Cerita Dewasa Imam Tanpa Bayangan 1

AliAfif.Blogspot.Com - Cerita Dewasa Imam Tanpa Bayangan 1
Cerita Dewasa Imam Tanpa Bayangan 1

Baca Juga:
1
MALAM sunyi menyelimuti se!uruh puncak gunung
Tiam Cong, angin berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan
ranting serta dedaunan.
Seorang kakek tua diiringi seorang pemuda lambatlambat
berjalan menuju keatas puncak dibawah cahaya
rembulan yang cerah.
Rupanya sianak muda itu merasa tidak sabar, seraya
mendongak serunya:
"Ayah, berapa lama lagi jalan yang harus ditempuh??
kenapa siang ceng kan belum kelihatan juga?"
"Hoei-jie! cuma berjalan saja kok kau tidak sabaran"
Tegur sang ayah sambil berhenti. "Bukankah di hari-hari
biasa sering ku ajarkan kepadamu bahwa jadi seorang lelaki
janganlah takut menemui kesulitan? Dimana bisa sabar,
sabarlah selalu. Kau cuma jalan begini dekatpun kau tidak
sabar bagaimana mungkin kau bisa lakukan perbuatan
besar?"
"Tia sudah sudahlah, cuma karena urusan kecil kembali
kau kuliahi diriku..."
"Hoei-jie !" kata kakek itu dengan wajah serius- "Tahun
ini kau sudah genap berusia tujuh belas tahun, kau barus
tahu bagaimana caranya menjaga diri, janganlah selalu
menggantungkan ayahmu. Kau harus tahu suetu saat ayah
bakal tinggatkan dirimu, coba kalau kau tidak tahu apa-apa
bagaiman kau bisa lanjutkan hidupmu!". Hoei-jie
membungkam dan tundukkan kepalanya.
"Bocah ! kau harus tahu bahwa kita keluarga Pek adalah
keturunan lelaki sejati yang tidak sudi tunduk kepada orang
lain dan minta belas kasihan dari orang....."
"Aku akan selalu ingat perkataanmu ayah, akan kuingat
bahwa aku adalah keturunan keluarga Pek!"
Diluanya berkata begitu sementara dalam hati pikirnya:
"Tidak belajar Silatpun sama saja aku dapat menjadi
seorang lelaki sejati, kenapa aku harus belajar silat ??".
"Kau harus ingat pula" kembali kakek itu berkata,
"Bahwa kau adalah putra sipedang penghancur sang surya
Pek Tiang Hong, kau tidak beleh mencemarkan nama
keluarga pek kita..."
"Aku tahu! aku adalah Pek In Hoei putra dari siPedang
Penghancur Sang Surya Pek Tiang Hong salah satu dari
Tiong-goan San Siok. Tiga Bintang Daratan Tiong-goan,
selama hidup aku tidak akan melupakannya, tapi .. kenapa
aku harus belajar silai ??
"Kali ini aku akan serahkan dirimu kepada ciangbunjien,
agar ia didik dirimu baik baik, tujuan yang terutama
bukan lain ingin paksakan dirimu untuk merasakan
kesunyian diatas gunung sehingga menciptakan suatu watak
yang tenang bagi dirimu, nanti setelah berjumpa dengan
Ciang-bun suhengmu, bersikaplah sewajarnya, jangan
sampai dipandang rendah orang."
"Soal ini aku mengerti"
"Nah, kalau begitu ayoh kita berangkat, mumpung
sembahyang malam belum selesai kita masuk kekuil."
Berbicara sampai disitu, laksana Kilat kakek itu bergerak
kembali meneruskan perjalanannya.
Pek In Hoei angkat bahu, dengan perasaan apa boleh
buat ia ikut dibelakang ayahnya.
Mendadak........ terdengar bentakan keras berkumandang
datang, tatkala Pek Tian Hong ayah dan anak dua orang
hendak menyeberangi sebuah jembatan dari balik kegelapan
muncul dua sosok bayangan manusia yang, menghalangi
jalan pergi mereka.
"Siapa kalian? " Bentak kedua orang berdandan too-jien
itu. "Apa maksud kalian mendatangi Tiam Cong??".
"Loohu adalah Pek Tian Hong I".
Dua orang toojien itu segera memencarkan diri, seraya
mempersiapkan senjata seru mereka hampir berbareng :
"Pedang sakti dilangit Selatan........".
"Hawa menembusi Tiam Ciang!" sambung Pek Tian
Hong dengan cepat badannya bergerak diikuti cahaya
pedang berkilauan menciptakan delapan titik cahaya tajam
yang meletik diangkasa.
Kedua orang toojien itu melengak. akhirnya dengan
penuh rasa hormat serunya kembali:
"Tecu sekalian menghunjuk hormat buat Susiok Couw"
"Ehmmmm, apakah Ciangbunjien ada didalam kuil ??" .
"Tengah malam nanti risngbnn snhu baru akan selesai
dari semedinya.........."
"Ooooouw, tidak aneb kalau penjagaan disekitar gunung
malam ini begitu ketat.. ." Dalam pada itu Pek In Hoei telah
loncat kesisi ayahnya, sambil memandang kedua orang
toojien tadi tanyanya: "Tia apa yang telah terjadi ??".
Ciangbun suhengmu sedang bersemedi,tengah malam
nanti ia baru selesai dengan latihannya. aku lihat terpaksa
kita harus menunggu sejenak!" kembali kakek itu berpaling
dan tanyanya lagi:
Ciangbunjien bersemedi didalam gua belakang bukit
ataukah didaiam kamar rahasia kuil
"Soal ini tecu kurang jelas !*
"Baiklah. mari kita menuju kekuil!" setelah merandek
sejenak, ujarnya kembali "Apakah Hian Song ada didalam
kuil??".
"Hian Song serta Hian Pak susiok dua orang telah pergi
melindungi keselamatan Ciangbun suhu!".
"Hhmmmm ! baik baiklah jaga diri" kata Pek Tian Hong
seraya mengangguk kepada In Hoei serunya, "Bocah, ayoh
kita terangkat!"
Pek In Hoei tidak banyak bicara, diikutinya sang ayah
meianjutkan perjalanan keatas gunung, baru saja mereka
membelok pada satu sudut tebing mendadak lerdengar
ledakan ditengah udara diikuti berkilauannya cahaya -
merah yang sangat terang.
"Bocah, tak usah kuatir" bisik Pek Tian Hong sambil
tepuk bahu putranya." petasan adara itu adalah tanda
peringatan kepada semua murid Tiam Cong-pay yang
berjaga didalam hutan agar memberi jalan kepada kita".
Sekarang Pek In Hoei baru tahu apa sebab toojien itu
melepaskan petasan udara.
Dengan cepat mereka berdua lewati sebuah hutan song
yang lebat dan tiba disebuah jalan batu yacg datar.
"Dari sini sampai kekiul Siang Cing Koan, perjalanan
akan semakin mudah lagi " kata sang kakek.
Belum habis ia berkata tampak sesosok bayangan laksana
kilat meluncur ke bawah.
"Susiok!" terdengar Toojicn itu berseru Sungguh
kebetulan sekali kehadiran susiok pada malam ini.
"Hian Song, apa yang telah terjadi ??' tegur Pek Tian
hong dengan alis berkerut, Kenapa sikapmu gugup dan
terburu2??'.
"Ketika semedi tadi ciangbun suheng telah muntah darah
secara tiba-tiba, hingga kini keadaannya makin bertambah
parah"
"Apa ?? Hian Ching, dia.."
Tanpa berpikir panjang lagi Tian Hong enjotkan
badannya, laksana kiiat meluncur kedepan dan lenyap
dibalik kegelapan.
Ditengah kesunyian terdengar suaranya berkumandang
datang dari tempat kejauhan : "Hoei jie, ikutilah
suhengmu”
”Oooouw..." Pek In Hoei menyahut, ia berpaling
memandang sekejap wajah toosu itu selalu tanyanya "Hian
Song suheng, kenapa cianghunjien muntah darah terus
menerus??".
Hian Song Toojien agak tertegun, kemudian jawabnya :
"Karena kurang cermat di dalam latihannya, awan murni
dalam tubuh Cianbunjien telah mengalir kedalam urat
sehingga mengakibatkan dia menemui jalan api menuju
neraka"
"Lalu apa yang disebut jalan api menuju mereka ??"
Rupanya Hian Song Toojien tidak menyangka kalau Pek
In Hoei bisa mengejutkan pertanyaan seperti itu, ia
melengak.
"Benarkah kau adalah putra dari Pek su- siok ??".
"Kenapa?? aku adalah Pek In Hoei. Suheng ! apakah kau
lidak tahu.".
"Susiok sudah ada enam belas tahun lama nya tak
pernah mengunjungi Tiam Cong, pinto aku..."
"Aaaaaa, tidak aneh kalau kau curiga kepadaku" sela Pek
In Hoei sambil tertawa. "Tahun ini aku baru berusia tujuh
belas tahun. sudah tentu Suheng tidak ingat kepada ku
lagi".
Tatkala menyaksikan Pek In Hoei dapat lari bersanding
disisinya sewaktu naik kepuncak, kembali Hian Song
Toojien merasa tercengarg tegurnya :
"Sute. ilmu meringankan tububmu.."
"Ayah suruh aku belajar silat, tapi watak ku tidak suka
melihat darah dan paling benci perbuatan yang
mengandung unsur bunuh membunuh, maka aku tidak,
sudi belajar ilmu pedang, sebaliknya untuk memenuhi
desakan ayahku maka aku belajar ilmu meringankan tubuh"
"Kau tidak bisa main ilma pedang? "Hian Song makin
keheranan, sambil garuk garuk kepalanya ia bergumam.
"Sungguh aneh sekali, susiok tersohor didalam duria
persilatan sebagai sipedang penghancur sang surya, sedang
kau malah sama sekali tidak mengerti akap ilmu pedang."
"Apa anehnya? tiap manusia punya cita cita yang
berbeda lagi pula tabiatkupun berbeda, tcihadap ilmu silat
aku memang t'dak genang tapi terhadap ilmu sastra aku
suka sekali".
"Lalu apa maksudmu naik kegunung ,"
Pek In Hoei tertawa getir.
"Ketika ayah melihat aku tak mau belajar Silat maka aku
dibawa naik kegunung. ia mau serahkan aku kepada
ciangbun toa suheng dan minta dia yang paksa aku untuk
belajar silat, juslru karena persoalan inila hatiku jadi
jengkel, eeei siapa tahu ciangbunjien mengalami jalan api
menuju neraka . . . inilah yang dinamakan pucuk dicinta
ulam tiba, sekarang aku tak usah belajar silat lagi."
Dengan perasaan melegak Hian song Too tiang menatap
wajih si anak muda itu tajam tajam.
"Apa jeleknya belajar silat ?" aku benar benar tak
mengerti kenapa sute bisa punya pikiran demikian l".
"Apa kebaikannya belajar itu suheng coba kau jawab".
Kembali Hian Song Toojien dibikin melongo, termenung
seijenak hio jawabnya:
"Belajar silat dapat menguatkan badan, dapat digunakan
untuk membela din bahkan bisa angkat nama didalam
dunia persilatan coba lihat seperti susiok, ia dengan
mengandalkan ilmu pedang penghancur sang surya bersama
sama Golok berontok rembulan dari Ling Lam. Ke Hong
serta Bintang kejora menuding langit Koen Thian Bong dari
Hoo Kok disebut sebagai Tiga Bintang dari daratan
Tionggoan, betapa bangganya mereka, apa jeleknya belajar
silat ?".
Pek in Hoei tersenyum,
"Aku suka keadaan yang tenang, tiada ambisi dalam
hatiku untuk menjagoi dunia persilatan. ... bicara sampai
disitu mendadak ia membungkam.
"Ayoh teruskan perkataanmu sute sebelum kau sebutkan
faktor kejelekan apakah yang didapat seseorang yang
belajar silat?"
"Seorang yang belajar silat dia akan terlibat dalam
dendam sakit hati antara setsama orang kangouw, setiap
hari hidupnya tidak tenang lagi pula harus merasakan
penderitaan dikala berlatih, merasakan siksaan sera
kesusahan yang banyak dalam badan, sekalipun akhirnya
berhasil namun setiap saat bisa di bayangi pula keadaan
jalan api menuju neraka seperti ciangbun sekarang Hian
Song suheng caba kau jawab benar tidak perkataanku ini?"
Untuk beberapa saat lamanya Hian Song Toojien dibikin
tertegun dan bungkam dalam seribu bahasa, lama sekali ia
biru mendengus.
"Hmmm, kalau seseorang takut akan penderitaan, apa
gunanya ia hidup dikolong langit ?"
Bicara sampai disitu toojien tersebut segera merpercepat
larinya dan tinggalkan Pek In Hoei seorang diri di belakang.
Menyaksikan dirinya ditinggal seorang diri, Pek In Hoei
teriawa getir dalam hati pikirnya :
"Siapa bilang aku takut menderita ?? justu aku berkata
begini agar supaya ayah tidak paksa aku belajar silat lagi.
Hmmmmm, kau tidak perdulikan aku, dianggapnya aku
lantas takut??".
Selangkah demi selangkah ia teruskan perjalanannya
seorang diri naik keatas gunung.
Angin malam berhembus kencang membuat udara
makin dingin, embun menyelimuti angkasa membuat baju
serta sepatu sianak muda itu jadi basah dan lembab.
Memandang rembulan nun jauh disana di kelilingi oleh
bintang yang bertaburan memanncarkan cahaya hitam. Pek
In Hoei menghela napas panjang.
Malam begini indah sungguh, suatu saat yang tepat
untuk membuat bait bait syair...
"Heeeeh... heeeeeh... heeee... sungguh romantis tindak
tanduk saudara..." tiba terdengar jengekan tertawa dingin
berkumandang datang dari arah depan.
Dengan cepat Pek in Hoei mendongak, terlihatlah
seorang lelaki muda sambil bertolak pinggang berdiri
dihadapannya, waktu itu ia sedang memandang kearahnya
sambil menjengek sinis.
"Aku hendak naik kekuil Siang Ciang Koan" sahut sang
anak muda sambil memandang bangunan megah jauh di
belakang lelaki muda itu.
"Naik kekuil Siang Ciang Koan ? siapa kau ? mau apa
datang kepartai Tiam Cong kami ?".
"Kurang ajar, kenapa orang ini tak pakai aturan?" Pikir
Pek in Hoei dengan alis berkerut tatkala dilihatnya sinar
mata orang itu berputar tiada hentinya kembali ia
membathin :
"Sinar mata orang ini tidak jujur, jelas me rupakan
manusia licik, tapi siapakah dia ??".
Ketika lelaki muda itu menyaksikan dandanan Pek In
Hoei adalah seorang pelajar, sekalipun dalam hati curiga
pertanyaan masih diajukan dengan ramah, siapa tahu
sianak muda itu tidak mempcrdulikan dirinya hal ini
membuat ia jadi naik pitam.
Wajahnya berubah hebat, ketika sinar matanya terbentur
dengan matanya kembali ia tertegun, badannya mundur
setengah langkah kebelakang. dengan rasa terperanjat
pikirnya :
"Ternyata diapun seorang jago lihay yang punya tenaga
Iweekang amat sempurna, cuma saja kepandaian tersebut
tidak diperlihatkan."
Laksana kilat pedangnya diloloskan dari dalam sarung
sambil putar pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam
ia lindungi dada sendiri.
Pek In Hoei sendiripun kaget melihat tingkah laku Orang
itu, ia mundur selangkah kebelakang seraya berteriak ;
"Kau... kau... apa yang hendak kau lakukan ?".
Kembali lelaki muda itu melengak, tapi dengan cepat ia
mendengus.
"Hmmm. perduli kau benar benar punya kepandaian
atau tidak, pokoknya kuhadiah kan dahulu sebuah tusukan
!".
Tangannya diayun, diiringi serentetan cahaya pedang ia
tusuk jalan darah Hian Kie diatas dada Pek In Hoei,
Pemuda kita tak menyangka kalau ia bakal ditusuk,
sambil barteriak buru-buru badannya loncat empat depa
kesamping uutuk meloloskan diri dari maut.
Melihat ujung pedangnya mengenai sasaran kosong,
lelaki muda itu maju lebih kedepan, dengan jurus Pekikan
burung Hong menggertakkan Selat pedangnya laksana kilat
meluncur kemuka.
Breeeet.. baju bagian dada Pek In Hoei kena dibabat
sampai robek panjang,
"Eeeeei... eeei... apa yang hendak kamu lakukan..."
Teriak sianak muda itu sambil loncat kesana kemari
meioloskan diri dari babatan pedang lawan.
"Haaaa... haaaaa... haaaa..." lelaki itu tertawa keras.
"Aku masih mengira kau punya kepandaian silat yang bisa
diandaikan sehingga punya nyali anjing yang besar untuk
menaiki Tiam cong, tak tahunya kamu adalah manusia
goblok ! ini hari jangan harap kau bisa lolos dari ujung
pedang aku orang she- Cia dalam keadaan hidup-hidup"
"Hey... aku tak pernah belajar silat, aku datang untuk
mencari ciangbunjien..."'
"Cia Koen mendengus dingin, serangan pedangnya
semakin gencar, laksana hembusan angin puyuh ia kurug
tubuh Pek In Hoei dibawah cahaya pedangnya..
"Bangsat ! kalau kau punya nyali ayoh sekalian bunuh
diriku" Teriak Pek In Hoei penuh kegusaran.
"Haaaaa... baaaaa... haaaaa... justu akan kusuruh kau
saksikan kelihayan dari ilmu pedang Tiam Cong Pay kami
!"
Segenap pakaian yang dikenakan Pek In Hoei telah
robek dan hancur termakan sambaran pedang lawan,
menerima penghinaan yang belum pernah dirasakan
sepanjang hidupnya ini, dengan mendongkol ia berteriak
lalu menerjang kearah ujung senjata tawan.
Rupanya Cia Koen tidak mengira kalau Pek In Hoei bisa
bertindak begini, menyaksikan ia menubruk kedepan,
pedangnya langsung didorong kemuka untuk menusuk
perut sianak muda itu.
Disaat yang paling kritis itulah, tiba tiba terdengar suara
bentakan keras berkumandang datang dari samping disusul
munculnya sesosok bayangan manusia.
Bentakan itu keras bagaikan guntur membelah bumi,
tatkala Pek in Hoei tertegun itulah sesulung angin puyuh
menggulung tiba menghantam tubuhnya hingga terjengkang
ke samping.
Taaang... percikan bunga api muncrat ke angkasa,
pedang Cia Koen kena ditangkis dan hampir2 saja lepas
dari cekalannya, ia jadi terperanjat, sambil mundur buru2
sinar mata nya berpaling kearah bayangan manusia tadi
Tampaklah secang toosu tua berwajah keren tahu2 sudah
berdiri seram dihadapannya
"Suhu Dengan rasa kaget ia berseru.
"Binatang! kau mau berontak?" hardik toosu tua itu
dengan gusarnya.
"Suhu ! kau. . . kau . . . "
"Manusia goblok!" maki toosu tua itu sambil perseni
sebuah tempelengan keatas wajah Cia Koen. "Matamu
sudah buta? masa-dengau susiok sendiripun tidak kenal?"
"Susiok? siapakah susiok tecu?"
"Hemmm ! saat ini sipedang Penghancur sang surya Pek
Tian Hong susiok-couw mu ada dia tas gunung, apakah kau
binatang tidak tahu kalau saudara itu adalah sauwya nya ?
"Susiok-couw ada diatas gunung?? lalu..."
"Ayoh cepat berlutut dan minta ampun kepada susiokmu
" bentak toosu tua itu lagi
Dengan tersipu2 Cia Koen simpan kembali pedangnya
kedaiarn sarung, lalu sambil berlutut memberi hormat
katanya :
"Siauw susiok harap kau suka maafkan tecu yang telah
membuat kesalahan kepada dirimu barusan"
"Binatang!" terdengar toosu tua itu mendengus kembali.
"Apa itu susiok cilik susiok gede? akan kuhukum dirimu
dengan peraturan perguruan !"
"Dengan wajah serius tambahnya. "Barang siapa yang
berani kurang ajar terhadap angkatan lebih tua dia harus
,dihukum mati, ayoh cepat berlutut untuk menerima
hukuman"
Pada saat ini kendati rasa gusar dan mendongkol dalam
hati Pek ln Hoei belum hilang, namun ia tidak tega
menyaksikan Cia Koen dibunuh oleh toosu tua itu. Maka
buru2 dicegahnya "Suheng. ampunilah jiwanya untuk kali
ini. Kesalahan bukan terieiak pada dirinya saja, dia
memang betul2 tidak kenal siapakah aku !"
Mendengar perkataan itu, toosu tua tadi lantas berseru
kepada muridnya :
"Ayoh cepat berterima kasih kepada susiokmu atas
pengampunannya"
"Susiok terima kasih atas pengampunanmu" Buru2 Cia
Koen memberi hormat.
"Aku harap dikemudian hari janganlah kau bersikap
begitu kasar terhadap orang yang baru kau temui, barang
siapa yang bisa diampuni jiwanya ampunilah sebanyak
mungkin l"
"Terima kasih atas nasehat dari susiok "
"Binatang, ayoh cepat enyah dari sini" hardik toosu
tersehut.
Dengan pandangan mendendam dan benci Cia Koen
melirik sekejap kearah Pek In Hoei lalu berlalu dari situ.
Melihat sinar mata orang itu, Pek ln Hoei kerutkan
dahinya.
"Rupanya dia masih mendendam kepada ku, aku lihat
jiwanya picik dan jelek sekali" pikirnya.
Dalam pada itu toosu tua tadi sudah masukkan kembali
pedangnya kedaiam sarung, kepada sianak muda itu
ujarnya
"Selamanya binatang itu selalu berbuat kasar dan
berangasan, bilamana ia sudah berbuat kasar terhadap sute,
harap kau jangan pikirkan didalam hati".
Pek in Hoei berpaling, tatkala mcnjumpai sitoosu itu
sudah tua, ia lantas menegur :
"Suheng, kau adalah......"
"Pinto adalah Hian Pak, sekarang susiok berada didaiam
kuil, dia suruh aku datang kemari untuk mengundang sute
masuk kedalam kuil."
"Ooouw... . kirarya kau adalah Sam suheng, apa yang
sedang diperbuat ayahku
"Ciangbunjin mengalami jalan api menuju neraka, dan
muntah darah terus menerus, sekarang susiok sedang
berusaha menolong jiwanya"
"Kalau begitu ayoh cepat kita kesana!" Hian Pak Tojien
mengiakan, di bawah pimpinannya merekapun lantas
berangkat kekuil Siang Ciang Koan.
Setelah melewati tembok tinggi masuklah mereka berdua
kedalam ruangan kuil, suasana kuilitu terang benderang
oleh cahaya lampu, duapuluh orang toosu duduk bersila
dikedua belah samping ruangan, ketika menyaksikan Hian
Pak serta Pek In Hoei berjalan masuk, dengan pandangan
tercengang mereka sama-sama melirik sekejap namun tak
seorang diantaranya buka suara maupun menunjukkan
suatu gerak gerik.
Hian Pak Toojien mejabawa Pek In Hoei melewati
halaman belakang dan tiba diujung bangunan, seraya
menuding kearah sebuah lantai berbentuk barisan Pat-kwa
ujarnya : "Disitulah suheng bersemedi, aaiii siapa sangka ia
Menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
Perlahan-lahan ia berjalan masuk kelantai berbentuk
barisan Pat-kwa tadi, setelah melewati kedudukan Koen
dan Soen mendadak tangannya menghantam keras ke
muka.
Diiringi suara nyaring, sebuah batu besar gera bergeser
kebelakang dan muncullah sebuah gua diatas permukaan
tanah.
"Ciangbunjien ada didalam gua, sute mari ikut aku
masuk kedalam !" Dengan mengikuti anak tangga yang
menunjuk kebawah Pek In Hoei berjalan vnssulr -dalam
gua, ampu lentera tampak- tergac- ng di.kedua belah
dinding membuai suasana : lorong tersebut terang
benderang.
"Bila kau telah berjumpa dengan susiokcouw, untuk
sementara waktu lebih baik jangan kau ungkap peristiwa
yang barusan jadi."Pesan Hian Pak Tojen. "Sebab pada saat
ini ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya untuk
menolong jiwa Ciangbun suheng, sedikit kurang cermat
bukan saja menggagalkan usahanya selama ini, bahkan...."
"Tentu soal itu aku mengerti, tak usah suheng kuatirkan
!"
Hian Pak Toojien tidak banyak bicara lagi, ia dorong
sebuah pintu rahasia dan berjalan masuk kedalam.
"Apakah Pek sute ada diluar?" tampak Hian Song
Toojien munculkan diri dan menegur.
"Benar. Pek sute sudah datang bagaimana keadaan
suheng ??
Hian Soog Toojien geleng kepala dan masuk kedalam.
Pek In Hoei ikut melangkah masuk kedalam ruangan,
terlihat olehnya ayahnya sedang duduk bersila diatas tanah
dengan wajah pucat dan keringat membasahi seluruh
tubuhnya.
Disisi Pek Tian Hong berbaring seorang toosu setengah
baya dengan basab penuh tetesan darah, wajahnya pucat
dan matanya terpejam rapat.
Suasana diliputi keheningan yang mecekam, lama sekali
baru terdengar toosu setengah baya tadi mendehem dan
menggeliat.
Pada saat itulah Pek Tian Hong membuka matanya
melirik sekejap kearah putranya, kemudian memandang
toojien setengah baya yang berada disisinya sambil
menegur:
"Hian Cing, bagaimana perasaanmu ? Apa kau merasa
rada baikkan ?"
Toojien itu buka matanya dan tertawa getir.
"Susiok Kiranya kaupun berada diatas gunung"
"Hian Cing l Apakah kau tidak dengarkan nasehatku dan
menempuh bahaya untuk melatih ketiga buah jurus sakti itu
Hian Cing toojien menghela napas dan mengangguk,
sambil bangun sahutnya;
"Sebenarnya Sutit hendak andalkan keteguhan hatiku
untuk meliwati dua gerakan terakhir dan menguasai ketiga
buah jurus sakti tersebut, siapa tahu mendadak aliran hawa
murni dalam tubuhku menyabang, seandainya susiok tidak
kebetulan datang kemari, aku ...
"Sejak ciangbun Susiok Si Soat-Cu bersama sama ketua
delapan partai besar lainnya lenyap dibukit gunung Cing-
Shia, kendati tiga jurus sakti perguruan kita masih tetap
tersimpan namun jurus kedelapan dan jurus kesembilan
telah lenyap, hal ini menghancurkan kekuatan ilmu pedang
itu sendiri yang mengakibatkan ilmu pedang tadi tak dapat
menjagoi kolong langit lagi. . ."
la merandek sejsnak untuk tukar napas kemudian
sambungnya;
Kalau tidak ilmu pedang penghancur sang surya dari
partai Tiam Cong kami pasti akan menjadi ilmu tersakti di
kolong jagat.
Hian Ceng Toojien tundukkan kepala dan membungkam
dalam seribu bahasa, Pek Tian Hong menghela napas
panjang katanya lagi:
"Kali ini sigolok perontok rembulan Ke Hong telah kirim
surat kepaduku yang isinya mengatakan, ketika ia sedang
mengunjungi seorang sahabatnya digunung Cing-Shia tanpa
sengaja ia telah dapatkan sebuah pedang mustika yang
mana mirip sekail dengan pedang sakti penghancur sang
surya partai kita."
Hian Cing Toojien berseru tertahan, ia angkat kepalanya
dan menatap wajah Pek Tian Hong tajam tajam.
Hian Song serta Hian Pak pun sama sama menunjukan
rasa kagetnya, mereka semua pusatkan perhatiannya kearah
Pek tian Hong untuk menantikan penjelasan selanjutnya.
Kakek she Pek itu termenuig sebentaar, lalu katanya lagi
Berhubung berita ini datangnya sangat mendadak lagi
pula sangat mengejutkan maka sebelum bertindak aku
sudah pikirkan persoalan ini sangat lama. Empat puluh
tahun berselang, supek bersama pedang mustika itu lenyap
digunung Cing-Shia, demi keutuhan pedang mustika tadi
bagi partai kita. maka sesudah mendengar kabar tersebut
mau tak mau aku harus berangkai kegunung Cing-Shia
untuk melihat keadaan"
"Susiok, kau memang sudah seharusnya pergi kesitu!"
sela Hian cing dengan wajah serius.
"Benar. Aku memang seharusnya berangkat kegunung
Cing-Shia tap sebelum berangkat kesitu aku memikirkan
pula nasib Hoei-jie . "
Bicara sampai di sana kakek tua itu melirik seke'ap
kearab Pek In Hoeii, tatkala dilihatnya pakaian yang
dikenakan putranya hancur berantakan segera tanyanya:
"Hoei-jie, apa yang telah terjadi?"
"Aku ketika aku naik keatas gunung tadi telah terjadi
sedikit salah paham dengan muridnya Hian Pak suheng"
"Hmmmm ! Selama ini kau tak pernah sudi belajar silat
sekarang kau tentu bisa menyadari bukan betapa
pentingnya belajar silat kalau kau tak bisa silat maka
selamanya akan dianiaya orang!" la lirik sekejap kearah
Hian Pak, lalu kepada Hian Cing Toojien katanya kembali
,.Aku terlalu memanjakan putraku, hal ini jadi membuat ia
jadi terlalu menuruti watak sendiri, kupaksa dia belajar silat
namun setiap kali ia selalu tolak perintahku dengan
mengatakan belajar silat itu menimbulkan pertumahan
darah. aaaaai .... karena itu aku tidak tega membiarkan dia
seorang diri berada dirumah, sebelum aku berangkat
kegunung Cing-Shia kubawa dia datang kemari; dengan
harapan kau suka memaksanya belajar ilmu silat
Mendengar perkataan itu Hian Cing Toojien melirik
sekejap kearah Pek In Hoei, lalu tersenyum.
Siauw sute punya bakat yang sangat baik untuk belajar
silat, kenapa dia tolak permintaanmu Sungguh aneh sekali."
Maka dari itu kau harus, baik baik mendidik dirinya,
jangan terlalu menurut kemauannya, jangan dengarksn
alasannya dan jangan dengarkan perdebatannya ...
"Tapi ayah . . . setiap perkataan yang kuucapkan
semuanya pakai aturan dan my suk diakal"
"Hramm Sudahlah, tak usah kau perlihatkan kelihaian
debatmu ! Semuanya ini salahku kenapa dahulu terlalu
biarkan kau belajar ilmu sastra sehingga akhirnya
menjadikan kau seorang kutu buku !"
"Susiok, kau boleh legakan hatimu" sela Hian Cing
sambil tersenyum. "Aku pasti akan berusaha keras
mendidik siauw sute.". "Baiklah kalau begitu aku titip
putraku untuk sementara waktu, dalarn sebulan kemudian
aku pasti sudah kembali kegunung Tiam Cong, semoga
Ciangbunjien baik baik jaga diri dan cepat sehat kembali"
"Terima kasih atas bantuan susiok menyembubkan luka
dalamku . . ."
Pek In Hoei tidak menyangka kplau ayahnya saat itu
juga mau pergi, buru-buru teriaknya:
"Ayah kau hendak pergi" Pek Tian Hong mengangguk,
"Hmmm, kau harus ingat baik baik perkataan yang
kusampaikan padamu waktu ada di tengah jalan. janganlah
kau anggap diatas gunung bagaikan dirumahmu sendiri."
"Ayah Aku sudah bukan georang bocah, kau ..."
"Aku merasa selalu berharap agar kau bersikap dewasa,
janganlah turuti kemauan sendiri"
Bicara sampai disitu ia lantas loncat keluar dari ruangan,
dalam sekejap mata banyangan tubuhnya telah lenyap
dibalik kegelapan.
Malam makin kelam .... suasana makin sunyi ....... udara
amat dingin membuat semua penghuni, dijagad terlelap
dalam tidurnya dengan nyenyak.
Ditengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad
itulah, tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia laksana
kilat berkelebat kearah ruang kuil dan berhenti didepan
pintu goa.
Memandang batu berbentuk barisan Patkwa itu ia
tertawa dingin, dengan gampang orang itu loncat kesisi
pintu gua dan menerobos masuk keruang bawah tanah.
Sementara Itu Hian Cing Toojin yang ada dalam ruangan
masih duduk bersila sambil mengatur pernapasan. Dengan
gerakan lincah orang tadi menyelinap kedaiam ruangan,
sinar buas tampak memancar keluar dari balik wajahnya
yang kerudung.
Lama sekali ia berdiri didepan pintu sambil menatap
tubuh Hian Cing Toojien yang ada didalam, tubuhnya
perlahan2 bergerak makin mendekati pembaringan.
"Hmmimm" tiba2 Hian Cing Totiang buka matanya dan
mendengus.
Melihat ciangbunjien dari partai Tlam Cong ini
mendusin, laksaca kilat orang berkerudung itu loncat
kedepam sambil mengirim sebuah pukulan kearah dada
lawan.
Hian Cing mengegos kesamping, bajunya dikebaskan
kemuka mengunci datangnya ancaman.
Bruk! di tengah bentrokan keras, tubuh Hian Cing
terdorong hingga jatuh keatas pembaringan, air mukanya
berubah hebat, darah segar menetes keluar dari mulutnya.
Sementara itu orang berkerudung tadi pun kena didorong
mundur oleh angin pukulan lawan sehingga terhuyung dua
langkah kebelakang, airmukanya berubah, jengeknya sambil
tertawa seram
"Luka dalammu belum sembuh, Heeeh .... heeeeh ....
heeeeeh .... dengan adanya peristiwa ini, bukankah bantuan
dari Pek Tian Hong tadi hanya sia2 belaka"
Seluruh tubuh Hian Cing Toojien tergetar keras,
sepasang matanya melotot bulat2, sambil menatap wajah
orang itu hardiknya
"Siapa kau?"
Orang berkerudung itu mundur kebelakang, pedangnya
diloloskan dari sarung digetarkan dan menciptakan tiga
kuntum bunga pedang.
"Haaaaaa? ilmu pedang Bunga terbang, kau adalah
anggota perguruan Boe Liang Tiong ?"
"Heech . . . heaeeh .... heeeh .... sedikitpun tidak salah,
aku adalah anggota perguruan Boe Liang Tiong dari
propinsi Tiam Hay sebelah utara". "Apa maksudmu datang
kemari?"
"Enam puluh tahun berselang tujuh puluh orang anggota
perguruan Boe Liang Tiong dibunuh habis dalam
semalaman oleh Si Soat Cu, sekarang aku datang untuk
menuntut balas!"
Air muka Hian Cing Toojien berubah hebat, keringat
dingin sebesar kacang kedelai menetes keluar tiada
hentinya, begitu tegang hati toosu ini sampai tangannyapun
gemetar keras.
"Hmmm, coba bayangkan, sejak enam puluh tahun
berselang nama perguruan Boe Liang Tiong lenyap dan Bulim,
seluruh anggotanya hampir mati binasa semua,
dendam sedalam lautan seperti ini kenapa tidak kubalas"
suaranya makin lama semakin keras, akhirnya dengan nada
penuh kebencian ujarnya lagi :
"Hutang darah bayar darah, dendam kesumat yang
sudah terpendam selama enam puluh tahun lamanya akan
kutuntut pada malam ini juga. Mulai besok pagti dalam
dunia persilatan akan kehilangan nama partai Tiarn Cong
Pay, sejak kini dalam dunia Kangouw tidak akan ada lagi
murid partai Tiarn Cong yang berkelana."
"Sungguh keji hatimu..." desis Hian Cing Totiaog dengan
badan gemetar keras.
"Hmmm. inilah yang dinamakan pembalasan dendam
dengan cara apa ysng pernah kalian lakukan !"
Hian Cing Toojien mendengus dingin, tiba2 sepasang
telapaknya menyambar kedepan, dengan segenap tenaga ia
tubruk tubuh orang berkerudung itu.
Cahaya pedang berkelebat-lebat, diiringi jeritan ngeri
yang menyayatkan hati tubuh Hian Cing Toojien roboh
tercengkang diatas tanah, sepasang kakinya sebatas lutut
tahu2 ditebas kutung oleh senjata lawan, darah berceceran
seketika membasahi meluruh lantai
"Haaaaa& . . . haaaah....haaa..."
"Hian Cing Loo-too. kau tidak pernah menyangka bukan
bakal mengalami nasib yang demikian mengenaskan ?
Hmmmm tahukah kau siapa aku?"
Dengan badan gemetar keras per-lahan 2 Hian Cing
Toojien angkat kepala dan memandang manusia
berkerudung itu dengan sinar mata membenci.
Orang berkerudung itu tertawa lantang. tangannya
meraba keatas wajah dan perlahan-lahan melepaskan kain
kerudung itu.
Haaaa kau Jerit Hian Cing Toojiere, "Cia Koen kiranya
kau"
"Heee...... heeee... kau tidak akan menyangka bukan?"
Hian Cing Tootiang merasakan hatinya seperti di tusuk2
dengan jarum, kembali ia muntah darah segar.
"Sepasang mata Hian Pak sute benar2 buta, ternyata ia
terima kau sebagai muridnya!"
"Tutup mulut!" bentak Cia Keen, sinar matanya
memancarkan napsu membunuh yang berkobar-kobar. "hey
toosu tua hidung kerbau, sebelum ajalmu tiba kau harus
tahu bahwa suhuku Go Kiam Lam adalah ketua dari
perguruan Boe Liang Tiong, demi membalas dendam atas
sakit hatinya selama enam puluh tahun ini, dia telah angkat
setan tua itu sebagai gurunya, ini hari adalah saat kami
untuk menumpas segenap anggota partai Tiam Cong"
Hian Cing Toojien tertawa sedih.
"Suhu .. suhu l" teriaknya dengan suara serak. "Karena
belas kasihanmu tempo dulu kau telah mendatangkan bibit
kehancuran bagi perguruan kita"
"Haaa...haa.... haa salah suhunu sisetan tua itu kenapa ia
punya mata tak berbiji ..."
Hian Cing Tootiang melotot bulat, kembali ia muntah
darah segar, wajahnya semakin pucat.
Pada saat Itulah pintu rahasia kembali terbuka, Hian Pak
Toojin dengan satu tangan? mencekal pedang tangan lain
membawa sebutir batok kepala berjalan masuk kedalam
ruangan.
"Koen-jie , bagaimana keadaannya?" tanya toojien itu
dengan wajah penuh napsu membunuh.
"Toosu tua hidung kerbau ini sudah hampir mati "
Dalam pada itu Hian Cing Too tiang dengan sepasang
mata merah membara memandang wajah Hian Pak tajam2,
tatkala dilihatnya batok kepala yang berada dalam cekalan
toosu tersebut, sambil kertak gigi pekiknya:
"Hian Pak, hatimu benar benar keji "Hmmm, aku bukan
Hian Pak, aku ada Go Kiam Lam, cianbunjien ketujuh
belas dari perguruan Boe-Liang Tiong !"
Dengan wajah yang sinis ia angkat batok kepala itu,
kemudian sambungnya lebih jauh:
"Batok kepala ini adalab batok kepala iri Hian Song,
nanti akupun akan tebas batok kepalamu kemudian bawa
pulang batok kepala kalian kegunung Boe-Liang-San?
Untuk menyembahyangi arwah dari anggota perguruan
kami"
Hian Cing Toojien merasa sengat sedih hampir seluruh
darahnya telah mengalir keluar. namun ia tetap
mempertahankan diri untuk melototi musuhnya.
Hmmm. segenap anggota partai Tiam Cong bakal binasa
semua terbunuh oleh jago2-jago lihay yang tehh
kupersiapkan teilebih dahulu dari propinsi Tiam-Hay serta
anggota perguruan seratus racun, sejak, kini partai Tiam
Cong bakai lenyap dari Bulim !" kembali Go Kiam Lam
berkata dengan nada dingin.
Baru saja ia selesai berkata, mendadak terdengar seruan
kaget berkumandang dari luar pintu, diikuti munculnja
sesosok bayangan manusia masuk kedalam ruangan.
Orang itu adalah Pek in Hoei, dengan sinar mata kaget
dan terceogang ia saksikan pemandangan yang sangat
mengerikan itu sepasang alisnya mengerut sedang mulutnya
terkancing rapat.
Melihat kehadiran sianak muda itu. Go Kiam Lam
segera mendengus dingin
"Hmmm, malam ini kaupun tak boleh ampuni jiwanya !"
"Sute, cepat malarikan diri" buru buru Hian Cing
Toojien berteriak keras, "Ingat baik baik, kau harus
membalas dendam bagi partai Tiam-Cong kita."
Belum habis ia berkata, tiba tiba Go Kiam lam meloncat
kedepan. Ditengah berkelebatnya cahaya pedang dada Hian
Cing Tootiang itu ditusuk hingga tembus, darah muncrat
keempat penjuru dan nyawa ketua partai Tiam Cong inipun
melayang dari raganya.
Dua titik air mata jatuh menetes diatas pipi Pek In Hoei,
ia tutup pintu ruangan kemudian lari keluar dari ruang
rahasia tersebut.
"Engkau hendak lari kemana !" hardik Go Tuam Lam.
"Koen-jie! Cepat kejar keparat cilik itu dan bunuh dirinya
jangan tinggalkan seorang musuhpun diatas gunung ini"
Cla Kun menyahut, ia jejakan kakinya dan segera
mengejar keluar dari ruangan.
Dalam pada itu Pek In Hoei yang telah berada diluar
segera saksikan suatu pemandangan yang sangat
mengerikan, dibawah sorotan cahaya lampu tampak mayat
bergelimpangan dimana mana, jeritan ngeri berkumandang
disana sini, darah segar, kutungan anggota badan
menggenangi seluruh lantai suasana betul betul
menyeramkan.
Pek In Hoei bergidik, bulu roma pada» bangun berdiri,
tanpa berpikir panjang ia ari ke belakang kuil. Dia tahu, ini
hari dengan menggunakan kesempatan dikala Hian Cing
Toojien ketua dari partai Tiam-Cong mengalami penderita
jalan api menuju neraka, anggota perguruan Boe Liang-
Tiong bekerja sama dengan perguruan seratus Racun telah
menyerang partai Tiam-Cong dan membasmi seluruh
anggotanya.
Sambil berlari otaknya berputar terus, pikirnya:
"Seumpama aku bukan untuk pertama kali datang
kegunung Tiarn-Cong dan malam ini aku tak bisa tidur
mungkin akupun lelah mereka bunuh. sungguh
mongerikan..."
Rupanya ketika ia diantar Hian Pak Toojien kekamarnya
untuk tidur, secara lapat lapat ia dapat saksikan tingkah
laku tosu itu rada gugup dan tidak tenang, wajahnya diliputi
kebengisan dan kebuasan karena ingin tahu maka timbul
niatnya untuk mengintip kelakuan toosu itu,
Tetapi sewaktu ia lari keluar dari halaman , bayangan
toosu itu telah lenyap dari pandangan, maka terpaksa ia
berjalan seorang diri dibawah sorotan cahaya remabulan
serta hembusan arngin malam yang sejuk.
Makin jalan sianak muda ini semakin jauh meninggalkan
tempatnya semula, ia masuki hutan bambu dan akhirnya
tiba dibelakang bukit, dimana tubuhnya terperosok kedalam
sebuah selokan hingga seluruh badannya basah kuyup.
Melihat bajunya basah, kembali sianak muda ini
kekamarnya dengan maksud hendak ganti pakaian. Siapa
tahu pada saat itulah ia saksikan jeritan lengking bergema
dimana mana, suasana dalam kuil amat kacau, banyak
toosu lari simpang siur menyelamatkan diri.
la jadi kaget, cepat cepat pemuda Itu lari kedalam kuil
dan menuju keruang rahasia dimana Pek in Hoei semakin
terperanjat lagi sebab dilihatnya pintu rahasia sudah
bergeser dan terbuka lebar.
Tanpa berpikir panjang lagi masuklah ia kedalarn goa,
dan dengan mata kepala sediri ia saksikan Hian Cing
Toojien dibunuh serta dengar sendiri pula Cia Koen
mernbeberkan rahasianya. Diam diam ia kertak gigi,
pikirnya: Go Kiam Lam sungguh lihai, agar bisa membasmi
seluruh anggota partai Tiam Cong ternyata ia sudi jadi
anggota partai berdiam diri selama puluhan tahun lamanya
Sementara otaknya masih berputar, ia telah menuruni
sebuah bukit dan menerobos, kedalam hutan bambu,
"Keparat cilik, kau hendak melarikan kemana!" bentakan
nyaring berkumandang dari arah belakang. Cengan cepat ia
berpaling, tampaklah. Cia Koen sambil mencekal pedang
telah berada kurang lebih dua tombak dibelakangnya.
Ia jadi sangat terperanjat, tergopoh gopoh badannya
menyusup kesebelah kiri dan masuk kedalam hutan.
Pada saat inilah dia baru merasakan manfaat dari ilmu
meringankan tubuh yang dipaksakan ayahnya pada hari
hari biasa, atau paling sedikit dia masih bisa mengandalkan
kepandaian tersebut untuk meloloskan diri dari kejaran
musuh.
Secara lapat lapat timbul rasa sesal dalam hatinya, ia
menyesal kenapa tidak belajar ilmu pedang atau ilmu
pukulan sehingga sekarang harus dikejar kejar orang seperti
anjing.
Namun begitu terbayang akan mayat yang
bergelimpangan diatas tanah serta genangan darah yang
amis yang memuakkan, rasa sesal yang muncul dalam
hatinya seketika juga lenyap tak berbekas. Sambaran angin
pedang terasa mendesir dibelakang tubuhnya dengan gugup
ia berguling2 kebelakang. Tampaklah Cia Koen sambil
ayunkan pedang membentak keras
"Keparat cilik she Pek sekalipun kau lari keujung
langitpun akan kukejar terus sampai ketangkap keadaan
disekitar sini aku bih paham dari pada drimu, kau hendak
lari kemann lagi??"
Suatu ingatan mendadak berkelebat dalam benak Pek In
Hoei, pikirnya :
"Keadaan medan disekeliling sini aku memang tidak
paham sekarang aku cuma bisa lari dengan mengandalkan
lebatnya hutan ini sudah dilewati lalu tiba-tiba ia teringat
akan selokan kecil diusana ia terjerumus tadi, hatinja jadi
sangat girang, buru2 ia tentukan arah dan lari kemuka
dengan kencangnya.
Pohon demi pohon dilewati dengan cepat semak demi
semak diterobosi dengan seksama akhirnya sampailah Pek
in Hoei ditepi selokan tersebut, tanpa banyak bicara ia
jatuhkan diri keatas tanah dan menggelinding masuk
kedalam selokan, seluruh tubuhnya dibenamkan kedalam
air, hanya kepalanya saya yang muncul diatas permukaan
air sambil memperhatikan keadaan disekeliling situ.
Bau asap berhembus datang membuat hidungnya amat
pedas, memandang jilatan api yang berkobar membakar
kuil Siang Cing Koan tak tahan air mala jatuh berlinang
membasahi wajahnya, rasa dendam menyelimuti hatinya,
sambil meremas kepalan gumamnya dengan penuh rasa
benci : "Orang-orang itu harus dibunuh ! aku harus
berangkat kegunung Cing Shia untuk msngabarkan
peristiwa ini kepada ayah, aku harus basmi habis segenap
anggota dari perguruan Boe Liang Tong!"
Terbayang pula akan mayat-mayat yang begelimpangan
didepan kuil Siang Cing Koan, kembali ia tutupi wajahnya
sambil berbisik :
"Membunuh orang ditengah malam buta, kemudian
melepaskan api membakar mayat2 itu hingga musnah
Oooh! Betapa kejinya perbuatan mereka
"Koen-jie tiba-tiba terdengar suara Go Kiam Lam
berkumandang didalam hutan itu
"Koen-jle. kau ada dimana ? "
Pek In Hoei terperanjat, buru-buru ia benamkan
kepalanya kedalam air hingga lenyap dari pandangan.
Baru saja ia tandukkan kepala, terdengar suara Cia Koen
menyahut daii balik semak - disebelah kirinya :
"Suhu! aku berada disini" Mendengar orang she Cia itu
berada hanya delapan depa dari sisinya, Pek In Hoei
semakin terperanjat, buru2 ia tahan napas dan semakin
menyembunyikan badan nya kedalam air.
Tampak Go Kiam Lam sambil mencekal pedang
meloncati selokan tadi, ia bertanya kembali :
"Apa kerjamu duduk disana ??" "Aku sedang memeriksa
jejak keparat cilik itu"
"Telur busuk! masa untuk menangkap seorang.keparat
cilik yang tak bisa siiatpun kau tidak mampu, pekerjaan apa
lagi yarg dapat kau lakukan"
"Disekeliling tempat ini tiada tempat yang bisa
digunakan untuk menyembunyikan diri, lagipula air dalam
selokan itu ada racunnya, tidak mungkin dia loncat
kedalam sana, aku pikir cuma disekitar semak belukar itu
saja ia dapat menyembunyikan diri, maka aku terus
menerus memeriksa sekeliling tempat itu"
Perkataan tersebut sangat mengejutkan hati Pek In Hoei,
hampir saja ia loucat keluar dari selokan tersebut, tapi
setelah dipikirnya sejenak ia tetap tak berkutik dari tempat
semula.
"Kenapa kau tidak punya pikiran untuk melepasksn api
ditempat ini" Terdengar Go Kiam Lam berseru setelah
berpikir sejenak. Setelah rerumputan disekeliling sini
terbakar, triasa keparat cilik itu tidak akan lari keluar"
"Suhu, aku sudah berpikir hendak menggunakan api, tapi
dengan demikian seluruh gunung Tiam Cong-san bakal
musnah, pemandangan indahpun akan ikut punah "Hmmm
! justru aku pingin menghancur leburkan seluruh Tiam
Cong Pay, perduli amat dengan pemandangan indah segala
Mendengar ancaman itu Pek In Hoei bergidik, batinya
berdebar-debar keras pikirnya :
"Tadi mereka mengatakan air dalam selokan ini ada
racunnya, terhadap ancaman itu aku tidak takut sebab
kemungkinan benar mereka sengaja menggertak diriku Tapi
sekarang mareka mau membakar gunung, seandainya hal
ini benar-benar terjadi bukankah aku bakal mati terbakar
Sementara dia masih memikirkan cara untuk melarikan
diri, terlihatlah jilatan api mulai berkobar disckeliling
tempat itu "Haaah - . . . haaah . . .. . haaah ... dengar Go
Kiam Lam tertawa terbabak- balak. "Dendam kesumat yang
telah kupendam selama enam puluh tahunpun akhirnya
berhasil kubalas juga, sejak kini Langit selatan adalah
daerah kekuasaan perguruan Liang Tiong kira"
"Suhu! kita masih punya seorang musuh tangguh yaitu
sipedang Penghancur Sang surya Pek Tian Hong"
"Heeeh.. . heeeh .. . heeeh ... dia tak mengikat tali
permusuhan dengan orang2 kangouw, kau tak usah
pikirkan itu lagi, sigolok perontok Rembulan dan si Bintang
Kejora menuding Langit menghadapi dirinya. Muridku,
ayoh berangkat"
Suaranya makin lama semakin jauh dan akhirnya lenyap
dari pendengaran, namun Pek In Hoei masih tetap
membenamkan diri didalam selokan.
"Golok Perontok Rembulan si Bintang Kejora menuding
langit " gumamnya seorang diri "Aku harus pergi mencari
ayah dan memberi tahukan peristiwa ini kepadanya"
0oodwoo00
Jilid 2
Sianak muda itu menjerit keras, setelah loncat keluar dari
selokan, ia segera lari secepat cepatnya turun gunung.
Napasnya mulai tersengkal-sengkal larinya jadi lebih
lambat, memandang cahaya api nun jauh di puncak
gunung, tanpa terasa air mata jatuh berlinang-linang
Banyak bukit serta selokan telab dilewati, namun ia
masih terus lari... terus jalan menjauhkan diri dari gunung
Tiam Cong. Suasana amat gelap, rembulan diangkasa
Lenyap tertutnp awan hitam... bahkan bintangpun lenyap
tak berbekas...
Guntur tiba tiba menyambar dan membelah bumi
diiringi suaranya yang keras, kilat berkilauan, angin
berhembus makin kencang, hujanpun turun dengan
derasnya membasahi permukaan bumi, seakan-akan air
hujan tersebut hendak membersihkan noda darah yang
telah mengotori jagat.
Seluruh wajah, rambut serta pakaian Pek In Hoei basah
kuyup tersiram air hujan, begitu deras hujan yang turun
membuat sepasang matanya hampir2 saja tak dapat
dipentangkan.
Kepalanya mulai pening, badannya limbung tak
bertenaga dan kakinya gentayangan lemas ...... tapi ia coba
terus lari... lari... namun baru saja melangkah beberapa
tindak, badannya gontai dan roboh keatas tanah... Pingsan
Hujan semakin deras, namun matanya terasa tak
sanggup dibuka kembali, ketegangan serta lelah semalam
suntuk membuat sianak muda itu tak kuasa
mempertahankan diri ia roboh tak sadarkan diri.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba2 ia tersentak oleh
suara nyanyian yang amat merdu, begitu lembut dan halus
suara itu membuat ia sadar kembali dari impiannya.
Sepasang matanya perlahan-lahan dipentangkan, tampak
bulu burung merak yang indah menghiasi sekujur tubuhnya,
ia tertidur di atas loteng yang dibangun dari bambu.
buIu burung merak ingatan ini berkelebat dalam
benaknya, dengan rasa girang segera gumamnya. "Aku
tidak mati ! Aku belum mati ! sebab orang mati tak akan
bisa melihat bulu bururg Merak.
Dengan cepat ia meroncat untuk bangun, tapi baru
sedikit saja badannya bergerak mulutnya segera meringis
kesakitan seluruh tulang serta persendiannya terasa linu
bagaikan retak.
Namun akhirnva ia berhasil juga untuk bangun dan
duduk disisi pembaringan sebab nyanyian yang amai merdu
tadi menimbulkan rasa ingin tahu dalam hatinya.
"Siapa yang sedang menyanyi ?? begitu merdu suaranya".
Perlahan-lahan Pek In Hoei bangun berdiri, tampak
cahaya sang surya memancar masuk lewat jendela
menyinari sepatunya yang penuh lumpur serta dua tapak
kaki yang kotor.
Ia jadi tertegun, pikirnya "Bukankah kemarin malam aku
roboh taidak sadarkan diri diatas tanah berlumpur?
sekarang... aku kok berada diatas loteng yang indah ??
sungguh aneh sekali, siapakah pemilik loteng ini ? apakah
orang yang senang menyanyi itu.
Dengan menahan rasa Imu dan sakit pada seluruh
badannya, selangkah demi selangkah sianak muda itu turun
dan loteng berjalan menuju kearah berasalnya suara
nyanyian itu.
Hutan yang rindang terbentang didepan mata, kuntum
bunga yang segar dan menyiarkan bau wangi tersebar
dimana-mana membuat suana terasa nyaman dan syahdu...
Pek In Hoei tarik napas dalam, ia berjalan menembusi
kebun bunga . . hutan rindag dan terus maju kedepan.
"Aaaaaah ! bukankah tempat ini ada dipropinsi Tiam
Hay sianak muda itu berseru tertahan.
Puncak gunung nan hjau terbentang didepan mata, tinggi
dan runcing menjulang
ketengah angkasa, sebuah telaga dengan air yang jernih
bagaikan membentang ditepi bukit, pemandangannya &aat
indah dan menawan hati.
Seekor kijang kecil segera menarik perhatian Pek in
Hoei, ia alihkan sinar matanya keatas binatang kecil itu,
perlahan lahan didekatinya binatang itu, namun kijang tadi
segera mendusin akan bahaya yang mengancam dengan
lincahnya "Ia" lari masuk kehutan
Pek in Hoei tercengang, ia melangkah masuk kebutan
disitulah suara nyanyian yang berkumandang merdu tadi
tiba tiba lenyap tak berbekas.
"Siauw Hoa... siauw Hoa... kau hendak ke mana??? ayoh
cepat kembali ..... suara yang merdu itu tiba tiba menggema
di angkasa.
"Wah, bukankah suara ini suara dari yang menyanyi
tadi" pikir Pek in hoei.
Ranting dan daun bergoyang, dari balik hutan muncullah
seorang gadis muda yang sangat cantik, ia membawa
sebuah cangkul dari perak serta sebuah keranjang bambu
berwarna hijau.
(Oo-dwkz-oO)
2
SUNGGUH cantik gadis ini batin sianak muda itu
dengan hati berdebar keras.
Gadis itu mempunyai sepssang mata yang indah
bagaikan bintang Timur, hidung yang mancung, bibir yang
kecil mungil serta biji mata yang gede.
Baru saja ia berjalan keluar dari hutan segera berjumpa
dengan Pek In Hoei yang sedang berdiri termagu2.
Melihat sikap sianak muda itu. Teriaknya:
"Hey, siapa suruh kau berjalan keluar"
Pek In Hoei menengok kekanan kekiri mecarikan orang
yang sedang diajak bicara oleh gadis itu tak sesosok
bayanganpun kelihatan. Ia baru mengerti bahwa gadis
manis tersebut Sedang ajak dia berbicara, merah jengah
selembar wajahnya
"Oooo nona !" serunya sambil bongkokan badan
memberi hormat, rasa sakit tiba2 «enyerang pinggangnya,
pemuda itu menjerit2 jatuh terjengkang keatas tanah.
Menyaksikan sianak muda itu roboh gadis manis itu
tertawa cekikkan, ia maju menghampiri dan berseru.
"Apa itu nona atau bukan, sudah kubilang kalau
badanmu sedang keracunan dan seluruh badan lak
bertenaga, kenapa kau tinggalkan loteng datang kemari ....
Hmmm, enakkan rasanya kalau jatuh terjengkang !"
"Nona, sejak kapan kau peringatkan diriku ???"' tanya
sang pemuda sambil merangkak bangun.
"Tadi pagi, waktu kau masih tidak sadarkan diri
bukankah sudah kukatakan kepadamu?"
Pek In Hoei tertawa getir.
Kalau toh sudah mengerti kalau aku masih pingsan,
darimana bisa kudengar perkataanmu? mungkin nona ini
rada dogol?" pikirnya.
Dalam pada itu gadis tadi sudah letakkan cangkulnya
keatas tanah dan mengambil setangkai daun berwarna
merah dari keranjangnya.
"Pagi tadi sewaktu aku sedang pergi mencari bahan obat,
kutemui kau berbarirg di loteng bulu Merakku. Waaaah !
"bahkan kau sudafo bikin kotor lotengku. Mula2 hatiku
merasa tidak senang tapi setelah menjumpai hawa hitam
diatas wajahmu, aku tabu kalau kau jatuh tidak sadarkan
karena keracunan, maka akupun cepat pergi carikan obat
untuk memunahkan raCun dalam tubuhmu" suaranya
merdu tapi perkataannya cepat, seolah2 burung nuri yang
berkicau diatas pohon pada pagi hari yang cerah, membuat
pemuda kita jadi, melongo dan ter-mangu2. Aduuuuh . . .
sungguh merdu suaramu pujinya.
"Eeeeeei ....... kenapa sih kau?" tegur sang gadis dengan
alis berkerut kencang. Hey, dengarkan perkataanku!
masukkan daun ini kedalam mulutmu lalu kunyah hingga
lumat dan segera telan kedalam perut, kalau tidak kau telan
sebelum tengah hari nanti racun itu akan mulai bekerja
didalam tubuh mu dan kau bakal mati 1"
"Kau suruh aku makan rumput?." tanya Pek In Hoei
tersipu-sipu.
Meledaklah gelak tertawa gadis manis iiu begitu cantik
dara tersebut terutama sepasang dekiknya yang ada dipipi.
"Aku tahu kalau kau bukan kerbau atau kambing, tentu
saja aku tidak snruh kau makan rumput sambil tertawa.
"Maksudku, kalau kau kunyah rumput merah itu kedalam
mulut, keadaannya jauh lebih manjur dari pada dimasak
dan diminum dengan air !"
"Nona, benarkah aku Keracunan ??".
"Hmmm, kalau kau tidak percaya yaab sudahlah, syukur
kalau kaucepat mati !" bibir nya yang kecil segera
dicibirkan.
"Nona .... jangan marah jangan marah. Segera kumakan
rumput ini".
"Huuuu siapa suruh kau makan rumput?"
"Rumput itu adalah obat untuk memunahkan racun
dalam tububmu. Merah jengah sepasang wajah Pek In hei
akhirnya dengan tersipu-sipu ia masukan rumput tadi
kedalam mulut dan dikunyah dengan susah payah akhirnya
Pek In Hoei krhasil juga menelan rumput merah itu
kedalam perut melihat senyuman, yang mengiasi bibir gadis
itu, dengan jengkel segera serunya :
"Ooooooh pahit sekali ! eeeei kenapa kau menertawakan
aku ?? kiranya kau sedang menipu aku yaah?"
"Aku adalah anggota berguruan seratus racun, tidak
nanti kubohongi dirimu !".
"Perguruan seratus racun? apakah kau anggota dari
perguruan Seratus Racun ?" Tanya Pek In Hoei sangat
terperanjat.
Gadis manis itu mengangguk
"Benar ! dari mana kaupun tahu?"
Mendadak ia saksikan air muka Pek In Hoei berubah jadi
merah padam buru buru serunya:
"Cepat bongkokkan badanmu !".
Perut sianak muda itu mulai mengerutkan berbunyi keras
rasa sakit yang sukar di tahan menyerang segenap isi perut,
keringat sebesar kacang kedelai mengucekkan keluar
dengan derasnya sementara wajahnya berubah jadi merah
padam .
Tiba tiba ia pegang perutnya kencang kencang dan
muntahkan segumpal air berwarna kuning dari mulutnya,
bau amis dan busuk segera tersebar diangkasa membuat
yang mencium ikut merasakan perutnya mual.
Laksana kilat gadis itu sambar pergelangan angan sianak
muda itu, dalam sekali ayun ia lempar tubuhnya masuk
kedalam telaga.
Begitu tercebur kedalam air, rasa dingin yang luar biasa
menyerang kedalam iubuh, ia menggigil kedinginan . .
Tapi pada saat itu juga ia rasakan aliran hawa panas
bergerak dan lambungkan msnyambar keseluruh tubuh,
membuat hawa dingin yang semula membekukan badan
segera terusir lenyap.
Terdengar gadis muda itu tertawa cekikikan.
"Kau jadi orang tidak jujur, maka kau harus rasakan
sedikit kepahitan"
Tatkala menyaksikan tubuh Pek In Hoei sebenarnya
tenggelam sebentar lagi muncul diatas permukaan air,
seolah olah dia tak bisa berenang, buru2 tanyanya lagi :
"Hey, bisakah kau berenang ?"
"Kau tak usah urusi diriku".
"Hmmm! aku sengaja mau urusi dirimu, kau mau apa
??",
Serentetan cahaya berkelebat membelah bumi, tahu tahu
gadis itu sudah lemparkan sebuah ikat pinggang ketengah
telaga.
Pek In Hoei mesakan pandangannya jadi kabur, tahu
tahu tubuhnya sudah lepas dari telaga dan ditarik naik
keatas daratan.
Pada waktu itu seluruh badannya basah kuyup,
rambutnya kusut dan awut awutan tidak karuan, dengan
keadaan yang sangat mengenaskan ia melototi sianak gadis
itu.
"Hey, siapa namamu?" mendadak gadis itu menegar
dengan sepasang alis berkerut.
"Buat apa kau tanyakan persoalan ini" tukas Pek In Hoei
dengan hati mendongkol, "kenapa kau lempar diriku
kedalam air dingin?"
"Hmmm kau memang benar benar manusia yang tidak
tahu diri, tadi racun yang mengeram dalam tubuhmu baru
saja membuyar keluar, seanidainya kau tidak bsrendam,
dalam air maka hawa racun yang telah keluar tadi akan
mssuk kembali kedalam tubuhmu lewat pori pori didalas
kulit, jika sampai demikian keadaannya, bukankah usahaku
selama hampir setengah jam untuk memetikkan rumput
merah bagimu akan sia sia belaka?"
"Oooooooo ! kiranya kau sedang menolong
jiwaku, kalau begitu nona aku harus ucapkan banyak terima
kasih kepadamu!".
"Tak usah kau berterima kasih kepadaku^ jawab dulu
pertanyaan yang telah kuajukan tadi!".
"Cayhe bernama Pek In Hoei !".
"Pek In Hoei ? ? ?" gumam gadis itu, ia mendongak dan
memandang awan diatas langit.
"Kau maksudkan awan yang melayang ditengah angkasa
itu?".
"Nona, kau suka benar bergurau, nama cayhe memang
betul betul Pek In Hoei !".
"Sungguh Inilah namamu" ia berpikir sebentar lalu
ujarnya kembali
"Eeeeeeei ! kenapa kau tidak- menanyakan namaku?".
"Oooouw... masf maaf.. ! bolehkah cayhe mengetahui
nama besar nona ??
"Cisssss ! aku bernama Hee Siok Peng, Hey Pek In
Hoei I coba kaiakan bagus tidak namaku?".
"Bagus.... bagus nona punya nama yang sangat bagus
dan indah didengar. mata Hee Siok Peng dialihkan keatas
wajah sang pemuda yang basah kuyup, kemudian ujarnya :
"Kau benar benar seorang kutu buku, apa kau tidak
merasa tidak enak dengan baju basah kuyup, seperti itu ?".
pek In Hoei tertawa getir.
Apa gunanya aku ribut ? bukankah disinipun tak ada
pakaian yang cocok bagiku.
Hee Siok Peng berpikir sebentar, mendadak dengan
perasaan tercengang ia menegur:
"Eeeeeei . . . apa sebabnya kau jatuh tidak sadarkan diri
didepan loteng bambuku?".
Dingatkan kembali oleh gadis manis ini dalam benak Pek
In Hoei segera terbayang lagi peristiwa yang telah terjadi
kemarin malam, dimana ia saksikan sendiri Go Kiam Lam
sang ketua dari perguruan Boe Liang Tiong melakukan
penjagalan manusia secara besar besaran kemudian
membakar gunung Tiam Cong, lalu begaimana ia dikejar
hingga badan tersiksa dan akhirnya }atuh pingsan...
Ia menghela napas panjang. "Tempat manakah ini ?".
"Kau bukan orang propinsi In Lam ?." tempai ini adalah
Tiam Hay, apakah kau tidak tabu ? Hey sebenarnya kau
datang dari mana?".
"Aku datang dari gunung Tiam Cong !". "Kau berasal
dari partai Tiam Cong ?" seru Hee Siok Peng dengan mata
terbelalak Pek In Hoei ingin anggukkan kepala tapi setelah
dipikir sejenak akhirnya menggeleng. Aku mengerti bahwa
kau tidak pandai bersilat kata gadis itu. "Eeei apakah
kau tidak ingsn belajar silat ?".
"Tidak! aku palmg benci belajar silat !". Mendadak ia
rasakan badannya sangat tidak nyaman karena baju yang
basah hampir merata semua diatas badannya, maka ia
kebaskan pakaian yang basah itu.
"Oouw! aku lupa kalau pakaianmu basah, ayoh cepat
ikuti diriku!"
Gadis itu ambil kembali cangkul serta keranjang
bambunya, lalu sambil melirik sekejap ke tubuh pemuda
tersebut katanya lagi:
Bukan saja kau mirip seorang kutu buku, kaupun seorang
manusia dungu, masa pakaian yang sudah basahpun tidak
tahu bagaimana harus diganti, apa lagi mau belajar silat.
Huuuuu ! bodohnya benar benar tak ketolngan lagi".
Pek In Hoei tidak memperdulikan ocehan gadis tersebut,
dalam hati diam diam pikirnya
"Siapa bilang aku tak tahu kalau bajuku basah? cuma aku
merasa tidak enak kalau sampai telanjang dihadapaomu.
Hmmm, sedang mengenai belajar silat . . . ayah yang
memaksapun aku tidak sudi apa lagi kau setiap manusia
punya ciia cita serta mendapat yang berbeda, siapa bilang
aku aku seorang manusia dungu?"
"Aku ingin membawa kau pergi kesuatu tempat yang
terindah dikolong langit dan memperkenalkan dirimu
dengan seorang manusia yang paling aneh didalam jagad,
maukah kau ikuti diriku ?" terdengar Hee Siok Peng
bertanya.
"Aku tak bica ikuti dirimu, aku masih urusan penting
yang harus dikerjakan hendak pergi kegunung Cing Shia"
Maukah kau melakukan sesuatu pekerjaan bagi diriku
kembali terdengar gadis itu bertanya.
Pek In Hoei angkat kepalanya» ia merasakan sinar mata
yang amat tajam dari gadis cantk itu membuat jantungnya
berdebar keras merasa hatinya tak bisa menampik
permintaan dara secantik dan semanis itu. Maka ia
mengangguk. "Aku mau lakukan pekerjaaa bagimu' Kalau
begitu mari ikutlah aku pergi keladang harta dipuncak
gunung Pek-Giok hong '
"Gudang harta dipuncak Pek giok-hong?" rentetan
cahaya mata yang aneh dan sukar dilukisan dengan kata
kata memancar keluar dari balik mata sianak muda kita
"Perguruan Pek-Tok-Boen adalah milikmu ? ..."
"Betul Avahku Hee Ciong Lam adalar ketua dari
perguruan Seratus Racun"
Pek In Hoei tertegun, kemudian tanpa mengucapkan
sepatah kata pun ia putar badan dan pergi,
"Hey, kau hendak kemana?" seru Hee Siok Peng
melengak.
Pek In Hoei tidak menggubris, ia pura pura tidak
mendengar dan meneruskan langkahnya berlalu dari situ.
Pek In Hoei Kau adalah seorang manusia atau bukan"
"Apa katamu Mendengar makian tadi dengan gusar Pek
In Hoei berpaling.
"Aku telah menyelamatkan jiwamu sedang kaupun
sudah setuju untuk melakukan sesuatu pekerjaan bagiku
kenapa sekarang kau malah tinggal pergi? Sebagai seorang
lelaki jantan, seorang lelaki sejati, apa pernah diucapkan
keluar tak pernah diingkari kembali, apakah aku salah
memakimu?"
Begitu cepat perkataan itu diutarakan buat Pek In Hoei
berdiri menjublak, ia rasakan perkataan gadis manis itu
bagaikan berpuluh puluh batang pisau yang menusuk
hatinya, membuat mulutnya membungkam tak sanggup
mencucapkan sepatah katapun.
"Hmmm... Semula aku mengira kau adalah seorang
manusia jujur. Kembali gadis itu mengomel "Siapa tahu
kiranya kau adalah seorang manusia siauwjien yang pandai
mengingkari janji." Tanpa berpaling lagi ia ambil keranjang
obatnya dan berlalu dari situ.
Eecei... nona Hee, Nona Hee tunggu sebentar" cepat
cepat Pek In Hoei mengejar kedepan. "Aku suka mengikuti
dirimu pergi kepuneak Pek Giok Hong"
"Sungguh?™ Hee Siok Perg berhenti dan memandang
kearahnya dengan sinar mata kegirangan. "Kalau begitu
ayoh kita segera berangkat."
Ditengah jalan, sewaktu gadis itu menyaksikan Pck In
Hoei bisa mengimbangi gerakan larinya dengan begitu
ringan dan lincah dengan perasaan tercengang tegurnya:
"Kau perrah belajar ilmu silat?" "Tidak. Aku tidak suka
belajar siiat, cuma saja karena seringnya aku ikut ayahku
melakukan perjalanan maka gerakan kakiku dengan
sendirinya jadi enteng dan ringan. Apakah ada yang tidak
benar."
"Tidak ada. Sttt, jangan bersuara lagi ayoh ikuii dirikd!"
Tubuhnya segera berbelok kekanan dan kemuka, gerakao
tubuhnya lincah dan menawan, ditambah pula parasnya
cantik hal ini menambah keagungan gadis itu.
Memandang lekukan badannya yang padat mendadak
timbul suatu perasaan dalam hati Pek ln Hoei, pikirnya.
Belum pernah kutemui gadis secantik dan semenarik nona
ini dan akupun tak pernah bercakap2 dengan dara seayu itu
sungguh aneh kenapa hatiku bisa begitu tertarik dengan
dirinya ?
Sementara ia masih berpikir, mereka sudah melewati
sebuah hutan dan masuk kedalam sebuah selat sempit.
"Sekarang kita sedang melewati lorong raasa di belakang
gunung" terdengar Hee siok Peng berkata sambil menoleh
kebelakang.
"Didepan sana penuh dengan anggota guruan kami,
maka aku tak dapat membawa kau naik kepuncak Pek Giok
Hong lewat situ, sebab daerah sekitar sana telah dijadikan
daerah terlarang oleh ayahku."
"Lalu apa sebabnya kau membawa aku pergi kesana ?"
"Karena aku hendak minta pertolonganmu untuk
menolong seseorang"
Mendengar jawaban itu Pek in Hoei tertawa getir.
"Kau bukannya tidak tahu kalau aku sama sekali tidak
senang akan ilmu silat mana mungkin aku bisa menolong
orang lain? Jangan-jangan sebelum memasuki daerah
terlarang dari perguruan seratus racaa kalian, selembar
j;waku sudah keburu melayang!"
"Jangan kuatir Justru karena kau tidak mengerti ilmu
silat jiwa orang itu baru bisa ditolong, kalau tidak, buat spa
kubawa dirimu nak keatas gunung?"
"Eeei ! Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Ada seorang manusia aneh yang mempunyai ilmu silat
sangat tinggi terkurung diatas sana. Ceritanya begini selama
hidup orang itu malang melintang didaiam persilatan
dengan andalikan Huncwee yang besar, tak pernah ia temui
tandingan, tetapi pada suatu hari ia telah berjumpa dengan
ayahku, orang itu tidak percaya dengan kepandaian
menggunakan racun ayahku, maka bertarunglah dia dengan
ayahku"
"Apakah mereka mempertaruhkan kepandaian racun
dari ayahmu?" Hec Siok Peng mengangguk. Si Huncwee
gede menganggap ilmu silatnya nomor wahid di kolong
langit, maka ia bertaruh bahwa ayahku tak bisa
meracuninya Siapa sangka dikala mereka berdua sedang
bercakap-cakap itulah ayah sudah melepaskan racunnya
membuat orang itu buru buru menutup pernapasan dan
berusaha mengusir racun tadi dari dalam tubuhnya"
Ketika bercerita sampai disana, sampailah kedua orang
itu didepan sebuah gua, gadis itu langsung masuk kedalam
gua tadi dan serunya:
"Hei. Hati hati !"
Dengan sangat hati hati Pek In Hoei menerobos masuk
kedalam gua, ia temukan gua itu sangat lebar sebuah tangga
batu menghubungkan mulut gua dengan ruang dalam.
"Ouw batu ini langsung menghubungkan tempat ini
dengan gudang harta" kembali Hee Siok Peng menjelaskan,
"Si Huncwo gede dikurung disana dan hingga kini tak bisa
keluar lagi'
berapa lama si Huocwee gede di dalam gua tersebut?"
"hgga kini sudah ada tujuh belas tahun lebih
"Apa? tujuh belas tahun sudah begitu lama?" seru Pek In
Hoei terkejut.Hee Siok Peng tersenyum.
"Ayahku sangat pintar, ia tahu bahwa kurungannya tak
mungkin bisa mengurung huncwee gede, maka ia lantas
bertaruh dengan dirinya, ia suruh orang itu menyanggupi
untuk naik sendiri kepuneak Pek-Giok hong kemudian
pintu goa ditutup oleh ayah dengan delapan lembar sarang
laba laba beracun. Dia harus menunggu sampai pada itu
hari ada seorang manusia yang tidak mengerti ilmu silat
membukakan sarang laba itu baginya, saat itulah dia baru
boleh bebas."
"Kalau begini keadaannya, bukankah sepanjang hidup ia
tak bisa keluar lagi dari gua itu ?" seru Pek In Hoei setelah
berpikir sejenak, coba kau bayangkan, seandainya ayahmu
tidak ingin ia lolos dari kurungannya mana sudi dia biarkan
seorang manusia yang tak mengerti ilmu silat mendekat
gudang hartanya ?"
Dengan sinar mata kagum Hee Siok Peng melirik sekejap
kearah Pek In Hoei.
"Sedikitpun tidak salah, justru dengan maksud itulah
maka ayahku menjadikan puncak Pek Giok Hong sebagai
tempat terlarang, siapapun dilarang mendekati tempat itu."
la merandek sejenak dan tambahnya "Sejak kecil aku
telah bertemu dengan dia, selalu Ingin melepaskan dirinya
tapi. aku tak berani berbuat demikian, sebab tak mungkin
bagi orang yang mengerti ilmu silat untuk membebaskan
dirinya."
"kenapa?" tanya Pek rn Hosi tercengang.
"Sstt ... !" tiba tiba Hee Siok Peng meletakkan
telunjuknya keatas bibir, ia hembuskan napas dan bisiknya
lirih jangan bicara lagi sekarang kita sudah tiba di puncak,
hati hati jangan sampai ketahuan ayahku."
Ia turunkan cangkulnya lalu perlahan lahan memanjat
keatas. Pek In Hoei membuntuti dari belakang itu
semuanya mereka harus lewati tujuh puluh buah lebih
undakan batu untuk mencapai puncak lorong.
Setibanya diatas Hee Siok Peng mendorong sebuah pintu
rahasia kemudian meloncat keluar tatkala dirasakan
keadaan aman baru loncat, keluar dari lorong rahasia. baru
saja Pek ln Hoei ikut loncat keluar dari dalam lorong,
segera terdengar suara bentakan keras berkumandang
datang.
"Bangsat acak kura kura, siapa kau ?"
"Hei Huncwee gede, aku !" sahut Hee Siok Peng sambil
munculkan diri dari balik pintu batu.
"Haaaah .... haaaah haaaah cucu kura kura, hei
setan cilik kau berani membohongi aku? Terang terangan
aku tahu masih ada seorang keparat busuk disitu ! Ayoh
bilang siapa dia ?"
Hee Siok Peng menoleh kearah Pek ln Hui dan
menjulurkan lidahnya, kemudian sambi perlihatkan muka
setau ia tarik sianak muda itu untuk maju kedepan.
Kena ditarik oleh tangan sang gadis yang halus tanpa
terasa Pek In Hoei ikut maju kedepan.
"Sebetulnya simanusia huncwee gede itu baik atau orang
jahat ?" tanyanya kemudian.
Sebelum Hee Siok Peng sempat menjawab orang yang
ada didaiam sudah meraung gusar.
"Kurang ajar! Siapa berani menuduh aku hunewee gede
Ouwyang Gong adalah telur busuk ? Kurobek mulutnya
yang kumal."
"Hmmm ! Aku yang bicara kau mau apa?"
Mendengar seruan sianak muda itu, air muka Hee Siok
Peng berubah hebat, buru buru ia tarik tangan In Hoei dan
diajak ngeloyor dari tempat itu. Siapa sangka pada saat
itulah orang tadi tertawa terbahak bahak.
"Haaaah .. haaaah,, haaaaah .... mau lari kemaua ? Ayoh
kembali " gertaknya.
Seketika itu juga Pek In Hoei merasakan sekujur
badannya jadi kaku, diikuti munculnys serentatan tenaga
penghisap yang luar biasa menyedot badannya membuat
dia tanpa terasa terseret kebelakang.
Pemuda itu jadi kaget, buru buru ia meronta dengan
segenap tenaga namun usahanya sia sia belaka, bukan saja
ia gagal untuk meloloskan diri dari pengaruh sedotan
lawan, bahkan ia tertarik kebelakang makin cepat.
"Eeei hunewee gede apa yang hendak kau lakukan ? Dia
sama sekali tidak tahu akan ilmu silat?" teriak Hee Siok
Peng dengan hati gelisah.
"Apa ? Dia tidak mengerti ilmu silat?"
Bersamaan dengan terdengarnya teriakan itu, Pek in
Hoei merasakan daya hisap yang membelenggu sekujur
badannya lenyap sekeiika itu juga, badannya jadi kendor
dan tanpa bisa dicegah lagi ia mundur sempoyongan
kebelakang lalu jatuh terjengkang diatas tanah, saking
kerasnya ia terbanting kaki dan pinggangnya terasa nyeri
sakit.
Dengan penuh kegusaran ia mendongak Tampak
delapan lembar sarang laba laba memancarkan sinar
terpantek didepan pintu, dibelakang sarang laba laba tadi
muncul sepasang sepatu berbulu kambing yang besar dan
mengerikan.
Dengan cepat ia loncat bangun, tapi tatkala sinar
matanya membentur dengan tubuh orang itu kembali ia
dibikin terperanjat. Kiranya orang itu memakai kain mantel
bulu kambing yang panjangnya mencapai cmpat depa
dengan baju rangkapan dari kulit kambing pula ditambah
cambangnya yang lebat dan awut2ar, sekilas pandang dapat
dibilang dia tidak mirip manusia tapi lebih mirip dengan
seekor kambing tua.
Manusia aneh itu memiliki hidung gede yang mekar dan
berwarna merah membara serta sepasang mata yang sipit
dan kecil sehingga bentuknya bukan saja tidak sesuai
bahkan kelihatannya sangat aneh.
Sebuah Huncwee gede sepanjang empat depa dengan
luas keliling seperti lengan dicekal dalam genggaman,
seraya tertawa terbahak bahak seru orang itu:
"Hei cucu kura kura, anak kurang ajar Akhirnya kau
datang juga !."
"Kau kenal aku tanya Pek In Hoei melengak.
Perlahan lahan si Hancwee gede bangun dari
pembaringannya, menghisap huncwee nya dalam dalam
lalu menyemburkan segumpal asap putih yang tebal dan
bau pedas keatas wajah Pek ln Hoei hingga membuat sianak
muda itu jadi gelagapan dan terbatuk batuk.

Postingan terkait:

Ditulis Oleh : Ali Afif Hora Bagus ~ Ali Afif Hora Keren

Tulisan Cerita Dewasa Imam Tanpa Bayangan 1 ini diposting oleh Ali Afif Hora Bagus pada hari Senin, 03 April 2017. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca Tulisan ini di Blog Ali Afif, Bukan Blogger terbaik Indonesia ataupun Legenda Blogger Tegal, Blogger keren ya Bukan. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: support to buwel ! ::

Loading...
Comments
0 Comments