Cerita Mesum Dewasa : ITB 7

Cerita Mesum Dewasa : ITB 7
AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Mesum Dewasa : ITB 7


-“Kreeek.... kreeeek... Diiringi suara nyaring seketika itu
juga pembaringan tersebut roboh kebawah, mutiara penolak
air itupun bergelinding ke ujung ruangan.
Ia menghembuskan nafas panjang, makinya dengan
penuh kebencian “Binatang sialan, manusia yang harus di
bunuh!”.
Pada saat ini ia sudah tidak menaruh perhatian lagi
terhadap mati hidupnya Kim In Eng, dengan pandangan
hambar ia awasi darah segar yang berceceran di atas tanah.
Mendadak cahaya matanya berputar. Ia telah melihat
cahaya mutiara disisi pembaringan, sekilas rasa girang
segera berkelebat diatas wajahnya.
Ia ragu-ragu sebentar.... namun dengan cepat rasa girang
tadi berubah menjadi kaget dan menghela napas panjang.
Dan dari kaget segera berubah jadi bernafsu.... dan ingin
melakukan sesuatu.... Sepasang matanya dengan tajam
mengawasi terus permukaan pembaringan
13
KETIKA kain selimut itu tersingkap, tubuh Wie Chin
Siang segera menggelinding keluar, tubuhnya yang padat
berisi dan berada dalam keadaan bugil tanpa busana itu
amat menarik perhatian Hoa Pek Tuo.
Air mukanya berulang kali berubah, nafsu birahi yang
bergelora dalam hatinya bagaikan gulungan ombak di
tengah samudera, dahsyat dan sukar terkendalikan.
Tubuh telanjangnya yang lembut menawan hati, kulit
tubuhnya yang putih halus, pahanya yang mulus dan
panjang, buah dadanya yang padat berisi den keras serta
lekukan lekukan dadanya yang mempersonakkan seakan
akan memancarkan hawa segar bagi kakek tua itu.
Segumpal kobaran api bara membakar keluar dari pusar
menyambar keempat penjuru. Napsu birahi yang sudah
puluhan tahun lamanya tak pernah berkobar kini
menggerakkan seluruh organ tubuhnya.... Ia telan air liur
yang memenuhi mulutnya lalu perlahan lahan maju
kedepan. Dengan tangan yang gemetar ia dekati
12 Halaman 13-14 Hilang
kasihan dia, napsu masih berkobar namun tak sanggup
melangkah lebih jauh daripada meraba belaka.
Sorot mata benuh kegusaran memancar keluar dari
matanya, ia memaki penuh kemarahan lalu menutupi tubuh
Wie Chin Siang yang telanjang dengan selimut, dan
akhirnya ia mengepos tenaga kemudian meloncat keluar
dari ruangan itu.
Dengan hawa amarah yang berkobar kobar, sebetulnya
Hoa Pek Tuo hendak memaki orang she Ke itu kalang
kabut, tetapi sewaktu dijumpainya orang itu masuk dengan
pakaian terkoyak koyak koyak serta darah kental
berkelepotan ditubuhnya, ia jadi kaget.
“Kau....!”
“Pek In Hoei. Dia....” Belum habis jeritan dari Ke Hong,
langkahnya gontai dan akhirnya roboh terjengkang diatas
tanah.
Hoa Pek Tuo meloncat maju kedepan, ia sambar tubuh
Ke Hong seraya tanyanya dengan hati cemas: “Kenapa
dengan diri Pek In Hoei?”.
Seluruh kulit dan otot Ke Hong diatas wajahnya berkerut
kencang, bibirnya bergetar perlahan, sebelum perkataannya
sempat diutarakan keluar kepalanya lunglai dan putus
nyawa.
Hoa Pek Tuo amat terperanjat, dengan gusar ia
rentangkan tangan kanannya yaag ada diatas dadanya,
segera tampaklah sebuah babatan pedang yang sangat
dalam menembusi paru parunya dan mematahkan tiga
batang tulang iganya....
“Keparat cilik!” maki Hoa Pek Tuo penuh amarah.
“Sungguh tak kunyana Pek In Hoei berhasil menembusi
barisan tujuh bintang-ku, aku bersumpah akan membeset
kulit anjingnya!".
Laksana kilat ia melayang keluar dari ruang tengah dan
menuju kelorong rahasia, kemudian bagaikan anak panah
yang terlepas dari busurnya menyusup keluar dari mulut
lorong berkelebat kearah sisi hutan.
Dibawah sorot cahaya matahari, ditengah bergoyangnya
bayangan pohon tampaklah belasan orang lelaki berbaju
putih dengan bersenjata lengkap berdiri dalam sebuah
lapangan di tepi hutan tersebut, mereka berputar dan
berkelebat kesana kemari dengan tiada hentinya bagaikan
gasingan.
Sementara itu Pek In Hoei dengan senjata terhunus
berdiri tegak tanpa berkutik barang sedikitpun ditengah
kepungan belasan orang lelaki berbaju putih tadi.
Diatas kutang mustika pelindung badannya tertancap
tujuh jenis makhluk berbisa, seakan akan sebuah lukisan
peta yang indah dan aneh terpancang dengan jalasnya
diatas dada.
Ku Loei serta Chin Tiong dengan wajah tegang dan
serius memimpin belasan orang lelaki berbaju putih lainnya
berseliweran diantara tubuh sianak muda itu, bayangan
manusia yang rapat membentuk satu jaring yang kuat
mengurung sekujur badan musuhnya di tengah kalangan.
Lambat lambat Hoa Pek Tuo maju ke muka, tampaklah
mayat berserakan dimana mana, genangan darah menutupi
seluruh permukaan membuat pemandangan disana
kelihatan ngeri dan menggidikkan.
Namun air muka Hoa Pek Tuo masih tetap dingin kaku
tanpa perubahan apapun juga. Ia memandang sekejap
tumpukan empat puluh sembilan batu cadas ditengah
kalangan kemudian alisnya baru berkerut kencang
Sekilas napsu membunuh berkelebat diantara benaknya.
Kakek itu segera mendengus. “Bagaimanapun juga ia tak
boleh dibiarkan tetap hidup dikolong langit!”
Pelbagai cara untuk membinasakan Pek In Hoei
berkelebat dalam benaknya, mendadak terdengar sianak
muda itu berteriak keras: “Hoa Pek Tuo!”.
Kakek tua itu terperanjat, buru buru bentaknya: “Hati
hati terhadap sianak licik bangsat muda itu!”
Tetapi Pek In Hoei telah menggunakan kesempatan yang
sangat baik ini untuk turun tangan.
Ia bersuit panjang, telapak kirinya di dorong ke muka
dengan melancarkan serangan “Tay Yang Sinkang"
sementara tangan kanannya mengirim sebuah tusukan kilat
dengan jurus “Hoa Ek Si Jiet” atau Hoo Ek memanah
matahari.
Udara disekitar situ segera berubah jadi panas menyengat
badan, segulung semburan api yang maha dahsyat langsung
menumbuk tubuh Chin Tiong sementara cahaya kilatan
sedang mengancam tubuh Ku Loei.
Serangan yang sudah dinantikan nantikan sejak tadi ini
benar benar luar biasa dahsyat. Seolah olah angin puyuh
yang menyapu kota menghancurkan semua benda yang
dilintasinya.
Di bawah ancaman bahaya maut yang mungkin akan
mencabut jiwa mereka, baik Ku Loei maupun Chin Tiong
sama sama berseru kaget, air muka mereka berubah hebat
dan buru buru meloncat ke samping untuk menghindar.
Setelah jurus serangannya yang pertama mendatangkan
hasil, Pek In Hoei tidak diam diri sampai disitu saja.
Permainan senjatanya semakin hebat dan satu demi satu
dilancarkan dengan leluasa.
Hawa pedang yang berlapis lapis seketika memancar ke
angkasa dan mengurung belasan pendekar itu ke dalam
kepungan.
Dalam sekejap mata. jeritan ngeri berkumandang silih
berganti, cipratan darah segar muncrat kemana mana.
Barisan “Seng Gwat Ciauw Hwie” yang hebat itupun
hancur berantakan diujung pedang Si Jiet Sin Kiam.
Menyaksikan barisan besar yang diciptakan dan dilatih
olehnya dengan susah payah kini hancur berantakan
ditangan Pek In Hoei, sudah tentu Hoa Pek Tuo merasa
amat gusar, ia berteriak keras, darah segar menyembur
keluar dari mulutnya saking mendongkol. Sambil mencelat
ke udara sepasang telapaknya secara beruntun menyapu
kebawah.
Desiran tajam membelah angkasa, laksana tindihan
gunung Thay San menubruk dada musuh.
Pek In Hoei tarik napas dalam dalam, pedangnya ditarik
kebelakang sedang telapak kirinya perlahan lahan didorong
ke depan.
Disaat telapaknya meluncur ditengah udara itulah
tampak cahaya merah membara memancar keempat
penjuru, udara disekeliling sana segera berubah jadi panas
menyengat badan....
“Bluuuummm” Ledakan keras menggema di angkasa,
pohon besar disekeliling kalangan goncang dan berayun
tiada henti diikuti.... “Kraaak .... Dahan pohon patah jadi
dua bagian, ranting dan dedaun beterbangan keempat
penjuru.
Pek In Hoei mendengus dingin, badannya miring ke
samping, tangan kanannya bergetar kencang, dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat pedangnya membentuk
selapis cahaya yang menyilaukan mata menghadang
desakan hawa murni “Poh Ciok Kang” pihak lawan.
Untuk menghadapi serangan musuh yang mantap dan
berat ini, bukan saja Pek In Hoei harus dapat memgunakan
kelincahan untuk mencari kesempatan disamping itu dia
pun harus menggunakan telapak serta pedangnya secara
berbareng.
Sekalipun begitu, dalam suatu bentrokan yang amat
dahsyat, ia masih tak sanggup menahan golakan darah
panas dalam dadanya, tak kuasa ia mundur terdorong tiga
langkah ke belakang.
Lima buah bekas kaki sedalam dua coen tertera di depan
mata. Sekujur tubuhnya gemetar keras. Untuk
menenangkan badannya yang limbung ia harus
menancapkan pedangnya diatas tanah sebagai penyangga.
Sebaliknya tubuh Hoa Pek Tuo yang berada ditengah
udurapun dibikin bergetar keras oleh pantulan hawa
pukulan musuh. Dalam keadaan begini tak mungkin lagi
baginya untuk mengepos tenaga, tak ampun badannya
segera melayang balik kebawah.
“Hmmm! Sungguh tak nyana setelah merendam
semalaman didalam telaga Lok Kwat Ouw, badanmu telah
mengelupas dan merubah jadi manusia lain...” jengek Hoa
Pek Tuo dengan nada mengejek.
“Hey orang she Hoa, sekarang kau boleh rasakan betapa
lihaynya ilmu kepandaian dari Thiam Cong pay kami”
balas Pek In Hoei sambil menatap musuhnya tajam tajam.
Bau hangusnya pepohonan menyebar diempat penjuru
menyesakkan napas semua orang, mendadak diantara
percikan api ditengah pepohonan yang tumbang itu
terhembus angin dan berkobar jadi jilatan api yang kian
lama kian membesar.
Menyaksikan peristiwa itu, Hoa Pek Tuo merasa amat
terperanjat, rasa ini muncul di dalam lubuk hatinya, “Kalau
ia dibiarkan hidup satu dua tahun lagi, siapakah dikolong
langit dewasa ini yang sanggup menaklukkan dirinya?"
Dalam pada itu Ke Loei serta Chin Tiong berdiri
termangu mangu disisi kalangan sambil menatap Hoa Pek
Tuo serta Pek In Hoei yang telah saling berhadap hadapan,
kemudian mereka saling memberi tanda dan perlahan lahan
bergerak kesisi tubuh sianak muda itu.
“Hmmmmm Seandainya hawa murni tidak mengalami
kerusakan hebat akibat pengaruh oleh kobaran napsu birahi
terhadap perempuan cantik tadi, sekarang juga aku bisa
membinasakan dirinya" pikir Hoa Pek Tuo dengan mata
memancarkan cahaya buas “Tidak nanti kuberi kesempatan
bagimu untuk berdiri saling berhadap hadapan dengan aku”
Biji matanya berputar menyapu sekejap Chin Tiong serta
Ku Loei yang sedang bergeser ke belakang itu, pikirnya
lebih lanjut: “Sayang, kedua orang makhluk goblok itu tidak
mengetahui kalau Pek In Hoei telah terluka”
Bermacam macam ingatan berkelebat dalam benaknya
sementara hawa murninya sedikit demi sedikit dihimpun
kembali ke dalam pusar....
Sebaliknya Pek In Hoei sendiripun berusaha keras untuk
menenangkan golakan darah panas dalam dadanya, sambil
melotot sinis terhadap ketiga orang itu, iapun memutar otak
mencari akal.
Segulung angin kencang berhembus lewat, percikan api
beterbangan keangkasa dan jatuh diatas ranting kayu,
seketika jilatan api berkobar makin besar dan kebakaran
hebatpun terjadi....
Air muka Ku Loei berubah hebat, badannya bergerak
hendak pergi memadamkan api.
“Berhenti!" bentak Pek In Hoei. “Kalau kau berani maju
selangkah lagi, segera kucabut jiwa anjingmu"
Perlahan lahan lahan diangkat pedang mustikanya dan
memperlihatkan gerakan pembukaan dari ilmu pedang
penghancur sang surya, seakan akan dia hendak
mempersiapkan diri untuk mengirim satu serangan kilat
yang maha dahsyat.
Ku Loei terkesiap menyaksikan posisi yang telah
disiapkan pihak lawannya, ia benar2 pecah nyali dan tak
berani maju lebih jauh, sebab posisi yang diperlihatkan Pek
In Hoei saat ini selalu hapal dan amat dikenal olehnya.
Pada masa yang silam, justru ia menelan kekalahan yang
paling parah dibawah posisi jurus tersebut yang ketika itu
dibawakan oleh Cia Ceng Gak.
Suasana disekeliling tempat itu barubah jadi sunyi
senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Keempat orang itu
saling berhadapan dengan mulut membungkam, hanya
percikan api serta suara gemerutuknya ranting yang
terbakar kadang kala memecah kesunyian
Kobaran api makin lama makin besar hembusan angin
gunung menimbulkan asap hitam yang tebal dan seketika
mengurung seluruh tubuh keempat orang itu.
Jilatan api kian lama kian menjalar kemana mana.
Batang pohon yang terbakar mulai memperdengarkan suara
detakan yang nyaring, asap hitam semakin menutupi
pemandangan.
Cahaya sang surya mulai terhalang.... Dalam sekejap
mata suasana dalam kalangan jadi gelap gulita.
Pek In Hoei yang berdiri tegak ia sambil silangkan
pedangnya di depan dada merasa amat girang setelah
menyaksikan keadaan itu pikirnya: “Kenapa aku tidak coba
melarikan diri dengan meminjam gelapnya asap hitam ini?”
Asap tebal menutupi seluruh pemandangan dan
menghalangi pula pandangannya terhadap posisi pihak
lawan. Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah
diam diam ia mulai menggeserkan tubuhnya menyingkir
kearah kanan.
Baru saja melangkah tiga tindak, segara terdengarlah
suara batuk nyaring berkumandang dari depan tubuhnya.
Suara batuk itu tua dan serak, rupanya sudah ditahan
sejak tadi tetapi begitu berbatuk, dengan cepat suaranya
ditahan kembali.
Pek In Hoei adalah orang cerdas. Ia bungkam dalam
seribu bahasa sementara pedangnya sambil membetulkan
posisi yang tepat mendadak ditusuk kearah depan
membokong orang yang barusan berbatuk itu.
Sekilas cahaya tajam barkelebat lewat di tengah
kegelapan yang mencekam, jeritan kesakitan yang amat
lirih seketika menggema di angkasa memecahkan
kesunyian.
“Buuum” mendadak asap hitam menyebar keempat
penjuru seolah olah terhembus angin puyuh, disusul
munculnya serentetan desiran angin tajam menghantam
punggung Pek In Hoei.
Sianak muda itu terperanjat. Ia putar badannya berkelit
sementara ujung pedangnya ditarik kembali, tak sempat lagi
ia meneruskan tusukannya untuk mencabut nyawa orang
itu.
Bersamaan dengan menggesernya sang badan, ia himpun
segenap tenaga yang di milikinya kemudian melancarkan
satu babatan kilat dengan jurus “Yang Kong Phu Cau" atau
Sang Surya Memancar Terang.
Sungguh dahsyat tiga jurus ilmu surya kencana dari
keluarga Toan Ini. Desiran angin puyuh bagaikan
gelombang dahsyat menyapu kearah depan.
“Blaaaammm” Asap hitam tersapu kesamping dan
muncullah sebuah lubang besar.
Sebelum kabut merapat kembali itulah, ia saksikan Hoa
Pek Tuo sedang memandang kearahnya dengan wajah
penuh nafsu membunuh, sorot mata yang buas memancar
keluar dari balik matanya.
Sebaliknya Hoa Pek Tuo pun sempat menyaksikan
wajah Pek In Hoei yang menderita dan menggertak gigi
kencang2.
“Keparat cilik” hardiknya. “Kau hendak melarikan diri
kemana?”
Darah panas dalam dada Pek In Hoei bergolak kencang,
ia rasakan seluruh urat nadi dalam tubuhnya seakan akan
mau putus. Luka dalam yang dideritanya dalam kepungan
barisan “Seng Gwat Ciauw Hwie” tadi kini semakin perah
lagi keadaannya.
Terperanjat hati pemuda itu menyaksikan wajah Hoa
Pek Tuo yang seram. Ia segera berpikir: “Aaaah, tak
kunyana penderitaan yang kusembunyikan dengan susah
payah terlihat juga olehnya. Dengan demikian bukankah
usaha selama ini akan sia sia belaka?. Aaaiii tampaknya
sulit bagiku untuk melepaskan diri dari cengkeramannya".
Bukan tersumbatnya hawa murni dalam tubuhnya yang
membuat ia menderita, melainkan pertaruhannya dengan
Hoa Pek Tuo itulah yang membuat dia pusing kepala.
Sebab ia telah bertaruh bila dalam tiga puluh li ia berhasil
ditangkap maka sejak detik itu dia tak akan she Pek lagi.
Walaupun dia mengerti satu kali dirinya tertangkap
maka dia akan merasakan siksaan yang mengerikan dari
Hoa Pak Tuo tapi penderitaan dibadan luar tidak lebih
menderita daripada ia harus mengasingkan diri dan
membuang she keluarga untuk selamanya.
Maka dari itu ia harus berusaha keras untuk melarikan
diri dari perkampungan Tay Bie San cung, tapi
gampangkah berbuat demikian?
“Kami anak cucu keluarga Pek adalah lelaki sejati yang
benar benar murni, kenapa aku harus jeri terhadap
kesulitan? aku harus merebut peluang untuk hidup di
tengah keadaan yang paling buruk!”.
Ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam
benaknya, ketika dilihatnya Hoa Pek Tuo mempersiapkan
serangannya untuk menubruk datang, buru buru ia
menahan penderitaan dalam tubuhnya dan menerobos
kedalam asap hitam yang menyelimuti angkasa.
Desiran angin tajam menyapu lewat, serangan Hoa Pak
Tuo yang dahsyat bagaikan membelah bukit segera
menggulung tiba.
Asap hitam tersapu lewat tetapi bayangan Pek In Hoei
sudah lenyap tak berbekas. Hoa Pek Tuo segera mendengus
dingin, Ia tarik kembali serangannya yang mengenai tempat
kosong kemudian menerobos pula ke dalam gumpalan asap
hitam.
“Pek ln Hoei" jengek Hoa Pek Tuo sambil tertawa dingin
“Kau sudah menderita luka dalam yang amat parah,
sebentar lagi jiwamu bakal melayang, ayoh menyerah saja
kepadaku”.
Suasana dikalangan tetap hening dan sunyi tak
kedengaran sedikit suarapun dari Pek In Hoei.
Perlahan lahan Hoa Pek Tuo menggeserkan tubuhnya
kedepan. sepasang telapak disilangkan didepan dada siap
menghadapi segala kemungkinan.
“Hmmmmm Sekarang kau masih bisa menyembunyikan
badanmu didalam barisan asap yang tebal" kembali ia
mengejek. “Tapi setelah asap hitam ini buyar, akan kulihat
kau hendak lari kemana lagi”.
Bicara sampai disini ia merandek sejenak, ialu dengan
gemas sambungnya: “Sampai saatnya, akan kubeset setiap
jengkal kulit tubuhmu dan kubetot setiap otot yang ada
didalam badanmu!".
Dari balik kabut hitam menggema datang suara batuk
manusia. Dengan cepat berputar pikirannya “Setelah
keparat cilik ini menderita luaa parah. tak nanti ia bisa
terlalu lama menahan panas”
Tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang
telapaknya direntangkan dan segera membebat keluar.
Dari balik kegelapan muncul pula segulung hawa
tekanan yang membendung datangnya serangan tersebut,
disusul suara dari Chin Tiong berkumandang datang: “Hoa
loo, aku disini!”
Hoa Pek Tuo terperanjat buru buru sepasang telapaknya
ditekan kebawah dan menarik balik tenaga pukulan yang
telah dipancarkan keluar itu. Tetapi serangan telah
dilepaskan dan hawa pukulanpun sudah terlanjur
dilancarkan, tak mungkin baginya untuk menarik kembali
semua tenaganya.
“Ploook” Dua gulung tenaga pukulan seling membentur
satu sama lainnya menimbulkan suara ledakan keras, dari
sebelah sana terdengar Chin Tiong mendengus rendah.
“Apa Chin Tiong disitu?" hardik Hoa Pek Tuo dengan
kegusaran yang meluap luap. “kenapa kau....?”
“Tidak mengapa" sahut Chin Tiong sambil tertawa getir.
“Cuma sepasang telapakku jadi linu dan kaku".
“Dimasa Ku Losi?"
“Ia terluka ditangan keparat cilik she Pek itu”
“Parah tidak lukanya?".
“Ujung pedangnya menusuk dua coen di sisi jantung”
“Apa? kenapa tidak cepat kau bawa pergi dari sini?”
Belum habis ia berbicara, desiran angin tajam mendadak?
meluncur datang dari sisi kalangan langsung menghantam
dadanya.
Hoa Pek Tuo membentak nyaring, telapak kanannya
membabat keluar menghajar datangnya ancaman senjata
itu, sementara telapak kirinya dengan membentuk gerakan
setengah busur tiba tiba berubah jadi kepalan menjotos dada
musuh.
Cahaya pedang sirap seketika, jotosan yang maha hebat
tadi dengan telak menhantam dada Pek in Hoei
“Duuuukk” Tubuh Pek In Hoei mencelat kearah
belakang.
“Haa.... haa.... haa.... Pek In Hoei, rupanya kau sudah
bosan hidup?" teriak Hoa Pek Tuo sambil tertawa seram.
Belum habis ia berkata mendadak kepalan kirinya terasa
jadi kaku. Serentetan rasa gatal dan nyeri dengan cepat
merambat naik dari kulit lengannya menuju ke jantung
Kakek tua ini kontan jadi terperanjat, dengan cepat
pikirnya “Aaaah, kenapa aku sudah melupakan ketujuh
jenis makhluk beracun yang tertancap diatas kutang
pelindung badannya? Bukankah seranganku ini justru telah
menghantam dadanya yang beracun?"
Ia mendengus berat, dengan eepat telapak kirinya ditarik
kembali dan meloncat mundur tiga depa kebelakang, hawa
murni ditarik dari pusar kemudian disalurkan kelengan kiri
untuk memaksa keluar cairan racun itu dari tubuhnya.
Sebentar kemudian rambutnya pada bangkit berdiri,
jubahnya menggelembung dan cairan hitam yang kental
setetes demi setetes mengucur keluar dari ujung jarinya.
Bisa dibayangkan betapa gusarnya kakek tua itu setelah
mengalami kejadian seperti ini. Darah dalam tubuhnya
terasa mendidih, matanya melotot bulat sementara sinar
kemerah merahan memancar keluar dari matanya.
“Keparat cilik! modar kau....!” Raungnya keras. Dengan
langkah lebar ia segera maju ke kanan menghampiri Pek In
Hoei.
Sambil berjalan ujung jubahnya dikebaskan kesana
kemari menghalau asap hitam yang menutupi pandangan
matanya. Buny gigi yang gemerutukan kedengaran amat
nyaring. Saking bencinya terhadap sianak muda itu diam
diam Hoa Pek Tuo bersumpah di dalam hati hendak
membedah perutnya dan mengunyah isi perutnya.
Tiba tiba....
“Hoa Pek Tuo, kau berani melukai Pek In Hoei?"
bentakan kasar muncul dari balik kegelapan.
Bentakan tersebut muncul dari jarak delapan depa dari
sisi tubuhnya. Begitu nyaring suaranya hingga membuat
kakek tua ini jadi kaget dan meloncat mundur sambil
mempersiapkan diri.
Rasa gusar yang hampir menutupi kejernihan otaknya
pun ikut tersadar kembali.
Setelah melengak beberapa saat ia putar biji matanya ke
arah kegelapan kemudian menegur: “Siapa kau?”.
“Omitohud. Hudya adalah Thian Liong Toa Lhama
dari Tibet. Ini hari sengaja dengan membawa murid “Sin
Hoe Yong Su" sipendekar jantan berkapak sakti Chee Thian
Gak serta "Kim Liong Khek" si Jago Naga Sakti It Boan
Chiu datang mengunjungi Hoa Pek Tuo Sianseng".
Mendengar disebutkannya nama orang itu, Hoa Pek Tuo
terkesiap, segera pikirnya: “Thien Liong Toa Lhama adalah
padri sakti dari kuil Sila Sie di Tibet dan kini telah
dianugerahi kedudukan Kok su oleh Sri Baginda, entah apa
sebabnya pada hari ini ia berkunjung kemari beserta anak
muridnya?".
Dengan alis berkerut pikirnya lebih jauh: “Semula aku
ada maksud memancing Thiat Tie Loo Nie Hoo Bong Jieo
perempuan terkutuk itu masuk ke dalam perkampungan,
kemudian menceburkannya ke dalam telaga Lok Cwat Ouw
hingga modar maka kuperintahkan semua orang yang ade
di dalam perkampungan untuk bersembunyi didalam lorong
rahasia siapa sangka bukan saja kebakaran hebat ini tidak
diketahui mereka bahkan pada malam ini bisa terjadi begitu
banyak peristiwa yang ada diluar dugaan. sampai sempai
jago lihay dari istana Kaisar pun mengunjungi
perkampungan Tayi Bie San cung”
Ingatan tersebut hanya sebentar berkelebat didalam
benaknya, dengan suara berat segera tegurnya: “Ada
keperluan apa Toa Lhama mengunjungi perkampungan
kami?".
Gelak tertawa yeag amat berat berkumandang keluar dari
balik asap hitam. “Haa.... haa.... haa.... Hoa Pek Tuo.
bukankah kau ingin menguasai seluruh Bu lim di daratan
Tionggoan? Toa Lhama itu justru datang kemari untuk
membantu dirimu dalam mensukseskan cita citamu itu”.
Hoa Pak Tuo terperanjat. Ia tidak menyangka kalau
hwesio sakti dari Tibet pun mengetahui rencana besarnya
untuk menguasai dunia persilatan.
Ia kebaskan ujung bajunya untuk menyingkirkan
sebagian asap hitam yang menutupi pandangannya, agar
wajah Hwesio Sakti itu dapat tertampak lebih jelas.
Mendadak suara bentakan nyaring muncul dari balik
kegelepan disusul berkelebatnya serentetan cahaya tajam
keemas emasan meluncur ke arahnya.
Hoa Pek Tuo terperanjat. Ia tidak menyangka kalau
Thian Liong Lua lhama secara mendadak bisa melancarkan
serangan senjata rahasia untuk membokong dirinya.
Ia melengak dan tahu tahu cahaya emas itu sudah berada
di depan mata.
Kakek tua itu mendengus, ujung bajunya dikebaskan
keluar, diiringi hembusan angin tajam ia sapu datangnya
senjata rahasia berwarna keemas emasan itu.
Siapa sangka baru saja hawa murninya kerahkan, senjata
rahasia tersebut bagaikan seekor makhluk hidup mendadak
berputar dan menikung ditengah udara, setelah membentuk
gerakan satu lingkaran busur langsung menghajar
wajahnya.
Kaget bercampur ngeri, Hoa Pek Tuo menyaksikan
perubahan ini, air mukanya berubah hebat. “Belum pernah
kusaksikan senjata rahasia yang bisa berubah arah dan
tujuan ketika terhantam hawa pukulan” pikirnya.
Cahaya emas memancar keempat penjuru, senjata
rahasia tersebut dengan membawa desiran nyaring yang
tajam meluncur kearah tubuhnya.
Kembali kakek she Hoa ini membentak nyaring, tubuh
bagian atasnya dibuang ke belakang sementara telapak
kirinya membentuk gerakan setengah lingkaran untuk
melindungi tubuhnya kemudian secara tiba tiba didorong
kedepan.
Hawa murni menghembus keluar laksana tiupan angin
puyuh, senjata rahasia itu merandek sejenak ditengah udara
kemudian menembusi angin serangannya menekuk tiga
coen kebawah, setelah itu mengikuti lekukan telapaknya
meluncurkan ke arah tenggorokan.
Perubahan serta arah yang aneh dari senjata rahsia ini
sungguh jauh berada di luar dugaannya, tiba tiba ia
membentak keras, badannya laksana anak panah yang
terlepas dari busurnya meluncur keluar dari kalangan.
Disaat yang amat singkat itulah ia baru menyaksikan
dengan jelas bahwasannya senjata rahasia tersebut berupa
seekor naga emas kecil, ditengah daya luncurnya yang cepat
tampaklah kedua helai jenggotnya bergetar kencang,
sepintas lalu kelihatan seolah olah seekor naga sungguhan
yang sedang merentangkan cakarnya untuk menghajar
badannya.
Tidak sempat untuk berpikir lebih jauh, telapak kirinya
yang melindungi badan segera digetarkan. Ujung jubah
laksana sebidang papan baja melayang keluar dengan
mendatar.
“Criiiit” Naga emas itu menembusi ujung bajunya dan
meluncur kedalam lebih jauh.
Ia mendengus gusar, kelima jarinya dipentangkan lebar
lebar kemudian laksana kilat mencengkram naga emas
tersebut.
Dalam keadaan yang kepepet dan terdesak, satu satunya
jaian yang bisa ia tempuh hanyalah mencengkram naga
emas itu agar tidak meluncur lebih jauh.
Tetapi.... begitu ia mencengkram, telapaknya segera
terasa amat sakit, jenggot naga emas yang panjang itu tahu2
sudah melukai kulitnya dalam dalam.
Darah segar segera mengucur keluar dengan derasnya.
Saking sakitnya, telapak yang terluka itu membuat hawa
amarahnya jadi memuncak. Ia mendengus dingin, kelima
jarinya dirapatkan dengan maksud menghancur lumatkan
benda tersebut.
“Hmmmm” Serentetan suara yang aneh muncul dari
balik asap hitam, “Naga emas itu terbuat dari pasir emas
yang dihasilkan di gunung Attai dalam bilangan propinsi
Lam Ciang, sanggupkah kau menghancur lumatkan
bendaku itu?”.
“Toa Lhama” teriak Hoa Pek Tuo dengan penuh
kegusaran. “Maksudmu datang ke dalam perkampunganku
apakah hanya ingin melepaskan senjata rahasia belaka?".
“Haa.... haa.... haa.... harap Hoa sianseng suka
memaafkan kelancangan kami ini. Semua muridku adalah
orang orang liar dari luar perbatasan yang tidak begitu
mengerti akan adat-istiadat didaratan Tionggoan. Ketika ia
menjumpai kau mengayun telapak tadi disangkanya akan
hendak menyerang dia, maka dari itu....”
“Toa Lhama, sudahlah tak usah banyak bicara" tukas
Hoa Pek Tuo tidak sabar “Katakanlah apa sebenarnya
tujuanmu datang kedalam perkampungan kami?".
“Sewaktu berada di ibukota, aku telah berjumpa dengan
Cia Kak Sin Mo, dialah yang mengundang aku untuk
datang kemari menjumpai dirimu”
Ia merandek sejenak, kemudian dengan suara kasar
terusnya. “Hmmm. seandainya Pun Hoed-ya tidak
memandang di atas wajah Cia Kak Sin Mo, dengan
sikapmu yang begitu kurang ajar pada hari ini, pasti akan
kuberi sedikit pengajaran kepadamu."
Sepasang alis Hoa Pek Tuo berkerut kencang. Sebelum
mengetahui jelas bagaimanakah lihaynya Thian Liong Toa
Lhama yang berada ditengah kegelapan kabut hitam tu, ia
tidak ingin bertindak gegabah.
Maka sambil memandang asap yang tebal serta percikan
api ditengah udara pikirnya “Aaaaiii kenapa justru pada
hari ini bertiup angin barat laut yang kencang? Sehingga
semua asap tebal ini tertiuo ke arah kemari. Kalau tidak....
Sejak tadi tadi Pek In Hoei tentu sudah modar ditanganku”
---0d0w0---
Berbagai pertanyaan yang membingungkan kepalanya
berkelebat memenuhi benak kakek tua ini. Tiba tiba ia
tertawa kering seraya berkata “Hmm... hmm... Harap Toa
Lhama suka memaafkan”
Ia remas remas naga emas yang berada ditangannya lalu
berpikir: “Toa Lhama ini berasal dari Tibet, sungguh tak
nyana murid muridnya adalah jago melepaskan senjata
rahasia yang amat hebat. Kalau dibandingkan dengan
keluarga Tong dipropinsi Su Cuan. entah barapa kali lipat
lebih hebat. Terhadap manusia manusia semacam ini aku
tak boleh menyalahinya”
Maka ia mendehem dan berkata: “Ini hari aku hendak
menangkap buronan yang telah menerbitkan keonaran
dalam perkampungan kami, karena itu silahkan Toa Lhama
sekalian menanti dahulu di ruang tamu".
Belum habis ia berkata mendadak terdengar Chin Tiong
mendengus berat lalu menjerit lengking.
“Apa yang terjadi?" bentak Hoa Pek Tuo “Chin Tiong!
kenapa kau...?
Dari balik tebalnya asap hitam berkumandang suara
kasar dengan logat yang sangat aneh: “Siapa suruh ia
menangkap ikan diair keruh? Menggunakan kegelapannya
asap hitam, ia mau mencelakai kami sekalian. Hmmm Hoa
Pek Tuo, beginikah sikapmu menyambut tamumu?".
Hoa Pek Tuo benar benar naik pitam, hawa amarahnya
telah berkobar hingga mencapai pada puncaknya, namun ia
masih tetap menahan diri.
“Kaukah anak murid Thiao Liong Toa Hwesio yang
bernama sijago naga emas It Boen Chiu?”
“Sedikitpun tidak salah" jawaban orang itu sangat
jumawa. “Aku adalah sijago naga emas It Boen Chiu!".
“Apa yang telah kau lakukan terhadap Chin Tiong?".
“Dia hendak membokong diriku, maka kukirim dua
batang naga emas agar dicicipi olehnya”.
“Chin Tiong.... Chin Tiong ....!
“Haa.... haa.... haa.... lebih baik tak usah kau panggil
sebab pertama, dia sudah modar!”.
Hoa Pek Tuo gigit bibir menahan gusar, pikirnya:
“Kalau kau tidak suruh kau mati dalam keadaan yang sema
seperti kini, aku tidak ingin menguasai dunia persilatan
lagi”
Diluaran ia tertawa terbahak bahak. “Haa... haa....
haa.... kalau memang sudah mati, yaah sudahlah, biarkan
modar!”.
“Chiu jie!" Suara dari Thian Liong Toa Lhama segera
menggema lagi dengan lantang. “Cepat minta maaf kepada
Hoa Loe sianseng, siapa yang suruh berbuat begitu
gegabah? bukankah sebelum kubawa kau datang kedaratan
Tionggoan telah kukatakan berulang kali bahwa daratan
Tionggoan berbeda dengan luar perbatasan?”
Ia merandek sejenak, kemudian tambahnya: “Harap Hoa
Loo-sianseng suka memaafkan kelancangan serta
kecerobohan dari muridku”.
“Tidak mengapa, silahkan Toa Lhama duduk
beristirahat dahulu di dalam ruang tamu”.
“Entah Hoa Loo sianseng ada urusan apa? kenapa
mendekam terus di tengah kabut hitam yang tebal? apakah
kau memang ingin membakar hutan di sekitar ini agar bisa
melatih semacam ilmu silat di tengah kegelapan asap
hitam”
“Heey tua bangka!” suara serak yang tak enak didengar
menyambung perkataan itu. Belum pernah kudengar orang
berkata bahwa di kolong langit terdapat kepandaian kentut
anjing yang harus dilatih dalam kegelapan asap hitam”.
Ketika didengarnya suara orang itu kasar dan kaku
ditambah pula membawa logat propinsi Sa Cuau, alisnya
lantas berkerut. “Apakah kau adalah sipendekar Jantan
Berkapak sakti Chee Thian Gak?”"
“Haa haa haa.... Tua bangka sialan, kau si cucu kura
kura darimana bisa tahu kalau aku adalah sipendeker jantan
berkapak sakti? Hebat.... hebat...."
Tak disangka sama sekali oleh Hoa Pek Tuo kalau ia
bakal dimaki orang seenaknya. Seking kekinya hampir saja
ia muntah darah segar. Akhirnya ia depakkan kakinya
ketanah lalu tanpa memperdulikan segala sesuatu ia siap
melayang kedepan.
Tapi pada detik yang terakhir ia berpikir lain. Sambil
menyabarkan diri serunya seram:
(Oo-dwkz-oO)
Jilid 19 edit by Sumahan
"THIAN LIONG TOA LHAMA, muridmu betul2 luar
biasa sekali, dibalik perkataannya membawa duri yang
tajam, apakah kesemuanya itu adalah hasil pelajaran dari
thay-su?”
“Oouw.... muridku ini memang orang manusia kasar,
semasa berada di Tibet ia membuka sebuah toko penjual
peti mati. Loo Sianseng, harap kau jangan marah dan
layani orang kasar macam dia”
Suasana kembali diliputi keheningan entah berapa lama
sudah lewat, terdengar suara dari Thian Liong Toa Lhama
kembali bergema diangkasa: “Buronan yang hendak kau
tangkap apakah bernama Pek In Hoei?"
“Darimana kau bisa tahu kalau dia bernama Pek In
Hoei?" sahut Hoa Pek Tuo dengan hati terperanjat.
“Dari ribuan li jauhnya buru-buru loolap berangkat
kemari, tujuanku yang terutama bukan lain hendak mencari
Pek In Hoei. Oleh karena itu aku harap Hoa Loo sianseng
suka melepaskan satu jalan hidup bagi dirinya”
“Toa Lhama, buat apa kau mencari Pek In Hoei?"
“Sribaginda keluarga Toan yang ada di negeri Tayli
mengetahui bahwa Pek In Hoei ialah manusia berbakat
yang paling bagus di kolong langit dewasa ini. Maka
sengaja ia memerintahkan Pun Kok-su dengan membawa
sepuluh orang jago kelas satu dari istana untuk datang
kemari mencari Pek In Hoei”
Hoa Pek Tuo terperanjat, ia tidak menyangka kalau
secara tiba-tiba bisa muncul utusan khusus dari Sri Baginda
dinegeri Tayli.
Dengan hati setengah percaya setengah tidak pikirnya:
“Pek In Hoei adalah jago lihay dari partai Thiam Cong,
sedangkan jarak antara gunung Thiam Cong dengan negeri
Tayli tidak terlalu jauh, jangan-jangan Kaisar keluarga
Toan dari negeri Tayli benar-benar pernah bertemu dengan
Pek In Hoei dan kini hendak mengangkat dirinya diri....”
Sekalipun ia cerdik melebihi orang dan punya kepintaran
yang luar biasa, tetapi setelah semalaman suntuk secara
beruntun mengalami pelbagai peristiwa yang aneh-aneh,
sedang semua peristiwa itu terjadi secara mendadak serta
diluar dugaan semua membuat ia kehilangan keseimbangan
badannya dan keyakinan terhadap kecerdasan serta
kekuatan sendiripun jauh berkurang.
Dalam kesunyian serta keheningan yang mencekam
seluruh jagat itulah tiba-tiba telinganya menangkap suara
gesekan kaki yang lirih, seakan-akan terdapat seorang
manusia yang terluka sedang bergerak menuju keluar
perkampungan.
“Pek In Hoei, jangan pergi!" segera bentaknya.
Langkah kaki itu terhenti, disusul suara bentakan gusar
dari Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee Thian Gak
berkumandang datang: “Nenek moyang sialan, apa yang
sedang kau teriakkan? sekujur badan Pek In Hoei telah
terluka, keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati,
mana mungkin ia masih bisa berlari?"
Dalam hati Hoa Pek Tuo merasa amat gusar, dia ingin
sekali menubruk ke depan tanpa memperdulikan apapun,
tetapi ia jeri terhadap Thian Liong Toa Lhama sebagai Koksu
Kerajaan dewasa ini, apalagi kedatangannya atas
undangan dari Cia Kak Sin Mo, dia takut rencana besar
yang telah dipersiapkannya selama ini terbengkalai dan
hancur berantakan hanya disebabkan urusan kecil ini saja.
Diam-diam pikirnya dalam hati: “Sepanjang hidupku
baru kali ini kualami penghinaan serta pengejekan yang
paling banyak, tetapi aku rela menyabarkan diri. Hmmm!
kesemuanya ini tidak lain demi pembalasan dendamku
terhadap Hoo Boan Jien si perempuan rendah itu....”
Berpikir demikian, sambil gigit bibir segera ujarnya
“Kalau memang demikian adanya, silakan Toa Lhama
beristirahat dahulu diruang tamu”
“Haa.... haa.... haa.... terima kasih atas maksud baik dari
Loo siangseng, biarlah loolap perintahkan dahulu muridku
untuk menghantar Pek In Hoei pergi ke markas besar Wie
ciangkun sana, kemudian kita rundingkan rencana besar
untuk mempersatukan seluruh dunia persilatan dibawah
kekuasaan kita, disamping itu akupun hendak serahkan
sepucuk surat rahasia dari Cia Kak Sin Mo yang dititipkan
untuk diri Loo-sianseng”.
“Oooo.... jadi Cia Gak Sin Mo telah menitipkan sepucuk
surat rahasia kepada diri taysu silahkan....".
“Surat ini menyangkut rencana besar kita untuk
menguasai sungai Tiang-kang sebelah utara serta selatan,
karena itu Loolap sudah seharusnya kalau serahkan sendiri
surat tersebut kepadamu, tetapi berhubung loolap sedang
melaksanakan perintah dari Sri Baginda maka mau tak mau
aku harus menghantar Pek In Hoei lebih dahulu”.
“Ehmmmm, apakah Thaysu bersikeras hendak
membawa pergi diri Pek In Hoei...?"
“Eeeeei... setelah Loo sianseng kabulkan permintaan
kami tadi, apakah sekarang kau hendak mengingkari janji?".
Ucapan ini membuat Hoa Pek Tuo melengak. “Sejak
kapan aku menyetujui dirimu untuk membawa pergi Pek In
Hoei dari sini?".
“Kurang ajar!” Teriak Thian Liong Toa Lhama dengan
penuh kegusaran. “Tak sangka ucapanmu tak bisa
dipercayai, Hmmm manusia macam begitu bisa-bisanya
mengakui sebagai sahabat karibnya Cia Kak Sin Mo.
Aaaaiii.... aku benar benar merasa kecewa baginya!"
“Apa yang kau kecewakan?".
“Aku merasa kecewa dan kasihan karena dia sudah
mempercayai seorang telur busuk yang lemah tak bertenaga
serta tua bangka sebagai sahabatnya, bahkan mempercayai
telur busuk macam itu untuk mengatur siasat serta rencana
besar guna menguasai kolong langit....”.
Mendadak ucapannya terputus ditengah jalan, disusul
suara batuk yang keras menggema datang.
Kejernihan otak Hoa Pek Tuo boleh dibilang sudah
terlamur oleh hawa gusar serta dongkolnya karena dihina
dan diejek terus oleh pihak lawan, untuk sesaat lamanya ia
tak sempat berpikir Thian Liong Toa Lhama sebagai
seorang jago lihay dari Tibet mengapa tidak tahan terhadap
sumpeknya kabut hitam dan terbatuk batuk.
Dengan penuh kegusaran segera bentaknya: “Toa
Lhama, coba katakanlah sekali lagi dimana letak
kedogolanku? dimana letak kegoblokanku dan dimana pula
terletak kesalahanku? kalau ini hari kau tak sanggup
menerangkan hingga jelas, jangan harap bisa tinggalkan
tempat ini dalam keadaan hidup-hidup".
Thian Liong Toa Lhama tertawa dingin. “Kedogolanmu
terletak pada usiamu yang sudah tua, kegoblokanmu
terletak pada badan yang sudah reyot dan ketololanmu
terletak karena kau sudah tua bangka dan siap masuk liang
kubur”.
Seolah olah tergusur sebaskom air dingin mendadak satu
ingatan berkelebat dalam benak Hoa Pek Tuo, seakan akan
dia berhasil memahami sesuatu namun sebentar lagi ia
merasakan pikirannya melamur dan tidak jelas.
“Sebenarnya kau siapakah?” segera tanyanya setelah
dengan susah payah menghimpun tenaga.
“Hee.... hee.... hee.... kau ingin tahu siapakah
sebenarnya diriku?”
“Apakah kau telah mencatut nama besar dari Thian
Liong Toa Lhama?”. bantah kakek itu dengan darah
tersirap.
“Sedikitpun tidak salah, bagaimanapun juga yang jelas
kau tetap sebagai seorang manusia yang paling goblok
dikolong langit!".
Sekarang Hoa Pek Tuo sudah dapat menebak siapa
lawan bicaranya, dia lantas menjerit lengking: “Kau adalah
Pek In Hoei?”.
Dari balik tebalnya asap hitam menggema datang suara
gelak tertawa dari Pendekar Jantan Berkapak Sakti Chee
Thian Gak, kemudian terdengar ia mengejek: “Telur busuk
tua, tahukah kau siapakah aku?”
Cahaya berapi api memancar keluar dari sepasang mata
Hoa Pek Tuo. “Kaupun Pek In Hoei?” jeritnya.
“Haa.... haa.... haa....” kini suara Jago Naga Emas It
Boen Chiu yang bergema memecahkan kesunyian. “Hoa
Pek Tuo, otakmu sudah mendekati sinting, jangan-jangan
kau anggap akupun sebagai Pek In Hoei?”.
Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, enam titik
cahaya keemas-emasan dengan membentuk sebuah jaring
yang kuat meluncur tiba.
Mimpipun Hoa Pek Tuo tidak menyangka kalau dia
sebagai manusia yang amat cerdik dan sudah banyak tahun
malang melintang dalam dunia persilatan tanpa pernah
jatuh kecundang ditangan orang barang satu kalipun, kini
ternyata harus menelan mentah-mentah pil pahit yang
sangat merusak pamornya, dan dipermainkan oleh Pek In
Hoei tanpa disadari olehnya.
Beberapa patah kata tadi seolah-olah martil besar yang
menghantam kepalanya membuat ia pusing tujuh keliling,
hampir-hampir saja ia jatuh semaput saking tak tahannya.
Dia meraung keras sambil muntahkan darah segar dari
mulutnya laksana seekor beruang terluka loncat masuk ke
dalam jaring emas itu....
Dari tengah kepulan asap hitam meluncur datang titiktitik
cahaya emas, yang dipandang sepintas lalu seakan
akan sebuah jaring besar yang akan mengurung tubuhnya.
Gerakan tubuh Hoa Pek Tuo yang sedang menerjang
seketika merandek ditengah udara, ujung jubahnya
dikebaskan kedepan dan seketika itu juga dua gulung
desiran angin pukulan yang maha hebat meluncur kearah
depan.
Setelah menyaksikan kedahsyatan dari naga kecil
berwarna emas tadi, kakek tua ini tak berani bertindak
gegabah, begitu angin pukulan lepaskan badannya segera
meloncat mundur enam langkah ke belakang.
Gerakan mundurnya kali ini dilaksanakan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, tanpa berjumpalitan
diudara tahu-tahu ia sudah berada dibelakang.
Saat itu itulah cahaya keemas-emasan yang meluncur
datang dari hadapannya tiba tiba bergabung menjadi satu
dan rontok pada kurang lebih enam depa dihadapannya.
Menyaksikan hal tersebut dengan perasaan bergidik Hoa
Pek Tuo membatin di dalam hatinya: “Ilmu melepaskan
senjata rahasia yang ada dikolong langit boleh dikata
kepandaian dan keluarga Tong di Propinsi Su Cuan lah
yang paling lihay dan peling keji. Siapa sangka Si jago Naga
Emas bisa memiliki cara melepaskan senjata rahasia yang
begini lihaynya jauh melebihi keluarga dari Propinsi Su
Cuan!".
Berpikir demikian kakinya lantas berputar dan
memindahkan tubuhnya kearah lain, kemudian setelah
berputar satu lingkaran busur langsung menubruk kearah
Thian Liong Toa Lhama berdiri.
“Hmmm! Hmmm!....” Gelak tertawa nyaring
berkumandang dari balik kabut hitam. “Hoa Pek Tuo, kau
anggap dengan begitu gampang lantas dapat menghindari
ilmu pelepasan senjata rahasia “Lak Liong Yoe Thian" atau
Enam Naga Menembusi Langitku ini?”.
“Kamu sekalian jangan lari....” hardik Hoa Pek Tuo
dengan sepasang alis berkerut.
Belum habis dia berkata bertitik titik cahaya emas telah
saling bertumbukan hingga menimbulkan suara nyaring dan
secara tiba-tiba bagaikan bunga teratai yang mekar
memencar ke empat penjuru.
Senjata rahasia Naga emas yang memencar tadi meliputi
daerah satu tombak disekeliling situ, dengan meninggalkan
guratan panjang di angkasa segera mengurung tubuhnya
rapat-rapat, dan kemudian laksana kilat mendekati
badannya....
Hoa Pek Tuo membentak nyaring, sepasang telapak
secara beruntun melancarkan tujuh buah serangan berantai,
diantara berkelebat dan menarinya cahaya keemas emasan
tubuhnya pun ikut meloncat mundur sejauh tujuh langkah.
Baru saja ia melangkah mundur terdengarlah suara
desiran angin yang maha hebat, seolah-olah melayang
turunnya seekor naga sakti dari tengah udara menyapu dan
membuyarkan kabut hitam yang mengelilingi sekitar tempat
itu.
Sepasang lengannya segera diangkat balas mengirim satu
pukulan, sebuah pusaran angin yang kencang dan cepat
menghisap segenap asap hitam yang sedang menggulung
kearahnya kemudian melemparkannya ke tengah udara.
Secara beruntun ia telah mengeluarkan ilmu “Poh Giok
Chiet Sie" kepandaian maha sakti dari luar lautan untuk
menghadapi lawan. Pertama bukan saja untuk mendesak
mundur pihak lawan, disamping itu diapun takut Si Jago
Naga Emas melancarkan serangan-serangan senjata
rahasianya lagi, maka dari itu Poh Giok Chiet Sie
dimainkan secara berantai membuat asap hitam terhajar
buyar keempat penjuru.
Dalam sekejap mata, pemandangan jadi terang
benderang tetapi bayangan dari Thian Liong Toa Lhama
serta murid muridnya telah lenyap tak berbekas.
Dengan cepat biji matanya berputar. Mendadak ia
temukan diatas permukaan tanah kecuali segumpal darah
segar tidak nampak siapapun jua entah sejak kapan Pek In
Hoei telah berlalu.
Ia tarik napas dalam-dalam untuk mengusir
kemangkelan yang sudah tertimbun dalam dadanya. lalu
pikirnya: “Selama lima puluh tahun terakhir belum pernah
hatiku dirangsang oleh golakan hebat seperti hari ini.
Aaaaaai....! kenapa aku harus melancarkan ilmu Poh Giok
Chiet Sih setelah tubuhku terbakar oleh napsu berahi serta
angkara murka? seandainya aku bisa menenangkan hatiku,
kemangkelan ini pasti bisa kutahan".
Tiba tiba ia teringat kembali akan diri Chin Tiong serta
Ku Loei muka segera panggilnya keras keras “Ku Loei!
Chin Tiong!"
Kobaran api yang membakar pepohonan dibelakang
tubuhnya kian lama kian bertambah lirih dan lemah, asap
hitam yang menggumpal berlapis-lapis kini mulai buyar
terhembus angin, namun jawaban dari Ku Loei maupun
Chin Tiong tak kunjung tiba.
Hoa Pek Tuo gigit bibirnya keras keras sambil tundukkan
kepalanya ia berpikir: “Aku masih teringat ketika asap tebal
masih menutup seluruh jagad, Pek In Hoei telah menusuk
Ku Loei hingga terluka, sedangkan Chin Tiong sama sekali
tidak tahu kalau musuhnya hanya gertak sambal belaka dan
hanya berdiam diri tak berkutik. Kalau tidak, bukankah
sekarang bajingan cilik itu sudah berhasil ditawan?”
Dengan perasaan rasa dongkol makinya: “Kedua orang
manusia itu gobloknya luar sungguh memalukan mereka
sudah mempelajari ilmu silat aliran Seng Sut Hay serta
disebut orang kangouw sebagai Bu-lim Sam Siok, dalam
kenyataan mereka semua tidak lebih hanyalah kurcaci yang
bernyali seperti tikus!. Sialan!”
Asap hitam membawa udara yang panas berhembus
lewat disisi tubuhnya, ia tabok kening sendiri sambil
bergumam: “Aaaaai....! kenapa tingkah lakuku pada hari ini
begini tidak genah dan goblok? bukannya pergi menyelidiki
jejak dari Thian Liong Toa Lhama sebaliknya hanya
menggerutu belaka disini. Beginikah yang dinamakan Hoa
Pek Tuo manusia tercerdik dikolong langit?”.
Sepanjang hldupnya sudah terlalu banyak masalah yang
sulit dan rumit menimpa dirinya. Setiap kali ia selalu
berhasil meloloskan diri dari bahaya maut karena andalkan
kecerdasan otaknya. Karena itu terjalinlah suatu kebiasaan
untuk memikirkan satu persoalan dengan masak-masak
serta mencari sebab musabab yang sebenarnya sebelum
bertindak.
Karena kebiasaannya ini sering kali membuat ia tak
sanggup menduga duduk perkara yang sebenarnya dari satu
masalah, dan malahan sering membuang kesempatan baik
dengan sia2.
Sejak Pek In Koei masuk kedalam perkampungan Tay
Bie San-cung, berulang kali rencana besar yang telah
disusun olehnya secara masak dihancur lumatkan oleh
pemuda itu. Setiap kali pula tindakan si anak muda itu
berada diluar dugaannya. Terutama sekali tindakan Pek In
Hoei yang menggunakan tabiat banyak curiganya secara
beruntun menyerang titik kelemahan tersebut, membuat ia
hampir saja menderita kekalahan total didalam
pertandingan adu kecerdikan ini. Karena itu ia mulai
mencurigai atas kemampuan dari kecerdasan otaknya.
Karena bayangan hitam itulah membuat kakek tua ini
kehilangan kemantapan serta ketenangan hatinya tatkala
secara tiba-tiba ia bertemu dengan Thian Liong Toa Lhama,
Kok-su kerajaan yang muncul secara mendadak
perkampungan Tay Bie San-cung nya.
Lama sekali Hoa Pek Tuo berdiri termangu-mangu
ditengah kalangan, mendadak ia berseru tertahan dan
bergumam kembali: “Bukankah rombongan dari Thian
Liong Toa Lhama terdiri dari tiga orang....? kenapa yang
tertinggal diatas permukaan tanah hanya sebaris telapak
kaki belaka? lagipula diatas tanah terdapat segumpal darah?
sungguh aneh...."
Dengan cepat badannya berkelebat ke depan dan mulai
melakukan pengejaran mengikuti bekas telapak kaki itu.
Dalam keadaan seperti ini dia sudah tidak
memperdulikan keselamatan dari Ku Loei serta Chin Tiong
lagi. Apa yang terdapat dalam benaknya hanyalah mencari
tahu kemana perginya Thian Liong Toa Lhama yang telah
berlalu sambil membawa tubuh Pek In Hoei.
Lambat sekali langkah Hoa Pek Tuo karena bekas
telapak kaki yang tertinggal menimbulkan pelbagai
pertanyaan yang mencurigakan dalam hatinya. Baru saja
berjalan dua tombak jauhnya mendadak ia temukan
kembali segumpal darah kental diatas tanah diikuti bekas
telapak kaki bernoda darah memanjang jauh kedepan dan
kian lamur warnanya sehingga akhirnya lenyap tak
berbekas.
Sinar mata licik terlihat diatas wajahnya, ia tersenyum
sinis, pikirnya “Mereka ingin membuat aku menaruh
prasangka bahwa Pek In Hoei telah melarikan diri lewat
perkampungan sebelah belakang. Hmmm! belakang
perkampungan Tay Bie San-cung adalah tebing yang terjal.
Dibawah tebing merupakan sungai dengan aliran air yang
deras, siapa yang sanggup melewati tempat semacam itu?”
Ia mendongak dan tertawa ter-bahak2. “Haa.... haa....
haa.... suara di timur memukul barat hanya suatu siasat
yang kecil, siasat macam beginipun hendak diperlihatkan
dihadapanku, sungguh tolol”
Di tengah gelak tertawa yang nyaring ia gerakkan
sepasang lengannya kemudian tanpa sangsi sedikitpun
kakek tua itu berkelebat menuju keperkampungan sebelah
depan.
Baru seja bayangan tubuhnya lewat di balik pepohonan
dan gelak tertawanya sirap ditelan awan, dari balik
kegelapan disisi telaga perlahan-lahan merangkak keluar
sesosok bayangan manusia.
Wajahnya pucat pias bagaikan mayat, rambutnya yang
panjang terurai kebawah dalam keadaan yang awut awutan.
Lambat-lambat ia bergerak menuju ketempat dimana Hoa
Pek Tuo berdiri tadi.
Memandang asap hitam yang mulai membuyar
diangkasa, orang itu tertawa dingin seraya mengejek “Hoa
Pek Tuo! kembali kau tertipu oleh siasatku. Hmmm! justru
aku hendak suruh kau rasakan bagaimanakah siasat suara
ditimur memukul dibaratku ini. Kalau tidak mana bisa kau
berikan jalan keluar bagiku untuk melarikan diri lewat
belakang perkampungan?”
Dengan tangan kanan mencekal pedang mustika
penghancur sang surya, ia seka darah yang membasahi
bibirnya lalu bergumam kembali seorang diri: “Hoa Pek
Tuo! aku hendak suruh kau saksikan dan buktikan dengan
mata kepala sendiri bahwa kecerdasan yang dimiliki Pek In
Hoei masih mampu digunakan untuk dirimu. Pada saat
yang bagaimanapun juga aku dapat berdiri dibelakang
tubuhmu, menjadi cacing dalam perutmu dan menguntit
terus dirimu tanpa kau rasakan dan ketahui”
Sorot mata menggidikkan memancar keluar dari biji
mata sianak muda itu, bekas merah darah pada keningnya
tampak bertambah nyata, napsu membunuh sudah
menyelimuti seluruh benak serta hatinya.
Sang surya condong kebarat meninggalkan bayangan
tubuh pemuda itu di belakangnya. Dipercepat langkah
kakinya menuju kearah gundukan tanah dibelakang telaga
Lok Gwat Ouw. Pantulan sinar dari kutang pelindung
badan yang ia kenakan membiaskan cahaya keperakperakan
yang amat menyilaukan mata.
Setelah melewati gundukan tanah, ia tiba ditepi pagar
kayu setinggi dua tombak.
Suasana disekeliling sana sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun ia celingukan kekanan kiri lalu dengan
kelima jari kanannya yang tajam bagaikan jepitan secara
tiba-tiba mencengkeram pagar kayu tersebut.
Pagar kayu itu semuanya terbuat dari balok-balok kayu
yang amat besar, sekalipun begitu cengkeraman jarinya
berhasil menembusi batok tadi sedalam dua coen.
Sekali jejak kakinya, bagaikan burung elang yang
melayang ke angkasa tubuhnya segera berjumpalitan satu
kali di angkasa dan segera melayang diatas pagar dan
meluncur keluar dari daerah terkurung tadi.
Permukaan di bawah pagar kayu merupakan batu-batu
kerikil yang tidak rata. Dengan sempoyongan ia berdiri
disitu. Untung cepat cepat ia tahan keseimbangan tubuhnya
dengan sarung pedang sehingga sang badan tidak sampai
roboh ketanah.
Ia tertawa getir, pikirnya: “Pada hari hari biasa pagar
kayu setinggi dua tombak tidak akan menghalangi diriku
untuk melompatinya. Aaiaai.... tapi sekarang, aku harus
kerahkan segenap tenagaku dan bersusah payah baru
berhasil melompatinya sungguh lihay kepandaian silat dari
Hoa Pek Tuo”
Ia tarik napas dalam dalam, kesadarannya jadi jernih
kembali, pikirnya lebih jauh: “Aku telah bertaruh dengan
Hoa Pek Tuo, seandainya dalam jarak tiga puluh li dari
perkampungan diriku keburu tertangkap kembali maka
sejak ini hari aku tidak akan she Pek lagi. Kalau ditinjau
dari medan disekitar tempat ini yang penuh dengan belukar
serta bukit yang terjal, jelas tidak gampang bagiku untuk
melampaui jarak tiga puluh li"
Ia tahu bahwa hingga detik itu Hoa Pek Tuo masih
belum tahu bahwa sifatnya yang terlalu menaruh curiga
terhadap segala sesuatu ini merupakan titik kelemahannya
yang paling gampang dlgunakan orang. Kekalahannya
selama inipun tidak lebih karena persoalan itu. Seandainya
la mau berpikir dengan pikiran yang dingin, maka dengan
cepat ia akan merasakan bahwa dirinya sudah tertipu.
Pemuda itu tertawa geli, batinnya: “Kalau bukan sejak
kecil aku sering kali pindah rumah sehingga mempelajari
pelbagai logat pembicaraan dari berbagai daerah, tidak
nanti aku bisa gertak Hoa Pek Tuo sehingga lari
terbirit2....”
Segulung angin dingin berhembus lewat membawa bau
harum bunga yang semerbak. Pek In Hoei tarik napas
panjang panjang dan merasakan betapa lapang serta
segarnya suasana disitu.
Ia termenung sejenak kemudian loloskan pedangnya dan
membuat sebuah lubang yang cetek kurang lebih dua depa
diatas pagar kayu tersebut.
Dalam sekejap mata ada enam tempat di luar pagar kayu
itu telah digali olehnya, hingga sepintas lalu seolah olah
tampak enam buah gua yang tertutup oleh pasir.
Memandang hasil pekerjaannya, ia tersenyum ewa,
kemudian menyeka keringat yang membasahi tubuhnya dan
berlalu menuju ke arah utara.
Kedua kakinya melangkah diatas permukaan batu cadas
yang keras, dengan perasaan bangga pikirnya lebih jauh:
“Tindakanku ini akan cukup membuat dia jadi amat repot.
Menanti ia temukan bahwa lubang tersebut adalah jebakan
yang kosong maka cuaca ketika itu tentu sudah gelap.
Dalam keadaan seperti itu bila dia ingin mencari tapak
kakiku diatas batu cadas yang keras. Haa.... haa....
bukankah sulitnya bagaikan mencari jarum di dasar
samudera”.
Batu cadas tadi berlapis-lapis dan memanjang jauh ke
dalam. Banyak liang serta celah celah kecil terdapat pada
permukaan batu itu hingga sepintas lalu kelihatan bagaikan
sarang laba-laba.
“Ribuan tahun berselang mungkin tempat ini merupakan
sebuah sungai yang amat besar” pikir Pek In Hoei “Oleh
sebab itu disini terdapat begitu banyak batu karang yang
berkumpul jadi sebuah bukit”
Tiba tiba ia dengar suara mengalirnya air yang lirih
berkumandang datang dari arah samping, jelas disekitar
sana terdapat sebuah ngarai yang dalam....
“Sungguh indah pemandangan di tempat ini. Akan
kulihat dimanakah letak air terjun tersebut, sebab, kalau
keadaanku berada dalam kegembiraan, betapa nikmatnya
memandang pemandangan yang begini indahnya ini”
Ia percepat langkah kakinya menuju kearah mana
berasalnya suara air tersebut. Untuk sesaat ia telah
melupakan bahwa dirinya sedang menderita luka parah.
Yang dipikirkan saat ini hanyalah ingin menyaksikan
dimanakah letak air terjun tersebut.
Makin berjalan kedepan makin jauh ia tinggalkan tempat
semula, mengikuti suara aliran air tadi ia mengejar terus
kedepan hingga napasnya tersengkal-sengkal pemuda itu
baru menghentikan langkahnya.
Ia rentangkan tangannya menghirup hawa udara ngarai
yang segar. Memandangi cahaya keemas-emasan yang
ditinggalkan sang surya di balik gunung, Pek In Hoei
menghela napas panjang.
“Sungguh indah pemandangan disenja hari ini, tapi
berapa banyak orang yang dapat menikmatinya? Aaaai....
manusia yang hidup dikolong langit, setiap hari tahunya
bekerja, berjuang untuk mempertahankan hidupnya, sama
sekali tiada kegembiraan serta waktu untuk menikmati
keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa”
Alisnya berkerut kencang dan senyuman getir
tersungging dibibir, pikirnya lebih lanjut: “Sayang aku
masih memikul tanggung jawab yang sangat berat. Kalau
tidak, maka akan kubuang semua pikiran dari benakku,
akan kujelajahi semua gunung yang indah di kolong langit
untuk mencari ketenangan serta ketenteraman hidup yang
didambakan oleh setiap umat manusia”.
Tak tahan ia menghela napas panjang pikirnya lebih
jauh: “Sayang kesemuanya itu hanya khayalan belaka.
Selamanya umat manusia tidak akan berhasil melakukan
apa yang diidam-idamkan dalam hatinya. Setiap saat ia
harus mengimbangi keadaan disekelilingnya dan
melakukan pekerjaan yang tidak disenanginya”
Setelah melewati sebuah bukit karang yang tinggi,
pemandangan dihadapannya tiba tiba berubah. Seluruh
bukit boleh di kata bertautan sama lainnya, seakan akan
sebidang tanah datar.
Ia mendongak memandang bukit terjal yang beradapun
jauh disana, memandang pepohonan serta semak belukar
yang merimbun diatas dinding.
“Oooh.... sungguh indah pemandangan di tempat ini”
Seolah olah dia telah melupakan keadaannya yang
berada dalam bahaya, lupa bahwa ia sedang berusaha
melepaskan diri dari kejaran Hoa Pek Tuo. Pemuda itu
mulai melamun dan mengkhayalkan kejadian yang bukan2.
Mendadak....
Suara nyaring bagaikan jeritan naga berkumandang
datang dari tempat kejauhan. Sesosok bayangan manusia
laksana kilat meluncur tiba diikuti dua sosok bayangan
manusia lainnya menyusul dibelakang.
Pek In Hoei terperanjat. Baru saja otaknya berputar
kencang untuk mencari jalan keluar, ketiga sosok bayangan
manusia tadi dengan memencarkan diri dalam posisi
segitiga telah meluncur datang semakin dekat.
Dengan hati terkesiap segera pikirnya: “Sungguh tak
kusangka begitu cepatnya Hoa Pek Tuo telah menyusul
datang kemari, bahkan dua orang yang menyertai dirinya
bisa bergerak begitu cepat. Jelas mereka pun merupakan
jago-jago Bu-lim yang memiliki ilmu silat sangat lihay”
Tanpa berpikir penjang lagi badannya bergerak
menyingkir ke sebelah kanan. Setelah ditemuinya sebuah
gua, tanpa berpikir panjang sianak muda itu menerobos
masuk kedalam.
Luas gua tadi tidak seberapa besar, dalamnya pun hanya
mencapai empat depa, persis digunakan untuk
menyembunyikan seseorang.
Pek In Hoei melingkarkan tubuhnya bersembunyi dalam
gua tadi. Pedang mustika penghancur sang surya dipegang
erat erat di tangan kanan. Ia bersiap sedia hendak
melancarkan serangan maut bilamana keadaan memaksa.
Baru saja ia menyembunyikan badannya, terdengarlah
Hoa Pek Tuo yang ada diluar telah berteriak keras: “Pek In
Hoei, ayoh keluar”
Diikuti suara yang amet nyaring bagaikan genta
berkumandang datang dari belakang tubuh kakek tua itu.
“Hoa loo, kalau kau berteriak dengan cara begitu,
sekalipun Pek In Hoei mendengar panggilanmu juga tak
akan menjawab, buat apa kau buang tenaga dengan
percuma?”.
“Kong Yo heng, kau tidak mengerti betapa keji dan
jahatnya manusia yang bernama Pek In Hoei itu. Berulang
kali ia telah menjebak serta mempermainkan diriku.
Hmmm bahkan ia hendak menggunakan siasat berantai
untuk memancing aku menuju ke jalan yang sesat”
“Haa... haa... haa...” orang yang disebut Kong Yo heng
tadi segera tertawa terbahak bahak. “Aku Cia Kak Sin Mo
baru kali ini mendengar bahwa di kolong langit masih
terdapat juga seorang manusia yang berani beradu
kecerdasan dengan Hoa heng. Hmmm semua umat bu-lim
yang ada dikolong langitpun sudah berada dalam
perhitunganmu. Masa menghadapi seorang bocah cilikpun
kau tidak mampu?”.
Pek In Hoei yang mendengar perkataan itu diam diam
merasa amat terperanjat. Ia tidak menyangka bahwa
gembong iblis dari laut Seng Sut Hay, jago kaum sesat yang
terlihay dikolong langit, Cia Kak Sin Mo telah ikut datang
pula di sana.
Dengan perasaan terperanjat segera pikirnya: “Janganjangan
orang ketiga yang menyertai mereka bukan lain
adalah istrinya Pek Giok Jien Mo?”.
Saking gentar dan takutnya terhadap gembong iblis yang
sudah hampir tujuh puluh tahun lamanya menggentarkan
dunia persilatan ini, tanpa sadar sianak muda itu mencekal
pedangnya semakin kencang. Segenap perhatian serta
tenaganya dipusatkan pada ujung senjata tersebut.
Angin malam berhembus sepoi sepoi membawa suara sir
yang bergemerincingan, seolah olah terbuai oleh irama lagu
yang lembut dan merdu.
Tapi dalam benaknya saat ini sama sekali tiada minat
untuk menikmati keadaan tersebut. Apa yang terpikir
olehnya hanyalah bagaimana caranya melepaskan diri dari
incaran ketiga orang gembong iblis itu.
Dalam keadaan seperti ini Pek In Hoei tak berani
bernafas terlalu keras. Ia himpun semua kegugupan hatinya
didasar lubuk kemudian memencarkan ke dalam setiap urat
dan setiap jalan darah.
Lama kelamaan ia mulai melupakan keadaan
disekitarnya. Segenap perhatian dan kekuatannya telah
terhimpun di dalam senjata dan telapaknya.
Tiba tiba....
Dari balik irama air yang berpautan dengan hembusan
angin berkumandang datang suara dentingan irama khiem
yang tajam. Suara tersebut seakan akan dua bilah pisau
belati yang sangat tajam menembusi ulu hatinya, membuat
hatinya bergetar dan sekujur tubuhnya gemetar keras.
Diikuti suara permainan khiem itu kian lama kian
bertambah tajam dan bertambah lengking. Seluruh angkasa
pura telah dipenuhi oleh irama yang tak sedap didengar itu.
Otot serta kulit badan Pek In Hoei mulai berkerut.
Dengan penuh penderitaan ia bongkokkan pinggangnya, ia
tetap bertahan dengan segenap tenaga. Ia berusaha agar
suara rintihannya jangan sampai kedengaran oleh ketiga
orang itu.
---0d0w0---
14
“HOA PEK TUO” seruan seorang perempuan yang
tinggi melengking berkumandang keangkasa menembusi
suara khiem yang belum buyar. “Kau mengatakan bahwa
Pek In Hoei pasti sudah lari ketempat ini, mengapa irama
Khiem ku tidak berhasil memaksanya keluar dari tempat
persembunyian?”.
“Hujien” sahut Cia Kak Sin Mo dengan nada keras
“Hoa-Loo pun berhasil dikelabui oleh Pek In Hoei. apalagi
permainan "Hong Loei Cho" mu barusan, sudah pasti tak
akan berhasil memancing kemunculan menusia licik ini”
Pek In Hoei yang mendengar perkataan tersebut diam
diam tertawa getir. Dia buka bibirnya dan muntahkan darah
segar yang telah ditahannya selama ini.
“Setan ini, bajingan keparat!” maki Pek Giok Jien Mo
dengan penuh kegusaran “Kau berani mengatakan
permainan khiem ku tidak becus? Hmmm, dahulu kau
mesih memuji-muji permainan khiem ku yang dikatakan
menyerupai permainan para bidadari. Sekarang kau berani
pandang enteng aku si Iblis Khiem kemala hijau?”.
“Haa.... haa.... haa... Hujien itu kan soal tempo dulu.
Bayangkan saja dahulu wajahmu cantik jeliia bagaikan
bidadari yang turun dari kahyangan. Hmmm, sekarang
coba bercerminlah bagaimanakah tampangmu itu?”
“Setan tua, ceriwis benar mulutmu yang usang. Kau toh
sudah tahu bahwa usia Loo-nio tahun ini sudah hampir
mencapai delapan puluh tahun, mana bisa dibandingkan
semasa masih berusia delapan belas tahun? Kenapa kau
tidak bercermin pula? Lihatlah tampangmu yang kurus
kering macam tampang monyet itu, jelekmu melebihi diriku
berkali-kali lipat. Hmmm bisa-bisanya mengatakan
tampang Loo nio jelek?”
“hujien, aku toh tidak mengatakan kalau wajahmu jelek,
cuma tidak secantik tempo dulu”.
“Kentut busuk makmu. Lebih baik tak usah jual tampang
lagi dihadapanku. Dahulu kaupun seorang keparat cilik
yang gundul, berkaki telanjang dan sekujur badan penuh
dengan kudis. Semuanya salahku sendiri kenapa mataku tak
berbiji dan sudi kawin dengan kau si setan tua. Hmmm,
sialan”
Suara dari Cin Kak Sin Mo jadi semakin lemah, buru2
bisiknya lirih: “Sudah.... sudahlah. Hujien Janganlah kau
korek korek kejelekenku hingga pada dasarnya.... mau
bukan?".
“Ciiss... siapa yang jadi istrimu? istrimu sudah modar di
tangan ketiga orang setan tua dari luar lautan”.
“Tempo dulu aku toh tidak sengaja hendak suruh kau
rasakan jotosan ilmu “Koan Goen Kien Seh” dari Thay Chi
si keledai tua itu. Aku kan terpaksa harus menghindar
karena terdesak oleh ilmu setan "Poh Giok Kang” nya Pok
giok Cu”
“Hmmm mengungkap persoalan masa silam, hatiku
merasa semakin dongkol, seandainya wajahku pada masa
yang lalu tidak terluka oleb pasir emas, mana mungkin aku
bisa menelan kekalahan di tangan thian Tie Loosie?
Kemudian aku pergi ke gunung Thian san untuk mencari
teratai salju, kaupun tidak berhasil mendapatkannya.
Karena itulah wajahku tak dapat pulih kembali seperti
sediakala. Apalagi soal itu....”
Sekalipun perkataan itu diutarakan sangat cepat, tetapi
suaranya tetap lembut dan merdu, dan walaupun
ucapannya kotor namun masih sedap kedengarannya.
Dalam pada itu tu Pek In Hoei yeng bersembunyi di
balik gua sedang merasa pusing kepala karena irama khiem
dari Pek Giok Jien Mo. Dia tahu apabila harus
mendengarkan irama khiem itu lebih jauh, maka
jantungnya pasti akan pecah dan mati binasa.
Siapa sangka peda detik yang amit kritis itulah Sang Sut
Hay Siang Mo telah cekcok sendiri.
Dari percekcokan itulah, ia bisa bayangkan
bagaimanakah wajah Pek Giok Jien Mo saat itu serta sikap
Cia Kak Sin Mo yang serba kikuk den jengah.
Tapi.... secara tiba tiba ia teringat kembali akan diri Hoa
Pek Tuo, segera pikirnya: “Sudah begini lama sepasang iblis
dari samudra Seng Sat Hay cekcok, kenapa tidak
kedengaran suara dari Hoa Pek Tuo? sepantasnya ia
menasehati mereka berdua dengen beberapa patah kata”
Berpikir demikian, ingin sekali ia melongok keluar dari
tempat persembunyiannya untuk melihat siapa yang sedang
di lakukan Hoa Pek Tuo pada saat itu, namun ketika
teringat kembali akan kelicikan serta kecerdikan si kakek
tua itu, dengan cepat ia batalkan niatnya kembali.
Sesaat kemudian suasana diatas tebing batu karang pulih
kembali dalam kesunyian, suara cekcok dari sepasang iblis
itupun tak kedengaran lagi seolah olah mereka sudah jauh
meninggalkan tempat itu.
Kesunyian yang mencekam seluruh jagad ini sangat
menekan perasaan batin Pek In Hoei. Suasana diatas tebing
makin sunyi hatinya semakin tegang dan batinnya semakin
tersiksa. Ia takut secara tiba tiba Hoa Pek Tuo
memperlihatkan siasat keji lain yang memancing dia masuk
dalam jebakan.
Perlahan-lahan tangan kirinya merogoh kadalam saku
ambil keluar tiga batang senjata rahasia naga emas,
batinnya: “Seandainya jejakku diketahui oleh mereka, maka
pertama tama akan kusuruh mereka rasakan dahulu
bagaimana lihaynya senjata rahasia naga emas!”
Angin malam berhembus sepoi2. Dibawah sorot cahaya
rembulan yang redup tampaklah bayangan bukit cadas
seakan akan berubah jadi sesosok iblis yang sedang
mengincar Pek In Hoei dalam persembunyian.
Ia tertawa getir, pikirnya “Sungguh kasihan nasibku,
setiap kali aku harus berusaha mencari jalan hidup dibawah
pengejaran orang. Setiap kali malaikat elmaut tertawa
mengejek dihadapanku, keadaanku tidak jauh berbeda
bagaikan seekor tikus kecil yang selalu melarikan diri dari
jangkauan cakar kucing”
Angin malam yang dingin berhembus lewat, ia menggigil
dan bergidik, bulu kuduknya pada bangun berdiri.
“Kenapa aku harus menggerutu dan memikirkan hal
yang bukan bukan? aku percaya malam ini pasti berhasil
melepaskan diri dari bahaya maut, karena malaikat
penyelamat selalu menjaga keselamatan serta keamananku”
Dengan tenang ia menanti.... menanti datangnya elmaut
yang mencabut jiwanya.
Kerlipan kunang kunang nan jauh disitu berkelebat
kesana kemari bagaikan api setan dipekuburan. Dia merasa
seolah olah ada mata iblis yang sedang mengincar dirinya.
Mendadak ia tersentak kaget. Sekarang ia dapat melihat
jelas bahwasanya kerlipan kunang kunang yang
dikhayalkan sebagai mata iblis tadi berubah jadi sepasang
biji mata yang penuh memancarkan cahaya kekejaman,
kerlipan mata yang menggidikkan dengan penuh perasaan
dendam sedang menatap dirinya tak berkedip.
Kini, ia yakin seratus persen bahwa ada sapasang
manusia sedang mengintip gerak geriknya dan setiap saat
siap menerkam dirinya.
Tak usah dilihat lebih jauh ia sudah mengerti siapakah
orang itu, pedangnya segera dilintangkan didepan dada siap
menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan.
“Hmmm. Hmmm!” Hoa Pek Tuo perlahan lahan
bangkit dari kegelapan, lalu menjengek dengan nada dingin
“Keparat cilik, kau masih ingin melarikan diri kemana
lagi?”.
Pek In Hoei menggetarkan telapak kirinya siap
mengambilkan senjata rahasia naga emas yang
digenggamnya, tapi dengan cepat satu ingatan berkelebat
dalam benaknya. Ia batalkan maksud tersebut dan segera
masukkan kembali senjata rahasia tadi kedalam saku,
kemudian dengan dada lapang meloncat keluar dari tempat
persembunyian.
Hoa Pek Tuo tertawa dingin: “Hee... hee... hee...
sekalipun kau licik dan banyak akal, jangan harap bisa
melepaskan diri dari cengkeram loohu. Hmmm, Pek In
Hoei! tahukah kau sudah berapa lama loohu mengincar
dirimu dari situ?”.
Pek In Hoei mendengus sinis. Ia dongakkan kepalanya
dan perlahan-lahan melangkah ke atas batu karang.
Meskipun hatinya berdebar debar tetapi menghadapi
tantangan perang menjelang kematiannya, ia malah tidak
gentar, hatinya makin lama semakin tenang.
Memandang bayangan panggungnya Hoa Pek Tuo ia
tertawa dingin, melangkah demi selangkah diapun meloncat
keatas batu cadas yang bidang tersebut.
(Oo-dwkz-oO)
Jilid 20
SEKILAS memandang Pek In Hoei telah menangkap
adanya dua sosok bayangan manusia yang tinggi besar
berdiri tepat di atas gua karang di mana ia
menyembunyikan diri tadi.
“Keparat cilik” teriak kakek she Hoa itu. “Kematian
sudah berada dldepan pintu. Namun sebelum malaikat
elmaut mencabut nyawamu, aku beri kesempatan
kepadamu untuk menjumpai jagoan yang terlihay dari
kalangan jahat. Mereka adalah “Cia Kak Sin Mo” Iblis
Sakti Berkaki Telanjang Kong Yo Leng serta “Pek Giok
Jien Mo” Iblis Khiem Kumala Hijau Mie Liok Nio”
Perlahan lahan Pek In Hoei mengangguk “Sungguh
besar kegembiraan kalian berdua. Ditengah malam buta
sedingin ini kamu berdua masih sudi menemani Hoa Pek
Tuo untuk datang kemari menikmati rembulan digunung
yang tandus”
Cia Kak Sio Mo tertegun, kemudian sambil menepuk
kepalanya yang botak bentaknya keras2: “Keparat ciiik, jadi
kaulah yang bernama Pek In Hoei dari partai Thiam Cong”
“Dikolong langit hanya ada seorang yang bernama Pek
In Hoei dan dia adalah aku, masa ada orang kedua?”
Rupanya Cia Kak Sio Mo tidak menyangka kalau
keberanian Pek In Hoei begitu besar kendati sudah
terkepung oleh tiga orang jagoan yang terlihay dalam dunia
persilatan dewasa ini, bukan saja tidak menampilkan rasa
gugup atau terperanjat bahkan malahan tenang dan
tersenyum.
Ia lantas mendongak dan tertawa terbahak-bahak,
“Haa... haa.... haa.... keparat cilik, besar benar nyalimu!”.
“Criiiing...!”
Pek Giok Jien Mo menyentil senar khiemnya, lalu
membentak: “Pek In Hoei, besar benar nyalimu berani
melukai muridku, Hmmm, rupanya kau sudah bosan
hidup?”.
Oleh getaran irama khiem tersebut Pek In Hoei rasakan
ulu hatinya seakan akan ditusuk oleh benang tajam. Begitu
sakitnya hingga darah amis segera naik ke atas tenggorokan
dan hampir saja muntah darah.
Ia gigit darahnya kencang kencang menahan penderitaan
yang dirasakan dalam tubuhnya. Dengan suara dingin
segera jawabnya: “Asalkan kau tidak memperdulikan
kedudukan serta usiamu, mari.... mari.... dengan senang
hati kusambut kedatangan kamu semua dan aku Pek In
Hoei akan layani kalian hanya mengandalkan sebilah
pedang ini”
“Keparat cilik” geram Kong Yo Leng dengan marahnya,
“Kau berani mengucapkan kata kata seperti itu? ku jagal
dirimu”.
Sekali ayun mendadak sepuluh batang pedang pendek
laksana kilat meluncur ke arah tubuh sianak muda itu.
Dengan cepat Pek In Hoei mengeluarkan pedangnya,
dengan jurus “Jiet Im Si Pian” atau Bayangan Sang Surya
Condong Kebarat ia bentuk selapis cahaya pedang yang
segera melindungi seluruh tubuhnya.
Cia Kak Sin Mo mendengus dingin. Kesepuluh jarinya
disentilkan berbareng sepuluh bilah pedang pendek dengan
disertai hawa khikang yang kuat dengan cepat meluncur
kembali ke depan.
“Duuuk.... duuuk....” cahaya tajam mendadak sirap,
pedang panjang itu dengan di iringi cahaya panjang
melayang ke angkasa dan rontok kurang lebih dua tombak
dari tempat semula.
Oleh desakan hawa khiekang yang maha dahsyat, tubuh
Pek In Hoei terdorong mundur ke belakang hingga jatuh
terduduk di atasi batu cadas, tak tahan lagi ia berseru berat
dan menyemburkan darah segar dari mulutnya.
Sekalipun begitu, pemuda kita tidak menjadi gentar.
Perlahan-lahan ia bangkit berdiri dengan pandangan yang
sangat dingin ditatapnya wajah Cia Kak Sin Mo tajam
tajam.
“Keparat cilik, apa yang hendak kau katakan lagi?”
jengek Kong Yo Leng dengan nada seram.
“Sikapmu yang kejam terhadap diriku saat ini, pasti akan
kubayar kembali beserta bunga bunganya dikemudian hari”
“Haa.... haa.... haa.... dua kali Loohu merantau dalam
dunia persilatan, entah sudah berapa banyak manusia yang
kubunuh mati, tapi.... coba kau lihat, bukankah hingga kini
aku masih hidup dalam keadaan segar bugar?”
Mendadak gelak tertawa terputus ditengah jalan. Dengan
pandangan mendelong ditatapnya wajah Pek In Hoei tajam,
tanpa sadar sekujur badannya bergidik.
Ternyata secara mendadak ia telah menjumpai bekas
merah darah yang terdapat pada kening pemuda tersebut.
Bekas merah itu kian dipandang kian bertambah nyata.
Raut wajahnya yang ganteng penuh diliputi napsu
membunuh, sikap serta keadaan dari sianak muda itu
membuat hatinya tanpa sadar jadi ciut.
“Keparat, kenapa kau melototi terus diriku!” hardiknya
dengan penuh kemarahan.
Pek In Hoei tetap membungkam, sementara sorot
matanya buas menggidikkan memancar keluar semakin
nyata.
Diam diam dia tarik nafas panjang panjang, pikirnya:
“Seram benar pandangan mata keparat cilik. Maknya....
kalau tidak cepat-cepat kujagal bangsat ini, setiap kali
kutemui dirinya hatiku bisa jadi keder dan bulu kudukku
tanpa sadar pada bangun berdiri”
Hoa Pek Tuo sebagai manusia yang amat cerdik segera
dapat merasakan apa yang sedang dipikirkan Cia Kak Sin
Mo dari tingkah laku iblis tersebut, dengan nada dingin
segera serunya: “Kong Yo Leng heng jangan terpengaruh
oleh sorot matanya yang seram. Keparat cilik ini
mempunyai ilmu pembetot sukma”
Kong Yo Leng meraung keras badannya cepat berputar
diangkasa, kaki kanannya diangkat dan laksana kilat
mengirim beberapa buah tendangan berantai ke arah tubuh
pemuda tersebut.
Dalam tendangannya ini dia telah menggunakan ilmu
tendangan “Teng Thian Lak Lee” yang maha dahsyat dari
aliran Seng Sut Hay. Ilmu ini adalah hasil ciptaannya
setelah ia diusir dari daratan Tionggoan oleh tiga dewa dari
luar lautan.
Begitu tendangan tersebut dilancarkan, tak mungkin bagi
pihak lawannya untuk menghindar, tidak ampun lagi
serangan tersebut dengan telak bersarang di dada Pek In
Hoei.
Untung si anak muda itu mengenakan kutang pelindung
badan yang melindungi tubuhnya. Sekalipun begitu ia
rasakan dadanya seakan akan dihajar oleh martil besar yang
membuat jantung serta isi perutnya bergolak keras.
Mengikuti datangnya tendangan tadi, badannya mencelat
tujuh delapan depa dari tempat semula dan jatuh terbanting
di atas tanah.
Ia menghembuskan napas panjang, matanya dengan
cepat terputar ke samping, dilihatnya pedang penghancur
sang surya miliknya tepat menancap di atas batu cadas
kurang lebih lima depa dari sisi tubuhnya.
Air bercampur darah mengucur keluar diri bibir,
perlahan lahan dia angkat ujung bajunya untuk
membersihkan noda darah tersebut. Setelah mengendorkan
tubuhnya yang menegang, hawa murni segera disalurkan
mengelilingi seluruh tubuh.
Manyaksikan keadaan lawannya, Hoa Pek Tuo tertawa
seram, serunya dingin: “Pek In Hoei, kau berlagak pintar
dan secara beruntun mengatur dua jebakan yang licik, kau
anggap dengan berbuat demikian lantas bisa melepaskan
diri dari cengkeramanku? Hmm.... hmmm.... kau terlalu
pandang rendah aku orang she-Hoa”.
Dengan mulut membungkam, Pek In Hoei memandang
sekejap ke arahnya, kemudian sambil bangkit dari atas
tanah katanya “Kau anggap dirimu paling cerdik di dunia
dan tiada tandingannya, kenapa sampai tertipu olehku?”.
Hoa Pek Tuo memandang sekejap wajah lawannya yang
dihiasi dengan senyuman mengejek, kemudian tertawa
hambar. “Ooouw.... jadi kau anggap aku sudah berhasil kau
kelabuhi dengan siasat suara ditimur menghantam dibarat
serta siasat benteng kosongmu?”.
Diam diam Pek In Hoei pun terperanjat atas kehebatan
orang, ia tidak menyangka siasat benteng kosong yang
dipergunakan olehnya di balik tebalnya asap hitam berhasil
diketahui orang tapi setelah ia berpikir sejarak tanpa sadar
pemuda kita ini mendongak dan tertawa ter bahak2.
“Silahkan tertawa sepuas puasnya” seru Hoa Pak Tuo
ketus “Karena sebentar lagi kau akan merasakan siksaan
lima racun yang terkeji dlkolong langit”.
“Hmmm, terangkan dahulu kapankah aku telah
menggunakan siasat benteng kosong untuk mengelabuhi
dirimu?”.
“Kalau tidak kuberitahukan kepadamu, mungkin kau
tidak rela. Hmmm, sejak kapan dalam perkampungan telah
kedatangan Thian Liong Toa Lhama....?”.
“Haa.... haa.... haa.... ternyata peristiwa inilah yang kau
anggap sebagai siasat benteng kosong” tukas Pek In Hoei
tidak menanti lawannya menyelesaikan perkataan itu.
“Hmmm saat ini Thian Liong Toa Lhama serta kedua
orang saudaranya telah menyusup kedalam
perkampunganmu untuk mencari bukti-bukti yang
menerangkan atas persekongkolanmu dengan orang
Mongol untuk melawan Sri Baginda”
“Hoa Loo, dari mana ia bisa mengatakan hal tersebut?”
cepat cepat Cia Kak Sin Mo berseru dengan wajah
melengak.
“Kong Yo heng tak usah mendengarkan obrolan dari
bangsat cilik ini. Apa yang diutarakan tidak lebih hanya
ocehannya sebelum ajal menimpa dirinya.”
“hee.... hee.... hee.... kalau kau tidak percaya,
buktikanlah sendiri perkataanku” seru Pek In Hoei sambil
tertawa dingin “Pada saat ini Ku Loei serta Chin Tiong
telah ditangkap jago naga emas It Boen Chiu dan digusur ke
dalam istana gubernur!”
“Sungguhkah peristiwa ini?” bentak Kong Yo Leng
dengan mata melotot.
“Siapa yang membohongi dirimu? dalam operasinya kali
ini, Thian Liong Toa Lhama telah memimpin sepuluh
orang perwira kelas satu serta dua puluh orang perwira
kelas dua”
“Hee.... hee.... hee.... darimana kau bisa mengetahui
akan peristiwa ini?”
“Sebab cayhe adalah ialah satu diantara perwira tinggi
kelas dua yang di pimpin olehnya”
Kong Yo Leng menjerit aneh, kelima jari tangen
kanannya segera menyentil ke depan, kuku yang panjang
direntangkan dan laksana lima bilah pisau kecil secara
berbareng menusuk ulu hati Pek In Hoei.
===0d0w0===
Sementara itu, Hoa Pek Tuo sedang mempertimbangkan
kebenaran dari ucapan si anak muda itu. Menyaksikan
serangan Kong Yo Leng sudah hampir mencabut jiwa
musuhnya, dengan hati terperanjat segera teriaknya: “Kong
Yo heng jangan kau bunuh dulu bangsat cilik ini!”
Dengan cepat tubuhnya meluncur ke depan. Ujung baju
dikebaskan ke depan menggulung kelima jari Kong Yo
Leng dan menghadang dihadapan Pek In Hoei.
“Criiiing....! getaran senar khiem beedengung di angkasa,
sekilas bayangan hijau berkelebat kemuka menghadang di
hadapan Kong Yo Leng, Sementara sebuah khiem kuno
berwarna hijau menghantam Cia Kak Sin Mo.
Mimpipun Kong Yo Leng tidak menyangka kalau
serangannya akan memancing tangkisan gabungan dari
kedua orang rekannya, buru buru ia tekan lengan kanannya
ke bawah, sikutnya miring lima coen ke samping dan
bergesek dengan khiem antik miiik istrinya.
Ketiga orang itu sama sama merupakan jago lihay yang
berkepandaian tinggi, dengan sendirinya maju mundur
merekapun dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat,
hanya sedikit bersentuhan mereka telah saling berpisah
kembali.
“Setan tua!” maki Mie Liok Nio dengan gusar.
“Terhadap pemuda ingusan macam itupun kau hendak
turun tangan keji. Hmmm sungguh tak tahu malu.”
Kong Yo Leng sendiripun sadar bahwa tidak
sepantasnya kalau ia binasakan Pek In Hoei dalam keadaan
gusar, maka tatkala ditegur oleh istrinya dengan tersipu-sipu
ia lantas berkata: “hujien, apa sangkut pautnya persoalan
ini dengan tahu malu ataa tidak tahu malu?”
Iblis Khiem Kumala Hijau melotot bulat, kelima jarinya
menyentil di atas senjata khiem nya “Criiing” getaran
nyaring segera membelah bumi.
Irama khiem tersebut seakan akan sebilah pisau yang
menarik hati Ko Yo Leng. Dengan alis berkerut memaksa
iblis tersebut mundur dua langkah ke belakang.
“Setan tua kau berani berkelahi?” teriak Mio Liok Nio.
Sambil mengusap kepalanya yang botak, Iblis Sakti
Berkaki Telanjang tertawa jengah. “Oooh. hujien,
anggaplah aku jeri padamu, janganlah kau perlihatkan
kecelaanku di depan Hoa heng, mau bukan?”
“Enso untuk kali ini ampunilah diri Kong Yo heng”
buru2 Hoa Pek Tuo pun ikut menimbrung, “Karena
mendengar kedua keponakannya ditawan orang, ia telah
gusar dan hilang kesadaran.... hal ini iak bisa disalahkan
dirinya”
Kemudian sambil angkat tangan kanannya menghadap
Cia Kak Sin Mo, katanya pula: “Kong Yo heng, coba kau
lihat pedang kecil panembus hatimu telah merusak
pakaianku, besok kau harus ganti pakaianku dengan satu
stel pakaian baru”.
Kong Yo Leng memandang ke arah yang ditunjuk,
sedikitpun tidak salah, ujung jubah Hoa Pek Tuo telah kena
dilubangi oleh kesepuluh jarinya yang sedang menggunakan
ilmu pedarg kecil penembus hati.
Ia mengerti Hoa Pek Tuo sedang bantu dirinya untuk
mengalihkan pembicaraan, maka ia lantas tertawa terbahak
bahak. “haa.... haa.... haa.... baik, baik, besok aku pasti
akan mengganti dengan dua stel jubah baru”
Melihat tingkat laku kedua orang itu, Mie Liok Nio
mendengus dingin, “Manusia yang tak becus, terhadap
seorang bocah cilik yang sudah terluka parah yang tak
sanggup kau bunuh dalam dua serangan berantai, sudah
begitu masih juga tak tahu malu hendak menyerang lagi.
Hmmm. sebetulnya kau punya rasa malu tidak?”
Kong to Leng tertawa getir, ia merasa lebih baik
bungkam dalam seribu bahasa daripada dimaki lebih jauh.
“Keparat cilik ini sangat licik dan banyak aksinya” sela
Hoa Pek Tuo dari samping. “Tidak bisa salahkan Kong Yo
heng jadi kalap ketika ia mendengar dia adalah perwira dari
istana dan kedua keponakannya ditawan”
“Oooh. Jadi kau anggap muridku bukan orang?” tukas
Mie Liok Nio dengan mata melotot “Ia telah dihantam
sampai terluka oleh keparat cilik ini. Apakah kau tak boleh
menanyai dirinya hingga jelas?”
Sambil menyentil khiem, katanya menambahkan:
“Sekarang aku hendak bertanya kepadanya. Aku minta
kamu berdua tak usah ikut mencampuri urusan”.
Setelah melotot sekejap ke arah Cia Kak Sin Mo,
perempuan itu segera melangkah mendekati Pek In Hoei.
Menggunakan kesempatan selama sepasang iblis itu
seling bercekcok, Pek In Hoei telah coba menyalurkan hawa
murninya mengelilingi seluruh tubuh. Sekalipun ia tak
berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatannya, namun
selama ini ia telah peroleh sedikit kemajuan.
Saat itulah Mie Liok Nio dengan langkah yang enteng
dan cepat telah melayang ke hadapannya. Berlainan dengan
sikap Cia Kak Sln Mo, sikap perempuan ini amat baik dan
ramah.
“Benarkah kau adalah perwira kelas satu dari istana?”.
Dengan wajah melengak Pek In Hoei angkat kepalanya.
Tampaklah Iblis Khiem Kemala Hijau ini memakai baju
berwarna hijau dengan sebuah tusuk kemala warna hijau
menancap di atas kepalanya, sepatunya terbuat dari kain
hijau dan di bawah sorot cahaya rembulan nampak seluruh
tubuhnya berwarna serba hijau.
Wajahnya meski sudah dipenuhi oleh kerutan, namun
masih nampak dengan jelas kecantikan wajahnya dikala
muda.
Hanya sayang pada kening perempuan itu terdapat
selapis kulit berwarna hitam pekat, membuat wajahnya
kelihatan rada menakutkan di tengah malam buta tersebut.
“Sungguh tak kusangka suhu dari Kim In Eng cianpwee
adalah perempuan semacam ini” pikirnya. “Semula aku
masih mengira jagoan lihay dari samudra Seng Sut Hay ini
pastilah seorang gembong iblis yang berhati kejam, tak
kusangka sikapnya jauh berbeda dengan Cia Kak Sin Mo”
(Oo-dwkz-oO)
15
DALAM pada itu tatkala dilihatnya pemuda itu tidak
menjawab pertanyaannya malahan mamandang ke arahnya
dengan termangu-mangu, timbul rasa kasihan dalam hati
Mie Liok Nio, kembali bisiknya lirih: “Parahkah luka yang
kau derita?”
Sejak perkenalannya dengan Iblis Khiem Kumala Hijau,
belum pernah Kong Yo Leng menyaksikan sikap istrinya
yang begitu lembut dan halus. Ia nampak tertegun sejenak
kemudian rasa cemburu yang hebat segera bergelora dalam
dadanya.
===0d0w0===
“Keparat cilik itu sudah kena tendangan mautku”
teriaknya keras-keras, “Tak mungkin dia bisa hidup lebih
lama dari setengah jam, kau anggap dia masih bisa
ditolong?”.
Mie Liok Nio sendiripun diam-diam merasa terperanjat
atas ucapannya yang begitu lembut dan halus, sekarang
mendengar teriakan Kong Yo Leng yang diliputi rasa
cemburu, ia jadi mendongkol bercampur geli, diam-diam
makinya: “Setan tua sialan, kenapa tidak kau lihat dulu
berapa besar usia bocah ini? Dia sudah mirip anakku.
Hmm! masa pada masa seperti inipun kau masih menaruh
cemburu terhadapku”
Air mukanya segera berubah hebat, dan agak pura pura
berlagak marah teriaknya: “Hey setan tua, siapa suruh kau
mencampuri urusan Loo nio? kalau kau bersikeras hendak
turut campur.... baiklah jangan kau anggap kepandaian
Teng Thian Lek Tee mu itu lihay. Kalau Loo nio sedang
senang, bagaimanapun parahnya luka dalam yang ia derita,
aku masih sanggup untuk menyembuhkan”
Hoa Pek Tuo mengerti bagaimanakah tabiat dari nyonya
ini. Karena takut dalam gusarnya perempuan itu sampai
turun tangan melindungi Pek In Hoei, maka buru-buru ia
maju menghampiri mereka seraya berkata ”Enso, tak
usahlah kau ribut terus dengan Kong Yo heng.... bukankah
kalian adalah suami istri?”
“Cerewet, siapa suruh kaupun mencampuri
urusanku....?”
Ketanggor batunya, dengan wajah jengah Hoa Pek Tuo
segara tertawa lirih. “Enso, kenapa napsumu malam ini
begitu besar?”.
Iblis Khiem Kumala Hijau sama sekali tidak menggubris
dirinya, kepada Pek In Hoei kembali ia menegur, “Apakah
kau merasa sangat menderita?”.
Dengan mulut membungkam Pek In Hoei tundukkan
kepalanya rendah rendah, tak sepatah kata pun yang
diutarakan keluar.
Menyaksikan sikapnya yang sedih dan murung, Mie
Liok Nio segera menghela napas panjang “Aku mengerti
penderitaan yang paling menyiksa dirimu berada didalam
hati dan bukan dalam tubuh, tetapi....” kembali ia menghela
nafas panjang. “dalam kehidupan seorang manusia
memang sudah sewajarnya kalau suatu ketika menderita
kekalahan. Kau masih muda dan masih punya banyak
kesempatan untuk berjuang kembali merebut kemenangan
tersebut janganlah kau berputus asa dan patah semangat
ditengah jalan....”
Pek In Hoei terperanjat, mimpipun ia tak pernah
menyangka kalau Pek Ciok Jien Mo seorang iblis
perempuan yang amat disegani orang Bu-lim sejak puluhan
tahun berselang kini bisa mengucapkan perkataan seperti itu
kepadanya. Dengan hati tertegun ia segera mendongak ke
arah Iblis Khiem Kumala Hijau tersebut, katanya lagi:
“Tahukah kau bahwa sepanjang masa aku menaruh rasa
simpatik terhadap partai Thiam Cong. Tahukah kau bahwa
murid ku mempunyai hubungan cinta yang sangat
mendalam dengan Cia Cang Gak”
Teringat akan hubungan cinta antara Kim In Eng dengan
Cia Ceng Gak pada masa yang silam, perlahan lahan Pek In
Hoei menghela napas panjang, “Aku pernah mendengar
kisah ini dari mulut Kim cianpwee sendiri” sahutnya.
“Ooooo.... kiranya begitu, lalu apa sebabnya kau hantam
dirinya hingga terluka parah?”
“Kapan aku telah....” mendadak si anak muda itu
temukan bahwasanya Hoa Pek Tuo sedang mencuri dengar
pembicaraan mereka dari sisi kalangan. Otaknya dengan
cepat berputar. “Tatkala aku tinggalkan lorong rahasia
tersebut, Kim cianpwee masih ada bersama sama Wie Chin
Siang. Ketika itu Hoa Pek Tuo baru saja menerjang masuk
ke dalam. Seandainya dia benar benar terluka maka ia pasti
masih berada dalam lorong rahasia itu”.
“Sungguhkah perkataanmu itu?” tanya Mie Liok Nio
setelah termenung sejenak.
“Kematian telah berada di ambang pintu, buat apa
boanpwee bicara bohong?”
Pek Giok Jieo Mo berseru tertahan, tangan kanannya
segera menyentil keras senar khiem nya hingga serentetan
irama yang tajam menggema di angkasa.
Pek In Hoei tertegun dan melongo, pada saat itulah
sebutir pil mendadak melayang masuk ke dalam mulutnya
bersamaan dengan berkumandangnya irama musik tersebut.
Mie Liok Nio segera tepuk bahunya kemudian perlahan
lahan bangkit berdiri.
Diikuti serentetan suara bisikan yang halus
berkumandang masuk ke dalam telinganya: “Pil tersebut
adalah Si Beng-Wan, pil penyambung nyawa dari Hoa Pek
Tio, Setelah kau telan obat itu maka jiwamu pasti akan
selamat”.
Tidak sempat ia memecahkan dari ucapan Mio Liok Nio
yang disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara itu,
pil tadi sudah melumer dan masuk kedalam perutnya.
Terpaksa ia tertawa getir sambil berpikir: “Kali ini terpaksa
aku harus pasrah dengan nasib. Perduli obat tadi adalah
racun atau obat dewa, dalam keadaan begini aku tak bisa
berbuat lain....”
Sementara itu Pek Giok Jien Mo dengan wajah
menyeramkan telah menyemprot Hoa Pek Tuo dengan
kata2 yang pedas “Bagus.... bagus sekali perbuatanmu. Hey
setan tua, kau ikuti Loo Nio berlalu diri sini!”
Tanpa menantikan jawaban dari suaminya lagi ia segera
berkelebat menuju ke arah perkampungan.
Dalam keadaan begini Cia Kak Sin Mo tidak berani
berbuat lain kecuali buru-buru menyusulnya dari belakang.
Hoa Pek Tuo bukanlah manusia bodoh, sekali
memandang perubahan wajah Iblis Khiem Kumala Hijau,
ia segera dapat menebak apa maksud perempuan itu
menuju ke perkampungannya.
Dengan wajah dingin kaku segera tegurnya: “Pek In
Hoei, sebelum ajal meminta dirimu ternyata kau masih juga
usil mulut”
Setelah menelan pil tadi Pek In Hoei merasakan dadanya
jadi segar dan hawa murni yang tersebar kemana-mana
itupun perlahan-lahan terhimpun kembali kedalam
pusarnya. Ia mengerti asal ada waktu satu satu baginya
untuk mengatur perasaan maka tujuh delapan bagian luka
dalamnya akan berhasil disembuhkan.
Pelbagai ingatan dengan cepat berkelebat dalam
benaknya, sesaat kemudian ia baru berkata: “Hoa Pek Tuo,
tahukah kau bahwa aku telah menggunakan empat buah
siasat untuk menipu dirimu? Inginkah kau mengetahui
keempat buah siasat yang telah kugunakan itu?”.
“Hmmm, hingga keadaan seperti inipun kau hendak
mencoba menipu aku? sekalipun lidahmu jadi kering, tidak
nanti aku akan mempercayai dirimu lagi”.
“Dengarkanlah aku telah menggunakan siasat “Malam
malam menyeberangi sungai, kepompong emas
meninggalkan kerangnya”, “Saat ditimur menghantam
dibarat” serta terakhir masih ada sebuah siasat lagi yakni
“siasat menyeret pedang!”.
“Siasat menyeret pedang?” Hoa Pek Tuo melengak “Apa
itu siasat menyeret pedang?. Aku cuma pernah dengar ada
siasat Si To Ci....”
Mendadak Pek In Hoei membentak keras, tubuhnya
bergelinding ke samping dan menyambar pedang
penghancur sang surya yang menggeletak disitu kemudian
laksana kilat disambitkan ke arah Hoa Pek Tuo.
Jarak antara Hoa Pek Tuo dengan Pek In Hoei sangat
dekat sekali, ia tidak menyangka dalam keadaan yang
kepepet si anak muda itu masih sanggup menjalankan siasat
menyeret pedang.
Sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya,
dengan disertai desiran tajam pedang itu telah meluncur
kehadapannya
Buru-buru ia membentak keras, sepasang tangannya
direntang lalu dlgetarkan keras. Dengan kerahkan Ilmu Poh
Giok Kang ia bendung datangnya ancaman tersebut.
Segulung angin pukulan bagaikan gulungan air sungai
yang membobolkan bandungan segera menerjang kedepan.
Pek In Hoei menjerit kaget, sebelum ia sempat berbuat
sesuatu badannya sudah terhajar roboh ke bawah tebing
oleh sapuan angin serangan tadi.
Pedangnya terlepas dari cekalan, sementara itu jeritan
ngeri dan lengking dari Pek In Hoei berkumandang datang
dari bawah tebing.
Perlahan lahan Hoa Pek Tuo berjalan mendekati tepi
jurang, tampaklah kabut menutupi permukaan. Bayangan
Pek In Hoel telah lenyap tertelan oleh jurang yang
menganga sedalam ratusan tombak.
===0d0w0===
16
DI BAWAH sorot cahaya rembulan, yang tertinggal
hanyalah bunyi angin malam yang berhembus sepoi serta
percikan air nan jauh di bawah sana. Dengan termangumangu
Hoa Pek Tuo memandang gusuran air dari air
terjun, hatinya terasa hampa dan kosong, disamping puas
karena usahanya berhasil ia pun merasa kecewa.
Ia menghela nafas panjang pikirnya: “Sejak kini dikolong
langit tak akan ada manusia kedua yang sanggup bertanding
kecerdasan dengan diriku lagi. Aaaai.... sungguh tak
kusangka pemuda yang cerdik dan baru saja tumbuh dari
kedewasaannya harus mati dalam usia begini muda....”
Ia menyeka embun yang membasahi wajahnya,
kemudian berpikir lebih jauh: “Sungguh teramat sayang
bagaikan sebuah bintang cemerlang yang baru saja muncul
di angkasa, namun dengan cepatnya lenyap tertelan oleh
kegelapan”
Angin malam berhembus lewat membuat tubuhnya
menggigil, ia tersentak bangun dari lamunannya.
Teringat akan kekesalan serta rasa kecewa yang
ditampilkan olehnya akibat kematian Pek In Hoei, si kakek
tua itu tertawa geli. Ia merasa tingkah lakunya sinting dan
tidak waras.
“Dalam hatiku selalu berharap agar dia mati
dihadapanku, kenapa setelah ia mati binasa masuk kedalam
jurang aku harus merasa kecewa dan sedih.... apakah aku
merasa kematiannya terlalu pagi? atau merasa tidak puas
karena ia belum merasakan siksaan ilmu racunku yang
terkeji di kolong langit?”.
Ia termenung beberapa saat lamanya namun tidak jelas
juga apa sebabnya ia mempunyai plkiran demikian. Lama
sekali kakek itu berdiri termangu-mangu memikirkan
persoalan ini.
Dalam kenyataan, pemikiran semacam ini hanya akan
muncul pada seseorang yang berakal panjang, belum pernah
ia terjebak ditangan orang lain dan yang ia tahu hanyalah
orang yang terjebak ditangannya.
Tetapi sejak menyusupnya Pak in Hoei secara tiba-tiba
kedalam perkampungan Tay-bie San cung nya, kemudian
secara beruntun menghancurkan rencana besar yang telah ia
susun dengan susah payah, ia malah dibikin kelabakan dan
kebingungan.
Yang paling mengesalkan lagi, Pek in Hoei tiada
hentinya dengan menggunakan kecerdasan yang ia miliki
menggertak serta mendesak dirinya. Berulang kali dengan
menggunakan beberapa macam siasat yang umum
mengalahkan dirinya serta menipu dirinya’
Maka dari itu ia lantas menganggap bahwa si anak muda
itu adalah satu-satunya orang yang dapat menandingi
kecerdasan otaknya.
Berada dalam keadaan begini, maka timbullah
keinginannya untuk menghancurkan semua siasat lawan
serta mengalahkan pula kecerdasan yang dimiliki pihak
lawan.
Siapa sangka secara tiba tiba ia mati di hadapannya....
atau paling sedikit ia percaya Pek In Hoei yang telah
menderita luka parah dan terjatuh kedalam jurang sedalam
ratusan tombak tak mungkin punya harapan untuk hidup
lebih jauh.
Setelah satu-satunya lawan tangguh yang blsa
mengimbangi kecerdasannya mati, para jago yang ada
dikolong langit tak nanti bisa mengimbangi kekuatannya
lagi. Kesepian serta kesunyian inilah membuat ia jadi
hampa dan kecewa.
“Siasat menyeret pedang?” ia gelengkan kepalanya dan
tertawa geli. “Sungguh tak nyana ia bisa mencari nama
yang sabagus ini untuk siasatnya itu....”
Memandang pedang penghancur sang surya yang berada
ditangannya, kembali ia bergumam seorang diri:
“Bagaimanapun juga, seluruh partai Thiam Cong telah
hancur dan musnah. Sejak ini kolong langit adalah berada
didalam kantungku”
Mendadak cuaca disekeliling tempat itu jadi gelap,
seakan-akan berlapis-lapis awan hitam telah menutupi
seluruh jagad.
Dengan perasaan terperanjat Hoa Pek Tuo mendongak,
memandang awan hitam yang menutupi cahaya rembulan.
Ia bersuit nyaring, seluruh rasa mangkel dan kesalnya
disalurkan keluar.
Pada saat itulah mendadak dalam benaknya terbayang
kembali tubuh Chin Siang yang bugil dan menggiurkan.
Nafsu birahi yang selama ini terpendam bergolak
kembali.... makin lama makin tak tahan....
Ia segera bersuit nyaring, bagaikan seekor burung
rajawali laksana kilat si orang tua itu berkelebat menembusi
angkasa dan hilang musnah tertelan kegelapan.
Bagaimana nasib Pek In Hoei selanjutnya, apakah ia
benar mati ditelan oleh jurang yang sangat dalam
mengerikan itu....?
Bagaimana pula nasib Wie Chin Siang yang berbaring
tak sadarkan diri dalam keadaan telanjang bulat? apakah ia
berhasil dilalap oleh Hoa Pek Tuo si tua bangka itu?
Untuk mengetahui kesemuanya ini, silahkan anda
membaca kelanjutan dari kisah ini dalam:
“Imam Tanpa Bayangan Bagian Kedua”
TAMAT

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Mesum Dewasa : ITB 7 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments