
telah berpesan kepada cayhe untuk mencarinya hingga ketemu..."
96
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Entah ada urusan apa Thian Liong Toa Lhama hendak mencari
diri Pek In Hoei?"
Chee Thian Gak tertawa dingin.
"Manusia tolol, tua bangka sialan. Pek In Hoei adalah seorang
perwira kelas satu dari istana kaisar, andaikata kau telah
membinasakan dirinya... Hmmm! tunggu saja jago-jago lihay dari
istana Kaisar pasti akan mencari balas dengan dirimu. Hmmm, akan
kulihat kau hendak melarikan diri kemana?"
Hoa Pek Tuo langsung naik pitam, hawa amarahnya berkobar di
dalam dada, ia teringat kembali, tatkala Chee Thian Gak masih berada
di dalam perkampungan Thay Bie San cung tempo dulu ia pun pernah
memaki dirinya si telur busuk tua, dengan kegusaran yang memuncak
segera makinya :
"Manusia rendah yang tak tahu diri, kau berani..."
"Kakek tua celaka!" tiba-tiba Oorchad si Sinkoen bertenaga sakti
menukas dengan nada gusar, "kau berani memaki si jago bertenaga
sakti yang paling kosen di kolong langit sebagai manusia rendah yang
tak tahu diri?..."
"Siapa kau?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... pun sinkoen adalah Oorchad kepala
suku di Mongolia, telur busuk tua siapa kau?"
"Apa?" dengan hati terperanjat Hoa Pek Tuo menjerit keras, "kau
adalah si Sinkoen bertenaga sakti??"
Beberapa saat ia termenung, kemudian baru lanjutnya :
"Loohu bukan lain adalah si Tabib sakti dari daratan Tionggoan
Hoa Pek Tuo adanya."
Oorchad melengak lalu tertawa tergelak.
"Haaaah... haaaah... haaaah... aku memang terlalu sering
menimbulkan kesalahpahaman dengan orang lain. Hoa Loo-heng!
harap kau suka maafkan diriku yang salah ngomong."
Ciak Kak Sin Mo si iblis berkaki telanjang pun ikut tertawa
terbahak-bahak.
97
Saduran TJAN ID
"Haaaah... haaaah... haaaah... air bah telah menghancurkan kuil
si Raja Naga, ternyata kita semua adalah orang asal satu keluarga, Sinkoen
jauh-jauh datang ke daratan Tionggoan selama perjalanan tentu
lelah sekali bukan... aaaah, bilamana kami tidak menyambut dari jauh,
harap kau suka memaafkan..."
98
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 5
SINAR matanya beralih ke atas tumpukan bangkai sembilan ekor unta
yang bertumpuk bagaikan sebuah bukit di atas tanah, lalu katanya lagi
:
"Sin koen! Bukankah kau datang dengan naik unta?? Kenapa
unta-untamu itu..."
"Ke-sembilan ekor unta ini telah dihajar mati semua oleh si
Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak," tukas Oorchad
dengan cepat lalu acungkan jempolnya ia memuji. "Dia benar-benar
manusia yang berkekuatan paling sakti di kolong langit dewasa ini,
sayang kalian tidak cepat-cepat datang kemari, kalau tidak kamu
semua bisa saksikan betapa hebatnya tenaga sakti yang dia miliki
setelah membunuh sembilan ekor unta, dia pun membanting mati lima
ekor gajah..."
"Ooooh! diam-diam Kong Yo Leng merasa terperanjat.
"Sungguh tak nyana Chee heng yang berusia sangat muda itu ternyata
memiliki tenaga sakti yang maha dahsyat, rasanya meskipun Raja
brutal Coe Pa Ong hidup kembali pun belum tentu bisa menandingi
dirinya."
Chee Thian Gak tertawa dingin.
"Terima kasih atas pujian serta sanjungan dari Loo siang seng,
tetapi sayang sekali cayhe dengan Hoa Pek Tuo telah terikat sebagai
musuh besar, harap Loo siangseng jangan ikut campur di dalam
persoalan ini..."
99
Saduran TJAN ID
Dalam hati kecilnya Hoa Pek Tuo sendiri pun tahu akan maksud
hati dari Kong Yo Leng, dia ada rencana untuk menarik Chee Thian
Gak masuk ke dalam komplotan mereka, bahkan dengan mengambil
alasan tersebut dia pun punya rencana untuk menarik rombongan
Thian Liong Toa Lhama sekalian menjadi komplotan mereka, bila
rencana itu berhasil bukan saja kekuatan mereka akan bertambah
besar bahkan rencana besar mereka untuk memimpin dunia persilatan
akan berjalan dengan lancar.
Maka sambil menahan diri ujarnya dengan suara berat :
"Tatkala guru anda mengunjungi perkampungan Thay Bie San
cung kami tempo dulu, loohu sama sekali tiada maksud untuk
memandang rendah kalian semua, adalah dikarenakan gurumu buruburu
hendak berlalu maka..."
"Tutup mulut!" hardik Chee Thian Gak sambil melangkah ke
depan satu tindak.
"Hoa Pek Tuo, pedang siapa yang berada dalam cekalanmu
sekarang?"
"Pedang sakti Penghancur sang surya dari perguruan Thiam-cong
pay! Siapa pun tahu akan senjata ini, apa kau tidak tahu?"
Perlahan-lahan Chee Thian Gak mengangguk.
"Ehmmm! Pedang ini memang milik Pek In Hoei, dan sekarang
benda itu terjatuh ke tanganmu. Itu berarti Pek In Hoei telah mati di
tanganmu, oleh sebab itu pula kau telah menjadi musuh besar dari
jago-jago istana..."
"Pek In Hoei adalah murid partai Thiam Cong, sejak kapan dia
telah mengikat hubungan dengan orang-orang pihak istana?" jengek
Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin, "Chee heng, jangan-jangan kau
telah mencampurbaurkan antara urusan pribadi dengan urusan dinas,
sehingga mana dendam mana budi tak bisa dibedakan..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... cayhe tidak takut terhadap
perkampungan Thay Bie San cung kalian, lebih-lebih tidak jeri
terhadap kau manusia yang menyebut dirinya Hoa Pek Tuo," ia
100
IMAM TANPA BAYANGAN II
merandek sejenak, air mukanya berubah serius. "Ini hari, bilamana
kau tidak serahkan Pek In Hoei kepadaku, maka tinggallah nyawamu
disini!"
"Hmmm," dengusan dingin bergeletar keluar dari mulut Pek Giok
Jien Mo si Iblis Khiem Kumala Hijau, dengan wajah dingin membeku
tegurnya :
"Chee Thian Gak, berhadapan dengan jago-jago lihay yang
sedemikian banyaknya, kau berani benar mengucapkan kata-kata
sesumbar dan sombong sehebat itu, rupanya kau sudah bosan hidup?"
Meskipun dalam hati kecilnya Chee Thian Gak merasa amat
berterima kasih terhadap diri Mie Liok Nio yang pernah
menyelamatkan jiwanya, tapi setelah pada saat ini ia muncul sebagai
si Pendekar Jantan Berkapak Sakti, sudah tentu perasaan tersebut tak
bisa diutarakan di luar.
Dengan pandangan dingin diliriknya wajah Mie Liok Nio
sekejap, kemudian ujarnya ketus :
"Cayhee Chee Thian Gak tidak pernah merasa jeri atau takut
terhadap siapa pun juga..."
Mendadak terdengar suara tertawa aneh yang tinggi melengking
menusuk pendengaran berkumandang di angkasa, dengan cepat Chee
Thian Gak menoleh, dilihatnya seorang nenek tua kurus kering
bagaikan tengkorak dengan jubah berwarna hitam, mata tajam
bagaikan burung elang, hidung mancung serta wajah penuh
berkeriputan berdiri angker di sana.
Di tangan nenek itu membawa sebuah tongkat berwarna hitam,
rambutnya telah beruban, punggungnya bongkok dan keadaannya
mirip sekali dengan seorang pengemis, sama sekali tidak menarik
perhatian orang.
Begitu berjumpa dengan nenek tersebut, satu ingatan dengan
cepat berkelebat di dalam benak jago kita, segera tegurnya dengan
suara berat :
101
Saduran TJAN ID
"Apakah dalam pandanganmu cayhe seorang manusia lucu?
Kenapa kau tertawa geli?"
Sambil mengetuk permukaan tanah dengan tongkatnya, nenek tua
itu melangkah maju tiga tindak ke depan sambil angkat kepala,
kembali ia tertawa terbahak-bahak, serunya sambil menuding ke arah
Chee Thian Gak dengan jari tangannya yang telah berkeriputan.
"Orang mua, janganlah sombong dan sesumbar, hati-hati dengan
lidahmu, jangan sampai tersambar geledek... Hmmmm! menyesal
kemudian tak ada gunanya."
Chee Thian Gak tidak menjawab, dipandangnya wajah nenek itu
lebih seksama, tapi setelah menjumpai raut wajah di balik rambut
yang telah beruban itu ia terperanjat, segera pikirnya :
"Oooh sungguh tak nyana di kolong langit terdapat manusia yang
berwajah begitu jelek!"
Rupanya ketika si nenek tua itu angkat kepalanya tadi, di bawah
sorot cahaya rembulan tampaklah wajahnya yang telah berkeriput
serta menempelnya tiga ekor makhluk beracun di atas keningnya.
Wajahnya saja sudah cukup menggidikkan hati orang yang
menjumpainya di tengah malam, lebih-lebih cahaya emas yang
terpancar keluar dari mulutnya setiap kali ia berbicara, keadaannya
jauh lebih menyeramkan.
Tanpa sadar bulu kuduk di badan Chee Thian Gak pada bangun
berdiri, sambil menarik napas panjang-panjang ia berusaha
menenangkan hatinya, lama sekali ia baru menegur :
"Sebenarnya siapakah kau?"
"Hiiih... hiiih... hiiiih.. pun sin Wu bukan lain adalah Kioe Boan
Toh si dukun sakti berwajah seram, bocah cilik, pernahkah kau
mendengar namaku?"
Sorot mata Chee Thian Gak berkelebat, segera pikirnya :
"Rupanya rencana besar dari Hoa Pek Tuo telah mendekati
masaknya, sungguh tak nyana manusia-manusia liar yang maha sakti
dari luar perbatasan telah saling berdatangan..."
102
IMAM TANPA BAYANGAN II
Di tengah kesunyian yang kemudian mencekam seluruh jagad,
tiba-tiba terdengar Mie Liok Nio menjerit tertahan, ketika
menyaksikan kegagahan dari Chee Thian Gak dalam benaknya segera
berkelebat bayangan seseorang... ia teringat kembali pemandangan
tatkala Pek In Hoei seseorang diri duduk di atas tumpukan batu cadas.
Perempuan itu segera menarik tangan suaminya Kong Yo Leng,
lalu bisiknya lirih :
"Hey, setan tua! Coba pandanglah dengan seksama, orang ini
mirip siapa?"
"Siapa yang kau maksudkan?"
"Coba lihatlah bukankah Chee Thian Gak mirip sekali dengan
diri Pek In Hoei?"
"Aaaach tidak mungkin, Pek In Hoei adalah seorang lelaki
berwajah tampan sedang dia kasar dan jelek, mungkin kau sudah salah
melihat orang... lagi pula Pek In Hoei toh sudah mati."
"Aku pernah perhatikan wajah Pek In Hoei dengan seksama,
kulihat raut wajahnya bukan manusia yang berumur pendek, ia tak
mungkin mati, aku rasa dia pasti telah menyembunyikan diri untuk
sementara waktu..."
Mendengar perkataan itu Kong Yo Leng si Iblis Sakti
Bertelanjang Kaki segera tertawa terbahak-bahak :
"Haaaah... haaaah... haaaah... Hujien, lebih baik kau tak usah
peras keringat putar otak untuk memikirkan persoalan itu. Hmmm!
Pastilah disebabkan setiap hari kau mengingat-ingat diri Pek In Hoei
maka setelah bertemu dengan orang yang mempunyai potongan wajah
rada mirip dengan dirinya, kau lantas anggap dia sebagai Pek In
Hoei."
Mie Liok Nio tidak mau menyerah dengan begitu saja, kembali
ia perhatikan wajah Chee Thian Gak dengan lebih seksama.
"Tidak bisa jadi!" serunya. "Bagaimanapun juga aku harus
mencoba dirinya dan berusaha membuktikan apakah dia adalah Pek
In Hoei atau bukan, daripada Jien Siang si bocah itu jadi kapiran dan
103
Saduran TJAN ID
setiap hari ribut kepadaku untuk mengajak aku pergi mencari Pek In
Hoei..."
Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang saling berpandangan
dengan diri Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram, lama
kelamaan kesadarannya mulai terpancing oleh sorot mata yang dingin
itu ke pelbagai persoalan yang selama ini dilamunkan... kejadian di
masa lampau bagaikan gulungan air bah membanjiri lubuk hatinya,
rasa sedih, gembira, budi, dendam dan cinta meluruk datang saling
susul menyusul, membuat benaknya dipenuhi oleh pelbagai lamunan.
Air mata mulai mengembang dalam kelopak matanya, terdengar
ia bergumam seorang diri :
"Ayah, aku merasa menyesal dan malu terhadap dirimu, detik ini
aku tak berani menggunakan nama asliku... tetapi... aku berbuat
demikian adalah demi keselamatan serta kebahagiaan umat Bu Lim..."
Melihat si anak muda itu sudah mulai terpengaruh oleh ilmunya,
Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa haha hihi, sorot matanya
berubah jadi hijau tua, rasa bangga dan gembira terlintas di atas
wajahnya, ia melangkah dua tindak ke depan lalu gumamnya lirih :
"Percuma kau hidup di kolong langit, lebih baik modarlah..."
seluruh otot dan kulit wajah Chee Thian Gak berkerut kencang,
mendadak teriaknya,
"Aku tak boleh mati... aku tak boleh mati dengan begini saja...
Jien Siang..."
Pemandangan hot sewaktu ada di dalam ruang rahasia
perkampungan Thay Bie San cung pun tertera kembali dalam
benaknya, ia merasa tubuh Jien Siang yang montok padat berisi dan
berada dalam keadaan telanjang bulat itu memancarkan kembali bau
harum yang merangsang...
Pada detik itulah kebetulan Mie Liok Nio sedang menyebutkan
nama Jien Siang, tubuhnya bergeser keras, kesadarannya yang sudah
mulai terpengaruh oleh kepandaian hipnotis lawan seketika tersadar
kembali.
104
IMAM TANPA BAYANGAN II
Menyaksikan tubuh Si Dukun Sakti Berwajah Seram sambil
tertawa menyeringai sedang datang menghampiri tubuhnya, ia segera
membentak keras :
******
Bagian 16
KIOE BOAN TOH si Dukun Sakti Berwajah Seram tertegun, rupanya
dia tidak mengira kalau pihak musuh berhasil melepaskan diri dari
pengaruh ilmu pengacau pikirannya, tanpa terasa nenek itu bergumam
:
"Eeeei...! sungguh aneh,kenapa ilmu hipnotis pengacau pikiranku
jadi tidak manjur??"
Chee Thian Gak melangkah maju setindak ke depan, kapaknya
diayun dan segera membabat tubuh pihak musuh.
Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa aneh,
mendadak tongkat hitam di tangannya diayun ke muka menutul di atas
kapak lawan... Tiiing, letupan cahaya api muncrat ke empat penjuru.
Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam , dengan kekuatan yang
amat besar sekali lagi dia ayun kapaknya melancarkan satu babatan.
Angin serangan membawa desiran angin berpusing laksana
gulungan ombak melanda tiba.
Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram berteriak aneh,
terdesak oleh ancaman yang tiada taranya ini sang badan terpaksa
meloncat mundur ke belakang, buru-buru tongkatnya diayun ke muka
lalu mundur lagi sejauh dua tombak dari tempat semula.
Pek Giok Jien Mo s Iblis Khiem Kumala Hijau menggerakkan
badannya menerjang masuk ke dalam kurungan bayangan kapak,
teriaknya keras-keras : "Pek In Hoei tahan!"
"Siapa yang kau panggil sebagai Pek In Hoei?" tegur Chee Thian
Gak tertegun.
Ia gigit bibir, kapaknya dengan jurus 'Sha Bong Ti Lai' atau
Gunung Runtuh Tanah Merekah kembali melancarkan satu serangan.
105
Saduran TJAN ID
Rupanya Mie Liok Nio si Iblis Khiem Kumala Hijau tidak pernah
menyangka kalau Chee Thian Gak mempunyai tenaga dalam yang
begitu sempurna, setelah melengak sejenak jari tangannya segera
disentil ke muka, sebatang tusuk konde kumala laksana petir
menyambar meluncur ke depan mengancam tenggorokan lawan.
Bayangan Hijau berkelebat lewat, tahu-tahu sudah mengurung
lima buah jalan darah penting di tubuh lawan.
Chee Thian Gak membentak keras, kakinya berputar sambil ayun
kapaknya, setelah menangkis datangnya ancaman tusuk konde
kumala yang gencar bagaikan jalan badannya meluncur enam langkah
ke belakang, teriaknya setelah lolos dari ancaman.
"Tahan!"
"Pek In Hoei," seru Mie Liok Nio sambil tertawa dingin,
"Ternyata kau masih belum berani memusuhi diriku!"
Chee Thian Gak dibuat serba salah dan apa boleh buat, terutama
sekali setelah mendengar Pek Giok Jien Mo bersikeras menganggap
dirinya sebagai Pek In Hoei. Kendati ia tidak ingin memusuhi
perempuan yang pernah melepaskan budi kepadanya ini tapi demi
lancarnya rencana besar yang telah ia susun tak bisa tidak jago kita
terpaksa harus bermain sandiwara terus untuk menutupi asal usul
yang sebenarnya.
Memandang ke arah Mie Liok Nio, diam-diam sambil gertak gigi
serunya :
"Cayhe adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian
Gak, dan sama sekali bukan Pek In Hoei seperti apa yang berulang
kali kau sebutkan, aku harap kau jangan melanjutkan kesalahpahaman
ini."
Ia merandek sejenak, lalu dengan nada dingin serunya :
"Selamanya cayhe tidak suka berkelahi dengan kaum perempuan,
aku sebagai seorang lelaki jantan yang berjiwa besar tak akan sudi
bertempur atau ribut-ribut dengan kaum wanita, apalagi usiamu sudah
106
IMAM TANPA BAYANGAN II
begitu besar, lebih-lebih tidak pantas bagiku untuk ajak kau
berkelahi..."
"Bagus! Sebagai seorang lelaki jantan, lelaki sejati memang
sudah sepantasnya bersikap demikian!" gembor Oorchad dari
samping dengan suara keras bagaikan geledek.
Mie Liok Nio naik pitam, dengan gemas ia melotot sekejap ke
arah Oorchad kemudian teriaknya :
"Hey setan tua, kau pergilah menghadapi si tolol itu, biar aku
yang bereskan rekening kita dengan manusia she Chee ini."
"Ooooh... tentang soal ini... Ehmmm, Hujien, kau harus tahu
kepala suku Oorchad adalah pembantu yang sengaja kita undang
datang..."
"Aku tidak mau ambil peduli dia adalah pembantu yang sengaja
kita undang atau bukan," tukas Mie Liok Nio tajam. "Setan tua, kau
berani membangkang perintah Loo nio?"
Merah jengah selembar wajah Kong Yo Leng, ia sapu sekejap
wajah para jago yang hadir di sana lalu tentangnya.
"Kalau persoalan yang lain, Loohu pasti akan menuruti
kemauanmu, tetapi dalam soal ini... maaf! aku terpaksa menentang."
Mie Liok Nio jadi sangat mendongkol, sepasang alisnya berkerut
dan khiem kumala hijau yang berada di tangan kanannya telah diayun
siap menyapu keluar, tapi tatkala matanya menyapu kembali wajah
Chee Thian Gak, segera dia batalkan sapuan tadi.
"Baiklah," jeritnya sambil menggigit bibir. "Perhitungan kita
baru kubereskan nanti saja."
Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang memandang wajah
sepasang suami istri itu dengan sorot mata dingin, dalam hati diamdiam
pikirnya :
"Oooo... betapa sedihnya jadi seorang pria macam begitu, untuk
mengurusi bininya saja tak sanggup bahkan sebaliknya setiap saat
malah harus diurus... Huuu... keberanian untuk membalas tak punya,
begitukah namanya seorang pria sejati?? Aaaai..."
107
Saduran TJAN ID
Ia gelengkan kepalanya dan berpikir lebih jauh :
"Entah bagaimana keadaanku di kemudian hari, apakah juga
takut sama bini?? tapi aku rasa hal ini tak mungkin terjadi, karena
menurut watakku tak nanti aku sudi dipaksa atau tunduk seratus
persen kepada istriku..."
Perasaan tersebut hanya timbul dari dasar hati kecilnya dan sama
sekali tidak diutarakan keluar, sebaliknya Oorchad yang hadir juga di
sana sudah tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa terbahakbahak,
serunya sambil menuding ke arah Mie Liok Nio :
"Kalaupun Sin koen tak akan memperkenankan kaum wanita
merangkak terlalu tinggi, sebaliknya kau yang jadi bini tuanya telah
merangkak naik ke atas kepala lelakimu. Haaaah... haaaah... haaaah...
ternyata perkataan orang Tionggoan yang menyebutkan 'Seorang
lelaki sejati mempunyai jiwa yang besar' adalah dimaksudkan takut
sama bini? Haaaah... haaaah... haaaah... "
Mie Liok Nio melotot gusar, tiba-tiba jari kanannya disentilkan
ke atas senar khiem... serentetan irama yang lembut segera terpancar
keluar... diikuti sebuah tusuk konde digariskan pula di atas khiem tadi,
serentetan suara musik laksana anak panah yang tajam meluncur ke
depan menembusi lubuk hati Oorchad.
Kepala suku dari Mongolia ini menjerit keras, sepasang matanya
terbelalak besar, sambil menghembuskan napas panjang, teriaknya
dengan nada tercengang.
"Hey nenek tua, permainan setan apa sih yang sedang kau
lakukan terhadap diriku?"
"Kurang ajar! Kau berani mengatakan aku sudah tua??" jerit Mie
Liok Nio makin gusar. "Loo Nio akan suruh kau merasakan kelihayan
dari ilmu Bayangan Setan irama mautku yang hebat!"
Hoa Pek Tuo yang mendengar ancaman itu seketika berubah air
mukanya, buru-buru dia maju satu langkah ke depan lalu teriaknya
keras-keras :
108
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Enso, Kepala suku Oorchad adalah pembantu yang sengaja
kuundang datang ke daratan Tionggoan, aku harap enso suka
memandang di atas wajahku melepaskan dirinya dari bencana ini..."
Sedangkan Kong Yo Leng segera mendengus dingin.
"Liok Nio," serunya, "lebih baik kau tak usah bekerja menuruti
napsu angkara murkamu..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... kesemuanya ini adalah kau si setan
tua yang mencelakai orang, apa yang hendak kau ucapkan lagi??
Ciiss, rasakanlah tusuk kondeku!"
Air muka Kong Yo Leng berubah hebat, dengan sebat dia
meloloskan diri dari sambaran tusuk konde tersebut, lalu teriaknya
dengan marah.
"Liok Nio, lebih baik kau sedikit mengetahui diri, jangan
membiarkan orang mentertawakan kita..."
"Bagus, hey setan tua, kau berani berkelit dari seranganku?"
Bayangan tubuhnya bagaikan kelebatan setan meluncur ke
depan... Sreeet... Sreeet... secara beruntun dia telah melancarkan
beberapa serangan dahsyat, beratus-ratus buah titik bayangan hijau
bagaikan curahan hujan badai berbarengan meluncur ke depan.
Kong Yo Leng bungkam dalam seribu bahasa, kakinya tetap
berdiri tegak bagaikan gunung Thay san, hanya tubuh bagian atasnya
saja yang bergoyang tiada hentinya meloloskan diri dari ancaman
serangan yang meluncur datang bagaikan hembusan hujan badai itu.
Sehabis melancarkan serangan gencar, kembali Mie Liok Nio
berteriak keras :
"Bagus sekali, rupanya selama beberapa puluh tahun belakangan
kau telah mengelabuhi diriku, rasakanlah sepuluh buah tusukan tusuk
konde mautku!"
Di tengah teriakan lengking jari tangannya bergetar tiada
hentinya, dalam sekejap mata tusuk konde kumala hijau itu sudah
mengirim sepuluh buah tusukan maut yang benar-benar luar biasa,
109
Saduran TJAN ID
setiap jurus mempunyai perubahan gerakan yang tak terhingga
banyaknya.
Beruntun Kong Yo Leng mundur enam langkah ke belakang,
gembornya dengan hati dongkol :
"Liok Nio, janganlah berbuat terlalu kelewat batas!"
"Hmmm! kalau tidak kuberi sedikit kelihayan kepadamu, kau
tidak akan mengerti kelihayan dari Loo Nio!"
Cahaya hijau meluncur bagaikan kilat, di tengah desiran tajam
yang tinggi melengking menusuki pendengaran dalam sekejap mata
tubuh Kong Yo Leng yang tinggi kekar telah terkurung dalam
kepungan serangan istrinya.
"Kau pun rasakanlah kelihayan dari ilmu jari Jan Song Cie ku!"
terdengar Kong Yo Leng berteriak keras.
Jari tengah dan telunjuk tangan kirinya diluncurkan ke depan,
setelah bergetar setengah lingkaran busur di depan dada secara
beruntun dia lepaskan delapan belas buah totokan gencar... desiran
angin tajam segera menderu-deru...
Dalam waktu singkat ia telah menggunakan tiga macam ilmu jari
yang berbeda untuk mengimbangi ke-delapan belas totokan yang
telah dilancarkan, di balik serangan tersebut ia sudah
mencampurbaurkan pula inti sari dari pelbagai ilmu jari yang ada di
kolong langit, bukan saja perubahannya tiada terhingga dahsyat dan
luar biasa sekali.
Delapan belas buah totokan itu kontan membuat Mie Liok Nio
berseru kaget, dalam hati ia benar-benar merasa amat terkesiap, sebab
ia merasa bahwa semua jurus serangan yang dia lancarkan telah
terbendung semua oleh pergetaran jari tangan suaminya.
Setiap tusukan tusuk konde yang dilancarkan kesemuanya
disambut oleh jari tangan lawan yang sengaja disongsongkan ke
arahnya, hal ini membuat jurus serangan tersebut tak bisa digunakan
lebih jauh dan terpaksa membuyarkan di tengah jalan.
110
IMAM TANPA BAYANGAN II
Melihat posisinya berubah jadi lemah, sorot mata buas memancar
keluar dari kelopak matanya.
"Hey Setan tua," bentaknya gusar, "Jangan kau salahkan kalau
aku bertindak terlalu keji!"
Bahu atasnya mendadak meleset menembusi angkasa, di tengah
meluncurnya cahaya hijau di atas tusuk konde tadi mendadak
cahayanya memantul dua coen lebih panjang dari keadaan biasa,
bukan saja tajam mengerikan bahkan jauh berbeda di luar dugaan
orang.
Kong Yo Leng sendiri pun sadar bahwa serangan yang
dilancarkan dalam keadaan gusar bercampur gelisah itu telah
menggunakan segenap tenaga lweekang yang dimilikinya, bisa
dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya ancaman itu.
Sepasang alisnya kontan berkerut, dengan gusar hardiknya :
"Liok Nio!"
Mie Liok Nio angkat kepalanya di tengah kegusaran, mendadak
hatinya bergetar keras tatkala menyaksikan sikap suaminya yang
keren dan gagah, kenangan lama pun segera terlintas kembali di
dalam benaknya.
Dahulu dia masih seorang gadis muda yang amat cantik jelita,
tapi karena justru karena kegagahan serta kewibawaan Kong Yo Leng
yang tidak gentar menghadapi segala apa pun juga itulah akhirnya dia
jadi tertarik.
Ia tahu disebabkan suaminya terlalu sayang dan mencintai
dirinya, maka setelah menikah dia selalu menuruti segala
kemauannya, hal ini menyebabkan timbullah rasa sombong pada
watak dirinya.
Di tengah rasa tertegunnya itulah pelbagai ingatan telah
berkelebat di dalam benaknya, tenaga murni yang sudah terkumpul
pun karena itu menjadi kendor kembali, sudah barang tentu
serangannya yang maha dahsyat pun jadi rada merandek sejenak.
111
Saduran TJAN ID
Kong Yo Leng mendengus dingin, telapak kanannya diangkat
dan mendadak membabat ke bawah.
Cahaya tajam berwarna keperak-perakan memancar keluar dari
balik telapak kanan tersebut, tajam dan amat menyilaukan mata.
Chee Thian Gak pernah menjumpai ilmu sakti tersebut, tapi
belum pernah menjumpai orang yang menggunakan ilmu itu jauh
lebih dahsyat dan hebat seperti apa yang dilakukan Kong Yo Leng
saat ini.
Hati jadi bergidik, pikirnya :
"Liok Gwat To merupakan ilmu sesat yang sangat hebat,
dimainkan oleh iblis ini kehebatan serta kesaktiannya betul-betul luar
biasa sekali... Ciak Kak Sin Mo tidak malu disebut sebagai seorang
dedengkot dalam aliran sesat!"
Sesudah Kong Yo Leng menggunakan ilmu sakti 'Liok Gwat To'
nya, tusuk konde di tangan Mie Liok Nio segera rontok ke atas tanah
setelah merandek sejenak di tengah udara, yang tertinggal di jari
tangannya hanya sebagian kecil dari serat tipis yang terbuat dari ulat
sutera.
Perempuan itu melengak kemudian teriaknya keras-keras :
"Setan tua, kepandaian silat apakah yang telah kau gunakan?"
"Haaaah... haaaah... haaaah... Hujien, aku minta maaf yang
sebesar-besarnya kepadamu, di mana serat tipis ulat langit pun sudah
kuhancurkan, di kemudian hari Loohu pasti akan berangkat ke gua
salju di atas gunung Thay Soat san untuk membuatkan lagi beberapa
lembar untuk diri Hujien!"
"Setan tua, anggap saja kemenangan berada di tanganmu kali ini,"
jerit Mie Liok Nio sambil menggigit bibir, "Lain kali Loo Nio pasti
akan suruh kau menjumpai kelihayan dari sembilan belas jurus tusuk
konde kumala hijauku. Hmmm! Kalau kau punya nyali, berkelitlah
pada waktu itu!..."
"Apa? Sembilan belas jurus Tusuk Konde Kumala Hijau?" Kong
Yo Leng berkemak-kemik dengan wajah melengak, tapi sebentar
112
IMAM TANPA BAYANGAN II
kemudian ia sudah mengerti, "Ooooh! rupanya kau hendak
menciptakan sembilan jurus baru lagi untuk siap menghancurkan
serangan maut dari ilmu 'Liok Gwat To' ku? haaaah... haaaah... bagus,
bagus, setiap saat loohu pasti akan menantikan hasil dari ciptaan jurus
serangan barumu!"
Pertarungan antara suami istri yang barusan berlangsung cukup
menggoncangkan hati para penonton yang menyaksikan jalannya
pertarungan dari sisi kalangan, dalam benak mereka rata-rata terlintas
satu pandangan yang sama yaitu sepasang iblis dari samudra Seng Sut
Hay betul-betul jagoan lihay nomor wahid di antara kaum sesat.
Jurus-jurus serangan ampuh dan sakti yang telah mereka
pergunakan belum pernah mereka jumpai sebelumnya, apalagi
kesempatan untuk menyaksikan pertarungan sengit antara kedua
orang itu.
Diam-diam Chee Thian Gak berpikir dalam hatinya :
"Sepasang suami istri ini ditambah pula Hoa Pek Tuo sudah
cukup untuk menjagoi seluruh dunia persilatan tanpa seorang manusia
pun yang sanggup menandingi mereka, apalagi mereka masih
ditunjang oleh beberapa orang manusia sakti dari luar perbatasan...
heeeh... rupanya bencana maut bakal melanda seluruh kolong langit."
Dengan pandangan mendalam Mie Liok Nio melirik sekejap ke
arah suaminya, tangan kanan menyambar ke depan merampas balik
tusuk konde kumala hijau yang terjatuh di tanah, kemudian sambil
menghampiri Chee Thian Gak ujarnya :
"Pek In Hoei, aku ingin mencoba kepandaian silatmu!"
"Eeee... bukankah sudah berulang kali cayhe terangkan bahwa
cayhe bukanlah si Pendekar Pedang Berdarah Dingin Pek In Hoei...
kenapa sih kau selalu menyebut aku dengan nama itu?"
Ia merandek sejenak, kemudian dengan nada sombong
tambahnya :
"Lagipula Pek In Hoei tidak nanti memiliki kepandaian silat
sehebat apa yang kumiliki sekarang."
113
Saduran TJAN ID
"Baik! Akan kulihat sampai dimanakah kehebatan ilmu silatmu
sehingga berhak menggunakan sebutan jago bertenaga paling sakti di
kolong langit dewasa ini!"
Merah jengah selembar wajah Chee Thian Gak.
"Siapa yang memakai gelar tersebut?" bantahnya. "Sin Koen
bertenaga saktilah yang menghadiahkan gelar tadi kepadaku, sedang
cayhe sendiri sama sekali tidak tertarik dengan segala macam gelar
kosong yang tiada gunanya, karena kenyataan jauh lebih penting
daripada segala macam nama kosong... " dengan suara berat terusnya,
"meskipun cayhe mempunyai keistimewaan dalam tenaga sakti, tetapi
aku tidak ingin ajak dirimu untuk beradu tenaga!"
"Hmmm, jadi menurut maksudmu?"
Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam, sorot matanya
menyapu sekejap angkasa yang penuh bertaburan bintang, kemudian
serunya dengan nada serius :
"Cayhe ingin sekali coba mendengarkan permainan gabungan
irama musik kamu berdua!"
"Apa? Kau maksudkan hendak menghadapi kami dalam
permainan musik maut?"
"Sedikit pun tidak salah, sudah lama cayhe mendengar bahwa
gabungan permainan musik dari sepasang iblis Seng Sut Hay tiada
tandingnya di kolong langit, oleh sebab itu cayhe kepengin
mencobanya sendiri..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... " Kong Yo Leng mendongak dan
tertawa terbahak-bahak, "tahun ini loohu berusia tujuh puluh delapan
tahun, belum pernah kudengar ada orang berani mengajukan sendiri
permohonannya untuk mencoba ilmu harpa besi pencabut sukma ku,
apalagi gabungan irama khiem dengan harpa."
Sekilas napsu membunuh terlintas di atas wajahnya, dengan suara
adem dia melanjutkan :
"Sekalipun tiga orang setan tua dari luar lautan datang sendiri
kemari pun belum tentu berani mengatakan kepada loohu untuk
114
IMAM TANPA BAYANGAN II
mendengarkan gabungan irama dari Khiem dan harpa, apalagi kau
seorang bocah cilik yang masih bau tetek."
Chee Thian Gak tertawa keras.
"Ombak belakang sungai Tiang Kang selalu mendorong ombak
di depannya, kalian sudah tua semua dan di dalam dunia persilatan
dewasa ini pun sudah tidak berguna... " cahaya licik berkelebat di atas
matanya. "Lagipula dengan berbuat demikian kalian pun bisa
menjajal benarkah aku adalah Pek In Hoei atau bukan, apa salahnya
bertindak sekali tepuk dapat dua lalat?"
"Pek In Hoei, kau terlalu jumawa!" jerit Mie Liok Nio.
"Hmmm! Dengan menggunakan kesempatan ini cayhe ingin
meminjam nama besar dari Seng Sut Hay Siang Mo untuk
memperkenalkan nama besarku sebagai Pendekar Jantan Berkapak
Sakti ke seluruh dunia, atau mungkin kalian berdua memang tidak
berani mempertaruhkan nama besar kalian berdua?..."
"Haaah... haaah... kalau memang kau ingin modar gampang
sekali! Kita segera kabulkan permintaan itu," ujar Kong Yo Leng
sambil mempersiapkan harpa besinya.
Sinar mata Chee Thian Gak perlahan-lahan beralih ke atas
pedang sakti penghancur surya yang berada di tangan Hoa Pek Tuo,
lalu katanya kembali :
"Tunggu sebentar! Andaikata cayhe berhasil mendengarkan
gabungan irama musik kalian hingga selesai tanpa menemui ajal ku,
apa yang hendak kalian laksanakan?"
Mie Liok Nio melirik sekejap ke arah Kong Yo Leng kemudian
balik tanyanya :
"Kau ingin bagaimana?"
"Kita pertaruhkan pedang sakti penghancur surya milik Pek In
Hoei saja!" seru Chee Thian Gak sambil menuding ke arah Hoa Pek
Tuo.
Kakek tua ini melengak.
115
Saduran TJAN ID
"Bagus!" akhirnya dia pun ikut berseru, "Seandainya kau berhasil
lolos dari maut, Pedang Sakti Penghancur Sang Surya segera menjadi
milikmu..."
Mendadak ucapannya berhenti di tengah jalan, sebab pada saat
itulah si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok perlahan-lahan bangun
duduk, kemudian dari saku celananya ambil keluar sebuah seruling
kayu.
Irama seruling yang bernada sangat aneh pun dengan cepat
berkumandang memenuhi angkasa, begitu aneh iramanya seolah-olah
terdapat beribu-ribu ekor ular yang bersama-sama menyusup ke
dalam hati setiap orang.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Hoa Pek Tuo,
pikirnya :
"Jangan-jangan dia sedang gunakan ilmu memanggil ular yang
sudah terkenal di negeri Thian Tok..."
Irama lembut yang lirih dan halus itu seolah-olah datang dari
alam impian yang sangat jauh... bergema di udara dan menyelinap ke
seluruh sudut kalangan...
Dalam pada itu Chee Thian Gak sedang mengawasi wajah Hoa
Pek Tuo dan seksama, berhadapan dengan manusia licik yang
mempunyai banyak akal busuk macam begini, mau tak mau dia harus
pertingkat kewaspadaannya untuk menghindarkan diri dari serangan
bokongan.
Tapi ketiga irama seruling dari si Dewa Cebol bergema tiada
hentinya di angkasa, alisnya segera berkerut, dengan cepat ia menoleh
ke samping kalangan.
"Hmmm, permainan setan apa yang sedang kau lakukan?"
tegurnya sambil mendengus.
Hoa Pek Tuo tersenyum.
"Lamaphi disebut dewa oleh kalangan masyarakat di negeri
Thian Tok sebelah utara, malam ini saksikanlah kepandaian
saktinya..."
116
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Haaaah... haaaah... haaaah... kau maksudkan si setan cebol
itu?..." jengek Oorchad dengan nada menghina.
Berubah air muka Hoa Pek Tuo, rasa tidak senang muncul di
balik wajahnya yang telah berkeriput pikirnya :
"Manusia goblok ini benar-benar keterlaluan, susah payah
kuundang dia datang ke daratan Tionggoan, eeeei... tahunya dia malah
membantu Chee Thian Gak..."
"Hoa Pek Tuo?" mendadak terdengar Chee Thian Gak berseru.
"Sekarang adalah saatnya bagiku untuk bertanding melawan suami
istri Sin-mo ataukah kesempatanku untuk adu kepandaian dengan
manusia cebol dari negeri Thian Tok?"
Ucapan ini didengar sepintas lalu seakan-akan ditujukan kepada
Hoa Pek Tuo, padahal maksud yang sebenarnya adalah ditujukan
kepada diri Kong Yo Leng.
"Keparat cilik kau benar-benar mencari mati?" bentak Ciak Kak
Sin Mo dengan wajah beringis.
"Haaah... haaah... masa cari mati pun ada palsu dan sungguhan?
Selamanya cayhe mendengar bahwa nama besar dari Seng Sut Hay
Siang Mo..."
"Bagus rasakan dulu sebuah tendanganku!"
Di tengah bentakan badannya sudah maju dua langkah ke depan,
kakinya melayang datar ke depan bagaikan bayangan yang membuai
angkasa, tahu-tahu telapak kakinya yang berukuran besar itu sudah
berada kurang lebih lima coen di depan dada Chee Thian Gak.
Sewaktu berada di dalam perkampungan Thay Bie San cung
tempo dulu, jago kita sudah pernah terluka di bawah tendangan maut
'Teng Thain Lip Tah' atau Menyungging Langit Menginjak Bumi dari
iblis tua ini maka dari itu menyaksikan datangnya ancaman dengan
hati terperanjat buru-buru mundur dua langkah ke belakang.
Gerakan mundurnya ini dilakukan sangat cepat, begitu tubuh
bagian atas bergeser telapak kanannya berbareng dibabat ke bawah
menebas telapak kaki musuh.
117
Saduran TJAN ID
Kong Yo Leng mendengus dingin, telapak kaki ditekan ke
bawah, sementara sisi telapak menjejak ke samping kiri, dengan
bergeser di sisi telapak kanan Chee Thian Gak dia langsung
mengancam perut lawan.
Chee Thian Gak membentak nyaring, pinggiran telapaknya yang
kena digesek telapak kaki musuh terasa panas dan linu seolah-olah
menempel di atas hioloo yang panas membara.
Hatinya terkesiap, telapak kirinya buru-buru dikebaskan
membentuk gerakan setengah busur dan langsung menembus ke
dalam mengancam dada sementara tubuh bagian atasnya
menjengkang ke belakang tanpa geserkan kaki ia menyurut mundur
enam coen lebih.
Menggunakan kesempatan yang sangat kecil inilah, telapak
kirinya yang berhasil menembusi pertahanan musuh menabok di atas
kaki kanan lawan.
Ploook, setitik cahaya merah berkelebat lenyap dari pandangan
mata, segulung hawa tekanan yang hebat memancar keluar dari balik
kaki lawan, tubuh Chee Thian Gak sempoyongan dan mundur tiga
langkah ke belakang.
Ia lihat Kong Yo Leng menarik kembali telapak kanannya yang
ada andeng-andeng merah itu kemudian mengangkat kaki kirinya
untuk menyerang, hatinya terperanjat, segera pikirnya :
"Tenaga dalam yang dimiliki iblis tua ini betul luar biasa, aku
pasti bukan tandingannya..."
Sang biji mata lantas berputar, teriaknya keras :
"Kong Yo Leng, kau punya malu tidak?"
Ciak Kak Sin Mo melengak, diikuti dengan nada gusar ia berseru
:
"Keparat cilik, kau bilang apa?"
"Heeeh... heeeh... kau anggap kakimu itu kaki babi atau kaki
ayam? Kenapa suruh aku mencicipi terus..."
118
IMAM TANPA BAYANGAN II
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang segera
tertawa terbahak-bahak, terutama Oorchad, ia tertawa tergelak sampai
air mata pun ikut bercucuran.
Kong Yo Leng dibuat semakin naik pitam.
"Maknya... rasakan lagi sebuah tendanganku..."
"Lho... looo... looo... kok aku disuruh mencicipi lagi?"
Tingkah lakunya yang kocak ini membuat Mie Liok Nio sendiri
pun tak bisa menahan rasa gelinya lagi dan ikut tertawa.
"Hey setan tua, kau ingin pamerkan kejelekanmu lagi?" makinya
sambil menarik tangan sang suami.
"Kau bilang apa?"
"Bukankah cayhe sudah katakan bahwa aku ingin coba melawan
gabungan irama musik kalian berdua dengan tenaga dalam ku? Dan
persoalan ini telah disetujui oleh Mie cianpwee, bahkan kita pun
sedang mempertaruhkan Pedang Mustika Penghancur Surya dari Pek
In Hoei, atau mungkin... Hoa Pek Tuo merasa berat hati untuk
melepaskan pedang mustika itu?..."
Hoa Pek Tuo mendengus gusar, ia lepaskan pedang sakti itu dari
punggungnya lalu diletakkan di atas tanah.
"Manusia bodoh yang tak tahu diri," serunya, "kalau memang kau
ingin menjajal untuk melawan gabungan irama musik dari kedua
orang itu, sudah tentu loohu tak akan menghalang."
Ia merandek sejenak lalu dengan wajah keren tambahnya :
"Sebaliknya andaikata kau tidak sanggup bertahan selama
setengah jam, apa yang hendak kau lakukan??"
"Telur busuk tua!" diam-diam Chee Thian Gak memaki di dalam
hati. "Semula aku masih ingin coba mencari keuntungan dengan tidak
adanya perpaduan dalam gabungan permainan irama musik sepasang
iblis dari laut Seng Sut Hay berhubung dengan percekcokannya tadi,
sungguh tak nyana Hoa Pek Tuo begitu licik dan pintar sehingga
mengetahui pula akan hal ini. Batas waktu setengah jam bagiku cukup
terasa berat, sebab kalau hanya sebentar saja mungkin aku masih bisa
119
Saduran TJAN ID
bertahan, sebaliknya kalau waktu makin panjang maka persatuan
batin mereka tentu akan pulih kembali dalam perpaduan yang
harmonis... dalam keadaan begitu mana aku sanggup
mempertahankan diri?"
Tapi karena urusan sudah terlanjur demikian, terpaksa ia
mengangguk.
"Baiklah, kita batasi saja selama setengah jam..."
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar si Naga Hitam dari
gurun pasir berteriak sambil meloncat ke angkasa.
"Ular... ooh betapa banyaknya ular disini..." Loe Peng si pendekar
bertenaga sakti pun ikut berteriak.
Rupanya tiupan seruling dari si Dewa Cebol dari negeri Thian
Tok yang menggema tiada hentinya itu sudah mengundang beriburibu
ekor ular yang tersebar di empat penjuru.
Di bawah sorot cahaya sang surya, tampaklah ular-ular itu sambil
meliuk-liukkan tubuhnya bergerak menuju ke arah kakek cebol itu,
seolah-olah para pengikut agama yang berduyun-duyun menghampiri
nabinya.
Pemandangan yang begitu mistrius serta ngerinya itu membuat
orang yang melihat jadi ngeri dan merinding... sampai-sampai Loe
Peng serta Hong Teng yang punya perawakan tubuh tinggi kekar pun
ikut gemetar keras saking takutnya, baru saja mereka melangkah
beberapa tindak, badan mereka sudah roboh ke atas tanah.
Chee Thian Gak sendiri pun merasa amat terperanjat, pikirnya :
"Ooooh, inilah ilmu pawang ular yang sangat lihay dari negeri
Thian Tok, tadi aku masih mengira dia hanya bermain-main dengan
tiupan serulingnya belaka..."
Memandang gerombolan ular yang memenuhi permukaan tanah,
jago kita lantas berseru lantang :
"Kong Yo Leng, kau punya rasa malu atau tidak?"
"Apa yang kau katakan?" seru Ciak Kak Sin Mo dengan wajah
berubah hebat.
120
IMAM TANPA BAYANGAN II
Beberapa saat ia termenung, kemudian teriaknya lagi :
"Keparat cilik, ini hari sudah dua kali kau maki aku tidak punya
malu, hmmm! loohu bersumpah akan membeseti kulit tubuhmu dan
mencabuti otot-otot dalam badanmu, kalau tidak... aku Ciak Kak Sin
Mo lebih baik mati saja!"
Melihat wajah iblis tua itu berubah jadi merah padam saking
dongkol dan jengkelnya sehingga berbicara pun tidak karuan, diamdiam
Chee Thian Gak merasa geli, walaupun begitu kewaspadaannya
tetap dipertingkat, ia takut secara tiba-tiba iblis itu melancarkan
serangan mematikan.
Hoa Pek Tuo yang selama ini mengikuti gerak-gerik Chee Thian
Gak dari samping, kini merasa kecurigaannya makin tebal, pikirnya :
"Orang ini mempunyai tingkah laku yang aneh dan sukar diduga,
suaranya, pembicaraannya serta lagak lagunya yang sombong,
jumawa dan tinggi hati hampir boleh dibilang sangat mirip dengan
diri Pek In Hoei..."
Cahaya buas memancar keluar dari balik matanya. "Andaikata
dia benar-benar adalah Pek In Hoei, maka aku harus menggunakan
kesempatan yang sangat baik pada malam ini untuk melenyapkan
bibit bencana ini dari muka bumi..."
Ingatan tersebut bagaikan sambaran kilat berkelebat lewat dalam
benarnya, ia segera maju selangkah ke depan, ujarnya :
"Lebih baik terjanglah dahulu barisan ular dari Lhamapi si Dewa
Cebol ini..."
"Ooooh... tak kusangka dari sebangsa dedengkot aliran sesat yang
amat tersohor namanya dalam dalam dunia persilatan tidak lebih bau
daripada kentut busuk," tukas Chee Thian Gak cepat sambil tertawa
dingin. "Aku rasa kalau memang begitu... yaaah sudahlah, tak ada
perkataan lain yang bisa kuucapkan. Hoa Pek Tuo! Apa yang akan
kau katakan lagi?..."
"Kurang ajar!" teriak Mie Liok Nio gusar, "Manusia kepar she-
Chee, kau berani menyindir Loo Nio tidak pegang janji?"
121
Saduran TJAN ID
Chee Thian Gak tidak menjawab, diliriknya sekejap barisan ular
yang telah mengepung rapat empat penjuru sekeliling tempat itu,
diam-diam hatinya bergidik, pikirnya :
"Rupanya ular-ular itu hingga sekarang belum mendapat perintah
untuk melancarkan serangan, apabila aku tidak memancing kedua
iblis itu masuk jebakan dengan memakai kesempatan bagus ini,
seandainya barisan ular itu telah bergerak... aku bisa konyol!"
Maka segera sindirnya lagi :
"Semula cayhe ingin mempertaruhkan Pedang Sakti Penghancur
Sang Surya ini dengan menikmati irama musik gabungan dari
cianpwee berdua, tapi sekarang kalangan kita sudah dipenuhi oleh
barisan ular yang begini banyak, atau jangan-jangan kalian berdua
memang ada maksud hendak mengandalkan ular-ular ini untuk
memperataskan tarian gabungan ular dan iblis..."
"Kentut busuk anjing makmu!" maki Mie Liok Nio dengan penuh
kegusaran, "Kau berani menghina Loo Nio atau mungkin kau
memang mengharapkan Loo Nio melanggar pantangan?"
Chee Thian Gak tertawa.
"Nyawa yang cayhe miliki hanya selembar, baiklah kuserahkan
pada kalian berdua saja, cuma... andaikata cayhe tidak diberi
kesempatan untuk menikmati irama musik gabungan dari cianpwee
berdua, yah terus terang saja cayhe merasa mati tidak meram..."
"Setan tua!" Mie Liok Nio segera berseru sambil membopong
khiem kumala hijaunya. "Mari kita sempurnakan keinginan dari si
keparat cilik ini!"
"Andaikata cayhe tidak mati, kabulkan keinginan cayhe ini!
jawab Chee Thian Gak cepat sambil tersenyum.
122
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 6
"BAGUS, kalau kau dapat mendengarkan irama musik gabungan
kami hingga selesai, Pedang Sakti Penghancur Sang Surya ini segera
akan menjadi milikmu," Kong Yo Leng ikut menimbrung dengan hati
panas.
"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Hoa Pek Tuo menyela, "Kong-yo
heng janganlah kau sampai termakan oleh siasat licik keparat cilik itu,
kau harus tahu andaikata ia tidak sanggup menahan barisan ular dari
Lhamapi si Dewa Cebol itu berarti pula ia sama sekali tidak berhak
untuk mendengarkan irama musik gabungan dari kalian berdua."
Kong Yo Leng termenung sebentar, ia merasa ucapan tersebut
sedikit pun tidak salah, maka sambil memandang ke arah Mie Liok
Nio katanya :
"Ehmmm, perkataan Hoa heng memang sedikit pun tidak
salah..."
Melihatnya siasatnya bakal hancur di tangan Hoa Pek Tuo, buruburu
Chee Thian Gak tertawa dingin.
"Hmmm!" Hoa Pek Tuo mendengus, "Asalkan dapat menembusi
barisan ular ini, sudah tentu ada kesempatan pula bagimu untuk
mendengar irama..."
"Baik!" tukar Chee Thian Gak sambil ayun kapak saktinya.
"Akan cayhe demonstrasikan dahulu kepandaian membabat ular ku..."
Dia maju dua langkah ke depan, tampaklah daerah seluas empat
tombak persegi telah dipenuhi dengan ular-ular yang berliak-liuk
mengikuti irama musik yang lembut, saat itu ular-ular lagi sedang
123
Saduran TJAN ID
angkat kepalanya menjulurkan lidah yang merah di sekeliling si Dewa
Cebol dari negeri Thian Tok hingga terciptalah selapis lautan ular
yang luas.
Dalam pada itu Loe Peng serta Hong Teng berdiri dengan
punggung menempel di atas punggung, sekeliling tubuh mereka
sudah dipenuhi oleh gerombolan ular, wajah mereka berubah serius
sementara di tangan masing-masing mencekal sebatang bambu hijau,
rupanya mereka sudah siap melawan gerombolan ular itu.
"Ular yang berkumpul disini mungkin di atas ribuan jumlahnya,"
pikir Chee Thian Gak dalam hati. "Sekalipun aku ingin menjagal pun
tak nanti bisa menjagal sebanyak itu, rupanya aku harus
menghancurkan lebih dahulu seruling di tangan Dewa Cebol dari
negeri Thian Tok dengan demikian rombongan ular pun bisa
dibuyarkan..."
Tangannya segera merogoh ke dalam saku mengambil senjata
rahasia naga emas, sekilas napsu membunuh berkelebat di atas
wajahnya, sambil perhatikan rombongan ular itu dia maju tiga
langkah ke depan.
Hoa Pek Tuo tertawa dingin, dia angkat tangannya ke arah si
Dewa Cebol dan mengucapkan beberapa patah kata dengan bahasa
India.
Irama seruling segera berubah, di tengah alunan musik secara
lapat-lapat terselip irama mengusik, gerombolan ular itu segera
bergerak, dengan membentuk satu kumpulan besar bersama-sama
meluruk ke arah jago kita.
Bagaikan gulungan ombak di samudra yang saling susul
menyusul, gerombolan ular itu sekelompok demi sekelompok tiada
hentinya bergerak ke muka.
Oorchad yang selama ini membungkam tiba-tiba berkemakkemik
seperti membaca doa, kemudian sekali enjot badan ia sudah
meloncat ke sisi Chee Thian Gak, katanya :
124
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Marilah kita bersama-sama menerjang keluar dari barisan ular
itu, kemudian bersama-sama lagi membinasakan setan cebol itu!"
"Terima kasih atas maksud baikmu," tolak Chee Thian Gak
sambil geleng kepala, ia merogoh keluar sebatang senjata rahasia naga
emas dan diletakkan di atas telapak. "Tetapi sayang aku tidak
membutuhkan bantuanmu!..."
"Bukankah kita bersahabat? Kenapa aku tak boleh membantu
dirimu?"
Melihat si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sudah bangkit
berdiri dan berjalan dengan sempoyongan mendekati arahnya, buruburu
jago muda she Chee ini berseru keras :
"Selamanya cayhe tidak jeri menghadapi pelbagai persoalan yang
bagaimana berbahaya pun, dan selamanya pula aku tidak ingin
mengajak orang ikut merasa murung karena masalahku..."
"Lalu dalam keadaan yang bagaimanakah seseorang yang kalian
bangsa Han sebut sebagai sahabat baru boleh memberikan
bantuannya? Apakah tidak pantas bagi seorang sahabat untuk
memberikan bantuannya di kala sahabatnya sedang mengalami
kesusahan?"
Chee Thian Gak melengak, hatinya terasa seakan-akan dipukul
dengan martil besar, beberapa kali ia mengulangi kembali ucapan dari
Oorchad itu dalam benaknya.
Ia merasa selama hidup bl pernah mempunyai sahabat, sungguh
tak nyana pada saat seperti ini ia telah dianggap sebagai sahabat oleh
seorang manusia yang semula dipandang musuhnya yaitu Oorchad.
"Benar, kau adalah sahabatku," akhirnya dia bergumam seorang
diri. "Dalam keadaan apa pun sulit untuk mencari seorang sahabat
yang benar-benar sejati kecuali sewaktu berada dalam kesusahan..."
Oorchad menjulurkan tangannya yang besar menepuk bahu Chee
Thian Gak, lalu serunya lantang :
"Mulai sekarang antara kau dan aku tiada perbedaan lain, kau
mati aku ikut mati, kau hidup akui kut hidup!"
125
Saduran TJAN ID
Dengan mulut membungkam Chee Thian Gak awasi perawakan
tubuh Oorchad yang tinggi besar, timbul rasa terima kasih dalam hati
kecilnya, dia pun balas menepuk bahu rekan barunya ini.
"Chee toako," terdengar Hong Teng si naga hitam dari gurun
pasir berteriak keras, "Siauw-te pun bersedia mati h idup bersama
dirimu!"
Ia sikut dada Loe Peng keras-keras sambil ajaknya :
"Ayoh kita bergabung dengan diri Chee Toako sekalian!"
"Chee Toako!" gembor Loe Peng, "Tunggulah siauw te sejenak,
aku pun hendak menemani dirimu melalui bencana ini secara
bersama-sama!"
Demikianlah kedua orang itu segera menggerakkan tongkat
bambu masing-masing menghajar rombongan ular yang mengepung
di sekeliling mereka, akhirnya sebuah jalan berdarah berhasil dirintis
dan mereka pun langsung bergabung dengan Chee Thian Gak.
Si Pendekar Jantan Berkapak Sakti merasakan darah panas
bergelora dalam rongga dadanya, ia benar-benar dibuat sangat terharu
oleh sikap sahabat-sahabatnya ini, dalam hati pikirnya :
"Sungguh tak kusangka pada hari ini di tempat semacam ini aku
telah berjumpa dengan manusia-manusia berdarah panas seperti
mereka, ditinjau dari kejadian ini aku merasa yakin bahwa aku masih
punya harapan besar untuk mendobrak serta menghancurkan rencana
besar Hoa Pek Tuo untuk merajai dunia persilatan..."
Berpikir demikian, dengan mata melotot gusar tiba-tiba dia
ayunkan telapak kanannya ke depan, sekilas cahaya tajam yang
dipancarkan oleh senjata rahasia naga emas segera meluncur keluar.
Mengikuti gerakan tubuhnya, secara beruntun kembali ada empat
batang senjata rahasia naga emas meluncur ke depan secara serentak.
Si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok miringkan badannya ke
samping tatkala menjumpai bayangan cahaya yang meluncur ke
arahnya dengan begitu dahsyat, hatinya terkesiap. Buru-buru dia
kerahkan hawa murninya meloncat mundur enam depa ke belakang,
126
IMAM TANPA BAYANGAN II
nyaris sekali ia termakan oleh senjata rahasia naga emas yang
mengancam wajahnya.
Chee Thian Gak selipkan kembali kapak kecilnya di sisi
pinggang, kemudian sepasang telapaknya didorong ke muka secara
berbareng sementara kakinya bergeser ke depan.
Gulungan angin puyuh dengan hebatnya menyapu seluruh
permukaan bumi, dalam sekejap mata ular-ular yang berada di barisan
depan tergulung oleh serangan tadi dan bertimbunan ke belakang.
Darah amis muncrat ke empat penjuru membasahi bumi,
bangkai-bangkai ular yang hancur berantakan tertebar di manamana...
pemandangan waktu itu benar-benar mengerikan sekali.
"Heng thay berdua tak usah takut dan bimbang," hardik Chee
Thian Gak keras-keras. "Siauwte segera datang!"
Begitu badannya melayang ke atas bumi, dia lantas berdiri
dengan posisi segi tiga bersama Hong Teng serta Loe Peng, dengan
punggung menempel di atas punggung ia hadapi serangan-serangan
ular yang ada di luar kalangan, di mana pada saat itu saling berdesakan
menerjang datang.
Oorchad ayunkan tangan kanannya, di balik telapak tangannya
yang besar terbawa sebutir Zamrud merah delima yang memancarkan
cahaya tajam di tengah malam yang gelap itu.
Dengan langakah lebar dia maju ke depan mengikuti diri Chee
Thian Gak, mengikuti bergesernya tubuh yang tinggi besar itu,
barisan ular di sekelilingnya segera berdesakan menyingkir jauh-jauh
dari situ.
Menyaksikan kejadian itu Chee Thian Gak tertegun, dalam hati
segera pikirnya :
"Zamrud apakah itu? Sungguh luar biasa, ternyata mempunyai
kekuatan untuk mengusir barisan ular..."
Belum habis dia berpikir, mendadak terdengar Hoa Pek Tuo
berteriak lantang :
"Cepat jatuhkan diri bertiarap di atas tanah..."
127
Saduran TJAN ID
Sayang peringatan itu terlalu lambat datangnya, tahu-tahu tubuh
si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok sudah termakan oleh senjata
rahasia naga emas yang luar biasa itu.
Di tengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati, badannya roboh
ke dalam barisan ular kemudian menggeliat-geliat bagaikan binatangbinatang
di sekelilingnya.
Sungguh kasihan jago lihay dari negeri Thian Tok ini, jauh-jauh
ia datang ke daratan Tionggoan, sayang sebelum sempat melakukan
sesuatu pekerjaan apa pun jiwanya sudah keburu melayang..."
Hoa Pek Tuo sendiri merasa mangkel bercampur sedih tatkala
menyaksikan jago lihaynya yang dengan susah payah diundang dari
negeri Thian Tok telah mati di ujung senjata rahasia naga emas kelima
meskipun berhasil dari empat ancaman yang pertama, dalam hati
pikirnya :
"Kurang ajar... sungguh sialan baru saja kehilangan seorang Pek
In Hoei, kini muncul lagi seorang Chee Thian Gak..."
Tiba-tiba... di tengah kegelapan malam yang mencekam seluruh
jagad, terdengar suara jeritan lengking yang mengerikan
berkumandang datang dari kejauhan.
Mendengar suara jeritan itu Oorchad langsung kerutkan dahinya
kencang-kencang.
"Maknya..." ia memaki kalang kabut, "siapa sih yang menjeritjerit
seperti kuntilanak di tengah malam buta macam begini..." ia buka
mulutnya lebar-lebar lalu tertawa. "Zamrud merah delima ini adalah
mustika yang berada di tangan malaikat kami, karena gelap aku telah
menggunakannya sebagai penerangan... eeeei... tak tahunya ular-ular
itu pada takut dengan mustikaku ini. Ooooh, kejadian ini benar-benar
berkat perlindungan dari malaikat kami."
Dengan penuh gembira dia angsurkan mustika tadi ke hadapan
Chee Thian Gak lalu serunya :
"Nih, kuhadiahkan zamrud tersebut kepadamu, anggap saja
sebagai tanda mata atas persaudaraan kita..."
128
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Eeeh... eeeeh... mana boleh..." tampik jago kita dengan cepat.
Sebelum dia sempat menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari
balik kegelapan ia jumpai munculnya seorang gadis bergaun panjang
dan berambut panjang terurai hingga ke pundak dengan perlahanlahan
bergerak mendekat.
"Sok Peng..." Dengan hati gemetar ia berbisik... "kenapa ia bisa
berjalan hilir mudik di tengah barisan ular tanpa cedera?"
Tapi sewaktu ia teringat kembali bahwa Hee Siok Peng adalah
putri kesayangan dari ketua perguruan seratus racun yang bermarkas
di Propinsi In lam, rasa tercengangnya pun segera lenyap tak
berbekas.
Perlahan-lahan Hee Siok Peng berjalan mendekat, wajahnya yang
putih bersih bagaikan batu pualam terhias kemurungan yang luar
biasa, di balik biji matanya seakan-akan terlapis oleh kabut...
Tapi ketika dijumpainya Chee Thian Gak berdiri gagah di bawah
sinar rembulan, bagaikan seekor burung walet ia segera melayang ke
depan menghampiri si anak muda itu.
"In Hoei, apakah kau telah sembuh?" teriaknya dengan wajah
gembira.
"Apa? Kau adalah Pek In Hoei?" Mie Liok Nio pun ikut berteriak
keras.
Sinar mata Chee Thian Gak perlahan-lahan menyapu sekejap ke
arah Ciak Kak Sin Mo serta Hoa Pek Tuo, kemudian bantahnya :
"Cayhe sama sekali bukan Pek In Hoei!"
"Pek In Hoei," jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin,
"setelah kau menderita kalah di tanganku, sungguh tak nyana pada
saat ini nama aslimu pun kau tak berani menggunakan lagi..."
"Tutup mulut anjingmu!" bentak Chee Thian Gak gusar. "Cayhe
bukan Pek In Hoei, aku adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti dari
gurun pasir..."
"Hmmm!" Hoa Pek Tuo mendesis penuh kehinaan. "Sungguh tak
nyana Pek In Hoei yang selama ini selalu kuanggap sebagai seorang
129
Saduran TJAN ID
lelaki jantan, seorang lelaki sejati ternyata sudah berubah jadi anak
jadah yang tidak berani mengakui kakek moyangnya sendiri. Hmmm,
sungguh terlalu hina... sungguh memuakkan... hanya manusia
pengecutlah yang tidak berani menggunakan nama sendiri."
Ctg meraung gusar, dia cabut keluar kapak saktinya kemudian
berteriak :
"Hoa Pek Tuo! Apakah kau sudah pengin mencoba ketajaman
dari senjata kapakku??"
Dalam pada itu Hee Siok Peng telah mundur beberapa langkah
ke belakang dengan hati terperanjat, rupanya ia dibikin kaget oleh
sikap Chee Thian Gak yang keren dan penuh kewibawaan itu,
pikirnya di dalam hati :
"Dahulu tingkah laku In Hoei sangat halus dan peramah, kenapa
sekarang jadi... jadi begitu kasar..."
Dengan suara gemetar segera serunya :
"In Hoei..."
Chee Thian Gak memutar biji matanya, dalam hati si anak muda
itu pengin memaki beberapa patah kata yang pedas terhadap gadis itu,
tapi tatkala menjumpai sikapnya yang halus dan patut dikasihani itu,
hatinya jadi lemas, sambil menahan amarah serunya :
"Nona Heee, cayhe sama sekali bukan Pek In Hoei yang kau
maksudkan..."
"In Hoei, kenapa kau harus berbuat demikian??" seru Hee Siok
Peng tertegun. "Si ular asap tua telah berkata kepadaku..."
"Lebih baik nona tak usah membohongi diri cayhe," tukas Chee
Thian Gak dengan cepat. "Ouw-yang Gong hanya kenal diriku
sebagai Chee Thian Gak yang bergelar si Pendekar Jantan Berkapak
Sakti dari gurun pasir... nona pasti keliru..."
Hampir saja Hee Siok Peng menangis terisak saking sedihnya
tapi dia tetap menggertak gigi menahan golakan perasaan hatinya itu.
"Pek In Hoei, sekalipun kau telah hancur jadi debu aku pun tetap
mengenali dirimu."
130
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Cayhe memang kenal dengan diri Pek In Hoei, tetapi kalau ilmu
silatnya dibandingkan dengan kepandaianku... oooh hoo... dia masih
terpaut jauh sekali mana boleh kau mengambil hal ini sebagai
perbandingan??"
Sambil menjura segera tambahnya :
"Cayhe mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan
nona yang mana telah menyelamatkan diriku..."
Mie Liok Nio yang menyaksikan keadaan tersebut tak bisa
menahan diri lagi, sambil meloncat ke depan teriaknya :
"Pek In Hoei, hatimu benar-benar keji!"
"Liok Nio, tunggulah sebentar..." panggil Kong Yo Leng sambil
menarik ujung bajunya.
"Mau apa?"
Dengan termangu-mangu Kong Yo Leng memperhatikan diri
Hee Siok Peng yang sedang menangis terisik, bibirnya bergumam
entah apa yang diucapkan, ada kalanya ia kerutkan dahi ada kalanya
pula tundukkan kepala termenung, seakan-akan sedang memikirkan
satu persoalan yang sangat aneh.
"Hey setan tua," maki Mie Liok Nio, "sebenarnya kau sedang
main setan apa?"
"Dia... dia mirip sekali dengan seseorang..."
Sambil berteriak keras, si Iblis Sakti Bertelanjang Kaki ini segera
menarik tangan istrinya dan kabur dari situ.
Hoa Pek Tuo tertegun, belum sempat ia mengucapkan sesuatu,
bayangan kedua orang iblis sakti itu sudah lenyap dari pandangan.
Ia berpikir sejenak, akhirnya kepada Chee Thian Gak ia berkata :
"Dalam tiga hari mendatang loohu akan menantikan
kedatanganmu dalam perkampungan Thay Bie San cung, akuharap
kau bisa datang pada saatnya!"
"Ehmmm, aku pasti akan muncul dalam perkampungan kalian."
Hoa Pek Tuo tertawa getir, kepada Kioe Boan Toh si Dukun Sakti
Berwajah Seram yang selama ini selalu diam mengawasi, ujarnya :
131
Saduran TJAN ID
"Kong-yo heng mungkin masih ada urusan lain, daripada kita
berada disini silahkan Dukun sakti beristirahat selama beberapa hari
di dalam perkampungan kami..."
Kioe Boan Toh si Dukun Sakti Berwajah Seram tertawa
terkekeh-kekeh, lambat-lambat ia berjalan menghampiri Chee Thian
Gak lalu katanya :
"Bocah muda, kau adalah lelaki paling keji yang pernah kujumpai
selama ini."
Chee Thian Gak tertegun, sebelum ia sempat berbuat sesuatu
terlihatlah di atas wajah Kioe Boan Toh si dukun sakti itu terlintas
selapis cahaya emas yang amat tipis, sesosok bayangan merah
berkelebat di antara dahinya kemudian dengan wajah menyeramkan
ia berkata kembali :
"Aku si nenek tua paling benci terhadap kaum lelaki yang berhati
kejam dan tidak kenal budi. Hmmm! Kau sudah terkena racun ulat
sutera emasku, di dalam tiga hari jiwamu pasti melayang!"
Habis berkata sambil tertawa aneh dia ketukkan tongkatnya ke
atas tanah, kemudian mengikuti di sisi tubuh Hoa Pek Tuo segera
berlalu dari situ.
Malam semakin kelam... angin dingin berhembus kencang... di
kala fajar hampir menyingsing, langit terasa semakin gelap sehingga
sukar melihat ke-lima jari tangan sendiri.
Beberapa biji bintang masih berkelip-kelip lemah di sudut jagad,
sementara rembulan bersembunyi di balik awan...
Chee Thian Gak sambil mencekal kapak saktinya memandang ke
arah Loe Peng dengan sorot mata tajam, lama sekali dia baru berkata
:
"Antara manusia dengan manusia seringkali terjadi pelbagai
macam kesalahpahaman, seperti pula kesalahpahaman antara gurumu
dengan Hwie Kak Loo Nie pada masa yang silam. Seandainya kau
merasa salah paham ini hanya satu persoalan kecil dan bisa
132
IMAM TANPA BAYANGAN II
diselesaikan secara baik-baik, aku berharap kau suka memandang di
atas wajahku menyelesaikan persoalan ini sampai disini saja."
Loe Peng tidak menjawab, sebaliknya dia lantas mengisahkan
bagaimanakah pada masa yang silam secara kebetulan sekali gurunya
berhasil menemukan kitab Ie Cin Keng yang sudah lama lenyap dari
partai Sauw-lim serta sebutir Si Lek-cu milik Tong Sam Cong dalam
sebuah gua batu...
Mendengar kisah tersebut Chee Thian Gak berseru tertahan, ia
tidak menyangka kalau di balik persoalan itu masih ada liku-likunya,
jelas persoalan ini tidak segampang apa yang dikatakan Hwie Kak
Loo Nie kepadanya, sepasang alisnya kontan berkerut, ia mengerti
persoalan ini menyangkut urusan pribadi antara partai Sauw lim
dengan partai Go-bie, sedikit saja salah bertindak bisa mengakibatkan
yang fatal...
Hong Teng si Naga hitam dari gurun pasir yang sedang bersandar
di sisi batu, pada saat ini dengan nada tertegun menimbrung dari
samping :
"Hey hweesio gadungan, apa sih yang disebut Si Lek Cu itu?
Apakah kau bisa terangkan kepadaku?"
"Orang liar, lebih baik jangan banyak cingcong, hati-hati dengan
toya bajaku!"
"Keledai botak, kau tak usah sombong seperti itu, bayangkan saja
pertarungan kita tadi... Hmmm! Apakah kau kurang terima dan
sekarang ingin adu tenaga lagi?"
Ia merandek sejenak, lalu dengan mata melotot makinya lagi :
"Hmmm, makanya... kau anggap manusia macam apa sih dirimu
itu? Sombong sekali!"
Loe Peng jadi naik pitam setelah hatinya dipanasi terus, toyanya
langsung disapu ke depan sambil memaki :
"Manusia liar jangan pergi dahulu, rasakanlah sebuah
kemplangan toyaku!"
133
Saduran TJAN ID
Hong Teng tak mau unjukkan kelemahan dia pun angkat senjata
patung tembaganya untuk menyongsong datangnya serangan itu.
"Hmmm, kau anggap aku jeri kepadamu?"
Chee Thian Gak yang melihat kedua orang itu kembali saling
bergebrak karena beberapa patah kata saja, ia jadi naik pitam,
bentaknya :
"Hey,kalian mau apa?"
Traaaang....! di tengah bentrokan keras dua macam senjata itu
telah saling beradu satu sama lainnya, kedua belah pihak sama-sama
mundur ke belakang untuk kemudian saling menubruk kembali lagi
ke depan...
Maka satu pertarungan sengit pun kembali berlangsung di sana.
Lama-kelamaan Chee Thian Gak merasa tidak sabar
menyaksikan tingkah laku mereka, badannya segera berkelebat ke
depan, di tengah meluncurnya bayangan kapak tahu-tahu ia sudah
tangkis senjata kedua orang itu dengan telak.
Traaang... traaang... kembali terdengar suara bentrokan yang
memekakkan telinga, Hong Teng sambil mendengus berat mundur
empat langkah ke belakang dengan sempoyongan, senjatanya yang
terhajar oleh kapak Chee Thian Gak terasa jadi berat hingga membuat
tangannya jadi panas, linu dan kaku.
Chee Thian Gak tidak berhenti sampai di sana saja, kapaknya
kembali berputar menghajar toya Loe Peng sehingga membuat jago
ini pun terdesak mundur beberapa langkah ke belakang dengan
sempoyongan.
Beberapa saat lamanya Loe Peng berdiri termangu-mangu,
kemudian dengan gusar teriaknya :
"Apa maksudmu berbuat begini?"
"Dan kau sendiri mau apa?" balas Chee Thian Gak dengan sorot
mata yang menggidikkan hati.
Meskipun Loe Peng adalah seorang manusia tolol, namun ia tidak
goblok sekali, dengan mata kepala sendiri ia sudah menyaksikan
134
IMAM TANPA BAYANGAN II
betapa hebatnya kepandaian serta kekuatan yang dimiliki Chee Thian
Gak, di mana setelah membinasakan sembilan ekor unta, membanting
mati lima ekor gajah, mengalahkan Oorchad kemudian
membinasakan pula si Dewa Cebol dari negeri Thian Tok.
Kena dibentak oleh sikap lawan yang gagah, keberaniannya
seketika menjadi lumer, sahutnya dengan suara terpatah-patah :
"Aku... aku sedang mengatakan kepadanya, kenapa ia... ia banyak
mulut..."
"Aku toh cuma menanyakan apa yang dinamakan Si Lek Cu..."
cepat-cepat Hong Teng berseru.
"Hmmm, dapatkah kau tutup sedikit mulutmu?" tegur Chee
Thian Gak.
Hong Teng membungkam, sambil meraba cambang yang
memenuhi di atas wajahnya, sesaat kemudian gerutunya :
"Maknya... kalau hweesio gadungan ini berani membangkang
lagi, malam ini juga aku akan ajak dia beradu jiwa."
Chee Thian Gak tidak menggubris orang itu lagi, dengan alis
berkerut ia menoleh kembali ke arah Loe Peng dan bertanya :
"Jikalau Si Lek cu itu benar-benar didapatkan gurumu bagaimana
mungkin bisa terjatuh pula ke tangan Cie In?..."
Ia melirik sekejap ke arah Hwie Kak Loo Nie yang selama ini
duduk bersila terus di ujung tembok, sementara soal kitab Ie Cin Keng
sama sekali tidak diungkapnya.
Loe Peng tarik napas dalam-dalam, sahutnya :
"Walaupun guruku adalah anak murid partai Sauw lim, tetapi
yang jelas beliau adalah seorang hong tiang dari kuil Poo Son Sie yang
ada di Propinsi Su Cuan bagian utara, sejak dia memperoleh Si Lek
cu di Toan Hong guruku segera kembali ke kuilnya..."
Ia merandek sejenak untuk melirik sekejap ke arah Hwie Kak Loo
Nie kemudian lanjutnya :
"Di kala dia orang tua hampir memasuki propinsi Su Cuan itulah
di tengah jalan beliau telah berjumpa dengan Ci Im serta Hwie Kak
135
Saduran TJAN ID
yang melakukan perjalanan bersama-sama, walaupun mereka
memakai jubah pendeta namun baik melakukan perjalanan maupun
menginap selalu berada jadi satu, keadaan mereka tidak lebih
bagaikan sepasang suami istri..."
"Kau bohong!" jerit Hee Siok Peng. "Hwie Kak Taysu tidak nanti
melakukan perbuatan semacam itu..."
"Siapa bilang aku bohong?" bantah Loe Peng sambil melotot
gusar. "Kalau kau tidak percaya, tanya saja kepada Hwie Kak!"
Hwie Kak Loo Nie yang sedang bersemedi di ujung tembok
sebelah sana, tiba-tiba membuka mata lalu mengganggu.
"Omihtohud! Apa yang dikatakan Loe sicu sedikit pun tidak
salah."
"Aaaah sepasang mata Hee Siok Peng terbelalak lebar, dengan
pandangan tercengang ia menatap wajah Hwie Kak Loo Nie, hampir
saja ia tidak percaya bahwa ucapan itu diutarakan oleh nikouw tua
tersebut.
Chee Thian Gak sendiri walaupun merasa bahwa jawaban dari
Hwie Kak Loo Nie agak menusuk pendengaran, tapi dia yakin bahwa
di balik peristiwa itu pasti masih ada ada latar belakangnya yang aneh,
maka serunya kemudian :
"Lanjutkanlah perkataanmu!"
Loe Peng melirik sekejap ke arah Hee Siok Peng lalu melanjutkan
:
"Menjumpai kejadian seperti itu, guruku jadi gusar bercampur
mendongkol, beliau tidak menyangka kalau dalam kalangan agama
Buddha telah dicemarkan namanya oleh perbuatan mesum kedua
orang itu, maka malam itu juga sambil membawa senjata andalannya,
guruku secara diam-diam menyusup ke dalam rumah penginapan di
mana mereka berada, hasil dari penyelidikan itu membuktikan bahwa
mereka berdua ternyata tidur dalam sepembaringan..."
Hong Teng yang ikut mendengarkan kisah itu, sekarang tak bisa
menahan diri lagi, dengan mata terbelalak mulut melongo tukasnya :
136
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bukankah mereka sudah jadi pendeta! Kenapa berani benar tidur
dalam sepembaringan? Bukankah hal ini..."
Ia merandek dan berpaling ke arah Hwie Kak Nikouw yang
duduk bersila di ujung tembok, sinar matanya diliputi tanda tanya :
"Pada waktu itu usia pinnie masih muda," terdengar Hwie Kak
Loo Nie menjawab. "Lagi pula aku bersama Ci Im suheng sedang
menyaru sebagai suami istri, sudah tentu kami boleh menginap dalam
sekamar dan tidur di atas sepembaringan." Jawaban gamblang dan
terus terang membuat semua orang jadi tertegun, lebih-lebih Hee Siok
Peng. Dia rasakan dadanya seperti dihantam dengan martil besar,
membuat napasnya jadi sesak, sekujur badannya gemetar keras...
setelah menjerit kaget, ia putar badan dan lari masuk ke dalam kuil.
"Siok Peng, kembali! hardik Hwie Kak Nikouw dengan suara
keren.
Dengan kaget Hee Siok Peng berpaling lalu menatap wajah
nikouw itu dengan pandangan tertegun.
Sinar matanya penuh diliputi perasaan memandang rendah,
membuat Hwie Kak Nikouw yang melihatnya jadi sakit hati dan
sedih, namun dengan suara berat ujarnya lagi :
"Siok Peng, kalau kau ingin berlalu dari sini, dengarkanlah
dahulu penjelasanku hingga duduknya persoalan jadi terang, kalau
tidak kau bukan keponakan muridku lagi dan bukan murid dari Ko In
lagi!"
Hee Siok Peng ragu-ragu sejenak, akhirnya dengan perlahanlahan
ia putar badan dan jalan kembali ke tengah kalangan.
"Nona Hee, pergilah setelah selesai mendengarkan rahasia ini,"
ujar Chee Thian Gak pula.
Begitulah dengan nada gusar Loe Peng segera melanjutkan
kembali kata-katanya :
"Guruku makin bertambah gusar ketika tiba di dalam kamar itu
dan menyaksikan kedua orang pendeta Buddha itu dengan kepala
gundul, badan telanjang sedang tidur bersama di atas pembaringan
137
Saduran TJAN ID
seakan-akan baru saja melakukan perbuatan mesum yang memalukan
itu, maka dalam gusarnya beliau telah menerjang masuk ke dalam
ruangan dan meloncat naik ke atas pembaringan itu..."
Ia ketukkan toyanya keras-keras ke atas tanah, lalu bentaknya :
"Siapa sangka sepasang suami istri yang tak tahu malu ini telah
memasang alat rahasia di sisi pembaringan mereka, karena kurang
hati-hati guruku segera terjebak ke dalam perangkap mereka,
sementara Si Lek cu serta kitab Ie Cin Keng pun segera terjatuh ke
tangan kedua orang manusia laknat itu."
Dengan gusarnya ia menatap Hwie Kak Nikouw, tiba-tiba ia
membentak keras, toyanya langsung dikemplangkan ke atas kepala
rahib perempuan itu.
Chee Thian Gak membentak keras, laksana kilat kapaknya
disilangkan di hadapan Loe Peng, teriaknya :
"Loe Heng... jangan semberono!"
Traaaang...! kemplangan toya dari Loe Peng tertangkis oleh
babatan kapak Chee Thian Gak sehingga terpapas sebagian, seluruh
toya itu mencelat tiga depa ke angkasa menggetarkan tubuh orang she
Loe itu sehingga tak sanggup mempertahankan diri, badannya
mundur lima langkah ke belakang dan menumbuk di atas sebuah tiang
batu yang besar.
Dengan gusar ia membentak, toyanya diputar kembali
melancarkan satu serangan.
Kraaaak... tiang batu itu patah jadi dua, atap di atas wuwungan
rumah pada rontok ke bawah, di tengah bergemanya gemuruh keras
pasir dan debut beterbangan di mana-mana...
Laksan kilat Hong Teng si naga Hitam dari gurun pasir meloncat
ke depan, pedangnya ditancapkan ke atas tanah lalu sepasang
lengannya diayun memeluk tiang batu tadi, kemudian diangkatnya
mentah-mentah dan ditumpangkan di atas tiang batu bagian bawah
yang patah.
138
IMAM TANPA BAYANGAN II
Seluruh tubuh Loe Peng kotor oleh debut, ia berdiri termangumangu
di tempat semula tanpa mengucapkan sepatah kata pun,
rupanya ia tidak sadar apa yang telah ia lakukan barusan.
Chee Thian Gak yang menyaksikan Hee Siok Peng ketakutan
setengah mati berdiri kaku di sisi kalangan, timbul suatu perasaan
aneh dalam hatinya, tanpa sadar ia berseru dengan suara lembut :
"Siok Peng, kau tak usah takut!"
Hee Siok Peng membelalakkan sepasang matanya yang bulat
besar, lama sekali ia memandang ke arah diri Chee Thian Gak tanpa
berkedip, pemandangan indah ketika ia masih berada bersama Pek In
Hoei pun terbayang kembali dalam benaknya.
Untuk sesaat ia jadi lupa dengan keadaan di sekelilingnya, sambil
meloncat ke dalam pelukan Chee Thian Gak bagaikan seekor burung
walet, serunya manja :
"In Hoei!"
Seluruh tubuh Chee Thian Gak gemetar keras, hampir saja ia tak
kuat menahan diri dan balas memeluk gadis itu kencang-kencang, tapi
kejernihan otaknya dengan cepat memadamkan kobaran api cinta
yang timbul dari dasar hatinya.
Dengan cepat wajah berubah jadi kaku dan dingin, ia dorong
tubuh Hee Siok Peng dari dalam pelukan lalu berseru dengan nada
ketus :
"Sudah berulang kali cayhe terangkan kepadamu bahwa aku
bernama Chee Thian Gak, mengapa nona selalu menaruh salah paham
terhadap diriku?..."
Mimpi pun Hee Siok Peng tidak menyangka kalau sikap pin
begitu ketus dan dingin, dorongan yang amat perlahan itu dirasakan
bagaikan guntur yang membelah bumi di siang bolong, membuat
wajahnya berubah hebat dan sekujur badannya gemetar keras.
Lama sekali ditatapnya wajah Chee Thian Gak tanpa berkedip,
bibirnya gemetar keras... lama sekali beberapa patah kata baru
sanggup dipaksakan keluar :
139
Saduran TJAN ID
"Pek In Hoei, kau benar-benar kejam..."
Dalam hati Chee Thian Gak merasa sedih bercampur perih,
namun air mukanya tetap dingin dan ketus, ujarnya adem :
"Nona Hee, kembali kau salah paham, cayhe bukanlah Pek In
Hoei seperti yang kau maksudkan, aku adalah si Pendekar Jantan
Berkapak Sakti Chee Thian Gak..." dia tarik napas dalam-dalam,
dengan perasaan yang datar dan tenang lanjutnya kembali, "pin adalah
seorang pemuda yang berwajah tampan, berbudi bahasa halus dan
bertingkah laku lemah lembut, sebaliknya cayhe kasar, jelek dan tidak
tahu sopan santun, nona benar-benar sudah salah melihat orang."
Air mata bercucuran membasahi seluruh wajahnya yang pucat
pias bagaikan mayat, namun dara itu tetap berkata lagi dengan suara
gemetar :
"Pek In Hoei, kau tak usah mengelabui diriku, meskipun kau
sudah hancur lebur jadi tanah, aku tetap akan mengenali dirimu..."
Darah panas bergelora dalam dada Chee Thian Gak, sekali lagi
perasaan halusnya terpukul oleh sikap Hee Siok Peng yang patut
dikasihani itu, hampir-hampir saja ia mengaku bahwa dirinya adalah
Pek In Hoei, tetapi begitu teringat akan perbuatan ayahnya sang ketua
dari Perguruan Selaksa Racun Hee Giong Lam yang pernah meracuni
seluruh anak murid partai Thiam Cong, kembali hatinya membeku.
Akhirnya sambil menggertak gigi ujarnya :
"Cayhe Chee Thian Gak adalah seorang lelaki jantan, lelaki sejati
yang tak sudi menyembunyikan nama sendiri, apalagi menyaru
sebagai nama orang lain? Terus terang sudah kukatakan kepada nona
bahwa aku tidak sudi meminjam nama Pek In Hoei untuk memperoleh
kasih sayang dari nona, cayhe harap nona bisa..."
Belum habis dia berkata, teriakan memuji dari Hong Teng sudah
berkumandang di angkasa, tampak lelaki itu sambil acungkan
jempolnya berseru :
140
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Bagus... ucapan seorang lelaki sejati memang harus bisa
diutarakan dan bisa dilaksanakan. Chee Thian Gak! mulai detik ini
aku si Loo toa adalah sahabatmu!"
Loe Peng melirik sekejap ke arah diri Hong Teng, kemudian
sambil menepuk pantat sendiri serunya pula :
"aku pun rela mengikat tali persahabatan dengan dirimu, berilah
kesempatan bagi kita bertiga untuk bersahabat sepanjang masa dan
mendobrak semua kejadian yang tidak adil di dunia."
Perkataan itu tepat mengenai lubuk hati Hong Teng, maka
kembali dia menggembor :
"Mari kita bertiga segera angkat sumpah menjadi saudara sehidup
semati!"
"Baik, setelah persoalan disini selesai, aku orang she Chee pasti
akan mengajak kalian berdua untuk menjelajahi seluruh sudut
dunia..."
Hee Siok Peng merasakan hatinya jadi sakit, kepalanya pusing
tujuh keliling dan tak sanggup memikirkan apa-apa lagi,
pandangannya jadi gelap dan seketika ia roboh tak sadarkan diri.
Dengan sebat Hwie Kak Nikouw memayangi tubuhnya, sambil
memandang ke arah Chee Thian Gak serunya :
"Chee sicu, benarkah kau bukan Pek In Hoei?"
"Meskipun cayhe kenal dengan diri Pek In Hoei namun aku tidak
berani mengaku-aku sebagai si Pendekar Pedang Berdarah Dingin
Pek In Hoei."
"Omihtohud, hati sicu benar-benar keras bagaikan baja, cukup
dikatakan sejajar dengan tabiat Pek In Hoei. Aaaai... Pendekar Pedang
Berdarah Dingin... pendekar pedang yang tak kenal cinta... kalian
semua tak tahu apa artinya cinta dan sampai dimanakah berharganya
cinta..."
"Hey nikouw tua apa yang kau gerutukan?" tegur Loe Peng
dengan suara kasar.
141
Saduran TJAN ID
Hwie Kak Nikouw tidak menggubris bentakan orang, sambil
tundukkan kepala ia berseru memuji keagungan sang Buddha.
"Omihtohud, sejak dahulu hanya cintalah yang banyak
meninggalkan penderitaan, tapi mengapa kau tidak mau kenal apa
artinya cinta? Aaaai... setiap kali gadis yang romantis mencintai
seorang lelaki, kesulitan dan penderitaan pun mulai berdatangan..."
Dengan penuh kasih sayang ia peluk tubuh Hee Siok Peng
kemudian kembali ke sudut tembok dan duduk bersila di situ.
"Maknya..." maki Hong Teng dengan gusar. "Setiap kali
kujumpai lagak tengik nikouw tua itu hatiku jadi benci, kurang ajar...
ia berani mengomeli kita orang lelaki!"
"Hwie Kak," gembor Loe Peng sambil menjemput toyanya.
"Rupanya kau pengin dikemplang lagi??"
"Loe heng, harap jangan menuruti nafsu..."
"Hmm! guruku dijebak ke dalam sebuah ruang batu yang
berukuran empat depa persegi oleh dia serta Ci Im sehingga harus
menderita karena dipagut berpuluh-puluh ekor ular beracun, bukan
saja badannya penuh dengan luka sehingga keadaannya tidak mirip
manusia lagi, badan pun keracunan hebat, apakah dendam kesumat ini
tak boleh kutuntut balas?"
Chee Thian Gak yang mendengar perkataan itu diam-diam
merinding, bulu kuduknya pada bangun berdiri pikirnya :
"Kalau aku jadi dia, sedari tadi tubuh Hwie Kak sudah kubacok
jadi dua bagian, apa gunanya mengucapkan kata-kata yang
bertumpuk-tumpuk??"
Tampak Hwie Kak Nikouw tertawa sedih dan berkata :
Seandainya gurumu benar-benar dipagut oleh berpuluh-puluh
ekor ular beracun, niscaya dia sudah mati pada saat itu juga, secara
bagaimana ia bisa hidup lebih lanjut sehingga bisa wariskan ilmu
silatnya kepadamu?"
Mula-mula Loe Peng melengak, kemudian dengan gusar
teriaknya :
142
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Setelah dia orang tua berhasil meloloskan diri dari cengkeraman
kalian, racun itu segera diobatinya hingga sembuh, sudah tentu
guruku tidak sampai mati keracunan."
Hwie Kak Nikouw tertawa getir.
"Pada waktu itu gurumu tidak sampai mati bukan lain karena
pinnie lah yang sudah memberi tambahan darah kepadanya dan
memberi pula obat anti racun kepadanya..."
"Kentut busuk, sesaat sebelum guruku menghembuskan napas
yang terakhir ia telah berpesan kepadaku untuk menuntut balas
dendam kesumat ini, beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa
lukanya disembuhkan oleh kalian berdua..." sambil menuding rambut
yang panjang di atas kepalanya ia berkata kembali, "tahukah kau apa
sebabnya aku tidak mencukur rambutku jadi hweesio? Karena guruku
sakit hati, dia merasa anak murid kaum Buddha pun bisa melakukan
perbuatan yang demikian memalukan, apa gunanya seseorang harus
cukur rambutnya hingga gundul? Maka aku pun tak usah memikirkan
segala persoalan yang memusingkan kepala."
Dalam pada itu secara diam-diam, Chee Thian Gak
memperhatikan terus perubahan wajah dari Hwie Kak Nikouw, dia
lihat sepasang pipi paderi itu berkerut kencang, maka suatu ketika
ujarnya :
"Hwie Kak Suthay, seandainya apa yang diucapkan Liok Hong
adalah kenyataan, maka..."
"Maka senjata patung tembagaku akan mengobrak-abrik kuil ini
rata dengan tanah," sambung Hong Teng sambil meraung keras.
Hwie Kak Nikouw mengerutkan dahinya, sinar tajam memancar
keluar dari kelopak matanya, tapi hanya sesaat ia telah tundukkan
kepalanya kembali.
"Omihtohud! Chee sicu, aku harap kau suka mendengarkan
penuturan dari pin-nie terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan
untuk menghancur lumatkan kuil ini jadi tanah."
143
Saduran TJAN ID
"Ehmm baiklah!" Chee Thian Gak mengangguk setelah
termenung sejenak, kepada kedua orang saudaranya ia berseru :
"Heng-thay berdua harap jangan marah lebih dahulu, mari kita
dengarkan kisah yang dialami Loo suthay sebelum mengambil
keputusan."
Hwie Kak Nikouw tarik napas dalam-dalam, setelah termenung
sebentar ujarnya :
"Peristiwa ini sudah lewat delapan belas tahun lamanya, semula
aku tidak ingin mengungkapnya kembali dan akan kuanggap sebagai
suatu impian buruk, kenangan itu mengikuti bergesernya hari lama
kelamaan akan lenyap dengan sendirinya, siapa tahu Thian tidak
menghendaki demikian, delapan belas tahun kemudian Pin-nie
terpaksa harus mengungkap kembali kejadian itu..."
Dengan sorot mata penuh kasih sayang ia alihkan pandangannya
ke atas wajah Hee Siok Peng, sambungnya lebih jauh :
"Peristiwa ini terjadi pada delapan belas tahun berselang, ketika
itu aku berusia dua puluh lima tahun, tapi aku sudah diterima sebagai
murid oleh Ie Chin suthay dan mencukur rambut jadi nikouw..."
Chee Thian Gak tertegun, mimpi pun ia tidak menyangka Hwie
Kak Loo Nie yang wajahnya telah penuh berkeriputan sebenarnya
baru berusia empat puluh tahunan.
Hwie Kak Nikouw tertawa getir.
"Mungkin sicu tidak percaya bukan kalau pin-nie baru berusia
empat puluh tahunan? aaaai...! kalau perasaan hati menggerogoti
perasaan, dan siksaan itu tak dapat dihilangkan, wajahku kenapa tak
bisa berubah jadi tua?"
Chee Thian Gak sekalian membungkam dalam seribu bahasa,
masing-masing tercekam dalam perasaan hati masing-masing.
Memandang kerlipan cahaya bintang nun jauh di awang-awang,
Hwie Kak Nikouw melanjutkan kembali kata-katanya :
"Karena wajahku pada saat itu terhitung cantik dan ilmu silatku
baik juga, maka baru saja aku terjun ke dalam dunia persilatan, orang-
144
IMAM TANPA BAYANGAN II
orang telah memberi gelar Giok Kwan Im, atau si Kwan Im pualam
kepadaku. Suatu hari susiokku pulang ke gunung Go bie dari kota
Keng Chiu dalam propinsi Kan Siok, ia banyak bercerita tentang
keindahan alam di kota Keng chiu dan mengatakan pula bahwa
suheng kami Ci Hoei berdiam di kuil Thian-an Si dalam kota Keng
Chiu, maka Pin-nie pun lantas mengajak suhengku Ci Im untuk
berangkat berpesiar..."
Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa getir lanjutnya :
"Meskipun waktu itu usiaku sudah mencapai dua puluh lima
tahun, tapi watakku masih kekanak-kanakan, sedikit pun tiada tingkah
laku seorang nikouw, maka dari itu sepanjang jalan kami selalu
bergurau hingga sepanjang jalan tidak merasa kesepian. Suatu hari
baru saja kami melangkah masuk ke dalam propinsi Kan Siok, kami
telah berjumpa dengan seorang lelaki tinggi besar berkepala gundul
dan berkaki telanjang..."
"Seorang lelaki gundul berkaki telanjang?" pikir Chee Thian Gak
dengan hati tercengang. "Jangan-jangan orang itu adalah..."
"Karena rasa tertarik dan ingin tahu, ketika itu aku sudah
memandang orang itu beberapa kejap," Hwie Kak melanjutkan,
"Siapa sangka justru karena perbuatanku itulah bencana telah
menimpa diriku, malam harinya dia telah mengejar kami ke dalam
kota Keng Chin..."
Ia tertawa getir, wajahnya berkerut kencang, sambungnya lebih
jauh:
"Malam itu ia telah menyerbu ke dalam kuil Thian An Sie, keenam
puluh dua orang hweesio yang ada di sana telah dibunuh semua
hingga musnah tak berbekas, hanya tinggal Pinnie serta Ci Im suheng
saja yang masih hidup..."
"Oooh, siapakah orang itu?" tanya Loe Peng tercengang. "Kenapa
begitu ganas dan sadis perbuatannya?"
"Dia bukan lain adalah iblis nomor satu di kolong langit dewasa
ini, si Iblis Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng!"
145
Saduran TJAN ID
"Dugaanku ternyata tepat sekali," batin Chee Thian Gak dengan
alis berkerut. "Orang itu bukan lain adalah Ciak Kak Sin Mo!"
Hong Teng pun merasa terkesiap serunya :
"Oooh, ternyata orang itu adalah Kong Yo Leng ketua perguruan
Lauw sah Boen di samudra Seng Sut Hay, tidak aneh kalau dalam
semalaman suntuk ia sanggup membinasakan enam puluh dua orang
hweesio..."
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera
menegur :
"Hey Nikouw tua, apa sebabnya Kong Yo Leng tidak
membinasakan kalian berdua? Apakah kalian..."
"Omihtohud, maafkanlah bila tecu harus membongkar kembali
rahasia ini!" bisik Hwie Kak Nikouw sambil mendongak ke atas
langit.
Loe Peng mendengus dingin.
"Maknya, banyak amat permainan kembangmu!" serunya.
Hwie Kak Nikouw melirik sekejap ke arahnya, lalu sambil
menggertak gigi katanya lagi :
"Karena tujuan dari Kong Yo Leng bukan lain ingin memperkosa
diri Pin-nie..." ia menghembuskan napas panjang. "Tapi Pin-nie tolak
permintaannya itu maka ia lantas mengancam akan membinasakan
seluruh padri yang ada di dalam kuil tersebut, maksudnya untuk
menggertak Pin-nie agar mau menuruti napsu kebinatangannya tetapi
Pin-nie bersikeras tetap menampik maka dalam keadaan gusar ia telah
bunuh semua padri suci itu dan kemudian pergi dengan penuh
kegusaran."
"Hey, nikouw tua, apa sangkut pautnya persoalan ini dengan
kematian dari guruku?"
146
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 7
SESAAT sebelum berlalu Kong Yo Leng telah memberi kesempatan
kepada kami berdua untuk melarikan diri dalam waktu tiga hari,
seandainya kami berhasil melepaskan diri dari pengejarannya maka
dia akan melepaskan diriku, sebaliknya kalau tidak maka aku tetap
akan diperkosa olehnya," dengan sedih dan penuh penderitaan ia
merintih. "Pada waktu itu Pin-nie ingin bunuh diri saja, tapi rupanya
Kong Yo Leng telah berpikir pula sampai ke situ. Ancamannya, kalau
aku berani ambil keputusan pendek untuk bunuh diri maka anak murid
Go bie selamanya jangan harap bisa muncul dalam dunia persilatan,
oleh sebab itu terpaksa aku harus melanjutkan pelarian kami bersamasama
Ci Im suheng, sepanjang perjalanan kami menyaru sebagai
suami istri, menginap dalam satu kamar yang sama, tidur
sepembaringan yang sama pula dengan tujuan untuk melepaskan diri
dari ancaman manusia laknat itu..."
"Oooh, jadi setiap kali kalian menginap di sebuah rumah
penginapan maka kalian atur lebih dahulu jebakan maut agar Kong
Yo Leng yang mengejar kalian bisa terjebak," kata Chee Thian Gak.
"Maksudmu ketika guruku berjumpa dengan mereka, waktu itu
hanya suatu kebetulan saja dan peristiwa hanya suatu kesalahpahaman
belaka?..." teriak Loe Peng dengan mata melotot.
"Tatkala gurumu menyerbu ke dalam kamar, ia segera terjebak
ke dalam alat rahasia yang sengaja kupasang hingga mengakibatkan
dia terpagut ular berbisa dan jatuh tak sadarkan diri. Sementara Pin-
147
Saduran TJAN ID
nie menemukan kalau sang korban bukanlah Ciak Kak Sin Mo, maka
segera kuminta kepada suhengku untuk menolong jiwa gurumu."
"Ooooh..." Loe Peng berseru dengan wajah tertegun. "Tentang
peristiwa ini bagaimanapun juga aku tetap tidak mempercayainya."
Hwie Kak Nikouw tidak mempedulikan teriakannya, ia
melanjutkan :
"Pada saat suhengku membawa pergi gurumu dari situlah, Pinnie
baru menemukan bahwa Kong Yo Leng sudah menanti
kedatanganku di dalam kamar..."
Bagian 17
BERBICARA sampai di situ ia merandek beberapa saat lamanya,
sekilas rasa sedih yang tak terkirakan terlintas di atas wajahnya yang
penuh keriput, dengan mulut membungkam dan pandangan sayu
ditatapnya wajah Hee Siok Peng, sementara air mata jatuh bercucuran
membasahi pipinya.
Hong Teng adalah seorang manusia bodoh, ia cuma merasa heran
tatkala menyaksikan tingkah laku Hwie Kak Nikouw yang
membingungkan hati iut, karena tak tahu apa yang terjadi maka segera
serunya kembali :
"Hey Nikouw tua, bagaimana selanjutnya? Apa yang telah
dilakukan Ciak Kak Sin Mo setelah berada di dalam kamar?"
"Kepandaian silat Kong Yo Leng bukan saja berasal dari aliran
sesat, kelihayannya pun tiada tandingannya di kolong langit," kata
Hwie Kak Nikouw dengan penuh emosi. "Meskipun Pin-nie adalah
anak murid Go bie Pay namun kepandaian silatku dalam
pandangannya hanya bagaikan suatu permainan saja, Pin-nie sama
sekali tiada berdaya untuk melawan, maka dalam suatu kesempatan
itu berhasil ditawan olehnya, dan... dan... dan aku pun diperkosa oleh
manusia laknat itu dalam kamar itu juga..."
Ia belai rambut Hee Siok Peng yang panjang dengan penuh kasih
sayang, tambahnya lirih :
148
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Dan dia adalah buah yang ditinggalkan Kong Yo Leng dalam
badan Pin-nie..."
Tidak pernah Chee Thian Gak membayangkan kejadian itu,
dengan nada tercengang bercampur kaget serunya :
"Apa? Hee Siok Peng sama sekali bukan putri dari Hee Giong
Lam sang ketua dari Perguruan Selaksa Racun?"
Air mata semakin deras membasahi wajah Hwie Kak Nikouw
yang penuh berkeriput, katanya dengan nada penuh sesenggukan :
"Ketika Pin-nie kembali ke dalam perguruan, ternyata telah
berbadan dua, sembilan bulan kemudian lahirlah dia di dalam dunia...
Aaaai! Karena keadaan memaksa aku ada maksud membuangnya saja
ke tepi jalan, siapa sangka pada saat itulah kebetulan sumoay
kudatang berkunjung ke gunung Gobie, maka..."
"Ibu!" tiba-tiba Hee Siok Peng angkat kepalanya dan berseru,
"setelah sekian lamanya menderita akhirnya aku berhasil juga
mengetahui siapakah ibuku yang sebenarnya. Ibu, aku minta
janganlah membuang diriku lagi dari sisimu!"
Agaknya Hwie Kak Nikouw tidak menyangka kalau Hee Siok
Peng secara tiba-tiba sudah mendusin, mendengar perkataan itu ia jadi
gelagapan tidak karuan, dengan bibir gemetar dan wajah kebingungan
serunya :
"Siok Peng..."
"Oooh Ibu!" seru Hee Siok Peng dengan nada sesenggukan
sambil merebahkan diri di dalam pelukan nikouw itu. "Janganlah
diriku lagi... Ooooh, betapa menderita aku selama mencari dirimu...
janganlah kau tinggalkan diriku lagi..."
Sekuat tenaga Hwie Kak Nikouw memeluk putrinya, rasa pedih
dan segala penderitaan serta siksaan yang telah terpendam selama
belasan tahun rupanya telah tersalur keluar semua dalam sedetik yang
terakhir ini, ia merasa tidak punya ganjalan lagi yang memberatkan
pikirannya.
149
Saduran TJAN ID
Isak tangis yang pedih itu menggoncangkan perasaan hingga
membuat Hong Teng serta Loe Peng pun ikut mewek, sedang Chee
Thian Gak menghembuskan napas panjang dan membuang
pandangannya jauh ke angkasa yang gelap..."
Dalam hati ia menghela napas panjang pikirnya :
"Peristiwa yang menimpa umat manusia memang seringkali
berubah dengan cepatnya, entah sudah berapa banyak penderitaan
serta siksaan yang sudah dirasakan oleh umat manusia di dunia ini?
Entah berapa banyak air mata yang bercucuran? Berapa banyak hati
yang hancur lebur? Dan siapa pula yang bisa menduga di balik
kegembiraan seorang terkadang tersembunyi penderitaan serta
siksaan batin yang berat?"
Sementara ia ada maksud menghibur hati ibu dan anak itu,
mendadak terdengar Loe Peng berteriak keras :
"Lalu apa yang terjadi? Secara bagaimana kitab pusaka Ie Cin
Keng serta Si Lek cu itu bisa terjatuh ke tanganmu?"
"Tatkala Pin-nie sadar kembali dari pingsan, kujumpai suhengku,
Ci Im telah berdiri di dalam ruangan sambil membawa Si Lek cu serta
kitab pusaka Ie Cin Keng, menurut pengakuannya benda-benda itu
didapatkan dari dalam liang ular. Pada saat itu Pin-nie sedang sedih
bercampur gusar, sama sekali tak terlintas dalam benakku untuk
menemukan gurumu dan mengembalikan benda-benda mustika tadi
kepadanya, hingga akhirnya..."
"Bagaimanapun juga aku tetap tidak percaya," tiba-tiba Loe Peng
menukas.
Hwie Kak Nikouw mengerutkan sepasang alisnya, sedangkan
Hee Siok Peng mendadak meloncat bangun sambil membentak :
"Kau ingin keadaan yang bagaimana baru mau mempercayai
perkataan ibuku?"
Tangannya segera digetarkan, di antara lengannya yang putih
mulus perlahan-lahan merambat keluar seekor ular kecil bersisik
150
IMAM TANPA BAYANGAN II
kembang-kembang, sambil melotot ke arah Loe Peng dengan sinar
mata buas, lidahnya yang merah mendesis-desis...
Loe Peng menyusut mundur beberapa langkah ke belakang,
sambil mencekal toyanya erat-erat ia berseru :
"Aku... aku minta bukti!"
"Di atas telapak kaki kanan Kong Yo Leng terdapat sebuah
andeng-andeng merah, sedang di telapak kaki kanan Siok Peng pun
terdapat andeng-andeng yang sama..."
"Ibu kalau begitu ayahku bukan she Hee melainkan Kong Yo?"
teriak Hee Siok Peng dengan mata terbelalak.
Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Chee Thian
Gak, ia teringat kembali tatkala Ciak Kak Sin Mo melancarkan sebuah
jurus serangan yang aneh waktu ada di perkampungan Thay Bie San
cung, secara tidak sengaja ia telah melihat andeng-andeng merah di
telapak kaki gembong iblis itu.
Maka dengan cepat berseru :
"Cayhe bisa membuktikan kalau di atas kaki Kong Yo Leng
benar-benar ada andeng-andeng merahnya."
"Aaaah, di atas telapak kakiku pun terdapat andeng-andeng..."
seru Hee Siok Peng dengan wajah berubah. "Kalau begitu sudah pasti
benar bahwa aku tidak she Hee melainkan she Kong Yo?"
Hwie Kak Nikouw menghela napas panjang, ia merasakan
badannya jadi lemas tak bertenaga, seakan-akan ucapan yang telah
diutarakan tadi telah menyumbat peredaran darah dalam tubuhnya
sehingga membuat ia merasa enggan untuk berbicara lebih banyak, ia
mengangguk.
Wajah Kong Yo Siok Peng segera berubah jadi riang, dengan
penuh kegembiraan gumamnya :
"Kalau begitu aku sudah bukan merupakan musuh besar dari Pek
In Hoei lagi, sejak kini ia pun bisa bersikap lebih baik terhadap
diriku..."
151
Saduran TJAN ID
Chee Thian Gak yang mendengar gumaman dara itu, dalam
hatinya segera timbul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan
kata-kata, pada saat ini pikirannya terasa buntu, ia terbayang kembali
akan wajah dari Wie Jien Siang... baru saja bayangan itu lenyap,
dalam benaknya terbayang kembali bayangan tubuh dari It-boen Pit
Giok.
Untuk beberapa lamanya ia berdiri termangu-mangu di situ tanpa
mengucapkan sepatah kata pun.
"Hey!" tiba-tiba Kong Yo Siok Peng menegur sambil
memandang ke arahnya dengan pandangan mesra. "Menurut
pendapatmu dapatkah Pek In Hoei mencintai diriku?"
Chee Thian Gak melengak, tapi dengan cepat ia menyahut :
"Ooooh, dari mana cayhe bisa tahu perasaan hati orang?"
Kong Yo Siok Peng maju dua langkah ke depan, katanya lagi
sambil tersenyum :
"Seandainya kau adalah Pek In Hoei, dapatkah kau mencintai
diriku?..."
Rupanya Chee Thian Gak tidak menyangka kalau dara bersifat
polos yang mula-mula dijumpainya ini sekarang bisa berubah jadi
begitu berani, alisnya kontan berkerut.
"Cayhe percaya Pek In Hoei adalah mencintai gadis-gadis yang
jujur dan bersifat polos, ia tak akan sudi bergaul dengan gadis-gadis
yang suka berjual lagak."
Kong Yo Siok Peng melengak, air mukanya berubah hebat.
"Siapa yang kau maksudkan sebagai gadis yang suka berjual
lagak?"
Loe Peng benar-benar orang yang tak tahu diri, sambil usap
kepalanya mendadak ia menimbrung :
"Hey, bolehkah aku memeriksa sebentar telapak kakimu?"
Kong Yo Siok Peng mencibirkan bibirnya, ular kecil yang berada
di lengan kanannya tiba-tiba meluncur ke depan, laksana kilat
memagut tubuh Loe Peng.
152
IMAM TANPA BAYANGAN II
Gerakan ular itu cepat bukan kepalang, baru saja lidahnya yang
merah mendesis keluar tahu-tahu ia sudah tiba di hadapan jago Sauw
lim ini.
Loe Peng membentak keras, sepasang telapaknya buru-buru
didorong ke depan melancarkan sebuah babatan.
Segulung angin pukulan yang kencang menghadang jalan
perginya ular tadi, siapa tahu tiba-tiba tubuh sang binatang yang
panjang dan lencir itu membelok ke bawah lalu berputar ke samping,
dari jarak lima coen di bawah ancaman angin pukulannya ia terobos
menggigit leher lawan.
Perubahan yang dilakukan dengan gerakan cepat ini sungguh
berada di luar dugaan Loe Peng, ia membentak, tubuh bagian atasnya
dibuang ke belakang sementara telapak kanannya segera
mencengkeram tubuh ular tadi.
Dengan gerakannya ini justru sang telapak telah memapaki
datangnya moncong ular tadi... tidak ampun lagi telapaknya terpagut
sekali, seluruh lengan jadi kaku dan hawa murni pun tak sanggup
dikerahkan keluar.
Chee Thian Gak tidak menyangka kalau dara manis itu bakal
mencelakai sahabatnya, dengan cepat ia loncat ke depan, ke-lima
jarinya direntangkan bagaikan sebuah gunting laksana kilat
mencengkeram bagian tujuh coen dari ular itu, jari telunjuk serta ibu
jarinya ditekan ke dalam menjepit ular tadi kemudian sekali tarik ia
cabut gigi-gigi taring sang ular yang telah menembusi kulit tubuh Loe
Peng.
"Nona Peng!" tegurnya dengan sepasang alis berkerut, "kenapa
kau lukai orang dengan ularmu?"
"Jangan lukai siauw hoa ku..." teriak Kong Yo Siok Peng sambil
meloncat ke depan, tapi ketika mendengar teguran dari Chee Thian
Gak ia segera merandek, badannya gemetar keras dan tak tahan ia
berseru :
"Kau adalah Pek In Hoei..."
153
Saduran TJAN ID
Belum habis ia berseru, dari dalam kuil tiba-tiba berkelebat
keluar sesosok bayangan tubuh, dia adalah Ouw-yang Gong, sambil
membopong sesosok tubuh kakek itu menangis tersedu-sedu...
Sedari dulu dalam ingatannya belum pernah melihat Ouw-yang
Gong menangis seperti kali ini, tentu saja tingkah laku orang itu
membuat dara manis she Kong Yo ini jadi tertegun.
"Hey Ular asap tua!" tegurnya.
Ouw-yang Gong berhenti, sambil menoleh dan mengucurkan air
matanya ia berbisik lirih :
"Uuuuh... Uuuuuh... dia telah mati!"
Sekarang Kong Yo Siok Peng baru dapat melihat bahwa orang
yang dibopong manusia aneh itu bukan lain adalah suhunya Ko In
Nikouw, ia jadi sangat terperanjat.
"Suhu!" teriaknya.
"Huuuu... uuuuh... nenek moyang sialan, siapakah suhumu? Dia
adalah sayangku... Uuuuh... uuuuuh..."
Di tengah isak tangis yang amat sedih, orang itu melayang ke
tengah angkasa dan meluncur ke bawah bukit Cing Shia, dalam waktu
yang singkat badannya sudah lenyap di tengah kegelapan.
"Ooooh Ko In... Ko In..." bisik Hwie Kak Nikouw sambil
menghela napas. "Apa gunanya kau bunuh diri hanya disebabkan
persoalan ini?..."
Sebaliknya Chee Thian Gak jadi terperanjat, sambil
melemparkan ular kecil tadi ke atas tanah serunya :
"Celaka, Ouw-yang Gong telah jadi gila..." sinar matanya
berputar sekejap, tambahnya... "Cepat kau cabut keluar sisa racun ular
yang mengeram dalam tubuh Loe Peng, aku segera akan pergi
menyusul si ular asap tua!"
Dipandang dengan begitu tajam oleh Chee Thian Gak, air mata
yang semula sudah hampir meleleh keluar dari kelopak mata Kong
Yo Siok Peng segera terdesak masuk lagi, dengan termangu-mangu ia
154
IMAM TANPA BAYANGAN II
memandang bayangan tubuh pemuda itu lenyap di tengah kegelapan,
lama sekali ia berdiri mematung disini.
"Omihtohud..." bisi Hwie Kak Nikouw licik. "Ko In... Ko In...
bukankah kau sudah hampir dua puluh tahun lamanya berdoa setiap
hari? Mengapa kau gagal juga menembusi kesulitan tentang 'cinta'??
Aaaai... samudra cinta luas tak terhingga, dimanakah adalah
tepian??..."
Dengan kepala tertunduk, muka murung selangkah demi
selangkah ia kembali ke ruang dalam, di tengah kegelapan hanya
terdengar gumamnya berkumandang di angkasa :
"Peristiwa menyedihkan banyak di dunia... siksaan batin banyak
di orang yang mabok oleh cinta..."
.....
Fajar baru saja menyingsing, kabut tipis menyelimuti bukit dan
permukaan bumi... mengikuti angin kabut tadi makin mengumpul jadi
satu...
Gunung Cing Shia masih dikelilingi oleh kabut yang tebal, di
tengah kesunyian yang mencekam, suasana di sekeliling situ terasa
semakin menyeramkan...
Mendadak terdengar isak tangis yang amat sedih muncul di balik
kesunyian, tangisan itu seolah-olah muncul bagaikan kabut sukar
dicari dari mana asalnya... dan lenyap tiada berbekas.
Jubah merah yang dikenakan Chee Thian Gak berkelebat muncul
di tengah kabut, kemudian lenyap pula di balik kumpulan kabut lain
yang jauh lebih tebal, dengan alis berkerut pikirnya :
"Sudah dua hari dua malam aku mengejar diri Ouw-yang Gong,
tapi dia hanya selalu berputar di sekeliling Gunung Cing Shia,
andaikata syarafnya tidak beres, tak mungkin ia bisa berbuat
demikian!"
"Dari balik kabut kembali berkumandang suara isak tangis yang
lirih, sebentar suara itu muncul sebentar lagi lenyap tak berbekas...
155
Saduran TJAN ID
seakan-akan suara itu muncul dari dalam impian... tapi mirip pula
sebagai kenyataan...
Chee Thian Gak berseru tertahan, badannya dengan cepat
berkelebat meloncat sejauh empat tombak ke depan, bergerak menuju
ke arah mana berasalnya suara tadi.
Kabut tebal menggulung ke sana kemari, suara tadi lenyap tak
tahu ujung pangkalnya, dalam keadaan begitu terpaksa jago she Chee
itu berdiri tak berkutik di tempat semula sambil diam-diam
menantikan kemunculan isak tangis tadi sekali lagi.
Sedikit pun tidak salah, beberapa saat kemudian suara tangisan
itu muncul lagi dari balik kabut, mengikuti hembusan angin buyar di
angkasa... seakan-akan bunga yang rontok di atas tanah...
Chee Thian Gak tarik napas dalam-dalam badannya melayang
tiga tombak ke depan dan melayang turun di mana berasalnya suara
tadi.
Gerakan tubuhnya ringan, sewaktu mencapai permukaan tanah
pun tidak menimbulkan sedikit suara pun tapi suara itu belum berhasil
juga dikejarnya...
Meski begitu, kali ini Chee Thian Gak bertindak jauh lebih
cerdik, ia tidak bergeser dari tempat semula sebaliknya malah berdiri
tak berkutik di situ.
Sedikit pun tidak salah, ia segera mendengar dengusan napas
napas di sekeliling sana.
Bagi seorang jago silat yang sudah berpengalaman luas,
penemuan itu memberikan perasaan baginya bahwa ia sudah berada
di dalam kepungan segi enam yang sangat kuat.
Ia tidak mengerti, apakah ke-enam orang jago itu sejak semula
sudah bersembunyi di sana, ataukah dirinya yang tidak beruntung
telah meloncat masuk ke dalam kepungan mereka, setelah berpikir
sejenak akhirnya ia menahan pernapasan, kapaknya dipersiapkan dan
dengan tenang menantikan perubahan selanjutnya.
156
IMAM TANPA BAYANGAN II
Dengusan napas di sekitar sana sebentar memanjang, sebentar
lirih dan lemah sekali seakan-akan mereka sedang mengintai sesuatu,
gerak-geriknya sangat berhati-hati dan dijaga dengan sangat agar
jangan sampai menimbulkan sedikit suarapun.
Waktu berlalu dengan cepatnya, sudah beberapa saat Chee Thian
Gak menanti di sana tetapi sama sekali tiada suatu gerakan apa pun,
kian lama hatinya kian bertambah curiga, segera pikirnya :
"Apakah ada jago yang begitu berharga sehingga ke-enam tujuh
orang jago lihay itu mau menanti dengan sabar..."
Belum habis dia berpikir, tiba-tiba dari sisi tubuhnya
berkumandang datang suara isak tangis yang amat lirih.
Sekarang Chee Thian Gak baru mengerti, ternyata isak tangis tadi
adalah tangisan yang sengaja diperdengarkan untuk memancing
perhatian seseorang, otaknya dengan cepat berputar, batinnya :
"Rupanya orang itu sedang memancing kedatangan seseorang
dengan suara tangisan tersebut, siapa sih yang bisa dipancing datang
dengan suara isak tangis..."
Tapi dengan cepat pikiran itu dicabut dari dalam benaknya, sebab
secara tiba-tiba ia teringat bukankah dia sendiri pun terpancing datang
ke situ karena mendengar suara-suara isak tangis tadi?
Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan yang
aneh diikuti suara Ouw-yang Gong yang serak-serak nyaring
bagaikan tong bobrok itu berkumandang ke angkasa :
"Maknya, anak setan cucu monyet... siapa sih yang menangis
tersedu-sedu di pagi buta seperti ini? Apakah kalian sudah kematian
seseorang?"
"Aaach, rupanya orang-orang yang sedang bersembunyi di
sekitar sini bukan lain adalah gerombolan dari Song Kim Toa Lhama
sekalian," satu ingatan berkelebat dalam benak Chee Thian Gak.
"Tapi apa sebabnya mereka hendak menangkap diri Ouw-yang Gong?
Jangan-jangan karena dia telah mengetahui rahasia atau rencana besar
mereka maka manusia itu akan dibunuh? aaaaaai... ketika aku
157
Saduran TJAN ID
menolong dirinya dari hutan tempo dulu, sudah sepantasnya kalau
kutanyai alasannya sampai jelas..."
Dalam kenyataan tiada kesempatan sama sekali baginya untuk
menyesal atau berpikir lebih jauh, dari balik kabut terdengar suara
senjata dicabut dari sarungnya diikuti enam sosok bayangan manusia
berkelebat lewat dari balik kabut, meninggalkan orang yang masih
menangis terisak itu.
Dengan badan setengah merangkak perlahan-lahan Chee Thian
Gak bergerak maju ke depan, laksana kilat ia dekap mulut orang itu
dengan telapak tangannya.
Meskipun gerakan ini dilakukan dengan kecepatan luar biasanya,
tapi rupanya orang itu pun merasakan adanya ancaman bahaya yang
sedang mengintai dirinya, dengan cepat badannya berputar sementara
sikut kirinya disodokkan ke depan menghajar jalan dara So Sim Hiat
di atas dadanya.
Chee Thian Gak melengak, cepat lengan kirinya dirangkul ke
depan melalui tekukan lengan musuh kemudian memeluk tubuhnya
kencang-kencang.
Jari tangannya ditekuk dari depan siap mencengkeram jalan darah
bisu di tubuh orang tadi.
Siapa sangka ketika telapak tangannya bergesek lewat di depan
dada orang itu, ia rasakan sebuah perasaan empuk yang padat berisi
dan kenyal bergelora masuk lewat pori-pori jari tangannya membuat
jantung berdebar dan badannya gemetar keras.
Sekarang dia baru mendusin bahwa orang yang sedang
didekapnya sekarang adalah seorang perempuan dan benda yang
disenggolnya barusan bukan lain adalah sepasang tetek dari gadis itu.
Sebelum dia sempat bertindak sesuatu, gadis itu sudah menjerit
kaget dengan kerasnya.
Jeritan lengking itu berkumandang menembusi kabut dan
menyebar di angkasa, dalam keadaan begini Chee Thian Gak tidak
bisa tidak harus meneruskan gerakannya.
158
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sambil menggigit bibir ia segera sodok jalan darah bisu
perempuan itu dengan ujung gagak kapaknya.
Angin desiran tajam menyambar lewat dari belakang, tahu-tahu
sebilah pedang sudah disodok ke arah tubuhnya dari sayap kanan.
Sungguh tajam serangan itu, bukan saja ganas bahkan dahsyat,
buru-buru Chee Thian Gak menggeserkan tubuh bagian atasnya ke
samping, senjata kapak segera dipancarkan ke depan menyongsong
datangnya babatan lawan.
Cring....! di tengah suara dentingan nyaring, pedang itu patah jadi
dua bagian dan rontok ke atas tanah.
Chee Thian Gak putar kapaknya membentuk ke arah lain,
kebetulan orang itu sedang memapaki kedatangannya dengan gagang
pedang, tidak ampun lagi sambil menjerit kesakitan kutungan pedang
itu pun mencelat ke angkasa.
Chee Thian Gak mengerti gerakan serangan yang barusan
digunakan adalah salah satu jurus yang terampuh di antara sembilan
kapak pembelah langit, tulang tangan orang itu kemungkinan besar
sudah retak.
Dari balik kabut berkumandang keluar suara teriakan Ouw-yang
Gong yang serak :
"Neneknya anjing geledak, siap ayg suruh kalian ribut terus
disini? Siauw Hong sedang tidur tahu?"
"Ouw-yang Gong si ular asap tua, cepat lari," teriak Chee Thian
Gak memberi peringatan.
"Siapa yang memanggil aku?"
Dari balik kabut berkumandang datang suara bentakan dari Kiam
Leng Koen Pay Boen Hay, sekilas cahaya pedang menembusi kabut
putih yang tebal dan langsung menusuk darah Thian To hiat di atas
tenggorokan musuhnya...
Chee Thian Gak segera ayun kapak saktinya dengan jurus 'Kay
Thian Pit Teh' atau Membelah langit membacok bumi, ujung
159
Saduran TJAN ID
senjatanya yang tajam membelah angkasa hingga menimbulkan
gulungan hawa tekanan dan menyapu ke arah luar.
Tiiiing.... ujung pedang Pay Boen Hay terbabat sampai kutung
sebagian kecil.
Jurus pedangnya terbendung dan gerakan badannya pun terhenti
di tengah jalan, tatkala merasakan tenaga serangannya lenyap tak
berbekas, buru-buru ia meloncat mundur ke belakang dengan hati
terkesiap.
"Siapakah kau?" tegurnya keras.
"Haaaah... haaaah... haaaah... si Pendekar Jantan Berkapak Sakti
Chee Thian Gak berada disini!"
Dengan langkah lebar ia maju ke depan, kapaknya diputar
sedemikian rupa di tengah udara, dengan jurus 'Koen Toen Jut Hoen'
atau Alam Semesta pertama Berpisah yaitu jurus ketiga dari sembilan
jurus pembelah langit, ia membentuk berlaksa bayangan kapak yang
mana secara berbareng dengan diiringi angin pukulan yang hebat
menyapu ke muka.
Baru saja Pay Boen Hay membabat pedangnya ke depan, seluruh
tubuhnya tahu-tahu sudah tergulung oleh hawa serangan yang maha
dahysat itu sehingga sama sekali tak berkutik, keadaannya mirip
dengan teruruk di dalam guguran gunung thay-san...
Dadanya kontan terasa sakit, hampir saja ia jatuh semaput saking
tak tahan, air mukanya berubah hebat, sambil berteriak keras segenap
kekuatan yang dimilikinya dihimpun dan melancarkan sebuah
serangan lagi.
Angin tajam menyambar lewat di atas pipinya, pedang yang
sedang terayun segera kutung jadi enam bagian, belum sempat ia
bertindak, sesuatu dari sisi kiri kembali menyambar lewat segulung
angin tajam membuat ia jadi ketakutan setengah mati, seakan-akan
sukmanya telah melayang, dengan sekuat tenaga badannya meloncat
ke belakang.
160
IMAM TANPA BAYANGAN II
Meskipun semua gerakan itu dilaksanakan dengan sangat cepat,
sayang kapak lawan sudah mampir di atas lengan kirinya, seketika
cipratan darah segar muncrat ke empat penjuru, di tengah jeritan ngeri
yang menyayatkan hati lengan kirinya terbabat kutung sebatas bahu
dan mencelat jauh dari kalangan.
Melihat lengan lawan berhasil disambar kutung, diam-diam Chee
Thian Gak merasa sangat girang, pikirnya :
"Dendam satu babatan pedang sewaktu berada di gunung Cing
Shia dua tahun berselang, hitung-hitung berhasil kubalas pada saat
ini!"
Criiit...! Criiit...! hawa pedang membumbung di angkasa, ujung
pedang yang tajam kembali menyerang datang dari belakang
punggung laksana sambaran kilat.
Chee Thian Gak mendengus berat, seluruh tubuhnya berputar
satu lingkaran besar, kapak sakti di tangannya dengan disertai gerakan
ke-lima dari sembilan jurus pembelah langit yaitu 'Hoen Thian An
Teh' atau langit berpusing bumi menggelap meluncur keluar.
Gerakan kapak beterbangan di angkasa membawa desiran angin
tajam yang berpusing, begitu dahsyatnya serangan itu sampai-sampai
kabut putih di sekitar delapan depa di sekeliling tempat itu tersapu
lenyap dan menggulung keluar.
Menggunakan kesempatan itu Chee Thian Gak berhasil melihat
jelas wajah lawannya, dia adalah seorang pemuda beralis tebal,
berkening lebar dan bersikap gagah sedang memutar pedangnya
menyambar datang.
Jurus-jurus serangan yang digunakan kebanyakan merupakan
gerakan terbuka, tetapi di mana ujung pedangnya mengancam selalu
diiringi getaran yang kencang membuat seluruh gerakan itu terlihat
jadi aneh dan di luar dugaan.
Ketika serangan kapak meluncur tiba, serangan pedang orang itu
segera termakan oleh serangan yang sangat kuat, ujung pedang
161
Saduran TJAN ID
mencelat ke angkasa sementara kakinya bergeser dua langkah ke
samping.
Dengan perputaran itulah, si anak muda tadi segera dapat
menyaksikan diri Chee Thian Gak yang berdiri keren di situ sambil
mengepit tubuh seorang dara.
"Aaaah!" ia berseru tertahan, air mukanya berubah hebat, "Siok
Cian... kenapa kau?..."
Menggunakan kesempatan di kala pihak lawan sedang tertegun,
cahaya kapak laksana kilat telah meluncur tiba meluruk masuk ke
dalam lingkaran gerakan pedang lawan.
"Aaah, inilah sembilan jurus pembelah langit!" teriak pemuda itu
dengan wajah berubah jadi hijau membesi.
Pedangnya segera diputar, ia bermaksud membendung datangnya
serangan lawan yang maha dahsyat itu, sayang keadaan sudah tidak
sempat lagi.
"Traaang...! termakan oleh benturan senjata lawan yang berat dan
mantap pedangnya seketika patah jadi dua bagian.
Pada saat itulah, dari tengah hutan berkumandang datang jeritan
kesakitan dari Ouw-yang Gong :
"Aduuuh... Song Kim Toa Lhama... bagus... bagus sekali
perbuatanmu, rupanya kau hendak mencabut jiwaku!"
Chee Thian Gak terkejut, ia berusaha mendekati arah berasalnya
suara tadi, tapi dua bilah pedang tahu-tahu sudah mengancam tiba dari
sisi kiri dan sisi kanan, serangannya ganas dan telengas, membuat
orang mau tak mau harus menghadapinya dengan serius.
Sekilas pandang jago kita segera kenali kedua orang itu sebagai
si Pedang Kilat Pelangi Terbang Tok See serta pdpn Tauw Meh, ia
segera tertawa terbahak-bahak, langkah kaki bergeser ke samping,
dalam sehembusan napas dia telah melancarkan dua buah serangan
maut.
162
IMAM TANPA BAYANGAN II
Cahaya tajam memancar menyilaukan mata, jurus yang rapat
sambung menyambung bagaikan mata rantai, tubuh kedua orang itu
pun segera terkurung dalam kepungan itu.
Dalam pada itu si anak muda tadi pun tidak berdiam diri saja, ia
buang kutungan pedangnya ke atas tanah kemudian sepasang
telapaknya dipisahkan dan mengirim dua babatan kosong
menghantam ke arah gulungan cahaya kapak yang rapat.
Blaaam... Blaaam... pergelangan tangan Chee Thian Gak bergetar
keras, termakan oleh pukulan tersebut, ia rasakan tenaga serangannya
tersumbat dan dengan sendirinya gerakan kapak pun ikut terganggu.
Meskipun si anak muda itu memakai baju yang perlente dan
berdandan bagaikan seorang kongcu ya tapi kekuatan dua buah
serangannya benar-benar lebih lihay dari jagoan kelas satu.
Diam-diam Chee Thian Gak merasa terperanjat, ia tak tahu
siapakah orang itu, badannya dengan cepat berputar berulang kali,
mengikuti perubahan gerakan jurus itu dalam waktu singkat kembali
ia lancarkan tiga buah babatan kilat.
Bayangan kapak selembar demi selembar menggulung ke
angkasa, serangan yang dipancarkan bagaikan hujan taupan ini
membuat ketiga orang yang terkurung itu terasa tergencet hingga
keringat dingin pun mulai mengucur keluar membasahi jidat mereka.
Seandainya bukan dialami sendiri mungkin ketiga orang itu tidak
akan percaya bahwa gabungan tiga orang jago pedang yang sangat
lihay ternyata tidak sanggup menandingi seorang lelaki aneh berjubah
merah yang tidak tersohor namanya dalam dunia persilatan.
Chee Thian Gak sendiri berhasil melebur tenaga sin kang dari Ie
Cin Keng ke dalam jurus serangan ilmu Surya kencananya hingga
membuat ia memperoleh hasil di luar dugaan, kesempurnaan tenaga
lweekangnya saat ini boleh dibilang tiada taranya.
Oleh karena itu ketika ia menggunakan sembilan jurus pembelah
langit yang diciptakan Thian Liong Toa Lhama dari jurus saktinya
Thian Liong Cap Kan Pian, daya pengaruhnya benar-benar sangat
163
Saduran TJAN ID
mengejutkan, bukan sembarangan jago kelas satu yang sanggup
menahannya.
Diam-diam pemuda berbaju perlente itu merasa terperanjat,
pikirnya dalam hati :
"Sembilan jurus ilmu pembelah langit adalah kepandaian ciptaan
dari Thay Koksu Thian Liong Toa Lhama, tapi ketika digunakan oleh
orang ini bukan saja lebih sempurna gerakannya bahkan jauh lebih
lihay dari Thian Liong Toa Lhama sendiri, entah siapakah orang ini?
Dan apa sebabnya ia menangkap Siok Cian?"
Satu ingatan belum lenyap, ingatan lain telah muncul di dalam
benaknya, ketika ia teringat akan keselamatan Siok Cian, hawa
amarahnya segera berkobar, ia ingin sekali membinasakan diri Chee
Thian Gak dalam dua tiga jurus saja.
Pada saat pikirannya sedang rumet itulah mendadak Chee Thian
Gak membentak keras, kapaknya bergerak dengan jurus ke-delapan
'Jiet Gwat Boe Kong' atau Rembulan dan sang surya sirna dari
semesta.
Si Pedang Sakti Pembunuh Naga Tauw Meh menjerit kaget,
pedangnya terpapas kutung jadi beberapa bagian, pakaian bagian
dadanya tersambar robek sedangkan darah segar segera mengucur
keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Si Pedang Kilat Pelangi Terbang Tok See yang ada dekat Tauw
Meh kontan termakan oleh tumbukan badan rekannya, buru-buru
bahu kanannya direndahkan ke bawah coba menolong orang she
Tauw itu dari ancaman.
Siapa sangka baru saja tubuhnya merendah ke bawah, pedangnya
tahu-tahu sudah terpapas kutung jadi beberapa bagian oleh sambaran
senjata Chee Thian Gak.
Dengan meluncur tibanya babatan tersebut maka dadanya segera
terbuka dari perlindungan, desiran angin tajam yang menyengat badan
pun menerjang masuk ke dalam, dalam keadaan begini tiada harapan
lagi baginya untuk meloloskan diri dari ancaman mau.
164
IMAM TANPA BAYANGAN II
Berada di ambang kematian, wajahnya berubah kaget, ngeri dan
ketakutan setengah mati, air mukanya jadi pucat pias bagaikan mayat,
memandang kapak sakti yang sedang menyambar tiba, ia cuma bisa
berdiri termangu-mangu dengan sorot mata sayu.
Semua perubahan wajah orang she Tok ini dapat dilihat jelas oleh
Chee Thian Gak, mendadak hatinya bergetar dan pelbagai ingatan
berkelebat memenuhi benaknya.
Ia teringat beberapa kali nyawanya berada di ujung tanduk, ia
selalu berada dalam harapan untuk melancarkan perlawanan, ia bisa
merasakan betapa tersiksa batinnya pada saat itu.
Tiada siksaan batin lain yang jauh lebih berat daripada siksaan
batin di kala seseorang berada di depan maut, di ambang kematian
yang akan menghapus namanya dari muka bumi.
Begitu ingatan tadi berkelebat masuk dalam benaknya, sang
pergelangan segera dimiringkan ke samping, sementara kaki kirinya
mengirim satu tendangan kilat membuat tubuh Tok See terpental
sejauh enam depa dan terbanting keras-keras di atas tanah.
Pemuda berbaju perlente itu bukan manusia sembarangan, sudah
tentu ia pun bisa mengikuti tingkah laku lawannya, menyaksikan
sikap Chee Thian Gak, ia segera merasa bahwa inilah satu kesempatan
baik baginya untuk bertindak.
Tangan kanannya segera diluruskan ke depan kemudian
membabat dengan satu gerakan yang aneh, sementara tangan kirinya
mencengkeram lengan Siok Cian dengan maksud merampasnya
kembali.
Chee Thian Gak berseru tertahan, rupanya dia pun tidak
menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda itu sangat lihay,
sebelum tubuhnya sempat berkelit tahu-tahu lengan kirinya termakan
pula oleh hajaran lawan.
Ploook! di tengah bentrokan keras ia mendengus dingin, badan
bagian atas miring ke samping, sedang kapaknya digulung balik
keluar, sekejap mata bayangan kapak telah memenuhi angkasa.
165
Saduran TJAN ID
Jurus yang ia gunakan barusan adalah jurus terakhir dari sembilan
jurus ilmu pembelah langit yaitu ' Thian Teh Ke Hoei' atau Bumi dan
langit hancur berantakan, daya dan pengaruh mengerikan dan cukup
untuk merobohkan sebuah bukit.
Sementara itu pemuda berbaju perlente tadi sedang merasa
terkesiap karena serangannya yang bersarang dengan telah di tubuh
lawan bukan saja tidak berhasil merobohkan lawannya, sebaliknya ia
seolah-olah menghantam baja yang kuat sehingga membuat
tangannya jadi kaku.
Segera pikirnya di dalam hati :
"Jurus serangan yang aku gunakan barusan sanggup menjebolkan
perut seekor banteng, tapi apa sebabnya sama sekali tak berguna
baginya? Jangan-jangan ia telah berhasil melatih ilmu Kim Kong
Sinkang yang kebal terhadap pelbagai macam ilmu pukulan!"
Baru saja ingatan itu muncul dalam benaknya, desiran angin
tajam sudah menyapu tiba,tidak sempat lagi baginya untuk berpikir
panjang, buru-buru ia enjotkan badannya berusaha meloloskan diri
dari kurungan bayangan kapak lawan.
Bekas telapak merah yang ada di atas jidat Chee Thian Gak kian
lama kian bertambah nyata, senyuman dingin yang menghiasi
bibirnya menunjukkan kesadisan serta kekejaman hatinya.
Hmmm! Kau anggap aku sudi memberi kesempatan bagimu
untuk melarikan diri dari sini?" jengeknya ketus.
Baru saja lelaki berbaju perlente itu loncat ke samping, ia segera
rasakan daya tekanan yang maha berat menekan datang dari sekeliling
tubuhnya membuat ia seolah-olah terjerumus ke dalam lumpur, sama
sekali tak berhasil lari dari situ.
"Addduhh...! habis sudah jiwaku!" teriaknya keras-keras dengan
wajah pucat pias bagaikan mayat.
"Pangeran kedua, jangan gugup, Song Kiem segera datang!"
bentakan nyaring laksana suara benda mendengung tiba dari balik
kabut putih yang menutupi pemandangan sekeliling tempat itu.
166
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sekilas bayangan merah bergerak membelah angkasa, segulung
tenaga pukulan yang berat laksana tindihan bukit thay san menekan
ke bawah.
Blaaam! di tengah ledakan dahsyat bagaikan guntur membelah
bumi di siang hari bolong, bayangan kapak yang memenuhi angkasa
seketika sirap, di tengah membuyarnya kabut putih di sekeliling sana
tampak Chee Thian Gak dengan mata melotot bulat dan alis berkerut
kencang sedang menatap wajah Song Kim Toa Lhama yang berada di
hadapannya tanpa berkedip.
Pakaian yang dikenakan Song Kim Toa Lhama terbelah jadi
beberapa bagian, di atas jubahnya yang lebar dengan nyata terlihat
sebuah bekas mulut luka yang amat panjang, darah segar mengucur
keluar dengan derasnya dari mulut luka tadi dan membasahi seluruh
tubuhnya...
Dengan wajah hijau membesi karena belum berhasil menguasai
golakan darah panas dalam rongga dadanya, sorot mata yang tajam
menatap cambang lebat di atas wajah lawan serta bekas merah darah
yang nampak sangat menyolok di atas dahinya.
Dalam ingatannya dari daerah Tibet belum pernah didengar ada
manusia yang memiliki kepandaian silat demikian lihaynya bahkan
berani menyambut pukulan 'Thay Chioe Eng' suatu kepandaian maha
sakti yang mengerikan dengan keras lawan keras tanpa mengalami
cedera apa pun.
Bukan begitu saja, dalam dunia persilatan di daratan Tionggoan
pun ia belum pernah bertemu dengan seorang jago yang berdandan
demikian aneh serta memiliki ilmu silat begitu anehnya macam Chee
Thian Gak.
Tatkala sorot mata Song Kim Toa Lhama terbentur dengan napsu
membunuh yang bergelora di balik kerutan alis lawan, mendadak
hatinya jadi bergidik, tanpa sadar seluruh bulu kuduknya pada bangun
berdiri.
167
Saduran TJAN ID
Chee Thian Gak tertawa dingin, sambil melirik sekejap ke arah
lelaki berbaju perlente yang saat itu lupa berdiri dan masih saja duduk
mendeprok di atas tanah jengeknya :
"Ooooh.... kiranya kau masih mempunyai kedudukan sebagai
seorang pangeran kedua... Hmmm! Hmmm! kalau begitu aku harus
minta maaf..."
Lelaki perlente itu tetap membungkam sementara hatinya sedih
dan pedih bagaikan diiris-iris dengan beribu-ribu batang pedang, ia
hanya merasakan bahwa pandangan di hadapannya hanya warna
kelabu belaka, ilmu pedang yang dilatihnya dengan susah payah
selama sepuluh tahun dan dipersiapkan untuk membesarkan namanya
di kemudian hari, saat ini harus hancur berantakan terlebih dahulu
sebelum impiannya terwujud.
Ia merintih lirih, pikirnya :
"Dapatkah aku disebut sebagai jago pedang lainnya yang baru
muncul di dalam dunia persilatan? Tenaga gabungan kami bertiga
ternyata masih belum sanggup untuk menghadapi seorang manusia
kasar model dia..."
Kabut putih perlahan-lahan membuyar dari sekeliling tempat itu,
secara lapat-lapat tampaklah Chee Thian Gak sambil mengepit
seorang gadis cantik sedang berdiri keren di tengah kalangan, sikap
maupun gerak-geriknya cukup membuat orang merasa bergidik...
Menyaksikan kesemuanya itu, pangeran kedua kembali berpikir
dalam hatinya :
"Oooooh Lie Peng... Lie Peng... kau sebagai keluarga Kaisar
mempunyai kedudukan yang maha tinggi dan maha mulia... apakah
kau rela dihina dan dipermalukan orang seperti hal ini? Untuk
mempertahankan kekasih pun tak sanggup?... Dimanakah kekuasaan
serta kehormatanmu pada hari-hari biasa..."
Belum habis dia berpikir, terdengar Chee Thian Gak telah berkata
dengan suara dingin :
168
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Song Kiem, kau bukannya menikmati kehidupan yang serba
mewah dan serba menyenangkan dalam istana kaisar, mengapa malah
datangi tempat yang gersang dan rudin seperti ini?"
Song Kim Toa Lhama tidak langsung menjawab, ditatapnya
wajah lelaki she Chee itu beberapa saat lamanya, kemudian baru
menjawab :
"Sicu! Besar amat nyali anjingmu, berani menculik calon
permaisuri kami. Hmmm! Rupanya kau sudah bosan hidup di kolong
langit?"
"Di mana Ouw-yang Gong? Apa yang telah kalian lakukan
terhadap dirinya?"
"Persoalan yang ia ketahui terlalu banyak, bagaimanapun juga
kami tak akan biarkan dia tetap hidup di kolong langit."
"Hmmm! Kalau memang begitu keinginan kalian, maka
permaisuri kalian pun tak akan hidup lebih dari esok pagi!"
"Hmmm! Kau masih ingin tinggalkan tempat ini?" hardik Song
Kim Toa Lhama.
"Haaaah... haaaah... haaaah... Siapakah manusia yang ada di
kolong langit dewasa ini sanggup menghalangi kepergian dari aku
Chee Thian Gak...?"
"Chee Thian Gak?" pikir Song Kim Toa Lhama, tapi ia merasa
belum pernah kenal dengan nama tersebut, dengan pandangan sangsi
bercampur curiga diliriknya sekejap senjata kapak di tangan pihak
lawan, kemudian tegurnya dengan suara berat :
"Apa hubunganmu dengan Thian Liong toa suheng?"
Mendengar padri itu mengungkap soal nama Thian Liong Toa
Lhama, untuk beberapa saat Chee Thian Gak merasa sangsi, lagi
katanya juga :
"Thian Liong si Buddha Hidup adalah guru yang mewariskan
kepandaian silat kepadaku!"
169
Saduran TJAN ID
"Aaaaach!" Song Kim Toa Lhama berseru terperanjat, "Kau
adalah anak murid dari Thian Liong Toa suheng? Sekarang dia berada
di mana?"
"Dunia penuh ketenangan di langit barat."
"Ooooh... dia sudah wafat?" seru Song Kiem, sekilas rasa sedih
terlintas di atas wajahnya, "Ia meninggal dunia di mana?"
"Kenapa harus kukatakan kepadamu?"
Song Kim Toa Lhama mengerti bahwasanya semasa kakak
seperguruannya masih memangku jabatan sebagai Toa Koksu, ia
pernah melarikan sejumlah besar benda-benda pusaka dari gudang
mustika dalam istana terlarang, sekarang walaupun orangnya sudah
mati tapi benda-benda mustika itu pasti masih berada di kolong langit.
Oleh sebab itu dengan nada menyelidik tanyanya lagi :
"Chee Sutit, tahukah kau bahwa semasa hidupnya ia pernah
memiliki sejumlah benda-benda mustika..."
Chee Thian Gak mengerti bahwa ucapan barusan diutarakan
Song Kim Toa Lhama adalah dimaksudkan benda-benda mustika
yang banyak berserakan dalam meja kuno di gunung Cing Shia, diamdiam
ia lantas tertawa dingin.
"Cisss... siapakah sih yang menjadi keponakan muridmu?" ia
menjengek.
Sepasang alis Song Kim Toa Lhama kontan berkerut kencang,
jubah lebarnya tiba-tiba menggelembung besar, diikuti bergetarnya
ujung baju, segulung angin pukulan yang maha dahsyat laksana
hembusan angin taupan menggulung ke depan.
"Keparat cilik yang tak tahu diri," makinya kalang kabut. "Kau
berani memandang hina angkatan tuamu. Hmmm! Rasakanlah sebuah
pukulanku..."
Chee Thian Gak ayunkan kapak saktinya ke tengah udara, lalu
maju selangkah ke depan, dengan sebelah telapak tangan ia sambut
datangnya serangan dahsyat dari Song Kim Toa Lhama.
170
IMAM TANPA BAYANGAN II
Blaaaam... ledakan dahsyat bergeletar di tengah udara, pasir dan
debut beterbangan ke angkasa, di tengah raungan keras Song Kim Toa
Lhama telapak kanannya perlahan-lahan diayun keluar menghantam
tubuh lawan...
Segulung desiran angin tajam yang aneh dan kuat memancar
keluar membelah angkasa, telapak tangan yang barusan diulur keluar
dari balik ujung bajunya itu mendadak berubah jadi besar dan merah
padam bagaikan darah...
"Thay Chiu Eng," bisik Chee Thian Gak sambil tarik napas
dalam-dalam, telapak kanannya disendat lalu ditumpahkan keluar
hawa sakti aliran panas disalurkan ke segenap tubuh, dengan jurus
'Yang Kong Phu Ciauw' atau Cahaya Sang Surya Memancar Terang
ia sambut datangnya ancaman lawan.
Deruan angin puyuh yang maha dahsyat mengiringi suara desiran
yang memekikkan telinga, hawa kabut di udara seketika buyar ke
empat penjuru terdesak oleh hawa pukulan berhawa panas membara
itu dan berubah jadi titik embun...
Bluuuummm... Song Kim Toa Lhama mendengus berat,
beberapa puluh lembar terbakar hangus... dengan tubuh sempoyongan
ia mundur satu langkah ke belakang.
Di tengah udara tercium bau sangit yang amat menusuk hidung,
bibirnya bergeletar keras dan akhirnya tak tahan lagi ia muntahkan
darah segar...
Sebaliknya wajah Chee Thian Gak berubah jadi kelabu gelap,
sepasang kakinya sudah terbenam ke dalam tanah namun badannya
tetap gemilang atau pun tidak bergeser dari tempat semula...
Chee Thian Gak kerutkan alisnya, perlahan-lahan ia hembuskan
napas panjang kemudian bergeser dua langkah ke samping
melepaskan diri dari benaman tanah.
Ditatapnya wajah Song Kim Toa Lhama yang penuh berlepotan
darah dengan pandangan tajam, sekilas hawa napsu membunuh
melintas di atas wajahnya, dengan nada berat ia menegur :
171
Saduran TJAN ID
"Song Kiem toa Kok su, bagaimana kalau sekarang rasakan lagi
sebuah pukulanku???"
172
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jilid 8
SONG KIEM TOA LHAMA membuka matanya yang terkancing
rapat, memandang sekejap ke arah musuhnya lalu menyahut dengan
suara lirih :
"Chee Thian Gak, kepandaian silat apakah yang barusan kau
gunakan untuk menghadapi diriku ??"
Chee Thian Gak masih ingat, setelah ia berhasil menyalurkan
tenaga sakti dari kitab 'Ie Cin Keng' ke dalam jurus serangan Thay
Yang sam Sie sudah beberapa orang mengajukan pertanyaan yang
sama.
Sekilas senyuman tersungging di ujung bibirnya.
"Itulah kepandaian maha sakti yang tiada tandingannya di kolong
langit sejak jaman dahulu kala !"
"Hmmm ! bocah keparat yang bermulut besar, Thian Liong toa
suheng sendiri pun tidak berani mengutarakan perkataan semacam itu,
apalagi kau hanya memperoleh warisan kepandaian silat darinya...
hmmm, bebar-benar......"
Chee Thian Gak mendongak dan tertawa terbahak-bahak, begitu
keras suara gelak tertawanya sampai sampai ranting dan daun ikut
bergetar keras, dengan sombong katanya :
"Ilmu Thay yang Sinkang yang kumiliki saat ini sama sekali
bukan warisan dari Thian Liong Toa Lhama."
"Apa?? Thay Yang Sin-kang ??" dengan amat terperanjat Lie
Peng meloncat bangun dari atas tanah. "Kalau begitu kau berasal dari
negeri Tay-li di Propinsi In lam??"
173
Saduran TJAN ID
"Darimana kau bisa menduga kalau aku datang dari negeri Tayli
di propinsi In lam?"
"Kaisar Toan dari negeri Tayli telah mengutus pangeran ketiga
Toan Hong datang keibu kota, dalam suatu kesempatan ia telah
membicarakan soal ilmu silat ilmu silat yang terdapat dalam
negerinya, aku masih ingat ia pernah meayebutkan nama Thay yang
Sin-kang tersebut!"
Sorot matanya beralih ke arah jubah merah yang dikenakan Chee
Than Gak, kemudian katanya lagi :
"Dan kini terbukti kau memiliki ilmu sakti Thay Yang Sin kang,
bukankah hal ini menunjukkan kalau kau berasal dari negeri
Tayli?......"
"Chee Thian Gak menjengek dingin.
"Hmmmmm, kau anggap di kolong langit ini kecuali keluarga
Toan dari negeri Tayli lantas tiada orang lain yang mengerti akan ilmu
sakti Thay-yang Sin-kang?? Hmmmm... cayhe justru bukan berasal
dari propinsi In Lam!"
"Lalu sebenarnya siapakah kau?" tanya Lie Peng dengan sorot
mata sangsi,
"Haaaah ....haaaah.... cayhe bukan lain adalah si Pendekar Jantan
Berkapak sakti Chee Thian Gak adanya !"
Ia merandek sejenak, lalu menambahkan.
"Barusan saja cayhe berpisah dengan sepasang iblis dari samudra
Seng Sut Hay dan sejak tiba disini sudah tiga kali kulaporkan namaku,
apakah kau tidak ingatnya sama sekali ??......"
"Apa? sepasang iblis dari Seng-sut-hay ?" jerit Lie Peng dengan
air muka berubah hebat. "Apakah orang yang kau maksudkan itu
adalah jago paling kosen dari kalangan sesat pada masa silam ??"
"Ehmmmm... sedikit pun tidak salah!"
"Aaaaah, jadi sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay itu belum
modar ??" seru Song Kim Toa Lhama pula dengan hati terkesiap.
"Sampai sekarang mereka masih..."
174
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Heeeeh .... heeeh .... heeeh.... menurut hemat cayhe, justru
kaulah yang sepantasnya modar lebih dulu," tukas Chee Thian Gak
sambil tertawa dingin. "Bagi manusia yang berhasil melatih ilmu
silatnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, air api tak perlu
ditakutkan lagi hidup sampai usia tujuh delapan puluh tahun bukan
terhitung seberapa!"
Disemprot oleh kata-kata yang begitu tajam Song Kim Toa
Lhama seketika bungkam dalam seribu bahasa, sepatah kata pun tak
sanggup diucapkan lagi.
"Aaaaah, tidak benar ucapan itu" tiba-tiba Lie Peng berseru
tertahan, "andaikata sepasang iblis itu masih hidup hingga
kini, usianya tak mungkin baru mencapai tujuh delapan puluh tahun,
semestinya mereka telah berusia seratus tahun ke atas."
Sambil tertawa dingin segera jengeknya:
"Dengan kepandaian silat yang kau miliki masih cukup untuk
mensejajarkan diri diantara jago jago kosen di kolong langit, apa
gunanya kau sebut-sebut nama besar sepasang iblis dari samudra Seng
Sut Hay untuk meninggikan derajat sendiri?"
Berbicara sampai di situ, dengan sikap menghina ia meludah ke
atas tanah.
"Keparat sialan!" hardik Chee Thian Gak dengan sepasang
matanya memancarkan cahaya menggidikkan hati. "Kalau kau berani
meludah sekali lagi, jiwamu akan segera kubereskan !"
Dipandang dengan sorot yang mata begitu tajam dan
menggidikkan, hati Lie Peng tak berani mengucapkan kata-katanya
lagi, dengan wajah tertegun ia berdiri kaku ditempat semula.
"Che Thian Gak!" bentak Song Kim Toa Lhama dengan nada
gusar. "Berani benar kau menggunakan kata-kata sekasar itu berbicara
dengan jie thay-cu kami, Hmmm, rupanya kau sudah tidak ingin
keluar dari hutan ini dalam keadaan utuh ??"
"Hmmmm, selama aku orang Chee berkelana mengarungi
seluruh jagad belum pernah aku merasa jeri atau takut terhadap siapa
175
Saduran TJAN ID
pun juga, dengan andalkan kekuatan kamu beberapa orang ini
dianggapnya sudah sanggup untuk menghalangi kepergianku."
Biji mata Song Kim Toa Lhama berputar kencang, tiba-tiba satu
ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera bertanya :
"Pada tengah malam tempo dulu, apakah kau juga orang yang
telah menolong Ouw-yang Gong??"
Chee hian Gak mengerti yang dimaksudkan si padri ini adalah
peristiwa sewaktu berada di belakang gunung Tay bie-sancung tempo
dulu, di mana setelah tubuhnya terhajar masuk jurang oleh pukulan
Poh Giok Kang dari Hoa Pek Tuo.
Waktu itu dengan membawa luka ia masuk ke dalam sebuah
hutan lebat, di situ ditemuinya Ouw-yang Gong sedang dikurung oleh
Song Kim Toa lhama serta empat jago pedang dari dunia persilatan.
Pada saat itulah dengan salurkan sisa tenaga yang dimilikinya ia
sambit selembar daun kering dengan ilmu Hoei Hoa Sat Jien untuk
merontokkan semangat lawan.
Kini mendengar teguran tersebut, pemuda itu tertawa getir dan
gelengkan kepalanya.
"Orang itu bukanlah cayhe melainkan Jago Naga Emas It-boen
Chiu !"
"Siapa itu si jago naga emas It-boen Chiu ??" tanya Song Kim
Toa Lhama tertegun.
"Dia adalah kakak seperguruan cayhe!" sahut Chee Thian Gak
dengan lagak penuh rasa hormat.
Rupanya Song Kim Toa Lhama tak pernah menyangka kalau toa
suhengnya sudah menerima begitu banyak murid, bahkan semuanya
memiliki kepandaian silat yang maha sakti.
Diam-diam lantas gumamnya :
"Dia pasti sudah berhasil menemukan kitab rahasia ilmu silat
yang maha sakti, kalau tidak tak nanti murid-muridnya begitu lihay
sehingga hampir menandingi kemampuanku..."
176
IMAM TANPA BAYANGAN II
Lie Peng sendiri pun sementara itu sedang berpikir dalam hati
kecilnya :
"Aaai... aku masih mengira di daerah Kwan Tiong dan Seek Siok
dua tempat tidak terdapat jago-jago berkepandaian lihay, sungguh tak
nyana begitu banyak jago kosen yang tersebar disini. Aaai... kalau
dipikir tujuh jago pedang dari dunia persilatan belum termasuk
manusia ampuh dalam kolong langit..."
Tatkala dilihatnya beberapa orang jago yang ada di dalam hutan
itu sebagian besar sudah terpengaruh oleh siasat licik yang sengaja
diaturnya itu, diam-diam Chee Thian Gak tertawa dingin pikirnya :
"Setiap kali aku bertemu dengan mereka, selalu saja orang-orang
ini sedang berkumpul di dalam hutan lebat, jangan-jangan mereka
sedang menjalankan suatu siasat licik yang lihay? Kalau ditinjau dari
ocehan Ouw-yang Gong, rupanya persoalan ini mempunyai hubungan
dengan soal penjualan..."
Berpikir sampai disini hatinya kontan jadi terkesiap, pikirnya
lebih jauh :
"Kalau aku belum tahu akan persoalan ini masih mendingan,
setelah mengetahuinya aku harus mencampurinya hingga jadi beres!"
Dalam pada itu pelbagai ingatan telah berkelebat dalam benak
Lie Peng, sambil memandang jago yang berperawakan tinggi kekar di
hadapannya ini ia berpikir kembali :
"Andaikata aku berhasil mendapatkan bantuan dari jago yang
begini lihaynya, tidak sulit rasanya bagiku untuk mengalahkan
kakakku, apalagi dia masih mempunyai seorang suheng!"
Sambil menengok sekejap ke arah Chee Thian Gak, pikirnya
lebih jauh :
"Andaikata aku dapat mengetahui kegemaran serta kebiasaannya,
dengan menyerang titik kelemahannya itu mungkin dia sudi
membaktikan tenaganya untukku, kalau tidak seandainya ia sampai
berpihak kepada toakoku dan memusuhi diriku meski Hoat su dari
negeri Tarta dan Raja dari negeri Turfan datang membantu pun belum
177
Saduran TJAN ID
tentu bisa menandingi dirinya, terhadap manusia lihay seperti dia
bagaimanapun juga aku harus berusaha untuk mendapatkannya."
Untuk sesaat suasana dalam hutan berubah jadi sunyi... hening...
dan sepi, kecuali deruan angin pagi yang menggoyangkan ranting
serta dedaunan tiada suara lain yang kedengaran.
Sementara itu Chee Thian Gak sudah mengambil keputusan
dalam hatinya, ia letakkan tubuh Siok Cian ke atas tanah kemudian
ujung jarinya berkelebat membebaskan jalan darah bisu yang tertotok
di tubuh dara itu.
Siok Cian menghembuskan napas panjang, lalu dengan nada
terkejut serunya :
"Aku berada??... engkoh Peng..."
"Cian Cian... aku... aku berada disini," sahut Lie Peng dengan
suara gemetar, ia segera melangkah maju setindak ke depan.
"Engkoh Peng, kau..."
"Cian Cian... kenapa kau??" Lie Peng semakin gelisah.
Mendadak dengan wajah membesi Chee Thian Gak silangkan
tangan kanannya menghadang jalan pergi orang, bentaknya :
"Hey orang she Lie, jangan mencoba maju ke sini!"
"Kau mau apa??" teriak Lie Peng gusar, tetapi setelah ucapan itu
meluncur keluar dari mulutnya ia jadi menyesal, pikirnya :
"Demi suksesnya seluruh rencana besar yang sedang kususun,
sekalipun aku harus Cian-Cian juga tidak mengapa, asal Chee Thian
Gak suka dengan dirinya, kenapa aku harus merasa keberatan untuk
menghadiahkan kepada dia???"
Tapi begitu ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, segera
ia merasa malu dan menyesal sendiri, kenapa bisa mempunyai ingatan
seperti itu, sembari menggigit bibir pikirnya lebih jauh :
"Aku telah berkasih-kasihan selama dua tahun dengan Cian Cian
mana boleh kujual dirinya dan menghina dirinya hanya disebabkan
oleh keinginan untuk mendapat penghargaan belaka?? andaikata
seorang lelaki harus menjual istri sendiri demi suksesnya pekerjaan
178
IMAM TANPA BAYANGAN II
yang dicita-citakan, sekalipun akhirnya usaha itu berhasil, aku pun
bakal menyesal dan kecewa sepanjang masa."
Pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, membuat ia jadi
gelisah bercampur cemas, tanpa sadar perasaan tersebut terlintas di
atas wajahnya.
Mendadak Chee Thian Gak membentak lagi dengan sepasang
mata melotot bulat :
"Kalau kau berani maju lagi, segera akan kubacok tubuhnya jadi
beberapa bagian!"
"Apa yang kau inginkan??" jerit Lie Peng dengan wajah
menunjukkan siksaan batin yang tak terhingga.
"Bagaimanakah sikap kalian terhadap Ouw-yang Gong, dengan
cara itu pula akan kuhadapi dirinya..."
Tiba-tiba biji mata Siok Cian berputar, menggunakan kesempatan
di kala Chee Thian Gak sedang bercakap-cakap dengan Lie Peng,
pergelangan tangannya berkelebat meloloskan sebilah pedang lemas
dari pinggangnya.
Lie Peng dapat mengikut gerak-gerik kekasihnya dengan jelas,
ketika dilihatnya Chee Thian Gak sama sekali tidak menaruh
perhatian terhadap perbuatan Siok Cian yang meloloskan senjata
tajam di belakang tubuhnya, dengan mata melotot segera teriaknya :
"Akan kubunuh dirinya sekarang juga!"
"Heeh... heeeeh... heeeh... kalau begitu, jangan harap setiap
manusia yang ada di dalam hutan hari ini bisa lolos dari sini dalam
keadaan hidup...!" sahut Chee Thian Gak sambil tertawa dingin.
Ucapan itu begitu tegas dan meyakinkan, sekalipun Lie Peng
berkata demikian hanya bertujuan untuk membuyarkan konsentrasi
Chee Thian Gak saja sehingga Siok Cian yang siap melancarkan
serangan bokongan bisa berhasil sukses tak urung terpengaruh juga
oleh perkataan itu sehingga untuk sesaat tak sanggup mengucapkan
sepatah kata pun.
179
Saduran TJAN ID
"Chee Thian Gak!" bentak Song Kim Toa Lhama dengan suara
berat, "kau tak usah begitu jumawa dan sombong..."
Mendadak perkataannya merandek di tengah jalan, pada saat
itulah Siok Cian menggerakkan pergelangan tangannya, cahaya
pedang segera berkilauan membelah angkasa.
Jarak antara Chee Thian Gak dengan gadis itu hanya terpaut satu
depa belaka, bacokan tadi langsung mengancam punggung orang itu.
Bersama dengan datangnya bacokan tersebut, Lie Peng segera
menubruk ke depan, sepasang kepalannya diayun berulang kali
mengirim serangan dahsyat ke arah dada Chee Thian Gak.
Jago kosen berkapak sakti ini mendengus dingin, tiba-tiba telapak
kanannya diputar balik, hawa pukulan segera menderu-deru dan
menggulung balik ke depan, tubuh Lie Peng terhajar telak sehingga
tidak ampun badannya terjengkang mundur tiga langkah ke belakang.
Siok Cian menjerit keras, sebelum ujung senjatanya sempat
mampir di tubuh lawan tahu-tahu orang she-Chee itu sudah putar
badannya mengirim satu pukulan kilat menghajar di atas gagang
pedang lawan, pedang lemas itu segera terhajar dan lepas dari cekalan.
Ketika melihat ujung pedang Siok Cian telah menempel di atas
punggung lawan tadi, Song Kim Toa Lhama diam-diam sedang
merasa bergirang hati, tapi ia tidak menyangka kalau reaksi orang she
Chee itu bisa demikian cepat dan tajamnya.
Dengan hati bergidik pikirnya :
"Aaaah sungguh tak nyana ilmu 'Baudi Pu Tong Ciat Eng' dari
aliran Mie Tiong pun berhasil ia kuasai dengan begitu sempurna,
kehebatannya benar-benar mengerikan sekali..."
Sementara itu perlahan-lahan Chee Thian Gak sudah putar badan,
katanya dengan nada menyeramkan :
"Apakah antara kau dengan aku sudah terikat dendam sakit hati
sedalam lautan? Mengapa kau hendak tusuk badanku sampai mati?"
180
IMAM TANPA BAYANGAN II
Sepasang mata Siok Cian terbelalak lebar-lebar, dengan wajah
ketakutan ia menutupi mulutnya sendiri kemudian memandang wajah
Chee Thian Gak tanpa berkedip.
Si Pendekar Jantan Berkapak Sakti ini mendengus dingin, dengan
ujung kakinya ia menjejak permukaan tanah, pedang lemas yang
menggeletak di tanah itu segera mencelat ke udara, sekali tangan
kanannya digape, tahu-tahu senjata tadi sudah digenggamnya di
tangan.
Matanya melirik seram, diiringi suitan panjang, pedang tersebut
dengan memancarkan cahaya berkilauan tiba meleset ke tengah udara
dan meluncur ke muka.
Termakan oleh getaran hawa murninya pedang lemas tadi
berubah jadi kaku bagaikan tombak, membawa desiran tajam yang
memekikkan telinga, senjata itu meluncur ke dalam hutan berkelebat
meninggalkan cahaya bulat kemudian meluncur ke arah sebuah pohon
besar di hadapannya.
Pedang itu meluncur menembusi dahan kemudian bergetar tiada
hentinya sambil meninggalkan desingan tajam yang memekikkan
telinga.
Di tengah gugurnya daun dan ranting, Chee Thian Gak berseru
lantang :
"Pernahkah kalian menjumpai ilmu pedang macam begini?"
Saking terperanjatnya wajah Lie Peng berubah jadi hijau
membesi, ia berdiri tertegun di tengah kalangan sambil memandang
ke arah lawannya dengan pandangan bodoh, sepatah kata pun tak
sanggup ia ucapkan.
To-Liong It-Kiam si Pedang sakti Pembunuh Naga Tauw Meh
menjerit histeris, dengan wajah penuh ketakutan teriaknya :
"Haaah?... Ilmu pedang terbang..."
Sudah tentu Chee Thian Gak tidak kenal dengan apa yang disebut
sebagai ilmu pedang terbang itu, dia hanya tahu hasil itu didapatkan
181
Saduran TJAN ID
karena konsentrasi segenap perhatian dan kekuatannya pada ujung
senjata.
Ia sendiri pun tak pernah menyangka kalau hasil himpunan
semangat dan kekuatannya bisa menghasilkan daya perputaran yang
kuat pada senjata tajam itu, semakin tak pernah disangka kalau
kekuatan semacam itu bisa digunakan untuk membunuh orang dari
jarak ratusan tombak...
"Ilmu pedang terbang!...ilmu pedang..." gumamnya berulang
kali. "Inikah yang disebut sebagai ilmu pedang terbang?..."
Setiap manusia yang hadir dalam hutan saat itu rata-rata
merupakan jago Bu-lim yang lihay dalam ilmu pedang namun belum
pernah mereka menyangka kalau kehebatan dari ilmu pedang terbang
itu dalam kenyataannya begitu dahsyat...
Chee Thian Gak tertawa terbahak-bahak... sepasang mata yang
tajam menatap di atas pedang lemas pada dahan pohon dua tombak di
hadapannya tanpa berkedip.
Seluruh perhatian dan kekuatannya kembali dihimpun jadi satu,
menurut cara yang pernah digunakannya barusan perlahan-lahan dia
angkat tangan kanannya ke atas.
Melihat perbuatan si anak muda itu Siok Cian menjerit kaget,
segera ia meloncat ke sisi Lie Peng dan menubruk ke dalam
pelukannya.
Tauw Meh serta Tok See pun tanpa sadar mundur empat langkah
ke belakang dan bersembunyi di belakang dahan pohon, dengan
pandangan ketakutan mereka ngintip ke arah lawannya.
Air muka Song Kim Toa Lhama berubah hebat, sepasang
telapaknya disilangkan di depan dada, sementara kakinya bergeser di
depan tubuh Lie Peng serta Siok Cian sambil berjaga-jaga terhadap
serangan bokongan dari Chee Thian Gak.
Suasana di dalam hutan seketika berubah jadi sunyi senyap...
Begitu sepi sehingga suara napas pun secara lapat-lapat kedengaran...
Mendadak terdengar Ouw-yang Gong berteriak keras :
182
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Aduuuuh sakitnya... aduuuh biyung..."
"Aaaah," Chee Thian Gak tersadar kembali dari lamunannya.
"Ouw-yang Gong kau..."
Ucapannya terputus, tangan kanannya yang berada di angkasa
menggurat beberapa kali, seketika itu juga hatinya tergerak dan
seolah-olah dia telah menemukan sesuatu.
Tapi cahaya kilat itu hanya sekejap mata, sebelum dia sempat
jelas apakah itu kegelapan telah menyelimuti kembali seluruh jagad...
Perlahan-lahan ia turunkan tangannya kembali dan berpikir :
"Aaaai... dalam waktu yang singkat aku tak akan bisa
menemukannya kembali..."
Pada saat itulah dengan badan sempoyongan Ouw-yang Gong
bangkit berdiri kemudian berjalan ke arah hutan, sambil bergerak
mulutnya berteriak tiada hentinya :
"Siauw Hong... Siauw Hong...!"
Chee Thian Gak enjotkan badannya, sang tubuh melayang satu
tombak di udara dan cabut kembali kapaknya yang tertancap di atas
dahan pohon.
Ia tarik napas dalam-dalam, katanya :
"Dalam lima hari kemudian cayhe akan tetap berada dalam
propinsi Su cuan, andaikata kalian ada yang merasa tidak puas, setiap
saat boleh datang mencari diriku."
Siok Cian yang masih berdiri tertegun, tiba-tiba menoleh lalu
bertanya dengan suara bimbang :
"Peng ko, sebenarnya siapakah orang itu?"
"Cayhe adalah si Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian
Gak!" jawab si anak muda itu dengan suara lantang.
"Chee Thian Gak? Benarkah kau bernama Chee Thian Gak?"
"Hey Lie Peng!" seru si anak muda itu lagi dengan suara berat,
"Cayhe hendak memperingatkan dirimu! Andaikata kau mempunyai
niat jahat untuk menghianati kerajaan, dan aku mengetahui akan
rencana busukmu ini..."
183
Saduran TJAN ID
Sekilas napsuf membunuh terlintas di atas wajahnya.
"Hmmm! Saat itu aku akan suruh kau merasakan siksaan yang
paling berat dan paling mengerikan... akan kusuruh kau rasakan
bagaimana akibatnya bagi seseorang yang menghianati negaranya."
Suara itu mendengung tiada hentinya di udara, memberikan
keangkeran dan keseraman bagi yang ada dalam hutan berdiri
termangu dan membungkam dalam seribu bahasa. Tak seorang
manusia pun yang berani bertindak ketika ia perlahan-lahan
meninggalkan hutan tersebut.
Menanti bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan,
pertama-tama Tok See lah yang menghembuskan napas panjang lebih
dahulu.
"Aaaah... aku benar-benar tidak mengerti manusia macam apakah
dia itu!" serunya.
"Tenaga lweekang yang dimiliki orang ini telah mencapai pada
puncak kesempurnaan yang tiada taranya di kolong langit," Tauw
Meh menambahkan. "Sudah tak seberapa banyak orang lagi dalam
dunia persilatan dewasa ini yang sanggup menandingi dirinya."
"Tak pernah kusangka sama sekali, dia yang tersohor di dalam
Bu lim karena kesaktiannya dalam permainan kapak, ternyata
mempunyai kelebihan yang tak kalah hebatnya dalam ilmu pedang..."
dengan perasaan bergidik orang she Tok ini memandang sekejap lukaluka
di tubuhnya, lalu bergumam kembali :
"Ilmu pedang terbang... ilmu pedang terbang... untung dia
menghadapi diriku hanya menggunakan senjata kapaknya, kalau tidak
selembar jiwaku pasti sudah melayang sejak tadi-tadi..."
"Hey Tok See, jangan terlalu memuji kehebatan orang..." bentak
Song Kim Toa Lhama.
"Song Kim Koksu," sela Lie Peng, "ucapannya sedikit pun tidak
salah, andaikata Chee Thian Gak menghadapi kita dengan
menggunakan ilmu pedang terbangnya, aku percaya tak seorang pun
184
IMAM TANPA BAYANGAN II
di antara kita yang berhasil tinggalkan tempat ini dalam keadaan
selamat."
Teringat akan kehebatan serta keampuhan ilmu pedang sakti yang
diperlihatkan Chee Thian Gak barusan, diam-diam Song Kim Toa
Lhama pun merasa terkesiap, pikirnya :
"Benar juga perkataannya ini, cukup dengan andalkan ilmu 'Toa
Budhi Put Tong Ciat Eng' yang dimilikinya itu, boleh dibilang tak
seorang manusia pun yang ada di kolong langit bisa melukai
dirinya..."
Diikuti dia pun berpikir lebih jauh :
"hal ini membuktikan pula sebelum Thian Long toa suhengku
berangkat menuju ke daratan Tionggoan, ia telah memperoleh lebih
dahulu ilmu warisan dari Kauw Tong cauwsu, kalau tidak tak nanti
kedua orang muridnya bisa memiliki kepandaian silat yang demikian
dahsyatnya, bahkan tiada berbeda jauh dengan kehebatan dari Buddha
hidup..."
Setelah termenung sesaat lamanya, diam-diam dalam hatinya dia
mengambil keputusan.
Sementara itu Lie Peng sambil memandang kabut yang kian
menipis di pagi hari yang cerah itu bergumam seorang diri :
"Ternyata pelajaran ilmu pedang begitu luasnya hingga tak
bertepian, rupanya untuk mencapai ilmu pedang terbang seperti apa
yang berhasil dia capai, aku harus berlatih giat dan tekun selama dua
puluh tahun lagi..."
Ucapan ini membawa rasa kecewa dan murung yang tak
terhingga, menunjukkan betapa sedih dan kesalnya hati pangeran
kedua ini.
Siok Cian yang berada di sisinya buru-buru menghibur sambil
meraba dadanya :
"Engkoh Peng, kau sebagai seorang pangeran suatu kerajaan,
tidak sepantasnya kalau ikut menerjunkan diri ke dalam dunia
persilatan, kau harus tahu manusia semacam itu berjiwa besar, berhati
185
Saduran TJAN ID
lapang dan berkeliaran tiada menentu dalam dunia persilatan, seluruh
perhatian serta tenaganya hanya dicurahkan kepada ilmu silat belaka,
sudah tentu dalam keadaan seperti ini ilmu silatnya bisa peroleh
kemajuan pesat yang mengejutkan dalam waktu singkat..."
Ia mengerdipkan bulu matanya yang indah, kemudian
melanjutkan :
"Sebaliknya kau mempunyai tanggung jawab yang besar
terhadap keselamatan serta keutuhan negara, seluruh perhatian,
semangat serta tenagamu hanya kau curahkan kepada urusan Kerajaan
dan rakyatmu, sudah tentu keadaanmu lain kalau dibandingkan
dengan manusia-manusia liar macam mereka..."
Mendengar perkataan itu, Lie Peng tundukkan kepalanya rendahrendah,
tak sepatah kata pun berhasil dilontarkan keluar dari
mulutnya.
"Engkoh Peng," ujar Siok Cian kembali, "bagaimana perkataanku
barusan, ada bagian yang tidak benar, harap kau jangan marah
kepadaku!"
Perlahan-lahan Lie Peng mendorong tubuhnya, lalu sambil
menatap wajahnya tajam-tajam ia berseru memuji :
"Cian Cian, ucapanmu sedikit pun tidak salah, perkataanmu ini
terlalu bagus sekali hingga membuat aku tersadar kembali."
Dengan tersipu-sipu Siok Cian menghindarkan diri dari
pandangan mata kekasihnya, setelah merandek sejenak ia berkata :
"Sayang seribu kali sayang keparat tua itu berhasil lagi
meloloskan diri, hingga membuat pekerjaan kita sejak pagi buta tadi
menemui kegagalan total."
"Aaaaai... hal ini tak bisa menyalahkan dirimu," bisik Pangeran
kedua sambil merangkul tubuh kekasihnya. "Andaikata Chee Thian
Gak tidak datang kemari, mana mungkin ia bisa lari dari sini?"
"Jie Thay cu, kau tak usah kuatir," ujar Song Kim Toa Lhama
dari sisi kalangan. "Ouw-yang Gong tak nanti bisa lolos dari
pengejaran kita, pinceng telah melakukan sedikit permainan setan di
186
IMAM TANPA BAYANGAN II
atas nadi Jien Meh serta Tok Meh-nya, tanggung ia tak akan sanggup
hidup melebihi lima hari..."
"Tapi... bukankah Chee Thian Gak memahami pelbagai macam
kepandaian sakti yang maha dahsyat? Apakah ia tak bisa
membebaskan rekannya dari pengaruh totokanmu?" tanya Tauw Meh
dengan nada tercengang.
"Tentu saja ia tak akan berhasil membebaskannya, sebab aku
telah membuat sedikit permainan setan di atas tubuh Ouw-yang Gong
dengan ilmu Ciat meh Ciat Kim aliran negeri Thian Tok, coba
pikirkan masa ia mampu untuk membebaskan pengaruh totokanku?"
"Aaaaai... sayang Pay Boen Hay heng telah terluka di tangan
Chee Thian Gak..." keluh Tok See.
"Oooooh! Aku telah melupakan diri Pay heng..." seru Lie Peng
sambil mendorong tubuh Siok Cian.
Cepat ia berjalan menghampiri anak buahnya yang sementara itu
perlahan-lahan sedang merangkak bangun.
"Pay Boen Hay," tegur Song Kim Toa Lhama dengan sepasang
alis berkerut. "Kalau memang lukamu tidak terlalu parah, mengapa
kau terus menerus..."
Belum habis padri itu menyelesaikan kata-katanya, sebagai
manusia yang cerdik Pay Boen Hay bisa menebak apa yang sedang
dimaksudkan hweesio itu, dengan sorot mata dingin segera
timbrungnya :
"Toa koksu, lengan cayhe telah patah termakan pukulan lawan,
apakah kau menaruh curiga terhadap diriku?"
Song Kim Toa Lhama mendehem ringan.
"Loo ceng sedang merasa heran kenapa setiap kali kami sedang
berhasil menangkap Ouw-yang Gong manusia yang menamakan
dirinya Chee Thian Gak itu pasti muncul pula disini? Jangan-jangan
ada orang yang sengaja membocorkan berita ini..."
Pay Boen Hay segera mendengus dingin.
187
Saduran TJAN ID
"Cayhe adalah cucu murid Ciak Kak Sin Mo, apakah kau
pandang diriku sealiran dengan Ouw-yang Gong?" serunya.
Wajah yang semula berwarna putih kepucat-pucatan seketika
berubah jadi merah padam saking gusarnya.
Buru-buru Lie Peng menengahi persoalan itu serunya :
"Song Kim Toa Koksu, kalian tak usah cekcok..."
"Tahukah kalian siapakah sebenarnya Chee Thian Gak itu?"
teriak Pay Boen Hay keras-keras.
"Chee Thian Gak yah Chee Thian Gak, dia bilang berasal dari
Gurun Pasir, apa kau tahu siapa dia yang sebenarnya?" tanya Tauw
Meh tercengang.
"Dia adalah si jago pedang berdarah dingin Pek In Hoei!"
"Apa?" teriak Lie Peng. "Dia adalah si jago pedang berdarah
dingin Pek In Hoei yang menduduki urutan ke-empat dalam tujuh jago
pedang dunia persilatan?"
"Dia masih berhutang dendam satu bacokan dengan diriku, maka
ia telah memenggal lenganku!" ujar Pay Boen Hay sambil tertawa
sedih. "Aku sendiri pun tidak tahu apa hubungannya dengan Ouwyang
Gong, hanya saja sebelum ia pandai ilmu silat orang itu sudah
berada bersama-sama Ouw-yang Gong, oleh karena itu setiap kali si
tua bangka sialan itu menghadapi kesulitan, dia tentu akan datang
untuk menolong..."
"Aaaah, tak mungkin... tak mungkin terjadi... aku tidak percaya
dengan perkataanmu... ucapanmu tak bisa dipercayai..." gumam Lie
Peng tiada hentinya.
Siok Cian pun berseru dengan nada sangsi :
"Menurut kabar yang tersiar dalam Bu lim, orang bilang Pek In
Hoei mempunyai wajah yang ganteng dan tingkah laku yang halus,
masa manusia macam begitu adalah Pek In Hoei? Aku tidak percaya!"
Dengan pandangan mendalam Pay Boen Hay melirik sekejap ke
arah gadis itu kemudian tertawa getir.
188
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Kalau cuwi sekalian tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat apaapa..."
perlahan-lahan ia berjalan menghampiri pangeran kedua,
kemudian ujarnya lebih jauh :
"Jie Thay cu, sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya, aku
tak dapat membaktikan diri lagi dengan dirimu..."
"Apakah kau ada urusan penting?"
"Aku hendak pergi ke perkampungan Thay Bie San cung dan
menjumpai sucouwku Ciak Kak Sin Mo."
"Oooouw... kau hendak ke situ? Dengan kepergianmu ini,
andaikata Toa Hoat su dari negeri Tu fan dan Raja negeri Tartar
datang ke sini, siapa yang akan bertindak sebagai penterjemah?"
Sinar mata Pay Boen Hay berkilat, lalu menjawab :
"Andaikata Jie Thay cu merasa kuatir, bagaimana kalau kita
bersama-sama berangkat ke perkampungan Thay Bie San cung dan
sementara waktu berdiam di situ? Rasanya di situ keadaan kita akan
jauh lebih aman."
Rupanya Lie Peng tidak menyangka kalau dalam waktu singkat
ia bisa bertemu dengan Ciak Kak Sin Mo, dengan hati penuh
kegirangan pikirnya :
"Seandainya aku bisa memperoleh bantuan dari Ciak Kak Sin
Mo, maka aku tak usah takuti engkohku lagi... saat itu..."
Ia segera mengangguk.
"Baiklah, menanti Raja Tartar telah tiba disini, maka aku beserta
mereka segera akan berangkat menuju ke perkampungan Thay Bie
San cung."
"Kalau begitu cayhe mohon diri terlebih dahulu," ujar Pay Boen
Hay kemudian setelah melirik sekejap ke arah lengannya yang telah
kutung.
Sekali enjotkan badannya, bagaikan serentetan cahaya kilat tubuh
orang itu lenyap di balik kerimbunan hutan belukar yang lebat.
Menanti bayangan tubuh orang she Pay itu sudah lenyap dari
pandangan, Lie Peng baru berkata :
189
Saduran TJAN ID
"Dewasa ini kekuatan kita kian lama kian bertambah besar dan
kuat, rasanya kesempatan bagiku untuk menumbangkan kekuasaan
engkohku kian hari kian mendekat. Haaaah... haaaah... haaaah...
Koksu, terima kasih atas bantuanmu, andaikata kau tidak memanasi
hatinya, belum tentu ia bisa berbuat demikian dan mengundang kita
mengunjungi perkampungan Thay Bie San cung..."
"Haaaah... haaaah... haaaah... Jie Thay cu, pinceng harus
mengucapkan kiong hie lebih dahulu kepadamu... Haaaah... haaaah...
haaaah... " seru Song Kim Toa Lhama sambil tertawa tergelak.
Begitu keras suara tertawa itu hingga membumbung tinggi ke
angkasa dan berkumandang ke tempat kejauhan.
*****
SEMENTARA ITU Chee Thian Gak yang sedang melakukan
perjalanannya tiba-tiba merasakan dadanya amat sakit, begitu perih
dan tersiksa rasanya membuat ia terguling-guling di atas tanah.
"Nenek tua keparat..." teriaknya dengan penuh kebencian. "Hal
ini pastilah hasil perbuatan dari nenek keparat itu... Ooooh racun ulat
sutera emas..."
Sambil memegang perutnya ia mengerang kesakitan, si anak
muda itu bergumam lebih jauh :
"Kalau aku berhasil menemui dirinya lagi, pasti akan kucabut
selembar jiwa anjingnya..."
Sorot matahari di tengah hari yang panas terik begitu menyengat
badan, namun Chee Thian Gak hanya merasakan rasa dingin yang
menusuk tulang menggigilkan seluruh tubuhnya, ditambah pula sakit
bagaikan diiris-iris dengan pisau tajam, membuat ia tak tahan dan
berteriak-teriak seperti orang gila.
Dengan langkah sempoyongan selangkah demi selangkah
pemuda itu berusaha mencapai hutan di sebelah depan, pandangannya
terasa kabur... ia sudah tak dapat membedakan lagi jalan yang dilalui
adalah jalan raya ataukah jalan gunung yang sempit...
190
IMAM TANPA BAYANGAN II
Ranting pohon menghalangi jalan perginya, mencengkeram
bajunya membuat ia tergaet dan jatuh terpelanting di atas tanah.
"Ooooh...!" rintihan penuh kesakitan terbisik lirih dari ujung
bibirnya...ia merasa tulang belulang dalam tubuhnya seakan-akan
telah retak dan hancur berantakan, lambung terasa sakit seperti
dipuntir-puntir... hawa murni dalam tubuhnya seketika buyar entah
kemana...
Dengan wajah basah penuh keringat ia menghela napas panjang.
"Aaaaai... sungguh tak nyana aku Pek In Hoei harus merasakan
pelbagai siksaan dan penderitaan selama hidupnya... percuma aku
belajar ilmu silat yang demikian lihaynya... toh akhirnya aku tak
berhasil mempertahankan hidupku...
Ia merintih lirih... pandangannya terasa kian lama kian
menggelap... bayangan kematian kembali terlintas di atas wajahnya,
sambil merintih ia coba meronta bangun kemudian merangkak... dan
bergerak menuju keluar hutan.
Belum beberapa jauh ia merangkak ke depan, sorot matahari yang
tajam menyilaukan matanya, membuat ia tak sanggup membuka
matanya lebar-lebar.
Sambil menutupi wajahnya dengan sepasang tangan, ia
bergumam kembali :
"Tiga hari... ucapan si dukun sakti berwajah seram sedikit pun
tidak salah, dalam tiga hari racun ulat sutera emas yang mengeram
dalam tubuhku akan mulai bekerja... isi perutku akan mulai
membusuk dan mataku akan jadi buta..."
Teringat akan matanya yang bakal jadi buta, pemuda itu merasa
semakin sedih dan tersiksa batinnya, suatu perasaan tekanan batin
yang berat seolah-olah menindihi tubuhnya, membuat keringat
sebesar kacang kedele mengucur keluar tiada hentinya...
Ia meraung gusar, teriaknya kalang kabut.
191
Saduran TJAN ID
"Kenapa aku bisa jadi begini? Oooooh Thian, mengapa kau
bersikap begitu kejam terhadap diriku? Mengapa kau selalu menyiksa
diriku dan membuat aku menderita?..."
Suara raungan keras itu bergema di tanah pegunungan yang sunyi
dan mendengung tiada hentinya mengikuti hembusan angin...
Chee Thian Gak benar-benar tak sanggup menahan diri,
pandangannya jadi gelap dan ia roboh menggeletak di atas tanah.
Pada saat itulah... dari tempat kejauhan berkumandang datang
suara keleningan yang lirih tapi nyaring... kian lama suara itu kian
mendekat...
Dari bawah bukit yang hijau, dari balik jalan kecil yang
membujur jauh ke depan muncul seekor kuda berwarna merah darah,
seorang gadis berpakaian ringkas berwarna hijau, berkaki telanjang
dan berlengan pendek perlahan-lahan bergerak mendekat.
Wajahnya cantik dan polos, di atas lengannya yang telanjang
tergantung sepasang gelang emas yang saling membentur tiada
hentinya hingga menimbulkan irama yang amat merdu...
Tiba-tiba... kuda merah itu meringkik dan meloncat naik ke
tengah udara.
Gadis di atas kuda menjerit kaget, belum sempat lengannya
memeluk leher kudanya sang tubuh telah mencelat jatuh ke atas tanah.
Namun... rupanya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki dara
ayu itu cukup tangguh, sesaat sebelum badannya mencium permukaan
tanah ia berhasil melejit dan melayang kembali ke tengah udara.
Atas peristiwa yang terjadi di luar dugaan ini, dengan wajah
merah padam gadis itu memaki kudanya kalang kabut.
Tetapi sang kuda tetap meringkik panjang sambil berjingkrakjingkrak.
"Hey, apa yang sedang kau lakukan?" tegur dara ayu itu dengan
nada mendongkol.
Tapi pada saat itulah ia telah menemukan tubuh Chee Thian Gak
yang menggeletak di atas tanah.
192
IMAM TANPA BAYANGAN II
Jubah merah berkibar terhembus angin, mula-mula gadis itu
mengira seorang perempuan yang menggeletak di situ, tapi setelah ia
berjongkok untuk memeriksa lebih seksama tiba-tiba ia menjerit kaget
:
"Aaaaah!"
Rupanya wajah Chee Thian Gak yang penuh bercambang serta
kening yang dilapisi cahaya keemas-emasan telah mengejutkan hati
gadis itu, sambil memegang dada sendiri ia loncat mundur tiga
langkah ke belakang dan tidak berani memandang lagi.
Jantung berdebar keras, lama sekali ia baru berhasil
mententeramkan hatinya, perlahan-lahan ia mendekati kembali tubuh
si anak muda itu.
"Ooooh, racun ulat emas!" serunya keras-keras, "Ia sudah terkena
racun Ulat emas!"
Waktu wajah Chee Thian Gak telah berubah pucat keemasemasan,
di antara sepasang alisnya tersisa bekas merah yang samar,
pada bekas merah itu secara lapat-lapat terlintas pula cahaya emas
yang tajam.
"Siapakah orang ini?" pikir gadis itu sambil memutar biji
matanya berulang kali. "Secara bagaimana ia bisa terkena racun ulat
emas dari suhuku?"
Sinar matanya kembali dialihkan ke atas wajah Chee Thian Gak
yang penuh bercambang, pikirnya lebih jauh:
"Potongan wajahnya sangat gagah, cambang yang lebat
memenuhi seluruh wajahnya, keadaannya tiada berbeda dengan
ayahku. Ahai.... sudah banyak tahun aku mengikuti suhu belajar silat,
selama ini aku harus menetap di wilayah Biauw yang gersang dan
jelek pemandangan alamnya, kali ini aku bisa pulang ke rumah...
ooooh, sebentar lagi aku bakal berjumpa dengan ayah..."
Belum habis ingatan itu berkelebat dalam benaknya, dari balik
hutan berkumandang kembali suara derap kaki kuda disertai suara
seruan berulang kali :
193
Saduran TJAN ID
"Siaocia... Siaocia.."
"Sialan!" maki dara berbaju hijau itu di dalam hati. Perlahanlahan
ia berjongkok dan mendorong tubuh Chee Thian Gak. "Budak
sialan... siapa sih suruh kau menguntit diriku terus macam suka
gentayangan... dianggapnya aku sudah mati!"
Dengan hati gemas ia meloncat bangun lalu makinya :
"Sioe To, kenapa sih kau berkaok-kaok terus?"
Seekor kuda berwarna abu meluncur datang dengan cepatnya, di
tengah suara derap kaki kuda yang nyaring, sesosok bayangan hijau
melesat ke tengah udara dan melayang turun di sisi gadis itu.
"Eeeei... kau takut aku tersesat yaah?" tegur gadis bergelang emas
itu sambil mendorong tubuh gadis yang baru saja datang itu ke
samping. "Siapa sih yang suruh kau menguntit aku terus seperti sukma
gentayangan, berkaok-kaok melulu sepanjang jalan!"
Gadis yang baru tiba adalah seorang dara berusia lima enam belas
tahun yang rambutnya berkepang dua, mendengar teguran itu diamdiam
ia menjulurkan lidahnya.
"Baik... baik, siaocia, lain kali budak tidak berani berkaok-kaok
lagi... maafkanlah aku siaocia."
"Hmmmm, budak sialan, lain kali kau berani berkaok-kaok lagi,
lihat saja akan kukutungkan kakimu itu!"
Sioe To mencibirkan bibirnya dan pura-pura menunjukkan wajah
mau menangis, katanya dengan suara lirih :
"Kata looya, siaocia belum lama kembali dari wilayah Biauw,
terhadap jalanan di sekitar sini tentu belum begitu paham, maka beliau
suruh aku baik-baik menjaga siaocia. Siapa suruh kau lari begitu
cepat... budak takut siaocia tersesat di tengah gunung maka sepanjang
jalan berteriak memanggil, eeei, siapa tahu..."
Mimik wajahnya yang patut dikasihani ini seketika membuat dara
bergelang emas itu tertawa cekikikan.
194
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Baik... baiklah, anggap saja aku yang salah. Ayoh, sudahlah,
jangan tunjukkan mimik wajah seperti orang mati, janganlah aku
tertawa kegelian..."
"Waaah... kalau siaocia sampai tertawa berat hingga giginya
terlepas... budak semestinya dijebloskan ke dalam neraka tingkat ke
delapan belas..."
"Budak sialan, siapa suruh kau membahasai dirimu sebagai
budak... budak melulu? Ayoh panggil aku enci Cen..."
"Atuuuuh... tentang soal ini, budak mana berani... kalau sampai
kedengaran oleh loo ya, mulut budak bisa jadi dirobek robek."
Wajah gadis bergelang emas itu segera berubah membeku,
makinya :
"Budak sialan, kalau kau berani menyebut dirimu sebagai budak
lagi, hati hati kugaplok pipimu !"
Cepat-cepat Sioe To mundur dua langkah ke belakang, katanya
sambil tertawa :
"Siaocia, aku..."
Sinar matanya berkelebat, tiba-tiba ia menemukan tubuh Chee
Thian Gak yang menggeletak di atas tanah, seketika itu juga ia
menjerit kaget :
"Siaocia, coba lihat, di situ ada orang..."
Rupanya saat itulah gadis bergelang emas itu baru teringat akan
diri Chee Thian Gak yang keracunan racun ulat emas, ia menjerit
tertahan dan segera memaki :
"Huh, semua ini adalah gara-gara kau si budak sialan sehingga
membuang tenaga ku, kalau orang ini sampai tidak tertolong, hati-hati
kau, akan kusuruh kau ganti selembar jiwanya."
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah botol porselen,
kemudian katanya :
"Sioe To, ayoh cepat payang bangun orang itu."
Sioe To maju menghampiri, mendadak dengan nada terperanjat
serunya :
195
Saduran TJAN ID
"Siaocia, siapakah orang ini? hiiih... menyeramkan sekali
wajahnya..."
"Kau tak usah banyak bicara!" bentak gadis itu sambil membuka
botol porselen itu dia mengambil keluar sedikit bubuk yang ditaruh di
atas telapak kirinya. "Ayoh cepat angkat kepalanya!"
Sioe To menurut, dia angkat kepala orang dan dipandang lagi
dengan wajah tercengang, ia lihat seluruh tubuh Chee Thian Gak telah
basah oleh keringat, sepasang alisnya berkerut kencang, ditambah
cambangnya yang lebat membuat gadis itu bertanya kembali :
"Siaocia... coba kau lihat, di antara alisnya terdapat cahaya
keemas-emasan..."
Gadis bergelang emas itu tidak langsung menjawab, bubuk yang
berada di atas telapaknya segera dihembuskan ke dalam lubang
hidung pemuda she Chee itu, setelah itu sambil membereskan
rambutnya yang awut-awutan katanya :
"Aku sendiri pun tidak kenal dengan orang ini, tapi menurut
dugaanku dia pastilah seorang jago Bu lim yang sangat lihay, kalau
tidak tak nanti suhuku harus menggunakan racun saktinya untuk
menghadapi orang ini..."
"Siaocia, apakah kau bersedia untuk menyelamatkan jiwanya?"
tanya dayang itu.
Gadis bergelang emas itu segera tertawa dingin.
"Dia adalah musuh tangguh dari suhuku, sudah tentu aku tak akan
menolong jiwanya, akan kucelakai jiwanya agar cepat-cepat modar."
"Mencelakai dirinya?" seru Sioe To dengan mata terbelalak.
"Lalu apa gunanya kau memberi obat kepadanya?"
"Kau tidak tahu, racun ulat emas yang dimiliki suhuku semuanya
berjumlah tiga macam, ini adalah jenis yang paling kecil, semestinya
seluruh darah segar dalam tubuhnya baru akan terhisap kering di
dalam lima jam, siapa tahu ternyata orang ini berhasil memaksa racun
ulat emas itu terdesak ke arah otak..."
196
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Dengan begitu apakah kematiannya akan datang jauh lebih cepat
lagi?..."
197
Saduran TJAN ID
Jilid 9
GADIS BERGELANG EMAS itu segera menggeleng.
"Dengan kejadian ini maka racun ulat emas yang mengeram
dalam tubuhnya, dalam waktu dua jam lagi bakal mati semua..."
Ia merandek sejenak, lalu katanya lagi :
"Sebab ulat-ulat emas itu adalah binatang pemakan darah,
andaikata tak ada darah yang dimakan maka racun ulat emas itu bakal
mati dengan sendirinya."
"Ooooh karena itulah siaocia hendak mendesak ulat-ulat emas itu
kembali ke jantung?" seru Sioe To menjadi paham.
"Sedikit pun tidak salah, aku memang hendak berbuat demikian!
Coba lihat bukankah di atas wajahnya sudah tidak terlihat tanda-tanda
warna emas lagi bukan?"
"Aaaah....!" mendadak Chee Thian Gak merintih, kemudian
merangkak bangun dari atas tanah.
Rupanya gadis bergelang emas itu tidak menyangka kalau
pemuda she chee itu bisa mendusin demikian cepatnya, ia terperanjat
dan segera serunya :
"Kau... kau bisa merangkak bangun?"
Perlahan-lahan Chee Thian Gak membuka matanya, ketika
menjumpai seorang gadis bergelang emas dengan dandanan yang
aneh sedang berdiri di hadapannya, ia segera menegur dengan nada
tercengang :
"Siapa kau? Tempat manakah ini?"
"Aku bernama Pek-li Cien Cien, dan siapa kau?"
198
IMAM TANPA BAYANGAN II
"Cayhe..."
Mendadak ia rasakan perutnya teramat sakit seolah-olah ada
seekor ular yang sedang menggigit ususnya, ucapannya seketika
merandek. Sambil tarik napas dalam-dalam ia segera salurkan hawa
murninya mengelilingi seluruh badan dan mulai bersemedi.
Dalam waktu singkat wajahnya telah berubah jadi merah padam,
jubah merah yang dikenakan perlahan-lahan ikut mengembung,
himpunan hawa murni yang amat dahsyat dengan mengikuti
peredaran darahnya menyerang ke arah bagian tubuhnya yang terasa
amat sakit.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Mesum Dewasa : ITB 9 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments