Cerita Ngentu Model Pendatang Baru : PKK 4

AliAfif.Blogspot.Com -
Cerita Ngentu Model Pendatang Baru : PKK 4
-“Nah, sudah muncul, sudah muncul. Ah....., masih dia
saja ....”
“Siapa?....”
“O....rang berkerudung yang menyanggul pedang tadi
!”
“Oh....., dia belum mati?”
“Ah....., bukan hanya seorang .. dua orang”
“Ooo...., tetapi muncul beberapa orang yang
merupakan sekelompok besar. Mereka semua
mengenakan kerudung muka dan membawa pedang.
Gerombolan itu mengitari sekeliling orang berkerudung
yang muncul pertama tadi, seperti sedang menari- nari
mengelilinginya ....... “
“Lalu?”
“Dari kejauhan muncul seseorang yang mencekal
sepasang pedang. Gerakannya secepat angin meniup.
Dia hanya seorang diri ..... tidak, ah.... di belakangnya
294
menyusul banyak sekali tokoh2 silat yang hebat.........
kedua fihak segera bertempur hebat ..... pedang berkiblat
deras, darah membasahi bumi .......Ah....., ada beberapa
orang yang rubuh........ lagi beberapa yang rubuh .......”
Permukaan kaca itu penuh dengan bayangan yang cepat
muncul lenyap sehingga Se-bun Giok tak keburu
menerangkan. Tetapi dari kerut wajahnya, dapatlah
disimpulkan bahwa Se-bun Giok sedang menyaksikan
sesuatu yang ngeri. Gak Lui tak berani mengganggu.
Setelah melihat wajah Se-bun Giok agak tenang, barulah
is bertanya: „Bagaimana akhirnya?”
“Akhirnya sebuah lautan darah, penuh dengan mayat
yang timbul tenggelam “
“Adakah si Topeng Besi di situ?”
“Belum diketahui .... Sekarang tampak lima sosok
mayat terdampar di tepi laut, ah ....... memang
mengenakan topeng besi !” Itulah upahnya penghianat !”
seru Gak Lui.
“Heran ?”
“Mengapa ?”
“Beberapa berlutut menangis dengan sedih sekali !”
“Siapakah yang menangisi mereka?
“Rupanya tokoh2 dari Lima partai persilatan besar !”
Gak Lui pening kepalanya dan mulutnyapun berseru
heran. Dilihatnya Se-bun Giok tengah memandang kaca
itu dengan wajah tegang. Wajahnya pucat lesi dan tiba2
mendekap cermin itu ke dada. Jelas dia melihat sesuatu
yang ngeri. Gak Lui tak tahan lagi. Segera ia mencekal
tangan orang yang bergemetar : „Se-bun sianseng,
apakah yang sesungguhnya engkau lihat?”
“Tidak .... tidak apa2.”
295
“Mengapa tak berani mengatakan?”
“Harap jangan tersendat-sendat. Ada hal yang
burukpun aku tak takut! “'
“Se-bun sianseng tak dapat mengelak lagi. Terpaksa
dengan tersekat ia menyahut: „ Kulihat dalam hutan
terdapat sebatang pohon besar, sebuah gedung mewah
.... diatasnya tertulis 4 buah huruf .....”
Bukankah berbunyi „Paseban agung Yau-san”
Se-bun Giok terkejut: „Hai....., mengapa engkau
tahu?”
“Aku hanya menduga-dugal “
“Tak mungkin! Rupanya engkau faham akan tempat
itu.”
“Sudahlah, jangan menanyakan soal itu. Harap
lanjutkan keterangan saja!”
“Di dekat Paseban-agung Yau-san itu terdapat
sebuah puncak gunung. Di samping gunung ada sebuah
guha batu ........ “
“Apa isinya?” Seorang pemuda cakap sedang duduk
bersila, dia ......” tiba2 Se- bun Giok memandang Gak Lui
beberapa saat lalu menelan air liur .......
“Dia bagaimana?”
Dengan mengertak gigi, Se-bun Giok menyahut
dingin: „Dia tak apa2!”
Tanpa disadari, karena tegang perasaan, Gak Lui
mencengkeram, keras tangan Se-bun Giok: „Aku tak
percaya, cianpwe harus bilang!”
Melihat itu Gan-Ke-ikpun hentikan gerakan
tangannya. lapun segera mencegah: „Harap Gak siau296
hiap jangan memaksa. Apa yang tampak pada cermin itu
adalah gambaran dari isi hatimu. Tetapipun hanya secara
samar2, tak dapat jelas sekali. Misalnya, pertempuran
dahsyat dari dua fihak partai. Belum tentu terjadi dalam
sebuah tempat. Tetapi dalam cermin itu diperlihatkan
suatu pertumpahan darah hebat. Asal musuhmu yang
utama sudah tampak, yang lain2 tak perlu engkau
pikirkan terlalu serius.”
Diam2 Gak Lui menimang: “Maharaja, Hidung-
Gerumpung dan Topeng Besi, sudah bermunculan.
Tentang yang dilihat Se-bun Giok paling akhir, mungkin
tentu peristiwa malang yang akan menimpah diriku.
Tetapi pokok asal sudah terlaksana membalas dendam,
aku tak peduli nasib apa yang akan menimpah diriku!”
Dengan pemikiran itu, ia lepaskan cengkeramannya
pada tangan Se-bun Giok dan menjawab kata2 ketua
partai Gelandangan tadi:. „Ucapan pangcu memang
benar. Terima kasih!”
Sesaat kemudian Se-bun Glok berkata: „Rasanya
saat ini sudah menjelang fajar, baiklah kita segera
mengantar jenazah Ceng Suan totiang”.
Gan Ke-ik menyetujui.....
Rupanya Gak Lui masih tak enak hati atas kematian
Ceng Suan totiang. Maka ia menyatakan bersedia untuk
membantu mengantaran jenazah. Se-bun Giok
mengatakan bahwa peraturan Antar Jenazah itu amat
banyak. Dia memperingatkan bahwa pemuda itu masih
perlu menuju ke gunung Pek-wan-san. Maka lebih baik
membagi tugas saja. Pendapat itu disetujui. Maka Sebun
Giokpun segera mulai mengangkat jenazah Ceng
Suan lalu ditegakkan pada pohon.
Gan Ke-ik lalu berkata kepada Gak Lui : „Harap
297
engkau kosongkan pikiran dan menutup kedua mata
dengan tangan. Jika hendak melihat, silahkan dari sela2
jari saja.”
Memang Gak Lui agak tak percaya. Maka ia tak mau
melewatkan kesempatan itu. Ia ingin menyaksikan
apakah orang yang sudah mati masih dapat berlari. Muka
dan kepala didekap dengan kedua tangan dan hanya
diberi sebuah lubang celah jari untuk mengintai keluar.
Gan Ke-ik pun segera bersiap. Tangan kiri bergerakgerak,
mulut berkomat-kamit mengucap doa. Sedang Sebun
Giok sudah menerobos keluar hutan untuk menjaga
jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam hutan
situ. Gan Ke-ik bergerak makin lama makin cepat. Ia
berputar-putar. Akibat putaran tubuh itu, anginpun timbul
keras. Tiba2 ia berhenti dan membentak pelahan :
„Gerak.!” Sekali tangan kanan menunjuk, berhamburanlah
angin deras kearah jenazah Ceng Suan
totiang dan mayat itupun melonjak ke muka sampai tiga
langkah.
“Jalan !” seru Gan Ke-ik pula dan mayat Ceng Suan
totiang itu segera berjalan keluar hutan. Melihat itu Sebun
Giok tak keburu mengucap selamat jalan kepada
Gak Lui karena ia harus cepat2 mendahului untuk
menunjukkan jalan. Selama mengunakan ilmu
menjalankan mayat Gan Ke-ik tak dapat bicara dengan
orang. Maka ia hanya melambaikan tangan kepada Gak
Lui lalu menerobos keluar hutan.
Setelah ketiga orang itu lenyap, barulah Gak Lui
membuka tangannya. Dia tak percaya akan segala
ketahayulan. Tetapi apa yang disaksikan tadi, memang
benar2 suatu kenyataan. Ia tak percaya akan cermin
ajaib dari Gan Ke-ik tadi. Namun diam2 ia bersyukur juga
karena mengetahui hal2 mengenai musuhnya. Jika
298
gerombolan Topeng Besi itu terdiri dari lima orang,
tentulah mereka itu tokoh2 berilmu tinggi dari kelima
partai persilatan. Yang jelas paderi Ceng Ci dari Bu-tongpay
telah menjadi kaki tangan si Maharaya dan
membunuh Ceng Suan totiang, ketua Bu-tong-pay saat
ini. Tokoh Kong-tong-pay yang hilang yalah Wi Cun
totiang. Saudara sepergguannya yakni Wi Ti dau Wi Tun
merasa cemas. Teringat akan bayang2 yang muncul
pada cermin ajaib tadi, diam2 Gak Lui merasa heran
juga. Mengapa kelima tokoh partai persilatan yang
lenyap dan menjadi kaki tangan Maharaja itu menangisi
mayat2 yang bergelimpangan pada lautan darah akibat
dari pembunuhan yang mereka lakukan ?” Dan orang
yang menyanggul pedang, berjalan diatas gunung
bangkai manusia, tentulah si durjana Maharaja
Persilatan. Anehnya, ketika si Hidung Gerumpung mati,
orang yang diduga sebagai Maharaja itu muncul pula
dalam cermin. Apakah itu bukan menyatakan bahwa
cermin ajaib itu hanya khayalan yang tak keruan dan tak
dapat dipertanggungan jawabkan kebenarannya? Atau,
apakah memang ada dua orang tokoh yang berlainan
orangnya?
Menurut keterangan ayah-angkatnya, pembunuh
yang pedangnya memakai tanda burung Palang,
hidungnya telah terpapas kutung. Tetapi menurut
keterangan Bok kiam-su, orang yang mukanya
berkerudung itu, hidungnya masih utuh, Disesuaikan
dengan bayang-bayang pada cermin ajaib, jelas kalau
antara orang yang hidungnya gerumpung dan memiliki
pedang pertanda palang, dengan orang yang
mengenakan kerudung muka dan mendatangi Bok
Kiamsu itu, adalah dua orang. Tetapi kini tanda guratan
palang pada pedang pembunuh itu sudah, diperbaiki.
Dengan begitu ia telah kehilangan sebuah jejak untuk
299
mengejar pembunuh orang tuanya.
Misteri yang menyelubungi diri Maharaja dan si
Hidung Gerumpung makin gelap baginya. Kemudian Gak
Lui teringat akan Se-bun Giok yang tak mau mengatakan
tentang Gedung keramat gunung Yau-san dan guha batu
di puncak gunung serta pemuda cakap yang duduk
bersemedhi dalam guha batu itu.
“Aku tak pernah melihat wajahku,” pikir Gak Lui,
„tetapi ayah adalah pemuda cakap pada masa itu. Ah,
mungkin wajahku mirip dengan Ayah. Bahwa Se-bun
Giok memandang aku dan tak berani berkata apa2
adalah karena ia melihat mataku ..... mulutku ..... serupa
dengan wajah pada cermin itu.” Makin merenungkan
tingkah laku Se-bun Giok pada saat melihat bayang2
wajah orang pada cermin ajaib, makin teganglah hati Gak
Lui.
“Mengapa tadi mendadak wajah Se-bun Giok
berubah pucat ? Ah....., tentulah karena pemuda cakap.
yang bersemedhi dalam guha batu itu ... atau dirinya
(Gala Lui) .,. tentu akan menemui ajal secara menge -
naskan.”
“Mengapa aku harus mati secara mengenaskan?”
bertanya Gak Lui dalam hati, „ah....., tentulah karena aku
telah banyak dosa membunuh orang ....”
Gak Lui menengadah memandang langit. Tiba2 ia
tertawa mengekeh : „Heh..., heh..., heh...., asal dapat
membalas dendam orang tuaku, aku tak peduli akan mati
secara bagaimana!. Kematian orang tuanya, para paman
perguruan serta bibi perguruannya, serentak
membangkitkan rasa dendam yang membakar hangus
sanubari Gak Lui. Saat itu perasaan Gak Lui amat tegang
sekali. Begitu tegang, sehingga hampir saja ia
300
kehilangan kesadaran pikirannya. Dan apabila sampai
pada tingkat yang memuncak begitu, hawa amarah yang
penuh dengan nafsu, keganasan itu akan menyerang ke
dalam uluhatinya dan dia pasti akan tertimpah Co-hwejip-
mo. Kalau tidak rusak tubuhnya, tentu mati seketika.
Gak Lui tak menyadari hal itu. Dadanya sesak,
pikiran linglung dan matapun kabur. Memandang
kesekeliling, ia seperti melihat gerumbul pohon di
sekeliling itu seperti sosok tubuh dari musuh-musuhnya
yang hendak mengepung dirinya. Serentak ia mencabut
sepasang pedangnya dan memekik keras:
“Bunuh!”
Tetapi makin lama suaranya makin lemah dan
akhirnya lenyap. Tiba2 pula ia memandang pada pedang
pusaka Pelangi yang dicekal di tangan kiri. Pedang itu
memancarkan sinar yang amat bening tetapi penuh
dengan hawa pembunuhan. Akhirnya ia sadar dan
pikirannya pun makin tenang. Teringat bahwa pedang itu
sudah membunuh tiga jiwa, ia merasa menyesal. Orang
tentu akan menuduhnya sebagai seorang manusia ganas
yang tak kenal peri-kemanusiaan! Memandang kearah
timur, tampak mentari mulai memancarkan sinarnya yang
kekuning-kuningan emas. Dan samar-samar dalam
gumpalan halimun pagi, ia serasa mendengar
kumandang doa kaum agama Budha. Seketika
pikirannya tersadar.
“Demi membalas sakit hati orang tuaku, mau tak mau
aku harus membunuh. Tetapi aku bersumpah takkan
membunuh orang yang tak berdosa” Dari lubuk
nuraninya, memancarkan hati yang penuh welas asih.
Nafsu membunuh yang bampir saja membakar hangus
dirinya, mulai reda. Gak Lui terhindar dari sebutan
sebagai Durjana dunia persilatan.
301
“Tetapi tidak mudah untuk membedakan mana orang
baik dan mana yang jahat. Ada orang yang bersikap
pura2 baik. Ada pula yang setengah, baik setengah
jahat,” diam2 Gak Lui mongeluh dalam hati
Setelah pikiran agak tenang dan nafsu
kemarahannya agak reda, Gak Lui mulai menarik napas
untuk menghirup hawa pagi yang segar. Setelah itu ia
menyarungkan kembali kedua pedangnya. Lalu ayunkanlangkah
menuju ke gunung Pek-wan-san.
Gunung Pek-wan-san atau gunung Monyet putih
disebut dengan nama itu karena bentuk puncak gunung
itu hampir menyerupai binatang monyet.
LEMBAH GUNUNG Pek-wan-san sunyi senyap.
Tetapi, hutan belantara gunung itu tampak hiruk-pikuk
dengan margasatwa yang terbang berseliweran. Suatu
tanda bahwa mereka tertejut karena kedatangan
manusia. Dan memang pada jalan kecil yang menjurus
ke dalam lembah, tiba2 meluncur sebatang anak panah
perak. Anak panah pertandaan itu, melayang ke dalam
hutan. Menyusul tampak beberapa sosok bayangan
memencar bersembunyi ke dalam gerombolan orang.
Gerombolan orang itu semua mengenakan jubah dan
kerudung muka hitam. Persis seperti anak buah
Maharaja. Setelah mereka bersembunyi, dari arah jalan
muncul sesosok tubuh tegak.
Sambil memandang keadaan gunung, mulut
pendatang itu berseru: „Rupanya inilah gunung Pek-wansan
!” Pendatang yang bertubuh tegap itu bukan lain
adalah Gak Lui.
Dengan gembira ia mulai menuruni lembah, tangkas
dan lincah sekali langkahnya. Tak terasa ia sedang
menuju kearah barisan pendam. Sesaat tiba di tepi
302
lembah, tiba2 ia berhenti dan menjamah pedangnya:
„Hmm....., mengapa di sini terdapat bau manusia ?”
Kemudian ia memandang ke sekeliling penjuru. Ia
heran mengapa unggas dan burung2 itu berterbangan
kacau balau. Katanya: „Burung2 itu berterbangan kaget,
tentu ada manusia di sekeliling sini .......” Ia memandang
dan memperhatikan lagi keadaan sekeliling tempat itu.
Tetapi tak melihat sesuatu yang mencurigakan. Pada lain
saat ia mengambil kesimpulan : „Ah...., kalau ada
jalanan, tentu sering digunakan orang berjalan.
Kemungkinan tentu rakyat daerah ini. Mengapa aku
berauriga sendiri .........” habis berkata ia terus lanjutkan
langkah, menuju ke tengah lembah.
Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan orang
: „Gak Lui, berhentilah !” Gak Lui berhenti dan cepat
berpaling ke belakang. Dilihatnya dua orang berkerudung
hitam tegak 5 tombak jauhnya dengan menghunus
pedang berkilau-kilauan.
“Huh....., kiranya budak2 Maharaja !” dengus Gak Lui,
seraya maju menghampiri.
Diam2 Gak Lui menggunakan hidungnya untuk
menyelidiki. Ia mendapat kesimpulan bahwa yang
menghadangnya itu bukan melainkan kedua orang itu
saja, tetapi masih ada lagi. Mungkin jumlahnya cukup
banyak. Ia memutuskan untuk cepat2, membereskan
kedua orang itu agar menghemat tenaga. Saat itu ia
hanya terpisah tiga tombak dari kedua penghadangnya.
Kedua orang itu berkerudung hitam itu segera tudingkan
ujung pedangnya dan membentak : „Berhenti !”
Gak Lui berhenti dan berseru :„Mau apa cari aku ?”
“Maharaja memberi perintah, suruh engkau.......”
303
“Suruh aku....?” teriak Gak Lui.
“Benar, suruh kau ikut kami menghadapnya.”
“Dia dimana ?”
“Nanti engkau akan tahu sendiri!”
“Heh..., heh..., heh...!” Gak Lui tertawa iblis. Penuh
dendam kemarahan yang meluap-luap. Tetapi kedua
orang itu tak gentar. Mereka maju tiga langkah dan
membentak : „Jangan tertawa-tawa, lekas ikut.
“Aku hendak mengerjakan sebuah urusan !”
“Urusan apa ? “
Sebenarnya Gak Lui sudah menetapkan
pendiriannya. Tak mau mencelakai orang yang tak
bersalah. Tak membunuh yang tak berdosa. Tetapi
menghadapi kaki tangan Maharaja, ia tak dapat
mengendalikan diri lagi, bentaknya : „Akan kuwakili dunia
persilatan untuk membasmi kalian pengganggu rakyat !”
Kedua orang berkerudung itu mundur dua langkah,
serunya terkejut : „Engkau .....”
Tetapi sebelum mereka sempat bicara lebih lanjut,
Gak Lui sudah taburkan pedangnya. Ia gunakan tenagasakti
Algojo-dunia untuk melepaskan pedang dengan
jurus Tho jiu-hui-kiam. Terdengar, suara mendesis dan
pedangpun menancap di dada orang yang berdiri di
sebelah kanan. Kawannya tesentak kaget dan cepat
putar pedangnya untuk melindungi diri seraya berseru :
„Engkau bukan ........”
Tetapi Gak Lui, lebih cepat lagi. Secepat tangan
kanan mencabut pedang di dada korbannya tadi, tangan
kiripun segera menaburkan pedang Pelangi. Orang
berkerudung hitam itu makin terkejut. Dalam gugup, ia
304
cepat menangkis. Tring ...., pedangnya terpapas kutung
ketika menangkis sambaran pedang Pelangi. Dan
pedang Pelangi itu tetap menyusup ke perutnya.
Terdengar jeritan ngeri dan terkaparlah orang itu
mengge!etak di tanah! Dalam sekejab mata dua jiwa
telah dilalap Gak Lui, kawan2 gerombolan yang
bersembunyi di balik batu dan dalam gerombol, terkejut
bukan kepalang. Cepat mereka berhamburan loncat
keluar dan menyerang Gak Lui.
Gak Lui makin beringas. Maharaja adalah musuh
besarnya. Anak buah Maharaja harus dibasmi habishabisan.
Dengan sepasang pedang ia mengamuk.
laksana banteng ketaton. Tiba2 terdengar suara
gemerincing keras dan tahu2 pedang di tangan kanan
Gak Lui telah mencelat sampai tujuh delapan tombak
tingginya. Serempak dua sosok tubuh melambung ke
udara untuk merebut pedang itu. Yang satu adalah Gak
Lui sendiri. Ia gunakan gerak Rajawali pentang-sayap.
Dan yang seorang adalah seorang berkerudung hitam.
Gerak orang itupun seringan burung walet. Pada saat
keduanya melambung ke atas, orang berkerudung itu
masih dapat memapas kedua kaki Gak Lui. Pedang
Pelangi walaupun tajamnya bukan alang kepalang tetapi
sayang agak pendek. Maka Gak Lui tak mau menangkis
melainkan terus bergeliatan melambung ke atas. Dan
pada saat pedang orang itu hampir tiba, cepat2 Gak Lui
menarik kedua kakinya ke atas. Wut ....... pedang
menyambar, hanya setengah dim di bawah telapak
kakinya. Gak Lui melakukan suatu gerakan yang
istimewa. Dalam melambung tadi, ia gunakan pedang
Pelangi untuk menempel pedang yang melayang ke atas
tadi. Sedang tangan kanan dihantamkan ke ubun2
kepala musuh. Orang itu terkejut dan buru2 menangkis
dengan tangan kiri: Plak ...... keduanya sama2 meluncur
305
ke bawah lagi. Dan ketika turun ke bumi, mereka terpisah
dua tombak jauhnya. Saat itu pedang yang ditempel
dengan pedang Pelangi tadi, ikut terbawanya.
Gak Lui lalu mengambilnya lagi. Saat itu ia sudah
siap lagi dengan sepasang pedangnya. Setelah itu ia
hendak maju menyerang. Tetapi ia terkejut menyaksikan
orang berkerudung itu. Begitu tegak di tanah, orang
berkerudung itu terus merobek-robek jubah hitamnya.
Kawannyapun juga meniru. Suatu hal yang tak lazim
dilakukan oleh anak buah Maharaja. Gak Lui menatap
orang itu tajam2. Seorang lelaki yang berwajah terang
dan sikapnya berwibawa. Walaupun kerut wajahnya
diliputi dendam kemarahan, tetapi tak mengunjuk tanda2
sebagai orang jahat. Gak Lui hendak menegur tetapi
orang itu cepat mendahului berteriak: „Engkau ...... bukan
kaki tangan Maharaja? “
“Kalian ...... apakah juga bukan?” sahut Gak Lui tak
kurang terkejutnya
“Aku adalah ketua perguruan Kiu-hoan-bun!”
“Kiu-hoan-bun? Kalau begitu namamu ........ Rajawalitanpa-
bayangan Ih Ci-jin!”
“Mengapa engkau menyaru sebagai gerombolan
jahat?”
“Kaki tangan Maharaja itu sukar diketahui jejaknya
maka kami terpaksa menyamar untuk mencari mereka! “
“Mengapa menyerang aku? “
“Hanya suruh engkau ikut kami!”
“Dengan tujuan .........”
“Menyelidiki dirimu termasuk aliran Hitam atau Putih “
“Setelah terjadi pertumpahan darah ini, seharusnya
306
engkau tentu sudah jelas! Tetapi.......”
“Bagaimana? “
“Dengan cara apa aku mendapat keyakinan bahwa
kalian ini dari Partai Kiu-hoan-bun dan bukannya
gerombolan yang memalsu nama perguruan itu?” seru
Gak Lui. Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci-jin tertawa
mengekeh. Serunya dengan nada rawan: „Sudah tentu
ada bukti yang jelas!”
“Apa ....?”
“Orang ini engkau tentu kenal!” tiba2 ketua perguruan
Kim-hoan- bun itu melesat ke samping setombak jauhnya
dan cret...,. cret..., ia menyabet hancur kerudung dan
jubah sesosok mayat. Yalah salah seorang penghadang
yang dibunuh Gak Lui tadi.
“Lihatlah sendiri!” serunya. Gak Lui maju
menghampiri. Ketika memandangi mayat itu berserulah
ia dengan getar: „Benar, sudah dua kali aku melihatnya!”
“Dia adalah muridku yang bernama Ji Kok-ceng.
Pertama, pedangnya engkau papas kutung tanpa sebab.
Kedua kali, ketika di ruang penyimpan mayat Leng-koantian,
engkau hantam dia sampai terluka .......!”
“Ah...., harap Ji ciangbun jangan salah faham. Aku
mempunyai dendam sedalam lautan kepada Maharaja.
Perbuatanku memapas pedang dan peristiwa tadi,
adalah serupa tujuanku. Sayang muridmu bersitegang
leher dan tetap salah faham”
Rajawali tanpa bayangan dapat menyelami
penjelasan Gak Lui. Namun dengan mengertak gigi ia
berkata: „Walaupun begitu, tetapi tindakanmu itu
memang kelewat ganas !”
Sambil memandang korban yang menggeletak di
307
tanah itu, Gak Lui menjawab: „Memang harus disesalkan
ketidak jelasnya antara kawan dan lawan...... aku
sungguh menyesal sekali atas peristiwa itu.”
“Korban begini banyak, apakah cukup dengan
pernyataan menyesal saja ?”
Melihat orang makin keras bicaranya, Gak Lui segera
bertanya : “Ji ciangbun, andaikata aku membawa
sejumlah besar anakbuah dan menyaru sebagai
gerombolan Maharaja lalu menyuruhmu ikut. Apakah
Engkau menurut atau melawan ....?”
“ini.... “
“Engkau dan aku sama2 sehaluan. Sama2 hendak
membasmi kawanan durjana. Seharusnya kita bersatu
padu melaksanakan tujuan itu. Kalau tidak, bukankah
kita akan ditertawai kawanan penjahat itu ....... !” tukas
Gak Lui.
Wajah Rajawali tanpa-bayangan berobah-robah tak
menentu. Terbit pertentangan dalam batinnya Akhirnya
dengan menahan segala rasa sakit hatinya, ia berkata: „
Demi menghadapi musuh bersama, untuk sementara
baiklah kita jangan bentrok sendiri Tetapi ingat, kami
takkan membiarkan anakmurid perguruan Kiu- hoan-bun
mati secara begitu saja !”
“Maksud ciangbun .......?“
“Setelah berhasil membasmi gerombolan Maharaja,
kita nanti selesaikan lagi urusan ini. Dengan
mengandalkan kepandaian kita masing2, kita nanti
tentukan siapa yang kalah dan menang !”
Terhadap tantangan yang adil, Gak Lui selalu
menerima. Terpaksa ia anggukkan kepala : „Jika Ji
ciangbun tetap menghendaki penyelesaian begitu,
308
akupun hanya menurut saja. Namun atas kematian murid
Kiu-hoan bun, dengan ini sekali lagi aku menyatakan
rasa, sesal yang tak terhingga!”
Setelah terjadi kesepakatan damai itu, keduanyapun
mundur dan menyarungkan senjatanya. Tiba2 dari atas
pohon sejauh 10-an tombak, terdengar suara tertawa
seram. Nadanya mirip burung hantu mengukuk di tengah
malam. Sekalian orang tersentak kaget. Rajawali-tanpabayangan
Ih Ci-jin memandang ke arah suara tertawa itu.
Bahkan salah seorang marid Kiu-hoan-bun sudah cepat2
ayunkan tubuh melayang ke arah pohon itu. Tetapi baru
tubuh murid Kiu-hoan-bun itu melambung di tengah
udara, tiba2 dari arah pohon yang lebat daunnya itu
melayang selembar daun. Daun itu menyambar murid
Kiu-hoan-bun dan memaksanya jatuh ke tanah lagi. Ilmu
melontar daun itu, benar2 mengejutkan sekali.
Pelepasnya tentu seorang ahli tenaga-dalam yang sakti.
Tring..., Rajawali-tanpa-bayangan mencabut pedang
terus hendak enjot tubunya menyerang ke atas pohon.
“Ih ciangbun, jangan bergerak....!” tiba2 orang diatas
pahon itu berseru perlahan namun amat kuat nadanya,
„muridmu tidak terluka. Kalau tak percaya, dia tentu
segera bangun.”
Rajawali-tanpa-bayangan tertegun. Dan ah...., benar
juga, muridnya yang terkena timpukan daun tadi segera
loncat bangun tak kurang suatu apa.
“Siapa engkau !” seru ketua Kiu-hoan-bun.
“Jangan hiraukan aku ini siapa. Pokoknya, aku
seorang yang bermaksud hendak membantumu!” sahut
orang aneh itu.
“Bermaksud baik membantuku?” ulang Ih Ci-jin ketua
Kiu-hoan- bun.
309
“Aku sengaja datang kemari karena hendak
menelanjangi kedok Gak Lui !”
“Oh.....” Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci-jin serentak
berpaling memandang Gak Lui.
“Dia memang kaki tangan si Maharaja! Harap Ih
ciangbun jangan mudah melepaskannya !” seru orang di
atas pohon itu pula.
Rajawali-tanpa- bayangan menegas : „Saudara
sendiri main sembunyi tak berani unjuk muka.
Bagaimana aku dapat mempercayaimu...?”
Dengan tenang, orang itu menyahut: „Setiap kaki
tangan Maharaja, tentu membawa sehelai lencana kecil
dari emas. Tak percaya, silahkan ciangbun menggeledah
badannya!”
Gak Lui terkejut, pikirnya: „Aku memang masih
membawa lencana emas milik Setan Keluyuran, tetapi
mengapa dia bisa tahu ...?”
Ia tak dapat melanjutkan penimangannya karena saat
itu dilihatnya Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci jin berputar
tubuh dan memandangnya lekat2. Gak Lui terpaksa
memberi penjelasan, „lh ciangbun, memang lencana itu
ada padaku. Tetapi kudapatnya dari murid Pek-kut Mokun
......”
“Mengapa tadi tak bilang?”
“Kuanggap hal itu tak perlu .....”
“HEH..., HEH...., HEH .....” terdengar orang misterius
yang bersembunyi di atas pohon itu tertawa mengejek
dan menukas pembicaraan Gak Lui.
„Gak Lui, engkau memang anak yang pandai. Tetapi
sok pintar. Jelas engkau sudah mengetahui ketua partai
310
Kiu-hoan-bun tetapi engkau, toh membunuh anak
muridnya. Masakan di dunia terdapat seorang ketua
perguruan silat yang mau menerima begitu saja
murid2nya dibunuh orang ......”
Mendengar itu, sepasang mata Rajawali-tanpabayangan
Ih Ci-jin merah membara. Ia berpaling ke arah
pohon.
“Oh...., ciangbun jangan deliki mata kepada ku! sama
sekali aku tak bermaksud mengejek perguruan Kiu-hoanbun.
Tetapi jelas dia adalah kaki tangan Maharaja yang
tak dapat diberi ampun. Kalau engkau takut, baiklah
diatur secara begini saja.
“Secara bagaimana!” teriak ketua Kiu-hoan-bun,
dengan murka.
“Silahkan engkau membawa pergi anak muridmu.
Nanti aku sendiri yang membereskan budak itu!”
“Ngacol” bentak Ih Ci-jin.
“Kalau ciangbun memang berani turun tangan sendiri,
aku bersedia membantu agar engkau jangan sampai
menjadi mayat!”
“Fui!” ketua Kiu-hoan-bun itu seperti meledak
dadanya. Dengan kalap ia segera menyerang Gak Lui.
Gak Lui loncat melayang melalui atas kepala ketua Kiuhoan-
bun, menuju kepohon tempat bersembunyi-nya
orang itu.
“Huh, engkau hendak melenyapkan mulut agar
jejakmu tak di ketahui orang? Hm....., aku bukan
sebangsa ketua Kiu-hoan-bun yang mudah engkau
hina......”
Kata2 orang itu benar2 seperti minyak yang
menyiram kemarahan ketua Kiu-hoan-bun. Akibatnya,
311
ketika Gak Lui masih kurang dua tombak dari pohon,
tiba2 ia rasakan punggungnya dilanda hawa dingin dari
sebuah pedang tajam. Ternyata ketua Kiu-hoan-bun
sudah tak tahan lagi mendengar kata2 ejekan orang
diatas pohon itu. Serentak ia enjot tubuh melayang
keudara dan menyerang punggung Gak Lui.
Gak Lui diam2 mengeluh. Ia tahu bahwa karena
memiliki ilmu meringankan tubuh yang sakti, maka ketua
Kiu-hoan-bun itu mendapat julukan Rajawali-tanpabayangan.
Namun Gak Lui tak mau unjuk kelemahan.
Berserulah ia dengan garang: „Bagus .....” sambil
menekuk kedua lututnya untuk menghindari serangan,
pedangnyapun ditabaskan kebelakang. Wut..., wut.....
tabasan itu tak berhasil menghalau pedang lawan.
Dalam gugup ia bergeliatan melambung lebih tinggi
lagi. Dengan gerakan itu, dapatlah ia menghindari
pedang ketua Kiu hoan-bun. Tetapi ketua Kiu-hoan-bun
itu tetap membayanginya. Tiga buah serangan sekaligus
dilancarkan kearah perut dan punggung Gak Lui. Gak Lui
makin gugup. Keringat dingin membasahi jidatnya. Ia
cepat gunakan ilmu sakti Rajawali-pentang-sayap.
Seklipun ilmu itu amat dahsyat tetapi hanya mampu
menangkis sekali dua kali serangan lawan.
Dalam detik2 terancam maut, tiba2 Gak Lui teringat
akan suatu jurus permainan yang istimewa. Tring....,
tring...., tring...... Bukan hanya dapat menghalau ketiga
serangan kilat dari ketua Kiu-hoan-bun, bahkan masih
dapat balas menyerang juga. Ketua Kiu-hoan-bun benar2
terkejut dan terpaksa melayang turun kebumi. Dalam
pada itu Gak Lui pun tak dapat bertahan lebih lama lagi.
Ia melayang turun tak jauh dari tempat ketua Kiu-hoanbun.
Serunya: „Harap berhenti dulu. Jangan sampai
terkena tipu muslihat orang ......”
312
“Kentut! Gantilah jiwa muridku!”, dengan geram ketua
Kiu-hoan- bun menyerang lagi. Karena putus-asa
memberi penjelasan, terpaksa Gak Lui gunakan jurus
Burung hong-pentang-sayap untuk menangkis. Sambil
berlincahan menghindar, diam2 Gak Lui menimang:
“Ketua Kiu-hoan-bun ini memang tak bersalah. Aku
tak boleh melukainya. Memang yang harus diberantas
adalah orang yang bersembunyi diatas pohon itu. Aku
harus berdaya untuk membuat perhitungan dengan
manusia itu .....”
“Budak Gak, jika engkau tak mau menyerah aku
terpaksa hendak mendatangkan bala bantuan.” seru
ketua Kiu-hoan-bun.
“Ooo...., engkau mempunyai bala bantuan?”
“Partai Ceng-sia-pay memang sudah berserekat
dengan partaiku. Engkau tentu tahu betapa kesaktian
imam Thian Lok itu!”
“Dia juga berada disini?”
“Dekat sekali!”
“Celaka!” diam2 Gak Lui mengeluh. Seorang Ih Ci-jin
saja sudah repot, apalagi masih ditambah dengan ketua
Ceng-sia-pay. Apabila sampai tambah musuh dengan
Ceng-sia-pay, jahanam diatas pohon itu tentu akan
menggunakan siasat untuk mencelakai diriku !”
Akhirnya Gak Lui mengambil keputusan. Ia harus
cepat2 menyelesaikan pertempuran sebelum keadaan
bertambah berbahaya. Serangan Ih Cin-jin tadi jelas
menggunakan ilmu pedang ajaran paderi sakti Thian
Liong. Tetapi Ih Cin-jin baru menggunakan dua jurus.
Dan ilmu pedang dari Thian Liong itu terdiri dari empat
jurus. Tanpa banyak pikir lagi, Gak Lui segera gunakan
313
sisa kedua jurus ilmu ajaran Than Liong dengan
dilambari ilmu tenaga dalam. Sekali mengeluarkan jurus
permainan itu, Ih Cin-jin terpaksa barus mundur tiga
langkah. Menggunakan kesempatan pada saat gerakan
pedang ketua Kiu- hoan-bun itu agak lambat, Gak Lui
cepat menyerang dengan jurus Menjolok-bintangmemetik-
bulan. Tring....., tiba2 pedang ketua Kiu-hoanbun
itu terlepas dari tangan dan, secepat itu juga Gak Lui
sudah lekatkan ujung pedangnya ketenggorokan ketua
Kiu-hoan-bun. Gerakan itu berlangsung, teramat
cepatnya sehingga anak murid Kiu-hoan-bun tak sempat
menolong ketuanya -lagi,
“Karena sudah menang, lekaslah bunuh aku .... 1”
seru ketua Kiu-hoan-bun.
“Ih ciangbun,” seru Gak Lui dengan dingin, „aku
takkan mencelakai kaum Putih. Hanya kuminta engkau
suka menerima peringatanku, yang sungguh-sungguh !”
“Hmm...... “
“Peristiwa hari ini, kuharap habis sampai disini saja
Tak perlu menyeret partai Ceng-sia-pay kemari. Kelak
apabila kita langsungkan pertempuran yang menentukan,
bolehlah engkau panggil mereka!”
“Benar ?”
“Tentu!” sahut Gak-Lui tegas, „jangankan hanya
Ceng-sia-pay, tambah yang lain2 lagi pun kuterima.”
Walaupun malu dan marah tetapi ketua Kiu-hoan-bun
itu terpaksa menerima. Gak Lui pun menyarungkan
pedang dan memandang kearah pohon. Aneh...,
mengapa tak tampak suatu gerakan apa2. Ia duga orang
itu tentu sudah pergi karena rencananya mengadu
domba gagal. Karena tak ingin bentrok dengan orang
314
Ceng-sia-pay, Gak Lui pun segera lanjutkan perjalanan.
Sepeminum teh lamanya, ia mencapai puncak gunung
yang kedua. Berpaling ke belakang, rombongan orang
Kiu-hoan-bun tadi sudah tidak kelihatan.
“Untunglah aku mengerti ilmu pedang Tiga jurus
ajaran Thian Liong locianpwe sehingga tak sampai
menemui kesukaran. Rasanya petuah mendiang bibiguru
supaya aku mempelajari berbagai ilmu pedang
partai persilatan lalu berusaha menciptakan sebuah ilmu
pedang sendiri, memang benar sekali .... “ pikirnya.
Memandang ke muka, jarak gunung Pek-wan-san
hanya tinggal separo. Setelah melintasi sebuah lembah,
tentu sudah tiba. Maka iapun segera percepat langkah
untuk menuruni lamping gunung. Tetapi alangkah
terkejutnya memandang ke bawah, tampak belasan
sosok tubuh sedang berlincahan dalam sinar pedang.
Ah, kiranya di lembah itu sedang berlangsung
pertempuran. Seorang imam tua berambut putih sedang
bertempur seru dengan seorang berjubah kelabu. Ilmu
pedang si imam tua dahsyat dan ganas. Masih ditambah
pula dengan gerakan tangan kirinya yang ikut menyerang
dengan pukulan yang bertubi-tubi. Walaupun terpisah
jauh, tetapi Gak Lui dapat merasakan betapa hebat
serangan imam tua itu. Tetapi ternyata orang aneh
berjubah kelabu itupun hebat sekali. Sepintas pandang ia
seperti tak memakai senjata dan hanya menggunakan
sepasang tangan untuk menghadapi serangan pedang si
iman tua. Dengan berlincahan, jubah kelabu itu taburkan
jubahnya. Taburan itu menimbulkan deru angin yang
membangkitkan debu tebal.
“Imam tua yang menggunakan pedang itu apakah
bukan ketua Ceng-sia-pay, tetapi siapakah orang
berjubah kelabu itu?”
315
Gak Lui bertanya seorang diri. Kemungkinan Gak Lui
itu rupanya diketahui oleh siorang berjubah kelabu. Dia
kendorkan gerakannya dan mengucap beberapa patah
kata kepada si imam tua. Imam tua itu serentak berpaling
memandang ke arah Gak Lui
“Ha..., apakah artinya itu.....” tiba2 orang ber jubah
kelabu itu berseru lalu loncat menghampiri Gak Lui
seraya berseru nyaring:
“Gak Lui, mengapa engkau baru datang sekarang? Si
imam tua Thian Lok ini kuserahkan padamulah!”
Kedua orang itu bergerak cepat sekali. Dalam
sekejab saja mereka sudah tinggal berpuluh tombak dari
Gak Lui. Di luar dugaan, habis berseru tiba2 orang
berjubah kelabu itu terus loncat menyusup masuk ke
dalam hutan. Dengan demikian, si imam tua terlanjur
berhadapan dengan Gak Lui. Imam itu tanpa,banyak
bicara lagi terus menyerang Gak Lui. Tetapi Gak Lui tak
mau melayani. Cepat ia loncat ke udara dan melayang ke
dalam hutan, mengejar orang berjubah kelabu tadi.
Imam tua Thian Lok totiang heran, pikirnya: „Jika
mereka berdua bersatu mengeroyok aku, tentu mereka
akan menang. Tetapi mengapa mereka malah melarikan
diri ......? “
Karena tak tahu siasat orang, imam itupun tak mau
mengejar. Ia memutuskan mencari ketua Kiu-hoan-bun
untuk berunding. Mengapa Gak Lui mengejar orang
berjubah kelabu itu?. Karena setelah mendengar
suaranya, tahulah Gak Lui, bahwa orang itu bukan lain
adalah orang yang bersembunyi di atas pohon dan
mengadu dombanya dengan ketua Kiu-hoan-bun tadi.
Dengan mengandalkan penciuman hidungnya yang
tajam, Gak Lui lanjutkan pengejaran. Saat itu ia tiba di
316
sebuah gerombol pohon yang menjulang tinggi, di bawah
kaki gunung Pek-wan-san. Gak Lui menyusup ke dalam
hutan kecil itu dan dapatlah orang baju kelabu itu tegak
berdiri di sebelah muka. la terkesiap melihat perwujudan
orang itu.
Sepasang pipinya kempot tak berdaging. Wajahnya
menyeramkan. Tubuhnya tinggi kurus. Kedua lengannya
yang panjang, menjulai sampai ke bawah lutut. Begitu
melihat Gak Lui, orang itu segera bersiap. Ia tertawa iblis:
„Heh..., heh..., he...., kiranya boleh juga engkau ini.
Dapat melintasi dua lapis tokoh Kiu-hoan-bun dan Cengsia-
pay ....”
“Pek-kut Mo-kun jangan mimpi, siasatmu yang licik itu
mampu merintangi aku!” bentak Gak Lui.
“Ooo...!,” orang itu mundur setengah langkah,
„mengapa engkau tahu diriku ?”
“Bukan hanya kenal tetapi pun tahu bahwa engkau
adalah kaki tangan si Maharaja!”
“Selain itu apalagi, yang engkau ketahui ?”
“Tipu muslihatmu yang hendak mencelakai diriku.
Muridmu si Setan Keluyuran telah membunuh sepasang
Jago Pedang Samudera dan Pedang Gelombang.
Kemudian engkau memikat murid2 partai persilatan
untuk menjepit ruang gerakku. Dan engkau sendiri lalu
membunuh Bok Kiam-su, melukai kawanku lalu mengadu
domba Kiu-hoan-bun dan Ceng-sia-pay dengan aku.
Benar engkau seorang bajingan tengik ........”
Pek-kut Mo-kun tertawa iblis: „Heh..., heh..., heh...,
belum aku membuat perhitungan padamu tentang
muridku yang engkau bunuh itu, engkau sudah
mendahului menagih hutang padaku !”
317
“Jangan ngaco belo! Lekas cabut senjatamu, aku
segera hendak membereskan engkau !” bentak Gak Lui.
“Aku sih tak bermaksud hendak berkelahi,” sahut
Pek-kut Mo-kun seenaknya.
“Apakah engkau, hendak bunuh diri sendiri?”
“Jangan lancang mulut! Kalau hendak membunuhmu,
adalah semudah orang membalikkan telapak tangan.
Tetapi aku meadapat perintah supaya menangkapmu
hidup2!”
“Siapa yang memerintahkan engkau?”
“Maharaja! “
“Dia suruh engkau mencari aku?”
“Ya!” Gak Lui terkesiap, pikirnya: „Menilik gelagat
memang ucapannya itu benar. Ditilik dengan akalnya
untuk mengadu domba Kiu- hoan-bun tetapi tak mau
turun tangan sendiri, kemudian ia sengaja merintangi
Thian Lok totiang agar bentrok dengan aku, memang
rupanya dia hendak menghabiskan tenagaku, baru
diringkus!”
“Justeru aku memang hendak mencarinya.
Katakanlah dulu di mana ia berada?” serunya.
“Lebih dulu engkau menanyakan tempatnya, setelah
itu baru engkau membunuh aku. Tetapi ho, tak semudah
itulah!“ ejek Thian Lok totiang.
“Lalu bagaimana kemauanmu?”
Pek-kut Mo-kun keliarkan mata memandang ke
empat penjuru lalu berkata: „Engkau harus menjawab
beberapa pertanyaanku dulu!”
“Katakanlah!”
318
“Pada waktu kubunuh Bok Kiam-su. hanya si wanita
Bidadari Tong-ting yang tahu. Karena engkau tahu juga,
jelas engkau tentu mempunyai hubungan dengan Kaisar
dan Empat permaisuri: Benar atau tidak?”
“Aku tak mempunyai hubungan apa2 dengan mereka
berlima,” sahut Gak Lui, „tetapi mengapa engkau
membunuh Bok Kiam-su? Apakah juga atas perintah
Maharaja?”
“Tukang bikin pedang itu tak mau mendengar katakataku.
Terpaksa kubunuh. Orang semacam begitu,
masakan Maharaja sudi mengurus!”
Mendengar itu Gak Lui agak kecewa. Karena kalau
pembunuhan Bok Kiam-su itu dilakukan atas perintah
Maharaja, jelas-sudah, bahwa Bok Kiam-su itu memang
orang yang dahulu pernah membikin betul pedang
Maharaja.
“Engkau mengatakan tak punya hubungan apa2
dengan Kaisar dan Empat Permaisuri. Tetapi jurus
permainan pedangmu melambung keudara dan
menyerang itu tadi, mirip dengan ilmu ajaran Kaisar
Persilatan yang bernama jurus Naga-sakti- mengibas
ekor. Cobalah engkau terangkan?”
Tetapi Gak Lui tak mau menyebut sumber dari ilmu
pedang itu. Maka ia hanya tertawa: „Menurut
anggapanmu, sampai dimanakah tingkat ilmu pedang
yang kugunakan tadi?”
“Hm ....., baru mencapai empat lima bagian saja !”
“Kenapa engkau memastikan ilmu pedang itu dari
ajaran Kaisar Persilatan? “
“Hai.., apakah bukan dia yang mengajarkan?” Pekkut
Mo-kun terbeliak, „ku!ihat semua jurus permainan
319
pedangmu aneh. Apakah memang dari sumber ajaran
yang istimewa”
Gak Lui tertawa makin keras: „Pintar juga engkau,
dapat menduga”
“Kalau begitu ... apakah namanya ilmu pedang itu?”
“Pedang Halilntar”
“PEDANG .......HALILINTAR ....... ?” Pek-kut Mo-kun
menyurut mundur tiga langkah.
“Ya...., Thian-lui-koay-kiam atau Pedang Halilintar
aneh. Ilmu pedang yang khusus untuk melenyapkan
kaum durjana dan siluman!”
Seketika berobahlah wajah Pek-kut Mo-kun: „ Ilmu
pedang itu bukan olah2 dahsyatnya Kecuali ilmu sakti
Liok-to-sin-thong dari kaum agama, tak mungkin ada
yang dapat memecahkan ilmu pedang itu ...... Dan
ternyata engkau dapat mempelajari.. Ah...., makanya
engkau dinamakan Gak- Lui si halilintar ........”
Rupanya Gak Lui juga terpengaruh oleh kata2 orang
itu, diam2 ia terkejut sendiri: „Memang aneh benar.
Mengapa di dunia, persilatan terdapat ilmu pedang yang
bernama begitu. Kalau menurut omongan iblis tua ini,
nama itu mengandung sesuatu rahasia ......... apakah
nama itu mempunyai sangkut paut dengan perguruan
Bu-san? Sehingga ayah lalu menggunakan nama jurus
itu untuk namaku?” Jika benar hal itu merupakan rahasia
dari perguruan Bu-san, tentu sedikit sekali orang yang
tahu. Ayahnya tak meninggalkan pesan apa2. Taruh kata
ia tahu, pun sukar untuk menyelidiki rahasia itu. Ayahangkatnya,
Pedang Aneh, paman gurunya Pedang Iblis
dan bibi gurunya Pedang Bidadari, juga tak pernah
membicarakan soal itu. Kini mereka sudah meninggal.
320
Tak dapat ia bertanya lagi ........
Setelah termenung-menung beberapa saat, Gak Lui
melangkah maju dan menegur Pek-kut Mo kun : „Dari
mana engkau mendengar hal itu, lekas bilang!”
“Maha ........” baru Pek-kut Mo-kun berkata sepatah
kata, tiba2 ia teringat kalau kelepasan omong. Maka
cepat2 ia berhenti.
“Ho..., kiranya si Maharaja yang bilang. Selain itu
masih ada apa lagi? Suruh, aku menangkapmu hiduphidup,
untuk dibawa menghadap kepadanya !”
“Hm..., engkau yakin mampu melakukan?”
Pek-kut Mo-kun tenangkan diri lalu menyahut sinis :
„Budak she Gak, jika engkau anggap aku takut
kepadamu, engkau salah. Pula kalau engkau
membangkang akan kubawa menghadap Maharaja,
engkaupun salah hitung!”
Diam2 Gak Lui menimang: „Kalau kubunuhnya, tentu
aku kehilangan petunjuk untuk mancari jejak si Maharaja.
Baiklah kubiarkan dia hidup. Kelak apabila sudah dapat
menemukan Maharaja, masih ada waktu kubunuhnya
lagi !”
Setelah menetapkan rencana, berserulah Gak Lui :
„Baik bawalah aku!” Tetapi Pek-kut Mo-kun tertawa
seram. Ia melangkah maju: “Membawamu dengan cara
begini, kurang leluasa .........”
Pek-kut Mo-kun maju beberapa langkah, ulurkan
tangannya yang panjang menuding Gak Lui: „Serahkan
dulu pedangmu itu kepadaku”
“Kentut.......” belum Gak Lui selesai memaki dengan
gerak secepat kilat ia mencengkeram kedua bahu Gak
Lui. Gak Lui terkejut. la tak menyangka sama sekali akan
321
diserang begitu tiba2. Tak mungkin ia menghindar lagi.
Satu2nya jalan ia harus berlaku tenang dan endapkan
bahunya kebawah. Pek-Kut Mo-kun sudah mengekeh
girang karena melihat pemuda itu tak dapat menghindar
lagi. Ia salurkan tenaga dalam kearah jari2 yang hendak
dicengkeramkan itu. Tetapi betapa kejutnya ketika Gak
Lui mengendap kebawah dan tiba2 babatkan pedang
kelengannya. Cret..., cret..., cret..., cret.... kedua lengan
jubah Pek-kut Mo-kun berhamburan sepeirti gumpalan
salju turun dari langit. Seketika tampaklah sepasang
lengan yang aseli dari durjana itu. Gak Lui terkejut juga.
Dengan jurus Membelah-emas-memotong-kumala yang
lihay, ternyata ia masih belum mampu membabat kutung
lengan orang. Tetapi ketika mengawasi lawan, barulah ia
mengetahui sebabnya. Ternyata Pek-kut Mo-kun
mencekal sepasang senjata aneh....., yaitu sepasang
tangan palsu terbuat dari logam. Tangan palsu itu
sebesar mangkuk dan jari-jarinya merentang terbuka
mirip cakar ayam. Kerasnya bukan kepalang, sehingga
pedang atau senjata yang bagaimana tajamnya pun tak
mampu memapasnya. Tetapi sekalipun tak sampai
terluka, Pek-kut Mo-kun marah juga. Serangannya gagal,
lengannya hampir kutung. Serentak ia menyerang hebat
dengan sepasang tangan palsu itu.
Gak Lui juga marah sekali. Cepat ia cabut pedang
Pelangi dan tangan kiri mencekal pedangnya sendiri.
Yang satu, menyerang dengan jurus Burungcenderwasih-
pentang-sayap. Sedang pedang di tangan
kiri bergerak dalam jurus Salju-berhamburan-mencabutnyawa.
Tetapi Pek-kut Mo-kun memang bukan tokoh
sembarangan. Tangan besi yang disebut Cakar-pemetikhati,
juga tak kalah hebatnya. Dan yang lebih
mengerikan. Taburan Cakar-pemetik-hati itu
322
menghamburkan hawa yang amat busuk sekali sehingga
orang hampir muntah.
Cepat sekali pertempuran itu berlangsung sampai
100 jurus. Pek-kut Mo-kun mulai gelisah. Kepalanya
bercucuran keringat dingin. la telah mendapat perintah
untuk menangkap hidup Gak Lui. Tetapi ternyata ilmu
pedang pemuda itu bukan olah2 hebatnya. Begitu pula ia
memiliki ilmu yang aneh. Yalah tenaga-dalam yang dapat
meminjam tenaga-lawan untuk mengembalikan lagi pada
lawan. Dapat pula tenaga-dalam itu digunakan-untuk
menyedot dan mendorong. Dan yang lebih
mencemaskan hati Pek-kut Mo-kun adalah, ia duga
kemungkinan pemuda itu masih belum mengeluarkan
ilmu pedang Halilintar yang luar biasa hebatnya. Sekali
pemuda lawannya itu menggunakan ilmu pedang itu,
tentulah ia akan menderita kekalahan.
Dengan mengandalkan ketajaman pedang pusaka
Pelangi, dapatlah Gak Lui memapas kutung tangan palsu
Cakar-pemetik- hati lawan. Tetapi untuk beberapa waktu,
ia tetap belum mampu mengalahkan. Dan memang ia,
mempunyai rencana untuk menangkapnya hidup agar
dapat dikorek keterangannya. Pemikiran itupun dimiliki
oleh Pek-kut Mo-kun juga. lapun ingin menangkap Gak
Lui hidup-hidup agar tak melanggar perintah Maharaja.
Sesaat kemudian tampak sepasang mata Pekkut Mo-kun
menyala. Jubahnyapun lalu menggelembung besar.
Rupanya ia tengah mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya.
“Hm...., dia mau mengeluarkan acara baru apa lagi
....” baru Gak Lui memikir begitu, tiba2 Pek-kut Mo-kun
taburkan sepasang cakar besi kepadanya.
Melihat lawan berlaku kalap, lemparkan sepasang
senjata dari jarak dua tombak, Gak Lui hendak
323
menangkis dengan pedangnya. Tetapi ketika melihat
sepasang cakar itu memancarkan sinar aneh, diam2 ia
menimang: „Ah..., cakar itu tentu mengandung gerakan
yang tak terduga-duga” Maka ketika cakar itu hampir tiba,
iapun cepat menggembor dan gunakan ilmu menimpuk
pedang. Kedua pedangnya ditaburkan untuk
menyongsong. Tring..., tring..... terdengar ledakan keras
dari dua pasang senjata yang saling berbentur. Pedang
milik Gak Lui sendiri, terlempar ke tanah dan kutung
menjadi dua. Tetapi pedang pusaka Pelangi berhasil
menghancurkan sebuah cakar. Begitu terpapas kutung,
jari2 cakar itu segera berhamburan di udara seluas tiga
tombak. Melihat itu Gak Lui cepat enjot tubuh
melambung ke udara. Tetapi ternyata ia terlambat sedikit.
Dan batang jari cakar telah menancap dikedok kulit yang
menutupi mukanya Dengan gugup Gak Lui segera
lepaskan dua buah pukulan ke samping. Dengan pukulan
itu ia beruntung dapat menghalau taburan jari cakar yang
beracun. Setelah itu sambil mencabut kedua batang jari
cakar yang menancap di kedok mukanya, ia loncat ke
samping. Tetapi karena kaget terkena taburan jari cakar
itu, gerakan Gak Lui agak terlalu lambat. Dan memang
Pek-kut Mo-kun sudah siap.
Secepat taburkan cakar besi, ia terus menyusali
dengan sebuah hantaman. Plak..... bahu Gak Lui yang
sebelah kiri kena termakan. Seketika pemuda itu rasakan
hawa murni dalam tubuhnya bergolak keras dan huak ....
ia muntah darah. Pada saat melayang ke bumi, ia harus
terhuyung sampai dua tombak. Tetapi dalam keadaan
sempoyongan itu, ia masih dapat hantamkan tangan
kanannya. Bum....... terdengar bunyi macam tambur
dipukul dan pakulan itu tepat mengenai ketiak Pek-kut
Mo-kun. Durjana itu berkuik-kuik seperti babi disembelih.
Dadanya berlumuran darah dan jatuhlah ia terduduk di
324
tanah. Untung tak jatuh di atas sebuah cakar besi yang
menggeletak di tanah. Pek-kut Mo-kun benar2 gelagapan
sekali.
Sebelum Gak Lui sempat berdiri tegak dan
menghantam lagi, cepat ia menyambar senjata cakar
besi dan dengan menahan rasa kesakitan, ia nekad
menyerbu maju. Tetapi baru maju selangkah tiba ia
melihat tiga tombak di belakang Gak Lui, muncul seorang
gadis cantik. Gadis itu mengenakan pakaian warna
merah segar dan tengah memandangnya dengan marah.
Pek-kut Mo-kun terkesiap kaget. Bahwa gadis cantik itu
dapat muncul dengan tiba2 tanpa diketahui, dan
didengar gerakannya, tergetarlah hati durjana itu.
“Siapa engkau!” bentak Pek-kut Mo-kun. Dengan
pelahan berserulah gadis cantik. itu menegurnya:
“Apakah engkau tak pernah mendengar Kaisar dan
Empat Permaisuri ?”
“Hai.......” mendengar itu menjeritlah Pek-kut Mo-kun
terus loncat melarikan diri masuk kedalam gerombolan
pohon. Karena darahnya yang bergolak itu masih belum
tenang, Gak Lui terpaksa melakukan pernapasan
beberapa saat. Setelah dapat menenangkan hawa
murninya, barulah ia memungut pedang pusaka Pelangi
lalu berputar tubuh menghadapi gadis yang berdiri di
belakang. la sudah mendengar bahwa gadis itu,
menyebut dirinya sebagai salah satu dari Empat
Permaisuri. Dan teringatlah ia bahwa salah seorang
tokoh Empat Permaisuri yakni Dewi telaga Tong thong
telah menolong gadis ular Siu-mey. Ia merasa berutang
budi kepada gadis itu. Maka pada saat ia hendak
menghaturkan terima kasih, ia hendak gunakan sebutan
'cianpwe'. Tetapi baru mulut mengatakan „Cian ........' , ia
sudah berhenti lagi.
325
Gadis yang di hadapannya itu sedang menjingjing
sebuah bakul berisi bunga dan rumput. Dan ketika maju
menghampiri langkahnya pun ringan dan gesit sekali. Ia
duga tentu memiliki kepandaian silat yang tinggi. Tetapi
kalau gadis itu dikata sebagai salah seorang Empat
Permaisuri, ah....., jauh sekali ya...., jauh sekali
kecantikan gadis itu dengan mereka. Sepasang bibir dari
gadis itu merekah semerah delima, tertawa: “Gak Lui,
bagaimana dengan lukamu ?”
“Ah...., tak jadi apa...... tetapi ....., cian...... eh, nona
mengapa kau tahu namaku?”
“Hi..., hi...., hi.....,” gadis itu tertawa. Nada-nya mirip
dengan suara burung kenari, „kudengar dari
pembicaraan kalian tadi.”
“Kalau .......... begitu, kapankah engkau berada di sini
?”
“Aku lebih dulu dari kalian. Tetapi aku bersembunyi
dan kalian tak melihatku.”
“Perlu apa ke gunung Pek-wan-san sini ?”
“lh, rumahku di atas gunung. Karena mencari
dedaunan obat maka aku turun kemari.”
“Kalau begitu engkau bukan salah seorang dari
Empat Permaisuri ?”
Gadis jelita itu tertawa.......
JILID 7
“MEMANG sebenarnya bukan !” seru gadis jelita itu,”
kutahu siluman tua itu hendak mencelakai dirimu. Aku
merasa kalah sakti dengannya tetapi kudengar dia takut
setengah mati kepada Kaisar dan Empat permaisuri.
326
Maka kucoba untuk menggertaknya dengan nama itu
dan ternyata berhasil !”
“Nona, tindakanmu tadi sungguh berbahaya. Kelak
tentu akan kubalas budimu,” kata Gak Lui.
Gadis itu hanya mendengus dengan pipi
kemerah2an: „Ah..., aku tak berani mengharap balas.
Tetapi aku mempunyai sebuah permintaan .... entah
engkau dapat meluluskan atau tidak !”
“Asal aku mampu melakukan saja”
“Maukah engkau membuka kedok mukanya yang
aneh itu bararg sebentar saja?”
“Maaf, hal itu diluar kemampuankul”
Gadis itu mengeliarkan mata beberapa jenak lalu
tersenyum: „Tak percaya! Dengan mudah sekali engkau
dapat melakukannya, mengapa tak mau?”
“Nona, aku telah bersumpah. Sebelum tiba waktunya,
aku takkan melanggar sumpah itu itu”
“Apakah engkau tak pernah membukanya? Apakah
tak pernah orang melihat mukamu?”
“Jargankan orang lain, sedang aku sendiripun tak
tahu bagaimana tampang mukaku ini !”
Sigadis tersenyum: „Hm...., tak apalah. Sekali pun
wajahmu merupakan sebuah teka-teki, tetapi berguna
juga untuk sementara orang!”
“Maksudmu .... “
Kembali pipi dara itu bersemu merah, tampil
selangkah dan berkata: „Misalnya, siapa yang sungguh2
suka kepadamu ...... ia tentu tak perlu kuatir apa2 lagi
karena orang lain tak pernah melihatmu ........ “
327
Dari pancaran mata dara itu, Gak Lui seperti melihat
bayangan kedua nona Hi Kiam-gin dan Gadis ular Li Siumey.
Kedua nona itupun pernah memandangnya dengan
pancaran mata begitu. Pada lain saat, iapun seperti
melihat bayangan wajah bibi gurunya yang
menyeramkan. Pikiran Gak Lui melayang kemasa yang
lalu. Adalah demi ayahnya Pedang dewa Gak Yang-beng
maka bibi gurunya telah merusak wajahnya sendiri. Dan
karena kuatir musuh akan mengenali dirinya (Gak Lui)
maka ayah angkatnya telah memakaikan kedok muka.
Tetapi sekalipun begitu, orang tetap memperhatikannya.
Tiba2 dara itu berputar tubuh dan berkata seorang
diri: „Aku harus pulang. Silahkan engkau beristirahat
sendiri .... sampai jumpa!”
“Tunggu dulu ......,” Gak Lui berseru kaget.
“Masih ada urusan apa lagi ?”
“Harap nona memberitahukan nama nona agar kelak
aku dapat menghaturkan terima kasih “
“Namaku The Hong-lian.”
“Hai....., engkau orang she The. Apakah engkau
masih keluarga dengan Pukulan Sakti The Thay ?”
“Dia ayahku, masakan engkau tak kenal?”
“Walaupun tak kenal, tetapi aku justeru hendak
menemuinya !”
“Sukar .... “
“Mengapa sukar ?”
“Dia berwatak terus terang dan sikapnya angkuh,
mudah menyingkung perasaan orang lain!”
“Aku cukup sabar.”
328
“Dan yang mencarinya kebanyakan ada dua macam
orang. Pertama, karena ilmu silat ...... kalau tidak hendak
belajar tentu akan minta bantuan-nya. Ayah tak mau
menemuinya.”
“Tetapi aku tak membawa maksud begitu!”
“Kalau tak karena ilmusilat tentu karena hendak
membuatkan pedang.”
“Apakah The cianpwe tak mau?”
“Mau sih mau tetapi ...... “
“Katakan terus terang sajalah, tak usah
disembunyikan.”
“Beliau menghendaki bayaran yang tinggi dan suruh
pemesan itu membantu pekerjaan yang sangat
menyiksa.”
“Apakah hanya itu saja?”
“Ya...... eh.... tidak...., tidak ....! Masih ada beberapa
syarat lagi.” tiba2 nona itu berhenti.
“Syarat apa lagi?” tanya Gak Lui gopoh.
“Harus ada, yang seorang sahabatnya
memperkenalkan.”
“Itu mudah,” Gak Lui tertawa gembira.
“Sungguh?” sidara menegas.
“Kalau menghendaki pembayaran tinggi, aku
membawa permata. Mau menyiksa, aku cukup tahan.
Minta seorarg sahabat yang memperkenalkan akupun
punya, karena kedatanganku kemari ini adalah Bok
Kiam-su yang menunjukkan. Kiranya semua syarat telah
terpenuhi, harap nona suka bawa aku menghadap ayah
nona”
329
Dahi The Hong-lian mengerut lalu jungkatkan alis dan
berkata pelahan: „Cukup baik tetapi masih kurang
sebuah. Apakah engkau sedia?”
“Apa?”
“Surat yang ditulis sendiri oleh Bok Kiam-su”
“Ini ......”
“Hm...., rupanya engkau tak punya, Kalau ditanya
ayah dan engkau tak mampu mengunjukkan, dia tentu
marah dan menolak!”
“Celakal”
The Hong-lian kicupkan ekor mata, bisiknya: „Jangan
gugup! Aku punya daya, tetapi entah engkau setuju atau
tidak?”
“Asal sesuai, tentu setuju.”
“Beliau hanya mempunyai seorang anak perempuan
aku ini. Asal kita mengangkat saudara, beliau tentu
meluluskan.”
Melihat kewajaran sidara dan kesungguhannya
hendak membantu, Gak Lui dapat menyetujui.
Demikianlah kedua muda mudi itu segera melakukan
upacara mengangkat saudara. Karena Gak Lui lebih tua
tiga bulan, dia dipanggil engkoh. Dengan riang gembira,
Hong-lian segera mengajak Gak Lui naik keatas puncak
Pek-wan-san. Puncak tertutup awan putih Dalam
selubung awan itu terdapat sebuah pondok yang
setengahnya seperti guha setengahnya mirip rumah.
Tetapi sama sekali tak ada alat2 untuk membuat pedang.
Melintasi gumpalan awan itu, „Hong-lian suruh Gak
Lui menunggu diluar pondok: „Engkoh Lui, tunggulah
diluar sini. Biarlah aku yang bicara dengan ayah dulu
330
nanti baru kupanggilmu!”
Gak Lui mengangguk. Dan Hong-lian pun segera
menyelinap masuk. Tetapi sampai sepeminum teh
lamanya, belum juga dara itu keluar dan pondok pun
sunyi senyap saja. Gak Lui tetap menunggu. Tetapi
karena terlalu lama akhirnya ia tak sabar lagi. Tetapi
tepat pada saat itu juga terdengar suara Hong-lian
menguak keras .........
Gak Lui terkejut dan cepat menerobos masuk. Tetapi
baru tiba diambang pintu mendadak ia disambut
serangkum angin yang dahsyat. Dalam gugup, ia
tamparkan tangan kiri untuk menyedot. Tetapi baru
tangan kirinya diangkat, orangpun sudah lepaskan
beberapa kali pukulan ber-tubi2. Karena luka-dalamnya
belum sembuh sama sekali, tubuh Gak Lui ter- putar2
dan terlempar kebelakang sampai dua tombak jauhnya.
Menyusul sesosok tubuh yang tinggi perkasa segera
melesat keluar. Seorang lelaki bermuka brewok sambil
memukul kalang kabut sambil berkaok2: „Budak busuk,
enyah.... enyah....! Enyah ..!”
Gak Lui cepat dapat mengenali orang itu sebagai
Pukulan Sakti The Thay. Segera ia gunakan gerak
langkah Awan-berarak-seribu-li untuk berputar putar
menghindari seraya berseru ter-gopoh2 : „The cianpwe.
harap jangan marah. Aku datang menghadap dengan
maksud baik ........”
“Kentut....!, Kalau engkau bermaksud baik masakan
engkau memikat puteriku!”
Gak Lui gelagapan malu. Lalu marahlah ia. Baru ia
berseru sepatah memanggil cianpwe, tiba-tiba ia melihat
Hong-lian muncul di luar pintu...... Mata gadis itu
berlinang-linang dan memberi isyarat kicupan mata
331
kepadanya. Terpaksa Gak Lui tekan kemarahannya,
sahutnya :” „Sedikitpun aku tak mengandung maksud
begitu .......”
“Huh, masakan akal bulus yang engkau mainkan itu
aku tak tahu. Jika tak mempunyai maksud buruk
mengapa tanpa sebab engkau mengangkat saudara
dengan anakku?”
“Hal itu...., puteri lo cianpwe yang.......” Karena marah
hampir saja Gak Lui membuka rencana Hong lian. Tetapi
sesungguhnya gadis itu bermaksud hendak
membantunya. Sudah tentu ia tak mau mencelakainya
dan lebih baik ia yang bertanggung jawab sendiri.
“Harap cianpwe jangan marah. Hendak kujelaskan,”
buru2 ia beralih kata. Tetapi The Thay tak mau
menghiraukan. Sekali kepalkan tangan ia terus
menghantam bum..., bum..., bum .... ia lepaskan
hantaman dari jarak jauh. Tinju berhamburan dan
anginpun bergulung-gulung melanda Gak Lui sehingga
memaksa pemuda itu mundur beberapa langkah.
“Jika cianpwe terus menyerang, maaf, aku terpaksa
berlaku kurang adat!” serunya memberi peringatan.
Tetapi The Thay tak menggubris: „Hm..., kalau berani,
balaslah!”
Saat itu Gak Lui terus menghindar mundur. Tetapi
akhirnya ia tak dapat mundur lagi karena sudah tiba di
ujung karang. Selangkah lagi ia tentu kecemplung
kebawah karang yang dalamnya tak kurang dari tigaempat
ratus tombak. Di bawah karang itu terbentang
sebuah jurang yang berisi air. Luasnya beberapa bahu.
Airnya berkilauan kehitam-hitaman. Walaupun dari atas,
karang yang begitu tinggi, namun terasa juga hawa
dingin yang menguap dari air itu. Sejak kecil Gak Lui tak
332
pernah main di air. Ia terpaksa harus waspada jangan
sampai terjatuh ke dalam telaga kecil itu. Tetapi saat itu
ia diserang dari tiga jurusan oleh Pukulan sakti The Thay.
Kalau tadi ia cepat gunakan ilmu meringankan tubuh, ia
masih dapat melayang melampaui kepala lawan. Tetapi
saat itu ia sudah terdesak di tepi karang. Ia tak berani
gegabah mengambil resiko untuk loncat melayang ke
udara. Diam2 ia menghela napas dan tenangkan
pikirannya untuk bertahan diri.
Tangan kirinya diputar melingkar di udara. Tangan
kanan pelahan disongsongkan ke arah orang. Seketika
itu The Thay terkejut. Pukulannya dilepaskan bertubi-lubi
itu tiba2 seperti disedot oleh suatu tenaga aneh yang
memancar dari gerakan Gak Lui. Pukulannya yang
bertenaga dahsyat itu, setiap kali membentur Gak Lui
tentu seperti terbenan dalam laut dan lenyap. Selain itu,
tangan kanan Gak Lui itupun menghamburkan tenaga
dahsyat sehingga memaksanya mundur selangkah.
Melihat pemuda itu benar2 balas menyerang tiba2
timbullah kelapangan hati The Thay. Kecuali, tidak
marah, orang itu adalah puas. Ia anggap cara Gak Lui
menghindar lalu balas menyerang itu, mencocoki
seleranya. Tiba2 ia menggembor keras: „Begitulah, baru
sesuai. Tetapi selain ilmu pukulan tadi, apakah engkau
masih punga simpanan yang lain........”
“Jika cianpwe masih punya ilmu yang lebih lihay,
silahkan gunakan saja. Ilmu gerakan tanganku ini masih
dapat menghadapinya” sahut Gak Lui.
“Sombong benar engkau, budak ! Coba akan kulihat
sampai berapa lama engkau mampu bertahan” teriak
Pukulan-sakti The Thay seraya lancarkan serangan yang
lebih dahsyat. Kedua tinjunya menyerang sederas hujan
mencurah.
333
Perbawanya mengejutkan sekali. Tetapi Gak Lui
tetap tenang. Kakinya laksana tertanam di karang. Dan
kedua tangannyapun bergerak-gerak menggunakan
tenaga- sakti Algojo-dunia, untuk meminjam tenaga
lawan mengembalikan serangannya.
Pertempuran makin berlangsung seru. Berulangulang
terdengar letupan keras dari benturan tenagapukulan.
Kedua fihak saling ngotot berbaku bantam. Tak
seorangpun yang mau mengalah mundur. Cepat sekali
100 jurus telah berlangsung. Yang paling sibuk adalah
gadis Hong Lian. la cemas kalau ayahnya sampai
menderita luka. Tetapi ia pun gelisah kalau Gak Lui
sampai celaka. Namun ia tak dapat berbuat apa2, karena
kepandaiannya amat terbatas dan tak mampu untuk
melesai mereka.
Hong-lian menarik-narik bajunya sendiri, menggosokgosok
tangan. Dia bingung setengah mati. Keringatnya
bercucuran menganak sungai. Baiknya ia tak
mengecewakan diri sebagai puteri dari seorang tokoh
silat yang sakti. Walaupun bingung tak keruan tetapi ia
tak mau menjerit-jerit dan mengganggu perhatian
mereka. Ia melihat wajah ayahnya merah membara.
Ubun2 kepalanva menguap asap. Suatu pertanda
bahwa tenaga dalamnya sudah hampir habis tetapi tetap
tak mau mengaku kalah. Tetap melancarkan serangan
dahsyat dan mati-matian. Kemudian memandang kearah
Gak Lui, dilihatnya pemuda itu tetap bersemangat.
Walaupun menderita luka akibat pertempurannya dengan
Pek-Kut Mo-kun, tetapi ternyata dia tetap gagah.
Pukulannya tampak seperti orang yang tak menderita
luka.
334
Cepat sekali pertempuran itu sudah berlangsung
sampai 500 jurus. Pukulan-sakti The Thay pun sudah
mengulang setiap jurus pukulannya sampai tiga kali Dari
cepat, gerakannyapun makin lambat. Dari lambat
akhirnya terhuyung-huyung. Sepasang tinjunya yang
terkenal keras seperti besi, saat itu sudah lemah lunglai.
Karena keliwat memaksa diri, napas jago tua itu
memburu keras dan bluk ....... akhirnya ia jatuh
ngedumpruk di tanah.
Dalam pertempuran itu Gak Lui malah mendapat
keuntungan. la gunakan ilmu Menyalurkan tenaga murni
untuk menyembuhkan luka-lukanya, sembari
menghadapi serangan lawan. Begitu melihat The Thay
jatuh, cepat ia loncat ke hadapannya dan terus mengurut
tubuhnya.
Hong-lian pun tergopoh menghampiri: „Yah..., apakah
engkau letih” Dengan napas ter-engah2, The Thay
berseru: „Letih apa? Ngaco.....”
“Yah..., sudah kukatakan bahwa ilmu kepandaiannya
tinggi. Bahkan Pek-Kut Mo-kun pun dapat dipukulnya
terbirit-birit, tetapi engkau tetap tak percaya. Bukankah
soal angkat saudara itu harus diakui?”
“Hm.... !” The Thay mendengus. Tetapi mu!utnya
menyeringai tawa gembira. Kira2 sepeminum teh
lamanya, keringatnya pun sudah berhenti. Lalu ia
mendorong Gak Li dan terus bangkit. Kuatir orang tua itu
akan menyerangnya lagi, buru2 Gak Lui menyurut
mundur tiga langkah dan bersiap. Tetapi gerakan tangan
The Thay itu hanya untuk melemaskan urat2nya yang
kaku, serunya: „Uh...., kaku, sungguh kaku karena sudah
lama tak pernah dibuat gerak. Kali ini puas benar2.”
Hong-lian menghampiri ayahnya: „Eh...., ayah....
335
ha..... nya memikirkan berkelahi tetapi aku yang jadi anak
perempuannya takut setengah mati ....”
“Ha..., ha..., ha..... tidak jadi apa,” The Thay tertawa
gelak-gelak. Kemudian memandang Gak Lui ia berseru
memuji: „Sungguh tak nyana, engkau ternyata memiliki
kepandaian yang hebat!”
“Ah..., cianpwe keliwat memuji!”
“Sudahlah, tak usah sungkan. Kalau mau bicara. Mari
kita masukl” kata The Thay terus memimpin tangan
puterinya dan menyambar tangan Gak Lui untuk diajak
masuk ke dalam pondok.
Sinona tertawa: „Engkoh Lui, perangai ayah memang
begitulah. Kalau marah seperti angin prahara, tetapi
setelah itupun terus reda. Harap engkau jangan terkejut
........”
Terhadap sifat The Thay yang terus terang, Gak Lui
merasa suka. la membiarkan dirinya ditarik masuk.
TERNYATA dalam pondok itu penuh bergantungan
pedang pusaka. Ada yang panjang, ada yang hanya
beberapa dim panjangnya. Jumlahnya tak kurang dari
beberapa ratus batang. Sedang bentuknya pun terdiri
dari beraneka macam, yang aneh2. Sekalipun sejak kecil
Gak Lui sudah belajar ilmu pedang dan pengalamannya
tentang perangpun cukup banyak, tetapi ketika melihat
koleksi pedang yang sedemikian banyak dan beraneka
ragam, diam2 ia terkejut dan kagum.
Melihat pemuda itu, tertawalah The Thay: „Engkau
tentu tertarik dengan kumpulan pedang pusaka itu,
bukan? “
Gak Lui menghela napas: „Setiap orang tentu suka
akan barang pusaka. Sungguh, tak kira kalau cianpwe
336
menyimpan sekian banyak pedang pusakal”
“Ha, ha, apa gunanya pedang sekian banyak itu.
Kebanyakan hanya barang palsu!”
“Oh......!” Gak Lui mendesah kaget. Kembali ia
memandang koleksi pedang itu dengan seksama. Setiap
batang pedang memancarkan sinar ke milau. Bentuknya
kuno.
“Tak ada yang aseli ? Apakah semua itu palsu?”
serunya heran. The Thay memandang kearah kedua
batang, pedangnya:
“Dengan membawa pedang pusaka, Pedang Pelangi
dari Partai Bu-tong-pay tentulah pedang itu mempunyai
ciri2 yang istimewa. Maka dengan dasar apa engkau tak
percaya keteranganku tadi?”
Sambil menuding kearah sebatang pedang aneh
yang tergantung pada dinding, Gak Lui kerkata:
„Misalnya pedang yang panjangnya dua meter itu.
Tentulah pedang milik baginda Cin Si- ong. Dan pedang
pendek itu tentuah milik baginda Cin Ong. Kemudian
pedang yang, panjangnya dua dim itu tentulah pedang
pusaka milik Co Pi. Kemudian yang lain2 seperti pedang
Ken- ciang, Bok-sia dan Ki-kwat, merupakan pedang
pusaka yang termasyhur. Sekalipun tidak semuanya
tulen, tetapi pun tidak semuanya palsu ........ “ Diam2 The
Thay kagum atas pendapat anak muda itu. Sebelum ia
sampai berkata, Hong-lian sudah melengking tertawa:
“Engkoh Lui, kumpulan pedang itu bukan pedang
kuno melainkan buatan ayah sendiri menurut
pengetahuan dan pengalamannya ..........”
Gak Lui tertegun, lalu tertawa nyaring: „Karena The
cianpwe mempunyai kepandaian yang sedemikian hebat,
337
keinginanku pasti terlaksana”,
The Thay memukul lututnya sendiri dan dengan mata
berkilat-kilat bertanya: „Katanya engkau hendak minta
aku membuatkan pedang. Apakah engkau hendak
merobah pedang Pelangi itu?” Gak Lui mengiakan.
“Tetapi aku mempunyai beberapa syarat!”
“Dalam hal itu aku memang sudah bersedia dan
dapat memenuhi semua!”
“Oh, engkau sudah tahu syarat2 yang kukehendaki
itu? “ tanya The Thay.
“Aku bersedia menyerahkan seluruh benda berharga
sebagai balas jasa lo-cianpwe. Begitu pula, apapun
pesan cianpwe, tentu akan kulaksanakan” kata Gak Lui
seraya mengeluarkan batu permata dan diletakkan di
hadapan tuan rumah. Permata berlian hasil keluaran
Lembah Mati itu, merupakan permata yang jarang
terdapat di dunia. Harganya tak ternilai. Cahaya tajam
yang memancar dari berlianl itu, menyilaukan mata The
Thay, terutama sebutir berlian pemberian Siu-mey.
Sinarnya hebat sekali. Sehingga Hong-lian tak mau
melepaskannya. Tetapi diluar dugaan, The Thay
mengembalikan tumpukan berlian itu kepada Gak Lui.
Serunya dengan wajah serius: „Aku tak suka menerima
benda2 ini.
“Apakah masih kurang?”
“Aku bukan seorang mata duitan. Jangan salah
faham!”
“Kutahu hal itu memang menjadi peraturan dari locianpwe.
Sudah seharusnya .........”
“Aturan apa?, itu hanya siasatku untuk merintangi
orang2 iseng yang hendak mengganggu aku. Dengan
338
peraturan itu belasan tahun, tak ada ada orang yang
datang lagi................”
“Lalu, tentulah cianpwe mempunyai lain2 pesanan !”
“Benar, memang aku mempunyai lain syarat.
Sesungguhnya hal itu pun hanya merupakan beberapa
pertanyaan saja .......”
“Asal tahu tentu kukatakan. Asal yang, kukatakan
tentu, benar2 sesungguhnya. “
“Pertama, pedang itu sebenarnja pusaka Butong-pay.
Mengapa dapat jatuh ketanganmu?”
Gak Lui setera menuturkan riwayat pedang itu
sampai jatuh ketangannya. The Thay mendengarkan
dengan penuh perhatian lalu bertanya penuh gairah:
„Kiranya Ceng Ki totiang dari Butong- pay, itu mempunya
hubungan dengan engkau. Lalu apakah nama
Perguruanmu?”
“lni... aku benar2 sukar mengatakan.”
Hong-lian kerutkan alis. Ia kuatir ayahnya kurang
senang mendengar jawaban Gak Lui. Tetapi Gak Lui
sudah terlanjur memberi jawaban begitu maka ia pun
melanjutkaa lagi!. “Asal-usul diriku sama dengan kedok
muka yang kukenakan ini. Apabila belum tiba saatnya,
tak dapat kuterangkan. Harap cianpwe, suka maafkan.”
Diluar dugaan, The Thay tidak marah, malah
menganggukkan kepala: „Tak perlu melihat mukamu.
Cukup kulihat sinar mata dan gigimu yang putih itu.
Tentang asal usulmu .... berikanlah pedang yang lain itu
kepadaku.”
“Yah.....” tiba2 Hong-lian melengking,” pedangnya
yang itupun kutung juga. Harap ayah bantu
membuatkannya “
339
Gak Lui menyerahkan pedang itu dan The Thay pun
lalu meletakkan kedua pedang kutung itu diatas meja.
Setelah memeriksa beberapa saat, ia berseru memuji:
„Sekalipun bukan jenis pusaka, tetapi pedang ini
termasuk pedang yang luar biasa tajamnya. Pemiliknya
dahulu......jaitu seorang pendekar pedang yang.......
Kemudian ia menjentik batang pedang dengan jarinya
lalu berpaling memberi pesan kepada Hong-lian:
„Ambilkan alat2ku, pedang ini hendak kubongkar!”
Hong-lian segera membawakan alat ayahnya. Tak
berapa lama, tangkai pedangpun sudah dibongkar. Tiba2
Pukulan-sakti The Thay berteriak kaget: „Pedang Aneh Ji
Ki-tek!”
“Ah....., kiranya engkau keturunan dari Empat Pedang
Busan!”
“Bagaimana ciaopwe tahu.... !” Gak Lui pun memekik
tegang.
“Karena dapat membuat pedang, sudah tentu aku
dapat mengetahui perabot dan tanda2 pada pedang.
Karena setiap pemilik pedang, tentu meninggalkan tanda
pengenal dari pada pedangnya. Kalau tidak dibatang
pedang tentu dalam tangkai Pedang ...... !”
Kini tersadarlah Gak Lui. Ia segera memandang
kearah tangkai pedang yang sudah dibongkar itu. Ah...,
memang benar. Diatas tangkai itu terdapat ukiran
beberapa huruf yang kecil sekali yang berbunyi nama
ayahnya. Seketika bercucuranlah air matanya.
“Ah....., rupanya engkau memang mempunyai
kesukaran dalam hati. Baiklah, aku tak mau bertanya
lagi. Bahkan apa yang kulihat saat ini, takkan kukatakan
kepada siapapun juga. Dan pedang ini, akan kusambung
selesai dalam tiga hari” Gak Lui menghaturkan terima
340
kasih lalu bertanya: „Entah berapa lamakah waktu yang
diperperlukan untuk membikin Pedang Pelangi itu? Dan
apakah masih ada syarat lagi?”
“Waktunya kira2 setengah bulan. Dan syaratnya pun
sederhana.... Tetapi panjang kalau diterangkan........”
Gak Lui minta supaya tuan rumah mengatakan.
“Pedang Pelangi. ini hanya tinggal separoh. Jika
menghendaki dibuat yang utuh, tentu harus memerlukan
bahan baja yang murni. Kalau tidak, kecuali takkan
menjadi pedang pusaka, pun malah akan
merusakkannya. Maka soal pertama, yalah mengenai
bahan ..........”
Gak Lui tergetar hatinya, serunya tegang: „Kudengar
Han-thiat” (besi dingin) dan Bian-thiat (besi keluaran
Burma), merupakan bahan yang paling bagus untuk
pembuatan pedang. Tetapi tak tahu kemanakah aku
harus mencarinya .......”
“Ah..., tak perlu harus mencari sekarang ini. Aku
sudah mempunyai bahan Han-thiat. Tetapi aku tak
berhak memberikan kepadamu”
“Siapakah yang berhak?”
“Dia!” tiba2 Pukulan-sakti The Thay menuding ke
arah puterinya.
“Ah......, kiranya adik Lian. Relakah engkau
menyerahkan kepadaku?” seru Gak Lui. Hong-lian,
seketika merah mukanya. Dengan malu ia berkata;
“Rela sih rela, tapi Han-thiat itu pemberian ayah
kepadaku untuk dijadikan...... “
“Apa? ......... “
“Buat.......” si-dara memainkan ujung bajunya sambil
341
tartawa.... Matanya menggelora ........ memandang
ayahnya. Tetapi Pukulan-sakti The Thay hanya tertawa
gelak-gelak.
“Budak tolol, engkau biasanya begitu genit, mengapa
hari ini engkau tak bisa omong. Ai....., biarlah ayah yang
mengomongkan.......nya.”
The Thay berpaling ke-arah Gak Lui dan ber-seru
tertawa : „Aku gemar belajar silat dan sedang membuat
pedang. Maka bahwa besi Han-thiat yang kukumpulkan
selama hidup ini, akan kuberikan kepada puteriku untuk
mas-kawin. Jika engkau suka pakai, terpaksa........,
biarkan ia yang memberi putusan ....... Mas-kawin!”
Gak Lui berseru kaget. Seketika benaknya melintas
bayangan gadis ular Siu-mey yang.....secara tak resmi
sudah menjadi isterinya. Melihat Gak Lui tertegun, wajah
Hong-lian tampak kecewa. Saat itu sunyi senyap.
Ketiganya terbenam dalam renungan masing2. Tiba2
Pukulan-sakti The Thay, tertawa riang memecah
kesunyian: „Gak hiantit tak perlu gelisah. Sekali-kali
bukan maksudku hendak menekan engkau dengan
syarat itu. Meskipun engkau sudah mengangkat saudara
dengan Lian-ji, tetapi tak usah engkau menyebut aku
sebagai Gi-hu (Ayah-angkat). Saat itu tampak mata
Hong-lian bercucuran airmata memandang ayahnya.
Tetapi The Thay tak menghiraukan dan tetap
melanjutkan perkataannya. Karena perjodohan pria
wanita itu harus disetujui kedua belah fihak. Tak dapat
dipaksa. Kalau terlalu buru2 malah akan menimbulkan
banyak kesulitan. Lebih baik tunggu saja bagaimana
perkembangannya kelak” Habis berhata orang tua itu
berpaling memandang puterinya. Rupanya, Hong-lian
dapat menangkap maksud ayahnya. la hapus, kerut
dahinya dan dengan, nada riang berkata kepada Gak342
Lui: „ Engkoh Lui”, kuberikan Han-thiat itu kepadamu dan
bolehlah engkau kasihkan batu berlian ini sebagai
penukarnya!”
Pada saat Gak Lui longgar perasaannya, tiba2 ia
teringat bahwa batu berliun itu adalah pemberian Siumey.
Ia terbeliak, serunya:
“Karena aku sendiri yang mengeluarkan, seharusnya
aku tak menyesal untuk menyerahkan batu berlian ini.
Tetapi .......batu. ini ada sedikit.... kesulitannya. Kelak
kuganti saja dengan 10 kali lipat. Apakah adik Lian
setuju? “
Hong- lan kerut-kan alisnya dan menunjuk batu
berlian, ia bertanya: „Engkau bilang berlian ini
mempunyai persoalan. Apakah soal tanda yang berada
di atasnya itu? “
“Tanda?” Gak Lui. terkejut terus mengambil batu itu
dan memeriksanya. Ah, memang benar. Pada sebelah
permukaan batu berlian itu terdapat sebuah huruf
sehalus rambut berbunyi BU. Karena selamanya tak
senang akan batu2 permata, maka Gak Lui tak
memperhatikan ciri2 itu. Dan ketika saat itu mengetahui,
gemetarlah tubuhnya. Berlian ini jelas berasal dari Siumay
yang menggeledah dari tubuh Tabib-jahat Li Huiting.
Jika tak dibuat orang, tak mungkin bertanda huruf
BU. Apakah itu bukan ciri tanda dari anak buah si
Maharaja?” pikirnya.
“Benar, memang tanda ini penting sekali bagiku,”
katanya kepada Hong-lian.
“Kalau engkau memerlukan, biarlah kukembalikan
saja kepadamu. Tak perlu engkau pikirkan untuk
menggantinya!” kata Hong-lian.
343
The Thay tertawa: „Begitu baru tak mengewakan
dirimu sebagai anakku. Nah, marilah kita menuju kedapur
pedang.”
MEREKA bertiga segera menuju ke ruang belakang
tempat penempaan pedang. Keluar dari rumah belakang,
mereka menuju ke sebuah guha yang kuat. Di puncak
wuwungan guha terdapat sebuah lubang seluas dua
tombak sehingga guha menjadi terang benderang.
Dalam guha itu terdapat sebuah perapian besi.
Disebelahnya sebuah kolam yang jernih airnya.
Kesemuanya itu tentu untuk peralatan pembuatan
pedang. Setelah menghidupkan api, maka The Thay lalu
memasukkan pedang dari Gak Lui tadi kedalam
perapian. Api berkobar besar, asap bergulung-gulung
membubung ke atas. Beberapa saat kemudian, Gak Lui
tampil mendekati The Thay:
“Paman The, apakah engkau tak keberatan untuk
membuatkan Pedang Pelangi lebih dulu baru nanti ...... ,”
„Tidak! “ sahut The Tbay dengan bengis, „aku
mempuayai maksud tertentu mengapa membuat pedang
ini lebih dulu. Karena begitu pedang Pelangi dan bahan
Han-thiat masuk ke dalam api, sinarnya tentu memancar
tinggi ke atas langit sehingga dalam jarak 100 li akan
kelihatan. Sinar pembuatan pedang pusaka itu pasti akan
mengundang kawanan durjana kemari. Maka akan
kutempa dulu pedangmu agar engkau mempunyai
senjata untuk menjaga keamanan pembuatan pedang
Pelangi nanti!” Saat itu barulah Gak Lui tersadar.
“Selain itu masih ada sebuah tugas penting yang
harus engkau kerjakan sendiri,” kata The Thay pula
“Silahkan paman bilang !”
“Kelak apabila pedang Pelangi sudah jadi, harus
344
lekas2 dibenam dalam air dingin. Kolam air disini tak
cukup besar. Harus dilempar kedalam Telaga-pedang
dibawah gunung. Apakah engkau dapat mengerjakan ?”
“Tetapi Telaga-pedang itu amat dalam sekali. Jika
membiarkan pedang itu sampai terbenam kedasar
telaga, tentu sukar diketemukan. Apakah engkau dapat
melontarkan pedang itu kedalam telaga lalu secepatnya
mengambilnya keluar lagi”
“Aku dapat menggunakan gerakan Rajawali-pentangsayap
untuk melayang kepermukaan telaga” sabut Gak
Lui dengan semangat menyala. Sama sekali ia lupa
bahwa ia tak dapat berenang. Sudah tentu The Thay tak
mengetahui kekurangan pemuda itu. Dengan gembira ia
melangkah maju dan menunjuk keatas puncak guha.
“Baiklah, lebih dulu kita buat perjanjian. Pada
waktunya, engkau harus berdiri diatas puncak guha ini
lalu kulemparkan pedang kepadamu dan engkau
harus..... cepat lontarkan kedalam telaga Pedang.
Dengan cara itu barulah kita dapat bekerja cepat. Honglian
pun memberi pesan juga dengan penuh perhatian:
“Engkoh Lui, jangan lupa pakai sarung pelindung
tangan agar tanganmu jangan terbakar !” Demikianlah
hari demi hari, dipuncak gunung Pek-wan-san siang
malam selalu tampak cahaya api marong kelangit.
Cahaya itu dapat terlihat sampai 100-an li jauhnya. Pada
malam itu sinar pedang yang ditempat dalam perapian itu
makin hebat memancar kelangit. Seolah olah seperti
sebuah pelangi. Hampir seluruh puncak gunung menjadi
terang benderang. Selama setengah bulan ini, Gak Lui
selalu menjaga diguha itu dengan pedang terhunus.
Pembuatan pedang Pelangi pasti akan berhasil jika pada
hari2 terakhir tak terjadi suatu halangan. Tiba2 Gak Lui.
mendengar suara letupan keras yang muncrat keudara
345
dan berhamburan mencurah keatas hutan. Datam saat2
timbulnya pemandangan yang anah itu, tiba2 terdengar
The Thay berseru nyaring: „Sambutilah !” Pedang
Pelangi yang masih merah marong, meluncur keluar dari
puncak guha terus melambung keudara. Gak Lui cepat
bertindak. Tubuhnya berputaran keras dan terus
melambung keudara. Disambarnya Pedang Pelangi itu
terus dilontarkannya kedalam Telaga Pedang. Setelah itu
ia melingkarkan kedua lengannya dalam bentuk macam
lengkung-busur, lalu meluncur kearah Telaga Pedang
dibawah jurang. Air telaga itu hitam gelap, dinginnya
bukan kepalang. Tetapi karena kemasukan Pedang
Pelangi, airnyapun hangat sehingga Gak Lui tak merasa
kedinginan... Begitu pula sinar gemilang dari pedang
Pelangi itu memancar dan menerangi telaga sampai
seluas 5 tombak dalamnya. Pada saat pedang Pelangi
jatuh kebawah telaga Gak Luipun sudah menukik
kepermukaan air. Dengan kepala dibawah dan kaki
diatas, ia terus menyusup kedaham air. Matanya tak
berkedip memandang pedang itu. Selekas batang
pedang itu sudah dingin, ia terus akan menyambarnya.
Karena menumpahkan seluruh perhatian pada pedang
itu, sampai lupalah pemuda itu bahwa sesungguhnya ia
tak pandai berenang. Begitu juga ia lalai untuk
memperhatikan keadaan disekeliling tempat situ. Pedang
Pelangi terus meluncur kedasar air. Cahayanya marong
merah makin lama makin redup Gak Lui anggap sudah
tiba saatnya untuk menyambar pedang itu dan iapun
segera gerakkan tangan kanannya.
“Uh.....!” ia mendengus kaget karena sambarannya
luput. Terpaksa ia terus selulup kedalam air. Tetapi
karena tak pandai berenang, seketika tubuhnya terasa
berat sekali dan ikut tersedot kedalam telaga. Saat itu
barulah ia terkejut dan menyadari kalau tak pandai
346
berenang tetapi karena pedang itu makin lama makin
meluncur kedasar telaga, dalam gugupnya, Gak Lui tak
menghiraukan segala apa ..... Ia terus menukik kebawah.
Tetapi karena tak pandai berenang, ia kalah cepat
dengan gerakan pedang yang menyelam kedasar telaga.
Saking marahnya, Gak Lui hampir2 pingsan. Tetapi tiba2
timbulah suatu peristiwa yang aneh. Pedang yang
sinarnya makin gelap itu tiba2 berhenti mengenap
kebawah.
“Ah...., mungkin sudah tiba didasar telaga,” diam2
Gak Lui girang sekali. Tetapi pada lain saat ia tersentak
kaget, „tak mungkin. Kalau sudah tiba didasar telaga
tentu benda itu tak bergerak. Tetapi mengapa pedang itu
masih bergerak naik turun dan seperti pecah menjadi tiga
buah? Gak Lui tak peduli segala apa. Ia terus ber
geliatan menyelam kebawah sampai tiga tombak
jauhnya. Haup ....... la terminum air. Ternyata telaga itu
amat dalam sekali..... Pedang Pelangi belum mencapai
dasar telaga tetapi digigit oleh seekor binatang raksasa
seperti buaya yang berumur seribu tahun. Binatang itu
bergigi runcing tajam, bersisik dan matanya berkilat-kilat
memancar api. Besar tubuhnya hampir satu meter dan
panjangnya mencapai lima tombak. Begitu melihat Gak
Lui meluncur kebawah, binatang itu segera kibaskan
ekornya lalu meluncur secepat kilat kearah pemuda itu.
Setelah terminum air dingin hati Gak Lui terasa agak
tenang. Pikirnya : „Tak bisa barenang, tak apalah. Asal
kututup jalan darahku beberapa saat, aku tentu dapat
bertahan didalam air untuk melihat gerakan2 lihay dari
binatang buaya purba itu
Setelah mengambil keputusan, ia segera kerahkan
tenaga dalam dan siapkan pedang. Cepat sekali buaya
itu sudah tiba dihadapannya. Diam2 Gak Lui menduga
binatang itu pasti akan membuka mulut. Pada saat itulah
347
ia akan bergerak secepat-cepatnya untuk merebut
Pedang Pelangi. Tetapi kurang ajar Buaya itu ternyata
cerdik juga. Dia tak mau membuka mulutnya melainkan
miringkan kepalanya kesamping, lalu gerakkan Pedang
Pelangi membabat dibagian perut Gak Lui. Gak lui
terkejut sekali. Pedang Pelangi tajamnya bukan
kepalang. Dapat memapas logam seperti membelah
tanah liat saja. Dengan tenaganya yang begitu dahsyat.
Pedang Pelangi itu tentu makin hebat. Tak mungkin ia
akan dapat menangkis dengan pedangnya. Maka Gak
Lui berganti siasat. Tak mau ia adu kekerasan. Dengan
gerak Rajawali-pentang-sayap, ia surutkan kedua
kakinya lalu menyabet dengan pedangnya. Tring....
hampir saja pedangnya menutuk batang pedang Pedang
Pelangi. Berbareng, dengan itu tangan kirinyapun
berbalik dengan cepat untuk merebut batang Pedang
Pelangi. Diserang dari samping kanan....... kiri oleh Gak
Lui, buaya itu kelabakan, kepalanya dimiringkan. Pedang
Pelangi yang masih digigit dalam mulutnya; pada saat itu
sudah dapat dipegang oleh Gak Lui. Buaya purba itu
tiba2 deliki matanya, seketika berhamburanlah beriburibu
titik bintang dari matanya, dan tubuhnya yang
sepanjang lima tombak itupun, ikut menjulur sampai dua
kali panjangnya.
Sisiknya berkilat-kilat memancarkan sinar kilau
kemilau. Karena memegang tangkai Pedang Pelangi dan
buaya itu meregangkan tubuhnya, maka Gak Lui gemetar
tubuhnya. Tulang tulangnya terasa sakit sekali.
“Huh...., buaya besar!” Gak Lui mengeluh dan tanpa
terasa tangannya yang mencekal tangkai pedang itupun
terlepas. Bum..... ekor buaya yang menyerupai daun
pintu besi besar, menampar kearah punggung Gak Lui.
Gak Lui terlempar sampai dua tombak jauhnya.
Tenggorokannya serasa tersumbat, hidungnyapun
348
memancurkan darah. Hitam........ sekelilingnya tampak
hitam. Sekalipun setelah ia dapat menenangkan
pikirannya dan memandang dengan seksama, namun
tetap gelap. Air berkisaran, dia tetap tenggelam
kebawah. Sedangkan si buaya setelah menyabat dengan
ekornya tadi, segera buaya itu meluncur ....... kedasar
telaga.
“Heran...... ! Apakah binatang itu hendak melarikan
diri? „diam2 Gak Lui heran dan mengamati kebawah
dasar telaga dengan seksama. Beberapa saat kemudian
barulah ia melihat tiga sinar bintang. Entah berapa
dalamnya bintang itu berada .......... Belum sempat ia
bergerak, tiba2 buaya ........itu muncul pula dengan
gerakan berputar-putar seperti kisaran air, binatang itu
meluncur kebawah kaki Gak Lui. Ternyata panjang
badan buaya itu tak kurang dari 10 tombak. Karena
merasa air telaga terlalu deras arusnya, maka ia segera
mengendap ke bawah dan tenggelam dalam kisaran arus
itu. Kiranya setiap memancarkan tenaga-kilat, buaya itu
harus menunggu sampai beberapa waktu lagi baru dapat
memancar tenaga kilat lagi. Biasanya, setiap kali
menghamburkan tenaga- kilat lawan tentu binasa.
Tetapi sosok manusia kecil Gak Lui, dapat bertahan.
Sekalipun hanya seekor binatang, tetapi rupanya buaya
itu memiliki naluri tajam bahwa yang dihadapinya itu
tentu musuh yang tangguh ........ Maka buaya itu lalu
menggunakan kisaran arus untuk menyeret lawan ke
bawah lalu dibawanya ke dalam sarang. Gerakan buaya
itu telah menimbulkan gelombang arus, yang hebat.
Karena tak pandai berenang. Gak Luipun tak dapat
menyerangkan pedangnya dengan tepat. Sesaat
kemudian ia rasakan kepalanya ber-putar2 mata pedar
dan telinga mengiang. Tubuhnyapun segera terbawa
oleh putaran arus. Berputar dan berputar sampai
349
kesadaran pikirannya hampir lenyap. Dalam saat ia
hampir pingsan, tiba-tiba matanya tersilau oleh secercah
sinar biru yang menyambar ke tenggorokannya.
“Pedang Pelangi ........ !” dalam kejutnya ia gelagapan
dan terus hendak menyabat dengan pedangnya. Tetapi
auh...... arus air tiba2 bergelombang keras sekali.
Sekeliling penjuru terasa gelap dan tahu2 ia tak ingat diri
lagi. Ketika tubuhnya diseret oleh buaya ke dasar telaga.
Walaupun hanya beberapa kejab, tetapi bagi Gak Lui
sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Ketika sadar, ia
merasa gerak tubuhnya tak secepat tadi lagi. Rupanya
saat itu sudah berada di tanah datar. Ketika memandang
sekeliling, ia dapatkan dirinya berada di sebuah guha
seluas dua tiga meter. Rupanya karena takut membentur
karang, buaya itu meluncur pelahan-lahan. Diluar
dugaan, ternyata saat itu tangan kirinya masih tetap
mencekal tangkai pedang Pelangi dan tangan kanannya
pedangnya sendiri. Karena dapat memapas sehelai sirip,
saat itu Gak Lui telentang melekat di bawah perut buaya.
Dilihatnya di bawah leher binatang itu mereka merupakan
selembar kulit lunak yang berwarna putih. Kulit itu tak
henti2nya bergerak.
“Celaka ....! Kalau kubiarkan diriku diseret binatang
ini ke bawah, aku pasti mati !” diam2 Gal Lui menimang.
Diam2 Gak Lui kerahkan tenaga-dalam. Dengan sekuat
tenaga ia putar sepasang pedangnya. Crek..., crek...,
crek... terdengar air tersibak pedang dan gigi buaya yang
tajam dan keras itu ber hamburan putus terbabat pedang.
Karena sulit, mulutnya terbuka dan tubuh Gak Luipun
meluncur ke bawah. Tetapi guha itu terlalu sempit. Gak
Lui sukar untuk lancarkan serangan. Buaya itupun sukar
bergerak, juga. Sebelum Gak Lui sempat bertindak,
buaya itu sudah meluncur ke bawah untuk menindih
tubuh Gak Lui.
350
Gak Lui tak mengira bakal diserang secara begitu. Ia
berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. Tetapi
makin lama dadanya terasa makin sakit. Karena tak
tahan lagi ia lepaskan pernapasannya dan terus
menggigit kulit tipis pada tenggorokan buaya itu.
Pertarungan mati hidup segera berlangsung.
Tenggorokan buaya itu memancur darah dan bergeliatan
kesakitan. Gak Lui makin nekad. Dibuangnya kedua
pedangnya, lalu dengan sekuat-kuatnya ia
nimencengkeram tubuh buaya dan tetap menggigit
tenggorokan binatang itu sekencangnya. Gluk..., gluk...,
gluk...., ia sedat dan meminum darah buaya itu terus
menerus sampai perutnya penuh. Heran .......... Setelah
perutnya penuh dengan darah buaya, Gak Lui rasakan
tenaganya malah bertambah besar. Sama sekali ia tak
takut pada bahaya air lagi. Kedua matanyapun
bertambah terang sekali. Dapat melihat jelas keadaan
dalam air seluas 10 tombak. Kebalikannya setelah
mengucurkan darah, gerakan buaya itu makin lama
makin lambat Dan akhirnya tak dapat tergerak. Luka
pada tenggorokannya masih mengalir darah. Sekali Gak
Lui mendorong, buaya raksasa itu tumbang seperti
pohon besar yang ditebang. Tubuh binatang itu
berguling-guling ditelan air keruh dalam dasar telaga.
Gak Lui cepat menyambar kedua pedang dan terus
hendak melambung kepermukaan telaga. Tetapi sesaat
itu ia bingung katena tak tahu jalan keluar dari guba itu.
“Buaya itu tentu menyusup masuk. Kepalanya tentu
yang lebih dulu. Dengan begitu arah letak ekornya saat
ini tentu menunjukkan jalan keluar dari guba ini,” tiba2 ia
dapat memecahkan kebingungannya. Pyuh......
sekonyong-konyong ia menyiakkankan kedua tangannya.
Hampir ia tak percaya bahwa gerakan tangannya itu
dapat mengangkat tubuhnya begitu ringan sekali seperti
351
seorang juara renang yang sangat hebat. Hanya dalam
beberapa waktu, ia sudah mencapai tepi telaga. Sekali
menyiak lagi, iapun sudah muncul dipermukaan air.
TETAPI ia heran karena disekeliling telaga itu sunyi
saia.
“Eh...., kemanakah adik Lian ? Mengapa ia tak
menjaga ditepi telaga ...... ah, mungkin karena aku terlalu
lama berada didasar telaga .....” Sekali enjot tubuh, ia
melambung keudara dan melayang ketepi telaga, terus
hendak naik ke puncak pek-wan-san lagi. Tetapi baru
beberapa puluh tombak berlari, dari empat penjuru
tampak beberapa sosok tubuh berhamburan
menyongsong dan terus mengepungnya. Gak Lui
terkejut. Seketika beringaslah ia. Karena yang memimpin
pengepungan itu bukan lain adalah Pek- Kut Mo-kun
dengan enam orang berpakaian dan berkerudung kain
hitam, menghunus pedang.
“heh..., heh..., heh...! Engkau Gak Lui, sudah masuk
kedalam perangkop maut, mengapa tak mau buang
senjatamu saja!” bentak Pek-Kut Mo-kun seraya tertawa
mengekeh.
“Nyawa dari pedangku, engkau masih berani ..... “
“Jangan bermulut besar !” bentak Pek-Kut Mo- kun,
“karena ingin mendapat saksi hidup, maka kuberi ampun.
Tetapi kali ini tambah tiga ketua partai persilatan. Jangan
harapkan engkau dapat lolos !”
“Siapa ketiga ketua partai itu?”
“Paderi Ceng Ki dari Bu-tong-pay” Pet-Kut Mo-kun
menuding dan baru mulut berkata ...... belum selesai,
Gak Lui cepat berpaling kearah orang itu dan
mendampratnya : „Hm......., murid murtad yang menghina
352
perguruan sendiri. Hari kematianmu sudah tiba !”
Dan orang berkerudung hitam tampil selangkah.
Salah seorang berseru nyaring : „Hm, engkaulah sendiri
setan gentayangan yang lolos dari ujung pedangku !
Hayo serahkan pedang Pelangi dan ikut kami
menghadap Maharaja. Mungkin engkau mendapat
ampun! “ Gak Lui melengking dingin ketika matanya
memandang kearah orang yang berdiri dibelakang orang
yang bicara itu, seketika tergetarlah jantungnya. Jelas dia
tentu si topeng besi. Karena tempo hari begitu melibat
pedang Pelangi, dia terpesona. Teka teki ini, harus lekas
kupecahkan. Dan pula keempat orang itu, harus
kuselidiki sampai terang ! Maka tanpa menghiraukan
paderi yang disebut sebagai Ceng Ki itu, ia terus
membentuk Pek-Kut Mo-kun : “Siapakah yang lain itu !”
“Thiat Wan totiang dari partai Ceng-sia-pay, Wi Cun
totiang dari partay Kong-tong-pay, Engkau tentu sudah
mendensar nama mereka.
“Huh..., terhadap mutid2 murtad yang menghianati
perguruannya itu, hari ini hendak kusikat bersih semua !”
seru Gak Lui. Lalu ia pasang kuda2
Orang yang berkerudung hitam, yang menyebut
dirinya sebagai Ceng Ki totiang itu berkilat-kilat matanya.
Serunya tegang : „Ah.., pedang Pelangi ternyata telah
selesai diperbaiki. Benar2 tak kecewa jerih payahku
untuk mencarinya !”
Seru Gak Lui “Pedang ini baru akan kucoba
ketajamannya. Sungguh kebetulan sekali mendapat
benda percobaan berupa dirimu”. Tiba2 Gak Lui teringat
sesuatu dan serentak menggigillah tubuhnya serunya :
„Hai, engkau pengapakan ayah dan puteri keluarga The
itu ?”
353
Orang berkerudung yang menyebut diri sebagai Wi
Cun totiang dari Kong-tong-pay, segera melayang maju
dan berseru ; “Partaiku juga mempunyai sebatang
pedang yang putus dan perlu diperbaiki. Dia sudah
kutangkap hidup2!”
“Puterinya? “
Tiba2 Pek-Kut Mo-kun tertawa sinis; „Disini !”
Gak Lui kucurkan keringat dingin. Ia tudingkan
pedangnya dan membentak : „Lekas lepaskan mereka !”
“Mudah saja melepaskannya tetapi engkau harus
memenuhi sebuah permintaanku.”
“Hm........” Lemparkan pedangmu kepadaku. Dan
lemparkan pedang Pelangi kepada Ceng Ki totiang. Lalu
ikutlah kami dengan serta merta !”
Gak Lui menengadahkan kepala, tertawa seram.
Belum habis ia tertawa, Pek-Kut Mo-kun bergerak cepat
sekali. la menyusup kedalam, hutan lalu keluar dengan
membawa sidara Hong-Lian. Menilik keadaannya yang
tak ingat diri, tentulah gadis itu ditutuk jalan darahnya.
“Adik Lian!” teriak Gak Lui dengan tegang. Tetapi
gadis, itu tak mendengar. Ia berdiri seperti patung.
“Hai..., budak she Gak! Jika tak lekas menurut
perintahku menyerahkan pedangmu itu, jangan sesalkan
aku berlaku ganas !” seru Ceng Ki totiang memberi
peringatan.
“Barang siapa melukai selembar rambutnya saja,
tentu mati !” seru Gak Lui.
“Hm...., rupanya kalau belum melihat peti mati
engkau tentu tak menangis. Hayo, mulai !” seru orang
berkerudung itu. tiba2 dari sekeliling penjuru terdengar
354
suara suitan aneh. Dan selekas suitan berhenti maka
berhamburanlah sinar pedang mencurah seperti hujan.
Cret...... pedang berayun membabat kaki Hong Lian.
Darah muncrat keudara, Hong Lian menjerit ngeri dan
terus rubuh ketanah.
“Hai, budak! Engkau melihat atau tidak! Kedua
kakinya sudah putus. Jika kau masih berkeras kepala,
kedua tangannyapun akan kukutungi! Gak Lui benar
seperti gila melihat kekejaman yang diluar batas itu.
Hatinya seperti mengucurkan darah. Ingin sekali ia
mencincang tubuh orang itu. Tetapi saat itu Hong-lian
masih dikuasai musuh. Sekali salah langkah, gadis itu
pasti akan lebih celaka.
“Ah..., hanya menggunakan Lontaran-pedang terbang
..... “
“Akan kuhitung sampai 10, jika engkau tetap ........”
“Baik, kululuskan...” seru Gak Lui, majulah kalian
berdua untuk menerima pedang ini !”
Kedua orang berkerudung cepat melesat dua tombak
jauhnya. Sedang Pek-Kut Mo-kun dengan tenang
menghampiri, serunya : “Totiang, budak itu mahir
menggunakan ilmu Lontaran-pedang terbang, harap ber
hati-hati.”
“Lontaran pedang terbang ?” orang berkerudung itu
menegas.
“Benar,” Pek- Kut Mo-kun mengiakan. Sambil
memandang Gak Lui, ia memberikan sedikit gambaran
tentang gerak Lontaran- pedang-terbang itu.
“Hm..., kutahu tangannya belum memadai. Harap
jangan kuatir” kata orang berkerudung yang menyebut
diri sebagai Ceng Ki totiang itu .
355
“Ya...., akupun memang sudah tahu. Tetapi
peribahasa mengatakan : 'anjing yang kebingungan
dapat loncat melampaui dinding tembok'. Mustahil kalau
dia tak melakukan gerakan itu lagi !”
Gak Lui benar2 hampir meledak dadanya. Pek-Kut
Mo-kun sengaja membakar hatinya dan menggambarkan
ilmu kepandaian yang dimilikinya.
“Baik,” sahut Ceng Ki totiang, „kita semua tak ada
jeleknya untuk berhati-hati.”
Kemudian ketua partai Bu-tong-pay itu memandang
Gak Lui, serunya : „Kalau melemparkan pedang,
tangkainya yang diarahkan kemari. Jangan coba2 main
kayu!”
“Hm.......,” dengus Gak Lui., Ia segera condongkan
ujung pedang ke belakang dan mencekal tangkainya.
“Lekas lemparkan kemari !”
“Baik..., sambutilah ... !”
Gak Lui terkejut sendiri mengapa suaranya saat itu
berobah berkumandang keras sekali. Kemudian mulailah
ia lontarkan pedangnya. Di tengah jalan sekonyongkonyong
pedang itu dapat berbalik sendiri. Ujung pedang
itu menyambar jalan darah lawan. Pek-Kut Mo-kun
terkejut sekali. Setitikpun ia tak menyangka bahwa
pemuda itu dalam waktu yang relatif singkat telah
mencapai kemajuan pesat dalam tenaganya. Pada saat
ia menyadari harus, memberi pertolongan pada siorang,
berkerudung, ternyata sudah terlambat. Orang
berkerudung itu menjerit ngeri. Tubuhnya berputar-putar
hendak menghindar tetapi dadanya sudah tertembus
ujung pedang. Seketika rubuhlah ia ....... Sedangkan
orang berkerudung yang menyebut diri sebagai Ceng Ki
356
totiang itu dalam kagetnya, cepat mencabut pedang dan
menangkis. Tetapi pedang Pelangi terlampau tajam.
Tring.... pedang Ceng Ki totiang terpapas kutung seketika
dan menyusul darahnya memancar deras. Bahu berikut
lengan kirinya hingga sampai pada lambung, terbabat
habis........
Ceng Ki totiang mendekap lengannya kiri yang hilang
terus memutar tubuhnya dan melarikan diri. Gak Lui
masih gemas sekali. Laksana bayangan ia lari mengejar
dan hendak menyusul, lagi dengan sebuah hantaman.
Tetapi si Topeng Besi cerdik sekali. Setelah mengetahui
daya kekuatan pedang Pelangi sudah berkurang,
cepatnya ia menyambarnya dengan tangan kiri. Dan
secepat kilat ia terus hadangkan, kedua pedang.
Berbareng dengan itu, Thian Wat totiang dan Wi Cun
totiang berempat, serempak berhamburan menyerang
Gak Lui” Gak Lui seperti orang gila. Dengan me-raung
sedahsyat singa lapar, ia menghantam sekuat-kuatnya.
Bum......Thian Wat totiang dan kawan2nya terhuyung
mundur. Tangkas sekali Gak Lui terus melesat menyusup
lubang kepungan musuh, menghampiri Hong-lian.
Dengan sebat pula ia segera membuka jalan darah
sinona. Hong-lian tersadar. Sesaat membuka mata ia
menjerit lemah: „Engkoh Lui....” terus ia hendak bangkit.
Tetapi ah......, terkulailah ke tanah lagi. Ia baru menyadari
bahwa kedua kakinya telah dikutungi orang! Bagi
seorang gadis, cacad buntung kedua kakinya itu jauh
lebih dari pada mati. Dengan putus asa ia
menggertakkan gigi lalu berseru memperingatkan Gak
Lui.
“Engkoh Lui, awas di belakangmu, aku ......”
Gak Lui tahu bahwa musuh tentu sudah menyerang
di belakangnya. Cepat ia mencabut pedang yang
357
menancap di dada Pek-Kut Mo-kun lalu dengan Gerak
Burung-hong-pentang-sayap, ia berbalik tubuh untuk
menyerang, kelima penyerangnya. Saat itu Hong lian
memandang sejenak. ke arah pernuda yang menjadi
tambatan hatinya. Dengan hati hancur berkeping-keping
dan airmata seperti banjir, ia segera merangkak ke.
dalam hutan. Rombongan Pek-Kut Mo-kun dan orang
berkerudung kain hitam itu semua berjumlah 7 orang.
Mereka benar2 tak mengira bahwa Gak Lui ternyata
memiliki tenaga-sakti yang begitu dahsyat. Bermula
mereka memandang rendah. Tetapi setelah dalam satu
gebrak saja Pek-Kut Mo-kun tembus dadanya dan Ceng
Ki totiang hilang lengannya, barulah Thian Wat totiang
dan Wi Cun totiang merasa gentar. Kebalikannya, Gak
Lui sendiripun heran mengapa tenaganya mendadak
bertambah begitu sakti. Tetapi setelah bertempur
beberapa saat, barulah ia menyadari bahwa hal itu
dikarenakan ia minum darah dari buaya raksasa didasar
Telaga Pedang. Tetapi saat itu ia diserang oleh lima
tokoh darit partai persilatan yang termashyur dalam ilmu
pedang. Terutama si Topeng besi. Bukan saja orang itu
tak gentar menghadapi Pedang Pelangi, pun masih
dapat menyerang dengan hebat sekali.
“Dia tentulah tak kenal dengan pedang ini. Dan dialah
tentu yang membikin cacad adik Lian. Kalau tak
kucincang tubuhnya, aku malu bertemu adik Lian!” diamdiam
Gak Lui menimang dalam hati.
Segera ia pergencar serangannya. Pedang
berhamburan membentuk lingkaran sinar seluas satu
tombak untuk melindungi tubuhnya. Sesaat kemudian,
tiba2 ia lepaskan sebuah pukulan keras kepada si
Topeng Besi. Tetapi Topeng Besi seperti tak
mengacuhkan. Dia malah tusukkan kedua pedangnya
358
dan melangkah maju. Kalau dia begitu peka terhadap
pukulan Gak Lui, tidaklah demikian dengan Thiat Wat
dan Wi Cun totiang. Kedua tokoh itu meregang bulu
romanya. Mereka terkejut sampai mengucurkan keringat
dingin.
Cepat mereka bersuit aneh dan bersama dua orang
berkerudung, mereka berempat segera melancarkan
pukulan. Betapa dahsyatnya hujan pukulan yang sedang
melanda diri Gak Lui saat itu dapat dibayangkan.
Diantaranya berisi pukulan tenaga sakti Thay-ceng-cin-gi
dari partai Kong-tong-pay dan tenaga sakti Tun-yang-cingi
dari Ceng- sia pay. Dua duanya termasuk tenagadalam
dari perguruan aliran agama yang hebat. Bum ....
terdengar letupan keras ketika terjadi benturan antara
pukulan tokoh2 itu dengan hantaman Gak Lui. Sisa dari
benturan itu masih berhamburan hebat seluas lima
tombak jauhnya. Tubuh si Topeng Besi terhuyunghuyung
sampai lima langkah. Sedang Thiat Wat, Wi Cun
terdampar mundur sampai satu meter. Bekas tanah yang
ditempati, melesak sampai beberapa dim dalamnya.
Sedangkan Gak Lui sendiri, tampak tegak seperti karang.
Sedikitpun tak berguncang dari tempatnya. Pada saat
terhuyung ke belakang, Wi Cun totiang terus melesat
satu tombak jauhnya dan bersuit beberapa kali.
Kemudian dengan malu bercampur marah ia
membentak: „Budak she Gak, apakah engkau berani
menerima kedatangan Tiga algojo dari Maharaja?”
Gak Lui mendengus, teriaknya. „Jangankan hanya
algojonya, bahkan Maharaja sendiri yang maju, lebih
menggembirakan hatiku!”
“Dia......”
“Bagaimana?”
359
“Juga tak jauh dari tempat ini. Lambat atau laun
engkau pasti akan bertemu juga' “
“Heh.... heh...., heh....,” Gak Lui mengekeh hina,
diam2 ia menyedot “napas dan kerahkan tenaga saktinya.
Saat itu Topeng Besi berlima sudah tegak berjajar.
Mendengar Gak Lui tertawa, Wi Cun totiang segera
menegur:
“Mengapa engkau tertawa?”
“Kutertawakan engkau yang sok pintar tetapi malah
hanya mengantar jiwa saja!” sahut Gak Lui.
“Mengapa ?”
“Karena perlu untuk mencari. Maharaja maka
kutinggalkan sebuah mulut hidup. Tetapi sekarang
rasanya tak perlu lagi!” sahut Gak Lui.
la menutup katanya dengan gerakan pedang dalam.
sebuah lingkaran. Dalam sekejab saja, ia sudah
lontarkan tiga buah pukulan dan enam buah serangan
pedang. Kembali terjadi pertarungan hebat antara
pukulan dan pedang. Pedang Wi Cun totiang terpapas
lima dim. Sedang Thian Wat totiang hanya tinggal
bertangan kosong saja. Dua orang berkerudung telah
tersingkap kain kerudungnya, hingga tampak topeng besi
warna merah karatan menutup muka mereka. Yang
masih tetap dapat bertahan hanyalah tinggal si Topeng
Besi yang pertama tadi. Dengan mengandalkan Pedang
Pelangi, ia dapat melindungi tubuhnya hingga tak sampai
menderita luka.
Terhadap ketiga musuh bertopeng besi, Gak Lui
menaruh perhatian istimewa. Cepat ia susuli lagi dengan
pukulan yang dapat memaksa, mereka mundur sampai
dua tombak. Kemudian ia bersiap melancarkan pukulan
360
yang terakhir.
TETAPI belum sempat Gak Lui bertindak,
sekonyong-konyong dari jauh terdengar dua buah suitan
yang berbeda nadanya. Yang satu berasal daril puncak
Pek-wan-san. Sedang suitan yang lain berasal dari
beberapa puncak gunung dibelakang Pek-wan-san.
Sekalipun begitu nadanya amat kuat sekali. Suatu
pertanda betapa hebat tenaga dalam orang itu.
Gak Lui terkejut, pikirnya: „Kedua suitan itu benar2
luar biasa. Yang pertama, terang dari seorang tokoh
yang lebih unggul ilmu tenaga dalamnya dari rombongan
orang berkerudung yang mengeroyoknya itu.
Kemungkinan besar tentulah di antara mereka yang
disebut sebagai Tiga algojo Maharaja! Tetapi suitan dari
belakang puncak Pek-wan-san itu jauh lebih hebat lagi.
Adakah si Maharaja sendiri?
Dendam darah yang dikandung Gak Lui, benar2
sudah meresap kedalam tulang sungsumnya. Sekalipun
menghadapi bahaya yang bagaimana mengerikan, ia
tetap tak peduli. Dia harus membereskan beberapa kaki
tangan musuh yang dihadapinya saat itu! Cepat ia
memandang kawanan penghadangnya itu. Ah..., ternyata
Thian Wat dan Wi Cun totiang telah membawa kedua
orang Topeng Besi mundur ketepi hutan. Hanya si
Topeng Besi yang memegang pedang Pelangi itu
rupanya agak lambat jalannya. Tampaknya, ia tak mau
diperintah dan hanya mundur sampai lima tombak
jauhnya dari tempat Gak Lui.
“Hai....., hendak lari kemana engkau!” bentak Gak
Lui, seraya loncat mengejar. Tetapi baru ia mencapai tiga
tombak jauhnya, Thian Wat totiang berempat sudah.
menyelinap masuk,kedalam hutan. Topeng Besi yang
agak ayal jalannya tadi, hendak menangkis serangan
361
Gak Lui. Tetapi terlambat. Tring..., secepat kilat ujung
pedang Gak Lui sudah menusuk kebelakang tengkuk
orang itu. Tetapi tusukan itu tak dapat menembus
tengkuk orang. Ternyata Topeng Besi itu mengenakan
topeng besi yang melindungi kepala bagian muka sampai
belakang. Hanya saja tenaga tusukan Gak Lui yang
dahsyat itu dapat melemparkan tubuh orang itu sampai
setombak lebih jauhnya. Sebelum orang itu rubuh,
secepat kilat Gak Lui sudah merebut pedang Pelangi dari
tangan orang itu. Kemudian diteruskannya dengan
tebasan pedang ditangan kirinya, dan disusul dengan
gerakan membelah dengan pedang Pelangi yang sudah
berada ditangan kanannya. Sebelum sampai menjerit, si
Topeng Besi itu sudah kehilangan kepalanya,
menggelinding ke tanah. Rupanya Gak Lui masih belum
puas. Ia benci sekali kepada manusia yang telah
menghianati partai perguruannya itu. Sekalipun kepala
orang itu sudah hilang, Gak Lui tetap masih membelah
badannya. Darah muncrat seperti sumber air dan dua
keping tubuh orang itu berbamburan jatuh ke tanah.
Masih Gak Lui belum puas lagi. Ia hendak mengutungi
perut orang itu. Tring ........ begitu pedang menebas, dari
perut orang itu melesat keluar sebatang pedang kutung
yang berlumuran darah.
“Aneh....!” pikir Gak Lui seraya hentikan pedangnya
dan memeriksa pedang kutung itu. Ah...., kiranya berasal
dari Wi Cun totiang. Saat itu baru ia tersadar. Bahwa
sebelum ditusuk tengkuknya tadi, orang itu memang
sudah dilontari pedang oleh Wi Cun totiang sendiri.
“Hm...., rupanya mereka takut kalau Topeng Besi ini
dapat kutawan hidup-hidup. Maka mereka mendahului
membunuhnya ....... tetapi apakah kepentingannya
melenyapkan orang ini?” tanya Gak Lui dalam hati.
Seketika timbullah rasa ingin mengetahui siapakah
362
sebenarnya yang bersembunyi dalam topeng besi itu. Ia
hendak membuka topeng besi dan melihat tampang
muka orang itu. Tetapi tiba2 dari hutan di sebelah
belakang muncullah sesosok tubuh baju biru muda.
Gerakannya sama sekali tak bersuara. Mirip dengan
kapas yang berhamburan. Dan dengan sebuah gerak
melesat yang aneh, orang, itu sudah berada di belakang
Gak Lui.
Gak Lui terkejut menyaksikan gerakan orang. Tanpa
banyak pikir, ia terus menyerang dengan sepasang
pedangnya. Sret..., sret..., sret...., tiga buah serangan
dalam jurus Naga-sakti- kibarkan-ekor, Halimunpencabut-
nyawa dan Menggurat-bumi- membelah-langit.
Ketiga jurus itu hebatnya bukan main, cepatnya seperti
kilat. Tetapi pendatang itu sama sekali tak menghindar
maupun menangkis. Ia hanya bergeliatan dan berputarputar
tubuh dengan indah sekali. Sepintas pandang mirip
dengan seekor kupu2 yang berlincahan dalam taburan
hujan. Selain itu, tubuhnya seperti memancar semacam
tenaga-sakti yang tak kelihatan. Ujung pedang Gak Lui
selalu tersiak ke samping, tak dapat menembus tubuh
orang itu. Gak Lul makin terkejut. Apalagi setelah
memperhatikan perawakan tubuh orang itu. Dia benar2
terkesiap kaget.
“Heran...! Jelas yang terdengar tadi adalah suitan dari
dua orang pria tetapi mengapa yang muncul hanya
seorang wanita?” pikirnya. Belum sempat ia menyatakan
apa2, terdengarlah orang itu tertawa nyaring: „Benar,
ketiga jurus serangan tadi, masih belum sempurna!”
“Engkau ..... tahu jurus itu ...... ?”
“Sudah tentu tahu. Ketiga jurus ilmu pedang itu,
kecuali Kaisar Persilatan, hanya ketua Partai
Gelandangan yang telah dapat menggunakannya. Dan
363
karena engkau gabungkan dengan ilmu pedang dari
Busan, maka lahirlah ilmu pedang yang baru !”
“Apakah hubunganmu dengan Kaisar Persilatan.......”
“Orang serumah !”
“Oh...,” Gak Lui mendengus kejut dan memandang
orang itu dengan seksama. Orang itu mengenakan jubah
panjang sampai menutup ketanah. Rambutnya menjurai
kebahu. Wajahnya bertutup kain sutera biru muda. Pada
rambut diatasnya dahinya, tersanggul sebuah cunduk
kumala berselaput emas. Ditingkah sinar mentari, cunduk
itu memancarkan sinar berbentuk Swatika. Suatu
pertanda dari kaum agama. Wajahnya memancar cahaya
welas asih. Sikap Gak Lui segera berobah delapan puluh
derajat kepada orang itu: „Jika cianpwe serumah dengan
Kaisar Persilatan, tentulah cianpwe ini salah seorang dari
Empat Permaisuri ?”
“Engkau menduga tepat. Aku adalah Permaisuri-biru
Li Bu-ho!”
“Kalau begitu: Bidadari telaga-Totiang itu masih
keluarga cianpwe?”
“Ui Leng itu adakah adik angkatku.” Mendengar itu
serta merta Gak Lui berlutut memberi hormat: „Ui
Cianpwe telah menolong jiwa adik-angkatku gadis ular
Siu-mey. Baru sekarang aku sempat mengbaturkan
terima kasih kepada cianpwe.....” Permaisuri-biru
kebutkan lengan jubahnya. Serangkum angin bertenaga
lunak telah mengangkat tubuh Gak Lui bangun.
“Kami orang serumah itu, sudah lama sekali tak
bertemu, Apabila nanti berjumpa pasti akan kusampaikan
terima kusihmu kepadanya. Mengenai adik angkatmu,
ditengah hutan itu akupun telah menolong seorang ....... “
364
“Itu adik Lian. Aku baru mencarinya”
Gak Lui terus melesat kearah hutan. Tetapi
Permaisuri-biarpun cepat loncat manghadang, seraya:
„Jangan kesana ........ “ Tiba2 dari arah puncak Pek-wansan
terdengar pula sebuah suitan yang dahsyat, Sedang
suitan yang berasal dari beberapa puncak dibalakang
Pek-wan-san itu, juga terdengar lagi tetapi nadanya
seperti berasal dari beberapa li jauhnya. Gak Lui gemetar
terus hendak bersuit juga. Tetapi saat itu juga dari
sebelah timur terdengar suara bentakan dari kedua
paderi Thian Wat dan Wi Cun. Dan tiba2 pula Permaisuri
biru menjentikkan jarinya kearah Gak Lui. Seketika jalan
darah pembisu ditengkuk Gak Lui mengejang kencang
sehingga walaupun mulut ternganga tetapi tak
mengeluarkan suara apa2.
“Jangan bergerak dan lekas mundur selangkah dulu!”
terdengar Permaisuri biru berseru pelahan memberi
peringatan. Serempak dengan itu, hawa yang melindungi
tubuhnya tadi, makin mengembang...... jauh lebih luas
hingga Gak Lui seperti terjaring lalu diangkat masuk
hutan. Ketiga macam suitan, tadi, tiba2 seperti berkumpul
di-puncak Pek-wan-san terus berkumandang
menuju ke barat. Tak berapa lama lenyap tak
kedengaran lagi. Selekas suitan itu lenyap, Permaisuri
Birupun menarik pancaran tenaga-saktinya juga.
“Bagaimana maksud cianpwe mencegah aku?
Siapakah yang bersuit itu, kawan atau lawan?” Gak Lui
mengajukan pertanyaan.
“Menurut pendapatmu?” Permaisuri Biru balas
bertanya.
“Kukira tenaga-saktinya yang paling hebat itu,
tentulah si Maharaja!” sahut Gak Lui.
365
“Maharaja....? Ah...., belum pernah kudengar nama
itu. Tetapi menilik tenaga saktinya, dia tentu seorang
tokoh sakti!”
“Aku..., mempunyai dendam permusuhan sedalam
laut dengan dia. Harus kukejarnya”
“Tunggu dulu! Karena mempunyai dendam darah
yang hebat, apakah engkau ingin membalas dendam
atau tidak?”
“Biarpun tubuh itu hancur, tetapi aku tetap hendak
menuntut balas kepadanya !”
“Kalau bercita-cita hendak menuntut balas, jangan
sekali-kali bertindak hanya karena menuruti rangsang
perasaan saja !”
“Tetapi cianpwe, sudah lama sekali kucari musuh
yang bergelar Maharaja-persilatan itu. Tetapi sampai
sekarang belum berhasil menemukan orang itu. Apalagi
dia mempunyai jago2, seperti Tiga algojo Maharaja dan
lima orang tokoh yang berhianat kepada partai
perguruannya sendiri. Tujuan dari Maharaja itu tak lain
yalah hendak menguasai dunia persilatan. Bahkan ia
sama sekali tak memandang mata kepada Kaisar. Saat
ini dia berbasil menguasai 5 ketua partai persilatan.
Thian wat totiang ketua Bu-tong-pay yang ditawan oleh
Maharaja, telah memberi peringatan kepada semua
partai persilatan agar lekas mengadakan pembersihan
dalam kalangannya sendiri, serta mengganti ketua-nya.
Menghadapi peristiwa begitu, sudah barang tentu aku tak
dapat berpeluk tangan saja!”
Permaisuri Biru tertawa ramah, serunya:
„Omonganmu beralasan juga. Sekarang akan
kusimpulkan siapakah diantara tokoh2 dunia persilatan
yang paling hebat kepandaiannya. Walaupun orang yang
366
bersuit dari beberapa puncak disebelah sana, tetapi ilmu
tenaga dalamnya masih berimbang dengan engkau.
Apabila dia sampai kemari dan ditambah dengan
rombongan Thian Wat totiang. Engkau pasti sukar
menghadapi mereka. Mengenai orang yang engkau
sebut sebagai maharaja persilatan itu, menilik dari nada
suitannya, mungkin lebih sakti dari pada diriku. Jika
engkau akan membalas dendam kepadanya, diapun
akan berusaha juga untuk melenyaptan cita-citamu itu.
Jika begitu keluar dari perguruan engkau akan terus
binasa, apakah engkau tak merasa telah mengecewakan
perguruan dan harapan orang tuamu ?”
Kata-kata yang tajam itu telah membuat Gak Lui
gelagapan sadar. Buru2 menjura, memberi hormat :
„Terima kasih atas petuah cianpwe. Akan segera
membawa adik Lian pergi .....”
“Tak usahlah,” kata Permaisuri Biru, dia tak ingin
bertemu denganmu, Sekurang-kurangnya untuk masa
ini.”
“Mengapa ?” Gak Lui terkejut.
“Lalu bagaimana dengan lukanya itu?”
“Telah kutolong seperlunya untuk menghentikan
pendarahannya. Setelah tidur secukupnya, dia segera
akan kubawanya untuk mencari tabib pandai !”
“Siapakah kira yang cianpwe hendak cari itu?”
“Sekarang belum tahu, siapa tabib yang pandai itu.
Tetapi setelah ia sembuh, akan ku ajari ilmu silat agar dia
dapat menuntut balas atas kematian orang tuanya.
Tetapi bila ........ “
“Bila tak bisa sembuh?”
“Dia sudah memutuskan untuk masuk menjadi rahib
367
dan takkan menikah selama-lamanya.” Serasa
tersayatlah hati Gak Lui mendengar keterangan itu. Dua
butir airmata menitik keluar.
“Dia... amat baik sekali ...... baiklah, untuk sementara
waktu ini aku takkan menemuinya...... kedua adikangkatku
telah cianpwe tolong semua. Budi besar itu
pasti ..... akan kubalas”
“Itu suatu kewajiban didalam dunia persilalatan. Tak
perlu membalas budi, hanya saja..... “
“Silahkan cianpwes mengatakan, harap jangan
sungkan!”
“Berapakah sebenarnya adik angkatmu itu?” tanya
Permaisuri Biru dengan nada agak keras. Merah telinga
Gak Lui, sahutnya ; „Aku Puaya taci-angkat dan dua
orang adik angkat.
“Banyak juga!” “ .
“Bagaimana hubunganmu dengan mereka ?”
“Baik sekali”
“Justeru ini ......” Permaisuri Biru hentikan kata2-nya
lalu beralih soal :„Kita tak kenal sebelumnya. Aku tak
berhak mencampuri urusan pribadimu. Hanya menilik
pancaran matamu, kelak engkau tentu berhasil gemilang
dalam ilmu silat. Usiamupun cukup panjang. Tetapi
engkau akan menderita didalam soal asmara. Jika.......”
“Jika bagaimana? “
“Jika dalam hidupmu timbul lagi seorang wanita,
engkau pasti akan mengalami penderitaan hebat.
“Benarkah?”
“Ilmu mengarang dari tampang muka, mengatakan
368
begitu. Catat sajalah dalam hatimu. Mungkin wanita yang
keempat itu takkan muncul dalam kehidupanmu. “
Sesaat tersiraplah darah Gak Lui. la teringatlah akan
ramalan si Raja Sungai. Juga mengatakan bahwa dia
bakal mengalami peristiwa kehidupan yang aneh.
“Dapatkah cianpwe mengatakan sedikit tentang hal2
yang akan kuderita itu?” tanyanya setengah kurang
percaya.
“Kepandaianku ....... masih belum mencapai tingkatan
itu. Jika engkau berjumpa dengan suamiku Kaisar
Persilatan. Dia tentu dapat memberi keterangan yang
lebih jelas lagi.”
“Oh.....” Gak Lui mendengus. Kemudian ia bertanya
apakah Ki cianpwe benar2 datang ke Tiong-goan?”
“Sudah setengah tahun yang lalu.”
“Ah....., aku tak tahu ........”
“Tak-apa, lanjutkan saja ceriteramu,” kata Permaisuri
Biru agak ramah. Setelah merenung sejenak, Gak Lui
melanjutkan kata2nya : „Dalam soal membalas sakit hati
ini, sesungguhnya aku tak ingin mencari bantuan orang.
Tetapi Maharaja persilatan dengan gerombolannya,
memang mengganas di dunia persilatan ....... “ .
“Ya, kutahu. Bukankah maksudmu hendak
mengatakan mengapa Kaisar tinggal diam saja?” tukas
Permaisuri Biru.
“Benar, apabila Ki cianpwe tak menghendaki nama
partai Thian- liong-pay dan pribadinya tercemar, beliau
pasti takkan berpeluk tangan membiarkan gerombolan
Maharaja malang melintang dalam dunia persilatan”
Permaisuri Biru menghela napas. Merenung
369
beberapa saat, ia berkata tenang : „Sekali-kali bukan
karena kami Kaisar dan Empat Permaisuri itu tak punya
rasa Keadilan. Tetapi sesungguhnya memang tak
berdaya turun tangan.”
“Aku tak, mengerti !”
Kepala Permaisuri Biru itu agak berguncang
sehingga tanda swastika bergemerlapan. Semangat Gak
Lui serentak tertarik oleh pertandaan itu.
“Alasannya sederhana sekali. Tetapi pada waktu
sekarang merupakan rahasia besar dalam dunia
persilatan. Setelah kuberitahu kepadamu, engkau tak
boleh bilang kepada siapapun juga.”
“Baik, aku berjanji takkan mengatakan kepada lain
orang,” kata Gak Lui.
Maka berceritalah Permaisuri Biru : „Suhu dari Kaisar
Persilatan yalah paderi sakti Thian Liong, pada masa itu
kepandaiannya menjagoi dunia persilatan. Sudah tentudia
banyak membunuh tokoh jahat. Dua-puluh tahun
yang lalu, Kaisar telah menumpas ke Lima aliran Jahat.
Merupakan suatu pertempuran berdarah yang hebat
sekali. Sejak itu ia sadar. Sepuluh tahun yang lalu ia
menghadap gurunya untuk menerima ajaran2 ke-agamaan.
Pada saat itu ia bersumpah bahwa partai Thian-liongpay
takkan membunuh orang lagi.” .
“Oohh......!” desus Gak Lui.
“Itulah sebabnya maka kami tak dapat turun tangan.
Bahkan tak berani menerima murid karena kuatir akan
terlibat pergo!akan berdarah sehingga melanggar
sumpah itu”
“Lalu bagaimana cianpwe hendak memberi pelajaran
ilmusilat kepada Siu-mey dan adik Lian?”
370
“Sebenarnya aku adalah murid dari Ceng Ling lolo.
Dapatlah kuajarkan dia ilmupedang Ceng-ling kiam-hwat.
Bidadari Tong- ting anak-murid perguruan Raja-setan Im
Hong. Dapat memberikan kepandaiannya kepada gadis
ular Siu-mey.”
“Aliran Baik atau Jahatkah Raja-setan Im Hong itu”
tanya Gak Lui.
“Pada masa itu merupakan momok besar yang hebat
sekali kepandaiannya. Pernah mengusir partai.
Gelandangan dari telaga Tong Ting!”
“Kalau begitu, jangan sajal” teriak Gak Lui, betapapun
hebatnya kepandaian itu tetapi aku tak memperbolehkan
Siu-mey menganut aliran jahat!”
Permaisuri Biru gelengkan kepala:
“Jangan merangsang dulu! Dalam hal, itu memang
ada persoalannya.”
“Aliran Putih dan Jahat laksana api dengan air. Tak
mungkin berkumpul”
“Ilmu jahat untuk mengorbankan jiwa orang lain. Dewi
Tong Ting sudah tak mau menggunakan lagi. Tak nanti ia
akan mengajarkan kepada Siu-mey. Selain ilmu jahat itu,
Bidadari Tong Ting masih memiliki lain2 ilmu yang sakti
dan tak tergolong aliran jahat”
“MAKSUD CIANPWE.......”
“Golongan Baik dan Jahat itu tergantung dari peribadi
orang. Misalnya, murid penghianat Thiat Wat itu,
bukankah dia juga berasal dari aliran Putih? Adakah
sekarang ia masih menganggap sebagai orang baik?”
“Memang benar” sahut Gak Lui, „tetapi lebih baik
kalau kita tak usah mempelajari ilmu itu saja! “
371
Diam2 Permaisuri Biru memuji atas sikap Gak Lui
yang keras kepala. Maka dicarilah akal untuk memberi
penerangan lebih lanjut.
“Sebagai seorang murid dari Bu-san-kiam-pay,
bagaimanakah paadanganmu terhadap perguruanmu
itu?” tanyanya.
“Sudah tentu termasuk aliran Putih!”
“Dari sudut apa?”
“Sejak turun menurun selalu berwatak ksatriya!”
“Hmm .... apakah engkau sudah menguasai ilmu
pedang Thian- lui-kuay-kiam?”
“Kutahu engkau tak bisa. Tetapi adakah engkau
sedikit2 mengetahui tentang intinya?”
“Katanya hebat sekali. Selain ilmu Liok-to-sin-thong
dari Kaum perguruan agama, tak dapat menandingi
Thian-lui-kuay-kiam itu.”
“Hanya itu saja?” Gak Lui bersangsi lalu balas
bertanya: „Apakah cianpwe mengetahui lebih jelas?”
“Tahu satu dua saja!”
“Apakah Bu-san pay itu tak termasuk aliran Cengpay?

“Saat ini ....... sukar dikata!”
“Hai!........ “ Gak Lui berteriak kaget, “cianpwe...,
engkau... engkau ...... harus menerangkan”
“Baik,” kata Permaisuri Biru, aku hendak tuturkan
dulu dari asal mulanya.”
Gak Lui mengiakan dengan nada gemetar. Memang
selalu ada saja orang sakti dalam partai Bu-san-pay itu.
372
Terutama pedang pusaka Thian-lui-kuay-kiam,
perbawanya tiada yang sanggup menandingi. Tetapi .....
hal itu belum menjamin bahwa perguruan Bu-san-pay
termasuk aliran Ceng-pay.
“Oo.... “
“Kemudian setelah tiba pada jamannya Bu-san It Ho,
selain kepandaiannya tinggi dia pun tak mau
menceburkan diri dalam golak pertentangan dunia
persilatan. Oleh karenanya, dia mendapat perindahan
dari kaum persilatan. Tetapi yang paling mendapat rasa
kekaguman orang yalah, bahwasanya dia telah
membekukan pedang Thian-lui-kuay-kiam itu !”
“Apakah keburukan, pedang itu ?”
“Kabarnya ...... pada waktu pembuatannya, pedang
Thian-lui- kuay-kiam itu tidak didinginkan dengan air
melainkan dengan disiram darah orang !”
“ini ..... ini ..... orang baik atau burukkah yang
dijadikan korban itu ?”
“Sampai sekarang belum ada orang yang
mengetahuinya. Yang nyata, pedang itu memiliki
pancaran sinar berwarna merah macam darah manusia.
Dan gerakan pedang itu menimbulkan deru sambaran
macam kilat. Musuh tentu panik dan kacau lalu melayang
jiwanya. Bu-san It Ho menganggap pedang itu ganas
sekali. Maka ia bersumpah untuk membekukannja. Asal
pedang itu jangan sampai keluar di dunia persilatan lagi.”
“Dimanakah kakek guruku menyimpan pedang itu ?”
“Itu suatu peristiwa lampau dalam dunia persilatan.
Kalau engkau tak tahu, tanyakan saja pada angkatan tua
dalam perguruanmul”
Hati Gak Lui terasa sayu. Kemudian ia bertanya pula:
373
„Empat saudara seperguruan dari ayahku, satu demi satu
telah dibunuh musuh. Dan .... hanya.......”
“Siapa ?” tukas Permaisuri Biru.
“Paman guru yang tertua dan sudah diusir dari
perguruan, tetapi entah siapa namanya !”
“Ahh..... “ Permaisuri Biro tergetar hatinya.
“Cianpwe tentu dapat menerangkan rahasia itu .......”
merasa tentu ada sesuatu sebab, maka Gak Lui lalu
mendesak.
“Untuk menduga-duga, tentu kurang tepat. Tetapi
timbul juga beberapa kecurigaanku,” sahut Permaisuri
Biru.
“Mengenai apa ?”
“Terhadap tokoh Maharaja Persilatan yang sakti dan
gelap asal usul-nya itu, pernah juga kurenungkan. Orang
sebagai dia tak mungkin tak punya sejarah. Tetapi
anehnya seluruh tokoh persilatan tak tahu riwayatnya.
Keteranganmu tadi, menimbulkan kecurigaan.”.
Tergetarlah perasaan Gak Lui. Dengan geram ia
berseru : „Benar....!, memang pernah kudengar bibi guru
menuturkan bahwa akibat dari sesuatu hal maka paman
guruku itu telah diusir dari perguruan rasanya tentu ada
hubungan dengan pedang itu ....... eh, orang macam
begitu, mengapa aku menyebutnya sebagai Paman guru.
Aku hendak mengadakan pembersihan dalam
perguruanku Bu-san!”
Permaisuri Biru berdiam sebentar lalu berkata
dengan serius: “Jalan pikiranmu memang tak salah.
Tetapi engkau harus hati2 bertindak! Karena sekali dia
seorang murid yang sudah diusir dari perguruan, jika
memang tak pernah bertindak salah, maka dia tetap
374
paman guru yang wajib engkau hormati. Apabila sampai
terjadi salah faham karena masing2 tak mengetahui
alasannya, maka berarti kalian akan saling bunuh
membunuh sesama saudara seperguruan. Itu berarti
suatu dosa! Jika hal itu benar2 terjadi, maka partai Busan-
pay lah yang bertanggung jawab atas pembunuhan
dalam dunia persilatan ini. Maka beban untuk
membersihkan nama baik perguruanmu, terletak di
bahumu seorang. Berhasil atau gagal, tentu tak luput dari
penilaian orang”
Kepala Gak Lui serasa berdenyut-denyut keras
seperti dipalu besi. Benaknya serasa nanar: „Ah, kiranya
dalam perguruanku terdapat rahasia besar semacam itu
.... Ayah bundaku, ayah- angkat, bibi guru, paman guru
dan entah berapa banyak tokoh2 persilatan Putih yang
menjadi korban dari rahasia itu.” Tetapi betapapun
halnya, Maharaja dan si Hidung gerumpung, tak mungkin
tarhindar dari pertanggungan jawab dalam peristiwa itu.
Tetapi siapakah gerangan kedua orang yang misterius itu
? Apakah mereka memang benar dua orang tokoh atau
hanya seorang saja ? Dan siapa pula diantara kedua
orang itu yang merupakan murid hianat dari partai Busan-
pay ? Siapakah yang hendak mencuri pedang Thianlui-
kiam dari tempat simpanannya ? Melihat pemuda itu
tenggelam dalam renungan, Permaisuri Biru, segera
masuk ke dalam hutan untuk menjenguk Hong Lian.
Tiba2 wajah Gak Lui beringas dan dengan tegang
regang ia menghambur teriakan keras: „Pedang Kilat
...........!”
JILID 8
DALAM renungannya, dalam Gak Lui melalu-lalang
375
peristiwa yang telah terjadi. Musuh menari-nari dan
tertawa-tawa seperti setan bergembira ria di bawah hujan
darah. Sedang orang tuanya dan beberapa tokoh
persilatan yang tak berdosa, susul menyusul roboh
dalam genangan darah.
“Darah.....! Darah.....! Darah ....!” Langit bercucuran
airmata, tangis menghambur dan bumi seolah- olah
tergenang darah. Sekonyong-konyong, lautan darah itu
mengangkat gelombang dahsyat. Seolah-olah terjadi
gempa bumi yang hebat. Hujan darah dan angin prahara
meledakkan lautan darah itu. Darah berhamburan
menjadi gumpalan kabut dan awan, tulang2 kerangkapun
bertebaran menghias hutan dan gunung. Di tengah
tumpukan mayat itu, tertancap sebatang pedang yang
berkilauan memancar sinar merah darah, .. itulah pedang
Kilat !. Begitu melihat pedang pusaka itu, musuhpun
segera hendak mengambilnya. Gak Lui hendak gunakan
Sapu Jagad pukulan jarak jauh. Tetapi begitu ulurkan
tangan, ia menggigil.
“Pedang yang disimpan kakek guru, apakah layak
kuambil ? Pedang itu amat ganas”
“Apabila diambil tentu akan menimbulkan akibat2
buruk !”
Karena ia tertegun, musuhpun dapat terus
melanjutkan usahanya untuk mengambil pedang itu.
“Manusia ada yang baik dan jahat. Pedang tak ada yang
disebut ganas atau baik. Ah...., tunggu apa lagi!”
Gak Lui tersadar dan secepat kilat pedang itupun
sudah diraih ke dalam tangannya. Bum..... begitu pedang
berkilat, dunia seolah-olah meledak. Musuh2-nya
merintih-rintih, tubuhnya hancur lebur beterbangan di
udara. Dia sendiripun terlempar melayang-layang di
376
udara. Dengan masih mencekal pedang Kilat, tiba2 ia
berobah seperti manusia gila yang hiiang sifat kemanusiaannya.
Dia berobah menjadi makhluk yang
ganas ........ “
“Lautan dendam tiada bertepi, hanya berpaling ke
belakang akan tampak daratan. Gak Lui, sudahlah,
jangan melamun terus !”
Tiba2 terdengar suara bentakan halus yang
menyadarkan Gak Lui dari lamunannya. Mengangkat
kepala, ia kucurkan keringat dingin ketika matanya
tertumbuk akan tanda Swastika pada kening Permaisuri
Biru.
“Gak Lui, adikmu Lian itu cepat akan tersadar.
Sebelum berpisah, apakah engkau hendak
menyampaikan pesan apa2!” Gak Lui menghela napas
panjang dan menyahut dengan nada bersungguh :
„Dalam renungan tadi hampir saja aku tersesat kearah
Co- hwe-jip-mo. Untunglah ...........
“Tak usah sungkan, engkau berwatak lurus. Kelak
engkau tentu dapat membersihkan nama perguruanmu !”
kata Permaisuri Biru.
“Kalau begitu ....... harap sampaikan pada adik Lian.
Kudo'akan dia lekas sembuh. Tentang paman The, aku
tentu berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya !”
“Baik.”
“Oleh karena cianpwe tak menghendaki hanya
ucapan terima kasih saja maka apabila cianpwe hendak
menyuruh apa2, silahkan bilang !”
Permaisuri merenung sejenak, sahutnya : „Partai
Thian-liong-pay kami, tiada punya murid.Tetapi aku
mempunyai seorang anak yang bernama Ki Hud-kong,
377
yang kini mengembara dalam dunia persilatan. Sudah
tentu dia tak mau sembarangan membunuh orang. Tetapi
mengingat umurnya belum cukup 16 tahun, darahnya
tentu masih panas. Maharaja dan gerombolannya
memang mengandung maksud tak baik terhadap anakku
itu. Terus terang saja, sebagai seorang ibu aku sungguh
tak tega “
Melihat wanita yang sakti itu bersikap sebagai
seorang ibu yang penuh kasih sayang, kepada
puteranya, terharulah Gak Lui. Iapun teringat akan
ibunya yang entah mati entah hidup. Ibu yang sejak kecil
belum pernah dilihat wajahnya
“Asal aku mampu, tentu akan melakukan pesan
cianpwe dengan sekuat tenagaku. Tetapi entah
bagaimana roman muka putera cianpwe itu? Bagaimana
aku dapat mengenalinya?”
“Dia... wajahnyapun bertutup kerudung hitam..........”
“Apakah takut dikenal orang?”
“Dia takut diketahui musuh !”
“Ciri2 lainnya?”
“Dahinyapun terdapat tanda Swastika seperti dahiku
ini. Tetapi... mungkin dia tak mau mengenakannya.”
“Ah...., tak apalah,“ sahut Gak Lui, „aku tentu
mempunyai akal untuk mengenalinya. Harap cianpwe
jangan kuatir.” Dari balik kain kerudung mukanya, tampak
mata Permaisuri Biru itu memancar rasa terimakasih.
Tiba2 ia mengajukan lain soal, tanyanya: „Sebelum
berpisah, aku hendak bertanya padamu tentang sebuah
soal. Tadi ketika berhadapan dengan musuh, engkau
terus berganti arah hendak menuju kebarat itu apakah
karena dalam hatimu timbul kesangsian ?”
378
“Hm .........” Gak Lui, merenung lalu mengangguk,
„Memang agak aneh.” Permaisuri Biru tak mau
menjelaskan lebih lanjut melainkan berganti pertanyaan :
„Tadi engkau telah menyambut aku dengan kehormatan ,
Tiga serangan pedang. Sekarang akupun hendak
mengembalikannya dengan tiga buah serangan juga!”
Gak Lui terlongong. Berbeda sekali ucapan wanita itu
yang tadi dengan sekarang: Namun karena Permaisuri
Biru hendak mengembalikan ketiga serangan Pedang itu,
Gak Luipun tak dapat menolak. la tertawa nyaring lalu
menjawab dengan Penuh semangat :
“Sungguh beruntung sekali karena cianpwe hendak
memberi pelajaran kepadaku. Oleh karena tadi cianpwe
melayani dengan tangan kosong, sekarang akupun tak
berani menggunakan Pedang !”
“Seharusnya memang begitu !” kata Permaisuri Biru
seraya mengambil pedang dari seorang Topeng Besi.
“Hati-hatilah!” serunya. Serentak pedang
berhamburan seperti sinar pelangi yang menabur tubuh
Gak Lui. Gak Lui memperhatikan gerak wanita itu, seraya
menduga arah yang hendak ditujunya lalu menggunakan
ilmu Meringankan- tubuh untuk berlincahan menghindar.
Tetapi ternyata lawan jauh lebih lihay dari yang
diduganya. Tampak pedang Permaisuri Biru itu seperti
berkelebat ketimur tetapi tahu-tahupun sudah siapmenunggu
disebelah barat. Sekalipun Gak Lui gunakan
gerak Rajawali-rentang-sayap untuk melambung keudara
lalu bergeliatan menghindar dalam gerak Awan-mengalir
ribuan-li, tetapi tetap tak dapat lolos. Sinar berhamburan
dan pada lain saat sinar pedang itupun bersatu pula dan
lenyap. Begitu meluncur ketanah, dengan kemalumaluan
Gak Lui berkata : „Ah...., apa yang kuunjukkan
tadi hanya permainan yang jelek....”.
379
“Tak perlu terburu-buru. Ketiga jurus tadi hanya
semacam pameran saja. Kita masih harus bertanding lagi
!” seru Permaisuri Biru.
“Mengapa ?” Gak Lui terbeliak.
“Ketiga jurus yang engkau mainkan tadi, sudah
kuketahui semua. Dan sekarang engkau tentu tak tahu
bagaimana aku hendak turun tangan. Maka lebih dulu
kuperlihatkan permainanku itu. Setelah itu baru kita
bertanding sungguh2 Tergeraklah hati Gak Lui. Ia
merenungkan ketiga jurus permainan pedang wanita itu.
Tiba2 dilihatnya lawan mulai menyerang. Jurusnya
sama dengan yang tadi tatapi jauh lebih cepat lagi. Gak
Lui terpaksa melayani dengan hati-hati dan tumpahkan
seluruh kepandaiannya. Hebat benar serangan tiga jurus
pedang itu. Sinar pedang berhamburan dan bayangan
orangnya pun lenyap. Kedua sosok tubuh, itu tak ubah
seperti burung hong menari dan naga bercengkerama.
Hanya beberapa saat mereka bertempur dan
berpencaran pula. Gak Lui tegak berdiri dengan khidmat
seraya berseru dengan rasa penuh terima kasih :
„Dengan menggunakan nama hendak mengembalikan
ketiga pedang tadi cianpwe telah berkenan memberikan
pelajaran ilmu pedang yang istimewa kepadaku. Entah
apakah nama jurus ilmu pedang itu?”
Permaisuri Biru lemparkan pedangnya. Pedang
melayang tepat disisi kepala si Topeng Besi. Sinar
matanya yang berkilat kilat, tampak meredup tenang lagi
lalu menjawablah ia akan pertanyaan Gak Lui. „Partai
Thian-liong-pay mempunyai ilmu yang disebut Ni-coanngo-
heng-tay hwat atau Lima-unsur- menyungsang-arah.
Tadi kugunakan ilmu itu untuk memikat musuh. Tetapi
kalau engkau hendak menuntut balas tentu harus
membunuh orang. Maka aku tak mau mengajarkan ilmu
380
itu kepadamu. Dan apa yang kupertunjukkan tadi
hanyalah sebagai petunjuk rahasia agar engkau selami
sendiri.”
“Ya, kusudah jelas. Pada serangan yang pertama
tadi, memang kulayani dengan sungguh-sungguh seperti
menghadapi seorang lawan sakti. Tetapi pada serangan
yang kedua-kali, hanya. kugunakan cara menghindar
saja.”
“Engkau benar,” kata, Permaisuri Biru, „memang
jurus jurus permainanku tadi khusus untuk menghadapi
lawan sakti. Maka apabila engkau berhadapan dengan
Maharaja mungkin jurus itu dapat meringankan bebanmu
!”
Kemudian Permaisuri Biru menunjuk kesebelah
barat, ujamya pula : „Aku masih mempunyai urusan
untuk tinggal disini. Silahkan engkau pergi kesana ! “
Gak Lui tahu maksud Permaisuri Biru. Wanita itu
kuatir kalau ia akan mengejar Maharaja dan timbul halhal
yang tak diinginkan. Atas maksud baik Permaisuri
Biru, Gak Lui pun tak mau membantah. Segera la minta
diri. Sebelum berpisah, ia menghirup napas dalam2.
Seketika ia mencium bau yang harum. Walaupun bau itu
tidak keras tetapi cukuplah baginya untuk mengenal
Permaisuri Biru dikelak kemudian hari.
Setelah melihat pemuda itu berjalan jauh, Permaisuri
Biru menghela napas kecil. Hatinya kejut-kejut girang,
penuh dengan berbagai perasaan syukur. Setelah itu ia
segera masuk lagi kedalam hutan, lalu membawa Hong-
Lian yang masih tidur nyenyak. Pada saat ia hendak
tinggalkan tempat itu, tiba-tiba hatinya tersentuh. Sejenak
ia memandang kearah mayat yang menggeletak ditanah.
Merangkapkan kedua tangannya kedada ia mengucap
381
Omitohud. Kemudian. la segera hendak mengubur mayat
itu dan mengemasi pedangnya. Tiba-tiba pedang itu
menimbulkan kecurigaan, pikirnya : „Ah...., mukanya tak
asing bagiku. Kiranya anak buah Bu-tong-pay. Tetapi
siapakah dia? “ Segera ia mengangkat topeng besi yang
beratnya puluhan kati itu untuk dibuka dan dilihat siapa
orangnya. Tetapi dalam kerudung kepala besi itu rupanya
diberi alat pekakas dan karena sudah bertahun-tahun
lamanya dan berkarat, Permaisuri Biru tak berani
sembarangan membukanya dengan paksa. Tetapi
karena sampai beberapa lama belum juga ia mampu
membuka, akhirnya ia gunakan tenaga. Sekalipun begitu,
hampir sepeminum teh barulah terdengar topeng itu
berderak-derak. Begitu topeng ter-buka maka
menggelindinglah sebutir kepala orang. Orang itu
rambutnya sudah putih semua.
“Celaka !” Permaisuri Biru terkejut dan berseru kaget;
„aku kenal padanya. Dia adalah Ceng Ci totiang dari Butong-
pay: Ah, mengapa ia mati begitu mengenaskan?
Adakah dia termasuk salah seorang dari murid-muridkelima
partai persilatan yang berkhianat itu? Tidak...!
Pasti tidak.....! Peribadi Ceng Ci totiang lurus dan bersih
Kalau lain orang mungkin tetapi kalau Ceng Ci tak
mungkin menilik gelagatnya, tentu ada sesuatu rahasia
yang terselip dalam peristiwa itu. Gak Lui tentu salah
membunuh orang ! Ah..., walaupun pemuda itu tergolong
orang Ceng-Pay (Aliran Putih), tetapi menilik caranya ia
membunuh orang sedemikian ganasnya, apakah tak
muugkin kelak dia akan menjadi momok ganas dalam
dunia persilatan...!”
Merenung beberapa saat, Permaisuri Biru tak dapat
menemukan jawabannya. Karena sudah lama ia tak
mencampuri urusan dunia persilatan dan baru pada saat
itu ia mendengar cerita dari Gak Lui tentang situasi dunia
382
persilatan dewasa itu, ia tak dapat menarik kesimpulan
apa2. Karena dalam pandangannya, segala peristiwa itu
tak terhindar dari Sebab dan Akibat. Tiba2 ia menghela
napas kecil, ujarnya seorang diri : „Ah, balas dendam
dalam dunia persilatan memang tiada putus2nya. Jika
aku mau terjun lagi kedunia persilatan, tentu takkan
terhindar membunuh orang. Hal itu, pasti akan
melanggar sumpahku! Lebih baik kusembuhkan luka
gadis Hong-Lian itu. Dan biarlah mereka kaum muda itu
yang kelak menyelesaikan peristiwa mereka sendiri.
Tentang kematian Ceng Ci totiang, baiklah kukirimkan
kepalanya ke Bu-tong-san Akan kutulis surat
menerangkan apa yang kuketahui dalam peristiwa itu.
Dan biarlah mereka yang memutuskan soal itu
sendiri.......”
Setelah memutuskan langkah, dengan gunakan
tenaga-dalam ia membuat lubang lalu menanam mayat
dan topeng besi. Setelah ditimbuni dengan daun2 dan
ranting kering agar jangan menarik perhatian orang, ia
segera memanggul Hong-Lian dan terus melesat pergi.
HUTAN kembali sunyi senyap seperti semula. Tetapi
kesunyian itu hanya sementara waktu saja. Karena tak
berapa lama, tiba- tiba sesosok tubuh yang aneh
menyerupai setan muncul ditempat itu. Ternyata yang
datang itu adalah Gak Lui. Mengapa Gak Lui yang sudah
pergi sampai setengah hari lamanya itu tiba-tiba dapat
muncul lagi kesitu?. Menurut peribadinya tak mungkin
pemuda seperti dia akan bersembunyi disekitar hutan
situ dan mengintai gerak-gerik Permaisuri Biru.
Kedatangannya lagi kehutan itu adalah karena
disebabkan oleh dua buah hal yang menghantui
pikirannya. Pertama, orang yang bersuit aneh tadi
kemungkinan tentulah si Maharaja. Dendam kesumat
yang telah mendarah daging dalam hatinya, walaupun
383
untuk sementara dapat diendapkan oleh Permaisuri Biru,
tetapi akhirnya meletus juga. Ia makin bernafsu untuk
mengejar musuh itu. Kedua, siapakah sesungguhnya
yang tersembunyi dibalik topeng besi itu? Topeng Besi
merupakan teka teki besar dalam dunia persilatan. Tadi
ia lupa untuk memeriksa batang kepala korban itu. Oleh
karenanya maka ia tergopoh-gopoh kembali lagi. Tetapi
ketika ia tiba dihutan itu dan memandang kesekeliling, ia
menjerit tertahan dan sunyi senyap. Bekas2 noda darah
yang berceceran ditanah, hilang lenyap. Tubuh dan butir
kepala yang bertopeng besi dan pedang ....... lenyap
semua.
“Tentulah Permaisuri Biru mengubur mereka. Dan
tentulah........ ditanam disekitar sini ......” pikirnya. Ia
segera menggunakan kelebihan hidungnya yang tajam
untuk menyedot napas.
“Ah...., bau harum dari Permaisuri Biru itu sudah
menipis sekali. Tetapi masih bertebaran dalam hutan ini,
menyelubungi bau anyir dari darah” kata Gak Lui sambil
kerutkan alis. Diam2 pemuda itu menimang : „Karena
bau darah tak dapat kucium, dan tak mungkin hendak
kubongkar seluruh tanah hutan ini, maka satu2nya jalan
terpaksa aku harus menyusulnya dan menanyakan
tentang kepala orang itu....”
Setelah menetapkan keputusan, segera ia menyusuri
jejak dari bau harum yang ditinggalkan Permaisuri Biru,
melintasi hutan. Tetapi setiba ditepi hutan, bau barum
itupun lenyap. Betapapua ia hendak menyedot napas
sedalam–dalamnya namun tak berhasil ia membau hawa
harum itu. Dengan begitu ia kehilangan jejak.
“Permaisuri Biru memiliki tenaga-dalam yang amat
tinggi. Gerakan tubuhnya pun amat cepat sekali. Dengan
begitu sukar untuk mengejarnya ......” kata Gak Lui
384
seorang diri dengan rasa kecewa. Tiba2 ia hentikan
langkah, serunya: „Ah...., biarlah! Toh kalau bukan murid
hianat, Topeng Besi yang terbunuh itu tentu bangsa
durjana. Biarlah tak usah kuperiksa kepala orang itu.
Lebih baik kupergi kegunung Pek-wan-san mencari jejak
musuh !”
Tak berapa lama tibalah ia kembali ketempat tinggal
Pukulan sakti The Thay. Tampak beratus batang pedang
yang tergantung pada dinding rumah dan lumpang besi
untuk menempa pedang telah hancur lebur. Benda itu
rupanya dihancurkan orang dengan tenaga dalam.
Serentak terkenanglah Gak Lui akan orang tua yang
berwatak terus terang serta puterinya Hong-Lian yang
wajar kekanak- kanakan itu. Kedua ayah dan anak itu
telah mengasingkan diri ditempat yang sunyi jauh dari
pergaulan ramai. Tetapi adalah karena hendakmembantu
dirinya, kedua ayah dan puterinya itu telah
hancur berantakan .......
“Ah, musuh memang ganas sekali ..... hutang darah,
ya hutang darah musuh itu makin menumpuk. Dia harus
membayar hutang2nya itu........”
Gak Lui membulatkan tekad sambil berjalan mondarmandir
diruang pondok. Tiba2 hidungnya mencium bau
yang keras. Sejenak memandang keadaan ruang itu,
cepat ia melesat keluar mengejar. Bayang2 puncak
gunung seolah-olah berlari-lari melewati dirinya. Bintang2
diam2 telah bermunculan menghias cakrawala. Gak Lui
lari secepat angin. Dibawah sinar bintang, dilihatnya
sesosok tubuh menyerupai setan hutan tengah ber-lari
kencang sekali. Dan tak henti- hentinya mahluk aneh itu
mengeluarkan siulan yang aneh. Pemandangan itu
menggetarkan hati Gak Lui. la menyedot napas dan
membaui bermacam bebauan. Jelas bayang2 disebelah
385
muka itu terdiri dari beberapa orang. Maka ia segera
percepat larinya dengan gunakan gerak lari Awanberarak-
seribu-li.
Lebih kurang terpisah berpuluh tombak, tiba2
bayangan hitam itu berpaling dan terus menyelinap
kedalam gerombol hutan disebelah kiri. Rupanya tanpa
sadar Gak Lui terpengaruh dan menurutkan arah
pandang bayangan hitam itu. Dan segera ia melihat
dalam keremangan malam yang gelap, tampak sebuah
biara kecil. Orang aneh itupun rupanya hendak menujukebiara
itu. Gak Lui cepat menghampiri tempat itu.
Karena hutan dan malam amat sunyi, ia segera dapat
mendengar suara suitan pelahan. Arahnya dari suitan
pelahan dari jarak beberapa li. Dibawah sinar bintang
tampak sosok2 bayangan melintas hutan. Dalam
sekejab, kedua sosok tubuh misterius saling bertemu.
Keduanya menggerakan tangan seperti sedang
berunding. Karena jaraknya jauh, Gak Lui tak dapat
mendengar jelas.
“Ah...., bagaimana ini?” pikir Gak Lui yang hendak
merencanakan untuk mendengar pembicaraan mereka.
Saat itu ia belum jelas siapakah mereka, kawan atau
lawan. Ia tak mau membikin kejut mereka. Sekonyongkonyong
sosok hitam itu berulang kali menunjuk kearah
biara dalam hutan. Kemudian keduanya serempak
menuju kebiara itu.
“Hm...., mereka tentu hendak berunding dalam biara
itu. Mengapa aku tak mau mendahului mereka “ Gak Lui
mendapat pikiran lalu dengan hati2 sekali ia bergerak
menyusup kedalam biara. Ia bersembunyi dibawah meja
sembahyangan. Tak berapa lama, kedua sosok tubuh
tiba dimuka pintu. Ternyata mereka mengenakan pakaian
hitam dan berkerudung muka warna hitam juga. Dari
386
lubang mata, tampak mata mereka berkilat-kilat
memandang kesekeliling. Rupanya hendak masuk.
Tetapi tiba2 salah seorang mengangkat tangan kanan
dan berkata memberi peringatan: „Jangan tergesa-gesa!
Mungkin dalam biara terdapat orang!”
Kawannya mendengus dingin : „Ada orangpun tak
jadi soal. Dengan kepandaian kita, masakan tak mampu
menghadapi ......” Orang tadi mendesis pelahan lain
menyahut dengan serius :
“Soal ini adalah perintah dari Maharaya sendiri. Jelas
sebuah rahasia. Apabila ada orang yang meayelundup
dalam tempat ini dan mencuri dengar pembicaraan kita,
pasti celaka.!” Ia menyurut mundur dua langkah lalu
memberi isyarat tangan.
“Saudara yang memeriksa dalam biara, aku yang
manyelidiki diluar.........” Mendengar itu tergetarlah hati
Gak Lui. Untunglah karena minum darah buaya purba,
matanya bertambah tajam. Sekalipun malam tiada bulan
dan hanya disinari bintang-bintang, tetapi ia masih dapat
melihat jelas keadaan dalam biara itu. Saat itu orang
aneh yang hendak menyelidiki keadaan diluar, pun
segera melangkah keluar. Sedang kawannya yang
diminta memeriksa dalam biara, juga segera masuk. Ia
memandang segenap sudut dari biara itu. Dengan hati2
sekali Gak Lui mengisar tubuh dan menutup pernapasan.
Ia tak mau membikin kaget orang itu karena hendak
mendengar apa yang mereka bicarakan nanti. la,
menurutkan pandang matanya kesetiap langkah dan
gerakan orang itu. Tiba2 ketika matanya memandang
kearah lantai yang bertutup dengan debu tebal, hampir
saja Gak Lui berteriak kaget. Kiranya pada debu tebal itu
terdapat bekas telapak kakinya. Tadi karena ia tergopoh
masuk maka ia tak memperhatikan soal itu. Sekalipun
387
bekas telapak kaki itu sangat tipis namun tentu tak dapat
terhindar dari mata seorang tokoh silat. Tetapi pada
detik2 yang amat menegangkan, siorang berkerudung
tak memperhatikan lantai melainkan memandang keatas
papan nama yang tergantung diatas serambi. Mulutnya
berseru : „Biara Malaekat Gunung! Tempat begini tentu
jarang diketahui orang “
Gak Lui segera mendapat pikiran. Hati-hati sekali ia
julurkan tangan kiri dan kerahkan tenaga-dalam Algojodunia.
Dari telapak tangannya, meluncur hawa dalam
kearah telapak kaki pada permukaan debu dilantai itu.
Pada saat siorang aneh melangkah masuk kedalam
ruang, bekas telapak kaki itupun sudah lenyap tertimbun
debu. Dan serempak pada saat itu, orang aneh yang
memeriksa diluar tadipun muncul seraya bertanya :
“Bagaimana didalam?”
“Tak ada setan apa2 !” sahut kawannya yang
memeriksa didalam.
“Benarkah?”
“Kalau tak percaya, silahkan periksa sendiri!” Orang
aneh itu menundukkan kepala melihat lantai. Kecuali
bekas telapak kaki mereka berdua, tak ada lain2 jejak
yang mencurigakan.
“Sudahlah, sudahlah!” tiba2 orang aneh yang
memeriksa bagian dalam tadi berseru seraya membuka
kerudung mukanya. Dengan wajah menyeringai
bertanyalah ia dengan nada yang tak sabar:
“Sesungguhnya soal apa sajakah sehingga membuat
engkau Penjaga Neraka begitu tegang? Mengapa
engkau tak mau membuka kain kerudung mukamu dan
bicara dengan bebas?”
388
Orang yang dipanggil Penjaga Neraka itu, tetap
memandang dulu kesekeliling sudut setelah itu baru
membuka kain kerudungnya. Sikapnya yang plintatplintut
itu makin menimbulkan kecurigaan Gak Lui. Diam2
ia memperhatikan wajah orang itu dengan seksama.
“Kalau kukatakan.....engkau tentu akan melonjak
kaget,” kata si Penjaga Neraka itu. „sekarang Maharaja
sudah tiba disini. Aku mendapat perintah untuk
memanggil jago2 sakti disekitar daerah sini untuk
berkumpul di istana Yok-ong menerima titah.......”
“ini ...... sungguh ....... aneh ........ semua rencana
yang kita jalankan mengapa tiba2 dirobah begini rupa? “
kawannya terkejut.
“Sudahlah, jangan ribut2 ini-itu. Sekarang hendak
kukatakan apa tugasmu, agar jangan sampai terlantar. !”
seru Penjaga Neraka.
“Tugas apakah itu?”
“Kali....... ini yang menghadap berjumlah besar......
Tetapi karena orang2 itu sama mengenakan-kerudung
muka maka aku dan engkau ditugaskan untuk
memeriksa bukti2 yang mereka bawa. Engkau yang
memeriksa orang2 Kay-pang dari lain2. Aku yang
memeriksa anak buah Maharaja. Jika ada yang
mencurigakan, kita harus memeriksanya dengan
pertanyaan....” kata Penjaga Neraka.
“Bertanya bagaimana? Apakah ada kata2 sandi yang
ditentukan?” tanya orang itu pula.
“Temponya amat mendesak sehingga tak sempat
menetapkan kata2 sandi. Maka aku dan engkaulah yang
ditunjuk untuk mengajukan pertanyaan pada mereka.
Boleh bertanya apa saja tentu kita segera tahu nada
389
mereka mencurigakan atau tidak”
“Apakah kalau mereka itu terbukti salah lalu kita
hukum mati?”
“Tidak, jika mencurigakan, harap ditawan hidup dan
biarkan Maharaja yang memeriksanya sendiri !”
“Sungguh mengherankan ! Adakah Maharaja curiga
kalau ada tokoh2 sakti yang menyelundup dalam
pertemuan itu?”
“Entahlah, aku kurang terang.” Namun orang yang
berwajah menyeringai itu gelengkan kepala tak percaya :
„Ah, mengapa engkau tetap main sembunyi kepadaku?
Engkau sudah belasan tahun ikut pada Maharaja. Soal
itu mungkin dapat mengelabuhi engkau tetapi masakan
dapat mengingusi aku si Jo Bin Sucia?”
Penjaga Neraka tertegun sejenak lalu berkata pula:
„Menurut dugaanku, penjagaan itu ditujukan terhadap
seorang jago muda sakti !”
“Jago muda sakti......! Siapakah namanya?” tanya Jo
Bin sucia atau Utusan Berwajah buruk.
“Gak Lui !” Mendengar itu tergetarlah hati Gak Lui.
Sedang si Wajah buruk malah tertawa mengekeh dan
berseru: „Kukira tokoh sakti yang bagaimana, kiranya
hanya anak yang masih belum hilang ingusnya itu.
Marilah kita lekas2 menuju ke istana Yok-ong. Budak itu
datangpun baik, tidak datangpun lebih baik.......”
“Sudahlah, jangan menepuk dada dulu ! Kita sudah
mendapat tugas, lebih pagi datang kesana lebih baik.
Apalagi jika benar- benar sampai bertempur, budak itu
sudah banyak merubuhkan jago2 sakti.... “
“Hm, aku tak percaya....!” kata si Wajahburuk. Diamdiam
Gak Lui terkejut, pikirnya :„Huh, mengapa sudah
390
dua kali ini Maharaja hendak mencari aku? Apakah yang
hendak ditanyakan kepadaku? Menilik gelagat, orang itu
tentu mempunyai hubungan dengan partai perguruanku.
Mungkin hendak menanyakan tentang Empat Pedang
Busan, mungkin........”
BARU ia merenung sampai disini tiba-tiba si Wajah
buruk kedengaran bertanya pula : „Saudara lm, ada
sebuah hal yang kurasa aneh. Maukah engkau
menerangkan? “
“Kalau bisa, tentu akan kuterangkan !”
“Maharaja yang begitu sakti mengapa harus memakai
kain kerudung muka? Kurasa banyaklah diantara orang2
itu yang ingin sekali melihat wajah aseli dari Maharaja!.
Dan lagi, kelima Topeng Besi dari lima partai persilatan
itu, mengapa ....”
“Hm....., engkau lagi2 begitu. Tak usah bertanya,
nanti pada suatu hari engkau tentu akan jelas sendiri.”
“Jadi engkau sebenarnya sudah tahu tetapi tak mau
bilang?”
“Aku masih ingin hidup beberapa waktu lagi!”
“Bolehkah aku menduganya ? “
“Lebih baik jangan !”
“Mengapa? “
“Menduga salah sama artinya dengan tak menduga!”
“Kalau dapat menduga tepat?”
“Berarti hari kematianmu sudah tiba !”
Si Wajah buruk tertegun. Beberapa saat kemudian ia
berkata seorang diri : „Kurasa Maharaja itu, tentu
memiliki wajah yang tak boleh dilihat orang. Mungkin
391
karena cacad hidung atau telinganya sahingga wajahnya
lebih buruk dari aku.......!”
Baru berkata begitu tiba- tiba Penjaga Neraka itu
tergetar tubuhnya: dan cepat membentak bengis : „Tutup
mulutmu! Jika engkau masih ngaco belo tak keruan,
jangan sesalkan aku tak kenal persahabatan dan
melaporkan engkau pada Maharaja !”
Ancaman Penjaga Neraka itu ternyata mempunyai
daya kekuatan yang besar. Si wajah-buruk seperti
terbungkam.
“Heran....,” diam2 dalam kolong meja Gak Lui
menimang dalam hati, menurut keterangan mendiang Gihu
(ayah angkat), pada batang pedang milik si Hidung
Gerumpung itu terdapat bekas guratan huruf silang.
Tetapi kalau menurut keterangan Bok Kiam- su, orang
yang datang kepadanya untuk membikin betul
pedangnya itu, baik kata2 maupun nada suaranya tiada
mencurigakan. Kalau begitu pembunuh itu sukar
ditentukan, seorang atau dua orang. Tetapi pembicaraan
kedua anak buah Maharaja itu, memberi bukti yang
nyata. Mungkin Maharaja itu tak lain yalah Hidung
Gerumpung itu sendiri. Oleh karena luka pada hidungnya
itu sudah ditutup maka nada bicaranyapun tak berbeda
dengan orang biasa. Hanya saja ia tetap mengenakan
kerudung muka karena takut dilihat orang !”
Tengah Gak Lui tiba pada pemikiran begitu, tiba2
terdengarlah langkah kedua orang itu keluar dari biara.
Sejenak memandang cuaca, berkatalah Penjaga Neraka.
“Waktu sudah hampir habis, mari kita berangkat.
Ingat, nanti yang akan menghadap Maharaja berjumlah
28 tokoh dari berbagai partai persilatan. Tak boleh
kurang dan lebih !” kata Penjaga Neraka.
392
“Kalau begitu yang membawa Ki-pay (lencana emas)
tak boleh masuk?” tanya si WajahBuruk.
“Benar....! Mereka harus menunggu diistana Yokong!”
Terdengar kesiur angin dari kedua orang yang
melesat keluar dari biara.
Gak Lui hendak meringkus Penjaga Neraka itu.
Karena orang itu rupanya tahu banyak sekali tentang
rahasia Maharaya. Tetapi tiba-tiba ia mendapat pikiran
lain: „Apalagi orang itu juga serupa dengan Tabib jahat Li
Hui-ting yang tahan siksaan, bukankah malah akan
membubarkan pertemuan Maharaya dengan tokohtokoh
persilatan itu?”
Akhirnya ia memutuskan lebih baik diam2 mengikuti
pertemuan itu untuk membekuk Maharaya. Ia segera
keluar dari biara dan menyusul kedua orang tadi.
Istana Yok-ong-kiong merupakan sebuah bangunan
yang terlantar. Ruangan besar dalam istana itu gelap dan
menyeramkan. Diluar istana telah penuh berpuluh orang
yang mukanya memakai kain kerudung. Seratusan
tombak dari pintu gerbang, tampak dua orang yang
menyeramkan sedang melakukan pemeriksaan kepada
orang2 yang hadir disitu. Yang membawa Kim-pay,
semua disuruh menunggu diluar istana. Sedang yang
membawa pertandaan rahasia dari batu mustika,
dipersilahkan masuk kedalam. Selain pertanyaan dari
kedua orang petugas yang menimbulkan suara berisik
pelahan itu, sekalian yang hadir tak ada yang buka
suara. Keadaan disekeliling istana itu sunyi sekali. Tiada
seorangpun yang berani bicara, lebih2 berani
sembarangan bergerak. Karena kesibukan pemeriksaan
tanda pengenal dan suasana yang diliputi ketakutan dan
keseraman itu maka tiada seorangpun memperhatikan
bahwa dibalik sebatang pohon tua yang menjulang, tinggi
393
sekali, bersembunyi sesosok tubuh yang tak lain adalah
Gak Lui. Dia juga mengenakan pakaian warna hitam dan
mukanyapun dikerudungi dengan kain hitam pula.
Tangan kiri memegang sebuah Kim-pay dan tangan
kanan menggenggam sebuah batu mustika. Diam2 ia
menghitung jumlah orang yang datang.
“Duapuluh lima.....! Duapuluh enam...... duapuluh
tujuh...... !” Yang diperboleh masuk kedalam istana, dari
jumlah 28 orang hanya kurang seorang saja. Mereka
telah datang semua. Tetapi yang seorang itu, masih
belum tampak datang ...... mungkin terlambat. Gak Lui
memperhatikan kedua anak buah Maharaja yang
menjaga pintu, antara lain si Penjaga Neraka dan si
Wajah Buruk. Dilihatnya kedua orang itu juga gelisah dan
tak sabar. Berulang kali mereka mengangkat kepala dan
memandang kesebelah muka. Gak Lui segera berkisar
tempat, pikirnya : „Tentulah waktunya sudah tiba ! Orang
itu tentu tak datang. Aku harus lekas2 menggunakan
kesempatan untuk menerobos masuk agar jangan
membuang waktu yang berharga.....” Dengan hati2 sekali
Gak Lui meluncur turun dari pohon dan dengan gerakan
yang sukar diketahui orang, ia sudah tiba dimuka pintu
gerbang. Tetapi serempak dengan itu, dari pohon
disebelah muka, juga tampak sesosok tubuh meluncur
turun dan menyusulnya.
“Hai, siapakah dia ......?” diam2 Gak Lui terkejut
sekali. Cepat ia lambatkan jalannya dan orang itupun
sudah berada disebelahnya. Bermula Gak Lui segera
hendak menunjukkan pengenal batu mustika agar lekas2
masuk kedalam istana. Tetapi karena orang yang tak
dikenal itu muncul, maka ia agak terlambat. Penjaga
Neraka dan si Wajah Burukpun terkejut. Tetapi orang tak
dikenal itu tak menghiraukan lalu cepat2 mendahului
menunjukkan benda pengenal, sebuah batu mustika
394
yang berkilau-kilauan. Gak Lui tergetar hatinya. Namun ia
tak kehilangan kesadaran. Cepat iapun mengacungkan
tangan kiri yang memegang Kim - pay. Penjaga Neraka
dan kawan2nya, menatap tanda pengenal yang
ditunjukkan kedua orang itu dengan seksama. Gak Lui
cepat melepaskan pengerahan tenaga dalam, agar sorot
matanya tak diketahui penjaga. Tetapi orang yang
datang bersamanya itu, pandang matanya masih
memancar sinar yang berkilat-kilat. Diam2 Gak Lui heran
:
“Aneh, orang ini umurnya sebaya dengan aku tetapi
matanya memancar sinar yang begitu berwibawa......”
Tetapi Gak Lui tak sempat memperhatikan. orang itu
karena ia segera melihat bibir Penjaga Neraka itu
bergerak-gerak. Gak Lui mengeluh kaget: „Celaka,
rupanya dia curiga, tentu akan mengajukan
pertanyaan.....”
Cepat ia mengatupkan tangan dan sebelum
diperintah sudah terus melesat keluar biara. Untunglah
karena Penjaga Neraka sedang menumpahkan perhatian
kepada pendatang yang mengunjukkan pengenal batu
mustika itu, maka tak sempat mengurus Gak Lui. Tepat
pada saat Gak Lui melesat keluar gedung, ia mendengar
pendatang aneh itu berseru pelahan : „Akulah......” terus
melangkah masuk kedalam ruang.
“Uh....., menilik keadaannya jelas dia bukan kaum
dujana tua tetapi mengapa dapat melalui penjagaan?
Apakah dia seorang jago muda dari ke-9 partai
persilatan? Ataukah utusan dari lain perguruan? Tetapi
tak peduli siapa dia, yang jelas dia telah mengganggu
sehingga aku tak dapat masuk kedalam gedung.....!”
Terpaksa Gak Lui gunakan telinganya yang tajam untuk
berusaha mendengarkan apa yang berlangsung dalam
395
gedung. Dalam usaha itu ia menyelinap mendekati
jendela. Lebih kurang satu tombak dari jendela tiba? dari
dalam gedung itu terdengar suara orang berseru
menggeledek: „Tangkap mata 2.....!” Teriakan itu begitu
mendadak sekali sehingga Gak Lui pun terkejut, pikirnya
: “Adakah dia mengetahui diriku ....... “ Bum ........ bum
...... terdengar dua buah pukulan beradu keras. Kerasnya
mirip dengan ledakan. Angin dari pukulan itu berhambur
keluar dari jendela sehingga kain kerudung mukanya ikut
bergoncang-goncang.
“Celaka.... ! Pukulan orang itu dahsyat sekali,
kemungkinan pemuda tadi tak dapat lolos ...... baru ia
memikir begitu, perobahan yang terjadi dalam gedung
berlangsung lebih cepat.
SEKETIKA dari gedung yang gelap ruangannya itu,
melayang keluar sesosok tubuh. Ternyata sosok tubuh
itu adalah pemuda yang masuk tadi. Dengan gunakan
ilmu meringankan tubuh yang tinggi, ia melayang keluar.
Dibelakangnya diikuti oleh 3 orang berkerudung muka
yang menyerangnya dengan pukulan dan pedang. Cepat
Gak Lui dapat memastikan bahwa orang yang berteriak
menggeledek tadi tentu si Maharaja. Dan dia tentu tak
ikut mengejar melainkan masih berada dalam gedung.
Gak Lui tak sempat memikirkan untuk membantu
pemuda itu lagi, ia harus menggunakan kesempatan
sebaik itu untuk menyerang Maharaja. Selain itu ternyata
pemuda itupun cerdas dan tangkas sekali.
Walaupun ia tahu bahwa disekeliling penjuru terdapat
musuh tetapi ia tak gentar sedikitpun juga. Bukannya
melarikan diri kearah lapangan kosong, ia malah
condongkan diri melayang kearah kawanan orang yang
sedang menunggu diluar istana itu. Kawanan orang yang
berada diluar gedung itu memang terdiri dari kaum
396
penjahat tetapi mereka pun tak berani bertindak sebelum
mendapat perintah. Mereka membiarkan ketiga orang
berkerudung itu mengejar pemuda tadi. Karena kuatir
mengganggu maka kawanan orang itupun segera
menyisih kesamping. Melihat itu si pemuda itu bergerak
cepat sekali sehingga tinggalkan pengejarkan beberapa
tombak dibelakang. Dalam sekejap mata, pemuda itu
menyelinap kesamping Gak Lui.
“Lekas menyingkir, durjana itu sakti benar!” seru
pemuda itu pelahan seraya melesat kebelakang. Gak Lui
terkejut dan berpaling tetapi pemuda itu sudah jauh.
Hanya bau harum yang menghambur dari tubuh pemuda
itu masih terasa menyentuh hidung Gak Lui. Gak Lui
makin kaget. Ia tak asing lagi dengan bau harum itu.
Dipandangnya sosok tubuh pemuda itu dan diam-diam ia
berdoa agar pemuda itu dapat selamat lolos dari bahaya.
Tetapi rombongan anak buah Maharaja yang berkumpul
dalam istana itu, banyak sekali jumlahnya.
Sekelompok tokoh-tokoh yang berjumlah belasan
orang segera memburu keluar dari belakang gedung
sehingga pemuda itu terkepung dari muka dan belakang.
Dan tiba-tiba pula, pintu gerbang istana itu terbuka
sendiri. Dalam ruang gedung yang gelap seram, belasan
jago jago sakti tengah mengerumuni sesosok tubuh yang
mirip dengan sebuah patung batu. Walaupun orang itu
mukanya tertutup kain kerudung tetapi dari sikapnya
yang congkak dapatlah diduga ia tentu seorang tokoh
yang berpengaruh dan ganas sekali.......
“Heh..., heh..., heh ....” orang aneh itu tertawa
mengekeh. Sengaja nadanya dibuat seseram mungkin
untuk menutup suaranya yang parau. Tergetar tegang
hati Gak Lui mendengar tertawa aneh itu. Diam- diam ia
menduga, orang itu tentulah si Maharaja. Cepat ia
397
salurkan tenaga dalam dan, mengisar langkah kemuka.
Bersiap- siap untuk menerobos barisan musuh yang
ketat agar sekali serang ia dapat menusuk orang aneh
itu.
“Budak bernyali besar ! Engkau murid dari perguruan
mana ?” tiba2 orang aneh itu berseru kepada pemuda
tadi. Nadanya tetap dilantangkan tinggi.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Ngentu Model Pendatang Baru : PKK 4 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments