Cerita Ngentot Model Anyar : PKK 3

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Ngentot Model Anyar : PKK 3

-“Siu-mey berhenti sejenak lalu melanjutkan.
“Ternyata tiga dari keempat pedang Bu-san telah
berturut-turut mati ditangan musuh. Aku makin jemu
hidup. Maka kuberikan kepadamu apa yang telah
kupelajari selama ini. Kuharap engkau belajar dengan
giat. Demi untuk membalas sakit-hati .... Ilmu istimewa
yang akan kuajarkan kepada mu hanya terdiri dari dua
jurus, yakni : 1. Cenderawasih pentang sayap menutup
matahari dan rembulan. 2. Awan berarak bertebaran
ribuan li tiada berbekas. Yang pertama itu adalah ilmu
pedang dan yang kedua ilmu meringankan-tubuh.
Merupakan ilmu simpanan dari perguruan Empat Pedang
Busan. Dengan tenaga yang engkau miliki saat ini, boleh
engkau di anggap sebagai jago muda yang tangguh.
Tetapi ilmu kepandaian itu, kecuali mengandalkan bakat
dan latihan tekun, juga memerlukan penjelasan dari
seorang guru kenamaan. Sayang paman gurumu
Pedang Aneh dan Pedang Iblis, sudah tak dapat
memberi pelajaran lagi. Maka terpaksa engkau harus giat
berlatih sendiri.
“Mengenai ........ mengenai .........” Membaca, sampai
disitu, tiba2 pipi Siu-mey merah. Ia berhenti karena
sungkan. Setelah menunggu sampai sekian jenak belum
juga nona itu melanjutkan pembacaannya, Gak Lui
mengangkat muka dan memandang Siu-mey. Siu-mey
loncat menghampiri, serunya tersekat : „Engkoh Lui,
204
bangunlah dan eagkau baca sendiri saja!” Dengan
khidmat, Gak Lui menyambuti surat itu lalu membacanya.
“Mengenai diri Gadis Ular Li Siu-mey. Ia seorang
gadis yang berwatak murni. Cintanya tulus ikhlas.
Merupakan pasangan yang setimpal sekali dengan
engkau. Tetapi anak muda itu memang masih berdarah
panas. Jangan sekali-kali engkau berpaling haluan dan,
beralih hati kepada lain gadis. Terkutuklah...,
terkutuklah.....!” Dibalik robekan kain itu terdapat tulisan
berbunyi : „Pesan terakhir bibi gurumu.”
Habis membaca, airmata Gak Lui berlinang-linang. Ia
tegak termenung-menung, Kiranya barulah ia
mengetahui bahwa bibi gurunya itu memang sengaja
merusak wajahnya sendiri. Hal itu tentulah disebabkan
karena kisah Asmaranya dengan Gak Tiang-beng atau
ayah Gak Lui dan memutus kasih pada paman gurunya
Pedang Iblis.
Seketika terbayang lagi wajah bibi-gurunya penuh
luka guratan pedang itu. Seolah-olah, bibi gurunya
mendaskan pesan agar dia jangan sembarangan
bermain cinta . Merenung hal itu, tiba2 ujung mata Gak
Lui berkilat cahaya. Dengan wajah kemerah-merahan,
Siu-mey menghaturkan sebutir batu berlian besar ke
hadapannya.
“Adik Mey, rupanya, berlian ini berasal dari Lembah
Maut” tegur Gak Lui. Siu-mey mengiakan: „Benar, semua
simpanan mereka kuambil! “
“Baik juga! Daripada jatuh ditangan gerombolan
orang jahat” kata Gak Lui,
“eh...., apa, artinya ini? “ .
“Kuhaturkan kepadamu! “ sahut Siu-mey.
205
“Ah, lebih baik engkau yang menyimpan saja” Wajah
nona itu makin merah. Setelah berdiam diri beberapa
saat, akhirnya ia memberanikan diri berkata: „Apa yang
ditulis dalam surat pesan bibi guru, sudah jelas. Kita ...,
seharusnya memberi-tanda.” Mendengar itu tersadarlah
Gak Lui. Dan dengan tersipu-sipu malu, Siu-mey
susupkan mutiara itu ke dalam tangan Gak Lui seraya
menarik lengan baju pemuda itu: „ Engkoh Lui, mari kita
keluar. Di sana terdapat banyak benda yang aneh.”
Gak Lui sekali lagi memberi hormat ke arah makam
Pedang Bidadari Li Siok-gim, lalu bangkit dan tinggalkan
guha rahasia itu.
SEBELAH SELATAN dari puncak gunung situ,
adalah sebuah hutan bambu. Sebuah bangunan
bertingkat dari bambu, didirikan pada karang gunung.
Dari sebelah luar, memang bangunan bambu bertingkat
itu tak tampak. Tetapi dari dalam bangunan bambu
bertingkat itu dapat melihat dengan jelas ke seluruh
penjuru. Satu-satunya jalan menuju ke rumah bambu
bertingkat itu hanya melalui sebuah jembatan-goyang
terbuat dari bambu dan rotan. Pada saat tiba di jembatan
itu, Gak Lui menjerit ngeri. Ternyata jembatan itu tak
kurang dari 10 tombak panjangnya. Di bawahnya
terbentang lembah yang curam sekali. Sebelum kaki
melangkah ke jembatan, tubuh sudah seperti bergoyanggoyang
mau jatuh. Kecuali memiliki ilmu Meringankantubuh
yang tinggi orang harus merangkak melalui
jembatan itu. Pula di atas jembatan gantung itu penuh
dihias dengan bambu yang runcing. Bambu2 runcing itu
sengaja dipasang miring. Seolah-olah untuk
menyongsong tubuh orang yang bergontai. Setelah
memperhatikan beberapa saat, Gak Lui kerutkan alis.
“Adik Mey, pada waktu engkau datang, apakah
206
engkau melihat jembatan ini? “ tanyanya.
“Pertama kali mengobati bibi guru, belum ada. Tetapi
datang yang kedua kalinya untuk mengubur bibi guru
baru terpasang. “
“Lalu bagaimana engkau melintasinya?”
“Aku tak melintasi karena bibi guru menggeletak
rubuh di kaki karang ini,” sahut Siu-mey seraya menunjuk
ke sebuah batu karang besar:
“Dan di situ bibi guru telah meninggalkan cara untuk
melintasi jembatan,” tambahnya. Gak Lui berpaling.
Dilihatnya pada karang itu memang terdapat beberapa
tulisan:
Tabahkan nyali, melintasi jembatan. Tak boleh
berloncatan, pun tak boleh berhenti. Harus gunakan
pedang menyiak bambu, tetapi jangan sampai
dipapas kutung. Jika tak mampu melakukan, tak
boleh masuk!.
Gak Lui kucurkan keringat dingin. Diperhatikannya
bambu2 runcing yang menghias jembatan itu rapat sekali
dan amat kokoh. Ilmu melayang jauh dengan jurus
Rajawali-pentang-sayap, hanya dapat digunakan untuk
melambung ke udara. Sukar untuk dilakukan melayang
secara mendatar. Pula ilmu pedangnya, mempunyai
daya gerak istimewa untuk memapas pedang. Jika tak
diperbolehkan memapas kutung bambu itu, memang
sukar sekali. Gak Lui termenung-menung.
“Engkoh Lui, apakah engkau mempunyai daya untuk
melintasi .....”
“Engkau tak mengerti, biarlah kupikirnya sendiri!”
tukas Gak Lui. Merah wajah Siu-mey. Diam2 tekadnya
untuk belajar ilmu silat makin besar. Gak Lui tak
207
menghiraukan. la terus memeriksa jembatan itu. Tetapi
sampai hampir setengah hari, belum juga ia menemukan
akal. Tiba2 pandang matanya. seperti melihat bibi
gurunya muncul. Dan bibi guru itu berlincahan seperti
tatkala bertempur dengan ia di gunung. Gerak
langkahnya amat lstimewa, tangkasnya bukan kepalang.
Pedang bibi gurunya waktu itu seperti dimainkan dalam
jurus Burung-merah-merentang-sayap dan tahu2
pedangnya Gak Lui dapat dihalau.
“Ya, benarlah!” tiba2 Gak Lui berseru girang. Jelas
bambu runcing pada jembatan itu merupakan seperti
gerakan pedang lawan. Segera ia meniru gerakan bibi
gurunya, maju menyerang. Cepat sekali ia sudah tiba di
muka jembatan. Matanya tetap tak berkesip memandang
ke muka. Seolah-olah sedang menerjang sebuah hutan
pedang yang merintangi jalannya. Selangkah .... dua
langkah .... tiga langkah. Gak Lui seperti tenggelam
dalam alam persemedhian. Ia tak menghiraukan bahwa
saat itu matahari mulai terbenam di balik gunung dan
malampun mulai merayap datang.
---oo0oo---
DIA BAGAIKAN SEBUAH PATUNG yang tegak
pejamkan mata. Barisan bambu runcing itu terbayang
melekat ke dalam benaknya. Siu-mey tak mau
mengganggunya. Akhirnya fajar menyingsing. Hampir
semalam suntuk Gak Lui mempelajari keadaan jembatan
itu dan akhirnya mulailah ia melangkah. Pedangnya
berkelebat kian-kemari. Begitu membentur bambu
penghias jembatan, tersiak tetapi tak sampai putus.
Sedang jembatannya sendiri tak goncang. Girang Siumey
bukan kepalang, serunya : „Bagus, engkoh Lui,
engkau berhasil memecahkan rahasia jembatan itu ......”
208
Baru ia berteriak begitu, tiba2 terdengar suara gemertak
dari rumah bambu bertingkat diseberang jembatan.
Tiang2 penyangga rumah bambu itu, putus dan meluncur
ke dalam jurang.
“Hai ... !”. Siu-mey menjerit ngeri. Ternyata Gak Lui
sudah berhasil melintasi jembatan terus masuk kedalam
rumah bambu bertingkat. Tetapi begitu hendak mendaki
ke atas, tiang rumah patah dan rumah bambu itu pun
ambruk. Cepat Gak Lui loncat melambung ke udara lalu
melayang ke ujung jembatan. Dengan gerak yang mahir,
ia melintasi jembatan itu lagi. Dan cepat sekali ia sudah
kembali ke tempat semula lagi.
“Adik Mey, dalam rumah bambu itu tiada isinya apa2,
seru Gak Lui dengan gembira,” tetapi rahasianya terletak
pada jembatan itu. Kira-nya bibi guru kuatir aku tak dapat
mempelajari ilmu yang telah diberikan ketika bertempur
dengan aku di guha, maka beliau menggunakan cara itu
......... hai, kenapa engkau !” Tiba2 Gak Lui hentikan
bicara dan berseru kaget ketika melihat Siu-mey tegak
seperti patung dan mata tak berkedip. Gadis itu berdiri
didepan karang. Gak Lui cepat dapat menduga bahwa
nona itu telah ditutuk jalan darah-nya. Dan cepat pula ia
mengetahui bahwa beberapa orang yang tak dikenal,
bersembunyi dibalik batu karang itu. Demi keselamatan
Siu-mey, Gak Lui tak berani gegabah turun tangan. Tiba2
ia mendapat akal. Dengan wajah tetap tenang, ia
berseru: „Adik Mey, mengapa engkau terlongong saja?
Masih banyak hal yang hendak kuberitahukan.
kepadamu ......” secepat kilat ia lekatkan tangan kirinya
kedada gadis itu lalu gunakan tenaga sakti Algojo dunia
untuk menyedot. Pikirnya hendak membuka jalan darah
sinona yang tertutuk. Tetapi dalam gugupnya, ia telah
salah tafsir. Dia tak ingat bahwa nona itu mengenakan
baju kulit ular yang tak tembus penyaluran tenagadalam.
209
Karena tergesa-gesa ia tak sempat mencari lain jalan
darah ditubuh sinona. Tangannya meluncur kearah
ketiak. Tiba2 dari balik karang terdengar gelak tawa
bergemuruh. Seorang bertubuh tinggi besar melesat
keluar dari balik karang itu. Dan menyusul 8 orang
menghunus pedang tegak berjajar dibelakang sitinggi
besar itu. Dari tindakan orang yang telah menutuk jalan
darah Siu-mey dari jarak jauh, tahulah Gak Lui bahwa
orang2 itu tentu tak bermaksud baik. Dipandangnya
sitinggi besar itu dengan seksama. Wajahnya merah
seperti tembaga dan bentuknya aneh. Cepat Gak Lui
melesat kedepan Siu-mey untuk melindunginya. Tetapi
ternyata sitinggi besar itu hanya ganda tertawa dan
mengangkat tangan memberi hormat: „Gak sauhiap,
engkau tangkas sekali .....”
“Mengapa engkau kenal padaku?” tegur Gak Lui.
“Namamu amat menggetarkan dunia persilatan.
Siapakah yang tak mendengar ....”
“Mengapa angkau melukai kawanku”
“Kulihat engkau sedang melintasi jembatan gantung
itu. Kuatir kawanmu menjerit kaget sehingga
mengganggu pemusatan pikiranmu, maka kututuk
jalandarahnya. Sekarang biarlah kubukan lagi.” Tetapi
Gak Lui menolak dan mengatakan: „ia dapat
membukanya sendiri.” Orang itu tertegun lalu bertanya:
„Mohon tanya, apakah orang yang meninggalkan tulisan
pada karang itu apa masih disini? Dan siapakah kiranya
locianpwe itu ?” “Beliau .....” tiba2 Gak Lui merasa bahwa
orang itu memang mencurigakan maka cepat ia beralih
jawaban: „Sekalipun disini tetapi tak mau bertemu orang.
Bahkan namanya pun tak mau – memberitahukan”.
“Lalu apakah dia juga yang membunuh rombongan
210
Lembah mati itu ?”
“Ada hubungan apakah engkau dengan mereka?
Mengapa engkau begitu memperhatikan sekali ?” Gak
Lui Was bertanya.
“Kami kebetulan lalu disana dan merasa heran.” Gak
Lui makin curiga. Dipandangnya orang itu dengan tajam,
tanyanya: „Siapakah saudara ini ? Maukah saudara
memberitahukan nama?”
“Aku Rajawali-mas-bersayap-besi Oh Toa-hay,” kata
sitinggi besar lalu menunjuk kearah delapan orang yang
berada dibelakangnya: „dan kawan2 ini adalah Delapanjago-
pedang besi !”
Gak Lui mengangguk lalu berseru lantang : „Kalau
kalian hendak bertanya tentang peristiwa gerombolan,
Setan kering itu, terus terang saja, akulah yang
membunuhnya. Batu2 permata merekapun telah
kusimpan!”
Tetapi sitinggi besar tertawa tebang; „Benarlah,
dengan kepandaian sauhiap, tentu mudah sekali
melakukannya ... Tetapi wajah kedelapan orang cepat
berobah memberingas, Ada beberapa yang segera
mencabut pedang. Gak Lui tertawa dingin ; „Ho...!,
kiranya kalian ini anak buah Maharaja, makanya bernyali
besar datang kemari !”
Wajah sitinggi Rajawali-emas-sayap-besi berobah
seketika dan mundur setengah langkah, serunya „Harap
sauhiap jangan menghambur fitnah aku .....”
“Sikap kalian sudah mengunjuk warna diri, tak perlu
menyangkal !” tukas Gak Lui.
Tinggi besar Rajawali-emas mendengus : „Hm, tajam
benar matamu! Mengapa tak lekas menyerahkan batu
211
berlian itu .... !”
“Ha..., ha..., ha..., ha ... terimalah baik2 ini! Gak Lui
merogoh kedalam saku baju lalu lemparkan sebuah
benda kekaki sitinggi besar”
Melihat benda itu, sitinggi besar menyurut mundur
tiga langkah, serunya tergagap : „Itu ... Amanat mati !”
“Benar...!, kalian biasa menggunakan benda itu untuk
menggertak orang persilatan. Hari ini aku hendak
memintakan mereka ganti jiwa kepada kalian !”
Wajah sitinggi besar makin beringas bengis. Tangan
kanan mencabut pedang, tangan kiri terus hendak
menyambar Amanat itu. Tetapi Gak Lui lebih cepat.
Sekali gerakkan tangan kiri, kertas Amanat itu
melambung keudara dan secepat kilat pedang ditangan
kanan menusuk tangan sitinggi besar. Si Tinggi besar
terkejut loncat mundur sampai satu tombak dan dengan
gugup mencabut pedang, lalu memutar untuk melindungi
diri. Sebenarnya Gak Lui hendak menyusuli serangan
lebih lanjut tetapi ia diserbu oleh kedelapan orang itu.
Mereka menyerang dari delapan jurusan. Terpaksa Gak
Lui melayani mereka.
“Hayo, kalau berani, engkau maju sekali !” serunya
kepada si tinggi besar.
Rajawali-emas-sayap-besi acungkan ujung
pedangnya kemuka Gak Lui. Sikapnya seperti hendak
menyerang tetapi matanya mengicup ke arah kedelapan
jago pedang itu. Cepat Gak Lui mengetahui. Ia duga
orang itu tentu mempunyai tujuan lain. Kemungkinan si
tinggi besar hendak suruh kedelapan jago itu menawan
Siau-mey. Terpaksa ia tahan kemarahannya dan
berseru: „Kalau kalian menghendaki berlian, mengapa
tak mau maju mengambil kemari!”
212
“Jika engkau takut, aku segera tinggalkan tempat ini
!” balas si tinggi besar.
“Kalau pulang dengan tangan hampa, apakah kalian
tak takut mendapat hukuman ?” ejek Gak Lui.
Ucapan itu tepat menyentuh hati rombongan
Rajawali-emas- sayap-besi. Si tinggi besar mendengus
lalu bersama kedelapan jago menyerang Gak Lui.
Serangan sembilan jago itu, hebatnya bukan kepalang.
Batu dan debu berhamburan ke-empat penjuru. Tetapi
Gak Lui tak gentar.
“Bagus....!” teriaknya, seraya mainkan pedang
laksana bianglala bercengkerama di angkasa. Tiga jurus
kemudian, ia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya si
tinggi besar itu memang hebat tenaga dalamnya. Jurus
serangannyapun amat ganas sekali. Apalagi ke Delapanjago-
pedang-besi itu mahir sekali bergerak secara
keroyokan. Rupanya mereka terlatih dalam barisan yang
lihay. Tanpa memberi isyarat, mereka masing2 dapat
bergerak secara otomatis dan rapi. Maju mundur,
menyerang dan bertahan selalu teratur rapi dan cepat.
Karena ditabur oleh 9 pedang yang mencurah lebat, Gak
Lui tak sempat mengembangkan permainan pedangnya,
dan terpaksa terdesak mundur.
Melihat itu, sambil perhebat serangan pedangnya, si
tinggi besar tertawa mengekeh : „Orang she Gak, hatimu
nanti hendak kukorek keluar untuk menyembahyangi
adikku Setan Kering, heh..., heh..., heh..., heh ......”
Tetapi belum kumandang tertawanya sirap, terdengarlah
dering gemerincing yang tajam sekali. Tubuh Gak Lui
tiba2 berputar- putar dan pedang-nya berobah seperti
segulung sinar yang membungkus dirinya. Gulungan,
sinar pedang itu merupakan bentuk sekuntum bunga
Teratai yang tengah berhamburan mekar ....
213
Ke 9 pedang lawan yang menyerang ganas itu,
terpental dan hanya berkelebatan di luar gulungan sinar
pedang Gak Lui. Ternyata Gak Lui telah mempraktekkan
ilmupedang Cenderawasih-pentang-sayap-ajaran bibi
gurunya si Pedang Bidadari Li Siok-gim. Dan hasilnya
sungguh mengagumkan. Lawan terpancang sukar
menggerakkan pedang sehingga posisinya sekarang
terbalik. Dari menyerang menjadi bertahan. Pada saat si
tinggi hesar terkesiap kaget, tiba2 matanya silau akan
kelebat sinar pedang, dan tring..., tring..., tring ....
berhamburan pedang dari kawanan jago pedang itu.
Kalau tidak terpapas kutung, pedang merekapun terlepas
jatuh. Melihat itu patahlah nyali si tinggi-besar. Secepat
kilat ia berputar dan terus lari....
“Hai...!, hendak lari ke mana engkau!” dengan
gunakan ilmu meringankan tubuh Awan-berarak-ribuan-li,
Gak Lui apungkan tubuhnya mengejar. Pada saat
punggung Rajawali-emas-sayap-besi terancam maut,
tiba2 kedelapan jago rombongannya itu mendapat akal.
Cepat mereka lari menghampiri ke tempat Siu-mey. Gak
Lui terkejut. Cepat ia berjumpalitan melayang balik. Pada
saat berjumpalitan di udara itu iapun mencabut pedang
pusaka Pelangi. Kemudian ia taburkan kedua buah
pedangnya kepada mereka.
“Auhhh .....” terdengar dua buah jeritan ngeri dan dua
orang yang lari paling depan rubuh dengan dada
tertembus pedang. Setelah itu Gak Lui lontarkan pula
pukulan sakti Algojo-dunia. Seketika terdengar pula dua
buah jeritan ngeri. Seorang terlempar ke dalam lembah
dan seorang mundur terhuyung- huyung sampai lima
enam langkah, lalu rubuh dengan kepala pecah ........
Tetapi Gak Lui masih kalah cepat dengan sisa keempat
jago pedang yang tetap lari ke tempat Siu-mey atu.
Apalagi Gak Lui sudah melayang turun dan harus
214
menginjak tanah lagi untuk melakukan loncatan yang
kedua. Keempat anggauta Delapan jago-pedang-besi itu
dengan buas lari menyergap gadis-ular Siu-mey yang
saat itu tetap masih tak berkutik. Gak Lui kucurkan
keringat dingin ...........
JILID 5
PADA saat keempat jago itu hendak menerkam gadis
ular Li Siu- mey, se-konyong2 dari, balik karang
terdengar suara mendesis. Siu-mey getarkan tubuhnya.
Serempak mulut mendesis, ia dorongkan kedua
tangannya. Dua ular, emas dan perak, yang melingkar
sebagai gelang pada kedua tangannya serentak
meluncur ke udara. Dua orang penyerang yang paling
depan sendiri, seketika rubuh ketanah. Dua orang
kawannya yang menyusul dibelakang, terkejut dan
tertegun melongo.
“Cucu kecoa, hayo mundur!” Kedua orang itu serta
merta menurut. Tetapi pada saat mereka berputar tubuh,
dua batang pedang dari Gak Lui menyongsong dada
mereka. Kedua orang itu rubuh tak bernyawa. Siu-mey
cepat melesat ketempat Gak Lui. Setelah menarik nona
itu kesamping, Gak Lui segera memberi hormat kearah
karang seraya berseru: „Lo-cianpwe yang berada
dibelakang batu karang, Gak Lui menghaturkan terima
kasih atas budi pertolongan lo-cianpwe!”
“Aku siorang desa ini murid Kun-lun-pay jang
bernama Se-bun Ciok. Jangan menyebut cianpwe pada
diriku!”
“Dengan ketua Kun-lun pay Hong San locia
bagaimana cianpwe memanggilnya?” seru Gak Lui pula.
215
“Hai, itulah mendiang guruku!” orang itu berseru
kaget dan terus melangkah keluar dari balik karang.
“Rasanya engkau tak kenal gelagat. Yang menjadi
ketua partaiku sekarang ini adalah suheng-ku Tang-hong
Giok, digelari orang sebagai Tang Hong Sianseng ...
Sejak tadi Siu-mey belum sempat berpaling muka melihat
penolongnya. Kini ketika memandang orang itu,
menjeritlah nona itu: „Ai...., engkau tentulah Se-bun
Sianseng ......”
“Benar,” sahut orang itu, „kami memang sepasang.
Satu Tang (timur) satu Se (barat)”
Mengawasi dandanan orang itu, diam2 Gak Lui geli
juga. Se-bun Sianseng itu mengenakan sebuah topi butut
yang sudah tak begitu jelas lagi warnanya. Jubahnya pun
hanya sampai keatas lutut, sepatunya dari rumput, kaos
kain kaki kasar. Punggungnya menyanggul sebatang
payung. Tangan kiri memegang kipas besi berwarna
hitam mengkilap dan tangan kanannya mencekal pipa
huncwe. Ia memelihara kumis dan jenggot, yang
dikepang dua, memakai kacamata yang diikat pada
telinga dengan pita. Boleh dikata apa yang dipakainya itu
barang butut semua. Sukar bagi orang untuk percaya
bahwa si gelandangan jembel itu memiliki kepandaian
silat yang tinggi.
“Gak laute, tentu tak sedap memandang diriku yang
tak keruan ini, bukan?” Se-bun Sianseng batuk2
sehingga kacamatanya ikut bergoncangan naik turun
pada batang hidungnya.
“Ah, tidak,” buru2 Gak Lui menyahut, „cianpwe
seorang sakti yang tak mau unjuk diri. Ilmu tutukan Kekgeng-
tiam-hwat yang cianpwe lepaskan tadi, cukup
meyakinkan orang!”
216
“Ah, engkaupun terlalu merendah diri!” seru Se-bun
Sianseng,
“ilmu tenaga-dalam mendorong dan menyedot, serta
melepaskan pedang tadi, aku Se-bun Sianseng yang
sudah bergelandangan di dunia persilatan selama
berpuluh tahun, tetap tak mampu mengetahui dari
sumber mana kepandaianmu itu.”
Mendengar itu Gak Lui tertegun. Ilmu melemparkan
pedang tadi, sebenarnya baru pertama kali ia gunakan
ltu, karena gugup melihat Siu-mey terancam bahaya.
“Ah, tak perlu saudara tertegun,” kata Se-bun
Sianseng pula: „aku bukan bermaksud hendak mencari
penyakit. Apalagi engkau mengenakan kedok muka
karena tak ingin dilihat orang, lebih2 aku tak mau
bertanya melilit. Hanya mengenai sebuah hal,”
“Apa?” seru Gak Lui.
“Engkau kurang faham akan ilmu tutukan. Suatu hal
yang janggal dan tak seimbang dengan ilmu
kepandaianmu!”
Sejak pertama kali di tunjuk hidung kalau
kepandaiannya masih rendah oleh mendiang ayah
angkatnya tempo hari, baru itulah Gak Lui memenerima
kritikan orang lagi.
“Memang sessungguhnya kepandaian itu tidak
banyak ragamnya sehingga sering menimbulkan buah
tertawaan orang,” sahutnya.
“Kurasa bukan soal itu. Melainkan karena engkau tak
faham akan letak jalan darah orang. Jika engkau tak
menganggap aku seorang usil, aku hendak
mempersembahkan sebuah barang kepadamu!” habis
berkata Se-bun Sianseng meletakkan pipa dan kipas.
217
Lalu mengambil selembar gambar dari bungkusannya.
Begitu dibuka, ternyata Lukisan itu merupakan gambar
tubuh manusia dengan seluruh letak jalan darahnya. Gak
Lui menyurut mundur setengah langkah.
“Ah, mana aku berani menerima pemberian begitu
berharga ...” Gak Lui berseru.
“Barang ini bukan milik partaiku Kun-lun-pay
melainkan peninggalan dari sahabatku Jari-tunggal-sakti
yang mengatakan bahwa benda ini hendaknya diberikan
kepada orang yang sesuai,” menerangkan Se-bun
Sianseng.
“Siapakah cianpwe itu?”
“Menilik tingkatannya, dia adalah paman guru dari
Kaisar (Raja diraja) Li Liong-ci. Beliau termasyhur
sebagai ahli tutuk jalan darah yang sukar dicari
tandingannyal”
“Ah, kiranva seorang jago sakti dari partai Thianliong-
pay!” seru Gak Lui.
“Dia tak termasuk tokoh Thian-liong-pay. Pula peta
yang berisi gambar dari ke 36 jalan darah besar dan 343
jalandarah kecil pada tubuh manusia ini, hanya untuk
penetral bagian2 dari tubuh manusia. Tentang
penggunaannya, terserah padamu sendiri.”
Mendengar penjelasan dan karena didesak, akhirnya
Gak Lui mau juga menerima. Setelah menghaturkan
terima kasih ia terus mencari tempat yang sepi lalu
merentang peta itu dan memeriksanya dengan teliti.
Tiba2 Se Bun Sianseng mengusap jenggot dan banting2
kaki:
“Ah, karena terpikat oleh ramai2 aku sampai
melupakan sebuah hal yang genting!”
218
Sambil memandang peta dan merabah-rabah
bagian2 jalan darah pada tubuhnya sendiri, Gak Lui
bertanya: „Apakah yang lo- cianpwe lupakan itu?”
“Membiarkan kaki tangan Maharaja pergi sehingga
tentu menimbulkan kesulitan pada gerakan partai2
persilatan!”
“Partai2 persilatan sudah bergerak?” Gak Lui
menegas.
“Masakan engkau tak tahu? “
“Sudah lebih dari sebulan aku masuk kedaerah
pedalaman gunung.....”
„Air, banyak sekali perobahan yang terjadi sebulan
itu! “
Gak Lui terkejut dan mengangkat muka: „Perobahan
apa sajakah itu?”
“Teruskanlah mempelajari peta gambar itu. Akan
kuceritakan dengan pelahan-lahan: Pertama tentang
sepak terjang dari kaki tangan Maharaja yang kian hari
kian merajalela. Siang hari bolong berani mengirim
Amanat Nasib sehingga menimbulkan kegelisahan dan
kecurigaan. Ada beberapa, partai persilatan yang
mengatakan, engkau menjadi salah seorang anggauta
gerombolan Topeng Besi!”
“O, lalu apa lagi? “
“Kecuali partaiku Kun-lun-pay dan partai Go-bi-pay,
kelima partai persilatan yang lain semua telah menerima
surat rahasia yang telah ditanda-tangani oleh tokohtokoh
mereka sendiri yang telah menghilang selama
baberapa tahun. Dalam surat itu menyatakan hendak
mengadakan pembersihan kedalam partai dan
memerintahkan ketua mereka, dalam waktu paling lama
219
satu tahun harus sudah mengundurkan diri:”
“Hal itu sudah kudengar,” kata Gak Lui, „tetapi bahwa
kelima partai dalam waktu serempak telah menerima
ancaman semacam itu, memang baru saat ini kudengar!”
Se Bun Sianseng melanjutkan pula: „Ketiga,” Kaisar
Li Liong-ci sudah muncul lagi ke daerah Tiong-goan!”
“Tentulah hendak turun tangan!”
“Sama sekali tidak begitu. Kabarnya dia tidak mau
campur tangan.”
Mata Gak Lui ber-kilat', serunya: „Mengapa”
“Orang yang menceritakan kepadaku tak berani
menerangkan se-jelas2nya. Kamipun tak dapat menerka.
Sekalipun Kaisar tak mengacuhkan, asal Empat Putri
mau membantu, golongan Putih dalam dunia psrsilatan
tentu masih mempunyai harapan.”
“Empat Putri?” Gak Lui mengulang.
“Benar, mereka. terdiri dari Puteri Hijau, Puteri Naga
Istana-laut, Puteri Telaga Tongthing dan Bawang Putih.”
“Bagaimana dengan kepandaian mereka?”
“Mereka satu kaum. Kepandaian Kaisar Li Liong-ci
mencangkum Hud dan Mo (aliran agama dan Iblis).
Sedang Empat Puteri itu meliputi ilmu sakti Ceng-ling,
Cek-cui, Tong-ting-kui-ong, Thaysiang-sia-kun dan Liokhap-
mo-cun. Merupakan gabungan antara aliran Putih
dan Hitam!....”
Tergerak hati Gak Lui mendengar uraian Se Bun
Sianseng itu. Katanya dengan tandas: „Jika karena
sesuatu sebab, mereka tak muncul, aku Gak Lui pasti
tetap akan berjuang melaksanakan cita2. Kalau lain
orang dapat berlatih sehingga mencapai tataran begitu
220
hebat, masakan aku juga tak mampu!”
“Bagus, bagus! Kekerasan hatimu sungguh
mengagumkan sekali. Menurut kata nona ini, kelak
engkau tentu menjadi tokoh yang cemerlang!” seru Se
Bun Sianseng.
Sambil kicupkan mata, bertanyalah gadis-ular Siumey:
„ Menurut lo cianpwe, apakah yang dapat
kupelajari...?”
“Nona memiliki kecerdasan dan simpanan hawa
murni yang kokoh. Kalau mempelajari ilmu tenaga-dalam
Lunak, kelak tentu berhasil! “
Nona itu girang sekali dan berpaling memandang ke
arah Gak Lui. Saat itu Gak Lui tengah melipat peta
gambar dan menyerahkan kembali kepada Se Bun
Sianseng: „Terimat kasih lo-cianpwe, aku sudah dapat
menghafal gambar2 itu. Budi lo-cianpwe kelak tentu
kubalas.”
Sambil menyambuti peta gambar, Se Bun Sianseng
melolos kaca-matanya dan menyerahkan kepada
=================== Lembar 10-11, hilang
===================
Tujuan pertama itu merupakan suatu pertempuran
mati hidup dengan Maharaja. Dan tujuan yang kedua itu
untuk mengukur tinggi rendahnya kepandaiaanya yang
telah dicapai saat itu. Kedua-duanya hanya
mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menentukan
kalah menangnya atau gagal berhasilnya tujuan itu. Dan
serentak teringatlah ia akan ucapan emas mendiang bibi
gurunya Dewi Pedang bahwa ilmu kepandaiannya itu
harus ditempuh dengan kegiatan dan jerih payah. Sekalikali
jangan mengandalkan pada suatu rejeki yang tak
terduga-duga ........
221
Seketika tergugahlah semangat Gak Lui.
Koberaniannya pun menyala. Dia tak menghiraukan lagi
lautan kesulitan yang harus dihadapi dalam
melaksanakan tujuannya untuk membalas dendam
kematian orangtuanya. Ditain fihak gadis ular Siu-mey
pun terbenam dengan keinginan untuk belajar silat. Agar
dapat mencari ayahnya dan membantu usaha sang
kekasih (Gak Lui), bulatlah sudah tekadnya untuk
menuntut ilmu kepandaian silat yang sakti. Ucapan Se
Bun siangseng tadi, benar2 telah membangkitkan
semangatnya.
Tak disadari, Siu-mey merekah senyum bahagia.
Tetapi tiba2 dalam benak si nona itu terlintaslah
bayangan seorang gadis lain yang menjadi kawan akrab
dari Gak Lui. Gadis lain itu yalah, Hi Kiam-gin. Tetapi
Kiam-gin telah hilang jejaknya, entah lenyap ke mana.
Apakah gadis itu akan mendapat rejeki luar biasa
sehingga mampu memperoleh ilmu silat yang sakti
sehingga akan menjadi rintangan hubungannya (Siumey)
dengan Gak Lui? Adakah ia harus harus membagi
cinta kepada gadis itu
Tiba2 Gak Lui batuk2 pelahan dan berseru getun:
„Ah, kulupa untuk menanyakan sebuah soal penting
kepada Se Bun sianseng!”
Siu-mey tersadar dari lamunan dan cepat
menyanggapi: „ Soal apa?”
“Pedang yang kubawa ini adalah pedang Pelangi
pusaka pemberian Ceng Ki totiang dan partai Bu-tongpay.
Beliau minta tolong kepadaku supaya mencarikan
seorang pandai besi yang jempol untuk merobah bentuk,
pedang yang pendek itu menjadi pedang panjang. Tak
bertanya pada Se Bun Sianseng, bukankah berarti
menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ........ “
222
“Ah, kesempatan selalu masih ada. Tetapi engkau
harus ingat akan urusan Ceng Suan totiang dari Bu-tongpay
yang turun gunung itu. Saat ini mereka sedang
terancam bahaya. Jika mengembalikan pedang itu
kepadanya, berarti engkau membantunya dan berarti
takkan menyia-nyiakan harapan Ceng Ki totiang.”
Dalam waktu bercakap-cakap itu keduanya sudah
berjalan cukup jauh. Gak Lui sejenak berpaling ke arah
guha rahasia kediaman mendiang bibi gurunya. Selesai
lepaskan tatapan mata yang terakhir, cepat2 ia lanjutkan
perjalanan lagi.
SETELAH berjam-jam melintasi daerah pegunungan
belantara, akhirnya mereka tiba di tanah datar. Dan pada
saat mereka menyusur sebuah jalan besar, tiba2
diiihatnya seorang lelaki pertengahan umur sedang
berdiri di bawah sebatang pohon rindang. Orang yang
dandanannya seperti orang desa itu rupanya sedang
menunggu sesuatu. Tetapi dari sikapnya, orang itu
seperti seorang yang memiliki kepandaian ilmusilat.
Cepat sekali Gak Lui dan Siu-mey melintas di samping
orang itu. Tiba2 orang itu berpaling dan memandang Gak
Lui dan Siu-mey. Dengan matanya yang tajam dapatlah
Gak Lui mengetahui gerak gerik orang itu.
Diam2 timbul kecurigaannya namun pura2 tidak tahu
dan lanjutkan perjalanan. Sekonyong-konyong orang itu
bersuit nyaring. Dari arah muka segera terdengar
sambutan orang bersuit. Suitan itu- berasal dari arah
hutan. Jelas suitan itu tentulah suatu pertandaan rahasia
dari sebuah gerombolan. Gak Lui berputar tubuh lalu
kembali ke tempat orang itu. Orang itu terkejut dan
menyurut mundur tiga langkah, sandarkan punggung
pada pohon.
“Engkau anakbuah partai mana?” tegur Gak Lui
223
dengan nada keras. Saat itu Siu-mey pun tiba. Orang itu
makin terkejut sehingga gemetar dan condongkan tubuh
ke arah Gak Lui. Rupanya dia makin ketakutan melihat
Siu- mey. Kini Gak Lui sudah dapat menduga.
Gerombolan jago2 silat yang dikalahkan tempo hari,
tentu sudah menyiarkan berita tentang dirinya dan Siumey.
Dan berita itu tentulah suatu tuduhan bahwa dirinya
seorang anggauta gerombolan Topeng Besi. Bahkan
Siu- mey pun dianggap juga sebagai seorang gadis yang
berbahaya. Setelah meneguk air liurnya yang nerocos ke
luar, orang itu menyahut gentar: „ Aku seorang anggauta
partai Gelandangan. “
“Partai Gelandangan? “ Gak Lui menegas. Orang itu
mengiakan.
“Partai Gelandangan di daerah selatan dan Partai
Pengemis di daerah utara, merupakan partai golongan
Ceng-pay (lurus). Siapakah nama saudara?”
Mendengar ucapan Gak Lui begitu, berkuranglah
rasa takut orang itu. Buru2 ia memberi hormat: „Maaf,
aku telah berlaku kurang hormat kepada Gak siau-hiap
dan nona ini. Namaku Tio Cwan, menjabat tugas untuk
menyambut setiap tetamu”
“Ah...., jangan merendah diri. Tetapi mengapa
saudara begitu tegang sekali tampaknya?”
“Ini...” Tio Cwan tergugu, rahasia partai, aku tak
dapat mengata- kan....”
“Ah..., rupanya engkau mencurigai aku sebagai kaki
tangan Maharaja sehingga tak mau mengatakan hal itu,”
kata Gak Lui.
“Memang dalam dunia persilatan tersiar kabar
semacam itu!”
224
“Hm..., tak apalah. Aku tak mau mendesak mu,” kata
Gak Lui, terus berputar tubuh hendak berlalu. Tetapi
tiba2 Tio Cwan mencegah: „Siau-hiap, tunggu dulu. Jika
engkau dapat menjawab sebuah pertanyaanku yang tak
berarti, tentu akan kuberitahukan kepadamu.”
“Katakan!”
“Apakah sau-hiap mempunyai hubungan dengan
partai Pengemis cabang selatan?”
“Baik dengan cabang selatan maupun dengan
cabang utara, aku tak punya hubungan. Aneh, mengapa
engkau bertanya begitu?”
“Kalau tak ada hubungan, itulah yang kami harapkan
karena masa ini partaiku sedang berselisih dengan partai
Pengemis cabang selatan!”
Heran Gak Lui mendengar kedua partai yang terkenal
itu sampai saling bentrok sendiri. Tanyanya: „Bukankah
ketua partaimu itu......Raja sungai Gan Ka-ik?”
Tio Cwan mengiakan.
“Kabarnya ilmu pedang dari keluarga Gan itu amat
hebat. Masakan takut pada partai Pengemis cabang
selatan? Dan lagi partai Pengemis itu mempunyai disiplin
keras. Bagaimana mungkin cabang selatan dapat
bertindak sendiri!”
Sebagai seorang persilatan yang banyak pengalaman
tahulah Tio Cwan bahwa Gak Lui itu seorang
pemuda jujur. Maka hilanglah rasa kecurigaannya
terhadap pemuda itu.
“Ah...., mungkin siau-hiap tak tahu. Sesungguhnya
antara partai Gelandangan dengan partai Pengemis itu
tidak saling bermusuhan. Bahwa keduanya saling
membantu. Tetapi sejak ketua mereka meninggal dunia,
225
partai Peingemis itu pecah menjadi dua cabang, utara
dan selatan. Cabang utara masih baik, tapi yang cabang
selatan telah dikuasai oleh dua tokoh yang tak keruan.”
„Siapakah kedua orang itu?”
“Yang satu yalah. Pengemis Ular dan yang seorang
Pengemis Ganas. Dengan mengandalkan ilmu silatnya
yang sakti, mereka melakukan perbuatan jahat dimanamana
tempat. Bermula karena mengingat hubungan
lama, ketua kami tak mau mencampuri urusan mereka.
Tetapi sekarang malah..... “
“Kenapa? “
“Malah dimana-mana tempat kita menderita
pengacauan mereka! “
“Masakan begitu besar pengaruh mereka?”
“Karena ketua kami setengahnya sebagai orang
persilatan yang bergerak di perairan dan setengahnya di
daratan. Dan pula masih mengurus pangkalan di perairan
dan di daratan. Dan lagi Kaisar Persilatan Li Liong-ci
itupun menjadi tetua kehormatan dari partaiku. Selama
ini tiada sebuah partai persilatan yang berani
mengganggu partai kami. Tetapi tak terduga-duga, partai
Pengemis cabang Selatan itu sengaja hendak cari
perkara dengan tindakan2 yang menantang. Rupanya
mereka mempunyai “backing istimewa .... “
„O...,” Gak Lui mendesus kaget. Ia heran Kaisar
Persilatan Li Liong ci mau menjadi Ketua kehormatan
dari partai Gelandangan. Sungguh suatu hal yang tak
terduga sama sekali. Jika Pengemis Ular dan Pengemis
Ganas berani cari perkara dengan partai Gelandangan,
tentulah mereka mempunyai backing yang kuat. Adakah
backing itu bukannya dari .... Maharaja Persilatan dan
226
gerombolan-nya? Tiba pada dugaan itu cepat2 Gak Lui
mengajukan pertanyaan: “Dimanakah partaimu akan
mengadakan pertempuran dengan partai Pengemis
cabang selatan itu? “
“Ini ... ini ... “
“Jangan takut.” Kehadiranku ke sana takkan
merugikan partaimu !”
“Di sebuah tanah lapang, kira2 ,10 li jauhnya dari sini
....... “
Mendengar itu Gak Lui segera memberi pesan
kepada Siu-mey;
“Adik Mey, engkau menyusul pelahan-lahan dan
jangan campur tangan !”
Belum sempat Siu-mey menyahut, Gak Lui sudah
loncat beberapa tombak jauhnya. Dengan gunakan ilmu
meringankan tubuh istimewa, ia lari pesat.
Tio Cwan terkejut, serunya kepada Siu-mey; „Nona
.... !”. Tetapi nona itupun sudah bergerak dan tahu2
sudah berada dua tombak jauhnya. Bagaikan bayangan
ia terus mengejar Gak Lui. Tio Cwan hanya terlongonglongong
sambil leletkan lidah.
Beberapa saat kemudian barulah ia bersuit memberi
pertandaan yang kedua kalinya lagi. Di sebuah. tanah
lapang yang luas, tampak dua orang tokoh silat yang
berilmu tinggi, sedang berhadapan. Yang di sebelah
selatan adalah serombongan 9 orang pengemis yang
masing2 memegang tongkat penggebuk anjing.
Pemimpinnya bukan lain adalah Pengemis Ganas.
Seorang tokoh pemimpin partai Pengemis cabang
selatan yang berwajah merah dan memelihara jenggot
runcing. Sedang yang di sebelah utara pun berdiri
227
seorang lelaki berumur 50-an tahun, di belakangnya
berjajar 8 orang jago2 dari partai Gelandangan.
Sambil mengangkat tongkat Pengebuk anjing yang
merupakan senjata dari anakbuah partai Pengemis.
Dengan suara kasar dan bengis ia membentak:
„Bagaimana dengan permintaanku supaya kalian mundur
dari setiap pangkalan darat maupun perairan dan
kembali ke tempat kalian masing2. Syarat itu sudah
longgar sekali. Apa yang harus dipertimbangkan lagi.....”
Sahut lelaki yang memimpin rombongan anak buah
partai Gelandangan: „Bukan aku yang harus
mempertimbangkan sebaliknya engkaulah yang harus
pikir2. Adakah ilmu Pedang- kilat dari keluarga Gan dan
Pukulan Geledek itu, mudah dihina atau tidak!”
“Ha..., ha..., ha... ! Kukuatir kedua macam medalimu
itu takkan muncul lagi. Jangan lagi hanya ilmu
kepandaian cakar kucing itu sekalipun engkau panggil
Kaisar Li Liong-ci ke mari, partaiku tentu dapat
menghadapinya!”
Jago pedang jenggot panjang, yang ternyata
pemimpin partai Gelandangan yakni Gan Ka-ik,
melangkah maju dan berseru keras: „ Siapa jagomu itu! “
“Sudah tentu .... Pengemis Ular. Dia akan membawa
12 pengemis Pemain-ular dan beratus-ratus ekor ular
berbisa. Masakan engkau tak tahu hal itu!”
Nama Pengemis ular itu telah membuat Gan Ka-ik,
gemetar. Tadi ia telah mendengar suit per-tandaan dari
Tio Cwan, ia duga bala bantuan musuh tentu sudah tiba.
Maka sambil rangkapkan kedua tangannya ke atas, ia
berdo'a ke arah langit: „Cousu yang berada di alam baka,
hari ini murid terpaksa melanggar pantangan
membunuh.......”
228
Mendengar doa itu, tahulah Pengemis Ganas bahwa
gertakannya tadi tak berhasil. Maka tanpa mempedulikan
tata susila dunia persilatan lagi, ia terus menyerang
dengan tongkat Penggebuk- anjing. Tetapi ilmu pedang
keluarga Gan itu, termasyhur karena kecepatannya.
Sekali kaki jago berjenggot panjang itu menyilang, ia -
sudah meluncur setengah tombak dan dengan
kecepatan yang luar biasa, ia sudah mencabut pedang
dan membabat tongkat lawan.
Seketika tongkat dan pedang berhamburan merapat
ketat. Dua orang tokoh yang berilmu tinggi, saling
bertempur dengan seru. Masing2 mengeluarkan
kepandaiannya. Cepat lawan tangkas, keras lawan
keras. Ternyata kekuatan keduanya berimbang. Tetapi
dalam hati Gan Ka-ik tetap dibayangi dugaan bahwa bala
bantuan musuh akan segera datang. Pikirannya agak
terpecah memikirkan hal itu. Dan kelengahan itu cepat
digunakan lawan sebaik-baiknya untuk menguasai
permainan.
Dalam 10 jurus, jago she Gan itu terus menerus
mundur sampai tiga langkah. Pukulan Geledek-nya tak
sempat dilepaskan. Saat itu serangan tongkat Pengemis
Ganas makin gencar dan dahsyat. Setapak demi setapak
ia mendesak maju. Wajahnya menyeringai tawa karena
yakin tentu menang. Tetapi pada saat ketua partai
Gelandangan Gan Ka-ik terancam maut, dari jauh
terdengar pula suitan pertandaan. Rupanya dari petugas
partai Gelandangan yang memberitahu bahwa yang akan
datang itu bukanlah musuh. Seketika timbullah semangat
ketua Gelandangan itu. Sret..., sret..., sret..., tiga kali ia
kiblatkan pedangnya.
Setelah berhasil menyisihkan tongkat, tiba2 ia
ayunkan tangan kiri dan bum .... terdengar letupan
229
disusul oleh tubuh Pengemis Ganas yang terhuyunghuyung
dua langkah ke belakang. Pengemis Ganas
berkaok-kaok seperti orang gila: „Awas, pembalasanku !”
Kedelapan pengemis, galak yang berada
dibelakangnya segera melepas kantong yang tersanggul
pada bahunya, terus ditaburkan. Di udara berhamburan
sinar berkilau-kilauan bercampur dengan suitan yang
mendesing-desing aneh, menuju ke arah rombongan
partai Gelandangan ....
Sebenarnya anak buah partai Gelandangan tadi
sudah hendak bergerak menolong ketuanya yang
tampak terdesak. Tetapi baru mereka hendak bergerak,
rombongan anak buah partai Pengemis telah menabur
senjata rahasia yang terbuat dari bahan peledak.
Pemimpin partai Gelandangan cepat memutar pedang
sambil menghantam dengan tangan kiri. Terdengar
beberapa ledakan keras dari beberapa butir senjata
rahasia yang berhamburan jatuh ke tanah. Juga anak
buah partai Gelandangan serempak lontarkan hantaman
untuk menghalau serangan itu. Tetapi senjata rahasia
dari rombongan partai Pengemis itu amat banyak
jumlahnya sehingga hanya setengahnya yang dapat
dihantam jatuh. Tetapi yang lolos dari hantaman tetap
menyambar sasarannya. Terdengar beberapa jeritan
ngeri dan orang tertahan dari anak buah partai
Gelandangan itu.
Sambil menutup muka, mereka terhuyung-huyung
dan merintih kesakitan. Ketua partai Gelandangan
terkejut dan terpecah perhatiannya. Pipinya, sebelah
kiripun termakan renjata rahasia itu, sakitnya bukan
alang kepalang. Separoh dari mukanya mati rasa
seketika. Cepat ia menampar pipinya sendiri, uh....
seekor kutu yang keras kulitnya hinggap pada pipinya.
230
Cepat ia menarik dan memeriksanya. Ternyata seekor
lalat hijau yang bermulut tajam dan mempunyai sengat
yang sangat keras sekali. Dari warnanya yang agak
kehijau hijauan gelap, tentulah lalat itu yang telah diberi
makanan racun ganas. Sehingga begitu menggigit orang,
orang itu pasti mati.
Melihat senjata-rahasianya berhasil membuat
rombongan orang partai Gelandangan kacau balau
terhuyung-huyung rubuh ke tanah, Pengemis Ganas
tertawa seram. la nantikan pada saat pemimpin partai
Gelandangan itu juga terhuyung-huyung dicengkam
racun, barulah ia akan -memberi gebukan yang
mematikan.
SAAT ITU jago pedang dari partai Gelandangan
sedang dikerumuni oleh lalat2 beracun sehingga
betapapun ilmu kepandaiannya, namun akhirnya dapat
juga digigit oleh beberapa ekor lalat. Akibatnya,
permainan pedangnya mulai lambat dan orangnya pun
tampak terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Tak
lama lagi dia tentu rubuh.
“Ha..., ha..., ha...! Biarlah kutambahi dengan sebuah
gebukan agar jangan membuang waktuku!”
Pengemis Ganas tertawa iblis lalu melesat ke muka.
Aneh sekali, kawanan lalat beracun itu cepat menyingkir
untuk memberi jalan kepada Pengemis Ganas. Sebatang
tongkat berwarna hitam melayang kearah mata pemimpin
partai Gelandangan yang sudah tak berdaya itu.
Sekonyong konyong dua gelombang sinar pedang
melayang bagaikan meluncur dari langit. Ternyata dua
buah sinar pedang itu berasal dari Gak Lui yang karena
melihat kelicikan serta keganasan si Pengemis Ganas,
tak dapat menahan kemarahannya lagi. Serentak ia
melambung ke udara dan meluncur ke muka pemimpin
231
partai Gelandangan.
Dengan pedang ditangan kanan, ia menangkis
tongkat Penggebuk-anjing dari Pengemis Ganas dan
pedang ditangah kiri diputar melingkar-lingkar. Kawanan
lalat beracun itu tersedot ke dalam lingkar perputaran
pedang. Seperti dihanyut oleh prahara, mereka
berhamburan jatuh beberapa tombak jauhnya keempat
penjuru!.
Mimpipun tidak Pengemis Ganas itu bahwa bakal
muncul seorang bintang penolong bagi pemimpin partai
Gelandangan. Karena munculnya tak terduga-duga, ia
tak keburu menarik tongkatnya dan menghindar lagi.
Tring ... tongkatnya hampir terpental jatuh. Untunglah ia
cepat menyurut mundur lalu berteriak nyaring: „ Budak,
engkau .....Gak Lui .....?”
“Benar!” sahut Gak Lui seraya tetap memutar
sepasang pedangnya untuk menghalau sisa2 lalat
beracun.
“Aku justeru hendak mencarimu !”
“Heh, memang sudah kuduga begitu!.”
“Bagaimana engkau tahu .... ? “
Dengan mata berkila-kilat Gak Lui menatap pengemis
itu seraya menggertakkan gigi berseru: „Manusia
tingkatan semacam engkau hendak mencari aku?
Tentulah engkau mendapat perintah dari si Maharaja!”
“Oh, aku ..... aku.......”
“Engkau bagaimana!”
“Aku bukan!”
“Kalau menyangkal, kamu akan kugeledah!”
232
“Apa yang akan engkau geledah?”
“Apakah engkau mempunyai tanda-tandanya! “
Jelas dilihatnya betapa cepat dan deras Gak Lui
memutar pedangnya sehingga kawanan lalat beracun itu
terdampar ke luar. Beberapa ekor lalat yang coba2
berani menerobos lingkaran sinar pedang itu, tentu
hancur seketika. Ilmu permainan pedang Gak Lui yang
luar biasa itu sesungguhnya membuat nyali Pengemis
Ganas pecah. Tetapi dasar seorang licik dan banyak
akal. Cepat dia memperhatikan bahwa dalam serbuan
lalat beracun yang begitu banyak, tak mungkin Gak Lui
berani menghentikan putaran pedangnya. Maka
tertawalah ia menyeringai dan menantang: „Kalau mau
menggeledah, silahkanlah..........”
Habis berkata ia melolos, kantong lalu dikebutkan
sekeras- kerasnya: Kedelapan pengemis rombongannya
pun segera meniru. Beribu-ribu lalat hijau yang amat
beracun, mendengung dengung diudara. Gak Lui
terkejut, ia tertegun sehingga lingkaran pedangnya
menjadi kecil. Kesempatan itu tak disia-siakan Pengemis
Ganas yang terus dengan cepat menyerang dengan
tongkat penggebuk anjing. Sedemikian hebatnya tongkat
itu melanda pedang Gak Lui sehingga memberi
kesempatan pada berpuluh lalat itu menerobos lingkaran
sinar pedang.
Jago pedang yang memimpin rombongan partai
Gelandangan itu sedang menggeletak di bawah kaki Gak
Lui. Jika pemuda itu mengisar kaki, tentulah pemimpin
partai Gelandangan itu akan dibunuh musuhnya. Tetapi
jika tetap berdiri di situ, dirinyalah yang akan celaka.
Dalam gugupnya, Gak Lui mainkan sepasang pedang
lebih gencar sambil mengeluarkan pandangan matanya
ke sekeliling. Diperhatikan walaupun lalat hijau itu hanya
233
jenis binatang serangga, tetapi ternyata telah dilatih
dengan sempurna. Setiap ke 9 anak buah partai
Pengemis itu bergerak, kawanan lalat itu tentu
menyingkir. Oleh karena saat itu ke 9 pengemis sedang
berjajar-jajar menjadi sebuah lingkaran, kawanan lalat itu
terpaksa menyerbu ke tengah. Melihat keadaan lawan,
timbullah seketika pikiran Gak Lui. Cepat ia mengganti
gaya permainan pedangnya. Dengan pedang Pelangi, la
melindungi tubuh, sedang pedang di tangan kanan tiba2
ditaburkan, kearah salah seorang pengemis yang jauh
dari tempatnya. Huak....., pengemis itu menjerit ngeri,
tubuhnya terhuyung- huyung dan tongkatnyapun terlepas
jatuh. Dadanya tertusuk pedang, tangan meronta-ronta
tetapi tak berani. mencabutnya. Ia kuatkan diri untuk
berdiri tegak tetapi sakitnya bukan alang kepalang.
Dalam pada, itu diam2 Gak Lui kerahkan tenaga-dalam.
Seketika pedang Pelangi memancarkan tenaga-sedot,
menyedot kawanan lalat beracun lekat pada batang
pedang. Kemudian ia arahkan telapak tangan kanan
untuk menyedot pedang yang tercantum pada dada
orang tadi.
“Auh.....” pedang seperti ditarik ke luar dari dada dan
melayang ketangan Gak Lui. Sedang orang itu menjerit
ngeri dan rubuh bermandi darah. Mendapat hasil,
secepat kilat Gak Lui lancarkan tiga kali serangan. Tiga
sosok tubuh orang partai Pengemis, rubuh di tanah.
Melihat ilmu permainan Gak Lui yang belum pernah
disaksikan. Pengemis Ganas pucat lesi. Segera ia
memberi isyarat dengan tangan, dan dengan sisa kelima
anak buahnya terus melarikan diri kedalam hutan. Kuatir
kalau kawanan lalat itu akan mengamuk anak buah partai
Gelandangan, Gak Lui terpaksa tak mengejar melainkan
menghabiskan sisa kawanan lalat. Setelah itu baru ia
memeriksa luka yang diderita anak buah partai
234
Gelandangan itu. Luka mereka berwarna biru gelap. Dari
lubang luka mengalir darah, merah gelap. Pemimpin
partai Gelandangan mukanya bengkak besar dan tak
dapat berkutik lagi. Sedang lain2-nya pun payah sekali
keadaannya.
Gak Lui teringat, kemungkinan Siu-mey tentu dapat
mengobati luka mereka. Ia memandang ke sekelling
penjuru tetapi tak melihat bayangan nona itu. Akhirnya la
berteriak memanggilnya:
“Adik Mey .... !”
“Ya...,....ya, ...aku datang....... tiba2 dari gerumbul
hutau bambu, muncullah Siu-mey, berlari-larian
menghampiri. Ketika melihat korban2 yang berada di
tanah lapang, ia berseru kaget: „Engkoh Lui, partai
Gelandangan kalah”
“Partai Gelandangan tidak kalah!” sahut Gak Lui,
„nyatanya Pengemis Ganas itu curang dan
mengeluarkan lalat beracun. Orang2 Partai Gelandangan
itu hanya pingsan. Apakah engkau dapat menolong
mereka?”
Gadis ular itu segera memeriksa lalat2 yang mati di
tanah. Lalu ia memeriksa luka korban2 itu. Beberapa
saat kemudian ia menghelanapas: „Ah..., aku tak tahu
racun apakah yang menyerang korban2 ini...”
“Engkau tak tahu?”
“Memang sukar untuk menentukan. Karena
kemungkinan lalat itu diberi makan beberapa macam
racun yang istimewa. Racun. itu harus melalui
pencernaan lalat baru dapat mengeluarkan daya
khasiatnya. Sedang lalat itu sendiri tak sampai mati. Aku
tak dapat cepat2 menentukan jenis racun itu, kecuali .....
235

“Kecuali bagaimana?”
“Kecuali harus mengadakan percobaan beberapa
waktu!”
“Tetapi sampai pada waktu engkau menemukan jenis
racun itu, mereka tentu sudah mati ...!”
Siu-mey hanya geleng2 kepala tak menyahut.
Setelah memandang lagi ke arah korban2 itu, Gak Lui
segera berseru memanggil kepada Tio Cwan. Tak
berapa lama terdengar suitan riuh dari empat penjuru
dan belasan orang yang dipimpin Tio Cwan segera
berlari-larian mendatangi. Gak Lui memberi keterangan
kepada mereka. Tio Cwan menghaturkan terima kasih
lalu menghampiri pimpinannya. Ia sibuk menolongnya
dengan memberi minum pil. Beberapa saat kemudian,
Tio Cwan dan anak buahnya segera hendak mengangkut
mereka.
“Hendak engkau bawa kemana?” tegur Siu-mey.
Ke markas Tin-ciu!”
“Berapa lama perjalanannya?”
“Kira2 tiga hari.”
“Kurasa tak sempat lagi, tentu terlambat!”
“Maksud nona .....”
“Jika obat yang kalian berikan itu benar2 manjur, luka
mereka tentu agak baik. Tetapi jelas warna kulit mereka
masih tetap merah gelap dan darahnya masih bergolak
keras. Tentu hanya dapat hidup 3 hari saja!”
Tio Cwan tersadar. Ia menghela napas: „Obat itu
adalah obat Pemunah racun buatan, partai kami. Jika tak
236
dapat menyembuhkan, terpaksa harus ke tempat
manapun, kita jalani ....” habis berkata anak murid partai
Gelandangan itu terkulai duduk di tanah. Beberapa
airmata menitik turun dari pelupuknya.....
Mendengar ucapan yang penuh keputus asaan dari
Tio Cwan itu, Gak Lui maju dua langkah, seru-nya: „Aku
mempunyai sebuah daya, tetapi entah…”
“Silahkan siau-hiap mengatakan! “ cepat2 Tio Cwan
menyanggupi.
“Tadi ketika bertempur dengan Pengemis
Celandangan, kuperhatikan setiap kali mereka
menerjang, kawanan lalat beracun itu tentu menyingkir.
Tentulah binatang2 itu takut akan bau yang berlumur
pada tubuh pengemis itu. Tentu dilumuni dengan obat
......”
“Benar....!” tiba2 Siu-mey berseru, „mereka tentu
mempunyai obat penawarnya. Engkoh Lui, lekaslah
engkau periksa tubuh mayat mereka!”
Gak Lui segera menghampiri tiga mayat pengemis.
Setelah menggeledah dengan teliti, ia berhasil mendapat
dua botol obat bubuk pada setiap kantong mereka.
IA SERAHKAN botol itu kepada Siu mey. Setelah
membauinya, nona itu menerangkan: „Botol yang ini
memang berisi dengan bau secerti tubuh mereka. Tetapi
yang botol ini tidak sama. Mungkin obat untuk makanan
lalat itu. Yang ke-satu itu tentulah obat penawar. Tetapi
aku belum yakin benar. Lebih baik kalian sendiri yang
memutuskan.”
Setelah menimang beberapa saat, berkatalah Tio
Cwan : „Dalam hal ini, akulah yang bertanggungjawab
sepenuhnya. Silahkan nona mengobatinya. Selain itu ....
237
memang sudah tiada harapan lagi !”
Siu-mey pun tak mau bersangsi lagi. Ia segera
meminumkan obat itu kepada anak buah partai
Gelandangan. Dengan penuh ketegangan sekalian orang
menunggu perkembangannya. Beberapa saat kemudian,
luka mereka malah membengkak besar dan berwarna
hijau gelap seperti warna lalat itu. Dari lubang lukapun
darah makin memancur deras. Sudah tentu Tio Cwan
dan kawan-kawannya makin gelisah sekali. Bahkan Gak
Lui sendiripun. Juga tak tahan lagi dan berteriak: „Celaka
...!”
Tetapi Siu-mey tenang2 saja menerangkan : „Harap
jangan gelisah! Setelah darah kotor itu mengalir habis,
tentu darah bersih yang mancur. Dan saat itu luka
mereka sembuh. Silahkan saudara2 tunggu saja”.
Dengan mata tak berkedip, sekalian anakbuah partai
Gelandangan itupun mengawasi perkembangannya
dengan lekat.
“Darah segar...! Darah segar....!” tiba2 Tio Cwan
berteriak girang. Dan beberapa saat kemudian, luka
merekapun mulai susut dan mulut mulai mengerang.
Atas permintaan Siu-mey, Gak Lui segera mengurut
tubuh mereka. Begitupun Tio Cwan juga segera
menolong kawan- kawannya yang terluka. Pada saat
membuka mata, pemimpin partai. Gelandangan itu
terkesiap melihat topeng muka Gak Lui dan makin timbul
curiganya ketika melihat punggung pemuda itu
menyanggul pedang pusaka Pelangi.
Gak Lui juga heran melihat sikap orang itu. Tetapi
belum sempat ia, membuka mulut, Tio Cwan sudah
menghampiri pemimpinnya dan kemudian meberi salam.
Kemudian ia menuturkan tentang pertolongan yang
238
dilakukan Gak Lui kepada pemimpin dan anakbuah
partai Gelandangan.
Sambil berbangkit, pemimpin partai Gelandangan itu
segera menghaturkan terima kasih kepada Gak Lui.
Setelah menerangkan tentang Pengemis Ganas yang
melarikan diri, Gak Lui menanyakan nama jago pedang
itu”
“Aku Raja sungai Cek-kiang Gan Ka-lin.”
„Oh..., kalau begitu pemimpin partai itu......”
„Adikku Raja sungai Tiang-kang Gan Ka- ik!” Entah
apa sebabnya dalam pertempuran dengan partai
Pengemis ini, Gan pangcu tak mau datang sendiri?”
“Adikku karena mendengar berita bahwa Kaisar
Persilatan Li Liong-ci muncul di daerah Tionggoan maka
ia pergi mencarinya. Tak terduga selagi adikku pergi itu,
Partai Pengemis telah menggunakan kesempatan untuk
menantang pertempuran ini.”
“Jika dia ada?”
“Pengemis Ganas dan gerombolannya itu tentu tak
berani menantang!”
“Kalau begitu, ketua partai paman itu jauh lebih hebat
dari paman sendiri? “
Merah wajah Raja-sungai-Cek-kiang, sahutnya: „Dia
pernah ikut belajar ilmusilat dan pedang pada Kaisar
Persilatan. Dibanding dengan kepandaianku .... hh, jauh
lebih kuat!”
“Oh ...,” Gak Lui mendengus heran. Diam2 la ingin
berkenalan dengan ketua Partai Gelandangan yang
semula diduganya orang tua itu tetapi ternyata adiknya.
“Siau-hiap, maaf sebelumnya. Ada sebuah hal yang
239
tak dapat kusembunyikan kepadamu ...”
“Soal apa? “ Gak Lui heran.
“Partai kami mempunyai hubungan rapat dedgan
partai Heng- san-pay. Mereka memberitahu bahwa siauhiap
pernah memapas kutung pedang seorang muridnya
dan melukainya. Dan lagi .... “
“Mengatakan kalau diriku ini seorang anggauta
gerombolan Topeng Besi yang menjadi kaki tangan
Maharaja Persilatan, bukan?”
“Siau-hiap menerka tepat, “ kata Gan Ka-lin, „untuk
soal itulah maka Heng-san-pay telah mengirim beberapa
anakmuridnya yang tangguh untuk mencarimu! “
“Kudengar keterangan Se Bun Sianseng. Bahwa
setiap partai persilatan telah menerima surat dari
masing2 murid yang telah lenyap jejaknya itu. Minta agar
ketua partai persilatan yang sekarang ini mengundurkan
diri. Diantara partai yang menerima surat semacam itu,
termasuk Heng-san-pay juga. Nah, mengapa mereka tak
mengurus soal itu dulu tetapi malah mengurus soal lain
yang lebih tak penting?”
“Hal itu disebabkan karena gerak gerik Maharaja itu
sukar diketahui jejaknya. Sampai sekarang tiada sebuah
partai persilatan yang berhasil menyelidikinya. Oleh
karena itu mereka memutuskan untuk menjadikan siauhiap
sebagai kunci petunjuk penyelidikan itu! “ ' ..
Gak Lui menghela napas, ujarnya:. „Menilik
gelagatnya, partai2 persilatan itu masih memberatkan
soal gengsi saja. Dalam soal menyelidiki jejak Maharjja,
terpaksa aku harus berusaha sendiri ...”
“Apakah siau-hiap juga mempunyai dendam
permusuhan kepadanya?”
240
“Dendam itu sedalam lautan. Aku tak mau hidup,
bersama dia di bawah sinar matahari!”
“Kalau begitu kenyataannya, segera akan kukirim
berita itu kepada Heng-san-pay. Tetapi apabila di
tengah2 jalan siau-hiap berjumpa dengan tokoh2
persilatan, atau mungkin dengan ketua partai kami, harap
siau-hiap suka bersabar dan mengalah sedikit. Agar
jangan menimbulkan salah faham yang lebih dalam.”
241
“Aku bukan orang yang tak kenal aturan. Harap Gan
tianglo jangan kuatir. Kurasa kalian perlu beristirahat
maka akupun hendak minta diri.”
Tetapi Gan Ka-lin cepat maju memberi hormat „Budi
pertolongan -siau-hiap kepada kami, menyesal kami tak
dapat membalas. Tetapi apabila siau-hiap memerlukan
242
bantuan tenaga, aku tentu siap sedia !”
Mendadak timbullah suatu pikiran dalam benak Gak
Lui, tanyanya : „Aku masih mohon sedikit soal.”
“Silahkan...!”
“Kurasa Gan tianglo luas pengetahuan dan banyak
pengalaman dalam dunia persilatan. Apakah Gan tianglo
tahu siapakah ahli pembuat pedang yang ternama?”
Mata Gan Ka-lin beralih memandang pedang Pelangi
yang di.bawa Gak Lui. Tanyanya: „Apa siau-hiap hendak
merobah bentuk pedang pendek siau-hiap ?”
“Benar,” sahut Gak Lui, „tetapi agaknya Gan tianglo
tahu pedangku, ini !” Dengan wajah berseri berserulah
Gan Ka-lin.: „Memang aku kenal sekali akan pedang
siau-hiap. itu !”
“Oh ... , “ Gak Lui mendesis.
“Pedang itu adalah pusaka milik Bu-tong-pay.
Empatpuluh tahun yang silam. Empat Ksatrya dari Empat
Durjana telah bertempur di Lembah Jiwa-tenteram untuk
memperebutkan buah Ban-lian- leng-ci. Pedang itu telah
dipatahkan oleh ke Empat Ksatrya itu. Kemudian jatuh di
tangan Kaisar-persilatan Li Liong-ci dan terjadi pula
persekutuan Bu tong-pay dengan tujuh partai persilatan
besar. Hal itu sangat menggemparkan dunia persilatan.
Oleh karena partai kami mempunyai hubungan erat
dengan Kaisar persilatan Li Liong-ci, maka akupun dapat
mengenali pedang itu. Hanya....”
“Mengapa ?”
“Kaisar mengembalikan pedang itu kepada Bu-tongpay.
Sejak saat itu timbullah sebuah kepercayaan.”
“Kepercayaan apa?”
243
“Bahwa sekali pedang itu muncul, dunia persilatan
tentu akan timbul pembunuhan berdarah !”
“Oh...,” Gak Lui mendesah, lalu berkata dengan nada
serius:
“Pedang itu diserahkan kepada-ku karena Ceng Ki
totiang minta tolong aku. Dengan pesan bahwa pedang
ini hanya boleh digunakan untuk membunuh orang jahat
saja. Tak nanti membunuh orang yang tak berdosa.”
Raja-sungai-Ce-kiang mengangguk: „Kudoakan
engkau akan dapat mengikuti jejak Kaisar Persilatan,
mencapai tataran ilmusilat yang tinggi dan membasmi
kaum jahat! “
Gak Lui menghaturkan terima kasih lalu mendesak
supaya orang tua itu segera memberitahukan nama dari
ahli pembuat pedang yang ternama itu. Setelah
merenung beberapa jenak, berkatalah Raja-sungai-Cekiang
Gan Ka-lin: „Yang kuketahui hanyalah seorang Bok
Kiam-su. Seorang ahli pembuat pedang yang boleh
dikata tiada bandingannya di dunia persilatan... Tetapi
entah bagaimana sejak 18 tahun yang lalu, dia sengaja.
menjadi orang bisu tuli, tak mau membuat pedang lagi!”
“Kalau begitu berarti tiada harapan? “ kata Gak Lui.
Tetapi sesaat kemudian ia menimang-nimang:
„Mengapa orang she Bok itu pura2 menjadi orang bisu
tuli? Dan mengapa justeru 18 tahun lamanya? Adakah
dia mempunyai hubungan dengan persoalan balas
dendam yang hendak kulakukan ini?
Maka bertanyalah ia kepada Raja-sungai Gan Ka-lin:
„Apakah sebabnya ia pura2 menjadi orang bisu tuli?”
“Hmmm....., entah apa sebabnya. Tetapi jika engkau
benar2 hendak mencarinya, aku mempunyai cara...!”
244
Setelah Gak Lui menyatakan bahwa ia tetap akan
mencari ahli pembuat pedang itu maka Gan Ka-lin
segera memberitahukan caranya: „Pertama kali,
beritahukan kepadanya bahwa akulah yang
mengenalkan padamu. Jika dia tetap tak mengacuhkan,
panggil saja namanya Bok Tiat-san. Namanya yang aseli
itu hanya kami berdua saudara yang tahu. Dan nama itu
merupakan suatu tanda rahasia (kode) Tak mungkin dia
tak menghiraukan lagi.”
“Kalau dia tetap menolak”“ .
“Kukira tidak” jawab Gan Kan-lin, „karena didunia ini
terdapat dua orang yang benar2 mencintai pedang. Yang
seorang adalah si pemakai. Dan yang seorang si
pembuat pedang. Apalagi pedang Pelangi yang engkau
bawa itu, memang sebuah pusaka dunia persilatan”
Gak Lui menghaturkan terima kasih dan setelah
menanyakan letak tempat orang she Bok itu, ia segera
ajak Siu-mey lanjutkan perjalanan. Sejak mempelajari
ilmu meringankan tubuh Angin-meniup-seribu- li, lari Gak
Lui makin pesat sekali. Menurut tingkat dunia persilatan
dia sudah melebihi seorang jago kelas satu. Untunglah
karena Siu-mey memiliki ilmu tenaga-dalam yang luar
biasa, maka iapun dapat mengikuti kekasihnya. Apabila
pada saat Gak Lui lupa dan secara tak sadar
mempercepat larinya, Siu-mey tetap dapat membaui
jejaknya dan menyusul. Demikianlah selama dalam
perjalanan mereka tak menemui suatu halangan dan
beberapa hari kemudian tibalah mereka ketempat yang
dituju. Diatas gunung itu hanya terdapat sebuah rumah
kayu. Dihalaman rumah itu terdapat sebuah perapian
besi dan penempaan serta beberapa alat untuk membuat
pedang. Tetapi benda serta alat2 itu sudah tertutup debu
dan berkarat. Menandakan kalau sudah beberapa tahun
245
tak digunakan. Saat itu orang tua yang rambut dan
jenggotnya sudah putih, sedang duduk , diserambi sambil
memandang kearah awan yang ber-arak di langit.
Rupanya dia tak tahu akan kedatangan Gak Lui bersama
Siu-mey.
“Mohon tanya, adakah paman ini yang bernama Bok
Kiam-su?” tegur Gak Lui. Orang tua itu diam saja.
“Hm, pura2 menjadi orang bisu tuli, tentu benar dia,”
pikir Gak Lui. la segera memberi hormat: „Aku Gak Lui,
atas perantara Raja- sungai Ce-kiang sengaja
menghadap Bok Tiat-san ciapwe kemari .....”
Sengaja Gak Lui menekan kata Tiat-san dengan
nada keras dan nyaring. Orang itu cepat berpaling muka
dan menjawab dingin: „Kalau pulang, tolong sampaikan
salamku kepada kedua saudara Gan itu Tentang urusan
pedang, harap jangan dibicarakanl”
DIAM-DIAM GAK LUI GELI. Segera ia melolos
pedang Pelangi. Ditimpah oleh sinar matahari, pedang
yang hanya dua inci panjangnya itu, memancarkan sinar
hijau bening. Lebih jernih dari air telaga. Mata Bok Kiamsu
berkilat tak berkedip memandang pedang itu. Tetapi
wajahnya tetap mengerut dingin. Baik Gak Lui maupun
orang she Bok itu sama2 diam tak bicara. Mereka
menunggu dan menunggu. Bocah apa yang ditunggu
...... Setengah jam kemudian, Siu-mey tak sabar lagi.
Hidungnya mulai mengembang kempis. Tetapi Bok Kiamsu
tetap mematung. Rambutnya ber-derai2 tertiup angin.
Matanya sebentar memejam dan merentang sambil
menggigit gigi kencang2. Gak Lui kicepkan ekor mata
lalu menggandeng tangan Siu-mey terus diajak pergi.
“Engkau menang!” tiba2 Bok Kiam-su menjerit
tegang. Gak Lui dan Siu-mey berhenti dan berpaling.
246
Wajah kedua anakmuda itu berseru tawa. Jenggot putih
dari Bok Kiam-su menjungkat naik dan mukanya
menenggadah ke langit seraya tertawa nyaring: „Silahkan
kalian berdua duduk di dalam pondokku. Tadi aku kurang
menghormat kedatangan kalian.”
Gak Luipun mengucapkan kata2 merendah dan minta
maaf karena mengganggu orangtua itu. Ketika duduk di
dalam ruangan, ternyata perbot rumah amat sederhana
sekali. Sunyi senyap tiada lain penghuninya lagi. Sebagai
seorang anak perempuan, Siu-mey berseru heran:
“Paman, engkau sudah begini tua masakan hanya
hidup seorang diri?”
Dengan hati bersyukur, Bok Kiam-su gelengkan
kepala: „Disinilah tempatku dahulu menempa pedang.
Anak-anakku tinggal di desa. Aku hanya mempunyai dua
orang murid. Tetapi merekapun tak tinggal di sini.”
“Di mana?”
“Kedua muridku itu berganti haluan menjadi pemburu.
Tinggal tak jauh dari sini. Setiap hari mereka yang
mengantar makanan untukku!”
Mendengar penuturan tuan rumah dan cara
hidupnya, yang tak mau campur gaul dengan orang itu,
Gak Lui tergerak hatinya hendak bertanya. Tetapi belum
ia membuka mulut, tuan rumah sudah mendahului bicara
lagi.
“Bolehkah kupinjam sebentar pedang Pelangi
saudara itu?” kata tuanrumah.
“Adalah untuk pedang ini maka aku sengaja
berkunjung ke mari untuk meminta petunjuk,” sambil
berkata Gak Lui melolos pedang Pelangi dan dengan
kedua tangann ia serahkan kepada Bok Kiam-su.
247
“Pedang bagus...! Sungguh bagus...!” 'tak henti2-nya
orangtua itu memuji seraya mengusap batang pedang
Pelangi. Tiba2 ia menghela napas: „Sayang pedang ini
kutung separoh”
„Apakah paman dapat membuatnya baru lagi ?”
“Aku?”
“Aku bersedia membayar dengan batu mustika yang
mahal. Kalau perlu lain barang lagi, silahkan
mengatakan.”
Bok Kiam-su menghela-napas dalam, ujarnya:
„Seumur hidupku kuabdikan diri pada ilmu pembuatan
pedang. Pedang pusaka yang tiada keduanya di dunia
itu, jangankan aku disuruh membuat, sedang untuk
melihat saja, darahku sudah bergolak keras, hatiku
seperti dikili-kili
“Kalau begitu paman meluluskan?”
“Sayang aku tak dapat meluluskan!”
“Mengapa?”
“Hal ini .....lebih baik aka .•: : *alc hilang.”
Teringat Gak_ Lui akan kelakuan aneh dari orangtua
yang telah menyembunyikan diri dan bertapa membisu
selama 18 tahun. Diam2 timbullah kecurigaannya. Tetapi
demi melihat wajah tuanrumah yang rawan dan rambut
serta jenggotnya yang sudah putih semua itu, Gak Lui tak
enak untuk mendesak. Tiba2 Siu-mey mengambil
segenggam permata, diletakkan di hadapan orangtua itu:
„Paman, sedikit pemberian yang tak berarti ini harap
paman terima, Kami memerlukan pedang itu untuk
melakukan balas dendam. Kecuali paman rasanya pada
lain orang yang mampu.
248
“Nona mempunyai dendam apa?”
“Ayahku telah hilang pada l8 tahun yang lalu. Dan
ibuku karena sakit memikirkannya, pun meninggal.
Sekarang aku ikut pada engkoh Lui mencari ayah .... aku
minta dia melindungi diriku dan dia memerlukan pedang
...:”
“Bagaimana dengan saudara sendiri?” tanya Bok
Kiam-su kepada Gak Lui.
“Akupun juga mempunyai dendam sedalam lautan.
Dihitung- hitung sampai hari ini, peristiwa itupun sudah
berlangsung 18 tahun lamanya!”
“Oh...!” Bok Kiam-su tendesuh. Sepasang alisnya
mengerut tegang.
“Jarak waktu itu kebetulan sekali sama dengan
tindakan paman menghentikan pekerjaan membuat
pedang itu !” kata Gak Lui pula.
“Kalau..... begitu silahkan saudara mengatakan asalusul
perguruan mu!”
“Aku sudah mengucap ikrar maka tak dapat
mengatakan hal itu.
“Kalau begitu, maka akupun tak dapat membantu !”
kata tuan rumah.
“Ah..., mengapa paman........ “ baru Siu-may berkata
begitu, orangtua itu sudah menukasnya: „Aku sudah
mengucapkan sumpah dan sebagai jaminan adalah jiwa
keluargaku. Untuk selama-lamanya aku takkan membuat
pedang lagi !”
“Jiwa seluruh keluarga ?”
“Ya...!”
249
“Kepada siapakah paman mengucapkan sumpah itu
? Mengapa begitu berat ?” Tampak Bok Kiam-su meragu.
“Adik Mey, karena paman Bok mempunyai keberatan,
janganlah engkau kelewat mendesaknya,” buru2 Gak Lui
mencegah Siu- mey.
“Gak siau-hiap,” kata Bok Kiam-su, „tadi engkau
mengatakan bahwa waktu 18 tahun itu ternyata suatu,
waktu yang kebetulan sekali. Apakah maksudmu ?
Apakah dalam dunia persilatan telah terjadi sesuatu ?”
“Apakah paman tak mendengar tentang sepak
terjang seorang tokoh persilatan yang menamakan
dirinya sebagai Maharaja dan berusaha hendak
menghancurkan kaum Ceng-pay ?”
“Sudah belasan tahun aku tak campur urusan dunia
luar. Harap engkau suka menuturkan!”
Gak Lui segera menceritakan rencana sepak terjang
Maharaja yang mengganas tokoh2 persilatan golongan
Ceng-pay : “Maharaja itu hendak berusaha menguasai
dunia persilatan!”
Mendengar dunia persilatan sedang dilanda
malapetaka banjir darah, gemetarlah tubuh, orang tua itu.
“Apakah engkau pernah melihat bagaimanaujud si
Maharaja itu?” tanyanya.
“Dalam dunia ...persilatan tiada seorangpun yang
pernah melihatnya!”
“Apakah tak punya ciri2 pengenal?”
Dalam pengertian Gak Lui yang disebut Maharaja itu
tentulah si Hidung Gerumpung. Maka menyahutlah ia:
„Kurasa dia mempunyai dua buah ciri”
“Bagaimana?” Bok Kiam-su mendesak tegang.
250
“Pertama, hidungnya...... hilang terpapas pedang!”
“Hmm.....” mata Bok Kiam-su berkicup-kicup seperti
menggali ingatan akan seseorang.
“Kedua, pada pedangnya terdapat tanda Palang”
“Oh .....!” Bok Kiam-su berteriak kaget. Tubuhnya
menggigil keras: „Kiranya dia..... !”
“Siapa?” Bok Kiam-su menarik napas beberapa kali,
mengertak gigi berkata : „Mengapa panjang ceritanya.
Tetapi pokoknya, karena hal itulah maka aku sampai tak
membuat pedang dan bertapa bisu! !”
“Dapatkah paman menceritakan dengan jelas?”
“Delapan belas tahun yang lalu, datanglah kepadaku
seorang lelaki berkerudung muka. Dengan upah 10 tail
mas, ia minta padaku supaya membikin betul
pedangnya!”
“Bukankah pedangnya terdapat tanda Palang?” tukas
Gak Lui.
“Benar! Menurut pengetahuanku, tanda itu
merupakan bekas cacad karena digurat oleh ujung
pedang seorang tokoh sakti !”
“Apakah paman menanyai namanya?”
“Tidak”
“Wajahnya ?”
“Tak kelihatan jelas. Tetapi berani kupastikan dia tak
mempunyai hidung!”
“Bagaimana dapat memastikan?”
“Seorang yang tak berhidung, jika bicara tentu
sumbang suaranya. Tetapi dia tak begitu maka
251
kupastikan tentu tak cacad hidungnya !”
“Lalu mengapa paman mengangkat sumpah diatas
jaminan seluruh keluarga paman ?”
“Setelah kubikin betul pedangnya, tiba-tiba kulihat
wajah orang itu memancar sinar pembunuhan. Jelas dia
mengandung maksud untuk membunuhku agar
rahasianya tertutup. Demi keselamatan keluargaku,
terpaksa tanpa diminta aku segera mengikrarkan sumpah
itu. “
“Apakah dia menerimanya?”
“Ah, mana begitu mudah”
“Lalu dengan cara bagaimana paman dapat
menghalaunya pergi?”
“Kuperingatkan kepadanya bahwa akulah satu2nya
ahli pembuat pedang yang tiada tandingannya di dunia
persilatan. Jika lain kali terjadi peristiwa semacam itu,
bukankah dia tak dapat mencari aku lagi?”
Mendengar uraian itu, timbullah kecurigaan Gak Lui.
Ahli pembuat pedang itu mengatakan bahwa tetamunya
berkerudung muka itu datang pada musim dingin. Tetapi
tempo hari ayah angkat Gak Lui yakni Pedang Aneh
telah dicelakai orang sebelum musim dingin, Jika tetamu
aneh itu benar yang mencelakai Pedang Aneh, tentulah
dia seorang yang tak mempunyai hidung. Tetapi menurut
keterangan Bok Kiam-su, orang itu masih utuh
hidungnya. Ah, apakah pembunuh itu telah menyuruh
lain orang untuk mendatangi Bok Kiam-su? Tidak
Pembunuh itu seorang manusia julig yang banyak curiga.
Tentu dia tak mau membocorkan rahasia dirinya kepada
orang lain. Demikian benak Gak Lui membayangkan
segala kemungkinan pada diri musuh yang misterius itu.
252
Tetapi analisanya, belum menemui jawaban. Melihat
pemuda itu termenung diam, ahli pembuat pedang itu
segera berdiri: „Gak siau-hiap, kini barulah aku menyesal
atas tindakanku dahulu. Karena mengingat kepentingan
peribadi maka aku sampai menutup peristiwa ini.
Sekarang sekalipun harus mempertaruhkan jiwa
keluargaku tetapi aku tetap akan membuat pedang
untukmu.”
“Tetapi aku tak jadi membuatkan!”
“Mengapa?”
“Aku tak mau mengorbankan keluarga paman!”
“Tetapi kuharapkan engkau dapat membasmi
kejahatan dan kedua kalinya engkau harus ingat. Kecuali
aku, tiada lain orang yang mampu membuat pedang itu! “
Tetapi dengan tegas Gak Lui menolak: „Tak peduli
paman mengemukakan alasan apapun juga, tetapi aku
tetap tak mau membuatkan pada paman!”
Habis berkata tiba2 ia gunakan tenaga isap dari
pukulan sakti Algojo-dunia, menyedot kembali pedang
Pelangi ditangan Bok Kiam-su. Orangtua itu hendak
mencekal kencang pedang Pelangi tetapi sudah
terlambat. Pedang itu melayang ketangan Gak Lui lagi.
“Siau-hiap, mengapa engkau berkeras begitu ....“
teriak Bok Kiam-su gugup.
“Putusanku sudah tetap, terima kasih atas kesediaan
paman!” sahut Gak Lui.
“Apakah engkau hendak melewatkan kesempatan
satu-satunya ini?”
“Kurasa dalam dunia yang begini luas, tentu masih
ada lain orang yang dapat membuatkan pedang itu.
253
Kalau tidak biarlah kesempatan ini hilang!”
Tergerak hati Bok Kiam-su atas keluhuran budi
pemuda itu. Setelah termenung sesaat, tiba-tiba ia
bertepuk tangan „Ada...! Ada....!”
“Ada apa?”
“Aku teringat akan seorang ahli lain!”
“Siapa?”
“Dia adalah tokoh persilatan ternama Pukulan sakti
Tek Thay!”
“Bagaimana keahliannya?”
“Tidak kalah dengan aku !”
“Dimana tempat tinggal Tek lo-cianpwe itu?”
“Kabarnya bersembunyi digunung Pek-wan-san.”
Baru tuan rumah mengucap begitu, tiba2 dari luar
rumah terdengar derap kaki belasan orang mengepung
rumah itu. Menyusul terdengar suara orang membentak
marah: „Gak Lui, hayo keluar!”
Gak Lui terkejut dan cepat melesat keluar. Dilihatnya
seorang paderi tua bertubuh gemuk tegak berdiri di
tengah halaman. Di sampingnya terdapat dua orang
paderi pertengahan umur. Sedang di sekeliling rumah
Bok Kiam-su, telah dikepung ketat oleh belasan paderi
dengan senjata terhunus.
“GAK LUI maju tiga langkah, berseru nyaring:
„Siapakah gelaran dari kuil-taysu? “
“Aku Hwat Hong ketua perguruan Heng-san-pay
.......... ,”
“Oh..., kiranya Hwat Hong taysu, maaf.... aku berlaku
254
kurang hormat” Gak Lui memberi hormat. Suatu hal yang
membuat paderi ketua Heng-san-pay itu terkesiap karena
tak menduga hal itu.
“Mohon tanya, apakah keperluan taysu mencari
aku?“ tanya Gak Lui pula.
“Engkau telah memapas kutung pedang dari Tio-lamsan,
seorang murid Heng san-pay dan dua kali
melukainya. Bukankah engkau hendak menantang Hengsan-
pay?”
“Soal memapas pedang, untuk saat ini belum dapat
kuterangkan alasannya. Sedang mengenai pertempuran
dalam paseban tempat arwah Heng-san, sama sekali tak
kuduga akan terjadi begitu. Sedikitpun aku tak
mengandung maksud memandang rendah Heng-sanpay!”
“Heh..., heh..., heh..., “. Hwat Hong taysu mengekeh
marah. Sepasang matanya ber -kilat2 bengis, „sungguh
tajam benar...mulutmu! Diam2 kalian berani mengirim
surat kaleng untuk memaksa Heng-san-pay supaya
mencopot ketuanya yang sekarang. Masakan masih
berani-mengatakan tidak memandang rendah Heng-sanpay!

“Taysu keliru ..... “
“Keliru? “
“Yang menyuruh taysu diganti itu adalah anak buah
Maharaja Persilatan. Sama sekali tak ada hubungannya
dengan diriku !”
“Tutup mulut! Jelas engkau ini anggauta gerombolan
Topeng Besi, masakan masih berani menyangkal!”
bentak Hwat Hong taysu.
Diam2 Gak Lui mengeluh „Celaka! Dia belum
255
menerima surat si Raja-sungai-Ce-kiang. Aneh, mengapa
dia dapat mencari ke sini ?”
“Taysu,” katanya, „apakah engkau belum menerima
surat dari partai Gelandangan ?”
“Sudah tentu menerimanya. Kalau tidak masakan
kami dapat mengejar kemari !”
“Lalu mengapa taysu masih salah faham?”
Hwat Hong taysu melangkah maju dua tindak,
katanya dengan bengis : „Surat Raja sungai Ce-kiang itu
mengatakan jelas bahwa engkau ini memang kaki tangan
Maharaja!”
“Hai ...!” Gak Lui tergetar hatinya. Ia percaya Rajasungai-
Ce-kiang itu bukan manusia rendah. Tetapi
mengapa menulis surat semacam itu ? Gak Lui benar2
tak mengerti ! Melihat sikap pemuda itu gelisah, Hwat
Hong taysu berteriak :
“Gak Hui, Kak Hoan siaplah menerima perintah ........”
“Tunggu dulu !” cepat Gak Lui mencegah kedua
paderi pertengahan umur yang hendak menyerangnya,
„dalam soal itu terdapat tipu muslihatnya !”
“Yang menggunakan tipu muslihat adalah engkau
sendiri, budak hina!”
Gak Lui kerutkan dahi dan menyahut dingin: „Jangan
terburu mengeluarkan emosi, taysu ! Sebelum tangan
berbicara, baiklah mulut dulu yang berbicara. Agar
janganlah sampai kawan menjadi lawan, lawanlah yang
akan tertawa gembira !”
Hwat Hong taysu menghela napas dan merenung
beberapa jenak. Pada lain saat ia berkata: „Karena kamu
tak mau berkelahi, mungkin mempunyai alasan. Sebagai
256
penganut Agama Buddha yang menjunjung budi asih,
bukanlah menjadi tujuanku untuk membunuh “
“Ah...., taysu benar2 berpandangan dalam”
„Tetapi ada sebuah syarat!”
“Silahkan mengatakan.”
“Engkau harus ikut aku ke dalam kuil kami di Hengsan
!”
“Keperluan ?”
“Tinggal dulu dalam kuil. Setelah Maharaja dan
gerombolannya terbasmi, barulah kami pertimbangkan
dirimu !”
Sudah sejak semula Gak Lui menekan perasaannya.
Tetapi sewaktu mendengar omongan besar dari paderi
itu, meluaplah darahnya.
“Syarat taysu itu terlalu kelewatan !”
“Engkau menolak ?” Hwat Hong menegas.
“Kenyataannya memang tak mungkin !”
“Ah, kiranya nyalimu kecil sehingga tak mau berkelahi
!”
Gak Lui menghela napas pelahan, serunya : „Taysu
terlalu berkelebihan mencurigai orang. Terpaksa aku
menentang!”
“Oh...., Aku bukanlah manusia yang senang
menindas orang. Asal engkau mampu lolos dari ilmu
pedang Mi-to-kiam-hwat, urusan ini kuanggap selesai !”
Karena pembicaraan telah mencapai ketegangangan,
suasanapun menjadi panas: Tiba2 telinga Gak Lui
terngiang suara dari Siu-mey yang menggunakan ilmu
257
Menyusup suara: „Engkoh Lui, paman Bok meminta
kalian cari tempat lain. Dan kalau bertempur cukup asal
sudah kena tertutuk saja. Jangan sampai mengucurkan
darah!”
Kuatir akan membuat kaget Bok Kiam-su dan Siumey
dan menerima peringatan ahli pembuat pedang itu
supaya jangan sampai melukai tokoh Heng san-pay,
maka Gak Lui menatap Hwat Hong taysu. Karena ilmu
Menyusup suara yang digunakan Siu-mey itu bukan
seperti ilmu menyusup suara, yang biasa terdapat dalam
kalangan persilatan, maka Hwat Hong taysupun dapat
menangkap pembicaraan Siu-mey tadi.
Memandang ke sekeliling penjuru, paderi itu
menunjuk ke arah barat: „Baik, mari kita ke lembah
gunung itu!”
Setelah pasang kuda2, Gak Lui terus gunakan ilmu
Meringankan tubuh, melesat ke lembah sebelah barat.
Melihat gerakan pemuda itu, diam2 terkejutlah Hwat
Hong taysu. Rencananya untuk menyuruh beberapa
anak buahnya turun tangan, dihapus seketika. Kemudian
ia mengajak rombongannnya untuk menyusul Gak Lui.
Gak Lui memilih sebuah tempat yang datar dan
menunggu dengan siap siaga. Tak lama Hwat Hong
taysupun datang. Dengan pedang terhunus, ia berseru:
„Engkau yang menyerang dulu!”
“Lebih baik taysu dulu, silahkan!” sahut Gak Lui.
“Heh..., heh..., aku mengerti engkau memang
mempunyai ilmu permainan yang luar biasa. Keluarkan
saja seadanya! “ seru Hwat Hong.
Gak Lui pelahan-lahan mulai merabah tangkai
pedangnya. Belasan jago2 Heng-san-pay mengawasi
gerak gerik pemuda itu dengan penuh perhatian.
258
Suasanapun hening2 tenang. Kecuali deru angin
pegunungan, sekalipun ada sebatang jarum jatuh, tentu
akan kedengaran.
“Tring .... !” Bagaikan kilat menyambar, pedang Hwat
Hong taysu segera menabur Gak Lui. Melihat serangan
yang begitu dahsyat serta cepat, diam2 Gak Lui terkesiap
juga. Saat itu baru ia membuktikan bahwa ilmu pedang
Mi-to-Kiam-hwat memang benar2 luar biasa. Gak Lui tak
berani berayal. Cepat ia mencabut pedang dan
menangkis. Terdengar dering yang tajam. Secepat
pedang saling menyurut kebelakang, terus maju
berhantam pula.
Hwat Hong taysu terkejut karena merasa kecele atas
penilaiannya terhadap kepandaian Gak Lui. Maka
timbullah tekadnya untuk mengadu jiwa dengan pemuda
itu. Begitulah keduanya segera saling kerahkan tenaga
dalam. Hwat Hong taysu dengan ilmu pedang Mi-to-kiam
melancarkan serangan yang kedua kalinya, menusuk
dada Gak Lui. Serangan paderi itu didasari dengan
tenagadalam yang kuat dan merupakan ilmupedang
yang telah diyakinkan dengan susah payah selama bertahun2.
Sambaran pedang yang berhawa dingin itu dapat
menembus dada Gak Lui. Tetapi kebalikannya Gak Lui
malah gembira. Ia mengharap lawan segera merapat
maju agar ia dapat melancarkan pukulan Algojo Dunia
jurus Memetik-bintang- menjolok-bulan untuk memukul
jatuh pedang paderi itu.
Seketika itu Hwat Hong rasakan pedangnya seperti
melekat pada pedang lawan, sukar ditarik kembali.
Tanpa banyak pikir lagi, ketua Hengsan-pay itu segera
gerakkan tangan kiri menghantam dengan pukulan Hi-mikang.
Sebuah ilmu pukulan tenaga dalam aliran kuil. Gak
259
Luipun mengalami kesukaran. Ia rasakan tangan orang
seberat besi sehingga pedangnya sukar dibawa berputar.
Bahkan paderi itu masih mampu mendesakkan
pedangnya maju. Suatu tenaga sakti yang belum dialami
Gak Lui selama menghadapi ber-puluh2 lawan. Dan yang
lebih hebat lagi, ketua Heng-san-pay itu masih mampu
melancarkan pukulan tangan kiri kearah dadanya.
Terdengar letupan kecil ketika kedua tangan mereka
beradu. Pukulan maut Hwat Hong taysu dapat ditahan
dengan ilmu tenaga-dalam penyedot oleh Gak Lui.
Ternyata kekuatannya berimbang. Hwat Hong taysu
makin kalap. Dengan menggerung keras laksana seekor
singa, ia menyerang dengan segenap tenaganya.
Pedang dan tinju dilancarkan sederas hujan mencurah.
Gak Lui yang sudah dipesan Bok Kiam-su, tak mau
bertempur mati2-an. Dengan tenang ia mewgganti ilmu
pedangnya dengan jurus Cenderawasih-merentangsayap.
Lingkaran sinar pedangnya mengembang sampai
setombak luasnya. Sepintas pandang memang mirip
dengan burung Cendrawasih yang sedang merentang
sayap .......
Sesaat pecahlah suatu pertempuran dahsyat yang
bermutu tinggi. Debu berhamburan, daun2 berguguran
karena dihambur deru angin kedua lawan, yang sedang
bertempur sengit itu. Cepat sekali dibawah sorot mata
rombongan murid Heng-sam-pay yang tercengangcengang
cepat sekali pertempuran itu sudah mencapai
100 jurus. Saat itu keduanya mulai lambat gerakannya.
Wajah Hwat Hong merah padam, kepala mandi keringat,
Sedang Gak Luipun berkembang kempis dadanya.
Lingkaran pedangnyapun makin menyurut sempit. Tetapi
kedua-duanya mempunyai kesulitan untuk menarik diri.
Hwat Hong taysu menjaga gengsinya sebagai seorang
260
ketua Heng-san-pay. Disaksikan oleh anakmuridnya, ia
malu kalau sampai kalah dengan seorang anak muda
saja. Gak Lui memikirkan keselamatan Siu-mey dan Bok
Kiamsu, terpaksa ia harus melayani serangan lawan.
Akhirnya pertempuran itu menjurus ke suatu
pertempuran mengadu jiwa. Salah satu tentu akan mati
atau paling tidak tentu terluka berat.
Dalam suatu kesempatan setelah dapat meng empos
napas untuk mengerahkan tenaga-dalam, Hwat Hong
taysu segera lancarkan serangan pedang dan pukulan.
Serangan itu merupakan pengerahan tenaga-dalamnya
yang terakhir. Melihat itu Gak Luipun terpaksa menangkis
dengan sekuat kemampuannya. Bum ... letupan dan
erang tertahan segera terdengar, disusul dengan dua
sosok tubuh yang terhuyung-huyung mundur. Huak ...,
Hwat Hong taysu muntah darah
Karena dia cepat gunakan cara pinjam tenaga unt
mengembalikan tenaga, lukanyapun agak ringan. Tetapi
tak urung, darahnya meluap, mata kunang-kunang.
Ketua Heng-san-pay itu menggertak gigi. Bulat sudah
tekadnya untuk mengadu jiwa dengan anak muda itu.
Kakinyapun mulai bergerak maju. Pun saat itu Gak Lui
benar2 naik darah.
Sepasang matanya memancar sinar dendam. Ia lupa
akan pesan Bok kiam-su tadi. Yang ada dihadapannya
hanya seorang musuh yang harus dihancurkan. Pada
saat kedua fihak sedang dirasuk setan hendak
melampiaskan kemarahannya, sekonyong-konyong dari
arah puncak terdengar seruan meraung nyaring :
„Berhenti !”
Setitik benda hitam meluncur dari arah puncak
sebelah barat cepat sekali benda itu meluncur turun
kearah tempat pertempuran. Gak Lui terkejut ketika
261
mengetahui bahwa benda hitam merupakan sesosok
tubuh manusia. Hampir ia tak percaya bahwa orang itu
melayang turun dari puncak ketinggian 300-an tombak.
Orang itu pasti hancur tulangnya. Gak Lui tertegun......
Tetapi Hwat Hong taysu tak ambil peduli. Ia tetap
hendak tumpahkan kemarahannya kepada Gak Lui.
Sambil kepalkan tangan ia maju dua langkah.
CEPAT sekali sosok tubuh itu telah meluncur turun.
Kira2 masih kurang 20-an tombak dari tanah, tiba2 orang
itu mengembangkan sesosok payung sehingga luncur
tubuhnya tertahan, Tak berapa lama iapun melayang
tepat di tengah kedua prang yang sedang bertempur. , ..
“Se-Bun sianseng !” teriak Gak Lui ketika inelihat
siapa pendatang itu. Memang pendatang itu bukan lain
adalah Se Bun Giok, tokoh sakti dari gunung Kunlun.
Tangannya mencekal sesosok payung besi. Dengan alat
itulah tadi ia meluncur turun dari puncak yang tinggi. Dan
saat itu ia putar payung besinya untuk menghentikan
pertempuran. Terpaksa Hwat Hong taysu menarik pulang
tinjunya, serunya: „Se-Bun, mengapa ..... engkau
membantu ..... sampah dunia persilatan ini ..... “
Se Bun Giok hentikan gerakan payung lalu memberi
salam: „ Uh, jarang sekali engkau marah begitu rupa,
paderi”
“Lebik baik engkau menyingkirlah”
“Uh....., tak perlu berkelahi, engkau salah faham”
“Salah faham?” Hwat Hong taysu terkesiap.
“Engkau termakan tipu dari Maharaja yang
menggunakan siasat pinjam golok membunuh orang agar
sekali tepuk dua lalat!”
“Hai .... !” baik Hwat Hong taysu maupun Gak Lui
262
berteriak seraya mundur selangkah.
Se Bun Giok tertawa nyaring: „Simpan dulu pedang
kalian. Sambil beristirahat sambil dengarkan
penjelasanku!”
Gak Lui cepat masukkan pedangnya ke dalam
sarung. Tetapi Hwat Hong walaupun juga menyarungkan
pedang tapi masih penasaran, serunya : “Se Bun, kalau
penjelasanmu itu beralasan, ya sudah. Tetapi kalau tidak,
aku tentu masih ....”
“Peristiwa itu sungguh tak kusangka. Karena
kebetulan aku menemukan mayat orang partai
Gelandangan yang disuruh mengantar surat kepadamu,
paderi. Dengan, begitu barulah kuketahui siasat mereka!”
“Pengantar surat itu mati?” Hwat Hong terkejut.
“Paderi, engkau telah ditipu orang! Pengantar surat
dari partai Gelandangan yang sebenarnva, telah dibunuh
orang. Dan yang mengantar surat kepadamu itu adalah
anakbuah Maharaja yang menyaru “
“Kalau begitu surat yang kuterima itu juga surat
palsu? “ Hwat Hong menegas.
“Benar” sahut Se Bun Giok, „kebetulan aku telah
berjumpa dengan Raja-sungai-Ce-kiang yang
mengatakan bahwa Gak Lui telah menolong mereka
dalam pertempuran dengan orang Kay- pang. Dan kini
pemuda itu hendak mengunjungi Bok Kiam-su. Tokoh
partai Gelandangan itu mengatakan pula bahwa ia telah
menyuruh seorang muridnya untuk mengantar surat
kepadamu agar jangan timbul salah faham.”
“Entah bagaimana hatiku tak tenteram. Kukuatir
pengantar surat itu akan tertimpa sesuatu. Maka aku
segera menyusul kemari. Ah..., ternyata firasatku itu
263
benar. Di dalam hutan kuketemukan mayat murid partai
Gelandangan yang mengantar surat itu. Seketika itu
gamblanglah pikiranku. Musuh tentu hendak
menggunakan siasat adu domba agar kalian bertempur
sendiri. Untung aku cepat tiba pada saat yang tepat,
kalau tidak .......”
Gak Lui menghaturkan terima kasih atas bantuan
tokoh dari gunung Kun-lun itu. Dan ternyata Hwat Hong
taysu pun berlapang dada. Ia merasa telah khilaf maka
segera ia minta maaf kepada Gak Lui. Gak Luipun
menghaturkan maaf karena telah berlaku kurang hormat
kepada ketua Hengsan-pay itu. Setelah keduanya saling
memaafkan, maka berkatalah Se Bun Giok : „Paderi, ilmu
pukulan sakti dari partai Heng-san-pay yang disebut Himi-
kang-kia termasyhur di seluruh dunia. Tetapi
mengapa tadi engkau menggunakan pedang? Sungguh
aneh !”
“Seorang gerombolan Maharaja itu menggunakan :
senjata pedang. Muka mereka ditutup kain kerudung dan
kedok. Merekapun dapat menggunakan ilmupedang
partai Heng-san-pay yakni Mi-to-kiam-hwat. Maka
terpaksa aku harus berhati-hati!” kata Hwat Hong.
Se Bun Giok tertawa meloroh: „Oh..., kiranya begitu!
Tak heran kalau paderi tua juga main pedang”
Hwat Hong taysu tertawa juga: Sesaat ia menghela
napas: „Ah..., . jangan bergurau Se-Bun! Berhadapan
dengan lawan yang seimbang kepandaiannya, pedang
tentu lebih unggul dari tinju! Punya ... engkau sendiri juga
begitu. Walaupua tenaga-sakti Sian- ing-ki-kang dari
Kun-lun-pay itu sudah tersohor didunia persilatan, tetapi
engkau toh tetap membawa payung besi dan kipas
tembaga masih ditambah dengan sebuah kantong asap.
Bukankah kalau dibanding dengan aku yang membawa
264
sebatang pedang, engkau lebih banyak tiga kali lipat?”
“Eh...., paderi tua, apakah engkau tak tahu bahwa
barang itu memang alat yang kupakai se-hari2”
“Jangan membual. Siapa mau menerima salah satu
dari barang2 itu? Menikmati sedikit saja, orang tentu
sudah lari ter-birit2!”..
Mendengar pembicaraan itu tiba2 Gak Lui teringat
sesuatu. Cepat ia bertanya kepada Hwat Hong: „Taysu,
kali ini' Heng-san- pay turun gunung membekal pedang,
tentulah mempunyai lain sebab!”
“Maksud Gak sicu ..... ?”
“Tadi taysu mengatakam anakbuah Maharaja juga
menggunakan pedang. Entah berapakah jumlah mereka
yang mahir menggunakan pedang itu?”
“Murid Maharaja yang ahli dalam tenaga-dalam dan
tenaga luar, amat banyak jumlahnya!”
“Taysu mengatakan pula bahwa melawan orang yang
berimbang kepandaiannya, menggunakan pedang lebih
unggul dari pukulan. Dalam kata2 taysu tadi, agaknya
masih ada kelanjutannya yang taysu belum
menyelesaikan seluruhnya.”
“Ini....”
“Berdasar ucapan taysu tadi, aku berani memastikan
bahwa dalam kalangan murid Maharaja tentu terdapat
seorang tokoh yang selain mahir menggunakan pedang,
pun dia sudah beberapa tahun meninggalkan Heng-san.
Oleh karena itulah maka taysu selalu membekal pedang
agar dapat menghadapinya apabila bertemu orang itu.”
“Sicu menduga tepat!” sahut Hwat Hong.
“Siapakah orang itu? Dapatkah taysu memberitahu
265
kepadaku?”.
“Hm .. karena sudah sampai keadaan begini, tak
perlulah kiranya untuk menutupi rahasia itu. Yang sudah
ber-tahun2 meninggalkan perguruan Heng-san-pay itu,
bukan lain adalah suhengku sendiri yani Hwat Gong
taysu!”
“Bagaimana ilmu kepandaiannya?”.
“Dahulu dia menjabat sebagai pimpinan kuil sedang
aku hanya sebagai Ti-khek (penyambut tetamu):
Kepandaiannya tiga kali lebih unggul dari aku.” ..
“Kali ini yang mengirim surat supaya taysu
mengundurkan diri sebagai ketua, tentulah dial”.
“Benar, sungguh suatu peristiwa yang menyedihkan
hati bahwa suhengku sampai hati untuk hianati
perguruannya !” kata Hwat Hong sambil menghela napas
rawan.
Memang dalam kalangan perguruan atau partai
persilatan, sudah wajar kalau terjadi perebutan
kedudukan. Tetapi Heng-san-pay mengalami peristiwa
perebutan itu secara aneh. Karena yang menghalangi
adalah orang luar, yalah Maharaja. Dan tokoh itu
mempunyai maksud untuk menaruh orangnya kedalam
setiap partai agar dapat menguasai. Setelah berdiam
beberapa saat, maka Hwat Hong taysu segera minta diri
kepada Gak Lui. la kuatir dalam kuil terjadi sesuatu,
maka ia harus lekas2 kembali.
Melihat ketua Heng-san-pay itu sudah tenang
kembali, Se Bun Giok tertawa: „Paderi, tak usah gelisah.
Semua orang kini sama menggunakan pedang Kongtong-
pay, Bu-tong-pay dan Ceng- sia-pay tak usah
dikata. Bahkan sekarang beberapa partai yang biasanya
266
tak menggunakan pedang seperti Heng-san-pay, Siauwlim-
pay dan Go-bie-pay sama-sama menggunakan
pedang. Tentang ketua Kun-lun-pay, Tang-hong Giok ....”
“Benar, dia dan engkau adalah jago2 pedang yang
hebat!” Hwat Hong nyeletuk.
“Jangan menyebut diriku. Adalah karena gara-gara
belajar ilmu pedang maka kuganti dengan payung
bobrok,” sahut Se-Bun Giok .
“Ah..., tak perlu merendahkan diri. Silahkan engkau
mengatakan usulmu!”
“Menurut hematku, setelah partai2 persilatan sama
turun gunung dengan membawa pedang alangkah
bagusnya bila dipertemukan dalam suatu
permusyawarahan besar untuk menentukan rencana
menghadapi sepak terjang kaki tangan Maharaja!” kata
Se Bun Giok.
Serentak tergugahlah semangat Hwat Hong
mendengar usul itu, serunya: „Ketika partai2 persilatan
mau bersatu padu dan Kaisar mau memimpin,
pertemuan itu tentu berarti sekali!”
Juga Gak Lui terpengaruh dengan saran itu. Serentak
ia tegak berdiri dengan dada membusng. Suatu sikap
dari kesiap-sediaannya menghadapi pertemuan besar itu.
Se Bun Giok menepuk bahu pemuda itu katanya: „Terus
terang kukatakan, belum tentu Kaisar mau muncul
memimpin. Tentang penyelenggaraan pertemuan besar
itu, akulah yang akan mengusahakan. Tetapi tentang diri
Gak Lui ini, taysu harus sudah mengerti jelas......”
“Ya.... ya, aku sudah jelas sekarang”, kata Hwat
Hong taysu.
“Gak siau-hiap jika bertemu dengan suhengku Hwat
267
Gong tentu takkan melukainya dan harap mengantarnya
pulang ke Heng- san-pay......”
Gak Lui mengiakan. Setelah rombongan Hwat Hong
taysu pergi, Se Bun Giok bertanya kepada Gak Lui
apakah telah bertemu dengan Bok Kiam-su.
“Sudah, dia tinggal digunung sebelah timur sahut Gak
Lui.
Se Bun Giok mengajak Gak Lui ketempat si pembuat
pedang itu. Ketika tiba dipondok Bok Kiam-su. Gak Lui
terus bendak berseru memanggil, Siu-mey. Tetapi tiba2
ia katupkan lagi mulutnya yang sudah dingangakan.
Ternyata.....hidungnya mencium bau orang mati. Se Bun
Giok amat cerdas dan cermat.
Melihat Gak Lui tertegun dimuka pintu, iapun segera
hentikan langkah. Tampak pemuda itu memberi isarat
tangan ke belakang, lalu secepat kilat menerobos masuk.
kedalam pondok. Se Bun Giok merasakan sesuatu yang
tak wajar. Cepat ia mencabut pipanya dan siap
menunggu tanda dari Gak Lui.
“Se Bun cianpwe, lekaslah masuk!” tak berapa lama
kedengaran Gak Lui berseru.
Ketika masuk, Se Bun Giok melihat Gak Lui sedang
...tegak berdiri termanggu disebelah mayat seorang lelaki
tua.
“Tentulah Bok Kiam-sul” serunya.
Gak Lui mengikan .. Se Bun Giok memeriksa tubuh
ahli pembuat pedang itu. Dadanya berlubang darah
dengan di kelilingi oleh lima buah bekas telapak jari. Luka
itu menembus kedalam dan jantung hati korban diremas
hancur lebur.
“Hai, kiranya perbuatan Iblis Tulang-putih!” serunya
268
gemetar.
“lblis Tulang-putih?” Gak Lui menegas.
“Benar, ini hasil ilmu kesaktiannya yang istimewa,
yakni Petik-hati-mencabut nyawa !”
Dua butir airmata menitik turun dari pelupuk mata
Gak Lui, ujarnya terharu :„Akulah yang mencelakai Bok
Kiam-su .....”
“Mengapa begitu ?” Se Bun Giok terbeliak.
“Setan Keluyuran, murid Iblis Tulang-putih telah
kubunuh. Dan lagi jika aku tak mencarinya, iblis itu tentu
tak mencari kemari.”
Se Bun Giok tertegun, keluhnya: „Celaka...! Iblis itu
juga kaki tangan Maharaja!”
“Oh..... “
“Pengantar-surat yang disuruh Raja-sungai-Ce-kiang
itu juga hancur lebur dadanya. Bermula aku tak mengerti
ilmu apa yang digunakan pembunuh itu. Tetapi kini
setelah dipadu dengan mayat Bok Kiam-su, pengantar
surat itu juga termakan tangan ganas dari si Iblis Tulangputih!”
kata Se Bun Giok: „Hm...., kelak tentu kucincang
tubuh iblis itu untuk membalaskan sakit hati Bok Kiam-su
dan Gadis Ular!”
“Gadis Ular...? Siapakah dia ?” Gak Lui
mengeluarkan sehelai kain. Tanpa bicara apa2, ia
Serahkan kepada Se Bun Giok. Ketika merentang, kain
itu ternyata berisi tulisan yang berbunyi : Kiam-su sudah
meninggal Setan kecil melarikan diri. Gadis ular terluka
parah. Lain hari jumpa kembali. Dewi Tong Ting.
Habis membaca wajah Se Bun Giok terkejut nyaring,
serunya:
269
“Kawanmu berhasil baik ... “
“Baik?” ulang Gak Lui heran.
“Dewi telaga Tong-Ting itu adalah salah seorang dari
Empat Permaisuri. Kepandaiannya amat sakti sekali.
Bahkan dimatanya, Iblis Tulang-putih .....hanya dianggap
sebagai setan cilik belaka. Dengan ditolong olehnya,
selain luka Gadis Ular itu menjadi sembuh, kelak pasti
akan menjadi tokoh wanita yang sakti.”
Gak- Lui agak terhibur. Ia menghela napas longgar,
katanya: „Ya ..... syukurlah. Sejak saat ini, aku dapat
mencari jejak musuh dengan hati lapang! “
“Aku mempunyai usul, entah engkau dapat
menyetujui atau tidak,” kata Se Bun Giok.
Setelah Gak Lui mempersilahkan, berkata pula jago
dari gunung Kun-lun itu: „Engkau dan aku hendak
menyelidiki jejak Maharaja. Aku lebih banyak
pengalaman dalam dunia persilatan. Jika bersama-sama,
tentu dapat saling bantu membantu”.
“Tak perlu ini dan itu. Jangan menolak. Menolak
berarti engkau memandang rendah padaku “ desak Se
Bun Giok.
Akhirnya Gak Lui setuju. Setelah mengubur jenazah
Bok Kiam-su, mereka segera turun gunung. Tujuan
pertama, menurut Gak Lui, akan mencari Pukulan-sakti
Tek Thay, digunung Pek-wan-san. Hari itu ketika habis
melintasi puncak gunung yang tinggi, mereka turun
kesebuah bukit dan mencapai sebuah desa. Tiba2 dari
dalam hutan didekat jalan, mereka dikejutkan oleh suara
orang me-rintih2.
Gak Lui tak asing dengan suara itu. Cepat ia
menerobos kedalam hutan. Se Bun Giok mengikutinya.
270
Seratus tombak dalamnya, mereka membau anyir darah.
Cepat mereka menuju kearah bau itu. Setelah melintasi
sebuah tanah lapang yang luas, mereka melihat
disebelah depan tumbuh sebatang pohon besar. Pada
pohon yang tiga perneluk tangan orang itu, terpaku
sesosok tubuh imam tua.
“Hai...! Ceng Suan totiang ....... !”
JILID 6
SE BUN GIOK pun menyusul tiba. Dia terbeliak kaget
juga, serunya: „Apakah bukan ketua partai Bu-tong-pay?”
Gak Lui dan Se Bun Giok cepat melesat ke samping
pohon. Tampak separoh tubuh Ceng Suan totiang
berlumuran darah. Dadanya tertembus pedangnya
sendiri, nancap ke pohon. Dia terpaku dengan pedang
......
Gak Lui ngeri dan bendak mencabut pedang itu.
Tetapi dicegah Se Bun Giok. Jangan! Totiang memiliki
ilmu tenaga dalam yang tinggi. Kalau tak dicabut, masih
dapat bertahan diri untuk beberapa seat. Tetapi, kalau
dicabut, tentu akan binasa !”
“Apakah dibiarkan begitu saja !” Se Bun Giok yang
banyak pengalaman, sesaat tak dapat memperoleh akal.
Tiba2 Ceng Suan totiang mendengus pelahan dan
membuka mata. Demi melihat Gak Lui dihadapannya,
bibirnya ber-gerak2 tetapi tak dapat mengeluarkan kata2,
melainkan mengeluarkan darah.......
Gak Lui berbisik kedekat telinga totiang itu: “Totiang
tak perlu bicara. Aku akan berusaha menolongmu dulu.”
ia berpaling dan berkata kepada Se Bun Giok: „Harap
pegang batang pedang. Begitu kusuruh cabut, harap
271
segera mencabutnya”
“Itu ...... berbahaya!”
“Aku mempunyai ilmu Menyongsong-tenaga-murni.
Dapat membuat tenaga-dalamnya tak sampai
berhamburan.....” kata Gak Lui seraya lekatkan tangan ke
perut dan paha Ceng Suan totiang. Ia segera salurkan
tenaga-murni ketubuh paderi itu. Setelah tenaga-murni
Ceng Suan totiang berputar keperut, barulah ia suruh Se
Bun Giok mencabut. Se Bun Giok sudah siap Cepat ia
melakukan perintah itu.
Sesaat pedang tercabut keluar, Gak Lui memberi
perintah lagi: „Tutuk jalandarahnya untuk menghentikan
pendarahan.” Dengan ilmu tutuk partai Kun-lun-pay yang
istimewa, Se Bun Giokpun segera menutuk ke 16
jalandarah penting ditubuh paderi itu. Darahpun berhenti
mengalir. Gak Lui letakkan tubuh Ceng Suan ketanah.
Kedua tangannya masih tetap melekat pada perut dan
paha paderi itu. Se Bun Giok mengeluarkan pil dari
perguruannya dan disusupkan kemulut Ceng Suan. Tak
berapa lama paderi itupun dapat bernapas serta
membuka mata. Ia memandang dengan rasa terima
kasih kepada Se Bun Giok, lalu berkata tersendat-sendat
kepada Gak Lui: „Gak .... Gak ... kucari engkau ... lama
sekali....!”
“Apakah karena pedang Pelangi itu?” cepat Gak Lui
menyanggapi.
“Ya......!”
“Pedang itu adalah Ceng ki totiang yang minta tolong
kepadaku. Tempo hari sama sekali aku tak bermaksud
menerobos ke dalam sanggar Pemujaannya sehingga
menyebabkan Ceng Ki totiang sampai menderita Cohwe-
jip-mo. Sampai saat ini aku tetap merasa berdosa.
272
Oleh karena itu, aku pasti akan melakukan pesannya
untuk membikin baru pedang itu agar menjadi pedang
pusaka dunia persilatan. Harap totiang jangan salah
faham.”
“Ku ...... kutahu ....... semua ...... “
“Totiang tahu semua?”
“Suheng ....... pada saat ...... menutup mata ......
mengatakan hal itu ....., semua ...... “
Lalu apa maksud totiang mencari aku? “
“Takut engkau ... dicelakai orang dan dirampas
.....pedang itu .....”
“Jangan kuatir! Jiwaku boleh melayang tetapi pedang
itu tak nanti dapat dirampas orang. Dan lagi ... sampai
sekarang belum ada orang yang berusaha
merampasnya!”
Setelah minum obat, semangat Ceng Suan totiang
makin baik: Mendengar ucapan Gak Lui, ia kerutkan dahi
:„Apakah ... murid murtad Ceng Ci itu ... tidak merebut?
Mungkin engkau belum berjumpa .......”
Gak Lui masih ingat ketika bertempur lawan Ceng Ci.
Anggauta Topeng Besi terkesiap melihat pedang pusaka
itu tetapi Ceng Ci tidak mengacuhkan.
“Aku sudah bertempur lawan Ceng Ci tetapi
tampaknya tak mengacuhkan pedang itu,” katanya.
„Tidak mungkin!”
“Mengapa ?”
“Dua jam yang lalu, dia datang ... mendesak aku ...
bertanya melilit.., dimana engkau berada ... karena
hendak ... merebut pedang itu .... “
273
“Berapa jumlah mereka ?”
“Bermula dua orang “ .
Gak Lui merenung. Ia duga kedua orang itu tentulah
si Topeng Besi dan Ceng Ci. „Lalu berapa lagi ?”
tanyanya.
“Kemudian seorang lagi.”
“Seorang ? Siapakah yang melukai totiang ?”
Wajah Ceng Suan totiang berobah tegang. Dengan
memancar sinar kemarahan ia berkata : „Bermula murid
murtad itu bersama seorang bertopeng mengeroyok aku.
Beberapa puluh jurus kemudian, akupun terdesak ......”
Se Bun Giok kerutkan kening dan menyelutuk :
„Totiang, sebagai seorang ketua Bu-tong-pay, mengapa
tak memikirkan kepentingan seluruh partai hingga totiang
pergi seorang diri dan bertempur mengadu jiwa ?”
“Akupun menyadari hal itu. Tetapi setelah aku
mundur sampai di samping pohon ini, tiba-tiba muncul
pula seorang bertopeng. Gerakannya amat cepat sekali,
ya, memang luar biasa cepatnya. Belum selesai satu
jurus saja, dia sudah dapat merebut pedangku .......”
“Oh! Jadi dia hanya bertangan kosong merebut
pedang totiang lalu menusuk....”
“Benar .....!”
“Gak Lui gemetar, tanyanya tegang : „Apakah dia
meninggalkan nama?”
“Sekalipun tidak meninggalkan nama tetapi akupun
dapat menduganya”
“Siapakah orang itu? “
“Maharaja! Selain dia, tak mungkin terdapat orang
274
yang memiliki kesaktian semacam itu !”
Se Bun Giok, ternganga. Gak Lui terbelalak, giginya
menggigil keras. Ceng Suan totiang adalah ketua partai
Bu-tong-pay. Kepandaiannya tergolong tokoh kelas satu.
Tetapi mengapa dalam setengah jurus saja, pedangnya
sudah dapat direbut dan orangnya pun ditusuk. Dengan
begitu jelas kepandaian orang itu teramatlah saktinya !
“Tak perlu kalian marah. Aku hendak-mohon,
bantuan kalian untuk beberapa hal,” kata Ceng Suan
totiang.
“Silahkan totiang mengatakan,” hampir Gak Lui dan
Se Bun Giok berkata serempak.
“Kurasa, selain Kaisar, dewasa ini tiada seorang
tokoh persilatan yang mampu menandingi kesaktian
Maharaja. Sayang Kaisar belum muncul dalam dunia
persilatan. Oleh karena itu kuharap kalian ..... terutama
Gak siau-hiap, harap hati2 selama berada dalam-dunia
persilatan .......”
Se Bun Giok menghibur : „Andaikata Kaisar, tak
muncul, pun tak apalah. Aku sudah bicara dengan ketua
Heng-san-pay Hwat Hong taysu agar menyelenggarakan
suatu persekutuan segenap kaum persilatan golongan
Putih untuk menghadapi durjana besar itu!”
“Ah, kurasa tak mudah untuk menyelenggarakan
gerakan itu. Taruh kata berhasil mengumpulkan tenaga
kaum persilatan, pun belum tentu dapat menang.”
“Manusia harus berdaya. Kita tak boleh tinggal diam
saja menunggu kematian!” kata Se Bun Giok.
“Ah, saudara memang bersungguh-sungguh dan
serius. Tetapi ada sedikit hal yang perlu saudara
pertimbangkan”
275
“Dalam hal apa?”
“Murid2 yang mengkhianati itu, telah mendesak pada
partai perguruannya masing2 agar ketua partai yang
sekarang sama mengundurkan diri. Jika partai2
persilatan itu sampai berkumpul dalam sebuah rapat,
bukankah akan terjerumus dalam, jebakan mereka?
Bukankah musuh amat mudah sekali untuk
menjaringnya? Dan pada waktu menghadiri rapat,
markas tentu kosong dan mudah diserbu ........”
“Soal itu aku dapat merundingkan dengan para
pimpinan partai persilatan bagaimana mengatur langkah
yang sesuai. Harap totiang jangan kuatir,” kata Se Bun
Giok..
“Muridku Hwat Lui bertiga, saat ini menjaga di Butong-
san. Harap memberitahukan kepadanya. Segala
urusan di markas, terserah pada Hwat Lui. Harus tetap
menjaga markas perguruan dan berlatih ilmu dengan
giat”
Gak Lui mengiakan: „Baik, kami tentu akan
menyampaikan. Dan kelak apabila pedang Pelangi
sudah selesai di buat baru, tentu akan kuserahkan
kepada Hwat Lui totiang .... “
“Jangan...! Jangan....!”
“Mengapa...?”
“Kepandaian Hwat Lui masih rendah. Jika murid
penghianat itu sampai kemarkas meminta pedang, Hwat
Lui tentu tak mampu menghadapi. Kulihat baru berpisah
belum berapa lama, kepandaian Gak siau-hiap maju
pesat sekali. Lebih baik ......” tiba2 wajah paderi itu
mengerut sesal. Seperti orang yang kelepasan omong
lalu tak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Ceng Suan
276
totiang merasa bahwa pedang pusaka dari perguruannya
itu telah menjadi sasaran dari murid Bu-tong-san yang
hianat. Sebagai seorang ketua Bu-tong-pay sudah tentu
ia merasa malu anak muridnya tak mampu menjaga
pusaka perguruannya dan hendak minta tolong kepada
orang luar. Gak Lui dapat menangkap isi hati paderi itu.
Cepat ia berseru lantang: „Aku pasti akan
bertanggung jawab sepenuhnya. Tentu akan menunggu
sampai tiba saatnya yarg tepat, baru akan kuserahkan
pedang itu kepada Bu-tong-pay”.
Wajah - Ceng Suan totiang cerah seketika. Ia
menghaturkan terima kasih kepada Gak Lui. Sesaat
kemudian dengan wajah rawan, kembali ia melanjutkan
kata-katanya: „Dan permintaanku yang terakhir tak lain,
agar kalian suka segera mengubur mayatku ......”
“Totiang, engkau ......”
“Aku telah menodai nama Bu-tong-pay. Tiada muka
lagi aku bertemu dengan para cousu dan leluhur Butong-
pay ....” tiba2 Ceng Suan meraung keras, mirip
seekor singa yang kelaparan. Sekonyong-konyong
tangan kanannya berayun menampar pelipisnya, plak ...
Melihat itu Gak Lui tak dapat lepaskan cekalannya
sehingga tak dapat mencegah perbuatan Ceng Suan
yang kala itu, Se Bun Giok cepat menampar dengan
jurus Benang-emas-melihat-siku lengan. Angin tamparan
itu berhasil menahan tangan Ceng Suan totiang. Tetapi
Ceng Suan sudah kalap benar2. Tamparannya untuk
menghabisi jiwanya tadi, dilancarkan dengan, tenaga
penuh. Ketika terbentur angin tamparan Se Bun Giok, ia
mendesuh tertahan dan pingsan seketika.
Gak Lui cepat menambahi saluran tenaga dalamnya
seraya berkata: „Kurasa baiklah cianpwe yang
277
mengantar totiang di pulang ke Butong-san. Soal
mengejar si pembunuh, biarlah kulakukan sendiri.”
Sekalipun tak tegah, karena kenyataan sudah begitu
rupa, terpaksa ia menjawab: „Luka totiang amat parah
sekali. Mungkin tak dapat mencapai markas Bu-tong-pay.
Maka dapat kubawa sampai berapa jauh, terserah
keadaannya. Andai kata di tengah jalan menemui ajal,
jenazah totiang tetap akan kuantar ke Bu- tong-san
supaya ditanam dengan baik.”
Cepat mereka bertindak. Luka di dada yang tembus
punggung Ceng Suan totiang, dibalut dan dilumuri obat.
Setelah diminumi pil lalu diikat di atas punggung Se Bun
Giok. Pedang Ceng Suan totiang yang berlumuran darah
itupun dibawa Se Bun Giok. Setelah saling mengucap
selamat jalan, tokoh sakti dari partai Kun-lun-pay itu
segera lari secepat terbang menuju ke Bu-tong- san.
Setelah Se Bun Giok lenyap dari pandangan mata,
Gak Lui masih tetap mondar mandir di situ. Dicobanya
untuk menggunakan ketajaman hidungnya, mencium
jejak kepergian Maharaja. Tetapi Maharaja itu keliwat
sakti. Langkah kakinya selain seringan kapas, pun
cepatnya seperti terbang. Apalagi dalam hutan sekeliling
amat lebat dan pelik. Sekalipun hanya tercium pun sukar
untuk mencarinya. Maka setelah bersusah payah lebih
dari sejam, barulah ia dapat menduga-duga arahnya.
Tetapi Gak Lui seorang pemuda yang keras hati. Ia
pantang mundur setapakpun dari usahanya mengejar
Maharaja. Walaupun setiap kali ia harus berhenti untuk
menentukan arah, tetapi ia tetap lanjutkan
pengejarannya.
Saat itu udara tertutup awan. Sinar rembulan yang
teraling, menimbulkan pemandangan yang menyeramkan
dalam hutan. Gak Lui tiba di mulut sebuah lembah gu278
nung. Diam2 ia menimang: „Ah...., sudah dua hari dua
malam kulakukan pengejaran. Tetapi makin lama makin
kabur. Bagaimanakah aku harus bertindak sekarang ini
....?”
Memandang ke muka, tampak sebuah jalanan
gunung yang hanya setengah meter lebarnya. Ia
ayunkan langkah ke sana dan pada waktu masih 10-an
tombak jauhnya dari jalanan gunung itu, tiba2 sesosok
tubuh lari secepat anakpanah terlepas dari busur.
Meluncur sepanjang jalanan gunung itu. Gak Lui
terkesiap. Ia rentangkan mata lebar untuk memandang
dengan seksama. Tetapi ah...., segumpal awan hitam
berarak menutup rembulan. Seketika pandang
matanyapun gelap. Matanya hanya dapat melihat samarsamar,
orang itu lari bergegas-gegas dan tak hentihentinya
berpaling kemuka belakang, seperti dikejar
setan. Cepat sekali Gak Lui melesat ke jalan, tetapi
orang itu sudah jauh.
“Hai..., bayangan orang itu seperti Se Bun Giok.
Mengapa dia datang kemari ? Dan mengapa pula
tampaknya ia begitu terburu- buru sekali? Siapakah yang
mengejarnya...?” pikirnya dan berpalinglah ia ke
belakang untuk melihat siapakah yang mengejar
bayangan tadi. Dan astaga ! Bukan main kejutnya ketika
melihat sesosok tubuh yang menyeramkan. Dari kepala
sampai ke ujung kaki, orang itu tertutup jubah yang aneh
bentuknya. Kaki tangannya tak bergerak hanya tubuhnya
yang melonjak-lonjak naik turun maju kemuka. Kalau
orang biasa mengenakan kerudung kain hitam, tentu
bagian mata diberi lubang. Tetapi tidak dengan orang itu.
Seluruh muka tertutup kain hitam. Tetapi anehnya jika
tiba di tikungan atau jalan yang berbiluk, ia tetap dapat
mengikuti dengan tepat. Seolah-olah tanpa mata, ia
dapat melihat jalan. Aneh, benar2 aneh ! Jika dia
279
manusia biasa, jelas dia memiliki ilmu kepandaian yang
luar biasa. Dengan mata tertutup dapat melihat segala
benda. Tetapi kalau dia itu suatu makhluk aneh, sungguh
mustahil sekali. Tetapi kalau bukan jenis makhluk aneh,
mengapa seorang tokoh macam Se Bun Giok sampai lari
terbirit-birit begitu rupa ?
PADA SAAT Gak Lui sedang terbenam dalam
keheranan, makhluk aneh itu sudah tiba. Ternyata tubuh
makhluk aneh itu mengeluarkan semacam hawa. Dan
hawa itupun bergulung- gulung melanda kearah Gak Lui.
Seketika Gak Lui mencium suatu bau yang amat busuk
dan anyir.
“Hai, bau darah anyir dari Ceng Suan totiang!
Mengapa dia berobah menjadi makhluk aneh begitu ?
Ah, tak mungkin dia akan mengejar Se Bun Giok begitu
rupa kalau tak terkena semacam ilmu Hitam. Tentu Ceng
Suan totiang telah disesatkan oleh seorang durjana
sehingga lupa pada Se Bun Giok ....” belum sempat ia
melanjutkan analisanya, tiba2 dari arah ujung jalan
muncul sesosok tubuh manusia.
Saat itu rembulan menyiak tabir awan. Sinarnya
menerangi seluruh penjuru. Dan tampaklah perwujudan
orang itu. Dia mengenakan kopiah emas, pinggang
menyalut sebatang pedang, rambutnya terurai ke bawah
mencapai pundak. Memakai jubah kebesaran warna
kuning. Sikapnya keagung-agungan. Wajahnyapun
gagah dan berwibawa. Usianya disekitar 40-an tahun
tetapi masih gagah segar. Terutama sepasang matanya
yang tajam, mengunjukkan keperbawaan seorang gagah.
Melihat sikapnya, sepintas pandang orang tentu dapat
memastikan bahwa pasti seorang ksatrya besar dalam
dunia persilatan. Dan yang paling menakjubkan, orang
itu tak kelihatan bergerak tetapi tubuhnya dapat melesat
280
ke muka. Benar2 suatu ilmu meringankan-tubuh yang
jarang terdapat dalam dunia persilatan. Tergetar hati Gak
Lui melihat orang itu, geramnya : „Hm..., tak heran kalau
Se Bun Giok sampai ketakutan begitu rupa. Kiranya si
Maharaja sendiri yang muncul !”
Diam2 ia serempak mencabut pedang. Saat itu
siorang aneh sudah berada 3 tombak jauhnya. Gak Lui
melihat jelas bagahnana tangan kiri orang itu sedang
bergerak-gerak aneh, matanya setengah memejam dan
wajahnya tampak serius sekali. Dan ketika tiba di
samping tempat Gak Lui bersembunyi, tiba2 orang itu
membuka mata lebar2 lalu memandang ke sekeliling.
Rupanya la mengetahui kalau di sekeliling tempat itu
terdapat orang yang bersembunyi.
Gak Lui tak mau membuang waktu lagi. Dari pada
didahului lebih baik ia mendahului. Dengan jurus
Rajawali pentang sayap, ia apungkan tubuh ke udara,
bergeliatan menukik seraya ayunkan pedang sekuatkuatnya
kearah kepala orang itu. Serangan itu dilambari
dengan seluruh.tenaganya. Dahsyatnya bagai gunung
Thay-san rubuh. Tetapi orang itu bukan sembarang
tokoh. Pada saat pedang Gak Lui hampir mengenai,
tahu2 dengan gerakan yang aneh, orang itu berputar
tubuh dan tring...., tangan kanannya sudah mencabut
pedang dan menangkis serangan Gak Lui. Tetapi
anehnya, orang itu tetap lanjutkan langkah mengejar
Ceng Suan totiang.
“Hai, hendak lari ke mana engkau!” teriak Gak Lui
seraya bergeliatan di udara lalu melayang turun
menghadang di muka jalan. Melihat mata Gak Lui
memancar dendam kemarahan yang berapi-api, orang
itupun tertegun. Saat itu dipergunakan sebaik-baiknya
oleh Gak Lui yang segera gunakan jurus Menjolok281
bintang-memetik-bulan, menusuk perut orang. Melihat
dirinya dihadang lalu diserang hebat, orang itupun
kerutkan alis. Dengan gerak laksana ular meliar, dari
arah yang tak diduga-duga, pedang orang itu menabas
pergelangan tangan Gak Lui dan serempak dengan itu,
tubuhnya meluncur lagi ke muka untuk mengejar Ceng
Suan totiang. Dengan geram Gak Lui lancarkan
serangan ganas lagi:
“Maharaja bangsat, jangan harap engkau dapat lolos
!” Seruan Gak Lui itu makin membuat orang itu kerutkan
dahi. Tetapi karena diserang, tanpa bicara apa2, ia
gerakkan pedangnya. Dalam sekejab saja, ia sudah
lancarkan tiga buah serangan sekali gus. Selain
tenaganya yang luar biasa, pun jurus Tedangnya aneh
sekali Tidak sama dengan ilmupedang dari partai
perpilatan umumnya. Sinar pedang yang mencurah bagai
hujan lebat disertai deru angin yang menyambarnyambar
seperti badai. Serangan itu berhenti
membendung kekuatan Gak Lui dan memaksa pemuda
itu mundur sampai setombak jauhnya. Gak Lui terkejut.
Dalam gugup ia cepat lancarkan jurus Cendrawasihkibaskan-
sayap. Pedang berhamburan laksana bianglala
mengarungi cakrawala dan dapat menahan serangan
lawan. Tiba2 Gak Lui gerakkan tangan kiri dalam pukulan
sakti Algojo dunia. Pukulan yang timbul karena
kemarahan itu, hebatnya bukan alang kepalang.
Hati orang itu benar2 terperanjat sekali. Pedangnya
serasa tercekik dalam kisaran tenagadalam yang
memancar hebat. Tak dapat ditarik pulang, tak dapat
digerakkan menangkis dan tak dapat menghindar pula.
Dalam keadaan terancam maut itu, terpaksa siorang
aneh hentikan gerakan aneh dari tangan kirinya dan
terus digerakkan untuk balas menghantam. Bum.....,
282
terdengar letupan keras. Seketika Gak Lui rasakan
telapak tangannya panas seperti terbakar sehingga mau
tak mau ia terpaksa harus mundur dua langkah. Dan
serempak dengan itu terdengarlah seruan rawan dari
orang aneh itu: „Gak Lui, engkau telah mencelakai Ceng
Suan totiang. Ha...., engkau harus ganti jiwanya !”
Mendengar tuduhan orang kalau ia yang mencelakai
Ceng Suan totiang, bukan main marah Gak Lui.
Bentaknya : „Ngaco belo !” Cepat ia mencabut pedang
pusaka Pelangi lalu dengan sekuat tenaga ia menyerang
orang itu. Melihat pedang Pelangi, ibarat api disiram
minyak, makin berkobarlah amarah orang aneh itu,
bentaknya : „Ho...., kiranya engkau maling kecil yang
mencuri pedang pusaka. Makanya engkau hendak
mencelakai Ceng Suan totiang !”
Ucapan itu diikuti dengan gerakan tubuh yang
berputar amat aneh dan cepat. Tabasan Gak Luipun
menemui tempat kosong. Dan sebelum pemuda itu
sempat mengganti jurus, lawan sudah menyerang dari
samping dengan jurus Menggurat-tanah-mamapas langit.
Melihat tubuh lawan seolah- olah pecah menjadi empat
lima sosok tubuh, Gak Luipun segera hamburkan pedang
untuk membentengi diri seraya gunakan ilmu
Meringankan tubuh untuk mengikuti langkah orang yang
hendak melanjutkan perjalanan.
“Orang itu tak tahu menahu tentang Ceng Ki totiang
minta tolong padaku supaya memperbaiki pedang
Pelangi, tetapi mengapa tampaknya ia terkejut melihat
pedang Pelangi ini. Walaupun dia menuduh aku
mencelakai Ceng Suan totiang, tetapi dia sendiri jelas
adalah Maharaja!” pikir Gak Lui.
Orang aneh itu sendiripun menimang dalam hati:
„Rupanya budak ini hebat sekali kepandaiannya. Kalau
283
tak menggunakan jurus istimewa tentu akan memakan
waktu panjang.”
Setelah mengambil keputusan, ia berhenti tegak
membelakangi Gak Lui. Punggungnya seolah-olah
terbuka. Kesempatan itu tak disia-siakan Gak Lui. Cepat
ia maju gerakkan kedua pedangnya menusuk ke atas
dan ke bawah. Tepat pada waktu kedua ujung pedang itu
hendak menyentuh tubuh, tiba2 pedang orang aneh itu
menjungkir ke belakang. Dengan jurus Naga-saktikibaskan-
ekor untuk menangkis pedang sebelah kanan
dari Gak Lui. Lalu dilanjutkan dengan jurus Saljuberhamburan-
mencabut-nyawa, untuk menebas
punggung pedang Gak Lui di tangan kiri. Dan serempak
itu, ia berputar melesat ke luar lalu menghantam dengan
tangan kiri.
Dua buah pukulan, sekali gus dilepaskan susul
menyusul. Pukulan pertama, bagaikan lima buah
halilintar memecah angkasa. Hawa panas berhamburan.
Pukulan kedua, memancarkan sinar putih kemilau yang
menyilaukan mata. Gak Lui segera putar pedang pusaka
Pelangi untuk melindungi diri. lapun salurkan tenagasakti
umtuk menyedot tenaga lawan. Tetapi sudah
terlambat. Tubuh Gak Lui melengkung ke samping kiri
dan terpental sampai beberapa langkah.
“Huak ......” mulutnya menguak, menyemburkan
darah segar yang panas. Tetapi hal itu tidak
meruntuhkan nyali Gak Lui. Bahkan kebalikannya malah,
kemarahannya menyala nyala seperti terbakar api.
Dengan tertawa geram, ia silangkan kedua
pedangnya untuk siap menyambut serangan. Sepasang
matanya tak berkedep memandang tajam kepada lawan.
Orang aneh itu dingin sekali wajahnya. Sambil
284
tujukan ujung pedangnya ke tenggorokan Gak Lui,
tangan kiri meregang keras, majulah ia selangkah demi
selangkah menghampiri Gak Lui. Malam makin larut dan
makin menyeramkan. Seolah-olah suatu alamat dari
kedatangan Malaekat Pencabut nyawa di tempat itu.
Kedua orang itu sama membisu. Jarak yang memisahkan
keduanyapun makin ciut. Dari dua tombak menyurut jadi
satu tombak. Dari satu tombak menjadi satu meter.
Keduanya tak mau bergerak menyerang dulu. Karena
barang siapa yang mulai menyerang tentu akan ada
yang binasa.
Sekonyong-konyong terdengar, derap langkah lari
orang. Dalam beberapa kejap, orang itupun sudah tiba
beberapa tombak dari tempat Gak Lui. Gak Lui dan
lawannya tahu hal itu. Tetapi mereka tak berani berpaling
melihatnya. Karena jarak keduanya hanya sepanjang
pedang. Suatu jarak yang memberi kesempatan untuk
menusuk apabila ada salah seorang yang berpaling
muka. Yang tampak hanya sebatang pipa huncwe
(panjang) berwarna kuning emas.
Tahu2 sesosok tubuh melesat dan tegak di depan
kedua orang yang sedang hendak mengadu jiwa itu. Baik
Gak Lui maupun orang aneh itu. terpaksa berpaling dan
serempak berserulah keduanya dengan nada kaget:
„Oh...., Se Bun sianseng datang!”
Nada Gak Lui penuh dengan kecurigaan Sedang
nada orang aneh itu penuh dengan kerawanan. Ternyata
kedatangan Se Bun Giok itu bukan seorang diri
melainkan memanggul Ceng Suan totiang. Jago dari
Kun-lun itu geleng2 kepala: „Ah..., kiranya benar kalian
berdua. Tetapi mengapa hendak berkelahi2”
“Apakah dia bukan Maharaja?” seru Gak Lui penuh
keheranan.
285
“Apa itu Maharaja atau Kaisar! Dia adalah ketua
partai Gelandangan yang bernama Raja-sungai Gan Keik”
kata Se Bun Giok.
“Oh....,” Gak Lui mendesuh dan mundur setengah
langkah. Kemudian Se Bun Giok bertanya kepada Gan
Ke-ik: „Apakan pangcu tak tahu kalau dia ini Gak.....”
“Dia Gak Lui, kutahu!“ sahut ketua partai
Gelandangan.
“Lalu mengapa berkelahi? “
“Mengapa aku tak harus berkelahi?” Gan Ke-ik ketua
partai Gelandangan balas bertanya.
“Dia pernah menolong kakak saudara beserta
rombongan anak murid partai saudara! “
“Oh ..... tetapi bukankah dia anak buah Maharaja dan
mencuri, pedang pusaka partai Butong san .....”
“Ah...., saudara ketua Gan, engkau benar2 tak
mengetahui jelas !”
“Kalau begitu harap engkau menerangkannya. “
“Apakah masih perlu kuterangkan lagi?”
“Kapan engkau sudah pernah menerangkan?” balas
Gan Ke-ik. Se Bun Giok lebih dulu letakkan tubuh Ceng
Suan ke tanah. Ia kerutkan kening merenung sejenak
lalu menyapu keringat pada kepalanya. Kemudian
menghunjamkan kakinya ke tanah seraya memaki dirinya
sendiri: „Sungguh celaka, celaka sekali. Kiranya aku
belum pernah mengatakan hal itu kepadamu!”
“Memang belum,” jawab Gan Ke-ik. Terpaksa Se Bun
Giok menceritakan lagi peristiwa Gak Lui menolong
orang partai Gelandangan menghadapi tantangan
orang2 partai Pengemis. Seketika Gan Ke-ik. Meminta
286
maaf kepada Gak Lui. Tetapi ternyata saat itu Gak Lui
sedang berjongkok memeriksa keadaan Ceng Suan
totiang. Anak muda itu mengucurkan airmata. Ia tak
menghiraukan permintaan maaf dari ketua partai
Gelandangan tadi. Gan Ke-ik buru2 menghampiri lalu
menjurah di hadapan Gak Lui:
“Atas budi saudara Gak menolong kakandaku
beserta anak muridku, Gan Ke-ik terlebih dulu
menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya dan pasti
takkan melupakan budi saudara itu!”
Tersipu-sipu Gak Lui balas memberi hormat lalu
bertanya: „ Mengapa totiang meninggal?”
Se Bun Giok maju memberi keterangan: „Sehari
kupanggulnya, menempuh perjalanan, totiang telah
menghembuskan napas yang terakhir.”
Masih Gak Lui tak jelas akan keterangan Se-bun
Giok itu. Ia alihkan pandang matanya kepada Rajasungai
Gan Ke-ik. Rupanya ketua partai Gelandangan itu
tahu isi hati Gak Lui, maka ia memberi keterangan
tambahan.
“Kami kaum partai Gelandangan mememiliki sebuah
kitab yang berisi ilmu yang aneh2. Saat itu kulihat Ceng
Suan totiang masih berdenyut jantungnya. Aku
mempunyai harapan untuk menolongnya. Kukira
arwahnya masih belum meninggalkan raganya. Maka
kugunakan ilmu Lima Halilintar untuk mengantar saudara
Se-bun agar jenazah itu dapat mencapai gunung Bu tong
dalam keadaan masih baik. Mungkin .......”
“Mungkin dapat membangkitkan ia hidup lagi?” tukas
Gak Lui.
“Hal itu hanya kemungkinan yang terkecil sendiri.
287
Tentang tuduhanku hanyalah timbul karena kemarahnku.
Harap saudara Gak jangan menyesal.”
“Jika masih ada setitik kecil harapan, akulah yang
telah mencelakainya,” Gak Lui menghela napas.
Wajahnya rawan, mata redup bagaikan rembulan tertutup
awan gelap.
“Ah...., saudara Gak tak perlu menyesali diri sendiri.
Aku dan engkau sama2 diburu ketegangan untuk
menolong orang sehingga sampai terjadi salah faham,”
Gan Ke-ik menghiburnya.
Se-bun Giok pun ikut menghibur: „Gak laute, engkau
seorang pemuda yang gagah perkasa. Janganlah pikiran
engkau isi dengan hal2 yang keliwat rumit. Dua hari yang
lalu ketika Bok kiam-su terbunuh, engkau menyatakan
dirimulah yang menyebabkannya. Sekarang kembali
engkau mengatakan kalau engkaulah yang mencelakai
Ceng Suan totiang. Padahal, kesemuanya itu memang
sudah ditakdirkan nasib!”
Ucapan Se-bun Giok yang bermaksud untuk
menghibur itu kebalikannya malah menyinggung
perasaan Gak Lui. Seketika ia teringat akan kematian
Bok Kiam-su. Lalu terkenang akan nasib yang menimpah
bibi gurunya Pedang Bidadari Li Siok Gim, paman
gurunya yang kedua Pedang Iblis Kau Tiong-ing dan
paman gurunya yang nomor empat Pedang Aneh Ji Kitek.
Sebelumnya mereka masih segar bugar. Tetapi
setelah berjumpa dengan dirinya, susul menyusul
mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Kematian
mereka meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan
seumur hidup. Dan kesan2 itu makin memupuk dendam
kebenciannya terhadap tokoh Maharaja. Ah....., apakah
memang suratan nasibnya. Bahwa ia harus berpisah
dengan orang2 yang menjadi keluarganya itu, Gak Lui
288
terbenam dalam renungan.
Saat itu Gan-ke-ik dan Se-bun Giok pun sudah
selesai mengemasi jenazah Ceng Suan totiang lalu
duduk merundingkan rencana yang akan datang. Setelah
melihat Gak Lui, sudah tersadar dari lamunan, Se-bun
Giok memanggilnya: „Saudara Gak, engkaupun harus
beristirahat. Bagaimana dengan lukamu tadi”
“Ah...., tak apa. Setelah melakukan pernapasan tentu
sembuh,” seru Gak Lui seraya menghampiri ketempat
kedua orang itu. Bertanyalah ia dengan serius kepada
Gan Ke-ik: „Tolong tanya pada Gan pangcu, apakah
kalian percaya akan nasib atau takdir?”
“Ooo...., memang dari dahulu sampai sekarang,
orang mengatakan begitu. Pula perguruan gelandangan
memang memiliki beberapa macam ilmu mistik (aneh)
yang aneh dan manjur. Sekali-kali bahkan mengelabui
orang.”
“Sukalah pangcu memberi contoh padaku?....”.
“Kim ambil contoh jurus yang kuserangkan padamu
tadi. Engkau tentu sudah mendapat tiga macam bukti.”
“Ooo...., apakah dalam ilmusilat juga terdapat ilmu
gaib semacam itu?”
“Benar! Bukankah engkau tadi melihat diriku bisa
pecah menjadi beberapa sosok?”
“Benar, seranganku dengan sepasang pedang tak
dapat mengenai!”
“Ilmu itu disebut Malaekat-pindah-tempat.
Menggunakan landasan semangat dan tenaga. Agar
lawan mengira yang palsu itu seperti tulen. Lebih aneh
dan istimewa dari gerakan Mengisar- tubuh-bergantitempat
yang terdapat dalam dunia persilatan.”
289
“Mohon tanya, apakah bukti yang kedua itu?” tanya
Gak Lui.
“Bahwa Ceng Suan totiang dapat berlari cepat adalah
karena kugunakan ilmu Lima-halilintar agar dia tak
sampai jatuh. Sampai pada saat engkau menyerang dan
akupun terpaksa tak dapat mendorong Ceng Suan
totiang lagi. Saat itu aku sudah menyadari bahwa totiang
lantas rubuh. Kalau tak percaya, cobalah engkau tanya
pada Se-bun bagaimana keadaan Ceng Suan totiang
saat itu”
“Benar,” sahut Se-bun Giok, “tiba2 totiang rubuh.
Kalau tidak begitu, aku tentu takkan kembali kemari.”
Gak Lui tergetar batinya. la menanyakan bukti yang
ketiga
“Seranganku tadi, apakah engkau tak merasa seperti
tersambar 5 halilintar yang memancarkan hawa panas?”
“Ya, memang ada”
“Itulah ilmu pukulan Api-halilintar dari perguruanku.
Selain dapat melukai orang, pun mengandung tenaga
sihir!”
“Tetapi mengapa pukulan kedua yang menyusul tak
sama dengan pukulan yang kesatu?”
“Benar” sahut Gan Ke-ik, „pukulan itu memang bukan
ilmu dari perguruanku.”
“Lalu dari ajaran Partai mana?”
“Partai Thian-liong-pay”
“Oh...., kiranya ilmu istimewa dari Kaisar Li Liong-ci! “
teriak Gak Lui.
“Benar, ilmu pukulan itu disebut Pukulan sakti iblis
gaib. Dengan ketiga jurus ilmu pedang yang kumainkan
290
itu, memang ajaran dari Kaisar Li Liong-ci. Ilmu itu
ciptaan dari gurunya, yakni paderi-sakti Thian Liong.
Sayang aku tak mampu mempelajari dengan giat
sehingga menelantarkan ilmu ajaib dari gurunya aliran
Suci dan Jahat.”
Gak Lui sangat berkesan sekali terhadap sebuah
pukulan dan tiga serangan pedang dari Gan Ke-ik tadi.
Maka ia menanyakan nama jurus2 itu dan diam2
mengingat-ingat gerakan Gan Ke-ik tadi. Ia mencatat
baik2 dalam hati. Gan Ke-ik mendapat kesan bahwa Gak
Lui itu masih muda dan berhati lurus. Tak mudah untuk
menerima penjelasan mengenai hal2 yang khayal. Maka
la segera menambah keterangan: „Agama dan Syaitan
itu, sebenarnya dapat diketahui. Oleh karena itu, beda
Manusia dengan Syaitan itu hanya perbedaan antara
Mati dan Hidup. Atau lebih jelas lagi, antara Raga
dengan Jiwa. Selama jiwa masih bersemayam dalam
raga, kita hidup. Tetapi, setelah jiwa meninggalkan raga,
kita pun mati. Tentang mati dan hidup, memang sudah
digariskan dalam nasib.”
“Kalau begitu, Roh dan Nasib itu memang dapat
dipercaya?”
“Kalau tak percaya, tak ada. Kalau percaya, ada.
Luasnya tiada. terbatas, dapat mencangkum masa
dahulu dan yang akan datang.”
Gak Lui tak sempat menanya lebih jauh karena Sebun
Giok sudah mendahului. „Benar, memang ilmu
petangan dari partai Gelandangan termasyhur dalam
dunia persilatan. Untuk mencari barang yang hilang dan
orang, manjur dan tepat sekali.”
Serentak tergeraklah pikiran Gak Lui, tanyanya: „Gan
pangcu, aku hendak mencari beberapa orang. Dapatkah
291
engkau memberitahukan?”
“Boleh...., boleh..... Tetapi dalam nujuman itu hanya
dapat memberi jejaknya saja.”
“Ada jejak, cukuplah....” Gan Ke-ik segera
mengeluarkan sebuah cermin, katanya: “Silahkan melihat
cermin ini. Setelah kuucapkan doa, tentu akan akan
muncul gambaran orang pada kaca itu. Tetapi kalau
hendak mencari orang, harus memberitahukan nama dan
hari lahirnya!”
Seketika Gak Lni tertegun. Karena apa yang
dilihatnya pada cermin itu hanyalah ayah-bunda, taci
angkat. Tetapi dia tak tahu hari kelahiran mereka. Dan
tentang siapa musuhnya, sama sekali ia tak tahu
namanya. Gak Lui hanya termenung-menung tak dapat
bicara. Melihat itu Gan Ke-ik segera menegur: „Apakah
Gak siau-hiap tak mau bertanya apa?”
“Aku tak tahu hari lahir mereka! “ Se-bun Giok tahu
akan kekecewaan Gak Lui maka buru2 ia memberi
anjuran supaya pemuda itu menanyakan saja tentang
peristiwa yang akan datang.
AKHIRNYA Gak Lui menurut. Bertanyalah ia kepada
Gan Ke-ik: “Kalau kutanyakan tentang hal2 yang akan
datang, apakah juga manjur....?”
“Sudah tentu manjur juga. Tetapi bayang2 pada
cermin itu, mungkin saat itu sukar dimengerti. Tetapi
kelak tentu terbukti semua.”
Gak Lui segera menanyakan peristiwa.yang akan
dialami pada masa yang akan datang. Gan Ke-ik
menyerahkan cermin kepada Se-bun Giok, katanya:
“Menanyakan nasib diri sendiri, tak boleh orang itu
melihatnya sendiri. Karena setiap orang tentang
292
prasangka, mudah salah faham. Misalnya, kalau
sekarang ini saja hendak mencari Kaisar Persilatan, juga
lain caranya. Maka harap saudara Se-bun yang melihat
dan mengatakan, kita berdua yang mendengarkan.”
Demikian ketiga orang itu lalu pejamkan mata. Pikiran
Gak Lui melayang pada gerombolan Topeng Besi dan si
Hidung Gerumpung serta si Maharaja. Oleh karena tak
dapat menanyakan diri kedua orang tuanya, maka ia
mengharap dapat mengetahui tentang musuh besarnya.
Gan Ke-ik setengah pejamkan mata. Tangannya
menekuk-nekuk jari, mulut berkemak-kemik membaca
doa. Sedang Se-bun Giok memandang penuh perhatian
pada kaca. Beberapa saat kemudian, tiba2 Se-bun Giok
berseru : „Aku melihat sesuatu !”
“Cianpwe melihat apa ?” tanya Gak Lui.
“Seorang yang berkerudung muka ..... pedangnya
menonjol ke atas, kakinya menginjak beratus-ratus tulang
mayat ........ sikapnya congkak dan angkuh sekali ........ “
Diam2 Gak Lui terkejut. Ia duga tentulah si durjana
Maharaja Persilatan. Maka berserulah ia: Dia:
mempunyai hidung atau tidak ?”
“Ah, karena mukanya ditutupi kain kerudung, mana
dapat kelihatan “ sahut Se-bun Giok seraya kerutkan alis,
„hai..., kelihatan seorang lagi!”
“Seorang lagi ?”
“Sebuah gunung, belantara ........ sebuah guha,
hai...., kain kerudung orang itu tiba2 melayang jatuh.”
“Bagaimana ?” teriak Gak Lui tegang sekali.
“Dia ....... dia memang tak punya hidung!” teriak Sebun
Giok tegang juga. Seketika menggigillah Gak Lui,
serunya : „Harap perhatikan wajahnya dengan seksama!”
293
“Batang hidungnya terpapas semua hingga tinggal
lubangnya saja. Wajahnya... celaka! Dia terjungkal rubuh
dan mati ........!”
“Benar, dia memang harus mati !” teriak Gak Lui
kalap. Seketika Se-bun Giok melihat permukaan cermin
itu seperti tertutup sinar merah darah. Serentak ia
membentak Gak Lui : “Jangan berteriak....! Teriakanmu
itu melenyapkan bayangan yang berada di sampingnya!”
“Apakah sudah tak kelihatan!” tanya Gak Lui gugup.
Se-bun Giok memandang dengan seksama. Permukaan
cermin bagai tertutup gumpalan awan. Sebentar terang,
sebentar gelap. Lewat beberapa seat barulah wajah Sebun
Giok cerah.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Ngentot Model Anyar : PKK 3 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments