Cerita Dewasa Silat ITB 2

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Dewasa Silat ITB 2
Cerita Dewasa Silat ITB 2
Baca Juga:
"Keparat cilik, cucu kura kura! cuma semburan Huncwee
saja kau tak kuat, rupamu benar benar tak tahu akan ilmu
silat? bagus, bagus! hey setan cilik yang pintar kali ini kau
telah membantu diriku" Seru Ouwyang Gong seraya
busungkan perutnya yang buncit. walaupun Cayhe tidak
tahu akan ilmu silat belum tentu aku sudi menolong kau
untuk lolos dari kurungan" Gerutu Pek In Hoei sambil
mengusap airmatanya. Sebab menolong manusia macam
kau, sama artinya menuangkan bibit bencana bagi umat
manusia"
"Plaaaak! dengan hati mendongkol Ouwyang Gong
tepuk perutnya keras2. "Kentut nenekmu yang bau! bangsat
telur busuk. belum pernah aku orang she Ouwyang dimaki
orang seperti ini hari, kamu memang telur busuk cilik yang
memuakkan".
Huncwee gedenya diangkat lalu laksana titiran angin
puyuh ia ayun senjatanya kemuka menghajar jalan darab
bisu ditubuh Pek In Hoei, kemudian tangannya diayun dan
diputar, seketika itu juga badan sianak muda tadi kena
dihantam sampai mencelat kebelakang sejauh empat depa
dan jatuh terbanting diatas lantai keras.
"Hey ! Huncwee gede, epa yang hendak kau lakukan?"
Teriak Hee Siok Peng dengan hati gemas.
"Hnimm sialan kurang ajar belum pernah aku jumpai
keparat cilik yang dungu dan bloon macam dia, cucu kura
kura berani benar dia maki aku Hmmm! kalau menuruti
tabiatku pada masa lalu dari tadi nyawanya sudah
kucabut".
Hee Siok Peng tertawa geli.
"Masa sudah begitu tua, kau masih punya nyali untuk
layani seorang bocah cilik... hu... sungguh tidak tahu malu
kemudian dengan wajah serius, tambahnya
"Aku membawa dia datang kemari untuk menolong
dirimu kalau sampai kau bikin dia dongkol dan tak mau
membukakan sarang laba-laba bagimu.... aku tidak tahu
lhoo akan kulihat bagaimana caramu untuk berjalan keluar
dari situ Ouwyang Gong melegak, biji matanya brputar
putar dan akhirnya ia pentang mulut yang lebar tertawa
terbahak-bahak. Haaaaa .... haaaaa .... haaa . . . aku kan
cuma ajak dia bergurau saja, cuma guyon begitu saja lantas
dia marah sama aku !".
"Cissssss, siapa kesudian melihat tampangmu cengar
cengir macam kuda meringis"
Jengek Hee Siok Peng sambil mencibirkan bibirnya.
Ia maju menghampiri Pek In Hoei dan menariknya
bagun dari atas tanah.
"Jangan gubris dia lagi, dia sedang pura2 edan !'
"Hey, sahabat cilik, tadi aku cuma ajak kau guyon, tentu
kau tidak marah sama aku bukan ?" buru buru Ouwyang
Gong berteriak dengan hati gelisah.
Menyaksikan jenggot Ouw yang Gong tiada hentinya
bergetar ditambah pula wajahnya menunjukkan rasa sesal,
hawa gusar dan rasa mendongkol dalam hati Pek In Hoei
seketika itu juga lenyap tak berbekas, ia gelengkan
kepalanya."
"Sudah .... sudahlah, aku tak ingin banyak ribut dengan
dirimu, kau tak boleh panggil aku dengan sebutan sahabat
cilik aku bernama Pek In Hoei".
"Bagus .... bagus namamu Pek In Hoei memang sangat
bagus dan menarik !".
Seraya berkata matanya melirik Hee Siok Pcng dan
perlihatkan muka setan,
"Hey setan cilik yang pintar, hebat juga penglihatanmu ".
"Cisssss! kau situa bangka yang tidak tahu diri, makin tua
makin menjadi . . .
Saking malunya digoda, air muka gadis itu berubah jadi
merah jengah, tak sanggup ia teruskan kata katanya,
"Baik .... baiklah anggap saja perkataanku sebagai
kentut busuk yang baru dilepaskan !" tukas Ouw yang Gong
cepat.
Air muka Hee Siok Peng berubah semakin merah, sambil
mendepak-depakkan kakinya keatas tanah ia tarik tangan
Pek In Hoei untuk diajak pergi dari situ.
"Ayoh kita pergi dari sini? jangan pedulikan dia lagi biar
dia terkurung seratus tahun lagi
"Heeeee heeeeey heeeeey... jangan pergi dulu. jangan
pergi dulu " Ouw Yang Gong jadi cemas." Pek in Hoei
coba kau kesinilah, aku hendak menyampaikan sesuatu
kepadamu !".
Sianak muda itu berhenti dan berpaling memandang
siorang tua aneh itu. "Pek In Hoei inginkah kau belajar silat
??? kalau mau, sekarang juga angkatlah aku sebagai
gurumu.
"Terima kasih atas kebaikanmu, aku tidak ingin belajar
silat".
"Apa ??? kau tidak mau belajar silat ? goblok.. Tolol...
Dogol... Blo'on...! hey cecunguk cilik dengan memiliki ilmu
silat, segala penjuru kolong langit bisa kau kunjungi,
Kenapa kau tidak mau menerima tawaranku"
Pek In Hoei tetap gelengkan kepalanya berulang ulang
kali,
"Watakku memang tidak suka belajar silat.”
"Kalau kau tidak belajar silat, mana bisa Mengimbangi
kenakalan sisetan Cilik yang banyak itu? bukankah kau
bakal digoda dan dianiaya terus menerus olehnya?"
"Cissssss !" kembali Hee Siok Peng mendengus sambil
cibirkan bibirnya yang kecil. "Memang sudah jadi
kenyataan bahwa gading tidak akan didapatkan di tubuh
anjing! Huuuuu... sialan !"
Ouw yang Gong garuk garuk kepalanya sambil
menyengir, lama sekali ia putar otak akhirnya ujarnya lagi:
"Pek In Hoei, aku bisa menjadikan kau bagai manusia yang
paling kosen diseluruh kolong langit Dengan pandangan
menjengek Pek In Hoci melirik sekejap kearah Ouw yang
Gong lalu jawabnya :
"Kalau kau sendiri adalah manusia omor wahid di
kolong langit mengapa dirimu bisa di kurung orang
ditempat ini?"
"Apa maksudnya... maknya.. telur busuk... cucu kura
kura...."Kontan Ouw yang Gong mencak mencak dan
memaki kalang kabut. "Hee Giong Lam situa bangka jelek
itu adalah manusia terkutuk yang rendah martabatnya....".
"Hey, huncwee gede, kau berani memaki ayahku?" tukas
Hee Siok Peng naik darah.
"Eeeeeeeei .... eeeeeei ... aku salah omong baik . . baiklah
. . tadi aku memang sudah salah omong, aku lupa kalau
ayahmu adalah orang paling paling baik didalam jagat .
orang yang paling mulia kolong langit maaf yaah nona cilik
yah heeeeh heeeh"
Bicara sampai disitu orang tadi menghela nafas panjang,
tambahnya:
”Selama hidup aku Cuma setu kali ini saja jatuh ke
cundang ditangan orang lain, siapa suruh aku adu
kepandaian melepaskan racun dengan Rasul Bisa Hee
Giongiok Lam kemari...” serunya ”aku malah terkurung
didalam gua ini ... ..Neneknya aku bener bener lagi sial .... "
Tingkah laku Ouw-yang Gong yang lucu menggelikan
itu seketika memancing gelak tertawa dari Pek ln Hoei. tak
kuasa lagi pemuda itu tertawa terbahak bahak.
”coba kau pikir" kembali Ouwyang gong mengomel.
"Dengan kepandaian silat yang kumiliki masa tidak
mampu untuk memutuskan kedelapan lembar sarang laba
laba itu ? Selama bidup aku paling mengutamakan pegang
janji sekarang iku sudah terlanjur berjanji selamanya tak
akan kusesali lagi. Begitu pula dengan peristiwa yang telah
terjadi, karena aku suiah terlanjur berjanji bahwa
seandainya bukan orang tak mengerti ilmu silat yang
membantu aku membuka serang laba laba tersebut aku
tidak akan keluar maka selama ini aku sabar terus menanti.
Eeeeei siapa tahu sekarang muncul kau yang tak tahu ilmu
silat hendak bantu aku untuk memutuskan sarang laba laba
itu, sebagai rasa terima kasihku aku hendak mewariskan
ilmu silatku kepadamu. Aaaaai.. tak tahunya kaupun tak
sudi menerima tawaranku ini"
la menghela napas panjang, kepalanya kembali digaruk
garuk, lama sekali si huncwee gede Ouw yang Gong
membungkam dalam seribu bahasa.
"Hei!" tiba-tiba ia berseru. Kau tak suka jadi muridku,
bagaimana kalau anggap saja aku sebagai sahabatmu? Akan
kuwariskan seluruh kepandaian silatku kepadamu
.bagaimana ? Tentu kau mau bukan?"
Hee Siok Peng mendengus dingin. “Hmmm ! Huncwee
gede siasat setanmu itu kuketahui semua, kau hendak
hadiahkan seluruh kepadaian silatmu kepadanya? kau
sendiri berubah jadi tak pandai ilmu silat, dalam keadaan
begitu kau bisa putuskan sendiri sarang laba laba itu agar
tidak hutang budi sama orang lain. Hmm jangan mimpi kau
bisa berbuat begitu!"
Pek In Hoei yang ikut mendengarkan pembicaraan itu
segera tertawa getir. “Aku memang betul betul tidak ingin
belajar ilmu silat."
Ia merandek sejenak lalu tambahnya:
"Tapi aku suka membantu kau untuk memutuskan
sarang laba laba itu"
"Sungguh ? Sungguhkah perkataanmu itu ? " Dengan
sepasang mata Terbelalak besar Ouw-yang Gong berteriak
kegirangan.
Pek ln Hoei manggut2, perlahan lahan ia maju
mendekati sarang laba laba itu dan bersiap
memutuskannya, namun dengan cepat perbuatannya itu
dicegah oleh Hee Siok Peng
Sambil mengerdipkan matanya kearah pemuda itu, ujar
sang gadis.
Seandainya kau membantu dia untuk memutuskan
sarang laba laba itu, maka sekeluarnya dari kurungan dia
pasti akan memusuhi perguruan seratus racun kami, jikalau
dikemudian hari ayahku mencari kau untuk
mempertanggung jawabkan persoalan ini apa yang hendak
kau lakukau?" Pek In Hoei kau tidak usah takut" teriak
Ouw yang Gong sambil putar huncwee gedenya sehingga
menimbulkan deruan angin puyuh yang amat santar. Kalau
rasul bisa sitelur busuk tua itu berani cari gara2 dengan
dirimu, maka sihuncwee gede akan hantam tubuhnya
sehingga ia terkencing2 saking takutnya!".
Menyaksikan Hee Siok Peng sedang melototi dirinya,
kakek tua itu buru-buru julurkan lidahnya dan
membungkam.
Lama sekali ia berdiam diri akhirnya sambil putar
sepasang biji matanya ia berkata:
Hey Pek In Hoei, kalau kau suka memutuskan sarang
laba laba itu dan menolong aku lolos dari kurungan, setelah
keluar dari tempat ini akan kululusksn tiga permintaanmu!"
Pek In Hoe tidak langsung menjawab, ia berpikir
sebentar kemudian mengangguk.
Baik ah ! kita tentukan dengan sepatah kata itu
Seraya berkata pemuda itu maju selangkah kedepan,
dalam Sekejap mata kedelapan lembar sarang laba-laba tadi
sudah dibetot sampai putus. Ouw yang Gong bersuit
nyaring, tubuhnya laksana hembusan angin puyuh
meluncur keluar dari dalam gua, diiringi huncwee gedenya
berputar kencang, bangunan gua itu seketika hancur
berantakan dan roboh keatas tanah ia tertawa terbahakbahak.
teriaknya :
"Akhirnya aku berhasil juga lolos dari kurungan, ini hari
juga akan kuhajar sianak bisa, si cucu bisa dari Hee Giong
Lam si telur busuk tua itu "
Badannya berkelebat, sambil mengempit tubuh Pek In
oei bagaikan sambaran kilat loncat keluar dari gua dan lari
kearah puncak Pek-Giok Hong Waktu itu tengah bari sudah
tiba sang surya memancarkan cahayanya dengan terang.
Dari balik gua batu terdengar teriakan serta seruan Hee
Siok Peng berkumandang keluar, diikuti gadis itu muncul
sambil berlari-lari. Tapi, Pek In Hoei sudah dibawa Ouwyaug
Gong loncat keluar dari gua terebut.
Selama hampir tujuh belas tahun lamanya Ouw- yang
Gong terkurung didaiam gua, sedikit kebebasanpun tak ada.
Kini setelah lolos dari kurungan, dengan amat girangnya ia
tertawa terbahak bahak dan lari kesana kemari seperti orang
gila.
Sungguh cepat lari orang aneh itu, Pek In Hoei yang
dibawa lari merasakan pandangannya kabur, undak
undakan batu yang menghubungkan bawah bukit dengan
mulut gua serasa berlalu dengan cepatnya, tekanan hawa
udara yang menyambar tubuhnya membuat dia jadi sesak
napas.
Mendadak sianak muda itu menyaksikan Hee Siok Peg
muncul dari balik gua dan segera terjun ke bawah bukit
tanpa mengikuti undak undakan batu itu.
Hatinya jadi sangat terperanjat.
"Siok Peng, kau...." jeritnya.
Waktu itu ouw-yang Gong mengempit tubuh Pek In
Hoei dengan tangan kirinya dia sedang siap meloncat
kebawah, rontaan si anak muda itu secara tiba tiba sangat
mengejutkan hatinya, hampir hampir saja cekalannya
terlepas.
"Neneknya, cucu kura kura, kau pingin cari mati."
kontan makian kotor meluncur keluar dari mulut kakek itu
kepitannya diperkencang, huncwee gede ditangan kanannya
mendadak meluncur kemuka menghantam undakan batu
Tring .... Ditengah percikan bunga api dengan meminjam
tenaga pantulan tadi daya luncur badannya yang amat cepat
seketika tertahan.
Dalam pada itu Pek in Hoei yang kena kempit Ouw-yang
Gong keras keras, merasakan tulang badannya seakan akan
mau patah, segera teriaknya keras keras:
"Aduuuh tulang badanku seakan akan mau remuk kena
jepitanmu yang keras eeei! Lepaskan aku... , cepat 1epaskan
aku .... "
"Bocah dungu, jangan ribut. aku sudah mengerti apa
yang sedang kau cemaskan."
Dengan enteng dan sebat badan mereka berdua berputar
satu lingkaran ditengah udara, lalu berjumpalitan dan
akhirnya melayang turun keatas permukaan tanah dengan
enteng, begitu tiba dibawah Pek In Hoei segera dilepaskan.
Separuh badan sianak muda itu terasa hampir kaku,
dengan langkah gentayangan ia mundur beberapa langkah
kebelakang, lalu dengan hati cemas perhatiannya dialih kan
keatas puncak.
Tampak tubuh Hee Siok Peng dengan ringannya sedang
melayang turun kebawah bajunya berkibar terhembus
angin, begitu cantik dan menarik seakan akan bidadari yang
baru turun dari kayangan.
Ouw-yang Gong tertawa terbahak bahak bajunya yang
lebar dikebaskan keatas, Segulung angin pukulan yang
lunak segera menghembus keluar, terasa pandaogan jadi
kabur tahu2 Hce Siok Peng telah tiba diatas permukaan
tanah.
Budak cilik, sungguh besar nyalimu Teriak Ouw-yang
Gong sambil menyambar pergelangan gadis itu. Berani
betul kau loncat turun dan tebing yang begitu tinggi bila kau
tidak takut patah tulang kakimu Hmmm kalau toh mau
mengejar anak laki2, masa nyawa seudiripun tidak diurusi
Wajah Hee Siok Peng yang semula pucat bias bagaikan
mayat seketika berubah jad merah padam setelah kena
dimaki oleh Ouw yang Gong, ia kebas tangannya
melepaskan diri dari cekalan manusia aneh itu, kemudian,
serunya jengkel :
"Cisss Makin tua tambah makin menjadi, dasar tua tua
keladi, omongannya makin lama makin tidak keruan, hati
hati kurobek lidahmu itu"
"Hmmm ! Kau berani berbuat begitu terhadap loohu ??
Heeeh . . ceeeh heeeh . seketika ini juga akan kubawa bocah
dungu tersebut pergi dari sini !"
"Kau berani ?" Dengus Hee Siok Peng dengan wajah
merah padam, sikapnya sangat aneh.
Rupanya sikap aneh gadis itu menakutkan hati Ouwyang
Gong, wajahnya langsung berubah jadi serius
"Tidak berani... aku tidak akan berani berani lagi "
serunya berulang ulang kali.
Menyaksikan tingkah laku Ouw-yang Gong yang lucu
serta teringat sikap gelisah yang diperlihatkannya tadi,
dengan senyum malu Hee Siok Peng melirik sekejap kearab
Pek in Hoei.
Dalam pada itu sianak muda tadi sedang berdiri melongo
sambil memperlihatkan gerak gerik kedua orang itu, tatkala
melihat Hee Siok Peng tersenyum malu sambil melirik
kearahnya, ia makin tertegun, matanya sampai terbelalak
lebar dan mulut nya melongo
"Eeeei .... kenapa kau ??" Tegur sang gadis dengan cepat.
Pek In Hoei kaget, cepat cepat ia melengos kesamping
dengan muka merah jengah pada saat itu pula sianak muda
ini menemukan adanya sesosok bayangan hitam laksana
kilat melayang tiba.
Wajahnya makin terperanjat, mulutnya membuka makin
lebar Belum sempat ia berteriak Ouw yang Gong sudah
berkata:
"Hmm . dikoloog langit tidak ada gadis yang punya
muka begitu tebal macam kau, tidak aneh kalau si racun
tua...."
"Hmmm, siuler asap, kau berani memaki putriku ?"
Dengusan dingin berkumandang datang disusul munculnya
seorang kakek tua di tempat itu
"Neneknya. . cucu kura kura . . hey racun tua, kebetulan
sekali kedstanganmu ... " Teriak Ouw-yang Gong begitu
berjumpa dengan kakek berbaju hitam itu, huncweenya
langsung diayun ketengah udara menghantam batok kepala
orang itu.
”Racun tua sialan, coba rasakan dulu kemplangan
huncweeku Ini"
Kakek tua berbaju hitam itu mendengus dingin,
badannya berkisar kesamping sejauh empat depa, kedua
jarinya diayun mendatar kemuka dan ... Criiit . . ! Ia
hantam datangnya ancaman buncwee itu.
Ouw-yang Gong mendesis rendah huncwee gedenya
mendadak ditekan kebawah, laksana seekor ular berbisa
senjata itu meletik kemuka lalu membabat kedua jari lawan.
Kakek tua berbaju hitam tu tidak sudi dirinya termakan
api dalam huncwee tersebut, sambil mencaci maki buru
buru ia melengos kesamping.
“Ular asap sialan bajingan tua. hatimu betul betul amat
keji ... ”Ditengah bentakan keras, tangan kanannya berputar
membentuk satu lingkaran busur lima jari tangan kirinya
dipentang lebar lalu menghantam keluar dengan jarak ini
burung merak mementang sayap.
"Heeeb . heeeh . . heeee . ecee jurus burung merak
mementang sayap yang amat indah" Ejek Ouw-yang Gong
sambil tertawa aneh. "Coba kau lihat gerakan Ular racun
melepasku kentutku !"
Huncweenya digetarkan kemuka, serentetan bayangan
hitam segera menyapu udara seakan akan menempel diatas
telapak lawan ia bendung datangnya ancaman lima jari
lawan,
Jilid 3
MENGIKUTI bergesernya tubuh sekilas bau busuk
menyebar keangkasa, ampas tembakau yang masih terbakar
dalam lubang hunewee itu tahu tahu meluncur keluar,
menerobos sela sela telapak lawan menghantam dada
lawan. Kakek tua berbaju hitam itu tidak sempat berkelit,
seketika itu juga baju hitam bagian dadanya kena terhajar
ampas tembakau tadi dan mulai terbakar.
Dalam sekejap mata muncul sebuah lubang besar diatas
jubah hitam kakek itu untung dengan cepat ia berhasil
mendekamkan jilatan api sehingga selamatlah dia dari
ancaman terluka.
Terdengar Ouw yang Gong mendongak, dan tertawa
terbabak-bakak.:
".Haaaaaa...... haaaa...... haaaa........ racun?"
Tua sialan, bagaimana dengan gerakan Ular racun
melepaskan kentutk u ini? Air muka kakek tua berbaju
hitam itu kontan berubah jadi hijau membesi tangan
kanannya balik menyentil, ampas tembakau yang masih
menempel diatas bajunya segera rontok ke tanah.
"Ular asap tua kepandaian yang barusan kau tunjukkan
benar benar mencerminkan rendahnya martabatmu.
Hmmm, tak ubahnya seperti maling maling terkutuk."
Senyuman yang menghiasi wajah Ouw yang Gong
kontan lenyap tak berbekas, air muka nya berubah jadi
serius.
"Kentut busuk nenekmu . ... selama tujuh belas tahun
aku harus menekan rasa marigkel dan dongkolnya terhadap
dirimu, apa salahnya kalan sekarang kuperseni sebuah
ketukan keatas tubuhmu? jangan kau bangkitkan
kegusaranku....... Hmmmm ! dari
pada kubakar lembah racun tengikmu ini sehingga jadi
abu.
Dalam pada itu Pek In Hoei sudah dibikin melongo oleh
makian makian o«ang aneh ini, dengan alis berkerut
pikirnya :
"Orang tua ini benar benar seorang makhluk anen, kalau
bicara otaknya sama sekali tak pernah digunakan, bukan
saja makiannya kotor bahkan tidak pakai aturan . .
"Sedang Hee Siok Peng dengan wajah cemberut telah
berteriak ;
"Hey siluman tua, kau berani mencaci maki ayahku !".
"Hmm kalau bukan sibisa tua kentut neneknya yang
mulai dulu ".
"Kau berani maki ayahku dengan kata kata yang kotor?
coba sekali lagi, akan kulihat
"Aaaaaaaaah... tidak berani, tidak berani nyonya muda,
harap kau suka maafkan diriku !
"Dengan menjulurkan lidahnya, cepat cepat Ouw yang
Gong menjura Menyaksikan tingkah laku yang aneh itu
Pek In Hoei merasa tercengang, ia heran kenapa Ouw yang
Gong yang memiliki kepandaian silat amat tinggi ternyata
begitu takut dengan Hee Siok Peng.
Sementara itu sikakek berbaju hitam itu sudah alihkan
sinar matanya kearah Pek In Hoei, ia mendengus dingin.
"Hey keparat cllik ! kaukah yang memutuskan sarang
laba laba dan melepaskan sisetan ular asap ini ?".
"Heeeeh... heeeeeh... hceceeh... kau kira aku bisa kau
kurung selama delapan puluh tahun Sehingga modar dalam
gua itu?" Ejek Ouw yang Gong dengan nada bangga. "Tak
nyana bukan akhirnya muncul juga seorang bocah yang tak
pandai ilmu silat untuk menolong aku lolos dari
kurungan?".
"Hmmm ! siapa kau ?? secara bagaimana kau bisa tiba
disini."
Kakek berbaju hitam ini tidak menanyakan apakah Pek
In Hoei pandai bersilat, jelas hal ini menunjukkan bahwa ia
percaya pada setiap patah kata yang diutarakan Ouw yang
Gong. Sebab selama tujuh belas tahun dengan andalkan
kedelapan lembar sarang laba laba itu ia berhasil
mengurung manusia aneh itu tidak mungkin setelah lewat
sebegini lama tiba tiba saja ia ingkar janji.
Pek In Hoei yang ditegur cuma melirik se kejap kearah
kakek berbaju hitam itu, kemudian sama sekali tidak
menggubris.
Air muka Kakek berbaju hitam itu kontan berubah jadi
membesi, kulit wajahnya berkerut kencang.
"Siok Peng, bagaimana caranya ia masuk kemari?"
hardiknya.
"Ayah, dia... dia..." merah jengah selembar wajah Hee
Siok Peng.
"Hmrnmmm ! kenapa dia ?? ayoh cepat jawab!".
Menyaksikan keadaan Hee Siok Peng yang patut
dikasihani, timbul perasaan tidak enak dalam hati Pek In
Hoei, dengan cepat ia ms nyela :
"Cayhe Pek In Hoei datang kemari dengan berjalan kaki
!"
"Darimana kau datang? bagaimana cara mu menyusup
kemari?" kembali kaksk berbaju hitam itu menghardik,
sementara tangan kanannya perlahan-lahan diangkatnya
keatas
Hey cucu monyet situa bangka berbisa, kau hendak
menganiaya bocah cilik" Teriak Ouw yang Gong.
"Reeeeeb... heeeeh... heeeh ... kau harus ingat bahwa dia
sama sekali tak mengerti akan ilmu silat !".
Telapak tangan kakek berbaju hitam yang diangkat
ketengah udara itu lambat laun berubah jadi hitam pekat,
dibawah sorotan sinar sang surya tampak sangat
mengerikan.
Heeeeeeh... heeeeeeh... heeeeeeh... ilmu pukulan
beracunmu tetap seperti sedia kala, sudahlah tak usah kau
pamerkan kekuatanmu di depan mata seorang boanpwee"
ejek
Ouw yang Gong kembali."Mari... mari.sini akan ku jajal
keiihayanmu itu, aku mau tahu apakah ilmu pukulau
beracunmu mendapat banyak kemajuan !'
Bicara sampai disini ia tarik Pek In Hoei kebelakangan
dan tambahnya ;
"Ayoh cepat menyingkir kesamping situa bangka berbisa
ini lebih keji dan seekor srigala, justru karena hatinya licik
dan pikirannya jahat itulah maka ia berbasil jadi ketua? dari
perguruan Seratus racun
"Apa ? dia adalah ketua dari perguruan! Seratus Racun??
Jadi Hee Siok Peng.....".
"Tolol benar kau ini apa kau benar tidak tahu kalau
sisetan cilik berakal cerdik itu adalah anak gadis tua bangka
ini? dia anak si Rasul bisa Hee Gicmg Lam".
Biji matanya berputar, dengsn bibir senyum tidak
senyum terusnya:
"Aku pun sama sekali tidak mengira kalau? situa bangka
beracun cucu kunyuk ini bisa mempunyai seorang anak
yang cantik jelita bagaikan sekuntum bunga mawar,
Heeeeeh...
heeeeeeeh... heeeeeeeeh..... rupanya inilah keuntungan
serta kejujuran nenek moyang cucu kunyuknya
Selama Ouw yang Gong, mengucapkan beberapa patah
kata itu, air muka si Rasul bisa Hee Gong Lam telah
berubah beberapa kali hampir hampir saja ia muntah darah
saking gusarnya. Sambil meraung keras teriaknya :
"Setan asep tua, rasain sebuah bogen mentahku !".
Padannya meluruk kedepan, segulung angin pukuian
yang tajam bagaikan bauatan golok disertai bau amis yang
memuakkan segera menyambar kemuka.
"Cepat mundur rada jauhan dari sini!' Seru Ouw yang
Gong sambil tarik Pek In Hoei mundur sepuluh langkah
kebelakang. .Jangan biarkan badanmu termakan oleh angin
pukulan beracunnya yang jahat
Sembari berbicara huncwee gedenya diselipkan kedalam
pinggang, lalu dengan mendorong sepasang telapaknya ia
sambut datangnya ancaman.
Angin pukulan berpusar yang maha dahsyat segera
menyambar kedepan, diiringi desiran tajam la sambut
datangnya serangan lawan.
Bruuuk .... Bruuuk . . . Buuuuk dalam tiga kali
bentrokan dahsyat badan Ouw yang Gong maju delapan
langkah kemuka secara beruntun, diatas permukaan
tanahpun muncul delapan buah bekas telapak kaki yang
dalam dan nyata.
Sungguh mengerikan telapak tangan Hee Giong Lam,
kian lama warna hitam yang muncul diatas tangannya
berubah semakin pekat, sorotan mata yang buas dan bengis
menyeramkan bagi yang memandang otot otot hijau yang
besar dan kasar menonjol keluar diseluruh badan.
"Hmmm !" Ouw yang Gong mendengus erat, bulu
kambing berwarna pulih diatas ekujur badannya pada
menegang keras, seakan2 duri landak yang menghadapi
bahaya. Butir2 keringat sebesar kacang kedele membosahi
wajah Hee Giong Lam, air muka semakin lama berubah
semakin pucat.
Tiba2 rambut Ouw yang Gong yang awut awutan
menegang semua, bagaikan banteng mengamuk ia
menerjang kemuka, sepasang telapak digetarkan keluar dan
bentaknya keras keras:
"Pergi kedalam liang kubur nenekmu!"
Kaki Hee Giong Lam jadi gontai, termakan oleh tenaga
dorongan yang maha dahsyat tadi kontan badannya
melayang sepuluh tombak kehelakang dan hampir2 saja
roboh keatas tanah.
"Hmmm! selama tujuh belas tahun tidak berjumpa,
ternyata ilmu pukulan beracunmu tak memperoleh
kemajuan apapun jua jengek manusia aneh itu seraya
menghembuskan napas panjang.
Badannya maju semakin kedepan, seraya ayun
huncweenya tiba2 ia membentak kembali :
"Coba kaupasn rasakan jurus seranganku ini ".
Bayangan huncwee menyambar lewat, dari suatu posisi
dan arah yang sangat aneh ia lepaskan satu serangan maut,
perawakan badannya yang tinggi berputar kencang
bagaikan sebuah kitiran, seketika itu juga bayangan
huncwee jadi kabur dan memusingkan pandangan
Hee Giong Lam mendengus berat, badan nya mundur
sempoyongan kemudian berjumpalitan sampai beberapa
kali, tak bisa dikuasai lagi badannya terlempar sejauh tujuh
kaki lebih.
"Ayah!" jerit Hee Siok Peng, Tak bisa ditahan tagi ia lari
menghampiri kakek tua itu.
Dengan wajah hijau membesi Hee Giong Lam loncat
bangun dari atas tanah,
"Kepandaian apakah yang kan pergunakan?" teriaknya.
"Heeeeeeh... heeeeeh... heeeeeh... kenapa sih? Oooh I
kurang cukup jatuh berjumpalitan sebanyak empat puluh
kali?" Ouw yang Gong sambil tertawa mcnyengir. "Hmmm!
seandainya aku tidak memandang diatas wajah putrimu
yang kau sayangi, dari tadi aku sudah suruh kau rebah
terlentang aiatas tanah l".
"Hmmm ini hari, kaupun jangan harap bisa keluar dari
lembah Seratus Racun dalam keadaan selamat sinar
matanya berkedip, tambahnya: "Disekitar tempat ini aku
sudah persiapkan dua ratus orang anggota perguruanku
mereka telah bersiap sedia menyambut kau dengan lima
buah basisan beracun. Heeeh..... heeeeeh..... heeeh . .
sekalipun kau punya, tidak nanti dapat lolos dari sini tanpa
kekurangan sesuatu apapun jua .Hee Giong Lam masih
ingatkah kau dengan perjanjian yang telah kita tetapkan
pada tujuh belas tahun berselang?"
.
"Siapa yang lupa dengan janji? bukankah kita sudah
berjanji asal kau dapat menahan daya kerja racunku selama
dua hari maka akulah yang dianggap kalah, kalau tidak kau
sendiri yang harus masuk kurungan, sebelum ada orang
yang tak pandai bersilat memutuskan sarang laba laba
diluar gua, kau tak boleh keluar dari tempat itu
"Haah...... haaah..... haaaaah....." I
"sekarang? bukankah aku berhasil ditolong oleh seorang
yang tak mengerti silat dan berarti aku sudah bebas
merdeka
"Sedikitpun tidak salah" Dengan pandangan bengis dan
mendongkol Hee Giong Lam melirik sekejap ke arah Pek In
Hoei.
"Hey manusia laknat ! "Teriak Ouw yang Gong dengan
wajah senus. "Perbuatanmu ini. bukankah sama halnya
telah mengingkari janji?"
"Siapa yang ingkar janji? bukankah aku tak pernah
berkata bahwa aku akan melepaskan orang yang telah
menolong dirimu itu !"
Oow yang Gong melengak, hawa gusar seketika itu juga
memuncak, dengan alis berkerut makinya :
"Tua bangka beracun yang tak tahu diri, keturunan
kunyuk jelek! hebat sekali aroma tusukmu, tidak aneh kalau
Siauw Hong..."
"Apa kau bilang? kenapa dengan Siauw Hong?" Air
muka si rasul bisa Hee Giong Lam kontan berubah hebat,
sorotan mata bengis memancar keluar dari sepasang
matanya.
Rupanya Ouw yang Gong sadar bahwa ia sudah
terlanjur bicara, mulutnya segera membungkam sementara
tangan kirinya garuk garuk kepala yang tidak gatal.
Dalam pada itu Hee Giong Lam telah mendesak maju
semakin dekat, kembali ia berteriak:
"Hey siular asep tua, kalau kau tidak terangkan sampai
jelas maksud perkataan itu, ini hari juga aku akan mengadu
jiwa dengan dirimu, meskipun perguruan seratus racun
harus musnah, tidak menanti kubiarkan kau berlalu dari
sini!".
"Manusia she Hee I tak usah kau jua! lagak dihadapanku
! akan kusuruh kau rasakan lagi kelihayan dari jurus
membolak balik jagadku, agar kau rasakan lagi bagaimana
kalau badan terbanting sampai dua belas kali".
"Ehmmm, tak kunyana selama terkurung disini tujuh
belas tahun lamanya, ternyata kau berhasil melatih
kepandaian silat semacam ini
Matanya melotot, dengan gemas terusnya:
"Tapi kalau kau ingin mengandalkan kepandian tersebut
untuk tinggalkan tempat ini
hmmm masih belum cukup, kecuali kalau kau bisa
membinasakan segenap anak murid perguruan racunku !"..
"Ayah kenapa kau" Teriak Hee Siok Peng dengan badan
gemetar keras.
"Enyah dari sini!" Tukas Hee Giong Lam sambil balik
badan. "Siapa suruh kau banyak mulut ditempat ini?".
Hee Siok Peng kelihatan melengak dan berdiri melongo,
akhirnya sambil menutupi wajahnya menangis ia lari dari
situ.
Pek In Hoei jidi amat gusar menyaksikan hal tersebut,
mendadak ia maju kemuka dan membentak keras :
"Tunggu sebentar"
Dengan pandangan tercengang Hee Siok Peng berhenti
dan menoleh kebelakang, titik air mata jatuh berlinang
membasahi pipinya yang halus.
Sinar mata Pek In Hoei perlahan-lahar beralih dari atas
tubuhnya yang halus keatas wajah Si Rasui Bisa Hee Giong
Lam, rasa gusar yang membara dalam hatinya
melenyapkan rasa jeri dan takut dalam hati sianak muda
ini, bentaknya dengan nada berat
"Kau seorang ketua dari suatu perguruan besar ternyata
tak bisa membedakan mana benar yang dan mana yang
salah, tidak menepati janji, sudah salah masih saja
menyusahkan Ouw yang cianpwee. Hmmm ! begitukah
tingkah laku seorang Bulim Cianpwee sungguh tidak tabu
malu ! pipimu betul betul tebal"
"Keparat cilik, apa kau bilang?" Teriak Hee Giong Lam
dengan gusarnya.
Aku bilang kau tidak tahu malu, martabat kau sangat
rendah, sudah tahu salah masih ngotot saja . Hmmm kau
hendak gunakan nyawa segenap anak murid perguruan
racunmu untuk kepentingan pribadi kau sendiri .
"In Hoei . . " jerit Hee Siok peng.
Sesosok bayangan hitam bagaikan seekor burung
rajawali, dengan disertai bau amis yang memuakkan
menggulung datang, begitu dahsyat daya tekanan itu
menghantam datang sehingga membuat mulut sianak muda
itu seketika terbungkam,
"Kawanan tikus, kau berani maini bokong!" hardik Ouw
yang Gong penuh kegusaran.
Serentetan bayangan huncwee menyambar keluar,
desiran angin pukulan yang maha dahsyat tadi seketika
terbendung, seakan akan hembusan angin yang berjumpa
dengan diniding besi, sama sekali tak dapat ditembus?.
Bayangan hitam kembali meluncur keluar dengan
tajamnya, diikuti bayangan pertama terlempar kebelakang
dan roboh ketanah.
"Aaaaaaah......" Di tengah jeritan ngeri yang
menyayatkan hati, telapak kiri Ouw yang Gong secara
beruntun telah saling beradu enam kali dengan telapak Hee
Giong Lam.
"Tua bangka berbisa yang tak tahu malu kau betul betul
manusia rendah yang tebal muka" makinya penuh
kemarahan. "Hmmm masa terhadap seorang bocah yang
tidak pandai bersilatpun kau tega turun tangan sekeji dan
sekejam itu !"-
Hee Giong Lam menyusut mundur kebelakang, dengan
cepat ia berpaling, tampak Tong-cu ruang tengah ketiga
anak buah si-cecak merah telah menggeletak mati diatas
tanah termakan sapuan dahsyat Ouw yang Gong.
la tertawa seram, suitan nyaring segera berkumandang
ditengah angkasa . . . dalam sekejap mata segenap anak
murid perguruan yang berdiri mengurung dikejauhan samasama
meluruk datang.
"Atur barisan ular hijau dan berisan kelabang emas!",
Bentaknya keras, kemudian ia berpaling dan bertanya
"Tongcu Kodok putih Bong Giok Keng, di mana kau?".
"Bong Giok Keng menanti perintah " seorang kakek tua
berperawakan kurus kering tampil kedepan dan menjura.
"Kemarin malam kau sudah repot semalam gunung
Tiam Cong, sekarang boleh membawa segenap anak
buahmu untuk pergi beristirahai".
"Terima perintah dari boencu (ketua)" kakek kurus itu
memberi hormat." hadiah dua lembar Hok Leng berusia
seribu tabun serta iga keranjang tawon bersayap hitam
berekor emas dari Go Kiam Lam ketua dari perguruan Boe
Liang Tiong telah tecu bawa
pulang dan serahkan kepada Beng Tiang Keng.
Hok Leng adalah sejenis jamur yang besarnya seperti
kepalan berkulit hitam lagi berkerut dan berdaging putih
kemerah merahan jamur ini bisa dipakai sebagai bahan obat
"Ehmmm, aku sudah tahu, sekarang bcleh pergi
beristirahat".
Menyaksikan Si kodok putih Boog Giok Keng hendak
pergi dari situ. Pek in Hoei jadi gelisah, buru-buru teriak-ya
:
"Berhenti! apakah kau mendapat undangan dari Go
Kiam Lam uniuk pergi kegunung Tiam-cong.
Bong Giok Keng berpaling dan memandang sekejap
kearah Pek In Hoei dengan pandangan dingin, ia
mendengus dan wajahnya memperlihatkan pandangan
hina.
"Apakah tak ada anggota Tiam-cong-pay yang berhasil
lolos dari maut"
Kembali sianak muda itu bertanya. "Hmmm! Tiga ratus
orang anggota perguruan Tiam cong telah terbasmi semua
di muka bumi, tak seorangpun dianantara mereka berhasil
lolos dari cekikan racun atau api serta bacokan senjata.
Sejak kini partai Tiam-cong akan lenyap dari dunia
persilatan !."
Pek ln Hoei merasakan hatinya bergetar keras, kepalanya
langsung jadi pening, tangannya herkunang kunang dan
hampir saja ia jatuh tidak sadarkan diri. matanya basah
kobaran rasa dendam membakar dalam hatinya.
Dengan pandangan membenci ia awasi wajah Bong
Giok Keng, lalu serunya dengan keras :
"Akupun akan memusnahkan sejenap orang yang ada
didalam psrguruan beracun akan kulenyapkan perguruan
seratus racun ini dari muka bumi"
Ia perpaling kearah Hee Giong Lam, de ngan pandangan
gusar teriaknya kembali: Orang she Hee, tunggu saja
saatnya !"
"Heeeh.... heeeh....heeeh... keparat cilik Kaupun anggota
partai Tiam Cong?"
"Kau tak usah banyak bertanya, dalan lima tahun
mendatang aku pasti akan membunuh kau dengan
tanganku sendiri!"
"Ooouw.... tidak !" jerit Hee Siok Peng. "Pek Ia Hoei I
Kau tidak boleh ber buat begitu !"
"Bong Giok Keng.." bentak Hee Giok Lam, "Seret dia
pulang dan serahkan kepada gurunya
Bong Giok Keng mengiyakan, ia segera tangkap anak
gadis itu dan diseretnya pergi dari sana.
Dalam pada itu Pek In Hoei tidak berani terlalu lama
memandang kearah Hee Siok Peng yang digusur pergi
sambil menangis, ia sendiri tundukkan kepalanya rendahrendah
titik airmatapun tanpa terasa mengalir keluar
membasahi wajahnya. Dalam hati ia bergumam seorang
diri:
"Antara aku dengan kau telah berubah menjadi musuh
besar, aku tak dapat berjumpa lagi dengan dirimu ...".
"Boiklah baik, sudahlah jangan menangis lagi." Buru buru
Ouw-yang Gong menghibur? sambil menepuk bahu
pemuda tersebut. Kalau kau benar benar senang dengan
onak itu, apa yang perlu kau takuti lagi? Aku pasti akan
memobntu dirimu dengan segenap tenaga."
"Heeh .. heeh ..... heeh....mau pergi dari sini? Tidak
gampang Jengek Hee Giong Lam dengan wajah bijau
membesi. Ini hari, jangan harap kalian bisa berlalu Sini
dalam keadaan selamat"
Ia ulapkan tangannya, para anggota perguruan seratus
racun sambil membawa sebuah tabung bambu perlahanlahan
maju mendekat.
Sinar mata Ouw-yang Gong berkilat, dengan pandangan
remeh ejeknya:
"Kau hendak menggunakan binatang binatang berbisa itu
untuk menahan kami berdua, jangan mimpi disiang hari
bolong."
Hee Glong Lam tidak menggubris ocehan dari manusia
she Ouw-yang itu., kembali teriaknya keras keras "Ular
beracun keluar dari gua, kelabang emas terbang keangkasa"
Mengikuti teriakan tersebut, anak murid perguruan
seratus racun yang berada dibarisan paling depan sama
sama melemparkan tabung bambu yang mereka cekal
keatas tanah, dalam sekejap mata beratus ratus ekor ular
kecil berwarna emas menyusup keluar dari dalam tabung
bambu itu
"Ngiiing ... " suara aneh yang sangat memekikan tslinga
secara tiba tiba menggema diseluruh angkasa, cahaya
keemas emasan mulai menyelimuti udara dan entah berapa
ribu ekor binatang bersayap emas segera menutupi cahaya
sang surya.
Dengan cepat Pek in Hai menengok keatas ia lihat
binatang kelabang berwarna emas telah memenuhi seluruh
angkasa, bunyi aneh tadipun berasal dari makhluk beracun
ini, air mukanya kontan berubah bebat.
Ouw-yang Gong tidak menjadi gugup dengan cepat ia
merogoh kedalam sakunya ambil keluar sebuah benda
berwarna perak pada sianak muda itu serunya: "Hey bocah,
cepat kenakan tameng kulit emas berwarna perak ini
Pek In Hui sambut benda tersebut yang terbentuk kaus
singlet tapi lunak dan berwarna perak sementara ia masih
ragu ragu untuk mengenakannya dibadan, terdengar Hee
Giong Lam sudah membentak keras:
"Bajingan asep tua Kau berani mencuri mustika
pelindung badanku ?"'
Ouw-yang Gong tertawa mengejek, ia putar huncweenya
melindungi sekeliling tubuhnya, sedang kepada In Hoei
kembali ia berteriak "
"Bocah cilik, ayo cepat kenakan pakaian pelindung itu,
kalau tidak kau akan mati tergigit binatang beracun itu"
Pek In Hoei tidak berani membangkang lagi, cepat cepat
ia kenakan mustika pelindung badan itu keatas badannya.
Melihat sianak muda itu sudah mengena kan mustika
tadi dengan peouh rasa bangga Ouw-yang Gong berseru
lagi:
"Aku telah membuat sebuah lorong bawah tanah yang
menghubungkan ruangan itu dengan gudang hartamu,
semua barang sang paiing berharga dan paling bagus dalam
gudang itu sudah kuambil semua I
"Hmmm...... coba kau lihat, hioloo kecil dari ahala
Toan, piring porselen dari jaman dinasti Han .... "
Sambil berbicara satu demi satu ia ambil keluar barang
barang antik yang tak ternilai harganya itu, setelah
ditunjukkan segera dimasukkan kembali kedalam saku.
Hee Gioag Lam sebagai ketua perguruan seratus racun
memiliki ilmu menggunakan racun yang sangat lihay
sehingga disebut orang sebagai Rasul bisa, selama hidup
belum pernah ia dihina dan dibikin malu orang seperti ini
hari, setelah tadi dibikin jungkir balik dan sekarang diejek
pula dengan kenyataan yang memalukan, darah panasnya
kontan bergolak, hampir hampir saja ia muntah darah.
Mimpipun si Rasul bisa tidak pernah menyangka kalau
Ouw yang Gong bisa menggali sebuah terusan dibawah
tanah yang menghubungkan tempat dimana ia dikurung
dengan gudang harta bahkan mencuri barang barang antik
kesayangannya, untuk sesaat saking dongkolnya tak sepatah
katapun bisa diucapkan keluar.
Melihat musuhnya dibikin keki Ouw-yang Gong
semakin kegirangan, kembali ia mengejek:
"Kita sudah hidup bersama hampir tujuh belas tahun
lamanya, menurut peraturan sudah sepantasnya kalau kau
beri sedikit hadiah kepadaku sebagai tanda mata atau
kenangan dari peristiwa ini, karena berpikir begitu maka
aku lantas memilih sendiri barang barang yang kusenangi
untuk dijadikan sebagai tanda mata. "
"Heei tua bangka beracun, perbuatanku ini tentu saja
tidak salah bukan dan aku kira tidak sampa melanggar tata
kesopanan bukan?".
"Kentut nenekmu yang busuk !" desis Hee Giong Lam,
dengan wajah merah membara
ayun tangannya kebawah dan teriaknya :
"Tongcu laba laba hitam Liong Cay Thian, Tongcu ular
hijau Gi Peng, Tongcu kelabang emas Ku Hong, Tongcu
kadal biru Bong Ci Pauw, dengarkan perintah"
Empat orang kakek tua yang memakai empat macam
warna baju berbeda dan berdiri di belakangnya segera sama
sama menjura.
"Menanti titah dari Boen-cu"
Cincin besar berukirkan kepala setan yang dikenakan
pada jari tengah tangan kanannya segera digetarkan
kesamping hingga memancarkan cahaya kebiru biruan,
dengan wajah berkerut menahan emosi, teriaknya dengan
suara dalam :
"Atur Barisan besar selaksa racun "
.
Si Tongcu laba-laba hitam Liong Cay Thian bersuit
panjang, dengan cepat badannya berjumpalitan kearah
sebelah utara, disusul Si Tongcu ular hijau Ci Peng
mendengus dingin, badannya bergeser kearah Timur, Si
Tongcu kelabang emas Ku Hong bersuit aneh, ia loncat
kearah Selatan, sedang si Tongku kadal biru tanpa
mengeluarkan sedikit suarapun bergeser kearah Barat.
Gerak gerik mereka dilakukan sangat cepat, dalam
sekejap mata segenap anak murid perguruan seratus racun
telah berdiri pada posisinya masing masing, semua
perhatian dicurahkan ketengah kalangan dimana Ouw yang
Gong berdiri sambil cengar cengir.
Ini hari, aku akan membuat mayat kalian tidak utuh,
akan kuhancurkan kamu berdua hingga jadi abu...." jerit
Hee Giong Lam sambil gigit bibir.
"Tua bangka beracun yang keji, kau sudah kurung diriku
begitu lama, membuat aku merasa kesepian dan tersiksa
seorang diri, ini hari aku tidak membunuh kau sudah
untung, masa sekarang malahan kan yang mau
menghancurkan kami otakmu sebenarnya ada dimana?".
Hee Giong Lam tidak ambil perdulikan, ia membentak
keras. Dalam sekejap mata irama seruling yang lembut dan
merdu merayu berkumandang diangkasa, mengikuti itu ular
ular yang ada disekeliling sanapun sama-sama angkat
kepala dnn merangkak kedepan.
Suara dengungan memenuhi angkasa, kelabang emas
yang jumlahnya entah berapa itiupun sama-sama mulai
melancarkan serangan udara yang luar biasa bebatnya.
Ouw yang Gong membentak keras, telapak kiri diputar
satu lingkaran besar lalu menghantam keluar, angin
pukulan tajam bagaikan babatan golok seketika itu juga
berpuluh puluh ekor kelabang emas jatuh berhamburan
keatas tanah.
Sementara itu tangan yang !ain dengan cepat merogoh
kedalam saku ambil keluar sebuah botol porselen berwarna
hijau.
"Setan asep tua apa yang kau keluarkan?" Bentak Hee
Giong Lam gusar.
"Hmmm I dupa wangi liur naga dari Lam Hay".
Sambil berkata dengan cepat ia buka tutup botol porselen
itu kemudian menuangkan sejenis bubuk kedalam pipa
huncweenya.
"Cepat tarik semua kelabang emas yang ada diudara "
Dengan hati cemas Rasul bisa berteriak,
"Heeeeeeeeb..... heeeeeeeh...... heeeeh....... Sayang sekali
peringatanmu sedikit rada terra bat
Sambil menjengek batu api yang telah disiapkaa segera
menyulut bubuk putih tersebut segulung asap berbau wangi
seketika yebar keempat penjuru....
Tercium bau wangi itu, kelabang kelabang yang sedang
mempersiapkan serangan lari secara besar besaran itu
mendadak gaduh lalu kacau balau, sayapnya sama sama
terkatup dan satu demi satu jatuh rontok diatas tanah.
Pek In Hoei sendiri seketika merasakan dadanya jadi
lapang begitu mencium bau wangi
yang amat tebal itu, tanpa terasa ia menghisap bau wangi
tadi dalam dalam
Sinar mata Ouw yang Gong berkilat, menyaksikan Pek
In Hoei sedang menghirup udara dalam dalam, dengan
gusar ia memaki telapaknya langsung diayun menggampar
pip sianak muda itu.
"Ploocoook! tubuh Peh In Hoei mencelat kebelakang dan
hampir saja jatuh terjengkang, alisnya kontan berkerut.
"Eeeeei..... kenapa kau goblok aku?"
"Nenekmu cucu kura kura ! kau ingin modar? kau
anggap bau dupa liur naga ini boleh dihisap dalam dalam?
apa kau tidak lihat bagaimana nasib kelabang kelabang itu?
Dengan hati kaget Pek In Hoei mendongak ia lihat
kelabang emas semula memenuhi
angkasa sekarang sudah tinggal separuh, sekian besar
diantara mereka jatuh rontok ketanah sedang sisanya
tercerai berai keempat ujuru berusaha untuk melarikan diri,
namun terlihat bahwa sayap mereka kelihatan daya
kerjanya begitu lemah dan tak
bertenaga.
"Aaaaaai....dupa..... dupa..... ini"
Dupa liur naga dari Lam Hay merupakan benda yang
terutama untuk melawan binatang binatang racun semacam
itu, meski demikian manusiapun tak boleh terlalu banyak
menghirup, sebab kalau tidak urat urat nadi akan mengerut
dan akhirnya mati binasa.
Dalam pada itu sambil menggigit bibir merasa gusar Hee
Giong Lam menyaksikan binatang kelabangnya rontok
ketanah persatu, ia makin mendongkol lagi setelah
menjumpai ular ular beracunnya pada melingkar ditanah
tak berani berkutik.
Seluruh badannya jadi gemetar, matanya melotot besar,
mulutnya menggetar dan kepalannya diremas remas
menahan keros
Ouw yang Gong melirik sekejap kearah lawannya, lalu
ejeknya :
"Hey tua bangka beracun kau tidak akan menyangka
bukan kalau aku berhasil mendapatkan dupa liur naga ini
dari dalan gua hartamu? haaasah .... haaaa....... haaaaah ....
inilah yang dinamakan membalas dendam dengar cara
seperti apa yang pernah kau lakukan kepadaku"
Hee Giong Lam berteriak keras, ia tak kuat menahan
diri, darah segar muncrat keluar dari mulutnya.
Tongcu kelabang emas Ku Hong menyaksikan kejadian
itu berseru tertahan, cepat cepat ia loncat kesisi tubuh
ketuanya.
Boencoe, kenapa kau ?" tegurnya cemas.
Hee Giong Lara menggeleng, sambil membesut noda
darah dari bibirnya ia berseru:
"Kalian cepat kembali kepos!sinya masing masing, ini
hari aku bersumpah akan membinasakan dirinya dengan
tanganku sendiri, kalau tidak rasa dendam dan sakit hatiku
sukar ditahan lagi!"
Tongcu kelabang emas melirik sekejap kearah Ouw-yang
Gong lalu berbisik :
"Boen-cu, apakah kau hendak mengeluarkan ilmu Racun
sakti tanpa bayangan mu 7?."
"Kau cepat menyingkir kebelakang !" bentak Hee Giong
Lam.
Ia segera bersuit aneh, mengikuti suitan tadi segenap
anggota perguruan seratus racun sama-sama mengundurkan
diri dari sana, dalam sekejap mata bukan saja semua orang
sudah berlalu bahkan ular2 beracun yang masih mengeram
dialas tanshpun pada menyembunyikan diri kedalam balik
rerumputan.
Kini hanya tinggal empat orang kakek tua dengan berdiri
delapan tombak dibelakang kalangan saja memperhatikan
situasi disitu dengan wajah keren dan serius.
Ouw-yang Gong sendiripun menunjukkan sikap yang
waspada, ia cekal huncweenya erat erat lalu bergumam:
Racun sakti tanpa bayangan .... " Dia angkat kepala dan
bertanya;
Hey tua bacgka beracun, permainan setan apa yang
sedang kau persiapkan Apakah kau hendak menggertak aku
dengan perkataanmu itu?"
Hee Giong Lam tidak menjawab, ia kepal telapaknya
kencang kencang, dengan sinar mata bengis diawasinya
wajah Ouw-yang Gong tajam tajam sementara badannya
selangkah demi selangkah maju kemuka.
Sedikit banyak Ouw-yang Gong keder juga dibikinnya,
dengan cepat ia dorong Pek In Hoei kebelakang.
"Cepat menyingkir kesamping, rupanya tua bangka
beracun ini akan ajak aku beradu jiwa !"
Mendadak terdengar Hee Giong Lam membentak keras,
badannya berputar cepat bersamaan dengan bergetarnya
jubah hitam yang ia kenakan, badannya mencelat keteagah
udara.
Cepat cepat Onw-yang Gong geser kakinya sehingga
berhadapan dengan Rasul bisa Hee Giong Lam, tatkala
menjumpai jubah hitam yang dikenakan lawannya berkibar,
kencang, suatu ingatan dengan tepat berkelebat dalam
benaknya:
"Aduuuh celaka !" serunya tertahan. "Rupanya cucu
setan keturunan kunyuk ini hendak menyebarkan bubuk
beracun dengan meminjam kekuatan hembusan angin .... "
Ia segera membentak pula, badannya mencelat keatas,
huneweenya berputar dan dalam sekejap mata mengirim
delapan buah serangan kilat.
Angin pukulan menderu deru, bagaikan hembusan
topan, menggulung dan menyapu kedepan laksana ombak
ditengah samudra hebat dan mengerikan sekali.
Hee Giong Lam mendengus dingin, kesepuluh jarinya
disentil kedepan dan sepuluh jalur desiran angin tajam
segera meluncur kemuka.
Ouw yang Gong bersuit nyaring, berada ditengah udara
badannya bergeser enam depa kesampiog berusaha
meloloskan diri dari damparan angin serangan.
Hee Giong Lam mengebaskan jubah lebarnya, segulung
angin halus dengan cepat menggulung kemuka membawa
bau harum semerbak ....
Begitu tercium bau harum tadi kontan Ouw-yang Gong
merasakan dadanya jadi sesak seluruh badannya jadi gatal
gatal.
IA MENJERIT keras, huncweenya segera diayun
kemuka dengan cepat, dengan sebuah gerakan yang aneh
tapi lihay ia balas menghajar badan musuh. Kraak .... bruuk
.' Huncweenya berbasil menghajar robek jubah hitam Hee I
Giong Lam dan menghantam jalan darah Kie-tong-biat
dibawah ketiaknya.
Hee Giong Lam mendengus berat, badannya yang masih
berada dltengah udara . tak dapat dikuasai lagi, hingga ia
terbanting keras keras keatas permukaan tanah.
Dalam pada itu Ouw-yang Gong dengan suatu gerakan
yang amat manis pun sudah bersalto diudara dan melayang
keatas tanah.
Dalam waktu yang amat singkat itulah Pek In Hoei
menyaksikan seluruh wajah Ouw yang Gong berubah jadi
hitam pekat sehingga kelihatan amat menyeramkan.
"Cianpwee. Kau keracunan" serunya tergagap.
Ouw-yang Gong mendengus berat, dengan cepat ia
berjongkok keatas tanah dan memungut beberapa ekor
bangkai kalabang emas, kemudian tanpa memandang
barang sekejappun segera dijejalkan kedalam mulut.
Menyaksikan tingkah laku yang sangat aneh itu Pek In
Hoei melongo, matanya terbelalak besar namun tak sepatab
katapun yang bisa ia ucapkan keluar.
Demikianlah secara beruntun Ouw-yang Gong menelan
empat ekor bangkai kelabang emas, kemudian ia baru
pejamkan mata dan roboh keatas tanah.
Sementara itu empat orang kakek tua yang berdiri
terpencar diempat penjuru sama sama berteriak kaget,
mereka sama sama meloncat kedipan menghampiri
ketuanya.
Tongcu kelabang emas berjongkok dan memayang
bangun Hee Giong Lam terlihat olehnya air muka sang
ketuanya ini telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat
napasnya lemah dan tinggal satu satu Dengan cepat ia
membentak keras:
"Boen-cu telah terluka parah, jangan lepaskan setan tua
itu dalam keadaan hidup aku akan segera antar Boen-cu
pergi beristirahat"
Tongcu laba laba hitam tertawa dingin.
Heeh..... heeeh .... heeeh....... ilmu silat yang dimiliki
setan tua ini memang sangat !ihay, tapi sayang ia sudah
terkena hantaman Racun Sakti Tanpa Bayangan dari Boencu
kita kalau toh sudah begitu apa lagi yang perlu kita takuti
Sambil berkata badannya loncat kemuka telapak tangan
diayun dan segera mencengkeram urat nadi Pek In Hoei,
Kita jagal dulu keparat cilik ini jerit Kadal Biru Song Ci
Piauw penuh kebencian.
Betul Suruh dia rasakan bagaimana enaknya lima racun
menyerang hati!" sambung Tongcu Ular hijau Ci Peng. Jari
kelingking tangan kanannya lantas diayun kemuka.
kukunya yang panjang dan runcing berkelebat diatas nadi
sianak muda itu dan meninggalkan sebuah guratan panjang
diikuti tangannya berputar memerseni sebuah tempelengan
yang amat keras.
Sekuat tenaga Pek In Hoei meronta, namun ia tak
berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh,
mulutnya segera di pentang dan meludahi wajah Ci Peng
dengan air ludah penuh darah.
Kena diludahi mukanya, Tongcu ular hijau Ci Peng
semakin gusar, ia bergeser lebih kemuka, tangannya
menyambar kemuka dan sekali lagi ia hajar muka Pek In
Hoei dengan gaplokkan jauh lebih keras.
"Anak jadah ! Kubunuh dirimu' teriak nya marah.
Percuma kau hajar badannya" mendadak Tongcu laba
laba hitam Liong Cay Thian menghalangi niat rekannya, "la
memakai tameng mustika yang tahan bacokan sekalipun
kau hajar habis habisan dirinya belum tentu ia merasa sakit
atau terluka, buat apa kau buang tenaga dengan percuma
cepat kita lepaskan baju tameng mustika yang ia kenakan
Tongcu kadal Biru Song Ci Piauw melirik sekejap kearah
Ouw-yang Gong yaag masih duduk mendeprok diatas
tanah.
"Bagaimana dengan siasep tua itu ?"
"Biar aku saja yang kasih hadiah sebuah jotosan kepada
bangsat tua itu agar jiwanya cepat melayang" seru Tongcu
Ular Hijau.
Dalam pada itu Tongcu Laba laba hitam Liong Cay
Thian sudah tertawa seram.
"Keparat cilik, coba kau lihat binatang apakah ini ?"
Pek In Hoei berpaling, ia lihat ditangan kanan Liong Cay
Thian hinggap seekor laba laba raksasa yang besarnya
melebihi telapak tangan, waktu itu binatang besar tadi
sedang menggerakkan kedelaapan buah kakinya yang
panjang untuk merambat maju ke muka.
Hatinya berdesir, rasa ngeri berkelebat dalam benaknya,
namun sianak muda ini tetap mempertahankan diri. ia tidak
ingin menunjukkan sikap jeri seorang lelaki pengecut.
Liong Cay Thian bungkam tidak mengucapkan kata kata
lagi, tangan kananuya segera digetarkan kemuka, laba2
raksasa tadipun dengan meninggalkan selembar serat tipis
loncat kearah leher Pek Sn Hoei, kemudian pentang
bacotnya mulai menggigit.
Sajak urat nadi Pek In Hoei kena tergurat kuku jari dari
Ci Peng tadi, bubuk racun yang menempel di atas tubuhnya
sudah mulai menyerang kedalam membuat separoh
badanya jadi kaku dan hilang rasa, meski demikian tatkala
laba2 hitam itu loncat keatas lehernya dan mulai menggigit
ia masih dapat merasakan betapa sakitnya daerah sekitar
leher yang kena tergigit oleh binatang berbisa itu. Dengan
penuh rasa sakit ia merintih, pancaran matanya sayu dan
wajahnya jadi amat kusut. Dengan pandangan kabur ia
awasi telapak kanan Ci Peng yang sudah diangkat lagi dan
selangkah demi selangkah mendekati Ouw-yang Gong.
Dalam saat serta keadaan seperti isi selagi ia merasakan
bagaimanakah penderitaan serta siksaan dari seseorang
yang tidak mengerti akan ilmu silat ia merasakan betapa
jiwa serta keselamatannya gantung ditangan orang lain.
Diam diam didaiam hati ia bersumpah
"Seandainya beruntung aku tidak mati pasti akau
mencari ayahku dan minta belajar silat darinya, karena
pada saat aku hidup dijagat yang tidak mengutamakan
cengli melainkan menggantungkan kekuatan ..."
Sianak muda ini sama sekali tidak tahu bukan kekuatan
atau kepandaian silat yang penting untuk hidup dikolong
langit pada jaman itu dalam dunia persilatan penuh dengan
penipuan, akal licik busuk, bau amis darah serta perbuatan
saling bunuh membunuh. Sutu kali ia terjunkan diri
kedalam dunia kangouw, tak akan terhindar dari
kesemuanya maka dari itu disamping belajar silat dia, harus
mulai memahami hal hal tersebut diatas sebab kalau tidak
dia pun tak akan bisa dengan tenang didalam jagad ini.
sementara itu terdengar Tongcu Kadal tertawa seram.
Banssat cilik!" jengeknya sinis.
Coba kau rasakan lagi bagaimana enaknya darahmu
dihisap oleh kadal biru
Dari dalam sebuah tabung yang disimpan dibawah
ketiaknya ia ambil keluar seekor kadal besar sepanjang
beberapa depa, lalu usap usapkan keatas wajah Pek In Hoei
Sungguh besar bentuk kadal biru itu, diatas badannya
yang gede terlihat dua garis yang berwarna biru tua,
ekornya yang gede terlihat dua garis panjang bergoyang
goyang tiada hentinya, bau amis yang memuakan tersiar
dari badannya membuat Pek In Hoei merasa mual dan mau
muntah
"Hey bajingan cilik !" seru Tongcu kadal biru lagi dengan
nada bengis dan mengerikan, "Pernahkah kau merasakan
dijilati oleh lidah panjang sang kadal yang merah lagi basah
basah kering itu? Hmmm ! Akan kusuruh kau rasakan
bagaimana enaknya kulit badanmu kaku dijilat olehnya
dandarah segarmu perlahan lahan dihisap olehnya"
Sepatah demi sepatah perkataan itu utarakan keluar, hal
ini semakin menambah kegeraman serta kengerian dalam
hati In Hoei, sepasang matanya terbe!a!ak besar tanpa
berkedip ia perhatikan terus kadal besar itu.
Berhadapan dengan mara bahaya yang tiap saat bisa
mencabut jiwanya, timbul kembali bayangan tatkala ia
melarikan dari gunung Tiam cong yang terkubur dalam
lautan api, tanpa sadar ia bergumam seorang diri :
"Aku tak boleh mati, aku tak boleh mati
"Siapa bilaog kau tak boleh mati?" jengek Sang Torigcu
kadal biru dengan suara seram, "Aku mau suruh rasakan
penderitaan dikala menjelang kematian yang lambat sekali
kehadirannya
"Heeeeeeeh....... heeeeeeh...... heeeh..... orang tua itu
sudah mulai sinting, otaknya mulai berubah dan tidak
sadar" Seru tongcu laba laba hitam Liong Cay Thian sambil
tertawa dingin. "Racun yang menyerang badannya sudah
mulai menerjang otak serta syaraf syaraf dalam benaknya,
ia akan jadi edan kemudian perlahan-lahan keracunan dan
modar1".
Pek In Hoei terkesiap, dengan paksakan diri ia pentang
matanya yang terasa mulai jadi berat dan mau terkatup
terus itu dari dasar hatinya timbul perasaan aneh.
keinginannya uutuk mencari hidup amat basar tiba tiba ia
berteriak keras :
"Aku tidak akan mati 'f! aku tidak akan mati!!!".
Mendadak dari baiik kadal raksasa berwarna biru yang
bergerak gerai dihadapan matanya itu, ia saksikan Tongcu
ular Hijau Ci Peng telah angkat telapak tangannya tinggi
tinggi kemudian d!ayun kebawah menghatam Ouw yang
Gong.
Aaaaaaaahtak tahan ia menjerit , buru buru kepalanya
berpaling kelain arah.
Tongcu Kadal biru Song Ci Piauw membentak rendah,
kadalnya segera ditempelkan keatas jidat Pek In Hoei.
Begitu menempel diatas jidat, kadal biru itu mulai
menjularkan lidahnya yang merah menjilat jilat kulit sianak
muda itu, diikuti darahnya mulai dihisap keras.
Rasa desiran angin dingin menyambar alisnya Pek In
Hoei jadi kaget dan menjerit tertahan.
Disaat yang bersamaan itulah, dengan penuh kebencian
Tongcu ular hijau Ci Peng telah membentak :
Aku tidak percaya kalau tak dapat membinasakan
dirimu".
Telapak kanannya dibabat dengan santa
Buuuuuuk ! dengan telak hautaman itu bersarang
ditubuh lawan.
Oaw yang Gong merintih, tiba tiba ia me nyemburkan
darah yang berwarna hitam pekat dari mulutnya, begitu
mendadak semburan darah tadi membuat Ci Peng tak
sempat untuk menghindar lagi mukanya kotor kena
semburan tadi membuat dia terhuyung mundur selangkah
kebelakang.
Setelah menyemburkan darah hitam itu. Oaw yang Gong
segera membuka matanya lebar lebar dan loncat bangun
dari atas tanah, serunya sambil tarik napas dalam2
"Neneknya .... cucu kunyuk bagus dan tepat sekali
hantamanmu barusan . . .
Laksana kilat ia menerjang kedepan telapak kirinya
berputar, lima jari tangannya laksana
kilat menyambar kemuka mecengkeram lengan kanan Ci
Peng. "Hey...... anak bisa cucu racun... kamu semua tentu
tidak tahu bukan bahwa aku siorang tua baru saja lolos dari
kematlan?
Hmmm...... Hmmm justru pukulanmu barusan telah
menolong aku untuk memuntahkan darah racun yang
menyumbat di Jantung . . . coba darah racun itu tidak bisa
ditumpakan keluar . . . entahlah
Tongcu ular hijau Ci Peng meraung keras, bahk
badannya sambil putar tangan kanan. jari dipentang lebar
lebar, dengan kuku yang panjang dan tajam bagaikan
pedang kecil laksana kilat menusuk dada Ouw yang Gong,
Cucu monyet keturunan kunyuk kau ingini jiwaku maki
orang tua aneh dengan gusarnya
Sang lengan digetarkan dengan keras, seketika itu juga
badan Ci Peng terangkat keatas, setelah berputar satu
lingkaran besar ditengab udara tubuh orang itu meluncur
kebavvah dan mencium tanah keras keras.
Buuuuuk...... ! seluruh batok kepala Ci Peng terbenam d
dalam tanah bagaikan tancapan sebarang anak panah,
darah segar segera muncrat keempat penjuru membasahi
permukaan tanah jiwanya pun melayang!
Ouw yang Gong tidak berhenti sampai disitu saja. ia
bersuit panjang, berada ditengah udara badannya melesat
makin kedepan, sambil mencekal huncweenya ia melabrak
musuh musuhnya yang lain dengan dahsyat.
Tongcu laba-laba hitam Liong Cay Thian bersuit keras,
cepat cepat tangannya diatur kemuka tiga ekor laba-laba
berwarna hitam yang besarnya melebihi telapak tangan
dengan disertai serat yang mengkilap meluncur kemuka.
Ouw yang Gong meraung keras. "Kalian keturunan
kunyuk yang harus dibunuh semua sampai habis!"
Teriaknya.
Pergelangannya segera diputar, tatkala ligap cahaya
terang itu sudah tiba dihadapan mukanya, huncwee yang
sudah dipersiapkan segera menyambar kemuka... Taaaak. !
Taak .! tiga ekor laba laba hitam itu terhantam telak dan
rontok keatas tanah dengan badan hancur.
Setelah membinasakan binatang berbisa itu laksana kilat
badannya memburu kedepan, sekali lagi huncweenya
berkelebat cepat, dalam suatu gerakan menggetar dan
membalik Liong Cay Thian menjerit kaget, badannya
jungkir balik sebanyak tiga belas kali ditengah udara lalu
terbanting keras keras diatas tanah.
Dengan rasa terperanjat Tongcu Kadal Biru Song Ci
Piauw berpaling, belum sempat ia melakukan sesuatu Ouw
yang Gong sudab berjumpalitan di tengah udara mendekati
tubuhnya, sementara senjata huncweenya laksana titiran
angin puyuh membabat kabawah.
JILID 4
SADAR bahwa Ouw-yang Gong adalah seorang
manusia yang paling aneh dikolcng langit, serangan
lancarkan dalam keadaan gusar tentu luar biasa hebatnya.
Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya tanpa berpikir
panjang lagi ia sambar tubuh Pek In Hoei dan bagaikan
sebuah tameng lempar tubuh sianak muda itu untuk
menghalangi terjangan Ouw-yang Gong lebih jauh.
Cucu kunyuk! begitu kejam hatimu manusia semacam
kau tak boleh dibiarkan hidup lebih lama !"
Sambil membentak orang tua she Ouw yang ini
menerjang kemuka semakin cepat.
Song Ci Hauw terdesak mundur kebelakang, setelah
melemparkan tubuh Pek In Hoei tadi, sepasang telapaknya
berputar kemuka, segenggam jarum lembut berwarna biru
segera disambit kedepan sedang badannya loncat mundur
lagi sejauh beberapa tombak.
Ouw-yang Gong menjerit lengking, lima jari tangan
kirinya dipeotang lebar-lebar, setelah merandek kebawah ia
mumbul keatas, mengikuti gerakan tersebut tangannya yang
lain menyambar tubuh Pek In Hoei.
Pada detik yang bersamaan pula serangan senjata rahasia
telah tiba dihadapan mukanya
la bersuit panjang, sepasang kakinya menjejak tanah
keras-keras lalu mencelat lama depa ketengah udara,
badannya miring kesamping meloloskan diri dari ancaman
Senjata rahasia kemudian berkelebat mengejar kearah Song
Ci Piauw.
Tongcu Kadal Biru terdesak terus kebelakang, begitu
kakinya menginjak tanah dengan cepat tangannya merogoh
kedalam saku dan ambil keluar sebatang seruling kecil
berwarna perak, benda itu segera ditiupnya keras-keras.
Serentetan suara lengkingan yang tinggi dan tajam
berkumandang diangkasa, anak murid perguruan Seratus
Racun yang bersembunyi dibalik semak belukar segera pada
munculkan diri.
Ouw-yang Gong membentak keras, jenggotnya berkibar
kencang bagaikan terembus angin puyuh, huncweenya
diputar dengan gerakan menjungkir balikkan jagad ia hajar
lengan kanan Song Ci Piauw.
Tongcu kadal biru yang sedang meniup seruling
peraknya sama sekali tidak mengira kalau serangan
huncwee dari Ouw-yang Gong bisa datang dengan begitu
cepatnya, tergopoh-gopoh ia miring kesamping meloloskan
diri dari ancaman.
Hmmm! kau ingin lari kemana!" jengek Ouw-yang
Gong. Huncweenya ditekan kebawah, dari dasar ia tusuk
keatas dau dengan telak menghantam persendian lengan
kiri Song Ci Piauw.
Aduuuuh .... Tongcu Kadal Biru menjerit ngeri, darah
segar muncrat keempat penjuru, seketika itu juga lengan
kirinya batas siku patah jadi dua bagian. Setelah berhasil
membereskan musuhnya, Ouw-yang Gong baru dapat
menyaksikan bahwasanya diatas jidat Pek ln Hoei terdapat
seekor kadal besar yang sedang menghisap darah, hatinya
terperanjat, buru-buru jari tangannya disentil kemuka.
Sreeeeet......... ! Segulung desiran angin tajam segera
menyambar kemuka menghanpiri kadal tersebut hingga
mencelat beberapa .ombak jauhnya.
Meski binatang terkutuk itu berhasil dihajar mati, namun
diatas jidat Pek In Hoei tepatnya diatas alis si ana k muda
itu terti.nggal sebuah bekas darah yang segar dan amat
nyata.
Di bawah serotan sinar sang surya, bekas darah itu
kelihatan begitu nyata aneh dan bersinar tajam, membuat
wajahnya yang ganteng berubah jadi mengerikan.
Ouw-yang Gong tertegun, lama sekali dia berdiri
termangu-mangu . . . mendadak sinar matanya terbentur
dengan seekor laba-laba hitam yang masib menggigit leher
sianak muda itu.
Ia menjerit keras, telapaknya menyambar kemuka
mencengkeram laba-laba tersebut kemudian digenggamnya
kencang-kencang sehingga dalam sekejap mata binatang
berbisa itu hancur lebur.
Setelah menyaksikan pelbagai peristiwa kejam yang
diperlihatkan orang-orang perguruan seratus Racun, Ouwyang
Gong. sedang marah semakin naik pitam, napsu
membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya.
„Keturunan kunyuk yang harus dibunuh
Dan betul-betul berhati kejam dan tidak punya
perikemanusiaan" Teriaknya dengan bengis. „Kalian toh
sudah tahu kalau bocan ini sama sekali tidak mengerti ilmu
silat, kenapa kamu semua menyiksa dirinya dengan
perbuatan begitu keji? Hmmm! ini hari kalau aku tidak
ledakkan sarang burung kalian ini hingga rata dengau tanah
tidak akan kutinggalkan tempat ini!"
Sambil mencaci maki dengan kata-kata ang kotor,
laksana kilat tangannya bekerja keras menotok jalan darah
penting ditubuh Pek In Hoei kemudian membarigkannya
diatas tanah!
Cahaya bengis dan buas yang mengerikan memancar
keluar dari balik sepasang matanya yang sipit, wajah yang
dasarnya sudah merah kini berubah makin gelap sehingga
mengerikan sekali.
la tarik napas panjang panjang, dari dalam sakunya
ambil keluar sebuah kotak sempit lagi panjang, lalu sambil
memandang anak murid pergurun seratus racun yang
menyerbu datang sambil berteriak-teriak, serunya gemas :
„Mulai hari ini, aku siorang tua akan membuka lagi
pantangan membunuhku
Semenjak lengannya dipatahkas oleh ketukan huncwee
Ouw-yang Gong, Tongcu Kadal Biru tidak berani
mendekati manusia aneh itu lagi, ia segera menjatuhkan diri
berguling diatas tanah dan ngeloyor pergi kebawah bukit,
dia takut kaiau-kalau musuh nya melancarkan serangan lagi
dan mencabut jiwanya.
Dalam pada itu Ouw-yang Gong telah tertawa terbahakbahak
dengan seramnya, ia selipkan huncwee gedenya
kesisi pinggang lalu membuka ketak kayu ilu dan ambil
keluar biji kelereng sebesar buah kelengkeng yang berwarna
hitam pekat.
„Selama tujuh belas tahun aku selalu simpan peluru Pek
Lek Cu secara baik2 ! aku rasa kini sudah saatnya bagiku
untuk menggunakan benda tersebut Gumamnya sambil
mengawasi anak murid perguruan Seratus racun yang
makin mendekat.
Bersamaan dengan suatu bentakan keras, tangannya
diayun kemuka .... biji kelereng berwarna hitam pekai
itupun laksana kilat meluncur tiga tombak kemuka.
Blmuuummm......... ! suara ledakan dahsyat menggema
di seluruh angkasa, bumi bergoncang pasir dan batu
beterbangan keudara, hampir separuh bukit itu rontok dan
hancur, hancuran bangkai manusia, cipratan darah segar
bertebaran dimana-mana membuat suasana berubah jadi
ngeri dan menyeramkan.
Ditengah jeritan jeritan ngeri yang menyayatkan hati,
anak murid perguruan Seratus Racun yang beruntung tidak
mati sama-sama berteriak ketakutan dan melarikan diri
terbirit-birit.
Ouw-yang Gong tertawa seram, tangan kanannya
kembali ambil keluar sebiji peluru Pek Lek Cu
Matanya berubah jadi merah darah, wajahnya hitam
menyeramkan, sambil bersuit nyaring ia loncat lima tombak
keangkasa dan melesat kedepan, rupanya simanusia aneh
ini siap2 melemparkan pelurunya kembali uniuk
meledakkan bangunan-bangunan rumah dibawah bukit.
Sekonyong-konyong.... sesosok bayangan manusia
berwarna kuning emas berkelebat lewat, disusul teriakan
keras berkumandang diangkasa :
„Ouw-yang Thayhiap, harap kau jangan turun tangan
keji1" „Haaaaahh . . . haaaaaah... haa ... sekarang kalian
baru suruh aku jangaa turun tangan keji1" Jerit Ouw-yang
Gong sambi! loncat turun keatas tanah. Kalian cucu monyet
keturunan kunvuk jika tidak dikasi sedikit kelihaian, teatu
kiranya aku siorang tua bisa dihina dan permainkan
seenaknya!" "Ouw-yaug Thayhiap!" pinta Tongcu kelabang
Emas Ku Hong dengan wajah ngeri „Harap kau jangan
turun tangan keji terhadap kami . "
„Kentut busuk makmu ! Kalian toh tega Turun tangan
keji terhadap seorang bocah yang lemah tak bertenaga serta
tidak mengerti akan ilmu silat, kenapa aku siorang tua harus
berlaku sungkan-sungkan terhadap kalian?"
Begitu terbentur dengan sepasang mata lawon yang
bengis, buas dan penuh diliputi napsu membunuh, sekujur
badan Ku Hong gemetar keras. Ia meraung dahsyat
badannya laksana harimau teriuka menubruk kedepan
dengan maksud merampas peluru Pit Leng cu yang ada
ditangan Ouw-yang Gong.
Melihat datangnya tubrukan, Ouw-yang Gong genjotkan
badanrnya melengos kesamping, diikuti kakinya
melancarkan satu tendangan kilat menghantam jalan darahi
Hiat Cong ditubuh musuh.
Gerakan badan Ku Hong merancu tangan kanannya
dengan gerakan yang tidak berubah meneruskan
sambarannya ketangan Ouw-yang Gong, sementara telapak
kirinya menghantam berubah jadi babatan menghajar kaki
lawan yang mengancam dirinya.
Merasakan adanya babatan lawan Ouw-yang Gong putar
badannya cepat2 diikut tangan kanannya meraup dengan
gerakan setengah busur kemudian menghantam tekuk dan
kaki kiri Ku Hong. „Enyah dari sini teriaknya.
Bruuuk . . . . .! sepasang kaki Ku Hong jadi lemas dan
tidak ampun lagi ia jatuh berlutut keatas tanah,
menggunakan kesemutan itu Ouw-yang Gong menambahi
lagi dengan sebuah sapuan kilat, badan orang she Ku yang
sudah terjatuh, kena ditendang lagi dengan dahsyatnya
membuat ia menjerit kemudian terbanting ketanah dan
tidak bangun lagi.
O uw-yang Gong ayun tangannya, peluru Pek Lek cong
kembali hendak dilempari, kedepan.
Tiba tiba Thian Go suatu jeritan laitang menggema
datang.
Seluruh tubuh Ouw-yang Gong bergetar keras, dengan
cepat sinar matanya dialih kearah berasalnya suara tadi.
Tampak seorang nyonya setengah bs dengan memakai
jubah abu abu dan membawa tasbeh perlahan-lahan
munculkan diri dari balik bukit, meskipun. rambutnya telah
beruban dan wajahnya penuh keriput namun kecantikan
wajahnya dikala masih muda masih jelas membekas.
Siauw Hong" gumam Ouw-yang Gong dengan bibir
gemetar.
Perlahan-lahan nyonya setengah baya itu berjalan
mendekat, tatkala menyaksikan hancuran mayat serta noda
darah yang meyelimuti permukaan bumi, ia segera berang
tangannya berseru :
„Omitohud ! siancay... siancay...!"'. „Siauw Hong, kau...
kau.,
Nyonya setengah baya itu mendongak, dipandangnya
wajah Ouw yang Gong tajam tajam lalu menghela napas
panjang.
Thian Go, mengapa sifotmu berubah di berangasan dan
kejam?" tegurnya.
Siauw Hong, benarkah kau?"
matanya terbelalak lebar-lebar. , Kau belum mati? kau . .
kau masih hidup dan..... dan sudah cukur rambut jadi
nikouw?
Nyonya setengah baya itu tertawa getir Aku memang
belum mati, tapi . . . hati sudah lama mati . . . Kurang-ajar,
cucu monyet manusia kunyuk kalau begitu dia sudah
membohongi aku, dia bilang kau sudah mati! dia...
dia... mengapa dia biarkan kau cukur rambut jadi nikouw?
kenapa... kenapa Siok Peng pun berkata bahwa kau sudah
mati?".
„Aaaaaaaai... peristiwa masa silam telat berlalu bagaikan
asap dilangit, apa gunanya kita ungkap kembali? Thian Go
kau sudah tua, tapi watakmu yang berangasan dan suka
marah masih tetap saja seperti sedia kala, bahkan
makianmu yang kotorpun tidak berubah juga.
Kena ditegur Ouw yang Gong tertawa jengah.
Bukit dan sungai bisa dirubah, tabiat ma nusia mana bisa
diganti? selama hidup beginilah keadaanku, tapi kau . . kau
„Aku sudah cukur rambut jadi nikouw persoalan
keduniawian telah lama tak kupikirkan lagi didalam bati.
Ouw yang Gong tertawa pahit.
Siauw Hong! tahukah kau mengapa waktu itu aku
mengganti namaku jadi Gong? hlal ini tidak lain karena aku
sudah ogah mememikirkan berbagai urusan lain, semua
kejadian kurasakan hampa dan kosong semua
sinar matanya berkilat" dan lebih lebih aku tidak mengira
kalau perempuan tercantik dari Tionggoan, Kwee Siauw
Hong

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Silat ITB 2 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments